PERJALANAN
MENANTANG MAUT
1
"Hhh...!"
Prabu Nalanda menghela napas
berat. Raut wajahnya nampak menyiratkan kecemasan. Sepasang matanya kemudian beredar, mengawasi
sekelilingnya. Satu persatu, dirayapinya wajah wajah orang yang duduk bersila
di depannya.
"Pulau Ular...," gumam
Raja Bojong Gading pelan. "Benar, Gusti Prabu," sahut seorang pemuda
berambut putih keperakan.
"Begitulah berita yang hamba dapatkan dari Tuyul Tangan Seribu."
"Aku memang pemah mendengar
cerita yang tersebar mengenai pulau itu, Arya. Sebuah pulau yang penuh
teka-teki," jelas Raja Bojong Gading lagi. "Kau tahu, di mana
letaknya pulau itu?"
"Hamba belum tahu, Gusti
Prabu," sahut pemuda itu, yang ternyata Arya Buana atau Dewa Arak sambil
menggelengkan kepala. "Tapi mungkin Ki Julaga dan Ki Temula
mengetahuinya."
Setelah berkata demikian, pemuda
berambut putih keperakan ini mengalihkan tatapan pada wajah-wajah tua di
dekatnya.
"Ampunkan hamba, Gusti
Prabu. Boleh hamba bicara?" tanya seorang kakek berwajah tirus,
berpakaian kuning.
Prabu Nalanda menoleh. Ditatapnya
wajah kakek yang tak lain adalah Ki Temula, Ketua Perguruan Garuda Sakti.
Perlahan kepalanya terangguk.
"Silakan, Ki."
"Begini, Gusti Prabu. Maaf,
bukannya bermaksud
menyombongkan pengetahuan. Tapi
menurut hemat hamba, lebih baik Arya mengurungkan maksudnya untuk pergi ke
sana."
"Mengapa, Ki?" tanya
Dewa Arak.
"Pulau Ular adalah sebuah
pulau penuh teka-teki dan berbahaya, Arya.
Di sana penuh dengan tempat berbahaya. Apalagi, tempat itu juga ditaburi racun
di sekitarnya. Letaknya saja jarang orang yang tahu," jelas Ki Temula.
"Tapi, kau kan tahu letak
pulau itu, Ki?" Raja Bojong Gading yang mendahului bertanya. Terpaksa Arya
menahan pertanyaan yang akan diajukan.
"Kalau secara pasti, hamba
tidak mengetahuinya, Gusti Prabu," sahut Ki Temula jujur. "Hamba
hanya mengetahui dari cerita-cerita pendahulu hamba di Perguruan Garuda
Sakti."
Raja Bojong Gading mengangguk-anggukkan kepala.
"Bisa kau ceritakan padaku
mengenai Pulau Ular itu, Ki?" pinta Arya, halus.
Sebentar kakek berwajah tirus itu
menghela napas berat.
"Pulau itu berada di tengah
Laut Hitam, Arya. Jadi untuk menuju ke sana, terlebih dulu kau harus mencari
Pantai Karang Hitam. Bukan begitu, Ki?" kata Ki Temula sambil menoleh ke
arah Ki Julaga.
Ki Julaga menganggukkan kepala pertanda membenarkan. Sementara Prabu Nalanda, Dewa Arak, Patih
Rantaka, dan beberapa orang anggota pasukan khusus yang berjaga-jaga di sekitar
situ hanya diam mendengarkan.
"Setelah menemukan Pantai
Karang Hitam itu, kau harus berlayar terus ke arah Barat. Dan kalau salah arah,
sampai kapan pun kau tak akan menemukan
pulau itu," sambung kakek
berwajah tirus itu.
Ki Temula menghentikan ceritanya
sejenak untuk mengambil napas. Terpaksa semua orang yang berada di situ diam
sambil menunggu kelanjutan ceritanya. Mereka semua sudah tidak sabar lagi untuk
mendengar kelanjutan cerita mengenai Pulau Ular. Terutama sekali Arya. Maka tak
ada seorang pun di antara mereka yang menyelak cerita Ki Temula.
"Apabila menempuh arah yang
benar, kau akan melalui tempat-tempat aneh," sambung kakek berwajah tirus itu. "Yang
pertama kali akan kau temukan adalah air laut yang tidak lagi berwarna biru,
tapi hitam! Ini adalah tanda pertama kalau kau telah menempuh jalan yang benar.
Sampai di sini, udara telah mengandung racun ganas. Maka, kau harus
hati-hati."
"Ahhh...!"
Terdengar seruan kaget dari mulut
semua orang yang mendengarkan cerita itu. Sungguh tidak disangka kalau perjalanan
menuju Pulau Ular itu melewati hal-hal yang aneh. Hanya Ki Julaga yang tidak
menampakkan tanggapan apa-apa. Memang kakek bertubuh kecil kurus ini juga telah mengetahuinya. Sedangkan Arya, di
samping terkejut juga mencatat semua yang diceritakan Ki Temula dalam benaknya.
"Apabila kau telah melewati
lautan yang airnya berwarna hitam, maka perlahan warna air itu semakin muda.
Sampai akhirnya, kau akan bertemu air yang berwarna hijau. Tak jauh dari situ,
kau akan menemukan sebuah pulau yang kalau dilihat dari atas, dari samping
kanan, atau dari kejauhan, berbentuk memanjang dan meliuk-liuk mirip badan seekor ular. Itulah sebabnya, mengapa
pulau itu
dinamakan Pulau Ular," tutur
Ki Temula menutup ceritanya.
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Ki Temula menghentikan ceirtanya. Mereka semua terpukau setelah
mendengar cerita Pulau Ular.
"Mengerikan sekali."
Ucapan Prabu Nalanda memecahkan
keheningan yang menyelimuti tempat itu. Pelan saja suaranya, sehingga lebih
mirip desahan. Tapi karena suasana saat itu hening, ucapan Raja Bojong Gading
itu jadi terdengar jelas dan keras.
"Begitulah keadaan pulau itu
menurut yang hamba dengar, Gusti Prabu," tambah Ki Temula.
"Kau pernah membuktikan
kebenaran berita itu, Ki?" tanya Dewa Arak ingin tahu.
Ki Temula menganggukkan kepala.
"Dulu sewaktu aku masih muda
dan berdarah panas sepertimu, Arya," sahut kakek berwajah tirus itu.
"Dengan bermodalkan keberanian, aku pergi ke sana. Tapi baru saja tiba di
lautan yang airnya berwarna hitam, aku telah jatuh pingsan. Untung saat itu aku
membawa obat penawar racun. Kalau tidak, entah apa jadinya...?"
Sampai di sini Ketua Perguruan
Garuda Sakti itu menghentikan ceritanya.
"Lalu bagaimana, Ki?"
selak Prabu Nalanda yang merasa tertarik.
Wajah Ki Temula memerah mendengar
pertanyaan itu.
"Aku langsung kembali,"
jawab kakek berwajah tirus itu pada akhirnya, walau dengan rasa malu. "Aku
tidak sudi mati konyol di tempat itu. Meskipun dengan perasaan penasaran, aku
memaksakan diri untuk kembali. Tapi, lagi-lagi nasib sial menimpa diriku."
"Apa yang terjadi denganmu,
Ki?" tanya Arya ketika mendapat kesempatan.
"Aku tersesat, sehingga
tidak menemukan jalan pulang. Berhari-hari lamanya aku terkatung-katung di tengah lautan. Untunglah pada akhirnya
aku berhasil menemukan sebuah pulau lain. Di sana, aku mendaratkan
perahuku."
"Lalu selanjutnya bagaimana,
Ki?" selak Prabu Nalanda lagi.
Rupanya Raja Bojong Gading ini
merasa tertarik juga mendengar pengalaman yang dialami Ketua Perguruan Garuda
Sakti itu.
"Pulau itu ternyata dihuni
seorang pendekar sakti. Dia tinggal di situ untuk menjaga agar adik
seperguruannya yang berwatak jahat tidak bisa meloloskan diri dari pulau itu.
Sayang..., aku lupa nama pendekar itu. Tapi, kalau adik seperguruannya aku
ingat"
"Siapa namanya, Ki?"
tanya Arya ingin tahu. Karena cerita yang didengarnya mirip cerita yang didapat
dari seorang pendekar yang dikenalnya dalam perjalanan.
"Kalau tidak salah... Sanca
Mauk...," jawab Ki Temula dengan dahi berkernyit
"Sanca Mauk...!" ulang
Dewa Arak kaget.
"Benar!" Ki Temula
menganggukkan kepala. "Kau mengenalnya, Arya?"
Perlahan-lahan kepala Arya
terangguk. Kemudian diceritakan pertemuannya dengan tokoh yang bernama Sanca Mauk itu (Untuk jelasnya,
baca serial Dewa Arak dalam episode "Pendekar Tangan Baja").
Ki Temula terdiam setelah Arya
menyelesaikan ceritanya.
"Mungkin benar, tokoh yang
bernama Sanca Mauk
itu adalah orang yang diceritakan teman perjalananmu itu, Arya," kata
Ketua Perguruan Garuda Sakti, akhirnya.
Suasana menjadi hening sejenak
begitu Ki Temula menghentikan ceritanya karena tidak ada lagi yang membuka
suara.
"Terima kasih atas
keterangan yang kau berikan mengenai pulau itu, Ki," ucap Arya memecahkan
keheningan.
"Hhh...!" Ki Temula
menghela napas berat "Kalau menurut pendapatku, lebih baik niatmu
diurungkan, Arya. Terlalu berbahaya! Belum lagi bahaya-bahaya lain yang tidak
terduga."
"Kuucapkan terima kasih atas
semua nasihatmu, Ki," sahut Arya sambil menatap wajah Ki Temula penuh rasa
terima kasih. "Tapi, tekadku telah bulat. Aku harus pergi ke sana, apa pun
yang akan terjadi!"
Ki Temula terdiam. Dia tahu tidak
ada gunanya lagi menahan tekad Dewa Arak yang telah begitu bulat.
"Kalau niatmu sudah begitu
keras, aku hanya bisa mendoakan agar kau selamat, Arya," harap Ki Temula.
"Terima kasih, Ki,"
ucap Arya tulus.
"Kapan kau akan berangkat,
Arya?" tanya Prabu Nalanda.
"Sekarang juga, Gusti
Prabu," sahut Arya mantap. "Hati-hati, Arya," hanya itu yang
bisa diucapkan
Prabu Nalanda.
Raja Bojong Gading ini diam-diam
mengkhawatirkan keselamatan pemuda berambut putih keperakan itu, begitu
mendengar cerita Ki Temula tentang Pulau Ular. Tapi dia tidak berusaha
mencegah, karena memang Melati sangat
membutuhkan pertolongan. Kalau tidak Dewa Arak,
siapa lagi orang yang pantas
melakukan perjalanan menantang maut ke Pulau Ular?
"Akan hamba perhatikan semua
nasihat Gusti Prabu."
Setelah berkata demikian, Arya
bergegas bangkit. Tapi...
"Sebentar, Arya...."
Dewa Arak menoleh ke arah Ki
Julaga, orang yang menyapanya. Tampak kakek bertubuh kecil kurus itu tengah
berbincang-bincang dengan Eyang Sagapati, ahli obat Istana Kerajaan Bojong
Gading. Entah apa yang dibicarakan mereka, Arya tidak tahu. Yang jelas, setelah
minta izin pada Prabu Nalanda, kakek berpakaian coklat melangkah meninggalkan
tempat itu.
Tapi tak lama kemudian, Eyang
Sagapati sudah kembali sambil membawa sebuah buntalan kain sebesar kepala
manusia dewasa. Diberikan buntalan kain itu pada Dewa Arak. Sebentar laki-laki tua itu menerangkan pada Arya
mengenai isi buntalan. Apa lagi kalau bukan tentang obat-obatan?
Tak lama kemudian, Arya pun
pamit. Tak lupa dikunjunginya Melati sebelum berangkat menuju Pulau Ular.
***
Arya melakukan perjalanan dengan
mengerahkan ilmu meringankan tubuh yang telah mencapai taraf kesempurnaan.
Perjalanan dari Istana Kerajaan Bojong Gading menuju pantai memang amat jauh,
dan harus menerobos hutan-hutan dan menyeberangi sungai-sungai.
Sebenarnya Prabu Nalanda hendak
memberi seekor kuda agar perjalanan Dewa Arak dapat lebih
cepat. Tapi, pemuda berambut
putih keperakan itu menolaknya. Padahal dengan berkuda, Dewa Arak bisa
menghemat tenaga. Tapi mengingat medan yang akan dilalui begitu berat, maka
Arya terpaksa tidak bisa menerimanya. Banyak hutan lebat dan sungai yang
menghalangi jalan, membuatnya harus memilih jalan kaki.
Untuk menentukan arah Barat,
bukan merupakan hal yang sulit. Sebab, ada petunjuk yang tidak mungkin salah.
Matahari! Arya melakukan perjalanan dengan berpatokan pada bola api raksasa
itu.
Arya menempuh perjalanan seperti
orang kurang waras. Dia hanya berhenti kalau kedua kakinya terasa sudah tidak sanggup lagi melangkah. Makan, dilakukannya kalau perutnya sudah benar-benar melilit.
Tidur, dan minum pun demikian pula. Dewa Arak hanya tidur apabila sepasang
matanya sudah tidak mampu dibuka lagi. Dan minum apabila rasa haus telah
mencekik tenggorokan.
Tak aneh bila dalam beberapa hari
saja, tubuh Arya mulai susut. Wajahnya pun mulai memucat. Keadaannya sudah
kurang terurus. Tapi, pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak
mempedulikannya. Yang ada di benaknya hanya satu. Tiba di Pulau Ular secepat
mungkin!
Hari ini adalah hari ketujuh,
sejak Dewa Arak meninggalkan Istana Kerajaan Bojong Gading. Bola api raksasa
tepat di atas kepala. Sinarnya menyorot garang ke bumi ketika Arya tiba di
mulut sebuah hutan.
Dari cerita yang pernah
didengarnya, Arya tahu ini adalah hutan terakhir yang akan dilewatinya.
Sekeluarnya dari hutan ini, dia akan bertemu laut.
Hutan ini memang kelihatan
sepi-sepi saja. Apalagi
desa yang terdekat, cukup jauh
juga dari hutan. Maka Arya pun tetap bersikap waspada. Dan memang begitulah sifat Dewa Arak. Tidak pernah
meninggalkan sikap hati-hati dalam setiap
langkahnya.
Kalau melihat dari sikapnya,
kewaspadaan Arya memang tak terlihat. Kakinya melangkah dengan sepasang mata
menatap lurus ke depan. Wajahnya sama sekali tidak menoleh ke kiri atau ke
kanan. Tapi sebenarnya, kedua telinganya dipasang tajam-tajam. Begitu terdengar
suara yang mencurigakan, sekujur urat-urat syaraf di tubuhnya menegang penuh
kewaspadaan.
Mendadak Arya menghentikan
langkah, ketika mendengar suara berdesing beberapa kali. Seketika itu juga
kedua kakinya dijejakkan ke tanah. Sesaat kemudian tubuh Dewa Arak sudah
melambung ke udara. Dan pada saat yang bersamaan, beberapa batang anak panah
menyambar, tapi lewat di bawah kakinya.
Baru saja kedua kaki Dewa Arak
hinggap di tanah, dari balik kerimbunan semak dan pepohonan lebat, muncul dua
sosok tubuh yang tiba-tiba sudah menghadang.
Dua sosok itu sama-sama bertubuh
kerdil. Paling-paling tingginya hanya sepinggang Dewa Arak. Tapi raut wajah
keduanya kasar dan penuh bulu. Tubuh masing-masing hanya terbungkus rompi berwarna
hitam dan coklat. Dan yang lebih mengerikan lagi, ada taring tersembul di
bagian kanan kiri mulut mereka.
"Siapa kalian? Mengapa
menyerangku?" tanya Arya hati-hati.
Dewa Arak memang merasa agak
heran menerima
serangan dari dua orang yang sama
sekali tidak dikenalnya. Khawatir kalau kedua orang itu salah alamat. Arya lalu
berusaha ramah. Suaranya dibuat lembut saat bertanya tadi.
"Kami berjuluk Raksasa Kecil
Hutan Gembrong. Namaku Jagakarsa," kata orang kerdil yang
mengenakan rompi berwarna coklat, memperkenalkan diri.
"Aku Jagatarsa,"
rekannya yang memakai rompi berwarna hitam menyambung.
"Aku Arya," sambut Dewa
Arak cepat. Lega sudah rasa hati Dewa Arak melihat sambutan yang ramah dari
kedua orang itu. "Mengapa Kisanak berdua menyerangku?"
"Ha ha ha...!"
Jagakarsa tertawa bergelak. Suara tawanya terdengar keras menggelegar seperti halilintar. Jelas kalau suara itu
disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Arya mengerutkan alisnya. Dia
tidak mengerti mengapa laki-laki berompi coklat ini tertawa. Apakah ucapannya
barusan begitu lucu? Tapi betapapun dia telah mengingat-ingat kembali
ucapannya, tetap tidak ditemukannya hal-hal yang patut ditertawakan.
"Kaukah yang berjuluk Dewa
Arak itu?" tanya Jagatarsa begitu Jagakarsa menyelesaikan tawanya.
Arya tersenyum pahit. Sungguh
tidak disangka kalau julukannya sudah tersebar begitu jauh. Bahkan sudah sampai
di Hutan Gembrong ini. Diam-diam timbul perasaan tidak enak di hatinya.
Biasanya kalau sudah begini, keributan pasti tidak akan bisa dihindari lagi.
Dan inilah yang paling tidak disukai Dewa Arak!
"Tidak bisa
kupungkiri," sahut Arya pelan. "Akulah orangnya yang mendapat julukan
yang rasanya terlalu
berlebihan itu."
Mendadak seri di wajah Raksasa
Kecil Hutan Gembrong lenyap. Wajah mereka berubah beringas. Ada ancaman maut
yang tersirat di wajah kedua orang penguasa hutan itu.
"Kalau begitu, kau harus
mampus, Dewa Arak!" desis Jagakarsa tajam. Nada suaranya menyiratkan
kemarahan dan kebencian yang mendalam.
"Tepat!" sambung
Jagatarsa. "Kau telah banyak merugikan orang-orang golongan kami! Meskipun
sudah tidak ikut campur tangan lagi dalam mengacau dunia persilatan, tapi kami
tidak suka rekan-rekan segolongan kami kau bantai!"
"Hhh...!"
Arya menghela napas berat Dia
tahu pertarungan tidak bisa dihindari lagi. Kedua Raksasa Kecil Hutan Gembrong
memang sudah tidak bisa disabarkan lagi. Memang, mereka telah terlampau
dikuasai amarah.
"Haaat..!"
Sambil berteriak nyaring,
Jagakarsa melakukan lompatan harimau, menyerang Dewa Arak. Kekuatannya
dipusatkan pada punggung bagian atas. Kemudian, tubuhnya bergulingan mendekati
Arya. Dan begitu telah dekat, dia langsung bangkit sambil melancarkan serangan
bertubi-tubi ke arah ulu hati dan dada Dewa Arak, dengan kedua tangan
mengembang membentuk cakar. Suara mendecit nyaring dari udara yang terobek,
terdengar mengiringi serangan itu.
Cepat bukan main gerakan
laki-laki berompi coklat itu. Semua peristiwa itu terjadi dalam sekejap mata
saja. Dan tahu-tahu, kedua cakar Jagakarsa telah mengancam ulu hati dan dada
Dewa Arak.
Cepat gerakan Jagakarsa, tapi
masih lebih cepat
lagi gerakan Dewa Arak. Kaki
kanan pemuda berambut putih keperakan itu segera melangkah ke belakang.
Sehingga, semua serangan itu hanya lewat sekitar sejengkal di depannya.
Belum sempat Dewa Arak berbuat
sesuatu, Jagakarsa telah melancarkan serangan susulan. Kini kaki kanannya
bergerak menyapu.
Wuttt..!
Deru angin keras mengawali
tibanya serangan sapuan kaki itu. Kelihatannya sapuan kaki itu tidak bisa
dianggap ringan. Jangankan kaki manusia, batang pohon keras sebesar dua pelukan
tangan orang dewasa saja akan tumbang bila terkena.
Mendadak sekali tibanya serangan
susulan itu. Tapi lawan yang diserangnya adalah Dewa Arak, seorang pendekar
muda yang memiliki kepandaian amat tinggi! Maka tidak begitu sulit bagi Dewa
Arak untuk nengelakkan serangan itu. Kedua lututnya sedikit saja ditekuk, lalu
bergerak menggenjot. Sesaat kemudian tubuh pemuda berambut putih keperakan itu
meletik ke atas. Hasilnya, sapuan Jagakarsa mengenai tempat kosong.
Melihat kesungguhan serangan
lawan, Dewa Arak tidak berani bersikap main-main lagi. Maka sambil nelompat ke
atas, tangan kanan Dewa Arak dengan jari-jari membentuk cakar meluncur deras ke
arah kepala laki-laki berompi coklat itu. Arya menggunakan ilmu warisan
ayahnya, 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'.
Jagakarsa terperanjat begitu
melihat lawannya. Dewa Arak bisa merubah keadaan, dari terancam menjadi
mengancam. Bahkan dengan serangan serangan maut! Dari suara mendecit nyaring,
bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang
terkandung dalam serangan itu.
Jagakarsa adalah orang yang
terlalu yakin akan kemampuan diri sendiri. Maka begitu mendapat serangan maut
itu, sama sekali tidak dielakkannya. Bahkan sebaliknya malah dipapaknya.
Laki-laki berompi coklat ini mengerahkan seluruh tenaganya dalam tangkisan itu.
Maksudnya memang ingin mematahkan kedua tangan Dewa Arak dengan sekali tangkis.
Plak, plak, plakkk...!
Suara benturan keras terdengar
berkali-kali ketika dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam
tinggi berbenturan.
Hebat akibatnya! Tubuh Dewa Arak
yang berada di udara, terpental kembali ke atas, Jagakarsa yang berada di
tanah, jatuh terpelanting.
Namun berkat kelihaian
masing-masing, tidak sulit bagi kedua orang itu untuk segera memperbaiki sikap.
Tepat saat kedua kaki Dewa Arak mendarat di tanah, Jagakarsa pun berhasil
memperbaiki sikapnya. Tapi wajahnya tidak tenang seperti sebelumnya. Tampak ada
seringai kesakitan yang tergambar di wajahnya. Memang, laki-laki berompi coklat
ini merasa kan sakit pada kedua tangannya ketika berbenturan dengan kedua
tangan Arya. Bukan hanya itu saja. Dadanya pun terasa sesak bukan main.
Jagakarsa menggeram. Hatinya
merasa marah dan penasaran bukan main. Dan kini perasaan tidak percaya bergayut
di benaknya. Mungkinkah pemuda berambut putih keperakan itu memiliki tenaga
dalam yang melebihinya?
"Mustahil! Tidak
mungkin!" bantah Jagakarsa dalam hati. "Pasti ada kekeliruan di sini!
Mungkin dia tadi hanya mengerahkan sebagian dari tenaga
dalamnya!"
Bukan hanya Jagakarsa saja yang
terkejut. Jagatarsa pun terperanjat melihat hasil benturan yang terjadi. Meskipun tidak mengetahui apa yang
dirasakan Jagakarsa, tapi laki-laki berompi hitam ini tahu kalau dalam benturan
itu Dewa Arak lebih unggul!
"Haaat..!"
Jagakarsa yang merasa penasaran, kembali
menyerang. Seluruh kemampuannya dikerahkan, karena sadar kalau lawan yang
dihadapinya memiliki kepandaian tinggi. Tidak ada gunanya lagi bersikap
setengah-setengah. Dan memang, sejak tadi laki-laki berompi coklat ini tidak
bertindak setengah-setengah.
Tak pelak lagi, pertarungan
sengit antara kedua orang itu pun terjadi. Tapi, meskipun tahu kalau lawan yang
dihadapinya lihai, Dewa Arak tidak mengeluarkan ilmu andalannya. Yang
dipakainya justru malah ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'.
2
Pertarungan yang terjadi memang
luar biasa. Suara mendecit, menderu, dan mengaung ikut menyemaraki pertarungan.
Tanah terbongkar di sana-sini. Daun-daun berguguran dari pohonnya. Beberapa
batang pohon tumbang, terkena angin serangan pukulan nyasar.
Semula pertarungan memang berlangsung imbang. Keduanya saling
serang bergantian. Tapi begitu memasuki jurus ke tiga puluh lima, mulai tampak
keunggulan Dewa Arak. Ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau', memang
bukan ilmu sembarangan.
Karena terlalu menitikberatkan pada bagian penyerangan. Sehingga tidak aneh
kalau Jagakarsa terdesak.
Jagakarsa menggigit bibir,
menahan rasa geram dan malu yang mendera. Sungguh tidak disangka kalau lawan
yang dihadapinya benar-benar memiliki kepandaian luar biasa! Baik dalam hal ilmu
meringankan tubuh, tenaga dalam, maupun mutu ilmu silat.
Semakin lama keadaan Jagakarsa semakin terjepit. Serangan demi serangan yang semula
susul-menyusul, dan silih berganti menghujani Arya, kini tidak terlihat lagi.
Sedikit demi sedikit, serangan yang dilakukannya mulai berkurang, dan lebih
banyak menangkis serta mengelak. Tapi, karena menangkis pun menimbulkan akibat
yang merugikan, laki-laki berompi coklat ini lebih banyak mengelak.
Arya dengan ilmu 'Delapan Cara
Menaklukkan
Harimau'nya, terus mendesak. Sama
sekali lawan tidak diberi kesempatan sedikit pun, sehingga memaksa Jagakarsa
terus bertarung mundur.
Jagatarsa mengerutkan alis
melihat keadaan rekannya. Dia tahu kalau Jagakarsa terdesak. Dan menurut
penilaiannya, tidak sampai dua puluh jurus lagi rekannya itu akan roboh di
tangan Dewa Arak.
Keadaan Jagakarsa memang sudah sangat
mengkhawatirkan. Kini, laki-laki berompi coklat itu tidak mampu lagi balas menyerang. Yang dilakukannya hanyalah mengelak
terus. Itu pun dilakukan dengan susah payah! Beberapa kali terlihat dia terpontang-panting sewaktu mengelakkan serangan Dewa Arak.
"Haaat..!"
Sambil berseru keras, Arya
melompat menerjang Jagakarsa. Tangan kanan pemuda berambut putih keperakan itu
menyampok deras ke arah pelipis. Sementara tangan kiri terpalang di depan dada.
Suara mendecit nyaring, mengiringi tibanya serangan Dewa Arak.
Jagakarsa terperanjat. Tibanya
serangan itu pada saat sikapnya tengah dalam keadaan tidak
memungkinkan. Dia baru saja mengelakkan sebuah serangan, dan belum sempat
memperbaiki sikap.
Bukan hanya Jagakarsa saja yang
terkejut. Jagatarsa pun demikian pula. Hati laki-laki berompi hitam itu
tercekat saat melihat bahaya maut akan mengancam rekannya. Maka tanpa pikir
panjang lagi, dia segera melompat menerjang. Diburunya Dewa Arak yang tengah
melancarkan serangan. Jari-jari kedua tangannya menegang lurus kaku, dan menusuk bertubi-tubi ke arah punggung dan belakang kepala
pemuda berambut putih keperakan itu.
Dewa Arak merasakan adanya
desiran angin di belakangnya. Jelas, dia tahu kalau serangan maut yang datang mengancam. Tapi, dia tidak
mempedulikannya. Serangannya pada Jagakarsa terus saja dilanjutkan.
Jagakarsa melihat ancaman maut
yang menuju ke arahnya, tentu saja tidak sudi nyawanya yang hanya selembar ini
melayang. Padahal saat itu keadaannya benar-benar terjepit. Maka dengan
sebisa-bisanya dia berusaha mengelak. Sambil mendoyongkan tubuh, kakinya
melangkah ke belakang.
Prattt..!
Sampokan tangan Dewa Arak telak
mengenai pangkal lengan kiri Jagakarsa. Terdengar suara gemeretak dari
tulang-tulang yang retak.
Bukan hanya itu saja. Kulit dan
daging laki-laki berompi coklat itu pun terkelupas. Seketika, darah segar
mengalir keluar dari bagian tubuh yang terluka. Memang telak dan keras sekali
sampokan Dewa Arak. Jagakarsa menyeringai menahan rasa sakit yang melanda.
Meskipun begitu, laki-laki berompi coklat ini patut bersyukur. Karena
sungguhpun tidak dapat
dikatakan berhasil, tapi yang
jelas dirinya selamat. Sementara itu, serangan Jagatarsa semakin
mendekati Dewa Arak. Hal ini
menguntungkan Jagakarsa. Sebab bukan tidak mungkin dia sudah tewas oleh Arya
yang sudah siap mengirimkan serangan susulan dengan sabetan tangan kirinya.
Dewa Arak segera melentingkan tubuhnya,
menghindari serangan Jagatarsa. Kaki pemuda berambut putih keperakan itu
langsung mendarat di tanah, membelakangi Jagatarsa. Kemudian, kembali
kakinya dijejakkan ke
tanah, lalu tubuhnya melambung. Dia membuat putaran
beberapa kali di
udara, kemudian hinggap di tanah
kembali. Dan secepat pemuda berambut putih keperakan ini hinggap di tanah,
secepat itu pula tubuhnya dibalikkan. Kini Dewa Arak bersiap menghadapi
serangan kembali.
Tapi ternyata Dewa Arak terkecoh.
Ternyata sama sekali tidak terlihat seorang pun di sekitar situ. Rupanya,
begitu melihat Arya menjauhkan diri, Jagakarsa dan Jagatarsa segera melesat
kabur. Hanya dalam sekejap saja, tubuh kedua orang itu tak tampak lagi. Mereka
hilang ditelan kerimbunan pepohonan dan semak-semak lebat.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas lega,
dan sama sekali tidak berusaha mengejar. Kepalanya ditundukkan ke bawah,
sedangkan kedua tangan menutupi wajahnya. Napasnya ditarik dan dikeluarkan
berulang-ulang, untuk menenangkan hatinya.
Diam-diam pemuda berambut putih
keperakan ini merasa bersyukur melihat lawannya berhasil menyelamatkan diri. Sebab
kalau sampai tewas di tangannya, Arya akan menyesal bukan kepalang. Memang
belakangan ini, Dewa Arak hampir tidak bisa mengendalikan diri. Apalagi bila
bertemu tokoh golongan hitam. Dia mudah sekali menurunkan tangan jahat. Apalagi
bila ingatannya langsung melayang pada Melati yang tergolek lemah dan menderita
akibat kekejian tokoh golongan hitam. Itulah sebabnya, Arya hampir lupa diri
begitu melihat sikap telengas Jagakarsa. Hampir-hampir saja dia membunuhnya.
Perlahan Dewa Arak menurunkan kedua
tangannya dari wajah. Mulutnya menghembuskan napas kuat-kuat. Pemuda itu
berharap, semoga
dengan berlaku seperti itu, sisa
rasa sesal yang bergayut di hatinya segera lenyap.
Setelah memperhatikan sesaat keadaan sekitarnya, Dewa Arak lalu melangkah
meninggalkan tempat yang telah porak poranda itu. Ada sedikit perasaan bingung
di hati Arya. Mengapa kedua orang itu kabur? Mengapa tidak mencoba
mengeroyoknya? Sama sekali pemuda berambut putih keperakan itu tidak tahu
terhadap sikap Raksasa Kecil Hutan Gembrong. Pantang bagi kedua tokoh sakti itu
untuk mengeroyok lawan. Apalagi lawan yang masih muda seperti Arya! Itulah
sebabnya, mengapa mereka melarikan diri setelah Jagakarsa dikalahkan.
***
Setelah beberapa kali menguak
kerimbunan semak-semak dan pepohonan, akhirnya Dewa Arak tiba di tempat yang
dituju. Pria kini telah berdiri di atas tebing tinggi. Di bawahnya, dalam jarak
tak kurang dari lima belas tombak, membentang lautan.
Untuk beberapa saat lamanya,
pandangan Arya terpaku pada lautan yang terhampar di bawahnya. Kemudian
pandangannya dialihkan ke depan, ke arah Barat. Dia berharap, barangkali saja
dari tempat ketinggian ini Pulau Ular dapat terlihat.
Tapi, rupanya hanya kekecewaan
saja yang didapat Dewa Arak. Sejauh mata memandang, yang terlihat hanya air.
Memang ada beberapa pulau yang nampak kebiruan jauh di depannya. Tapi, letaknya
lebih condong ke Utara dan Selatan. Sementara ke arah Barat sama sekali tidak
terlihat apa-apa.
Arya menyipitkan matanya untuk
memperjelas pandangan. Tapi tetap saja pemuda berambut putih keperakan ini
tidak melihat apa pun. Kalau saja ada
orang yang kebetulan melihat
sepasang mata Arya, tentu akan bergidik ngeri. Sepasang mata itu mencorong
tajam dan berwarna kehijauan, tak ubahnya mata seekor harimau dalam gelap!
Sesaat kemudian, Dewa Arak kembali
mengalihkan perhatian ke bawahnya. Dahinya berkernyit, memikirkan apa yang
harus dilakukan. Permukaan air laut itu tampaknya terlalu tinggi jaraknya dari
tebing tempatnya berdiri. Sepertinya tidak mungkin baginya untuk melompat ke
sana. Apalagi, permukaan air di bawah sana selalu bergolak dan bergelombang keras. Betapapun hebat kepandaiannya, merupakan suatu hal
yang mustahil untuk bisa turun ke sana.
Beberapa saat lamanya Dewa Arak
bersikap seperti itu. Dia terus berdiri menatap ke permukaan air laut dengan
dahi berkernyit dalam. Jelas kalau pemuda berambut putih keperakan ini tengah
berpikir.
Tak lama kemudian, kernyit pada
dahi Dewa Arak lenyap. Sepasang matanya tampak bersinar-sinar.
Jelas ada sesuatu yang menggembirakan hatinya. Kemudian, pemuda berambut putih
keperakan ini melesat meninggalkan tempat itu. Cepat sekali gerakannya. Sehingga, yang tampak hanyalah
sekelebatan bayangan ungu yang melesat cepat dan kemudian lenyap di balik
kerimbunan pepohonan dan semak-semak lebat.
Hanya sebentar saja pemuda
berambut putih keperakan ini pergi meninggalkan tempat itu, dan kini dia telah
kembali. Dan di tangannya, telah terpegang dua lembar papan yang tidak begitu
tebal, dan segulung tali.
Papan itu tidak begitu lebar,
berbentuk persegi
panjang. Lebarnya tidak sampai
sejengkal, tapi panjangnya lebih dari sejengkal.
Arya meletakkan kedua papan itu
di bawah kedua alas kakinya, kemudian mengikatkannya ke kaki. Pemuda berambut
putih keperakan itu kembali memeriksa ikatan, untuk meyakinkan kalau kedua
papan itu telah terikat erat pada kakinya.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, Arya
menggenjotkan kakinya. Sekejap kemudian, tubuhnya melayang ke atas. Tidak begitu
tinggi, karena Dewa Arak memang tidak bermaksud demikian.
Dan begitu daya yang membuat tubuhnya melambung ke atas habis,
tubuh Arya melayang turun ke bawah. Dia kini meluncur ke permukaan air laut
yang bergolak di bawahnya!
Beberapa kali tubuh Dewa Arak
berputaran di udara. Dan itu memang disengaja. Karena dengan begitu, luncuran
tubuhnya jadi tidak terlampau cepat dan deras.
Pyarrr...!
Air laut memercik tinggi ke atas
ketika kedua kaki Dewa Arak hinggap di sana. Itu pun tidak mantap, karena Arya
sempat sempoyongan! Tapi hal itu hanya berlangsung sesaat saja. Berkat ilmu
meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan tinggi, Dewa Arak mampu
memperbaiki sikapnya.
Kini dengan mempergunakan kedua
papan pada alas kakinya, Dewa Arak mulai mengarungi lautan. Tentu saja bukan
merupakan hal yang mudah untuk melakukannya. Mengarungi lautan dengan
menggunakan dua bilah papan ini membutuhkan ilmu meringankan tubuh yang sudah
mencapai taraf kesempurnaan.
Dengan adanya alat bantu ini,
Arya kini dapat dengan enaknya berlari-lari di lautan. Meskipun begitu, tetap
saja bila dibandingkan kecepatan larinya di darat, kecepatannya merosot jauh.
Namun, setidak-tidaknya masih lebih cepat daripada laju perahu!
Beberapa kali Dewa Arak terpaksa harus melompat ketika ada ombak besar
yang menyerbu ke arahnya. Indah dan manis sekali gerakannya ketika bersalto di
udara untuk kemudian mendarat di permukaan air laut kembali.
Dengan mengambil patokan pada
matahari, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk menuju arah Barat. Dia tidak memikirkan
apa-apa lagi. Yang ada di benaknya hanya satu, tiba di Pulau Ular secepat
mungkin.
Perlahan matahari mulai tenggelam
ke Barat. Dan kegelapan pun berangsur-angsur mulai menyelimuti bumi. Dan seiring mulai gelapnya suasana, kecemasan pun mulai menjalari
hati Arya.
Dewa Arak sadar, tidak mungkin
untuk terus melakukan perjalanan dengan dua bilah papan ini. Sebentar lagi
matahari akan tenggelam, dan malam pun datang menjelang. Rasanya sulit untuk
terus melakukan perjalanan. Karena di samping tidak adanya lagi patokan menuju
ke arah yang ditempuh, juga Dewa Arak butuh beristirahat. Maka harus dicarinya
sebuah pulau terdekat untuk mendarat dan beristirahat. Kalau memungkinkan, dia
pun akan membuat sebuah rakit.
Itulah sebabnya maka Arya mengedarkan
pandangan ke sekitarnya, mencari-cari pulau terdekat untuk disinggahi. Untung
tak jauh darinya, agak ke Selatan sedikit, tampak sebuah dataran
membentang. Maka bergegas pemuda berambut
putih keperakan ini menuju ke
sana.
Lincah dan gesit, seperti berjalan di atas
permukaan air, Dewa Arak bergerak menuju ke pulau itu. Semakin lama, semakin
jelas terlihat dataran itu. Ternyata, itu sebuah pulau kecil.
"Hih...!"
Dewa Arak menggenjotkan kedua
kakinya seperti layaknya menggenjot di tanah. Sesaat kemudian tubuhnya
melambung, lalu bersalto beberapa kali di udara. Kemudian kakinya mendarat di
pinggir pantai.
Arya mengamati keadaan sekeliling
pulau itu sejenak, baru kemudian melepaskan kedua papan yang terikat pada kedua
telapak kakinya. Kemudian ditaruhnya di tempat yang aman.
"Hhh...!" Arya
menghembuskan napas lega. Kembali sepasang mata Dewa Arak beredar
berkeliling mengamati keadaan sekitar. Dalam keremangan suasana malam yang hanya
diterangi sinar bulan di langit, cukup jelas terlihat keadaan pulau kecil yang
disinggahinya ini.
Pulau itu ternyata adalah sebuah
pulau gersang. Tidak nampak adanya pepohonan yang tumbuh. Yang terlihat
hanyalah pohon nyiur. Itu pun hanya beberapa saja. Di sana-sini lebih banyak
berserakan batu-batuan belaka.
Setelah merasa cukup memperhatikan
keadaan pulau itu, perhatian Dewa Arak dialihkan ke lautan lepas. Mendadak
sepasang mata Arya terbelalak. Di kejauhan, tampak bergerak sebuah perahu besar
yang menuju ke arahnya.
Arya menyipitkan matanya untuk lebih
memperjelas pandangan. Memang benda itu adalah sebuah perahu besar yang
jelas-jelas menuju ke pulau yang disinggahinya. Berdebar jantung Dewa
Arak seketika. Milik siapa kah
perahu besar itu? Dan mengapa menuju ke tempat ini?
Wajah Dewa Arak seketika berubah
saat melihat kain lebar yang berkibar angkuh di ujung tiang kapal layar itu.
Kain itu berwarna hitam kelam. Tapi bukan itu yang membuat pemuda berambut
putih keperakan ini terkejut. Melainkan gambar yang tertera di kain hitam itu.
Di kain hitam itu tertera gambar tengkorak bagian kepala yang di bawahnya
dibubuhi gambar tulang yang bersilangan. Semua gambar itu berwarna putih.
Tampak pas sekali dengan warna hitam yang menjadi latar belakangnya.
Arya terperanjat. Dari cerita yang pernah didengarnya, memang telah diketahui
kalau di sekitar lautan ini telah mengganas segerombolan bajak laut yang
menamakan diri, Pasukan Tengkorak Laut. Gerombolan bajak laut itu senantiasa
mengganas, merampok pedagang-pedagang besar yang tengah membawa hasil niaganya
untuk dijual ke kerajaan lain.
Dewa Arak memang sudah mendengar
kalau penguasa Kerajaan Pasugihan telah memerintahkan pasukannya untuk membasmi
para bajak laut itu, tapi selalu berakhir dengan kegagalan.
Kini tanpa disengaja Dewa Arak bertemu gerombolan bajak laut itu. Karuan
saja hal ini membuat pemuda berambut putih keperakan itu menjadi kebingungan
sejenak. Sepasang matanya beredar
liar mengamati sekeliling, mencari-cari tempat bersembunyi. Tapi seperti yang tadi
dilihat, tidak ada tempat untuk menyembunyikan diri di situ, kecuali agak jauh
di sana. Tampak olehnya gundukan tanah yang mirip sebuah bukit. Tanpa
membuang-buang waktu lagi, segera Dewa Arak melesat ke arah
sana.
Berkat ilmu meringankan tubuhnya
yang memang sudah mencapai tingkat tinggi, dalam waktu sekejap saja Dewa Arak
telah berada dalam jarak sekitar tiga tombak dengan bukit itu.
Arya mencari-cari dengan
pandangan matanya. Lega hatinya tatkala melihat sebuah gua di salah satu
dinding bukit itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera
memasukinya.
Gua itu ternyata hanya kecil di
luarnya saja. Semakin masuk ke dalam, semakin besar dan luas. Anehnya lagi, gua
itu ternyata cukup terang. Diam-diam pemuda berambut putih keperakan itu merasa
sedikit heran.
"Dari mana asal timbulnya
sinar itu?" tanya Arya dalam hati.
Dewa Arak sama sekali tidak tahu
kalau bagian atas gua itu mampu menyerap sinar matahari yang memancar di waktu
siang. Dan baru setelah malam hari, sinar yang terserap itu dipancarkan
kembali. Jadi bagian atap gua itu mirip bulan. Yang memancarkan sinar karena
mendapat pancaran sinar dari matahari.
***
Semakin melangkah masuk ke dalam,
semakin takjub hati Arya. Gua ini ternyata luas bukan main. Luas, terang, dan
banyak memiliki ruangan. Tapi sama sekali semua itu tidak dipedulikannya.
Kakinya terus melangkah masuk semakin ke dalam.
Arya terperanjat ketika pandangan matanya
tertumbuk pada sebuah ruang gua yang memiliki jeruji baja bulat, tebal, dan
kokoh. Tanpa berpikir lebih jauh lagi, Arya sudah bisa mengetahui kalau jeruji
besi itu dibuat orang. Jadi, tidak terjadi secara
alami seperti layaknya gua ini.
Dugaannya, gua ini pasti ada penghuninya! Dan orang yang berada di dalam
ruangan berjeruji itu pasti tahanan penghuni gua! Begitu kesimpulan yang
didapat Arya.
Seketika itu juga kewaspadaan
Dewa Arak semakin bertambah. Ada rasa
tidak enak dalam hatinya begitu mengingat gua itu memiliki penghuni. Tapi
perasaan tidak enak itu buru-buru dilenyapkan. Akhirnya, Arya memasuki gua ini.
Maksudnya untuk menghindari terjadinya pertemuan dengan para bajak laut.
Tapi, mendadak hati Arya tercekat
begitu teringat akan bajak laut itu. Seketika itu juga timbul dugaan dalam
hatinya. Jangan-jangan, para bajak laut itu adalah penghuni gua ini!
Dugaan itu membuat Arya menghentikan
langkahnya sejenak. Sesaat
lamanya pemuda berambut
putih keperakan ini bimbang. Antara meneruskan langkah, atau kembali ke luar.
Tapi perasaan ingin tahu terhadap
orang yang terkurung dalam ruang berjeruji itu, memaksa Dewa Arak untuk terus
melanjutkan langkahnya. Dia ingin tahu, siapakah orang yang terkurung itu. Jika
orang itu baik, merupakan kewajiban baginya untuk menolong.
Hanya beberapa langkah saja, Arya
telah berada di depan ruangan gua yang berjeruji itu. Pandangannya langsung
beredar ke dalam.
***
Ruang tahanan itu tidak begitu
luas. Ukurannya paling luas hanya satu setengah tombak kali satu setengah
tombak. Di dalamnya, tampak seorang laki-
laki berkumis dan berjenggot rapi
tengah bersandar pada dinding gua. Kedua tangan dan kakinya terbelenggu rantai
baja tebal dan kuat yang tertanam di dinding.
Hati Arya agak tercekat begitu
melihat pakaian yang dikenakan orang itu. Dia mengenakan pakaian seragam
kerajaan!
Bukan hanya Arya saja yang
memperhatikan. Ternyata laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu pun menoleh
pula. Matanya menatap ke arah Dewa Arak dengan dahi berkernyit.
"Siapa kau, Anak Muda?"
tanya laki-laki ber-pakaian seragam kerajaan seraya merayapi sekujur tubuh
Arya. "Apakah kau juga anggota gerombolan bajak laut itu?"
Kini jelas bagi Dewa Arak kalau
dugaannya tadi benar. Pemilik gua ini adalah gerombolan bajak laut. Dan sudah
pasti gerombolan bajak laut yang tadi dilihatnya.
"Bukan," Arya
menggelengkan kepala.
"Lalu, mengapa kau berada di
sini?" tanya laki-laki
berkumis dan berjenggot rapi itu lagi.
"Aku terdampar di pulau ini,
dan mencari tempat untuk melewatkan malam tanpa kedinginan. Untung gua ini
kutemukan," sahut Arya sedikit berbohong.
"Kalau begitu, cepat
tinggalkan tempat ini, Anak Muda...!" seru laki-laki berpakaian seragam
kerajaan itu. Nada suara dan sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.
"Cepat sebelum para bajak laut itu kembali dan menjumpaimu...!"
"Lalu, kau sendiri
bagaimana, Paman?"
"Jangan pedulikan aku! Aku
Gorawangsa, seorang panglima kerajaan! Adalah merupakan hal yang biasa bagi
seorang prajurit untuk mati!" sahut laki-laki
berpakaian seragam kerajaan yang
ternyata bernama Panglima Gorawangsa itu. Tegas dan mantap
ucapannya.
Seketika perasaan kagum timbul
dalam hati Dewa Arak. Laki-laki berkumis dan berjenggot rapi yang mengaku
panglima kerajaan ini sudah bisa dipastikan orang baik-baik. Dalam keadaan
tertawan begitu, dia masih mementingkan nasib orang lain.
"Lalu bagaimana kau bisa
ditawan mereka, Panglima?" tanya Arya ingin tahu.
Pemuda berambut putih keperakan
itu kini memanggil laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu dengan panggilan
jabatannya, bukan panggilan kekerabatan.
"Aku diperintah Gusti Prabu
Lindu Pasing untuk menumpas gerombolan bajak laut yang menamakan dirinya
Pasukan Tengkorak Laut. Tapi sayang, lawan terlalu kuat. Semua anak buahku
tewas. Sementara aku sendiri ditawan mereka."
Arya mengangguk. Dari cerita yang
didengarnya, dia tahu kalau Prabu Lindu Pasing adalah Raja Kerajaan Pasugihan.
"Kau..., mengapa masih
berada di sini, Anak Muda?" tegur Panglima Gorawangsa lagi. "Cepat
pergi sebelum terlambat!"
Arya menggelengkan kepala.
"Kau tidak mau meninggalkan
tempat ini?" sepasang mata Panglima Gorawangsa terbelalak. "Kau akan
menyesal, Anak Muda! Mereka kejam dan bengis! Cepat menyingkir sebelum mereka
kembali!"
"Aku memang akan
meninggalkan tempat ini, Panglima...."
"Itu bagus!" potong
laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu. Tak
dipedulikannya ucapan Dewa
Arak yang belum selesai.
"Cepatlah tinggalkan tempat ini!"
"Tapi tidak sendiri...,"
sambung Arya. "Maksudmu...?" agak terbata-bata ucapan yang
keluar dari mulut Panglima
Gorawangsa.
"Ya!" Arya
menganggukkan kepalanya. "Aku akan meninggalkan tempat ini, tapi
bersamamu, Panglima." "Bagaimana mungkin, Anak Muda," lesu dan
putus asa suara yang keluar dari mulut laki-laki berkumis dan berjenggot rapi
itu. "Belenggu ini sangat kuat. Aku
tidak mampu mematahkannya...,
dan...."
Ucapan Panglima Gorawangsa
terhenti ketika melihat Arya menggenggamkan jemari tangannya pada dua batang
jeruji baja itu. Dan sekali pemuda berambut putih keperakan itu menarik,
batang-batang jeruji baja itu membengkok. Sekejap kemudian, terbuat sebuah jalan bagi Dewa Arak untuk
melangkah masuk ke dalam ruang tahanan itu.
"Kau..., kau mampu
melakukannya, Anak Muda...?" Meskipun dengan agak terputus-putus, Panglima
Gorawangsa berhasil juga menyelesaikan kata-katanya. Sungguh sukar
dipercaya, baja sebesar itu mampu dibengkokkan Arya dengan begitu mudahnya. Tak
terlihat tanda-tanda kalau pemuda berpakaian
ungu itu mengerahkan tenaga
dalam.
Dewa Arak hanya tersenyum saja.
Sama sekali tidak disahutinya ucapan Panglima Kerajaan Pasugihan itu. Perlahan
kakinya melangkah men-dekati tubuh Panglima Gorawangsa. Lalu tangannya
diulurkan ke arah belenggu baja yang memborgol pergelangan tangan dan kaki
laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu.
Krakkk...!
Suara berderak keras terdengar
empat kali ketika
Dewa Arak mengerahkan tenaganya
untuk membetot. Empat buah belenggu baja itu putus seketika.
"Luar biasa...!" puji Panglima
Gorawangsa dengan sepasang mata terbelalak. "Kau benar-benar mampu
melakukannya, Anak Muda?! Ahhh...! Sulit dipercaya...!"
Sambil berkata demikian, Panglima
Gorawangsa menggosok-gosokkan pergelangan tangan dan
kakinya untuk melancarkan kembali peredaran darahnya. Sementara sepasang
matanya masih menatap wajah Dewa Arak. Sorot kekaguman tampak jelas, baik pada
wajah maupun sorot matanya.
"Bersiaplah, Panglima,"
ujar Arya tanpa mem-pedulikan semua pujian laki-laki berkumis dan berjenggot
rapi. "'Para bajak laut itu sebentar lagi akan kemari." Seketika itu
juga wajah Panglima Kerajaan Pasugihan itu berubah.
"Ahhh...! Jadi kau telah
bertemu mereka, Anak Muda?" tanya Panglima Gorawangsa terkejut
Arya mengangguk. Kemudian, secara
singkat dijelaskan semuanya. Panglima Gorawangsa pun diam mendengarkan. Sama
sekali tidak menyelak, hingga Arya menyelesaikan ceritanya.
"Kalau begitu, aku harus
mencari senjata dulu...," kata laki-laki berkumis dan berjenggot rapi
seraya bergerak ke luar tahanan.
Tanpa berkata apa-apa, Arya juga
melangkahkan kakinya ke luar tahanan itu. Tapi langkahnya berhenti begitu telah
berada di luar ruangan. Sedangkan Panglima Gorawangsa terus melangkah ke dalam
gua. Sesaat kemudian, dia telah kembali dengan sebatang pedang di tangan.
"Mari kita tinggalkan tempat
ini, Anak Muda," ajak Panglima Gorawangsa. "Oh, ya. Kalau boleh
kutahu,
siapa namamu?"
"Arya, Panglima. Arya
Buana."
"Sebuah nama yang bagus," puji Panglima Gorawangsa.
Tidak nampak adanya perubahan
pada wajah dan air muka Panglima Kerajaan Pasugihan itu begitu mendengar pemuda
berambut putih keperakan ini memperkenalkan namanya. Jelas kalau dia belum
pernah mendengar tentang nama dan julukan Arya yang menggemparkan dunia
persilatan.
"Terima kasih atas pujian
yang terlalu berlebihan itu, Panglima," sahut Dewa Arak merendah.
Panglima Gorawangsa sama sekali tidak
menyahuti. Bergegas kakinya melangkah menuju ke luar gua. Sementara Arya
mengikuti di belakangnya.
Baru saja beberapa tindak
keduanya melangkah, terdengar suara riuh dari arah depan. Karuan saja hal ini
membuat langkah Panglima Gorawangsa dan Dewa Arak terhenti.
"Celaka, Arya," bisik Panglima Gorawangsa.
"Mereka telah masuk ke dalam gua. Kita tidak akan bisa keluar tanpa
sepengetahuan mereka. Kita pasti akan berpapasan dengan mereka di tengah jalan.
Menurutmu, bagaimana baiknya sekarang?"
"Apakah ada jalan keluar
lain kecuali dari mulut gua di depan itu?" tanya Arya ingin tahu.
"Entahlah...," Panglima
Gorawangsa menggeleng-kan kepala.
"Kalau begitu, tidak ada
jalan lain lagi!" tegas Arya. "Jadi...?" dada Panglima
Gorawangsa berdebar
tegang.
"Kita buka jalan darah untuk
keluar dari tempat ini!" tegas dan mantap kata-kata Arya.
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak lalu melesat
ke depan. Mau tak mau, Panglima
Gorawangsa terpaksa mengikuti.
3
Baru beberapa langkah Arya dan Panglima Gorawangsa meninggalkan tempat
itu, di hadapan mereka dalam jarak sekitar tiga tombak, terlihat serombongan
orang berwajah kasar. Yang berjalan paling depan adalah seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar. Sebelah matanya ditutupi bulatan dari kulit berwarna
hitam, yang diikatkan secara menyilang di kepalanya. Memang, mata kanan yang
tertutup itu sudah tidak bekerja lagi. Matanya memang tinggal satu.
"Hey...!"
Laki-laki bermata satu berteriak
keras seraya menudingkan telunjuk ke depan. Wajahnya menunjukkan raut keterkejutan ketika
melihat Arya dan Panglima Gorawangsa.
"Keparat...!" laki-laki
bermata satu menggeram. "Siapa kau, Tikus Kecil?! Sungguh besar nyalimu
datang ke tempatku! Bahkan juga membebaskan tawananku!"
"Dialah pemimpin bajak laut
itu, Arya," bisik Panglima Gorawangsa memberi tahu. "Dia berjuluk
Tengkorak Mata Satu. Kepandaiannya luar biasa. Bahkan aku dapat dirobohkannya
dengan mudah."
"Hm...," hanya gumaman
tak jelas dari mulut Arya yang menyahuti penjelasan Panglima Gorawangsa.
Terdengar suara menggertak keras
dari mulut laki-laki bermata satu itu. Dia marah bukan main, karena Arya sama
sekali tidak menyahuti pertanyaannya.
Srattt..!
Sinar terang berkilau memancar
ketika Tengkorak
Mata Satu mencabut senjatanya,
berupa golok besar vang matanya bergerigi. Dan secepat senjata itu tercabut,
secepat itu pula laki-laki bermata satu ini melompat menerjang Dewa Arak.
"Menyingkirlah,
Panglima," ujar Arya.
Tanpa menunggu lagi, Panglima
Gorawangsa segera menyingkir dari situ. Ada perasaan khawatir di hatinya
terhadap keselamatan Arya. Laki-laki ber-kumis dan berjenggot rapi ini telah
mengetahui, betapa lihainya Tengkorak Mata Satu. Walaupun telah disaksikannya
sendiri kekuatan tenaga dalam Arya, tapi tetap saja tidak yakin kalau Tengkorak
Mata Satu mampu dikalahkan.
Dari suara berkesiut nyaring yang
mengiringi tibanya serangan golok, Dewa Arak dapat
memperkirakan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki kepala bajak laut itu begitu
tinggi. Tapi bila dibanding-kan dengan dirinya, tenaga dalam Tengkorak Mata
Satu sama sekali tidak berarti apa-apa.
Begitu melihat pemimpin mereka
telah menyerang, Pasukan Tengkorak Laut pun berbondong-bondong menyerbu
Panglima Gorawangsa. Sungguh merupa-kan suatu keuntungan bagi para bajak laut
itu karena berpapasan dengan Arya dan Panglima Gorawangsa di tempat luas. Hal
ini jelas sangat menguntungkan, karena dapat lebih leluasa mengeroyok!
Panglima Gorawangsa tidak tinggal
diam. Dia pun cepat menyambut serbuan para bajak laut itu dengan
serangan-serangan membahayakan. Sesaat ke-mudian
terdengar denting senjata beradu di udara.
Arya sadar kalau lawan terlalu
banyak. Dan lagi Panglima Gorawangsa sudah pasti akan memerlukan bantuannya.
Maka dia tidak bertindak main-main lagi. Itulah sebabnya, Dewa Arak sama sekali
tidak
mengelakkan serangan golok itu.
Karuan saja hal ini membuat Panglima Gorawangsa terperanjat. Dia
memang menyempatkan diri melihat keadaan Arya. Perasaan cemas yang hebat
berkecamuk di benaknya. Apakah Arya kini telah berubah menjadi pemuda dungu?
Masa serangan macam itu tidak mampu dielakkan?
Berbeda dengan Panglima
Gorawangsa, Tengkorak Mata Satu dan sisa bajak laut yang tidak ikut mengeroyok,
menjadi girang bukan main melihat Arya seperti terpukau. Mereka semua menduga
pemuda itu tidak mampu mengelak, karena cepatnya
serangan itu.
Dapat dibayangkan, betapa
kagetnya hati mereka semua begitu melihat Arya malah menjulurkan tangan dan
seperti hendak mencengkeram golok yang menyambar semakin dekat. Dan
tiba-tiba....
Takkk...! Kreppp...!
Terdengar suara berdetak keras
seperti beradunya dua batang logam ketika tangan Dewa Arak memapak golok baja
Tengkorak Mata Satu. Dan sebelum laki-laki bermata satu berbuat sesuatu, tangan
Arya telah mencengkeram batang goloknya. Semua kejadian itu berlangsung begitu
cepat, dan hanya sekejapan mata saja!
Bukan hanya sebagian bajak laut
yang tidak ikut bertarung saja yang terbelalak menyaksikan kejadian itu.
Tengkorak Mata Satu pun dilanda perasaan yang sama. Dia sudah bisa
memperkirakan, betapa tingginya ilmu kepandaian yang dimiliki lawannya.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan Arya. Begitu golok itu berhasil dicengkeram, jari-jari tangannya lalu bergerak meremas.
Terdengar suara berkeretek pelan ketika batang golok itu hancur
berkeping-keping.
Bulu tengkuk Tengkorak Mata Satu
kontan meremang! Apa yang diperbuat Arya belum pernah ditemukan dalam
pertarungannya yang sudah tidak terhitung lagi. Seketika itu pula disadari
kalau pemuda berambut putih keperakan ini bukan
tandingannya. Maka tanpa ragu-ragu lagi, laki-laki bermata satu itu segera
melompat ke belakang.
"Serbu...!" perintah
Tengkorak Mata Satu keras pada sisa anak buahnya yang belum bertarung.
Para bajak laut itu seperti digugah
dari mimpi. Sesaat mereka saling memandang bingung. Baru sesaat kemudian,
mereka mencabut senjata masing-masing dan bergerak menyerbu. Penglihatan yang
disaksikan membuat mereka semua terkesima!
Seketika itu juga, belasan
senjata beterbangan mengancam Arya. Pedang, golok, dan tombak, berkelebatan
mengancam berbagai bagian tubuhnya.
Tak pelak lagi, di dalam gua yang
cukup luas itu terjadi dua kancah pertarungan. Pertarungan antara Dewa Arak dan
Panglima Gorawangsa menghadapi bajak laut Pasukan Tengkorak Laut.
***
Panglima Gorawangsa mengerahkan seluruh kemampuan untuk menghadapi
pengeroyokan lawan-lawannya. Pedang di tangannya berkelebatan cepat memapak
setiap serangan yang datang mengancam. Suara berdentang nyaring, diiringi
berpercikannya bunga-bunga api menyemaraki benturan yang terjadi di antara
senjata-senjata mereka.
Tidak percuma laki-laki berkumis
dan berjenggot rapi ini menjadi panglima kerajaan. Kepandaiannya
cukup tinggi, sehingga setiap serangan yang
dilancarkan para pengeroyoknya mampu dielakkan. Bahkan tak jarang pula
ditangkisnya. Padahal jumlah mereka tak kurang dari sepuluh orang. Tambahan
lagi, rata-rata mereka memiliki kepandaian lumayan. Bukan itu saja. Serangan
yang dilancarkan pun datangnya susul-menyusul seperti gelombang laut.
Dewa Arak sadar kalau keadaan Panglima Gorawangsa tidak
menguntungkan. Sewaktu-waktu, bisa saja panglima itu terkena serangan lawan.
Makanya kini dia tidak sungkan-sungkan lagi mengeluarkan seluruh kemampuan. Hujan berbagai macam
senjata yang menuju ke arahnya dibiarkan saja. Dengan tenaga dalamnya yang
telah berada jauh di atas lawan, dibiarkan saja semua senjata itu mengenai
tubuhnya. Dan hebatnya, Dewa Arak tidak menderita luka sedikit pun.
Takkk, takkk, takkk...!
Suara berdetak keras seperti
beradunya berbagai batang logam terdengar ketika beraneka ragam senjata
berbenturan dengan sekujur tubuh Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu
memang sengaja tidak mengelak atau menangkis semua serangan, kecuali yang
tertuju ke matanya.
Suara-suara pekikan kaget
terdengar dari mulut para bajak laut itu, menyaksikan betapa semua senjata yang
mengenai sasaran malah terpental batik, seperti menghantam karet kenyal. Bukan
hanya itu saja. Tangan yang menggenggam senjata pun terasa sakit-sakit.
Sementara Dewa Arak sama sekali tampak tidak terpengaruh!
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Dewa Arak. Kedua tangannya digerakkan. Perlahan saja kelihatannya.
Tapi akibatnya, tubuh para bajak laut
itu berpentalan seperti diamuk
angin topan!
Begitu semua lawannya telah
berpentalan tak tentu arah, Arya segera melesat ke arah Panglima Gorawangsa
yang kini semakin terjepit. Pemuda berambut putih keperakan itu melompat ke
atas, seraya kedua tangannya diputar-putarkan dari luar ke dalam.
Hebat akibatnya! Dari kedua
tangan yang ber-putaran itu keluar angin dahsyat yang membuat gerombolan bajak
laut yang mengeroyok Panglima Kerajaan Pasugihan itu berpentalan tak tentu
arah.
Suara-suara berdebukan keras
terdengar dari tubuh yang jatuh di tanah dan yang membentur dinding gua. Itu
pun masih ditingkahi suara ber-dentingan dari senjata-senjata Pasukan Tengkorak
Mata Satu yang berpentalan entah ke mana.
Serasa hampir melompat keluar
sepasang mata Tengkorak Mata Satu melihat semua kejadian ini. Tidak pernah
terbayangkan kalau gerombolan yang selama ini merajalela di lautan tanpa pernah
ter-kalahkan, kini dibuat berantakan oleh seorang pemuda hanya dalam segebrakan
saja! Kalau tidak ingat malu, ingin rasanya laki-laki bermata satu ini
menangis!
Bukan hanya Tengkorak Mata Satu yang berbelalak. Panglima Gorawangsa pun
dilanda perasaan yang sama. Dia memang telah mem-perkirakan kalau pemuda
berambut putih keperakan itu memiliki kepandaian tinggi. Tapi, sama sekali
tidak disangka kalau sampai selihai ini.
Akibatnya, untuk beberapa saat
lamanya laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu terpukau. Panglima
Gorawangsa terkesima dengan pedang masih tergantung di tangan! Dia baru tersadar
kembali dari
kesimanya, ketika Tengkorak Mata
Satu berteriak nyaring. Laki-laki bermata satu itu kemudian melompat menerjang Dewa
Arak! Golok yang kini tinggal sepotong, diputar-putarkan di atas kepala, lalu
meluncur deras ke arah leher Arya!
Kesabaran Dewa Arak pun habis.
Semula, dia tidak bermaksud menjatuhkan tangan kejam pada Tengkorak Mata Satu. Sungguhpun telah
didengarnya sendiri tentang kejahatan laki-laki bermata satu ini, tapi Arya
rasanya tidak tega menjatuhkan tangan kejam.
Dan kini pertimbangan Dewa Arak lenyap. Tengkorak Mata Satu terlalu keras
kepala. Orang seperti ini tidak mungkin dibiarkan merajalela. Hidup pun akan
menjadi ancaman bagi orang lain. Tambahan
lagi, pikiran Arya tengah dilanda keruwetan memikirkan keselamatan
Melati.
Dengan gerakan seenaknya, Dewa
Arak mengulur-kan tangan kiri. Seketika, batang golok Tengkorak Mata Satu
berhasil dicekal, dan secepat itu pula di-sentaknya.
Terdengar suara bergemeletuk
ketika sambungan tulang pangkal lengan Tengkorak Mata Satu terlepas diiringi
tertariknya tubuh laki-laki bermata satu itu ke arah Dewa Arak. Ada keluhan
tertahan terdengar dari mulut kepala bajak laut itu.
Dan tertariknya tubuh Tengkorak
Mata Satu, segera dipapak oleh tepakan tangan kanan Arya ke arah dada.
Plakkk..!
Perlahan saja kelihatannya tangan
itu menepak dada, tapi akibatnya tidak sesederhana itu bagi Tengkorak Mata
Satu. Ada suara keluhan tertahan keluar dari mulutnya diikuti memerciknya
cairan
merah kental. Dari suara yang
berderak keras, jelas ada tulang dada yang remuk di dalam tubuh Tengkorak Mata
Satu.
Begitu tepakan tangannya telah mengenai
sasaran, Dewa Arak pun melepaskan cekalannya. Tak pelak lagi, tubuh laki-laki
bermata satu itu terbanting jatuh ke tanah. Tengkorak Mata Satu
menggelepar-gelepar sesaat sebelum akhirnya
diam tidak ber-gerak lagi. Kepala bajak laut yang ditakuti itu pun tewas
di tangan Dewa Arak hanya dalam segebrakan saja!
Karuan saja kematian pemimpin
mereka secara demikian mudah, membuat para bajak laut itu men-jadi gentar.
Tambahan lagi, mereka telah melihat sendiri kesaktian Dewa Arak. Maka tanpa
pikir panjang lagi, mereka semua menyerah.
"Ampunkan kami, Tuan
Pendekar," ratap seorang bajak laut yang berambut hitam campur coklat.
"Kami berjanji tidak akan
mengulangi perbuatan seperti ini, Tuan Pendekar," janji yang lain. Dia
seorang laki-laki bertubuh pendek kekar.
"Benar, Tuan Pendekar,"
sambut yang lain.
Sesaat kemudian suara riuh rendah
pun terdengar. Karena tidak hanya tiga orang bajak laut itu saja yang
mengucapkan janji. Berturut-turut dan saling susul-menyusul, semua bajak laut
itu mengucapkan janji.
Arya tersenyum, kemudian menoleh
ke arah Panglima Gorawangsa.
"Aku tidak berhak
memutuskannya," ucap pemuda berambut putih keperakan itu sambil tersenyum.
"Ada yang lebih berhak menentukannya."
Panglima Gorawangsa tercenung
beberapa saat. Dia mengerti maksud ucapan dan pandangan Dewa Arak padanya. Arya
menyerahkan semua keputusan
itu padanya. Seketika itu juga
perasaan bimbang melanda hati Panglima Gorawangsa. Laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu
tengah menghadapi pilihan yang sulit, dan bingung mengambil keputusan.
"Hhh...!" Panglima
Gorawangsa menghela napas berat. "Kalau menuruti perasaan, rasanya sulit
bagiku untuk mengampuni. Kejahatan kalian telah melampui atas. Tapi karena
memandang Arya sahabatku ini, aku bersedia mengampuni kalian...."
"Terima kasih, Panglima
Gorawangsa," selak seorang bajak laut bertubuh pendek kekar cepat.
"Kami sudah menduga akan mendapatkan
ampunan. Kebijaksanaan panglima telah lama kami dengar," sambung orang
yang berambut hitam campur coklat bernada memuji.
Panglima Gorawangsa tersenyum
pahit
"Tapi, ingat," sambung
laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu. "Aku telah mengenali
tampang-tampang kalian semua. Apabila kelak kudapati ada di antara kalian yang
melakukan kejahatan, maka aku tak akan segan-segan lagi bertindak!"
"Panglima boleh membuktikan
janji kami," tegas bajak laut yang berambut hitam campur coklat bernada
tantangan.
"Baik! Aku pegang janji
kalian ini," kata Panglima Gorawangsa menyambut tantangan itu. Suaranya
terdengar lantang penuh wibawa.
Dewa Arak yang sejak tadi memperhatikan
pem-bicaraan ini, diam-diam memuji kebijaksanaan Panglima Gorawangsa.
Perasaan kagum kembali menyeruak dalam hatinya.
"Dan sebagai bukti pertama
dari kesadaran kami, semua harta rampasan yang ada, kami serahkan pada
panglima," tegas bajak laut yang berambut
hitam kecoklatan.
Kepala semua bajak laut yang lain
terangguk mendengar ucapan rekan mereka itu. Jelas kalau mereka semua
menyetujui keputusan yang diambil bajak laut berambut hitam bercampur coklat
itu.
Panglima Gorawangsa menggoyang-goyang
tangannya.
"Tidak perlu diserahkan
semua. Masing-masing kalian boleh mengambil harta rampasan itu se-cukupnya.
Pergunakan sebagai bekal untuk menjalani kehidupan yang baru. Setelah itu baru
sisanya kalian serahkan padaku."
"Terima kasih atas kebaikan
hati panglima," ucap bajak laut yang bertubuh pendek kekar gembira.
Keputusan yang diambil Panglima Kerajaan Pasugihan ini benar-benar di luar dugaan orang
itu. Sementara rekan-rekannya sebagian besar berdiam saja. Tidak banyak bicara,
kecuali sekali-kali saja. Mereka pun
merasa gembira bukan main mendengar keputusan yang diambil Panglima Gorawangsa.
Rupanya, anggota gerombolan yang lain telah menyerahkan seluruh urusan itu pada
kedua orang rekannya.
Kembali perasaan kagum menyeruak
dalam hati Dewa Arak. Keputusan Panglima Gorawangsa untuk membekali para bajak
laut itu benar-benar merupa-kan sebuah keputusan yang sangat tepat.
Setidak-tidaknya, dengan adanya bekal harta itu mereka dapat menggunakan untuk
menekuni pekerjaan baru. Perlahan Dewa Arak melangkah kembali ke dalam gua.
Melihat hal ini, Panglima Gorawangsa buru-buru
mengejarnya. "Arya...!
Tunggu...!"
Arya menghentikan langkah,
kemudian membalik-
kan tubuhnya.
"Ada apa, Panglima?"
tanya Dewa Arak pelan.
"Kau mau ke mana?"
tanya Panglima Gorawangsa ingin tahu.
"Istirahat," kalem
ucapan Dewa Arak. "Besok aku harus melanjutkan perjalananku lagi. Jadi aku
ingin beristirahat"
"Jadi.., kau membohongiku
sewaktu mengatakan terdampar di sini?" tanya Panglima Gorawangsa setelah
terdiam beberapa saat lamanya.
"Maafkan aku,
Panglima," pelan suara Dewa Arak. Wajah pemuda berambut putih keperakan
ini
memerah karena perasaan malu yang
menyeruak. Malu karena kebohongannya telah diketahui.
"Lupakanlah, Arya,"
desah Panglima Gorawangsa bijaksana. "Aku bisa memakluminya."
"Terima kasih."
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Dewa Arak menghentikan ucapannya. Dan Panglima Gorawangsa pun tidak
melanjutkan ucapannya pula.
"Boleh kutahu, ke mana kau
akan pergi, Arya?" tanya laki-laki berkumis dan berjenggot rapi itu,
hati-hati. Dia begitu khawatir kalau pertanyaannya menyinggung perasaan Dewa
Arak.
"Aku akan pergi ke Pulau
Ular, Panglima," sahut pemuda berambut putih keperakan itu pelan.
"Apa?!" Panglima
Gorawangsa tersentak bagai disengat ular berbisa. Sepasang matanya berbelalak lebar
bagaikan melihat hantu. "Kau tidak main-main, Arya?"
Dewa Arak menggelengkan kepala.
"Kalau boleh aku memberi
nasihat, urungkan saja niatmu itu, Arya." Raut wajah Panglima Gorawangsa
menampakkan kekhawatiran yang amat sangat
"Terima kasih atas saranmu
itu, Panglima. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa menerimanya. Nyawa seorang
kawanku bergantung pada usahaku di Pulau Ular."
Panglima Gorawangsa pun terdiam,
tidak berkata kata lagi. Meskipun belum lama mengenal, sebagai orang yang sudah
terbiasa berhadapan dengan berbagai macam tingkah dan polah manusia, dia sudah bisa mengetahui kalau percuma saja
mencegah Arya. Pemuda berambut putih keperakan itu termasuk orang yang teguh
memegang keputusan. Sekali berkata hitam, selamanya akan tetap hitam!
"Kalau begitu, aku hanya
bisa mendoakan agar kau berhasil menjalankan tugasmu itu, Arya," hanya itu
yang bisa diucapkan Panglima Gorawangsa.
"Terima kasih,
Panglima," sahut Dewa Arak.
Dan memang pemuda berambut putih
keperakan ini merasa berterima kasih sekali atas perhatian panglima itu
padanya.
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak melangkah meninggalkan Panglima Gorawangsa yang hanya dapat memandangi
punggung pemuda berambut putih keperakan itu. Sinar mata laki-laki berkumis dan
berjenggot rapi itu penuh dengan kekhawatiran dan kecemasan.
4
Pagi baru saja menjelang,
ditandai oleh munculnya bola api raksasa berwarna merah di ufuk Timur.
Sepertinya bola api raksasa itu muncul dari per-mukaan laut. Angin pun masih
bertiup semilir ketika Arya dan Panglima Gorawangsa mulai men-dorong perahunya
ke laut.
Memang, para bajak laut di bawah
pimpinan Tengkorak Mata Satu mempunyai beberapa buah perahu kecil. Dan dengan
senang hati, mereka mem-berikannya pada Dewa Arak dan Panglima
Gorawangsa.
Kedua orang itu memang telah
sepakat untuk meninggalkan pulau bersama-sama. Hanya saja tujuan mereka
berbeda. Dewa Arak menuju ke Pulau Ular, sementara Panglima Gorawangsa kembali
ke tempatnya semula. Kerajaan Pasugihan.
Baik Arya maupun Panglima
Gorawangsa meng-gunakan perahu yang sama. Namun pada perahu yang ditumpangi
Panglima Gorawangsa terdapat harta hasil rampasan para bajak laut itu.
Sejauh beberapa tombak dari pulau
tempat tinggal gerombolan Pasukan Tengkorak Laut, perahu Dewa Arak dan Panglima
Gorawangsa berdampingan. Tapi setelah itu, arah kedua perahu itu pun terpisah.
"Jangan lupa singgah di tempatku, apabila masalahmu telah selesai,
Arya," pinta Panglima Gorawangsa ketika perahu mereka berdua mulai
berpisah untuk menempuh jalan masing-masing.
"Akan kuingat permintaanmu
itu, Panglima," sahut
Dewa Arak.
"Aku akan selalu menunggu kedatanganmu,
Arya...!"
Dewa Arak hanya tersenyum, dan
tidak lagi menyahuti. Jarak di antara mereka semakin jauh. Dan dengan
sendirinya, perahu yang mereka tumpangi itu pun semakin terlihat mengecil. Dan
akhirnya lenyap sama sekali.
Kini perhatian Arya tertuju penuh
pada tujuannya semula. Mencari Pulau Ular! Dewa Arak melakukan perjalanan
dengan tergesa-gesa. Dia ingin buru-buru tiba di tempat yang dituju. Maka tanpa
segan-segan lagi, segera dikerahkan tenaga dalamnya pada tangan yang mengayuh
dayung. Hebat akibatnya! Perahu itu melaju seperti anak panah yang lepas dari
busur!
Perlahan-lahan matahari merangkak semakin tinggi. Dan seiring semakin
tingginya matahari, hari pun semakin siang. Dan dengan sendirinya, Arya pun
mulai lelah. Rasa lapar dan haus menyengat kerongkongannya.
Dewa Arak lalu menyimpan
dayungnya, dan membiarkan perahunya terbawa arus gelombang. Sesaat kemudian,
pemuda berambut putih keperakan ini mulai sibuk dengan bekal yang diberikan
gerombolan Pasukan Tengkorak Laut. Memang, begitu mengetahui tujuan Dewa Arak,
mereka memberikan bekal makanan dan minuman yang diperkirakan cukup hingga
sampai sana.
***
Pada hari ke enam pelayarannya,
hati Dewa Arak mulai berdebar tegang. Samar-samar hidungnya
mencium bau amis memuakkan yang
dibawa angin laut. Tanpa ragu-ragu lagi Dewa Arak segera mengambil sebutir pil
penawar racun yang diberikan Eyang Sagapati.
Semangat Arya yang semula sudah
mulai pudar, kembali timbul. Dia seolah-olah mendapat tambahan tenaga baru.
Sepercik harapan mulai terbetik di hatinya. Mudah-mudahan saja, bau amis
memuakkan ini adalah pertanda kalau dia telah memasuki wilayah Pulau Ular!
Kalau menuruti perasaan hati,
ingin rasanya Arya mengayuh sekuat-kuatnya agar segera tiba di tempat tujuan.
Tapi kehati-hatiannya dan sikap waspada telah melarangnya. Dia tidak ingin
usahanya kandas, hanya karena sikap ceroboh. Maka sekuat tenaga perasaan
melonjak-lonjak untuk mengayuh dayung-nya secepat mungkin ditahannya. Dewa Arak
terus mengayunkan dayung perlahan-lahan.
Semakin lama, bau amis yang
tercium semakin menyengat hidung. Semula Dewa Arak masih sanggup bertahan. Tapi lama-kelamaan,
dia mulai tidak kuat lagi. Bau amis itu terlalu memuakkan. Sepertinya tepat di
hadapannya ada sebukit sampah udang mentah! Amisnya begitu memuakkan, mem-buat
seluruh isi perutnya seperti akan tumpah ke luar!
Terpaksa Arya menghentikan gerak
mendayungnya sebentar. Dia yakin kalau maju beberapa tombak lagi, kemungkinan
tidak akan tahan terhadap bau amis yang membuat isi perutnya teraduk itu. Bau
amis itu sudah begitu luar biasa keras. Padahal, perairan yang diberi tahu oleh
Ki Temula belum ditemukannya.
Kini pemuda berambut putih
keperakan ini mengerti, mengapa kakek berwajah tirus itu langsung
mundur teratur begitu tiba di
wilayah pertama menuju Pulau Ular. Kalau halangan pertamanya saja sudah seperti
ini, bagaimana dengan halangan selanjutnya?
Secepat kayuhannya dihentikan,
secepat itu pula Arya membuka buntalan kain putih yang berisi obat-obat yang
diberi oleh Eyang Sagapati. Kemudian segera dikeluarkannya sebuah kendi kecil
dari buntalan itu. Seketika tutupnya dibuka.
Bau wangi dan harum yang menyerap
sejuk sampai ke dada, tercium begitu tutup kendi itu terbuka. Tapi hanya sesaat
saja bau wangi dan harum itu menyebar. Sesaat kemudian, bau amis memuak-kan itu
kembali menyeruak.
Tanpa pikir panjang lagi, Dewa
Arak segera menuangkan kendi itu ke sekeliling perahu. Ternyata, isi kendi itu
berupa bubuk-bubuk halus mirip tepung. Eyang Sagapati memang memberikannya pada
Dewa Arak, untuk melawan bau busuk yang memuakkan.
Arya terus menaburkannya sampai
seluruh isi kendi itu habis. Dari ahli obat istana nomor satu itu, dia telah
tahu kalau bubuk itu dibuat dari campuran beberapa macam tumbuhan. Di antaranya
adalah kayu pohon cendana dan kayu rasamala.
Wewangian yang diberikan Eyang
Sagapati ter-nyata cukup membuahkan hasil. Meskipun tidak terusir seluruhnya,
tapi bau amis yang menerpa hidung Arya tidak lagi sekeras semula. Sebagian
besar sudah tertutupi oleh bau wangi yang timbul dari bubuk yang ditaburkannya
tadi.
Kini Dewa Arak kembali
mengayunkan dayung untuk melanjutkan perjalanan yang tadi tertunda sejenak. Bau
amis yang memuakkan mulai semakin menguat lagi, walaupun tidak bisa sekeras
seperti sebelum dilawan dengan wewangian.
Tak lama kemudian, Arya mulai
melihat per-mukaan air laut yang berwarna hitam pekat. Arya bingung memikirkan,
mengapa permukaan air laut yang berwarna biru tidak bercampur dengan per-mukaan
air laut yang berwarna kehitaman.
Tapi Arya tidak sempat
memikirkannya, karena sudah sibuk memusatkan seluruh pikirannya untuk
menghadapi hambatan-hambatan yang akan di-jumpai.
Sepasang mata Arya terbelalak
begitu melihat asap tipis mengepul di atas pemukaan air yang berwarna hitam
itu. Seketika tercium bau amis memuakkan dari asap yang mengepul itu.
Kini Dewa Arak tahu, dari mana
asal bau amis yang membuat seluruh isi perutnya seperti diaduk-aduk itu.
Ternyata, bau itu berasal dari larutan air yang berwarna hitam kelam.
Arya tidak berani main-main.
Dengan gerakan hati-hati, dayungnya dikayuh. Pemuda berambut putih keperakan ini tidak berani mengayuh secara sembarangan dan ceroboh. Dia
khawatir larutan berwarna hitam itu akan memercik ke tubuhnya. Padahal, dia
sama sekali belum mengetahui
keistimewaan air itu.
Karena Arya mengayuhnya secara
hati-hati, tidak aneh kalau laju perahu itu pun tersendat-sendat. Pelan sekali
seperti seekor keong merayap.
Cukup lama juga Arya mengayuh kan
dayungnya melalui laut yang memiliki air yang berwarna hitam itu. Baru ketika
matahari naik tinggi, warna air laut berubah merah seperti darah. Baunya pun
tidak lagi amis seperti sebelumnya. Namun justru bau busuk yang kini
menyerangnya. Seakan-akan di hadapan Arya tergeletak bangkai tikus yang telah
membusuk.
Bila dibandingkan sebelumnya, bau
air laut yang berwarna merah ini tidak terlalu memualkan perut. Tapi mendadak
Arya terkejut ketika merasa kan sepasang kelopak matanya jadi berat. Bahkan
beberapa kali tanpa sadar, sepasang kelopak matanya mengatup sendiri.
Semula Arya tidak merasa curiga.
Hal itu dianggap-nya wajar saja. Mungkin karena dirinya terlalu lelah, sehingga
tanpa dapat ditahan lagi sepasang kelopak matanya terkatup sendiri.
Dewa Arak baru merasa curiga
ketika merasakan ada kekuatan aneh yang menarik perahunya.
Perahunya terbawa ke suatu tempat.
Seketika itu juga Arya
terperanjat. Langsung dia tersadar kalau lautan yang berbau busuk itu
mengandung racun, sehingga membuat orang mengantuk tanpa disadari. Maka
tanpa ragu-ragu lagi, Dewa Arak segera menelan pil pemberian Eyang Sagapati.
Pil yang khusus untuk mengusir pengaruh racun pembius.
Memang setelah Arya menelan pil
itu, tak lama kemudian rasa kantuknya mulai berkurang banyak. Apalagi pemuda
berambut putih keperakan itu kini telah berusaha menahan rasa kantuk yang
melanda.
Dan begitu tersadar, Dewa Arak
jadi terkejut bukan main. Kekuatan yang menarik perahunya ke satu arah ini
telah semakin bertambah saja. Berdasarkan pengalaman yang pernah dialami ketika
dulu terbawa kekuatan di sungai, Dewa Arak segera bersikap waspada. Dan begitu
mengetahui kalau perahunya ditarik sebuah kekuatan aneh, pemuda berambut putih
keperakan ini segera melayangkan pandangan ke depan. Seketika itu juga,
sepasang mata Dewa Arak terbelalak.
Betapa tidak? Sekitar beberapa
tombak dari perahunya, nampak sebuah pusaran air. Suara bergemuruh yang
mengerikan terdengar mengiringi putaran air itu.
Dewa Arak sadar kalau terlambat,
bahaya besar akan mengancamnya. Perahunya akan luluh lantak dalam pusaran air
itu apabila tidak segera berusaha meloloskan diri.
Tanpa pikir panjang lagi, Dewa
Arak segera mengayuhkan dayungnya, untuk segera meninggal-kan tempat itu. Tahu
akan ancaman bahaya yang telah mengintai, seluruh tenaga dalam langsung
dikerahkannya.
Untung bagi pemuda berambut putih
keperakan ini. Ternyata perahunya masih berada dalam luar pusaran air.
Sehingga, kekuatan yang menarik perahunya belum terlalu kuat. Sedikit demi
sedikit perahu Arya mulai meninggalkan tempat itu.
"Hhh...!"
Arya menghembuskan napas lega
begitu perahu-nya telah berhasil meninggalkan tempat berbahaya tadi. Diam-diam
pemuda berambut putih keperakan ini bergidik. Kalau saja tidak keburu merasa
curiga begitu diserang kantuk yang amat sangat, mungkin dia kini telah berada
di dasar lautan bersama perahunya yang telah hancur berkeping-keping.
***
Begitu telah berhasil meloloskan
diri dari pusaran air, Dewa Arak baru sadar kalau telah salah arah. Tampak
matahari kini telah berada di sebelah kanannya. Berarti, Arya telah menuju ke
arah Utara. Jadi tanpa sepengetahuannya, dia telah terseret arus
putaran ke arah Utara.
Kini Dewa Arak kembali berusaha
menempuh jalan yang benar. Patokan yang menjadi dasar arah bagi Dewa Arak
memang sudah tidak mungkin diragukan lagi. Matahari!
Seiring bergantinya warna air laut menjadi berwarna hijau, samar-samar di
hadapan Dewa Arak tampak sebuah pulau.
Seketika itu juga wajah Dewa Arak
berseri. Sudah tidak bisa diragukan lagi kalau pulau yang tampak di hadapannya
ini adalah Pulau Ular. Karena, semuanya persis dengan cerita Ki Temula.
Kakek berwajah tirus itu memang
telah mem-beritahukannya. Dan semua memang cocok dengan yang ditemuinya. Begitu
telah menemukan laut yang airnya berwarna hijau, Dewa Arak akan melihat sebuah
pulau. Dan itu memang dijumpainya.
Seketika itu juga semangat Dewa
Arak semakin berkobar-kobar. Meskipun begitu, sikapnya diusaha-kan untuk
tenang. Dia tidak mau menuruti luapan perasaan semata-mata. Maka sungguh pun
keinginan untuk segera tiba di Pulau Ular begitu menggebu-gebu, Dewa Arak tetap
tenang melajukan perahunya.
Entah berapa lama perahunya melaju,
namun pemuda berambut putih keperakan ini sama sekali tidak mempedulikannya.
Yang jelas, suasana masih cukup terang ketika warna permukaan air laut berubah.
Tidak lagi hijau seperti sebelumnya, tapi biasa seperti warna air laut umumnya.
Dan begitu Dewa Arak telah
menemukan per-mukaan air laut yang biasa, daratan itu telah semakin jelas
terlihat. Seketika pemuda berambut putih keperakan ini mengerutkan alisnya.
Betapa tidak? Daratan Pulau Ular ternyata terletak jauh di atas
permukaan laut Sulit bagi orang
untuk mendarat di sana.
Tambahan lagi, arus gelombang
laut di sekeliling pulau itu tidak terarah. Begitu menghantam dinding pulau itu
gelombang air langsung berbalik, menyebar ke segala arah.
Beberapa saat lamanya Arya kebingungan.
Bagaimana cara mendarat ke sana? Jangankan mendarat, untuk mendekati pulau itu,
perahunya tidak bisa. Setiap kali dikayuh mendekati pulau itu, setiap kali pula
perahunya hampir terguling karena terkena dorongan air yang menghempas dari
dinding pulau. Paling tidak, perahu itu akan terdorong kembali ke telakang.
Beberapa saat lamanya Dewa Arak
tercenung. Menilik dari dahinya yang berkernyit, sudah dapat dipastikan kalau
tengah berpikir keras.
Tak lama kemudian kernyit di dahi
Arya lenyap, berganti dengan sinar keceriaan. Bahkan sepasang matanya pun
berbinar-binar. Jelas kalau sebuah gagasan telah ditemukannya.
Dewa Arak segera mengambil dua
bilah papan dan tambang dari sudut perahu, kemudian diikatkan di bawah alas
kakinya.
"Hih...!"
Arya menggertakkan gigi. Kedua
lututnya menekuk sebentar. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah me-layang ke atas.
Dia bersalto beberapa kali di udara, kemudian....
Pyarrr...!
Air laut memercik tinggi ke udara
begitu kedua kaki Dewa Arak menyentuh permukaan air laut.
Tidak hanya sampai di situ saja.
Begitu kedua kakinya menyentuh permukaan air, Arya lalu kembali
melompat ke udara, dan bersalto
beberapa kali. Kemudian kakinya menyentuh permukaan laut
dengan menimbulkan percikan air di sana-sini. Begitu seterusnya.
Memang dengan cara seperti itu,
Arya tidak mengalami kesulitan untuk mendekati daratan pulau. Hanya dalam
beberapa kali lompatan saja, tubuhnya sudah berada dekat dinding Pulau Ular.
"Hih...!"
Kembali Arya menggertakkan gigi.
Seketika itu juga tubuhnya melayang ke atas. Tapi kali ini lebih tinggi daripada
sebelumnya. Maksudnya memang untuk bisa mendarat di permukaan Pulau Ular. Tubuh
Dewa Arak lalu melenting ke atas, dan bersalto beberapa kali di udara. Maka....
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kaki
Dewa Arak mendarat di tanah.
5
Secepat kedua kakinya mendarat di
tanah yang ternyata becek, secepat itu pula Dewa Arak mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Sikapnya benar-benar waspada. Tampak di
hadapannya, hamparan rumput kering berwarna kecoklatan yang tinggi
menjulang.
Setelah melepaskan alas kakinya,
Dewa Arak terpaku. Dia tahu tidak ada jalan lain untuk masuk terus ke dalam
pulau itu kecuali melewati hamparan rumput kering yang tinggi membentang. Kanan
kirinya adalah tebing-tebing tinggi, yang di bawahnya terhampar lautan luas.
Perlahan dan hati-hati sekali Dewa Arak melangkah mendekati hamparan rumput
itu. Kelihatannya dekat saja letaknya, tapi ketika didekati rupanya jauh
juga. Jarak hamparan padang rumput itu dari tempat Arya tadi berdiri tak kurang
dari tiga puluh tombak.
Selangkah demi selangkah Dewa
Arak bergerak mendekat. Arya melangkah hati-hati sekali. Walau suasana di
sekeliling sepi-sepi saja. Kewaspadaannya tetap tidak ditinggalkan. Sepasang
matanya menatap berkeliling. Mendadak....
Blosss...!
Dewa Arak terperanjat ketika kaki
kanannya amblas ke dalam tanah sampai sebatas betis. Tanah yang dipijaknya
ternyata empuk seperti bubur!
Belum lagi lenyap perasaan
kagetnya, mendadak Arya merasakan adanya kekuatan aneh yang menarik
kakinya terus ke dalam tanah.
"Lumpur hidup...,"
desis Arya dengan hati berdebar tegang. Memang dia telah cukup sering mendengar
tentang lumpur hidup. Tapi, baru kali ini ditemukannya.
Sebuah keuntungan bagi Dewa Arak,
karena hanya sebelah kakinya saja yang masuk ke dalam lumpur hidup itu. Sementara
kaki kirinya masih berada di tempat yang aman. Maka, berkat ilmu meringankan
tubuhnya yang luar biasa, tidak sulit bagi pemuda berambut putih keperakan itu
untuk tidak mem-biarkan seluruh tubuhnya terserap lumpur hidup.
Tapi hanya sesaat saja Arya dilanda
perasaan bingung. Sesaat kemudian, dia sudah kembali seperti sikapnya semula.
Tenang dan penuh perhitungan.
Tanpa ragu-ragu, Dewa Arak segera
mengerahkan seluruh tenaga dalam untuk menarik kembali kakinya yang terbenam
dalam lumpur. Sesaat kemudian, adu tarik-menarik pun terjadi. Arya mengerahkan
seluruh tenaga dalam yang dimiliki untuk menarik kembali kakinya. Sementara
lumpur hidup itu berusaha menyedot kaki Dewa Arak ke bawah.
Adu tarik-menarik rupanya tidak
berlangsung lama. Dewa Arak dengan tenaga dalamnya yang telah mencapai
tingkatan tinggi, tidak mengalami kesulitan sedikit pun untuk menarik kembali
kakinya. Sesaat kemudian, perlahan-lahan kaki kanannya mulai ter-angkat naik.
Dan kini dia telah berhasil mem-bebaskan kakinya dari cengkeraman lumpur hidup
itu.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas lega.
Diam-diam pemuda berambut putih keperakan itu bersyukur, karena tetap bersikap
hati-hati. Kalau saja tadi tidak
bersikap hati-hati, mungkin sudah
tewas di dalam lumpur hidup itu.
Mendadak Dewa Arak tersentak.
Dirasakan adanya getar-getar aneh pada kaki kanannya. Bergegas kepalanya
ditolehkan. Dan seketika itu juga sepasang mata Arya terbelalak. Betapa tidak?
Di sekujur kaki sampai sebatas tutut, bertengger benda-benda hidup berwarna
hitam sebesar jari. Lintah! Dan menilik dari bentuknya yang sudah gendut-gendut
itu, bisa dipastikan kalau lintah-lintah itu telah cukup lama mengisap
darahnya!
Menilik dari banyaknya, Arya
tidak mau membunuh mereka dengan tangan. Pemuda berambut putih keperakan ini
merasa jijik membunuh binatang-binatang itu dengan tangan kosong. Maka tanpa
ragu-ragu lagi 'Tenaga Dalam Inti Matahari' segera dikerah-kan.
Sebenarnya bisa saja Dewa Arak
membunuh binatang-binatang itu dengan semburan araknya. Tapi, dia tidak ingin
menghamburkan araknya untuk hal-hal yang kurang penting. Karena masih ada hal
yang lebih penting lagi yang membutuhkan araknya. Itulah sebabnya sepanjang perjalanan menuju kemari, araknya tidak pernah diminum.
Bergegas Arya memusatkan pikiran.
Dan sesaat kemudian, hawa panas dari pusar bergolak ke arah kakinya. Hanya
sekejapan saja, hawa panas itu telah berada di kakinya.
Hebat bukan main akibatnya! Satu
persatu tubuh lintah-lintah itu berguguran ke tanah. Tubuh binatang-binatang
itu melipat, lalu menggeliat-geliat di tanah. Dan akhirnya , diam tidak
bergerak lagi.
Baru saja lintah-lintah itu tidak
bergerak lagi, mendadak rasa pusing menyerang Arya. Semua yang
dilihatnya seperti berputaran.
Bahkan bukan hanya itu saja. Sekujur urat-uratnya pun terasa mengejang.
Meskipun dalam keadaan seperti
itu, otak Dewa Arak masih sempat berpikir. Tidak salah lagi, lintah-lintah itu
pasti beracun! Begitulah kesimpulan yang diambil pemuda berambut putih
keperakan itu.
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi,
buntalannya segera dijumput. Kemudian dengan susah, karena urat-uratnya yang
telah mengejang, dan juga karena pandangannya yang sudah tidak jelas, pemuda
berambut putih keperakan ini berhasil mengambil obat yang dicarinya. Dan begitu
didapat, segera ditelannya.
Baru saja obat itu ditelannya,
Arya sudah tidak sanggup lagi menahan rasa pusing yang menyerang. Diiringi
sebuah keluhan tertahan, Dewa Arak roboh pingsan.
***
Entah sudah berapa lama Dewa Arak
tidak sadarkan diri. Yang jelas ketika sadar, matahari telah muncul di ufuk Timur.
Sementara sewaktu perasaan pusing menyerangnya, matahari baru saja tergelincir
dari titik tengahnya. Jadi, paling sedikit Arya telah tidak sadarkan diri
selama semalaman lebih.
Setelah menggeliat-geliatkan
tubuh beberapa saat lamanya, Dewa Arak baru bangkit dari berbaringnya, kemudian duduk. Dahinya berkernyit mencoba mengingat-ingat kejadian yang
dialami sampai tahu-tahu tertidur.
Tidak sulit bagi pemuda berambut
putih keperakan ini untuk mengingat-ingat kejadian yang dialami. Karena, di
hadapannya masih terpampang bukti-bukti
yang membantunya untuk
mengingat-ingat.
Kini Dewa Arak tercenung.
Sepasang alisnya nampak bertautan. Jelas ada sesuatu yang dipikir-kannya.
Memang, dia tengah memikirkan jalan untuk nelewati lumpur hidup ini.
Dewa Arak yakin, pasti ada jalan
lain untuk menuju ke tengah pulau. Maka, pandangannya diedarkan ke sekeliling.
Pulau tempatnya berdiri ini hanya pulau kecil. Lebarnya tak lebih dari dua
ratus tombak. Kalau panjangnya, Dewa Arak sama sekali tidak bisa memperkirakan,
karena di hadapannya terpampang hamparan rumput ilalang tinggi. Dan lagi, lebar
pulau yang disinggahinya juga tertutup hamparan rumput ilalang!
Yakin pada dugaannya, membuat
semangat Dewa Arak kembali bangkit. Cepat dia bangkit berdiri, kemudian
berjalan ke arah kiri pulau sampai tiba di ujungnya. Tak lupa di sepanjang
perjalanan menuju ke sana, dipungutnya batu-batu sebesar kepala yang berserakan
di sana-sini.
Iseng-iseng Arya melongokkan
kepala ke bawah. Tampak olehnya lautan yang membentang di sana. Agak ciut juga
hatinya. Maka, pandangan Arya segera dipalingkan.
Kini Dewa Arak kembali pada
maksudnya semula, mencari jalan yang aman untuk masuk ke dalam pulau.
"Hih...!"
Arya mulai dengan percobaannya.
Dilemparkannya baru itu ke atas tanpa pengerahan tenaga dalam sama sekali.
Wuuuttt..!
Baru itu meluncur naik ke atas.
Dan setelah daya lontarannya habis, batu itu meluncur ke tanah dalam
jarak sekitar dua tombak di
hadapan Dewa Arak. Brukkk...!
Batu sebesar kepala itu jatuh di
tanah. Kontan tanah yang kelihatannya keras, langsung melesak. Batu itu
tenggelam sedikit ke dalam tanah yang ternyata bagian dalamnya empuk.
Semula hanya sebagian kecil saja
yang terbenam. Tapi, semakin lama semakin banyak bagian batu yang tenggelam.
Rupanya tanah yang terlihat keras itu di dalamnya adalah lumpur hidup yang akan
menyedot apa pun yang berada di atasnya.
Arya bergidik melihatnya, tak
sanggup mem-bayangkan kalau seandainya terjeblos di lumpur hidup yang tertutup
lapisan tanah tipis itu.
Dewa Arak tidak hanya sekali saja
mencobanya. Kakinya segera melangkah sekitar tiga tindak ke
tanah, kemudian kembali
melemparkan batu sebesar kepala yang dibawanya. Lagi-lagi batu itu tenggelam.
Tapi Dewa Arak tidak putus asa, dan terus melangkah ke kanan sambil melemparkan
batu itu. Hasilnya tidak jauh berbeda.
Dewa Arak terus saja mencoba
sampai akhirnya tiba di bagian paling kanan pulau itu. Kini pemuda berambut
putih keperakan ini tidak bisa lagi mencobanya karena di sebelah kanannya, nun
jauh di bawah, terbentang lautan luas.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas panjang,
antara bingung dan putus asa. Jelas dari hasil percobaannya dapat diketahui,
tidak ada jalan yang aman untuk masuk ke dalam pulau. Jalan satu-satunya
hanyalah melalui lumpur hidup. Tapi bagaimana caranya?
Untuk yang kesekian kalinya Dewa
Arak tercenung. Pikirannya berputar keras, mencari jalan untuk
melewati lumpur hidup itu.
Sepasang alis Arya hampir bertautan saking kerasnya berpikir.
Beberapa saat lamanya Arya
bersikap seperti itu, berdiri dengan sepasang alis berkerut. Sementara ibu jari
dan telunjuknya mengelus-elus dagu. Sepasang matanya menatap tak bergeming pada
satu titik.
Beberapa saat kemudian, wajah
Arya berseri. Kerutan pada sepasang alisnya pun lenyap. Suatu bukti kalau telah
ditemukan suatu cara.
Kini Arya menerawangkan
pandangannya ke depan. Diperkirakannya jarak dari tempatnya berdiri, kehamparan
rerumputan yang terdapat di sana. Menurut perhitungannya, jarak itu tak kurang
dari tiga puluh tombak! Sebuah jarak yang teramat jauh untuk dapat
dilompatinya, sekalipun mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang
dimilikinya.
Tapi kini dia telah menemukan
cara untuk mengatasinya. Diambilnya beberapa buah batu sebesar kepalan tangan.
Semuanya dimasukkan ke balik bajunya. Hanya satu saja yang dipegangnya.
"Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, Dewa
Arak melompat melewati lumpur hidup yang tertutup lapisan tanah tipis. Tapi
seperti yang sudah diperhitungkan, sebelum mencapai tengah-tengah, daya lontar
pada tubuhnya pun habis. Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh-nya meluruk deras ke
bawah.
Tapi Dewa Arak tidak menjadi
gugup, karena hal ini memang sudah diperhitungkan. Maka begitu kedua kakinya hampir menyentuh tanah, batu yang
digenggamnya dijatuhkan ke bawah.
Plukkk...!
Batu sebesar kepalan tangan itu
jatuh di tanah. Seketika itu pula tanah yang kelihatannya keras
melesak ke dalam. Padahal, Arya
melontarkan batu itu tanpa mengerahkan tenaga dalam.
Tukkk...!
Dengan perhitungan matang, Dewa
Arak menotok-kan ujung alas kakinya ke batu yang dilontarkan. Dan dengan
meminjam tenaga landasan pada batu itu, tubuh Dewa Arak kembali melenting ke
udara. Sementara, batu itu langsung tenggelam terserap lumpur hidup.
Tapi sebelum mencapai tempat yang
dipenuhi hamparan rumput luas, tubuh Arya telah kembali meluruk turun ke tanah.
Maka kembali dijatuhkannya balu yang dibawa. Kemudian kembali ditotokkan ujung
alas kakinya ke batu. Kembali tubuh pemuda berambut putih keperakan itu
melambung ke atas.
Dewa Arak terus melakukannya
berkali-kali untuk dapat tiba di tempat yang penuh rumput-rumput ilalang kering.
Hambatan-hambatan yang diterima
Dewa Arak tidak hanya itu saja. Di hamparan rumput itu pun menghadang
hambatan-hambatan yang tidak kalah mengerikan. Ular kecil, kelabang, lintah,
kalajengking, dan bermacam-macam binatang lainnya menyerbu dari balik rerimbunan
alang-alang itu. Namun berkat kelihaiannya, Arya mampu mengatasi semuanya
meskipun dengan susah payah.
Kini Dewa Arak menatap sebuah
bangunan sederhana yang terpampang di hadapannya. Tidak salah lagi! Bangunan
ini pasti tempat tinggal Kelelawar Beracun! Maka tanpa ragu-ragu lagi, pemuda
berambut putih keperakan ini segera bergerak menghampiri.
6
"Kelelawar Beracun...!
Keluar kau...!" Masih dengan napas terengah-engah, Dewa Arak berseru
me-manggil. Keras bukan main suaranya, karena di-keluarkan lewat pengerahan
tenaga dalam.
Kriiit..!
Suara bergerit tajam terdengar mengiringi
terbukanya pintu pondok itu. Dan dari balik pintu yang terkuak, muncul
sesosok tubuh tinggi kurus
berpakaian serba hitam. Sepasang matanya yang kecil dan merah tampak
menyeramkan sekali dengan wajahnya yang pucat. Inilah Kelelawar Beracun, yang
membuat Melati terluka!
Terdengar suara gemeretak dari
mulut Dewa Arak begitu melihat sosok tubuh di ambang pintu itu. Meskipun belum
pernah melihat, tapi dari ciri-ciri
yang diceritakan, sudah bisa diduga kalau itu adalah Kelelawar Beracun!
"Siapa kau, Anjing
Kecil?!" tanya Kelelawar Beracun kasar penuh kemarahan.
Dan memang, Kelelawar Beracun
marah bukan main mendengar panggilan Dewa Arak. Dengan sorot mata penuh
ancaman, kakinya melangkah meng-hampiri pemuda berambut putih keperakan itu.
Kedua tangan Dewa Arak menggigil
keras karena hawa amarah yang bergelora. Memang, hatinya panas bukan main
mendengar sambutan laki-laki berwajah pucat itu. Apalagi saat itu, Arya tengah
dilanda kemarahan yang amat sangat, mengingat penderitaan yang dialami
kekasihnya yang diakibat-
kan oleh orang di hadapannya ini.
Tapi karena nasib Melati tergantung pada pertolongan Kelelawar Beracun, Dewa Arak menelan
kemarahan yang menyesakkan dada.
"Aku Arya...," sahut
Dewa Arak dengan suara ber-getar karena hawa amarah yang menyesakkan dada.
"Hmh...!" Kelelawar
Beracun mendengus. Sikapnya jelas terlihat sangat memandang rendah. "Lalu,
apa keperluanmu memanggilku?"
Dewa Arak menarik napas
dalam-dalam dan meng-hembuskannya kuat-kuat untuk meredakan amarah yang
bergejolak dalam dada. Sikap dan ucapan laki-laki berwajah pucat itu
benar-benar menjengkelkan.
"Aku ingin kau ikut
denganku...," masih bergetar nada suara Dewa Arak.
"Ikut denganmu?"
Kelelawar Beracun tersenyum mengejek. Perasaan geli bersarang dalam hatinya
mendengar ajakan itu. "Kalau aku tidak mau?"
"Aku akan
memaksamu...!" tandas Dewa Arak, tegas dan keras.
"Heh...?!"
Berkilat sepasang mata Kelelawar
Beracun. Dia adalah seorang laki-laki yang berwatak angkuh dan selalu
mengagungkan kemampuan sendiri. Maka tidak aneh, jika laki-laki berwajah pucat
ini merasa terkejut mendengar ucapan Dewa Arak.
"Kau akan memaksaku?"
Arya mengangguk.
"Ha ha ha...!"
Tawa Kelelawar Beracun meledak,
walau terdengar aneh. Kecil dan melengking tak ubahnya tikus men-cicit.
Wajah Dewa Arak memerah, karena
tahu kalau laki-laki berpakaian hitam itu menertawakan dirinya.
Kalau menuruti perasaan, mungkin
sudah sejak tadi Dewa Arak menerjang Kelelawar Beracun. Tapi kekhawatirannya
akan nasib Melati, membuatnya menelan kemarahan itu.
"Diam...!"
Terpaksa Dewa Arak membentak.
Keras sekali suaranya karena ditopang tenaga dalam tinggi. Bentakan itu tak
ubahnya ledakan halilintar!
Seketika itu juga Kelelawar
Beracun menghentikan tawa. Sikapnya langsung berubah. Dirasakan adanya getaran
kuat yang membuat dadanya terguncang akibat bentakan yang keluar dari mulut
pemuda yang berdiri di hadapannya ini.
Kini laki-laki berwajah pucat ini
sadar, pemuda berambut putih keperakan ini bukan lawan ringan. Dan seiring
timbulnya kesadaran itu, dia pun teringat kalau untuk masuk ke tempatnya, orang
harus melalui berbagai macam rintangan dan hambatan yang penuh bahaya. Tanpa
memiliki kemampuan dan kecerdikan tinggi, tidak akan pernah ada orang yang
mampu masuk ke tempatnya. Tapi, Arya ternyata mampu! Ini saja sudah membuktikan
kalau Dewa Arak bukan orang sembarangan!
Mendapat dugaan seperti ini
membuat Kelelawar Beracun waspada. Pikirannya pun berputar, meng-ingat-ingat barangkali pernah mendengar ada seorang tokoh muda berambut putih
keperakan yang memiliki kepandaian tinggi. Seketika laki-laki ber-wajah pucat
ini tersentak begitu teringatk
"Jadi..., kau... Dewa
Arak...?!" tanya Kelelawar Beracun terbata-bata. Nada suaranya menyiratkan
keterkejutan yang amat sangat. Dia memang telah mendengar julukan tokoh yang
mengemparkan itu.
"Benar," sahut Dewa
Arak, mantap. "Maka, lebih
baik kau ikut denganku secara
baik-baik sebelum terjadi sesuatu pada dirimu."
Untuk pertama kalinya, Dewa Arak
tidak lagi ber-sikap merendah. Pemuda berambut putih kepeakan ini tidak mau
membuang-buang waktu lagi. Itulah sebabnya, dia seperti bersikap sombong.
"Hmh...!" Kelelawar
Beracun mendengus. "Orang lain boleh takut dengan nama besarmu, Dewa Arak!
Tapi jangan harap Kelelawar Beracun akan gentar!"
"Kalau begitu, terpaksa kau
harus kutundukkan dengan kekerasan!"
"Sombong!"
Kelelawar Beracun memaki. Dia
marah bukan main menyaksikan sikap dan ucapan Dewa Arak yang jelas-jelas
seperti merendahkannya.
Setelah berkata demikian, Kelelawar
Beracun lalu melompat menerjang Dewa Arak. Tangan kanannya bergerak menampar ke
arah pelipis. Keras bukan main. Ini terbukti dari deru angin deras yang
menyambar ke arah Dewa Arak.
Dewa Arak tidak mau bersikap
main-main lagi. Segera guci araknya dijumput dan langsung diangkat ke atas
kepala.
Gluk... gluk... gjuk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Seketika itu juga ada hawa hangat yang
menyebar dalam perut Arya. Perlahan hawa hangat itu naik ke kepala. Kontan kedua
kaki pemuda berambut putih keperakan itu mulai oleng.
Sementara itu serangan dari
Kelelawar Beracun meluncur tiba.
Dengan gerakan sempoyongan yang
khas dari ilmu 'Belalang Sakti', Dewa Arak mengelakkan serangan itu. Kaki
kanannya melangkah ke belakang sehingga
tamparan itu mengenai angin
kosong.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Arya. Begitu serangan itu berhasil dipunahkan, tubuhnya berputar ke
kiri dengan bertumpu pada kaki kiri. Sekejap kemudian, tubuh Dewa Arak telah
berada di belakang Kelelawar Beracun. Inilah salah satu gerak jurus 'Delapan
Langkah Belalang'.
Dan secepat tubuhnya telah berada
di belakang, secepat itu pula Dewa Arak melancarkan serangan. Kedua tangannya
dengan jari-jari membentuk jurus belalang, melancarkan serangan bertubi-tubi ke
bahu belakang kanan Kelelawar Beracun.
Semula Kelelawar Beracun
kebingungan tatkala melihat lawan mendadak lenyap dari hadapannya. Tapi begitu
merasakan desir angin dari belakang, dia segera tahu kalau lawan telah berada
di belakangnya. Luar biasa! Meskipun dalam keadaan gawat seperti itu,
Kelelawar Beracun masih
mampu menyelamatkan diri. Bahkan laki-laki berwajah pucat itu tidak
mengelak. Dia hanya menjejakkan kedua kaki, maka tubuhnya melenting ke atas.
Tak pelak lagi serangan Dewa Arak mengenai tempat kosong, lewat beberapa
jengkal di bawah kaki Kelelawar
Beracun.
Arya terperanjat. Sungguh di luar
dugaan kalau lawan akan mengelakkan diri dengan cara seperti itu. Semula dikira
laki-laki berpakaian hitam itu akan mengelak dengan melempar tubuh ke depan dan
bergulingan. Suatu cara yang paling mudah untuk mengelak. Sebenarnya, mengelak dengan cara seperti itu paling tidak membutuhkan ilmu meringankan tubuh yang luar biasa!
Bahkan bukan hanya itu saja yang
dilakukan Kelelawar Beracun. Saat tubuhnya bersalto di udara,
tangan kanannya bergerak
mengibas. Serrr...!
Belasan batang jarum beracun
meluncur ke arah Dewa Arak.
Arya terperanjat dan juga geram.
Sungguh tidak disangka akan mendapat serangan seperti itu.
Meskipun serangan itu datangnya
begitu men-dadak dan tiba-tiba, tapi Dewa Arak tidak gugup. Guci araknya segera
dituangkan ke mulutnya.
Tapi berbeda dengan biasanya,
kali ini arak itu tidak diminum. Begitu masuk ke dalam mulutnya, arak itu
langsung disemburkan Dewa Arak.
"Pruhhh...!" Tringgg,
tringgg...!
Suara berdenting nyaring seperti beradunya benda-benda logam kecil terdengar, ketika arak yang
disemburkan Dewa Arak berbenturan dengan jarum-jarum beracun yang diiepaskan
Kelelawar Beracun. Seketika itu pula semua jarum-jarum yang dilepas-kannya
runtuh ke tanah.
Memang berkat pengerahan tenaga
dalam Arya yang sudah mencapai tingkatan tinggi, percikan arak itu seolah-olah
telah berubah menjadi logam-logam kecil.
Bersamaan dengan kedua kaki
Kelelawar Beracun mendarat di tanah, Dewa Arak telah menyampirkan gucinya
kembali ke punggung. Langsung dilancar-kannya serangan bertubi-tubi ke arah
Kelelawar Beracun. Sesaat kemudian pertarungan sengit pun terjadi.
Hebat bukan main pertarungan
antara kedua orang yang sama-sama memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat
tinggi itu. Yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan hitam dan ungu, yang
terkadang
saling belit dan kemudian saling
pisah.
Suara menderu dan mendesing
menyemarakkan pertarungan. Dan, beberapa kali Dewa Arak harus menyemburkan
araknya begitu Kelelawar Beracun melancarkan serangan jarum-jarum beracun.
Pertarungan antara kedua tokoh
berbeda aliran ini berlangsung cepat. Memang, keduanya sama-sama memiliki
gerakan cepat, sehingga tidak aneh bila dalam waktu sebentar saja dua puluh
jurus telah berlalu. Dan selama itu, belum nampak ada tanda-tanda yang akan
terdesak.
Sebuah keuntungan bagi Kelelawar
Beracun, Dewa Arak ternyata bertarung secara hati-hati. Pemuda berambut putih
keperakan ini tidak ingin lawannya tewas atau terluka parah. Maka, Arya selalu
menahan serangan yang diperkirakan akan mengakibatkan hal-hal yang tidak
diinginkan. Dan tentu saja, hal ini semakin membuat Arya mengalami kesulitan. Padahal, Kelelawar Beracun bertarung disertai pengerahan seluruh kemampuannya.
Kelelawar Beracun memang orang
yang cerdik. Dia tahu kalau lawan tidak terlalu bersungguh-sungguh
menghadapinya. Tapi sebenarnya hal ini membuatnya terpukul, di samping rasa
penasaran yang bukan kepalang. Untuk yang kedua kalinya, dia menelan kenyataan
pahit karena harus bertemu lawan yang memiliki kepandaian di atasnya. Dan yang
lebih menyakitkan hati lagi, lawan itu adalah seorang tokoh muda!
Kelelawar Beracun adalah seorang
yang memiliki keangkuhan tinggi. Selama ini, dia selalu meng-agulkan
kepandaiannya. Menurut anggapannya, tidak banyak orang yang akan dapat menandingi kepandaiannya. Dapat dibayangkan,
betapa kecewa
hati Kelelawar Beracun tatkala
berturut-turut meng-hadapi kenyataan pahit. Dua kali dibuat malu oleh tokoh
muda! Pertama dengan Melati, dan kali ini dengan Dewa Arak!
Memang harus diakui, sewaktu
menghadapi Melati, seluruh kemampuan yang dimilikinya belum dikerahkan. Dan hal
itu memang tidak mungkin dilakukan. Karena, waktu itu dia menghadapi gadis
berpakaian putih itu bersama-sama Tuyul Tangan Seribu (Untuk jelasnya, baca
serial Dewa Arak dalam episode 'Kelelawar Beracun").
Kalau seluruh kemampuannya
dikeluarkan, bukan hanya Melati yang akan celaka. Rekannya pun pasti akan
celaka pula! Dan itu sama sekali tidak diinginkannya.
Kali ini, dirinya harus
menghadapi Dewa Arak seorang diri. Kini tidak ada lagi yang perlu
di-khawatirkan, sehingga bebas mengeluarkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Dia tidak perlu merasa khawatir lagi.
Sebenarnya sejak tadi Dewa Arak
sudah dilanda perasaan heran. Apakah karena jarum beracun ini, laki-laki
berpakaian hitam itu dijuluki Kelelawar Beracun! Rasanya mustahil! Tapi
mengingat tempat tinggalnya yang begitu penuh dilapisi racun-racun mengerikan,
rasanya tidak mungkin kalau hanya karena jarum-jarum dia mendapat julukan
Kelelawar Beracun.
Dewa Arak langsung teringat pada
pamannya yang berjuluk Raja Racun Pencabut Nyawa (Untuk jelasnya, baca serial
Dewa Arak dalam episode per-dananya, "Pedang Bintang"). Pamannya itu
memang tidak mengherankan mendapat julukan seperti itu, karena memang setiap
serangannya selalu mengandung
racun. "Hih...!"
Mendadak Kelelawar Beracun
melempar tubuhnya ke belakang, menjauhkan diri dari kancah pertarungan. Dan begitu telah
berada di udara, dia be-putaran beberapa kali ke belakang.
Arya sama sekali tidak
mengejarnya. Pemuda berambut putih keperakan ini sudah bisa menduga kalau lawan
akan menggunakan ilmu lain. Maka, dia hanya diam menunggu. Dewa Arak tidak
ingin mempergunakan kesempatan itu untuk merobohkan lawan.
Karena Arya tidak mengejarnya,
Kelelawar Beracun sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk melaksanakan
maksudnya. Dengan gerakan indah dan manis, kedua kakinya mendarat di tanah.
Kini keduanya berdiri berhadapan dalam jarak sekitar tujuh tombak.
Dengan sepasang. mata tak lepas
mengawasi gerak-gerik lawan, Dewa Arak mengangkat guci araknya ke atas kepala.
Dan dengan sikap tenang, araknya dituangkan ke mulut.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Arya. Tak lama kemudian, setelah hawa langat
kembali menjalari perut dan kepalanya, kedua kaki pemuda berambut putih
keperakan ini mulai oleng. Langkahnya juga mulai tidak tetap dan
terhuyung-huyung.
Sementara pada saat Dewa Arak
menuangkan arak ke mulutnya, Kelelawar Beracun tengah bersiap mengeluarkan ilmu
andalannya. Kedua tangannya dijulurkan ke depan dengan jari-jari tangan terbuka
lurus dan kaku. Sekujur tangannya, mulai dari
pangkal lengan sampai pergelangan
mengejang. Suara mencicit pelan, seperti suara seekor tikus terdengar dari
mulutnya. Dan perlahan-lahan, kedua tangan itu direntangkan ke samping.
Tepat ketika tubuh Dewa Arak
mulai sempoyongan, dari seluruh tubuh Kelelawar Beracun mengepul uap tipis
berwarna putih. Karuan saja hal ini membuat Dewa Arak terbelalak. Memang
diakui, dia pun mampu mengeluarkan asap tipis dari sekujur
tubuhnya. Tapi itu dilakukan bila tengah memusatkan pikiran untuk mengeluarkan tenaga dalamnya,
'Tenaga Sakti Inti Matahari'!
Begitu kedua tangannya telah
merentang ke samping, mendadak Kelelawar Beracun melompat, Dan dari atas, kedua
tangannya dengan jari-jari terbuka, bergerak menepuk. Yang kanan menepak
pelipis kiri, sementara yang kiri menepak pelipis kanan Arya. Rupanya dia ingin
menggencet hancur kepala Dewa Arak!
Arya terperanjat melihat
kecepatan gerak lawan. Apalagi ketika hidungnya mencium bau amis yang
memuakkan, seiring tibanya serangan Kelelawar Beracun. Bau amis itu membuat
kepala Dewa Arak terasa pusing.
Dewa Arak tidak mau bersikap
sembrono dengan menangkis serangan itu. Dia belum tahu ke-istimewaan ilmu
lawan. Maka diputuskannya untuk mengelakkan serangan itu. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, tubuhnya segera direndahkan dengan cara menekuk lutut.
Plokkk...!
Suara keras menggelegar terdengar
ketika kedua tangan Kelelawar Beracun saling bertemu satu sama lain, karena
sasaran yang ditujunya telah lenyap.
Ternyata tidak hanya sampai di
situ saja serangan Kelelawar Beracun. Begitu serangannya berhasil dielakkan,
kedua kakinya bergerak menendang ke arah dada. Keras bukan main. Suara angin
menderu menjadi saksi kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam serangan itu.
Arya terkejut bukan kepalang.
Apalagi ketika rasa pening yang menyerang kepalanya semakin hebat, seiring
semakin kerasnya bau amis yang semakin menyengat hidung.
Meskipun berada dalam keadaan
yang meng-khawatirkan, Dewa Arak tetap membuktian ke-hebatannya. Dengan
keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti' yang membuatnya mampu melakukan gerakan apa
pun dan dalam keadaan sesulit bagaimana pun, dia mampu mengelakkan serangan
itu.
Cepat laksana kilat, kedua
kakinya menekan tanah. Seketika itu juga, tubuhnya melenting ke belakang.
Akibatnya sudah bisa diduga. Serangan Kelelawar Beracun
hanya menghantam tempat kosong! Karena,
tubuh Dewa Arak sudah tidak berada lagi di situ.
Berbareng mendaratnya kedua kaki
Dewa Arak di tanah, kedua kaki Kelelawar Beracun pun hinggap di tanah pula.
Kembali keduanya berdiri berhadapan dalam jarak lima tombak.
Arya tahu, betapa berbahayanya
setiap serangan yang dilakukan Kelelawar Beracun. Jangankan ter-kena secara langsung.
Baru angin serangannya saja, sudah membuat kepalanya pusing. Padahal laki-laki
berwajah pucat itu baru menyerang sebanyak dua kali! Semakin banyak Kelelawar
Beracun menyerang, dengan sendirinya suasana di sekitar tempat ini akan semakin
banyak dicemari racun ganas. Baru sedikit
saja kepalanya sudah terasa
pusing. Tidak bisa dibayangkannya, bagaimana kalau Kelelawar Beracun sudah
banyak melancarkan serangan!
Maka tanpa ragu-ragu lagi, Dewa
Arak segera menuangkan arak ke dalam mulutnya kembali.
***
7
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian, hawa hangat mulai
merayap di dalam perutnya, dan terus naik ke kepala. Dan kini sikap kedua kaki
Arya mulai tidak tetap.
Dan seiring dengan itu, perasaan
pusing yang tadi mendera kepalanya pun lenyap seketika. Itulah keistimewaan
yang dimiliki Dewa Arak. Gabungan dari arak dan ilmunya, mampu mematahkan hawa
beracun yang menyerang.
Baru saja Arya menurunkan guci araknya, Kelelawar Beracun kembali melesat
menerjang. Sesaat kemudian pertarungan sengit kembali terjadi.
Kini Arya baru sadar, mengapa
lawannya ini mendapat julukan Kelelawar Beracun. Laki-laki
berwajah pucat ini bagaikan seorang manusia beracun. Jangankan serangan tangan
atau kaki, anginnya saja mengandung racun kuat yang mampu membuat lawan pusing
dan terpecah perhatiannya.
Pertarungan antara kedua tokoh
yang sama-sama memiliki kecepatan gerak mengagumkan itu ber-langsung cepat.
Sehingga dalam waktu sebentar saja, lima puluh jurus telah berlalu tanpa
terasa. Dan selama itu, tidak nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak.
Diam-diam Arya merasa bergetar
melihat ke-dahsyatan ilmu yang dimiliki Kelelawar Beracun. Memang bila
ditujukan baginya, kedahsyatan ilmu itu tidak berarti banyak. Tapi jika
ditujukan untuk orang lain? Kelelawar Beracun memang layak dimusnah-
kan! Tapi bila dimusnahkan,
bagaimana dengan Melati?
Diam-diam Dewa Arak harus
mengakui, kalau setelah mengeluarkan ilmu andalan ini kelihaian Kelelawar
Beracun semakin menjadi-jadi. Dan itu tidak bisa dilayani dengan kemampuan
seperti se-belumnya. Terpaksa kemampuannya ditambah. Meskipun begitu, tetap saja Arya tidak
mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Tapi begitu pertarungan menginjak
jurus ke seratus, mulai nampak keunggulan Dewa Arak. Perlahan namun pasti,
Kelelawar Beracun mulai terdesak. Hal ini tidak aneh, karena keistimewaan
ilmunya sama sekali tidak ada gunanya begitu menghadapi Dewa Arak. Hawa beracun
yang telah menyebar ke seluruh tempat itu sama sekali tidak berarti apa-apa.
Kelelawar Beracun hampir putus
asa. Sebab, setiap serangannya mampu dielakkan Dewa Arak. Memang tingkat
kepandaian Arya Buana di atas Kelelawar Beracun.
Dewa Arak selalu mengelakkan
serangan yang dilancarkan Kelelawar Beracun, dan sekali pun tidak pernah
mencoba menangkisnya. Arya tahu kalau setiap serangan lawan mengandung racun
yang tidak terkirakan ganasnya. Makanya dia tidak berani mencoba-coba
menangkisnya. Jadi selama seratus jurus bertarung, belum pernah terjadi
benturan tangan antara mereka secara langsung. Kelelawar Beracun beberapa kali
saja memojokkan untuk mengadu tenaga, tapi selalu berhasil dielakkan Dewa Arak.
Dan andaikata benturan di antara mereka tidak bisa dihindari lagi, pemuda berambut putih keperakan itu menangkisnya dengan
guci. Akibatnya,
Kelelawar Beracun langsung terhuyung-huyung mundur. Isi dadanya
terasa sesak dan sekujur tangan bergetar hebat. Padahal Dewa Arak belum
mengerah-kan seluruh tenaga dalam pada tangkisan itu.
Merasa putus asa mengajak Dewa
Arak mengadu tangan secara langsung, tambahan lagi menyadari keadaannya yang
mulai terdesak, Kelelawar Beracun terpaksa mengeluarkan senjata andalannya.
Tampak sebuah cambuk yang terbuat dari kulit landak telah tergenggam di
tangannya. Dan menilik dari kebiasaan Kelelawar Beracun, maka sudah bisa
dipastikan kalau senjata yang dimilikinya pun mengandung racun ganas juga.
Ctarrr...!
Ledakan keras seperti ada
halilintar menyambar terdengar setiap kali Kelelawar Beracun melecutkan
cambuknya. Bukan hanya itu saja. Asap tipis ber-warna putih pun mengepul setiap
kali ujung cambuk membelah udara. Dan tentu saja bukan asap sembarangan,
melainkan asap yang mengandung racun ganas. Bau keras yang membuat Arya
berkali-kali bersin, tercium dari asap yang berwarna putih itu.
Tentu saja hal ini membuat Dewa
Arak agak kewalahan. Hidungnya terasa seperti dikilik-kilik. Dan tanpa dapat
dicegahnya lagi, dia bersin. Dengan sendirinya hal ini membuat gerakannya
terganggu.
Dengan adanya cambuk kulit landak
di tangannya, Kelelawar Beracun kembali mampu memperbaiki kedudukannya. Dia
kini tidak lagi kewalahan. Bahkan sebaliknya, Dewa Arak yang mulai main mundur.
Kembali pertarungan sengit
terjadi. Dengan ada-nya cambuk di tangan, Kelelawar Beracun bagaikan seekor
harimau tumbuh sayap. Laki-laki berwajah pucat ini tampak semakin berbahaya.
Tapi hanya sekitar dua puluh
jurus saja Kelelawar Beracun dapat melakukan serangan gencar. Lewat dari dua
puluh jurus, serangan serangan cambuknya mulai mengendur. Tidak aneh, karena
laki-laki ber-pakaian hitam ini sudah merasa sangat lelah. Sebelum mengeluarkan
senjata andalan, dia telah bertarung lebih dari seratus lima puluh jurus. Dan
selama itu, seluruh kemampuannya dikerahkan.
Berbeda dengan Kelelawar Beracun,
Dewa Arak sama sekali tidak merasa lelah. Pemuda berambut putih keperakan ini
memang berbeda dengan orang lain. Setiap kali merasa lelah, araknya langsung
ditenggak. Maka, kontan tenaganya pulih kembali. Itulah sebabnya, meskipun
Kelelawar Beracun telah dilanda rasa lelah yang amat sangat, Dewa Arak masih
tetap segar bersemangat.
Seiring semakin mengendurnya serangan-serangan Kelelawar Beracun, serangan
Dewa Arak datang semakin bertubi-tubi. Arya memang ingin secepatnya merobohkan
lawan. Sampai pada suatu saat...
Tukkk...!
Ujung alas kaki Dewa Arak telak dan
keras sekali mengenai pergelangan tangan kanan Kelelawar Beracun. Seketika
laki-laki berwajah pucat ini me-mekik pelan. Tanpa dapat dicegah lagi,
cambuknya terlepas dari pegangan dan jatuh ke tanah.
Belum lagi laki-laki berpakaian
hitam ini sempat berbuat sesuatu, kaki kiri Arya telah bergerak meluncur cepat
ke arah perutnya. Kelelawar Beracun mencoba untuk mengelak, tapi....
Bukkk...! "Hugh...!"
Kelelawar Beracun mengeluh
tertahan ketika
tendangan Dewa Arak telak dan
keras sekali meng-hantam perutnya. Seketika itu juga tubuhnya terlipat ke
depan. Di saat itulah Dewa Arak kembali me-lancarkan serangan susulan, berupa
totokan ke arah bahu kiri Kelelawar Beracun.
Tukkk...!
Telak dan keras sekali totokan
yang dilancarkan Arya mengenai sasaran. Seketika itu juga tubuh Kelelawar
Beracun lemas, tidak mampu digerakkan sama sekali. Hanya saja, sepasang matanya
melotot menatap Dewa Arak penuh kebencian.
"Kelelawar Beracun, aku
bersedia mengampuni-mu...," kata Arya pelan tapi penuh wibawa. "Asal
kau bersedia memenuhi permintaanku...."
"Cuhhh...!"
Sambutan ludah kental Kelelawar
Beracun ke arah wajah Arya yang menyambut tawaran itu. Untung pemuda berambut
putih keperakan itu sempat mengelak. Kalau tidak, tentu cairan yang menjijikkan
itu sudah hinggap di wajahnya.
"Jangan kau kira aku takut
mati, Dewa Arak! Aku lebih suka seribu kali mati daripada harus memenuhi
permintaanmu!" tandas Kelelawar Beracun kasar.
Arya tercenung tapi pikirannya
berputar keras. Dia bukan orang yang berwatak kejam. Tapi disadari kalau sikap seperti
itu terkadang diperlukan juga. Maka meskipun rasanya bertentangan dengan hati
nurani, Arya mencoba menguatkan hati
"Aku tahu kau tidak takut
mati, Kelelawar Beracun," sahut Arya. Dingin dan datar suaranya. Nadanya
terdengar kaku, sekaku wajahnya. "Tapi perlu kau ketahui, aku tidak akan
membiarkanmu mati begitu saja. Kau akan mengalami siksaan yang mungkin belum
pernah dirasakan selama hidupmu!
Aku akan membuatmu mati secara
perlahan-lahan." Meremang bulu kuduk Kelelawar Beracun men-
dengar ancaman Dewa Arak.
Tertangkap adanya nada ancaman yang hebat dalam suara itu. Sebagai seorang
tokoh persilatan tingkat tinggi, dia tentu saja tahu kalau Dewa Arak mudah saja
menciptakan berbagai macam penyiksaan yang mengerikan. Tapi, Kelelawar Beracun
adalah seorang tokoh hitam yang memiliki keangkuhan tinggi. Maka meskipun perasaan
ngeri mencekam hatinya, dia berusaha menyembunyikannya. Sebuah seringai penuh
ejekan terpampang di wajahnya.
"Jangan katakan aku kejam,
Kelelawar Beracun," tegas Dewa Arak dingin. "Aku telah memberimu
pilihan dan kesempatan. Dan kau telah memilih sendiri kemauanmu...!"
Setelah berkata demikian, dengan
raut wajah dibuat kaku tanpa perasaan, Dewa Arak
membungkukkan tubuh. Telunjuk tangan kanannya menuding kaku, kemudian perlahan
bergerak ke arah jalan darah di bahu kanan Kelelawar Beracun.
"A..., apa yang akan kau
lakukan, Dewa Arak...?" suara Kelelawar Beracun seperti tercekat di
tenggorokan.
Laki-laki berwajah pucat ini
tentu saja tahu, apa yang akan dilakukan Dewa Arak. Pemuda itu memang akan
menotok jalan darah di bahu kanannya. Dewa Arak telah siap menyiksanya! Totokan
pada jalan darah di situ akan membuatnya melolong-lolong, karena dilanda rasa
sakit yang hebat.
Arya tersenyum pahit.
"Hanya sebagai permulaan
dari kematianmu, yang akan kubuat perlahan-lahan tapi penuh penyiksaan,"
sahut Dewa Arak, kalem tapi dengan raut wajah tetap
dingin. "Masih banyak lagi
siksaan mengerikan yang akan kau terima. Ini sekadar pemanasan."
Kontan wajah Kelelawar Beracun
pucat pasi. Menilik dari gerak-geriknya, Dewa Arak tidak main-main dengan
ancamannya. Memang diakui, dirinya tidak takut menghadapi maut. Tapi mati
secara perlahan-lahan dalam keadaan sangat tersiksa, siapa yang tidak ciut
nyalinya?
"T..., tunggu dulu, Dewa
Arak...!"
Agak terburu-buru Kelelawar
Beracun berseru mencegah. Arya yang memang sudah sejak tadi menunggu hal ini,
menahan gerakan tangannya. Kemudian, wajahnya menoleh ke arah laki-laki
berwajah pucat, tapi tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Kau berjanji akan membebaskan
diriku kalau bersedia memenuhi permintaanmu?" tanya Kelelawar Beracun
tidak yakin.
"Aku berjanji," tegas
Dewa Arak.
"Kau tidak akan
mengingkarinya?" kejar Kelelawar Beracun.
Sebagai seorang tokoh sesat yang
terbiasa curang, laki-laki berwajah pucat ini tidak sembarang percaya pada
ucapan orang. Maka dia tidak langsung percaya dengan janji Dewa Arak.
"Jangan sama kan aku dengan
orang sepertimu, Kelelawar Beracun!" sergah Arya keras.
"Kau berani bersumpah untuk
menepati janjimu?" tanpa mempedulikan sama sekali penegasan Arya,
Kelelawar Beracun terus saja membuka suara.
Terdengar suara gemerutuk dari
mulut Dewa Arak begitu mendengar ucapan Kelelawar Beracun. Arya memang dilanda
amarah yang bergolak. Tapi demi keselamatan Melati, kemarahannya berusaha
ditahan.
"Aku berjanji untuk
membebaskan Kelelawar Beracun apabiia bersedia memenuhi permintaanku,"
tegas dan mantap ucapan yang keluar dari mulut Dewa Arak.
Wajah Kelelawar Beracun seketika
berseri begitu mendengar sumpah yang keluar dari mulut Dewa Arak. Rupanya,
ucapan seperti itu sudah cukup baginya.
Setelah mendengar kesediaan dari mulut
Kelelawar Beracun, tanpa ragu-ragu lagi Dewa Arak segera mengulurkan tangan.
Dan sekali jari-jarinya bergerak,
totokan yang membelenggu Kelelawar Beracun pun terlepas.
Kelelawar Beracun bangkit
berdiri, kemudian menggeliat-geliatkan tubuhnya sebentar untuk meng-hilangkan
rasa pegal yang melanda tubuhnya.
"Katakan apa permintaanmu,
Dewa Arak," kata Kelelawar Beracun sesaat kemudian.
"Mudah saja," sahut
Arya. "Obati kawanku yang telah kau lukai."
Berkernyit dahi Kelelawar Beracun
mendengar ucapan itu.
"Kawanmu! Kulukai?"
Arya menganggukkan kepala.
"Siapa kawanmu, Dewa
Arak?" tanya Kelelawar Beracun penasaran.
Benak laki-laki berwajah pucat
itu berputar keras mengingat-ingat orang yang telah dilukainya. Tapi
seingatnya, beberapa hari belakangan ini hanya seorang saja yang bertarung
dengannya. Itu pun mungkin telah tewas. Dia adalah seorang gadis berpakaian
putih yang tinggal di Istana Kerajaan Bojong Gading. Tidak ada lagi yang
lainnya. Diakah
orang yang dimaksudkan Dewa Arak?
Tapi rasanya mustahil! Kelelawar Beracun yakin kalau gadis berpakaian putih itu
pasti sudah tewas! Racunnya tak pernah gagal dalam mengambil nyawa!
"Seorang gadis berpakaian
putih...."
"Ah...!" seruan kaget
dari mulut Kelelawar Beracun membuat Arya menghentikan ucapannya.
"Maksudmu..., gadis berambut panjang yang tinggal di Istana Kerajaan
Bojong Gading?!"
"Benar!" sahut Arya,
mantap.
Seketika wajah Kelelawar Beracun
berubah. "Jadi..., dia belum tewas?"
"Belum. Tapi dia juga belum
sembuh. Makanya, aku datang kemari untuk meminta kau mengobatinya sampai
sembuh."
Kelelawar Beracun tercenung
seketika. Sungguh di luar dugaan kalau Melati belum tewas. Padahal kebenciannya
pada gadis berpakaian putih itu sangat mendalam. Gadis itulah yang telah
membuat Kala Ireng sahabatnya, tewas.
***
Mendadak Kelelawar Beracun melompat menerjang Dewa Arak.
Jari-jari kedua tangannya yang menegang lurus dan kaku melancarkan serangan
bertubi-tubi pada ulu hati, dada, dan perut. Suara mencicit nyaring terdengar mengiringi tibanya
serangan itu.
Dewa Arak terperanjat. Serangan
ini datangnya begitu mendadak dan tidak disangka-sangka. Dia memang tidak
menduga kalau lawannya akan selicik itu. Tapi meskipun begitu, sudah sejak tadi
dia bersikap waspada. Arya memang tidak pernah
meninggalkan kewaspadaannya.
Maka begitu mendapat serangan
mendadak, buru-buru pemuda berambut putih keperakan ini melompat ke belakang sehingga
serangan yang dilancarkan Kelelawar Beracun mengenai tempat kosong.
Tapi ternyata Kelelawar Beracun
memang tidak terlalu bersungguh-sungguh dengan serangannya. Terbukti, begitu
serangannya berhasil dielakkan, dia melesat meninggalkan Dewa Arak.
Karuan saja hal ini membuat Arya
kaget dan buru-buru mengejar. Tapi Kelelawar Beracun tidak tinggal diam. Sambil
terus berlari, dilemparkannya sebuah benda bulat sebesar telur angsa dan
berwarna hitam kecoklatan.
Tercekat hati Arya melihatnya.
Dia tahu, benda bulat yang meluncur ke arahnya itu dapat meledak. Dan seperti
kejadian sebelumnya, sudah bisa diperkirakan kalau benda itu mengandung racun
ganas. Apalagi yang melemparnya Kelelawar Beracun! Maka sebelum yang
dikhawatirkannya terjadi, Dewa Arak segera menghentikan pengejarannya. Tubuhnya
langsung dilempar ke belakang, kemudian
bersalto beberapa kali di udara.
Darrr...!
Ledakan keras terdengar begitu
benda bulat sebesar telur angsa itu mengenai tanah. Seketika itu juga asap
tebal berwarna kemerahan muncul seiring terdengarnya suara ledakan itu.
"Hup...!"
Secepat kedua kakinya mendarat di
tanah, secepat itu pula Arya melentingkan tubuh kembali ke belakang. Dewa Arak
berupaya untuk berada sejauh-jauhnya dari tempat itu. Indah dan manis sekali
gerakannya. Begitu juga ketika
kedua kakinya mendarat di tanah dalam jarak sekitar delapan tombak dari tempat
semula.
Begitu kedua kakinya telah
mendarat di tanah, tanpa membuang-buang waktu lagi Dewa Arak segera
memutar-mutarkan kedua tangan di depan dada dengan arah gerakan dari luar ke
dalam.
Hebat bukan main! Dari kedua
tangan yang berputar itu bertiup angin keras yang langsung menyambar ke depan. Suara keras menderu mengiringi tiupan angin itu. Maka
seketika itu juga asap berwana kemerahan yang perlahan-lahan bergerak menuju ke arah
Dewa Arak, jadi buyar.
Meskipun asap itu telah tidak
tampak lagi, Dewa Arak terus saja memutar-mutarkan kedua tangannya di depan
dada. Dengan sendirinya, angin keras tetap saja berhembus ke depan. Arya ingin
menyapu asap itu sebersih-bersihnya.
Beberapa saat setelah yakin kalau
asap itu telah terusir seluruhnya dari tempat itu, Dewa Arak baru menghentikan
gerakannya. Tapi seperti yang sudah dit-duga, Kelelawar Beracun sudah tidak
lagi berada di situ. Laki-laki berwajah pucat itu memang bermaksud melarikan
diri.
Tapi, Dewa Arak mana mungkin membiarkan
lawannya lolos? Tanpa membuang-buang waktu lagi dia bergerak mengejar.
***
Berbeda dengan biasanya, Dewa
Arak melakukan pengejaran secara hati-hati. Kini tidak lagi seluruh kecepatan
larinya dikerahkan. Memang dia tetap mengerahkan seluruh kelincahan yang
dimiliki, tapi
kecepatan larinya hanya
dikerahkan sebagian kecil saja. Arya harus bersikap hati-hati. Kenyataan telah
menunjukkan kalau pulau aneh ini banyak
mengandung bahaya yang tak terduga.
Bukan hanya kecepatan larinya saja yang dikurangi. Kewaspadaannya pun jauh
ditingkatkan. Pendengarannya dipasang setajam mungkin. Sekujur urat-urat syaraf
di tubuhnya menegang waspada. Dewa Arak benar-benar bersiap menghadapi ancaman bahaya yang tidak
terduga. Suara berkerisik pelan saja, sudah cukup untuk membuat aliran darah di
sekujur tubuhnya mengalir cepat.
Mendadak Dewa Arak menghentikan
langkahnya. Samar-samar telinganya menangkap adanya suara langkah kaki ringan
di belakang. Halus sekali, dan hampir-hampir tidak tertangkap pendengarannya.
Jelas kalau pemilik langkah itu memiliki ilmu me-ringankan tubuh yang tinggi.
Kini setelah Arya berdiri diam
mendengarkan, suara langkah kaki itu terdengar semakin jelas. Jadi benar, Dewa
Arak ada yang menguntit. Yang lebih mengejutkan pemuda berambut putih keperakan
suara langkah yang didengarnya itu tidak hanya satu, tapi tiga! Tiga langkah
yang sama-sama memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. Tak terasa
jantung Dewa Arak berdebar tegang. Apakah pemilik langkah itu adalah Kelelawar
Beracun yang datang lagi sambil membawa kawannya? Apabila benar demikian, dia
akan menghadapi lawan yang amat tangguh!
Ketegangan yang melanda Dewa Arak
semakin memuncak begitu melihat sosok-sosok tubuh yang bergerak mendatangi.
Memang seperti yang sudah diduga, ada tiga sosok tubuh yang berjalan
meng-hampirinya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Dewa
Arak pun mengenalnya. Ini
membuatnya terperangah beberapa saat
Tiga sosok tubuh itu telah cukup
lanjut usianya. Dan masing-masing memiliki ciri-ciri yang saling berbeda. Tapi
yang jelas, ada satu kesamaan pada diri mereka. Yaitu, ketiga sosok itu
sama-sama mengenakan rompi yang terbuat dari kulit macan. Meskipun, kulit macan
yang dikenakan mereka ber-beda-beda pula.
Orang yang bertubuh pendek,
gemuk, dan gendut mirip bola serta berkulit merah mengenakan rompi kulit macan
tutul. Sementara, orang yang bertubuh kekar, berkulit hitam, dan berwajah
kasar, mengena-kan rompi kulit macan kumbang. Sedangkan orang terakhir bertubuh
tinggi kurus dan berwajah kuning. Sehelai rompi terbuat dari macan loreng
mem-bungkus tubuhnya.
Arya tentu saja mengenal tiga
sosok tubuh ini. Ada pengalaman yang sangat berkesan sehubungan dengan ketiga
tokoh ini. Mereka berjuluk Tiga Macan Lembah Neraka (Untuk jelasnya, baca
serial Dewa Arak dalam episode "Tiga Macan Lembah Neraka").
Jantung Dewa Arak berdetak
kencang. Dia tidak tahu, mengapa Tiga Macan Lembah Neraka berada di sini?
Apakah ketiga tokoh yang memiliki kepandaian inggi itu memiliki urusan pula di
sini? Dan mengapa ketiga orang itu mengejarnya? Ataukah hanya searah saja?
Berbagai macam pertanyaan bergayut dalam benak Arya! Tapi tak ada satu pun yang
terjawab.
Ada satu hal lagi yang membuat
Dewa Arak bingung. Perasaan Tiga Macan Lembah Neraka terhadap dirinya belum
jelas. Masih membenci atau tidak? Tapi Arya yang selalu bersikap hati-hati,
segera memasang sikap waspada.
Ketiga sosok tubuh yang tidak
lain dari Tiga Macan Lembah Neraka menghentikan langkahnya. Mereka menatap
wajah Arya lekat-lekat. Karuan saja hal ini membuat Dewa Arak jadi bersikap
waspada, dan langsung berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang akan
terjadi.
Diam-diam Dewa Arak terkejut
bukan main melihat keadaan tiga tokoh sakti itu. Kini mereka amat jauh berbeda
dengan yang dikenalnya. Dulu, Tiga Macan Lembah Neraka tampak begitu angker dan
ber-wibawa. Sorot keganasan dan keangkuhan pun terbayang di wajah mereka. Tapi
kini, mereka telah jauh berubah.
Wajah tiga tokoh Lembah Neraka
ini terlihat begitu layu seperti menanggung beban batin yang amat berat. Sorot
keganasan pun sudah tidak terlihat lagi. Kalau saja tidak menyaksikan sendiri,
Arya tidak mungkin percaya. Padahal, paling lama mereka baru berpisah tiga
bulan! Tapi menilik dari keadaan, sepertinya Dewa Arak sudah tidak berjumpa
dengan Tiga Macan Lembah Neraka selama sepuluh tahun!
"Kau lupa pada kami, Dewa
Arak?" sapa Macan Tutul Lembah Neraka, orang yang sejak dulu selalu
menjadi juru bicara Tiga Macan Lembah Neraka. Pelan dan tidak bergairah nada
suaranya.
"Mana mungkin aku bisa
melupakan kalian bertiga?" sahut Arya dengan nada bertanya.
Lenyap sudah perasaan tegang dan
bimbang yang melanda hati Dewa Arak. Tampak jelas kalau dalam ucapan dan sikap
Tiga Macan Lembah Neraka tidak bernada permusuhan. Tanpa menaruh perasaan syak
wasangka lagi, Arya segera melangkah mendekati ketiga orang itu.
"Apa keperluan yang
mendorongmu kemari, Macan
Tutul?" tanya Dewa Arak
mengajukan keheranannya. Arya merasa lebih baik kalau memanggil ketiga orang
itu julukannya saja.
"He he he...!"
Laki-laki bertubuh pendek gemuk
itu tertawa ter-kekeh. Dewa Arak yang melihatnya jadi bergidik. Meskipun
kelihatannya tertawa, tapi tampak jelas kalau hanya mulut Macan Tutul Lembah
Neraka saja yang tertawa. Sedangkan wajah dan matanya, sama sekali tidak
menampakkan kegembiraan. Begitu tampak kaku dan dingin.
Menilik dari keadaannya, Dewa
Arak bisa mem-perkirakan kalau Macan Tutul Lembah Neraka sudah lama tidak
tertawa. Padahal seingatnya, laki-laki bertubuh pendek gemuk ini adalah tokoh
Tiga Macan Lembah Neraka yang paling suka tertawa. Apakah yang terjadi dengan
ketiga orang ini? Atau, kematian Utari yang telah membuat mereka seperti ini?
"Seharusnya kami yang
mengajukan pertanyaan itu, Dewa Arak," tukas Macan Tutul Lembah Neraka
setengah mencela.
"Maksud kalian...?!"
sepasang mata Dewa Arak terbelalak. Sekelebatan dugaan muncul di benaknya.
Ucapan juru bicara Tiga Macan Lembah Neraka itu memberi petunjuk jelas padanya.
"Kalian tinggal di pulau ini?"
"Benar, Dewa Arak,"
kali ini Macan Kumbang Lembah Neraka yang menyahuti dengan suara khasnya. Keras
dan parau.
"Ahhh...!"
Seruan penuh rasa terkejut
terdengar dari mulut pemuda berambut putih keperakan itu.
"Kalau menurutku, pulau ini
tidak patut mendapat nama Pulau Ular," Macan Loreng Lembah Neraka ikut
pula angkat bicara.
"Hm...," hanya gumaman
pelan dari mulut Arya yang menyambuti ucapan laki-laki bertubuh tinggi kurus
itu.
"Pulau ini lebih patut
mendapat nama Kepulauan Ular. Karena, memang terdiri dari banyak pulau kecil
yang saling berdekatan dan dipisahkan laut,"
sambung Macan Loreng Lembah Neraka lagi.
Arya menganggukkan kepala
pertanda mengerti. "Mendiang Raksasa Rimba Neraka juga tinggal di
antara deretan pulau-pulau yang
ada di sekitar sini," sambut Macan Tutul Lembah Neraka.
Kembali Arya menganggukkan kepala
meskipun sebenarnya ada perasaan tidak enak bersemayam di hatinya. Karena,
dialah yang telah menewaskan tokoh yang disebutkan Macan Tutul Lembah Neraka
tadi. Sementara Raksasa Rimba Neraka adalah sahabat Tiga Macan Lembah Neraka.
Tapi rupanya ketiga tokoh sakti itu sudah melupakannya. Terbukti, tidak ada
perasaan apa-apa yang tampak di wajah mereka.
"Setiap tokoh memang
mempunyai pulau sendiri-sendiri, Dewa Arak," jelas Macan Tutul Lembah
Neraka lagi. "Sungguhpun hanya kecil saja. Keadaan masing-masing pulau
berbeda. Kami memiliki tempat yang tandus. Daerahnya belembah-lembah. Apa bila
siang, panasnya bukan kepalang."
Kini Arya mengerti, mengapa
tempat tinggal ketiga tokoh ini dinamakan Lembah Neraka.
"Sedangkan pulau yang
ditempati Raksasa Rimba Neraka, penuh hutan lebat. Pohon besar dan tinggi
memenuhinya. Banyak binatang buas besar dan kecil yang tinggal di dalamnya,
namun semuanya beracun. Kami bersahabat karena pulau kami bersebelahan."
"Lalu, apakah Kelelawar Beracun termasuk
kawanmu pula, Macan Tutul Lembah
Neraka?" Tanya Arya dengan sikap waspada.
Macan Kumbang Lembah Neraka
menggelengkan kepala.
"Kami tidak suka bersahabat
dengannya, Dewa Arak," jelas laki-laki berkulit hitam itu. "Kelelawar
Beracun seorang tokoh licik dan tidak mempunyai kegagahan. Walaupun kami
sendiri bukan tokoh baik-baik, tapi pantang untuk melakukan kecurangan dalam
pertarungan. Pantang bagi kami bermain racun!"
Arya menghela napas lega.
"Kau punya urusan dengannya,
Dewa Arak?" tanya Macan Tutul Lembah Neraka.
Pemuda berambut putih keperakan itu
menganggukkan kepala.
"Seorang kawan wanitaku dilukainya, dan kedatanganku kemari untuk meminta obat penawar itu
darinya."
Kemudian, Dewa Arak pun
menceritakan semua kejadian yang dialaminya. Sementara Tiga Macan Lembah Neraka
terdiam seketika, begitu Dewa Arak menghentikan ceritanya.
"Lalu kalian hendak ke mana,
Macan Tutul Lembah Neraka?" tanya Dewa Arak pula.
"Mencari Kemamang Danau
Neraka," Macan Loreng Lembah Neraka yang menyahuti. Nampak jelas kalau
nada suaranya mengandung kegeraman.
Diam-diam Arya terkejut bukan
main. Sungguh tidak pernah disangka kalau di Pulau Ular ini terdapat begitu
banyak tokoh. Dan sudah bisa diperkirakan kalau Kemamang Danau Neraka adalah
seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi pula.
"Apakah Kemamang Danau
Neraka tinggal dl pulau
ini?" tanya Arya.
"Tidak. Pulau ini bernama
Rawa Neraka, dan merupakan tempat tinggal Kelelawar Beracun. Sedangkan Kemamang Danau Neraka
tinggal di sebelah pulau ini. Kami terpaksa mengambil jalan memutar karena
tidak enak pada pemilik pulau yang lain. Perlu kau ketahui, Dewa Arak. Bila
dihitung dari pulau ini, kami tinggal di urutan yang ke tiga belas. Paling
ujung. Kalau kami tidak mengambil jalan memutar, berapa banyak kami harus
melalui pulau-pulau yang lainnya?" jelas Macan Tutul Lembah Neraka panjang
lebar.
"Kalau boleh kutahu, mengapa
kalian mencari Kemamang Danau Neraka?" tanya Arya hati-hati
"Dia telah melanggar
perjanjian tidak tertulis, Dewa Arak!" lagi-lagi Macan Kumbang Lembah
Neraka, orang paling beringas di antara Tiga Lembah Neraka yang menyahuti.
Terdengar keras suaranya. Jelas kalau laki-laki berkulit hitam ini merasa marah
bukan main. "Dia akan menguasai pulau sahabat kami yang telah
kosong."
"Pulau milik Raksasa Rimba
Neraka," tanya Arya memastikan.
Macan Kumbang Lembah Neraka
mengangguk. Suasana menjadi hening sejenak, begitu Dewa
Arak tidak melanjutkan
pertanyaannya. Sementara Tiga Macan Lembah Neraka pun sepertinya sudah tidak
berminat lagi memperpanjang pembicaraan.
"Lebih baik, kau ikut kami,
Dewa Arak," ajak Macan Tutul Lembah Neraka memecahkan keheningan yang
terjadi.
Dewa Arak tersentak.
"Jangan salah mengerti, Dewa
Arak," buru-buru laki-laki bertubuh pendek gemuk itu menyambung
pembicaraannya. "Kami tidak
bermaksud melibat-kanmu dengan urusan kami. Tapi perlu kau ketahui, Kelelawar
Beracun adalah sahabat kental Kemamang Danau Neraka. Jadi, bukan tidak mungkin
kalau laki-laki pengecut itu mengadukan masalah ini padanya."
Dewa Arak terdiam.
"Dengan ikut bersama kami,
kau tidak khawatir akan adanya jebakan-jebakan mendadak. Lagi pula, arah yang kau
tuju ini adalah arah keluar dari pulau milik Kelelawar Beracun. Kau tengah
menuju ke pulau kedua, milik Kemamang Danau Neraka."
Kini Dewa Arak tidak membantah
lagi, dan perlahan kepala nya mengangguk. Memang lebih baik melakukan
perjalanan bersama Tiga Macan Lembah Neraka daripada melakukan perjalanan
sendiri. Tiga tokoh Lembah Neraka itu setidaknya lebih mengetahui semua bahaya yang
terkandung di Pulau Ular ini.
8
Kini Dewa Arak tidak lagi
mengalami kesulitan untuk menuju ke tempat kediaman Kemamang Danau Neraka. Dia
hanya tinggal memperhatikan setiap langkah Tiga Macan Lembah Neraka. Diam-diam,
pemuda berambut putih keperakan ini heran, mengapa Kelelawar Beracun mau
tinggal di sekitar tempat ini? Tempat yang selalu becek dan tidak pernah
kering, meskipun di saat musim panas tiba. Tadi dari mulut Macan Tutul Lembah
Neraka, Arya mendengar kalau tempat tinggal Kelelawar Beracun dinamakan Rawa
Neraka. Sungguhpun tidak panas, tapi maut yang tersembunyi di dalamnya tidak
terhitung!
Tak lama kemudian, keempat orang
ini pun telah tiba di pinggir pulau tempat tinggal Kelelawar Beracun. Tepat di
hadapan mereka, terbentang lautan. Sementara di hadapan mereka terlihat sebuah
pulau. Dekat saja jaraknya dari pulau milik Keleawar Beracun. Kini Dewa Arak mengerti, mengapa Macan Loreng Lembah Neraka
mengatakan Pulau Ular tidak pantas disebut pulau, tapi lebih patut disebut
kepulauan.
Tapi siapa yang tahu kalau
sebenarnya pulau ini terdiri dari kumpulan pulau kecil? Tentu saja yang
mengetahuinya hanya orang-orang yang tinggal di dalamnya. Sementara, orang
persilatan golongan putih tidak pernah ada yang berani menginjakkan kaki ke
dalamnya, kecuali Dewa Arak.
Arya mengukur lebar laut yang
memisahkan kedua
pulau itu dengan pandangan
matanya. Menurut perhitungannya, lebih dari tiga puluh tombak. Jarak yang
teramat jauh untuk bisa dilompatinya, sekalipun ilmu meringankan tubuhnya telah
mencapai tingkatan tinggi.
Tapi rupanya Tiga Macan Lembah
Neraka sudah memperhitungkannya. Hal ini terlihat dari ketenangan sikap mereka.
Seperti juga Arya, tiga tokoh yang menggiriskan itu juga mengukur jarak laut
yang memisahkan kedua pulau.
Kemudian, tangan Tiga Macan
Lembah Neraka bergerak ke pinggang. Dewa Arak hanya meng-awasinya saja. Dia
sadar kalau ketiga tokoh Lembah Neraka itu lebih berpengalaman ketimbang
dirinya. Namun demikian sejak tadi benak Dewa Arak berpikir keras, bagaimana
caranya untuk bisa melewati lautan ini?
Seketika wajah Dewa Arak memerah
ketika melihat benda yang diambil masing-masing tokoh Lembah Neraka itu. Mereka
semua melolos sabuk yang melilit pinggang.
"Ah! Betapa dungunya
aku!" maki Dewa Arak dalam hati.
Selama ini Dewa Arak tidak pernah
berpikir untuk menggunakan sabuknya. Dengan sabuk itu, rasanya tidak perlu
repot-repot lagi melalui lumpur hidup di tempat tinggal Kelelawar Beracun.
Dalam hati, Dewa Arak merasa
salut juga pada Tiga Macan Lembah Neraka. Memang, untuk menempuh
lautan yang tidak begitu jauh, menggunakan sabuk sebagai alat
untuk membantu menyeberang adalah cara yang paling tepat.
"Hih...!"
Macan Tutul Lembah Neraka
menggertakkan gigi
seraya melompat menuju pulau
tempat tinggal Kemamang Danau Neraka! Tapi seperti yang sudah diduga, belum
sampai di tengah, kekuatan yang meluncurkan tubuhnya telah habis. Dengan sendirinya, tubuhnya melayang jatuh ke
lautan.
Tapi laki-laki bertubuh pendek
gemuk itu tidak nampak gugup. Memang, hal itu sudah diperhitun-kannya. Maka
begitu meluncur jatuh, sabuknya segera dilecutkan ketika tubuhnya tinggal
berjarak satu tombak lagi dari permukaan laut yang bergolak.
Ctarrr...!
Suara nyaring menggelegar
terdengar ketika ujung sabuk itu mengenai permukaan laut. Air berpercikan ke
atas terkena lecutan sabuk yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Dengan meminjam tenaga dari
benturan antara ujung sabuk dengan permukaan air, laki-laki bertubuh pendek
gemuk itu melentingkan tubuhnya ke atas.
Macan Tutul Lembah Neraka harus
melecutkan sabuknya beberapa kali untuk mencapai pulau itu. Dan kini dia
berhasil mendarat di pinggir pulau tempat tinggal Kemamang Danau Neraka.
Begitu melihat Macan Tutul Lembah
Neraka berhasil mendarat, berturut-turut Macan Kumbang Lembah Neraka, Macan
Loreng Lembah Neraka, dan Dewa Arak melompat menyeberangi laut. Dan berkat ilmu
meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkatan tinggi, bukan merupakan hal
yang sulit bagi mereka untuk menyeberangi lautan itu.
Dan begitu telah berada di
seberang, tanpa membuang-buang waktu, keempat orang itu segera bergerak masuk
ke tengah pulau. Seperti juga pulau yang ditinggali Kelelawar Beracun, pulau
tempat tinggal Kemamang Danau Neraka juga tidak sepi dari
air. Tanahnya becek. Hanya saja,
pulau ini tidak memiliki lumpur hidup seperti yang ada di tempat kediaman
Kelelawar Beracun.
"Aneh...," desah Dewa
Arak. Pelan suaranya dan tidak jelas ditujukan untuk siapa.
"Mengapa, Dewa Arak?"
sambut Macan Tutul Lembah Neraka pelan juga.
"Jalan masuk ke tempat
tinggal ini, aman saja. Tidak penuh bahaya seperti waktu aku masuk ke tempat
tinggal Kelelawar Beracun."
Macan Tutul Lembah Neraka
tersenyum pahit "Bukannya tidak ada bahaya yang membentang di
jalan, Dewa Arak," jawab
laki-laki bertubuh pendek gemuk itu sabar. "Tapi, karena kami telah cukup
mengetahui jalan yang aman. Kalau kau pergi sendiri, kujamin akan banyak
hambatan di perjalanan."
Dewa Arak tercenung. Kini dimengerti,
mengapa jalan menuju pulau tempat tinggal Kemamang Danau Neraka sama sekali
tidak mengandung bahaya. Dia lupa kalau saat ini berjalan bersama orang-orang
yang telah cukup mengetahui jalan-jalan yang aman.
Karena pulau itu memang kecil
saja, sementara keempat orang itu melakukan perjalanan dengan mengerahkan ilmu
meringankan tubuh, maka dalam waktu sebentar saja di hadapan mereka telah
terbentang sebuah danau besar. Dan tepat di tengah-tengah danau itu terletak
sebuah bangunan besar dan megah.
"Itulah tempat tinggal
Kemamang Danau Neraka," tunjuk Macan Tutul Lembah Neraka memberi tahu
seraya menudingkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah bangunan megah itu.
Dewa Arak
melayangkan pandang ke
arah bangunan itu. Diam-diam pemuda berambut putih
keperakan ini memuji kecerdikan
orang yang tinggal di sana. Letak bangunan itu tepat di tengah-tengah danau.
Jadi, dari mana pun lawan akan datang, pemilik rumah itu akan mengetahuinya.
"Kau lihat danau itu, Dewa
Arak," Macan Kumbang Lembah Neraka ikut pula bicara.
Mendengar ucapan itu, Dewa Arak
memandang ke air danau. Seketika itu juga sepasang mata pemuda berambut putih
keperakan ini terbelalak. Air danau itu ternyata bukan air biasa, melainkan
lahar gunung! Itu bisa diketahui dari cairan yang berbentuk kental dan suara
meletup-letup mengiringi setiap gelembung-gelembung yang muncul di permukaan
danau. Uap tipis berwarna putih, tampak mengepul dari
permukaannya.
Yang lebih mengejutkan lagi,
jalan yang menuju ke bangunan itu hanya berupa tonggak-tonggak baja yang
berujung runcing mirip lembing. Yang lebih mengerikan lagi, jarak antara ujung
tonggak-tonggak itu hanya sekitar dua jengkal dari permukaan danau yang
bergolak.
Meremang bulu kuduk Arya melihat
hal ini. Kalau bukan orang yang memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi, jelas
tak mungkin berani menuju ke bangunan itu. Sudah dapat dipastikan, sebelum tiba
di sana, akan terjatuh ke dalam danau itu. Dan bagaimana nasibnya, sudah bisa
ditebak. Kini Arya paham, mengapa danau itu mempunyai nama yang begitu
mengerikan. Danau Neraka! Ternyata memang sesuai dengan kenyataan yang
disaksikannya.
"Mari kita ke sana...!"
ajak Macan Kumbang Lembah Neraka yang rupanya paling bernafsu di antara mereka
bertiga.
Tampak jelas kalau laki-laki
berkulit hitam itu
sudah tidak sabar lagi untuk
buru-buru berjumpa Kemamang Danau Neraka.
Tanpa menunggu jawaban ketiga
orang lainnya, Macan Kumbang Lembah Neraka segera melesat ke arah bangunan
megah itu. Macan Tutul Lembah Neraka, Macan Loreng Lembah Neraka, dan Dewa Arak
mau tak mau ikut bergerak mengikuti.
Sesaat kemudian keempat orang itu
telah berada di pinggir danau. Dari sini semakin jelas terlihat,
tonggak-tonggak berujung runcing yang terpancang di danau itu, bagai siap
menembus kaki-kaki siapa saja yang melaluinya.
Arya memperhatikan
tonggak-tonggak itu sejenak. Bisa diperkirakan tonggak itu terbuat dari baja
kuat dan dicampur dengan ramuan tertentu sehingga tahan terhadap air danau.
Tonggak-tonggak itu terpancang membentuk jalan, dan diatur rapi seperti
barisan. Setiap baris terdiri dari enam batang batang tonggak yang
masing-masing berjarak sekitar tiga jengkal.
"Hih...!"
Macan Kumbang Lembah Neraka, yang
paling merasa penasaran segera melompat ke depan. Indah dan manis gerakannya.
Kemudian....
Tappp...!
Meskipun dengan tubuh agak
bergoyang-goyang sedikit, Macan Kumbang Lembah Neraka berhasil mendaratkan
salah satu kakinya di ujung tonggak yang runcing. Sementara kaki yang sebelah
lagi digunakan sebagai alat untuk menjaga keseimbangan tubuh.
Sesaat lamanya tubuh laki-laki
berkulit hitam ini bergoyang-goyang. Dan begitu goyangan pada tubuhnya terhenti, Macan Kumbang
Lembah Neraka
kembali melompat. Kakinya
didaratkan di ujung tombak yang lain. Begitu seterusnya.
Tidak hanya Macan Kumbang Lembah
Neraka saja yang bergerak cepat menuju bangunan megah milik Kemamang Danau
Neraka. Macan Tutul Lembah Neraka, Macan Loreng Lembah Neraka, dan Dewa Arak
juga bergerak menuju ke sana. Gerakan mereka pun tak kalah indah bila dibanding
Macan Kumbang Lembah Neraka.
Berkat ilmu meringankan tubuh
yang rata-rata sudah mencapai tingkat tinggi, bukan merupakan hal yang sulit
bagi keempat orang itu untuk melakukan perjalanan di ujung tonggak runcing.
Tak lama kemudian, jarak antara
mereka dengan bangunan milik Kemamang Danau Neraka sudah semakin dekat. Dan
dengan demikian, keadaan bangunan itu pun semakin jelas terlihat. Lantai
bangunan itu ternyata berada lebih tinggi dari ujung-ujung tonggak. Jarak
lantai dengan permukaan air danau tak kurang empat jengkal. Ada beberapa buah
tiang baja besar yang menyangga bangunan megah itu, sehingga bisa berdiri di
atas permukaan danau.
***
Kini keempat orang itu telah
berada dalam jarak sekitar delapan tombak dari bangunan rumah, dan terus saja
berlompatan dari satu tonggak ke tonggak lain.
Mendadak di teras muncul dua
sosok tubuh. Yang seorang dikenali Dewa Arak sebagai Kelelawar Beracun. Tapi
yang seorang lagi tidak dikenalinya. Mungkin inilah tokoh yang berjuluk
Kemamang Danau Neraka.
Orang yang diduga Arya sebagai
Kemamang Danau Neraka ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus.
Kulitnya berwarna merah, dan rambutnya panjang terurai, namun kaku seperti
sikat kawat. Pakaiannya hanya berapa kain berwarna putih yang dilibat-libatkan
ke tubuhnya. Sangat pas dengan warna kulitnya yang merah.
Yang lebih mengerikan lagi,
adalah sepasang matanya yang selalu terbelalak. Sepertinya, sepasang mata itu
akan melompat keluar dari rongganya!
Tampak jelas kalau kedua orang
ini merasa terkejut bukan main melihat kedatangan empat sosok tubuh itu.
"Itukah orang yang berjuluk
Dewa Arak?" tanya laki-laki berambut kaku seraya menatap tajam wajah Arya.
"Benar, Kemamang Danau
Neraka. Dialah Dewa Arak," Kelelawar Beracun menganggukkan kepala
membenarkan.
"Hm...."
Laki-laki bertubuh kurus dan
ternyata berjuluk Kemamang Danau Neraka menggumam pelan. Sementara, Kelelawar Beracun menjadi
kebingungan, ketika melihat empat sosok tubuh
semakin mendekati bangunan Kemamang Danau Neraka.
Tanpa pikir panjang lagi,
Kelelawar Beracun segera memasukkan tangan ke balik bajunya. Dan secepat tangan
itu keluar, secepat itu pula dikibaskan.
Serrr...!
Suara berdesir pelan terdengar
begitu jarum-jarum beracun laki-laki berwajah pucat itu menyambar. Tak
tanggung-tanggung lagi yang dilepaskan Kelelawar Beracun. Belasan batang jarum
beracun, yang semua-nya meluncur ke arah Dewa Arak!
"Hmh...!"
Ada suara dengus mengandung
ejekan terdengar dari hidung Kemamang Danau Neraka. Hatinya memang merasa muak
melihat kelicikan dan sikap pengecut yang ditunjukkan Kelelawar Beracun. Padahal,kedatangan laki-laki
berwajah pucat ini tadi untuk meminta pertolongannya dalam menghadapi Dewa
Arak. Tapi belum apa-apa, Kelelawar Beracun sudah merendahkan dirinya.
Kelihatannya, dia tidak percaya kalau laki-laki berambut seperti kawat itu
mampu menghadapi Dewa Arak. Kelelawar Beracun sama sekali tidak tahu kalau
Kemamang Danau Neraka tersinggung atas perbuatannya tadi.
Bukan hanya Dewa Arak yang
terkejut. Tiga Macan Lembah Neraka pun tersentak melihat kecurangan yang dilakukan Kelelawar Beracun. Pemuda berambut putih keperakan itu
tampaknya tengah tidak siap untuk menerima serangan. Tambahan lagi, saat itu
tubuhnya sedang berada di udara, karena baru saja melompat untuk hinggap di
ujung tonggak di hadapannya. Maka, serangan jarum beracun dari Kelelawar Beracun
benar-benar merupakan ancaman berbahaya.
Dewa Arak terperanjat Disadari
kalau keadaannya sangat berbahaya. Maka buru-buru dijumputnya guci arak yang
tersampir di punggung. Dan secepat guci arak itu terpegang, secepat itu pula
dituangkan ke mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Secepat arak itu masuk ke dalam
mulutnya, secepat itu pula disemburkan ke arah jarum-jarum beracun yang tengah
meluncur deras ke arahnya.
Singgg..!
Suara berdesingan nyaring seperti
meluncurnya
anak panah dari baja terdengar
ketika butiran-butiran arak itu meluncur ke arah jarum-jarum.
Tringgg..., tringgg...!
Suara berdentingan nyaring
terdengar begitu semburan arak Dewa Arak berbenturan dengan jarum jarum yang
dilepaskan Kelelawar Beracun. Seketika itu juga, belasan jarum itu runtuh ke
bawah.
"Hup...!"
Meskipun dengan agak
terhuyung-huyung, Dewa Arak berhasil mendaratkan kakinya di ujung tonggak
runcing yang memang hendak disinggahinya.
Tiga Macan Lembah Neraka dan
Kemamang Danau Neraka menggeleng-gelengkan kepala. Mereka semua memuji kelihaian Dewa Arak. Sementara Kelelawar Beracun hanya
bisa ke-bingungan. Tapi begitu teringat di sebelahnya ada Kemamang Danau
Neraka, hatinya pun tenang kembali. Dia yakin, rekannya ini akan mampu
meng-atasi Dewa Arak! Hanya saja yang menjadi pertanyaan Kelelawar Beracun, apa hubungannya pemuda berambut putih keperakan itu dengan
Tiga Macan Lembah Neraka sehingga bisa menuju Danau Neraka bersama-sama? Dia
khawatir kalau tiga tokoh Lembah Neraka itu membantu Dewa Arak. Dan apabila hal
itu terjadi, keadaan akan semakin menyulitkan dirinya.
Meskipun serangan pertamanya
gagal, Kelelawar Beracun tidak jera. Kembali dikirimnya serangan-serangan
curang lain. Laki-laki berwajah pucat ini menggunakan berbagai macan senjata rahasia
beracun untuk menghambat tibanya Dewa Arak.
Walaupun yang dicegah adalah Dewa
Arak, tapi tak urung Tiga Macan Lembah Neraka pun terbawa-bawa juga. Tiga tokoh
Lembah Neraka ini tidak berani
melanjutkan langkah, karena khawatir terkena
serangan nyasar.
Kelelawar Beracun benar-benar
kalap. Semua senjata rahasia beracun miliknya sudah dikeluarkan, tapi berhasil
dipunahkan Arya. Kalau tidak dielakkan, pasti ditangkis dengan semburan
araknya, atau dengan putaran tangannya yang menimbulkan angin keras menderu.
Entah berapa macam senjata rahasia yang terlontar. Mulai dari jarum, logam
berbentuk bintang segi lima, logam berbentuk ujung anak panah, sampai logam
berbentuk ekor kalajengking. Tapi semuanya sia-sia belaka.
"Huh...!"
Hampir berbareng, Dewa Arak dan
Tiga Macan Lembah Neraka mendaratkan kakinya di teras rumah Kemamang Danau
Neraka.
Macan Kumbang Lembah Neraka yang
sejak tadi sudah beringas terhadap Kemamang Danau Neraka, segera melangkah
maju. Tapi, rupanya tangan Macan Tutul Lembah Neraka telah lebih dulu mencekalnya.
Dan dengan bahasa isyarat, dinasihatkan agar laki-laki berkulit hitam itu
bersikap sabar sebentar. Biar Dewa Arak menyelesaikan masalahnya dulu.
Meskipun dengan mulut merengut, Macan
Kumbang Lembah Neraka mau juga memenuhi permintaan rekannya untuk menahan diri
agar tidak buru-buru melabrak Kemamang Danau Neraka.
Sementara itu dengan langkah
satu-satu, Dewa Arak maju menghampiri Kelelawar Beracun yang terus mundur.
"Kemamang Danau
Neraka," sebut Kelelawar Beracun sambil menoleh ke arah kakek bertubuh tinggi
kurus itu. "Bukankah kau sudah berjanji membantuku untuk
menghadapinya?"
"Hmh...!" Kemamang
Danau Neraka mendengus. "Aku muak melihat kelicikanmu. Lebih baik
hadapilah sendiri!"
Seketika wajah Kelelawar Beracun
pucat pasi. Dia memang betul-betul ngeri terhadap Dewa Arak. Terutama bila
teringat ancaman pemuda berambut putih keperakan itu. Laki-laki berwajah pucat
itu memang tidak takut mati. Tapi mati secara perlahan-lahan dan secara
menyakitkan, tentu saja ditakutinya. Semula laki-laki berwajah pucat ini
mengandalkan Kemamang Danau Neraka untuk menghadapi Dewa Arak. Tapi kini
Kemamang Danau Neraka tampak malah melangkah mundur dan membiarkannya
menghadapi Dewa Arak! Dia sama sekali tidak tahu kalau sikap pengecutnya itulah
yang membuat
pemilik Danau Neraka menarik
diri.
Memang seperti juga Tiga Macan
Lembah Neraka, Kemamang Danau Neraka adalah seorang yang mementingkan
kegagahan. Walaupun sebagai tokoh sesat, laki-laki berambut kaku ini menganggap
dirinya adalah seorang datuk! Pantang baginya untuk bersikap pengecut. Dan dia
malah kagum terhadap sikap yang ditunjukkan Dewa Arak.
"Aku masih memberimu
kesempatan sekali lagi, Kelelawar Beracun," tandas Dewa Arak pelan tapi
penuh ancaman. "Bila yang sekali ini kau berbuat curang lagi, aku tidak
segan-segan melaksanakan ancamanku!"
"Baiklah, Dewa Arak. Aku
menyerah. Aku akan memberi obat penawar buat kawanmu itu."
Setelah berkata demikian,
laki-laki berwajah pucat ini mengeluarkan sebuah buntalan kain hitam sebesar
kepalan dari batik bajunya. Kemudian buntalan itu diangsurkan ke arah Dewa
Arak.
Tentu saja Arya tidak begitu saja
percaya. Dia telah tahu kalau Kelelawar Beracun amat licik. Maka untuk beberapa
saat lamanya, dia ragu-ragu. Sementara Tiga Macan Lembah Neraka, dan Kemamang
Danau Neraka mengawasi semua kejadian yang ada di hadapan mereka, dan sekali
tidak berniat men-campuri.
"Ambillah, Dewa Arak,"
ujar Kelelawar Beracun pelan. "Aku tidak berbohong kali ini."
Setelah berkata demikian,
laki-laki berwajah pucat ini menggoyang-goyangkan buntalan kain hitam yang
berada di tangannya.
Akhirnya Arya memutuskan untuk
mengambilnya. Dengan langkah hati-hati dihampirinya Kelelawar Beracun. Sepasang matanya menatap laki-laki berwajah pucat ini penuh
waspada. Dewa Arak bersiap-siap apabila Kelelawar Beracun melancarkan serangan
mendadak.
Tapi, ternyata tidak terjadi sesuatu yang dikhawatirkan Arya sampai kedua tangannya
menyen-tuh buntalan yang ternyata tidak terbuka itu.
Begitu Arya menggenggam buntalan
kain hitam itu, mendadak jari-jari Kelelawar Beracun bergerak meremas. Gerakannya tidak
begitu kentara, karena pemuda
berambut putih keperakan itu lebih
memusatkan perhatian pada sebelah tangan dan kaki Kelelawar Beracun. Tapi
meskipun begitu, sempat juga diliriknya.
Mendadak dari dalam buntalan yang
tidak terbuka itu melesat benda hitam. Arya terkejut bukan main. Meskipun hanya
melihat sekilas, sempat diketahui kalau benda hitam itu adalah seekor kelabang.
Kelabang biasa saja sudah berbahaya. Apalagi kelabang yang dibawa Kelelawar
Beracun! Maka
tanpa pikir panjang lagi, Dewa
Arak segera melompat ke belakang. Usaha yang dilakukannya tidak sia-sia,
sergapan kelabang itu berhasil dielakkan.
Tapi Kelelawar Beracun sudah
memperhitungkan hal itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia segera meluruk
memburu tubuh Dewa Arak yang tengah berada di udara. Cepat bukan main
gerakan-nya. Sudah dapat dipastikan, Dewa Arak akan meng-alami kesulitan untuk
meloloskan diri.
Bukan hanya Dewa Arak saja yang
terperanjat. Tiga Macan Lembah Neraka pun terkejut bukan kepalang. Serangan itu
begitu tiba-tiba datangnya, sehingga mereka pun tidak sempat berbuat sesuatu.
Tapi mendadak saja, terjadi sesuatu yang mengejutkan. Tubuh Kelelawar Beracun yang
tengah meluruk ke arah Dewa Arak itu tiba-tiba tersentak ke belakang. Terdengar
keluhan tertahan dari mulut laki-laki berwajah pucat itu. Bahkan bukan hanya
itu saja. Suara gemeretak keras dari tulang-tulang leher yang patah pun
terdengar mengiringi.
Brukkk...!
Terdengar suara berdebukan keras
ketika tubuh Kelelawar Beracun ambruk di lantai, dan diam tidak bergerak lagi.
Nyawa laki-laki berwajah pucat itu melayang seketika. Sepasang matanya melotot,
dan lidahnya pun terjulur keluar. Pada lehernya, nampak terjerat sebuah cambuk
berwarna coklat.
Dewa Arak dan Tiga Macan Lembah
Neraka memandang pada pemilik cambuk yang tengah menggulung senjatanya dengan
sikap tak peduli. Siapa lagi kalau bukan Kemamang Danau Neraka!
"Aku benci pada orang yang
berjiwa pengecut dan licik!" tegas laki-laki bertubuh tinggi kurus itu.
Tanpa mempedulikan ucapan
Kemamang Danau
Neraka, Dewa Arak segera
berjongkok memeriksa Kelelawar Beracun. Betapa kaget hati Dewa Arak ketika
mengetahui laki-laki berwajah pucat itu telah tewas!
"Dia telah tewas...,"
tegas Arya seraya bangkit berdiri.
Pemuda berambut putih keperakan
ini tidak menyalahkan tindakan Kemamang Danau Neraka. Bah-kan seharusnya
berterima kasih. Memang, tanpa pertolongan pemilik Danau Neraka itu, Dewa Arak
mungkin telah tewas!
"Tidak perlu hal itu
dipusingkan, Dewa Arak!" selak Kemamang Danau Neraka. "Aku tahu obat
pemunah untuk racun pada jarum itu. Aku pun memilikinya. Dan aku bersedia
memberikannya padamu, tapi dengan satu syarat."
Memang Kelelawar Beracun telah
menceritakan semua masalah yang dihadapinya pada Kemamang Danau Neraka, karena
menginginkan pertolongan pemilik Danau Neraka itu.
"Apa syaratnya, Kemamang
Danau Neraka?" sambut Dewa Arak cepat penuh gairah. "Aku bersedia
memenuhinya."
"Bila kau sempat, datanglah
kemari. Aku ingin menjajal kepandaianmu."
"Aku janji!" sahut Dewa
Arak cepat.
"Bagus! Kutunggu janjimu,
Dewa Arak! Dan, ingat! Bila kau tidak juga muncul, aku yang akan mencarimu.
Akan kubuat kacau dunia persilatan! Mengerti?!"
Dewa Arak menganggukkan kepala
pertanda mengerti. Sementara Kemamang Danau Neraka segera bergegas masuk ke
dalam. Hanya sebentar saja, dan tak lama kemudian sudah kembali dengan
sebuah kendi kecil yang tertutup
rapat.
Meskipun ada sedikit keraguan
yang melanda, Dewa Arak menerima kendi pemberian Kemamang Danau Neraka.
"Terima kasih, Kemamang
Danau Neraka," ucap Dewa Arak setelah kendi kecil itu berada di tangannya.
Tapi sama sekali tidak terdengar
sahutan dari mulut Kemamang Danau Neraka. Orang kasar sepertinya mana peduli
terhadap segala aturan dan sopan santun?
"Coba kulihat sebentar, Dewa
Arak," pinta Macan Tutul Lembah Neraka sambil melangkah maju mendekati
Dewa Arak. Memang sejak tadi, Tiga Macan Lembah Neraka hanya diam saja memperhatikan.
Dewa Arak segera memberikannya
pada Macan Tutul Lembah Neraka. Laki-laki bertubuh pendek gemuk itu segera
membuka tutup kendi, dan men-cium baunya sesaat. Baru kemudian, kepalanya
terangguk.
"Kalau benar racun yang
melukai kawanmu itu adalah yang terkandung dalam jarum, memang benar ini
obatnya," jelas Macan Tutul Lembah Neraka pelan.
"Dan aku meramunya
berdasarkan daun-daunan yang kupetik dari pulau milik sahabat kalian,"
selak Kemamang Danau Neraka seraya menatap tokoh-tokoh Tiga Macan Lembah Neraka
berganti-ganti.
Sepasang mata Macan Kumbang
Lembah Neraka terbelalak lebar.
"Jadi, maksudmu datang ke
pulau itu hanya untuk menciptakan penawar racun ini?"
"Hanya mencoba-coba saja,
Macan Kumbang." Suasana hening sejenak. Hilang sudah kemarahan
yang tadi melanda hati Tiga Macan
Lembah Neraka. Kemamang Danau Neraka ternyata tidak bermaksud merampas pulau!
Semula mereka memang menduga
demikian. Dan kini, jelaslah sudah. Tak ada niatan di hati Kemamang Danau
Neraka untuk merampas pulau yang dulunya milik Raksasa Rimba Neraka. Sehingga,
kini mereka mengurungkan niatnya untuk mengajak bertarung laki-laki berambut
kaku itu.
Tak lama kemudian, Dewa Arak dan
Tiga Macan Lembah Neraka mohon diri. Dan bagi Dewa Arak, tidak lagi mengalami
kesulitan untuk mencari jalan keluar. Tiga Macan Lembah Neraka bersedia mengantarnya sampai keluar dari laut yang berwarna hitam.
***
"Kang Arya...!" seruan lirih
wanita berpakaian putih yang tergolek di pembaringan indah dan mewah, membuat seorang pemuda berambut putih keperakan yang tengah
terkantuk-kantuk mem-belalakkan matanya.
"Melati...!"
Pemuda berambut putih keperakan
yang tak lain dari Arya berseru keras. Nada suaranya jelas menyiratkan perasaan
gembira yang amat sangat. Sementara sepasang matanya merayapi wajah
kekasihnya. Memang wajah gadis itu sudah tidak berwarna merah lagi, tapi sudah
kembali seperti semula. Meskipun masih agak pucat
"Kau sudah sadar?"
tanya Dewa Arak.
Kemudian tanpa mempedulikan orang
lain yang ada di sekitar situ, Arya segera memeluk tubuh
kekasihnya erat-erat. Obat yang
diberikan Kemamang Danau Neraka ternyata memang manjur. Tak sia-sia dia
bersusah payah menempuh perjalanan menan-tang maut ke Pulau Ular.
Prabu Nalanda, Ki Julaga, Ki
Temula, Patih Rantaka, dan Eyang Sagapati segera melangkah me-ninggalkan
ruangan itu. Mereka sengaja membiarkan sepasang muda-muda itu saling melepaskan
rindu.
Sementara Dewa Arak dan Melati
yang diberi kesempatan, sama sekali tidak tahu-menahu. Sepasang muda-muda itu masih
saja sibuk melepas-kan rindu, sehingga melupakan keadaan sekeliling-nya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment