IBLIS BUTA
1
Seorang pemuda tampan bermuka persegi me-langkah setengah
berlari. Ia menghampiri pondok se-derhana yang berada belasan tombak di
depannya. Pe-muda itu terlihat gagah. Tubuhnya tinggi besar dan otot-ototnya
bersembulan keluar. Pemuda berwajah persegi itu hanya mengenakan rompi dari
kulit hari-mau. Pondok yang dituju pemuda berompi kulit hari-mau tidak dapat
dikatakan bagus. Sekelilingnya di pa-gari potongan-potongan bambu setinggi
pinggang. Ru-mah itu sendiri terletak di tengah-tengah. Kelihatan ke-cil dan
ringkih karena berada di hamparan tanah luas yang ditumbuhi rumput-rumput liar.
Pemuda berwajah persegi menghentikan lang-kahnya tepat di
ambang pintu pagar bambu. Daun pin-tunya sendiri sudah tidak menempel lagi,
tapi tergolek di bagian dalam.
Pemuda berompi kulit harimau itu memperhati-kan sekeliling
dengan wajah berduka. Sudut demi sudut tempat itu dirayapi dengan sepasang
matanya yang mencorong tajam. Sorot sepasang mata yang terlindung alis tebal
berbentuk golok itu menyiratkan ketidakper-cayaan.
"Ibu...!" desis pemuda berompi kulit harimau.
Suaranya agak tersendat "Apa yang telah terjadi pada-mu?"
Pandangan pemuda itu berhenti pada tanaman bunga yang
berada di sisi kanan dan kiri rumah. Bun-ga-bunga itu layu, bahkan beberapa di
antaranya mati. Padahal, ibunya amat sayang pada tanaman-tanaman itu. Ibunyalah
yang menanam dan merawatnya. Menga-pa sekarang bunga-bunga itu sampai tidak
terurus?
Perasaan khawatir terbit di hati pemuda berwa-
jah persegi. Setelah berhasil mengatasi sergapan rasa
harunya, pemuda itu bergegas melangkah memasuki halaman.
Blosss! "Hey!"
Pemuda berwajah persegi menjerit kaget. Tanah berumput yang
diinjaknya amblas ke bawah membawa tubuhnya. Tanah yang dipijaknya ternyata
tidak padat, hanya berupa lapisan saja. Di bawahnya tampak tom-bak-tombak
berujung runcing siap menyate tubuh pe-muda itu!
Meski kaget, pemuda berwajah persegi tidak ke-hilangan
kepandaian. Sebelum menimpa ujung-ujung tombak yang runcing, ilmu meringankan
tubuhnya se-gera dikerahkan untuk membuat kecepatan luncuran tubuhnya melambat. Kedua tangannya digerak-gerakkan seperti seekor
burung yang mengepakkan sayap.
Ringan dan perlahan kedua kaki pemuda berwa-jah persegi
menjejak ujung-ujung tombak. Bahkan, alas kakinya tidak tergores sedikit pun.
Pemuda berompi kulit harimau ini menghela na-pas lega
seraya menghapus keringat yang membasahi dahinya. Perasaan kaget dan tegangnya
sedikit berku-rang. Kemudian ia mendongakkan kepala untuk melihat permukaan
lubang. Dalam lubang ini tak kurang dari empat tombak. Jarak yang cukup tinggi.
Bahkan, terla-lu jauh untuk dapat di lompati.
Pemuda ini tidak terlalu lama berdiri di atas ujung-ujung
tombak. Seperti orang yang berjalan di tempat datar, ia mengayunkan kaki
mendekati sisi lu-bang. Sejenak pemuda itu terdiam sebelum menempel-kan kedua
telapak tangannya yang terbuka ke dinding lubang. Lalu, bagai seekor cecak
pemuda berwajah per-segi merayap naik ke atas!
Dalam waktu singkat saja pemuda berwajah persegi telah
mencapai mulut lubang dan keluar dari dalamnya. Tampaknya sedikit peluh
membasahi wajah-nya.
"Ha ha ha...!"
Gemuruh suara tawa membuat pemuda berwa-jah persegi
menolehkan kepala ke belakang. Tawa men-gejek itu pastilah ditujukan padanya.
Di luar pagar bambu berdiri sesosok tubuh yang membuat mata
pemuda berompi kulit harimau itu ter-belalak lebar. Sosok itu kelihatan aneh.
Bertubuh amat pendek seperti anak berusia sepuluh tahun. Pendek dan gemuk!
Kepalanya tidak ditumbuhi rambut sehelai pun. Wajahnya yang kelimis tampak
seperti orang yang sela-lu bergembira. Semua anggota tubuh sosok ini serba
bulat! Perutnya yang gendut terlihat jelas karena tidak tertutup rompi merah
yang dikenakannya.
"Aku tidak pernah mimpi melihat seekor monyet cilik
yang dungu terjeblos ke dalam sebuah lubang! Lu-cu sekali! Ha ha ha...!"
Wajah pemuda berompi kulit harimau merah padam. Ia merasa
malu dan tersinggung. Pemuda itu menduga sosok pendek gemuk yang meski bentuk
tu-buhnya kecil, tapi usianya tak kurang dari lima puluh tahun. Pemuda berwajah
persegi ini tidak tahu kalau sosok pendek gemuk itu telah berusia delapan puluh
tahun lebih!
Pemuda berwajah persegi tidak berani lancang menurutkan
perasaan hatinya untuk balas memaki. Kakek pendek gemuk itu bukan orang
sembarangan. Tawa yang dikeluarkan kakek itu membuat dadanya bergetar hebat.
Setelah menatap kakek pendek gemuk sekilas, pemuda berwajah
persegi membalikkan tubuh dan mengayunkan kaki menuju pondok sederhana. Kakek
pendek gemuk tidak menghalangi maksud pemuda be-rompi kulit
harimau. Bahkan, dia mengiringi ayunan kaki pemuda berwajah persegi dengan tawa
mengejek.
"Ibu...!"
Pemuda berompi kulit harimau berteriak me-manggil ketika
telah berada di depan pintu pondok.
"Ibu...! Ini aku anakmu pulang...!"
Tidak terdengar sahutan meski pemuda itu me-nunggu beberapa
saat lamanya. Kesabaran pemuda itu habis. Dengan kedua tangan didorongnya daun
pintu. Ternyata tidak terkunci. Namun ketika daun pintu ter-kuak sedikit,
terdengar bunyi nyaring di susul dengan desingan tajam. "Ah...!"
Pemuda berwajah persegi berseru kaget melihat beberapa anak
panah meluncur deras ke arahnya. Den-gan sigap tubuhnya dilempar ke belakang
sehingga anak panah meluncur lewat tanpa mendapat hasil.
"Ha ha ha...!"
Kakek pendek gemuk yang masih berada di luar pagar kembali
tertawa bergelak. Menertawakan pemuda berompi kulit harimau yang dua kali
hampir mati.
"Lucu sekali...! Hampir saja monyet dungu ini menjadi
sate monyet. Ha ha ha...! Lucu...! Lucu seka-li...!"
Kali ini pemuda berompi kulit harimau tidak bi-sa menahan
sabar lagi.
"Siapa kau, Kakek? Mengapa memperhatikan
gerak-gerikku? Tinggalkan tempat ini sebelum kesaba-ranku habis! Aku tidak
ingin menghajarmu. Tapi, bila kau terus seperti ini jangan salahkan kalau aku
yang muda bertindak kasar terhadapmu!" tegur pemuda ber-wajah persegi.
"Ha ha ha...!"
Sambutan kakek pendek gemuk malah tawa bergelak. Sepasang
matanya sejenak berkilat mengeri-
kan memancarkan hawa maut.
"Seekor monyet muda yang telah dua kali ham-pir mati
berani mengancamku? Ha ha ha...! Dunia be-nar-benar sudah gila. Rupanya kau
memiliki nyali ma-can, Monyet Dungu! Aku jadi ingin melihat kesabaran mu habis.
Tapi, sebelum itu aku ingin mempertunjuk-kan sebuah permainan yang menarik
untukmu!"
Kakek pendek gemuk meletakkan ujung jari te-lunjuknya di
bawah pagar bambu yang malang. Pagar itu memang terbuat dari belahan-belahan
bambu yang disusun malang melintang. Ada dua deretan bambu yang malang. Kakek
pendek gemuk meletakkan telun-juknya pada bagian bambu yang di atas.
Kakek itu menggetarkan tangannya sejenak. Ti-ba-tiba
sebagian pagar bambu tercabut dari dalam ta-nah. Panjang pagar bambu yang
terpisah dari deretan pagar kira-kira dua tombak. Kakek pendek gemuk lalu
menggerakkan jari telunjuknya ke atas. Pagar bambu itu pun melayang ke atas
bagai dilontarkan tenaga rak-sasa.
Di saat pagar bambu kehabisan daya luncuran, kakek pendek
gemuk menjulurkan tangannya ke arah pagar bambu itu. Terdengar bunyi berderak
ketika ka-wat yang mengikat batang-batang bambu tercerai-berai dan melayang
turun.
Kali ini kakek pendek gemuk menjulurkan tan-gan kiri seraya
memekik pelan. Bagai digerakkan orang, bambu-bambu itu meluncur ke depan dan
menancap rapi di pinggir lubang tempat pemuda berwajah persegi terperangkap!
Wajah pemuda berompi kulit harimau berubah hebat.
Pertunjukkan kakek pendek gemuk jelas meru-pakan hal yang luar biasa. Kakek itu
mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi sehingga mampu memper-mainkan
batang-batang bambu itu sekehendak hatinya.
Tenaga dalam itu jadi bagai tangan tak nampak!
"Kau memang hebat, Kek." Pemuda berwajah persegi
menelan ludah untuk membasahi tenggorokan-nya yang mendadak kering. "Tapi,
bukan berarti kau bi-sa seenaknya saja menghina diriku. Aku bukan orang yang
takut menghadapi kematian!"
"Bagus. Bagus. Kau menyenangkan hatiku. Anak Muda. Kau
tidak pantas lagi kupanggil monyet dungu. Aku suka dengan orang-orang yang
berjiwa pemberani! Tidak mau merengek-rengek. Aku jadi lebih ingin mengenalmu
lebih jauh. Apa hubunganmu dengan pemilik rumah itu?"
"Aku anaknya!" tandas pemuda berwajah perse-gi.
"Ah...! Begitukah?"
Pemuda berwajah persegi diam-diam memperha-tikan suatu
keanehan pada diri kakek pendek gemuk. Dalam keadaan apa pun wajah kakek itu
tetap cerah dan penuh senyum, seperti orang yang memiliki hati welas asih.
Mungkin dalam keadaan marah sekalipun wajah kakek itu tetap penuh dengan
senyum.
"Menurut berita yang kudengar rumah itu milik istri
Iblis Buta. Apakah kau anak dari tokoh yang ter-kenal itu?" tanya kakek
pendek gemuk dengan senyum menghias bibir.
"Tak salah!" Pemuda berwajah persegi mengang-guk.
"Aku adalah anak Iblis Buta. Namaku Dirgantara!"
"Kalau begitu, sungguh merupakan hal yang
menguntungkan. Tidak mendapatkan ayahnya, anak-nya pun jadi. Setidak-tidaknya,
andaikata Iblis Buta demikian pengecut dan tetap tidak berani memuncul-kan
diri, kau akan menjadi gantinya!"
"Apa maksudmu, Kek?" tanya Dirgantara dengan
perasaan tidak enak. Dia melihat adanya permusuhan antara kakek pendek gemuk
dengan ayahnya, Iblis Bu-
ta.
"Masih kurang jelaskah bagimu, Monyet Dungu? Ayahmu
telah melakukan sebuah kesalahan terha-dapku. Dia telah lancang tangan membunuh
muridku. Jadi, tidak ada pilihan lain bagiku kecuali turun gu-nung dan
membalaskan sakit hati ini. Karena kau orang yang mempunyai hubungan darah
dengan Iblis Buta, kau harus menanggung akibat perbuatan ayahmu. Ha ha
ha...!"
Dirgantara mengepalkan kedua tinjunya yang kekar.
"Tidak semudah itu kau melakukannya, Kek!"
"Ha Ha ha...! Kau terlalu besar kepala, Monyet
Dungu! Jangankan kau, gurumu sendiri tidak akan mampu
melawanku. Pernahkah gurumu bercerita ten-tang datuk sesat dunia persilatan
yang sekitar tiga pu-luh tahun lalu mengasingkan diri?"
Wajah Dirgantara berubah. Gurunya memang pernah bercerita
tentang hal itu. "Jadi..., kau.... Setan Gila?!"
"Ha ha ha...! Benar sekali...!" Kakek pendek
ge-muk tertawa bergelak. "Mungkin sekarang kegilaan ku telah jauh
berkurang. Sudah hampir empat puluh ta-hun aku mengasingkan diri, hingga banyak
hal yang kulupakan. Bahkan, kebiasaan-kebiasaan ku!"
Dirgantara memang telah mendengar mengenai kakek pendek
gemuk ini dari gurunya. Setan Gila yang terkenal karena ketinggian ilmu dan
kekejamannya. Tanpa membuang-buang waktu, segera Dirgantara mencabut tongkat
bambu yang sejak tadi tersampir di punggung sebagaimana pedang.
"Ha ha ha...!" Setan Gila tertawa melihat
Dirgan-tara mencabut senjatanya. "Jadi gurumu si Petani Be-rambut Putih?
Ha ha ha...! Bukankah dugaanku benar, Monyet Dungu? Sejak kulihat bambu kuning
itu di
punggungmu aku sudah bisa menduga siapa gurumu. Asal kau
tahu saja, Monyet Dungu, gurumu apabila bertemu denganku akan berlutut dan meminta
ampu-nan. Dan...."
"Tutup mulutmu dan lihat senjata...!"
Dirgantara yang tidak senang mendengar gu-runya dihina
segera memutar bambu kuning sepanjang pedang di tangannya. Bambu kuning itu
lenyap menjadi segulungan sinar kekuningan yang mengeluarkan bunyi mengaung
keras seperti sekelompok lebah murka.
Kakek pendek gemuk hanya tersenyum lebar. Dia tidak
melakukan tindakan apa pun. Baru ketika Dirgantara telah berada dekat dengannya
dan serangan bambu pemuda itu hampir mengenai tubuhnya, kakek pendek gemuk
bertepuk tangan sekali.
Glarrr!
Dirgantara yang tengah melayang di udara dan siap
menusukkan bambu kuningnya merasakan ada halilintar menyambar dekat telinga.
Keras bukan main sehingga tidak hanya telinganya saja yang mendadak tuli, tapi
juga dadanya bergetar hebat. Tenaga yang ter-kumpul buyar seketika karena
tubuhnya mendadak le-mas. Bahkan, tubuh pemuda ini sampai terhuyung-huyung dan
hampir jatuh ketika berhasil menjejak ta-nah.
Kakek pendek gemuk membuka mulutnya dan meniup. Angin luar
biasa keras berhembus sehingga Dirgantara yang masih dalam pengaruh tepukan itu
ti-dak kuat bertahan. Tubuh pemuda itu terjengkang ke belakang dan jatuh
bergulingan di tanah.
Sambil tertawa bergelak, kakek Setan Gila me-nudingkan jari
telunjuknya. Dirgantara menyeringai ke-tika merasakan sekujur tubuhnya lemas
ketika bahu kanannya terkena totokan. Setan Gila telah menotoknya dari jauh,
Bagi orang yang memiliki tingkat tenaga da-
lam seperti Setan Gila merupakan sesuatu yang mudah untuk
melakukan hal itu.
Setan Gila terkekeh girang. Kakinya yang pen-dek dan bulat
seperti kaki gajah dihentakkan ke tanah sekali. Tubuh Dirgantara pun melayang
ke arah kakek pendek gemuk itu.
Setan Gila yang sudah mengembangkan kedua tangan untuk
menangkap tubuh Dirgantara terpaksa menarik kembali ketika terdengar bunyi
berdesing nyar-ing. Kakek itu melihat benda-benda halus berwarna pu-tih
meluncur ke arahnya. Semula meluncur ke arah da-da, tapi di tengah jalan
berpencar. Masing-masing ben-da halus yang diketahui Setan Gila sebagai rambut
ma-nusia itu meluncur ke berbagai jalan darah mematikan di tubuhnya.
Setan Gila mundur selangkah seraya memper-dengarkan tawa
keras hingga perutnya berguncang. Rambut-rambut yang semula menegang kaku bagai
ja-rum-jarum panjang itu melemas. Dan, ketika kakek pendek gemuk meniupnya
rambut-rambut itu runtuh ke tanah.
Pada saat yang bersamaan tubuh Dirgantara pun jatuh ke
tanah dengan keras karena tidak ada yang menyambutinya.
"Ha ha ha...! Kiranya kau penyabotnya. Pan tas...! Apa
gerangan yang membuatmu turun dari per-tapaan, Jerangkong Penjagal
Nyawa?!" seru Setan Gila dengan senyum lebar, kendati hatinya terkejut
bukan main. Kaget dan dongkol karena tahu akan menghadapi saingan berat.
Jerangkong Penjagal Nyawa adalah salah satu dari dua datuk tua yang telah
puluhan tahun mengundurkan diri.
Jerangkong Penjagal Nyawa seorang kakek yang berusia tak
kurang dari seratus tahun. Ia mendengus mendengar ucapan Setan Gila. Wajahnya
yang berben-
tuk tirus dan selalu tampak muram bertambah keruh. Wajah
Jerangkong Penjagal Nyawa dan bentuk tubuh-nya memang merupakan kebalikan dari
Setan Gila. Je-rangkong Penjagal Nyawa bertubuh tinggi kurus. Ting-ginya hampir
satu setengah kali tinggi manusia normal. Ia kurus bukan main seperti tulang
dibungkus kulit. Pakaian yang dikenakannya putih bersih namun kebe-saran hingga
senantiasa berkibaran ketika tertiup an-gin.
"Kau sendiri mengapa keluar dari tempat
penga-singanmu, Gendut?" Sambil berkata demikian, Jerang-kong Penjagal
Nyawa melirik tubuh Dirgantara yang ter-golek di tanah. Tubuh pemuda berompi
kulit harimau itu tergolek tepat di antara kedua kakek ini.
Dirgantara yang mendengarkan adu mulut itu hanya bisa
mengeluh dalam hati. Dia tahu keadaannya amat berbahaya. Jerangkong Penjagal
Nyawa adalah saingan berat Setan Gila. Setan Gila saja sudah tidak bisa
ditanggulangi. Maka, kedatangan Jerangkong Pen-jagal Nyawa semakin memperburuk
keadaan. Tubuhnya yang lemas karena tertotok membuatnya hanya bisa berdiam diri
dan pasrah pada keadaan. Yang dapat di-lakukan Dirgantara hanya mendengarkan
pertengkaran Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan Gila serta berha-rap agar di
antara mereka timbul pertarungan yang akan membuatnya mendapat kesempatan untuk
mela-rikan diri.
Sementara, Setan Gila yang mendapat perta-nyaan dari
Jerangkong Penjagal Nyawa malah tertawa bergelak.
"Keluarnya aku dari pertapaan mempunyai tu-juan yang
jelas, Kurus!" Setan Gila tak mau kalah ger-tak. "Muridku tewas di
tangan Iblis Buta. Mau tidak mau terpaksa aku harus turun tangan untuk
memba-laskan kematiannya. Betapapun juga dengan tewasnya
muridku, Iblis Buta telah berani menantangku!"
"Alasan yang dibuat-buat!" tandas Jerangkong
Penjagal Nyawa, tajam. "Lalu, apa hubungannya dengan pemuda ini? Aku tahu
murid Petani Berambut Putih ini anak Iblis Buta. Tapi, mengapa kau mempermainkan-nya
dan berusaha menjadikannya sandera agar Iblis Buta tidak melakukan
perlawanan?"
"Kau keliru, Kurus! Sama sekali tidak kusangka
kepalamu yang kecil itu sejak dulu tetap mempunyai otak yang kecil pula.
Setelah membunuh muridku, Iblis Buta menyembunyikan diri karena takut
pembalasan-ku. Untuk memancing kedatangannya, aku terpaksa menyandera
anaknya!"
Cuhhh!
Dengan kasar Jerangkong Penjagal Nyawa melu-dah ke tanah
begitu Setan Gila menyelesaikan ucapan-nya.
"Orang lain bisa kau bohongi, Gendut! Tapi, aku tidak
akan bisa kau tipu! Aku tahu betul maksudmu menyandera anjing kecil ini untuk
memaksa Iblis Buta memberitahukan di mana benda yang kau idam-idamkan."
"Apa maksudmu, Kurus?" tanya Setan Gila den-gan
tersenyum.
"Masih juga tidak mengaku. Aku tahu alasan-mu mencari
Iblis Buta untuk mendapatkan Telur Elang Perak. Kau ingin kembali muda seperti
dulu. Itulah se-babnya kau mencari Iblis Buta. Telur Elang Perak me-mang mampu
membuat orang kembali muda!"
"Jadi kau pun menghendaki benda itu, Kurus? Kalau
begitu, kau yang lebih dulu akan kusingkirkan!"
"Kaulah yang akan mampus di tanganku, Gen-dut! Kali
ini kau tidak akan seberuntung dulu!" Jerang-kong Penjagal Nyawa tidak mau
kalah gertak
Setan Gila maupun Jerangkong Penjagal Nyawa
tidak ada yang mendahului menyerang. Kedua belah pihak
sama-sama tahu lawan yang dihadapi amat berat. Mereka tidak yakin akan dapat
saling mengungguli. Empat puluh tahun yang lalu ketika mereka bertarung pun
tidak bisa ditentukan siapa yang menang. Kepan-daian mereka berimbang.
Pertarungan baru berakhir ketika mereka sama-sama terluka parah. Kalau saja
tempat mereka bertarung tidak terpencil dan kebetulan ada musuh mereka yang
lewat, nyawa kedua datuk se-sat ini pasti akan melayang.
Luka-luka parah memaksa Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan
Gila menyembunyikan diri untuk me-nyembuhkan lukanya. Luka yang amat parah itu
mem-butuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengobatinya.
Ketika akhirnya luka-luka itu sembuh, Jerang-kong Penjagal
Nyawa maupun Setan Gila tidak berminat lagi terjun ke dunia persilatan. Mereka
memusatkan perhatian untuk menciptakan ilmu-ilmu baru.
Sepuluh tahun setelah luka-luka itu sembuh Se-tan Gila
pergi menyatroni Jerangkong Penjagal Nyawa untuk menantang pertarungan ulang.
Pada saat yang sama, Jerangkong Penjagal Nyawa juga mendatangi tempat Setan
Gila dengan tujuan yang sama. Jalan yang mereka tempuh berlainan. Mereka tidak
bertemu, dan pertarungan pun tidak terjadi. Akhirnya, mereka kembali ke tempat
tinggal masing-masing dan terus memperdalam ilmu.
Usia tua dan tidak adanya lawan yang seimbang membuat
Jerangkong Penjagal Nyawa dan
Setan Gila malas untuk terjun ke dunia persila-tan lagi.
Mereka menghabiskan usia di tempat penga-singan. Sampai akhirnya mendengar
kabar tentang Te-lur Elang Perak!
Kini Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan Gila kembali
saling berhadapan. Mereka tahu kalau perta-
rungan dilakukan seperti dulu keduanya akan tewas dengan
napas putus. Mereka sudah terlalu tua.
"Aku mempunyai sebuah usul untuk pertarun-gan kita
kali ini, Kurus. Aku bosan bertarung sebagai-mana tukang-tukang pukul. Taruhan
dari pertarungan ini adalah pemuda itu!" Setan Gila menawarkan seraya
menuding tubuh Dirgantara yang tergolek.
"Tidak usah banyak bicara, Gendut! Kemukakan saja
usulmu itu. Apa pun pertarungan yang kau ajukan akan kuterima!" tandas
Jerangkong Penjagal Nyawa. Di-am-diam dia merasa gembira mendengar saran Setan
Gila. Kakek jangkung ini pun khawatir apabila perta-rungan dilakukan dengan
bertempur. Tapi, kegembi-raan itu tidak terlihat pada wajahnya yang muram.
"Kita bermain tarik tambang!" seru Setan Gila
lantang. "Pada bagian tengahnya kita beri tanda.
Siapa yang tertarik terus hingga tanda itu tiba di garis
lawan, dinyatakan kalah. Dan, tentu saja tidak berhak atas diri Monyet Dungu
itu!"
"Setuju!" jawab Jerangkong Penjagal Nyawa tak
kalah lantang.
Jawaban Jerangkong Penjagal Nyawa membuat Setan Gila sibuk
membuat garis pada tanah. Sebuah garis tengah di mana tanda tengah pada tambang
bera-da di atasnya, serta dua buah garis yang berada sejeng-kal di kanan dan
kiri garis tengah. Garis-garis tamba-han ini yang akan menentukan siapa yang
akan keluar sebagai pemenang.
Tanpa banyak cakap Jerangkong Penjagal Nya-wa segera
memberikan rantai baja yang menjadi senjata andalannya untuk dijadikan tambang.
Setan Gila me-lengkungkan sebatang pedang dan di taruh di tengah-tengah rantai.
Pedang yang dilengkungkan dan membe-lit rantai itu berada tepat di tengah
rantai. Kedua kakek itu kemudian mengambil kedudukan yang menurut me-
reka menguntungkan.
Dada Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan Gila berdebar
tegang ketika mereka mulai menggenggam ujung-ujung rantai. Rantai tampak
menegang. Ketika Setan Gila memberi aba-aba, kedua kakek ini menge-rahkan
tenaga dalamnya untuk menarik.
Jerangkong Penjagal Nyawa maupun Setan Gila langsung
mengerahkan seluruh tenaga dalamnya agar segera dapat memperoleh kemenangan.
Kekhawatiran mereka memang beralasan. Pihak lawan ternyata tetap tangguh
seperti dulu. Kedua belah pihak telah menge-rahkan seluruh tenaga dalam, tapi
tanda pada rantai te-tap tidak bergeser.
Setelah beberapa saat lamanya keadaan tidak berubah,
Jerangkong Penjagal Nyawa jadi kehilangan kesabaran. Tenaga dalam andalannya
yang berhawa panas segera dikerahkan. Hawa panas pun merayap melalui rantai
baja dan tiba di ujung rantai yang di-genggam Setan Gila!
Sepasang mata Setan Gila tampak terkejut ken-dati senyum
tak pernah lepas dari bibirnya. Kakek pen-dek gemuk ini sampai tersentak ketika
merasakan hawa panas menyengat telapak tangannya. Kekagetan ini membuat
pengerahan tenaga dalamnya mengendur. Dan, Jerangkong Penjagal Nyawa yang sudah
memper-hitungkan hal itu segera menariknya dengan keras.
Kedudukan kaki Setan Gila tidak berubah. Tapi, tubuhnya
terseret ke arah Jerangkong Penjagal Nyawa hampir setengah jengkal. Sebelum keadaan
bertambah buruk, Setan Gila segera mengerahkan tenaga dalam berhawa dingin yang
menjadi andalannya.
Kalau dari Jerangkong Penjagal Nyawa menge-pul asap tipis
saat tenaga berhawa panas dikerahkan. Pada pengerahan tenaga dalam Setan Gila,
muncul uap tebal. Terdengar bunyi berdesis nyaring seperti besi pa-
nas dicelupkan ke dalam air ketika Setan Gila menge-rahkan
tenaga andalannya.
Seperti juga pertarungan tenaga dalam sebe-lumnya,
pertarungan antara dua tenaga dalam yang sal-ing berlawanan ini pun seimbang.
Kedudukan tetap ti-dak berubah, kendati Setan Gila telah berada dalam keadaan
kritis. Jerangkong Penjagal Nyawa unggul se-dikit di atasnya.
Setan Gila pun menyadari hal itu. Diam-diam dia merasa
dongkol karena berhasil dipencundangi Je-rangkong Penjagal Nyawa. Kalau tidak
kaget, lawan be-lum tentu bisa menariknya. "Auuumm...!"
Tiba-tiba, bagai seekor singa Setan Gila men-gaum keras.
Akibatnya sungguh luar biasa! Jerangkong Penjagal Nyawa merasakan tenaganya
membuyar kare-na rasa sakit pada telinga dan dadanya!
Auman Setan Gila memang mengandung tenaga dalam luar biasa.
Keadaan yang dialami Jerangkong Penjagal Nyawa sudah dapat
diduga Setan Gila. Maka, saat itu juga kakek pendek gemuk ini menarik rantai
dengan kuat.
Jerangkong Penjagal Nyawa tidak mampu berta-han. Tubuhnya
pun tertarik deras ke depan dan me-layang ke arah Setan Gila.
Jerangkong Penjagal Nyawa tahu Setan Gila te-lah keluar
sebagai pemenang. Namun, dia tidak ingin kalah mutlak. Maka, di saat tubuhnya
melayang kakek jangkung ini mengirimkan serangan melalui mulutnya. Jerangkong
Penjagal Nyawa meludah berkali-kali.
Ludah yang dikeluarkan tokoh ini bukan semba-rang ludah.
Ludah kental itu mampu melubangi baja yang paling kuat. Itu diketahui dengan
pasti oleh Setan Gila. Kini ludah-ludah itu meluncur ke kepalanya. Ka-kek
pendek gemuk ini segera merundukkan tubuh.
Saat itu Jerangkong Penjagal Nyawa menghen-tak rantai
dengan keras. Tubuh Setan Gila melayang keras ke depan seperti menyambuti tubuh
kakek jang-kung itu. Seperti telah disepakati sebelumnya, Jerang-kong Penjagal
Nyawa maupun Setan Gila melancarkan pukulan telapak tangan terbuka ke arah
dada. Plak, plakkk!
Kedua telapak tangan itu berbenturan dan sal-ing menempel.
Bahkan ketika tubuh keduanya sudah melayang turun. Sekarang terjadi pertarungan
jarak de-kat.
Sesaat kemudian, dari atas kepala kedua kakek ini mengepul
uap putih yang kian lama kian tebal. Tampaknya mereka sudah mengeluarkan tenaga
yang melampaui batas. Ini berarti nyawa Jerangkong Penjag-al Nyawa dan Setan
Gila berada di ujung maut. Baik yang kalah maupun yang menang akan sulit lolos
dari kematian, karena selisih tenaga dalam mereka hanya sedikit.
Sebelum keadaan Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan Gila
semakin gawat keduanya melihat adanya kejanggalan. Dirgantara yang semula tergolek
tak berapa jauh dari pinggir arena pertarungan kini ti-dak ada! Padahal, tadi
Setan Gila yang memindahkan-nya ke sana agar tidak mengganggu jalannya
pertarun-gan.
Hilangnya tubuh Dirgantara membuat kedua kakek ini menarik
tenaga dalamnya. Dirgantara jauh le-bih penting daripada pertarungan! Tindakan
menarik tenaga dalam yang bersamaan membuat Jerangkong Penjagal Nyawa dan Setan
Gila tidak mengalami luka dalam akibat tenaga yang membalik.
"Keparat!"
Jerangkong Penjagal Nyawa memaki. Sepasang matanya yang
sipit dibelalakkan lebar-lebar mencari
Dirgantara. Barangkali saja pemuda berompi kulit ha-rimau
itu masih berada di sekitar itu.
Tindakan serupa pun dilakukan Setan Gila. Dengan senyum
mengembang di bibir, kakek pendek gemuk itu mencari-cari dengan sepasang
matanya yang bulat besar.
"Ha ha ha...! Lucu...! Lucu sekali...! Dua ekor anjing
saling cakar-cakaran untuk memperebutkan tu-lang. Tak tahunya tulang itu dibawa
kabur anjing lain. Ha ha ha...!"
"Tutup mulutmu, Gendut! Kau ingin perutmu ku beset dan
isinya ku sebar di sepanjang jalan?!" sergah Jerangkong Penjagal Nyawa,
dengan suara keras.
Setan Gila yang sebenarnya tak kalah kece-wanya dengan
Jerangkong Penjagal Nyawa, namun
mampu menyembunyikannya dalam sikapnya yang gembira,
semakin tertawa keras.
"Aku sudah bosan melayanimu, Anjing Kurus! Apa artinya
perkelahian denganmu. Nanti kalau uru-sanku sudah selesai akan kucari kau dan
ku patah-patahkan tulangmu lalu kuberikan pada anjing-anjing kelaparan untuk
disantap!"
Jerangkong Penjagal Nyawa tidak berkata apa-apa. Dia tahu
ucapan Setan Gila benar. Tidak ada gu-nanya pertarungan dilanjutkan. Dia
sendiri pun lelah bukan main. Tantangannya tadi hanya karena kemara-han hatinya
akibat ucapan kakek pendek gemuk. Me-lanjutkan pertarungan sama saja dengan membunuh
diri.
Sambil tertawa lepas, Setan Gila melesat me-ninggalkan
tempat itu. Tidak kelihatan kakek pendek gemuk ini berlari. Ia seperti
menggelinding bagai bola. Dalam waktu singkat saja tubuhnya telah lenyap di
ke-jauhan.
Jerangkong Penjagal Nyawa mendengus. Dia
pun berlari meninggalkan tempat itu. Kakek jangkung bagai
galah ini lebih aneh lagi. Dia berlari dengan mem-pergunakan kaki-kakinya yang
panjang. Tapi, tak ja-rang Jerangkong Penjagal Nyawa menggunakan kedua
tangannya sebagai pengganti kaki.
Penggunaan tangan ini tidak memperlambat la-rinya, malah
menambah kecepatannya.
***
"Tolong turunkan aku, Sobat. Aku mampu berla-ri
sendiri. Tidak enak rasanya kau terus-terusan me-manggul ku seperti itu.
Bebaskan totokan pada tubuh-ku biar aku berlari sendiri."
Ucapan itu keluar dari mulut Dirgantara. Pemu-da berwajah
persegi ini berada di atas bahu seorang pemuda berpakaian kuning.
Pemuda berpakaian kuning menghentikan la-rinya. Kemudian,
diturunkannya tubuh Dirgantara dari pondongan. Dengan sebuah tepukan pelan pada
tubuh Dirgantara dia berhasil membebaskan pemuda berompi kulit harimau itu dari
totokan.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Sobat," ujar
Dirgantara setelah berdiri tegak di tanah. Sepasang ma-tanya merayapi pemuda di
hadapannya. Dirgantara lalu merangkapkan kedua tangan di depan dada dan
mem-bungkukkan sedikit tubuhnya.
"Pertolongan apa?" pemuda berpakaian kuning yang
memiliki wajah tampan dan berkulit putih terse-nyum malu. "Yang kulakukan
hanya melarikanmu di saat kedua kakek itu tengah terlibat pertarungan."
"Itu pun namanya pertolongan, Sobat. Aku tidak bisa
mengharapkan bantuan lebih dari itu. Kedua ka-kek yang tengah bertarung
memperebutkan diriku itu memiliki kepandaian sangat tinggi. Bahkan, aku yakin
guruku sendiri tidak akan mampu menandingi salah seorang di
antara mereka. Bayangkan saja, hanya da-lam segebrakan aku dibuat tidak berdaya
oleh kakek pendek gemuk," cerita Dirgantara. Ia langsung akrab dengan
pemuda berpakaian kuning. Dirgantara tidak segan-segan untuk berterus terang.
"Ah...! Benarkah?" Sepasang mata pemuda
ber-pakaian kuning membelalak. "Siapakah kedua kakek yang demikian lihai
itu? Dan, kau sendiri siapa? Nama-ku Jumpena."
"Aku Dirgantara, murid seorang kakek yang ber-juluk
Petani Berambut Putih. Sedangkan kedua kakek itu adalah Jerangkong Penjagal
Nyawa dan Setan Gila," urai Dirgantara.
Sepasang mata Jumpena yang memang sudah membelalak semakin
melotot lebar.
"Luar biasa! Aku tidak pernah mimpi akan ber-temu
dengan tokoh-tokoh sakti yang sering diceritakan ayahku. Ayah sering bercerita
tentang Petani Berambut Putih, demikian pula dengan dua datuk sesat itu. Jadi,
kau murid Petani Berambut Putih, Dirga?"
Dirgantara mengangguk.
"Kau sendiri, boleh ku tahu siapa ayahmu,
Jumpena?"
"Tentu saja," sahut Jumpena, cepat "Ayahku
kenal baik dengan gurumu. Beliau dikenal orang den-gan julukan Pendekar Jari
Maut!"
"Ah...!"
Kali ini Dirgantara yang terkejut. Menurut cerita gurunya,
Pendekar Jari Maut merupakan tokoh tingkat tinggi golongan putih. Bahkan,
Petani Berambut Putih, kendati belum pernah bertarung dengan Pendekar Jari
Maut, mengatakan kepada Dirgantara kalau tingkat ke-pandaian Pendekar Jari Maut
berada di atasnya.
"Sungguh tidak disangka aku akan berjumpa
dengan putra seorang tokoh besar kaum putih yang ser-ing
diceritakan guruku dengan penuh kekaguman. Be-liau pasti akan bangga bila tahu
aku berjumpa den-ganmu, Jumpena. Apalagi bila kuceritakan kalau kau yang telah
menolong nyawaku dari kematian."
Jumpena tersenyum, membuat sebaris kumis melintang yang
cukup lebat di atas bibirnya yang merah bergerak-gerak lucu. Keadaan tubuh
Jumpena memang bertolak belakang dengan Dirgantara. Jumpena memili-ki tubuh
kecil, tapi tidak kurus. Berkulit putih dan keli-hatan lemah lembut. Wajahnya
tampak terlalu tampan. Sedangkan Dirgantara memiliki tubuh tinggi besar.
Ku-litnya hitam kecoklatan. Sayang, ia tidak mempunyai kumis. Berbeda dengan
Jumpena yang meskipun keli-hatan lemah lembut tapi berkumis cukup lebat.
"Kau terlalu memuji, Dirgantara," ujar Jumpena
dengan tersenyum, membuat Dirgantara semakin betah berbincang-bincang dengan
pemuda itu. Apalagi se-nyumannya enak dilihat.
"Kau sebenarnya hendak ke mana, Jumpena?"
"Mengantarkan surat dari ayahku untuk Naga
Sakti Berwajah Hitam," jawab Jumpena. Ia mengambil
segulung surat dari balik bajunya, kemudian mema-sukkannya kembali.
Dirgantara hanya mengangguk-angguk. Pemuda berwajah persegi
ini tidak tertarik untuk bertanya men-genai isi surat. Dirgantara tahu kalau
tidak merupakan rahasia, Jumpena yang memiliki sifat terbuka pasti akan
memberitahukannya. Kemungkinan lain, pemuda berkumis tebal itu tidak tahu isi
surat ayahnya. Bukan-kah surat itu ditujukan pada Naga Sakti Berwajah Hi-tam?
"Kau sendiri hendak ke mana, Dirga?" Dirgantara
yang tidak menyangka akan menda-
pat pertanyaan seperti itu hanya membisu. Semula tu-
juannya pulang setelah berguru selama belasan tahun adalah
untuk menemui ibunya. Tapi, ibunya ternyata tidak ada di rumah. Dia tidak tahu
ke mana ibunya per-gi.
"Aku tidak tahu, Jumpena. Tujuanku semula in-gin
menemui ibuku setelah selesai berguru pada Petani Berambut Putih. Tapi,
ternyata beliau tidak ada. Bagai-mana kalau aku ikut denganmu sekalian mencari
cerita mengenai ibuku? Apakah kau tidak merasa keberatan?" tanya
Dirgantara penuh harap.
"Tentu saja. Mengapa tidak?" sambut Jumpena
setelah tercenung sejenak. "Bukankah kalau ada kawan perjalanan jadi lebih
enak."
Dirgantara menyembunyikan kegembiraan yang melanda hatinya
dengan tersenyum. Entah mengapa, pemuda berompi kulit harimau itu merasa
gembira ber-sama Jumpena. Ada sesuatu dalam diri pemuda berpa-kaian kuning itu
yang membuat nya tertarik.
"Terima kasih atas kesediaanmu, Jumpena. Kau
mengajakku menemui Naga Sakti Berwajah Hitam. Gu-ruku banyak bercerita mengenai
tokoh itu. Katanya ia memiliki ilmu silat tangan kosong yang luar biasa."
Jumpena hanya mengangguk untuk membenar-kan.
"Kurasa percakapan ini bisa kita lakukan den-gan
melakukan perjalanan, Dirga. Aku khawatir akan terlambat tiba di tempat Naga
Sakti Berwajah Hitam. Ayahku berpesan agar surat ini segera tiba di tangan
tokoh itu." "Kalau begitu mari kita bergegas."
"Tunggu dulu, Dirga." Jumpena mencegah keti-ka
melihat Dirgantara mengayunkan kaki.
Dirgantara menoleh, heran. Mengapa sekarang Jumpena malah
mencegahnya, bukankah tadi pemuda berpakaian kuning itu yang mengajaknya
bergegas?
"Kau lihat tanda itu. Apakah sejak tadi sudah
berada di sini?" Jumpena menudingkan jari telunjuknya
ke sebelah kanan.
Dirgantara mengarahkan pandangan ke sana. Pemuda berwajah
persegi itu kelihatan terkejut. Di
tempat yang ditunjuk Jumpena tertancap seba-tang tongkat
yang pada bagian ujungnya terikat sehelai kain berwarna merah dan bergambar
tengkorak manu-sia!
"Aku yakin tongkat berbendera itu tadi tidak ada di
sana, Jumpena," desis Dirgantara dengan perasaan tegang.
"Berarti tongkat itu ditancapkan saat kita tengah
bercakap-cakap," bisik Jumpena, tak kalah tegang.
Dirgantara dan Jumpena saling berpandangan. Dalam adu
pandang itu keduanya memahami isi hati masing-masing. Orang yang telah
menancapkan tongkat tanpa sepengetahuan mereka menunjukkan kalau pela-kunya
memiliki kepandaian tinggi!
"Rasanya aku pernah mendengar cerita menge-nai tokoh
yang memiliki tanda seperti ini," Dirgantara mengernyitkan kening. Ia
mencoba mengingat-ingat.
"Aku ingat...!"
Hampir bersamaan perkataan itu keluar dari mulut Dirgantara
dan Jumpena. Sepasang mata itu memancarkan kekhawatiran. Jumpena dan Dirgantara
saling berpandangan dengan wajah tegang.
"Siapa tokoh yang kau maksudkan itu, Jumpe-na?"
Dirgantara memberi kesempatan pada pemuda berpakaian kuning untuk memberikan
jawaban lebih dulu.
***
3
"Tengkorak Darah...," Jumpena berbisik seperti
khawatir ucapannya terdengar tokoh yang dimaksud.
"Kak kak kak...!"
Bagai menyambuti ucapan Jumpena, terdengar suara tawa
berkakakan. Nadanya tidak pantas keluar dari mulut seorang manusia, melainkan
burung gagak.
Jumpena dan Dirgantara sampai melangkah mundur karena
terkejut. Dua orang muda yang sama-sama mendapat gemblengan tokoh golongan
putih ini kebingungan. Mereka mengedarkan pandangan berkelil-ing mencari-cari
pemilik tawa. Suara tawa itu seperti berasal dari segala penjuru.
Kenyataan ini menyadarkan Jumpena dan Dir-gantara kalau
pemilik suara tawa memiliki tenaga da-lam yang sangat tinggi. Hanya orang
bertenaga dalam tinggi saja serta memiliki ilmu memecah suara yang da-pat
melakukan hal ini. Baik Jumpena maupun Dirgan-tara tidak akan mampu
melakukannya.
"Kalian mencari aku...?"
Kali ini ucapan bernada aneh itu dapat diketa-hui datangnya
secara pasti oleh Jumpena dan Dirganta-ra. Sosok yang mereka duga sebagai Tengkorak
Darah tidak mempergunakan tenaga dalam istimewanya lagi.
Bagai berlomba Jumpena dan Dirgantara mem-balikkan tubuh.
Kemudian, melompat ke belakang un-tuk menjaga kemungkinan yang tidak
diinginkan.
Tapi ternyata tindakan mereka tidak beralasan. Sosok yang
mengeluarkan pertanyaan itu sama sekali tidak melancarkan serangan. Wajahnya
tertutup kedok dari tengkorak manusia asli! Pakaian yang dikenakan-nya merah
dan serba longgar sehingga berkibaran di-tiup angin. Pada bagian dadanya
tersulam gambar
tengkorak manusia dengan benang emas. Terlihat me-nyolok
sekali dengan warna pakaiannya yang merah.
"Tengkorak Darah...?" desis Jumpena dan
Dir-gantara dengan suara tercekat di tenggorokan, karena perasaan tegang.
Apalagi ketika mereka mencium bau kemenyan yang keras menusuk hidung. Perasaan
te-gang itu semakin besar.
"Rupanya kalian telah mengenaliku, heh...?"
Kembali suara yang tidak enak didengar berku-
mandang. Tidak terlihat kalau sosok bertopeng tengko-rak
manusia yang mengucapkannya. Tapi, cukup untuk membuat Jumpena tahu kalau
Tengkorak Darah itulah yang berbicara. Dirgantara pun yakin akan hal itu.
"Bukan sesuatu yang aneh." Jumpena mengusik
ketegangan dengan suaranya yang lantang dan keras. "Julukanmu amat
terkenal. Bahkan kabarnya kau telah berani menantang Iblis Buta untuk
bertarung. Setelah itu kabar mengenai dirimu tidak terdengar lagi. Kau hi-lang
ditelan bumi. Lenyap tanpa ketahuan di mana rim-banya!"
"Tutup mulutmu, Bocah Lancang! Kau ingin aku
menelanjangi mu di depan kawanmu...?" "Keparat!"
Jumpena memekik penuh kemarahan.
"Kau kira karena kau berjuluk Tengkorak Darah aku akan
takut terhadapmu? Kali ini kau akan kujadi-kan tengkorak sungguhan!"
Jumpena yang rupanya jengkel mendengar ma-kian Tengkorak
Darah segera menggerakkan kedua tan-gannya. Seketika itu pula benda-benda kecil
bersinar meluncur ke arah Tengkorak Darah.
"Permainan anak-anak seperti ini dipertunjuk-kan
padaku?!" dengus Tengkorak Darah dengan suara mengejek. Dia tidak mengelak
sedikit pun sehingga benda-benda kecil yang adalah jarum-jarum itu menan-cap di
sasaran.
Tengkorak Darah mendengus dengan kasar ke-tika Jumpena
menunggu hasil serangan jarumnya. Ja-rum-jarum itu telah dibaluri racun, yang
meskipun ti-dak mematikan tapi cukup untuk membuat orang yang tertusuk pingsan.
Bersamaan dengan dengusan itu pa-kaian Tengkorak Darah bergelombang keras
seperti ter-tiup hembusan angin. Jarum-jarum beracun itu runtuh ke tanah.
Kiranya, jarum-jarum beracun itu tidak me-nembus kulit, hanya pakaiannya saja.
Wajah Jumpena berubah. Pemuda berpakaian kuning ini sadar
tidak ada gunanya lagi mengirimkan serangan susulan. Tengkorak Darah mampu
membuat kulit tubuhnya tidak bisa ditembus benda tajam.
Seakan tidak peduli pada keterkejutan Jumpe-na, Tengkorak
Darah menjulurkan tangannya. Jari-jarinya tidak terlihat karena terbungkus
sarung tangan merah. Sosok berpakaian merah ini menggerakkan tan-gan sebentar
seperti menyentak. Dan, sebatang ranting yang tergolek di tanah melayang ke
arahnya. Ranting itu panjangnya tak kurang dari tiga jengkal.
Sebelum ranting itu berada dekat dan masih me-layang-layang
di udara, Tengkorak Darah menjejakkan kaki. Tubuhnya melayang ke atas menyambut
luncuran ranting. Tapi, ternyata tidak. Tengkorak Darah menje-jakkan kaki di
atas ranting yang tengah melayang!
Dengan sekali menggoyangkan kaki, Tengkorak Darah membuat
arah luncuran ranting berbalik menuju Jumpena! Karena sosok bertopeng tengkorak
manusia ini berada di atasnya, luncuran itu membawa tubuh Tengkorak Darah
meluncur pula.
Jumpena melempar tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa
kali di udara untuk menggagalkan se-rangan Tengkorak Darah. Dan, ia berhasil.
Sebelum Tengkorak Darah mengirimkan serangan susulan, Dir-gantara yang khawatir
teman barunya terluka segera
melompat ke atas mengirimkan serangan dengan bam-bunya yang
berputar cepat hingga bentuknya lenyap menjadi segundukan sinar kehijauan!
Tengkorak Darah menjejakkan kaki. Ranting yang berada di
kakinya tertekan ke bawah. Tubuhnya melayang ke atas melewati kepala Dirgantara
kemudian hinggap pada sebatang bambu sepanjang tiga kaki yang meluncur ke
depan. Ternyata sebelum melompat tokoh yang memiliki wajah penuh rahasia ini
telah melempar-kan sebatang kayu untuk tempat mendarat.
Dirgantara tidak melanjutkan serangannya. Jumpena pun
demikian. Keduanya membiarkan saja Tengkorak Darah meluncur. Bahkan mereka
mendiam-kan ketika Tengkorak Darah berputar-putar mengelilin-gi kepala mereka
dengan berdiri di atas bambu.
***
Pertunjukan Tengkorak Darah berakhir, dengan mengarahkan
luncuran bambunya pada sebatang po-hon. Bambu itu menembus batang pohon. Karena
bam-bu tidak panjang ketika menembus pohon, maka ber-goyang-goyang seperti akan
terlepas menahan berat tu-buh Tengkorak Darah.
Dirgantara dan Jumpena yang sejak tadi mem-perhatikan
tingkah laku Tengkorak Darah hanya ber-diam diri memperhatikan tindakan apa
yang akan dila-kukan Tengkorak Darah selanjutnya.
Tengkorak Darah sendiri bersikap tidak peduli. Dengan
tenang dikeluarkannya dua buah bone-
ka yang terbuat dari ranting kecil dan jerami. Kemu-dian,
dengan hati-hati pada bagian kepala yang mem-punyai muka sekadarnya ditempelkan
masing-masing sehelai rambut. Jumpena maupun Dirgantara tidak ta-hu kalau
rambut yang ditempelkan pada dahi boneka
adalah rambut mereka! Tanpa setahu kedua orang mu-da itu,
Tengkorak Darah dengan mempergunakan keli-hatannya mengambil rambut mereka.
Karena membuat boneka sederhana itulah Tengkorak Darah baru
muncul setelah Jumpena dan Dirgantara meributkannya tadi, setelah melihat
adanya tanda yang ditancapkan. Memang, setelah menan-capkan tanda keberadaan
dirinya Tengkorak Darah per-gi mencari ranting dan jerami untuk membuat boneka.
Boneka-boneka itu mewakili Jumpena dan Dirgantara.
Sementara itu Dirgantara dan Jumpena saling berpandangan.
Sinar mata mereka tampak bertanya-tanya. Meskipun demikian, kedua pemuda itu
bisa memperkirakan Tengkorak Darah tengah merencana-kan sesuatu yang tidak
baik! Setidak-tidaknya akan merugikan mereka. Jumpena maupun Dirgantara
men-getahui Tengkorak Darah ahli bermain sihir!
Keyakinan akan dugaan itu menyebabkan Dir-gantara dan
Jumpena menghunus senjata yang tadi te-lah disimpan. Kemudian, sambil
mengeluarkan teriakan melengking nyaring mereka melesat ke arah Tengkorak Darah
dengan senjata di tangan.
Dirgantara memutar bambu kuningnya hingga bentuknya lenyap
menjadi segundukan sinar yang mu-la-mula kecil kemudian melebar. Jumpena
mengelua-rkan sepasang pisau yang putih berkilat. Dengan senja-ta itu ia
bersiap untuk membunuh Tengkorak Darah.
Tengkorak Darah tentu saja melihat tindakan kedua pemuda
itu. Tapi, dia bersikap tidak peduli. Se-perti tidak mengetahui adanya serangan
ia tetap memu-satkan perhatian pada boneka yang berada di tangan-nya. Di saat
Dirgantara dan Jumpena melalui setengah jarak antara mereka, baru Tengkorak
Darah dengan mempergunakan jari telunjuknya menotok bagian bahu kanan
boneka-boneka itu.
Pada saat yang bersamaan dengan totokan yang mengenai bahu
kanan boneka-boneka, Jumpena dan Dirgantara merasakan tubuh mereka tiba-tiba
lumpuh. Tanpa mampu berbuat apa pun lagi, luncuran tubuh kedua pemuda itu
terhenti di tengah jalan. Kemudian, ambruk ke tanah bagaikan sehelai karung
basah.
"Hak hak hak..!"
Tengkorak Darah tertawa berkakakan. Kemu-dian, dengan
gerakan kaki sederhana sosok berpakaian serba merah itu melepaskan bambu yang
menancap di batang pohon. Dengan sekali sentak bambu itu me-layang membawa
tubuhnya menuju tempat Jumpena dan Dirgantara berada. Tepat di depan kedua
orang muda itu luncuran bambu terhenti. Kemudian, menda-rat turun
perlahan-lahan seperti diatur oleh tangan ti-dak nampak.
Tengkorak Darah menatap wajah Jumpena dan Dirgantara
berganti-ganti. Sorot sepasang matanya memancarkan kesan menyeramkan, membuat
kedua pemuda yang sebenarnya memiliki nyali besar itu mera-sa ngeri. Keduanya
sadar kalau keadaan mereka amat berbahaya. Kematian telah berada di depan mata.
Wa-laupun Jumpena dan Dirgantara bukan orang-orang yang takut kematian, tapi
tewas secara mengerikan bu-kan persoalan main-main. Bagi orang seperti
Tengkorak Darah kematian lawan secara mengerikan merupakan hal menyenangkan! Ini
yang membuat kedua orang muda itu ngeri. Meski demikian, keduanya tidak
me-nunjukkan perasaan gentar. Malah, dengan berani Jumpena dan Dirgantara
membalas tatapan Tengkorak Darah dengan sorot mata penuh tantangan.
"Aku tahu kalian orang-orang muda yang berani
mati." Tengkorak Darah berkata dengan suara anehnya setelah terlebih dulu
melepas tawa mengerikan. Tawa yang bukan timbul karena perasaan gembira.
Jumpena
maupun Dirgantara merasakan kepedihan dalam tawa itu. Ini
membuat keduanya merasa heran. "Aku yakin kalian tidak akan bertindak
seberani itu, mengajukan tantangan terhadapku dengan sinar mata, kalau tahu
kematian yang akan kalian terima!"
"Kau boleh mengajukan ancaman apa pun. Tapi jangan
harap aku akan gentar! Aku tak akan minta am-punanmu, Manusia Iblis! Silakan
lakukan sekehendak hatimu!" sambut Jumpena yang ternyata memiliki wa-tak
pemberani dan tidak takut menghadapi ancaman.
"Apa yang dikatakan kawanku memang benar, Tengkorak
Darah!" Dirgantara ikut berbicara untuk me-nyejukkan suasana tegang yang
melanda. Dirgantara lebih bisa mengendalikan diri untuk tidak memancing
kemarahan Tengkorak Darah. Dilihatnya kilatan kema-rahan pada sepasang mata
Tengkorak Darah begitu mendengar ucapan Jumpena. Dirgantara memiliki wa-tak
lebih tenang. Yang lebih penting adalah mencari ja-lan untuk menyelamatkan
diri. "Kami bukan orang-orang yang takut mati. Tapi kalau boleh kami tahu,
ada urusan apa di antara kita hingga kau berniat menja-tuhkan tangan jahat
terhadap kami. Sepanjang ingatan kami tidak ada urusan di antara kita."
Tengkorak Darah menatap wajah Dirgantara se-jenak.
"Kau lebih memiliki otak daripada kawanmu. Memang, di
antara kita tidak ada permusuhan. Tapi itu tidak menjadi alasan bagiku! Kalau
kau meminta ala-san, sesalilah kenapa kalian berada di sini pada saat aku
berada di sini! Kalau aku ingin membunuh orang, kubunuh saja, habis perkara.
Tanpa perlu alasan apa pun. Kebetulan saat ini aku tengah ingin menyiksa
orang!"
"Mengapa bertele-tele, Tengkorak Darah!" Jum-pena
tidak senang melihat sikap Dirgantara, ia mengira
pemuda berompi kulit harimau itu merasa gentar, se-hingga
langsung menyela. Suara dan nadanya lebih ke-ras dari semula. "Kalau kau
ingin bunuh, silakan bu-nuh! Ingin menyiksa, siksa saja! Tidak perlu
bertele-tele dan berbicara panjang lebar seperti nenek-nenek ba-wel!"
Tidak hanya Tengkorak Darah, Dirgantara pun kaget mendengar
perkataan Jumpena.
"Jumpena benar-benar seorang yang nekat!" de-sis
hati Dirgantara. Nekat dan tidak mengenai gelagat.
Tengkorak Darah menggeram keras. Terasa be-tul nada
kemarahan di dalamnya. Tapi, sebentar kemu-dian berganti dengan tawa bergelak.
"Kau kelihatannya memiliki hati baja, Bocah Ba-gus!
Aku jadi ingin membuktikan kebenaran ucapanmu. Apakah kau benar-benar memiliki
hati keras dan tahan uji, atau hanya sesumbar belaka?!"
Tengkorak Darah menutup ucapannya dengan mengeluarkan
sebatang jarum panjang dari balik baju. Setelah mengerling ke arah Jumpena dari
balik topeng-nya jarum itu diacungkan tinggi-tinggi. Kemudian, ditu-runkan
perlahan-lahan dengan sikap seperti akan me-nusuk boneka sederhana yang
ditempeli rambut Jum-pena.
"Hentikan! Hentikan tindakan itu, Tengkorak
Darah!"
Dirgantara yang meskipun tidak tahu pasti apa yang akan
terjadi, namun sedikit banyak ia bisa mem-perkirakan. Pemuda itu berseru
mencegah dengan nada menyiratkan kekhawatiran.
Tengkorak Darah memalingkan kepala menatap Dirgantara.
Jumpena pun demikian. Tapi sebelum ke-dua orang itu membuka mulut, Dirgantara
telah lebih dulu berseru.
"Kalau kau masih ingin menyiksa, siksalah aku!
Akulah yang lebih berhak untuk kau siksa. Bebaskan dia,
Tengkorak Darah! Biar aku yang menanggung se-muanya. Aku rela kau siksa, bahkan
kau bunuh sekali-pun asal kau biarkan dia bebas!"
"Dirga!" Jumpena berseru kaget mendengar uca-pan
Dirgantara. Suara pemuda berpakaian kuning ini agak serak karena rasa haru yang
menyeruak menden-gar pembelaan Dirgantara.
"Kau tenang-tenang saja, Jumpena. Bukankah kau telah
menolongku? Sekarang berikan aku kesempa-tan untuk menolongmu."
"Tapi...."
"Bagaimana, Tengkorak Darah?" Dirgantara
bu-ru-buru memutus ucapan Jumpena. "Kau mau mene-rima usulku...?"
Tengkorak Darah mendengus setelah tertegun mendengar usul
tidak masuk akalnya itu. Sungguh ti-dak pernah terpikir olehnya ada orang yang
mau meng-gantikan untuk menerima hukuman. Sepengetahuan-nya, orang lebih suka
mengorbankan orang lain asal di-rinya selamat.
"Usulmu gila!" tajam ucapan Tengkorak Darah.
"Aku tidak bisa menerimanya. Sebaliknya, aku malah akan membebaskan mu dan
menyiksa sampai mati orang yang bermulut lancang itu!"
"Kau mengambil keputusan yang tepat, Tengko-rak
Darah!" Jumpena mempunyai kesempatan untuk berbicara. "Memang aku
seharusnya orang yang kau hukum. Akulah yang bersalah! Bisa juga kau mengam-bil
keputusan lain. Tapi bila hal itu kau lakukan, berarti kau tidak memiliki otak
yang baik. Otakmu telah ru-sak!"
Dirgantara mengeluh dalam hati. Harus diakui kalau dalam
kepintaran berbicara Jumpena memang luar biasa. Mungkin tidak kalah dengan
perempuan!
Kata-katanya selalu tepat menyinggung perasaan orang yang
memojokkannya, sehingga orang yang diajak bica-ra tidak bisa mengambil
keputusan lain.
"Kau boleh rasakan sendiri keputusan yang te-lah kau
pilih, Bocah Liar!"
Dengan gemas Tengkorak Darah menusukkan jarumnya pada
kepala boneka yang ditempeli rambut Jumpena. Dan, membiarkan jarum itu di sana.
Dirgantara sampai membelalakkan mata ketika melihat
pemandangan yang mustahil dan sangat men-gerikan! Begitu Tengkorak Darah
menusukkan jarum pada kepala boneka, tubuh Jumpena kemudian
meng-gelepar-gelepar. Seringai kesakitan tampak jelas pada wajahnya. Pemuda
berpakaian kuning itu sampai mam-pu memegangi kepalanya. Padahal saat itu
Jumpena, seperti juga dirinya, tengah berada dalam keadaan le-mas terkena
totokan! Rangsangan sakit yang demikian kuat menjadikan Jumpena mampu bergerak
tanpa sa-dar. Tapi hanya sebatas tenaga kasar. Ia tidak mampu mengerahkan
tenaga dalam.
***
4
Dirgantara merasa bulu tengkuknya meremang. Rasa sakit yang
diderita Jumpena karena kepala bone-ka yang ditempeli rambut Jumpena ditusuk
jarum. Meski tidak terlampau cerdik, pemuda berompi kulit harimau itu tahu ada
hubungan erat antara boneka dengan diri Jumpena. Boneka itu merupakan cerminan
tubuh Jumpena. Dirgantara sebelumnya tidak pernah menyaksikan ilmu keji seperti
ini! Dirgantara tidak be-rani membayangkan betapa mudahnya Tengkorak Da-
rah membunuh siapa saja yang diinginkannya lewat boneka
buatannya.
"Hentikan! Hentikan itu, Tengkorak Darah! Kau...
keji...!" Dirgantara berteriak-teriak begitu sadar dari keterkejutannya.
Suaranya keras dan lantang ka-rena didorong perasaan khawatir dan ngeri. Ia tak
tega melihat Jumpena menggelepar-gelepar di tanah. Kedua tangannya didekapkan
ke kepala.
"Hak hak hak...!"
Tengkorak Darah malah tertawa terbahak-bahak. Ia kelihatan
gembira sekali melihat pemandan-gan yang terpampang di depan matanya.
"Sekarang kau buktikan kehebatan ilmu dan siksaanku,
Bocah Lancang! Inilah ilmuku yang terbaru. Dengan ilmu ini aku dapat membunuh
siapa pun yang ku mau. Hak hak hak...!"
"Hentikan, Tengkorak Darah!" Dirgantara sema-kin
kalap melihat sosok berpakaian merah itu tidak mempedulikan teriakannya.
"Kalau kau teruskan tinda-kanmu ini, kau akan mendapat kesulitan besar.
Be-baskan dia, Tengkorak Darah!"
Tengkorak Darah menghentikan tawanya dan menatap wajah
Dirgantara lekat-lekat.
"Kalau tidak mengingat wajahmu yang mengin-gatkan aku
pada seseorang, sudah kuhancurkan mu-lutmu karena berani mengancamku, Bocah
Liar! Kau kira Tengkorak Darah takut akan ancamanmu! Aku ju-stru ingin mencari
permusuhan dengan guru bocah lancang itu, agar bisa terjadi pertempuran antara
kami dan aku bisa membunuhnya!"
"Tapi..., ayahnya adalah Pendekar Jari Maut! Kau akan
celaka di tangannya, Tengkorak Darah. Dan...."
"Apa...?!"
Tengkorak Darah tersentak kaget mendengar
ucapan Dirgantara. Kenyataan ini membuat pemuda be-rompi
kulit harimau itu merasa gembira. Ia mengira ge-rakannya berhasil. Tengkorak
Darah akan merasa se-gan bermusuhan dengan lawan berat seperti Pendekar Jari
Maut.
"Jadi..., bocah lancang itu anak dari Pendekar Jari
Maut? Manusia terkutuk itu? Kalau begitu aku sangat beruntung. Untuk sementara
aku bisa memba-laskan sakit hatiku sebelum ayahnya sendiri menerima ganjaran
atas kekejian yang dilakukannya terhadapku!"
Dirgantara melongo. Dia tidak menyangka akibat gertakannya
akan begini. Tengkorak Darah ternyata memiliki dendam pada Pendekar Jari Maut.
Keadaan Jumpena justru semakin gawat!
Sebelum Dirgantara berbuat sesuatu, Tengkorak Darah telah
lebih dulu bertindak. Boneka yang semula dibiarkan dengan jarum menancap di
kepala kini diam-bilnya. Jarum panjang itu dicabut. Dan, dengan bertu-bi-tubi
jarum ditusukkan ke berbagai bagian tubuh bo-neka! Jumpena semakin
menggelepar-gelepar. Kendati demikian, tak sedikit pun keluar keluhan dari
mulut-nya. Keringat dingin sebesar-besar biji jagung dan se-ringai kesakitan di
wajah menunjukkan kalau pemuda berpakaian kuning ini tengah menderita hebat!
"Rasakan wahai Pendekar Jari Maut..,! Lihatlah anakmu
kusiksa...! Datanglah kemari.... Biar kau sendi-ri yang menerima siksaan
dariku!" seru Tengkorak Da-rah dengan mengerahkan tenaga dalam. Tangannya
masih terus menusuk-nusuk berbagai bagian tubuh boneka.
"Hentikan...! Hentikan, Keparat! Tengkorak Da-rah...!
Hentikan...! Keparat kau...! Aku bersumpah akan membuat perhitungan denganmu.
Aku akan membu-nuhmu!" Dirgantara yang tidak menderita apa pun
ber-teriak-teriak bagai cacing kepanasan.
Teriakan Dirgantara ternyata manjur. Tengkorak Darah
menghentikan siksaannya. Kepalanya di toleh-kan ke arah Dirgantara. Sepasang
mata tajam berkilat-kilat menatap Dirgantara dari ujung rambut sampai ujung
kaki. Bulu kuduk Dirgantara sampai berdiri. Ta-pi, Dirgantara menguatkan hati.
Dia membalas tatapan itu meski tidak dengan sorot menantang.
Dirgantara tiba-tiba melihat Tengkorak Darah yang telah
memperhatikannya terhuyung ke belakang. Sepasang mata tajam di balik topeng itu
terpejam seper-ti tengah memusatkan perhatian pada sesuatu.
Dirgantara tidak tahu tubuh Tengkorak Darah terhuyung
karena ada serangan. Serangan dari jauh yang hanya didengar Tengkorak Darah.
Serangan itu berupa bunyi dentang nyaring seperti logam kosong di-pukul besi!
Bunyinya menyakitkan telinga dan mem-buat isi dada tergetar hebat
Tengkorak Darah yang mengetahui seseorang te-lah
menyerangnya tidak tinggal diam. Dia mengumpul-kan hawa murni dan memusatkan
perhatian. Sesaat kemudian dari mulutnya terdengar siulan. Siulan me-lengking
yang tidak tertangkap telinga biasa, tapi lang-sung melawan pengaruh bunyi yang
menyerangnya!
Dirgantara yang semula keheranan semakin ber-tambah heran
melihat tokoh itu duduk bersila. Dia ti-dak tahu apa yang tengah terjadi.
Pemuda berompi kulit harimau itu tidak tahu kalau saat ini telah terjadi
perta-rungan dahsyat tenaga dalam.
Dirgantara mulai dapat menduga apa yang ten-gah terjadi
ketika melihat uap tipis mengepul dari kepa-la Tengkorak Darah. Uap itu hanya
akan muncul apabi-la seseorang mengerahkan tenaga dalam sampai mele-wati
kemampuan. Berarti Tengkorak Darah tengah ter-libat pertarungan! Tapi, dengan
siapa?
Pertanyaan yang bergayut memaksa Dirgantara
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pemuda berwa-jah
persegi ini pun melihatnya. Belasan tombak dari tempatnya, berdiri seorang
pemuda tampan berpakaian ungu dan berambut putih keperakan. Pemuda berpa-kaian
ungu ini duduk bersandar pada sebatang pohon besar. Kelihatan santai, tapi
tangan kanannya tak hen-ti-hentinya menyentili badan guci. Begitu cepat
jari-jarinya bergerak hingga yang terlihat hanya bayangan tak jelas. Anehnya,
betapapun Dirgantara mengerahkan tenaga dalam untuk mempertajam pendengaran
namun tidak terdengar bunyi guci yang disentil. Padahal, meli-hat kecepatan
jari itu bisa diperkirakan kerasnya bunyi yang terdengar.
Dirgantara tidak tahu bunyi itu hanya ditujukan pada
Tengkorak Darah. Hanya orang-orang yang memi-liki tenaga dalam tinggi saja yang
bisa mendengarnya. Dirgantara mengalihkan perhatian pada Tengkorak Da-rah.
Pemuda berompi kulit harimau ini bisa memperki-rakan siapa yang akan keluar
sebagai pemenang. Kea-daan Tengkorak Darah demikian mengkhawatirkan. Uap yang
mengepul dari atas kepalanya semakin tebal dan berwarna putih. Pakaiannya yang
terlalu besar itu telah melekat dengan tubuh karena banyaknya peluh. Bahkan,
dari balik topeng mengalir keringat. "Hukh!"
Tubuh Tengkorak Darah terdorong agak ke be-lakang kemudian
tertunduk ke depan. Tengkorak Darah terluka dalam. Ia memuntahkan darah segar.
Topeng yang menutupi wajah dan mulutnya membuat darah itu tidak terlihat.
Tengkorak Darah telah kalah!
Tengkorak Darah mengerling ke arah pemuda berambut putih
keperakan dari balik lubang topengnya. Kemudian, ia bangkit dengan
terhuyung-huyung dan melesat meninggalkan tempat itu.
Pemuda berpakaian ungu tidak mengejarnya. Dia menghela
napas berat, lalu menyimpan guci ke
punggungnya dan mengusap peluh yang membasahi sekujur wajah
dengan punggung tangan. Baru setelah itu ia mengalihkan perhatian pada tubuh
Jumpena dan Dirgantara.
Pemuda berpakaian ungu mengambil sebutir buah ceremai yang
banyak berserakan di dekatnya. Po-hon di mana tubuhnya bersandar memang pohon
cere-mai. Dengan sembarangan disentilnya buah yang terse-lip di antara
jari-jari kanannya.
Dirgantara kagum bukan main merasakan aliran darahnya
kembali lancar ketika buah ceremai yang dis-entil pemuda berpakaian ungu
mengenai tubuhnya. To-tokannya telah terbebas. Perbuatan yang dilakukan pemuda
berambut putih keperakan itu cukup sulit. Membebaskan totokan dari jarak jauh
dengan butiran buah ceremai. Dia sendiri belum tentu mampu melaku-kannya!
Sebelum pemuda berompi kulit harimau bangkit berdiri dan
membebaskan totokan Jumpena, pemuda berpakaian ungu melakukan gerakan seperti
menotok dengan dua jari. Dirgantara melihat jelas arah yang di-tuju jari-jari
itu ke tubuh Jumpena.
Dirgantara hanya mendengar bunyi bercicitan pelan. Sesaat
kemudian, begitu pemuda berpakaian un-gu menurunkan tangannya, Jumpena bergerak
bangkit. Dirgantara melongo. Pemuda berambut putih keperakan itu mampu
membebaskan totokan, dari jarak jauh!
"Terima kasih atas pertolonganmu, Sobat. Kalau tidak
ada kau mungkin aku, Dirgantara, dan kawanku ini, Jumpena, tidak akan berada di
dunia ini. Boleh aku mengenai nama atau julukanmu, Sobat?" tanya
Dirgan-tara setelah berada di depan pemuda berambut putih keperakan. Dirgantara
dengan tergopoh-gopoh berlari menghampiri karena perasaan kagum.
"Benar, Sobat. Aku pun sangat berterima kasih.
Tengkorak Darah memang ganas dan keji. Benar seperti yang
dikabarkan orang!" Jumpena yang telah berada di sebelah Dirgantara
menambahkan.
Pemuda berpakaian ungu menatap wajah Dir-gantara dan
Jumpena berganti-ganti. Senyuman lebar tersungging di bibirnya.
"Tidak usah banyak berterima kasih, Dirga, Jumpena,
hanya suatu kebetulan aku lewat tempat ini. Itu pun karena mendengar seruan
orang itu yang me-nyebut-nyebut nama Pendekar Jari Maut. Kalau tidak karena
teriakan itu tak mungkin aku sampai di sini. Jadi, orang itu yang berjuluk
Tengkorak Darah? O ya, namaku Arya. Tapi, dunia persilatan memberikan julu-kan
Dewa Arak kepadaku."
"Benar, Arya." Jumpena yang pintar berbicara
memberikan jawaban. "Orang itu yang berjuluk Tengko-rak Darah."
Pemuda berpakaian ungu yang memang Arya Buana alias Dewa
Arak mengangguk-anggukkan kepala. Diam-diam ia merasa heran melihat sikap kedua
orang muda di hadapannya. Mereka tidak terkejut mendengar julukannya. Apakah
julukannya belum sampai ke dae-rah ini?
Arya tidak tahu kalau tidak kenalnya Jumpena dan Dirgantara
dengan julukan Dewa Arak karena me-reka baru terjun ke dunia persilatan. Jadi,
belum men-dengar julukan Dewa Arak yang menggemparkan. Guru-guru mereka pun
tidak menceritakannya karena terlalu lama menyembunyikan diri sehingga tidak
per-nah mendengar julukan itu.
"Kau hendak ke mana, Arya?" tanya Jumpena.
"Aku tidak punya tujuan. Hanya mengikuti ke
mana kaki ini melangkah, Jumpena," jawab Arya seraya
tersenyum.
"Mengapa kalian bisa bentrok dengan Tengkorak
Darah?"
"Tidak ada masalah apa-apa sebenarnya, Arya, Tengkorak
Darah saja yang terlalu usilan," jelas Jum-pena sekenanya.
Arya sampai tersenyum mendengar jawaban yang sembarangan
itu.
"Tapi, tadi kudengar Tengkorak Darah menye-but-nyebut
Pendekar Jari Maut."
"Beliau adalah ayahku, Arya," jawab Jumpena,
cepat.
"Ah...! Begitukah...?!" Arya kelihatan terkejut
"Benar!" Dirgantara yang menyahuti. "Jumpena itu anak Pendekar
Jari Maut Sedangkan aku murid Petani Berambut Putih."
"Murid tokoh-tokoh terkenal rupanya," sambut Arya
yang telah mendengar nama besar Pendekar Jari Maut dan Petani Berambut Putih
sebagai tokoh-tokoh besar golongan putih. Julukan Pendekar Jari Maut lebih
tenar daripada Petani Berambut Putih.
"Kami tengah dalam tugas untuk mengunjungi Naga Sakti
Berwajah Hitam," tambah Jumpena untuk menambah kepercayaan Dewa Arak.
"Kalau begitu, silakan kalian berangkat. Mung-kin
kalian sudah ditunggu. Aku pergi dulu...."
Dirgantara dan Jumpena menggeleng-gelengkan kepala ketika
melihat tubuh pemuda berambut putih keperakan sudah tidak terlihat lagi.
Padahal, suaranya masih bergema di sekitar tempat itu.
"Hebat sekali Dewa Arak itu!" Dirgantara mem-buka
percakapan. "Tidak kusangka seorang tokoh muda telah memiliki kepandaian
luar biasa. Dibandingkan dengannya kepandaian yang kumiliki tidak berarti
apa-apa."
"Kau tidak perlu berkecil hati, Dirga," hibur
Jumpena yang merasakan nada keluhan dalam ucapan
pemuda berompi kulit harimau itu. "Jangankan kau atau
aku, Tengkorak Darah yang menggiriskan hati itu saja bukan tandingannya. Dewa
Arak memang hebat bukan main. Entah mana yang lebih lihai bila diban-dingkan
dengan ayahku atau gurumu."
Dirgantara tidak memberikan tanggapan. Pemu-da berompi
kulit harimau ini masih terpukul ketika mengingat berturut-turut dirobohkan
orang yang memi-liki kepandaian di atasnya. Kepandaiannya yang dipela-jari
dengan susah payah selama belasan tahun ternyata tidak berguna!
Jumpena pun tengah digayut persoalan yang sama. Kedua
pemuda itu melakukan perjalanan tanpa berbincang-bincang lagi.
***
5
"Ayo kejar, Putih...! Cepat! Jangan sampai si hi-tam
mengalahkanmu...!"
Seruan-seman lantang bernada gembira itu ke-luar dari mulut
seorang kakek kurus berambut awut-awutan. Usianya sukar untuk ditaksir. Tapi
melihat rambut yang telah memutih juga jenggot dan kumisnya, kakek kecil kurus
ini tentu sudah sangat tua.
Sambil terus berteriak-teriak dengan penuh se-mangat, ia
mengayun-ayunkan tangan kanannya me-nepuki kuda-kudaan dari kayu yang
ditungganginya. Bagian bawah kuda yang berbentuk melengkung seperti busur
membuat kuda-kudaan itu bergoyang-goyang ke-tika kakek kecil kurus
menggoyang-goyangkan tubuh-nya.
Sejajar dengan kuda-kudaan putih yang ditung-
gangi kakek kecil kurus, sekitar satu tombak di
sebe-lahnya, terdapat kuda-kudaan kayu berwarna hitam. Kuda-kudaan itu tidak
bergoyang-goyang sebagaimana halnya kuda-kudaan putih, karena tidak ada yang
me-nungganginya.
"Ayo, Putih...! Ya, sebentar lagi...! Cepat,
kelua-rkan seluruh kemampuanmu! Sebentar lagi kau akan menang!"
Kakek kecil kurus yang mengenakan pakaian coklat tapi terbalik,
bagian dalam berada di luar, sema-kin keras menggerak-gerakkan tubuh sehingga
goyan-gan pada kuda-kudaan putih bertambah keras.
"Ha ha ha...!" Serentetan tawa bergelak
mengi-ringi seruan-seruan kakek kecil kurus. Entah dari mana datangnya,
tahu-tahu di dekat kakek kecil kurus telah berdiri sesosok tubuh pendek gemuk!
Sosok tubuh yang teramat pendek dan kelewat gemuk, persis bola. Perut-nya yang
tidak tertutup rompi berguncang-guncang ke-tika sosok itu tertawa. Tawa yang
membuat daun-daun bergetaran seperti hendak terlepas dari rantingnya.
"Peramal Gendeng...! Kau sungguh tidak adil. Mana
mungkin kuda hitam bisa menang kalau kau ber-pihak pada kuda putih dan selalu
menambah tenaga untuknya? Biarlah aku yang membantu kuda hitam un-tuk
memperoleh kemenangan!"
Tanpa menunggu sambutan kakek kecil kurus yang dipanggil
Peramal Gendeng, sosok pendek
gemuk bergerak. Tubuhnya tahu-tahu telah be-rada di atas
punggung kuda-kudaan.
Sambil tertawa tanpa henti, kakek pendek ge-muk ini
mencengkeram tali yang dipasangkan pada ba-gian leher kuda-kudaan. Ditariknya
tali dengan keras. Dan... kuda-kudaan itu melayang ke depan, lebih patut
dikatakan terbang!
"He he he...!"
Peramal Gendeng tak mau kalah dalam tawa. Bersamaan dengan
keluarnya tawa terkekeh itu tan-gannya bergerak menyentak. Kuda-kudaan itu pun
me-lesat ke depan menjajari kuda-kudaan yang ditunggangi kakek pendek gemuk.
"Setan Gila! Kau benar-benar seseorang yang
menyenangkan. Mari kita berlomba untuk mencapai pohon nangka yang ada di
sana!"
Dua kakek yang sama-sama memiliki watak aneh itu pun saling
berlomba 'terbang' dengan memper-gunakan kuda-kudaan. Pohon nangka yang
dimaksud Peramal Gendeng letaknya tak kurang dari seratus tombak!
Tentu saja karena kuda-kudaan itu tidak bisa terbang, baru
beberapa tombak melayang dan begitu tenaga luncuran habis, kuda-kudaan itu
melayang tu-run. Tapi, hanya dengan sentakan tangan kiri pada tali dan gerakan
tangan kanan mengayun ke belakang se-perti orang mengayun perahu, Setan Gila
maupun Pe-ramal Gendeng mampu membuat kuda-kudaan itu me-layang kembali!
Peramal Gendeng ternyata tidak hanya sesum-bar dengan
berani mengajak Setan Gila berlomba. Ka-kek berpakaian terbalik ini mampu
mengimbangi luncu-ran kuda-kudaan hitam Setan Gila. Bahkan, Peramal Gendeng
mampu melewati! Padahal, Setan Gila telah membawa kuda-kudaannya melesat lebih
dulu.
Betapapun Setan Gila mengerahkan seluruh kemampuannya untuk
mengalahkan lawan, tetap saja laju kuda-kudaan Peramal Gendeng tak terkejar.
Sam-pai akhirnya Peramal Gendeng mendaratkan kuda-kudaannya dengan mantap di
tanah!
"He he he...!"
Peramal Gendeng menertawakan Setan Gila yang mendaratkan
kuda-kudaannya belakangan.
"Bukankah sudah kukatakan, Setan Gendut! Kuda putih
milikku ini memang luar biasa. Telah bebe-rapa kali kuda hitam itu bertarung lari
dengan kuda pu-tih, tapi tidak pernah menang. Kau membuktikannya sekarang,
bukan? He he he...!" ejek Peramal Gendeng dengan gembira sebagaimana
layaknya seorang bocah yang memenangkan perlombaan.
Setan Gila meski merasa penasaran bukan main namun mampu
menyunggingkan senyum lebar. Malah, dia pun kemudian tertawa keras sampai perut
gendut-nya terguncang-guncang.
"Kuda putihmu memang hebat, Ulat Kecil!" Se-tan
Gila tidak mau kalah mengeluarkan makian seraya menggaruk-garuk pantatnya yang
tidak gatal. "Di samp-ing memiliki lari cepat, kekuatan napasnya pun tidak
bisa ditandingi kudaku. Tapi, rasanya kuda itu sakit Aku yakin tubuhnya akan
hancur lebur!"
Setan Gila dalam keadaan masih duduk di atas kuda-kudaan
hitam mengambil dua batang pisau dari balik bajunya. Kemudian, batang-batang
pisau itu digo-sokkan satu sama lain hingga terdengar bunyi yang mengilukan.
Peramal Gendeng tahu Setan Gila hendak mela-kukan sesuatu.
Tapi, mengapa bunyi yang mengilukan itu tidak mempengaruhinya? Padahal, Setan
Gila tengah melancarkan serangan dengan mempergunakan tenaga dalam tingkat
tinggi.
Keyakinan kalau tindakan Setan Gila tidak di tu-jukan
padanya, Peramal Gendeng sibuk mengorek-ngorek hidungnya untuk mengeluarkan
kotoran. Bebe-rapa kali gumpalan-gumpalan kecil yang menjijikkan terbawa
jari-jari tangan yang kumal dan kotor itu ketika ditarik keluar dari lubang
hidung!
Tiba-tiba ketika bunyi bergesekan dua batang pisau itu
semakin meninggi, Peramal Gendeng tersen-
tak. Dia teringat ucapan kakek pendek itu sebelum menggesek-gesekkan
pisaunya.
Tapi kesadaran Peramal Gendeng terlambat! Di saat bunyi
gesekan mencapai puncaknya terdengar bunyi letupan cukup keras. Kuda-kudaan
putih yang ditungganginya hancur berantakan! Meski kaget, kakek berpakaian
terbalik ini tidak memperlihatkannya. Bah-kan, ketika serpihan-serpihan kuda
putih berjatuhan ke tanah tubuhnya tidak bergeming! Peramal Gendeng te-tap
dalam posisi duduk menunggang kuda. Padahal, tubuhnya maupun kedua kakinya
tidak menyentuh ta-nah. Kakek kecil kurus ini duduk di udara!
Namun itu hanya berlangsung sesaat. Tubuh kecil kurus itu
kemudian melayang turun.
"Putih...! Kudaku yang malang. Mengapa kau pergi
meninggalkan aku? Rupanya benar yang dikata-kan gendut brengsek itu. Kau telah
sangat tua dan sa-kit-sakitan. Biarlah sebagai tanda hormatku kuantar
kepergianmu dengan lagu perpisahan!" keluh Peramal Gendeng dengan suara
sedih sebagaimana layaknya di-tinggalkan orang yang dicintai.
Si putih....
Itulah namamu....
Kau selalu setia menemaniku....
Sejak aku muda Sampai tua ini. Sekarang aku kesepian....
Tapi ada orang lain yang menemaniku sebentar Sedangkan
engkau sendirian menempuh perjalanan baru Perjalanan yang sama sekali tidak
pernah kau
tempuh
Aku tidak ingin kau takut atau kesepian Kau bu-tuh kawan
untuk berlomba dan berbincang-bincang
Biarlah kusuruh si hitam untuk menemanimu
Bersamaan dengan lenyapnya ucapan terakhir dari lagu yang
didendangkan Peramal Gendeng terden-gar bunyi ledakan cukup keras. Kuda-kudaan
hitam yang ditunggangi Setan Gila hancur berkeping-keping. Tapi seperti juga
Peramal Gendeng, Setan Gila mampu tetap duduk seperti ketika kuda-kudaan hitam
itu ada.
"Ha ha ha...!"
Setan Gila yang telah berdiri tegak di tanah ter-tawa
bergelak untuk menutupi rasa kagetnya melihat kekuatan tenaga dalam Peramal
Gendeng. Tidak dis-angkanya kakek kecil kurus itu mampu menghancur-kan
kuda-kudaan dengan hanya bernyanyi sembaran-gan. Memang, kakek pendek gemuk ini
telah merasakan getaran-getaran tenaga dalam ketika Peramal Gendeng bernyanyi.
Getaran kuat yang tidak tertuju padanya, tapi untuk menghancurkan kuda-kudaan
hitam.
"Kau semakin lihai saja, Cacing Kurus!" "He
he he...!"
Peramal Gendeng terkekeh. Kotoran-kotoran hi-dung yang tadi
berada di ujung jari dilemparkannya ke arah Setan Gila. Gumpalan-gumpalan
menjijikkan itu melayang dengan menimbulkan bunyi berdesing nyar-ing. Tapi
Setan Gila tidak mempedulikannya. Bahkan ketika mengenai berbagai bagian
tubuhnya. Beberapa di antaranya mengenai wajah. Setan Gila sama sekali ti-dak
merasa jijik. Sedangkan rasa sakit tidak dirasakan karena kakek pendek gemuk
ini telah lebih dulu menge-rahkan tenaga dalam.
"Kau pun masih seperti dulu, Gendut! Babi Gendut!
Kerbau Bunting! Gajah Bengkak! Bahkan, mu-lutmu makin manis saja didengar
telinga. Aku yakin kedatanganmu kemari bukan untuk bermain-main. Kau pasti
tengah mencari kotoran ayam! Betulkan?!"
Setan Gila terkekeh.
"Kau memang tetap cerdik seperti dulu, Cacing
Kurus! Malah aku yakin kau telah bertambah pandai.
Sebagaimana kau memperlihatkan kepadaku betapa si-kap jorokmu semakin bertambah!"
"Tidak usah berputar-putar, Gajah Bengkak! Kau hendak
memuji atau menghina? Atau, kau ingin perutmu yang gendut itu kubuat
kempes?!"
"Karena kau telah menanyakannya lebih dulu, baiklah,
aku akan memberikan jawaban. Kedatanganku kemari hanya ingin menguji
kemampuanmu, Cacing Kurus! Aku ingin tahu apakah kau masih mempunyai kemampuan
yang dulu kau bangga-banggakan. Sampai kau berani menempelkan gelar peramal di
depan kela-kuan gendengmu. Jangan-jangan kemampuanmu telah lenyap. Sekarang aku
membawa sebuah persoalan un-tukmu, Cacing Kurus! Aku tak yakin kau mampu
me-nyelesaikannya. Ini persoalan besar! Beranikah kau menerimanya, Cacing
Kurus? Ingat, persoalan ini bukan persoalan biasa, melainkan menyangkut
julukanmu! Apabila kau tidak bisa memecahkannya berarti kau ti-dak pantas
berjuluk Peramal Gendeng!"
"Kecoak Busuk! Kadal Buntung! Monyet Jelek! Kucing
Pincang!" Peramal Gendeng memaki-maki den-gan kalap. Kakek kurus ini
memang mempunyai sifat kekanak-kanakan. Tantangan yang dikeluarkan Setan Gila telah
membuatnya kelabakan bukan main. "Berani kau meragukan kemampuanku, Gendut
Jelek?! Gajah Bengkak! Ayo, katakan masalah mu. Akan kubuktikan kalau gelar
Peramal Gendeng yang kupakai bukan sem-barangan!"
"Ah..., begitukah?!" Setan Gila tertawa dengan
sikap mengejek. "Benar-benarkah kau menantang per-soalan yang tengah
kuhadapi, Cacing Kurus yang bera-ni menggelari diri dengan gelar besar! Apakah
nanti se-telah ku kemukakan kau tidak akan menciut? Kau ti-dak akan malu-malu
mengundurkan diri karena tidak
mampu memberikan jawaban?!"
"Gendut Gila!" Peramal Gendeng semakin kalap.
"Bila sekali lagi kau keluarkan perkataan seperti itu, pe-rutmu akan
kukempesi!"
"Baik! Baiklah kalau kau telah yakin akan
ke-mampuanmu. Tapi ingat, apabila kau tidak berhasil menyelesaikannya, lebih
balk kau copot gelar peramal-mu!" Setan Gila melancarkan serangan
terakhir. Kakek pendek gemuk ini memang sangat licik. Dia tahu Pe-ramal Gendeng
memiliki ilmu meramal yang luar biasa. Tidak ada hal yang sulit bagi Peramal
Gendeng. Tapi sayang kakek kecil kurus itu memiliki watak aneh. Apa-bila dia
sedang tidak ingin, biar orang meminta-minta sampai menyembah-nyembah dia tidak
akan melayani. "Saat ini aku tengah mencari seseorang. Dia telah le-nyap
begitu saja bagai ditelan bumi. Orang ini telah sangat berani membunuh
muridku!"
"Katakan saja siapa orangnya? Setidak-tidaknya
ciri-cirinya. Pakaian atau benda yang biasa di pakainya. Akan kuberikan jawaban
saat ini juga!" Peramal Gen-deng yang berhasil dipanasi hatinya langsung
memberi-kan tanggapan.
"Dia seorang lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Tubuhnya kurus. Sepasang matanya buta. Dan, dia memiliki satu lengan. Pakaian
yang dikenakannya serba hitam. Tapi tongkatnya berwarna putih. Kurasa
keteranganku sudah cukup. Sekarang tinggal membuk-tikan kebenaran sesumbarmu.
Benarkah kau berhak berjuluk Peramal Gendeng! Atau, lebih baik kau meng-ganti
julukan dengan Pembohong Gendeng!"
Peramal Gendeng tidak menyambuti ejekan Se-tan Gila. Kakek
kecil kurus ini duduk bersila dengan kepala ditundukkan. Beberapa saat lamanya
dia bersi-kap seperti itu. Sementara Setan Gila memperhatikan gerak-geriknya
dengan sikap tak acuh.
Waktu berlalu tanpa terasa. Hampir setengah hari Peramal
Gendeng belum bergerak dari kedudukan-nya. Duduk bersila dengan kepala tertunduk.
Kedua tangannya terbuka di atas paha. Sekujur wajah kakek kecil kurus ini penuh
dengan keringat. Bahkan, ada uap putih mengepul dari kepalanya.
Ketika akhirnya uap itu semakin tebal tubuh Pe-ramal
Gendeng bergerak-gerak. Kepalanya didongakkan menatap wajah Setan Gila yang
sejak tadi memperhati-kan gerak-geriknya dengan tidak sabar.
"Ha ha ha...!"
Setan Gila tertawa bergelak untuk menutupi ra-sa kecewanya.
Dia tahu Peramal Gendeng gagal dengan usahanya. Meski demikian, kakek pendek
gemuk ini ti-dak percaya kalau tidak mendengar langsung dari mu-lut Peramal
Gendeng.
"Bagaimana, Cacing Kurus? Bukankah persoa-lan yang
kuberikan padamu amat berat? Katakan kalau kau tidak mampu menyelesaikannya.
Katakan saja kau bersedia menarik kembali gelar peramalmu. Bukankah kau tidak
mampu menjawab pertanyaanku?!"
"He he he...!" Peramal Gendeng malah terkekeh.
"Orang lain mungkin bisa kau tipu dengan akal bulus-mu ini, Setan Gila!
Tapi, jangan harap kau dapat mela-kukannya terhadapku. Aku tak bisa kau
kelabui!"
"Omongan gila macam apa ini?!" Setan Gila meski
keheranan tetap mampu menyunggingkan se-nyum lebar. "Aku tidak mengerti
maksudmu, Cacing Gendeng!"
"Sejak dulu kau memang pandai berpura-pura untuk
menutupi kepahitan mulutmu yang berbau ma-nis, Gendut Gila! Permainanmu sama
sekali tidak ada gunanya. Kau tidak bisa menipuku, Gendut Gila!"
"Menipumu?! Kau rupanya masih bisa bercanda, Cacing
Gendeng! Luar biasa! Sifatmu tidak juga beru-
bah meski telah puluhan tahun kita tidak bertemu!"
"Sudahlah, Gendut! Lebih baik kau segera
menggelinding dari sini sebelum perutmu kubikin
kempes!"
"Jadi..., kau menyerah, Cacing Kurus yang gen-deng!
Kau tidak berhasil menemukan orang yang kuca-ri? Jadi, benar kau bersedia
melepaskan julukan yang kau sandang itu?!" Meski kaget bukan main, Setan
Gila masih mampu tersenyum lebar dengan wajah berseri-seri.
"Menemukan orang? Rupanya kau masih juga berpura-pura,
Setan Gila! Gendut Air! Apakah perlu ku-beritahukan? He he he...! Gendut, aku
tidak bisa kau tipu! Orang yang kau maksudkan itu tidak pernah ada. Mungkin dia
sudah mati. Tapi yang jelas, aku tidak me-rasakan adanya getaran dari orang
itu. Sudahlah, lebih baik kau tinggalkan tempat ini!"
"He he he...!"
Tawa Setan Gila meledak! Perutnya berguncang-guncang. Untuk
menutupi guncangan pada perutnya kedua tangannya didekapkan. Tapi, justru kedua
tan-gan itu yang bergerak-gerak terbawa gerakan perut.
"Lucu sekali! Benar-benar menggelikan. Sung-guh tidak
kusangka orang yang berjuluk Peramal Gen-deng ternyata hanya besar julukannya
saja. Setelah ti-dak menemukan pesanan yang diberikan orang, enak saja
mengatakan kalau orang itu telah menipu! Pesanan yang dimaksudkan tidak pernah
ada dan segudang ala-san lainnya!"
Senyum yang terkembang di mulut Peramal Gendeng mulai
lenyap.
"Setan Gila! Rupanya kedatanganmu ke tempat ini memang
untuk mencari permusuhan denganku! Kau sudah bosan hidup, heh?!"
Tawa Setan Gila semakin membesar mendengar
ancaman Peramal Gendeng. Kakek pendek gemuk ini ti-dak
merasa takut atau gentar sedikit pun.
"Kegilaan yang semakin menjadi! Setelah puas menipu
dan orang yang ditipu tidak terima, enak saja mengusir orang. Ternyata kau
benar-benar gendeng! Ucapan dan janjimu tidak ubahnya bunyi yang keluar dari
lubang dubur, Cacing Kurus! Setelah kau buang, lalu kau lupakan!"
"Tutup mulutmu, Gendut Gila!" Peramal Gen-deng
semakin kalap. Kumisnya bergetar karena gejolak amarah. "Kalau kau
mengajukan orang yang bukan khayalan otak bebalmu, di mana pun dia berada
den-gan mudah akan dapat kutemukan! Tapi, kau sengaja mempermainkan ku. Mana
mungkin bisa kutemukan orang yang terjadi karena khayalanmu saja?!"
"Ha ha ha...! Perkataanmu semakin gila, Cacing Kurus!
Baiklah! Karena kau tidak mampu menemukan, orang itu, biar kuberitahukan siapa
dia. Orang yang ku-cari karena telah berani meremehkanku dengan mem-bunuh murid
kesayanganku.... Iblis Buta!"
"Iblis Buta?!"
Peramal Gendeng mengulang julukan itu dengan terkejut.
Kakek kecil kurus ini memang telah menden-gar julukan Iblis Buta yang
menggemparkan dunia per-silatan sepeninggal Setan Gila dan Jerangkong Penjagal
Nyawa.
Setan Gila hanya terkekeh sebagai tanda men-giyakan.
Sikapnya terlihat mengejek sekali.
"Apakah kau masih mau mengatakan kalau orang yang
kucari itu hanya khayalan belaka? Apakah sekarang kau akan mengatakan Iblis
Buta khayalanku saja? Jangan kau katakan kau belum pernah menden-gar julukan
si, Peramal Bloon!"
Peramal Gendeng tidak menanggapi ejekan itu. Dia melipat
kedua tangan di depan dada dan memejam-
kan mata. Hanya sebentar saja, sepasang matanya kembali
dibuka.
"Mungkin aku harus menanggalkan gelarku, Gendut Gila!
Aku tidak bisa melacak di mana Iblis Buta berada." Terasa jelas nada
kegetiran dalam ucapan Pe-ramal Gendeng.
"Mungkin kau benar, Cacing Kurus! Kau sudah terlalu
tua. Bukan tidak mungkin ilmu meramal yang dulu hanya kau miliki sedikit itu
telah lenyap bersa-maan dengan semakin tuanya dirimu. Jangan kau ka-takan kalau
Iblis Buta memiliki kekuatan gaib yang membuat usahamu mencari dirinya tidak
berhasil. Ha ha ha...! Betapa akan geger dunia persilatan kalau tahu Peramal
Gendeng ternyata tidak mampu meramal lagi!"
"Aku tidak serendah itu, Gendut!" Meski
sebe-narnya tersinggung, Peramal Gendeng tidak berkata dengan nada keras
seperti sebelumnya. Kemarahannya langsung mengendur seiring dengan ketidak
berhasi-lannya menemukan Iblis Buta. "Sepanjang pengetahua-nku dan memang
sebenarnya, Iblis Buta tidak mempu-nyai kekuatan gaib yang dapat menggagalkan
usahaku. Aku tidak menjumpai adanya tabir yang menghalangi. Bahkan, aku merasa
heran. Tokoh yang kau sebut itu seperti tidak pernah ada. Tidak ada
getaran-getarannya sama sekali. Kalau kau mau bersabar menunggu bebe-rapa hari,
mungkin aku bisa mencari tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Dan...."
"Omongan kentut busuk!"
Seman tajam yang bernada ketus itu membuat Setan dan Peramal
Gendeng terperanjat. Serentak me-reka menolehkan kepala. Pemilik seruan itu
agaknya memiliki kepandaian tinggi. Seruannya melengking nyaring dan
menyakitkan telinga.
***
6
"Kiranya kau, Tengkorak Berjalan...." Peramal
Gendeng mengangguk maklum mengapa seruan tadi demikian menggetarkan hati. Dia
tidak merasa heran sekarang. Kakek jangkung bagai galah itu memang memiliki
ilmu amat tinggi. Tidak kalah dengan Setan Gi-la.
"Ha ha ha...! Tulang hidup rupanya yang mem-buat
ulah!" Setan Gila ikut berbicara.
Jerangkong Penjagal Nyawa mendengus keras menunjukkan
ketidaksenangan hatinya.
"Sungguh tidak kusangka sekarang kau mem-punyai otak
yang cukup baik, Gendut Gila! Padahal du-lu kepalamu hanya berisi kotoran
belaka! Sekarang ru-panya sebagian kotoran itu telah berubah menjadi otak
sehingga kau bisa lebih dulu tiba di tempat ini...!"
"Ha ha ha...! Terima kasih atas pujian mu, Tu-lang
Hidup! Orang yang paling tolol sekalipun akan ta-hu aku akan lebih pintar dari
kau! Kepalamu yang kecil itu mana mungkin bisa ditempati otak yang besar.
Ka-lau otaknya saja kecil, tidak mungkin pemiliknya pintar dan memiliki
pandangan luas. Ha ha ha...!"
"Lebih baik kau tutup mulutmu yang berbau busuk itu,
Gendut Liar! Pusatkan perhatianmu pada tu-juan semula. Bukankah kau ingin menemukan
di mana Iblis Buta? Peramal Gendeng yang berotak tak waras ini mana mau
menunjukkan tempatnya kalau tidak dipak-sa!"
Peramal Gendeng memang tidak waras. Tapi, dia tidak mau
mengakuinya. Kakek kecil kurus ini malah berpendapat orang-orang selain dirinya
itulah yang ti-dak waras. Peramal Gendeng paling tidak suka kalau dikatakan
tidak waras. Amarah kakek yang selalu men-
genakan pakaian terbalik ini langsung meluap.
"Tengkorak Berjalan! Kalau tidak segera diberi
hajaran keras kau memang tidak mau pergi. Rontok
tu-lang-tulangmu!"
Tidak kelihatan kakek kecil kurus ini mengge-rakkan kaki,
tapi kedua tangannya telah berada dekat dengan dada Jerangkong Penjagal Nyawa.
Tentu saja untuk mengirimkan serangan ke arah dada Peramal Gendeng yang
memiliki tubuh separo tinggi tubuh Je-rangkong Penjagal Nyawa harus melompat ke
atas. "Uh...!"
Wajah Jerangkong Penjagal Nyawa berubah he-bat. Kedua
tangannya yang panjang dan kurus mirip batang bambu segera dijulurkan memapaki
serangan yang meluncur ke arahnya.
Pratttt!
Dua pasang tangan yang mengandung tenaga dalam tinggi
saling berbenturan dan melekat! Peramal Gendeng kaget bukan main. Jerangkong
Penjagal Nya-wa yang menyebabkan tangan mereka saling melekat. Kakek jangkung
itu menggunakan tenaga dalam yang menyedot. Peramal Gendeng tidak memiliki
pilihan lain kecuali mengerahkan tenaga dalam untuk menandingi serangan lawan.
Dalam waktu tak lama mulai terlihat keunggu-lan berpihak
pada Peramal Gendeng. Tangan Jerang-kong Penjagal Nyawa yang menjulur turun
karena Pe-ramal Gendeng bertubuh pendek tampak menggigil ke-ras. Dari kepalanya
mengepul uap yang semakin lama semakin tebal. Keringat laksana aliran anak
sungai mengucur deras pada wajahnya, membuat wajah yang selalu terlihat keruh
itu semakin tidak enak dipandang.
Keadaan Peramal Gendeng tidak separah Je-rangkong Penjagal
Nyawa. Wajah kakek kecil kurus ini pun penuh dengan cucuran peluh dan kedua
tangannya
menggigil, tapi tidak sedikit pun uap mengepul dari
ke-palanya.
Setan Gila terkekeh. Keadaan Jerangkong Pen-jagal Nyawa
amat mengkhawatirkan. Kekalahan sudah pasti berada di pihak kakek jangkung itu.
Dalam kea-daan lain Setan Gila akan merasa gembira jika melihat Peramal Gendeng
kalah, apalagi bila sampai tewas.
Setan Gila bukan orang bodoh. Jerangkong Pen-jagal Nyawa berani
bertindak nekat karena mengandal-kan dirinya. Seperti juga Setan Gila,
Jerangkong Pen-jagal Nyawa telah mengetahui kelihaian Peramal Gen-deng karena
dulu pernah bertarung dan mengalami ke-kalahan. Keberanian kakek jangkung itu
karena kebe-radaan Setan Gila di tempat ini.
Setan Gila adalah seorang yang memiliki kelici-kan luar
biasa. Keanehan wataknya kadang-kadang membuatnya bertingkah tak lazim. Kakek
pendek ge-muk ini tidak ragu-ragu untuk bertindak curang.
"Peramal Gendeng, kau tahu keadaanmu seka-rang. Sekali
aku ikut turun tangan, nyawamu akan me-layang saat ini juga. Tapi, itu tidak
akan kulakukan. Kau akan kubiarkan hidup dalam keadaan cacat. Se-dangkan monyet
peliharaan mu akan ku panggang hi-dup-hidup di depan matamu dan ku santap
bersama Jerangkong Penjagal Nyawa! Kecuali kalau kau mau berjanji atas nama
besarmu sebagai seorang tokoh per-silatan, maka aku akan menarik maksudku
itu!" Setan Gila memulai ancamannya seraya mengembangkan se-nyum.
"Tidak usah berbelit-belit, Setan Gila!" Peramal
Gendeng memaki.
Dari tindakan yang dilakukan Peramal Gendeng ini saja bisa
diketahui kalau kakek kecil kurus itu me-miliki tenaga dalam di atas Jerangkong
Penjagal Nyawa. Di saat tengah mengadu tenaga dalam merupakan pan-
tangan besar untuk berbicara! Di samping perhatian menjadi
terbagi aliran tenaga dalam pun berkurang. Pe-ramal Gendeng mampu melakukannya
dan tetap men-gungguli Jerangkong Penjagal Nyawa.
"Katakan di mana Iblis Buta, Cacing Kurus!"
Se-tan Gila cepat menyahut. "Aku yakin kau pasti menda-pat sedikit
jejaknya."
Peramal Gendeng tidak segera menjawab." Dia tercenung
sebentar.
"Kau memang memiliki otak licin seperti belut, Gendut!
Memang aku bisa melacak di mana tempat te-rakhir Iblis Buta berada. Kau dapat
mencarinya di tem-pat itu, Perut Gendut!"
"Ha ha ha...! Kau pintar mengetahui keadaan, Cacing
Kurus! Peramal Komeng! Begitu keadaan mem-buruk kau langsung membuka suara. Ha
ha ha...! Ayo, katakan di mana tempat terakhir Iblis Buta berada!" Se-tan
Gila tidak sabar lagi untuk segera mendapat jawa-ban.
"Di Gunung Cikuray!" jawab Peramal Gendeng.
"Ha ha ha...!" Setan Gila tertawa terbahak-
bahak. Ia gembira bukan main. "Selamat tinggal, Cacing
Kurus, Tengkorak Hidup! Aku pergi dulu. Kalian boleh meneruskan permainan
itu!"
Jerangkong Penjagal Nyawa yang sedikit pun ti-dak menyangka
akan terjadi seperti ini hanya bisa me-natap penuh perasaan geram pada Setan
Gila yang te-lah membalikkan tubuh dan siap melesat pergi. Tapi baru beberapa
langkah tubuhnya kembali dibalikkan. Dari jarak sekitar lima belas tombak
tangan kanan Se-tan Gila dijulurkan ke depan. Pergelangan tangannya kemudian
digoyang-goyangkan.
Tidak terdengar hembusan angin. Tapi, Jerang-kong Penjagal
Nyawa langsung menerima akibatnya. Dari balik punggungnya mengalir hawa hangat
yang te-
rus menerobos ke dalam pusar bergabung dengan tena-ga
dalamnya lalu meluncur lewat kedua tangan. Dengan tenaga bantuan itu Jerangkong
Penjagal Nyawa berhasil menahan tekanan Peramal Gendeng.
Di lain pihak, Peramal Gendeng merasakan adanya tekanan
kuat dari kedua tangan Jerangkong Penjagal Nyawa. Sebagai tokoh tua yang telah
kenyang pengalaman dia segera tahu Jerangkong Penjagal Nyawa mendapat bantuan
dari tangan Setan Gila yang dijulur-kan. Hal ini memaksa Peramal Gendeng
mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Setan Gila sendiri sehabis melakukan pertolon-gan melesat
cepat meninggalkan tempat itu dengan ta-wa bergelak. Dalam waktu singkat
tubuhnya telah tidak nampak lagi.
***
Dengan wajah berseri-seri Jumpena dan Dirgan-tara mendaki
lereng Gunung Cikuray. Medan yang cu-kup curam dan dipenuhi batu-batu karang
runcing yang dapat merusakkan alas kaki dan melukai telapak tidak menjadikan
hambatan. Mereka tetap dapat berlari dengan cepat seperti layaknya di tempat
datar.
Dua orang muda itu berlari berjajar. Dahi dan leher
Dirgantara telah dibanjiri peluh. Napasnya mulai memburu. Sementara Jumpena
masih terlihat segar. Hanya pada dahinya terlihat sedikit peluh. Napasnya biasa
saja.
Tiba-tiba, dengan masih mengayunkan kaki, Jumpena dan
Dirgantara saling berpandangan. Mereka mendengar bunyi bergemuruh dan getaran
kuat pada tanah yang mereka pijak.
"Hati-hati, Dirga! Aku yakin di atas sana terjadi
tanah longsor!" seru Jumpena, memperingatkan.
Dirgantara mengangguk. Pemuda berompi kulit harimau ini
memang mempunyai dugaan yang sama.
Sebentar kemudian, apa yang dikhawatirkan ke-dua pemuda ini
segera terlihat. Dari atas bergelindingan batu-batu besar dan kecil menuju ke
arah mereka. Be-berapa di antaranya ada yang sebesar gajah bunting!
Dirgantara dan Jumpena bersikap waspada. Be-tapa
berbahayanya apabila tertabrak batu-batu itu. Tu-buh mereka akan hancur seperti
dendeng! Maka, kedua pemuda itu melompat tinggi ke atas dan ketika melun-cur
turun menggunakan ujung kaki untuk menotok ba-tu-batu besar yang lewat di bawah
mereka. Dengan mempergunakan tenaga benturan antara ujung kaki dengan batu,
mereka melenting ke atas dan hinggap di atas batu yang lain. Cara ini membuat
Jumpena dan Dirgantara tetap dapat melanjutkan perjalanan meski jauh lebih
lama.
Ketika akhirnya kedua kaki Jumpena dan Dir-gantara menjejak
tanah, batu-batu telah berada jauh di bawah mereka. Kedua pemuda ini saling
berpandangan sejenak. Mereka menghapus peluh yang membasahi kening.
"Aku yakin runtuhan batu ini tidak terjadi den-gan
sewajarnya." Dirgantara memecah kebisuan dengan sebuah dugaan.
Jumpena mengangguk.
"Aku sependapat denganmu, Dirga. Aku pun menduga
demikian. Ada orang yang bermaksud meng-halangi kepergian kita. Entah apa
maksudnya. Yang je-las, orang itu berani mati. Kalau Naga Sakti Berwajah Hitam
sampai tahu, orang jahat itu akan mendapatkan hukuman setimpal atas
perbuatannya."
"Kau benar, Jumpena." Dirgantara mendukung ucapan
Jumpena. "Guru pernah bercerita kalau wilayah kekuasaan Naga Sakti
Berwajah Hitam meliputi seluruh
wilayah pegunungan ini!" "Ha ha ha...!"
Suara tawa keras bernada ejekan bergema ke se-luruh penjuru
tempat itu, menimbulkan gaung panjang yang nyaring. Jumpena dan Dirgantara
bergegas meno-leh. Saat itu mereka telah berada di bagian puncak yang datar.
Pada beberapa tempat terdapat gundukan-gundukan batu sebesar rumah. Dari salah
satu gundu-kan batu itu keluarnya suara tawa. Kedua orang muda ini segera
mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi bagian dalam tubuhnya.
"Tidak kusangka hari ini aku akan bertemu den-gan dua
ekor tikus dungu. Mudah-mudahan saja kedua tikus ini mampu memberikan
perlawanan yang berarti sebelum mati!"
Jumpena dan Dirgantara saling bertukar pan-dangan dengan
wajah merah dan sepasang mata berki-lat-kilat memancarkan kemarahan. Ucapan itu
jelas di-tujukan pada mereka.
Dibandingkan dengan Dirgantara, Jumpena memiliki hati yang
lebih mudah terbakar emosi. Dengan wajah merah padam kakinya diayunkan menuju
salah satu gundukan batu tempat suara itu berasal. Tapi, Dirgantara segera
menyentuh bahunya. Sayang, karena gerakan Jumpena, jari-jari tangan Dirgantara
tidak mengenai bahu melainkan dada kanan pemuda berpa-kaian kuning itu.
"Tunggu sebentar, Jumpena. Aku khawatir ini merupakan
jebakan."
"Ih...!"
Dirgantara terperanjat bukan main. Tahu-tahu Jumpena
membalikkan tubuh dan mengirimkan seran-gan maut dengan dua buah jari yang
mengeluarkan bunyi mencicit nyaring! Tapi, bukan karena itu saja. Pemuda
berompi kulit harimau ini merasakan jari-
jarinya menyentuh gumpalan daging kenyal dan lunak,
sehingga ia segera menarik jari-jarinya dengan terkejut. Saat itu pula dengan
kecepatan menakjubkan Jumpena menyerangnya. Untung saja Dirgantara telah lebih
dulu melempar tubuhnya ke belakang.
"Jumpena...! Apa kau sudah tidak waras...? Mengapa
menyerangku...?!" seru Dirgantara keras pe-nuh keheranan. Ia melempar
tubuhnya ke sana kemari mengelakkan serangan Jumpena. Pemuda berpakaian kuning
ini menggunakan ilmu 'Jari Maut' yang diwarisi Jumpena dari ayahnya, Pendekar
Jari Maut.
Plakkk, plakkk!
Dirgantara terpaksa menangkis ketika tidak memiliki
kesempatan mengelak lagi. Serangan Jumpena tidak bisa dibuat main-main. Pemuda
berompi kulit ha-rimau ini terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya.
Kendati demikian, tubuh Dirgantara tetap ter-huyung-huyung ke belakang dua
langkah. Sedangkan Jumpena terhuyung satu langkah.
Dirgantara merasakan tangannya yang diguna-kan untuk
menangkis terasa perih! Ada cairan hangat mengalir, tapi itu tidak
dipedulikannya. Seluruh perha-tiannya dicurahkan pada Jumpena.
"Apa maksudmu, Jumpena? Mengapa kau me-nyerangku
seperti ini...?!" tegur Dirgantara, tidak terli-hat kemarahan kecuali
tekanan yang meminta penjela-san.
Jumpena yang sudah siap kembali melancarkan serangan segera
menghentikan gerakannya. Ia merasa-kan nada kesungguhan dalam ucapan pemuda
berompi kulit harimau itu. Ditatapnya wajah Dirgantara lekat-lekat seakan ingin
mencari kebenaran dalam wajah jan-tan itu. Dirgantara yang merasa tidak
melakukan kesa-lahan membalas tatapan itu dengan sinar mata penuh pertanyaan.
Sesaat lamanya dua pasang mata saling berpan-dangan. Baru
kemudian Jumpena menghela napas be-rat. Sorot sepasang matanya melunak.
Wajahnya yang tegang mulai mencair.
"Tidak ada apa-apa, Dirga," ucap pemuda
berpa-kaian kuning itu. Suaranya terdengar kaku, tidak seper-ti biasanya.
"Lain kali jangan sembarangan menyentuh-ku. Aku mudah terkejut. Kalau
tidak, akan terjadi hal seperti ini lagi. Kau bisa memenuhi permintaanku ini,
Dirga?"
Meski sebenarnya merasa heran mendengar permintaan Jumpena,
Dirgantara mengangguk juga. Pemuda berompi kulit harimau ini mengangguk pelan.
"Aku berjanji, Jumpena. Tapi, harap kau ingat aku
tidak bermaksud jahat atau hendak mengejutkan-mu. Aku hanya khawatir kau
mendapat celaka terjebak orang yang bersembunyi di balik gundukan batu
itu."
***
7
Ucapan Dirgantara membuat Jumpena teringat kembali akan
persoalan yang tengah dihadapi. Dia me-nolehkan kepala ke arah gundukan batu
yang menjadi sumber suara tawa.
"Sudahkah urusan kalian beres, Tikus-tikus
Dungu?!"
Seperti tahu Jumpena telah mengalihkan perha-tian pada
dirinya, pemilik suara dari balik gundukan batu kembali terdengar.
"Untuk lebih meyakinkan kalian bahwa aku ti-dak
memandang tikus-tikus seperti kalian sebagai se-suatu yang perlu dikhawatirkan
dan untuk menghi-
langkan kesan aku telah membuat perangkap, maka aku akan
keluar dari persembunyian ku untuk men-jumpai kalian!"
Begitu ucapan itu selesai, Dirgantara serta Jum-pena
berdebar tegang. Mereka menduga-duga siapa so-sok di balik gundukan batu itu.
Meski dari nada sua-ranya mereka bisa menebak pemilik suara itu masih muda.
Jumpena dan Dirgantara saling berpandangan ketika mendengar
langkah-langkah kaki yang tidak rin-gan. Terdengar jelas oleh telinga Jumpena
dan Dirgan-tara yang tajam. Kenyataan ini sangat mengherankan mereka. Langkah
kaki yang tidak ringan itu menanda-kan pemiliknya tidak memiliki ilmu
meringankan tubuh yang tinggi. Ini berarti kepandaian orang itu tidak
ter-lampau tinggi.
Kenyataan itu mengurangi perasaan tegang Jumpena dan
Dirgantara. Tapi ketika pemilik suara te-lah keluar dari balik gundukan batu,
wajah Jumpena dan Dirgantara kembali tegang. Mata mereka menatap dengan
terbelalak lebar.
Sebenarnya tidak ada yang aneh dengan sosok yang keluar
dari balik gundukan batu. Seperti yang di-perkirakan Jumpena dan Dirgantara,
sosok itu memang masih berusia muda. Umurnya tak lebih dari dua puluh lima
tahun. Wajahnya tampan, namun pesolek seperti seorang wanita. Pakaiannya indah.
Bau harum menye-bar dari tubuhnya. Pemuda berpakaian indah ini ter-nyata
memakai harum-haruman seperti layaknya seo-rang perempuan.
Kalau melihat keadaan demikian saja Jumpena dan Dirgantara
tidak akan terkejut Tapi, terdapat hal lain. Di atas kepala pemuda berpakaian
indah berteng-ger sebongkah batu sebesar gajah. Pada bagian batu yang menempel
dengan kepala meruncing sepanjang sa-
tu jengkal. Pemuda berpakaian indah itu berjalan men-dekati
Jumpena dan Dirgantara tanpa menggoyangkan batu.
Batu sebesar itu tentu berat bukan main. Mem-butuhkan
tenaga yang amat besar dan kemampuan tinggi untuk bisa menjunjungnya di kepala.
Sekarang Jumpena dan Dirgantara mengerti mengapa langkah kaki pemuda berpakaian
indah terdengar jelas.
"Mengapa kalian bengong seperti sapi ompong,
Tikus-tikus Dungu!" pemuda pesolek mengeluarkan perkataannya dengan penuh
ejekan dan kesombongan.
"Tutup mulutmu, Banci!" Jumpena yang berwa-tak
berani tidak bisa berdiam diri lagi. Pemuda berpa-kaian kuning ini tidak
gentar. Meski tahu pemuda ber-pakaian indah merupakan lawan yang amat tangguh.
Kemampuan pemuda itu membawa batu telah menjadi bukti. Apalagi dengan masih
mampunya ia melontarkan kata-kata. Padahal berbicara membutuhkan tenaga da-lam,
sehingga akan mengurangi pengerahan tenaga yang tertumpah pada batu.
"Mulutmu terlalu tajam! Terima ini kalau
bera-ni!" Pemuda pesolek menggerakkan lehernya sedemikian rupa, seperti
seekor banteng hendak menancapkan tan-duknya.
Batu sebesar gajah itu terlempar dari kepala pemuda
berpakaian indah dengan mengeluarkan angin menderu keras. Setelah beberapa
tombak terlempar ke atas dan tenaga luncurannya habis, batu itu meluncur ke bawah.
Padahal, tepat di bawahnya berdiri Jumpena. Jumpena bersikap tenang. Ketika
batu itu me-
luncur semakin dekat, kedua tangannya diulurkan un-tuk
menyambut. Pemuda berpakaian kuning itu ternya-ta menangkis sambil mengikuti
ayunan batu ke bawah sehingga tidak mengadu kekuatan keras lawan keras.
Untuk menunjukkan kalau dia pun mampu me-
lakukan tindakan yang dilakukan pemuda berpakaian indah,
Jumpena mengangkat batu tinggi-tinggi di atas kepala dengan kedua tangan. Wajah
pemuda berpa-kaian kuning ini sampai merah padam karena beratnya batu.
Pemuda berpakaian indah tertawa mengejek. Di saat Jumpena
masih sibuk dengan batunya, dia melesat cepat mengirimkan serangan. Kedua
kepalannya yang terkepal dipukulkan bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan
pusar.
Jumpena terkejut sekali mendapat serangan itu. Saat
serangan dilancarkan dia tengah sibuk dengan ba-tu. Seluruh tenaganya
dikerahkan pada batu itu. Kalau dikendurkan, dia akan celaka. Tubuhnya akan
luluh lantak tertimpa batu!
***
"Manusia Curang!"
Dirgantara yang melihat ancaman maut terha-dap Jumpena
tidak kuat untuk tidak berteriak memaki. Pemuda berwajah persegi ini melompat
memapaki se-rangan licik pemuda berpakaian indah.
Plak, plak, plakkk!
Tubuh pemuda berpakaian indah dan tubuh Dirgantara
terjengkang ke belakang. Dirgantara lebih jauh. Bahkan, ketika menjejakkan kaki
di tanah, tu-buhnya terhuyung-huyung. Pemuda berompi kulit ha-rimau ini
merasakan tangannya sakit.
Sementara itu, sebelum pemuda berpakaian in-dah sempat
berbuat sesuatu, Jumpena mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melemparkan batu
ke arah pemuda pesolek itu.
Pemuda berpakaian indah tidak tinggal diam. Dia tahu
bertindak lambat sedikit saja akan mati ter-
gencet batu. Kedua tangannya yang terkepal di hentak-kan ke
arah batu.
Blarrr!
Bunyi keras langsung terdengar. Batu besar itu hancur
berkeping-keping terhantam pukulan jarak jauh pemuda berpakaian indah.
Saking kerasnya pukulan dan besarnya batu kepingan-kepingan
yang terjadi berpentalan ke sana kemari. Jumpena, Dirgantara dan pemuda berpakaian
indah berusaha mengelakkan kepingan-kepingan batu yang berpentalan. Tapi karena
banyaknya, tetap saja mengenai mereka dengan telak. Namun berkat tenaga dalam
yang mereka miliki hantaman tidak terlalu me-nimbulkan masalah. Sedangkan yang
menuju ke wajah dan anggota-anggota tubuh lemah lainnya dipapaki dengan tangan
dan kaki.
Pemuda berpakaian indah berang. Dia semula sudah
membayangkan Jumpena akan roboh terkena pukulan beruntunnya. Siapa kira
Dirgantara akan maju dan menggagalkannya.
Rasa berang membuat pemuda berpakaian in-dah segera
meloloskan sabuk yang melilit pinggang.
Sabuk berwarna keemasan dan terlihat jelas terbuat dari
benang-benang emas. Dengan sabuk di tangan diterjangnya Dirgantara yang berada
lebih dekat darinya.
Jumpena dan Dirgantara memang sudah siap tempur. Mereka
langsung mencabut senjata masing-masing. Dirgantara dengan sepasang bambunya.
Se-dangkan Jumpena dengan sepasang pisau putih meng-kilat. Pertarungan sengit
pun tak dapat dihindarkan.
Bunyi meledak-ledak dari sabuk pemuda berpa-kaian indah
bercampur bunyi mengaung dari bambu Dirgantara yang diselingi dengan bunyi
bercuitan nyar-ing dari pisau Jumpena meramaikan jalannya pertarun-
gan. Sabuk pemuda pesolek ternyata hebat bukan main. Sabuk
itu seakan telah menjelma menjadi seekor naga! Naga yang bermain-main di
angkasa, meliuk-liuk. Terkadang lemas seperti ular. Mematuk dan meluncur dalam
bentuk patukan-patukan ujung sabuk. Tak ja-rang menegang kaku seperti pedang.
Bahkan mampu mengeluarkan bunyi meledak-ledak nyaring ketika pe-muda berpakaian
indah memainkannya seperti me-mainkan sabuk. Di tangan pemuda pesolek sabuk itu
dapat dijadikan apa saja. Melibat, melilit untuk men-gambil senjata lawan pun
mampu!
Tapi lawan yang dihadapi pemuda berpakaian indah bukan
orang-orang sembarangan. Jumpena dan Dirgantara memiliki kepandaian tinggi.
Meskipun kalau menghadapi seorang demi seorang mereka bukan tan-dingan pemuda
pesolek itu.
Tapi karena mereka maju berdua perlawanan yang mereka
berikan jauh lebih dahsyat. Meski belum pernah bertarung bersama-sama,
Dirgantara dan Jum-pena mampu melakukan kerja sama yang baik.
Pemuda pesolek harus menerima kenyataan pa-hit. Dia
terdesak hebat. Kalau semula gulungan sabuk pemuda ini lebar sekarang telah
menyempit. Bahkan, serangan-serangannya tidak segencar sebelumnya. Dia lebih
banyak bermain mundur.
Dirgantara dan Jumpena gembira sekali. Keme-nangan telah
berada di depan mata. Maka, keduanya semakin bersemangat melancarkan serangan.
Sudah ti-dak sabar lagi mereka untuk meraih kemenangan.
Meskipun demikian, di dalam hatinya Jumpena maupun
Dirgantara merasa kagum. Kepandaian pemu-da berpakaian indah itu lebih tinggi
dari mereka. Diam-diam kedua orang muda ini menduga-duga murid atau anak
siapakah pemuda pesolek itu?
Tiba-tiba, Dirgantara dan Jumpena terperanjat.
Pemuda berpakaian indah yang semula sudah terjepit dan
hanya mampu bermain mundur secara tak terduga mampu melancarkan
serangan-serangan luar biasa! Se-rangan yang mampu membuat Jumpena dan
Dirganta-ra kelabakan. Bagian yang diserang adalah bagian-bagian terlemah pada
pertahanan mereka.
Semula Jumpena dan Dirgantara menduga hal itu terjadi
secara kebetulan. Tapi, ketika kenyataan itu berlangsung terus mereka mulai
merasa curiga. Dalam keadaan sangat terjepit tak mungkin pemuda pesolek bisa
memperbaiki keadaan secara tak terduga. Sehingga mampu berbalik mengancam dan
berada di atas angin.
Sambil terpontang-panting mengelak, Jumpena dan Dirgantara
yang menduga ada orang pandai yang telah membantu pemuda pesolek, mereka
mengedarkan pandangan. Dengan ilmu mengirim suara dari jauh orang itu dapat
memberikan petunjuk-petunjuk kepada pemuda pesolek.
Dugaan Jumpena dan Dirgantara ternyata bera-lasan. Beberapa
tombak dari tempat pertarungan berdiri seorang kakek bertubuh sedang. Wajahnya
hitam. Pa-kaiannya terbuat dari kulit ular. Kakek berwajah hitam ini mengenakan
ikat kepala dari bahan kulit ular pula.
Meski sekilas, Jumpena dan Dirgantara sempat melihat mulut
kakek berwajah hitam ini terkatup rapat-rapat. Tidak terlihat dia tengah
mengirimkan bisikan dari jauh.
Tapi, justru hal itu yang sangat mengejutkan Jumpena dan
Dirgantara. Guru dan ayah mereka telah bercerita kalau ilmu mengirim suara dari
jauh membu-tuhkan kekuatan tenaga dalam yang tinggi. Semakin tinggi tenaga
dalam pemiliknya semakin tidak terlihat cara ia mengirimkan bisikannya. Kakek
berwajah hitam ini mampu melakukannya tanpa bibirnya berkemik se-dikit pun.
Jumpena dan Dirgantara juga telah mendengar tentang
ciri-ciri yang dimiliki kakek berwajah hitam. Ci-ri-ciri yang ada menunjuk pada
Naga Sakti Berwajah Hi-tam. Tokoh tingkat tinggi kaum putih yang tengah
dica-ri-cari Jumpena.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa Naga Sakti Berwajah Hitam
membantu pemuda berpakaian indah? Jangan-jangan ada hubungan antara pemuda
berpa-kaian indah dengan Naga Sakti Berwajah Hitam?
Apa yang diduga Dirgantara dan Jumpena me-mang tidak
keliru. Pemuda berpakaian indah memang mendapat bantuan dari kakek berwajah
hitam. Dan, kakek itu memang Naga Sakti Berwajah Hitam.
Pemuda berpakaian indah mendengar bisikan-bisikan di
telinganya. Bisikan yang dikenal betul pemi-liknya. Maka, pemuda pesolek ini
menuruti. Hasilnya ternyata menakjubkan!
"Akh...!"
Jumpena memekik kesakitan. Sabuk pemuda pesolek dengan
gerakan tidak terduga meliuk menotok bahunya. Tubuhnya seketika terhuyung.
Dirgantara yang tidak ingin kawannya celaka langsung melompat ingin menolong.
Tapi, dengan sebuah tendangan kaki kanan pemuda pesolek berhasil melemparkan
Dirganta-ra ke belakang dan jatuh terguling-guling.
Kekhawatiran akan keselamatan Jumpena membuat Dirgantara buru-buru mematahkan kekuatan yang
membuat tubuhnya terlempar. Tapi ternyata tin-dakannya tetap terlambat. Pemuda
pesolek telah lebih dulu mengirimkan totokan ke bahu kanan Jumpena yang membuat
tubuh pemuda berpakaian kuning itu roboh terkulai.
"Dirga! Jangan pedulikan aku. Lari...!" Jumpena
yang tahu Dirgantara akan terus melanjutkan perlawa-nan segera mencegah.
Perlawanan Dirgantara tak akan
berarti. Bahkan akan mengakibatkan pemuda berompi kulit
harimau itu tertawan.
Dirgantara ternyata mau menerima saran Jum-pena. Dengan
terburu-buru tubuhnya dibalikkan. Dia melarikan diri meninggalkan tempat itu
dengan kaki terpincang-pincang. Dirgantara memang memiliki pan-dangan cukup
luas. Ia tidak hanya mementingkan pera-saan. Maka, dia pun bisa menerima saran
Jumpena. Sebelum kabur pemuda berwajah persegi ini masih sempat memungut
gulungan surat Jumpena yang terja-tuh sewaktu pemuda berpakaian kuning itu
didesak hebat oleh pemuda pesolek.
"Tidak usah dikejar, Lanang!" Seruan Naga Sakti
Berwajah Hitam membuat langkah kaki pemuda pesolek yang ternyata bernama Lanang
terhenti di tengah jalan. Tanpa berkata apa-apa dihampirinya tubuh Jumpena yang
tergolek di tanah.
"Hey! Bukankah kau orang yang berjuluk Naga Sakti
Berwajah Hitam...?!"
Kakek berpakaian kulit ular yang memang Naga Sakti Berwajah
Hitam menatap pemuda itu dengan so-rot mata menyelidik.
"Matamu ternyata awas juga, Nona Muda! Aku memang
orang yang berjuluk Naga Sakti Berwajah Hi-tam. Mau apa kau dan kawanmu itu
mendaki gunung ini?"
Tidak hanya Jumpena yang terperanjat. Lanang pun
membelalakkan sepasang matanya. Mereka terke-jut mendengar Naga Sakti Berwajah
Hitam menyapa Jumpena dengan panggilan 'Nona Muda'.
"Ayah..." Lanang menyapa Naga Sakti Berwajah
Hitam dengan suara tertahan. "Pemuda ini... seorang perempuan...?"
Naga Sakti Berwajah Hitam mengangguk.
"Dia memang seorang wanita, Lanang. Dia
mampu melakukan penyamaran dengan baik. Tapi, te-tap tidak
bisa menipu sepasang mataku! O ya, Nona Muda, sekarang jelaskan maksud
kedatanganmu ke tempat ini!"
Jumpena yang terkejut karena tidak menyangka Naga Sakti
Berwajah Hitam tahu rahasianya menatap wajah kakek berpakaian kulit ular itu
dengan pandan-gan berani. Pemuda ini memang seorang wanita yang menyamar
sebagai lelaki untuk mencegah banyaknya gangguan di perjalanan. Dengan
penyamaran seperti itu Jumpena merasa lebih bebas.
"Aku memang seorang wanita!" tandas Jumpena
tegas. "Aku menyamar sebagai lelaki karena ingin perja-lananku lebih
mudah. Dan, kedatanganku kemari di-utus oleh ayahku untuk menyampaikan surat
untuk-mu, Naga Sakti!"
"Hmh...! Siapa ayahmu...?!" dengus Naga Sakti
Berwajah Hitam dengan nada meremehkan.
"Ayahku berjuluk Pendekar Jari Maut!" jawab
Jumpena lantang.
"Ha ha ha...!"
Naga Sakti Berwajah Hitam tertawa bergelak. Dia geli
mendengar jawaban Jumpena yang penuh ke-banggaan ketika menyebut julukan
ayahnya.
"Jadi, kau putri Pendekar Jari Maut...? Ha ha ha...!
Ada urusan apa ayahmu berani menyuruhmu kemari untuk mengantarkan surat. Cepat
berikan surat itu...!"
"Bagaimana mungkin aku bisa memberikan su-rat kalau
keadaanku seperti ini?!" sentak Jumpena kes-al.
"Ooh..., begitu kiranya...?" Naga Sakti Berwajah
Hitam tertawa. "Biarlah kau kubebaskan. Lagi
pula kau tidak mungkin bisa berbuat sesuatu selama ada aku
di sini. Sekalian aku ingin melihat wa-
jah aslimu!"
Naga Sakti Berwajah Hitam mengibaskan tangan kanannya.
Terdengar bunyi angin bertiup pelan. Seketi-ka itu pula Jumpena merasakan jalan
darahnya kemba-li mengalir lancar. Tapi, kibasan tangan Naga Sakti Berwajah
Hitam membuat dandanan rambutnya beran-takan. Rambutnya yang semula digelung ke
atas terle-pas dari ikatan dan terurai.
Saat itu pula Lanang termangu-mangu.
"Kiranya dia seorang gadis yang luar biasa
can-tiknya...!" seru pemuda pesolek itu dengan suara terta-han.
"Matamu memang tajam, Lanang! Kau tahu ma-na wanita
cantik dan mana yang tidak. Tapi ingat, wani-ta seperti ini tidak menguntungkan
apabila dijadikan permainan seperti wanita-wanita lain yang biasa kau dapatkan.
Dia lebih baik kita pergunakan untuk me-nambah ilmu."
Lanang langsung membisu. Kelihatan jelas pe-muda pesolek
ini amat takut pada ayahnya.
Tanpa mempedulikan putranya lagi, Naga Sakti Berwajah Hitam
mengalihkan perhatian pada Jumpena yang telah berdiri tegak.
"Ayo, serahkan surat itu! Jangan coba-coba me-nipuku. Kau
akan mengalami nasib yang mengerikan!"
Jumpena yang memang memiliki watak pembe-rani hanya
tersenyum mengejek. Kemudian perhatian-nya dialihkan pada bagian dalam bajunya.
Tapi, beta-papun dijelajahi seluruh bagian dalam pakaiannya tidak ditemukan
surat itu.
"Jangan katakan kau tidak menemukan surat itu, Nona
Muda. Aku tidak pernah main-main!" Naga Sakti Berwajah Hitam membuka
ucapannya dengan su-ara angker.
"Barangkali saja terjatuh, Ayah." Lanang yang
merasa suka dengan Jumpena mengajukan pembelaan. "Atau,
barangkali kau kurang teliti mencarinya, Nona Manis? Mungkin aku perlu turun
tangan untuk mem-bantumu."
"Diam kau, Lanang!" bentak Naga Sakti Berwa-jah
Hitam.
Seketika pemuda pesolek itu membungkam mu-lutnya. Tapi,
hanya sebentar saja. Pemuda pesolek itu teringat sesuatu.
"Aku rasa dia berkata benar. Ayah. Tadi kulihat
kawannya memungut sesuatu di tanah. Pasti itu surat yang dimaksudnya!"
Naga Sakti Berwajah Hitam yang sudah bersikap mengancam
karena paling tidak suka ditipu mengendur kembali urat-urat di tubuhnya.
"Mungkin kau benar, Lanang. Tapi, biarlah un-tuk
sementara gadis ini menjadi tawanan kita!"
Naga Sakti Berwajah Hitam lalu melambaikan tangan kanannya.
Kelihatan sembarangan, tapi Jumpe-na yang mencoba untuk mengelak tidak mampu.
Tubuh gadis berpakaian kuning ini ambruk ke tanah. Ia terke-na totokan jarak
jauh Naga Sakti Berwajah Hitam yang mengenai bahu kanan.
"Bawa dia, Lanang!"
Naga Sakti Berwajah Hitam memberikan perin-tah pada
putranya. Kemudian, membalikkan tubuh dan meninggalkan tempat itu.
"Tapi ingat, jangan berbuat macam-macam. Atau kau akan
kehilangan kepalamu!"
Lanang tidak berani banyak bicara. Tanpa suara sedikit pun
dari mulutnya dipanggulnya tubuh Jumpe-na. Pemuda pesolek ini melangkah
mengikuti ayahnya.
***
8
"Jumpena.... Ah... betapa malang nasibmu,
Sa-habatku...!" Dirgantara mengeluh seraya menyandarkan tubuh di sebatang
pohon besar. Pemuda berompi kulit harimau ini telah berada jauh dari Puncak
Gunung Ci-kuray. Wajahnya dibanjiri peluh karena terus-menerus berlari.
Dengan napas yang masih memburu Dirgantara mengurut kakinya
yang tertendang. Pemuda berompi kulit harimau ini meringis kesakitan. Tapi
terus saja di-urutnya.
Beberapa saat kemudian, Dirgantara menera-wang ke angkasa.
Tatapannya kosong. Yang teringat pemuda berwajah persegi ini hanya Jumpena.
Keane-han sikap Jumpena membuat Dirgantara tercenung.
Dirgantara merasa bingung dan bertanya-tanya dalam hati.
Mengapa dia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam dadanya setelah
berpisah dengan Jumpena? Mengapa sikap, senyum, dan cara pemuda berpakaian
kuning itu tertawa terbayang-bayang dalam matanya. "Hhh...!"
Dirgantara menghela napas berat. Ternyata dia menyukai
Jumpena, bahkan terlalu menyukai, seba-gaimana sukanya seseorang terhadap lawan
jenisnya. Padahal Jumpena seorang lelaki! Kalau pemuda berpa-kaian kuning itu
tahu tentu Dirgantara akan ditinggal-kan setelah terlebih dulu dimaki
habis-habisan.
"Rupanya aku telah gila...!" Dirgantara mengeluh
dengan suara tertahan. Kedua tangannya mendekap wajah. Pemuda berompi kulit
harimau ini kelihatan ter-pukul sekali menyadari keanehan perasaannya.
Tiba-tiba Dirgantara teringat surat milik Jumpe-na yang
tadi berhasil dibawanya kabur. Dipandanginya
surat yang tergenggam di tangan kanan setelah diambil dari
selipan pinggangnya. Batin pemuda berwajah per-segi ini berperang. Di satu
pihak ingin membuka surat itu, dan di lain pihak berusaha melarangnya karena
hal itu bukan urusannya.
Akhirnya, setelah beberapa saat termangu-mangu ragu
Dirgantara memutuskan untuk membuka gulungan surat Siapa tahu ditemukannya
suatu petun-juk untuk menemukan Jumpena. Dengan harap harap cemas pemuda
berompi kulit harimau ini membuka gu-lungan surat.
Sahabatku Naga Sakti Berwajah Hitam. Bersamaan suratku ini
aku ingin memberitahu-
kan kepadamu kalau aku berniat mengikat hubungan
kekeluargaan denganmu. Kebetulan aku mempunyai seorang putri, Jumini, namanya.
Dialah yang membawa suratku ini untuk kuserahkan padamu. Kudengar kau memiliki
seorang putra. Aku bermaksud menjodohkan-nya dengan putramu. Tentu saja
sebelumnya kita harus mengatur pertemuan agar tidak terjadi salah paham. Bi-ar
mereka saling mengenai lebih dulu.
Untuk semua itu kupercayakan padamu, So-batku. Aku hanya
tahu hasilnya. Tak lama lagi aku akan berkunjung ke tempatmu, untuk melihat
hasilnya. Sela-mat berusaha, Sobatku! Semoga berhasil.
Kawanmu, Pendekar Jari Maut.
Sepasang mata Dirgantara membelalak lebar. Banyak hal-hal
mengejutkan yang diterimanya. Keterke-jutan pertama yang bercampur kegembiraan
adalah Jumpena ternyata seorang wanita! Seorang perempuan yang pasti cantik
jelita. Ia bernama Jumini.
Tapi, keterkejutan lain yang menyakitkan hati Jumini
ternyata telah dijodohkan oleh Pendekar Jari
Maut, dengan putra Naga Sakti Berwajah Hitam! Ada rasa
sakit yang menikam hati pemuda berompi kulit ha-rimau ini.
"Jumini...!"
Bagai orang kurang ingatan, Dirgantara berseru keras
memanggil nama Jumpena yang sebenarnya Ju-mini. Dirgantara mengepalkan kedua
tangannya dan menengadahkan kepala menatap langit.
"Aku akan membebaskan mu, Jumini...! Apa pun yang akan
terjadi kau harus bebas...!"
Setelah mengeluarkan perkataan keras ini, Dir-gantara
melesat cepat menuruni lereng gunung. Pemu-da ini menyadari benar apabila
menolong Jumini sendi-rian tidak akan berhasil. Kemungkinan besar ia hanya akan
menyerahkan nyawa. Maka, cara lain akan ditem-puhnya.
***
"Tidak kelirukah kau, Dirga?!" Pertanyaan yang
bernada tidak percaya itu dikeluarkan seorang kakek berpakaian sederhana.
Tubuhnya kekar dan berkulit hitam legam. Kulit orang yang
terbakar matahari. Usia kakek ini belum ter-lalu tua, tapi seluruh rambutnya
telah memutih.
Kakek berambut putih itu berjalan mondar-mandir di depan
seorang pemuda berompi kulit hari-mau yang tengah duduk bersila dengan sikap
hormat Pemuda ini adalah Dirgantara.
"Aku yakin sekali, Guru," Dirgantara menyahut
pelan tapi penuh keyakinan. "Bukan hanya ciri-cirinya saja yang sesuai.
Kepandaiannya juga tinggi. Dan lagi, bukankah tokoh yang memiliki ciri-ciri
demikian dan tinggal di tempat itu hanya Naga Sakti Berwajah Hitam, Guru?"
Kakek berambut putih yang bukan lain Petani Berambut Putih,
guru Dirgantara, menghela napas be-rat. Dia berdiri di depan muridnya dengan
dahi berker-nyit dalam.
"Meskipun demikian, kau tidak boleh bertindak gegabah,
Dirga. Naga Sakti Berwajah Hitam terkenal se-bagai tokoh tingkat tinggi
golongan putih. Tak mungkin beliau bertindak serendah itu. Menghina dua orang
muda. Apalagi sampai menahan keturunan Pendekar Jari Maut. Kau tahu, pendekar
itu adalah sahabat karib Naga Sakti Berwajah Hitam. Jadi, rasanya mustahil
ka-lau dia melakukan hal sekejam itu. Aku yakin ada se-suatu yang tidak wajar
di balik semua ini."
"Lalu..., apa yang harus kita lakukan, Guru?
Mendiamkan saja Jump... Jumini ini dalam bahaya?" Dirgantara hampir
keseleo lidah menyebut nama Jum-pena.
"Tentu saja tidak!" jawab Petani Berambut Putih
setelah tercenung sebentar. "Kurasa lebih baik kau kembali ke tempat
Jumini ditawan. Tapi, jangan bertin-dak sembarangan. Aku sendiri yang akan
pergi men-jumpai Pendekar Jari Maut untuk mengabarkan berita ini. Dialah yang
paling berkepentingan dalam masalah ini. Kau mengerti, Dirga? Ingat, jangan
bertindak gega-bah. Masalah ini belum jelas. Siapa tahu pelaku semua ini bukan
Naga Sakti Berwajah Hitam, melainkan orang-orang yang sengaja ingin menjatuhkan
namanya. Kita jangan sampai terkecoh.
"Aku mengerti. Guru. Tapi..., apakah rencana Guru
tidak terlalu memakan waktu? Bagaimana kalau Jumpena telah lebih dulu
dicelakai?" Dirgantara men-gutarakan kekhawatirannya.
"Berdoalah agar hal itu tidak terjadi, Dirga."
Pe-tani Berambut Putih menyambuti dengan tenang. "Apa-bila itu terjadi,
anggap saja memang sudah seharusnya
terjadi. Kewajiban seorang manusia hanya berusaha dan
berikhtiar, tapi Tuhan-lah yang menentukan.
Dirgantara tidak berani memberikan bantahan. Dia menyadari
kebenaran ucapan gurunya. Tambahan lagi, dia tidak berani berdebat lagi.
Tindakan itu berarti tidak mempercayai keputusan yang diambil Petani Be-rambut
Putih.
"Agar kau tidak menjadi resah, mungkin perlu
kuberitahu, Dirga," sambut Petani Berambut Putih yang mengetahui keresahan
hati muridnya. "Tempat tinggal Pendekar Jari Maut berada di tengah
perjalanan menu-ju tempat tinggal Naga Sakti Berwajah Hitam. Hanya menyimpang
sedikit. Jadi, tidak terlalu membuang wak-tu lama."
"Terserah Guru saja. Aku percaya Guru men-gambil
keputusan yang terbaik." Dirgantara pasrah.
"He he he....!" Petani Berambut Putih tertawa
lu-nak. "Kau jangan khawatir, Dirga. Percayalah padaku. Aku tak akan
membiarkan calon mantuku celaka."
"Apa maksudmu. Guru? Calon mantu?" Dirgan-tara
tersentak kaget. Ditatapnya wajah Petani Berambut Putih dengan mata
bertanya-tanya.
"Tidak usah menyembunyikan rahasia hatimu, Dirga.
Sejak kau berusia kurang dari sepuluh
tahun, aku telah mengenai betul watakmu. Aku pun pernah
muda. Pernah merasakan jatuh cinta. Kau me-mang tidak salah pilih. Keturunan
Pendekar Jari Maut memang pantas untuk menjadi jodohmu. Biar aku yang akan
membicarakan masalah ini dengan Pendekar Jari Maut. He he he...! Aku sudah
ingin melihat kau meni-kah dan mempunyai anak. Kau sudah cukup umur,
Dirga." "Guru...! Tapi...."
"Jangan katakan kau tidak mencintainya, Dir-ga!"
selak Petani Berambut Putih, tak sabar. "Kekhawa-tiranmu yang terlalu
berlebihan atas nasib gadis itu te-
lah menjadi bukti nyata kalau kau mencintainya. Atau..., jangan-jangan
gadis itu yang tidak mencintai-mu? Kalau memang benar demikian, dia tentu
seorang gadis yang bodoh. Apa lagi yang kurang dari dirimu. Tampan, gagah,
memiliki kepandaian tinggi."
"Tapi Guru..., ayahnya...."
"Jangan kau pikirkan ayahnya!" potong Petani
Berambut Putih. "Ayahnya biar aku yang urus. Yang penting, katakan padaku
apakah gadis itu juga mencin-taimu? Setidak-tidaknya menunjukkan tanda-tanda
menyukai. O ya, siapa nama gadis itu, Dirga? Aku lupa lagi."
"Jumini, Guru," jawab Dirgantara dengan hati
berdebar tegang. Dia ingin mengatakan pada gurunya kalau Jumini telah
dijodohkan dengan putra Naga Sakti Berwajah Hitam. Tapi, Petani Berambut Putih
tidak memberikan kesempatan. Dirgantara pun memutuskan untuk membiarkan saja
hal itu.
"O ya, Dirgantara. Bagaimana tanggapan Jumini selama
kau melakukan perjalanan bersamanya?"
"Baik sekali. Guru," kemudian Dirgantara
men-ceritakan semua kejadian yang dialaminya sehingga bertemu dengan Jumini.
Petani Berambut Putih kelihatan terkejut men-dengar pengalaman
Dirgantara. Beberapa kali seruan kaget keluar dari mulutnya.
"Tengkorak Darah...," desis Petani Berambut
Pu-tih hampir tidak percaya. "Sudah lama aku mendengar julukannya. Tapi,
dia lenyap setelah bertemu dengan Ib-lis Buta. Entah apa yang terjadi antara
mereka. Iblis Buta pun demikian. Julukannya lenyap begitu saja dari dunia
persilatan. Kabarnya tokoh ini tak pernah kenal ampun. Tidak hanya tokoh-tokoh
golongan hitam saja yang dimusuhi. Tokoh golongan putih pun demikian. Banyak
tokoh-tokoh golongan hitam yang tewas di tan-
gannya.
Mengingat kekejamannya, orang-orang mema-sukkannya dalam
kelompok golongan hitam. Padahal, kebanyakan korbannya adalah orang-orang
golongan hitam. Entah apa yang dicarinya."
Dirgantara membiarkan saja gurunya tengge1am dalam alun
pikirannya. Sampai akhirnya kakek itu te-ringat sendiri.
"Sudahlah, Dirga. Kurasa lebih baik kau cepat pergi.
Hanya pesanku, jangan bertindak gegabah. Usa-hakan jangan turun tangan kecuali
terpaksa sekali. Tunggu kedatanganku dengan calon mertuamu, Pende-kar Jari
Maut. Nah, sekarang pergilah...!"
Setelah berkata demikian, kakek berambut putih ini
membalikkan tubuh dan masuk ke dalam ruangan lain. Ruangan yang dijadikan
tempatnya menyepi.
"Aku pergi dulu, Guru."
Dirgantara menghormat sekali lagi sebelum me-lesat pergi.
Dia yakin, gurunya akan pergi juga tak lama sepeninggalnya. Ada sedikit
perasaan lega dan girang di hati Dirgantara. Gurunya akan turun tangan untuk
menyelamatkan Jumini. Dan, akan berbicara dengan Pendekar Jari Maut mengenai
perjodohannya dengan Jumini. Meski Jumini telah dijodohkan dengan putra Naga
Sakti Berwajah Hitam, tapi maksud gurunya sedi-kit banyak menimbulkan harapan
di hati Dirgantara. Harapan yang membuatnya selalu menyenangkan Ju-mini. Bahkan
di sepanjang perjalanan, Dirgantara membayangkan bagaimana rupa gadis
berpakaian kun-ing itu dalam dandanan aslinya. Tidak dalam penyama-ran sebagai
seorang pemuda.
Dugaan Dirgantara ternyata tidak keliru. Sepe-ninggal
dirinya, Petani Berambut Putih melesat mening-galkan tempat kediamannya. Ia
bermaksud mencari Pendekar Jari Maut untuk mengabarkan perihal Jumi-
ni.
Berhasilkah Dirgantara membebaskan Jumpena yang ternyata
seorang gadis bernama Jumini? Benarkah seperti yang dikatakan Peramal Gendeng,
Iblis Buta se-benarnya tidak pernah ada? Siapa pulakah Tengkorak Darah?
SELESAI
No comments:
Post a Comment