IRAMA MAUT
1
Seorang
pemuda berpakaian ungu dengan tenang menggeragoti potongan daging panggang di
tangannya. Kelihatannya nikmat sekali. Beberapa batang ranting bekas tusukan
daging panggang berserakan di sekitar tempatnya duduk.
"Sedap
sekali baunya...!"
Ucapan
nyaring yang diiringi dengusan bunyi hidung membuat pemuda berpakaian ungu
menghentikan makannya. Dengan tangan masih menggenggam ranting tempat daging
panggang, kepalanya ditolehkan ke arah asal suara.
Sayang,
pemilik suara itu tidak terlihat. Kerimbunan semak-semak yang lebat menghalangi
pandangan pemuda berpakaian ungu.
"Kau
lapar, Sahabat?!"
Suara yang
sama dengan sebelumnya kembali terdengar. Kali ini nadanya seperti tengah
bertanya pada seseorang.
"Ternyata
kita sama. Aku pun lapar. Sayang aku tidak punya sesuatu yang bisa dimakan.
Tahan sebentar laparmu. Atau, kau ingin daging panggang yang berbau enak itu?
Oh, tidak. Jadi apa yang kau mau? Buah-buahan? Baik. Akan kucarikan
untukmu"
Suara itu
tidak terdengar lagi. Yang ada hanya bunyi senandung tanpa kata.
Pemuda
berpakaian ungu mengernyitkan dahi. Meski belum bisa melihat, dia bisa
memperkirakan pemilik suara itu orang yang telah berusia lanjut. Tepatnya lagi
salah satu di antaranya. Pemilik suara itu tengah bercakap-cakap. Berarti dia
tidak sendirian. Pemuda berpakaian ungu yang memiliki wajah tampan tapi
berambut putih keperakan itu bangkit dari duduknya. Dia adalah Arya Buana atau
yang berjuluk Dewa Arak.
"Aha...!
Lihat, Sahabat. Rupanya peruntungan kita baik sekali hari ini. Jambu-jambu air
telah matang. Mari, Sahabat. Kita sikat sampai tuntas!"
Pemuda
berambut putih keperakan tersenyum. Geli mendengar perkataan itu. Didengarnya
jelas langkah-langkah kaki yang menghantam bumi. Agaknya pemilik suara tengah
berlari. Kendati perasaan geli melanda hati, dia tidak mampu mengusir perasaan
herannya. Langkah-langkah yang terdengar hanya sepasang! Lalu, orang yang
diajak bicara itu?
Rasa heran
menumbuhkan rasa ingin tahu. Arya mengayunkan kaki menuju tempat pemilik suara.
Mungkinkah orang yang diajak bicara memiliki ilmu meringankan tubuh yang
demikian tinggi sehingga bunyi langkahnya tidak terdengar?
Begitu
menerobos kerimbunan semak, pemuda itu telah bisa melihat apa yang terjadi.
Sepasang alisnya berkerut menyaksikan pemandangan yang terpampang di depan
matanya. Di hadapan pemuda berpakaian ungu, sampai jarak belasan tombak, tidak
terhalang apa pun. Tanah di situ hanya ditumbuhi rerumputan pendek dan kering.
Sepasang
mata Arya yang mencorong tajam hanya melihat sesosok tubuh. Bukan dua seperti
yang diduganya semula. Seorang kakek bertubuh bungkuk berjalan dibantu tongkat
butut. Pakaiannya penuh tambalan. Ia kelihatan ringkih dan miskin!
Pemuda
berambut putih keperakan menggelengkan kepala seraya mengembangkan senyum di
bibir ketika melihat tingkah kakek bungkuk.
"Sabar,
Sahabat. Biar kuambilkan buah-buah itu untukmu," ucap kakek itu sambil
menoleh ke sebelah kiri.
Kakek
bungkuk lalu mendongak. Buah yang dimaksudnya memang banyak bergantungan di
dahan. Daun pohon yang lebat tidak terlihat karena banyaknya buah jambu
berwarna merah segar.
Senyuman
geli Arya buyar ketika kakek bungkuk tidak segera mengambil buah-buah
segar itu. Ia hanya
mendongak ke atas, memperhatikan buah-buah yang letaknya tak kurang
tiga tombak dari tanah. Apakah kakek bungkuk itu kebingungan untuk
mengambilnya?
Kakek
bungkuk lalu mengalihkan pandangannya ke bawah. Tingkahnya menunjukkan ada
sesuatu yang tengah dicarinya. Pemuda berambut putih keperakan mengurut dada
melihat kakek itu memungut sebongkah batu sebesar kepalan bayi. Rasa iba
menyergap harinya, dia bisa mengira tindakan yang akan dilakukan kakek bungkuk.
Kakek itu agaknya tidak memiliki ilmu silat.
Kakek
bungkuk melemparkan batu ke arah buah-buah jambu bergantungan. Bunyi
berkerosakan terdengar ketika batu menerobos dedaunan dan jatuh kembali ke
tanah. Beberapa helai daun berhamburan. Namun, tak satu pun buah jambu yang
jatuh. Kakek bungkuk mengulangi tindakannya sampai beberapa kali. Hasilnya
tetap nihil. Kendati demikian dia tidak putus asa. Batuitutetap dipungutnya
kembali.
"Sabar,
Sahabat. Percayalah. Tak lama lagi buah-buah itu akan jatuh. Kita akan
menikmatinya sampai puas...!"
Terdengar
agak memburu napas kakek bungkuk. Rupanya perbuatan yang dilakukannya cukup
melelahkan.
Pemuda
berambut putih keperakan tak kuat lagi menahan rasa kasihan. Dia segera melesat
menghampiri kakek bungkuk.
"Istirahatlah,
Sobat. Biar kucoba mengambilkannya untukmu," ujar Arya seraya menyentuh
bahu kakek bungkuk.
***
Kakek
bungkuk itu tersenyum melihat keberadaan pemuda berpakaian ungu di belakangnya.
"Terima
kasih. Terima kasih atas bantuan yang kau berikan padaku dan sahabatku,"
kakek bungkuk menoleh ke sebelahnya seakan-akan di situ ada seseorang yang
disebutnya sebagai sahabat.
Arya tidak
merasa heran lagi melihat kelakuan kakek bungkuk. Kakek itu berwajah kehijauan.
Sepasang matanya selalu berputar liar seperti mata orang tak waras. Arya
menolehkan kepala ke tempat kakek berwajah kehijauan itu menoleh.
"Boleh
kutahu siapa kau dan..., sahabatmu ini, Kek?" Pemuda berpakaian ungu
mengulurkan tangan. "Namaku Arya. Arya Buana. Seorang pengelana."
Kakek
bungkuk terkekeh memperlihatkan gigi-giginya yang kuning dan sebagian menghitam
"Namaku?
Aku sudah tidak ingat lagi, Anak Muda. Atau, jangan-jangan orang tuaku tak
memberikan nama padaku. Tapi, panggil saja aku Muka Hijau. Ya, si Muka Hijau!
Adapun sahabatku ini.., panggil saja si Tak Punya Bentuk. Tapi...." Kakek
bermuka hijau tercenung bingung. "Sepertinya terlalu panjang nama-nama
yang kuberikan."
Arya
tersenyum.
"Kalau
begitu panggil saja aku, Hijau. Dan kawanku ini, Sahabat. Lebih pendek dan enak
diucapkan."
Arya
mengangguk. Lalu katanya, "Sekarang bagaimana, Hijau. Dan juga kau,
Sahabat? Bolehkah aku membantu kalian. Kebetulan aku pun hendak menikmati
jambu-jambu yang kelihatannya enak itu."
"Tentu
saja!" Hijau mengangguk "Bukankah demikian, Sahabat? Tidak usah
ragu-ragu, Anak Muda. Ambilkan jambu-jambu itu untuk kami."
"Gunakan
bajumu untuk menadahi jatuhnya jambu-jambu, Hijau." Tanpa banyak cakap, si
kakek segera melakukan perintah Arya.
Pemuda
berambut putih keperakan itu menjulurkan tangannya ke arah batang pohon jambu
Si kakek
terjingkat ke belakang sambil menjulurkan tangan ke sebelahnya, seperti
layaknya tengah membawa seseorang untuk melompat ke belakang. Kelihatan jelas
Hijau terkejut
Sepasang
mata Hijau membelalak lebar memperhatikan pohon jambu yang bergetar keras bagai
diguncang-guncangkan tenaga raksasa. Guncangan itu demikian keras sehingga
jambu-jambu berjatuhan dari
tangkainya.
Buah-buhan berguguran ke bawah. Tidak hanya pada bagian di mana Hijau dan Arya
berada, tapi juga di bagian lain.
Kendati
demikian, semua jambu yang jatuh meluncur ke tempat Hijau berdiri dengan baju
dikembangkan. Pemandangan yang menakjubkan. Buah-buahan merah menggiurkan itu
meluncur menyerong, seakan baju Hijau mempunyai daya tarik yang amat kuat.
"Luar
biasa...! Tidak salahkah yang kita lihat ini, Sahabat? Jambu-jambu itu semuanya
menuju kita. Luar biasa...! Kita akan kenyang, Sahabat. Kita akan
kenyang...!" seru Hijau sambil tertawa kegirangan.
Arya
tersenyum melihat tingkah Hijau. Kakek itu tertawa-tawa gembira sebagaimana
seorang anak kecil yang menemukan mainan. Dia berkali-kali menoleh ke
sebelahnya. "Cukupkah itu, untuk kau, Sahabat, dan aku?" tanya Arya.
"Cukup.
Cukup, Anak Muda. Bukankah demikian, Sahabat?" Lagi-lagi kakek bungkuk itu
menoleh ke sebelahnya. "Anak muda, Sahabat mengatakan sudah cukup. O ya,
bisa kau beritahu bagaimana cara melakukan keajaiban seperti itu?"
Arya
tercenung sesaat. "Sulit untuk mengatakannya, Hijau," katanya
kemudian.
"Katakan
saja, Anak Muda. Aku ingin memiliki kemampuan seperti itu. Ah, betapa
senangnya. Aku tidak perlu takut kelaparan lagi. Katakan saja, Arya,"
desak Hijau.
Arya membisu. Bagaimana mungkin kakek itu bisa
mempelajarinya. Yang dilakukannya tadi membutuhkan tenaga dalam amat kuat.
Tidak sembarang tokoh persilatan mampu melakukan hal itu. Tenaga dalam sekuat
dirinya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipelajari. Apalagi orang se-emah
Hijau yang tidak memiliki tenaga dalam sama sekali.
"Ayolah,
Arya. Jangan pelit padaku. Kalau kau tidak mau mengajarinya, pandanglah
Sahabat, pandanglah muka kawanku ini. Kuharap kau bersedia mengajariku, Arya.
Aku ingin memiliki kemampuan seperti yang kau lakukan agar Sahabat tidak
kelaparan."
Arya tidak
punya pilihan lagi untuk mengelak.
"Baiklah,
Hijau. Aku akan memberitahu caranya. Tapi, bagaimana kalau kau tidak bisa
melakukannya? Kau membutuhkan tenaga dalam untuk melakukan hal seperti yang
kulakukan."
"Tenaga
dalam?!" Hijau menyelak "Apa itu, Arya?"
"Sesuatu
yang tersimpan di pusar. Seperti angin, berputaran di sana," jelas Arya.
"Tenaga dalam ini dengan kekuatan pikiran kita arahkan ke mana yang kita
mau. Tangan, kaki, atau apa saja yang diingini. Karena
memiliki
tenaga dalam kupusatkan perhatian pada tangan kananku yang kujulurkan ke pohon.
Dan, itulah hasilnya, Hijau."
Hijau
membisu. Sepasang matanya berputaran liar. Dahinya yang berkernyit dalam
menjadi pertanda kakek ini tengah berpikir.
"Jadi,
semuanya berpokok pada sesuatu yang berputaran di pusar?" Hijau meminta
penjelasan.
Arya
mengangkat bahu.
"Di
pusarku tidak ada sesuatu yang kau maksudkan itu, Arya. Tidak ada yang
berputaran. Bagaimana aku bisa mengarahkannya ke tangan atau kaki?" tanya
Hijau lagi sambil menatap Arya penuh rasa ingin tahu.
Arya tidak
merasa heran mendengar pertanyaan itu. Ia telah menduga sebelumnya. Orang
seaneh Hijau sulit untuk diberi pengertian.
"Pusatkan
pikiranmu pada pusar. Bayangkan seakan-akan di dalamnya ada tali. Lalu tali di
pusar itu berputar. Kalau tidak timbul putaran sesuatu, berarti kau tidak bisa
melakukan seperti yang aku lakukan tadi," jelas Arya.
Hijau
tertegun. Ia mengangguk-anggukkan kepala seperti mengerti apa yang disampaikan
Arya. Sepasang matanya lalu dipejamkan. Wajahnya ditundukkan. Agaknya dia
tengah memusatkan pikiran untuk melaksanakan anjuran Arya.
Arya
menggeleng-gelengkan kepala. Timbul rasa kasihan dalam hatinya. Bagaimana
mungkin akan ada putaran di pusarnya kalau tenaga dalam saja tidak dimiliki?
"Ah...!"
Jeritan
kaget Hijau mengejutkan Arya. Pandangannya segera dialihkan pada Hijau yang
tampak bingung bercampur gembira. Matanya yang berputaran liar terlihat
berbinar-binar.
"Apa
yang terjadi, Hijau?!" tanya Arya. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak
diharapkan.
Hijau tidak
mempedulikan pertanyaan Arya. Dia malah menoleh ke sebelahnya, tempat Sahabat
berada. Sepasang mata kakek bungkuk ini berbinar-binar. Suaranya sarat dengan
kegembiraan.
"Sahabat,
kau tahu apa yang kualami? Di dalam pusarku tengah berputaran. Ah, tidak tepat.
Maksudku bergejolak sesuatu yang amat dahsyat. Aku dan kau tidak akan kelaparan
lagi. Menyenangkan bukan? Kau setuju? Bagus!"
"Benarkah
yang kau katakan itu, Hijau?"tanya Arya, buru-buru "Tentu saja, Arya!
Untuk apa aku berbohong?!" tandas Hijau.
"Bagaimana
caraku untuk membuktikannya?" Arya berpikir sejenak.
"Pusatkan
pikiranmu untuk mengarahkan tenaga dalam pada tangan kanan. Aku akan
melemparkan batu kepadamu. Kau harus menerimanya. Setelah itu, pusatkan
pikiranmu ke jari-jari untuk meremas. Jelas?!"
Hijau mengiyakan.
Arya
mengibaskan tangan kanannya. Batu sebesar kepatan yang ada di tanah meluncur ke
arah Hijau. Arya tentu saja tidak bertindak gegabah. Tenaga yang dikerahkan
hanya untuk membuat batu mempunyai bobot seekor kambing.
Pemuda ini
baru merasa yakin dengan ucapan Hijau ketika melihat dia dengan enak saja
menerima batu. Seakan batu itu tak ubahnya daun kering, ketika jari-jari Hijau
digerakkan untuk meremas, batu pun hancur berantakan!
Wajah Arya
berubah hebat. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah tadi telah
dilihatnya sendiri Hijau tidak memiliki tenaga dalam.
Hijau
seperti tidak mengetahui keterkejutan Arya. Dia terlalu gembira dengan hasil
yang dicapainya. Kakek ini terkekeh-kekeh sambil sesekali berbicara pada
Sahabat.
Arya
menatap wajah Hijau lekat-lekat. Untuk kedua kalinya dia terperanjat. Sepasang
mata Hijau tajam mencorong dan bersinar kehijauan. Demikian tajamnya sehingga
Arya kaget sekali. Sorot seperti itu hanya keluar dari orang yang memiliki
tenaga dalam sangat tinggi.
Hijau terus
tertawa-tawa dengan biji mata berputaran liar. Ia lalu menjulurkan tangannya ke
batang pohon jambu. Pohon itu terguncang-guncang hebat dan menjatuhkan
buah-buahnya, seperti yang Arya lakukan tadi. Buah-buah itusemua meluncur ke
arah si kakek.
Arya
terbengong-bengong. Dia belum bisa berkata-kata ketika Hijau sibuk menyantapi
buah-buah merah segar itu. Sesekali Hijau memberikannya pada Sahabat. Bertindak
seakan-akan Sahabat menerima dan memakannya. Padahal, dia sendiri yang
menyantap buah-buah itu. Tak sedikit pun keluar kata-kata yang ditujukan pada
Arya. Baik itu berupa tawaran maupun basa-basi karena makan sendirian.
Cukup lama
Arya menunggu Hijau selesai dengan santapannya. Sambil berdesah-desah
kekenyangan dan mengusap-usap perutnya, kakek itu kemudian mengalihkan
perhatiannya pada Arya.
"Terima
kasih atas pelajaran yang kau berikan, Arya. Kemampuan yang kumiliki ini akan
membuatku tidak kelaparan lagi. Begitu juga Sahabat. Terima kasih, Arya.
Dan..., tunggusebentar."
Tanpa
peduli pada keheranan Arya melihatnya menghentikan ucapan, Hijau memejamkan
mata. Arya yang telah tertarik dengan kakek ini jadi memperharikan gerak-gerik
Hijau. Hanya sebentar saja Hijau
memejamkan
mata. Lalu dengan biji mata berputaran ditatapnya wajah pemuda berpakaian ungu
lekat-lekat
"Kau
harus berhati-hati, Arya. Aku melihat bahaya akan menimpamu. Maut berkeliling
di sekitarmu. Hanya yang mengherankan, asal bahaya itu datang dari orang-orang
yang kau kenal. Berhati-hatilah."
"Aku
tidak mengerti maksudmu, Hijau? Bahaya apa? Mengapa kau bisa
mengetahuinya?" tanya Arya kebingungan.
Hijau tidak
segera menjawab. Dia tercenung beberapa saat.
"Aku
juga semula tidak mengetahuinya, Arya. Mungkin inilah keanehanku. Setiap kali
akan terjadi bahaya baik padaku atau orang di dekatku, telinga sebelah
kananku akan berdenging nyaring. Maka
kupejamkan. Dan aku mencoba bercakap-cakap dengan Sahabat. Dari Sahabatlah aku
mengetahuinya. Katanya, ada bahaya yang mengancammu. Berhati-hatilah, Arya.
Maaf, aku tidak bisa menemanimu lama-lama. Aku mempunyai urusan yang sangat
penting. Sekali lagi terima kasih atas pelajaranmu. Apabila ada kesempatan
pasti kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal! Mari, Sahabat...!"
Tanpa
memberi kesempatan pada Arya untuk memberikan tanggapan, kakek bungkuk melesat
meninggalkan tempat itu. Ucapannya masih bergema, tapi tubuhnya sudah berada
jauh.
Arya
menghela napas berat sebelum meng-yunkan kaki, pergi. Tubuh Hijau sudah tidak
terlihat lagi. Tapi, benak Arya masih dipenuhi pikiran mengenai Hijau yang
penuh rahasia.
2
Arya
menghentikan langkahnya. Pemuda itu tengah berlari cepat melintasi hamparan
pasir. Se-auh mata memandang yang kelihatan hanya pasir belaka.
Tapi, ada
sesuatu di sana. Sesosok tubuh berpakaian serba hitam. Seluruh tubuhnya
terbungkus. Mulai dari kepala sampai ujung kaki. Yang terlihat oleh Arya hanya
bagian belakang tubuhnya. Sosok jangkung ini yang menyebabkan pemuda berpakaian
ungu itu menghentikan langkah.
Arya
mengerutkan sepasang alisnya. Dia mengenai bentuk tubuh sosok serba hitam ini.
Sosok ini meninggalkan kenangan yang mendalam. Pertemuannya dengan sosok serba
hitam amat membekas dalam jiwanya. Di tangan sosok inilah nyawanya pernah
hampir melayang.
"Iblis
Hitam...!" desis Arya, agak keras.
Sosok serba
hitam seperti mendengar ucapan Arya. Tubuhnya dibalikkan. Sosok ini terlihat
terjingkat kaget melihat keberadaan Dewa Arak delapan tombak di depannya.
Sosok ini
angker bukan main. Sekujur tubuhnya terlihat hitam. Ada dua lubang tepat di
bagian mata untuk melihat. Tangannya terbungkus sarung tangan hitam. Kakinya
juga tertutup sepatu hitam. Julukan Iblis Hitam memang sesuai untuknya.
"Dewa
Arak...!"
Iblis Hitam
berseru. Terasa jelas nada
kegembiraan dan keterkejutan di
dalamnya.
Arya
tersenyum lebar. Dia ikut melesat ketika Iblis Hitam menghambur ke arahnya
(Untuk jelasnya mengenai tokoh yang berjuluk Iblis Hitam ini, silakan baca
serial Dewa Arak dalam episode: "Peninggalan Iblis Hitam").
"Apa
yang terjadi, Iblis Hitam? Mengapa kau bisa berada di tempat ini? Tempat yang
amat jauh dari asalmu. Apakah ada keperluan penting? Kau seperti tengah
menungguku. Kau tahu aku lewat tempat ini dan sengaja hendak memberikan
kejutan?" tanya Arya bertubi-tubi setelah berjabatan tangan dengan Iblis
Hitam.
Iblis Hitam
menghela napas berat. Tindakannya membuat Arya menjadi heran. Perasaan tidak
enak mulai muncul dalam hatinya. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Pendekar
Golok Baja yang menjadi kakak kandung Iblis Hitam? Apakah telah terjadi sesuatu
terhadap Pendekar Golok Baja?" tanya Arya dalam hati.
"Kalau
kukatakan hal yang sebenarnya mungkin kau tidak percaya, Arya," ucap Iblis
Hitam hampir berupa keluhan. "Aku merasa seperti orang bodoh."
"Tidak
ada salahnya kau menceritakan, Iblis Hitam," ujar Arya memberi semangat.
"Apakah ini ada hubungannya dengan kakakmu?"
Iblis Hitam
menggeleng.
"Ini
menyangkut diriku sendiri. Aku merasa aneh mengapa bisa berada di tempat ini.
Bahkan, berdiri saja di tempat ini. Seperti ada yang kutunggu. Padahal, tidak
tahu apa yang tengah kutunggu-tunggu. Dan...."
Arya heran
melihat Iblis Hitam menghentikan ucapannya. Tokoh angker ini seperti terkesima.
Kekagetan Arya berganti kecurigaan melihat kilatan maut dalam pandangan Iblis
Hitam.
Kecurigaan
inilah yang menyelamatkan Dewa Arak dari maut. Dengan kecepatan yang
menakjubkan Iblis Hitam telah mencabut sepasang kapaknya dan mengayunkan ke
leher Dewa Arak. Yang kiri menyambar dari kanan, sedangkan yang di tangan kanan
membabat dari kiri, saling bersilang!
Untung Arya
telah lebih dulu melompat sebelum sepasang kapak Iblis Hitam yang berwarna
hitam pekat dan mengeluarkan hawa dingin me-nyambar. Kalau tidak, pemuda
berambut putih keperakan itu telah ambruk tak bernyawa.
"Iblis
Hitam! Apa artinya ini?!"
Dewa Arak
berseru kaget ketika berhasil menjejak tanah. Sikap Iblis Hitam bisa berubah
demikian cepat.
Tapi,
pertanyaan Dewa Arak dijawab oleh Iblis Hitam dengan serangan sepasang
kapaknya. Susul-menyusul dengan diiringi bunyi kesiutan angin menderu-deru.
Mengerikan!
Hal ini
menyadarkan Dewa Arak kalau ucapannya tidak akan berguna. Kalau dia masih
sayang nyawa, memberikan perlawananlah yang harus dilakukan. Kalau tidak dia
akan mati konyol. Pemuda berambut putih keperakan ini segera meraih guci arak
dan menenggak isinya.
Dewa Arak
tahu betapa besar pengaruh sepasang kapak hitam di tangan lawan Kapak itu mengeluarkan hawa dingin yang dapat membekukan otot-otot. Arya pernah
mengalaminya dulu. Maka, dia tidak berani bertindak gegabah. Pemuda ini
bertarung dengan membuat jarak, tidak berani terlalu dekat. Arya terpaksa
menggunakan pukulan-pukulan jarak jauh.
Iblis Hitam
mengetahui siasat yang dipergunakan Dewa Arak. Dia pun berusaha sedapat mungkin
memperpendek jarak. Pertarungan jadi terlihat aneh, seperti orang yang tengah
berkejaran. Dewa Arak bertarung
secara
mundur, sedangkan lawannya terus mendesak maju. Jalannya pertarungan membuat
tempat berlaga bergeser jauh.
Buk! Des!
Hampir
berbarengan dua serangan yang dilancarkan kedua petarung itu bersarang di
sasaran. Guci Dewa Arak menghantam dada Iblis Hitam dengan telak. Sebaliknya,
tendangan Iblis Hitam mengenai pangkal lengan kiri pemuda berambut putih
keperakan.
Tubuh
keduanya terlempar ke belakang. Iblis Hitam mampu bangkit dengan cepat setelah
bergulingan di tanah. Namun, Dewa Arak tak mampu bangkit lagi. Tubuh pemuda itu
tergolek diam tidak bergerak-gerak.
Iblis Hitam
yang semula sudah bersiap melancarkan serangan kembali segera mengurungkannya.
Sepasang matanya menatap penuh selidik pada Dewa Arak yang tergolek di tanah.
Hanya sebentar Iblis Hitam bersikap seperti itu. Sesaat kemudian, dengan
diawali teriakan melengking nyaring, tokoh angker itumelompat. Sepasang
kapaknya diayunkan.
Hal ini
sudah diperhitungkan Arya. Pemuda berambut putih keperakan ini tiba-tiba
menghentakkan kedua tangannya secara bergantian. Dewa Arak melancarkan pukulan
jarak jauh dengan jurus 'Pukulan Belalang'
Iblis Hitam
menggeram penuh perasaan kaget dan marah. Ia merasakan sambaran hawa panas
menyengat. Tapi, tokoh ini memang memiliki kemampuan luar biasa. Sambaran angin berhawa panas dipapakinya dengan kedua
kapak Iblis Hitam memang luar biasa! Tenaga benturan itu digunakan untuk salto
ke depan. Setelah beberapa kali ber-putaran di udara, tubuhnya menukik turun ke
arah Arya dengan sambaran sepasang kapaknya.
Dewa Arak
menggulingkan tubuh untuk menyelamatkan diri. Iblis Hitam yang rupanya sudah
bertekad membunuh pemuda berambut putih keperakan itu memburunya dengan
serangan kapak Cepat dan bertubi-tubi. Ini membuat Arya tidak mempunyai
kesempatan untuk bertindak apa pun selain bergulingan di tanah.
"Uhhh...!"
Dewa Arak
mengeluarkan keluhan tertahan. Gulingan tubuhnya terhenti. Ada sebuah benda
yang tertabrak sehingga gulingannya tertahan. Pemuda ini mengerling. Sebatang
pohon besar. Sekejap pemuda itu memutar benaknya mencari jalan untuk
menyelamarkan diri.
Arya
ternyata tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Sepasang kapak Iblis Hitam telah
lebih dulu meluruk ke arahnya. Pemuda berpakaian ungu itu belum mau mati. Dewa
Arak memutuskan untuk menangkis dengan menghantam pergelangan tangan Iblis
Hitam. Sebuah tindakan yang
amat
berbahaya. Bagi seorang ahli kapak seperti Iblis Hitam mudah saja menggerakkan
kapak, meski hanya dengan berporos pada pergelangan tangan. Kedua tangan Arya
bisa terpapas buntung!
***
Trang,
trang!
Terdengar
bunyi nyaring dibarengi berpercikannya bunga api. Itu terjadi setelah ada bunyi
berdesing yang mengiringi melesatnya sinar-sinar gelap memapaki sepasang kapak
Iblis Hitam.
Benda-benda
berwarna gelap yang ternyata dua butir kerikil itu langsung hancur, begitu berbenturan
dengan sepasang kapak. Tubuh Iblis Hitam tampak terhuyung-huyung ke belakang.
Iblis Hitam meraung seperti binatang terluka. Tokoh angker ini marah bercampur
kaget merasakan getaran kuat pada tangannya.
Dengan
kilatan maut pada sepasang matanya, Iblis Hitam mengarahkan pandangan ke arah
belakang Arya. Dalam jarak sekitar tiga tombak dari pemuda berambut putih
keperakan berdiri seorang kakek berpakaian penuh tambalan. Anehnya, sobekan
pakaian yang ditempelkan masih baru! Dalam model pakaian aneh itu terbungkus
tubuh tua renta. Kelihatan ringkih dan lemah. Tidak hanya rambutnya yang telah
memutih, tapi juga kumis, jenggot, dan alisnya. Tubuh kakek itu punagak
bungkuk.
"Tua
bangka gila! Rupanya kau sudah inginmati. Mampuslah!" Iblis Hitam tidak
terlihat menjejakkan kaki untuk melakukan
lompatan.
Tubuhnya melayang cepat ke arah kakek berpakaian tambalan. Dalam keadaan
tubuhnya di udara, lelaki itu menyelipkan kedua kapaknya di pinggang. Rupanya,
meski amat geram dan bermaksud membunuh, Iblis Hitam masih memiliki rasa malu
untuk menyerang lawan tak bersenjata dengan pusaka andalannya.
Iblis Hitam
melancarkan serangan dengan dorongan kedua telapak tangan terbuka. Si kakek
tidak menunjukkan gambaran perasaan apa pun pada wajahnya. Tidak kelihatan
kaget atau gentar meski dorongan kedua tangan Iblis Hitam menimbulkan bunyi
seperti suara geledek.
Malah, si
kakek memberikan tanggapan menakjubkan. Dia ikut melompat dan melakukan gerakan
yang sama. Tak pelak lagi, benturan dua pasang tangan yang sama-sama mengandung
tenaga dalam tinggi tidak bisa dihindarkan lagi. Tubuh keduanya lalu
terjengkang ke belakang.
Iblis Hitam
maupun si kakek seperti telah bersepakat sebelumnya. Mereka bersalto di udara
kemudian kembali melakukan serangan seperti sebelumnya. Benturan kembali
terjadi. Kali ini mereka melakukan dengan cara lain.
Iblis Hitam
dan si kakek mengerahkan tenaga dalam menarik. Iblis Hitam yang melakukan
pertama kali. Si kakek hanya mengikuti. Akibatnya, tangan mereka saling melekat
satu sama lain. Dalam keadaan seperti itu, tubuh keduanya melayang turun hingga
menjejak tanah.
Di sini
pertarungan yang lebih menegangkan terjadi. Masing-masing berusaha sekuat
tenaga memenangkan tarik-menarik itu. Yang kalah kuat akan mati lemas kehabisan
tenaga karena tersedot lawan.
Beberapa
saat lamanya tidak terlihat siapa yang berada di atas angin. Tapi kemudian
kedua kaki dan tangan Iblis Hitam menggigil. Semakin lama semakin keras. Si
kakek masih belum menampakkan gejala seperti Iblis Hitam, meski wajahnya telah
memerah.
Dewa Arak
yang memperhatikan serangan Iblis Hitam pertama kali terhadap si kakek
sudah tahu keadaan tokoh itu
kurang menguntungkan. Apabila pertempuran terus berlangsung, nyawa Iblis
Hitam bisa melayang. Arya bergegas menghampiri tempat pertarungan. Melalui ilmu
mengirim suara dari jauh, dilontarkan pemberitahuan pada kakek berpakaian
tambalan.
"Maafkan
aku, Kek. Bukannya tidak menghargai pertolonganmu. Tapi, kuharap kau bersedia
mengampuni lawanmu. Dia kawanku. Aku sendiri tidak mengera mengapa tiba-tiba
dia hendak membunuhku. Aku yakin ada hal yang tidak wajar di sini. Maka,
kuharap kau menyudahi persoalan ini. Sekali lagi aku minta maaf atas
kelancanganku ini. Tak lupa kuucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas
pertolongan yang kau berikan."
Si kakek
menatap wajah Arya. Arya
tersenyum sambil
menganggukkan kepala. Kakek itu tidak memberikan tanggapan sama sekali. Tapi,
hal ini tidak membuat Arya berkecil hati. Pemuda berambut putih keperakan ini
merasakan kakek berpakaian tambalan menyetujui permintaannya.
Tanpa
ragu-ragu Dewa Arak menghampiri Iblis Hitam. Hanya dengan sekali menggerakkan
jari menotok bahu kanan, pemuda ini berhasil membuat Iblis Hitam lemas. Tak
ubahnya sehelai kain basah tubuh Iblis Hitam terkulai ke tanah.
Pada saat
yang bersamaan dengan tertotoknya Iblis Hitam si kakek menghentikan aliran
tenaga dalamnya. Kalau itu tidak dilakukan nyawa Iblis Hitam akan melayang!
Dewa Arak
membiarkan tubuh Iblis Hitam ambruk ke tanah. Ia buru-buru melompat ke samping
ketika mendengar bisikan yang jelas di telinganya. Bisikan yang dikirim melalui
ilmu mengirim suara dari jauh. Bisikan yang berupa perintah.
Baru saja
Dewa Arak melompat si kakek telah memutar rambutnya yang panjang. Itu terjadi
hanya dengan sedikit menggerakkan leher. Dari putaran rambut putih itu meluncur
angin keras. Demikian kerasnya angin yang timbul sehingga tubuh Iblis Hitam
sampai terguling-guling ke belakang. Cukup jauh. Tak kurang dari sepuluhtombak.
Arya
memperhatikan saja tindakan kakek itu. Si kakek tidak hendak mencelakai Iblis
Hitam. Hanya membuat tubuh Iblis Hitam terpental. Dugaan Arya tidak keliru.
Begitu kekuatan yang menggulingkan tubuh Iblis Hitam telah habis, tokohitumampu
bangkit berdiri.
Dewa Arak
terkejut bukan main. Bukan karena Iblis Hitam yang menatap kakek berpakaian
tambalan dengan sorot penuh ancaman. Tapi, karena Iblis Hitam telah berhasil
bebas dari pengaruh totokan. Iblis Hitam tidak akan mampu bebas dari totokan
secepat itu. Berarti si kakek yang membebaskannya.
Kenyataan
ini menyadarkan Dewa Arak akan ketinggian ilmu si kakek. Dalam putaran rambut
untuk melemparkan Iblis Hitam, dia bisa membebaskan totokannya. Arya sendiri
tidak yakin akan dapat melakukan hal itu.
Iblis Hitam rupanya menyadari keadaannya yang tidak
menguntungkan. Setelah melempar pandang penuh kebencian pada kakek berpakaian
tambalan dan melayangkan tatapan penuh ancaman pada Dewa Arak, dia membalikkan
tubuh lalumelesat cepat meninggalkan tempat itu.
Arya diam
saja. Begitu juga si kakek. Hanya kalau saja Dewa Arak menatap hingga tubuh
Iblis Hitam lenyap di kejauhan, si kakek tidak mempedulikannya sama sekali.
Wajahnya ditundukkan menekuri tanah. Beberapa kali helaan napas berat keluar
dari mulutnya.
Dewa Arak
yang tidak ingin menggangu keasyikan si kakek membiarkan saja. Arya hanya
memperhatikan tanpa berani mengusik. Baru ketika si kakek mengangkat wajah dan
menatap ke arahnya, Dewa Arak menyunggingkan senyum lebar. Kembali si kakek
tidak memberikan tanggapan. Wajahnya tetap dingin. Sinar matanya pun tidak
terlihat beriak. Arya tidak merasa tersinggung. Pemuda ini malah memakluminya.
Banyak tokoh persilatan yang memiliki watak aneh. Terutama yang telah memiliki
kepandaian sukar diukur dan berusia lanjut. Meski Arya tidak mengerti mengapa
seperti itu, tapi dia bisa memahaminya.
"Sekali
lagi kuucapkan terima kasih atas pertolongan yang kau berikan, Kek. Kalau tidak
ada kau mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini," Arya membuka
pembicaraan dengan wajah penuh persahabatan.
"Kau
Dewa Arak, bukan?" tanya kakek itu tanpa mempedulikan ucapan terima kasih
Arya.
"Begitulah
orang-orang persilatan menjulukiku, Kek," Arya mengangguk. "Tapi, aku
lebih suka dipanggil dengan namaku. Arya Buana namaku, Kek. Orang biasa
menyapaku Arya."
"Apalah
artinya panggilan nama atau julukan?" si kakek menggumam sendiri. Tapi,
Arya yang memiliki pendengaran tajam dapat menangkapnya.
Kakek
berpakaian tambalan lalu menatap ke langit.
"Aku
sendiri sudah lupa namaku. Malah, aku merasa benci dengan diriku sendiri. Yang
kutahu, aku adalah ketua perkumpulan yang menjijikkan. Perkumpulan yang telah
dibawa oleh orang-orang asuhanku ke jalan sesat Ahhh...!Betapa memalukan bila
mengingatnya...."
Kembali
Dewa Arak tidak mengusik keasyikan si kakek. Arya malah menggunakan kesempatan
itu untuk memperhatikan keadaan penolongnya. Hati pemuda ini tercekat ketika
melihat tangan si kakek yang berwarna merah darah. Merah sampai sebatas
pergelangan tangan!
Tanda ini
membuat Arya yang semula tidak bisa menduga siapa kakek itu kini mempunyai
gambaran sedikit. Dia telah mendengar kabar yang te-siar di dunia persilatan
mengenai perkumpulan pengemis yang memiliki ciri-ciri demikian pada setiap
anggotanya. Perkumpulan Pengemis Tangan Merah demikian namanya.
"Apakah
kau ketua perkumpulan Pengemis Tangan Merah, Kek?" tanya Arya ketika si
kakek mengalihkan pandangan ke arahnya.
Kakek
berpakaian tambalan mengangguk sambil menghela napas berat setelah beberapa
saat menatap Dewa Arak lekat-lekat.
"Mungkin
pertanyaanmu perlu sedikit kuperbaiki, Anak Muda. Aku bukan lagi seorang ketua,
melainkan orang buangan. Semua ini memang kesalahanku. Aku telah membuat
perkumpulan itu jatuh ke dalam lumpur kehinaan. Entah bagaimana aku harus
mempertanggung jawabkan semua ini pada saudara seperguruanku...."
Kakek itu
menggantung perkataannya. Wajahnya yang dingin terbias kabut kedukaan.
Tampaknya kakek itu menderita tekanan batin.
"Mengapa
kau tidak berusaha meluruskan kembali perkumpulan itu, Kek? Aku yakin dengan
kemampuanmu tidak sulit melakukannya," Arya mengajukan saran.
"Apa
yang kau ketahui tentang perkumpulan kami, Anak Muda?" tanya si kakek,
dingin.
"Maaf,
Kek. Bukannya maksudku untuk menggurui. Tentu saja bila dibandingkan denganmu
sebagai tokoh puncak perkumpulan itu, pengetahuan yang kumiliki mengenai
perkumpulanmu amatlah sedikit," kilah Arya buru-buru untuk meredakan
suasana yang mulai memanas. Kakek berpakaian tambalan ini kelihatannya terlalu
pemarah.
"Syukurlah
kalau kau menyadari hal itu," suara si kakek melunak. "Tapi karena
kau telah telanjur bicara dan membuat rasa ingin tahuku muncul, aku ingin kau
kemukakan hal-hal yang kau ketahui tentang Perkumpulan Pengemis Tangan
Merah."
Arya tidak
punya pilihan lain kecuali menuruti kehendak si kakek. Dia merasakan adanya
tekanan yang tidak menghendaki bantahan dalam ucapan kakek itu.
"Yang kuketahui
tidak banyak, Kek. Kalau kau bersikeras memaksa, aku tidak punya pilihanlain.
Kuharap apabila yang kukemukakan ini berlainan dengan kenyataan kau tidak
menjadi gusar karenanya. Dan...."
"Lupakan
basa-basi itu! Aku bukan anak kecil yang mudah marah oleh hal-hal yang tidak
berarti. Katakan saja apa yang kau ingin sampaikan!" potong si kakek tidak
sabar.
3
"Sepanjang
pengetahuanku, Perkumpulan Pengemis Tangan Merah berjalan di jalur sesat. Telah
banyak kudengar perbuatan tidak patut yang dilakukan anggota-anggotanya. Di
samping banyak melakukan tindak kejahatan, perkumpulan itu pun telah banyak
menewaskan para pendekar. Karena hendak mencegah merajalelanya Perkumpulan
Pengemis Tangan Merah itulah aku berada di sini."
Arya
menghentikan ucapannya. Dengan penuh selidik pemuda berambut putih keperakan
ini mengawasi wajah kakek di depannya. Arya berusaha membaca perasaan yang
tersirat di wajah si kakek
Tapi, Arya
tidak bisa menyimpulkan apa pun. Wajah kakek itu tidak berubah sedikit
pun.Tetap dingin bagai tertutuptopeng.
"Dan...,"
Arya melanjutkan ucapannya. "Menurut berita yang kudapat, Ketua
Perkumpulan Pengemis Tangan Merah adalah tokoh yang berjuluk Pengemis Tua
Berbulu Putih. Itulah yang bisakukatakan padamu." "Semua yang kau
katakan itu benar, Anak Muda," lesu ucapan
kakek
berpakaian tambalan. Selesu sinar matanya yang kuyu. "Memang demikianlah
keadaan Perkumpulan Pengemis Tangan Merah, mengacau dunia persilatan. Patut
kuacungi jempol pengetahuanmu mengenai perkumpulan itu. Kau tahu pula mengenai
tokoh yang berjuluk Pengemis Tua Berbulu Putih. Apakah kau tidak bisa
mengira-ngira siapa tokoh yang kau sebutkan itu?"
Arya
membisu. Pemuda ini memperhatikan sekujur tubuh si kakek. Tatapannya beberapa
kali berhenti pada rambut, kumis, alis, dan jenggot ka-kek berpakaian tambalan
yang putih bersih.
"Benar,
Anak Muda," seperti mengetahui dugaan dalam benak Dewa Arak, si kakek
mengangguk. "Akulah orang yang kau sebutkan itu. Akulah Pengemis
TuaBerbulu Putih. Ketua Perkumpulan Pengemis Tangan Merah. Tapi itu dulu. Sudah
lama jabatan itu kuserahkan pada orang yang kupercaya. Sungguh tidak kusangka
kalau akhirnya akan seperti ini."
Arya tidak
merasa kaget mendengar penjelasan kakek itu. Dia sudah menduga sebelumnya.
Perasaan iba menyeruak di hati Dewa Arak. Dia bisa merasakan kehancuran hati
Pengemis Tua Berbulu Putih.
"Maaf,
Kek. Bukannya aku lancang atau menggurui. Tapi seperti yang kukatakan tadi,
mengapa kau tidak berusaha meluruskan jalan perkumpulan itu? Aku yakin kau
mampu. Apalagi mengingat jabatan yang dulu kau sandang."
Pengemis
Tua BerbuluPutihmengurut dada dengan sikap prihatin. Dia tidak kelihatan
gembira mendengar usul Arya.
"Seperti
juga yang kukatakan tadi, Anak Muda. Kau hanya tahu kulitnya saja mengenai
perkumpulan kami. Mungkin perlu kujelaskan kalau Perkumpulan Pengemis Tangan
Merah mempunyai aturan yang amat keras. Setiap anggotanya harus taat sepenuhnya
pada orang yang memegang pusaka lambang perkumpulan. Pusaka itu dipegang oleh
sang ketua. Baik buruknya perkumpulan ditentukan oleh dia. Apabila sang ketua
telah bertitah dengan mengangkat tongkat lambang perkumpulan, tidak boleh ada
bantahan apa pun dari para anggota. Itu sudah merupakan aturan mati. Anggota
yang membantah akan dihukum dengan jalan bunuh diri di hadapan semua anggota
perkumpulan!"
"Tidak
terkecuali kau, Kek?" tanya Arya, ingintahu.
"Tidak
ada kecualinya, Anak Muda!" tandas Pengemis Tua Berbulu Putih.
"Karena tidak tahan melihat kesesatan yang terjadi, aku memilih pergi
meninggalkan perkumpulan. Aku hanya bisa mendengar dan menyaksikan semuanya
dengan batin merintih sedih."
"Yang
kuherankan, mengapa kau bisa salah memilih orang untuk menjadi ketua? Dan,
mengapa kau mengundurkan diri dari jabatan itu kalau kau tahu malapetaka akan
terjadi? Menurutku kau belum terlalu tua untuk menjabat pimpinan
perkumpulan."
"Mungkin
menurut penilaianmu belum terlalu tua, Anak Muda. Tapi, aku merasa sebaliknya.
Aku sudah jenuh mengurus perkumpulan. Aku ingin menyepi dan bebas dari urusan.
Kupilih muridku yang terbaik. Aku tidak salah memilih orang. Tapi karena ada
orang yang berhati keji, semua ini terjadi. Ketua yang kuangkat terpengaruh
ilmu hitam yang dilancarkan seseorang. Dia lalu bertindak bukan dari hatinya
sendiri," jelas Pengemis Tua BerbuluPutih.
Arya
mengeluarkan seruan kaget mendengarnya. Dia sungguh tidak menyangka hal itu.
Meski demikian, dia tidak merasa heran. Banyak ilmu-ilmu aneh di dunia ini. Hal
yang wajar jika Ketua Perkumpulan Pengemis Tangan Merah terkena pengaruh ilmu
hitam seseorang.
"Apakah
kau tahu siapa orangnya, Kek?" desak Arya penuh rasa ingin tahu.
Pengemis
Tua Berbulu Putih mengangguk pelan
"Seorang
musuh besarku. Ia dendam padaku karena pernah kukalahkan belasan tahun yang
lalu. Seorang tokoh sesat yang berjuluk Penunggu Alam Kubur."
"Penunggu
Alam Kubur?!" ulang Arya dengan alis berkerut.
"Kau
mengenalnya, Anak Muda?" tanya Pengemis Tua Berbulu Putih penuh gairah,
berbeda dengan sebelumnya yang dingin dan tak acuh.
Arya
menggeleng.
"Aku
hanya mendengar beritanya saja, Kek. Kudengar dia seorang tokoh sesat yang amat
sakti. Kabarnya dia telah mengundurkan diri dari dunia persilatan. Lenyap
begitu saja tanpa ada yang tahu ke mana. Tokoh itu tidak pernah terlihat wajah
maupun tubuhnya karena selalu berada di dalam peti mati. Ketika bertarung pun
dia tetap tidak keluar dari tempatnya. Apa benar demikian, Kek?"
"Benar,
Anak Muda. Tapi ketika bentrok denganku, peti matinya berhasil kuhancurkan! Dia
dapat lolos dengan menyebarkan uap beracun. Karena kekalahannya itu dia tidak
pernah muncul lagi ke dunia persilatan. Kendati demikian, aku kenal semua
ilmu-ilmunya. Karena itu aku yakin kejadian yang menimpa perkumpulanku adalah
ulahnya"
Suasana
hening ketika Pengemis Tua Berbulu Putih menyelesaikan ceritanya. Kedua orang
itu tenggelam dalam alun pikiran sendiri-sendiri.
"Lalu,
apa tindakan yang akan kau lakukan, Kek?"
"Mencari
dan membunuhnya, Anak Muda. Hanya itulah satu-satunya jalan agar Perkumpulan
Pengemis Tangan Merah berhenti melakukan tindak kekejian!" jawab Pengemis
Tua Berbulu Putih.Tegas dan mantap suaranya.
"Kau
mempunyai dugaan di mana Penunggu Alam Kubur itu berada?"
Sorot mata
yang semula berbinar-binar penuh semangat itu kini redup. Arya segera tahu
jawaban yang akan didapatkannya. Kakek berpakaian tambalan menggelengkan
kepala.
Arya
menghembuskan napas berat. Bagaimana mungkin mencari seseorang di dunia yang
begini luas? Tanpa ada perkiraan sama sekali! Kapan akan bisa ditemukan?
Sebulan? Setahun? Selama itu Perkumpulan Pengemis Tangan Merah akan merajalela
tanpa dapat dicegah.
"Aku
mempunyai seorang kenalan, Kek. Seorang tokoh aneh yang dapat meramalkan
keberadaan seseorang hanya dengan kita menyebutkan ciri-cirinya. Dia berjuluk
Peramal Gendeng. Sayang, tokoh itu sudah meninggalkan tempat kediamannya.
Mengungsi ke tempat lain, karena tempat pengasingannya sudah diketahui
orang," beritahu Arya setengah mengeluh (Untuk jelasnya mengenai tokoh
aneh itu silakan baca episode: "Iblis Buta". Setelah bertempur dengan
Jerangkong Penjagal Nyawa yang berakibat tokoh aneh itu celaka kalau tidak
ditolong Dewa Arak, Peramal Gendeng pergi meninggalkan tempatnya).
Pengemis
Tua Berbulu Putih tidak memberikan tanggapan.
"Meski
demikian, bukan berarti aku tinggal diam, Kek. Aku akan berusaha menemukan
Penunggu Alam Kubur," janji Arya.
Bekas Ketua
Perkumpulan Pengemis Tangan Merah menatap wajah Arya lekat-lekat.
"Benarkah
kau ingin membantu kami, Anak Muda?" "Tentu saja, Kek!" tandas
Arya.
"Mungkin
kau tidak perlu bersusah-susah mencarinya. Meski tidak berani mengaku pandai
dalam hal ilmu gaib, aku mampu merasakan getaran-getaran bila seseorang
memiliki ilmu gaib. Kemampuan yang kumiliki hanya sampai di situ. Tapi itu
kurasa lebih dari cukup. Perlu kau ketahui, Anak Muda. Pada dirimu kurasakan
getaran-getaran itu. Kau memiliki ilmugaib. Apakah dugaanku ini benar?"
"Maaf,
Kek. Kurasa kau salah alamat. Aku tidak memiliki ilmu gaib!" bantah Arya.
"Benarkah
demikian, Anak Muda?" Pengemis Tua Berbulu Putin tidak percaya.
"Kurasakan getaran-getaran itu. Kuat bukan main. Ingat-ingatlah. Mungkin
kau tidak menyadarinya. Andaikata benar kau tidak memiliki ilmu gaib, tak
mungkin getarannya kurasakan. Apalagi demikian kuat!"
Keyakinan
yang sangat dalam pernyataan Pengemis Tua Berbulu Putih membuat Arya merenung.
Pemuda berambut putih keperakan ini kemudian teringat sesuatu. Dia memang tidak
memiliki ilmu gaib. Tapi, pernah berhubungan dengan hal-hal gaib. Lebih
tepatnya lagi dengan makhluk dari alam gaib. Beberapa kali makhluk yang berupa
belalang raksasa itu masuk ke dalam tubuhnya.
"Mungkinkah
yang kau maksudkan itu pernah masuknya makhluk dari alam gaib ke dalam tubuhku,
Kek?" tanya Arya, meminta kepastian.
"Makhluk
alam gaib masuk ke dalam tubuhmu, Anak Muda? Mungkinkah itu?! Kalau benar
demikian tidak aneh getaran-getaran yang kualami demikian besar. Ini
benar-benar luar biasa! Bisa kau ceritakan mengapa makhluk alam gaib itu bisa
masuk ke dalam dirimu? Boleh kutahu berbentuk apakah makhluk itu? Jin, raksasa,
binatang, atau roh orang yang meninggal?"
Arya
menghembuskan napas berat. Suaranya terdengar penuh penyesalan ketika
berbicara.
"Sayang
sekali, Kek. Aku tidak bisa menceritakannya. Ini merupakan rahasia diriku.
Maafkan aku. Bukannya aku tidak percaya padamu. Aku tidak bisamenceritakannya
pada orang lain..."
"Aku
bisa mengerti, Anak Muda. Kau tidak usah khawatir aku akan tersinggung. Kau
tidak perlu meminta maaf. Itu hakmu!" sambut Pengemis Tua Berbulu Putih
dengan nada datar. "Tapi, boleh aku mengajukan pertanyaan padamu?"
"Kemukakan
saja, Kek. Barangkali aku bisa menjawabnya," jawab Arya, hah hati. Pemuda
berambut putih keperakan ini tidak berani langsung menyanggupi.
"Makhluk
alam gaib itu masuk ke dalam dirimu sekehendak hatinya atau karena kau
inginkan? Misalnya, kau panggil begitu?"
"Dia
masuk apabila kupanggil."
"Sudah
cukup, Anak Muda! Hanya itu pertanyaanku! Kalau kau benar-benar hendak membantuku,
kuharap kau mau memanggil makhluk itu. Dari jawaban makhluk alam gaib itu kita
bisa tahu di mana Penunggu Alam Kubur."
Arya
termenung. Tidak langsungmengiyakan atau menolak. "Bagaimana, Anak Muda?
Kalau kau setuju cepat berikan jawaban.
Aku bukan termasuk
orang yang sabar. Jika tidak, aku akan pergi dan mencarinya sendiri,"
desak si kakek.
"Aku
setuju, Kek." Arya segera mengambil keputusan. "Tapi, aku masih tidak
tahu rencanamu."
"Sederhana
saja," timpal Pengemis Tua Berbulu Putih. "Kau panggil makhluk itu
dan perintahkan masuk ke dalam batu ini. Setelah itu tanyakan di mana Penunggu
Alam Kubur. Nanti makhluk itu akan memberikan jawaban berupa tulisan di
tanah!"
Tanpa
menunggu jawaban Arya, si kakek menaruh sebuah batu yang tadi dipungutnya dari
tanah. Sebutir batu sebesar kepalan tangan yang berujung runcing.
Arya masih
bingung. Pemuda ini tidak yakin akan keberhasilan rencana Pengemis Tua Berbulu
Putih. Memang diakui dia beberapa kali pernah memanggil belalang raksasa. Tapi
untuk masuk ke dalam dirinya. Bukan ke dalam batu seperti yang dipintasi kakek
Namun Arya
sudah menyanggupi. Segera dipusatkan pikirannya dan memanggil belalang raksasa
di alam gaib agar masuk ke dalam batu. Beberapa saat kemudian angin berhembus.
Pelan tapi dingin. Perasaan gembira bercampur lega muncul di hati Arya ketika
melihat batu yang semula diam kini bergerak-gerak. Gerakan itu terhenti ketika
batu berdiri dengan ujungnya yang runcing menempel di tanah.
"Sekarang
perintahkan padanya untuk memberitahukan di mana Penunggu Alam Kubur, Anak
Muda." Pengemis Tua Berbulu Putih segera berkata.
Kembali,
Dewa Arak memusatkan pikiran. Dia berbicara di dalam hati untuk memerintahkan
belalang raksasa yang telah berada di dalam batu. Begitu Arya selesai
berbicara, batu itu bergerak-gerak. Ujungnya yang runcing menggurat-gurat tanah
seperti ada tangan tak nampak yang menggerakkannya.
Arya dan
Pengemis Tua Berbulu Putih memperhatikannya dengan penuh minat. Mata mereka
seperti menempel pada gerakan batu. Ketika
gerakan
batu berhenti, di tanah terdapat sebaris tulisan. Arya dan Pengemis Tua
BerbuluPutihmembacanya cukup keras.
"Penunggu
Alam Kubur berada di pegunungan kapur. Di salah satu gua yang dindingnya berupa
tebing berbentuk gambar kepala harimau!"
Hampir
berbarengan Arya dan si kakek menyelesaikan ucapannya. Arya menatap bekas
pemimpin Perkumpulan Pengemis Tangan Merah. Tapi, si kakek tak mempedulikan.
Dia malah mengeluarkan sehelai kain hitam sepanjang dua jengkal. Cepat batu
runcing diikat dengan kain hitam.
Arya
mengernyitkan alisnya. Tidak mengerti dengan tindakan Pengemis Tua Berbulu
Putih. "Apa yang hendak kau lakukan, Kek?" tanya Arya.
"Membawa
batu ini, Anak Muda. Batu bekas tempat makhluk gaibmu akan menuntunku ke tempat
yang benar. Apabila aku salah jalan, dengan adanya batu ini aku bisa merasakan
getaran-getaran yang menunjukkan kesalahanku," beritahu Pengemis Tua
BerbuluPutih.
"Apakah
keterangan itu sudah cukup, Kek?" tanya Arya setelah mengangguk-anggukkan
kepala memahami penjelasan si kakek.
"Petunjuk
itucukup jelas, Anak Muda."
"Kalau
begitu, sudah saatnya makhluk gaib itukuminta pergi." Arya segera
memejamkan mata untuk memusatkan perhatian. Tapi,
segera
dibukanya lagi ketika mendengar ucapan Pengemis Tua Berbulu Putih.
"Kau
benar-benar buta dengan ilmu-ilmu gaib, Anak Muda?!" "Aku tidak
mengerti maksudmu, Kek?" jawab Arya.
"Makhluk
gaib itu sudah pergi!" tegas Pengemis Tua Berbulu Putih. "Makhluk itu
pergi begitu selesai menuliskan petunjuk. Kukira kau mengetahuinya...."
"Aku
tidak mengetahuinya, Kek. Aku tidak tahu makhluk itu telah pergi. Aku tahu
kepergiannya kalau makhluk itu masuk ke dalam tubuhku."
Pengemis
Tua Berbulu Putih menatap Arya lekat-lekat. Dia tengah mencari kesungguhan
ucapan Arya dalam wajahnya.
"Kalau
tidak mendengar sendiri, aku tidak akan percaya orang yang buta ilmu gaib
sepertimu bisa memanggil makhluk dari alam gaib. Sulit untuk dipercaya,"
ujar si kakek kemudian.
Arya
tersenyum simpul. Dia tidak memberikan jawaban. Di samping memang tidak perlu,
pemuda berambut putih keperakan ini pun tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
"Sekarang
apa yang akan kau lakukan, Kek? Mengejar Penunggu Alam Kubur?"
"Begitulah,
Anak Muda. Tapi sebelum itu aku ingin menengok perkumpulanku!" ujar si
kekek.
"Aku
ikut, Kek!" Arya mengajukan diri. "Barangkali tenagaku yang kurang
berarti ini dapat kusumbangkan untukmembantumu."
Pengemis
Tua Berbulu Putih tidak memberikan jawaban. Yang dilakukan kakek berpakaian
tambalan itu malah melesat pergi. Arya mengangkat kedua bahunya kemudian
melesat menyusul si kakek. Meski tidak ada jawaban sedikit pun, menurut
perkiraan Arya, kakek itu tidak keberatan dia ikut serta.
***
Dewa Arak
merasakan kehebatan Pengemis Tua Berbulu Putih. Betapapun Arya telah
mengerahkan seluruh ilmu lari cepatnya, jarak antara dia dan kakek itu tidak
berubah. Sekitar delapan tombak. Arya yang terus menujukan pandangan ke depan
jadi mengerutkan sepasang alisnya ketika melihat di kejauhan tampak beberapa
orang tengah terlibat pertarungan
Seorang
kakek yang tidak terlihat jelas ciri-cirinya karena cukup jauh tengah
menghadapi lima orang lelaki berpakaian penuh tambalan. Tangan kelima lelaki
yang merah menunjukkan kalau mereka anggota Perkumpulan Pengemis Tangan Merah.
Arya bertambah heran melihat gerakan ilmu golok lawan kelompok pengemis. Ilmu
golok kakek itu tidak asing bagi Arya.
Ternyata
bukan hanya Arya yang tertarik dengan pertarungan itu. Pengemis TuaBerbulu
Putih pundemikian. Kakek itumenghentikan larinya ketika jarak dengan kancah
pertarungan tinggal lima tombak.
Arya
menghentikan langkah di sebelah kiri kakek berpakaian tambalan itu.
Dikerlingnya sejenak Pengemis Tua Berbulu Putih sebelum mengarahkan perhatian
pada pertarungan. Dilihatnya wajah bekas Ketua Perkumpulan Pengemis Tangan
Merah itu biasa saja. Napasnya pun tidak memburu walau ada sedikit keringat di
keningnya. Sementara Arya wajahnya agak memerah. Keringat pun tidak hanya di
dahi, melainkan juga di leher dan di bawah hidung!
Ketika Arya
mengalihkan perhatian pada kakek yang tengah bertarung, dia bertambah heran.
Tidak salah dugaannya. Ilmu golok itu pernah dikenalnya. Kakek itu pun
dikenalnya dengan cukup baik. Kakek yang wajahnya berbintik-bintik putih itu
tidak lain Pandora. Pelayan kepercayaan Pendekar Golok Baja yang menjadi kakek
kandung Iblis Hitam alias Kala Sunggi!
Yang
menjadi pertanyaan Arya, mengapa Pandora berada di tempat ini? Adakah
hubungannya dengan keberadaan Iblis Hitam? Padahal tempat tinggal kedua orang
itu cukupjauh dari sini!
Meski
tengah memperhatikan jalannya pertarungan dengan penuh minat, Pengemis
TuaBerbulu Putihsempat melihat ke arah Arya. Kakek itu menolehkan kepala
menatap wajah Dewa Arak penuh selidik.
"Kau
kenal kakek bergolok itu, Anak Muda?"
"Benar,
Kek," Arya mengangguk. "Dia kawan baikku"
Pengemis
Tua Berbulu Putih tidak mengajukan pertanyaan lagi. Dia segera mengalihkan
perhatian pada jalannya pertarungan. Arya pun demikian.
4
Arya
mengerutkan alis. Pemuda ini khawatir dengan keselamatan Pandora. Jika
pertarungan ini terus berlangsung, keselamatan pelayan Pendekar Golok Baja itu
terancam.
Terlihat
jelas oleh Arya gulungan sinar golok Pandora semakin menyempit, terdesak oleh
gulungan sinar tongkat lawan-lawannya. Memang kepandaian Pandora berada di atas
lawan-lawannya, tapi lima orang terlalu berat bagi Pandora. Apalagi kelima
Iawannya itu mampu bekerja sama dengan baik
Kekhawatiran
Dewa Arak beralasan. Dengan sebuah gerak tipu yang baik dua orang anggota
Pengemis Tangan Merah berhasil menjepit golok Pandora. Sebelum kakek berwajah
bintik-bintik putih itu sempat berbuat sesuatu, tiga batang tongkat lawannya
telah meluruk datang.
Pandora tidak punya pilihan lain. Jika dia bersikeras mempertahankan golok,
nyawanya akan melayang. Maka meski dengan berat hati senjata andalannya itu
dilepaskan. Kakek ini lalu melempar tubuhnya ke belakang.
Gerakan
Pandora ternyata kurang cepat! Salah satu tongkat lawan tetap bersarang di
tubuhnya. Pangkal lengan kanan Pandora kena gebuk. Telak dan keras.
TubuhPandora terjengkang dan terbanting di tanah. Kakek ini memuntahkan darah
segar dari mulutnya. Sebelum sempat bangkit, lima lawannya telah meluruk maju
dengan tongkat diayunkan. Pandora hanya bisa membelalakkan mata untuk
menghadapi maut
Pada
kejadian ini, Arya tidak bisa tinggal diam lagi. Betapapun tidak diketahui
penyebab pertarungan itu, tapi sudah jelas pihak yang diketahui Dewa Arak
berada di jalan benar tengah terancam. Laksana seekor burung, pemuda berambut
putih keperakan ini melayang ke dalam kancah pertarungan. Tubuhnya menyelinap
di antara lima orang pengemis dan Pandora.
Bunyi
berdentang nyaring beberapa kali terdengar ketika guci Dewa Arak berbenturan
dengan tongkat para pengemis. Tongkat-tongkat itu langsung berlepasan dari
pegangan. Tubuh pemiliknya terjengkang ke belakang.
Tanpa
mempedulikan lawan-lawannya, Arya segera membalikkan tubuh dan berjongkok
memeriksa keadaan Pandora. Terlihat wajah kakek itu berseri-seri gembira.
Bibirnya berkemik menyebut satu nama.
"Dewa
Arak! Tidak kusangka bisa berjumpa di sini...."
"Selamat
bertemu lagi, Pandora. Aku pun tidak menyangka akan bertemu denganmu. Biar
kuperiksa dulu lukamu."
Cepat Arya
memeriksa bagian tangan yang terkena pukulan tongkat. Ternyata tidak terlalu
parah. Dengan beberapa totokan napas sesak Pandora pulih kembali. Bahkan, rasa
sakit di dadanya pun langsung lenyap.
Walau sibuk
mengurusi Pandora, Arya tidak meninggalkan kewaspadaannya. Pendengarannya
dipertajam untuk mengetahui gerak-gerik lima pengemis di belakangnya. Karena
itulah dia tahu mereka telah menggenggam tongkat masing-masing dan siap
melancarkan serangan.
"Dewa
Arak! Awas di belakangmu...!" seru Pandora ketika Pengemis-pengemis Tangan
Merah menerjang Dewa Arak dengan ayunan tongkat.
Sebenarnya,
Pandora tidak perlu memberi peringatan. Arya telah mengetahuinya. Pemuda
berambut putih keperakan ini segera membalikkan tubuh seraya mengembangkan
kedua tangannya. Akibatnya benar-benar menakjubkan. Kelima Pengemis Tangan
Merah tak ubahnya terhantam angin badai. Tubuh mereka berpentalan ke sana
kemari seperti daun-daun kering.
Beruntung
Dewa Arak masih memandang Pengemis Tua Berbulu Putih. Betapapun telah didengarnya
tindak-tanduk anggota Perkumpulan Pengemis Tangan Merah yang keji, namun dengan
adanya Pengemis Tua Berbulu Putih di situ kakek inilah yang lebih berhak untuk
bertindak. Biar bagaimanapun kakek ini sesepuh perkumpulan pengemis itu.
Memberikan hajaran terhadap mereka dengan adanya Pengemis Tua Berbulu Putih
sama artinya tidak menganggap keberadaan beliau.
Seperti
yang diduga Dewa Arak, lima Pengemis Tangan Merah tidak mempunyai pikiran sama
sekali. Mereka tidak tahu Arya telah berlaku sangat mengalah. Begitu berhasil
bangkit dari bergulingannya, mereka langsung bersiap untuk menerjang kembali.
Arya
memutar benaknya. Pemuda ini jadi serba salah. Pengemis Tua BerbuluPutihbelum
jugamelakukan tindakan.
Di saat
Arya telah mengambil keputusan untuk memberikan hajaran lebih keras,
pendengarannya menangkap kesiuran angin dingin. Arya merasa lega. Pengemis Tua
Berbulu Putih telah siap untuk bertindak.
Sekejap
kemudian, di antara lima pengemis dan Arya, berdiri Pengemis Tua Berbulu Putih
dengan kedua tangan di pinggang. Sikapnya kelihatan penuh wibawa.
Lima
Pengemis Tangan Merah terperanjat kaget. Tangan-tangan yang semula menegang
siap melancarkan serangan, melemas kembali. Mereka saling berpandangan satu
sama lain dengan sikap serba salah.
"Pengemis
Tua, mengapa menghalangi maksud kami? Dia telah lancang mencampuri urusan
kami?" tanya pengemis yang berhidung besar, suaranya terdengar pelan.
"Siapa
yang hendak menghalangi maksud kalian? Aku malah menawarkan diri untuk kalian
serang. Tidak usah tanggung-tanggung kalau bertindak. Ayo! Sekalian serang
aku!"
Tongkat-tongkat
yang tergenggam di tangan dijatuhkan ke tanah. Salah satu ujungnya menyentuh
tanah, sedangkan ujung lainnya tetap berada di cekalan. Terlihat jelas kelima
pengemis itu tidak berani meladeni tantangan Pengemis TuaBerbulu Putih.
"Mana
kami berani?" lagi-lagi pengemis berhidung besar yang memberikan jawaban.
Rupanya, kawan-kawannya telah memilihnya sebagai juru bicara mereka.
"Kalau
begitu lekas kalian pergi dari sini. Sampaikan pada murid durhaka itu kalau aku
akan mengunjunginya dan mencabut nyawanya! Cepat! Jangan tunggu kesabaranku
hilang dan kalian kubunuh!" teriak Pengemis Tua Berbulu Putih dengan suara
menggeledek.
Lima
pengemis itu kembali saling berpandangan. Dalam adu pandang itu satu kesepakatan
telah mereka capai. Setelah mengangguk hormat pada Pengemis Tua Berbulu Putih,
mereka membalikkan tubuh dan berlari meninggalkan tempat itu. Tak lupa sebelum
melesat pandangan penuh kebencian dan ancaman dilayangkan pada Dewa Arak dan
Pandora. Tapi, kedua orang itu tidakmempedulikannya.
Arya
mengalihkan perhatian pada Pandora. Kakek itu telah berdiri tegak. Goloknya
yang tergeletak di tanah telah disarungkan kembali dan diletakkan di belakang
punggungnya.
Pengemis
Tua Berbulu Putih tidak mempedulikan Arya dan Pandora. Dia masih terpaku
menatap kepergian lima Pengemis Tangan Merah.
***
"Mengapa
kau bisa berada di sini, Kek? Apa pula masalahnya sehingga kau bentrok dengan
para Pengemis Tangan Merah itu?" tanya Arya.
"Panjang
sekali ceritanya, Dewa Arak," jawab Pandora. Dihelanya napas berat. Kakek
itu lalu menengadahkan wajah menatap angkasa. Kemu-dian katanya setelah menatap
Arya sejenak, "Beberapa waktu yang lalu Tuan Prajasena mendapat kiriman
surat melalui seekor burung. Surat itu berisikan pesan agar Tuan Prajasena
segera datang ke sebuah tempat. Ada masalah penting yang harus dibicarakan
segera. Tuan Prajasena pun pergi. Dia berpesan agar aku menyampaikan berita
kepergiannya pada Tuan Kala Sunggi. Katakan saja ada masalah penting dengan
kawan lama, pesan Tuan Prajasena padaku untuk disampaikan pada Tuan Kala
Sunggi."
"Kau
tidak tahu di mana tempat yang dimaksud kawan lama Tuan Prajasena itu,
Kek?" Pandora menggeleng. "Barangkali kau tahu orang yang akan
ditemuinya?" tanya Arya lagi.
"Sayang
sekali, Dewa Arak," keluh Pandora "Tuan Prajasena tidak
memberitahuku. Mungkin masalah yang tengah dihadapinya amat rahasia. Kalau
tidak pasti akan diceritakannya padaku."
Arya
mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang, dia sudah bisa mengira-ngira apa yang
tengah lerjadi. Pandora dan Iblis Hitam berada di tempat ini ada hubungannya
dengan Prajasena alias Pendekar Golok Baja.
"Setelah
batas waktu yang ditentukan Tuan Prajasena terlewat, kutemui Tuan Kala Sunggi
yang tengah menyepi untuk mengasah batin. Kusampaikan surat Tuan Prajasena
padanya. Tuan Kala Sunggi segera pergi menyusul."
Arya
bertambah yakin kini. Sesuatu telah menimpa Iblis Hitam. Telah dilihatnya
sendiri keanehan sikap Iblis Hitam. Berarti, sesuatu telah terjadi pula atas
diri Pendekar Golok Baja.
"Tuan
Kala Sunggi pergi," lanjut Pandora. "Beberapa hari kemudian dia
kembali. Sikapnya berbeda sekali, Dewa Arak. Aku jadi khawatir dan cemas."
"Berubah
bagaimana, Kek? Apakah dia menjadi jahat?" Arya teringat percobaan
pembunuhan yang dilakukan Iblis Hitam terhadapnya.
"Tidak
sampai separah itu," Pandora menggelengkan kepala. "Dia jadi sering
termenung. Ketika kutanyakan mengenai nasib Tuan Prajasena, dijawabnya dia
tidak pernah bertemu. Tempat yang dimaksud dalam surat ternyata kosong.
Beberapa hari kemudian dia pergi. Tuan Kala Sunggi pamit padaku. Aku yang
khawatir dengan keadaan Tuan Kala Sunggi serta mencemaskan keselamatan Tuan
Prajasena, memutuskan untuk pergi. Niatku hanya satu, Dewa Arak. Mencarimu dan
meminta bantuanmu untuk menyelamatkan nasib tuan-tuanku itu."
Arya
tercenung sebentar. "Ada rahasia besar di sini, Kek. Semua itu aku yakin
berawal dari surat yang datang. Apakah kau sempat membacanya?"
"Tidak,
Dewa Arak. Aku tidak berani bertindak selancang itu. Kalau tuan-tuanku memberi
izin, mungkin keadaannya akan menjadi lain. Tapi ini tidak," keluh
Pandora. Terasa benar nada penyesalan dalam suaranya.
"Aku
telah berjumpa dengan Kala Sunggi, Kek," beritahu Arya dengan suara pelan,
takut memberi kejutan.
"Benarkah?!"
Pandora setengah terpekik. Dia kelihatan kaget dan gembira. "Lalu...,
bagaimana, Dewa Arak?"
"Seperti
yang kau ceritakan padaku. Kala Sunggi menjadi manusia baru."
Dengan singkat, Dewa
Arak menceritakan pengalamannya berjumpa dengan Iblis Hitam.
Pandora menarik napas berulang-ulang dengan sikap prihatin yang tidak bisa
disembunyikan. Di dekat mereka, Pengemis Tua Berbulu Putih masih menatap ke
tempat lima Pengemis Tangan Merah pergi.
"Hampir
aku lupa, Kek," ucap Arya setelah menyelesaikan ceritanya. "Mengapa
kau bentrok dengan Pengemis-pengemis Tangan Merah?"
"Mana
mungkin aku berdiam diri melihat mereka membawa seorang wanita muda, Dewa
Arak?" ujar Pandora dengan geram. "Meski nyawaku hampir melayang,
tapi wanita muda itu bisa kuselamatkan. Dia telah pulang ke tempat
tinggalnya."
"Hm...!"
Arya dan
Pandora menoleh menatap Pengemis Tua Berbulu Putih. Kakek ini baru menggumam
ketika mendengar percakapan Pandora dan Arya sampai pada permasalahan
Perkumpulan Pengemis Tangan Merah. Kakek ini merasa terusik.
Pandora
mengernyitkan alis, tak senang melihat pakaian Pengemis Tua Berbulu Putih. Dia
baru menyadari kakek yang datang bersama Arya mengenakan pakaian sama dengan
lawan-lawannya tadi.
Pandora
meraba hulu goloknya ketika tatapannya sampai pada tangan Pengemis Tua Berbulu
Putih yang berwarna merah. Tidak keliru lagi, kakek ini pasti ada hubungannya
dengan Perkumpulan Pengemis Tangan Merah, pikir Pandora.
Arya
buru-buru menyentuh pergelangan tangan Pandora yang menggenggam golok.
Kepalanya digelengkan memberi isyarat untuk tidak meneruskan maksud Pandora.
"Jangan
samakan dia dengan para pengeroyokmu, Kek. Dia berbeda. Aku dan dia akan pergi
ke perkumpulan itu untuk mencegah terjadinya kejahatan baru," jelas Arya.
Pandora
menurunkan tangannya. Sekujur urat-urat syaraf yang menegang kaku melemas
kembali. Dia percaya penuh pada kejujuran Dewa Arak.
"Apakah
kau akan ikut bersama kami?" Arya menawarkan. "Sayang sekali, Dewa
Arak. Aku lebih suka mencari Tuan
Prajasena.
Mudah-mudahan dia belum pergi jauh. Syukur kalau beliau mau mendengar
ucapanku," tolak Pandora.
"Mungkin
lebih baik demikian, Kek," timpal Arya setelah berpikir sebentar.
"Kita berpencar untuk memecahkan masalah mi. Aku yakin,
semua ini
ada hubungannya dengan Perkumpulan Pengemis Tangan Merah."
"Terima
kasih atas bantuanmu, Dewa Arak. Kalau ada umur pasti kita bertemu lagi.
Selamat tinggal!"
Pandora
lalu melesat meninggalkan tempat itu. Sebelumnya dianggukkan kepalanya sedikit,
meski dengan kaku, ke arah Pengemis Tua Berbulu Putih. Rasa kurang senang
Pandora semakin menjadi ketika melihat anggukannya tidak mendapat balasan.
Kejengkelan itu dilampiaskan dengan mempercepat larinya. Di dalam hati kakek
berwajah bintik-bintik putih ini memaki-maki
***
"Sehabis
hutan kecil ini beberapa ratus tombak di depan, di balik sebuah bukit kecil,
tempat yang menjadi markas Perkumpulan Pengemis Tangan Merah," beritahu
Pengemis Tua Berbulu Putih, tanpa menoleh.
Saat itu
Pengemis Tua Berbulu Putih dan Dewa Arak tengah berlari cepat agar bisa
sesegera mungkin tiba di Perkumpulan Pengemis Tangan Merah.
"Tak
lama lagi kita harus bekerja keras. Bukankah demikian, Kek?" timpal Arya.
Pengemis
Tua Berbulu Putih tidak memberi jawaban. Tapi sebentar kemudian, ketika
pandangannya membentur sesuatu di depan, mulutnya bergerak membuka.
"Tak
perlu nanti. Sekarang juga kurasa kita sudah harus bekerja keras!"
Di mulut
hutan sana berdiri tiga sosok tubuh. Sikap mereka kelihatan penuh ancaman.
Jantung Arya berdetak lebih cepat ketika mengenali salah satu di antara mereka
adalah Iblis Hitam! Dua sosok lainnya tidak dikenalnya. Melihat sorot mata
mereka yang mencorong tajam, Dewa Arak tahu sosok-sosok yang berdiri di
kanan-kiri Iblis Hitam memiliki kepandaian tinggi.
"Kau
mengenail mereka, Kek? Salah satu dari mereka, yang berpakaian serba hitam,
kukenal. Entah yang dua lagi," ujar Arya sambil terus berlari di sebelah
Pengemis Tua Berbulu Putih. Jarak mereka dengan para penghadang masih berkisar
lima belas tombak.
"Mereka
bukan tokoh-tokoh sembarangan, Dewa Arak. Yang bertangan sebelah berjuluk Naga
Berekor Tiga. Sedangkan yang berkulit hitam Macan Kumbang Maut!"
Arya kaget
juga mendengar keterangan itu. Pengemis Tua Berbulu Putih memang tidak
berlebih-lebihan. Dua tokoh di sebelah Iblis Hitam memang tokoh-tokoh besar.
Naga
Berekor Tiga merupakan datuk golongan putih. Dia amat terkenal. Nama besarnya
tidak kalah tenar dengan julukan Iblis Hitam yang telah melegenda. Telah
puluhan tokoh hitam roboh di tangan Naga Berekor Tiga.
Tokoh yang
berjuluk Macan Kumbang Maut tak kalah hebat. Kalau Naga Berekor Tiga merupakan
pentolan kaum putih, Macan Kumbang Maut merupakan dedengkot kaum sesat. Tak
terhitung tokoh-tokoh golongan putih yang dibantainya. Bahkan,
pentolan-pentolan kaum hitam yang menentangnya pun banyak yang tewas di
tangannya. Menurut kabar yang tersiar di rimba persilatan, Naga Berekor Tiga
dan Macan Kumbang Maut telah bentrok. Namun tidak ada yang kalah ataupun yang
menang. Keduanya sama-sama menderita luka berat
Sekarang,
tiga tokoh besar itu bergabung menghadang perjalanan Dewa Arak dan Pengemis
TuaBerbulu Putih.
Arya
menghentikan larinya ketika Pengemis Tua Berbulu Putih berhenti. Jarak mereka
delapan tombak dengan para penghadang. Mengapa Naga Berekor Tiga dan Macan
Kumbang Maut bergabung? Bukankah dua tokoh itu saling bertentangan? Tanya Arya
dalam hati. Tidak pernah terdengar mereka bisa bersatu. Dua tokoh itubagai
minyak dan air.
Teka-teki
itu semakin besar ketika melihat para penghadang tidak bertindak apa pun.
Mereka berdiri saja seperti orang kebingungan.
"Dewa
Arak...!"
Seruan
penuh kegembiraan Iblis Hitam membuat Arya heran bukan main. Sebagai orang yang
telah kenyang makan asam garam dunia persilatan, Arya tahu panggilan penuh
kegembiraan itu keluar dari lubuk hati yang tulus. Bukantipuan.
Bersamaan
dengan dikeluarkannya panggilan itu, Iblis Hitam menghambur ke arah Dewa Arak.
Tingkahnya seperti kawan lama yang tak menyangka akan dapat berjumpa. Arya
terkesima. Dia bingung hendak bertindak bagaimana. Pemuda ini diam di tempatnya
seperti orang dungu.
"Dewa
Arak..?!"
Ucapan
penuh keheranan itu dikeluarkan Naga Berekor Tiga. Sepasang mata tokoh ini yang
bersinar kehijauan menatap Arya penuh selidik.
"Inikah
tokoh yang menggemparkan dunia persilatan itu? Masih begini muda. Luar biasa!
Semuda ini sudah membuat nama besar...!"
Lain lagi
sikap Macan Kumbang Maut. Dia tidak mempedulikan Dewa Arak. Pandangannya
tertuju pada Pengemis Tua Berbulu Putih. Sinar matanya kelihatan garang.
"Kiranya
kau di sini, Gembel Busuk? Sekaranglah saatnya bagiku untuk membuat
perhitungan!" geram Macan Kumbang Maut seraya melangkah mendekati Pengemis
Tua BerbuluPutih.
Baru
beberapa tindak, langkah Iblis Hitam dan Macan Kumbang Maut terhenti. Tiba-tiba
mereka terpaku. Lalu, kilatan hawa maut memancar pada sepasang mata mereka.
Arya yang
sudah waspada sejak tadi langsung melompat ke belakang melihat keanehan pada
Iblis Hitam. Tindakan ini membuat Dewa Arak lolos dan maut. Pada saat yang
bersamaan dengan melompatnya dia ke belakang, Iblis Hitam dan Macan Kumbang
Maut melancarkan serangan terhadapnya.
Iblis Hitam
yang lebih dulu menyerang. Tokoh berpakaian serba gelap ini menggulingkan tubuh
dan begitu bangkit berdiri langsung mengirimkan pukulan kedua tangan ke arah
pusar Arya.
Tindak
Macan Kumbang Maut lebih menakjubkan lagi. Tokoh sesat berkulit hitam legam ini
mengeluarkan geraman keras seperti harimau murka. Sesaat kemudian, dia melompat
dan mengirimkan sampokan tangan ke arah pelipis Dewa Arak.
5
Arya
menghembuskan napas lega. Bersyukur karena tidak meninggalkan kewaspadaan.
Kalau tidak nyawanya pasti sudah melayang ke alam baka. Serangan mendadak
tokoh-tokoh seperti Iblis Hitam dan Macan Kumbang Maut tidak bisa dibuat
main-main!
Dewa Arak
segera menenggak araknya. Sesaat kemudian tubuhnya mulai limbung. Kedua kakinya
tidak menapak tanah dengan tetap. Pertanda ilmu 'Belalang Sakti' telah siap
untukdipergunakan.
Iblis Hitam
dan Macan Kumbang Maut tidak tinggal diam. Keduanya langsung menerjang Dewa
Arak. Iblis Hitam dengan sepasang kapak, sedangkan Macan Kumbang Maut
mempergunakan sepasang cakar baja yang mempunyai pegangan. Pertarungan sengit
pun segera pecah.
Bukan hanya
Dewa Arak yang mendapat serangan. Pengemis Tua Berbulu Putih pun demikian. Naga
Berekor Tiga meluruk ke arahnya dengan totokan bertubi-tubi. Tokoh bertangan
satu ini mempergunakan lengan bajunya yang kosong. Mematuk-matuk bak seekor
ular!
Pengemis
Tua Berbulu Putih melompat jauh ke belakang dan bersalto beberapa kali di
udara. Di samping untuk mengelakkan serangan juga untuk membentuk kancah
pertarungan lain yang tidak terlalu dekat dengan pertarungan Dewa Arak.
Dalam sekejap
hutan yang semula hening berubah hingar-bingar. Bunyi berdesing, dan mengaung
serta teriakan menyentakkan kesunyian.
Kelompok penghadang memang memiliki kemampuan menggiriskan. Pengemis Tua Berbulu Putih,
terutama Dewa Arak, dibuat kewalahan.
Merupakan
hal yang wajar kalau Dewa Arak terdesak hebat. Kedua lawannya memiliki
kepandaian yang dibilang sejajar dengannya. Sepasang kapak Iblis Hitam yang
mengeluarkan hawa dingin benar-benar membuatnya kerepotan. Hawa yang mampu
membekukan otot-otot itu anehnya tidak berpengaruh terhadap Iblis Hitam dan
Macan Kumbang Maut. Mungkinkarena dirinya yang diserang, duga Arya.
Sergapan
hawa dingin dan serangan lawan-lawannya membuat Arya bertarung mundur. Dalam
waktu singkat kancah pertarungan bergeser jauh Beruntung Dewa Arak memiliki
langkah ajaib jurus 'Delapan Langkah Belalang'.
Sambil
terus mengadakan perlawanan, lebih tepatnya bertahan, serangan Dewa Arak
semakin lama semakin berkurang. Ia kini lebih sering mengelak atau menangkis,
kalau dia nekat mau mengadu nyawa, bisa
membawa
salah satu lawannya ke akherat. Tapi Arya tidak mau melakukan hal itu. Mereka
tidak ada urusan sama sekali. Jadi, tidak perlu membahayakan nyawa. Apalagi
terhadap Iblis Hitam. Tokoh ini tidak membencinya. Iblis Hitam terlihat gembira
dengan pertemuan mereka.
Sebelum
mengambil keputusan yang diyakininya benar, Dewa Arak mengerling ke tempat
pertarungan Pengemis Tua Berbulu Putih dan Naga Berekor Tiga. Kedua tokoh itu
sudah tidak berada di situ lagi. Jalannya pertarungan telah membawa mereka
terpisah dengan pertarungan Dewa Arak.
Arya
menemukan akal yang bagus ketika pertarungan bergeser ke lapangan rumput yang
luas. Lapangan yang ditumbuhi rumput setinggi pinggang. Pemuda ini
menggulingkan tubuh setelah terlebih dulu membanting diri ke tanah mengelakkan
serangan lawan.
Iblis Hitam
dan Macan Kumbang Maut terus memburu. Tapi, sambil mengeluarkan keluhan kaget,
mendadak keduanya melempar tubuh ke belakang. Gulingan tubuh Dewa Arak di
rumput membuat tanaman itu meluncur ke arah mereka.
Bresss...!
Meski hanya
rumput dan serangan itu tercipta berkat kemampuan Dewa Arak yang luar biasa,
Iblis Hitam dan Macan Kumbang Maut tidak berani memandang remeh. Rumput-rumput
itu mampu menembus dinding karang yang paling keras sekali pun.
Karena
menangkis serbuan rumput yang demikian banyak bisa berakibat fatal, mengelaklah
yang mereka pilih. Tindakan yang sudah diduga Dewa Arak itu segera dimanfaatkan
sebaik-baiknya Pemuda itu melesat meninggalkan lawan-lawannya. Arya mengerahkan
kemampuan larinya yang tertinggi. Hanya dalam beberapa lesatan tubuhnya telah
berada belasan tombak di depan.
Iblis Hitam
dan Macan Kumbang Maut tidak tinggal diam. Sambil menggeram marah mereka
melesat, mengejar. Dewa Arak tidak mau menanggung akibat buruk. Dicarinya
tempat-tempat yang penuh ditumbuhi pepohonan dan semak-semak agar para
pengejarnya kehilangan jejak. Dia memang yakin ilmu larinya tidak kalah dari
lawan-lawannya. Tapi, kalau diikuti terus membuatnya tidak nyaman.
Meski telah
yakin Macan Kumbang Maut dan Iblis Hitam sudah tidak mengejar lagi, Dewa Arak
tidak mengurangi kecepatan larinya. Kerimbunan semak-semak diterobos. Kerimbunan semak
menguak membuat jalan setapak ketika Dewa Arak telah berjarak dua
tombak. Semak-semak itu rebah ke kanan dan kiri.
Sambil terus
berlari, Dewa Arak menyayangkan terjadinya penghadang itu. Ini membuatnya gagal
untuk mengunjungi Perkumpulan
Pengemis
Tangan Merah. Sekarang dia telah kehilangan arah menuju tempat itu.
Krusak...!
Arya memperlambat lari. Perhatiannya dipusatkan pada
pendengaran. Telinganya menangkap bunyi bergemerisik. Ada seseorang di tempat
ini!
Arya
meningkatkan kewaspadaan. Siapa tahu Iblis Hitam atau Macan Kumbang Maut.
Dugaan itu membuat Arya menghentikan lari dan melangkah hati-hati mendekati
sumber suara. Arya tahu betapa lihainya dua pengeroyoknya. Bunyi yang lirih pun
telah cukup untuk membuat mereka mendengar.
Arya
mengernyitkan alis ketika mendengar bunyi itu semakin jelas. Pendengarannya
yang amat peka bisa memperkirakan bunyi yang timbul, bukan dari langkah kaki,
melainkan bunyi yang tercipta bila seseorang memetik buah atau daun!
Arya terus
bergerak. Bunyi itu berasal dari balik kerimbunan semak. Melalui celah-celah
semak pemuda ini mengintai.
Tampak
sosok ramping terbungkus pakaian serba merah. Sosok yang diyakini Arya milik
seorang wanita muda berwajah cantik jelita. Tidak mungkin rasanya seorang yang
memiliki bentuk tubuh seindah itu terdapat pada orang yang tidak berwajah
cantik
Sosok
berpakaian merah yang berdiri membelakangi itu tengah memetik daun-daun. Arya
tidak tahu nama daunnya, tapi biasa
dipergunakan untuk pengobatan. Jari-jari lentik serta halus itu meletakkan
daun-daun yang telah dipetiknya ke dalam keranjang rotan yang terjinjing di
tangan kiri. Keranjang itu hampir penuh oleh berbagai macam akar-akaran,
daun-daunan, serta biji-bijian.
"Ehem...!"
Arya
berdehem pelan untuk memberitahukan keberadaannya di tempat itu. Tapi, pemuda
ini tidak menyangka sosok itu demikian terkejut. Dia sampai kaget dan bergegas
berjingkat membalikkan tubuh.
"Maafkan kalau aku telah mengejutkanmu, Nona. Tapi, percayalah. Aku bukan orang jahat," ujar Arya
buru-buru sambil menyibak semak dan memunculkan diri.
Sosok
berpakaian merah memperbaiki sikapnya yang telah siap tarung. Kendati demikian,
sinar kecurigaan tidak hilang dari sepasang matanya yang bening indah.
"Apa
maksudmu datang ke tempat ini? Apakah kau tidak tahu kalau di sini jarang
didatangi orang? Tempat ini terpencil dan jarang orang tahu."
Suara itu
demikian lembut dan merdu. Seindah bentuk tubuhnya. Sayang, wajahnya tidak
demikian. Wajah ituburuk. Penuh totol-totol hitam. Bopeng!
"Tidak
ada maksud apa pun, Nona," jawab Arya. Di dalam hatinya pemuda ini merasa
kasihan dengan wanita muda berpakaian merah. Wajahnya itu pasti yang
menyebabkan dia menyepi. "Aku hanya kebetulan lewat di sini. Aku
dikejar-kejar orang jahat. Namaku Arya "
Sepasang
mata bening indah itu membelalak kaget. "Arya?! Arya Buanakah
namamu?" tanya gadis berpakaian merah.
"Benar,
Nona. Apakah Nona pernah mengenalku? Atau, barangkali kita pernah
bertemu?"
"Tidak!"
Gadis bopeng itu menggelengkan kepala. "Kita tidak pernah bertemu. Aku pun
belum pernah mengenalmu. Kau berjuluk Dewa Arak, bukan?"
Arya
tersenyum seraya menganggukkan kepala.
"Kalau
begitu cepat ikuti aku, Dewa Arak!" Seperti terhadap kenalan lama, gadis
bopeng itu mengajak Arya. Dia berlari lebih dulu. Kelihatan terburu-buru.
Meski tidak
mengerti dengan tindakan si gadis, tapi melihat sikapnya yang
bersungguh-sungguh, Arya jadi tertarik. Dia ingin tahu apa yang akan
ditunjukkan gadis itu.
"Kau
hebat, Dewa Arak!" puji gadis berpakaian merah ketika dengan sekali
lesatan Arya berhasil mensejajarinya. Padahal, pemuda ini telah ketinggalan
sepuluh tombak. "Tidak aneh kakek yang tengah terluka itu menyebut-nyebut
dirimuterus."
"Kakek?! Tengah terluka?" Arya mengernyitkan alisnya.
Sekelebatan dia teringat pada Pengemis Tua Berbulu Putih. Mungkinkah kakek itu
terluka? Bukankah Naga Berekor Tiga terkenal memiliki kepandaian yang amat
tinggi. Lagi pula, siapa lagi kalau bukan kakek itu.
"Apakah
dia mengenakan pakaian penuh tambalan yang bahannya masih baru...?"
Si gadis
cepat berpaling menatap Arya tajam-tajam dan penuh selidik.
"Kakek
yang kau sebutkan itu sahabatmu?!" tanyanya kemudian. "Bisa dikatakan
begitu."
"Kalau
begitu, kau harus mampus!"
Bersamaan
dengan keluarnya ucapan penuh kebencian itu, si gadis melompat menerjang Dewa
Arak. Sekali menyerang gadis itu telah mengirimkan serangan mematikan. Tusukan
tangan bertubi-tubi dilancarkan ke ulu hati Dewa Arak
Arya memuji
dalam hati begitu merasakan kekuatan serangan. Diakui kecepatan
dan kekuatan tenaga dalam gadis bopeng itu mengagumkan. Tidak berada di bawah
kepandaian Melati.
Walaupun begitu, Arya tidak menemui kesulitan untuk menangkalnya. Dikerahkannya tenaga dalam seraya
menarik tubuhnya ke belakang se-hingga serangan mengenai perut.
Akibatnya, sangat mengejutkan
si gadis. Jari-jari tangannya seperti bukan membentur kulit manusia, melainkan
besi baja yang sangat keras. Meski sakit si gadis ternyata memiliki kekerasan
hati. Dia tidak mengeluh. Hanya seringai kesakitan menghiasi wajahnya.
"Kau
benar-benar hebat, Penjahat Keji! Tapi jangan kira aku, Suliasih, akan gentar
karenanya. Aku akan mengadu nyawa denganmu!" geram gadis bopeng sambil
menghunus pedangnya yang tersampir di pinggang.
"Hiaaat...!"
Diawali
teriakan melengking nyaring gadis itu membabatkan pedangnya ke leher Arya.
Sebuah serangan yang terlalu sadis untuk dilakukan seorang wanita. Apabila
mengenai sasaran, kepala Dewa Arak akan terlepas dari tubuhnya!
Arya
menggeleng-gelengkan kepala melihat serangan si gadis. Bisa diperkirakan
besarnya kebencian gadis itu pada Perkumpulan Pengemis Tangan Merah. Apa yang
telah dilakukan mereka terhadap gadis ini? Tanya Arya dalam hati.
Seperti
juga terhadap serangan sebelumnya, menghadapi serangan kali ini pun Dewa Arak
bersikap tenang. Pemuda itu menunggu datangnya serangan. Ketika serangan
menyambar dekat, Dewa Arak menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang putih
keperakan dan panjang melayang ke depan, menegang kaku bagai sebatang tongkat.
Prat!
Begitu mata
pedang si gadis bertemu rambut Dewa Arak, rambut itu melemas kembali. Kemudian,
melilit batang pedang.
Gadis
bopeng tidak tinggal diam. Dikerahkannya tenaga untuk menarik agar rambut Dewa
Arak putus terbabat mata pedang. Tapi, usahanya sia-sia. Jangankan memutuskan
rambut, membuat pedang itu bergeming saja tidak mampu!
Rasa
penasaran membuat gadis itu bersikeras untuk menarik. Dewa Arak mengeluh dalam
hati melihat sikap keras kepala si gadis. Lillian rambutnya dikendurkan. Tak
pelak lagi, tubuh gadis bopeng terjengkang ke belakang terbawa tenaga
tarikannya.
Di saat
tubuh si gadis melayang, dengan kemampuannya yang luar biasa Dewa Arak
melecutkan ujung rambutnya tiga kali.
Tuk!Tuk!Tuk!
Terdengar
bunyi ketukan cukup keras. Si gadis mengeluh tertahan. Bahu kanannya bagai
ditotok jari tangan. Padahal, Dewa Arak mengirimkan totokan jarak jauh dengan
mempergunakan ujung rambutnya.
Akibat
totokan itu sekujur tubuh si gadis langsung lemas. Tenaganya lenyap entah ke
mana. Dia tidak bisa berbuat apa pun untuk mengatur jatuh tubuhnya. Gadis itu
terjengkang dan jatuh terbanting keras di tanah. Gadis bopengmenyeringai
kesakitan.
Arya
mengembangkan senyum persahabatan. Dengan langkah lebar diayunkan kaki
mendekati si gadis. Gadis bopeng memasang wajah perang! Sinar matanya menyambar
wajah Arya dengan kebencian.
"Maafkan
kalau tindakanku agak kasar, Nona." Arya berkata dengan suara lunak.
"Aku terpaksa melakukan hal ini. Hanya dengan cara inilah aku bisa
menjelaskan duduk permasalahannya padamu."
Gadis
bopeng tidak memberikan tanggapan yang mengenakkan hati. Pandangan dan biasan
wajahnya tetap seperti semula, penuh permusuhan.
"Kuakui
aku telah bersahabat dengan kakek itu. Tapi perlu kau ketahui, Nona, sahabatku
itu tidak bisa disamakan dengan orang-orang Perkumpulan Pengemis Tangan Merah
lainnya. Dia berbeda dengan yang lain."
"Belum
pernah kudengar ada anggota Perkumpulan Pengemis Tangan Merah memiliki watak
lain. Mereka semuanya bajingan! Penjahat-penjahat berkedok pengemis!" tandas
gadis bopeng
"Mungkin
kau benar. Tapi, aku juga yakin kalau diriku tidak salah menilai. Telah
kusaksikan sendiri sepak terjangnya. Kakek itu bekas pimpinan Perkumpulan
Pengemis Tangan Merah. Dia mengundurkan diri karena sudah merasa tua..."
Wajah gadis
bopeng beriak. Terlihat jelas pemberitahuan Arya mempunyai pengaruh.
"Apakah aku tidak salah dengar?" katanya.
"Tidak!"
tegas Arya. "Kau tahu Ketua Perkumpulan Pengemis Tangan Merah yang
dulu?"
"Tentu
saja!" tandas si gadis. "Beliau seorang yang memiliki watak mulia. Di
bawah pimpinannya, Perkumpulan Pengemis Tangan Merah berada di jalan lurus.
Beliau berjulukPengemis Tua...."
"Berbulu
Putih," sambung Arya, cepat. "Nah! Beliaulah kakek yang
kumaksudkan!"
"Bohong!
Kau bohong, Dewa Arak! Kau penipu...!" geram gadis bopeng "Beliau
telah lenyap dari dunia persilatan. Menurut kabar, beliau tewas di tangan
Penunggu Alam Kubur!"
"Lalu,
siapa yang kujumpai, Nona?" tanya Arya. "Mungkinkah ada orang yang
iseng mengaku-aku sebagai Pengemis Tua Berbulu Putih? Kulihat sendiri
pengemis-pengemis tersesat itu gentar ketika bertemu dengan beliau."
Arya lalu
menceritakan semua yang dialaminya dengan Pengemis Tua Berbulu Putih sampai
akhirnya bertemu Pandora. Gadis bopeng mengernyitkan alis ketika Arya
menyelesaikan ceritanya. Dia kelihatan takjub.
"Seorang
kakek bersenjatakan golok, Dewa Arak?" tanya si gadis, meminta penegasan.
"Benar!"
"Wajahnya
penuh bintik-bintik putih?"
"Kau
mengenalnya, Nona? Asal kau tahu saja, dia adalah kenalanku," beritahu
Arya. Kemudian, menyambung ucapannya dengan gurauan. "Mudah-mudahan kau
tidak menyerangku lagi karena tahu kakek itu adalah kawanku"
Gadis
bopeng tersenyum. Arya harus mengakui senyum itu manis sekali.
"Bagaimana
mungkin aku bisa menyerangmu dengan keadaan seperti ini, Dewa Arak? Lagi pula
andaikata bisa pun tak akan kulakukan. Mana mungkin aku menyerang kenalan baik
penolongku."
Arya
membelalakkan mata. Pemuda ini kaget mendapat jawaban yang tidak
disangka-sangka itu.
"Kalau
begitu...," Arya menggantung ucapannya. "Kurasa sudah saatnya kau
menanggalkan penyamaranmu, Nona. Tidak sepantasnya menyembunyikan wajah yang
cantik di balik wajah menyeramkan itu."
Gadis
bopeng kelihatan gelagapan. Wajahnya merah padam. Malu. Bukannya memberikan
jawaban atau melaksanakan permintaan Arya, dia malah terdiam.
"Dari
mana kau bisa menduga wajah burukku ini hanya samaran, Dewa Arak? Kau sudah
menduganya sejak tadi?" ujar gadis itu kemudian. Suaranya agak terbata.
"Tidak,
Nona. Aku tidak tahu kalau wajahmu hanya bikinan. Samaranmu baik sekali
sehingga mampu mengecohku. Aku dapat menduga demikian karena
keteranganmu."
"Keteranganku?"
si gadis mengerutkan alisnya.
"Benar.
Keteranganmu yang mengatakan kalau kau adalah gadis yang ditolong Kakek
Pandora. Yakin Pengemis-pengemis Tangan Merah tak akan mau mengganggumu kalau
wajahmu buruk!" jelas Arya.
Gadis
bopeng mengangguk-anggukkan kepala. Dia kelihatan puas mendengar jawaban Arya.
"Kurasa
sudah saatnya aku membebaskanmu, Nona. Aku yakin kau tidak akan menyerangku
lagi."
Arya
menutup ucapannya dengan senyum. Si gadis ikut tersenyum Arya menjentikkan
jari. Gadis bopeng merasakan sesuatu menyentuh bagian tubuhnya. Aliran darahnya
yang semula tertahan mulai mengalir lancar.
Si gadis
mengerahkan tenaga dalam untuk membantu mempercepat aliran jalan darahnya. Sekarang,
dengan wajah berseri-seri dan penuh persahabatan dia bangkit berdiri.
"Maafkan tindakanku yang tidak patut, Dewa Arak!" ujarnya.
6
"Lupakanlah,
Nona. Aku justru kagum melihat sikapmu. Kau seorang pendekar wanita yang
lihai!"
Kembali
wajah gadis bopeng menyemburat merah.
"Kau
memang pandai memuji, Dewa Arak. Apalah artinya kemampuan yang kumiliki bila
dibandingkan denganmu. Tidak ada apa-apanya. O ya, hampir lupa. Namaku
Suliasih. Kau boleh memanggilku Suli atau Asih."
"Kuharap
kau memanggilku dengan nama pula, Asih," ujar Arya tidak mau ketinggalan.
"Baiklah
kalau begitu. Mari, De..., eh, Buana. Kita temui kakek yang selalu
menyebut-nyebut namamu."
Suliasih
melesat, mendahului. Arya menyusul setelah tersenyum geli mendengar sapaan
Suliasih. Sapaan itu mengingatkannya pada Targoutai, tokohMongol yang amat
sakti.
Dewa Arak
agaknya harus mengakui kebenaran ucapan Suliasih. Tempat ini memang tersembunyi
dan jarang didatangi orang. Dia melihat sendiri buktinya. Suliasih berlari
tidak menuruti jalan yang ada. Terkadang dia menerobos kerimbunan tanaman
berduri. Gadis itu berlari melalui bawah tebing sungai. Sungguh sebuah tempat
persembunyian yang amat bagus!
Setelah
melalui jalan yang berliku-liku, akhirnya Arya melihat sebuah pondok sederhana.
"Paman...!
Akudatang!"
Suliasih
berseru nyaring begitu tiba di depan pondok. Suliasih mendorong pintu pondok.
Kemudian melangkah masuk, diikuti Arya.
Tampak di
ruangan tengah sesosok tubuh berpakaian putih terbaring di balai-balai bambu.
Seorang lelaki gagah berusia lima puluhan. Wajahnya yang keras dihiasi cambang
bauk lebat.
Wajah Arya
seketika berubah hebat. Ia mengenali lelaki yang tergolek itu. Lelaki gagah itu
pun tampak terkejut melihat Arya. Seulas senyum lega tersungging di bibirnya.
Suliasih
tersenyum melihat sikap lelaki berpakaian putih. Dia tidak merasa kecil hati
meski keberadaannya seperti tidak dipedulikan.
"Dewa
Arak, syukurlah kau datang kemari. Aku sudah hampir putus asa," ucap
lelaki bercambang lebat.
"Pendekar
Golok Baja...!" sahut Arya. Suaranya agak bergetar. Rasa haru menguasai perasaannya, membuat Arya
tidak mampu mengendalikan suara.
Lelaki
gagah yang bukan lain Pendekar Golok Baja, tersenyum getir.
"Mengapa
kau seperti ini, Pendekar Golok Baja? Apa yang terjadi pada dirimu?"
"Ceritanya
cukup panjang, Dewa Arak," hampir berbisik Pendekar Golok Baja yang
memiliki nama asli Prajasena itu berkata.
"Kurasa
sebaiknya kau istirahat saja, Pendekar Golok Baja," usul Arya ketika
melihat Suliasih datang membawa baki berisi godokan akar, daun dan biji-bijian.
Arya menyingkir dari tepi balai-balai bambu, memberi tempat untuk Suliasih.
Arya sempat
tercengang melihat wajah asli Suliasih. Cantik bukan main! Totol-totol di
wajahnya sudah lenyap. Wajah itu kini putihdan halus. Dugaan Arya tidak
meleset. Sosok yang memiliki bentuk tubuh menggiurkan itu memang berwajah
jelita.
Suliasih
mengerling ke arah Arya. Sempat ditangkapnya sorot kekaguman pemuda itu.
Suliasih merasakan jantungnya berdegup kencang. Gadis itu segera menghapus
bopeng buatannya agar Arya melihat kecantikannya.
Suliasih
telah jatuh hati pada Dewa Arak. Karena itu, dia berusaha mengeluarkan seluruh
daya tariknya. Suliasih memberikan godokan obat-obatan pada Pendekar Golok
Baja. Lelaki gagah itu segera meminumnya. Dengan langkah gemulai Suliasih lalu
membawa bokor yang telah kosong ke dalam. Arya sempat melirik pinggul Suliasih
yang bergoyang-goyang.
***
"Apa
yang diceritakan Pandora memang tidak salah, Dewa Arak." Prajasena membuka
suara setelah beristirahat cukup lama. Arya
telah
menceritakan semua pengalamannya pada lelaki gagah itu.
"Mengapa
kau bisa jadi seperti ini, Pendekar Golok Baja?" Arya mengulang
pertanyaannya yang tadi belum mendapat jawaban.
"Aku
tertipu, Dewa Arak." Pendekar Golok Baja mulai bercerita. "Seperti
yang diceritakan Pandora, aku mendapat kiriman surat. Kukira seorang sahabat
baik yang mengirimkannya."
"Jadi...,
bukan sahabat baikmu yang mengirim surat itu, Paman?" Arya mengubah
panggilannya agar lebih akrab.
"Benar."
Pendekar Golok Baja mengangguk. "Di tempat yang tersebut dalam surat tidak
kujumpai kawanku itu. Yang ada hanya sebuah peti mati hitam berukir."
"Peti
mati?!" Arya teringat tokoh yang selalu bersembunyi dalam peti mati. Tokoh
yang diceritakan Pengemis Tua Berbulu Putih. "Tokohitu yang berjuluk
Penunggu Alam Kubur?"
"Siapa
lagi?!" Pendekar Golok Baja menyambuti. "Dia mempunyai maksud buruk
terhadapku. Kami terlibat pertarungan. Ternyata dia memang lihai. Tanpa menemui
kesulitan aku dirobohkannya. Kemudian, dia keluar dari peti. Kau tahu, Arya.
Tokoh itu ternyata memiliki ciri-ciri yang mengerikan. Sekujur tubuhnya dibalut
kain kuning sebesar sabuk. Yang kelihatan hanya sepasang matanya saja. Matanya
hijau dan mencorong seperti mata harimau dalam gelap!"
"Kau
beruntung, Paman. Kau bisa melihat Penunggu Alam Kubur di luar peti matinya.
Menurut berita yang kudengar, dia tidak pernah keluar dari tempatnya itu,"
timpal Arya.
"Dengan
suaranya yang menyeramkan tokoh mengerikan itu memintaku menyerahkan titipan
yang diberikan sahabat baikku. Tentu saja aku merasa heran. Meski bersahabat
baik, kawanku itu tidak pernah menitipkan apa pun padaku," sambung
Pendekar Golok Baja. "Penunggu Alam Kubur tidak percaya. Dia menyiksaku
sampai hampir mati. Setelah itu aku ditinggalkannya."
"Kau
tahu titipan yang dimaksudnya itu, Paman?"
"Semula
tidak. Tapi belakangan, karena dikiranya aku pura-pura tidak mengerti,
diberitahu oleh Penunggu Alam Kubur. Sebuah ilmu aneh yang tertulis dalam
lembaran daun lontar. Menurut iblis itu pada lembaran daun tertulis pelajaran
ilmu 'Perampas Sukma'. Ilmu yang diciptakan sahabat baikku. Entah mengapa
Penunggu Alam Kubur tidak mencarinya langsung pada kawanku. Hhh...! Aku juga
tidak mengerti mengapa kawanku lenyap."
"Boleh
kutahu siapa kawanmu?" Arya tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.
"Pengemis
TuaBerbulu Putih."
"Ah...!Beliaukah
orang yang kau maksudkan? Aku belum lama ini melakukan perjalanan bersamanya.
Pertemuanku dengan pelayan setiamu justru di saat aku melakukan perjalanan
dengannya!"
"Begitukah,
Arya?!" Pendekar Golok Baja sete-ngah tak percaya. "Bagaimana
keadaannya? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia
sehat, Paman."
"Sekarang
aku bisa mengira-ngira mengenai ilmu 'Perampas Sukma' itu, Arya."
Pendekar
Golok Baja mengelus-elus cambangnya. Arya menatap lelaki gagah itu. Sejak tadi
dia sebenarnya ingin menanyakan mengenai ilmu 'Perampas Sukma'.
"Bagaimana,
Paman?" tanya Arya kemudian.
"Kau
sendiri bagaimana?" Pendekar Golok Baja balik bertanya. Arya tidak segera
memberikan jawaban. Dia tercenung sebentar. "Sejak semula aku sudah
menduga Iblis Hitam menyerangku
karena
dipengaruhi sesuatu, ilmu gaib atau ilmu hitam. Pengemis Tua Berbulu Putih pun
menduga demikian. Sayang, aku tidak tahu ilmu apa yang menyebabkan Iblis Hitam
lupa segalanya. Aku hanya menduga pikirannya dikuasai seseorang. Itulah pendapatku,
Paman."
"Pendapatku
juga demikian, Arya," sahut Pendekar Golok Baja sambil tersenyum
"Jelas sudah kalau penyebab semua itu adalah ilmu 'Perampas Sukma'. Hanya
yang masih menjadi teka-teki, bagaimana hal itu bisa terjadi."
"Itulah yang membingungkan, Paman," sambut Arya,
membenarkan. "Sebelum menyerangku dengan membabi buta Iblis Hitam masih
sempat menegurku. Dia kelihatan gembira. Sekejap kemudian dia seperti
terkesima, setelah itu menyerangku dengan kalap."
"Berarti...,
di saat dia terkesima itu perintah untuk membunuhmu datang, Arya."
"Itu
sudah pasti, Paman. Tapi, bagaimana hal itu terjadi? Apakah melalui
ilmumengirimkan suara dari jauh?" kilah Arya.
"Pertanyaan
itu tidak akan pernah terjawab kalau kita hanya berdiam diri di sini. Kita
harus melakukan sesuatu. Menyelidiki rahasia besar ini"
"Kurasa
bukan kita, Paman. Tapi aku!" timpal Arya, memperbaiki perkataan Pendekar
Golok Baja. "Kau masih perlu beristirahat agar segera pulih seperti sedia
kala. Biar aku yang menyelidiki masalah itu!"
"Aku
sudah pulih, Arya! Aku telah sehat. Kita pergi bersama!" tandas Pendekar
Golok Baja.
"Tapi,
Paman...."
"Tidak
ada tapi-tapian! Aku telah sehat. Obat-obatan yang diberikan Suliasih
benar-benar menakjubkan. Tidak percuma gadis itu menjadi keturunan terakhir Malaikat
Penyembuh yang terkenal sebagai tukang obat jempolan!"
Arya tidak
membantah lagi.
Pemuda
berambut putih keperakan ini lebih memusatkan perhatian pada ucapan Pendekar
Golok Baja mengenai Suliasih. Gadis itu keturunan seorang ahli pengobatan.
Pantas demikian ahli mencari dan meramu bahan-bahan obat. Sayang, Arya tidak
pernah mendengar tokoh yang berjuluk Ma-laikat Penyembuh.
"Kau
hendak ikut dengan kami atau tinggal di sini saja, Suliasih?" tanya
Pendekar Golok Baja ketika gadis itu muncul kembali di ruang tengah.
"Paman
hendak pergi ke mana? Apakah sudah merasa sehat kembali?" Suliasih ganti
bertanya, bukannya memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan padanya.
"Berkat
kepandaianmu dalam pengobatan
aku telah sehat kembali!" jawab Pendekar Golok
Baja seraya tersenyum lebar. "Mengenai kepergian kami, aku sendiri belum
tahu. Kau bagaimana, Arya?"
"Kurasa
kita akan pergi ke pegunungan kapur. Mencari sebuah gua yang dinding tebingnya
berbentuk kepala harimau. Itulah tempat tinggal Pe-nunggu Alam Kubur,"
jawab Arya setelah tercenung sebentar.
"Mengapa
menemui Penunggu Alam Kubur?"
"Karena,
tokoh ituyang menjadi kunci rahasia ini,"jelas Arya. "Nah! Bagaimana,
Suliasih? Kau mauikut?"tanya Pendekar Golok
Baja lagi.
"Sayang
sekali, Paman," terdengar penuh penyesalan ucapan Suliasih. "Nanti
malam aku akan memberikan penghormatan dua belas purnama kematian ayahku. Aku
tidak bisa ikut. Tapi, seusai urusanku nanti aku akan menyusul ke tempat
itu."
Arya dan
Pendekar Golok Baja saling berpandangan.
"Kalau
begitu urusan kami bisa dilakukan belakangan. Biar kami ikut menghadiri
peringatan itu. Anggaplah sebagai tanda penghormatan kami terhadap mendiang
ayahmu. Asih. Bagaimana, Paman?" ujar Arya.
"Sebuah
usul yang bagus! Aku setuju sekali! Nah, Suli kepergian kami diundur. Kau bisa
ikut!"
"Maafkalau
aku harus mengecewakan kau dan Paman. Bukahnya aku tidak suka. Tapi, menurut
tradisi turun-temurun peringatan ini hanya dihadiri anggota keluarga. Tidak
boleh ada orang luar. Aku tidak berani merubah tradisi itu. Aku pribadi senang
apabila Paman dan Arya mau ikut. Tapi bagaimana? Aku khawatir dianggap tidak
menghormati tradisi."
"Kalau
begitu lupakan ucapan kami. Anggap saja tidak pernah ada. Kami berdua memaklumi
alasanmu. Kau tidak perlu merasa bersalah," hibur Pendekar Golok Baja.
"Benar,
Asih. Lupakan usulanku tadi. Tidak baik merubah tradisi," timpal Arya.
"Terima
kasih atas pengertian Paman dan Arya. Aku hanya bisa mendoakan agar urusan
kalian lancar."
Arya dan
Pendekar Golok Baja menyunggingkan senyum lebar
***
"Di
seberang sungai ini tempat yang kau maksudkan itu, Arya. Memang, masih harus
melalui hamparan padang rumput yang tingginya tak kurang dari dua meter. Tapi,
tak jauh dari situ akan terlihat dinding kapur berbentuk kepala harimau!"
jelas Pendekar Golok Baja seraya menudingkan jari telunjuknya.
Arya
melayangkan pandangan ke depan. Menatap deretan gunung kapur yang membentang.
Jantungnya berdebar tegang mengingat di tempat itu bercokol tokoh sesat
yangmenggiriskan hati.
"Kelihatannya
sepi-sepi saja." Lagi-lagi, Pendekar Golok Baja yang berbicara.
Arya
mengangguk-anggukkan kepala. Sekitar tempat itu memang tidak terlihat sepotong
makhlukhidup pun.
"Siapa
sangka kalau di balik kesunyian ini tersembunyi tokoh yang luar biasa,"
gumam Arya, pelan.
Pendekar Golok
Baja menghela napas berat. Ia kelihatan resah. Lelaki ini teringat nasib adik
kandungnya. Kala Sunggi alias Iblis Hitam berada dalam pengaruh Penunggu Alam
Kubur.
"Paman,
lihat...! Siapa yang bergerak mendatangi? Bukankah itu adik kandungmu?"
Arya yang
tanpa sengaja menoleh ke belakang, berseru agak keras. Laksana disengat ular
berbisa Pendekar Golok Baja membalikkan
tubuh. Apa
yang dikatakan Arya memang tidak salah. Sesosok tubuh serba hitam melesat ke
tempat dia dan Arya berada. Pendekar Golok Baja merasa tegang bukan main. Meski
jaraknya masih seratus tombak, dia tahu sosok yang tengah berlari cepat itu
adalah Iblis Hitam alias Kala Sunggi, adik kandungnya.
Seperti
juga Pendekar Golok Baja, Arya dililit perasaan yang sama. Sebuah pertanyaan
bergayut di benaknya. Bagaimana keadaan pikiran Iblis Hitam saat ini?
"Dewa
Arak...? Kakang Prajasena...!" Seruan yang terdengar keras sekali membuat
Arya dan Pendekar Golok Baja saling bertukar pandang dengan perasaan lega.
Iblis Hitam terus berlari mendekati mereka.
"Kurasa
kita tidak boleh membuang-buang waktu, Paman," bisik Arya. "Mumpung
pikirannya sedang normal. Mungkin kita bisa mencari tahu penyebab kejadian yang
menimpa dirinya."
"Aku
pun tengah menimbang-nimbang hal itu, Arya. Syukur kalau kau berpendapat sama.
Aku merasa lebih mantap melakukannya."
Begitu
Pendekar Golok Baja selesai dengan ucapannya, Iblis Hitam telah berada di
hadapan mereka. Sepasang mata tokoh yang luar biasa ini tampak berbinar-binar.
"Aku
tidak pernah menyangka akan bertemu dengan kau dan Dewa Arak, Kakang. Adakah
urusan yang amat penting sehingga kalian berdua bisa melakukan perjalanan
bersama?"
"Mengenai
hal itu bisa kuberitahukan belakangan, Sunggi," kilah Pendekar Golok Baja,
buru-buru. "Sekarang, katakan tujuanmu datang ke tempat ini!"
Iblis Hitam
terdiam. Meski wajahnya tidak terlihat, tapi dari gerakan dan sinar matanya
kelihatan kalau tokoh ini kebingungan. "Tujuanku, Kakang?" ulang
Iblis Hitam dengan suara mengambang. "Aku..., tidaktahu. Yang jelas aku
ingin pergi ke deretan pegunungan kapur di sana."
Arya dan
Pendekar Golok Baja saling berpandangan sesaat. Jelas, pegunungan itu tempat
tinggal Penunggu Alam Kubur. Perubahan sikap Iblis Hitam bertalian erat dengan
Penunggu Alam Kubur.
"Apakah
kau tidak merasakan hal ini sebagai sesuatu keanehan, Kala Sunggi?" ujar
Arya, cepat. Khawatir tokoh yang dulu menjadi lawan beratnya ini keburu lupa
ingatan. "Kau menuju ke sana tanpa alasan! Ingat-ingatlah, Kala Sunggi.
Aku yakinkau mampu mengingatnya."
Kala Sunggi
membisu. Pandang matanya menatap tajam pada satu titik.Tokoh ini tampaknya
tengah berpikir.
"Mengapa
sejak tadi aku tidak merasakan keanehan ini? Kau benar, Dewa Arak. Ini terasa
ganjil?"
"Ingat-ingatlah,
Sunggi," ucap Pendekar Golok Baja. "Kau pergi ke tempat itu atas
dasar keinginan hatimu atau bukan?"
Arya
mengangguk-anggukkan kepala mendengar pertanyaan yang diajukan lelaki gagah
itu. Sebuah pertanyaan yang tepat.
"Keinginan
hati?" gumam Iblis Hitam setelah berdiam cukup lama dengan kepala
tertunduk. "Rasanya tidak, Kakang. Benar. Tidak! Keinginanku pergi ke
tempat itu muncul tiba-tiba. Ya, mengapa aku tidak memperhatikan
keanehan-keanehan ini?"
"Selama
ini pikiranmu tertutup oleh ilmu langka yang dikuasai seorang tokoh hitam yang
berjuluk Penunggu Alam Kubur!" jelas Pendekar Golok Baja.
"Kau sering
bertindak tanpa sadar, Kala Sunggi" Arya menambahkan.
"Dua kali kau berusaha membunuhku."
"Ahhh...!"
Kala Sunggi berseru kaget. "Benarkah itu , Dewa Arak, Kakang Prajasena?
Benarkah aku telah menjadi demikian pikun?"
"Aku
sendiri tidak melihatmu melakukan tindakan itu. Tapi mungkinkah Dewa Arak
berbohong, Sunggi? Lagi pula, kulihat sendiri sekarang keanehan sikapmu. Kau
pun telah menyadari keanehan itu," urai Pendekar Golok Baja.
Iblis Hitam
membisu. Telah dibuktikannya sendiri keanehan sikapnya. Sesuatu yang mengerikan
telah terjadi pada dirinya. Dia telah menjadi budak seseorang!
7
"Aku
menyesal sekali atas kejadian itu, Dewa Arak," ujar Iblis Hitam dengan
suara berat. Aku merasa tidak pernah menyerangmu. Aku tidak ingat sama sekali
kejadian itu."
"Lupakanlah,
Kala Sunggi. Waktu itu kau berada dalam keadaan tidak sadar. Kau berada di
bawah pengaruh seseorang," sahut Arya, bijaksana.
"Yang
penting sekarang," Pendekar Golok Baja menambahi. "Kau ingat-ingat
semua kejadian yang telah kau alami. Mulailah dengan peristiwa yang kau temui
setelah Pandora memberitahukan kepergianku."
"Aku
ingat, Kakang!" sentak Iblis Hitam setelah tercenung sebentar.
"Begitu menerima kabar dari Pandora, dengan berbekal surat yang dikirimkan
Pengemis Tua Berbulu Putih, aku pergi menyusulmu. Ternyata di sana tidak
kujumpai siapa pun.Tidak sahabatmu juga dirimu, Kakang."
"Mungkin
saat itu aku sudah mendapat pertolongan," jawab Pendekar Golok Baja.
"Setelah
mencari sekitar tempat itu, aku berniat kembali. Pencarianku gagal. Kupikir kau
mungkin telah kembali ke rumah. Mungkin saja di tengah jalan berselisihan
karena kita berdua menempuh arah yang berlainan."
Iblis Hitam
menghentikan ceritanya untuk menelan ludah, membasahi tenggorokannya yang
kering. Pendekar Golok Baja dan Dewa Arak menunggu kelanjutan ceritanya dengan
sabar.
"Tapi,
di tengah perjalanan kembali aku dicegat sebuah peti yang melayang-layang di
udara dan mendarat di depanku," lanjut Iblis Hitam.
Arya dan
Pendekar Golok Baja menganggukkan kepala. Dugaan mereka ternyata tidak keliru.
Penunggu Alam Kubur mempunyai andil besar dalam rahasia ini.
"Aku
terlibat pertarungan dengan peti hitam berukir itu. Penghuni peti mati itu
ternyata lihai bukan main. Ahhh...! Sekarang aku ingat!"
"Apa
yang kau ingat, Sunggi?" tanya Pendekar Golok Baja, penuh harap.
"Aku
menangkap bunyi mendenging tinggi yang hampir tidak terdengar telingaku. Saat
itu aku merasa pusing sekali. Aku berusaha melawan dengan mengerahkan tenaga
dalam. Usahaku sia-sia."
"Apa
yang terjadi setelah itu, Kala Sunggi?" Arya tidak kuasa menahan perasan
tertariknya. Iblis Hitam terdiam. Wajahnya yang tertutup selubung menekuri
tanah.
"Entahlah,
Dewa Arak" Tokoh menggiriskan hati ini menggeleng kepala. "Aku tidak
ingat apa-apa lagi setelah itu."
Pendekar
Golok Baja menatap Arya. Lelaki ini tidak bisa menarik kesimpulan apa pun.
Semuanya masih diliputi rahasia. Iblis Hitam lupa diri setelah mendengar
lengkingan tinggi. Mungkinkah itu ilmu 'Perampas Sukma'?
"Sekarang
aku sedikit mengerti, Paman." Arya membuka suara. Pendekar Golok Baja
menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu
"Bagaimana,
Arya?"
"Kemungkinan
besar nada yang melengking tinggi itu merupakan cara untuk menguasai pikiran
Iblis Hitam."
"Mungkin
itu benar, Arya. Tapi bagaimana dengan perintah-perintahnya? Tak mungkinbila
lengkingan itu mengandung pengertian yang beragam. Menyerangmu, pergi ke tempat
ini, menunggu di mulut hutan, dan sebagainya." Pendekar Golok Baja
membantah. Agaknya dia kurang setuju dengan pendapat Arya.
"Apa
yang kau kemukakan memang tidak salah, Paman. Namun, mungkin perlu kujelaskan
sedikit. Lengkingan itu tidak berisikan perintah...."
"Aku
mengerti maksudmu, Arya." Pendekar Golok Baja tak sabar menunggu Arya
selesai dengan ucapannya. "Lengkingan tinggi itu hanya untuk menghilangkan kesadaran sebelum orang itu dipengaruhi.
Perintahnya diberikan kemudian. Dengan demikian, tidak ada hal yang diingat
oleh Iblis Hitam. Karena, kejadian atau hal-hal yang dilakukannya terjadi di
saat dia sedang tidak sadar."
"Begitulah
maksudku, Paman," ujar Arya. "Perintah-perintah dilakukan dengan cara
mengirim suara dari jauh. Atau melalui pikiran. Ini bisa terjadi karena sudah
ada hubungan sebelumnya antara mereka."
"Apakah
saat diserang Kala Sunggi kau mendengar bunyi lengkingan itu, Arya?" tanya
Pendekar Golok Baja.
Arya
mengernyitkan kening.Perlahan-lahan kepalanya
digelengkan.
"Kurasa
setelah berhasil mempengaruhi seseorang
dengan lengkingan pertama kali bunyi itutidak diperlukan lagi."
"Mengapa?"
"Karena
tidak memberikan hasil yang cukup memuaskan!" tandas Arya. "Berapa
jauh jarak yang bisa dicapai seorang manusia, betapapun tinggi kepandaiannya
kalau hanya mempergunakan lengkingan?"
Pendekar
Golok Baja merenung. Sesaat kemudian, meski dengan kaku dan pelan-pelan,
kepalanya dianggukkan.
"Berarti
untuk mencapai hasil yang memuaskan cara yang digunakan adalah melalui
pikiran."
"Tepat
sekali. Aku pun berpendapat demikian. Seperti yang kukatakan tadi, bukankah
telah terbentuk semacam hubungan batin antara Iblis Hitam dengan pelaku
kekejian itu! Jadi, melalui pikiran perintah-perintah dapat dengan mudah
diberikan."
"Satu
masalah telah teratasi, Arya," ujar Pendekar Golok Baja, gembira.
"Tinggal masalah yang besarnya. Setelah ini kau akan terbebas dari
pengaruh tokoh keji itu, Sunggi."
Senyum yang
menghias bibir Pendekar Golok Baja langsung buyar ketika menoleh pada Iblis
Hitam. Adik kandungnya tengah terkesima seperti memikirkan sesuatu. Pendekar
Golok Baja segera tahu perintah-perintah untuk Ibiis Hitam sedang diberikan.
Pendekar
Golok Baja mengerling pada Dewa Arak. Pemuda itu pun tengah memperhatikan Iblis
Hitam. Arya lalu menoleh menatap Pendekar Golok Baja. Lelaki gagah itu mengerti
arti tatapan Dewa Arak. Dia pun sadar tidak ada yang bisa dilakukannya, kecuali
menunggu peristiwa yang akan terjadi.
***
"Mau
ke mana, Sunggi?"
Hanya
dengan sedikit menggeser kaki, Pendekar Golok Baja telah berdiri di hadapan
Iblis Hitam Tokoh berpakaian serba hitam ini hendak meninggalkan tempat itu.
Pendekar Golok Baja yang memperhatikan gerak-geriknya cepat bertindak.
Arya dan
Pendekar Golok Baja melihat sepasang mata Iblis Hitam seperti mengeluarkan api.
Terlihat sorot tidak senang yang sangat
"Siapa
pun kau, menyingkirlah! Jangan halangi jalanku. Jangan tunggu sampai
kesabaranku habis!"
Pendekar
Golok Baja menghela napas berat. Resah hatinya melihat Iblis Hitam tidak
mengenalinya lagi. Perkataan yang ditujukan padanya sarat dengan ancaman.
Pendekar
Golok Baja meraba hulu golok. Iblis Hitam mulai mencekal gagang sepasang
kapaknya. Arya yang melihat ketegangan mulai tercipta segera bertindak.
Disentuhnya pergelangan tangan Pendekar Golok Baja, kemudian digelengkan
kepalanya.
"Kurasa
tidak perlu kekerasan seperti ini, Paman," ujar Arya pelan.
"Bagaimanapun juga dia adikmu, tambahan lagi tengah berada dalam pengaruh
tokoh jahat. Selama dia tidak menyerang kurasa tidak menjadi
masalah.
Yang penting, kita harus cepat mengirim biang keladi semua ini ke alam
baka!"
Otot-otot
Pendekar Golok Baja melemas kembali. Disadarinya kebenaran ucapan Arya. Memang,
yang penting adalah Penunggu Alam Kubur. Apa bila tokoh itu telah dilenyapkan
dengan sendirinya pengaruh ilmu kejinya akan pupus.
Seperti
mengetahui kalau Pendekar Golok Baja menyelesaikan persoalan, Iblis Hitam
menjauhkan jari-jarinya dari sepasang kapaknya. Ketika lelaki bercambang lebat
itu menyingkir untuk memberi jalan, Iblis Hitam melompat melewati kepala
Pendekar Golok Baja! Rupanya dia sudah tidak sabar lagi.
Bagai
tengah melompat-lompat di tanah datar yang keras, Iblis Hitam menotok permukaan
air sungai dengan kakinya. Beberapa kali hal itu dilakukan agar bisa sampai di
seberang sungai yang cukup lebar. Semua tingkah Iblis Hitam hanya bisa
dipandang dengan sorot mata duka oleh Pendekar Golok Baja dan Arya.
"Mengapa
dia tidak menyerang kita, Arya?" tanya Pendekar Golok Baja kemudian
setelah Iblis Hitam menjauh. Beberapa kali Iblis Hitam hendak membunuh Arya.
Bukankah itu berarti orang yang menguasai Iblis Hitam mempunyai dendam terhadap
Dewa Arak. Tapi, mengapa kali ini ia tidak menyerang pemuda itu?
"Aku
sendiri tidak mengerti, Paman." Arya menggelengkan kepala. "Padahal
biasanya dia menyerangku. Mungkin karena keberadaanmu di sini."
"Apa
hubungannya?" bantah Pendekar Golok Baja. "Aku lebih condong dan
menduga orang yang menguasai Iblis Hitam mempunyai urusan lain yang lebih
penting!"
Wajah Arya
beriak.
"Kurasa
kau benar, Paman," timpal Arya dengan bersungguh-sungguh. "Mungkin
Penunggu Alam Kubur telah menemukan lawan yang tangguh."
"Siapa
orang yang kau maksudkan, Arya?"
"Pengemis
Tua Berbulu Putih!" jawab Arya. "Beliau memang bermaksud menyatroni
Penunggu Alam Kubur untuk membuat anggota-anggota Perkumpulan Pengemis Tangan
Merah tidak terus melakukan kejahatan."
"Kalau
begitu.., mari kita bergegas!" sambut Pendekar Golok Baja penuh gairah.
"Aku sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengannya. Belasan tahun
lamanya tidak berjumpa."
"Aku
pun sudah tidak sabar lagi menyaksikan jalannya pertarungan mereka. Kabarnya,
Penunggu Alam Kubur dan Pengemis Tua Berbulu Putih telah terlibat pertarungan
beberapa waktu yang lalu."
"Aku
pun mendengar beritanya, Arya. Bahkan menurut kabar yang kudengar, karena
pertarungan itu Pengemis Tua Berbulu Putih lenyap dari dunia persilatan. Banyak
suara-suara mengatakan dia tewas di tangan Penunggu Alam Kubur. Tapi nyatanya?
Kau sendiri melihat Pengemis Tua Berbulu Putihsehat walafiat"
Arya
mengangguk.
"Ada
hal yang aneh di sini, Arya," ujar Pendekar Golok Baja setelah terdiam
sesaat.
"Apa
itu, Paman?"
"Mengenai Penungg Alam Kubur. Sepengetahuanku,dia
memiliki kesombongan luar biasa. Mungkin karena merasa dirinya seorang
dedengkot kaum hitam. Belum pernah kudengar dia mencari bantuan untuk
menghadapi lawannya. Keangkuhannya membuat dia lebih rela mati daripada
mengeroyok lawan. Apalagi dia amat percaya akan kesaktiannya."
"Mungkin
saja dia tahu Pengemis Tua Berbulu Putih seorang lawan yang amat tangguh.
Karena tidak yakin dapat mengalahkan lawannya kali ini, diputuskan memanggil tokoh-tokoh yang telah dikuasai pikirannya." Arya memberikan
pemikiran lain.
Pendekar
Golok Baja mengangkat kedua bahunya. Ia tidak memberikan tanggapan. Alasan yang
diajukan Arya agaknya masuk pemikirannya juga, meski tidakmenggoyahkan
pendapatnya.
"Untuk
jelasnya, sebaiknya kita segera ke sana. Benarkah Penunggu Alam Kubur melakukan
pengeroyokan untuk memperoleh kemenangannya?" ujar Arya.
"Memang
itu satu-satunya cara, Arya," jawab Pendekar Golok Baja.
***
Arya dan
Pendekar Golok Baja memandang dengan tatapan membelalak. Sepuluh tombak dari
tempat mereka berada terlihat pemandangan yang cukup mengejutkan. Mereka segera
menghentikan ayunan kaki. Dua sosok tubuh tergolek di tanah. Dan, sebuah peti
mati hitam berukir!
Berbeda
dengan Arya, Pendekar Golok Baja tidak mengenali dua sosok tubuh yang tergolek.
Lelaki gagah itu hanya menatap sebentar. Kemudian perhatiannya lebih ditujukan
pada peti mati. Peti yang beberapa
waktu lalu
dijumpainya. Tempat tinggal tokoh menggiriskan yang berjuluk Penunggu Alam
Kubur.
Arya
mengenai dua sosok yang tergolek di tanah. Naga Berekor Tiga dan Macan Kumbang
Maut. Menilik keadaannya, mereka berdua telah tewas.
Arya dan
Pendekar Golok Baja lalu mengedarkan pandangan berkeliling. Mereka mencari Iblis Hitam. Bukankah Iblis Hitam
bersekongkol dengan Penunggu Alam Kubur? Serta Macan Kumbang Maut dan Naga
Berekor Tiga?
Perasaan
khawatir yang berkecamuk mulai berkurang ketika tidak menemukan sosok Iblis
Hitam. Berarti, tokoh serba hitam itu selamat.
"Tak
kusangka kau akan keluar dari tempat persembunyianmu, Penunggu Alam Kubur!
Sudah kukatakan tidak ada gunanya mengeluarkan segala macam keroco untuk
menghadapiku. Mereka semua akan kukirim ke neraka!"
Seruan
lantang itu mengejutkan Arya dan Pendekar Golok Baja. Asalnya dari belakang
mereka. Hampir berbarengan Arya dan Pendekar Golok Baja menoleh.
Pada sebuah
cabang pohon sebesar paha manusia dewasa, berdiri sesosok tubuh ringkih
berpakaian putih penuh tambalan bahan yang masih baru. Cara berdiri sosok yang
tidak lain Pengemis Tua BerbuluPutih sangat unik. Kakek berpakaian penuh
tambalan ini berdiri di bagian bawah cabang pohon. Kedua telapak kaki di atas
dan kepala di bawah. Kekek ini berdiri bergantung bagai seekar kelelawar.
Pertunjukan
ini tidak terlalu mengherankan bagi tokoh-tokoh selihai Dewa Arak atau Pendekar
Golok Baja. Dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat tidak terlalu sulit
melakukan hal itu.
"Pengemis
Tua...!" tegur Pendekar Golok Baja, penuh perasaan gembira.
"Selamat
berjumpa lagi, Pendekar Golok," balas Pengemis Tua Berbulu Putih. Kakek
ini kemudian melayang berputaran meninggalkan tempat bertenggernya. Dengan
kepalanya didaratkan tubuhnya di tanah. Tepat di depan peti mati berukir.
"Tidak
usah banyak berbasa-basi! Aku sudah tidak sabar lagi bertemu denganmu. Kita
ulangi pertarungan waktu lalu. Kupikir kau sudah meninggalkan dunia ini, Gembel
Tua...!" terdengar gaung ucapan Penunggu Alam Kubur dari dalam peti.
Arya
memperhatikan peti mati dengan penuh selidik. Pengemis Tua Berbulu Putih segera
menggerakkan sedikit kakinya. Tubuhnya berjungkir batik. Sekarang dia berdiri
tegak di tanah dengan kedua kaki
Tidak
terlihat kakek ini mengayunkan kaki, tapi tubuhnya melayang mendekati peti mati
berukir. Arya dan Pendekar Golok Baja melangkah mundur Sebentar lagi akan
terjadi pertarungan sengit.
"Apakah
tidak sebaiknya kita membantu Pengemis Tua, Arya?" tanya Pendekar Golok
Baja.
"Kita
lihat saja dulu, Paman. Kalau terbukti Pengemis Tua tidak bisa
menanggulanginya, mungkin kita harus menghadapinya bersama-sama. Demi tenangnya
dunia persilatan kurasa tindakan kita tidak terlalu jelek!" sahut Arya.
Pendekar
Golok Baja mengiyakan. Dia setuju dengan usul pemuda berambut putih keperakan
itu. Perhatiannya kini dicurahkan pada pertarungan yang akan berlangsung.
"Uhhh...!"
Keluhan
tertahan Pengemis Tua Berbulu Putihyang diikuti dengan limbungnya tubuh kakek
itu, membuat Arya dan Pendekar Golok Baja terkejut. Apalagi ketika melihat
kakek itu mendekapkan kedua tangannya di dada.
"Rupanya
kali ini aku tidak bisa bertempur denganmu, Penunggu. Dalam keadaan seperti ini
kau dengan mudah bisa membantaiku," ujar Pe-ngemis Tua Berbulu Putih
dengan sedikit terbata.
Arya dan
Pendekar Golok Baja bagai berlomba melesat ke depan. Mereka keheranan melihat
wajah Pengemis Tua Berbulu Putih bersemu kehijauan. Wajah orang yang keracunan
hebat. Peluh membasahi selebar wajahnya yang putih laksana kertas.
"Kurasa
sebaiknya kau mundur, Kek. Biar aku yang menghadapi iblis keji ini!" ujar
Arya.
"Kita
bersama-sama, Dewa Arak!"
Tawaran
Pendekar Golok Baja yang penuh semangat ditanggapi Arya dengan gelengan kepala.
"Biar
aku menghadapinya sendiri, Paman. Apabila aku sudah tidak sanggup, baru kau
turun tangan. Kita tumpas bersama-sama pengacau dunia persilatan ini. Sekarang,
lebih baik kau bawa kawanmu ini ke tempat yang aman."
Pendekar
Golok Baja mengalah. Disadari betul seorang tokoh besar seperti Dewa Arak tidak
mungkin mau melakukan pengeroyokan sebelum membuktikan sendiri lawan yang
dihadapinya terlalu tangguh. Dengan hati-hati, mengingat keadaan Pengemis Tua
Berbulu Putih, dibawanya kakek itu ke tempat yang sekiranya tak akan terjangkau
bahaya pertempuran.
Dewa Arak
segera menurunkan guci yang berada di punggungnya. Dengan tenang, meski
jantungnya berdebar kencang, ditenggaknya arak
yang
menjadi sumber tenaganya. Ketegangan menyelimuti hati pemuda berpakaian ungu.
Lawan yang akan dihadapi sangat tangguh. Kalau tidak, Iblis Hitam takakan
mungkin kena dipecundangi!
8
"Tikus-tikus
menjemukan! Kalau tidak diberikan hajaran kalian akan terus mengganggu
ketenteramanku. Perkenalkan dirimu, Pemuda Berambut Setan! Aku
tidak ingin membunuh orang
yang tidak memperkenalkan nama
atau julukannya!"
"Kalau
itu maumu, kuturuti. Namaku Arya Buana. Dunia persilatan memberikan julukan
Dewa Arak!" jawab Arya.
"Dewa
Arak?!" gaung suara dari dalam peti mati. "Julukan yang aneh. Mungkin
karena guci murahan yang selalu kau bawa ke mana-mana itu."
"Mungkin,"
jawab Arya sambil menyembunyikan kekagetan yang melilit hatinya. Bagaimana
mungkin tokoh dalam peri mati itu bisa melihatnya? Lalu cara bertempurnya
nanti?
"Rupanya
kau sudah siap masuk liang kubur, Dewa Arak. Berani-beraninya kau menantangku
bertarung. Sayangilah usiamu yang masih muda. Kau bisa pergi dari sini.
Kelancanganmu kuampuni. Pergilah sebelum kesabaranku habis!"
"Sayang
sekali, Penunggu Alam Kubur. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku lebih
suka mati daripada membiarkan kejahatan terus berlangsung!" jawab Arya
tanpa rasa gentar.
Dari dalam
peti mati terdengar suara tawa, berat dan bergaung. Mirip tawa hantu kuburan.
"Gagah
sekali! Ucapanmu mengingatkan aku pada Pengemis Tua. Sayang sekali pendirianmu
akan membuat kau cepat melihat alam kubur."
"Kurasa
percakapan yang bertele-tele ini telah cukup. Atau, kau nenek-nenek bawel yang
lebih suka mengoceh daripada berbicara dengan tangan atau kaki?" sindir
Arya.
"Kau
yang merasa lelaki perkasa, maju dan serang aku! Pantang bagiku menyerang lawan
lebih dulu. Apalagi terhadap anak yang masih belum lepas dari tetek ibunya
sepertimu, Dewa Arak!"
"Jaga
seranganku, Penunggu! Heaaat...!"
Arya
mengirimkan serangan pendahuluan berupa pukulan jarak jauh dengan jurus
'Pukulan Belalang'. Arah yang ditujunya peti mati berukir.
Brak!
Tebing batu
kapur berguguran ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak yang panas menyengat
menghantamnya. Sebelum pukulan itu mengenai sasaran, peti mati berukir telah
melayang naik dan mengambang di udara satu tombak dari tanah!
Belum
sempat Arya mengirimkan serangan susulan, peti telah meluncur dalam kecepatan
tinggi ke arahnya. Deru angin keras mengiringi. Apabila peti menghantamnya,
sekujur tubuh Arya akan hancur luluh. Hantaman peti tak ubahnya serudukan
sepuluh ekor gajah liar.
Dewa Arak
tidak berani gegabah menyambuti. Dia belum tahu kekuatan lawan. Diputuskan untuk
melompat ke samping, mengelakkan serangan itu. Tapi, betapa kagetnya pemuda
ini. Tubuhnya malah tertarik ke depan, ke arah peti yang tengah meluncur keras.
Saat itu tubuh Arya melayang di udara.
Arya tidak
bisa bertahan. Dia Tidak mempunyai tempat berpijak. Tambahan lagi, daya tarik
peti demikian kuat. Guci yang tercekal di tangan segera dihantamkannya ke arah
peti. Dengan cara itu diharapkan tubuh Arya Tidak akan tertumbuk peti!
"Ukh...!"
Arya
merasakan dadanya bagai menumbuk dinding kokoh. Sebelum mengenai peti, guci
yang diayunkan membalik seperti membentur dinding tidak nampak. Dinding itu
mengeluarkan hawa mendorong yang amat kuat.
Dewa Arak
terjengkang ke belakang dan melayang-layang bagai daun kering diterbangkan
angin. Pemuda ini terkejut bukan main. Dadanya dirasakan sesak. Sekujur
otot-otot dan urat sarafnya lumpuh.
Dalam
keadaan melayang-layang itu Dewa Arak memutar otak. Lawannya memiliki ilmuaneh.
Apabila Penunggu Alam Kubur menyerang, orang yang menjadi sasaran akan tersedot
ke arahnya. Sebaliknya, jika Penunggu Alam Kubur yang diserang, muncul kekuatan
dahsyat yang menolak! Tenaga tolakan itu luar biasa kuat.
Meski dalam
keadaan kurang menguntungkan, Dewa Arak masih mampu mempertunjukkan
kelihaiannya. Pemuda ini berhasil mendarat di tanah dengan kedua kaki.
Wusss...!
Penunggu
Alam Kubur benar-benar tak kenal ampun. Tanpa mendarat di tanah, peti matinya
meluncur ke arah Dewa Arak lagi. Arya terpaksa menguras seluruh kemampuannya.
Segenap ilmu 'Belalang Sakti' dikeluarkannya.
Pertarungan
sengit pun berlangsung, tapi terlihat jelas tidak seimbang. Dewa Arak dipaksa
berlari ke sana kemari dikejar peti mati berukir.
Pendekar
Golok Baja meremas-remas jari tangannya karena merasa tegang. Dewa Arak tengah
terjepit. Tokoh muda perkasa itu kemungkinan besar akan tewas di tangan
penghuni peti mati.
***
Di kancah
pertarungan, Dewa Arak mulai menemukan cara untuk menghadapi lawannya. Daya
tolak dan daya tarik lawan timbul karena Penunggu Alam Kubur memiliki ilmu
gaib. Bisa pada Penunggu Alam Kubur atau pada peti matinya
Arya
teringat ia mempunyai penangkal ilmu-ilmu gaib. Gurunya, Ki Gering Langit,
memberikan ilmu itu padanya di waktu menghadapi lawan yang memiliki ilmu tarik
dan tolak raga (Untuk jelasnya, silakan baca episode: "Penganut Ilmu
Hiram").
Dewa Arak
memutuskan untuk menggunakannya. Meski tahu akan berakibat besar terhadap
dirinya, tapi tidak ada jalan lainlagi.
Ketika peti
meluncur ke arahnya, yang mengakibatkan tubuh Dewa Arak tertarik, pemuda itu
berpura-pura melawan. Sikap pura-pura ini sengaja dilakukan. Kalau dia
membiarkan saja tubuhnya tertarik ke arah lawan, akan menimbulkan kecurigaan
Penunggu Alam Kubur.
Begitu
tubuh hampir mencapai peti, Arya langsung mengirimkan pukulan keras. Tepat
seperti yang diduga Arya, muncul hawa luar biasa yang menolak tubuhnya. Pemuda
ini segera menahan napas. Kemudian, dengan pemusatan pikiran ia membuat garis
di depan tubuhnya.
Hasil yang
dicapai Dewa Arak memang tidak mengecewakan. Tolakan itupunah! Dari dalam peti
keluar lenguhan kaget.
"Kiranya
kau memiliki sedikit kemampuan, Bocah!"
Bersamaan
dengan keluarnya suara bergaung itu, peti berukir melayang ke atas. Serangan
Dewa Arak gagal. Arya tidak putus asa. Ia terus memburu.
Pertarungan
sekarang kelihatan seimbang. Dewa Arak tidak bisa dibuat maju mundur seperti
sebelumnya. Pemuda ini telah mampu menguasai keadaan.
Belasan
jurus telah berlalu. Arya memang tidak menjadi permainan lawan seperti
sebelumnya, tap dia terdesak. Tingkat kemampuan Penunggu Alam Kubur masih
berada di atasnya. Meski demikian, beberapa kali Dewa Arak berhasil
menyarangkan pukulan dan tendangannya. Namun, jangankan peri hancur, retak pun
tidak.
Ada sesuatu
yang membuat peti mati jadi kuat. Tenaga dalam yang berasal dari Penunggu Alam
Kubur. Aliran tenaga dalam Penunggu Alam Kubur yang menangkal tenaga dalam Arya lewat pukulan dan tendangannya.
Keadaan ini
menyebabkan jalannya pertarungan lebih timpang. Penunggu Alam Kubur enak saja
membiarkan serangan-serangan Dewa Arak menemui sasaran. Di lain pihak, Dewa
Arak harus mengelakkan
serangan-serangan
yang dilancarkan lawan. Dewa Arak berkali-kali melempar tubuh ke belakang
mengelakkan serangan peti. Sampai berapa lama dia bisa bertahan?
Pertarungan
bergeser jauh dari tempat semula. Perlahan namun pasti Arya terus terhimpit
menuju dinding kapur. Pendekar Golok Baja dan Pengemis Tua Berbulu Putih mau
tidak mau ikut berpindah tempat. Mereka tidak ingin kehilangan pertarungan
menarik itu.
Dewa Arak
pun menyadari lama-kelamaan dia akan terhimpit. Sempat dilihat tebing kapur di
belakangnya. Tapi, dia tidak memiliki kesempatan untuk melepaskan diri dari
cecaran lawan.
Untuk
kesekian kali peti mati meluncur dengan deras ke arah Arya. Dewa Arak terpaksa
memapaki dengan kedua tangan.
Bres!
Tubuh Dewa
Arak terpental ke belakang dan terguling-guling menabrak tebing kapur. Hantaman
peti keras bukan main. Sebelum Arya sempat berbuat sesuatu, peti telah kembali
meluncur datang.
Wajah Dewa
Arak pucat pasi. Dia tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak. Menangkis pun
tidak menguntungkan. Waktunya demikian singkat. Apalagi tulang-tulangnya masih
terasa ngilu akibat benturan tadi.
Di saat
kritis itu Dewa Arak tiba-tiba merasakan hembusan angin dingin. Tubuhnya
bergetar sesaat. Kemudian, seraya mengeluarkan geraman keras, Arya mendorong
kedua tangannya.
Pengemis
Tua Berbulu Putih dan Pendekar Golok Baja menerima akibat geraman Dewa Arak.
Tubuh kedua orang itu terhuyung-huyung ke belakang. Wajah Pendekar Golok Baja
tampak pucat.
Darrr...!
Hanya
berselisih waktu demikian singkat, terdengar bunyi yang tidak kalah keras.
Bunyi ituberasal dari benturan tangan Dewa Arak dengan peti mati Penunggu Alam
Kubur.
Peti mati
yang sejak tadi tidak mampu dihancurkan oleh Arya, kini hancur
berkeping-keping. Dari dalam peti terpental sesosok tubuh kecil seraya
memperdengarkan jeritan melengking suara wanita!
Arya tidak
bergeming dari tempatnya. Sesaat kemudian tubuh pemuda ini terhuyung ke belakang.
Tangan kirinya mendekap dada, sedangkan tangan kanan memegangi kepala. Dewa
Arak menyeringai merasakan sakit di dada dan pusingdi kepalanya.
Dalam
keadaan seperti itu, pemuda berambut putih keperakan itu merasa heran dan
bingung dengan keberadaan belalang raksasa di alam gaib di dalam tubuhnya. Dia
yakin betul tidak memanggil belalang raksasa itu. Tapi, mengapa belalang itu
masuk ke dalam tubuhnya? Mungkinkah
sekarang
tanpa dipanggil binatang itu mampu masuk ke dalam dirinya di saat dia terancam
bahaya? Pertanyaan-pertanyaan itu sempat muncul dalam pikirannya.
Kebingungan
lain yang melanda Arya adalah rasa nyeri di dada dan pusing di kepala begitu
belalang raksasa meninggalkannya! Arya tahu betul belalang itu penyebabnya.
Bukan akibat benturan dengan peti mati Penunggu Alam Kubur. Betapapun kuat
lawan apabila belalang raksasa ada dalam tubuhnya, Dewa Arak tidak akan
merasakan sakit. Belalang akan langsung turun tangan!
***
"Kau
licik, Dewa Arak. Kau mempergunakan makhluk alam gaib untuk memenangkan
pertarungan ini!" kecam nenek kurus kering berwajah pucat dan berpakaian
hitam. Sosokyang tadi terlempar dari dalam peti mati.
"Aku
tidak bermaksud seperti itu. Nek," jawab Arya. "Kuakui memang aku
memiliki makhluk gaib, aku tidak berniat menggunakannya untuk
menghadapimu."
'Tapi
kenyataannya?" si nenek menyeringai. "Kau memanggilnya, bukan?"
"Tidak,
Nek!" Arya menggelengkan kepala.
"Aku
tidak memanggilnya. Aku sendiri tidak mengerti mengapa binatang itu masuk ke
dalam diriku tanpa kupanggil. Biasanya aku memanggilnya!"
"Dewa
Arak...!"
Seruan
keras membuat Arya dan nenek berpakaian hitam menoleh ke arah Pendekar Golok
Baja. Wajah lelaki ini kelihatan tegang bukan main.
"Dia
bukan Penunggu Alam Kubur, Dewa Arak!"
Arya
tersentak. Ini membuat rasa sakit dan nyeri yang diderita bertambah parah.
Supaya tidak dilihat orang, diusahakan bersikap biasa saja. Bahkan kedua
tangannya terkulai di kanan dan kiri pinggang.
"Aku
tidak mengerti maksud Paman?"ujar Arya kemudian.
"Aku
yakin ada kesalahpahaman di sini. Mungkin bukan dia yang menculik adikku.
Penunggu Alam Kubur yang merobohkanku tidak seperti ini!" jelas Pendekar
Golok Baja. "Tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki tertutup libatan
kain mirip sabuk. Yang terlihat hanya matanya. Ah! Kini aku ingat, mengapa
kepandaian Penunggu Alam Kubur sekarang jauh lebih dahsyat. Kiranya bukan
penunggu yang dahulu!"
Perasaan
tidak enak mulai mencekam hati Arya. Dia khawatir salah tangan. Sekali lihat
saja pemuda ini tahusi nenek terluka cukup parah
"Ha ha
ha...!"
Pengemis Tua Berbulu
Putih tertawa bergelak. Nadanya menyiratkan kegembiraan dan kemenangan
besar. Arya dan Pendekar Golok Baja mengernyitkan alis. Dugaan jelek muncul di
benak Arya.
"Dugaanmu
benar, Pendekar Golok Baja Karatan! Rupanya kau punya otak juga. Yang
mempengaruhi adikmu bukan Penunggu Alam Kubur sungguhan. Tapi, Penunggu Alam
Kubur tiruan! Akulah yang telah menyamar sebagai Penunggu Alam Kubur! Ha ha
ha...!"
Dewa Arak,
Pendekar Golok Baja, dan si nenek berpakaian hitam geram bukan main. Mereka
menggertakkan gigi menahan amarah.
Sungguh
tidak kusangka kau menjadi jahat, Gembel Tua! Kau berubah sama sekali! Menyesal
aku menjadi kawanmu. Kau kirimi aku surat dan menyamar sebagai Penunggu Alam
Kubur untuk memfitnahnya. Bajingan kau!" maki Pendekar Golok Baja, kalap.
Pengemis
Tua Berbulu Putih hanya tertawa. Dia tidak marah dengan makian yang dilontarkan
Pendekar Golok Baja.
"Kau
pun buta, Dewa Arak! Kau tidak tahu penghadang-penghadang atas dirimu karena
ulahku. Tidakkah kau melihat aku termenung saat kau bercakap-cakap dengan
Pandora? Saat itu melalui pikiran kuperintahkan, agar kita tidak sampai di
Perkumpulan Pengemis Tangan Merah. Kita terpisah. Aku pergi ke sini. Sungguh
tidak kusangka kau akan demikian cepat tiba di sini. Untung aku masih bisa
mengatur seakan-akan dua budakku tewas oleh Penunggu Alam Kubur. Kau tertipu
lagi, Dewa Arak! Ha ha ha...!"
"Terkutuk
kau, Gembel Tua!" maki Pendekar Golok Baja.
"Aku
tidak yakin kau Pengemis Tua Berbulu Putih. Aku lupa kau telah menjadi botak
akibat bertarung denganku. Dan, botak itutak akan bisa diobati agar bisa
ditumbuhi rambut lagi. Kau pasti bukan Pengemis Tua Berbulu Putih!Buka
topengmu!" seru si nenek yang sejak tadi berdiam diri.
Pengemis
Tua Berbulu Putih kembali terrawa berkakakan. "Rupanya kau belum terlalu
pikun. Biarlah aku mengaku. Aku
memang
bukan pengemis jelek itu. Aku adalah Iblis Seribu Muka!" ujarnya usai
tertawa.
Kakek itu
lalu menanggalkan rambut, kumis, kulit wajah, dan yang lainnya. Sekarang di
hadapan Dewa Arak, Pendekar Golok Baja, dan si nenek berpakaian hitam berdiri
seorang lelaki berwajah persegi. Codet menghias pipinya. Wajahnya kelihatan
menyeramkan!
"Keparat!"
Lagi-lagi Pendekar Golok Baja memaki. "Mengapa kau menyamar sebagai
kawanku, Iblis?!"
"Karena
kawanmu si gembel busuk itu telah membunuh kakak kandungku! Iblis Bermuka Dewa
telah dibunuhnya. Maka, kurusak
namanya.
Sekalian kupergunakan kesempatan ini untuk membunuh Penunggu Alam Kubur. Karena
aku tidak mampu melakukannya, kupanas-panasi Dewa Arak. Rencanaku pun
berlangsung mulus. Sebentar lagi aku akan menjadi datuk persilatan! Ha ha
ha...! Kalian semua akan kubunuh!"
Dewa Arak,
Pendekar Golok Baja, dan nenek berpakaian hitam sadar betul Iblis Seribu Muka
akan memenuhi ancamannya. Mereka tidak
mungkin bisa mencegah. Yang tidak terluka
hanya Pendekar Golok Baja. Tapi, tingkat kepandaian lelaki ini masih rendah
bila dibandingkan dengan Iblis Seribu Muka!
"Sedikit
tambahan untukmu, Dewa Arak. Belalang raksasamu ada dalam kekuasaanku. Kukurung
di dalam batu. Karena akulah belalang itu masuk ke dalam tubuhmu.
Tapi sebelu kuperintahkan masuk, kutempelkan dulU
serangan-serangan gaib
terhadapmu. Sekarang, bersiaplah
untuk menerima kematian. Kau mendapat kehormatan mendapat giliran lebih
dulu!"
Dewa Arak
menggertakkan gigi. Belalang raksasa pasti disiksa atau setidak-tidaknya amat
tersiksa dalam kurungan Iblis Seribu Muka. Kalau tidak, tak akan binatang
itumau diperintah tokohsesat tersebut
Iblis
Seribu Muka sudah bersiap untuk melancarkan serangan. Saat itulah terdengar
ucapan seseorang seperti tengah berbincang-bincang de-ngan rekan
seperjalanannya. Wajah Arya berubah begitu menyimak ucapan itu.
"Bagaimana,
Sahabat? Orang yang telah berani memalsukan diriku pantasnya dijatuhi hukuman
apa? Mati? Pilihan yang tepat. Sahabat. Apalagi orang itu hendak membunuh orang
yang telah menyelamatkan kita dari kelaparan!"
Semua
kepala menoleh. Seketika itu pulamereka termangu-mangu, kecuali Dewa Arak.
Orang yang mereka kira berdua ternyata hanya sendirian. Tapi, tingkahnya
seperti tengah berjalan berdua. Seorang kakek bungkuk berkepala botak dan
berwajah hijau. Sepasang matanya berputaran liar, seperti mata orang kurang
waras.
"Dialah
Pengemis Tua Berbulu Putih yang asli," beritahu nenek berpakaian hitam
pada mereka yang berada di tempat itu. "Karena pertarungan kami yang
dahsyat, inilah akibatnya. Kepalanya botak, wajah menjadi hijau, dan otak
kurang waras."
Iblis
Seribu Muka tiba-tiba menggeram. Dia melompat seraya mengirimkan serangan maut
pada kakek yang baru datang, yang ternyata Pengemis Tua Berbulu Putih yang
asli. Kakek itu memperkenalkan diri sebagai Hijau saat berjumpa dengan Dewa
Arak beberapa waktu yang lalu
"Sekaranglah
saatnya pengacau ini kita lenyapkan, Sahabat. Kurasa tidak sesulit membereskan
kekacauan di perkumpulan!" ujar Pengemis Tua Berbulu Putih sebelum
menyambuti serangan lawan.
Pertarungan
mati-matian tidak bisa dihindarkan lagi. Tingkat kepandaian mereka sama-sama
tinggi. Jalannya pertarungan berjalan seimbang. Hanya dalam beberapa belas
jurus, Pengemis Tua Berbulu Putih dengan cepat mendesak lawannya.
Iblis
Seribu Muka tampaknya harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menghadapi
Pengemis Tua Berbulu Putih. Kakek itu tidak bisa dihadapinya dengan setengah
hati. Dia tidak diberi kesempatan sama sekali untuk melancarkan serangan dengan
mempergunakan ilmu andalannya. Serangan Pengemis Tua Berbulu Putih begitu
beruntun dan susul-menyusul.
Pada satu
kesempatan Iblis Seribu Muka mendapat peluang untuk melancarkan serangan. Dengan mempergunakan kaki kanannya ia memberikan tendangan telak
ke kepala Pengemis Tua Berbulu Putih. Namun, hanya dengan menarik kepalanya ke
belakang dan memiringkan tubuhnya ke kiri, Pengemis Tua Berbulu Putih mampu
mengelakkan serangan itu. Bahkan, kemudian dia menyusulinya dengan pukulan sisi
telapak tangan kanan yang mengenai kaki kanan Iblis Seribu Muka.
Tubuh Iblis
Seribu Muka langsung berputar. Dan karena kerasnya pukulan Pengemis Tua Berbulu
Putih, keseimbangan tubuhnya tidak bisa dipertahankan. Dia terjengkang ke
belakang dan jatuh terguling-guling di tanah.
Pertempuran
sengit kembali berlangsung. Iblis Seribu Muka semakin terdesak hebat.
Di jurus
kesembilan belas, pukulan Pengemis Tua Berbulu Putih mendarat telak di dada
Iblis Seribu Muka. Pada saat yang bersamaan, kaki kanan kakek bermuka hijau ini
mendarat di perut.
Buk! Des!
Iblis
Seribu Muka mengeluarkan jeritan menyayat. Tubuhnya terlempar ke belakang dan
jatuh bergulingan di tanah. Sesaat dia menggelepar meregang nyawa, sebelum diam
tak bergerak-gerak lagi.
"Bagaimana,
Sahabat?" Kakek bungkuk menoleh ke sebelahnya. Ia bersikap seperti tengah
bercakap-cakap dengan seseorang. "Bukankah masalah ini berhasil kita
bereskan? Orang yang menjadi pengacau telah kita kirim ke neraka!"
"Pengemis
Tua...,"tegur Pendekar Golok Baja penuh haru melihat keadaan sahabatnya.
"Si
Badut Golok rupanya! Sahabat, kau lihat. Si Badut Golok telah muncul lagi. He
he he...!"
Pendekar
Golok Baja sedikit pun tidak marah mendengar ucapan Pengemis Tua Berbulu Putih.
Keadaan kakek ini telah kurang waras.
"Kiranya
kau masih hidup, Manusia Peti...!" Pengemis Tua Berbulu Putihmengalihkan
pandangan pada Penunggu Alam Kubur.
Nenek baru
kering berwajah pucat itu tersenyum. Tapi, yang terlihat justru seringai.
"Akulah
yang tidak menyangka kalau kau masih hidup, Gembel Busuk!" balas Penunggu
Alam Kubur seraya bersandar pada sebatang pohon.
Dewa Arak
dengan susah payah tersenyum. Pemuda itu merasa lega melihat masalah ini telah
berhasil diselesaikan. Pengemis Tua Berbulu Putih tiruan dapat dilenyapkan.
Sambil mendekap dadanya, pemuda berambut putih keperakan itu
menggeleng-gelengkan kepala.
Pengemis
Tua Berbulu Putih memandang Dewa Arak dengan sepasang matanya yang berputaran
liar.
"Sahabat,
masih ingatkah kau pada pemuda berambut aneh itu? Ingat? Bagus! Mumpung bertemu
lagi dengannya, bagaimana kalau kita meminta pelajaran yang lain. Jangan hanya
pelajaran untuk merontokkan jambu dari pohonnya. Kau setuju? Bagus!"
Arya
tersenyum. Dia teringat kembali pertemuannya dengan kakek ini. "Tentu saja
dengan senang hati aku mau mengajarimu, Hijau. Kau dan Sahabat akan kuberi
pelajaran baru. Menempelkan kembali jambu-jambu itu ke pohonnya. Bagus
bukan?"
"Bagus...,
bagus...! Segera ajari aku ilmu itu, Anak Muda." Pendekar Golok Baja,
Penunggu Alam Kubur, dan yang tidak
mengerti
pertemuan antara Dewa Arak dengan Pengemis Tua Berbulu Putih hanya
terbengong-bengong keheranan mendengar percakapan mereka.
SELESAI
No comments:
Post a Comment