KERIS
PEMINUM DARAH
1
Hari sudah agak siang. Sinar sang
surya begitu terik, menyengat kulit. Namun semua itu tidak dipedulikan oleh dua
sosok tubuh yang melangkah bergegas memasuki hutan.
Dua sosok yang ternyata dua orang
lelaki itu melangkah gesit, dan bersikap penuh tanggap. Jelas kalau mereka
tidak asing lagi dengan ilmu silat.
"Masih jauhkah gua itu,
Rakapitu?" tanya orang yang wajahnya penuh tahi lalat.
Orang yang dipanggil Rakapitu
segera meng-edarkan pandangan ke sekeliling. Dia adalah seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar, kekar dan berotot. Tapi, kepalanya kecil, sehingga
kelihatan lucu sekali.
"Rasanya tidak jauh lagi,
Gibang," sahut Rakapitu. Tapi, nada suaranya terdengar mengambang. Jelas
kalau dia merasa bimbang akan jawabannya sendiri.
"Heh...?! Jadi kau sendiri
tidak tahu tempatnya, Rakapitu?" Gibang terperanjat dengan dahi berkerut
dalam.
"Tentu saja tahu!"
sergah Rakapitu keras seraya menatap tajam wajah rekannya.
"Hm.... Lalu..., mengapa
sekarang kau kelihatan bingung?" secercah senyum mengejek tersungging di
bibir Gibang.
"Siapa yang bingung?!"
semakin meninggi suara Rakapitu. Sikap laki-laki yang wajahnya penuh tahi lalat
itu menyebabkan amarahnya bangkit. "Aku tengah mencari patokannya. Apa kau
sudah melihat pohon beringin yang batangnya sedikit terkelupas?"
Sambil berkata demikian, kepala
laki-laki tinggi besar ini menoleh ke kanan dan ke kiri. Gibang pun mau tak mau
ikut mengedarkan pandangannya, mencari-cari pohon beringin seperti yang
dikatakan rekannya.
"Itu dia...!" teriak
Rakapitu gembira, seraya meng-arahkan telunjuk kanannya pada sebatang pohon
beringin.
Gibang mengikuti arah tudingan
itu. Memang benar apa yang dikatakan Rakapitu. Batang pohon beringin itu
terkelupas.
Seketika itu juga, Rakapitu
mempercepat langkah-nya. Mau tak mau, Gibang pun melakukan hal yang sama jika
tidak ingin tertinggal. Dari pohon beringin itu Rakapitu menuju ke kiri. Dia
berjalan menerobos kerimbunan semak dan pepohonan yang lebat.
"Itu tempatnya,
Gibang," tunjuk Rakapitu seraya menudingkan telunjuk kanannya ke arah
sebuah gua yang terletak tak jauh di depan mereka.
"Hm...," hanya gumam
pelan dan tak jelas yang keluar dari mulut Gibang untuk menyambuti ucapan
rekannya.
Begitu telah menemukan apa yang
dicari, kedua laki-laki ini kian mempercepat langkah. Jelas sudah, tujuan
mereka adalah ke gua itu.
Tapi, ketika jarak antara mereka
dengan mulut gua tinggal sekitar tiga tombak lagi, terdengar suara gerengan.
Perlahan saja suara itu, tapi akibatnya telah membuat wajah Rakapitu dan Gibang
memucat. Langkah kaki mereka kontan terhenti. Tanpa melihat pun, mereka telah
tahu kalau suara gerengan itu tak lain berasal dari seekor harimau.
Sebenarnya baik Rakapitu maupun
Gibang sama sekali tidak merasa gentar terhadap harimau. Tapi
binatang yang terdapat di gua ini
tidak bisa dianggap sembarangan. Binatang itu adalah seekor macan putih ajaib,
yang kebal terhadap segala macam senjata. Bahkan juga memiliki kekuatan yang menggiriskan (Untuk
jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode "Prahara Hutan
Bandan").
Belum lagi gema gerengan itu
lenyap, dari dalam gua keluar seekor macan yang berbulu putih dengan langkah
tenang. Besarnya mungkin satu setengah kali macan biasa yang paling besar.
"Grrrh...!"
Kembali macan putih itu
menggereng. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Sepasang matanya yang
bersinar kehijauan menatap tajam wajah kedua tamu tak diundang itu. Mulutnya
terbuka memamerkan deretan gigi-gigi yang panjang dan runcing.
Karuan saja hal itu membuat
Rakapitu dan Gibang jadi semakin ketakutan. Dengan tubuh gemetar kedua orang
itu beringsut melangkah ke belakang.
Tapi ternyata macan putih itu
tidak bermaksud jahat. Terbukti begitu melihat Rakapitu dan Gibang undur,
binatang itu pun tidak mengejar. Macan putih itu hanya menggereng pelan,
kemudian mem-baringkan tubuhnya di depan gua. Tapi wajahnya tetap tertuju pada
Rakapitu dan Gibang.
Melihat macan itu tidak mengejar,
rasa takut Rakapitu dan Gibang mulai mereda. Kedua orang ini tidak lagi
melangkah mundur, tapi diam di tempat. Beberapa saat lamanya, kedua laki-laki
ini berdiam diri. Maju tidak, mundur pun tidak.
"Bagaimana, Gibang?"
tanya Rakapitu meminta pendapat rekannya.
"Sudah kepalang basah,
Kang. Mandi saja sekalian," sahut laki-laki
berwajah penuh tahi lalat itu.
Nada suaranya terdengar tegas.
Meskipun lebih mirip bisikan.
"Bagaimana dengan macan itu?" Rakapitu
menunjuk macan putih dengan dagunya.
Gibang terdiam sejenak. Sesaat
lamanya matanya menatap macan putih yang terbaring di depan gua. Wajah binatang
itu tetap tertuju pada mereka. Tapi tidak ada tanda-tanda kalau akan melakukan
sesuatu. Bahkan sepertinya macan putih itu tengah bersenang hati. Terbukti,
ekornya mengibas ke sana kemari.
"Tampaknya binatang itu
tidak buas, Rakapitu." "Dugaanmu mungkin benar, Gibang," sahut
laki-
laki bertubuh tinggi besar itu
mendukung penilaian rekannya.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi?" desak Gibang dengan suara pelan. "Kita coba saja masuk ke
dalam."
"Bagaimana kalau macan itu menyerang?"
Rakapitu masih ragu-ragu.
"Kita usahakan agar binatang
itu jangan sampai merasa terganggu."
"Aku mengerti," kata
Rakapitu. "Tapi bagaimana caranya?"
"Kita melangkah
perlahan-lahan," usul Gibang. "Kalau begitu, kau bergerak dulu. Aku
rnengikuti
dari belakang," tambah
Rakapitu yang masih khawatir kalau macan putih itu akan menyerang.
"Hhh...!"
Gibang menghela napas berat,
mencoba me-nenangkan debaran jantungnya yang kembali ber-detak cepat, begitu
memutuskan untuk nekat me-nerobos masuk ke dalam gua.
Perlahan dan hati-hati sekali
Gibang melangkah-
kan kaki. Tapi baru juga
melangkah setindak, ekor macan itu berhenti mengibas. Tampak jelas kalau
binatang itu mulai curiga.
Tentu saja Gibang melihat hal
ini, tapi berpura-pura tidak melihat. Kembali kakinya dilangkahkan. Sementara
Rakapitu mulai melangkah maju pula.
"Grrrh...!"
Macan putih menggereng pelan
sambil meng-gerak-gerakkan misainya.
Melihat hal ini, Gibang semakin
gugup. Jelas kalau macan putih itu telah menunjukkan tanda-tanda
mengkhawatirkan bagi diri dan rekannya. Tapi Gibang sudah nekat. Kembali
kakinya melangkah. Rakapitu pun terpaksa melangkahkan kakinya pula. Tapi kali
ini langkah kedua orang ini tidak setenang semula, dan tampak mulai oleng. Yang
pasti, kedua lelaki ini dilanda perasaan tegang.
Mendadak macan putih itu bangkit
dari ber-baringnya seraya terus menggereng. Gerengannya kali ini lebih keras
dari sebelumnya, pertanda kalau mulai marah.
Kontan wajah Rakapitu dan Gibang
memucat. Langkah mereka pun terhenti, tapi terlambat. Macan itu rupanya sudah
merasa terganggu dan marah pada kedua laki-laki itu. Sambil mengaum
menggetarkan dada, macan putih itu melompat menerkam Gibang dan Rakapitu. Maka
kedua orang ini terkejut bukan main.
"Awas, Rakapitu...!"
seru Gibang seraya melempar tubuh ke samping kanan. Dan begitu kedua tangannya
menyentuh tanah, tubuhnya segera ber-gulingan menjauh.
Rakapitu tentu saja tidak mau
mati konyol. Laki-laki tinggi besar ini melempar tubuh ke samping
untuk menyelamatkan selembar
nyawanya. Hanya bedanya, kalau Gibang melompat ke kanan, dia melompat ke kiri.
Dan berbareng dengan bangkitnya Gibang, Rakapitu juga bangkit dari
bergulingannya.
"Grrrh...!"
Kembali macan putih ini
menggereng begitu melihat calon korbannya berhasil meloloskan diri dari
terkaman. Dan begitu mendarat di tanah, binatang itu kebingungan melihat
mangsanya berpencar. Tapi sesaat kemudian macan putih telah kembali menyerang. Kini Gibanglah yang
menjadi sasarannya.
Gibang menggertakkan gigi,
bersiap-siap meng-hadapi serangan macan itu. Di tangan kanannya tampak
tergenggam sebatang golok besar. Maka begitu melihat binatang itu menerkam,
segera dipapak dengan ayunan goloknya.
Bukkk...!
Telak dan keras sekali golok
Gibang menghantam bahu macan putih itu. Tapi akibatnya, tubuh laki-laki
berwajah penuh tahi lalat ini malah terjengkang ke belakang dan jatuh di tanah.
Ini terjadi, karena dia terbawa dorongan tenaga terkaman macan putih itu.
Sementara binatang itu sama sekali tidak merasakan apa-apa. Jangankan terluka,
merasa sakit pun tidak. Sebaliknya, justru Gibang yang merasa tangannya seperti
lumpuh. Goloknya seperti berbenturan dengan sebuah benda yang amat kenyal, dan
tanpa dapat ditahan lagi terlepas dari pegangan.
"Auuummm...!"
Sambil mengeluarkan auman
menggelegar, macan putih itu kembali menerkam. Padahal saat itu tubuh Gibang
tengah tergolek di tanah. Rasanya, untuk bangkit berdiri atau melompat tidak
ada waktu lagi. Maka tubuhnya segera bergulingan untuk me-
nyelamatkan selembar nyawanya.
Untuk yang kesekian kalinya,
Gibang lolos dari maut. Dan sebelum macan putih itu terus memburu, bantuan dari
rekannya tiba. Rakapitu langsung membabatkan goloknya pada punggung binatang
itu.
Bukkk...!
Seperti yang dialami Gibang,
Rakapitu pun merasa babatannya seakan-akan menghantam sebuah benda kenyal.
Akibatnya, tenaga serangannya berbalik, dan tangannya terasa lumpuh. Hanya
saja, sebelum senjata itu terlepas dari pegangan, dia masih mampu mencekalnya.
Macan putih membalikkan tubuhnya
menghadap Rakapitu. Binatang ini marah bukan main mengetahui tindakannya dihalangi. Maka serangannya kini
dialihkan pada laki-laki tinggi besar itu. Macan putih itu mengayunkan kaki
kanan depannya, menyampok ke arah pelipis Rakapitu.
Laki-laki tinggi besar itu
menggertakkan gigi. Seluruh kekuatan tenaga dalam yang dimilikinya dikerahkan
untuk memapak sampokan macan putih itu dengan goloknya. Dia bermaksud membuat
kaki binatang itu buntung.
Takkk...!
Terdengar suara keras seperti
bunyi logam beradu. Rakapitu begitu terperanjat, menyadari kalau sampokan macan itu ternyata kuat
bukan main. Seketika tangan kanannya terasa sakit-sakit. Bahkan lumpuh sejenak.
Dan kini tak pelak lagi goloknya terlempar jauh.
Rakapitu tahu kalau dirinya kini
terancam. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, segera tubuhnya dilempar ke
samping dan bergulingan menjauh.
Tapi macan putih itu rupanya tak
mau membiarkan
mangsanya lolos. Langsung
dikejarnya tubuh yang tengah berguling-guling itu. Tapi sebelum macan itu
kembali menerkam, terdengar seruan mencegah.
"Putih...! Tahan...!"
Pelan saja suara bernada perintah
itu. Meskipun begitu, pengaruh yang ditimbulkannya begitu luar biasa. Macan
putih itu langsung menghentikan gerakannya begitu mendengar cegahan, lalu
menoleh sebentar. Binatang itu menggereng pelan, kemudian melangkah menghampiri
si pemilik suara.
"Hhh...!"
Hampir berbareng Rakapitu dan
Gibang menghela napas lega. Keduanya sadar, kalau pertarungan dilanjutkan,
pasti akan tewas di tangan macan putih yang kebal itu. Dengan pandangan penuh
rasa syukur, kedua lelaki ini mengalihkan pandangan ke arah asal seruan itu.
Di depan gua, tampak berdiri
seorang kakek berpakaian kuning. Rambut, alis, kumis, dan jenggotnya telah memutih semua. Tubuhnya
agak bungkuk dan kaki kirinya buntung sampai pangkal paha. Di tangan kiri kakek
ini tergenggam sebatang tongkat butut untuk menyangga tubuhnya.
Rakapitu dan Gibang mengerutkan
alisnya, lalu melangkah menghampiri kakek itu. Macan putih yang kini telah
berada di sebelah kakek bertubuh bungkuk itu menggereng pelan, penuh kemarahan.
"Tenanglah, Putih,"
ujar kakek berpakaian kuning menenangkan. Tangan kanannya mengelus-elus
kepala binatang itu.
Seketika itu juga, macan putih
itu berhenti menggereng. Tampak jelas kalau binatang ini amat patuh pada kakek
bertubuh bungkuk dan berpakaian kuning itu. Hal ini tidak aneh, karena binatang
itu
memang peliharaannya.
Kini macan putih itu hanya
menatap penuh curiga pada Rakapitu dan Gibang yang tengah melangkah menghampiri
majikannya.
"Siapa kalian? Dan mengapa mengganggu
binatang peliharaanku?" tanya kakek berpakaian kuning begitu Rakapitu dan
Gibang menghentikan langkahnya. Sepasang mata kakek itu menatap tajam wajah
Rakapitu dan Gibang secara bergantian. Jarak mereka terpisah sekitar tiga
batang tombak.
"Aku Gibang, Kek,"
sahut laki-laki berwajah penuh tahi lalat mengenalkan diri. "Dan ini
kawanku, Rakapitu."
Sambil berkata demikian, Gibang
menudingkan telunjuk pada rekannya. Rakapitu menganggukkan kepala sambil
tersenyum.
"Hm...," kakek
berpakaian kuning hanya bergumam pelan, tak jelas.
"Kami tidak menyerang
peliharaan Kakek. Sebalik-nya, binatang itulah yang menyerang kami,"
sambung Gibang memberi penjelasan.
"Tidak mungkin. Putih tidak
pernah menyerang orang, terkecuali kalau diganggu lebih dulu," bantah
kakek berpakaian kuning.
"Tapi, kami sama sekali
tidak mengganggunya, Kek," sambut Gibang lagi, membela diri.
"Benar," sambung
Rakapitu. "Kami berdua akan masuk ke dalam gua, dan ingin menemui
penghuni-nya yang bernama Eyang Aji Ranta."
"Akulah orang yang kalian
cari itu," kata kakek berpakaian kuning, pelan.
Rakapitu dan Gibang mengerutkan kening.
Memang beberapa ciri Eyang Aji Ranta ini, mirip dengan orang yang mereka cari.
Tapi, ada ciri yang
amat penting yang tidak dimiliki
kakek berpakaian kuning itu. Inilah yang membuat kedua laki-laki ini ragu.
"Jadi, kakek yang bernama
Eyang Aji Ranta itu?" tanya Gibang masih kurang percaya.
Kakek berpakaian kuning itu
menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Tapi setahu kami, sepasang
mata Eyang Aji Ranta buta," Rakapitu ikut ambil bagian, mengutarakan
keragu-raguannya. Sepasang matanya menatap ke arah mata kakek berpakaian kuning
di depannya. Dan memang, sepasang mata kakek itu tidak buta.
Gibang menganggukkan kepala
pertanda mem-benarkan ucapan rekannya.
"Aku telah berhasil
menyembuhkannya," jawab kakek yang ternyata bernama Eyang Aji Ranta, masih
dengan senyum di bibir. Dan ternyata kakek ini juga suami dari Kuntilanak Alam
Kubur (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode "Prahara Hutan
Bandan").
Rakapitu dan Gibang
mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Sekarang katakanlah, apa
maksud kalian datang menemuiku?" tanya Eyang Aji Ranta. Sebagai bekas
orang buta, perasaannya jauh lebih tajam dibanding orang lain. Maka, kakek
berpakaian kuning ini sudah bisa merasa kalau kedua orang di hadapannya adalah
orang baik-baik.
"Ada orang yang sangat
membutuhkan bantuan Eyang," sahut Gibang. "Dia sakit parah. Karena
men-dengar kabar kalau Eyang ahli dalam pengobatan, maka kami lalu memaksakan
diri menemui Eyang."
Eyang Aji Ranta terdiam. Memang,
dia sering mengobati para penduduk sekitar Hutan Dadap.
Maka mendengar permintaan
Rakapitu dan Gibang, dia tidak merasa heran.
"Di mana tempat tinggal
kalian?" tanya Eyang Aji Ranta setelah beberapa saat lamanya termenung.
"Desa Pucung, Eyang,"
jawab Gibang cepat. "Desa Pucung...," ulang kakek berpakaian kuning.
"Bagaimana, Eyang?"
tanya Gibang penuh harap. "Eyang bersedia?"
Eyang Aji Ranta menganggukkan
kepala.
"Terima kasih atas kebaikan
hati Eyang Aji Ranta," ucap Rakapitu dan Gibang berbarengan begitu melihat
gerak kepala Eyang Aji Ranta. Wajah kedua orang itu nampak berseri-seri.
"Sudahlah. Aku paling tidak suka banyak peradatan," sergah Eyang Aji
Ranta penuh teguran.
"Maafkan kami, Eyang,"
ucap Gibang buru-buru. "Kami terlalu gembira karena Eyang bersedia
me-luluskan permintaan kami, sehingga tidak bisa menahan luapan perasaan."
Eyang Aji Ranta tidak menyahut.
"Putih. Aku akan pergi
sebentar. Jaga tempat ini baik-baik," ujar kakek berpakaian kuning pada
binatang peliharaannya.
"Grrrh...!"
Macan putih menggereng pelan
sebagai jawaban-nya.
"Mari kita berangkat,"
ajak Eyang Aji Ranta sambil melangkah mendahului meninggalkan tempat itu.
Kelihatannya Eyang Aji Ranta
hanya melangkah perlahan saja. Tapi hebatnya, dia sudah berada dalam jarak
sepuluh tombak dari tempat semula.
Karuan saja hal ini membuat
Rakapitu dan Gibang terkejut bukan kepalang. Jelas terbukti kalau Eyang Aji
Ranta adalah orang sakti. Tapi mereka tidak bisa
berlama-lama tenggelam dalam
keterkejutan, karena Eyang Aji Ranta telah berjalan cukup jauh. Kini buru-buru
mereka berlari menyusul.
***
Baru saja tubuh ketiga orang itu
lenyap ditelan kejauhan, dari arah yang berlawanan bermunculan belasan orang
berwajah kasar dari balik pepohonan. Di tangan mereka tampak tergenggam senjata
terhunus.
Rupanya kedatangan belasan orang
itu diketahui macan putih, maka binatang itu langsung bangkit dari berbaringnya.
Memang sejak Eyang Aji Ranta pergi, macan putih segera membaringkan tubuhnya di
depan gua. Dan binatang itu baru bangkit begitu mencium bau banyak orang yang
berdatangan ke tempat ini.
Macan putih menggereng keras,
begitu melihat di depannya telah berkumpul belasan orang berwajah kasar sambil
membawa senjata terhunus. Nalurinya langsung mengisyaratkan kalau belasan orang
itu tidak bermaksud baik.
"Serbu...!"
Salah seorang yang berikat kepala
hitam langsung memberi aba-aba. Tangan kanannya yang meng-genggam sebatang
golok besar diangkat ke atas. Salah satu mata golok tampak bergerigi.
Sepertinya dia adalah pemimpin gerombolan ini.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
belasan orang itu meluruk ke arah mulut gua. Dan karena macan putih berdiri
menghadang di depan, mereka terpaksa harus merobohkannya terlebih dahulu.
Suara berdesing nyaring, diiringi
kilatan senjata-
senjata yang ditimpa sinar
matahari mengiringi tibanya serangan gerombolan itu.
"Auuummm...!"
Sambil mengaum keras menggetarkan
jantung, macan putih melompat memapak tibanya belasan senjata yang siap
merajamnya.
Tak pelak lagi, sekujur tubuh
macan putih langsung disambut hujan bermacam-macam senjata tajam. Dan ternyata
belasan penyerang itu harus menemui kenyataan pahit. Buktinya, senjata-senjata
itu malah terpental balik sewaktu menghantam kulit binatang itu. Bahkan tubuh
macan putih itu terus meluncur tanpa bisa ditahan lagi.
Jerit kematian pun terdengar
seketika, saat seorang dari mereka diterkam macan putih. Tanpa ampun lagi,
gigi-gigi runcing binatang itu menghunjam leher orang malang itu. Sementara
kedua kaki depannya, mencengkeram kedua bahunya.
Berbareng dengan robohnya tubuh
itu di tanah, nyawanya pun melayang meninggalkan raganya.
Kematian salah seorang dari
mereka, membuat belasan orang itu jadi murka. Segera tubuh macan putih itu
dihujani dengan bacokan dan tusukan senjata.
Lagi-lagi, tindakan gerombolan
itu hanya mem-buang tenaga secara percuma saja. Kulit tubuh macan putih itu
sama sekali tak mampu ditembus. Bahkan senjata-senjata mereka terpental balik.
Wuttt...! Prattt..!
Kembali seseorang yang berwajah
pucat seperti orang penyakitan telah menjadi korban. Kaki kanan depan macan
putih itu telah menyampok pelipisnya.
Seketika tubuh laki-laki berwajah
pucat itu ter-pelanting dan jatuh di tanah. Tanpa sempat berteriak
lagi, orang itu tewas seketika.
Tulang pelipisnya retak, terkena sampokan macan putih yang memang keras bukan
main.
Macan putih itu terus mengamuk,
menyebar maut pada lawan-lawannya. Beberapa saat kemudian, kembali jerit
memilukan terdengar diiringi robohnya anggota gerombolan yang lain.
Karuan saja hal ini membuat kemarahan pemimpin gerombolan itu
bergolak. Sementara, macan putih itu sama sekali belum terluka. Sedang-kan
empat orang anak buahnya sudah pergi ke alam baka. Bukan tidak mungkin kalau
dibiarkan terus, anak buahnya akan habis dibantai binatang buas itu.
"Mundur semua...!"
teriak laki-laki berikat kepala hitam. Suaranya terdengar keras bukan main,
karena disertai pengerahan tenaga dalam.
Tanpa diperintah dua kali,
anggota gerombolan itu saling dahulu-mendahului bergerak mundur. Tapi, macan
putih tidak mau membiarkan begitu saja. Binatang itu terus bergerak mengejar
mereka.
Kembali salah seorang anggota gerombolan menjadi korban, karena ditubruk macan putih
dari bela-kang. Tak pelak lagi, tubuh laki-laki itu pun terjerembab ke depan.
Sedangkan macan putih masih berada di atasnya.
Sebelum laki-laki berwajah bopeng
itu bangkit, macan putih telah lebih dahulu menghunjamkan giginya di tengkuk.
Suara jeritan menyayat terdengar ketika laki-laki berwajah bopeng itu meregang
nyawa.
"Keparat..!" maki
laki-laki berikat kepala hitam. Perasaan geram yang hebat tampak jelas baik
pada wajah maupun suaranya.
Seiring hilangnya gema makian
itu, tangan kanannya bergerak ke
arah pinggang. Sesaat
kemudian, di tangan kanannya
telah tergenggam seutas cambuk berwarna merah darah. Panjangnya, tak kurang
dari satu setengah tombak.
Darrr...!
Ledakan keras yang memekakkan telinga
terdengar ketika laki-laki berikat kepala hitam ini melecutkan cambuknya.
"Auuummm...!"
Sambil mengaum keras, macan putih
melompat menerkam laki-laki berikat kepala hitam. Sedangkan yang akan diterkam
malah mendengus, namun cepat mengelak. Gerakannya gesit juga, laksana kera dia
menyelinap di bawah tubuh macan itu. Sesaat kemudian tubuhnya sudah berada di
belakang macan putih, mendekati sebuah pohon besar.
Secepat laki-laki berikat kepala
hitam itu berada di sana, secepat itu pula cambuknya dilecutkan.
Darrr...! Rrrt..!
"Grrrh...!"
Macan putih menggeram keras
ketika kaki kiri belakangnya erat sekali terlilit cambuk, dan langsung terikat
mati. Sebelum tubuh binatang itu menyentuh tanah, laki-laki berikat kepala
hitam itu segera mengikatkan ujung cambuk yang dipegang ke sebatang pohon besar
di dekatnya. Hal ini memang sudah direncanakan.
Laki-laki berikat kepala hitam
itu tersenyum puas setelah selesai mengikatkan ujung cambuknya ke batang pohon.
Sepasang matanya menatap penuh kepuasan pada macan putih yang meronta-ronta
berusaha melepaskan diri, tapi tanpa hasil. Cambuk itu bukan cambuk
sembarangan, karena terbuat dari bahan yang alot dan sulit diputuskan. Bahkan
oleh senjata tajam sekali pun.
"Cari benda itu..!"
perintah laki-laki berikat kepala hitam.
Anak buahnya yang tengah menatap
penuh kagum, segera bergerak mengikuti perintah pemimpinnya. Sama sekali tidak
disangka kalau macan putih yang menggiriskan itu, dapat dilumpuh-kan oleh
pemimpin mereka dalam segebrakan.
Padahal, binatang itu kelihatan
perkasa. Buktinya, beberapa nyawa telah melayang akibat terkamannya. Dan kini,
binatang itu hanya dapat meronta-ronta, tanpa mampu melepaskan diri dari ikatan
cambuk pada kakinya.
Dan memang, anggota gerombolan
itu tidak bisa berlama-lama tenggelam dalam kekaguman. Apa lagi, mereka
berlomba dengan waktu. Apabila Eyang Aji Ranta keburu kembali, mereka akan
menghadapi kesulitan yang amat besar. Benda yang berada di dalam gua harus
cepat diambil!
Maka anggota gerombolan itu
bergegas masuk ke dalam gua. Tak dihiraukan lagi macan putih yang meraung-raung
murka melihat anggota gerombolan itu memasuki gua tempat tinggal majikannya.
***
2
Begitu memasuki mulut gua,
gerombolan yang kini berjumlah sembilan orang itu bergegas mengedarkan
pandangan berkeliling, mencari-cari benda yang diperintahkan pemimpin mereka.
Tapi suasana dalam gua yang hanya
remang-remang, rupanya cukup menjadi penghalang juga. Besar kemungkinan kalau
benda yang dicari tidak akan diketemukan.
Tapi ternyata anggota gerombolan
itu sudah memperhitungkannya. Dan kini, tiga orang di antara mereka segera
mengeluarkan tiga batang obor dari balik bajunya. Dan berkat tenaga dalam yang
lumayan, tidak sulit untuk menyalakan api. Dua batang obor yang terbuat dari
kayu nangka itu digosok-gosokkan, hingga menimbulkan percikan api. Sementara sebatang obor lain didekatkan ke percikan api. Maka begitu ujung obor
terkena percikannya api langsung membesar menjadi obor yang menyala. Kemudian,
mereka menyulut dua obor berikutnya. Dan kini, suasana dalam gua itu telah
terang-benderang oleh tiga batang obor.
Dengan bantuan cahaya obor,
sembilan orang anggota gerombolan itu meneruskan pencarian. Sepasang mata
masing-masing menelusuri setiap jengkal ruangan yang terdapat dalam gua itu.
Dinding, lantai, dan atap diperjksa dengan teliti.
Semakin lama langkah sembilan
orang itu semakin jauh masuk ke dalam gua. Tapi sampai sekian jauh,
benda yang dicari belum
diketemukan.
Akhirnya mereka sampai di ujung
terakhir gua itu, di sebuah ruangan yang cukup luas. Di situlah tempat Eyang
Aji Ranta bersemadi dan beristirahat.
"Hei...! Kemarii…!"
Tiba-tiba terdengar seruan salah
seorang anggota gerombolan yang berambut keriting. Obor di tangan-nya diangkat
tinggi-tinggi di atas kepala. Sementara sepasang matanya menatap penuh selidik
pada sebuah benda berwarna gelap sebesar kepala manusia.
Mendengar seruan itu serentak anggota
gerombolan lainnya bergegas menghampiri. Dengan bertambahnya dua batang obor
yang menerangi tempat laki-laki berambut keriting, maka sekitar tempat itu jadi
semakin terang-benderang.
"Benarkah itu benda langit
yang dicari-cari Kakang Wisesa?" tanya laki-laki berambut keriting. Nada
suaranya menyiratkan keragu-raguan. Obor yang dipegangnya segera diletakkan ke
dinding gua.
"Entahlah...," sahut
orang yang mempunyai anting-anting di hidung.
"Aku yakin, benda itulah
yang dicari Kakang Wisesa," tegas orang yang berkulit hitam legam. Nada
suara dan sikapnya menyiratkan keyakinan besar.
"Ya," sambut yang
lainnya. "Kakang Wisesa telah menceritakan ciri-ciri benda langit itu. Dan
semua yang dikatakan Kakang Wisesa, sesuai dengan benda ini."
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi?!" tegas orang yang berambut keriting. "Ambil benda itu, dan
kita berikan secepatnya pada Kakang Wisesa!"
Tapi, tidak ada satu pun yang
berani mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Tak terkecuali, laki-laki
berambut keriting sendiri.
"Kau saja yang mengambilnya,
Guntara," orang yang di hidungnya ada anting-anting balas meng-usulkan
pada laki-laki berambut keriting.
"Heh...?! Mengapa harus aku,
Gota?!" laki-laki berambut keriting yang bernama Guntara terperanjat.
"Tentu saja tidak harus kau,
Guntara," lanjut laki-laki beranting di hidung yang ternyata bernama Gota.
"Tapi, karena kau yang mengusulkan lebih dulu, tidak ada salahnya jika kau
yang mengambilnya."
"Apakah benda itu tidak
beracun?" tanya Guntara ragu-ragu.
"Itulah yang membuat kami
khawatir meng-ambilnya," sahut Gota tenang.
Guntara langsung terdiam dengan
dahi berkerut. Jelas ada sesuatu yang dipikirkannya. Sementara Gota juga tak melanjutkan ucapannya. Maka,
keheningan pun menyelimuti tempat itu.
"Hhh...!" Guntara
menghela napas berat, me-mecahkan keheningan yang menyelimuti tempat itu. Semua
rekannya tanpa sadar menoleh ke arahnya.
"Baiklah. Aku akan
mengambilnya," ucap laki-laki berambut keriting memutuskan. Suaranya
terdengar agak bergetar, menyiratkan ketegangan hatinya.
Bukan hanya Guntara saja yang
merasa tegang. Gota dan rekan-rekan yang lain pun mengalami
perasaan yang sama. Apakah benda
langit itu beracun atau tidak, Guntaralah yang menjadi kelinci percobaan.
Guntara membungkukkan badan, lalu
perlahan-lahan menjulurkan tangan kanannya. Tampak tangan laki-laki berambut
keriting ini gemetar keras. Keringat sebesar besar jagung membasahi seluruh
tubuhnya.
Mula-mula hanya tangan kanan saja yang
menyentuh benda berwarna gelap
itu. Itu pun hanya sekadar menyentuh saja. Beberapa saat lamanya Guntara
membiarkan tangannya menempel pada benda itu. Wajahnya terlihat tegang bukan
main. Keringat sebesar-besar jagung semakin banyak mem-basahi wajah dan
tubuhnya.
Tapi setelah menunggu beberapa
saat, hal-hal yang dikhawatirkan ternyata tidak kunjung terjadi. Perlahan-lahan
raut ketegangan di wajah Guntara mulai sirna. Kini laki-laki berambut keriting
itu mulai berani mencengkeram benda berwarna gelap itu.
Ketika tidak juga terjadi
apa-apa, Guntara meng-ulurkan tangan kirinya. Maka dengan kedua tangan,
diangkatnya benda yang diduga berasal dari langit itu. Dengan penuh rasa
bangga, Guntara mengangkat benda berwarna gelap itu tinggi-tinggi di atas
kepala.
Baru kemudian kakinya melangkah
menuju ke luar. Tanpa berkata apa-apa, Gota dan yang lainnya
melangkah mengikuti Guntara dari
belakang.
***
"Hhh...!"
Laki-laki berikat kepala hitam
yang bernama Wisesa menghela napas berat. Untuk yang kesekian kali,
pandangannya dialihkan ke arah pintu gua. Tapi anak buahnya yang sejak tadi
ditunggu-tunggu, tak kunjung muncul.
Wisesa khawatir, macan putih
dapat meloloskan diri. Masalahnya, sejak tadi binatang itu tak henti-hentinya
meronta. Tapi usaha yang dilakukannya itu sia-sia saja. Memang, cambuk yang
mengikatnya terlalu a lot.
Wisesa membiarkan saja macan
putih itu meronta-
ronta, dan sama sekali tidak
berusaha mencegah. Bahkan laki-laki berikat kepala hitam juga tidak
mempergunakan kesempatan ini untuk menyerang macan putih. Karena dia tahu,
semua itu percuma saja. Macan putih memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa.
Menyerangnya hanya melelahkan diri sendiri.
Sambil menunggu anak buahnya
keluar dari dalam gua, Wisesa mengawasi macan putih itu. Di saat kesabaran
laki-laki berikat kepala hitam ini hampir habis, orang-orang yang ditunggunya
muncul. Mula-mula yang terlihat Guntara. Di tangan laki-laki berambut keriting
itu tampak sebuah benda berwarna gelap, mirip sebuah batu. Tak salah lagi,
pasti itu benda langit!
Melihat hal ini, Wisesa tidak
mampu menahan perasaannya lagi. Dia bergegas berlari menyambut. Tak sabar lagi
harinya untuk memiliki benda itu. Karena kedua belah pihak bergerak saling
meng-hampiri, maka Guntara dan Wisesa telah saling berhadapan.
"Inikah benda langit itu,
Kang?" tanya Guntara seraya mengangsurkan benda di tangannya.
Dengan bernafsu sekali laki-laki
berikat kepala hitam menerima benda berwarna gelap itu, lalu diamat-amatinya
sejenak.
"Benar!" sahut Wisesa
setelah memeriksa benda itu. Nada suaranya menyiratkan perasaan gembira yang
meledak-ledak. "Inilah benda langit itu!"
Semua orang yang ada di situ
menarik napas lega. Mereka tampak tersenyum gembira karena berhasil menjalankan
tugas.
"Mari kita tinggalkan tempat
ini," ajak Wisesa seraya bergerak meninggalkan tempat itu, diikuti oleh
anak buahnya yang membawa mayat-mayat rekan
mereka. Tak dipedulikannya macan
putih yang masih meronta-ronta melepaskan diri.
Sesaat kemudian tubuh mereka
telah lenyap ditelan kerimbunan pepohonan dan semak-semak lebat.
***
Eyang Aji Ranta segera
menghentikan langkahnya begitu mulai mendekati batas tembok Desa Pucung. Dengan
sendirinya, Rakapitu dan Gibang yang sejak tadi berlari sekuat tenaga untuk
mengimbangi kakek berpakaian kuning itu berhasil menyusul. Sekujur tubuh kedua
laki-laki itu nampak dibanjiri peluh, dengan napas terengah-engah.
Dapat dibayangkan, betapa
kagetnya hati Rakapitu dan Gibang melihat Eyang Aji Ranta sama sekali tidak
terlihat lelah. Bahkan desah napasnya biasa saja. Tidak ada setitik pun peluh
nampak di wajahnya, maupun tubuhnya.
"Mengapa tergesa-gesa betul,
Eyang?" tanya Gibang dengan suara terputus-putus, karena napas-nya masih
memburu hebat.
Eyang Aji Ranta menoleh.
Ditatapnya sejenak wajah pemuda berwajah penuh tahi lalat itu.
"Entahlah, Anak Muda,"
sahut kakek berpakaian kuning, mendesah. "Yang jelas, perasaanku tidak
enak sekali hari ini."
"Maksud, Eyang?" tanya
Gibang tidak mengerti. "Sudahlah, Anak Muda." Eyang Aji Ranta
mengulapkan tangannya memutuskan
pembicaraan. Gibang tahu diri. Disadari kalau Eyang Aji Ranta
tidak ingin memperpanjang
pembicaraan itu. Maka pemuda berwajah penuh tahi lalat ini tidak bertanya
lagi.
Kini ketiga orang itu melanjutkan
perjalanan tanpa berkata-kata. Beberapa kali Rakapitu dan Gibang harus
tersenyum dan menganggukkan kepala setiap kali ada yang menyapanya.
"Itu rumahnya, Eyang,"
kata Rakapitu sambil menudingkan telunjuknya ke sebuah rumah berdinding bilik. Letaknya, terpisah dari
rumah-rumah lainnya.
Setelah berkata demikian,
Rakapitu bergegas mempercepat langkahnya. Laki-laki bertubuh tinggi besar ini
berjalan mendahului. Sesaat kemudian, Rakapitu telah berada di depan pintu yang
tertutup itu, dan langsung mengetuknya.
Tok, tok, tok...!
Rakapitu menunggu sejenak. Dan
sebentar saja, telinganya menangkap suara langkah kaki mendekati pintu.
Derit daun pintu yang dibuka
lebar terdengar, bertepatan dengan tibanya Eyang Aji Ranta dan Gibang di
sebelah Rakapitu. Dan di balik daun pintu nampak seraut wajah keriput seorang
kakek.
"Ini Eyang Aji Ranta,
Ki," jelas Rakapitu, mem-perkenalkan laki-laki tua di sebelahnya.
"Orang yang Aki mintai pertolongannya."
"Oh, iya. Mengapa aku begini
lupa," kakek pemilik rumah itu menepak kepala, kemudian segera mengulurkan
tangan.
"Waskita," sebut kakek
pemilik rumah mengenal-kan diri.
"Aji Ranta," balas
Eyang Aji Ranta, memperkenal-kan namanya.
"Silakan masuk dulu, Eyang
Aji Ranta," ujar Ki Waskita mempersilakan.
Kakek berpakaian kuning itu
terkekeh pelan. "Kedengarannya repot sekali mengucapkannya.
Bagaimana kalau panggil aku, Kang
Aji saja. Rasanya lebih singkat dan enak didengar," usul Eyang Aji Ranta.
"Dan kau sendiri memanggilku
Adi Waskita?!" sambung kakek pemilik rumah. Nada suara maupun raut
wajahnya menyiratkan kegembiraan. "Begitu,
kan?"
"Tepat sekali, Adi
Waskita!" Eyang Aji Ranta menganggukkan kepala.
"Boleh kulihat orang yang
sakit itu, Adi?" pinta Eyang Aji Ranta setelah mareka semua duduk di
dalam.
Senyum di wajah Ki Waskita
seketika lenyap. Tentu saja hal itu membuat Eyang Aji Ranta, Rakapitu, dan Gibang
jadi khawatir. Menilik dari sikap kakek pemilik rumah itu, bisa diperkirakan
kalau ada hal-hal tidak menyenangkan telah terjadi.
"Orang yang sakit itu telah
sembuh," jawab Ki Waskita, pelan.
"Apa??" seru Gibang dan
Rakapitu berseru kaget. Sementara itu, Eyang Aji Ranta nampak tenang-
tenang saja. Walaupun sebenarnya
juga merasa terkejut, tapi kakek berpakaian kuning ini bisa menyembunyikannya.
"Mengapa bisa begitu, Ki?!" tanya Gibang penasaran. "Bukankah semalam
sakitnya amat parah? Begitu juga tadi
pagi, sebelum
kami berangkat."
Rakapitu menganggukkan kepala
pertanda men-dukung ucapan rekannya. Sedangkan Ki Waskita hanya mengangkat
bahu.
"Bagaimana ini bisa terjadi,
Ki?" tanya Rakapitu
berusaha tenang.
"Hhh...!" kakek pemilik
rumah itu menghela napas. "Aku sendiri tidak tahu, Rakapitu. Tapi yang
jelas, orang itu sembuh, tak lama setelah kalian pergi ke Hutan Dadap."
Rakapitu dan Gibang kontan
terdiam. Dahi kedua orang ini berkernyit, seperti ada sesuatu yang dipikirkan.
"Sebenarnya... siapakah yang
sakit?" tanya Eyang Aji Ranta.
Kakek berpakaian kuning ini tidak
kuat menahan rasa ingin tahunya. Tapi tidak dijelaskan, pada siapa pertanyaan
itu ditujukan.
"Lebih baik kumulai saja
dari mula. Agar kau jelas, Kang," kata Ki Waskita. "Kemarin sore
beberapa orang penduduk datang membawa seorang laki-laki berpakaian prajurit
yang tengah terluka padaku. Di antara mereka, terdapat pula Rakapitu dan
Gibang. Dan memang, keahlianku adalah mengobati orang terluka. Maka dia segera
kuperiksa. Sedangkan Rakapitu dan Gibang menemaniku melakukan pengobatan."
Ki Waskita menghentikan ceritanya
sejenak, untuk mengambil napas. Ditatapnya wajah Eyang Aji Ranta lekat-lekat. Memang kepada kakek berpakaian
kuning itulah, cerita ini ditujukan. Rakapitu dan Gibang sudah mengetahuinya,
karena ikut terlibat dalam penyelamatan orang itu.
"Setelah memeriksa beberapa
lama, akhirnya aku menyerah. Orang itu ternyata terkena racun yang amat jahat.
Dan aku tidak tahu cara pengobatannya. Untunglah, racun itu mempunyai daya
kerja lambat. Sehingga, orang itu dapat bertahan lama," sambung Ki
Waskita. "Maka begitu pagi tiba, Rakapitu dan
Gibang segera kuperintahkan untuk
menemuimu. Ini kulakukan, karena namamu sudah cukup terkenal dalam hal
pengobatan racun. Apalagi orang yang terkena racun juga mengatakan kalau kaulah
satu-satunya yang bisa menyembuhkan lukanya. Tapi, sayang...."
Ki Waskita menghentikan
ceritanya. Ditariknya napas dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat.
"Aku tak tahu, bagaimana
kejadiannya. Yang jelas begitu Rakapitu dan Gibang berangkat ke Hutan Dadap,
orang itu berangsur-angsur sembuh."
"Jadi, orang itu telah
sembuh, Ki?" tanya Gibang ingin lebih jelas lagi.
Ki Waskita menganggukkan kepala,
tapi tidak ada sinar kegembiraan di wajahnya. Tentu saja hal ini membuat Gibang
dan Rakapitu heran. Mengapa Ki Waskita sama sekali tidak kelihatan gembira?
Dengan perasaan agak bingung,
kedua orang ini mengalihkan pandangan pada Eyang Aji Ranta. Lagi-lagi mereka
terkejut. Wajah kakek berpakaian kuning ini juga tidak terlihat gembira.
"Ada apa ini?" tanya
Rakapitu dan Gibang dalam hati.
"Mengapa kau tidak tampak
gembira, Ki?" akhirnya Gibang tak kuasa menahan pertanyaan yang bergolak
dalam dadanya.
"Hhh...!" hanya desah
napas berat Ki Waskita yang menyahuti pertanyaan laki-laki berwajah penuh tahi
lalat itu.
"Katakanlah, Ki,"
Rakapitu ikut mendesak "Jangan biarkan kami dilanda kebingungan."
Ki Waskita menatap wajah Rakapitu
dan Gibang berganti-ganti. "Aku mencium adanya hal yang men-curigakan
dalam peristiwa ini...."
Rakapitu mengernyitkan dahi.
Pemuda bertubuh tinggi besar ini tidak mengerti maksud ucapan kakek pemilik
rumah. Ditatapnya Gibang, tapi laki-laki yang wajahnya penuh tahi lalat itu
menggelengkan kepala pertanda tidak mengerti.
"Janganlah berteka-teki, Ki," pinta Gibang memohon pengertian.
"Aku curiga kalau peristiwa
ini sudah direncana-kan," desah Ki Waskita pelan. "Dugaanku, orang
itu sengaja minum racun. Namun juga membawa pemunahnya. Dan begitu Rakapitu dan
Gibang pergi, obat pemunahnya segera diminum. Pantas saja orang itu seperti
mendesakku agar memanggil Eyang Aji Ranta saja. Hhh.... Memancing harimau
keluar sarang. Entah apa yang mereka cari di sarang harimau...."
Eyang Aji Ranta terperanjat.
Dugaan Ki Waskita ternyata tidak berbeda dengan dugaannya. Jelas, peristiwa ini
sudah direncanakan. Tujuannya, untuk memancingnya keluar gua. Seketika itu pula
kakek berpakaian kuning ini teringat kembali dengan perasaan tidak enak yang
tadi mengganggunya.
"Kalau begitu, aku pergi
dulu, Adi Waskita."
Tanpa menunggu jawaban, Eyang Aji
Ranta bergegas bangkit, dan langsung melangkah ke luar. Langkahnya kelihatan
perlahan saja, tapi hebatnya tubuh kakek berpakaian kuning ini telah berada
sekitar delapan tombak dari tempat semula. Padahal, Eyang Aji Ranta hanya
mempunyai sebuah kaki!
"Hebat...!"
Ki Waskita menggeleng-gelengkan kepala. Perasaan takjub dan kagum menghiasi
wajahnya. Harus diakui kalau ilmu meringankan tubuh Eyang Aji Ranta amat luar
biasa.
"Ki...! Maksudmu...,"
Rakapitu yang masih kurang jelas kembali buka suara.
"Kemungkinan semua ini
adalah sebuah siasat, yang telah diatur rapi untuk memancing Eyang Aji Ranta
keluar dari tempat tinggalnya."
"Apa maksudnya, Ki?"
tanya Rakapitu lagi.
"Aku juga tidak tahu,
Rakapitu," jawab Ki Waskita. "Mungkin mereka bermaksud menangkap
macan
putih?" Gibang mengajukan
dugaannya. "Yaaah..., mungkin saja," sambut Ki Waskita.
***
3
Kini Eyang Aji Ranta tidak
ragu-ragu lagi mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Sekarang dia
sendirian, jadi bebas berlari secepat yang diingin-kannya.
Eyang Aji Ranta memang bukan tokoh sembarangan. Dia adalah seorang tokoh
yang memiliki kepandaian tinggi. Kecepatan gerakannya pun luar biasa, meskipun
hanya mempunyai kaki sebelah!
Tubuh kakek berpakaian kuning ini
berkelebat cepat laksana anak panah lepas dari busur. Saking cepatnya, tubuh
kakek ini seperti lenyap bentuknya. Yang terlihat hanyalah seleret bayangan
kuning melesat menuju Hutan Dadap.
Karuan saja, banyak penduduk Desa
Pucung yang terheran-heran begitu melihat sekelebatan bayangan kuning melesat
cepat menuju mulut desa. Mereka tidak dapat mengetahui, apakah sebenarnya kelebatan bayangan kuning itu.
Meskipun begitu, memang bisa diduga kalau bayangan kuning itu adalah orang yang
memiliki kepandaian tinggi. Angin menderu keras begitu bayangan kuning itu
lewat, pertanda kuatnya tenaga yang mendorong gerakan-nya.
Dalam sekejapan saja, mulut Desa
Pucung telah terlewat. Tapi, Eyang Aji Ranta sama sekali tidak mengendurkan
larinya. Kakek berpakaian kuning ini tetap mengerahkan kemampuan lari yang ditunjang
ilmu meringankan tubuh setinggi
mungkin.
Tak lama kemudian, mulut Hutan
Dadap telah terlihat Hal ini membuat semangat Eyang Aji Ranta semakin membesar.
Kakek ini terus berlari cepat menuju ke sana.
Eyang Aji Ranta tetap tidak
mengendurkan larinya ketika melewati kerimbunan semak-semak dan pepohonan
lebat. Tongkat bututnya bergerak ke kiri dan ke kanan, sebagai pembuka jalan.
Suara berkerosakan keras dari semak-semak yang terlanda, dan suara
berkeretakannya ranting-ranting patah terdengar ketika Eyang Aji Ranta
melewatinya.
Sebentar kemudian, Eyang Aji
Ranta sudah berada beberapa tombak di depan gua tempat tinggalnya. Tercekat
hati kakek ini tatkala melihat macan putihnya terikat di sebatang pohon.
Binatang itu sama sekali tidak berusaha melepaskan diri, tapi hanya
berputar-putar mengelilingi pohon. Bisa diduga kalau ada sesuatu yang terjadi
pada binatang itu. Dan ini membuat Eyang Aji Ranta khawatir bukan main.
Macan putih mengaum keras begitu
melihat kedatangan majikannya. Seketika semangat binatang itu bangkit kembali
untuk melepaskan diri. Macan itu kembali meronta-ronta. Tapi seperti kejadian sebelumnya, usaha yang dilakukannya
sia-sia.
Eyang Aji Ranta segera melepaskan
ikatan yang membelenggu binatang peliharaannya. Dengan hati cemas sekujur tubuh
macan putih itu diperiksanya, kalau-kalau ada bagian yang teriuka. Lega hati
kakek ini begitu tidak terlihat ada luka di tubuh macan kesayangannya.
Macan putih menggereng-gereng. Sementara Eyang Aji Ranta mendengarkan
penuh perhatian. Cukup lama juga binatang itu bersikap demikian. Dan
ketika macan putih menghentikan
gerengan, kakek berpakaian kuning itu menundukkan kepala. Sepertinya Eyang Aji Ranta mengerti
arti gerengan macan itu. Dan memang binatang itu seperti mengungkapkan sesuatu.
"Hhh...!"
Eyang Aji Ranta menghela napas
berat. Sekarang dia tahu maksud orang-orang memancingnya keluar dari tempat
tinggalnya. Macan putih telah mencerita-kannya, walau hanya lewat gerengan.
"Jadi..., benda langit itu
yang mereka cari...," gumam Eyang Aji Ranta pelan seraya mengangkat
kepalanya. Sepasang matanya menatap ke atas, melihat matahari yang telah
melewati atas kepala.
"Grrrh...!"
Macan putih menggereng kembali.
Tapi nadanya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Sementara Eyang Aji Ranta
hanya menggelengkan kepala. Secercah senyum pahit tersungging di bibirnya.
"Terima kasih atas
kesediaanmu, Putih," sahut kakek berpakaian kuning itu pelan. "Tapi
kurasa kita tidak perlu mengejar mereka. Aku yakin, kalau saran-mu kuikuti...,
kita akan terlibat kembali dalam kekerasan! Padahal, aku sudah muak dengan
keras-nya dunia persilatan. Aku ingin, di sisa-sisa hidupku ini dapat hidup
tenang."
Eyang Aji Ranta membelai-belai
kepala binatang peliharaannya. Dalam hati, dia berterima kasih sekali pada
macan putih. Binatang itu tadi mengajaknya mencari orang-orang yang telah
mencuri, kalau dia ingin benda langit itu kembali.
"Maafkan aku, Putih.
Bukannya menolak usulmu, tapi aku tidak ingin terlibat kembali dalam kekerasan.
Kau bisa mengerti, Putih?"
Macan putih itu menggereng pelan.
"Kalau begitu, mari kita
kembali ke gua," ajak Eyang Aji Ranta seraya melangkahkan kaki menuju
tempat yang dimaksud.
Sambil menggereng pelan, macan
putih itu bergerak mengikuti. Binatang itu berlari-lari kecil di sebelah
majikannya.
Tak lama kemudian, tubuh Eyang
Aji Ranta dan macan putih itu telah tidak terlihat lagi, lenyap ditelan
kegelapan gua.
***
Waktu berputar sesuai kodratnya. Matahari
bergerak menurut aturannya. Timbul di langit sebelah Timur, dan tenggelam di
sebelah Barat. Seiring tenggelamnya matahari, kegelapan pun menyelimuti bumi.
Malam pun datang menjelang.
Kini kehidupan berganti. Tidak
ada lagi cicit burung atau keruyuk ayam jantan. Yang terdengar adalah kepak
sayap kelelawar yang keluar mencari makan. Tak jarang pula terdengar kukuk
burung hantu menguak keheningan malam.
Tapi ternyata tidak hanya binatang-binatang
malam itu saja yang keluar meninggalkan tempat tinggalnya. Ternyata, masih ada
lagi yang berkeliaran dalam suasana malam sehening itu.
'Makhluk' itu adalah sesosok
bayangan hitam yang bergerak cepat menuju Hutan Dadap. Dalam
keremangan malam yang hanya diterangi bulan sabit di langit, tidak nampak jelas
wajah sosok bayangan hitam itu. Apalagi dia mengenakan caping bambu yang
membuat wajahnya terlindung.
Bukan itu saja. Mulai dari bawah
mata sampai
bawah dagu, ditutupi pula oleh
sehelai kain yang berwarna hitam. Kain itu diikatkan ke belakang kepala. Maka
lengkaplah sudah tanda tanya, siapa sosok bayangan hitam itu.
Sosok itu melesat terus masuk ke
dalam hutan, menerobos kerimbunan semak-semak dan pe-pohonan yang lebat. Namun mendadak
langkahnya berhenti. Capingnya diangkat sedikit ke atas untuk memperjelas
pandangannya. Tapi pandangan mata-nya memang tidak salah. Dalam keremangan
malam itu, di sebatang pohon beringin yang berjarak sekitar dua tombak darinya,
tertancap sebatang tombak berwarna putih mengkilat.
Bisa diduga kalau orang yang
menancapkan tombak di situ memang mempunyai maksud agar hal itu diketahui orang
yang dituju.
Sosok bayangan hitam itu kemudian
melangkah menghampiri. Tampak jelas kalau di dekat mata tombak itu terbelit
sebuah rantai baja yang juga berwarna putih, di ujung rantai itu tergantung
sebuah tengkorak manusia! Menilik dari ukurannya, dapat diketahui kalau
tengkorak itu adalah tengkorak kepala anak kecil.
"Hm...," sosok bayangan
hitam itu hanya meng-gumam pelan, seperti tahu maksudnya.
Tiba-tiba terdengar suara berkaokan keras.
Panjang dan tiga kali berturut-turut, lalu berhenti. Sebentar kemudian suara
itu terdengar lagi seperti tadi. Panjang dan tiga kali berturut-turut.
Bagi orang yang tidak terlalu
ambil peduli, tentu akan menduga kalau suara itu berasal dari burung kuak-kuak.
Tapi kalau saja orang mau sedikit men-curahkan perhatian, akan jelas
kejanggalannya. Suara berkaokan itu nadanya selalu sama. Panjang,
dan tiga kali berturut-turut.
Lalu, berhenti sejenak. Sesaat terdengar lagi. Begitu seterusnya.
Memang, suara berkaokan itu bukan
berasal dari burung kuak-kuak, melainkan dari mulut sosok bayangan hitam itu.
Tampaknya dia tengah menanti sesuatu.
Tak lama kemudian terdengar suara
berkaokan keras pula, tapi berirama lain dengan yang sebelum-nya. Suara kaokan
kali ini meskipun nadanya panjang, tapi tidak tiga kali berturut-turut.
Bunyinya cukup dua kali. Bahkan berhenti agak lama, lalu ter-dengar kembali.
Tak lama kemudian, terdengar
suara gemerisik dari rerumputan yang terlanda sesuatu. Sosok bayangan hitam itu
menoleh ke arah asal suara gemerisik. Sepasang matanya menatap ke depan dari
balik caping yang bertengger di atas kepala.
Sesaat kemudian, dari balik
kerimbunan semak-semak dan pepohonan, bermunculan beberapa sosok tubuh yang
semuanya berpakaian hitam. Maka seketika sosok bayangan hitam mengangkat
sedikit capingnya. Dengan tatapan mata, dihitungnya jumlah sosok yang berdiri
di hadapannya. Ternyata sembilan orang.
"Bagaimana, Wisesa?
Berhasil?" tanya sosok bercaping itu, seraya menatap sosok yang berdiri
paling depan. Sembilan sosok yang berdiri di hadapan orang bercaping itu memang
Wisesa bersama anak buahnya.
"Begitulah, Kang,"
sahut laki-laki berikat kepala hitam itu. Menilik dari panggilan, dapat
diketahui kalau dirinya mempunyai hubungan baik dengan orang bercaping bambu.
"Bagus..!" puji orang
bercaping, gembira. "Cepat
serahkan padaku!"
"Sabar, Kang," sergah
Wisesa buru-buru. "Bagai-mana dengan janjimu? Perlu kau ketahui, Kang.
Mengambil benda itu sulit sekali."
"Hm... Bukankah aku sudah
mengirim orang untuk memancing kakek jompo itu keluar dari guanya?!"
sergah orang bercaping penasaran.
"Apa yang kau katakan itu
tidak salah, Kang," sahut Wisesa dengan suara tawar. "Tapi, kau
melupakan binatang peliharaannya."
"Maksudmu..., macan
putih?" orang bercaping mulai teringat.
"Benar, Kang,"
laki-laki berikat kepala hitam meng-anggukkan kepalanya. "Binatang itu
ternyata kuat sekali. Bahkan empat orang anak buahku tewas ketika berusaha
merobohkannya. Kalau saja aku tidak turun tangan, mungkin mereka semua
tewas."
Orang bercaping itu hanya
mengangguk-angguk-kan kepala saja.
"Permintaan kami tidak
berat, Kang. Kami hanya mohon agar kau bersedia membantu bila kami menghadapi
lawan tangguh."
"Hanya itu yang kau minta,
Wisesa?"
Laki-laki berikat kepala hitam
menganggukkan kepala.
"Jadi, kau bersedia memenuhi
permintaan kami, Kang?"
Orang bercaping itu menganggukkan
kepala. "Mana benda itu?" pinta orang bercaping itu.
"Guntara...!" Wisesa
mendongakkan kepala ke atas pohon.
Belum juga lenyap gema teriakan
itu, dari atas pohon melayang turun sesosok tubuh. Lalu, sosok tubuh itu
mendarat dengan manisnya di tanah. Di
tangannya tergenggam sebuah benda
mirip batu berwarna gelap, berukuran sebesar kepala manusia.
Sepasang mata di balik caping itu
berkilat-kilat. Secercah senyum mengejek tersungging di mulut yang tertutup
kain hitam. Diam-diam dipujinya kecerdikan laki-laki berikat kepala hitam.
Ternyata Wisesa tidak meninggalkan kewaspadaannya. Kepala rampok itu menyuruh
salah seorang anak buahnya untuk membawa benda itu, dan bersembunyi. Dia
berjaga-jaga, kalau-kalau sosok bercaping akan ber-tindak tidak jujur.
Wisesa segera mengambil benda itu
dari tangan anak buahnya.
"Ini benda itu, Kang,"
laki-laki berikat kepala hitam itu mengangsurkan benda langit pada orang bercaping.
Orang bercaping itu mengulurkan tangan menyambut. Beberapa saat diperiksanya benda itu, sambil
mengetuk sana-sini.
"Bagaimana, Kang?" tanya
Wisesa. "Hm...."
Hanya gumaman tak jelas dari
orang bercaping itu yang menyambuti ucapan Wisesa. Kemudian benda itu
dimasukkannya ke dalam buntalan kain hitam yang tersampir di punggung.
Mendadak, tangan sosok bercaping
itu bergerak ke pinggang. Cepat bukan main gerakannya. Dan begitu kembali ke
tempat semula, di tangannya telah tergenggam sebilah keris berkeluk tujuh. Dan
secepat keris itu tergenggam, secepat itu pula ditusukkan ke leher Wisesa.
Wisesa terperanjat. Sebagai
seorang tokoh hitam, tentu saja dia tidak menjadi kaget mendapat serangan tak
terduga-duga ini. Tapi kecepatan gerak
sosok bercaping itu benar-benar
di luar dugaan. Karena sejak tadi sudah bersiap siaga, maka
begitu melihat datangnya serangan
maut yang mengancam nyawa, Wisesa segera melempar tubuh ke samping. Dia
langsung bergulingan di tanah beberapa kali.
"Serang...!"
Sambil terus bergulingan di
tanah, laki-laki berikat kepala hitam ini memberi perintah. Wisesa juga
khawatir, selagi dia bergulingan, serangan susulan dari orang bercaping itu
datang.
Singgg, singgg, singgg...!
Sinar-sinar berkilatan berpendar
ketika anak buah Wisesa menyerbu orang bercaping itu dengan senjata terhunus.
Suara-suara berdesing nyaring mengiringi hujan serangan itu.
Orang bercaping menggertakkan
gigi melihat serangannya dapat dielakkan. Belum lagi serangan susulan
dilancarkan, serangan anak buah Wisesa telah datang bertubi-tubi bagai hujan.
Terpaksa maksudnya dibatalkan untuk mengirimkan serangan pada laki-laki berikat
kepala hitam itu.
Tranggg, tranggg...!
Suara berdentang nyaring
terdengar berkali-kali begitu orang bercaping menggerakkan kerisnya, menangkis
tiga buah serangan yang datang lebih dulu. Bunga-bunga api seketika memercik ke
sana kemari.
Guntara dan dua orang kawannya
terperanjat begitu merasakan tangan yang berbenturan dengan senjata lawan
terasa lumpuh. Hampir saja senjata-senjata mereka terlepas. Dan kini keadaan
mereka amat berbahaya.
Untung pada saat yang gawat,
serangan rekan-
rekan mereka yang lain tiba.
Sehingga, orang ber-caping itu tidak mempunyai kesempatan mengirim-kan serangan
susulan.
Kembali terdengar suara keras
denting senjata beradu, diikuti percikan bunga-bunga api di udara. Dan di saat
itulah, Wisesa telah berhasil memperbaiki keadaannya. Dan dia ikut terjun dalam
kancah pertempuran kembali.
"Kau ceroboh, Brajageni...!
Kau mencari penyakit sendiri! Kalau saja tadi kau tidak bertindak macam-macam,
pemunah racun ini akan kuberikan! Tapi sekarang, jangan harap!" ancam
Wisesa keras.
"Jangan merasa menang dulu,
Wisesa! Kau kira aku tidak tahu kalau benda langit itu ditaburi racun? Ha ha
ha...! Racun bagiku adalah permainan anak-anak, Wisesa! Racunmu sama sekali
tidak berarti bila digunakan padaku!"
"Keparat!" maki Wisesa
kalap. "Serbu...!" Tanpa menunggu perintah dua kali, anak buah Wisesa
segera meluruk ke arah Brajageni.
"Hmh...!"
Brajageni mendengus. Mendadak
tangan kanan-nya dimasukkan ke balik baju. Dan begitu tangan itu dikeluarkan,
secepat itu pula dikibaskan.
Serrr...!
Wisesa terperanjat. Sebagai tokoh
yang telah berpengalaman, dia tahu benda yang mengeluarkan suara berdesir itu.
"Awas...!" teriak
Wisesa seraya melempar tubuh ke samping kanan dan bergulingan menjauh.
Laki-laki berikat kepala hitam
ini berhasil lolos dari maut. Tapi tidak demikian anak buahnya. Serangan itu
sama sekali tidak disangka-sangka. Apalagi, datangnya selagi tubuh mereka telah
dekat dengan
lawan. Tambahan lagi, suasana
malam yang remang-remang membuat mereka tidak dapat melihat jelas benda yang
datang menyambar. Tapi meskipun begitu, mereka berusaha menyelamatkan diri semampunya begitu mengetahui ada
bahaya meng-ancam.
Suara-suara jerit kesakitan terdengar begitu benda-benda yang tak lain adalah jarum-jarum halus
itu mengenai sasaran. Jarum-jarum itu tentu saja bukan jarum sembarangan,
karena mengandung racun ganas. Terbukti begitu empat di antara mereka terkena,
langsung saja meringis sambil memegang bagian yang terluka. Mereka jatuh
menggelepar-gelepar di tanah beberapa saat lamanya, kemudian tidak bergerak
lagi untuk selamanya.
Wisesa meraung keras. Laki-laki
berikat kepala hitam ini murka bukan kepalang. Segera senjata andalannya
dicabut. Senjata yang berupa sebatang golok besar yang sisi-sisinya bergerigi
mirip gergaji itu telah diputar-putarnya.
"Haaat..!"
Seraya berteriak keras, Wisesa
melompat. Dan dari atas, golok di tangannya dibabatkan cepat ke arah leher
Brajageni. Ada suara mengaung yang cukup keras mengiringi tibanya serangan itu.
Jelas, laki-laki berikat kepala hitam ini memiliki tenaga dalam cukup tinggi.
Pada saat yang sama, Guntara dan Gota
yang berhasil selamat dari serangan jarum-jarum beracun, juga meluruk menyerang Brajageni. Guntara menyerang dari depan dengan
sebuah tusukan tombak ke arah dada, sementara Gota menyerang dari belakang.
Pedangnya menusuk cepat ke arah punggung.
Mendapat serangan maut yang
berbarengan, tidak juga membuat Brajageni gugup. Bahkan malah ditunggunya
hingga semua serangan itu menyambar dekat. Lalu dengan perhitungan matang
seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, Brajageni segera
melempar tubuh ke belakang. Dan dengan sendirinya, serangan yang datang dari
belakang dan depan kandas. Sementara serangan Wisesa ditangkisnya.
Tranggg...!
Bunga api memercik ke sana kemari
begitu kedua senjata beradu keras bukan main. Wisesa menggigit bibir ketika
merasakan tangannya pegal-pegal.
Dengan meminjam tenaga benturan,
Brajageni bersalto ke belakang sekali. Dan ketika berada di belakang Gota,
tangannya bergerak mendorong. Kelihatannya perlahan saja. Tapi akibatnya, tubuh
laki-laki beranting di hidung itu terhuyung ke depan seperti diseruduk banteng!
Guntara terperanjat kaget. Pada
saat itu, tombak-nya tengah ditusukkan ke depan, dan tidak mampu ditahan lagi.
Maka dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika melihat tubuh Gota menyambut
ujung tombaknya. Sementara, ujung pedang Gota pun mengarah dadanya.
Crabbb, cappp...!
Rentetan kejadian itu berlangsung
begitu cepat. Dan tahu-tahu, tubuh Gota dan Guntara telah tersungkur di tanah
dengan senjata yang saling hunjam tubuh mereka. Nyawa kedua orang itu langsung
melayang tanpa memperdengarkan suara sedikit pun.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Brajageni. Begitu kedua kakinya mendarat, tangannya
kembali mengibas. Disambutnya
serbuan sisa-sisa anak buah Wisesa.
Singgg, singgg...! Cappp, cappp,
cappp...!
Empat senjata rahasia berbentuk
bintang itu mengenai dahi sisa anak buah Wisesa dengan telak dan keras. Senjata
rahasia itu menghunjam sampai setengahnya lebih. Seketika itu juga tubuh
keempat orang itu roboh di tanah. Sesaat mereka meng-gelepar-gelepar, kemudian
diam tidak bergerak lagi.
Wisesa hanya bisa memandang semua
ini dengan wajah pucat laksana mayat. Semua anak buahnya telah tewas. Dan
sekarang, dia hanya tinggal seorang diri.
"Bersiaplah untuk mati,
Wisesa!" ancam Brajageni lambat lambat tapi penuh tekanan. Ada ancaman
maut dalam suaranya.
"Keparat kau,
Brajageni!" teriak Wisesa kalap. "Kau atau aku yang harus mati!"
Setelah berkata demikian,
laki-laki berikat kepala hitam menerjang orang bercaping itu. Golok di
tangannya menusuk cepat ke arah dada.
Brajageni hanya mendengus.
Buru-buru kakinya melangkah ke kiri seraya mendoyongkan tubuh. Maka serangan
itu lewat sejengkal di sebelah kanan pinggangnya. Pada saat itulah, keris di
tangannya dibabatkan ke arah perut lawan.
Wisesa terperanjat melihat bahaya
maut yang mengancamnya. Dengan semampu mungkin dia berusaha mengelak. Tapi....
Crattt..!
Ujung keris itu menyerempet perut
Wisesa. Seketika itu juga kulit laki-laki berikat kepala hitam itu sobek.
Cairan berwarna merah kehitam-hitaman
segera merembes keluar. Ternyata, keris itu mengandung racun!
"Uuuh...!"
Wisesa mengeluh. Kepalanya
dirasakan pusing. Pandangan matanya berkunang-kunang. Laki-laki berikat kepala
hitam ini sadar kalau racun itu telah bekerja.
Perasaan pusing yang menyerangnya
semakin menjadi-jadi. Tubuh Wisesa mulai oleng, dan
kemudian jatuh di tanah. Dia menggelepar-gelepar meregang nyawa.
"Ha ha ha...!"
Brajageni tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa bernada kemenangan. "Selamat
tinggal Wisesa...!"
Setelah berkata demikian,
Brajageni lalu melesat meninggalkan tempat itu. Ditinggalkannya Wisesa yang
tengah sekarat menanti datangnya maut Brajageni yakin kalau laki-laki berikat
kepala hitam itu akan tewas. Dia yakin, racunnya tidak pernah gagal mengambil
nyawa orang. Sesaat kemudian, tubuh laki-laki bercaping itu telah lenyap
ditelan kegelapan malam.
Wisesa tidak mempedulikan
Brajageni lagi. Rasa sakit yang mendera tubuhnya benar-benar menyiksa. Bahkan
ucapan terakhir laki-laki bercaping itu tidak didengarnya lagi.
Laki-laki berikat kepala hitam
ini hanya bisa menyesali dirinya. Mengapa dia mau saja waktu diajak bekerja
sama untuk mendapatkan benda langit itu? Tapi, Wisesa hanya mempunyai waktu
menyesal sebentar saja. Karena beberapa saat kemudian, nyawanya segera pergi ke
alam baka.
***
4
Brajageni meninggalkan Hutan
Dadap dengan diliputi perasaan gembira. Sungguh tidak disangka, kalau semudah
ini masalahnya akan beres. Kini tinggal satu pekerjaan lagi yang harus
diselesaikannya, maka dia akan memiliki sebuah senjata pusaka yang ampuh.
Laki-laki bercaping ini terus
berlari mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Dalam waktu sebentar saja,
Hutan Dadap telah jauh ditinggalkan-nya.
Brajageni terus berlari disertai
pengerahan ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Lesatannya bagaikan bayangan
setan yang berkelebat, menye-lusup rapatnya pepohonan dan semak belukar.
Lesatannya baru diperlambat ketika terlihat sebuah rumah berdinding bilik di
kejauhan. Rumah itu letak-nya terpencil, jauh dari rumah-rumah yang lainnya. Ke
sanalah laki-laki bercaping ini menuju.
Semakin lama jarak antara
Brajageni dengan rumah itu semakin dekat. Ketika jaraknya tinggal sekitar dua
tombak lagi, laki-laki bercaping ini menghentikan larinya sama sekali. Kini
Brajageni melangkah perlahan mendekati pintu.
Tok, tok, tok..!
Kelihatannya perlahan saja
Brajageni mengetuk-kan tangannya. Tapi akibatnya, daun pintu itu bergetar keras
laksana dipukul palu godam yang besar.
"Siapa?" terdengar
suara teguran dari dalam, diiringi langkah-langkah kaki mendekati pintu.
Brajageni sama sekali tidak
menyahuti. Bahkan caping bambunya semakin ditekankan ke bawah. Maka, wajahnya
jadi semakin tersembunyi.
Kriiit..!
Suara berderit tajam terdengar
begitu daun pintu itu terbuka. Tampaklah seorang kakek di balik pintu. Kulitnya
hitam legam, bertelanjang dada. Sepasang matanya menatap tamu tak diundang ini
penuh selidik.
Belum sempat kakek berkulit hitam
itu bertanya, Brajageni telah mendorong daun pintu, lalu me-langkah masuk.
Langsung ditutupnya daun pintu begitu berada di dalam.
"Kau yang bernama Empu
Sawung?" tanya Brajageni langsung pada pokok persoalan.
Kakek berkulit hitam mengerutkan
alis. Sungguh dia tidak senang mendapat perlakuan yang begitu kasar dari tamu
tak diundang ini. Apalagi orang ini baru pertama kali dilihatnya. Untunglah
hati kakek ini sedikit sabar. Kalau tidak, pasti langsung dihajarnya tamu tak
diundang ini.
Brajageni jadi gusar melihat
kakek berkulit hitam itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Dengan
kasar, dicengkeramnya leher baju kakek itu. Dan didekatkan wajah kakek itu ke
wajahnya.
"Jawab pertanyaanku!"
bentak Brajageni. Se-pasang mata Brajageni menatap bengis, menusuk langsung ke
bola mata kakek yang bernama Empu Sawung. Ada ancaman maut yang terkandung
dalam sinar matanya. Tapi kakek berkulit hitam tetap diam, dengan sikap tetap
tenang. Sepasang matanya malah menatap lepas ke atap rumah.
"Keparat..!" maki
Brajageni keras.
Laki-laki bertubuh tinggi kurus
ini tidak bisa
menahan amarahnya lagi. Dengan
kasar, didorongnya tubuh kakek pemilik rumah itu.
Brakkk...!
Punggung kakek berkulit hitam itu
membentur keras dinding yang terbuat dari papan. Mulut kakek itu menyeringai,
menahan rasa sakit akibat benturan itu. Perlahan-lahan tubuhnya merosot ke
bawah.
Brajageni mencabut kerisnya,
kemudian bergerak menghampiri. Langkahnya lebar-lebar, sehingga dalam beberapa tindak saja, telah berada di depan
kakek pemilik rumah. Perlahan-lahan Brajageni ber-jongkok.
"Jangan buat kesabaranku
habis!" ancam laki-laki bertubuh tinggi kurus ini "Kaukah orang yang
bernama Empu Sawung?! Jawab...! Atau kau ingin bisu selamanya?!"
Brajageni mendekatkan kerisnya ke
wajah kakek berkulit hitam itu, bersikap mengancam. Tapi, kakek itu tetap
membisu. Maka kesabaran Brajageni pun habis.
"Kau pikir aku main-main,
heh?!"
Setelah berkata demikian,
perlahan-lahan keris di tangan laki-laki tinggi kurus ini bergerak, siap hendak
memotong lidah kakek berkulit hitam yang tetap diam membisu. Tapi, mendadak
saja gerakannya terhenti.
Pendengarannya yang tajam
menangkap adanya langkah kaki mendekati ruangan ini. Arahnya dari dalam rumah.
Menilik dari gerakannya,
Brajageni tahu kalau pemilik langkah itu sama sekali tidak memiliki ilmu
meringankan tubuh. Andaikata memiliki, tingkatannya masih rendah sekali.
Langkahnya pun terdengar berat. Meskipun begitu, Brajageni tidak bersikap
ceroboh dan memandang rendah. Kepalanya
menoleh tatkala mendengar langkah
kaki itu tiba-tiba berhenti.
Di ambang pintu yang menuju ke
dalam, tampak berdiri seorang bocah perempuan berusia sekitar sebelas tahun.
Rambutnya panjang dan berkulit putih bersih.
"Kakek...," panggil
bocah perempuan itu.
Sesaat Brajageni tercenung. Jadi, bocah
perempuan itu adalah cucu kakek berkulit hitam ini? Secercah senyum keji
tersungging di bibir yang tertutup kain hitam itu. Perlahan dia bangkit
berdiri, lalu berjalan menghampiri bocah perempuan itu.
Kakek berkulit hitam ini
terkesiap begitu melihat laki-laki bercaping melangkah menghampiri cucunya.
"Ayu! Lari...!" seru
kakek berkulit hitam itu seraya bergerak bangkit. Dan secepat tubuhnya berdiri,
secepat itu pula Brajageni diterkamnya.
Sementara itu gadis kecil itu
hanya menatap tak mengerti melihat kakeknya diancam. Malah saat kakeknya
menyuruh pergi, dia seperti tak mampu pergi dari situ. Gadis itu kian gemetar
melihat laki-laki bercaping semakin mendekati. Lidahnya terasa kelu, tak mampu
mengucapkan kata-kata.
Namun laki-laki tinggi kurus itu
hanya mendengus. Dan sekali tangannya bergerak, tangan kanan kakek berkulit
hitam telah tercekal. Dan sekali Brajageni bergerak mendorong, maka tubuh kakek
berkulit hitam itu langsung terhuyung menabrak dinding.
Tanpa mempedulikan keadaan kakek
berkulit hitam itu, Brajageni meneruskan maksudnya. Dengan sekali mengulurkan
tangan, tubuh bocah perempuan bernama Ayu itu telah ditangkapnya.
"Lepaskan cucuku...!"
teriak kakek berkulit hitam keras seraya menggoyang-goyangkan kepala, akibat
rasa pusing yang diderita dari
benturan tadi. "Ha ha ha...!" Brajageni tertawa bergelak.
Dengan kasar, laki-laki tinggi
kurus itu menjambak rambut Ayu. Karuan saja gadis kecil itu menjerit kesakitan.
Tapi Brajageni malah tertawa terbahak-bahak. Bahkan cengkeramannya semakin
diperkuat. Maka jerit kesakitan anak itu pun semakin nyaring terdengar.
"Jahanam! Iblis
terkutuk!" maki kakek berkulit hitam dengan suara mengandung isak tangis.
Pilu hati kakek ini melihat cucunya disiksa tanpa dia mampu berbuat sesuatu untuk menolongnya.
"Lepaskan cucuku! Aku berjanji akan memenuhi apa pun permintaanmu."
Kembali Brajageni tertawa
bergelak.
"Kalau saja sejak tadi kau
bersikap begitu, kau, dan cucumu tidak perlu mengalami hal seperti ini."
Setelah berkata demikian,
laki-laki tinggi kurus ini lalu melepaskan Ayu. Seketika itu juga, bocah
perempuan itu menghambur ke arah kakek berkulit hitam yang segera mengembangkan
kedua tangan-nya.
"Kakek... Ayu takut..,"
keluh bocah perempuan itu sambil memeluk kakeknya erat-erat. Wajahnya
disembunyikan di pelukan kakek berkulit hitam. Ayu tak berani menoleh, takut
melihat Brajageni.
"Tenanglah, Ayu," hibur
kakek berkulit hitam sambil mengusap-usap rambut gadis kecil itu penuh kasih
sayang.
"Jawab pertanyaanku, sebelum
terlambat. Kaukah orang yang bernama Empu Sawung?!" selak Brajageni tidak
sabar.
Kakek berkulit hitam itu
menganggukkan kepala. "Jawab...!" hardik Brajageni dengan suara meng-
guntur. "Kau punya mulut,
bukan?!"
Keras bukan kepalang bentakan
itu. Kakek ber-kulit hitam sendiri sampai terjingkat kaget. Apalagi Ayu. Gadis
kecil itu makin erat memeluk kakeknya. Bahkan tubuhnya nampak menggigil.
"Benar. Aku Empu
Sawung...," sahut kakek berkulit hitam, pelan.
Brajageni mengambil buntalan yang
tersampir di punggungnya. Lalu dibuka dan dikeluarkan isinya.
"Kuminta, kau membuatkan aku
sebuah keris. Keris yang mempunyai bilah lurus."
Kakek berkulit hitam yang
ternyata bernama Empu Sawung itu memperhatikan benda mirip batu, berwarna gelap
itu. Perlahan-lahan tangan kanannya diulurkan. Dirabanya benda langit yang
berada di tangan Brajageni itu. Untunglah, laki-laki tinggi kurus itu telah
membersihkan racun yang semula ditabur-kan Wisesa di batu itu. Kalau tidak,
Empu Sawung mungkin sudah tidak bernyawa lagi.
"Bahan yang amat baik,"
ucap Empu Sawung jujur. Tapi Brajageni sama sekali tidak menggubrisnya.
"Tiga hari lagi aku akan datang untuk mengambil
pesananku," kata laki-laki
tinggi kurus itu dingin. "Dan ini bayarannya."
Setelah berkata demikian,
laki-laki tinggi kurus ini melemparkan buntalan kain kecil.
Cringgg,..!
Suara berdencing nyaring terdengar begitu buntalan kain kecil itu menimpa lantai.
Eyang Sawung memandang buntalan
kain itu dengan sinar mata hampa. Kakek ini sama sekali tidak berharap kalau
laki-laki bercaping ini akan membayar pesanannya. Yang ada di benaknya hanya
satu, Brajageni harus buru-buru angkat kaki dari
rumahnya.
"Ingat, Sawung!" ancam Brajageni sebelum melangkah meninggalkan tempat
itu. "Jangan coba-coba mempermainkanku! Akibatnya akan sangat
mengerikan!"
Dan sebelum gema suaranya lenyap,
tubuh Brajageni sudah tidak berada di situ lagi. Empu Sawung seketika bergidik,
tidak berani main-main. Kakek ini tahu, orang seperti Brajageni bukan ter-masuk
orang yang suka menggertak sambal saja. Empu Sawung melihat sinar kekejaman di
mata orang bercaping itu.
***
Empu Sawung bekerja keras, bagai
tidak pernah merasa lelah. Kakek ini adalah seorang pandai besi sejati. Tidak
ada hal yang paling menggembirakan hatinya, kecuali membuat sebuah senjata dari
bahan yang baik. Dan benda yang dibawa Brajageni adalah sebuah bahan yang amat
bagus. Dan itu diketahuinya betul! Maka, kini Eyang Sawung mengerjakannya penuh
semangat.
Tanpa mengenal lelah, Eyang
Sawung membakar benda langit di tungkunya. Sampai warnanya agak gelap berubah
merah membara, kemudian menempa-nya.
Suara berdentang nyaring dari
benda logam yang beradu selalu terdengar dari ruang kerja Eyang Sawung. Kakek
berkulit hitam ini bekerja penuh ketekunan, berusaha keras untuk merampungkan
tugas tepat pada waktunya.
Tepat pada hari yang dijanjikan,
keris itu selesai dibuat. Sebuah keris yang mempunyai bilah lurus,
tidak berkeluk sama sekali. Kakek
berkulit hitam itu memandanginya penuh rasa puas.
Eyang Sawung menghela napas lega.
Sebentar lagi Brajageni tentu akan datang. Tapi kali ini Eyang Sawung sama
sekali tidak merasa khawatir. Ayu telah kembali ke rumah orang tuanya, dan kini
dirinya kembali sendirian di rumah yang terpencil ini. Per-lahan kakinya
melangkah kembali ke ruang depan.
"Hhh...!"
Eyang Sawung menghela napas
berat. Kemudian menghempaskan tubuhnya di kursi. Sebentar mata-nya dipejamkan,
tak lama kemudian sudah tertidur.
Entah sudah berapa lama tertidur,
Eyang Sawung tidak mengetahuinya. Yang jelas, dia terbangun ketika mendengar
bentakan keras menggelegar.
"Bangun, Bandot Tua
Pemalas...! Mana pesanan-ku...?!"
Eyang Sawung kontan gelagapan
begitu tahu-tahu di depannya telah berdiri orang yang ditunggu-tunggu. Siapa
lagi kalau bukan laki-laki bertubuh tinggi kurus dan bercaping bambu.
Dengan kesadaran yang belum
sepenuhnya pulih, Eyang Sawung menatap ke luar rumah. Ternyata di luar gelap.
Berarti hari sudah malam. Dalam se-kejapan itu, otaknya bekerja keras. Dan
teringatlah kakek ini kalau setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia duduk di
kursi dan memejamkan mata. Jadi, rupa-nya dia tertidur.
"Keparat..!"
Amarah Brajageni meluap begitu
melihat Eyang Sawung tidak mengambilkan pesanannya, tapi malah celingukan.
Kakinya pun bergerak menendang.
Krakkk..!
Terdengar suara berderak keras
ketika kaki salah
satu kursi patah terkena
tendangan laki-laki tinggi kurus itu. Tak pelak lagi, kursi itu pun oleng. Dan
karuan saja hal itu membuat Eyang Sawung semakin gelagapan, kaget.
"Bandot tua...!" tanpa
peduli kalau Eyang Sawung belum sadar sepenuhnya, Brajageni mencekal leher baju
kakek itu dan mengangkatnya ke atas. "Jangan main-main denganku! Bagaimana
dengan pesanan-ku?! Cepat sebelum kupuntir batang lehermu!"
"Ppp..., pe..., pesanan
apa...?" tanya kakek berkulit hitam terputus-putus. Dahinya berkernyit
dalam seperti tengah mengingat-ingat sesuatu.
Brajageni yang memang pemarah,
tidak sabar lagi. Tangannya langsung bergerak. Tapi sebelum
mengenai sasaran, Eyang Sawung telah keburu teringat.
"Ah, ya...! Aku ingat
sekarang...! Keris, kan?!" Brajageni menurunkan tubuh kakek itu, seraya
melepaskan leher baju laki-laki
tua itu. "Ya! Bagaimana? Sudah selesai?!"
Eyang Sawung menganggukkan
kepala, kemudian beranjak ke dalam. Sebentar kemudian dia sudah kembali lagi.
Di tangan kakek berkulit hitam ini sudah tergenggam sebilah keris.
"Ini keris pesananmu,"
kata Eyang Sawung sambil mengangsurkan keris di tangannya. "Sebuah senjata
pusaka yang hebat."
Brajageni mengulurkan tangannya.
Diambilnya keris yang diangsurkan kakek berkulit hitam itu, lalu perlahan-lahan
dihunusnya. Tampak sebuah keris yang bilahnya berwarna hitam pekat.
Laki-laki tinggi kurus ini
mendekatkan keris itu ke kulitnya. Dahinya berkernyit ketika tidak merasakan
akibat apa-apa. Sementara, Eyang Sawung yang
melihat adanya kernyit di dahi
Brajageni jadi berdebar-debar hatinya.
"Jangan coba-coba menipuku,
Sawung!" ancam Brajageni. Keras, dan kasar suaranya. Sepasang matanya
menatap penuh ancaman pada kakek berkulit hitam itu.
"Aku tidak mengerti maksudmu,
Kisanak," jawab Eyang Sawung jujur.
"Keris ini tidak terbuat
dari benda pesananku!" Merah padam selebar wajah Eyang Sawung
mendengar tuduhan itu. Betapa
tidak? Sebab, setengah mati membuat keris itu, malah dituduh menipu!
"Jaga mulutmu, Kisanak! Seumur
hidup, belum pernah aku menipu orang lain! Keris itu kubuat berdasarkan benda
yang kau berikan padaku!"
Brajageni menatap wajah Eyang
Sawung tajam-tajam, mencoba mencari kebenaran di wajah itu. Dan laki-laki
tinggi kurus ini menghela napas berat tatkala menangkap adanya kesungguhan di
sana. Jelas kalau kakek berwajah hitam itu tidak berbohong.
Beberapa saat lamanya Brajageni
termenung. Dahi laki-laki tinggi kurus ini berkernyit, pertanda ada sesuatu
yang dipikirkannya. Sesaat kemudian, kerut-kerut di dahinya lenyap. Dengan agak
terburu-buru keris miliknya yang tergantung di bawah punggung dicabut dengan
tangan kiri.
Sekarang di tangan Brajageni
terdapat dua bilah keris. Keris yang terbuat dari benda langit berada di tangan
kanan. Sementara keris miliknya berada di tangan kiri. Laki-laki tinggi kurus
ini menatap kedua keris itu berganti-ganti, dengan senyum tersungging.
Kemudian perhatiannya dipusatkan
pada kedua tangan. Setelah mengambil napas dalam-dalam,
tenaga dalam di bawah pusarnya
disalurkan ke arah kedua tangan. Sekejap kemudian sebuah aliran tenaga dalam
mengalir ke kedua tangannya.
"Hih...!"
Brajageni menggertakkan gigi,
lalu keris yang berada di kedua tangannya diadu.
Tranggg...!
Bunga api seketika memercik ke
udara begitu kedua keris itu berbenturan. Eyang Sawung yang semula tidak
mengerti maksud orang bercaping itu memegang dua buah keris, kini paham.
Rupanya, Brajageni ingin mencoba keampuhan keris pesanan-nya.
Sepasang mata Brajageni
terpelalak lebar. Tampak keris yang berada di tangan kirinya punggal. Padahal,
keris miliknya itu bukan keris sembarangan,
melainkan sebuah keris pusaka yang ampuh. Tak diragukan lagi kalau keris yang
berada di tangan kanannya itu terbuat dari benda langit!
"Bagaimana, Kisanak?!"
tanya Eyang Sawung. Ada nada kemenangan dalam suaranya. Sekali lihat saja,
kakek berkulit hitam itu tahu kalau keris yang punggal itu bukan keris
sembarangan.
Sedangkan Brajageni sama sekali
tidak menyahuti ucapan kakek itu. Benaknya tengah dipenuhi
pertanyaan yang tidak mampu dijawab. Semua itu berpangkal dari keris yang
terbuat dari benda langit ini.
Laki-laki tinggi kurus ini tidak
bisa menyangkal lagi. Jelas sudah kalau keris itu terbuat dari benda langit.
Dan itu berarti Eyang Sawung tidak menipunya. Kakek pandai besi itu telah melakukan
pekerjaannya dengan baik.
"Kau benar, Sawung,"
kata Brajageni pelan. Datar
dan dingin suaranya. "Keris
ini memang terbuat dari benda pesananku. Kau tahu, dari mana benda ini
berasal?"
Eyang Sawung menggelengkan
kepala.
"Selama hidupku, belum pernah
kutemukan benda seperti itu. Sebuah benda yang terbuat dari campuran
logam-logam. Beberapa di antaranya sama sekali tidak kukenal. Entah, dari mana
kau mendapat-kannya.... Ataukah... benda itu tidak berasal dari bumi?"
"Tepat. Benda itu jatuh dari
langit. Jadi, namanya benda langit! Benda yang diperebutkan orang-orang rimba
persilatan!" sahut Brajageni pelan tapi tajam.
"Ahhh...!" Eyang Sawung
terperanjat.
"Kau tahu, Sawung. Apa yang
terjadi jika mereka tahu, kalau keris yang terbuat dari benda langit ini ada di
tanganku?" sambung Brajageni.
Meskipun Brajageni baru berbicara
sampai di sini, namun Eyang Sawung sudah menduga kelanjutan ucapan laki-laki
tinggi kurus itu. Kontan hati kakek ini berdebar tegang. Sudah bisa dirasakan,
ada bahaya maut yang mengancamnya. Tapi, kakek berkulit hitam tetap bersikap
tenang. Sejak pertama kali bertemu dan melihat sikap Brajageni. Eyang Sawung
memang sudah bersiap untuk menerima kematian.
Brajageni rupanya memang tidak
membutuhkan jawaban Eyang Sawung. Terbukti begitu kakek berkulit hitam itu sama
sekali tidak menanggapi pertanyaannya, dia sama sekali tidak peduli.
"Mereka semua akan memburuku
untuk men-dapatkan keris ini!" tandas Brajageni tajam. "Bila itu
terjadi, ada dua buah pilihan. Aku atau mereka yang mati!"
Kembali Brajageni menghentikan ucapannya.
Ditatapnya wajah Eyang Sawung
dengan sinar mata mengandung ancaman.
"Aku tidak mau hal itu
terjadi. Maka sedapat mungkin akan kuusahakan untuk mencegah ter-sebarnya
berita ini! Tapi sayang, ternyata sudah ada orang yang mengetahuinya! Maka
sebelum orang itu menyebarluaskan, harus lebih dulu dibungkam mulutnya!
Kau tahu siapa orang itu, Sawung?!"
Eyang Sawung tersenyum getir.
Perlahan kepala-nya terangguk.
"Aku," kata kakek
berkulit hitam itu, tenang. "Tepat!" Brajageni tertawa bergelak.
"Kau harus
mati, Sawung!"
"Telah kuduga sebelumnya,
Kisanak!" sahut Eyang Sawung mantap. Tak ada nada kegentaran dalam
suaranya.
"Ha ha ha...!"
Brajageni tertawa bergelak. Men-dadak sekali tawa itu. Dan secara tiba-tiba
pula, suara tawa itu terhenti. "Kau menjadi orang pertama yang akan
mencicipi kehebatan keris ini, Sawung!"
Setelah berkata demikian,
Brajageni melompat menerjang kakek pandai besi itu. Keris di tangannya meluncur
deras ke arah dada, menimbulkan suara bersiutan nyaring.
Sebenarnya Eyang Sawung memiliki
ilmu silat. Tapi, kepandaian yang dimiliki hanya sekadarnya
saja. Tenaga dalam yang
dimilikinya pun hanya sedikit saja. Kakek pandai besi ini hanya memiliki tenaga
luar yang besar. Dan itu tidak aneh, mengingat pekerjaan kakek berkulit hitam
itu adalah pandai besi.
Sialnya, lawan yang menyerangnya adalah Brajageni. Seorang tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi. Eyang Sawung berusaha
semampunya untuk mengelak.
Tapi.... Cappp...!
Telak dan keras sekali keris itu
menghunjam dada Eyang Sawung, sampai hampir ke gagangnya. Seketika Brajageni
melepaskan pegangan pada keris. Sepasang mata kakek pandai besi ini terbelalak.
Tubuhnya seketika ambruk ke tanah. Dia meng-gelepar, sesaat kemudian diam tidak
bergerak lagi.
Bukan hanya Eyang Sawung yang
membelalakkan sepasang matanya. Brajageni pun demikian juga. Sepasang matanya terbelalak karena melihat kejadian aneh yang terpampang di
depannya.
Begitu keris itu menancap di dada
Eyang Sawung, sama sekali tidak ada darah yang keluar dari luka yang robek itu.
Jangankan mengalir, menetes pun tidak! Saking terkejutnya, Brajageni tidak
buru-buru menarik kembali keris itu. Jadi untuk beberapa saat lamanya, keris
itu terhunjam di dada kakek pandai besi itu.
Kembali kejadian yang aneh
terjadi. Entah dari bagian dada yang tertembus, atau dari bilah keris yang
masih terhunjam, yang jelas dari situ keluar asap. Semula sedikit dan tipis
saja, tapi lama-kelamaan semakin banyak dan tebal.
Melihat peristiwa yang sama
sekali tidak diduga ini, tentu saja Brajageni terpukau. Tapi, hanya sesaat
saja. Sekejap kemudian, dia sudah bisa bersikap biasa kembali. Dengan dahi
berkernyit, diperhati-kannya asap yang semakin menebal itu.
Tak lama kemudian, asap itu mulai
menipis dan semakin sedikit. Sampai akhirnya, asap itu lenyap sama sekali. Dan
begitu asap itu sirna, untuk yang kesekian kalinya sepasang mata Brajageni
terbelalak. Betapa tidak? Tubuh Eyang Sawung yang ter-
hunjam keris kini telah berubah
kurus dan pucat. Tidak ada tanda-tanda darah yang keluar dari tubuh kakek
pandai besi itu.
Brajageni memang seorang tokoh
hitam yang kejam. Tidak ada kata ampun bagi orang yang berurusan dengannya.
Sudah biasa baginya mem-bunuh banyak orang sambil tertawa. Menyiksanya pun
sudah merupakan kegemaran. Tapi melihat peristiwa kali ini, tak terasa bulu
kuduknya merinding. Perasaan ngeri pun mencekam hatinya.
Masih dengan perasaan ngeri,
kerisnya dicabut Beberapa saat lamanya, Brajageni menatap mayat itu. Kemudian,
dia melesat cepat keluar rumah itu, menembus gelap dan heningnya malam.
***
5
Brajageni berlari cepat
mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya. Kenyataan yang
dihadapi benar-benar membingungkan hatinya. Melihat keampuhannya, tak dipungkiri lagi kalau
keris itu benar terbuat dari benda langit. Tapi, kenapa tidak menunjukkan
pengaruh lain seperti yang selama ini diketahuinya. Hal ini benar-benar
membuatnya tidak mengerti.
Belum begitu jauh berlari,
laki-laki bertubuh tinggi kurus ini terpaksa memperlambat langkahnya. Sekitar
beberapa tombak di depan nampak berdiri sesosok tubuh. Menilik dari sikapnya,
dapat diketahui kalau orang itu sengaja menghadang perjalanannya.
Brajageni menghentikan langkahnya
ketika telah berjarak tiga tombak dari sosok yang menghadang perjalanannya.
Dalam keremangan cahaya bulan di langit, dapat terlihat jelas sosok penghadang
jalan-nya.
Sosok itu ternyata seorang
laki-laki bertubuh pendek kekar. Pakaian tanpa lengan membungkus tubuhnya yang
bulat. Usianya tak lebih dari tiga puluh lima tahun. Sebuah cambuk berwarna
hitam seperti warna pakaiannya, tampak tergenggam di tangan.
"Cambuk Halilintar...,"
desis Brajageni. Perlahan saja suaranya. Tapi karena suasana malam yang hening,
ucapan itu terdengar nyaring.
Berbeda dengan Brajageni,
laki-laki pendek kekar yang berjuluk Cambuk Halilintar itu sama sekali tidak
mengenal laki-laki tinggi kurus ini.
"Kalau ingin selamat,
serahkan keris itu padaku, Kisanak," ancam Cambuk Halilintar. Menilik dari
sikap dan nada suaranya, Cambuk Halilintar yakin sekali kalau dirinya akan
mengalahkan Brajageni.
"Hmh...!"
Brajageni mendengus. Meskipun
telah mengenal penghadangnya, dia sama sekali tidak merasa gentar. Orang yang
berjuluk Cambuk Halilintar ini memang terkenal sebagai tokoh sesat yang
memiliki kesaktian cukup tinggi.
"Apa maksudmu, Cambuk
Halilintar? Aku sama sekali tidak mengerti," sahut Brajageni berpura-pura.
"Kau ingin menyerahkannya
baik-baik, atau..., ingin aku merampasnya dengan kekerasan?!" ancam Cambuk
Halilintar. Sama sekali tidak dipedulikan jawaban Brajageni tadi. "Perlu
kau tahu, Kisanak. Aku telah mengetahui semuanya sejak kau ribut-ribut dengan Eyang Sawung. Itulah sebabnya, aku
mencegat di sini. Karena aku tahu kau akan melalui jalan ini"
Mendengar ucapan ini Brajageni
sadar kalau tidak ada gunanya lagi berpura-pura. Yang harus dilaku-kannya adalah membungkam mulut Cambuk Halilintar selama-lamanya. Kalau
tidak, kemungkinan besar berita mengenai keris yang berasal dari benda langit
ini akan tersebar luas. Dan yang pasti, akan banyak tokoh persilatan yang
datang untuk mem-perebutkannya.
Maka jika hal itu terjadi,
Brajageni yakin kalau dirinya tidak akan sanggup mempertahankannya.
Tanpa ragu-ragu lagi, Brajageni
segera mencabut keris yang berasal dari benda langit itu. Dan secepat keris itu
tercabut, secepat itu pula ditusukkan ke arah dada Cambuk Halilintar.
Singgg...!
Suara berdesing Nyaring mengiringi tibanya serangan itu. Cambuk Halilintar seketika terperanjat.
Sungguh tidak disangka kalau serangan lawan begitu dahsyat. Dan ini benar-benar
di luar dugaan. Maka, laki-laki bertubuh pendek kekar ini langsung bersikap
waspada, karena baru merasakan kedahsyatan serangan lawan. Dengan agak gugup
dan terburu-buru dia mengelak, melempar tubuh ke belakang lalu bersalto
beberapa kali di udara.
Tapi Brajageni sama sekali tidak
memberinya kesempatan. Begitu lawannya melempar tubuh ke belakang, segera
dikejarnya. Keris di tangannya ditusukkan bertubi-tubi ke berbagai bagian tubuh
Cambuk Halilintar yang mematikan. Dan begitu kedua kaki Cambuk Halilintar
mendarat di tanah, serangan Brajageni telah mengancamnya.
Meskipun begitu, Cambuk
Halilintar mampu juga membuktikan kelihaiannya. Sebelum serangan keris itu
tiba, cambuk di tangannya telah lebih dulu ber-gerak.
Darrr...!
Ledakan keras terdengar, begitu
laki-laki pendek kekar ini melecutkan cambuknya. Dan seiring ledakan itu, ujung
cambuk itu meluncur cepat ke arah ubun-ubun Brajageni.
Hebat dan berbahaya bukan main
serangan cambuk ini. Jangankan ubun-ubun yang merupakan jalan darah kematian
manusia. Bahkan batu karang yang paling keras pun akan hancur bila terkena
lecutan ini.
Brajageni tentu saja mengenal
serangan ber-bahaya ini. Maka segera serangannya diurungkan. Tidak hanya itu
saja yang dilakukan laki-laki tinggi
kurus ini. Sambil membatalkan
serangan, Brajageni melempar tubuhnya ke samping, lalu bergulingan di tanah.
Cambuk Halilintar yang kini telah
mengetahui kalau lawan di hadapannya bukan tokoh
sembarangan, tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan seluruh ilmu yang dimiliki.
Sadar akan kelebihan jangkauan senjatanya, maka begitu lawan men-jauhkan diri,
dia segera memburu. Cambuk di tangannya meledak-ledak di udara mencari sasaran.
Sesaat kemudian, terjadilah
pertarungan sengit antara kedua orang itu.
Di jurus-jurus awal, pertarungan
berlangsung menarik dan seru. Masing-masing pihak mengerah-kan seluruh
kemampuan yang dimiliki. Suara men-desing nyaring dari keris Brajageni, dan
suara ledakan cambuk dari Cambuk Halilintar menyemaraki pertarungan.
Begitu pertarungan menginjak
jurus ketiga puluh, mulai tampak keunggulan Brajageni. Kalau dibanding-kan,
laki-laki tinggi kurus ini memang masih lebih unggul daripada Cambuk
Halilintar. Baik dalam hal ilmu meringankan tubuh, maupun ilmu tenaga dalam.
Hanya saja karena Cambuk
Halilintar meng-gunakan cambuk, keunggulan Brajageni dalam hal tenaga dapat
tertandingi. Benturan antara cambuk dengan keris, sukar terjadi seperti
beradunya keris dan pedang.
Itulah yang menyebabkan sampai
sekian lama, Brajageni belum mampu mendesak lawannya. Dan hal ini tentu saja
membuat laki-laki tinggi kurus itu merasa penasaran bukan main. Sebagai
akibatnya, serangan-serangannya pun jadi semakin dahsyat.
Satu hal lagi yang menyulitkan
Brajageni men-
desak Cambuk Halilintar adalah
jangkauan senjata lawan yang jauh lebih panjang ketimbang senjatanya. Tambahan
lagi, Cambuk Halilintar ternyata tahu kelebihannya dalam hal jangkauan
serangan. Maka laki-laki pendek kekar itu selalu mengajak bertanding jarak
jauh.
Brajageni tentu saja tidak mau
bertindak bodoh. Sedapat mungkin diusahakan agar pertarungan dapat terjadi
dalam jarak dekat. Maka yang terjadi adalah pertarungan yang kurang menarik. Di
satu pihak, Brajageni berusaha keras mengajak lawan bertarung jarak dekat dan
di lain pihak, Cambuk Halilintar berusaha keras agar pertarungan dapat
berlangsung jarak jauh.
Itulah sebabnya, mengapa
laki-laki bertubuh pendek kekar ini selalu melompat ke belakang untuk menjaga
jarak setiap kali lawan mendesak. Tak lupa, dikirimkannya serangan
lecutan-lecutan cambuk, untuk menahan desakan Brajageni.
Hasilnya, begitu memasuki jurus
kelima puluh, pertarungan berlangsung tidak menarik. Mereka berdua seperti
tidak bertarung, tapi bermain kejar-kejaran.
Brajageni di pihak pengejar,
sedangkan Cambuk Halilintar pihak yang diburu.
Karena Cambuk Halilintar bertarung sambil mundur, maka sedikit demi sedikit pertarungan
berpindah tempat. Sehingga tanpa disadari, begitu pertarungan menginjak jurus
ketujuh puluh, per-tarungan sudah bergeser jauh dari tempat semula.
Brajageni menggertakkan gigi.
Perasaan cemas mulai menggayut di dadanya. Dia khawatir kalau pertarungan ini
akan menarik perhatian orang. Masih untung kalau bukan tokoh persilatan. Tapi
kalau
tidak? Celakalah dirinya! Cambuk
Halilintar harus cepat dibereskan sebelum yang dikhawatirkan terjadi.
"Hih...!"
Brajageni mengibaskan tangan
kirinya. Seketika itu pula terdengar suara berdesir pelan. Dan dalam keremangan
sinar rembulan, tampak benda-benda kecil berwarna hitam melesat cepat ke arah
Cambuk Halilintar.
Laki-laki bertubuh pendek kekar
ini terperanjat. Meskipun hanya samar-samar, tapi bisa diduga kalau benda yang
menuju ke arahnya pasti jarum yang mengandung racun ganas!
Cambuk Halilintar tidak berani bertindak
ceroboh. Cepat bagai kilat tubuhnya dilempar ke belakang dan bersalto beberapa
kali di udara. Maka jarum-jarum itu hanya mengenai tempat kosong.
Tapi hal itu sudah diperhitungkan
Brajageni. Maka begitu lawannya meloloskan diri, tangannya kembali mengibas.
Lagi-lagi terdengar suara berdesir halus ketika jarum-jarum beracunnya meluncur
cepat menuju sasaran. Tidak hanya itu saja yang dilakukan laki-laki bertubuh
tinggi kurus itu. Dia juga langsung melompat menyusul, melakukan serangan
dengan kerisnya.
Cambuk Halilintar terkejut bukan kepalang. Serangan kali ini ternyata jauh lebih berbahaya daripada
sebelumnya. Karena di samping serangan itu tiba di saat tubuhnya tengah berada
di udara, serangan lain pun datang menyusul.
"Hup!"
Begitu laki-laki bertubuh pendek kekar ini mendaratkan kedua kakinya di tanah,
serangan jarum-jarum beracun itu telah menyambar dekat. Maka sebisa-bisanya
cambuknya digerakkan.
Darrr, darrr...!
Hebat bukan main permainan cambuk
laki-laki bertubuh pendek kekar ini. Meskipun dalam keadaan yang sangat sulit,
masih mampu membuktikan kalau julukan Cambuk Halilintar yang disandangnya bukan
sekadar julukan kosong. Nyatanya semua jarum beracun itu tersampok runtuh.
Tapi sebelum Cambuk Halilintar
sempat berbuat sesuatu, serangan susulan dari Brajageni telah menyambar tiba.
Keris di tangan laki-laki bertubuh tinggi kurus itu meluncur cepat ke arah
perutnya.
Cappp...!
"Aaakh...!" Cambuk
Halilintar menjerit keras.
Keris itu menghunjam sampai ke
gagang. Dan kejadian seperti sebelumnya pun kembali terulang. Asap yang
mula-mula tipis dan sedikit, kemudian menebal dan banyak. Sampai akhirnya, asap
itu sirna dan muncul kembali. Dan begitu asap itu benar-benar lenyap, tubuh
Cambuk Halilintar yang telah menjadi kurus kering karena kehabisan darah, ambruk
ke tanah dengan nyawa melayang.
Brajageni terpaku. Kini baru
disadari kalau kejadian yang menimpa Empu Sawung akibat keris yang terbuat dari
benda langit itu. Hanya yang menjadi tanda tanya, ke mana perginya darah Empu
Sawung dan Cambuk Halilintar?
Dengan benak masih dipenuhi tanda
tanya, Brajageni memasukkan keris itu ke sarungnya. Tapi, gerakannya terhenti
di udara. Dia merasa seperti ada hawa yang cukup dingin menghembus kulitnya,
berasal dari bilah keris itu.
Dahi Brajageni seketika
berkernyit. Tadi pun, sehabis membunuh Empu Sawung, ada hawa cukup dingin yang
menghembus kulitnya begitu keris itu
akan dimasukkan ke sarungnya.
Tapi Brajageni buru-buru mengusir
pikiran yang menggelayuti benaknya. Dia khawatir, kalau berlama-lama di sini,
bukan tidak mungkin akan ada tokoh persilatan lain yang datang kemari. Masih
untung kalau menang. Kalau kalah?
Itulah sebabnya, meskipun dengan
benak yang masih dipenuhi berbagai macam pertanyaan yang bergolak, laki-laki
tinggi kurus ini bergerak cepat meninggalkan tempat itu.
***
Entah sudah berapa lama dan
berapa jauh berlari, Brajageni tidak mempedulikannya. Yang diketahui cuma satu.
Dirinya telah berada di dalam Hutan Dadap, menembus tempat yang jarang
didatangi orang.
Brajageni terus berlari, meskipun
malam telah mulai berlalu. Dini hari telah mulai datang. Ayam jantan mulai
berkokok bersahut-sahutan. Sebentar lagi, matahari akan menerangi mayapada.
Laki-laki bertubuh tinggi kurus
itu baru mem-perlambat larinya, tatkala pandangan matanya
tertumbuk pada sebatang pohon beringin yang tinggi, dikelilingi pepohonan dan
semak-semak lebat.
Brajageni menghentikan langkah
ketika jaraknya dengan pohon beringin itu tinggal dua tombak lagi. Pohon itu
besar sekali, berukuran lebih dari empat pelukan tangan orang dewasa. Ada satu
keanehan pada pohon itu. Di bagian bawah batangnya terdapat sebuah lubang
berbentuk setengah lingkaran. Dan tanpa ragu-ragu, Brajageni melangkah meng-hampirinya.
Baru juga melangkah beberapa
tindak, dari dalam pohon itu melesat sesosok bayangan yang langsung melancarkan
serangan bertubi-tubi ke dada, ulu hati, dan pusar Brajageni.
Brajageni terkejut bukan main.
Apalagi begitu merasakan hembusan angin kuat yang menyambar sebelum serangan
tiba. Karena mengelak sudah tidak memungkinkan lagi, maka diputuskan untuk menangkisnya. Tahu akan kedahsyatan
serangan itu, laki-laki tinggi kurus ini mengerahkan seluruh tenaga dalamnya
untuk menangkis.
Plak, plak, plak...!
Benturan keras terdengar berkali-kali begitu sepasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam
penuh beradu. Akibatnya, tubuh Brajageni terjengkang ke belakang. Kedua
tangannya dirasakan seperti patah-patah. Bahkan dadanya pun terasa sesak bukan
main.
Terdengar suara berdebuk keras
ketika tubuh Brajageni terjatuh di tanah. Dari seringai yang nampak di
wajahnya, dapat diketahui kalau dia merasa kesakitan.
Dengan pandangan mata nanar, Brajageni
menatap penyerangnya. Dalam keremangan malam yang telah berganti dini hari,
samar-samar dapat terlihat wajah dan potongan tubuh sosok yang ternyata seorang
kakek bertubuh sedang mengena-kan pakaian serba merah. Kumis dan jenggotnya
nampak hitam. Tapi anehnya, kulit wajahnya putih sekali, seperti kapur.
"Hm…!"
Kakek bermuka putih itu
mendengus. Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka, nampak bersilang di depan
dada. Lalu perlahan-lahan jari-jari tangannya
mengepal, menimbulkan suara
berkerotokan keras. Wajah Brajageni pucat pasi begitu melihat gerakan
kakek bermuka putih.
"Guru...! Tahan...!"
teriak laki-laki bertubuh tinggi kurus, keras. Nada suaranya terdengar agak
bergetar, karena dilanda perasaan tegang dan takut yang menggelegak.
Seketika itu juga jari-jari
tangan kakek bermuka putih yang semula sudah mengepal keras,
mengendur mendadak.
"Apa katamu?!" seru
kakek bermuka putih. Wajah dan suaranya menyiratkan perasaan kaget yang amat
sangat. "Siapa kau sebenarnya?!"
"Aku Brajageni, Guru,"
sahut laki-laki bertubuh tinggi kurus cepat "Lupakah Guru padaku?"
"Brajageni?!"
"Benar, Guru,"
Brajageni menganggukkan kepala. "Begitu berubahkah wajahku sehingga Guru sampai
tidak mengenalku lagi. Dan bahkan hampir saja membunuhku."
"Kunyuk!" umpat kakek
bermuka kurus itu. "Bagaimana aku bisa mengenalmu, kalau wajahmu
disembunyikan seperti itu?!"
Brajageni tersentak. Betapa
bodohnya dia! Pantas saja gurunya sama sekali tidak mengenali. Ternyata caping
dan kain yang menutup wajahnya belum ditanggalkan. Maka buru-buru penyamarannya
di-tanggalkan.
"Kau mengagetkan aku saja,
Brajageni," desah kakek muka putih itu setelah menyaksikan sendiri kalau
orang bercaping itu benar muridnya. "Semula aku merasa heran melihat
racunku sama sekali tidak bekerja. Tapi kini, semuanya telah menjadi
jelas."
Brajageni hanya bisa tersenyum.
Gurunya ini
memang berwatak telengas. Dalam
setiap serangan, racunnya tak pernah ketinggalan. Dan lagi, racun-racunnya
pasti memiliki akibat yang menggiriskan. Hal itu sebenarnya tidak aneh. Karena,
kakek bermuka putih itu berjuluk Raja Racun Muka Putih!
"Jelaskan, mengapa kau sampai melakukan penyamaran seperti ini,
Brajageni?" pinta kakek bermuka putih, pelan. Ada tuntutan yang besar
dalam nada suaranya.
"Terpaksa, Guru. Aku kini
membawa keris yang terbuat dari benda langit. Kalau wajahku kutampil-kan, maka
seluruh tokoh persilatan pasti akan mengejarku. Dan tentu aku bisa celaka,
Guru."
Kemarahan yang melanda hati Raja
Racun Muka Putih langsung sirna, berganti perasaan kaget yang bergelora.
Kepalanya menoleh ke sana kemari sebentar.
"Masuk...," ujar Raja
Racun Muka Putih seraya melangkah memasuki lubang yang terdapat di batang
pohon.
Dengan agak bergegas, Brajageni
melangkah di belakang gurunya. Laki-laki bertubuh tinggi kurus ini tahu, di
dalam pohon besar inilah tempat tinggal Raja Racun Muka Putih. Sebuah tempat
yang agak sulit untuk diketahui orang lain. Siapa yang menyangka kalau
sebenarnya bagian dalam pohon itu tak ubahnya bagian dalam rumah pada umumnya?
***
"Mana keris yang kau katakan
itu, Brajageni?" tagih Raja Racun Muka Putih tatkala mereka berdua telah
duduk di dalam.
Brajageni segera mengambil keris
yang terselip di
belakang tubuhnya, lalu menyerahkan
pada gurunya. Kakek bermuka putih mengulurkan tangan
menerima. Diawasinya sejenak
benda itu, sebelum akhirnya dihunus perlahan-lahan. Sepasang matanya merayapi
sekujur bilah keris yang terbuat dari benda langit, kemudian memasukkannya
kembali lambat-lambat.
"Ceritakan dengan jelas,
bagaimana kau bisa mendapatkan benda langit itu. Karena sepenge-tahuanku, hanya
Dewa Arak dan kawan wanitanya saja yang berhasil keluar dari Hutan Bandan dalam
keadaan hidup. Dan sepatutnya, dialah yang men-dapatkan benda itu. Tapi
ternyata tidak. Benda langit itu lenyap, seiring lenyapnya peristiwa yang
meng-gegerkan hutan itu." (Untuk lebih jelasnya silakan baca serial Dewa
Arak dalam episode "Prahara Hutan Bandan").
"Semua ucapanmu betul,
Guru," sahut Brajageni membenarkan. "Tapi ternyata ada tokoh yang
kita lupakan. Eyang Aji Ranta, namanya. Dan ternyata Dewa Arak menyerahkan
benda langit itu kepadanya." "Hm...," Raja Racun Muka Putih
hanya meng-
gumam pelan.
"Itu pun kuketahui setelah
beberapa waktu lamanya, Guru," sambung Brajageni. "Dan begitu kucari,
kakek itu ternyata telah tidak berada lagi di situ. Eyang Aji Ranta telah
pindah ke Hutan Dadap. Maka segera kususun rencana untuk mendapatkan benda itu.
Karena aku merasa bila menghadapi secara terang-terangan tidak mungkin menang.
Terpaksa dia kulawan dengan siasatku."
Brajageni menghentikan ceritanya
sejenak, untuk mengambil napas.
"Waktu itu, kuperintahkan
seorang kepala rampok
yang pernah kutolong dari tangan
maut seorang pendekar untuk melaksanakan rencanaku. Seorang anak buahnya yang
kuberi pakaian prajurit kulukai dengan racun ganas, dan kubuang di dekat Desa
Pucung. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Dia ditemukan penduduk desa,
dan segera dibawa ke rumah Ki Waskita, dukun ampuh desa itu." Kembali
Brajageni menghentikan ceritanya untuk mengambil napas seraya mencari kata-kata
yang tepat untuk melanjutkan ceritanya.
"Dan seperti yang sudah
kuduga, Ki Waskita tidak mampu menyembuhkan luka itu. Atas desakan orang yang
kuracun, Ki Waskita kemudian menyuruh dua orang penduduk untuk meminta bantuan
Eyang Aji Ranta. Kakek itu memang dikenal sebagai orang yang ahli mengobati
penyakit akibat racun," lanjut laki-laki bertubuh tinggi kurus itu.
"Tak lama setelah utusan itu pergi, orang yang kulukai sembuh. Karena, dia
kubekali obat penawar racunnya."
Raja Racun Muka Putih
mengangguk-anggukkan kepala.
"Dan begitu Eyang Aji Ranta
telah pergi untuk mengobati, rombongan perampok mengambil benda langit itu.
Usaha mereka berhasil, lalu benda langit itu diserahkan padaku. Dan setelah
itu, mereka semua kukirim ke akhirat"
"Ha ha ha...!"
Tiba-tiba tawa Raja Racun Muka
Putih meledak. Tampak jelas kalau hatinya gembira bukan main mendengar ucapan
muridnya. Memang kakek ini memiliki sifat mengerikan. Gembira sekali jika
men-dengar penderitaan orang lain.
"Hm.... Lalu?" tanya
kakek muka putih itu penuh gairah.
Brajageni lalu menceritakan semua
kejadiannya. "Begitulah, Guru," ujar Brajageni menutup cerita-
nya. "Aku ingin menanyakan
kepada Guru tentang hal-hal aneh pada keris ini."
Raja Racun Muka Putih tercenung
sejenak. Dahinya berkernyit, seperti tengah berpikir keras.
Brajageni tidak berani
mengganggu. Dibiarkannya saja kakek muka putih itu berbuat demikian. Hanya
sepasang matanya saja yang menatap tajam setiap gerak-gerik yang dilakukan Raja
Racun Muka Putih.
Setelah beberapa saat lamanya
tercenung, Raja Racun Muka Putih menghunus kembali keris itu. Diperhatikannya
baik-baik bilah keris yang berwarna hitam kelam itu.
"Aku akan memeriksanya dulu,
Brajageni. Mungkin membutuhkan waktu beberapa hari. Dan selama itu, aku tidak
mau diganggu. Kau mengerti?!"
"Mengerti, Guru," sahut
Brajageni seraya meng-anggukkan kepala. "Aku pergi dulu."
***
6
"Hhh...!"
Seorang pemuda berwajah tampan
menghapus keringat yang membasahi wajahnya dengan pung-gung tangan. Kepalanya mendongak ke atas,
menatap ke arah matahari yang berada di atas kepala. Sinarnya memancar dengan
garang ke bumi.
Pemuda itu berusia sekitar dua
puluh satu tahun. Tubuhnya tegap berisi, terbungkus pakaian berwarna ungu.
Sebuah guci arak terbuat dari perak tersampir di punggungnya.
Ada satu hal yang aneh pada diri
pemuda ber-pakaian ungu ini. Rambutnya ternyata tidak berwarna hitam seperti
layaknya yang terdapat pada pemuda umumnya, tapi berwarna putih. Rambutnya
benar-benar seperti orang yang telah berusia tua, hanya saja warnanya lebih
indah. Putih keperakan!
Langkah pemuda berambut putih
keperakan ini berhenti ketika sepasang matanya tertumbuk pada sesosok tubuh
hitam yang tergolek di tengah jalan. Bergegas, dihampirinya sosok yang tergolek
itu.
Sesaat kemudian, pemuda berambut putih keperakan ini telah berada di hadapan sosok hitam itu.
Sekali lihat saja, dia tahu kalau sosok itu telah tidak bernyawa lagi.
Pemuda itu kemudian berjongkok,
karena melihat mayat yang nampak aneh! Begitu mengenaskan, kurus kering, dan
pucat pasi. Sepertinya seluruh darah di tubuhnya telah habis tanpa sisa.
Sepasang mata pemuda berpakaian
ungu itu
kemudian beredar berkeliling. Di
sekitar tempat itu tampak jarum-jarum berserakan. Menilik dari warna-nya, dapat
diketahui kalau jarum-jarum itu mengan-dung racun.
Bukan hanya itu saja yang
ditemukan pemuda berambut putih keperakan ini. Ternyata di situ juga tergeletak
sebuah cambuk berwarna hitam pekat. Dan memang, mayat itu adalah mayat Cambuk
Halilintar yang tewas di tangan Brajageni.
"Keadaan mayat ini sungguh
mengerikan. Seluruh darah di tubuhnya habis. Tapi anehnya, tidak ada
bercak-bercak darah di tanah. Ke manakah perginya darah orang ini?" gumam
pemuda berambut putih keperakan dengan perasaan bingung. "Padahal melihat
luka di perutnya, jelas kalau orang ini tertusuk senjata tajam."
Tapi walau pemuda berpakaian ungu
ini telah memutar otaknya untuk mencari-cari jawaban, dia tak juga menemukannya. Sebaliknya, dia justru kepusingan. Sadar kalau tidak akan
menemukan jawabannya, pemuda berambut putih keperakan ini menghentikan
pemikirannya.
Pemuda itu kemudian bangkit, dan
melangkahkan kakinya menghampiri sebuah tempat yang terlindung. Diambilnya
sebatang kayu yang cukup kuat. Lalu dengan kayu itu, digalinya tanah.
Menakjubkan! Hanya menggunakan sebatang kayu, pemuda itu membuat sebuah
lubang berbentuk persegi panjang yang cukup besar. Dan dengan waktu yang cukup
singkat pula, pekerjaannya diselesaikan. Tidak lebih lambat dari orang-orang
yang terbiasa bekerja kasar membuat
lubang menggunakan cangkul.
Ketika sebuah lubang terbuat,
pemuda berambut
putih keperakan itu lalu menyeret
mayat Cambuk Hatitintar. Dan dimasukkannya mayat itu ke dalam lubang, kemudian
ditimbunnya dengan tanah. Baru setelah semuanya selesai, pemuda itu melanjutkan
langkahnya kembali.
Kini pemuda berambut putih
keperakan itu tidak melangkah pelan seperti sebelumnya, tapi bergerak
mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Dalam sekali langkah saja, tubuhnya sudah
melesat sebelas tombak. Luar biasa!
Pemuda berambut putih keperakan
itu terus berlari cepat. Kini sinar matahari yang terik dan menyengat tidak
dirasakan lagi olehnya. Dan tak lama kemudian, dia telah melihat tembok batas
sebuah desa. Maka pemakaian ilmu meringankan tubuhnya dihentikan. Kemudian,
kakinya melangkah seperti biasa.
Dengan langkah tenang, pemuda
berambut putih keperakan itu melangkah memasuki mulut desa itu. Tak
dipedulikannya pandangan mata keheranan dari penduduk desa yang melihat keadaan
rambutnya yang menyolok. Langkahnya tetap tenang ketika memasuki sebuah kedai.
Sesaat pemuda berambut putih
keperakan itu menatap ke sekeliling. Kedai ini tampak kecil saja, dan kebetulan
tengah kosong. Dia pun memilih satu di antara beberapa meja yang ada di
dalamnya.
Seorang laki-laki setengah tua
bermuka codet, bergegas menghampiri. Rupanya, dialah pemilik kedai ini.
"Mau pesan apa, Den?"
tanya laki-laki bermuka codet itu. Pelan dan sopan suaranya.
"Berikan aku seguci besar
arak," sahut pemuda berambut putih keperakan itu.
Pemilik kedai itu bergegas
kembali ke dalam. Tak lama kemudian, dia sudah kembali sambil membawa seguci
besar arak, berikut sebuah gelas bambu. Dan setelah meletakkannya di meja
pemuda itu, laki-laki bermuka codet itu bergegas kembali.
Pemuda berambut putih keperakan
itu lalu menjumput guci arak yang tersampir di punggungnya, kemudian
meletakkannya di atas meja. Perlahan guci arak pesanannya diangkat dengan
enaknya. Seolah-olah yang diangkat hanya sebuah benda ringan saja.
Suara bercegukan terdengar ketika
arak di guci besar itu dituang ke guci arak perak yang bentuknya jauh lebih
kecil. Tak lama kemudian, guci perak itu sudah penuh.
Kini pemuda berambut putih
keperakan itu menuangkan arak ke dalam gelas bambu. Sesaat kemudian, dia sudah
menikmati minumannya.
Entah sudah berapa gelas arak
yang masuk ke perutnya. Mendadak, pemuda berpakaian ungu itu menghentikan
minumnya sejenak. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya banyak langkah
kaki ringan di luar kedai. Paling tidak pemilik langkah-langkah itu cukup berisi
juga. Seketika, dia bersikap waspada.
Meskipun begitu, pemuda berambut putih keperakan itu tetap berlaku tenang. Kembali gelas
bambunya diangkat, untuk meneruskan minumnya. Dia bersikap seolah-olah tidak
tahu akan kehadiran orang-orang di depan
pintu kedai. Tapi pen-dengarannya dipasang setajam mungkin,
bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.
Dengan sudut matanya, pemuda
berambut putih keperakan itu melihat dua sosok tubuh yang melangkah memasuki pintu kedai, kemudian
menghampiri tempat duduknya.
Langkah mereka berhenti tepat di sebelah meja pemuda itu.
Mau tak mau, pemuda berpakaian
ungu itu menghentikan minumnya. Kepalanya mendongak menatap ke arah empat orang
yang juga tengah menatapnya.
"Semula aku tidak percaya
ketika mendengar kalau desa ini kedatangan orang aneh. Pemuda berambut putih
keperakan menyandang guci, dan berpakaian ungu. Tapi ternyata berita itu benar.
Sungguh tidak kusangka kalau orang sepertimu sudi datang ke desa ini, Dewa
Arak!" kata seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun. Tubuhnya
tinggi kurus dan berpakaian putih. Kumis dan jenggotnya masih berwarna hitam.
Tapi rambut di bagian pelipisnya telah bercampur warna putih. "Kenalkan,
aku Ki Jayus! Kepala Desa Pucung!"
Setelah berkata begitu, laki-laki
berpakaian putih ini mengulurkan tangan pada pemuda berambut putih keperakan.
Pemuda berpakaian ungu yang
memang Dewa Arak alias Arya Buana tersenyum. Disambutnya uluran tangan kepala
desa itu, lalu dijabatnya erat-erat.
"Kau terlalu berlebih-lebihan,
Ki. Panggil saja aku Arya," sahut Dewa Arak. Risih hatinya melihat sikap
kepala desa itu yang terlalu berlebih-lebihan.
"Dan ini Wikalpa! Guru silat
kenamaan Desa Pucung!" ujar Ki Jayus lagi seraya melepaskan genggaman
tangannya, memperkenalkan orang yang berada di sebelahnya.
Dia adalah seorang laki-laki
bertubuh tinggi kurus, berusia sekitar empat puluh lima tahun. Pakaiannya
hitam. Kumis dan jenggot jarang-jarang menghias wajahnya.
Arya mengulurkan tangannya, tapi
Wikalpa sama sekali tidak menyambutnya. Bahkan, sebaliknya malah tersenyum
mengejek. Terpaksa walau dengan muka merah, Dewa Arak menarik kembali
tangannya.
"Memang sifatnya begitu,
De... eh! Arya," Ki Jayus cepat-cepat menengahi keadaan yang tidak enak
itu. "Tapi, percayalah. Hatinya sangat baik."
Dewa Arak hanya menganggukkan
kepala, tidak menyahuti ucapan Kepala Desa Pucung itu.
"Sayang sekali kami tidak
bisa menemanimu minum, Arya. Kami mempunyai sebuah urusan penting tentang Empu
Sawung. Pandai besi desa kami itu telah tewas semalam. Keadaan mayatnya
rnengerikan sekali. Kurus kering dan pucat pasi seperti kehabisan darah...!'
Setelah berbasa-basi sebentar, Ki
Jayus me-langkah meninggalkan tempat itu. Wikalpa pun mengikuti di belakangnya,
meninggalkan Dewa Arak yang tengah tercenung kaget. Jadi, masih ada lagi korban
dengan tubuh kurus kering kehabisan darah? Kalau begitu, di desa ini tengah
terjadi sesuatu. Dewa Arak bertekad dalam hati untuk mencoba meng-ungkap
rahasia pembunuhan yang penuh teka-teki itu. Makanya dia memutuskan untuk
tinggal di sini sementara waktu.
Setelah menyelesaikan minum dan
membayar pesanannya, Arya melangkah meninggalkan tempat itu. Kini tidak ada
Melati di sampingnya. Gadis berpakaian putih itu, sudah kembali ke Kerajaan
Bojong Gading. Kerusuhan masih saja terjadi di sana, karena ada dugaan Kerajaan
Bojong Gading sedang lemah akibat pemberontakan Adipati Tasik (Untuk jelasnya,
baca serial Dewa Arak dalam episode "Banjir Darah di Bojong Gading").
***
Waktu berlalu tanpa disadari.
Terkadang cepat laksana anak panah lepas dari busur. Tapi kadang pula merayap
seperti seekor keong. Tak terasa tiga hari telah berlalu, sejak Brajageni
menyerahkan keris pada gurunya. Dia memang selalu menunggu, sehingga terasa
membosankan.
"Bagaimana, Guru?"
tanya Brajageni begitu datang menagih janji gurunya.
"Keris ini akan menjadi
senjata luar biasa, Brajageni," jelas Raja Racun Muka Putih.
"Maksud, Guru?" tanya
Brajageni ingin tahu. "Begitu mendengar ceritamu tentang keanehan
keris ini, aku lalu memeriksanya.
Dan hasil yang ku-dapatkan, begitu mengejutkan!"
"Apa itu, Guru?"
Brajageni mulai bergairah.
"Keris ini adalah keris
peminum darah, Brajageni," sahut kakek muka putih itu.
"Maksud, Guru?"
"Setiap kali ditusukkan ke
tubuh lawan, keris ini akan menghisap darahnya."
"Ahhh...!" Brajageni
terperanjat.
"Setiap kali meminum darah,
keris ini akan mendapat sebuah kekuatan menggiriskan," sambung Raja Racun
Muka Putih, tanpa mempedulikan keterkejutan muridnya.
"Kekuatan apa itu,
Guru?"
"Hanya satu yang baru
kuketahui, Brajageni," jawab Raja Racun Muka Putih bernada mengeluh.
"Apa itu, Guru?"
meskipun hatinya agak kecewa mendengar gurunya hanya mengetahui satu, tapi
Brajageni tak bisa menahan rasa keingintahuannya.
"Hawa dingin yang luar
biasa!"
"Tapi kenyataannya tidak
demikian, Guru," bantah Brajageni ketika teringat pada salah seorang
korban keris itu.
Raja Racun Muka Putih mendengus.
Dia sudah tahu, mengapa laki-laki tinggi kurus itu berkata demikian.
"Darah yang diminumnya,
tidak cukup untuk menimbulkan pengaruh sampai seperti itu," selak kakek
bermuka putih itu. "Itulah sebabnya, hanya angin dingin biasa yang
menghembus kulitmu. "
"Jadi, maksud guru...?"
"Keris itu membutuhkan darah
yang lebih banyak, Brajageni. Dan juga, selama keris itu belum me-nunjukkan
hasil yang diharapkan, jangan dipisahkan dari darah!"
"Memangnya kenapa kalau
dipisahkan, Guru?" tanya Brajageni ingin tahu, meskipun sebenarnya sudah
bisa menduga.
"Kekuatan yang timbul itu
akan kembali lenyap...." Brajageni mengangguk-anggukkan kepala. Semua
yang dikatakan gurunya
benar-benar masuk akal. "Kesimpulannya..., keris itu harus direndam dalam
darah. Begitu kan, Guru?"
"Tepat!" jawab Raja
Racun Muka Putih cepat. "Dan setelah itu, kita akan membuktikan keampuhan
senjata ini!"
"Kalau begitu, malam ini
juga aku akan mulai bergerak, Guru."
Raja Racun Muka Putih sama sekali
tidak menyahut. Hanya bibir atasnya saja yang bergerak sedikit, pertanda
menanggapi ucapan muridnya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Brajageni segera melesat cepat meningalkan tempat itu.
***
Tong tong, tong...!
Bunyi kentongan terdengar
mengiringi langkah dua orang peronda, yang berjalan mengelilingi wilayah Desa
Pucung. Kedua orang ini tak lain dari Rakapitu dan Gibang.
"Rakapitu..."
Laki-laki bertubuh tinggi besar
itu menoleh. "Ada apa, Gibang?" tanya Rakapitu.
Gibang terdiam sesaat, nampak
kalau merasa ragu-ragu untuk berbicara. Karuan saja hal ini mem-buat rekannya
kesal. Untung, sebelum laki-laki tinggi besar itu memuntahkan kekesalannya,
Gibang telah terlebih dulu membuka suara.
"Kau tidak merasa ada
keanehan malam ini, Rakapitu?"
"Kau ini bicara apa,
sih?!" Rakapitu malah balik bertanya. Nada suaranya menyiratkan kekesalan.
Rupanya, dia tengah tidak mau diganggu.
"Dengar dulu,
Rakapitu," sahut Gibang cepat. "Aku belum selesai bicara!"
Rakapitu pun menghentikan
ucapannya. Tangan-nya yang memegang kentongan kembali bekerja.
Tong, tong, tong...!
Bunyi kentongan itu terdengar
nyaring menembus kesunyian malam yang mencekam.
"Malam ini perasaanku tidak enak sekali, Rakapitu," keluh Gibang
setelah suara kentongan itu lenyap. "Bahkan bulu kudukku sampai
berdiri."
"Hm.... Lalu?" tanya
Rakapitu dengan suara sumbang, seperti dilanda ketegangan.
Memang sebenarnya, dia sejak tadi
dicekam perasaan tidak enak dan rasa takut yang aneh. Itulah
sebabnya, laki-laki tinggi besar
ini jadi agak kesal ketika Gibang membuka pembicaraan seperti itu. Akibatnya,
rasa takutnya semakin besar melanda hatinya.
"Perasaanku..., ada sesuatu
yang akan terjadi..," sambung Gibang pelan, lebih mirip bisikan.
Belum juga laki-laki berwajah
penuh tahi lalat ini menutup mulut, pandangan matanya menangkap adanya sosok
serba hitam tak jauh di depan mereka. Sosok serba hitam itu berjarak sekitar
lima tombak dengan mereka.
Hati Rakapitu dan Gibang
tercekat. Apalagi ketika menyadari kalau kini mereka tengah berada di tempat
yang agak jauh dari rumah-rumah penduduk.
Rakapitu dan Gibang sudah bisa
memperkirakan kalau sosok serba hitam itu mempunyai maksud buruk. Tanpa
ragu-ragu lagi, Gibang segera me-mindahkan obornya ke tangan kiri. Sementara
tangan kanannya cepat bergerak ke arah pinggang.
Srattt..!
Sinar terang berpendar ketika
golok itu keluar dari sarung. Sementara Rakapitu masih tetap belum bertindak
apa-apa. Hanya sepasang matanya saja yang menatap sosok serba hitam itu penuh
selidik. Di tangan kanannya tetap tergenggam kentongan. Dalam keremangan sinar
bulan, tampak sosok hitam itu memang berniat menghadang mereka.
Sosok bertubuh tinggi kurus.
Pakaiannya serba hitam. Wajahnya terturup kain hitam mulai dari bawah mata.
Bukan itu saja. Kepalanya pun ter-bungkus sebuah caping bambu. Memang tidak ada
yang menyangka kalau sosok di balik semua itu adalah Brajageni. Namun siapa pun
orangnya, Rakapitu dan Gibang harus bersikap waspada.
"Siapa kau?!" tanya
Gibang agak keras, dengan jantung berdetak kencang. Sikap dan dandanan orang
ini menimbulkan kecurigaan di hatinya.
Namun bukan jawaban yang
didapatkan Gibang. Tapi terjangan! Tanpa berkata-kata lagi, Brajageni segera
melompat. Tangan kanannya yang berbentuk cakar meluncur deras ke arah dada.
Wuuut…!
Angin menderu keras mengiringi
tibanya serangan Brajageni. Jelas, serangannya itu mengandung tenaga dalam
tinggi. Hal ini tidak aneh, karena laki-laki bertubuh tinggi kurus ini telah
mengerahkan seluruh tenaga dalam yang dimiliki.
Gibang terkejut bukan main
melihat kecepatan gerak lawannya. Dengan gugup, obor yang dipegang dilemparkan
ke arah tubuh lawan yang tengah menuju ke arahnya.
Brajageni hanya mendengus.
Terpaksa serangan-nya dibatalkan. Dan secepat itu pula tangannya dikibaskan ke
arah obor yang tengah menyambarnya.
Takkk...!
Suara berderak keras terdengar
begitu batang obor itu hancur berkeping-keping.
"Haaat..!"
Gibang berseru keras seraya
melompat menerjang. Golok di tangannya menusuk cepat ke arah perut Brajageni.
Rakapitu pun tak tinggal diam. Maka cepat dipukulnya kentongan berkali-kali.
Tong, tong, tong...!
Suara kentongan tanda bahaya pun
terdengar. Dan sehabis memberi tanda, laki-laki tinggi besar ini mencabut golok
untuk membantu rekannya yang tengah menghadapi Brajageni. Golok di tangannya
membabat cepat ke arah leher.
Brajageni geram bukan kepalang
melihat Rakapitu memukul kentongan tanda bahaya. Sudah dapat diperkirakan kalau
tak lama lagi penduduk desa akan berdatangan. Dan dia tidak ingin masih berada
di sini saat para penduduk datang. Bila hal itu terjadi, maka akan banyak
penduduk yang menjadi korban. Brajageni tidak menginginkan hal itu. Malam itu
cukup dua orang saja yang akan dijadikan korban. Sisanya esok malam. Makanya,
kini dia harus ber-tindak cepat.
Brajageni sama sekali tidak
berusaha mengelak atau menangkis, saat kedua orang lawannya bergerak menyerang.
Sepertinya laki-laki bertubuh kurus itu tidak mempedulikan mereka. Karuan saja
hal ini membuat Rakapitu dan Gibang jadi gembira. Mereka menduga laki-laki
bercaping itu tidak mampu meng-elakkan serangan gabungan yang dilakukan.
Takkk, takkk...!
Dua batang golok itu membalik
ketika mengenai sasaran. Sementara tangan kedua orang penyerang itu bergetar
hebat, sampai-sampai senjata yang di-genggam hampir terlepas dari pegangan.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Brajageni. Tubuhnya cepat menyelinap ke belakang. Dan setibanya di
sana, cepat laksana kilat, kedua tangannya menepuk tengkuk Rakapitu dan Gibang
Gerakan Brajageni cepat bukan
mata. Terdengar suara keluhan lirih, disusul robohnya tubuh kedua orang itu
begitu kedua tangan Brajageni hinggap di sasaran. Rakapitu dan Gibang kontan
pingsan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Brajageni menyambar mereka sebelum menyentuh tanah. Dan secepat itu pula
laki-laki serba hitam itu melesat kabur dari situ, sambil memanggul tubuh kedua
orang
yang akan menjadi korbannya.
Baru saja tubuh Brajageni lenyap ditelan kegelapan malam, para penduduk Desa
Pucung muncul di tempat itu. Jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang. Di tangan
mereka semua tergenggam
sebatang obor, membuat suasana di tempat itu jadi terang-benderang.
Dengan dipimpin empat orang
peronda lain yang tadi berjaga-jaga di pos, para penduduk mencari-cari di
sekitar tempat itu.
"Kau yakin suara kentongan
itu berasal dari sini, Guriang?" tanya salah seorang penduduk yang berusia
setengah baya.
Guriang, yang ternyata adalah
seorang pemuda, langsung menoleh.
"Aku yakin sekali,
Paman," sahut Guriang, mantap. "Kalau begitu, mari kita cari di
sekitar sini!" seru
laki-laki setengah baya itu.
"Hey...!" seru salah
seorang penduduk. Telunjuk tangan kanannya menuding ke tanah.
Seperti mendapat aba-aba, belasan orang rekannya menoleh ke arah yang ditunjuk, kemudian
bergegas melangkah menghampiri.
Guriang membungkukkan tubuhnya,
memungut dua batang golok. Kemudian diperhatikannya golok itu dengan seksama.
"Ini golok Rakapitu dan
Gibang," desak Guriang. "Berarti mereka tadi berada di sini...,"
sambut
seorang penduduk yang berbibir
tebal dan hitam. "Benar!" sahut Guriang memberi dukungan.
"Mekipun tanda-tandanya
sedikit, bisa diketahui kalau di sini telah terjadi pertarungan...."
"Tapi, ke
mana mereka...?!" tanya
seorang penduduk yang bertubuh kecil kurus. Tidak jelas,
kepada siapa pertanyaan itu ditujukan. Dan andaikata ditujukan pun, orang yang
ditanya tidak akan bisa menjawabnya. Mereka semua memang sama-sama tidak tahu.
"Kita berpencar
mencarinya," lagi-lagi Guriang yang mengambil keputusan cepat. "Kita
memecah diri menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima
orang. Bagaimana? Setuju?!"
"Setuju...!" sahut belasan orang penduduk serentak.
Guriang tersenyum lebar melihat
sambutan yang menggembirakan itu. Setelah merundingkan kembali, apa-apa yang
hams dilakukan, keempat orang itu pun segera berpencar.
Dua puluh orang penduduk yang
terbagi menjadi empat kelompok mulai menyusuri sekitar daerah itu. Mereka mencari-cari dengan penuh semangat. Mereka menguak kerimbunan pepohonan dan
semak-semak seraya memanggil-manggil nama kedua orang peronda itu. Tapi, tetap
saja tidak ada tanda-tanda keberadaan Rakapitu dan Gibang.
Akhirnya setelah lama
mencari-cari tanpa hasil, para penduduk putus asa. Kedua kaki mereka telah
lelah sekali. Leher terasa sakit, dan suara pun serak karena terlalu sering
memanggil-manggil. Sedangkan, yang dicari tak kunjung datang.
Satu demi satu kelompok pencari
itu mulai kembali ke pos masing-masing dengan langkah lesu. Mereka hanya dapat
berharap, agar kedua orang itu selamat.
***
7
Hari masih pagi di Desa Pucung.
Matahari yang berbentuk bola raksasa baru saja muncul di ufuk Timur. Warnanya
merah jingga. Suasana pagi yang semula sunyi, mendadak dipecahkan oleh teriakan
keras diiringi sesosok tubuh yang berlari terpontang-panting.
Menilik dari pakaiannya, dia
pasti penduduk Desa Pucung. Orang itu terus saja berlari cepat, sekalipun telah
memasuki desa. Tentu saja hal ini menarik perhatian beberapa penduduk lainnya.
"Ada apa, Soma?" tanya
seorang yang rambutnya dikuncir, pada laki-laki berpakaian kuning yang tengah
berlari-lari itu.
Tapi Soma sama sekali tidak
menghiraukannya, dan malah terus saja berlari. Hal ini membuat laki-laki
berkuncir itu penasaran. Segera perhatiannya dialih-kan pada orang yang berada
di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya
laki-laki berkuncir itu.
Tapi orang yang ditanya juga
hanya meng-gelengkan kepala.
"Sepertinya dia menuju ke
rumah kepala desa," tebak seorang penduduk yang bermata picak.
"Pasti ada sesuatu yang akan
dilaporkannya," sambut laki-laki yang berambut dikuncir.
Karena perasaan ingin tahu,
orang-orang itu pun bergerak mengikuti. Dan memang, apa yang dikata-kan orang
bermata picak itu benar. Soma ternyata menuju rumah kepala desa.
"Ki..! Ki...!" masih
dalam keadaan berlari-lari, dan
dalam jarak tak kurang dari lima
tombak, laki-laki berpakaian kuning itu berteriak-teriak memanggil Ki Jayus
yang kebetulan tengah berada di halaman.
Karuan saja hal ini membuat
Kepala Desa Pucung itu terperanjat.
"Ada apa?!" tanya Ki
Jayus ketika Soma telah berada di hadapannya.
"Anu, Ki...." Dengan
terputus-putus karena napas-nya masih memburu, Soma berusaha berbicara.
"Tenanglah dulu," ujar
Ki Jayus pelan. "Kau tidak akan bisa mengatakannya kalau tidak tenang
dulu."
Laki-laki berpakaian kuning yang
bernama Soma itu terdiam, berusaha menenangkan diri.
"Tarik napas dalam-dalam,
lalu keluarkan," saran Ki Jayus.
Kembali laki-laki setengah baya
itu menuruti anjuran Kepala Desa Pucung itu. Napasnya segera ditarik
dalam-dalam, lalu dihembuskan kuat-kuat. Memang setelah beberapa kali melakukan
hal itu, dia mulai merasa tenang.
"Sekarang, katakanlah.
Mengapa kau bersikap seperti itu?" ujar Ki Jayus penuh wibawa.
"Mereka, Ki. Aku telah
menemukannya," Soma berusaha menjelaskan.
"Mereka siapa?" Ki
Jayus mengerutkan kening. "Bicaralah yang jelas!"
"Rakapitu dan Gibang,
Ki."
"Rakapitu dan Gibang?!"
ulang Ki Jayus lambat-lambat. "Memangnya, ada apa dengan kedua orang
itu?!"
"Jadi..., kau belum
mengetahuinya, Ki?" sekarang malah laki-laki berpakaian kuning itu yang
terheran-heran.
"Mengetahui? Mengetahui
apa?!" tanya Ki Jayus,
tak mengerti.
"Rakapitu dan Gibang hilang secara aneh semalam, setelah
memukul kentongan tanda bahaya," jelas laki-laki
berpakaian kuning itu.
"Heh?! Mengapa aku tidak
diberi tahu?!" ada nada teguran dalam pertanyaan itu.
"Kami belum sempat
memberitahukanmu, Ki," selak sebuah suara menyahuti, sebelum Soma
menjawab.
Serentak Ki Jayus dan laki-laki
setengah baya menoleh ke arah asal suara. Di sana berdiri Guriang dan tiga
orang lainnya. Mereka berempat adalah yang bertugas ronda semalam.
"Semalam kami ingin
memberitahukanmu, tapi malam sudah terlalu larut. Dan menjelang dini hari, kami
terpaksa mengurungkannya. Maaf, Ki. Kami tidak ingin mengganggumu," jelas
Guriang mewakili rekan-rekannya.
"Hm...," hanya gumaman
tak jelas yang menyam-buti ucapan pemuda bertubuh kekar itu.
"Rencananya, pagi ini kami
akan memberitahumu. Sekalian meneruskan pencarian. Tapi, rupanya kami sudah
didahului Kakang Soma."
"Aku telah menemukan mereka,
Guriang," jelas Soma.
"Aku telah mendengarnya
tadi, Kang," sahut Guriang. "Bagaimana keadaan mereka?"
"Tidak ada harapan sama
sekali," sahut Soma bernada mengeluh.
"Jadi...?" suara
Guriang tercekat di tenggorokan. "Ya," Soma menganggukkan kepala.
"Mereka
tewas."
"Ya, Tuhan...!" hampir
berbareng, semua mulut berseru.
"Mari kita ke sana...!"
ajak Ki Jayus yang terlebih dulu sadar dari kesedihannya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
keenam orang itu segera meninggalkan tempat itu, menuju tempat Rakapitu dan
Gibang ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
Di tengah perjalanan mereka
bertemu rombongan penduduk yang bermaksud menyusul Soma. Dan begitu para
penduduk itu mengetahui maksud rombongan kecil itu, mereka juga ikut
meng-gabungkan diri.
Semakin lama rombongan itu
semakin banyak jumlahnya. Dan menjelang mulut desa, Dewa Arak dan Wikalpa yang
kebetulan ada di situ segera meng-gabungkan diri. Suara riuh seperti ada
serombongan lebah marah terdengar ketika para penduduk ber-bicara satu sama
lain.
Soma bertindak sebagai penunjuk
jalan, mem-bawa rombongan penduduk ini menuju Hutan Dadap.
"Bagaimana kau bisa
menemukannya, Soma?" tanya Guriang. Ada nada penasaran dalam suaranya.
Maklum, semalam dia bersama rekan-rekannya telah mencari-cari sampai semalam
suntuk, tapi tanpa hasil.
"Aku pun menemukannya secara
tidak sengaja, Guriang. Kau tahu kan, aku selalu mencari kayu bakar, di hutan
ini. Dan secara tidak sengaja aku melihat mayat mereka. Mengerikan!"
Setelah berkata demikian, Soma
bergidik. Namun, Guriang tidak menanggapi. Sehingga laki-laki setengah baya itu pun
menghentikan ucapannya.
Tak lama kemudian rombongan
penduduk Desa Pucung ini telah memasuki Hutan Dadap. Soma terus berjalan di
depan, sampai akhirnya tiba di depan
sebatang pohon yang di sekitarnya
terdapat semak-semak.
"Di situlah mayat mereka
kutemukan," tunjuk laki-laki berpakaian kuning itu memberi tahu. Telunjuk
tangan kanannya menuding ke arah pohon dan semak-semak.
Guriang dan tiga orang rekannya segera melangkah maju, lalu menguak
kerimbunan semak-semak. Sementara yang lainnya menunggu di tempat.
"Ah...!"
Terdengar jerit pelan bernada
keluhan. Sesaat kemudian, keempat orang itu bergerak terhuyung-huyung keluar
kerimbunan. Wajah mereka tampak pucat pasi.
"Guriang! Ada apa...?!"
tanya Ki Jayus tak sabar. "Mengapa mayat mereka tidak dibawa
keluar?!"
Tapi Guriang sama sekali tidak
menyahuti per-tanyaan Kepala Desa Pucung itu. Tampak jelas kalau dia masih
dilanda keterkejutan yang amat sangat.
Melihat hal ini, Wikalpa jadi
tidak sabar lagi. Segera kakinya melangkah, memasuki kerimbunan semak-semak
itu.
Kini para penduduk kembali
menanti, dengan perasaan tegang. Mereka ingin tahu, apa yang akan terjadi lagi.
Tapi, tidak terdengar suara keluhan sedikit pun dari dalam kerimbunan
semak-semak itu. Bahkan tak lama kemudian, laki-laki berkumis jarang-jarang itu
telah keluar dari kerimbunan semak-semak. Di bahu kanan kirinya sudah
terpanggul dua sosok tubuh.
Dengan wajah tenang, Wikalpa
menurunkan tubuh yang dipanggulnya. Memang yang dikatakan Soma benar, bahwa dua
sosok mayat itu adalah Rakapitu dan Gibang. Tapi, keadaan mereka benar-benar
mengerikan. Kepala hampir
terlepas dari leher, sedangkan tubuhnya kurus kering dan pucat seolah-olah tak
ada darah setetes pun di tubuh mereka.
Bukan itu saja. Sekujur tubuh
mereka juga penuh luka sayatan. Bahkan pakaian kedua orang itu compang-camping.
Arya mengerutkan alisnya. Kembali
Dewa Arak melihat mayat-mayat dengan luka-luka yang sama dengan yang pernah
ditemukannya. Apakah ada makhluk peminum darah yang berkeliaran di desa ini?
"Keparat...!" Ki Jayus,
Kepala Desa Pucung itu menggertakkan gigi begitu melihat mayat kedua orang
warganya. "Iblis mana yang telah melakukan semua ini?!"
Tapi tidak ada satu pun warganya
yang menjawab pertanyaan itu. Mereka semua sama menundukkan kepala.
"Guriang...! Bagaimana ini
bisa terjadi?! Bukankah Rakapitu dan Gibang bertugas bersamamu?"
Guriang mengangkat kepala,
menatap sebentar wajah Ki Jayus.
"Maafkan aku, Ki,"
pinta Guriang. "Waktu peristiwa itu terjadi, aku tidak berada bersama
mereka."
"Hm.... Lalu, kau berada di
mana?!" sentak Ki Jayus.
"Aku dan yang lain berada di
gardu jaga, Ki. Sementara Rakapitu dan Gibang berkeliling."
"Hm...," hanya gumaman
pelan yang keluar dari mulut Kepala Desa Pucung itu.
"Ki...," sapa Arya
begitu mendapat kesempatan. "Ada apa, Arya?" tanya Ki Jayus seraya
menoleh ke
arah pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Apakah ini adalah kejadian
yang baru pertama
kali?" tanya Arya ingin
tahu.
"Tidak, Arya," Ki Jayus
menggelengkan kepala. "Ini adalah kejadian yang kedua kalinya. Kejadian
pertama telah menimpa Empu Sawung."
Dewa Arak menganggukkan kepala.
Jadi, ini adalah kejadian ketiga kalinya yang dilihat Arya. Yang kedua adalah
sosok hitam yang kemudian dikubur-kannya.
"Keadaan mayat mereka
mengerikan sekali, Ki," kata Arya lagi. "Sepertinya darah di seluruh
tubuh mereka habis! Apa mungkin di desa ini ada makhluk peminum darah?"
Ki Jayus mengangkat bahu.
"Aku sama sekali tidak tahu,
Arya. Tapi yang jelas, aku belum pernah mendengarnya."
Dewa Arak terdiam.
"Nanti malam penjagaan harap
lebih ditingkatkan. Kalian semua harus bersikap waspada. Begitu melihat gelagat
mencurigakan, lekas pukul kentongan secepatnya," ujar Ki Jayus pada
Guriang.
"Baik, Ki," semua
kepala terangguk pelan.
"Bagus! Sekarang mari kita
kembali, mengurus mayat kedua orang ini dulu," ujar Ki Jayus lagi.
Sesaat kemudian, rombongan
penduduk Desa Pucung itu pun bergerak meninggalkan Hutan Dadap.
***
Malam itu suasana terasa lebih
menyeramkan. Kematian demi kematian yang datang susul-menyusul,
benar-benar membuat Desa Pucung geger. Para penduduknya kini dicekam rasa
ketakutan. Mereka khawatir, kalau pembunuh misterius itu akan mendatangi
mereka.
Tong, tong, tong…!
Suara kentongan terdengar
mengusik keheningan malam sepi yang hanya dihiasi bulan sabit di langit.
Guriang dan ketiga orang kawannya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Masing-masing mengawasi arah yang berlainan.
"Hei...!" seru Guriang
kaget. Mendadak saja, sesosok bayangan hitam bertubuh tinggi kurus tampak
melesat cepat ke arahnya. Pemuda bertubuh pendek kekar ini memang bertugas
mengawasi belakang. "Cepat menyingkir...!"
Seraya berseru demildan, Guriang
melompat ke samping, dan membuang tubuhnya ke tanah. Begitu juga ketiga orang
kawannya. Maka serangan sosok hitam itu hanya mengenai tempat kosong.
"Cepat pukul
kentongan...!" teriak Guriang keras seraya melompat menyerang sosok hitam
itu. Golok di tangannya membabat cepat ke arah leher sosok bercaping itu.
"Hmh...!"
Sosok hitam yang jika dibuka
selubung kain hitamnya adalah Brajageni, hanya mendengus. Tangan kirinya bergerak cepat ke
arah golok yang menyambarnya.
Tappp…!
Guriang terbelalak kaget ketika
goloknya dapat dicengkeram lawan. Dan sekali Brajageni bergerak membetot,
kontan tubuh pemuda pendek kekar ini terhuyung ke depan. Di saat itulah
telunjuk kanan laki-laki tinggi kurus ini bergerak cepat ke arah dada.
Tidak ada pilihan lagi bagi
Guriang, kecuali melepaskan goloknya dan melempar tubuh ke belakang. Maka,
serangan Brajageni hanya mengenai tempat kosong. Pada saat yang sama, salah
seorang
peronda telah memukul kentongan.
Tong, tong, tong...!
Suara kentongan tanda bahaya
terdengar keras menguak keheningan malam sepi.
Brajageni menggertakkan gigi.
Sayang, dia harus berusaha keras agar calon korbannya tidak mati. Korbannya
harus dibawa dalam keadaan hidup kalau ingin darah itu berguna untuk kerisnya.
Dengan perasaan geram, Brajageni
melompat menyerang. Laki-laki tinggi kurus ini tahu, kalau dia harus bertindak
cepat. Masalahnya, orang-orang pasti akan berkumpul di sini.
Maka tanpa ragu-ragu lagi, segera
dikerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Betapapun Guriang dan ketiga orang kawannya telah mengerahkan seluruh kemampuan,
namun dalam dua gebrakan saja, laki-laki tinggi kurus ini telah berhasil
menotok lemas dua orang lawannya.
Dan secepat kedua orang itu
roboh, secepat itu pula Brajageni memanggulnya. Kemudian, laki-laki tinggi
kurus itu membawanya kabur.
Di saat itulah, melesat sesosok
bayangan ungu. Dan dengan gerakan indah dan manis, sosok bayangan itu bersalto
beberapa kali di udara, kemudian hinggap di hadapan Brajageni.
"Mau lari ke mana, Penjahat
Keji?!" bentak sosok ungu yang tak lain dari Dewa Arak. Sepasang mata
pemuda berambut putih keperakan itu merayapi sekujur tubuh laki-laki bercaping.
Brajageni tercenung bingung. Dia
kini tengah memanggul tubuh dua orang korbannya. Lalu, bagaimana mungkin
melawan Dewa Arak? Di saat laki-laki bertubuh tinggi kurus ini kebingungan,
sesosok bayangan merah tiba-tiba menerjang dari
udara ke arah Dewa Arak dengan serangan
totokan-totokan jari tangan terbuka lurus ke arah ubun-ubun dan pelipis.
Arya terperanjat. Sama sekali
tidak disangka akan mendapat serangan mendadak dan dahsyat begitu. Tanpa pikir
panjang lagi, pemuda berambut putih keperakan itu membalikkan tubuh dan
menggerak-kan tangan menangkis.
Plak, plak, plak...!
Terdengar benturan keras seperti
dua batang logam beradu ketika dua pasang tangan yang sama-sama mengandung
tenaga dalam tinggi berbenturan.
Akibatnya sungguh hebat! Tubuh
Dewa Arak terhuyung dua langkah ke belakang. Sekujur tangan-nya terasa bergetar hebat. Sementara sosok
bayangan merah itu terpental balik ke atas.
Arya terkejut. Disadari kalau penyerangnya
memiliki tenaga dalam amat kuat. Tenaga sosok bayangan merah itu tidak kalah
dengan tenaganya sendiri.
Sebenarnya, bukan hanya Dewa Arak
saja yang terkejut. Ternyata sosok bayangan merah itu pun dilanda perasaan yang
sama. Dan dengan gerakan indah dan manis, kakinya mendarat di tanah.
Brajageni tidak menyia-nyiakan
kesempatan itu. Dia tahu kalau sosok bayangan merah itu adalah gurunya yang
berjuluk Raja Racun Muka Putih. Maka tanpa pikir panjang lagi, laki-laki
bertubuh tinggi kurus ini melesat kabur.
"Hey...!" seru Arya
keras seraya melesat memburu. Tapi sebelum maksud Dewa Arak terlaksana,
sesosok bayangan merah telah
berkelebat cepat dan tahu-tahu telah berada di hadapannya. Mau tak mau Arya
terpaksa mengurungkan niatnya untuk mengejar
Brajageni. Sosok bayangan merah
di hadapannya ini memang seorang lawan yang amat tangguh.
Dalam keremangan malam yang hanya
diterangi cahaya bulan, Dewa Arak menatap penyerangnya. Dia adalah seorang
kakek bertubuh sedang, berpakaian serba merah. Kumis dan jenggotnya berwarna
hitam. Sangat pas sekali dengan kulit wajahnya yang putih seperti kapur. Kulit
wajahnya yang putih, nampak terlihat jelas dalam suasana malam kelam.
"Ha ha ha...!" Raja
Racun Muka Putih tertawa keras sekali. Bahkan bagai menggelegar seperti guntur.
Jelas kalau tawanya disertai pengerahan tenaga dalam.
Dan akibatnya sungguh hebat.
Guriang dan seorang temannya yang masih berada di situ seketika terjungkal
jatuh. Dari mulut, hidung, dan telinga kedua orang itu mengalir darah segar.
Yang pasti, mereka tewas seketika dengan dada pecah.
Arya kaget bukan main, merasakan
pengaruh suara tawa itu. Dadanya tergetar hebat dan telinganya pun
berdengung keras. Buru-buru tenaga dalamnya dikerahkan untuk menahan serangan
tawa Raja Racun Muka Putih.
Belasan orang penduduk yang
berdatangan, dan berada dalam jarak yang cukup jauh pun mengalami akibat yang serupa.
Tubuh mereka terjungkal, lalu buru-buru mendekapkan kedua tangan ke telinga
dalam usaha menahan serangan suara tawa itu.
Meskipun tidak melihat, Arya tahu
apa yang dialami para penduduk itu. Dan kalau dibiarkan, mereka semua akan
tewas. Maka pemuda berambut putih keperakan ini segera menghentakkan kedua
tangannya ke arah lawan menggunakan jurus 'Pukulan Belalang'.
Wusss...!
Angin keras berhawa panas menyengat,
menyambar ke arah Raja Racun Muka Putih. Seketika tokoh sesat yang menggiriskan
ini terperanjat, mengenali serangan berbahaya itu. Maka tanpa
membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera dilempar ke samping dan
bergulingan di tanah. Dengan sendirinya, suara tawanya pun terhenti.
Tanpa diduga, begitu kakek
bermuka putih ini bangkit dari berguling, tubuhnya langsung melesat ke arah
kerumunan penduduk yang tadi terjungkal di tanah sambil mendekap telinga. Dan
sekali tangan kakek ini terulur, dua sosok tubuh telah berada dalam
panggulannya.
Tentu saja Dewa Arak tidak
membiarkan begitu saja. Cepat laksana kilat tubuhnya melompat mem-buru. Tapi,
rupanya hal itu sudah diperhitungkan Raja Racun Muka Putih. Tangan kanannya
yang bebas langsung dikibaskan. Maka sekumpulan benda-benda berbentuk serbuk berbau amis memuakkan,
meluncur ke arah Arya.
Pemuda berambut putih keperakan
ini tidak punya pilihan lagi, kecuali cepat melompat ke samping dan bergulingan
di tanah. Untunglah taburan serbuk beracun dari lawannya mengenai tempat
kosong.
Raja Racun Muka Putih memang
tidak bermaksud sungguh-sungguh menyerang. Serangan itu ternyata dimaksudkan
hanya untuk mencegah usaha Dewa Arak menghalangi kepergiannya. Maka begitu Arya
mengelak, kesempatan ini segera dipergunakannya. Tubuhnya melesat cepat bagai
kilat. Dan dalam sekejapan saja, tubuhnya sudah lenyap ditelan kerimbunan
pepohonan di tengah kegelapan malam.
8
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas berat,
dan sama sekali tidak mengejar. Dia merasa, hal itu sama sekali tidak ada
gunanya. Maka bergegas perhatiannya dialihkan pada para penduduk desa yang
masih terduduk di tanah.
"Mana Ki Jayus dan
Wikalpa?" tanya Arya, setelah tidak melihat adanya kedua orang itu dalam
kerumunan penduduk.
Tidak ada satu pun penduduk yang
menyahut. "Aneh...," gumam Dewa Arak pelan. "Kedua orang
itu tidak pernah ada setiap kali
terjadi pembunuhan seperti ini."
"Kau menduga, mereka
pelakunya, Dewa Arak?" tanya Soma begitu mendengar nada suara Arya.
"Tidak sampai sejauh itu.
Aku hanya agak curiga saja. Ketidakhadiran merekalah yang membuatku curiga.
Apalagi ciri-ciri kedua orang itu mirip sosok hitam bercaping," sahut Arya
tidak berani menduga sembarangan. "Tapi yang membuatku ragu, mengapa
sampai kedua-duanya tidak hadir pada setiap kejadian."
"Jadi, salah satu di antara
mereka kau curigai sebagai pelakunya, Dewa Arak?" desak Soma lagi.
Perlahan kepala Arya mengangguk.
"Andaikata benar, siapa di
antara kedua orang itu yang lebih kau curigai?" tanya Soma ingin tahu.
"Ki Jayus," kata Arya
pelan.
"Hm...! Mengapa bukan
Wikalpa, Dewa Arak?!" Soma terkejut. "Aku lebih condong
padanya."
"Mengapa?" tanya Arya
ingin tahu.
"Gerak-geriknya kasar. Dan
lagi, pakaiannya pun cocok dengan orang tadi," sahut laki-laki berpakaian
kuning memberi alasan.
"Aku lebih condong pada Ki
Jayus," pelan suara Dewa Arak.
"Apa dasarnya hingga kau
menuduh begitu?" kejar Soma. Rasa penasarannya terdengar jelas dalam
suaranya.
Arya menarik napas dalam-dalam
dan meng-hembuskannya kuat-kuat, sebelum menjawab per-tanyaan itu.
"Seorang pembunuh yang tidak
ingin dikenali, dengan sendirinya berusaha menyamarkan diri. Wikalpa terlalu
menonjol sikap kasarnya. Juga pakaiannya. Jadi, itulah sebabnya aku lebih
condong pada Ki Jayus," urai Dewa Arak panjang lebar.
Soma kontan terdiam, kemudian
bangkit berdiri. Sikapnya diikuti penduduk lainnya. Mereka juga tak lupa
membawa mayat Guriang dan rekannya.
Arya pun melangkah di belakang mereka. Menjelang tembok batas desa,
tampak sosok ber-pakaian putih berlari-lari menyambut. Sosok itu bertubuh
tinggi kurus.
Baik Dewa Arak maupun penduduk
Desa Pucung segera mengetahui, siapa adanya sosok berpakaian putih itu.
Meskipun jaraknya masih cukup jauh, namun potongan tubuh sosok itu sangat
dikenal. Siapa lagi kalau bukan Ki Jayus!
Dugaan mereka memang tidak salah!
Laki-laki berpakaian putih itu memang Ki Jayus, Kepala Desa Pucung. Seketika
jantung Dewa Arak dan Soma
berdebar tegang, karena teringat
akan pembicaraan tadi.
Begitu telah berada dekat mereka,
tanpa mem-pedulikan yang lain, Ki Jayus berlari mendekati Dewa Arak. Kemudian
ditariknya tangan Dewa Arak, men-jauhkannya dari rombongan penduduk
"Kalian berangkat lebih
dulu...!" seru Ki Jayus pada para penduduk yang menghentikan langkah, dan
baru kembali berjalan setelah mendengar perintah itu.
Setelah rombongan penduduk itu
melangkah pergi, Ki Jayus menarik tangan Arya melangkah me-ninggalkan tempat
itu. Mereka menuju arah yang berlawanan.
"Ada apa, Ki?" tanya Arya. Teringat akan
dugaannya, membuat pemuda berambut putih
keperakan ini bersikap waspada.
Ki Jayus tidak langsung menjawab,
tapi terus saja melangkah. Arya yang merasa penasaran terpaksa mengikuti,
meskipun kini tangannya tidak dituntun seperti tadi.
"Aku telah mengetahui tempat
persembunyian orang bercaping itu, Arya," jelas Kepala Desa Pucung pelan
seraya menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri sambil tetap melangkah. Jelas
kalau Ki Jayus tidak ingin ada orang lain yang mendengar ucapannya.
"Benarkah apa yang kau
katakan itu, Ki?" tanya Arya meminta ketegasan, seraya ikut melangkah di
sebelah Kepala Desa Pucung itu.
Ki Jayus menatap Arya
tajam-tajam.
"Kau tidak mempercayaiku,
Arya?" tanya laki-laki berpakaian putih itu. Ada nada ketidaksenangan
dalam suaranya.
"Bukannya tidak percaya, Ki," sahut Arya mengelak.
"Tapi merasa ragu...."
"Apa yang membuatmu ragu,
Arya?" selak Ki Jayus ingin tahu.
"Dari mana kau mengetahui
tempat tinggal orang bercaping itu, Ki?"
"Diam-diam aku
mengikutinya," sahut laki-laki berpakaian putih itu.
Dewa Arak menoleh. Menatap wajah
Ki Jayus tanpa berkata-kata.
"Begitu mendengar suara
kentongan tadi, aku segera menuju ke sana. Tapi, kulihat kau tengah bertempur
menghadapi seorang kakek berpakaian merah. Sementara orang bercaping hitam
kulihat melarikan diri sambil membawa dua orang wargaku. Semula aku
kebingungan, tapi akhirnya kuputuskan untuk mengikuti orang bercaping itu.
Ternyata usaha-ku tidak sia-sia, karena aku berhasil mengetahui
sarangnya," jelas laki-laki berpakaian putih panjang lebar.
Arya tercenung mendengar uraian
panjang lebar Ki Jayus. Hatinya jadi ragu dengan dugaannya semula.
Kalau apa yang di katakan Kepala
Desa Pucung ini benar, berarti orang bercaping itu adalah Wikalpa! Sementara,
dugaan kalau orang bercaping adalah Ki Jayus kontan menguap. Memang, rasanya
tidak mungkin kalau Kepala Desa Pucung ini pelakunya. Benar kata Soma. Pasti
pembunuh biadab itu adalah Wikalpa!
"Sekarang apa rencanamu,
Ki?"
"Kita serbu sarang
mereka...!" sahut Ki Jayus. Tegas dan mantap kata-katanya.
"Sekarang, Ki?" tanya
Arya memastikan. Ki Jayus menggelengkan kepala.
"Besok," jawab
laki-laki berpakaian putih itu.
***
Hari masih pagi. Angin yang sejuk
dan dingin berhembus pelan, terasa nikmat sampai ke dalam dada. Tampak dua
sosok tubuh melangkah pelan memasuki Hutan Dadap.
Dua sosok itu adalah Dewa Arak
dan Ki Jayus. "Ki...," ucap Arya memecah keheningan pagi.
"Hm...," hanya gumam pelan Ki Jayus yang
menyambuti sapaan Arya.
"Apakah kau sanggup
menghadapi orang ber-caping itu?" tanya Arya ragu-ragu.
"Aku tidak berani
memastikannya, Arya," jawab laki-laki berpakaian putih bernada memutar.
Dewa Arak terdiam, tidak
berkata-kata lagi. Dan karena Ki Jayus juga tidak berkata-kata lagi, suasana
pun jadi hening. Kini yang terdengar hanyalah suara kerosak rerumputan dan
semak-semak kering yang terpijak kaki-kaki mereka.
Mendadak Arya mengernyitkan
keningnya. Pen-dengarannya yang tajam menangkap adanya suara langkah perlahan
dan ringan di belakangnya. Tapi, dia berpura-pura tidak tahu, dan terus saja
melangkah. Hanya saja, Dewa Arak mulai bersikap waspada, bersiap-siap
menghadapi serangan mendadak.
"Masih jauhkah tempat itu,
Ki?" tanya Arya lagi ketika mereka telah semakin jauh masuk ke dalam
hutan.
Tidak ada sahutan yang menyambuti
pertanyaan Dewa Arak. Karuan saja hal itu mengherankan hati Arya. Apalagi
ketika beberapa saat menunggu, juga tak terdengar sahutan.
"Hih...!"
Mendadak Ki Jayus mendoyongkan
tubuh ke
kanan sambil mengirimkan kibasan
tangan kiri ke arah pelipis Arya. Karuan saja hal ini membuat pemuda berambut
putih keperakan ini terkejut. Sama sekali tidak disangka kalau akan mendapat
serangan maut yang dilakukan dalam jarak dekat dan tiba-tiba sekali.
Tapi Dewa Arak adalah tokoh
berkepandaian tinggi, yang telah kenyang bertempur menghadapi tokoh-tokoh licik
dan menggiriskan. Sudah tak ter-hitung lagi ancaman maut dan serangan mendadak
yang dihadapinya.
Maka meskipun berada dalam
keadaan gawat seperti itu, Dewa Arak masih mampu menyelamatkan diri.
Cepat-cepat tubuhnya didoyongkan ke kiri, sehingga kibasan itu mengenai tempat
kosong. Hanya berjarak sekitar tiga jari dari sasaran semula.
Menilik dari rambut dan pakaian
Arya yang ber-kibaran keras, bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang
terkandung dalam serangan itu.
Belum juga Dewa Arak berbuat
sesuatu, Ki Jayus telah melancarkan serangan susulan. Laki-laki ber-pakaian
putih ini mengirimkan tendangan miring ke arah pelipis, sambil memutar tubuh.
Arya tetap bersikap tenang, karena
sudah tidak berada dalam keadaan berbahaya lagi. Namun demikian, dia masih
berada dalam keadaan terdesak. Tanpa ragu-ragu, segera ditangkisnya serangan
lawan dengan tangan kanan.
Plakkk...!
Ki Jayus memekik tertahan. Tubuh
laki-laki ini terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara, Dewa Arak hanya
merasakan tangan yang ber-benturan dengan kaki Kepala Desa Pucung itu bergetar.
Dan hebatnya, kuda-kudanya sama sekali
tidak bergeming. "Ha ha
ha...!"
Terdengar suara tawa
terbahak-bahak mengan-dung pengerahan tenaga dalam tinggi. Sesaat kemudian, di
belakang Ki Jayus telah berdiri Raja Racun Muka Putih.
"Ini milikmu,
Brajageni...!" kata Raja Racun Muka Putih seraya menyerahkan sebilah keris
kepada Ki Jayus. Laki-laki berpakaian putih itu langsung menerimanya.
"Brajageni?!" ulang
Dewa Arak.
"Ha ha ha...!" Raja
Racun Muka Putih tertawa bergelak. "Brajageni tunjukkanlah padanya siapa
diri-mu."
"Baik, Guru," sahut Ki
Jayus yang ternyata adalah Brajageni. Kemudian laki-laki berpakaian putih ini
menyelinap ke balik rerimbunan pohon.
Begitu tubuh Kepala Desa Pucung
itu lenyap di balik kerimbunan pepohonan, Arya kembali meng-alihkan perhatian
pada Raja Racun Muka Putih. Kakek berpakaian merah itu juga balas menatap, tak
kalah tajam.
Tapi sebelum kedua orang ini berbuat
sesuatu, terdengar bentakan keras.
"Mau kabur ke mana lagi kau,
Raja Racun...?!" Berbareng dengan lenyapnya bentakan itu, tiba-
tiba di dekat Arya telah berdiri
seorang laki-laki bertubuh tinggi kurus.
"Wikalpa...," desis
Arya.
"Malaikat Halilintar...,"
desah Raja Racun Muka Putih. Ada nada kegentaran dalam nada suaranya. Sepasang
matanya menatap penuh rasa tak percaya pada sosok yang berdiri di hadapannya.
"Malaikat
Halilintar...?" desis Arya tak percaya.
Dewa Arak memang pernah mendengar
julukan itu. Memang, Malaikat Halilintar adalah seorang pendekar yang terkenal
memiliki kepandaian amat tinggi. Hanya sayangnya, dia telah mengundurkan diri
dari dunia persilatan. Sungguh tidak disangka kalau tokoh itu tiba-tiba ada di
sini. Kini Dewa Arak tahu, langkah ringan yang tadi didengarnya adalah langkah
kaki Malaikat Halilintar.
"Uruslah pembunuh itu,
Arya," ujar Wikalpa alias Malaikat Halilintar. "Biar aku yang
mengurus orang ini."
Dewa Arak tidak membantah.
Bergegas disusulnya Brajageni, alias Ki Jayus. Dan kedatangannya ber-tepatan
dengan selesainya laki-laki bertubuh tinggi kurus itu berganti pakaian.
Brajageni terperanjat, namun
sekejap kemudian, sudah bisa menguasai diri. Sambil berteriak keras, laki-laki
bertubuh tinggi kurus ini menghunus keris-nya.
Srattt..!
Bulu tengkuk Dewa Arak meremang
ketika melihat keris yang digenggam Brajageni, karena memiliki perbawa yang
begitu menggiriskan. Jantung Arya berdetak keras tanpa mampu menahannya. Ada
hawa dingin yang memancar dari bilah keris itu.
Tahu akan keampuhan keris lawan,
Dewa Arak tidak berani bersikap main-main lagi. Cepat-cepat guci araknya
diangkat, lalu dituangkan ke mulut.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Arya.
Baru saja Dewa Arak menurunkan
guci itu, Brajageni sudah melompat menerjang. Keris di tangannya ditusukkan
cepat ke arah leher Arya.
Dewa Arak terperanjat kaget,
merasakan hawa dingin yang amat sangat menyambar sebelum serangan-serangan
keris itu tiba. Hawa dingin itu membuat sekujur otot-otot tubuh Dewa Arak kaku
seperti tak bisa digerakkan. Bahkan giginya pun bergemeletukan.
Begitu serangan itu menyambar
dekat, hawa dingin yang menyerang Dewa Arak semakin menjadi-jadi. Buru-buru
Arya mengerahkan ilmu 'Tenaga Sakti Inti Matahari'nya untuk menghilangkan
pengaruh hawa dingin yang membuatnya sukar bergerak!
Untung Dewa Arak bertindak cepat.
Kalau tidak, mungkin sudah tersambar keris Brajageni karena otot-ototnya
mendadak kaku. Berkat ilmu 'Tenaga Sakti Inti Matahari', pemuda berambut putih keperakan itu mampu menggerakkan ototnya kembali, meskipun masih kaku.
Berbeda dengan biasanya, kali ini
Arya tidak berani, mengelak tanpa berpindah tempat. Apalagi tanpa berpindah
kaki! Dewa Arak mengelak sejauh-jauhnya, dengan melempar tubuh ke belakang. Dia
bersalto beberapa kali di tanah, kemudian hinggap dengan agak terhuyung karena
kekakuan yang melanda otot-ototnya.
Sesaat kemudian, pertarungan
sengit yang tidak menarik pun terjadi. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Dewa
Arak mengalami kesulitan me-mainkan ilmu 'Belalang Sakti'nya.
Ilmu 'Belalang Sakti' adalah ilmu
yang meng-andalkan kelenturan otot. Tenaga yang terkandung dalam setiap
serangan ilmu 'Belalang Sakti', adalah pengerahan tenaga yang teratur dan
tiba-tiba. Jadi perubahan yang mendadak seperti
yang dialami Dewa Arak ini sungguh menyulitkannya dalam
menguasai ilmu 'Belalang Sakti'.
Dan kali ini, Dewa Arak seperti
tidak bisa meng-gunakan ilmu. 'Belalang Sakti' dengan sempurna. Gerakannya kaku
dari patah-patah. Menyerang pun kelihatannya hampir tidak pernah. Arya selalu
mengajak lawan agar bertarung jarak jauh. Ini dilakukan agar pengaruh keris tidak terlalu menekannya. Beberapa kali Dewa Arak
menyerang lawan dengan semburan araknya. Hebatnya, berkat tenaga dalamnya yang
telah terlatih baik, semburan arak itu tak kalah dengan serangan senjata
rahasia lainnya! Bila terkena, mampu merobek pakaian dan menembus daging!
Menggiriskan sekali akibat
pertarungan yang terjadi antara Dewa Arak dan Brajageni. Suasana di sekitar
arena pertarungan diliputi hawa dingin menusuk tulang. Sementara dari atas
kepala Arya, mengepul uap berwarna putih tebal. Ini karena Dewa Arak
mengerahkan ilmu 'Tenaga Sakti Inti Matahari' untuk mengurangi kekakuan yang
melanda otot-ototnya.
"Haaat..!"
Brajageni yang merasa di atas
angin melompat menerjang. Dan dari atas, kerisnya ditusukkan ke arah ubun-ubun
Arya.
Kali ini Arya tidak mengelakkan
serangan. Dia, memekik keras seraya mengerahkan seluruh tenaga dalam. Dan
bersamaan dengan itu, gucinya segera disampirkan di punggung. Lalu, kedua
tangannya dihentakkan ke depan. Maka, angin keras berhawa panas menyengat
seketika berhembus keras ke arah laki-laki bercaping itu. Memang, Dewa Arak
mengerahkan jurus 'Pukulan Belalang'.
Hebat serangan beruntun yang
dilakukan Dewa
Arak. Akibat teriakan yang
dikeluarkannya, tubuh Brajageni yang tengah di udara, kontan menggeliat. Tangan
kanannya yang memegang keris nampak menggigil. Dada laki-laki bertubuh tinggi
kurus ini terguncang hebat, dan telinganya pun terasa sakit bukan main.
Di saat itulah serangan jurus
'Pukulan Belalang' Dewa Arak tiba, telak dan keras sekali menghantam dadanya.
Seketika itu juga tubuh Brajageni terlempar jauh ke belakang, dan kerisnya pun
terlepas dari pegangan, terlempar entah ke mana. Dari mulut, hidung, dan telinganya,
mengalir darah segar. Sekujur tubuhnya pun hangus. Brajageni tewas seketika
sebelum sempat menyentuh tanah.
Brukkk...!
Dengan mengeluarkan suara
berdebuk keras, tubuh laki-laki tinggi kurus itu jatuh ke tanah.
"Hhh...!"
Arya menghela napas lega, kemudian
mengusap peluh yang membasahi wajahnya dengan punggung tangan. Ketika mata Dewa
Arak melihat keris Brajageni yang terjatuh tadi, dia lalu memungutnya. Kemudian
dimasukkan ke dalam sarungnya. Maka kini keris yang telah banyak meminta korban
itu diselipkan di pinggangnya. Terpaksa Arya mengambil keris yang menggiriskan
itu agar tidak jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Telah
dirasa-kannya sendiri kemukjizatan keris itu. Dia me-mutuskan untuk
menyimpannya di tempat yang aman.
"Sebuah pukulan jarak jauh
yang ampuh...."
Tentu saja ucapan itu membuat
Arya terperanjat. Cepat dia menoleh ke arah asal suara, dan tampak Malaikat
Halilintar tengah memandangnya takjub.
"Ah! Kau terlalu memuji,
Ki," sahut Arya malu-malu. "O, ya. Bagaimana dengan Raja
Racun...?"
"Hhh...!" Malaikat
Halilintar menghela napas berat. Diliriknya sebentar pinggang Arya. Memang
laki-laki tinggi kurus ini melihat pemuda berpakaian ungu itu menyelipkan
keris. Tapi karena dia sendiri tengah dilibat masalah, hal itu tidak dipedulikannya.
"Dia kabur."
"Kabur?"
"Benar! Dia telah
melemparkan sebuah benda kepadaku, kemudian meledak. Dan dari situ, keluar asap
hitam beracun. Di saat itulah dia kabur tanpa aku dapat berbuat apa-apa."
"Kalau boleh kutahu, ada
urusan apakah antara kau dengannya, Ki?" tanya Arya hati-hati.
"Dia membunuh muridku. Maka aku harus mencarinya, untuk membalaskan
dendam. Setelah bertemu, kami bertarung, dan dia berhasil ku-kalahkan. Tapi
sayang, dia berhasil melarikan diri dan bersembunyi. Bertahun-tahun aku berusaha
men-carinya. Sampai akhirnya, kulihat muridnya di Desa Pucung. Aku pun lalu
tinggal di sini, berpura-pura menjadi guru silat untuk anak-anak kecil."
Malaikat Halilintar menghentikan ceritanya sejenak.
"Dan akhirnya usahaku tidak
sia-sia. Aku berhasil bertemu dengannya, hanya sayang... Dia berhasil
kabur...."
"Lalu, mengapa waktu itu kau
sepertinya tidak menyukai kedatanganku, Ki?" tanya Arya begitu teringat
sikap laki-laki bertubuh tinggi kurus ini padanya.
"Aku khawatir, kau
mengganggu usahaku. Takut-nya pencarianku selama bertahun-tahun akan sia-
sia."
Mendadak Malaikat Halilintar menghentikan ucapannya, lalu menoleh.
Dewa Arak pun bersikap demikian. Mereka mendengar banyak langkah kaki menuju ke
arah mereka yang ternyata penduduk Desa Pucung.
"Aku pergi dulu, Dewa Arak.
Aku harus mencari si keparat itu...!"
Setelah berkata demikian,
Malaikat Halilintar melesat meninggalkan tempat itu.
Arya menatap tubuh laki-laki
tinggi kurus itu sebentar, kemudian menatap ke arah penduduk desa. Para
penduduk memang tahu kalau dia dan Ki Jayus pergi untuk menumpas pembunuh kejam
itu.
Setelah menatap tubuh Brajageni
sesaat, Dewa Arak kemudian melesat meninggalkan tempat itu. Angin yang tidak
lagi dingin menggigilkan, meniup kulit pemuda berambut putih keperakan itu.
SELESAI
No comments:
Post a Comment