SENGKETA GUCI PUSAKA
1
Seorang kakek berpakaian longgar kuning membuka sepasang
matanya yang semula terpe-jam. Kemudian, tubuhnya yang kecil kurus bang-kit
berdiri dari sikapnya yang tadi bersemadi. Ka-kek yang wajahnya dipenuhi bulu-bulu
kumis, jenggot, dan cambang putih lebat itu berusia tak kurang dari seratus
tahun. Ketika berdiri tegak, tampak kalau tangan kirinya buntung. Sehingga
lengan baju yang kosong tersampir lemas di sisi pinggang.
"Aneh...!" gumam kakek berbaju kuning he-ran
dengan berkerut.
Sambil berjalan mondar-mandir di dalam sebuah ruangan gua
tempatnya berlindung, dia menggumamkan kata-kata bernada heran. Ruan-gan yang
tidak terlalu luas, membuat kakinya ti-dak sampai melangkah banyak ketika
sampai di bagian sisi salah satu dinding gua.
"Mengapa batin ku tak tenang?! Mengapa aku sulit
memusatkan pikiran untuk bersemadi?! Ada firasat apa, ya?!"
Dahi kakek berpakaian kuning ini berker-nyit Ditatapnya
langit-langit ruangan beberapa saat.
Perasaannya saat ini benar-benar gelisah. Karena tidak
mampu mengusir rasa gelisah
di hatinya, kakek itu pun mengayunkan kakinya ke mulut
lorong yang hanya satu-satunya. Setelah melalui lorong yang berliku-liku dia
tiba di luar
gua.
Setelah matanya beredar ke sekeliling, ka-kek kecil kurus
ini menghembuskan napas pan-jang-panjang. Seakan-akan dia hendak membuang
kegelisahan yang menjumpai di dalam dada. Angin sejuk silir-silir membuat
dahinya nyaman. Tapi kegalauan hatinya tak juga lenyap.
Disertai tanda tanya dalam hati kakek itu mengarahkan
pandangan ke depan. Yang terlihat hanya pepohonan dan sedikit tanah yang
ditum-buhi rumput hijau menghampar di kejauhan. Tapi tak lama dia menikmati
pemandangan itu di ke-jauhan mulai tampak satu sosok berlari secepat kilat ke
arahnya.
Kakek berpakaian kuning menyipitkan ma-tanya untuk lebih
memperjelas pandangan. Sepa-sang matanya tampak mencorong laksana mata kucing
di kegelapan. Ketika jarak sosok itu tinggal belasan tombak, dia tersenyum
lebar. Memang, dia kenal dengan sosok yang tak lain wanita muda berpakaian
merah yang tengah menuju ke arah-nya.
Tapi ketika wanita muda berusia lebih dari dua puluh tahun
itu tiba, senyum kakek kecil ku-rus itu lenyap.
"Aku datang untuk pamit padamu, Eyang Sangga
Langit," ujar gadis berpakaian merah den-gan suara manja. Kepalanya
menunduk menunggu jawaban. Padahal laki-laki tua yang dipanggil Eyang Sangga
Langit sebenarnya hendak menga-jukan pertanyaan lebih dulu.
"Kau..., ingin pergi sekarang, Witari?!" tanya
kakek berpakaian kuning. Seketika, entah bagai-mana
perasaannya jadi berguncang. Sebuah pera-saan aneh yang membuat suaranya
seperti terce-kat di tenggorokan. Buru-buru dia menekan pera-saannya.
Witari agaknya tidak tahu kegalauan hati gurunya. Gadis ini
lebih banyak menundukkan kepala, sehingga tak tahu kalau mata kakek di
ha-dapannya mulai berubah. Bahkan kini merayapi sekujur tubuh Witari yang
montok penuh minat.
Eyang Sangga Langit sebenarnya tahu ten-tang ketidakberesan
sikapnya. Bahkan samar-samar tahu kalau ada sebuah keanehan yang me-lingkupi.
Dia telah sering melihat muridnya itu yang bukan saja bertubuh montok
menggiurkan, tapi juga berwajah cantik. Dan selama ini sedikit pun tidak pernah
timbul perasaan aneh di hatinya.
Sekarang, begitu melihat Witari, kenapa pe-rasaan aneh yang
menjerat kelaki-lakiannya tim-bul? Witari saat ini terlihat demikian menarik.
Bentuk tubuh, wajah, rambut, pakaian, bahkan suaranya membuat hasrat kejantanan
Eyang Sangga Langit tergoda. Bahkan sampai-sampai melenyapkan akal sehatnya.
Yang dipikirkan hanya satu, bagaimana caranya agar dapat me-lampiaskan hasrat
yang mendadak berkobar-kobar pada Witari.
"Benar, Eyang," jawab Witari sambil men-gangkat
kepala. Dan, segera kepalanya ditunduk-kan kembali ketika beradu pandang dengan
mata gurunya yang juga tengah menatap dengan sinar mata mengundang. Seakan-akan
Witari hendak di-
telanjangi bulat-bulat
Witari sendiri adalah gadis hijau. Tapi, na-lurinya
membisikkan adanya keganjilan dalam si-kap Eyang Sangga Langit.
Perasaan aneh ini membuat Witari kelim-pungan sendiri.
Gadis ini hendak meninggalkan tempat ini secepatnya. Namun sebelum niatnya
terlaksana, tiba-tiba jantungnya berdetak jauh le-bih kencang. Malah tanpa
sadar, matanya balas menatap Eyang Sangga Langit dengan sorot me-nantang!
"Kurasa...!"
Suara Eyang Sangga Langit bergetar hebat karena cekaman
perasaan aneh yang semakin menguat. Napasnya memburu hebat seperti habis
berlari jauh.
"Tundalah dulu kepergianmu, Witari. Ada sesuatu yang
ingin kuwariskan padamu. Aku ya-kin kau..., pantas memiliki ilmu 'Urai Raga'
milik-ku....
Maka lebih baik masuklah dulu ke dalam gua. Aku ingin
mewariskannya padamu.... Bagai-mana?!" lanjut Eyang Sangga Langit.
Witari semakin dirasuki perasaan aneh da-lam dirinya.
Bahkan tiba-tiba di hatinya timbul ge-jolak ingin bercinta. Begitu kuat
perasaan itu men-jeratnya, sehingga akal sehatnya pun sirna. Dia berusaha
menepis, tapi tak kuasa. Dalam benak-nya hanya ada satu pikiran bagaimana
menyalur-kan hasrat aneh yang melonjak-lonjak tanpa ken-dali.
Itulah sebabnya, tanpa ragu-ragu lagi Witari mengangguk.
***
"Ah...!"
Terdengar seruan kaget hampir berbareng dari mulut Witari
dan Eyang Sangga Langit. Masih dengan raut wajah kaget dan tidak percaya,
mere-ka bagai saling berlomba menyambar pakaian masing-masing dan beringsut ke
sisi dinding yang berlainan.
"Oh.... A... apa yang telah terjadi pada-ku...?!"
rintih Witari.
Gadis itu mendekap mulutnya sendiri sam-bil memandang Eyang
Sangga Langit, kemudian beralih ke tubuhnya sendiri. Seperti hampir tak
percaya, dia mendapati dirinya dalam keadaan ti-dak tertutup sehelai benang pun
bersama gurunya yang seharusnya sangat pantas bila menjadi kakek buyutnya.
Tersirat nada kengerian dan kehancu-ran hati dalam gadis itu. Apalagi ketika
melihat cairan merah di tempat tubuhnya tadi tergolek. Witari tahu, apa artinya
ini. Darah keperawanan!
Pikiran Witari mulai jernih. Samar-samar baru disadari,
kalau dirinya telah melakukan per-buatan terkutuk tanpa disadarinya. Saat itu
juga, hancur luluhlah hatinya. Tanpa dapat dicegah lagi, air matanya bergulir
deras di pipinya. Tubuhnya sampai terguncang-guncang karena isak tangis.
Kesedihan yang mendalam membuat Witari tidak ingat lagi untuk berpakaian.
Sementara itu, Eyang Sangga Langit hanya terpaku memandangi
Witari. Dia juga seperti tak percaya dengan apa yang telah diperbuatnya. Sete-
lah gejolak perasaan aneh itu terlampiaskan, akal sehatnya
baru timbul secara penuh! Bahwa dia se-sungguhnya telah melakukan perbuatan
hina ber-sama muridnya. Dan yang merayapi pikiran dan hatinya kini hanyalah
penyesalan seumur hidup!
"Witari...! Mengapa kita sampai berbuat se-perti ini?!
Ah...! Betapa terkutuknya aku!" sesal Eyang Sangga Langit, memaki-maki
dirinya sendi-ri. Nada suaranya sarat penyesalan yang meng-gumpal.
Kata-kata kakek itu membuat tangis Witari berhenti.
Sepasang matanya memancarkan keben-cian, ketika menatap wajah gurunya.
"Manusia terkutuk! Sampai hati kau nodai muridmu sendiri! Aku yakin kau
menggunakan ilmu siluman untuk memperdaya diriku, tubuhku dapat kau nikmati!
Manusia biadab! Terkutuk! Jahanam!" maki Wita-ri. Suaranya serak karena
isak tangis.
Entah mendapat keberanian dari mana, ga-dis itu menatap
penuh kebencian pada Eyang Sangga Langit Lalu dia segera mengenakan pa-kaian.
"Aku tidak akan melupakan peristiwa ini!" ancam
Witari.
Tanpa memberi kesempatan pada Eyang Sangga Langit untuk
menjelaskan, gadis itu mele-sat cepat keluar gua.
"Witari...! Tunggu...!" seru Eyang Sangga Langit,
berusaha mencegah.
Tetapi Witari tidak mempedulikan seruan gurunya lagi. Bahkan
larinya dipercepat.
Kakek kurus bertangan buntung ini sama
sekali tidak berusaha mengejar. Meskipun dengan kepandaian
amat mudah menyusul Witari, namun apa gunanya? Toh, gadis itu tengah terguncang
batinnya. Dia tidak akan bisa dibujuk. Mungkin dengan membiarkannya dulu, gadis
itu punya ke-sempatan untuk berpikir dan mengerti kalau per-buatan terkutuk
tadi terjadi tanpa disadari.
Eyang Sangga Langit menghela napas berat. Batinnya terpukul
atas kejadian yang di-
alami tadi. Wajahnya terlihat layu tidak berseri! Hanya
sepasang matanya yang mencorong tajam, menerawang ke dinding gua.
Peristiwa tadi memang membuat hati Eyang Sangga Langit
terguncang. Dan ini juga membuat nya termenung. Ketermenungan lelaki tua
bertan-gan buntung itu baru lenyap ketika terdengar bunyi langkah kaki dari
mulut lorong ruangan. Dia berharap, sosok yang datang itu Witari. Siapa tahu
gadis itu mengerti, apa yang sebenarnya terjadi.
"Eyang...," panggil orang yang baru datang.
Harapan Eyang Sangga Langit terkabul. Di
mulut lorong ruangan berdiri tubuh ramping ber-pakaian
merah, berwajah cantik manis. Hanya sa-ja wajahnya muram. Sedangkan sepasang
ma-tanya sembab karena tangis.
"Witari...," sambut Eyang Sangga Langit, se-rak
penuh rasa iba dan ham mengingat nasib yang menimpa gadis muridnya.
Witari menghambur. Langsung dia berlutut di bawah kaki
kakek berpakaian kuning itu. Tan-gisnya kontan bagai bendungan jebol.
Sementara itu, Eyang Sangga Langit segera
mengulurkan tangan, membelai rambut Witari pe-nuh rasa haru
dan sayang.
Tangis Witari semakin menjadi-jadi. Tubuh-nya yang berlutut
tampak terguncang-guncang ke-ras.
"Semua ini salahku, Witari! Aku pasrah dan rela atas
keputusanmu. Aku maklum bila kau membenci ku. Bahkan bila kau ingin membunuh-ku
pun, aku siap," tandas Eyang Sangga Langit bergetar.
"Tidak, Eyang. Semua ini bukan salahmu. Aku yakin ada
pihak ketiga yang sengaja menda-langi terjadinya peristiwa ini. Dan kita tidak
tahu, dengan cara apa dia melakukannya. Hhh...! Aku akan cari orang itu, Eyang.
Aku ingin membalas tindakannya, sehingga membuat kita terperosok ke dalam
jurang kehinaan. Sekarang juga, aku ingin mohon diri, Eyang," ujar Witari
terbata-bata.
Eyang Sangga Langit tersenyum, walau se-perti dipaksakan.
Hatinya memang lega melihat Witari menyadari kekeliruannya. Tapi perasaan sedih
dan terguncang akibat perbuatan itu, mem-buat senyumnya tampak yang keluar dari
hati lu-ka.
"Syukurlah kalau kau menyadarinya, Wita-ri. Kalau saja
tubuhku tidak sereot ini, aku pun akan ikut mencari pelakunya. Sayang, tubuh
renta ini tidak bisa lagi diajak bepergian jauh," keluh Eyang Sangga
Langit.
"Eyang tidak perlu turun tangan! Cukup aku sendiri
yang akan mencari penjahat keji itu dan akan menghukumnya!" tandas Witari.
"Itu bagus!" puji Eyang Sangga Langit. "Kau
berhak dan wajib untuk melakukannya!"
"Tapi, Eyang...," tukas Witari ragu-ragu.
"Aku merasa kepandaian yang kumiliki masih ren-dah. Tenaga dalamku juga
tak begitu kuat Aku ya-kin, akan dapat mengalahkan penjahat cabul itu bila
berhasil kutemukan! Dan dia tentu memiliki kemampuan tinggi, karena telah
berhasil memper-daya kita!"
"Kau terlalu merendahkan kepandaian yang telah kau
miliki, Witari," tegur Eyang Sangga Lan-git. "Jangan dikira
kepandaianmu rendah. Perlu diketahui, kau adalah murid terpandai di antara
murid-muridku pendahulu. Kaulah satu-satunya yang mewarisi sebagian besar
ilmuku. Karena, aku tidak ingin malu terhadap ayahmu yang telah me-nitipkan mu
untuk ku didik. Bukannya sombong, hanya bisa dihitung dengan jari tokoh
persilatan yang mampu bertahan lima puluh jurus bila berta-rung denganku! Oleh
karena itu, kepandaian yang kau miliki tak akan kalah dengan pendekar mana pun,
Witari! Namun, biarlah. Agar kau lebih per-caya diri, ilmu 'Urai Raga' ku yang
semula tak akan kuturunkan pada orang lain, akan kuberikan padamu. Bahkan aku
berkenan untuk menambah tenaga dalammu! Sekarang duduklah bersila di hadapanku
pada jarak tiga tombak!"
Witari cepat melaksanakan perintah gu-runya.
"Ingat, Witari. Apa pun yang kau rasakan, jangan
melakukan tindakan apa pun! Mengerti?!"
Witari mengangguk.
Eyang Sangga Langit duduk bersila. Sepa-sang matanya
dipejamkan. Jari-jari tangannya yang terbuka lurus, dirangkapkan di depan dada.
Sesaat kemudian sekujur tubuhnya menggigil se-perti terkena demam tinggi. Dan
perlahan-lahan, sinar kebiruan melingkupi tubuhnya.
Getaran di tubuh Eyang Sangga Langit se-makin menghebat
membuat tubuhnya terlonjak-lonjak ke atas seperti hendak melayang ke udara.
Kemudian dengan gerak menghentak, kedua ja-rinya yang masih dirangkapkan
ditusukkan ke de-pan.
Saat itu juga, selarik sinar kebiruan melun-cur ke arah
tubuh Witari. Ketika mengenai tubuh-nya, gadis itu merasakan bagian pusarnya
bergo-lak. Terasa ada sesuatu yang berputar keras di bawah pusarnya! Sehingga
membuat tubuh Witari terguncang-guncang.
Di lain pihak, Eyang Sangga Langit dengan gerakan cepat
menarik kembali kedua tangannya ke depan dada. Berbareng dengan itu, kakek ini
segera meniup!
Untuk kedua kalinya Witari terperanjat Se-mua bulu tubuhnya
mendadak meremang, ketika gurunya meniupkan angin dari mulutnya. Aneh-nya,
guncangan pada tubuhnya segera terhenti. Namun, putaran keras di bawah pusarnya
tetap berlanjut.
"Sekarang kau telah memiliki ilmu 'Urai Ra-ga',
Witari. Dengan demikian aku tidak memiliki ilmu itu lagi, setelah kuberikan
padamu. Sebenar-nya, ilmu itu harus kau dapatkan sendiri melalui
perjuangan panjang. Bertahun-tahun, bahkan mungkin belasan
tahun! Itu pun belum tentu ber-hasil! Namun karena kau membutuhkannya seca-ra
mendesak, tak ada jalan lain kecuali memberi-kan ilmu itu dengan jalan singkat.
Dan untuk memilikinya lagi, aku harus belajar dari awal," je-las Eyang
Sangga Langit sambil mengusap peluh yang membasahi dahinya dengan punggung
tan-gan.
Witari tidak menanggapi. Dia masih takjub merasakan
pergolakan aneh di bawah pusar ba-gian dalam.
"Sekarang, aku akan mengoperkan tenaga dalam yang
kumiliki agar tenaga dalammu ber-tambah tinggi!"
Tanpa banyak cakap, Witari mendekati gu-runya, duduk
bersila membelakangi.
"Buka semua jalan darahmu. Jangan men-gadakan
perlawanan," tambah kakek kecil kurus itu, sebelum menempelkan kedua
telapak tangan-nya pada punggung Witari.
Mula-mula, Witari merasakan hawa hangat mengalir dari kedua
telapak tangan gurunya. Te-tapi semakin lama, semakin panas. Sehingga, membuat
keringat sebesar butir-butir jagung menghias wajah dan sekujur tubuhnya.
Setelah cukup lama, akhirnya Eyang Sang-ga Langit
melepaskan tangannya dari punggung Witari. Dan, dia langsung duduk bersemadi
untuk memulihkan tenaganya yang terkuras. Namun, ba-ru beberapa kali Eyang
Sangga Langit memulihkan pernapasannya, mendadak terdengar gelak tawa
yang keras di dekatnya. Tawa gembira bernada pe-nuh
kepuasan.
Seketika, Eyang Sangga Langit membuka matanya. Wajahnya
langsung pias ketika melihat sosok di depannya. Kini, Witari telah berdiri
berka-cak pinggang sambil tertawa! Sikapnya sungguh mengejutkan! Dan lebih
terkejut lagi ketika men-dengar jenis suara itu. Karena suara itu bukan da-ri
mulut wanita. Tapi dari seorang lelaki!
"Siapa kau...?! Jangan katakan kalau kau Witari!"
seru Eyang Sangga Langit, terkejut. Na-mun sebagai tokoh dunia persilatan yang
sudah banyak pengalaman, dia langsung tahu kalau so-sok yang berdiri di
hadapannya pasti bukan Wita-ri.
"Kau cukup cerdik, Tua Bangka Bau Ta-nah!" maki
Witari palsu dengan sombong. Sikap-nya terlihat memandang rendah sekali.
"Aku me-mang bukan Witari! Tapi, kecerdikan mu terlam-bat! Bersiaplah
untuk mati, Tua Bangka! Ingin ku-lihat, pentolan-pentolan dunia persilatan
meman-dang Eyang Sangga Langit yang terkenal sakti tan-pa tanding, akhirnya tewas
secara menyedihkan! Tewas karena tertipu! Apalagi bila mereka tahu ka-lau
sebelumnya Eyang Sangga Langit telah berzi-nah dengan muridnya sendiri! Ha ha
ha...!"
"Keparat!" umpat Eyang Sangga Langit pe-nuh
kegeraman.
Kini lelaki tua berbaju kuning ini menyada-ri, pasti Witari
palsu inilah yang menyebabkan ter-jadinya hubungan perzinahan itu.
"Kau boleh mati penasaran, Kakek Peot! Ka-
rena sekarang juga, kau akan mati di tanganku!" Eyang
Sangga Langit bukan orang bodoh!
Dia tahu, saat ini keadaannya tidak menguntung-kan. Ilmu
andalannya kini telah dimiliki Witari palsu. Bahkan, sebagian besar tenaga
dalamnya telah terkuras! Sehingga, sekarang tenaganya jauh berkurang! Di lain
pihak, Witari palsu telah memi-liki tenaga dalam sangat tinggi. Apabila
melakukan perlawanan, tentu akan membuang nyawa sia-sia. Dan, Eyang Sangga
Langit tidak ingin hal itu terja-di.
Maka sebelum orang yang menyamar seba-gai Witari itu
membunuhnya, Eyang Sangga Langit lebih dulu melempar tubuhnya ke belakang,
ber-gulingan mendekati dinding ruangan.
Sementara Witari palsu yang melihat gelagat tidak
sewajarnya, segera mengejar. Langsung di siapkan serangannya.
Tetapi, tindakan Witari palsu terlambat. Ke-tika tangan
Eyang Sangga Langit menyentuh salah satu tonjolan batu, dinding itu terkuak
sedikit, membelah celah. Dan itu cukup untuk tubuh Eyang Sangga Langit masuk ke
dalam ruangan di sebelahnya.
Ketika Witari palsu hendak menyusul ma-suk, dinding itu
segera tertutup kembali.
Lelaki yang menyamar sebagai Witari ini mencoba mendorong
tonjolan batu yang tadi dige-rakkan Eyang Sangga Langit. Namun dinding itu
tidak bergeming sedikit pun.
Witari palsu tahu, tidak ada gunanya lagi berusaha. Pasti
Eyang Sangga Langit telah menu-
tup dinding gua dengan alat rahasia dari ruangan sebelah.
Kalau menuruti perasaan, lelaki yang me-nyamar sebagai Witari ini dapat memukul
hancur dinding itu. Tetapi karena khawatir atap gua akan runtuh dan dapat
menyebabkan tubuhnya terku-bur hidup-hidup, maka maksudnya diurungkan. Dan
dengan perasaan dongkol, dia segera melesat keluar gua.
***
2
Seorang lelaki tinggi besar, berotot dan ber-wajah kasar
tengah melangkah lebar melintasi hamparan tanah yang penuh daun kering dan
ranting kering bertebaran. Demikian banyaknya, sehingga permukaan tanah hampir
tidak terlihat Setiap kaki besar dan kokoh itu menjejak, selalu menginjak daun
serta ranting kering. Anehnya se-dikit pun tidak terdengar bunyi yang
ditimbulkan-nya. Ini pertanda kalau lelaki ini memiliki ilmu me-ringankan tubuh
yang hebat.
Lelaki itu berusia sekitar enam puluh ta-hun. Tubuhnya
hanya tertutup selembar celana sebatas lutut. Bulu-bulu hitam dan lebat
menghia-si bagian dadanya yang telanjang. Di bahunya, terpanggul sebatang kapak
bermata tumpul dan bertangkai panjang.
Dengan langkah-langkah agak bergegas, le-laki tinggi besar
ini seperti tak mempedulikan me-
dan yang ditempuhnya. Ayunan kakinya baru ber-henti, ketika
sampai di hadapan sebatang pohon besar berukuran empat kali pelukan orang
dewa-sa! Ditatapnya pohon itu sejenak. Lalu, kapaknya segera diayunkan. Cras!
Hanya sekali tebas, pohon itu terpapas! Ba-gian yang
terkena babatan kapak tumpul seperti tertebas senjata amat tajam.
Sebelum pohon yang tumbang menghantam tanah, lelaki tinggi
besar itu kembali mengayun-kan kapaknya.
Cras! Cras! Cras!
Tidak hanya sekali. Hampir bersamaan ter-dengar bunyi
menderu disusul bunyi riuh.
Ketika lelaki ini meletakkan kapaknya kem-bali di tempat
semula, di depannya telah tertum-puk. potongan kayu sebesar lengan sepanjang
tiga kaki. Beberapa kayu itu pun licin, seakan telah diserut lebih dulu oleh
mata ketam.
Ada beberapa tumpukan kayu di sebelah kanan. Sementara agak
jauh di sebelah kiri, berse-rakan daun-daun ranting yang berkelompok, bagai
ditata tangan terlatih yang tidak tampak.
"Tidak jelek..., tidak jelek...!"
Mendadak terdengar suara lantang dan nyaring begitu lelaki
tinggi besar itu menyelesaikan pekerjaannya. Tapi dia tetap diam di tempatnya.
Tidak merasa terkejut, bahkan tak menoleh ke arah asal suara.
"Seperti lima tahun yang lalu, permainan kapak
pemenggal ayam masih tetap lumayan! Ti-dak percuma kau berjuluk Raksasa Kapak
Maut!"
lanjut seorang lelaki tua bertubuh kecil kurus, yang
tahu-tahu sudah berada di depan lelaki tinggi besar yang ternyata berjuluk
Raksasa Kapak Maut. "Tidak usah banyak bicara, Manusia Kerdil!
Sejak dulu mulutmu selalu usil! Dasar bawel!" sa-hut
Raksasa Kapak Maut dengan suara menggun-tur sambil berbalik.
"Ha ha ha...! Kau makin jadi pemarah saja, Manusia
Kerbau!" ledek kakek kecil kurus. Demi-kian kecil dan kurus tubuhnya,
lebih mirip bocah berusia sembilan tahun yang kelaparan. "Kau ta-hu, orang
pemarah cepat tua. Sebaliknya jika kita sering tertawa, akan awet muda. Apalagi
bila ser-ing bermain tebak-tebakan! Kau tahu, tebak-tebakan itu menunjukkan
kepintaran seseorang! Biar kecil begini, aku yakin lebih pandai dibanding
otakmu, Manusia Kerbau! Kalau kau ingin bukti, mari kita bermain tebak-tebakan!
Tapi, tentu saja kalau kau berani...."
"Mengapa tidak, Tuyul Bertenaga Raksa-sa?!" sahut
Raksasa Kapak Maut cepat, terbakar amarahnya karena tantangan kakek kecil kurus
yang telah meremehkannya. "Ayo, keluarkan teba-kan mu!"
Kakek kecil kurus berjuluk Tuyul Bertenaga Raksasa
tersenyum. Sikapnya kelihatan
meremehkan sekali. Dia yakin akan kemampuan-nya.
"Ada seorang ibu, memiliki tubuh yang be-sar dan
gemuk. Bahkan lebih besar daripada tu-buhnya. Karena suatu keperluan, dia
bertandang ke rumah saudaranya. Karena satu hal, dia ter-
paksa menginap di rumah saudaranya itu. Sialnya, saudaranya
orang yang miskin hingga hanya mempunyai satu tempat tidur. Itu pun berukuran
kecil, karena memang untuk anaknya yang beru-mur delapan tahun. Demi rasa
hormat maka sau-daranya memberi tempat tidur itu untuknya. Se-dangkan anaknya
di suruh tidur di lantai. Tentu saja, ibu yang gemuk itu kebingungan. Bagaimana
caranya dia bisa tidur di tempat yang sekecil itu? Nah! Pertanyaannya,
bagaimana ibu yang gemuk itu tidur?!" ujar Tuyul Bertenaga Raksasa.
Alis Raksasa Kapak Maut berkernyit. Dia berpikir keras
untuk bisa menjawab. Namun sam-pai dahinya berkeringat, belum ditemukan
jawa-bannya.
"Bagaimana, Manusia Kerbau?! Sudah.... Lebih baik
menyerah saja?!" ejek Tuyul Bertenaga Raksasa memanas-manasi.
"Menyerah?!" ulang Raksasa Kapak Maut keras
dengan sepasang mata dibelalakkan. "Tidak akan! Pertanyaan itu demikian
mudah untuk ku-jawab. Mengapa mesti menyerah?! Jawabannya, ibu itu harus
meringkuk untuk bisa tidur! Betul, kan?!"
"Salah!" sanggah Tuyul Bertenaga Raksasa sambil
melompat-lompat kegirangan, seperti anak kecil mendapat mainan.
"Tidak mungkin!" tukas Raksasa Kapak Maut,
berkeras dengan jawabannya. "Mengapa ti-dak?! Hanya itu jalan satu-satunya
untuk bisa ti-dur! Sebab, tak mungkin tubuhnya terbujur di tempat sekecil
itu?"
"Apa pun alasannya, yang jelas itu bukan jawabannya,
Manusia Kerbau!"
"Kalau begitu..., apa jawabannya, Kerdil Li-cik?! Aku
yakin kau hanya mengakaliku saja!" ser-gah Raksasa Kapak Maut, tidak mau
kalah.
"Meram!" jawab Tuyul Bertenaga Raksasa, tersenyum
atas kemenangan.
"Lho...?!" Raksasa Kapak Maut melongo.
"Jawabanmu tak masuk akal, Manusia Kerdil!"
"Apa yang tidak masuk akal?! Bukankah yang kutanyakan,
bagaimana tidur ibu gemuk itu? Tentu saja jawabannya meram. Mana mungkin orang
tidur matanya tidak meram?! Satu-kosong!" jawab Tuyul Bertenaga Raksasa
mempertahankan jawabannya.
"Baik. Aku mengaku kalah. Dan, sekarang giliranku
mengajukan pertanyaan. Karena kau mengajukan pertanyaan yang bersifat
akal-akalan, maka
aku pun akan meladeni mu!" kata Raksasa Kapak Maut
penasaran. "Nah, sekarang jawab per-tanyaanku. Ayam apa yang keluar pada
malam ha-ri?! Ayo, tebak!"
"Ayam yang ada keperluan! Ha ha ha...! Be-tul
kan...?!" jawab kakek Tuyul Bertenaga Raksasa cepat, disertai tawa
bergelak. Menertawakan lelaki tinggi besar yang terdiam begitu pertanyaannya
terjawab. "Apa pun pertanyaan yang kau ajukan, akan bisa kujawab, Manusia
Kerbau! Kau tahu, aku paling pandai bermain tebak-tebakan!"
"Peduli amat! Itu bukan urusanku!" dengus Raksasa
Kapak Maut, ketus. "Sekarang apa mak-
sudmu mengintai pekerjaanku?"
"Ha ha ha...! Rupanya kau telah merasa pal-ing sakti
setelah bisa menebang pohon seperti itu?! Apa maumu, Raksasa Jelek?!
Bertarung?!" tandas Tuyul Bertenaga Raksasa.
Tuyul Bertenaga Raksasa lalu melangkah mendekati Raksasa
Kapak Maut. Mereka kini ber-diri berhadapan dalam jarak sekitar delapan
tom-bak. Tempat mereka berada, memang cukup aneh. Di belakang Raksasa Kapak
Maut adalah hutan belantara yang tanahnya tertutupi daun dan rant-ing yang
berserakan. Sementara sekitar satu tom-bak di belakang Tuyul Bertenaga Raksasa
terdiri dari batu padas yang amat keras. Tampak lubang sedalam betis, setiap
kali kakek kecil kurus itu melangkah! Padahal kakinya tidak menjejak sama
sekali.
"Ooo, kau ingin memamerkan julukan Tuyul Bertenaga
Raksasa rupanya," ejek Raksasa Kapak Maut disertai senyum mengejek.
"Ha ha ha...!"
Tuyul Bertenaga Raksasa tertawa renyah. Baginya tidak ada
hal yang terlalu dipusingkan. Sebab, setiap masalah selalu membuat hatinya
gembira. Sesuai dengan wataknya yang selalu ber-gembira dalam menghadapi
persoalan. Menurut-nya, hidup di dunia ini hanya sebentar. Lantas bila tidak
diisi hal-hal yang menggembirakan, untuk apa?
Begitu saling berhadapan dalam jarak seki-tar satu tombak,
baru terlihat perbedaan mencolok antara Raksasa Kapak Maut dengan Tuyul Berte-
naga Raksasa.
Di hadapan Raksasa Kapak Maut, Tuyul Bertenaga Raksasa
terlihat begitu ringkih dan le-mah. Yang jelas, bagaikan seekor ayam berdiri di
depan seekor gajah! Rasanya, hanya dengan ti-upan pun Tuyul Bertenaga Raksasa
akan roboh ke tanah.
Kedua tokoh sakti ini telah saling berpan-dangan, laksana
sepasang dua ekor ayam jago yang siap tarung. Sepasang mata mereka telah
sal-ing menyorot, sama-sama tajam dan menggiriskan. Tapi sebelum saling gebrak,
pendengaran
dua tokoh yang sama-sama luar biasa tajam itu menangkap
adanya gerakan langkah kaki yang menuju ke tempat ini. Perhatian Raksasa Kapak
Maut langsung di arahkan ke depan. Sedangkan Tuyul Bertenaga Raksasa berbalik
arah. Pandan-gannya langsung di layangkan ke belakang.
"Celaka...!" seru Raksasa Kapak Maut Sua-ranya
keras bercampur kaget dan geram. Sepasang matanya mendelik pada Tuyul Bertenaga
Raksasa.
"Mengapa kau tinggalkan pos penjagaan mu, Kerdil?!
Tidakkah kau lihat ada orang yang menuju ke tempat ini?! Bila Tuan Besar tahu,
ma-ka kau akan digencet! Sehingga kau jadi lebih kecil dan kurus daripada
sekarang!"
Wajah Tuyul Bertenaga Raksasa terlihat pu-cat-pasi.
Sebentar saja, karena kakek kecil kurus ini tahu-tahu tertawa. Tapi, nadanya
jelas jauh berbeda daripada sebelumnya. Kendati tertawa, si-nar matanya
menyiratkan ketakutan dan kecema-san. Rupanya, ancaman Raksasa Kapak Maut
mempunyai pengaruh besar!
"Kurasa bukan hanya aku saja yang mene-rima hukuman
Tuan Besar! Kau pun juga akan mendapat hukuman, Kerbau! Lihat dirimu! Kau pun
meninggalkan pos penjagaan mu. Jadi, kita sama-sama bersalah! Bahkan aku yakin
kesalahan yang kau perbuat jauh lebih besar! Kaulah yang lebih dulu
meninggalkan pos penjagaan, hingga aku terpengaruh. Toh, kupikir keadaan akan
aman-aman saja!" Tuyul Bertenaga Raksasa tak mau kalah gertak. "Ha ha
ha...!"
Raksasa Kapak Maut tertawa bergelak, sampai-sampai tubuhnya
berguncang-guncang. Kelihatan gembira sekali.
"Kau mau mengakali ku, Kerdil?! Tak bisa! Lihatlah
perbedaan kita! Meskipun aku mening-galkan pos penjagaan, namun tidak ke arah
da-lam. Sehingga bila ada orang yang masuk, akan bertemu lebih dulu denganku!
Sedangkan kau, ju-stru sebaliknya. Dan sekarang ada orang yang mampu melewati
pos mu. Bahkan sekarang ham-pir tiba di batas penjagaan ku!"
Tuyul Bertenaga Raksasa tidak menyahuti. Disadari kalau
dirinya salah dan hanya ingin men-gakali Raksasa Kapak Maut. Namun tak
disangka, lelaki bertubuh tinggi besar ini mampu balik me– ngakalinya.
Maka tanpa banyak cakap lagi Tuyul Berte-naga Raksasa
melesat ke arah tempatnya menjaga. Dan sebentar saja, dia sudah bertemu seseorang
tengah melewati pos penjagaan yang berupa dua batu sebesar rumah yang
diletakkan bersebelahan,
dengan celah selebar dua setengah tombak. "Tahan
langkahmu, Nona Cantik...!"
Tuyul Bertenaga Raksasa langsung meng-hadang sosok yang
telah belasan tombak, melewati pos yang dijaganya.
Sosok itu ternyata seorang gadis berpakaian kuning cerah.
Usianya sekitar dua puluh tahun. Langkahnya terpaksa dihentikan, karena
jalannya terhalang. Gadis berwajah cantik dan berkulit pu-tih mulus ini
cemberut, menandakan ketidakse-nangan hatinya.
Namun, sesaat kemudian, kemuraman ga-dis itu sirna.
Sepasang matanya bersinar-sinar. Senyumnya tersungging, memperlihatkan lesung
pipit di kedua pipinya.
Tuyul Bertenaga Raksasa adalah orang yang memiliki watak
periang dan senang menggoda orang. Dan sesuai pengalamannya, dia tahu kalau
gadis di hadapannya ini memiliki watak sama den-gannya. Sinar mata gadis itu
adalah sinar mata orang yang gemar menggoda orang lain.
"Hey...! Siapa kau, Adik Kecil?! Mengapa be-rada di
sini?! Enak-enakan kau bermain di sini! Tak tahukah, kalau sekarang orangtua mu
sedang gelisah mencarimu?! Lekas pulang!" seru gadis berbaju kuning dengan
sikap memarahi. Lagaknya seperti orang dewasa tengah menasihati seorang anak
kecil yang nakal.
Wajah Tuyul Bertenaga Raksasa langsung merah padam. Memang,
meski pandai berdebat, dia mempunyai kelemahan juga. Dia paling tidak suka
kalau kekurangannya diungkit-ungkit orang
lain.
Ejekan yang dianggap kelewatan itu mem-buat Tuyul Bertenaga
Raksasa berniat untuk membalas. Sebagai tukang mengejek, lelaki tua bertubuh
kecil ini tentu saja tidak ingin mengalah begitu saja! Akan jatuh nama besarnya
sebagai ja-go ejek!
"Memang kuakui, tubuhku seperti anak ke-cil! Tapi
menurutku, ini justru menguntungkan. Karena, senantiasa aku terlihat awet muda.
Dan yang lebih penting, hampir tidak pernah terserang penyakit Sedangkan kau,
cantik-cantik tapi mem-punyai penyakit bisul!"
Gadis berpakaian kuning tertawa mengejek. "Kalau
memang benar aku terkena penyakit
bisul, coba tunjukkan!" tantang gadis itu, dia yakin
Tuyul Bertenaga Raksasa hanya sekadar berbo-hong.
"Ah...!" seru Tuyul Bertenaga Raksasa,
ber-pura-pura kaget. "Semuda ini sudah pikun?! Bi-sulmu rupanya sudah amat
parah, Nona Cantik. Karena telah demikian besar. Yang lebih gawat lagi bisulnya
ada dua! Aku tak habis pikir, mengapa kau tak berusaha mengobatinya? Bahkan
malah disembunyikan. Kau pikir orang tidak tahu?"
"Kakek gila!" bentak gadis berpakaian kun-ing
tidak bisa menahan kemarahannya lagi. Ru-panya kendati suka menggoda orang
lain, dia tidak suka digoda. "Buktikan kebenaran mulutmu yang busuk itu!
Tunjukkan, di mana adanya bisul itu!"
"He he he...!"
Tawa kakek kecil kurus mulai terdengar la-
gi. Dia yakin, ejekan terakhirnya yang dilancarkan telah
memancing amarah gadis itu.
"Masihkah kau tidak bisa melihatnya, Nona Cantik?! Itu
yang menggantung di bagian dadamu itu. Apa lagi kalau bukan bisul?!"
"Keparat!"
Gadis berpakaian kuning itu menggeram marah. Ejekan tadi
sudah cukup membuatnya murka karena malu, tersinggung, dan marah. Dan kini
kakek itu masih menambahi dengan tudin-gannya. Yang mengarah ke arah buah dada
gadis itu!
"Kuhancurkan mulutmu yang bau busuk itu!"
Disertai amarah menggelegak, gadis berpa-kaian kuning itu
melepaskan tendangan kaki ka-nannya lurus ke arah mulut Tuyul Bertenaga
Rak-sasa. Namun, hanya menggeser kakinya ke bela-kang, kakek itu telah berhasil
mengelakkan seran-gan.
"Eit! Sayang tak kena...! Kakimu kurang panjang, Nona
Cantik Berbisul Besar! Ha ha ha...! Sekarang kau harus mengakui kelebihanku
dalam hal mengejek! Ha ha ha.... Tidak ada seorang pun yang mampu menang
bermain ejek-ejekan dengan ku!" kata Tuyul Bertenaga Raksasa, pongah.
"Am-brol perutmu...!"
Kata-kata Tuyul Bertenaga Raksasa dijawab gadis itu dengan
serangan susulan lewat kaki ka-nan ke arah perut. Namun, lagi-lagi hanya
berge-rak sembarangan, Tuyul Bertenaga Raksasa ber-hasil menangkap pergelangan
kaki gadis itu. Bah-
kan begitu disentakkan, tubuh gadis berpakaian kuning
terlempar jauh ke belakang!
Untung saja, gadis berpakaian kuning itu cepat bersalto
beberapa kali di udara. Begitu ka-kinya menjejak tanah, diterjangnya Tuyul
Bertena-ga Raksasa kembali dengan tendangan berantai.
"Hukh... uh... ukh...!"
Tuyul Bertenaga Raksasa batuk-batuk sebe-lum serangan gadis
berpakaian kuning tiba. Tam-paknya batuk yang berat, sampai-sampai tubuh-nya
terbungkuk-bungkuk.
Sementara saat itu, tendangan berantai ga-dis berpakaian
kuning tengah meluncur. Kepala Tuyul Bertenaga Raksasa yang menunduk ke de-pan
akibat batuk hebat tampaknya akan menjadi sasaran empuk.
Tapi, sebelum kepala Tuyul Bertenaga Rak-sasa terhantam,
gadis berpakaian kuning merasa-kan ada getaran keras pada bagian dalam
da-danya! Getaran yang mampu membuat tubuhnya lemas, karena tenaganya lenyap
begitu saja! Bah-kan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
Tuyul Bertenaga Raksasa berdiri tegak se-perti semula.
Batuk hebat yang menyerangnya berhenti. Batuk itu memang bukan batuk penya-kit,
melainkan batuk yang sengaja dibuat untuk melancarkan serangan tenaga dalam.
Bagi orang sesakti Tuyul Bertenaga Raksa-sa, batuk
buatannya tak kalah geraman seekor ha-rimau yang paling perkasa sekalipun!
Padahal, ge-raman harimau saja sudah cukup melumpuhkan nyali manusia atau
binatang mangsanya.
Di lain pihak, gadis berpakaian kuning jadi geram. Tenaga
dalamnya berusaha keras untuk disalurkan kembali. Setelah berhasil, dia bersiap
melancarkan serangan.
Gadis yang memiliki watak keras hati ini sama sekali tidak
merasa takut, meskipun tahu kalau kakek di hadapannya ini memiliki kepan-daian
yang luar biasa!
"Cukup, Nona Cantik!" seru Tuyul Bertena-ga
Raksasa penuh wibawa, tidak berguyon seperti sebelumnya.
"Siapakah kau sebenarnya...? Apa maksud mu datang
kemari?! Apa hubunganmu dengan Janggara, pemilik ilmu 'Tendangan Angin
Puyuh'?"
"Apa urusanmu?!" sambut gadis berpakaian kuning.
kasar tidak terlihat rasa takut sedikit pun.
"Tentu saja ada urusannya denganku, Nona Cantik! jawab
Tuyul Bertenaga Raksasa,
berkilah.
***
3
Tuyul Bertenaga Raksasa menatap wajah gadis berpakaian
kuning di hadapannya penuh se-lidik. Sedikit pun tidak terlihat adanya senyum.
Apalagi bercanda.
"Pertama, kau telah lancang memasuki wi-layahku. Maka
aku berhak tahu maksud kedatan-gan mu kemari. Kedua, kau menggunakan ilmu
'Tendangan Angin Puyuh' untuk menyerangku. Padahal, aku
tahu pasti pemiliknya. Karena jan-gan-jangan kau mencuri ilmu itu!"
Merah padam wajah gadis berpakaian kun-ing itu.
"Apa boleh buat," desah gadis berpakaian kuning
itu. "Aku Anjani. Kedatanganku kemari atas permintaan guruku. Dengan
petunjuknyalah aku bisa berada di tempat ini."
Wajah Tuyul Bertenaga Raksasa terperan-gah. Kelihatan
tegang bukan kepalang.
"Berarti..., kau murid Janggara! Hanya dia yang
memiliki ilmu 'Tendangan Angin Puyuh'. La-lu, apakah kedatanganmu kemari ingin
mencuri pusaka lainnya dan tempat suci yang kami jaga, seperti yang pernah
dilakukan gurumu?!"
"Tutup mulutmu yang busuk itu, Kerdil!" bentak
gadis berpakaian kuning yang mengaku bernama Anjani, murid Janggara marah.
"Guruku tidak sejahat itu!"
"Ho ho ho...! Lucu.... Lucu sekali! Seorang yang
paling goblok pun tak akan mempercayai ka-ta-katamu. Dengarkan baik-baik, Nona
Manis Be-rotak Udang?! Dulu gurumu tengah sekarat, ketika ditemukan Tuan Besar
kami. Kemudian dia dira-wat sampai sembuh. Malah juga diajarkan ilmu si-lat.
Namun sebagai balasannya.... apa yang kau tahu, Anak Manis?!"
"Aku tahu," Anjani mengangguk. "Beliau
te-lah menceritakan semuanya padaku. Waktu kabur dari tempat ini, beliau
mencuri sebuah pusaka. Sebuah guci perak murni luar biasa, yang mampu
membuat arak yang paling lemah, menjadi arak keras. Bahkan
mampu membuat arak ataupun air yang berada di dalamnya, menjadi penawar racun
yang ampuh!"
"Nah! Kau tahu sendiri kebusukan gurumu! Namun, masih
tak senang, kalau kukatakan dia jahat! Bagaimana ini?!" Tuyul Bertenaga
Raksasa heran.
"Karena tuduhan jelek mu, atas niat baik-nya.
Kedatanganku kemari dengan susah payah sekadar untuk memenuhi amanat guruku!
Beliau memintaku untuk mengembalikan kitab-kitab yang pernah dicurinya, dari
tempat ini. Dan seka-ligus, akan memberitahukan tempat guci pusaka itu
berada," jelas Anjani penuh semangat.
Tuyul Bertenaga Raksasa mengangguk-anggukkan kepalanya
setelah tercenung sejenak.
"Aku tak bisa memberi keputusan. Lebih baik sampaikan
sendiri pada Tuan Besar. Silakan, kau berjalan lurus. Nanti Raksasa Jelek yang
ada di sana, akan mengantarmu sampai menemui Tuan Besar," jelas Tuyul
Bertenaga Raksasa.
Dengan sikap gagah, Anjani melangkah me-nuju tempat Raksasa
Kapak Maut berada. Gadis cantik ini sadar, dirinya telah masuk ke tempat yang
berbahaya. Tempat yang dijaga manusia ker-dil berjuluk Tuyul Bertenaga Raksasa
saja sudah menjalani kesulitan. Apalagi harus menghadapi le-laki yang berjuluk
Raksasa Kapak Maut. Pikiran-pikiran mengerikan, mendadak menghantui hati
Anjani.
Namun, gadis berpakaian kuning yakin,
bahwa Janggara gurunya tidak akan bertindak sembrono. Tentu
dia telah memperhitungkan sega-la kemungkinan yang muncul.
***
"Celaka...!"
Satu seruan kaget, mendadak meluncur da-ri mulut seorang
kakek tinggi kurus berwajah ti-rus, ketika melihat permukaan air berada dalam
sebuah bak kayu, bergelombang keras. Daun sirih di atasnya tampak
terombang-ambing. Padahal, ti-dak ada seorang pun yang
mengguncang-guncangkannya. Permukaan air yang bergolak he-bat itu terjadi
dengan sendirinya, seperti diaduk-aduk tangan tak nampak!
"Anjani.... Apa yang terjadi padamu, Nak...?!"
Kakek berwajah tirus berusia enam puluh tahun ini bergegas
bangkit dengan sikap gelisah. Pakaian longgarnya berwarna coklat diketatkan
la-gi dengan mengencangkan sabuknya. Tindakan itu dilakukannya dengan pandangan
masih tertuju pada bak kayu yang airnya semakin bergolak.
Kemudian, kakek ini bergegas melangkah keluar. Hanya sekali
ayunan kaki, dia telah berada di luar halaman gubuknya. Sebuah gubuk yang
le-taknya tersembunyi, tertutup pohon-pohon besar di sekelilingnya.
Kakek ini menatap ke arah gubuknya. Ke-mudian tubuhnya
berbalik bersiap meninggalkan tempat itu. Namun, mendadak maksudnya di-
urungkan. Sebab, pendengarannya yang tajam menangkap suara
mencurigakan. Segera saja pan-dangannya beredar ke sekeliling. Kini,
pandangan-nya terpatri pada jajaran pohon dan semak-semak rimbun di depannya.
"Kalian yang berada di persembunyian, ha-rap keluar!
Kalau ada urusan denganku, mari kita selesaikan! Sebab aku sedang ada urusan
lain!" bentak kakek itu lantang.
Tak lama kemudian, semak-semak di seki-tarnya terkuak,
diiringi bunyi gemerasak. Dan dari sekeliling tempat itu, muncul beberapa sosok
den-gan sikap mengancam! Di tangan masing-masing tampak tergenggam senjata terhunus.
"Setelah bertahun-tahun, akhirnya persem-bunyian mu
dapat kami temukan juga, Janggara!" seru seorang lelaki berkepala botak
yang muncul dari sebelah kiri. Wajahnya bercambang bauk le-bat. Sepasang gada
berduri yang tergenggam di tangannya diayun-ayunkan secara menggiriskan.
"Kami datang ingin membuat perhitungan. Karena, kau
telah membunuh sahabatku yang ber-juluk Banteng Gila!" sambung seorang
lelaki ber-tubuh kurus seperti singa kelaparan. Dia muncul dari depan. Ganco di
tangan kanannya, dituding-kan ke wajah kakek berwajah tirus yang ternyata
bernama Janggara.
"Demikian pula denganku, Janggara," selak seorang
yang bertubuh pendek kekar dengan rom-pi merah. Kulitnya pun merah. Sekujur
tubuhnya dipenuhi bulu-bulu halus. Dia muncul dari sebe-lah kanan. Senjata
cluritnya diacung-acungkan.
Tatapan Janggara beralih pada lelaki be-rompi merah.
"Kurasa kau masih ingat padaku. Saudara-ku mati di
tanganmu, Janggara!" tambah lelaki bersenjata clurit ini.
Janggara tetap tenang. Dia tidak bergeming dari tempatnya,
kendati tiga orang sangar itu mendekatinya. Dan memang sudah mengenal to-koh
berompi merah yang terakhir bicara. Dia ada-lah Singa Berbulu Merah. Sedangkan
saudaranya yang tewas di tangan Janggara berjuluk Singa Berbulu Putih.
"Aku memaklumi alasan kalian mencariku. Percayalah,
aku tidak akan menghindar. Tapi se-perti yang kukatakan tadi, saat ini aku
sedang ada urusan lain yang lebih penting. Jadi kuminta pen-gertian kalian
untuk menunda masalah ini, sam-pai urusanku selesai!" ujar Janggara.
"Ha ha ha...!"
Lelaki botak bersenjata sepasang gada yang sebenarnya
berjuluk Setan Botak, tertawa berge-lak. Nadanya terdengar menghina sekali.
"Kau kira kami ini sekumpulan bocah bo-doh, yang
begitu saja dapat dikelabui? Aku tahu. Urusan yang kau maksudkan itu tentu
untuk me-loloskan diri lagi dari kejaran kami!" ejek Setan Bo-tak.
"Lucunya lagi," sambung lelaki bersenjata ganco
yang berjuluk Pengais Nyawa! Suaranya me-ringkik, seperti kuda. "Dia
meminta pengertian ki-ta. Padahal sewaktu membunuh sahabatku, Ban-teng Gila,
tidak pernah meminta pengertian terle-
bih dulu. Dasar licik!"
"Kurasa ada baiknya, kita dengar dulu apa kemauannya.
Aku ingin tahu, akal bulus apa lagi yang akan digunakan untuk meloloskan diri
dari tangan kita," usul Singa Berbulu Merah.
"Aku tidak bermaksud licik dengan melari-kan diri dari
kalian. Urusan yang ku maksud ada-lah mengenai muridku. Saat ini, dia tengah
dalam bahaya. Kalau aku tidak cepat menolongnya, mungkin akan mati. Maka
kuminta kalian mem-biarkanku pergi untuk menyelamatkan nyawanya. Percayalah!
Setelah itu, aku bersedia menerima semua hukuman dari kalian tanpa melawan
sedi-kit pun. Anggap saja, ini balas budi atas kebaikan kalian yang mau
memenuhi permintaanku!"
"Apa urusannya dengan kami...?!" selak Se-tan
Botak tak sabaran. "Mau muridmu itu mati, kek. Celaka, kek! Tidak ada
hubungannya dengan kami! Bahkan kalau perlu, sebelum membunuh-mu, muridmu dulu
yang akan kami siksa! Biar ta-hu rasa, sakitnya hati akibat kehilangan orang
yang dicintai karena dibunuh orang!"
"Kalau begitu..., kalian lebih dulu yang akan
kusingkirkan!"
Janggara sadar, tidak ada gunanya lagi ber-bicara panjang
lebar dengan tokoh-tokoh sesat ini. Dan dia tidak mau membuang-buang waktu
lagi. Maka dengan lompatan yang sempurna, tubuhnya melesat menerjang lelaki berjuluk
Pengais Nyawa!
Sementara, sejak tadi lelaki kurus kering itu rupanya telah
bersiap diri. Datangnya serangan ini tidak membuatnya gugup. Matanya sempat
meli-
hat sekelebatan sinar menyilaukan dari golok pan-jang di
tangan Janggara, yang membabat ke arah leher. Maka, segera ganconya diangkat
untuk me-nangkis sekaligus membelit Wut..! Trak!
Tubuh Pengais Nyawa terjajar beberapa langkah ke belakang,
karena kuatnya tenaga da-lam Janggara. Kendati demikian, golok kakek ber-wajah
tirus itu berhasil dijepit ganconya.
Janggara tidak sudi membiarkan senjatanya terjepit. Maka
segera dilancarkan serangan susu-lan berupa tendangan kaki kanan ke arah dada,
sehingga memaksa Pengais Nyawa membebaskan jepitannya.
Deb!
Pengais Nyawa cepat melompat ke belakang, langsung
melepaskan jepitannya.
Dan sebelum Janggara sempat melancarkan serangannya lagi,
Setan Botak dan Singa Berbulu
Merah tidak tinggal diam. Mereka tahu, Janggara terlalu
kuat jika dihadapi seorang diri. Maka hampir berbareng, kedua tokoh sesat itu
mengeroyok. "Hiyaaa...!"
Serbuan ini memaksa Janggara untuk membatalkan serangan
terhadap Pengais Nyawa. Sesaat kemudian, dia sudah sibuk meladeni pen-geroyokan
tiga orang tokoh sesat ini.
Janggara memang luar biasa! Meskipun pa-ra pengeroyok
berkepandaian tinggi, namun mam-pu dihadapinya seorang diri. Bahkan sempat
me-lancarkan serangan batasan yang tak kalah dah-syat!
Setelah tiga puluh jurus kemudian, Jangga-
ra baru mulai terdesak. Sinar goloknya yang semu-la
bergulung membentuk lingkaran sinar yang le-bar, mulai menyempit
Serangan-serangannya yang semula gencar semakin berkurang. Hanya menge-lak dan
menangkis yang dapat dilakukannya.
Janggara sadar kalau keadaan seperti ini dibiarkan, tidak
menutup kemungkinan dia akan kalah. Bahkan akan tewas di tangan lawan-lawannya.
Bila hal ini terjadi, berarti keselamatan Anjani terancam. Maka, ketika ada
kesempatan, kakek berwajah tirus ini melompat ke belakang menyelamatkan diri.
Setan Botak, Pengais Nyawa, dan Singa Berbulu Merah yang
merasa berada -di atas angin, tidak ingin kehilangan mangsanya. Saat itu juga
mereka mengejar Janggara.
Sementara, kakek berwajah tirus itu sudah
memperhitungkannya. Maka, begitu kedua ka-kinya menjejak tanah, seluruh tenaga
dalamnya dikumpulkan. Dan seketika itu pula gerengan ke-ras seperti harimau
menggeram!
"Hhhmrrr....!"
Mendadak, tubuh tiga tokoh sesat yang ten-gah meluruk ke
arah Janggara jatuh di tanah. Bahkan tenaga dalam mereka mendadak lenyap!
Gerengan Janggara membuat sekujur tubuh me-reka lemas!
Melihat ke tiga lawannya tampak kepaya-han, Janggara segera
mengeluarkan lengkingan tinggi mengandung tenaga dalam sempurna. Begi-tu
dahsyat, hingga waktu Janggara mencoba pada sebuah batu sebesar kerbau,
langsung hancur be-
rantakan! Dan kali ini, Janggara menunjukkan lengkingannya
pada tiga lawannya.
Setan Botak, Pengais Nyawa, Singa Berbulu Merah sadar bahwa
lengkingan Janggara akan da-pat menghancurkan isi dada. Buktinya, sekarang
telinga mereka terasa sakit bukan kepalang, ba-gaikan ditusuk-tusuk pisau amat
tajam. Jantung mereka pun perih seperti teriris.
Bagai seperti diberi aba-aba, ketiga tokoh sesat ini segera
bergerak saling mendekat Kemu-dian mereka duduk bersila, berderet ke belakang.
Setan Botak di depan, Singa Berbulu Merah di tengah, dan Pengais Nyawa paling
belakang. Dua orang yang berada di belakang menempelkan ke-dua telapak tangan
pada orang di depannya. Me-mang, baik Pengais Nyawa maupun Singa Berbulu Merah
tengah menyalurkan tenaga dalam pada Se-tan Botak!
Sementara dari Setan Botak yang berada paling depan, tenaga
dalam yang disalurkan kedua tokoh itu di belakangnya dikeluarkan lewat satu
lengkingan tinggi. Bersamaan dengan itu Janggara pun telah menyiapkan tenaga
dalamnya.
"Hiyaaa...!" "Eyaaa...!"
Dua jenis lengkingan tinggi yang merupa-kan tangan-tangan
maut saling adu kuat satu sa-ma lain.
Untuk kedua kalinya, setelah saling menga-du tenaga dalam
lewat suara, Janggara harus mengakui keunggulan pihak tiga lawannya. Ga-bungan
tenaga dalam mereka terlalu kuat untuk
ditandingi. Sekujur tubuhnya mulai menggigil. Wa-jahnya di
banjiri peluh sebesar biji jagung. Dari ubun-ubunnya tampak uap putih mengepul,
per-tanda telah mengeluarkan tenaga dalam yang me-lewati batas.
Di saat-saat menegangkan seperti ini, tiba-tiba terdengar
bunyi mendesau. Rupanya beberapa tombak dari tempat pertarungan ganjil ini
telah hadir seorang pemuda berpakaian ungu yang ten-gah menyapu tanah dengan
ranting berdaun lebat Gesekan yang ditimbulkan itulah yang menimbul-kan bunyi
mendesau.
Seperti tidak tahu kalau tengah terjadi per-tarungan
tingkat tinggi, pemuda ini terus saja me-nyapu tanah dengan sapunya yang
sederhana.
Bunyi desau itu ternyata mengandung tena-ga dalam tinggi,
sehingga tampaknya berpengaruh dalam menekan lengkingan ketiga tokoh sesat itu.
Sementara keadaan Janggara tidak mengkhawa-tirkan lagi. Kepulan uap putih di
atas kepalanya semakin menipis, sebagai pertanda kalau kea-daannya semakin
membaik.
Sebaliknya, Setan Botak, Pengais Nyawa, dan Singa Berbulu
Merah tampak kepayahan. Wa-jah mereka penuh peluh sebesar biji jagung. Uap putih
yang mengepul dari atas kepala mereka se-makin menebal. Kelihatan mereka sudah
tidak kuat lagi menahan serangan yang datang. Dan ak-hirnya...
"Huakh...!"
Dalam keadaan duduk bersila, hampir ber-barengan dari mulut
Setan Botak, Pengais Nyawa,
dan Singa Berbulu Merah, keluar muntahan darah segar! Tubuh
mereka seperti terlipat ke depan. Se-ketika pertarungan yang seru usai!
"Kali ini, kami mengaku kalah, Janggara! Namun suatu
saat, kami akan datang lagi mem-buat perhitungan denganmu!"
Dengan terbata-bata karena luka dalam yang diderita, Setan
Botak mewakili kawan-kawannya menantang Janggara. Lalu, tanpa me-nunggu jawaban
Janggara, mereka melangkah ter-tatih-tatih meninggalkan tempat itu. Namun
sebe-lumnya mereka sempat memperhatikan pemuda berpakaian ungu yang telah
berhenti menyapu.
Sorot mata Setan Botak, Pengais Nyawa, dan Singa Berbulu
Merah, menyiratkan sakit hati yang mendalam. Sebagai tokoh golongan sesat
tingkat tinggi, mereka tahu kalau pemuda berpa-kaian ungu telah membantu
Janggara. Sebab ka-lau tidak, Janggara tentu berhasil dibinasakan!
Sementara Janggara juga merasa sangat le-lah setelah
pertarungan yang menguras tenaga da-lam itu. Dia hanya menatap kepergian ke
tiga la-wannya dan tanpa sedikit pun berniat mengejar-nya. Kakek berwajah tirus
ini yakin, ketiga tokoh sesat itu tak akan selamat dari maut, karena luka dalam
yang diderita terlalu parah.
Kini Janggara mengalihkan perhatian pada pemuda berpakaian
ungu yang masih berdiri sam-bil memegang sapu sederhananya. Dia tahu, nya-wanya
telah diselamatkan pemuda itu. Maka, den-gan senyum penuh rasa terima kasih,
dihampi-rinya pemuda berpakaian ungu itu.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Anak Muda,"
ucap Janggara, sambil merangkapkan ke-dua tangannya di depan dada.
Dalam hati, kakek ini terkejut. Ternyata orang yang
menolongnya masih muda. Semula, dia mengira seorang kakek. Terutama menilik
kepan-daian dan rambutnya yang putih! Untungnya sambil menghampiri tadi,
Janggara sempat mem-perhatikan wajah sosok berpakaian ungu itu.
"Kalau tidak ada pertolonganmu, mungkin dua buah nyawa
telah melayang," lanjut Janggara.
Pemuda berpakaian ungu berambut putih keperakan dan panjang
terurai hingga ke pung-gung, hanya tersenyum lebar sambil mengangguk-kan
kepalanya.
"Lupakanlah, Kek. Bukankah sudah kewaji-ban kita sebagai
manusia untuk saling tolong-menolong. Apalagi, aku sudah lama mendengar
kekejaman sepak terjang tokoh berjuluk Pengais Nyawa dan Singa Berbulu Merah.
Jadi, tindakanku ini ku anggap sebagai usaha menentang keangka-ramurkaan. Aku
yakin, setiap orang yang dimusu-hi tokoh sesat seperti mereka, kemungkinan
besar berdiri di jalan yang lurus. Makanya, aku tidak se-gan-segan lagi untuk
membantumu. Apalagi kuli-hat tadi kau agak terdesak. Maaf, bukannya mak-sudku
merendahkan kemampuanmu, Kek. O ya. Tadi kau katakan, aku telah menyelamatkan
dua nyawa? Padahal, kenyataannya hanya ada kau sa-ja Kek? Lantas, yang satu
lagi nyawa siapa?"
"Begini, Anak Muda. Sebelum aku berta-rung dengan tiga
tokoh sesat tadi, aku tengah be-
rusaha menolong muridku yang terancam bahaya. Bahkan
kemungkinan akan tewas, kalau tidak se-gera ditolong. Lantas, kau menyelamatkan
aku. Bukankah itu berarti kau telah menyelamatkan dua nyawa?!" jelas
Janggara. "Ah! Hampir lupa. Namaku Janggara. Sedangkan muridku bernama
Anjani. Memang, aku dulu..., yahhh... seperti kau-lah, Anak Muda. Suka ikut
campur bila melihat ada tindak kejahatan di hadapan mata. Dan kebe-tulan,
sebagian dari tokoh sesat yang tewas di tan-ganku adalah kawan-kawan mereka.
Jadi, mereka datang untuk membalas dendam."
"Aku Arya, Kek. Arya Buana," kata pemuda berambut
putih keperakan itu balas memperke-nalkan diri.
"Arya Buana. Hm.... Sebuah nama yang ba-gus. Kalau
tidak mempunyai keperluan penting, ingin rasanya kita bisa berbincang panjang
lebar denganmu, Arya. Namun, sayang sekali...."
"Oh..., tak mengapa, Kek. Aku bisa menger-ti. Dan
kalau kau setuju, aku bersedia memban-tumu. Maaf, bukannya ingin menyombongkan
ke-pandaianku. Tapi...," kata pemuda yang tak lain memang Arya Buana alias
Dewa Arak.
"Aku mengerti, Arya. Tapi, kurasa saat ini aku mampu
melakukannya sendiri. Mungkin kelak bila tak sanggup, aku akan meminta
bantuanmu. Aku tak ingin merepotkan mu," tolak Janggara, halus.
"Kalau begitu, selamat tinggal, Kek. Kudoa-kan kau
berhasil. Juga muridmu kembali dengan selamat," harap Arya, sambil
melangkah pergi.
"Terima kasih atas bantuan doamu, Arya. Selamat jalan,
pula!" sambut Janggara.
Kakek ini tidak langsung melangkah me-ninggalkan tempat
itu. Ditatapnya Arya Buana alias Dewa Arak!
Janggara kontan terperangah ketika melihat guci arak yang
menggantung di punggung Arya. Tadi, benda itu tidak kelihatan. Karena, pemuda
itu berdiri berhadapan dengannya.
Janggara ingin berseru memanggil Arya, namun ditahannya.
Dia hanya menatap tubuh pemuda berambut putih keperakan itu hingga hi-lang dari
pandangannya.
Kemudian setelah menghela napas berat, Janggara berbalik
dan melesat meninggalkan tem-pat itu untuk menolong Anjani, muridnya!
***
4
Seorang pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun,
melangkah tenang menghampiri seke-lompok bangunan yang terkurung pagar tembok
tinggi. Pintu gerbangnya terlihat kokoh kuat, kare-na terbuat dari kayu tebal.
Dan di atasnya, tertulis huruf-huruf tebal dan jelas pada selembar papan tebal
dan lebar berukir. Papan itu bertuliskan Per-guruan Golok Malaikat!
Pemuda bertubuh tegap terbungkus pa-kaian coklat ini
tersenyum mengejek. Bahkan
membuang ludah dengan sikap menghina sekali, ketika melihat
papan nama perguruan itu.
"Rupanya tua bangka itu mengalami kema-juan pesat!
Makmur tampaknya, sehingga pergu-ruannya yang dulu kecil sekarang telah menjadi
demikian mewah! Tapi tunggu sebentar lagi, Tua Bangka! Aku, Samukti! Akan
membuat semua hancur berantakan!" ancam pemuda berpakaian coklat ini.
Dengan wajah beringas, pemuda bernama Samukti melangkah
lebar menghampiri daun pin-tu gerbang yang tertutup rapat. Sesampainya di depan
pintu, Samukti segera menempelkan salah satu telapak tangannya. Tampak
sembarangan sa-ja, seperti layaknya orang yang bersandar dengan satu tangan.
Tapi mendadak.... Krakkk...!
Terdengar bunyi berderak keras, ketika pa-lang pintu
gerbang yang terbuat dari balok kayu tebal dan berat patah! Seketika, daun
pintu ger-bang itu pun terpental ke kakan-kiri. Tampak ha-laman luas dari
kelompok bangunan membentang di depan mata.
Bunyi yang cukup keras tadi, membuat be-lasan pemuda
bertelanjang dada yang tengah ber-latih, mengalihkan pandangan ke arah pintu
ger-bang. Kebetulan, mereka menghadap ke sana.
Tidak demikian halnya seorang lelaki beru-sia tiga puluh
tahun yang menjadi pengajar bela-san anak muda itu. Pengajar dengan wajah
dihiasi cambang bauk lebat itu berdiri membelakangi pin-tu gerbang, menghadap
ke arah belasan pemuda asuhannya. Dan dia segera membalikkan tubuh,
untuk melihat penyebab bunyi gaduh tadi. Pemuda bercambang
lebat itu menger-
nyitkan alis. Hatinya dongkol melihat daun pintu gerbang
telah ambruk. Dan pandangannya lang-sung terpatri pada Samukti yang melangkah
te-nang, menuju salah satu bangunan perguruan. Sikapnya layaknya orang yang
tidak bersalah sedi-kit pun.
Pemuda bercambang lebat itu sebenarnya murid kepala
perguruan ini. Namanya, Badra. Se-gera disadari kalau kedatangan pemuda
berpa-kaian coklat ini tidak dengan maksud baik. Maka setelah memberi isyarat
pada adik-adik sepergu-ruannya untuk meneruskan latihan, Badra meng-hampiri
Samukti.
Bila Badra memusatkan perhatian ke arah pemuda berpakaian
coklat ini, maka lain halnya Samukti. Kakinya terus melangkah tanpa
mempe-dulikan murid kepala Perguruan Golok Malaikat yang menuju ke arahnya.
Karena masing-masing tidak mau menying-kir dari jalannya,
tubrukan antara mereka tidak mungkin bisa dihindari lagi. Apalagi karena jarak
keduanya tak lebih dari dua tombak lagi.
Namun, ketika jarak tinggal satu tombak la-gi, ada kekuatan
tak nampak yang menyeruak. Sehingga, memaksa Badra untuk menyingkir dari jalan
yang ditempuh Samukti. Kekuatan dahsyat yang membuat tubuhnya tertolak ke
samping. Pa-dahal, Samukti tidak melakukan gerakan apa pun! Kecuali,
melangkahkan kaki.
Tanpa menghiraukan pemuda bercambang
lebat yang tertegun bingung, Samukti terus saja melangkah
dengan sikap tak peduli. Arah yang di-tuju adalah bangunan paling besar, tempat
tinggal Ketua Perguruan Golok Malaikat.
Ketika Samukti telah melaluinya sejauh sa-tu tombak, Badra
baru bisa menguasai diri. "Tunggu!"
Disertai teriakannya, Badra melompat dan bersalto beberapa
kali di udara untuk menghadang Samukti. Tapi, ketika kedua kakinya telah
menje-jak tanah, dia hanya bisa melongo!
Badra ternyata tidak mendarat di depan Samukti. Maka dengan
hati kaget campur heran, kepalanya cepat menoleh ke belakang. Tampak Samukti
tengah melangkah seenaknya seperti se-mula, manis dalam jarak satu tombak
darinya!
Badra bingung. Padahal, semula diyakini betul kalau akan
menjejak tanah di hadapan pe-muda berpakaian coklat. Lompatannya berjarak ti-ga
tombak dari tempatnya semula berdiri. Dan se-harusnya, mendaratnya dua tombak
di depan pe-muda itu. Tapi, mengapa jarak antara mereka te-tap tidak berubah?!
Apakah dia salah mengukur jarak?! Tidak mungkin! Ataukah, diam-diam pe-muda
berpakaian coklat itu ikut melesat untuk melaluinya?! Tapi, mengapa gerakannya
tidak ter-lihat.
Sementara itu Samukti tetap bersikap tak peduli seperti
sebelumnya. Dia seperti tidak tahu kalau tindakannya membuat murid kepala
Pergu-ruan Golok Malaikat kebingungan!
Sebenarnya murid-murid Perguruan Golok
Malaikat lainnya melihat kejadian itu, walau tidak terlalu
jelas. Tadi sebelum Badra menjejak tanah, tubuh Samukti telah berada beberapa
tombak di depan hanya sekali langkah. Tidak begitu jelas, apakah pemuda itu
melesat atau berlari! "Tunggu, Pengecut!"
Terdengar bentakan keras menggelegar, membuat Samukti
menghentikan langkahnya. Ke-sempatan itu dipergunakan Badra untuk bersalto
kembali. Dan kali ini, dia berhasil menghadang di depan Samukti.
"Mulutmu terlalu lancang, Monyet! Semula aku tidak
ingin mencari keributan dengan cecun-guk sepertimu! Tapi karena telah
menghinaku, kau pun akan mendapat bagiannya! Cuh! Cuh! Cuh!"
Samukti tiga kali meludah, melepaskan tiga gumpal cairan
kental yang mengeluarkan bunyi berdesing nyaring. Arah yang dituju adalah
kening, leher, dan dada Badra.
Murid kepala Perguruan Golok Malaikat ta-hu, semburan ludah
itu tidak bisa dipandang rin-gan. Cepat bagai kilat, dia melompat ke belakang
sambil mencabut golok.
"Hup! Srang!
Begitu golok tercabut, Badra cepat mengi-baskannya, memapak
luncuran cairan kental dari mulut Samukti.
Trang! Trang!
Ketika gumpalan-gumpalan ludah itu ber-temu batang golok,
terdengar bunyi berdentang beberapa kali.
Badra terkejut bukan kepalang, ketika me-rasakan tangannya
tergetar hebat Wajahnya pias, ketika melihat goloknya berlubang di tiga tempat!
Akibat terkena gumpalan ludah yang disemburkan Samukti.
"Kaget, Monyet?!" ejek Samukti tersenyum sinis.
"Itu hanya sekadar perkenalan saja. Kini te-rimalah ludahku yang akan mengirim
nyawamu ke neraka!"
"Cuh!"
Samukti kembali meludah, melepaskan cai-ran kental yang
meluncur ke arah pemuda ber-cambang lebat itu. Dan tentu saja, Badra tidak
in-gin mengulangi peristiwa serupa. Maka segera dia melompat ke belakang dan
bersalto beberapa kali di udara.
Tapi, ketika Badra menjejakkan kakinya di tanah, ternyata
cairan menjijikkan itu masih men-gejarnya! Berbeda dengan sebelumnya, gumpalan
ludah itu meluncur tanpa bunyi sama sekali!
Pemuda bercambang lebat kaget bercampur heran. Menurut perkiraannya,
ludah itu telah ke-habisan daya luncur. Namun kenyataannya, ludah itu masih
meluncur cepat laksana anak panah yang bam saja dijepretkan.
Perasaan heran dan ingin tahu membuat Badra melempar
tubuhnya ke samping, langsung bergulingan ke tanah. Namun, ketika bangkit
kembali, ludah itu masih mengejarnya!
Sekarang, murid kepala Perguruan Golok Malaikat ini pun
tahu kalau serangan itu berbeda dengan serangan pada umumnya. Ludah itu seper-
ti hidup! Bagaikan bermata, ludah itu terus mem-buru ke
mana saja Badra mengelak.
Badra kehilangan akal, bagaimana caranya meloloskan diri
dari serangan ludah yang terus memburunya. Maka dengan tekad baja dia ber-diam
diri menanti. Dan ketika ludah itu meluncur dekat, disambutnya dengan babatan
golok.
Wusss!
Kembali Badra terperanjat, begitu babatan goloknya hanya
mengenai angin. Bagaikan hidup ludah itu bisa mengelak. Masih terbengong,
pemu-da bercambang bauk ini belum menyadari bahaya mengancam. Gumpalan ludah
yang tadi mengelak, terus berputaran kemudian terus melesat meng-hantam dahi
Badra hingga tembus ke belakang kepala.
Crok! "Aaa...!"
Darah bercampur otak menyembur, diba-rengi teriakan
menyayat hati dari mulut Badra. Tubuhnya ambruk, dan nyawanya melayang saat itu
juga!
Tewasnya Badra, membuat belasan orang murid Perguruan Golok
Malaikat tersadar dari rasa terpukaunya. Sejak tadi, mereka seperti terkena
sihir. Bengong, memperhatikan tingkah pengejar mereka dan gumpalan ludah yang
terus-menerus mengejar.
Kesadaran yang timbul menyebabkan ke-marahan hebat. Bagai
diberi perintah, mereka ber-gerak menyerbu. Golok-golok berkelebat ke arah
berbagai bagian tubuh Samukti.
Sementara, Samukti tetap diam di tempat dengan sikap
tenang! Baru ketika mata-mata golok nyaris menyentuh tubuh, Samukti bersin.
"Haaashiii...!"
Keras suara Samukti. Akibatnya, serangan golok-golok yang
siap mencincang tubuhnya jatuh ke tanah. Saat itu juga para pengeroyok
merasa-kan sekujur tubuh mereka lemas. Bunyi bersin Samukti membuat tenaga
mereka terasa lenyap begitu saja. Bahkan seluruh urat mereka terasa lumpuh!
Samukti tertawa mengejek. Dan saat itu ju-ga, kedua
tangannya dikibaskan bagaikan orang mengusir nyamuk. Hebatnya tubuh murid-murid
Perguruan Golok Malaikat, berpentalan tak tentu arah bagaikan daun-daun kering
diterbangkan an-gin keras.
"Setan! Siapa yang telah berani mengacau Perguruan
Golok Malaikat?!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari belakang, begitu
Samukti menyelesaikan sepak terjangnya. Pemuda itu segera berbalik. Dan
sepa-sang matanya langsung terbelalak, seperti melihat hantu di tengah hari
bolong.
Ketika sama-sama menatap, sosok yang mengeluarkan bentakan
terperanjat. Bahkan sam-pai melangkah mundur. Raut wajahnya menun-jukkan
keterkejutannya yang tidak bisa disembu-nyikan.
"Kau..., kau..., Samukti...?!" tanya sosok yang
ternyata gadis berpakaian biru. Tangannya yang berjari lentik serta halus
ditudingkan ke de-
pan.
Samukti tersenyum lebar, setelah berhasil meredam rasa
kagetnya.
"Syukurlah kalau kau masih ingat padaku. Bukankah kau,
Sunti Ranti?! Tak kusangka, kau masih seperti dulu. Cantik manis. Bahkan jauh
le-bih cantik."
Gadis bernama Sunti Rani berwajah cantik manis dengan
bentuk tubuh menantang. Wajah-nya memerah seketika mendengar pujian yang je-las
mengandung kekurangajaran itu.
"Mau apa kau kemari, Samukti?! Kini, kau bukan murid
Perguruan Golok Malaikat lagi?! In-gat! Ayah telah mengusirmu dan tidak
mengakui-mu sebagai murid! Atau kedatanganmu hendak minta dihajar?!, Biar aku
saja yang mewakili Ayah untuk memberi pelajaran padamu!"
"Ha ha ha...!"
Samukti tertawa bergelak. Sikapnya terlihat merendahkan
sekali. Sementara sepasang ma-tanya yang nakal menatap penuh minat sekujur
tubuh dan wajah Sunti Rani.
"Kau keliru, Sunti! Aku datang bukan ingin kembali
menjadi murid di sini. Aku tak mengang-gap Perguruan Golok Malaikat sebagai
pergurua-nku lagi. Bahkan kuanggap sebagai musuh! Begitu pula dengan ayahmu
yang kejam itu!"
"Ayah tidak kejam! Justru kaulah yang ma-nusia tak
tahu budi. Hampir tujuh tahun kau di-didik, namun kepandaianmu dipergunakan
untuk mencoreng muka Ayah dengan perbuatan nistamu! Dan kalau Ayah tidak keburu
datang, anak pera-
wan orang sudah kau garap habis-habisan!"
"Apa salahnya, Sunti?!" kilah Samukti.
"Se-harusnya Ayahmu membelaku. Bayangkan, aku mengutarakan cinta dan
kekagumanku secara baik-baik, tapi gadis liar justru mencaci makiku! Siapa yang
tidak kalap?! Untuk membalas sakit hatiku, ku perkosa saja dia! Sayang, Ayahmu
yang tak tahu diri itu mencegahku!"
"Tutup mulutmu yang busuk itu, Samukti! Manusia bejat
sepertimu seharusnya berterima kasih telah tercegah dari perbuatan keji! Kau
be-nar-benar orang yang berwatak kotor! Kalau kau berbuat sopan dan tak
mengajak yang tidak-tidak, kurasa gadis itu tak akan marah!"
"Sudahlah, Sunti. Lupakan saja masalah itu! Aku tak
begitu minat dengan gadis terkutuk itu. Keberadaanmu di sini membuat mata
hatiku tak tertarik lagi dengan gadis-gadis lain yang ba-henol sekalipun.
Ketika kulihat wajah dan bentuk tubuhmu, sudah bisa ku perkirakan betapa
nik-matnya bermain cinta denganmu, Sunti. Dan...," Samukti makin ngawur.
"Tutup mulutmu yang kotor, Samukti!" Sunti Ranti
yang sudah tidak bisa menahan
kesabarannya lagi langsung melompat menerjang Samukti.
Tangan kanannya dihantamkan ke arah kepala pemuda berpakaian coklat itu.
Tapi tanpa menggeser tubuhnya sedikit pun, Samukti
mengibaskan tangannya, menangkis serangan.
Plak! "Aaakh!"
Sunti Ranti memekik tertahan, ketika tan-gannya berbenturan
dengan tangan Samukti. Ke-mudian dengan sekali sentak Samukti telah mem-buat
tubuh Sunti Ranti terhuyung ke depan. Dan kesempatan itu digunakan Samukti
untuk meno-tok.
Tuk! Tuk!
Sunti Ranti merasakan tubuhnya lemas. Dan sebelum tubuh
gadis itu ambruk, saat itu ju-ga dengan buas Samukti menyambutnya.
Direng-kuhnya tubuh gadis itu dalam sebuah dekapan erat penuh nafsu. Kemudian
dengan ganasnya, di-ciuminya wajah gadis itu.
Sunti Ranti ingin menjerit, namun tidak ada suara yang
keluar. Dua buah totokan, membuat urat suara dan tubuhnya tak berguna sama
sekali. Dia hanya bisa pasrah atas semua tindakan Sa-mukti terhadapnya. Dibiarkannya
saja sekujur tu-buhnya dihajar tangan Samukti.
"Manusia terkutuk! Lepaskan dia...!" Mendadak
terdengar teriakan menggeledek
begitu kuat tenaga dalam yang terkandung, mem-buat tempat
sekitarnya bergetar hebat. Saat itu ju-ga Samukti menghentikan tindakannya.
Matanya tampak merah karena merasa terganggu keasyi-kannya. Seketika
perhatiannya beralih pada sosok yang mengeluarkan bentakan. Seorang kakek
be-ralis merah yang wajahnya tampak merah padam. Marah!
Samukti tersenyum sinis. Tanpa mengenal kasihan tubuh Sunti
Ranti yang tengah dipeluknya di dorong begitu saja hingga jatuh keras ke tanah.
"Akhirnya kau muncul juga, Golok Malaikat! Kukira kau
terus bersembunyi di kandang mu!" ejek
Samukti sambil menatap mata kakek bera-lis merah yang dipanggil Golok Malaikat "Erghhh...!"
Golok Malaikat menggeram. Sepasang ma-tanya membelalak
hendak menelan pemuda di ha-dapannya bulat-bulat
"Oh! Ternyata kau, Murid Murtad! Manusia tak kenal
budi! Menyesal, kenapa dulu tak kuha-bisi saja nyawamu agar tidak menimbulkan
buntut tak baik seperti ini!" geram Golok Malaikat dengan suara bergetar
penuh kemarahan.
"Sayang sekali, Tua Bangka Bau Tanah! Kau tak
melakukannya. Dan kau pantas menyesa-linya seumur hidup. Sekarang kedatanganku
ke-mari untuk membalas sakit hatiku karena kau menggagalkan rencanaku!"
"Kau bebas bertindak bila sanggup membu-atku menjadi
mayat, Biadab!"
"Sama sekali tidak, Tua Bangka!" Samukti
menggeleng. "Aku justru menginginkan kau tewas belakangan. Terlebih dulu,
semua muridmu akan kubantai. Kemudian putri mu si montok Sunti Ranti akan ku
perkosa sampai mati di depanmu. Agar kau merasakan sakit hati yang mendalam.
Dan kau, akan ku tinggalkan hidup-hidup, dalam keadaan tak berguna seumur
hidupmu! Bagaima-na, Tua Bangka! Asyik, bukan?"
"Kaulah yang akan kubunuh lebih dulu se-belum maksudmu
terlaksana, Biadab!"
Golok Malaikat langsung mencabut senjata andalannya yang
telah menggemparkan dunia per-silatan. Dia menjadi pentolan golongan putih yang
ditakuti kawan maupun lawan, karena kehebatan goloknya. Dan kali ini golok itu
disiapkan untuk menghadapi Samukti yang disadari bukan lagi la-wan ringan.
Golok Malaikat telah bisa menduga kalau Samukti telah
memiliki kepandaian tinggi. Ini ter-lihat hanya dengan segebrakan saja, Sunti
Ranti yang telah mewarisi hampir seluruh kepandaian-nya, di buat tak berdaya.
Maka dibarengi teriakan melengking keras, Golok Malaikat
menyerang Samukti.
Golok sakti Golok Malaikat tak terlihat ben-tuknya. Yang
tampak hanya seleret bayangan mengurung seluruh jalan lolos Samukti. Bunyi
nyaring yang terjadi akibat putaran golok merobek udara, memaksa murid-murid
Perguruan Golok Malaikat yang telah siuman menutup telinganya karena merasakan
sakit seperti ditusuk jarum.
Tetapi, kelihatan Samukti benar-benar luar biasa! Meski
hanya bertangan kosong, amukan Go-lok Malaikat mampu dihadapi. Tanpa menemui
kesulitan sedikit pun, setiap serangan kakek itu dikandaskan. Tak jarang pemuda
ini menangkis dengan tangan telanjang. Dan setiap tangkisan Samukti, membuat
tubuh Golok Malaikat ter-huyung-huyung ke belakang dengan tangan terge-tar
hebat.
Golok Malaikat tampak kelabakan, ketika Samukti melancarkan
serangan balasan. Dan ken-dati bertangan kosong, serangan-serangan Samuk-ti
tidak kalah berbahaya!
Golok Malaikat sadar, bahaya telah men-gancam keselamatan
murid-murid dan juga pu-trinya. Maka sambil terus mengadakan perlawa-nan
sengit, dia menyempatkan diri untuk menyu-ruh murid-muridnya kabur. Sementara
putrinya tidak diperintahkan untuk pergi karena tahu kalau Sunti Ranti dalam
keadaan tertotok!
Entah karena patuh terhadap perintah ke-tua mereka, atau
karena takut dan gentar melihat kesaktian Samukti, belasan murid Perguruan
Go-lok Malaikat segera kabur meninggalkan tempat itu. Mereka sadar, Samukti
tidak akan dapat di-tandingi! Hanya beberapa orang yang tidak kabur, karena
merasa tak tega untuk meninggalkan guru mereka yang tengah sendirian menghadapi
maut.
***
5
Samukti, memang berwatak keji. Melihat belasan murid
Perguruan Golok Malaikat berlarian meninggalkan tempat itu, cepat bagai kilat
dia me-runduk meraih beberapa kerikil di tanah. Lalu se-ketika itu pula
dilemparkannya kerikil-kerikil itu ke arah murid-murid Perguruan Golok Malaikat
"Aaa...! Aaakh...!"
Jeritan-jeritan menyayat hati terdengar ke-tika
kerikil-kerikil yang dilemparkan Samukti, memecahkan kepala belasan murid
perguruan yang tidak berdosa.
Golok Malaikat marah bukan main melihat kematian
murid-muridnya, secara mengiriskan! Maka seluruh kemampuannya dikerahkan untuk
bisa membunuh, atau paling tidak mati bersama. Namun, niatnya hanya sia-sia.
Kemampuannya kini memang berada cukup jauh di bawah Samuk-ti.
Malah pada satu kesempatan, gedoran tan-gan pemuda itu
kontan membuat tubuh Golok Ma-laikat terjengkang ke belakang. Darah segar
kon-tan tersembur dari mulutnya. Dan begitu jatuh di tanah, kakek ini tidak
mampu bangkit lagi. Tergo-lek tanpa daya.
Samukti kini tertawa keji. Dipungutnya go-lok milik Ketua
Perguruan Golok Malaikat yang terjatuh di tanah. Dan dengan dua jarinya, golok
itu dilengkungkan seperti bumerang. Kemudian masih dengan senyum keji, golok
itu dilemparkan ke arah sisa murid perguruan Golok Malaikat yang masih setia
menunggu ketuanya.
"Keji!"
Golok Malaikat memaki dengan hati pilu, ketika melihat
golok itu melayang, langsung me-menggal kepala murid-muridnya. Tidak terdengar
jeritan apa pun dari mulut mereka. Sementara go-lok itu kemudian melayang
kembali ke tangan Sa-mukti yang tampak tersenyum puas.
"Bagaimana, Golok Malaikat?! Nikmat bu-
kan, sebuah pembalasan dendam?!" tanya Samuk-ti penuh
ejekan.
"Terkutuk kau, Samukti!" maki Golok Ma-laikat!
Bunuhlah aku!" "He he he...!"
Samukti tertawa terkekeh. Kemudian di-hampirinya tubuh
Sunti Ranti yang tergolek. Seke-tika, wajah Golok Malaikat pias. Demikian juga
Sunti Ranti. Mereka tahu, Samukti akan membuk-tikan ancamannya.
"Seperti telah kukatakan tadi, urusan den-gan mu
belakangan, Golok Malaikat! Kau kujadi-kan saksi mata, hasil pembalasan dendam
yang berkarat sejak lima tahun yang lalu!" Bret!
Baju di bagian dada Sunti Ranti langsung robek lebar,
ketika jari-jari tangan Samukti me-renggutnya. Saat itu juga dua buah bukit
kembar milik Sunti Ranti mencuat hendak melompat ke-luar.
Golok Malaikat hanya bisa memaki kalang kabut. Sedang Sunti
Ranti merintih dalam hati. Sementara itu Samukti menatap dua bukit kembar yang
berkulit putih mulus dengan buas seperti se-pasang mata harimau lapar yang
melihat kambing gemuk!
Sunti Ranti menjerit tertahan dalam hati, ketika Samukti
bersiap menerkam tubuhnya. Ta-pi....
***
"Hanya manusia berhati binatang yang me-lakukan
kekejian seperti ini...!"
Belum sempat Samukti melampiaskan ha-sratnya, mendadak
terdengar suara teguran yang tidak begitu lantang, namun terasa jelas ada nada
kemarahan di dalamnya.
Samukti geram bukan kepalang. Dia tahu, ada orang yang
hendak mencampuri urusannya. Dengan perasaan geram kepalanya ditolehkan ke
belakang.
Di pintu gerbang, telah berdiri tenang seo-rang pemuda
berpakaian ungu berambut putih keperakan. Siapa lagi kalau bukan Arya Buana
alias Dewa Arak! Meski tenang, sepasang matanya yang tajam mencorong sarat
ancaman. Memang, Dewa Arak paling benci bila melihat tindakan tak senonoh
terhadap wanita!
Samukti yang sudah murka, kembali meng-geram. Tangannya
segera dijulurkan ke arah Golok Malaikat yang tengah tergolek. Sedangkan kakek
itu hanya bisa memejamkan mata, pasrah me-nunggu datangnya maut!
Tapi maut yang ditunggu tidak kunjung da-tang. Kakek ini
merasakan adanya angin keras menghamburkan rambutnya. Dan ketika matanya
terbuka, di tangan Samukti telah tergenggam se-gumpal rambut miliknya!
Mendapat perlawanan demikian, Golok Ma-laikat tersinggung
bukan main. Bagaimanapun ju-ga, dia adalah bekas guru Samukti yang wajib
di-hormati. Namun tindakan pemuda bejat ini justru sebaliknya, menghina!
Di lain pihak, Samukti tidak peduli. Begitu rambut Golok
Malaikat berhasil diraihnya, lang-
sung dibawanya ke depan mulut. Lalu, segera di-tiupnya.
Maka puluhan helai rambut itu meluncur ke arah Dewa Arak laksana jarum-jarum
panjang.
Dewa Arak mengibaskan tangannya, men-ciptakan angin besar
yang meluruk ke arah ram-but-rambut itu. Akibatnya laju rambut itu terta-han,
bahkan lemas seperti semula dan jatuh ke tanah.
Kegagalan serangan ini membuat Samukti, gelap mata! Maka
segera dilontarkannya pukulan bertubi-tubi ke arah Dewa Arak. Padahal, jarak
mereka terpisah sekitar delapan tombak!
Dewa Arak yang tengah murka, karena me-lihat tindakan
pemuda berbaju coklat itu terhadap Sunti Rani, kini bertindak tak
tanggung-tanggung lagi. Serangan-serangan Samukti langsung disam-butnya dengan
cepat.
Bunyi berdesing dan berkesiutan nyaring terdengar, ketika
dua tokoh sakti yang sama-sama muda saling memukulkan tangan masing-masing.
Pletar! Tar!
Terdengar letupan-letupan keras ketika pu-kulan-pukulan
jarak jauh itu berbenturan di ten-gah jalan. Dan setiap kali terjadi benturan,
tubuh keduanya sama-sama terhuyung-huyung ke bela-kang.
Serangan yang gagal ini rupanya tidak me-muaskan Samukti.
Pemuda ini tampak marah bu-kan main dengan wajah merah padam. Sepasang matanya
terbelalak, seperti hendak menelan bulat-bulat Dewa Arak. Kemudian dia berdiri
diam, den-gan kedua tangan dirangkapkan di depan dada.
Lalu, matanya terpejam.
Dewa Arak terdiam sejenak mengamati tin-dakan lawannya,
meski tak menghilangkan ke-waspadaannya.
"Urai Raga...!"
Samukti membentak keras begitu mata ter-buka. Sesaat
kemudian, Dewa Arak tertegun. Se-dangkan Golok Malaikat dan Sunti Ranti
terpaksa mengucak-ucak mata masing-masing karena tidak percaya dengan apa yang
terlihat
Tampak, tubuh Samukti perlahan-lahan meninggi dan membesar.
Dewa Arak dan Golok Malaikat yang telah kenyang pengalaman langsung menduga
kalau hal seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan manusia. Maka, kedua tokoh
ini sece-patnya mengerahkan kekuatan batin untuk mene-kan alam bawah sadarnya,
kalau apa yang terlihat adalah tipuan belaka.
Tapi betapa kagetnya hati Dewa Arak dan Golok Malaikat,
ketika melihat pemandangan yang terlihat tidak berubah sama sekali. Bahkan,
tubuh Samukti semakin tinggi dan membesar!
Sementara Dewa Arak mengerahkan selu-ruh kekuatan batinnya.
Kemudian dengan penge-rahan seluruh tenaga dalamnya, pemuda beram-but putih
keperakan ini membentak keras.
"Asal kecil, kembali kecil!"
Berkali-kali Dewa Arak mengeluarkan teria-kan keras, yang
membuat suasana sekitarnya ber-getar seperti ada halilintar yang menyambar.
Na-mun, penglihatan yang tertangkap mata pemuda itu tetap saja tidak berubah.
Malah, tubuh Samuk-
ti semakin membesar dan meninggi.
Melihat kenyataan ini, Dewa Arak pun sadar kalau
pemandangan yang tampak adalah kenya-taan sesungguhnya. Meskipun diliputi rasa
keti-dakpercayaan, pemuda berambut putih keperakan ini terpaksa harus
mengakuinya.
Dan yang dapat dilakukan Dewa Arak hanya menunggu sampai
perkembangan tubuh Samukti berhenti. Kini jantung Arya mendadak berdetak keras.
Akhirnya penantian Arya berakhir. Perkem-bangan tubuh
Samukti terhenti, ketika tubuhnya mencapai tinggi satu setengah tombak! Tidak
hanya tinggi, tapi juga besar! Sehingga Samukti sekarang kelihatan seperti
bukit kecil.
"Ha ha ha...!"
Samukti tertawa bergelak, penuh kegembi-raan dan rasa
bangga.
"Sekarang kau akan kuhancurkan orang usil!"
Dewa Arak terhuyung-huyung sambil men-dekap kedua telinga.
Untuk pertama kalinya, dia tidak mampu melawan pengaruh tawa yang me-nyerang
telinga dan menekan jantungnya dengan tenaga dalamnya. Tawa itu demikian keras,
tak ubahnya halilintar! Bahkan jantungnya bagai me-lompat-lompat dengan kepala
terasa pening!
Samukti rupanya tahu kejadian yang ten-gah dialami Dewa
Arak. Maka, tawanya segera di-lanjutkan. Tindakannya membuat Dewa Arak se-makin
kelabakan bak cacing kepanasan. Tubuh Dewa Arak terus menggeliat-geliat
Keadaan Dewa Arak mengkhawatirkan se-kali. Tubuhnya
sempoyongan bagai orang mabuk berat. Kedua tangan didekapkan erat-erat pada
kedua telinga. Wajahnya pun tampak memerah bagai kepiting rebus.
Sementara, daun-daun berguguran dari po-hon.
Bangunan-bangunan yang terbuat dari kayu berderak-derak keras seperti hendak
roboh. Malah beberapa saat kemudian, bagian demi bagian ban-gunan terlepas.
Golok Malaikat dan Sunti Ranti sudah ping-san sejak tadi
akibat pengaruh tawa itu. Padahal mereka tidak terlalu mendapatkan pengaruh
tawa Samukti. Karena tawa itu ditujukan jelas untuk Dewa Arak.
"Aaa...!"
Dalam upaya untuk menangkal pengaruh tawa, Dewa Arak
menjerit sekeras-kerasnya. Da-lam cekaman rasa sakit yang menggelegak, pemu-da
itu berusaha terus melawan pengaruh tawa yang menyakitkan itu.
Ranting-ranting langsung jatuh dari dahan pohon. Angin
bertiup tak tentu arah, akibat perta-rungan aneh antar tenaga dalam.
Ternyata jeritan itu tidak terlalu banyak menolong Dewa
Arak. Maka sambil tetap menjerit keras, Arya melompat menerjang Samukti. Guci
araknya diayunkan deras ke arah kepala Samukti. Dewa Arak memang bermaksud
secepatnya mero-bohkan lawan yang amat berbahaya ini!
"Hukh...!"
Keluhan tertahan keluar dari mulut Dewa
Arak. Tubuhnya bagaikan menabrak sebuah dind-ing yang tidak
tampak, begitu berjarak setengah tombak dari Samukti. Kekuatan dahsyat,
mem-buat tubuhnya terjengkang deras ke belakang.
Begitu tubuh Arya jatuh ke tanah, Samukti mengirimkan
dorongan pukulan jarak jauh dengan tangan kanan-kiri secara bergantian.
Untung, Dewa Arak sempat berkelit dengan menggulingkan
diri. Kalau tidak, nasibnya sama dengan tanah tempatnya tergolek tadi, yang
lang-sung berlubang sedalam kuburan gajah!
Dewa Arak bergidik! Selama petualangan-nya, belum pernah
dia bertemu tokoh yang mem-punyai kekuatan tenaga dalam seperti ini! Hanya
dorongan tangan saja mampu menimbulkan lu-bang besar pada tanah! Samukti yang
sebesar rak-sasa ini, bahkan memiliki kekuatan lebih dahsyat daripada Raga Pitu
(Untuk mengetahui lebih jelas tentang tokoh Raga Pitu, silahkan baca serial
Dewa Arak dalam episode: 'Panggilan ke Alam Roh").
Samukti menggeram laksana harimau mur-ka melihat
serangannya gagal. Kemudian dengan kedua tangannya dilakukannya gerakan
menarik.
Dewa Arak terperanjat bukan kepalang ke-tika merasakan ada
kekuatan dahsyat yang mena-rik tubuhnya ke arah Samukti! Meski dalam kea-daan
tergolek di tanah, Arya masih mampu untuk bertahan. Seluruh tenaga dalamnya
dikerahkan untuk menolak tarikan lawannya. Kendati demi-kian, tubuhnya tetap
terseret juga.
Begitu telah dekat, Samukti yang tengah ka-lap itu cepat
menggerakkan kakinya menjejak pe-
rut Dewa Arak. Tentu saja, Arya tidak ingin tubuh dan
seluruh isi bagian dalam dadanya hancur be-rantakan. Maka tangannya segera
diulurkan un-tuk menangkap kaki itu dengan pengerahan selu-ruh tenaga dalamnya.
Tetapi, ternyata Arya hanya mampu berta-han sebentar.
Disadari apabila memaksakan diri terus, tulang-tulang tangannya akan patah.
Bah-kan kaki yang luar biasa besar itu akan berhasil menjejak dadanya. Maka
sambil melepaskan tan-gan, tubuhnya digulingkan.
Dewa Arak bermaksud menjauhkan diri. Namun, ternyata pemuda
berambut putih kepera-kan ini tengah tidak mujur. Tangan Samukti yang besar dan
kekar telah berhasil mencekal tengkuk-nya.
Samukti mengerahkan tenaga untuk meng-hancurkan tulang
leher Arya. Sebaliknya, Dewa Arak mengerahkan seluruh tenaga dalam, untuk
bertahan. Dia tidak ingin tulangnya hancur hingga tewas mengenaskan.
Dewa Arak tahu, bila keadaan seperti ini te-rus berlangsung
tak lama lagi, dia akan tewas dengan tulang leher hancur. Jepitan tangan
Sa-mukti benar-benar luar biasa. Dan Arya merasa ti-dak mampu bertahan lebih
lama lagi.
Untungnya, kekhawatiran Dewa Arak tidak terbukti. Setelah
beberapa saat tidak berhasil menghancurkan tulang leher Dewa Arak, Samukti
kehilangan kesabaran. Maka dengan gemas tan-gannya diayunkan. Seketika, tubuh
Dewa Arak pun melayang jauh dengan cepat. Begitu cepatnya,
hingga melewati pagar tembok yang mengelilingi bangunan di
dalam rumah Perguruan Golok Ma-laikat.
Samukti yang masih belum puas mengum-bar amarah,
mengedarkan pandangannya. Tampak tubuh Golok Malaikat tergolek pingsan. Hanya
dua langkah, pemuda ini berada di dekat tubuh itu. Dan tanpa mengenal belas
kasihan lagi, segera di-injaknya dada Golok Malaikat
Terdengar bunyi berderak keras dari tulang-tulang yang
hancur. Darah mengalir keluar dari hidung, mata, mulut, dan telinga Ketua
Perguruan Golok Malaikat. Maka seketika nyawanya copot da-ri raga.
Korban satu nyawa belum membuat puas Samukti. Pandangannya
kembali beredar. Kali ini matanya tertumbuk pada tubuh Sunti Ranti. Pe-muda
berpakaian coklat ini bergegas menghampiri. Namun baru setindak, tiba-tiba
langkahnya ter-henti. Tangan kanannya seketika memegangi ke-pala. Wajahnya
menyeringai kesakitan. Tak lama kemudian, tubuhnya terhuyung-huyung.
Demikian hebat, rasa sakit yang diderita Samukti, hingga
tubuhnya membungkuk ke de-pan. Kali ini dua tangannya memegang kepala.
Se-dangkan seringai kesakitan yang terdengar sema-kin keras.
"Aduuuh...!"
Samukti tak tahan untuk tidak mengelua-rkan keluhan.
Kemudian tubuhnya berbalik, dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Bumi
tera-sa bergetar, ketika kaki Samukti yang besar-besar
menginjak tanah berkali-kali.
Tapi, rasa sakit yang mendera membuat lari Samukti tidak
tetap. Tubuhnya terhuyung ke sana kemari.
"Panas...! Panas...! Air...! Air?..!"
Di antara derap langkah kakinya, Samukti berteriak seperti
itu. Memang, pemuda berpakaian coklat ini merasakan bagian dalam kepalanya
te-rasa panas bukan kepalang seperti ada api di da-lamnya. Itulah sebabnya,
yang dibutuhkan Sa-mukti adalah air untuk merendam kepalanya.
Ketika tubuh Samukti lenyap dari pandan-gan mata, Sunti
Ranti telah sadarkan diri. Semula, gadis ini kebingungan ketika melihat suasana
seki-tar sepi! Tidak terlihat adanya pertarungan lagi. Namun ketika matanya
menatap mayat di depan-nya, seketika Sunti Ranti menjerit. Mayat yang terbujur
remuk itu tak lain dari Golok Malaikat, ayahnya!
Namun, jeritan Sunti Ranti hanya tertahan di tenggorokan.
Karena, dia masih dalam pengaruh totokan. Namun karena sebuah totokan memiliki
batas waktu, maka lama kelamaan pengaruh toto-kan di tubuh Sunti Ranti sirna.
Bergegas Sunti Ranti menghampiri mayat ayahnya. Dan gadis
itu segera bersimpuh di hada-pan Golok Malaikat, kemudian menangis sejadi-jadinya.
"Keparat kau, Samukti! Apa pun yang terja-di, aku akan
mencarimu! Akan kubalas semua sa-kit hatiku!" desis Sunti Ranti penuh
ancaman.
***
6
Byurrr!
Luncuran tubuh Dewa Arak berakhir di sungai. Tubuhnya terus
saja tenggelam ke dalam air. Sisa-sisa tenaganya dikerahkan untuk menca-pai ke
permukaan sungai.
Begitu muncul di permukaan sungai, pe-muda berambut putih
keperakan ini benar-benar tidak mampu berbuat banyak. Karena, arus sungai yang
membuat tubuhnya meluncur cepat terbawa arus yang makin lama makin deras.
Berdasarkan pengalaman, Dewa Arak tahu kalau aliran sungai
yang makin deras pertanda te-lah dekat air terjun. Berarti, sebentar lagi,
tubuh-nya akan dihempaskan ke bawah. Padahal, bi-asanya di sana batu-batu telah
siap melahapnya.
Sementara, tubuh Arya terus meluncur ter-bawa arus sungai.
Sesaat kemudian, telinganya mendengar bunyi air terjun yang menderu-deru. Dalam
keadaan seperti ini, untuk melawan arus sungai pun tidak ada gunanya.
Arya hanya mampu memejamkan mata ke-tika tubuhnya melayang
dari atas puncak air ter-jun.
Sudah terbayang di benaknya, kalau tu-buhnya akan jatuh
terhujam batu-batu karang yang bertebaran di tempat tumpahan air terjun.
Tapi di saat tubuh Dewa Arak melayang ja-
tuh, satu sosok yang tengah duduk di bongkahan batu di
pinggir tempat jatuhnya air terjun melihat-nya. Sikapnya tampak murung. Dan
kebetulan, saat tubuh Arya melayang jatuh, kepalanya tengah mendongak ke atas.
Tanpa menunggu lebih lama, sosok itu me-lolos sabuk dan
melemparkannya. Bagaikan hi-dup, sabuk itu meliuk-liuk, langsung melingkari
pinggangnya membentuk simpulan erat. Selanjut-nya, sosok itu bergerak
menyentak.
Arya mendarat di batu datar dan luas di de-pan sosok itu,
bagaikan diletakkan oleh tangan yang tidak tampak. Meski masih lemah, Arya be-rusaha
untuk tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Kek," ujar Arya
penuh rasa syukur. Pada sosok yang ternyata seorang kakek bertangan satu.
Dewa Arak mencoba duduk bersila berha-dapan dengan kakek
penolongnya. Kebetulan batu itu cukup luas.
"Berterima kasihlah pada Tuhan," jawab kakek
bertangan satu. "Tanpa perkenannya, se-muanya tak berarti apa-apa. Aku
yakin, semua ini telah di atur Yang Maha Kuasa. Dan aku hanya sebagai perantara
saja, agar dapat menolong orang yang berjiwa bersih sepertimu, Anak Muda."
"Terima kasih atas pujian mu, Kek. Aku tak berani
menganggap diriku sebagai orang yang ber-jiwa bersih. Namun, aku akan berusaha
untuk menjadi seperti itu. O, ya. Namaku Arya Buana, Kek. Dan, orang-orang
biasa memanggilku, Arya!"
Kakek bertangan satu itu tercenung seje-
nak, seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. "Meski
telah cukup lama mengasingkan diri,
aku juga dengar tentang munculnya seorang pen-dekar muda
sakti yang berjuluk Dewa Arak! Apa-kah kau sendiri yang dimaksudkan?! Kulihat,
rambutmu putih keperakan. Pakaianmu ungu. Di punggungmu, ada guci arak. Dan
yang lebih pent-ing lagi, sepasang matamu mencorong tajam pe-nuh kekuatan
tenaga dalam. Aku yakin, tokoh sakti setenar Dewa Arak pasti memiliki mata
se-perti itu," ungkap kakek bertangan satu.
"Begitulah orang menjuluki aku, Kek. Na-mun, aku yakin
tidak ada artinya bila dibanding-kan dengan nama besarmu. Boleh ku tahu, siapa
kau sebenarnya, Kek?!" tanya Arya hati-hati.
Kakek bertangan satu tidak langsung men-jawab pertanyaan
itu. Dia malah tercenung seje-nak.
"Sebenarnya, aku bermaksud untuk mem-bawa mati rahasia
busuk mengenai perbuatan ter-kutuk yang kulakukan di akhir hidupku!"
jelas. kakek itu, bernada mengeluh.
"Lebih baik, kau tidak usah menceritakan-nya daripada
menjadi beban batinmu, Kek. Dan...."
"Tidak perlu sungkan atau merasa kecil ha-ti, Dewa
Arak! Justru aku ingin menceritakannya. Dan kebetulan kau, sepertinya layak
dipercaya. Aku tidak ingin perbuatan terkutuk yang kulaku-kan, membuat hatiku
gelisah dan selalu dikejar-kejar perasaan bersalah. Dengan menceritakan pada
orang lain, beban batin ku akan berkurang."
Dewa Arak diam, tidak memberi tanggapan sama sekali.
"Namaku, Sangga Langit! Tapi, orang lebih suka
memanggilku Eyang Sangga Langit," kakek bertangan satu memulai
keterangannya. "Aku mempunyai.... Yahhh, katakanlah sebuah pergu-ruan.
Hanya saja, jumlah muridku tidak banyak. Hanya beberapa orang. Di antara
mereka, yang paling menonjol adalah putri seorang sahabat yang sengaja
dititipkan padaku. Seorang gadis cantik bernama Witari, yang memiliki kemampuan
di atas kawan-kawannya. Ini karena ketekunannya dan juga bakatnya."
Arya diam-diam terkejut ketika mengetahui kakek di
hadapannya adalah Eyang Sangga Langit. Nama kakek itu telah lama dikenal
sebagai seo-rang tokoh sakti yang memiliki kepandaian yang luar biasa! Bahkan
banyak memiliki ilmu gaib yang aneh-aneh dan tidak masuk akal. Hanya sa-ja,
jarang ada orang yang tahu tempat tinggalnya.
"Setelah mengajarkan semua kemampuan yang kumiliki
kepada murid-muridku, aku lalu mengasingkan diri. Pekerjaanku, setiap hari
ada-lah bersemadi dan memusatkan perhatian untuk menciptakan ilmu-ilmu
lainnya," lanjut Eyang Sangga Langit setelah terdiam sejenak untuk
men-gambil napas. "Tapi baru beberapa bulan, Witari muncul. Tepat pada
saat yang bersamaan, aku terserang rasa gelisah yang begitu mendadak dan aneh.
Rasa gelisah ini timbul karena alam bawah sadarku yang sering kuasah menjadi
tajam, mera-sakan adanya hal mengerikan yang bakal terjadi.
Tapi sayangnya, aku tidak sadar dengan firasat yang
kuterima. Dan ternyata, malapetaka besar yang mampu membuat alam bawah sadar ku
itu demikian gelisah berasa! dari muridku."
"Apakah dia berkhianat?!" tanya Arya tidak sabar,
karena rasa ingin tahunya.
"Tidak! Sama sekali tidak!" Eyang Sangga Langit
menggeleng.
Kemudian lelaki tua ini menceritakan se-muanya secara
lengkap. Beberapa kali, Arya sam-pai mengeluarkan seruan-seruan kaget mendengar
semua cerita yang disampaikan kakek bertangan satu itu.
"Kalau begitu..., aku telah bertarung mela-wan Witari
palsu yang kau maksudkan, Eyang," ujar Arya, ketika Eyang Sangga Langit
menyelesai-kan ceritanya.
"Ahhh...! Benarkah demikian, Arya?! Mak-sud ku..., kau
telah berhadapan dengan orang yang telah menipuku untuk mendapatkan ilmu 'Urai
Raga'?!"
***
Kata-kata Eyang Sangga Langit terdengar bergetar. Wajahnya
diliputi rasa kaget dan tidak percaya.
"Sebenarnya aku tidak yakin, Eyang. Tapi mungkin saja
kalau orang yang kuhadapi adalah orang yang menyamar sebagai Witari.
Masalahnya, sewaktu bertarung beberapa kali dan tidak mampu mengalahkanku, dia
kelihatan mulai penasaran.
Lalu disebutnya satu ilmu yang bernama 'Urai Ra-ga'! Sesaat
kemudian...."
"Tubuhnya membesar dan meninggi...?!" se-lak
Eyang Sangga Langit tidak sabar menunggu kelanjutannya.
"Benar...!" jawab Arya cepat.
"Itulah ilmu 'Urai Raga' milikku!" pekik Eyang
Sangga Langit setengah mengeluh.
"Sebuah ilmu yang mengerikan!"
Tanpa sadar Arya mengeluarkan kata-kata seperti itu karena
masih terkenang akan kedah-syatan ilmu yang dipergunakan Samukti, sehingga
membuatnya tidak berdaya sama sekali.
"Memang," kata Eyang Sangga Langit mem-beri
persetujuan atas pendapat Arya. "Ilmu itu memang mengerikan dan akan
menyebarkan maut, apabila berada di tangan orang yang berwa-tak angkara murka.
Ilmu 'Urai Raga' membuat kemampuan seseorang berlipat ganda! Tenaga da-lamnya
menjadi sangat kuat. Sekujur tubuhnya seperti terlindung satu dinding
kasatmata, sehing-ga tak satu pun serangan yang mampu menem-busnya."
Arya mengangguk-anggukkan kepala, kare-na telah merasakan
sendiri kebenaran cerita Eyang Sangga Langit.
"Lalu..., bagaimana cara mengalahkan ilmu itu, Eyang?
Sepengetahuanku, tidak ada ilmu yang tidak punya kelemahan dan pantangan.
Bisakah kau beritahukan padaku kelemahan ilmu itu, hingga keangkaramurkaan
orang itu bisa ku ce-gah?" tanya Arya hati-hati, khawatir salah bicara.
Eyang Sangga Langit tidak langsung men-jawab, tapi malah
tercenung. Pandangannya di-arahkan ke langit pada gumpalan awan yang ten-gah
berarak.
"Aku sendiri belum pernah mempergunakan ilmu itu,
karena memang belum lama kudapatkan. Jadi, bagaimana ku tahu kelemahannya. Tapi
yang jelas, ada sebuah kelemahan besar dalam ilmu 'Urai Raga' yang dimiliki
oleh Witari palsu itu!"
"Aku belum mengerti maksudmu, Eyang?!" desah
Arya, tidak segan untuk mengutarakan ke-tidaktahuannya.
Eyang Sangga Langit tersenyum getir, seba-gaimana halnya
orang-orang yang tidak memiliki beban batin dalam hatinya. Kakek ini rupanya
ma-sih teringat akan perbuatan terkutuknya yang di-lakukan bersama Witari.
Perbuatan terkutuk yang membuat batinnya terguncang hebat.
"Mungkin perlu sedikit kuberitahukan, De-wa Arak.
Dunia ini dihuni oleh tidak hanya manu-sia saja. Namun, masih ada
makhluk-makhluk lain yang tidak bisa dilihat, tidak bisa diraba, ataupun
dirasa. Tapi, mereka ada. Makhluk-makhluk ini di namakan makhluk gaib yang
ka-satmata. Tinggalnya pun di alam gaib. Tempat yang bagi sebagian orang sulit
diterima akal se-hat," Eyang Sangga Langit mulai dengan penjela-sannya.
Arya terdiam. Dewa Arak juga percaya adanya makhluk-makhluk
gaib beserta alamnya. Bahkan pemuda berambut putih keperakan itu mempunyai
sesuatu dari alam gaib. Apabila diper-
lukan Belalang Raksasa-nya sewaktu-waktu bisa dipanggil
untuk membantu (Mengenai belalang raksasa ini, silakan baca serial Dewa Arak
dalam episode: "Dalam Cengkeraman Biang Iblis").
Makhluk-makhluk gaib itu ada yang berupa binatang, ilmu
jin, setan, genderuwo, kuntilanak, tuyul, buto ijo dan Iain-lain sebagainya.
Nah! Ilmu 'Urai Raga' itu kudapatkan, karena hubunganku yang erat dengan buto
ijo. Namanya Tagula! Jadi, apabila kata 'Urai Raga' disebut, maka tubuh orang
yang menyebutnya menjadi besar. Memang, tidak sebesar dan setinggi raksasa di
alam gaib. Tapi paling tidak, dua kali lipat lebih tinggi dan le-bih besar
dibanding ukuran orang pada umum-nya."
"Jelasnya ilmu 'Urai Raga' mempunyai ke-lemahan,
Eyang?" desak Arya meminta penegasan.
"Tidak!" sahut Eyang Sangga Langit lantang.
"Sepengetahuanku, tidak! Tapi, ilmu 'Urai Raga' yang dimiliki Witari palsu
itu ada kelemahannya!"
"Bisa kau beritahukan, mengapa dan ba-gaimana aku bisa
mengalahkannya melalui kele-mahan yang dimilikinya?!"
"Tentu saja!" sahut Eyang Sangga Langit dengan
suara dan sikap mantap. Tapi sebelumnya, maukah kau memenuhi permintaanku?
Sebenar-nya memang ini urusanku. Tapi karena aku sudah sangat tua dan tak
mungkin lagi menempuh perja-lanan jauh, maka kuminta tolong padamu, Dewa Arak.
Maukah kau?!"
"Bersedia, Eyang. Tentu saja dengan syarat, tidak
menyeleweng dari kebenaran!" jawab Arya
mengajukan syarat.
"Tentu saja tidak, Dewa Arak!" timpal Eyang
Sangga Langit cepat. Kau hanya kuminta mencari Witari, dan melindunginya kalau
terjadi apa-apa. Aku tidak tahu, dia pergi ke mana. Mungkin kem-bali ke rumah
orang tuanya. Aku benar-benar mengkhawatirkannya."
"Akan kuperhatikan semua kata-katamu, Eyang. Sekarang,
beritahukanlah padaku. Apa ke-lemahan ilmu 'Urai Raga' yang dimiliki Witari
palsu itu dan bagaimana aku bisa mengalahkannya!"
Kemudian Eyang Sangga Langit menje-laskan tentang kelemahan
ilmu 'Urai Raga'. Se-mentara, Arya mendengarkan penuh minat.
"Satu pertanyaan lagi, Eyang. Tapi kalau kau tidak mau
menjawabnya, aku tidak akan me-maksa," ujar Arya ketika Eyang Sangga
Langit te-lah memberitahukan kelemahan ilmu 'Urai Raga' yang dimiliki Samukti.
"Hm....!" gumam Eyang Sangga Langit, pe-lan.
"Apakah tempat ini berhubungan dengan ruangan di mana
kau dulu hampir dibunuh Witari palsu?!"
Eyang Sangga Langit mengangguk.
"Ada sedikit tambahan lagi, Eyang!" tambah Arya,
agak terburu-buru karena pertanyaan itu muncul secara tiba-tiba. "Apakah
kau tahu, kalau pengaruh aneh yang melanda perasaanmu dan pe-rasaan Witari
tidak sewajarnya?! Kalau benar, be-rarti ada orang yang sengaja menginginkan
terjadi. Untuk apa?! Dan apakah kau bisa menduga, siapa
orang itu?!"
Eyang Sangga Langit menautkan alisnya. "Memang agaknya
ada pihak ketiga yang te-
lah mempengaruhiku. Dengan menggunakan ilmu gaib yang
menjijikkan, dia berhasil menjeru-muskanku ke lembah kehinaan! Sayang, aku tak
tahu siapa orang itu. Kalau tidak, sudah kuhan-curkan kepalanya!"
Arya tidak menanggapi lagi. Dia tahu, Eyang Sangga Langit
bersungguh-sungguh dengan an-camannya. Kakek itu terlihat demikian terpukul
akibat perbuatan terkutuk yang pernah dilaku-kannya.
"Kurasa sudah waktunya aku hams pergi, Eyang. Akan
kucari Witari palsu itu. Dan, akan ku lenyapkan angkaramurkanya. Selamat
tinggal, Eyang!" ucap Arya Buana sembari berpamitan.
"Selamat jalan, Dewa Arak! Selamat bertu-gas, semoga
kau berhasil!"
***
Dewa Arak mengernyitkan alis dengan mata menyipit untuk
lebih memperjelas pandangan. Di kejauhan tampak ada sesosok tubuh tengah
berla-ri cepat menuju ke arahnya. Padahal, dia sendiri tengah berlari cepat
menuju ke arah sosok itu.
Arya merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Setitik
harapan tumbuh di hatinya. Siapa tahu sosok, yang tengah melesat cepat ke
arahnya itu Samukti!
Tapi seiring semakin dekatnya jarak, Arya
mulai bisa menduga kalau sosok di depannya bu-kan Samukti.
Pakaian sosok itu merah! Lagi pula, tubuhnya kecil dan ramping! Jelas, seorang
wani-ta!
Jantung dalam dada Arya berdetak jauh le-bih cepat, ketika
menduga kalau sosok di depan-nya orang yang dimaksud Eyang Sangga Langit.
Witari!
"Ah...!"
Arya berseru kaget, ketika wanita berpa-kaian merah
terhuyung-huyung kemudian jatuh ke tanah. Semula hatinya heran. Tetapi ketika
me-lihat ada sosok lain yang melesat cepat memburu ke arah gadis itu, Arya
segera tahu apa yang telah terjadi. Sosok yang melesat belakangan itu, tengah
mengejar-ngejar sosok yang diduga Witari! Dan bukan tak mungkin, sosok yang
baru datang bela-kangan ini telah membuat Witari roboh! Entah dengan pukulan
jarak jauh, atau serangan senjata rahasia!
"Tahan...!"
Arya mengeluarkan seruan keras, ketika melihat sosok itu
menghampiri tubuh gadis berpa-kaian merah. Pemuda itu khawatir, sosok itu akan
mengirimkan serangan maut.
Berbareng dengan teriakan itu, Dewa Arak mengerahkan tenaga
dalam yang dimilikinya. Dan saat itu juga tubuhnya melesat cepat ke depan.
"Ah! Kiranya kau, Kek," desah Arya dengan suara
lega, ketika melihat jelas siapa sosok yang tengah berdiri di dekat gadis
berpakaian merah. Orang itu ternyata Janggara!
"Kita berjumpa lagi, Dewa Arak...!" Janggara juga
berseru.
Dan Arya merasakan adanya nada gembira dalam suara
Janggara. Wajah kakek itu pun ber-seri-seri.
"Dunia memang tidak terlalu luas, Kek," ki-lah
Arya sekenanya, sambil menyempatkan diri untuk memperhatikan gadis berpakaian
merah yang tergolek di tanah.
Meski sekelebatan, pemuda ini sempat me-lihat adanya tahi
lalat di pipi kanannya. Tidak sa-lah lagi, gadis ini adalah Witari!
Janggara melihat lirikan Arya. "Kau kenal gadis ini,
Arya?!"
"Ya, kira-kira begitu," sahut Arya, mengang-guk.
"Guru gadis ini pernah menyelamatkan nya-waku!"
Janggara terdiam. Kepalanya hanya men-gangguk-angguk.
Entah, apa arti anggukannya.
"Kelihatannya kau ada persoalan dengan-nya,
Kek?!" pancing Arya ingin tahu.
***
7
Janggara menghela napas berat. "Sebenarnya sih, tak
ada masalah yang be-
rarti. Kami secara kebetulan bertemu di jalan. Dia kutanya
baik-baik, eh..., malah marah-marah dan menyerangku. Terpaksa aku melawan.
Rupanya,
dia tak kuat melawanku, dan melarikan diri. Kare-na aku
telanjur penasaran, dia kukejar. Dan..., kurasa kejadian selanjutnya kau telah
tahu sendi-ri, Arya," jelas Janggara.
Arya mengangguk.
"Aku bisa memaklumi, mengapa dia marah-marah padamu,
Kek?! Gadis ini memang tengah mendapat masalah. Jadi, mungkin saja menjadi
gampang tersinggung. Tapi, dia sebenarnya tidak jahat. Maka ku mohon, kau sudi
mengampuninya. Aku akan membawanya kembali pada gurunya. Karena, guru gadis itu
sendiri yang telah memin-taku untuk mencarinya. Apakah kau bersedia memaafkan
kelancangannya, Kek?!"
"Karena kau yang meminta, aku tidak punya pilihan
lain, Arya. Aku percaya padamu. Dan ku putuskan masalah ku dengannya
selesai!"
"Terima kasih, Kek. Sudah kuduga kau pas-ti akan
bertindak bijaksana."
Janggara tertawa terkekeh.
"Ah...! Hampir aku lupa! Bagaimana nasib muridmu itu,
Kek? Sudah berhasil kau sela-matkan?!"
Wajah Janggara muram seketika itu juga. Tentu saja Arya
kaget, melihat kenyataan
yang sama sekali tidak diduga. Meski kakek ber-wajah tirus
itu tidak memberi jawaban, namun da-ri sorot matanya menyiratkan kegagalan.
"Hhh...!"
Janggara terlebih dulu menghembuskan napas berat, seperti
hendak membuang ganjalan dalam dadanya.
"Kurasa tidak akan ada seorang pun yang sanggup
menyelamatkan nyawa muridku itu, Arya."
"Lho mengapa, Kek?!" tanya Arya kaget campur
heran.
Dewa Arak tahu, siapa Janggara. Kakek berwajah tirus yang
memiliki kepandaian amat tinggi. Bahkan Arya tak berani menganggap kalau
kepandaian kakek ini berada di bawah tingkatnya. Kalau Janggara saja sudah
demikian putus asa untuk bisa berbuat sesuatu, bisa dibayangkan se-berapa kuat
kesaktian lawan yang dihadapinya!
"Muridku menjadi tawanan seorang tokoh sakti, di
sebuah tempat yang bernama Puncak Nirwana. Jangankan untuk bisa masuk ke dalam
sana. Menghadapi dua penjaga di tiap-tiap pos pun, aku sudah tak mampu. Kalau
hanya meng-hadapi seorang di antara mereka aku akan sang-gup. Tapi, dua orang
sekaligus?! Padahal, tingkat kepandaian mereka hanya berbeda sedikit
den-ganku!"
"Puncak Nirwana?!" Arya mengulang nama tempat itu
dalam hati sambil mengernyitkan alis.
Dewa Arak memang pernah mendengar na-ma Puncak Nirwana.
Tapi, tempat itu lebih menye-rupai dongeng. Menurut berita yang tersebar, letak
Puncak Nirwana teramat rahasia. Tidak ada seo-rang pun tokoh persilatan tahu,
di mana tempat-nya. Sehingga, mereka hanya menganggap tempat itu sebagai
dongeng semata!
"Benar. Mengapa?!" Janggara balas menga-jukan
pertanyaan.
"Tidak apa-apa, Kek. Kukira tempat itu hanya ada dalam
dongeng. Masalahnya, belum pernah ada orang yang dapat menemukan tempat
itu," jawab Arya jujur.
"Tempat itu memang benar-benar ada, Arya," jelas
Janggara sungguh-sungguh. "Di sana tinggal keluarga yang amat sakti dan
berkepan-daian sangat tinggi! Jangankan majikannya. Baru para penjaganya saja,
sudah jarang dapat tertan-dingi tokoh persilatan tingkat atas!"
"Benarkah demikian, Kek?!" tanya Arya se-tengah
tak percaya.
"Benar, Arya," tegas Janggara mengangguk, mantap.
"Kau kira, dari mana aku bisa memiliki kepandaian setinggi ini?!"
Wajah Arya berubah.
"Jadi..., kau penghuni Puncak Nirwana, Kek?!"
"Bukan. Aku orang luar. Hanya kebetulan, mendapat
pertolongan dan dijadikan sebagai pe-waris ilmu-ilmu mereka. Tapi hanya
sebagian kecil saja yang diturunkan padaku. Lainnya, tidak ditu-runkan karena
merupakan ilmu keluarga! Jadi, hanya anggota keluarga saja yang bisa
mempelaja-rinya!"
Dewa Arak terkejut bukan kepalang men-dengar keterangan ini.
Kalau penuturan Janggara benar, sulit dibayangkan betapa tingginya kepan-daian
keluarga di Puncak Nirwana. Dan andaikata mereka turun ke dunia persilatan dan
membuat onar, siapa yang akan sanggup mengalahkannya?
"Mungkin kau pernah mendengar julukan
Raksasa Kapak Maut dan Tuyul Bertenaga Raksa-sa?! Kalau
tidak salah, sekitar lima belas tahun yang lalu?!" tanya Janggara.
Arya mengangguk, karena memang pernah mendengarnya. Kedua
tokoh yang disebutkan tadi memang memiliki kepandaian dahsyat. Begitu me-nurut
berita yang tersebar di dunia persilatan. Se
hingga tokoh sakti pentolan dunia pendekar seperti Golok
Malaikat harus menelan kenyataan pahit, dicundangi mereka dalam pertarungan
satu lawan satu!
"Nah! Mereka adalah penjaga-penjaga jalan menuju
Puncak Nirwana! Di tempat asal mereka tidak ada julukan apa pun. Tapi begitu
turun gu-nung, muncul julukan atas mereka karena tinda-kan-tindakan mereka yang
menggemparkan!"
"Kudengar mereka tidak jahat!" selak Arya
mengajukan pendapatnya.
"Memang tidak! Mereka turun gunung kare-na mencariku.
Aku kabur dari Puncak Nirwana, karena tidak tahan berdiam di sana terus
mene-rus. Aku ingin langsung membalas sakit hatiku pada tokoh-tokoh hitam yang
menyebabkan ke-luargaku tewas. Ayah, ibu, dan adik-adikku tewas oleh gerombolan
perampok. Maka setiap tokoh go-longan hitam adalah musuh besarku. Yang hams ku
basmi!
"Pantas, kemarin dulu waktu didatangi ke-lompok
tokoh-tokoh hitam, tindakanmu terlalu ke-ras!" kata Arya mengangguk-angguk
maklum.
"Yahhh...! Kira-kira demikian, Arya." Suasana
hening ketika Janggara menghen-
tikan cerita. Saat itu, baru Arya teringat pada Wi-tari.
Gadis ini ternyata tidak mampu bergerak sa-ma sekali dalam keadaan rebah
miring. Rupanya, dia tertotok sehingga lumpuh.
"Ah...! Hampir aku lupa...?!"
Sambil berkata demikian, Arya mengi-baskan tangan kanan ke
bawah seperti orang mengebut lalat. Gadis berpakaian merah yang memang Witari
merasakan jalan darahnya kembali lancar. Namun, dengan muka merah, dia bangkit
dan menerjang Janggara.
Tapi, hal itu sudah diperhitungkan Dewa Arak. Sebelum
serangan Witari mengenai sasaran-nya, di kirimkan totokan dari jauh. Sehingga,
tu-buh Witari ambruk seperti semula ketika jalan da-rahnya di bagian bahu kanan
tertotok.
"Maafkan aku, Witari. Kurasa kau telah dengar sendiri.
Salah paham telah selesai. Syukur, Kakek ini mau memaafkan kesalahanmu. Kalau
tidak.... Sudahlah. Tak usah kau perpanjang lagi masalah ini. Lagi pula aku
mendapat tugas dari Eyang Sangga Langit untuk menjagamu dari mara bahaya.
Gurumu khawatir, terjadi sesuatu atas di-rimu!"
Witari diam, tidak menjawab sama sekali. Hal ini membuat
Arya agak heran. Dia tahu, urat suara gadis ini tidak tertotok. Lalu, mengapa
tidak mau bicara sama sekali? "Kalau menurut penda-patmu..., apa yang
seharusnya kulakukan, Arya?!"
Pertanyaan Janggara membuat Arya menga-lihkan perhatiannya
pada kakek itu.
"Maksudmu untuk menyelamatkan nyawa
muridmu itu, Kek?!" tanya Arya meminta kepas-tian.
"Benar, Arya. Melalui dua penjaga, Raksasa Kapak Maut
dan Tuyul Bertenaga Raksasa, aku tahu Tuan Besar pemilik Puncak Nirwana itu
men-gajukan persyaratan, kalau aku ingin muridku kembali selamat."
"Apa syaratnya?!"
"Dia meminta ku untuk memulangkan se-mua pusaka yang
dulu kubawa sewaktu kabur da-ri Puncak Nirwana!" jawab Janggara,
malu-malu.
"Nah! Tunggu apa lagi?! Dia sudah bersikap bijaksana
dengan memberikan pilihan bagi kese-lamatan muridmu, Kek. Bahkan tidak mau
meng-hukum mu. Dia hanya minta pusaka-pusaka kembali! Sekarang, tinggal
terserah padamu. Lebih berat pada pusaka, atau pada nyawa muridmu?"
"Itulah sulitnya, Arya. Pusaka yang dimak-sud sudah
tak ada lagi di tanganku!"
"Ah...! Mengapa bisa demikian, Kek?!" tanya Arya,
tanpa menyembunyikan rasa penasarannya. "Aku menyembunyikannya di suatu
tempat.
Tapi ketika aku bermaksud mengambilnya lagi, ternyata telah
hilang. Belakangan kuketahui kalau pusaka itu telah berada di tangan seorang
pendekar. Aku ragu, bagaimana cara menda-patkannya kembali!"
"Mungkin kau bisa memintanya secara baik-baik,
Kek?!" Arya mengajukan usul.
"Bagaimana mungkin, Arya?! Pusaka itu te-lah menjadi
senjata andalan pendekar itu. Tanpa adanya pusaka itu, dia bagai macan yang
telah di-
cabut gigi dan kukunya. Begitu yang kudengar menurut berita
di dunia persilatan," bantah Jang-gara.
Suasana kembali hening.
"Kalau seandainya kau orangnya, bagaima-na tindakanmu,
Arya?! Ini, misalnya," pancing Janggara.
"Mungkin akan kuberikan, Kek. Tapi, mungkin pula
tidak. Ini bukan masalah semba-rangan. Bukankah pusaka tidak lebih berharga
daripada nyawa. Pusaka masih bisa dicari gan-tinya. Sedangkan nyawa?
Tidak!"
"Kalau begitu..., aku mohon kebijaksanaan mu untuk
memberi pusaka itu padaku untuk me-nebus nyawa muridku itu, Arya," ujar
Janggara.
Arya melompat ke belakang bagai disengat kalajengking.
Wajahnya kontan berubah hebat.
"Apa maksudmu, Kek?! Jangan main-main!" seru Arya
memperingatkan.
"Aku tidak main-main, Arya. Pusaka yang ku maksud
memang ada padamu. Kaulah pende-kar yang kumaksudkan," ungkap Janggara,
ber-sungguh-sungguh.
Arya terpaku kaku di tempatnya, bagai orang terkena sihir.
Pemuda ini kelihatan bingung sekali, karena tidak menyangka kalau pusaka yang
dimaksudkan ada di tangannya.
"Jadi..., pusaka yang kau maksudkan itu adalah...,
guci pusakaku ini, Kek?!" tanya Arya, terbata-bata.
Janggara mengangguk.
"Guci itulah yang kularikan dari Puncak
Nirwana, Arya. Karena aku tahu betul khasiatnya. Mampu
menawarkan racun-racun, mampu mem-buat arak yang lemah sekali pun menjadi
keras, dan dapat dijadikan senjata. Bahkan masih ba-nyak lagi kehebatan
lainnya. Aku tidak tahu, ba-gaimana pusaka itu bisa ada padamu. Tapi, ku mohon
kesediaanmu untuk memberi guci itu pa-daku untuk di tukar nyawa muridku,
Arya."
Arya tidak langsung memberi tanggapan. Dia masih berperang
melawan batinnya. Dua kein-ginan yang berlawanan berkecamuk dalam ha-tinya.
Satu sisi ingin memberi, di sisi lain menolak.
"Tidak bisakah yang lainnya, Kek?! Bukan-nya aku tidak
peduli nasib muridmu atau terlalu tamak dengan pusaka. Sama sekali tidak!
Tapi..., guci ini teramat penting artinya bagiku. Tanpa adanya guci ini, bagaimana
mungkin aku berjuluk Dewa Arak. Bahkan ilmu 'Belalang Sakti' tidak akan bisa ku
mainkan, tanpa guci ini. Julukan Dewa Arak mungkin akan hapus karenanya,"
kilah Dewa Arak, memberi alasan.
Janggara tersenyum pahit
"Seperti yang kukatakan tadi, Arya. Guci itu amat
berarti bagi seorang pendekar. Laksana nya-wa kedua baginya. Jadi, yahhh...!
Aku tidak bisa mengharap terlalu banyak," desah Janggara.
"Beri aku kesempatan untuk berpikir, Kek," pinta
Arya. "Ketahuilah. Kalau hanya dua alasan itu, aku tidak terlalu berat
untuk melepaskannya. Meski berat, tapi mungkin aku akan memberikan-nya padamu.
Betapapun juga, nyawa manusia jauh lebih berharga daripada pusaka."
"Jadi..., masih ada alasan lain yang mem-buat mu
merasa keberatan, Arya?!" tanya Jangga-ra agak kaget.
"Benar, Kek. Malah justru ini yang terberat! Perlu kau
ketahui, guci ini pemberian guruku. Dan dia memberikan, untuk menjadi pelengkap
ilmu andalan yang diwariskannya padaku!"
"Ah...!"
Janggara mengeluarkan keluhan tanpa sempat ditahan lagi.
Sebagai seorang tokoh persi-latan yang menghargai hubungan murid dan guru,
kakek ini tahu betapa pentingnya warisan seorang guru. Dan seorang murid wajib
menjaga pembe-rian gurunya dengan sebaik-baiknya. Karena, itu sama dengan
amanat Janggara pun tahu, rasa bimbang Dewa Arak semakin bertumpuk.
"Kurasa," Janggara membuka ucapan lagi dengan
suara kering dan getir. "Aku tidak perlu melibatkanmu dalam hal ini, Arya.
Biarlah kucari cara lain untuk menyelamatkan muridku."
Arya tidak memberi tanggapan. Keningnya tampak berkernyit,
tengah berpikir keras.
"Aku mempunyai jalan lain, Kek. Bagaima-na kalau kita
pergi bersama-sama. Kita coba un-tuk meminta kebijaksanaan penghuni Puncak
Nirwana itu. Kalau dia tetap tidak menerima, apa boleh buat. Mungkin guci itu
terpaksa harus kube-rikan. Biar bagaimanapun, benda itu toh asalnya dari
sana," jelas Dewa Arak.
"Sebuah usul yang baik, Arya," sahut Jang-gara
tidak terlalu gembira. "Tapi terus terang saja, aku tidak terlalu yakin
kalau Tuan Besar itu mau
menerima kedatangan kita."
"Tapi tidak ada salahnya kita mencoba du-lu,
Kek?!" kilah Arya memberi semangat.
"Kau benar, Arya. Tapi...."
"Apa yang perlu diragukan lagi, Kek?! Bu-kankah
menurut pengakuanmu, penghuni Pun-cak. Nirwana adalah orang-orang yang berwatak
bijaksana dan suka menolong. Aku yakin, mereka akan memberi keputusan yang
adil!"
Janggara untuk yang kesekian kalinya menghela napas berat.
Hal ini membuat Arya he-ran. Karena sebagai pemuda yang kenyang penga-laman,
dia bisa tahu ada sesuatu yang masih dis-embunyikan kakek itu.
"Dulu penghuni Puncak Nirwana memang memiliki watak
baik hati dan suka menolong. Tapi sekarang, entah mengapa bisa sampai berubah
se-perti ini. Aku tidak percaya lagi, Arya. Tapi, tidak ada jalan lain untuk
menyelamatkan nyawa mu-ridku. Menurut pendapatmu, pantaskah seorang tokoh yang
memiliki kepandaian tinggi, menyande-ra seorang gadis muda untuk memaksa
gurunya memenuhi permintaan itu?! Bukankah ini aneh?! Aku yakin, telah terjadi
perubahan pada diri peng-huni Puncak Nirwana itu."
Arya diam. Meski demikian, dalam hatinya menyetujui
pendapat yang dikemukakan Janggara. "Bahkan...," sambut Janggara
lagi. "Bukan hanya kembalinya guci pusaka untuk merebut nyawa muridku,
tapi juga seorang gadis cantik
berpakaian merah yang bernama Witari."
Di luar dugaan Janggara, Arya tidak kaget
sama sekali. Bahkan seperti telah mengetahui se-belumnya.
"Kau tidak kaget, Arya?! Apakah kau telah menduga
sebelumnya?!" Arya mengangguk.
"Aku merasa curiga, ketika Witari tidak mampu bicara.
Padahal, aku tahu secara pasti, ka-lau tidak ada totokan pada urat suaranya.
Berarti ada seseorang yang telah melakukan sesuatu membuat urat suaranya tidak
mampu bekerja. Pa-dahal tadi, sewaktu tubuhnya tersungkur aku sempat mendengar
jeritan kagetnya," jelas Arya be-ralasan.
Janggara diam, namun wajahnya mendadak berubah memerah. Ini
menjadi petunjuk kalau ka-kek itu merasa malu.
"Dan setelah tahu semua ini, kau masih mau menolongku,
Arya?!" tanya Janggara setengah tak percaya.
"Tentu saja, Kek. Aku tahu, kau bukan orang jahat. Dan
tindakan yang kau lakukan pun bukan karena itu. Tapi, karena terdorong
keingi-nan untuk menolong muridmu. Dan lagi, kalau kau memaksa untuk membawa
Witari, mana mungkin aku mampu menghalangimu?!"
"Kau memang pintar merendah, Arya. Mana mungkin aku
yang setua ini dapat mengalahkan mu?!"
Tanpa banyak cakap lagi, Arya segera mem-bebaskan totokan
yang membelenggu Witari. Se-dangkan, Janggara mengeluarkan obat sedot yang
membuat urat suara gadis itu kembali seperti bi-asa.
Witari ternyata tidak menyerang Janggara lagi. Karena
sebelumnya, Arya telah membujuk-nya. Dan gadis itu memang tidak keras kepala.
Sekarang, ketiga tokoh ini telah melesat menuju Puncak
Nirwana. Arya sengaja mengajak Witari untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu hal
yang ditakuti.
***
8
"Itulah pintu masuk menuju Puncak Nirwa-na,
Arya," jelas Janggara ketika melalui jalan berli-ku-liku yang sukar
ditemukan orang.
Tidak hanya Arya yang mengarahkan pan-dangan ke arah yang
ditunjukkan kakek itu, tapi juga Witari. Di depan sana jalan berbatu padas membentang.
Di kejauhan, dua buah gundukan batu sebesar gajah, berjarak sekitar setengah
tom-bak saling bersebelahan memisahkan jalan. Dan tempat ini adalah pos
penjagaan Tuyul Bertenaga Raksasa.
"Hey...!"
Seruan kaget hampir berbareng keluar dan mulut mereka bertiga
begitu melihat sosok tubuh berpakaian biru terlempar keluar dari celah-celah
batu yang merupakan pintu gerbang.
"Dia..., gadis itu..., putri Golok Malaikat..!"
seru Arya. Meskipun jaraknya cukup jauh, namun dari pakaiannya yang kuning bisa
dikenali kalau
sosok yang terlempar adalah Sunti Ranti!
Baru saja seruan pemuda berambut putih keperakan itu
keluar, dari celah batu yang sama melesat sesosok tubuh kecil dan pendek.
"Itulah Tuyul Bertenaga Raksasa! Penjaga pos
ini...!" teriak Janggara.
Melihat keadaan itu, membuat Janggara, Dewa Arak, dan
Witari semakin mempercepat lari. Berada paling depan adalah Dewa Arak. Di
bela-kangnya, Janggara. Dan terakhir Witari.
Dewa Arak tiba pada saat yang tepat. Tu-buhnya melesat,
menyelak di antara kedua tokoh yang bertarung tak seimbang. Lalu segera
dipa-paknya....
Plak! "Uhhh...!"
Tuyul Bertenaga Raksasa mengeluh kaget, ketika tubuhnya
terhuyung ke belakang akibat tangkisan Dewa Arak. Di lain pihak, pemuda itu pun
terhuyung sedikit ke belakang.
"Menyingkirlah, Nona," ujar Arya tanpa me-noleh
karena tahu sedang berhadapan dengan seo-rang lawan, tangguh. "Dia terlalu
tangguh untuk mu."
Sunti Ranti yang menyadari kesaktian Tuyul Bertenaga
Raksasa tidak banyak memban-tah. Kakinya segera melangkah mundur setelah
terlebih dulu menatap penuh kagum pada Dewa Arak.
Sementara Tuyul Bertenaga Raksasa mena-tap Arya penuh
selidik dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kukira hanya aku yang dilahirkan dalam keadaan tak
wajar. Ternyata, tidak. Hey! Kau ini anak muda atau orang tua sih?!" tanya
kakek kecil kurus itu, seperti bertanya pada seorang anak ke-cil.
"Kalau menurut penglihatanmu, bagaima-na?!" balas
Arya. Nadanya memberikan pilihan.
"Tentu saja kakek-kakek! Ha ha ha...!" ja-wab
Tuyul Bertenaga Raksasa penuh rasa gembira karena merasa berhasil mengejek.
"Kalau begitu, matamu perlu juga diperiksa, Kek! Bukan
hanya tubuhmu saja yang tidak wajar tapi juga matamu!" balas Arya.
Kini Tuyul Bertenaga Raksasa yang justru mencak-mencak
seperti kakek kebakaran jenggot.
"Kunyuk lapar, Singa ompong! Kuda pin-cang! Lalat
jelek! Kecoak buduk! Nah! Semua itu-lah perkataan yang paling cocok untukmu,
Orang Aneh! Orang setengah tua setengah muda!"
"Terserah apa katamu saja, Kek," jawab Arya
sambil berusaha menahan perasaan geli. Tingkah kakek itu benar-benar membuatnya
ham-pir tidak bisa menahan tawa.
"Ah! Jadi kau menantangku rupanya?! Me-rasa sakti,
setelah menangkis seranganku?! Ru-panya kau sok jago, karena ada gadis cantik
di be-lakangmu, eh?! Sok pahlawan! Cara kuno! Semua orang sudah tahu, kau hanya
berusaha menarik perhatian gadis itu kan?!" celoteh Tuyul Bertenaga
Raksasa panjang lebar.
Wajah Arya kontan memerah. Makian itu terlalu! Dia
khawatir, Sunti Ranti akan salah teri-
ma.
"Kakek aneh! Mulutmu semakin tidak ka-ruan!
Ketahuilah, aku datang untuk menemui Tuan Besarmu! Cepat antarkan aku ke
sana!" seru Arya.
"Kau kira mudah untuk bertemu Tuan Be-sar?! Langkahi
dulu mayatku kalau kau ingin me-nemuinya?!" tantang Tuyul Bertenaga
Raksasa sambil membusungkan dadanya yang tipis seperti papan.
Dan sebelum Arya memberikan tanggapan, Tuyul Bertenaga
Raksasa telah menyerang. Setiap serangannya menimbulkan bunyi bercicitan
nyar-ing.
Dan tak punya pilihan lain, kecuali melade-ninya.
Pertarungan sengit pun tidak bisa dielakkan lagi.
Diam-diam Dewa Arak mengakui kebenaran ucapan Janggara.
Tuyul Bertenaga Raksasa me-mang memiliki kepandaian tinggi. Terutama sekali
tenaga dalamnya. Beberapa gebrakan dengan tan-gan kosong, pemuda berambut putih
keperakan ini telah bisa melihat sendiri kelihaian lawannya.
Sementara itu Janggara, Sunti Ranti, dan Witari menyaksikan
pertarungan dengan hati ter-tarik bercampur kagum. Terutama sekali, Jangga-ra.
Untuk pertama-kalinya, dia berhasil menyaksi-kan sendiri kelihaian pemuda
berambut putih ke-perakan itu. Terlihat jelas kalau Dewa Arak berha-sil menekan
lawannya.
Memang, bagi Janggara sendiri, Tuyul Ber-tenaga Raksasa
masih ada di bawahnya. Tapi ken-
dati demikian, kakek ini tidak berani memastikan kalau
menghadapi Dewa Arak akan unggul.
Sementara itu Sunti Ranti dan Witari tidak terlalu terpaku
pada pertarungan itu. Gadis-gadis manis ini saling lirik satu sama lain. Ada
sorot iri pada sinar mata mereka, yang timbul karena pera-saan cemburu.
Beberapa kali mereka saling ben-trok pandang, dengan cepat masing-masing pihak
mengalihkan tatapan ke arah lain.
Witari merasa iri pada Sunti Ranti. Dia ta-hu, putri Golok
Malaikat itu cantik jelita. Dan bu-kan tidak mungkin Dewa Arak akan jatuh hati
pa-danya. Memang dalam hati kedua gadis manis ini ada rasa tertarik yang besar
terhadap Dewa Arak. Pemuda itu demikian tampan, lihai, tapi rendah hati. Bahkan
terlihat matang penuh pengalaman hidup.
Di lain pihak Sunti Ranti, juga tidak senang pada Witari.
Gadis ini tidak habis pikir, bagaimana Dewa Arak bisa berjalan bersama gadis
itu. Sama sekali tidak disangka kalau Dewa Arak bisa jatuh hati pada Witari.
Hatinya pun panas, karena cem-buru.
***
"Akh...!"
Tuyul Bertenaga Raksasa menjerit kesaki-tan ketika tangan
Dewa Arak telah menampar pundaknya. Tubuhnya kontan terpelanting ke be-lakang.
Dari mulutnya keluar darah segar!
Sebelum Tuyul Bertenaga Raksasa berbuat
sesuatu, Dewa Arak telah melesat cepat. Kakek ini tidak
bisa berkutik lagi, ketika jari tangan Dewa Arak telah menempel pada
ubun-ubunnya.
Tuyul Bertenaga Raksasa tahu, dia telah ka-lah. Sedikit
saja jari tangan Dewa Arak bergerak menekan, nyawanya akan melayang dengan
kepala pecah!
"Tunggu apa lagi?! Aku telah kalah! Bunuh-lah
aku...!" pekik Tuyul Bertenaga Raksasa. Pekik yang keluar dari hati yang
kecewa, karena gagal menunaikan tugas.
Bukannya memenuhi permintaan itu, Arya bahkan menjauhkan
jari-jari tangannya dari ubun-ubun Tuyul Bertenaga Raksasa.
"Aku bukan pembunuh berdarah dingin, Kek. Lagi pula,
aku tidak pernah mau membunuh lawan yang tak berdaya. Di samping itu, kedatan-ganku
kemari bukan untuk mencari permusuhan! Kau telah kalah, berarti aku bebas masuk
ke da-lam!"
Setelah berkata demikian, tanpa peduli lagi Arya
meninggalkan Tuyul Bertenaga Raksasa. Ka-kinya cepat terayun menuju ke dalam.
Di belakang nya, Janggara, dan dua gadis lain yang berjalan saling berjauhan
ikut masuk pula.
Tapi sekitar belasan tombak kemudian, ke-tika medan yang
ditempuh berupa hutan kecil dengan hamparan semak-semak dan ranting ker-ing di
sekitarnya, muncul sesosok tubuh mengha-dang. Siapa lagi kalau bukan Raksasa
Kapak Maut
"Biarkan mereka masuk...!"
Belum juga Raksasa Kapak Maut bertindak,
terdengar seruan keras. Maka kapak di bahunya yang siap
digunakan untuk menyerang segera di-turunkan. Seruan yang menggema karena
dikelua-rkan lewat pengerahan ilmu mengirimkan suara dari jauh, membuat semua
yang ada di tempat ini terkejut
"Ikut aku...!"
Tiba-tiba Raksasa Kapak Maut berujar sambil berbalik.
Kakinya lantas melangkah me-ninggalkan tempat itu. Lelaki tinggi besar ini
tentu saja mengenal Janggara yang bersama Dewa Arak. Namun sedikit pun tidak
ada teguran dari mulut-nya.
***
"Hik hik hik..!"
Satu tawa mengikik nyaring tiba-tiba me-mecahkan ketegangan
ketika Dewa Arak dan orang-orang yang bersamanya telah berada di tepi jurang
yang sangat dalam. Mereka menjadi was-was, apakah harus menyeberangi jurang
yang menggunakan seutas tambang ini, atau tidak. Bu-kan tidak mungkin kalau
mereka semua akan di-kandaskan di dasar jurang yang dalam ini.
"Rupanya, Dewa Arak dan Janggara hanya manusia-manusia
pengecut yang tak berani menghadapi tantangan! Hik hik hik...! Ingin ku-dengar
bagaimana tanggapan dunia persilatan ka-lau mendengar hal ini!"
"Jangan harap kau bisa memancing kami untuk bisa
dijebak dengan akal bulus itu, Sobat!"
sahut Dewa Arak, seperti berbisik.
Pada saat berkata tadi, wajah Dewa Arak tampak merah. Dan
semua yang ada di sini tahu, pemuda itu memang tengah mengerahkan ilmu
mengirimkan suara jarak jauh. Buktinya, bunyi yang terdengar di seberang jurang
keras dan lan-tang.
"Hik hik hik...!"
Tawa mengikik terdengar lagi, menyambut ucapan Dewa Arak.
Sebuah tawa yang keluar dari mulut seorang nenek-nenek!
"Kalau kau bersikap jujur, keluarlah! Dan, antarkan
kami sampai ke seberang. Kalau tidak, berarti kau hanya ingin menjebak
kami!" teriak Wi-tari, memberikan usul.
Witari memang memiliki watak tenang. Na-mun sekali
berbicara, tepat pada sasaran.
Sementara itu Janggara tampak berdiam di-ri. Sebenarnya
kakek ini pun ingin mengajukan ucapan. Namun, sadar kalau dirinya seorang
pela-rian dari tempat itu, ucapan yang hampir keluar dari mulut ditahannya.
"Hik hik hik...! Usulmu boleh juga, Witari?! Mana
suami gelap mu, si Tua Bangka Sangga Lan-git?! Mengapa tidak kau ajak kemari?!
Hik hik hik...! Sama sekali tidak kusangka, kalau gadis semuda dan secantikmu
mau menyerahkan diri pada seorang kakek yang sudah bau tanah! Hik hik hik...!
Permainan cinta kalian luar biasa!" ejek suara di seberang tebing.
Wajah Witari seketika pucat pasi. Sungguh tak diduga, kalau
suara itu menyerang pribadinya
habis-habisan.
Sementara Janggara dan Sunti Ranti yang semula tidak
tahu-menahu, seketika menoleh ke arah gadis berpakaian merah. Mereka sama
sekali tidak menduga kalau apa yang dikatakan pemilik Puncak Nirwana itu
benar-benar terjadi! Namun tampak kalau Witari sama sekali tidak berusaha
membantah. Benarkah hal itu terjadi?!
Dewa Arak tiba-tiba ingat sesuatu. Menurut cerita Eyang
Sangga Langit, perbuatan terkutuk bersama muridnya terjadi karena masing-masing
seperti orang yang kehilangan ingatan. Sehingga, semua tindakannya tidak dapat
dikendalikan lagi. Peristiwa itu terjadi tanpa ada seorang pun saksi yang tahu.
Jadi, dari mana pemilik Puncak Nirwa-na tahu peristiwa itu?
Dalam masalah ini, Eyang Sangga Langit mencurigai adanya
pihak ketiga yang menyebab-kan peristiwa itu terjadi.
Pemuda berambut putih keperakan ini sege-ra mencurigai akan
adanya hal-hal yang tidak beres di sini. Setidak-tidaknya, pemilik Puncak
Nirwana ini tahu pelaku yang menyebabkan peris-tiwa terkutuk itu terjadi.
Bahkan bukan tidak mungkin kalau penyebab semua itu justru pemilik Puncak
Nirwana ini!
"Tidak usah berpura-pura dalam berbicara, Nek! Aku
tahu, kaulah yang menjadi biang keladi terjadinya peristiwa terkutuk itu! Dan
kau harus membayar semua tindakan kejimu, Nek!"
Kali ini Dewa Arak tidak sungkan-sungkan lagi, karena tahu
kalau pemilik itu adalah seorang
wanita yang telah tua.
"Hik hik hik...! Kau memang cerdik, Dewa Arak! Otakmu
encer, sehingga bisa menduga, ka-lau orang di balik semua kejadian itu! Aku!
Akulah yang telah menyebabkan Eyang Sangga Langit yang sakti roboh di dalam
pelukan nafsu! Hik hik hik.... Ingin kulihat sendiri, bagaimana wajah tua
bangka itu, bila tahu kalau pelaku semua ini ada-lah aku! Nah! Karena kalian
telah menungguku, aku datang untuk mengantarkan ke Puncak Nir-wana!"
Belum juga gema ucapan itu lenyap, semua yang ada di tepi
jurang melihat sesosok tubuh bungkuk memegang tongkat melangkah tertatih-tatih
meniti tambang dari arah seberang. Sebelah kaki sosok bungkuk itu ternyata
buntung sebatas pangkal paha. Melihat langkahnya benar-benar mengundang iba.
Namun dalam hati Witari, sedikit pun tak ada perasaan iba.
Gadis yang semula sudah melu-pakan luka hatinya, kembali terbangkit amarah-nya.
Sepasang matanya memancarkan kebencian dan nafsu membunuh ketika menatap sosok
bungkuk berjarak belasan tombak yang diketa-huinya, sebagai dalang dari
peristiwa terkutuk yang menimpa dirinya.
Maka tanpa peduli lagi, Witari langsung me-lesat ke arah
pinggir tebing sambil mencabut su-lingnya. Lalu dengan cepat ujung sulingnya
ditu-sukkan ke tambang yang berada di sisi tebing, tempat kelompoknya berada.
Dan....
Trak!
Ujung suling Witari tidak berhasil menusuk tambang, karena
Raksasa Kapak Maut lebih dulu bertindak dengan memapak ujung suling Witari
lewat kakinya. Keras! Sehingga membuat tubuh gadis berpakaian merah
terhuyung-huyung ke be-lakang.
Raksasa Kapak Maut benar-benar tak kenal ampun. Rupanya
sekali kapaknya keluar, tak akan berhenti sebelum mengisap darah korban. Saat
itu pula kapaknya kembali diayunkan.
Sementara Dewa Arak tidak bisa tinggal di-am melihat Witari
terancam bahaya. Maka lang-sung tubuhnya berkelebat memapak ayunan ka-pak
dengan pengerahan seluruh tenaga dalam.
Klang!
Bunga api berpijar ke segala arah ketika kapak besar
Raksasa Kapak Maut berbenturan dengan guci Dewa Arak. Bunyi berdentang keras
mengiringi benturan itu. Tampak tubuh Raksasa Kapak Maut terhuyung-huyung ke
belakang.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Witari. Kembali sulingnya
ditusukkan ke arah tambang. Melihat hal ini, Janggara tidak bisa tinggal diam.
Dia tahu, bila tambang itu putus, berarti putus ju-ga hubungan menuju Puncak
Nirwana. Dan itu be-rarti, nyawa muridnya tidak dapat diselamatkan. Maka
seketika tubuhnya melesat memapak suling dengan golok panjangnya.
Trak!
Janggara dan Witari sama-sama terhuyung ke belakang. Namun
terhuyungnya gadis itu lebih jauh dua langkah. Pandang matanya tampak be-
ringas ketika menatap Janggara. Hatinya geram, karena
maksudnya dihalangi!
"Tahan Witari!" cegah Dewa Arak sebelum keadaan
memanas. "Tahan dulu dendammu, Wita-ri! Percayalah. Akan ada saatnya untuk
memba-laskan dendammu. Yang terpenting saat ini, kita harus membebaskan murid
Kakek Janggara lebih dulu, yang disandera Penguasa Puncak Nirwana. Dan dia tak
lain adalah Samukti, yang telah men-curi ilmu 'Urai Raga' yang seharusnya
menjadi mi-likmu."
Dewa Arak memang tahu kalau Samukti te-lah berada di Puncak
Nirwana, setelah Sunti Ranti menceritakan mengapa bisa bertempur dengan Tuyul
Bertenaga Raksasa.
Waktu putri Golok Malaikat ini mengejar-ngejar Samukti yang
masih dalam bentuk raksasa! Karena bentuk yang belum kembali ke asal ini, Sunti
Ranti bisa mengikuti kepergian Samukti me-lalui jejak langkahnya. Dan ternyata,
jejak itu me-nuju ke Puncak Nirwana.
Sunti Ranti yang tidak tahu kalau tempat yang ditujunya
adalah Puncak Nirwana, segera sa-ja menerobos masuk. Tentu saja Tuyul Bertenaga
Raksasa tidak membiarkannya! Maka pertarungan antara mereka pun terjadi, sampai
akhirnya Dewa Arak keburu menolong.
Sementara itu, Witari mulai bisa berpikir jernih. Nasihat
Dewa Arak memang benar. Dan se-telah menghela napas berat, sulingnya disimpan
di pinggang.
Pada saat yang bersamaan, sosok bungkuk
berkaki satu telah tiba di ujung tambang. Kemu-dian dengan
sekali genjot, tubuhnya berada di de-pan Dewa Arak.
Dewa Arak dan Sunti Ranti menatap tak berkedip. Inikah,
tokoh pemilik Puncak Nirwana yang terkenal amat sakti itu? Dia adalah seorang
nenek yang berusia sekitar tujuh puluh lima ta-hun. Tubuhnya bungkuk, dengan
seluruh rambut berwarna putih. Telinganya dihiasi sepasang ant-ing-anting besar
mirip gelang.
Sementara, Witari menatap dengan sorot kebencian. Kalau
menuruti perasaan, sudah diter-jangnya nenek bungkuk itu.
Sedangkan Janggara menatap dengan sinar mata heran. Lelaki
tua ini yakin, kalau pemilik Puncak Nirwana bukan nenek berkaki satu ini. Yang
tidak dikenalnya sama sekali! Mengapa ne-nek berkaki satu ini bisa berada di
sini?
"Siapa kau?!" tanya Janggara. "Aku tahu kau
bukan pemilik Puncak Nirwana. Aku kenal be-tul dengan pemiliknya!"
Pertanyaan kakek berwajah tirus itu, mem-buat Dewa Arak,
Sunti Ranti, dan Witari terperan-jat. Jadi, nenek ini bukan pemilik Puncak
Nirwa-na? Lalu, di mana pemilik itu sebenarnya?
"Hik hik hik...! Kau Janggara, bukan?!" tanya
nenek berkaki satu itu, tidak mempedulikan keheranan dan pertanyaan Janggara.
"Mana guci pusaka yang kuminta?! Cepat serahkan, kalau kau ingin muridmu
selamat!"
"Hmh...!"
Janggara menggeram seperti harimau luka.
Sama sekali tidak disangka kalau nenek inilah yang telah
meminta guci pusaka. Bahkan telah menyandera muridnya. Memang waktu pergi ke
Puncak Nirwana, dia tidak bertemu nenek itu. Janggara hanya bertemu Raksasa
Kapak Maut, yang diutus menyampaikan pesan tuannya!
"Aku tak akan menyerahkan guci pusaka padamu!"
tegas Janggara, mantap.
"Hik hik hik...! Kau cerdik, Janggara. Meskipun kau
serahkan guci itu, muridmu tetap akan kubunuh! Biar kau rasakan betapa sakit
hati melihat kematian orang yang dicintai!"
"Apa maksudmu, Nenek Jahanam?!" tanya Janggara
tidak mengerti.
"Sederhana saja," jawab nenek berkaki satu dengan
sorot mata beringas. "Kau telah membu-nuh Singa Berbulu Putih. Kau tahu,
dia itu sua-miku!"
"Ah...!"
Seruan tertahan penuh rasa kaget keluar hampir bersamaan
dari mulut Janggara dan Wita-ri.
"Kiranya kau wanita jalang yang pernah di-ceritakan
guruku. Kau pasti Nyai Kalangkang!" de-sis Witari. "Pantas, kau
melakukan kekejian terha-dap kami. Kau merasa sakit hati, karena telah di-usir
guru, setelah berbuat zinah di dalam wilayah perguruan. Sebagai hukuman, guru
membuntungi kakimu sebagai peringatan bagi yang lain. Kau memang murid
murtad!"
"Tutup mulutmu...!" bentak nenek berkaki satu
yang ternyata bernama Nyai Kalangkang.
"Kubunuh kau."
"Tidak usah repot-repot. Guru! Biar aku yang
membinasakannya!"
Tiba-tiba terdengar seruan keras menggele-gar. Dan di
tempat itu, tahu-tahu Samukti telah berdiri dalam wujud seperti raksasa.
Samukti menggeram keras! Sehingga, mem-buat semua orang
yang berada di situ, jatuh berlu-tut. Bahkan tubuh mereka menggigil hebat!
Hanya Nyai Kalangkang dan Raksasa Kapak Maut yang tidak
terpengaruh. Karena, Samukti ti-dak menujukan ke arah mereka. Dengan kekeh
penuh kemenangan, nenek itu menghampiri Wita-ri. Siap memberi hukuman!
Arya melihat ancaman maut menghantui murid Eyang Sangga
Langit. Saat itu juga seluruh tenaga dalamnya dikerahkan. Lalu tangannya ce-pat
dihentakkan. Maka saat itu pula serangkum angin keras membuat tubuh Witari
terlempar ter-guling-guling. Akibatnya tongkat Nyai Kalangkang hanya menghantam
tanah hingga hancur beranta-kan!
"Witari...! Lekas...!" seru Arya, menyuruh gadis
berpakaian merah itu melakukan petunjuk Eyang Sangga Langit.
Dalam keadaan tubuh bergulingan, Witari berseru keras!
"Urai Raga...!" "Aaakh...!"
Samukti seketika mengeluarkan lengkingan panjang bernada
kesakitan. Tubuhnya terhuyung-huyung. Kemudian tubuhnya ambruk, menggeliat
geliat laksana cacing kepanasan. Dia menggelepar-gelepar,
tanpa mempedulikan sekelilingnya. Dan tidak terasa tubuhnya telah berada di
bibir tebing.
Selain Dewa Arak dan Witari, semua yang melihat kejadian
ini merasa heran. Mengapa hal seperti itu bisa terjadi terhadap Samukti. Hanya
kedua anak muda itu yang tahu. Tentu saja, Arya tahu atas penjelasan Eyang
Sangga Langit tentang kelemahan ilmu itu. Maka tak heran bila Arya mengajak
Witari ke Puncak Nirwana ini. Karena menurut Eyang Sangga Langit gadis itulah
yang dapat membunuh Samukti.
Menurut penjelasan Eyang Sangga Langit, ilmu 'Urai Raga'
hanya bisa diberikan pada orang yang berhak. Sehingga bila dipergunakan, tidak
menimbulkan celaka. Dalam hal ini, hanya Witari-lah yang berhak.
Maka, begitu Witari menyerukannya, maka ilmu raksasa yang
menitis dalam diri Samukti be-rusaha keluar menjumpai pemiliknya yang sah! Maka
kejadian yang menimpa Samukti pun demi-kian. Karena bukan pemilik sah, begitu
menggu-nakan ilmu itu, Samukti tidak bisa kembali seperti sedia kala. Tetap
dalam keadaan tubuh tinggi be-sar seperti raksasa.
Samukti terus bergulingan, sehingga... "Aaa...!"
Disertai jeritan panjang, tubuh Samukti ter-telan jurang
yang siap merancah tubuhnya.
"Samukti...!" seru Nyai Kalangkang. Dengan
tindakan cepat, dia melompat untuk menangkap tubuh pemuda berpakaian coklat
itu.
Tap!
Tangan Samukti berhasil ditangkap! Namun Nyai Kalangkang
tidak mempunyai landasan kuat untuk berpijak. Maka, tubuhnya pun ikut terbawa,
meluncur ke dasar jurang yang tak terukur da-lamnya. Jeritan menyayat hati,
mengiringi lenyap-nya tubuh kedua tokoh sesat itu.
"Erghhh...!"
Raksasa Kapak Maut menggeram keras. Dia tampak marah
sekali. Namun, sebelum kapaknya diayunkan....
"Apakah kau hendak membela orang jahat seperti mereka,
Raksasa Kapak Maut?! Ingat! Dia bukan tuan besarmu! Bahkan, dia orang luar yang
jahat. Aku yakin, Tuan Besar telah dipengaruhi oleh ilmu sihirnya. Mana Tuan
Besar?!"
Raksasa Kapak Maut menghentikan niat-nya, kemudian
menggeleng.
"Tuan Besar sudah lama tidak terlihat, sete-lah masuk
ruangan semadi. Nyai Kalangkang dan Samukti dibawa Tuan Besar ketika pergi
keluar atas dasar kasihan. Tuan Besar telah terlalu pi-kun, sehingga tidak tahu
kalau orang-orang yang dibawanya jahat. Setelah masuk ruang semadi, be-liau
tidak tahu kalau wanita tua itu menggerayangi ruang perpustakaan dan
mempelajari ilmu-ilmu hitam yang terlarang. Ilmu itulah yang diperguna-kannya
untuk bertindak jahat terhadap Eyang Sangga Langit!"
"Apa yang dikatakannya memang benar." Mendadak
terdengar sebuah suara lain,
menyambung ucapan Raksasa Kapak Maut. Saat
itu juga semua yang berada di situ menoleh ke arah asal
suara. Namun, tak seorang pun yang ter-lihat.
Dewa Arak mengerutkan alisnya. Dia tahu, ada orang sakti
yang sengaja mempermainkan dengan ilmu memindahkan suara. Maka segera
di-kerahkannya pandangan ke seberang jurang, ke arah Puncak Nirwana. Dewa Arak
yakin, pemilik suara itu akan datang dari sana. Bukan dari bela-kang mereka.
Dugaan Dewa Arak ternyata tepat. Di atas tambang, tampak
sesosok tubuh kecil dan ringkih tengah menyeberangi jurang sambil membopong
tubuh seorang gadis. Dia tidak sedang berjalan, karena kakinya tidak bergerak
sama sekali. Tepat-nya, sosok itu tengah meluncur.
Dewa Arak sendiri merasa takjub, meski hanya sebentar.
Sulit diukur, sampai di mana ke-tinggian tenaga dalam dan ilmu meringankan
tu-buh kakek itu.
Sementara itu, Sunti Ranti yang belum me-rasa puas atas
tewasnya Samukti, tiba-tiba mele-sat ke arah tambang. Langsung dibabatnya
tam-bang itu dengan sulingnya.
"Ranti...! Jangan...!" cegah Dewa Arak, se-raya
melesat mendekat.
Namun terlambat! Tambang itu telah lebih dulu putus. Semua
orang yang ada di sini terkejut bukan main. Apalagi ketika melihat tubuh kakek
itu melayang ke dalam jurang!
"Tuan Besar...!"
Raksasa Kapak Maut dan Janggara berlari
ke tepi tebing dan berseru keras dengan wajah pu-cat.
"Tidak usah menjerit begitu, Raksasa. Juga kau,
Janggara."
Entah dari mana, tahu-tahu kembali ter-dengar teguran yang
membuat terkejut semua yang ada di tempat ini. Serentak mereka semua menoleh ke
belakang. Tahu-tahu di situ berdiri, kakek ringkih sambil membopong tubuh gadis
ramping.
"Tuan Besar...!"
Raksasa Kapak Maut dan Janggara meng-hambur ke arah kakek
ringkih yang dipanggil Tuan Besar.
"Tak usah banyak tingkah, kalian!" tegur kakek
ringkih itu. "Dan kau, Janggara. Bukankah ini muridmu?!"
Janggara segera menerima tubuh yang di-angsurkan kakek
ringkih ini, disertai ucapan teri-ma kasih. Apalagi, kakek ini merupakan
penolong, guru, dan juga majikan yang telah mengampuni kesalahannya.
"Kau yang berjuluk Dewa Arak itu, kan?!" tanya
kakek ringkih itu pada Arya.
Dewa Arak mengangguk. "Boleh kulihat gucimu?!"
Kakek ringkih itu mengulurkan tangan. Tentu saja Arya tidak
sudi gucinya diambil. Maka tubuhnya segera bergerak menghindar. Tapi beta-pa
kagetnya Arya, ketika gucinya telah berada di tangan si kakek. Arya jadi
bingung. Padahal dia te-lah berusaha mengelak. Kenyataannya, gucinya te-
rambil juga.
"Dari siapa kau dapatkan guci ini, Dewa Arak? Gering
Langit?!"
Arya tersentak mendengar nama gurunya disebut-sebut. Dari
mana kakek itu tahu?
"Kau tidak usah heran, Dewa Arak. Aku adalah Sukma
Palaga. Dan Gering Langit itu terhi-tung kawanku. Beberapa kali dia datang ke
tempat ini. Dialah satu-satunya orang luar yang tahu ten-tang hilangnya guci
ini. Aku yakin, dia berhasil menemukannya, lalu memberikannya padamu. Kau tahu
kan, mengapa aku tidak celaka di dasar jurang?"
Dewa Arak mengangguk. Apalagi kalau bu-kan ilmu gaib
seperti yang dimiliki gurunya. Ilmu 'Ringkas Bumi' (Untuk jelasnya mengenai
ilmu ini, silahkan baca episode: "Penganut Ilmu Hitam").
"Terimalah kembali gucimu, Dewa Arak. Kau lebih memerlukannya.
Dan kalian semua yang berada di sini, kuundang ke tempatku. Jangan khawatir,
tambang itu tidak hanya sehelai."
Tidak ada yang keberatan sama sekali den-gan tawaran kakek
bernama Sukma Palaga. Se-mua dengan suka hati beranjak ke Puncak Nirwa-na.
SELESAI
No comments:
Post a Comment