PELARIAN ISTANA HANTU
Oleh
Aji Saka
1
Angin malam yang dingin berhembus
meng-gigilkan tulang. Malam ini memang lain dengan malam sebelumnya. Langit
tampak gelap. Bulan sepotong yang tadi tampak di langit, seakan-akan sudah
tidak kuasa lagi untuk me-nampakkan diri. Sang dewi malam kini ber-sembunyi di
balik awan tebal yang menghitam dan bergumpal-gumpal.
Glarrr...!
Suara keras menggelegar terdengar
ketika halilintar menyambar, membelah angkasa. Untuk beberapa saat lamanya,
suasana di per-mukaan mayapada jadi terang benderang. Dan seiring terdengarnya
suara menggelegar itu, titik-titik air mulai berjatuhan ke bumi. Mula-mula
turun satu-satu dan lambat. Tapi lama-kelamaan semakin cepat dan banyak. Dan
sekarang, benar-benar hujan deras.
Dan ketika halilintar kembali
menyambar, suasana di mayapada yang menjadi terang benderang sekelebatan itu menampakkan
sesosok tubuh berpakaian serba hitam yang tengah mengendap-endap. Dia baru saja
keluar dari dalam sebuah bangunan besar dan megah tapi terlihat tua. Sebuah
pagar tembok tua dan tinggi mengelilingi bangunan yang berhalaman hias itu.
Glarrr...!
Halilintar menyambar kembali,
sehingga suasana di bumi menjadi terang benderang sekejap. Maka sosok
berpakaian hitam itu terlihat kembali, namun nampak seperti ketakutan. Kepalanya menoleh
ke kanan dan ke kiri, baru setelah itu berlari cepat menembus sergapan hujan
lebat.
Cepat bukan main gerakan sosok
hitam itu ketika bergerak melintasi halaman yang becek karena tersiram hujan.
Air berwarna keruh memercik ke sana kemari ketika kakinya menjejak tanah yang
tergenang air. Dan masih dalam keadaan berlari, kepalanya menoleh ke kanan dan
ke kiri. Tapi seperti sebelumnya, tidak ada sesuatu yang dilihatnya kecuali
kegelapan malam.
Kaki sosok hitam itu terus
melangkah. Tak dipedulikan lagi curah hujan yang membasahi tubuh dan
pakaiannya. Dia terus saja berlari, dan arahnya jelas menuju ke luar bangunan
menyeramkan itu.
Glarrr...!
Untuk yang kesekian kalinya
halilintar menyambar bumi, membuat suasana di persada sesaat terang benderang
kembali.
Mendadak langkah sosok hitam ini
berhenti. Kalau saja suasana malam tidak gelap, keter-kejutan hebat yang
terpancar di wajahnya dapat terlihat. Meskipun begitu, dapat diketahui kalau
sosok hitam itu dilanda keterkejutan yang amat sangat. Hal ini ditilik dari
langkahnya yang
berhenti secara mendadak dan
kedua kakinya yang gemetar keras.
Entah kapan dan bagaimana
caranya, pada pagar tembok tampak berdiri sambil bersandar sesosok tubuh
berpakaian merah menyala. Kedua tangannya bersedakap. Sama sekali tak
dihiraukannya hujan yang turun membasahi tubuh dan pakaiannya.
Tapi hanya sesaat sosok tubuh itu
terlihat. Begitu sinar terang halilintar lenyap, kembali hanya kegelapan saja
yang terlihat oleh sosok tubuh itu.
Belum sempat sosok hitam itu berbuat
sesuatu, mendadak suasana di tempat itu jadi agak terang. Dan kali ini ternyata
asal sinar terang itu dari sebuah benda sebesar kepalan tangan berwarna putih
berkilauan yang dibawa sosok berbaju merah. Kemudian dengan sikap tenang, benda
itu digantungkan di lehernya. Rupanya, pada kedua sisi benda berkilauan itu
terdapat lubang kecil. Dan dari situlah tali kalung dimasukkan.
Dengan adanya benda berkilauan di
leher sosok tubuh berbaju merah yang bersandar di tembok, suasana di tempat itu
jadi cukup terang. Dengan demikian kedua sosok tubuh itu jadi terlihat agak
jelas.
“Sungguh tidak kusangka kau
berani me-langgar pantangan ini, Raksagala,” kata sosok tubuh yang berpakaian
merah menyala.
Dia adalah seorang kakek bertubuh
tinggi kurus, berkaki satu. Sementara kaki yang
sebelah lagi diganti dengan
sebatang besi berujung runcing.
“Maafkan aku, Paman
Jonggirupaksi,” ucap sosok hitam yang ternyata adalah seorang pemuda berusia
sekttar dua puluh tahun, ber-badan lebar.
Wajah pemuda yang dipanggil
Raksagala ini sebenarnya cukup tampan. Tapi terlihat jadi menyeramkan karena
kulit wajah itu begitu pucat.
“Aku berjanji tidak akan
mengulanginya,” lanjutnya.
Suara Raksagala terdengar
bergetar, dan ada nada kegentaran di dalamnya.
“Hmh...!” kakek berkaki satu yang
bernama Jonggirupaksi mendengus. “Tidak ada kata maaf, Raksagala! Dan kau tahu
itu!”
“Tidakkah ada pertimbangan lain,
Paman?” Raksagala mencoba menawar. Meskipun bunyi ucapannya seperti tidak
peduli, tapi nada suara nya jelas menyiratkan permohonan yang amat sangat.
“Hm...,” hanya gumaman tak jelas
yang menyambuti permintaan laki-laki berwajah
pucat itu.
“Kusadari kalau tindakanku ini salah,
Paman,” sambung Raksagala buru-buru. “Tapi..., tidakkah Paman sudi memaafkan
kesalahanku dengan memandang wajah guru?”
“Cuhhh...!” Jonggirupaksi meludah
ke tanah. “Andaikan gurumu sendiri yang bersalah, dia pun tak luput dari
tanganku, Raksagala! Kau
kira aku takut pada gurumu? Lucu!
Lucu sekali!”
“Jadi, Paman...,” ada kecemasan
dalam suara laki-laki berwajah pucat itu.
“Ya,” potong Jonggirupaksi sambil
meng-anggukkan kepala. “Seharusnya kau menerima hukuman mati, Raksagala! Tapi, baiklah.
Karena kau tidak ikut dalam perjanjian, maka aku bersedia
membatalkannya. Meskipun
begitu, kau tetap tidak lepas dari hukumanku!”
“Hukuman apa yang akan Paman
timpakan padaku?” tanya Raksagala ingin tahu.
“Tidak berat,” sahut
Jonggirupaksi kalem. “Aku hanya menginginkan sebelah tanganmu.”
Wajah Raksagala berubah.
“Sebelah tanganku?” ulang
laki-laki ber-wajah pucat itu dengan bibir bergetar.
“Kenapa?” Jonggirupaksi malah
balik ber-tanya. “Hukuman itu sebenarnya terlalu ringan, Raksagala! Seharusnya,
tidak hanya sebelah tanganmu saja yang kuinginkan. Tapi juga kakimu! Kau tahu
bukan, apa hukumannya orang yang mencoba melarikan diri dari Istana Hantu?
Siksaan mengerikan sampai mati!”
Kini Raksagala sadar. Sepertinya
tidak ada gunanya lagi ribut mulut dengan kakek berkaki satu ini.
Sia-sia saja. Biar bagaimanapun,
dia akan tetap menerima hukuman. Sesaat lamanya laki-laki berwajah pucat ini
berpikir keras. Apakah hukuman yang hendak dijatuhkan akan di-terimanya saja,
atau harus menentangnya? Tapi,
akibatnya akan lebih mengerikan
baginya. Melawan penjaga Istana Hantu merupakan pantangan besar! Sudah dapat
dipastikan kalau dirinya akan menerima siksaan yang begitu mengerikan apabila
hal itu nekat dilakukannya!
Selagi Raksagala berpikir keras,
Jonggi-rupaksi sudah melangkah menghampiri. Lambat dan tenang-tenang saja
langkahnya. Tapi akibat yang ditimbulkan setiap langkahnya luar biasa! Semakin
kakek berkaki satu itu mendekat, semakin kuat perasaan tegang yang melanda hati
Raksagala! Dengan demikian perasaan bingung semakin melanda hatinya.
Di saat hati Raksagala tengah
dilanda kebimbangan, tiba-tiba terdengar suara di telinganya. Suara yang hanya ditujukan padanya dengan menggunakan ilmu mengirim suara dari
jauh.
“Bersiap-siaplah, Raksagala. Begitu aku menyerangnya, cepat-cepatlah membantuku. Kita harus cepat..!”
Seketika itu juga perasaan
Raksagala tenang kembali. Suara yang terdengar seketika menimbulkan perasaan tenang
di hatinya. Dia kenal betul, siapa pemilik suara itu. Gurunya!
***
Dengan wajah dingin,
Jonggirupaksi terus melangkah menghampiri Raksagala yang kini telah bersikap
waspada. Laki-laki berwajah pucat itu kini telah bersiap-siap menyerang
kakek berkaki satu itu.
Mendadak Jonggirupaksi menghentikan
langkahnya, lalu menoleh ke samping kanan dan langsung bersikap waspada. Pada
saat yang sama, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan menyambar ke arahnya,
langsung mengirimkan serangan bertubi-tubi ke arah kepala dan ubun-ubunnya.
Dari sini saja sudah bisa diukur
kelihaian kakek berkaki satu ini Meskipun tanpa melihat, dia bisa mengetahui
serangan yang tertuju ke arahnya. Angin yang mendahului tibanya serangan itulah yang menjadi
patokannya. Padahal, saat itu hujan masih cukup lebat dan angin pun berhembus
mengiringi. Tapi berkat tingkat kepandaiannya yang tinggi, Jonggi-rupaksi dapat
membedakan angin sewajarnya dan angin serangan!
Meskipun begitu, karena serangan
yang tertuju ke arahnya tiba begitu cepat, tidak ada kesempatan lagi baginya
untuk mengelakkan serangan. Terpaksa Jonggirupaksi harus me-nangkisnya.
Plakkk, plakkk...!
Terdengar benturan keras ketika
dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi berbenturan.
Akibatnya hebat sekali. Tubuh kedua orang itu sama-sama terpental ke belakang
beberapa tombak.
Jonggirupaksi terhuyung-huyung,
dan kedua tangannya terasa bergetar hebat. Jelas kalau orang yang menyerangnya
memiliki tenaga
dalam tinggi. Sementara tubuh
orang yang menyerangnya terpental balik, karena tubuhnya memang tengah berada
di udara.
Pada saat yang tepat, Raksagala
bertindak. Tangan kanannya cepat bergerak ke pinggang, dan sesaat kemudian telah menggenggam sebilah golok. Dan secepat golok itu terhunus,
secepat itu pula tubuhnya melompat menerjang Jonggirupaksi. Golok
di tangannya cepat ditusukkan ke arah perut kakek
berkaki satu.
Singgg...!
Suara berdesing nyaring mengiringi serangan golok itu. Dari
sini saja sudah bisa diketahui kekuatan tenaga dalam yang
terkandung dalam serangan Raksagala.
Jonggirupaksi kaget bukan
kepalang. Saat itu, tubuhnya tengah terhuyung-huyung.
Tambahan lagi, dia hanya mempunyai sebelah kaki. Sementara kaki yang sebelah
lagi hanya berupa sebatang besi panjang yang berujung runcing.
Setidak-tidaknya, hal ini cukup meng-ganggu gerakannya.
Namun Jonggirupaksi memang tokoh
luar biasa. Dengan sekali kaki besinya menekan tanah, dia berhasil mematahkan
kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Dan sekali enjot saja,
tubuhnya sudah melayang ke atas melewati kepala Raksagala.
Luar biasa! Semua itu dilakukan
Jonggi-rupaksi dalam waktu sekejap saja. Tak pelak lagi, serangan golok
Raksagala hanya mengenai tempat kosong, lewat di bawah kaki buntung
Jonggirupaksi.
Tapi sebelum kakek berkaki satu
ini sempat mengirimkan serangan balasan pada Raksagala, sosok bayangan telah
membokongnya lebih dulu dengan beberapa kibasan tangan.
Singgg, singgg...!
Suara berdesing nyaring terdengar
ketika benda-benda berkilatan menyambar ke arah Jonggirupaksi.
Kembali kakek berkaki satu ini
mem-pertunjukkan kelihaiannya. Memang, saat itu untuk mengelak sudah tidak
memungkinkan lagi. Maka seketika tangannya terulur untuk menangkap semua
serangan gelap yang menuju ke arahnya.
Tap, tap, tappp...!
Sungguh hebat! Benda berkilat yang
mengancamnya ternyata berhasil dilumpuhkan. Tiga bilah pisau terbang yang tadi
meng-ancamnya, dua berhasil ditangkap. Sedangkan yang sebuah lagi ditangkap
dengan mulutnya!
Bersamaan dengan Jonggirupaksi melum-puhkan
serangan gelap itu, Raksagala mem-babatkan goloknya ke arah perut. Laki-laki
berkaki satu itu mencoba mengelak dengan menarik tubuhnya ke belakang. Namun gerakannya terlambat! Apalagi tubuhnya saat itu berada
di udara, jadi sangat sulit untuk menghindar.
Wuttt..! Crasss...!
Jonggirupaksi menggigit bibirnya
sendiri untuk menahan jeritan yang keluar dari
mulutnya. Perutnya kontan terobek
lebar. Darah segar seketika memancur deras dari bagian yang terluka.
Raksagala tidak menyia-nyiakan
kesempatan lagi. Begitu tubuh Jonggirupaksi terlihat meluruk turun, bergegas diburunya
dengan golok berlumuran darah yang tergenggam di tangan.
Patut dipuji kelihaian Jonggirupaksi. Meskipun telah
mengalami luka yang begitu parah, kedua kakinya masih sanggup mendarat di
tanah. Namun demikian, tetap saja tubuhnya agak terhuyung-huyung.
Baru saja kedua kaki
Jonggirupaksi hinggap, golok Raksagala kembali meluncur deras ke arah dadanya.
Maka akibatnya sudah bisa diduga!
Blesss...!
Darah segar memancur deras begitu
golok Raksagala menghunjam dada Jonggirupaksi hingga tembus ke punggung. Ada
keluhan tertahan keluar dari mulut kakek berkaki satu itu. Sesaat tubuhnya
menegang, lalu ambruk di tanah begitu Raksagala mencabut goloknya.
Jonggirupaksi tewas setelah menggelepar-gelepar
beberapa saat lamanya. Hujan yang kini tinggal rintik-rintik saja, menitik di
tubuh kakek berkaki satu itu sambil membawa darah ke tanah.
Raksagala menyeka goloknya yang
ber-lumuran darah, lalu memasukkan kembali ke dalam sarungnya.
Sesaat diperhartikannya mayat kakek berkaki satu itu sejenak. Kemudian
tangannya terulur ke arah benda berkilauan yang ter-gantung di leher
Jonggirupaksi. Dan kini, benda itu telah berpindah ke tangannya.
“Cepat kita tinggalkan tempat ini,
Raksagala...!” ujar sosok yang tadi membokong Jonggirupaksi.
Dalam keremangan sinar yang
timbul dari benda itu, terlihat cukup jelas wajah dan perawakan sosok di
samping Raksagala. Dia adalah seorang kakek bertubuh sedang, berusia sekitar
enam puluh tahun. Namun sayang, matanya picak. Walaupun tidak mempunyai kumis,
tapi jenggotnya cukup panjang dan berwarna putih. Pakaiannya berwarna abu-abu.
Tanpa menunggu diperintah dua kali,
Raksagala segera menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian, tubuhnya melayang ke
atas melewati pagar tembok tinggi bangunan menyeramkan itu.
Sebelum tubuh Raksagala melewati
pagar tembok itu, kakek bermata picak juga men-jejakkan kakinya. Sesaat
kemudian tubuhnya melesat ke atas, menyusul laki-laki berwajah pucat yang
menjadi muridnya.
***
2
Air memercik keras ketika
Raksagala dan kakek bermata picak mendaratkan kaki di tanah luar pagar tembok.
Tanah di luar pagar tembok itu memang telah tergenang air hujan.
Dan secepat berada di luar,
secepat itu pula mereka melesat meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa
langkah saja, Raksagala dan kakek bermata picak telah jauh mening-galkan tempat
itu.
“Aku telah melakukan kesalahan
yang amat besar, Raksagala,” kata kakek bermata picak itu setelah cukup jauh
meninggalkan bangunan menyeramkan tadi.
Suara kakek itu terdengar pelan,
mirip desahan. Nada penyesalan yang amat sangat tersirat dalam ucapannya.
Sementara, kakinya terus saja berlari.
“Maksud, Guru?” tanya Raksagala
seraya menoleh, menatap wajah gurunya. Tak lupa, seluruh kemampuan ilmu larinya
dikerahkan untuk mengimbangi lari kakek bermata picak itu.
“Hhh...!” kakek bermata picak
menghela napas berat “Rupanya kau masih belum
mengerti, Raksagala.”
Raksagala menundukkan kepala
mendengar adanya nada keluhan dalam ucapan gurunya.
“Maafkan aku, Guru,” ucap pemuda
berwajah pucat itu pelan. “Aku telah mengecewakan hati Guru.”
“Lupakanlah, Raksagala,” hibur kakek bermata picak seraya mengulapkan
tangannya.
Raksagala terdiam. Dan kini
keheningan menyelimuti mereka. Yang terdengar kini hanyalah suara gemercikan genangan
air yang terpijak kaki mereka. Sementara hujan telah reda.
“Aku menyesal, Guru...,” pelan suara
Raksagala memecahkan kesunyian yang terjadi di antara mereka.
“Hm...,” hanya gumaman pelan yang
menyambuti ucapan pemuda berwajah pucat itu.
“Perbuatanku telah melibatkan
Guru dengan kesulitan,” sambung Raksagala lagi, masih pelan suaranya.
“Hhh...!” guru Raksagala itu
menghela napas berat. “Kembali kau salah mengerti, Raksagala. Perlu kau
ketahui, aku sama sekali tidak merasa dilibatkan dalam kesulitan. Aku tidak
takut mati, Raksagala! Aku juga tidak takut meng-alami siksaan.”
Kakek bermata picak itu
menghentikan kata-katanya sejenak, seraya menatap wajah murid-nya. Tapi,
Raksagala menundukkan kepala, tak berani menentang pandangan mata gurunya.
Pemuda itu tetap menundukkan kepala sambil terus mengayunkan kaki.
“Tapi perlu kau ketahui,
Raksagala. Dengan telah keluarnya aku dari pagar tembok Istana
Hantu, berarti telah layak untuk
mati! Aku telah melanggar sumpahku sendiri!”
“Guru...!”
Terdengar jerit keterkejutan dari
mulut Raksagala. Pemuda berwajah pucat itu menatap wajah gurunya dengan wajah
semakin terlihat pucat.
“Kurasa, sudah tiba saatnya
bagimu untuk mengetahui semuanya, Raksagala. Termasuk namaku,” ujar kakek
berpakaian abu-abu itu pelan. “Selagi aku masih hidup. Karena bila aku sudah
tiada, kau tak akan pernah tahu semua ini sampai kapan pun. Kumulai dari
namaku.”
Raksagala diam terpaku. Memang
sudah sejak lama, banyak pertanyaan bergayut di benaknya. Termasuk teka-teki
tentang nama gurunya. Tapi, pertanyaan itu selalu dijawab gurunya dengan
gelengan kepala. Kakek ber-mata picak itu sama sekali tidak mau memberi tahu
sedikit pun!
“Namaku sebenarnya adalah
Sawungrana,” jelas kakek berpakaian abu-abu itu memulai. Raksagala mencatat
nama itu dalam hati. Gurunya ternyata mempunyai nama yang cukup gagah. “Aku
adalah Ketua Perguruan Belut Putih. Nah, kurasa sudah cukup aku mem-perkenalkan
diri. Sekarang, pertanyaan yang selama ini bergayut di benakmu akan kujawab.”
Kakek bermata picak yang ternyata
bernama Sawungrana menghentikan kata-katanya sejenak. Di samping untuk
mengambil napas, juga untuk mencari kata-kata yang tepat untuk
melanjutkan ceritanya.
“Dulu kau sering bertanya,
mengapa semua orang yang berada di dalam Istana Hantu tidak boleh keluar? Dan
bila memaksakan diri keluar, lalu tertangkap, mengapa harus mendapat hukuman mati? Sekarang akan kujawab
pertanyaan yang selama
ini bergayut di benakmu. Namun pertanyaan tentang
bangunan tua dan jelek yang dinamai Istana Hantu, aku tidak mengetahuinya.”
Sawungrana menghentikan
penuturannya sejenak dan mengambil napas untuk melanjutkan ceritanya. Sementara
Raksagala menunggu kelanjutan penjelasan gurunya dengan perasaan tegang. Pemuda
berwajah pucat itu sama sekali tidak berusaha menyelak cerita yang akan
diutarakan gurunya. Satu hal kini telah diketahuinya, ternyata gurunya sama
sekali tidak tahu, mengapa bangunan yang mereka tinggalkan itu bernama Istana
Hantu.
“Perlu kau ketahui, Raksagala.
Semua orang yang berada di dalam Istana Hantu itu adalah orang-orang tersisih.
Orang-orang yang telah terkalahkan. Aku seperti juga yang lainnya, datang ke tempat itu karena mendapat undangan. Undangan licik.”
Sawungrana menghentikan ceritanya
sejenak. Sambil masih terus berlari, tangan kakek bermata picak itu menyelinap
ke balik pinggangnya. Sesaat kemudian, tangan itu kembali keluar bersama
segulung kain kumal dalam genggaman.
“Inilah undangan itu, Raksagala,”
kata Sawungrana seraya menyerahkan gulungan kain kumal itu pada Raksagala.
Bergegas pemuda berwajah pucat itu menerimanya.
“Bukalah dan baca isinya,” perintah
Sawungrana mempersilakan.
Tapi sesaat kemudian laki-laki
tua itu sadar kalau tidak mungkin hal itu bisa dilakukan muridnya. Suasana
memang agak terang karena sinar yang memancar dari benda berkilauan yang
tergantung di leher Raksagala. Juga karena bulan telah tampak kembali, dan awan
tebal dan hitam telah terusir pergi. Tapi, mana mungkin pemuda berwajah pucat
itu mampu membaca gulungan kain tanpa menghentikan larinya?
“Kita berhenti dulu di sana,” ucap Sawungrana.
Telunjuk tangan kanan laki-laki
tua itu menuding ke arah sebatang pohon yang berdiri kokoh dalam jarak sekitar
lima tombak di hadapan mereka.
Dalam sekejapan saja guru dan
murid itu telah berada di dekat pohon yang ditunjuk Sawungrana. Bergegas mereka
duduk di akar pohon yang melintang keluar dari dalam tanah. Tak dipedulikan
sama sekali kalau akar pohon itu basah. Toh, pakaian kedua orang itu pun memang
telah basah kuyup.
Raksagala lalu membuka gulungan
kain putih yang sudah tak jelas lagi warnanya. Dan dengan bantuan sinar yang
terpancar dari benda
putih berkilauan di tangannya,
dibacanya huruf-huruf yang tertera di atas kain kumal itu.
Sawungrana....
Kalau kau bukan seorang pengecut,
aku akan mengundangmu untuk ikut serta dalam pertemuan tokoh-tokoh persilatan.
Ini adalah kesempatan untuk membuktikan, siapa di antara kita yang berhak
mendapat julukan jago nomor satu.
Penghuni Istana Hantu
Raksagala menggulung kembali kain
kumal itu, lalu menyerahkan pada gurunya.
“Jadi..., Guru bukan penghuni
Istana Hantu itu?” tanya Raksagala mulai mengerti.
Memang tadi laki-laki berwajah
pucat itu telah mendengar ucapan gurunya. Dikatakan, kakek itu adalah Ketua
Perguruan Belut Putih. Tapi, tetap saja hal itu kurang dimengerti Raksagala.
Sawungrana hanya menganggukkan
kepala. Meskipun demikian, hal itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan
muridnya.
“Lalu..., mengapa Guru bisa menjadi
penghuni istana itu?” desak Raksagala hati-hati. Perasaan penasaran itulah yang
membuatnya berani mendesak gurunya.
“Kami semua terikat janji,” pelan
dan lemah sekali suara Sawungrana.
Sementara Raksagala mendengar
dengan
hati berdebar tegang. Sudah dapat
dipastikan kalau rahasia yang selama ini menyelimuti Istana Hantu akan
terungkap.
“Sebelum terjadi pertarungan,
kami telah dipaksa secara halus untuk bertarung. Siapa yang kalah, harus
memenuhi satu permintaan sang pemenang,” jawab Sawungrana. Ada nada penyesalan
yang amat sangat dalam suaranya.
“Dipaksa secara halus?” tanya
Raksagala masih belum mengerti.
“Ya, dengan kata-kata ampuh.
Kalau tidak menerima tantangan itu, kami dianggap pengecut,” Sawungrana menganggukkan
kepala. “Bukan hanya itu saja. Kami pun disuruh mengaku kalah. Tentu saja semua
yang hadir merasa penasaran. Maka
semuanya pun menerima
tantangan itu, dan dengan sendirinya berarti bersedia mengikuti taruhan itu.”
Raksagala mengangguk pertanda
mengerti. “Namun ternyata mereka memiliki
kepandaian tinggi. Satu persatu
tokoh persilatan aliran putih yang diundang dikalahkan....”
“Guru juga dikalahkan?!” selak
Raksagala ingin mengetahui.
Sawungrana mengangguk
membenarkan. “Dan sesuai perjanjian, mereka diharuskan
memenuhi permintaan Penghuni
Istana Hantu.” “Apa itu, Guru?” tanya Raksagala tidak
sabar ketika melihat Sawungrana
menghentikan ucapannya.
“Kau tidak bisa menduganya,
Raksagala?” Sawungrana malah balas bertanya.
Raksagala menggelengkan kepala.
“Yahhh...! Seperti yang kau lihat
pada diriku,” jawab kakek bermata picak itu akhir-nya.
“Maksud, Guru?” tanya Raksagala
masih belum mengerti.
“Satu anggota tubuh kami dibuat
cacat, dan tidak boleh meninggalkan Istana Hantu.”
“Dan guru mengingkarinya?” tanya Raksagala tidak percaya.
Seketika wajah Sawungrana memerah mendengar pertanyaan pemuda
berwajah pucat itu.
“Aku bukanlah seorang pengecut, Raksagala!” sentak
Sawungrana keras. “Tidak akan kuingkari janjiku sendiri!”
“Maafkan aku, Guru,” ucap
Raksagala pelan. Diam-diam pemuda berwajah pucat ini
memaki dirinya sendiri. Betapa
bodoh dirinya! Mana mungkin gurunya akan mengingkari janji.
“Belasan tahun aku menetap di
Istana Hantu, namun tak pernah sekali pun mencoba melarikan diri. Padahal
kesempatan untuk itu beberapa kali terbuka.”
“Lalu..., bagaimana caranya aku
bisa berada di dalam sana, Guru?” tanya Raksagala lagi.
“Kau kutemukan dalam perjalananku menuju Istana Hantu untuk
memenuhi undangan. Saat itu, kau mungkin kurang lebih berusia empat
tahun. Tubuhmu kurus kering karena kelaparan. Saat itu memang banyak desa yang
dilanda kelaparan. Maklum saja, raja yang
memerintah terlalu lalim.”
Raksagala tercenung. Sungguh
tidak di-sangka demikian menyedihkan nasibnya. Sampai-sampai tidak mengetahui orang yang telah
melahirkannya ke dunia ini!
“Sebenarnya untuk apa Penghuni
Istana Hantu itu mengurung para tokoh persilatan di Istana Hantu, Guru?” tanya
Raksagala setelah beberapa saat lamanya tercenung.
“Aku juga tidak tahu, Raksagala,”
jawab Sawungrana dengan suara berdesah. “Tapi menurut berita yang kudengar, hal itu dilakukan
sebagai pembalasan dendam.”
“Pembalasan dendam?! Jadi, guru
dan tokoh-tokoh persilatan aliran putih itu adalah
musuhnya?!”
Sawungrana menggeleng.
“Penghuni Istana Hantu dikurung
oleh seorang pendekar sakti. Puluhan tahun mereka tinggal di situ. Dan baru
bisa keluar setelah pendekar itu meninggal dunia.”
“Mengapa bisa begitu, Guru?” tanya
Raksagala. “Mengapa harus menunggu pendekar itu meninggal?”
“Pendekar itu tinggal di istana
itu juga, Raksagala.”
Raksagala mengangguk-anggukkan
kepala. “Jadi, karena tidak bisa lagi membalas
dendam pada pendekar itu,
Penghuni Istana Hantu melampiaskan dendamnya pada seluruh pendekar. Begitu,
Guru?!”
“Kira-kira begitu,” jawab Sawungrana
perlahan.
Raksagala terdiam. Sawungrana tidak melanjutkan ucapannya. Sehingga
suasana di sekitar tempat itu jadi hening.
“Untunglah ada dirimu, Raksagala!”
desah Sawungrana memecahkan keheningan. “Kalau tidak, mungkin aku tidak tahu
apa yang harus kulakukan selama berada dalam Istana Hantu. Dengan adanya
dirimu, aku dapat menyibukkan diri membimbingmu. Dan tanpa sepengetahuan
Penghuni Istana Hantu, aku telah menciptakan ilmu-ilmu baru dan semuanya telah
kuwariskan kepadamu.”
Sawungrana menghentikan
penuturannya. Wajahnya tampak muram. Jelas ada sesuatu yang memberatkan dalam
pikirannya.
“Kini aku telah melanggar janjiku
sendiri. Aku telah keluar dari Istana. Hantu. Aku tidak patut lagi hidup!” kata
kakek berpakaian abu-abu itu.
“Guru...!” sentak Raksagala
keras. Keter-kejutan yang amat sangat membayang jelas di wajahnya.
“Tapi aku puas, karena seluruh
ilmu yang kumiliki telah kuwariskan kepadamu. Kepandai-anmu sudah lebih unggul
bila dibanding diriku dulu. Bahkan tingkat kepandaianmu hampir menyamai
tingkatku sekarang,” jelas Sawung-rana tanpa mempedulikan jeritan muridnya.
“Maafkan aku, Guru,” ucap
Raksagala lirih. “Sama sekali tidak kusangka kalau perbuatanku akan
mengakibatkan hal seperti ini”
“Lupakanlah, Raksagala,” hibur
Sawung-rana. “Aku tidak menyalahkan tindakanmu. Bahkan diam-diam aku bersyukur,
karena kau berani bertindak seperti ini”
“Heh...?!”
Raksagala terperanjat mendengar
ucapan terakhir kakek bermata picak itu. Sepasang matanya menatap wajah gurunya
penuh selidik, mencoba mencari kebenarannya.
“Sudah sejak beberapa bulan yang
lalu, aku mempunyai firasat buruk. Aku yakin ada sesuatu yang terjadi dengan
perguruan yang kutinggalkan. Oleh karena sekarang kau telah bebas, dan sama
sekali tidak terikat dengan janji, maka kutugaskan pergi ke perguruanku untuk
melihat-lihat keadaan di sana.”
“Apa yang harus kulakukan bila
telah tiba di sana, Guru?”
“Membuktikan kebenaran firasatku.
Apabila benar terjadi sesuatu, kau kutugaskan untuk membenahinya.”
Setelah berkata demikian, kakek
bermata picak ini lalu memberi sebatang tongkat berwarna hitam dan berukir dari balik bajunya.
Pada bagian pangkalnya dihiasi batu-batu permata berbentuk bulat.
“Dengan adanya tongkat ini, maka
kau mempunyai wewenang penuh untuk mengatasi kemelut yang terjadi. Namun, itu
jika memang ada.”
Raksagala segera menerima tongkat
yang diangsurkan gurunya.
“Apakah Guru tidak ikut pergi
bersamaku ke sana?” tanya Raksagala, dengan suara serak.
Sebuah pertanyaan yang bodoh
sebenarnya. Karena kalau Sawungrana ikut ke sana, untuk apa kakek bermata picak
itu memberi tongkat itu padanya?
Sawungrana menggelengkan kepala.
“Aku telah melanggar sumpahku
sendiri, Raksagala. Dan hukumannya bagiku adalah mati!”
Perlahan saja ucapan kakek
bermata picak itu, tapi di dalamnya terkandung ketegasan yang tidak bisa
dibantah lagi.
“Guru...!”
“Cepat pergi, Raksagala! Sebelum
terlambat! Aku yakin mereka telah mengetahui kepergian kita...!”
Namun belum juga Raksagala
bergerak, tiba-tiba....
“Ha ha ha...!”
Sebuah tawa keras menyeramkan
terdengar. Kakek bermata picak dan muridnya itu terkejut bukan main. Mereka
sama-sama terjingkat kaget tak ubahnya disengat kalajengking. Suara tawa itu
amat dikenal. Siapa lagi kalau bukan suara Penghuni Istana Hantu!
***
3
Secepat Raksagala dan Sawungrana
bangkit berdiri, secepat itu pula di hadapan mereka berdiri sesosok tubuh
tinggi besar berpakaian merah dalam jarak sekitar empat tombak.
Tanpa memperhatikan lebih jauh pun,
Sawungrana dan Raksagala sudah
bisa mengetahui sosok tubuh yang berdiri itu. Siapa lagi kalau bukan
Penghuni Istana Hantu?
“Cepat kau pergi, Raksagala! Biar
aku yang akan menghadapinya...!” ujar Sawungrana
sambil mendorong tubuh muridnya.
“Tapi, Guru...,” Raksagala masih
mencoba membantah.
“Cepat..!” seru Sawungrana.
Suaranya ter-dengar lebih keras dari sebelumnya.
Raksagala mendengar adanya
tekanan yang tidak menghendaki adanya bantahan dalam nada suara gurunya. Maka
meskipun dengan hati berat, laki-laki berwajah pucat ini lalu melesat
meninggalkan tempat itu.
“Jangan harap bisa lolos dari
tanganku...!” Terdengar suara keras menggelegar, disusul
berkelebatnya tubuh Penghuni
Istana Hantu menyusul tubuh Raksagala yang telah melesat lebih dulu. Jelas
sudah maksud laki-laki ber-tubuh tinggi besar ini. Menghadang kepergian
Raksagala!
Tapi hal itu sudah diperhitungkan
Sawung-rana. Maka begitu Penghuni Istana Hantu itu tampak bergerak, dia segera
melesat memotong alur lompatan laki-laki bertubuh tinggi besar itu. Dan bukan
hanya itu saja yang dilakukan kakek bermata picak. Kedua tangannya ber-gerak
cepat, melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah pelipis.
Penghuni Istana Hantu itu
menggeram. Dia murka bukan kepalang melihat tindakannya dihalangi. Tanpa
berpikir dua kali, segera ditangkisnya serangan yang tertuju ke arahnya.
Plak, plak...!
Terdengar suara berderak keras
akibat berbentur-annya dua buah tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi.
Akibatnya memang cukup hebat Tubuh kedua orang itu sama-sama terjengkang ke
belakang, karena memang sama-sama berada di udara.
Meskipun begitu, baik Sawungrana
maupun Penghuni Istana Hantu mematahkan kekuatan yang membuat tubuh satu sama
lain terdorong. Dengan gerakan indah dan manis, mereka mendaratkan kaki di
tanah.
Sawungrana meringis karena sekujur tangannya terasa sakit-sakit. Dadanya
pun sesak bukan main. Jelas kalau dalam benturan tadi, dia kalah tenaga.
Sementara lawannya justru seperti tidak merasakan akibat benturan itu sama
sekali.
Penghuni Istana Hantu menggeram
murka melihat Raksagala berhasil meloloskan diri.
Tubuh laki-laki berwajah pucat
itu telah lenyap ditelan remangnya malam dan kerimbunan pepohonan, serta
semak-semak lebat
Kemurkaan laki-laki tinggi besar itu
dilampiaskannya pada Sawungrana. Karena, dialah yang telah membuat Raksagala
berhasil melarikan diri.
Dalam keremangan sinar rembulan,
tampak jelas wajah dan perawakan Penghuni Istana, Hantu. Raut wajahnya terlihat
kasar. Ada dua buah luka bersilangan di wajahnya yang hanya ditumbuhi jenggot
tanpa kumis. Pada bagian dahinya, terpampang tengkorak berbentuk
kepala yang terikat di belakang kepala. Menilik dari bentuknya yang kecil,
mungkin tengkorak kepala anak monyet
“Tidak kusangka, ternyata kau adalah
seorang pengecut, Sawungrana!” seru Penghuni Istana Hantu. Nada suaranya
menyiratkan kesinisan yang tajam. “Kalau tidak menyaksikan sendiri, mungkin aku
tidak akan percaya. Sawungrana ternyata melanggar sumpahnya sendiri! Menjilat
ludah yang telah dikeluar-kannya! Ha ha ha...! Sudah bisa kubayangkan, betapa
gemparnya dunia persilatan bila men-dengar berita ini!”
“Tutup mulutmu, Barong
Segara...!” bentak Sawungrana keras.
Kakek bermata picak ini marah
bukan main mendengar ucapan yang dikeluarkan laki-laki bertubuh tinggi besar
itu.
“Aku bukan orang seperti itu,
Barong
Segara!” lanjutnya.
Laki-laki bertubuh tinggi besar yang
ternyata bernama Barong Segara tersenyum mengejek.
“Kau tidak bisa mungkir lagi,
Sawungrana! Kini sudah jelas, kau adalah seorang yang memiliki watak hina!
Menjilat ludah yang telah kau keluarkan sendiri!”
“Aku sama sekali tidak bermaksud
keluar dari Istana Hantu, Barong Segara,” sergah Sawungrana keras.
“Ha ha ha...! Betapa gagahnya
ucapan yang keluar dari mulutmu, Sawungrana! Mungkin kalau tidak kubuktikan
sendiri, dapat kau tipu mentah-mentah. Tapi, biarlah. Kau kuberi kesempatan
untuk lolos, Sawunyana. Kau boleh lolos dari sini, apabila berhasil mengalahkan
aku. Ha ha ha...!”
“Keparat..!”
Sawungrana tidak bisa lagi menahan
kemarahannya. Cepat laksana kilat, tubuhnya melesat menyerang.
Tangan kanannya menyampok
keras ke arah pelipis. Sementara tangan kiri berada di pinggang.
Wuttt..!
Angin keras berhembus mengawali
tibanya serangan kakek bermata picak itu. Tapi Barong Segara hanya mendengus.
Sambil tersenyum mengejek, kaki kanannya ditarik mundur ke belakang seraya mendoyongkan tubuhnya.
Sehingga, serangan itu lewat sekitar satu jengkal di depan wajahnya. Rambut
laki-laki
bertubuh tinggi besar itu sampai
berkibaran keras ketika sampokan lawan lewat di depan wajahnya.
Tapi, serangan Sawungrana tidak
hanya sampai di situ saja. Begitu serangan tangan kanannya berhasil dielakkan,
tangan kirinya kembali menyusul. Tangan kiri yang juga berbentuk cakar,
menyampok dari bawah ke atas dagu.
Kali ini Barong Segara tidak
mengelak lagi. Segera ditangkisnya serangan itu dengan tangan kanan dari atas
ke bawah.
Plakkk...!
Untuk yang kedua kalinya terjadi
benturan antara dua buah tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi. Suara
berderak keras terdengar mengiringi terjadinya benturan itu. Sawungrana
menyeringai. Sekujur tangannya terasa sakit dan nyeri
bukan kepalang! Tanpa dapat ditahan lagi, tubuhnya agak terhuyung ke
depan.
Namun, tindakan Barong Segara
tidak hanya sampai di situ saja. Kaki kanannya langsung mencuat ke arah perut
Sawungrana. Cepat bukan main gerakannya.
Sawungrana terperanjat melihat
serangan susulan yang begitu tiba-tiba. Meskipun begitu, kakek bermata picak
ini berhasil membuktikan kalau dirinya bukan tokoh sembarangan. Segera kakinya
dijejakkan ke tanah. Dan sesaat kemudian, tubuhnya sudah melambung ke atas,
melewati kepala Penghuni Istana Hantu.
Sawungrana memang tidak percuma
menjadi seorang ketua perguruan. Begitu tubuhnya berada di atas, kedua
tangannya melancarkan serangan cepat dan bertubi-tubi ke arah ubun-ubun lawan.
Namun rupanya gerakan Penghuni
Istana Hantu masih lebih cepat lagi. Tatkala terasa ada bahaya maut yang
mengancam dari atas, kedua tangannya cepat disampokkan ke atas.
Prattt..!
Kembali terjadi benturan antara
dua pasang tangan. Dengan sendirinya, Barong Segara berhasil menyelamatkan
selembar nyawanya.
Tepat saat Barong Segara berhasil
mem-perbaiki sikap, kedua kaki Sawungrana men-darat di tanah. Dan secara berbarengen, keduanya saling membalikkan tubuh
dan ber-hadapan kembali. Hanya sesaat satu sama lain saling tatap dengan sinar
maut memancar dari sepasang mata masing-masing, dan sekejap kemudian sudah
saling serang kembali. Hanya ada dua pilihan hagi mereka. Membunuh atau
dibunuh!
Hebat bukan main pertarungan
antara kedua orang sakti itu. Suara menderu dan mendecit mengiringi setiap
serangan mereka. Tanah terbongkar di sana-sini terkena pukulan nyasar. Genangan
air memercik tak tentu arah. Bahkan daun-daun ikut berguguran dari tangkainya. Malah beberapa batang
pohon juga roboh. Suara bergemuruh mengiringi tumbang-nya pepohonan itu.
Di jurus-jurus awal pertarungan
memang berlangsung imbang. Kedua belah pihak saling melancarkan serangan. Tapi
menginjak jurus kelima puluh, Barong Segara mulai tampak unggul. Laki-laki
tinggi besar ini mulai dapat mendesak Sawungrana.
Lewat lima puluh jurus, keadaan
Sawung-rana kian mengkhawatirkan. Serangan-serangannya
tidak lagi bertubi-tubi seperti sebelumnya, bahkan lebih sering mengelak.
Menangkis pun hanya sesekali. Karena setiap kali menangkis, tangannya terasa
sakit-sakit dan dadanya sesak.
Sebenarnya tidak aneh jika
Sawungrana terdesak, sebab memang bukan tandingan Barong Segara. Baik dalam hal
ilmu me-ringankan tubuh, mutu ilmu silat maupun dalam hal tenaga dalam. Maka
meskipun Sawungrana telah berusaha keras, tetap saja tidak mampu mengimbangi
lawannya.
“Hih...!”
Sambil menggertakkan gigi,
Sawungrana melempar tubuhnya ke belakang. Barong Segara sama sekali tidak
mengejarnya. Dibiarkannya saja tindakan kakek bermata picak itu. Sudah bisa
diduga kalau Sawungrana akan meng-gunakan ilmu lainnya.
Karena Barong Segara sama sekali
tidak mengejarnya, maka Sawungrana tidak meng-alami kesulitan untuk bersalto
beberapa kali di udara sebelum akhirnya mendaratkan kedua kaki di tanah.
Dan begitu hinggap, di tangan
Sawungrana telah tergenggam sebilah pedang terhunus. Dan secepat pedang itu
berada di tangan, secepat itu pula Sawungrana memutar-mutarkannya di atas
kepala.
Nguuung...!
Suara nyaring seperti ada
sekelompok lebah mengamuk, mengiringi perputaran pedang itu. Dari pertunjukan
ini saja sudah bisa diper-kirakan kekuatan tenaga dalam yang meng-gerakkan
pedang itu.
***
Barong Segara tentu saja tidak
tinggal diam. Begitu Sawungrana menghunus senjatanya, bergegas ilmu andalannya
dikeluarkan. Cepat Penghuni Istana Hantu ini membentuk kuda-kuda sejajar. Kedua
tangannya dengan jari-jari terbuka saling bersilangan di depan dada. Tapi hanya
sesaat saja hal itu dilakukan, karena sebentar kemudian jari-jari kedua
tangannya perlahan-lahan dikepalkan. Terdengar suara berkerotokan nyaring,
seperti ada tulang-tulang berpatahan ketika jari-jari tangan itu mengepal.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan Barong Segara. Setelah kedua tangannya mengepal, perlahan tapi penuh
tenaga, kedua tangan itu ditarik ke pinggang. Kembali suara berkerotokan
nyaring terdengar ketika kedua tangan itu ditarik ke pinggang. Tampak jelas, betapa kedua tangan itu
menggigil keras, pertanda telah
dialiri tenaga dalam tinggi.
Diiringi desahan napas dari
mulut, Barong Segara mendorongkan kedua tangannya ke depan, perlahan-lahan tapi
penuh tenaga. Suara berkerotokan keras terus terdengar mengiringi gerakan kedua
tangan itu.
Luar biasa! Begitu desahan napas
Barong Segara lenyap, dan kedua tangan yang semula terletak di pinggang itu
terjulur ke depan, sekujur tangan Penghuni Istana Hantu telah berubah warna
menjadi hitam kelam!
Sawungrana terperanjat melihat
hal ini. Tanpa dibuktikan lagi pun sudah bisa diper-kirakan kedahsyatan ilmu
Penghuni Istana Hantu. Kakek bermata picak ini tahu kalau Barong Segara tidak
tinggal diam begitu saja selama belasan tahun. Laki-laki bertubuh tinggi besar
ini sudah pasti memperdalam ilmu-ilmu yang dimilikinya, sehingga sudah
memperoleh kemajuan pesat.
Maka Sawungrana tidak bertindak
setengah-setengah lagi. Tanpa mempedulikan perasaan malu karena bersenjata,
sementara lawan hanya bertangan kosong, kakek bermata picak ini segera melompat
menerjang.
“Hiyaaa...!”
Air-air di atas pohon dan daun-daun berjatuhan karena getaran akibat
pekikan nyaring Sawungrana.
Dan seiring teriakan itu, pedang
di tangan-nya diputar di atas kepala. Suara dengung keras
seperti ada ratusan ekor lebah tengah mengamuk terdengar mengiringi putaran pedang itu.
Cepat bukan main putaran pedang
Sawungrana sehingga batang pedang itu tidak nampak lagi. Yang terlihat kini
hanyalah sinar kekuningan yang membentuk putaran seperti baling-baling. Dan
mendadak saja, dari balik putaran itu mencuat serangan maut ke arah ubun-ubun
Barong Segara.
Cepat, mendadak, dan sama sekali
tidak terduga serangan itu, karena muncul dari balik putaran sinar. Suara
berdesing nyaring yang mengiringi serangan itu menandakan betapa kuatnya tenaga
dalam yang terkandung di dalamnya.
Tapi Barong Segara sama sekali
tidak terkejut mendapat serangan mendadak seperti demikian. Kedua tangannya
yang berwarna hitam kelam itu bergerak cepat di atas kepala. Menilik dari
gelagatnya, seakan-akan Penghuni Istana Hantu ini ingin menangkis serangan
pedang dengan tangan kosong.
Sawungrana mengerutkan alisnya
melihat hal itu. Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, sudah bisa diterka apa
yang akan dilakukan lawannya. Dan seketika itu pula berbagai macam perasaan
berkecamuk di hatinya. Benar-kah Penghuni Istana Hantu ini akan menangkis
pedangnya dengan tangan kosong? Begitu saktikah sekarang laki-laki
bertubuh tinggi besar ini? Atau begitu sombongnya, sehingga
berani menangkis dengan tangan
kosong? Dugaan Sawungrana ternyata tidak salah!
Barong Segara benar-benar
menyambut tusukan pedangnya dengan pergelangan tangan kanan.
Takkk...!
Suara berderak keras seperti
beradunya dua batang logam keras terdengar. Akibatnya benar-benar hebat! Tubuh
Sawungrana yang tengah berada di udara seketika terpental balik ke atas.
Sementara Barong Segara sama sekali tidak bergeming!
Sawungrana terkejut bukan main.
Dan memang, ada berbagai macam perasaan yang mendera hatinya. Kekagetan pertama
ketika melihat lawan yang memapak pedangnya, ternyata tidak mendapat luka
sedikit pun. Sementara kekagetan lainnya, ketika merasa-kan adanya daya tolak
yang kuat luar biasa sehingga tubuhnya terpaksa seperti dilontarkan.
Berkat ilmu meringankan tubuhnya
yang sudah mencapai tingkatan tinggi, tidak sulit bagi Sawungrana untuk
mematahkan daya dorong lontaran tubuhnya. Ringan dan enak saja tubuhnya
bersalto di udara beberapa kali, kemudian mendarat mantap dan tanpa suara di
tanah.
Tapi mendadak, mulut kakek
bermata picak ini meringis begitu sakit yang amat sangat terasa menekan
dadanya. Rasa sakit yang mau tak mau membuat kedua tangannya menekan perut.
Beberapa saat lamanya Sawungrana
kebingungan. Dia hanya bisa
menduga, dari mana timbulnya rasa sakit itu? Apakah tanpa diketahui tubuhnya
telah terkena racun yang dilepaskan Barong Segara secara licik? Namun dia yakin
betul kalau tidak ada satu serangan pun dari Barong Segara yang mengenainya.
Ada satu hal lagi yang membuat
kakek bermata picak ini yakin kalau dirinya tidak terkena racun. Dan itu
diketahui sewaktu menarik napas. Ada rasa sakit yang mendera dadanya ketika
melakukan hal itu. Sawungrana tahu apa artinya. Dia telah terluka dalam, dan
bukan terkena racun. Tapi yang tidak habis dimengerti, kapan dia terkena
serangan lawan? Ataukah dalam benturan terakhir tadi? Tapi bila karena benturan
terakhir, bukan hanya dadanya saja yang terasa sesak bukan main. Yang jelas
tangannya pun akan terasa bergetar. Setidak-tidaknya, tangan yang menggenggam
senjata akan lumpuh sejenak!
“He he he...!” Barong Segara tertawa terkekeh-kekeh.
Laki-laki berpakaian merah ini
memang sejak tadi sama sekali tidak bergerak
menyerang. Dia berdiam diri saja mem-perhatikan
semua tingkah Sawungrana.
“Kenapa, Sawungrana? Sakit
dadamu? He he he...!”
“Keparat kau, Barong Segara...!” maki
Sawungrana, keras. Wajah
dan sepasang matanya merah
membara. “Sungguh tidak kusangka, kau akan bertindak sepengecut ini.
Berlaku curang untuk meraih
kemenangan!” “Tutup mulutmu, Anjing Buduk!” maki
Barong Segara keras.
Lenyap seketika itu juga seri di
wajah laki-laki bertubuh tinggi besar ini. Yang tinggal hanyalah kemarahan yang menggelegak.
Penghuni Istana Hantu ini memang pantang dihina.
“Aku tidak serendah itu! Jangan
kau samakan aku dengan dirimu! Seorang pengecut, sehingga menjilat ludahnya
sendiri yang telah jatuh ke tanah!”
Wajah Sawungrana semakin memerah.
Tapi kali ini bukan amarah, melainkan karena perasaan malu. Malu karena telah
melanggar sumpahnya sendiri.
“Kalau tidak karena bermain curang,
mengapa kau mengetahui apa yang ku-rasakan?!”
bantah Sawungrana dengan suara mulai melunak, tapi nadanya berupa tuduhan.
“Itulah kehebatan dari gabungan
ilmu yang baru saja kuciptakan!” sahut Barong Segara, penuh kemenangan. “Kau
mau tahu nama ilmu itu?!”
Wajah Sawungrana berubah
seketika. Jadi luka dalamnya bukan karena lawan bermain curang, melainkan
karena kedahsyatan ilmu gabungan! Luar biasa! Sungguh sebuah ilmu yang amat
berbahaya!
Melihat kakek bermata picak itu
sama sekali tidak menyambuti ucapannya, Barong Segara sama sekali tidak ambil
pusing. Pertanyaan itu
diajukan memang bukan untuk
mendapatkan jawaban. Maka tanpa mempedulikan Sawung-rana mendengar atau tidak,
Barong Segara menyambung ucapannya.
“Kejadian yang menimpamu adalah
akibat ilmu gabungan 'Tangan Penahan Gelombang Laut' dan 'Ilmu Tangan Pasir
Besi'.”
Ada seruan tertahan yang keluar
dari mulut Sawungrana ketika mendengar penjelasan
Penghuni Istana Hantu. Ilmu yang pertama memang belum dikenalnya. Tapi ilmu
kedua yang disebut tadi, cukup diketahuinya. Dengan 'Ilmu Tangan Pasir Besi',
orang jadi memiliki tangan laksana baja! Hanya saja, latihan-latihannya pun
cukup berat Di antaranya, merendam tangan dalam pasir besi yang panas. Jadi,
ternyata Barong Segara telah berhasil menguasai ilmu itu.
“Serangan pedangmu kutahan dengan
'Ilmu Tangan Pasir Besi', sementara ilmu 'Tangan Penahan Gelombang Laut' langsung
menyusup dan menghantam dadamu! Itu memang keistimewaannya! Dan ajalmu kini
hanya tinggal menunggu waktu saja! Ha ha ha...!”
“Keparat..! Sebelum waktu itu
tiba, aku akan menyeretmu pergi bersamaku, Barong
Segara...!”
Setelah berkata demikian, Sawungrana melompat menerjang.
Sementara Barong Segara sama sekali tidak mempedulikannya. Laki-laki bertubuh
tinggi besar ini terus saja tertawa terbahak-bahak. Sepertinya, dia tidak
merasa
cemas melihat serangan maut yang
dilancarkan kakek bermata picak itu.
Tapi baru juga setengah jalan,
mendadak tubuh Sawungrana mengejang. Pedang di tangannya terlepas dan jatuh ke tanah. Dari
mulut, hidung, dan telinganya tiba-tiba mengalir cairan merah kental. Tubuhnya
roboh di tanah. Sebentar dia menggelepar-gelepar, sejenak kemudian diam tidak bergerak lagi.
“Ha ha ha...!”
Barong Segara tertawa bergelak
melihat tubuh lawannya yang sudah menjadi mayat. Kegembiraan yang amat sangat
tampak mem-bayang di wajahnya.
“Hi hi hi..!”
Mendadak suara tawa melengking
nyaring terdengar menimpali. Jelas, suara itu berasal bukan dari mulut seorang
lelaki.
Tapi Barong Segara sama sekali
tidak tampak terkejut mendengarnya. Bahkan tetap saja meneruskan tawanya.
Tampak jelas kalau laki-laki bertubuh tinggi besar ini sama sekali tidak merasa
terganggu. Maka kini di malam yang sepi itu terdengar dua jenis suara tawa yang
memecahkan keheningan malam.
“Cukup, Durgasari...!” sentak
Barong Segara seraya menghentikan tawanya.
Seketika itu juga suara tawa
terkikih itu lenyap. “Lebih baik, lekas kau kejar murid si keparat ini..!
Lenyapkan sebelum terlambat..!”
Tidak terdengar sahutan dari
pohon-pohon tinggi tempat asal suara itu. Hanya saja, setelah
Barong Segara menyelesaikan ucapannya, terdengar suara gemerisik pelan dari
salah satu cabang pohon. Hanya sebentar saja, sesaat kemudian tidak terdengar
lagi.
Barong Segara mendengus, kemudian melesat pergi ke arah Istananya.
Cepat bukan main gerakannya, sehingga yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan
yang melesat cepat untuk kemudian menghilang di kegelapan malam.
***
4
Angin kering membawa debu
berhembus keras. Matahari memang sudah berada tepat di atas kepala. Sinarnya
yang panas menyorot garang, seakan-akan ingin melelehkan semua yang ada di
permukaan mayapada.
“Keparat..!”
Seorang pemuda berpakaian abu-abu
dan berjenggot pendek berteriak memaki ketika angin yang membawa debu itu
menyambar wajahnya. Akibatnya,
salah satu matanya kemasukan debu. Maka, kontan pemuda itu mengerjap-ngerjapkan
mata untuk mengeluar-kan debu yang tidak tahu diri sehingga matanya terasa
perih.
“He he he...!”
Seorang pemuda sebaya yang berjalan
bersamanya, hanya tertawa terkekeh. Seperti juga laki-laki berjenggot pendek
itu, laki-laki yang tertawa itu berpakaian abu-abu. Bibirnya yang sumbing
membuat wajahnya nampak lucu ketika tertawa.
“Apa yang kau tertawakan,
Patila?” tanya laki-laki berjenggot pendek itu geram. Nada suaranya menyiratkan
perasaan tidak senang.
Laki-laki berbibir sumbing yang
ternyata bernama Patila tidak langsung menjawab. Dia masih sibuk menahan rasa
geli yang melanda.
Karuan saja hal ini membuat
laki-laki ber-jenggot pendek itu semakin memuncak amarahnya. Untung sebelum
amarahnya sempat meluap, Patila telah bisa menguasai diri.
“Kelakuanmu yang membuatku geli, Satrana,” sahut laki-laki berbibir
sumbing itu memberi tahu. “Hanya sebutir kecil debu saja telah membuatmu kalang
kabut! Aku tidak bisa membayangkan
kalau bukan debu
yang menyambar ke arahmu, melainkan sebatang pedang!”
“Ingin kutahu, siapa yang berani
melakukan hal seperti itu padaku!” tandas laki-laki
berjenggot pendek yang ternyata bernama Satrana. Nada kesombongan nampak jelas
pada wajah, suara, dan sikapnya.
Usai berkata demikian, Satrana
membusung-kan dadanya. Tidak hanya itu saja. Kedua tangannya langsung
disedakapkan di depan dada. Sementara, wajahnya ditolehkan ke sana kemari
dengan sikap angkuh.
Tapi, tidak ada seorang pun yang
melihat tingkahnya kecuali Patila. Laki-laki berbibir sumbing itu menatap
sambil menyunggingkan senyum mengejek. Maka wajahnya yang sudah buruk karena
bibir cacat itu, jadi semakin terlihat mengerikan.
Suasana di sekitar tempat itu
memang sepi. Padahal, kedua laki-laki itu tengah berjalan di jalan utama Desa
Kali Asem. Sebuah desa yang terhitung cukup besar dan berpenduduk cukup padat. Rumah penduduk memang banyak
terhampar di sana-sini, tapi
sebagian besar terkunci rapat baik pintu maupun jendelanya! Jelas, ada sesuatu
yang terjadi dengan desa itu.
Rupanya Satrana belum puas dengan
sikap-nya yang seperti itu. Seraya mengangkat kepala, tangan kanannya
ditepuk-tepukkan ke dada. Tampak kalau di dada kiri laki-laki berjenggot pendek
ini tertera gambar seekor belut yang bersulamkan benang perak. Gambar yang sama
pun tertera di dada kiri Patila.
Kedua laki-laki, yang ternyata
berasal dari satu perguruan ini terus melangkah. Dan gerakan kaki mereka baru
terhenti ketika telah sampai di depan sebuah rumah berdinding batu.
Tok, tok, tok...!
Terdengar suara keras ketika Patila
menggedorkan tangannya pada daun pintu yang tertutup rapat itu.
“Wanara! Keluar kau...! Atau...,
kubakar gubukmu ini..!”
Tanpa khawatir terdengar oleh
penghuni rumah lainnya, Satrana berteriak-teriak memanggil sambil terus menggedor-gedor daun pintu.
Menilik dari sikapnya, jelas kalau dia sudah terbiasa bersikap begitu.
Terdengar suara langkah
tergesa-gesa dari dalam rumah itu. Sesaat kemudian, daun pintu itu pun terkuak
dari dalam. Suara berderit yang cukup tajam mengiringi terbukanya pintu.
“O, Den Satrana dan Den Patila
kiranya...!” ucap seraut wajah tua bertubuh ringkih dan berpakaian putih.
Seulas senyum tampak tersungging
di bibir laki-laki bernama Wanara yang tampak gemetar ketika mengucapkan nama
kedua laki-laki kasar itu. Dia memang mengenal mereka yang merupakan
murid-murid Perguruan Belut Putih. “Tidak usah banyak basa-basi, Wanara!”
sergah Satrana keras. “Aku tidak ingin beramah tamah denganmu! Kami datang
kemari atas perintah Ki Kalasura, ketua kami. Dan kau tahu bukan, apa
maksudnya? Panggil Galuh kemari!
Cepat..!”
Seketika itu juga wajah laki-laki tua berpakaian putih itu memucat,
Galuh adalah putrinya yang telah berusia hampir dua puluh tahun. Wajahnya
memang cantik. Dia tahu, apa maksud Kalasura menyuruh kedua orang ini mengambil putrinya. Kalasura memiliki
kebiasaan jelek, yakni mempermainkan wanita.
“Tapi.... Tapi, Den... Galuh
masih terlalu muda... Dan lagi....”
“Kau mau memanggilnya secara
baik-baik, atau kami akan mengambilnya secara paksa?” potong Satrana tidak
sabar. Nada ancaman tampak jelas baik dalam suara maupun raut wajahnya.
Ki Wanara tergagap. Perasaan
gelisah yang amat sangat membayang jelas di wajahnya yang penuh keriput itu.
Tapi, Patila dan Satrana sama sekali tidak tersentuh hatinya melihat laki laki
tua berpakaian putih itu bingung karena perasaan takut. Justru sebaliknya,
mereka malah menjadi kian meluap amarahnya.
“Tua bangka keparat! Kau rupanya
sudah bosan hidup, ya? Berani-beraninya menentang kemauan kami!”
Setelah berkata demikian, Satrana
segera melayangkan tangannya ke arah pipi kakek berpakaian putih itu. Terlihat
mantap dan cukup cepat gerakannya.
Plakkk...!
Telak dan keras sekali tangan
kekar Satrana mendarat di pipi kanan Ki Wanara. Wajah kakek berpakaian putih
itu bahkan sampai terpaling ke samping. Bukan hanya itu saja. Tubuhnya pun
sampai terhuyung. Seketika ada cairan merah kental yang menitik di sudut-sudut
mulutnya.
Kemudian tanpa mempedulikan kakek berpakaian putih itu lagi, Satrana segera
melangkah masuk ke dalam rumah. Patila yang sejak tadi hanya tersenyum-senyum
memper-hatikan semua tingkah laku temannya, tanpa banyak bicara segera
melangkah mengikuti. Tapi tak lupa, laki-laki berbibir sumbing yang tidak kalah
galak dari rekannya melayangkan kakinya.
Bukkk...! “Hugkh...!”
Keluhan tertahan terdengar dari
mulut Ki Wanara. Tendangan Patila memang keras bukan main! Apalagi tepat mengenai perutnya.
Seketika itu pula tubuh kakek berpakaian putih ini terlipat ke depan.
Kedua tangannya mendekap
perut. Sementara, sepasang matanya
juga melotot. Jelas, kakek ini
mengalami kesulitan bernapas akibat tendangan Patila.
Seperti juga Satrana, Patila sama
sekali tidak mempedulikan keadaan Ki Wanara. Mereka tahu, kakek berpakaian
putih itu tidak akan tewas karena pukulan dan tendangan yang telah dikirimkan
tadi. Memang, kedua serangan itu dilakukan tanpa pengerahan tenaga dalam sama
sekali. Baik Patila maupun Satrana tahu, siapa Ki Wanara itu. Dia adalah
seorang kakek ringkih yang tidak memiliki ilmu silat sedikit pun. Jadi seandainya
dikerahkan tenaga dalam sedikit saja, bukan tidak mungkin kakek itu sudah pergi
ke alam baka.
Sesaat lamanya, Ki Wanara berdiam
diri sambil memegangi perutnya yang terasa mules bukan main. Malahan juga
pernapasannya tersumbat. Dan hal ini terjadi karena perasaan khawatirnya akan
keselamatan Galuh, putrinya! Di saat Ki Wanara berusaha keras untuk memulihkan
keadaannya, Satrana dan Patila sudah mulai melakukan pencarian ke kamar-
kamar. Brakkk...!
Suara berderak keras terdengar
mengiringi hancurnya daun pintu terdepan, begitu Satrana menendang. Dan secepat
daun pintu itu sudah lenyap dari ambangnya, Patila segera bergerak masuk.
“Galuh...! Lari...!”
Ki Wanara yang sudah berhasil
memulihkan diri, segera berteriak memperingatkan. Karuan
saja hal itu membuat Satrana yang
sudah berada di dalam kamar, segera berlari keluar kembali. Sementara Patila
yang sudah berada di depan pintu kamar yang satunya lagi, berhenti sejenak di
depan pintu. Tak pelak lagi, kedua orang ini sama-sama berdiri di depan pintu
seraya melayangkan pandang ke sana kemari, mencari-cari putri Ki Wanara.
Mendadak keduanya mendengar
langkah kaki yang bergemuruh dan cepat menghantam bumi. Seketika itu juga keduanya saling berpandangan. Dari saling adu
pandang itu keduanya sepakat kalau asal suara itu adalah dari belakang. Tanpa
melihat pun sudah bisa diduga, Galuh, wanita yang mereka cari-cari telah kabur!
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, kedua orang itu segera bergerak mengejar.
Ki Wanara tidak tinggal diam.
Kakek yang sebenarnya sudah ringkih ini mendadak lebih gesit karena perasaan khawatir akan keselamatan putrinya. Cepat dia
bergerak ke arah dinding rumah tempat senjata andalannya tergantung. Sebuah
busur dengan sekantung anak panahnya. Ki Wanara memang sejak muda ahli memanah.
Sudah tidak terhitung, binatang-binatang yang telah ditembus anak panahnya. Dan
kini kakek berpakaian putih ini terpaksa menggunakan senjata andalan itu untuk menyelamatkan putri tunggalnya.
Dan secepat busur itu terpegang,
secepat itu pula anak panahnya diselipkan. Tak tanggung-
tanggung, tiga batang sekaligus
dipasangnya. Twanggg...!
Terdengar suara berdentang keras
begitu anak-anak panah terlepas dari busurnya dan meluncur cepat ke arah
Satrana dan Patila yang telah berlari ke belakang.
Satrana dan Patila terkejut bukan
main mendengar suara keras itu. Cepat mereka menoleh ke belakang, dan kontan
memucat begitu melihat tiga batang anak panah tengah meluncur cepat ke arah
mereka.
Tidak ada pilihan lagi bagi
Patila dan Satrana! Maka mereka pun segera melempar tubuh ke samping. Satrana
ke samping kanan, sedangkan Patila ke samping kiri. Lalu tubuh mereka
bergulingan sekali di lantai.
Cappp, cappp...!
Tiga batang anak panah itu
menancap di daun pintu belakang ketika kedua sasaran yang ditujunya berhasil
meloloskan diri.
Tindakan Ki Wanara tidak berhenti
sampai di situ saja. Begitu serangannya berhasil dielakkan, segera dipasangnya
kembali anak panah lain pada busurnya. Dan....
Twanggg...! Twanggg...!
Secepat anak panah pertama
menyambar ke arah Satrana, secepat itu pula dipasangkan lagi anak panah lain
dan langsung dijepretkan ke arah Patila. Kedua serangan itu berlangsung dalam
sekejap saja. Dari pertunjukan ini saja, sudah bisa diperkirakan kelihaian kakek
berpakaian putih ini memainkan panah.
Kini Patila dan Satrana repot
pontang-panting menyelamatkan diri. Baru saja mereka bangkit, kembali serangan
anak panah itu meluncur tiba. Maka kedua orang murid Perguruan Belut Putih itu
cepat menggulingkan tubuhnya kembali. Dan bukan itu saja yang dilakukan mereka. Sambil bergulingan, dilancarkannya serangan balasan.
Berupa pisau-pisau terbang ke arah Ki Wanara.
Singgg, singgg...!
Seiring berhasil dielakkannya serangan kedua anak panah itu, serangan
pisau-pisau terbang Patila dan Satrana meluncur ke arah kakek berpakaian putih.
Ki Wanara terperanjat melihat
serangan balasan yang tak terduga-duga itu. Cepat dia berusaha mengelak.
Tapi....
Cappp, cappp...! “Akh...!”
Ki Wanara memekik tertahan ketika
dua bilah pisau terbang yang dilepaskan murid Perguruan Belut Putih itu berhasil
mendarat di tubuhnya. Satu mendarat di pangkal lengan kanan, sedangkan yang
satu lagi menghunjam di paha kiri. Tak pelak lagi, tubuh kakek berpakaian putih ini terguling roboh.
Patila dan Satrana sama sekali
tidak mempedulikan Ki Wanara lagi. Begitu tubuh kakek berpakaian putih itu
tampak terguling, mereka bergegas bangkit dan berlari ke belakang
melakukan pengejaran terhadap Galuh.
5
Brakkk..!
Daun pintu itu hancur
berkeping-keping ketika tangan Satrana menghajarnya. Dan begitu pintu terkuak,
tubuh kedua orang murid Perguruan Belut Putih itu segera melesat keluar.
“Itu dia...!” seru Patila sambil
menudingkan telunjuk tangan kanannya ke depan.
Sebenarnya tanpa diberi tahu pun,
Satrana sudah melihatnya pula. Walaupun jarak wanita berpakaian biru langit itu
telah berada sekitar dua puluh lima tombak di depan, tapi karena medan yang
ditempuh berupa sebuah lapangan luas tanpa ada penghalang, membuat gadis itu
tetap terlihat.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Satrana dan Patila segera bergerak mengejar. Sesaat kemudian, kejar-mengejar pun tidak bisa dihindari.
Dan memang, hasil akhir
kejar-kejaran ini sudah bisa ditebak. Yang dikejar hanyalah seorang wanita, sementara kedua orang pengejarnya adalah laki-laki kuat.
Tambahan lagi, Galuh adalah seorang
wanita lemah yang sama sekali tidak pernah berlatih ilmu silat. Sementara kedua pengejarnya
memiliki kepandaian lumayan, dan juga
memiliki ilmu meringankan tubuh.
Maka tak aneh, bila dalam waktu sebentar saja jarak mereka semakin bertambah dekat.
Galuh berlari dengan perasaan
bingung. Beberapa kali kepalanya menoleh ke belakang, untuk melihat
pengejarnya. Dan kebingungan-nya semakin bertambah tatkala jarak kedua
pengejarnya semakin bertambah dekat saja.
Sebenarnya kalau saja keadaan
biasa, tak mungkin gadis seperti Galuh akan sanggup berlari sejauh itu. Tapi
karena perasaan takut yang mendera, gadis itu seperti mendapat tenaga tambahan
saja. Tapi tetap saja, bantuan tenaga itu tetap tidak berarti apa-apa bila
dibanding tenaga Satrana dan Patila.
Kini jarak antara Galuh dan kedua
orang pengejarnya tidak sampai lima tombak lagi. Kalau saja kedua orang itu bermaksud
mencelakai, sudah sejak tadi gadis berpakaian biru langit ini menggeletak di
tanah. Tapi karena telah mendapat pesan keras dari sang Ketua, sehingga mereka
tidak berani bertindak lancang.
Napas Galuh sudah hampir putus
ketika melihat kerimbunan semak-semak di hadapan-nya.
“Ha ha ha...! Mau lari ke mana
lagi, Cah Ayu?”
Satrana yang yakin kalau sebentar
lagi akan mampu menangkap gadis berpakaian biru langit itu berseru mengejek
walaupun dengan napas agak terengah. Jarak antara mereka memang
paling jauh tinggal tiga tombak
lagi.
Mendengar ucapan itu, Galuh
semakin bingung sehingga tidak melihat adanya akar pohon yang menyembul ke
tanah.
Tukkk! “Aaaw...!”
Seiring pekikan kagetnya, tubuh
Galuh terjerembab. Suara berdebuk keras terdengar ketika tubuh gadis itu
menghantam tanah. Menilik dari seringai pada mulutnya, bisa diperkirakan kalau
dia merasa sakit.
Tapi karena perasaan takut yang
amat sangat terhadap dua orang murid Perguruan Belut Putin, membuatnya tidak
mempedulikan perasaan sakit itu. Cepat Galuh bergerak bangkit. Tapi baru juga
hendak berdiri, di hadapannya telah berdiri dua orang pengejarnya sambil
tersenyum-senyum memuakkan.
Wajah Galuh pucat seketika. Tapi
meskipun demikian dia tidak putus asa. Segera tubuhnya berbalik dan berlari ke
arah berlawanan dengan arah yang ditempuhnya semula.
“Ha ha ha...! Betina liar itu
ternyata bandel juga, Satrana...!” seru Patila pada Satrana.
Sementara laki-laki berjenggot
pendek itu hanya mengeluarkan suara tawa bergelak saja sambil menggerakkan kaki. Dan sesaat kemudian, dia telah berada di depan
Galuh.
Galuh semakin ketakutan begitu di
hadapannya telah berdiri Satrana. Dengan rasa takut yang membayang jelas di
wajahnya, tubuhnya berbalik dan berlari ke arah semula.
Tapi langkahnya langsung terhenti
ketika pandangannya tertumbuk pada sosok tubuh Patila.
Kini Galuh tidak bisa ke
mana-mana lagi. Di hadapannya sudah berdiri Patila. Sementara di belakangnya
menghadang Satrana. Yang dapat dilakukannya kini hanya menggerakkan
sepasang matanya ke kanan dan ke kiri mencari jalan untuk melarikan diri.
Satrana dan Patila tertawa
terkekeh-kekeh seraya melangkah menghampiri. Sudah dapat dipastikan kalau gadis
berpakaian biru langit itu akhrirnya akan tertangkap oleh kedua orang murid
Perguruan Belut Putih itu. Tapi....
“Baru kali ini kutemui ada dua
orang lelaki perkasa tanpa tahu malu mengeroyok seorang wanita lemah...!”
Pelan saja terdengar suara itu,
tapi karena suasana yang cukup hening, sehingga terdengar jelas. Tentu saja
ucapan yang sudah jelas-jelas sindiran itu membuat Satrana dan Patila
mengalihkan pandangan ke arah asal suara. Seketika wajah mereka merah padam
menahan geram. Keduanya tahu kalau ucapan itu ditujukan kepada mereka.
Di sebelah kanan Galuh dalam
jarak sekitar empat tombak, nampak berdiri seorang pemuda berwajah tampan.
Pakaian yang berwarna hitam nampak membungkus tubuhnya yang tegap, kekar, dan
berotot. Hanya sayangnya, wajah yang terlihat tampan itu mempunyai kulit yang
begitu pucat. Sepertinya, pemuda itu sudah
lama tidak terkena sinar
matahari.
“Keparat..!” maki Satrana keras
seraya menatap laki-laki berwajah pucat itu dengan pandangan mata beringas.
Jelas kalau laki-laki berjenggot pendek ini merasa tersinggung bukan main
mendengar sindiran itu. “Siapa kau, Kambing Sakit! Berani betul menghina kami!
Tidak tahukah kau, siapa kami?!”
Laki-laki berwajah pucat itu
tersenyum getir. Sama sekali wajahnya yang pucat itu tidak menampakkan perubahan,
sekalipun mendapat sambutan yang begitu kasar.
“Aku Raksagala. Dan sama sekali
tidak bermaksud menghina kalian! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Dari
tanda yang tertera di dada kiri kalian, sudah bisa ku-perkirakan kalau kalian
murid-murid Perguruan Belut Putih,” sahut laki-laki berwajah pucat yang
ternyata Raksagala. Pemuda itu adalah pelarian dari Istana Hantu. Pucatnya
wajah pemuda ini memang karena jarang terkena sinar matahari. Tidak tampak
adanya benda bersinar di lehernya. Memang,
pemuda itu telah menaruhnya dalam
buntalan kain dan menyimpannya di punggung.
“Kalau sudah tahu siapa kami,
lantas mengapa tidak lekas menyingkir pergi?!” sahut Patila cepat memberi
kesempatan.
Hal ini bukan karena Patila bersikap
murah hati. Tapi karena laki-laki berbibir sumbing ini melihat adanya sesuatu
yang mengerikan pada laki-laki berwajah pucat itu. Entah karena
wajahnya, penampilannya, atau
karena sorot matanya. Yang jelas, Patila tidak tahu dan merasa ngeri.
Perasaan itu tidak hanya dialami
Patila saja, tapi juga oleh Satrana dan Galuh! Itulah sebabnya, Satrana yang
biasanya beringas dan tidak kenal ampun, tadi hanya mengeluarkan kata-kata
kasar! Biasanya bila perbuatannya sedikit dirintangi orang, laki-laki berjenggot
pendek ini langsung main pukul.
“Justru karena tahu kalau kalian
adalah murid Perguruan Belut Putih, maka aku jadi lebih berkewajiban untuk
campur tangan!” tandas Raksagala.
“Apa maksudmu?” tanya Satrana
seraya mengerutkan kening. Ucapan laki-laki berwajah pucat itu membuatnya
penasaran juga.
“Aku telah mendapat wewenang
penuh untuk menindak tegas setiap murid Perguruan Belut Putih yang menyeleweng!” tegas Raksagala.
“Ha ha ha...!”
Seperti sepakat saja, Satrana dan
Patila tertawa berbareng karena tak kuasa menahan rasa geli yang nelanda begitu
mendengar penegasan Raksagala. Tidak salahkah pen-dengaran mereka? Laki-laki
berwajah pucat itu mengatakan telah mendapat wewenang penuh? Dari siapa? Sedangkan mereka berdua
melakukan setiap tindakan ini atas perintah ketua mereka yang bernama Kalasura.
Dialah pimpinan tertinggi Perguruan Belut Putih. Lalu
sekarang, Raksagala mendapat wewenang penuh dari siapa?
Kini rasa jerih mereka pun sirna.
Raksagala ternyata bukan orang waras. Begitu kesimpulan mereka. Laki-laki
berwajah pucat itu adalah seorang yang tidak patut ditakuti.
“Kalau begitu, mampuslah kau...!”
Sambil berkata demikian, Satrana
melancar-kan serangan ke arah Raksagala. Laki-laki berjenggot pendek ini memang berwatak telengas. Maka tidak aneh, sekali melancarkan
serangan seluruh tenaga dalamnya langsung dikerahkan. Bukan itu saja. Serangan
yang dituju pun begitu mematikan.
Satrana membuka serangan dengan
sebuah pukulan tangan kanan ke arah leher. Dari angin yang berkesiut cukup
nyaring. bisa diduga kalau laki-laki berjenggot pendek ini memiliki tenaga
dalam tinggi.
Tapi orang yang diserang Satrana
kali ini bukan orang sembarangan. Dia adalah Raksagala, murid terkasih Sawungrana, dedengkot Perguruan Belut
Putih waktu itu. Maka, tentu saja serangan seperti itu sama sekali tidak
berarti apa-apa buat laki-laki berwajah pucat ini. Sekali lihat saja, Raksagala
sudah bisa mengetahui kalau jurus yang dipakai Satrana bukan jurus khas ilmu
Perguruan Belut Putih. Jadi, bisa diperkirakan kalau laki-laki berjenggot
pendek ini bukan murid pilihan. Dia kenal betul gerakan itu. Juga, ke mana
lanjutan serangannya, dan bagaimana cara singkat
mematahkannya.
“Hm...,” Raksagala menggumam
pelan
Enak saja kaki kanannya melangkah
ke belakang. Tidak hanya itu saja. Bersamaan kakinya ditarik mundur, tangan
kanannya bergerak menangkap. Dan....
Tappp...!
Satrana terpekik kaget begitu dalam
segebrakan saja tangannya sudah tertangkap lawan. Bahkan bukan hanya dia saja
yang terkejut, rekannya pun terkejut bukan main melihat hal ini. Sedemikian
saktikah laki-laki berwajah pucat itu? Bermacam-macam dugaan mulai tumbuh di
hatinya, sampai-sampai Galuh yang bergerak menjauh tidak dipedulikannya.
***
Semula Satrana terperanjat mengalami kejadian yang sama sekali
tidak disangka-sangka itu. Tapi hal itu hanya berlangsung sesaat saja. Karena
dia kini sudah melancarkan serangan susulan. Kaki kanannya meluncur cepat ke
arah dada Raksagala. Wuttt..!
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini
Raksagala sama sekali tidak menghindar. Sambil terus memengangi
pergelangan tangan Satrana, Raksagala membiarkan dadanya dijadikan sasaran tendangan Maka,
akibat selanjutnya sudah bisa diduga.
Bukkk! “Akh...!”
Telak dan keras sekali tendangan
yang dikirimkan Satrana menghantam sasarannya. Tapi sungguh aneh. Masalahnya justru
Satranalah yang berteriak kesakitan. Mulutnya menyeringai memperlihatkan kalau dirinya
dilanda rasa sakit yang luar biasa.
Dan memang demikianlah kejadian
yang sebenarnya. Laki-laki berjenggot pendek ini merasakan ujung kakinya bukan
mengenai dada manusia, melainkan sebongkah besi baja yang amat keras. Akibatnya
kaki yang membentur itu tulangnya seperti remuk.
Raksagala yang ingin memberi
pelajaran agar kedua orang itu kapok, tidak bertindak setengah-setengah. Jemarinya yang masih memegangi
pergelangan tangan lawan perlahan bergerak meremas. Maka seketika itu juga
Satrana melolong-lolong kesakitan, karena sekujur tulang pergelangan
tangannya seperti hancur lebur. Keringat sebesar-besar biji jagung pun
bertonjolan di wajahnya.
Patila tentu saja tidak akan
tinggal diam melihat rekannya tidak berdaya di tangan Raksagala. Cepat laksana
kilat laki-laki berbibir sumbing itu melompat menerjang. Menyadari kalau
Raksagala adalah seorang lawan tangguh, maka tanpa ragu-ragu lagi pedangnya
langsung dicabut.
Singgg...!
Suara mendesing nyaring terdengar
ketika Patila mengayunkan pedangnya, membacok ke arah leher.
Tapi seperti juga ketika menghadapi
serangan Satrana, kali ini Raksagala melakukan hal yang sama. Dia sama sekali
tidak bertindak apa-apa. Dibiarkannya saja serangan yang mengancam ke arah
leher itu.
Takkk!
Suara keras seperti terjadi
benturan antara dua logam keras terdengar, ketika mata pedang laki-laki
berbibir sumbing itu telak dan keras sekali menghantam sasaran. Akibatnya, sama
seperti yang dialami Satrana. Pedang itu justru terpental balik ketika mengenai leher
Raksagala. Sepertinya yang dihantamnya bukan leher manusia, melainkan gumpalan
karet keras.
Bukan hanya itu saja yang dialami
laki-laki berbibir sumbing. Sekujur tangannya bergetar hebat, sementara jemari
tangan yang meng-genggam pedang terasa seperti lumpuh. Bahkan hampir saja
pedang itu terlepas dari genggaman. Karuan saja hal ini membuat Patila terkejut
bukan kepalang. Dan sebelum perasaan ter-kejutnya hilang, tangan Raksagala
telah ber-gerak cepat menepak ke arah dada. Rekan Satrana ini
berusaha sedapat-dapatnya
mengelak, tapi.... Plakkk...!
Pelan saja kelihatannya tangan
Raksagala menepak sasaran, tapi akibat yang diterima Patila tidak sesederhana itu. Tubuhnya
langsung terjengkang ke
belakang seperti diseruduk kerbau
liar. Ada suara keluhan
tertahan tersangkut di
tenggorokannya. Berbareng terjengkangnya tubuh Patila,
Raksagala mengayunkan kakinya ke
arah perut Satrana. Menilik gerakannya, tidak pantas bila disebut sebuah
tendangan. Karena, sama sekali tidak terlihat kekerasannya. Berbareng dengan
ayunan kaki, laki-laki berwajah pucat ini segera melepas cekalannya.
Tapi kenyataan yang terjadi
betul-betul mengejutkan. Tubuh Satrana terpental ke belakang dan jatuh
bergulingan di tanah ketika kaki murid Sawungrana itu tepat pada
sasarannya. Anehnya, kedua orang itu jatuh di tempat yang berdekatan.
Dengan sikap tenang yang
mengagumkan, Raksagala menghampiri dua orang murid Perguruan Belut Putih yang tengah
merangkak bangun.
“Kali ini kalian kuampuni!” kata
Raksagala penuh wibawa. “Anggap saja ini sebagai pelajaran! Tapi, ingat! Bila
kujumpai kalian berbuat seperti ini lagi, jangan harap akan kuampuni!”
Satrana dan Patila sama sekali
tidak menyahuti ucapan laki-laki berwajah pucat itu. Hanya saja, sepasang mata
mereka menyorot penuh dendam ke arah wajah Raksagala.
“Cepat kalian menyingkir, sebelum pendirianku berubah...!” ujar
Raksagala lagi. Tapi kali ini dengan nada lebih keras dari sebelumnya.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Satrana
dan Patila segera bangkit
berdiri, lalu berlari meninggalkan tempat itu. Gerakan mereka terlihat
menggelikan. Maklum, rasa sakit yang mendera belum sepenuhnya lenyap. Seketika,
kedua orang itu lari dengan langkah tertatih-tatih.
Raksagala mengikuti kepergian
kedua orang itu dengan pandangan matanya. Baru setelah tubuh kedua orang itu
lenyap ditelan jalan, perhatiannya beralih pada Galuh. Tanpa sadar gadis
berpakaian biru itu melangkah mundur. Meskipun tahu kalau laki-laki berwajah
pucat itu telah menolongnya, tapi dia masih takut. Tidak heran, sebab
pengalaman yang diterima-nya kali ini benar-benar membuatnya terpukul.
“Tenanglah, Nisanak. Percayalah..., aku bukan orang jahat,” ujar Raksagala seraya
tersenyum lebar.
Laki-laki berwajah pucat ini bisa
memaklumi ketakutan yang melanda hati gadis berpakaian biru langit itu. Jadi, dia tidak merasa tersinggung karenanya.
Dan untuk tidak membuat Galuh
lebih takut lagi, Raksagala tidak langsung bergerak menghampiri. Pemuda itu tetap
berdiri diam di tempat semula. Sementara, sepasang matanya menatap tajam wajah
gadis berpakaian biru langit itu.
Diam-diam sebuah perasaan kagum menyelinap di dalam hati
laki-laki berwajah pucat itu. Wajah Galuh ternyata begitu cantik. Kulitnya putih,
halus, dan mulus. Bibirnya
berbentuk indah, dan berwarna
merah segar. Dadanya padat dan membusung, di balik pakaiannya yang berwarna
biru langit.
“Namaku Raksagala. Aku datang
dari tempat yang amat jauh,” kata laki-laki berwajah pucat itu memperkenalkan
diri. Dia tidak lagi peduli pada sikap diam yang ditunjukkan Galuh.
“Kalau boleh kutahu, apa nama
desa ini, Nisanak?”
“Kali Asem...,” sahut Galuh
setelah beberapa saat lamanya terdiam.
Sikap Raksagala yang sopan dan
tatapan matanya yang tidak liar, membuat keberanian gadis itu mulai timbul.
Walaupun diakui, masih ada sedikit perasaan takut di hatinya melihat wajah
Raksagala yang begitu pucat. Sepertinya, sama sekali tidak berdarah. Bahkan
bukan hanya kulit wajahnya saja, tapi juga kulit tubuhnya.
“Kali Asem...,” gumam Raksagala
seraya mengerutkan keningnya. “Kalau begitu aku tidak salah alamat. Boleh
bertanya sekali lagi, Nisanak?”
Galuh menganggukkan kepala.
“Benarkah di desa ini tempat
Perguruan Belut Putih?” tanya Raksagala lagi.
Memang sebelum meninggalkan
gurunya, kakek bermata picak itu telah memberitahukan letak Perguruan Belut
Putih.
Seketika itu juga wajah Galuh
yang semula sudah mulai tenang, memucat kembali. Tampak jelas kalau pertanyaan
yang diajukan Raksagala
membuatnya takut. Dan ini tentu
saja terlihat oleh Raksagala. Perasaan heran pun ber-kecamuk dalam hatinya.
Apa-lagi, ketika gadis berpakaian biru langit itu malah melangkah mundur
ketakutan.
“Tenanglah, Nisanak. Sudah
kukatakan tadi, aku bukan orang jahat. Sebaliknya, malah aku membenci orang
jahat seperti kedua orang yang telah mengganggumu tadi. O, ya. Siapa nama-mu?”
“Galuh...,” sahut gadis
berpakaian biru langit itu.
“Galuh? Sebuah nama yang bagus,”
puji Raksagala.
“Mengapa kau bisa berada di sini
bersama mereka?” tanya Raksagala lagi.
Dapat dibayangkan, betapa
kagetnya hati Raksagala tatkala melihat tanggapan Galuh atas pertanyaan yang diajukannya. Gadis berpakaian biru langit itu malah
berubah pucat wajahnya. Bukan hanya itu saja. Mendadak saja, dia berlari
meninggalkannya.
“Ayah....”
Sempat terdengar oleh telinga
Raksagala yang tajam, gumam kegelisahan yang keluar dari mulut Galuh.
Melihat hal yang sama sekali
tidak disangka ini, Raksagala menjadi kebingungan sejenak. Sepasang matanya
menatap penuh ketidak-mengertian pada sosok tubuh yang kian
menjauh. Sama sekali tidak diketahuinya kalau pertanyaannya mengingatkan gadis
itu akan
nasib ayahnya.
Semula, Raksagala membiarkan
Galuh terus berlari meninggalkannya. Tapi begitu teringat kalau ada kemungkinan
kedua orang murid Perguruan Belut Putih tadi akan mencegat perjalanan Galuh,
akhirnya diputuskan untuk mengikutinya.
Raksagala kini mengikuti dari
jarak yang agak jauh. Sengaja tidak berusaha membarengi, karena tidak ingin
Galuh semakin ketakutan. Raksagala tahu, gadis berpakaian biru langit itu pasti
masih merasa takut padanya.
***
Galuh terus berlari mengerahkan
seluruh kemampuan yang dimiliki. Perasaan khawatir yang amat sangat akan
keselamatan ayahnya, membuat gadis berpakaian biru langit ini seperti tidak
pemah merasa lelah. Padahal, napasnya sudah terengah-engah.
Tak lama kemudian, rumahnya pun
sudah terlihat jelas. Dan betapa gembira hati Galuh tatkala melihat sosok tubuh yang amat
dikenalnya tengah melangkah tertatih-tatih keluar dari pintu yang sudah tidak
berdaun lagi. Dia memang menuju rumahnya.
“Ayah...!”
Galuh tidak kuasa lagi menahan
perasaannya. Gadis itu cepat berlari seraya mengembangkan kedua lengannya. Lega
hatinya ketika melihat ayahnya ternyata selamat.
“Galuh...!”
Ki Wanara berseru tak kalah
keras. Aneh! Mendadak saja kakek berpakaian putih ini mampu berlari menyongsong kedatangan putrinya. Dalam cekaman perasaan
gembira, kakek ini sampai melupakan rasa sakitnya.
Tubuh ayah dan anak itu
berpelukan erat di tengah-tengah jalan. Sementara Raksagala yang mengikuti sejak
tadi dari kejauhan, segera melangkahkan kakinya berjalan biasa.
“Kau tidak apa-apa, Galuh?” tanya
Ki Wanara seraya melepaskan pelukan pada putrinya. Ditatapnya sekujur tubuh
gadis berpakaian biru langit itu lekat-lekat untuk melihat sendiri
keadaannya.
“Tidak, Ayah,” Galuh
menggelengkan kepala. “Ada orang yang telah menolongku.”
“Ah...! Syukurlah kalau begitu!”
sahut Ki Wanara gembira. “Mana orangnya...? Perkenal-kanlah pada Ayah. Ayah
ingin mengucapkan terima kasih padanya.”
Ucapan ayahnya seketika membuat
Galuh menyadari, betapa tidak pantas sikapnya tadi terhadap penolongnya. Ucapan
terima kasih sebagai basa-basi saja tidak dilontarkan.
“Diakah orangnya...?” tanya Ki
Wanara lagi. Kakek berpakaian putih ini memang
mengedarkan pandangannya begitu tidak mendengar
jawaban dari mulut putrinya.
Galuh menoleh ke arah yang
ditunjukkan ayahnya. Dan seketika itu pula jantungnya berdetak kencang. Dugaan
ayahnya ternyata
tepat. Orang yang tengah berjalan
pelan menuju ke tempatnya adalah Raksagala, yang telah menolongnya.
Perlahan-lahan kepala Galuh
terangguk. “Mari kita hampiri dia....”
Setelah berkata demikian, Ki
Wanara segera meraih tangan Galuh. Dan dengan setengah memaksa, ditariknya
tubuh anaknya mendekati Raksagala. Sementara, Raksagala yang tentu saja melihat
hal itu, bergegas menghampiri.
“Kaukah orang yang telah
menyelamatkan putriku, Anak Muda?” tanya Ki Wanara setelah dekat, di depan
Raksagala.
“Ah...! Hanya kebetulan aku lewat
saja, Ki. Lagi pula, sudah merupakan kewajiban bagi kita untuk saling
tolong-menolong.”
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Anak Muda,” ucap kakek berpakaian putih itu. “Tapi saranku, cepatlah kau pergi
dari sini.”
“Hehhh...?! Kenapa begitu, Ki?” tanya,
Raksagala heran mendengar
saran yang dianggapnya aneh
itu.
“Ah...! Kau rupanya belum pemah
mendengar tentang Perguruan Belut Putih, Anak Muda.” Nada suara kakek
berpakaian putih itu bernada keluhan.
“Memangnya, ada apa dengan
perguruan itu, Ki?” tanya Raksagala ingin tahu. “Aku memang tengah mencari-cari
perguruan itu.”
“Kau?! Mencari-carinya? Untuk
apa?!” tanya W Wanara agak keras dengan sikap mulai sedikit curiga.
Raksagala tahu kakek berpakaian
putih ini mulai merasa curiga padanya. Dia yakin kalau tidak memberitahukan
masalahnya, kecurigaan kakek ini akan semakin bertambah. Maka diputuskan untuk
menceritakan sejujurnya. Lagi pula, sekali lihat saja bisa diketahuinya kalau
kakek ini bukan orang berbahaya. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
“Aku mendapat wewenang penuh dari
guruku untuk mengatur dan mengarahkan Perguruan Belut Putih ke jalan yang
benar. Karena, selama beberapa bulan belakangan ini dia selalu mendapat firasat
buruk mengenai perguruannya,” jelas Raksagala sejujurnya.
Ki Wanara mengerutkan alisnya.
Sementara sepasang matanya menatap aneh ke arah wajah Raksagala.
“Maafkan aku, Anak Muda. Bukannya
aku tidak mempercayai ucapanmu. Tapi seingatku, tidak ada murid Perguruan Belut
Putih yang mempunyai wajah sepertimu. Aku kenal betul wajah-wajah mereka.”
“Aku memang tidak menjadi murid
Perguruan Belut Putih secara langsung, Ki,” tambah Raksagala cepat memperbaiki
ucapan sebelumnya.
“Heh?!” dahi Ki Wanara berkemyit
Laki-laki tua itu merasa bingung
bukan main mendengar ucapan yang saling bertolak belakang itu.
“Aku yang sudah menjadi tuli,
atau kau yang memang mengada-ada, Anak Muda? Kalau aku
tidak salah dengar, kau mengaku
sebagai murid Ketua Perguruan Belut Putih. Tapi, kini kau malah menyangkal.
Tidakkah itu membingung-kan? Tolong jelaskan, Anak Muda.”
Raksagala menarik napas
panjang-panjang, lalu menghembuskannya kuat-kuat. Dia tidak langsung menjawab
pertanyaan itu, tapi malah tercenung beberapa saat lamanya.
“Kalau dipikir-pikir, memang
sepertinya membingungkan, Ki,” kata Raksagala hati-hati. “Tapi, itulah kenyataannya. Aku memang
menjadi murid Ketua Perguruan Belut Putih, namun bukan murid perguruan itu.”
Semakin dalam kernyit yang timbul
di dahi Ki Wanara. Rupanya sulit baginya untuk mencerna ucapan Raksagala.
“Jadi..., kau ini murid gelap?”
duga kakek berpakaian putih ini sekenanya.
Raksagala terdiam, tidak langsung
men-jawab. Mendadak dia teringat benda pemberian gurunya. Maka, buru-buru
dikeluarkannya.
“Aku tidak tahu, bagaimana menjelas-kannya,
Ki. Tapi, guruku memberikan tongkat ini. Katanya, dengan tongkat ini di
tanganku aku mempunyai wewenang penuh untuk membenahi semua kericuhan di Perguruan
Belut Putih, jika memang-ada kerusuhan di sana.”
“Ya, Tuhan..!”
Terdengar seruan kaget dari mulut
Ki Wanara. Sepasang mata kakek berpakaian putih itu menatap tanpa berkedip pada
tongkat
pendek bergagang permata
berkilauan itu. Raut wajah, maupun sorot matanya menyiratkan keterkejutan yang
amat sangat.
“Jadi.., jadi kau murid... Ki
Sawungrana...?” Sepasang bibir yang semula hanya berkemik-
kemik akhirnya mampu melontarkan
ucapan. “Kau.... Kau mengenal guruku, Ki?” kini
ganti Raksagala yang merasa
terkejut “Mengenalnya?” Ki Wanara tersenyum pahit
“Tidak saja mengenalnya. Aku
adalah pelayan kepercayaannya, dan merupakan orang yang paling dekat dengannya.
Setiap ada masalah, akulah orangnya yang paling dulu diberi-tahunya. Namaku
Wanara. Apakah dia tidak pernah bercerita tentang diriku?”
Raksagala menggeleng.
“Guru amat tertutup. Dia tidak
pernah bercerita apa-apa padaku,” sahut Raksagala setengah mengeluh.
“Sungguh tidak kusangka. Padahal,
dulu dia selalu terbuka pada orang yang dipercayanya,” desah Ki Wanara penuh
rasa tidak percaya. Sementara Galuh yang sama sekali tidak tahu apa apa, hanya
diam saja mendengarkan.
“Bisa kau ceritakan di mana dia
kini berada? Sudah lama sekali dia menghilang tanpa berita sepotong pun. Semula
kuduga ada sesuatu yang terjadi pada dirinya. Itulah sebabnya aku pergi
meninggalkan Perguruan Belut Putih dengan membawa Galuh yang baru berumur
beberapa bulan. Syukurlah..., kalau dia masih hidup....”
Raksagala menghela napas berat.
Wajahnya
pun berubah murung. Pertanyaan
mengenai gurunya itulah yang menyebabkannya demikian. Bagaimana keadaan gurunya
kini? Bisakah pertarungan menghadapi Barong Segara yang lihai itu
dimenangkannya? Berbagai macam pikiran berkecamuk di benak pemuda itu.
Ki Wanara menunggu penuh
kesabaran. Menilik dari sikap Raksagala yang mendadak berubah murung begitu ditanya tentang gurunya, dia yakin pasti ada berita
buruk yang akan didengarnya. Dan kini hati kakek ber-pakaian putih ini berdebar
tegang.
Karena tahu kalau kakek ini
adalah orang kepercayaan gurunya, tanpa ragu-ragu lagi Raksagala pun menceritakan semua yang
diketahuinya.
“Entah bagaimana sekarang nasib
beliau, aku tidak tahu...,” desah Raksagala mengakhiri ceritanya. “Aku murid
durhaka yang hanya mementingkan diri sendiri”
“Hentikan semua ucapan itu,
Raksagala!” bentak Ki Wanara keras. “Aku pun akan berbuat hal yang serupa
dengan Sawungrana jika mengalami hal itu. Dan semua orang yang berpikiran
waras, dan tidak mementingkan diri sendiri pun pasti akan berbuat seperti yang
dilakukan gurumu itu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kau
tahu dengan selamatnya dirimu, aku yakin dia akan tenang di alam kuburnya!”
Raksagala terdiam.
“Sejak menghilangnya Ki
Sawungrana, Per-guruan Belut Putih mulai guncang. Masing-
masing murid kepala, berebut
ingin menjadi ketua. Perpecahan pun timbul, sehingga Ketua Perguruan Belut
Putih berganti-ganti. Kini yang menjadi ketua adalah Kalasura, seorang yang
memiliki watak tidak baik.”
Ki Wanara menghentikan ceritanya
sejenak untuk mengambil napas dan mencari kata-kata baru.
“Di bawah pimpinannya, Perguruan
Belut Putih dibawa ke jurang kehinaan. Segala macam kejahatan dihalalkan. Tidak
hanya di desa ini saja. Tapi juga ke semua desa sekitarnya. Kini Perguruan Belut
Putih jadi ditakuti semua orang.”
“Apakah semua murid Perguruan
Belut Putih telah menjadi jahat, Ki?” tanya Raksagala ingin tahu.
“Entahlah...,” Ki Wanara
menggelengkan kepalanya. “Tidak ada salahnya jika kau menyelidikinya,
Raksagala.”
Raksagala menganggukkan kepala
mem-benarkan. Tapi sesaat kemudian dahinya ber-kernyit ketika teringat sesuatu
yang mem-buatnya agak heran.
“Ada suatu hal yang membuatku
heran, Ki?” tanpa ragu-ragu pemuda berwajah pucat ini mengutarakan ganjalan
hatinya.
“Katakanlah, Raksagala.”
“Apakah Ki Sawungrana tidak
mengajar-kanmu ilmu silat?!” tanya Raksagala langsung.
Memang, begitu tahu kalau kakek
ber-pakaian putih ini adalah orang kepercayaan
gurunya, Raksagala jadi heran
kakek itu dapat dipecundangi oleh murid-murid rendahan Per-guruan Belut Putih.
“Aku yang tidak mau, Raksagala.
Kau tahu, aku benci kekerasan....”
“Ayah...! Lihat..!”
Karuan saja teriakan keras Galuh
membuat Ki Wanara dan Raksagala terkejut. Cepat mereka mengalihkan pandangan ke
arah yang ditunjuk gadis itu. Dan memang, tampak segerombolan orang yang
berpakaian abu-abu bergerak ke arah mereka.
“Murid-murid Perguruan Belut
Putih...,” desah Ki Wanara dan Raksagala berbarengan.
Raksagala sadar, Ki Wanara dan
Galuh bukan lawan mereka. Maka, dia segera
melangkah maju, dan berdiri di depan dengan sikap melindungi mereka. Menilik
dari gerak-geriknya, Raksagala tahu kalau kedatangan orang-orang itu tidak
bermaksud baik. Maka, dia bersikap waspada.
Semakin lama jarak antara mereka
semakin tampak dekat, Raksagala menghitung dengan pandangan matanya. Jumlah
mereka tak kurang dari tiga puluh orang! Di antara mereka, tampak Satrana dan
Patila.
Tak lama kemudian, rombongan
Perguruan Belut Putih itu pun sudah berada dalam jarak tiga tombak di hadapan
Raksagala.
“Inikah orang yang kalian
maksudkan itu?” tanya seorang laki-laki bertubuh kurus kering seperti cecak.
sambil menudingkan telunjuknya
pada Raksagala.
Suaranya bernada menghina. Jelas,
dia tidak memandang sebelah mata pun pada laki-laki berwajah pucat itu.
Hampir berbareng Satrana dan Patila
mengangguk.
“Benar, Kakang Taraji,” sahut
Patila.
Laki-laki bertubuh kurus kering yang
ternyata bernama Taraji merayapi sekujur wajah dan tubuh pemuda di hadapannya.
“Ha ha ha...!”
Mendadak Taraji tertawa bergelak.
Tawanya benar-benar mengandung nada penghinaan.
“Diam...!”
Raksagala yang merasa tersinggung langsung membentak. Keras bukan main
suaranya, karena disertai pengerahan tenaga dalam tinggi. Tanpa sadar, Taraji
menghentikan tawanya. Rasa terkejut yang amat sangat membayang jelas di
wajahnya. Dia merasakan guncangan
keras pada dadanya
seiring keluarnya
bentakan dari mulut pemuda
berwajah pucat itu.
Bukan hanya Taraji saja yang
terkejut. Semua murid Perguruan Belut Putih juga terkejut bukan main. Dada
mereka bergetar hebat dan kuping pun terasa berdengung. Bukan hanya itu saja.
Sepasang kaki mereka pun tanpa dapat dicegah, mendadak oleng.
***
6
Kini Taraji baru percaya pada
cerita Satrana dan Patila. Ternyata orang yang bernama Raksagala itu adalah
lawan yang amat tangguh, dan bukan hanya bualan belaka. Kini telah
dibuktikannya sendiri kekuatan tenaga dalam yang dimiliki pemuda berwajah pucat
itu. Dalam hati, laki-laki bertubuh kurus kering itu mengakui kalau tenaga dalamnya sendiri
belum tentu mampu menyamai tenaga dalam calon lawannya.
Meskipun begitu, Taraji sama
sekali tidak menampakkan keterkejutannya. Wataknya memang angkuh, dan selalu
mengagungkan kemampuannya sendiri. Jadi mana mau dia memperlihatkan
kegentarannya pada seorang pemuda yang dianggapnya baru kemarin sore? Apalagi di hadapan sekian banyak adik seperguruannya.
“Keparat buduk!” maki Taraji
keras. “Berani benar kau membentakku?! Apa kau sudah bosan hidup?”
“Aku bukan hanya membentak saja.
Tapi juga akan menghukummu dan semua murid Perguruan Belut Putih yang
menyeleweng!” tandas Raksagala tegas.
“Apa?!” Taraji
membelalakkan sepasang
matanya. “Apa aku tidak salah dengar?! Sudah
gilakah kau, Keparat?!”
“Terserah apa tanggapanmu
terhadapku, Taraji!” Raksagala mencoba bersikap tenang. “Tapi yang jelas, aku
mempunyai wewenang penuh untuk mengurus Perguruan Behit Putih.”
Setelah berkata demikian, Raksagala mencabut keluar tongkat
pusaka pemberian gurunya. Dan secepat tongkat itu terlihat, secepat itu pola
semua wajah murid Perguruan Belut Putih dilanda perasaan terkejut yang amat
sangat.
“Kau...?! Dari mana kau dapatkan
benda itu?!” tanya Taraji gugup.
Tentu saja laki-laki kurus itu
mengenal tongkat di tangan Raksagala. Sewaktu Perguruan Belut Putih masih
dipimpin Ki Sawungrana, dia telah menjadi murid tingkat dua. Waktu itu, usianya
masih delapan belas tahun. Kini, dia berusia tiga puluh lima tahun lebih.
Kedudukannya pun kini telah menjadi murid kepala. Dan Kalasura yang dulu
menjadi murid kepala, kini
telah menjadi Ketua Perguruan Belut Putih. Dan
atas perintahnya, Taraji harus menangkap pengacau yang telah mencelakai Satrana
dan Patila.
“Aku mendapatkannya dari guruku.
Dia adalah Ketua Perguruan Belut Putih yang sebenarnya. Namanya, Ki
Sawungrana!” tegas dan jelas kata-kata yang keluar dari mulut Raksagala. Dan
memang hal itu disengaja, agar semua murid Perguruan Belut Putih mendengar
ucapannya.
Pengaruh ucapan itu terbukti
memang luar biasa. Kontan di antara murid-murid Perguruan Belut Putih terjadi
kegaduhan. Memang ada di antaranya yang belum pernah melihat tongkat itu. Tapi,
paling tidak telah mendengar ciri-cirinya. Maka begitu melihatnya, mereka
ter-kejut bukan main. Seketika itu pula sebagian besar kepala murid Perguruan
Belut Putih merunduk memberi hormat Hanya sebagian kecil saja yang tidak
menundukkan kepala. Dan Taraji terhitung yang sebagian kecil itu.
“Bohong! Kalian jangan
terpengaruh cerita bohongnya! Tongkat pusaka itu hilang, dan sudah pasti pemuda
ini yang mencurinya!” Taraji yang mencium gelagat tidak baik segera berusaha
memojokkan Raksagala.
Usaha yang dilakukan Taraji
ternyata cukup membuahkan hasil. Kepala yang sebagian besar sudah tertunduk,
kembali terangkat naik. Ya, apa yang dikatakan kakak seperguruan mereka, itu benar. Bukan tidak mungkin kalau Raksagala adalah pencurinya.
Tapi Raksagala yang sudah melihat
masih banyak murid Perguruan Belut Putih yang menghormati tongkat pusaka, mana
mungkin diam saja? Segera tongkat itu diacungkan tinggi-tinggi ke atas
kepalanya.
“Wahai semua murid Perguruan
Belut Putih, dengarlah...! Ki Sawungrana telah memberi tongkat ini padaku. Dia
memberi wewenang penuh padaku untuk membenahi semua penyelewengan yang terjadi di perguruan.
Kalian semua dengar?!”
“Keparat!” maki Taraji begitu melihat
kepala-kepala yang tadi terangkat, mulai tertunduk lagi. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, dia segera mengulapkan tangan pada sisa murid yang tidak
menundukkan kepala.
“Bunuh pencuri itu...! Dan ambil
tongkat-nya...!” perintah laki-laki bertubuh kurus kering itu.
Sambil berkata demikian, tangan
kanannya bergerak.
Singgg...!
Sinar berkilauan nampak berpendar
ketika Taraji mencabut goloknya. Dan secepat senjata itu terhunus, secepat itu
pula diayunkan ke leher Raksagala.
Pada saat yang bersamaan,
serangan murid-murid Perguruan Belut Putih yang lain datang pula menyerbu. Di
tangan mereka semua tergenggam senjata terhunus.
Tapi Raksagala sama sekali tidak
menjadi gugup melihat semua serangan itu.
“Murid-murid Perguruan Belut
Putih yang masih menghargai tongkat pusaka ini, lihatlah! Aku, mewakili Ki
Sawungrana akan memberi hajaran pada mereka yang telah menyeleweng!”
Ucapan itu membuat semua murid
Perguruan Belut Putih mengangkat kepala. Mereka ingin tahu, bagaimana tindakan Raksagala yang menurut
pengakuannya adalah wakil Ki Sawungrana!
Melihat ucapannya didengar,
Raksagala jadi
tambah semangat. Maka diputuskan
untuk mempertunjukkan semua kelihaiannya. Dan begitu semua serangan datang,
laki-laki ber-wajah pucat itu segera bergerak mengelak. Lincah laksana kera, dan cepat laksana
bayangan, tubuhnya berkelebatan di celah-celah hujan serangan lawan.
Taraji dan adik-adik
seperguruannya ter-kejut bukan main melihat serangannya berhasil dielakkan.
Tapi, tentu saja mereka tidak putus asa. Malah sebaliknya, mereka kian ganas
menyerang.
Raksagala yang memang sengaja
ingin mempertunjukkan kelihaiannya, sengaja tidak melakukan perlawanan. Dia
hanya mengelak terus-menerus. Dengan ilmu meringankan tubuh yang memang berada
jauh di atas lawan-lawannya, bukan merupakan hal sulit bagi laki-laki berwajah
pucat itu untuk menghindari serangan.
Jurus demi jurus berlalu.
Sehingga, tak terasa dua puluh lima juris telah terlewat. Namun selama itu,
tidak ada satu pun serangan Taraji dan adik-adik seperguruannya yang mengenai sasaran. Jangankan mengenai,
menyerempet pun tidak.
“Cukup...!”
Terdengar seruan keras dari mulut
Raksagala. Dan begitu
ucapannya selesai, gerakan
laki-laki berwajah pucat ini tiba-tiba berubah. Tubuhnya berkelebat dengan kecepatan yang sukar diikuti mata
tiap lawan-
nya. Yang jelas, satu demi satu
tubuh-tubuh murid Perguruan Belut Putih bertumbangan. Rintihan kesakitan terdengar mengiringi robohnya tubuh-tubuh itu ke
tanah. Senjata-senjata yang digenggam pun berpentalan tak tentu arah.
Dalam sekejap saja, murid-murid
Perguruan Belut Putih itu sudah tidak ada yang berdiri lagi. Semua telah roboh
bergelimpangan di tanah sambil merintih-rintih. Kini hanya tinggal Taraji
seorang diri yang masih mampu berdiri. Dan memang, Raksagala sengaja
menyisa-kannya.
“Bagaimana, Taraji?! Masih tidak
percaya kalau aku adalah murid Ki Sawungrana?!” tanya Raksagala lagi. Ada nada
sindiran dalam suaranya.
“Pencuri busuk! Kau bukan hanya
mencuri tongkat pusaka kami, tapi juga ilmu-ilmu perguruan kami!”
Dengan nada keras, Taraji terus
memaki. Maksudnya untuk membuat murid-murid
Perguruan Belut Putih yang belum menyerang untuk ikut membantu.
“Kawan-kawan, serbu...!”
Tapi Taraji kecelik. Tidak ada
seorang pun teman-temannya yang mematuhi perintahnya. Mereka semua diam saja,
berpura-pura tidak mendengar sama sekali.
“Anjing kurap!” geram laki-laki
bertubuh kurus kering ini. “Setelah pencuri busuk ini kubereskan, kalian semua
akan mendapatkan
ganjaran!”
Begitu kata-katanya selesai,
Taraji segera melompat menerjang Raksagala. Golok di tangannya
ditusukkan cepat ke arah dada laki-laki berwajah pucat itu. Ada suara mendesing
yang cukup kuat mengiringi tibanya serangan.
Raksagala diam-diam merasa geli
mendengar penegasan Taraji. Sewaktu mengeroyok bersama adik-adik seperguruannya
saja, dia tidak mampu merobohkan. Apalagi sekarang hanya seorang diri.
Raksagala bersikap tenang.
Ditunggunya sampai serangan itu bergerak semakin dekat. Dan ketika telah berada
dalam jangkauan, baru dia bergerak. Enak saja tangannya diulurkan. Sepertinya
tanpa mengeluarkan tenaga sama sekali, tapi hebatnya....
Tappp...!
Mata golok Taraji yang terlihat
mengkilap mempertunjukkan ketajaman, berhasil di-tangkap
Raksagala. Taraji kaget bukan main! Dan belum sempat berbuat sesuatu, laki-laki
berwajah pucat itu cepat membetotnya. Keras bukan main gerakannya. Terdengar
suara bergemeletuk ketika sambungan pergelangan bahu kanan Taraji terlepas.
Taraji menggigit bibir
keras-keras dalam upayanya menahan rasa sakit yang mendera. Keringat
sebesar-besar biji jagung bermunculan di wajahnya. Tapi sedikit pun tidak ada
keluhan yang keluar dari mulutnya. Keangkuhannyalah yang melarang dirinya
mengeluh.
Tentu saja tidak hanya itu yang
dialami Taraji. Seiring terlepasnya sambungan per-gelangan bahu kanan, tubuhnya
yang tengah berada di udara langsung tertarik ke depan. Di saat itulah, kaki
kanan Raksagala meluncur cepat ke arah perut
Bukkk...! “Hugkh...!”
Kali ini Taraji tidak mampu
menahan keluhan yang keluar. Tendangan itu meskipun terlihat pelan, ternyata
keras bukan main. Rasa mual yang amat sangat seketika melanda sekujur badannya. Dan begitu Raksagala
melepaskan cekalan pada goloknya, tubuh Taraji langsung roboh ke tanah. Suara
berdebuk keras terdengar begitu tubuh itu menyentuh tanah.
Taraji memang keras hati. Tanpa
mem-pedulikan rasa sakit, dia berusaha bangkit. Dan memang pada kenyataannya
dia gagal. Seringai kesakitan tersungging
di mulutnya ketika tubuhnya kembali terjatuh.
***
Raksagala sama sekali tidak
melakukan serangan lanjutan. Laki-laki berwajah pucat ini hanya menatap wajah
Taraji lekat-lekat
“Bagaimana, Taraji? Masih ingin
melanjut-kan lagi,” tanya Raksagala kalem.
Namun Taraji sama sekali tidak
menyahuti. Dia tengah sibuk mengusir rasa sakit yang melanda.
Tapi Raksagala sama sekali tidak
merasa tersinggung karena pertanyaannya sama sekali tidak dijawab. Sesaat
lamanya suasana yang semula hingar-bingar oleh dentang senjata beradu, jadi
kembali sepi seperti semula. Kini yang terdengar hanyalah rintihan kesakitan
dari mulut-mulut murid Perguruan Belut Putih yang terluka.
“Hi hi hi...!”
Mendadak terdengar suara tawa
mengikik. Tawa yang kecil panjang tapi melengking nyaring itu mirip tikus
mencicit. Tapi hebatnya, suara tawa itu mengandung pengaruh luar biasa!
Akibatnya, telinga terasa berdengung sakit dan kedua kaki menggigil!
Di antara mereka semua, hanya
Raksagala saja yang sama sekali tidak terpengaruh tawa itu. Hal ini karena
tingkat tenaga dalam laki-laki berwajah pucat ini sudah amat tinggi. Hanya
saja, tak urung wajahnya tampak memucat! Raksagala kenal betul, siapa pemilik
suara tawa itu. Siapa lagi kalau bukan salah satu dari Penghuni Istana Hantu!
Dan men-dengar nada suaranya, laki-laki berwajah pucat itu tahu kalau yang
datang adalah Durgasari.
Belum lagi gema suara itu lenyap,
sekitar tiga tombak di hadapan Raksagala telah berdiri seorang nenek berpakaian
hijau. Rambutnya putih panjang terurai tak terurus. Di tangannya melilit sebuah
gelang berwarna merah darah. Dan gelang yang sama pun menempel di daun
telinganya. Sepasang matanya yang kecil dan
mcncorong kehijauan nampak jadi kian
menyeramkan, karena terletak di raut wajah keriput berbentuk bulat telur.
Meskipun sudah menduga
sebelumnya, tapi tak urung Raksagala terperanjat juga melihat kehadiran salah
seorang Penghuni Istana Hantu itu.
“Jangan harap untuk bisa selamat
setelah keluar dari Istana Hantu, Bocah Keparat!” tegas nenek berpakaian hijau
itu keras. Suaranya terdengar melengking nyaring menyakitkan telinga.
Raksagala sadar, kalau kali ini
tidak bisa main-main lagi. Lawan yang dihadapinya sangat tangguh, sementara di
sekitarnya banyak orang yang tidak tahu apa-apa. Dia tidak ingin kalau mereka
yang tidak tahu apa-apa akan menjadi korban bila terjadi pertarungan di situ.
Maka laki-laki berwajah pucat itu segera bergerak melesat dari situ.
Cepat bukan main gerakan
Raksagala. Hal ini tidak aneh, karena murid kesayangan Sawungrana ini telah
mengerahkan seluruh kemampuan ilmu meringankan tubuhnya.
Hanya dalam beberapa langkah saja, tubuhnya sudah berada dalam jarak belasan
tombak dari tempat semula.
Cepatnya gerakan yang dilakukan Raksagala, tapi masih lebih cepat
lagi gerakan Durgasari. Begitu melihat laki-laki berwajah pucat melesat, tubuh
nenek berpakaian hijau ini langsung melenting ke depan. Setelah bersalto
beberapa kali di udara, kedua
kakinya segera mendarat di tanah. Dan kini dia telah berada di depan Raksagala.
“Sudah kukatakan, jangan harap
bisa lolos dari tanganku!” tandas Durgasari tegas. Sorot mata maupun wajah
nenek berpakaian hijau ini menyiratkan sinar kebengisan.
“Aku tidak akan melarikan diri,
Durgasari!” sahut Raksagala mantap seraya memanggil nama nenek berpakaian hijau
itu. Padahal di Istana Hantu waktu itu dia biasa memanggilnya dengan sebutan
Nyi Durgasari. “Tapi aku hanya mencari tempat yang lapang untuk bertarung!”
“Alasan!” sergah Durgasari kasar.
“Kau tidak berbeda dengan gurumu yang telah menjadi bangkai itu. Sama-sama
pengecut!”
Raksagala ternganga mendengar
perkataan nenek itu. Bukan makiannya, tapi penjelasan nenek itu yang mengatakan
gurunya telah men-jadi bangkai. Sungguhpun dia telah mempunyai dugaan kuat
kalau gurunya kemungkinan besar akan tewas, tapi tetap saja berita yang
di-dengarnya ini amat mengejutkan.
“Kau kaget kalau gurumu telah
menjadi bangkai! Kau tahu, nasib yang sama pun akan menimpamu!”
Mendadak Raksagala meraung. Rasa penyesalan yang hebat langsung
memukul hatinya. Kematian gurunya dianggap karena dirinya. Kalau saja dia tidak
melarikan diri dan bersama-sama menghadapi musuh, mungkin Sawungrana tidak akan tewas. Raksagala
merasa telah berdosa besar, dan
telah menjadi seorang pengecut!
Dari perasaan bersalah yang
menggelegak itu, menyeruak perasaan marah terhadap pembunuh gurunya. Pikirnya, salah
seorang dari pembunuh itu kini berada di depannya! Sungguh suatu hal yang
sangat kebetulan!
Sambil berteriak keras, Raksagala
melompat menerjang. Kedua tangannya yang terkembang membentuk cakar meluncur
cepat dan bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan pusar Durgasari.
Raksagala memang telah mengeluarkan seluruh tenaga dalam yang
dimilikinya dalam serangan itu. Dia memang tidak ingin bertindak kepalang
tanggung. Suara bersuitan yang cukup nyaring mengiringi tibanya serangan itu.
“Hmh...!”
Nenek berpakaian hijau itu hanya
men-dengus melihat serangan lawan. Sikapnya terlihat memandang rendah sekali.
Baru ketika serangan itu menyambar dekat, tangannya bergerak memapak dengan
sikap jari-jari tangan yang sama.
Prattt..!
Benturan keras terdengar begitu
jari-jari tangan yang sama-sama mengandung kekuatan tenaga dalam tinggi
berbenturan. Raksagala menyeringai. Tampak jelas kalau laki-laki berwajah pucat
ini merasa kesakitan. Seluruh tangannya terasa bagai lumpuh, sehingga tak mampu digerakkan lagi. Apalagi jari-jari
tangannya! Sakit dan ngilu bukan
main. Seolah-olah, jari-jari tangannya tadi bukan berbenturan dengan jari-jari
tangan seorang nenek-nenek, melainkan dengan sebatang logam yang amat kuat!
“Hi hi hi...!”
Durgasari hanya tertawa terkikih
melihat seringai yang tampak di wajah Raksagala. Melihat dari sikapnya, jelas
kalau benturan tadi sama sekali tidak berpengaruh apa-apa bagi dirinya.
Raksagala memang bukan seorang
pengecut. Meskipun sudah diketahui kalau tenaga dalamnya tidak mampu menandingi
tenaga dalam Durgasari, tapi bukan berarti harus menjadi gentar! Kata takut
atau gentar tidak ada dalam kamus hidupnya. Maka tanpa kenal takut, dia kembali
melompat menerjang.
Sambil tertawa terkikih,
Durgasari segera menyambutnya. Sesaat kemudian, kedua orang ini sudah saling
bertarung sengit. Raksagala bertarung seperti orang gila. Seluruh kemampuan yang dimiliki dikeluarkannya.
Dia hanya mempunyai dua buah pilihan. Membunuh atau dibunuh!
Tapi lawan yang dihadapinya adalah
Durgasari yang merupakan salah seorang Penghuni Istana Hantu. Kepandaian
nenek berpakaian hijau ini amat tinggi. Mungkin hanya selisih sedikit saja
dengan Barong Segara. Jangankan Raksagala, gurunya sendiri pun belum tentu bisa
mengalahkan nenek itu.
Itulah sebabnya, meskipun
Raksagala telah menyerang kalang-kabut dengan seluruh
kemampuannya, tetap saja tidak mampu mendesak Durgasari. Jangankan
mendesak, tanda-tanda akan mendesak pun tidak juga terlihat.
Hebat bukan main pertarungan
antara kedua orang itu. Suara menderu dan mencicit menyemaraki pertarungan.
Tanah terbongkar di sana-sini. Debu pun mengepul tinggi ke udara.
Raksagala menggertakkan gigi. Seluruh kemampuannya telah dikerahkan
sampai ke puncaknya, tapi ternyata tetap tak mampu juga mendesak lawannya.
Padahal, tampak jelas kalau nenek berpakaian hijau itu sama sekali belum melancarkan serangan balasan. Durgasari hanya mengelak dan
menangkis, sambil mengeluarkan tawa mengikik. Beberapa kali tubuh Raksagala
terhuyung-huyung ke belakang,
tatkala Durgasari menangkis serangannya.
Dalam waktu sebentar saja,
sepuluh jurus telah lewat. Dan selama itu, Raksagala belum juga berhasil
menyarangkan satu serangan pun di tubuh lawannya.
“Hi hi hi...! Berhati-hatilah,
Anak Muda! Sekarang aku akan balas menyerang!”
Setelah berkata demikian, mendadak gerakan Durgasari berubah. Dia
tidak lagi bersikap menunggu, tapi mulai melancarkan serangan.
Serangan Durgasari dibuka lewat
putaran
kedua tangannya di depan dada.
Hebat bukan main! Dari kedua tangan yang berputaran itu, menyeruak angin keras
yang mengandung daya tarik amat kuat.
Raksagala terperanjat, sama
sekali tidak disangka kalau ada ilmu yang mempunyai daya sedot seperti ini.
Maka bergegas kedua kakinya ditekankan ke tanah untuk bertahan dari kekuatan
yang akan menariknya ke depan.
Di saat Raksagala memasang
kuda-kuda kokoh agar tubuhnya tidak tertarik ke depan, Durgasari melompat
menerjang. Jari-jari kedua tangannya nampak mengepal, kecuali jari telunjuk
dan jari tengah yang mengejang kaku. Dan dengan bentuk jari-jari seperti
itulah, nenek berpakaian hijau ini menyerang Raksagala. Kedua tangannya
melancarkan totokan bertubi-tubi ke arah ubun-ubun dan bawah hidung laki-laki
berwajah pucat. Memang, itu adalah dua buah jalan darah kematian!
Raksagala terkejut bukan kepalang
men-dapat serangan susulan yang begitu mendadak. Diakui, perasaannya begitu
gugup. Namun laki-laki berwajah pucat itu masih sempat
menyelamatkan selembar nyawanya. Tanpa membuang-buang waktu lagi tubuhnya
segera direndahkan seraya membentuk kuda-kuda
bersilang.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan Raksagala. Pada saat yang
tepat, tangan kanannya melakukan pukulan keras ke arah dada Durgasari.
Durgasari terkejut bukan main.
Sungguh di luar dugaan kalau dalam keadaan terjepit seperti itu Raksagala mampu
mengelak. Maka, semua serangannya hanya mengenai tempat kosong. Bahkan
hebatnya, pemuda itu malah mampu balik mengancam dengan serangan yang mampu membuat isi dadanya hancur
berantakan.
Hebat dan berbahaya bukan main
serangan yang dilancarkan Raksagala. Apalagi saat itu tubuh Durgasari tengah
berada di udara. Yang lebih
membahayakan lagi, serangan
itu dilancarkan dalam jarak
dekat! Lengkaplah sudah keadaan yang membuat nenek berpakaian hijau semakin
berada dalam keadaan berbahaya. Pada kenyataannya Durgasari benar-benar seorang
tokoh luar biasa. Dengan kesempatan yang sangat sempit itu, tangan kirinya
segera digerakkan ke bawah
untuk menangkis serangan
lawan. Tapi karena tangan kirinya belum sempat ditarik pulang, maka yang
membentur tangan Raksagala adalah sikutnya.
Plakkk...!
Tubuh kedua tokoh yang usianya
berbeda jauh itu sama-sama terjajar ke belakang. Ini bukan berarti tenaga
mereka berimbang. Tapi, karena kesempatan yang hanya sedikit itu membuat tenaga dalam Durgasari tidak sepenuhnya keluar dalam
menangkis serangan.
Sebagai tokoh-tokoh tingkat
tinggi, tidak sulit bagi Raksagala dan Durgasari untuk segera memperbaiki
sikap.
Durgasari kini menggeram hebat
Hampir saja dia tewas di tangan lawannya. Tentu saja ini karena kelalaiannya.
Maka kini perempuan tua itu tidak memandang rendah lagi. Maka diputuskannya
untuk mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring, Durgasari kembali melancarkan serangan. Raksagala tahu
tenaga dalam lawan jauh lebih tinggi darinya. Maka diputuskannya untuk menghindari serangan itu. Sesaat
kemudian, kedua orang ini telah terlibat dalam pertarungan sengit.
Tapi pertarungan kali ini berbeda
dengan sebelumnya. Kini Durgasari telah memutuskan untuk mengerahkan seluruh
kemampuannya. Maka Raksagala-lah yang merasakan akibatnya. Tekanan-tekanan yang dilakukan nenek berpakaian hijau itu terasa
semakin berat. Meskipun seluruh kemampuan yang dimilikinya telah dikerahkan,
tetap saja dia terdesak dan terhimpit.
Tidak sampai dua puluh lima jurus, Raksagala telah terdesak. Dan
seiring semakin lamanya mereka bertempur, keadaan Raksagala semakin terdesak
hebat Nasibnya benar-benar mengkhawatirkan.
Menjelang jurus ketiga puluh,
Raksagala mencabut goloknya. Dan dengan senjata andalan di tangan, dia kembali
melakukan perlawanan gigih.
Memang setelah Raksagala menggunakan
golok, keadaannya mulai membaik.
Desakan-desakan dan tekanan yang menghimpitnya, tidak begitu terasa lagi.
Tapi itu berlangsung hanya lima
puluh jurus saja. Dan begitu memasuki jurus kelima puluh satu, kembali
Durgasari yang kini sudah bisa mengetahui permainan golok lawan, berhasil
mendesaknya.
Pada jurus yang kelima puluh satu, Durgasari melancarkan sebuah tendangan
lurus ke arah pergelangan tangan kanan Raksagala. Pemuda berwajah pucat itu
mencoba mengelak. Tapi....
Takkk!
Telak dan keras sekali tendangan
nenek berpakaian hijau itu mengenai sasaran. Tak pelak lagi, sambungan
pergelangan tangan Raksagala terlepas saat itu juga. Golok di tangannya pun
terlempar jauh.
Raksagala tahu kalau keadaannya
kini amat berbahaya. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera
dilempar ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara. Maksudnya sudah
jelas, untuk memperbaiki kuda-kudanya.
“Hmh...!”
Durgasari mendengus. Nenek
berpakaian hijau yang sudah kalap ini mana sudi membiarkan lawannya mendapatkan
kesem-patan lagi untuk memperbaiki kuda-kudanya? Begitu Raksagala melempar
tubuh ke belakang, dia segera melompat memburu seraya mengirimkan serangan-serangan maut
Raksagala terkejut bukan main.
Keadaannya kini benar-benar terhimpit. Tidak ada lagi kesempatan baginya untuk
memperbaiki kuda-kudanya. Maka begitu kedua kakinya menginjak tanah, tubuhnya langsung melenting ke belakang
untuk mencari-cari kesempatan memperbaiki kuda-kudanya.
Tapi Durgasari benar-benar tidak
akan memberi kesempatan. Dia pun melompat memburu begitu kedua kakinya
menjejak tanah. Adu kejar-kejaran yang aneh pun terjadi. Raksagala
terus-menerus melempar tubuhnya ke belakang sementara Durgasari terus
melompat memburu ke depan. Namun, sampai berapa lama Raksagala bisa bertahan
dikejar-kejar seperti itu?
Ki Wanara, murid-murid Perguruan
Belut Putih yang memihak Raksagala, dan Galuh hanya memandang dengan sinar mata
cemas. Walau tidak mampu melihat secara jelas karena cepatnya dua sosok yang
tengah bertarung, tapi mereka dapat memperkirakan dari kelebatan bayangannya.
Yang terdesak adalah kelebatan bayangan hitam. Dan itu adalah Raksagala.
Sedangkan yang mendesak adalah kelebatan bayangan hijau. Dan itu adalah lawan Raksagala yang bernama Durgasari.
Sementara itu, Taraji dan murid
Perguruan Belut Putih lain sudah tidak nampak lagi di situ. Sejak Raksagala
terlibat pertarungan, mereka semua memang sudah melarikan diri.
Di antara para penonton itu,
hanya Ki
Wanara seorang yang sudah bisa
menduga penyebab Raksagala bertarung dengan nenek berpakaian hijau itu. Dia memang telah mengerti semua, setelah Raksagala men-ceritakan
sejelas-jelasnya.
Akhirnya saat yang gawat bagi
Raksagala pun tidak bisa dielakkan lagi. Dan itu terjadi ketika tubuhnya tengah
berada di udara. Durgasari melancarkan serangan maut bertubi-tubi ke arah dada,
ulu hati, dan pusar.
Raksagala terperanjat, apalagi disadari kalau keadaannya tidak memungkinkan
untuk mengelak atau menangkis serangan. Dia hanya bisa pasrah diri pada
kenyataan sambil menunggu maut
dengan sepasang mata ter-belalak lebar.
Di saat yang amat gawat itulah
melesat cepat sesosok bayangan ungu memotong alur serangan Durgasari.
Durgasari terkejut bukan main,
tapi tak membatalkan serangannya. Akibatnya sudah bisa diduga....
Plakkk, plakkk, plakkk...!
Suara berderak keras terdengar
berkali-kali begitu kedua tangan Durgasari dan tangan sosok bayangan ungu itu
berbenturan. Seketika itu juga, tubuh keduanya terpental balik ke
belakang. Namun dengan gerakan manis dan indah, keduanya berhasil mematahkan
daya lontar masing-masing. Dan kini satu sama lain sudah mendarat ringan dan
mantap di tanah.
7
Durgasari menatap tajam sosok
bayangan ungu yang befdiri di hadapannya. Namun demikian, hatinya berdebar
tegang. Raut keterkejutan yang amat sangat tampak di wajahnya. Betapa tidak?
Sosok bayangan ungu yang kekuatan tenaga dalamnya telah membuatnya terkejut,
ternyata hanyalah seorang pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun. Tidak
salahkah yang dirasakannya tadi? Benarkah kekuatan tenaga dalam pemuda
berpakaian ungu itu demikian kuatnya? Atau tadi ada kesalahan dalam pengerahan
tenaganya?
Rasa penasaran membuat Durgasari
mem-perhatikan pemuda berpakaian ungu itu lekat-lekat. Ada satu hal yang
menarik perhatian nenek itu. Rambut pemuda itu ternyata tidak hitam seperti
rambut pemuda pada umumnya. Tapi putih. Putih keperakan lagi!
Nenek berpakaian hijau itu juga
melihat adanya sebuah guci arak yang tersampir di punggung pemuda berpakaian
ungu itu.
“Hm.... Pemuda pemabukan!” ejek
Durgasari dalam hati.
Sementara itu, pemuda berpakaian
ungu itu juga memandang nenek di depannya dengan kening agak berkerut. Sebab,
sejak tadi nenek itu seperti orang bingung saja. Matanya melotot,
namun suaranya tak terdengar.
“Siapa kau, Anak Muda Keparat?!
Mengapa mencampuri urusanku?! Apa sudah bosan hidup?!” tanya Durgasari keras setelah
puas mengamati pemuda yang telah menyelamatkan nyawa Raksagala.
“Aku Arya, seorang pengelana.
Maafkan bila aku telah mencampuri urusanmu. Tapi ketahuilah, aku tidak bermaksud
demikian. Aku hanya tidak bisa berdiam diri melihat adanya kesewenang-wenangan
di depan mataku!”
Pemuda berpakaian ungu yang
ternyata Arya alias Dewa Arak itu memang kebetulan lewat desa ini. Kemudian dia
tertarik dengan pertarungan Raksagala melawan Durgasari. Langsung dihampirinya
Ki Wanara yang sudah tidak ditemani Galuh. Gadis itu memang sejak tadi
bersembunyi di rumahnya.
Dewa Arak kemudian menanyakan
sebab-sebab pertarungan itu berlangsung. Setelah mendapat penjelasan dari Ki
Wanara, barulah dia berani turun tangan.
“Tidak usah berbasa-basi, Monyet
Kecil! Kau tahu, tidak ada ampun bagi orang yang telah berani mencampuri urusan
Durgasari! Tidak terkecuali kau! Jadi, tidak ada gunanya
meminta maaf atau ampun sekalipun!”
Dewa Arak tersenyum pahit. Dari
sikap keras yang ditunjukkan nenek berpakaian hijau itu, sudah bisa diketahui
kalau mengajaknya bicara tidak akan ada gunanya lagi.
Pertarungan tidak mungkin bisa dielakkan.
Durgasari telah mengeluarkan kata-kata bernada tantangan. Dan bukan Dewa
Arak namanya kalau nyalinya ciut hanya karena mendapat tantangan.
Raksagala adalah seorang yang
berwatak gagah dan ksatria. Yang mempunyai urusan dengan Durgasari adalah
dirinya sendiri. Bukan pemuda berambut putih keperakan yang didengarnya bernama Arya. Maka
begitu keadaan tampaknya sudah mulai memanas, dia melangkah maju.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Kisanak! Tapi, apa yang dikatakan nenek itu benar. Kau sama sekali tidak
mempunyai urusan dengan-nya. Lebih baik, kau tidak usah mem-pertaruhkan nyawa untuk membelaku,”
ucap Raksagala pada Dewa Arak.
Arya menoleh. Sepasang matanya
menatap tajam wajah Raksagala. Dewa Arak adalah seorang yang cepat tanggap. Dia
tahu, mengapa laki-laki berwajah pucat itu melarangnya. Raksagala tidak ingin dia
tewas di tangan nenek berpakaian hijau itu. Hal ini membuat Arya merasa kagum.
Dengan sendirinya, semakin besar keinginan di hatinya untuk menolong pemuda
berpakaian hitam itu.
“Maaf, Kisanak. Bukannya aku
tidak suka menuruti nasihatmu. Tapi aku pantang menolak tantangan. Aku bukan seorang pengecut!”
tandas Arya tegas.
Mendengar jawaban Dewa Arak,
Raksagala tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dengan
langkah lesu kakinya melangkah
mundur.
“Hati-hatilah, Kisanak,” ucap
Raksagala. “Dia adalah lawan yang amat tangguh.”
“Akan kuperhatikan nasihatmu,”
sahut Dewa Arak membesarkan hati Raksagala.
Baru saja Raksagala melangkah
mening-galkan Dewa Arak, Durgasari sudah mengirim-kan serangan.
Nenek berpakaian hijau itu membuka
serangannya dengan memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada.
Dewa Arak terperanjat ketika
merasakan ada kekuatan aneh yang membetot tubuhnya. Otaknya yang memang cerdas
langsung saja bisa menduga kalau lawannya memiliki sebuah ilmu yang mengandung
tenaga membetot. Maka buru-buru dikerahkannya ilmu 'Pasak Bumi'. Kekuatan
tenaga dalam langsung disalurkan pada kakinya, agar kuat berpijak seperti akar
pohon besar.
Usaha yang dilakukan Arya sama
sekali tidak sia-sia. Berkat ilmu 'Pasak Bumi',
kekuatan daya sedot itu sama sekali tidak berarti apa-apa. Memang ada angin
keras yang berusaha membetotnya. Tapi berkat ilmu itu, betotan itu sama sekali
tidak berarti apa-apa.
Tapi Durgasari tidak kecewa melihat
kenyataan ini. Dia memang tidak terlalu berharap usahanya akan membuahkan
hasil. Toh, tadi telah dibuktikan sendiri kalau Raksagala pun sanggup memunahkan
daya sedotnya.
Maka begitu Dewa Arak tampak
sibuk mengerahkan tenaga untuk melawan betotan itu, segera dikirimkannya serangan. Kaki
kanannya meluncur cepat ke arah leher, mengirimkan sebuah tendangan miring.
Angin yang menderu keras mengiringi serangan itu.
Arya yang memang sudah menduga
hal itu sama sekali tidak gugup. Cepat kakinya
melangkah ke belakang seraya merendahkan tubuhnya. Sehingga, serangan itu
hanya mengenai tempat kosong, lewat sejengkal di atas kepalanya.
Pada saat yang bersamaan, pemuda
berambut putih keperakan ini menjumput guci araknya. Kemudian guci itu diangkat
ke atas kepala. Dan....
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Seketika itu juga, ada hawa hangat
merayap di dalam perutnya. Kemudian, terus merayapi naik ke atas kepala secara
perlahan-lahan. Sekejap saja tubuh Arya mulai meliuk-liuk.
Durgasari menggeram begitu melihat serangannya berhasil dielakkan. Segera
saja dikirimkannya serangan susulan berupa tendangan kaki kanan ke arah
kepala Dewa Arak. Tentu saja ini karena sikap pemuda berambut putih keperakan itu
tengah membentuk kuda-kuda rendah. Kalau Arya tengah berdiri, mungkin
tendangan itu hanya mengenai pusarnya.
Cepat bukan main serangan susulan
itu tiba. Mungkin hanya berbeda waktu sedikit saja dengan tendangan yang
pertama kali. Walaupun begitu, Arya sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk menangkalnya. Apalagi, pemuda berambut putih
keperakan itu telah menggunakan ilmu 'Belalang Sakti' yang mampu membuat
gerakan yang bagaimanapun sulitnya.
Masih dengan tubuh meliuk-liuk,
Dewa Arak menggerakkan gucinya menangkis tendangan yang mengarah ke kepalanya.
Banggg...!
Suara berdentang keras terdengar
ketika kaki Durgasari berbenturan dengan guci Dewa Arak. Seketika itu pula,
tubuh kedua belah pihak sama-sama terhuyung ke belakang. Durgasari terhuyung dua
langkah, sedangkan Dewa Arak hanya satu langkah. Jelas, kalau dalam adu tenaga
Dewa Arak masih lebih kuat
Durgasari menggeram. Kini tidak
ada lagi keraguan dalam hatinya. Pemuda berambut putih keperakan ini adalah
seorang lawan yang amat tangguh. Dan ini bisa diketahui dari kekuatan tenaga
dalam lawan yang ternyata lebih kuat darinya.
Hal ini tentu saja membuat
Durgasari penasaran bukan kepalang. Masa dia harus mengaku kalah dengan seorang
pemuda yang pantas menjadi cucunya? Pikiran ini membuat nenek berpakaian hijau itu mengerahkan
seluruh kemampuannya.
Tapi lawan yang dihadapi Durgasari
kali ini
adalah Dewa Arak. Seorang yang
meskipun masih muda, tapi telah memiliki tingkat kepandaian tak tertandingi.
Bukan hanya itu saja. Pemuda berambut putih keperakan ini juga telah memiliki
pengalaman bertanding yang tidak sedikit. Tak terhitung, sudah berapa kali Arya
terlibat pertarungan dengan tokoh yang memiliki kepandaian menggiriskan.
Maka meskipun Durgasari telah
mengerah-kan seluruh kemampuannya, tetap saja tidak mampu mendesak Dewa Arak.
Ilmu 'Belalang Sakti' benar-benar menjadikan Arya sebagai lawan yang teramat
tangguh.
Hebat bukan main akibat dari
pertarungan antara kedua tokoh yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi ini.
Angin menderu, mencicit, dan mengaung terdengar menyemaraki pertarungan itu. Bukan hanya itu saja. Tanah
terbongkar di sana-sini terkena pukulan nyasar. Debu pun mengepul tinggi ke
udara. Bahkan para penonton pun bergerak menjauhi arena pertarungan, karena
khawatir terkena serangan nyasar.
“Luar biasa...,” desah Raksagala
penuh kagum. “Pemuda itu memiliki kepandaian yang amat tinggi. Ilmu silatnya
pun aneh....”
“Tidak perlu heran, Raksagala,”
ucap Ki Wanara. “Pemuda itu adalah Dewa Arak...! Dia tadi menghampiriku, dan
sempat memperkenal-kan namanya. Begitu aku yakin kalau dia benar-benar Dewa
Arak, maka kuceritakan segalanya tentang dirimu.”
“Dewa Arak?” Raksagala mengerutkan alisnya. “Orang seusia dia
sudah mempunyai julukan?!”
“Jadi, kau belum pemah mendengar
julukannya?” Ki Wanara yang kini ganti bertanya.
Raksagala menggeleng.
“Apakah julukan itu begitu
terkenal, Ki?”
Ki Wanara menggeleng-gelengkan
kepala melihat keluguan Raksagala. Dia memang merasa heran mendengar Raksagala
sama sekali belum mendengar julukan Dewa Arak. Tapi ketika teringat kalau
Raksagala terkungkung selama belasan tahun di dalam sebuah bangunan yang bemama Istana Hantu, dia
tidak merasa heran lagi.
“Julukan itu bukan hanya terkenal
saja, Raksagala. Tapi juga menggemparkan!” jawab Ki Wanara setengah memberi
tahu. “Banyak sudah tokoh sakti aliran hitam yang tewas di tangannya.”
“Ah...! Jadi, dia seorang
pendekar, Ki?” Raksagala menudingkan telunjuknya ke arah Dewa Arak yang masih
sibuk bertarung meng-hadapi Durgasari.
“Bukan hanya seorang pendekar saja, Raksagala. Dewa Arak adalah seorang pendekar besar!
Sudah tidak terhitung kelaliman yang merajalela di persada ini dibasminya,”
sahut Ki Wanara, menguatkan penuturan Raksagala.
Raksagala terdiam. Ada perasaan
kagum menyelinap di hatinya terhadap Dewa Arak.
Apalagi ketika melihat sendiri
kalau berkali-kali Durgasari terhuyung-huyung setiap kali terjadi benturan
antara mereka. Dari sini saja sudah bisa dinilai keunggulan Dewa Arak! Dan mau
tak mau, hal ini membuatnya kagum setengah mati.
Sementara itu di arena
pertarungan, Dewa Arak semakin menunjukkan keunggulannya. Pertarungan memang
sudah berlangsung lebih dari seratus jurus. Dan sekarang keadaan Durgasari
sudah semakin mengkhawatirkan. Walau nenek berpakaian hijau itu sudah
mengeluarkan senjata andalan yang berupa sebuah sabuk, tapi tetap saja tidak
mampu menahan tekanan-tekanan Dewa Arak.
Dewa Arak dengan menggunakan ilmu
'Belalang Sakti' benar-benar menjadi seorang lawan yang amat berat bagi
Durgasari. Kedua tangannya yang disertai ilmu 'Belalang Sakti', guci di
tangannya, semburan-semburan araknya, gerakannya yang aneh, dan tenaganya yang
seperti tidak pernah habis, merupakan kesatuan yang mampu menggilas habis semua
perlawanan Durgasari. Robohnya nenek berpakaian hijau ini hanya tinggal
menunggu saatnya saja.
Hati Durgasari terpukul bukan
kepalang menerima kenyataan ini. Rasanya bagaikan mimpi ketika menyadari kalau
Dewa Arak memang lebih unggul darinya. Setiap serangan-nya kandas sama sekali.
Sedangkan setiap serangan yang dilancarkan lawan selalu membuatnya pontang-panting untuk
menye-
lamatkan diri.
Rasa penasaran, marah, dan
terpukul mem-buat Durgasari menjadi nekat. Nenek ber-pakaian hijau ini jadi
tidak mempedulikan keselamatan diri lagi. Dan kini perhatiannya hanya dipusatkan pada satu sisi saja. Menyerang! Tidak dipedulikannya
lagi per-tahanan dirinya.
Memang dengan cara seperti ini,
serangan serangan Durgasari jadi semakin dahsyat. Tekanan-tekanan setiap serangannya pun semakin
berat. Tapi karena tindakannya itu, pertahanannya jadi lemah. Banyak celah
kosong di sana sini bagi Dewa Arak untuk me-masukkan serangan.
Sebuah keuntungan bagi Durgasari,
Arya sama sekali tidak berminat mencelakainya. Dewa Arak bertarung menghadapi nenek berpakaian hijau itu hanya karena tidak sudi dianggap
pengecut. Sama sekali tidak ada maksud di hatinya untuk melukai nenek itu.
Masalahnya, dia sama sekali tidak mempunyai urusan dengan Durgasari.
Karena dasar pemikiran seperti
itulah, Dewa Arak sama sekali tidak mau memanfaatkan kesempatan yang terpampang. Pemuda berambut putih keperakan ini hanya
mengelak dan menangkis serangan lawan. Beberapa kali dicobanya memasukkan serangan, namun
hatinya seketika kaget, ternyata nenek itu sama sekali tidak mengacuhkannya.
Bahkan pada saat yang bersamaan, lawannya itu
melancarkan serangan pula. Jelas kalau
Durgasari hendak mengadu nyawa!
Tentu saja Arya tidak ingin
bertindak bodoh. Tidak diturutinya tindakan gila Durgasari. Maka buru-buru
serangannya ditarik pulang seraya melompat menjauhkan diri dari serangan nenek
berpakaian hijau itu.
Kini keadaan jadi terbalik. Dalam
pandangan mata orang yang belum memiliki tingkat kepandaian tinggi, tampaknya
Dewa Arak terdesak. Buktinya sosok bayangan ungu itu berkali-kali bergerak
menghindari setiap serangan yang dilancarkan sosok bayangan hijau. Hanya
sekali-sekali saja sosok bayangan ungu itu menangkis serangan.
“Apa maunya Dewa Arak ini?” gumam
Raksagala dalam hati.
Kepala pemuda berwajah pucat itu
tampak menggeleng-geleng. Dia memang tidak mengerti, mengapa Dewa Arak malah
jadi terdesak. Padahal, dia sendiri jelas-jelas melihat kalau pertahanan
Durgasari berantakan dan terbuka di sana-sini. Tapi, kenapa Dewa Arak tidak
memasukkan serangan ke sana? Pikiran-pikiran itu mengganggu benak Raksagala.
“Apakah pemuda itu tidak
mengetahuinya? Mustahil!” bantah hati murid Sawungrana ini.
“Mengapa Raksagala?” Ki Wanara
yang juga bingung melihat Dewa Arak terdesak, tak tahan untuk tidak bertanya.
“Aku tidak mengerti maksud Dewa
Arak itu, Ki,” kata Raksagala mengeluarkan ganjalan
hatinya. “Dewa Arak sepertinya
tidak ingin memanfaatkan kesempatan yang banyak
tercipta. Durgasari menyerang tanpa mem-pedulikan bagian pertahanan lagi. Kalau
saja Dewa Arak melancarkan serangan dan tidak hanya mengelak saja, rasanya
tidak sulit untuk merobohkan, ataupun menewaskan nenek itu. Padahal tadi
kulihat dia hampir berhasil menyarangkan serangannya, tapi malah ditarik
kembali. Aneh...!”
Ki Wanara mengerutkan dahinya,
namun sebentar kemudian hatinya menjadi lega. Dewa Arak sama sekali tidak terdesak. Kini pandangannya kembali dilayangkan
ke arah pertempuran. Ucapan keheranan Raksagala sama sekali tidak
dipedulikannya.
Di arena pertarungan, sepak terjang
Durgasari semakin membabi buta.
Nenek berpakaian hijau ini terus melancarkan serangan, tanpa mempedulikan
pertahanan. Apalagi ketika menyadari kalau perlahan-lahan dia berhasil mendesak
Dewa Arak.
Ctarrr...!
Sabuk di tangan Durgasari melecut
mem-perdengarkan ledakan nyaring yang memekak-kan telinga. Kemudian dengan
gerakan meliuk-liuk seperti seekor ular, sabuk itu mematuk ke arah kepala Dewa
Arak.
Arya terperanjat ketika menyadari
kalau dirinya berada dalam keadaan sulit. Tanpa membuang-buang waktu lagi,
tubuhnya segera dibanting ke tanah, lalu bergulingan beberapa
kali.
Sementara Durgasari mana mungkin membiarkan lawannya lolos? Maka
buru-buru nenek ini bergerak mengejar. Sabuk di
tangannya, dan kakinya melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Dewa Arak.
Dewa Arak tidak punya cara lain
lagi untuk mengelakkan diri terhadap serangan susulan yang cepat datangnya. Tubuhnya kembali bergulingan di tanah untuk
menyelamatkan selembar nyawanya. Kini terjadilah tontonan yang menarik. Dewa
Arak yang terus-menerus berguling untuk menyelamatkan diri, dan
Durgasari yang terus mengejarnya dengan serangan-serangan maut.
“Hih...!” Ctar...!
Kembali sabuk di tangan Durgasari
melecut ke arah tubuh Dewa Arak yang masih bergulingan.
Kali ini Dewa Arak bertindak nekat. Disadarinya kalau tidak mungkin
mengelak dengan cara seperti itu terus-menerus. Maka dengan keistimewaan ilmu
'Belalang Sakti'nya, tubuhnya melenting ke atas. Sebuah perbuatan yang sangat
berbahaya!
Ctarrr...!
Tanah langsung terbongkar ketika
sabuk itu menghantam telak permukaan tanah. Debu pun mengepul tinggi ke udara.
Tapi tubuh Dewa Arak sudah tidak tampak lagi di sana, karena telah melenting ke
atas.
Tapi Durgasari memang sudah sejak
tadi memperhitungkan hal itu. Maka begitu tubuh lawannya terlihat melenting, cepat-cepat dijegalnya. Tangan kirinya
dengan jari-jari terbuka memapak tubuh yang tengah melenting dengan sebuah
serangan ke arah pelipis. Sebuah serangan mematikan!
Dewa Arak terkejut bukan
kepalang. Maka cepat tangan kirinya diangkat untuk menangkis. Pada saat yang
sama, tangan kirinya bergerak menyampok ke arah pelipis lawan.
Plakkk! Prakkk...!
Dua buah bunyi yang berbeda,
terdengar saling bersusulan. Bunyi pertama adalah bunyi benturan antara tangan
kiri Dewa Arak dengan tangan kiri Durgasari. Sementara suara
berderak yang kedua adalah ketika sampokan Dewa Arak mengenai sasaran.
Durgasari memang sejak tadi sudah
tidak mempedulikan pertahanan. Akibatnya, begitu Dewa Arak melancarkan
serangan, dia tidak mampu mengelak. Yang ada di benaknya hanya satu, mengadu
nyawa!
Tanpa mengeluarkan suara keluhan
apa pun, tubuh Durgasari terlempar, lalu jatuh berdebuk di tanah. Tubuhnya
menggelepar-gelepar sesaat, kemudian diam tidak bergerak lagi di tanah.
Arya terpaku melihat sosok tubuh
lawannya yang kini telah menjadi mayat. Raut wajahnya memancarkan penyesalan
yang amat sangat. Dan memang hatinya menyesal bukan main. Dia memang tidak
ingin membunuh nenek itu,
sehingga sejak tadi hanya
berusaha menjaga diri saja. Tapi keadaan terakhir kali, membuatnya tidak punya
pilihan lagi. Pilihannya hanya dua. Membunuh atau dibunuh! Dan tentu saja dia
memilih yang pertama.
Melihat keunggulan Dewa Arak,
Raksagala, dan Ki Wanara, segera bergerak menghampiri Dewa Arak. Di raut wajah
mereka semua terpancar perasaan lega melihat Durgasari berhasil dibinasakan.
Tapi seri kegembiraan di wajah
mereka lenyap, dan kini berganti dengan raut kebingungan ketika melihat wajah Dewa Arak. Wajah pemuda berambut
putih keperakan itu sama sekali tidak memperlihatkan kegembiraan, namun sebaliknya malah menyiratkan penyesalan. Karuan saja hal
ini membuat mereka bingung.
“Aku tidak bermaksud
membunuhnya...,” keluh Arya. Pelan dan tak bersemangat
suaranya. Jelas, ucapan itu keluar dari hati yang terpukul.
Karuan saja ucapan itu
membingungkan orang-orang yang berada di dekatnya. Tapi sesaat kemudian
Raksagala mengerti, mengapa Dewa Arak tidak memanfaatkan banyak kesempatan yang ada. Rupanya Arya ternyata
memang tidak ingin menurunkan tangan kejam pada lawannya.
Ki Wanara tahu perasaan yang
berkecamuk dalam hati Dewa Arak. Maka kakek berpakaian putih ini bergerak lebih mendekat lagi,
kemudian perlahan-lahan ditepuknya bahu Arya.
“Lupakanlah hal itu, Dewa Arak.
Kau sama sekali tidak bermaksud membunuhnya, bukan? Tapi Durgasari terlalu
memojokkanmu, sehingga kau tidak punya pilihan lagi. Itu berarti bukan kau yang
membunuhnya, tapi dirinya sendiri yang membuatmu terpaksa membunuhnya. “
Ki Wanara memberi nasihat
sekenanya saja. Tapi kakek berpakaian putih ini sama sekali tidak menyadari
kalau semua nasihatnya tepat sekali.
“Tapi biar bagaimanapun..., dia
tewas di tanganku, Ki,” bantah Arya seraya menatap wajah Ki Wanara.
“Dia memang pantas untuk tewas,
Dewa Arak,” sahut Ki Wanara lagi.
Dewa Arak mendengarkan penuh
perhatian penuturan Raksagala tentang rencananya sejak dari Istana Hantu hingga
sampai ke Desa Kali Asem. Semuanya sudah jelas. Tadi Ki Wanara juga telah
bercerita demikian. Jadi, Dewa Arak memutuskan untuk membantu pemuda
berwajah pucat itu, walaupun hal itu belum diutarakannya.
Raksagala melangkah menghampiri
murid-murid Perguruan Belut Putih yang masih saja menunggu di depan rumah Ki
Wanara dengan sabar.
Begitu melihat Raksagala
menghampiri, serentak mereka pun bergerak menghampiri. Salah seorang dari
belasan murid Perguruan
Belut Putin itu melangkah maju
begitu kedua belah pihak telah berhadapan dalam jarak tiga tombak.
“Maaf, bukannya aku tidak
percaya. Tapi benarkah kau urusan ketua kami, Kisanak,” tanya murid Perguruan
Belut Putih yang ternyata bertindak sebagai juru bicara itu. Dia adalah seorang
laki-laki bertubuh kekar dan berotot. Usianya mungkin tak kurang dari tiga
puluh tahun.
“Benar,” Raksagala menganggukkan
kepala-nya. “Aku adalah utusan Ki Sawungrana. Namaku Raksagala. Aku diutus
untuk mem-benahi semua kericuhan yang terjadi di
Perguruan Belut Putih. Itu bila memang benar ada kerusuhan.”
“Semua kericuhan itu memang benar
ada, Raksagala,” tanpa ragu-ragu lagi laki-laki bertubuh kekar berotot ini
menyebut Raksagala dengan namanya saja. “Perguruan Belut Putih sekarang
diketuai oleh Kalasura, seorang murid kepala Perguruan Belut Putih juga. Tapi
sayang, wataknya tidak baik. Banyak di antara kami yang menentang. Tapi dengan
cara halus maupun kasar, dia berhasil menyingkirkannya. Kelompok Kalasura
sangat kuat. Apalagi dia pun dibantu tokoh-tokoh aliran hitam.”
Laki-laki bertubuh kekar berotot
ini meng-hentikan ceritanya untuk mengambil napas seraya mencari kata-kata
untuk melanjutkan ucapannya. Matanya menerawang jauh, seperti mengingat-ingat kejadian yang menimpa
perguruannya.
“Banyak di antara murid Perguruan
Belut Putih yang menentang, tapi berhasil dipatah-kan. Terpaksa kami berdiam
diri. Apalagi karena di pihak kami tidak ada lagi tokoh yang bisa diandalkan. Semua murid kepala Perguruan Belut Putih yang bersifat
jujur telah tewas. Sementara di pihak Kalasura cukup banyak. Kini dengan adanya
kau, Raksagala, kami siap menentang mereka kembali. Kita harus merubah
Perguruan Belut Putih menjadi perguruan beraliran putih kembali! Kami yakin,
masih banyak anggota Perguruan Belut Putih yang hanya terpaksa mengikuti kemauan Kalasura,” mantap dan penuh
semangat ucapan laki-laki kekar berotot itu.
Dan semua kepala rekan-rekannya
yang berdiri di belakangnya terangguk begitu laki-laki kekar berotot itu
menghentikan ucapannya. Jelas, mereka semua setuju dengan keputusan yang
diambil rekan mereka itu.
“Kalau begitu, mari kita serbu
mereka!” Raksagala memutuskan dengan penuh semangat
“Kami ikut, Raksagala.”
Raksagala menoleh begitu mendengar ucapan itu. Tampak Dewa Arak dan Ki
Wanara tengah bergerak menghampiri mereka.
“Kau...?!”
Arya tersenyum lebar. Dia tahu
kalau Raksagala merasa keberatan kalau dia ikut campur tangan. Dewa Arak tahu,
pemuda berwajah pucat itu ingin menyelesaikan tugas
gurunya sendiri.
“Kedatanganku yang secara
kebetulan ke desa ini, dan setelah mendengar dari Ki Wanara kalau ada
kesewenang-wenangan yang terjadi di Perguruan Belut Putih, telah menarik hatiku
untuk membantumu, Raksagala. Yahhh....
Barangkali saja, tenagaku agak berguna di sana. Paling tidak, cukup untuk
melindungi kau dan murid-murid Perguruan Belut Putih merebut kembali perguruan
yang telah dikotori itu.”
Raksagala tidak bisa menolak
lagi. Alasan yang dikemukan Arya membuatnya tidak bisa membantah lagi.
Walaupun tidak memperliatkannya
dalam raut wajah dan sikap, karena merasa tidak enak pada Raksagala,
murid-murid Perguruan Belut Putih ini sebenarnya merasa gembira bukan main atas
ikutnya Dewa Arak bersama mereka. Telah mereka saksikan sendiri kelihaian pemuda berambut putih keperakan itu.
Dan pada kenyataannya, Arya jauh lebih lihai daripada Raksagala! Padahal,
pemuda yang mengaku murid Sawungrana juga lihai bukan main. Mereka juga telah
menyaksikan kalau Raksagala bertarung menggunakan ilmu-ilmu Perguruan Belut
Putih.
Tak lama kemudian, rombongan itu
pun berangkat menuju Perguruan Belut Putih. Sepanjang perjalanan, tak
henti-hentinya murid-murid Perguruan Belut Putih ini melirikkan mata untuk
melihat wajah Dewa Arak. Sungguh tak disangka kalau mereka bisa bertemu tokoh
yang julukannya begitu
mengguncangkan dunia persilatan. Dan ternyata, orangnya masih sangat muda.
Di antara mereka semua, hanya Ki
Wanara saja yang sama sekali tidak melirik ke sana kemari. Kakek berpakaian
putih ini ingin cepat sampai di tempat tujuan. Dia ingin markas Perguruan Belut
Putih cepat direbut kembali.
***
8
“Rupanya mereka telah
bersiap-siap,” kata Raksagala ketika melihat pintu gerbang yang tertutup rapat.
“Hati-hati, Raksagala,” ujar
laki-laki kekar berotot yang telah memperkenalkan namanya sebagai Diraga, setengah memberi tahu. “Kalasura adalah seorang berwatak licik. Aku yakin,
dia telah menempatkan murid-murid Perguruan Belut Putih di bagian atas pintu
gerbang. Mereka akan membidikkan panah, agar kita tidak bisa mendekat”
Raksagala terdiam karena memang
tidak mengetahui hal itu.
“Apakah tidak akan ada bantuan
dari dalam markas? Bukankah kau tadi mengatakan banyak murid Perguruan Belut
Putih yang tidak suka terhadap tindakan Kalasura?” tanya
Raksagala, bernada tuntutan.
“Dari mana mereka tahu akan hal
itu, Raksagala?” Diraga malah balik bertanya.
“Tentu saja dari orang-orang yang
telah kuberi pelajaran tadi!” sahut Raksagala tandas.
“Mereka tidak akan begitu bodoh
untuk mengatakan secara terbuka mengenai dirimu di hadapan begitu banyak orang.
Bila hal itu diceritakan, akan menimbulkan pemberontakan. Orang-orang itu pasti
hanya mengatakannya
secara terus terang pada
kelompoknya.” Raksagala mengangguk-anggukkan kepala.
Bisa diterima alasan yang
dikemukakan Diraga itu.
Suasana hening sejenak tercipta
setelah Diraga menghentikan ucapannya. Karena
memang Raksagala tidak lagi menyambutinya.
“Kalau begitu..., lebih baik aku
yang masuk lebih dulu untuk melihat keadaan di dalam,” tandas Raksagala setelah beberapa saat lamanya terdiam.
“Tapi sangat berbahaya,
Raksagala,” sergah Diraga khawatir. “Kalasura adalah orang licik. Dia tidak,
segan-segan, menggunakan cara apa pun demi mencapai kemenangan.”
“Aku akan berhati-hati, Diraga,”
sahut Raksagala cepat.
“Hhh...!”
Diraga hanya dapat menghela napas
berat. Laki-laki kekar berotot ini tahu kalau Raksagala tidak bisa dicegah
lagi. Jadi rasanya akan sia-sia jika terus mencegahnya. Dia merasakan adanya
tekanan dalam ucapan Raksagala yang terakhir. Tekanan yang tidak menghendaki adanya
bantahan. Maka, pendapatnya tidak diutara-kannya lagi.
Setelah mengedarkan pandangan
berkeliling, Raksagala segera melesat ke depan. Tidak ada serbuan anak panah
seperti yang dikatakan Diraga. Huh! Dia terlalu khawatir, keluh Raksagala dalam
hati.
“Hih...!”
Begitu telah berada di depan
pintu gerbang Perguruan Belut Putih, laki-laki berwajah pucat ini menjejakkan
kakinya. Seketika tubuhnya melambung ke atas. Dan begitu telah melewati pagar
yang tinggi dan kokoh, tubuhnya berputar di udara.
“Hup...!”
Baru saja kedua kaki Raksagala
mendarat di tanah, belasan orang berpakaian abu-abu sudah berkelebat
mengurungnya. Bukan hanya itu saja. Tampak belasan orang lain, melompat ke atas
dengan anak panah siap dilesatkan. Kini Raksagala mengerti. Mereka memang
sengaja membiarkannya masuk sendirian. Jadi apa yang dikatakan Diraga ternyata
benar.
Tapi Raksagala sama sekali tidak
kelihatan gentar. Meskipun tahu kalau dirinya sengaja dijebak, dia tidak
mengirim pemberitahuan kepada kawan-kawannya di luar pagar kalau dirinya
terancam.
“Ha ha ha...! Sungguh besar
nyalimu, Anak Muda,” kata orang yang tak lain dari Taraji. Tangan kanannya
nampak tergantung lemah di sisi pinggang. Jelas, akibat perbuatan Raksagala
masih tersisa. “Jangan harap dapat keluar dari sini dalam keadaan hidup.”
Raksagala memandang berkeliling
menatap wajah-wajah orang yang mengurungnya. Tidak lebih dari dua puluh orang.
“Inikah orang yang kau ceritakan
itu, Taraji?!”
Mendadak terdengarsuara keras
bergaung.
Sesaat kemudian, muncul seorang
laki-laki bertubuh pendek kekar tapi bercambang bauk lebat. Sementara di
sebelahnya berdiri tiga orang berwajah kasar berpakaian kuning garis-garis
hitam.
“Benar, Ketua,” tandas Taraji seraya
mengangguk-anggukkan kepala.
Laki-laki bercambang bauk lebat yang
ternyata Kalasura, kini mengalihkan perhatian kembali pada Raksagala. Sepasang
matanya merayapi selebar wajah pemuda berwajah pucat itu.
“Jangan mimpi untuk dapat membuat
khayalanmu jadi kenyataan, Bocah!” dengus Kalasura. “Kau hanya akan
mengantarkan nyawa di sini, tahu?!”
Raksagala menatap wajah laki-laki bercambang bauk lebat di hadapannya
beberapa saat, lalu beralih pada tiga orang kasar yang berdiri di
sebelahnya. Baru kemudian, perhatiannya tertumpah pada murid-murid
Perguruan Belut Putih yang mengepungnya. Sikap pemuda berwajah pucat ini
terlihat tenang saja. Padahal, seluruh urat syaraf dan ototnya menegang
waspada.
Perlahan-lahan tangan Raksagala
menyelinap masuk ke batik baju. Sudah bisa ditebak maksudnya. Ya! Pemuda
berwajah pucat itu ingin mengeluarkan tongkat pemberian gurunya.
Kalasura rupanya sudah
mengetahui maksud Raksagala. Dan dia tidak ingin hal itu
terjadi. Maka tanpa
membuang-buang waktu lagi, dia melompat menerjang. Kedua tangannya menegang
kaku, melancarkan totokan bertubi-tubi ke arah leher dan bawah hidung
Raksagala.
Belum juga serangan Kalasura
tiba, tiga orang berwajah kasar itu melompat menerjang pula. Dalam sekejap
saja, Raksagala sudah menghadapi empat buah serangan dari empat penjuru, dan
semuanya mengarah ke tempat-tempat yang mematikan!
Mau tak mau, Raksagala
membatalkan maksudnya semula. Benaknya berputar keras untuk menghadapi serangan
keempat orang lawannya ini. Sesaat kemudian, dia sudah bisa memutuskan. Sepasang
matanya yang awas dapat cepat mengetahui kalau di antara
keempat serangan itu, serangan Kalasura-lah yang menyambar paling dulu. Maka,
diputus-kannya untuk menanggulangi serangan laki-laki bercambang bauk lebat itu
terlebih dulu.
Plakkk, plakkk, plakkk...!
Benturan keras terdengar
berkali-kali ketika Raksagala menangkis semua serangan lawan. Sadar akan
keadaannya yang tidak mengun-tungkan, pemuda berwajah pucat ini tidak
segan-segan mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Akibatnya memang hebat! Tubuh
Kalasura terhuyung-huyung jauh ke belakang. Mulutnya menyeringai menahan sakit
Dan memang, benturan antara tangannya dengan tangan Raksagala membuat kedua
belah tangannya
terasa sakit bukan main. Bukan
hanya itu saja. Dadanya pun terasa sesak bukan main.
Sedangkan Raksagala kelihatan
sama sekali tidak terpengaruh benturan itu. Bahkan sehabis menangkis serangan,
laki-laki berwajah pucat ini melompat melewati atas kepala Kalasura. Akibatnya,
semua serangan dari ketiga orang lawannya hanya mengenai tempat kosong.
Tapi Kalasura dan ketiga orang
kasar itu rupanya tidak mau memberi kesempatan. Begitu Raksagala melompat
menjauh, mereka semua segera melesat memburu dan menghujaninya dengan serangan
serangan berbahaya. Per-tarungan sengit pun tidak bisa dihindari lagi.
Kali ini Raksagala harus menguras
seluruh kemampuannya. Apalagi keempat lawan itu memiliki kepandaian tinggi.
Walaupun bila dihadapi satu persatu keempat orang lawan itu masih di bawahnya,
tapi cara bertarung mereka keroyokan. Mau tak mau, Raksagala jadi kerepotan
juga.
Kalasura merasa penasaran bukan
kepalang. Seperti juga Raksagala, dia adalah murid langsung dari Ki Sawungrana.
Hanya saja, laki-laki bercambang bauk lebat itu tidak memiliki seluruh ilmu
gurunya. Lain halnya dengan Raksagala yang menerima semuanya.
Sementara Raksagala menghadapi
lawan-lawannya, sementara itu pula murid Perguruan Belut Putih yang berada di
atas pagar bambu menjepretkan panah ke arah Dewa Arak dan murid-murid Perguruan
Belut Putih lain yang
berada di luar pagar. Twanggg...!
Twanggg...!
Saat itu Dewa Arak bersama
rombongan murid Perguruan Belut Putih telah bergerak menuju gerbang. Di tangan
mereka sudah tergenggam senjata terhunus. Rupanya mereka semua merasa tidak
sabar lagi menunggu Raksagala. Maka diputuskanlah untuk segera menyusulnya.
Melihat hujan anak panah itu,
Arya segera memutar-mutarkan tangannya. Luar biasa...! Belasan anak panah itu
berpentalan tak tentu arah ketika angin yang amat kuat keluar dari kedua
tangannya yang berputar. Sebagian besar anak panah itu runtuh sebelum mengenai
sasaran. Ada beberapa di antaranya yang lolos, tapi dengan mudah berhasil
dipatahkan dengan ayunan senjata murid-murid Perguruan Belut Putin.
Berkali-kali hujan anak panah itu
ber-hamburan ke arah rombongan yang memaksa-kan diri untuk masuk ke Perguruan
Belut Putih, tapi semuanya berhasil dipunahkan.
Brakkk...!
Suara berderak keras terdengar
ketika pintu gerbang Perguruan Belut Putih hancur berantakan. Dewa Arak memang telah
meng-gunakan kekuatan tenaga dalam
untuk merobohkan pintu itu
dengan kekerasan.
Begitu pintu terbuka, rombongan
itu segera bergerak menyerbu ke dalam seraya berteriak-teriak mengajak
rekan-rekan mereka untuk
bergabung menentang tindakan
Kalasura.
Dewa Arak yang takut terjadi
pertumpahan darah besar-besaran, segera melesat ke arah pertarungan antara
Raksagala dengan keempat orang lawannya.
“Mundur Raksagala...! Cegah
pertumpahan darah!” teriak Arya.
Raksagala tidak membantah. Begitu
Arya tampak meluruk masuk ke kancah pertarungan, dia melompat menghindar. Dan
ketika kedua kakinya hinggap di tanah, tongkatnya segera diacungkan
tinggi-tinggi ke atas.
“Murid-murid Perguruan Belut Putih semua...! Lihat tongkat ini
baik-baik,..! Aku adalah wakil penuh Ki Sawungrana! Kumohon kalian yang masih
belum tersesat, bantu kami menumpas kelaliman Kalasura...!”
Keras bukan main suara Raksagala
karena dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam. Serempak semua kepala menoleh begitu
mendengar nama Ki Sawungrana disebut. Seketika pertarungan terhenti. Dan begitu
mendengar kata-kata Raksagala dan melihat tongkat pusaka itu, sebagian murid
Perguruan Belut Putih yang akan menyerang rombongan Dewa Arak berbalik haluan.
Mereka kini bersatu dengan rombongan itu.
Pertarungan tak dapat dielakkan lagi.
Gerombolan anak buah Kalasura pun tidak sedikit, karena sebagian besar adalah
murid-murid Perguruan Belut Putih yang berwatak bobrok. Dan sebagian lagi,
adalah anak buah
tiga tokoh berpakaian kuning
garis-garis hitam. Melihat keempat orang lawan telah dihadapi
Dewa Arak, Raksagala segera
membantu murid-murid Perguruan Belut Putih yang masih setia. Kini, terjadilah
dua arena pertarungan. Yang satu antara Dewa Arak melawan Kalasura dan
kawan-kawannya. Sementara yang satu lagi antara dua gerombolan berbeda aliran.
Jeritan kematian diiringi
robohnya tubuh-tubuh tanpa nyawa terdengar. Bumi pun dibasahi darah yang
sebagian besar keluar dari tubuh gerombolan Kalasura. Memang dengan adanya
Raksagala, murid-murid setia Perguruan Belut Putih berhasil mendesak lawan.
Sepak terjang Raksagala benar-benar menggiriskan. Kemana saja tangan atau
kakinya bergerak, sudah dapat dipastikan ada sesosok tubuh terbaring tanpa
nyawa.
Berbareng tewasnya orang terakhir
dari gerombolan Kalasura, Kalasura dan ketiga orang kawannya pun roboh
tergeletak di tanah tanpa mampu bergerak lagi. Dewa Arak memang terpaksa menewaskan mereka. Dia
tahu dari Ki Wanara kalau keempat orang inilah yang selalu merusak wanita.
Sebuah perbuatan yang amat dibencinya. Dan itulah sebabnya, dia tidak sudi
mengampuni keempat orang lawan-nya. Dewa Arak mengamati mayat-mayat bekas
lawannya. Sementara, Raksagala juga telah menyelesaikan pertarungannya.
Raksagala melirik Arya. Dan tentu
saja pemuda berambut putih keperakan itu tahu
maksud lirikan itu. Raksagala
mengajaknya pergi ke Istana Hantu.
“Diraga...! Uruslah semuanya...!
Aku akan pergi dulu...!” kata pemuda berwajah pucat itu seraya melesat pergi
dari situ.
Dewa Arak pun berkelebat
mengikuti. Dalam waktu sebentar saja, tubuh mereka telah lenyap ditelan jalan.
Keduanya sama sekali tidak mempedulikan pandangan kekaguman dari
murid-murid Perguruan Belut Putih.
***
Raksagala dan Dewa Arak berlari
cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang dimiliki. Raksagala yang
bertindak sebagai petunjuk jalan, tentu saja berada agak di depan. Sementara
Dewa Arak mengikuti di belakang-nya.
Raksagala memang mengerahkan
seluruh kemampuannya. Namun Arya hanya sebagian saja. Sebab jika seluruh ilmu
meringankan tubuhnya dikerahkan, sudah bisa dipastkan Raksagala pasti akan
tertinggal.
Dua hari lamanya Raksagala dan
Dewa Arak menempuh perjalanan bersama. Kini sewaktu matahari tepat di atas
kepala, mereka berdua berjalan di tempat yang tanahnya lembek dan banyak
tergenang air.
Dewa Arak mengamati keadaan
sekeliling-nya. Udara di sekitar tempat ini demikian lembab. Sekelilingnya
penuh pepohonan. Pohon
besar dan tinggi sampai menjulang
tinggi. Raksagala terus saja melangkah melewati
jalan-jalan becek berhawa lembab
yang dipenuhi pepohonan menjulang tinggi. Dewa Arak mengikutinya, dengan seluruh urat syaraf
menegang waspada.
“Itu dia Istana Hantu...!”
Raksagala berseru seraya menudingkan telunjuknya ke arah sebuah
bangunan besar dan megah tapi terlihat tua. Bangunan itu ber-halaman luas.
Sebuah pagar tembok yang tebal dan terlihat tua mengelilingnya.
Dewa Arak mengikuti arah tudingan
Raksagala. Dan diam-diam pemuda berambut putih keperakan ini mengakui kalau
nama yang diberikan untuk tempat itu memang cocok. Bangunan itu mirip sebuah
istana. Tapi menilik keadaannya yang begitu menyeramkan, mana ada raja atau
pejabat kerajaan yang bersedia tinggal di situ. Rasanya tidak ada seorang pun
yang mau tinggal di situ, kecuali hantu!
“Ha ha ha...!”
Mendadak terdengar suara tawa
keras menggelegar menggetarkan jantung. Jelas kalau suara itu keluar dari mulut
orang yang memiliki tenaga dalam tinggi. Seketika itu juga
Raksagala dan Dewa Arak terperanjat. Kontan seluruh urat syaraf di tubuh mereka
menegang waspada, bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Sebelum gema suara tawa itu
lenyap, di hadapan Raksagala dan Dewa Arak telah berdiri
seorang kakek tinggi besar
berpakaian merah. Memang, pakaian kakek ini mirip pakaian Jonggirupaksi, satu-satunya penjaga Istana
Hantu.
Melihat munculnya kakek itu,
Raksagala tanpa sadar melangkah mundur. Dia kenal betul, siapa sosok tubuh
tinggi besar itu. Dia adalah Barong Segara, si Penghuni Istana Hantu!
Tanpa diberi tahu lagi pun Dewa
Arak sudah bisa memperkirakan sosok yang berdiri di hadapannya. Memang,
Raksagala telah men-ceritakan ciri-ciri Penghuni Istana Hantu ini!
Dewa Arak menatap wajah kakek
ber-pakaian merah itu lekat-lekat. Diam-diam ada sedikit perasaan ngeri di
hatinya melihat guratan yang ada di wajah Barong Segara.
“Sungguh tidak kusangka kau
memiliki nyali juga, Monyet Kecil?!” kata Barong Segara keras seraya melayangkan pandangan pada
Raksagala. “Rupanya kau pun ingin cepat-cepat menjadi bangkai seperti gurumu
itu!”
Terdengar suara gemeretak dari
mulut Raksagala ketika mendengar ucapan Penghuni Istana Hantu itu. Tanpa mempedulikan kenyataan kalau dirinya bukanlah tandingan kakek
berpakaian merah itu, hatinya bertekad untuk menyerangnya. Kemarahan yang amat
sangat telah menutup matanya.
Tapi sebelum pemuda berwajah
pucat itu berhasil melaksanakan maksudnya, sebuah
tangan kekar telah mencekal pergelangannya.
Raksagala menoleh. Memang, itu
adalah tangan Dewa Arak yang mencegahnya untuk tidak bertindak gegabah.
“Biar aku yang menghadapinya,
Raksagala,” tegas pemuda berambut putih keperakan itu pelan, tanpa bermaksud
meremehkan.
Raksagala tahu diri. Dia sadar kalau
memaksakan diri bertarung, hanya akan
mengantarkan nyawa sia-sia
saja. Maka dibiarkan saja Dewa
Arak yang menghadapinya. Tapi perasaan dongkol yang menyesak di dada,
membutuhkan pelampiasan! Tidak bisa mem-balas dengan kekerasan, dia pun berniat
membuat Barong Segara terpukul.
“Kali ini kau yang akan menjadi
bangkai, Barong Segara!” ejek Raksagala tajam. “Kau tahu, adikmu telah menjadi
bangkai lebih dulu di tangan pemuda di sampingku ini! Dan kini kau akan
menyusulnya!”
Terdengar raungan keras, seperti
ada seekor binatang buas terluka yang tengah murka. Barong Segara murka bukan kepalang. Durgasari, adiknya telah tewas?
Hampir dia tidak bisa mempercayai hal ini!
Kini dia mengerti, mengapa pemuda
ber-wajah pucat itu berani datang menyatroni tempatnya. Rupanya Raksagala
mengandalkan temannya.
Sambil meraung keras seperti
binatang buas terluka. Barong Segara bersiap menerjang Dewa Arak. Tahu kalau
pemuda yang berdiri di hadapannya ini telah menewaskan adiknya, dia
bisa menduga kalau calon lawannya
pasti berilmu tinggi. Maka Penghuni Istana Hantu ini tidak ragu-ragu lagi
mengeluarkan seluruh ilmu yang dimilikinya. Tanpa sungkan-sungkan
segera dikeluarkan gabungan ilmunya, 'Tangan Penahan Gelombang Laut' dan 'Ilmu
Tangan Pasir Besi'.
Arya sama sekali tidak berani
bertindak setengah-setengah. Segera guci araknya
diangkat ke atas kepala, lalu dituangkan ke dalam mulut
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar begitu
cairan arak memasuki tenggorokan Dewa Arak. Seketika itu juga hawa hangat menjalar
di dalam perut Arya. Kemudian perlahan-lahan merayap ke atas. Hanya dalam
sekejap saja, tubuh Dewa Arak mulai limbung. Posisi kedua kakinya mulai tidak
tetap. Oleng sana, oleng sini!
“Haaat..!”
Sambil mengeluarkan teriakan
mengguntur, Barong Segara segera melompat menerjang Dewa Arak. Kedua tangannya yang kini berwarna hitam mengkilat seperti baja, meluncur cepat ke arah dada, ulu
hati, pusar Dewa Arak dengan jari-jari tangan menegang kaku.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
Dia merasa heran, karena tidak merasakan adanya hembusan angin yang mengiringi
serangan lawan. Dia tahu kalau lawan telah menyerang mempergunakan tenaga
lemas. Tak kelihatan
berbahaya, tapi sebenarnya mengandung ancaman maut! Tapi yang membuat
hati Dewa Arak bingung, mengapa kedua tangan dan bentuk serangan itu terlihat
keras dan kasar penuh tenaga! Sekujur tangan itu menegang kaku seperti penuh
tenaga, tapi anehnya tidak ada hawa angin sedikit pun yang mengiringi.
Sama sekali pemuda berambut putih keperakan ini tidak tahu kalau Barong Segara telah
menggabungkan 'Ilmu Tangan Pasir Besi' yang kelihatan kasar dan keras, dengan
ilmu 'Tangan Penahan Gelombang Laut' yang kelihatan lembut dan tidak bertenaga.
Dewa Arak tidak berani bertindak
ceroboh. Maka buru-buru serangan itu dielakkan dengan menggunakan jurus 'Delapan Langkah
Belalang'. Kemudian dia bergegas melangkah maju ke kanan. Dengan bertumpu pada
telapak kaki kanan, tubuhnya berputar. Dan tahu-tahu saja, dia telah berada di
belakang lawan. Bukan hanya itu saja. Secepat Arya berada di belakang lawan,
secepat itu pula melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah punggung.
Semula Barong Segara terperanjat
bukan main melihat lawannya tahu-tahu menghilang dari hadapannya. Tapi begitu
merasakan adanya hembusan angin dari belakang, dia tahu lawan telah mengirimkan
serangan.
Serangan Dewa Arak datangnya
memang begitu cepat dan tiba-tiba. Tapi Barong Segara tidak kalah cepat.
Buru-buru tubuhnya dilipat ke depan sehingga serangan Dewa Arak hanya
menyambar tempat kosong, lewat
setengah jengkal di atas punggungnya. Pada saat yang sama, kaki kanan Barong
Segara menendang ke belakang. Persis gerakan seekor kuda yang menendang!
Arya terperanjat, sungguh tidak
disangka kalau akan begini sambutan lawannya. Memang luar biasa Penghuni Istana
Hantu ini. Dalam keadaan terjepit dan waktu yang sempit, dia tidak hanya mampu
lolos dari ancaman maut. Bahkan juga mampu sekaligus balas meng-ancam.
Meskipun begitu Dewa Arak tidak
hilang akal. Sudah tidak terhitung kejadian yang berbahaya seperti ini dialaminya.
Dan berkat keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti', dia selalu berhasil
menyelamatkan diri.
Sekarang pun demikian juga. Dengan
kelincahan seorang yang telah memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi,
Arya men-jejakkan kakinya di tanah. Sesaat kemudian, tubuhnya telah melayang ke
belakang.
Barong Segara yang telah dilanda
dendam, tidak mungkin akan memberi kesempatan pada lawannya. Secepat dia
berhasil memperbaiki posisinya, secepat itu pula kembali melancarkan serangan.
Tapi Dewa Arak bukan orang
sembarangan. Begitu Barong Segara berhasil memperbaiki posisinya, dia pun telah
melakukan hal yang sama. Dan kini keduanya segera saling gebrak! Tak lama
kemudian, kedua tokoh berbeda aliran
tapi sama-sama memiliki
kepandaian tinggi ini sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit. Berkat
ilmu meringankan tubuh yang sama-sama telah mencapai tingkatan amat tinggi,
pertarungan antara mereka
berdua jadi berlangsung cepat.
Dalam waktu tak begitu lama, lima puluh jurus telah berlalu. Dan selama itu,
tidak nampak adanya tanda-tanda yang akan terdesak. Pertarungan masih berjalan
seimbang, walaupun terlihat tidak
menarik.
***
Raksagala mengerutkan alis melihat pertarungan yang berlangsung di
hadapannya. Jelas sekali kalau pemuda berwajah pucat ini merasa tidak tertarik
dengan pertarungan di hadapannya yang berlangsung membosankan.
Diam-diam Raksagala merasa kecewa melihat sikap Dewa Arak dalam menghadapi
pertarungan itu. Tampak pemuda berambut putih keperakan itu seperti gentar
menghadapi Barong Segara. Tak sekali pun dia berani menangkis serangan Barong
Segara. Dan ini membuat Raksagala sama sekali tidak puas. Begitu pula ketika
Arya melancarkan serangan. Penghuni Istana Hantu itu tampak seperti akan
menangkis, namun pemuda berambut putih keperakan itu menarik pulang
serangannya.
Barong Segara menggertakkan gigi.
Ada perasaan kagum di hatinya melihat tindakan Dewa Arak, meskipun amarahnya tetap
berkobar-kobar. Sungguh tidak
disangka kalau lawannya begitu cerdik, sehingga tidak mau mengadu tangan
dengannya. Karena sekali saja mengadu tangan, nyawa pemuda berambut putih
keperakan itu pasti akan melayang. Tenaga di dalam ilmu 'Tangan Penahan
Gelombang Laut', akan menyelusup dan menghancurkan bagian dalam dadanya dan
memang demikianlah keunggulan ilmu itu.
Dan karena tahu akan kedahsyatan
ilmu 'Tangan Penahan Gelombang Laut', maka Barong
Segara berusaha memojokkan lawan. Dia berusaha sekuat tenaga agar lawan tidak
dapat mengelak lagi, sehingga terpaksa harus mengadu tangan. Dan bila hal itu
terjadi, Dewa Arak sudah pasti akan dapat dikalahkannya.
Tapi Dewa Arak ternyata gesit
bukan main. Dan hal itu memang wajar saja. Pemuda berambut putih keperakan ini
memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang luar biasa, sehingga semua usaha
yang dilakukan Barong Segara sia-sia.
Tapi pada jurus kedua ratus, Dewa
Arak tidak bisa mengelak lagi. Barong Segara melompat menerjang Dewa Arak
dengan sebuah serangan tusukan tangan bertubi-tubi ke arah leher dan ulu hati.
Dua buah serangan mematikan.
“Hih...!”
Arya menggertakkan gigi. Tidak
ada jalan baginya, kecuali menyambuti serangan. Buru-buru serangan itu dipapak
dengan hentakan
kedua tangannya yang membentuk
cakar. Ada uap tipis yang samar-samar keluar dari kepala Dewa Arak. Arya memang
menggunakan jurus 'Membakar Matahari' dalam pengerahan ilmu 'Tenaga Sakti Inti
Matahari'.
Prattt..!
Barong Segara memekik ngeri.
Tubuhnya melayang kembali ke atas, kemudian jatuh berdebuk di tanah dan diam
tidak bergerak lagi. Penghuni Istana Hantu itu tewas dengan sekujur kulit tubuh
menghitam hangus. Bau sangit daging yang terbakar tercium di sekitar tempat
itu.
“Hhh...!”
Dewa Arak menghela napas. Lega
rasa hatinya melihat lawan tangguhnya berhasil dibinasakan. Dan yang lebih
melegakan hatinya, ternyata tidak dirasakan adanya rasa sakit yang menekan dada
ketika menarik napas dalam-dalam. Jelas
kalau dia tidak terluka dalam. Apakah jurus 'Membakar Matahari' dalam
pengerahan ilmu 'Tenaga Dalam Inti Matahari', telah membuat ilmu 'Tangan Penahan
Gelombang Laut' mati kutu! Dewa Arak sendiri tidak tahu. Padahal, kesimpulan yang diambilnya memang benar!
Raksagala menghampiri Arya.
“Kuucapkan banyak terima kasih atas
bantuanmu, Dewa Arak. Dengan tewasnya Barong Segara, maka semua tokoh
persilatan yang berada di Istana Hantu bebas untuk keluar,” ucap pemuda
berwajah pucat ini
gembira. 'Kau bersedia ikut aku
memberi tahu mereka, Arya?”
“Sayang sekali, Raksagala. Aku
tidak bisa ikut. Aku masih ada urusan lain.”
Setelah berkata demikian, Dewa Arak
melangkah perlahan meninggalkan tempat itu. Sementara Raksagala hanya dapat
memandangi saja kepergian pemuda berambut putih keperakan itu. Dia tahu, tidak ada
gunanya membujuk. Orang seperti Dewa Arak sekali berkata tidak, selamanya akan
tidak. Maka pemuda berwajah pucat itu bergegas menuju Istana Hantu.
Sementara itu, semakin lama tubuh
Dewa Arak semakin kecil. Dan akhirnya lenyap ditelan jalan.
SELESAI
No comments:
Post a Comment