LORONG
BATAS DUNIA
1
"Benarkah
apa yang kulihat ini?!"
Pertanyaan
itu dilontarkan Begawan Narasoma dengan suara bergetar. Pandang matanya tidak
beralih dari langit yang berwarna kuning emas.
"Apakah
aku tengah bermimpi?!"
Lagi-lagipertanyaanyangmengandungketidakpercayaankeluardari
mulutBegawanNarasoma.Dirgantaradan Tulinimasih terkesima menatap pemandangan menakjubkan
itu. "Tidak, Kak Nara," Tulini memberikan tanggapan. Kepalanya
menggeleng tanpa
melepaskan
perhatian dari langit.
"Benar,
Ayah." Dirgantara menimpali. "Ayah tidak bermimpi. Apa yang kita
lihat itu benar-benar lerjadi."
"Ular
Emas telah keluar ke dunia ramai, Kak Nara. Ular yang akan membuat Telur Elang
Perak kehilangan kemampuannya," sambung Tulini.
"Kalian
benar." Begawan Narasoma mengangguk-angguk "Alangkah adilnya Yang
Maha Kuasa. Begitu Telur Elang Perak terjatuh ke tangan orang yang tidak
bertanggung jawab, Ular Emas dikeluarkan dari alamnya."
"Dapatkah
Ayah mencari di mana Ulas Emas itu keluar?" tanya Dirgantara penuh minat.
"Entahlah,
Dirga." Begawan Narasoma menghela napas berat. "Aku tidak yakin.
Apalagi keadaanku sekarang tidak mengizinkan."
"Tapi,
tidak ada salahnya kau mencoba, Kak Nara?" desak Tulini. "Barangkali
sudah menjadi garis Dirgantara anugerah ini."
"Akan
kucoba, Tulini. Tapi, ingat! Aku tidak berani memastikan usahaku akan berhasil.
Kalian jangan terlalu berharap."
Tulini
tersenyum gembira. Demikian pula Dirgantara. Tulini yakin suaminya akan
berhasil. Dia tahu betul kesaktian kakek berpakaian putih ini. Terutama dalam
hal ilmu gaib. Maka, perkataan Begawan Narasoma yang terakhir tidak
diperhatikannya.
"Ayah,
apakah cerita tentang Ular Emas dan mustikanya ini banyak diketahui
orang?"
Tulini
menatap Begawan Narasoma dengan hati kaget. Pertanyaan Dirgantara menimbulkan
kekhawatiran dalam hatinya. Kalau banyak orang yang tahu, mereka pasti akan
melakukan pencarian. Ini berarti banyak saingan. Kemungkinan Dirgantara
mendapatkan Mustika Ular Emas menjadi kecil.
Begawan
Narasoma tidak segera menjawab. Dia tercenung beberapa saat. Dirgantara dan
Tulini hampir kehilangan kesabaran.
"Kalau
menurut pendapatku, jarang bahkan hampir tidak ada orang yang mengetahui cerita
mengenai Ular Emas. Tapi, perlu kalian sadari, peristiwa langit berwarna kuning
emas ini terlalu menyolok. Aku yakin ini akan berakibat panjang. Tokoh-tokoh
persilatanpastiakanmencaritahumengapaalammenjadisepertiini.Bilaituterjadi,apalagi
sampai tokoh-tokoh ahli kebatinan turun tangan, aku yakin masalah Ular Emas ini
terungkap."
"Kita
harus bertindak cepat, Kak Nara. Mumpung tokoh-tokoh lainnya belum tahu. Kau
yang menjadi andalan kami, Kak Nara. Hanya kau yang bisa melacak di mana
munculnya binatang ajaib itu."
BegawanNarasomatersenyumgetir.
UcapanTulinitidaksalah.Tapi, diasudahtidak berhasrat lagi ikut campur dalam
urusan seperti ini. Kalau saja tidak ada Dirgantara amat menginginkan pusaka
itu, mungkin dia akan lepas tangan.
"Mari
kita cari tempat untuk menyembuhkan lukaku dan mencari tahu di mana adanya ular
itu. Aku punya firasat tempat ini sudah tidak aman lagi."
"Pindah
ke mana, Kak Nara?"
"Akupunbelumtahu,Tulini.Yangjelaspindahdarisini.Aku merasatidakenak.Aku
yakin ada
bahaya besar tengah mengancam. Sayang, aku tidak tahu!"
Dirgantara
bingung. Tapi, tidak demikian denganTulini. Wanita ini tahu betul siapa Begawan
Narasoma. Kakek itu mempunyai indera keenam yang sangat tajam. Tanpa
membuang-buang waktu lagi dibopongnya tubuh Begawan Narasoma.
"Mari,
Dirga. Cepat..!" Tulini melesat cepat meninggalkan tempat itu.
Dirgantara
tidak mempunyai kesempatan untuk menanggapi ucapan ibunya. Dia pun melesat
mengikuti wanita itu.
***
"Arya...!
Lihat...!"
Arya yang
tengah berlari di sebelah Linggar mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk
gadis berpakaian hitam itu. Sepasang mata Arya membelalak seperti halnya
Linggar. Pemuda berambut putih keperakan ini memperlambat larinya. Linggar
mengikuti.
"Apa
yang terjadi, Arya? Mengapa langit berwarna keemasan?"
"Aku
tidak mengerti, Linggar. Tapi, aku merasa tidak enak. Sepertinya akan terjadi
sesuatu yang menyeramkan," jawab Arya sungguh-sungguh.
Pemuda
berambut putih keperakan ini memang mempunyai naluri tajam. Dia bisa tahu
bilabahaya mengancam dirinya. Keistimewaan itudidapatnya setelahbelalang
raksasa dari alam gaib beberapa kali masuk ke dalam dirinya. (Untuk jelasnya
mengenai belalang raksasa, silakan baca episode: "Dalam Cengkeraman Biang
Iblis").
"Bahaya
menyeramkan? Bahaya apa itu, Arya?" tanya Linggar, penuh rasa ingin tahu.
"Aku
tidak tahu, Linggar. Tapi, aku yakin betul hal itu. Perasaan ini tidak pernah
menipuku." Arya mengedarkan pandangan ke sana kemari. Urat-urat sarafnya
menegang Siap menghadapi segala kemungkinan.
"Bagaimana
dengan maksud kita untuk menemui Begawan Narasoma alias Iblis Buta?"
Linggar mengingatkan Arya akan tujuan mereka.
2010Kurasa
hal itu bisa diurus belakangan, Linggar. Aku yakin dia sudah tidak berada di
tempatnya.2010
2010Apakah
ini ada hubungannya dengan warna langit itu?2010
"Aku
tidak tahu. Menurut pendapatku, mungkin ada hubungannya. Tak mungkin
alammenunjukkantanda-tandaanehkalautidakakanterjadisesuatuyangluar biasa,2010
jelas Arya. Linggar diam. Gadis ini merasakan adanya kebenaran dalam ucapan
pemuda berambut putih keperakan itu.
"Terserah
kau saja, Arya. Aku hanya mengikuti. " Gadis berpakaian hitam ini
tersenyum manis.
Jawaban
Linggar langsung mendapat tanggapan Arya. Larinya dipercepat, Linggar
melakukanhalyangsama. Muda-mudi inibagaikandua sosokbayanganberkejaranmenuju
kaki gunung.
Kekhawatiran
Arya ternyata beralasan. Begitu mereka hampir tiba di kaki gunung, bumi yang
dipijak bergetar. Semakin lama semakin keras.
"Apa
yang terjadi, Arya?!" Linggar terkejut. Wajah gadis itu tampak sedikit
pias. "Entahlah, Linggar. Mungkin gunung ini hendak meletus! Tidakkah kau
lihat
keriuhan di
sana. Binatang berbondong-bondong menuju kaki gunung." Wajah Arya juga
memperlihatkan ketegangan
Linggar
tidak memberikan sambutan. Membayangkan gunung meletus membuat nyali gadis ini
ciut. Rasa takut dan cemas mendera hatinya. Perasaan itu mendorongnya ingin
berlari secepat mungkin agar bisa berada sejauh-jauhnya dari tempat ini.
Tiba-tiba,terdengarbunyimenggelegar.Arya
maupunLinggar merasakantanahyang mereka pijak bergetar cepat.Tubuh keduanya
terlempar jauh ke atas.
Beruntung
mereka memiliki ketenangan yang cukup. Itu pulalah yang menyelamatkan nyawa
orang-orang muda ini. Keduanya bersalto beberapa kali untuk mematahkan kekuatan
yang membuat lubuh mereka terlontar. Sesaat kemudian, keduanya menjejak tanah
dengan mantap.
Keberhasilan
tindakan mereka tidak membuat bahaya yang mengancam lenyap. Bunyi menggelegar
yang ternyata berasal dari gunung meletus membuat keadaan di sekitar tempat itu
bagai kiamat!
Batu-batu
besar dan kecil saling berlomba menggelinding ke kaki gunung. Di belakangnya
mengalir lava panas bagai tangan-tangan maut. Menghanguskan apa saja yang
dilandanya.
Arya dan Linggar berusaha sekuat tenaga menyelamatkan selembar nyawa.
Dengansusah payahakhirnya mereka berhasil menjauhitempat itu. Keduanya terus
berlari kencang.Baruketikaberadaditempatyang dirasaamanmerekamenghentikanlangkahdan
berbalik memperhatikan gunung yang tadi mereka pijak. Wajah mereka tampak
diliputi kengerian.
***
Penunggang
kuda berpakaian coklat itu memacu binatang tunggangannya bagai dikejar setan.
Jalan berbatu yang menanjak tidak membuatnya memperlambat kecepatan kuda.
Terpaan angin kencang mengibarkan rambut dan pakaiannya. Panas menyengat dari
sang surya berada tepat di atas kepala.
"Uh...!"
Penunggang
kuda yang ternyata seorang pemuda itu mengeluarkan keluhan kaget. Pendengarannya
yang tajam menangkap bunyi berdesing nyaring. Dia melihat beberapa batang anak
panah meluncur ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
Si pemuda
melompat dari punggung kuda seraya menggebah binatang tunggangannya. Bersamaan
dengan tubuhnya yang melayang ke atas, kuda hitam itu melesat ke depan.
Tindakan pemuda itu membuat anak-anak panah meluncur lewat di bawah kakinya.
Pemuda
berpakaian coklat bersalto ke depan beberapa kali dan mendarat di punggung kuda
hitamnya yang masih terus berlari. Bagai tidak terjadi perisriwa apa pun,
digepraknya tali kekang hingga kuda hitam itu berlari semakin cepat
Baru
beberapa tombak terdengar bunyi bergemuruh dari tempat yang tengah dituju si
pemuda. Wajah pemuda berpakaian coklat berubah hebat. Dia bisa memperkirakan
apa yang tengah terjadi.
Kuda hitam
itu pun demikian. Nalurinya memperingatkan adanya bahaya mengancam. Binatang
ini menghentikan lari dan meringkik keras-keras. Kedua kaki depannya diangkat
tinggi ke udara.
Pemuda
berpakaian coklat mengerti maksud binatang tunggangannya. Kuda itu gelisah dan
ingin melemparkan tuannya dari punggung, lalu dia berlari meninggalkan tempat
itu untuk mencari selamat
Sipemudatidak
menginginkanhalituterjadi.Ditepuk-tepuknyaleherdanpunggung binatang itu untuk
menenangkannya. Tapi, kuda hitam ternyata telah benar-benar ketakutan. Usaha
yang dilakukan pemuda berpakaian coklat sia-sia. Kuda hitam terus meringkik,
kalap. Bahkan sekarang melonjak-lonjak tak karuan. Tapi, usaha kuda hitam tidak
membuahkan hasil. Pemuda berpakaian coklat bagai lintah, melekat erat di
punggungnya. Betapapun punggungnya telah dilekukkan sedemikian rupa tetap saja
tubuh si pemuda tidak terlontar. Saat itulah batu-batu sebesar kerbau muncul.
Tidak hanya satu. Tapi beberapa buah. Yang paling kecil mempunyai ukuran sebesar
kambing.
Kuda hitam
semakin kalap. Binatang itu menggulingkan tubuhnya. Pemuda berpakaian coklat
terperanjat. Tubuhnya akan tertindih dan terus terguling. Si pemuda tentu saja
tidak menginginkan itu terjadi. Di saat kuda hitam baru memiringkan tubuh
pemuda berpakaian coklat mengerahkan tenaga untuk menahan. Sementara baru
sebesar kerbau yang lebih dulu meluncur akan menabrak kuda hitam berikut
penunggangnya. Pemuda berpakaian coklat mengeluarkan pekikan nyaring. Wajahnya
menegang. Sesaat kemudian, tubuh kuda hitam terangkat ke udara. Si pemuda
menjepit perut kuda dengan kedua kakinya.
Kuda hitam
terangkat dari tanah tak kurang dari satu tombak. Batu sebesar kerbau
meluncurlewatdibawahnya.Demikianpuladenganbatu-batulalnnya.Kudahitamitubaru
menjejak tanah dengan keempat kakinya ketika luncuran batu-batu telah usai.
"Wahai
orang yang berada di atas! Tahan serangan...! Aku datang tidak dengan maksud
jahat...2010 Pemuda berpakaian coklat berteriak, keras. Kemudian hening sejenak
setelah si pemuda mengeluarkan seruan. Pemuda itu tidak memacu kudanya lagi.
Dalam keadaan masih duduk di atas punggung kuda, dia mengedarkan pandangan ke
depan.
"Kalau
kau memang tidak berniat jahat, kami sarankan untuk meninggalkan tempat
ini!" sambut sebuah suara dari bagian atas bukit tempat pemuda berpakaian
coklat berada. Bagian itu terlindung gundukan baru yang agak besar.
"Aku
tidak bisa memenuhi permintaan itu!" lantang jawaban pemuda berpakaian
coklat. "Aku mempunyai urusan penting. Karena itu, aku berada di tempat
ini!"
"Kami
ulangi peringatan kami...! Kalau kau memang mempunyai kepentingan,harap tunda
dulu sehingga beberapa hari. Kalau tidak, kau terpaksa akan berhadapan dengan
kami!2010 timpal suara dari balik gundukan baru.
2010Urusanku
ini tidak bisa ditunda! Aku tidak ingin perjalananku sia-sia!2010 Pemuda
berpakaian coklat memperkeras suaranya. "Apakah kalian prajurit-prajurit
kerajaan...?"
Tidak ada
tanggapan.
"Ketahuilah,
kedatanganku kemari menyangkut keselamatan Panglima Anggar Bayu! Ada seorang
sakti yang dendam terhadapnya. Ia akan melakukan pembalasan. Kuharap kalian
bersedia memberitahukan dan memintanya untuk meninggalkan tempat ini sesegera
mungkin!" Si pemuda menyambung ucapannya. Dia yakin ucapannya di dengarkan
kendati tidak diterimanya sambutan dari atas.
Kembali
suasana menjadi hening ketika pemuda berpakaian coklat menyelesaikan
perkataannya. Sesaat kemudian, sebelum pemuda berpakaian coklat kehilangan
kesabaran itu bergerak ke atas, pendengarannya yang tajam menangkap bunyi
gerakan. Ia segera mengurungkan maksudnya.
Sekejap
kemudian dua sosok tubuh muncul. Mereka mengenakan seragam pasukan kerajaan.
Yang
seorang bertubuh pendek kekar, sedang yang lain tinggi kurus. Di tangan kedua
prajurit ini tergenggam tombak panjang.
"Siapa
kau, Anak Muda? Apa maksud ucapanmutadi? Kami tidak mengerti!" Prajurit
tinggi kurus mengernyitkan dahi seperti orang kebingungan.
"Sikap
kalian untuk merahasiakan keberadaan Panglima Anggar Bayu di sini memang bagus.
Tapi, terhadapku kalian tidak perlu bermain sandiwara. Masalah ini sangat
penting. Harap kalian beritahukan kedatanganku. Katakan saja adik
seperguruannya, I Made Sangkara murid Eyang Brihaspati, datang
menjenguknya," beritahu pemuda berpakaian coklat, buru-buru.
Prajurit
tinggi kurus saling berpandangan dengan rekannya. Nama Eyang Brihaspati memang
telah mereka dengar dari Panglima Anggar Bayu. Beliau adalah guru dari panglima
mereka. Panglima Anggar Bayu sedang berada di tempat ini untuk berburu macan
putih.
"Tungguapalagi?
Cepatsampaikankedatangankusebelumsemuanyaterlambatdan kalian akan
menyesal!" desak I Made Sangkara
Melihatsikap
1 Made Sangkara yang kelihatan bersungguh-sungguh dan penuhrasa khawatir, dua
prajurit kerajaan ini pun terpengaruh. Lelaki yang bertubuh pendek kekar
membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu. Tapi, baru beberapa langkah ia
berhenti. Tubuhnya segera dibalikkan.
2010Aku
lupa lagi. Namamu siapa tadi, Anak Muda? I Made....2010
2010I Made
Sangkara,2010lanjutI Made Sangkara, tidaksabar. 2010Aku dari Pulau Dewata!2010
Prajurit
pendek kekar mengangguk-angguk. Kemudian, dengan bibir komat-kamit mengingat
nama itu dia meneruskan maksudnya untuk menemui Panglima Anggar Bayu. Sekarang
yang tinggal di tempat itu hanya prajurit tinggi kurus dan I Made Sangkara. Si
prajurit tampak bersikap waspada. Sepasang matanya tak lepas dari I Made
Sangkara. Tombak di tangannya digenggam dengan kedua tangan, siap untuk
digunakan.
I Made
Sangkara sendiri seakan tidak peduli. Dia duduk di atas punggung kuda dengan
perasaangelisah yang tidak bisa disembunyikan. Pandangannyatertuju ke belakang
prajurit tinggi kurus. Arah di mana prajurit yang hendak melapor pada Panglima
Anggar Bayu itu lenyap.
I Made
Sangkara sampai melompat turun dari punggung kuda ketika melihat kedatangan
prajurit pendek kekar. Bias kecewa tampak pada wajahnya. Prajurit itu datang
sendirian. Tidak nampak orang lain di sebelahnya.
2010Bagaimana?
Apakah kau sudah sampaikan kedatanganku pada Panglima Anggar Bayu? Bagaimana
tanggapannya? Mengapa beliau tidak datang kemari? Atau, aku yang harus datang
ke sana?" Dengan sikap tidak sabar I Made Sangkara mengajkan pertanyaan
bertubi-tubi.
2
Prajurit
pendek kekar malah tersenyum mengejek.
"Lebih
baik kau segera pergi dari sini, Penipu Muda. Jika kau tidak mempedulikan
peringatan ini dengan sangat menyesal kami akan menjadikanmu sate
manusia!"
"Apa
artinya ini? Mana Panglima Anggar Bayu...?!" I Made Sangkara maju
selangkah. Karena sebelum kakinya terus diayunkan, prajurit pendek kekar telah
mengeluarkan ancaman.
"Selangkah
lagi kau maju, anak-anak panah akan menyate tubuhmu!"
Pemuda
berpakaiancoklat melihat prajurit pendek kekar menjentikkanjari. Seketika itu
pula di belakangnya muncul belasan prajurit dengan busur terentang!
"Rupanya
kau masih juga mau berpura-pura, Penipu Busuk! Baiklah, kalau itu yang kau
inginkan. Rupanya kebohonganmu ingin ditelanjangi. Dengar, Panglima Anggar Bayu
tidak pernah mempunyai adik seperguruan. Apalagi orang yang mempunyai nama aneh
sepertimu. Nah, sekarang menyingkirlah dari sini! Mengingat kau masih muda, aku
mau bertindak sabar. Tapi, ini yang terakhir kali "
I Made
Sangkara tertegun sebentar. Dia tengah berpikir keras. "Kalian terlalu
memaksa. Aku tidak punya pilihan lain!"
Usai
berkata, tanpa merasa gentar sedikit pun I Made Sangkara melangkah maju.
"Pemuda gila! Kau memang sudah bosan hidup. Serang...!"
Berbarengan
dengan selesainya seruan prajurit pendek kekar, belasan prajurit di belakangnya
melepaskan anak panah. Belasan anak panah meluncur ke arah I Made Sangkara.
Terdengar bunyi berdesing nyaring yang menyakitkan telinga.
I Made
Sangkara tidak melakukan gerakan apa pun. Dia terus mengayunkan kaki. Kendati
demikian, karena tidak ingin mati konyol, pemuda ini mengerahkan tenaga dalam
untuk melindungi sekujur tubuhnya. Prajurit pendek kekar dan semua yang ada di
tempat itu sudah membayangkan betapa tubuh I Made Sangkara penuh ditembusi
belasan anak panah. Bila ini terjadi, sulit rasanya bagi pemuda itu untuk
menyelamatkan selembar nyawanya.
Tapi, mata
mereka membelalak lebar. Anak-anak panah runtuh semua ke tanah sebelum berhasil
mengenai tubuh I Made Sangkara. Seakan di sekeliling tubuh pemuda itu terdapat
benteng yang tidak tampak!
Kenyataan
yang terpampang di depan mata itu terlalu mengejutkan para prajurit kerajaan.
Mereka tidak percaya. Ketika prajurit pendek kekar kembali memberi aba-aba,
belasan anak panah meluncur siap merajam I Made Sangkara. Tapi, seperti juga
sebelumnya, anak-anak panah runtuh sebelum mengenai sasaran.
I Made
Sangkara tetap melangkah dengan tenang.
Para
prajurit kerajaan tidak putus asa dengar kegagalan serangan mereka. Sambil
berseru nyaring, mereka menghunus golok. Senjata tajam itu digenggam dengan
tangan kanan. Sedangkan di tangan kiri tercekal tameng. Dengan pasangan senjata
ini kelompok pasukan kerajaan menyerbu I Made Sangkara.
I Made
Sangkara menghela napas berat. Sikapnya menyesali kejadian yang sama sekali
tidak diharapkan ini. Sambil terus melangkah maju, kedua tangannya berulang
kali didorongkan ke depan.
Prajurit-prajurit
kerajaan bagai bulu-bulu dihembus angin. Mereka berpentalan ke belakang dan
jatuh terguling-guling di tanah. Untungnya I Made Sangkara tidak berniat jahat.
Mereka tidak mengalami luka parah. Hanya lecet-lecet karena kulit mereka
bergesekan dengan batu-batu.
I Made
Sangkara tidak menghiraukan keadaan lawan-lawannya. Dia terus saja mengayunkan
kaki. Kelihatannya hanya langkah biasa. Pendek-pendek dan lambat-lambat. Tapi,
belasan prajurit kerajaan yang mengejarnya dengan mempergunakan ilmu lari cepat
tidak mampu menyusul.
Suasana
jadi gaduh. Prajurit-prajurit itu melakukan pengejaran sambil berteriak-teriak.
Kegaduhan ini yang menyebabkan sebuah tenda yang tampak didepannya tersingkap.
Dari dalam tenda keluar seorang lelaki tinggi besar bercambang bauk lebat dan
berpakaian seragam panglima kerajaan. Di kanan kirinya tampak dua orang yang
tidak berpakaian prajurit. Sepasang mata mereka tajam menusuk.
Dua
prajurit yang menjaga bagian depan tenda segera memberi hormat dan berjalan di
belakang sang panglima. Panglima itu sendiri dengan tenangnya melangkah lebar
menghampiri I Made Sangkara.
"Kaukah
orang yang mengaku murid Eyang Brihaspati yang menjadi guruku?" tanya
sangpanglimayangbukanlainAnggar Bayu. Sikappanglimainidemikiantenangdanpenuh
percaya diri.
"Benar.
Namaku I Made Sangkara. Benarkah aku tengah berhadapan dengan Panglima Anggar
Bayu yang terkenal lihai baik ilmu perang maupur ilmu silatnya?" puji I
Made Sangkara penuh hormat
Panglima
Anggar Bayu mengangguk. Tanpa merasa curiga sedikit pun. Padahal, itu amat
berbahaya. Kalau orang bermaksud tidak baik dan jauh lebih lihai, dia akan
celaka.
"Bisa
lolos dari kepungan prajuritku menjadi pertanda kau memiliki kepandaian cukup.
Hanya, yang kusayangkan, mengapa dalam usia semuda ini kau berada di jalan
sesat? Mencatut nama orang lain untuk kepentingan sendiri?!"
Ucapan
Panglima Anggar Bayu terdengar tegas dan penuh wibawa. Menunjukkan
kalaudiaorang yangtelahkenyangpengalamanhidup."Kalautidakmengingatusiamu
yang masih sangat muda itu, pencatutan nama terhadap guruku telah cukup untuk
kujadikan alasan menindakmu!"
"Maafkan
aku, Panglima." I Made Sangkara memberi hormat. "Aku tidak berbicara
dusta. Eyang Brihaspati memang guruku. Selama lima tahun ini aku menjadi
muridnya."
"Hmmm...!"
Panglima
Anggar Bayu menggumam. Ditatapnya I Made Sangkara penuh selidik. Dengan matanya
lelaki gagah yang telah berusia empat puluh lima tahun ini ingin mencari
kebenaran ucapan I Made Sangkara.
"Panglima
mungkin meragukan keteranganku, ingatkah Panglima akan cerita Eyang Brihaspati?
Eyang pernah mengatakan padaku kalau beliau telah menceritakan pada Panglima
mengenai sahabatnya di Pulau Dewata."
"Maksudmu...,
I Nyoman Tirta? Pembuat keris nomor satu di Pulau Dewata itu?!" seru
Panglima Anggar Bayu, kaget.
"Benar,
Panglima. Tiang adalah putranya. Lima tahun yang lalu Bapa membawa Tiang untuk
menemui Eyang Brihaspati. Ida menerima Tiang menjadi muridnya. Atas
perintahIda,Tiangmemberanikandiridatangkemari, Panglima,"beritahuI Made
Sangkara. Ia mempergunakan dialek daerahnya untuk lebih meyakinkan hati
Panglima Anggar Bayu. Panglima Anggar Bayu tersenyum lebar. Dia tiak merasa
ragu lagi, I Made Sangkara tidak berniat jahat. Nama Nyoman Tirta telah sering
didengarnya. Tokoh itu sahabat gurunya. Eyang Brihaspa memang telah merantau ke
berbagai tempat. Salah satunya adalah Pulau Dewata.
"KiranyaCai
bukanoranglain.Siapanamamutadi, Adi? I Made Sangkara?"Panglima Anggar Bayu
meminta kepastian. Panglima yang rupanya cukup menguasai bahasa I Made Sangkara
ikut-ikutan berbicara dalam dialek tersebut.
"Benar,Panglima.Itu
memangnamaTiang,"jawabI Made Sangkaradenganhatilega. "Mari. Mari,
Adi. Masuk ke tendaku. Kita berbincang-bincang. Aku ingin tahu
masalah
yang membuat guruku mengutus Adi kemari," ajak Panglima Anggar Bayu. Ia
mendahului membalikkan tubuh dan melangkah menuju tendanya.
I Made
Sangkara mengikuti di belakang.
***
"Sayang
sekali, Adi. Aku tidak bisa memenuhi anjuran Guru. Aku bukan seorang pengecut.
Apa kata orang nanti bilaaku lebih dulu melarikan diri sebelum bertanding?2010
Panglima Anggar Bayu bangkit dari duduk bersilanya. Ia berjalan mondar-mandir
di
dalam
tenda. I Made Sangkara tetap duduk bersila. Di sisi kanan dan kiri dua lelaki
gagah berdiri dengan sikap waspada. Mereka tidak mencampuri urusan antara
Panglima Anggar Bayu dengan I Made Sangkara.
2010Lihat,
Panglima Anggar Bayu yang ditakuti lawan dan disegani kawan, lari
lintang-pukang dari seorang musuh yang belum diketahui kepandaiannya! Bila itu
terjadi, mau ditaruh di mana mukaku, Adi?122010
2010Maafkan
Tiang, Panglima. Bukan maksud Tiang membuat marah Panglima. Tiang hanya menyampaikan
amanat Eyang Brihaspati. Ida amat berharap Tiang dapat melunakkanhati
Panglima."
"Penasaran!"
Panglima
Anggar Bayu memukulkan tangan kanan pada telapak tangan kirinya. Terdengar
bunyi benturan keras.
"Mengapa
Guru terlalu memandang remeh padaku? Begitu yakinkah beliau musuh keparat itu
akan berhasil mengalahkanku?!"
"Maafkan
Tiang, Panglima. Menurut Ida, musuh besar Panglima memang tak akan mungkin di
kalahkan oleh siapa pun! Dia telah menelan pusaka yang bernama Telur Elang
Perak Pusaka itu menyebabkan tidak ada seorang tokoh pun akan dapat mengalahkan
apalagi membunuhnya!"
"Telur
Elang Perak?!" Panglima Anggar Bayu berteriak, kaget. "Aku memang
sudah lama mendengar pusaka itu. Tapi, menurut berita Telur Elang Perak berada
di tangan Iblis Buta. Ia sudah lama tidak kedengaran beritanya lagi. Lenyap
bagai ditelan bumi!"
I Made
Sangkara diam. Panglima Anggar Bayu kembali berjalan mondar-mandir. Kali ini
bukan karena rasa penasaran melainkan resah.Berapa kali dia menghela napas
berat.
"SungguhtidakkusangkaPanglimaSabu
yangberkhianatitumemilikiseoranganak. Hhh...! Aku kecolongan!"
"Eyang
Brihaspati mencari tahu melaluisemadinya. Musuhbesar Panglima bernama Lanang.
Dia lolos ketika Panglima menumpas pemberontakan Panglima Sabu belasan tahun
lalu," Beritahu I Made Sangkara. "Lanang tidak akan bisa dikalahkan.
Kecuali...."
2010Kecuali
apa, Adi?122010 sambar Panglima Anggar Hayu, cepat.
2010Kecuali
oleh Mustika Ular Emas. Orang yang berhasil mendapatkan mustika itu
berkesempatanuntukmenamatkanriwayatLanang.Telahbelasantokohpersilatandibunuh
Lanang. Sebagian besar merupakan tokoh-tokoh tingkat tinggi122010
2010Mustika
Ular Emas?122010 ulang Panglima Anggar Hayu. 2010Rasanya aku belum pernah
mendengarnya....2010
2010Tak
aneh, Panglima. Eyang Brihaspati sendiri mengetahuinya belum lama. Menurut Ida,
Ular Emas itu telah keluar ke dunia persilatan. Ida telah mendapatkan
tanda-tandanya.2010 Kemudian, dengan singkat I Made Sangkara menceritakan semua
yang diketahuinya. Panglima Anggar Bayu mendengarkan dengan perasaan tertarik.
Tak sedikit pun dia memotong hingga I Made Sangkara selesai menceritakan
semuanya.
2010Lanang
mencari berita mengenai Panglima. Tiang yakin akhirnya ia akan menemukan
Panglima. Sebelum itu terjadi, lebih baik Panglima tinggalkan tempat ini. Sementara
itu, Tiang akan mencoba mencari Mustika Ular Emas. Apabila sudah berhasil Tiang
dapatkan, Panglima tidak perlu bersembunyi lagi. Lanang akan kita bunuh!"
Panglima
Anggar Bayu tersenyum pahit. Dengan pandang mata sungguh-sungguh ditatapnya I
Made Sangkara lekat-lekat.
"Kuucapkan
terima kasih atas jerih payahmu, Adi.Sampaikan salam hormatku pada Guru.
Perhatian beliau dan kau amat kuhargai. Tapi, sayang aku tidak bisa memenuhi
permintaanitu.Akubukanseorangpengecut.Tidak,Adi!Akutidak takutmati. Kuharapkau
mau menyampaikan hal ini pada Guru!" jawab Panglima Anggar Bayu dengan
suara lantang dan sikap gagah.
I Made
Sangkara tidak berkata-kata lagi. Di merasakan nada kesungguhan dalam sikap dan
ucapan Panglima Anggar Bayu. Dia tahutidak ada gunanya berusaha membujuk. Orang
yang memiliki pendirian seperti sang panglima ini tak akan mudah dibujuk!
"Ha ha
ha...!"
Tawa
bergelak yang penuh nada ejekan menguak keheningan. Semua orang yang berada di
situ langsung bersikap waspada.
I Made
Sangkara langsung berdiri dan berjalan keluar tenda. Ia mengedarkan pandangan
mencari-cari sumber suara. Demikian juga dengan Panglima Anggar Bayu. Dua
lelaki berpakaian ringkas yang menjadi pengawal pribadi Panglima Anggar Bayu
telah melesat dari tempatnya dan berdiri di kanan kiri sang panglima. Mereka
bersikap melindungi.
Panglima
Anggar Bayu dan I Made Sangkara bertukar pandang sesaat ketika mengetahui
sumber suara itu tidak bisa mereka lacak. Ini berarti si pemilik suara memiliki
ilmu "Memindahkan Suara". Sebuah ilmu yang hanya dikuasai orang-orang
berilmu tinggi.
Sekarang,kakakdanadikseperguruaninimulaimengertimengapa
Eyang Brihaspati begitu khawatir. Pemilik suara yang diduga I Made Sangkara dan
Panglima Anggar Bayu sebagai sang musuh besar terbukti memiliki kepandaian
tinggi.
2010Benar-benar
seorang panglima yang gagah perkasa...122010 Kembali suara itu terdengar.
2010Siapa
kau, Pengecut? Tunjukkan dirimu kalau kau memang berhati jantan12 Jangan
beraninya hanya bersembunyi seperti nenek-nenek keriput!" pancing Panglima
Anggar Bayu.
"Siapa
bilang aku bersembunyi? Aku berada di sini sejak tadi..."
Hampir
bersamaan Panglima Anggar Bayu, I Made Sangkara, dan dua orang pangawal pribadi
sang panglima membalikkan tubuh. Tidak seperti sebelumnya, kali ini suara itu
terdengar jelas dan bisa ditebak dari mana asalnya. Si pemilik suara tidak
menggunakan ilmu 'Memindahkan Suara'-nya lagi.
Hanya
berjarak satu tombak dari Panglima Anggar Bayu duduk sesosok tubuh dengan cara
yang amat luar biasa. Panglima Anggar Bayu dan teman-temannya membelalakkan
mata karena kaget.
Sosok itu
duduk bersila di ujung sebuah tambang yang berdiri kaku. Tambang yang biasa
dipergunakan untuk mengikat oleh sosok yang baru datang ini digunakan untuk
tempat duduk!
Panglima
Anggar Bayu dan yang lainnya merasa tegang. Tindakan yang dilakukan sosok
berpakaian mewah itu membutuhkan ilmu meringankan tubuh sangat tinggi. Panglima
Anggar Bayu dan I Made Sangkara tahu pastimerekatidak mampu melakukan hal itu!
"Bagaimana,Panglima?
Sudahpuasmelihatku?Akubukanpengecut,bukan?"Sosok berpakaian mewah yang
ternyata seorang pemuda berusia duapuluh limatahun itu kembali membuka suara.
Lantang dan keras. Padahal Panglima Anggar Bayu dan yang lainnya tidak melihat
bibir pemuda itu berkemik sedikit pun.
Pertanyaan
itu membuat Panglima Anggar Bayu sadar dari kesimanya.
"Kau
memang hebat, Anak Muda. Tapi, jangan harap mampu menakut-nakutiku dengan
permainan anak-anakmu itu!" tandas sang panglima, mantap dan gagah.
"Ha ha
ha...!"
Pemuda
berpakaian mewah tertawa. Ucapan Panglima Anggar Bayu membuatnya merasa geli.
Kembali
Panglima Anggar Bayu dan yang lain-lain tercekat. Bibir pemuda itu tidak
terbuka walau sedang tertawa.
3
Keterkejutan
yang melanda Panglima Anggar Bayu dengan kejadian itu sebenarnya sudah cukup
besar. Namun, masih tidak sebesar rasa kaget yang dialaminya kemudian. Tawa
pemuda berpakaian mewah ternyata bukan main-main
Panglima
Anggar Bayu, I Made Sangkara, dan dua lelaki berpakaian ringkas
merasakantelingamerekasepertikemasukanbedukberbunyi.Terasasakitdannyeribukan
main. Bagian dalam telinga mereka bagai disentak-sentak. Ditambah lagi dengan
getaran hebat yang melanda sekujur tubuh. Seperti ada tangan tak nampak yang
mengguncang-guncangkan tubuh keempat orang itu.
Panglima
Anggar Bayu dan yang lain-lain segera tahu pemuda berpakaianmewah itu melakukan
serangan tenaga dalam melalui suara tawa. Bagai telah disepakati sebelumnya,
keempat orang ini segera mengambil senjata masing-masing. Dua lelaki berpakaian
ringkas melemparkan pisau-pisau putih berkilat. Sedangkan Panglima Anggar Bayu
mem-pergunakan mata panah. I Made Sangkara meluncurkan logam berbentuk bintang
segi tiga. Tiga macam senjata rahasia yang berjumlah belasan itu meluncur
dengan mengeluarkan bunyi berdesing nyaring. Tapi, pemuda berpakaian mewah
tetap duduk tenang di tempatnya. Tidak terlihat hendak menangkis atau
mengelakkannya. Pemuda berpakaian mewah bahkan semakin mengeraskan tawa.
Belasan senjata rahasia itu runtuh
ke tanah
seperti terpukul serangan jarak jauh.
Kejadian
ini benar-benar luar biasa. Panglima Anggar Bayu dan yang lainnya sampai
terkesima. Sungguh luar biasalawan yang tengahmereka hadapi. Hanya dengan suara
tawa mampu meruntuhkan serangan senjata. Tawa itu ternyata tidak hanya mampu
digunakan untuk menyerang, tapi juga dipakai untuk menggantikan tangan atau
kaki!
"Apakah
kau orang yang hendak membunuhku?! Kaukah keturunan Panglima Sabu yang
be-khianat itu?" tanya Panglima Anggar Bayu, mencoba bersikap tenang.
Namun, getar kegentaran pada suaranya tetap tidak bisa ditutupi.
Pemuda
berpakaian mewah terkekeh.
"Apa
yang kau duga tidak salah. Aku memang putra Panglima Sabu. Namaku Lanang!
Akulah orang yang diceritakanadik seperguruanmu itu!" jawab pemuda
berpakaian indah dengan sikap memandang remeh.
I Made
Sangkara hanya bisa mengepalkan tinju. Dia menyesalkan kekerasan hati Panglima
Anggar Bayu. Kalau saja sang panglima tidak berkeras hati, mereka tentu tidak
perlu bertemu dengan Lanang.
"Tanpakujelaskanlagipunkausudahtahumaksud
kedatangankukemari,Panglima Anggar Bayu! Aku ingin membunuhmu! Bukan hanya kau,
tapi juga semua orang yang mempunyai hubunga denganmu!" desis Lanang
dengan sinar mata berkilat-kilat.
"Kau
terlalu, Lanang! Yang bertanggung jawab atas kematianmu adalah aku. Pasukanku
mungkin bisa kau bawa-bawa pula. Tapi, I Made Sangkara tidak ada hubungannya
dengan dendammu. Kuharap kau mau membiarkan dia pergi dari sini!" Panglima
Anggar Bayu mencoba menawar.
Lanang
menggeleng.
"Aku
telah bersumpah untuk membunuh setiap orang yang mempunyai hubungan denganmu,
Anggar Bayu! Siapa pun mereka. Juga I Made Sangkara. Gurumu dan semua sahabat
gurumu. Istrimu, pelayan-pelayanmu, dan juga anak-anakmu!"
"Manusia
keji! Aku akan mengadu nyawa denganmu!"
Panglima
Anggar Bayu mencabut pedang yang menjadi tanda pangkatnya. Kemudian, disertai
terjangan dibabatnya pedang itu ke leher Lanang!
Dua lelaki
berpakaian ringkas yang merupakanpengawal pribadi sang panglima ikut
mengirimkan serangan. Dua orang ini menggunakan tombak pendek.
I Made
Sangkara menyerang belakangan. Pemuda gagah ini menggunakan keris berlekuk
enam. Gabungan serangan keempat orang itu yang melancarkan serangan
susul-menyusul, dahsyat bukan main.
Tapi,
seperti semula Lanang tidak bergeming dari kedudukannya. Tawanya segera
dihentikan. Pemuda ini kemudian malah menangis. Kelihatan aneh sekali tingkah
Lanang. Mendapat serangan maut kok malah menangis. Apakah pemuda ini ketakutan
sekali?
Ternyata
tidak demikian. Tangis Lanang bukan tangisan sembarangan. Tangis yang dialirkan
dengan menggunakantenaga dalam. Dirancang sedemikian rupa. Suara tangis itu
menyelusup melalui telinga dan singgah di kepala.
Akibatsuaratangisanitudahsyat
danmengerikan.PanglimaAnggar Bayu danketiga orang lainnya menghentikan
serangan. Wajah mereka membiaskan rasa sakit yang sangat. Bunyi tangisan
seperti mengiris-iris bagian dalam kepala mereka, menimbulkan rasa sakit dan
nyeri.
Semakinlamarasasakitdannyerisemakindahsyat.
PanglimaAnggar Bayudan yang lainnya tidak tahan untuk berdiam diri. Mereka
memegangi kepala dengan kedua tangan. Seluruh tenaga dalam dikerahkan untuk
menghilangkan rasa yang menyiksa.
Usaha
keempat orang gagah yang malang ini sia-sia belaka. Rasa sakit tidak mau
hilang. Malah, semakin menghebat. Mereka menggeliat-geliatseperti cacing
kepanasan. Dari mulut mereka keluar erangan menyayat hati.
Semakin
Lanang memperhebat tangisnya semakin tersiksalah mereka. Ketika akhirnya Lanang
menangis menggerung terdengarlah bunyi letupan. Pelan tapi menggidikkan hati.
Darah bercampur otak muncrat ketika letupan itu terdengar. Letupan itu terjadi
akibat meletusnya kepala dua orang pengawal pribadi Panglima Anggar Bayu!
Disusul dengan kepala panglima itu sendiri.
Lanang
menghentikan tangisnya. Seketika itu pula pengaruh yang menggiriskan lenyap. I
Made Sangkara yang masih hidup dan sejak tadi menggelepar-gelepar kiniterdiam.
"Aku sengaja tidak membunuhmu, Monyet!" Tanpa peduli pada I Made
Sangkara yangmasihbelumsadarsepenuhnya,Lanangberkatadengansuaradingin.IMade
Sangkara
masih
berdiri limbung dengan pandangan nanar.
"Aku
memberimu kesempatan untuk memberitahukan musibah ini pada gurumu. Barangkali
kau ingin mengajak gurumu mengungsi ke tempat yang aman. Tapi ingat, aku tidak
akan tinggal diam. Aku bermaksud menjumpai gurumu. Kita berlomba untuk lebih
dulu sampai di sana. Kalau kau tiba lebih dulu, kalian mempunyai kesempatan
menghirup udara dunia ini lebih lama. Sebaliknya, bila aku yang lebih dulu
tiba... kau hanya akan menjumpai mayat gurumu yang mungkin tidak akan bisa kau
kenali lagi!"
Ucapan
Lanang sebenarnya keras dan lantang, tapi pengaruh serangan dahsyat pemuda ini
membuat I Made Sangkara hanya mendengarnya samar-samar. Pemuda berpakaian
coklat ini mendengarnya antara sadar dan tidak.
Lanang
tanpa menunggu jawaban dari I Made Sangkara segera melesat pergi. Bertepatan
dengan perginya Lanang tubuh I Made Sangkara bergerak limbung. Kemudian, ambruk
bagai sehelai kain basah. Pemuda ini jatuh pingsan. Pengaruh serangan Lanang
memang luar biasa!
***
Seorang
kakek berambut awut-awutan dan bermata buta menghela napas berat. Wajahnya yang
penuh dibasahi peluh membuat keadaannya terlihat mengenaskan. Kakek ini tengah
duduk bersila di atas baru karang hitam di pinggir laut.
"Benar-benar
luar biasa...,2010 ucap kakek berambut awut-awutan seraya menggeleng-gelengkan
kepala. Ucapannya meski pelan tapi mampu mengatasi riuhnya bunyi di sekelilingnya.
Sekitar
tempat kakek itu berada memang penuh kegaduhan. Ombak besar
bergulung-gulungdatangdaritengahlautmenghantamkarangdekatpantai.Termasukbatu
karang di mana kakek buta itu berada. Apalagi batu karang itu berada agak
menjorok ke laut.
Hanya, ada
kejadian yang aneh. Setiap kali ombak besar menghantam karang di mana si kakek
berada, percikan-percikan airnya tak setetes pun mengenai tubuh kakek itu.
Percikan air berpentalan kembali ke laut.
Pada karang
lainnya tidak demikian. Kendati sebagian besar air yang menghantam
karangkembalike laut,tapisebagianlagi memercikke atasbatukarang
danmembasahinya. Pada celah-celah karang tertinggal keong-keong laut dan
ikan-ikan kecil yang tadi ikut terbawa ombak.
Tempat
kakek buta itu berada sebenarnya sepi. Meski di pinggir laut tak satu pun
tampak perahu nelayan. Sejauh mata memandang yang kelihatan hanya gugusan batu
karang. Desa yang paling dekat jaraknya amat jauh dari tempat ini.
Tapi, kali
iniada sesosok tubuh melesat cepat menujutempat kakek butaitu berada. Sosok itu
seorang kakek jangkung berwajah mirip kuda. Meski telah tua kakek ini memiliki
kecepatan lari yang mengagumkan. Kaki-kakinya seperti tidak menginjak tanah.
Dengan
lompatan-lompatan luar biasa kakek bermuka kuda melalui karang-karang licin
yang banyak ditempeli lumut. Kakek ini melompat-lompat tanpa merasa khawatir
akan tergelincir. Karang demi karang dilalui denganenaknya, seperti orang
berlari di tempat rata.
Kakek buta
rupanya mendengar seseorang mendatangi tempatnya. Kepalanya segera ditelengkan.
Sekejap kemudian, dia melakukan tindakan luar biasa. Dalam keadaan masih duduk
bersih tubuhnya perlahan-lahan naik ke atas.
Setelah
mencapai ketinggian sepinggang, kedua kakinya diturunkan. Sekarang dia berdiri
dengan kedua kaki. Seperti orang yang mempunya mata normal pandangannya
diarahkan pada tempat di mana kakek berwajah kuda melesat ke arahnya.
Sementara
itu kakek berwajah kuda sadar kalau kakek buta telah mengetahui kedatangannya.
Pada batu karang yang berhadapan dengan batu karang tempat kakek buta berdiri
larinya dihentikan. Kakek berwajah kuda berdiri menghadap kakek buta di pinggir
batu karang yang dipisahkan oleh celah laut selebar tiga tombak.
"Siapa
kau? Apa maksud kedatanganmu ke tempat ini?" Kakek buta bertanya tanpa
menyembunyikan perasaan tidak senangnya.
Kakek
berwajah kuda tidak memberikan jawaban. Setelah memperhatikan kakek buta sesaat
dia lalu tertawa. Suara tawanya tidak layak keluar dari mulut manusia. Lebih
mirip suara kuda!
Wajah kakek
buta beriak. Terlihat jelas dia merasa kaget. "Kukira siapa. Kiranya kau
si muka kuda yang berani bergelar Raja Sihir Penyebar Maut! Apa maksud
kedatanganmu kemari, Muka Kuda?!"
Raja Sihir
Penyebar Maut kembali meringkik. Suaranya melengking nyaring mengatasi gemuruh
umbak laut pasang.
"Syukur
kau masih mengenaliku, Dewa Mata Putih," ujar kakek bermuka kuda.
"Kukira sudah lupa. Ingatanmu ternyata masih kuat. Pendengaranmu pun
semakin tajam sehingga bisa mengetahui kedatanganku."
Kakek buta
yang bergelar Dewa Mata Putih mengibaskan tangan dengan sikap mencela.
"Tidak usah memuji-mujiku, Muka Kuda!" sergah kakek itu, lantang.
"Kalau kau bersikap seperti ini pasti ada sesuatu yang diinginkan dariku.
Aku tahu betul dengan tingkahmu!"
Raja Sihir
Penyebar Maut hanya meringkik "Perasaanmu pun semakin tajam, Buta. Kau
tahu maksud kedatanganku kemari sebelum kuutarakan. Luar Biasa!"
Dewa Mata
Putihmendengus.Tidak terlihat kemarahan, kendati Raja Sihir Penyebar Maut
menyapanya dengan cacat yang dimilikinya.
2010Akudatangkemari
untuksebuahkeperluan.Tapi,itutidakterlalupenting.2010 Raja Sihir Penyebar Maut
mulai mengutarakan maksudnya. Dia tidak kecil hati meski Dewa Mata Putih
tersenyum mengejek. 2010Yang lebih penting adalah apakah kau mendapatkan
kemajuan setelah belasan tahun kita tidak bersua. Aku ingin menguji
kemampuanmu, Buta!"
"Mengapa
berbelit-belit, Muka Kuda? Katakan saja maksudmu itu. Tidak usah
plintat-plintut seperti perawan dilamar!" sergah Dewa Mata Putih, tak
sabar. "Aku mempunyai urusan lain yang jauh lebih penting. Kau ingin
menguji bagaimana? Pertarungan sampai selaksa jurus! Mengadu kekuatan tenaga
dalam sampai di antara kita ada yang menggeletak? Aku siap menghadapinya!"
"Sayangsekali,Buta!Pertarungansemacamitutidak
menarikhatikulagi.Aku sudah terlalu tua. Urat-uratku telah kaku," kilah
Raja Sihir Penyebar Maut sambil tertawa.
"Lalu,
pertarungan bagaimana yang kau inginkan?"
"Bukan
pertarungan. Aku hanya ingin menguji kemampuanmu. Katakan dulu kau berani atau
tidak? Kalau tidak berani, aku akan segera pergi dari sini!2010 Raja Sihir
Penyebar Maut membakar keangkuhan Dewa Mata Putih. Kakek muka kuda ini tahu
benar kakek buta memiliki penghargaan yang tinggi terhadap dirinya sendiri.
Pantang baginya dianggap takut atau pengecut.
Dewa Mata
Putih tertawa mengejek
2010Aku
membaui adanya maksud untuk mencari keuntungan diri sendiri dalam tantanganmu,
Muka Kuda. Kau hendak menipuku! Tapi, jangan kira aku menjadi gentar. Pantang
bagiku menolak tantangan! Sekarang, katakan maksudmu secara jelas!2010
2010Aku
yakin kau telah melihat keanehan di langit beberapa hari yang lalu, Buta.
Selama tiga hari tiga malam warna langit tetap demikian.2010 Raja Sihir
Penyebar Maut berkata seraya memperhatikan wajah Dewa Mata Putih. Ia ingin
melihat setiap riak sekecil apa pun di wajah tua itu. Maksud kakek muka, kuda ini
terkabul. Wajah Dewa Mata Putih terlihat beriak. "Bukankah kau melihatnya,
Buta?"
Dewa Mata
Putih mengangguk pelan seperti merasa berat untuk menjawab.
"Dan,
aku yakin kau tahu penyebabnya. Iya, kan?" desak Raja Sihir Penyebar Maut.
Perubahanpada wajah Dewa Mata Putih semakin terlihat jelas. Agaknya, pertanyaan
yang di
ajukan Raja Sihir Penyebar Maut merupakan rahasia.
"Bagaimana,
Buta? Kau bermaksud menarik lagi ucapanmu yang mengatakan akan bersedia
memenuhi ujian dariku?" Raja Sihir Penyebar Maut mengeluarkan kata-kata
kuncinya.
4
Dewa Mata
Putih menggertakkan gigi. Wajahnya mengelam. Beberapa saat hal ini berlangsung
sebelum akhirnya memudar seiring dengan helaan napas dari mulutnya.
"Sudah
kuduga kau menyimpan maksud licik, Muka Kuda! Sejak dulu watakmu tidak juga
berubah!" desis Dewa Mata Putih, geram. Tapi, di dalamnya terkandung
ketidakberdayaan dan penyesalan.
"Apakah
kau hendak menjilat ludah yang sudah kau keluarkan, Buta?" gertak Raja
Sihir Penyebar Maut.
"Katakan
apa yang ingin kau tanyakan. Setelah itu, enyahlah dari sini! Aku tidak ingin
melihat wajahmu lagi!" ketus ucapan Dewa Mata Putih.
Raja Sihir
Penyebar Maut sebenarnya merasa tersinggung. Tapi, dia menahan amarahnya. Kakek
muka kuda ini memiliki keangkuhan yang besar. Pantang baginya diremehkanorang.
Kalautidak mengingat pentingnya masalah yang tengah dihadapi, sudah
diterjangnya Dewa Mata Putih.
Sayang,
Raja Sihir Penyebar Maut terlalu terbawa rasa tersinggungnya. Kalau saja
ditelaahnya kata-kata Dewa Mata Putih dia pasti akan merasa geli. Mana mungkin
Dewa Mata Putih yang buta melihat wajahnya?
2010Aku
hanya ingin kau memberikan jawaban di mana Ular Emas itu? Maksudku, di mana
tempat binatang aneh itu keluar!2010
2010Sejak
tiga hari yang lalu aku telah berusaha mencari tahu, Muka Kuda. Tapi, aku tidak
mampu mengetahuinya. Ada tabir yang menutupi. Batas pengetahuanku kurasa sama
denganmu.2010
2010Aku
yakin kau belum mengeluarkan seluruh kemampuanmu, Buta,2010 ujar Raja Sihir
Penyeba Maut setengah mengingatkan.
2010Bagaimana
mungkin aku bisa mengerahkan seluruh kemampuanku? Akutidak ingin meninggalkan
tempat ini. Harus kuakui kalau seluruh kemampuanku kukeluarkan, mungkin tabir
itu bisa kuungkap. Jadi, bukannya aku tidak mampu lulus dari ujianmu. Tapi,
tidak ada bantuan alat-alat yang dapat membuatku mengerahkan seluruh
kemampuan."
Raja Sihir
Penyebar Maut tersenyum penuh rahasia. Dia tidak kelihatan kecewa. Kakek muka
kuda ini berdiam diri. Dewa Mata Putih yang tidak bisa melihat jadi
kebingungan.KakekbutainigelisahmendengartidakadanyatanggapanRajaSihirPenyebar
Maut
"Apakah
kau masih di situ, Muka Kuda?" tanya Dewa Mata Putih, kepalanya
ditelengkan ke kiri kanan untuk dapat lebih jelas menangkap bunyi-bunyi halus.
Sebenarnya
kakek buta itu tahu pertanyaannya kedengaran bodoh. Tapi, dia tidak bisa
menahan rasa ingin tahunya ketika beberapa saat lamanya menunggu tidak juga
mendengar suara. Bahkan desah napas Raja Sihir Penyebar Maut. Kakek muka kuda
itu seperti sudah tidak berada di hadapannya lagi...
Raja Sihir
Penyebar Maut tertawa melihat kegelisahan kakek buta di depannya. "Tentu
saja akumasih di sini, Buta. Mana mungkin kutinggalkan tempat inisebelum
kudapat
keterangan tentang Ular Emas itu?!" "Bukankah sudah kukatakan
kalau...."
"Kerahkanlah
seluruh kemampuanmu, Buta! Semua bahan-bahan yang kau perlukan sudah
kusediakan!" potong Raja Sihir Penyebar Maut. Kakek muka kuda melemparkan
buntalan kecil yang sejak tadi dijinjing dengan tangan kirinya. Sembarangan dan
kelihatan tanpa tenaga kakek ini melemparkannya.
Dewa Mata
Putih menyeringai. Pendengarannya yang tajam menangkap bunyi menderu keras.
Kakek initidak bodoh. Meski matanya buta, tapi dengankepandaiannya dia tahu
yang tengah meluncur ke arahnya hanya sebuah buntalan kecil.
Kakek buta
ini tidak mau kalah gertak. Dengan sikap seperti orang malas tangan kirinya
diulurkan menyambut buntalan kecil. Dan buntalan itu dapai diterimanya tanpa
kesulitan sama sekali. Tanpa berkata apa pun kakek buta itu membuka buntalan.
Mudah
sekali.
Seakan matanya tidak buta. Dengan mempergunakan tangan kanan diperiksanya isi
buntalan. Dikeluarkan satu persatu dan dirabanya serta diciumnya.
"Kiranya
kau telah mempersiapkan segala sesuatunya dengan rapi, Muka Kuda. Semua
alat-alat yang kubutuhkan tersedia.Tak kusangka. Aku hampir tidak percaya orang
setua kau masih saja tamak dengan pusaka. Bukankah lebih enak menyepi di tempat
yang sunyi, menunggu ajal tiba dengan batin bersih?"
2010Kau
tidak usah mengajariku, Buta!2010 bentak Uaja Sihir Penyebar Maut. 2010Kau
boleh mempraktekkan ajaranmu itu untuk dirimu sendiri. Tidak untukku!2010
2010Sungguh
tidak kusangka kau masih ingat peralatan yang kuperlukan. Tak ada yang kurang
satu pun.2010 Dewa Mata Putih tidak mempedulikan ucapan Raja Sihir Penyebar
Maut.
"Apa
susahnya mengingat benda-benda menjijikkan itu?!" ejek Raja Sihir Penyebar
Maut. "Rambut mayat, hati kelelawar, kepala burung bantu, dan darah ayam
hitam."
"Menjauhlah
dariku, Muka Kuda! Aku ingin mulai bekerja. Keberadaanmu di sini hanya akan
mengacaukan pemusatan pikiranku. Nanti apabila telah kutemukan hasilnya,
kuberitahukan padamu!" usir Dewa Mata Putih, caranya memutuskan
pembicaraan terdengar kasar.
Sepasang
mata RajaSihir Penyebar Mautseperti memancarkanapi. Tapi, orang yang dipandang
tidak mengetahuinya. Dia duduk bersila dan mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Raja Sihir Penyebar Maut tidak berani menurutkan hawa nafsu. Saat ini kemampuan
si kakek buta amat diperlukan. Jadi, dia harus mengalah. Dengan kemarahan yang
bergolak ditinggalkannya tempat itu.
RajaSihirPenyebarMauttidakpergijauh.Diaduduk
menantidenganperasaantidak sabar. Lima-puluh tombak dari tempat Dewa Mata
Putih. Kakek muka kuda ini memilih sebuah gundukan karang yang agak tinggi
sehingga dapat mengawasi pekerjaan Dewa Mata Putih.
Tanpa
sadar, ingatan kakek muka kuda ini melayang pada masa belasan tahun silam, saat
dia pertama kali bertemu Dewa Mata Putih. Saat itu dia sedang haus-hausnya
mengadu kesaktian dengan tokoh-tokoh persilatan baik dari golonganhitam maupun
putih.
Dewa Mata
Putih pun demikian. Bedanya, kalau Raja Sihir Penyebar Maut beraliran hitam,
Dewa Mata Putih beraliran putih. Perbedaan golongan ini menyebabkan terjadinya
pertarungan antara mereka.
PertarungandimenangkanolehRajaSihirPenyebarMaut.Tapi,kakekmukakuda
ini tidak membunuh lawannya. Ia ingin mengajak Dewa Mata Putih melakukan
pertarungan ilmu gaib. Dalam bidang ini Raja Sihir Penyebar Maut harus mengakui
keunggulan lawan. Kakek muka kuda ini jadi mengetahui alat-alat yang dibutuhkan
Dewa Mata Putih untuk mengeluarkan ilmu gaibnya.
ItulahsebabnyaketikatidakberhasilmencaritahukeberadaanUlar
Emas, RajaSihir Penyebar Maut mencari Dewa Mata Putih. Dia yakin kakek buta itu
bisa mengetahuinya. (Untuk jelasnya mengenai tokoh yang berjuluk Raja Sihir
Penyebar Maut, silakan baca episode: "Pembantai Dari Mongol").
"Muka
Kuda, cepat kemari! Aku telah menemukan sesuatu!"
Pemberitahuan
Dewa Mata Putih yang dikirim lewat Ilmu 'Mengirim Suara Dari Jauh', menyadarkan
Raja Sihir Penyebar Maut dari lamunan. Bergegas dia bangkit dan melesat ke arah
kakek buta.
"Kau
telah tahu di mana Ular Emas itu, Buta? Ternyata kemampuan ilmu gaibmu tidak
berkurang. Kau memang luar biasa...!" puji Raja Sihir Penyebar Maut, tanpa
menyembunyikan perasaan gembiranya.
"Telan
dulu pujian berbisamu itu, Muka Kuda. Lebih baik kau dengarkan
penjelasanku," sergah Dewa Mata Putih.
Raja Sihir
Penyebar Maut terdiam. Wajahnya mengelam. Sinar matanya berapi-api. Kalau
menuruti perasaan sudah diterjangnya kakek buta yang berkali-kali menyakiti
hatinya ini.
2010Ular
Emas memang telah keluar. Tempat di mana keluarnya tidak dapat kupastikan. Aku
hanya melihat adanya lorong panjang dan gelap. Lorong yang merupakan jalan
menuju batas dunia kasar dan halus. Asal mula lorong ini adatah Gunung Cikuray.
Rupanya, itulah yang menyebabkan gunung ini meletus. Aku melihat seseorang berjalan
melalui lorong. Seorang perempuan muda dan cantik. Mungkin dia yang akan
mendapatkan mustika yang tengah kau cari,2010 beritahu Dewa Mata Putih.
2010Apakah
gadis itu yang akan mendapatkannya, Buta?2010 Dalam ketegangan, Raja Sihir
Penyebar Maut mengajukan pertanyaan yang semestinya tidak dikeluarkan karena
kakek buta telah mengatakannya. "Bisakah kau beritahukan ciri-ciri tempat
Ular Emas itu akan keluar?"
Dewa Mata
Putih menggeleng.
"Samar-samar
aku mendengar bisikan bahwa yang berjodoh dengan mustika itu hanya orang yang
masih suci. Dalam arti, belum pernah mengadakan hubungan badan. Jadi, kurasa
kau lebih baik mengurungkan maksudmu untuk mendapatkan mustika itu."
Raja Sihir
Penyebar Maut menggertakkan gigi.
Jauh-jauhdiadatangke
tempatinidenganmembawabahan-bahanyangdibutuhkan Dewa Mata Putih. Sekarang
disuruh melupakan mustika itu. Sebuahusul yang benar-benar gila!
"Kau
telah berusaha keras, Buta. Sepantasnya kalau kuberikan tanda mata untukmu.
Terimalah!"
Raja Sihir
Penyebar Maut menutup ucapannya yang sarat dengan perasaan kecewa melalui
lemparan sebuah benda bulat lonjong sebesar telur angsa. Warnanya putih
kecoklatan. Kakek muka kuda ini melemparkannya ke atas. Diperkirakan benda ini
akan jatuh di depan Dewa Mata Putih.
Dewa Mata
Putih bukan tokoh hijau yang baru pertama kali menghadapi hal-hal aneh. Memang
kakek ini buta matanya. Tapi, justru karena itu perasaannya tajam bukan main.
DewaMataPutihtahusiapaRajaSihirPenyebarMaut.Kakek
mukakuda iniseorang pentolan dunia hitam. Yang ada di benaknya hanyalah mencari
keuntungan untuk dirinya sendiri. Tidak peduli orang lain dirugikan. Tak ada
dalam hidup Raja Sihir Penyebar Maut untuk mengingat kebaikan orang! Apalagi
memberikan hadiah tanda mata.
Pikiran
semacam ini membuat curiga Dewa Mata Putih. Ditambah lagi dengan bisikan
hatinya yang mengatakan adanya bahaya mengancam. Maka kakek buta ini tidak
berani menyambuti benda yan dilemparkan Raja Sihir Penyebar Maut. Khawatir
benda itu mengandung racun keji!
Kakek buta
melompat ke belakang. Inderanya yang tajam dapat mengetahui pinggir
tebingkaranghanyadenganmempergunakantelingauntukmenangkapbunyiombak. Dewa Mata
Putih tidakterjeblos ke dalam laut. Kakek buta ini berdiri tepat di pinggir
batu karang.
Blarrr!
Nyawa Dewa
Mata Putih bagai melayang alam baka ketika mendengar bunyi berdentum nyaring.
Dirasakannya karang bergetar hebat. Kaki kakinya kehilangan keseimbangan karena
tempat yang dipijaknya lenyap. Karang tempatnya berdiri hancur berantakan!
Untungnya Dewa Mata Putih cepat bertindak. Saat tubuhnya dirasakan terlempar ke
udara akibat ledakan dahsyat itu, kakek buta ini bersalto beberapa kali di
udara. Kemampuan pendengarannya dikerahkan untuk mendengarkan bunyi-bunyi yang
terdengar di sekelilingnya. Sekecilapa pun.Salahsedikit sajakakinya akanmenjejak
lautan lepas dan nyawanya lenyap di perairan yang maha luas itu.
Raja Sihir
Penyebar Maut mendengus. Dia tahu maksud gerakan Dewa Mata Putih. Dengan senyum
keji menghias bibir dikirimkannya pukulan jarak jauh berupa hentakan kedua
tangan. Hembusan angin keras yang mengeluarkan bunyi berkesiutan nyaring
menghambur ke arah tubuh Dewa Mata Putih.
Dewa Mata
Putih mendengar bahaya besar itu. Di dalam hati dia memaki kelicikan Raja Sihir
Penyebar Maut! Kedudukannya yang berada di udara dan ketiadaan pijakan membuatnya
tidak bisa mengelak
Blarrr!
Untukkeduakalinyaterjadibunyi
ledakankeras.Kali initerjadiakibat benturandua pukulan jarak jauh. Tubuh Raja
Sihir Penyebar Maut maupun Dewa Mata Putihterpental ke belakang.
Raja Sihir
Penyebar Maut tidak mempunyai kesulitan untuk mematahkan kekuatan yang membuat
tubuhnya terlempar. Dengan ringan kedua kakinya dijejakkan pada batu karang
lain. Tapi, tidak demikian dialami oleh Dewa Mata Putih. Betapapun berhasil
mematahkan kekuatan yang melontarkan tubuhnya, tak urung tubuhnya jatuh ke
hamparan air laut biru. Bunyi benturan yang diiringi muncratnya air menimbulkan
seringai keji di wajah Raja Sihin Penyebar Maut.
Denganhatipuaskakekbermukakuda
melesatmeninggalkantempatitu.Sementara Dewa Mata Putih tenggelam ke dalam laut
yang memiliki kedalaman tak terukur.
Bunyi
nyaring yang cukup merdu di telinga terdengar berkali-kali dengan irama tetap.
Bunyi benda kecil yang tidak begitu berat jatuh ke permukaan air. Bunyi itu
tercipta karena keisengan sesosok tubuh ramping berpakaian kuning yang duduk di
pinggir sungai. Pandangannya tertuju lurus ke depan. Sinar matanya tampak
kosong. Tapi, tangannya tak henti-hentimemungutbatusebesarkepalanbayiyangada di
sekitarnyadandilemparkanke tengah sungai.
Sosok
berpakaian kuning ini ternyata seorang gadis berwajah sangat cantik. Meskipun
saat itu kemurungan menyelimuti wajahnya, namun tidak mengurangi kecantikannya.
Kembali gadis berpakaian kuning ini mengulurkan tangan. Kali ini sudah tidak
ada lagi batu yang bisa diambil. Sudah habis. Di depannya ada tapi jaraknya
cukup jauh untuk bisa dijangkau tangan. Gadis ini duduk di bagian tabing
pinggir sungai. Menurun ke depan sedikit terhampar sungai dengan sedikit
daratan di pinggirnya.Tangan gadis berpakaian kuning itu tidak dapat menjangkau
batu-batu yang berserakan di depannya. Jaraknya tak kurang dari satu setengah
tombak. Tapi, ketika si gadis menggetarkan tangannya, salah satu batu yang
berada di bawah sana mela-ang ke arahnya dan mendarat tepat di telapak tangan!
Dengan wajah dan sinar mata orang kehilangan semangat gadis itu melemparkan
batu ke tengah sungai. Begitu seterusnya.
Ketika
kesekian kalinya, gadis berpakaian kuning ini mengalami kejadian mengejutkan.
Batu yang melayang ke arahnya terus meluncur melewatinya dengan kecepatan yang
mendadak bertambah. Si gadis menggertakkan gigi. Sinar matanya berkilat-kilat.
Ada orang yang telah bertindak usil padanya.
Gadis
berpakaian kuning membalikkan tubuh seraya bangkit berdiri. Dugaannya tidak
salah. Di belakangnya berdiri seorang kakek dalam jarak tiga tombak. Kakek itu
berwajah kuning. Di tangan kanannya tergenggam batu yangtadi hampir
berhasilditangkap si gadis
2010Tua
bangka usilan!122010 maki gadis berpakaian kuning dengan suaralantang penuh
kemarahan. 2010Rupanya kau ingin menerima gebukanku!2010
Kakek
bermuka kuning tertawa. Tanpa sadar bulu kuduk si gadis meremang. Tawa kakek
itu melengking tinggi seperti suara tawa seorang wanita. Nadanya pun tidak
menyenangkan hati. Terkesan dibuat-buat.
Gadis
berpakaian kuning saat itu tengah uring-uringan. Maka mendapat gangguan,
apalagi si pengganggu mempunyai tingkah menyebalkan, seperti menemukan tempat
untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Jari telunjuknya yang runcing dan lentik
ditudingkan.
"Ayo,
Kakek Penyakitan! Kembalikan batuku. Sebelum mukamu yang kuning itu kujadikn
hitam!"
Wajah kakek
muka kuning mengelam. Biasan wajahnya menyiratkan ancaman. "Kambing
betina! Kau berani menghinaku. Di lain keadaan mungkin kau sudah
kubunuh!
Tapi karena tengah mengemban urusan penting, biar kucicipi saja keperawananmu!
Sudah hampir duapuluh tahun aku tidak bersenang-senang dengan wanita. Apalagi
dengan gadis liar sepertimu. Pasti menyenangkan sekali!"
"Keparat!"
Gadis berpakaian kuning semakin kalap. Sorot matanya memancarkan hawa maut
mendengar ucapan yang jelas-jelas kurang ajar itu. "Tua bangka seperti kau
lebih baik dilenyapkan dari muka bumi!"
Setelah
berkata demikian, gadis berpakaian kuning mencabut pedang. Dia melompat seraya
membacokkan pedangnya dari atas ke bawah. Apabila mengenai sasaran, tubuh kakek
itu akan terbelah menjadi dua bagian sama.
Kakek muka
kuning tertawa dengan nada aneh. Ia seperti tengah melihat kejadian lucu. Kakek
itu tidak berusaha mengelak atau pun menangkis.
"Pedang
tumpul seperti itu mana mungkin dapat membelah kepalaku? Membelah tahu saja
kukira tidak akan mempan!"
Takkk!
Belum juga
gema ucapannya habis, mata pedang si gadis telah menghantam kepalanya dengan
keras. Tapi, seperti sesumbar yang dikeluarkan si kakek pedang gadis berpakaian
kuning tidak mampu membelah kepalanya. Pedang itu terpental balik
Gadis
berpakaian kuning bersalto beberapa kali di udara untuk mematahkan kekuatan
yang mementalkan tubuh ke belakang. Perasaan kaget yang sangat melanda hatinya.
Ia seperti bukan membacok kepala, tapi gumpalan baja amat keras. Sekujur
tubuhnya
tergetar hebat. Tangannya yang menggenggam pedang hampir lumpuh. Wajah si gadis
masih belum bebas dari keterkejutan ketika kedua kakinya menjejak tanah.
2010Betulkan
yang kukatakan, Denok?2010 ejek si kakek dengan suara genit. "Tutup
mulutmu, Tua Bangka Cabul!"
Gadis
berpakaian kuning semakin marah. Ia kembali mengirimkan serangan mematikan.
Kali inimelaluitusukancepatke arah jantung. Kakek bermuka kuning tertawa.
Ketika serangan menyambar dekat, telunjuk dan jari tengahnya digerakkan ke
depan untuk memapaki.
Si gadis
mengeluarkan pekikan tertahan. Pedangnya terjepit di antara dua jari si kakek.
Dicobanya melepaskan pedang dengan menarik atau mendorong. Dia yakin cara ini
akan berhasil. Gesekan mata pedang dan jari tangan akan membuat jari kakek itu
terluka!
5
Ternyata
rencana itu hanya mudah untuk dilaksanakan dalam angan-angan. Gadis berpakaian
kuning itu harus menelan kenyataan pahit. Pedangnya tidak bergeming sedikit
pun.
Gadis
berpakaian kuning ini ternyata memiliki watak keras kepala. Dia tidak mau
melepaskan pedangnya kendati telah dibuat mati kutu oleh lawan. Dengan tangan
kiri dilancarkannya tusukan dua jari tangan ke arah ubun-ubun si kakek.
2010Uh...!2010
Kakek
berwajah kuning mengeluh, kaget. Serangan jari-jari tangan gadis berpakaian
kuning memang menggiriskan. Bunyi bercicitan nyaring mengiringi luncuran
serangan itu.
"Apa
hubunganmu dengan Pendekar Jari Maut?!"
Berbarengan
dengan dikeluarkannya pertanyaan itu kakek bermuka kuning memapaki dengan
telapak tangan kiri. Dua jari si gadis yang mampu melubangi karang paling keras
itu bertemu dengan telapak tangan tua yang kelihatan lunak.
Wajah si
gadis memucat. Jari-jarinya tidak mampu melukai tangan lawan. Malah,
ujung-ujungjarinyamelekatdengantelapaktanganitu.Gadisberpakaiankuningbersikeras
menariknya. Tapi, sia-sia. Dari telapak tangan kakek bermuka kuning seolah ada
kekuatan dahsyat yang menyedot jari-jari tangannya hingga tetap menempel.
Dengan
sendirinya sekarang si gadis tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Kedua tangannya
telah dikunci. Namun dia masih berusaha keras untuk membebaskan diri!
Rontaannya
mulai melemah ketika merasakan hawa panas merayap dari kedua tangannya. Hawa
panas itu semakin lama semakin dahsyat. Si gadis berusaha keras mengurangi
kekuatan hawa yang menyiksa dengan mengerahkan tenaga dalam.
Lagi-lagi
usaha gadis berpakaian kuning ini tidak membuahkan hasil. Lawan terlalu kuat.
Dia kalah dalam segalanya. Peluh membasahi sekujur wajah dan tubuh. Wajah gadis
ini sampai merah padam seperti udang rebus.
"KatakanapahubunganmudenganPendekarJariMaut?
Cepat!Sebelumkaukubuat pingsan karena tak kuat dengan siksaan ini!" Kakek
berpakaian kuning berteriak dengan tidak sabar.
"Aku
putrinya, Tua Bangka tak tahu malu! Kalau ayahku tahu, kau akan dihajarnya
sampai mukamu yang kuning itu luntur warnanya!" jawab gadis berpakaian
kuning dengan terengah. Serangan hawa panas membuat si gadis sulit bernapas.
"Hi hi
hi...!"
Kakek
bermuka kuning tertawa dengan suara nyaring. Jawaban si gadis yang penuh
ancaman dianggapnya hal yang lucu.
"Kau
mengancamku, Denok? Lucu sekali. Kau kira aku takut dengan ayahmu si Pendekar
Jari Maut itu? Dan, kau bilang dia akan menghajarku? Kau salah besar, Montok.
Malah, kalau tahu kau dicelakai olehku dia akan menutup mata!"
"Bohong!
Kau bohong, Tua Bangka bau. Memangnya kau siapa sehingga ayahku takut padamu?
Sekarang kau berani membuka mulut karenaayahku tidak ada! Coba kalau beliau
ada, kau akan terberak-berak di celana karena takut!" Si gadis balas
mengejek, tak kalah keras dan kasar.
"Wanita
liar! Mulutmu terlalu tajam!" Kakek bermuka kuning yang kalah pintar
berdebat menjadi berang bukan main. Dia tahu tak akan menang adu mulut dengan
gadis yang pintar bicara ini. "Kau ingin tahu siapa aku? Aku dijuluki Raja
Racun Sakti. Kau pernah mendengar julukan ini dari ayahmu, bukan? Aku yakin
ayahmu telah menceritakan betapa takutnya dia padaku!"
Kakek
bermuka kuning lalu meniup. Serangkum angin yang tidak keras, menyambar. Gadis
berpakaian kuning mengeluh tertahan. Bahu kanannya seperti terkena sodokan
tongkat besi. Pengerahan tenaga dalamnya pun terhenti.Tubuh si gadis ambruk ke
tanah. Raja RacunSakti telah menotoknya dengan cara yang luar biasa.
"Nah!
Apakah ayahmu mampu melakukan hal seperti ini? Tidak bukan?" tanya Raja
Racun Sakti dengan penuh kebanggaan.
Gadis
berpakaian kuning yang memang putri Pendekar Jari Maut dan tidak lain Jumini
hanya tersenyum mengejek. Sikapnya memandang rendah sekali.
"Kemampuan
seperti itu saja kau banggakan, Kakek Bau! Ayahku tanpa melakukan tindakan apa
pun mampu membuat puluhan orang yang memiliki kepandaian lebih dariku roboh
tidak berkutik. Yang kau pamerkan padaku ini tidak ada artinya sama
sekali!"
Wajah Raja
Racun Sakti semakin kuning karena rasa tersinggung. Diam-diam dia memaki
kebodohannya yang masih saja mengajak si gadis berdebat. Dia tadi sudah
berjanji tidak akan mengadu mulut dengan Jumini!
Jumini yang
memang memiliki kepintaran berbicara tentu saja melihat perubahan wajah
RajaRacun Sakti. Gadis iniyakin kalaukakek itu tersinggung. Kesempatan
itusegera digunakannya untuk mengobati sakit hatinya.
"Ayahku
memang telah menceritakan tentang seorang tokoh yang berjuluk Raja Racun Sakti,
bahkan terlalu sering. Menurut Ayah, dia seorang tokoh hitam yang memiliki
kepandaian rendah. Anehnya, tokoh itu memiliki watak sombong. Dia juga seorang
pengecut! Begitu mendengar berita ayahku akan datang, dia lari terbirit-birit
dan hampir pingsan!" Dengan beraninya Jumini mengarang cerita. Padahal,
sebenarnya tidak demikian. Ayahnya memang pernah menceritakan tentang Raja
Racun Sakti. Tapi, tidak dengan cerita seperti yang diuraikan Jumini. Pendekar
Jari Maut menceritakan apa adanya dan mengatakankalau RajaRacunSakti merupakan
salah seorang datuk kaum sesat yang amat terkenal pada masa puluhan tahun lalu.
Tokoh itu bersama Raja Sihir Penyebar Maut hampir mengundurkan diri dari dunia
persilatan.
2010Keparat!2010
Sepasang mata Raja Racun Sakti bagai hendak keluar. 2010Kau terlalu lancang,
Wanita Liar! Berani mempermainkan Raja Racun Sakti. Sekarang akan kubuat kau
menyesal seumur hidup!"
Jumini yang
sejak tadi memasang sikap angkuh dan tak henti-hentinya tersenyum mengejek,
mulai memucat wajahnya. Naluri kewanitaannya membisikkan adanya bahaya besar.
Bahaya yang lebih dahsyat dari maut. Rasa takut pun mulai menyeruak di hatinya.
Kakek bermuka
kuning mulai dengan ancamannya. Dia tetap berdiri di tempatnya. Kedua tangannya
digerak-gerakkan di depan dada seperti sedang membolang-balingkan pedang.
Jumini
tidak tahan untuk tidak menjerit. Angin tajam menyambar. Pakaiannya
tersayat-sayat seperti digurat-gurat pedang. Padahal, kakek muka kuning tidak
bergerak menghampiri. Jarak antara tangan si kakek dengantubuhnya tak kurang
dari satu tombak. Jumini tidak sempat kaget atau kagum dengan kejadian ini.
Perasaan yang paling berperan saat ini adalah rasa takut yang sangat.
Di lain
pihak, RajaRacunSakti tertawa-tawa seraya terus melanjutkantindakannya.
Sayatan-sayatan pada pakaian Jumini semakin banyak. Anehnya, kulit tubuh gadis
itu sedikit pun tidak terluka!
Raja Racun
Sakti tersenyum keji. Gerakan tangannya dihentikan ketika dirasanya
telahcukup.Kakek yangtelahpuluhantahuntidakmencicipitubuhwanita,apalagiseorang
perawan, mulai bangkit gairahnya. Sudah terbayang di benaknya nikmatnya
menggeluti Jumini!
Memang,
semula Raja Racun Sakti berniat merenggut keperawanan Jumini bukan
denganmaksudmenyalurkanhasratbirahi. Tapi,karenaketidakinginanMustikaUlar Emas
jatuh ke tangan orang lain. Kakek ini bersembunyi di celah-celah batu karang
ketika Raja Sihir Penyebar Maut menemui Dewa Mata Putih. Kakek muka kuning ini
melihat semua kejadian di sana. Itulah sebabnya ia berniat menghilangkan
keperawanan dan keperjakaan setiap pendekar muda! Bila itu terjadi, Mustika
Ular Emas tidak akan berhasil didapatkan siapa pun. Sekarang gairah Raja Racun
Sakti malah bangkit! Nafsu alami yang ada pada setiap manusia dewasa yang
normal mulai menyerangnya.
"Nah,
Wanita Liar, sekarang permainan bisa kita mulai!"
Raja Racun
Sakti menutup ucapannya dengan kibasan tangan kiri perlahan. Angin yang cukup
keras berhembus. Seketika itu pakaian Jumini yan sudah tersayat-sayat tapi
masih menempel di badan beterbangan.
Jumini
menjerit-jerit dan memaki-maki melihat tubuhnya telanjang bulat.Tidak ada
penutup tubuhnya lagi. Rasa takut dan geram bercampur pada wajah dan sorot
matanya. Kalau saja dapat menggerakkan tangan sedikit saja, Jumini akan
menggunakannya untuk menutupi dada dan bagian bawah tubuhnya.
Raja Racun
Sakti menatap tanpa berkedip. Kakek itu menjilati bibirnya. Matanya yang
membelalak lebar menyapu sekujur tubuh Jumini. Tubuh yang putih, halus, dan
mulus.
Dengan
pandangan melekat erat pada dada Jumini yang indah, Raja Racun Sakti melangkah
menghampiri Jumini. Raja Racun Sakti tiba-tiba menggerakkan tubuhnya
sedemikianrupa,persisseekorayam membersihkantubuhnyadariabu.Luarbiasa!Pakaian dan
celana yang dikenakannya langsung terlepas. Kakek ini telah bugil sebagaimana
layaknya bayi yang baru lahir!
Jumini
memejamkan mata. Tak kuat menahan rasa ngeri mengingat malapetaka yang akan
menima dirinya. Perasaan ngeri dan jijik melihat tubuh bugil Raja Racun Sakti
membuatnya hampir muntah! Jantung Jumini berdetak cepat, membuat dadanya
bergerak-gerak.
Raja Racun
Sakti rupanya tak kuat menahan gairah yang menggelora. Diiringi lengkingan
bagai seekor kucing dilanda birahi, kakek ini menubruk tubuh Jumini. Dengan
nafsu menggelora diselipkan wajahnya di dada Jumini. Tangannya pun tak tinggal
diam.
Jumini yang
berada dalam puncak rasa takut berteriak-teriak kalap. Makian sampai permohonan
agar Raja Racun Sakti menghentikan tindakan kejinya dilontarkan gadis itu.
Tapi, hal itu justru membuat Raja Racun Sakti semakin liar. Jeritan dan makian
Jumini menjadi semangat baginya.
Raja Racun
Sakti seakan kembali muda. Tindakannya tak kalah dengan orang yang masih muda.
Sekujur tubuh Jumini tak luputdari jarahannya. Tidak hanya dengan jari-jari
tangan, tapi juga dengan mulut.
Jumini
hanya bisa menangis. Dia jijik bukan main. Perutnya mual dan inginmuntah
melihattingkah Raja RacunSakti.Teringatlahgadis itu pada Dirgantara. Pemuda
yang telah menaklukkan hatinya. Karena satu sebab terjadi pertengkaran antara
dirinya dan pemuda berpakaian kulit harimau itu. (Untuk jelasnya, silakan
bacaepisode: "Mustika Ular Emas").
Jumini
akhirnya pasrah. Malapetaka besar akan menimpa dirinya. Dia berjanji dalam hati
untuk membalas perlakuan kakek ini sebelum membunuh diri!
"Dirga...,"
keluh Jumini lirih dengan hatihancur.
***
"Kakek
bejat! Mampuslah kau...!"
Bentakan
keras yang diiringi bunyi mengaung membuat Raja Racun Sakti kaget bukan main.
Dia terlalu larut dengan kesibukannya sehingga tidak mengetahui kehadiran orang
lain. Kakek bermuka kuning ini merasakan sambaran angin keras ke arah
ubun-ubunnya. Salah satu bagian terlemah di tubuh manusia. Dia tidak berani
bertindak sembrono. Tubuhnya segera dilempar ke belakang dan bersalto beberapa
kali untuk menjauhkan diri.
Si pemilik
bentakan tidak melanjutkan serangannya lagi. Dia berdiri terpaku. Matanya
menatap sosok Jumini yang dalam keadaan polos. Jakunnya tampak bergerak turun
naik.
"Apa
yang kau lihat?!" bentak Jumini dengan muka merah padam karena malu dan
marah. Memang, ada perasaan lega karena miliknya yang paling berharga tidak
terenggut Raja Racun Sakti. Tapi, rasa malu dan terhina melingkupi hatinya.
Pemuda
tampan, sosok yang telah menyelamatkan Jumini, kelabakan mendapat teguran itu.
Wajahnya merah padam. Tampak jelas dia merasa malu dan jengah.
"Maaf.
Maafkan aku, Nona. Aku Brawijaya, tidak bermaksud kurang ajar. Tapi...."
"Cepat bebaskan aku!" potong Jumini.
"Iya...
ya...." Brawijaya yang bukan lain putra Naga Sakti Berwajah Hitam
kelihatan gugup. Dengan kaki menggigil karena guncangan perasaan melihat tubuh
indah yang selama ini belum pernah dilihatnya, Brawijaya melangkah ke arah
Jumini.
KarenatidakinginmelihattubuhJumini,bukankarenatidakingintapi
karenatakut disemprot si gadis, Brawijaya membebaskan totokan Jumini dengan
mengalihkan pandangan ke arah lain. Tanpa melihat Brawijaya menepuk-nepuk dan
mengurut-urut untuk membebaskan totokan. Tapi karena tidak memperhatikan, yang
ditepuk dan diurut adalah dada Jumini! Tentu saja Jumini bertambah kalap.
2010Hey!
Rupanya matamu buta ya?!2010
2010Ah...
maaf. Maaf, Nona. Tidak sengaja,2010 kilah Brawijaya dengan suara bergetar
karena jantungnya memukul dengan keras. Pemuda ini sampai khawatir Jumini
mendengar bunyi detak jantungnya.
Mau tidak
mau Brawijaya terpaksa melihat tubuh Jumini. Baru kemudian mengurut-urut dan
menepuk-nepuknya untuk membebaskan totokan.
Wukkk!
2010Hey!2010
Brawijaya
mengeluarkan seruan kaget. Jumini mengirimkan sampokan ke arah pelipisnya. Itu
dilakukan gadis berpakaian kuning begitu pengaruh totokan hilang.
Brawijaya
melempar tubuhnya ke belakang lalu bergulingan. Begitu bangkit peluh membasahi
dahinya. Keringat dingin! Brawijaya bergidik. Kalau tadi dia tidak bertindak
cepat, nyawanya telah melayang meninggalkan tubuh.
Sementara
Jumini begitu selesai melancarkan serangan langsung berlari mengambil
buntalannya.Gadisituhendakberpakaian.Brawijayakembalimenelanludahmelihattubuh
menggiurkan itu. Apalagi ketika melihat dada yang menggantung indah itu
bergoyang-goyang seperti akan jatuh ketika Jumini berlari. Darah kelelakian
Brawijaya bergolak hebat.
Brawijaya
menggeleng-gelengkan kepala. Bahkan menepak dahinya ketika pikirannya mulai
membayangkan ia bermain cinta dengan gadis itu.
"Mengapa
aku mempunyai pikiran kotor seperti mi?" Brawijaya bergumam. Perasaan
heran dan bingung melandanya.
Brawijaya
tambah kelabakan ketika semakin lama dia membayangkan tentang permainan cinta
itu. Darahnya terasa panas. Ada gairah aneh yang muncul. Gairah untuk
bermesraan dengan wanita!
Putra Naga
Sakti Berwajah Hitam ini tidak tahu kalau sebelum Raja Racun Sakti meninggalkan
tempat itu, kakek ini melemparkan sekantung bubuk halus. Bubuk yang
demikianringannyasehinggaterbawaangin.Bubukituadalahobatperangsang. Udara yang
dihirup Brawijaya telah terpengaruh bubuk, lalu dengan cepat mengalir dalam
darah pemuda itu.
Brawijaya
tidak melihat tindakan Raja Racun Sakti. Yang diketahuinya, kakek itu melesat
kabur sambil menyambar pakaiannya. Semula dia merasa heran melihat tingkah
kakek itu. Brawijaya yakin dirinya bukan tandingan Raja Racun Sakti.
JantungBrawijayaberdetakjauhlebihkencangketikamelihatJuminimelesatkeluar
dari tempat persembunyiannya. Gadis ini telah berpakaian lagi.
2010Mengapa
kau hendak membunuhku?2010 tanya Brawijaya dengan suara hampir berupa keluhan.
Ada perasaan heran melanda hatinya. Jumini terlihat semakin cantik. Brawijaya
tidak tahu kalau itu terjadi karena pengaruh bubuk perangsang.
Sepasang
mata Jumini mendelik. Dengan ujung pedang ditudingnya wajah Brawijaya.Karenakaget,pemudaitumelompatmundur.
Padahal,tanpabertindakdemikian pun ujung pedang Jumini tidak akan mengenai
wajahnya.
6
2010Mengapa?
Setelah apa yang kau lakukan terhadapku, kau masih berkata mengapa?!2010 tanya
Jumini dengan suara mengandung kemarahan besar.
Gadis
berpakaian kuning itu tidak menerjang atau mengirimkan serangan. Sewaktu
berpakaian tadi Jumini mulai bisa berpikir jernih. Brawijaya tidak bersalah.
Bahkan, pemuda tampan itu telah berjasa. Kalau tidak ada dia tentu Raja Racun
Sakti berhasil melaksanakanniatnya.
Tadi
seandainya serangannya berhasil Jumini akan menyesal seumur hidup. Serangan itu
meluncur di luar kesadarannya. Rasa malu yang mendorongnya bertindak demikian.
"Aku...
aku yakin kautahuhalyang sebenarnya, Nona. Akutidak bermaksud kurang
ajar," sahut Brawijaya terbata. "Kalau kau merasa itu salahku, biar
aku meminta maaf."
"Sudahlah."Juminimengibaskantangannya.TerasaolehBrawijayanadasuaragadis
berpakaian kuning telah melunak. Ini membuatnya gembira.
Brawijaya
berharap akan terjalin hubungan antars dirinya dengan Jumini.
Di saat
Brawijaya yang telah terpengaruh bubuk perangsang tengah diliputi kegembiraan,
Jumini dihinggapi perasaan aneh. Gadis ini merasa darahnya beredar cepat.
Tubuhnya
terasa panas. Ada rangsangan aneh yang membuatnya membayangkan kenikmatan
bermesraan dengan seorang pria!
"Brawijaya,"
sapa Jumini. "Kuharap kau mau melupakan kejadian ini. Anggap saja tidak
pernah terjadi. Untuk itu, aku Jumini, akan sangat berterima kasih
padamu...."
"Jumini...?!"
ulang Brawijaya dengan nada kaget. Pemuda perkasa ini teringat akan tugas dari
ayahnya. Ia diperintahkan mencari tunangannya yang bernama Jumini. Inikah
tunangannya itu?
Melihat
ciri-cirinya, Brawijaya yakin sekali gadis ini yang dicalonkan untuk menjadi
istrinya. Menurut berita, Jumini ditangkap oleh Naga Sakti Berwajah Hitam
palsu? Lalu, mengapa bisa berada di sini?
Hati
Brawijaya seketika berbunga-bunga. Kalau semula dia tidak setuju, sekarang
pemuda ini diam-diam merasa bersyukur. Hatinya telah terpikat pada gadis
berpakaian kuning yang cantik jelita ini.
"Apa
ada yang aneh dengan namaku, Brawijaya?2010 tanya Jumini. Ia melihat
pemudaitudemikiankagetmendengarnamanya.Bahkan,pemudaitutercenungsepertiada yang
dipikirkan.
2010Tidak.
Tidak ada apa-apa, Non..., eh, Jumini," jawab Brawijaya.
Ia gugup
mendapat pertanyaan penuh selidik itu. Di dalam hati pemuda tampan ini merasa
heran. Apakah Jumini belum tahu dirinya telah dijodohkan? Tapi, ketika teringat
gadis berpakaian kuning itu belum pernah berjumpa dengannya, bahkan ayahnya sendiri
baru bertemu satu kali, Brawijaya jadi mengerti. Brawijaya tidak berani
memberitahukan tentang perjodohan itu. Biarlah nanti Pendekar Jari Maut, ayah
Jumini, yang akan memberitahukannya.
"Kalau
memang tidak ada apa-apa, aku akan pergi. Ingat baik-baik, Brawijaya. Aku tidak
mau mendengar kejadian ini tersiar. Kau harus tutup mulut. Kalau tidak,
pedangku akan berbicara...!"
Brawijaya
menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah dapat mengenal sedikit watak Jumini.
Gadis itu memiliki watak keras hati. Tapi, Brawijaya malah suka. Cinta memang
buta!
Brawijaya
tercenung beberapa saat lamanya setelah Jumini melesat pergi. Gairah aneh yang
sukar dilawan semakin kuat menyerangnya. Dia bersyukur Jumini segera
meninggalkannya. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi! Brawijaya tidak
yakin akan dapat mengatasi serangan pengaruh aneh ini.
Perasaan
resah meledak-ledak itu membuat Brawijaya bagai cacing dalam abu panas. Dia
menggeliat-geliat. Peluh membasahi sekujur wajah dan tubuhnya.
"Apa
yang terjadi pada diriku?" keluh Brawijaya. Suaranya berdesah bagai orang
kepanasan.Kemudian,denganlangkahgontaipemudainimelesatmeninggalkantempatitu.
Arah yang
ditempuhnya berlawanan denganarah yang dituju Jumini.Sepanjang perjalanan
Brawijaya terus mengeluh.
"Gila...!
Apa yang terjadi dengan diriku...?"
***
Keadaan
Jumini tidak berbeda dengan Brawijaya. Setelah beberapa puluh tombak
meninggalkan putra Naga Sakti Berwajah Hitam itu, gairah aneh yang melandanya
bergolak semakin dahsyat.
Jumini
merasakan sekujur tubuhnya panas. Benaknya yang biasanya tidak pernah
membayangkan bermesraan dengan seorang lelaki, kini mulai melamunkannya. Dia
merasakan betapanikmatnya belaian seorang pria.
Dorongan
perasaan itu membuat Jumini tersiksa. Keadaannya tak ubahnya ikan yang dilempar
ke darat. Beberapa kali gadis ini menghentikan lari dan ingin kembali menjumpai
Brawijaya. Pemuda itu satu-satunya lelaki yang ada. Tapi, setitik kesadaran
yang tersisa membuat Jumini menghentikan keinginannya. Beberapa kali Jumini
menggigit bibirnya kuat-kuat.
Jumini
berlari tak mengenal arah. Ketika tiba di suatu daerah yang terdapat pepohonan
dan kerimbunan semak, mata Jumini terlihat nyalang. Pendengarannya yang tajam
mendengar bunyi mencurigakan. Suara lenguh dan desahan seorang manusia.
Kesadaran
yang tersisa mendorong Jumini untuk menghampiri asal suara. Gelora nafsu yang
telah memuncak membuat gadis itu berharap semoga suara itu milik seorang
lelaki.
Beberapa
tindak mengayunkan kaki Jumini akhirnya mengetahui penyebab bunyi gaduh itu.
Kerimbunan semak-semak memang tidak terlalu rapat. Gadis ini bisa melihat ke
dalamnya. Sepasang mata Jumini langsung berbinar.
Sesosok
tubuh tegap terbungkus rompi kulit harimau dengan asyik memeluk sebatang pohon.
Tidak hanya memeluk, tapi juga menciumi dan meraba-rabanya. Dari mulut sosok
itu keluar lengu dan desahan.
Sosok tegap
itu ternyata merasakan adanya kehadiran orang di dekatnya.
Tindakannyadihentikandantubuhnyadibalikkan.Sepasangmatayangmerahmembara itu
tampak berbinar.
"Jumini...."
Diantara desah napasnya yan memburu, pemuda itu memanggil dengan suara serak.
"Dirgantara...
Dirga...," Jumini menyahuti.
Hanya
sekejap kedua muda-mudi itu saling berpandangan. Entah siapa yang memulai lebih
dulu mereka saling menghambur dengan kedua tanga terkembang. Mereka
berpelukanerat. Kemudian saling cium dan rangkul. Tidak ada lagi akal sehat
yang bekerja. Yang ada hanya menyalurkan hasrat yang bergolak.
Bagai orang
tak mengenal malu, Jumini dan Dirgantara saling berlomba melucuti pakaian
masing-masing. Sesaat keduanya telah tidak berpakaian dan saling gelut di
semak-semak.
Dirgantara
bagai macan lapar mendapatkan kambing muda yang gemuk. Sekujur tubuh Jumini
mulai dari rambut sampai ujung kaki dijarahnya. Jumini mengerang-erang penuh
perasaannikmat. Gadis ini hampir histeris. Dirgantara semakin buas.
Beberapa
lama sepasang muda-mudi ini sibuk dengan keasyikannya sebelum akhirnya dari
mulut Jumini keluar pekikan halus. Pekik yang mengandung rasa puas dan juga
kesakitan! Darah memercik membasahi rerumputan!
Pergumulan
itu pun berakhir. Mereka memisahkan diri. Di mulut keduanya tersungging senyum
kepuasan. Sesaat kemudian keduanya terlelap. Pingsan!
Entah
berapa lama mereka tak sadarkan diri. Yang pertama kali sadar lebih dulu adalah
Jumini. Gadis ini memang memiliki tenaga dalam lebih kuat dari pada Dirgantara.
Jumini
membuka sepasang matanya. Dia tidak langsung bangkit. Pusing di kepala, pegal
di sekujur tubuh serta rasa perih pada pangkal paha membuatnya bingung. Namun,
Jumini enggan untuk memeriksa. Baru setelah mendengar bunyi lirih di dekatnya,
Jumini menoleh. Gadis ini memekik tertahan. Dirgantara tergolek di dekatnya
dalam keadaantanpa pakaian.
Perasaan
kaget dan risih mendorong Jumini bertindak cepat.Tubuhnya digulingkan ke
samping menjauhi Dirgantara. Tapi, baru segulingan dirasakan ada yang aneh.
Sekujur
tubuh
terasa dingin. Jumini meneliti. Dan, dia pun menjerit ketika mengetahui sekujur
tubuhnya tidak tertutup!
Jumini
hampir pingsan mendapati kenyataan ini. Benaknya berputar keras mencoba
mengingat-ingat.
Samar-samar
gadis ini teringat semua perbuatan yang dilakukannya. Mendadak dia menjadi
seorang gadis tak tahu malu! Berzinah dengan Dirgantara. Pakaiannya yang
berserakan telah menjelaskan semuanya.
Jumini tak
kuasa untuk tidak mengeluarkan keluhan ketika melihat bukti paling mutlak. Pada
tanah berumput tampak bercak-bercak darah. Bercak yang sama ada pada pangkal
pahanya.
"Oooh...
tidak...! Tidak...!" Jumini mendekapkan kedua tangannya ke wajah.
Goncanganhatinya membuat Jumini tidak segera mengenakan pakaian.
Dirgantara
saat itu samar-samar mulai teringat kejadian yang dialaminya. Seperti juga
Jumini, pemuda ini pun menyesal. Tapi, hanya sedikit. Yang lebih besar lagi
adalah perasaan puasnya.
Sungguhpun
demikian sebagai orang yang punya perasaan, dia bisa mengetahui betapa hancurnya
hati Jumini. Apalagi ketika melihat gadis yang biasanya keras hati dan pandai
bicara itu menangis tersedu-sedu. Hati Dirgantara luluh. Dia harus bertanggung
jawab.
"Sudahlah,
Jumini. Hentikan tangismu. Aku juga tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti
ini. Tapi, biar bagaimanapun aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu,
Jumini. Kita akan menjadi suami-istri. Aku akan meminta Guru untuk melamar pada
ayahmu. Kau bersedia kan menjadi istriku?"
Jumini
menurunkan kedua tangan dari wajahnya. Tampak wajah yang manis itu dibasahi air
mata. Sepasang mata Jumini berbinar-binar mendengar ucapan Dirgantara.
"Benarkah
itu, Dirga? Bukankah kau membenciku? Katamu, aku seorang pelacur," Jumini
teringat kembali pada ucapan pemuda berompi kulit harimau itu.
Dirgantara
tersenyum lebar.
"Maafkan
aku, Jumini. Aku yang salah. Kau adalah bidadari khayangan yang suci. Aku
bersedia menerima hukuman darimu atas kebodohanku waktu itu.2010 Tanpa
ragu-ragu lagi Dirgantara bangkit dan mencium ujung kaki Jumini.
Jumini tertawa.
Perasaan sedihnya lenyap. Diam-diam dia bersyukur karena saat tengah dimabuk
birahi berhubungan badan dengan Dirgantara, pemuda yang dicintainya. Kalau
bukan, tentu dia terpaksa membunuh diri setelah terlebih dulu membunuh orang
yang merenggut kesuciannya!
"Mengapa
kau bisa demikian cepat berubah pendirian, Dirga?" tanya Jumini dengan
bibir mengembangkan senyum. Sikapnya telah kembali seperti semula. Lincahdan
gembira.
"Aku
bertemu dengan Dewa Arak dan Linggar. Dari Linggar aku tahu kejadian sebenarnya.
Kau tidak bersalah.Tapi, aku masih tidak yakin.Sekarang aku yakin kau gadis
yang suci. Aku telah membuktikannya sendiri!" jawab Dirgantara tanpa
ragu-ragu.
"Enak
betul! Membuktikan kebenaran seseorang dengan menyetubuhinya!" rungut
Jumini, pura-pura marah.
"Tentu
saja enak!" jawab Dirgantara, membuat wajah Jumini merah padam. Ia agak
risih dengan pembicaraan mereka.
Juminiberingsutmengambil
pakaiannya.DemikianpulaDirgantara,tapibelumjuga maksud mereka terlaksana,
terdengar suara bentakan keras. Bentakan yang sarat dengan kemarahan.
"Dirgantara!
Apa yang tengah kau lakukan?!" "Jumini! Kau sudah gila?!"
"Guru...!"
Wajah Dirgantara pucat pasi. Dengan tergesa pemuda ini mengambil pakaian dan
mengenakannya. Sebenarnya mudah saja. Tapi, karena Dirgantara tengah malu dan
takut berkali-kali pemuda ini salah mengenakan.
Hal yang
sama pun melanda Jumini. Gadis ini kaget bukanmain mendengar teguran
yangdikenalbaikpemiliknya. Juminibagai disengatularberbisa.
Wajahnyamemucatketika melihat ayahnya berdiri dengan sikap angker.
"Ayah...,"
sapa Jumini dengan suara bergetar. Jumini segera mengenakan pakaian.
"Jumini! Apa yang telah kau lakukan? Gilakah kau sehingga berzinah dengan
begitu
tak
mengenal malu?!" tegur Pendekar Jari Maut.
Kakek yang
memiliki watak berangasan ini marah bukan main. Jumini yang diharapkan menjadi
jodoh Brawijaya malah berzinah dengan Dirgantara. Siapa yang tidak menjadi
kalap?
"Ayah,
aku cinta padanya. Kakak Dirgantara ingin menjadikanku istrinya. Dia akan
melamarku Ayah,2010 beritahu Jumini.
Kalau saja
ada halilintar menyambar dekat tempatnya berdiri, Pendekar Jari Maut tidak
sekaget seperti mendengar ucapan putri semata wayangnya itu.
2010Jumini!
Kau gila! Kau tidak bisa menjadi istrinya atau istri siapa pun. Kau telah
kutunangkansejak kecil denganputra Naga Sakti BerwajahHitam. Namanya Brawijaya.
Dia seorang pemuda yang hebat. Tampan dan berkepandaian tinggi. Dia tidak
merampas kehormatan perempuan seperti pemuda itu!"
Jumini
melongo mendengar berita yang dibawa ayahnya. Berita itu terlampau mengejutkan.
Untuk beberapa saat lamanya gadis ini terpaku dengan mulut terbuka.
"Aku
tidak mau!"
Itulah
jawaban yang dikeluarkan Jumini begitu sadar dari terkesimanya. Jawaban yang
dikeluarkan dengan suara lantang.
"Aku
hanya mau berjodoh denganDirgantara. Aku hanya inginmenjadi istrinya. Aku telah
bertemu dengan Brawijaya. Aku tidak cinta padanya, Ayah!"
Wajah
Pendekar Jari Maut menegang. Sepasang matanya berkilat tajam ketika menatap
wajah putrinya!
7
2010Anak
tak tahu diuntung12 Kau ingin mencoreng mukaku dengankotoran? Mau kutaruh di
mana mukaku ini, Jumini?12 Aku yang mengusulkan perjodohan antara kau dengan
putra sahabatku Naga Sakti Berwajah Hitam. Sekarang aku juga yang
mengingkarinya. Lebih baik aku kehilanganmu, Jumini, daripada kehormatanku kau
injak-injak!"
Lantang dan
keras ucapan Pendekar Jari Maut.
Jumini
sejak kecil tinggal dengan ayahnya. Karena itu, dia hafal betul dengan sifat
ayahnya. Pendekar Jari Maut amat sayang padanya. Tapi, lebih sayang lagi pada
kehormatan.
Sungguh pun
demikian Jumini tidak menjadi gentar. Gadis ini memang memiliki watak aneh.
Semakin dikerasi semakin besar perlawanan yang diberikan. Terlebih jika sudah
mempunyai keinginan, apa pun yang menghalangi akan diterjangnya. Mendapat
tekanan dari ayahnya, Jumini malah meninggikan leher. Ditentangnya pandang mata
Pendekar Jari Maut.
"Bukan
hanya Ayah saja yang mengutamakan kehormatan! Aku pun demikian. Aku telah
berjanji untuk menjadi istri Kak Dirgantara. Aku tak mungkin menjilat ludah
yang telah kukeluarkan! Lebih baik mati daripada menarik kembali
ucapanku!"
Sekujur
tubuh Pendekar Jari Maut menggigil karena amarah. Bunyi berkerotokan terdengar.
Pa-dahal, kakek ini tidak menggerakkan anggota tubuhnya. Pergolakan tenaga
dalam yang menyebabkan terciptanya bunyi itu.
"Kuberikan
kesempatan untuk menarik kembali ucapanmu, Jumini. Atau, aku akan
bertindak!"
"Ayah,
aku mempunyai keyakinan hidup yang selama ini kupegang teguh. Sekaliaku berkata
hitam, tak akan nanti aku berkata putih!" tegas Jumini.
"Kalau
begitu, mampuslah kau, Jumini!"
Kemarahan
yang menggelegak membuat Pendekar Jari Maut lupa diri. Tangan kanannya
diayunkan ke arah kepala Jumini. Sekali saja mengenai sasaran, nyawa Jumini
melayang.
Jumini
tidak bergeming dari tempatnya. Gadis ini berdiri tenang dengan tatapan luruske
depan.Sikapnyakelihatantenangdangagah.Memang,Juminitidak mau melawan. Rasa
hormatnya terhadap sang ayah menyebabkannya berlaku demikian.
Dirgantara
yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran ayah dan anak itu terkejut bukan
main. Dia merasa bangga dan terharu melihat keteguhan Jumini. Sekarang, gadis
itu terancam bahaya maut! Ia tidak akan membiarkan kekasih yang dicintainya
dibunuhorang. Pemuda berompi kulit harimau itu langsung melesat memapaki
serangan Pendekar Jari Maut
Prattt!
Benturan
dua tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam kuat tidak bisa dihindarkan
lagi. Dirgantara memekik kesakitan. Tubuhnya terpental ke belakang dan berputar
seperti gasing.
Kendati
demikian, Dirgantara berhasil mematahkan kekuatan yang melemparkan
tubuhnyadanmenjejaktanahwalauagakterhuyung.Seringaitampak diwajahnya.Pemuda
kekar ini kelihatan tidak menyesal. Tindakannya berhasil menyelamatkannyawa
Jumini.
"Kau
berani campur tangan dalam urusan keluarga, Pemuda kurang ajar!
Mampuslah!"
Pendekar
Jari Maut yang tengah kalap mengalihkan serangannya. Tidak lagi pada Jumini,
tapi pada Dirgantara.
"Kau
keterlaluan, Jari Maut! Di depan mataku kau hendak mencelakai muridku! Langkahi
dulu mayatku!"
Petani
Berambut Putih menjejakkan kaki. Tubuhnya melayang dan berdiri di antara
DirgantaradanPendekarJariMaut.Mau tidakmau ayahJuminimenghentikangerakannya.
"Rupanya kau ingin bertarung denganku, Petani?!" Pendekar Jari Maut
berkata dengan menantang. Ditatapnya lekat-lekat wajah Petani Berambut Putih
untuk melihat
kesungguhan
sikap guru Dirgantara itu.
"Apakah
harus kubiarkan saja kau mencelakai muridku? Begitu, Jari Maut?" Petani
Berambut Putih balas mengajukan pertanyaan.
Pendekar
Jari Maut terdiam.
"Menurut
pendapatku, lupakan dulu masalah anakmu. Yang lebih penting sekarang adalah
kita coba melenyapkan angkara murka yang merajalela di dunia persilatan."
"Kau
tahu sendiri, Petani." Pendekar Jari Maut berkata dengan suara berat.
"Jumini telah kujodohkan dengan Brawijaya. Sudah merupakan kewajiban
bagiku untuk memenuhinya.ApalagisetelahNagaSaktiBerwajahHitamtewasakibatmeletusnyagunung.
Aku jadi lebih berkewajiban lagi.2010
Petani Berambut Putih mengangguk-angguk 2010Kau mau mendengar pendapatku?2010
Pendekar
Jari Maut tidak memberikan jawaban. Tapi dari sikap kakek itu, Petani Berambut
Putih tahu pendekar pemarah itu setuju.
2010Menurut
pendapatku, perjodohan ini adalah urusan orang-orang yang bersangkutan. Dalam
hal ini Jumini. Lebih baik kita selaku orang tua hanya berdiri di luar garis.
Biarkan dia memilih. Kita hanya memberikan pendapat apabila perlu. Bagaimana
apabila tidak hanya Jumini yang menentang perjodohan itu, tapi juga Brawijaya?
Apakah kau akan tetap memaksakan kehendakmu?"
Pendekar
Jari Maut mengernyitkan dahi. Dia tidak berpikir sampai ke situ. Pendekar
pemarah initidak pernah memikirkan kemungkinan pihak-pihak yang
berkepentingantidak setuju. Dia terlalu asyik bermain dengan rencananya.
"Sebenarnya,
aku sudah lama ingin membicarakan masalah ini. Beberapa hari yang lalu
Dirgantara memintaku untuk melamarkan Jumini. Katanya, dia jatuh cinta pada
putrimu. Aku tidak berani mengutarakannya. Aku tahu kau telah menjodohkan
Jumini dengan Brawijaya.2010
2010Aku
tidak mau menjodohkan putriku dengan orang yang asal-usulnya tidak jelas122010
sergah Pendekar Jari Maut dengan nada tidak senang.
"Dirgantara
mempunyai asal-usul yang jelas, Jari Maut. Ibunya sendiri yang memintaku untuk
mendidiknya. Ayahnya berjuluk Iblis Buta. Sedangkan ibunya...."
"Iblis
Buta?!" Alis Pendekar Jari Maut berkerut "Kau harapkan aku berbesan
dengan tokoh sesat itu, Petani?!"
"Iblis
Buta hanya samaran saja. Beliau sebenarnya orang yang dikenal dengannama
Begawan Narasoma," beritahu Dirgantara, buru-buru. Dengan singkat pemuda
berompi kulit harimau ini kemudian menceritakan tentang keluarganya.
Berkali-kali Pendekar Jari Maut dan Petani Berambut Putih berseru kaget. Nama
begawan itu telah lama mereka dengar.
"Kau
bilang ibumu bernama Tulini?" tanya Pendekar Jari Maut "Benar, Kek.
Mengapa?" Dirgantara balas bertanya.
"Tidak
apa-apa. Sekarang aku mengerti mengapa Guntar yang merupakan salah seorang dari
Sepasang Setan Penghilang Nyawa tidak dibunuh oleh Begawan Narasoma.
PastiataspermintaanTulini.WanitaitusaudaraseperguruanGuntar.Tulinibersembunyidi
balik selubung dan memakai gelar Tengkorak Darah. Dia membenciku karena aku
telah merobek pakaian bagian atasnya hingga terlihat. Dia marah sekali. Itu
sebabnya dia menyembunyikan wajahnya." Pendekar Jari Maut malah bercerita.
"Pantas
Tengkorak Darah sangat membenciku begitu tahu aku putrimu, Ayah." Jumini
mengangguk-angguk.
"Sekarang
dia tidak membencimu lagi, Jumini. Bahkan, dia mendukung ketika kukatakan aku
hendak menikahimu. Beliau minta maaf atas perlakuannya padamu."
"Aku
telah lama melupakannya, Dirga," sahut Jumini seraya tersenyum.
"Bagaimana,Jari Maut?"tagihPetaniBerambutPutih."Apakahmuridku
masihtidak
pantas
menjadi calon suami putrimu?" Pendekar Jari Maut tersenyum pahit.
"Bukan
hanya pantas, Petani. Tapi lebih dari pantas. Sekarang masalahnya, biar
bagaimanapun putriku masih terikat jodoh dengan Brawijaya. Tidak semudah itu
aku menerima pinanganmu. Aku harus bertemu dulu dengan Brawijaya dan mendengar
langsung dari mulutnya akan ketidakbersediaannya menerima Jumini."
"Kurasa...,
kalau kukatakan hal yang sebenarnya Brawijaya tidak akan mau menerimaku,
Ayah." Jumini segera menimpali setelah saling bertukar pandang dengan
Dirgantara.
Pemuda itu mengangguk. Jumini lalu menceritakan kejadian yang menimpa dirinya.
Pendekar
Jari Maut dan Petani Berambut Putih kelihatan jelas terperanjat kaget. Kedua
kakek ini langsung bisa mengetahui penyebab gairah aneh yang memaksa terjadinya
hubungan badan antara Jumini dan Dirgantara. Raja Racun Sakti seorang datuk
sesat yang ahli dalam segala macam racun.
"Apakah
kau juga bertemu dengan kakek seperti yang diceritakan Jumini, Dirgantara?"
tanya Petani Berambut Putih.
Dirgantara
mengangguk. "Aku berpapasan dengan kakek itu di pertengahan jalan, Guru.
Dia lari cepat sekali. Tapi, aku masih sempat melihatnya melemparkan bubuk ke
udara. Bubuk itu mempunyai hubungan dengan pengaruh aneh itu, Guru?"
"Kemungkinan
besar demikian," jawab Peta Berambut Putih, tak yakin.
Keadaan
menjadi hening ketika Petani Berambut Putih selesai berbicara. Tidak ada lagi
yan membuka percakapan. Mereka tenggelam dalam alun pikiran masing-masing.
"Sekarang
ke mana lagi tujuan, Guru?" Dirgatara iseng-iseng bertanya ketika tidak
ada yang berusaha memulai percakapan. Guntar telah tewas akibat meletusnya
gunung. Tidak ada lagi yang akan dilakukan kakek berambut putih itu.
"Kausendirihendakke
mana,Dirga? Kalauakuinginkembali ke tempattapaku.Aku suda bosan berkeliaran di
dunia persilatan. Kalau kau hendak menikah, jangan lupa mengundangku."
Pendekar
Jari Maut menghela napas berat
"Aku
pun demikian, Dirga, Jumini. Aku harap kalian nanti datang ke tempat
pengasingankudenganmembawaBrawijaya.Akutidak bisa menikahkankaliankalausyarat
itu tidak dipenuhi!"
"Akan
kami coba memenuhi permintaan itu Kek," jawab Dirgantara dengan sopannya.
"Kau
sendiri hendak ke mana, Dirga?" tanya Petani Berambut Putih. "Apakah
kau mendapat tugas dari ayahmu?"
Dirgantara
jadi bingung. Dia memang hendak mencari Ular Emas, ayahnya berpesan agar jangan
memberitahu siapa pun. Sekarang gurunya sendiri yang bertanya. Haruskah
dirahasiakan pula? Dirgantara bimbang. Apalagi ketika dilihatnya Pendekar Jari
Maut menunggu jawabannya.
"Kalau
memang tugas rahasia tidak usah kau katakan, Dirga." Petani Berambut Putih
yang melihat kebingungan muridnya segera mengambil jalan tengah.
"Apakah
Guru tidak melihat tanda-tanda aneh di langit?" Akhirnya, Dirgantara tak kuat
menyimpan rahasia itu. Ketika dilihatnya Petani Berambut Putih mengangguk,
kata-katanya langsung dilanjutkan. Tapi, Dirgantara kecewa. Petani Berambut
Putih maupun Pendekar Jari Maut sedikit pun tidak tampak tertarik dengan
ceritanya.
"Aku
sudah rindu tempatku yang dulu, Dirga. Aku ingin suasana tenang. Bosan terlibat
pertarungan terus-menerus. Kau saja usahakan cari Mustika Ular Emas itu. Aku
tidak berminat sedikit pun. Selamat tinggal, Dirga. Baik-baiklah menjaga
diri!" ujar Petani Berambut Putih ketika Dirgantara menyelesaikan
kisahnya.
"Aku
juga akan pergi, Jumini. Ingat! Datang lagi bersama Brawijaya122010 pesan
Pendekar Jari Maut.
Dirgantara
dan Jumini menatap kepergian ke dua kakek itu hingga lenyap di kejauhan.
Kemudian, dengan hati berbunga-bunga keduanya segera melanjutkan perjalanan.
***
2010Kau
dengar suara itu, Linggar? Sepertinya ada pertarungan122010
Ucapan itu
dikeluarkan seorang pemuda berambut putih keperakan dan berpakaian ungu. Pemuda
itu adalah Arya Buana alias Dewa Arak
"Benar,
Arya," jawab Linggar setelah mendengarkan sejenak.
Arya tidak
menyambuti lagi. Pemuda ini bergegas melesat ke depan. Tubuhnya meluncur bagai
anak panah lepas dari busur. Tidak terlihat bentuk tubuhnya. Hanya bayangan
ungu yang tak jelas.
Linggar
tidak mau keringgalan. Ia ikut melesat menyusul Arya. Dalam waktu sebentar saja
sepasang muda-mudi itu telah melihat penyebab bunyi gaduh. Seorang pemuda
berpakaian coklat tengah dikeroyok tiga orang lelaki berpakaian pasukan
kerajaan. Arya yang tiba lebihdulu daripada Linggar tidak bertindak ceroboh.
Diaterlebih dulu memperhatikan jalannya pertarungan. Beberapa saat lamanya
pemuda berambut putih
keperakan
itu baru bisa menilai.
Pemuda berpakaian coklat sebenarnya memiliki kemampuan di atas
lawan-lawannya.Sehingga, dia tidak akanterdesak oleh lawan.Tapi, kenyataannya
pemuda berpakaian coklat yang bersenjatakan keris terdesak hebat. Arya segera
mengetahui penyebabnya. Pemuda berpakaian coklat tidak melawan dengan
sungguh-sungguh. Serangannya selalu ditujukan pada bagian-bagian yang tidak
mematikan. Itu pun jarang sekali dilakukan. Pemuda ini lebih banyak mengelak
atau menangkis.
Di lain
pihak, ketiga lawannya menyerang dengan maksud untuk membunuh. Serangan
merekatertuju pada bagian-bagian mematikan. Kenyataan ini membuat perasaan
tidak suka muncul di hati Arya.
"Tidak
melihatkah prajurit-prajurit kerajaan itu kalau lawan yang dihadapi terlalu
banyak mengalah?" tanya Arya dalam hati.
Meskipundemikian,Aryaberusahatidak
memihak.Diabelumtahusiapa yangbenar dan salah dalam persoalan ini. Namun,
pemuda berpakaian coklat membuat Arya merasa heran. Pemuda itu berkali-kali
meringis dan memegang kepalanya.
2010Percayalah,
Kawan-kawan. Bukan Tiang yang melakukan pembunuhan terhadap Panglima Anggar
Bayu dan pengawalnya. Panglima itu merupakan saudara tua. Ida terhitung kakek
sepergurun Tiang,2010 beritahu pemuda berpakaian coklat sambil mengelakkan
sebuah serangan.
2010Tidak
usah banyak bicara. Kalau bukan kau siapa lagi? Hanya kau orang luar yang
datang ke tempat itu. Tidak ada gunanya berdusta. Bersiaplah untuk mati guna
menebus dosamu122010
Pasukan
kerajaan yang bersenjatakan golok mengirimkan babatan ke arah leher. Tapi,
pemuda yang tidak lain I Made Sangkara berhasil mengelakkannya.
2010Sudah
kukatakan pembunuhnya adalah Lanang. Dia memiliki kemampuan sangat tinggi.
Harap kalian menyingkir. Aku tengah memburu waktu. Iblis itu hendak membunuh
guruku. Berilah aku jalan122010 pinta I Made Sangkara berkali-kali.
2010Uh122010
Arya
terperanjat. Lagi-lagi ia melihat I Made Sangkara menyeringai sambil mendekap
belakang kepalanya. Kali ini tubuhnya sampai limbung. Saat itu tombak salah
seorang lawannya meluncur datang!
Crattt!
Tidak
terdengar keluhan sedikit pun kendati tombak menembus belakang paha kanan I
Made Sangkara. Darah segar langsung muncrat keluar. Saat itu dualawannya yang
lainmengirimkanseranganpula.Yangsatuke arahdada danyang lainmenujuleher.Nyawa I
Made Sangkara bagai telur di ujung tanduk.
Kali ini
Arya tidak menahan diri lagi. Dari percakapan yang terdengar telah bisa diketahui
penyebab pertarungan itu. Arya yakin I Made Sangkara tidak bersalah. Pemuda
berambut putih keperakan itu bisa mengira Lanang yang telah melakukan
pembunuhan terhadapPanglimaAnggarBayudanyang lainnya.Tapi,I Made
Sangkarayangjadi tertuduh. Arya segera melesat ke dalam kancah pertarungan
sebelum nyawa I Made Sangkara
yang
terlalu mengalah itu melayang. Begitu tiba Arya langsung mengulurkan tangan.
Dua orang prajurit kerajaan merasakan tangan mereka mendadak lumpuh tanpa
diketahui penyebabnya. Belum sempat mereka berbuat sesuatu, Arya telah bergerak
cepat merampas senjata mereka. Tiga orang prajurit kerajaan itu terperanjat.
Arya segera mengibaskan tangan. Akibatnya sungguh mengejutkan! Tubuh ketiga
orang itu berpentalan ke belakang bagai daun kering diterbangkan angin.
8
Beruntung
bagi ketiga prajurit itu. Arya tidak menurunkan tangan kejam. Pemuda berambut
putih keperakan itu hanya mengerahkan tenaga dalam untuk mementalkan tubuh
mereka tanpa melukainya.
Tiga orang
prajurit kerajaan yang telah kehilangan senjata itu bangkit berdiri dengan
wajah pucat. Mereka tahu tengah berhadapan dengan tokoh yang memiliki
kepandaian dahsyat. Kendati demikian, rupanya mereka tergolong orang yang tidak
mudah mengalah. Mereka adalah anggota pasukan istimewa kerajaan. Pasukan kelas
satu.
"Siapa
kau? Mengapa mencampuri urusan kami?" bentak prajurit yang tadi bersenjata
golok. Suaranya terdengar lantang.
"Akutidakbermaksud
untukikut campur. Hanyamencegahterjadinyapembunuhan terhadaporang yang tidak
bersalah! Namaku Arya. Dunia persilatanlebih suka menyebutku Dewa Arak!"
"Dewa
Arak...?!"
Hampir
berbarengan mereka mengulang julukan Arya. Sesaat kemudian ketiganya saling
berpandangan. Julukan Dewa Arak telah lama mereka dengar. Tapi, baru sekarang
bertemu muka dan merasakan kelihaiannya.
"Apa
maksudmu, Dewa Arak? Kami tidak mengerti," ujar prajurit yang tadi
bersenjatakan tombak.
"Orang
ini bukan pembunuh Panglima Anggar Bayu. Pembunuhnya adalah Lanang. Dia seorang
pemuda yang jahat!" jawab Arya dengan sikap pasti.
Ketiga prajurit
kembali saling bertukar pandang. Mereka belum mau pergi meninggalkan tempat
itu. Arya tahu orang-orang seperti ini perlu digertak. Dewa Arak mengerahkan
tenaga dalamnya ke tangan. Saat itu senjata ketiga orang prajurit masih
beradadikeduatangannya.Terdengarbunyi gemeretaknyaring.Tigasenjataituberpatahan
kemudian hancur berkeping-keping. Padahal, Arya tidak meremasnya.
Mata ketiga
prajurit kerajaan membelalak lebar. Mereka takjub sekali melihat pameran tenaga
dalam Dewa Arak. Perasaan gentar merayapi hati ketiganya. Baru pertama kali
mereka melihat senjata dari baja pilihan itu dipatah-patahkan tanpa diremas.
Tanpa
banyak cakap lagi ketiganya segera membalikkan tubuh dan berlari cepat
meninggalkan tempat itu.
Arya tidak
mengejarnya. Bahkan memperhatikannya pun tidak. Arya lebih suka menujukan
perhatiannya pada I Made Sangkara. Pemuda dari Pulau Dewata itu telah mengobati
lukanya dengan bubuk yang dibawanya. Terlebih dulu ditotoknya daerah sekitar
luka untuk menghentikan aliran darah.
"Terima
kasih atas pertolonganmu, Dewa Arak. Kau memang hebat. Persis dengan berita
yang kudengar," ujar I Made Sangkara sambil mengulurkan tangan.
"Namaku I Made Sangkara."
Arya
menyambut uluran tangan itu.
"Aku
Arya Buana. Dan ini kawanku, Linggar."
IMade
Sangkaratersenyumpada Linggar.Gadisberpakaianhitamitu membalasnya.
"Kudengar tadi kau bicara tentang Lanang. Kau tahu di mana dia sekarang?
Dan,
boleh
kutahu mengapa kau bisa jadi tertuduh pembunuhan Panglima Anggar Bayu?"
tanya Arya.
"Panjang
ceritanya, Arya." I Made Sangkara menghela napas berat. Kemudian, ia
menceritakan pertemuannya dengan panglima itu dan Lanang.
Arya serta
Linggar mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Tak sekali pun cerita I Marie
Sangkara dipotong sampai pemuda itu mengakhirinya.
2010Lanang
bagai malaikat pencabut nyawa saja,2010 desah Arya sambil menggelengkan kepala.
2010Telur Elang Perak membuatnya bertindak sewenang-wenang. Hhh...12 Sukar
kubayangkan kekuatan tenaga dalamnya. Rasanya tidak akan ada yang menyamai. Dia
telah dapat mempergunakan tenaga dalam melalui cara apa pun. Benar-benar
berbahaya...122010
2010Apakah
kau bermaksud melenyapkannya, Arya?" tanya I Made Sangkara, ingin tahu.
Pemuda ini telah banyak mendengar kalau Dewa Arak selalu menumpas kebatilan.
"Begitulah
niatku, Sangkara." Arya mengangguk. "Tapi, aku tidak yakin akan
berhasil. Kepandaiannya telah sukar untuk diukur."
"Tapi,
tidak ada salahnya kita berusaha," ujar Linggar.
"Tentu
saja!" sahut Arya, cepat
"Kalau
begitu..., mari kita bergegas. Tiang khawatir Eyang Brihaspati dan Bapa telah
dibunuhnya!" ajak I Made Sangkara. Pemuda ini kelihatan cemas sekali.
Arya
mengangguk. I Made Sangkara pun segera melesat mendahului. Arya serta Linggar
mengikuti di belakang. Pemuda dari Pulau Dewata itu rupanya mempunyai obat luka
yang manjur. Larinya tampak biasa. Tidak terpincang-pincang. Padahal, luka pada
kakinya cukup parah.
***
"Ha
haha...!Tua bangka bau tanah.Sudah saatnya kalian pergi ke alam baka!Ha ha
ha...!"
Suara
lantang penuh dengan nada kesombongan memecah suasana sepi yang melingkupi
dataran cukup luas di puncak gunung itu.
Suara tadi
dikeluarkan oleh seorang pemuda berpakaian indah. Dia berdiri bertolak pinggang
di hadapan dua orang kakek. Yang seorang mengenakan selembar kain putih yang
dilibat-libatkan ke sekujur tubuh. Di tangan kanan kakek berwajah cerah ini
tergenggam sebatang tongkat.
Kakek yang
satunya lagi tidak kalah aneh dandanannya. Dia mengenakan kain lurik yang
dibelitkan ke tubuh. Kain itu hanya sampai ke dada bagian atas. Bagian bawah
kain mencapai sedikit di bawah lutut. Pada kepalanya terikat kain bercorak dan
berwarna sama. Tapi pada bagian depan, di dahi, kain itu dibentuk sedemikian
rupa sehingga mirip sehelai daun yang didirikan. Pada pergelangan tangan dan
kaki serta pangkal lengan terlilit gelang putih dari tulang macan. Dan, di
selipan kain pada punggungnya tampak sebilah keris.
"Manusia
takabur!" Kakek berikat kepala lurik menggumam. Tapi, gemanya terdengar
sampai jauh. "Asal kau tahu saja, di atas langit masih ada langit. Mungkin
kami berdua akantewas di tangan mu.Tapi, kau pun nantiakan tewas di tangan
orang lain. Sang Hyang Widhi Wasa Maha Adil. Tidak akan diturunkan sebuah
pusaka kalau tidak ada penangkalnya. Saat kejayaan Cai sudah hampir
pudar!"
"Ha ha
ha...! Kau boleh bicara sesukamu, I Nyoman Tirta! Puaskanlah berbicara karena
sebentar lagi kau akan meninggalkan dunia ini. Kau dan si peot Eyang
Brihaspati. Kalian tak akan kuberi kesempatanhidup lebih lama. Ha ha
ha...!"
Pemuda yang
bukan lain Lanang itu tertawa dengan sombongnya. Dia yakin betul dapat
menamatkan riwayat kedua kakek itu yang adalah Eyang Brihaspati dan I Nyoman
Tirta.
"Kau
keliru, Lanang! Pemuda yang sombong!"
Kali ini
Eyang Brihaspati yang berbicara. Tongkat yang tergenggam di tangan diketukkan
sekali.
Kelihatan
pelan saja. Tapi, menancap di tanah sampai setengahnya lebih! "Mungkin kau
akan berhasil membunuh kami. Namun, kau tidak akan lolos dari
kematian.
Pusaka yang dapat mengirim nyawamu ke alam baka berhasil diperoleh seorang
pendekar. Dia sedang dalam perjalanan kemari. Kau tidak dapat mengingkari
takdir, Lanang."
"Tutup
mulutmu, Peot!"
Lanang yang
geram bukan main mendengar ucapan Eyang Brihaspati segera menjulurkan tangan
kanannya. Lima jarinya terkembang. Dari tiap-tiap ujung jari keluar sinar-sinar
kemerahan! Semua menuju ke arah Eyang Brihaspati. Menuju kelima tempat di tubuh
kakek itu.
Eyang
Brihaspati tahu kedahsyatan sinar kemerahan itu. Dia segera bertindak cepat
menyelamatkan diri. Kakek ini memilliki cara yang luar biasa. Tanpa menjejakkan
kaki atau menekuk lutut, Eyang Brihaspati mampu membuat tubuhnya melayang ke
atas dalam keadaan tegak!
Akibat yang
menggiriskan menimpa tebing di belakang kakek berpakaian putih itu. Begitu lima
larik sinar kemerahan menyentuh, dinding tebing langsung berlubang dan hangus.
Eyang Brihaspati
tidak tinggal diam. Masih dalam keadaan tubuh kaku seperti tombak dia melenting
ke arah Lanang. Tepat di atas tubuh pemuda pesolek itu tongkatnya dihantamkan
ke arah kepala!
Lanang
tidak mengelak sedikit pun. Tak pelak lagi, tongkat mendarat telak di sasaran.
Lanang bagai dipantek oleh palu raksasa. Tubuhnya langsung amblas ke dalam bumi
sampai tak tampak kepalanya!
Eyang
Brihaspati bertukar pandang dengan I Nyoman Tirta begitu kakinya menjejak
tanah. Jantung mereka berdetak lebihcepat. Apakah Lanang berhasil
merekatewaskan dan sekarang terkubur di dasar bumi? Kedua kakek itu mempunyai
alasan untuk menduga demikian. Senjata yang mereka gunakan telah dibuat
sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk melumpuhkan ilmu kebal
seseorang. Senjata itu telah dimanterai.
Tapi,
kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap. Keduanya mendengar bunyi aneh dan
getaran keras pada tanah. Seperti ada bor di dalam bumi. Tak lama kemudian,
tubuh Lanang melesat keluar dari dalam tanah dalam keadaan berpusing. Bunyi
mengaung keras mengiringi putaran tubuhnya.
I Nyoman
Tirta segera bertindak. Kakek ini menghunus kerisnya dan menudingkan ke arah
tubuh Lanang yang masih berpusing di udara.
Wusss!
Dari ujung
keris I Nyoman Tirta melesat serangkum sinar biru. Bentuknya mirip kilat. Sinar
biru itu meluncur dengan kecepatan menakjubkan ke tubuh Lanang!
Blarrr!
Ledakan
keras terdengar ketika sinar biru menghantam tubuh Lanang. Asap tebal
membumbung tinggi. I Nyoman Tirta dan Eyang Brihaspati tidak bisa melihat apa
yang terjadi. Hancurkah tubuh Lanang?
Kedua kakek
itu menanti dengan harap-harap cemas. Ketika asap buyar tertiup angin, biasan
kecewa tampak pada wajah Eyang Brihaspati dan I Nyoman Tirta. Lanang berdiri
dengan angkuhnya.Tak kurang suatu apa!
Eyang
Brihaspati dan I Nyoman Tirta diam-diam bergidik ngeri. Sukar untuk dibayangkan
betapa mengerikan kekuatan yang dimiliki Lanang. Bukit kecil saja hancur lebur
dan menjadi abu ketika terkena sambaran sinar biru!
Saat sinar
biru dari keris menyambar dan terjadi ledakan, Dewa Arak, I Made Sangkara, dan
Linggar telah berada di tempat itu. Ketiga orang muda ini melihat peristiwa
yang mampu mendirikan bulu kuduk itu.
Hati Dewa
Arak tercekat. Pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak menyangka
Lanang akan sedahsyat ini. Benar-benar mengerikan12 Arya tidak mau berpangku
tangan. Sambil memekik keras sebagai isyarat pada Lanang kalau dia mengirimkan
serangan, pemuda berambut putih keperakan ini tidak ragu-ragu lagi mengirimkan
pukulan jarak jauh dengan jurus maut 'Pukulan Belalang'!
Wusss!
Begitu
angin keras berhawa panas menyengat keluar dari kedua tangan Dewa Arak, Lanang
mendengus. Pemuda pesolek inimelakukan gerakan yang sama. Dari keduatelapak
tangannya berhembus angin keras berhawa panas.
Dewa Arak
terperanjat bukan main. Lanang memiliki pukulan jarak jauh yang mirip dengan
'Pukulan Belalang'. Malah lebih dahsyat!
Blarrr!
Pertemuan
dua tenaga dalam berhawa panas itu membuat tubuh Dewa Arak terjengkang ke
belakang. Tubuhnya melayang jauh seperti daun kering ditiup angin. Arya
merasaseakan-akanditabrakseekorgajahliar.Sekujurtubuhnyaterasalumpuh.Tidakada
yang bisa digerakkan. Arya terbanting di tanah setelah melayang beberapa
tombak. Pemuda perkasa ini tidak mampu bangkit lagi12.
2010Arya...122010
Linggar dan I Made Sangkara berseru kaget. Mereka segera meluruk ke arah pemuda
berambut putih keperakan itu.
2010Ha ha
ha...122010 Lanang yang tidak terpengaruh benturan itu tertawa berkakakan.
2010Bagaimana, Dewa Arak? Sekarang kau tidak berarti apa-apa bagiku!"
Baru saja
Lanang mengatupkan mulutnya, Eyang Brihaspati dan I Nyoman Tirta melompat
menerjang. Guru Panglima Anggar Bayu mengayunkan tongkat ke kepala Lanang.
Sedangkan ayah I Made Sangkara menusukkan kerisnya ke jantung lawan.
Tapi,
Lanang dengan berani memapaki dua buah senjata pusaka itu dengan tangan
telanjang.Kembalibunyiberdetakkerasterdengar.Lanangtetapsepertisemula.Kokohkuat
laksana batu karang. Sebaliknya, kedua penyerangnya terjengkang ke belakang dan
terguling-guling.
Lanang
kembali mengumbar tawa kemenangan. Dengan sepasang mata congkak ditatapnya
lawan-lawan yang tidak berdaya itu. Linggar dan I Made Sangkara yang masih
berdiri tegak. Keduanya tidak berbuat apa pun karena tahu tak akan ada artinya.
Lanang benar-benar menggiriskan!
"Sekarang
saatnya bagiku untuk mengirim kalian semua ke alam kubur!" seru Lanang. Ia
melangkah meninggalkan tempatnya. Yang pertama kali dihampiri adalah Dewa Arak.
Lanang memang sangat membenci pemuda berambut putih keperakan itu.
"Tahan...!"
Lengkingan
nyaring membuat Lanang menghentikan ayunan kakinya. Pemuda pesolek ini
kelihatan tidak senang. Tubuhnya segera dibalikkan. Dilihatnya seorang gadis
cantik berpakaian putih. Gadis itu tidak dikenalnya.
Hanya Arya
yang mengenal gadis cantik jelita itu. Gadis yang melangkah mendekati Lanang dengan
sikap tenang.
"Melati....
Pergi jauh-jauh...."
Aryainginberteriakkeras,tapi
yangkeluarhanyapanggilanlirih. Namun,tertangkap juga oleh telinga Melati. Gadis
berpakaian putih itu tersenyum.
"Tenanglah,
Kakang. Biar kulenyapkan penjahat ini....2010
Arya melongo.
Tidak main-mainkah, Melati? Lawan yang dihadapinya tokoh berkepandaiantakmasuk
diakal. JangankanMelati,Aryasendiri yang memilikikepandaian jauh di atas gadis
itu tidak mampu menanggulangi Lanang. Apakah Melati hendak mencari penyakit?
Jangan-jangan gadis itu tidak melihat peristiwa yang baru saja terjadi.
Arya keliru
kalau berpikir demikian. Semua dugaan pemuda berambut putih keperakan itu tidak
ada yang mengenai sasaran. Melati berani menghadapi Lanang karena keyakinannya
akan kemenangan. Dengan langkah mantap dihampirinya Lanang.
Sungguh
aneh sekali. Lanang kehilangan rasa percaya dirinya. Pemuda ini mundur-mundur
ketakutan. Tiap Melati maju selangkah Lanang berjalan mundur selangkah. Jarak
antara mereka menjadi jauh. Karena langkah Lanang lebih besar.
Terngiang-ngiang
ucapan di telinga Melati ketika kakinya bergerak mendekati Lanang. Kata-kata
yang terdengar tanpa kelihatan siapa yang berbicara.
Melati
teringat kembali pengalamannya beberapa waktu lalu di Gunung Cikuray.
***
"Aaa...!"
Melati tidak
kuasa menahan jeritan. Tubuhnya meluncur turun ke dasar lubang. Gadis yang
tengah khawatir akan keadaan Arya ini berlari secepatnya. Bahkan, beberapa kali
melakukan lompatan-lompatan panjang. Terjeblosnya Melati ke dalam lubang karena
secara tiba-tiba tanah tempat kedua kakinya hendak menjejak muncul lubang
besar. Saat itu kedua kakinya hanya tinggal beberapa jengkal dari tanah. Tak
pelak lagi, gadis itu tak mampu berbuat apa pun untuk menyelamatkan diri.
Melati
merasa ngeri bukan main. Tubuhnya melayang lama sekali. Sudah terbayang di
benak gadis ini tubuhnyaakan hancur di dasar lubang. Kengerian Melatiberganti
dengan keheranan ketika luncuran tubuhnya melambat. Semakin lama semakin
lambat. Seakan ada kekuatan tak nampak yang menahan luncuran tubuhnya.
"Wahai,
Wanita Muda. Rupanya kau yang terpilih menjadi pencegah angkara murka yang
tengah terjadi di dunia persilatan. Keselamatan orang banyak berada di
tanganmu. Nyawa mereka tergantung dari usahamu ini. Kalau kau berhasil mereka
semua akan selamat."
Melati
mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak terlihat apa pun. Suara itu
seakan muncul begitu saja. Tempat di sekitar Melati tidak terlalu luas. Di
belakangnya dinding batu. Jalan satu-satunya yang ada hanya lorong di depan.
2010Kau tak
usah mencari tahu siapa aku, Wanita Muda. Percuma12 Lebih baik kuperlihatkan
padamu angkara murka yang tengah terjadi di dunia persilatan karena pusaka
Telur Elang Perak terjatuh ke tangan orang tak bertanggung jawab."
Kemudian,
suara tanpa wujud itu menceritakan tentang Telur Elang Perak sampai Melati
merasa jelas. Begitu penjelasan itu berakhir, di tanah terlihat gambar seorang
pemuda berpakaian indah merajalela membunuhi orang-orang. Melati merasa ngeri
melihatnya. Dia bisa memperkirakan betapa dahsyatnya kemampuan yang dimiliki
pemuda pengacau itu.
"Kejadian
ini yang akan menimpa apabila kau gagal dengan tugasmu."
Melati
hampir terpekik. Di tanah tampak gambar Dewa Arak bersama dua orang kakek
tengah bertarung mati-matiJan melawan Lanang. Seperti gambar sebelumnya, Melati
melihat Lanang berhasil memporak-porandakan lawan-lawannya. Arya dan dua kakek
itu dibuat tidak berdaya. Lanang menghampiri Dewa Arak, siap untuk membunuh!
"Kejadian
itu akan terjadi, Wanita Muda. Dewa Arak mungkin akan tewas. Usahamu di sini
untuk mendapatkan Mustika Ular Emas. Apabila pusaka itu berhasil kau dapatkan,
kau bisa mencegah terjadinya hal itu."
"Bagaimana
aku bisa mendapatkan mustika itu?" tanya Melati.
"Ikuti
saja Lorong Batas Dunia ini. Di ujung lorong akan kautemukan makhluk Ular Emas.
Ular yang tidak terdapat di dunia. Hanya perlu kau ingat, Wanita Muda.
Perjalanan melalui lorong ini tidak mudah. Banyak halangan menghadang.
Mudah-mudahan kau mampu mengatasinya. Waktu yang kau miliki terbatas. Kau harus
bergegas."
Begitu
suara itu lenyap, Melati segera melesat ke depan. Karena Melati tidak ingin
celaka, dia bertindak sangat hati-hati. Baru beberapa tindak Melati mendengar
bunyi mencurigakan di atasnya. Melati masih sempat menoleh sebelum buru-buru
melompat ke depandanmenggulingkantubuhmenjauh.Ataplorongruntuhmembawabatu-batusebesar
kerbau. Melati menghela napas lega. Dia baru saja selamat dari bahaya.
SekarangMelatimelangkahdenganlebihhati-hatilagi.Sepasangmatanyadiedarkan
berkeliling. Tidak hanya tanah yang ditelitinya, tapi juga dinding dan atap.
2010Uh...122010
Melati
terkejut ketika kakinya amblas ke dalam tanah. Tanah yang diinjaknya ternyata
tidak keras, melainkan lunak seperti lumpur. Yang lebih mengejutkan, ada
tarikan amat kuat dari dasar tanah. Melati langsung tahu sebelah kakinya
terperangkap dalam lumpur hidup.
Gadis
berpakaian putih ini menelan ludah dengan susah payah. Nyawanya hampir saja
tidak bisa terselamatkan. Apabila kedua kakinya terjebak dalam lumpur hidup
tidak mungkin dia dapat menariknya keluar. Beruntung hanya satu kakinya yang
terjebloshingga dengan mudah ditariknya keluar. Melati berpikir keras mencari
jalan untuk melalui tempat mengerikan ini.
Lorong yang
lebarnya tak lebih dari dua tombak ini buntu terhadang hamparan lumpur hidup.
Kendati demikian,hamparan lumpur hidup itu tidak terlalu panjang. Hanya, Melati
belum tahu di mana batasnya.
Sebentar
kemudian, Melati mendapatkan sebuah cara. Dia kembali ke tempat di mana
terdapat runtuhan. Diambilnya beberapa belas batu sebesar kepala bayi. Dengan
mempergunakan baru ini Melati berusaha mengetahui akhir hamparan lumpur hidup.
Mula-mula
gadis ini melemparkan batu ke depan sejauh lima tombak. Ternyata begitu
menyentuh tanah batu itu langsung amblas Melati mengulanginya beberapa kali
sampai batu yang dilemparkan tidak tenggelam. Itu berarti telah mencapai tempat
yang aman. Tempat yang di bawahnya tidak tersembunyi lumpur hidup.
Karena
jarak tempat itu tak kurang dua puluh tombak, jarak yang tidak mungkin untuk
dilompati, Melati menggunakan batu-batu kecil sebagai penolong. Batu itu
dilemparkannya ke depan lalu dia melompat memijak batu sebagai landasan,
melemparkan batu yang lain dan menjadikannya sebagai landasan. Begitu
seterusnya hingga akhirnya berhasil tiba di ujung hamparan lumpur hidup dengan
selamat.
Melati melangkah
maju lagi. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat. Sinar kuning keemasan tampak
di kejauhan. "Itukah Ular Emas?" tanya Melati dalam hati.
Seiring
dengan semakin dekatnya jarak Melati, sinar itu terlihat semakin membesar.
Melati mencium aronga wangi yang aneh. Melati terhuyung ketika aroma wangi
semakin menyengat hidung dan membuatnya pusing. Gadis ini berusaha bertahan.
Cukup lama keadaan itu menyiksa Melati. Pengaruhnya semakin menghebat sebelum
akhirnya berkurang dan kemudian lenyap.
Melati
meneruskan langkahnya lagi. Kali ini tidak adahambatan sama sekali sampai ia
berhadapan dengan pemilik sinar keemasan. Seekor ular yang amat besar dan
panjang. Tak kurang dari lima tombak. Sekujur tubuh binatang itu mengeluarkan
sinar kuning keemasan.
"Ular
Emas...?!" desis Melati dalam perasaan takjub yang tak terkira.
Dengan
pandang mata terpaku pada binatang menakjubkan Melati mengayunkan kaki
mendekat. Ketika tinggal dua tombak lagi terdengar bunyi letupan kecil. Asap
tebal menyelimuti sekujur tubuh ular. Melati terlompat ke belakang saking
kagetnya.
Begitu asap
sirna, di tempat ular berada tergeletak sebuah benda bulat sebesar buah salak.
Benda itu berwarna kehijauan. Sinarnya benar-benar luar biasa. Sekitar tempat
itu jadi bersemu kehijauan.
"Kuucapkan
selamat atas keberhasilanmu, Wanita Muda. Kaulah yang akan mencegah angkara
murka akibatTelur Elang Perak. Itulah Mustika Ular Emas. Kau berhasil lolos
dari hambatan terakhir kendati tidak terlalu mulus."
"Mengenai
lumpur hidup itu...?" duga Mela sekenanya.
"Bukan.
Aroma wangi, Wanita Muda. Wangi-wangian itu bukan sembarangan. Tapi, ujian yang
paling penting. Apabila yang menciumnya orang yang berwatak jahat dia akan
tewas seketika. Pendekar yang berhati bersih tidak akan terkena pengaruh itu.
Kau terpengaruh cukup berat. Berarti masa lalumu penuh dengan gelimang darah
orang yang tidak bersalah. Hanya saja kau telah lama sadar hingga tidak
tewas."
Tanpa sadar
Melati bergidik. Mustika itu tidak bisa didapat oleh tokoh sesat "Apa yang
harus kulakukan dengan benda itu?" tanya Melati kemudian.
"Ambil
saja. Begitu kau pegang mustika itu akan lenyap. Dia masuk ke dalam tubuhmu
secara aneh. Kau tidak usah bingung mencari penjahat keji itu. Mustika di dalam
tubuhmu akan menuntun langkahmu menuju ke arahnya. Begitu berhadapan, mustika
itu sendiri yang akan melaksanakan tugas. Dia akan mengejar ke mana pun
penjahat keji itu pergi. Sedikit tambahan bagimu, bukan hanya mustika ini saja
yang sepertihidup, tapi juga Telur Elang Perak. Penjahat keji itu akan tahu
bahaya mengancam begitu kau berada di dekatnya. Telur Elang Perak yang memberi
tahu."
Sampai di
sini ingatan Melati buyar. Dilihatnya Lanang terus mundur dengan wajah
menampakkan rasa takut.
"Sudah
saatnya kau melihat akhirat, Lanang!" ucap Melati dengan suara berwibawa.
Kemudian, mulutnya dibuka lebar-lebar.
Lanang yang
sejak tadi takut bukan main semakin pucat pasi wajahnya. Dilihatnya benda bulat
berwarna kehijauan keluar dari mulut Melati. Sambil mengeluarkan jerit
ketakutan yang memilukan hati, Lanang membalikkan tubuh dan berlari lintang
pukang. Benda bulat kehijauan itu meluncur dan mengejarnya. Kecepatannya tak
kalah dengan kecepatan lari Lanang!
"Aaa...!"
Semua yang
berada di situ bergidik ngeri mendengar jeritan yang mendirikan bulu roma itu.
Jeritan orang yang menderita kesakitan hebat. Jeritan itu panjang, lalu lenyap.
"Tamatlah
riwayat Lanang," desah Eyang Brihaspati, lega.
Tidak hanya
kakek itu yang merasa lega, tapi semuanya. Terutama Arya. Melati yang
dikhawatir kannya celaka justru yang menamatkan riwayat Lanang.
Melati
membalikkan tubuh menatap Arya. Kemudian, dia mengayunkan kaki menghampiri.
Melati melihat Arya tersenyum. Gadis itu balas tersenyum dan terus melangkahkan
kaki. Ada kerinduan yang dalam pada sepasang mata bening indah itu.
Di lain
tempat nun jauh di sana, Dirgantara dan Jumini tersenyum bahagia, penuh rasa
cinta. Kendati di lubuk hati mereka masih ada ganjalan bila teringat Brawijaya.
Keduanya ingin cepat-cepat bertemu pemuda itu dan menerangkan maksud hati
mereka.
SELESAI
No comments:
Post a Comment