Monday, May 13, 2019

75 RACUN KELABANG MERAH


RACUN KELABANG MERAH

1

Hari menjelang petang. Matahari telah con-dong ke barat. Tampak dua sosok tubuh masih berada di sebuah tanah lapang. Mereka tengah si-buk dengan urusannya sehingga tidak sadar hari perlahan mulai gelap.
"Lihat baik-baik, Ratih!"
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tegap dan kekar, berpakaian cok-lat dengan wajah persegi yang membuatnya keli-hatan jantan, berkata setengah memberitahu. Ucapan itu ditujukan pada sosok satunya, seorang gadis cantik berpakaian merah, berambut dikuncir satu dan berusia sekitar dua puluh tahun.
Lelaki berwajah persegi mengambil delapan batang pisau kecil dari balik bajunya. Kemudian, dilemparkannya ke depan. Pisau-pisau itu melun-cur dalam satu kelompok. Tapi ketika telah me-luncur dua tombak, pisau-pisau itu menyebar mencari arah luncuran sendiri-sendiri.
Sepasang mata gadis berpakaian merah membelalak heran bercampur takjub. Memang ia telah diberitahu kalau delapan batang pisau yang meluncur itu akan menghunjam delapan tempat pada sasaran yang berupa orang-orangan dari je-rami.
Tapi sebelum delapan pisau itu mendarat di sasaran, pohon besar berdaun lebat yang bera-da sekitar enam tombak di depan lelaki bermuka persegi dan gadis berpakaian merah, daun-daunnya berguguran bagai diterpa badai. Aneh-nya, daun-daun yang rontok itu meluncur ke arah delapan batang pisau, seperti sengaja mengha-dang.
Prat, prat, prattt!
Delapan batang pisau itu berbenturan den-gan daun-daun yang rontok. Terdengar bunyi cu-kup nyaring seakan-akan daun-daun itu terbuat dari logam. Luncuran pisau-pisau mengendur se-dangkan daun-daun runtuh ke tanah. Delapan ba-tang pisau itu kemudian jatuh sebelum mencapai sasaran,
Lelaki bermuka persegi dan gadis berpa-kaian merah kelihatan terkejut Keduanya lang-sung menoleh ke sebelah kanan. Rontoknya daun-daun itu bukan karena sewajarnya. Sekitar tiga tombak di sebelah kanan mereka berdiri sesosok tubuh ramping dengan kedua tangan diseda-kapkan di depan dada. Sikapnya terlihat jumawa sekali!
"Siapa kau gadis usilan?!" Gadis berpa-kaian merah yang bernama Ratih merasa tersing-gung melihat gangguan itu. Sepasang matanya membelalak lebar. Ratih hendak melangkah maju tapi segera diurungkan ketika merasakan sentu-han pada tangannya. Ratih menoleh, menatap le-laki berwajah persegi dengan sorot mata penasa-ran.
"Sabarlah." Lelaki berwajah persegi berujar halus. "Menuruti kemarahan tidak akan menyele-saikan persoalan."
"Tapi, Ayah." Ratih mencoba membantah. "Apakah kita akan mendiamkan saja tindakannya yang usil itu?"
Lelaki berwajah persegi tersenyum. Ia memberi isyarat agar gadis berpakaian merah yang ternyata putrinya supaya bersabar.
"Siapa kau, Nona Muda? Mengapa meng-ganggu kami? Sepengetahuanku di antara kita ti-dak ada permusuhan. Ataukah... kau mempunyai suatu ganjalan denganku?" tanya lelaki bermuka
persegi dengan suara halus dan sikap sabar. "Cuhhh!"
Jawaban dari gadis bertubuh ramping yang usianya sebaya dengan Ratih dan mengenakan pakaian hitam pekat adalah meludah dengan si-kap kasar.
"Keparat!"
Ratih yang memang sejak tadi sudah men-dongkol melihat tindakan gadis berpakaian hitam tidak bisa menahan kesabaran lagi. Ia langsung menerjang dan mengirimkan pukulan bertubi-tubi yang mengeluarkan bunyi bercicitan nyaring
Plak, plak, plak!
Tiga kali Ratih menyerang dan tiga kali pu-la gadis berpakaian hitam menangkis. Akibatnya, tubuh Ratih terdorong ke belakang dan ter-huyung-huyung. Bahkan, mungkin Ratih akan terbanting ke tanah kalau saja lelaki bermuka per-segi tidak keburu mengulurkan tangan menang-kapnya.
"Kau jangan sembrono, Ratih. Gadis itu li-hai bukan main," tegur lelaki bermuka persegi, kemudian mendorong mundur tubuh putrinya. Le-laki tegap ini menghampiri gadis berpakaian hitam yang kembali bersidekap dengan angkuh.
"Ahhh...!"
Lelaki bermuka persegi menoleh ke bela-kang mendengar jeritan Ratih. Ucapan yang telah berada di ujung lidah dan siap untuk dikeluarkan, ditelannya kembali.
"Ada apa, Ratih?'" tanya lelaki bermuka persegi khawatir.
"Tanganku, Ayah. Perih, panas, dan gatal," beritahu Ratih seraya menunjukkan kedua tan-gannya.
Wajah lelaki bermuka persegi memucat ke-
tika melihat di kedua tangan putrinya terdapat bercak-bercak menghitam. Sekali lihat saja, lelaki bermuka persegi yang telah kenyang pengalaman ini bisa menduga Ratih telah keracunan. Dan, pe-nyebabnya adalah benturan dengan kedua tangan gadis berpakaian hitam.
"Umurnya hanya sampai sepuluh hari, De-wa Seribu Pisau. Apabila sampai sepuluh hari ti-dak menemukan obat yang tepat, nyawanya akan melayang ke alam baka. Hi hi hi...!" Gadis berpa-kaian hitam tertawa dingin ketika lelaki bermuka persegi menoleh ke arahnya.
"Perempuan keji!" Lelaki bermuka persegi yang berjuluk Dewa Seribu Pisau memaki. "Cepat berikan pemunahnya atau kau kukirim ke neraka. Cepat! Jangan sampai aku melupakan kalau kau hanya seorang gadis muda!"
"Hi hi hi. Sombongnya...!" Gadis berpa-kaian hitam malah tertawa mengejek. Tidak dipe-dulikannya ancaman Dewa Seribu Pisau. "Kalau tidak tahu siapa sebenarnya kau, mungkin aku akan terharu mendengar ucapanmu, Dewa Seribu Pisau!"
"Apa maksudmu, Perempuan Keji?!" bentak Dewa Seribu Pisau tidak mengerti.
"Maksudku? Jadi, kau tidak tahu yang kumaksudkan, Dewa Seribu Pisau? Tidak tahu, atau pura-pura bodoh."
"Tutup mulutmu, Wanita Liar! Jelaskan maksudmu, cepat!" Dewa Seribu Pisau tidak sa-bar.
"Baiklah." Gadis berpakaian hitam menga-lah. Tapi, terlihat jelas bukan karena takut. "Tidak kusangka dalam usia semuda ini kau sudah pi-kun. Bukankah tadi kau katakan akan terpaksa bertindak keras padaku kalau aku tidak memberi-
kan pemunah racun untuk putrimu. Bukankah demikian?"
"Benar! Lalu, mengapa?!"
"Berarti kalau aku memberikan obat pe-munah racun itu, kau merasa malu untuk menin-dakku."
"Benar." Dewa Seribu Pisau menjawab ra-gu-ragu karena tidak mengetahui arah pembica-raan gadis berpakaian hitam.
"Berarti kau merasa malu karena tidak se-padan bertarung dengan seorang gadis sepertiku," kejar gadis berpakaian hitam.
"Tentu saja!" Dewa Seribu Pisau menjawab tegas. "Aku bukan orang yang suka melakukan tindakan kekerasan terhadap seorang gadis mu-da!"
Senyum gadis berpakaian hitam lenyap. Sepasang mata yang bening dan indah itu berki-lat-kilat memancarkan hawa maut.
"Pendusta! Pembohong Besar! Mulutmu tak ubahnya tahi ayam! Yang keluar dari mulutmu bukan ucapan melainkan kotoran!" maki gadis berpakaian hitam "Orang lain mungkin bisa kau bohongi dengan sikap gagahmu. Tapi, aku? Aku tidak akan bisa kau tipu. Lupakah kau dengan seorang gadis kecil berusia delapan tahun yang kau kejar-kejar untuk dibinasakan? Lupakah kau kalau akhirnya salah satu pisaumu menembus tubuhku? Itukah yang kau katakan kalau dirimu tidak akan bertindak keras terhadap seorang gadis muda? Jangankan terhadap seorang gadis muda. Kepada gadis kecil pun kau sampai hati. Itukah ucapan seorang lelaki gagah?!"
Kata-kata yang meluncur deras dari mulut gadis berpakaian hitam bagaikan gelombang laut. Susul-menyusul. Kata-kata yang keras dan tajam
itu membuat wajah Dewa Seribu Pisau berubah-ubah sebentar pucat sebentar merah. Terlihat jelas ucapan itu mempunyai pengaruh besar.
"Sekarang aku ingat." Dewa Seribu Pisau menyahuti setelah terdiam beberapa saat. Sua-ranya terdengar serak karena kata-kata gadis ber-pakaian hitam yang tajam telah membuatnya ter-pukul sekali. "Kau adalah putri Panangkaran yang jahat itu."
"Benar!" Gadis berpakaian hitam menjawab tegas. Lehernya ditegakkan dan dadanya dibu-sungkan. "Namaku Pertiwi!"
Dewa Seribu Pisau tersenyum pahit. Seka-rang dia bisa menduga maksud kedatangan putri Panangkaran itu. Panangkaran, pemimpin gerom-bolan penjahat yang menciptakan kekacauan di dunia persilatan. Tak terhitung sudah tokoh-tokoh golongan putih yang tewas di tangannya. Hanya berkat persatuan para pendekar yang di antaranya terdapat Dewa Seribu Pisau, kelompok Panangka-ran dapat dihancurkan. Bahkan, guru Panangka-ran, seorang datuk kaum sesat dapat ditewaskan. Sayang, Panangkaran berhasil lolos! Tapi, Dewa Seribu Pisau tidak terlalu khawatir karena yakin Panangkaran tidak berbahaya lagi. Panangkaran telah terluka berat.
"Jadi, kedatanganmu kemari untuk mem-balas dendam?" Dewa Seribu Pisau mengeluarkan duga-annya.
"Tidak salah!" Pertiwi mengangguk pasti. "Sekarang, bersiaplah untuk menerima kematian-mu, Dewa Seribu Pisau!"

***

Dewa Seribu Pisau tahu Pertiwi bukan la-
wan yang patut dipandang rendah. Telah disaksi-kannya sendiri ketika hanya dengan segebrakan Ratih dibuat tak berdaya. Meski demikian, dia ber-sikap tenang dan tidak mendahului melakukan se-rangan.
"Hik!"
Pertiwi mengulurkan kedua tangannya ke arah pohon besar yang tadi daun-daunnya digu-gurkan. Dari kedua tangan yang halus dan berku-lit putih itu keluar serangkum angin keras. Daun-daun pohon berguguran dan melayang ke bawah. Pertiwi mengeluarkan bentakan nyaring seraya menggetarkan tangannya. Daun-daun itu berhenti melayang turun, tertahan di udara bagai ditahan kekuatan kasat mata. Sekali lagi gadis berpakaian hitam mengeluarkan pekikan nyaring, yang me-maksa Ratih menyeringai karena merasakan ke-dua telinganya sakit dan dadanya bergetar keras.
"Uh...!"
Dewa Seribu Pisau menatap takjub melihat daun-daun yang jumlahnya belasan ini melayang ke arahnya. Tidak cepat. Tapi, lelaki bermuka per-segi ini tahu ancaman maut di dalam luncuran daun-daun itu tidak berkurang.
Hal lain yang membuat Dewa Seribu Pisau takjub adalah daun-daun itu meluncur beriringan dalam satu lajur!
Dewa Seribu Pisau tidak mau kalah gertak. Dia tahu Pertiwi memiliki tenaga dalam tinggi se-hingga mampu melakukan hal demikian. Lelaki bermuka persegi ini tidak menjadi gentar. Berge-gas tangan kanannya yang terkepal dipukulkan ke depan. Angin luar biasa keras berhembus dari tangan Dewa Seribu Pisau. Ia hendak meruntuh-kan barisan daun-daun yang menuju ke arahnya.
Pertiwi mengetahui maksud lawannya. La-
gi-lagi gadis berpakaian hitam ini mengeluarkan pekikan keras. Bagai memiliki nyawa daun-daun itu meliuk ke atas. Masih dalam satu barisan. Pu-kulan jarak jauh Dewa Seribu Pisau pun meluncur di bawah daun-daun itu!
Dewa Seribu Pisau, apalagi Ratih, terpana melihat kenyataan ini. Pemandangan yang tercipta di hadapan mereka itu merupakan pertunjukan tenaga dalam tingkat tinggi. Tapi meski kaget, De-wa Seribu Pisau tidak kehilangan akal. Dia me-lompat ke belakang untuk mempertahankan jarak. Lalu, diambilnya delapan batang pisau dan dilem-parkan ke arah barisan daun-daun.
Untuk kedua kalinya lelaki bermuka perse-gi menunjukkan kebenaran julukan yang disan-dangnya. Pisau-pisau yang dilepaskan secara ber-samaan itu meluncur seperti dilepaskan satu-persatu. Terdapat tenggang waktu antara luncu-ran pisau-pisau itu. Dan, semua pisau meluncur ke arah daun-daun yang tengah mengarah pada Dewa Seribu Pisau.
Tapi, betapa terkejutnya lelaki berwajah persegi. Delapan batang pisaunya untuk pertama kali gagal menjalankan tugas. Begitu Pertiwi menggetarkan kedua tangannya, daun-daun itu berpencar. Hal ini menyebabkan pisau-pisau Dewa Seribu Pisau mengenai tempat kosong.
Sebelum Dewa Seribu Pisau tersadar dari perasaan kagetnya, daun-daun yang berpencaran itu meluncur ke arahnya dengan kecepatan yang luar biasa hingga menimbulkan bunyi berciutan nyaring. Dewa Seribu Pisau melihat adanya anca-man maut tidak berdiam diri. Dengan mempergu-nakan kedua tangan dilancarkannya pukulan ja-rak jauh bertubi-tubi ke arah daun-daun itu.
Usaha Dewa Seribu Pisau memang tidak
sia-sia. Beberapa daun-daun itu berjatuhan dalam keadaan sobek dan hancur. Sebagian kecil runtuh terserempet angin pukulan dahsyat itu. Tapi, se-bagian besar tetap meluncur ke arahnya.
Dewa Seribu Pisau yang tidak ingin kehi-langan nyawa melompat ke belakang seraya me-lontarkan pukulan jarak jauh.
Crap, crap, crap! "Akh...!"
Dewa Seribu Pisau mengeluarkan jeritan menyayat hati ketika akhirnya beberapa daun yang tersisa menghunjam tubuhnya pada bebera-pa bagian yang mematikan. Darah mengucur ke-luar. Lelaki itu menggeliat-geliat sebentar sebelum diam tidak bergerak-gerak lagi
"Ayah...!"
Ratih yang sejak tadi menyaksikan jalan-nya pertarungan memburu ke arah Dewa Seribu Pisau. Wanita berpakaian merah ini menubruk tu-buh ayahnya yang terkapar sambil menangis me-milukan.
Pertiwi hanya tersenyum mengejek. Dengan sinar mata berseri dan kepuasan hati tubuhnya dibalikkan dan mengayunkan kaki meninggalkan tempat itu.
Pertiwi sengaja tidak membunuh Ratih. Bukan karena tidak tega atau kasihan, melainkan karena hatinya yang kejam. Ratih telah keracu-nan. Dan, racun itu akan menyeret Ratih ke alam baka secara perlahan dengan perasaan tersiksa.

***

"Aaa...!"
Jeritan panjang menyayat hati membuat le-laki bertubuh jangkung yang tengah sibuk men-
cangkuli tanah menghentikan pekerjaannya. Pa-dahal, saat itu lelaki setengah baya itu tengah siap menghantamkan mata cangkulnya ke tanah. Cangkul itu jadi berhenti di atas kepala. Ia segera mengarahkan pandangannya ke sebuah rumah sederhana yang berada tak jauh dari tempatnya. Lelaki tinggi kurus ini tengah berada di sawah.
"Eka." Bibir lelaki jangkung itu menggu-mamkan sebuah nama. Cangkulnya dihempaskan ke tanah. Kemudian, tubuhnya melesat ke arah pondok sederhana tempat suara jeritan tadi beras-al. Gerakan lelaki jangkung ini begitu cepat dan ringan.
"Eka...!"
Lelaki jangkung ini mengeluarkan teriakan keras. Sepasang matanya membelalak lebar mena-tap tidak percaya.
Di daun pintu pondok sederhana tertempel sesosok tubuh wanita setengah baya. Kedua tan-gan dan kakinya terpentang. Tubuhnya menempel karena telapak tangan dan kakinya ditembus pi-sau tajam sampai ke daun pintu.
Pemandangan itu saja sudah cukup me-nyeramkan hati. Apalagi, ditambah dengan me-rayapnya belasan ekor kelabang di sekujur tubuh wanita itu. Melihat wajah wanita setengah baya yang bersemu kehijauan dan kepalanya terkulai, lelaki Jangkung mengetahui wanita setengah baya itu telah keracunan. Sudah pasti karena gigitan kelabang-kelabang hitam itu!
"Keparat!"
Setelah sadar dari keterkejutannya, lelaki jangkung menghentakkan kedua tangannya ke depan. Angin keras berhembus. Dan, kelabang-kelabang itu berpentalan tak tentu arah.
"Eka...!"
Dengan suara seperti orang merintih, lelaki Jangkung melesat menghampiri.
"Binatang dari mana yang telah melakukan kekejian terhadapmu, Eka...?"
Lelaki jangkung tidak berani menyentuh tubuh wanita setengah baya yang bernama Eka. Tubuh Eka mengandung racun mematikan dan dia telah tewas. Meninggal dalam keadaan amat tersiksa.
"Selamat berjumpa lagi, Bagas Pati!"
Lelaki jangkung terlonjak kaget bagai dis-engat kalajengking mendengar teguran itu. Cepat tubuhnya dibalikkan mencari asal suara. Sikap le-laki berpakaian sederhana ini kelihatan waspada. Pemilik suara itu tampaknya memiliki ilmu merin-gankan tubuh luar biasa. Kedatangannya tidak terdengar. "Kau...?!"
Suara lelaki jangkung yang disapa dengan nama Bagas Pati seperti tercekat di tenggorokan. Ketidakpercayaan yang sangat membayang jelas pada wajahnya yang cukup gagah.
"Kenapa, Bagas Pati? Kaget?"
Orang yang menyapa Bagas Pati ternyata seorang lelaki tinggi besar berkulit hitam dan be-rambut panjang. Sebelah matanya ditutup kain hi-tam.
"Aku yakin kau tidak lupa padaku, Bagas Pati."
Ucapan bernada ejekan itu mampu mere-dam perasaan kaget Bagas Pati. Sikap dan sua-ranya terdengar lebih tenang.
"Siapa yang bisa melupakan iblis busuk te-ramat keji? Sungguh tidak kusangka kau bisa se-lamat, Panangkaran"
"He he he...!" Laki-laki tinggi besar yang di-panggil Panangkaran terkekeh. "Tentu saja, Bagas
Pati. Aku tidak akan meninggalkan dunia ini sebe-lum orang-orang yang telah menghancurkan hi-dupku menerima balasannya. Menerima pembala-san atas kelancangan mereka terhadapku. Dan, kau merupakan salah seorang di antaranya!"
Sepasang mata Bagas Pati menyipit men-dengar pernyataan itu. Ada sorot mata. kebencian dan dendam di sana. Wajahnya tampak beringas.
"Sekarang aku mengerti." Bagas Pati berka-ta dengan suara bergetar. "Pasti kau yang telah melakukan kekejian terhadap istriku. Tidak ada orang lain yang mampu bertindak sekeji ini kecua-li kau, Panangkaran!"

2

Panangkaran tertawa bergelak memperli-hatkan kegembiraan hatinya.
"Syukur kalau kau bisa menduga demi-kian, Bagas Pati," ujar lelaki bermata sebelah ini ringan. "Memang aku pelakunya. Asal kau tahu saja, aku tidak mudah untuk menemukanmu. Berhari-hari aku melacak jejakmu. Kulihat kau tengah sibuk di sawah. Sungguh tidak kusangka kalau di tempat ini kujumpai istrimu. Maksudku semula hendak menunggu kedatanganmu di sini untuk memberikan kejutan. Tapi, niat itu segera ku urungkan. Aku memancingmu datang ke sini melalui istrimu. Sayang sekali, Bagas Pati, kau ti-dak melihat saat-saat istrimu meregang maut. Ha ha ha. Menyenangkan sekali, Bagas Pati!"
"Jahanam!"
Bagas Pati tidak dapat menahan kemara-hannya lagi mendengar Panangkaran mencerita-kan saat-saat kematian istrinya. Meski tidak meli-hat, Bagas Pati dapat membayangkan betapa
menderita istrinya sebelum maut menjemput Ke-marahan yang melanda Bagas Pati pun tidak bisa dibendung lagi!
Dalam cekaman perasaan marah yang menggelegak Bagas Pati menerjang dengan ilmu-ilmu andalan. Lelaki jangkung ini langsung men-geluarkan serangan maut. Dia melompat dengan tangan kanan menampar ke arah pelipis. Tangan kiri Bagas Pati pun tidak tinggal diam. Tangan itu digerakkan mencengkeram ke arah pusar. Dua buah serangan maut yang amat berbahaya.
Panangkaran hanya mengeluarkan tawa meremehkan. Begitu serangan-serangan maut itu menyambar dekat, lelaki tinggi besar ini bergerak menangkis. Ketika terjadi benturan keras tubuh Bagas Pati terpental ke belakang dengan tangan terasa sakit dan ngilu bukan main.
Bagas Pati menatap Panangkaran dengan sepasang mata membelalak heran. Dilihatnya ti-dak bergeming dari kedudukannya semula. Lelaki tinggi besar ini tidak terpengaruh dengan bentu-ran yang baru saja terjadi. Ini mengejutkan Bagas Pati! Padahal, ia telah mengerahkan seluruh tena-ga dalamnya. Dia tahu dulu Panangkaran memiliki kepandaian setingkat dengannya. Ketika bertarung dengannya, Panangkaran terluka amat parah. Ta-pi, mengapa sekarang Panangkaran memiliki ke-pandaian dahsyat seakan waktu belasan tahun itu telah dipergunakan untuk melatih diri?
Bagas Pati sendiri meski telah mengasing-kan diri dan memilih hidup sebagai petani tetap tidak melupakan ilmu silatnya dan terus berlatih. Bila dibandingkan dengan belasan tahun lalu dia mengalami kemajuan pesat.
Melihat Bagas Pati tidak melanjutkan se-rangannya, malah tercenung bingung, Panangka-
ran tidak mempergunakan kesempatan itu untuk melancarkan serangan. Sikap lelaki tinggi besar ini terlihat demikian tenang. Tampaknya, ia merasa yakin dengan kemampuan dirinya akan mampu mengalahkan Bagas Pati!
"Bagas Pati, waktu untukmu menghadap malaikat maut telah hampir tiba. Kau merupakan orang pertama yang mendapat balasan atas han-curnya gerombolan yang dulu kubangun dengan susah payah!"
Panangkaran mengucapkan kata-kata itu dengan berirama, seperti bernyanyi.
Bagas Pati yang sebelumnya sudah bersiap untuk melancarkan serangan, mendadak meng-hentikan gerakannya. Ucapan-ucapan yang dika-takan secara berirama itu mengandung kekuatan dahsyat. Setiap kata yang keluar membuat telinga Bagas Pati mendenging, seperti mendengar leda-kan halilintar di dekatnya. Dada Bagas Pati berge-tar. Bahkan, kedua kakinya berdiri goyah.
Pengaruh yang melanda Bagas Pati sema-kin menjadi-jadi ketika Panangkaran mengulang perkataannya. Bagas Pati yang merupakan tokoh persilatan dengan pengalaman segudang segera tahu Panangkaran telah mengirim serangan tena-ga dalam. Tentu saja Bagas Pati tidak ingin mati konyol. Dia segera duduk bersila mengerahkan te-naga dalam untuk melawan pengaruh ucapan yang dikeluarkan dengan berirama itu.
Pertarungan adu tenaga dalam pun ber-langsung. Panangkaran terus mengulang perka-taannya. Bagas Pati semakin tenggelam dalam se-madinya. Maka beberapa saat tidak terjadi apa pun. Tapi ketika Panangkaran mengulang perka-taannya untuk kelima kali, wajah Bagas Pati mulai dibanjiri peluh. Wajah yang semula merah padam
tampak semakin merah. Bahkan, dari atas kepala Bagas Pati mengepul uap putih. Semakin lama semakin tebal. Lelaki jangkung ini telah menge-rahkan tenaga dalam melewati batas.

***

"Menggunakan kemampuan untuk mela-kukan tindakan sewenang-wenang terhadap orang lain merupakan perbuatan tidak terpuji!"
Perkataan yang diucapkan tidak keras tapi mengandung getaran yang menyelusup sampai jauh ke dalam dada terdengar di saat-saat kea-daan Bagas Pati semakin mengkhawatirkan.
Seperti juga Panangkaran yang mengulang-ulang perkataannya. Seruan yang terdengar bela-kangan itu juga diulang-ulang. Pemilik suara itu mengekor ucapan Panangkaran.
Panangkaran menggeram di dalam hati. Ada orang yang menghalangi perbuatannya untuk membunuh Bagas Pati. Seruan orang itu mengan-dung pengaruh yang menentang ucapan Panang-karan. Bahkan, Panangkaran merasakan kekua-tan tak nampak menyelusup di dalam telinga dan menyakitkan gendang telinganya. Seruan yang ke-luar dari orang yang memiliki tenaga dalam tinggi.
Berbeda dengan Panangkaran, Bagas Pati mendapat keuntungan. Setelah seruan-seruan ke-dua terdengar, pengaruh yang mengungkungi Ba-gas Pati mulai berkurang. Semakin lama pengaruh itu semakin menghilang sehingga Bagas Pati menghentikan pengerahan tenaga dalamnya.
Sementara beberapa tombak di depan Ba-gas Pati, Panangkaran masih sibuk mengeluarkan perkataannya. Bahkan, Panangkaran menambah kekuatan tenaga dalam karena pemilik seruan
yang tidak terlihat itu terus berkata-kata. Wajah Panangkaran mulai merah padam. Dan, bertam-bah merah. Seruan-seruan yang keluar dari mu-lutnya semakin melemah. Sebaliknya, seruan yang keluar belakangan semakin menguat. Bahkan, se-perti bergema ke sekitar tempat itu.
"Huakh...!"
Panangkaran memuntahkan darah segar ketika memaksakan diri untuk melawan. Tubuh lelaki tinggi besar ini terbungkuk-bungkuk ketika cairan merah kental itu keluar dari mulutnya. Seiring dengan keluarnya darah dari mulut Pa-nangkaran, seruan yang terdengar belakangan itu pun lenyap.
"Kalau bukan pengecut, keluar kau orang usil...!" Tanpa mengenal takut sama sekali, Pa-nangkaran berteriak cukup keras. Panangkaran tidak mau mengerahkan tenaga dalam. Saat itu dia telah terluka cukup parah. Apabila memaksa-kan diri, luka dalam yang dideritanya akan ber-tambah parah. Mungkin akan menyebabkan nya-wanya melayang ke alam baka.
Baru saja Panangkaran selesai meneriak-kan kata-katanya, dari balik kerimbunan semak-semak melesat keluar sesosok tubuh berpakaian ungu, Sosok itu bertubuh tegap dan kekar. Wa-jahnya tampan, ia mengayunkan kaki dengan te-nang menghampiri Panangkaran.
"Aku bukan seorang pengecut, Sobat. Aku sengaja menyembunyikan diri karena tidak ingin dikenal. Aku tidak mau mencari permusuhan," ujar pemuda berpakaian ungu yang memiliki ram-but putih keperakan.
"Tidak usah bicara berputar-putar, Pemuda Usilan!" tegas Panangkaran lantang. "Kau telah mencampuri urusanku, itu sama dengan menan-
tangku. Kali ini aku mengaku kalah. Tapi, suatu saat nanti kita akan bertemu lagi. Aku, Panangka-ran, tidak bisa menerima kekalahan! Apalagi di tangan orang semuda kau. Kalau kau bukan pen-gecut perkenalkan dirimu!"
Pemuda berambut putih keperakan itu mengernyitkan alisnya dengan sikap tidak senang. Dua kali Panangkaran berkata, dua kali pula lelaki tinggi besar itu memakinya pengecut. Mau tidak mau, pemuda berambut putih keperakan itu memperkenalkan diri.
"Sudah kukatakan aku tidak ingin mencari permusuhan. Tapi kalau kau ingin mengenalku, namaku Arya Buana. Dunia persilatan memberi-kan julukan padaku. Dewa Arak itu julukanku!" tandas pemuda berambut putih keperakan.
Wajah Panangkaran berubah hebat men-dengar jawaban itu. Meski baru kembali ke dunia ramai, lelaki tinggi besar ini telah mendengar na-ma besar Dewa Arak yang menggemparkan dunia persilatan.
"Ternyata berita yang kudengar itu benar." Panangkaran tersenyum pahit "Kau memang seo-rang pendekar yang luar biasa. Tapi tunggulah, Dewa Arak. Saat kekalahanmu segera tiba. Sela-mat tinggal!"
Dengan sikap yakin Dewa Arak akan mem-biarkan pergi dengan selamat, Panangkaran mem-balikkan tubuh dan melesat pergi dengan langkah agak terhuyung.
Dewa Arak hanya memandangi saja keper-gian Panangkaran. Sikap Panangkaran yang terla-lu yakin membuat Arya tidak melakukan pengeja-ran. Panangkaran memperlihatkan sikap kalau di-rinya mempercayai Dewa Arak.
***

Arya membalikkan tubuh dan mengalihkan perhatian dari tubuh Panangkaran yang lenyap di-telan kejauhan ketika mendengar bunyi menggelo-gok. Dilihatnya Bagas Pati duduk bersila dan me-muntahkan darah segar. Tampaknya, ia mengala-mi luka dalam yang amat parah. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, pemuda berambut putih keperakan ini bergegas menghampiri. Ia in-gin memberi pertolongan. Dan, cara yang paling tepat adalah dengan menyalurkan tenaga dalam.
Tapi Arya menghentikan maksudnya ketika melihat lelaki jangkung itu menggeliat. Ternyata seekor kelabang hitam telah menggigit kakinya. Kelabang itu memiliki racun yang mematikan.
Dewa Arak tidak berani bertindak gegabah. Dia tidak mau mengambil resiko mengobati kera-cunan dengan arak dalam gucinya. Arya tahu Pa-nangkaran sebagai pemilik kelabang pasti memili-ki pemunahnya. Pemuda berambut keperakan ini segera melesat ke arah Panangkaran tadi pergi.
Tapi, belum berapa jauh Arya meninggal-kan Bagas Pati yang sibuk dengan semadinya ter-dengar suara bentakan dari belakang.
"Penjahat keji...! Jangan pergi kau...!" Menduga seruan itu ditujukan padanya,
Arya menghentikan larinya. Tapi sebelum tubuh-nya dibalikkan pemuda berambut putih keperakan ini merasakan desiran angin di atas kepalanya. Sebagai orang yang telah kenyang pengalaman, Arya tahu pemilik seruan itu tengah melompa-tinya. Maka, dia bersikap tenang dan mengarah-kan pandangan ke depan.
Dua tombak di depan Arya mendarat rin-gan sesosok tubuh tegap pemuda berpakaian cok-
lat. Arya tidak merasa terkejut melihat pemuda itu menjejakkan kaki tanpa menimbulkan bunyi sedi-kit pun.
Yang membuat Arya kaget, tapi tidak di tampakkan pada wajahnya yang tetap kelihatan tenang, adalah seruan yang ditujukan padanya. Benak Arya segera teringat pada Bagas Pati yang ditinggalkannya. Mungkinkah seruan tadi ada hu-bungannya dengan hal itu?
"Mengapa kau menghadang perjalananku, Sobat? Dan, apakah maksud ucapanmu tadi? Se-ruan itu kau tujukan padaku?" tanya Arya tenang, tidak langsung mengajukan dugaan.
"Penjahat keji terkutuk!"
Pemuda berpakaian coklat yang berusia sekitar dua puluh satu tahun, bertubuh pendek kekar dengan kumis tebal melintang, menggeram keras bagai binatang buas terluka.
"Kalau tidak kau yang mati, aku yang akan menjadi mayat di sini."
Pemuda berpakaian coklat membuka se-rangan dengan tendangan bertubi-tubi yang dila-kukan dengan kaki kanan dan kiri. Suara angin menderu keras mengiringi serangan itu.
Dewa Arak tahu pemuda berpakaian coklat ini tidak bisa diberikan penjelasan dengan kata-kata, tidak mempunyai pilihan lain kecuali mem-berikan perlawanan. Serangan-serangan pemuda berpakai an coklat hebat bukan main. Arya tidak dapat menahan rasa ingin tahunya. Melihat pe-muda berpakaian coklat memiliki kepandaian he-bat, ia memutuskan akan mengukur kekuatan la-wan.


























Pemuda berpakaian coklat membuka seran-gannya dengan tendangan bertubi-tubi. Suara an-gin menderu mengiringi serangan itu. Melihat pe-muda berpakaian coklat memiliki kepandaian lu-mayan, Arya jadi timbul rasa ingin tahunya. Ia pun memutuskan ingin menjajal kekuatan lawan!
Duk, dukkk, dukkk!
Suara keras terdengar berkali-kali ketika sepasang kaki Arya berbenturan dengan kaki pe-muda berpakaian coklat. Tubuh pemuda berpa-kaian coklat terhuyung-huyung ke belakang den-gan seringai kesakitan di wajahnya. Sedangkan Arya hanya bergetar.
Pemuda berpakaian coklat menggeram ke-ras. Dia tampak sangat marah.
"Pantas ayahku dapat kau kalahkan. Ter-nyata kau memiliki kepandaian hebat. Tapi, itu ti-dak membuatku jadi gentar, Penjahat Keji!"
Pemuda berpakaian coklat kembali menye-rang. Arya meladeninya. Pertarungan kedua tokoh muda. yang sama-sama lihai itu pun berlangsung sengit.
Arya semakin mengetahui kalau kepan-daian pemuda berpakaian coklat ini memang amat tinggi. Sungguh pun jika mengerahkan seluruh kemampuannya dengan ilmu 'Belalang Sakti' la-wan akan dapat dikalahkan, tapi itu membutuh-kan waktu yang lama. Itu pun harus melukainya dengan cukup berat. Arya tidak menginginkan hal itu. Pemuda berpakaian coklat ini hanya salah pa-ham. Maka, ketika lagi-lagi pemuda berpakaian coklat melancarkan serangan dengan pukulan te-lapak tangan terbuka, Arya menyambutnya.
Bresss!
Tubuh pemuda berpakaian coklat terjeng-kang lalu terguling-guling di tanah. Sedangkan tu-buh Arya bergoyang-goyang. Arya yang memang tidak ingin melanjutkan pertarungan meman-faatkan kesempatan itu untuk melempar tubuh-nya ke belakang dan melesat meninggalkan tempat itu.
Pemuda berpakaian coklat tidak mengin-
ginkan Dewa Arak kabur. Dengan kepala masih pusing dan pandangan berkunang-kunang dia me-lesat mengejar.
Tapi, karena Arya telah lebih dulu dan ke-cepatan lari pemuda berambut putih keperakan itu di atas lawannya, dalam waktu singkat Arya te-lah lenyap dari pandangan. Tinggal pemuda ber-pakaian coklat dengan perasaan geram. Sorot ma-ta memancarkan kebencian menatap ke arah le-nyapnya Dewa Arak.
"Penjahat Keji, dengarlah...! Sampai ke ujung dunia pun kau akan kucari...!"

***

"Ayaaah...! Ibuuu...!"
Sambil berseru keras seorang pemuda ber-pakaian kuning melesat ke arah tempat di mana tubuh Bagas Pati dan Eka berada.
Pemuda itu menatap berganti-ganti pada Bagas Pati dan Eka. Sorot matanya penuh pera-saan sedih dan penyesalan. Pemuda bertubuh tinggi kekar ini melihat ibunya telah tewas. Tidak ada yang dapat dilakukannya lagi untuk menye-lamatkan Eka. Maka, pandangannya dialihkan pada Bagas Pati yang tergolek lemah di tanah. Na-pasnya masih ada. Keadaan lelaki jangkung ini terlihat sangat payah. Wajahnya telah bersemu kehijauan seperti halnya wajah Eka.
"Keparat!"
Pemuda berpakaian kuning memaki. Sepa-sang matanya yang tajam berkilat-kilat menatap penuh dendam pada kelabang-kelabang hitam yang berkeliaran di sekujur tubuh Bagas Pati.
Pemuda berpakaian kuning lalu bertepuk tangan sekali. Kelabang-kelabang yang tengah
asyik bermain itu terangkat semua. Kemudian, melayang ke belakang menjauhi tubuh Bagas Pati. Setelah itu kedua tangan pemuda itu digosok-gosokkan.
Sekelebatan sinar dari tangannya me-nyambar ke arah kelabang-kelabang yang masih tergantung di awang-awang. Terdengar bunyi letu-pan kecil disusul dengan bunyi sangit seperti dag-ing terbakar. Kelabang-kelabang itu dalam sekejap telah menjadi arang dan hancur tertiup angin.
"Ayaaah...!"
Pemuda berpakaian kuning lalu mendekati Bagas Pati. Ayahnya tidak bisa diselamatkan lagi. Napas lelaki jangkung itu tinggal satu-satu.


***

3

"Ludiga...." Hampir tidak terdengar ucapan Bagas Pati. Bibirnya yang telah pucat bergerak pe-lan.
Pemuda berpakaian kuning yang tahu ayahnya ingin menyampaikan pesan terakhir sege-ra mendekatkan telinganya pada mulut lelaki jangkung itu.
"Syukur kau datang. Aku, terutama sekali ibumu, sangat rindu padamu. Aku gembira masih sempat bertemu denganmu, meski ibumu tidak dapat bertemu muka denganmu. Sekarang kau bukan lagi bocah berusia sepuluh tahun seperti dulu, Ludiga. Aku yakin kau telah memiliki ke-pandaian tinggi. O ya, bagaimana kabar gurumu, Eyang Sapta Geni?"
"Baik, Ayah. Guru titip salam untuk Ayah,"
jawab Ludiga dengan suara tercekat di tenggoro-kan karena perasaan haru dan sedih. Kedatan-gannya kurang cepat
"Kuterima salamnya, Ludiga. Dan, kuminta kau suka menyampaikan salamku padanya bila bertemu nanti," ucap Bagas Pati. Suaranya sema-kin pelan.
Ludiga mengangguk menyetujui permin-taan ayahnya "Katakan, Ayah, siapa yang telah melakukan kekejian ini? Aku berjanji akan me-nuntut balas atas kekejian yang telah dilakukan-nya."
Sepasang mata Bagas Pati semakin redup seakan kehilangan sinar.
"Panangkaran...."
"Panangkaran...?!" Ludiga mengulang ja-waban Bagas Pati, meminta kepastian. "Maksud Ayah, Panangkaran yang sepuluh tahun lalu per-kumpulannya dihancurkan oleh kelompok pende-kar? Panangkaran..." Ludiga menghentikan uca-pannya ketika melihat kepala Bagas Pati terkulai. Lelaki jangkung itu telah meninggal. "Ayah...!"
Ludiga mengguncang-guncangkan tubuh ayahnya berharap terjadi suatu keajaiban. Ia tidak percaya Bagas Pati telah meninggal. Pemuda ini baru percaya ketika tubuh yang diguncang-guncang itu tidak memberikan tanggapan.

***

Tanpa ada beban batin sama sekali Dewa Arak melangkahkan kaki melanjutkan perjalanan. Pemuda berambut putih keperakan ini tidak tahu ke mana harus menuju.
Kesantaian sikap pemuda itu langsung buyar ketika melihat beberapa sosok di depannya.
Jarak antara dua sosok itu dengan Arya tak ku-rang dari lima puluh tombak. Tapi, itu tidak men-jadi halangan bagi Arya untuk mengenali sosok-sosok yang tengah berkejaran itu. Sepasang mata Arya tajam bukan main, sehingga bisa melihat dengan jelas. Apalagi arah yang dituju dua sosok itu adalah tempat Arya berada.
Dua sosok itu ternyata memiliki kepan-daian tinggi. Dalam sekejap mereka telah berada dekat dengan Arya. Sosok pertama seorang gadis cantik berpakaian serba hitam. Rambutnya dikun-cir. Sedangkan sosok kedua seorang kakek ber-jenggot panjang putih dan berpakaian putih. Meski dari jenggotnya bisa diketahui kalau usia kakek ini telah sangat tua, tapi wajahnya masih kelihatan segar.
Gadis berpakaian hitam itu tak lama lagi akan terkejar lawannya. Arya yang tidak bisa me-lihat tindak ketidak-adilan segera memutuskan untuk
campur tangan.
Sekali Arya menjejakkan kaki, tubuhnya telah berada di antara gadis berpakaian hitam dan pengejarnya. Hal ini memaksa kakek berjenggot putih menghentikan pengejaran.
"Tunggu sebentar, Kek," cegah Arya seraya menjulurkan tangan kanan mencegah.
Sepasang mata kakek berjenggot putih mencorong tajam. Kalau saja sinar mata dapat di-andaikan dengan sebuah serangan, tentu saat itu Arya tengah menghadapi serangan dahsyat.
"Pantas betina jahat itu melarikan diri ke-mari. Pantas juga dia berani melakukan tindakan kejahatan. Rupanya dia mempunyai pembela. Su-dah kepalang tanggung usahaku, kau pun harus kulenyapkan, Anak Muda!"
Tanpa mempedulikan Dewa Arak yang ti-dak mengerti ucapan-ucapannya, kakek berjeng-got putih menudingkan jari telunjuk kanannya.
"Menyingkirlah, Anak Muda. Jangan ha-langi tindakanku. Atau, aku terpaksa bertindak kasar terhadapmu."
"Sayang sekali, Kek." Arya tersenyum lebar. "Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu. Aku ti-dak pernah membiarkan kesewenang-wenangan terjadi di depan mataku."
"Kalau begitu, kau lebih dulu yang harus kusingkirkan, Anak Muda!" Kakek berjenggot pu-tih menggeram. Tidak bisa menahan perasaan ti-dak sabarnya. "Lihat! Harimau milikku akan me-nyerangmu...!"
"Uh...?!"
Arya berseru kaget Tiba-tiba muncul seekor harimau putih menerkamnya sambil mengelua-rkan auman keras. Dewa Arak bingung. Harimau besar itu muncul ketika kakek berjenggot putih menudingkan jari telunjuk ke arahnya.
Arya tidak sempat berpikir panjang lagi. Jarak yang terlalu dekat membuat terkaman ha-rimau besar langsung mengancam keselamatan-nya. Tanpa pikir panjang lagi, pemuda berambut putih keperakan itu melompat ke samping dan bergulingan di tanah. Elakannya membuat seran-gan harimau besar itu luput
Dengan kecepatan seorang ahli silat yang luar biasa, Arya melentingkan tubuh dan menjejak tanah dengan kedua kaki. Arya bersiap mengha-dapi serangan selanjutnya.
Tapi, kesiap-siagaan pemuda berambut pu-tih keperakan ini sia-sia. Tidak ada serangan su-sulan. Jangankan harimau putih besar, kakek berjenggot putih itu pun sudah tidak berada di si-
tu lagi. Harimau putih besar lenyap tidak keta-huan ke mana perginya. Sementara kakek ber-jenggot putih telah berada belasan tombak di de-pan, mengejar gadis berpakaian hitam yang telah pergi cukup jauh.
Arya segera sadar kakek berjenggot putih telah mengakalinya dengan mempergunakan ilmu sihir. Harimau besar itu hanya khayalan yang di-ciptakan dengan sepotong ranting kering. Harimau ciptaan itu terwujud ketika kakek berjenggot putih berseru sambil menudingkan jari telunjuknya pa-da ranting kering itu.
Arya segera melakukan pengejaran. Selu-ruh ilmu lari cepatnya dikeluarkan, karena dia melihat sendiri betapa cepatnya lari kakek ber-jenggot putih.
Maksud Arya menyusul kakek itu tidak ke-sampaian. Betapa pun keras usahanya jarak anta-ra mereka tidak berubah. Kakek itu ternyata me-miliki ilmu lari cepat yang tidak berada di bawah kemampuan Arya.
Bahkan akhirnya ketika medan yang dilalui kakek berjenggot putih berupa alang-alang tinggi yang lebat, Dewa Arak kehilangan jejak. Pemuda berambut putih keperakan ini berdiri tegak men-gamati sekelilingnya. Arya memusatkan perhatian pada pendengaran. Barangkali saja bisa menden-gar bunyi-bunyi yang bisa dijadikan petunjuk di mana kakek berjenggot putih berada.
Arya terkejut ketika mendengar suara-suara aneh. Pendengarannya yang tajam menden-garnya secara jelas.
"Arak enak...! Arak Nikmat...! Nyam, nyam, nyammm...!"
Arya tidak segera melesat ke arah asal sua-ra itu. Dia tercenung sebentar, berpikir. Beberapa
saat kemudian, setelah diyakini tidak ada ruginya untuk melihat, pemuda berambut putih keperakan itu melesat ke sana.
Dalam beberapa kali lesatan Arya berhasil menjumpai asal suara itu. Pemuda berambut pu-tih keperakan ini tertegun heran. Ayunan kakinya terhenti.
Dalam jarak sekitar lima tombak, duduk bersandar di bawah sebatang pohon seorang ka-kek berkulit putih seperti dikapur. Pakaiannya tebal. Terbuat dari bulu binatang. Kulit binatang itu juga membungkus kedua tangan, kaki, dan kepalanya. Hanya muka saja yang tidak tertutup.
Arya terheran-heran melihat tingkah kakek berkulit putih. Suasana di persada tengah panas bukan main karena sang surya saat itu berada te-pat di atas kepala. Pada cuaca seperti itu seharus-nya setiap orang berpakaian ringkas kalau tidak ingin kegerahan. Tapi, kakek berkulit putih aneh itu tidak demikian. Bahkan, terlihat beberapa kali kakek itu melipat kedua tangannya di depan dada seperti Orang kedinginan. Aneh!
Tiba-tiba kakek yang sejak tadi menun-dukkan kepalanya mengangkat wajah dan mena-tap ke depan. Meski sebelumnya sudah menduga kakek yang hampir sekujur tubuhnya tertutup pa-kaian bu1u tebal ini bukan orang sembarangan, Arya sempat kaget ketika melihat sepasang mata kakek itu. Mata itu mencorong dan bersinar kehi-jauan seperti mata harimau dalam gelap!
"Tidak usah ragu-ragu, Pendekar Muda." Kakek berpakaian bulu tebal membuka suara. Ti-dak tampak rasa kaget ketika melihat Dewa Arak. Seakan keberadaan pemuda itu sudah diketahui sebelumnya. "Mari minum arak bersamaku!"
Kakek itu menggerakkan tangan seperti
orang mengusir nyamuk. Perlahan sekali seperti tidak mengandung tenaga dalam. Tapi, gelas bam-bu yang ada di dekatnya terangkat ke atas bagai ada kekuatan tidak nampak yang mengangkatnya.
Gelas bambu itu terus melayang naik sam-pai setinggi setengah tombak, lalu berhenti. Ke-mudian, perlahan-lahan gelas bambu itu bergerak miring. Arak yang berada di dalam gelas meluap keluar dan jatuh ke bawah.
Arya yang menyaksikan pertunjukan ini mengetahui arak itu tidak jatuh tepat di mulut kakek berpakaian bulu tebal. Luncuran arak akan membasahi tanah di depan kakek itu.
Tapi, beberapa jengkal sebelum arak men-cucuri tanah, terjadi pemandangan yang membuat wajah Arya berubah. Luncuran arak itu kembali ke atas dengan gerakan melengkung. Kemudian, meluncur ke arah mulut kakek berpakaian bulu tebal secara menyerong ke kanan. Dengan tepat-nya arak itu masuk ke dalam mulut kakek berpa-kaian bulu tebal.
"Mengapa masih berdiam diri, Pendekar Muda?"
Kakek berpakaian bulu tebal kembali men-galihkan perhatian pada Dewa Arak ketika melihat pemuda itu berdiam diri memandangi perbuatan-nya.
Arya belum memberikan tanggapan. Dia ti-dak tahu siapa kakek berpakaian bulu tebal ini, dan berasal dari golongan mana.
"Mungkin kau merasa malu, Pendekar Mu-da. Baiklah, untuk menghilangkan perasaan itu mungkin aku bisa membantumu sedikit."
Kakek berpakaian bulu tebal menudingkan jari telunjuk kirinya pada guci arak yang berada di depannya. Guci arak itu terangkat naik dan me-
layang mendekati gelas bambu yang telah kosong. Begitu berada tepat di atas gelas bambu, guci itu bergerak miring menumpahkan arak ke dalam ge-las. Baru ketika gelas bambu telah penuh, guci itu kembali berdiri seperti berada di atas tanah. Ke-mudian, guci itu melayang turun dan mendarat di tanah dengan pelan. Isinya tidak tumpah sedikit pun.
Kakek berpakaian bulu tebal menggenggam gelas bambu sebentar, lalu dikibaskannya. Gelas bambu yang berisi arak itu meluncur dengan ke-cepatan tinggi ke arah Dewa Arak. Tidak sedikit pun arak memercik keluar dari gelas bambu!
Arya merangkapkan kedua tangan di depan dada, memberi hormat.
"Kau terlalu baik hati, Kek. Sebenarnya aku sedang tidak ingin minum. Tapi, tidak ada sa-lahnya kalau hanya segelas."
Dengan tenang, pemuda berambut putih keperakan itu mengulurkan tangan bersiap mene-rima gelas bambu yang meluncur ke arahnya den-gan kecepatan tinggi.
Tappp!
Gelas bambu itu berhasil ditangkap Arya. Tangan pemuda berambut putih keperakan itu sampai bergetar. Tapi, tidak ada arak yang tum-pah.
Di dalam hatinya, Arya terkejut bukan main. Kakek berpakaian bulu tebal memiliki tena-ga dalam luar biasa. Bukan hanya dari pertunju-kan tenaga dalam yang disaksikannya, tapi juga dari kuatnya lontaran gelas bambu. Arya merasa-kan isi dadanya bergetar.
Meski sebenarnya tidak ingin main-main dengan kakek ini, Arya tidak dapat memendam in-gin tahunya. Timbul keinginan di hati Dewa Arak
untuk menguji dengan tenaga dalam miliknya. Kakek itu sendiri yang telah memulainya. Dia hanya melayani tantangan itu. Keputusan itu membuat Arya menatap wajah kakek berpakaian tebal dengan wajah berseri-seri.
"Terima kasih atas kebaikan hatimu, Kek." Setelah menganggukkan kepala mengu-
capkan terima kasih, Arya menuang gelas bambu yang berisi arak ke mulutnya. Tidak hanya miring, tapi mulut gelas sampai menghadap ke bawah! Kendati demikian arak yang berada di dalam gelas tidak mau tumpah keluar. Memercik pun tidak. Arya membiarkan keadaan ini beberapa saat la-manya.
"Sayang sekali, Kek, rupanya arak ini tidak ingin kuminum. Jadi, aku tidak bisa meneri-manya. Biarlah-kukembalikan padamu!"
Arya menggetarkan tangan yang meng-genggam gelas setelah terlebih dulu membalik-kannya kedudukan mulut gelas. Dari dalam gelas bambu mencelat keluar arak. Tidak berupa cairan, melainkan gumpalan lonjong yang lunak. Arak itu meluncur ke arah kakek berpakaian tebal dalam keadaan bergoyang-goyang.
Kakek berpakaian tebal terkekeh pelan. "Berita yang tersebar mengenai kelihaian-
mu ternyata tidak hanya kabar kosong, Dewa Arak. Kau memang cukup lihai!"
Sambil berkata demikian, kakek berpa-kaian tebal mengulurkan kedua tangan ke depan. Gumpalan Arak yang semula tertuju ke wajahnya telah berganti arah. Kini, meluncur ke bawah me-nuju guci yang tutupnya terbuka. Bak dituangkan, gumpalan arak itu masuk ke dalam guci!
"Terima kasih atas pujianmu, Kek. Sayang sekali aku tidak bisa berlama-lama di sini. Masih
ada urusan lain yang perlu kuselesaikan. Maaf!" Setelah menjura memberi hormat, Arya
membalikkan tubuh dan siap meninggalkan tem-pat itu.
"Tunggu, Dewa Arak...!"


4

Seruan itu terdengar sangat meminta se-hingga Arya tidak tega untuk berlalu. Pemuda be-rambut putih keperakan itu menahan ayunan ka-kinya yang slap dilangkahkan. Tubuhnya kembali dibalikkan.
"Aku akan membiarkanmu pergi apabila kau bersedia menyambut satu seranganku. Apa-kah kau berani, Dewa Arak?" tantang kakek ber-pakaian tebal sebelum Arya membuka suara.
Arya mengernyitkan alis. Dia tidak punya pilihan lain karena kakek yang cerdik itu telah memaksanya dengan menggunakan kata-kata, apakah dirinya berani. Bila Arya menolak, itu be-rarti mengaku takut. Padahal, kata takut merupa-kan pantangan terbesar seorang pendekar!
"Kau tidak memberikan pilihan lain pada-ku, Kek," jawab Arya tersenyum pahit.
"Jadi..., kau bersedia menerima tantangan-ku, Dewa Arak?" Kakek berpakaian tebal terse-nyum penuh kemenangan.
Arya hanya bisa menganggukkan kepala sedikit tanda mengiyakan.
"Bagus! Bersiaplah menerima seranganku ini. Perlu kau ingat, taruhannya adalah nyawamu! Jadi, bersikap sungguh-sungguhlah kalau kau masih ingin menghirup udara dunia ini!"
Lagi-lagi Arya hanya memberikan sambu-
tan berupa senyuman pahit
"Boleh aku mengajukan sebuah permin-taan?"
"Silakan, Dewa Arak." Kakek berpakaian tebal langsung menyanggupi. "Selama aku bisa memenuhinya. Anggap saja ini sebagai imbalan atas kesediaanmu menerima tantanganku."
"Aku hanya ingin tahu, mengapa kau begi-tu ingin bertarung denganku. Juga, siapa kau se-benarnya, Kek?"
"Heh he he...!"
Kakek berpakaian tebal terkekeh. "Pertanyaan-pertanyaan yang bagus, Dewa
Arak. Aku akan menjawab dengan senang hati. Aku mulai dengan siapa diriku ini. Aku tidak sete-nar dirimu, Dewa Arak. Mungkin kau tidak pernah mendengar julukanku. Tapi, sekitar tiga puluh ta-hun yang lalu orang menjulukiku Malaikat Salju!"
Wajah Arya agak berubah mendengar julu-kan itu. Julukan Malaikat Salju telah pernah di-dengarnya dari tokoh-tokoh angkatan tua. Seorang tokoh aneh yang tidak bisa ditebak sifatnya. Tapi yang jelas seorang tokoh golongan putih. Arya ti-dak pernah menyangka akan berjumpa dengan Malaikat Salju. Tokoh yang terkenal sekali pulu-han tahun lalu.
"Aku pernah mendengar julukanmu, Kek. Kau terlalu merendah. Dibandingkan dengan julu-kanmu, julukan yang kumiliki bukan apa-apa," jawab Arya sejujurnya.
"Lupakanlah." Kakek berpakaian tebal mengibaskan tangan. "Maksudku bermain-main denganmu hanya karena keisengan belaka. Aku tertarik mendengar dunia persilatan gempar den-gan kemunculanmu. Ingin kubuktikan sendiri ke-lihaian seorang tokoh yang mempunyai julukan
demikian menggemparkan."
"Hanya itu, Malaikat Salju?" desak Arya menyebut julukan kakek berpakaian tebal.
Arya tidak merasa heran seandainya Ma-laikat Salju menganggukkan kepala membenarkan pertanyaannya. Pemuda ini telah memiliki penga-laman luas. Di dunia persilatan banyak tokoh-tokoh sakti yang mempunyai watak aneh. Misal-nya, keranjingan bertarung untuk menentukan siapa yang lebih unggul, meski taruhannya nyawa yang melekat di badan
Malaikat Salju menggelengkan kepala. "Tidak hanya itu, Dewa Arak. Aku menan-
tangmu bertarung karena ingin merasakan sendiri kelihaianmu yang dapat mengalahkan murid adik kandungku."
"Siapa orang yang kau maksudkan, Malai-kat Salju?"
"Panangkaran..." "Panangkaran?!"
"Lelaki bermata sebelah yang belum lama kau kalahkan." Malaikat Salju menambahkan ke-terangannya.
Kali ini Arya tidak kebingungan lagi. Pe-muda berambut putih keperakan ini langsung te-ringat.
"Kurasa masalahnya sudah jelas. Sekarang bersiaplah, Dewa Arak!"
Malaikat Salju lalu duduk bersila. Arya mengikuti tindakan kakek berpakaian tebal. Ia ti-dak berani memandang rendah karena telah bisa mengira-ngira Malaikat Salju merupakan lawan yang amat tangguh.
Malaikat Salju tidak mempedulikan sikap Dewa Arak. Bahkan, seperti tidak melihat kalau pemuda berambut putih keperakan itu telah siap
untuk bertarung. Dengan caranya yang luar biasa kakek itu mengisi dua buah gelas bambu di de-katnya dengan arak hingga penuh. Kemudian, di-genggamnya gelas bambu itu dengan kedua tan-gan.
"Aku sudah sangat tua, Dewa Arak. Usiaku sudah lebih dari seratus tahun. Jadi, bisa kau perkirakan sendiri urat-urat dan tulang-tulangku telah lemah. Aku tak akan kuat bertanding ilmu silat. Maka, aku hanya bisa mengajakmu berta-rung seperti ini."
Tanpa menunggu jawaban Dewa Arak dan seperti tidak membutuhkan persetujuan pemuda itu, Malaikat Salju menggerakkan pahanya ke ba-wah. Bagaikan memiliki roda pada pantatnya, tu-buh kakek berpakaian tebal ini meluncur ke arah Dewa Arak dalam keadaan masih bersila! Tanah yang bergurat mengeluarkan kepulan debu cukup tebal.
Arya tidak mau kalah gertak. Ia melakukan hal yang sama. Hingga, mereka saling mendekat dengan cara yang luar biasa. Tepat di pertengahan jalan, dalam jarak sekitar tiga jengkal, Dewa Arak dan Malaikat Salju menghentikan gerakannya.

***

"Aku tidak mengerti permainan yang kau maksudkan ini, Malaikat Salju. Bisakah kau memberi penjelasan?" Arya membuka pembica-raan.
"Kurasa tidak perlu, Dewa Arak! Nanti pun kau akan mengerti sendiri."
Arya mengernyitkan alis, masih bingung dengan aturan permainan Malaikat Salju. Kakek berpakaian tebal yang rupanya tidak sabaran itu
memulai permainan. "Tangkap ini!"
Cepat Malaikat Salju menghantamkan dua buah gelas bambu yang digenggamnya ke dada Dewa Arak. Keras bukan main sehingga mengelua-rkan bunyi berdecit nyaring.
Tap, tappp!
Dewa Arak yang tidak mau mati konyol langsung menangkis dengan cara mencengkeram gelas-gelas bambu itu. Tangkisan Arya tidak mem-buat arak yang berada di dalam gelas berpercikan. Arak itu seakan telah bersatu dengan gelas.
Begitu mencekal gelas, Dewa Arak baru mengerti mengapa kakek berpakaian tebal mem-punyai julukan Malaikat Salju. Ia merasakan ge-lombang hawa dingin yang mengalir dari kedua tangan Malaikat Salju kemudian masuk ke dalam gelas dan terus merasuk ke dalam tubuhnya.
Arya segera mengerahkan tenaga dalam. Dari pusarnya mengalir keluar hawa panas yang menghalangi hawa dingin merasuk ke dalam tu-buhnya.
Pertarungan adu tenaga dalam yang mene-gangkan terjadi. Pertarungan yang dilakukan den-gan perantara gelas-gelas bambu berisi arak.
Dua tokoh persilatan yang berbeda usia dan jenis tenaga dalam itu tak sungkan-sungkan lagi mengerahkan seluruh kemampuannya. Udara di sekitar tempat mereka berada jadi berubah-ubah. Terkadang panas seakan di tempat itu telah terjadi kebakaran besar. Tapi tak jarang menyebar hawa dingin seakan-akan tempat itu puncak gu-nung yang tinggi
Yang merasakan akibat langsung pertarun-gan tenaga dalam itu adalah gelas-gelas bambu berisi arak. Arak yang berada di dalam gelas beru-bah-ubah. Sesekali bergolak mendidih dan di lain
saat membeku seperti es.
Semakin lama pertarungan unik ini sema-kin menegangkan. Wajah kedua tokoh itu tampak berubah. Wajah Dewa Arak merah padam dan ba-nyak dipenuhi peluh yang mengucur. Sedangkan wajah Malaikat Salju semakin pucat bagai mayat! Perlahan-lahan dari atas kepala Dewa Arak dan Malaikat Salju mengepul uap. Mula-mula tipis dan sedikit, tapi kian lama menebal dan banyak. Mere-ka telah mengeluarkan tenaga melewati batas ke-mampuan. Akhir dari pertarungan ini adalah maut! Yang kalah akan tewas, sedangkan yang menang akan terluka dalam amat parah.
Prakkk, prakkk!
Di saat asap yang mengepul dari kepala Dewa Arak dan Malaikat Salju semakin menebal, gelas-gelas bambu itu hancur berkeping-keping mengeluarkan bunyi keras.
Arak yang berada di dalam kedua gelas itu berpercikan keluar. Keadaan arak itu masih cair. Dewa Arak maupun Malaikat Salju tidak mampu lagi saling mengungguli.
"Huakh...!"
Hampir berbarengan tubuh Malaikat Salju dan Dewa Arak terbungkuk ke depan memuntah-kan darah segar. Hancurnya gelas-gelas bambu itu karena tak kuat menahan getaran tenaga dalam yang luar biasa. Akibatnya, tenaga dalam kedua belah pihak saling membalik dan melukai pemilik-nya.
"Kau hebat, Dewa Arak. Aku mengaku ka-lah," ujar Malaikat Salju penuh kagum. Kakek berpakaian tebal ini terengah-engah karena luka yang diderita.
"Kau terlalu merendah, Malaikat Salju. Akulah yang kalah," sambut Arya tak kalah ka-
gum. Deru napas pemuda ini pun memburu hebat. Hanya sampai di situ saja Dewa Arak dan Malaikat Salju berbicara. Kemudian, keduanya memejamkan mata dan bersemadi untuk me-nyembuhkan luka dalam tubuhnya. Mereka sadar kalau tidak lekas diobati akan membahayakan ke-selamatan jiwa. Dewa Arak dan Malaikat Salju
tenggelam dalam keheningan semadi.
Belum lama Dewa Arak dan Malaikat Salju bersemadi terdengarlah suara tawa bergelak. Tawa yang mengandung getaran amat kuat dan mampu membangunkan kedua tokoh itu dari semadinya.

***

"Panangkaran...!"
Hampir bersamaan Dewa Arak dan Malai-kat Salju menggumamkan nama itu.
"Benar aku. Kalian kaget?" sambut Pa-nangkaran gembira. Pandang mata lelaki bermata satu ini langsung bisa mengetahui kalau Dewa Arak dan Malaikat Salju telah terluka dalam. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Malaikat Salju menatap Dewa Arak. Dalam sorot mata kakek ini tampak sinar penyesalan. Seperti juga dirinya, Dewa Arak dalam keadaan ti-dak berdaya. Dengan mudah saja Panangkaran akan mengirim nyawa pemuda itu ke alam baka. Itu terjadi karena Dewa Arak terpaksa meladeni tantangannya. Mau tidak mau Malaikat Salju me-rasa bertanggung jawab.
"Apa maksud ucapanmu, Panangkaran?!" bentak Malaikat Salju penuh wibawa. "Pergi kau dari sini! Apakah kau tidak ingat siapa gurumu?"
Panangkaran malah tertawa mengejek, Ta-wa yang mengandung lecehan terhadap peringatan
Malaikat Salju.
"Lebih baik kau tidak usah ikut campur, tua bangka tak berguna!" Tajam dan keras sambu-tan Panangkaran. "Diam lebih baik bagimu dari-pada aku jadi melupakan siapa adanya kau. Men-gingat hubungan antara kau dengan guruku, ma-ka aku tidak akan membawa-bawamu dalam per-soalanku. Tapi apabila kau ingin ikut campur, jangan salahkan aku!"
Panangkaran salah kalau mengira dengan gertakan itu Malaikat Salju akan diam. Kakek ber-pakaian, tebal ini terkekeh mendengar ancaman Panangkaran.
"Kau keliru kalau mengira dengan gertak sambal itu aku akan diam, Panangkaran! Bagi orang sepertiku, mati bukan sesuatu yang mena-kutkan. Malah aku senang. Dengan demikian aku akan terbebas dari tubuh tua yang mulai tidak berguna ini, Ayo, Panangkaran. Tunggu apa lagi? Bunuh aku! Buktikan ancamanmu yang hebat itu!" Malaikat Salju malah mengajukan tantangan.
Panangkaran menggertakkan gigi dengan perasaan geram. Wajahnya merah padam. Ucapan Malaikat Salju telah membuat amarahnya berko-bar. Sepasang mata lelaki itu memancarkan hawa maut ketika menatap wajah Malaikat Salju yang tetap tenang. Hanya sampai di situ saja tindakan-nya. Panangkaran tidak berani bertindak lebih lanjut.
Meski demikian, Malaikat Salju dan Dewa Arak sebagai orang-orang yang telah kenyang pen-galaman menyadari betul ketidakberanian Pa-nangkaran untuk melakukan tindakan keras ter-hadap Malaikat Salju tidak bisa dijamin. Apabila kemarahan demikian memuncak, bukan tidak mungkin Panangkaran akan membuktikan anca-
mannya.
"Rupanya kau merasa gentar terhadapku, Panangkaran, sehingga mengalihkan ancaman pa-da Malaikat Salju. Bukankah kau mempunyai urusan denganku? Tunggu apa lagi? Mengapa ti-dak segera kau selesaikan persoalan di antara ki-ta?"
Dewa Arak memecah ketegangan yang me-nyeruak antara Malaikat Salju dan Panangkaran. Ia merasa khawatir kakek berpakaian tebal itu akan tewas di tangan Panangkaran.
Bukan hanya Panangkaran saja yang me-noleh, tapi juga Malaikat Salju. Ucapan Dewa Arak membuat Panangkaran teringat kembali akan dendamnya dengan pemuda berambut putih kepe-rakan itu. Sedangkan Malaikat Salju hanya bisa menghela napas berat. Kakek ini tahu Dewa Arak ingin menyelamatkan dirinya. Hal ini membuat kekagumannya terhadap pemuda itu semakin ber-tambah. Seorang pendekar muda yang hebat, puji Malaikat Salju di dalam hati.
Sementara itu Dewa Arak tetap bersikap tenang sekalipun pandangan mata Panangkaran seperti hendak menelannya bulat-bulat. Tanpa merasa takut sedikit pun pemuda ini membalas tatapannya.
"Kau benar." Panangkaran menggumam se-raya mengangguk. "Kita memang mempunyai uru-san."
Panangkaran tiba-tiba mengibaskan tangan kirinya secara sembarangan. Angin deras berhem-bus melemparkan tubuh Arya ke belakang bagai daun kering ditiup angin. Hampir delapan tombak tubuh pemuda itu melayang-layang sebelum ter-banting keras di tanah.
Arya menyeringai kesakitan. Ia tidak berani
mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi tu-buhnya saat terjatuh. Bahkan, ketika Panangka-ran tadi menyerangnya dengan kibasan tangan. Mengerahkan tenaga dalam sama artinya dengan membunuh diri. Luka dalam yang dideritanya akan bertambah parah.
"Panangkaran! Pengecut keji! Hentikan...!" Malaikat Salju berteriak-teriak melihat siksaan terhadap Dewa Arak akan dimulai.
Panangkaran tampaknya tidak ingin lang-sung membunuh Dewa Arak. Ia ingin menyiksa pemuda itu dahulu. Sedangkan serangan yang di lakukan Panangkaran pertama kali tadi hanya un-tuk membuat tubuh Arya terlempar dan terbant-ing.
Panangkaran tidak mempedulikan seruan Malaikat Salju. Dengan langkah lebar, lelaki ber-mata satu ini menghampiri Dewa Arak. Siap me-lancarkan serangan susulan.
Berbeda dengan Malaikat Salju yang terli-hat kalap, Arya tenang-tenang saja. Bahkan, keti-ka tubuhnya diangkat dan dibantingkan ke tanah.
Panangkaran memang benar-benar hendak melampiaskan dendamnya. Begitu tubuh Arya menyentuh tanah, kembali diangkat dan dibanting dengan keras. Berkali-kali hal itu dilakukan sam-pai akhirnya Dewa Arak pingsan!
Kemudian, tanpa mempedulikan Malaikat Salju yang sejak Dewa Arak disiksa tak henti-hentinya memaki Panangkaran, lelaki bermata sa-tu ini menyadarkan Arya dengan wewangian dari guci yang dibawanya.
Bau wangi yang keras membuat pemuda berambut putih keperakan itu sadar. Panangkaran segera menyeret tubuh Arya. Makian-makian Ma-laikat Salju mengiringi langkah Panangkaran yang
membawa tubuh Dewa Arak meninggalkan tempat itu.

5

Arya menyeringai kesakitan ketika tersadar dari pingsan dan membuka sepasang matanya. Sekujur tubuhnya terasa sakit-sakit dan perih bu-kan main.
Arya berusaha untuk bangkit tapi tidak mampu. Ada sesuatu yang membuat tubuhnya ti-dak bisa bangun. Ketika menelitinya, ternyata pa-da pergelangan tangan dan kaki terlilit belenggu baja yang amat tebal! Belenggu yang sama juga melilit perutnya. Belenggu-belenggu itu menempel pada lantai.
Semula Arya merasa heran melihat kea-daan ini. Tapi, sesaat kemudian dia mulai teringat kejadian yang telah dialaminya. Sekarang dia da-pat men-duga semua ini adalah perbuatan Pa-nangkaran.
Arya mencoba bersikap tenang, meski di-am-diam merasa ngeri melihat ruangan tempat di-rinya berada. Lantai tempatnya terbaring kotor dan dipenuhi lumut. Hidung Arya mencium bau amis yang memuakkan. Bau amis darah. Pada se-bagian dinding dan lantai ruangan terdapat ber-cak-bercak darah kering. Tidak ada jendela pada dinding ruangan. Sehingga, tidak ada cahaya dan aliran udara segar. Ruangan ini lembab dan uda-ranya pengap. Hanya ada obor di sudut ruangan dekat pintu yang membuat suasana di dalam se-dikit lebih baik. Satu-satunya jalan keluar adalah pintu yang kini tertutup rapat. Ruangan ini lebih mirip kamar penyiksaan.
Sayup-sayup telinga Arya menangkap sua-
ra langkah kaki. Kedengarannya lebih dari satu orang. Langkah-langkah itu menghilang di depan pintu kamar. Sesaat kemudian, terdengar suara orang bercakap-cakap. Arya tidak dapat menang-kap dengan jelas. Setelah terdengar suara geme-rincing kunci dan pintu dibuka, perlahan pintu kamar didorong dari luar.
Arya memalingkan wajahnya menatap ke arah pintu. Ketika pintu telah terbuka lebar, tam-paklah dua sosok tubuh berdiri di ambang pintu. Mereka tidak segera melangkah masuk, seakan in-gin memastikan apakah keadaan di dalam ruan-gan cukup aman. Mata mereka tertuju pada tubuh Arya yang terbaring di lantai.
Arya mengenali kedua sosok tubuh itu. Yang seorang adalah Panangkaran. Sedang gadis yang mengenakan pakaian serba hitam dan berdiri di samping Panangkaran ialah gadis yang pernah ditolongnya ketika dikejar-kejar kakek berjenggot panjang putih beberapa saat lalu.
Gadis itu menatap ke arahnya dengan si-nar mata heran bercampur kaget. Matanya mem-belalak lebar seakan tak percaya. Gadis itu tetap terpaku di tempatnya ketika Panangkaran menga-jaknya masuk ke dalam ruangan. Sehingga, Pa-nangkaran menjadi heran dan berpaling menatap-nya dengan penuh selidik.
"Kenapa, Pertiwi?" tanya lelaki bermata sa-tu itu.
"Tidak apa-apa, Ayah;" Pertiwi cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Hm...." Panangkaran hanya menggumam pelan dan tidak mendesak lebih jauh. Pandangan-nya dialihkan ke arah sosok Arya.
Pertiwi sadar kendati Panangkaran tidak memperpanjang masalah itu, tapi tidak berarti ke-
curigaan lelaki bermata satu itu lenyap. Panang-karan belum puas dengan jawaban yang diberi-kannya.
"Rasanya aku pernah mengenalnya, Ayah." Pertiwi membuka percakapan ketika mereka telah menghentikan ayunan kaki di depan tubuh Dewa Arak. Jarak antara anak dan ayah itu dengan ujung kaki Arya hanya dua jengkal.
"Begitukah?"
Datar saja pertanyaan yang dilontarkan Panangkaran seraya menatap Pertiwi yang berdiri di sebelahnya.
"Kau tahu siapa pemuda sombong ini?" Perlahan-lahan Pertiwi menggelengkan ke-
pala.
"Tidak, Ayah. Jangankan mengenalnya, bertemu saja baru sekali. Itu pun hanya sekeleba-tan. Aku tengah tergesa-gesa karena dikejar-kejar Dewa Obat Tangan Sakti."
"Dia seorang pendekar muda yang som-bong, Pertiwi!" Tandas Panangkaran berapi-api. "Seorang yang merasa paling sakti. Jadi, suka mencampuri urusan orang lain. Belum lama ini aku dilukainya saat hampir berhasil membunuh Bagas Pati!"
"Ah....!"
Seruan kaget itu terlontar dari mulut Per-tiwi. Gadis berpakaian hitam ini tahu betul tingkat kepandaian ayahnya. Kalau Panangkaran sampai kalah dan berhasil dilukai, bisa diperkirakan oleh Pertiwi tingkat kepandaian pemuda berambut pu-tih keperakan itu!

***
"Kau kaget, Pertiwi?"
Ucapan Panangkaran membuat Pertiwi kembali mengalihkan perhatian pada ayahnya.
"Terus terang ya, Ayah." Gadis berpakaian hitam itu membenarkan. "Rasanya sukar diper-caya ada orang yang mampu mengalahkan Ayah. Apalagi orang itu masih muda."
"Kau akan lebih kaget lagi kalau tahu siapa dia sebenarnya, Pertiwi."
"Siapa dia, Ayah?" Pertiwi tidak sabar un-tuk segera mengetahui siapa pemuda berpakaian ungu yang luar biasa itu. Yang diam-diam telah menimbulkan rasa simpati di hati Pertiwi, sejak pertama kali melihatnya ketika dengan gagah be-rani menghadang Dewa Obat Tangan Sakti.
"Apakah kau pernah mendengar tentang seorang pendekar muda yang julukannya meng-gemparkan dunia persilatan?" Panangkaran malah balik bertanya.
Pertiwi terdiam sejenak. Kemudian, wajah-nya berubah hebat. "Maksud Ayah? Dewa Arak...?!" Pertiwi terbata-bata karena tidak yakin dengan dugaannya.
Gadis itu menatap Dewa Arak dengan se-pasang mata membelalak lebar. Julukan Dewa Arak telah lama didengarnya. Tokoh muda yang memiliki kepandaian tinggi. Ditakuti lawan dan disegani kawan. Tak terhitung tokoh-tokoh hitam yang roboh di tangannya. Ia sungguh tidak me-nyangka bisa bertemu dengan Dewa Arak. Untuk beberapa saat gadis berpakaian hitam ini tertegun begitu Panangkaran mengangguk, membenarkan dugaannya.
"Dan sekarang, Pertiwi." Panangkaran membuka suara lagi. "Dewa Arak yang terkenal di dunia persilatan itu tak berdaya. Nyawanya berada
di tanganku. Sebentar lagi nama Panangkaran akan terkenal sebagai orang yang telah mene-waskan Dewa Arak! Namaku akan membubung tinggi. Ha ha ha...!"
Pertiwi ikut tertawa meski sebenarnya ti-dak ingin melakukannya. Untuk pertama kalinya Pertiwi yang sudah terbiasa membunuh dan me-nyiksa merasa tidak rela mendengar musuh ayah-nya akan tewas. Pertiwi tidak tahu mengapa se-babnya. Yang jelas, dia tidak ingin Dewa Arak te-was atau tersiksa. Apalagi mati dengan cara men-gerikan. Pertiwi benar-benar tidak rela!
"Lalu,.., apa yang hendak Ayah lakukan terhadapnya? Membunuhnya?"
"Itu sudah pasti, Pertiwi. Tapi tentu saja ti-dak semudah itu. Dewa Arak telah berani men-campuri urusanku. Bahkan, dia telah melukaiku. Sebagai balasannya, dia akan mati dengan cara yang amat mengerikan. Dia akan mati secara per-lahan-lahan, Pertiwi. Ha ha ha...!"
Untuk kedua kalinya Pertiwi tergelak. Bah-kan, tawa gadis berpakaian hitam ini lebih keras daripada ayahnya.
"Kau boleh saksikan pertunjukan menarik ini, Pertiwi. Lihatlah bagaimana kelabang-kelabang merah akan membuat Dewa Arak tersiksa sebelum mati secara mengenaskan. Ha ha ha...!"
Dengan derai tawa dari mulutnya, Panang-karan membuka tutup bumbung rotan yang sejak tadi dipegang dengan tangan kanannya. Pertiwi menyembunyikan rasa ngeri yang menggayut di hati. Belasan ekor kelabang berlompatan keluar dari lubang bumbung rotan,
Derai tawa Panangkaran mengiringi gerak kelabang-kelabang merah yang saling berlomba mendekati tubuh Dewa Arak. Kegembiraan mem-
bayangkan siksaan yang akan dialami Dewa Arak membuat Panangkaran tidak melihat suatu kegan-jilan. Pertiwi yang biasanya paling suka melihat orang tersiksa kali ini tidak memperlihatkan ke-gembiraan sedikit pun. Gadis berpakaian hitam itu memang tertawa. Tapi, tawanya sumbang dan je-las kedengaran karena terpaksa.
Panangkaran tidak melihat ketika wajah Pertiwi menegang hebat saat belasan ekor kela-bang merah sudah berada dekat dengan Dewa Arak.
Bukan hanya Pertiwi saja yang merasa nge-ri. Dewa Arak pun demikian. Hanya saja pemuda berambut putih keperakan ini pandai menguasai perasaannya. Sehingga, tidak terlihat gambaran perasaan apa pun pada wajahnya.
Kendati hanya bisa menduga kelabang-kelabang merah itu memiliki racun ganas dari bau amis yang memuakkan ketika mereka keluar dari bumbung, Dewa Arak menyadari benar bahaya be-sar tengah mengancamnya. Pemuda ini tahu Pa-nangkaran tidak bicara bohong dengan ancaman-nya tadi.
Meski demikian, Dewa Arak tidak putus asa. Tenaga dalamnya telah pulih seperti sediakala sehingga belenggu-belenggu itu bukan apa-apa baginya. Sayang, Panangkaran mengetahui hal itu. Lelaki bermata satu yang tidak ingin pendekar muda yang dimusuhinya itu bebas telah menotok-nya hingga Dewa Arak tidak bisa mengerahkan te-naga dalam.
Tapi, totokan itu dilakukan sudah cukup lama. Sejak Panangkaran dan Pertiwi tiba Arya merasakan pengaruh totokan mulai membuyar. Kini, menyadari adanya ancaman terhadap di-rinya, Arya mengerahkan tenaga dalam agar toto-
kan itu lebih cepat punah.
Dengan hati berdebar tegang Arya mem-buat perhitungan. Pemuda berambut putih kepe-rakan ini yakin semua jalan darahnya akan pulih seperti sediakala sebelum kelabang yang paling dulu bergerak menggigit tubuhnya. Arya yakin akan bisa selamat dari kelabang-kelabang itu.
"Hampir aku lupa!" Panangkaran yang memperhatikan dengan penuh minat dan wajah berseri-seri pada kelabang-kelabang berseru kaget. Lelaki bermata satu ini mengalihkan perhatian pada Dewa Arak. Jari telunjuk kanannya lalu di-tudingkan ke depan.
Arya mengeluh dalam hati ketika merasa-kan sekujur tubuhnya kembali lemas. Panangka-ran yang teringat akan totokannya merasa khawa-tir saat itu pengaruh totokan telah membuyar. Ia kemudian mengirim totokan dari jauh pada bahu kanan Arya.
Tepat pada sekujur tubuh Arya kembali lemas, seekor kelabang menggigit pergelangan kaki kanan pemuda itu. Seringai kesakitan tampak di bibir Arya. Kalau saja saat itu ia tidak berada da-lam keadaan tertotok, mungkin tubuhnya akan terguncang karena rasa sakit yang mendera.
Arya merasakan sakit dan pedih. Yang mengejutkan, sesaat kemudian pada bagian yang tergigit timbul rasa gatal yang sangat. Rasa gatal yang membutuhkan gerakan tangan. Karena saat itu ia tidak bisa bergerak, rasa gatal itu pun me-nimbulkan perasaan tersiksa.
Belum juga perasaan itu lenyap, kelabang-kelabang lainnya telah menggigit pula. Rasa sakit, pedih, dan panas seperti terbakar terus dirasakan Arya.
Sehabis menggigit, kelabang-kelabang itu
berjalan-jalan di sekujur tubuh Arya. Padahal, se-tiap kulit manusia yang tersentuh dengan tubuh bagian bawah binatang itu bagaikan terkena ulat bulu yang paling gatal. Sehingga, tidak hanya me-nimbulkan perasaan gatal yang menyiksa, tapi ju-ga membuat kulit Arya bentol-bentol besar.
Hanya dalam sebentar saja sekujur tubuh Arya sudah tidak utuh lagi. Yang paling menge-naskan pada bagian wajah. Bentol-bentol besar membuat sepasang mata Arya sipit. Wajah itu ber-semu kehijauan, pertanda keracunan hebat!
Meski rasa sakit yang hebat melanda, Arya mampu menunjukkan kalau dirinya bukan orang cengeng. Tak sedikit pun keluhan keluar dari mu-lutnya.
Panangkaran yang memperhatikan seluruh kejadian itu diam-diam merasa kagum. Tapi, lelaki bermata satu ini tidak menunjukkannya. Ia terus tertawa gembira.
Tawa Panangkaran baru lenyap ketika De-wa Arak pingsan karena tak kuat menahan sik-saan. Tentu saja hal itu membuat Panangkaran kehilangan kegembiraannya. Tanpa banyak bicara lagi dan dengan membayangkan kepuasan hati, tubuhnya dibalikkan dan berjalan keluar ruangan.
Pertiwi yang telah bisa menguasai pera-saannya dan berpura-pura gembira mengikuti langkah ayahnya. Ditinggalkannya kelabang-kelabang merah yang masih berpesta dengan tu-buh Dewa Arak

***

"Turunkan aku. Harap turunkan aku. Aku bisa berjalan sendiri...!"
Seruan-seruan itu tidak terlalu keras. Pe-
miliknya tengah berada dalam keadaan lemah. Ta-pi, cukup untuk membuat gadis berpakaian hitam yang tengah berlari cepat menghentikan larinya dan menurunkan tubuh yang dipanggulnya. Sosok yang berada di bahu kanan gadis berpakaian hi-tam itulah yang mengeluarkan seruan.
Kini ia berdiri di tanah dengan kedua kaki. Sosok ini seorang pemuda berpakaian ungu dan berambut putih keperakan. Mengingat bentuk tu-buhnya yang tegap dan kekar, tentu ia memiliki wajah yang tampan. Tapi, ternyata tidak. Wajah itu buruk karena dipenuhi bentol-bentol besar. Sepasang matanya yang mencorong kehijauan se-perti mata harimau dalam gelap hampir tidak ter-lihat. Yang lebih mengerikan, wajah pemuda ber-pakaian ungu itu bersemu kehijauan. Pemuda ini tidak lain Arya Buana alias Dewa Arak.
"Mengapa kau menolong aku, Pertiwi?" tanya Arya lemah. Ditatapnya wajah gadis berpa-kaian hitam itu lekat-lekat. Arya sejak tadi me-mang diam saja dan membiarkan Pertiwi memba-wanya kabur.
Pertanyaan itu membuat Arya teringat kembali akan kejadian tadi. Dia baru saja tersadar ketika Pertiwi masuk ke dalam ruangan tempatnya ditahan. Sebelum Arya sempat bicara sesuatu, ga-dis berpakaian hitam itu telah lebih dulu memberi isyarat agar Arya jangan berisik.
Dengan hati-hati, karena takut diketahui, Pertiwi menyingkirkan kelabang-kelabang merah dari tubuh Arya. Kemudian, dibukanya belenggu di kedua pergelangan tangan dan kaki. Lalu Perti-wi membawa kabur pemuda berambut putih kepe-rakan itu.
Pertiwi yang tidak menyangka akan men-dapat pertanyaan seperti itu menjadi gugup. Wa-
jahnya memerah sehingga membuat kecantikan-nya semakin tampak.
"Aku... aku.., eh... maksudku..., aku ingin membalas hutang budi yang telah kau berikan pa-daku." Meski dengan terbata-bata Pertiwi berhasil menyampaikan alasannya.
"Maksudmu..., di waktu kau dikejar-kejar kakek berpakaian putih, Pertiwi?" Tanpa ragu-ragu Arya menyapa gadis berpakaian hitam itu dengan namanya. Ia tahu nama gadis itu karena mendengar percakapan Pertiwi dengan Panangka-ran.
"Benar, Dewa Arak." Pertiwi mengangguk-kan kepala. Suaranya kali ini tidak gemetar lagi.
"Panggil saja aku Arya, Pertiwi. Perlu kau ketahui, waktu itu aku akan menolongmu tidak untuk mengharapkan balas jasa. Itu memang su-dah tugasku. Jadi, tidak perlu kau memaksakan diri untuk membalas budi. Apalagi, sampai mengkhianati ayahmu sendiri."
"Tapi, De..., eh, Arya. Apabila aku men-diamkan saja kau akan tewas di tangan Ayah. Aku akan menyesal seumur hidup. Dan perlu kau ta-hu, Arya, aku tidak pernah membiarkan orang menghutangkan budi padaku tanpa aku memba-lasnya."
Arya hanya mengangguk-anggukkan kepa-la. Sementara Pertiwi merasa lega karena Arya ti-dak mendesaknya lagi. Terus berdusta terhadap Dewa Arak yang memiliki sepasang mata tajam seperti mampu membaca pikiran orang bukan perbuatan yang mudah!
Memang, Pertiwi berdusta dengan alasan-nya menolong Dewa Arak. Seorang seperti Pertiwi yang sejak kecil dididik kejahatan, mana mungkin memikirkan balas budi terhadap orang yang per-
nah menolongnya? Itu tidak ada dalam kamus hi-dup Pertiwi! Bahkan, gadis berpakaian hitam ini tidak segan-segan membalas budi orang dengan kejahatan!
"O iya, Arya. Hampir saja aku lupa." "Apa yang kau lupakan, Pertiwi?"
"Ini." Pertiwi mengangsurkan sebuah guci kecil yang mulutnya tersumbat sejenis kain dari kulit binatang. "Oleskan cairan ini dengan merata pada sekujur tubuhmu, terutama pada bagian-bagian yang bentol. Kalau tidak, bentol-bentol itu akan membusuk seperti layaknya daging orang yang telah meninggal."
"Ah...!"
Arya sampai mengeluarkan seruan kaget Pemuda berambut putih keperakan itu tidak me-nyangka sedahsyat itu akibat yang akan diteri-manya. Maka, tanpa ragu-ragu lagi Arya menerima guci itu. Kemudian, dibawanya ke kerimbunan semak yang berada tak jauh dari situ.
Pertiwi sendiri sehabis memberikan guci itu mengalihkan pandangan ke arah tadi dia datang. Arah pandangannya tertuju pada tempat ayahnya berada. Tempat di mana Arya disiksa.
Tanpa sepengetahuan Arya, karena Pertiwi dengan pandainya mampu menyembunyikan pe-rasaan, Pertiwi merasa khawatir bukan main. Ba-nyak hal yang dicemaskannya. Satu di antaranya adalah apabila ayahnya mengetahui Dewa Arak te-lah lolos! Panangkaran pasti akan melakukan pen-gejaran, juga gurunya. Keberhasilan Pertiwi mem-bawa kabur Dewa Arak adalah karena kebetulan Panangkaran sedang sibuk menyambut kedatan-gan gurunya.

***
6

"Pembunuh keji! Kiranya kau berada di si-ni... Mampuslah!"
Teriakan nyaring yang sarat dengan kema-rahan itu mengejutkan Pertiwi. Keterkejutan itu bercampur rasa khawatir ketika mengetahui asal seruan itu dari tempat Dewa Arak berada.
Tanpa membuang-buang waktu lagi Pertiwi melesat ke dalam kerimbunan semak. Ia tidak khawatir kalau-kalau Arya tengah melepas pa-kaian untuk mengoleskan cairan. Kekhawatiran akan nasib pemuda berpakaian ungu itu lebih be-sar dari segalanya.
Pertiwi agak terperanjat ketika telah berha-sil menerobos kerimbunan semak. Meski cukup lebat dan lebar ternyata di balik semak-semak itu terdapat lapangan rumput yang luas!
Brakkk!
Hiruk-pikuk dari semak-semak yang bera-da di dekat situ membuat gadis berpakaian hitam terjingkat kaget. Pertiwi baru saja menjejakkan se-pasang kakinya di tanah ketika bunyi hiruk-pikuk terjadi. Pertiwi langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling mencari Arya. Hati gadis berpakaian hitam ini menjadi lega ketika melihat Arya bergu-lingan di tanah. Arya selamat!
Ternyata pemilik bentakan telah melancar-kan pukulan jarak jauh terhadap Dewa Arak. Na-mun, gagal karena pemuda berambut putih kepe-rakan itu sempat menggulingkan tubuh untuk menyelamatkan selembar nyawanya. Saat Arya masih bergulingan di tanah, sosok itu melompat dan menerjang bagai seekor harimau. Jari-jarinya terkembang membentuk cakar!
Arya yang masih bergulingan di tanah,
mengetahui ancaman maut ini. Pemuda berambut putih keperakan itu sadar jika mengelak tidak mungkin dilakukan, menangkis pun hanya akan membuat nyawanya melayang ke alam baka. Te-naga dalamnya telah lenyap.
Tapi, malaikat maut rupanya belum ingin berjumpa dengan Arya. Di saat yang amat gawat bagi keselamatan pemuda itu, Pertiwi melompat dengan kecepatan menakjubkan. Ia memapaki terkaman pemilik bentakan yaitu seorang pemuda berpakaian coklat
Bresss!
Benturan keras yang menggetarkan sekitar tempat itu langsung terjadi. Tubuh kedua orang itu terjengkang ke belakang dan jatuh terguling-guling di tanah.
Namun, dengan gerakan sederhana Pertiwi maupun pemuda berpakaian coklat mampu me-matahkan kekuatan yang membuat tubuh mereka bergulingan. Keduanya bangkit berdiri meski den-gan pandangan nanar.
"Siapa kau, Nona? Mengapa melindungi penjahat keji itu?" tanya pemuda berpakaian cok-lat setelah melempar pandangan kagum melihat orang yang menangkis serangannya seorang gadis muda. Cantik lagi.
"Siapa aku tidak perlu kau tahu! Yang je-las, apabila kau bermaksud bertindak curang dan secara tak tahu malu ingin membunuh dia, aku tidak akan tinggal diam! Kau harus melangkahi mayatku dulu sebelum maksudmu terlaksana!" penuh semangat dan berapi-api Pertiwi menyam-buti ucapan pemuda berpakaian coklat yang nama sebenarnya Patuka.
Pemuda berpakaian coklat terperanjat mendengar kata-kata yang lantang itu. Di samping
bersemi perasaan kagum yang besar terhadap Per-tiwi. Gadis itu memang cantik bukan main! Apala-gi ketika dalam keadaan penuh semangat. Terlihat cantik dan gagah.
"Nona," Suara Patuka mulai melunak. Ia ti-dak ingin terlibat pertarungan dengan gadis ber-pakaian hitam ini. Di dalam hatinya telah muncul simpati yang besar terhadap Pertiwi. Perasaan yang membuat Patuka tidak ingin melukai apalagi membunuh Pertiwi!
"Cihhh! Tak tahu malu. Kau kira aku akan berpihak padamu dengan rayuan yang hendak kau lontarkan terhadapku?!" timpal Pertiwi, cepat.
Wajah Patuka langsung merah padam. Ucapan Pertiwi tajam bukan main. Pemuda berpa-kaian coklat ini merasa heran, tidak menyangka akan mendapat sambutan sepedas itu. Sukar di-percaya ucapan sekasar itu keluar dari mulut seo-rang gadis yang cantik jelita dan gagah seperti Per-tiwi.
Patuka besar dalam lingkungan yang meski tidak terlalu bersopan-santun tapi cukup mempu-nyai aturan. Lain halnya dengan Pertiwi. Gadis berpakaian hitam itu besar dalam didikan seorang tokoh hitam yang kasar dan tidak mengenal atu-ran. Maka, Pertiwi menganggap sambutan yang diberikannya biasa-biasa saja.

***

"Mulutmu terlalu tajam, Nona," ucap Patu-ka dengan wajah memerah karena malu. Itu pun setelah beberapa saat lamanya terdiam bagai orang kehilangan akal. "Siapa yang bermaksud merayumu? Aku bukan sejenis orang seperti itu, Nona. Aku hanya ingin memberitahumu kalau
orang yang kau lindungi itu adalah seorang pem-bunuh keji!"
"Apa pun yang kau tuduhkan padanya aku tidak peduli!" tandas Pertiwi mantap. "Yang jelas, kalau kau ingin membunuhnya kau harus me-langkahi mayatku dulu!"
Pemuda berpakaian coklat tersenyum pahit "Kau tidak memberikan pilihan lain pada-
ku, Nona."
"Tidak usah banyak bicara, Lelaki Bermu-lut Wanita! Kalau kau bukan seorang pengecut, maju dan serang aku!"
Patuka menggertakkan gigi. Tidak ada gu-nanya lagi berpanjang kata kalau tidak ingin uca-pan-ucapan Pertiwi semakin menyakitkan hatinya.
"Tunggu sebentar...!"
Patuka yang telah siap melancarkan seran-gan dan Pertiwi yang sudah sedia untuk mengha-dapinya mengendurkan urat-urat mereka men-dengar seruan itu. Keduanya menoleh bersamaan ke arah Arya.
"Apa lagi yang hendak kau katakan, Pem-bunuh Keji?!" geram Patuka seraya menatap Arya dengan sinar mata penuh kebencian dan dendam.
Arya tentu saja bisa merasakannya. Tapi, pemuda berambut putih keperakan ini berpura-pura tidak tahu.
"Sejak pertama kali kita bertemu kau telah menuduhku seorang pembunuh keji. Padahal, aku tidak tahu menahu dengan yang kau maksud. Berkali-kali aku minta kau mau menjelaskan, tapi kau tidak mau mendengarnya. Sekarang, untuk terakhir kalinya aku minta kau menjelaskannya sebelum semuanya menjadi telanjur."
Tenang dan penuh kematangan Arya men-gucapkan kata demi kata. Tidak ada nada amarah
di dalamnya.
Patuka dan Pertiwi terdiam. Mereka mera-sakan jiwa dan pemikiran yang matang dalam ucapan Dewa Arak. Ucapan yang membuat kedua orang muda itu diam-diam merasa kagum.
Patuka menjadi terkejut ketika melihat keadaan Arya yang mengenaskan. Tadi dia tidak sempat memperhatikannya karena yang terpikir-kan hanya membunuh atau terbunuh. Tadi, begitu melihat pakaian dan warna rambut Arya, dia lang-sung melancarkan pukulan Jarak jauh.
Pemuda berpakaian coklat itu segera men-duga Arya tengah menderita keracunan hebat. Se-ketika ia teringat dengan ucapan Pertiwi yang mengatakan Arya tengah dalam keadaan tidak berdaya.
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan," ucap Patuka lebih lunak dari sebelumnya. Tapi, sorot matanya tetap menyiratkan kebencian. "In-gatkah kau dengan nama Panuggal?"
Arya mengernyitkan dahi mencoba mengin-gat-ingat sebelum akhirnya menggelengkan kepa-la. Sepasang mata Patuka berkilat-kilat meman-carkan kemarahan. Ia menganggap Dewa Arak berdusta.
"Aku bukan orang yang suka berbohong, Sobat! Aku lebih suka mati daripada memberikan kesaksian palsu. Sekarang terserah apa tangga-panmu!" tegas Arya yang dapat melihat ketidak-percayaan Patuka.
"Baiklah! Ucapanmu kupercaya. Tapi sete-lah satu keterangan lagi kuberikan tidak juga ku-dapatkan jawaban pasti darimu, tidak ada lagi ba-sa-basi!" Patuka menggeram. "Ayahku tewas di tanganmu. Begitu berita yang kudapat dari pen-duduk Desa Jarak. Beliau berjuluk Utusan Dari
Akhirat"
"Utusan Dari Akhirat?" ulang Arya meminta penegasan.
"Benar! Apakah kau masih mau menyang-kal bahwa kau yang telah menyebabkan kema-tiannya?!" sambut Patuka penuh amarah.
"Tidak!" jawab Arya seraya menghela napas berat. Sungguh tidak disangka kematian Utusan Dari Akhirat akan berbuntut panjang. Arya kem-bali teringat dengan tokoh itu. (Untuk jelasnya, si-lakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Perin-tah Maut"). "Memang dia tewas di tanganku. Tapi perlu kau ketahui, Sobat. Tidak ada permusuhan sedikit pun antara aku dengan Utusan Dari Akhi-rat!"
"Itu sebabnya kukatakan kau pembunuh keji, Dewa Arak! Tidak ada urusan antara kau dengannya, tapi kau tega membunuhnya. Aku se-bagai anaknya tak akan tinggal diam. Ibuku mati merana karena beliau kau bunuh. Aku, Patuka, rela mati di tanganmu untuk membalaskan kema-tian ayahku, Dewa Arak!"
Arya tersenyum getir.
"Lebih baik kau urungkan niatmu, Patuka. Aku tahu kau pemuda baik-baik. Rasa sakit hati dan dendam membuat akal sehatmu tertutupi. Janganlah kau ikuti jejak ayahmu yang tidak be-nar itu. Dan...."
"Tutup mulutmu, Pembunuh Keji! Ayahku tidak sejahat yang kau kira. Beliau membunuh orang, bukan karena hatinya jahat. Tapi, karena pesanan orang lain. Seharusnya orang yang me-nyuruh ayahku yang kau bunuh!" potong Patuka berapi-api.
"Tidak perlu kau ajari, Patuka. Aku sudah melakukannya!" Nada suara Arya mulai meninggi
"Memang kuakui ayahmu tidak jahat. Pekerjaan ayahmu sangat berbahaya. Ia membunuh siapa saja tanpa pilih bulu. Daripada dia terus menye-barkan ancaman dan dimanfaatkan orang-orang jahat, lebih baik kulenyapkan dia!"
"Keparat! Sekarang, kaulah yang harus ma-ti di tanganku untuk menebus nyawa ayah dan ibuku, Dewa Arak!"
Patuka menutup ucapannya dengan ter-jangan ke arah Arya. Dalam cekaman kemarahan yang bergelora ia mengeluarkan sebatang cambuk berujung tiga. Pada tiap-tiap ujungnya terbelit se-batang pisau yang putih berkilat. Sekarang, tiga batang pisau itu meluncur ke berbagai jalan darah mematikan di tubuh Dewa Arak.
"Manusia pengecut!"
Pertiwi yang memang sudah sejak tadi siap menolong Arya langsung melesat ke depan pemu-da berambut putih keperakan itu. Entah kapan mengambilnya, di tangan Pertiwi telah tergenggam sehelai sabuk hitam panjang. .
Prat, prattt, prattt!
Tiga batang pisau Patuka terpental ke be-lakang ketika dengan gerakan luar biasa ujung sabuk Pertiwi bergerak tiga kali memapaki luncu-ran pisau.
Patuka menggeram keras melihat seran-gannya kandas. Walau tidak ingin bertarung den-gan Pertiwi yang telah menarik hatinya, tapi kare-na gadis itu menghalangi tindakannya, terpaksa ia menyerang Pertiwi. Hanya apabila Pertiwi telah ro-boh dia dapat membunuh Dewa Arak. Untuk me-robohkan Pertiwi tidak ada jalan lain kecuali ber-tarung dengan gadis berpakaian hitam yang memi-liki kepandaian luar biasa ini.
Pertarungan sengit antara kedua orang
muda itu pun tidak bisa dielakkan lagi. Bunyi me-ledak-ledak terdengar ketika cambuk dan sabuk dilecutkan. Dalam pengerahan tenaga dalam ting-gi, senjata lemas itu tidak kalah berbahayanya dengan senjata tajam.
Baik Pertiwi maupun Patuka bertarung dengan penuh semangat, agar bisa merobohkan lawan secepatnya. Bedanya kalau Patuka tidak melancarkan serangan-serangan maut terhadap Pertiwi, tidak demikian halnya dengan putri Pa-nangkaran. Pertiwi melancarkan serangan-serangan yang sebagian besar dapat mengirim nyawa lawannya ke alam baka.
Cambuk Patuka menegang kaku bagai tombak. Sementara sabuk Pertiwi mampu menjadi pedang yang luar biasa tajam. Dalam keadaan se-perti itu Patuka maupun Pertiwi bisa mengguna-kan senjatanya untuk menusuk, membacok, atau membabat yang mengeluarkan bunyi bercicitan ta-jam.
Rrrttt!
Pertiwi yang tidak sabar melihat pertarun-gan berjalan seimbang, pada suatu kesempatan disaat cambuk Patuka meluncur, Pertiwi memper-gunakan sabuknya untuk melilit cambuk Patuka.
Pertiwi yang sudah merencanakan hal itu segera mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik. Menurut perhitungannya, Patuka yang tidak ingin kehilangan senjatanya pasti akan me-narik pula. Dan, ternyata benar. Tarik-menarik pun terjadi.
Di saat cambuk dan sabuk menegang ka-rena pengaruh tarikan, Pertiwi mengibaskan tan-gan kirinya. Bubuk-bubuk halus yang berada di sapu tangan dalam genggaman tangan kiri Pertiwi meluncur ke arah wajah Patuka. Bubuk itu ber-
bau harum yang memabukkan.
Patuka kaget bukan main melihat serangan yang tidak terduga ini. Semula, mengingat kega-gahan sikap Pertiwi, Patuka mengira Pertiwi me-rupakan murid seorang pendekar. Tak mungkin murid seorang pendekar melakukan kecurangan. Keyakinan akan dugaannya itu yang mengejutkan Patuka. Apalagi, ketika mengetahui serangan Per-tiwi ternyata beracun.
Meski demikian, Patuka tidak kehilangan akal untuk menyelamatkan diri. Dengan pengera-han tenaga dalam ditiupnya debu-debu halus yang meluncur ke wajahnya, hingga berbalik kembali pada Pertiwi.
Pertiwi sebagai pemilik bubuk-bubuk itu tentu saja tidak merasa khawatir. Dia hanya me-mejamkan mata agar bubuk-bubuk itu tidak ma-suk ke dalam mata. Pada saat yang bersamaan gadis itu mengirimkan tendangan ke paha kanan Patuka.
Desss!
Tubuh Patuka terjengkang ke belakang ke-tika dengan telak kaki Pertiwi menghantamnya. Cambuk yang sejak tadi dipertahankan terlepas dari pegangan. Pertiwi tidak menyia-nyiakan ke-sempatan baik itu. Sekali tangan kanannya yang memegang sabuk dikibaskan, cambuk Patuka me-layang deras ke arah pemiliknya.
Pertiwi mempergunakan kesempatan di saat Patuka tengah sibuk menghadapi serangan cambuknya sendiri untuk melompat jauh ke bela-kang dan menyambar tubuh Arya. Pemuda itu se-jak tadi menyaksikan jalannya pertarungan den-gan rasa khawatir. Arya yang telah kenyang pen-galaman mengetahui kepandaian Pertiwi dan Pa-tuka hampir berimbang. Bila diteruskan, salah sa-
tu di antara mereka pasti akan celaka. Yang me-nang terluka parah dan yang kalah akan tewas.
Betapa leganya hati Arya ketika melihat Pertiwi menghentikan pertarungan dan memba-wanya kabur meninggalkan tempat itu.
Berbeda dengan Arya, Patuka merasa ge-ram bukan main. Dia mencoba untuk mengejar. Tapi, kakinya yang terkena tendangan terasa nyeri ketika digunakan untuk berdiri, apalagi jika berla-ri. Patuka hanya bisa menatap kepergian Pertiwi yang membawa Arya.

7

"Kalau boleh tahu sebenarnya apa yang hendak kau lakukan terhadapku, Pertiwi?"
Dalam keadaan tubuh dipondong Pertiwi yang tengah berlari cepat Arya mengajukan perta-nyaan itu.
"Membawamu pada Dewa Obat Tangan Sakti untuk memintanya agar mengobatimu," beri-tahu Pertiwi tanpa mengendurkan kecepatan la-rinya.
"Apakah kau tidak bisa mengobatiku, Per-tiwi? Aku dengar meski julukannya Dewa Obat, dia tidak mudah menerima orang untuk dioba-tinya. Kudengar dia orang yang aneh. Kadang orang yang meminta pengobatannya dibiarkannya saja sampai betul-betul parah."
"Apa yang kau dengar itu memang tidak sa-lah, Arya. Dewa Obat Tangan Sakti memang memi-liki perangai aneh. Tapi, hanya dialah yang memi-liki pemunah racun yang bersarang di tubuhmu. Sedangkan ayahku tidak mungkin memberikan pertolongan. Jadi, hanya tinggal Dewa Obat Tan-gan Sakti satu-satunya harapan kita," jelas Pertiwi
panjang lebar.
"Aku mendengar nada ketidakyakinan akan keberhasilan usaha ini, Pertiwi? Apakah tidak se-baiknya kau hentikan saja usahamu. Aku yakin akan dapat mengobati keracunan ini dengan arak dalam guciku. Arakku mampu menawarkan segala macam racun." Arya mengajukan usul.
"Kau terlalu menganggap enteng racun ke-labang merah, Arya." Terdengar agak kesal sambu-tan yang diberikan Pertiwi. "Apakah kau tidak ta-hu kalau tenaga dalammu telah lenyap?"
"Ah...!" Arya berseru kaget Tentu saja dia tahu tenaga dalamnya telah lenyap. Itu diketa-huinya sewaktu bertemu dengan Patuka di semak-semak dan pemuda itu menyerangnya dengan pu-kulan jarak jauh. Arya mencoba melompat ke atas. Namun, tidak jadi dilakukannya ketika tidak me-rasakan adanya putaran tenaga dalam di pusar-nya. Dengan untung-untungan Arya membanting tubuh di tanah dan bergulingan. Untung, sebelum maut merenggut nyawanya Pertiwi keburu muncul dan menolongnya. "Jadi..., lenyapnya tenaga da-lamku karena pengaruh racun kelabang merah?"
"Itu tanda-tanda permulaan saja, Arya," jawab Pertiwi sungguh-sungguh. "Lewat sehari kau akan terserang rasa panas yang sangat. Hing-ga, semua bulu yang ada di tubuhmu rontok dan tidak pernah tumbuh lagi untuk selamanya. Ke-mudian, sedikit demi sedikit akan muncul bercak-bercak putih di kulitmu. Bagian yang terdapat bercak ini akan mati rasa. Kejadian selanjutnya sungguh mengerikan. Mulai dari ujung jari, seruas demi seruas akan terpisah dalam keadaan hancur. Mungkin pula dimulai dari hidung. Sayang, aku tidak tahu pasti. Tapi, yang jelas apabila sudah sampai pada keadaan seperti itu, ditolong pun ku-
rasa tidak ada gunanya lagi!"
Arya tidak mampu memberikan sambutan atas uraian Pertiwi. Pemuda berambut putih kepe-rakan yang memiliki kepandaian menakjubkan itu merasa ngeri! Siksaan yang didengarnya terlalu dahsyat.
"Tapi, kudengar Dewa Obat Tangan Sakti sukar dicari tempat tinggalnya. Apakah... waktu yang kita miliki cukup untuk mencarinya? Belum lagi kalau dia menolak?" Arya membuka percaka-pan dengan suara kering.
"Tenanglah, Arya, semua itu sudah kupi-kirkan. Percayalah, kau akan diobatinya dan sem-buh." Pertiwi mencoba menenangkan hati Arya.
Arya tidak memberikan tanggapan lagi. Gadis itu mencoba untuk membuatnya tidak geli-sah. Padahal, Arya tidak gelisah. Ia sudah siap menerima kenyataan yang paling buruk.
Karena tidak ada percakapan lagi, meski tengah berlari benak Pertiwi menerawang jauh. Gadis berpakaian hitam ini telah bertekad apa pun yang terjadi Dewa Arak harus diobati Dewa Obat Tangan Sakti.
Pertiwi kembali teringat pertemuannya per-tama kali dengan Arya. Saat itu dia dikejar-kejar kakek berpakaian putih. Ia melihat seorang pemu-da berambut putih keperakan tengah berlari ke arahnya. Dalam pertemuan pertama itu hati Perti-wi telah tergetar. Tubuh Arya yang tegap dan ke-kar serta wajahnya yang tampan menimbulkan kekaguman di hati Pertiwi.
Kekaguman Pertiwi semakin menjadi-jadi ketika melihat dengan beraninya Arya mengha-dang kakek berpakaian putih. Sayang, kesempa-tan yang tidak memungkinkan membuatnya tidak dapat mengenal Dewa Arak lebih jauh.
Pertiwi baru mengetahui lebih banyak ten-tang Arya ketika pemuda berambut putih kepera-kan itu menjadi tawanan ayahnya. Kekaguman yang akhirnya membuahkan rasa cinta. Apalagi, ketika mengetahui orang yang dikaguminya ter-nyata Dewa Arak dan memiliki kepandaian di atas ayahnya. Perasaan cinta itu membuat Pertiwi be-rani menanggung akibat dengan menolong Dewa Arak yang sama artinya dengan menantang ayah-nya.

***

"Ratih...."
Suara pelan yang sarat dengan perasaan iba itu keluar dari mulut seorang kakek berpa-kaian abu-abu. Kakek itu berada di dalam sebuah gua yang mempunyai ruangan cukup luas.
"Seperti sudah kukatakan, yang telah mati kita relakan saja. Tidak usah dipikirkan lagi. Apa-lagi sampai demikian sedih. Beberapa hari kau ti-dak makan. Aku khawatir kau jatuh sakit. Andai-kata ayahmu yang telah meninggal diberikan ke-sempatan untuk kembali ke dunia, dia pasti akan menyuruhmu berhenti melakukan penyiksaan diri seperti ini."
"Yang kusesalkan mengapa dia harus mati seperti itu, Kek?" protes Ratih, putri Dewa Seribu Pisau.
Kakek berpakaian abu-abu tersenyum le-bar penuh kesabaran.
"Setiap orang memang akan mati, Ratih. Dan, caranya tentu saja tidak sama. Menurut pendapatku, ayahmu, gembira dengan cara kema-tiannya, karena sesuai dengan dirinya sebagai seo-rang tokoh persilatan. Apakah kau lebih suka
ayahmu mati karena sakit? Berbulan-bulan ter-baring di tempat tidur dan tersiksa oleh penyakit-nya. Tegakah kau melihatnya, Ratih?"
Ratih terdiam. Nasihat kakek berpakaian abu-abu bisa diterima oleh akal sehatnya. Meski demikian, kemurungan pada wajahnya tidak teru-sir. Hanya, sorot penasaran dalam matanya tidak terlihat lagi.
"Lagi pula." Kakek berpakaian abu-abu menambahkan. "Kalau kau terus berlaku seperti ini, bagaimana bisa membalaskan sakit hati ayahmu? Kau malah akan mati perlahan dengan batin tersiksa. Ah, betapa mengerikan!"
Wajah Ratih tampak beriak. Kata-kata yang diucapkan kakek berpakaian abu-abu telah mem-bakar semangat hidup Ratih.
"Ada orang datang, Ratih. Dua orang men-datangi tempat ini. Langkah salah satu di antara mereka terdengar jelas oleh telingaku. Berat, se-perti langkah orang yang tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh. Mari kita lihat siapa mereka." Tiba-tiba kakek berpakaian abu-abu berkata agak lirih. Dengan sikap segan Ratih mengikuti kakek berpakaian abu-abu melangkah keluar gua.
Ruangan yang berada di dalam gua ternya-ta tidak jauh dari mulut gua. Dalam beberapa be-las langkah, kakek berpakaian abu-abu dan Ratih telah hampir sampai di mulut gua. Mendadak langkah mereka bertambah cepat. Malah, terden-gar Ratih menggertakkan gigi. Tatapannya tertuju lurus ke depan dengan sorot mata penuh keben-cian dan dendam!
Pemandangan keluar gua memang terang benderang. Di depan gua, hanya berjarak sekitar enam tombak dari mulut gua, berdiri dua sosok tubuh.
Seorang pemuda berpakaian ungu yang be-rambut putih keperakan dan seorang gadis cantik berpakaian serba hitam. Dewa Arak dan Pertiwi! Wajah Pertiwi tampak sangat tegang.
Begitu mengenali betul orang yang berdiri di depan mulut gua, Ratih tidak bisa menahan sa-bar lagi. Dia segera melesat keluar untuk melan-carkan serangan.
Tapi, baru beberapa langkah ayunan kaki Ratih terhenti. Suatu kekuatan tak nampak telah menahan ayunan kakinya.
Ratih yang tengah kalap tidak mau menye-rah. Seluruh tenaga dalam yang dimilikinya dike-rahkan. Namun, usahanya sia-sia. Memang kedua kaki Ratih berlari, tapi hanya di tempat itu saja.
Dengan penasaran Ratih menoleh ke bela-kang. Dia menduga kejadian ini pasti perbuatan kakek berpakaian abu-abu. Dan, dugaan gadis berpakaian merah ini memang tidak keliru. Ratih melihat kakek berpakaian abu-abu menjulurkan kedua tangannya ke depan. Dari kedua tangan itu-lah keluar kekuatan dahsyat yang menahannya.

















Tubuh Ratih yang tengah melesat keluar itu, tiba-tiba berhenti. Suatu kekuatan tak nampak te-lah menahan ayunan kakinya!
Tentu saja Ratih tidak sudi menyerah. Selu-ruh tenaga dalamnya dikerahkan. Namun, usa-hanya sia-sia. Memang kedua kaki Ratih terlihat seperti berlari, tapi hanya di tempat itu saja!


Melihat Ratih menoleh, kakek berpakaian abu-abu tersenyum. Lalu, tangannya digerakkan seperti menarik sesuatu. Ratih tidak mampu mempertahankan tubuhnya yang meluncur deras ke arah kakek berpakaian abu-abu.
"Sabar, Ratih tidak ada gunanya kau um-bar kemarahan. Wanita itu memiliki kepandaian
jauh di atasmu. Menurutkan kemarahan hanya akan merugikan dirimu sendiri. Tenanglah."
Kakek berpakaian abu-abu lebih dulu memberi nasihat sebelum Ratih melontarkan protes. "Hilangkan amarahmu, dan tenangkan ha-ti. Kita bersama-sama keluar. Percayalah, dengan adanya aku, gadis liar itu tidak akan berbuat se-maunya terhadapmu."
Tanpa memberi kesempatan pada Ratih untuk memberikan jawaban, kakek berpakaian abu-abu menggandeng Ratih keluar goa.
Tapi, baru beberapa tindak terdengar se-ruan halus bernada teguran.
"Lebih baik kau berdiam saja di dalam gua, Pendekar Kaki Seribu. Orang-orang itu datang kemari untuk menemuiku. Biar aku yang me-nyambutnya!"
Belum sempat kakek berpakaian abu-abu dan Ratih memberikan sahutan, angin berkesiur dan di dekat mereka telah berdiri kakek berpa-kaian putih.
Kakek yang tadi juga berada bersama Ratih dan Pendekar Kaki Seribu. Hanya, sejak tadi ia duduk bersila dan berdiam diri saja. Tidak peduli dengan kejadian yang berlangsung di sekeliling-nya.
Kakek berpakaian putih lalu mengayunkan kaki menuju mulut goa, Ratih bingung. Kakek berpakaian putih itulah yang menyembuhkan luka keracunannya. Tapi, sayang kakek itu tidak bisa diajak bicara. Yang dilakukannya hanya duduk bersemadi. Berbeda dengan Pendekar Kaki Seribu yang mau peduli akan nasib yang menimpanya.
Ratih menoleh ke arah Pendekar Kaki Seri-bu. Dilihatnya kakek itu mengangguk dan membe-ri isyarat agar Ratih mengikuti kakek berpakaian
putih. Dengan ragu-ragu Ratih menuruti saran itu. Sempat dilihatnya Pendekar Kaki Seribu me-langkah kembali ke ruangan dalam goa.
Pemilik tempat ini memang kakek berpa-kaian putih. Pendekar Kaki Seribu kawan kental kakek berpakaian putih. Tapi, sikap kakek berpa-kaian putih pada Pendekar Kaki Seribu terlihat dingin dan tak acuh. Seorang kakek yang aneh!
Begitu kakek berpakaian putih dan Ratih muncul di mulut goa, Pertiwi mengembangkan se-nyum lebar tapi dengan pandangan meremehkan.
"Selamat berjumpa lagi, Dewa Obat Tangan Sakti. Sungguh tidak kusangka gelar yang kau sandang bukan omong kosong belaka. Telah ku-buktikan sendiri kehebatan ilmu pengobatanmu dengan berhasil menyembuhkan luka beracun pa-da wanita di sebelahmu. Meski harus kuberitahu kalau racun itu hanya suatu racun yang tergolong ringan." Pertiwi membuka suara menyambut keda-tangan kakek berpakaian putih dan Ratih.
Kakek berpakaian putih yang disapa Perti-wi dengan julukan Dewa Obat Tangan Sakti men-gernyitkan alis. Dia tidak tahu ke mana arah uca-pan putri Panangkaran itu. Meski demikian, Dewa Obat Tangan Sakti tidak terlalu memikirkannya. Perhatian kakek ini lebih banyak tertuju pada De-wa Arak. Dewa Obat Tangan Sakti segera dapat mengetahui Dewa Arak tengah menderita keracu-nan hebat. Siapakah yang telah melukainya? Ka-kek itu bertanya dalam hati. Beberapa hari yang lalu ia sempat bentrok dengan Dewa Arak. Saat itu, pemuda berambut putih keperakan ini dalam keadaan segar bugar.
Bukan hanya Dewa Obat Tangan Sakti saja yang terkejut. Hal yang sama pun menimpa Dewa Arak. Arya sungguh tidak menyangka Dewa Obat
Tangan Sakti adalah kakek yang dulu mengejar-ngejar Pertiwi dan hampir terlibat pertarungan dengannya. Dalam hati Arya menghela napas be-rat. Ia tahu harapan Dewa Obat Tangan Sakti akan mengobatinya sangat kecil.
Sekarang Arya mengerti mengapa Pertiwi tidak yakin dengan keberhasilan usahanya. Tapi, mengapa Pertiwi tetap saja meneruskan usa-hanya?
Pertiwi yang melihat sikap Dewa Obat Tan-gan Sakti seperti tidak mempedulikan ucapannya tampak mendongkol sekali. Namun, karena se-dang memiliki keperluan gadis itu berusaha me-nahannya. Suaranya masih terdengar tenang keti-ka berbicara lagi.
"Dewa Obat Tangan Sakti, apakah kau ta-kut mendengar ucapanku maka bersikap tidak peduli? Ataukah kau takut ketidakbecusanmu da-lam ilmu pengobatan diketahui orang banyak ka-lau kau mendengar ucapanku lebih lanjut? Kau takut aku menantangmu untuk menguji apakah kau pantas berjuluk Dewa Obat. Kudengar banyak orang yang berobat padamu bukannya sembuh tapi malah tewas. Bukankah itu berarti kau tidak memiliki ilmu pengobatan yang cukup?"
Akibat ucapan Pertiwi sungguh hebat Wa-jah Dewa Obat Tangan Sakti merah padam karena merasa tersinggung. Keahliannya diragukan orang, bahkan dicela. Tentu saja dia menjadi kalap! Apa-lagi yang menghinanya seorang gadis muda. Sung-guh berani Pertiwi meremehkan kemampuannya sebagai seorang Dewa Obat!
"Tidak usah berbelit-belit, Gadis Bermulut Tajam! Katakan apa maksud kedatanganmu?" tanya Dewa Obat Tangan Sakti dengan geram.
Pertiwi tahu umpannya telah mengena.
Dewa Obat Tangan Sakti telah kena pancing. Tapi, dengan cerdiknya gadis berpakaian hitam ini me-nyembunyikan rasa gembiranya. Ia mendengus meremehkan.
"Mungkin kau belum tahu siapa diriku, kakek tua yang berani sombong memakai gelar Dewa Obat! Tidak ada salahnya kalau aku mem-perkenalkan diri. Namaku, Pertiwi. Aku mempu-nyai seorang ayah sekaligus kakak seperguruan yang bernama Panangkaran. Guruku yang juga menjadi guru ayahku berjuluk Raja Racun Langit Bumi!"
Dewa Obat Tangan Sakti sebenarnya kaget bukan main mendengar orang-orang yang menjadi ayah dan guru Pertiwi. Pentolan-pentolan sesat! Panangkaran saja terkenal lihai bukan main. Apa-lagi gurunya yang berjuluk Raja Racun Langit Bumi. Seorang manusia yang menganggap racun seperti makanan atau minuman. Meski demikian, untuk menjaga wibawanya kakek berpakaian pu-tih ini mengambil sikap tidak peduli. Seakan ia mendengar hal yang biasa saja.


***

8

Pertiwi tidak menjadi kecil hati kendati Dewa Obat Tangan Sakti bersikap tidak peduli dengan nama-nama orang yang disebutnya. Sikap gadis berpakaian hitam ini tetap seperti semula. Sementara, Ratih menatap ke arahnya dengan pandangan yang seperti ingin menelannya bulat-bulat.
"Guruku, Raja Racun Langit Bumi, pernah
menceritakan tentang dirimu yang katanya memi-liki ilmu pengobatan mengagumkan. Guruku men-gatakan kau ahli obat-obatan nomor satu. Bahkan konon tidak ada luka biasa maupun keracunan yang tidak bisa kau atasi. Meski demikian guruku tidak yakin kau mampu mengobati luka beracun akibat tangan guruku. Terdorong untuk mencoba kelihaian ilmu pengobatanmu, aku tidak membu-nuh putri Dewa Seribu Pisau ketika aku melihat kedatanganmu. Aku ingin tahu apakah kau berha-sil menyembuhkan luka beracun yang dideritanya. Beberapa orang ahli obat yang kutemui di perjala-nanku mampu menyembuhkan luka seperti itu. Jadi, keberhasilanmu mengobati gadis itu tidak menjamin kau benar-benar patut bergelar Dewa Obat. Itulah sebabnya hari ini kubawa korban yang terkena pukulan beracun ayahku. Kalau kau berhasil menangkal racun ini, kau memang patut bergelar Dewa Obat. Tentu saja kalau kau tidak berani menyambut tantangan ini aku tidak akan memaksa. Menyerah mungkin lebih baik daripada kau berusaha tapi gagal!"
Pertiwi yang memiliki kecerdikan, lebih te-patnya kelicikan luar biasa, sengaja menutup tan-tangannya dengan kata-kata demikian. Kata-kata yang memaksa Dewa Obat Tangan Sakti memenu-hi tantangan yang diajukan Pertiwi jika tidak ingin julukannya hancur dan menjadi ejekan tokoh-tokoh persilatan!
Dan memang, sambutan yang diberikan Dewa Obat Tangan Sakti tidak meleset dari perki-raan Pertiwi. Dengan muka merah padam karena tersinggung kakek berpakaian putih itu melang-kah maju.
"Kuterima tantanganmu, Gadis Bermulut Ular! Bukankah pemuda itu yang menjadi kelinci
percobaanmu?" Dewa Obat Tangan Sakti menud-ing ke arah Arya.
Arya yang sejak tadi mendengarkan perca-kapan itu dalam hati memuji kecerdikan Pertiwi. Sejak semula memang telah disepakati ia akan di-am saja. Pertiwi yang akan mengurus semuanya. Dan, gadis berpakaian hitam itu ternyata berhasil.
Begitu melihat Pertiwi mengangguk, Dewa Obat Tangan Sakti melambaikan tangannya. "Ke-mari kau, Anak Muda. Biar kulihat sampai di ma-na kehebatan racun Raja Racun Langit Bumi!" pe-rintah kakek berpakaian putih itu pada Dewa Arak.
Tanpa banyak cakap Arya melangkah ma-ju. Tapi, baru beberapa tindak ayunan kakinya di-hentikan. Ia mendengar seruan yang telah cukup dikenalnya.
"Kau tertipu oleh seorang bocah kemarin sore, Dewa Obat! Kami tak pernah mengajakmu melakukan pertandingan bodoh ini!"
Kalau Arya yang baru mendengar beberapa kali telah bisa mengenali pemiliknya, apalagi Per-tiwi. Wajah gadis itu langsung pucat pasi. Suara itu adalah milik... ayahnya, Panangkaran!
Belum juga gema ucapan itu lenyap, berke-lebat dua sosok bayangan yang langsung menje-jakkan kaki di sebelah kanan Dewa Obat Tangan Sakti.
Wajah pucat Pertiwi semakin memucat ke-tika melihat sosok lelaki di sebelah ayahnya. So-sok tinggi besar dari seorang kakek berambut pan-jang putih tergerai. Ia mengenakan pakaian serba hitam. Kakek yang mirip raksasa ini memiliki raut muka demikian dingin. Ia adalah guru dari Pertiwi dan Panangkaran, Raja Racun Langit Bumi!
Dulu, sebelum berguru pada Raja Racun
Langit Bumi, Panangkaran mempunyai seorang guru yang berjuluk Mayat Berkabung. Tapi, gu-runya tewas ketika terjadi penyerbuan kelompok pendekar yang di antaranya terdapat Dewa Seribu Pisau dan Bagas Pati. Itu terjadi dua belas tahun lalu. Panangkaran sendiri terluka parah. Demikian pula dengan putrinya, Pertiwi. Namun, keduanya berhasil diselamatkan oleh Raja Racun Langit Bumi yang kebetulan lewat di tempat itu. Nasib Panangkaran dan putrinya tengah mujur karena Raja Racun Langit Bumi berkenan mengangkat mereka menjadi murid.
Setelah hampir dua belas tahun menuntut kepandaian, Panangkaran dan Pertiwi yang di-amuk dendam mulai turun tangan. Mereka mela-kukan pembalasan. Satu-persatu para pendekar yang terhitung dalam penyerbuan terhadap ge-rombolan Panangkaran berguguran di tangan Pa-nangkaran dan Pertiwi. Keluarga mereka pun di-tumpas sebagaimana halnya keluarga Bagas Pati dan Dewa Seribu Pisau.
Dan sekarang, Pertiwi dan Panangkaran saling berhadapan di pihak yang berlawanan.

***

Meski merasa gentar melihat keberadaan ayah dan gurunya, maksud hati Pertiwi tidak men-jadi surut. Dengan sikap gagah gadis berpakaian hitam ini melompat ke depan Dewa Arak untuk melindungi.
Raja Racun Langit Bumi mengeluarkan dengusan mengejek dari hidungnya melihat sikap Pertiwi.
"Rupanya putrimu telah terpikat oleh ke-tampanan bocah gila itu, Panangkaran," dingin
dan datar nada ucapan kakek berpakaian serba hitam itu.
Wajah Panangkaran tampak merah padam karena malu dan marah. Meski tidak langsung, tapi Panangkaran tahu Raja Racun Langit Bumi menegurnya. Dari nada ucapan kakek tinggi besar itu, Panangkaran juga tahu Raja Racun Langit Bumi murka dan menyuruhnya untuk memberi-kan hukuman kepada Pertiwi.
"Biar kulenyapkan saja anak tak tahu di-untung ini, Guru," ujar Panangkaran, geram.
Raja Racun Langit Bumi tidak memberikan tanggapan. Bahkan, ketika Panangkaran mulai melangkah dengan sikap mengancam menghampi-ri Pertiwi.
Pertiwi sampai terbelalak mendengar uca-pan Panangkaran. Dia terkesima karena tidak per-caya. Benarkah ayahnya akan sampai hati mem-bunuhnya?
Keterkejutan yang melanda hati Pertiwi membuat gadis itu tetap berdiam diri kendati Pa-nangkaran telah melangkah tiga tindak.
Melihat perkembangan yang tidak disang-ka-sangka itu, Dewa Obat Tangan Sakti menjadi bingung. Tapi kemudian dia menjadi tersinggung karena merasa dilangkahi.
"Tunggu, Panangkaran! Aku mau bicara!" seru kakek berpakaian putih itu penuh wibawa.
"Apakah kau sekarang telah menjadi orang yang tidak mempunyai rasa malu sehingga mau mencampuri urusan seorang ayah dan anaknya!" jawab Panangkaran tajam sehingga wajah Dewa Obat Tangan Sakti berubah pucat saking malunya. Kakek berpakaian putih ini pun tidak membuka suara lagi.
"Ayah...!"
Pertiwi berseru dengan suara bergetar. Ia tidak menyangka ayahnya akan sampai hati ingin membunuhnya. Perasaan gadis berpakaian hitam ini hancur luluh. Air mata mengembang pada ke-dua bola matanya.
"Ayo, keluarkan senjatamu dan lawan aku, Anak Durhaka! Tidak usah tanggung-tanggung kau tolong Pemuda Sombong itu! Ayo, serang dan bunuh aku!" sambut Panangkaran dengan suara menggeledek.
Sekujur tubuh Pertiwi menggigil hebat. Sungguh tidak disangka akan demikian hebat aki-bat tindakannya menolong Dewa Arak.
"Menyingkiriah, Pertiwi. Biarkan ayahmu membunuhku. Tidak patut seorang anak berta-rung dengan ayahnya sendiri." Arya mengetahui pergolakan hebat di batin Pertiwi mencoba mem-berikan nasihat
Pertiwi semakin bimbang. Dia hanya bisa menatap wajah Panangkaran dengan sorot mata yang membayangkan kepedihan. Tapi, Panangka-ran semakin memiliki hati baja. Dia tidak sedikit pun merasa terharu melihat keadaan putrinya. Bahkan, lelaki bermata satu ini menggeram keras.
"Keparat! Hayo, bersiaplah untuk berta-rung denganku, Anak Durhaka! Pantang bagi Pa-nangkaran untuk membunuh lawan yang tidak melawan!"
Tantangan itu justru membuat kedua kaki Pertiwi semakin menggigil.
Kemarahan Panangkaran pun meledak! "Baiklah! Rupanya kau perlu dipanasi dulu
agar mau bertarung denganku," ujar Panangkaran tidak sabar. "Ketahuilah, hei anak tak tahu diun-tung, kau bukan anakku! Aku tidak pernah mem-punyai anak! Kau masih bayi ketika kutemukan di
sebuah kerimbunan semak dua puluh tahun lalu. Kau bukan anakku, paham? Sekarang, aku akan membunuhmu. Ayo, lawan aku! Mungkin ayah ibumu telah tewas di tanganku karena kesenan-ganku adalah membunuh orang. Nah! Kau dengar itu?!"
Semua orang terperanjat mendengar pen-gakuan Panangkaran. Mereka tidak menyangka hal itu. Terutama Pertiwi. Gadis berpakaian hitam ini mengeluh tertahan setelah terbelalak sesaat. Tubuhnya kemudian ambruk ke tanah seperti ka-rung basah. Pertiwi jatuh pingsan!
"Pertiwi...!"
Arya terkejut melihat keadaan Pertiwi. Dia ingin menangkap tubuh gadis berpakaian hitam itu agar tidak membentur tanah. Tapi, ketidak-adaan tenaga dalam membuat gerakannya kurang gesit. Tangkapannya pun hanya mengenai angin.
Sebelum Arya sempat berjongkok untuk memeriksa keadaan Pertiwi, terdengar bentakan nyaring yang disusul berkelebatnya sesosok bayangan coklat meluncur ke arah Arya
Meski tenaga dalamnya telah lenyap, pan-dangan Dewa Arak masih tetap tajam. Dia dapat mengetahui sosok bayangan itu menyerangnya dengan ayunan tangan kanan berbentuk cakar naga yang ditujukan ke arah kepala.
"Pembunuh Keji! Sekarang tamatlah ri-wayatmu...!" seru sosok bayangan coklat mengi-ringi luncuran serangan mautnya.
Arya menyadari benar tidak ada yang bisa dilakukannya untuk menyelamatkan nyawanya. Serangan itu datang begitu cepat dan tiba-tiba. Sementara tenaga dalamnya telah lenyap.
Tapi, sebelum batok kepala Arya hancur dihantam cakar naga, sesosok bayangan melesat
memapaki.
"Hentikan, Patuka!"
Terdengar suara keras dari sosok bayangan yang baru datang.
Plakkk!
Tubuh kedua sosok itu terjengkang ke be-lakang ketika benturan terjadi. Namun, dengan manisnya mereka mematahkan daya luncur dan menjejak tanah dengan mantap.
Arya menghela napas berat ketika melihat penyerangnya adalah Patuka. Sedangkan sosok yang menyelamatkan seorang pemuda berpakaian kuning, Ludiga. Pemuda yang dilihatnya tengah mengguncang-guncang mayat Bagas Pati. Me-mang, setelah terjadi pertempuran dengan Patuka dan kegagalannya mencari Panangkaran, Arya kembali untuk mencoba mengobati Bagas Pati. Tapi, ternyata kedatangannya terlambat. Dari ja-rak yang cukup jauh dilihatnya Ludiga tengah menangisi mayat Bagas Pati. Karena tak ingin mengganggu, pemuda berambut putih keperakan itu segera pergi dengan diam-diam. Sungguh tidak disangka kalau sekarang Ludiga lah yang menjadi penolongnya.
"Ludiga...!" seru Patuka, kaget. "Mengapa kau berada di sini?"
"Aku datang untuk mencegahmu melaku-kan tindakan bodoh memusuhi Dewa Arak. Kau tahu Guru telah melarang maksudmu itu. Aku ju-ga tengah mencari Panangkaran yang telah mem-bunuh orangtuaku. Hentikan maksudmu itu, Pa-tuka! Atau kau berani mencoba melawanku? In-gat, aku akan mencegahmu. Dan, Guru menyetu-jui tindakanku!"

***
"Kau... kau..., siapa kau? Rasanya wajah-mu tidak asing bagiku?" tanya Panangkaran agak bergetar karena heran. Sepasang matanya mena-tap wajah Ludiga lekat-lekat.
Ludiga yang sadar wajahnya memang mirip dengan wajah ayahnya di waktu masih muda membusungkan dada sebelum menjawab.
"Namaku Ludiga. Ayahku bernama Bagas Pati. Aku yakin beliau yang kau maksud!"
"Ha ha ha...!"
Panangkaran tertawa bergelak. Kelihatan gembira sekali. Tapi hanya pendek saja tawanya. Kemudian langsung ditutup dengan dengusan. Wajah lelaki bermata satu ini pun berubah bengis.
"Jadi, kau putra si keparat Bagas Pati? Ka-lau begitu silakan kau menyusul ayah dan ibumu yang telah pergi ke alam baka. Sungguh tidak ku-sangka kau akan datang mengantarkan nyawa!"
Wajah Ludiga berubah hebat Ditatapnya wajah Panangkaran tajam-tajam.
"Jadi..., kau Panangkaran...?!" tanya Ludi-ga, kaget. Memang, pemuda ini hanya mengenal nama Panangkaran, tapi tidak tahu orangnya.
"Memangnya kau kira siapa?" Panangkaran menjawab dengan penuh kebanggaan.
Jawaban itu membuat Ludiga marah dan menyerangnya dengan sengit. Panangkaran den-gan gembira menyambuti. Pertarungan pun ber-langsung.
Melihat muridnya telah terlibat dalam per-tarungan, Raja Racun Langit Bumi segera men-gayunkan kaki mendekati Dewa Arak. Pemuda be-rambut putih keperakan itu telah menyingkir ke tempat yang lebih aman begitu pertarungan terja-di. Tak lupa dibawanya tubuh Pertiwi.
Kali ini Patuka tidak menyerang Dewa Arak lagi. Dia takut melakukan hal itu karena kebera-daan Ludiga yang merupakan kakak seperguruan-nya. Patuka tidak berani menentang Ludiga, apa-lagi bertarung dengannya. Belum lagi jika diingat gurunya berdiri di belakang Ludiga.
Kenyataan itu membuat Patuka jadi bim-bang. Kalau Dewa Arak memang bersalah, tanpa diminta pun Ludiga dan gurunya pasti akan mem-bantunya untuk membuat perhitungan dengan Dewa Arak. Api dendamnya dalam hati Patuka pun mulai menyusut kendati tetap tidak bisa dihi-langkan.
Terdengar bunyi tang-tung-tang-tung yang begitu nyaring. Sesaat kemudian, di belakang De-wa Arak telah berdiri seorang kakek berpakaian tebal. Malaikat Salju. Kakak kandung Raja Racun Langit Bumi.
"Jangan kau lanjutkan maksudmu yang ti-dak baik itu!" ujar Malaikat Salju pelan tapi men-gandung wibawa kuat sehingga Raja Racun Langit Bumi tertegun sejenak. "Kurasa lebih baik kau to-long Dewa Arak dulu, Dewa Obat Aku yakin kea-daannya telah mengkhawatirkan!"
Kali ini Raja Racun Langit Bumi menatap wajah Malaikat Salju dengan sinar mata penuh tantangan.
"Muridku berhasil! mencelakai Dewa Arak dengan kecerdikannya. Kalau kau memang mam-pu, silakan merampasnya dariku!" tantang Raja Racun Langit Bumi.
Malaikat Salju tersenyum getir. "Sejak dulu jalan hidup kita selalu bersimpangan, tapi tak pernah terjadi bentrokan. Sekarang, rupanya hal itu tidak bisa dipertahankan lagi. Majulah, aku pun ingin melihat sampai di mana kemajuan yang
kau dapatkan!"
Jawaban dari tantangan Malaikat Salju adalah serangan Raja Racun Langit. Bumi. Kakek tinggi besar laksana raksasa ini membuka seran-gan dengan tamparan bertubi-tubi ke arah pelipis. Malaikat Salju menyambutinya sehingga pertarun-gan antara kakak beradik ini pun berlangsung.
Pertarungan itu dahsyat bukan main. Debu mengepul tinggi ke udara. Terasa sergapan hawa dingin yang mampu membekukan jalan darah ke-tika Malaikat Salju mengirimkan serangan. Semua yang menyaksikan jalannya pertarungan merasa takjub. Tubuh kedua tokoh yang telah gaek itu le-nyap karena cepatnya mereka bergerak. Yang ter-lihat hanya dua kelebatan bayangan yang saling belit Beberapa saat kemudian....
"Ah!"
Raja Racun Langit Bumi terhuyung-huyung ke belakang. Ia memekik tertahan ketika paha ka-nannya terkena tendangan kakaknya. Pertarungan langsung terhenti karena Malaikat Salju tidak me-lanjutkan serangannya.
"Bagaimana? Apakah kau tidak mau men-gaku kalah?" tanya Malaikat Salju, geram.
"Minumkan saja obat ini!" Raja Racun Lan-git Bumi melemparkan obat pulung berwarna pu-tih yang langsung ditangkap Malaikat Salju dan kemudian diberikannya pada Arya. Kakek tinggi besar ini tidak mengakui kekalahannya. Tapi, dari tindakan yang dilakukannya, semua orang tahu Raja Racun Langit Bumi telah kalah!
Tanpa ragu-ragu Arya menelannya. Sesaat kemudian, Arya merasakan keadaan tubuhnya mulai membaik. Obat Penawar Racun Raja Racun Langit Bumi ternyata manjur sekali.
"Lukamu telah sembuh, Kek?"
"Tak sampai setengah hari, Dewa Arak," jawab Malaikat Salju gembira karena keadaan De-wa Arak yang dikaguminya mulai membaik.
Obrolan Dewa Arak dengan Malaikat Salju terhenti ketika tiba-tiba terdengar seruan kaget. Hampir bersamaan Dewa Arak, Malaikat Salju, dan Raja Racun Langit Bumi mengalihkan perha-tian. Mereka melihat Dewa Obat Tangan Sakti ter-belalak menatap Pertiwi yang tengah tergolek di tanah.
"Ada apa, Dewa Obat?" Malaikat Salju yang rupanya cukup dekat dengan kakek berpakaian putih itu menegur.
"Dia pasti cucuku!" seru Dewa Obat Tan-gan Sakti dengan suara bergetar seraya menunjuk tubuh Pertiwi. "Tanda merah di sebelah kanan le-hernya kuingat betul. Aku menengoknya ketika dia baru dilahirkan. Ibunya meninggal setelah mela-hirkannya. Sedangkan ayahnya menjadi gila dan tak terdengar lagi beritanya. Rupanya, batinnya terguncang dengan kematian istrinya, yaitu anak-ku. Mungkin sekali anak ini ditinggalkan di re-rumputan oleh ayahnya yang telah gila. Bertahun-tahun aku mencari, namun tanpa hasil. Syukur, sekarang kutemukan!" Sepasang mata Dewa Obat Tangan Sakti berkaca-kaca.
Arya dan Malaikat Salju mengucapkan se-lamat. Kemudian, Malaikat Salju pergi meninggal-kan tempat itu dengan mengajak adik kandung-nya, Raja Racun Langit Bumi.
Dewa Arak pun pergi tepat pada saat ujung cambuk Ludiga menghantam pelipis kanan Pa-nangkaran hingga retak. Panangkaran tewas tanpa sempat mengeluh lagi. Begitu berhasil mene-waskan Panangkaran, Ludiga mengedarkan pan-dangan mencari Dewa Arak untuk meminta maaf
atas ketidakpantasan sikap Patuka. Tapi, pemuda berambut putih keperakan itu sudah tidak ada la-gi.
Arya yang dicari-cari telah berada jauh dari tempat itu. Pemuda berambut putih keperakan itu sengaja tidak menunggu Ludiga selesai bertarung dan Pertiwi sadar dari pingsannya. Arya menyadari kalau Pertiwi mencintainya. Padahal, Arya tidak bisa membalasnya. Jadi, lebih baik pergi tanpa di-ketahui.
Sementara Ratih harus mengubur den-damnya dalam-dalam karena Pertiwi ternyata cucu Dewa Obat Tangan Sakti. Dan lagi, Pertiwi agak-nya telah sadar dari kesesatannya.



SELESAI

No comments:

Post a Comment