PEMBALASAN
DARI LIANG LAHAT
1
Hujan turun
begitu deras, bagai ditumpah-kan dari langit. Angin berhembus kencang menya-pu
apa saja yang dilalui. Sesekali kilat menjilat angkasa, membuat yang semula
gelap gulita men-jadi terang-benderang meski hanya sekilas. Alam seperti tengah
murka. Malam yang gelap pekat menjadikan suasana semakin menyeramkan!
Keadaan
demikian seperti tidak dipeduli-kan oleh sebuah kereta sederhana yang ditarik
kuda hitam tinggi besar. Pengendaranya adalah seorang lelaki kekar bertelanjang
dada. Tanpa henti-henti cambuknya dilecutkan, membuat kuda penarik kereta terus
berlari semakin cepat. Bunyi lecutan cambuk senantiasa terdengar, tapi nyaris
tertindih oleh suasana alam yang tengah menga-muk.
Kelihatannya
sang kusir ingin segera mela-kukan perjalanan secepat mungkin. Kendati
demi-kian, keadaan alam yang tidak bersahabat dan ta-nah lunak karena hujan,
membuat perjalanannya terhambat
"Masih
jauhkah perjalanan kita, Gempita?!" Terdengar suara serak dan parau dari
da-
lam kereta,
berusaha menyeruak riuh-rendahnya bunyi air hujan dan desir angin yang keras.
"Tidak!
Sebentar lagi pun kita akan sam-pai...!" teriak sang kusir tidak kalah
keras.
Kusir yang
dipanggil Gempita memiliki cambang bauk lebat itu terlihat ketika alam terang
benderang sejenak oleh kilatan di langit.
Berat dan
mantap suara Gempita. Tidak terlihat gemetar atau tersendat-sendat, seperti
layaknya orang kedinginan! Padahal, saat ini uda-ra dingin menusuk hingga ke
tulang sumsum!
Bahkan
lelaki bercambang bauk lebat itu malah bertelanjang dada!
Tidak
terdengar sahutan sama sekali dari dalam kereta. Rupanya, jawaban Gempita tadi
cu-kup memuaskan hati orang di dalam kereta. Se-mentara kereta terus melaju
terseok-seok melalui jalan tanah becek
"Kita
telah sampai...!" seru Gempita, seraya menarik tali kekang kudanya.
Tanpa
mempedulikan kudanya yang terus meringkik, lelaki bertelanjang dada dan
bercam-bang bauk lebat itu melompat. Pada saat yang hampir bersamaan, dari
belakang kereta melompat sesosok tubuh lain sambil membopong sebuah pe-ti mati!
"Kita
harus bertindak cepat..! Kalau ter-lambat, akan celaka...!" ujar Gempita
sambil berla-ri cepat menuju hamparan tanah luas yang berja-rak beberapa tombak
di depan.
Di
belakangnya, mengikuti sosok yang tadi di dalam kereta sambil membopong peti
mati. Si-nar bulan sepotong cukup menerangi sekitarnya. Sebuah tempat yang
pemandangannya cukup mendirikan bulu roma. Hamparan tanah itu ter-nyata tidak
kosong sama sekali. Pada beberapa bagian, tampak gundukan-gundukan tanah. Ya...
tempat ini memang kuburan liar!
Pada bagian
lapangan yang tidak terdapat gundukan, Gempita menghentikan langkahnya. Cangkul
yang tadi diambil dari kereta, langsung dihunjamkan ke bumi.
"Uhhh...!"
Lelaki
bercambang bauk itu berseru terta-han ketika ayunan cangkulnya yang sekuat
tenaga bagai tertahan secara mendadak. Ketika meng-hunjam tanah, hanya sebagian
mata cangkulnya
yang
amblas, Gempita penasaran bukan main. Sambil menggertakkan gigi seluruh
kekuatannya dikerahkan, hendak mencangkul kembali. Tapi, hasilnya sama saja.
Rasa penasaran dan heran mulai berganti rasa takut. Dan dia tetap saja
me-neruskan pekerjaannya.
"Cepat
sedikit, Gempita! Jangan main-main! Waktu kita sedikit. Lihat! Bulan sudah
me-nampakkan diri, dan hujan mulai mereda. Kalau sampai hujan berhenti dan peti
ini belum ditanam, malapetaka besar akan terjadi!" kata lelaki yang
membopong peti, berseru tak sabar.
Nada suara
lelaki bertubuh kecil kurus ini menyiratkan kegelisahan yang tidak bisa
disem-bunyikan. Dan memang bukan tanpa alasan dia memberi teguran. Apalagi, dia
tahu, siapa Gempi-ta. Bukan saja memiliki tenaga dalam luar biasa, tapi
kepandaiannya juga boleh dibanggakan. Jan-gankan menggali tanah yang telah
menjadi lunak karena tersiram hujan dengan cangkul! Menggali tanah keras dengan
sebatang kayu pun dapat ce-pat dilakukannya. Tapi sekarang mengapa dengan
cangkul justru pekerjaannya demikian lambat?!
"Aku
tidak bermain-main, Marong! Seluruh kemampuanku telah kukerahkan! Tapi, memang
ada sesuatu yang aneh di sini! Sesuatu yang membuat tenagaku seperti
lenyap!" jelas Gempita, tanpa menghentikan pekerjaannya.
Jawaban itu
membuat laki-laki kecil kurus yang dipanggil Marong merasa jantungnya seperti
berhenti berdetak. Dia tahu, Gempita tidak main-main dan berkata benar. Begitu
tiba di tempat ini pun, Marong telah merasa sesuatu yang aneh. Ra-sa takut
tanpa sebab mendadak muncul di ha-tinya. Bulu-bulu di tubuhnya, terutama sekali
di tengkuk kontan berdiri!
Marong
seketika merasakan tenggorokan-nya kering. Malah dengan susah payah ludahnya
baru dapat ditelan. Keringat sebesar-besar biji ja-gung mulai mengalir di
wajahnya. Padahal, kenda-ti hujan semakin mereda, udara masih amat din-gin!
Baik Marong
maupun Gempita mulai bisa menarik napas lega ketika akhirnya lubang yang hendak
digunakan untuk mengubur peti mati se-lesai digali. Tapi bertepatan dengan itu,
hujan yang sejak tadi telah terus mereda, berhenti sama sekali.
"Celaka,
Gempita! Hujan telah berhenti...! Usaha yang kita lakukan sia-sia
belaka...!" keluh Marong, tanpa mampu menyembunyikan rasa ge-lisahnya.
"Nasi
telah menjadi bubur, Marong," jawab Gempita, bernada keluhan. "Kita
tidak mempunyai pilihan lain lagi, kecuali menguburkan peti ini. Ti-dak mungkin
kita bertindak setengah jalan. Mu-dah-mudahan saja, perkiraan guru
meleset!"
Marong
tidak berkata apa-apa lagi. Dengan perasaan dicekam rasa takut, kedua lelaki
ini me-naruh peti mati ke dalam lubang dan mengubur-kannya.
"Mudah-mudahan
saja perkiraan guru me-leset. Bukankah itu hanya perkiraan saja!" hibur
Marong, seperti untuk diri sendiri.
Marong
mulai menjatuhkan gundukan de-mi gundukan tanah ke dalam lubang. Sebenarnya,
mereka tidak perlu menggunakan kaki, mendorong gundukan tanah yang tadi berada
di sisi lubang yang baru dibuat. Tapi, mereka tidak mempunyai pilihan lagi.
Tadi, dorongan angin pukulan mereka untuk pertama kalinya tidak membuahkan
hasil, karena tanah-tanah itu seperti tak ingin bergem-
ing.
"Jangan
bicara hal-hal yang menyeramkan, Marong," tegur Gempita dengan tengkuk
terasa dingin. Sementara bulu-bulu kuduknya terus ber-diri semakin banyak.
Percakapan yang dibuka Ma-rong semakin membuat memperseram keadaan.
"Aku
pun sebenarnya tidak ingin membica-rakan hal ini, Gempita. Tapi, berdiam diri
saja membuatku tidak enak. Aku bisa mati ketakutan!" sahut Marong.
"Bisa
saja kau buat percakapan lainnya. Jangan percakapan tentang hal-hal yang
membuat keadaan semakin seram," tangkis Gempita.
Marong
diam. Bisa dirasakan kebenaran ucapan kawannya. Hal ini membuat suasana
men-jadi hening.
"Heaaa...!"
Tiba-tiba
terdengar suara ringkikan kuda. Sehingga membuat dua lelaki ini terperanjat
kaget dengan jantung seperti berhenti berdetak. Kalau saja suasana tidak
remang-remang, akan terlihat wajah masing-masing yang pucat bagai tak dialiri
darah. Rasa takut dan seram, membuat bunyi yang dalam keadaan biasa seperti
berubah lain dan aneh. Malah sepertinya mampu membuat nyawa terbang sesaat
Sementara
itu ringkikan yang ternyata dari mulut kuda yang telah membawa mereka ke
tem-pat itu seperti bernada ketakutan. Bahkan setelah mengeluarkan ringkikan,
kuda itu berlari cepat bagai tengah dikejar sesuatu yang menakutkan, berikut
membawa kereta yang ditariknya.
Kejadian
ini membuat Marong dan Gempita kaget bukan main. Padahal, kuda hitam itu bukan
kuda sembarangan. Tapi, merupakan kuda pilihan yang amat taat pada majikan.
Tapi, mengapa kali
ini sampai
berani meninggalkan tempat itu sebe-lum diperintah?
"Hitam...!
Kembali...!"
Gempita
berseru keras memanggil kudanya yang terus berlari membawa kereta. Padahal
bi-asanya, setiap kali diberi perintah, kuda hitam itu menurut dan mengerti.
Tapi, kali ini perintah itu tidak dipedulikan sama sekali.
"Heran...,
apa yang terjadi dengan si Hi-tam...,?! Tidak biasanya dia beriaku seperti
itu...?!" gumam Gempita kebingungan.
"Sepertinya
dia sangat ketakutan, Gempi-ta," bisik Marong, membuat Gempita terperanjat
Marong
sadar kalau ketelepasan bicara. Karena kata-katanya akan membuat mereka
se-makin ketakutan. Tapi dia tahu, tidak ada gu-nanya lagi. Karena,
perkataannya telah keluar. Malah kebenarannya tidak diragukan. Si Hitam memang
ketakutan. Tapi, ketakutan terhadap apa?!
Gempita dan
Marong saling berpandangan. Mereka tahu, binatang mempunyai naluri amat ta-jam.
Bahkan kabarnya, binatang-binatang akan berteriak ketakutan kalau ada makhluk
halus le-wat. Dengan tingkah si Hitam kali ini?! Gempita dan Marong sama sekali
tidak mempedulikan ka-lau pakaian bagian bawah mereka mendadak ba-sah. Dan....
"Gempita...!
Lihat..!"
***
Marong
berusaha berseru. Tapi yang keluar hanya keluhan bagai orang yang tengah
sekarat. Bahkan tangan kanannya yang ditudingkan ke atas, tampak menggigil
hebat
Sementara,
Gempita mengarahkan pan-dangan ke arah yang ditunjuk Marong. Dan wa-jahnya pun
seketika berubah pucat. Bulan tampak berwarna merah seperti tersiram darah.
Bahkan sekeliling permukaan bulan pun merah membara. Apa yang mereka takuti
ternyata terjadi
"Bulan
Merah...," desis Gempita lebih mirip keluhan. "Berarti malapetaka itu
akan muncul. Cepat kita tinggalkan tempat ini, Marong...!"
Saat itu
juga, bagai tengah berlomba lari, Marong dan Gempita berlari cepat meninggalkan
tempat ini. Perasaan takut yang amat sangat, membuat kedua lelaki ini
mengerahkan seluruh kemampuannya.
Baik
Gempita maupun Marong merasa lega ketika berlari beberapa saat, tidak terlihat
adanya tanda-tanda akan adanya sesuatu yang mengejar. Kendati demikian, karena
rasa penasaran dan un-tuk lebih meyakinkan, kepala mereka menoleh ke belakang.
Dan
mendadak saja jantung Marong dan Gempita bagai berhenti berdetak, begitu
melihat ke belakang. Ternyata apa yang mereka lihat ma-sih berupa gundukan
tanah yang baru saja dibuat. Padahal, mereka telah berlari sekian lama! Ketika
kedua pandangan mereka diarahkan ke kaki dan tanah, baru disadari kalau sejak
tadi hanya berla-ri-lari di tempat.
Rasa takut
dan cemas yang mencekam ba-gai membuat kedua lelaki ini menjadi gila. Lari
mereka pun semakin dipercepat. Tapi kesudahan-nya tidak berbeda. Sepasang kaki
mereka hanya bermain-main di tempat semula.
Marong dan
Gempita terkenal sebagai to-koh persilatan yang berkepandaian tinggi. Dan
mereka tahu, kejadian ini tidak wajar. Ada kekua-
tan tak
nampak yang tidak dimengerti.
Sebagai
tokoh yang telah memiliki kepan-daian tinggi, Marong dan Gempita tahu kalau
ke-jadian ini hanya dapat dilakukan oleh tokoh ber-tenaga dalam tinggi hanya
dengan menjulurkan tangan. Tapi, di belakang mereka tidak terlihat seorang
tokoh pun! Jadi, siapa yang telah melaku-kannya.
Akhirnya,
setelah tahu kalau tindakan yang dilakukan sama sekali tidak berarti, Gempita
dan Marong bertindak nekat. Mereka menghenti-kan lari, dan langsung mencabut
senjata masing-masing. Gempita meloloskan goloknya, sedang Marong mencabut
sepasang trisulanya.
"Siapa
pun adanya kau, Siluman atau bu-kan, jangan bertindak pengecut begini. Silakan
ke-luar! Tunjukkan rupamu, Pengecut! Jangan dikira kami takut mati...!"
bentak Gempita keras sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Perasaan takut
yang melanda berubah menjadi nekat!
Marong
tidak ikut berteriak Tapi, pandan-gannya beredar ke sana kemari dengan sikap
was-pada. Jantung yang berdetak dalam dadanya dira-sakan bagai dentum tambur.
***
Keadaan
menjadi hening setelah Gempita berteriak. Ternyata memang tidak ada sambutan
sama sekali atas seruannya. Suasana jadi terasa menegangkan bagi Marong dan
Gempita. Menung-gu hal-hal yang tidak diketahui, membuat kete-gangan memuncak.
Bahkan keringat dingin makin mengalir membasahi sekujur wajah! Padahal, cua-ca
amat dingin menusuk tulang! Dan tiba-tiba....
Blarrr!
Terdengar
ledakan yang tidak terlalu keras, membuat Gempita dan Marong yang tengah tegang
menunggu, kontan terlompat ke belakang. Mereka terkejut bukan main. Bahkan
seketika itu pula, nyawa dua lelaki perkasa itu bagai melayang ke alam baka.
Setelah
perasaan kaget yang melanda be-rangsur lenyap, dengan mata terbelalak kaget
Ma-rong dan Gempita menatap ke arah gundukan ta-nah yang menjadi sumber ledakan
keras tadi. Ka-rena, di situlah tempat peti mati yang dibawa di-kuburkan!
Tampak tanah bergumpal-gumpal ber-pentalan ke atas ketika ledakan terjadi!
Belalakan
mata mereka semakin membesar ketika dari dalam lubang kuburan yang telah
menganga keluar sesuatu. Mula-mula hanya dua buah tangan yang mencekal pinggir
lubang. Ke-mudian disusul kepala berwajah pucat dengan mata bersinar kehijauan
mirip mata kucing, liar! Sehingga membuat wajah itu semakin mengerikan!
"Ambar...,"
desis Marong dan Gempita hampir berbarengan. Suara dan sorot mata mere-ka
seperti tidak percaya. Nama yang disebutkan adalah nama dari mayat dalam peti
yang baru saja mereka kuburkan!
"Hi hi
hi...!"
Terdengar
tawa mengikik dari sosok men-gerikan dari lubang kubur yang ternyata seorang
gadis muda. Seram mengiris telinga dan menyayat jantung.
"Aku
memang Ambar. Tapi, bukan Ambar seperti yang kalian kenal dulu. Kebangkitanku
la-gi, adalah untuk membalaskan semua sakit hati-ku. Hi hi hi...! Dan, kalian
adalah orang-orang yang pertama kali mendapatkan giliran untuk me-nerima
kematian!" kata sosok mayat hidup yang
bernama
Ambar dengan suara menggiriskan. "Tidak akan semudah itu kau dapat mela-
kukannya,
Setan Penasaran!" sentak Gempita yang telah bangkit keberaniannya.
"Justru kaulah yang akan kami binasakan, untuk tidak bisa bangkit lagi
selamanya!"
Gempita
tanpa berpikir panjang lagi segera melompat menerjang. Goloknya diputar bagai
kiti-ran, kemudian ditusukkan secara cepat ke arah perut manusia yang telah
bangkit dari kematian-nya.
Zebbb!
Secara
telak dan keras, golok Gempita mengenai sasaran dan menghunjam. Tapi, ternya-ta
Ambar sama sekali tidak menjerit kesakitan. Gadis ini malah tertawa cekikikan.
Tawa yang se-patutnya tidak keluar dari mulut manusia!
Gempita
membaui adanya bahaya. Maka goloknya yang amblas menembus sampai ke punggung
Ambar segera ditarik kembali. Tapi, hati lelaki ini mencelos ketika mengetahui
senjatanya tidak bisa ditarik kembali.
Gempita
menjadi gugup, sehingga mem-buatnya kehilangan akal. Dan tiba-tiba Ambar
menggerakkan kepalanya ke depan, membentur-kan pada kepala Gempita. Dan....
Prakkk!
Gempita
tidak bisa mengeluarkan jeritan lagi, ketika kepalanya hancur berantakan
berben-turan dengan kepala Ambar. Darah bercampur otak langsung muncrat-muncrat
dari kepalanya yang hancur berkeping-keping! Sebagian dari da-rah itu malah
menempel di dahi dan wajah Ambar yang terus tertawa kegirangan.
"Gempita...!"
Marong
menjerit kaget bercampur marah,
ketika
melihat kematian kawannya secara demi-kian mudah dan mengenaskan! Kejadian itu
ber-langsung cepat, sehingga lelaki kecil kurus ini ti-dak sempat berbuat
sesuatu untuk menyela-matkan Gempita.
"Kau
harus mampus, Siluman Penasaran! Nyawa kawanku harus kau tebus dengan
nyawa-mu!" dengus Marong.
Ambar
berhenti tertawa. Kini sepasang ma-tanya menatap Marong yang mulai bergerak
men-dekatinya sambil mempermainkan sepasang trisu-la. Bunyi mengaung mengiringi
gerakan trisula
Meski
diliputi marah meluap Marong bersi-kap hati-hati dan tidak mau sembarangan
menye-rang. Telah disaksikannya sendiri kehebatan mayat hidup itu. Dia tidak
ingin mati konyol se-perti Gempita. Maka kakinya melangkah hati-hati mendekati
lawannya.
Namun
tiba-tiba Marong menghentikan langkahnya ketika melihat perut Ambar bergolak.
Bergerak turun naik, bergelombang! Ada bunyi menggelogok seperti air tengah
mendidih hebat! Marong tak tahu, apa yang akan dilakukan mayat hidup ini.
Tapi,
dengan sebentar saja Marong terpaku selanjutnya diawali teriakan melengking
nyaring, lelaki ini melompat menerjang Ambar. Sepasang trisula di tangan
dikelebatkan bertubi-tubi ke arah berbagai bagian berbahaya di tubuh mayat
hidup itu.
"Huakh...!"
Pada saat
yang sama, dari mulut Ambar melesat keluar segumpal cairan merah kental,
se-belum serangan Marong tiba.
Marong
terperanjat saat gumpalan cairan merah yang diketahui sebagai darah itu
meluncur
cepat,
laksana anak panah lepas dari busur, tu-buhnya tengah berada di udara. Tidak
ada pilihan lain bagi Marong, kecuali menangkis serangan.
Lelaki
kecil kurus ini terpaksa membatal-kan serangannya. Sementara sepasang
trisulanya segera dipergunakan untuk memapak kedatangan gumpalan darah itu.
Marong tahu, meski hanya gumpalan darah, tapi menilik bunyinya yang ber-desing
nyaring, bisa diketahuinya kalau serangan itu tak kalah berbahayanya dengan
lemparan batu karang! Apabila mengenai sasaran, akan berakibat sangat parah.
Apalagi bagian yang dijadikan tu-juan adalah kepala!
Jantung
Marong bagai berhenti berdetak, ketika melihat gumpalan darah itu bagaikan
hi-dup. Sebelum tertangkis trisula, darah itu meliuk ke bawah bak seekor
kelelawar. Hal ini membuat sepasang trisula yang hendak dipergunakan men-jepit
gumpalan darah, saling berbenturan mener-bitkan bunyi nyaring. Sementara,
gumpalan darah itu sendiri meluncur deras ke arah leher. Dan....
"Akh...!"
Marong
hanya mampu menjerit tertahan ketika gumpalan darah itu menghantam lehernya.
Tulang lehernya kontan hancur berantakan men-geluarkan bunyi berderak keras.
Begitu ambruk di tanah, tubuhnya menggelepar-gelepar sesaat sebe-lum diam tidak
bergerak lagi. Marong tewas me-nyusul Gempita.
"Hi hi
hi...!"
Ambar yang
berupa sosok mayat hidup ter-tawa cekikikan. Penuh kegembiraan. Dengan pe-nuh
rasa puas, ditatapnya mayat dua orang kor-bannya.
"Dukun
keparat! Setiaji! Kalian pun akan mengalami nasib seperti dua monyet ini!
Kalian
bahkan akan
menerima kematian yang lebih men-gerikan! Tunggulah saatnya! Hi hi hi..!"
Glarrr!
Mendadak
saja terdengar bunyi halilintar yang luar biasa keras begitu Ambar tertawa.
Sua-ranya bagaikan akan menghancurkan persada! Dan dengan tawa yang tidak
terputus-putus, tu-buhnya melesat meninggalkan tempat itu. Me-ninggalkan dua
sosok mayat yang telah menjadi korban kebuasannya.
Sementara
bulan telah kembali seperti bi-asa, berwarna kuning keemasan. Langit pun
kem-bali cerah, seakan-akan tadi tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan
bintang-bintang yang sejak tadi tidak terlihat, seperti saling berlomba untuk
me-nampakkan diri. Awan tebal yang tadi menggan-tung di langit pun telah sirna
ditiup angin.
2
Sang surya
mengintip malu-malu di ufuk timur, mengusir kegelapan malam yang melingku-pi
persada. Kehadirannya disambut kicau riang burung-burung dan binatang-binatang
lainnya. Bertepatan dengan itu, sesosok tubuh berpakaian coklat yang tidak
terlihat jelas ciri-cirinya tampak-nya melesat cepat memasuki hutan kecil.
Gera-kannya cepat bukan main, sehingga sulit dikenali.
"Uh...!"
Sosok
berpakaian coklat itu mengeluarkan keluhan tertahan, seraya menghentikan
larinya. Dan dengan penuh rasa heran, matanya menatap ke arah jejeran pepohonan
yang berada di depan-nya. Namun yang membuat tertarik sosok yang ternyata
seorang kakek ini bukan pepohonan di
depannya.
Laki-laki yang telah tidak mempunyai sepasang kaki itu menatap heran ke arah
mayat seekor kuda hitam bertubuh kekar dan besar yang tergolek di tanah dengan
kepala hancur!
Kakek berpakaian coklat berlompatan
mendekati bangkai kuda, Gerakannya sama sekali tidak terlihat mengalami
kesulitan, kendati tidak memiliki kaki lagi. Karena pada kedua ketiaknya
terselip dua batang tongkat penyangga yang ber-guna sebagai pengganti kaki.
Sepasang
alis putih lelaki berusia amat lanjut itu bertautan, seperti tengah berpikir
keras. Hanya dengan melihat sekilas, dia tahu kalau ku-da hitam itu bukan kuda
liar. Karena di bagian be-lakangnya, bersambung dengan sebuah kereta.
Kakek
berpakaian coklat ini tidak merasa heran melihat kuda itu tewas.
Tapi
melihat keadaannya yang menge-naskan, membuat keningnya berkerut Kuda itu
agaknya habis dilanda ketakutan hebat, sampai-sampai tidak memperhatikan
keadaan sekitarnya. Binatang itu berlari sejadi-jadinya, melewati celah dua
batang pohon. Meskipun cukup untuk lewat tubuhnya, tapi tidak bisa dilewati
kereta yang di-bawanya. Akibatnya, kereta itu tertahan. Dengan sendirinya, lari
kuda itu tertahan. Dan kakek ini yakin, kuda hitam itu telah berusaha cukup
keras untuk meloloskan diri sebelum maut menjemput-nya, melalui tangan kejam
orang yang menghan-curkan kepalanya.
"Sungguh
kejam orang yang membunuh-nya!" desis kakek berpakaian coklat ini penuh
pe-rasaan penasaran, seraya mengarahkan pandan-gan ke tempat kuda itu berasal.
Tidak sulit
bagi kakek ini untuk memasti-kannya. Karena di samping terjawab oleh arah bi-
natang itu
dan keretanya, juga oleh jejak kaki dan bekas roda kereta yang tampak jelas di
tanah be-cek akibat hujan deras semalam. Dari bekas-bekas yang ada, memang
tidak ada hambatan untuk mengikuti arah awal kuda hitam itu. Dan semakin jauh
tempat kuda tergeletak ditinggalkannya, se-makin banyak kerutan pada dahinya.
"Ah...!"
Kakek berpakaian
coklat berseru kaget, be-gitu melihat tempat asal kuda itu berlari. Bebera-pa
tombak di depannya, tampak hamparan tanah lapang yang sedikit ditumbuhi rumput
mengering. Pada beberapa bagian, tampak gundukan-gundukan
tanah agak memanjang. Dan tempat ini memang sebuah makam!
Bukan hanya
makam-makam itu saja yang ada di hamparan tanah lapang itu. Tapi, juga dua
sosok tubuh yang tergolek di tanah dalam keadaan tewas menyedihkan.
"Ya,
Tuhan...!"
Seruan
bernada kaget dan penyesalan di-keluarkan kakek itu, seiring lesatan tubuhnya
ke depan menghampiri dua sosok mayat yang tergo-lek.
Tanpa
memeriksa lagi pun, kakek berpa-kaian coklat ini telah mengenali dua sosok itu
te-lah jadi mayat. Yang seorang bertelanjang dada dengan kepala pecah.
Sedangkan yang satu lagi kecil kurus, dengan leher terkulai. Dan tepat pada
bagian lehernya, tampak lubang besar menganga!
Pemandangan
ini saja sudah membuat ka-kek berpakaian coklat terkejut. Dan lebih terkejut
lagi ketika melihat adanya lubang kuburan yang menganga beberapa tombak dari
situ. Maka den-gan wajah pucat dan tergesa-gesa, dihampirinya lubang itu. Lalu
dengan bertopang pada sepasang
tongkat di
ketiaknya, kepalanya dilongokkan ke dasar lubang.
"Apa
yang aku khawatirkan akhirnya terja-di juga. Tuan Muda terbebas dari
kungkungan. Malapetaka besar akan merajalela di dunia persi-latan. Ahhh...!
Haruskah aku melakukan tindakan seperti yang diperintahkan tuan besar?
Sang-gupkah aku?!" gumam kakek itu dalam hati.
Kakek
berpakaian coklat ini termenung be-berapa saat di pinggir lubang. Kelihatannya
dia bingung sekali. Bahkan beberapa kali menghela napas berat, seperti ada
beban yang mengganjal dalam batinnya.
Dan,
setelah menarik napas beberapa kali untuk menenangkan batinnya, kakek ini
melang-kah tertatih-tatih mendekati sebuah gundukan ta-nah lain yang lebih
besar. Pada bagian tengah ma-kam ini, tampak sebongkah batu hitam mengkilat.
"Tuan
Besar," kata kakek ini dengan kepala tertunduk hormat. Seakan-akan orang
yang dis-apa berada di depannya. "Apa yang kau khawatir-kan, akhirnya
terjadi. Tuan Muda telah lolos dari kungkungan. Dan aku khawatir dia akan
menye-bar maut di dunia persilatan. Banyak gadis cantik yang akan jadi
korbannya lagi. Aku mohon restu-mu, Tuan Besar. Aku akan mencoba memenuhi
ti-tahmu untuk mencegah angkara murka Tuan Mu-da."
Kakek
berpakaian coklat lalu membungkuk beberapa kali, sebelum berdiri tegak seperti
sedia kala.
"Maafkan
aku, Tuan Muda. Aku terpaksa mengganggu istirahat mu."
Kakek itu
menutup ucapannya dengan ti-upan pelan dari mulutnya. Tapi, yang terjadi
ada-lah hembusan angin keras yang mampu membuat
batu hitam
mengkilat sebesar kepala kerbau itu berpentalan jauh bagaikan dilempar tokoh
persila-tan yang memiliki tenaga raksasa!
Kakek
berpakaian coklat ini lalu duduk bersila, berjarak satu tombak dari makam.
Sepa-sang matanya yang semula sayu sarat dengan pe-nyesalan, mencorong dengan
sinar kehijauan se-perti mata kucing dalam gelap. Sekejap kemudian, mulutnya
meniup.
Seketika
kembali angin keras. berhembus dari mulut si kakek. Gundukan tanah itu
ber-goyang-goyang keras. Kian lama kian keras. Bong-kahan-bongkahan tanah
lembek berpentalan ter-pisah dari gundukannya. Semakin banyak, seiring tiupan
kakek itu. Dan ketika wajah kakek berpa-kaian coklat telah dibasahi keringat,
gundukan tanah itu sudah tidak nampak lagi. Yang tinggal hanya lubang besar
menganga memperlihatkan sebuah peti mati di dalamnya.
Kakek ini
kemudian menghembuskan na-pas lega, seraya bangkit berdiri. Dengan memper-gunakan
tongkat yang tadi ditaruhnya di tanah ketika duduk bersila, dia mulai
melangkah.
Tapi baru
juga beberapa langkah kakek itu menghampiri lubang, terdengar bunyi berkesiutan
nyaring dari sebuah benda. Dia tahu pemilik lem-paran benda itu mempunyai
tenaga dalam luar bi-asa. Kendati demikian, hatinya tidak menjadi gen-tar untuk
memapaknya dengan tongkat yang se-mula terjepit di ketiaknya.
Sebelum
menangkis, kakek berpakaian coklat masih sempat melihat kalau benda yang
meluncur ke arahnya mirip batu berbentuk agak bulat, sebesar kepalan tangan.
Maka tanpa ragu-ragu dipapaknya.
Pyarrr…!
***
Kejadian
selanjutnya benar-benar mem-buat kakek ini kaget bukan kepalang. Ternyata benda
itu meledak, walaupun pelan. Tapi berba-reng ledakannya, berhamburan benda-benda
ha-lus ke arahnya.
Kejadian
yang berlangsung demikian cepat ini tidak membuat kakek itu gugup. Dan
tampak-nya sepasang matanya awas bukan main. Meski meluncurnya benda-benda
halus yang cepat bu-kan main, masih mampu ia lihat kalau itu adalah jarum yang
puluhan jumlahnya!
Kakek
berpakaian coklat tidak memiliki ke-sempatan sedikit pun untuk mengelak. Maka
selu-ruh tenaga dalamnya segera dikerahkan untuk membuat kulit tubuhnya kebal.
Tapi belum juga tenaga dalamnya penuh dikeluarkan, mendadak....
Blammm!
Tiba-tiba
terdengar bunyi berdebam nyar-ing, bagai bunyi halilintar!
Kakek
berpakaian coklat ini mengeluh da-lam hati. Bunyi berdetak keras tadi tidak
hanya membuat telinganya tuli, tapi juga membuat pen-gerahan tenaga dalamnya
buyar. Sekujur tubuh-nya kontan lemas. Bahkan dia hampir jatuh, ka-rena tenaga
yang tidak tersedia membuat goyah tongkat yang terjepit di ketiak. Dan saat
itulah, puluhan jarum beracun menghunjaminya!
Seketika
itu pula, tubuh kakek ini ambruk ke tanah. Namun dia tidak putus asa. Dicobanya
untuk bangkit hendak membalas orang yang telah melakukan penyerangan secara
gelap dan licik. Tapi maksudnya segera diurungkan, karena tidak mampu
melakukannya. Seluruh tenaga dalamnya seperti lenyap. Bahkan sekujur otot
tubuhnya ti-
dak bisa
digerakkan lagi. Kaku dan lemas.
Kakek itu
tersenyum pahit. Tanpa berpikir lebih jauh lagi, bisa ditebak kalau pengaruh
ja-rum-jarum beracun dahsyat yang menancap di se-kujur tubuhnya telah menjalar.
Daya kerjanya demikian cepat, sehingga langsung bisa melum-puhkan sekujur
tubuhnya.
Begitu
kakek ini menghentikan maksud-nya, mendadak terdengar angin berkesiut pelan.
Dan tahu-tahu di dekatnya telah berdiri seorang kakek tinggi besar berkepala
botak. Ciri-ciri seperti seekor monyet, dengan tubuh dipenuhi bulu. Pada kedua
tangannya tergenggam kecer yang saling di-benturkan satu sama lain, hingga
menimbulkan bunyi berdentam nyaring.
"Siapa
kau? Mengapa melakukan tindakan sekeji itu terhadapku?!" tanya kakek
berpakaian coklat ini lemah, kendati sebenarnya bermaksud untuk bertindak
tegas.
"Ha ha
ha...!"
Laki-laki
berkepala botak mirip monyet itu tertawa bergelak.
"Mungkin
kau tidak mengenalku, karena kesibukanmu melayani orang lain. Tapi aku
men-genalmu. Bukankah kau Wara Kuri, budak ke-luarga Wiraraja? Tapi tidak apa-apa
aku memper-kenalkan diri, agar kau tidak mati penasaran. Namaku, Buluk Pitu.
Dan kedatanganku kemari sama dengan tujuanmu. Aku ingin menguasai bo-cah gila
keturunan dari Wiraraja. Ha ha ha...!" ka-ta laki-laki mirip monyet yang
mengaku bernama Buluk Pitu.
"Iblis
Jahanam! Jangan kau kira aku akan membiarkan saja!" tegas kakek berpakaian
coklat yang ternyata Wara Kuri penuh rasa geram.
"Lalu
kau ingin melakukan apa, Wara Ku-
ri?!
Membunuhku?! Silakan! Percayalah, aku tidak akan melawan sama sekali!"
sambut Buluk Pitu, mengejek.
Wara Kuri
hanya bisa mengutuk habis-habisan. Memang disadari, Buluk Pitu berani
mengucapkan tantangan demikian, karena Wara Kuri sudah tidak berdaya sama
sekali untuk ber-buat apa-apa. Jarum-jarum itu telah melumpuh-kan sekujur uratnya.
Dan dia hanya tinggal me-nanti ajal saja!
"Mengapa
kau diam saja, Wara Kuri?! Ayo laksanakan ancamanmu! Ini dadaku. Pukul.
Han-tam! Pecahkan!" kata Buluk Pitu, semakin mema-nas-manasi dengan
membusung-busungkan da-danya.
Melihat hal
ini, Wara Kuri sadar kalau Bu-luk Pitu memang hendak mengejeknya habis-habisan.
Kalau menunjukkan sikap tersinggung atau terpengaruh ejek itu, lelaki tinggi
besar mirip monyet itu akan semakin menjadi-jadi. Maka be-tapapun panas hati,
diredamnya semua amarah sekuat tenaga.
"Kau
boleh berteriak-teriak sampai mulut-mu keluar kotoran, Buluk Pitu. Tapi aku
tidak akan meladenimu! Hanya satu hal yang menggan-jal hatiku. Tentu saja kalau
kau tidak terlalu pen-gecut untuk memberi jawaban." pancing Wara Ku-ri.
Wajah Buluk
Pitu kontan merah padam. Tampak jelas kalau hatinya merasa tersinggung oleh
ucapan Wara Kuri.
"Aku
tahu, kau mencoba mencari keuntun-gan dengan berdalih perkataan pengecut! Tapi,
apa ruginya untuk memberi jawaban pada orang yang telah dekat liang kubur! Ayo,
ajukan perta-nyaanmu, Wara Kuri! Dan aku akan memberi ja-
waban
sampai kau puas!"
Wara Kuri
tidak kelihatan gembira men-dengar Buluk Pitu bersedia memenuhi tantangan-nya.
"Hanya
sebuah pertanyaan tak berarti, Bu-luk Pitu. Dari mana kau tahu mengenai putra
Tuan Besar Wiraraja. Kau tahu, hal itu amat dira-hasiakan! Hanya keluarga saja
yang tahu."
Buluk Pitu
tertawa terkekeh. Kemudian dengan suara berbisik, diberitahukannya orang yang
dimaksud.
"Tidak
mungkin...!" sentak Wara Kuri ter-bata-bata, ketika Buluk Pitu selesai
memberi ja-waban. "Aku tidak percaya! Kau bohong...!"
Buluk Pitu
hanya mengangkat bahu den-gan sikap tidak peduli.
"Aku
tidak peduli apa pun tanggapanmu, Wara Kuri. Yang jelas, aku telah mengatakan
yang sebenarnya. Mau percaya atau tidak, terserah. Sayang sekali aku tidak bisa
menemanimu lama-lama di sini. Aku masih punya urusan yang lebih penting.
Mungkin kau tahu, apa yang harus kula-kukan. Benar, Wara Kuri. Mengendalikan
bocah gila majikan mudamu dengan mayat tuan besar-mu!"
"Demi
Tuhan, Buluk Pitu. Jangan lakukan itu!" teriak Wara Kuri meski yang
terdengar hanya seruan lemah. "Jangan ganggu makam Tuan Be-sarku!"
Tapi, Buluk
Pitu tidak mempedulikan se-ruan Wara Kuri. Kakinya malah melangkah lebar,
menghampiri kuburan yang telah menjadi lubang menganga. Setibanya di pinggir
lubang, kaki ka-nannya dihentakkan.
Wara Kuri
hanya bisa mengeluh panjang pendek, ketika melihat dari dalam lubang melesat
keluar
sebuah peti mati hitam yang telah bercam-pur gumpalan-gumpalan tanah.
Dengan
gerakan bagai menangkap segum-pal kecil daun kering, Buluk Pitu mengulurkan
tangan, menangkap peti mati itu. Kemudian sete-lah melepas tawa dan senyum
mengejek pada Wa-ra Kuri, tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu.
"Buluk
Pitu, kembalikan...! Kembalikan, Buluk Pitu...!"
Wara Kuri
merintih-rintih. Dan akhirnya kedua tangannya didekapkan pada wajah ketika
melihat tubuh lelaki botak itu tidak berada di situ lagi. Hatinya benar-benar
merasa terpukul bukan main melihat peti mati tuan besarnya dibawa ka-bur Buluk
Pitu. Dalam waktu berturut-turut dua makam yang berada dalam penjagaannya telah
be-rantakan!
"Maafkan
kebodohan ku, Tuan Besar. Aku, orang tua bodoh. Aku tak mampu memenuhi amanat.
Aku lebih pantas mati...!"
Wara Kuri
lantas mengambil ranting kering dan runcing yang berada di dekatnya. Dengan
si-sa-sisa tenaga yang dimiliki, dihunjamkan ranting itu ke tenggorokannya.
Tapi....
"Trakkk!"
***
Wara Kuri
memekik tertahan, ketika rant-ing di tangannya terlempar jauh tersambar oleh
sebutir tomat sebesar buah ceremai. Benturan bahkan mampu membuat tangannya
terlempar ke sisi pinggang!
"Hanya
orang pengecut yang melakukan tindakan bodoh seperti itu!"
Berbarengan
terdengarnya seruan yang di-keluarkan bernada tajam dan penuh teguran, di depan
Wara Kuri telah berdiri seorang pemuda be-rambut putih keperakan. Sinar matanya
tampak penuh dengan teguran.
Wara Kuri
balas menatap. Dua pasang ma-ta yang sama-sama tajam pun bertemu. Tapi hanya
beberapa saat, karena Wara Kuri langsung menundukkan kepala.
Kakek
berpakaian coklat ini tak kuat ber-lama-lama beradu pandang dengan pemuda
tam-pan berpakaian ungu itu. Bukan karena sinar ma-ta pemuda itu lebih tajam,
tapi karena sinar tegu-ran dan penyesalan dalam pandang mata pemuda itu yang
ditujukan terhadapnya. "Aku khilaf, Anak Muda. Ahhh...! Hampir saja aku
melakukan tinda-kan bodoh untuk yang kedua kalinya. Terima ka-sih atas
pertolonganmu. Kalau kau tidak campur tangan, bagaimana aku nanti berhadapan
dengan Tuan Besarku di akherat?!" keluh Wara Kuri.
Sinar mata
pemuda berpakaian ungu itu melembut. Namun sesaat kemudian malah terbe-lalak
lebar, ketika melihat pukulan jarum yang menancap di sekujur tubuh Wara Kuri.
Tapi, ka-rena sibuk dan terlalu memusatkan perhatian pa-da tindakan kakek ini,
pemuda itu tidak melihat hal-hal lainnya.
"Kau...,
keracunan Kek. Jarum-jarum itu beracun!" seru pemuda berpakaian ungu itu,
kaget bercampur khawatir.
Jarum-jarum
berwarna hitam bersemu ke-hijauan. Sementara wajah Wara Kuri yang mulai
mengelam, membuat pemuda itu langsung tahu kalau kakek berpakaian coklat ini
tengah menderi-ta keracunan.
Wara Kuri
tersenyum pahit.
"Tidak
perlu repot-repot menolongku, Anak Muda. Aku yakin nyawaku tidak akan tertolong
la-gi. Racun ini luar biasa sekali," ucap Wara Kuri tenang, ketika melihat
pemuda berambut putih keperakan itu sibuk memeriksanya.
"Mungkin
kau benar, Kek," sambut pemu-da berpakaian ungu. "Tapi, hal ini tidak
pantas untuk dijadikan alasan tindakanmu yang tak pan-tas itu! Allah
mengaruniai kita kehidupan. Lantas mengapa harus disia-siakan? Apalagi dengan
tin-dakan bodoh seperti itu." kata pemuda itu, bijak-sana.
"Aku
tidak sepengecut itu, Anak Muda. Meskipun memang harus kuakui kalau tindakan
yang hampir saja kulakukan, merupakan bukti nyata sikap pengecutku."
"Mengapa
kau mencoba untuk membunuh diri, Kek?! Apakah kau mempunyai alasan
lain-nya?!" tanya pemuda itu.
Wara Kuri
mengangguk sambil tersenyum. Tapi pemuda berpakaian ungu ini tahu senyum itu
tidak keluar dari hati yang gembira.
"Boleh
kutahu masalah yang tengah kau hadapi, Kek?!" tanya pemuda itu hati-hati.
Wara Kuri
tidak langsung menjawab. Dia malah menatap pemuda itu lekat-lekat
"Pertanyaan
itu tidak perlu dijawab seka-rang, Kek. Sekarang yang lebih penting adalah
menyelamatkan nyawamu," ujar pemuda beram-but keperakan itu.
Tanpa
menunggu tanggapan Wara Kuri, pemuda itu mengambil guci perak yang tersampir di
punggungnya. Dan dengan kedua tangannya, mulut guci itu didekatkan ke mulut si
kakek.
"Minumlah
ini, Kek. Mudah-mudahan saja bisa melenyapkan keganasan racun yang tengah
menggerogoti
nyawamu," ujar pemuda itu lagi. Wara Kuri menatap wajah pemuda di de-
pannya
lekat-lekat. Dia berusaha mencari kesung-guhan dalam ucapan pemuda berambut
putih ke-perakan itu. Hatinya merasa tindakan pemuda itu amat janggal. Tubuhnya
tengah keracunan hebat yang mungkin akan merenggut nyawanya. Tapi, malah
ditawari minum arak dengan harapan agar bisa sembuh! Apakah ini bukan sebuah
ejekan?!
Wara Kuri
akhirnya mengalah. Pandangan matanya yang telah kenyang makan garam kehi-dupan,
langsung bisa melihat adanya kesunggu-han. Baik dalam sikap, maupun suara
pemuda be-rambut putih keperakan ini. Maka akhirnya ditu-ruti juga kemauan
pemuda itu. Hati kecilnya sem-pat meragukan kewarasan akal pemuda itu.
"Gluk...
gluk... gluk...."
Terdengar
bunyi tegukan beberapa kali, ke-tika arak dari guci perak itu berpindah ke
dalam perut Wara Kuri.
"Sekarang
kau istirahat saja dulu, Kek. Mudah-mudahan saja nyawamu bisa
tersela-matkan," ujar pemuda berpakaian ungu berharap sambil menaruh
kembali guci araknya di pung-gung.
Wara Kuri
hanya tersenyum getir. Pemuda di hadapannya masih dianggapnya kurang waras.
Atau, sengaja melakukan tindakan itu untuk menghibur hatinya.
Sementara
itu pemuda berpakaian ungu ini bangkit berdiri tegak. Tubuhnya lantas
dibung-kukkan separo berjongkok untuk meminumkan arak pada Wara Kuri.
Dan kini,
pemuda itu memperhatikan ke sekeliling. Sepasang alisnya bertautan, ketika
me-lihat dua sosok yang tergolek dalam keadaan te-
was
mengenaskan. Dan kerutan itu semakin da-lam, ketika menjumpai adanya sebuah
lubang ku-buran menganga yang menunjukkan kalau isinya telah diambil orang. Dia
tidak merasa aneh. Bah-kan tahu kalau maksud yang terkandung di dalam melakukan
pencurian itu banyak macamnya. Tapi yang jelas, kemungkinan terbesar digunakan
me-lakukan kejahatan.
"Boleh
kutahu siapa kau, Anak Muda?! Dan, atas dasar apa kau memberi pertolongan
pa-daku?!"
Pertanyaan
dari arah belakang membuat pemuda itu berbalik. Bibirnya lantas tersenyum
lebar. Dirasakan adanya nada kecurigaan dalam pertanyaan kakek berpakaian
coklat. Memang bisa dimaklumi, mengapa kakek ini bersikap seperti itu.
Dasarnya, karena berdua tidak saling kenal
"Kau
tidak perlu khawatir, Kek. Aku meno-longmu bukan karena alasan tertentu yang
bisa merugikanmu atau menguntungkanku. Yang jelas, aku tidak pernah bisa diam
jika melihat adanya sesuatu yang tidak berkenan di hatiku. Selama aku bisa menolong,
dan kupandang pertolongan itu sesuai kaidah-kaidah kebenaran, maka aku ti-dak
segan-segan melakukannya. Jadi kau tidak perlu khawatir."
Sorot mata
penuh curiga yang memancar pada sepasang mata Wara Kuri mulai berkurang.
Lagi-lagi dia merasakan adanya kesungguhan da-lam jawaban yang diberikan pemuda
di hadapan-nya. Pengalaman hidup dan usia setua ini, mem-buat Wara Kuri sedikit
banyak bisa memperkira-kan jawaban tulus pemuda itu.
Dan ketika
Wara Kuri merasa kan adanya perubahan pada tubuhnya, keyakinannya makin
bertambah. Kini sekujur tubuhnya yang tadi tera-
sa sakit
menggigit-gigit bak digigit puluhan semut api, telah jauh berkurang. Kalau
tidak merasakan sendiri, hatinya tidak akan percaya kalau arak mampu
menyembuhkan luka akibat racun di tu-buhnya. Apalagi ketika dirasakan,
tenaganya mu-lai berangsur timbul. Kalau tadi berbicara sangat menyakitkan dada
dan tenggorokan. Bahkan ha-rus dilakukan dengan pengerahan seluruh tenaga.
Sekarang, tidak lagi. Meskipun memang diakui masih agak sukar, tapi jauh lebih
baik daripada sebelumnya.
"Rupanya
kau seorang pendekar, Anak Muda?!" ujar Wara Kuri sekenanya.
Kakek ini
tidak yakin akan pertanyaannya sendiri. Kalau melihat dari keadaannya yang
ma-sih muda, pemuda berambut putih keperakan itu mungkin baru keluar dari
perguruan silat.
3
Pemuda
berambut putih keperakan itu ter-senyum malu.
"Sebutan
pendekar terlalu tinggi untukku, Kek. Apa sih yang telah kulakukan? Aku hanya
seorang pemuda biasa yang selalu berkelana me-nuruti langkah kakiku ini. Memang
harus kuakui, aku tidak pernah bisa berdiam diri jika melihat se-suatu yang
menurutku tidak sesuai kaidah-kaidah kebenaran."
Perasaan
kagum mulai timbul di hati Wara Kuri. Sekarang, sedikit banyak sudah bisa
diraba-raba watak pemuda di hadapannya. Tidak som-bong atau menyombongkan
tindakannya. Bersikap rendah hati, dan tidak berbohong!
"Boleh
kutahu namamu, Anak Muda?! Per-
kenalkan,
aku Wara Kuri."
Kakek
berpakaian coklat ini lebih dulu mengulurkan tangan. Tindakannya dilakukan
sambil bangkit dari berbaringnya. Lalu dia duduk bersila di tanah. Bahkan kini
tenaganya telah se-makin pulih.
"Aku
Arya Buana, Kek. Tapi, panggil saja Arya," sahut pemuda berpakaian ungu
itu buru-buru, seraya menyambut uluran tangan Wara Kuri dengan agak
membungkukkan tubuh sedikit.
Wara Kuri
tersentak kaget. Bahkan geng-gaman tangannya pada tangan pemuda berambut putih
keperakan itu terlepas tanpa sadar. Ditatap-nya sekujur tubuh pemuda berambut
putih kepe-rakan yang ternyata Arya alias Dewa Arak dari atas sampai ke bawah.
"Ada
yang salah, Kek?!" tanya Arya Buana. "Sama sekali tidak," sahut
Wara Kuri sam-
bil
menggeleng dengan sikap kaku karena terlalu terburu-buru. "Hanya saja,
namamu mengin-gatkan aku pada tokoh yang saat ini tengah men-julang namanya di
tengah rimba persilatan karena tindakan-tindakannya yang perkasa. Namamu sama
benar dengan namanya. Bahkan sekarang, aku ingat kalau ciri-cirimu semua sama
dengan tokoh itu. Maka jangan katakan kalau kau bukan Dewa Arak, Anak
Muda?!"
Arya
tersenyum lebar.
"Memang,
aku orang yang kau maksudkan itu, Kek. Tapi sebagian besar berita yang
terdengar terlalu berlebihan. Aku hanya seorang pemuda bi-asa yang sering
mengembara. Dan..."
"Kau
terlalu merendah, Dewa Arak!" sergah Wara Kuri dengan perasaan girang.
"Justru aku percaya kalau semua berita yang tersebar di dunia persilatan
benar. Ahhh! Aku jadi malu hati, karena
telah
mencurigaimu. Bahkan aku menganggapmu sebagai seorang pemuda hijau yang tidak
tahu ke-rasnya dunia persilatan. Semula, kukira kau seo-rang pemuda yang baru
selesai berguru dan ten-gah mencari pengalaman. Tapi, nyatanya?"
"Nyatanya
benar kan, Kek?!" potong Arya sambil tertawa bergelak, sehingga membuat
Wara Kuri pun tergelak,
"Setelah
tahu siapa dirimu, aku tidak ragu-ragu lagi menceritakan masalah yang tengah
ku-hadapi, Arya. Barangkali saja, kau bisa menolong. Meskipun harus kuakui,
semua ini merupakan tanggung jawabku. Tapi banyaknya masalah, membuatku
terpaksa membutuhkan bantuan orang lain. Kini aku percaya kepadamu. Dan aku
yakin, Tuan Besar tidak akan marah bila menge-tahui. Bahkan aku yakin, beliau
akan merasa se-tuju sekali. Kini, aku meminta bantuanmu untuk menyelesaikan
masalah ini," jelas Wara Kuri, mu-lai membeberkan masalah yang tengah
dihada-pinya.
Melihat
Wara Kuri bermaksud mengutara-kan masalah yang dihadapinya, Arya segera du-duk
bersila di hadapannya. Pemuda berambut pu-tih keperakan ini sudah bisa
memperkirakan ka-lau penuturan yang akan didengarnya cukup pan-jang.
"Yang
akan kuceritakan ini adalah suatu rahasia. Maka, kuharap kau tidak
menceritakan-nya pada orang lain, Arya. Aku tidak memintamu untuk berjanji.
Karena aku tahu, orang macam apa kau ini,"
"Mudah-mudahan
aku bisa melaksanakan amanatmu, Kek," jawab Arya singkat, sudah cu-kup
memuaskan hati Wara Kuri
Kakek ini
tahu, bagi orang seperti Dewa
Arak, ucapan
itu sudah lebih bisa dipercaya dari-pada sumpah orang lain!
"Aku
sendiri tidak tahu pasti, kejadian-kejadian sebelumnya. Yang kuceritakan hanya
hal-hal yang kuketahui. Dan kurasa, hal ini cukup untuk diceritakan, karena
memang menyangkut ketenteraman dunia persilatan."
Sampai di
sini, Wara Kuri terdiam. Dan Arya melihat adanya sinar kecemasan balk dalam
wajah maupun sikap kakek itu. Hatinya pun agak khawatir dan ikut tidak enak.
Arya tahu, Wara Ku-ri bukan seorang kakek lemah. Sinar mata yang mencorong
tajam dan bersinar kehijauan, telah menguatkan dugaan Arya kalau Wara Kuri
berke-pandaian sangat tinggi. Toh, kakek ini masih me-rasa cemas. Sedikit
banyak, Arya bisa memperki-rakan masalah berat yang tengah dialaminya.
"Kira-kira
lima belas tahun yang lalu aku hanya seorang penebang kayu. Aku sebatang kara,
Arya," tutur Wara Kuri, memulai kisahnya dengan pandang mata menerawang ke
angkasa. Seakan-akan di sana terpampang kejadian belasan tahun yang lalu.
"Biasanya
saat menebang kayu tidak terja-di apa-apa. Tapi suatu saat aku terjebak hujan
yang membuatku terpaksa berteduh di bawah se-batang pohon yang berbatang besar,
empat kali pelukan orang dewasa. Usiaku yang telah menje-lang senja, tak
memungkinkan untuk berhujan-hujan bila kembali ke pondokku. Tapi belum lama
berada di sana, halilintar menyambar. Aku masih sempat melihat kalau halilintar
itu menuju ke arah pohon tempatku berteduh. Bergegas aku me-lompat meninggalkan
tempat itu untuk menyela-matkan nyawa dari sambaran halilintar. Tapi, usahaku
ternyata tidak berhasil sepenuhya. Pohon
yang
tersambar halilintar itu tumbang ke arahku. Aku berusaha mengelak sedapat
mungkin, tapi te-tap saja batang pohon itu menimpaku. Aku hanya merasakan sakit
amat sangat pada kaki, sebelum semuanya menjadi gelap. Begitu sadar, aku telah
berada dalam sebuah rumah besar. Sementara kedua kakiku ini telah tidak ada
lagi."
Arya
menghela napas berat. Hatinya dapat merasakan betapa hancur hati Wara Kuri
ketika menerima musibah itu. Tapi, Dewa Arak tidak me-nyelak. Dia terus diam mendengarkan.
"Orang
yang menolongku itu adalah seo-rang kakek berusia lebih tua daripada usiaku.
Ka-tanya, kedua kakiku remuk sehingga untuk meno-long nyawaku terpaksa harus
dipotong. Kakek bernama Wiraraja itu merawatku secara telaten. Sampai akhirnya,
lukaku pulih. Suatu saat, dia menawarkan untuk tinggal bersamanya. Tanpa banyak
pikir lagi tawaran itu kuterima. Sejak saat itu, aku pun tinggal dengannya.
Wiraraja
adalah seorang yang baik hati. Bahkan tak segan-segan untuk menurunkan se-mua
ilmunya padaku. Sayang, aku terlalu bodoh. Maka meski telah belajar
mati-matian, dan Tuan Besar mengajarku sungguh-sungguh, hanya seba-gian saja
ilmunya yang berhasil kuserap," lanjut Wara Kuri.
Arya
mengangguk-angguk. Dalam hati, dia tidak menganggap Wara Kuri seorang yang
bebal. Saat pertama kali belajar ilmu silat, kakek itu te-lah berusia paling
sedikit enam puluh tahun. Ba-gaimana mungkin akan dapat belajar dengan ce-pat?!
"Di
tempat itu, ternyata tidak hanya aku. Masih ada dua orang bocah berusia sekitar
sepu-luh tahun, dan seorang wanita cantik berusia seki-
tar tiga
puluh lima tahun. Belakangan kuketahui, kalau wanita itu adalah istri Tuan
Besar Wiraraja. Sayang, salah satu dari dua bocah itu memiliki otak yang tidak
waras. Kendati demikian, dia me-miliki bakat luar biasa. Meski belajar
berbarengan, bocah yang tidak waras itu jauh meninggalkan bo-cah yang satunya
lagi dalam pelajaran ilmu silat-nya."
Sampai di
sini, Wara Kuri menghela napas berat Arya yang kenyang pengalaman bisa mene-bak
kalau sumber malapetaka yang dimaksudkan kakek ini pasti berasal dari salah
satu di antara dua bocah itu. Meski demikian, dugaannya tidak diutarakan.
"Sekitar
sepuluh tahun kemudian, kedua bocah itu menjelma menjadi pemuda perkasa. Bo-cah
tak waras itu ternyata putra Tuan Besar Wira-raja. Sedangkan bocah satunya lagi
adalah anak telantar yang dipungut untuk menjadi kawan bermain anaknya. Dan
ketika bocah-bocah itu be-sar, malapetaka mulai timbul. Putra Tuan Besar
Wiraraja yang bernama Tuan Muda Gautama, si-kap tak warasnya semakin menjadi-jadi.
Maka ke-kacauan demi kekacauan pun ditimbulkan. Un-tung sebelum terjadi hal-hal
yang lebih mengkha-watirkan, Tuan Besar Wiraraja telah memperhi-tungkannya. Dan
aku diperintahkan untuk men-gawasi setiap gerak-gerik Tuan Muda Gautama. Setiap
menimbulkan kekacauan, aku datang dan membujuknya dengan baik-baik. Bocah itu
ternya-ta patuh padaku. Aku sendiri tak tahu kenapa. Mungkin karena aku selalu
mengurusnya sejak masih kecil. Tuan Besar Wiraraja dengan hati hancur terpaksa
mengurung Tuan Muda Gauta-ma. Dia tidak ingin kejadian memalukan terhadap
dirinya terjadi kembali."
***
"Kak
Setiaji."
Panggilan
itu datangnya dari seorang wani-ta muda berpakaian biru. Lembut dan mesra
sua-ranya.
Lelaki
tampan dan gagah berpakaian kun-ing yang berkuda di sebelah wanita berpakaian
bi-ru, menoleh. Tali kekang kuda tunggangannya di-tarik agak melangkah
lambat-lambat
"Ada
apa, Marni?!" sahut lelaki berpakaian kuning, yang dipanggil Setiaji.
Suaranya juga ter-dengar lembut dan mesra.
Wanita
berpakaian biru yang bernama Marni tidak segera menjawab. Terlihat jelas kalau
hatinya merasa ragu untuk mengutarakan sesuatu yang akan disampaikannya.
Setelah
menatap sesaat, Setiaji tahu ada perasaan yang berkecamuk di hati Marni.
Seketika langkah kudanya dihentikan. Dibalikkannya arah binatang itu, hingga
berada di hadapan kuda Mar-ni. Seulas senyum penuh rasa sabar dilemparkan-nya.
"Kau
tidak usah ragu-ragu, Marni. Katakan saja, apa yang hendak kau sampaikan. Tidak
baik memendam persoalan. Apalagi kau telah hamil muda. Aku khawatir, hal itu
akan berakibat buruk pada bayi yang tengah kau kandung. Bayi kita," ujar
Setiaji panjang lebar, tetap tenang dan penuh kesabaran.
Wajah Marni
kelihatan bersemu merah. Malu. Pandangannya pun ditujukan pada perut-nya yang
mulai agak menonjol ke depan. Kemu-dian perhatiannya dialihkan pada Setiaji,
sua-minya.
"Kau
benar, Kak Setiaji. Tapi.., aku khawa-tir apa yang akan kusampaikan ini tidak
menye-nangkan hatimu,"
Senyum
Setiaji semakin lebar.
"Ingat-ingatlah,
Marni. Apakah selama per-kawinan kita, aku pernah marah-marah?!"
Marni
tersenyum tipis. Perlahan-lahan ke-palanya menggeleng.
"Nah!
Kalau begitu, apa lagi yang dikhawa-tirkan. Katakan saja."
Marni
menatap wajah Setiaji lekat-lekat. Dia yakin betul akan cinta kasih suaminya.
Sela-ma hampir enam bulan berumah tangga, tak per-nah suaminya itu marah
padanya. Kehidupan ru-mah tangga mereka selalu rukun, tenang, dan pe-nuh
kebahagiaan. Dan Marni tidak sampai hati menuduh Setiaji akan marah karena
masalah yang hendak diutarakannya. Justru tanggapan lainnya yang merisaukan
hati Marni.
"Sebetulnya
aku tidak ingin mengatakan-nya, Kak. Tapi karena sudah telanjur, apa boleh
buat," kata Marni seraya menghela napas berat, seakan-akan ada sesuatu
yang mengganjal batin-nya. "Beberapa hari belakangan ini, aku selalu
di-landa perasaan cemas yang tidak ku mengerti. Ma-lah, setiap tidur aku selalu
bermimpi buruk. Aku khawatir sekali, Kak. Aku takut kecemasan ini merupakan
sebuah firasat..."
Setiaji
hampir tertawa begitu mendengar masalah yang diutarakan istrinya. Semula dikira
masalah besar. Tak tahunya, hanya persoalan se-pele. Tapi untuk menjaga
perasaan Marni, dia me-nelan rasa geli dan memasang wajah sungguh-sungguh.
"Sudah
cukup lama juga kau diganggu pe-rasaan itu rupanya, Marni. Mengapa kau simpan
saja? Bukankah
lebih baik kalau diberitahukan padaku sejak dulu? Barangkali saja aku bisa
me-mecahkan persoalan ini," ujar Setiaji, sengaja me-ladeni ucapan Marni.
Padahal, bisa saja istrinya disuruh untuk tidak usah memikirkannya. Apalagi
mimpi-mimpi yang dianggap sebagai penghias ti-dur.
Tapi
Setiaji tahu, tindakan seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah. Lebih
bagus diba-has dan dicarikan jalan keluar, agar Marni terbe-bas dari rasa
takutnya. Jalan satu-satunya adalah dengan membahas masalah itu.
"Beberapa
hari sebelum keberangkatan kita untuk mengirimkan barang Tuan Marjuki,
pera-saan demikian muncul. Kemudian dituruti mimpi-mimpi yang menyeramkan. Aku
khawatir sekali akan adanya ancaman bahaya terhadap kita," pa-par Marni.
Setiaji
tersenyum lebar. Hal yang sengaja dilakukan untuk menenangkan hati istrinya;
"Tenangkan
hatimu, Marni. Bukankah urusan mengantar barang Tuan Marjuki telah se-lesai
dikerjakan dengan baik. Jelas, kekhawati-ranmu tidak beralasan. Mungkin saja
itu tercipta, karena kecemasanmu menanti saat-saat lahirnya bayi kita. Meskipun
demikian, untuk menenang-kan hatimu, aku tidak akan menerima pesanan lagi.
Mulai sekarang hingga bayi ini lahir, aku ti-dak pergi-pergi lagi. Tidak Juga
denganmu. Kita beristirahat, sampai bayi kita lahir. Kita habiskan waktu di
rumah," janji Setiaji, mantap.
Wajah Marni
kontan berseri-seri. Tampak jelas kalau pernyataan Setiaji amat melegakan
ha-tinya. Laki-laki ini telah hafal betul watak istrinya, merasa terharu
melihat sambutan ini. Dan di da-lam hatinya, dia bertekad untuk memenuhi jan-
jinya meski
apa pun yang akan terjadi.
"Benarkah,
Kak?! Ah! Betapa girang dan le-ganya hatiku. Aku memang was-was dengan
kese-lamatanmu, Kak. Pekerjaan yang kau lakoni ini penuh bahaya. Aku khawatir
akan terjadi sesuatu padamu. Aku takut kehilangan mu, Kak."
"Tenangkanlah
hatimu, Marni. Dan mari kita pulang. Rumah menunggu kita."
Setaji
langsung memutuskan pembicaraan. Apalagi tidak ada lagi masalah lain lagi yang
lebih besar.
Sepasang
suami-istri berusia muda yang penuh kebahagiaan ini pun meneruskan perjala-nan
yang tadi tertunda. Seperti juga sebelumnya, percakapan dl perjalanan
berlangsung seenaknya. Tidak terburu-buru
Tapi baru
juga beberapa belas tombak per-jalanan dilakukan, pasangan suami-istri yang
ma-sih baru ini menarik tali kekang kudanya. Maka seketika binatang-binatang
itu pun menghentikan langkahnya.
Sekitar
enam tombak di depan pasangan suami-istri ini, berdiri sesosok tubuh dengan
ke-dua tangan berkacak di pinggang. Wajah Setiaji dan Marni tampak beriak.
Mereka kenal betul dengan orang yang berdiri menghadang perjala-nan.
"Bukankah
dia wanita yang tak tahu malu itu, Kak Setiaji?!" bisik Marni, khawatir
terdengar oleh sosok yang berdiri menghadang jalan.
Setiap
mengangguk kaku. Suaranya ter-dengar kering dan kaku ketika memberi jawaban.
"Benar, Marni. Dia Ambar."
Wajah Marni
membesi. Sinar matanya ber-kilat memancarkan kemarahan dan kebencian ke-tika
menatap sosok yang menghadang jalan. Sosok
yang
dikatakannya sebagai Ambar.
Sebelum
Setiaji memberi tanggapan, Marni dengan gerakan lincah dan manis melompat dari
punggung kuda. Langkah kakinya lebar-lebar, ke-tika menghampiri sosok yang
berdiri di depannya.
"Marni!
Tunggu...!" cegah Setiap ketika is-trinya telah menempuh jarak dua tombak.
Lelaki
berpakaian kuning ini melompat tu-run dari punggung kuda, langsung mengejar
Mar-ni
Marni yang
telah menghentikan langkah langsung berbalik. Ditatapnya wajah suaminya
le-kat-lekat. Sorot penentangan terlihat jelas me-mancar dari sepasang matanya
yang bening dan indah.
"Jangan
kau menghalangi tindakanku, Kak Setiaji. Wanita tak tahu malu ini tidak patut
untuk mendapat perlakuan layak. Kalau tidak diberikan tindakan tegas, dia akan
terus datang dan meron-grong kehidupan kita!"
"Mungkin
kau benar, Marni. Tapi biar ba-gaimanapun juga, dia adalah teman bermain ku
sewaktu kecil. Ayahnya adalah kawan baik ayah-ku. Mana mungkin aku akan
membiarkan kau membunuhnya?! Apa kata ayahnya dan juga ayahku nanti?!"
Jelas Setiaji dengan sikap serba salah dan bingung.
"Kau
tidak perlu merasa bertanggung ja-wab atas keselamatannya, Kak Setiaji. Dan kau
ti-dak perlu khawatir akan disalahkan ayahmu dan ayahnya. Karena, bukan wanita
tak tahu malu itu yang akan mati. Tapi, aku! Kematianku tidak akan membuatmu
disalahkan orang!"
Setiaji
kontan melongo mendengar jawaban Marni. Dia sama sekali tidak bermaksud
menying-gung perasaan istrinya. Tapi dari nada jawaban
Marni, bisa
diketahui kalau perasaannya terluka. Sakit hati! Jawaban Marni meski diutarakan
den-gan keras, tapi jelas mengandung isak tangis!
Setiaji
terkesima di tempatnya beberapa saat. Jawaban Marni yang ketus, membuatnya
menelan kembali ucapan yang tadi dikeluarkan. Dia yakin hal ini karena
ucapannya sendiri.
4
Setiaji
membutuhkan waktu cukup lama untuk mengetahui keanehan sikap Marni. Sebuah dugaan
yang diyakini benar menyeruak di hatinya. Marni pasti cemburu dan tersinggung.
Ucapan Se-tiaji tadi, terasa jelas adanya perhatian dan kek-hawatiran terhadap
Ambar. Di lain pihak, sedikit pun tidak terlihat adanya kekhawatiran atau
per-hatian atas nasib yang akan menimpa Marni. Itu-lah sebabnya, Marni tadi
kehilangan akal sehat-nya.
Sementara
itu Marni, malah bergegas menghampiri Ambar yang tetap dalam sikap semu-la.
Berdiri tegak dengan kedua tangan berkacak di pinggang, mirip patung batu.
Sikapnya kelihatan angker bukan main.
Begitu
jarak antara kedua wanita itu ting-gal tiga tombak lagi, Marni menghentikan
ayunan kakinya. Dengan wajah merah padam dan dada turun naik menahan gejolak
amarah, jari telun-juknya ditudingkan ke arah wajah Ambar.
"Hey,
Wanita tak tahu malu! Sekarang kita buktikan, siapa yang akan terus hidup! Kau,
atau aku!" kini Marni dengan suara bergetar dan sepa-sang mata seperti
akan keluar dari rongganya.
Ambar yang
meski berdiri tegak dengan
wajah
tertunduk dan sepasang mata menekuri ta-nah, perlahan mengangkat kepala.
Sepasang ma-tanya diarahkan pada orang yang telah memaki dan mengajaknya
bertarung.
"Ihhh...!"
Seketika
jeritan tertahan yang sarat pera-saan kaget keluar dari mulut Marni. Dan
seiring terdengar jeritan, wanita berpakaian biru itu me-langkah mundur dua
tindak. Sepasang matanya yang bening indah sekarang bergantian redup, bak sorot
mata seekor kelinci melihat kedatangan see-kor harimau lapar.
Tepat
dengan keluarnya jeritan, Setiaji te-lah berhasil sadar dari terkesimanya. Kini
lelaki ini mampu menemukan jawaban dari keanehan sikap Marni. Bagaikan disengat
ular berbisa, tubuhnya melesat ke depan menyusul Marni. Dan hanya dengan sekali
lesatan, dia telah berada di sebelah istrinya.
Laki-laki
itu kontan merasakan jantungnya berhenti berdenyut, begitu melihat sepasang
mata Ambar! Mata yang dulu bening indah, sekarang berubah mengerikan! Bentuknya
telah menyipit dengan sorot menggiriskan. Rasanya, bukan mata yang dimiliki
manusia! Bahkan tengkuk Setiaji te-rasa dingin!
"Kau
berani memakiku, Perempuan Peram-pas Jodoh Orang?!"
Ucapan
Ambar terdengar parau dan me-nyakitkan telinga. Nadanya seperti tidak patut
ke-luar dari mulut seorang wanita. Apalagi, wanita yang masih muda seperti
Ambar.
Setiaji dan
Marni saling berpandang. Pa-sangan suami-istri ini mulai merasakan adanya
sesuatu yang aneh dan tidak wajar terhadap diri Ambar. Bukan hanya nada
suaranya yang beru-
bah jauh.
Cara Ambar mengucapkannya pun membuat mereka bergidik! Ambar tidak kelihatan
membuka mulut atau mengemikkan bibir. Tapi, suara yang keluar demikian lantang
dan penuh ancaman!
"Dulu
kau boleh menang terhadapku. Tapi sekarang, jangan harap! Hari ini semua sakit
hati-ku yang berbulan-bulan kupendam, akan terlam-piaskan! Bersiaplah untuk
menerima pembalasan dariku, Wanita Jalang!" dengus Ambar.
Makian
Ambar membuat Marni berhasil mengusir perasaan takutnya. Perasaan marah dan
tersinggung yang besar, mengalahkan rasa takut-nya. Dengan tangkas, Marni
mengeluarkan senjata andalannya yang terselip di pinggang. Sebuah ke-butan!
"Kaulah
yang akan kukirim ke akherat, Wanita Gila Lelaki!"
Berbarengan
teriakannya, Marni melompat menerjang Ambar. Bulu-bulu kebutan di tangan-nya
yang semula lemas, menegang kaku bak ja-rum-jarum. Dan dengan keadaan seperti
itu, istri Setiaji ini mengirimkan totokan bertubi-tubi ke arah leher, bawah
hidung, dan ubun-ubun. Dalam sekali gerak, Marni mampu mengirimkan tiga
se-rangan mematikan!
Sementara,
Ambar tidak bergeming dari tempatnya. Bahkan kedua tangannya yang berada di
pinggang pun tetap dibiarkan. Padahal, seran-gan, Marni menimbulkan bunyi
bercicitan nyaring, yang menandakan kuatnya tenaga dalam yang terkandung.
Baru ketika
ujung kebutan itu menyambar dekat, Ambar mengembungkan mulutnya. Seketi-ka
ditiupnya kebutan yang tengah meluncur ke arahnya.
Marni
terperanjat. Seketika dirasakannya ada hembusan angin yang luar biasa kuatnya
dari mulut Ambar. Bulu-bulu kebutannya yang semula menegang kaku, kontan
melemas dan membuyar. Dengan sendirinya, serangan Marni kandas.
Dan bahkan
tiupan Ambar tidak hanya se-kali. Wanita yang telah bangkit dari kematiannya
kembali meniup. Sasarannya masih ditujukan pa-da kebutan Marni.
Bak
dicabuti tangan kuat yang tidak tam-pak, bulu-bulu kebutan itu meluncur ke arah
pe-miliknya dalam keadaan menegang kaku, laksana jarum-jarum kuat.
Melihat hal
itu wajah Marni seketika me-mucat. Saat itu tubuhnya tengah berada di udara.
Dan lagi, rentetan serangan itu berlangsung demi-kian cepat. Maka hal ini
membuat Marni gugup. Disadari betul kalau tidak apa waktu yang cukup. Untuk
berbuat sesuatu untuk menyelamatkan di-ri.
Pada saat
yang genting itu, Setiaji cepat bertindak. Dia memang tidak sempat mencegah
tindakan istrinya. Maka tidak ada pilihan lain, ke-cuali berjaga-jaga terhadap
sesuatu yang tidak di-harapkan. Setiaji khawatir, Marni akan celaka. Keanehan
diri Ambar, membuat Setiaji jadi mera-gukan kalau Marni bisa berhasil keluar
sebagai pemenang dalam pertarungan itu.
Karena
kewaspadaan ini, Setiaji dapat ber-tindak cepat ketika Marni tengah kelabakan.
Maka langsung dikirimkannya pukulan jarak jauh den-gan kedua tangannya untuk
meruntuhkan bulu-bulu kebutan yang akan mencelakakan istrinya.
Deb! Deb!
Seketika
itu pula arah bulu-bulu kebutan itu melenceng terkena dorongan pukulan Setiap.
Sepasang
mata Ambar yang sudah menco-rong, terlihat semakin berkilatan ketika menatap
Setiaji yang telah membawa Marni untuk me-nyingkir.
Marni
meronta pelan, berusaha mele-paskan cekalan tangan Setiaji pada pergelangan
tangannya. Tindakan itu karena rasa kesal terha-dap suaminya.
Hanya sampai
di situ tindakan Marni. Dan sebenarnya bila menuruti perasaan, dia ingin
menggerutu habis-habisan mengingat pembelaan Setiaji terhadap Ambar. Tapi rasa
hormat dan cin-ta, tambahan lagi Setiaji telah turun tangan me-nyelamatkannya
dari ancaman, membuat Marni tidak sampai hati untuk menuruti ledakan
pera-saannya.
Setiaji
merasakan adanya penolakan itu. Maka untuk tidak membuat keributan bertambah
besar, pegangannya dilepaskan. Perhatiannya kembali dialihkan pada Ambar.
Tampak gadis yang dulu mencintainya habis-habisan tengah menatapnya dengan
sinar mata bengis.
"Rupanya
kau masih membela perempuan perampas itu, Setiaji?!" dengus Ambar dingin
pe-nuh ancaman.
"Itu
sudah merupakan kewajibanku seba-gai suami, sekaligus orang yang mencintainya,
Ambar. Kuharap kau mau memahaminya. Masih banyak orang lain yang jauh lebih
gagah dan tam-pan daripadaku. Dan aku yakin, kau akan dengan mudah menemukan
dan mendapatkannya. Orang secantik kau, tidak sulit untuk mendapatkan
penggantiku," ujar Setiaji kalem dan tenang.
"Tutup
mulutmu, Setiaji!" bentak Ambar, keras. "Aku tidak butuh nasihatmu!
Aku hanya
butuh
jawaban. Dan perlu kau ketahui, kedatan-ganku kemari tidak untuk membicarakan
masalah cinta! Aku mempunyai urusan lain yang lebih penting!"
Wajah
Setiaji langsung berubah berseri-seri. Jawaban Ambar sedikit banyak melegakan
hatinya. Karena itu berarti, dara ini telah berhasil mengusir rasa cinta
terhadap dirinya. Perasaan yang keras membuatnya merasa bersalah. Le-nyapnya
rasa cinta di hati Ambar, membuat ba-tinnya lega.
"Syukurlah
kalau demikian, Ambar. Aku turut bergembira karenanya. Sejak semula, aku sudah
yakin. Lambat laun, kau akan menyadari kalau cinta itu tidak bisa
dipaksakan," desah Se-tiaji.
"Telan
dulu rasa gembiramu, Setiaji!" ser-gah Ambar keras dan kasar.
Saat itu
juga, kening Setiaji berkerut. Se-dangkan Marni menggertakkan gigi karena
marah.
"Aku
memang tidak berurusan dengan yang namanya cinta. Aku ada di sini adalah untuk
mencegat perjalananmu. Juga, wanita tak tahu malu itu. Semua ini karena urusan
dendam!"
Seri di
wajah Setiaji lenyap. Sedangkan di belakang, Marni semakin keras menggertakkan
gi-gi. Sikap Ambar yang kasar meski Setiaji telah be-rusaha bersikap selembut
mungkin, membuat ke-sabaran Marni hampir hilang. Dan dia bermaksud menerjang
Ambar.
"Apa
yang hendak kau lakukan, Ambar?!" tanya Setiaji lagi.
"Melenyapkan
kalian dari muka bumi den-gan cara menyedihkan. Sehingga, membuat kalian
menyesal dilahirkan di dunia ini!" desis Ambar dingin.
"Keparat!"
Marni yang
tidak bisa menahan kesaba-rannya lagi berseru keras, dan bersikap mener-jang.
Tapi Setiaji lebih dulu bertindak mencegah-nya.
"Biar
aku yang akan menyelesaikan masa-lah ini, Marni,". ujar Setiaji lembut.
Marni tidak
berani membantah suaminya. Dia hanya bisa melempar pandangan penuh ke-bencian
pada Ambar.
Sementara
dara yang sudah berupa mayat hidup itu tidak memberi tanggapan sama sekali.
Dingin seperti patung batu!
Perhatiannya
malah dialihkan pada Setiaji yang telah mencabut sebilah golok besar di
pung-gung.
Sinar
terang berkelebat dari golok Setiaji. Lalu pinggulnya digerak-gerakkan
sedemikian ru-pa seperti seekor kuda. Senjatanya yang kelihatan cukup berat
tampak melayang naik ke atas. Tanpa melihat sama sekali, Setiaji mengulurkan
tangan untuk menangkap golok tepat pada gagangnya.
"Keluarkan
senjatamu, Ambar. Terpaksa aku harus mengusirmu dengan kekerasan seperti
dulu."
Setiaji tak
lupa untuk memberi kesempa-tan pada calon lawannya untuk mengeluarkan senjata.
Dia adalah seorang lelaki berjiwa ksatria, Pantang baginya untuk menyerang
lawan yang ti-dak bersenjata! Apalagi, lawannya adalah seorang wanita!
Ambar
tersenyum, tapi tidak terlihat ma-nis. Raut wajahnya dingin. Sorot sepasang
ma-tanya mengerikan. Kulit wajahnya pucat Dan se-nyumnya lebih mirip seringai.
Setiaji
mengeluh dalam hati. Sama sekali
tidak
disangka kalau kegagalan cinta, membuat Ambar yang dulu berwajah manis jadi
demikian mengerikan.
"Aku
tidak menggunakan senjata lagi, Se-tiaji. Meskipun demikian, jangan dikira akan
mampu menundukkanku seperti dulu?! Jangan harap! Majulah! Serang aku!"
sambut Ambar.
Setiaji
bimbang. Kegagahan telah mela-rangnya untuk memenuhi permintaan yang tidak
wajar. Lelaki ini berdiri di tempatnya dengan tan-gan menggenggam senjata. Tapi
benaknya bingung "Kalau kau tidak sampai hati untuk me-nyerang, biar aku
yang maju!" dengus Marni, man-
tap.
Seruan
ketus dari Marni di belakangnya, membuat Setiaji mengambil keputusan cepat.
Go-lok yang telah terhunus dilemparkan sembaran-gan. Tapi di udara, golok itu
meliuk secara aneh. Lalu, meluncur turun dengan batang lebih dulu dan mendarat
tepat di dalam sarungnya seperti dimasukkan oleh tangan saja!
Kini,
Setiaji tidak ragu-ragu lagi menye-rang. Walau diakui kalau Ambar bukan
tergolong gadis jahat, tapi sikap dan tindakannya telah ke-lewat batas.
Mudah-mudahan tindakannya akan membuat gadis itu kapok dan tidak akan
meng-ganggu diri atau istrinya.
Seperti
juga ketika menghadapi serangan Marni, Ambar tidak bergeming dari tempatnya
se-mula. Padahal, Setiaji tengah menyerangnya den-gan pukulan tangan kanan kiri
bertubi-tubi ke arah perut sampai mengeluarkan bunyi mendem.
Setiaji
terperanjat melihat Ambar tidak bergeming dari tempatnya. Dan dia bukan orang
kejam yang tega memukul orang tanpa perlawa-nan. Maka secepat itu pula serangan
berusaha ke-
ras untuk
dibatalkan.
"Manusia
Tolol! Jangan merasa paling sakti di kolong langit ini...?!" ejek Ambar.
Dara yang
telah bangkit dari kematiannya ini menutup ucapannya dengan gelengan kepala
secara keras. Saat itu juga rambutnya yang pan-jang bergerak ke depan.
Setiaji
kaget bukan main, begitu melihat adanya sekelebatan rambut hitam yang melayang
ke arah kepalanya. Padahal jaraknya telah dekat. Bahkan kecepatan gerak rambut
hitam itu luar bi-asa.
Melihat
serangan mendadak ini, lelaki itu gugup. Sehingga....
Prattt!
Setiaji
menjerit tertahan, ketika rambut Ambar menampar telak pipinya. Kepalanya sampai
tertolak keras ke samping dengan pipi terasa pa-nas dan perih bukan main.
Tubuhnya sampai ter-gempur terhuyung-huyung.
Ketika
berhasil memperbaiki keseimban-gannya, Setiaji mengusap pipinya yang terasa
pe-rih. Dan seketika matanya terbelalak begitu meli-hat cairan kental pada
telapak tangannya. Tampa-ran rambut Ambar telah membuat kulit wajahnya
pecah-pecah mengeluarkan darah. Sakit dan perih menyengat!
"Rupanya
kau telah berlatih habis-habisan selama ini, Ambar. Baik! Ku ladeni
kemauanmu!" dengus Setiaji.
Setiaji
memutuskan untuk bertindak keras. Dia tahu, Ambar tidak bisa dipandang rendah.
Da-ra berpakaian serba hitam ini pasti telah menda-patkan kemajuan pesat dalam
ilmu silat. Buktinya dia mampu membuat Marni hampir celaka dalam segebrakan.
Bahkan juga dapat menyarangkan
sebuah
serangan yang menyebabkan Setiaji terke-jut setengah mati. Maka seketika
tubuhnya melu-ruk ke arah Ambar dengan tendangan kaki kanan lurus bertubi-tubi
ke arah dada, ulu hati, dan pu-sar.
Plak, plak,
Rrrttt!
Setiaji
hampir tidak percaya dengan pen-glihatannya sendiri. Ternyata tendangan
bertubi-tubinya mudah sekali dipatahkan dengan rambut Ambar. Berkali-kali
rambut itu bergerak-gerak memapak. Malah ketika serangannya berakhir, rambut
Ambar! bergerak membelit!
Setiaji
sampai menggigit bibir ketika perge-langan kaki yang dilibat rambut terasa
sakit bu-kan main. Libatannya tak kalah dengan libatan seekor ular sawah!
Saat itu
juga Setiaji mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk mempertahankan agar
tu-lang-tulang pergelangan kakinya tidak hancur be-rantakan akibat belitan
rambut. Sekujur tubuhnya tampak, menggigil keras. Peluh mengalir deras
membasahi wajahnya.
Di lain
pihak, Ambar terlihat biasa-biasa saja. Sepertinya, dara ini tidak mengerahkan
tena-ga sedikit pun.
Marni yang
memperhatikan jalannya perta-rungan segera mengerti kalau suaminya berada dalam
bahaya. Sambil mengeluarkan pekik me-lengking nyaring wanita itu mengirimkan
totokan ke arah ubun-ubun Ambar dengan bulu-bulu ke-butan yang menegang kaku.
"Hmh...!"
Tapi Ambar
rupanya sudah memperhi-tungkannya. Ketika serangan Marni semakin de-kat, dia
mendengus. Sementara gumpalan ram-butnya yang masih terasa di kepala
dikibaskan,
hingga
meluncur ke arah kebutan yang meluruk ke arahnya.
Namun Marni
tidak terkejut. Telah disaksi-kan sendiri keanehan ini sebelum mendapatkan
serangan secara langsung. Maka kebutannya ce-pat ditarik kembali. Dia tidak
ingin senjatanya ter-belit rambut. Dan, berbarengan dengan itu, kaki kanannya
diayunkan ke arah dada Ambar
Serangan
susulan Marni dilakukan secara cepat. Dia yakin, kalau serangannya berhasil,
liba-tan terhadap kaki Setiaji akan terlepas.
Tapi,
lagi-lagi sebelum serangan Marni mengenai sasaran, rambut Ambar meliuk aneh. Ujung-ujungnya
meluncur ke arah lututnya.
Tuk, tukkk!
Dua kali
lutut Marni tertotok ujung rambut yang telah menegang laksana rotan. Akibatnya,
kaki itu pun lumpuh. Seketika gerakan Marni ter-henti seketika. Padahal pada
saat yang sama gumpalan rambut Ambar kembali bergerak. Kali ini mengibas ke
arah perut Dan....
Crasss...!
"Aaaa...!"
Darah segar
muncrat dari mulut Marni, ke-tika kibasan rambut Ambar telak mengenai
sasa-rannya. Tubuh Marni terhuyung dan jatuh ter-jengkang, karena salah satu
kakinya tidak bisa di-gunakan lagi.
"Marni...!"
jerit Setiaji kaget melihat keja-dian yang menimpa istrinya.
Perasaan
khawatir, membuat Setiaji yang tengah berusaha melepaskan diri, tidak bertindak
setengah-setengah lagi. Dan dia tidak memikirkan masalah tindakan ksatria lagi.
Maka dengan
tangan yang bebas diambil-nya goloknya yang tersampir di punggung. Dan
dengan
amarah meluap-luap, senjata itu dilem-parkan ke arah kepala Ambar.
"Hmmm...!"
Ambar
mendengus! Sepasang matanya jadi lebih terang dari sebelumnya, dan semakin meng-hijau.
Setiaji sampai melongo melihatnya. Apalagi ketika menyaksikan kejadian
selanjutnya. Ternya-ta dari sepasang mata Ambar, meluncur dua leret sinar
kehijauan yang secara telak menghantam go-lok Setiaji.
Bagai lilin
bertemu api. Demikian yang me-nimpa golok Setiaji! Golok yang terbuat dari baja
pilihan itu kontan lumer sebelum menyentuh sa-saran.
"Kau
lihat, Setiaji. Bila aku hendak mem-bunuhmu dan wanita tak tahu malu itu, mudah
sekali! Tapi, aku tidak mau melakukannya. Terlalu enak bagimu, kalau mati
secara demikian. Terlalu nikmat! Pembalasan seperti itu tidak sebanding dengan
penderitaan yang ku alami. Kita harus se-timpal, Setiaji!"
Berbareng
dengan usainya ucapan Ambar, terdengar bunyi berderak keras ketika tulang
per-gelangan kaki Setiaji remuk akibat belitan rambut tadi. Baru setelah dara
yang telah bangkit dari kematiannya ini melepaskan belitan, rambut itu meluncur
ke arah bahu kanan Setiaji.
Tuk! Tuk!
Bak sehelai
karung basah, tubuh Setiaji terkulai jatuh ke tanah tertotok rambut Ambar.
Lelaki ini tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Se-kujur tubuh lemas. Dia hanya
mampu melihat dan mendengar tapi tidak kuasa bertindak apa pun.
"Kak
Setiaji.,.!" seru Marni lemah.
Setiaji
hanya bisa menatap dengan sorot mata sedih. Dia tahu, dirinya dan juga istrinya
te-
rancam
bahaya besar. Tapi, yang dipikirkan hanya keselamatan Marni.
"Pergilah,
Marni. Tinggalkan aku! Cepat se-lagi ada kesempatan!" seru Setiaji,
bernada khawa-tir.
Perintah
itu lebih mudah diucapkan dari-pada dilaksanakan. Jangankan berlari cepat
me-ninggalkan tempat itu, berdiri saja Marni belum mampu. Dia tertatih-tatih
ketika berusaha untuk bangkit. Luka yang dideritanya memang cukup parah.
"Tidak,
Kak Setiaji. Apa pun yang akan ter-jadi, aku akan berada di sampingmu,"
sahut Marni lemah.
Setiaji
merasa terharu mendengar ucapan istrinya. Dadanya terasa sesak oleh rasa haru
yang menyeruak. Kalau menuruti perasaan, ingin rasanya menangis meraung-raung.
Tapi rasa ma-lunya sebagai seorang laki-laki, membuatnya ber-sikeras untuk
bertahan.
"Kalau
begitu, biarlah kita mati bersama, Marni. Tidak hanya di alam dunia saja kita
bersa-ma. Tapi, di akherat pun kita akan berkumpul kembali." tandas
Setiaji.
"Jangan
kalian kira mimpi itu bisa terlak-sana!"
Ambar yang
merasa kesal mendengar per-cakapan Setiaji dan Marni membentak keras.
"Aku
tidak begitu bodoh untuk membunuh kalian berdua! Salah satu di antara kalian,
harus mati secara mengerikan! Sedangkan yang lainnya akan hidup. Tapi, dengan
keadaan menyedihkan!" ujar Ambar.
Setiaji dan
Marni hampir berbareng meno-leh ke arah Ambar yang tertawa-tawa mengerikan.
"Wanita
Iblis!" maki Marni, geram.
"Kejam!"
Setiaji juga ikut memaki.
Tapi makian
sepasang suami-istri itu hanya ditimpali tawa bergelak dari mulut Ambar sebuah
tawa yang mengerikan.
"Kalian
boleh memaki apa saja. Yang jelas, keputusanku akan tetap kulaksanakan! Kau,
Marni! Akan menerima kematian di tanganku se-cara menyedihkan. Sedangkan kau,
Setiaji! Kau akan kujadikan budak pemuas nafsuku, mau atau tidak mau. Setelah
itu, hukuman mengerikan lain akan kau terima! Hi hi hi...!"
5
Ambar yang
sudah sangat dirasuk dendam, segera menggerakkan rambutnya disertai tawa
terkikik tanpa putus. Kali ini rambutnya yang su-dah di jadikan satu gumpalan
lebar segera dike-butkan ke arah Marni.
Angin yang
luar biasa keras seketika ber-hembus ke arah Marni. Istri Setiaji yang masih
da-lam keadaan lemah, tidak mampu bertahan. Tu-buhnya terlempar ke belakang,
langsung terguling-guling. Padahal, dia tadi telah bisa bangkit berdiri,
walaupun masih sempoyongan.
Marni baru
berhenti bergulingan ketika menghantam sebuah pepohonan dalam kerimbu-nan
semak-semak.
Raakkk!
"Marni..!"
jerit Setiaji penuh kekhawatiran melihat keadaan istrinya. "Jahanam kau,
Ambar! Kau bukan manusia! Tapi iblis! Lepaskan dia! Bu-nuh saja aku! Akulah
yang bersalah atas semua kejadian pada dirimu. Bukan dia!"
Tapi Ambar
tidak mempedulikan teriakan-teriakan Setiap. Bahkan malah tertawa terkekeh-
kekeh,
begitu gembira.
"Kau
lihatlah kejadian yang akan menimpa perempuan tak tahu malu itu, Setiaji!"
Saat itu
juga, Ambar menatap ke arah Marni yang masih tergolek.
"Marni...!"
Setiaji tak
tahan untuk tidak berteriak ke-ras, begitu melihat dua larik sinar kehijauan
me-mancar dari sepasang mata Ambar menuju ke arah Marni. Lelaki ini telah tahu,
bagaimana ke-dahsyatan sinar-sinar hijau itu. Golok baja pilihan saja bisa
luluh. Apalagi, Marni!
Ternyata
Ambar tidak ingin menghancur-kan tubuh Marni dengan sinar maut dari sepasang
matanya. Dua larik sinar yang melesat ternyata di-tujukan pada kerimbunan
semak-semak yang menghalangi istri Setiaji berada.
Kerimbunan
semak langsung terbakar ke-tika dua larik sinar dari mata Ambar menerpa. Angin
yang saat itu cukup keras berhembus, membuat api yang timbul dalam sekejap saja
ber-kobar besar.
Setiaji
menjerit-jerit meneriakkan nama is-trinya diseling makian-makian terhadap
Ambar. Sekarang bisa diketahui malapetaka apa yang akan mengancam Marni.
Berbeda
dengan Setiaji, Marni tidak menge-luarkan teriakan sama sekali. Dia memang
paling menderita. Tapi keinginan kuat untuk tidak mem-buat Ambar semakin
gembira, membuat Marni mampu bertahan untuk tidak mengeluh.
Teriakan-teriakan
Setiaji dan tawa Ambar mengiringi gemeretaknya api memakan kerimbu-nan semak-semak.
Hanya dalam waktu singkat, kumpulan semak-semak tempat Marni berada te-lah
terbakar habis. Di antara kepulan asap yang
masih
mengepul, tercium bau hangus daging ter-bakar.
Kini
tinggal Setiaji yang menatap sisa-sisa kebakaran dengan wajah pucat pasi bagai
tidak dialiri darah. Lelaki yang hampir saja menjadi seo-rang ayah ini merasa
terpukul bukan main, meli-hat kematian istrinya di depan mata tanpa mampu
memberi pertolongan sama sekali.
"Hik
hik hik...! Bagaimana rasanya kehi-langan orang yang sangat dicintai, Setiaji?!
Me-nyakitkan bukan?!" ejek Ambar, penuh kepuasan. "Dan, sekarang kau
akan menerima bagiannya!"
Setiaji
tidak memberi tanggapan. Pera-saannya terlampau terpukul. Pikirannya bagaikan
buntu. Jiwanya terasa telah mati terbawa pergi Marni.
Setiaji
tidak teringat sama sekali akan keadaan di-rinya. Bahkan tidak merasa peduli
akan apa yang hendak dialami. Tubuhnya diam tidak bergeming, ketika Ambar
dengan langkah satu-satu meng-hampirinya dengan sikap terlihat penuh ancaman.
Alis Arya
berkernyit ketika melihat sesuatu di depan yang jaraknya tak kurang dari lima
puluh tombak. Pemuda berjuluk Dewa Arak ini tengah dalam perjalanan untuk
melacak mayat Tuan Mu-da Gautama yang bangkit dari kuburnya. Karena
dikhawatirkan, mayat itu akan menyebar keka-cauan di dunia persilatan.
Di
perjalanannya ini, Arya bertemu keane-han. Sesuatu yang sudah pasti adalah
seorang manusia, namun tetap saja membuat hatinya agak heran. Ternyata sosok
itu terlalu pendek untuk ukuran seorang manusia. Tambahan lagi gera-kannya
terlihat janggal. Maka sambil terus melan-jutkan perjalanan, Arya terus
memperhatikan so-sok di hadapannya.
Semakin
lama jarak antara Arya dengan sosok itu semakin dekat Pandangan yang
tertang-kap pun kian jelas. Dan seiring itu, timbul pera-saan kasihan di hati
Dewa Arak
Sosok di
depan Arya sebenarnya juga me-lakukan perjalanan searah. Tapi karena kalah
ce-pat, Dewa Arak bisa menyusulnya. Sosok yang memang manusia itu ternyata
tidak memiliki se-pasang kaki! Buntung sampai ke pangkal paha. Dan hebatnya,
dia berlari mempergunakan kedua tangan. Tapi melihat gerakannya, Arya tahu
kalau sosok itu belum lama mengalami cacat demikian. Penggunaan tangannya
tampak masih kaku. Bah-kan beberapa kali terguling ke tanah ketika berla-ri.
Sambil
terus berlari mengejar, benak Dewa Arak berputar keras. Pandangan matanya
meneliti sosok di depannya penuh perhatian. Dan Arya yang telah kenyang
pengalaman ini, langsung tahu kalau sosok di depannya ternyata masih berusia
muda. Tubuhnya kelihatan kekar, dan terlihat pas dengan pakaian kuningnya. Yang
masih menjadi pertanyaan di kepala Arya adalah, mengapa sosok yang buntung
kedua kakinya ini kelihatan demi-kian tergesa-gesa. Adakah sesuatu yang amat
mendesak sehingga membuatnya tersiksa?
Ketika
untuk yang kesekian kalinya sosok berpakaian kuning itu tersungkur, Dewa Arak
me-lesat mendahului dan berdiri menghadang di de-pannya.
"Mengapa
demikian terburu-buru, Sobat?!" tanya Arya. Pelan dan tenang.
Sosok
berpakaian kuning yang tidak memi-liki kaki, ternyata adalah seorang lelaki berusia
sekitar dua puluh lima tahun. Kini matanya mena-tap wajah Arya penuh selidik
"Kau
siapa?! Dan, apa maksudmu meng-hadang perjalananku?!" lelaki berpakaian
kuning ini malah balas bertanya.
Arya
tersenyum tenang. Hatinya tidak me-rasa tersinggung kendati pertanyaannya tidak
ter-jawab, Dia maklum lelaki berkaki buntung ini ma-sih menaruh curiga.
"Aku
Arya, Sobat. Aku seorang pengelana yang tidak sengaja menghadang perjalananmu.
Kebetulan, aku melihatmu. Karena merasa aneh melihat kau demikian terburu-buru,
aku menyu-sulmu. Barangkali saja ada sesuatu yang bisa ku-lakukan
untukmu," jelas Dewa Arak, hati-hati.
"Maafkan
atas sikapku yang terlalu curiga, Arya. Namaku, Setiaji. Dan seperti yang kau
duga, aku memang tengah terburu-buru. Ada sebuah urusan penting yang harus
secepatnya kuselesai-kan. Itulah sebabnya aku bertindak seperti ini,"
sahut lelaki berkaki buntung yang ternyata Setiaji.
"Begitu
pentingkah hingga kau memaksa-kan diri untuk melakukannya? Tidakkah kau
me-nunggu, hingga luka-luka yang kau derita sem-buh! Maaf, bukannya aku
bermaksud mencampu-ri. Tapi, aku yakin lukamu itu belum lama."
Setiaji
menghela napas berat. Kembali se-pasang matanya menelusuri sekujur tubuh Arya
penuh selidik. Seakan-akan, lelaki yang baru mendapat kemalangan ini tengah
menilai Arya dengan pandangan matanya.
"Mungkin
aku harus menceritakannya pa-damu, Arya. Seperti yang kau katakan tadi, aku
mungkin butuh bantuan. Masalah penting yang harus segera kuurus ini tak akan
mungkin bisa diselesaikan, dengan keadaan tubuh seperti ini. Dengan bantuanmu,
aku yakin masalah ini akan lebih cepat terurus. Tapi, aku ingin kepastian da-
rimu, Arya.
Benarkah kau ingin membantuku?!" tanya Setiaji.
"Dengan
catatan, urusan yang kau maksud ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebena-ran,"
jawab Arya mantap.
Setiaji
tersenyum lebar.
"Kau
kira aku orang macam apa, Arya?! Je-lek-jelek begini, dulu aku bekas seorang
pendekar. Jadi jangan khawatir kalau urusan yang ku mak-sud akan
menjerumuskanmu ke jalan hitam. Ti-dak, Arya. Bahkan urusan ini akan membuat
na-mamu terkenal di dunia persilatan."
"Terima
kasih, Setiaji. Tapi sayang sekali, aku tidak butuh nama besar. Aku hanya ingin
membantumu. Lain tidak. Nah, sekarang katakan-lah."
Setiaji
tercenung sebentar. Kelihatan kalau lelaki ini tampak ragu untuk berbicara.
"Sebenarnya
aku tidak ingin mencerita-kannya pada siapa pun. Tapi karena aku tidak mungkin
bisa menyelesaikannya, dan kebetulan kau bersedia membantu, mau tidak mau
cerita ini terpaksa kututurkan padamu. Agar kau menjadi jelas dengar jalannya
kejadian," Setiaji mulai den-gan ceritanya.
"Puluhan
tahun lalu, ayahku adalah seo-rang pendekar. Telah banyak tokoh hitam yang
di-kalahkan, bahkan ditewaskan dalam upayanya menumpas angkara murka yang
bersemayam di dunia ini. Pada suatu hari, ayahku bertemu bebe-rapa tokoh sesat
yang menjadi kawan baik dari orang-orang yang telah tewas di tangannya.
Sebe-narnya, ayahku tidak akan kalah kalau saja mere-ka bertarung secara
jantan. Tapi, mereka berta-rung secara keroyokan. Ayahku terdesak, dan mungkin
akan tewas kalau tidak muncul seorang
tokoh
golongan putih lain. Berdua, mereka bahu-membahu mengusir penjahat-penjahat
hingga tuntas. Dari situ terjalinlah persahabatan di anta-ra mereka. Bahkan
lalu saling berjanji untuk men-geratkan persahabatan ini dengan menjodohkan
anak-anak mereka, apabila mempunyai anak yang berlainan jenis."
Arya diam
meski pada saat itu Setiaji menghentikan ceritanya. Dewa Arak merasakan adanya
nada penyesalan dalam ucapan lelaki ber-pakaian kuning ini ketika bercerita
tentang perjo-dohan. Arya yang memiliki otak cerdas langsung bisa memperkirakan
kalau masalah yang dimak-sud Setiaji, sedikit banyak berpangkal dari ikatan
jodoh itu.
"Keinginan
ayah dan kawannya terkabul. Ayah mendapatkanku, seorang anak lelaki. Se-dangkan
kawannya mendapat seorang anak pe-rempuan. Ketika berumur sepuluh tahun, anak
yang bernama Ambar itu dibawa ayahnya men-gunjungi kami. Selama beberapa lama,
Ambar menjadi kawan bermain ku. Namun akhirnya kami berpisah kembali."
Sampai di
sini, Setiaji menghentikan ceri-tanya. Dia termenung agak lama. Raut wajahnya
menyiratkan gambaran berbagai macam perasaan. Kecewa, gembira, marah, dan
sedih. Semuanya tercampur menjadi satu.
"Ketika
aku dewasa, Ayah menyuruhku tu-run gunung sekaligus memerintahkan pergi ke
tempat Ambar dan ayahnya. Saat itu pula aku di-beritahukan mengenai jodohku.
Namun diam-diam aku tidak puas, walau tidak ingin menentang ayahku. Dan sama
sekali tidak kusangka kalau dalam perjalanan aku bertemu seorang gadis can-tik
yang berhasil mencuri hatiku. Namanya, Mar-
ni. Rasa
cinta padanya, menyebabkan perjodohan itu kutolak mentah-mentah. Akibatnya
seperti yang kuperkirakan. Ayah marah dan mengusirku. Dia tidak menganggapku
sebagai anak lagi, karena merasa malu pada sahabatnya."
"Sahabat
ayah tidak bertindak apa-apa, se-lain membiarkan semua yang telah terjadi.
Tapi, Ambar tidak demikian. Rupanya, dia memang te-lah mencintai ku. Mengetahui
hal yang sebenar-nya, dia kabur dari rumahnya dan pergi mencari-ku.
Berbulan-bulan dia mencari tanpa hasil, kare-na aku saat itu tengah sibuk
bertualang bersama Marni. Tapi, akhirnya kami berhasil diketemukan. Ambar marah
bukan main pada Marni. Sehingga pertarungan antara mereka pun terjadi. Mereka
sama-sama lihai. Aku yang tidak ingin Marni ter-luka, ikut campur dan mengusir
Ambar. Sejak saat itu, kabar tentang Ambar tidak terdengar lagi. Dia bagai
lenyap ditelan bumi. Sedangkan kami, beberapa minggu kemudian menikah. Ayahku
ti-dak menghadiri pernikahanku. Yang ada hanya pamannya Marni. Beliau pun pergi
ke alam baka, tak lama setelah kami menikah. Aku dan Marni mencari nafkah
dengan menyediakan jasa penga-walan bagi orang-orang yang ingin bepergian jauh,
atau menyuruh mengantarkan barang. Kami sela-lu bernasib baik. Sampai akhirnya,
tanpa kami duga-duga dia datang lagi...."
"Ambar...?!"
terka Arya, tanpa ragu-ragu. Setiaji mengangguk pelan.
"Tapi,
Ambar kali itu sangat berbeda den-gan sebelumnya. Dia telah memiliki kemampuan
mengerikan. Dengan mudah, aku dan Marni dika-lahkan. Kemudian dengan kejam,
Marni dibunuh bahkan aku dibuat cacat seperti ini dengan sabe-tan rambutnya.
Tapi, dasar wanita iblis! Kendati
telah
menghancurkan hatiku dengan siksaan, dia masih belum puas. Sengaja hatiku
disiksa lagi dengan mengatakan akan menghabisi nyawa ayahku."
Arya
mengangguk-angguk. Sekarang baru dimengerti, mengapa Setiaji berusaha keras
untuk melaksanakan urusannya. Ternyata memang se-buah tugas penting. Lelaki
yang telah buntung se-pasang kakinya ini harus berlomba dengan waktu, agar
nyawa ayahnya bisa diselamatkan.
"Meski
ayah tidak menganggapku sebagai anak lagi, tapi aku masih tetap menghormatinya.
Kuakui, aku memang bertindak salah. Untuk me-nebus rasa salahku ini, aku
bermaksud memberi-tahukan adanya ancaman bahaya yang akan da-tang dari Ambar!
Orang yang sama sekali tidak disangka-sangka, tapi kini telah memiliki
kepan-daian menakjubkan!"
Arya
menatap Setiaji dengan sinar mata kagum. Dia setuju sekali pada pendirian
lelaki ini yang tetap menghormati ayah kandungnya. Bah-kan menyiksa diri untuk
memberitahukan adanya bahaya mengancam.
"Seperti
yang kukatakan semula, aku ber-sedia menolongmu, Setiaji. Dalam keadaan biasa,
mungkin kau akan dapat cepat memberitahukan adanya bahaya terhadap ayahmu. Tapi
sekarang? Mau tidak mau kau membutuhkan bantuan. Ku-rasa, kau lebih baik naik
di leherku. Dan aku ber-lari cepat untuk segera tiba di sana! Bagaimana?!"
"Terserah
kau saja, Arya. Aku menurut sa-ja. Aku percaya kau akan memberi usulan yang
baik!" sahut Setiaji, memberi pilihan pada Arya untuk menentukan cara.
"Kalau
begitu, tunggu apa lagi? Cepat naik ke pundakku, dengan segera."
Setiaji
tersenyum. Kedua tangannya segera menekan tanah. Lalu tiba-tiba tubuhnya
melayang ke atas dan hinggap di tengkuk Arya. Tanpa mem-buang waktu, Dewa Arak
melesat meninggalkan tempat itu, berlari menuju arah yang ditunjuk Se-tiaji.
***
Satu sosok
ramping berpakaian hitam ten-gah berlari cepat, melalui dataran beralas padang
rumput pendek. Medan itu tidak rata, bergelom-bang seperti permukaan air laut.
Mendadak
sosok ramping itu menghenti-kan langkahnya. Ketika di depannya telah berdiri
sesosok tubuh tinggi besar. Kepalanya botak den-gan cambang bauk lebat. Pada
punggungnya tam-pak menyembul dua buah kecer berbentuk bulat tipis.
"Orang
hutan! Cepat menyingkir dari ha-dapanku sebelum amarahku timbul!" desis
sosok ramping berpakaian hitam yang ternyata seorang gadis berwajah pucat
seperti tak berdarah, dengan mata mengerikan. Siapa lagi sosok itu kalau bu-kan
Ambar.
"Kau
kira aku bisa kau bunuh, sesudah membunuh kakek-kakek jompo yang dulunya me-rupakan
seorang pendekar yang cukup terkenal itu?" sahut kakek yang mirip orang
hutan itu sambil tertawa gembira. "Aku Buluk Pitu tak akan semudah itu
dapat ditaklukkan. Bahkan kau yang akan menjadi hamba sahayaku, Tuan Muda.
Ken-dati demikian, biarlah. Sebelum kau kujadikan budak, tidak ada salahnya
kalau kita bermain-main sebentar. Aku ingin tahu, sampai di mana
kesaktianmu!"
Tanpa
mempedulikan kemarahan Ambar, laki-laki yang ternyata bernama Buluk Pitu segera
mengambil sepasang kecer yang tergantung di punggung. Biasanya, setiap tokoh
yang mendengar bunyi kecernya, akan kehilangan tenaga dalamnya meski untuk
sementara. Kaki lemas, karena jan-tung bergetar hebat
Blammm!
Bunyi
berdentam nyaring terdengar, ketika Buluk Pitu mengadu sepasang kecernya. Bumi
ba-gaikan tergetar hebat. Bahkan batang-batang po-hon yang ada di sekitar
tempat itu bergetar, sea-kan gemetar mendengar bunyi kecer itu.
Tapi
ternyata bunyi itu sama sekali tidak mempengaruhi Ambar. Padahal, dara ini
hanya mengebut-ngebutkan rambutnya, ketika kecer itu dibenturkan! Bahkan dari
kebutan rambutnya timbul angin menderu keras. Tidak keras bila di-bandingkan
bunyi kecer. Tapi, bunyi sudah cukup untuk meredam pengaruh dahsyat yang timbul
dari bunyi kecer!
Buluk Pitu
yang merasa penasaran, segera mengulangi serangannya. Tapi, hasilnya tetap
sa-ma. Bunyi kecernya tidak berpengaruh apa pun bagi Ambar. Dan ini membuatnya
penasaran bu-kan main. Maka sambil membentak nyaring, sepa-sang senjata
andalannya dilemparkan! Seketika bunyi berdesing nyaring terdengar, ketika dua
benda itu melesat, menyambar dari arah kanan dan kiri dara berpakaian hitam
itu.
Kali ini,
Ambar cepat menjulurkan kedua tangannya ke depan. Maka dua buah kecer berpu-tar
kembali ke pemiliknya sebelum bertemu sepa-sang tangan yang jari-jarinya
terbuka. Malah ke-cepatan luncurannya jauh lebih cepat dari semula! Buluk Pitu
terperanjat. Kalau bertindak
ayal
sedikit saja, senjata akan menghirup darah tuannya sendiri. Maka luncuran
sepasang kecer-nya disambut dengan kedua tangan terbuka. Se-bagai pemilik
senjata, tentu saja Buluk Pitu den-gan mudah bisa menaklukkannya.
Tap! Tapp!
Buluk Pitu
terhuyung mundur dua lang-kah, ketika berhasil menangkap sepasang kecer-nya.
Kedua tangannya bergetar hebat. Dari sini kakek berkepala botak ini benar-benar
membuat gentar bukan main. Buluk Pitu sadar, Ambar me-miliki kemampuan di
atasnya. Melakukan perla-wanan sama dengan mencari mati! Maka dia mulai bersiap
melaksanakan rencananya.
"Tuan
Muda Gautama! Lihat, apa yang ada di tanganku. Kau harus tunduk!" seru Buluk
Pitu dengan suara penuh pengaruh, sambil mengelua-rkan sebuah keris kecil
bergagang dan berbatang kuning mengkilat. Benda ini didapatkan Buluk Pi-tu dari
peti mati Tuan Besar Wiraraja.
Tubuh Ambar
yang dipanggil sebagai Tuan Muda Gautama tampak tergetar. Ucapan Buluk Pi-tu
terlihat mempunyai pengaruh terhadap dirinya. Sepasang matanya yang tadi liar
dan penuh hawa pembunuhan, perlahan melembut. Tapi hal itu hanya berlangsung
sebentar saja. Tak lama dia menggeram keras. Dan dari sepasang matanya meluncur
cepat dua larik sinar kehijauan ke arah Buluk Pitu.
6
Buluk Pitu
memang belum pernah me-nyaksikan kedahsyatan sinar hijau yang meluncur dari
kedua bola mata sosok yang dipanggilnya
Tuan Muda
Gautama. Tapi sebagai seorang yang telah kenyang makan asam garam, dia tidak
bera-ni bertindak gegabah. Maka sebelum sinar-sinar itu menghantam, tubuhnya
melompat ke samping dan bergulingan menjauh.
Benar saja.
Dua buah gundukan batu be-rukuran sedang yang kebetulan berada di bela-kang
Buluk Pitu hancur lebur menjadi sasaran seiring terdengarnya bunyi ledakan
keras. Mata Buluk Pitu sampai terbelalak saking kagetnya me-lihat kedahsyatan
sinar-sinar hijau itu.
Tapi, Ambar
tidak berhenti sampai di situ saja. Serangan-serangan sinar kehijauan terus
di-lanjutkan. Kini dua larik sinar itu bagaikan tidak pernah berhenti,
terus-menerus mencecar tubuh Buluk Pitu. Sehingga memaksa kakek itu untuk
bermain kucing-kucingan, melompat ke sana ke-mari untuk menyelamatkan selembar
nyawa.
Tindakan
Buluk Pitu menyebabkan sekitar tempat itu porak-poranda. Rerumputan banyak yang
hangus terbakar, tersambar angin serangan Ambar. Tanah terbongkar di sana-sini.
Asap men-gepul ke angkasa. Dan pada beberapa tempat, api berkobar meski hanya
kecil saja.
Sambil
tetap berlompatan mengelakkan tangan-tangan maut dari sinar-sinar hijau, Buluk
Pitu memeras otaknya. Dia merasa heran, ketika sosok yang dipanggilnya Tuan
Muda Gautama ti-dak terpengaruh sama sekali dengan keris dan pe-rintahnya.
Padahal, demikianlah cara yang harus dilakukan, untuk menguasai roh Tuan Besar
Gau-tama yang telah bangkit lagi
Buluk Pitu
tahu, keadaan seperti ini tidak bisa dibiarkan. Bahkan bukan tidak mungkin
ka-lau nyawanya akan melayang ke alam baka. Pa-dahal, dia belum ingin melihat
alam akherat ken-
dati
usianya telah amat tua.
Itulah
sebabnya, ketika untuk kesekian kali serangan sinar-sinar hijau meluncur,
sambil melompat mengelak Buluk Pitu melemparkan se-pasang kecernya. Sengaja
kecer itu dilepas satu persatu, agar lawannya menyediakan waktu lebih banyak untuk mematahkan serangan-serangannya.
Buluk Pitu
masih sempat melihat ketika kecer yang pertama kali dilepaskan terhantam si-nar
hijau dari mata Ambar. Hebatnya, senjata yang terbuat dari baja pilihan itu
leleh! Dan kecer kedua tidak sempat dilihat karena Buluk Pitu te-lah melesat
cepat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan menakjubkan!
Ambar alias
Tuan Muda Gautama hanya bisa memaki kalang kabut ketika calon korbannya telah
lenyap begitu sepasang kecer itu berhasil di-hancurkannya. Amarahnya yang telah
bangkit membuatnya tidak mau berhenti bertindak sebe-lum Buluk Pitu binasa.
Maka tubuhnya juga mele-sat mengejar ke arah kepergian Buluk Pitu tadi.
Tapi baru
saja beberapa kali lesatan, Am-bar mendengar bentakan nyaring dari
belakang-nya.
"Berhenti...!
Wahai orang yang berlari di depan, berhenti! Berhenti kau, Pengecut...!"
Kata-kata
terakhir membuat Ambar yang semula tidak ambil peduli jadi menghentikan
langkahnya. Meski telah bukan manusia sewajar-nya lagi, Ambar tetap memiliki
keangkuhan yang pantang dianggap pengecut. Dengan cepat tubuh-nya berbalik.
Sikapnya terlihat mengancam.
Hanya dalam
sekejap, orang yang menegur itu telah berada di depan Ambar berjarak empat
tombak. Dia ternyata seorang kakek berpakaian
coklat.
Kedua kakinya buntung sampai pangkal paha, digantikan oleh dua batang tongkat.
Seperti juga Ambar, dia terperanjat atas pertemuan ini. Kini masing-masing
pihak saling pandang dengan alis berkerut seakan saling mengenal,
"Kau...,
kau siapa...?! Rasanya aku pernah melihat wajahmu...?!"
Kakek
berpakaian coklat terlebih dulu membuka percakapan dengan suara bergetar.
Se-pasang matanya terbelalak lebar penuh rasa kaget ketika melihat wajah Ambar.
"Aku
pun rasanya mengenalmu, Kakek! Hanya saja aku lupa, kapan dan di mana
perte-muan itu berakhir."
Dua pasang
mata saling pandang, sebelum akhirnya berisikan nada-nada kecurigaan.
"Tua
Bangka tidak tahu diri! Hentikan uca-pan tololmu. Aku bukan apa-apamu. Cepat
kau pergi dari sini, sebelum kesabaranku habis!"
Ambar yang
lebih dulu sadar dari kesi-manya, membentak keras setelah yakin kalau ka-kek
berpakaian coklat ini tidak mempunyai hu-bungan dengannya.
Kakek
berpakaian coklat tersenyum getir. "Pergi itu urusan mudah, apabila semua
urusan
telah bisa diselesaikan. Tapi sayang, uru-san antara kita belum selesai. Aku
punya satu pertanyaan padamu, Nona," balas kakek berkaki buntung itu.
Sepasang
mata Ambar mulai berkilat te-rang. Sinar kehijauan semakin jelas terlihat.
Ka-kek berpakaian coklat itu tersentak, begitu melihat adanya sesuatu yang
aneh. Namun kakek ini pu-ra-pura bersikap tidak peduli.
"Beberapa
puluh tombak dari tempat ini, aku menemukan mayat seorang kakek gagah per-
kasa. Aku
tahu betul kalau dia dulunya seorang pendekar besar. Menilik dari keadaan
mayatnya, aku yakin orang yang membunuhnya belum lari jauh. Dan ternyata, hanya
kau yang berada dekat dengan tempat mayat kakek itu. Jelas, kau mem-punyai
hubungan yang erat dengan tewasnya ka-kek pendekar itu, Nona."
"Kau
memang cerdik, Tua Bangka bau ta-nah! Akulah yang telah membunuhnya. Tapi,
orang itu memang pantas dibunuh. Aku punya semboyan hidup. Tidak ada tempat
bagi orang yang mengkhianati janji. Dan kakek jompo itu te-lah mengingkari
janji yang telah dibuatnya sendiri. Maka, aku pun membunuhnya! Kalau kau tidak
senang, silakan maju. Biar kuhabisi sekalian orang-orang yang berani
menentangku!"
Kakek
berpakaian coklat menghela napas berat. Kepalanya menggeleng-geleng seperti
layak-nya orang yang merasa prihatin.
"Sayang
sekali, Nona. Kau sebenarnya ma-sih muda. Jalan hidupmu masih panjang. Menga-pa
memilih jalan sesat dan bukan jalan lurus?! Sadarlah! Jangan kau jerumuskan
dirimu ke da-lam jurang kehancuran!"
"Tutup
mulutmu!"
Ambar yang
merasa tidak senang diberi nasihat, segera melancarkan serangan mempergu-nakan
sepasang matanya. Dua sinar yang memili-ki kekuatan daya hancur luar biasa
seketika melu-ruk ke arah sang kakek.
"Uts...!"
Kakek
berpakaian coklat melompat meng-hindari serangan. Dia tahu, sinar hijau itu
memi-liki kekuatan dahsyat Rasanya tidak akan ada senjata apa pun yang mampu
menahannya!
Serangan-serangan
gencar sinar hijau yang
keluar dari
sepasang mata Ambar benar-benar membuat kakek berpakaian coklat yang tak lain
Wara Kuri untuk berlompatan ke sana kemari. Tindakannya membuat keadaan sekitar
itu menja-di porak-poranda.
"Ih...!"
Wara Kuri
terperanjat ketika merasakan adanya tarikan kuat ketika baru saja melompat
untuk mengelakkan serangan sinar hijau dari ma-ta Ambar. Sementara, dara
berpakaian hitam itu terus menjulurkan tangan dengan kedua telapak terkembang,
melakukan gerak menarik.
Wara Kuri
yang tengah berada di udara, ti-dak mampu berbuat sesuatu untuk bertahan.
Apalagi tidak ada pijakan.
Pada saat
yang merugikan bagi Wara Kuri, Ambar mengirimkan serangan maut dengan sinar
matanya!
Wesss...!
Dua larik
sinar hijau meluncur, menghan-tam luncuran tubuh Wara Kuri yang tertarik ke
arah Ambar.
Wara Kuri
benar-benar berada dalam pili-han sulit. Keadaannya tidak memungkinkan un-tuk
mengelak. Jalan satu-satunya untuk menye-lamatkan diri, hanya menangkis. Tapi
bila me-nangkis sinar maut dalam jarak yang demikian dekat, memiliki
kemungkinan untuk menerima akibat yang sangat parah.
Di saat
yang amat gawat bagi keselamatan nyawa Wara Kuri, terdengar bunyi hembusan
ke-ras diiringi hawa panas menyengat. Datangnya, dari belakang Wara Kuri terus
meluncur memapak dua larik sinar hijau!
***
Bresss!
Blarrr...!
Bumi
bagaikan tergetar begitu dua larik si-nar hijau dari mata Ambar berbenturan
dengan hembusan angin panas yang keras. Sekitar tempat itu bagaikan digoyang
tangan raksasa. Sedang akibatnya bagi pihak-pihak yang terlibat dalam ke-jadian
itu, lebih hebat lagi.
Tubuh Ambar terhuyung-huyung dua langkah ke belakang. Tapi, tubuh
sosok bayangan ungu yang melancarkan pukulan jarak jauh ber-hawa panas dari
belakang Wara Kuri, melayang deras ke belakang bagai daun kering dipermain-kan
angin!
Wara Kuri
yang berada dalam kancah per-tarungan ketika dua kekuatan dahsyat bertemu
sekujur tubuhnya terasa seperti dimasuki ribuan semut. Saat itu, Ambar
menggerakkan tangan me-nyerang perut Wara Kuri. Jarak antara mereka se-benarnya
tidak memungkinkan bagi Ambar untuk mengirimkan serangan. Apalagi Ambar
melancar-kan serangan tanpa bergeming dan tempatnya.
Tapi, Ambar
ternyata sudah memperhi-tungkan. Tangannya ternyata dapat memanjang seperti
karet. Jarak yang seharusnya tidak ter-jangkau berhasil dilompati. Dan....
Bresss...!
"Aaaa...!"
Tak pelak
lagi, jari-jari tangan gadis berpa-kaian hitam ini menembus perut Wara Kuri
hingga tembus ke punggung. Darah berhamburan dari bagian yang robek lebar.
Kakek itu
kontan menjerit memilukan. Ta-pi, Ambar sama sekali tidak peduli. Tanpa ada
pe-rubahan sedikit pun pada wajahnya yang pucat pasi, tangannya ditarik kembali
dengan gerakan
mengoyak.
Sehingga, membuat luka Wara Kuri semakin parah. Kemudian, sambil tertawa
terkikih tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu. Am-bar sama sekali tidak
ingat pada orang yang telah memapak sinar hijau dari matanya.
Tak lama
sepeninggalnya, dari balik kerim-bunan semak-semak tempat terlemparnya sosok
yang tadi memapak serangan, melangkah ter-huyung-huyung dua sosok yang
bertumpuk men-jadi satu. Sosok yang satu berada di atas sosok yang lain. Mereka
adalah Dewa Arak dan Setiaji yang berada diatas pundaknya.
Dengan
langkah terhuyung-huyung karena rasa pusing amat sangat yang masih melanda,
Arya memaksakan diri menghampiri Wara Kuri tergolek. Pemuda berambut putih
keperakan ini tahu, keadaan kakek itu telah amat mengkhawa-tirkan. Kalau tidak
bertindak cepat, nyawanya ke-buru melayang ke alam baka. Kendati Arya tahu,
Wara Kuri tak bakal bisa diselamatkan mengingat keadaannya yang terlalu
mengkhawatirkan. Tapi setidak-tidaknya, kakek itu mungkin akan me-ninggalkan
pesan.
Sebelum
Arya berada di dekat Wara Kuri, dari arah yang berlawanan melesat sesosok
bayangan serba merah. Gerakannya cepat bukan main. Hanya dalam sekejapan, sosok
itu telah be-rada di dekat tubuh Wara Kuri
Bahkan dia
berjongkok, memperhatikan luka kakek berpakaian coklat itu penuh selidik.
Helaan
napas berat keluar dari mulut so-sok ini. Kepalanya pun menggeleng. Kemudian
tangan kanannya diulurkan. Dan dengan kecepa-tan menakjubkan, tangannya
bergerak menotok sekitar luka untuk menghentikan aliran darah agar Wara Kuri
tidak mati lemas.
"Terima
kasih atas pertolonganmu, Sobat. Sayang, aku tidak akan bisa membalasnya. Tapi
aku, Wara Kuri, bukan orang yang tidak kenal bu-di. Bila di dunia ini aku tidak
mampu membalas, maka di penghidupan yang lain, akan kucoba un-tuk membalas
budimu ini," ujar Wara Kuri terpa-tah-patah.
"Tidak
usah memikirkan masalah itu, Wara Kuri. Aku tidak membutuhkan balas budi.
Kehadi-ranku di tempat ini pun, hanya sebuah kebetulan. Aku sebenarnya sudah
tidak berhasrat untuk ter-jun dalam dunia persilatan. Tapi karena sesuatu hal,
dan karena keteledoran dua orang muridku, terpaksa aku turun gunung
meninggalkan tempat pengasinganku yang nikmat. Dan aku terjun kem-bali ke dalam
kerasnya kancah dunia persilatan yang menjijikkan," sahut laki-laki
berbaju merah ini.
Wara Kuri
tertawa terkekeh walau dengan susah payah.
"Kita
ternyata mempunyai nasib yang sa-ma, Sobat. Kita tidak termasuk orang-orang
yang beruntung. Aku pun sebenarnya sudah tidak ingin terjun dalam dunia
persilatan. Tapi sebuah keja-dian yang mengerikan dan amanat dari majikan-ku,
membuat aku tidak bisa mengelak. Akhirnya aku harus mengalah pada nasib. Aku
harus me-ninggalkan dunia ini, tanpa bisa menyelesaikan amanat majikanku. Nasib
memang mempermain-kan manusia, Sobat"
Sosok
berpakaian merah ternyata seorang lelaki berjenggot panjang sampai ke dada.
Usianya sekitar enam puluhan tahun, tapi masih tampak gagah. Kumisnya yang
masih hitam dan melintang menambah kegagahannya. Di waktu mudanya, dia pasti
seorang pemuda yang amat tampan dan ga-
gah.
"Ternyata
kita mempunyai masalah yang sama, Wara Kuri. Hanya saja kau harus pergi
se-belum masalahmu berhasil diselesaikan. Sedang-kan aku masih terus mencari.
Entah sampai ka-pan hal ini baru bisa terungkap. Atau mungkin aku akan
mengalami kejadian sepertimu. Mening-galkan dunia ini tanpa berhasil mengupas
masa-lah yang menggayuti benakku," kata laki-laki ber-pakaian merah.
"Boleh
kutahu, apa yang mendorongmu terjun ke dalam dunia persilatan, Sobat?!"
tanya Wara Kuri ingin tahu.
"Bangkitnya
mayat dari kematiannya," ja-wab lelaki berpakaian merah, langsung pada
sasa-ran.
Wara Kuri
mengeluarkan keluhan tertahan. "Mengapa?!" tanya lelaki berpakaian
merah
ini heran.
"Masalah
yang tengah kita hadapi ternyata sama," jelas Wara Kuri cepat
"Jadi...,
kau pun...."
"Benar,"
Wara Kuri mengangguk. Kemu-dian secara singkat tapi jelas, kakek berpakaian
coklat ini menceritakan semuanya. Sampai lawan bicaranya mengerti dengan
masalah yang tengah dihadapinya.
"Kau
sendiri bagaimana?!" tanya Wara Ku-ri.
"Hampir
sama," jawab lelaki berpakaian merah. Dahinya tampak berkerut dalam
seperti tengah berpikir keras. "Aku mempunyai dua orang murid. Yang pertama,
bernama Gempita. Dan yang satu lagi, bernama Marong. Pada suatu hari, me-reka
datang membawa seorang wanita yang ham-pir mati. Keadaannya tidak terurus.
Bahkan boleh
dibilang
tak ubahnya gembel. Ingatannya hampir hilang. Aku yakin wanita ini telah mendapatkan
guncangan batin yang berat, sehingga membuat-nya seperti gila. Menilik dari
gerak-geriknya, aku tahu wanita ini bukan orang sembarangan. Seti-dak-tidaknya
murid seorang sakti. Terbukti meski dalam keadaan kurang ingatan, ilmunya masih
cukup hebat. Wanita itu bernama Ambar."
Arya dan
terutama sekali Setiaji yang juga mendengarkan percakapan itu, merasa kaget
bu-kan main. Jantung Setiaji bahkan seperti berhenti berdetak mendengar cerita
itu. Jadi, Ambar benar-benar menderita!
"Karena
perawatan kami yang tak kenal le-lah, Ambar berhasil disembuhkan. Tapi sayang
se-ribu kali sayang, Ambar terjatuh dalam tangan seorang ahli ilmu hitam yang
berhati keji. Ambar menuntut ilmu hitam yang aneh-aneh. Bahkan sampai akhirnya,
Ambar tewas dalam mempelajari ilmu itu. Syarat yang terlalu berat, membuat
nya-wanya melayang. Tapi justru itu sebenarnya yang diinginkan gurunya yang
memang berhati keji. Dia ingin menciptakan budak yang mau melakukan semua
perintahnya, tanpa membantah sedikit pun. Dan itu hanya dapat diperoleh, bila
Ambar telah menjadi mayat kemudian bangkit lagi. Tentu saja begitu telah
menjadi mayat hidup, kesaktian Ambar akan berlipat ganda. Dengan demikian,
pe-nyihir jahat itu jadi memiliki seorang budak yang amat taat, sekaligus luar
biasa sakti."
Wara Kuri
diam. Dia merasa takjub men-dengar cerita itu. Sedangkan Arya dan terutama
sekali Setiaji baru menyadari mengapa Ambar jadi demikian sakti. Rupanya, Ambar
telah mati. Am-bar telah menjadi semacam budak yang hanya ta-hu melaksanakan
perintah. Tanpa sadar, sepa-
sang mata
Setiaji berkaca-kaca, karena rasa haru. Betapapun juga, lelaki ini merasa
bertanggung ja-wab atas malapetaka yang menimpa Ambar.
"Dengan
sebuah siasat, aku berhasil men-curi mayat Ambar. Aku tidak ingin, dia
dijadikan budak. Setelah berhasil, aku mencari tahu bagai-mana caranya untuk
menghentikan semua kegi-laan itu. Akhirnya, aku pun mendapatkannya. Ambar harus
dikubur, sebelum hujan lebat ber-henti. Bahkan sebelum sinar bulan berwarna
me-rah. Karena bila itu terjadi, malapetaka akan muncul. Dari tempat tinggalku
kupantau keadaan muridku. Sebenarnya, aku yakin mereka akan berhasil. Tapi
ternyata gagal. Dari tempatku, aku tahu kalau dua muridku itu telah
tewas."
"Apakah
orang yang dimaksud muridmu itu seorang lelaki tinggi besar bertelanjang dada,
dan seorang lelaki kecil kurus? Dan mereka pun naik kereta?!" tanya Wara
Kuri, untuk memastikan ketika teringat akan hal mayat yang ditemukan-nya.
"Benar,"
sahut lelaki berpakaian merah itu mengangguk.
"Mereka
memang telah tewas. Dan tempat terjadinya adalah di makam milik keluarga
maji-kanku. Asal tahu saja, tempat itu sebenarnya ter-larang bagi orang luar.
Pemakaman itu adalah pemakaman keluarga. Dan, tidak untuk orang lain. Tapi,
murid-muridmu telah lancang mengu-bur mayat Ambar di sana. Dan aku bisa
memper-kirakan apa yang terjadi, " papar Wara Kuri, men-geluh panjang
pendek.
"Apa?"
lelaki berpakaian merah jadi ingin tahu.
"Wanita
muda itu berhasil hidup, karena adanya roh milik Tuan Muda Gautama yang diku-
bur di
situ. Pada saat-saat tertentu, roh itu me-mang muncul ke permukaan. Biasanya,
itu terjadi setiap sebulan sekali. Dan aku yakin, roh itulah yang membuat mayat
Ambar hidup kembali."
"Mungkin
kau benar, Wara Kuri. Tapi, mungkin kau mau mendengar penjelasanku. Mayat Ambar
itu tidak untuk dikuburkan di tem-pat makam majikanmu. Aku tidak tahu. Bahkan
muridku juga tak tahu kalau di sana ada makam. Mereka dan aku telah sepakat
untuk mengubur-kannya di sebuah tempat. Tapi, entah mengapa mereka memilih
makam milik majikanmu. Aku ti-dak mengerti maksud mereka. Tapi yang jelas, apa
yang ku takuti telah terjadi. Mereka menanam mayat setelah hujan berhenti dan
juga sinar bulan merah telah muncul. Padahal, aku telah berpesan berkali-kali
agar jangan sampai itu terjadi. Karena jika sampai demikian, nyawa mereka tak
akan se-lamat"
"Lalu...,
apa yang akan kau lakukan?!" tanya Wara Kuri, ingin tahu.
"Aku
belum tahu," desah lelaki berpakaian merah menggeleng. "Entah
nanti."
"Sayang
sekali, Sobat," desah Wara Kuri dengan suara penuh sesal. "Kalau saja
aku tidak ceroboh, aku mungkin akan dapat melenyapkan angkara murka Ambar
dengan mudah. Majikan tuanku telah meninggalkan pusaka untuk melum-puhkan
kekuatan roh anaknya. Pusaka itu berupa keris bergagang kuning. Demikian juga
batangnya. Sayang, senjata itu telah diambil Buluk Pitu. Aku khawatir dengan
senjata itu, Buluk Pitu akan ber-hasil mengendalikan Ambar."
Lelaki
berpakaian merah tersenyum lebar. "Jangan khawatir, Wara Kuri. Apa yang
kau
khawatirkan tidak akan terjadi. Senjata yang
kau
sebutkan, tidak mempan terhadap Ambar. Di perjalanan aku melihat Buluk Pitu
sampai memaki kalang kabut dan membuang sebuah benda yang ternyata bernama
Keris Emas. Bahkan sempat kudengar dia memaki-maki Ambar. Berarti, keris itu
tidak bisa digunakan untuk mempengaru-hinya."
Wajah Wara
Kuri berubah, membesi. Bi-asan wajah dan sinar matanya memancarkan rasa
tersinggung yang besar.
7
"Kau
terlalu merendahkan pusaka keluarga Wiraraja, Sobat. Apakah pusaka kau yang
lebih ampuh daripada pusaka itu? Kau tahu, Tuan Be-sarku yang bernama Tuan
Wiraraja memiliki pen-getahuan luas. Dan keris yang kau rendahkan itu-lah yang
dikatakan Tuan Wiraraja, akan berhasil membuat mayat hidup itu tidak bangkit
lagi untuk selamanya," kata Wara Kuri, berapi-api.
Rasa
tersinggung membuat ucapan Wara Kuri kelihatan menggebu-gebu. Dan itu terlalu
memaksakan keadaan diri. Padahal, keadaannya telah sangat payah, sehingga
membuatnya batuk-batuk darah.
"Maaf,
maaf. Bukannya aku bermaksud demikian, Wara Kuri. Aku yakin pusaka itu am-puh.
Bahkan aku percaya, Tuan Wiraraja berkata benar. Mayat Gautama akan roboh untuk
selama-lamanya, apabila terhunjam Keris Emas. Tapi per-lu kau ketahui, mayat
yang bangkit itu bukan mayat Gautama. Tapi, mayat orang lain. Ambar
namanya."
"Sama
saja!" cela Wara Kuri "Bukankah
bangkitnya
mayat itu, karena roh Tuan Muda Gautama?!"
"Ucapanmu
hanya benar sedikit, Wara Ku-ri. Mayat Ambar tidak bangkit karena roh Tuan Muda
Gautama. Mayat itu bangkit karena ulah to-koh seperti yang kuceritakan. Roh
Gautama hanya mempercepat bangkitnya mayat itu. Seharusnya, sehari setelah
dikuburkan, baru Ambar akan bangkit. Tapi keberadaan roh Gautama, memper-cepat
kebangkitannya. Aku mempunyai alasan kuat untuk hal ini. Buktinya, yang dicari
mayat Ambar adalah orang-orang yang telah membuat-nya sakit hati. Kalau roh
Gautama yang berada dalam diri Ambar, pasti yang didahulukan adalah kepentingan
Gautama!" jelas lelaki berpakaian me-rah dengan sabar!
Wara Kuri
diam.
"Mungkin
kau benar, Sobat," kata kakek ini setelah terdiam sejenak. "Maafkan
atas sikapku yang tidak patut."
"Lupakanlah,
Wara Kuri. Aku memaklumi perasaanmu. Pergilah dengan tenang. Percayalah. Kau
tidak mempunyai beban batin lagi. Karena, roh Gautama belum keluar. Dan
mudah-mudahan tidak keluar. Ada pun mengenai peti mati Wirara-ja, biar aku yang
mengurusnya," janji lelaki berpa-kaian merah.
"Terima
kasih, Sobat"
Dan kepala
Wara Kuri pun terkulai. Kakek ini meninggalkan dunia dengan hati belum tenang.
Sambil menghembuskan napas berat, lelaki ber-pakaian merah itu bangkit.
Kemudian kepalanya menoleh ke belakang, pada Arya dan Setiaji yang sejak tadi
menyaksikan perdebatan.
"Siapa
kalian?! Apakah mempunyai hu-bungan dengan urusan yang tengah kami hada-
pi?!"
tanya lelaki berpakaian merah, penuh selidik. "Aku Arya, dan kawanku ini
Setiaji," jawab
Arya, cepat
"Gadis
yang kau sebut sebagai Ambar, ada-lah bekas tunanganku. Sebelumnya, aku tidak
ter-libat dalam urusan ini. Tapi, karena dia telah membunuh istriku dan
melakukan kekejian den-gan membuntungi kakiku maka aku harus terlibat dalam
urusan ini. Bahkan dia mengancam akan membinasakan ayahku. Hal inilah yang
memba-waku kemari. Mudah-mudahan saja beliau belum mengalami kejadian yang ku
khawatirkan."
Lelaki
berpakaian merah menghela napas berat
"Lebih
baik kalian urungkan niat kalau in-gin selamat. Mayat hidup itu tidak akan bisa
di-tandingi. Dia memiliki kemampuan tak masuk ak-al. Bahkan aku pun tak yakin
akan bisa menga-lahkannya. Meskipun demikian, tetap akan ku usahakan untuk melenyapkannya selama-lamanya."
"Demikian
pula denganku, Kek," timpal Arya, tenang. "Memang kuakui, Ambar
memiliki kemampuan luar biasa. Tapi, kewajiban untuk mencegah terjadinya
angkara murka di dunia per-silatan, membuatku tidak mempunyai alasan lain. Aku
rela kehilangan nyawa untuk menegakkan keadilan," tandas Dewa Arak.
"Begitu
pula denganku!" sambut Setiaji mantap dan tegas.
Lelaki
berpakaian merah tersenyum lebar. Matanya menatap Arya dan Setiaji dengan sorot
mata kagum. Dia tahu, tengah berhadapan dengan orang-orang muda berjiwa gagah
dan tidak takut menghadapi kematian.
"Kalian
pemuda hebat! Pendekar-pendekar
yang tidak
mementingkan diri sendiri. Aku senang berkenalan dengan kalian. Namaku, Kerta
Bumi. Nama yang tidak terkenal karena aku hanya seo-rang yang tinggal di gunung
dan tidak pernah ber-kiprah dalam dunia persilatan. Sayang, karena keadaan yang
tidak memungkinkan, aku tidak bi-sa berlama-lama bercakap-cakap dengan kalian.
Aku harus pergi untuk mencegah terjadinya hal yang lebih mengerikan!"
"Apa
yang hendak kau lakukan, Kek?!" tanya Dewa Arak ingin tahu.
"Mencegah
ahli ilmu hitam yang kejam itu dalam memperbudak Ambar demi kepentingannya
sendiri! Nah! Selamat tinggal!"
Tanpa
menunggu tanggapan Arya dan Se-tiap, Kerta Bumi melesat. Hanya dalam beberapa
kali lesatan, tubuhnya telah berubah menjadi titik hitam yang semakin lama
semakin kecil. Dan ak-hirnya, lenyap di kejauhan.
"Mari,
Arya. Kita harus bergegas. Aku kha-watir, Ambar akan tiba lebih dulu menjumpai
ayahku."
"Mudah-mudahan
saja tidak, Setiaji. Bu-kankah dia tidak tahu tempat tinggal ayahmu se-karang?
Akan makan banyak waktu baginya un-tuk menemukan ayahmu. Aku yakin, kita akan
ti-ba lebih dulu darinya."
Mulutnya
berkata demikian, tapi Dewa Arak mengayunkan kaki juga meninggalkan tem-pat
itu. Pemuda berambut putih keperakan ini me-lesat cepat, mengerahkan seluruh
kemampuan-nya.
***
"Ayah...!"
Begitu
melihat pondok kecil yang diketahui sebagai tempat tinggal ayahnya, Setiaji
telah berte-riak keras. Meski Dewa Arak saat itu tengah mele-sat menuju ke
tempat itu, lelaki yang sudah tidak sabar lagi langsung melompat dari atas
pundak Arya.
"Ayah...!"
Setiaji
kembali berseru tanpa menyembu-nyikan perasaan khawatirnya, begitu telah tiba
di ambang pintu. Sementara Arya yang menyusul se-kejap kemudian, mengerutkan
kening ketika meli-hat bagian dalam pondok yang porak-poranda ba-gai dilanda
angin besar. Pemuda ini tahu, ada orang yang telah datang ke tempat ini dan
menim-bulkan kerusakan. Mungkinkah Ambar?!
Sedangkan
Setiaji segera masuk ke dalam pondok, memeriksa setiap ruangan yang ada sam-bil
berseru-seru memanggil ayahnya. Tapi sampai semua tempat dijelajahi, yang
dicari tetap tidak di-temukan.
"Ayahku
tidak ada Arya," desah lelaki ber-pakaian kuning ini pada Arya yang
menatap ke arahnya dengan sinar mata penuh pertanyaan.
"Syukurlah.
Itu berarti ayahmu selamat," sahut Arya, kalem.
"Hm...,
Atas dasar apa kau berani menga-takan demikian, Arya? Ketidakberadaan mayat
ayahku di sini?! Tidakkah kau lihat keadaan yang berantakan?! Dari sini saja
bisa diketahui ada orang yang telah datang ke tempat ini, dan mem-porak-porandakannya.
Siapa lagi kalau bukan Ambar?! Aku yakin, ketidakberadaan mayat ayah-ku di
sini, karena telah dibawa gadis liar itu untuk disiksa sebelum mati!"
tandas Setiaji berapi-api.
"Aku
tidak yakin dengan tanggapanmu itu, Setiaji," Arya bersikeras dengan
pendapatnya. "Ka-
lau benar
Ambar hendak menyiksanya untuk apa ayahmu dibawanya. Dan itu hanya menyusahkan
diri. Aku lebih condong kalau dia menyiksa dan membunuhnya di tempat ini. Tapi,
itu bila benar seperti yang kau duga."
Arya dan
Setiaji berbareng mengalihkan perhatian ke luar pondok, begitu terdengar bunyi
langkah kaki berat yang mendekati tempat mereka berada. Dari sini bisa diduga
kalau orang itu tidak memiliki ilmu meringankan tubuh. Andaikata punya paling
hanya sekadarnya saja.
Sungguh pun
demikian, Setiaji dan Arya ti-dak kehilangan semangat untuk memeriksanya.
Mereka cepat melesat ke depan. Dan hanya den-gan sekali lesatan, telah berada
di depan pintu.
Orang yang
melangkah sampai terjingkat ke belakang bagai disengat binatang berbisa, keti-ka
tahu-tahu dua sosok tubuh berada di depan-nya.
"Paman
Nanggal!" seru Setiaji gembira. Sapaan itu membuat seorang lelaki berusia
sekitar
empat puluh lima tahun wajahnya hitam kecoklatan tak mampu menutupi pucat
pasinya. Yang semula kelihatan terkejut bukan main, jadi memperhatikan dua
sosok di depannya. Dia mena-tap tak percaya pada sosok Setiaji yang
mengelua-rkan teguran.
"Kau...,kau…, Aden Setiaji...?!" tanya Nanggal setengah tidak percaya.
Terutama
sekali, ketika pandangannya ter-tumbuk pada sepasang kaki lelaki itu yang telah
buntung.
"Benar,
Paman. Aku Setiaji. Bagaimana ka-barmu, Paman. Apakah baik-baik saja?! Di mana,
Ayah?! Mengapa rumah ini demikian beranta-kan?!" tanya Setiaji
bertubi-tubi.
Wajah
Nanggal berubah. Kelihatan bingung sekali.
"Aku
baik-baik saja, Den. Tapi, tidak demi-kian ayahmu. Beliau mempunyai nasib buruk
se-perti juga kau. Ah, Den Setiaji. Apa yang telah ter-jadi atas dirimu?!
Mengapa kedua kakimu bisa demikian, Den?!"
"Nanti
akan kuceritakan, apabila aku telah mempunyai kesempatan, Paman. Saat ini aku
ten-gah tergesa-gesa. Aku tidak ingin sesuatu terjadi atas diri Ayah. Katakan,
apa yang telah terjadi ter-hadap ayahku, Paman Nanggal?!"
"Kejadiannya
belum lama terjadi, Den. Hanya berbeda waktu setengah hari denganmu. Iblis itu
datang dan mencari ayahmu. Aku tidak tahu, apa yang terjadi sebelumnya. Karena
aku ti-dak mau mencampuri urusan antara mereka. Tapi sesaat kemudian, kudengar
bunyi ribut-ribut. Ter-nyata, ayahmu telah bertarung melawan iblis itu yang
berkepandaian hebat sekali. Sebentar saja, ayahmu terdesak hebat Dan akhirnya,
dia roboh. Kemudian, iblis itu membawanya. Aku takut seka-li, Den. Maka, aku
bersembunyi. Aku baru keluar, ketika kudengar bunyi gaduh dari tempat ini lagi.
Kukira, iblis itu datang lagi untuk membunuhku. Aku menjadi nekat, mendekati
tempat ini. Dan aku telah siap menyabung nyawa. Tak tahunya, malah kau dan
kawanmu ini yang datang. Ah! Be-tapa leganya hatiku, Den. Hanya saja...."
"Bisa
kau beritahukan padaku, bagaimana ciri-ciri iblis itu, Paman?!" selak
Setiap tak saba-ran. "Apakah dia seorang wanita?!"
"Benar,
Den," Nanggal mengangguk. "Masih muda lagi...! Pakaiannya serba
hitam. Tetapi sepa-sang matanya yang mengerikan membuatku ta-kut!"
Setiaji dan
Arya saling berpandangan. Da-lam adu tatap yang hanya sebentar, mereka
sama-sama bisa menduga siapa orang yang membawa mayat ayahnya Setiaji. Iblis
yang dimaksud Nang-gal itu adalah Ambar!
"Kau
tahu ke arah mana iblis itu memba-wanya lari, Paman?!" tanya Arya, tak
sungkan-sungkan lagi menyapa seperti halnya Setiaji.
Arya tahu,
kalau Nanggal ini sebenarnya bukan Pamannya Setiaji. Melainkan, pembantu se-jak
Setiaji kecil.
Nanggal
menggeleng. Setiaji dan Arya men-geluh dalam hati. Tanpa adanya petunjuk yang
je-las, mereka akan kehilangan jejak Ambar.
"Tapi,
aku sempat mendengar ucapannya setelah iblis itu berhasil membunuh dan memba-wa
ayahnya Den Setiaji. Di antara derai tawanya, iblis itu mengatakan kalau akan
membawa ayah-mu pada ayahnya untuk mempertanggungjawab-kan tindakannya."
Wajah
Setiaji kontan berseri-seri. "Terima kasih, Paman."
"Kau
tahu, di mana tempat tinggal dua orang tua Ambar, Setiaji?!" tanya Arya.
"Tentu
saja! Mari kita ke sana!"
***
Brukkk!
Bunyi
berdebuk nyaring yang menjadi per-tanda jatuhnya benda berat ke tanah, membuat
seorang lelaki tinggi tegap berkumis melintang yang tengah bersemadi membuka
matanya dengan sikap kaget. Lelaki yang telah berusia sekitar lima puluh lima
tahun ini langsung melompat ke bela-kang, bersiap menghadapi sesuatu yang tidak
di-
inginkan.
"Kaget,
Ayah?!"
Seruan
melengking nyaring membuat lelaki berkumis melintang ini semakin kaget. Suara
itu amat akrab di telinganya, sejak belasan tahun yang lalu. Suara yang selama
ini dirindukannya. Pandangannya di arahkan pada sosok yang men-geluarkan
seruan, setelah terlebih dulu menatap benda. yang menimbulkan bunyi gaduh tadi.
Benda itu
ternyata sosok manusia yang te-lah cukup dimakan usia. Bahkan ternyata dikenal
baik oleh lelaki berkumis melintang ini. Maka un-tuk ketiga kalinya lelaki ini
terperanjat.
"Kau...,
kau..., Ambar...?!" tanya lelaki ber-kumis melintang itu. Suaranya
menyiratkan keti-dak-percayaan yang mendalam. Sepasang ma-tanya menelusuri
sekujur tubuh gadis berpakaian hitam yang berdiri di hadapannya.
"Ayah
kira siapa?! Apakah Ayah mempu-nyai anak lagi selain aku..."!
Sepasang
mata lelaki berkumis melintang berkaca-kaca. Bibirnya pun bergetar keras.
"Anakku...,
Ambar.... Ah! Akhirnya kau kembali juga, Nak...?!"
Lelaki ini
bergerak menghampiri. Sementa-ra Ambar menghambur menubruk tubuh ayahnya dan
membenamkan diri di pelukannya. Ayah dan anak ini saling rangkul. Hanya saja,
bila lelaki berkumis melintang tampak terharu bukan main, Ambar biasa-biasa
saja. Tetap dingin.
Gadis ini
diam saja ketika ayahnya sibuk memelukinya. Bahkan beberapa saat kemudian, tubuh
lelaki tua itu didorongnya. Pelan tapi terasa. "Ah...! Apa yang terjadi
denganmu Ambar?!
Kau pergi
demikian lama. Ayah berusaha menca-rimu ke mana-mana, tapi selalu gagal. Karena
pu-
tus asa,
Ayah kembali kemari. Ayah pikir, apabila kau suatu saat merasa rindu pasti akan
datang ke tempat ini. Kau tahu, hanya ini tempat tinggal ki-ta."
"Aku
datang kemari untuk memberi orang yang telah ingkar janji pada ayah. Barangkali
saja Ayah ingin menghukumnya," Ambar mengalihkan persoalan.
Lelaki
berkumis melintang yang ternyata ayahnya Ambar menautkan alis. Sekarang dia
ba-ru merasakan adanya kejanggalan ini. Tapi, dia ti-dak terlalu larut oleh
perasaan kaget dan tidak percaya. Sehingga, tidak melihat adanya keane-han.
Sekarang setelah perasaan-perasaan itu me-reda, baru terlihat jelas.
"Apa
maksudmu, Ambar?!" tanya lelaki berkumis melintang, belum mengerti
permasala-han.
Lelaki ini
mengajukan pertanyaan sambil menatap wajah anaknya penuh selidik. Perasaan
heran, takut, dan ngeri pun timbul. Ambar jauh berbeda dengan yang dulu.
Kendati wajahnya ma-sih tetap cantik, tapi biasan wajah menyiratkan kebengisan.
Bahkan sepasang matanya meman-carkan sorot mengerikan. Lelaki tegap ini
bergidik. Apa yang telah terjadi dengan putrinya?
8
"Kurasa
lebih baik Ayah periksa bangsat itu!" tuding Ambar pada sosok yang tadi
dijatuh-kannya di depan ayahnya.
Lelaki
berkumis melintang semakin heran. Nada ucapan Ambar berbeda dengan yang dulu.
Demikian kasar! Kendati demikian, keinginan agar
tidak
menimbulkan masalah di saat pertemuan yang seharusnya dirayakan dengan gembira,
membuat dia mengikuti perintah putrinya.
Tambah
lagi, lelaki ini belum sempat mem-perhatikan lebih seksama sosok yang tadi
mem-buat semadinya buyar. Lelaki ini merasakan jan-tungnya berdetak jauh lebih
cepat ketika baru dis-adari kalau telinganya tadi tidak mampu menden-gar bunyi
langkah Ambar. Bahkan kedatangannya pun sama sekali tidak diketahuinya, sampai
gadis itu sendiri yang memberitahukan kedatangannya. Ini berarti, Ambar
memiliki ilmu meringankan tu-buh luar biasa dahsyatnya! Sampai sedemikian
tinggikah kemajuan yang didapat Ambar dalam waktu singkat?
Dan
pertanyaan dalam hatinya kontan membuyar ketika lelaki berkumis melintang ini
mulai memperhatikan sosok yang berada di de-pannya dalam keadaan menelungkup.
Bentuk tu-buh itu serasa dikenalnya.
Perasaan
itu, membuat lelaki ini mengge-rakkan kaki kanan ke tanah satu kali. Maka
tu-buh yang tertelungkup segera terguling hingga menelentang.
"Garuda
Mata Emas...?!" desis lelaki ber-kumis melintang kaget, ketika mengenali
sosok yang telentang. Seorang kakek kecil kurus, ber-muka merah dan bermata
kuning.
"Benar,
Ayah," Ambar mengangguk. "Dia Garuda Mata Emas. Kawan Ayah yang telah
bera-ni-beranian menghina keluarga kita, dengan men-gingkari janji yang telah
dibuatnya sendiri."
Lelaki
berkumis melintang ini tertegun se-bentar. Pandangannya berganti-ganti menatap
Ambar dan Garuda Mata Emas. Dia masih bin-gung, membayangkan mengapa Ambar bisa
mem-
bawa Garuda
Mata Emas sebagai tawanan. Pa-dahal lelaki ini tahu betul, siapa Garuda Mata
Emas. Seorang tokoh golongan putih yang memili-ki kepandaian tinggi. Bahkan
hatinya tidak yakin mampu mengalahkan kakek bermata kuning itu. Lalu, bagaimana
caranya Ambar bisa menjadikan-nya sebagai tawanan?! Mungkinkah Ambar telah
memiliki kepandaian lebih tinggi daripada Garuda Mata Emas?! Tapi, mungkinkah
itu?! Rasanya mustahil!
"Bagaimana,
Ayah? Mengapa Ayah malah tercenung? Tidak senangkah Ayah akan tindakan-ku ini?
Aku sengaja membawa si keparat ini ke-mari agar Ayah sendiri yang memberi
hukuman padanya," tegur Ambar membuat pertanyaan di hati laki-laki itu
buyar.
Lelaki
berkumis melintang bergidik. Dira-sakannya ada nada dingin dalam kata-kata
Am-bar. Sebagai orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia persilatan, dia
tahu kalau nada se-perti itu biasa keluar dari mulut orang-orang go-longan
hitam. Orang-orang yang telah kehilangan perasaannya. Hal ini membuatnya
semakin heran. Apa yang telah terjadi dengan putrinya hingga sampai seperti
ini?
Lelaki
berkumis melintang mulai memper-hatikan lebih jauh. Dan dia pun mulai
menemu-kan keanehan lain. Wajah Ambar tampak pucat dan dingin, sehingga
kelihatan menyeramkan. Apalagi, jika ditambah sepasang mata yang memi-liki
sorot aneh mengerikan. Seketika bulu kuduk-nya meremang berdiri.
"Berilah
keputusan, Ayah. Atau, Ayah me-nyerahkan hukuman itu padaku?! Jangan khawa-tir,
Ayah. Aku akan memberi siksaan yang akan membuat tua bangka itu menyesal!"
kata Ambar
lagi dengan
nada tidak sabar melihat ayahnya be-lum juga memberi tanggapan.
"Omongan
macam apa itu, Ambar?!" Kemarahan lelaki berkumis melintang ini
akhirnya
meledak.
"Kau
terlalu buta oleh dendam dan sakit hati! Itulah sebabnya, kau tidak bisa
membedakan mana yang benar dan mana yang salah! Dendam membuatmu kurang ajar
dan lancang! Justru kau-lah yang akan ku hukum atas hinaan-hinaan yang kau
lontarkan pada Garuda Mata Emas!" dengus laki-laki ini.
Sepasang
mata Ambar kontan berkilat-kilat. Sinarnya mulai bersemu kehijauan. Ayahnya
sampai tercekat melihat hal ini.
"Keanehan
apa lagi yang akan kulihat?" ba-tin lelaki ini berbicara.
Namun
dengan cepat, lelaki ini menghi-langkan rasa aneh yang dialami.
"Kau
tahu, Ambar. Garuda Mata Emas ti-dak bersalah! Dia telah berusaha semampunya
agar janjinya bisa terwujud. Tapi, Setiaji, calon jo-dohmu itu tetap berkeras
dengan penolakannya. Bahkan dia rela diancam untuk tidak diakui seba-gai anak!
Garuda Mata Emas tak kalah menderita daripada kita, Ambar. Dia malu karena tak
bisa memenuhi janji. Bahkan sampai kehilangan seo-rang anak. Penderitaan
batinnya berat. Dan seka-rang, kau masih hendak menghukumnya?! Kau pun telah
dengan lancang memaki-makinya! Be-baskan dia, Ambar. Dan kau pun harus minta
maaf padanya."
Tanpa
menyahuti, Ambar segera berbalik. Pandangannya ditujukan pada sebuah batu di
luar rumah. Lalu...
Blarrr!
Sebongkah
batu sebesar gajah yang berada empat tombak di sebelah kiri depan Ambar hancur
lebur. Ternyata sinar hijau dari mata gadis itu menerpanya. Ambar yang tidak
bisa lagi menahan amarahnya, menujukan sinar hijau itu pada batu untuk melampiaskan
amarahnya.
Lelaki
berkumis melintang sampai terjing-kat kaget melihat hal ini. Apa yang dilihat,
baru pertama kali dalam hidupnya. Belum pernah ada tokoh persilatan yang sakti
bagaimanapun, mam-pu menghancurkan batu besar dengan sinar dari mata! Tapi,
kenyataannya Ambar mampu melaku-kannya!
"Mungkin
perlu kuberitahukan padamu, Ayah. Kedatanganku kemari bukan meminta nasi-hat.
Apalagi, ceramahmu. Aku datang untuk me-nyerahkan keparat yang telah ingkar
janji ini pada Ayah. Dan kau harus menghukumnya. Kalau kau tidak bersedia, biar
aku yang akan melakukan-nya."
"Tidak,
Ambar!" cegah lelaki berkumis me-lintang tegas, seraya berdiri di antara
Ambar dan tubuh Garuda Mata Emas. "Tak akan kubiarkan kau melakukan
tindakan tersesat itu! Sebelum kau membunuh Garuda Mata Emas, kau harus
melangkahi mayatku dulu!"
Ambar
mundur selangkah. Tanggapan ayahnya benar-benar di luar dugaannya. Semula
dikiranya, ayahnya akan dengan senang melaku-kan tindakan untuk membalas sakit
hati. Nya-tanya, Ambar kecele!
Ambar
memang telah menjadi mayat hi-dup. Tapi rasa hormat terhadap ayahnya di saat
masih hidup, ternyata tidak sirna. Oleh karena itu, tantangan lelaki berkumis
melintang membuatnya bingung.
"Mengapa
mundur?! Bukankah sekarang kau telah menjadi orang sakti?! Mengapa takut?! Ayo
maju! Bunuh aku!"
Lelaki
berkumis melintang malah mende-sak-desak. Dia terus melangkah maju. Tindakan
ini memaksa Ambar untuk mundur terus.
"Ha ha
ha...!"
Terdengar
bunyi tawa bergelak. Mendadak di saat Ambar terus mundur. Sementara, ayahnya
terus maju mendesak.
Ambar dan
ayahnya terkejut. Hampir ber-bareng, keduanya menoleh ke arah asal suara. Di
sana telah berdiri seorang kakek kecil kurus ber-jenggot panjang. Tangan
kanannya buntung mulai dari pergelangan.
"Diam
kau...!" Lelaki berkumis melintang membentak. "Segera tinggalkan
tempat ini, Sobat. Tidak pantas mencampuri urusan antara seorang ayah dan
anaknya!"
Kakek
berjenggot panjang tertawa bergelak. "Sudah mau mampus masih banyak lagak!
Ambar!
Bunuh dia...!"
Ambar yang
sejak kedatangan kakek ber-jenggot panjang itu menatap dengan sinar mata penuh
dendam, tubuhnya langsung tersentak ke-tika mendengar kata-kata si kakek.
Perhatiannya terkesima bagai patung batu. Tapi, hanya sebentar saja.
Kini Ambar
menatap ayahnya.
"Ayah,
cepat tinggalkan tempat ini! Cepat, sebelum terlambat!" seru Ambar.
Tiba-tiba timbul rasa kekhawatiran di hatinya.
Lelaki berkumis melintang membaui
adanya bahaya. Dia tahu, pasti ada hubungannya dengan kedatangan kakek
berjenggot panjang ini. Maka setelah menatap kakek itu dan Ambar ber-
ganti-ganti
"Heaaa...!"
Ayah Ambar
berteriak keras laksana bina-tang buas terluka. Kemudian dia melompat
mener-jang.
"Ambar...!
Cegah dia! Bunuh..,!"
Kakek
berjenggot panjang berteriak dengan suara mengandung getaran kuat.
Ambar yang
sejak tadi merasa khawatir, sekujur tubuhnya tiba-tiba menjadi bergetar. Lalu
dengan geraman keras, tangan kanannya dijulur-kan seperti karet hingga
panjangnya dua kali lipat. Arah yang dituju adalah ayahnya.
Tappp!
Lelaki
berkumis melintang tercekat hatinya ketika pergelangan kakinya yang sebelah
kiri tera-sa ada yang menangkap. Hal ini membuat lompa-tannya terhenti di
tengah jalan.
Bresss!
Tanpa
memberi kesempatan lagi, Ambar langsung membanting tubuh ayahnya
Bantingan
yang keras, membuat sekujur tulang-belulang lelaki berkumis melintang itu
te-rasa bagai rontok. Saat itu, Ambar yang telah be-rada dalam pengaruh kakek
berjenggot panjang mengirimkan serangan maut dengan mempergu-nakan matanya.
Namun belum
sempat sinar itu menghan-tam, tubuh ayahnya Ambar tahu-tahu bergerak bagai
ditarik sesuatu yang tak nampak.
Blarrr!
Tanah
tempat kakek berkumis melintang tadi ambrol ketika sinar hijau itu menghantam.
"Ambar...!
Kau benar-benar anak durha-ka...!" seru sesosok bayangan.
Ambar
menggeram keras penuh kemara-
han melihat
campur tangan dua sosok yang telah menolong ayahnya. Yang seorang duduk di
pun-dak seorang pemuda berambut putih keperakan. Dan mereka tak lain dari Dewa
Arak dan Setiaji!
Baru saja
Setiaji membentak, kembali membersit sinar hijau dari mata Ambar. Sasaran-nya,
jelas dia dan Dewa Arak.
"Awas,
Arya...!" seru Setiaji memperin-gatkan.
Dewa Arak
yang telah mengetahui kedah-syatan dua larik sinar itu tidak berani bertindak
gegabah. Maka cepat dia melompat menghinda-rinya.
Ambar
merasa geram bukan kepalang keti-ka melihat serangannya gagal menemui sasaran.
Segera disusulinya dengan serangan berikut seca-ra bertubi-tubi. Maka, Dewa
Arak pun dibuat si-buk bukan main. Tubuhnya berlompatan ke sana kemari untuk
menyelamatkan diri.
Cukup
menarik gerakan-gerakan Dewa Arak. Dia seperti bermain-main dalam menghinda-ri
sinar-sinar hijau yang berasal dari sepasang ma-ta Ambar. Terlambat sedikit
untuk mengelak, be-rarti maut
"Gautama...!"
Di antara
sibuknya pertarungan yang ter-jadi antara Dewa Arak dengan Ambar, terdengar
panggilan. Tidak keras, tapi mampu mengatasi ke-riuh-rendahan yang ada.
Aneh! Ambar
tiba-tiba menghentikan se-rangannya. Kepalanya cepat menoleh ke arah asal suara
sapaan.
Arya dan
Setiaji yang ikut menoleh juga, tercekat hatinya ketika melihat ke arah asal
suara. Mereka melihat satu sosok dengan sekujur tubuh-nya telah rusak dan tidak
bisa dikenali. Bau bu-
suk yang
menyengat hidung menjadi pertanda ka-lau sosok ini adalah mayat hidup. Bahkan
sempat, beberapa ekor belatung menggeliat-geliat di bebe-rapa bagian tubuh
sosok yang telah rusak itu
"Ayah...."
Terdengar
suara serak dan parau, yang ternyata berasal dari mulut Ambar. Sebuah suara
yang pantas dikeluarkan seorang lelaki.
Sementara
itu kakek berwajah kuning yang memiliki jenggot panjang kelihatan gelisah bukan
main. Dia mulai membaui adanya hal-hal yang ti-dak beres. Menurutnya mayat
hidup yang baru da-tang ini, bisa membuat segalanya menjadi kacau.
Di lain
pihak, Setiaji dan Arya memperha-tikan penuh rasa tertarik. Mereka agak heran dan
bingung melihat perkembangan yang tidak dis-angka-sangka. Mengapa Ambar disapa
dengan nama Gautama? Dan anehnya, mengapa gadis itu menyapa mayat hidup yang
baru datang ini seba-gai ayah?
Arya yang
cerdik langsung teringat cerita Wara Kuri. Gautama yang dimaksud mayat hidup
yang sekujur tubuhnya telah hancur ini, pasti Tuan Muda Gautama. Dan berarti
mayat hidup ini yang tiba-tiba muncul adalah Tuan Besar Wirara-ja? Yang menjadi
pertanyaan, mengapa Ambar ta-hu-tahu bertindak sebagai Gautama?
Sementara
itu, kakek berjenggot panjang yang melihat adanya ancaman terhadap
keberha-silan usahanya, tidak membuang-buang waktu la-gi. Sambil mengeluarkan
teriakan keras menggele-gar, diterkamnya mayat hidup yang diduga Tuan Besar
Wiraraja.
"Gautama,
cepat bertindak. Tunggu apa lag!?! Cepat! Ini kesempatan terakhir! Atau..., kau
ingin rohmu menderita selamanya?!" ujar mayat
hidup yang
telah membusuk itu lagi.
Ambar yang
dipanggil Gautama, bergetar sekujur tubuhnya seperti terkena demam tinggi.
Jelas, kata-kata mayat yang telah membusuk itu mempunyai pengaruh besar
terhadapnya.
Beberapa
saat sebelum serangan kakek berjenggot panjang yang berupa babatan golok be-sar
ke arah leher mencapai sasaran, Ambar ber-tindak cepat menggiriskan. Langsung dikirimnya
serangan berupa dua larik sinar hijau ke arah ka-kek berjenggot panjang.
Keberadaan tubuhnya di udara, dan tidak adanya tempat berpijak, yang membuat
serangan Ambar tidak bisa dielakkan-nya.
Wesss...!
Crasss! "Aaaa...!"
Terdengar
jeritan menyayat ketika tubuh kakek berjenggot panjang hancur lebur terterpa
sinar hijau. Kepingan tubuhnya yang berceceran jatuh di muka bumi. Mati.
"Sekarang,
kembalilah ke tempatmu semu-la berada, Gautama," ujar mayat hidup itu
lagi.
"Baik,
Ayah," sahut roh Gautama yang ti-dak mempunyai pilihan lain lagi, karena
takut dengan ancaman hukuman yang dijatuhkan pa-danya.
Sekejap
kemudian, dari atas kepala Ambar melesat cepat sinar berwarna terang kekuningan
ke udara kemudian lenyap.
Saat yang
tepat, mayat hidup yang dikenal sebagai Tuan Besar Wiraraja bertindak cepat.
Di-ambilnya sebatang pisau dari selipan pinggangnya. Kemudian, senjata tajam
itu dilemparkan ke arah Ambar yang masih berdiam diri.
Settt!
Dewa Arak
dan Setiaji kaget bukan main.
Mereka
ingin berbuat sesuatu untuk mencegah, tapi tidak sempat yang dapat dilakukan
hanya menatap dengan mata terbelalak lebar. Dan....
Crapp!
"Aaakh...!"
Ambar yang
masih berdiri di tempatnya ba-gai patung, menjerit tertahan ketika pisau
me-nembus dada kirinya, tepat menusuk jantung. Se-telah menggigil sejenak,
tubuhnya roboh ke tanah seperti sehelai karung basah dengan mata melolot. Tewas
untuk yang kedua kalinya.
"Ambar...!"
Lelaki
berkumis melintang yang juga ayah-nya Ambar menghambur sambil menjerit
memilu-kan.
"Ayah...!"
Setiaji juga
ikut menghambur. Hanya saja tujuannya ke arah Garuda Mata Emas.
Sedangkan
Arya menatap mayat hidup pembunuh Ambar. Sikapnya siap tarung.
"Masalah
sudah selesai, Arya. Ingat! Aku adalah lelaki berpakaian merah. Terpaksa rohku
kulepas dan masuk ke dalam mayat Tuan Wiraraja untuk membereskan
keangkaramurkaan ini," jelas mayat hidup yang telah membusuk itu.
"Bukankah
katamu yang merajalela me-nyebar maut adalah Ambar yang akan dijadikan budak
oleh seorang ahli ilmu hitam?!" desak Arya, ingin tahu.
"Benar.
Dan orang yang mati hancur itu adalah ahli ilmu hitam yang ku maksud. Dia
ber-juluk Iblis Pemuja Setan. Niat jahatnya iblis itu ti-dak berhasil baik.
Bahkan menjadi bumerang buat dirinya sendiri. Itu karena kelalaiannya. Dia
tidak tahu kalau di samping roh Ambar, masih ada roh Gautama. Dan roh
Gautamalah yang menyebab-
kan Ambar
bangkit kembali lebih cepat dari seha-rusnya. Meski demikian, roh Ambar tetap
berkua-sa. Apalagi, Gautama juga tidak ingin menyeraka-hi tempat yang bukan
miliknya."
"Sekarang
aku mengerti," kata Arya sambil mengangguk. "Ambar yang memang sudah
dipatok oleh Iblis Pemuja Setan untuk menjadi budaknya, tidak bisa menolak.
Maka, kau tadi mengancam roh Gautama yang tidak berada di bawah penga-ruh ahli
ilmu hitam itu. Dan juga, kekuatan roh Gautama cukup dahsyat. Sewaktu roh
Gautama pergi, roh Ambar masih belum pulih kesadaran-nya. Saat itulah kau
bertindak. Luar biasa! Kau memang hebat, Sobat"
"Terima
kasih atas pujiannya. Meski demi-kian, tanpa bantuanmu mana mungkin aku bisa
berhasil?!"
Usai
berkata demikian, mayat hidup Tuan Wiraraja mengalihkan perhatian ke arah lain.
Tampak Setiaji dan lelaki berkumis melintang ten-gah sibuk dengan urusan
masing-masing.
SELESAI
No comments:
Post a Comment