PANGGILAN
KE ALAM ROH
1
Angin
bertiup kencang. Hujan turun dengan deras laksana dicurahkan dari langit. Kilat
yang sese-kali muncul di langit menyilaukan mata. Bunyinya yang keras
menggelegar mengiringi langkah kaki mun-gil itu.
Pemilik
sepasang kaki mungil berlari tanpa mempedulikan keadaan alam yang seperti
tengah mengamuk. Tubuh sosok terbungkus pakaian hijau yang telah basah kuyup
itu sesekali menggigil, karena dinginnya cuaca yang ditimbulkan oleh deru angin
kencang.
"Ukh...!"
Pemilik
kaki mungil itu ternyata seorang wani-ta muda. Usianya kira-kira dua puluh
tahun. Ia men-geluh tertahan ketika jatuh tertelungkup di tanah ka-rena kakinya
tersandung batu. Lari gadis berpakaian hijau ini memang tidak tetap,
terhuyung-huyung ke sana kemari. Pandangannya tidak tertuju ke jalan me-lainkan
menatap ke depan dengan sinar mata kosong. Matanya itu tampak sembab seperti
habis menangis. Wajahnya pun muram. Pendeknya, tidak terlihat kece-riaan pada
wajahnya.
"Ibu...!"
Bukannya
bergegas bangkit dari jatuhnya, ga-dis berpakaian hijau ini malah berseru
tertahan. Tera-sa benar nada kepiluan dalam suaranya. Sarat dengan kedukaan
yang mendalam.
"Aku
tidak tahan menanggung aib ini.... Lebih baik aku pergi menyusulmu,
Ibu...!" seru gadis berpa-kaian hijau meremas-remas tanah berlumpur di
de-pannya. "Aku tak sanggup terus hidup.... Wahai, dewa petir sambarlah
aku...! Pertemukan aku dengan ibu-
ku...!"
Seperti
menyambuti ucapan gadis berpakaian hijau, petir menyambar keras bagai hendak
menghan-curkan bumi. Tapi, tidak menyambar gadis berpakaian hijau, melainkan
menghantam sebatang pohon yang berada cukup jauh dari tempat gadis itu berada.
Gadis
berpakaian hijau terkejut dan menatap ke arah pohon yang terbakar hangus
menjadi arang. Tiba-tiba dia menggertakkan gigi. Wajahnya tampak beringas!
Sinar matanya menyiratkan pembunuhan! Andaikata saat itu ada orang yang
dibencinya di situ, mungkin telah diserangnya habis-habisan.
"Apabila
aku mati, terlalu enak bagi bangsat itu! Aku harus hidup dan membalas semua
kekejian yang ditimpakannya padaku. Akan ku cabik-cabik se-luruh tubuhnya. Akan
kubunuh dia! Akan ku jadikan dia menyesal telah bermusuhan denganku!"
desis ga-dis berpakaian hijau geram.
Entah
karena sambaran petir, atau kesadaran yang timbul dari hatinya, gadis
berpakaian hijau yang semula tidak memperlihatkan kemauan untuk hidup kini
terlihat penuh semangat. Pada sinar mata dan ta-rikan wajahnya terlihat
perasaan kejam. Ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya.
Gadis
berpakaian hijau bergegas bangkit berdi-ri. Sesaat ia tegak di tempatnya.
Matanya menatap ta-jam ke depan dengan sinar mata penuh dendam. Ke-dua
tangannya terkepal dan mengejang kaku. Baru sekarang terlihat kalau pakaian
gadis berwajah cantik dengan tahi lalat di pipi kanannya itu compang-camping di
beberapa bagian.
Bagian
anggota tubuhnya yang tidak tertutup tampak terlihat mulus.
"Demi
langit dan bumi aku bersumpah akan membalas dendam perbuatan keji itu. Akan ku
cabik-cabik tubuhnya. Akan kubuat dia menyesal dilahirkan
ke dunia
ini. Ha ha ha...!"
Bagai orang
kurang ingatan, gadis berpakaian hijau tertawa terbahak-bahak. Sepasang matanya
ber-gerak liar, terlihat mengerikan. Beberapa saat kemu-dian, ia berlari cepat
meninggalkan tempat itu menuju puncak gunung!
Gadis
berpakaian hijau tidak mempedulikan hujan lebat yang mengguyur sekujur
tubuhnya. Angin dingin yang menusuk tulang serta kilatan petir yang diselingi
bunyi menggelegar. Langkah kakinya terus diayunkan. Kali ini ia tidak
terhuyung-huyung seperti sebelumnya. Air kecoklatan bercampur tanah memer-cik
ke sana kemari ketika kaki-kaki gadis berpakaian hijau menjejak tanah.
***
"Nenek...!"
Dengan
mengeluarkan seruan yang cukup lan-tang, gadis berpakaian hijau itu menubruk
sebuah gundukan tanah tidak terurus. Tidak dipedulikannya pakaian dan sekujur
tubuhnya yang semakin kotor dan berlepotan tanah lumpur. Gadis itu men-jatuhkan
tubuhnya di sebuah gundukan tanah kuburan.
Saat itu
hujan telah reda. Hanya tinggal geri-mis saja. Angin pun tidak terlalu keras
berhembus. Pe-tir sudah tidak menyalak, hanya kilatan-kilatan me-nyilaukan di
langit. Gadis berpakaian hijau tiba di tempat yang dituju. Ia berlari tanpa
henti hampir se-perempat hari. Padahal, gadis berpakaian hijau telah
menggunakan ilmu lari cepat
Pelan tapi
meyakinkan, gelap mulai menyeli-muti alam. Sang surya perlahan tenggelam di
pera-duannya. Hari telah petang. Gadis berpakaian hijau telah berlari sejak
siang hari. Sejak matahari seharus-
nya berada
tepat di atas kepala. "Nenek..."
Dengan
terbata-bata karena menahan isak tangis, gadis berpakaian hijau mengeluh
tertahan.
"Cucumu
sungguh bernasib amat malang, Nek. Sekelompok penjahat datang menyatroni tempat
ting-gal kami. Ayah mereka bunuh. Sedangkan aku menga-lami nasib yang
mengerikan. Mereka memperkosa aku secara brutal dan kasar...! Mereka menodai ku
bergan-tian, Nek. Tiga hari tiga malam mereka melakukannya. Baru kemudian
mereka meninggalkan aku pergi dan memberi kesempatan padaku untuk membunuh
diri."
Seperti
mengadu pada seseorang yang masih hidup dan tengah mendengar ucapannya, gadis
ber-pakaian hijau bercerita tersendat-sendat. Air matanya mengalir laksana air
sungai.
"Aku
tidak mau bunuh diri, Nek.... Aku bukan seorang pengecut. Meski sebelumnya aku
merasa lebih baik mati saja daripada hidup. Aku merasa diriku be-gitu kotor
sehingga aku jijik dengan diriku sendiri. Aku jijik, Nek! Jijik...! Tapi,
sekarang aku sadar. Aku tidak boleh tenggelam dalam kedukaan ini. Aku harus
membalas perlakuan binatang-binatang itu. Untuk itu aku harus memiliki
kepandaian tinggi. Binatang-binatang bermuka manusia itu memiliki kepandaian
tinggi, Nek. Karena itu, aku datang kepadamu. Aku in-gin meminta bantuanmu agar
dapat membalaskan sa-kit hati ini. Bukankah kau dulu sering datang men-jumpai
ku dan mengatakan agar aku meminta perto-longan padamu bila mendapat kesulitan?
Malah, dulu kau sering datang dan mengajarkan ku ilmu silat. Se-karang mengapa
kau tidak mengajarkan silat lagi pa-daku, Nek?! Apakah kau takut terhadap Ayah,
karena aku mempelajari ilmu darimu? Jawablah, Nek, Tolon-glah aku!"
Kedua
tangan gadis itu memeluk gundukan ba-tu nisan. Tubuh dan wajahnya menelungkupi
gundu-kan tanah. Gadis berpakaian hijau terus mengelua-rkan semua uneg-uneg
yang ada dalam dadanya.
Semakin
lama seruan-seruan yang keluar dari mulutnya semakin mengecil. Mungkin
kelelahan kare-na terlalu lama berlari dan menanggung beban yang menghimpit
batinnya. Gadis berpakaian hijau tertidur sambil memeluk gundukan tanah. Dia
tidak tahu ke-gelapan telah turun. Langit tidak terhias bintang dan bulan.
Langit mendung.
Waktu terus
merayap, Tengah malam pun tiba. Tepat pada saat itu hembusan angin mendadak
keras. Bunyi anjing hutan melolong panjang. Gadis berpa-kaian hijau yang sejak
tadi tertidur dengan tenang kini menggeliat gelisah.
Sesuatu
dari alam lain masuk ke dalam mimpi gadis itu. Gadis berpakaian hijau bermimpi
bertemu dengan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Tubuhnya
padat menggiurkan. Wajahnya pun cantik. Terlalu cantik malah. Penuh daya pikat
dan penarik yang amat kuat! Wanita yang diketahui gadis berpakaian hijau sebagai
neneknya dan memiliki usia hampir tujuh puluh tahun! Gadis berpakaian hijau
ti-dak pernah tahu mengapa neneknya mampu membuat dirinya terlihat awet muda.
"Nenek...!"
Dalam
mimpinya gadis berpakaian hijau me-manggil wanita cantik itu. Teriakannya tidak
hanya sarat dengan kegembiraan tapi juga keterkejutan. Ne-neknya dijumpai tidak
dalam keadaan seperti bi-asanya. Tidak seperti dalam mimpi-mimpi sebelum-nya.
Nenek yang
dulu di dalam mimpi sering menga-jarinya ilmu silat kini tampak sangat
mengenaskan
keadaannya.
Neneknya di kelilingi bambu-bambu se-tinggi manusia. Bambu-bambu itu berduri.
Bagian atasnya tertutup oleh bambu yang sama. Neneknya terlihat ketakutan. Ia
berputaran ke sana kemari men-cari jalan keluar.
"Arum...!
Arum Sari...! Cucuku, tolong be-baskan aku dari kurungan terkutuk ini. Aku
ingin menolongmu. Tapi, aku tidak bisa keluar dari penjara keparat ini.
Tolonglah aku, Arum. Tolong...! Bukakan kurungan ini...!"
"Nenek...!"
Gadis
berpakaian hijau yang bernama Arum Sari menjerit di dalam tidurnya. Tidak hanya
sekali, tapi berkali-kali. Arum Sari yang merasa gelisah dalam tidurnya
menggeliat ke sana kemari. Terdengar kelu-han tak jelas dari mulutnya.
"Uh...!"
Arum Sari
baru terbangun dari tidurnya ketika tubuhnya terguling dari gundukan tanah.
Arum Sari
tercenung begitu sadar sepenuhnya. Mimpi menyeramkan itu melekat kuat di
benaknya. Mungkinkah mimpi itu hanya merupakan bunga tidur, ataukah memang
kenyataan yang sebenarnya?
Arum Sari
bingung memikirkan hal itu. Karena memikirkan mimpi yang menyeramkan itu, Arum
Sari jadi tidak terlalu memikirkan keadaan sekelilingnya. Kalau saja pikirannya
tidak dipenuhi mimpi buruk tentu Arum Sari akan ketakutan sekali berada di
pe-kuburan sendiri. Betapapun beraninya Arum Sari ada-lah seorang wanita. Masih
muda lagi.
Tapi, tak
lama Arum Sari memikirkan mimpi itu. Kelelahan amat sangat yang mendera lahir
dan ba-tinnya membuat gadis berpakaian hijau itu merebah-kan tubuhnya kembali
di atas kuburan. Lagi-lagi Arum Sari dihantui mimpi mengerikan itu. Mimpi bu-
ruk yang
tadi mengganggunya datang kembali. Tidur Arum Sari tidak tenang.
"Tolong,
Arum...! Aku tidak betah dipenjara se-perti ini. Aku ingin menolongmu, Arum.
Aku ingin ber-jumpa denganmu seperti dulu. Bebaskan aku dari penjara ini,
Arum...!"
Kembali
neneknya Arum Sari yang awet muda meminta tolong dengan suara meratap-ratap
pilu.
"Bagaimana
aku bisa membebaskan mu, Nek?" Alam bawah sadar Arum Sari mengajukan
pertanyaan. "Aku ingin mengeluarkan mu, Nek. Tapi, bagaimana caranya.
Tubuhku lemah sekali. Urat-urat ku kaku semua. Bahkan tenagaku seperti lenyap
entah ke ma-na. Aku tidak bisa menolongmu, Nek."
"Amat
mudah kalau kau benar-benar ingin menolongku, Arum!" Nenek gadis
berpakaian hijau itu memberi petunjuk. "Jika kau bangun dari tidurmu
nanti, galilah, kuburan ku. Ambillah bambu runcing kuning yang ditancapkan di
atas peti mati ku. Maka, aku akan bebas."
Seperti
disentakkan oleh sesuatu yang kasat mata, Arum Sari tiba-riba membuka sepasang
ma-tanya. Gadis berpakaian hijau ini merasakan kantuk-nya mendadak lenyap. Dia
segera bertindak sigap.
Arum Sari
tidak mempunyai pilihan lain. Dia yakin mimpi yang dialaminya bukan sembarang
mim-pi, tapi sebuah petunjuk. Keyakinannya itu semakin besar ketika teringat
neneknya bukanlah orang sem-barangan. Neneknya seorang tokoh yang lihai dalam
ilmu-ilmu gaib.
Arum Sari
jadi berpikir. Beberapa puluh hari yang lalu neneknya selalu hadir dalam
mimpinya. Ia mengajarkan ilmu-ilmu melalui mimpi. Tapi, hal itu hanya
berlangsung beberapa minggu, tepatnya dela-pan belas hari. Ayahnya keburu
mengetahui.
Ayahnya
merasa curiga ketika melihat gadis berpakaian hijau itu melatih ilmu silat yang
diketa-huinya tidak pernah diajarkannya. Setelah didesak bertubi-tubi, Arum
Sari akhirnya membuka rahasia siapa yang telah memberi pelajaran itu padanya.
Dua hari kemudian neneknya Arum Sari tidak pernah da-tang lagi di dalam
mimpinya. Baru pada malam hari ini, malam keempat puluh satu dari kematiannya,
Arum Sari bertemu kembali dengan neneknya dalam mimpi. Itu pun setelah Arum
Sari memanggil-manggil neneknya dan tidur di kuburannya.
Arum Sari
yang cukup cerdik mulai merasa ya-kin ada hubungan antara ketidakhadiran
neneknya di dalam mimpi dengan terbukanya rahasia itu. Arum Sari malah percaya
neneknya terpenjara karena per-buatan ayahnya. Gadis berpakaian hijau ini tahu
ayahnya tidak menyukai neneknya! Ayahnya Arum Sa-ri memang seorang pendekar,
sedangkan neneknya Arum Sari seorang tokoh hitam.
Tanpa
mempedulikan keadaan malam gelap gulita, Arum Sari mulai menggali gundukan
tanah ku-buran neneknya. Ia mempergunakan sebatang ranting yang ditemukannya
berada di dekat tempat itu.
Arum Sari
ternyata bukan seorang gadis le-mah. Meski hanya dengan sebatang ranting, dia
mam-pu menggali tanah kuburan itu dengan cepat. Tidak kalah cepat dengan lelaki
bertenaga kuat yang meng-gali dengan mempergunakan cangkul.
Dalam
gelora semangat yang menggebu, Arum Sari seperti mendapat tambahan tenaga baru.
Tan-gannya bergerak cepat bukan main. Tanah bergumpal-gumpal berpindah ke sisi
gundukan tanah kuburan.
Seperti
telah bersepakat dengan Arum Sari, langit yang semula tertutup awan hingga
bintang-bintang dan sang dewi malam tidak dapat menerangi
persada
perlahan terusir pergi. Ketika gundukan ta-nah sudah tergali cukup dalam,
langit di atas tempat Arum Sari berada telah bersih. Sungguh suatu keja-dian
yang aneh. Bulan bulat penuh pun muncul di langit. Bulan purnama. Sinarnya
kuning berkilauan. Suasana di pekuburan menjadi cukup terang.
Dengan
mudah Arum Sari segera dapat melihat sebatang bambu kuning yang menancap di
tutup peti mati. Tidak panjang. Hanya sepanjang jari telunjuk!
Hati Arum
Sari tercekat. Bambu kuning ini se-makin mempertebal keyakinannya kalau mimpi
itu bukan sembarang mimpi. Tanpa ragu-ragu lagi, Arum Sari segera mencabutnya!
Baru saja
bambu kuning itu tercabut, dari se-la-sela tutup peti mati keluar asap. Arum
Sari yang ti-dak menyangka hal ini terkejut bukan main. Dia sam-pai melompat ke
belakang. Sepasang matanya terbela-lak lebar. Diperhatikannya asap tipis yang
semakin lama semakin tebal. Samar tapi pasti asap itu mem-bentuk satu sosok
tubuh manusia!
"Nenek...!"
Arum Sari berseru tertahan ketika melihat bentuk gumpalan asap.
"Arum
Sari, Cucuku...!" Sosok berbentuk wani-ta itu mengembangkan senyum lebar.
Senyum ramah penuh kasih.
"Nenek...!"
Arum Sari
kembali berseru. Kali ini sambil mengembangkan kedua lengannya, siap untuk
meme-luk. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar uca-pan sosok itu. Lembut
dan halus, tapi terkesan dingin dan kaku. Kesan yang menimbulkan dugaan kalau
se-ruan itu bukan keluar dari mulut manusia. Hanya pantas keluar dari mulut
setan atau makhluk halus lainnya.
"Tidak
usah kau teruskan niatmu, Arum. Per-
cuma. Kau
tidak akan dapat. Aku hanya dapat kau li-hat tapi tidak dapat kau raba apalagi
dipeluk."
"Ah...!"
Arum Sari
berseru kaget. Tapi, sesaat kemu-dian ia sadar kalau neneknya telah meninggal
dunia empat puluh satu hari yang lalu.
"Kau
mungkin bertanya-tanya mengapa demi-kian? Mungkin kau lupa kalau aku sudah
meninggal dunia?"
"Aku
ingat, Nek," jawab Arum Sari tanpa mera-sa takut sama sekali. Neneknya itu
amat mencin-tainya.
"Bagus!
Tapi, apakah kau sudah tahu mengapa aku tidak menjumpai mu lagi di dalam
tidurmu dan memberikan pelajaran ilmu silat tingkat tinggi?" Den-gan
suaranya yang berat tapi bergaung neneknya Arum Sari kembali bertanya.
Arum Sari
mengangguk.
"Semula
aku tidak mengetahui mengapa kau tidak lagi mengajarkan ilmu silat padaku.
Tapi, seka-rang aku sudah mengetahuinya."
"Hm...!"
Neneknya Arum Sari menggumam pe-lan. Sikap dan sinar matanya jelas menantikan
jawa-ban Arum Sari.
"Aku
yakin ini ada hubungannya dengan ter-bongkarnya rahasia kalau aku telah belajar
ilmu silat darimu, Nek. Semua ini ada hubungannya dengan Ayah."
Neneknya
Arum Sari tersenyum pahit. Senyum yang keluar tidak dari hati yang gembira.
"Dugaanmu
memang tidak meleset, Arum. Ayahmu itulah yang membuatku tidak bisa keluar dan
menemuimu di dalam mimpi- Begitu mengetahui kau belajar ilmu silat dariku,
ayahmu lalu mendatangi makamku. Ia menggalinya kemudian menancapkan
sebatang
bambu kuning yang didapatnya dari seorang ahli kebatinan untuk mencegah rohku
keluar."
Wajah Arum
Sari memucat mendengar kete-rangan itu. Gadis berpakaian hijau ini merasa
ayah-nya telah bertindak terlalu kejam.
"Sungguh
tidak kusangka Ayah dapat bertin-dak sekejam itu. Mengurung mu di tempat yang
demi-kian mengerikan!" tandas Arum Sari. Ia bergidik seper-ti orang
ketakutan.
Neneknya
Arum Sari yang sebenarnya telah be-rusia tujuh puluh tahun tapi kelihatan
seperti orang yang berusia tiga puluh tahun menggelengkan kepala.
"Pendapatmu
keliru, Arum. Ayahmu sama se-kali tidak jahat. Justru dia melakukan hal itu
karena sayangnya padamu. Dia tidak ingin kau tersesat ke lembah kehinaan. Aku
juga tidak menghendakinya. Biarlah aku saja yang tersesat!"
Wajah Arum
Sari semakin memucat. Tapi, si-nar sang dewi malam membuat perubahan wajah Arum
Sari tidak terlihat.
"Dengan
jalan menyiksamu, Nek?!" Terdengar penuh penasaran pertanyaan itu keluar
dari mulut gadis berpakaian hijau.
"Dia
tidak bermaksud demikian, Arum. Dia hanya ingin agar kau tidak tersesat. Hanya
itu. Karena itu aku memaklumi tindakannya."
2
Arum Sari
menundukkan kepala. Kedua tan-gannya memijat-mijat pelipisnya. Gadis berpakaian
hi-jau ini tampak kebingungan.
"Aku
jadi semakin tidak mengerti, Nek. Aku minta kau tidak berteka-teki. Ceritakan
tentang diri-
mu dan Ayah
secara jelas. Jangan sampai ada yang disembunyikan. Aku ingin tahu mengapa kau
dan Ayah terlibat permusuhan."
Neneknya
Arum Sari menatap ke langit Kemu-dian pandangannya kembali di arahkan pada Arum
Sari, cucunya.
"Memang
sebaiknya kau mendengar cerita ku dulu sebelum kau menarik kesimpulan tentang
siapa yang salah, aku atau ayahmu," ujar nenek itu dengan suara berat
"Aku
memang bukan orang baik-baik, walau-pun sebenarnya dulu aku tidak berkeinginan
menjadi orang jahat. Malah, aku bercita-cita menjadi seorang pendekar
wanita!" Neneknya Arum Sari memulai ceri-tanya.
"Aku
masih berusia sepuluh tahun ketika ayahku meninggal dunia. Ibuku dan
kawan-kawan se-permainanku memanggilku Yayang, walaupun nama-ku sebenarnya adalah
Mayang. Tiga tahun setelah kematian Ayah, ibuku menikah lagi. Aku mempunyai
ayah tiri. Sayang dia bukan manusia melainkan bina-tang. Ketika umurku
menginjak enam belas tahun, dia membujuk ku untuk mau digaulinya. Aku menolak,
tapi dia memaksa. Pertarungan antara kami pun ter-jadi. Aku memang mempunyai
kepandaian silat yang lumayan yang aku pelajari dari ibuku."
Sampai di
sini neneknya Arum Sari yang ter-nyata bernama Mayang menghentikan ceritanya.
Tapi, Arum Sari sudah bisa memperkirakan kelanjutan ke-jadian yang menimpa
neneknya. Dia pun mengalami hal serupa.
"Ayah
tiriku itu ternyata lihai bukan main. Apalagi saat itu dia tengah diamuk nafsu
birahi. Tan-pa mengalami kesulitan dia berhasil merubuhkanku. Aku diperkosa
ayah tiriku. Rupanya dia telah cukup
lama
memendam hasrat birahi terhadapku. Hanya sa-ja dia tidak pernah berhasil
melampiaskannya karena ada ibuku. Saat itu kebetulan ibuku tengah pergi ke desa
lain untuk mengobati seorang penduduk. Kesem-patan itu dipergunakan ayah tiriku
sebaik-baiknya. Tanpa mengenal puas ayah tiriku memperkosaku."
Arum Sari
bergidik. Dia sudah mengalami ke-jadian seperti yang dikatakan Mayang. Arum
Sari bisa merasakan betapa ngeri dan takutnya sewaktu mala-petaka itu akan
terjadi. Dan, betapa hancur hatinya ketika semua telah selesai.
"Di
saat ayah tiriku yang tidak mengenal puas itu menggeluti ku, ibu pulang! Beliau
terperanjat meli-hat keadaan kami. Melihat sepasang mataku yang bengkak-bengkak
karena terlalu banyak menangis, ibuku langsung bisa menduga apa yang telah terjadi.
Dengan kemarahan meluap-luap ibu menyerang sua-minya. Terpaksa ayah tiriku
melayaninya. Tapi, ayah tiriku memang lihai bukan main, ibu akhirnya tewas di
tangannya."
"Oh...!"
Arum Sari
menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh tidak disangka kejadian yang
me-nimpa Mayang dan ibunya mirip dengan kejadian yang diterimanya bersama
ayahnya. Ayahnya pun tewas ke-tika berusaha membela dia dari perkosaan!
"Dengan
tewasnya Ibu," Mayang melanjutkan. "Ayah tiriku mempunyai kesempatan
seluas-luasnya untuk mengangkangi diriku. Aku seperti istrinya saja. Biadab
sekali dia! Aku menjadi benci dan dendam. Pe-rasaan tak tahan kadang memaksaku
ingin melarikan diri atau membunuh diri. Tapi, Ayah tiriku itu sangat cerdik.
Dia selalu menotok dan membelenggu ku apa-bila nafsu birahinya telah
di-lampiaskan. Makan pun aku ditungguinya!"
Arum Sari
tertegun. Sama sekali tidak pernah disangka riwayat neneknya demikian
mengenaskan. Bahkan, jauh lebih menyedihkan dari kejadian yang menimpanya.
"Kegilaan
Ayah tiriku tidak berhenti sampai di situ. Ketika dia terlibat dalam judi, aku
disuruh me-layani setiap orang yang diinginkannya. Dia menjadi-kan ku sebagai
pelacur dengan bayaran tinggi! Jadilah tubuhku permainan orang-orang berduit.
Aku me-mang mempunyai daya tarik kuat yang membuat la-wan jenisku terbangkit
birahinya meski hanya melihat rupaku atau mendengar suaraku. Tak aneh kalau
pu-tra Ayah tiriku pun tergila-gila dan menggauli ku! Mu-la-mula secara
diam-diam karena takut ketahuan ayahnya. Tapi, lama-kelamaan secara terang-terangan.
Gilanya, Ayah tiriku membiarkannya saja. Dendam ku pun semakin bertumpuk.
Selama lima tahun lebih tu-buhku menjadi permainan. Selama itu pula aku
me-nanggung dendam. Aku tidak ingin mati dulu. Aku in-gin membalas semua sakit
hati yang bertumpuk ini! Jalan untuk itu akhirnya terbuka ketika seorang lelaki
hidung belang tidak hanya datang untuk menikmati tubuhku.
Ia
menawarkan jalan untuk membalas den-dam. Dia seorang dukun! Dia tahu aku
memendam dendam karena dia telah menyelidikinya melalui ilmu hitamnya!"
Arum Sari
yang sejak tadi mendengarkan den-gan perasaan ngeri mulai merasa lega. Mayang
telah mempunyai jalan untuk membalas dendam.
"Dia
menawarkan kepadaku suatu kesaktian. Tentu saja kesaktian yang tidak
sewajarnya. Kesaktian yang didapat dengan jalan hitam. Dengan syarat yang amat
berat. Aku berpikir cukup lama sampai akhirnya memutuskan kalau lebih baik aku
menerimanya. Demi
membalas
dendam dan sakit hati bertahun-tahun, aku rela menanggung syarat-syarat yang
berat itu."
"Apa
syarat-syarat itu, Nek?" tanya Arum Sari ingin tahu.
"Bersetubuh
dengan seekor ular yang sangat besar!" jawab Mayang dengan nada pahit
"Ular?!"
Arum Sari membelalakkan sepasang matanya.
"Benar!
Seekor ular jantan yang panjangnya sekitar lima belas meter dan besarnya lebih
dari paha manusia dewasa!"
Arum Sari
tercenung dengan hati jijik. Jangan-kan bersetubuh, membayangkan saja dia sudah
jijik bukan main. Dan, Mayang melakukannya.
"Demikianlah!
Setiap seminggu sekali di malam Jum'at ular raksasa itu datang dan menggauli ku.
Ucapan dukun itu ternyata benar. Hanya dalam sebu-lan aku telah memiliki
kepandaian amat tinggi. Ke-pandaian silat dan juga ilmu gaib. Musuh-musuhku
semua berhasil ku binasakan. Tapi Ayah tiriku dan anaknya tidak berhasil
kubunuh. Mereka dapat melo-loskan diri. Aku tidak tinggal diam. Terus ku-cari
me-reka hingga usiaku menjelang tiga puluh. Tapi, mere-ka tetap tak kutemukan.
Justru aku bertemu dengan seorang petani gagah yang usianya beberapa tahun di
atasku. Kami saling jatuh cinta dan akhirnya meni-kah! Sejak itu aku melupakan
usahaku mencari Ayah tiriku. Aku hidup seperti petani. Tenang. Kebahagiaan ku
bertambah ketika ibumu, Nuri, lahir. Dia tumbuh menjadi gadis cantik sehingga
menjadi rebutan ba-nyak pemuda. Yang beruntung mendapatkannya ada-lah seorang
pendekar muda yang kemudian berjuluk Pendekar Macan Hitam."
"Ayah...?!"
ujar Arum Sari tanpa sadar.
"Benar."
Mayang mengangguk. "Saat itu ibumu
berumur dua
puluh tahun, dan aku telah berusia lima puluh. Kebahagiaan ku mulai berkurang
ketika ibumu pergi mengikuti ayahmu. Sepuluh tahun kemudian suamiku, Salaka,
meninggal. Aku terpukul sekali. Aku tidak betah sendirian. Aku kesepian. Maka,
aku pergi menjenguk ibumu. Nasibmu memang malang, Arum. Ibumu meninggal saat
melahirkan mu."
"Aku
ingat itu, Nek. Kau baik sekali." Sepasang mata Arum Sari menerawang ke
langit, mengenang di-rinya sewaktu masih menjadi gadis cilik.
"Kau
amat menyenangkan, Arum. Kau lucu dan lincah, membuat kesedihan ku berhasil
kulupa-kan. Aku merasa terhibur. Sayang, lagi-lagi gangguan kembali muncul.
Sepuluh tahun kemudian kudengar berita mengenai musuh besarku. Tapi, mereka
telah berbeda jauh. Keduanya telah memiliki kepandaian tinggi. Sialnya lagi
bagiku, mereka berhasil menemu-kan rahasia aku mendapatkan ilmu. Tempat tinggal
mereka pun dipasangi benda-benda penangkal ular. Aku tidak bisa masuk ke tempat
mereka. Apalagi membunuhnya. Terlebih setelah mereka mengenakan benda-benda
anti ular. Aku tidak berdaya. Ketika aku bersikeras untuk membunuhnya karena
tak kuat me-nanggung dendam, aku tewas di tangan mereka."
"Biar
aku yang akan membalaskan dendammu, Nek!" tandas Arum Sari geram.
"Bukan
kau, Arum Sari." Mayang menggeleng-kan kepala. "Tapi kita. Kita
berdua yang akan mem-basmi mereka. Bersiaplah menerima kedatanganku di dalam
dirimu, Arum!"
"Apa
maksudmu, Nek?" Arum Sari tidak men-gerti dengan perkataan neneknya.
"Itulah
yang membuat ayahmu memutuskan untuk memenjarakan ku, Arum. Ayahmu tahu
raha-siaku. Maka, ditancapkannya bambu kuning di atas
peti mati
ku agar aku tidak bisa menitis ke dalam di-rimu. Ayahmu tahu kalau empat puluh
satu hari se-lama kematianku, aku bisa menitis ke dalam dirimu. Lewat dari
empat puluh satu hari aku tidak bisa ber-buat apa-apa. Semula aku sudah putus
asa. Tapi, sia-pa sangka malapetaka menimpa kau dan ayahmu. Ke-betulan kau
datang kemari dan mengadu padaku. Panggilanmu sampai ke alam tempat rohku.
Panggi-lanmu membuat aku memiliki sedikit kekuatan se-hingga mampu timbul di
dalam mimpimu. Inilah ha-silnya, Arum."
Arum Sari
mengangguk-anggukkan kepala. "Sekarang, bersiaplah menerima kedatanganku
ke dalam
dirimu, Arum!"
Belum
lenyap gema ucapan Mayang tubuhnya telah lenyap dari pandangan. Dan, tiba-tiba
tubuh Arum Sari mengejang seperti orang terkena demam tinggi.
Kejadian
itu hanya berlangsung sesaat Arum kembali seperti biasa. Hanya, ada sesuatu
yang me-nyeramkan memancar dari sorot mata dan biasan wa-jahnya.
"Hi hi
hi...!"
Arum Sari
yang raganya telah dimasuki roh Mayang tertawa terkekeh. Suara tawa itu lebih
pantas keluar dari mulut kuntilanak!
***
Tok, tok,
tokkk! "Ketua...! Ketua...!"
Ketukan
keras pada pintu yang diiringi panggi-lan tergesa-gesa membuat sesosok tubuh
kekar berku-lit hitam kecoklatan dan terbungkus pakaian putih bergaris-garis
hitam menoleh ke arah pintu yang tertu-
tup. Sorot
mata lelaki berkumis tebal ini tampak me-nyiratkan perasaan tidak senang.
Meski
kepalanya ditolehkan, lelaki berkumis tebal tidak menghentikan kegiatannya.
Kedua tangan-nya tetap dijulurkan ke depan dengan telapak tangan menghadap ke
atas. Ketika tangan itu digerakkan ke atas, sebuah meja besar dan bulat terbuat
dari kayu jati hitam berukir ikut terangkat setinggi satu tombak! Lelaki
berkumis tebal berada di sebuah ruangan luas.
"Ketua...!
Ketua...!"
Seruan itu
kembali terdengar. Ketukan pada daun pintu semakin gencar. Lelaki berkumis
tebal menggertakkan gigi, geram. Kedua tangannya yang di-julurkan ditarik. Meja
bundar itu pun jatuh ke lantai menimbulkan bunyi hiruk-pikuk.
"Hih!"
Dengan
wajah merah padam membayangkan amarah, lelaki berkumis tebal berusia empat puluh
li-ma tahun itu mendorongkan kedua tangannya ke de-pan. Seketika serangkum
angin deras berhembus!
Blakkk!
Daun pintu
langsung jebol. Lepas dari am-bangnya dan melayang keluar menerpa orang yang
be-rada tepat di depannya. Karuan saja orang yang tidak menyangka kejadian
tersebut kaget. Ia hanya bisa mengeluarkan seruan kaget ketika tubuhnya
melayang deras ke belakang dan jatuh di tanah tertimpa daun pintu.
Orang yang
malang itu berusaha bangkit sete-lah terlebih dulu hendak menyingkirkan daun
pintu yang menindih tubuhnya. Tapi sebelum maksudnya terlaksana, di atas daun
pintu itu telah berdiri lelaki berkumis tebal. Tidak terlihat lelaki berkumis
tebal itu bergerak, tahu-tahu ia telah berada di atas daun pin-tu.
"Monyet
kecil! Sungguh berani kau menggang-gu ketenanganku, heh?! Rupanya kau sudah
kepingin mampus!"
Lelaki
bertubuh kecil kurus itu terengah-engah menahan himpitan keras yang menyesakkan
dadanya. Wajahnya pucat pasi. Adanya ancaman maut dalam ucapan lelaki berkumis
tebal yang menjadi ketuanya.
"Tidak
demikian maksudku, Ketua. Di luar sa-na ada orang yang datang mencari Ketua.
Dia lihai se-kali! Kawan-kawan banyak yang tewas di tangannya!"
"Hmh!"
Lelaki
berkumis tebal mendengus. Sekali men-jejakkan kaki tubuhnya telah melesat ke
depan. Pada saat yang bersamaan, nyawa lelaki kecil kurus itu me-layang ke alam
baka. Tewas dengan dada remuk keti-ka kaki lelaki berkumis tebal bergerak
menekan.
Dalam
beberapa kali lesatan, tubuh lelaki ber-kumis tebal telah berada cukup jauh.
Bangunan di mana lelaki berkumis tebal berada, dikelilingi pagar kayu bulat dan
terletak agak jauh terpisah dari ban-gunan-bangunan lainnya yang berada di
depan.
Sekarang
lelaki berkumis tebal telah berada di halaman luar di mana terdapat pintu
gerbang yang terbuka lebar.
Lelaki
berkumis tebal menggeram ketika meli-hat beberapa sosok tubuh bergeletakan di
tanah. Se-mentara beberapa muridnya tengah bertarung dengan sesosok bayangan
putih. Orang-orang berpakaian pu-tih bergaris-garis hitam itu bagaikan
semut-semut yang menerjang api. Mereka tewas sebelum berhasil mendekat.
"Mundur
semua...!"
Lelaki
berkumis tebal berseru keras mengge-rakkan tenaga dalamnya. Suaranya terdengar
bagai-kan guntur. Ada kekuatan gaib yang membuat semua
orang yang
tengah bertarung melompat ke belakang dan menghentikan pertarungan.
Sosok
bayangan putih yang ternyata seorang lelaki setengah baya, berwajah gagah
dengan kumis dan jenggot terawat rapi, mengalihkan perhatian ke arah lelaki
berkumis tebal yang tengah melangkah ga-gah mendekatinya.
"Kukira
siapa, rupanya hanya seorang tikus kecil dari tokoh-tokoh sombong yang
berjulukan be-sar! Kau datang hendak mengantar nyawa, Pendekar Macan
Putih?!" ejek lelaki berkumis tebal menghenti-kan langkahnya tiga tombak
di depan lelaki berpa-kaian putih. Pada bagian dada kirinya tersulam gam-bar
kepala seekor macan dengan benang emas.
Lelaki
berpakaian putih yang berjuluk Pende-kar Macan Putih tersenyum pahit Dia tidak
terlihat marah atau tersinggung mendengar ejekan keras itu.
"Kau
masih sombong dan besar mulut seperti dulu, Serigala Belang. Sayang, waktu itu
kami bertin-dak kepalang tanggung sehingga kau dapat lolos. Tapi sekarang,
jangan harap kau akan bernasib baik seper-ti dulu!"
"Kaulah
yang akan mampus menyusul kawan-mu, Pendekar Macan Putih yang malang!"
tandas lela-ki berkumis tebal yang ternyata berjuluk Serigala Be-lang.
"Mana
mungkin seekor serigala mampu mem-binasakan seekor macan, betapapun saktinya
serigala itu? Andaikata serigala berhasil menewaskan macan, tentu tidak dengan
cara yang jujur!" Pendekar Macan Putih menyindir. Serigala Belang yang
mengerti hinaan halus lawannya menjadi kalap.
"Haattt...!"
Diawali
teriakan nyaring, Serigala Belang men-dorongkan kedua telapak tangannya.
Gerakannya per-lahan saja, seperti tengah mendorong sebuah benda yang teramat
berat
Tetapi,
Pendekar Macan Putih merasakan satu kekuatan meluncur ke arahnya. Ia pun tidak
tinggal di-am. Segera dilakukannya tindakan serupa.
Dengan
diawali teriakan melengking nyaring yang membuat belasan anak buahnya menutup
telin-ga, Serigala Belang melompat melakukan dorongan kedua tangan. Gerakannya
perlahan seperti tengah mendorong sebuah benda besar yang amat berat.
"Hih!"
Pendekar
Macan Putih merasakan kekuatan tak nampak meluncur ke arahnya. Semakin lama
se-makin keras. Ia pun tidak tinggal diam. Segera dilaku-kannya tindakan
serupa. Pendekar Macan Putih tidak ingin dianggap takut oleh Serigala Belang.
Di samping itu ia juga ingin menguji kemajuan pimpinan Gerom-bolan Serigala
Belang ini! Sepuluh tahun yang lalu ke-pandaian mereka berimbang.
Blarrr!
Dua pukulan
jarak jauh yang mengandung te-naga dalam amat tinggi berbenturan di tengah
jalan. Terdengar bunyi menggelegar yang menggetarkan seki-tar tempat itu. Tubuh
Pendekar Macan Putih terjeng-kang ke belakang dan terhuyung-huyung hampir
ja-tuh!
"Ha ha
ha...!"
Serigala
Belang tertawa bergelak. Sementara wajah Pendekar Macan Putih berubah hebat
melihat hasil benturan itu. Dia sama sekali tidak menyangka. Kekuatan tenaga
dalam Serigala Belang benar-benar mengejutkan.
"Bagaimana,
Pendekar Macan Putih? Masihkah kau ragu kalau serigala mampu mengalahkan seekor
harimau?!"
Pertanyaan
yang mengandung ejekan itu mem-buat wajah Pendekar Macan Putih semakin merah
pa-dam. Meski demikian, lelaki berpakaian putih ini ma-sih tidak percaya kalau
tenaga dalam lawan benar-benar telah sehebat ini!
"Jangan
berbesar hati dulu, Serigala Belang!" Pendekar Macan Putih menutup
ucapannya
dengan
lemparan tiga batang logam berbentuk segiti-ga. Senjata rahasia yang menjadi
andalan Pendekar Macan Putih meluncur ke arah Serigala Belang dengan diiringi
bunyi berdesing nyaring, pertanda kuatnya te-naga dalam yang terkandung dalam
serangan itu.
"Hmh!"
Serigala
Belang mendengus penuh ejekan. Dengan sikap sembarangan, kedua tangannya
dijulur-kan ke depan. Dan, akibat yang terjadi membuat se-pasang mata Pendekar
Macan Putih membelalak lebar. Senjata rahasia itu membalik sebelum bertemu
den-gan kedua tangan yang dijulurkan. Seakan ada kekua-tan tak tampak yang
menahan luncuran bintang-bintang segitiga dan membuatnya meluncur kembali ke
pemiliknya. Pendekar Macan Putih kini percaya Se-rigala Belang memiliki
kekuatan tenaga dalam yang tinggi.
Kendati
demikian, Pendekar Macan Putih tidak menjadi gugup. Sebagai seorang ahli
melempar senjata rahasia dia tentu saja mampu menangkalnya. Ketika
bintang-bintang segitiga itu kembali ke arahnya, Pen-dekar Macan Putih
mengeluarkan tiga bintang segitiga lainnya dan bergegas melemparkannya.
Bunyi
berdentang pelan terdengar ketika enam senjata rahasia berbenturan di udara.
Semuanya run-tuh ke tanah. Tapi, terlihat jelas akibat benturan itu
bintang-bintang segitiga yang dilepaskan Pendekar Macan Putih terpental mundur.
Ini menjadi pertanda kalau bintang-bintang segitiga yang meluncur balik
di-topang oleh tenaga dalam tinggi! Padahal, Pendekar Macan Putih hanya
menjulurkan kedua tangannya, bukan menangkis!
Pendekar
Macan Putih tidak menjadi gentar
melihat
kenyataan itu. Dia mencabut pedang berga-gang kepala macan yang menjadi senjata
andalannya. Dengan pedang telanjang di tangan, lelaki berpakaian putih ini
menyerbu Serigala Belang.
Serigala
Belang yang tahu kedahsyatan per-mainan pedang Pendekar Macan Putih tidak
berani bertindak sembarangan. Dia pun mencabut senjata andalannya. Sebatang
golok yang bercabang. Dengan senjata ini telah beberapa kali Serigala Belang
berhasil merampas senjata lawan dengan mengkaitnya.
Dalam
sekejap dua lelaki itu telah terlibat per-tarungan seru. Bunyi dentang senjata
beradu yang di-iringi percikan-percikan bunga api ke udara menyema-raki
jalannya pertarungan.
"Hih!"
Setelah
hampir sepuluh jurus dan terjadi bebe-rapa kali benturan, dengan akibat tubuh
Pendekar Macan Putih terhuyung mundur, Serigala Belang ber-hasil menjepit
pedang Pendekar Macan Putih di ten-gah-tengah cabang senjatanya.
Pendekar
Macan Putih kaget. Tapi sebelum ia sempat berbuat sesuatu, Serigala Belang
telah memu-tar goloknya sedemikian rupa sehingga pedang Pende-kar Macan Putih
ikut terputar. Dan, ketika Serigala Belang melakukan gerakan menyentak, senjata
Pen-dekar Macan Putih terlepas dari pegangan. Pedang itu terlempar cukup jauh.
Di saat
tubuh Pendekar Macan Putih ter-huyung akibat sentakan, Serigala Belang
memasuk-kan kembali goloknya ke dalam sarungnya di ping-gang, kemudian melompat
ke atas. Dari atas tubuhnya menukik turun dengan kedua telapak tangan terbuka
menghantam pundak Pendekar Macan Putih.
Pendekar
Macan Putih tidak mempunyai pili-han lain kecuali memapaki serangan itu dengan
kedua
telapak
terbuka ke atas. Plakkk!
Dua pasang
telapak tangan berbenturan dan saling melekat. Tubuh Serigala Belang berada di
atas Pendekar Macan Putih. Tubuh lelaki berkumis tebal itu lurus ke atas dengan
kedua tangan berada di ba-wah, menempel dengan tangan Pendekar Macan Putih yang
terjulur ke atas.
Terjadilah
pertarungan yang mendebarkan. Pertarungan adu tenaga dalam. Mula-mula tidak
terli-hat hasilnya. Tapi sesaat kemudian, tampak kedua tangan dan kaki Pendekar
Macan Putih menggigil ke-ras. Dari kepalanya mengepul uap putih. Tampaknya,
lelaki berpakaian putih ini telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Meski
tenaga dalamnya kalah jauh, Pendekar Macan Putih tetap bersikeras bertahan. Dan
kekera-san hatinya membuatnya cukup lama bertahan. Sayang landasan tempat kaki
Pendekar Macan Putih bertumpu tidak kuat menanggung kekuatan tenaga dalam yang
dahsyat itu. Dengan cepat tanah tempat-nya berpijak amblas! Kedua kaki Pendekar
Macan Pu-tih tenggelam sampai ke betis.
"Hukh...!"
Pendekar
Macan Putih akhirnya harus menye-rah ketika darah segar memancur deras dari
mulut-nya. Pendekar ini telah terluka dalam yang amat pa-rah. Kedua tangannya
langsung terkulai. Patah! Dan tangan-tangan Serigala Belang dengan keras
meng-hantam kedua bahunya. Pendekar Macan Putih tewas dengan kedua kaki masih
terbenam di dalam tanah!
"Ha ha
ha...!"
Begitu
berhasil menjejak tanah dengan mantap setelah berjungkir balik beberapa kali di
udara, Seriga-la Belang tertawa bergelak. Tawa kemenangan. Kemu-
dian, tanpa
mempedulikan mayat lawannya, lelaki berkumis tebal ini melangkah pergi
meninggalkan tempat itu. Serigala Belang menuju bangunan tempat tadi dia
berada.
3
"Hiya...!
Hiya...!"
Seruan-seruan
keras yang dibarengi pecutan bertubi-tubi memaksa seekor kuda coklat berlari
sece-pat mungkin. Keempat kaki binatang itu bagai tidak menyentuh tanah. Debu
mengepul tinggi di udara.
"Uh...!"
Seorang
pemuda berambut putih keperakan dan berpakaian ungu mengeluarkan seruan kaget
ke-tika melihat kuda coklat itu berlari cepat ke arahnya. Padahal, saat itu dia
tengah berada di sebuah jalan tanah yang lebarnya tak lebih dari dua tombak. Di
ka-nan kiri jalan itu ditumbuhi semak-semak dan pepo-honan kecil.
Pemuda
berambut putih keperakan tidak ingin wajah dan pakaiannya dikotori debu yang
mengepul tinggi karena lari kuda yang seperti kesetanan. Dia bergegas melompat
ke samping dan menggunakan ujung-ujung atas semak-semak untuk berlompatan
menjauh.
"Luar
biasa...!"
Teriakan
penuh kagum itu keluar dari mulut penunggang kuda coklat. Seorang pemuda
berpakaian kuning tua dengan warna ikat kepala yang sama. Wa-jahnya tampan.
Apalagi dengan adanya sebaris kumis tipis di bawah hidungnya. Pemuda berpakaian
kuning tua sempat melihat tindakan pemuda berambut putih keperakan. Dan, pemuda
berpakaian kuning tahu ge-
rakan
seperti itu hanya dapat dilakukan oleh seorang tokoh persilatan tingkat tinggi.
Tapi, hanya
sampai di situ saja tanggapan pe-muda berpakaian kuning tua. Lari kudanya
sedikit pun tidak diperlambat. Dalam sekejapan saja ia telah jauh meninggalkan
tempat itu.
Setelah
debu yang mengepul sirna, baru pe-muda berpakaian ungu melompat meninggalkan pu-cuk
semak-semak yang dihinggapinya. Semak-semak itu bergoyang ketika tubuh pemuda
berambut putih keperakan menjejakkannya. Sebelum bersalto bebera-pa kali di
udara dan mendarat di tanah.
Pemuda
berpakaian ungu menatap ke arah pe-nunggang kuda coklat yang terus menggebah
ku-danya. Sepasang alisnya berkerut heran melihat ting-kah pemuda berpakaian
kuning tua yang seperti dike-jar-kejar sesuatu.
Pemuda
berpakaian ungu itu pun berdiri me-natap ke arah yang tadi ditinggalkan pemuda
berpa-kaian kuning tua. Dia menduga akan melihat satu atau sekelompok orang
yang melakukan pengejaran.
Sementara,
jauh di depan pemuda berbaju kuning tua memperlambat lari kudanya ketika
melihat sebuah pondok kecil di kejauhan. Ketika telah berada tepat di depannya,
pemuda itu menarik tali kekang kuda. Belum juga berhenti dia telah melompat
turun.
Ketika
pemuda berpakaian kuning tua hendak mengetuk pintu, daun pintu telah lebih dulu
dikua-kkan dari dalam. Tersembullah seraut wajah wanita berusia sekitar empat
puluh lima tahun. Meski demi-kian, masih terlihat sisa kecantikannya di waktu
mu-da.
"Gunaran...!"
"Ibu...!"
Wanita
setengah baya dan pemuda berpakaian
kuning tua
saling berpelukan erat
"Apa
yang terjadi, Ibu?" tanya pemuda berpa-kaian kuning setelah melepaskan
pelukannya. "Ku-dengar dari guru, Ibu mengirim seorang kurir untuk
menyuruhku pulang karena ada urusan yang sangat penting."
"Itu
memang tidak salah, Gunaran!" Ibunya Gunaran yang mengenakan pakaian biru
menyahut seraya mengangguk. "Berita yang amat penting dan menyangkut nasib
ayahmu.. Karena itu, aku buru-buru mengirim kabar padamu."
"Ayah?!"
Gunaran rupanya baru teringat akan ayahnya. "Mana Ayah, Ibu? Mengapa dia
tidak datang menemuiku?"
"Itulah,
Gunaran." Wanita berpakaian biru itu menghela napas berat. "Dua hari
yang lalu ayahmu pergi untuk menjumpai rekannya di masa muda. Kau tahu kan
siapa rekan ayahmu itu?"
"Ya."
Gunaran mengangguk. "Bukankah orang itu berjuluk Pendekar Macan
Hitam?"
Wanita
berpakaian biru mengiyakan. "Seminggu yang lalu seorang lelaki datang ke-
mari
menyampaikan berita mengenai Pendekar Macan Hitam. Lelaki itu terhitung murid
Pendekar Macan Hi-tam, kendati pada kenyataan sebenarnya Pendekar Macan Hitam
tidak pernah mempunyai murid kecuali putri tunggalnya. Arum Sari. Nah, lelaki
itu menga-barkan kalau Pendekar Macan Hitam dan putrinya mengalami malapetaka
karena perbuatan sekelompok orang yang dipimpin Serigala Belang.
"Ah!
Musuh besar Ayah yang waktu itu lolos dari maut?!" Gunaran yang mendengar
cerita itu dari ayahnya, berseru kaget.
"Benar.
Maka, ayahmu segera pergi ke sana. Ia ingin mengecek sendiri kebenaran berita
itu, juga hen-
dak
membinasakan Serigala Belang dan komplotannya apabila benar mereka berada di
sana."
"Kalau
benar demikian, Ibu tidak perlu khawa-tir. Aku yakin Ayah akan berhasil mengirim
nyawa Se-rigala Belang dan komplotannya ke akherat. Aku ya-kin!" tandas
Gunaran mantap.
"Tidak
baik kau bersikap seperti itu, Gunaran!" cela wanita berpakaian biru.
"Sikap memandang re-meh hanya akan memperlemah kewaspadaan kita. Itu bukan
tidak mungkin akan berakibat buruk. Ingat, kemenangan ayahmu dan kawannya itu
terjadi pulu-han tahun yang lalu. Banyak hal mengejutkan bisa terjadi dalam
waktu sepuluh tahun! Siapa tahu Seriga-la Belang mendapat kemajuan pesat dalam
kepan-daiannya. Misalnya saja berhasil menciptakan ilmu-ilmu tinggi. Kau perlu
ingat, Gunaran. Pendekar Ma-can Hitam berhasil ditewaskannya. Ini menjadi
per-tanda kalau Serigala Belang mempunyai andalan. In-gat Gunaran. Jangan suka
memandang rendah lawan. Betapapun kau telah mengetahui tingkat
kepandaian-nya!"
"Ya,
Ibu?!" Gunaran mengangguk dengan sikap kagum. Dia tahu ibunya hanya
memiliki kepandaian silat sekadarnya. Tapi, ia mampu memberikan pan-dangan yang
demikian luar biasa.
"Sekarang
pergilah dan susul ayahmu. Aku khawatir terjadi apa-apa terhadapnya. Aku
mempu-nyai firasat buruk!"
"Tapi,
bagaimana dengan, Ibu?" Gunaran ragu. "Jangan pikirkan aku. Aku tidak
apa-apa. Per-
gilah,
Gunaran!"
Gunaran
tidak membantah. Setelah berpami-tan, ia segera melangkah keluar. Sesaat
kemudian, kuda coklat itu kembali melesat cepat membawa Gu-naran di
punggungnya.
Wanita
berpakaian biru yang adalah istri Pen-dekar Macan Putih tidak segera masuk ke
dalam ru-mah. Dia menatap Gunaran hingga tubuh putranya bersama kudanya lenyap
di ujung jalan, menimbulkan kepulan debu tebal.
Lama istri
Pendekar Macan Putih termenung di depan rumah. Sebenarnya, hati wanita ini
merasa be-rat melepaskan putra tunggalnya setelah hampir sepu-luh tahun belajar
di tempat kakek gurunya. Yaitu guru Pendekar Macan Putih dan Pendekar Macan
Hitam. Tapi, apa daya? Tenaga Gunaran dibutuhkan untuk membantu Pendekar Macan
Putih. Istri Pendekar Ma-can Putih baru saja hendak masuk kembali ke dalam
rumah, tapi terpaksa diurungkan ketika melihat kepu-lan debu dikejauhan.
"Mungkinkah
Gunaran balik kembali?" tanya wanita berpakaian biru dalam hati. Istri
Pendekar Ma-can Putih pun berdiri menunggu.
Tapi,
setelah beberapa saat kemudian penye-bab kepulan debu tinggi itu mulai
terlihat, istri Pende-kar Macan Putih bergegas masuk ke dalam. Itu bukan
Gunaran. Kuda yang ditungganginya pun bukan cok-lat melainkan hitam legam.
Maka, buru-buru wanita berpakaian biru membalikkan tubuh dan melangkah cepat ke
dalam rumah. Ia khawatir akan terjadi sesua-tu yang tidak diinginkan.
Wanita
berpakaian biru yang merasa lega keti-ka berhasil menyentuh daun pintu dan siap
mendo-rongnya jadi terkejut setengah mati. Ada satu kekua-tan yang memaksanya
tertarik ke belakang. Betapa-pun istri Pendekar Macan Putih berusaha berlari,
ia tetap tidak mampu berpindah tempat. Lari yang dila-kukannya hanya di tempat
saja.
Istri
Pendekar Macan Putih menoleh. Dilihat-nya penunggang kuda yang rupanya telah
turun dari
kudanya
berdiri lima tombak darinya. Ia tengah men-julurkan kedua tangan ke arahnya.
Tidak terlihat mengerahkan tenaga, tapi wanita berpakaian biru ini tahu kedua
tangan itulah yang menyebabkan dia tidak mampu berpindah tempat.
Istri
Pendekar Macan Putih tidak putus asa. Ia terus berusaha. sekuat tenaga untuk
bebas. Tapi, usahanya sia-sia belaka. Ketika sosok yang baru da-tang itu
melakukan gerak menarik dengan kedua tan-gannya, tubuh wanita berpakaian biru
dengan deras tertarik ke belakang. Istri Pendekar Macan Putih men-jerit kaget.
Brukkk!
Tubuh istri
Pendekar Macan Putih ambruk di tanah. Tepat di depan sosok yang baru datang.
Wanita itu merasakan sekujur tubuhnya sakit-sakit karena terbanting keras.
Dengan menguatkan diri dia memba-likkan tubuh dan berdiri menatap sosok di
hadapan-nya.
"Siapa
kau? Mengapa mempertunjukkan sulap untuk anak-anak terhadapku?!" bentak wanita
berpa-kaian biru dengan berani.
Sosok yang
semula dikira Gunaran oleh wanita berpakaian biru tampak tersenyum lebar.
Wajahnya yang hitam legam seperti juga kulit tubuhnya menam-pakkan deretan gigi
yang kuning dan besar-besar. Kumis, jenggot, dan cambang bauk kasar menghias
wajahnya yang penuh ditumbuhi jerawat.
"Kau
ingin tahu siapa aku? Aku kawan dari musuh suamimu! Serigala Belang adalah
kawanku. Sekarang kurasa kau tahu mengapa aku mempertun-jukkan sulap anak-anak
terhadapmu!" Lelaki berkulit hitam legam membuka suaranya yang keras dan
mengguntur. "Namaku Malisang!"
Wajah
wanita berpakaian biru kelihatan beru-
bah. Ia
menyadari adanya bahaya mengancam dari so-sok yang berdiri di hadapannya. Meski
demikian, istri Pendekar Macan Putih tidak menjadi gentar.
"Kalau
begitu apa maksudmu datang kemari, Malisang? Kalau untuk menemui suamiku perlu
kube-ritahu kalau dia tengah menuju tempat Serigala Be-lang berada. Kawanmu itu
akan dibinasakan oleh su-amiku. Bahkan mungkin sekarang dia telah binasa!"
tandas istri Pendekar Macan Putih berapi-api.
"Ah!
Begitu kiranya?" Malisang tersenyum le-bar. "Berarti sekarang suamimu
telah pergi ke alam baka. Kau pun akan mengalami nasib yang sama. Bahkan,
mungkin lebih menyedihkan apabila tidak mau menjawab pertanyaanku!"
"Chuih!"
Istri
Pendekar Macan Putih meludah dengan sikap memandang rendah.
"Jangan
kau kira aku takut dengan ancaman-mu! Aku bukan seorang pengecut!"
"Lebih
baik kau jawab saja pertanyaanku sebe-lum kau menderita. Aku bukan seorang
pengecut yang hanya berani dengan wanita lemah seperti kau!" tegas
Malisang dengan senyuman yang telah lenyap dari bi-birnya. "Katakan di
mana Harimau Terbang Berkuku Seribu!"
"Tidak!
Sekali kukatakan tidak, sampai mati pun tetap tidak!" jawab istri Pendekar
Macan Putih se-tengah menjerit. Tokoh yang ditanyakan Malisang ada-lah guru
suaminya! Juga guru dari Pendekar Macan Hitam dan Gunaran.
"Rupanya
kau termasuk seorang wanita yang ingin dikasari dulu sebelum tunduk! Baik kalau
itu yang kau inginkan!" ancam Malisang dengan wajah bengis.
Malisang
lalu mengambil dua buah batu sebe-
sar kepalan
tangan dan mengamang-amangkannya di depan istri Pendekar Macan Putih. Wanita
berpakaian biru yang berhati tabah itu tampak bersikap tidak pe-duli, kendati
jantungnya berdetak lebih cepat. Ia ber-tanya-tanya apa yang hendak dilakukan
Malisang?
Malisang
yang sengaja bertindak lambat untuk melihat tanggapan istri Pendekar Macan
Putih jadi ge-ram bukan main melihat sikap tidak acuh wanita ber-pakaian biru.
Dia merasa ditantang. Kemarahan lelaki berkulit hitam legam ini pun meledak.
Siksaan yang diancamkan terhadap calon korbannya langsung di-mulai! Batu-batu
itu dibenturkan satu sama lain.
Tak, tak,
tak!
Bunyi
berdetak pun terdengar ketika batu-batu itu saling berbenturan. Kelihatannya
tidak ada hal yang aneh. Tapi, tidak demikian yang dialami istri Pendekar Macan
Putih. Ketika batu itu pertama kali berbenturan seperti ada yang menumbuk
dadanya. Bahkan, sepasang telinganya berdenging hebat! Sakit bukan main.
Istri
Pendekar Macan Putih segera mendekap telinganya dengan kedua tangan untuk
mencegah ma-suknya bunyi menyakitkan itu. Tapi usaha wanita itu sia-sia.
Betapapun kuat telinganya didekap bunyi yang tidak mengenakkan itu tetap saja
merasuk dan me-nyerangnya.
Semakin
lama pengaruh benturan baru itu se-makin menghebat. Sekarang istri Pendekar
Macan Pu-tih tidak hanya menutup kedua telinganya. Tapi, ber-gulingan di tanah
karena tidak kuat menahan siksaan yang melanda. Wanita berpakaian biru itu
merasakan telinganya seperti ditusuk-tusuk jarum panas yang amat tajam.
Demikian pula dengan bagian dalam da-danya.
"Bagaimana?
Apakah kau masih mencoba un-
tuk
bertahan?!" Di tengah gemuruh benturan dua batu dan jerit menyayat istri
Pendekar Macan Putih, Mali-sang menawarkan keringanan hukuman.
Tapi, istri
Pendekar Macan Putih benar-benar seorang wanita yang tahan uji. Meski tidak
mampu menjawab karena rasa sakit yang melanda, dia mem-beri isyarat tidak mau
dengan gelengan kepalanya.
"Keparat!"
Malisang
yang sudah merendahkan diri menga-jukan tawaran jadi semakin kalap. Dia
memutuskan untuk memberi siksaan yang lebih menyakitkan. Ben-turan batu-batuan
semakin dipergencar.
"Terimalah
kematianmu, Wanita Keras Kepala! Kau akan mati dengan mata, telinga, dan hidung
yang mengeluarkan darah karena urat-urat syaraf mu pe-cah tak kuat menahan
siksaan ini!"
Malisang
memang tidak main-main dengan an-camannya. Begitu benturan batu-batunya
dipergencar, istri Pendekar Macan Putih mendadak meraung memi-lukan. Ia
menggelepar-gelepar di tanah seperti cacing dilempar ke abu panas!
"Ha ha
ha...!"
Malisang
tertawa bergelak melihat istri Pende-kar Macan Putih tersiksa seperti itu.
Kedongkolannya yang menggebu-gebu tersalurkan melihat korbannya yang keras
kepala demikian menderita.
"Manusia
Keji! Manusia Berhati Binatang...!" Tawa Malisang terhenti di tengah jalan
karena
seruan
keras yang mampu menindih gelak tawanya. Teriakan keras itu jelas-jelas
memakinya.
Di saat
Malisang hendak mencari asal suara itu, angin tiba-tiba berhembus cukup keras.
Tahu-tahu di depan Malisang dan istri Pendekar Macan Pu-tih telah berdiri
seorang gadis berpakaian merah me-nyala. Seorang gadis yang amat cantik.
Berkulit putih,
halus, dan
mulus. Beberapa tahi lalat menghias wa-jahnya, menambah kecantikannya.
Tanpa
menunggu lebih lama, gadis berpakaian merah mengambil sebatang kipas yang
terselip di pinggang. Kemudian, ia mengirimkan totokan bertubi-tubi ke berbagai
bagian tubuh Malisang!
Malisang
melompat jauh ke belakang dan me-lemparkan batu-batu di tangannya pada gadis
berpa-kaian merah! Kedatangan gadis itu membuat Malisang menghentikan
serangannya terhadap istri Pendekar Macan Putih.
4
Gadis
berpakaian merah mengembangkan ki-pasnya dan mengebutkan hingga batu-batu itu
terpu-kul runtuh. Tapi, saking kerasnya tenaga Malisang, tubuh gadis berpakaian
merah terhuyung dan tan-gannya bergetar hebat.
Kesempatan
emas itu tak dibiarkan begitu saja oleh Malisang. Malisang segera meloloskan
sabuknya. Kemudian, dilemparkan ke arah gadis berpakaian me-rah. Bagaikan
memiliki nyawa, sabuk hitam pekat mi-lik Malisang meluncur dan melibat erat
gadis itu sebe-lum sempat berbuat sesuatu. Bahkan, sabuk itu membuat simpulan
yang erat dari pangkal lengan sampai ke bawah pinggang. Kejadian itu terjadi
demi-kian cepat.
Gadis
berpakaian merah berusaha melepaskan diri dengan mengerahkan tenaga dalam.
Tapi, sabuk itu bukan sabuk sembarangan. Walaupun gadis itu te-lah mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya sabuk la-wan tetap tidak mampu diputuskan. Sabuk itu
lentur seperti karet!
Malisang
tidak berani menanggung akibat bila gadis berpakaian merah sampai lepas. Di
saat gadis itu tengah berjuang untuk membebaskan diri dari beli-tan sabuk.
Lelaki berkulit hitam menudingkan jari te-lunjuk kanannya.
Tidak
terlihat Malisang bergerak mendekat un-tuk melakukan totokan, tapi gadis
berpakaian merah mengeluarkan keluhan tertahan ketika tudingan jari telunjuk
Malisang mengenai salah satu jalan darah-nya. Tubuh gadis berpakaian merah pun
ambruk ke tanah seperti karung basah.
Gadis
berpakaian merah tampak kaget bukan main. Malisang ternyata memiliki ilmu
totokan jarak jauh. Dengan mempergunakan angin serangannya sa-ja, lelaki
berkulit hitam ini mampu merobohkan lawan!
"He he
he...!"
Malisang
terkekeh melihat gadis berpakaian merah sudah tidak berdaya. Masih dengan kekeh
yang tidak lenyap dari mulutnya, Malisang melakukan ge-rakan menarik dengan
kedua tangan kepada istri Pen-dekar Macan Putih.
Wanita
berpakaian biru yang memperhatikan jalannya pertarungan terkejut bukan main
merasakan adanya tarikan yang luar biasa dari kedua tangan Ma-lisang. Istri
Pendekar Macan Putih ini tahu gadis ber-pakaian merah tidak bisa diandalkan
lagi untuk me-nyelamatkan nyawanya. Sayang, Malisang telah lang-sung bertindak
sebelum istri Pendekar Macan Putih mengambil tindakan penyelamatan.
Dari
pandangan mata Malisang, wanita itu ta-hu maut telah dekat dengan dirinya. Ia
tidak mampu berbuat sesuatu untuk menyelamatkan diri. Wanita berpakaian biru
ini hanya bisa pasrah menanti da-tangnya maut.
Gadis
berpakaian merah meski sudah tidak
berdaya
tidak menghalangi pandangannya ke arah Malisang dan istri Pendekar Macan Putih.
Matanya terbelalak melihat tubuh Ibunya Gunaran tertarik de-ras ke arah
Malisang.
Gadis
berpakaian merah menduga Malisang akan menyambuti datangnya tubuh wanita
berpakaian biru dengan tusukan jari tangan atau pukulan. Po-koknya serangan
mematikan yang dapat mengirim nyawa istri Pendekar Macan Putih ke neraka. Tapi,
dugaannya ternyata meleset. Malisang menjulurkan kedua tangannya ke arah
sebatang pohon besar ber-daun rimbun yang berada tak jauh darinya. Sesaat tangan
lelaki berkulit hitam legam ini bergetar dan daun-daun pohon itu berguguran.
Cukup banyak ba-gai dilanda angin topan.
Tindakan
Malisang tidak berhenti sampai di si-tu. Dengan kedua tangannya dia melakukan
gerakan mengibas ke arah istri Pendekar Macan Putih. Seketi-ka itu pula
daun-daun meluncur ke arah wanita ber-pakaian biru dengan kecepatan
menakjubkan. Bunyi mencicit yang menyayat telinga terdengar ketika daun-daun
meluncur menyambut luncuran tubuh istri Pen-dekar Macan Putih.
Cap, cap,
cappp!
Laksana benda-benda
dari logam, daun-daun pohon itu menancapi sekujur tubuh istri Pendekar Macan
Putih, mulai dari kepala sampai ke pinggang. Wanita berpakaian biru itu tidak
tahan untuk tidak mengeluarkan jeritan menyayat. Darah pun deras mengalir dari
bagian tubuh yang ditancap daun-daun yang tak ubahnya mata pisau akibat
pengerahan te-naga dalam Malisang yang luar biasa.
Nyawa
wanita berpakaian biru pun melayang ke alam baka dengan tubuh masih meluncur
deras ke arah Malisang. Tapi, hanya dengan menjulurkan ke-
dua tangan
ke depan, Malisang telah membuat tubuh istri Pendekar Macan Putih kembali
terpental ke bela-kang. Dari kedua tangan yang dijulurkan itu keluar angin
keras.
***
"Sekarang
giliranmu, Gadis Liar!" Malisang me-nyorotkan tatapan dingin pada gadis
berpakaian me-rah.
Bukannya
takut, gadis berpakaian merah ma-lah menentang tatapan Malisang, Hal ini
membuat Malisang semakin merasa tidak senang. Terlebih ia gagal mendapatkan
keterangan tentang Harimau Ter-bang Berkuku Seribu.
"Aku
tidak mau berpanjang kata, Gadis Liar! Aku bukan orang yang sabar. Cepat jawab
atau kau akan mengalami hal yang mengerikan di tanganku! Kau akan ku telanjangi
dan tubuhmu yang bagus itu kuumpankan pada gerombolan semut merah yang
ku-bawa!"
Malisang
menghentikan ucapannya ketika me-lihat perubahan di wajah gadis berpakaian
merah. Dia tahu hati gadis itu terguncang. Kalau tidak karena an-caman dengan
semut, tentu karena takut ditelanjangi! Sebagai seorang tokoh persilatan yang
berpengalaman, Malisang tahu ancaman siksaan yang paling mengeri-kan bagi
seorang gadis adalah perkosaan. Tapi, sayang Malisang bukan orang semacam itu.
Dia tidak mem-punyai keinginan untuk menguasai tubuh seorang wanita secara
paksa.
"Apa...
yang hendak kau tanyakan padaku...?" tanya gadis berpakaian merah.
Suaranya
agak bergetar karena perasaan te-gang yang melanda hati.
"Katakan
di mana Harimau Terbang Berkuku Seribu!" tandas Malisang cepat
Wajah gadis
berpakaian merah berubah pias. Mungkin kalau gadis ini dapat bergerak, ia akan
ber-jingkat ke belakang seperti orang disengat kalajengk-ing!
Melihat
gadis berpakaian merah tercenung bin-gung malah seperti kaget Malisang jadi
kalap.
"Cepat
jawab sebelum aku kehilangan kesaba-ran dan memberikan hukuman terhadapmu!
Jangan paksa aku untuk membuktikan ancaman ku!" desak Malisang tidak
sabar.
Gadis
berpakaian merah tidak juga memberi-kan keputusan meski ucapan Malisang
terdengar se-makin keras. Rupanya, pertanyaan yang diajukan Ma-lisang terlalu
rahasia. Sehingga, sukar bagi gadis ber-pakaian merah untuk memberikan jawaban.
Tindakan
gadis itu membuat kesabaran Mali-sang habis. Lelaki berkulit hitam ini tahu
gadis berpa-kaian merah mengetahui jawabannya. Karena itu, Ma-lisang jadi geram
ketika melihat gadis itu tidak juga memberikan jawaban.
Malisang
murka bukan main. Dia merasa di-tantang untuk membuktikan kebenaran ancamannya.
Maka, segera tangan kanannya dijulurkan ke arah punggung kudanya yang sejak
tadi dengan tenang me-rumput. Lelaki berkulit hitam itu menggetarkan tan-gannya
mengerahkan tenaga dalam.
Sesaat
kemudian, sebuah buntalan sebesar kepala yang berada di atas punggung kuda
melayang ke arah Malisang. Pada saat yang bersamaan, dari atas pohon melinjo
yang berada di sebelah kiri Mali-sang dan berlawanan arah dengan kuda Malisang,
me-layang dua butir buah melinjo ke arah gadis berpa-kaian merah.
Malisang
meski tengah sibuk tidak kehilangan kewaspadaan. Bunyi luncuran buah melinjo
yang mencicit cukup nyaring membuat kepalanya menoleh. Lelaki berkulit hitam
legam ini melihat luncuran dua buah melinjo dari atas pohon. Sayang, Malisang
tidak dapat berbuat apa-apa.
Tuk, tukkk!
Begitu
buah-buah melinjo mengenai tubuh ga-dis berpakaian merah, ia merasa totokan
yang membe-lenggu buyar. Jalan darahnya kembali lancar. Dengan sekali
lentingan, gadis berpakaian merah langsung dapat berdiri meski kedua tangannya
masih terbeleng-gu.
Melihat hal
ini Malisang jadi naik darah. Begitu buntalannya berhasil ditangkap. Tangan
kanannya se-gera digunakan untuk mengirimkan pukulan jarak jauh ke atas pohon
tempat buah melinjo tadi berasal! Hembusan angin deras yang menandakan kekuatan
tenaga dalam dahsyat pun meluncur ke atas pohon.
Sebelum
pukulan jarak jauh Malisang tiba yang akan mengakibatkan sebagian besar
daun-daun dan ranting pohon berguguran, dari balik kerimbunan dedaunan mencuat
dua buah telapak tangan. Yang kanan mengarah pada luncuran pukulan jarak jauh
Malisang. Sedangkan tangan kirinya tertuju pada tem-pat gadis berpakaian merah
berada.
Malisang
hampir tidak percaya dengan pengli-hatannya ketika pukulan jarak jauhnya berhasil
di-kandaskan. Malah tidak pantas disebut kandas, me-lainkan lenyap begitu saja
bagai tertelan tangan kanan yang keluar dari kerimbunan pohon. Tidak terjadi
ben-turan tenaga dalam yang seperti biasanya terjadi.
Yang lebih
gila lagi, tangan kiri yang mengarah ke tubuh gadis berpakaian merah kelihatan
bergetar sesaat. Sabuk yang melilit tubuh gadis itu pun ter-
lepas.
Kejadian ini lebih membuat Malisang kaget Malisang bukan orang bodoh! Ia tahu
sosok
yang
bersembunyi di atas pohon memiliki kepandaian sangat tinggi. Hanya dengan
sebelah tangan ia mampu menelan pukulan jarak jauhnya. Hebatnya lagi, pada saat
yang bersamaan ia mampu membebaskan gadis berpakaian merah dari belenggu
lilitan sabuknya. Sua-tu tindakan yang Malisang sendiri tak akan mampu melakukannya
meski dengan kedua tangan. Membuka ikatan lebih sulit daripada mengikatnya.
Yang lebih
membuat Malisang yakin akan ke-tangguhan sosok yang berada di atas pohon adalah
karena kedua tangan itu berasal dari satu orang. Ka-rena gerakan itu dilakukan
pada waktu yang bersa-maan, sosok yang berada di atas pohon pasti membagi
tenaganya untuk memunahkan pukulan jarak jauh dan melepaskan belenggu gadis
berpakaian merah. Jadi, tiap tangan mengandung separo dari pengerahan tenaga
dalamnya. Kalau separo saja mampu meneng-gelamkan pukulan jarak jauhnya,
bagaimana pula dengan seluruh kekuatan tenaga dalamnya? Pikir Ma-lisang. Maka
setelah me-lempar pandangan gentar pa-da sosok yang tersembunyi di balik pohon,
lelaki ber-kulit hitam legam ini melompat ke atas punggung ku-da dan
menggebahnya untuk segera meninggalkan tempat itu.
***
"Kalau
bukan seorang pengecut dan memang memiliki maksud baik mengapa tidak turun dari
atas pohon...?!"
Gadis
berpakaian merah yang merasa kagum melihat Malisang yang demikian lihai lari
ketakutan, sengaja mengeluarkan ucapan pedas untuk memaksa
penolongnya
keluar dari tempat persembunyian. Gertakan gadis berpakaian merah ternyata
berhasil.
Sesaat kemudian, dengan didahului helaan napas berat, melayang turun sesosok
bayangan yang mendarat ringan bagai sehelai daun jatuh.
"Ah...!"
Gadis
berpakaian merah tidak mampu mena-han keterkejutannya melihat sosok di atas
pohon yang telah berdiri empat tombak di depannya. Sepasang mata gadis itu
membelalak lebar seperti tengah meli-hat hantu.
Tentu saja
tindakan gadis berpakaian merah membuat sosok yang baru turun dari pohon
kebin-gungan. Apakah ada sesuatu yang salah dengan di-rinya? Sosok itu bertanya
sendiri dalam hati. Barang-kali ada sesuatu yang tanpa diketahui menempel di
wajah atau kepalanya? Kotoran atau sarang burung barangkali?
Karena
pandangan gadis itu sebagian besar di-tujukan pada wajah dan kepalanya, sosok
yang baru turun dari atas pohon menggunakan kedua tangannya untuk menyeka
kepala serta wajahnya.
"Apa
yang kau lakukan, Sobat?" Gadis berpa-kaian merah merasa heran.
Pertanyaan
ini menyadarkan penolong gadis berpakaian merah kalau pada wajah dan kepalanya
ti-dak terdapat apa-apa. Dia telah salah duga.
"Hanya
iseng saja, Nisanak. Bukankah lebih baik mengusap-usap wajah dan kepala daripada
aku mengisap-isap jempol?" Untuk menutupi perasaan ma-lunya, pemuda yang
baru turun dari atas pohon dan berambut putih keperakan itu mencoba berkelakar.
"Hi hi
hi...!"
Gadis
berpakaian merah tertawa lucu menden-gar jawaban itu. Dia tahu bukan itu jawaban
yang se-
benarnya.
Tapi, dia tidak mempedulikannya dan tidak bertanya lebih lanjut.
Pemuda
berambut putih keperakan ikut terse-nyum lebar. Apalagi gadis itu kelihatan
geli sekali. Pe-muda berambut putih keperakan tidak menduga kalau tadi gadis
berpakaian merah terkesima bukan karena ada sesuatu pada wajah dan kepalanya.
Tapi, karena heran melihat orang yang telah menyebabkan Mali-sang pergi adalah
seorang yang masih sangat muda! Tadi, gadis berpakaian merah menduga kalau yang
melompat turun adalah seorang kakek yang sudah sangat tua, mengingat kesaktian
yang dipertunjuk-kannya.
"Terima
kasih atas pertolonganmu, Sobat. Ka-lau tidak ada kau mungkin aku telah celaka
di tan-gannya," ujar gadis berpakaian merah kemudian. "Ke-nalkan
namaku Pergiwa. Kau boleh memanggilku Gi-wa. Asal jangan kau panggil aku dengan
sapaan Pergi saja. Aku tidak akan menoleh. Hi hi hi...!"
Pemuda
berambut putih keperakan itu tertawa. Bukan karena lelucon gadis berpakaian
merah yang bernama Pergiwa. Lelucon itu sama sekali tidak lucu. Tapi, pemuda
berambut putih keperakan tertawa ka-rena melihat betapa gelinya Pergiwa
tertawa. Pergiwa tidak tahu hal itu. Gadis berpakaian merah itu men-duga pemuda
berambut putih keperakan tertawa ka-rena leluconnya.
"Lupakanlah,
Pergiwa." Pemuda berambut pu-tih keperakan menyapa secara lengkap.
"Tolong meno-long sudah merupakan kewajiban setiap manusia. Ja-di, tidak
perlu dibesar-besarkan. Lagi pula hanya ke-betulan aku lewat tempat ini. Karena
aku tidak tahu permasalahannya, aku menolong secara sembunyi-sembunyi. Aku
tidak mau mencari permusuhan den-gan orang yang tidak mempunyai urusan
denganku."
Pemuda itu
memang baru saja tiba setelah me-nunggu orang-orang yang disangkanya mengejar
pe-muda berpakaian kuning tua. Cukup lama ia menung-gu sebelum akhirnya
menempuh arah yang dituju pe-muda berpakaian kuning. Dia melakukan perjalanan
seenaknya sehingga tiba di tempat ini dengan mema-kan waktu cukup lama. Apalagi
karena agak kesulitan mengikuti jejak kuda yang sebagian besar telah hilang
akibat tiupan angin keras.
"Meskipun
orang itu telah membunuh wanita tua yang tidak bersalah?" Pergiwa meminta
penegasan.
"Benarkah
demikian?"
Pemuda
berambut putih keperakan kelihatan agak terkejut. Ia mengalihkan pandangannya
ke arah istri Pendekar Macan Putih yang tergolek tanpa nyawa di tanah. Memang,
pemuda tampan berwajah jantan itu telah melihatnya. Hanya ia tidak tahu siapa
yang telah membunuhnya.
"Tentu
saja!" tandas Pergiwa keras. "Kau kira aku orang yang suka berbohong?
Apakah aku tampak seperti orang yang suka menipu orang?!"
"Tentu
saja tidak!" jawab pemuda berambut putih keperakan cepat, khawatir Pergiwa
meledak amarahnya. "Siapa pun yang melihatmu bisa segera mengetahui kalau
kau seorang wanita yang jujur. Kau tidak terlihat mempunyai sifat pembohong.
Apalagi ja-hat dan sampai membunuh orang."
"Benarkah
demikian?" Wajah Pergiwa berubah cerah. Lenyap sudah bayang kemarahan dari
wajah-nya.
Pemuda
berambut putih keperakan menahan geli. Dia memasang wajah serius. Kepalanya
diang-gukkan.
"Kau
pun baik. Maksudku... aku yakin kau pun bukan orang jahat. Setidak-tidaknya
demikian
perkiraan
ku. Apakah... kau seorang pendekar yang terkenal? O, ya. Aku belum mengetahui
siapa nama-mu. Kau curang! Sejak tadi kau belum memperkenal-kan nama. Padahal,
aku sudah memperkenalkan diri sejak tadi."
Pemuda
berambut putih keperakan hampir sa-ja tidak kuat menahan rasa geli yang
menggelitik ha-tinya. Baru saja Pergiwa memujinya dengan mengata-kan baik, tapi
belakangan mengatakannya curang. Siapa yang tidak merasa geli.
"Ayo!
Cepat katakan siapa dirimu!" desak Per-giwa tidak sabar.
5
"Namaku
Arya Buana. Tapi, lebih baik kau panggil aku Arya." Pemuda berambut putih
keperakan itu memperkenalkan diri dengan suara pelan.
"Arya...."
Pergiwa mengulang nama itu seraya mengernyitkan dahi. Ia tengah mengingat-ingat
sesua-tu.
Melihat
sikap gadis berpakaian merah, pemuda berambut putih keperakan yang tidak lain
Arya Buana atau yang lebih terkenal dengan julukan Dewa Arak ini tahu tak lama
lagi Pergiwa akan mengenal siapa di-rinya. Gadis berpakaian merah ini jelas
telah mengen-al namanya.
Kekhawatiran
pemuda itu memang tidak berle-bihan. Sesaat kemudian kernyitan pada dahi yang
ha-lus itu lenyap. Wajah Pergiwa berseri-seri. Dengan se-pasang matanya yang
bening dan berbinar-binar, ga-dis berpakaian merah ini menatap Arya lekat-lekat
da-ri ujung rambut sampai ke ujung kaki. Sepasang mata itu lebih lama berhenti
pada rambut dan pakaian
Arya.
Kemudian, dengan sikap sungguh-sungguh Per-giwa berjalan mengelilingi Arya. Ia
berhenti di bela-kang pemuda itu. Arya tahu apa yang dilakukannya. Apalagi
kalau bukan memperhatikan guci di pung-gungnya.
"Sekarang
aku tahu siapa dirimu, Arya," jawab Pergiwa seraya menyunggingkan senyum
lucu setelah kembali berada di depan Arya. "Ciri-ciri mu sering se-kali
kudengar dari Guru. Beliau pernah bercerita ten-tang seorang pendekar muda yang
memiliki kepan-daian amat tinggi. Ia telah merobohkan banyak penja-hat-penjahat
sakti! Orang itu berjuluk Dewa Arak! Pasti kau Dewa Arak. Betul kan?!"
"Kalau
boleh ku tahu siapa gurumu, Pergiwa?" Arya berusaha mengalihkan
pembicaraan karena dia merasa tidak enak Pergiwa memuji-mujinya.
"Guruku
berjuluk Harimau Terbang Berkuku Seribu. Orang yang dicari-cari Malisang!"
jawab Pergi-wa kurang bersemangat. Ingatan tentang gurunya mengingatkan dia
akan kakak seperguruannya, Guna-ran. Dia telah dijodohkan dengan Gunaran.
Semula
Pergiwa tidak terlalu menganggap pus-ing masalah perjodohan itu. Kakak
seperguruannya tampan, lihai, dan juga baik hati. Apalagi yang ku-rang? Tapi
sekarang setelah melihat Dewa Arak, Per-giwa mulai ragu dan menyesalkan
perjodohan itu. Di-bandingkan dengan Dewa Arak, Gunaran sama sekali tidak ada
artinya. Gunaran kalah segala-galanya.
Dewa Arak
tidak hanya unggul dalam kesak-tian. Dalam ketampanan pun pemuda berambut putih
keperakan ini tidak kalah dengan Gunaran. Malah, ke-tampanan Arya dianggap
Pergiwa lebih menarik. Jan-tan dan matang! Terlihat jelas kalau pemuda
beram-but putih keperakan itu telah kenyang dengan penga-laman hidup. Sikapnya
demikian tenang dan meya-
kinkan.
Kebaikan Dewa Arak pun tidak kalah dengan Gunaran. Pemuda di hadapannya ini
telah menyum-bangkan tenaga dan kepandaiannya untuk menghan-curkan angkara
murka yang merajalela di persada.
"Ada
yang salah dengan ucapanku, Pergiwa?" tanya Arya ingin tahu karena melihat
gadis berpakaian merah tercenung. Ia tampak kurang bersemangat.
"Ah...!
Sama sekali tidak, Dewa Arak!" jawab Pergiwa gugup. Gadis cantik itu
berusaha tersenyum, tapi terlihat janggal.
"Syukurlah!"
Meski tahu Pergiwa berbohong Dewa Arak tidak mendesak. "Aku sudah khawatir
ucapanku menyinggung perasaanmu. Dan, panggil sa-ja aku Arya. Tidak usah Dewa
Arak segala. Tidak enak rasanya."
Pergiwa
diam saja. Wajahnya masih terlihat muram.
"Kau
belum menceritakan mengapa kau ben-trok dengan lelaki berkulit hitam legam
tadi. Apakah dia yang bernama Malisang? Tempat tinggalmu di sini? Dan, apa
hubungannya kau dengan wanita yang tewas itu? Jawablah kalau kau mau
menjawabnya, Pergiwa. Kalau kau tidak ingin, lupakan saja pertanyaanku."
"Tidak
ada yang rahasia, Arya. Jadi, kurasa ti-dak ada salahnya kalau kuceritakan
padamu. Aku tinggal bersama guruku, Harimau Terbang Berkuku Seribu dan kakak
seperguruanku yang bernama Gu-naran. Sebelum mempunyai murid kami, guruku telah
mempunyai dua orang murid yang telah cukup ter-kenal di dunia persilatan.
Mereka berjuluk Pendekar Macan Putih dan Pendekar Macan Hitam. Gunaran adalah
anak dari Pendekar Macan Putih."
Arya
mengangguk-anggukkan kepala. Dia telah mendengar julukan sepasang pendekar itu,
yang ter-kenal belasan tahun lalu sebagai pembela-pembela
kebenaran.
"Beberapa
hari yang lalu Gunaran kedatangan seorang kurir yang diutus ibunya. Entah apa
yang ter-jadi sehingga Gunaran dipanggil pulang. Aku yang khawatir akan terjadi
sesuatu segera menyusul Guna-ran. Wanita yang tewas itu adalah ibunya Gunaran.
Sedangkan rumah ini tempat tinggal Gunaran dan ke-luarganya. Aku tahu tempat
ini karena Gunaran per-nah menceritakannya. Sayang, aku terlampau bodoh
sehingga tidak mampu menyelamatkan nyawa ibunya Gunaran. Bahkan kalau tidak ada
kau, aku pun akan tewas." Pergiwa menutup ceritanya dengan suara pe-nuh
rasa penyesalan.
Arya
termenung sejenak memikirkan kejadian itu. "Aku rasa ini ada hubungannya
dengan Harimau Terbang Berkuku Seribu. Bukankah Malisang, lelaki yang tadi
hendak membunuhmu, bermaksud mencari Harimau Terbang Berkuku Seribu?!"
Arya menyatakan dugaannya.
"Mungkin
saja." Pergiwa menjawab tidak pasti. "Kalau begitu mari kita kuburkan
ibunya Gu-
naran.
Setelah itu baru menyelidiki penyebab peristi-wa ini!" ajak Arya.
***
Usai
menguburkan mayat ibunya Gunaran, Arya dan Pergiwa meninggalkan tempat itu.
Mereka memutuskan untuk mengusut kejadian itu lewat Gu-naran. Baik Arya maupun
Pergiwa merasa yakin sebe-lum meninggal ibunya Gunaran telah memberitahu-kan
sesuatu yang menyebabkan Gunaran di-panggil pulang. Sesuatu itu yang telah
mendorong Gunaran pergi meninggalkan rumah.
Arya dan
Pergiwa menggunakan ilmu lari cepat
agar dapat
menyusul Gunaran. Mereka telah mempu-nyai perkiraan ke mana Gunaran pergi,
karena jalan yang ada di depan rumah Gunaran hanya menuju ke dua arah! Yang
satu arah yang ditinggalkan, sedang-kan yang lain arah kedatangan Malisang.
Mengetahui
kepandaian Pergiwa tidak bisa di-bandingkan dengan dirinya, Arya tidak mengerahkan
seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Hanya sekadar untuk membuat larinya
bersisian dengan Pergiwa.
"Kau
yakin wanita itu murid Harimau Terbang Berkuku Seribu, Pasu?!"
Seruan
tidak keras tapi bergema ke sekitar tempat di mana Arya dan Pergiwa berada mengagetkan
sepasang muda-mudi itu. Saat itu Arya dan Pergiwa berada di jalan setapak yang
di kanan kirinya banyak ditumbuhi pohon besar berdaun rim-bun.
"Aku
yakin, Ayah. Bukankah setiap murid ka-kek bongkok itu mempunyai ciri khusus?
Kulihat di punggung tangan kirinya tergambar kepala seekor ha-rimau!"
Sebuah
suara lain menyambuti. Sama seperti sebelumnya, suara kedua ini pun sukar untuk
diketa-hui dari mana asalnya. Suara itu bagaikan muncul dari segenap penjuru.
Arya dan
Pergiwa menghentikan langkah. Me-reka mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Lebih te-patnya lagi, Arya yang mengedarkan pandangan se-dangkan Pergiwa hanya
mengikuti ke mana pemuda berambut putih keperakan itu mengarahkan pandan-gan.
"Kau
tahu di mana mereka, Arya?" tanya Per-giwa setelah melihat pemuda itu
tidak segera menuju-kan pandangannya ke satu arah. Pergiwa tidak meli-hat apa
pun kecuali pohon-pohon besar berdaun rim-bun.
"Belum
bisa kupastikan, Pergiwa. Yang jelas mereka mengetahui tempat kita berada.
Sedangkan ki-ta tidak mengetahui tempat mereka. Celakanya lagi mereka
mengenalmu. Dan, tampaknya mempunyai urusan dengan Harimau Terbang Berkuku
Seribu," bi-sik Arya lirih.
"Aneh...!"
Pergiwa berujar tanpa menyembunyi-kan rasa herannya. "Aku tahu kau
memiliki kepan-daian tinggi. Bahkan guruku amat mengagumimu. Mengapa kau tidak
bisa mengetahui di mana pemilik suara-suara itu berada, Arya?"
"Kalau
kau telah terjun ke dunia persilatan se-perti aku, tentu kau tidak akan
menganggapku memi-liki kepandaian tinggi. Asal kau tahu saja, Pergiwa. Di dunia
ini amat banyak tokoh-tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, bahkan
jauh lebih tinggi daripada ku. Bukan tidak mungkin orang-orang yang baru saja
bersuara itu termasuk di antara tokoh-tokoh yang lebih tinggi kepandaiannya
dari aku!"
"Tidak
mungkin!" bantah Pergiwa tidak per-caya. "Kalau benar banyak tokoh
persilatan yang me-miliki kepandaian melebihi mu, sudah sejak lama kau tewas,
Dewa Arak! Kau terlalu merendah diri!"
"Lalu,
bagaimana jawabmu mengenai ketidak-tahuan ku akan keberadaan mereka yang tengah
ber-cakap-cakap itu?" pancing Arya ingin tahu.
Pergiwa
membisu.
"Mungkin
kau bisa memberitahukannya pada-ku, Arya. Yang jelas aku tidak setuju dengan
sikapmu. Memiliki sifat sombong memang tidak baik, tapi terlalu memandang
tinggi lawan dan merendahkan diri terus pun tidak bagus. Itu akan membuat nyali
kita kecil!"
Arya
tersenyum lebar mengetahui kebenaran pendapat Pergiwa. Dia tidak memiliki nyali
kecil. Hanya hendak membuka kesadaran Pergiwa kalau di
dunia ini
tidak hanya Dewa Arak saja tokoh yang pal-ing sakti. Masih banyak tokoh-tokoh
lainnya. Agar nanti apabila Dewa Arak roboh di tangan salah satu tokoh
persilatan, Pergiwa tidak terlampau kaget yang mengakibatkan hal-hal yang tak
diinginkan. Dia mera-sa bersyukur mendengar pendapat gadis berpakaian merah
itu.
"Aku
banyak menjumpai hal-hal seperti ini, Pergiwa. Memang tidak selalu orang yang
dapat mem-buat sumber suaranya tidak diketahui memiliki ke-pandaian tinggi.
Tapi, yang jelas dia memiliki kepan-daian luar biasa. Setidak-tidaknya tenaga
dalam yang dimilikinya amat kuat. Cara dia menyampaikan se-ruan tadi
menggunakan ilmu memindahkan suara, sehingga suaranya seperti berasal dari
delapan penju-ru angin."
"Ha ha
ha...! Rupanya kau memang benar-benar lihai, Dewa Arak! Berita yang kudengar
menge-nai kesaktianmu ternyata tidak berlebihan. Buktinya kau tahu ilmu yang
kupergunakan!" sambut suara pertama yang tadi terdengar.
"Tidak
usah banyak bicara!" Pergiwa segera menyambuti, mendahului Dewa Arak.
"Kalau kau me-mang bukan seorang pengecut tunjukkan dirimu!"
"Baiklah
kalau itu yang kau inginkan, Wanita Liar!"
Belum juga
gema ucapan itu lenyap, terdengar bunyi berkerosokan dari sebatang pohon besar
yang berada di sebelah kanan Arya dan Pergiwa. Sesaat kemudian, dua sosok
bayangan melesat ke bawah dan menjejak tanah tanpa menimbulkan bunyi.
Arya dan
Pergiwa segera memperhatikan dua sosok tubuh itu. Seorang kakek yang telah
sangat tua. Usianya tak kurang dari seratus tahun. Tubuhnya te-lah bungkuk,
meski terlihat agak kekar untuk ukuran
seorang
kakek. Rambut kumis, alis, dan jenggotnya te-lah memutih! Sepintas lalu kakek
ini tidak menimbul-kan kesan menyeramkan. Apalagi tegak tubuh bong-koknya
karena ditunjang sebatang tongkat pada tan-gan kanan.
Sosok kedua
lebih menimbulkan keangkeran bagi orang yang melihatnya. Tubuhnya tinggi besar.
Pakaiannya berupa rompi coklat. Kulit wajahnya me-rah. Sekujur tangan dan
dadanya yang tidak ter-tutup rompi dipenuhi bulu-bulu hitam lebat
Berbeda
dengan Pergiwa, Arya tahu kakek bongkok itu jauh lebih berbahaya daripada
lelaki be-rompi coklat yang mungkin berusia tujuh puluh ta-hun. Pemuda berambut
putih keperakan itu pun me-musatkan perhatian pada kakek bongkok.
"Akhirnya
kalian berani menunjukkan hidung juga! Jangan kalian kira dengan demikian aku
akan menganggap kalian tidak bersikap pengecut. Aku tahu kalian merasa terpaksa
memunculkan diri. Malu kare-na takut kami anggap pengecut bukan? Padahal,
ka-lian memang tak lebih dari pengecut-pengecut keji!"
Tajam dan
pedas bukan main kata-kata Pergi-wa. Gadis berpakaian merah ini memang memiliki
ke-beranian yang besar. Tidak takut akan akibat apa pun. Yang diperbuatnya
hanya satu, mengeluarkan perkataan semuanya tanpa dipikir. Arya sendiri yang
tidak menduga hal itu kaget bukan main mendengar-nya. Diam-diam pemuda berambut
putih keperakan ini menyesalkan sikap Pergiwa yang ceroboh. Pergiwa terlalu
berani. Padahal, Arya tahu dua tokoh yang berdiri di depannya ini tokoh-tokoh
tingkat atas. Tapi, apa daya? Nasi telah menjadi bubur. Ucapan telah
di-keluarkan. Tak mungkin ditarik kembali. Yang dapat mereka lakukan hanya
menanti akibatnya.
Arya
semakin bersikap waspada ketika melihat
perubahan
pada wajah kedua lelaki di hadapannya. "Iiih...!"
Pergiwa
sendiri tanpa sadar mengeluarkan pe-kikan tertahan ketika melihat kakek bongkok
yang se-jak tadi menatap ke bawah seperti mencari sesuatu mengangkat kepalanya.
Gadis berpakaian merah ini melihat sepasang mata yang mencorong tajam, seperti
mata harimau dalam gelap! Hijau dan menyilaukan!
Pergiwa
sampai melangkah mundur setindak karena kagetnya. Sedangkan Arya yang sejak
tadi ber-siap siaga makin mempertebal kewaspadaannya. Sinar sepasang mata yang
mencorong kehijauan dan seperti itu menjadi pertanda kekuatan tenaga dalamnya
yang luar bisa.
"Sungguh
berani kau mengeluarkan ucapan seperti itu, Wanita Liar!" Pelan dan satu
persatu kakek bongkok mengeluarkan kata-katanya. Tapi yang mem-buat hati Arya
berdebar tegang adalah karena tidak terlihat bibir kakek itu bergerak! Padahal,
suara yang keluar terdengar jelas. Meski tidak terlalu keras, tapi getarannya
sampai ke dada.
"Padahal,
gurumu sendiri tak akan berani ber-kata seperti ini! Malah, sejak puluhan tahun
dia ber-sembunyi dariku. Kalau kau tidak mau memberi pe-tunjuk di mana dia
berada, jangan harap kau akan se-lamat dari tanganku! Ingin kulihat apa yang
bisa di-perbuat Dewa Arak untuk menyelamatkanmu!"
"Kakek
bongkok tidak tahu malu!" Pergiwa yang tidak mudah digertak, menjadi
semakin meluap amarahnya. "Orang seusia kau seharusnya sudah ti-dak
memikirkan kekerasan lagi. Hidup tenang sambil menimang-nimang cucu!"
"Mulutmu
semakin kurang ajar, Wanita Liar! Biarlah aku yang mewakili gurumu untuk
menghan-curkan mulutmu!"
Usai
berkata demikian, kakek bongkok mengu-lurkan tangan kanannya bergerak hendak
mencengke-ram mulut yang memiliki bibir indah itu. Jarak antara kakek bongkok
dengan Pergiwa tak kurang dari satu tombak. Tapi, tangan kakek bongkok ternyata
dapat mulur dan terus mengancam mulut Pergiwa.
Pergiwa
tentu saja tidak membiarkan mulutnya diremas hancur. Dia bersiap hendak melompat
ke be-lakang ketika melihat tangan kakek bongkok bisa mu-lur. Tapi, sebelum
gerakan itu dilakukan, gadis berpa-kaian merah ini melihat jari telunjuk kiri
kakek bong-kok menjentik perlahan. Sesaat kemudian, Pergiwa merasakan sekujur
tubuhnya lemas. Jalan darahnya telah tertotok. Ini menyebabkan ia hanya bisa
menanti tibanya serangan dengan sepasang mata membelalak ngeri. Sungguh tidak
disangka kakek bongkok ini de-mikian lihai. Ingin Pergiwa menjerit minta tolong
pada Dewa Arak, tapi suaranya seperti tercekik di tenggoro-kan!
"Jangan
terlalu kejam terhadap seorang muda, Kek." Arya yang memiliki mata tajam
dan tahu Pergiwa tidak berdaya segera membuka suara. Dengan berani pemuda
berambut putih keperakan ini memapaki lun-curan tangan kakek bongkok dengan hantaman
tan-gan kanan. Arya mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya.
6
Prattt!
Tubuh kedua
belah pihak terhuyung ke bela-kang akibat benturan keras itu. Dewa Arak dua
lang-kah lebih jauh terhuyungnya dari kakek bongkok.
Kenyataan
ini sangat mengejutkan Arya. Me-
mang sudah
dapat diduga kakek bongkok ini memiliki tenaga dalam luar biasa mengingat
umurnya yang su-dah sangat lanjut. Paling tidak kekuatan tenaga dalam telah
dihimpun hampir seratus tahun! Sedangkan Arya tidak sampai dua puluh tahun.
Meski
demikian, Arya sungguh tidak menyang-ka akan sedahsyat ini tenaga dalam yang
dimiliki ka-kek bongkok. Benturan yang terjadi membuat tangan Arya kesemutan
dan seperti lumpuh!
"He he
he...!"
Kakek
bongkok terkekeh, mulutnya yang su-dah ompong dan tidak bergigi lagi terbuka
lebar.
"Hanya
sampai di Situ sajakah kemampuan yang kau miliki, Dewa Arak? Kali ini kau akan
tewas di tanganku. He he he...!"
Masih
dengan tawa terkekeh, kakek bongkok melakukan gerakan mendorong dengan tangan
kanan. Dari telapak tangan yang terbuka itu meluncur se-rangkum angin keras ke
arah dada Dewa Arak.
Arya tidak
berani bertindak sembrono. Berge-gas ia melompat menghindar seraya tak lupa
memba-wa tubuh Pergiwa ke tempat yang aman dan membe-baskan totokannya.
"Hati-hati,
Pergiwa," demikian bisikan yang di-berikan oleh pemuda berambut putih
keperakan itu sebelum melompat menjauhi Pergiwa, khawatir gadis berpakaian
merah itu akan terkena serangan nyasar.
Tahu kalau
lawan yang dihadapinya bukan orang sembarangan, Dewa Arak segera menggunakan
ilmu andalan 'Belalang Sakti'! Dengan ilmu itu amu-kan kakek bongkok
dihadapinya.
Pada
awalnya Dewa Arak tidak berani mema-paki serangan-serangan lawan. Pemuda
berambut pu-tih keperakan ini hanya berlompatan ke sana kemari menghindar.
Beberapa kali tubuhnya terhuyung-
huyung
ketika angin pukulan jarak jauh kakek bong-kok lewat di dekatnya.
Sambil
terus berlompatan, Dewa Arak memutar benaknya. Pemuda berambut putih keperakan
itu memikirkan cara untuk menangkal serangan lawan. Memapaki dengan kekerasan
hanya akan merugikan dirinya karena tenaga dalam kakek bongkok jelas be-rada di
atasnya. Tapi, mengelak terus-menerus pun ti-dak baik. Bukan tidak mungkin
akhirnya ia akan ter-kena serangan-serangan lawan yang demikian gencar.
Semula Dewa
Arak bermaksud menguras tena-ga dalam lawan. Dia tahu serangan jarak jauh
banyak menguras tenaga. Tapi, dugaan pemuda berambut pu-tih keperakan ini
keliru. Kakek bongkok meski telah belasan kali melancarkan pukulan jarak jauh
tidak terlihat lelah. Bahkan, serangan-serangannya semakin bertubi-tubi.
Melihat
kenyataan ini, Arya segera tahu kakek bongkok agaknya telah mengkhususkan diri
menda-lami ilmu pukulan jarak jauh. Sehingga, meski sering digunakan tidak
berpengaruh buruk terhadapnya. Bahkan, mungkin ilmu pukulan jarak jauh
merupa-kan ilmu simpanannya.
Yang
membuat Dewa Arak semakin kagum adalah tenaga dalam kakek bongkok seperti tidak
per-nah habis. Pukulan-pukulannya pun tidak pernah di-lancarkan dengan
menggunakan kedua tangan, me-lainkan dengan satu tangan tapi silih berganti.
Dewa Arak jadi kewalahan karena tidak mempunyai kesem-patan untuk melancarkan
serangan.
Beberapa
kali, di waktu mempunyai kesempa-tan baik, Dewa Arak melancarkan serangan
balasan. Tapi, selalu kandas karena di sekeliling tubuh kakek bongkok seperti
ada dinding kasat mata yang mem-buat serangannya tidak dapat mengenai tubuh
kakek
itu.
Akibatnya,
sejak pertarungan terjadi Dewa Arak hanya bisa bermain kucing-kucingan.
Kenyataan
ini membuat kesabaran Dewa Arak hampir habis. Ternyata perasaan yang sama pun
me-landa hati kakek bongkok.
"Ternyata
julukan Dewa Arak yang terkenal hanya kabar bohong belaka! Apakah tidak ada
cara lain yang bisa kau lakukan selain bermain kucing-kucingan seperti ini,
Dewa Arak?!"
Ejekan
kakek bongkok bagaikan minyak yang disiramkan ke api. Dewa Arak yang memang
sudah hampir habis kesabaran jadi semakin kalap. Berun-tung, akal sehatnya
masih menahannya untuk tidak bertindak gegabah.
Sebagai
seorang pemuda yang telah kenyang pengalaman, Dewa Arak menyadari kalau kakek
bong-kok itu memiliki tenaga dalam yang demikian dahsyat tapi usia tua tidak
dapat dikalahkannya.
Kakek
bongkok itu akan cepat lelah dan tidak memiliki napas panjang. Urat-uratnya pun
tidak se-kuat orang yang masih muda. Jelas, kakek bongkok itu akan sukar untuk
bergerak lincah. Apalagi mem-buru Dewa Arak yang memiliki ilmu mukjizat
'Belalang Sakti' dengan ilmu jurus 'Delapan Langkah Belalang'!
Selain Dewa
Arak dan kakek bongkok ternyata masih ada orang lain yang tidak sabar
menyaksikan jalannya pertarungan. Orang itu adalah kakek berkulit muka merah.
"Ayah,
biarlah aku yang menangkap gadis liar itu!"
Tanpa
menunggu tanggapan kakek bongkok yang menjadi ayahnya, kakek bermuka merah
me-langkah lebar menghampiri Pergiwa.
Pergiwa
agak panik melihatnya. Pengalaman
dengan
kakek bongkok membuatnya sadar kalau ke-pandaian yang dimilikinya hampir tidak
berarti. Rasa percaya dirinya berkurang. Maka, ketika kakek ber-muka merah yang
memiliki perbawa angker meng-hampirinya, Pergiwa menjadi gugup. Meski demikian,
gadis berpakaian merah ini tidak kehilangan akal un-tuk menyelamatkan diri.
"Tidak
tahu malu! Pengecut hina! Apakah kau hanya berani terhadap seorang gadis muda?
Kalau kau berani, nanti hadapi Dewa Arak setelah pendekar perkasa itu
mengalahkan ayahmu yang ringkih! Tentu saja kalau kau takut terhadapnya dan kau
memang berwatak pengecut, aku tidak bisa berkata apa-apa!"
Langkah
kakek bermuka merah terhenti. Wa-jah putra kakek bongkok itu jadi semakin
merah. Per-giwa memang ahli dalam hal memaki-maki orang. Se-kali ucap saja,
gadis berpakaian merah itu menyebut kata-kata pengecut beberapa kali! Makian
ini mem-buat kakek bermuka merah bimbang. Tapi hal itu ti-dak berlangsung lama.
Kakek bermuka merah kembali mengayunkan langkah menghampiri Pergiwa.
Pergiwa
tahu makiannya tidak manjur lagi. Maka, tanpa berani menunggu lebih lama,
tangan ka-nannya segera dimasukkan ke dalam buntalan kecil yang berada di
selipan ikat pinggangnya. Pergiwa mengambil senjata-senjata rahasianya yang
berupa ja-rum-jarum tajam!
"Hih!"
Sepasang
mata kakek bermuka merah sekilas memancarkan sinar kagum melihat jarum-jarum
yang dilemparkan Pergiwa. Ketika dilepaskan jarum-jarum itu bergerombolan, tapi
di pertengahan jalan mereka memisahkan diri mencari daerah penyerangan
sendiri-sendiri. Hebatnya, tiap jarum menuju jalan darah mematikan.
***
"Hmh...!"
Kakek
bermuka merah mendengus. Ia meman-dang remeh serangan Pergiwa.
"Permainan
seperti ini kau pertunjukkan pada Iblis Muka Merah?!"
Sepasang
mata kakek bermuka merah sekilas memancarkan sinar kagum melihat jarum-jarum
yang dilemparkan Pergiwa. Ketika dilepas, jarum-jarum itu bergerombolan. Tapi
di pertengahan jalan mereka me-misahkan diri mencari daerah penyerangan
sendiri-sendiri. Hebatnya, tiap jarum menuju jalan darah me-matikan!
Bersamaan
dengan selesainya ucapan itu, ka-kek bermuka merah yang mengaku berjuluk Iblis
Mu-ka Merah mendorong kedua tangannya terbuka ke de-pan. Tampak kedua tangan
itu bergetar ketika Iblis Muka Merah mengerahkan tenaga dalam. Sesaat
ke-mudian, pemandangan yang menakjubkan pun terja-di.
Benar-benar
menakjubkan! Bahkan, sepasang mata Pergiwa terbelalak heran. Gadis berpakaian
me-rah ini tidak percaya akan pemandangan yang ter-pampang di hadapannya.
Jarum-jarum tersedot ke arah kedua tangan yang dijulurkan itu. Jarum-jarum yang
telah berpencar mencari sasaran serangan sendi-ri-sendiri mendadak meluncur ke
satu arah, menuju kedua telapak tangan Iblis Muka Merah yang terbuka.
Tapi,
sebelum jarum-jarum itu menembus tela-pak tangan Iblis Muka Merah, kedua tangan
yang diju-lurkan itu bergetar keras. Jarum-jarum Pergiwa seka-rang berbalik
arah menyerbu pemiliknya sendiri!
Pergiwa
tidak mau mencari penyakit. Buru-buru dia melompat ke samping kanan. Tapi,
betapa kaget gadis berpakaian merah itu melihat jarum-jarum beracun tetap
meluncur ke arahnya. Jarum-jarum itu seperti mempunyai nyawa. Mereka mengejar
Pergiwa. Jarum-jarum itu meluncur mengikuti arah gerakan tangan Iblis Muka
Merah!
Pergiwa
bersalto beberapa kali di udara setelah melempar tubuhnya ke belakang. Begitu
kedua ka-kinya menjejak tanah dilihatnya jarum-jarum itu ma-sih meluncur ke
arahnya. Padahal, gadis berpakaian merah ini telah berada cukup jauh.
Kenyataan
ini menyadarkan Pergiwa kalau mengelak tidak berguna sama sekali. Tindakan itu
hanya akan menyebabkan dirinya terus dikejar jarum-jarum itu. Maka, kali ini
Pergiwa tidak mengelak lagi. Dengan modal nekat, gadis berpakaian merah itu
men-julurkan kedua tangannya. Dia bermaksud mencegah laju jarum-jarum dengan
tenaga dalamnya.
Pergiwa
mengerahkan seluruh tenaga dalam-nya. Usahanya ternyata tidak sia-sia. Gerakan
jarum-jarum itu tertahan. Dan terhenti sama sekali bagai ada tangan tak nampak
yang menahan lajunya.
Namun hal
itu hanya berlangsung sebentar sa-ja. Begitu Iblis Muka Merah menambah kekuatan
te-naga dalamnya, jarum-jarum itu bergerak kembali ke arah Pergiwa dengan
kecepatan lebih lambat.
Pergiwa
menggertakkan gigi dalam usahanya mengerahkan tenaga dalam sampai ke puncak.
Kenda-ti demikian, usahanya boleh dibilang tidak membua-hkan hasil. Jarum-jarum
itu terus meluncur ke arah-nya. Bahkan lebih cepat ketika Iblis Muka Merah
me-nambah sedikit tenaganya.
Keadaan
Pergiwa yang terdesak hebat tidak lu-put dari perhatian Dewa Arak. Memang,
meski tengah sibuk menghadapi hujan serangan lawan, Dewa Arak tidak lengah
terhadap nasib Pergiwa. Beberapa kali pemuda berambut putih keperakan ini
mengerling ke arah Pergiwa.
Dewa Arak
tahu Pergiwa telah bermain api! Adu tenaga dalam antara Pergiwa dan Iblis Muka
Me-rah hanya akan berakhir apabila salah satu di antara
mereka
tewas. Apabila perbedaan tenaga dalam kedua orang itu tidak terlampau jauh
mungkin yang kalah hanya akan terluka parah. Padahal, Dewa Arak tahu pasti
Iblis Muka Merah memiliki tenaga dalam jauh di atas Pergiwa. Dengan kata lain,
Pergiwa pasti akan ce-laka!
Dewa Arak
tidak menginginkan Pergiwa tewas. Maka begitu mendapat kesempatan mengelakkan
se-rangan kakek bongkok, pemuda berambut putih kepe-rakan itu mengirimkan
pukulan jarak jauh dengan mempergunakan jurus 'Pukulan Belalang' memapaki
jarum-jarum yang semakin mendekati tubuh Pergiwa.
Bresss!
Bunyi
letupan tertahan terdengar. Pukulan ja-rak jauh Dewa Arak menumbuk jarum-jarum
yang tengah dipermainkan dua kekuatan tenaga dalam. Benturan itu menyebabkan
jarum-jarum berpentalan dan melenyapkan dua tenaga dalam yang telah saling
melekat
"Uh...!"
Iblis Muka
Merah maupun Pergiwa mengelua-rkan keluhan ketika tubuh mereka terhuyung-huyung
ke belakang.
Dewa Arak
tanpa membuang waktu segera me-lesat menyambar tubuh Pergiwa dan berlari
secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Iblis Muka Merah tidak tinggal diam.
Bergegas dia melesat mengejar. Ta-pi, baru beberapa tindak kakinya langsung
dihentikan ketika mendengar seruan mencegah.
"Tidak
usah dikejar! Kita masih mempunyai urusan yang lebih penting! Membunuh seorang
seperti Dewa Arak dapat dilakukan belakangan!"
Iblis Muka
Merah tidak membantah. Tubuhnya dibalikkan dan melesat cepat meninggalkan
tempat itu mengikuti langkah kakek bongkok.
"Kau
yakin akan dapat menemukan tempat ke-diaman Harimau Terbang Berkuku Seribu,
Ayah?" tanya Iblis Muka Merah tidak yakin.
"Selama
wanita liar itu belum meninggalkan je-jaknya selama tujuh hari, bekas
perjalanan yang dila-luinya akan bisa ku telusuri. Dan, tempat tinggal Ha-rimau
Terbang Berkuku Seribu pun akan dapat kita temukan!"
Iblis Muka
Merah mengangguk-anggukkan ke-pala. Entah apa arti anggukkannya. Hanya kakek
ber-kulit merah itu sendiri yang mengetahuinya.
***
Gunaran
mengernyitkan alis. Heran melihat suasana lengang yang meliputi bagian dalam
bangu-nan yang terkurung pagar kayu bulat tinggi. Daun pintu gerbang terkuak
sedikit. Dari celah-celah itu pemuda berpakaian kuning tua mengintai. Tidak
di-jumpainya seorang pun di dalam halaman yang luas dan di bagian depan
bangunan.
Gunaran
mulai merasa ragu akan kebenaran berita yang didapatnya. Benarkah ini tempat
tinggal Pendekar Macan Hitam dan anaknya yang dikuasai oleh Gerombolan Serigala
Belang? Kalau benar demi-kian, mengapa kelihatan demikian sepi? Bukankah
menurut para penduduk yang tinggal tidak jauh dari tempat ini Gerombolan
Serigala Belang berjumlah cu-kup banyak. Apakah ayahnya, Pendekar Macan Putih,
telah membasmi mereka semua?
Setelah
tercenung beberapa saat lamanya di depan pintu gerbang, Gunaran memutuskan
untuk masuk ke dalam. Dengan hati-hati dan penuh sikap waspada, pemuda
berpakaian kuning tua melangkah perlahan. Urat-urat sarafnya saat itu menegang
siap
menghadapi
kemungkinan yang tidak diharapkan. Tapi, kehati-hatian Gunaran ternyata tidak
be-
ralasan.
Tidak terjadi apa pun yang dikhawatirkannya. Bahkan, ketika dia telah melewati
pintu gerbang. Ma-lah pemandangan tak terduga yang menyambutnya di halaman
depan, tepat di balik pintu gerbang. Mayat-mayat bergelimpangan dalam keadaan
mengenaskan. Semuanya sudah tidak memiliki daging lagi. Tinggal tulang-tulang.
Lebih jelasnya lagi kerangka manusia!
Gunaran
sampai bergidik melihat pemandan-gan ini. Benaknya menduga-duga. Makhluk apakah
yang telah memakan habis bagian tubuh mayat-mayat itu?
Di saat
Gunaran tengah kebingungan terden-gar jeritan menyayat hati. Jeritan kesakitan.
Asalnya dari bagian belakang. Tanpa menunggu lebih lama Gunaran segera melesat
ke belakang. Sikap hati-hati membuat pemuda berpakaian kuning tua ini kendati
tengah tergesa-gesa tidak meninggalkan kewaspa-daannya.
Jantung
Gunaran berdetak lebih cepat ketika melihat sebuah bangunan kecil yang terletak
agak jauh dari bangunan-bangunan lainnya. Dari sinilah suara jeritan menyayat
itu berasal. Dengan langkah semakin hati-hati pemuda itu melangkah mendekati
pintu.
Sungguh
suatu hal yang kebetulan. Daun pin-tu itu memiliki lubang sebesar ibu jari
tangan. Melalui lubang ini Gunaran mengintip ke dalam. Seketika hati pemuda
berpakaian kuning tua ini tercekat ketika me-lihat pemandangan di dalam ruangan
yang tidak be-sar.
Pemandangan
yang terlihat Gunaran sungguh mengejutkan. Terlebih berada di tempat yang
me-mungkinkan untuk dilihat jelas.
7
Di salah
satu sisi dinding bangunan tampak menempel sesosok tubuh berkulit hitam
kecoklatan dan berkumis tebal melintang. Sosok yang usianya tak kurang dari empat
puluh lima tahun ini bertelanjang dada. Pakaiannya yang berwarna putih dengan
garis-garis hitam teronggok di lantai.
Semula
Gunaran mengira sosok itu bersandar di dinding. Ternyata tidak. Ia ditempelkan
di dinding dengan kedua tangan terentang ke samping dan kaki agak terpentang.
Pada telapak tangan dan kakinya di-pakukan sebatang pisau yang merah membara!
Pisau yang telah digarang di api panas.
Pemandangan
ini saja mungkin tidak akan membuat Gunaran terlalu ngeri. Ada pemandangan lain
yang membuat pemuda berpakaian kuning ini bergidik. Pada sekujur tubuh
telanjang itu menempel ulat-ulat bulu yang dikenal Gunaran sebagai ulat yang
gatal bukan main. Ulat-ulat itu berwarna hitam, ber-bulu lebar, dan berjumlah
tak kurang dari dua puluh ulat. Mereka berkeliaran ke sana kemari. Lelaki
ber-kumis melintang menggeliat-geliat dan menjerit-jerit tersiksa perasaan
gatal yang bukan main!
"Hik
hik hik...!"
Tawa merdu
seorang wanita muda, tapi dengan nada yang membuat bulu kuduk merinding,
terdengar dari sudut lain. Wanita berwajah cantik dengan ben-tuk tubuh
menggiurkan. Sayang, memiliki wajah be-ringas dan sinar mata yang menyiratkan kekejaman.
Wanita itu
berpakaian hijau. Gunaran seperti pernah melihat wajah itu. Hanya dia lupa
kapan dan di mana.
"Serigala
Belang! Bagaimana rasanya menjadi
orang yang
kalah? Nikmat bukan? Ah...! Sekarang aku baru mengerti mengapa dulu jeritan dan
rintihanku sedikit pun tidak kau pedulikan. Ternyata jeritan dan rintihan itu
nikmat didengar."
Gunaran
terperanjat begitu mendengar lelaki berkumis tebal yang tengah disiksa itu
adalah Serigala Belang, orang yang hendak dibunuh ayahnya. Serigala Belang
ternyata masih hidup! Lalu, ke mana ayahnya? Pertanyaan itu menimbulkan
kekhawatiran di hati Gunaran. Kalau ayahnya telah bertemu dengan Seri-gala
Belang dan tokoh sesat itu masih hidup, hanya ada satu kemungkinan, ayahnya
telah tewas di tangan Serigala Belang. Dugaan ini membuat Gunaran geli-sah.
Seruan
wanita berpakaian hijau yang usianya tak lebih dari dua puluh tahun membuat
Gunaran memperhatikan lelaki berkumis tebal yang berjuluk Serigala Belang.
Tokoh sesat ini tampak tersiksa seka-li. Ulat-ulat itu memang dahsyat. Gatal
dan lagi men-gisap darah, meski hanya sedikit
"Kurasa
siksaan yang kau alami belum seband-ing dengan derita yang kuterima, Serigala
Belang. Apa-lagi jika kuperhitungkan dengan nyawa ayahku, Pen-dekar Macan Hitam
yang harus kau bayar. Siksaan seperti ini tidak berarti sama sekali. Aku punya
per-mainan lain yang lebih menarik!"
Wanita
berpakaian hijau yang ternyata putri Pendekar Macan Hitam yang bukan lain Arum
Sari, mengambil sebuah cambuk lemas yang ujung-ujungnya dipasangi paku-paku
berkarat berwarna ke-hijauan, pertanda telah dialiri racun.
Wanita
berpakaian hijau itu masih duduk ber-sila. Dengan tenang, cambuk itu dilecutkan
secara sembarangan. Cambuk pun melayang ke arah Serigala Belang dan menghantam
tubuhnya dengan telak. Un-
iknya, cambuk
itu bagai dilekukkan dengan tangan. Menghantam dada Serigala Belang dengan
ujungnya yang penuh dipasang paku! Serigala Belang meraung menyayat hati.
Lecutan cambuk membuat darah men-gucur karena dagingnya terkoyak. Bersamaan
dengan itu rasa gatal serta panas yang luar biasa langsung melanda.
Dalam
cekaman rasa sakit dan gatal Serigala Belang meronta-ronta. Tapi, karena
sekujur tubuhnya telah tidak bertenaga, hanya geliatan lemah yang mampu
dilakukannya.
Tindakan
Arum Sari terus berlanjut. Gadis berpakaian hijau itu mengulurkan tangan kanan
ke depan dan menggetarkan cambuknya yang masih be-rada di udara. Cambuk itu
melayang kembali ke ba-gian tubuh lain dari Serigala Belang. Lelaki itu
me-raung kesakitan. Begitu seterusnya. Sementara ulat-ulat hitam terus
berpesta-pora. Binatang-binatang itu tidak merasa terganggu sama sekali. Cambuk
itu tidak menghantam mereka, menyentuh sedikit pun tidak. Semua itu telah
diatur oleh Arum Sari.
Gunaran
hanya bisa menatap dengan sepasang mata terbelalak. Apalagi setelah mendengar
perkataan gadis berpakaian hijau. Dia sekarang ingat siapa wani-ta berpakaian
hijau. Dia adalah Arum Sari, putri Pen-dekar Macan Hitam.
Ingat akan
Arum Sari, Gunaran merasakan jantungnya berdetak kencang. Gurunya pernah
berce-rita tentang Arum Sari. Beliau menasihati agar bila bertemu dengan Arum
Sari supaya bersikap hati-hati. Apabila Arum Sari memiliki watak jahat, Gunaran
ha-rus segera pulang memberitahukan Harimau Terbang Berkuku Seribu. Barangkali
saja Arum Sari dapat dis-elamatkan!
Gunaran yang
telah mengenal Arum Sari di
waktu kecil
tentu saja tidak menginginkan gadis itu menjadi orang jahat. Harimau Terbang
Berkuku Seri-bu pernah sedikit menyinggung kalau Arum Sari se-benarnya tidak
ingin berlaku jahat. Gadis berpakaian hijau itu bertindak demikian karena
pengaruh dari da-lam tubuhnya. Karena itu, Gunaran bermaksud mem-beritahukan
Harimau Terbang Berkuku Seribu. Bu-kankah gurunya akan mengobati gadis
berpakaian hi-jau itu?
Gunaran
terlalu terburu-buru bertindak. Dia memandang enteng Arum Sari. Ketika baru
saja berla-ri meninggalkan daun pintu, pemuda berpakaian kun-ing tua ini hampir
terlonjak saking kagetnya menden-gar bentakan nyaring yang menggetarkan
jantung.
"Manusia
tidak tahu diri dari mana yang berani mengintai kesenanganku? Jangan harap kau
dapat lo-los dari tanganku!"
Gunaran
mengenal betul suara Arum Sari ka-rena tadi telah mendengarnya. Dan, Gunaran
tidak in-gin terlibat keributan dengan Arum Sari. Ia tidak mempedulikan seruan
itu dan terus berlari.
***
Di dalam
bangunan, sehabis mengeluarkan bentakan dan tahu pengintai itu tidak kembali,
Arum Sari menjadi beringas. Sekali tangan kirinya dijulur-kan ke depan dan
disentakkan, cambuk yang masih melayang-layang, di atas tubuh Serigala Belang
mele-sat keluar dengan kecepatan mengagumkan.
Brakkk!
Daun pintu
hancur berantakan ketika cambuk berujung paku itu menghantam keras. Kemudian,
cambuk melesat keluar secepat kilat. Arum Sari ter-paksa menggunakan kedua
tangannya untuk men-
gendalikan
cambuk itu. Kedua tangannya yang kekar dan berotot dijulurkan ke depan dan
digetarkan penuh pengerahan tenaga!
Arum Sari
yang sekarang memang berbeda dengan Arum Sari beberapa hari yang lalu. Arum
Sari yang dulu biar dibantu ayahnya, Pendekar Macan Hi-tam, tidak akan mampu
mengungguli Serigala Belang. Sedangkan bagi Arum Sari sekarang Serigala Belang
sama sekali tidak ada artinya!
Arum Sari
mendapat kemajuan pesat Tidak hanya kepandaian, tapi juga tenaga dalam! Karena
itu, gadis berpakaian hijau ini mampu mengendalikan cambuk dari jauh dengan
mempergunakan tenaga da-lamnya.
Luncuran
cambuk terdengar oleh Gunaran yang mempunyai telinga tajam. Ketika menengok
pe-muda berpakaian kuning tua itu kaget bukan main, ia melihat cambuk melayang
mengejarnya, sedangkan Arum Sari telah duduk di ambang pintu yang daunnya
hancur berantakan.
Gunaran
yang memang tidak ingin meladeni keinginan Arum Sari menggertakkan gigi dan
menam-bah kecepatan larinya. Dalam sekejap saja cambuk berujung paku milik Arum
Sari tertinggal jauh.
Arum Sari
menggeram menahan marah. Dia tahu kalau tetap bersikeras menggunakan
cambuk-nya, Gunaran akan berhasil kabur. Maka, dengan mengibaskan kedua
tangannya Arum Sari melayang ke depan mengejar Gunaran! Kedudukan tubuh Arum
Sari masih dalam keadaan bersila.
Gunaran
yang tengah asyik-asyiknya berlari agak terkejut ketika merasakan hembusan
angin di dekatnya. Tapi dia tidak ambil peduli. Dan, terus ber-lari.
Gunaran
baru memperlambat larinya ketika
melihat
sesosok tubuh telah berada di depannya, ma-sih dalam keadaan melayang dan
memunggunginya. Sosok tubuh berpakaian hijau dalam keadaan duduk bersila! Siapa
lagi kalau bukan Arum Sari.
Karena
jalan keluar telah dihadang, Gunaran terpaksa menghentikan langkah. Pemuda
berpakaian kuning tua ini tidak merasa gentar sedikit pun kendati tahu
kepandaian Arum Sari sungguh luar biasa. Ke-nyataan kalau Arum Sari mampu
menyusul larinya menunjukkan ilmu meringankan tubuh Arum Sari be-rada di
atasnya. Padahal, Arum Sari tidak menggerak-kan kaki!
Ketidakgentaran
sikap Gunaran di samping ka-rena memang wataknya sebagai seorang gagah juga
karena Arum Sari bukan orang yang pantas untuk di-takuti. Gunaran telah pernah
bertemu dengan Arum Sari sewaktu mereka masih kecil. Arum Sari seorang gadis
cilik yang menyenangkan. Perasa dan mudah kasihan terhadap sesuatu. Jangankan
membunuh orang, membunuh tikus pun rasanya Arum Sari tidak akan sampai hati.
Gunaran
membelalakkan mata melihat Arum Sari menjejakkan kaki di tanah hanya dengan
menu-runkan kedua kakinya dari lipatan. Gadis berpakaian hijau itu kemudian
membalikkan tubuh. Gunaran dan Arum Sari saling beradu pandang.
"Siapa
kau, Pengecut Hina...?!" Arum Sari men-gajukan pertanyaan dengan suara
melengking nyaring. Telunjuk tangan kanannya ditudingkan ke wajah Gu-naran.
Sikapnya terlihat merendahkan. "Besar sekali nyalimu hingga berani
mengintai perbuatanku? Hm.... Rasanya aku pernah melihat wajahmu..."
"Bukan
hanya rasanya saja, Arum Sari. Kita memang pernah bertemu." Gunaran
menjawab dengan suara pahit. Dia merasa tersinggung sekali melihat si-
kap Arum
Sari yang demikian sombong. "Ayahmu ada-lah sahabat karib ayahku."
"Jadi,
rupanya kau Gunaran!" Tidak terdengar nada kegembiraan dan keterkejutan
dalam ucapan itu. Biasa saja. Sehingga, Gunaran diam-diam merasa ke-cewa. Tapi,
pemuda berpakaian kuning tua ini meng-hibur hati dengan anggapan Arum Sari
memang ten-gah dilibat masalah.
Gunaran
hanya mengangguk mengiyakan per-tanyaan Arum Sari.
"Apa
maksudmu datang ke tempat ini?!" tanya Arum Sari ketus.
Memang,
meskipun telah disusupi roh Mayang, Arum Sari tidak kehilangan kesadarannya.
Bahkan gadis itu seperti mempunyai pribadi ganda. Ia dapat bersikap sebagai
Arum Sari dan Mayang secara ber-ganti-ganti, tergantung keadaan yang dihadapi.
Saat ini Arum Sari tengah terguncang batinnya, sehingga sifatnya jadi agak liar
dan beringas. Bahkan, terhadap Gunaran yang merupakan kawannya sewaktu kecil.
"Aku
ingin mengetahui kejadian yang menimpa kau dan ayahmu, serta melihat nasib
ayahku. Asal kau tahu saja, Arum Sari. Ayahku datang kemari un-tuk membalaskan
kematian ayahmu!"
"Hhh...!"
Arum Sari mendengus. "Suatu tinda-kan yang tolol! Hanya mengantar nyawa
dengan per-cuma!"
Merah padam
wajah Gunaran. Dia tersinggung sekali mendengar ayahnya dimaki. Boleh jadi Arum
Sari tengah dilanda masalah, tapi tetap saja Gunaran tidak akan membiarkan ayahnya
dihina orang seme-na-mena.
"Kau
terlalu, Arum! Kau pikir aku takut pada-mu?!" suara Gunaran tiba-tiba
meninggi.
"Hi hi
hi...!" Arum Sari malah tertawa. "Siapa
suruh kau
takut padaku, Gunaran yang bodoh?" "Kau..., sungguh tak kusangka
ayahmu mem-
punyai anak
sesat sepertimu, Arum! Biarlah aku me-wakili almarhum ayahmu untuk menghukum
mu!"
Usai
berkata, Gunaran melompat menerjang Arum Sari. Ia langsung mengirimkan pukulan
bertubi-tubi ke arah dada. Dalam luapan amarah Gunaran mengerahkan seluruh
tenaga dalamnya. Angin puku-lannya terdengar berciutan cukup nyaring.
Gunaran
memperkirakan Arum Sari akan mengelak atau menangkis. Maka, pemuda berpakaian
kuning tua ini terperanjat ketika melihat putri Pende-kar Macan Hitam tidak
bergeming. Arum Sari mem-biarkan saja serangan Gunaran.
Gunaran
yang sungguh pun marah tidak ber-niat mencelakakan Arum Sari bergegas
mengurangi tenaganya. Karena, untuk menarik pulang serangan-nya sudah tidak
memungkinkan lagi.
Buk, bukk,
bukkk!
Berturut-turut
tinju Gunaran bersarang di sa-saran. Tapi akibatnya bukan Arum Sari yang roboh.
Gunaran berteriak kesakitan merasakan tangannya seperti bukan berbenturan
dengan tubuh manusia, melainkan gumpalan baja yang amat keras.
"Hi hi
hi...!" Lagi-lagi Arum Sari terkekeh. "Ma-nusia sombong juga rupanya
kau, Gunaran! Kau kira aku selemah kau? Tidak usah mengurangi tenagamu. Kau
kerahkan semuanya pun tidak akan berarti apa-apa buatku!"
Gunaran
yang masih merasakan sakit pada tangannya setelah membentur dada Arum Sari
tampak terkejut mendengar ucapan itu. Arum Sari mengetahui kalau ia mengurangi
tenaganya. Gunaran tak bisa membayangkan ketinggian ilmu Arum Sari.
Pemuda itu
segera memutuskan untuk tidak
main-main
lain. Di samping merasa tersinggung den-gan ucapan gadis berpakaian hijau itu,
Gunaran juga ingin membuka mata Arum Sari kalau ia tidak memili-ki kepandaian
rendah.
Wuk, wuk,
wuk!
Bunyi
menderu langsung terdengar ketika Gu-naran memutar senjata andalannya. Ruyung
berba-tang dua yang dihubungkan dengan rantai baja. Sen-jata andalan itu semula
terselip di pinggang.
"Haaatt...!"
Diawali
teriakan keras yang mendirikan bulu roma, Gunaran menghantamkan senjatanya ke
arah kepala Arum Sari. Pukulan itu dilancarkan dari atas.
Tapi, Arum
Sari tetap bertindak seperti sebe-lumnya, memandang remeh Gunaran. Ketika
ruyung itu menyambar kepalanya, dia sedikit pun tidak beru-saha mengelak.
Ditangkisnya serangan itu dengan ja-ri-jari tangan terbuka, lalu menangkapnya.
Kreppp!
Gunaran
mengerahkan seluruh tenaganya un-tuk menarik ruyungnya dari cekalan tangan Arum
Sa-ri. Tapi tidak berhasil. Padahal Gunaran telah meng-gunakan kedua tangannya,
sementara Arum Sari hanya memakai tangan kiri.
"Hih!"
Di saat
Arum Sari bergerak memutar tubuh, Gunaran langsung melayang ke arah gadis itu.
Saat itulah tangan kanan Arum Sari dihentakkan ke depan.
Bresss!
Tubuh
Gunaran melayang ke belakang ketika pukulan jarak jauh Arum Sari menggedor
dadanya. Ruyung yang semula tergenggam di tangan terlepas dari pegangan.
"Hukh...!"
Gunaran
memuntahkan darah segar ketika tu-
buhnya jatuh
ke tanah setelah melayang beberapa tombak. Pemuda berpakaian kuning tua ini
muntah darah karena memaksakan diri untuk bangkit.
"Kalau
saja kau dulu bukan sahabatku, mung-kin nyawamu sudah kukirim ke akherat,
Gunaran! Berbahagialah karena kau pernah berkenalan dengan-ku!" tandas
Arum Sari sombong. Kemudian, ia mem-banting ruyung Gunaran ke tanah hingga
amblas ke dalamnya.
"Kejam
sekali...!"
Sambutan
lirih tapi terdengar jelas menyesal-kan ucapan Arum Sari. Bagai telah
disepakati sebe-lumnya, Arum Sari dan Gunaran langsung mengalih-kan pandangan
ke arah asal suara. Kalau Arum Sari belum bisa menebak siapa pemilik suara itu,
tidak demikian halnya dengan Gunaran. Pemuda berpa-kaian kuning tua itu
langsung berseri-seri wajahnya. Pemilik suara itu adalah gurunya, Harimau
Terbang Berkuku Seribu.
"Kau...?!"
Arum Sari
mengeluarkan seruan tertahan. Se-pasang matanya membelalak lebar. Wajahnya
menyi-ratkan keterkejutan yang sangat. Gadis berpakaian hi-jau ini melangkah
mundur karena kagetnya.
"Kau
terkejut, Mayang?"
Pemilik
suara lembut itu ternyata seorang ka-kek kecil kurus. Usianya sukar untuk
ditaksir. Tapi melihat penampilannya tak kurang dari seratus sepu-luh tahun. Ia
mengangguk sehingga rambutnya yang putih dan gondrong bergoyang-goyang.
Demikian pula dengan kumis dan jenggot putihnya yang tidak teru-rus.
Kakek ini
tidak hanya pandai dalam ilmu ke-pandaian silat, tapi juga ilmu kebatinan.
Dengan mata batinnya ia mampu melihat jelas bayangan roh
Mayang
dalam diri Arum Sari. Kakek ini pula yang menyuruh Pendekar Macan Hitam untuk
menan-capkan bambu kuning pada peti mati Mayang ketika ayah Arum Sari
mengadukan perihal Mayang padanya. "Mengapa kau mencampuri urusanku, Paru-
gi?!"
sentak Arum Sari yang dipanggil Harimau Ter-bang Berkuku Seribu sebagai Mayang.
"Kuharap kau jangan ikut campur!"
"Bagaimana
mungkin, Mayang? Tubuh orang yang kau tumpangi itu adalah cucu muridku. Jadi,
bagaimana mungkin aku bisa tinggal diam? Apalagi setelah kau melukai muridku
juga. Aku lebih tidak bi-sa tinggal diam. Tinggalkan raga cucu muridku itu,
Mayang. Kau akan kubiarkan pergi. Tapi, apabila pe-ringatanku ini tidak kau
indahkan, jangan salahkan aku kalau kau akan tersiksa. Mungkin kau masih in-gat
aku adalah penangkap roh!"
8
Wajah Arum
Sari berubah pucat. Sinar ma-tanya menyiratkan rasa takut yang tidak bisa
disem-bunyikan.
"Aku
mohon dengan sangat, Parugi. Biarkan aku menempati jasad ini dulu. Aku ingin
memba-laskan sakit hatiku yang tengah sekian puluh tahun kupendam terhadap Raga
Pasu dan Raga Pitu," pinta Mayang melalui mulut Arum Sari.
"Sayang
sekali, Mayang. Aku tidak bisa menga-bulkan permintaanmu. Cepat kau pergi dari
raga cucu muridku sebelum aku terpaksa bertindak kasar terha-dapmu!" tegas
Parugi alias Harimau Terbang Berkuku Seribu.
"Sebentar
saja, Parugi," Arum Sari yang sebe-narnya adalah Mayang masih berusaha
membujuk.
"Jangan
tunggu kesabaranku habis, Mayang. Ini peringatan terakhir. Cepat pergi atau kau
terpaksa menderita selamanya!"
Arum Sari
mengeluarkan keluhan panjang yang sarat dengan kekecewaan dan kepiluan hati.
Mayang yang berada dalam raga Arum Sari tahu tidak ada gunanya lagi
berlama-lama di sini. Tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan raga Arum Sari.
Padahal, dendamnya belum tuntas. Baru dendam Arum Sari yang dilampiaskannya.
Harimau
Terbang Berkuku Seribu dan Guna-ran melihat seleret sinar hijau melesat dari
atas kepala Arum Sari. Kemudian, melesat menjauh dengan kece-patan yang
menakjubkan! Sekelebatan dan langsung lenyap.
Begitu
seberkas sinar kehijauan keluar dari atas kepalanya dan lenyap, Arum Sari
mengeluh. Tu-buhnya ambruk ke tanah tak sadarkan diri.
Gunaran
hendak bergerak bangkit untuk me-meriksa keadaan Arum Sari, tapi maksudnya
segera dihentikan oleh gurunya. Harimau Terbang Berkuku Seribu memberikan
isyarat padanya untuk diam saja, tidak perlu melakukan tindakan apa pun.
Gunaran
tidak membantah. Diperhatikannya Harimau Terbang Berkuku Seribu mendekati tubuh
Arum Sari yang tergolek di tanah. Harimau Terbang Berkuku Seribu berdiri dengan
menekuk lutut seraya mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Kemu-dian, tangan
kanannya diusapkan ke seluruh bagian tubuh Arum Sari mulai dari ujung kepala
sampai ujung kaki. Hanya, tapak tangan kakek kecil kurus ini tidak bersentuhan
dengan kulit Arum Sari, kira-kira tiga jari di atasnya. Harimau Terbang Berkuku
Seribu
tengah
membuat pelindung gaib agar makhluk halus tidak bisa masuk ke dalam tubuh gadis
itu.
Beberapa
saat kemudian, Harimau Terbang Berkuku Seribu bangkit berdiri. "Sekarang
Mayang ti-dak akan bisa masuk lagi ke dalam raga Arum Sari. Apa pun yang
terjadi. Kalau dia memaksakan kehen-dak, akan celaka sendiri," ujar kakek
itu seraya me-mandang wajah Gunaran.
Belum juga
Gunaran sempat memberikan tanggapan, Harimau Terbang Berkuku Seribu menoleh ke
belakang, ke arah pintu gerbang. Gunaran pun se-gera mengarahkan pandangannya
ke sana. Dia yakin kakek kecil kurus itu mempunyai alasan bertindak demikian.
Dugaan
Gunaran tidak keliru. Dari balik pintu gerbang muncul sesosok tubuh berkulit
hitam legam. Malisang!
"Kau,
Harimau Terbang Berkuku Seribu?!" tanya Malisang seraya menghampiri kakek
kecil kurus dengan tergesa. Tenang dan tanpa ragu-ragu, kendati belum mengenal
lelaki berkulit hitam legam itu.
Dari
gerak-geriknya, Harimau Terbang Berku-ku Seribu tahu orang ini bukanlah orang
baik-baik. "Siapa kau?"
"Benar,"
jawab Harimau Terbang Berkuku Se-ribu.
"Aku
langsung saja pada pokok persoalannya, Harimau Terbang," sergah Malisang
tidak sabar, "Aku hanya ingin agar kau tidak mau memenuhi permin-taan Raga
Pasu dan Raga Pitu. Mereka ingin meminta kau supaya menangkap roh Mayang. Atau,
mengelua-rkan roh Mayang dari dalam raga cucunya. Kuharap kau jangan melakukan
hal itu. Biarkan Mayang me-laksanakan pembalasan dendamnya yang bertumpuk sejak
puluhan tahun."
Harimau
Terbang Berkuku Seribu menger-nyitkan alis.
"Tidak
usah bertele-tele, Sobat. Aku tahu kau bukan orang baik-baik. Tak mungkin kau
melakukan tindakan ini untuk kepentingan Mayang. Katakan apa alasanmu yang
sebenarnya sebelum kau menyudahi pembicaraan kita."
Lelaki
berkulit hitam legam itu tahu hanya akan merugikan diri sendiri kalau
menyembunyikan persoalan dari kakek bermata tajam seperti Harimau Terbang
Berkuku Seribu. Apalagi saat ini dia tengah memerlukan bantuan kakek itu. Maka,
setelah meng-hela napas berat lelaki berkulit hitam legam ini mulai bercerita.
"Namaku
Malisang. Aku tidak mempunyai hu-bungan apa pun dengan Mayang. Mendengar nama
dan semua urusannya pun dari guru dan kakek se-perguruanku. Mereka adalah Raga
Pitu dan Raga Pa-su."
"Seorang
murid hendak membunuh kakek se-perguruan dan gurunya? Luar biasa!" timpal
Harimau Terbang Berkuku Seribu, tajam. Ia tidak merasa heran karena dapat
memperkirakan tokoh golongan apa Ma-lisang.
Tapi,
Malisang tidak mempedulikan hal itu. "Aku menjadi murid Raga Pitu seperti
halnya
Serigala
Belang. Hanya aku menjadi muridnya dua ta-hun lebih dulu dari Serigala Belang.
Ayah dan anak itu mempunyai watak seperti iblis. Keduanya gila wa-nita! Entah
sudah berapa ratus wanita yang menjadi korbannya. Bahkan, beberapa tahun lalu
ketika aku berjumpa dengan seorang wanita yang menarik hatiku dan ingin
kujadikan istriku, ayah dan anak yang telah gila itu merampasnya dan
mempermainkannya sampai mati! Aku tidak ingin kejadian itu terulang pada wani-
ta lain
yang saat ini telah mencuri hatiku. Kami ber-niat untuk menikah!"
"Agar
niatmu itu tercapai, kau akan membu-nuh guru dan kakek seperguruanmu
itu?!" tukas Ha-rimau Terbang Berkuku Seribu.
"Begitulah,
Harimau Terbang." Malisang kemu-dian mengangguk. "Jalan satu-satunya
hanyalah Mayang. Tidak ada seorang tokoh pun yang sanggup mengalahkan Raga
Pasu. Tua bangka itu memiliki ke-pandaian iblis!"
"Hhh...!"
Harimau
Terbang Berkuku Seribu menghela napas berat.
"Sayang
sekali, Malisang. Roh Mayang telah kuusir pergi dari tubuh Arum Sari. Bahkan,
tubuh Arum Sari telah kupasangi benteng hingga roh Mayang tidak bisa masuk
lagi. Perlu waktu yang cukup lama untuk membuka kembali benteng itu agar roh
Mayang bisa masuk. Dan...."
"Sayangnya
kau tidak punya waktu untuk itu, Harimau Terbang!" sambut sebuah suara
yang disusul dengan kekehnya. Suara itu berasal dari mulut seo-rang yang telah
lanjut usia.
"Benar,
Ayah!" sambut sebuah suara lain lebih keras.
"Roh
perempuan jahanam itu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi terhadap kita. Dan,
dengan ma-tinya Harimau Terbang Berkuku Seribu serta dua mo-nyet kecil ini kita
akan aman selama-lamanya."
Malisang
langsung melompat mundur melihat kemunculan dua sosok yang tidak lain kakek
bongkok dengan anaknya, Iblis Muka Merah. Kakek bongkok itu bernama Raga Pitu
sedangkan Iblis Muka Merah bernama Raga Pasu.
***
Raga Pitu
menatap tiga sosok yang berdiri di hadapannya dengan sepasang matanya yang
menco-rong mengerikan. Tatapannya berhenti agak lama pa-da Malisang.
Tubuh
Malisang kontan menggigil keras seperti terkena demam tinggi. Ia bisa
memperkirakan nasib yang akan menimpanya. Dia tahu tidak ada satu ke-kuatan pun
yang sanggup melawan Raga Pitu, kecua-li... roh Mayang! Tapi, sekarang roh
Mayang telah ti-dak berdaya pula!
"Celaka
aku sekarang, Harimau Terbang. Kita semua akan celaka. Sungguh tidak kusangka
kau akan bertindak demikian ceroboh," sesal Malisang.
Harimau
Terbang Berkuku Seribu yang berdiri paling depan, tersenyum tenang. Nama Raga
Pitu telah lama didengarnya sebagai tokoh lihai yang memiliki kepandaian luar
biasa. Terutama tenaga dalamnya. Tapi, Raga Pitu kemudian mengasing-kan diri.
Baru sekarang ia keluar lagi. Harimau Terbang Berkuku Se-ribu tidak takut
dengan Raga Pitu.
Hanya saja
Harimau Terbang Berkuku Seribu mengkhawatirkan keselamatan muridnya. Gunaran
yang tengah terluka bukan tandingan Raga Pasu yang berjuluk Iblis Muka Merah.
"Malisang!"
Raga Pitu berkata keras, tapi mu-lutnya sama sekali tidak bergerak. "Kau
barangkali te-lah memiliki nyawa rangkap sehingga berani mencoba mengkhianatiku.
Kemarilah, Malisang...."
Raga Pitu
memanggil dengan lemah lembut se-bagaimana layaknya seorang kakek memanggil
cu-cunya. Tapi, Malisang malah mundur dengan wajah pucat-pasi. Ia menyadari
benar ada ancaman bahaya maut
Sepasang
mata Raga Pitu berkilat-kilat menyi-
ratkan hawa
maut. Kemudian, kedua tangannya di-kembangkan. Dia melakukan gerak menarik.
"Ah...!"
Malisang
menjerit tertahan ketika merasakan ada kekuatan dahsyat menariknya ke arah Raga
Pitu. Seakan-akan ada tangan tak nampak.
Malisang
tidak mau berdiam diri menghadapi ancaman maut itu. Dia berusaha keras untuk
berta-han. Tapi hanya sebentar saja kekuatan yang menarik itu terhenti.
Kemudian, tubuhnya kembali melayang deras ke arah Raga Pitu.
Prokkk!
Malisang
tidak sempat lagi menjerit. Tubuhnya yang meluncur deras ke arah Raga Pitu
disambut den-gan tamparan tangan kanan ke pelipisnya. Kepala itu langsung pecah
mengeluarkan darah bercampur otak. Malisang tewas seketika.
"Keji...!"
Meski
Malisang bukan apa-apanya, Harimau Terbang Berkuku Seribu geram juga melihat
kekeja-man Raga Pitu. Maka, sambil mengeluarkan auman keras yang menggetarkan
sekitar tempat itu, Harimau Terbang Berkuku Seribu melompat menerkam Raga Pitu.
Jari-jari kedua tangannya mengambang mem-bentuk cakar harimau. Bunyi bercicitan
nyaring dari udara yang terobek kuku-kuku jari tangan Parugi tak kalah dengan
jeritan puluhan ekor tikus.
Prat, prat,
prat!
Berturut-turut
cakar Harimau Terbang Berku-ku Seribu berbenturan dengan tangan Raga Pitu yang
memapaknya. Akibatnya, tubuh Harimau Terbang Berkuku Seribu terpental ke
belakang. Sedangkan Ra-ga Pitu berdiri tidak bergeming. Kendati demikian,
len-gan bajunya dan baju di bagian dadanya koyak-koyak terkena sambaran angin
serangan cakaran Harimau
Terbang
Berkuku Seribu. Demikian hebatnya Parugi. Tidak percuma dia berjuluk Harimau
Terbang Berku-ku Seribu. Angin serangannya saja cukup untuk me-lukai kulit
tubuh lawan dan merobek pakaiannya. Ta-pi, kulit tangan Raga Pitu tidak mampu
ditembus!
Raga Pitu
menggeram murka. Meski kulitnya tidak terluka tapi pakaiannya yang koyak cukup
membuatnya berang. Maka, di saat tubuh Harimau Terbang Berkuku Seribu ke
belakang, Raga Pitu menghujaninya dengan pukulan-pukulan jarak jauh-nya yang
menggiriskan hati.
Raga Pitu
memang seorang tokoh sesat yang li-cik dan cerdik. Agar serangan lebih gencar,
setiap pu-kulan jarak jauh dilakukan dengan satu tangan. Hem-busan angin keras
pun silih berganti menghujani tu-buh Harimau Terbang Berkuku Seribu. Kakek
kecil kurus itu terpontang-panting ke sana kemari menge-lakkan
serangan-serangan gancar itu. Padahal, tubuh Harimau Terbang Berkuku Seribu
tengah berada di udara.
Bresss!
Harimau
Terbang Berkuku Seribu menjerit ter-tahan ketika salah satu pukulan jarak jauh
lawan menghantam paha kanannya. Seketika tubuh kakek kecil kurus ini terlempar
ke belakang dan jatuh berde-buk di tanah. Darah segar langsung muncrat dari
mu-lutnya.
"Ha ha
ha...!"
Iblis Muka
Merah tertawa bergelak. Ia berjalan menghampiri tubuh Harimau Terbang Berkuku
Seribu yang kebetulan tergolek di sebelah Gunaran yang su-dah mampu duduk
dengan kedua kaki dijulurkan. Baik Gunaran maupun Harimau Terbang Berkuku
Se-ribu berdiam diri saja, tidak berusaha melakukan per-lawanan lagi. Mereka
seperti sudah pasrah akan da-
tangnya
maut
Tapi ketika
jarak antara Iblis Muka Merah den-gan tubuh guru dan murid itu masih sekitar
empat tombak, sesosok bayangan berkelebat. Tahu-tahu di depan Iblis Muka Merah,
membelakangi Harimau Ter-bang Berkuku Seribu dan muridnya, Dewa Arak berdi-ri
dengan sikap gagah.
"Kau
lagi?!" Iblis Muka Merah menggeram. "Rupanya kau sudah ingin
mampus!"
Iblis Muka
Merah langsung mengirimkan se-rangan dahsyat Namun Dewa Arak yang sudah sejak
tadi bersiap menyambutinya dengan ilmu 'Belalang Sakti'. Pertarungan dahsyat
pun terjadi. Iblis Muka Merah ternyata lihai bukan main.
Di lain
tempat, Raga Pitu tengah beristirahat memulihkan tenaga. Ia terlalu lelah
setelah menguras sebagian besar tenaganya dengan cecaran-cecaran pukulan jarak
jauh.
Beberapa
saat setelah Dewa Arak terlibat perta-rungan dengan Iblis Muka Merah, Pergiwa
yang mela-kukan perjalanan bersama Dewa Arak pun tiba. Gadis itu segera
menghambur ke arah guru dan kakak se-perguruannya. Ketiga orang itu terlibat
dalam perte-muan yang mengharukan.
"Sungguh
tidak disangka kau telah bertemu dengan pendekar yang nama harumnya telah
meng-goncangkan dunia persilatan, Pergiwa," ujar Harimau Terbang Berkuku
Seribu tanpa menyembunyikan rasa kagumnya.
Pergiwa
hanya menundukkan kepala. Dari ba-lik bulu matanya ia mengerling ke arah
gurunya. Ingin ia mendengar Harimau Terbang Berkuku Seribu me-lanjutkan
pembicaraan mengenai Dewa Arak. Entah mengapa setiap pembicaraan mengenai Dewa
Arak amat menyenangkan hati Pergiwa.
Pergiwa
kecewa ketika melihat gurunya tidak melanjutkan pembicaraan. Malah, mengalihkan
perha-tian pada pertarungan yang tengah berlangsung. Be-berapa kali kakek kecil
kurus itu memuji Dewa Arak. Harimau Terbang Berkuku Seribu merasa kagum
me-lihat ilmu Dewa Arak yang demikian aneh.
Pergiwa
yang tidak tertarik dengan jalannya pertarungan mengedarkan pandangan
berkeliling.
Dia melihat
Raga Pitu tengah duduk bersila. Kakek itu sedang bersemadi.
"Mumpung
kakek sakti itu tengah sibuk den-gan semadinya biar kubunuh saja dia, Guru.
Biarlah aku dianggap pengecut daripada kita semua tewas di tangannya!"
ujar Pergiwa. Kemudian melesat meng-hampiri Raga Pitu.
Harimau
Terbang Berkuku Seribu terkejut bu-kan main melihat tindakan yang dilakukan
Pergiwa.
"Pergiwa!
Jangan...!"
Tapi,
Pergiwa tidak mempedulikan seruan gu-runya. Dengan kedua tangan terkepal dilancarkannya
pukulan ke dada Raga Pitu.
Desss!
"Akh...!"
Pergiwa
menjerit keras ketika pukulannya membentur sasaran. Ada aliran tenaga dalam
yang amat dahsyat menangkisnya. Tubuhnya melayang ke belakang dengan darah
segar berhamburan dari mu-lutnya. Pergiwa salah menduga! Saat itu Raga Pitu
tengah dalam keadaan membahayakan karena seluruh tenaga dalamnya sedang
berputaran! Maka, Pergiwa pun mengalami nasib naas.
"Pergiwa...!"
Hampir bersamaan seruan itu ke-luar dari mulut Harimau Terbang Berkuku Seribu
dan Gunaran. Harimau Terbang Berkuku Seribu tahu nyawa muridnya tak akan bisa
diselamatkan. Luka
dalam
Pergiwa sangat parah.
Di saat
tubuh Pergiwa tengah melayang itu, tanpa bisa dilihat oleh seorang pun karena
saking ce-patnya, sinar kehijauan menumbuk tubuh gadis ber-pakaian merah itu
dan lenyap masuk ke dalam tubuh Pergiwa. Roh Mayang! Akibatnya, sesaat kemudian
Pergiwa mampu melakukan salto beberapa kali ke be-lakang dan menjejak tanah
dengan ringan.
Karuan saja
semua orang yang melihat keja-dian ini menjadi heran. Tapi, Pergiwa sendiri
tidak ambil peduli. Dia mengalihkan perhatian pada Dewa Arak yang mulai
berhasil mendesak Iblis Muka Merah.
"Dewa
Arak...! Mundur...!"
Seruan
keras laksana guntur itu keluar dari mulut Pergiwa. Bukan hanya keras, tapi
mempunyai pengaruh aneh yang membuat tokoh sesakti Dewa Arak tanpa sadar
bergerak mundur.
"Terimalah
kematian kalian, Raga Pitu dan Ra-ga Pasu...!" seru Pergiwa dengan suara
melengking nyaring, menyeramkan. Gadis berpakaian merah ini mengepalkan kedua
tangannya ke atas.
Dewa Arak,
Gunaran, dan Harimau Terbang Berkuku Seribu menatap dengan sinar mata tak
per-caya. Sementara wajah Raga Pitu dan Raga Pasu me-mucat mengetahui siapa
yang telah mengeluarkan se-ruan itu. Mayang! Orang yang telah mereka
permain-kan habis-habisan dulu! Raga Pitu adalah ayah tiri Mayang. Dan Raga
Pasu adalah anak dari Raga Pitu. Mereka hafal betul dengan suara Mayang. Maka,
me-reka langsung bisa mengenalinya.
Tapi, ayah
dan anak ini tidak sempat berbuat sesuatu. Langit tiba-tiba menjadi gelap.
Petir dan ba-dai bersahutan. Angin yang luar biasa kencangnya berhembus.
Raga Pitu
dan Rasa Pasu tidak tinggal diam.
Keduanya
mengerahkan tenaga pada kedua kaki agar angin keras itu tidak membuat tubuh
mereka me-layang. Mula-mula tidak terjadi apa-apa. Tapi tak lama kemudian dari
mulut, hidung, dan telinga mereka mengalir darah segar. Agaknya kedua kakek itu
telah mengerahkan tenaga dalam sampai melewati batas. Dengan diiringi jeritan
menyayat hati, kedua tokoh sakti yang jahat itu pun tewas mengerikan! Kulit
me-reka terkelupas akibat terpaan angin yang sangat ken-cang.
"Uh...!"
Tubuh
Pergiwa ambruk ketika dari kepalanya melesat keluar sinar kehijauan yang
kemudian me-ninggalkan tempat itu. Gunaran, Harimau Terbang Berkuku Seribu
serta Dewa Arak melihatnya. Gunaran menatap gurunya meminta penjelasan. Tapi,
Harimau Terbang Berkuku Seribu hanya mengangkat bahu kendati tahu mengapa
Mayang yang seharusnya tidak bisa masuk ke dalam tubuh Pergiwa karena bukan
ti-tisannya ternyata bisa masuk. Saat itu Pergiwa sudah hampir mati. Rohnya
lemah. Roh Mayang jadi bisa masuk karena lebih kuat. Kejadian ini membuat
nya-wa Pergiwa terselamatkan.
Setelah
memeriksa dan yakin kalau Pergiwa ti-dak tewas, Dewa Arak pun mohon diri.
Pemuda be-rambut putih keperakan ini tidak tahu kalau setelah sadar Pergiwa
langsung mencari-carinya. Pertanyaan pertama yang diajukan Pergiwa pada Harimau
Terbang Berkuku Seribu dan Gunaran adalah....
"Mana,
Dewa Arak?"
Harimau
Terbang Berkuku Seribu terutama Gunaran, hanya bisa menghela napas berat Kecewa,
mereka tahu Pergiwa tertarik pada Dewa Arak.
Harimau
Terbang Berkuku Seribu maupun Gunaran tidak dapat menyalahkan Pergiwa atau Dewa
Arak. Suatu
hal yang wajar kalau Pergiwa jatuh hati pada Dewa Arak, seorang pendekar yang
luar biasa. Dewa Arak pun tidak bisa disalahkan. Pemuda beram-but putih
keperakan itu tidak bermaksud menjerat Pergiwa.
Sementara
di sebuah tempat yang jauh, Arya tengah berlari cepat meski benaknya masih
memikir-kan kejadian yang menimpa Raga Pitu dan Raga Pasu. Pemuda berambut putih
keperakan ini tidak merasa heran. Tapi, kagum. Dia tahu banyak kekuatan tak
masuk akal di alam gaib, di alam roh. Dan, Arya tahu Mayang yang telah
meninggal tidak mendapat kesuli-tan menggunakan ilmu-ilmu yang berada di alam
gaib!
SELESAI
No comments:
Post a Comment