KEDUA DARI LANGIT oleh Aji Saka
Seorang
lelaki gagah berkumis tipis dan beralis tebal tengah duduk sambil memeluk lutut
di pinggir Sungai Serayu yang cukup lebar ini. Tubuhnya yang kekar, terbungkus
pakaian putih. Usianya sekitar lima puluh lima tahun. Sejak matahari muncul dia
bersikap seperti itu. Sepasang matanya tertuju ke permukaan air. Tapi, bola
matanya tidak bergerak-gerak sama se-kali.
Lelaki ini
tetap tidak bergeming dari tempatnya, kendati pendengarannya menangkap adanya
suara langkah kaki mendekati. Bahkan, ketika langkah di be-lakangnya telah
berhenti, tubuhnya masih belum ber-geming.
"Kak
Gandrung...." Terdengar suara panggilan dari belakang laki-laki itu.
Asalnya, dan mulut seorang wanita muda berusia sekitar dua puluh lima tahun.
Wajahnya cantik manis dengan tubuh sintal. Penampi-lannya begitu menarik!
"Hmmm...!"
Lelaki
berkumis tipis hanya menggumam pelan, tanpa menoleh sama sekali. Apalagi sampai
mengge-mingkan tubuhnya. Dia tak ubahnya patung batu!
"Kucari
kemana-mana, kiranya ada di sini. Ma-ri, Kak. Kita pulang. Makan siang telah
kusiapkan. Ka-lau keburu dingin, tidak enak menikmatinya," ajak wanita
berpakaian serba hijau itu. Sedikit pun tidak merasa tersinggung atau kecil
hati melihat tanggapan laki-laki berkumis tipis yang dipanggil Gandrung, atau
bernama lengkap Kebo Gandrung.
"Aku belum
lapar, Cempaka. Kalau kau sudah lapar, makan duluan saja," tukas Kebo
Gandrung, te-
tap tidak
menoleh. Nada suaranya masih tetap seperti semula. Datar, dan tidak bersemangat
Wajah
wanita berpakaian serba hijau yang di-panggil Cempaka sejak datang memang tidak
kelihatan berseri-seri. Dan kini dia semakin gelap. Meski demi-kian,
kecantikannya sama sekali tidak berkurang. Apa-lagi ketika mengukir senyum di
bibirnya, walau terasa dipaksakan.
"Mungkin
kau tidak tahu, Kak Gandrung. Aku telah membuat masakan kegemaranmu. Ikan
mujair panggang. Aku yakin kau pasti akan ketagihan karena bumbunya pun
istimewa. Mari, Kak. Bukankah kau sudah lama tidak menikmati masakan
kegemaran-mu?!" Cempaka masih berusaha membujuk.
"Pulanglah,
Cempaka. Makan saja duluan. Saat ini aku tengah tidak ingin makan. Aku ingin
sendi-rian...," desah Kebo Gandrung.
"Kalau
begitu, aku juga tidak ingin makan!" sentak Cempaka, agak keras. "Aku
pun ingin di sini! Barangkali enak memandang permukaan Sungai Se-rayu sambil
melarikan diri dari kenyataan!"
Tanpa
menunggu tanggapan Kebo Gandrung, wanita cantik ini duduk memeluk lutut di
sebelah Ke-bo Gandrung, terpaut jarak sekitar dua tombak.
Kebo
Gandrung hanya menghela napas berat. Namun, tetap tidak berkutik dari
tempatnya.
Sementara
Cempaka, hanya sebentar dapat bertahan duduk memeluk lutut. Dia segera bangkit
dan pindah, lalu duduk di sebuah batu sebesar kamb-ing yang ada di situ. Tanpa
menoleh pada Kebo Gan-drung, dipungutnya batu sebesar kepalan bayi yang
berserakan di tepian Sungai Serayu ini. Lalu, dilempar-lemparkannya ke dalam
sungai.
Plung!
Mula-mula
Kebo Gandrung tidak peduli. Tapi, ketika batu-batu itu terus saja menghunjam ke
per-mukaan sungai, hatinya mulai merasa tidak nyaman. Padahal saat ini hatinya
ingin suasana tenang dan hening. Tak heran kalau bunyi-bunyi itu benar-benar
mengganggunya.
"Bisakah
kau biarkan pikiranku tenang seben-tar, Cempaka?!" tegur Kebo Gandrung.
Kali ini kepa-lanya menoleh, menatap Cempaka yang berada di se-belahnya.
"Kau
tidak adil, Kak Gandrung!" sambut Cem-paka, agak keras. "Kau pikir
hanya kau saja yang membutuhkan ketenangan?! Aku pun demikian!"
"Tapi,
tidak harus dengan menggangguku, Cempaka," bantah Kebo Gandrung.
"Aku
tidak bermaksud mengganggumu. Tapi, memang beginilah caraku mencari
ketenangan."
Kebo
Gandrung tidak menanggapi lagi. Dia ma-lah berdiri, kemudian melangkah
meninggalkan tempat ini.
Cempaka
ikut bangkit, tapi tidak bergerak mengejar.
"Kau
mengecewakanku, Kak Gandrung! Kau bukan seperti Kebo Gandrung yang dulu! Kau
lemah! Cengeng! Pengecut!" sembur Cempaka berapi-api.
Langkah
Kebo Gandrung kontan terhenti. Tu-buh kekarnya berbalik. Sepasang matanya yang
tajam, menatap Cempaka.
"Bukankah
sudah kukatakan sejak dulu, sebe-lum kita memutuskan untuk menjadi suami istri,
Cempaka?! Sudah kukatakan, akhirnya kau akan ke-cewa. Tapi kau keras kepala!
Sekarang, kekhawatiran-ku terbukti, bukan?"
"Masalah
ini tidak ada hubungannya dengan
hal-hal di
waktu dulu, Kak Gandrung! Aku yakin, pan-danganmu tidak picik untuk
mengetahuinya. Dan...."
"Aku
memang picik pandangan, Cempaka!" po-tong Kebo Gandrung. "Aku tua
bangka tak tahu diri! Pengecut! Lemah! Cengeng! Orang sepertiku, mana pantas
menjadi suami dari wanita muda dan cantik sepertimu...!"
"Kak...!
Kak Gandrung...!"
Cempaka
memanggil-manggil, ketika melihat Kebo Gandrung berlari cepat meninggalkan
tempat itu. Dia cepat mengejar, tapi tak sampai lima puluh tom-bak segera
dihentikan. Lari Kebo Gandrung terlalu ce-pat untuk dapat disusulnya.
Wanita itu
hanya bisa berdiri memandangi, hingga tubuh Kebo Gandrung lenyap di kejauhan.
Be-berapa saat dia bersikap seperti itu, lalu dengan lang-kah gontai kakinya
melangkah meninggalkan tempat ini. Dia segera kembali ke pondoknya, yang selama
ini menjadi tempat tinggal bersama Kebo Gandrung, sua-minya.
***
Bunyi berderit
terdengar, ketika Cempaka men-dorong daun pintu pondoknya yang tertutup tapi
tidak terkunci. Wajahnya menunduk menekuri tanah.
Namun
mendadak saja, wanita ini baru terjing-kat ke belakang, begitu mengangkat wajah
seiring ayunan kakinya saat memasuki ambang pintu. Sepa-sang matanya terbelalak
lebar, seperti melihat hantu siang bolong.
"Kau...?!"
seru Cempaka dengan suara tercekat. Tenggorokannya mendadak kering, melihat
sosok di hadapannya.
Di ruangan
tengah duduk seorang pemuda ber-pakaian serba hitam di sebuah kursi. Kaki
kanannya ditumpangkan pada paha kirinya. Pemuda ini me-nyunggingkan senyum
lebar sambil mengunyah.
Semula,
Cempaka tidak begitu mengetahui apa yang dikunyah pemuda ini. Tapi ketika
pandangannya beralih pada seekor dari dua ekor ikan panggang di atas meja yang
sisinya telah koyak-koyak, Cempaka langsung tahu. Jelas, yang dikunyah pemuda
ini ada-lah ikan panggang mujair yang semula disediakan un-tuk suaminya!
"Untuk
apa kau kemari, Jahanam...?! Dan, mengapa berani lancang mengambil masakan
itu?! Masakan itu kusediakan untuk suamiku, tahu?!"
"Untuk
si tua bangka yang tidak punya malu itu...?!" ejek pemuda berpakaian hitam
sambil mengu-nyah potongan ikan yang baru saja diambilnya lagi.
"Keluar
kau, Jahanam...! Tinggalkan tempat ini...! Cepat...! Jangan tunggu kesabaranku
habis. Atau, nyawamu kulenyapkan...!" ancam Cempaka, ke-ras. Wanita ini
begitu marah mendengar hinaan yang ditujukan pada suaminya.
Pemuda
berpakaian hitam ini hanya tertawa si-nis. Dia tidak merasa gentar sedikit pun,
meski men-dapat ancaman yang jelas bukan ancaman kosong be-laka.
"Sama
sekali tidak kusangka kalau kau akan betah hidup dengan tua bangka bau tanah,
Cempaka. Apa yang kau harapkan dari tubuh renta itu?! Kau ti-dak usah
berpura-pura, Cempaka. Kau rindu belaian bukan? Katakan saja. Aku tidak akan
sungkan-sungkan memberikannya padamu. Dan..."
"Tutup
mulutmu yang kotor itu, Jagalpati...!" potong Cempaka marah bukan main.
Cempaka
cepat mengambil jarum-jarum yang tersimpan di buntalan kain kecilnya.
Wrettt!
Set! Set!
Sekali
Cempaka mengibaskan lengannya, maka meluncurlah jarum-jarum itu ke arah pemuda
berpa-kaian hitam yang ternyata bernama Jagalpati.
Sementara
Jagalpati hanya tersenyum menge-jek. Ditunggunya hingga jarum-jarum itu
menyambar dekat. Kemudian....
"Phuhhh!"
Sekali
Jagalpati meniup, deru angin keras lang-sung menyambar. Maka jarum-jarum itu
berguguran ke tanah, seperti membentur dinding tidak nampak
Melihat hat
ini Cempaka menggertakkan gigi. Hatinya geram melihat serangannya berhasil
dikan-daskan. Seketika dicabutnya kipas baja hitam yang terselip di pinggang.
Sebuah kipas yang ujungnya ter-buat dari baja runcing. Dan bila dikebutkan,
baja-baja runcing itu akan melesat ke arah sasaran.
Hnging!
Hnging!
Maka ketika
Cempaka mengebutkannya, seke-tika terdengar bunyi berdesing nyaring dari
baja-baja runcing meluncur mengancam keselamatan Jagalpati.
Namun,
pemuda itu seperti tak peduli sama se-kali. Padahal, baja-baja runcing itu
meluncur menuju bagian-bagian yang berbahaya, terutama leher dan da-da. Sehingga....
Tap! Tap!
Cempaka
sudah tersenyum lebar ketika baja-baja runcing itu mendarat telak di sasaran.
Tapi, se-nyumnya langsung lenyap ketika Jagalpati malah bi-asa-biasa saja.
Sepertinya tak ada sesuatu yang terjadi pada di dirinya,
"He he
he...!"
Pemuda
berpakaian hitam ini malah tertawa gembira yang terdengar aneh di telinga.
Mungkin kare-na leher dan dadanya yang tertembus baja-baja runc-ing, sehingga
kemungkinan besar menghalangi sua-ranya yang keluar.
Namun yang
membuat Cempaka lebih terbela-lak, tidak setetes pun darah yang mengalir dari
tubuh Jagalpati. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Apakah Jagalpati tidak
memiliki darah dalam tubuhnya?
"Kaget,
Cempaka?!" ejek Jagalpati, penuh ke-menangan. "Ini belum seberapa.
Masih banyak ke-mampuan dahsyat lain yang kumiliki. Dan dengan se-mua itu, akan
kutebus penghinaan yang diberikan Ke-bo Gandrung padaku!"
"Kau
datang dengan maksud keji itu?!" tanya Cempaka, terbata-bata.
"Tentu
saja!" tandas Jagalpati, mantap. "Kau pikir untuk apa aku kemari?
Tentu saja tidak lain un-tuk menghukum tua bangka yang berkhianat itu!"
"Untuk
itu kau harus melangkahi mayatku, Ja-galpati...!" tandas Cempaka, gagah.
"Tentu
saja, Cempaka. Tapi perlu kutambahkan sedikit kata-katamu. Mayatmu akan
kulangkahi, tapi setelah tubuhmu kugerayangi. Apakah kau tidak rindu untuk
mengulang kemesraan yang dulu kuberikan?!"
"Keparat!"
Sekujur
tubuh Cempaka kontan menggigil ke-ras bersama keluarnya ucapan itu. Dia
kelihatan be-rang, mendengar kata-kata Jagalpati.
Kata-kata
Jagalpati mengingatkan Cempaka saat dirinya hampir digauli secara paksa oleh
pemuda itu. Tepatnya, lima tahun lalu. Untungnya Kebo Gan-drung yang sebenarnya
masih satu komplotan dengan
Jagalpati,
sadar dari kesesatannya. Cempaka segera dibawanya kabur sebelum kegadisannya
hilang.
Lelaki
gagah berkumis tipis yang waktu itu be-rusia lima puluh tahun, tidak sampai
hati melihat na-sib yang diderita Cempaka, sehingga segera membe-baskannya.
Kebo Gandrung membuat kekacauan di saat Jagalpati tengah berusaha memperkosa
Cempaka. Dia membakari bangunan markas dan membunuhi anak buahnya sendiri.
Usaha Kebo Gandrung menarik perhatian Jagalpati, sehingga usahanya untuk
mem-perkosa Cempaka tertunda dan dia segera keluar un-tuk melihat kekacauan.
Maka kesempatan itu diguna-kan Kebo Gandrung untuk menolong Cempaka dan
membawanya kabur.
Sayang,
usaha Kebo Gandrung tidak berhasil mulus ketika Jagalpati memergokinya. Maka
pertarun-gan antar dua tokoh sesat yang semula kawan itu pun terjadi.
Kebo
Gandrung memang bukan tandingan Ja-galpati. Untung baginya saat itu Cempaka
ikut turun tangan. Jagalpati yang tidak sanggup melawan dua orang, berhasil
kabur meski menderita luka-luka cu-kup parah.
Karena
terharu melihat pengorbanan dan ketu-lusan cinta kasih Kebo Gandrung, Cempaka
menerima sebagai suaminya. Pasangan yang mempunyai perbe-daan usia menyolok ini
pun menikah dan tinggal di le-reng Gunung Karang. Sebuah tempat terpencil yang
panas. Tak heran kalau orang jarang menyukainya.
"Aku
yakin, permainan asmara yang kuberikan jauh tebih nikmat daripada yang
diberikan si tua bangka Kebo Goblok itu!" sambung Jagalpati, mengu-sir
lamunan Cempaka akan masa lalunya.
Sambil
berkata demikian, dengan tenang Jagal-
pati
mencabut baja-baja runcing yang menghunjam leher dan dadanya. Tampak garis
tipis bekas hunja-man baja-baja runcing. Tapi anehnya, tidak ada setitik darah
pun yang keluar. Luar biasa!
Pemandangan
itu saja sudah membuat Cempa-ka terkejut bukan main. Tapi lebih terkejut lagi
ketika melihat tanda hunjaman pada leher dan dada lang-sung lenyap, ketika
Jagalpati mengusapnya.
***
Jagalpati
terkekeh penuh rasa puas melihat si-kap Cempaka. Dia tahu, wanita muda ini
merasa tak-jub dan ngeri melihat keanehan-keanehan yang diper-lihatkannya. Dan
masih dengan kekeh yang terus ber-hambur, pemuda ini bangkit berdiri.
"Oh...!"
Cempaka tak
kuasa untuk menahan jeritan ka-get, melihat meja di depannya terangkat
pelan-pelan begitu Jagalpati bangkit. Bahkan ketika, Jagalpati te-lah berdiri
tegak, meja itu masih terus bergerak naik!
Gerakan
meja itu baru berhenti, ketika telah mencapai jarak satu tombak dari lantai.
Dengan
sikap tidak peduli melihat keterkejutan Cempaka, Jagalpati bergerak
menghampiri. Pemuda itu berjalan melalui bawah meja yang tetap melayang. Baru
ketika telah tidak berada di bawahnya, meja itu bergerak turun pelan-pelan.
Bahkan ketika keempat kakinya menyentuh tanah, sedikit pun tidak menim-bulkan
bunyi.
Tepat
ketika meja itu mendarat di lantai, Cem-paka sadar dari terkesimanya. Seketika
langsung dike-luarkannya kipas berujung baja runcing lainnya yang berwama merah
darah!
"Hiaaat...!"
Sambil
mengeluarkan pekikan nyaring me-lengking, Cempaka menerjang Jagalpati!
Jagalpati
sebenarnya memang memiliki watak keji. Ketika di atas angin saat berhadapan
dengan la-wan, dia tak pernah buru-buru membunuh. Sang la-wan dipermainkan
dulu, seperti halnya seekor kucing yang mempermainkan dulu tikus sebelum
dimakan. Tindakan itu pula yang dilakukan Jagalpati terhadap Cempaka.
Sebenarnya
bisa saja Jagalpati bertindak cepat dengan mengandalkan tubuhnya yang tidak
bisa dilu-kai senjata, untuk merobohkan Cempaka. Tapi, itu ti-dak dilakukannya.
Seolah-olah yang dihadapinya ada-lah lawan tangguh.
Pemuda ini
cepat mengelakkan setiap serangan Cempaka, namun cepat pula membalasnya. Dan
tin-dakannya tidak pantas disebut serangan, karena tidak membuat lawan terluka
atau terbunuh. Serangan-serangan aneh Jagalpati ini ditujukan pada
bagian-bagian tertentu di tubuh Cempaka, seperti payudara atau bawah pusar.
Karuan saja
Cempaka menjadi berang bukan main. Beberapa kali makiannya terlontar, ketika
jari-jari tangan Jagalpati meremas dua bukit indahnya atau mengusap bagian
selangkangannya.
Ingin
rasanya Cempaka menjerit-jerit dan me-nangis. Dia telah berusaha sedapat
mungkin agar da-pat mengelakkan dari serangan cabul Jagalpati, tapi tetap saja
selalu gagal.
Jagalpati
terkekeh-kekeh gembira dengan per-mainannya. Tapi kian lama, kekehnya diiringi
deru na-pas memburu. Birahinya telah terangsang oleh per-mainan yang dibuatnya
sendiri.
Ketika
pertarungan telah berlangsung dua pu-luh jurus, Jagalpati mendengus.
"Kurasa
permainan ini harus segera diakhiri, Cempaka. Aku yakin kau sudah merindukan
belaian-ku...!" Ujar Jagalpati, dengan napas memburu.
Berbareng
keluarnya ucapan itu, ia tiba-tiba menjulurkan tangannya, merenggut pakaian
Cempaka di bagian dada.
Brett!
"Aaaww!"
Tanpa dapat
dicegah lagi, Cempaka memekik kaget bercampur malu dan marah ketika pakaiannya
di bagian dada koyak. Seketika bukit kembarnya yang indah berkulit putih mulus,
mencuat seperti hendak melompat keluar.
Jagalpati
langsung menelan ludahnya dengan susah payah. Jakunnya bergerak turun naik
dengan cepat. Napasnya memburu. Sepasang matanya terbela-lak. Biji matanya
seperti hendak keluar dari rong-ganya.
"Keparat!
Cabul!"
Cempaka
melompat mundur disertai makian tak karuan. Dengan sebisa-bisanya payudaranya
beru-saha ditutupi agar tidak menjadi santapan mata Ja-galpati yang liar.
"Hih...!"
Bret! Brettt!
Tapi hanya
sebentar saja hal itu bisa dilaku-kan, karena Jagalpati telah kembali
melancarkan se-rangan berupa renggutan-renggutan. Cempaka beru-saha keras
menangkal, tapi tetap sia-sia belaka.
Tak sampai
sepuluh jurus pertarungan ber-langsung, Cempaka telah berdiri di hadapan
Jagalpati dalam keadaan tanpa benang sehelai pun! Jagalpati
beberapa
kali menelan ludah.
Sekarang
Cempaka kebingungan, berusaha menutupi tubuhnya yang terlarang dengan kedua
tan-gannya. Namun tetap saja keadaan ini membuat Ja-galpati berkali-kali
menelan ludahnya dengan tatapan liar.
Jagalpati
kembali terkekeh. Tiba-tiba ujung ka-ki kanannya dibenturkan ke lantai. Pelan
saja, seperti tidak mengandung arti. Tapi, tidak demikian halnya yang dirasakan
Cempaka. Mendadak saja tubuhnya te-rasa mendapatkan daya tarik luar biasa.
Tarikan yang membawa tubuhnya meluncur ke arah Jagalpati.
Cempaka
tidak tinggal diam. Dicobanya untuk bertahan, tapi sia-sia belaka. Karena di
samping tari-kan Itu amat kuat, kedua tangannya yang berada da-lam sikap
melindungi bagian tubuhnya yang terlarang, membuat segi-segi yang menguntungkan
Jagalpati se-makin besar.
"Aaah...!"
Cempaka
menjerit tertahan ketika tubuhnya sudah hampir jatuh ke pelukan Jagalpati.
Tapi, pemu-da itu rupanya tidak menginginkan hal demikian. Tan-gan kirinya
cepat dikibaskan maka tubuh Cempaka kembali melayang.
Saat
tubuhnya melayang untuk kedua kali ini, Cempaka berusaha mempergunakan
sebaik-baiknya. Wanita itu melihat arah jatuh tubuhnya adalah di atas meja, di
mana masih terdapat ikan-ikan panggang.
Cempaka
berpikir cepat. Dia telah memutuskan untuk menggulingkan tubuh bila jatuh di
meja, kemu-dian melesat cepat meninggalkan tempat ini. Disadari, menentang
Jagalpati hanya akan merugikan diri sendi-ri.
Tapi
harapan hanya jatuh di angan-angan. Be-
berapa saat
sebelum tubuh Cempaka jatuh di atas me-ja, Jagalpati meniup.
"Fhuhh...!"
Cempaka
tidak melihat apa pun, kecuali sesua-tu yang menyentuh salah satu tubuhnya.
Saat itu juga sekujur tubuhnya langsung lemas. Meski belum per-nah menemukan
sendiri, tapi disadari kalau Jagalpati telah menotoknya dari jarak jauh dengan
mempergu-nakan tiupan.
Begitu
selesai meniup, Jagalpati mengejangkan sekujur tubuhnya. Sementara Cempaka yang
sempat melihat, merasa ngeri bukan main. Karena begitu se-kujur tubuh Jagalpati
kembali melemas, tak sehelai pakaian pun yang melekat. Semuanya tergolek di
lan-tai!
Tanpa
menjejakkan kaki atau menekuk lutut, tubuh Jagalpati melayang bagai seekor
burung me-nyusul tubuh Cempaka yang sudah hampir menimpa meja. Sedangkan di
atas meja masih tergolek ikan-ikan panggang di baki.
Dalam
keadaan masih melayang di udara, Ja-galpati mengibaskan tangan.
Wutt!
Prang!
Seketika
baki yang berisi ikan-ikan panggang pun melayang jauh, membentur dinding.
Sekejap ke-mudian, tubuh Cempaka tiba di atas meja.
Bruk!
Disusul
tubuh Jagalpati yang tepat di atasnya, menindih.
"Oh...!"
Jagalpati
benar-benar ingin menikmati permai-nannya. Begitu menindih, totokan pada
Cempaka di-bebaskannya. Karuan saja hal ini membuat wanita itu
meronta-ronta.
Akibatnya, dua tubuh tanpa busana pun bergulat di atas meja.
"Lepaskan
aku, Bangsat Terkutuk! Bunuh saja aku!" teriak Cempaka.
Wanita ini
berjuang keras untuk memperta-hankan kehormatannya. Di lain pihak, Jagalpati
beru-saha keras merenggutnya. Perlawanan mati-matian Cempaka membuat usaha
pemuda itu mengalami hambatan.
Cukup lama
hal itu berlangsung, sebelum ak-hirnya Cempaka kehabisan tenaga. Jagalpati
terlalu kuat untuk ditahan. Apalagi dalam keadaan diamuk nafsu yang membuat
kekuatannya seperti berlipat ganda.
Jagalpati
tersenyum penuh kemenangan, ketika Cempaka tidak mengadakan perlawanan lagi.
Disertai nafsu birahi yang bergolak semakin hebat, dipermain-kannya gadis itu
dengan buas.
***
Cempaka
hanya bisa merintih dalam hati ketika Jagalpati mulai menjarah sekujur
tubuhnya. Jagalpati benar-benar telah kerasukan setan. Tidak hanya ke-dua
tangannya yang bergerak liar menjarah tapi juga mulutnya.
Dengan
nafsu menggebu-gebu dan napas men-deru-deru, Jagalpati menciumi sekujur wajah
Cempa-ka.
Tidak puas
hanya dengan menciumi, tangannya meremas-remas ke sana kemari.
Jagalpati
tidak mempedulikan sama sekali rin-tihan Cempaka yang memohon agar Jagalpati
tidak menyetubuhinya. Tapi, justru hal itu semakin menam-
bah
semangat pemuda ini. Bagi Jagalpati, rintihan Cempaka, bagaikan yang menambah
besar nafsu bira-hinya yang meletup-letup menuntut pelampiasan.
Tak lama
kemudian, Jagalpati terperanjat, keti-ka merasakan adanya sesuatu yang lain.
Sesuatu yang sama sekali tidak diduganya, tapi jelas dirasakannya.
Pemuda
berpakaian hitam ini bergegas bangkit dari tubuh Cempaka yang ditindihnya.
Dengan penuh rasa penasaran, dipandangnya bagian bawah tubuh wanita itu. Dan,
dia langung terkejut ketika melihat je-las pada daun meja cairan merah segar.
Darah. Dan, darah itu berasal dari celah-celah paha Cempaka!
Jagalpati
terkesima. Apa yang tadi dirasakan sebelum mencapai puncak pelampiasan
nafsunya, ter-nyata tidak salah. Bukti jelasnya telah disaksikannya sendiri.
Cempaka masih perawan! Dan dialah yang te-lah merobek selaput dara Cempaka
pertama kali! Di-alah yang merampas kegadisan Cempaka!
Di saat
Jagalpati terkesima menerima kenya-taan yang tidak disangka-sangkanya, Cempaka
tengge-lam dalam alun kesedihannya. Wajahnya basah oleh air mata bening yang
mengalir deras.
"Ha ha
ha...!"
Jagalpati
tertawa bergelak. Kelihatan gembira sekali. Dia tertawa dalam keadaan berdiri
mempergu-nakan kedua lututnya di atas meja.
"Kiranya
tua bangka itu banci, Cempaka?! Ka-sihan sekali! Pasti selama ini kau
kesepian...! Kau pas-ti sangat kehausan...! Mari kita ulangi kenikmatan
itu...!"
***
Kebo
Gandrung berdiri di pinggir sungai, yang masih satu aliran dengan Sungai Serayu
tempatnya duduk termenung. Hanya saja, jaraknya telah ribuan tombak dari tempat
semula. Di tempat ini beberapa kali, lelaki yang masih kelihatan gagah dan
tampan ini menarik dan menghembuskan napas. Tingkahnya sea-kan-akan tengah
membuang ganjalan dalam dadanya.
"Istriku
benar...!" desis Kebo Gandrung, terden-gar tajam. Ucapan yang ditujukan
untuk dirinya sendi-ri. "Aku tidak hanya cengeng, pengecut, dan lemah! Aku
juga bodoh! Ah...! Semua ucapanmu benar sekali, Cempaka. Aku memang picik! Aku
hanya mementing-kan diriku sendiri. Tidak pernah kupikirkan kalau kau juga
menanggung perasaan sama. Ah..., aku tua bang-ka yang tidak punya pikiran!
Hih!"
Kebo
Gandrung baru saja hendak mengelua-rkan uneg-unegnya lagi, tiba-tiba terdengar
bunyi langkah-langkah kaki. Cepat kepalanya menoleh. Wa-jahnya seketika
berseri, ketika melihat seorang kakek cebol berkepala besar. Sehingga, yang
terlihat hanya kepalanya saja.
"Bagaimana,
Tunggul?! Apakah kau berhasil memenuhi permintaanku...?! Apakah bahan-bahan
untuk ramuan telah berhasil kau temukan?!" tanya Kebo Gandrung pada lelaki
cebol yang dipanggil Tung-gul.
Kakek cebol
itu tersenyum lebar, merasakan adanya harapan besar dalam pertanyaan Kebo
Gan-drung. Buktinya langkah kaki lelaki gagah itu lebar-lebar ketika menghampirinya.
"Ucapkan
syukur pada Tuhan, Gandrung," ujar
kakek cebol
bernada menggurui. "Bahan-bahan yang aku inginkan, berhasil kutemukan. Dan
dengan demi-kian, aku pun berhasil meramunya!"
"Apakah
sekarang kau membawanya, Tung-gul?!" desak Kebo Gandrung, penuh harap.
Kakek cebol
itu mengangguk, kemudian men-gambil sebuah kendi kecil dari selipan
pinggangnya. Tanpa basa-basi sama sekali dilemparkannya pada Kebo Gandrung.
"Selamat
bermalam pengantin, Gandrung. In-gat! Jangan terlalu rakus. Nanti kau dan
istrimu tidak bisa bangun" gurau Aki Tunggul sambil berbalik dan
meninggalkan tempat itu. Tawanya yang bernada can-da terdengar terus sepanjang
ayunan kakinya mening-galkan tempat ini.
Kebo
Gandrung merasakan selebar wajahnya panas. Tapi untungnya, Aki Tunggul tidak
memperha-tikannya lebih lanjut. Meskipun demikian, rasa ma-lunya tidak sebesar
perasaan gembiranya melihat pemberian Aki Tunggul.
Dengan
wajah berseri-seri dan khayalan tinggi, Kebo Gandrung berlari meninggalkan
tempat itu. Dia ingin segera tiba menjumpai Cempaka, istrinya. Akan ditunjukkan
pada istrinya kalau dirinya adalah seo-rang lelaki sebagaimana lelaki lainnya.
"Cempaka...!"
Dua tombak
sebelum mencapai pintu pondok, Kebo Gandrung telah memanggil-manggil istrinya.
Lembut dan sarat kasih sayang yang besar. Di dalam-nya pun telah tersirat
permintaan maaf.
Ketika
tidak ada sahutan sama sekali, Kebo Gandrung tidak kecil hati. Dugaannya,
mungkin Cem-paka masih marah atas kejadian yang belum lama ber-langsung.
Kebo
Gandrung menghentikan larinya. Kini dia berjalan pelan-pelan mendekati daun
pintu.
"Cempaka....
Istriku sayang. Ini aku datang...! Aku...."
Kata-kata
itu dikeluarkan Kebo Gandrung sambil mendorong daun pintu. Kakinya terayun
masuk ke dalam, namun langsung tertahan di tengah jalan.
Mendadak saja,
kedua kaki Kebo Gandrung menggigil keras. Sepasang matanya terbelalak lebar
begitu melihat pemandangan yang terpampang di de-pannya.
Di ruang
tengah, di atas meja tergolek sesosok tubuh mulus dan putih milik Cempaka dalam
keadaan tanpa busana, tak bergerak sedikit pun.
Saat itu
juga Kebo Gandrung merasakan tu-buhnya limbung. Terpaksa tangannya berpegangan
pada ambang pintu agar bisa berdiri tegak. Wajahnya pucat laksana mayat.
Mulutnya mengeluarkan rinti-han-rintihan tak jelas, walau sebenarnya berusaha
menggulirkan nama istrinya.
Kebo
Gandrung tahu kalau Cempaka telah me-ninggal dunia. Pergi meninggalkan secara
amat menge-rikan! Sebagai tokoh yang telah kenyang pengalaman dia tahu kalau
Cempaka telah diperkosa sebelum di-bunuh secara amat mengerikan.
Beberapa
saat, setelah berhasil mengusir gun-cangan perasaannya, Kebo Gandrung
menghampiri mayat Cempaka. Rasa sesal dan dendam bercampur jadi satu. Dia
merasa malapetaka itu terjadi karena si-kapnya. Itu yang membuatnya menyesal.
Sedangkan rasa dendam terhadap pelakunya, karena istrinya di-perkosa dan
dibantai demikian keji.
Sepasang
mata Kebo Gandrung seperti meman-carkan api ketika melihat pisau berbatang
merah dan
bergagang
ukiran tengkorak manusia!
"Jahanam...!
Akan kubalaskan kekejian ini...! Tunggulah kedatanganku, Keparat...!"
desis Kebo Gan-drung penuh dendam dan sakit hati.
Lelaki
gagah ini amat mengenal benda itu yang merupakan senjata rahasia khas milik
Pimpinan Ge-rombolan Setan Merah. Kelompok kaum sesat yang hancur lima tahun
lalu, karena serbuan para pende-kar.
Perlahan
sekali lelaki ini menutupi tubuh Cem-paka yang bugil. Dengan hati-hati seakan
memegang benda dari bahan yang mudah hancur, Kebo Gandrung mengangkat tubuh
wanita ini.
Kebo
Gandrung mencium kening Cempaka. "Maafkan aku, Cempaka. Kalau tidak karena
sikapku, peristiwa ini tak akan terjadi. Tapi, percayalah. Ke ma-na pun pelaku
ini lari, akan kucari! Hanya ada satu pi-lihan, kalau tidak penjahat itu, aku
yang mati," janji lelaki gagah ini di tetinga istrinya, nadanya tajam pe-nuh
dendam.
Kebo
Gandrung melangkah hati-hati mening-galkan pondoknya. Setibanya di luar, tubuh
itu digele-takkan di tanah. Lalu digalinya sebuah lubang kubu-ran untuk tempat
peristirahatan istrinya yang terakhir. Di tempat yang jauh lebih tinggi dari
sekitarnya.
"Tenanglah
kau di alam baka, Cempaka. Aku yang akan membalaskan semua sakit hatimu,"
tandas Kebo Gandrung, tanpa menghentikan kesibukannya membuat lubang kuburan.
***
Bunyi
kecipak air mengiringi langkah kaki seo-rang gadis berpakaian kuning dengan dua
buah tong
dari kayu
pada bahunya. Rasanya tidak tepat bila dis-ebut langkah, karena kaki-kakinya
yang mungil men-darat pada ranting-ranting sebesar ibu jari tangan yang
ditancapkan secara teratur di tanah.
Tong-tong
yang mempunyai pegangan itu terus berkecipak saat gadis ini melangkah. Karena,
tong-tong yang cukup besar itu dipikul hanya dengan rant-ing sebesar ibu jari
kaki.
Ranting
yang dipijak dan yang dijadikan piku-lan langsung melengkung, setiap kali kaki
mungil ga-dis ini menjejak. Meski demikian, tak setetes air pun yang memercik
dari tong-tong kayu yang penuh terisi air itu.
Setelah
menempuh perjalanan sejauh tiga pu-luh tombak, di kanan kiti gadis itu
terhampar tanaman cabai yang tingginya tak sampai seperempat tombak!
Pohon-pohon cabai telah berbuah. Namun anehnya cabai itu sebagian berwarna
putih dan sebagian lagi hi-tam!
Ranting-ranting
yang ditancapkan di tanah itu ternyata berakhir pada tanaman cabai yang
terakhir. Dan begitu tiba, gadis ini menyiramkan air dari tong-tong kayu itu.
Dan baru sebagian tanaman cabai dis-iram, mendadak....
"Rajin
sekali...."
Terdengar
sebuah ucapan pelan, namun mem-buat gadis ini terjingkat ke belakang bagai
disengat ka-lajengking. Kepalanya langsung menolehkan ke sebe-lah kanan, tempat
asal suara yang bernada ejekan. Ternyata di samping kanannya telah berdiri
seorang pemuda berpakaian serba hitam.
"Sayang,
kerajinan ini tidak menghasilkan apa-apa, kecuali kelelahan dan onggokan sampah
tidak berguna...," sambung pemuda itu.
Sepasang
mata gadis berpakaian kuning ini kontan berkilatan. Dirasakan adanya ancaman
dari mulut pemuda itu.
"Siapa
kau, Manusia lancang...?! Apa maksud-mu datang kemari? Hm.... Kau tahu, tempat
ini bukan untuk bersenang-senang?!" tegur gadis itu dengan na-da tinggi,
tanpa ada keramahan sedikit pun.
Tapi pemuda
yang tak lain Jagalpati hanya ter-senyum. Tidak kelihatan tersinggung sama
sekali.
"Siapa
bilang bukan tempat untuk bersenang-senang?!" kilah Jagalpati kalem.
"Kedatanganku kema-ri justru untuk bersenang-senang. Semula..., yahhh....
Hanya bersenang-senang dengan tanaman-tanamanmu.
Tapi sekarang? Malah bertambah senang bila kau terus di sini. Aku yakin gadis
cantik dan sintal sepertimu memiliki kenikmatan tersendiri untuk dija-dikan
kawan bermain asmara. Ha ha ha...!"
"Manusia
berotak kotor...!" bentak si gadis. Selebar wajah gadis ini merah padam
karena
malu dan
marah mendengar ucapan dan sikap Jagal-pati yang jelas-jelas menyiratkan
otaknya yang kotor.
"Orang
sepertimu yang hanya akan mengotori dunia, tidak patut dibiarkan hidup lama!
Biarlah aku yang akan turun tangan melenyapkanmu!"
Seketika
gadis ini mengayunkan pukulannya. Wuttt!
Tong yang
berada di salah satu ujungnya me-layang deras ke arah kepala Jagalpati. Namun
pemuda cabul ini hanya tertawa. Sekali lututnya ditekuk, se-rangan itu hanya
lewat di atas kepalanya.
Si gadis
semakin kalap melihat serangannya gagal. Apalagi secara demikian mudah dan
penuh hi-naan sehingga, dia merasa diremehkan. Kini pikulan sederhana yang
ditangannya bisa menjadi senjata ber-
bahaya,
digerakkan kalang-kabut Wutt! Wutt!
Bunyi
menderu-deru terdengar ketika tong itu lenyap dari pandangan saking cepatnya
berputar. He-batnya, tong-tong itu tidak terlempar. Padahal hanya dltempelkan
begitu saja!
"Aih.,.!
Kiranya kau galak juga, Nona Manis. In-gin kurasakan kegalakanmu ini dalam
permainan cinta kita. Pasti menyenangkan sekali...!" leceh Jagalpati.
Kata-kata
ini membuat amarah si gadis sema-kin berkobar-kobar. Serangan-serangannya
semakin dahsyat. Tapi, Jagalpati tetap dapat menanggulan-ginya. Beberapa kali
serangan gadis ini dielakkan. Na-mun, tak jarang dibiarkan saja mengenai
tubuhnya.
Jagalpati
yang memiliki watak keji dan gemar mempermainkan orang, kembali menunjukkan
kepan-daiannya. Kalau dia mau, tong itu bisa dihancurkan. Namun ketika mengenai
tubuhnya, dia segera mem-pergunakan tenaga lembut. Sehingga, tong itu seperti
bertemu kapas saja layaknya tanpa pengaruh apa-apa terhadap tubuh Jagalpati.
Seperti
korban-korban lainnya, si gadis ini pun diperlakukan sama oleh Jagalpati.
Wataknya yang ca-bul dan gemar mempermainkan orang, membuatnya bertindak
demikian. Beperapa kali, gadis berpakaian kuning terpekik karena kaget dan
marah, ketika tan-gan-tangan Jagalpati hinggap di bagian-bagian tubuh-nya yang
terlarang.
Jari-jari
tangan Jagalpati mencolek dan mere-mas buah dada gadis itu dengan gerakan yang
sulit tertangkap mata. Tak luput, selangkangannya pun mendapat bagian.
Jari-jari tangan pemuda cabul itu mengusapnya. Tindakan-tindakan ini
menimbulkan rasa marah dan malu!
Karena
beberapa kali kecolongan, gadis ini me-lompat ke belakang. Tubuhnya bersalto
beberapa kali, sebelum menjejak tanah. Dia hinggap sekitar lima tombak di depan
Jagalpati.
Bukannya
mengejar, Jagalpati malah terkekeh-kekeh penuh ejekan. Dibalasnya tatapan penuh
kema-rahan dan kebencian gadis itu dengan mencium-cium jari-jari tangannya
sendiri yang tadi menjarah bagian-bagian rawan yang dimiliki seorang wanita.
***
Seketika
gadis itu mengeluarkan sapu tangan dari balik bajunya yang berbau harum.
Gerakannya di-lakukan seperti sengaja, agar Jagalpati mengikuti ge-rak-geriknya
tanpa berkedip.
Gadis itu
mengebutkan sapu tangannya. Pletar!
Mendadak
terdengar bunyi nyaring seperti ada ledakan, ketika sapu tangan itu terlecut.
Disertai
senyum mengejek yang tidak lepas dari mulut, Jagalpati memperhatikan semua
gerak-gerik si gadis. Dia masih tidak mengerti, apa yang dilakukan gadis itu.
Ctar!
Pletaar!
Pemuda
cabul ini baru merasa terkejut, ketika letupan yang terdengar kian lama kian
terasa nyaring. Seakan-akan di dalam telinganya terdengar ledakan-ledakan keras
bagai halilintar. Bahkan rasa pusing mulai mendera.
Jagalpati
bukan orang bodoh. Sebaliknya, pe-muda ini telah kenyang pengalaman dan
memiliki ke-cerdikan matang. Maka langsung disadari kalau bunyi letupan itu
bukan sembarangan.
Jagalpati
tahu ada pengaruh gaib yang mem-pengaruhi dalam letupan sapu tangan tadi. Maka
sege-ra dikerahkannya kekuatan batin untuk melawannya. Kendati demikian
Jagalpati tidak berani bertindak ge-gabah.
Usaha
Jagalpati tidak sia-sia. Sedikit demi se-dikit, pengaruh ledakan itu mulai
berkurang. Bahkan akhirnya, terusir sama sekali. Pemuda cabul ini mem-buka
matanya yang tadi terpejam. Dia langsung meng-geram ketika gadis berbaju kuning
tidak berada di de-pannya lagi.
Kini baru
disadari Jagalpati kalau gadis yang hampir menjadi korbannya telah kabur
meninggalkan tempat itu. Sungguh gadis yang cerdik! Jagalpati me-muji dalam
hati, kendati bercampur rasa geram. Dag-ing yang telah berada di mulut dan
tinggal dikunyah, ternyata harus lepas dari cengkeraman!
Jagalpati
mengedarkan pandangan berkeliling! Kesibukannya untuk melawan pengaruh sapu
tangan tadi, membuatnya tidak bisa mengetahui arah yang di-tempuh gadis itu
saat kabur.
Tapi,
Jagalpati ternyata tidak bisa menentukan sama sekali ke arah mana gadis itu
pergi. Untuk per-tama kalinya, wajah yang biasanya dihiasi senyum mengejek,
terlihat masam. Terlihat jelas kalau hatinya tengah jengkel.
"Biarlah
untuk kali ini kau lolos, Betina Jalang. Tapi lain kali, jangan harap akan
seberuntung ini," de-sis Jagalpati penuh ancaman.
Sekarang, pemuda
cabul ini mengarahkan pan-dangan ke arah deretan tanaman cabai.
"Untuk
kali ini, tak kudapatkan apa yang kutu-ju sejak semula," gumam Jagalpati
lagi, sendirian.
Kemudian
sambil menatap ke satu arah, pemu-
da ini
mengeraskan suaranya. Tidak terlihat bibirnya berkemik. Namun, bunyi yang
terdengar keras bukan main. Hingga sampai ke tempat amat jauh.
"Tua
Bangka Gila! Guru dungu! Saksikanlah sendiri.... Benda-benda yang akan membuat
ilmuku punah, menghancurkan keistimewaan ilmuku, akan ku musnahkan! Dan aku
tidak akan mempunyai lawan lagi di dunia ini. Ha ha ha...!"
Jagalpati
tertawa-tawa gembira. Kedua tangan-nya disangga di pinggang. Wajahnya mendongak
ke langit, terlihat angkuh!
"Kau
saksikanlah ini, Tua bangka bau tanah...! Hih!"
Begitu
selesai kata-katanya, Jagalpati memu-tar-mutarkan kedua tangannya di depan
dada. Tangan kiri di bawah tangan kanan dengan arah putaran dari luar ke dalam.
Tidak
terdengar deru angin sama sekali. Tapi sesaat kemudian, tanaman cabai di kedua
sisi ranting-ranting yang menancap berputaran keras seperti di-hempas angin
badai. Dimulai dari tanaman yang pal-ing dekat. Sesaat kemudian, tanaman itu
tumbang be-rikut akar-akarnya saling susul hingga berserakan.
Jagalpati
tertawa bergelak. Dan masih dengan tawanya yang menggiriskan- tubuhnya melesat
pergi.
Seorang
pemuda berpakaian ungu duduk di se-buah batang pohon sebesar pelukan orang
dewasa yang tengah mengapung di permukaan sungai berarus deras. Namun batang
pohon tempat pemuda itu bera-
da meluncur
berlawanan dengan arus sungai.
Si pemuda
berambut putih keperakan itu menggunakan kedua kakinya untuk mengayuh. Dan
nyatanya, batang pohon itu melaju cepat membelah permukaan air seperti anak
panah lepas dari busur.
Pemuda yang
tak lain dari Arya Buana alis si Dewa Arak ini mengarahkan pandangannya ke
depan. Namun pikirannya menerawang jauh.
Kali ini
Arya agaknya ingin menikmati. Memang melakukan perjalanan melalui sungai yang
penuh ti-upan angin sepoi-sepoi. Mungkin saja, otaknya ingin disegarkan lewat
hawa sungai.
Namun baru saja
Arya melewati sungai yang membelok, alisnya berkerut. Ternyata di permukaan air
sungai tampak mengapung sesuatu. Pandangan matanya yang tajam, segera dapat
mengenali kalau yang tengah mengapung adalah manusia. Arus air yang deras
membuat tubuh yang mengapung itu me-luncur cepat. Maka hanya dalam sekejapan,
tubuh itu mulai mendekati tempat Dewa Arak berada.
Begitu
berpapasan, bagaikan memungut sehelai kain basah, Dewa Arak mengangkat tubuh
yang tera-pung itu. Lalu, cepat diletakkannya secara metintang pada batang
pohon yang diduduki.
Sekali
menyentuh tubuh di depannya, Arya langsung tahu kalau sosok yang malang ini
masih hi-dup. Detak jantungnya memang sudah tidak terdengar lagi, tapi denyut
nadinya masih ada. Meskipun, lemah.
Sambil
tetap mengayuhkan kedua kakinya, Dewa Arak memberi pertolongan. Disadari kalau
sosok yang ternyata seorang kakek kecil kurus ini terluka da-lam amat parah.
Tapi pemuda berambut keperakan ini yakin, nyawa si kakek masih bisa ditolong.
Diam-diam
Arya bersyukur, karena si kakek
sebelum tak
sadarkan diri masih sempat meraih ba-tang pisang yang hanyut di air. Benda
itulah yang membuatnya tidak cepat mati.
Tuk! Tuk!
"Ahhh...!"
Hanya
beberapa kali totokan dan urutan, si ka-kek telah mengeluarkan keluhan. Bulu
matanya berge-rak-gerak, disusul gerakan kelopak mata.
Si kakek
bergerak hendak bangkit, tapi cepat dihentikan. Saat itu dadanya terasa sakit
bukan main. Mulutnya menyeringai.
"Jangan
banyak bergerak dulu, Kek," ujar Arya, lembut "Luka-lukamu amat
parah. Kau pun baru saja sembuh. Banyak-banyaklah istirahat."
Si kakek
menatap wajah Arya. Ada sorot kehe-ranan dan kebingungan pada sinar matanya.
Kemu-dian pandangannya beredar ke sekeliling, menatap permukaan air sekilas.
Dan kini perhatiannya dialih-kan lagi pada Arya.
"Terima
kasih atas pertolonganmu, Pemuda Ga-gah. Aku sekarang telah ingat akan apa yang
telah ter-jadi. Kalau tidak karena pertolonganmu, mungkin saat ini aku telah
menghadap malaikat maut," ucap kakek kecil kurus ini
"Allah-lah
yang membimbing langkahku kemari Kek. Kalau tidak karena kehendak-Nya, mana
mung-kin aku bisa memberikan sedikit pertolongan?" elak Dewa Arak, halus.
Si kakek
tersenyum. Sorot matanya memancar-kan perasaan suka terhadap pemuda ini.
Rupanya, si-kap Arya yang rendah hati dan tidak menonjolkan per-tolongan,
sangat menarik hatinya,
"Apa
yang kau katakan itu benar, Cah Bagus. Sayangnya, jarang orang yang bisa
berkata seperti itu.
Orang-orang
cenderung lebih menonjolkan diri sendiri, setiap kali membuat jasa," urai
si kakek panjang lebar, bernada menggurui.
Dewa Arak
menganggukkan kepala. Dia tahu kalau yang dikatakan kakek ini sebagian besar
benar.
"Namaku
Dipangga. Kalau boleh tahu namamu, Anak Baik?! Aku yakin, kau tidak seperti
muridku yang murtad!"
"Namaku
Arya Buana, Kek," jawab Arya, sopan. "Maaf. Kalau boleh kutahu,
mengapa Kakek menyama-kan aku dengan muridmu?"
Kakek yang
mengaku bernama Dipangga ini ti-dak langsung memberi jawaban. Dia malah
menghela napas berat, seperti membuang ganjalan dalam batin-nya.
"Kau
benar-benar ingin mendengarkan cerita-ku, Cah Bagus? Apakah kau tidak akan
bosan nan-tinya?!" Kakek Dipangga malah balas bertanya. "Mungkin
kuberitahukan padamu kalau cerita ini tidak menarik. Lagi pula cukup panjang.
Tapi kalau kau be-nar-benar ingin mendengarnya, akan kucoba untuk menyingkatnya."
Sebentar
kakek ini tercenung. Agaknya tengah berpikir untuk memulai ceritanya.
"Sejak
puluhan tahun yang lalu, sejak masih remaja aku telah gemar menyepi. Aku memang
me-nyukai keheningan. Kendati demikian, aku juga suka kesaktian. Maka selama puluhan
tahun, hidupku kuisi dengan kesaktian dan bertapa. Entah berapa banyak guru
yang kumiliki. Aku tidak ingat lagi," Kakek Di-pangga mulai dengan
kisahnya.
Arya diam.
Di dalam hati, dia merasa kagum terhadap kakek kecil kurus ini. Bisa
dibayangkan be-tapa tinggi ilmu yang dimilikinya. Dan bukti yang pal-
ing jelas
telah dirasakannya.
Tadi,
sewaktu memberi urutan dan beberapa totokan, Dewa Arak hampir gagal dengan
usahanya. Arya merasakan ada getaran-getaran hawa di balik ku-lit Kakek
Dipangga yang memberi perlawanan. Demi-kian kuatnya, sehingga hanya dengan
memaksakan di-ri Dewa Arak berhasil melakukan tugasnya.
Arya bisa
memperkirakan, betapa kuatnya te-naga dalam kakek ini. Bila dalam keadaan tidak
sadar saja tenaga dalamnya demikian kuat, bagaimana pula jika dalam keadaan
sadar?
"Tapi,
mungkin memang sudah garis nasibku untuk tidak bisa lepas sepenuhnya dari
dunia," lanjut Kakek Dipangga dengan suara mengandung keluhan. "Di
waktu tengah mencari makanan, kutemukan seo-rang pemuda tergolek dalam keadaan luka
parah. Ka-rena kasihan, kubawa dia ke tempatku dan kuobati sampai sembuh."
Arya merasa
kasihan terhadap Kakek Dipangga. Sudah bisa diperkirakan kalau awal malapetaka
yang menimpa kakek itu, bermula dari pemuda yang dito-longnya. Padahal, di usia
yang uzur seperti itu, Kakek Dipangga seharusnya dapat hidup tenang.
"Pemuda
yang kuangkat murid itu mengaku bernama Jagalpati. Menurut ceritanya, dia
terluka ka-rena dikeroyok dua tokoh sesat angkara murka yang hendak dibasminya,
karena telah membantai semua keluarganya," lanjut si kakek dengan
kepahitan yang terasa jelas dalam suaranya. "Tapi ternyata, hanya
ke-licikan yang kudapatkan."
"Apakah
Jagalpati itu jahat, Kek?!" Arya mem-beri tanggapan, merasa tidak enak
karena sejak tadi hanya berdiam diri saja.
"Itu
sudah pasti, Cah Bagus!" sahut Kakek Di-
pangga,
cepat "Aku saja yang bodoh, sehingga dapat ditipu pemuda kemarin sore.
Jagalpati ternyata tak le-bih dari serigala berbulu domba. Di usiaku yang telah
mendekati lubang kubur, terpikir olehku untuk mewa-riskan ilmu-ilmuku pada
seseorang agar tidak ter-buang percuma. Menurut pikiranku, Jagalpati adalah
pemuda baik-baik. Maka kemampuanku kuwariskan padanya."
"Dan
balasannya adalah perlakuannya yang membuatmu hampir menemui malakaikat maut,
Kek?!"
Kakek Dipangga
mengangguk.
"Selama
lima tahun dia menuntut ilmu. Bala-sannya yang diberikan adalah kelicikannya.
Aku dira-cuni dan dianiaya dengan hajaran-hajaran untuk membinasakanku.
Untungnya aku hanya terluka pa-rah, namun masih mampu terjun ke sungai. Dan
keuntungan yang kedua, aku bisa bertemu denganmu, Cah Bagus. Hhh...! Aku
menyesal sekali. Aku tidak akan tenang dl alam kubur, karena yakin kalau
ilmu-ilmu yang kuwariskan dipergunakan murid murtad itu untuk mengacaukan dunia
persilatan...."
"Tenangkanlah
hatimu, Kek," hibur Arya. "Per-cayalah. Aku akan berusaha untuk
mencegah sepak terjang Jagalpati dengan seluruh kemampuanku."
"Aku
percaya akan janjimu, Nak. Bahkan aku yakin, nyawamu akan kau pertaruhkan untuk
meme-nuhi janjimu. Aku bisa merasakan kesungguhan uca-panmu. Tapi, mungkin
perlu kuberitahukan. Kuharap kau tidak salah mengerti dan menganggapku
menga-gungkan kemampuanku."
"Sama
sekali tidak, Kek. Justru aku merasa berterima kasih sekali kalau kau mau
memberi petun-juk untuk mengalahkan Jagalpati," jawab Arya, bijak-
sana.
"Syukurlah
kalau demikian, Nak," desah Kakek Dipangga lega. "Ketahuilah.
Jagalpati telah menerima Ilmu mengerikan yang kuciptakan, namun belum sem-pat
kuberi nama! Ilmu itu membuatnya tidak bisa di-lukai lawan."
"Mungkin
seperti ilmu.'Tameng Waja' Kek?!" duga Arya.
"Mirip
itu, Nak. Tapi, ini lebih mengerikan," sa-hut Kakek Dipangga.
"Kelemahan ilmunya adalah, ra-muan campuran antara tanaman cabai hitam dan
ca-bai putih. Kudengar tanaman aneh ditanam seorang nenek aneh. Entah, untuk
apa aku tidak tahu. Mung-kin, dia mendapat petunjuk Allah, agar murid murtad
itu bisa dibinasakan."
Kening Arya
berkernyit. Telinganya baru men-dengar ada cabai yang memiliki warna seperti
itu. Tapi dia tahu, kakek ini tidak berbohong. Apalagi, Dewa Arak sendiri juga
banyak menyaksikan tanaman dan hewan-hewan aneh di dunia ini.
"Di
mana aku bisa menemukan tanaman itu, Kek?!"
Kakek
Dipangga menggeleng.
"Sayang
sekali, Cah Bagus. Aku tidak mengeta-huinya. Yang kutahu, nenek itu tinggal di
sekitar Gu-nung Karang. Hanya itulah yang bisa kuberitahukan padamu."
"Itupun
sudah cukup, Kek," hibur Arya, untuk menenangkan keresahan hati kakek
kecil kurus ini. "Akan kuusahakan semampuku untuk menemukan-nya."
Kakek
Dipangga tersenyum.
"Mungkin
bisa sedikit kutambahkan, Nak. Ja-galpati juga telah kuwariskan pula ilmu yang
mem-
buatnya
dapat mengetahui apa-apa yang mengancam dirinya. Aku yakin, dia telah
mengetahui akan tana-man-tanaman yang kumaksudkan. Dan lebih cela-kanya lagi
berkat ilmunya itu, dia seperti mempunyai pelacak yang menunjukkan keberadaan
hal-hal yang membahayakan dirinya. Aku khawatir, tanaman-tanaman itu telah
dimusnahkannya."
Kali ini
Arya diam. Dewa Arak tahu tidak ada lagi kata-kata yang bisa diberikannya untuk
mene-nangkan hati Kakek Dipangga.
"Tapi
aku tahu, Anak Baik. Allah itu Maha Adil. Setiap ilmu pasti ada penangkalnya.
Dan bukan tidak mungkin, kalau pada dirinya ada sesuatu yang mem-buat
keistimewaannya pupus. Selamat tinggal, Cah Bagus. Selamat bertugas. Semoga kau
berhasil."
Kakek kecil
kurus itu bangkit dari duduknya lalu melangkah. Arya hampir berseru untuk
mengin-gatkan Kakek Dipangga kalau tempat kakinya berpijak adalah permukaan
air. Tapi seruan itu cepat ditelan lagi ketika melihat kedua kaki kakek ini
tidak tengge-lam.
Sepasang
telapak kaki Kakek Dipangga seperti mendarat di tanah. Dan dengan sikap seperti
berjalan biasa, kakinya terus melangkah meninggalkan Arya.
Dewa Arak
hanya melongo. Kekagumannya ter-hadap kakek itu semakin bertambah. Kakek
Dipangga benar-benar memiliki kepandaian sukar diukur. Arya jadi khawatir bila
mengingat Jagalpati. Pemuda yang telah mewarisi kepandaian kakek itu pun, pasti
memi-liki kepandaian menggiriskan.
Sambil
terus melajukan perahu sederhananya, Arya menatap Kakek Dipangga sampai
tubuhnya le-nyap di kejauhan. Pemuda berambut putih keperakan ini menghela
napas berat. Disadari kalau untuk kese-
kian
kalinya dia akan menghadapi lawan amat berat.
***
"Bagaimana,
Taruna?! Kau sudah siap?!" Se-buah suara bernada pertanyaan keluar dari
mulut seo-rang lelaki berkumis tebal bertubuh pendek kekar. Di pinggangnya
melilit rantai baja yang pada ujungnya terdapat bola berduri sebesar kepalan.
Sementara
itu sosok yang dipanggil Taruna adalah seorang pemuda tampan berpakaian kuning.
Kepalanya mengangguk, tapi sinar kegelisahan tampak di wajah dan sorot matanya.
"Ha ha
ha...!"
Lelaki
pendek kekar berusia sekitar lima puluh tahun itu tertawa bergelak. Dia tahu,
jawaban yang di-berikan tidak sesuai kenyataannya.
"Kau
tahu, ke mana arah pertanyaanku, Taru-na?!"
Taruna
lagi-lagi mengangguk.
"Tentu
saja berkenaan dengan urusan yang akan kita tuju ini, Ayah. Bukankah
demikian?!" tanya Taruna.
"Benar,"
jawab lelaki pendek kekar dengan se-nyum geli menghias bibir. "Bagaimana?
Kau siap? Maksudku, bukan siap untuk berangkat. Tapi, kekua-tan hatimu
menghadapi urusan ini."
"Aku
siap, Ayah," sahut Taruna, cepat.
"Kalau
memberikan jawaban, jawablah seba-gaimana seorang lelaki, Taruna!" ujar
lelaki pendek ke-kar dengan suara keras. "Jawabanmu ini tidak sesuai
dengan kedudukanmu sebagai putra tunggalku, si Rantai Penggulung Jagad yang
disegani kawan dan di-takuti lawan! Jawaban dengan suara seperti itu, ha-
rusnya
keluar dari mulut seorang perawan yang di-tanya pelamar!"
Kali ini,
lelaki kekar berjuluk si Rantai Penggu-lung Jagad bersikap sungguh-sungguh.
Gurauan dan senyuman yang menghias mendadak lenyap.
"Maafkan
aku, Ayah," ucap Taruna. Mukanya memerah karena malu mendapat teguran.
Kemudian dadanya dibusungkan. Rahangnya mengembung. "Aku siap, Ayah!"
Wajah si
Rantai Penggulung Jagad berseri-seri. Senyuman pun timbul lagi.
"Ini
baru jawaban putra si Rantai Penggulung Jagad!" ujar lelaki itu sambil
menepuk-nepuk bahu Ta-runa.
Kelihatan
pelan saja tepukan si Rantai Penggu-lung Jagad, tapi lain lagi yang dirasakan
Taruna. Tu-buhnya seakan-akan dijatuhi seekor gajah besar. Te-naganya cepat
dikerahkan untuk melindungi tubuhnya agar tulang-tulangnya tidak remuk. Dia
berhasil. Tapi, tanah yang dipijak amblas hingga semata kaki!
Si Rantai
Penggulung Jagad tertawa gembira. Dia sengaja menguji putranya, dan hasilnya
cukup menggembirakan dan memuaskan hatinya.
"Yang
perlu kau ingat, Taruna," lagi-lagi si Ran-tai Penggulung Jagad bersikap
sungguh-sungguh. "Jangan sampai kau memalukanku di depan si Ular Angkasa.
Tunjukkan kalau kau lebih dari pantas un-tuk menjadi muridnya!"
"Akan
kuingat nasihatmu ini, Ayah!" sahut Ta-runa mantap.
"Bagus!"
seru si Rantai Penggulung Jagad, gembira, "Aku yakin! Dengan memandang
mukaku, Ular Angkasa pasti akan menerimamu! Mari berang-kat!"
Si Rantai
Penggulung Jagad melompat ke atas, lalu hinggap mantap di punggung kudanya.
Sekali le-laki ini menggeprakkan tali kekang, kuda coklat itu melesat ke depan
laksana anak panah lepas dari bu-sur. Taruna tidak ingin tertinggal. Pemuda ini
pun me-lompat ke atas kuda putihnya. Seketika binatang itu pun berlari cepat
menyusul kuda si Rantai Penggulung Jagad.
Si Rantai
Penggulung Jagad benar-benar tidak khawatir kalau putranya tertinggal jauh.
Binatang tunggangannya terus dipacu. Bahkan ketika ada po-hon besar melintang
di tengah jalan, kecepatan lari kudanya tidak dikurangi. Justru cambuknya terus
me-lecut-lecut, agar kudanya berlari semakin cepat dan melompati rintangan itu.
Seperti
yang diharapkan si Rantai Penggulung Jagad, kuda coklat itu sama sekali tak
mengalami ke-sulitan saat melompati pohon yang melintang. Tapi ke-tika berada
di udara, si Rantai Penggulung Jagad yang kenyang pengalaman, merasakan adanya
kelainan. La-lu....
"Uts...!"
Lelaki
pendek kekar ini melompat dari pung-gung kuda coklatnya. Setelah berputaran
beberapa kali, kakinya menjejak tanah secara mantap. Sedang-kan kudanya kontan
ambruk ke tanah dan bergulin-gan.
Taruna yang
melihat kejadian itu segera meng-hentikan lari tunggangannya. Kuda putih itu
berhenti tepat di depan pohon yang melintang jalan.
"Hati-hati,
Taruna...!"
Si Rantai
Penggulung Jagad berteriak mempe-ringatkan pada putranya sebelum pemuda itu
menga-jukan pertanyaan. Sikap lelaki itu kelihatan hati-hati
sekali.
Pandangannya beredar ke sekeliling tempat itu. "Pengecut Hina...! Keluar
kau...! Jangan hanya
berani
bertindak curang menyerang binatang. Keluar dan hadapi aku! Aku, si Rantai
Penggulung Jagad, ti-dak menerima perlakuan ini! Keluar atau semua se-mak-semak
yang ada di sini kuporak-porandakan,..!" teriak si Rantai Penggulung
Jagad.
Taruna segera
melompat dari punggung kuda lambil mengedarkan pandangan. Sekarang dia tahu,
kuda tunggangan ayahnya diserang orang. Pantas saja kuda itu tidak mampu
mendarat dengan baik. Pemuda ini merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia
tahu, penyerang gelap itu memiliki kepandaian tinggi. Tidak adanya senjata
rahasia pada tubuh kuda coklat ini, menjadi pertanda kalau penyerang gelap itu
menggu-nakan pukulan atau totokan jarak jauh. Padahal, urat-urat kuda berbeda
dengan manusia! Keberhasilannya merobohkan kuda dengan sekali serang, telah
mem-buktikan kelihaiannya.
"Kau
masih saja seperti dulu, Rantai Rapuh! Besar mulut dan sombong! Tapi, semua
lagakmu ini akan berakhir di sini! Niatmu tidak akan pernah ter-sampaikan!
Justru aku yang akan menikmati tubuh Putri Ular Angkasa yang denok itu. Ha ha
ha...!"
Sekarang,
tidak hanya si Rantai Penggulung Jagad yang mengedarkan pandangan ke sana
kemari. Taruna pun demikian. Ayah dan anak itu mencari-cari asal suara yang
tidak ketahuan dari mana.
Jantung
Taruna berdetak lebih cepat. Meski menjadi putra si Rantai Penggulung Jagad,
sifatnya memang tidak menuruti ayahnya. Pemuda ini memiliki hati kecil. Pemalu
dan mudah gentar.
Sementara
si Rantai Penggulung Jagad tidak merasa gentar sama sekali. Meski tahu kalau
penye-
rang gelap itu
memiliki kepandaian tinggi. Yang timbul di hatinya malah perasaan marah, karena
tersinggung telah dipermainkan.
"Pengecut
Hina...! Aku tahu kau seorang lelaki! Tapi aku tidak yakin, apakah kau lelaki
sungguhan! Mungkinkah kau takut menunjukkan diri karena kau banci?!"
tantang lelaki pendek kekar ini
Si Rantai
Penggulung Jagad sengaja memanasi hati pemilik suara tanpa wujud itu, agar mau
keluar dari tempat persembunyiannya. Disadari kalau ma-kiannya yang pertama
tidak membuahkan hasil sama sekali.
"Keparat
kau, Rantai Karatan! Kau akan me-nyesal seumur hidupmu, karena berani
mengucapkan kata-kata demikian terhadapku!" geram pemilik suara tanpa
wujud.
Si Rantai
Penggulung Jagad tahu kalau pemilik suara akan keluar dari persembunyiannya.
Buktinya makiannya mengenai sasaran. Maka, rantai bajanya segera diloloskan.
Lelaki kekar ini sadar kalau lawan yang akan dihadapi tangguh bukan main!
Sementara,
Taruna pun menghunus senjatanya berupa pedang berbentuk indah. Pemuda ini
memang tidak suka bersenjata rantai. Maka, si Rantai Penggu-lung Jagad terpaksa
menurunkan ilmu-ilmu pedang yang digubahnya dari ilmu rantainya.
Waktu
berlalu demikian lambat bagi Taruna dan ayahnya. Mereka, terutama sekali
Taruna, telah berkeringat dingin. Keduanya menunggu ketuarnya pemilik suara
tanpa wujud dengan hati tegang.
Sambil
mengedarkan pandangan ke kanan dan kiri, si Rantai Penggulung Jagad memaki-maki
di da-lam hati. Dia tahu, pemilik suara itu sengaja memper-lambat kemunculannya
untuk menimbulkan ketegan-
gan. Dan
mendadak.... Brolll!
"Heh?"
Si Rantai
Penggulung Jagad terkejut bukan main, hingga sampai terlonjak ke belakang
ketika ta-nah di depannya yang berjarak satu tombak berham-buran ke atas.
Sebuah kejadian yang sama sekali tidak disangka-sangka! Kalau si Rantai
Penggulung Jagad saja terkejut, apalagi Taruna yang memiliki watak pen-gecut.
Wajahnya kontan pucat seperti tidak berdarah. Bahkan pedangnya sampai
diputar-putar kalang kabut di depan dada, seperti layaknya orang yang tengah
menghadapi serangan gencar.
Kini si
Rantai Penggulung Jagad dan Taruna menatap dengan mata terbelalak pada
gumpalan-gumpalan tanah yang berhamburan ke atas. Bukan hamburan tanah itu yang
menjadi perhatian mereka, tapi kemunculan sebuah kepala milik seorang pemuda.
Sebentar kamudian pemuda itu telah mencelat ke permukaan tanah dengan
pakaiannya yang hitam. Ja-galpati.
"Kiranya
kau...!" desis si Rantai Penggulung Ja-gad, kaget tapi tidak kelihatan
gentar.
"Hmh...."
Jagalpati
yang sekarang telah berdiri tegak di tanah mengeluarkan deheman, membuat tanah
dan debu-debu yang menempel terusir dari sekujur tubuh-nya. Sama sekali tidak
dipedulikan ucapan lelaki pen-dek kekar di hadapannya.
Rantai
Penggulung Jagad menggeram keras. Hatinya benar-benar tersinggung melihat sikap
Jagal-pati yang meremehkannya. Dia tahu, Jagalpati adalah lawan tangguh.
Kira-kira lima tahun lalu, dia pernah bertarung melawan Jagalpati. Dan
penyebabnya, pe-
muda itu
dipergoki tengah menculik seorang gadis. Sayang, pemuda itu terlalu lihai
untuknya. Jagalpati berhasil lolos setelah melukainya.
Si Rantai
Penggulung Jagad harus bersyukur bisa selamat, karena Jagalpati tengah tidak
berselera untuk bertarung. Pemuda itu ingin segera bermain-main dengan gadis
yang diculiknya. Sedangkan waktu itu Rantai Penggulung Jagad segera kembali ke
tempat tinggalnya dengan membawa dendam.
Dan
sekarang, si Rantai Penggulung Jagad ber-temu lagi dengan Jagalpati. Dendam
lamanya pun ber-kobar kembali. Dia bertekad untuk mengirim pemuda berpakaian
serba hitam ini ke alam baka.
"Kukira
Kau sudah mampus ditelan setan ne-raka, Pemuda Iblis! Aku mencari-carimu untuk
mene-bus kekalahanku. Tapi, tak kutemukan! Di mana kau bersembunyi setelah gerombolanmu dihancurkan kaum
pendekar di bawah pimpinan Ular Angkasa?"
Jagalpati
tersenyum mengejek.
"Kau
sudah tahu, tapi masih berpura-pura bo-doh, Rantai Karatan! Kalau aku ada di
tempat, mana mungkin Gerombolan Setan Merah dapat dihancur-kan?! Keberhasilan
Ular Angkasa dan para pendekar keparat itu karena aku tidak ada! Aku mempunyai
urusan lebih penting saat itu! Sekarang, urusanku te-lah selesai. Dan
orang-orang yang telah bertindak lan-cang itu akan menerima balasannya.
Beberapa dari mereka telah kukirim ke neraka! Dan sekarang, kau pun akan pergi
ke sana pula!" kilah Jagalpati.
"Jangan
mimpi, Pemuda Sombong!" bentak si
Rantai
Penggulung Jagad, keras. "Kaulah yang akan binasa di tanganku!
Hiyaaat...!"
Begitu
selesai kata-katanya, si Rantai Penggu-lung Jagad memutar-mutar rantai bajanya
di atas ke-pala hingga mengeluarkan bunyi menderu-deru keras.
Wuttt!
Ketika
senjatanya itu terayun, bola berduri se-besar kapalan tangan meluncur ke arah
kepala Jagal-pati!
Namun
Jagalpati tersenyum mengejek tanpa bergerak sama sekali dari tempatnya. Bahkan
keliha-tannya tak ingin mengelak atau menangkis.
Si Rantai
Penggulung Jagad merasakan jan-tungnya berdetak lebih cepat, melihat tindakan
Jagal-pati. Benarkah pemuda itu membiarkan serangannya mengenai sasaran?
Sementara
Taruna merasa gembira melihat Ja-galpati diam saja. Menurut pikirannya, ayahnya
telah bertindak demikian cepat, sehingga Jagalpati tidak memiliki kesempatan
untuk mengelak.
Werrr...!
"Heh?"
Dan Taruna
baru melongo ketika melihat bola berduri milik ayahnya yang jelas sekali
menghantam kepala Jagalpati. Tapi, anehnya bola berduri itu lewat begitu saja
tanpa terdengar adanya benturan, seperti menghantam asap!
Si Rantai
Penggulung Jagad yang sempat terpe-rangah menarik kembali senjatanya, tanpa
melancar-kan serangan susulan. Dia memang masih terperanjat melihat kenyataan
ini.
Perasaan
yang mencekam itu baru menguap, ketika Jagalpati mengeluarkan tawa mengejek
"Kaget,
Rantai Karatan? Kalau kurang puas, si-
lakan pilih
bagian yang kau sukai! Agar kau tidak mati penasaran, kini kuberi kau
kesempatan menyerang se-puas hati!"
Geraham si
Rantai Penggulung Jagad berkerut-kerut geram, mendengar ejekan dan sikap jumawa
Ja-galpati.
Lelaki
kekar ini kembali memutar-mutar senja-ta andalannya, kemudian melontarkannya ke
arah Ja-galpati.
Wuttt!
Kali ini
benturan bandul berduri itu lebih dah-syat. Seperti juga serangan pertama,
serangan-serangan si Rantai Penggulung Jagad kali ini pun tidak berarti sama
sekali! Lelaki pendek kekar ini seperti menyerang bayangan.
"Ha ha
ha...!" Di lain pihak Jagalpati terus mengumandangkan tawa mengejek.
Setelah
sepuluh jurus menyerang tanpa hasil sama sekali, si Rantai Penggulung Jagad pun
tahu ka-lau Jagalpati tak akan bisa dirobohkan. Kemungkinan besar malah dirinya
yang akan tewas.
Bagi orang
persilatan macam si Rantai Penggu-lung Jagad, mati dalam pertarungan adalah
suatu ke-banggaan. Tapi, ada sesuatu yang memberatkan ha-tinya. Taruna! Dia
tidak ingin, putranya yang masih muda itu mati, sebelum cita-citanya tercapai.
"Taruna...!
Cepat pergi dari sini...! Cepat, sebe-lum terlambat..!" ujar Rantai
Penggulung Jagad, penuh tekanan melalui ilmu pengirim suara dari jauh.
Lelaki
kekar ini sebenarnya lebih suka berteriak blasa. Tapi menyadari watak tokoh
seperti Jagalpati yang telengas dan suka kesengsaraan orang lain, ter-paksa dia
menggunakan ilmu itu.
Sayangnya
maksud si Rantai Penggulung Jagad
ini tidak berjalan
mulus. Taruna yang memang men-dengar pemberitahuan tadi, bukannya melarikan
diri tapi malah ikut terjun bertarung membantu ayahnya. Taruna memang pengecut.
Tapi, hatinya tidak tega membiarkan ayahnya menentang maut sendirian. Tampak
jelas, ayahnya tidak berdaya dalam menekan Jagalpati!
Si Rantai
Penggulung Jagad hanya bisa mengu-rut dada dalam hati melihat akibat
nasihatnya. Kenda-ti demikian, di lubuk hatinya timbul perasaan bangga.
Putranya yang memiliki sifat agak bodoh ini ternyata berani ikut bertarung
membelanya.
"Aku
tidak mau pergi, Ayah. Biarlah kita mati atau hidup bersama!" kata Taruna
gagah, sambil me-nusukkan pedangnya ke ulu hati Jagalpati.
Seperti
juga ayahnya, hasil yang didapat Taru-na hanya seperti menusuk asap!
***
Jagalpati
tersenyum keji. Sekarang pemuda ini tahu kalau tadi secara diam-diam, si Rantai
Penggu-lung Jagad telah memerintahkan Taruna pergi. Berarti lelaki kekar ini
mengkhawatirkan keselamatan pu-tranya.
Jagalpati
memaki dalam hati. Mengapa begitu pelupa? Mengapa repot-repot membunuh si
Rantai Penggulung Jagad, meski dengan menyiksanya habis-habisan? Ada hal yang
lebih menarik! Menyiksa pera-saan lelaki kekar itu dengan mempermainkan Taruna
habis-habisan.
Kalau saja
Jagalpati tidak terlalu memusatkan perhatian pada si Rantai Penggulung Jagad,
pasti Ta-runa juga akan terpikirkan. Dan akan ditemukannya
cara nikmat
dengan membuat permainan menarik. Hanya sekali pikir, Jagalpati telah menemukan
permainan
menarik. Tappp!
Si Rantai
Penggulung Jagad telah lebih dulu menangkap pergelangan tangan kiri Taruna.
Sekali disentakkan, tubuh pemuda itu terjengkang ke bela-kang.
"Cepat
pergi, Taruna! Jangan bertindak bodoh! Penjahat keji ini tak akan bisa kita
kalahkan!" ujar si Rantai Penggulung Jagad tanpa menoleh di depan
pu-tranya.
Lelaki
kekar ini berdiri berhadapan dengan Ja-galpati yang sejak tadi berdiam diri.
Pemuda ini me-mang belum memberi serangan balasan!
"Tapi,
Ayah...."
"Tidak
ada bantahan!" potong si Rantai Penggu-lung Jagad tanpa menoleh.
"Kalau kau masih ingin kuanggap anak, cepat tinggalkan tempat ini!"
Taruna jadi
melongo. Sungguh tak terduga ucapan ayahnya. Otaknya yang kurang, tidak bisa
me-nangkap maksud yang terkandung dalam ancaman itu. Pemuda ini merasa terpukul
bukan main! Dan, pe-rasaan ini yang membuat tubuhnya berbalik dan mele-sat
meninggalkan tempat itu.
Si Rantai
Penggulung Jagad bukannya tidak tahu, tapi mencoba untuk tidak peduli! Dia
lebih suka dibenci putranya daripada membiarkannya mati ko-nyol di tangan
Jagalpati yang menggiriskan!
Sementara
kening Jagalpati mengernyit, meli-hat kepergian Taruna. Dan dia mengambil
keputusan untuk membuat hati si Rantai Penggulung Jagad ter-siksa melalui
Taruna. Seketika itu juga pemuda berpa-kaian hitam ini melesat mengejar.
Si Rantai
Penggulung Jagad tidak tinggal diam. Dengan berani, dihadangnya lesatan
Jagalpati Rantai bajanya diayunkan laksana baling-baling di sekitar tu-buhnya.
Jagalpati
murka bukan kepalang karena tinda-kannya dihalangi. Dengan berani, disampoknya
bola berduri yang berputaran itu dengan tangannya.
"Hih!"
Prak!
Si Rantai
Penggulung Jagad kontan melotot ke-tika bola berduri yang tersampok, balik
berputaran ke arahnya. Dicobanya untuk mempertahankan, tapi te-tap tidak mampu!
Sampokan itu kuat bukan main Tanpa ampun lagi, tubuh si Rantai Penggulung Jaga
terlilit rantai bajanya sendiri, mulai dari betis sampai ke dada. Bahkan kedua
tangannya pun ikut terlilit.
"Aaah...!"
Seringai
kesakitan muncul di bibir si Rantai Penggulung jagad ketika rantai berhenti
melilit, begitu bola berdurinya menghantam punggung.
Belum juga
si Rantai Penggulung. Jagad ber-buat sesuatu, Jagalpati terus melesat ke depan.
Arah-nya lurus! Padahal, si Rantai Penggulung Jagad berada tepat di depannya,
sehingga besar kemungkinan akan tertabrak!
Tapi
sebelum terjadi benturan, tubuh si Rantai Penggulung Jagad terjengkang ke
belakang.
Buk!
Kecuali
melesat, Jagalpati tidak bertindak apa-apa! Seakan-akan dari tubuhnya keluar
kekuatan dahsyat yang melontarkan si Rantai Penggulung Ja-gad!
Jagalpati
tidak mempedulikan keadaan lelaki kekar itu sama sekali. Tubuhnya terus
melesat, men-
gejar
Taruna yang terus berlari meneruskan perjala-nannya. Kuda putihnya tidak
teringat lagi!
"Taruna...!
Awas di belakangmu...!" Si Rantai Penggulung Jagad yang masih terperangkap
senja-tanya sendiri masih sempat memberi peringatan den-gan suara keras.
Sehingga Taruna mendengarnya.
Taruna
menoleh. Wajahnya langsung pias, ke-tika melihat Jagalpati mengejarnya.
Perasaan takut membuat kecepatan larinya bertambah.
Jagalpati
jengkel bukan main melihat jarak yang semula sudah semakin dekat tidak berubah
sama sekali. Padahal menurut perkiraannya Taruna akan bi-sa disusulnya. Rasa
takut rupanya, membuat kecepa-tan lari Taruna bertambah!
Kejengkelan
membuat Jagalpati tidak sabar la-gi. Cepat sabuk yang melilit pinggang
diloloskan dan dilemparkannya. Sabuk itu bagaikan hidup, melayang-layang
mengejar Taruna dan berusaha membelit!
Jagalpati mengembangkan senyum ketika
ujung sabuknya telah hampir melilit pinggang Taruna. Dia yakin akan berhasil
menangkap putra si Rantai Penggulung Jagad.
"Heh?"
Namun
senyum Jagalpati lenyap dan berubah keterkejutan ketika dari arah samping kanan
depan melesat cepat sebuah benda berwarna hijau yang lang-sung membentur ujung
sabuknya.
Splash!
Bunyi
benturan sabuk dengan benda hijau ke-ras. Dan sabuk itu pun gagal melilit
sasaran, karena ujungnya terpental balik akibat benturan barusan.
"Keparat...!"
Jagalpati
menggeram, seperti binatang buas kehilangan buruan. Pemuda ini marah bukan main
melihat
usahanya yang telah hampir berhasil digagal-kan.
Jagalpati
tidak perlu menunggu lama untuk mengetahui orang yang berani bertindak usil.
Dari tempat sinar hijau berasal kini melesat sesosok bayan-gan ungu, yang
kemudian menjejak tanah tempat Ta-runa tadi hampir terbelit sabuk.
Taruna
sendiri sudah jauh meninggalkan tem-pat itu. Sedangkan Jagalpati tidak
mengejarnya, kare-na telah memutuskan untuk memberi hajaran terha-dap sosok
yang usilan di depannya. Sebentar matanya melirik ke arah benda hijau yang
telah membuat ujung sabuknya terpental.
Hati Jagalpati
agak bergetar ketika melihat benda hijau itu ternyata adalah sehelai daun. Luar
bi-asa! Lontaran sehelai daun telah membuat ujung sa-buknya terpental. Dan
bahkan tangannya bergetar he-bat! Jagalpati tahu kalau sosok yang usilan itu
memi-liki tenaga dalam amat kuat.
***
Sosok
berpakaian ungu yang telah menyela-matkan Taruna tak lain dari Arya Buana alias
Dewa Arak
Dan agaknya
dia tidak mau kalah gertak. Lang-sung dibalasnya pandangan penuh selidik dari
Jagal-pati. Dua tokoh muda yang sama-sama memiliki ke-pandaian tinggi ini
saling pandang, seperti dua ekor ayam jago hendak bertarung.
"Sungguh
berani kau mencampuri urusanku, Anjing Kecil?! Akan kau rasakan akibat
perbuaranmu itu!" desis Jagalpati penuh hawa amarah.
"Kau
Jagalpati, bukan?!"
Arya mengajukan
pertanyaan setengah mene-bak, setelah memperhatikan sekujur tubuh Jagalpati.
Kakek Dipangga yang ditemukannya dalam keadaan terluka dl sungai, telah
memberikan ciri-ciri jelas men-genai pemuda berpakaian serba hitam ini.
"Kau
telah mengenalku. Tapi, masih berani mencampuri urusanku?! Sungguh berani kau,
Anjing! Sedikit perlu kutambahkan, aku dulu bekas pimpinan Gerombolan Setan
Merah. Mungkin kau pernah men-dengarnya."
"Sedikit,"
jawab Arya, kalem. Tapi, dalam ha-tinya kaget. "Jadi kau pemimpin gerombolan
sesat yang telah dihancurkan kaum pendekar lima tahun yang lalu?!"
Sekarang
Arya telah jelas dengan masalah yang melibat Kakek Dipangga. Benar. Ternyata
kakek itu te-lah salah mengambil murid. Pemuda yang dididiknya mati-matian,
ternyata memang bejat! Bukan lagi seri-gala berbulu domba, tapi iblis!
Dewa Arak
bisa menduga kalau terlukanya Ja-galpati bukan karena dikeroyok orang jahat
seperti ce-ritanya, tapi pasti sebaliknya. Jagalpatilah yang jahat!
"Benar.
Tapi perlu kau tahu, Anjing! Jika saat penyerbuan itu aku ada di tempat, jangan
harap anak buahku dapat dihancurkan! Mereka licik! Saat aku ti-dak ada, baru
melakukan penyerbuan!" kutuk Jagal-pati, berapi-api.
"Tidak
usah menyembunyikan kejadian sebe-narnya, Jagalpati. Aku tahu, kaulah yang
pengecut! Kau justru melarikan diri, saat gerombolanmu mende-kati kehancuran.
Kuakui, kau hebat. Meski terluka pa-rah tapi masih sanggup melarikan
diri!"
"Dari
mana kau mendapatkan cerita keliru itu, Anjing Goblok?!" bentak Jagalpati,
geram.
"Tidak
dari siapa-siapa. Hanya perkiraanku sa-ja! Bukankah kau mengaku, kalau
luka-luka yang kau derita karena keroyokan dua tokoh sesat?! Karena kau sendiri
sesat, aku yakin tokoh yang kau anggap sesat adalah para pendekar! Kapan lagi
kau dikeroyok dua pendekar kalau tidak saat terjadi penyerbuan terhadap
kelompokmu?! Sederhana bukan?! Mudah sajakan un-tuk menerkanya?" urai Arya
panjang lebar.
Wajah
Jagalpati menegang. Jelas, uraian Arya mengena tepat di hatinya. Suaranya
terdengar penuh ancaman ketika dikeluarkan.
"Dari
mana kau tahu aku pernah terluka?!" "Dari seorang kakek yang telah
kau perlakukan
secara
keji. Padahal, beliau telah mewariskan seluruh ilmunya padamu, Babi
Buduk!" tandas Arya, mantap.
"Kiranya
tua bangka bau tanah itu belum ma-ti?!" gumam Jagalpati, pelan. Seperti
bicara pada diri sendiri. Kepalanya mengangguk-angguk.
"Benar,
Babi Busuk! Bahkan seekor babi masih bisa membalas budi! Tapi kau lebih busuk
daripada seekor babi yang paling busuk dan kotor!" maki Arya, tak sanggup
menekan kemarahan yang sejak tadi dita-han-tahan. "Allah belum mengizinkan
beliau mati! Aku menemukan dan menolongnya. Dari beliaulah aku ta-hu tentang
kau, Jagalpati. Dan, beliau telah memberi amanat padaku untuk membunuhmu!"
jelas Dewa Arak.
"Ha ha
ha...!"
Jagalpati
tertawa bergelak. Kelihatan geli sekali. "Membunuhku? Jangan mimpi kau,
Anjing Ku-
rap! Tidak
ada satu orang pun yang akan mampu membunuhku! Apalagi orang sepertimu. Tua
bangka bau tanah itu sendiri, tidak mampu membunuhku! Aku tidak akan bisa
dibunuh! Kau hanya akan men-
gantarkan
nyawa percuma, Anjing! Ha ha ha...!" "Mungkin kau benar, Babi
Sombong!" sahut
Arya kalem.
"Tapi, aku tetap tidak akan mundur! Aku tidak takut mati, apalagi untuk
menentang angkara murka!" balas Arya mantap.
Tawa
Jagalpati semakin keras. Ucapan-ucapan Arya yang dikeluarkan secara mantap dan
penuh ke-gagahan sepertinya dianggap sesuatu yang menggeli-kan!
"Apakah
tua bangka itu tidak memberitahukan padamu mengenai ilmu-ilmu yang kumiliki?
Ilmu-ilmu dahsyat yang membuatku tidak bisa dilukai atau di-bunuh?!" kilah
Jagalpati, setelah menutup tawanya se-cara mendadak. Dan kini berganti dengan
dengus pe-nuh ejekan. "Aku yakin sudah!"
Arya diam,
tidak memberikan tanggapan sama sekali. Jagalpati sedikit kecewa melihatnya.
Tapi, dia memiliki kartu mati untuk Arya.
"Kau
masih mencoba menyimpan rahasia ter-hadapku, Anjing?! Sayang sekali! Mungkin,
kau kira aku akan mengorek rahasia dirimu? Tidak! Tldakkah tua bangka itu
bercerita, kalau aku memiliki kemam-puan untuk mengetahui adanya bahaya yang
mengan-cam keselamatanku?! Apakah kau tidak diberitahu, kalau aku memiliki
pelacak untuk mengetahui di mana adanya bahaya itu, kemudian menangkalnya?! Kau
ti-dak diberitahu?!"
Arya tetap
diam. Dia tidak mau terpancing un-tuk membuka rahasia. Kendati menilik
sikapnya, keli-hatannya Jagalpati tidak tengah mengorek rahasia. Tapi, Arya
tetap tidak berani gegabah!
"Baiklah,
Anjing!"
Jagalpati
yang terpaksa mengalah. Dia tidak marah melihat sikap diam Arya, karena memang
tidak
membutuhkan
jawaban dari pemuda berambut putih keperakan ini.
"Karena
kau tidak mau bicara, biar aku yang bicara! Tua bangka itu pasti menyuruhmu
untuk men-cari tanaman cabai hitam dan putih, bukan?! Aku ta-hu! Karena,
naluriku membisikkan adanya ancaman dari tanaman itu. Ayo kalau kau bukan
pengecut, ka-takan benar tidak jawabanku?!"
Arya tetap
berdiam diri sambil berpikir. Ternya-ta kekhawatiran Kakek Dipangga benar!
Jagalpati tahu tentang ancaman terhadap dirinya.
Jagalpati
tertawa bergelak
"Kau
boleh cari sampai ke ujung dunia, Anjing. Pphon-pohon terkutuk itu sudah
kumusnahkan sebe-lum sempat menjadi cabai beberapa hari lagi. Kalau ti-dak
percaya, silakan kau cari sebuah dataran yang bernama Lembah Api Abadi! Di
sana, kau akan jumpai kebenaran ucapanku! Tapi, dengan syarat. Beritahu-kan
dulu arah yang dituju tua bangka itu, ketika pergi. Dan, di mana kau
menemukannya. Kalau tidak, jan-gan harap kau bisa menuju tempat yang kumaksud!
Bagaimana, Anjing?!"
"Aku
tidak sudi membuat perjanjian dengan ib-lis macam kau, Jagalpati!" tandas
Arya. "Bersiaplah! Aku akan berusaha mengirim nyawamu ke akhirat!"
"Dasar,
Anjing Buduk! Dikasih tulang, malah minta tai! Kupenuhi permintaanmu! Ayo,
tunggu apa lagi?! Serang aku! Ingin kulihat, apakah kau pantas mendapatkan
perlawanan dariku," balas Jagalpati dengan sikap memandang rendah.
Sementara,
Arya tidak berani memandang re-meh. Tantangan Jagalpati yang bernada
meremehkan, pembuatnya mengambil keputusan untuk sekali me-nyerang dengan
mempergunakan seluruh kemam-
puannya.
Dep!
Arya
menghentakkan kedua tangannya ke de-pan. Seluruh tenaganya, 'Tenaga Dalam Inti
Matahari' dikerahkan untuk melancarkan pukulan jarak jauh mempergunakan jurus
'Pukulan Belalang'!
Wusss!
Saat itu
juga angin keras berhawa panas me-nyengat, meluruk ke arah Jagalpati. Tapi,
pemuda be-rilmu menggiriskan ini tidak bergeming dari tempat-nya. Bahkan
kelihatan mudah saja menerima serangan yang dilancarkan Dewa Arak. Meski
demikian, mulut-nya berkeming mengeluarkan pujian.
"Sebuah
serangan hebat! Rupanya kau memiliki kepandaian boleh juga, Anjing! Pantas, tua
bangka itu mempercayakan padamu untuk menumpasku!"
Hampir
berbareng dengan selesainya ucapan Jagalpati, pukulan jarak jauh Arya
menghantam tu-buhnya. Namun, ternyata hasilnya membuat Dewa Arak tercengang.
Brakk!
Justru,
pohon besar di belakang Jagalpati yang berjarak sekitar dua tombak yang hancur
berantakan, tumbang mengeluarkan bunyi hiruk-pikuk! Daun-daunnya kering, hangus
bagai tersambar petir!
Dewa Arak
hampir tidak percaya. Mengapa pu-kulan jarak jauhnya seperti menembus asap?
Apakah yang diserangnya hanya berupa hasil sihir Jagalpati?
Arya
mengerahkan kekuatan batinnya untuk memunahkan pengaruh sihir, jika Jagalpati
benar mempergunakan sihir. Tapi, tetap saja Jagalpati masih ada. Kini Dewa Arak
baru yakin, Jagalpati tidak mem-pergunakan sihir.
Dugaan kedua
muncul di benak Dewa Arak.
Mungkinkah
Jagalpati menggunakan sejenis ilmu se-perti 'Pecah Raga' yang dimiliki
Kuntilanak Alam Ku-bur? (Untuk jelasnya silakan baca episode: "Prahara
Hutan Bandan".)
Tapi,
dugaan itu pun pupus. Karena di samping Jagalpati yang ada hanya seorang,
Jagalpati yang dis-erang pun bukan bayangan belaka. Terlihat jelas, so-sok
Jagalpati mempunyai bayangan di tanah. Saat ini, hari sudah agak siang.
Matahari telah naik cukup tinggi, memancarkan sinarnya yang terik ke bumi.
Arya menjadi
bingung mendapati kenyataan ini. Ilmu apakah yang dipergunakan Jagalpati?!
Pantas sa-ja Kakek Dipangga demikian khawatir!
"Bingung,
Anjing?!" ejek Jagalpati yang menge-tahui perasaan yang berkecamuk di hati
Dewa Arak. "Kalau mau, dengan cara ini aku bisa mengalahkanmu tanpa
membuang tenaga sama sekali. Kubiarkan saja kau menghabiskan tenagamu
melancarkan serangan-serangan terhadapku! Setelah kau kehabisan tenaga aku yang
ganti menyerang. Mudah saja bagiku untuk membunuhmu, bukan?"
Arya diam
saja, tanpa memberi tanggapan. Di-akui ada benarnya ucapan Jagalpati. Tapi dia
yakin, tak akan mudah bagi Jagalpati untuk membunuhnya. Dengan ilmu 'Belalang
Sakti'nya, Dewa Arak masih mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan nya-wanya.
"Tapi
seperti yang telah kukatakan tadi," lanjut Jagalpati. "Aku tidak mau
menjilat ludahku sendiri. Karena kau memiliki kepandaian, aku akan memberi
perlawanan
agar pertarungan berlangsung adil!" Sementara itu angin dingin berhembus
ketika
Jagalpati
baru saja menyelesaikan ucapannya. Di lan-git awan hitam dan tebal tampak
bergumpal-gumpal menutupi sang surya. Agaknya hujan tak akan lama lagi segera
turun.
Tapi,
keadaan alam seperti itu tidak membuat Jagalpati dan Dewa Arak urung untuk
meneruskan maksud! Kedua tokoh sakti berusia muda ini saling melangkah
mendekati. Sikap masing-masing penuh kewaspadaan.
"Heaaat...!"
Dewa Arak
memulai serangan disertai bentakan keras. Guci arak di tangannya, diayunkan ke
arah ke-pala Jagalpati.
Namun
pemuda berwatak cabul ini dengan be-rani memapak!
Prattt!
Guci arak
milik Dewa Arak kontan terpental ba-lik ke arah semula. Tubuh pemuda berambut
putih keperakan itu pun terhuyung-huyung agak terputar, terbawa kekuatan
sampokan tangan Jagalpati.
"Chia...!"
Namun
Jagalpati tidak memberikan kesempa-tan lama sekali. Pemuda ini segera lompat
menyerang dengan dahsyat!
Dewa Arak
meski dalam keadaan kurang men-guntungkan, masih mampu membuktikan kalau
di-rinya bukan tokoh yang mudah dipecundangi. Dengan jurus 'Delapan Langkah
Belalang' serangan Jagalpati dielakkan.
Pertarungan
sengit antara kedua tokoh muda ini pun berlangsung. Dewa Arak harus mengakui,
ka-lau tenaga dalam pemuda berbaju serba hitam itu be-
rada di
atasnya. Namun berkat keajaiban ilmu 'Belalang Sakti'nya, keunggulan Jagalpati
dalam ilmu meringankan tubuh pun dapat ditanggulanginya.
Jagalpati
yang semula sudah merasa gembira dengan beberapa keunggulannya mulai kehilangan
ra-sa sabar ketika Dewa Arak tetap mampu menangkal-nya.
Sampai dua
puluh jurus bertarung, dia belum mampu mendesak. Apalagi merobohkan pemuda
be-rambut putih keperakan ini.
Jagalpati
mulai naik darah ketika menginjak jurus kedua puluh lima, pertarungan belum
mengala-mi perubahan. Dia dan Dewa Arak masih saling ber-gantian melancarkan
serangan. Kemarahan yang men-guasai hati, membuatnya memutuskan untuk
meng-gunakan ilmu-ilmu yang menggiriskan!
"Uh...!"
Sebuah
keluhan keluar dari mulut Dewa Arak, ketika Jagalpati tidak berusaha mengelak
dari seran-gan yang dilancarkannya. Pemuda berpakaian hitam itu malah balas
melancarkan serangan.
Sikap
waspada membuat Dewa Arak memu-tuskan untuk membatalkan serangan. Sebelumnya
te-lah disaksikan kalau Jagalpati memiliki ilmu-ilmu aneh. Siapa tahu, kali ini
pemuda itu menggunakan ilmunya, yang menggiriskan.
Jagalpati
memaki dengan kata-kata kotor meli-hat Dewa Arak menarik kembali serangannya.
Tinda-kan pemuda berambut putih keperakan itu membuat serangan yang
dilancarkannya hanya menyambar tempat kosong! Kemarahan yang melanda Jagalpati
pun bergolak semakin hebat!
"Hiaaa...!"
Jagalpati
semakin memperhebat serangannya.
Bahkan
pertahanannya tidak dipedulikan sama sekali. Yang ada dalam pikirannya adalah
menyerang terus!
Arya dibuat
kelabakan. Serangan Jagalpati yang bertubi-tubi, membuatnya tidak mempunyai
ke-sempatan balas menyerang. Beberapa belas jurus, De-wa Arak hanya mengelak.
Terlihat olehnya banyak ce-lah pada pertahanan Jagalpati yang rapuh. Tapi
gen-carnya serangan, membuat Arya tidak mempunyai ke-sempatan untuk memasukkan
serangan.
Namun Dewa
Arak tidak hilang kesabarannya. Ditunggunya hingga keadaan menguntungkan. Dan
ketika Arya melihat celah kosong saat Jagalpati me-nyerang, tubuhnya cepat
bergeser ke kanan. Kemudian dengan kecepatan dahsyat, guci araknya dikibaskan.
Dan...
Desss!
Hantaman
guci arak yang sebenarnya mampu menghancurkan batu karang yang paling keras,
den-gan telak menghantam dada Jagalpati. Tubuh pemuda ini terjengkang ke
belakang dan terguling-guling, hing-ga beberapa tombak.
Dewa Arak
telah menghembuskan napas lega. Bisa diperkirakan kalau hantaman serangannya
paling tidak akan membuat Jagalpati tidak berdaya. Jika ti-dak tewas, dia akan
tergeletak dengan luka parah!
Namun Arya
jadi melongo, kaget dan heran. Ternyata tubuh Jagalpati mampu melenting,
sebelum gulingannya berakhir. Lalu mantap sekali kedua ka-kinya menjejak tanah.
Tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau serangan Dewa Arak berpengaruh
terha-dap dirinya!
"Jangan
harap akan mampu membunuhku, Anjing kecil! Kaulah yang akan mati di tanganku
seca-ra mengerikan! Seluruh anggota tubuhmu kuceraibe-
raikan dan
kuberikan pada anjing kurap!" desis Jagal-pati, penuh geram.
"Heaaat...!"
***
Dan seperti
hendak membuktikan ancaman-nya, disertai teriakan keras Jagalpati melompat
mener-jang Dewa Arak. Serangannya dahsyat dan menggi-riskan. Dewa Arak tidak
mempunyai pilihan lain, ke-cuali meladeninya. Kini pertarungan sengit pun
ber-langsung kembali,
Dewa Arak
benar-benar dipaksa untuk menge-rahkan seluruh cara, guna mengalahkan Jagalpati
yang berkepandaian luar biasa. Sampai saat ini semua cara yang dipakai Dewa
Arak selalu gagal.
Begitu tahu
kalau gucinya tidak berguna menghantam dada, Dewa Arak menyarangkannya ke arah
kepala. Tapi tetap saja kepala Jagalpati tetap utuh. Perasaan penasaran membuat
Arya mencoba menghantam bagian tubuh Jagalpati dengan bacokan sisi tangannya.
Dalam
pengerahan tenaga dalam tinggi Dewa Arak mampu membuat sisi tangannya tak kalah
tajam bagai pedang. Memang bacokan sisi tangannya mampu mendarat di bagian yang
dipapas. Tapi bagian tubuh itu tidak terpisah! Padahal, Dewa Arak merasa yakin
kalau sisi tangannya berhasil menebas, tapi rasanya hanya seperti menebas asap
saja. Tidak ada anggota tubuh Jagalpati yang terpisah!
Dewa Arak
terkejut bukan main melihatnya. Il-mu apakah yang dimiliki Jagalpati, sehingga
tidak ter-pengaruh sama sekali oleh serangan-serangannya.
Tak sampai
dua puluh lima jurus pertarungan berlangsung, Dewa Arak telah dibuat kelabakan
dan terdesak hebat! Serangan-serangan Jagalpati mem-buatnya terpontang-panting.
Kini pemuda berambut putih keperakan ini seperti terjepit dan terhimpit!
Tap!
Sukma Dewa
Arak bagaikan melayang ke alam baka, ketika tangan jagalpati berhasil menangkap
per-gelangan tangannya. Dalam waktu yang demikian singkat, benaknya segera
berputar mencari jalan un-tuk meloloskan diri. Disadari betul kalau keadaannya
amat berbahaya!
"Hiahhh...!"
Klak!
Tiba-tiba
Dewa Arak menarik sambil memutar tangannya dengan pergelangan sebagai porosnya.
Ja-galpati sendiri sebenarnya kuat mencekal dengan jari-jari tangannya. Tapi
cara yang dilakukan Arya benar-benar mengagumkan. Pemuda berambut putih
kepera-kan itu berhasil menarik tangannya lepas dari cekalan. Sungguh pun
demikian usahanya tidak terlalu mulus, karena disadari kalau sambungan
tulangnya lepas!
Bibir Arya
menyeringai menahan rasa nyeri yang mendera tangannya. Tindakan itu bahkan
mem-buat tubuhnya terhuyung-huyung. Di lain pihak, Ja-galpati menggeram. Dia
bukan tidak tahu kalau Dewa Arak telah cedera. Tapi hatinya tidak puas.
"Sekarang,
terimalah akibat kelancanganmu, Anjing Dungu!" Begitu selesai
kata-katanya, Jagalpati bergerak menerjang.
Dewa Arak
terkesiap. Kedudukannya saat ini memang tidak menguntungkan. Dan dia telah
bersiap untuk mengadu nyawa kalau saat itu memang harus terjadi. Seluruh
kekuatannya dikumpulkan pada ke-
dua tangan
Tapi,
ternyata serangan Jagalpati tidak kunjung datang. Pemuda yang memiliki ilmu
menggiriskan hati ini malah menghentikan serangan secara tiba-tiba.
Arya jadi
heran. Dan keheranannya kian ber-tambah ketika melihat sikap Jagalpati yang
tampak ge-lisah! Seakan-akan ada sesuatu yang ditakutinya!
Dewa Arak
sekilas merayapi keadaan sekeli-lingnya, mencoba mencari sesuatu yang ditakuti
Ja-galpati. Tapi sekitar tempat itu kelihatannya sepi saja. Hujan memang telah
turun dengan deras, tepat ketika Jagalpati bersiap mengirimkan serangan
susulan.
Hujan lebat
yang diikuti deru angin kencang turun mengguyur bumi. Halilintar pun tak
ketingga-tan, beberapa kali menyalak ke bumi!
Persada
kembali bergetar ketika halilintar kem-bali menyalak, setelah terlebih dulu
diawali sinar te-rang dari langit. Arya melihat jelas tubuh Jagalpati menggigil
keras. Dan dia yakin, bukan air hujan yang dingin, atau hembusan angin yang
membuat Jagalpati bersikap seperti dilanda takut yang hebat!
Sebuah
dugaan langsung berkelebat di benak Arya. Jagalpati yang seperti terkesima
membuat Dewa Arak mempunyai kesempatan berpikir.
Halilintarkah
yang membuat Jagalpati ketaku-tan? Tapi, rasanya tidak mungkin juga! Bukankah
se-jak sebelum hujan turun, halilintar telah menyalak be-berapa kali. Buktinya
pemuda itu tidak terlihat terpen-garuh sama sekali! Apalagi ketakutan! Jadi,
rasanya tidak mungkin halilintar! Lalu, apa?
Di saat
pertanyaan yang belum terjawab itu bergayut di benak, Jagalpati terlihat sadar
dari terke-sima dan perasaan gelisahnya. Sedangkan Arya bersi-kap waspada.
Bukan tidak mungkin kalau Jagalpati
sekarang,
akan melanjutkan serangan.
Tapi
kekhawatiran Dewa Arak ternyata keliru, Jagalpati tidak melanjutkan serangan.
Pemuda ini ma-lah berbalik dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Melihat hal
ini, Dewa Arak heran bukan main! Jagalpati kelihatan ketakutan sekali! Apa yang
ditaku-tinya?
Menyadari
tidak ada gunanya memikirkan ja-waban itu, Dewa Arak cepat menepisnya.
Ditatapnya tubuh Jagalpati hingga lenyap di kejauhan. Arya tahu, tak ada
gunanya mengejar. Apalagi dia tak akan mam-pu berbuat banyak untuk menangkal
serangan Jagal-pati! Dalam keadaan biasa saja, pemuda berpakaian serba hitam
itu tidak mampu ditandingi. Apalagi, tan-gannya yang sebelah tidak berguna!
"Ehemm...!"
Bunyi
deheman membuat Arya sadar dari ter-kesimanya. Begitu perhatiannya beralih,
tampak seo-rang lelaki pendek kekar berdiri bersandar pada seba-tang pohon.
***
"Kau
hebat, Anak Muda."
Lelaki
pendek kekar yang tak lain si Rantai Penggulung Jagad memuji penuh kagum sambil
men-gayunkan kaki menghampiri Dewa Arak. "Kau mampu menanggulangi iblis
keji itu!"
"Apanya
yang hebat, Paman?" sahut Arya ber-nada tidak setuju. "Nyawaku hampir
saja melayang di tangannya. Untungnya saja, sebelum itu terjadi ada sesuatu
yang membuatnya gelisah dan ketakutan! Mungkinkah kau yang menyebabkannya,
Paman?"
"Ha ha
ha...!"
Si Rantai
Penggulung Jagad malah tertawa, tapi bukan karena gembira. Terasa ada nada
kepahitan di sana.
"Aku
membuatnya takut, Anak Muda?! Kau bercanda! Kau tahu, baru saja Jagalpati si
iblis keji itu mencundangiku dengan mudah! Kalau saja karena ti-dak ingin
menyelamatkan putraku, mungkin saat ini aku hanya tinggal nama saja!"
"Jadi...,
pemuda berpakaian coklat yang dikejar Jagalpati tadi putramu, Paman?!"
Si Rantai
Penggulung Jagad mengangguk. "Oleh karena itu, Anak Muda. Aku amat
berterima kasih pa-damu. Kalau tidak karena pertolonganmu, entah apa yang akan
terjadi pada kami. Kau benar-benar luar bi-asa, Anak Muda! Boleh kutahu,
julukanmu di dunia persilatan? Melihat sikapmu yang tenang dan matang, aku
yakin kau telah cukup lama berkecimpung di du-nia persilatan!"
"Dunia
persilatan menjulukiku Dewa Arak, Pa-man. Tapi nama asli pemberian orangtuaku
adalah Arya Buana," jelas Arya.
Sepasang
mata si Rantai Penggulung Jagad ter-belalak lebar.
"Jadi,
kau tokoh yang mempunyai julukan itu, Anak Muda?! Sayang sekali, aku telah
mengundurkan diri, dari dunia persilatan. Sehingga aku banyak ter-tinggal
dengan berita mengenai perkembangan dunia persilatan. Tapi, julukanmu sempat
mampir ke telin-gaku. Kau mengagumkan, Anak Muda. Semuda ini te-lah mengukir
nama besar! Aku yang tua ini pantas me-rasa malu padamu...."
Wajah Arya
kontan merah. "Apalah artinya di-bandingkan dirimu, Paman?!" tukas
Arya untuk meng-
hilangkan
rasa risih akibat pujian si Rantai Penggu-lung Jagad. "Pengalamanmu di
dunia persilatan jauh lebih matang dibandingkan denganku. Dan aku yakin,
sebelum mengasingkan diri, kau merupakan tokoh persilatan golongan putih yang
amat terkenal! Dan aku yakin akan pernah mendengar julukanmu, apabila kau sudi
memperkenalkannya padaku, Paman."
Si Rantai
Penggulung Jagad tersenyum pahit meski memang sebelumnya ada kilatan rasa
bangga dari sepasang matanya. "Sebelum mendapat malu ka-rena dirobohkan
Jagalpati, aku memang mempunyai kedudukan lumayan di persilatan, Dewa Arak.
Tokoh-tokoh persilatan menjuluki aku, si Rantai Penggulung Jagad. Sebuah
julukan yang berlebihan, karena Jagal-pati berhasil membuktikan kalau rantaiku
tumpul, ka-ratan, dan rapuh!" Jelas si Rantai Penggulung Jagad, dengan
sikap merendah.
"Kau
terlalu merendahkan diri, Paman. Aku ternyata tidak keliru. Kau memang seorang
tokoh be-sar. Aku telah mendengar berita mengenai tokoh-tokoh terkenal belasan
tahun lalu. Di antaranya adalah kau dan Ular Angkasa. Dan aku tidak menganggap
kau ka-lah terhadap Jagalpati. Karena, pemuda itu menggu-nakan ilmu
iblis!" hibur Arya, sekenanya.
"Apa
yang kau katakan itu sebagian benar, De-wa Arak," si Rantai Penggulung
Jagad mengganti sa-paannya. "Dulu, aku dan Ular Angkasa memang cukup
terkenal. Tapi mungkin perlu kau tahu, Jagalpati me-mang terlalu kuat untukku.
Tidak hanya sekarang. Tapi juga bertahun-tahun yang lalu, sebelum iblis itu
mendapatkan ilmu luar biasa...."
Arya pun
diam. Pemuda ini tidak mempunyai kata-kata untuk menghibur hati si Rantai
Penggulung Jagad yang tengah terpukul.
"Kau
hendak pergi ke mana, Dewa Arak?!" tanya si Rantai Penggulung Jagad, ingin
tahu.
"Entahlah,
Paman," desah Arya. "Kalau menu-ruti keinginan, aku ingin segera
memburu Jagalpati. Aku ingin melenyapkannya, sebelum malapetaka baru dibuatnya.
Tapi..., kemampuanku tidak berarti ba-ginya...."
Si Rantai
Penggulung Jagad tahu Arya tidak berkata bohong. Telah dilihatnya sendiri kalau
Dewa Arak tengah cedera.
"Lalu..., keputusanmu bagaimana, Dewa
Arak?!" kejar si Rantai Penggulung Jagad.
"Mencari
sesuatu yang dapat digunakan untuk memunahkan ilmu Jagalpati, Paman. Tapi...,
rasanya harapan ini kecil sekali. Aku tidak yakin berhasil," ja-wab Arya,
ragu-ragu.
"Dari
mana kau tahu kalau ilmu Jagalpati me-miliki kelemahan, Dewa Arak?! Dan lagi,
apakah kau tahu sesuatu yang dapat membuat kedahsyatan ilmu iblis keji itu
hilang?"
Si Rantai
Penggulung Jagad kelihatan tertarik sekali. Pertanyaan-pertanyaan yang
dikeluarkannya bertubi-tubi penuh semangat.
Tanpa
ragu-ragu, Arya menceritakan ikhwal pertemuannya dengan Kakek Dipangga yang
menjadi guru Jagalpati. Semuanya diceritakan, tak ada yang disembunyikannya
sedikit pun.
"Aku
yakin, ilmu Jagalpati mempunyai penang-kal, Paman. Karena menurut guruku, Allah
mencipta-kan untuk alam ini berpasang-pasangan. Ada jahat, ada baik. Ada
penjahat, ada pendekar. Ada racun, ada obat. Ada kelebihan dan ada kekurangan.
Maka, aku yakin ilmu Jagalpati pun ada penangkalnya," ujar Arya menutup
kisahnya.
Si Rantai
Penggulung Jagad mengangguk-angguk menyatakan persetujuannya.
"Apa
yang kau katakan itu memang benar, De-wa Arak. Allah Maha Adil! Aku yakin
penangkal ilmu milik Jagalpati ada. Tapi, bukankah penangkalnya te-lah
dimusnahkan Jagalpati sendiri? Berarti pemunah ilmunya sudah lenyap! Kudengar,
cabai hitam dan pu-tih itu tumbuh tiap dua belas purnama sekali. Berarti kau
mesti menunggunya, apabila ingin melenyapkan Jagalpati, Dewa Arak!" kata
lelaki pendek kekar ini dengan kening berkerut
"Mungkinkah
ucapan Jagalpati tentang telah dimusnahkannya tanaman itu hanya bualan belaka,
Paman?!" Arya mengajukan pendapatnya.
"Jadi,
kau ingin melihat tanaman itu, Dewa Arak?" tanya si Rantai Penggulung
Jagad. Arya men-gangguk.
"Lebih
baik urungkan niatmu, Dewa Arak!" ujar si Rantai Penggulung Jagad, memberi
nasihat. "Kalau aku menjadi Jagalpati pun, hal pertama yang akan
ku-lakukan adalah memusnahkan tanaman-tanaman itu. Jadi, aku yakin
tanaman-tanaman itu telah punah! Dan andaikata hal itu belum dilakukannya, tak
akan mungkin diberitahukannya tempat tanaman itu pada-mu, Dewa Arak!"
"Aku
pun berpikir demikian, Paman. Hanya sa-ja, aku tidak mempunyai pilihan lain!
Menunggu dua belas purnama, akan menimbulkan banyak korban di tangan Jagalpati!
Sementara menghadapi tanpa per-siapan, sama saja bunuh diri! Dan aku yakin, itu
bu-kan tindakan tepat!" sanggah Dewa Arak, halus.
Suasana
menjadi hening ketika Arya selesai berbicara. Kini mereka sama-sama diam.
Masing-masing merenung, seakan-akan tengah memikirkan ja-
lan untuk
memecahkan masalah rumit ini.
"Aku
mempunyai saran, Dewa Arak," cetus si Rantai Penggulung Jagad memecahkan
keheningan. "Kurasa tidak ada salahnya kalau kau mencobanya."
"Apa
saranmu itu, Paman?!"
"Kau
tadi menceritakan tentang nenek yang menanam cabai-cabai ajaib itu,
bukan?!"
"Benar,
Paman. Guru Jagalpatilah yang mence-ritakannya padaku," sahut Arya,
setengah memperbai-ki ucapan lelaki pendek kekar itu.
"Ya.
Tapi tahukah kau, siapa nenek yang di-maksudkan guru Jagalpati itu?!"
Arya
menggeleng.
"Nenek
itu, sebelumnya merupakan tokoh ra-hasia. Tidak ada yang tahu namanya. Tapi menurut
kabar, hampir seratus tahun yang lalu, nenek itu ting-gal di sebuah tempat
bernama Istana Iblis. Sejak ma-sih kecil, dia tinggal di sana."
Si Rantai
Penggulung Jagad memulai ceritanya. Sementara Dewa Arak ganti mendengarkan
penuh perhatian.
"Istana
Iblis itu sering didatangi orang-orang persilatan tingkat atas. Mereka tertarik
untuk men-gungkap tempat yang penuh rahasia itu. Tapi tak seo-rang pun ada yang
kembali. Karena hal tersebut sering terjadi, Istana Iblis menjadi tempat yang
ditakuti. Me-nurut kabar, istana itu dihuni sepasang suami istri yang sama-sama
berwatak aneh. Dan nenek yang di-maksud guru Jagalpati, menurut berita adalah
ketu-runan terakhir dari Istana Iblis."
Rantai
Penggulung Jagad menghentikan ceri-tanya. Sedangkan Dewa Arak dengan sabar
menunggu kelanjutannya.
"Berbeda
dengan orangtuanya, nenek itu tidak
betah
tinggal di Istana Iblis yang sepi. Dia sering ke-luar. Kepandaiannya memang
luar biasa. Hanya saja, dia tidak suka mencampuri urusan orang lain.
Kege-marannya adalah menanam. Dan anehnya tanaman-nya selalu aneh-aneh, seperti
cabai-cabai tak lumrah itu. Kau boleh percaya boleh tidak, Dewa Arak. Aku
pernah berjumpa dengannya. Nenek itu ternyata amat menyukai bayi-bayi mungil.
Namun bukan untuk dija-hati. Dia sering mendatangi kampung-kampung hanya untuk
memandangi bayi yang tidur di samping ibunya. Anakku sendiri, Taruna, mendapat
giliran. Karena mengalami sendirilah aku tahu kegemarannya. Dia da-tang ke
rumahku, langsung mengawasi Taruna yang tidur di samping ibunya. Karena asyiknya
mengintai Taruna, nenek itu tidak tahu kalau aku memperhati-kannya. Sampai
menjelang subuh, nenek itu pergi. Hanya itulah yang bisa kuceritakan padamu,
Dewa Arak."
"Apakah
nenek itu masih tinggal di istananya, Paman?!" kejar Dewa Arak.
"Benar.
Padahal, bangunan itu sudah tidak pa-tut lagi dinamakan istana. Yang tinggal
hanya puing-puing, sedikit tembok yang mengelilingi dari reruntu-han bangunan.
Apakah kau ingin ke sana, Dewa Arak?!" sahut si Rantai Penggulung Jagad.
Arya
mengangguk mantap.
"Barangkali
saja nenek itu punya cadangan ta-naman cabai hitam dan putih, Kek," desah
Dewa Arak.
"Aku
bangga padamu, Dewa Arak!" ucap si Ran-tai Penggulung Jagad. "Kau
benar-benar seorang pen-dekar tulen! Hanya pesanku, hati-hatilah. Meski sudah
berupa puing, Istana Iblis bukan tempat sembarangan! Menurut berita, jalan
menuju Istana Iblis itu dikelilingi maut. Lumpur hidup, rawa beracun, tanaman-
tanaman
beracun dan binatang-binatang berbisa. Bahkan ada taman yang membuatmu tidak
bisa keluar lagi setelah memasukinya. Camkan itu baik-baik, De-wa Arak"
"Terima
kasih atas nasihat yang kau berikan, Paman. Apakah Paman tidak ingin ikut pergi
bersama-ku?!"
"Sayang
sekali, Dewa Arak," desah si Rantai Penggulung Jagad, disertai helaan
napas berat. "Aku mempunyai urusan lain yang cukup penting. Aku
mengkhawatirkan keselamatan Taruna, anakku. Aku cemas, kalau-kalau Jagalpati
mengejarnya dan mem-bunuhnya."
"Tak
apa, Paman. Dan lagi urusan kita sama-sama penting," timpal Arya. "O,
ya. Boleh kutahu, mengapa kau yang telah mengasingkan diri, sampai keluar
kembali ke dunia persilatan, Paman?!"
Si Rantai
Penggulung Jagad tersenyum simpul. "Urusan anak dan tanggung jawab
orangtua, Dewa Arak."
Arya
mengernyitkan kening. Kelihatan bingung. "Taruna akan kukawinkan dengan
Putri Ular Angkasa, Dewa Arak! Setelah itu, aku dapat tenang di
pengasin-gan!"
"Ah...!"
Arya
berseru gembira.
"Kalau
begitu, selamat, Paman. Percayalah. Bila sempat, aku akan datang untuk
menghadiri pernika-han itu," janji Dewa Arak, tulus.
"Terima
kasih, Dewa Arak. Selamat tinggal. Dan, selamat bertugas!"
Si Rantai
Penggulung Jagad seketika melesat. Sementara Arya menunggu hingga tubuh itu
mengecil di kejauhan. Kemudian, dia sendiri melesat menempuh
arah yang
berlainan.
6
"Bagaimana,
Ular?"
Pertanyaan
itu datangnya dari mulut si Rantai Penggulung Jagad, yang ditujukan pada
seorang lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun di depannya. Sedangkan
lelaki bertubuh tinggi kurus yang menda-pat pertanyaan hanya tercenung. Sinar
mata dan raut wajahnya menyiratkan berbagai macam perasaan. Ada penyesalan dan
kedukaan yang sarat di sana.
Si Rantai
Penggulung Jagad tampak dudul geli-sah, seperti tidak sabar. Duduk di
sebelahnya adalah Taruna. Pemuda ini duduk bagaikan patung batu. Wa-jahnya
menunduk dalam-dalam ke lantai, seakan-akan di sana ada yang menarik
perhatiannya.
Lelaki
bermuka kuning yang dipanggil Ular memang berjuluk Ular Angkasa. Dia bukannya
mem-beri jawaban, tapi malah menghela napas berat.
Sikap Ular
Angkasa membuat kesabaran si Rantai Penggulung Jagad jadi hilang. Wajahnya agak
menegang. Suaranya bergetar menahan perasaan ter-singgung ketika berkata lagi.
"Kalau
menolak tawaranku, katakan saja, Ular. Wajar saja bila kau menolak tawaranku.
Aku tidak akan marah. Tapi bila kau bersikap seperti ini, kesaba-ranku bisa
hilang! Bila menerima, katakan. Dan bila tidak, kemukakan saja. Aku lebih
menyukai keterus-terangan! Dan aku yakin, kau tahu hal itu!"
Ular
Angkasa tidak langsung memberi jawaban. Ditatapnya wajah si Rantai Penggulung
Jagad lekat-lekat. Sementara itu seorang wanita berusia tiga pulu-
han tahun
yang duduk di sebelah Ular Angkasa tam-pak merah padam wajahnya. Wanita itu
kelihatan can-tik. Apalagi dengan bentuk tubuh yang padat menggi-urkan dan
kelihatan matang. Mendengar kata-kata si Rantai Penggulung Jagad, dia bangkit
dari kursinya. Ditudingnya wajah lelaki pendek kekar itu.
"Kau
hendak meminang atau hendak mengajak bertarung?!" sembur wanita berpakaian
biru langit itu, keras.
Si Rantai
Penggulung Jagad sampai memun-durkan tubuhnya karena khawatir wajahnya terkena
tudingan jari telunjuk yang runcing dan lentik itu. "Ka-lau ingin putramu
menjadi menantu di sini, bersikap-lah sopan! Kalau tidak suka dengan cara kami,
silakan angkat kaki! Kami pun tidak butuh kehadiranmu!"
Wajah si
Rantai Penggulung Jagad kontan me-negang. Ucapan wanita itu dinilainya
keterlaluan. Tapi mengingat orang yang memakinya ini seorang wanita yang
diyakini mempunyai hubungan erat dengan Ular Angkasa, kemarahannya ditahan.
Juga diyakini, Ular Angkasa tidak akan tinggal diam.
Dugaan si
Rantai Penggulung Jagad memang tidak meleset. Wajah Ular Angkasa berubah hebat.
Ke-lihatan jelas kalau ia merasa tidak enak hati melihat sikap wanita
berpakaian biru langit
"Harap
jangan dimasukkan dalam hati ucapan istriku ini, Rantai. Maklumlah...," ujar
Ular Angkasa buru-buru.
Ketegangan
di wajah si Rantai Penggulung Ja-gad seketika mengendur. Kemarahannya pun
pupus.
Namun tidak
demikian halnya wanita berpa-kaian biru langit. Dengan sinar mata memancarkan
kemarahan besar, ditatapnya Ular Angkasa.
"Kalian
berdua memang tua-tua bangka tidak
tahu
diri!"
Kemudian
wanita itu bangkit dari kursinya. Kakinya dibanting dengan perasaan kesal,
kemudian berjalan cepat meninggalkan ruang tengah di salah sa-tu bangunan dari
sekian banyaknya bangunan yang ada. Tempat ini memang sebuah perguruan bernama
Perguruan Ular Sakti. Ular Angkasa sendiri adalah ke-tua perguruan itu.
Ular
Angkasa hanya mengangkat kedua ba-hunya; Dia tidak berkata apa pun. Sementara
si Rantai Penggulung Jagad mengawasi wajah ketua perguruan itu lekat-lekat.
"Istrimu,
Ular...?!" tanya si Rantai Penggulung Jagad, hati-hati.
Ular
Angkasa menghela napas berat lebih dulu sebelum memberikan jawaban. Kepalanya
mengangguk pertanda membenarkan pertanyaan lelaki pendek ke-kar yang telah
sangat dikenalnya.
"Sekitar
enam tahun yang lalu dia kunikahi. Mulanya, sifatnya tidak seperti ini.
Tapi.... Sudahlah, Rantai. Kurasa sebaiknya kita tidak membahas masa-lah yang
bukan menjadi tujuanmu."
"Kau
benar, Ular!" sambut si Rantai Penggulung Jagad, tersentak. "Hampir saja
aku lupa dengan tuju-anku semula. Syukur kau mengingatkan!"
"Begini,
Rantai," Ular Angkasa memulai. "Sebe-narnya aku gembira mendapat
tawaran dari seorang sepertimu. Aku menerima putramu. Tapi sayang. Aku tidak
bisa melakukannya..."
"Mengapa,
Ular?!" desak Rantai Penggulung Ja-gad, tak menyembunyikan keheranannya.
Senyumnya mendadak lenyap. "Apakah karena putraku tidak pan-tas?"
"Bukan
karena itu, Rantai," kilah Ular Angkasa
menggoyang-goyangkan
tangannya. "Putramu lebih da-ri pantas dan patut untuk menjadi menantuku.
Aku justru bangga! Dan, aku merasa lebih berhahagia dan bangga apabila Arimbi
menjadi menantumu."
"Lalu...,
mengapa kau tidak menerimanya, Ular?! Kuharap kau tidak menyimpan laki-laki
lagi! Apakah putrimu itu sudah menjadi murid orang lain?!"
"Tidak,
Rantai. Dugaanmu keliru," sahut Ular Angkasa dengan wajah muram. "Aku
tidak bisa mene-rima tawaranmu, karena Arimbi tidak berada di sini."
Wajah si
Rantai Penggulung Jagad kembali ce-rah. Bila itu masalahnya, berarti masih ada
harapan baginya.
"Kalau
hanya itu masalahnya, tidak mengapa, Ular. Wajar saja toh, seorang wanita
dewasa berilmu tinggi seperti putrimu itu pergi mengembara. Biar pen-galamannya
luas! Sekarang, bisa saja kau putuskan, bagaimana tanggapanmu atas tawaranku.
Nanti, sete-lah Arimbi kembali, kau beritahukan masalah ini. Gampang,
kan?" usul si Rantai Penggulung Jagad.
"Tidak
gampang, Rantai," bantah Ular Angkasa. "Aku tidak berani memutuskan
tawaranmu karena aku tidak yakin, apakah Arimbi akan kembali. Hampir enam tahun
dia pergi meninggalkan tempat ini. Entah dia mau kembali atau tidak. Aku ragu.
Aku malah ya-kin, dia tidak ingin kembali lagi!"
Rantai
Penggulung Jagad tercenung. Dirasaka adanya nada kedukaan dan penyesalan yang
besar da-lam ucapan Ular Angkasa. Sikap lelaki ini seperti ten-gah menanggung
beban batin berat, karena merasa bersalah!
"Sekarang
begini saja, Rantai," ujar Ular Angka-sa hati-hati seperti khawatir Rantai
Penggulung Jagad akan tersinggung. "Putramu tinggal saja dulu di sini.
Mudah-mudahan
Arimbi cepat kembali. Bagaimana Rantai? Kau setuju?!"
Rantai
Penggulung Jagad dengan tegas mengge-leng. Lelaki ini memang memiliki harga
diri tinggi. Pan-tang baginya menunggu tanpa kejelasan.
"Apakah
Arimbi minggat dari rumah ini..?!" tanya Rantai Penggulung Jagad hampir
tidak terdengar mengalihkan masalah.
Ular
Angkasa mengangguk sambil menghela napas berat.
"Kepergiannya
mengapa seperti itu, Ular?! Maaf, bila aku terlalu lancang."
"Tidak,
Rantai. Kau sahabatku. Tidak ada sa-lahnya kau tahu masalah ini. Mungkin kau
bisa mem-beri pertimbangan, apakah aku salah atau benar da-lam hal ini,"
tukas Ular Angkasa.
"Kalau
kau tidak keberatan, apa boleh buat?!" Rantai Penggulung Jagad mengangkat
bahu.
"Dia
pergi karena aku yang mengusirnya, Rantai," ke-luh Ular Angkasa.
"Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Keputusan itu kuberikan, karena rasa
sayangku pa-danya. Dia telah melanggar peraturan berat, karena memasuki tempat
larangan di perguruan ini! Padahal, jauh sebelum itu, telah kuberitahukan pada
semua murid perguruan ini. Tak seorang pun boleh memasuki ruang larangan.
Apabila kedapatan ada di sana, siapa pun akan mendapatkan hukuman berat! Sama
sekali tidak kusangka kalau Arimbi yang melanggarnya. Rasa sayang, membuatku
memilih mengusirnya di hadapan murid-murid perguruan. Daripada, dia kuhukum
ma-ti!"
Rantai
Penggulung Jagad menghela napas be-rat. Keputusan Ular Angkasa memang tidak
bisa dis-alahkan. Lelaki itu telah bertindak adil! Seorang ksa-
tria lebih
mementingkan ucapan dan kehormatan dari-pada hal lainnya. Dan tindakan Ular
Angkasa benar.
Taruna yang
sejak tadi menunduk, mengangkat wajah. Sinar matanya berbalur kekecewaan. Sama
se-kali tidak disangka kalau Arimbi bernasib demikian menyedihkan.
"Apakah
kau tahu penyebab Arimbi bertindak demikian, Ular?! Aku yakin ada yang mendorongnya,
sehingga berani melanggar laranganmu. Padahal, hu-kumannya berat!" kata si
Rantai Penggulung Jagad, hati-hati.
"Memang
dia mengatakannya. Dan hal inilah yang sejak dulu mengganggu pikiranku,
Rantai," kata Ular Angkasa. Semakin terasa nada kekecewaan besar dalam
ucapannya. "Menurutnya, dia berani melanggar larangan karena hendak
menyelamatkan pusaka-pusaka perguruan. Memang, sudah menjadi rahasia perguruan,
kalau di tempat larangan itu terdapat ba-nyak harta, senjata-senjata pusaka,
dan kitab-kitab ilmu kesaktian! Dan menurut Arimbi, orang yang hen-da
mengambilnya adalah istriku yang tadi! Ibu tirinya! Aku, jadi bingung. Tapi,
kemarahan dan kekecewaan karena keberanian Arimbi melanggar larangan, tamba-han
lagi berani menyalahkan ibu tirinya, dia kujatuh hukuman! Aku bahkan tidak
mengakuinya sebagal anak! Arimbi tidak kuperbolehkan menginjak halaman
perguruan!"
Rantai
Penggulung Jagad terdiam.
"Jadi...,
minggatnya putrimu setelah adanya is-trimu yang baru itu, Ular?" tanya si
Rantai Penggulung Jagad, tetap berhati-hati.
Ular
Angkasa hanya menghela napas. Dia tidak memberi jawaban sedikit pun. Tapi
Rantai Penggulung Jagad tahu, lelaki bermuka kuning itu mengakuinya.
Rantai
Penggulung Jagad mengernyitkan ken-ing. Nalurinya mulai membaui adanya hal-hal
yang mencurigakan di sini. Dugaannya ingin diutarakan, tapi khawatir kalau Ular
Angkasa salah terima.
"Mengapa,
Ular?!" tanya Rantai Penggulung Ja-gad ketika melihat Ular Angkasa
menyeringai sambil memegangi dadanya.
"Tidak
apa-apa," jawab Ular Angkasa, berbo-hong. "Hanya sakit sedikit."
"Boleh
kuperiksa?!" Rantai Penggulung Jagad menawarkan. "Barangkali saja kau
menderita luka da-lam."
Ular
Angkasa tertawa yang tampak paksaan. Mulutnya tertawa, tapi wajahnya tidak.
Bahkan sinar sepasang matanya, berbalur kekecewaan dan kedu-kaan besar.
"Luka
dalam?! Ada-ada saja dugaanmu, Rantai! Bagaimana mungkin aku terluka, kalau
tidak pernah bertarung?! Asal kau tahu saja, selama lima tahun le-bih ini aku
tidak pernah berlatih! Bahkan tidak pernah bersemadi sama sekali. Hati dan
pikiranku risau jika mengingat Arimbi. Aku merasa bersalah padanya. Kau tahu,
Rantai. Setahun setelah Arimbi kuusir, kuha-biskan waktu dua tahun lebih untuk
mencarinya. Tapi, hasilnya sia-sia. Bocah itu lenyap begitu saja, bagaikan
ditelan bumi!"
Kembali
Ular Angkasa menyeringai. Kali ini ke-lihatan lebih parah daripada sebelumnya.
Dia keliha-tan tersiksa sekali. Wajahnya menegang, merah pa-dam. Kemudian,
batuk-batuk kecil keluar dari mulut-nya.
Ular
Angkasa menutupi mulutnya dengan ke-dua tangan, demi kesopanan. Baru setelah
batuknya reda, kedua tangannya diturunkan kembali.
Wajah Ular
Angkasa bembah, ketika melihat cairan merah kehitaman pada kedua telapak
tangan-nya. Parah! Tapi, lelaki ini tidak ingin Rantai Penggu-lung Jagad tahu
penderitaannya. Maka buru-buru tangannya disembunyikan di bawah meja.
"Kau
tidak bisa menipuku lagi, Ular," desah Rantai Penggulung Jagad, tenang.
"Tanganmu bisa kau sembunyikan. Tapi darah di pinggir mulutmu, telah
menceritakan semuanya. Kau terluka, Ular. Tidak hanya luka dalam, tapi juga
luka karena keracunan. Darahmu tidak merah segar, tapi merah kehitaman. Darah
yang tercipta karena luka beracun!"
Ular
Angkasa tidak bisa mengelak lagi. Dengan punggung tangan, dicobanya
membersihkan luka-luka pada pinggir mulutnya.
"Masih
mencoba menyembunyikan peristiwa yang terjadi pada dirimu, Ular?!" desak
Rantai Penggu-lung Jagad lagi.
"Terserah
kau mau bilang apa, Rantai. Kau mau percaya atau tidak. Aku tak pernah
bertarung denga siapa pun! Apalagi sampai terkena pukulan be-racun. Juga aku
sudah tidak peduli lagi akan kesela-matanku. Perasaan bersalahku pada Arimbi,
telah membuatku tidak betah hidup lebih lama! Aku me-mang tidak pernah mengurus
diri lagi! Entah bagai-mana aku memperi tanggungjawabkan masalah ini pada
mendiang ibu Arimbi!" tukas Ular Angkasa.
Rantai
Penggulung Jagad memegang kedua ba-hu Ular Angkasa, seraya mengguncangkannya
sediki keras.
"Kau
boleh tidak peduli pada dirimu, Ular. Tapi kau harus ingat! Keadaan yang kau
derita sekarang ini, berarti disebabkan perbuatan seseorang yang telah
meracunimu tanpa kau tahu! Apakah kau tidak ingin
mencari
tahu pelakunya?!"
Ular
Angkasa menggeleng. Lemah dan tanpa semangat.
"Kau
tidak boleh bersikap seperti itu, Ular!" ser-gah Rantai Penggulung Jagad,
keras. "Kalau kau se-perti aku, boleh saja bersikap seperti itu! Tapi, kau
lain! Nasib puluhan orang berada di tanganmu! Apa jadinya kalau kau mati
nanti?!"
"Aku
tidak khawatirkan hal itu, Rantai! Aku ya-kin, sepeninggalku keadaan akan
aman-anan saja! Perguruan Ular Sakti yang kupimpin mempunyai mu-rid-murid
kepala. Merekalah yang akan mengganti-kanku sebagai pimpinan! Lagi pula, masih
ada istriku. Dia memiliki kepandaian tidak rendah! Selama menjadi istriku, dia
giat berlatih. Malah, tingkat kepandaiannya tak akan kalah dengan muridku yang
terlihai!" sang-gah Ular Angkasa.
"Kalau
begitu, celakalah Perguruan Ular Sakti, Ular! Tidakkah kau bisa berpikir
jernih?! Apakah kau tidak bisa menduga orang yang telah meracunimu?!"
Wajah Ular
Angkasa berubah hebat
"Jadi...,
kau menuduh istriku yang membuatku seperti ini?! Kau gila bila berpikir
demikian, Rantai! Hati-hati ucapanmu! Atau..., kau akan berhadapan denganku
sebagai lawan!" desis Ular Angkasa tidak se-nang.
"Aku
yakin, istrimulah pelakunya, Ular! Aku yakin betul. Percayalah, Ular! Ingat,
baik-baik! Bukan-kah kau tahu, kalau aku memiliki naluri tajam?! Juga kalau kau
amati, bisa ditemukan hal-hal yang janggal! Nasib yang menimpa putrimu, aku
yakin sudah diren-canakan istrimu! Dia ingin menyingkirkan Arimbi, agar bisa
menguasai perguruan ini! Aku yakin, racun yang mengalir di tubuhmu hasil
perbuatannya. Mungkin
yang
digunakan racun tidak berwarna, berasa, atau berbau. Racun itu dicampurkan
dalam minumanmu. Dan..."
Brakkk!
Pembicaraan
si Rantai Penggulung Jagad kon-tan terhenti, ketika Ular Angkasa menggebrak
meja dengan keras. Meja itu bergetar, tapi tidak hancur sa-ma sekali. Retak pun
tidak!
"Tutup
mulutmu, Rantai!" bentak Ular Angkasa keras dibarengi hantaman pada daun
meja. "Atau, aku terpaksa akan menyerangmu! Ucapanmu sudah keter-laluan!"
"Kau
yang buta karena cinta tuamu itu, Ular!" bentak Rantai Penggulung Jagad,
tak kalah keras. "Ti-dakkah kau sadar, kalau kau tengah dibunuh
pelan-pelan. Asal tahu saja, sekarang kau tidak lebih dari seorang kakek-kakek
jompo! Tenaga dalammu telah lenyap! Tidakkah kau sadari meja yang kau hantam,
jangankan hancur, retak pun tidak! Lihat baik-baik! Buang dulu perasaan cintamu
yang berlebih-lebihan itu!"
Ular
Angkasa terdiam. Baru disadari kalau me-ja yang digebrak tidak hancur
sebagaimana biasanya. Kata Rantai Penggulung Jagad rupanya masuk akal-nya.
Kembali dicobanya untuk mengerahkan tenaga dalam. Tapi, tidak dirasakan adanya
putaran tenaga dalam di pusarnya.
Ular
Angkasa merasa penasaran. Dicobanya untuk mengalirkan ke tangan. Tapi seperti
hasil sebe-lumnya kali ini pun kekecewaan yang didapat. Benar perkataan Rantai
Penggulung Jagad! Tenaga dalamnya telah lenyap!
"Bagaimana?!
Benar kan ucapanku, Ular?!" tanya Rantai Penggulung Jagad dengan suara
lebih pe-
lan.
"Mungkinkah
itu, Rantai?! Mungkinkah istriku bertindak demikian keji?!"
Seperti
layaknya seorang anak kecil, Ular Ang-kasa mengajukan pertanyaan terbata-bata.
"Mungkinkah
racun dibubuhkan dalam maka-nan dan minumanku?!"
"Mungkin
saja, Ular," sahut Rantai Penggulung Jagad mengangguk, mantap. Tapi,
ketika pandangan-nya berbentur pada makanan dan minuman di meja yang telah
disantapnya bersama Taruna dan Ular Ang-kasa, wajah lelaki pendek kekar ini
memucat!
Ular
Angkasa melihat arah pandangan Rantai Penggulung Jagad. Dan wajahnya pun berubah
hebat.
Meja empat
persegi panjang kini menjadi sasa-ran pandangan dua lelaki setengah baya yang
terkenal sebagai pendekar besar. Meja berwarna coklat itu, pa-da beberapa
bagian tampak hangus! Dan bagian yang hangus adalah bagian di mana
percikan-percikan mi-numan terdapat! Tanpa berpikir lebih lama lagi, Rantai
Penggulung agad dan Ular Angkasa tahu penyebab me-ja itu bernasib demikian
mengerikan! Apalagi kalau bukan racun yang amat ganas?
"Apakah
istrimu yang menyediakan makanan dan minuman ini, Ular?!" tanya Rantai
Penggulung Ja-gad dengan suara seperti tercekik di tenggorokan.
Ular
Angkasa tidak memberi jawaban, Rahang-nya menggembung. Wajahnya pun menegang
penuh kemarahan, ketika mengeluarkan kata-kata yang be-rupa desisan!
"Wanita
iblis!" "Hi... hi... hi...!"
Seperti
menyambut makian Ular Angkasa, ter-dengar tawa mengikik. Nadanya mengejek dan
mere-
mehkan.
Kemudian disusul tawa bergelak. Nadanya sama, mengejek dan penuh kemenangan.
Serentak
Ular Angkasa, Rantai Penggulung Ja-gad, dan Taruna menoleh ke arah pintu yang
menghu-bungkan ruangan tempat mereka berada dengan ruang dalam. Tak lama dari
ruang dalam muncul dua sosok
"Kau...!?"
Mata Ular
Angkasa kontan terbelalak lebar, se-perti tengah melihat hantu. Sosok yang
berada di sebe-lah istrinyalah yang membuatnya terperanjat kaget. Sosok itu
adalah seorang lelaki kurus dengan kumis tipis dan mata sipit.
"Kaget,
Tua Bangka Jompo?!"
Lelaki
bermata sipit itu tersenyum mengejek. Kemudian tangan kirinya dilingkarkan ke
leher istri muda Ular Angkasa. Bahkan jari-jari tangannya tanpa tahu malu
mengusap-usap pipi dan tengkuk wanita itu. Sedangkan istri muda Ular Angkasa
menggeliat-geliat keenakan seperti seekor kucing dibelai!
Sepasang
mata Ular Angkasa bagaikan hendak melompat keluar dari rongganya ketika melihat
pe-mandangan itu. Hatinya mendidih oleh amarah me-luap-luap!
"Murid
murtad! Jahanam! Mau apa kau kemari heh?!"
Dalam
cekaman amarah yang menggelegak, Ula Angkasa bangkit dari kursinya. Hendak
menghampiri lelaki bermata sipit ini. Sikapnya penuh ancaman.
Rantai
Penggulung Jagad tahu maksud Ular Angkasa. Buru-buru dicekalnya pergelangan
tangan le-laki muka kuning itu, untuk mencegah maksudnya. Disadari Ular Angkasa
hanya akan mencari penyakit bila meneruskan maksudnya.
"Mau
apa aku kemari?!" ulang lelaki bermata
sipit ini
bernada mengejek. "Lucu sekali pertanyaan itu. Aku sudah lama di sini, Tua
Bangka Jompo! Aku sudah hampir enam tahun di sini. Aku tinggal di ruang
larangan itu. Dan mungkin perlu kutambahkan, wani-ta yang kau akui sebagai
istrimu ini adalah kekasihku! Ha ha ha..,!"
Andaikata
ada petir menyambar di dekatnya, Ular Angkasa tidak akan terkejut seperti ini.
Tubuhnya kontan limbung. Untung, Rantai Penggulung Jagad memeganginya.
"Sebagai
tambahan, perlu kukatakan. Semua dugaan kawanmu itu benar! Aku yang menyebabkan
Arimbi minggat dari sini. Akulah yang menjebaknya, agar tidak lagi jadi
penghalang bagiku! Dan kau pun telah kuracuni sejak lama. Sedikit demi sedikit.
Hanya saja, racun yang kuberikan tidak keras. Karena, aku masih butuh bantuanmu.
Sedangkan racun yang ka-lian tenggak bersama-sama, adalah racun yang memi-liki
daya kerja cepat. Kalian bertiga akan mati! Hi hi hi...!" timpal wanita
berpakaian biru langit penuh ke-gembiraan. "Dan, aku pula yang
menyelundupkan ke-kasihku ini ke dalam ruang larangan itu."
"Jahanam...!"
Kali ini
Rantai Penggulung Jagad yang menge-luarkan seruan kemarahan. Saat itu juga
lelaki ini me-lesat ke depan. Tapi baru juga setindak, langkahnya terhenti.
Tangannya yang semula siap dilayangkan kini dipergunakan untuk mendekap dada
yang mendadak terasa sakit.
"Hihihik...!"
Wanita
berpakaian biru langit kembali tertawa gembira.
"Jangan
coba-coba mengerahkan tenaga dalam kalau masih sayang nyawa, Tua Bangka bau
tanah! Racun yang mengendap dalam tubuhmu akan menye-rang setiap kali kau
mengerahkan tenaga dalam! Dan itu berarti kau akan mati jauh lebih cepat!
Menurutku tidak perlu buru-buru menemui malaikat maut. Te-nang-tenang saja, Tua
Bangka! Nanti pun saat yang kau inginkan akan tiba! Hi hi hik...!"
Rantai
Penggulung Jagad mengerti betul uca-pan istri muda Ular Angkasa yang bukan
sekadar ger-takan. Bukti ancaman itu telah dirasakan sendiri. Dengan wajah
pucat, ditatapnya Ular Angkasa.
Ketua
Perguruan Ular Sakti itu sendiri terdiam tempatnya. Lelaki itu tahu, tidak ada
hal apa pun yan bisa dilakukan!
"Mengapa
kau tega bertindak sekeji ini, Wardi-ni?!" tanya Ular Angkasa menyebut
nama istrinya, tan-pa menyembunyikan keheranan dan penasaran. "Apa-kah
selama ini aku kurang baik terhadapmu?!"
Wanita
berpakaian biru langit yang bernama Wardini tersenyum mengejek.
"Kau
memang cukup baik hati, Tua Bangka! Meskipun, permainan cintamu membuatku muak.
Dan aku tak akan melakukan seperti ini, kalau kau tidak bertindak jahat
terhadap Salangi kekasihku!" jawab Wardini sambil bergelayut manja di
pundak laki-laki bermata sipit yang dipanggil Salangi.
"Siapa
yang bertindak jahat, Wardini?!" bantah Uiar Angkasa, penasaran. "Aku
justru masih bertindak baik hati. Salangi, kuhukum usir dari perguruan, ka-rena
kerap mengganggu istri orang! Dia pun tak se-
gan-segan
menggunakan kepandaiannya untuk me-nimbulkan kekacauan di kaki gunung. Makanya
dia kuusir dan tak kuanggap sebagai murid! Tujuh tahun lalu hal itu kulakukan!
Sebenarnya, hatiku berat me-lakukannya. Karena, dia muridku yang paling
berba-kat. Bahkan kuharapkan menjadi pimpinan perguruan ini
sepeninggalku!"
"Saat
ini pun, aku bisa menjadi Ketua pergu-ruan ini, Tua Bangka!" ejek Salangi
penuh perasaan menang. "Setahun lebih setelah kau usir, aku dapat masuk ke
tempat ini dengan perantara kekasihku ini! Dia menjadi istrimu, atas siasat
kami bersama. Kau tahu, Tua Bangka. Saat menjadi istrimu, dia telah menjadi
kekasihku selama empat bulan. Dia kutemui di perjalanan. Dan sifat kami saling
cocok satu sama lain!"
Ular
Angkasa membisu. Di dalam hatinya, lela-ki ini malu bukan main terhadap Rantai
Penggulung Jagad, karena ditipu mentah-mentah! Ular Angkasa marah bukan main!
Tapi, apa yang bisa dilakukan-nya?! Terbayang kembali di benaknya pertemuannya
dengan Wardini! Wanita itu ditemukan salah seorang muridnya, ketika tergolek di
dekat pintu gerbang da-lam keadaan terluka! Sama sekali tidak disangka kalau
luka itu merupakan siasat licik! Siapa lagi yang melu-kainya kalau bukan
Salangi?!
"Kurasa
semuanya sudah jelas, Tua Bangka! Sekarang, sudah tiba saatnya bagiku untuk
mengi-rimmu ke neraka! Aku akan menjadi Ketua Perguruan Ular Sakti, seperti
yang selama ini kuimpikan! Dengan adanya murid-murid perguruan sebagai anak
buahku, kedudukanku akan lebih kuat! Ha ha ha...!"
"Mereka
tak akan sudi menjadi anak buahmu, Salangi!" desis Ular Angkasa, tajam.
"Siapa
bilang, Tua Bangka?! Aku akan bertin-dak tegas! Siapa yang tidak ingin menjadi
anak bua-hku akan mati mengerikan! Aku yakin, mereka lebih tahu cara hidup yang
lebih baik! Ha ha ha!"
Ular
Angkasa dan Rantai Penggulung Jagad hanya dapat mengeluh dalam hati. Tidak ada
yang bisa melakukan apa-apa. Taruna sendiri berdiri di belakang ayahnya. Mereka
bertiga hanya menunggu datangnya maut dengan hati berdebar tegang!
***
"Anjing-anjing
rakus seperti kalian, jangan mimpi untuk bisa menjadi pemimpin di Perguruan
Ular Sakti..,!"
Ular
Angkasa, Rantai Penggulung Jagad, Taru-na, tak terkecuali Salangi dan Wardini,
mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan itu. Semuanya mencari asal suara yang
diutarakan secara pelan, tapi mengan-dung pengaruh yang membuat bulu kuduk
berdiri!
Wardini
yang memiliki watak berangasan kon-tan merah padam mukanya. Dia marah bukan
main mendapat hinaan seperti itu. Dengan mata penuh an-caman pandangannya
diedarkan ke sekeliling.
Rantai
Penggulung Jagad dan Taruna hanya menunggu dengan perasaan ingin tahu. Mereka,
seper-ti juga yang lain, tidak bisa mengira-ngira dari mana asal suara itu yang
seperti dari segala arah! Rantai Penggulung Jagad tahu, sang pemilik suara
memiliki tenaga dalam amat kuat!
Di antara
semua orang yang ada di situ, hanya Salangi dan Ular Angkasa yang memberikan
tanggapan lain. Dahi kedua orang ini, terutama sekali Ular Ang-kasa, berkernyit
dalam. Tindakan mereka ini seperti
orang yang
tengah mengingat-ingat sesuatu.
"Kalian
mencari siapa?! Aku sejak tadi di sini! Tidakkah kau melihat?!"
Suara
dingin tanpa nada apa pun terdengar la-gi. Kali ini, rupanya si pemilik suara
itu tidak menge-luarkan ilmunya yang istimewa. Sehingga, semua orang yang
berada di situ bisa memperkirakan asal-nya. Mereka semuanya mengarahkan
pandangan ke bawah meja tempat makan dan minuman berada.
Di bawah
meja, duduk bersila sesosok tubuh ramping menggiurkan dan enak dipandang.
Kepalanya bertempelan dengan bawah daun meja. Wajahnya ti-dak tampak jelas,
karena terhalang kursi-kursi.
Bulu kuduk
semua tokoh yang berada di situ terasa meremang! Bagaimana mungkin sosok
ramping itu bisa berada di bawah meja, tanpa seorang pun yang tahu?! Padahal,
sewaktu semua masih ada di kursi, mereka yakin sosok ramping itu tidak ada di
situ. Lalu, bagaimana sosok itu bisa berada di bawah meja tanpa menimbulkan
bunyi sama sekali?!
Sebelum
tokoh-tokoh itu semuanya sadar dari perasaan kaget dan bingung, meja itu
melayang ke atas membawa sosok ramping yang masih duduk ber-sila dengan kepala
masih menempel pada bawah daun meja!
Semua tokoh
terkejut bukan main. Pemandan-gan yang disaksikan merupakan pameran tenaga
da-lam luar biasa. Dengan mata membelalak, kelima orang yang semula saling
bertentangan, memperhati-kan peristiwa yang masih terus berlangsung dengan
perasaan takjub.
Sementara
itu meja terus melayang naik sam-pai setinggi satu tombak lebih. Baru setelah
itu me-layang ke arah empat orang yang tengah berdiri berha-
dap-hadapan.
Di
tengah-tengah dua pihak yang berdiri ber-hadapan, meja itu melayang turun
perlahan-lahan. Tanpa bunyi sedikit pun, sosok ramping itu menda-ratkan
pantatnya pada lantai! Bahkan meja di atas ke-palanya tidak bergeming sama
sekali!
Tidak
kelihatan tubuh sosok ramping itu berge-rak, tapi meja itu melayang naik ke
atas dan kembali ke tempat semula. Dan semua itu tanpa bunyi sama sekali!
Seakan-akan, meja itu diangkat, dibawa, dan diletakkan seseorang yang tidak
tampak.
Sosok
ramping itu kemudian bangkit, berdiri tegak. Semua yang melihat terkesima,
seakan-akan tengah melihat hantu!
Sosok
ramping yang diduga adalah gadis beru-sia paling banyak dua puluh lima tahun
itu memang benar-benar menggiriskan. Sekujur tubuh yang tidak tertutup pakaian,
ditumbuhi bulu-bulu berdiri mirip bulu landak! Rambutnya pun berdiri! Untung
saja, rambutnya pendek! Wajahnya pun pucat pasi bagaikan tak berdarah! Tapi,
sepasang matanya lebih mengeri-kan! Tidak memiliki biji mata hitam! Bahkan
bagian mata yang seharusnya berwarna putih pun berwarna merah membara!
"Sss...
siapa kau...?!" tanya Ular Angkasa, meskipun tidak lancar.
"Sepertinya..., aku tidak asing denganmu...,"
Sosok
ramping bermata merah membara itu tersenyum. Tapi hal itu justru membuatnya
terlihat semakin mengerikan! Senyumnya dingin, tanpa mem-beri jawaban sama
sekali.
Sosok
bermata merah itu lantas mengalihkan perhatian pada Wardini. Matanya yang merah
memba-ra seperti mengeluarkan api, ketika menatap kekasih
Salangi.
Ucapan Ular
Angkasa membuat Salangi men-gernyitkan alis. Memang, sosok ramping itu wajahnya
kelihatan mengerikan. Tapi lelaki yang berusia sekitar tiga puluh tahun ini
yakin, pernah melihat sebelum-nya. Baik bentuk wajah, maupun potongan tubuhnya.
Perasaan
ini juga menghantui Rantai Penggu-lung Jagad. Lelaki ini merasa pernah melihat
sosok ramping itu. Hanya saja, dia tidak mengingat lebih jauh.
"Wanita
berhati busuk!" desis sosok ramping itu tajam, tapi tanpa mengemikkan
bibir. "Dulu dengan siasat licikmu, kau berhasil membuatku terusir dari
tempat ini! Tempat di mana aku dibesarkan! Dulu kau berhasil lolos dan menang!
Tapi sekarang, kau akan binasa di tanganku!"
Meski
ucapan itu tidak keras, tapi membuat semua yang berada di situ seakan mendengar
petir menggelegar. Kalau Wardini dan Salangi hanya terke-jut bercampur ngeri
karena tahu akan adanya anca-man, Ular Angkasa merasakan dadanya sesak oleh
ra-sa haru yang menyeruak. Rasa bersalah pun semakin besar. Ucapan itu telah
membuatnya langsung bisa mengetahui sosok ramping yang menggiriskan hati ini.
"Ya,
Allah...," desis Ular Angkasa dengan suara terbata-bata. Bibirnya bergetar
hebat. "Kau... Arim-bi...?! Kau, Anakku,..?! Apa yang terjadi dengan
diri-mu, Nak?!"
Ular
Angkasa dengan raut muka sulit dilu-kiskan, melangkah mendekati sosok ramping
yang ter-nyata Arimbi.
Arimbi
sendiri tidak mempedulikan sama sekali keadaan Ular Angkasa. Sosok ini berdiri
dengan tata-pan tajam menusuk pada Wardini.
Rantai
Penggulung Jagad yang juga merasa terkejut ketika mengetahui sosok ramping itu
adalah Arimbi, terkesima di tempatnya. Tapi langsung disadari ketika melihat
tindakan Ketua Perguruan Ular Sakti itu.
Rantai
Penggulung Jagad tahu, Arimbi yang se-karang kemungkinan besar berbeda jauh
dengan Arimbi yang dulu. Bukan tidak mungkin, tindakan Ular Angkasa akan
membuat sosok yang dulu cantik itu akan membunuhnya. Maka lelaki pendek kekar
ini segera bertindak cepat. Langsung dicekalnya pergelan-gan tangan Ular
Angkasa.
Kali ini
Ular Angkasa meronta. Lelaki bermuka kuning kini tidak ingin dihalangi.
"Tenangkan
hatimu, Ular," ujar Rantai Penggu-lung Jagad, memberi nasihat "Lebih
baik tunda dulu niatmu. Kita belum tahu, bagaimana Arimbi sekarang. Biarkan dia
melakukan apa yang diinginkannya. Aku khawatir, tindakanmu disalahartikan.
Bukan tidak mungkin dia akan membunuhmu, karena dianggap merintangi
maksudnya."
"Tapi
dia anakku, Rantai," bantah Ular Angka-sa.
"Itu
memang benar. Tapi tidakkah kau lihat, dia telah berubah dahsyat! Siapa tahu
dia tidak menge-nalmu lagi sekarang. Bagaimana?!"
"Tidak
mungkin!" Ular Angkasa masih bersike-ras. "Kenyataannya dia masih
mengenal Wardini. Pasti, dia mengenalku. Aku lebih lama hidup
bersamanya...!"
"Bisa
saja dia lupa padamu. Tapi, ingat pada Wardini! Bisa jadi karena perasaan
dendam, membuat dia teringat pada Wardini! Perhatikan baik-baik, Ular. Aku
tidak yakin, Arimbi masih hidup. Maksudku..., aku lebih percaya kalau dia
Arimbi yang bangkit kem-
bali dari
kematian! Entah bagaimana itu bisa terjadi, tapi aku yakin betul. Tidakkah kau
lihat keadaannya?! Tidak mungkin seorang manusia memiliki ciri-ciri de-mikian
mengerikan!" papar si Rantai Penggulung Ja-gad.
Di saat Ular
Angkasa dan Rantai Penggulung Jagad terlibat pertengkaran, Wardini melompat ke
be-lakang sejauh dua tombak diikuti Salangi. Sepasang kekasih ini sama-sama
mencabut senjata masing-masing. Salangi menghunus golok besar, sedangkan
Wardini sepasang tusuk konde bergagang kepala ular kobra. Ruangan itu memang
luas sekali, sehingga me-mungkinkan untuk menggelar pertarungan.
Berbeda
dengan Wardini dan Salangi yang telah siap sedia, Arimbi sendiri tidak
bergeming dari tempat-nya. Tetap diam bak patung batu.
Dan mendadak
Salangi mengirimkan serangan dengan tusukan bertubi-tubi!
Wutt! Wutt!
Batang
golok lelaki itu seperti berjumlah bela-san, saking cepatnya digerakkan. Dan
semua serangan itu tertuju pada Arimbi.
Namun
Arimbi tetap tidak bergeming dari tem-patnya. Tidak juga terlihat melakukan
gerakan apa-apa, kecuali hanya membenturkan telapak tangannya satu sama lain!
Splash...!
Semua
pasang mata terbelalak lebar ketika me-lihat kilatan cahaya menyilaukan laksana
halilintar muncul dari kedua telapak tangannya yang dibentur-kan.
Cahaya
menyilaukan itu terus meluncur ke arah tubuh Salangi yang masih berada di
udara.
"Heh?!"
"Akhhh...!"
Wardini
sampai terpekik kaget. Namun lain halnya Salangi. Pekikan yang keluar dari
mulutnya terdengar menyayat hati ketika cahaya menyilaukan itu menerpa tubuhnya
tanpa sempat dielakkan.
Tubuh
Salangi langsung terlempar laksana daun kering dihembus angin. Bau sangit
daging yang terbakar menyebar di sekitar tempat itu seiring me-layangnya tubuh
lelaki itu dalam keadaan hangus menghitam!
Semua
pasang mata yang berada di situ kontan terpaku. Tidak terkecuali Wardini. Baru
ketika tubuh Salangi menimpa lantai, wanita ini menjerit penuh ke-sedihan.
"Kubunuh
kau...!"
Wardini
yang kalap menghambur ke arah Arimbi. Tapi langkahnya langsung terhenti, ketika
Arimbi membenturkan jari tangan kiri dan kanannya.
Splash!
"Aakh...!"
Wanita
culas ini kontan terjatuh sambil menje-rit kesakitan. Cahaya menyilaukan itu
menerpa paha kanan dan menghanguskannya.
Arimbi
rupanya benar-benar hendak melam-piaskan sakit hatinya. Sasaran yang dituju
tidak ba-gian yang mematikan. Dan sadar kekuatan sinar me-nyilaukannya pun
tidak terlalu dahsyat.
Wardini
benar-benar bagaikan ayam disembe-lih. Tubuhnya menggeliat-geliat ke sana
kemari, ketika cahaya menyilaukan dari Arimbi mengenai bagian-bagian tubuhnya
bertubi-tubi.
Rantai
Penggulung Jagad, Ular Angkasa, dan Taruna, bergidik melihat pemandangan ini.
Mereka ti-dak sampai hati melihat Wardini demikian menderita.
Menggeliat-geliat
sambil merintih-rintih memohon di-bunuh! Keringat sebesar biji-biji jagung
tampak meng-hiasi sekujur wajahnya.
Arimbi
berdiri tegak bagai patung memperhati-kan tingkah laku lawannya yang telah
sekarat. Selu-ruh anggota tubuh Wardini, kecuali wajah dan badan, hangus
menghitam. Tapi anehnya, wanita itu tidak mati. Kecuali merasakan panas luar
biasa yang me-nyiksa dirinya.
"Bunuh
saja aku, Arimbi. Jangan kau siksa aku seperti ini," ratap Wardini lirih.
Arimbi
tidak bergeming. Sementara Ular Angka-sa yang sejak tadi seperti terpengaruh
sihir sehingga membuatnya berdiri diam bagai patung, tersadar. Dia tidak sampai
hati melihat keadaan Wardini.
"Lupakan
dendammu, Arimbi. Kau telah mem-balasnya. Sekarang, penuhilah keinginannya,
Nak! Bunuhlah dia...! Bukan watak seorang pendekar, me-nyiksa lawannya!"
ujar Ular Angkasa.
Arimbi yang
sejak tadi membeku, berbalik. Dengan sinar mata merah, ditatapnya Ular Angkasa.
Lelaki gagah yang tidak pernah merasa gentar itu un-tuk pertama kalinya mundur
selangkah tanpa sadar melihat tatapan Arimbi yang benar-benar menggi-riskan!
Setelah
melempar tatapan seperti itu, Arimbi melesat meninggalkan tempat ini. Ular
Angkasa, Ran-tai Penggulung Jagad, dan Taruna bergidik ketika me-lihat Arimbi
tidak menjejakkan kaki atau menekuk lu-tut untuk melompat!
Bertepatan
dengan perginya Arimbi, belasan murid Perguruan Ular Sakti muncul, setelah
menden-gar bunyi gaduh. Semula mereka ragu, karena Ular Angkasa telah berpesan
agar jangan diganggu sedikit
pun.
Tapi karena
bunyi gaduh itu semakin menjadi-jadi, mereka nekat mendatangi tempat ini setelah
me-rundingkannya lebih dulu.
Kini mereka
terperangah ketika melihat pe-mandangan yang terpampang. Apalagi, ketika
melihat Ular Angkasa membunuh istri mudanya dengan menu-suk ulu hatinya.
Dewa Arak
kebingungan sampai-sampai alisnya berkernyit. Kakinya yang kokoh kini berdiri
di tanah berumput hijau segar yang terawat baik. Beberapa tombak di depannya
terdapat hamparan rumput yang juga hijau, tapi tingginya sekitar satu tombak.
Sekeli-lingnya tanaman bunga. Di antara tanaman-tanaman itu, membentang jalan
setapak.
Telah cukup
lama pemuda berambut putih ke-perakan ini berada di sini. Sekarang ini Dewa
Arak tengah dalam perjalanan menuju Istana Iblis. Tapi ba-ru pada pintu
pertamanya di bagian taman ini, dia ti-dak bisa berbuat banyak. Pemuda ini
hanya berputar-putar di tempat yang sama dan kembali di tempat itu tanpa tahu
lagi jalan kembali. Sedangkan jalan yang dicari pun, belum juga didapatkan.
Arya
menghapus peluh yang membasahi ken-ing. Perasaan khawatir mulai menyergap
hatinya. De-wa Arak tahu, bila jalan keluar tetap tidak diketemu-kan, bisa mati
di tempat ini! Apalagi juga dirasakan adanya hawa beracun di sini! Mungkin
berasal dari sa-lah satu tanaman yang ada.
Sekarang
Arya baru mengerti, mengapa banyak
tokoh
persilatan yang tidak kembali dalam perjalanan menuju Istana Iblis. Mungkin,
sebagian besar tewas di tempat ini. Buktinya, hidungnya masih bisa membaui
mayat! Tengah Dewa Arak berpikir lebih jauh lagi mendadak...
"Dari
tempatmu berdiri, maju ke depan lurus! Berdirilah tepat di depan rumput yang
pada bagian ujungnya menempel belalang kecil. Belalang itu palsu. Dari situ
melangkah ke kanan tiga tindak..."
Terdengar
suara nyaring merdu khas suara seorang wanita muda, merasuk ke dalam telinga
Arya.
Dewa Arak
berpikir sejenak, tidak langsung menuruti pemberitahuan yang dikirim melalui
ilmu pengirim suara dari jauh itu. Dia mempertimbangkan-nya, sebelum mengambil
keputusan.
Arya yakin,
petunjuk itu benar. Kalau tipuan dengan maksud untuk membuatnya tewas rasanya
ti-dak mungkin. Tanpa ditipu pun, dia memang sudah tersesat. Hanya kebetulan
saja dia belum celaka di tempat-tempat salah yang diambilnya.
Maka Arya
mengambil keputusan, mengikuti petunjuk itu. Tanpa banyak pertimbangan,
diikutinya secara membuta. Terkadang menabrak tanaman, ber-jalan mundur,
melingkar, dan melompat-lompat. Tapi, hebatnya, tak lama kemudian dia telah
sampai di tem-pat kedatangannya semula.
Dewa Arak
tidak kecewa dengan kegagalannya menemukan Istana Iblis. Di tempat jalan-jalan
aneh menuju istana rahasia itu, di luarnya Dewa Arak meli-hat dua sosok. Yang
seorang gadis muda, sedangkan yang lainnya seorang nenek!
Dua sosok
yang berdiri berjarak lima tombak di depan Dewa Arak itu mengangguk. Sifat
mereka tam-pak ramah. Arya balas mengangguk. Sebentar dia ter-
senyum,
lalu menghampiri.
"Terima
kasih atas pertolongan kalian berdua. Perkenalkan, namaku Arya. Tanpa kalian,
mungkin aku telah menjadi mayat," ucap Arya sambil mengem-bangkan senyum
lebar.
"Lupakanlah,
Arya," ujar gadis berpakaian kun-ing. Gadis ini diyakini Arya sebagai orang
yang mengi-rim petunjuk. Tapi dugaannya tidak dikatakannya.
"Aku
Sumarni. Dan ini guruku," lanjut gadis yang mengaku bernama Sumarni.
"Selamat
berjumpa, Nek," tegur Arya, sopan.
Si nenek
bongkok. Dia mengenakan pakaian hi-tam dengan jubah putih. Bibirnya yang
keriput men-gembangkan senyum. Giginya ternyata telah tanggal semua. Usianya
tentu telah amat tua.
"Maaf
kalau aku berlaku lancang, Nek. Apakah Nenek yang disebut-sebut orang sebagai
permilik Ista-na Iblis?!" ucap Arya sopan.
Si nenek
mengangguk.
"Benarkah
banyak orang yang tewas sebelum mencapai Istana Iblis, Nek?!"
Kali ini si
nenek tidak memberi jawaban lang-sung. Malah ditatapnya Arya.
Pemuda ini
terkesiap melihat mata nenek itu mencorong tajam. Sorotnya lebih terang
dibanding to-koh mana pun yang pernah dijumpainya!
Arya sudah
merasa khawatir kalau nenek ini marah dan menyerangnya. Sementara Sumarni
keliha-tannya gelisah. Dengan bahasa isyarat, dipintanya Arya untuk tidak
banyak bertanya.
Arya
menarik napas lega ketika mata nenek itu meredup kembali. Dan Sumarni pun
tenang. Wajahnya bahkan berseri ketika melihat gurunya mengangguk.
"Kau
hendak bertanya lagi kan, Dewa Arak?!"
tukas nenek
itu, tapi tidak terasa adanya nada kema-rahan di dalamnya.
Arya diam
sejenak, sebelum akhirnya men-gangguk.
"Bukankah
kau hendak mengajukan perta-nyaan, mengapa orang-orang itu tidak
kutolong?!"
Untuk kedua
kalinya Dewa Arak mengangguk. Diam-dilam pemuda ini merasa takjub, menyadari
ka-lau nenek ini bisa membaca pikirannya. Dugaan yang dilontarkannya memang
tepat
"Kau
tidak usah merasa takjub, Dewa Arak. Aku memang mempunyai kemampuan membaca
piki-ran orang lain," jelas si nenek lagi. "Ketahuilah. Ada dua hal
yang membuatku tidak membiarkan kau mati di sana, sebagaimana orang lain!"
Si nenek
mengarahkan pandangan ke lereng gunung. Sikapnya seperti orang yang tengah
menung-gu sesuatu. Kesempatan itu dipergunakan Arya untuk mengerling ke arah
gadis berpakaian kuning yang ber-nama Sumarni.
Arya harus
mengakui, Sumarni amat cantik. Kulit wajah dan tubuhnya putih, halus, dan
mulus. Bentuk tubuhnya sintal. Indah dan menggiurkan. Sungguh seorang gadis
yang amat menarik!
"Hal
pertama," suara si nenek membuat Arya mengalihkan perhatian kembali.
Arya sudah
merah wajahnya karena khawatir perbuatannya dipergoki. Tapi hatinya lega ketika
ne-nek itu masih tetap menerawang ke depan.
"Karena
kau adalah tokoh yang berjuluk Dewa Arak"
Arya
melongo. Nenek ini tahu tentang Dewa Arak?! Berarti dia masih suka terjun ke
dunia persila-tan!
"Dari
mulut muridku, yang mendengar berita mengenaimu di luaran, aku tahu kau
terhitung pende-kar berhati lurus. Aku tahu kedatanganmu menempuh bahaya ke
Istana Iblis, tidak untuk nafsu serakah se-bagaimana orang lain."
"Aku
datang kemari untuk meminta petunjuk, mengenai cara membunuh seorang lawan yang
amat sakti dan memiliki ilmu aneh, Nek," jelas Arya, buru-buru
"Aku
tahu itu, Dewa Arak. Kulihat sendiri di benakmu. Bahkan sepotong-potong,
kulihat apa yang kau lihat mengenai tokoh luar biasa itu. Kedatangan-mu hendak
meminta cabai putih hitam bukan?! Sayang, aku tidak menyimpannya," terabas
si nenek.
Arya
menghela napas berat. Harapannya ter-nyata pupus.
"Ada
pun hal kedua," sambung si nenek. "Kare-na permintaan muridku yang
kau anggap amat mena-rik hati! Dialah yang memintaku untuk mengampuni
tindakanmu. Dia melihatmu terancam, dan ingin me-nolongmu...!"
Dua wajah
anak muda langsung merah padam, Jika Arya merasa rahasianya terbongkar, karena
men-gerling ke arah Sumarni yang dilakukan diam-diam. Sedangkan Sumarni, dibuka
isi hatinya!
"Oleh
karena itu, Dewa Arak," si nenek terus saja berbicara, tak peduli perasaan
sepasang anak muda itu. "Kuminta kau membawa Sumarni dari sini. Aku tidak
ingin dia celaka di tangan tokoh luar biasa itu. Syukur-syukur, aku bisa
mengalahkannya. Se-hingga, kau tidak perlu membawanya kabur. Tapi, in-gat.
Kalau bisa, sebelum meninggalkan tempat ini, be-rikan kesempatan bagiku untuk
memberitahukanmu mengenai kelemahan tokoh itu."
"Jadi
kau telah mengetahui kelemahan Jagal-pati, Nek?!" tanya Arya, mempunyai
bahan mengatih-kan persoalan.
"Sekarang
belum," jawab si nenek.
"Nanti,
setelah bertarung dengannya dan mem-perhatikan ilmunya, mungkin bisa kuketahui
kelema-hannya. Itu baru kemungkinan. Tapi kemungkinan itu besar. Karena aku
sudah mempunyai sedikit gambaran penangkalnya, berdasarkan gerakan dan pameran
ilmu yang sempat kulihat di benak Sumarni dan kau! Mu-dah-mudahan saja."
***
"Jadi,
Jagalpati akan menuju kemari, Nek?!" Lagi-lagi Arya mengajukan pertanyaan,
setelah
membiarkan
suasana hening.
"Begitulah
menurut dugaanku, Dewa Arak. Ja-galpati ingin bersembunyi. Dan tidak ada tempat
yang lebih baik, selain Istana Iblis. Bisa kurasakan, kalau saat ini dia tengah
dilanda ketakutan hebat Dia ber-lomba dengan waktu, untuk mencari keselamatan.
Aku tidak tahu, mengapa dia sampai demikian takut," jelas si nenek,
mendesah.
"Jagalpati
tengah ketakutan, Nek?!" ulang Arya ingin jawaban yang lebih jelas.
"Mungkinkah hal yang ditakutinya ketika hampir berhasil membunuhku?!"
Si nenek
bagaikan disengat kalajengking hingga terjingkat. Suaranya penuh tekanan,
ketika berkata pada Arya. Sehingga, tidak hanya Arya saja yang kaget Sumarni
pun demikian. Gadis ini sampai mengangkat wajahnya yang sejak tadi ditundukkan.
Dia merasa he-ran. Biasanya gurunya bersikap tenang, bahkan terke-san dingin.
Tapi mengapa sekarang demikian kalap?!
"Coba
kau bayangkan wajah Jagalpati ketika ketakutan di saat hendak membunuhmu, Dewa
Arak!" perintah si nenek, setelah lebih dulu menyuruh Arya menceritakan
pertemuannya dengan Jagalpati.
Otak Arya
yang cerdas dapat menangkap mak-sud perintah itu. Keturunan terakhir pemilik
Istana Ib-lis ini, ingin membaca pikiran Jagalpati saat tengah ke-takutan!
Tanpa
membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak memusatkan pikiran untuk membayangkannya.
Tidak terlalu sukar, karena sikap Jagalpati amat menarik perhatiannya sehingga
terekam erat di otaknya.
Si nenek
menatap Arya tajam-tajam beberapa saat sambil mengernyitkan kening. Membaca
pikiran orang yang berupa gambaran pikiran seseorang, ter-nyata menguras
kemampuannya. Jauh lebih sukar da-ripada membaca pikiran orang yang ada di
hadapan-nya.
"Aneh...,"
gumam si nenek sambil menghapus keringat yang membasahi kening, karena cukup
ba-nyak mengerahkan kemampuan.
Saat itu,
sebuah pertanyaan sudah berada di ujung lidah Dewa Arak dan Sumarni. Namun karena
perasaan tidak enak, membuat keduanya menekan pe-rasaan. Dan pertanyaan itu
tidak terlontar keluar.
Nenek
penghuni Istana Iblis itu sendiri seperti tidak tahu perasaan yang bergolak di
hati Arya dan Sumarni. Dia malah mengelus-elus dagu sambil meng-geleng-gelengkan
kepala. Seakan-akan, jawaban yang didapat mengherankan hatinya.
"Rasanya
tidak masuk akal, Dewa Arak...." "Mengapa, Nek?" tanya Arya
ketika memperoleh
kesempatan
dan keberanian.
"Hasil
yang kudapat dari hasil pemusatan per-
hatianmu
terhadap wajah Jagalpati, menunjukkan ka-lau dia takut pada halilintar!"
Sumarni
melongo. Heran. Sedangkan Arya me-longo sebentar, tapi tidak heran.
"Kurasa
itu tidak mungkin, Nek?!" bantah Arya, yakin. "Kalau petir yang
ditakutinya, mengapa tidak sejak sebelumnya! Perlu kau ketahui, Nek. Di saat
dia hendak menjatuhkan pukulan menentukan padaku, petir telah beberapa kali
meledak. Sebelum aku diro-bohkannya, beberapa kali petir telah menyambar bu-mi!
Kalau dia memang takut pada petir, kenapa tidak sejak pertama kali petir
menyalak. Maaf, Nek. Bukan-nya tidak percaya. Aku pun semula menduga sama
denganmu. Tapi sangkalan yang kudapat kemudian amat kuat. Bukan petir yang
menyebabkannya takut, Nek."
"Tidak
kusalahkan kalau kau berpendapat de-mikian, Dewa Arak. Tapi, ketahuilah.
Jawaban itu sa-tu-satunya yang kudapatkan dari bayangan khayal Ja-galpati
melalui alam pikiranmu! Terlihat jelas! Bahkan ketika kuulang untuk lebih
meyakinkan, jawaban sa-ma yang kuperoleh!"
Dewa Arak
diam. Benaknya diputar keras un-tuk mencoba memecahkan masalah yang aneh ini.
Se-benarnya dia tidak merasa aneh mendengar jawaban yang diberikan si nenek.
Hanya yang menjadi pikiran-nya, hanya sangkalan yang diberikannya! Benarkah
petir yang ditakuti Jagalpati?! Tapi, mengapa bukan petir pertama yang
ditakutinya? Ataukah petir yang meledak di saat serangan menentukan terhadap
Dewa Arak dilancarkan, berbeda dengan petir-petir sebelum-nya?
Arya yang
hendak membuka mulut untuk men-geluarkan buah pikirannya, segera menahan
ucapan-
nya ketika
melihat penghuni Istana Iblis itu memper-hatikan lereng gunung dengan sikap
amat tertarik. Pandangannya pun dialihkan.
Tampak di
kejauhan, sesosok tubuh meluncur dengan kecepatan menakjubkan ke arah mereka.
Na-mun, Arya hanya memperhatikannya sebentar.
. "Aku
yakin, dia bukan Jagalpati, Nek!" ujar Arya setengah memberitahukan.
"Hmmm...!"
Si nenek
mengeluarkan gumaman sebagai tanggapan. Tapi pandangannya tetap tidak dialihkan
sama sekali. Hatinya masih belum yakin kalau belum membuktikannya sendiri.
Sayang, jarak masih terlalu jauh untuk bisa melihat sosok itu secara jelas
"Jagalpati
tidak mengenakan pakaian putih, Nek. Dia berpakaian serba hitam," tambah
Arya untuk menguatkan keterangannya.
Seperti
juga si nenek, Dewa Arak pun belum melihat jelas wajah sosok yang bergerak
cepat menuju tempat mereka. Tapi, dari warna pakaiannya, Arya bisa menduga.
"Kau
kenal siapa dia, Dewa Arak?!"
Arya
memperhatikan sosok yang tengah mele-sat dengan kecepatan tinggi beberapa saat
sampai wa-jahnya terlihat cukup jelas. Pelan dan mantap kepa-lanya digelengkan.
"Aku
belum pernah melihatnya, Nek"
Jawaban itu
meski agak berputar, tapi telah memberi petunjuk pada penghuni Istana Iblis.
"Mau
apa dia kemari?! Apakah ingin menyatro-ni Istana Iblis?! Rasanya, tidak
mungkin! Sudah bela-san tahun Istana Iblis tidak didatangi orang," gumam
si nenek seperti bicara pada dirinya sendiri.
"Kau
pernah melihatnya, Sumarni?!"
Sumarni
menggeleng. "Tidak, Guru."
***
Sosok yang
menarik perhatian penghuni Istana Iblis, Dewa Arak, dan Sumarni menghentikan
larinya berjarak lima tombak. Sosok itu ternyata seorang lelaki berusia
setengah abad lebih. Kumisnya tipis, dengan wajah masih kelihatan tampan. Dia
balas memperhati-kan sosok-sosok di depannya, karena tahu kalau ke-hadirannya
sejak tadi telah menarik perhatian mereka.
Sesaat dua
belah pihak saling memperhatikan satu sama lain. Tapi, lelaki berpakaian putih
yang tak lain Kebo Gandrung tersenyum dan menganggukkan kepala. Rasa hormat dan
sopannya hanya ditujukan pada nenek berjubah putih.
"Namaku
Kebo Gandrung. Kalau aku tidak sa-lah mengenali orang, Nenek pasti yang dulu
disebut-sebut sebagai penghuni Istana Iblis itu, kan?!" kata Kebo Gandrung
membuka percakapan.
"Untuk
apa kau datang kemari, Kebo Gan-drung?!" tanya si nenek dingin, tanpa
menjawab perta-nyaan lelaki yang baru saja ditinggal mati istrinya.
Kebo
Gandrung tidak menjadi tersinggung atau kecil hati mendapat tanggapan seperti
itu. Senyum terkembang masih menghjas bibirnya.
"Mungkin
kedatanganku ini tidak menyenang-kan hatimu, Nek. Kedatanganku karena ingin
memin-tamu untuk mengangkatku sebagai murid. Aku berse-dia menjadi budakmu,
Nek. Asalkan, kau mau meme-nuhi permintaanku ini."
"Orang
setua kau untuk apa belajar kepan-daian lagi, Kebo Gandrung?!" tukas
penghuni Istana
Iblis,
mulai ramah melihat sikap Kebo Gandrung yang merendahkan diri itu.
"Kulihat kau telah memiliki ke-pandaian cukup! Tak sembarang orang yang
mampu memiliki tingkat kepandaian sepertimu!"
"Tapi
kepandaian yang kumiliki sekarang tidak ada artinya, jika dipergunakan untuk menghadapi
mu-suh besarku, Nek. Dia memiliki kepandaian tinggi. Dan dengan kepandaiannya,
dia telah membunuh istriku secara kejam!" jelas Kebo Gandrung.
Si nenek
terdiam sebentar, seperti berpikir. Se-pasang matanya menatap lekat-lekat wajah
Kebo Gan-drung. Sesaat kemudian, dia melepaskan napas berat.
"Aku
tidak yakin akan bisa memenuhi permin-taanmu, Kebo Gandrung. Musuh yang kau
maksud memiliki kepandaian teramat tinggi. Jangankan hanya kau mempelajari ilmu
dariku. Aku sendiri belum tentu mampu mengalahkan musuhmu itu!"
"Kau
tahu siapa musuh besarku itu, Nek?!" tanya Kebo Gandrung kaget setengah
tidak percaya.
Sementara
Arya dan Sumarni segera tahu kalau si nenek telah menggunakan ilmunya yang
khas. Membaca pikiran orang lain! Dan dengan ilmu itu, mu-suh besar Kebo
Gandrung diketahui.
Sebuah
dugaan muncul di benak Arya dan Su-marni begitu mendengar ucapan penghuni
Istana Iblis. Mungkinkah musuh besar Kebo Gandrung adalah Ja-galpati pula?!
Rasanya memang tidak salah lagi!
Si nenek
mengangguk, membenarkan perta-nyaan Kebo Gandrung. "Musuh besarmu
Jagalpati bu-kan?!" tebak si nenek, penuh keyakinan.
Kebo
Gandrung melongo mendengar jawaban penghuni Istana Iblis yang demikian tepat.
Si nenek sendiri bersikap tidak peduli.
"Lebih
baik kau tunggu di sini. Aku yakin, mu-
suh besarmu
itu akan tiba di sini tak lama lagi. Pera-saanku mengatakan demikian. Dan
biasanya, pera-saanku tidak salah. Mudah-mudahan saja, ditempat ini Jagalpati
harus terkubur!" lanjut si nenek penghuni Istana Iblis.
Kebo
Gandrung semakin bingung. Ditatapnya Arya dan Sumarni. Orang yang ditatap
tersenyum. Meski masih bingung, lelaki setengah baya yang masih ganteng ini
ikut tersenyum pula. Senyum yang terhias kesan bingungan.
***
"Aku
yakin Jagalpati yang tengah menuju ke-mari...," desah si nenek dengan
pandangan mata tidak berkedip ke depan.
Arya,
Sumarni, dan juga Kebo Gandrung mela yangkan tatapan ke bawah lereng. Mereka
melihat se-sosok hitam tengah melesat cepat. Arah yang dituju adalah tempat
mereka semua berada.
"Benar!
Dia Jagalpati...."
Jawaban itu
keluar secara bersamaan dari mu-lut Arya dan Sumarni. Kebo Gandrung masih
memper-hatikan penuh perhatian. Sudah cukup lama pemuda cabul itu tidak
dijumpai. Maka dia cukup menemui ke-sulitan untuk segera mengenalnya.
"Ha ha
ha...!"
Jaraknya
masih belasan tombak. Tapi sosok hi-tam yang memang Jagalpati itu telah tertawa
bergelak. Seperti juga keempat orang itu, Jagalpati telah melihat keberadaan
orang-orang yang memperhatikannya pe-nuh minat!
"Mimpi
apa aku semalaman, sehingga orang-orang yang kucari semuanya berkumpul di sini!
Apa-
kah kalian
semua memang telah bersepakat untuk ma-ti bersama-sama di tempat ini?! Ha ha
ha...!"
"Jagalpati...!
Manusia berhati binatang...! Syu-kur kau datang kemari! Kau harus menebus
kematian Cempaka, istriku!" dengus Kebo Gandrung, langsung melompat
menerjang dengan satu tendangan terbang ke arah dada.
Jagalpati
yang telah menghentikan larinya ter-tawa ganda. Padahal saat itu serangan Kebo
Gandrung tengah meluncur ke arahnya.
Begitu
serangan Kebo Gandrung tiba, Jagalpati mengulurkan tangan. Kelihatan tak
bertenaga dan sembarangan. Dan....
Tap!
Tapi
pergelangan kaki Kebo Gandrung telah berhasil dicekal Jagalpati.
Kebo
Gandrung kaget, tapi tidak mempunyai banyak waktu lagi. Jagalpati yang berhati
keji lang-sung melancarkan gerakan lanjutan. Tangannya berge-rak menekuk,
sehingga...
Krak!
"Aaakh...!"
Seketika
tulang kaki Kebo Gandrung pun pa-tah! Laki-laki ini meringis kesakitan!
Sementara
Jagalpati tidak peduli. Dengan se-nyum kejinya, dibantingnya tubuh Kebo Gandrung
ke tanah dengan keras.
Bruk!
Tubuh Kebo
Gandrung kontan menghantam tanah. Laki-laki ini menyeringai. Tapi, tidak
terdengar keluhan sedikit pun dari mulutnya. Tanah yang ter-hantam tubuhnya
sampai amblas beberapa jari.
"Orang
sepertimu harus mati secara mengeri-kan, Kebo!" desis Jagalpati penuh
kemarahan sambil
melayangkan
kaki untuk menjejak bahu!
Kebo
Gandrung ingin mengelak, tapi rasa sakit dan nyeri yang melanda membuatnya
sulit untuk ber-gerak.
Melihat
ancaman bahaya terhadap Kebo Gan-drung, Dewa Arak tidak bisa berdiam diri lagi.
Tubuh-nya cepat melompat sambil mengayunkan guci ke arah Jagalpati!
"Huh!"
Jagalpati
mendengus. Serangan Dewa Arak membuatnya membatalkan serangan terhadap Kebo
Gandrung. Secepat kilat tangannya disampokkan un-tuk memapak serangan yang
mengancam kepala.
Prang!
Benturan
keras terdengar ketika guci pusaka dan tangan berbenturan. Namun tubuh
Jagalpati tidak bergeming. Sebaliknya, Dewa Arak terlempar dan ter-putar.
Percikan-percikan arak bertumpahan dari da-lam guci.
Jagalpati
tidak mempedulikan Dewa Arak lagi. Rupanya, dia amat dendam terhadap Kebo
Gandrung. Begitu berhasil menyingkirkan Dewa Arak, serangan-nya terhadap Kebo
Gandrung kembali dilanjutkan!
"Chiaaat...
Heh?"
Tapi
lagi-lagi Jagalpati harus bisa menahan di-ri, karena maksudnya tak terlaksana.
Tanpa diduga, nenek penguni Istana Iblis telah membuat serangan-nya gagal.
Nenek itu
menyerang dengan sodokan tongkat ke arah ulu hati. Serangannya jauh lebih
dahsyat dari-pada serangan Dewa Arak.
Kendati
demikian, Jagalpati tidak menjadi gen-tar. Segera disambutnya serangan itu
dengan cara sa-ma.
Tap!
Tongkat itu
ditangkap Jagalpati. Tangan pemu-da ini sampai bergetar ketika maksudnya
kesampaian!
Jagalpati
benar-benar yakin akan kemampuan diri sendiri. Meski tahu kalau penghuni Istana
Iblis memiliki tenaga dalam tidak lumrah manusia, tongkat yang ditangkap pun
ditariknya.
Sementara
nenek berjubah putih tentu saja ti-dak menginginkan hal itu terjadi. Dia pun
balas mena-rik. Sehingga tarik-tarikan tongkat pun tidak bisa di-hindari lagi.
Dewa Arak,
Kebo Gandrung, dan Sumarni, memperhatikan dengan perasaan tegang. Mereka se-mua
tahu, pertarungan seperti ini amat berbahaya. Bi-la salah satu pihak ada yang
kalah, lawan akan mudah membunuhnya dengan perantaraan tongkat.
Tenaga
dalam dua tokoh luar biasa sakti yang berbeda jauh dalam usia itu ternyata
berimbang. Ka-rena sampai sekian jauh, adu tarik-tarikan itu masih berlangsung
sengit.
Yang kalah
kuat adalah tongkat yang tengah diperebutkan! Karena....
Krakkk!
Senjata itu
patah dua tepat di tengah-tengah. Hal ini membuat kedua tokoh yang sama-sama
tengah mengerahkan seluruh kekuatan menarik, kontan ter-jengkang ke belakang
terbawa tenaga tarikan sendiri.
Jagalpati
memang pemuda culas yang memiliki watak licik. Dalam keadaan terjengkang, dia
masih sempat melancarkan serangan. Seketika kepalanya di-goyangkan. Rambutnya
yang panjang sampai ke ping-gang putus di tengah-tengah.
Wess...!
Wess...!
Rambut yang
jumlahnya tak terhitung itu me-
luncur ke
arah si nenek. Semula berkelompok, tapi kemudian di tengah jalan memecah
menjadi beberapa bagian. Dan rambut-rambut itu menegang kaku laksa-na jarum.
"Hiaaa...!"
Penghuni
Istana Iblis membentak keras. Aki-batnya, rambut-rambut yang menegang kaku itu
kem-bali melemas seperti semula dan berjatuhan ke tanah, seperti membentur
dinding tidak tampak.
Dewa Arak,
Sumarni, dan Kebo Gandrung yang semula merasa khawatir, menjadi lega bercampur
ka-gum. Tapi perasaan itu kembali pupus, ketika melihat Jagalpati menerkam
laksana macan luka ke arah ne-nek berjubah putih ini.
Si nenek
yang baru saja memunahkan seran-gan rambut, tidak mempunyai kesempatan lagi
untuk mengelak. Serangan susulan Jagalpati memang berse-lisih sebentar dengan
serangan rambut, setelah pemu-da itu dapat mematahkan kekuatan yang membuat tu-buhnya
terpental.
Tidak ada
pilihan lain untuk menyelamatkan diri, membuat penghuni Istana Iblis ini
memutuskan untuk memapak serangan Jagalpati!
Sementara
Jagalpati memang luar biasa cerdik. Begitu serangan tangannya hampir mencapai
sasaran, kaki kanannya pun ikut pula dilayangkan!
Plak, plak,
desss, desss!
Hampir
berbarengan dengan benturan dua pa-sang tangan, kaki kanan Jagalpati berhasil
menghan-tam paha kanan si nenek.
Sementara
nenek berjubah putih yang menya-dari keadaannya kurang menguntungkan itu memang
sengaja membiarkan serangan mendarat. Di saat yang bersamaan, kaki kirinya
dilayangkan ke arah dada.
Sudah
terbayang di benaknya kalau dada Jagalpati akan hancur berantakan!
Akibat
masing-masing serangan, membuat tu-buh Jagalpati dan penghuni Istana Iblis
melayang jauh ke belakang. Tapi kalau Jagalpati mampu menjejak ta-nah secara
mantap, tubuh nenek itu justru terbanting keras di tanah dan langsung
memuntahkan darah se-gar. Penghuni Istana Iblis ini terluka dalam yang amat
parah!
"Nenek...!"
Sumarni
langsung meluruk ke arah gurunya. Tanpa memikirkan keselamatannya kalau-kalau
Ja-galpati menyerang lagi, dia duduk bersimpuh di dekat si nenek.
Dewa Arak
memperkirakan hal ini. Maka segera kakinya melangkah maju dan berdiri di antara
Jagal-pati dan penghuni Istana Iblis. Sikapnya terlihat penuh kewaspadaan.
Namun,
Jagalpati tidak mempedulikannya. Pe-muda ini malah bertolak pinggang, seraya
memperden-garkan tawanya yang sarat kesombongan.
"Sebentar
lagi, kalian semua akan kukirim ke neraka! Kau, Dewa Arak! Kalau masih ingin
hidup, tinggalkan tempat ini! Kau tidak mempunyai urusan denganku! Aku tidak
terlalu berselera membunuhmu! Pergilah cepat!"
Ucapan
Jagalpati memang tidak sepenuhnya bualan. Penghuni istana Iblis telah tidak
mampu memberi perlawanan lagi. Nenek ini tergolek lemah. Tak berdaya.
"Marni,
muridku...," ucap nenek berjubah pu-tih, terputus-putus,
"Segeralah
pergi tinggalkan tempat ini. Tidak ada gunanya, melawan Jagalpati. Iblis itu
tidak akan
bisa
dibuhuh, kecuali oleh orang yang ada pertalian batin dengannya. Tidak hanya
saudara, istri, maupun kekasih. Tapi, orang yang telah dicabuli olehnya. Itu
saja pun tidak cukup. Orang itu harus mempunyai se-suatu di dalamnya. Sesuatu
dari alam yang akan men-jadi kekuatan besar di dalam dirinya. Sesuatu itulah
yang akan dapat digunakan untuk membunuh Jagal-pati. Katakan, hal ini pada Dewa
Arak!"
"Akan
kusampaikan, Nek," sahut Sumarni pa-tuh, terbata-bata.
Sebenarnya,
Sumarni tidak perlu menyampai-kan hal itu. Karena meski diucapkan secara
terputus-putus dan lemah, telinga Arya masih mampu menang-kapnya. Meski saat
itu, Dewa Arak sibuk memperhati-kan gerak-gerik Jagalpati.
Karena
memperhatikan gerak-gerik Jagalpati itu, Dewa Arak segera melihat keanehan
sikapnya. Ja-galpati yang tadi bersikap pongah, mendadak gelisah. Perhatiannya
tidak ditujukan lagi pada Arya.
"Hi hi
hik...!"
Seperti
menyambuti kegelisahan Jagalpati, mendadak terdengar tawa mengikik. Tinggi,
melengk-ing, dan mengerikan. Dan sebelum gema tawa itu le-nyap, berkelebat
sesosok tubuh ramping dan mendarat di situ. Kulit wajahnya yang pucat kelihatan
mengeri-kan dengan sepasang matanya yang merah membara. Bulu-bulu di tubuhnya
yang tidak tertutup pakaian tampak berdiri!
Sosok
ramping itu tak lain daripada Arimbi! Pu-tri Ular Angkasa, Ketua Perguruan Ular
Sakti.
Kehadiran
Arimbi yang tertawa-tawa ini menge-jutkan semua orang. Hanya saja, ada dua
orang yang memiliki keterkejutan bercampur perasaan lain. Orang pertama adalah
Jagalpati! Keterkejutan yang diala-
minya,
bercampur ketakutan dan kegentaran hebat. Perasaan itu tampak jelas pada wajah
dan sinar ma-tanya.
Orang kedua
adalah penghuni Istana Iblis. Ne-nek ini dengan kemampuannya membaca pikiran,
se-gera mengetahui kalau Arimbi adalah orang yang dapat membinasakan Jagalpati.
Hal inilah yang membuat wajahnya berseri-seri.
Kebo
Gandrung adalah orang terakhir. Keterke-jutan yang dialaminya bercampur
ketegangan. Tegang, karena yakin sekali mengenal sosok ramping bermata merah
darah itu.
Tapi, Kebo
Gandrung tidak yakin. Maka dengan jantung memukul keras, ditunggunya kejadian
selan-jutnya.
Di lain
pihak, Jagalpati berusaha berbalik dan berlari. Tapi ketika Arimbi mengaum
laksana harimau murka, kedua kaki pemuda ini menggigil. Rasanya, apabila Arimbi
mengaum sekali lagi, Jagalpati akan ja-tuh!
"Manusia
berhati binatang!" desis Arimbi, pe-nuh kebencian. "Sudah saatnya kau
harus menebus kekejianmu terhadap diriku! Kau akan menemui rohku di alam baka!
Ayo, Jagalpati! Ini aku, Cempaka. Wanita yang kau gandrungi, peluk aku! Cium
aku! Perlakukan aku semaumu!"
"Tidaaak...!"
teriak Jagalpati, keras.
Teriakan
itu rupanya membuat tenaganya tim-bul kembali. Jagalpati kemudian menghentakkan
ke-dua tangannya, melakukan pukulan jarak jauh amat dahsyat.
"Hi...
hi... hi...!"
Namun
Arimbi tertawa mengikik. Dengan kedua tangan terbuka, disambutnya serangan itu.
Pletak!
Tar! "Aakh...!" "Aakh...!"
Terdengar
bunyi letupan yang aneh ketika dua pukulan jarak jauh itu bertemu di udara,
disusul dua jeritan nyeri pun berkumandang. Jeritan susul-menyusul yang keluar
dari mulut Jagalpati dan Arim-bi. Di saat lengkingan sekarat itu semakin
meninggi....
Blarr!
Blarrr!
Terdengar
bunyi ledakan, disusul tubuh Jagal-pati dan Arimbi yang langsung hancur.
Dewa Arak
yang berdiri paling dekat, melompat mundur agar tidak terkena percikan darah
dan caca-han-cacahan daging. Pada saat yang hampir bersa-maan, Kebo Gandrung
menjerit memilukan, langsung berhambur ke arah Arimbi yang mengaku bernama
Cempaka. Keadaannya tidak memungkinkan, mem-buat lari lelaki ini
terhuyung-huyung.
"Cempaka...!
Istriku...!"
Kebo
Gandrung bersimpuh di tempat Arimbi tadi berdiri. Dengan penuh penyesalan,
dipukulnya ta-nah bertubi-tubi. Mulutnya mengemikkan perkataan maaf.
"Apa
yang terjadi, Nek?! Itukah gadis yang me-nurut pendapatmu mendapat kekuatan
dari alam?!" tanya Arya, setengah menebak.
Penghuni
Istana iblis mengangguk.
"Gadis
itu, ternyata istri Kebo Gandrung. Seper-ti katanya, istrinya telah mati oleh
Jagalpati. Mungkin telah dikuburkannya. Tapi entah dengan cara bagai-mana,
mayat Cempaka yang kemungkinan besar telah dikubur Kebo Gandrung tersambar
petir. Jelas itu ka-rena kuasa Allah. Kalau pada orang lain tidak terjadi
apa pun,
tidak demikian mayat Cempaka. Entah den-gan cara bagaimana, petir mampu membuat
Cempaka hidup kembali. Mungkin karena pengaruh ilmu Jagal-pati," jelas si
nenek panjang lebar.
Dugaan si
nenek memang benar. Tapi ada sua-tu rahasia yang belum diketahui mereka,
kecuali Kebo Gandrung. Cempaka sebenarnya Arimbi yang terpukul akibat sikap
ayahnya yang mengusirnya.
Arya
menghela napas berat melihat Kebo Gan-drung tetap meratap-ratap dalam dukanya.
Tapi per-hatiannya terusik, karena merasa ada orang yang memperhatikannya.
Pemuda ini menoleh. Tampak wa-jah manis milik Sumarni menyemburat. Arya jadi
bin-gung. Tapi, penghuni Istana Iblis malah terkikik.
"Mungkin
kalian harus diikat tali perkawinan agar tidak saling malu-malu lagi! Hi hi
hik...!"
Tawa si
nenek mengendur dengan sendirinya. Tampak ada seraut wajah jelita di benak Dewa
Arak. Berarti, pemuda ini telah mempunyai tambatan hati. Dan kelanjutannya, Sumarni
pasti akan patah hati.
Arya
tersenyum penuh permohonan maaf pada penghuni Istana Iblis. Sengaja benaknya
membayang-kan Melati agar si nenek tahu, kalau dia sudah punya kekasih.
SELESAI
No comments:
Post a Comment