PENJARA LANGIT
1
Seorang kakek berpakaian coklat yang war-nanya hampir pudar
membuka matanya yang se-jak tadi terpejam. Sorot kehijauan dan tajam men-corong
dari sepasang mata yang hampir tertutup oleh alis putih.
"Mengapa masih bersembunyi? Tidakkah lebih baik kalian
menampakkan diri. Kalau kalian tidak ingin bertemu denganku, aku tidak
memak-sa. Tapi ketahuilah, sebentar lagi aku akan me-ninggalkan tempat ini.
Jadi, kalau kalian memang bermaksud menemuiku, sekaranglah saatnya," ujar
kakek berpakaian coklat, lantang. Kendati bi-bir kakek itu tidak terlihat
bergerak sedikit pun.
Hening sejenak setelah gema ucapan kakek berpakaian coklat
tidak terdengar lagi. Keheningan itu dipecahkan oleh gemerisik pelan. Disusul
ke-luarnya dua sosok tubuh dari kerimbunan semak yang berada di dekat kakek
berpakaian coklat.
Kedua sosok itu memiliki tubuh sedang. Wajah mereka tidak
terlihat karena tertutup to-peng dari kayu. Yang tampak hanya sepasang ma-ta
mereka yang tajam berkilat.
Dua sosok bertopeng kayu ini melangkah dengan hati-hati
mendekati kakek berpakaian cok-lat. Sementara kakek itu tetap tenang dan tidak
bergeming sedikit pun dari duduknya.
Kakek berpakaian coklat tengah duduk ber-sila. Ia baru saja
menyelesaikan semadinya. Kakek itu tidak duduk di atas tanah, melainkan di atas
tumpukan tengkorak manusia yang diatur sede-mikian rupa.
Tumpukan itu semakin ke atas se-makin berkurang jumlahnya, sehingga membentuk
kerucut. Pada bagian teratas dari tumpukan teng-korak menjadi landasan pantat
kakek berpakaian coklat.
Kakek itu memperhatikan sebentar kedua sosok bertopeng
kayu. Kemudian, dengan bibir yang tidak bergerak dia membuka suara.
"Ada dua hal yang membuatku tidak me-nyukai kalian.
Pertama, sikap kalian. Aku tahu ka-lian telah cukup lama berada di sini dan
mengintai diriku. Yang kedua adalah topeng yang menutup wajah kalian.
Berdasarkan hal ini bisa diketahui kalian tidak bermaksud baik terhadapku. Ini
su-dah cukup membuatku mempunyai alasan untuk membunuh kalian. Tapi kalian
memang berun-tung, datang di saat aku tengah gembira. Jadi, ku-berikan
kesempatan pada kalian untuk pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran!"
Dua sosok yang mengenakan topeng kayu telah menghentikan
langkahnya tiga tombak dari kakek berpakaian coklat. Mereka saling
berpan-dangan sejenak.
"Sayang sekali." Sosok bertopeng kayu yang
bertubuh lebih kurus menyambuti ucapan kakek berpakaian coklat. "Kami
berdua sengaja datang ke situ untuk menjumpaimu karena suatu maksud. Sebelum
maksud itu tercapai, kami terpaksa tidak akan meninggalkan tempat ini."
Wajah kakek berpakaian coklat membesi. Penolakan atas
ancamannya membuatnya tersing-
gung. Tapi, sesaat kemudian wajah itu kembali se-perti
biasa. Tenang.
"Kalau begitu, aku yang akan pergi!" Kakek
berpakaian coklat mencoba bersabar.
"Tidak ada yang pergi dari sini! Tidak kami. Tidak
juga kau! Kecuali, kalau tujuan kami telah tercapai!" tandas sosok
bertopeng kayu yang ber-tubuh lebih kurus.
Sorot ancaman maut terbayang pada sepa-sang mata kakek
berpakaian coklat.
"Rupanya kalian termasuk orang yang su-kar
diperlakukan dengan lembut. Kalian lebih su-ka dikasari! Baik kalau itu yang
kalian inginkan. Meski saat ini aku tengah bergembira dan telah bersumpah untuk
menjauhi kekerasan, tidak be-rarti aku merelakan saja orang menghina
diriku!"
"Jangan salah sangka. Kami tidak ingin mengajakmu
bertarung. Kami akan pergi dari sini atau membiarkanmu pergi asalkan kau mau
memberikan Golok Baja Hitam pada kami!" Sosok bertopeng kayu yang lain
buru-buru menukas.
"Golok Baja Hitam?!" Alis kakek berpakaian coklat
berkerut. Benda yang dimaksud orang ber-topeng kayu itu memang ada padanya.
Tapi, se-pengetahuannya tidak ada hal istimewa pada ben-da itu. Agak heran
kalau ada orang yang menca-rinya!
"Benar!" Yang menjawab orang bertopeng kayu yang
bertubuh lebih kurus. "Cepat berikan Golok Baja Hitam, dan kami akan pergi
dari sini!"
"He he he...!"
Tawa terkekeh yang bernada merendahkan
diperdengarkan kakek berpakaian coklat.
"Kalian kira, kalian siapa sehingga berani meminta
golok itu padaku? Apakah kalian tidak tahu siapa aku?"
"Kami tahu!" Orang bertopeng yang lebih kurus
menganggukkan kepala. "Tapi, kami tidak takut kepadamu! Memang harus kami
akui orang-orang persilatan merasa gentar terhadapmu, jan-gan kau kira kami
akan demikian. Bagi kami, ju-lukan Iblis Tangan Maut tidak berarti
apa-apa!"
"Keparat! Mulutmu terlalu berbisa. Kalau ti-dak
dihancurkan akan semakin kurang ajar nan-tinya!"
Begitu ucapan kakek berpakaian coklat yang ternyata
berjuluk Iblis Tangan Maut selesai, beberapa tengkorak berturut-turut melesat me-ninggalkan
tumpukan dan meluncur ke arah orang bertopeng yang bertubuh lebih kurus.
"Permainan anak-anak kau tunjukkan di
hadapanku...?"
Orang bertopeng itu membarengi ucapan-nya dengan mendorong
tangan kanannya ke de-pan. Dia tidak terlihat terkejut melihat
tengkorak-tengkorak itu meluncur ke arahnya dengan kece-patan menakjubkan. Padahal, tengkorak-tengkorak
itu berasal dari lapisan ketiga dari ba-wah, sementara jumlah lapisan ke
seluruhannya delapan!
Meski demikian, tumpukan tengkorak itu tidak berantakan.
Bahkan, tubuh kakek berpa-kaian coklat tidak bergeser!
Orang bertopeng kayu itu memang tidak as-
al bicara. Dari tangannya keluar hembusan angin keras yang berciutan nyaring. Tengkorak-tengkorak hancur berantakan sebelum
mengenai sasaran ketika terhantam angin pukulannya.
Tapi, tidak semua tengkorak dihancurkan. Tengkorak yang
terakhir dibiarkannya. Hanya daya luncurannya ditahan dengan dorongan angin
pukulannya.
Iblis Tangan Maut membelalak lebar melihat serangannya
demikian mudah dipatahkan. Sepa-sang matanya yang tajam melotot seakan ingin
ter-lompat keluar karena tidak percaya.
Rasa penasaran membuat kakek berpa-kaian coklat mengubah
bentuk penyerangannya ketika melihat tengkorak yang terakhir tidak
di-hancurkan. Sambil memekik nyaring, Iblis Tangan Maut menjulurkan tangan
kanannya ke depan.
Lawan kakek itu mengeluh tertahan. Teng-korak yang semula
terhenti luncurannya, menda-dak melesat kembali dengan kecepatan sangat tinggi.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia pun mengulurkan tangan dan mengerahkan
tenaga da-lam untuk menahan luncuran tengkorak. Perlahan tengkorak itu tertahan
dan berhenti.
Kakek berpakaian coklat tidak tinggal diam. Kekuatan tenaga
dalamnya dikerahkan semua se-hingga tengkorak kembali meluncur mendekati
la-wan. Orang bertopeng pun menambah tenaganya. Sesaat kemudian, kedua tokoh
itu saling mendo-rong untuk mengalahkan.
Teman orang bertopeng tidak berani ber-buat apa-apa. Dia
hanya menyaksikan jalannya pertarungan dengan harap-harap cemas. Sepasang
matanya tak pernah lepas dari tengkorak yang mengapung setengah tombak dari
atas tanah.
Tengkorak itu tidak pernah diam di tempat. Terkadang
meluncur lambat ke arah Iblis Tangan Maut. Dan, di lain saat melayang ke arah
orang bertopeng.
Beberapa saat lamanya hal itu terjadi, sebe-lum akhirnya
tengkorak mulai meluncur ke arah Iblis Tangan Maut. Sedikit demi sedikit jarak
anta-ra tengkorak dengan Iblis Tangan Maut bertambah dekat.
Di balik topeng kayunya, orang bertopeng yang menjadi
penonton tunggal tersenyum lega. Dia tahu rekannya berada di pihak yang
mengun-tungkan. Dengan jelas dilihatnya tangan Iblis Tan-gan Maut yang terjulur
menggigil hebat. Dari atas kepalanya mengepul uap putih yang kian menebal.
Sementara wajah tokoh itu telah dibanjiri peluh yang terus menetes bagai aliran
anak sungai.
"Huakh...!"
Iblis Tangan Maut memuntahkan darah se-gar. Tubuhnya sampai
terbungkuk ke depan. Ge-rakannya membuat tumpukan tengkorak yang se-jak tadi
tetap rapi karena kekuatan tenaga dalam Iblis Tangan Maut, buyar berantakan!
Tapi, justru hal ini yang menyelamatkan nyawa Iblis Tangan
Maut. Runtuhnya susunan tengkorak menyebabkan tubuh Iblis Tangan Maut terbawa
jatuh. Akibatnya, tengkorak yang melun-
cur ke arahnya dengan cepat lewat beberapa jari di atas
kepala Iblis Tangan Maut.
"Bagaimana, Iblis Tangan Maut? Apakah kau masih tidak
bersedia menyerahkan Golok Baja Hitam itu?"
Orang bertopeng kayu yang menjadi lawan Iblis Tangan Maut
bertanya seraya meletakkan tangannya di ubun-ubun Iblis Tangan Maut. Sedi-kit
saja jari-jari yang dialiri tenaga dalam itu berge-rak menekan, nyawa kakek
berpakaian coklat akan melayang ke alam baka!
Iblis Tangan Maut pun bukan orang bodoh. Dia tahu lawannya
memiliki kepandaian di atas-nya. Terus melakukan perlawanan adalah perbua-tan
bodoh! Apalagi, jika dilakukan pada saat te-rancam maut seperti sekarang. Iblis
Tangan Maut masih ingin hidup! Dia tidak ingin tewas karena bertindak bodoh
mempertahankan benda yang ti-dak terlalu berarti.
Di dalam hati Iblis Tangan Maut masih me-rasa heran.
Benarkah Golok Baja Hitam sama se-kali tidak berarti? Kalau benar demikian,
mengapa orang-orang bertopeng itu begitu ingin menda-patkannya? Tidak mungkin
orang berani memper-taruhkan nyawa demi suatu benda yang tidak be-rarti
apa-apa! Apalagi orang-orang yang menca-rinya tokoh-tokoh berilmu tinggi
seperti orang ber-topeng kayu ini.
Iblis Tangan Maut yakin Golok Baja Hitam memiliki sesuatu
yang menarik. Timbul rasa sayang di hati kakek berpakaian coklat untuk
memberikannya pada orang bertopeng.
"Aku bukan termasuk orang yang sabar, Ib-lis Tangan
Maut!" desis orang bertopeng. "Maka, jangan coba-coba bermain gila!
Sekali lagi ku pe-ringatkan, cepat berikan Golok Baja Hitam atau kau akan mati
tersiksa!" Iblis Tangan Maut mera-sakan nada kesungguhan dalam ancaman
itu. Dia tidak berani bertindak sembarangan. Kakek itu ti-dak mau
mempertaruhkan dirinya dengan Golok Baja Hitam yang belum diketahui
kegunaannya.
"Senjata yang kau maksud itu tidak kuba-wa, Sobat.
Tapi, kalau kau mau mengambilnya sendiri, silakan mengambilnya di goa tempat
ting-galku," jawab Iblis Tangan Maut seraya menunjuk ke satu arah di
belakangnya. Tampak gundukan batu yang hampir menyerupai bukit. Pada salah satu
sisinya terdapat sebuah lubang.
Dengan isyarat tangan, orang bertopeng kayu yang
mengalahkan Iblis Tangan Maut mem-beri perintah pada rekannya untuk mengambil
senjata itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, orang bertopeng itu melesat ke
arah gundukan ba-tu. Sementara rekannya menunggu sambil men-gawasi Iblis Tangan
Maut. Kakek berpakaian cok-lat itu telah duduk bersila dan siap melakukan
semadi untuk mengobati luka dalam di tubuhnya.
"Ingat, Iblis Tangan Maut," desis orang
ber-topeng. "Apabila kau mempermainkan kami, maka nyawamu tidak akan bisa
kau selamatkan lagi!"
Tidak ada jawaban sepatah pun dari mulut Iblis Tangan Maut.
Dia malah menenggelamkan di-ri dalam keheningan semadinya. Kalau lukanya
dibiarkan terlalu lama akan semakin parah dan
dapat membawa kematian.
Tak lama kemudian, orang bertopeng yang bertugas mengambil
Golok Baja Hitam keluar dari mulut goa. Dengan cepat ia melesat ke arah
re-kannya. "Mari kita pergi," ajak kawannya begitu ia tiba di
dekatnya.
Tanpa mempedulikan nasib Iblis Tangan Maut, dua orang
bertopeng itu melesat ke arah ta-di mereka datang. Dalam beberapa kali lesatan
sa-ja tubuh keduanya sudah tidak terlihat lagi. Iblis Tangan Maut tidak
memperhatikan karena masih sibuk dengan semadinya.
Entah berapa lama bersemadi, Iblis Tangan Maut tidak
mengetahuinya. Yang jelas ketika dia membuka sepasang matanya, di depannya
telah berdiri dua sosok tubuh. Sepasang muda-mudi yang memiliki wajah elok.
Mereka mengenakan pakaian yang warnanya berlawanan. Yang wanita mengenakan
pakaian merah, sedangkan yang lela-ki berpakaian putih!
"Apakah kau orang yang berjuluk Iblis Tan-gan
Maut?" tanya gadis berpakaian merah, ramah.
Iblis Tangan Maut mengeluh dalam hati. Sungguh tidak
disangka berturut-turut ia didatan-gi orang-orang yang mempunyai kepentingan
den-gannya. Kakek berpakaian coklat itu tahu kendati gadis berpakaian merah
mengajukan pertanyaan dengan ramah, tidak berarti mereka datang den-gan maksud
baik. Walaupun demikian, bukan wa-tak kakek berpakaian coklat ini untuk
berbohong. Apalagi sampai tidak mengakui julukannya sendi-ri.
"Tidak keliru, Nona. Kau memang tengah berhadapan
dengan Iblis Tangan Maut!" jawab ka-kek berpakaian coklat tegas seraya
mengangguk-kan kepala.
"Kalau begitu kau harus mati di tanganku,
Keparat!" bentak gadis berpakaian merah keras. Raut wajahnya mendadak
beringas.
Singng!
Sinar terang menyilaukan mata mencuat ketika gadis
berpakaian merah mencabut pedang yang tersampir di punggungnya.
"Tunggu dulu, Nona!"
Iblis Tangan Maut buru-buru mencegah ke-tika melihat gadis
berpakaian merah hendak me-nyerangnya. Malah, pemuda berpakaian putih yang
berdiri di sebelah gadis berpakaian merah te-lah mencabut pedang pula.
"Mengapa kau memusuhiku? Aku yakin di antara kita
tidak ada permusuhan. Melihat wa-jahmu pun baru kali ini. Bisa kau jelaskan
alasan tindakanmu?"
"Ingatkah kau dengan seorang pendekar yang berjuluk
Dewa Tangan Sepuluh?" Gadis ber-pakaian merah menghentikan gerakannya yang
sudah hampir menyerang Iblis Tangan Maut.
"Dia tewas di tanganku," jawab kakek ber-pakaian
coklat dengan nada penuh penyesalan.
"Bagus kalau kau mengakui dosamu!" tim-pal gadis
berpakaian merah dengan sepasang mata berapi-api. "Dengarlah baik-baik,
aku adalah putri Dewa Tangan Sepuluh! Namaku Sutini. Kurasa kau tahu maksud
kedatanganku ke tempat ini.
Aku ingin membunuhmu, Iblis Busuk! Bersiaplah kau,
Keparat!"
Belum juga gema ucapan gadis berpakaian merah lenyap,
pedang di tangannya telah melesat menyambar leher Iblis Tangan Maut dengan
kece-patan tinggi. Bentuk pedang Sutini lenyap menjadi sekelebatan sinar
berkilauan yang disertai bunyi berdesing nyaring.
Iblis Tangan Maut mengenai serangan me-matikan itu.
Buru-buru kakek berpakaian coklat ini melempar tubuhnya ke belakang dan
bersalto beberapa kali di udara menjauhkan diri.
Sutini yang dilanda dendam membara tidak membiarkan
lawannya lolos. Dia segera melompat mengejar seraya mengirimkan tusukan
berantai ke bagian-bagian tubuh yang mematikan!
2
Iblis Tangan Maut sudah memperhitungkan hal itu. Maka,
sambil menjauh kedua tangannya dikibaskan ke arah tengkorak-tengkorak yang
ber-serakan.
Bagai dilemparkan tangan yang ahli, teng-korak-tengkorak
itu meluncur berturut-turut ke berbagai bagian tubuh Sutini. Gadis berpakaian
merah itu terpaksa membatalkan serangannya. Bi-la dilanjutkan hanya akan
mencelakai dirinya sen-diri. Sebelum ujung pedang menghujam di tubuh lawan,
tengkorak-tengkorak itu akan lebih dulu menghantam tubuhnya.
Trak, trak, trakkk!
Tengkorak-tengkorak berpentalan tak tentu arah ketika
Sutini menarik kembali serangannya dan menggunakan senjatanya untuk memapaki.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Iblis Tangan Maut untuk melancar-kan serangan
balasan. Kakek berpakaian coklat ini menyadari Sutini bukan lawan yang ringan.
Apala-gi dirinya belum sembuh benar dari luka dalam.
Pemuda berpakaian putih yang telah meng-genggam pedang
tidak terjun ke dalam kancah pertarungan. Dia berdiri dengan sekujur urat-urat
yang menegang penuh kewaspadaan. Gagang pe-dangnya dicekal dengan kencang.
Pemuda berpa-kaian putih ini bersiap-siap menolong apabila Su-tini terdesak!
Diam-diam pemuda berpakaian putih mera-sakan gurunya dan
juga guru Sutini, memang me-reka saudara seperguruan, terlalu menganggap Ib-lis
Tangan Maut memiliki kepandaian tinggi. Ke-nyataan yang dilihat pemuda itu
tidak demikian. Dengan jelas dilihatnya walaupun Sutini tak akan mampu
mengalahkan Iblis Tangan Maut, tapi ka-kek berpakaian coklat itu pun tidak akan
mudah mengalahkan lawannya. Kendati setelah pertarun-gan berlangsung hampir
tiga puluh jurus, Iblis Tangan Maut mulai dapat mendesaknya.
"Kalau hanya sampai di situ saja kepan-daian Iblis
Tangan Maut," pemuda berpakaian pu-tih berkata dalam hati, "Tidak
sepantasnya tokoh ini amat mengkhawatirkan hati Guru. Jangankan Guru, aku dan
Sutini maju bersama pun Iblis
Tangan Maut dapat dibinasakan."
Melihat keadaan Sutini semakin tidak men-guntungkan, sambil
mengeluarkan pekikan me-lengking nyaring pemuda berpakaian putih terjun ke
dalam kancah pertarungan. Keadaan langsung berubah.
Sutini tidak terdesak lagi. Malah, Iblis Tan-gan Maut yang
terdesak. Pedang di tangan Sutini dan pemuda berpakaian putih bagai digerakkan
oleh satu pikiran. Mereka saling melindungi dan memperkuat serangan.
Iblis Tangan Maut menjerit tertahan ketika ujung pedang
Sutini menyerempet paha kanannya. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang.
Ke-sempatan itu dipergunakan pemuda berpakaian putih untuk melompat dan
mengirimkan tusukan ke dada. Hanya selisih sekejap mata saja, Sutini menusukkan
pedangnya ke leher!
"Pengecut-pengecut hina yang beraninya hanya main
keroyok!"
Pada saat yang bersamaan dengan terden-garnya bentakan itu,
dua kilatan cahaya yang me-nyilaukan mata meluncur cepat dan menghantam pedang
Sutini dan saudara seperguruannya.
Sutini dan pemuda berpakaian putih terpe-ranjat. Tangan
mereka bergetar hebat. Dan, ham-pir saja senjata yang tercekal, terlepas.
Kilatan benda menyilaukan yang terpaksa mereka tangkis melayang ke satu arah.
Dengan enaknya, seorang gadis muda berwajah cantik mengulurkan tangan
menangkapnya.
Kegagalan serangan itu membuat Sutini
yang paling bernafsu untuk membunuh Iblis Tan-gan Maut
menjadi sangat geram.
"Siapa kau, Wanita Liar? Sungguh berani kau mencampuri
urusanku!" bentak Sutini dengan sepasang mata mendelik. Meski merasa heran
me-lihat lawannya mampu membuat senjata yang di-lontarkan kembali ke
pemiliknya, rasa amarah membuat Sutini lupa. Padahal, dia melihat bentuk
senjata itu. Logam putih yang berbentuk bulan sa-bit!
"Kaulah yang liar!"
Gadis yang baru tiba dan menggagalkan se-rangan maut
terhadap Iblis Tangan Maut tidak mau kalah gertak. Bahkan, dia menudingkan jari
telunjuk kirinya yang lentik.
"Mengapa kau menyerang kakekku...?!" Bukan hanya
Sutini saja yang terkejut. Pe-
muda berpakaian putih pun demikian. Mereka ti-dak pernah
menyangka Iblis Tangan Maut mem-punyai seorang cucu perempuan!
"Kakeknya orang jahat. Cucunya pun sudah pasti bukan
orang baik-baik! Lebih baik kau ku-bunuh sebelum menyebar maut di dunia
persila-tan!"
Sutini yang tengah kalap melontarkan pu-kulan tangan kanan
dan kirinya yang terkepal ke-ras ke dada gadis berpakaian hijau. Jarak antara
mereka sekitar lima tombak. Tapi, itu tidak menja-di masalah. Dari kedua tangan
yang dipukulkan itu berhembus angin keras. Sutini mengirimkan pukulan jarak
jauh.
Gadis berpakaian hijau melakukan hal yang
sama. Terdengar bunyi menggelegar ketika puku-lan-pukulan
jarak jauh itu berbenturan di tengah jalan. Setiap benturan membuat Sutini
terhuyung-huyung ke belakang. Bahkan, benturan yang te-rakhir membuat Sutini
terjengkang dan hampir ja-tuh.
Kenyataan ini sangat mengejutkan Sutini dan saudara
seperguruannya. Mereka tidak me-nyangka tenaga dalam gadis berpakaian hijau
de-mikian hebat. Malah lebih kuat dari Iblis Tangan Maut!
Tanpa pikir panjang lagi, pemuda berpa-kaian putih
menerjang cucu Iblis Tangan Maut. Ia membantu Sutini yang telah lebih dulu
menye-rang.
***
Permainan pedang Sutini dan saudara se-perguruannya hebat
bukan main. Bentuk pedang-pedang itu lenyap. Yang terlihat hanya
kilatan-kilatan sinar yang meluncur ke arah cucu Iblis Tangan Maut.
Namun, gadis berpakaian hijau itu memang benar-benar
mengagumkan. Berbeda dengan ke-dua lawannya yang bersenjatakan pedang, gadis
ini hanya menggunakan sebatang suling. Suling bambu! Cucu Iblis Tangan Maut ini
memakai sul-ing sebagaimana orang mempergunakan golok atau pedang. Terkadang
menusuk, membabat, atau membacok. Namun yang menakjubkan, gera-kan suling itu
selalu menimbulkan bunyi nyaring yang indah dan merdu.
Sutini dan pemuda berpakaian putih men-jadi gelisah. Mereka
memang tidak mengalami ke-sulitan menghadapi permainan suling cucu Iblis Tangan
Maut. Tapi, suara suling itu merasuk ke dalam telinga dan membuat jantungnya
berdebar kencang. Hal ini mempengaruhi gerakan Sutini dan kawannya. Permainan
pedang mereka agak kacau.
Tukkk, desss!
Pada suatu saat, suling cucu Iblis Tangan Maut berhasil
menotok bahu kanan Sutini. Dis-usul dengan tendangan kaki kanan gadis itu pada
paha kiri pemuda berpakaian putih. Tubuh Sutini dan kawannya terhuyung-huyung
ke belakang.
Sutini dan saudara seperguruannya menja-di sadar cucu Iblis
Tangan Maut memiliki kepan-daian luar biasa. Terus memaksakan diri melaku-kan
perlawanan hanya akan sia-sia. Maka, tanpa malu-malu lagi kakak dan adik
seperguruan itu melesat meninggalkan tempat itu.
Gadis berpakaian hijau yang marah pada Sutini dan pemuda
berpakaian putih karena hen-dak membunuh kakeknya tidak membiarkan
la-wan-lawannya kabur. Dia melesat melakukan pen-gejaran.
"Karina...! Tidak usah dikejar...!"
Gadis berpakaian hijau menghentikan ayu-nan kakinya. Ia
tidak melakukan pengejaran lagi sehingga Sutini dan kawannya leluasa melarikan
diri.
Gadis berpakaian hijau yang bernama Kari-na menghentakkan
kaki ke tanah dengan kesal.
Tampaknya ia tidak rela membiarkan lawan-lawannya kabur.
Dengan sorot mata penasaran, pandangannya dialihkan ke arah Iblis Tangan Maut,
kakeknya.
"Mengapa Kakek mencegahku? Apabila tadi kakek tidak
melakukan hal itu, aku yakin akan berhasil menangkap orang-orang yang bermaksud
membunuh Kakek!" protes Karina, marah.
Iblis Tangan Maut hanya tersenyum lebar. Luka pada bahunya
telah tidak mengganggu lagi. Dia telah menotok jalan darah di sekitar luka
hingga aliran darah terhenti. Dengan wajah berse-ri-seri ditunggunya Karina
berada di dekatnya.
"Tenanglah, Karina." Iblis Tangan Maut memberi
nasihat. "Mungkin ada baiknya kau men-dengarkan ceritaku agar hatimu
tenang. Cerita yang menyebabkan mereka berdua datang kemari untuk membunuhku.
Juga akan kuceritakan ten-tangku serta siapa ayah dan ibumu."
Wajah Karina langsung berseri-seri. "Tentang dirimu
dan ayah ibuku, Kek! Jadi,
sekarang aku telah boleh mengetahuinya?" tanya Karina
dengan gembira. Memang, Iblis Tangan Maut selalu mengulur jawaban apabila gadis
ber-pakaian hijau itu menanyakannya. Kakek berpa-kaian coklat ini selalu
memberikan jawaban, 'belum saatnya' atau 'nanti apabila kau telah de-wasa'
"Duduklah dulu, Karina. Aku akan menceri-takan
semuanya. Kuharap kau mau bersabar mendengarkannya. Cerita ini cukup
panjang."
"Aku akan sabar mendengarkannya, Kek,"
jawab Karina cepat. Ia duduk di salah satu tengko-rak yang
berserakan di sekitarnya.
Iblis Tangan Maut tidak segera bercerita. Kakek berpakaian
coklat ini malah termenung. Ka-rina tidak tahu mengapa. Tapi, dia tidak ambil
pusing dan menganggap kakeknya tengah mengin-gat-ingat hal yang akan
diceritakannya.
"Usiaku sekarang kurang lebih seratus ta-hun. Sejak
masih berumur dua puluh sembilan tahun aku telah menjagoi dunia persilatan.
Satu demi satu tokoh persilatan yang bentrok denganku roboh. Kalau tidak tewas,
pasti terluka yang amat parah. Tapi sebagian besar tewas. Karena itu, hanya
dalam waktu beberapa tahun saja aku su-dah mendapat julukan Iblis Tangan Maut.
Sebuah julukan yang menyeramkan."
Iblis Tangan Maut tersenyum getir. Sorot penyesalan
memancar jelas dari wajah dan sepa-sang matanya.
Karina yang tidak pernah tahu masa lalu Ib-lis Tangan Maut
dan hanya tahu kakek berpakaian coklat ini adalah kakeknya, diam-diam terkejut
bukan main mendengar cerita itu. Tanpa dije-laskan lagi dia tahu kakeknya
termasuk tokoh go-longan sesat! Tapi karena khawatir menyinggung hati Iblis
Tangan Maut, Karina bersikap biasa saja. Seakan berita yang didengar tidak
membuatnya terkejut sama sekali.
Iblis Tangan Maut merasa kagum melihat sikap Karina yang
terlihat biasa saja. Padahal, ka-kek berpakaian coklat ini telah mengira Karina
akan terkejut mendengar ceritanya. Bahkan, Iblis
Tangan Maut sudah siap untuk melihat keterkeju-tan Karina.
Tapi ternyata hal yang ditakutkan Iblis Tangan Maut tidak terjadi. Kakek
berpakaian cok-lat itu menjadi lega. Ia melanjutkan ceritanya den-gan hati
lapang.
"Karena kepandaian yang kumiliki, aku jadi banyak mempunyai
musuh dan juga pengikut. Musuh-musuhku sebagian besar orang-orang go-longan
putih. Sedangkan pengikutku para penjilat dan orang-orang yang ingin mencari
untung atas nama besar yang kumiliki. Bertahun-tahun aku hidup seperti itu.
Gaya hidupku baru berubah ke-tika bertemu dengan seorang gadis cantik yang
hampir menjadi korban kejahatan sekelompok penjahat. Aku menolongnya.
Penjahat-penjahat kecil itu kubasmi semua. Kemudian kunyatakan cinta pada gadis
itu, karena memang aku menyu-kainya. Gadis itu menerimanya dengan syarat aku
bersedia meninggalkan dunia kejahatan dan ikut bersamanya menjauhi kerasnya
dunia persilatan. Sebelum itu, gadis itu memintaku untuk memba-laskan sakit
hatinya karena ayahnya dibunuh orang jahat. Itu pun berhasil aku penuhi. Aku
dan gadis itu menikah dan hidup dengan tenang di de-sa."
Iblis Tangan Maut menghentikan ceritanya. Sepasang matanya
menerawang ke atas. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin kakek berpakaian coklat
ini tengah terkenang pada kehidupan te-nangnya di masa lalu.
"Bertahun-tahun aku dan gadis itu hidup tenang. Sampai
akhirnya kami mempunyai seo-
rang anak perempuan. Sayang, ketenangan itu ti-dak
berlangsung lama. Orang-orang yang menden-dam padaku terlalu banyak, sehingga
mereka te-rus menelusuri jejakku. Tempat persembunyianku berhasil diketemukan.
Dan sialnya saat itu aku tengah berada di sawah. Istriku dibunuh. Anakku sedang
bermain sehingga tidak ikut terbunuh. Tapi tetap saja kejadian itu
mengguncangkan hatiku. Aku hampir gila rasanya. Setelah menitipkan anakku pada
salah seorang sahabat baikku, aku pergi untuk mencari pembunuh-pembunuh keji
itu. Bertahun-tahun aku melacak mereka. Penca-rianku tidak sia-sia. Mereka
kutemukan. Tanpa ampun kubantai mereka semua. Namun, sungguh tidak kusangka
kalau sepeninggalku di dunia per-silatan telah muncul tokoh sesat yang merajai
go-longan hitam. Siluman Dari Neraka, julukannya. Salah satu dari tiga pembunuh
istriku ternyata mempunyai hubungan baik dengan Siluman Dari Neraka."
"Ah...!"
Karina tidak tahan untuk tidak berseru ka-get. Julukan
datuk sesat itu membuat bulu ku-duknya berdiri. Tokoh yang mempunyai julukan
seperti itu pasti memiliki kekejaman yang mendiri-kan bulu roma.
"Aku yang memang tidak ingin mencari permusuhan lagi
dengan orang-orang yang tidak mempunyai masalah denganku, tidak ambil pedu-li.
Gairahku untuk berkiprah di dunia persilatan telah lenyap seiring dengan
perginya istriku ke alam baka. Aku berniat kembali pada anakku."
Iblis Tangan Maut melanjutkan ceritanya dengan suara getir.
"Tapi ternyata kemunculanku telah me-mancing datangnya
musuh-musuhku. Mereka orang-orang yang merasa sakit hati karena saha-bat,
kakak, atau saudaranya tewas di tanganku. Aku tidak bisa segera kembali pada
anakku karena khawatir akan keselamatannya. Penghadangan-penghadangan dari
orang-orang yang bermaksud membunuhku senantiasa terjadi. Hari-hariku pun
seperti sebelum aku mengasingkan diri. Hanya kali ini aku tidak bertangan
kejam. Tidak ada orang yang kubunuh kecuali sangat terpaksa. Karena
se-rangan-serangan itu semakin menjadi-jadi, kesa-baranku pun lenyap. Aku
kembali seperti dulu. Aku menjadi Iblis Tangan Maut lagi! Salah seorang yang
tewas di tanganku adalah Dewa Tangan Se-puluh yang bermaksud membalaskan
kematian kawannya. Kau tahu siapa Dewa Tangan Sepuluh, Karina?"
Gadis berpakaian hijau itu menggeleng. "Dewa Tangan
Sepuluh adalah ayah gadis
berpakaian merah tadi."
Karina terperanjat. Sekarang dia tahu men-gapa Sutini tadi
demikian bernafsu untuk mem-bunuhnya. Ternyata Sutini memendam rasa den-dam.
"Akhirnya aku berhasil berkumpul dengan anakku saat ia
telah dewasa. Bahkan, aku sempat menikahkannya dengan seorang pendekar yang
memiliki kepandaian cukup tinggi," lanjut Iblis Tangan Maut.
"Apakah mereka ayah dan ibuku?" tanya Karina
dengan suara serak karena perasaan te-gang.
"Benar," Iblis Tangan Maut mengangguk.
"Ibumu, yaitu anakku, bernama Umari. Sedangkan ayahmu bernama
Lesmana."
"Di mana mereka sekarang, Kek?" tanya Ka-rina
tidak sabar.
Iblis Tangan Maut tidak segera menjawab. Dia malah menatap
wajah Karina dengan sinar mata penuh rasa iba. Karina pun mendapat firasat
jelek. Namun, dia tetap ingin mendengar kepas-tiannya.
"Katakanlah, Kek. Apa yang terjadi dengan orangtua ku?
Percayalah, aku siap untuk menden-gar sekalipun berita yang akan kau katakan
itu buruk."
Iblis Tangan Maut menghela napas berat. Dia terlihat
bimbang untuk memberikan jawaban.
"Meskipun kau tidak memintanya, Karina, aku tetap akan
menceritakannya. Syukurlah kau berhati tegar dan siap mendengarnya. Nah,
den-garlah baik-baik."
Karina merasakan jantungnya berdetak le-bih cepat. Gadis
itu tegang bukan main. Saking te-gangnya dan khawatir cerita Iblis Tangan Maut
ti-dak terdengar jelas, gadis berpakaian hijau ini sampai menahan napas.
"Karena Umari telah menikah, aku tidak tinggal bersama
mereka lagi. Ada orang lain yang telah menjaganya, yaitu ayahmu. Aku juga
khawa-tir keberadaanku bersama mereka hanya akan
menimbulkan bahaya. Baru setahun setelah per-kawinan
mereka, aku datang berkunjung. Ternya-ta kedatanganku sangat tepat. Meskipun
harus kuakui agak terlambat."
"Aku masih kurang jelas dengan ucapanmu, Kek?"
sergah Karina tidak sabar.
3
Iblis Tangan Maut tersenyum maklum. Ia mengerti mengapa
Karina menyela pembicaraan-nya.
"Siluman Dari Neraka yang merasa perlu membunuhku
untuk membuktikan kalau dirinya lebih unggul dari Iblis Tangan Maut,
mencari-cariku. Karena tidak menemukanku, dia bermak-sud membunuh Umari dan
suaminya untuk me-mancing kedatanganku. Tapi, seperti telah diatur oleh Yang
Kuasa, aku datang dan berhasil memer-gokinya. Siluman Dari Neraka benar-benar
kejam. Umari dan suaminya disiksa. Bahkan, anak mere-ka yang masih bayi dan
baru berumur beberapa hari hendak dibunuhnya pula."
Wajah Karina pucat pasi. Meski tidak me-nyaksikan sendiri,
dia bisa membayangkan sik-saan yang diderita orangtuanya. Kalau Iblis Tan-gan
Maut saja yang telah terbiasa membunuh orang, merasa ngeri, Karina sukar
membayangkan bentuk penyiksaan itu.
"Bayi yang baru berusia beberapa hari itu pasti aku.
Benar demikian, Kek?" tanya Karina.
Api dendam mulai berkobar di dalam dadanya.
"Benar." Iblis Tangan Maut mengangguk.
"Siluman Dari Neraka bermaksud membunuhmu untuk
menyiksa hati ayah dan ibumu, Karina. Pa-dahal, mereka meski telah tersiksa
setengah mati meratap-ratap agar kau diampuni. Mereka memin-ta agar siksaan
yang akan ditimpakan kepadamu dialihkan saja pada mereka berdua. Tapi, Siluman
Dari Neraka yang memang sengaja hendak me-nyiksa batin mereka mana mau
memenuhinya?"
Karina menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tidak
terdengar isak tangis. Namun dari celah-celah kedua tangan itu mengalir air
mata. Karina menangis tanpa suara. Gadis berpakaian hijau ini merasa terharu
mengingat kasih sayang ayah bundanya yang demikian besar.
"Sebelum Siluman Dari Neraka membukti-kan ancamannya
dengan menyiksamu, aku da-tang. Meski tidak ada yang memberi penjelasan, aku
segera tahu apa yang tengah terjadi. Kutan-tang Siluman Dari Neraka. Dia yang
memang ten-gah mencari-cariku langsung menyambuti. Kami pun terlibat
pertarungan. Sebelumnya kuperintah-kan Umari dan Lesmana agar pergi dari situ
untuk menyelamatkan kau, Karina. Aku khawatir tidak akan mampu menang melawan
Siluman Dari Ne-raka. Padahal aku tahu pasti dari luka-luka akibat siksaan yang
mereka derita, orangtua mu tidak akan bertahan hidup. Tapi setidak-tidaknya kau
selamat, Karina."
Iblis Tangan Maut menundukkan kepala. Sejenak kemudian
diangkatnya kembali. Tidak ter-
lihat gambaran perasaan apa pun pada wajah ke-riput yang
terlihat matang oleh pengalaman hidup itu. Tapi, Karina tahu kakek berpakaian
coklat itu tengah sangat berduka. Gadis ini telah lama ting-gal bersama Iblis
Tangan Maut. Sehingga, dapat merasakan apa yang tengah dirasakan kakeknya.
"Ayah dan ibumu memenuhi perintahku. Dengan
susah-payah mereka membawamu pergi. Aku sempat melihatnya sekilas. Dan, tidak
bisa mengawasi mereka terus karena nyawaku sendiri tengah terancam. Siluman
Dari Neraka memang sangat hebat. Harus kuakui tingkat kepandaian-nya berada di
atasku. Betapapun telah kukuras seluruh kemampuan yang kumiliki, tetap tidak
mampu mengubah keadaan. Perlawananku ter-henti ketika sebuah pukulannya membuat
tubuh-ku terlempar. Pukulan itu keras sekali sehingga aku terluka dalam yang
parah. Nyawaku tinggal melayang ke alam baka. Namun sebelum Siluman Dari Neraka
melancarkan serangan susulan yang mematikan, muncul dua orang gagah. Mereka
langsung menyerang Siluman Dari Neraka yang te-lah lelah bertarung
denganku."
"Bagaimana hasil pertarungan itu, Kek? Apakah Siluman
Dari Neraka itu mampus?!" tanya Karina dalam rasa benci yang menggelora.
Iblis Tangan Maut bisa merasakan keben-cian itu. "Aku
tidak tahu, Karina," jawab Iblis Tan-gan Maut agak menyesal. "Aku
hanya menyaksi-kan sebentar untuk melihat kepandaian dua orang gagah itu.
Kepandaian mereka ternyata cukup tinggi. Kalau pertarungan dilakukan satu lawan
satu, mereka bukan tandingan Siluman Dari Nera-ka. Tapi
karena, mereka berdua dan tenaga Silu-man Dari Neraka telah terkuras,
kemungkinan ke-dua orang itu akan keluar sebagai pemenang. Aku pergi dari situ
untuk menyusul ayah dan ibumu, Karina. Kekhawatiranku ternyata beralasan. Di
tengah jalan kulihat tubuh ayah dan ibumu tergo-lek tidak bernyawa. Kau
menangis sendirian di tengah padang rumput yang luas. Aku pun mem-bawamu kemari
setelah menguburkan mayat ayah dan ibumu di sana."
Karina menundukkan kepala. Tidak me-nyangka orangtuanya
meninggal dengan cara de-mikian mengenaskan. Hatinya sedih bukan main.
"Sekarang apa yang hendak kau lakukan, Karina?"
tanya Iblis Tangan Maut setelah mem-biarkan gadis berpakaian hijau itu terdiam
bebe-rapa saat.
"Entahlah, Kek," jawab Karina ragu. "Yang
jelas aku hendak mengunjungi makam orangtua ku. Setelah itu aku belum tahu,
Kek."
Iblis Tangan Maut tidak memberikan tang-gapan. Dia tahu
Karina masih bimbang.
"Sayang sekali aku tidak bisa mengantar-mu, Karina.
Aku sudah tua. Otot-otot kakiku tidak kuat lagi untuk menempuh perjalanan jauh.
Pe-sanku, jangan kau coba-coba membalas dendam terhadap Siluman Dari Neraka.
Percuma, Karina. Kau akan celaka di tangannya. Kendati semua il-mu yang
kumiliki telah kuberikan padamu tapi masih terlalu jauh untuk kau pakai
menandin-ginya. Siluman Dari Neraka terlalu tangguh untuk
ditandingi, apalagi dikalahkan!"
Karina membisu. Gadis berpakaian hijau ini tidak berani
mengangguk atau menggeleng. Bisa saja untuk menyenangkan hati Iblis Tangan Maut,
Karina mengangguk. Tapi, itu tidak dilakukannya. Karina tidak mau membohongi
kakeknya.
Iblis Tangan Maut pun mengerti mengapa Karina bersikap
demikian. Maka, dia tidak mende-sak cucunya untuk memberikan jawaban.
"Kapan kau akan pergi, Karina?" Dengan pandainya,
Iblis Tangan Maut mengalihkan pembi-caraan.
"Mungkin beberapa hari lagi, Kek. Aku ingin di sini
dulu bersama Kakek."
***
Hari masih pagi ketika seorang gadis cantik berpakaian
hijau mengayunkan kaki memasuki mulut sebuah hutan. Wajahnya terlihat murung.
Langkah kakinya pun tidak bersemangat. Gadis itu berjalan sambil menundukkan
wajahnya. Hanya sesekali pandangannya ditujukan ke depan. Ketika suatu saat
gadis ini mengangkat wa-jahnya, terlihat sesosok tubuh bungkuk melang-kah
tertatih-tatih. Sebatang tongkat tergenggam di tangan kanannya. Benda itu
digunakan untuk
membantunya berjalan.
Hati gadis berpakaian hijau yang tidak lain Karina jadi
tersentuh. Rasa iba terbit di hatinya melihat sosok di depannya melangkah
dengan su-sah payah. Bahkan, beberapa kali terhuyung se-
perti akan jatuh.
Karina memang memiliki watak pendiam. Kendati demikian,
bila tengah murka dia tidak ka-lah berbahayanya dengan orang yang pemarah.
Untungnya, Iblis Tangan Maut mendidiknya den-gan baik sehingga gadis ini tumbuh
menjadi seo-rang dara yang berwatak gagah.
Karena itu, Karina tidak sampai hati mem-biarkan sosok di
hadapannya. Sosok yang menge-nakan pakaian merah lusuh itu adalah seorang
kakek. Pandang mata Karina yang tajam dapat me-lihat dengan jelas jalan yang
ditempuh kakek itu terus menanjak. Perjalanan yang tidak ringan bagi seorang
yang telah berusia lanjut.
Karina segera melesat. Ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan
untuk bisa menyusul sosok di hadapannya. Karina ingin membantu kakek itu untuk
melanjutkan perjalanan.
Karina merasa heran ketika telah beberapa kali lesatan
tidak juga menyusul kakek berpakaian merah. Padahal, sekali lesatan tak akan
kurang dari delapan tombak. Paling tidak sudah dua pu-luh lima tombak jarak
yang ditempuhnya. Sedang-kan kakek berpakaian merah berada sepuluh tom-bak di
depannya, meskipun selama Karina melesat kakek itu terus berjalan.
Rasa penasaran dan heran membuat Karina mengerahkan seluruh
kemampuan larinya. Sambil mengayunkan kaki, pandangannya diarahkan pa-da sosok
di depannya. Dengan jelas dilihatnya ka-kek itu melangkah tertatih-tatih. Tapi
anehnya, ja-rak antara mereka tetap tidak berubah! Betapapun
Karina bersikeras dan terus berlari. Bahkan, sam-pai peluh
membasahi sekujur tubuh dan napasnya menderu-deru, kakek berpakaian merah tetap
ti-dak mampu dikejarnya.
Kenyataan ini membuat Karina menyadari kalau kakek
berpakaian merah tidak selemah se-perti yang diduganya. Kakek itu justru
seseorang yang memiliki kepandaian tinggi. Kalau tidak, ma-na mungkin hanya
dengan berjalan tertatih-tatih mampu membuat pengejaran yang dilakukan den-gan
sepenuh kemampuannya tidak berarti sama sekali?
Meskipun demikian, keinginan Karina tidak menjadi surut
untuk menyusul kakek itu. Gadis berpakaian hijau ini malah ingin berkenalan
den-gan kakek berpakaian merah yang luar biasa itu.
Karina baru menghentikan pengejarannya ketika kakek itu
lenyap dari pandangan ketika be-rada di jalan setapak yang di kanan kirinya
ter-hampar kerimbunan semak, Gadis ini menatap ke arah dua jalan di kanan
kirinya. Hanya ada dua ja-lan.
Karina bimbang memilih jalan yang akan di-tempuhnya. Dia
tidak sempat melihat jalan mana yang dipilih kakek berpakaian merah. Tadi tubuh
kakek itu tidak terlihat karena jalan yang meleng-kung sehingga menghalangi
pandangan.
"Kau mencariku, Anak Manis?"
Teguran dari arah belakangnya membuat Karina terlonjak dan
bergegas membalikkan tu-buh. Karina kaget bagai terpatuk ular berbisa. Da-ra
ini tidak menyangka kakek yang dicarinya telah
muncul di belakangnya. Namun sebentar kemu-dian, perasaan kaget
itu berhasil dihalaunya. Tan-pa ragu-ragu dara ini mengangguk.
"Benar, Kek," jawab Karina seraya menatap kakek
berpakaian merah dengan penuh selidik.
Wajah kakek itu dihiasi oleh kumis, jam-bang, dan jenggot
kasar yang putih serta tidak te-rawat. Kulit wajahnya merah seperti udang
dire-bus. Sinar matanya yang tajam dan memancarkan sorot mengerikan membuat
kakek ini terlihat ang-ker. Ia mengenakan pakaian merah.
"Mengapa kau mengejar-ngejarku?!" tanya kakek
bermuka merah penuh ancaman. Sepasang matanya mencorong menikam wajah Karina
sea-kan ia hendak melihat kebenaran jawaban gadis itu.
Karina merasakan jantungnya berdetak jauh lebih cepat.
Sorot mata itu membuatnya ya-kin kalau kakek yang berdiri di hadapannya ini
memiliki kemampuan luar biasa. Sepengetahuan-nya hanya tokoh-tokoh yang
memiliki tenaga da-lam tinggi saja yang memiliki sinar mata seperti itu. Karina
melihat sorot mata seperti ini pada ka-keknya, Iblis Tangan Maut.
Gadis berpakaian hijau ini tidak merasa gentar sedikit pun.
Gemblengan kakeknya telah membuatnya menjadi seorang dara yang tidak kenal
takut. Apalagi mengetahui dirinya tidak me-lakukan kesalahan.
"Sebenarnya aku tidak bermaksud demi-kian, Kek.
Kebetulan aku menempuh perjalanan kemari. Di kejauhan kulihat kau tengah
berjalan
tertatih-tatih. Karena jalan daerah ini cukup berat, aku
bermaksud membantumu. Sungguh tidak ku-sangka ternyata kau tidak seperti yang
kuduga," jawab Karina lancar dan tenang.
"Tidak seperti yang kau duga? Apa mak-sudmu, Nona
Muda?!" desak kakek berpakaian merah ingin tahu.
"Kau seorang tokoh yang memiliki kepan-daian tinggi.
Jadi, apa artinya pertolongan yang hendak kuberikan?" kilah Karina, halus.
Wajah kakek berpakaian merah membesi. Sinar matanya
memancarkan kebengisan.
"Gadis Lancang! Berani kau merendahkan aku? Sungguh
berani kau memandang rendah di-riku. Aku tidak mau menerima begitu saja
penghi-naan ini! Kau harus mendapat hukuman yang se-timpal atas kelancangan
yang telah kau lakukan!"
Sepasang mata Karina berkilat-kilat Kema-rahannya bangkit
mendengar ancaman kakek itu. Tidak disangka kakek berpakaian merah ini
memi-liki watak demikian keji! Orang beritikad baik un-tuk menolongnya malah
dianggap menghina. Bah-kan, hendak memberikan hukuman. Sungguh gila dan
keterlaluan!
"Kalau boleh kutahu, hukuman apa yang hendak kau
jatuhkan padaku, Kek?!"
"Ah. Kau marah kiranya.... Marah karena aku hendak
menghukummu? Bagus. Aku lebih suka menghukum orang yang berani melawan se-telah
merendahkanku!" jawab kakek berpakaian merah.
"Kau tahu, Nona Muda. Hukuman yang in-
gin kujatuhkan padamu adalah hukuman potong kedua telinga
dan ujung hidung! Sekarang terse-rah padamu. Kau ingin aku yang melaksanakan
hukuman itu atau kau sendiri yang melakukan-nya!"
"Kakek berhati keji!"
Karina tidak kuasa menahan kemarahan yang meluap. Tindakan
kakek itu dirasakan san-gat kejam. Memotong kedua telinga dan ujung hi-dungnya!
Betapa kejinya. Karina seorang gadis yang masih muda dan berwajah cantik. Apa
ja-dinya kalau hukuman itu dilaksanakan. Tentu Ka-rina akan menjadi seorang
gadis yang memiliki wa-jah menakutkan.
"Kau kira aku takut dengan ancamanmu?!" "Ha
ha ha...!"
Kakek berpakaian merah tertawa bergelak sehingga tampaklah
giginya yang telah ompong. Tidak terlihat sebuah gigi pun di sana. Kebengisan
dan kekejaman yang memancar di wajahnya.
"Rupanya kau seorang wanita pemberani, heh? Bagus.
Bagus. Aku ingin tahu sampai di ma-na keberanianmu. Akan kau rasakan sendiri
sik-saan yang akan membuatmu tidak berani men-gunjukkan diri ke dunia luar
lagi. Ha ha ha...!"
Karina merasakan jantungnya seperti dire-mas-remas ketika
kakek itu tertawa. Kedua ka-kinya menggigil keras. Bergegas tenaga dalamnya
dikerahkan untuk melawan pengaruh itu. Tapi, tawa itu tidak terdengar terlalu
lama. Rupanya ka-kek berpakaian merah tidak ingin menggunakan tawanya untuk
menyerang Karina. Tawa itu keluar
karena rasa gembiranya.
Karina semakin was-was melihat kenyataan ini. Kalau tidak
ditujukan untuk menyerang saja sudah demikian dahsyat pengaruh yang
ditimbul-kan, bagaimana bila kakek itu benar-benar ingin menyerangnya. Dara ini
tidak bisa memperkirakan kedahsyatannya.
Karina tidak mau berpikir panjang. Kakek di hadapannya ini
memiliki kepandaian luar biasa, maka suling yang terselip di pinggang segera
dica-butnya. Suara merdu seperti bunyi suling ditiup langsung terdengar.
"Keluarkan senjatamu, Kakek Jahat! Kalau tidak jangan
salahkan aku jika sulingku ini me-mukul mati kau!" Karina yang merasa
tidak enak untuk menyerang lawan tidak bersenjata, membe-rikan kesempatan pada
kakek berpakaian merah untuk mengeluarkan senjatanya.
Kakek berpakaian merah malah tertawa me-ngikik. Pandang
matanya penuh dengan hinaan ketika menatap senjata Karina.
"Benda itu kau katakan senjata? Ah! Justru aku ingin
mendengar bunyi yang akan kau main-kan. Pasti merdu sekali. Sudah lama aku
tidak mendengar bunyi musik!"
"Jebol perutmu...!"
Karina membarengi teriakannya dengan tu-sukan suling
bambunya ke perut lawan. Kakek berpakaian merah sedikit pun tidak mengelak.
Ba-ru ketika ujung suling mengenai kulit, perutnya ti-ba-tiba dikempeskan.
Suling Karina ikut terbawa masuk. Beberapa saat kemudian, kakek itu men-
gembungkan perutnya. "Ah...!"
Karina mengeluarkan teriakan tertahan. Ia terjengkang ke
belakang akibat gerakan perut yang aneh itu. Bersamaan dengan gerak
menggendut-nya perut kakek berpakaian merah, ada kekuatan dahsyat yang
mendorong tubuh gadis itu ke bela-kang. Karina tak mampu berbuat apa pun untuk
bertahan. Dorongan itu terlalu kuat!
Kakek berpakaian merah tertawa bergelak melihat Karina
menatap ke arahnya dengan pan-dang mata terbelalak. Gadis itu berhasil
mema-tahkan kekuatan yang membuat tubuhnya ter-jengkang.
Untuk sesaat Karina menatap perut kakek itu yang tidak
tertutup pakaian. Pakaian yang di-kenakannya sebenarnya cukup untuk menutupi
bagian tubuh belakang dan depan. Tapi, kakek itu telah merobek bagian depannya
sedemikian rupa sehingga mirip rompi.
"Ayo, tunggu apa lagi? Tidak ada gunanya kau
bengong-bengong seperti itu. Cepat kau bun-tungi ujung hidung dan dua telingamu
sebelum aku yang melakukannya!" seru kakek berpakaian merah.
"Jangan harap aku akan melakukannya, Kakek
Jahat!"
Karina yang masih penasaran kembali men-girimkan serangan.
Kali ini ujung sulingnya ditu-jukan ke arah ubun-ubun kakek itu. Karina tahu
betapapun saktinya kakek itu tak akan mungkin mampu melindungi ubun-ubun dengan
kekuatan
tenaga dalam. Ubun-ubun merupakan bagian ter-lemah dari
tubuh manusia!
Kakek berpakaian merah tetap terkekeh. Pe-rutnya mendadak
bergerak dengan aneh. Berge-lombang turun naik, mengembang dan mengem-pis.
Seakan ada sesuatu di dalam perut itu yang bergerak-gerak ingin keluar!
Kembali Karina mengalami kejadian yang mengejutkan.
Serangannya langsung berubah arah! Tidak lagi menuju ubun-ubun, tapi menukik
dengan kecepatan menakjubkan ke arah perut! Ada kekuatan tak nampak yang
membuat arah suling menyeleweng.
Karina tidak membiarkan hal itu terjadi. Kekuatannya
dikerahkan untuk bertahan dan me-neruskan serangan ke sasaran semula. Tapi
tetap saja dia tidak mampu. Perut yang bergelombang itu seperti mengeluarkan
daya tarik yang luar bi-asa. Tanpa dapat mencegah lagi, suling itu menan-cap di
perut kakek berpakaian merah yang men-gempis.
Karina tidak tinggal diam. Ditariknya suling itu dari perut
lawan dengan sekuat tenaga. Tapi, sia-sia. Sulingnya bagai terjepit oleh
jepitan baja yang amat kuat. Tidak mampu digerakkan sama sekali. Karina menjadi
gelisah. Apalagi ketika me-rasakan hawa panas menjalar dari perut kakek itu.
Mula-mula pada sulingnya, kemudian merayap ke tangan dan sekujur tubuhnya!
Suling itu seperti terjatuh dalam tungku api.
Dalam waktu singkat saja sekujur tubuh Karina telah
dibanjiri peluh. Wajahnya merah pa-
dam seperti udang rebus. Semakin lama semakin merah.
Bahkan, sepasang matanya pun mulai memerah.
Karina sadar malaikat maut sudah berada di dekatnya. Dia
akan mati dengan tersiksa. Ken-dati demikian, kekerasan hatinya membuatnya
ti-dak mau mengeluarkan keluhan atau kata-kata menyerah. Dia terus bertahan.
Berusaha keras menarik sulingnya dari jepitan perut yang men-gempis itu.
"Sungguh terlalu...! Menggunakan kekuatan dan
kemampuan untuk berbuat sewenang-wenang terhadap seorang gadis muda...!"
Bersamaan dengan terdengarnya seruan bernada teguran itu
berkelebatlah sesosok bayan-gan yang langsung berdiri di belakang Karina.
So-sok bayangan yang ternyata seorang pemuda be-rambut putih keperakan itu
menempelkan kedua tangannya di punggung Karina.
"Mundurlah, Nona...."
Karina merasakan aliran tenaga dalam mengalir melalui
punggungnya. Seketika itu su-lingnya yang terjepit perut kakek berpakaian
me-rah berhasil ditarik! Tanpa banyak bicara, gadis ini melangkah mundur
setelah terlebih dulu mengerl-ing pada penolongnya. Sinar mata Karina penuh
dengan rasa terima kasih.
4
Kakek berpakaian merah menatap pemuda
berambut putih keperakan yang melangkah meng-hampirinya.
Sinar mata kakek itu penuh ancaman. Dia merasa tersinggung melihat calon
korbannya berhasil diselamatkan orang tak dikenalnya ini.
"Siapa kau, pemuda tak tahu diri? Sungguh berani kau
menentangku. Apakah kau tidak tahu siapa aku...?!" tegur kakek itu.
Suaranya keras menggelegar.
Pemuda berambut putih keperakan terse-nyum tenang. Dia
sedikit pun tidak merasa gentar mendengar ancaman itu.
"Maaf, Kek. Aku tidak bermaksud menen-tangmu. Aku
hanya tidak ingin kau membunuh gadis yang tidak berdaya itu. Apalagi dengan
cara yang demikian keji. Lagi pula...."
"Aku tidak butuh ceramahmu!" bentak ka-kek
berpakaian merah. "Cepat katakan siapa diri-mu sebelum kuhancurkan
kepalamu!"
Sepasang alis pemuda berpakaian ungu itu berkerut. Rasa
tidak senang merayapi hatinya me-lihat sikap kakek itu yang kasar. Padahal, dia
telah berusaha untuk berlaku sopan.
"Panggil saja aku Arya, Kek," ujar pemuda
berambut putih keperakan.
"Arya...?!"
Kakek berpakaian merah mengulang nama itu seraya
mengernyitkan alisnya. Ia mencoba mengingat-ingat barangkali pernah mendengar
nama itu. Tapi, ia tidak mampu mengingatnya.
"Kau telah lancang mencampuri urusanku, Pemuda
Sombong! Bahkan dengan sikap jumawa berani menceramahiku. Aku tidak menerima
hal
itu. Kau akan menerima balasannya. Kau akan kusiksa. Lalu,
kuberikan pada hewan-hewan peli-haraanku. Kau pernah mendengar nama Tarantu-la?
Nah! Tubuhmu akan kujadikan santapan bina-tang-binatang itu!"
Pemuda berambut putih keperakan yang ti-dak lain Arya Buana
atau Dewa Arak tentu saja pernah mendengar tentang laba-laba itu. Juga dengan
kedahsyatan racunnya. Tapi, dia tidak menjadi gentar. Arya tetap bersikap
tenang.
Karina menyaksikan keributan yang terjadi dengan hati
berdebar tegang. Dia bersiap sedia un-tuk membantu Arya melawan kakek
berpakaian merah. Karina tidak yakin Arya akan mampu me-nandingi kakek itu.
Meski telah dibuktikannya sendiri pemuda itu mampu membebaskannya dari pengaruh
tenaga dalam kakek berpakaian merah.
Bukan hanya Karina saja yang siap berta-rung. Dewa Arak pun
demikian. Pemuda itu me-nyadari kakek di hadapannya ini seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Keberhasilannya
membebaskan Karina bukan berarti tenaga da-lamnya lebih tinggi dari kakek itu.
Karina pun ikut ambil bagian dalam usahanya itu. Dengan kata lain, keberhasilan
usahanya karena bantuan Kari-na pula.
Sekujur urat saraf Dewa Arak telah mene-gang waspada. Ia
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Siap siaga terhadap serangan
yang akan dilancarkan kakek berpakaian merah.
Tapi, kakek itu tidak segera melancarkan serangan. Dia malah
tertawa geli sekali seakan me-
lihat sesuatu yang lucu. Tubuhnya sampai
tergun-cang-guncang.
Karina dan Dewa Arak sangat heran melihat tingkah kakek
ini. Apakah kakek berpakaian me-rah telah menjadi gila karena marahnya? Atau,
demikian anehkah wataknya sehingga saking ma-rahnya dia malah tertawa?
Jangankan Karina, Dewa Arak yang telah kenyang pengalaman
bertarung menghadapi ber-bagai tokoh tingkat tinggi yang memiliki ilmu
aneh-aneh saja merasa heran. Arya tidak merasa-kan adanya kelainan dalam tawa
itu. Tidak ada ge-taran kekuatan tenaga dalam seperti tawa yang bi-asa
digunakan untuk menyerang lawan.
Kendati demikian, Arya tidak meninggalkan kewaspadaannya.
Siapa tahu kakek ini bermaksud mencari kelengahan lawan dengan berlaku seperti
itu. Bagi seorang tokoh golongan hitam tidak ada pantangan melakukan serangan
meski lawannya belum siap.
Kakek berpakaian merah itu memang tidak bermaksud
melancarkan serangan. Dia terus ter-tawa. Arya merasakan suatu perasaan geli di
ha-tinya, sehingga pemuda itu tersenyum. Semakin lama senyumnya makin lebar,
sampai akhirnya pemuda berambut putih keperakan ini tertawa ke-ras. Malah, tubuhnya sampai terbungkuk-bungkuk dan tangannya didekapkan ke perut.
Hal serupa pun dialami Karina. Gadis ini merasakan
munculnya perasaan gembira yang sangat. Rasa gembira yang mendorongnya untuk
ikut tertawa. Tak pelak lagi, di tempat yang semula
sunyi ini kini riuh rendah oleh gelak tawa. Tawa yang
semakin lama semakin keras.
Beberapa lama kemudian, kakek berpa-kaian merah mengganti tawanya
dengan tangis. Tangis yang demikian menyedihkan seakan tengah menanggung derita
hidup yang bertumpuk-tumpuk.
Tangis kakek itu menimbulkan keharuan yang dalam di hati
Arya dan Karina. Membuat ke-dua muda-mudi itu teringat hal-hal yang
menye-dihkan tentang diri mereka. Karina teringat pada orangtuanya yang tewas
di tangan Siluman Dari Neraka. Isak tangis memilukan terdengar mengi-ringi air
mata yang mengalir deras dari sepasang mata gadis itu. Kesedihannya semakin
memuncak ketika teringat dirinya yang telah yatim piatu. Tia-da sanak keluarga
lagi kecuali kakeknya yang te-lah amat tua.
Arya pun demikian. Pemuda berambut pu-tih keperakan ini
teringat akan ayah dan ibunya. Ayahnya tewas di tangan Siluman Tengkorak
Pu-tih, dan ibunya tewas secara mengerikan di tangan Darba, pemuda lihai yang
berwatak sadis. Kesedi-han dan rasa haru yang sangat meremas-remas hatinya.
(Untuk lebih jelasnya mengenai kematian ayah dan ibu Dewa Arak, silakan baca
Serial Dewa Arak dalam episode: "Pedang Bintang" dan "Cinta Sang
Pendekar").
Arya merasakan dadanya sesak bukan main. Isak tangisnya
naik ke tenggorokan. Sepa-sang matanya terasa panas. Rasa haru yang tak terkira
melanda hatinya. Di tempat lain, beberapa
tombak darinya, Karina telah menangis terisak-isak. Air
mata mengalir deras membasahi kedua belah pipinya yang mulus. Tangis gadis ini
tak ka-lah menyedihkan dengan tangis kakek berpakaian merah.
Tangis Karina ternyata membuat Arya bagai diguyur air
dingin. Pemuda berambut putih kepe-rakan ini segera menyadari keadaan yang
tidak wajar itu. Kakek berpakaian merah entah dengan mempergunakan ilmu apa
telah mempengaruhi alam bawah sadar seseorang! Dalam tawa dan tan-gis kakek itu
terkandung pengaruh kuat yang memaksa orang untuk bertindak seperti yang
diin-ginkannya. Arya segera mengerahkan kekuatan batinnya untuk melawan
pengaruh itu. Mula-mula agak susah karena alam bawah sadar pemuda ini telah
terpengaruh. Tapi, lama-kelamaan usaha Arya membuahkan hasil. Tangis kakek itu
tidak mempengaruhinya lagi. Arya berhasil membe-baskan diri.
Kakek berpakaian merah geram bukan main melihat Dewa Arak
berhasil terbebas dari pengaruhnya. Tangis yang diperdengarkannya se-makin
diperlambat.
Tapi, Arya tidak berhasil dipengaruhi lagi. Dia bagaikan
batu karang. Meski gelombang tangis kakek itu mencoba menghanyutkannya, ia
tetap tak bergeming! Bahkan, kini Arya sudah mampu tersenyum. Pemuda ini
kemudian bertepuk tangan beberapa kali.
Bunyi menggelegar langsung terdengar ber-turut-turut. Suara
itu mampu menutupi tangisan
kakek berpakaian merah! Tidak hanya itu saja. Tepukan yang
keras bagai gelegar halilintar itu menyadarkan Karina. Wajahnya merah padam
ke-tika menyadari dirinya telah menangis keras-keras, bahkan sampai bergulingan
seperti anak kecil!
Karina buru-buru bangkit. Dengan mem-pergunakan kedua
tangan, pakaiannya dibersih-kan dari debu yang menempel. Punggung tangan-nya
mengusap air mata yang membasahi pipi. Ka-rina yang memiliki otak cerdik segera
dapat men-duga apa yang telah terjadi. Kakek berpakaian Me-rah yang menjadi
penyebabnya. Dan, pemuda be-rambut putih keperakan telah menyebabkan pen-garuh
aneh itu buyar.
Karina menatap kedua lelaki yang berdiri berhadapan dalam
jarak tiga tombak itu. Dia bisa memperkirakan betapa dahsyat pertarungan yang
akan berlangsung.
Sementara itu, kakek berpakaian merah te-lah menghentikan
tangisnya. Tampaknya ia me-nyadari bahwa tidak ada gunanya lagi jika
dilan-jutkan. Arya memiliki kekuatan batin yang kuat sehingga tidak mudah
dipengaruhi.
"Kau memang hebat, Anak Muda. Harus kuakui belum
pernah kutemukan seorang pemuda selihai dirimu. Kalau kau mampu menyambut
se-ranganku tanpa kehilangan nyawa, aku mengaku kalah dan akan pergi
meninggalkan tempat ini. Tentu saja hanya untuk saat ini. Lain kali jika kau
kutemukan tak akan kuampuni! Sekarang ada urusan lain yang lebih penting yang
harus kuurus.
Bagaimana? Kau mau menyambut seranganku?" Arya
mempertimbangkan tawaran kakek itu
sebentar. Dia tidak berani segera menyanggupinya. Menyambut
serangan berarti mengadu keras den-gan keras. Kekuatan tenaga dalam yang
menjadi taruhannya. Siapa yang lebih kuat akan lebih un-ggul. Dan, Arya tahu
orang setua kakek di hada-pannya ini sudah bisa diperkirakan kekuatan te-naga
dalamnya. Kalau umurnya delapan puluh ta-hun saja, setidak-tidaknya kakek ini
telah melatih tenaga dalam selama tujuh puluh tahun! Sedang-kan dia baru
melatih tenaga dalamnya selama lima belas tahun. Dari perhitungan ini saja
sudah bisa diperkirakan siapa yang berada dalam kedudukan menguntungkan.
Arya menyadari benar tenaga dalam yang dihimpunnya tidak
didapat dengan cara biasa. Gu-runya, Ki Gering Langit, telah mengajarkan cara
menghimpun tenaga dalam yang amat dahsyat da-lam waktu singkat. Sehingga, meski
baru meng-himpunnya sekitar lima belas tahun Arya telah memiliki tenaga dalam
luar biasa! (Untuk lebih je-lasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam
epi-sode perdana: "Pedang Bintang").
Setelah memikirkan tawaran lawan seben-tar, pemuda berambut
putih keperakan ini men-gangguk pasti. "Kuterima tantanganmu, Kek!"
ja-wab Arya mantap.
"Ha ha ha...!"
Kakek berpakaian merah tertawa bergelak. Ia mengajukan
pertarungan itu karena memperhi-tungkan perbedaan usia di antara mereka. Berapa
kuat tenaga dalam yang berhasil dihimpun seo-rang pemuda
belia? Demikian pendapat kakek berpakaian merah. Kendati telah menyaksikan
usahanya berhasil dibuyarkan Arya. Itu tidak men-jadi jaminan pasti pemuda
berambut putih kepe-rakan itu memiliki tenaga dalam yang luar biasa.
Kakek berpakaian merah lalu bersiap untuk melaksanakan
rencananya. Dia berdiri dengan ka-ki kanan. Kaki kirinya diangkat tinggi-tinggi
ke be-lakang, membuat badan dan kepalanya terjulur ke depan sejajar dengan
bumi.
Dewa Arak pun bersiap. Tanpa ragu-ragu lagi pemuda itu
mengerahkan tenaga dalam inti matahari. Seketika itu pula di sekujur tubuhnya
mengepul uap tipis. Wajah Arya merah padam se-perti udang rebus, ia tahu
lawannya telah siap menyerang dengan jurus 'Kalajengking'.
"Hih!"
Diiringi bentakan keras, kakek berpakaian merah
menghentakkan kedua tangannya yang ter-buka membentuk cakar. Hembusan angin yang
luar biasa kerasnya meluncur ke arah Dewa Arak. Tanpa menunggu lebih lama,
pemuda berambut putih keperakan itu menyambutinya.
Blarrr!
Bunyi keras memekakkan telinga terdengar. Sekitar tempat
itu tergetar hebat. Bahkan, Karina yang berada agak jauh merasakan kerasnya
geta-ran. Pepohonan bergoyangan dan daun-daunnya rontok berguguran ke tanah.
Akibat yang lebih hebat terjadi pada kedua petarung. Tubuh
kakek berpakaian merah berpu-
tar dalam kedudukan masih seperti semula, sebe-lum akhirnya
jatuh terjengkang! Sedangkan Dewa Arak, meski kuda-kudanya tidak berubah namun
ia terseret mundur beberapa tombak. Tampak gu-ratan dalam di tanah bekas
terseretnya. Seretan itu baru berhenti ketika punggung Arya memben-tur sebatang
pohon besar hingga pohon itu berge-tar keras.
Kakek berpakaian merah bangkit berdiri. Sinar matanya
memancarkan rasa penasaran dan kagum.
"Kau hebat, Anak Muda! Aku senang sekali dapat terus
melanjutkan pertarungan ini. Tapi, janji adalah janji. Aku tidak pernah
mengingkari janji yang kubuat. Aku akan pergi dan bila kita bertemu lagi baru
nyawamu akan kuambil. Aku sudah berjanji untuk tidak mencabut nyawa orang lain
sebelum nyawa musuh besarku kucabut! Se-lamat tinggal, Anak Muda!"
Setelah berkata demikian, kakek itu melesat pergi. Dalam
beberapa kali lesatan tubuhnya su-dah tidak terlihat lagi. Pandangan ngeri
Karina dan takjub Dewa Arak mengantar kepergiannya, hingga tubuhnya tidak
terlihat dari pandangan.
Arya yang telah berdiri tegak mendadak ter-huyung-huyung ke
depan. Dari mulutnya keluar darah segar. Kemudian, tubuh itu terguling dan
ja-tuh ke tanah dengan keras. Arya jatuh pingsan!
Memang, benturan keras tadi telah melukai tubuh bagian
dalam pemuda berambut putih ke-perakan itu. Dengan menguatkan hati dia dapat
berdiri tegak. Tapi, tetap saja apabila kakek berpa-
kaian merah bertahan di tempat itu lebih lama, Arya tidak
akan kuat bertahan. Kekhawatiran ka-kek itu akan mengingkari janji membuat Dewa
Arak berusaha bertahan.
Jatuhnya Arya membuat Karina bergegas melesat menghampiri.
Gadis ini tidak menduga penolongnya terluka dalam, karena tadi terlihat
demikian tegar.
***
Arya membuka mata ketika merasakan ali-ran hawa hangat
bergerak ke sekitar tubuhnya. Dia juga merasakan dua telapak tangan halus
me-nempel di dadanya. Dari kedua telapak tangan itu-lah hawa hangat yang
berkeliaran ke sekujur tu-buhnya berasal. Pandang matanya yang semula kabur
perlahan dapat melihat dengan jelas pemilik kedua tangan halus itu. Seraut
wajah cantik. Wa-jah Karina!
Karina telah menyalurkan tenaga dalam pa-danya. Semula Arya
merasa heran. Tapi, ia segera teringat dirinya baru saja terluka dalam setelah
terjadi benturan pukulan jarak jauh dengan kakek berpakaian merah.
"Cukup, Nona," tolak Arya. Gadis itu telah
mengerahkan tenaga dalam cukup banyak untuk memulihkan luka dalamnya. Arya
merasakan rasa sakit dan nyeri dalam dadanya telah lenyap. Ini karena
pertolongan yang diberikan Karina. Sebe-lumnya, dada Arya terasa sakit bukan
main.
Karina segera menghentikan penyaluran te-
naga dalamnya. Arya telah lolos dari ancaman maut, tinggal
bersemadi untuk memulihkan keku-atannya. Pemuda berambut putih keperakan itu
pasti sangat lelah, sedang sebagian besar tena-ganya belum pulih kembali akibat
luka dalam yang dideritanya.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Nona. Namaku Arya.
Aku berhutang nyawa padamu. Ka-lau tidak ada kau mungkin aku hanya tinggal
na-ma saja, " ucap Arya, berterima kasih.
Karina tersenyum malu.
"Siapa yang menolong siapa? Kau yang lebih dulu
menolongku. Tanpa pertolonganmu aku akan mati dalam keadaan mengerikan,"
elak gadis ini dengan perasaan ngeri. Ia teringat kembali dengan ancaman kakek
berpakaian merah.
Mau tidak mau Arya tersenyum. Pemuda ini merasa geli
mengingat keadaan mereka. Masing-masing saling memberikan dan menerima
perto-longan. Sehingga, sulit dikatakan siapa yang me-nolong dan siapa yang
ditolong.
"Mengapa kau terlibat pertarungan dengan kakek itu,
Nona? Apakah kau mempunyai urusan dengannya?" tanya Arya. Ia tidak berani
menanya-kan nama gadis itu karena melihat Karina mem-punyai sifat pemalu.
"Gara-gara keisenganku, Arya. Namamu Arya bukan?"
Wajah Karina memerah karena telah kelepasan menyapa Dewa Arak dengan namanya.
Meski sebenarnya pemuda itu telah memperkenal-kan diri.
"Benar." Arya berpura-pura tidak mengeta-
hui perasaan yang bergolak di hati Karina. Pemuda ini malah
mempergunakan kesempatan itu untuk menanyakan nama gadis itu. "Namaku
memang Arya. Arya Buana. Kau sendiri siapa, Nona?"
Karina menyebutkan namanya. Dalam hati dia merasa bersyukur
Arya tidak mempedulikan perasaan malu yang menyergap hatinya. Kemu-dian, dengan
mulai berani Karina menceritakan semua kejadiannya. Mulai dari perpisahan
dengan kakeknya sampai pertemuannya dengan kakek berpakaian merah. Tentu saja
rasa malu membuat Karina tidak mau memperkenalkan julukan ka-keknya. Arya pun
tampaknya tidak mempersoal-kan hal itu. Tapi, ia tahu Karina murid seorang
to-koh tingkat tinggi.
Basa-basi itu tidak berlangsung lama. Dewa Arak dan Karina
menyadari keadaan mereka tidak menguntungkan. Lebih baik mereka memulihkan tenaga.
Keduanya kemudian duduk bersila untuk melakukan semadi.
Tapi, baru saja sepasang muda-mudi itu memejamkan mata
terdengar teriakan melengking nyaring yang penuh kebencian.
"Rupanya kau di sini, Kuntilanak! Sekarang riwayatmu
akan kuselesaikan!"
Hampir bersamaan Dewa Arak dan Karina membuka mata
mengalihkan pandangan ke arah asal bentakan. Tampak dua sosok berkelebat cepat
mendekati tempat mereka.
Dewa Arak mengerutkan alis, ia tidak men-genal kedua sosok
terdiri dari lelaki dan wanita muda itu. Mereka mengenakan pakaian yang sal-
ing berlawanan. Yang wanita memakai pakaian berwarna merah,
sedangkan yang lelaki memakai pakaian putih.
Arya melirik ke arah Karina. Dia melihat wajah gadis itu
berubah. Karina mengenal kedua orang muda itu. Memang, sasaran makian yang tadi
terdengar ditujukan pada seorang wanita! Sia-pa lagi kalau bukan Karina? Di
tempat ini yang ada hanya Arya dan Karina.
Dugaan Arya tepat sekali. Karina memang mengenai sepasang
muda-mudi berwajah elok itu. Mereka adalah Sutini dan saudara seperguruan-nya,
Dampit!
Jantung Karina berdebar tegang. Gadis ber-pakaian hijau ini
segera mengetahui adanya an-caman bahaya. Sutini memendam rasa dendam terhadap
kakeknya. Dan, Karina tahu Sutini terla-lu dikuasi dendam sehingga
pertimbangannya ti-dak adil. Rasa dendam yang bergelora di dalam dada memang
kadang-kadang membuat orang ti-dak bisa berpikir jernih. Ia hanya bisa menilai
se-cara sepihak, yaitu hal yang menguntungkan di-rinya.
Karina menyadari benar keadaannya seka-rang amat tidak
menguntungkan. Tenaganya yang tersisa hanya sebagian kecil. Itu tidak cukup
un-tuk dijadikan andalan menghadapi Sutini yang li-hai. Kendati demikian,
Karina tidak menjadi gen-tar. Dia bangkit dan menunggu kedatangan Sutini serta
Dampit dengan sikap gagah.
"Kiranya kau...? Mengapa kau mengejar-ngejar
aku?!" tegur Karina tenang. Sikapnya me-
nunjukkan dia merasa yakin akan dirinya.
Arya mengeluh dalam hati melihat sikap Ka-rina. Pandang
mata pemuda ini segera dapat meli-hat kalau Karina masih lemah. Tapi, ia masih
mampu bersikap demikian gagah. Di balik sikap pemalunya Karina memiliki watak
keras hati dan tidak takut menghadapi ancaman. Sikap seorang wanita pendekar.
Sutini berdiri tiga tombak di depan Karina dengan
membelalakkan sepasang mata saking ke-salnya. Seakan ia hendak menelan
bulat-bulat Ka-rina dengan sepasang matanya yang indah itu.
"Tidak usah banyak bicara lagi, Wanita Liar!"
Sutini memaki. "Katakan di mana kakekmu yang jahat itu. Ke mana dia
bersembunyi?"
"Untuk apa kau mencarinya? Percuma saja. Sampai kapan
pun kau tak akan bisa melaksana-kan niatmu. Kalau kakekku mau, dengan mudah kau
dan kawanmu itu dibunuhnya. Tapi, beliau ti-dak mau melakukannya. Bahkan,
beliau berpesan padaku supaya tidak meladenimu karena kau te-lah keliru!"
"Tutup mulutmu, Wanita Jahat!" Sutini se-makin
tenggelam dalam amarahnya. Yang ada di benak gadis ini hanya keinginan
melampiaskan dendamnya yang bertumpuk. Dia tidak ingin men-dengar nasihat.
"Kau tahu siapa yang benar dan yang salah? Kakekmu bukan orang baik-baik.
Dia seorang penjahat keji. Tokoh dunia hitam yang ke-gemarannya membunuh orang.
Dan, ayahku ada-lah salah satu korbannya! Apakah salah kalau aku ingin
membalaskan kematiannya?!"
5
Karina mengangkat dagunya dengan sikap menantang.
Kemarahannya bangkit mendengar kakek yang dibanggakan dan disayangi, dihina
orang.
"Aku tahu kakekku bukan orang baik-baik. Dia seorang
tokoh jahat. Entah sudah berapa ba-nyak nyawa melayang di tangannya. Tapi,
tidak bolehkan orang jahat sadar dari kesesatannya dan kembali ke jalan yang
benar? Tidak bisakah orang jahat bertobat dan menghabisi sisa umurnya den-gan
hidup tenang?"
"Enak betul kalau begitu!" sergah Sutini sambil
tersenyum sinis. Sikap dan ucapan gadis ini jelas menunjukkan amarahnya.
"Betapa enak-nya? Sejak muda berlaku lalim, menyebar maut dan kejahatan di
sana sini. Kemudian, karena ta-kut menghadapi pembalasan lawan-lawannya lalu
bertobat. Setelah tua dan tidak berdaya ingin kembali ke jalan yang benar agar
selamat dari pembalasan! Sungguh suatu siasat yang licik!"
"Kau tahu satu tapi tidak tahu dua, Sutini,"
suara dan sikap Karina masih terlihat tenang, ti-dak terpengaruh oleh ucapan
Sutini. "Kau tahu, tewasnya ayahmu karena ulahnya sendiri!"
"Keparat! Mulutmu semakin lancang, Wani-ta Liar! Kalau
tidak segera disumpal, kekurangaja-ranmu akan menjadi-jadi!"
Sutini yang tidak bisa menahan kemara-
hannya lagi mendengar ucapan Karina segera mengirimkan
tendangan keras ke arah perut. Se-buah serangan yang akan mengirim nyawa gadis
berpakaian hijau itu ke akhirat apabila sampai mendarat di sasaran.
Arya yang sejak tadi mendengarkan per-tengkaran kedua gadis
itu sedikit banyak telah bi-sa memperkirakan masalah yang dipertengkarkan.
Hanya karena belum jelas dia tidak berani ikut campur.
Sekarang, melihat ancaman maut terhadap Karina, Arya tidak
bisa berdiam diri lagi. Betapa-pun juga pemuda berambut putih keperakan ini
telah membuktikan sendiri kalau Karina bukan gadis yang jahat. Terlepas dari
siapa dan bagaima-na orang yang menjadi kakeknya, Arya berkewaji-ban untuk
menolong gadis berpakaian hijau itu.
Meskipun demikian, tidak berarti Dewa Arak berpihak pada
Karina. Memang amat mudah untuk berpihak pada gadis berpakaian hijau itu.
Sikapnya tenang dan pengalah, membuat orang bersimpati terhadapnya. Sifat
seperti itu tidak di-tunjukkan oleh Sutini. Bahkan, gadis berpakaian merah itu
menunjukkan sikap kasar dan kejam serta mau menang sendiri. Walau demikian,
Arya tidak mengambil kesimpulan dari masalah kecil itu.
Keinginan untuk menolong memang besar. Tapi, keadaan yang
tidak menguntungkan mem-buat Arya tidak mampu berbuat banyak. Jangan-kan
memapaki serangan Sutini, menyambar tubuh Karina dan membawanya mengelak dari
serangan
pun ia tidak mampu. Tubuhnya masih lemas seka-li.
Arya menarik napas lega ketika melihat Ka-rina masih mampu
menyelamatkan diri. Gadis ini melempar tubuhnya ke tanah dan bergulingan
menjauhi. Tapi, Sutini yang telah bangkit amarah-nya tidak membiarkan saja. Dia
melesat mengejar tubuh Karina dan menghujaninya dengan seran-gan-serangan
berbahaya. Hal ini membuat Karina kewalahan untuk menyelamatkan selembar
nya-wanya.
Arya melangkah maju bersiap untuk meno-long Karina.
Padahal, sebagian besar tenaganya te-lah lenyap. Apa yang dapat dilakukannya?
Tinda-kan pemuda ini telah memancing tanggapan dari Dampit. Pemuda berpakaian
putih ini ikut maju dan menatap Arya dengan sinar mata tidak se-nang.
"Bersikap jantan sedikit, Sobat. Mereka te-lah
bertarung dengan adil. Satu lawan satu. Tidak selayaknya kau ikut mencampuri.
Hanya orang-orang berwatak pengecut saja yang mau mencam-puri urusan yang telah
demikian adil!"
Dampit memang tidak keras mengucapkan-nya. Tapi, nadanya
keras dan tajam bukan main. Cukup untuk membuat wajah Arya memerah sampai ke
telinga karena tersinggung.
"Adalah tindakan yang lebih pengecut membiarkan
kesewenang-wenangan terjadi di de-pan mata. Hanya seorang pengecut besar dan
ber-jiwa keji yang membiarkan orang tidak berdaya bertarung!" timpal Arya
dengan nada tak kalah ta-
jam. Pemuda berambut putih keperakan ini tahu dia
berhadapan dengan seorang yang berjiwa pen-dekar, tapi salah menempatkan
keadaan.
"Salah orang itu sendiri!" Dampit tidak mau
kalah. "Ingat, dia berada di rimba persilatan. Tem-pat ganas yang tidak
mengenal ampun. Kewaspa-daan dan kemampuan harus selalu terarah. Apabi-la
tidak, yang diterimanya adalah ucapan selamat datang pada alam kubur!"
Hati Arya panas. Ketersinggungannya ber-tambah. Padahal
pemuda ini jarang-jarang marah. Tidak mudah untuk membuat Arya tersinggung.
Tapi kali ini pemuda berambut putih keperakan ini dua kali tersinggung. Itu
terjadi hanya dalam dua kali Dampit berbicara.
Arya merasa diremehkan. Sikap dan ucapan Dampit
mengisyaratkan pemuda ini seperti telah kenyang merambah kerasnya dunia
persilatan dan hidup bergantung dengan kemampuan. Tampak jelas Dampit
menganggap remeh dirinya. Arya di-anggapnya orang yang baru turun gunung dan
ti-dak mengenal kerasnya dunia persilatan.
Nasihat yang diucapkan Dampit dengan na-da menasihati yang
membuat Arya tersinggung bukan main. Sebagai orang yang kenyang penga-laman,
Arya tahu Dampit belum pernah turun ke dunia persilatan, Jadi, keberadaannya di
tempat ini mungkin baru untuk pertama kali. Dan, pemu-da ini telah
berani-beraninya memberi nasihat pa-danya.
"Rupanya kau telah kenyang merambah dunia persilatan,
Sobat. Boleh kutahu julukanmu?
Nama besar yang kau sandang karena keberhasi-lanmu bertahan
hidup di dunia persilatan yang ganas ini?" tanya Arya, menyindir.
"Aku belum punya julukan, Sobat. Tapi ka-lau kau ingin
tahu, namaku Dampit. Percayalah, tak akan lama lagi julukanku akan membubung tinggi
ke dunia persilatan. Dengan memperguna-kan pedangku, aku akan mempertahankan
nya-wa!" Dampit masih bermulut besar.
"Ah.... Kiranya demikian! Kupikir kau telah kenyang
merambah dunia persilatan. Setidak-tidaknya aku dapat belajar darimu agar aku
bisa bertahan hidup. Dan...."
"Meski belum lama terjun dalam dunia
per-silatan." Dampit langsung menyela. "Tapi, aku bisa mengajukan
saran padamu. Kau bisa mengguna-kan nasihat yang akan kuberikan untuk bertahan
hidup. O ya, kau belum menyebut namamu, So-bat."
Arya yang semakin jengkel melihat Dampit menyela ucapannya,
mempunyai kesempatan un-tuk menghajar perasaan pemuda itu.
"Aku mana bisa dibandingkan dengan diri-mu. Bahkan,
aku ingin meminta nasihatmu agar bisa selamat..."
"Tidak apa-apa. Akan kuberikan nasihatku. Biar jelek
pun namamu beritahukan saja. Setidak-tidaknya kau akan kucatat sebagai orang
pertama yang mendapat pelajaran bagaimana caranya ber-tahan hidup di dunia
persilatan!" Lagi-lagi Dampit yang berwatak tinggi hati dan selalu
memandang rendah orang lain, menyela.
"Baiklah." Arya bersikap seakan tidak mem-punyai
pilihan lain. "Namaku tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan namamu,
Dampit. Apalagi dalam hal bertahan hidup. Mungkin aku harus berguru padamu
untuk beberapa lama. Namaku Arya Buana. Tapi, orang lebih sering menyebutkan
Dewa Arak. Julukan itu yang mereka berikan pa-daku."
"Ah...!"
Dampit terlonjak ke belakang bagai disengat kalajengking.
Sepasang mata pemuda ini membe-lalak lebar bagai melihat hantu.
"Kau.... Dewa Arak...?!"
Setelah beberapa saat lamanya terkesima, akhirnya keluar
juga pertanyaan itu dari mulut Dampit. Sikap dan nada ucapannya memancarkan
keterkejutan dan rasa tidak percaya. Dipandan-ginya sekujur tubuh Dewa Arak
mulai dari kepala sampai ke kaki.
"Rasanya memang tidak salah.... Pakaian-mu, rambutmu.
Juga guci di punggungmu. Sung-guh-sungguhkah kau Dewa Arak...?"
Bukan hanya Dampit saja yang mendengar julukan Dewa Arak.
Sutini dan Karina pun demi-kian. Sutini sampai menghentikan serangannya
terhadap Karina yang terus bergulingan untuk menyelamatkan diri. Kedua gadis
ini menatap ke arah Dewa Arak dengan tatapan kaget. Mereka ti-dak pernah
menyangka bisa bertemu dengan to-koh yang telah menggegerkan dunia persilatan.
Orangnya ternyata masih amat muda!
Sementara Arya yang diperhatikan me-
nyunggingkan senyum lebar. "Orang-orang persila-tan
memang menjulukiku Dewa Arak. Tapi, aku lebih suka dipanggil Arya," ucap
pemuda berambut putih keperakan itu untuk meredakan suasana yang agak mencekam.
Dampit saling berpandangan dengan Sutini. "Mari kita
pergi, Sutini!"
"Tapi...."
"Lupakan saja masalah itu. Kita urus
bela-kangan!"
Tanpa menunggu jawaban Sutini yang men-jadi bimbang, Dampit
mendahului melesat me-ninggalkan tempat itu. Sutini menatap Arya dan Karina
sesaat sebelum melesat pergi.
"Urusan antara kita belum selesai, Wanita Liar!"
Gema ucapan Sutini masih terdengar jelas meski sosoknya
sudah tidak terlihat lagi.
Karina mengalihkan perhatian pada Dewa Arak,
"Jadi..., kau tokoh yang menggemparkan itu? Kau..,.
Dewa Arak..."
"Maaf, Karina. Aku tidak ingin berbohong kepadamu.
Hanya aku tidak mau menggembar-gemborkan julukan yang akan membuat percaka-pan
menjadi canggung," Jelas Arya, khawatir Kari-na mengira dia tidak percaya
pada gadis itu.
"Tidak apa-apa, De..., eh, Arya. Bukankah kau lebih
suka dipanggil dengan nama?" tanya Ka-rina. Arya mengangguk. "Aku
tahu, kadang-kadang betapapun eratnya hubungan antara se-seorang hal-hal yang
dirahasiakan harus tetap
ada. Aku pun tidak jujur terhadapmu, Arya. Aku tidak
menceritakan siapa kakekku. Tapi karena kau telanjur tahu, tidak ada salahnya
kuceritakan semua."
"Jangan memaksakan diri, Karina...," Arya
mengingatkan.
"Tidak, Arya. Aku tidak memaksakan diri." Karina
menggelengkan kepala.
Arya tidak memberikan bantahan lagi. Dia berdiam diri mendengar
cerita Karina. Hanya sedi-kit yang diceritakan Karina. Tentang siapa kakek-nya
dan masalah yang tengah dihadapinya seka-rang. Tidak diceritakannya tentang
riwayat hidup-nya.
Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi ini sibuk memulihkan
tenaga dalam dengan ber-semadi.
***
Sosok tubuh tinggi kurus menghentikan langkahnya di depan
sebuah goa yang cukup be-sar. Sosok itu mengenakan pakaian berkilau-kilauan
seperti terbuat dari emas. Pada bagian ke-palanya terdapat penutup kepala
berbentuk keru-cut. Penutup kepala itu pun terbuat dari bahan yang sama.
Berkilauan dan seperti bersisik, mirip kulit ular!
Sayangnya wajah pemakai pakaian mewah itu tidak terlihat.
Tertutup sebuah topeng kayu be-rukir. Sebuah topeng kayu yang tipis dan
memiliki ukiran-ukiran berbentuk hidung, mulut, dan juga
lubang untuk kedua mata. Tampak sinar menco-rong kehijauan
memancar dari dua buah lubang kecil untuk mata pada topeng kayu itu.
Dengan sinar matanya yang luar biasa so-sok bertopeng kayu
menatap ke bagian dalam goa. Agaknya, ia ingin melihat isi di dalamnya.
Tapi, tentu saja betapapun tajamnya mata seorang manusia
tidak akan mungkin mampu me-lihat sesuatu di dalam kepekatan. Ini pun disadari
oleh sosok bertopeng kayu yang menilik bentuk tubuhnya adalah seorang pemuda.
Ia mempergu-nakan telinganya untuk mengetahui apakah goa itu berpenghuni.
Beberapa saat kemudian, ia mendapat jawaban. Goa itu berpenghuni.
Setelah memperhatikan bagian dalam goa yang tidak ketahuan
panjang dan dalamnya, sosok bertopeng kayu mengirimkan ucapan pada orang yang
berada di dalam goa melalui ilmu mengirim-kan suara dari jauh.
Sementara dalam goa seorang lelaki berusia sekitar enam
puluh tahun dan bertubuh pendek gemuk serta berkepala botak tengah bersemadi.
Ia membuka sepasang matanya dengan terkejut.
"Gajah Cilik Berkepala Baja, harap keluar sebentar.
Hentikan dulu semadimu. Maaf, aku se-benarnya tidak ingin mengganggu
kesibukanmu. Tapi, aku mempunyai sebuah urusan yang amat penting. "
Suara yang dikirimkan sosok bertopeng kayu menggema di
dalam telinga kakek pendek gemuk. Memaksa kakek itu sadar dari semadinya dan
membuka mata.
Kakek pendek gemuk yang berjuluk Gajah Kecil Berkepala Baja
tercenung sebentar dalam keadaan masih duduk bersila. Ia bisa menduga orang
yang telah mengirimkan suara dari jauh itu memiliki tenaga dalam sangat tinggi.
Hingga, sam-pai dapat menyadarkan Gajah Cilik Berkepala Baja dari semadinya.
Tampaknya, orang itu tidak ber-maksud jahat. Tamunya dengan baik-baik
men-gundangnya untuk keluar. Apabila dirinya tidak memenuhi permintaan itu
berarti ia tidak meng-hargai aturan dunia persilatan.
"Tidak apa-apa, Sobat. Harap bersabar me-nunggu
sebentar!"
Gajah Cilik Berkepala Baja memberi jawa-ban dari jauh pada
sosok bertopeng kayu yang be-rada di luar goa. Belum juga ucapannya lenyap da-ri
telinga, Gajah Cilik Berkepala Baja telah berada di luar goa. Tepat di depan
sosok bertopeng kayu!
"Maaf." Sosok bertopeng kayu merang-kapkan kedua
tangan di depan dada seraya mem-bungkukkan sedikit tubuhnya. "Bukan
maksudku mengganggu kesibukanmu, Gajah Cilik. Tapi, aku mempunyai urusan
penting yang harus diselesai-kan. Karena kebetulan kau mempunyai peranan
penting dalam urusan ini, maka aku terpaksa mengganggumu."
Gajah Cilik Berkepala Baja membalas peng-hormatan itu
dengan cara yang sama. Wajah ka-kek pendek gemuk ini kelihatan tidak senang
keti-ka terpandang olehnya topeng kayu yang menutu-pi wajah tamunya.
"Aku tidak merasa terganggu, Sobat. Aku
senang sekali bila bisa membantumu menyelesai-kan persoalan
penting itu. Tapi, bagaimana mung-kin kita bisa bercakap-cakap dengan hati
penuh curiga bila kau mengenakan topeng di wajahmu. Keberadaan topeng itu
menimbulkan prasangka tidak baik di hatiku. Kalau kau masih ingin
berca-kap-cakap denganku tanggalkan benda itu. Atau, kau tidak akan bisa
mendapatkan keterangan penting dariku!" Gajah Cilik Berkepala Raja tanpa
ragu-ragu menyatakan perasaan yang mengganjal hatinya.
"Maaf, sekali lagi maaf, Gajah Cilik." Sosok
bertopeng kayu kembali menjura seraya mem-bungkukkan tubuh. "Bukan
maksudku menim-bulkan keragu-raguan di hatimu. Tapi dengan se-jujurnya
kukatakan aku tidak bisa membuka to-peng ini dari wajahku. Membukanya sama
artinya dengan melepas nyawaku dari badan!"
"Terserah padamu, Sobat." Gajah Cilik Ber-kepala
Baja mengangkat kedua bahunya dengan sikap acuh. "Aku mau
berbincang-bincang dengan syarat wajahmu yang kau hadapkan padaku dan bukan
topeng kayu itu, atau kau terpaksa tak bisa mendapatkan apa yang kau inginkan!
Aku tak bisa bercakap-cakap dengan orang yang tidak mau mempercayaiku. Topeng di
wajahmu menunjuk-kan kau tidak ingin kukenal. Ini berarti kau tidak
mempercayaiku! Nah. Aku sudah mengatakan hal yang seharusnya kukatakan.
Sekarang semua be-rada di tanganmu, Sobat!"
Sosok bertopeng kayu tampak bingung. Dia terdiam dengan
menundukkan kepala. Sesaat ke-
mudian, ditatapnya lagi wajah Gajah Cilik Berke-pala Baja.
"Gajah Cilik, aku memohon dengan sangat pengertianmu.
Bukannya aku tidak ingin menge-nalkan diri atau tidak percaya padamu.
Ketahui-lah, topeng ini tidak bisa kubuka, kecuali kalau aku telah tewas.
Wajahku merupakan rahasia be-sar. Dan...."
"Aku pun merupakan rahasia besar, Sobat. Dulu memang
aku seorang tokoh golongan putih yang cukup punya nama. Tapi, sekarang aku
telah mengasingkan diri dan hampir tidak ada orang yang tahu julukanku lagi.
Tempat ini pun merupa-kan tempat rahasia. Tapi toh aku tidak terlalu
mempertahankan hal itu."
Sosok bertopeng kayu menggelengkan kepa-la.
"Ada perbedaan besar antara kita, Gajah Ci-lik. Kau
dulunya memang orang terkenal dan ter-jun ke dunia persilatan. Tapi, tidak
demikian hal-nya dengan kami. Turun-temurun kami merupa-kan orang-orang yang
tidak pernah muncul ke du-nia persilatan. Keberadaan kami tidak pernah
di-ketahui tokoh-tokoh persilatan."
"Lalu, mengapa kau muncul ke dunia luar? Bukankah kau
bilang tadi kau dan kelompokmu tidak pernah terjun ke dunia persilatan,"
bantah Gajah Cilik Berkepala Baja.
Gajah Cilik Berkepala Baja ingin mengeta-hui tentang sosok
bertopeng kayu ini. Ia memiliki kepandaian amat tinggi. Sorot matanya yang
tajam mencorong seperti mata harimau dalam gelap. Pa-
dahal, Gajah Cilik Berkepala Baja yakin sosok ber-topeng
kayu itu masih muda!
Kalau orang dengan usia semuda ini saja sudah memiliki
tenaga dalam demikian kuat, ba-gaimana pula dengan orang tertua di dalam
ke-lompoknya? Sukar untuk dibayangkan! Mengeta-hui siapa sosok bertopeng kayu
dengan kelompok-nya ini merupakan hal yang amat menarik.
"Seperti yang kukatakan, menemuimu un-tuk membicarakan
suatu keperluan. Bagaimana, Gajah Cilik? Bersediakah kau membantuku?"
tanya sosok bertopeng kayu penuh harap.
Gajah Cilik Berkepala Baja tidak segera menjawab. Ia
terdiam sebentar seperti tengah mempertimbangkan suatu keputusan yang amat
berat.
"Apakah permintaanku yang tadi tidak bisa kau
pertimbangkan lagi, Anak Muda?" Kakek pen-dek gemuk itu merubah sapaannya.
"Sayang sekali, Gajah Cilik. Aku tidak dapat melakukan
hal itu. Bukan hanya aku saja yang akan bersikap demikian, tapi semua
orang-orang kami. Kami lebih suka melepaskan nyawa daripa-da melepaskan topeng
ini. Ia jauh lebih berharga dari nyawa. Pada topeng ini terkandung kehorma-tan,
harga diri, dan sumpah leluhur kami!" jelas sosok bertopeng kayu dengan
penuh penyesalan.
Gajah Cilik Berkepala Baja tersenyum di da-lam hati. Tanpa
disadari lawan bicaranya, ia ber-hasil mengorek sedikit keterangan mengenai
orang bertopeng kayu dan kelompoknya. Sosok berto-peng kayu itu telah
terpancing. Dan, Gajah Cilik
Berkepala Baja memang memiliki kecerdikan yang cukup.
"Kalau memang begitu, apa boleh buat?" Gajah
Cilik Berkepala Baja menunjukkan sikap pasrah. "Apa yang kau inginkan
dariku? Apakah ini mengenai masalah orang lain?"
Sepasang mata di balik topeng kayu bersi-nar-sinar gembira
mendengar kesediaan Gajah Ci-lik Berkepala Baja. "Benar sekali, Gajah
Cilik. Orang itu adalah Siluman Dari Neraka!"
"Hukh!"
Gajah Cilik Berkepala Baja sampai terjajar beberapa langkah
ke belakang begitu mendengar julukan yang diucapkan sosok bertopeng kayu. Kakek
pendek gemuk itu terkejut bukan main. Ia mengenal betul tokoh itu.
Sosok bertopeng kayu mengayunkan kaki setindak mendekati
Gajah Cilik Berkepala Baja. "Kau mengenalnya kan, Gajah Cilik?" desak
sosok bertopeng kayu.
Gajah Cilik Berkepala Baja malah menatap sosok bertopeng
kayu dengan penuh selidik. Sikap kakek pendek gemuk ini terlihat waspada dan
siap untuk bertarung.
"Apa hubunganmu dengannya?" Gajah Cilik Berkepala
Baja balas bertanya. Suaranya terden-gar tegang.
6
Sosok bertopeng kayu tidak segera menang-
gapi pertanyaan Gajah Cilik Berkepala Baja. Terli-hat jelas
dia merasa ragu untuk memberikan ja-waban.
"Sebelum aku menjawab, maukah berjanji untuk tidak
menceritakan hal ini pada orang lain? Maukah kau berjanji, Gajah Cilik?"
tanya sosok bertopeng kayu setelah beberapa saat lamanya berdiam diri.
Gajah Cilik Berkepala Baja menatap wajah sosok bertopeng
kayu lekat-lekat. Ia mencari ke-sungguhan dalam ucapan sosok yang berdiri di
hadapannya itu.
"Kalau kau tidak mau berjanji, biarlah aku batalkan
keinginanku. Aku tahu masih ada orang lain yang dapat menceritakannya padaku.
Barang-kali dia tidak sekeras kau dalam mempertahankan pendapatnya. Selamat
tinggal, Gajah Cilik! Sekali lagi kuucapkan terima kasih atas kesediaanmu
menemuiku."
Kemudian, tanpa banyak cakap lagi sosok bertopeng kayu
membalikkan tubuh. Sekali ka-kinya bergerak tubuhnya telah berada belasan
tombak di depan.
"Tunggu, Anak Muda!"
Ayunan kaki sosok bertopeng kayu terhenti. Tubuhnya
dibalikkan. Tapi, dia tidak bergerak menghampiri. Mereka berhadapan dalam jarak
be-berapa belas tombak.
"Boleh aku tahu siapa tokoh yang kau mak-sud sebagai
orang lain yang mengetahui tentang Siluman Dari Neraka?"
"Malaikat Tongkat!" jawab sosok bertopeng
kayu, singkat.
Wajah Gajah Cilik Berkepala Baja berubah hebat.
"Dia sahabatku, Anak Muda! Kuharap kau tidak
mengganggunya. Bila hal itu terjadi, aku akan mencarimu untuk melakukan
perhitungan!" tandas Gajah Cilik Berkepala Baja, tegas.
"Legakan hatimu, Gajah Cilik. Aku tidak akan bertindak
kasar terhadapnya. Kewajibanku adalah membawa pulang Siluman Dari Neraka. Hidup
atau mati, lain tidak!"
Sosok bertopeng kayu kemudian membalik-kan tubuh dan
bersiap melesat pergi. Tapi, lagi-lagi maksudnya tidak kesampaian. Gajah Cilik
Berkepala Baja kembali mengeluarkan seruan mencegah.
"Ada apa lagi, Gajah Cilik?!" tanya sosok
bertopeng kayu. Nada suaranya mulai meninggi. Sikap kakek pendek gemuk itu
membuatnya me-rasa dipermainkan.
Tapi, Gajah Cilik Berkepala Baja seperti ti-dak mendengar
pertanyaan sosok bertopeng kayu. Dia menatap wajah sosok yang berdiri di
hada-pannya lekat-lekat.
"Jadi..., Siluman Dari Neraka merupakan salah seorang
dari kelompokmu, Anak Muda?" tanya Gajah Cilik Berkepala Baja dengan suara
bergetar.
"Benar, Gajah Cilik!" Sosok bertopeng kayu
mengangguk. Suaranya terdengar lirih seperti orang berbisik. "Dia
merupakan anggota kelompok kami, tapi telah membelot. Ia melarikan diri dari
tempat tinggalnya. Bahkan, dengan melarikan bu-ku-buku
pusaka kelompok kami. Puluhan tahun hal itu telah terjadi, namun tak satu pun
usaha yang dapat kami lakukan karena berbagai hal dan pertimbangan."
Pernyataan sosok bertopeng kayu benar-benar mengejutkan
Gajah Cilik Berkepala Baja. Kakek pendek gemuk ini tahu siapa Siluman Dari
Neraka! Seorang tokoh sesat yang memiliki kepan-daian luar biasa. Kalau sosok
bertopeng kayu ini mendapat tugas membawa Siluman Dari Neraka hidup atau mati,
berarti sosok yang mengenakan pakaian seperti kulit ular emas ini memiliki
ke-pandaian di atas Siluman Dari Neraka!
"Ah...! Syukurlah kalau demikian," desah Gajah
Cilik Berkepala Baja, lega. "Semula kukira kau kawan Siluman Dari Neraka.
Ternyata bukan. Kini kita bisa berbicara lebih banyak lagi. Dan agar hatimu
lebih tenang, mungkin perlu kukatakan kalau aku bersedia merahasiakan cerita
yang akan kau katakan. Puas, Anak Muda?"
"Terima kasih, Gajah Cilik. Itu sudah cu-kup."
Sosok bertopeng kayu mengayunkan kaki menghampiri, ketika Gajah Cilik Berkepala
Baja dengan tersenyum lebar mendekatinya. Keduanya berjabatan tangan dengan
erat.
"Nah. Sekarang ceritakan," ucap Gajah Cilik
Berkepala Baja seraya melepaskan jabatan tan-gannya.
"Entah tepatnya sejak kapan, aku sendiri tidak tahu
pasti, yang jelas sudah lebih dari dua ratus tahun nenek moyang kami menempati
suatu
tempat yang bagi kami merupakan penjara. Menu-rut cerita
yang kami dapat turun temurun, tempat itu merupakan tempat buangan orang-orang
yang melakukan kesalahan. Tempat yang menjadi tem-pat kelompokku adalah tempat
hukuman. Kami lebih suka menyebutkan Penjara Langit. Tempat-nya memang ada di
puncak sebuah gunung yang tidak mungkin dapat didaki dengan kemampuan yang luar
biasa sekalipun!" Sosok bertopeng kayu memulai ceritanya.
Sementara Gajah Cilik Berkepala Baja men-dengarkan dengan
penuh minat. Ia tidak menyela sedikit pun. Kakek pendek gemuk ini merasa
terta-rik dengan cerita mengenai asal-usul kelompok so-sok bertopeng kayu yang
demikian luar biasa.
"Kira-kira empat puluh tahun yang lalu Ra-taksa kabur
meninggalkan Penjara Langit. Dia juga mengambil beberapa kitab yang berisi
pelajaran ilmu silat dan sihir. Kami semua tahu. Tapi, tidak ada yang dapat
dilakukan. Menurut hukum kami, setiap orang yang melarikan diri dari Penjara
Lan-git akan menderita hebat sebelum mati. Entah ka-rena mengapa aku sendiri
tidak tahu, konon orang yang meninggalkan Penjara Langit di dalam tubuh orang
itu akan muncul racun jahat! Racun berba-haya yang dapat menimbulkan kematian.
Entah benar atau tidak, aku tidak pernah membuktikan-nya."
"Jadi, karena itukah maka kepergian Ratak-sa yang
kemudian mendapat julukan Siluman Dari Neraka dibiarkan begitu saja?" duga
Gajah Cilik Berkepala Baja.
"Tentu saja tidak!" sambut sosok bertopeng kayu,
cepat. "Tidak demikian mudah jalan keluar-nya dengan langsung mengejar
Rataksa."
Dengan alasan apa pun seorang penghuni Penjara Langit tidak
akan diperkenankan keluar. Namun, karena tindakan Rataksa dapat membuat arwah
leluhur kami tidak tenang, maka seluruh penghuni berkumpul dan mencari jalan
untuk memecahkan masalah ini. Akhirnya diputuskan untuk memilih orang-orang
yang akan ditugaskan mengejar Rataksa. Tentu saja mesti orang-orang pilihan
agar dapat menunaikan tugas dengan baik. Dengan wajah ditutup topeng dua orang
pilihan itu mencari Rataksa untuk dibawa pulang dengan ca-ra apa pun."
"Asal kau tahu saja, Anak Muda. Siluman Dari Neraka
telah mengacau dunia persilatan sejak sekitar tiga puluh tahun lalu. Mengapa
kau baru tiba hari ini? Selisih waktu antara kau dengannya tiga puluh
tahun!"
"Lima puluh atau bahkan tujuh puluh ta-hun pun bukan
masalah apabila aku berhasil membawa pulang Rataksa! Bagi kami masalah waktu
tidak penting. Melainkan keberhasilannya. Agar nenek moyang kami yang pertama
kali mem-buat sumpah tidak penasaran di alam baka!" tegas sosok bertopeng
kayu, mantap.
Gajah Cilik Berkepala Baja mengangguk-anggukkan kepala
tanda mengerti. "Kalau boleh kutahu, mengapa tenggang waktunya bisa
demi-kian lama?"
"Waktu yang demikian lama itu diperguna-
kan untuk menggembleng calon yang terpilih. Itu membutuhkan
waktu belasan tahun. Kemudian, agar orang yang bertugas mencari Rataksa tidak
mengalami kecelakaan di tengah jalan akibat ra-cun di dalam tubuh karena keluar
dari Penjara Langit, maka perlu memakan jamur emas. Jamur yang hanya tumbuh di
tempat kami. Pertumbuhan jamur itu memakan waktu dua puluh tahun! Ma-ka, kami
pun membuang waktu beberapa puluh tahun lagi untuk menunggu jamur emas tumbuh.
Karena itu, waktu kami terpisah jauh dengan Ra-taksa."
Rupanya, Rataksa pergi setelah lebih dulu memakan jamur
emas, Rataksa yang cerdik me-makan jamur secukupnya. Sedangkan yang lain
dihancurkan untuk menyulitkan pengejaran. Tapi, Rataksa terlalu tergesa-gesa.
Jamur itu belum ma-sak benar. Kendati racun tidak akan membunuh-nya, malapetaka
lain akan menimpa. Penghuni Penjara Langit tidak pernah berpikir akan ada orang
yang berniat kabur, sehingga tempat tum-buhnya jamur tidak terjaga.
"Sayang sekali." Gajah Cilik Berkepala Baja, menyayangkan.
"Kalau saja tidak ada halangan-halangan itu, tentu sudah sejak lama kau
dan Si-luman Dari Neraka bertemu!"
"Mungkin." Sosok bertopeng kayu tidak be-rani
memastikan.
Tiba-tiba Gajah Cilik Berkepala Baja tersen-tak kaget. Ada
sesuatu yang terlupakan.
"Kalau demikian... dugaanku bahwa kau seorang pemuda
ternyata salah. Dari ceritamu
mungkin usiamu sekarang paling tidak lima puluh
tahun!" terka Gajah Cilik Berkepala Baja. "Tapi, mengapa bentuk
tubuhmu seperti pemuda dua puluh lima tahun?"
"Karena pengaruh jamur emas!" jawab so-sok
bertopeng kayu. "Usiaku sebenarnya memang lima puluh tahun."
Gajah Cilik Berkepala Baja mengangguk-angguk. Sepasang
matanya memancarkan keka-guman.
"Sekarang, bisakah kau ceritakan padaku tentang
Rataksa alias Siluman Dari Neraka. Bu-kankah menurut kabar yang tersiar Rataksa
tewas di tanganmu dan kawanmu? Kalau benar demi-kian, sungguh sangat
meringankan tugasku. Tapi aku ingin kepastian. Tentang kain merah yang menjadi
pengikat kepalanya. Kain itu berlambang tengkorak manusia dalam kobaran
api."
Gajah Cilik Berkepala Baja menghela napas berat.
"Waktu aku dengan Malaikat Tongkat ber-temu Siluman
Dari Neraka yang telah lama kami cari-cari, ternyata tokoh itu sedang kelelahan
ka-rena habis bertarung dengan Iblis Tangan Maut. Antara kami kemudian terjadi
pertarungan. Ter-nyata meski telah lelah, Siluman Dari Neraka ma-sih sangat
tangguh! Dia mampu menghadapi ke-royokan kami. Mendadak terjadi sesuatu yang
mengejutkan. Siluman Dari Neraka memekik ke-sakitan seperti orang yang
menderita hebat. Dia langsung terguling-guling. Kesempatan baik ini ti-dak kami
sia-siakan. Serangan-serangan kami lan-
carkan. Hingga, sebuah tendangan keras dariku membuat tubuh
Siluman Dari Neraka yang tengah menderita, terlempar jauh. Ia masuk ke dalam
se-buah lubang. Lubang yang garis tengahnya tidak kurang dari setengah tombak.
Aku dan Malaikat Tongkat segera menuju ke sana dan melongok ke dalamnya. Kami
menjatuhkan sebuah batu besar untuk mengukur dalamnya lubang. Tidak terden-gar
suara benturan batu dengan tanah atau air! Kenyataan itu sangat mengejutkan
kami. Lubang itu mempunyai kedalaman yang tak terkira. Jadi, kemungkinan untuk
selamat bagi Siluman Dari Neraka amat kecil, betapapun saktinya tokoh
itu."
"Sesuai dengan amanat yang terbeban di atas pundakku,
sekalipun mati aku harus mem-bawa mayat Rataksa kembali. Mayatnya harus
di-kuburkan di Penjara Langit sebagai pertanda dia adalah orang buangan. Orang
hukuman!" Sosok bertopeng kayu tetap dengan keputusannya.
"Jadi..., apa yang akan kau lakukan?" "Tidak
banyak! Hanya menyelidiki tempat di
mana jatuhnya Rataksa, dan membawa mayatnya pulang ke
Penjara Langit!" jawab sosok bertopeng kayu, mantap. "Bisa kau
beritahu di mana lubang itu?"
Gajah Cilik Berkepala Baja segera mene-rangkan di mana
lubang itu berada. Bahkan, den-gan petunjuk-petunjuk lengkap sampai sosok
ber-topeng kayu paham betul.
"Terima kasih atas pemberitahuanmu, Ga-jah Cilik. Aku
tidak akan melupakan budi baikmu. Suatu saat aku akan membalas budi ini. O ya,
hampir aku lupa menjelaskannya. Jamur emas yang belum masak
itu menyebabkan Rataksa menderita sakit yang hebat bila terlalu lelah. Satu hal
lagi, dia tetap terpengaruh oleh pertambahan usia. Tidak seperti aku. Selamat
tinggal!"
Begitu ucapannya selesai tubuh sosok ber-topeng kayu
melesat pergi. Dengan cepat ia telah berada belasan tombak dari tempat semula.
Sesaat kemudian, tubuhnya lenyap di kejauhan.
Gajah Cilik Berkepala Baja memandanginya dengan perasaan
takjub. Kepandaian sosok berto-peng kayu itu memang luar biasa. Dia yakin
Silu-man Dari Neraka akan mendapatkan seorang la-wan yang amat tangguh.
Seandainya tokoh yang menggiriskan hati itu masih hidup!
***
Dua sosok tubuh melayang agak bergegas menyusuri jalan
tanah berdebu. Matahari tepat berada di atas kepala. Suasana di persada terasa
panas.
Dua sosok tubuh itu sepasang muda-mudi berwajah elok. Yang
pemudi mengenakan pakaian merah, sedangkan rekannya berpakaian putih. Se-pasang
muda-mudi ini adalah Sutini dan kawan seperguruannya, Dampit.
"Itukah perguruannya, Sutini?" tanya pe-muda
berpakaian putih. Telunjuk kanannya ditu-dingkan pada kelompok bangunan yang
terkurung pagar bambu cukup tinggi.
"Benar, Dampit. Aku yakin ini perguruan-
nya. Guru telah menceritakannya," jawab Sutini dengan
mata berkilat-kilat. "Ah, aku sudah tidak sabar lagi ingin membuat
perhitungan dengan ma-nusia pengecut itu!"
Wajah pemuda berpakaian putih yang ber-nama Dampit tampak
tidak segembira Sutini. Bahkan terlihat kalau Dampit seperti terpaksa.
"Haruskah kita ke sana, Sutini?"
"Tentu saja, Dampit!" tegas Sutini, keras.
"Manusia pengecut seperti itu tidak patut dibiar-kan hidup lebih lama
lagi. Dia harus dilenyapkan!"
"Tapi, bukankah dia tokoh golongan putih,
Sutini?!" bantah Dampit. "Aku khawatir perbuatan kita ini akan
membuat Guru murka."
"Kau ini khawatir sekali, Dampit! Kalau kau takut
tunggu saja di sini, Biar aku sendiri yang ke sana. Pokoknya tekadku telah
bulat. Mungkin per-lu kuingatkan, Dampit. Kalau Pendekar Golok Sakti itu tidak
bertindak pengecut dengan melari-kan diri sewaktu ayahku bertarung dengan Iblis
Tangan Maut, ayahku pasti tidak akan tewas! Aku yakin Iblis Tangan Maut yang
akan tewas. Sikap pengecutnya telah membuat ayahku tewas. Bu-kankah sudah
sepantasnya kalau aku membuat perhitungan padanya?"
Dampit terdiam beberapa saat lamanya mendengar penjelasan
Sutini. Orang yang tengah dilanda amarah memang tidak, bisa disabarkan lagi.
Tapi meski demikian, dia masih mencoba me-lunakkan hati Sutini.
"Bukankah Guru bercerita kalau Pendekar Golok Sakti
pun terpukul dengan kematian ayah-
mu, Dewa Tangan Sepuluh? Bahkan melalui kerja sama dengan
Guru, Pendekar Golok Sakti berhasil menewaskan Siluman Dari Neraka! Kurasa
tidak pantas kalau kau menimpakan kesalahan kepa-danya atas tewasnya
ayahmu."
"Kalau begitu, biar aku pergi sendiri!"
Sutini yang memiliki watak keras dan sudah terlalu dikuasai
amarah segera melesat mening-galkan Dampit. Mau tidak mau pemuda berpa-kaian
putih itu melesat mengejar untuk mendam-pingi Sutini. Dampit mencintai Sutini.
Dia tidak ingin gadis itu terluka. Karena cintanya itulah dia rela mendampingi
Sutini mencari orang-orang yang telah menewaskan Dewa Tangan Sepuluh.
Dalam beberapa kali lesatan Sutini dan Dampit telah berada
di depan pintu gerbang dari papan tebal yang tertutup dan tidak terjaga.
Tam-pak tulisan besar dan jelas berbunyi 'Rumah Per-guruan Perisai Diri'
tergantung di atas pintu ger-bang yang tingginya satu tombak. Tanpa menga-lami
kesulitan sedikit pun, dengan gerakan indah sepasang muda-mudi itu melompat ke
dalam dan mendarat tanpa suara.
Tepat di hadapan Dampit dan Sutini tam-pak beberapa sosok
tubuh telanjang dada tengah berlatih silat dengan penuh semangat. Mereka
berdiri membelakangi kedua anak muda itu. Kare-na masuknya sepasang muda-mudi
itu tanpa me-nimbulkan bunyi, orang-orang yang tengah berla-tih tidak
mengetahuinya. Kecuali orang yang ber-tugas melatih mereka, karena kebetulan
berdiri menghadap Sutini dan Dampit.
Pelatih yang memiliki tubuh kekar dan ber-cambang lebat ini
murid utama Rumah Perguruan Perisai Diri. Ia kelihatan terkejut bercampur heran
melihat sepasang muda-mudi yang tidak dikenal-nya. Setelah memberi isyarat agar
murid-muridnya tetap meneruskan latihan, dia mengayunkan kaki menghampiri
Sutini dan Dampit.
"Maaf, boleh kutahu siapa kalian?" tanya murid
utama Rumah Perguruan Perisai Diri. Ia ti-dak bisa menyembunyikan perasaan
curiganya.
"Lebih baik kau panggil ketuamu kemari! Katakan
padanya, ada orang yang mencarinya dengan membawa urusan penting!" sahut
Sutini, dingin.
Murid utama itu mengernyitkan alis. Pera-saan tidak senang
langsung menyeruak di hatinya melihat sikap Sutini yang memandang remeh
di-rinya. Meskipun demikian, untuk menimbulkan kesan tuan rumah yang baik
ditekannya perasaan itu. Malah, seulas senyum dipersembahkan!
"Manusia tidak tahu diuntung!" desis Sutini.
Matanya berkilat-kilat memancarkan kemarahan yang sangat. "Kuperingatkan
sekali lagi padamu, Keparat! Sebelum kesabaranku hilang, cepat panggil gurumu
kemari! Atau, kau akan melawat ke akherat! "
Hebat bukan main akibat ucapan Sutini! Wajah murid utama Rumah
Perguruan Perisai Diri langsung berubah-ubah, sebentar pucat sebentar merah.
Memang, lelaki bercambang lebat ini mur-ka sekali. Seumur hidupnya baru kali
ini dia men-dapat perlakuan seperti itu. Bagaimana dia tidak
naik darah? Dia telah berbicara baik-baik. Tapi, tanggapan
yang diterimanya seperti ini. Sungguh menjengkelkan.
"Mulutmu kasar dan tajam sekali, Wanita Liar! Perlu
kau ketahui kalau di sini bukan hutan. Ini adalah markas Rumah Perguruan
Perisai Diri. Jadi, kau tidak boleh sembarangan bertindak! Ada aturan yang
harus kau ikuti, aturan Rumah Per-guruan Perisai Diri! Kalau kau tidak sudi
menuruti peraturan ini, silakan keluar dari sini sebelum aku terpaksa mengusir
kalian dengan kekerasan!"
Lantang dan penuh wibawa murid utama Rumah Perguruan Perisai
Diri mengucapkannya. Apalagi, sewaktu mengucapkan kalimat terakhir diiringi
dengan tudingan jari telunjuknya ke pintu gerbang.
7
Sutini adalah seorang gadis yang memiliki watak keras.
Semakin keras orang bersikap terha-dapnya, semakin keras pula balasan yang
diberi-kan. Apabila pada saat dia tengah tersinggung. Pe-nolakan tegas murid
utama Rumah Perguruan Pe-risai Diri membuat Sutini naik pitam.
Seketika itu pula, terdengar bunyi berkero-tokan keras
seakan tulang-belulang di tubuh Suti-ni berpatahan. Padahal, dia tidak
melakukan gera-kan apa pun. Semua itu terjadi karena tenaga da-lamnya bergolak
dengan sendirinya!
Begitu pula keadaan murid utama Rumah
Perguruan Perisai Diri. Perasaan kaget yang sangat
membayang jelas pada wajahnya. Saat itu pula disadari kalau Sutini bukan tokoh
sembarangan. Dia pun segera bersikap waspada. Tanpa ragu-ragu lagi dirabanya
gagang golok.
Pada saat yang bersamaan, murid-murid Rumah Perguruan
Perisai Diri yang tengah berlatih menghentikan latihannya. Mereka mengalihkan perhatian
pada kakak seperguruannya yang ten-gah bersitegang dengan sepasang muda-mudi.
Se-perti diberi perintah, dengan langkah perlahan ka-ki mereka diayunkan
menghampiri tempat terja-dinya ketegangan itu.
Sutini sudah tidak kuasa menahan kema-rahannya lagi.
"Ingin kutahu, apakah tua bangka itu tetap tak mau keluar dari semadinya
apabila semua muridnya kubinasakan!" desis gadis berpa-kaian merah itu
penuh ancaman.
"Auuumm...!"
Suara auman laksana keluar dari mulut seekor harimau
terdengar ketika Sutini membuka mulut.
Kelihatannya sepele saja. Tapi akibatnya luar biasa!
Seluruh murid-murid Rumah Pergu-ruan Perisai Diri, tak terkecuali lelaki
bercambang lebat, merasakan betapa dada mereka terguncang hebat. Kedua lutut
mereka langsung lemas. Tanpa dapat dicegah lagi mereka semua jatuh berlutut!
Tentu saja kenyataan ini sangat menge-jutkan semua murid
Rumah Perguruan Perisai Di-ri. Kini murid utama perguruan yang bercambang lebat
itu tahu mengapa Sutini begitu berani ber-
tindak kurang ajar. Kiranya, gadis berpakaian me-rah ini
memiliki kepandaian tinggi.
Sutini tersenyum mengejek melihat keadaan yang dialami
lawan-lawannya. Dengan sorot mata penuh ancaman dihampirinya lelaki bercambang
lebat. Dampit yang diam-diam tidak setuju dengan tindakan Sutini buru-buru menyentuh
lengan ga-dis itu untuk menyabarkannya. Tapi Sutini mene-piskannya.
"Mulutmu terlalu lancang, Monyet Hitam!" maki
Sutini seenaknya ketika telah berada di dekat lelaki bercambang lebat.
"Asal kau tahu saja, aku tidak pernah membiarkan orang meremehkan diri-ku.
Bersiaplah menerima hukumannya!"
Sutini menghentikan ucapannya. Diperhati-kannya wajah murid
utama Rumah Perguruan Pe-risai Diri. Ingin dilihatnya lelaki bercambang lebat
itu ketakutan karena ancamannya. Tapi harapan-nya sia-sia. Laki-laki bercambang
lebat itu tetap berdiam diri. Tidak tampak adanya rasa takut se-dikit pun.
Karuan saja kenyataan ini membuat Su-tini penasaran bukan main.
"Rupanya kau pikir aku main-main, hehhh...?!" dengus
Sutini, bengis. "Lihat baik-baik, aku akan meremas hingga hancur mulutmu
yang kurang ajar itu!"
Karena Sutini mempertunjukkannya sede-mikian rupa, mau
tidak mau lelaki bercambang le-bat melihatnya juga. Sebuah tangan berjari-jari
in-dah dengan kulit putih, halus, dan mulus. Terlihat menggiurkan! Tapi, lelaki
bercambang lebat ini ta-hu nyawanya terancam bahaya tangan indah itu.
Wuttt!
Murid utama Rumah Perguruan Perisai Diri berhasil
mengelakkan cengkeraman tangan kanan Sutini. Ia bergegas melompat ke belakang.
Pera-saan ngeri mulai mencekam hati. Lawan benar-benar memiliki ilmu
mengerikan. Sutini memiliki ilmu iblis!
"Kau sudah melihatnya bukan? Asal kau tahu saja, aku
akan merobek mulutmu yang lan-cang! Baru setelah itu kurobek-robek seluruh
tu-buhmu!" ancam Sutini dengan suara yang mem-buat bulu kuduk merinding.
Tanggapan atas ucapan Sutini adalah se-rangan tidak
terduga-duga dari lelaki bercambang lebat. Ia mengayunkan goloknya ke perut
Sutini. Inilah yang ditunggu murid utama Rumah Pergu-ruan Perisai Diri. Sudah
terbayang di benaknya gadis berpakaian merah itu akan terjengkang ke belakang
dengan perut robek lebar!
Bukkk! Bukkk! "Ah!"
Murid utama itu memekik kaget ketika mendapatkan kenyataan
di luar perkiraannya. Di-lihat jelas betapa mata kedua goloknya dengan de-ras
menghantam sasaran. Tapi tidak terdengar je-ritan menyayat Sutini, atau darah
menyembur de-ras dari bagian yang terhantam ayunan golok. Ke-dua goloknya
seperti menghantam benda kenyal. Serangan itu tidak membuahkan hasil.
Sebaliknya, kedua tangannya terasa lumpuh karena ayunan kedua goloknya membalik.
"Jangan kau kira akan semudah itu melu-
kai Sutini, Anjing Buduk! Sekarang rasakan hu-kumanmu!
Hih!"
Sutini mengayunkan tangan kanan. Lelaki bercambang lebat
yang melihat adanya ancaman berusaha sebisa-bisanya untuk mengelak.
"Auuukh!"
Jeritan menyayat hati terdengar. Tangan Sutini mengenai
sasaran dengan tepat. Merobek kedua sisi mulut murid utama Rumah Perguruan
Perisai Diri yang malang.
"Hi hi hi..,!"
Sutini tertawa mengikik. Ia sangat gembira melihat lelaki
bercambang lebat berguling-gulingan di tanah seraya memegangi mulutnya yang
robek lebar. Darah menyembur deras dari bagian yang terluka.
Semua kejadian itu tak luput dari pandan-gan murid-murid
Rumah Perguruan Perisai Diri. Rasa ngeri menjalari hati mereka. Sutini ternyata
memiliki watak yang kejam.
Meski demikian mereka tidak menjadi gen-tar. Bahkan
sebaliknya, marah melihat kakak se-perguruannya menerima nasib seperti itu.
Kalau saja mampu bergerak tentu sudah mereka terjang Sutini!
Keinginan untuk menolong kakak sepergu-ruan mereka membuat murid-murid
Rumah Per-guruan Perisai Diri berusaha membebaskan diri dari kungkungan rasa
lemas. Mereka memusatkan perhatian untuk membangkitkan tenaga dalam.
Sementara itu, masih dengan tawa terkekeh Sutini terus
mengikuti lelaki bercambang lebat
yang bergulingan karena rasa sakit. Ceceran darah membasahi
tanah sepanjang tubuh murid utama itu berguling.
Dampit yang sejak semula memang tidak setuju dengan
tindakan Sutini sudah tidak tahan. Sutini memang tengah diamuk dendam. Tapi,
mengapa orang yang tidak bersalah dijadikan kor-ban dengan demikian keji?
"Hentikan permainanmu, Sutini! Maksud kedatangan kita
adalah untuk mencari Pendekar Golok Sakti. Jangan kau kotori tanganmu dengan
korban-korban yang tidak berdosa!"
Tawa Sutini langsung terhenti. Semua ka-rena ucapan Dampit
yang penuh teguran. Kepa-lanya ditolehkan menatap pemuda itu.
"Tidak perlu kau mengajariku, Dampit! Aku
mengetahuinya. Meskipun aku adik seperguruan-mu, tapi tidak berarti kau
seenaknya saja mene-kan ku!" Terasa jelas nada ketidaksenangan dalam
sambutan gadis berpakaian merah itu.
Begitu ucapannya selesai, Sutini kembali mengalihkan
perhatian pada lelaki bercambang le-bat. Tanah tergetar hebat ketika Sutini
menghen-takkan kaki kanannya ke tanah. Tubuh murid utama Rumah Perguruan
Perisai Diri yang tengah terguling-guling langsung terpental ke atas.
Lonta-rannya mengarah ke tempat Sutini berada.
Kejadian ini membuat murid utama itu ter-kejut bukan main,
Tapi apa dayanya? Mana mungkin dia berbuat sesuatu di saat tubuhnya tengah
berada di udara? Maka, yang dilakukannya adalah pasrah pada keadaan.
Tiba-tiba, tubuh lelaki bercambang lebat yang tengah
meluncur deras ke arah Sutini terhen-ti di udara, bagai ada kekuatan kasatmata
yang menahannya. Sutini kaget. Sebelum dia sempat berbuat sesuatu, tubuh murid
utama Rumah Per-guruan Perisai Diri melesat ke arah yang berlawa-nan dari arah
semula.
Sutini segera dapat menyimpulkan ada orang pandai yang
ingin mengambil alih tubuh le-laki bercambang lebat. Gadis berpakaian merah ini
menjulurkan kedua tangan untuk memaksa tubuh lelaki bercambang lebat mengikuti
kemauannya, melesat ke arahnya.
Tindakan Sutini membuat tubuh lelaki ber-cambang lebat yang
telah meluncur deras ke arah yang berlawanan terhenti. Dan, perlahan-lahan
meluncur kembali ke arah Sutini. Tubuh murid utama itu meluncur berganti-ganti.
Terkadang menuju tempat di mana Sutini berada, tapi tak ja-rang ke tempat yang
berlawanan.
Empat tombak di depan Sutini, berdiri lelaki setengah baya.
Ia berpakaian rompi putih. Berwa-jah tirus dengan rambut telah berwarna dua.
Di-alah Pendekar Golok Sakti! Tokoh yang tengah di-cari Sutini ini berdiri
dengan kedua tangan terjulur ke depan seperti halnya Sutini.
Pertarungan tenaga dalam untuk mempere-butkan tubuh lelaki
bercambang lebat akhirnya dimenangkan oleh Pendekar Golok Sakti. Secara
perlahan namun pasti tubuh lelaki bercambang le-bat terus meluncur ke arah
Pendekar Golok Sakti. Itu terjadi setelah pertarungan unik itu berlang-
sung cukup lama. Wajah Sutini dan Pendekar Go-lok Sakti
sampai dibanjiri peluh.
Menyadari keunggulan Pendekar Golok Sak-ti, Sutini segera
menghentikan penyaluran tenaga dalamnya. Kemudian, ia melompat ke atas
mema-tahkan kekuatan tarikan tenaga lawan. Sutini ber-salto beberapa kali di
udara untuk kemudian men-jejak tanah dengan mantap.
"Siapa kalian? Mengapa melakukan tinda-kan keji
seperti ini?" tanya Pendekar Golok Sakti, setelah meletakkan tubuh lelaki
bercambang lebat yang pingsan karena tak kuat menjadi sasaran pertarungan
tenaga dalam.
"Karena mereka tidak mau memenuhi per-mintaan kami
untuk memanggil dirimu! Bukankah kau orang yang berjuluk Pendekar Golok Sakti
yang pengecut itu?!" jawab Sutini langsung pada sasaran. Ia merasa yakin
sosok yang berdiri di ha-dapannya itu adalah Pendekar Golok Sakti.
"Dugaanmu memang tidak salah, Nona Mu-da,"
Pendekar Golok Sakti mengangguk. "Aku me-mang orang yang kau maksudkan
itu. Sekarang aku sudah berada di hadapanmu. Cepat katakan maksudmu! Dan, apa
artinya ucapanmu yang me-ngatakan aku seorang pengecut! Jelaskan sebelum aku
terpaksa bertindak kasar kepadamu atas ke-lancanganmu!"
Sutini yang diamuk dendam atas kematian ayahnya dan
menganggap Pendekar Golok Sakti sebagai salah satu dari orang-orang yang harus
dibunuhnya, semakin meluap amarahnya men-dengar ancaman itu.
"Gagah nian ucapanmu, Pendekar Golok Sakti! Kalau saja
aku tidak mengenalmu lebih du-lu, tentu aku akan menganggapmu sebagai orang
yang berjiwa jantan. Sayang..., karena aku telah lebih dulu mengenal watakmu
yang pengecut, ti-puanmu tidak akan mempan terhadapku!" sambut Sutini penuh
ejekan dan sikap merendahkan.
"Apa maksudmu, Nona Bermulut Tajam! Dua kali berkata
kau telah dua kali pula memaki-ku pengecut! Kalau sekarang kau tidak
menje-laskan mengapa bertindak seperti itu, jangan sa-lahkan jika aku melupakan
kalau kau seorang wanita muda!" Nada suara Pendekar Golok Sakti semakin
meningkat.
"Kau memang seorang pengecut! Kau tidak pantas
mendapat gelar Pendekar Golok Sakti. Orang seperti kau harusnya memakai julukan
Pendekar Golok Tumpul. Apa artinya julukan pen-dekar kalau kau pergi
meninggalkan kawanmu di waktu kau bertemu dengan lawan yang berat se-perti
Iblis Tangan Maut?!" tandas Sutini bertubi-tubi dengan nada tinggi.
Wajah Pendekar Golok Sakti yang semula merah padam karena
amarah yang bergelora men-dengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Suti-ni,
mendadak berganti dengan keterkejutan yang sangat ketika mendengar kalimat
terakhir itu.
"A... apa maksudmu...?!" tanya Pendekar Golok
Sakti dengan suara bergetar.
"Tidak usah berpura-pura bodoh! Bukankah kau
meninggalkan Dewa Tangan Sepuluh ketika menghadapi Iblis Tangan Maut, hingga
pendekar
yang perkasa itu tewas? Coba sangkal kalau kau
berani!"
"Apa hubungannya denganmu?!" sentak Pendekar
Golok Sakti sengit setelah beberapa saat lamanya tercenung.
"Dia adalah ayahku, Pengecut! Dan, keda-tanganku
kemari untuk membunuhmu karena kau yang telah menyebabkan ayahku tewas!"
"Ah...!"
Pendekar Golok Sakti mendesah kaget. Dia tahu Dewa Tangan
Sepuluh mempunyai seorang putri. Tapi, sungguh tidak disangkanya kalau
ke-turunan pendekar itu akan membalas dendam.
"Kau keliru! Yang membunuh ayahmu ada-lah Iblis Tangan
Maut!"
"Benar! Tapi kau pun terlibat. Kalau kau ti-dak secara
pengecut melarikan diri, ayahku tidak akan tewas. Sekarang kau harus pergi ke
alam ba-ka untuk menemui ayahku dan mendapat balasan darinya di sana!"
Tanpa menunggu lebih lama, Sutini lang-sung mencabut pedang
dan memutarnya sejenak hingga bentuknya lenyap. Lalu, dengan diawali te-riakan
melengking nyaring ia melompat menerjang Pendekar Golok Sakti dengan
serangan-serangan maut.
Pendekar Golok Sakti sadar betul Sutini ti-dak bisa dicegah
lagi. Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri kecuali melakukan
perlawa-nan. Apalagi ketika Ketua Rumah Perguruan Peri-sai Diri ini melihat
kedahsyatan serangan gadis berpakaian merah itu. Tanpa ragu-ragu lagi, go-
loknya dicabut untuk menyambuti serangan Suti-ni. Hingga,
kedua orang ini terlibat pertarungan sengit.
Namun, betapapun Sutini mengerahkan se-luruh kemampuannya,
tetap terbukti kalau Pen-dekar Golok Sakti terlalu kuat. Semua serangan-nya
kandas. Sebaliknya, setiap serangan Pendekar Golok Sakti mampu membuatnya
kelabakan. Tak sampai tiga puluh jurus Sutini telah terdesak he-bat.
Melihat kenyataan ini Dampit pun tidak tinggal diam. Meski
tidak setuju dengan niat Suti-ni, pemuda berpakaian putih ini tidak ingin
Sutini celaka atau tewas! Dampit mencabut pedang dan terjun ke dalam kancah
pertarungan.
Ikut campurnya Dampit langsung mengu-bah jalannya
pertarungan. Sutini tidak terdesak lagi. Malah, sepuluh jurus kemudian Pendekar
Go-lok Sakti mulai terdesak. Semakin lama keadaan Ketua Rumah Perguruan Perisai
Diri semakin mengkhawatirkan.
Pendekar Golok Sakti mengeluh dalam hati. Sutini dan Dampit
tidak mungkin bisa ditanggu-langi. Terjunnya Dampit membuat keadaan beru-bah
drastis. Dampit dan Sutini mampu melakukan kerja sama yang baik. Permainan
pedang kedua-nya saling melengkapi, membuat pertahanan se-makin kuat dan
menjadikan serangan-serangan semakin dahsyat.
"Ah...!"
Pendekar Golok Sakti menjerit tertahan ke-tika goloknya
yang menangkis serangan Dampit ti-
dak bisa ditarik kembali. Menempel! Rupanya, pe-muda
berpakaian putih itu mengerahkan tenaga dalam untuk membuat senjatanya melekat
dengan golok lawan.
Sebelum Pendekar Golok Sakti mengerah-kan tenaga dalam
untuk melepaskan senjatanya, Sutini telah datang menerjang dengan tusukan
pedang ke arah leher!
Wajah Pendekar Golok Sakti seketika pucat pasi! Namun,
secara mengejutkan sesosok bayan-gan melesat ke dalam kancah pertarungan.
Tringng!
Pedang Sutini terpental balik. Sosok bayan-gan itu telah
menyentilnya dengan telunjuk hingga menimbulkan bunyi berdenting nyaring. Pada
saat yang bersamaan, Pendekar Golok Sakti dengan menggunakan kelebihan tenaga
dalamnya berhasil melepaskan tempelan pedang Dampit.
Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Pendekar Golok Sakti untuk melom-pat ke
belakang menghindari serangan susulan. Padahal, tindakan itu sebenarnya tidak
perlu. Su-tini tengah terhuyung-huyung akibat sentilan so-sok bayangan.
Sentilan yang membuat sekujur tangan Sutini tergetar hebat.
8
"Guru...!"
Sutini yang semula siap mengirimkan se-rangan langsung
lemas sekujur tubuhnya ketika
melihat sosok yang menangkis serangannya. Dam-pit pun
menatap dengan wajah pucat dan sinar mata gelisah.
Sosok yang disapa Sutini sebagai guru ada-lah seorang kakek
kecil kurus. Usianya tak kurang dari tujuh puluh tahun. Ia masih terlihat gagah
karena sebaris kumis melintang di bawah hidung-nya. Kumis yang telah memutih.
Kakek kecil kurus itu menatap Sutini dan Dampit
berganti-ganti dengan sinar mata penuh teguran. Ada bayangan kemarahan pada
wajah-nya.
"Apa arti tindakanmu ini, Sutini? Dampit?" tanya
kakek kecil kurus penuh wibawa.
Sutini rupanya hanya garang pada orang-orang lain saja.
Terhadap gurunya gadis ini takut bukan main. Begitu mendapat pertanyaan itu,
dia malah menatap Dampit. Sinar matanya meminta tolong pada pemuda itu untuk
mewakilinya berha-dapan dengan gurunya.
Belum sempat Dampit memberikan jawa-ban.
Pendekar Golok Sakti telah terlebih dulu tertawa bergelak.
"Tidak usah terlalu tegang, Malaikat Tong-kat! Tidak
ada urusan yang berarti antara kami. Hanya..., yahhh.... Sekadar latihan saja.
Mereka datang dan meminta pelajaran dariku. Murid-muridmu ternyata hebat,
Malaikat Tongkat. Ham-pir saja nyawa tuaku ini melayang. Aku kewalahan menghadapi
mereka."
"Jangan membela mereka, Pendekar Golok
Sakti!" tandas Malaikat Tongkat tegas. "Aku tidak
buta untuk bisa melihat adanya permusuhan dan ingin saling membunuh dalam
serangan-serangan kalian. Tidak usah kau berdusta! Sutini, jawab yang benar.
Bukankah kau datang hendak mem-bunuh Pendekar Golok Sakti?!"
Dengan wajah pucat pasi Sutini mengang-guk.
"Guru..., Sutini tidak...."
"Diam! Aku tidak bertanya padamu!" Sema-kin keras
teriakan Malaikat Tongkat.
Dampit menundukkan kepala dengan wajah merah padam karena
takut dan malu.
"Kalian benar-benar mengecewakan aku! Terutama kau,
Dampit! Kau sebagai kakak pergu-ruan seharusnya dapat membimbing Sutini agar
tidak terjerumus ke jalan yang sesat. Tak usah ka-lian jawab, aku tahu mengapa
kamu berdua bera-da di sini. Sutini menimpakan kesalahan atas ke-matian ayahnya
kepada Pendekar Golok Sakti. Dia datang untuk membuat perhitungan. Bocah ini
memang terlalu diamuk dendam. Sudah berkali-kali kukatakan kalau Pendekar Golok
Sakti tidak tahu-menahu dengan kematian Dewa Tangan Se-puluh! Perlu kau
ketahui, Sutini, Pendekar Golok Sakti sama sekali tidak bersikap pengecut. Dia
pergi meninggalkan ayahmu dengan hati berat. Itu pun atas desakan ayahmu
sendiri. Ayahmu mengkhawatirkan keselamatanmu, putrinya. Pen-dekar Golok Sakti
ini yang membawamu kepadaku untuk dijadikan murid kemudian dia merantau untuk
mencari Iblis Tangan Maut guna mengadu
nyawa. Tapi, tokoh itu telah lenyap bagai ditelan bumi.
Pendekar Golok Sakti pun putus asa. Dia la-lu tinggal di sini dan mendirikan
perguruan. Sam-pai akhirnya kau datang dengan maksud burukmu itu! Untung saja
aku segera tiba dan menolongnya pada saat yang tepat. Kalau tidak, mungkin kau
akan menyesali peristiwa ini se-umur hidup!"
Sutini mengangkat wajahnya yang sejak ta-di ditundukkan.
Air mata mengalir membasahi pipi gadis berhati keras ini. Air mata penyesalan.
Sutini percaya sepenuhnya dengan cerita gurunya. Kakek itu tidak pernah
berbohong.
"Perlu kau ketahui, Sutini." Malaikat Tong-kat
menyambung ucapannya dengan suara yang semakin melunak. "Ibumu terguncang
batinnya mendengar kabar kematian ayahmu. Karena gun-cangan batin itu, ibumu
tidak mau menerima ke-nyataan kalau tewasnya ayahmu bukan karena kesalahan
Pendekar Golok Sakti. Sayangnya, kau menelan mentah-mentah cerita yang
diberikan ibumu sebelum beliau meninggal. Kau tidak per-nah mau menanyakan
padaku. Untung saja aku datang kemari, karena ada sesuatu masalah."
Sutini tidak bisa menahan rasa bersalah-nya. Ditubruknya
kaki Pendekar Golok Sakti dan Malaikat Tongkat. Dengan terputus-putus gadis ini
mengutarakan penyesalannya.
Kedua kakek yang berteman baik itu men-gusap-usap rambut
Sutini. Dampit hanya me-nyaksikan dengan hati terharu. Diam-diam dia merasa
bersyukur gurunya telah datang.
"Sudahlah, Sutini," hibur Malaikat Tongkat.
"Lebih baik kau beristirahat. Kau terlalu lelah.
Dampit, ajak Sutini beristirahat."
Tanpa banyak cakap Dampit segera mem-bawa Sutini ke dalam.
Sutini tidak membantah. Sedangkan Malaikat Tongkat menghampiri Pende-kar Golok
Sakti.
"Masalah apa yang membawamu datang kemari, Malaikat
Tongkat?" tanya Pendekar Golok Sakti.
"Masalah besar kurasa. Aku yakin peristiwa ini ada
hubungannya dengan kejadian puluhan tahun lalu. Tentang datuk kaum hitam yang
terso-hor itu."
"Iblis Tangan Maut?" tanya Pendekar Golok Sakti
dengan suara bergetar.
Malaikat Tongkat menggeleng. Seketika wa-jah Pendekar Golok
Sakti yang semula sudah pu-cat ketika mengajukan dugaan mengenai Iblis Tangan
Maut, semakin bertambah pucat.
"Siluman Dari Neraka...," terka Ketua Per-guruan
Perisai Diri ini.
"Benar. Aku yakin datuk sesat Itu muncul kembali ke
dunia persilatan. Entah dengan cara bagaimana, yang jelas tokoh ini berhasil
selamat"
"Kau bertemu dengannya?" tanya Pendekar Golok
Sakti tanpa bisa menyembunyikan rasa gen-tarnya.
"Tidak. Aku hanya menemukan bekasnya. Gajah Cilik
Berkepala Baja tewas dengan ciri-ciri seperti yang biasa diketemukan pada
korban-korban Siluman Dari Neraka. Karena itulah aku segera datang ke sini
karena khawatir kau disatro-
ninya. Bukankah kau juga terlibat atas peristiwa yang
menimpa Siluman Dari Neraka? Ingat, kau yang menjadi pemberitahu kalau siluman
itu akan bertarung dengan Iblis Tangan Maut sehingga aku dan Gajah Cilik bisa
memanfaatkan kesempatan itu untuk melenyapkannya. Aku yakin dia akan membalas dendam
terhadapmu juga!"
"Cerdik sekali...! Dari dulu kau memang cerdik...! Ha
ha ha...!"
Teriakan keras menggelegar membuat Ma-laikat Tongkat dan
Pendekar Golok Sakti menga-lihkan perhatian. Wajah kedua tokoh golongan pu-tih
ini berubah hebat. Mereka bisa menduga siapa yang telah mengeluarkan seruan
itu.
***
Di atas pagar kayu bulat yang mengelilingi Rumah Perguruan
Perisai Diri tampak bertengger sesosok tubuh berpakaian merah dalam keadaan
yang menakjubkan.
Kakek itu berdiri di atas pagar kayu bulat dengan tidak
menggunakan kakinya. Tapi, dengan rambutnya yang panjang! Rambut itu menegang
kaku seperti tongkat!
"Selamat berjumpa lagi, Malaikat Tongkat Apa kabarmu?
Baik-baik saja, bukan? Sayang, Ga-jah Cilik Berkepala Baja tidak demikian.
Keadaan-nya sangat mengenaskan," ujar kakek itu.
"Tidak usah bersilat lidah, Siluman Dari Ne-raka!
Katakan saja kalau kau yang telah membu-nuhnya!" sentak Malaikat Tongkat
seraya menga-
mang-amangkan tongkat di tangan kanannya. "Syukur
kalau kau mengetahuinya, Malai-
kat Tongkat. Kurasa, kau dan Pendekar Golok Sakti tahu
alasannya. Kalian telah menyebabkan aku terkurung bertahun-tahun di dasar
lubang itu. Lubang yang amat dalam. Untung saja dasar-nya air sehingga aku bisa
selamat. Selama berta-hun-tahun kutelusuri tempat itu untuk mencari jalan
keluar. Sampai akhirnya jalan tembus ke dunia luar kutemukan. Pembalasan
dendamku pun akan segera terlaksana! Ha ha ha...!"
"Atau kau yang akan mati untuk selamanya di
sini!"
Malaikat Tongkat langsung menerjang-Siluman Dari Neraka. Tongkatnya
yang besar dan berat dibabatkan ke kepala kakek berpakaian me-rah. Tapi hanya
dengan menggerakkan rambutnya Siluman Dari Neraka berhasil mengelakkan
seran-gan itu. Kakek itu melesat dari tempatnya dan mendarat di tanah dengan
kedua kaki.
Malaikat Tongkat yang geram melihat se-rangannya berhasil
dikandaskan segera meluruk dengan putaran tongkatnya yang mengeluarkan bunyi
menderu keras. Tapi, Siluman Dari Neraka berdiri dengan tenang. Kedua tangannya
diseda-kapkan di depan dada.
Ketika tongkat lawan hampir meremukkan dadanya, Siluman
Dari Neraka baru melakukan tindakan. Rambutnya bagaikan hidup, bergerak
menyambuti tongkat. Bahkan, rambut itu terpisah menjadi dua kelompok. Yang kiri
dengan cepat menangkis tongkat dan melibatnya. Sedangkan
yang kanan menotok ke arah leher. Serangan maut!
Pendekar Golok Sakti tidak tinggal diam. Goloknya segera
dicabut dan diayunkan ke rambut yang tengah meluncur ke arah leher.
Trakkk!
Seperti juga Malaikat Tongkat, Pendekar Golok Sakti
menerima kejadian yang mengejutkan. Begitu tertangkis golok, rambut itu
melemas. Ke-mudian, bagaikan hidup dengan cepat melilit ba-tang golok.
Pendekar Golok Sakti mengerahkan kekua-tan untuk menarik.
Kalau goloknya tidak berhasil dibebaskan merupakan hal yang tidak mungkin,
demikian pendapat kakek ini. Mustahil rambut mampu bertahan terhadap tajamnya
golok. Tari-kan pada golok akan membuat rambut seperti di-potong.
Tapi, Pendekar Golok Sakti harus menelan kenyataan pahit.
Golok pusakanya ternyata tidak mampu memutuskan rambut Siluman Dari Nera-ka.
Rambut itu seperti terbuat dari bahan yang alot dan tidak bisa diputuskan.
Belum hilang rasa kaget Malaikat Tongkat dan Pendekar Golok
Sakti, keduanya dikejutkan lagi dengan mengalirnya tenaga dalam mereka. Te-naga
itu bagai disedot Siluman Dari Neraka mela-lui rambutnya yang melibat tongkat
dan golok.
Malaikat Tongkat dan Pendekar Golok Sakti berusaha keras
mencegah mengalirnya tenaga me-reka. Namun, keduanya tak berdaya sama sekali.
Kedua kakek ini pun berubah pikiran. Tidak ada
jalan lain kecuali melepaskan senjata. Meski bagai seorang
ahli silat senjata merupakan nyawa ke-dua, tapi Malaikat Tongkat dan Pendekar
Golok Sakti tidak memiliki pilihan lain.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya mereka ketika mengetahui
tangan keduanya menempel dengan senjata, sehingga tidak dapat dilepaskan. Pucat
pasi wajah kedua kakek ini. Tidak ada hal lain yang dapat mereka lakukan
kecuali menunggu mati lemas kehabisan tenaga dalam! Entah ilmu apa yang
dipergunakan Siluman Dari Neraka se-hingga mampu menyedot tenaga dalam lawan.
Siluman Dari Neraka baru melepaskan beli-tan rambutnya
ketika Malaikat Tongkat dan Pen-dekar Golok Sakti sudah tidak mampu berdiri
lagi. Tubuh kedua kakek itu sangat lemas. Wajah me-reka pucat seperti tidak
berdarah. Butiran-butiran peluh sebesar kacang membasahi sekujur tubuh.
Wajah Siluman Dari Neraka merah padam. Kakek ini telah
menyedot banyak tenaga dalam. Beruntung tingkat kepandaiannya tinggi dan
ke-kuatan tenaga dalamnya luar biasa, sehingga te-naga dalam yang berhasil
disedot dapat diarahkan ke pusar. Kalau tidak, tenaga dalam yang masih liar itu
akan berkeliaran ke sana kemari dan me-nyebabkan urat-urat sarafnya pecah!
"Kalian akan mengalami kematian seperti halnya Gajah
Cilik!"
Untuk kesekian kalinya rambut Siluman Dari Neraka terpecah
menjadi dua gumpalan. Bak ular gumpalan rambut itu meluncur ke arah Ma-laikat
Tongkat dan Pendekar Golok Sakti yang ber-
diri dengan kedua lutut. Tukkk, tukkk
Begitu kedua gumpalan rambut menotok tubuh Malaikat Tongkat
dan Pendekar Golok Sakti, kedua kakek ini langsung menjerit tertahan. Jeri-tan
yang keluar tanpa dapat mereka tahan. Kedu-anya menggelepar-gelepar bagai ayam
disembelih!
Saat itulah Karina dan Dampit keluar dari salah satu
bangunan yang mereka jadikan tempat beristirahat. Wajah muda-mudi ini berubah
hebat melihat kejadian yang dialami Malaikat Tongkat dan Pendekar Golok Sakti.
"Iblis Keji...!"
Sutini yang memiliki watak keras tanpa pi-kir panjang
menerjang Siluman Dari Neraka seraya menusukkan pedangnya. Jarak antara mereka
ki-ra-kira enam tombak, tapi Sutini bermaksud me-lancarkan serangan dengan satu
terjangan.
Berbeda dengan Sutini, Dampit lebih berha-ti-hati. Apalagi
setelah mengalami kejadian demi kejadian yang menimpanya. Kalau gurunya dan
Pendekar Golok Sakti bisa diperlakukan seperti itu, dapat diperkirakan betapa
tinggi kemampuan kakek berpakaian merah! Jadi, Sutini hanya men-cari penyakit
dengan tindakannya yang ceroboh itu.
"Sutini...! Tahan...!"
Hanya itu yang bisa diserukan Dampit. Pe-muda ini tidak
sempat lagi bertindak untuk men-cegah. Tubuh Sutini telah cukup jauh melayang.
Mengejar pun percuma saja.
Siluman Dari Neraka mendengus. Dengan
gerakan sambil lalu, seperti orang mengusir lalat, tangan
kanannya dikibaskan. Serangkum angin berhawa panas meluncur ke arah Sutini.
Tidak hanya Sutini. Dampit pun pias wa-jahnya. Dia melihat
maut mengancam Sutini. Ti-dak ada yang bisa dilakukannya. Mencoba untuk
menolong pun sia-sia karena gerakannya kalah cepat dan kalah lebih dulu.
Di saat yang mengkhawatirkan itu, sesosok bayangan ungu dengan
kecepatan menakjubkan melesat menubruk tubuh Sutini. Luncuran tubuh gadis
berpakaian merah itu dipotong dari samping.
Tubuh Sutini dan sosok bayangan ungu yang tidak lain Arya
terguling-guling di tanah. Dan, terhenti dengan kedudukan sosok bayangan ungu
berada di atas. Tubuh Sutini berada di ba-wah. Dada mereka saling bersentuhan.
Karuan saja Arya maupun Sutini jadi salah tingkah. Hal itu
justru membuat mereka tidak se-gera bangkit berdiri, tapi malah berdiam diri
den-gan saling bertatapan.
Geraman Siluman Dari Neraka membuat sepasang muda-mudi ini
tersadar. Hampir bersa-maan dengan Arya melentingkan tubuh ke bela-kang, Sutini
menggulingkan tubuhnya ke samping. Wajah keduanya memerah karena malu ketika
te-lah berhasil berdiri.
Di tempat lain, Dampit dan Karina menatap kejadian itu
dengan mata berapi. Ada rasa tidak enak dan iri melihat kejadian itu. Karina
menatap Sutini dengan sorot mata tajam. Sedangkan Dam-pit mengepalkan tinjunya
seraya menatap sosok
berpakaian ungu.
"Kita bertemu lagi, Pemuda Sombong! Seka-rang kupenuhi
janjiku. Kau akan kubunuh!" seru Siluman Dari Neraka.
Arya tidak menyambuti ucapan Siluman Dari Neraka. Dia masih
bingung melihat kemajuan hebat kakek berpakaian merah. Sambaran angin pukulan
Siluman Dari Neraka yang tadi lewat se-dikit di atas tubuhnya, dirasakan kuat
bukan main. Jauh lebih kuat dari pukulan jarak jauh yang ditangkis Dewa Arak
waktu pertama kali ber-temu tokoh sesat itu. Ataukah kakek ini pada saat itu
tidak mengerahkan tenaga seluruhnya?" tanya Arya dalam hati.
Pemuda berambut putih keperakan ini tidak tahu kalau tenaga
dalam Siluman Dari Neraka ber-tambah dengan pesat karena baru saja merampas
tenaga dalam Malaikat Tongkat dan Pendekar Go-lok Sakti. Tambahan dua tenaga
dalam itu tentu saja membuat tenaga dalam kakek berpakaian me-rah ini semakin
berlipat ganda.
Siluman Dari Neraka rupanya sudah tidak sabar lagi untuk
segera bertarung dengan Dewa Arak. Sambil mengeluarkan geraman yang mem-buat
tempat itu bergetar hebat, ia melompat me-nerjang Dewa Arak. Arya pun menyambutinya
dengan menggunakan ilmu 'Belalang Sakti'.
Pertarungan antara dua tokoh itu berlang-sung seru. Tapi,
hanya terjadi beberapa belas ju-rus saja. Pertarungan berlangsung tidak
seimbang. Dewa Arak senantiasa didesak dan dikejar-kejar. Dengan kekuatan tenaga
dalamnya yang telah me-
ningkat, Siluman Dari Neraka memaksa Dewa Arak mengadu
tenaga. Pemuda berambut putih keperakan itu terus menghindar. Beruntung Arya
mempunyai jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Ka-lau tidak, sudah sejak tadi
serangan Siluman Dari Neraka mendarat di tubuhnya. Gerakan kakek itu cepat
bukan main. Jauh di atas kecepatan gerak Arya!
Dewa Arak benar-benar takjub dan kagum. Harus diakui untuk
kesekian kalinya dia menda-pat lawan yang amat tangguh. Ilmu 'Belalang Sak-ti'
menyebabkan dia tidak segera roboh.
Akhirnya, apa yang ditakutkan Dewa Arak terjadi juga.
Kecepatan gerak Siluman Dari Neraka membuatnya tidak sempat mengelakkan
serangan di jurus kelima puluh. Tidak ada jalan lain bagi pemuda berambut putih
keperakan itu kecuali me-nangkisnya. Karena tenaga dalam lawan berada jauh di
atasnya, Dewa Arak menggunakan tenaga pelan ketika menangkis.
"Uh!"
Dewa Arak mengeluarkan keluhan tertahan. Tangannya yang
berbenturan dengan tangan Si-luman Dari Neraka melekat. Belum juga hilang
pe-rasaan kagetnya, tenaga dalamnya dirasakan mengalir melalui tangan yang
bersentuhan. Arya segera menyadari lawan menggunakan ilmu aneh untuk mencuri
tenaga dalamnya.
Dewa Arak tidak mau itu terjadi. Segera di-hentikannya
aliran tenaga dalamnya. Tapi ternyata tidak berhasil. Tenaga dalamnya tetap
tersedot Si-luman Dari Neraka. Wajah Arya seketika pias. Pe-
muda ini tahu apa yang terjadi padanya. Dia akan mati
lemas!
"Petualanganmu sudah berakhir, Rataksa. Kau harus
kembali ke Penjara Langit!"
Ucapan keras itu terdengar di saat Dewa Arak mulai merasa
lemas.
Akibat seruan itu sungguh hebat! Siluman Dari Neraka
tersentak kaget dan terjingkat ke be-lakang. Tindakannya terhadap Arya langsung
di-hentikan.
Wajah Siluman Dari Neraka bertambah pias ketika melihat
sosok bertopeng kayu yang menge-nakan pakaian dari kulit ular emas. Pakaian itu
adalah pakaian utusan Penjara Langit. Siapa pun yang mengenakannya berkuasa
penuh untuk ber-tindak apa saja terhadap orang yang diburunya.
Siluman Dari Neraka hampir tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Sepengetahuannya, pakaian itu disimpan dalam sebuah kotak baja yang
tidak bisa dibuka dengan alat apa pun, kecu-ali Golok Baja Hitam! Tapi
kenyataannya? Siluman Dari Neraka tidak tahu kalau sosok bertopeng kayu ini
salah satu dari dua orang bertopeng yang menyatroni Iblis Tangan Maut. Mereka
telah men-gambil Golok Baja Hitam. Dengan golok itu kunci kotak baja yang
menyimpan pakaian dipatahkan. Karena pakaian itu hanya satu, maka yang menca-ri
Siluman Dari Neraka hanya satu orang!
Siluman Dari Neraka yang sudah gentar mendapatkan kembali
keberaniannya. Ia teringat kalau selama puluhan tahun ini telah melatih
il-munya. Dan, dia yakin telah mencapai tingkat
sempurna. Belum tentu petugas dari Penjara Lan-git ini akan
mampu mengalahkannya. Apalagi dia telah berhasil mendapatkan ilmu untuk
menyedot tenaga dalam orang lain. Mana mungkin dia bisa dikalahkan.
"Kaulah yang akan kubunuh di sini!" Siluman Dari Neraka melompat
dengan kedua tan-gan dihentakkan. Deru angin keras mengiringi ter-jangannya.
Batu-batu kecil dan debu beterbangan di udara. Namun, sosok bertopeng kayu
tetap ti-dak bergeming.
Orang-orang yang berada di tempat itu, termasuk Arya,
sampai terbelalak kaget dan me-nahan napas melihat sikap sosok bertopeng kayu.
Dewa Arak mengetahui benar betapa dahsyatnya serangan Siluman Dari Neraka.
Tiba-tiba, satu tombak sebelum kedua tan-gannya mendarat di
sasaran, Siluman Dari Neraka mengeluarkan-jeritan menyayat. Tubuhnya terpen-tal
balik ke belakang seperti membentur dinding tak nampak. Dari mulut, hidung, dan
telinganya mengalir darah segar.
Setelah melayang-layang beberapa tombak, tubuh kakek
berpakaian merah itu ambruk di ta-nah dan diam tidak bergerak lagi. Mati.
Dengan tenang sosok bertopeng kayu menyambar tubuh itu dan melesat pergi, tanpa
bicara apa pun pada orang-orang yang berada di tempat itu.
Tidak ada seorang pun yang mengejar. Me-reka masih terlalu
kaget melihat betapa mudahnya sosok bertopeng kayu menewaskan Siluman Dari
Neraka. Teka-teki bersarang di benak mereka ten-tang cara sosok bertopeng kayu
membunuh Silu-
man Dari Neraka.
Jeritan tertahan Malaikat Tongkat dan Pen-dekar Golok Sakti
menyadarkan Sutini dan Dam-pit. Mereka memburu ke arah kedua kakek itu. Sesaat
kemudian, tangis Sutini pun pecah. Malai-kat Tongkat dan Pendekar Golok Sakti
tewas den-gan cara mengerikan. Sekujur tubuh mereka menghitam.
Di saat sepasang muda-mudi ini dan Karina memperhatikan
kedua mayat itu dengan perasaan ngeri, Dewa Arak melangkah pergi. Pemuda
be-rambut putih keperakan ini mengetahui sosok ber-topeng menggunakan ilmu
gaib! Ilmu yang hanya bisa dipergunakan untuk bertahan. Setiap orang yang
menyerang, maka serangan itu akan memba-lik mengenai dirinya sendiri. Ilmu
'Kontak' demi-kian namanya. Itulah ilmu yang dipergunakan so-sok bertopeng
kayu.
SELESAI
No comments:
Post a Comment