PENDEKAR
SADIS
oleh Aji Saka
1
"Hooop...!"
"Hieeeh...!"
Diiringi ringkikan melengking
seekor kuda coklat menghentikan larinya, ketika lelaki yang duduk di atas
punggungnya menarik tali kekang. Kedua kaki depan kuda itu terangkat
tinggi-tinggi ke udara. Debu pun mengepul menyelimuti kuda itu.
"Hup!"
Dengan begitu ringan, sosok tubuh
penunggang kuda itu melompat dari punggung kuda ke tanah. Sosok itu ternyata
seorang pemuda tampan berusia sekitar dua puluh tahun. Tubuhnya yang kekar dan
gagah terbalut pakaian biru.
Setelah berdiri mantap di tanah,
pemuda berpakaian biru itu segera menuntun kudanya dan menambatkan pada
sebatang pohon yang tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, dengan langkah lebar
diayunkan kakinya menuju sebuah kedai yang juga tak berapa jauh dari tempatnya
menghentikan kuda.
Pemuda berpakaian biru itu
berhenti sejenak di ambang pintu kedai. Sepasang matanya yang tajam
mernperhatikan ke dalam kedai yang ramai pengunjungnya. Hampir semua meja dan
kursi telah terisi. Hanya tinggal sebuah meja yang mikih kosong.
Tak lama kemudian, pemuda
berpakaian biru itu melangkah memasuki kedai. Namun, baru saja kakinya
melangkah, tiba-tiba tubuhnya langsung membalik kembali ke belakang. Karena
mendadak telinganya mendengar suara ringkikan kuda.
"Hiiieeeh...!"
"Keparat! Maling-maling
busuk!"
Makian penuh kemarahan dan
kegeraman seketika keluar dari mulut pemuda berpakaian biru itu. Kuda
tunggangannya yang baru saja ditambatkan tiba-tiba hendak dicuri tiga orang
berpakaian kuning. Ketiga lelaki berpakaian kuning itu tengah berusaha
melepaskan tali tambatan kuda itu. Kalau saja tidak meringkik, mungkin
orang-orang itu telah berhasil membawa kabur kuda coklat itu.
Pemuda berpakaian biru itu segera
melesat menuju kudanya yang masih tertambat di tempatnya. Hanya sekali hentak
tubuh pemuda itu telah melesat sejauh sebelas tombak. Nampaknya pemuda
berpakaian biru ini memiliki ilmu meringankan tubuh cukup handal.
Jliggg!
Bersamaan dengan terlepasnya tali
kekang kuda dari batang pohon, pemuda berpakaian biru mendarat di tempat itu.
Namun, belum pemuda berpakaian biru itu berbuat sesuatu, dua di antara ketiga
pencuri telah meluruk ke tubuhnya dengan senjata terayun.
Sing! Sing...!
Bunyi berdesing terdengar ketika
golok besar yang tergenggam di tangan dua orang bertubuh kekar itu, diayunkan
ke tubuh pemuda berpakaian biru.
"Hmh!"
Pemuda berpakaian biru hanya
mendengus penuh ejekan melihat serangan-serangan yang meluncur ke tubuhnya.
Sikapnya nampak tenang. Raut wajahnya tak berubah sedikit pun. Nampaknya pemuda
berpakaian biru itu tidak menganggap berat, serangan dua orang lawannya.
Dan, ketika serangan-serangan itu
menyambar dekat, pemuda berpakaian biru dengan cepat bergerak. Kedua tangannya
segera terjulur berusaha memapak serangan dengan tangan kosong. Tindakannya itu
tentu saja menimbulkan rasa heran kedua lawannya.
"Hah...! Gila barangkali
anak muda ini!" seru salah seorang yang merasa keheranan, "Dia
mencoba menangkis senjata kita dengan tangan kosong!"
Meskipun diliputi perasaan heran,
dua orang kasar itu tetap melanjutkan serangan. Harapan ketiga pencuri itu,
dalam satu gebrakan saja dapat mematahkan tangan pemuda berpakaian biru.
Tapi harapan memang belum tentu
menjadi kenyataan. Demikian yang dialami dua orang kasar itu. Mereka kembali
dikejutkan lagi, ketika serangan mereka meluncur ke tubuh pemuda berpakaian
biru.
Tak! Tak! "Hehhh...?"
Tak dapat ditahan, seruan
keterkejutan keluar dari mulut dua orang kasar itu ketika melihat kejadian yang
sama sekali tak diduga. Betapa tidak? Serangan golok mereka dapat ditangkis
dengan tangan pemuda berpakaian biru itu. Tidak sedikit pun tangan itu lecet,
apalagi putus. Bahkan tangan pemuda berpakaian biru itu berhasil menangkap
golok mereka.
Namun keterkejutan dan keheranan
itu hanya berlangsung sesaat. Karena sekejap kemudian kedua lelaki berwajah
kasar telah mengerahkan seluruh tenaga. Mereka berusaha menarik golok dari
cekalan kuat tangan pemuda tampan berpakaian biru itu.
Lagi-lagi kedua lelaki kasar itu
tidak berhasil. Golok itu sama sekali tidak bergeming dalam cekalan tangan
pemuda berpakaian biru. Padahal dua orang kasar itu telah mengerahkan seluruh
kekuatan, untuk menarik golok mereka.
"Enghhh...! Emhhh...!"
"Uuuh...!" lenguhan
panjang keluar dari mulut kedua orang pencuri itu ketika mencoba menarik
senjata mereka. Raut wajah mereka yang merah padam, menunjukkan betapa kerasnya
usaha yang telah dilakukan.
Berbeda dengan dua orang berwajah
kasar, pemuda berpakaian biru nampak tidak mengerahkan tenaga sama sekali. Raut
wajahnya tetap seperti semula, tenang.
"Kerahkan seluruh tenaga
yang kalian miliki, Pencuri-Pencuri Busuk!" ujar pemuda berpakaian biru
dengan bibir tersenyum mengejek. "Sekarang kuberikan kesempatan lebih dulu
pada kalian!"
Pemuda berpakaian biru itu
menepati janjinya, tidak melakukan perlawanan sama sekali. Yang dilakukan hanya
bertahan. Dibiarkan orang-orang kasar itu terengah-engah karena tenaganya
terkuras untuk menarik golok mereka.
"Sekarang
giliranku...!" ujar pemuda berpakaian biru, mantap.
Usai berkata demikian, jari-jari
kedua tangannya bergerak menekuk. Dan.... Tak! Takkk!
"Uhhh...!"
Diiringi suara berdetak nyaring,
kedua batang golok yang ada dalam cekalan pemuda tampan itu patah. Seketika itu
pula tubuh kedua lelaki berwajah kasar terjengkang dan terpekik kaget. Kedua
lelaki berwajah kasar itu pun jatuh bergelimpangan.
Tepat ketika tubuh dua orang
lawannya terjengkang ke belakang, pemuda berpakaian biru itu mengibaskan
potongan golok.
Sing! Sing...!
Tak pelak lagi patahan dua batang
golok melayang, dan.... Jrebs! Jrab!
"Akh...!"
Patahan batang golok itu menancap
deras di paha dua orang berwajah kasar itu. Seketika itu pula jerit kesakitan
terdengar dari mulut mereka, mengiringi robohnya kedua tubuh pencuri itu.
Sementara itu seorang lagi yang
tengah sibuk sendiri melepaskan tali kekang kuda, begitu terkejut melihat kedua
lawannya roboh di tangan pemuda tampan berpakaian biru itu.
Namun sebelum sempat melakukan
tindakan, pemuda berpakaian biru itu telah berada di dekatnya.
"Orang seperti kalian tak
patut dibiarkan hidup!" ujar pemuda berpakaian biru dengan geram.
Setelah itu, dengan cepat
diulurkan tangan kanannya ke tubuh lelaki berwajah kasar yang masih memegangi
tali kekang kuda.
"Hekh...!"
Pekikan tertahan keluar dari
mulut orang kasar yang sial itu, ketika tangan kanan pemuda berpakaian biru
mencekal lehernya. Kecepatan gerak pemuda berpakaian biru membuatnya tak mampu
berkelit.
Si pencuri kuda tahu bahwa maut
tengah mengancam dirinya. Kalau hanya berdiam diri saja, nyawanya pasti akan
melayang. Maka pencuri itu segera bergerak untuk menyelamatkan jiwanya.
Lelaki berpakaian kuning ini
cepat mencekal tangan pemuda berpakaian biru yang mencekal lehernya. Dengan
pengerahan seluruh tenaga dalam pencuri itu berusaha melepaskan cekalan tangan
pemuda berpakaian biru dari lehernya.
Namun, usaha si pencuri kuda ini
sia-sia. Cekalan tangan pemuda berpakaian biru terlalu kuat dan keras bagaikan
jepitan baja. Betapapun telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya, tetap tak
mampu mengimbangi kekuatan tangan pemuda berpakaian biru itu. Sedangkan,
cekalan itu semakin lama bukan semakin melemah.
Akibat cekalan itu raut wajah
pencuri mulai memerah. Semakin lama warna merahnya tampak semakin jelas.
Keringat di leher dan keningnya pun membasah. Lidahnya pun mulai terjulur
keluar. Dan sepasang matanya mulai membeliak.
***
"Gorda!"
Dua orang berwajah kasar yang
telah terluka karena lemparan patahan golok, menjerit keras ketika melihat maut
tengah mengancam kawan mereka.
Lalu meskipun dengan luka di
paha, kedua orang itu bangkit dan bergerak mendekati kawan mereka yang bemama
Gorda. Langkah kedua orang itu terseok-seok karena luka parah di paha mereka.
Baru saja sampai di depan Gorda, yang tengah dicekik lehernya, tiba-tiba....
Krrrkkkhhh!
Langkah dua orang berwajah kasar
itu terhenti ketika mendengar suara gemeretak. Ternyata berasal dari leher
Gorda yang diremukkan oleh cekalan tangan pemuda berpakaian biru itu.
Kedua lelaki berwajah kasar
nampak bergidik ketakutan melihat hancurnya tulang belulang leher Gorda. Darah
menyembur deras dari mulut, hidung, dan telinganya, akibat cekikan pemuda
berpakaian biru dengan mengerahkan tenaga dalam.
Brukkk!
Tubuh Gorda ambruk ke tanah
ketika cekalan tangan pemuda itu terlepas. Sama sekali tidak nampak perasaan
ngeri atau menyesal tampak di wajah pemuda berpakaian biru itu. Bahkan
sebaliknya, sorot mata pemuda itunampak sinar kekejaman.
Setelah menyeringai penuh ejekan,
pemuda berpakaian biru itu mengalihkan perhatian pada dua kawan Gorda yang
masih berdiri terpaku. Kedua lelaki berwajah kasar itu nampak ketakutan dan
begjtu terguncang menyaksikan kejadian yang mengerikan tadi.
"Sekarang giliran
kalian!" ucapan geram lelaki berpakaian biru sambil menolehkan wajah pada
dua orang lawannya.
Usai berkata demikian, pemuda
berpakaian biru melangkah mendekati kedua orang berwajah kasar. Mereka baru
tersadar dan ketertegunannya setelah mendengar geraman pemuda berpakaian biru
Setelah menyadari keadaan itu,
keduanya langsung meluruk ke pemuda berpakaian biru. Karena sudah tidak punya
senjata, kedua lelaki yang paha mereka sama-sama terluka, melakukan penyerangan
dengan tangan kosong. Tinju mereka dipukulkan bertubi-tubi ke dada pemuda
berpakaian biru.
Bukkk! Bukkk! Bukkk!
Beberapa kali pukulan kedua orang
kasar itu mengenai sasarannya. Setiap kali pukulan mendarat mereka merasa
kesakitan. Tubuh pemuda berpakaian biru itu tidak layaknya tubuh manusia.
Mereka seolah-olah memukul besi, atau baru. Tubuh pemuda itu sangat keras dan
kuat.
Di tengah-tengah rasa heran dan
kesakitan, mata kedua orang berwajah kasar itu melihat kaki kanan pemuda
berpakaian biru bergerak. Kecepatan gerakan kaki kanan pemuda itu mengejutkan
mereka berdua.
Dan... Tuk! Tuk!
"Akh, akh...!"
"Uuuh...!"
Jerit kesakitan langsung
terdengar ketika ujung kaki pemuda berpakaian biru menghantam telak tulut kedua
lelaki kasar itu. Tubuh kedua teman Gorda ambruk di tanah. Mereka merasakan,
sambungan tulang lutut mereka copot.
"Sekarang saatnya untuk
merasakan akibat perbuatan kalian!" desis pemuda berpakaian biru bergetar
penuh kebencian.
Baru saja ucapan itu terhenti,
jari telunjuk kanan pemuda itu meluncur ke bahu kanan kedua orang kasar itu.
Tuk! Tukkk!
Berturut-turut jari telunjuk
pemuda berpakain biru bersarang di bahu lawan. Akibat selanjutnya benar-benar
menggiriskan hati. Dua teman Gorda menjerit-jerit kesakitan. Tubuh mereka
bergulingan ke sana kemari karena rasa sakit yang mendera.
"Ha ha ha...! Rasakanlah
akibat perbuatan kalian...! Ha ha ha...!" seru pemuda berpakaian biru
merasa gembira.
Terlihat jelas betapa senangnya
pemuda berpakaian biru melihat penderitaan yang dialami dua orang teman Gorda
yang bergulingan ke sana kemari. Mulut mereka terus mengerang kesakitan seperti
hewan disembelih.
Namun di tengah suasana itu,
tiba-tiba muncul suara dari kejauhan. Sehingga suara itu terdengar tidak begitu
jelas.
"Keji...!"
Suara itu terdengar, kemudian
nampak melesat dua sosok bayangan bergerak mendekati tubuh dua orang kawan
Gorda yang masih bergulingan dilanda sakit.
Plak! Plak!
Hampir berbarengan, kedua sosok
bayangan ungu dan putih menepuk tubuh dua orang kasar itu. Seketika itu pula
kedua orang berwajah kasar merasakan kalau sakit dan nyeri yang melanda,
tiba-tiba lenyap. Rupanya tepukan yang dilakukan dua sosok bayangan itu bukan
sembarangan tepukan, melainkan tepukan yang mampu membebaskan pengaruh totokan
pemuda berpakaian biru.
Jliggg!
Kedua sosok berpakaian ungu dan
putih mendarat tepat di depan pemuda perkasa berpakaian biru. Yang satu seorang
pemuda berambut putih keperakan. Tubuhnya yang kekar terbalut pakaian ungu.
Sedangkan yang satu lagi seorang wanita berambut panjang tergerai. Dan tubuhnya
yang padat berisi dan ramping tercetak jelas dalam pakaian putihnya yang ketat.
"Siapa kalian? Mengapa
mencampuri urusanku?! Apakah kalian berdua termasuk kawanan pencuri-pencuri
busuk itu?!" tanya pemuda berpakaian biru, agak mengejek bercampur
penasaran.
"Tutup mulutmu yang busuk
itu! Dan jangan sembarangan membuka bacot!" sambut gadis berpakaian putih
dengan suara keras, hatinya kesal mendengar ucapan pemuda berpakaian biru itu.
"Tenanglah, Melati,"
ucap pemuda berambut putih keperakan pelan bernada menasihati.
"Mana bisa aku tenang
mendapat hinaan seperti itu, Kang?" bantah gadis berpakaian putih yang
ternyata Melati.
Sebelum pemuda berambut putih
keperakan yang tak lain Arya atau lebih dikenal dengan julukan Dewa Arak menimpali,
pemuda berpakaian biru yang telah menjadi merah wajahnya telah menyahut.
"Kalau bukan kawan, mengapa
mencampuri urusanku? Atau karena kalian berdua ingin memamerkan kemampuan di
hadapanku, heh...?!"
Karuan saja ucapan itu membuat
marah Melati yang memang sejak tadi telah menahannya di hati.
"Keparat Sombong! Orang
sepertimu harus diberi pelajaran, agar tak membacot seenaknya!" sahut
Melati semakin jengkel.
Gadis berpakaian putih itu segera
mengayunkan langkah mendekati pemuda berpakaian biru. Tapi, baru saja
melangkah, Dewa Arak mencekal pergelangan tangannya.
"Sabar dulu, Melati! Jangan
menambah besar persoalan sepele ini!"
Mendengar ucapan kekasihnya ini,
terpaksa Melati mengurungkan niatnya. Dikendurkan kembali otot-otot dan
urat-urat sarafnya yang telah menegang, walaupun hatinya mendongkol.
"Nah, Kisanak! Periu kau
ketahui, tuduhanmu terhadap kami sama sekali tidak benar. Kami tak berma sud
memamerkan kepandaian. Tindakan yang kau lakukan tadi, hanya karena melihat
tindak ketida adilan terhadap dua orang itu," ujar Dewa Arak halus
"Hmh...!" dengus pemuda
berpakaian biru. "Tindak ketidakadilan katamu?! Ho ho ho...! Kau tahu
siapa mereka? Dua orang yang kalian tolong itu bermaksud mencuri kudaku! Kalau
aku tak bertindak cepat, mungkin mereka telah berhasil mencuri kudaku."
"Aku mengerti, Kisanak! Tapi
mengapa begitu caramu memperlakukan mereka. Melakukan penyiksaan secara kejam.
Padahal yang mereka lakukan hanya sekadar mencuri kuda."
"Jadi tindakan yang
kulakukan ini salah?! Kalau begitu, menurutmu, begitu kutahu mereka hendak
mencuri kudaku, kubiarkan saja mereka melakukannya?! Atau..., kubelai-belai
mereka, Begitu?! Luar biasa! Kau tahu, Pemuda Usilan! Orang-orang macam mereka
harus dilenyapkan dari muka bumi! Tentu saja tidak dengan cara yang enak! Dan
kalau kau bermaksud menghalangi tindakanku, kau pun harus merasakan
akibatnya!" tandas pemuda berpakaian biru.
"Sombong!" pekik Melati
keras. Dan seiring ucapan itu, tubuh Melati melesat ke pemuda berpakaian biru,
tanpa sempat dicegah Dewa Arak.
Begitu cepat dan dahsyat serangan
yang dilakukan Melati. Ketika tubuhnya melayang di udara, dilancarkan serangan
perdananya. Tangan kanannya dengan cepat disampokkan ke pelipis pemuda
berpakaian biru.
"Hmh...!"
Pemuda berpakaian biru mendengus
ketika melihat serangan itu. Kemudian sambil melangkah mundur diayunkan tangan
kirinya menangkis serangan Melati.
Taaap!
Bunyi seperti benturan dua logam
keras terdengar ketika dua tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam kuat itu
beradu. Tubuh Melati seketika terpental kembali ke belakang. Sedangkan tubuh
pemuda berpakaian biru terhuyung selangkah ke belakang.
"Hup!"
Dengan sebuah gerakan manis,
Melati berhasil mendaratkan kaki di tanah. Namun, mulutnya menyeringai
kesakitan. Kemudian tangan kanannya mengurut-urut tangan kiri. Dirasakan
tangannya bergetar hebat akibat benturan itu.
Kejadian itu tidak lepas dari
perhatian Dewa Arak. Diam-diam pemuda berambut putih keperakan ini menjadi
terkejut karenanya. Benturan pertama kali itu membuktikan kalau pemuda
berpakaian biru memiliki tenaga dalam sangat kuat, dan bahkan mungkin berada di
atas Melati. Sekaligus membuktikan bahwa pemuda itu tak dapat dianggap remeh.
Kenyataan ini menimbalkan rasa
penasaran Dewa Arak. Benarkah pemuda berpakaian biru memiliki tenaga dalam
sekuat itu? Itulah sebabnya Dewa Arak tak berusaha mencegah pertarungan yang
akan terjadi. Di samping itu, dirinya juga menyadari, tidak mungkin lagi
mencegah Melati untuk tidak bertarung. Karena gadis berpakaian putih itu begitu
marah, dan bernafsu sekali menyerang pemuda berpakaian biru itu.
Dan dugaan Dewa Arak tidak meleset.
Melati kembali menerjang lawannya. Sama seperti gerakan sebelumnya, gadis
berpakaian putih ini dengan cepat melenting menerjang lawannya. Dan ketika
tubuhnya telah berada di udara, dikibaskan kaki kanannya sambil memutar
tubuhnya dengan manis sekali.
Wuttt!
Hal yang sama ternyata dilakukan
pula pemuda berpakaian biru. Akibatnya, dalam keadaan tubuh sama-sama di udara
benturan antara dua batang kaki terjadi.
Dukkk!
Suara itu terdengar cukup keras.
Nampaknya kedua belah pihak sama-sama mengerahkan seluruh tenaga dalam, begitu
mengetahui kalau lawan yang mereka hadapi tidak ringan.
Akibat yang mereka alami lebih
dahsyat lagi. Tubuh kedua belah pihak sama-sama terpental deras ke belakang.
Jliggg!
Hampir bersamaan Melati dan
pemuda berpakaian biru mendaratkan kedua kakinya di tanah. Nampak perbedaan
yang menyolok. Melati agak terhuyung-huyung beberapa langkah, sedangkan
lawannya tidak. Dari sini saja bisa diketahui kalau tenaga dalam pemuda
berpakaian biru lebih kuat dari Melati
"Aaah...!" Melati
terpekik.
2
Jeritan pendek karena kaget
keluar dari mulut Dewa Arak. Sama sekali tak disangka kalau dugaannya
benar-benar tepat. Pemuda berpakaian biru itu ternyata memiliki kepandaian
tinggi. Paling tidak berada di atas Melati
Dewa Arak hendak menyaksikan
pertarungan selanjutnya. Apakah ilmu silat dan ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki pemuda berpakaian biru pun sama hebatnya dengan tenaga dalamnya.
Dan Dewa Arak tidak perlu
menunggu lama untuk menyaksikan pertarungan selanjutnya. Karena Melati yang
memang memiliki watak penasaran, telah kembali bersiap melancarkan serbuan yang
lebih dahsyat. Kali ini tidak tanggung-tanggung lagi, Melati segera mengerahkan
ilmu 'Cakar Naga Merah' andalannya. Seketika tangannya sebatas pergelangan
berubah merah seperti darah.
Pemuda berpakaian biru tahu kalau
lawannya telah mengeluarkan ilmu andalan. Maka tanpa ragu-ragu lagi, pemuda
berpakaian biru itu pun mengeluarkan ilmu simpanannya. Disadari kalau gadis
berpakaian putih itu bukan lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah.
"Hup!"
Aneh sekali ilmu yang
dipertunjukkan pemuda berpakaian biru itu. Tubuhnya berdiri dengan kepala di
bawah. Kedua kakinya bergerak berputar-putar dengan lincah.
Ilmu yang dikeluarkan lelaki
berpakaian biru itu memang aneh dirasakan oleh Dewa Arak yang hanya menyaksikan
dari kejauhan. Melati pun mulai tertegun menyaksikan tindakan yang dilakukan
lawannya.
Tapi hanya sesaat saja gadis
berpakaian putih itu larut dalam keterkejutannya. Karena sesaat kemudian Melati
segera menyadari. Lalu diawali jeritan melengking nyaring, dilancarkan serangan
terhadap pemuda berpakaian biru.
"Hiaaat...!"
Untuk pertama kalinya Melati
merasa bingung melancarkan serangan. Betapa tidak? Serangan-serangan ilmu
'Cakar Naga Merah' yang seharusnya dipergunakan untuk menyerang bagian atas
tubuh lawan menghadapi lawan yang aneh. Karena kali ini pemuda berpakaian biru
membentuk kedudukan kaki di atas, mau tidak mau Melati harus memikirkan
penyerangan dengan cara lain.
Wuttt!
Dibarengi bunyi angin menderu,
tangan Melati meluncur. Gadis berpakaian putih ini melancarkan serangan dengan
meluncurkan kedua cakarnya ke pusar lawan. Melati ingin tahu, bagaimana cara
lawannya mematahkan serangan ini.
Harapan Melati terwujud, pemuda
berpakaian biru langsung melakukan tindakan untuk mematahkan serangan itu.
Kedua kakinya yang menjulang ke atas, dengan cepat digerakkan. Satu di
antaranya memapak serangan, sedangkan yang lain meluncur di atas kepala Melati.
Plakkk! "Hey...!"
Melati agak terkejut. Tangkisan
pemuda berpakaian biru membuat kedua tangannya kesakitan. Bahkan tubuhnya
dirasakan bergetar. Untung saja tubuhnya sempat berkelit menghindari serangan
balasan lawannya. Melati terlompat ke belakang ketika serangannya membentur
kaki lawan. Dan serangan pemuda berpakaian biru pun hanya mengenai tempat
kosong.
"Hup!" Aneh sekali ilmu
yang dipertunjukkan pemuda berpakaian biru itu. tubuhnya
berdiri dengan kepala di bawah.
Sementara, kedua kakinya berputar-putar di atas degnan lincah
Ilmu yang dikeluarkannya memang
sangat aneh. Sehingga Melati pun merasa agak bingung untuk melancarkan jurus
'Cakar Naga Merah' andalannya
Namun, kali ini pemuda berpakaian
biru itu tidak memberi kesempatan pada Melati. Dikejarnya gadis berpakaian
putih itu. Suara dag-dug dag-dug terdengar ketika kepala pemuda itu
membentur-bentur tanah. Dengan kepalanya, lelaki berpakaian biru itu
melompat-lompat mengejar Melati. Meskipun mempergunakan kepala, gerakan
mengejar yang dilakukan pemuda itu tetap cepat.
Sekali lagi Melati kebingungan
dalam pertempuran. Baru kali ini dirinya menghadapi lawan model ini. Itulah
sebabnya, Melati memutuskan untuk mengelakkan serangan itu. Namun Melati
menghadapi serangan lawan dengan waspada. Dirasakan dirinya agak kewalahan
menghadapi serangan yang datang bertubi-tubi dari lawan yang berdiri dengan
kepala di bawah itu. Nampaknya keadaan tubuhnya dengan kepala di bawah seperti
itu tidak mempengaruhi kecepatan serangan itu.
Terlihat lucu dan menegangkan
pertarungan yang terlihat. Melati yang terus mundur, menghindari serangan dari
pemuda berpakaian biru yang tak henti-hentinya merangsek makin maju dengan
diiringi suara dag-dug dag-dug dari kepalanya yang berbenturan dengan tanah
meramaikan jalannya pertarungan.
Sampai sepuluh jurus pertarungan
berlangsung, Melati belum menemukan cara untuk menghadapi ilmu aneh lawannya.
Akhirnya, tindakan yang dilakukannya hanya terus-menerus mengelak dan memapak
serangan lawan. Tak satu pun serangan yang dapat dilancarkannya.
***
Nampaknya, keributan yang terjadi
menarik perhatian orang. Belasan orang mulai berdatangan turut menyaksikan
pertarungan aneh itu. Mereka semua, termasuk Dewa Arak menyaksikan dari jarak
yang cukup aman.
Dan seperti juga Dewa Arak dan
Melati, belasan orang yang menyaksikan jalannya pertarungan itu pun
memperhatikan dengan perasaan heran bercampur takjub melihat ilmu yang
digunakan pemuda berpakaian biru. Mereka para pengunjung kedai, yang beberapa
di antara mereka terdiri dari tokoh-tokoh persilatan yang kebetulan juga berada
di sana.
Berbeda dengan belasan orang
tokoh persilatan yang menyaksikan jalannya pertandingan dengan perasaan takjub,
Dewa Arak justru semakin khawatir. Hatinya merasa cemas melihat Melati,
kekasihnya nampak semakin terdesak, di samping tak mampu melancarkan serangan
sama sekali.
Melati berada dalam keadaan tidak
menguntungkan. Yang dilakukannya terus-menerus bergerak mundur. Mengelak dan
mengelak. Hanya sesekali saja Melati mampu melancarkan serangan balasan. Itu
pun dilakukan hanya untuk memperbaiki keadaannya yang semakin terjepit. Karena
setiap kali dilancarkan serangan, pemuda berpakaian biru pasti mampu
menangkisnya. Karena tenaga Melati tak mampu mengimbangi kekuatan lawan, setiap
kali benturan terjadi, Melati kembali terdesak.
Tiba-tiba pemuda berpakaian biru
menghentikan serangannya. Bahkan menghentikan penggunaan ilmu anehnya. Tubuhnya
kembali berdiri dengan kedua kakinya. Mata lelaki berpakaian biru itu memandang
dua ekor kuda yang tengah berpacu kencang melewati tempat pertarungan.
"Aku ada urusan yang lebih
penting. Nanti pertarungan ini kita lanjutkan," ujar lelaki berpakaian
biru.
Setelah berkata demikian, pemuda
berpakaian biru melesat mengejar dua ekor kuda yang tadi dilihatnya. Hanya
dalam beberapa kali hentakan, tubuh pemuda itu telah melesat jauh meninggalkan
tempat pertarungan. Bahkan entah sengaja atau tidak pemuda itu meninggalkan
kudanya yang terikat di batang pohon.
Dengan kepergian pemuda
berpakaian biru, belasan orang persilatan yang berada di situ pun bubar. Demikian
pula tiga orang yang tadi bermaksud mencuri kuda. Dengan terseok-seok mereka
melangkah meninggalkan tempat itu.
Sama sekali mereka tidak
memperhatikan Dewa Arak yang juga berdiri di antara kerumunan. Memang, meskipun
julukan Dewa Arak telah begitu menggemparkan, orang tidak menduga kalau pemuda
berambut putih keperakan itu ternyata pendekar muda yang
demikian tersohor! Barangkali
mereka baru menduga demikian, jika Dewa Arak telah mempertunjukkan
kehebatannya.
Sebentar kemudian yang tinggal di
sana hanya Dewa Arak dan Melati. Melati masih berdiri di tempat semula. Menilik
dari sikapnya, bisa diketahui kalau dirinya tengah merasa terpukul.
Perlahan-lahan Dewa Arak
mengayunkan langkah mendekati Melati. Kemudian dirangkulnya bahu gadis
berpakaian putih itu untuk menghibur hatinya. Melati pun menyusupkan wajahnya
ke dada Dewa Arak yang bidang.
"Pemuda itu memang memiliki
ilmu luar biasa, Melati. Sebuah ilmu yang aneh. Aku sendiri belum menemukan
cara untuk menghadapinya. Aku tidak tahu, apakah ilmu 'Belalang Sakti'-ku dapat
digunakan untuk mematahkan ilmunya," ucap Dewa Arak pelan sambil
mengelus-elus rambut Melati.
"Aku sangat kecewa dengan
kemampuanku sendiri, Kang. Aku sama sekali tidak berdaya menghadapinya,"
keluh Melati tanpa mengangkat kepalanya dari dada Dewa Arak.
"Mari kita bicarakan hal ini
sambil berjalan, Melati!" usul Dewa Arak.
Memang, pemuda berambut putih
keperakan ini menyadari ketidakpantasan kelakuan mereka yang seperti itu.
Karena tempat ini terbuka. Itulah sebabnya Dewa Arak mengajak kekasihnya agar
segera meninggalkan tempat ini.
Melati tahu maksud yang
terkandung dalam ucapan Dewa Arak. Oleh karena itu, dengan raut wajah memerah,
Melati mengangkat kepala dari dada kekasihnya. Lalu, mereka berjalan bersisian
meninggalkan tempat itu.
"Pendapatmu kurang betul,
Melati," ucap pemuda berambut putih keperakan itu sambil terus
melangkahkan kakinya. "Ketidakberdayaanmu menghadapi pemuda tadi bukan
karena ilmumu jauh di bawahnya. Tidak, Melati! Walaupun memang ilmumu berada di
bawah pemuda tadi, tapi ketidakberdayaanmu sebagian besar disebabkan karena
kebingunganmu menghadapi keanehan ilmunya. Aku pun mungkin akan mengalami hal
yang sama, kalau melawannya. Hhh...! Ilmunya aneh!"
Melati hanya diam, tidak memberi
tanggapan atas ucapan kekasihnya yang disadari ada kebenarannya. Melati memang
merasa kebingungan dalam menghadapi musuhnya yang berilmu aneh itu.
"Yang masih menjadi
pertanyaan bagiku, di golongan manakah pemuda berpakaian biru itu berdiri,
Kang?" tanya Melati setelah beberapa saat lamanya terdiam.
Dewa Arak tidak segera menjawab
pertanyaan itu. Pemuda berambut putih keperakan ini mengernyitkan kening
beberapa saat lamanya. Nampaknya Dewa Arak tengah memikirkan jawaban atas
pertanyaan kekasihnya barusan.
"Kalau mendengar
ucapan-ucapannya, kurasa pemuda tadi termasuk pendekar golongan putih."
"Tapi..., mengapa
tindakannya demikian keji, Kang? Padahal, orang-orang kasar itu hanya bermaksud
mencuri kudanya. Sebuah tindak kejahatan yang sebenarnya tidak terlalu
membahayakan jiwanya," ujar Melati bernada keheranan.
"Aku juga tidak mengerti,
Melati. Tapi, menurut dugaanku, pemuda itu mempunyai pengalaman yang pahit
bahkan mungkin mengerikan di masa kecilnya, berkenaan dengan tokoh-tokoh
golongan hitam," duga Dewa Arak.
Melati tidak menimpali dugaan yang
dilontarkan Dewa Arak. Beberapa lama keadaan terasa sunyi. Kedua pendekar muda
itu terus berjalan tanpa suara dari mulut mereka.
Cukup lama juga Dewa Arak dan
Melati tenggelam dalam alun pikirannya masing-masing. Akhirnya Melati membuka
mulutnya dengan sebuah pertanyaan.
"Sekarang..., kita akan
pergi ke mana, Kang?" "Tetap seperti tujuan semula," jawab Dewa
Arak.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi, Kang? Aku sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di sana!" sambut
Melati penuh semangat
Dewa Arak tersenyum lebar sambil
mengangkat bahu pertanda menyetujui keputusan kekasihnya. Kemudian dalam
sekejap saja tubuh Melati telah melesat ke depan meninggalkan Dewa Arak.
Dewa Arak hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kekasihnya. Tapi hal itu pun tidak
bisa lama-lama dilakukannya, karena bisa tertinggal jauh dari gadis berpakaian
putih itu. Maka pemuda berambut putih keperakan itu pun segera menghentakkan
langkahnya. Dan sesaat kemudian sepasang pendekar muda ini saling melesat begitu
cepat, sehingga mereka, nampak seperti kejar-mengejar.
***
"Hih!"
Pemuda berpakaian biru
menggertakkan gigi sambil menghentakkan kaki dengan keras. Sesaat kemudian
tubuhnya melenting ke udara. Tubuhnya bersalto beberapa kali sebelum akhirnya
menjejakkan kaki mendarat tepat di hadapan dua sosok penunggang kuda. Lompatan
itu begitu cepat dan ringan.
Jliggg! "Hooop...!"
"Hiiieeeh...!"
Keberadaan pemuda berpakaian biru
yang secara tiba-tiba menghadang larinya kedua kuda, membuat kedua penunggang
kuda terkejut. Kemudian kedua penunggang kuda itu menarik tali kekang kudanya.
Seketika itu pula lari kuda mereka terhenti diiringi suara ringkikan nyaring
dari kedua kuda itu.
"Keparat! Kadal Buntung!
Rupanya kau mau mampus, hehhh?!" bentak salah seorang penunggang kuda yang
mengenakan rompi merah. Wajahnya nampak sangat marah melihat pemuda berpakaian
biru itu.
"Tidak periu berbicara
panjang lebar, Kang! Lebih baik kirim saja nyawanya ke neraka!" selak
kawannya yang bertubuh kecil kurus dan berwajah pucat
Namun, pemuda berpakaian biru
nampak tak mempedulikan bentakan keras dan kasar dari dua orang penunggang kuda
itu. Pandangannya terpaku pada dua sosok penunggang kuda di hadapannya. Matanya
menatap dengan tajam kedua sosok penunggang kuda itu secara bergantian.
"Aku ingat...! Ya..., kaulah
orangnya...!" ucap pemuda berpakaian biru itu sambil menuding lelaki
berompi merah yang berkepala botak.
Karuan saja tingkah laku pemuda
berpakaian biru membuat lelaki berompi merah dan kawannya nampak kebingungan.
"Ternyata dia bukan orang
waras, Kang. Lebih baik kita tinggalkan saja!" kata lelaki kecil kurus
merubah maksud semulanya.
Dan seiring keluarnya ucapan itu,
lelaki kecil kurus langsung bersiap untuk melecutkan cambuk pada punggung
kudanya. Tapi....
"Tunggu, Bawira!" cegah
lelaki berompi merah sambil memalangkan tangannya mencegah lelaki kecil kurus
yang hendak lari dengan kudanya. Dan sebelum kawannya sempat mengucapkan
sesuatu, lelaki berompi merah langsung mendahuluinya.
"Rasa-rasanya aku pernah
melihat wajah mirip dia. Tapi aku lupa kapan dan di mana...?"
"Kau telah mengaku, Monyet
Botak! Sekarang saatnya kau menerima pembalasan dariku! Kau harus bertanggung
jawab atas pembunuhan yang kau lakukan pada orangtua dan kakak-kakak
seperguruanku!" tandas pemuda berpakaian biru.
"Sepuluh tahun lalu?"
Alis lelaki berompi merah
berkernyit dalam. Dicobanya untuk mengingat-ingat kejadian yang dialaminya
sepuluh tahun lalu.
Pada saat yang bersamaan, pemuda
berpakaian biru itu pun tengah melakukan hal yang sama. Ingatannya melayang pada
peristiwa yang terjadi sepuluh tahun lalu.
3
Ctar, ctar, ctarrr! "Hiya!
Hiyaaa...!" "Hieeeh...!"
Suara lecutan cambuk dan
teriakan-teriakan mulut terdengar membentak kuda yang tengah berlari ken-cang,
ditingkahi suara ringkikan nyaring dua ekor kuda. Keriuhan itu memecah
keheningan malam yang masih melingkari persada. Sementara, bulan yang bersinar
terang dan bintang-bintang yang bergemerlapan di langit, menambah suasana cerah
malam itu.
Kegaduhan itu ternyata berasal
dari sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda. Seorang lelaki setengah baya
tengah duduk terguncang-guncang di atas kursi kereta. Lelaki berpakaian coklat
itu berkali-kali melecut punggung kedua kuda yang menarik keretanya. Sementara
mulut terus berteriak-teriak sambil membentak. Nampaknya lelaki berpakaian
coklat yang tengah duduk di atas kursi kuda itu menghendaki agar kuda-kuda itu
lebih mempercepat larinya.
Ternyata benar, kedua ekor kuda
itu berlari begitu cepat bagai kesetanan. Sehingga membuat kereta itu
terguncang-guncang hebat di atas jalanan yang tidak rata dan agak berbatu-batu.
Namun, sang Kusir sama sekali
tidak mempedulikan keadaan itu. Cambuknya terus-menerus dilecutkan ke punggung
kedua kuda itu. Demikian pula seruan-seruan yang mengandung maksud agar
kuda-kuda penarik kereta itu berlari semakin cepat, terus diteriakkan semakin
menggebu-gebu.
Namun sayang, ketika kereta itu
tengah berlari kencang, tiba-tiba sebuah lubang menghalang di jalanan. Dan itu
tidak terlihat cteh mata kusir. Dan....
Blosss...! Krakkk!
"Hieeeh...!" "Haaah...!" Brukkk!
Kejadian itu berlangsung begitu
cepat. Roda kiri kereta menggilas bagian jalan yang berlubang. Memang lubang
itu tidak besar. Namun, karena kereta itu tengah melaju dengan kecepatan
tinggi, mengaki-batkan roda kereta ituhancur. Bahkan asnya patah.
"Hieeeh...!"
Kereta pun berguling ke kiri
dibarengi ringkik ketakutan dari mulut dua ekor kuda itu, pekik mulut lelaki
berpakaian coklat dan suara yang berasal dari dalam kereta. Ternyata di dalam
kereta itu ada penumpangnya. Dari suaranya yang melengking nyaring, penumpang
di dalam kereta itu mirip jeritan anak kecil atau perempuan.
Suara hiruk-pikuk para penumpang
kereta itu ambruk ke kiri. Roda kereta sebelah kanan masih berputaran, karena
kereta kuda itu dilarikan dengan kecepatan tinggi.
"Aaah...!"
Jerit kesakitan keluar dari mulut
lelaki berpakaian coklat ketika berusaha bangkit. Tubuhnya mulai dari pinggang
ke bawah nampak terjepit reruntuhan kereta.
Tapi rupanya lelaki berpakaian
coklat termasuk orang yang berkemauan keras. Meskipun seluruh tubuhnya
dirasakan sakit semua, lelaki itu tetap berusaha bangkit dari reruntuhan kereta
itu.
"Huuuh...! Hmmmh...!"
Lelaki berpakaian coklat
menggigit bibirnya keras untuk mencegah keluarnya jerit kesakitan dari
mulutnya. Jelas, hal itu membutuhkan kekerasan hati yang luar biasa. Karena
rasa sakit semakin hebat di sekujur tubuhnya. Keringat dingin mulai bercucuran
membasahi leher, kening, dan seluruh tubuhnya.
Kriiit...!
Terdengar suara bergerit pelan
diiringi terbukanya daun pintu sebelah kanan kereta. Sesaat kemudian dari dalam
kereta menyeruak sesosok tubuh kecil. Pancaran sinar bulan purnama memperjelas
sosok tubuh kecil itu.
Sosok tubuh kecil itu ternyata
seorang bocah lelaki berusia sekitar sepuluh tahun. Tubuhnya yang nampak kekar
terbalut pakaian biru.
"Aaakh...!" terdengar
suara terpekik dari mulut bocah lelaki itu.
Tubuh bocah berpakaian biru yang
baru saja terjulur keluar itu tiba-tiba terlontar ke atas. Jerit kengerian
tertahan yang keluar dari mulut bocah itu membuktikan bahwa kejadian itu bukan
atas kehendaknya. Seolah-olah ada orang di dalam kereta yang melontarkan
tubuhnya.
Gusraaak!
Terdengar suara berkerosakan
keras ketika tubuh bocah berpakaian biru itu terjatuh di semak-semak. Untung
saja tubuh itu terlempar ke semak-semak. Kalau tidak, barangkali tubuh bocah
itu akan mengalami luka-luka berat. Sebab lontaran itu begitu deras dan cepat
Beberapa saat setelah tubuh bocah
lelaki berpakaian biru terlontar, dari dalam kereta itu kembali melesat keluar
sesosok bayangan hitam.
Jliggg!
Dengan agak terhuyung-huyung,
sosok bayangan yang ternyata seorang lelaki berusia empat puluh tahun itu
mendarat ke tanah. Agak aneh, mestinya kalau dilihat dari kecepatan lesatannya,
lelaki berusia empat puluh tahun yang mengenakan pakaian kuning gading itu
memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Tapi mengapa hinggap di
tanah dengan keadaan sempoyongan seperti itu?
Namun ternyata setelah mendarat
dengan agak sempoyongan, lelaki setengah baya berpakaian kuning gading itu
langsung terbungkuk badannya. Dan....
"Uhuk...! Uhuk...!"
Lelaki berpakaian kuning gading
itu batuk-batuk. Dan dari mulutnya bersamaan dengan batuk itu terpercik cairan
merah agak kental. Nampaknya lelaki berpakaian kuning gading ini mengalami luka
dalam.
Namun, lelaki berpakaian kuning
gading itu sama sekali tidak mempedulikan luka yang tengah dideritanya. Dalam
keadaan masih batuk-batuk keras kakinya melangkah menuju semak-semak tempat
tubuh ocah lelaki yang terlontar barusan mendarat
Tapi, baru saja beberapa tindak, ayunan langkahnya segera dihentikan.
Pendengarannya yang tajam tiba-tiba menangkap ada suara langkah kaki mendekati
tempatnya. Suara itunampaknya berasal dari belasan bahkan mungkin puluhan
pasang kaki.
Sekejap kemudian tubuh lelaki
berpakaian kuning gading itu dengan cepat membalik. Dengan begitu cepat kakinya
bergerak hendak menuju ke semak-semak yang sudah tidak begitu jauh dari tempat
itu.Tetapi....
"Mau lari ke mana kau,
Keparat?!"
Seiring dengan keluarnya suara
bentakan keras, sesosok bayangan melesat cepat di atas kepala lelaki berpakaian
kuning gading itu.
"Hup!"
Tanpa menimbulkan suara berarti,
sosok tubuh yang melesat itu mendarat beberapa tombak di depan lelaki
berpakaian kuning gading. Terpaksa lelaki berpakaian kuning gading itu
menghentikan kembali langkahnya.
"Jangan harap bisa lolos
lagi! Orang sepertimu harus dilenyapkan selama-lamanya dari muka bumi!"
sambung sebuah suara lain yang ternyata berada di belakang lelaki berpakaian
kuning gading.
"Akur...!"
"Betul...!" "Ganyang...!"
"Lenyapkan pula
keturunannya...!"
Suara-suara riuh rendah terdengar
bersahut-sahutan. Dan semuanya berasal dari belakang lelaki berpakaian kuning
gading.
Lelaki berpakaian kuning gading
segera memutar badannya ke belakang. Segera matanya yang awas melihat di
keremangan malam belasan bahkan mungkin puluhan orang
dengan senjata di tangan, berdiri
dengan sikap mengancam. Lalu dengan cepat mereka bergerak menyebar. Hanya dalam
sekejap saja lelaki berpakaian kuning gading itu telah terkepung.
Namun, lelaki berpakaian kuning
gading sama sekali tidak kelihatan gugup, meskipun tahu kalau dirinya tidak
akan bisa lolos lagi dari kepungan orang-orang yang belum dikenalnya itu.
Meskipun dalam suasana remang-remang, lelaki berpakaian kuning gading berusaha
untuk menatap wajah-wajah mereka. Nampak jelas di matanya, bahwa orang-orang
yang mengepungnya bemafsu sekali untuk membunuh dirinya.
Tak lama kemudian, bagat diberi
perintah puluhan orang itu bergerak maju. Kepungan itu pun semakin mengecil.
"Terimalah kematianmu,
Manusia Usilan! Hih...!" Wuk! Wuk! Wuk!
Seorang lelaki tinggi besar,
berperut gendut, berkepala botak, dan mengenakan rompi merah memutar-mutarkan
rantai berujung bola baja berduri. Bunyi yang terdengar membuat bulu kuduk
meremang.
Lelaki berpakaian kuning gading
telah terkepung. Dirinya tak mampu berusaha untuk menghindar. Kini tinggal
menunggu saatnya senjata berduri itu menggempur tubuhnya. Tapi tiba-tiba
terdengar suara....
"Tahan...!"
Bentakan keras terdengar. Suara
menggelegar itu nampaknya dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat.
Buktinya semua lelaki yang tengah mengepung mangsanya nampak bergetar hebatoleh
hawa yang diakibatkan suara bentakan itu.
Ternyata tak hanya lelaki berompi
merah yang nampak terpengaruh bentakan itu, sehingga menghentikan gerakannya.
Semua lelaki yang mengepung itu pun menolehkan kepala ke asal suara.
***
Dari belakang lelaki besar
berompi kuning, tiba-tiba melesat sesosok bayangan hitam. "Hup!"
Sosok bayangan hitam itu berhenti
di luar kepungan. Seketika itu pula para pengepung menyibak, memberi jalan bagi
sosok hitam itu yang berjalan mendekati lelaki berpakaian kuning gading. Mereka
mengenal betul siapa sosok hitam itu. Ternyata sosok hitam itu pemimpin mereka.
"Mau lari ke mana kau,
Malaikat Ruyung? Jangan harap dapat lolos dari tanganku!" ejek sosok hitam
yang tengah menghampirinya.
Sosok hitam itu semakin mendekat
ke tubuh lelaki berpakaian kuning gading. Mata lelaki berpakaian kuning gading
seketika terbelalak melihat sosok tubuh di depannya yang nampak sangat aneh dan
menyeramkan. Wajah lelaki hitam itu ditumbuhi bulu-bulu halus hitam pekat.
Wajahnya lebih mirip gorila.
Tidak hanya itu ciri-ciri yang
membuat sosok hitam itu mirip dengan gorila. Potongan tubuhnya agak membungkuk,
dan tangan yang panjang menjuntai hingga melewati kedua lutut. Bulu-bulu hitam
yang memenuhi sekujur tubuh yang tidak tertutup pakaian, semakin memperjelas
kemiripan bentuknya dengan gorila.
"Aku bukan jenis orang
sepertimu, Raja Monyet Tangan Delapan!" sambut lelaki berpakaian kuning
gading yang ternyata berjuluk Malaikat Ruyung.
"He he he...!" sosok
hitam yang berjuluk Raja Monyet Tangan Delapan tertawa terkekeh-kekeh.
"Kalau tidak menyaksikan sendiri, mungkin aku bisa percaya ucapanmu,
Malaikat Ruyung! Tapi, kenyataan yang kulihat tidak seperti yang kau katakan!
Dengan mata kepalaku sendiri kulihat kau berlari tunggang-langgang!"
Seketika itu pula Malaikat Ruyung
terdiam. Disadari adanya kebenaran yang tidak bisa dibantah lagi dalam ucapan
Raja Monyet Tangan Delapan. Memang terbukti dirinya telah melarikan diri. Tapi,
tentu saja bukan tanpa alasan. Hanya saja alasan itu tidak mungkin
diutarakannya dalam keadaan yang mencekam seperti ini.
"He he he...! Sekarang kau
mau bicara apa lagi, Malaikat Ruyung? Kau tidak bisa membohongiku lagi. He he
he...! Ingin kulihat sendiri bagaimana raut wajahmu kalau dunia persilatan
mengetahui bahwa kau melarikan diri untuk menyelamatkan diri, seperti seekor anjing
yang akan dipukul," ejek Raja MonyetTangan Delapan lagi
"Tutup mulutmu, Raja
Monyet!" bentak Malaikat Ruyung begitu keras.
Tampak jelas kalau lelaki yang
berjuluk Malaikat Ruyung merasa tersinggung mendengar ejekan lawannya. Wajahnya
nampak pula menegang. Perasaan marah, takut, dan kesal bercampur dalam hatinya.
Tapi untuk lolos dari kepungan ini tentu saja bukan hal yang mudah.
"Hehhh...?!" Raja
Monyet Tangan Delapan tersentak. "Kau berani memerintahku untuk menutup
mulut? Betapa lancang mulutmu! Apa kau ingin merasakan kedahsyatan ilmu-ilmuku
lagi?! Ho, ho, ho...! Dalam keadaan biasa saja kau bukan tandinganku, apalagi
sekarang! Hmh...! Bunuh dia!" perintahnya kemudian dengan suara keras.
Usai memberi perintah demikian,
Raja Monyet Tangan Delapan mengibaskan tangannya sambil melangkah mundur.
Maksudnya tentu saja memberi kesempatan pada gerombolan pengepung itu untuk
mengerjakan perintahnya.
"Selamat bertemu malaikat
maut, Malaikat Ruyung...!" ujar Raja Monyet Tangan Delapan sambil melepas
tawa bergelak.
Lalu, kedua tangannya yang
berukuran lebih panjang dari tangan manusia umumnya, bersidekap di depan dada.
Diperhatikan anak buahnya yang telah bergerak mengurung Malaikat Ruyung.
Sementara itu, Malaikat Ruyung
sudah tidak memperhatikan Raja Monyet Tangan Delapan lagi. Dipusatkan
perhatiannya pada para pengeroyoknya yang kini sudah mulai bergerak siap
menyerangnya. Sepasang matanya berkeliaran ke sana kemari, memperhatikan
gerak-gerik lawan-lawannya. Lalu dicabutnya ruyung berbatang dua yang terselip
di pinggangnya. Batang ruyung itu terbuat dari baja, dan ujung-ujungnya terikat
rantai baja yang sepanjang dua jengkal. Kemudian segera diputar-putar rujung
itu dengan cepat sekali di depan dadanya.
Wuk! Wuk! Wuk...!
Kecepatan putaran ruyung itu
melenyapkan bentuk aslinya. Dan kini yang nampak hanya kelebatan bayangan hitam
dalam bentuk tidak jelas. Malaikat Ruyung telah bertekad menghadapi
lawan-lawan, meskipun jumlah mereka seharusnya bukan tandingannya.
"Hiaaat..!"
Diiringi teriakan menggelegar
yang membuat suasana di sekitar tempat itu tergetar hebat, lelaki berpakaian
merah melancarkan serangan. Rupanya hatinya sudah tak sabar menunggu lebih lama
lagi untuk segera menghabisi nyawa musuhnya.
Wuuuk...! Kreeek!
Diiringi deru angin keras mengiuk
dan suara rantai, bola baja berduri itu meluncur ke atas kepala Malaikat
Ruyung. Hal itu dilakukan setelah terlebih dulu memutar-mutarkan rantainya di
atas kepala. Beberapa kali serangan dilancarkan dengan cepat dan dahsyat.
Malaikat Ruyung tidak berani
bertindak gegabah. Dirinya tahu betapa dahsyatnya serangan bola berduri itu.
Kalau menerjang kepalanya, sudah dapat dipastikan akan remuk. Malaikat Ruyung
tidak mau hal itu terjadi atas dirinya.
Oleh karena itu, Malaikat Ruyung
langsung bergerak cepat. Tubuhnya melakukan lompatan harimau ke samping kanan.
Lalu dengan bertumpu pada kedua tangan, tubuhnya berguling-guling berusaha
menghindari serangan dahsyat itu.
Usaha yang dilakukan Malaikat
Ruyung memang tidak sia-sia. Berkali-kali serangan bola berduri itu meleset,
dan hanya menggebuk tempat kosong.
Wuuuk...! Bukkk...! Bukkk!
Setiap kali Malaikat Ruyung
bangkit, serangan susulan dengan cepat telah meluncur ke kepalanya. Yang lebih
membuat repot dan kewalahan lagi, hampir semua anak buah gerombolan Raja
MonyetTangan Delapan meluruk ke tubuhnya dengan senjata terhunus. Tak pelak
lagi, belasan senjata yang beraneka ragam jenis, ukuran, dan bentuk itu meluruk
ke tubuh Malaikat Ruyung hampir bersamaan.
Malaikat Ruyung terkejut melihat
serangan-serangan itu semakin berbahaya. Kalau keadaan tubuhnya biasa,
barangkali keadaan seperti ini bukan merupakan hal yang sulit baginya untuk
mengandaskan semua serangan. Tapi sekarang masalahnya lain. Tubuhnya tengah
menderita luka dalam yang parah! Bahkan ketika tangannya memutar-mutar senjata
ruyungnya di depan dada, nampak darah segar mengalir dari mulutnya.
Begitu juga ketika melakukan
lompatan harimau untuk mengelakkan serangan bola berduri, darah itu kembali
mengalir keluar. Bahkan dadanya dirasakan begitu sakit. Saat Malaikat Ruyung berada
dalam keadaan seperti itulah serangan-serangan para pengeroyoknya meluncur
terus menerjang ke tubuhnya. Berkali-kali usahanya untuk berkelit masih mampu
menyelamatkan jiwanya dari maut yang terus memburunya.
Malaikat Ruyung tidak mempunyai
pilihan lain. Dirinya masih belum ingin tewas. Keadaan bocah berpakaian biru
yang sebenarnya anaknya, belum diketahui secara pasti. Nasib anaknya itulah
yang mendorong lelaki berpakaian kuning gading ini berusaha terus untuk
bertahan hidup. Oleh karena itu, dirinya tetap berusaha untuk menyelamatkan
diri dari maut. Meskipun untuk itu harus merasakan sakit yang hebat di dalam
tubuhnya. Pikirannya yang bercabang seperti itu menyebabkan kewaspadaannya
mengendur. Kemudian tak disangka-sangka serangan beruntun meluncur ke tubuhnya.
Dan....
Jrabbb! Jrabbb! Jrabbb!
Beberapa bacokan senjata pun
mendarat dengan cepat sekali. Seketika tubuh lelaki berpakaian kuning gading
melesat dengan cepat untuk menghindari serangan beruntun itu. Senjata-senjata
itu pun membacok tempat kosong. Malaikat Ruyung ternyata telah lebih dulu
menghindar dari tempat semula. Nampak tubuhnya berguling-guling di atas tanah.
Namun kesempatan berkelit
Malaikat Ruyung hanya berlangsung beberapa saat. Ketika tubuhnya tengah
bergulingan, lelaki berompi merah yang tadi tak sempat ikut dalam penyerangan,
tiba-tiba dengan cepat sekali melontarkan bola berdurinya ke tubuh Malaikat Ruyung.
Wukkk!
Malaikat Ruyung terkejut bukan
kepalang. Dirinya tahu kali ini tak bisa lagi melakukan gerakan untuk
menghindar. Jalan satu-satunya hanya menangkis.
"Hih!"
Sambil menggertakkan gigi,
Malaikat Ruyung memapak luncuran bola berduri itu dengan ruyungnya. Seluruh
tenaganya dikerahkan untuk menangkis serangan itu. Sebab, senjata lawan
memiliki berat yang berlipat kali jika dibanding dengan senjatanya. Apalagi
luncuran senjata berbentuk bola duri itu dikerahkan dengan tenaga dalam yang
kuat. Sehingga, kalau tenaga tangkisannya kurang kuat, bola berduri itu tetap
akan menghantam tubuhnya.
Trakkk! Bukkk!
"Akh...!"
Apa yang dikhawatirkan Malaikat
Ruyung terjadi juga. Tenaganya yang telah menyusut jauh, membuat kekuatan
tangkisannya tak sanggup menahan luncuran bola berduri. Meskipun berhasil
ditangkisnya, tak urung bola berduri itu menghantam paha kanannya. Akibatnya
tulang paha kanannya remuk. Rasa sakit yang hebat pun mendera Malaikat Ruyung.
Rasa sakit itu menyebabkan
Malaikat Ruyung, untuk beberapa saat lamanya terdiam di tempat. Sebentar kedua
matanya terpejam menahan rasa sakit di pahanya. Padahal saat itu, para
pengeroyok yang semula gagal melakukan serangan telah meluruk kembali sambil
mengayunkan senjata masing-masing.
Malaikat Ruyung mengetahui bahaya
yang tengah meluruk ke tubuhnya. Namun, keadaan saat itu membuat lelaki
berpakaian kuning gading itu hanya pasrah menunggu datangnya serangan maut
Tubuhnya tak mampu digerakkan untuk menangkis atau mengelak. Luka dalam yang
parah, tulang pahanya yang remuk, dan pergelangan kedua tangannya yang patah
akibat memapak bola berduri membuatnya tak mampu bertindak apa pun untuk
menyelamatkan diri. Akhirnya....
Crat! Jraaab! Breeet!
"Aaakh...!"
Malaikat Ruyung tak kuasa menahan
jeritannya, ketika beberapa senjata lawan dengan ganas menghujam ke beberapa
bagian tubuhnya. Darah segar pun seketika mengalir deras membasahi tubuhnya
yang telah parah. Sempurnalah luka parah yang di deritanya.
Namun hanya beberapa saat saja
mulut lelaki berpakaian kuning itu terpekik kesakitan. Tubuhnya yang telah luka
parah nampak tak bergerak lagi, karena saat itu pula nyawa di tubuhnya telah
melayang.
Meskipun Malaikat Ruyung sudah
tak berkutik lagi, gerombolan anak buah Raja Monyet Tangan Delapan tetap tak
berhenti menyerang lelaki berpakaian kuning gading itu. Dengan ganas mereka
tetap menghujamkan senjata ke tubuh Malaikat Ruyung yang telah tewas. Sehingga
tubuh berpakaian kuning gading itu hancur berantakan, dan tak berbentuk lagi
Mereka baru menghentikan ayunan
senjata ketika tubuh Malaikat Ruyung sudah hancur lebur bercampur darah. Sebuah
pemandangan yang mengerikan sekali. Tubuh Malaikat Ruyung seperti cacahan
daging. Kepalanya pun sudah tak berbentuk dan berpisah dari lehernya.
"Ha ha ha...!"
Raja Monyet Tangan Delapan tertawa
bergelak melihat akhir hidup Malaikat Ruyung. Tokoh sesat yang mirip gorila ini
merasa puas. Perutnya nampak terguncang-guncang karena tawanya yang keras.
"Tamatlah riwayatmu,
Malaikat Ruyung! Ha ha ha...!"
Sementara itu, gerombolan
pengeroyok Malaikat Ruyung berdiri diam saja di tempatnya. Senjata-senjata
berlumur darah masih tergenggam di tangan mereka.
"Tunggu apa lagi? Cari
keturunan si keparat itu! Bukan tidak mungkin mereka akan menjadi ancaman bagi
kita kelak!" perintah Raja Monyet Tangan Delapan ketika berhenti dari
tawanya.
***
Tanpa menunggu perintah dua kali,
belasan orang berwajah kasar dan bertubuh kekar itu menyebar ke sekitar tempat
itu. Beberapa orang dari mereka menghampiri kereta kuda yang terguling di
pinggir jalan berbatu-batu tadi.
Seluruh tempat telah
diobrak-abrik, tapi orang yang mereka cari tidak diketemukan. Di dalam kereta,
tempat-tempat di sekitarnya, bahkan di dalam semak-semak telah mereka gasak.
Namun, tetap mereka tak menemukan yang dicari.
Sedangkan di kereta yang terguling
itu, mereka hanya mendapatkan kusir yang tubuhnya terjepit di bawah kereta itu.
Dan nyawa sang Kusir pun melayang ketika salah seorang anak buah Raja Monyet
Tangan Delapan menendang kepalanya hingga terlepas dari lehernya.
"Tidak ada seorang pun di
sekitar sini, Ketua," lapor lelaki berpakaian merah penuh hormat ketika
tidak berhasil menemukan orang yang mereka can. Kini semuanya berkumpul di
hadapan Raja Monyet Tangan Delapan.
"Bodoh! Dungu! Kalian semua
memang bukan manusia! Kalian kerbau! Mencari seorang anak kecil saja tidak
bisa! Lalu, apa yang kalian bisa lakukan?!" Raja Monyet Tangan Delapan
meluap kemarahannya mendengar laporan itu.
"Maaf, Ketua. Barangkali
bocah itu tak ikut bersama Malaikat Ruyung," jawab salah seorang yang
berbibir tebal.
"Maksudmu bocah itu masih di
rumahnya, begitu?" sambut Raja Monyet Tangan Delapan keras.
"Menurutku begitu, Ketua.
Karena buktinya anak itu tak ada di sekitar sini. Kalau anak itu ikut dengan
Malaikat Ruyung, pasti berada di sini. Sampai seberapa jauh mana sih, seorang
anak kecil bisa meninggalkan tempat ini dalam waktu yang demikian
singkat?!" lelaki berbibir tebal mencoba memberi alasan untuk menguatkan
pernyataannya.
Seketika itu pula nampak kepala
kawan-kawannya, terangguk. Mereka seolah-olah turut membenarkan alasan yang
disampaikan oleh lelaki berbibir tebal itu.
Raja Monyet Tangan Delapan
mengernyitkan dahi ketika melihat hampir semua anak buahnya menyetujui
pernyataan lelaki berbibir tebal. Nampaknya diam-diam diakuinya kalau
pernyataan anak buahnya itu ada benarnya. Namun, tetap saja ada perasaan ragu
yang menyelinap di hatinya. Rasanya mustahil Raja Monyet Tangan Delapan tidak
membawa anak satu-satunya dalam pelarian itu.
Namun keraguan itu segera
dibantahnya sendiri. Mungkin saja, Malaikat Ruyung sengaja berbuat demikian
untuk mengalihkan perhatian, agar anaknya berhasil menyelamatkan diri. Dengan
kata lain, Malaikat Ruyung memancing Raja Monyet Tangan Delapan dan anak
buahnya agar memburunya.
"Kalau begitu, mari kita
pergi dari sini! Lagi pula kalau benar bocah itu selamat, apa yang bisa dilakukannya terhadap diriku?!" ucap Raja
Monyet Tangan Delapan menyombongkan diri.
Keangkuhan yang dilontarkan Raja
Monyet Tangan Delapan ini bukan tanpa alasan, karena dirinya seorang datuk
sesat yang memiliki kepandaian luar biasa. Telah ratusan kali Raja Monyet
Tangan Delapan bertarung menghadapi tokoh-tokoh sakti dunia persilatan baik
dari aliran putih maupun hitam. Dan hebatnya, manusia yang seluruh tubuhnya
ditumbuhi bulu-bulu halus seperti monyet itu selalu dapat mengalahkan
lawan-lawannya. Tak satu pun lawannya yang dapat mengatasi keganasan manusia
gorila itu.
Bagi lawan Raja Monyet Tangan
Delapan yang merupakan tokoh persilatan aliran putih, kekalahan terhadap tokoh
mirip gorila ini merupakan kekalahan terakhir. Karena setiap lawannya harus
mati di tangannya.
Kejadian seperti itu tidak
dialami mereka yang berasal dari golongan hitam. Raja Monyet Tangan Delapan tak
membunuh lawannya yang berasal dari aliran hitam, melainkan hanya
menaklukkannya yang kemudian menjadi pengikutnya. Hal seperti itu tentu saja
tak berlaku bagi mereka yang tidak mau tunduk menjadi pengikut. Tokoh yang
membangkang kehendaknya pasti akan menemui ajalnya. Tak heran kalau korban yang
tewas di tangan tokoh sesat mirip kera ini tak terhitung jumlahnya.
Kemenangan demi kemenangan yang
diraihnya. Itulah yang menyebabkan Raja Monyet Tangan Delapan memiliki sifat
sombong. Dan kesombongan itu kini semakin bertambah setelah berhasil menghabisi
nyawa Malaikat Ruyung.
Sementara itu, begitu mendengar
ucapan sombong itu semua tokoh hitam yang berada di situ terangguk-angguk.
Mereka membenarkan ucapan tokoh sesat mirip kera itu. Dan hal ini bukan karena
mereka sebagai penjilat melainkan sewajarnya. Apalah yang bisa diperbuat oleh
keturunan Malaikat Ruyung kelak terhadap Raja Monyet Tangan Delapan. Karena
sesungguhnya pentolan-pentolan golongan putih seperti Malaikat Ruyung sendiri
sama sekali tak mampu menandingi kesaktian Raja MonyetTangan Delapan.
Raja Monyet Tangan Delapan
mengangguk-anggukkan kepala merasa puas. Kemudian tanpa berkata-kata lagi,
diayunkan langkahnya meninggalkan tempat itu.
Meskipun nampaknya biasa saja,
gerakan yang dilakukan Raja Monyet Tangan Delapan sangat menakjubkan. Dalam
sekali hentak saja, tubuhnya yang tinggi besar itu telah melesat dengan cepat
sekali. Sehingga dalam sekejap mata saja, tubuhnya telah melesat sejauh belasan
tombak. Nampak jelas bahwa gerakan langkahnya itu disertai pengerahan tenaga
dalam yang sudah mencapai tingkat sempurna.
Belasan tokoh golongan hitam yang
menjadi pengikut Raja Monyet Tangan Delapan sama sekali tidak merasa heran
melihat gerakan pimpinan mereka. Mereka telah mengetahui kalau pimpinan mereka
memiliki kepandaian tinggi. Maka begitu melihat pimpinannya telah meninggalkan
tempat itu, mereka pun melakukan hal yang sama. Tubuh-tubuh kekar dan beringas
itu melesat cepat meninggalkan tempat pertempuran, dan tubuh hancur Malaikat
Ruyung.
Kini kesunyian menyelimuti hutan
itu. Tidak ada lagi suara-suara gaduh dan hiruk-pikuk yang mengerikan itu. Suasana
kembali seperti semula, hening. Sekarang yang terdengar tinggal kerik jangkrik
dan binatang malam lain serta angin yang bertiup menebarkan bau amis darah dan
kematian.
Namun, ternyata suasana hening
yang menyelimuti tempat itu berlangsung tidak lama. Baru saja tubuh Raja Monyet
Tangan Delapan lenyap di kejauhan, dari atas sebatang pohon besar berdaun
rimbun melompat turun sesosok bayangan.
"Hup!"
Sosok bayangan itu dengan ringan
mendaratkan kaki di tanah. Kecepatan dan ringannya gerakan yang dilakukan itu
memperlihatkan kalau sosok ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang telah
sempurna.
***
Sosok itu ternyata seorang kakek
yang sangat mengerikan. Tubuhnya yang kurus dan hitam terbalut pakaian lusuh
dan compang-camping. Namun yang paling menyeramkan, sekujur badan kakek itu
mulai dari wajah sampai kaki dipenuhi bisul-bisul bernanah. Kemudian di atas
punggungnya tumbuh sebuah punuk besar. Tubuhnya bongkok terbalut pakaian coklat
Kakek berpakaian compang-camping
ini ternyata tidak sendirian. Di bahu kanannya terpanggul sesosok tubuh kecil
terbungkus pakaian biru. Bocah lelaki kecil itu tidak lain putra Malaikat
Ruyung yang tadi terlempar dan jatuh di dalam semak-semak.
Begitu mendarat dengan kedua
kakinya, kakek berpunuk besar di punggungnya itu segera menurunkan bocah
berpakaian biru dari bahunya. Kemudian jari tangannya menepuk pelan tubuh bocah
berpakaian biru itu. Meskipun tepukan itu hanya pelan sekali, menyebabkan tubuh
bocah berpakaian biru yang sejak tadi diam saja, tiba-tiba bergerak. Nampaknya
bocah itu tadi telah ditotok aliran darahnya. Dan tepukan barusan membebaskan
totokan itu.
Setelah tubuhnya mampu bergerak,
bocah kecil berpakaian biru itu meluruk ke mayat Malaikat Ruyung, ayahnya, yang
telah menjadi daging cacahan itu.
"Ayaaah...!" terpekik
keras mulut anak itu sambil berlutut dekat mayat Malaikat Ruyung, ayahnya.
Jeritan melengking nyaring yang
keluar dari mulut bocah berpakaian biru itu memecahkan keheningan malam.
"Ayaaah...!" seru bocah
berpakaian biru itu lagi dengan suara melengking tinggi bercampur isak tangis
yang tertahan.
Kini bocah berpakaian biru
berjongkok di depan onggokan daging mayat ayahnya. Beberapa saat lamanya bocah
itu menangisi kematian ayahnya. Bahu dan dadanya terguncang-guncang karena
menahan tangis yang terisak-isak
Mendadak bocah berpakaian biru
itu menolehkan kepala ke kakek berwajah seram yang sejak tadi hanya berdiri
sambil memandang dari belakangnya. Kakek itu memperhatikan saja semua tindakan
bocah berpakaian biru. Wajahnya yang dingin membeku tidak menampakkan gambaran
perasaan apa pun. Sehingga sulit untuk mengetahui perasaan yang tengah
berkecamuk di hatinya.
"Mengapa kau menolongku,
Kek! Mengapa tak kau biarkan agar aku dapat menolong ayahku!" keras dan
lantang ucapan bocah berpakaian biru itu.
"Kalau tadi kulepaskan, kau
hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia, Bocah Dungu!" datar sambutan kakek
berpakaian compang-camping itu.
"Aku tidak takut! Aku bukan
orang yang takut mati!" sahut putra Malaikat Ruyung cepat, nampak hatinya
marah dan merasa penasaran.
"Tindakan yang akan kau
lakukan bukan tindakan orang pemberani, tapi kelakukan orang dungu! Hanya orang
dungu yang mengadu kepalanya dengan batu, walaupun tahu batu itu lebih keras
dari kepalanya!" ujar kakek berpakaian compang-camping itu lebih panjang,
tapi masih tetap dalam nada datar.
Bocah berpakaian biru hanya
terdiam. Rupanya pikirannya berusaha memahami maksud yang terkandung dalam
ucapan kakek berpakaian compang-camping itu.
"Asal kau tahu saja,
andaikata aku tidak mencegahmu bertindak seperti itu, orangtuamu akan mati
penasaran. Dia tidak akan mati meram!"
"Aku tidak percaya!"
bantah bocah berpakaian biru. "Justru karena aku tidak muncul, ayah pasti
mati penasaran. Beliau selalu mengajarkanku agar tidak bersikap pengecut. Dan
kini kau malah membuat ayah akan menyangka demikian padaku!"
Kakek berpakaian compang-camping
itu pun terdiam. Bukan karena mengetahui kebenaran ucapan putra Malaikat Ruyung
itu. Tapi karena kalah bicara. Dirinya bukan orang pandai berdebat. Tak aneh,
menghadapi putra Malaikat Ruyung yang demikian pandai bersilat lidah dirinya
kewalahan. Kakek berpakaian compang-camping itu pun sibuk memutar pikirannya
mencari kata-kata yang dapat meredakan semua ucapan bocah berpakaian biru itu.
"O ya..., siapa
namamu?" tanya kakek berpakaian compang-camping dengan benak yang masih
berputar mencari kata-kata yang dapat digunakan untuk me-nundukkan bocah
berpakaian biru. Tanpa disadari kalau sikapnya yang dulu kaku dan dingin,
tiba-tiba berubah. Dan itu karena putra Malaikat Ruyung itu.
"Mahendra," jawab bocah
berpakaian biru pelan. "Lalu namamu siapa, Kek?"
Kakek berpakaian compang-camping
tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Dikernyitkan keningnya beberapa saat
"Sebenarnya aku malas
menyebutkan namaku pada orang lain. Tapi bagimu ini kekecualian. Namaku Songka
Lawung. Nah, sekarang coba ceritakan padaku! Apakah sebelum tewasnya, terutama
sekali akhir-akhir ini, apakah ayahmu pernah bercerita padamu?" kakek
berpakaian compang-camping yang ternyata bemama Songka Lawung mulai menyelidik.
Mahendra tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Dia terdiam beberapa saat lamanya. Hal itu dilakukannya untuk
mencoba mengingat-ingat apakah ayahnya pernah mengajaknya berbicara.
"Benar, Ki. Belum lama ini
ayah pernah padaku. Dan itu dilakukannya waktu kami berada dalam kereta
kuda...,"
"Kau ingat ucapannya?"
tanya Songka Lawung tidak sabar. Lagi-lagi Mahendra menganggukkan kepala.
"Aku ingat betul, Ki.
Masalahnya saat itu aku tahu kalau ayah tengah merasa malu. Ayah terpaksa
melarikan diri dari lawannya karena ingin menyelamatkanku."
"Nah!" sentak Songka
Lawung penuh perasaan menang. "Kau tahu, Mahendra. Tindakan yang
dilakukannya itu dapat membuat nama besarnya hancur. Orang tak akan mau peduli
alasannya melarikan diri. Orang-orang pasti menganggap bahwa Malaikat Ruyung
kabur dari lawannya. Dia pun tahu akibatnya! Tapi, mengapa tetap saja
dilakukannya? Karena ayahmu ingin kau selamat. Kau dengar, Mahendra? Itu
dilakukannya karena keinginannya yang besar untuk menyelamatkanmu. Nah, bisa
kau bayangkan betapa kecewanya hati ayahmu apabila niatmu tidak kucegah."
Panjang lebar dan berapi-api
ucapan yang keluar dari mulut Songka Lawung. Dan hal itu nampaknya tidak
disadari Songka Lawung sendiri. Kakek berpakaian compang-camping itu sama
sekali tidak sadar kalau karena keinginan yang amat kuat untuk menyadarkan
Mahendra dari kekeliruan sikapnya, sikap dinginnya selama ini tiba-tiba
berubah.
Mendengar penjelasan dari kakek
tua yang menyeramkan itu Mahendra hanya membisu. Kini dirinya mulai menyadari
kebenaran pendapat Songka Lawung. Mengapa dirinya begitu teriena oleh
perasaannya. Mengapa dirinya begitu bodoh? Ah, hampir saja dirinya membuat
ayahnya mati penasaran. Pikiran seperti itu yang sekarang berkecamuk dalam
kepalanya. Kini mulai disadarinya kebenaran kakek itu.
Teringat akan hal itu, membuat
Mahendra terkenang kembali akan kejadian yang belum lama dialami-nya. Dimulai
dari saat tubuhnya melayang jatuh ke semak-semak. Betapapun empuknya
semak-semak itu, tetap saja kepalanya merasa pusing, yang membuat Mahendra
beberapa saat lamanya harus berdiam diri.
Baru ketika rasa pusingnya
lenyap, Mahendra menguak kerimbunan semak-semak untuk keluar. Tapi belum sempat
tubuhnya keluar dari semak-semak, sesosok tubuh yang tidak lain Songka Lawung
telah lebih dulu menotok urat dagunya sehingga tak mampu bersuara. Baru
kemudian menotoknya hingga tak mampu bergerak lagi
Namun, dalam keadaan tak mampu
bergerak dan bersuara, Mahendra tetap dapat menyaksikan semua kejadian yang
dialami ayahnya menghadapi kega-nasan Raja Monyet Tangan Delapan dan anak
buahnya. Hingga akhirnya Mahendra dibawa oleh Songka Lawung ke sebuah pohon
besar yang rimbun untuk menyelamatkan dirinya dari kejaran Raja Monyet Tangan
Delapan.
"Sekarang bagaimana,
Mahendra? Apakah kau masih menyalahkan tindakanku?" tanya Songka Lawung
tiba-tiba.
Ucapan Songka Lawung membuat
semua lamunan Mahendra buyar. Tangannya segera mengusap matanya yang sejak tadi
menahan air matanya yang tertumpah.
"Tidak, Kek. Kau
benar," kata Mahendra terbata-bata. "Maafkan aku, Kek! Aku terlalu
menuruti perasaanku," lanjutnya.
"He he he...! Lupakanlah,
Mahendra! Jangankan orang seusiamu, orang seusiaku saja terkadang susah
diatur!" ujar Songka Lawung lembut, mencoba menghibur hari anak lelaki
yang masih duduk termangu di dekat mayat ayahnya yang hancur-lebur itu.
Kakek berpakaian compang-camping
merasa suka sekali pada Mahendra. Bocah berpakaian biru itu sama sekali tak
kelihatan merasa jijik padanya. Padahal, sejak tadi mereka berdekatan. Hal
seperti ini hampir tak pernah dialami kakek berpakaian compang-camping. Apalagi
dari anak seusia Mahendra.
"Kau tahu, mengapa ayahmu
berkeinginan untuk menyelamatkanmu, Mahendra?" tanya Songka Lawung bernada
menguji.
Mahendra menggelengkan kepala.
"Karena ayahmu ingin kau
dapat mencegah tindak angkara murka Raja Monyet Tangan Delapan kelak apabila
dewasa!" mantap dan tegas kata-kata yang keluar dari mulut Songka Lawung.
"Aku, Kek?" Mahendra
melengak "Mana mungkin! Sedangkan ayahku saja tak mampu menghadapi
keganasan Raja Monyet Tangan Delapan, apalagi aku! Aku sendiri baru belajar
beberapa macam ilmu dari ayahku!"
"Ho ho, tentu saja kau harus
mempelajari iimu-ilmu kadigdayaan agar dapat mengalahkan Raja Monyet Tangan
Delapan!"
'Tapi..., di mana harus kucari
guru yang memiliki kepandaian melebihi Raja Monyet Tangan Delapan? Sedangkan
ayahku saja yang memiliki kepandaian demikian tinggi, tak mampu menghadapi
manusia monyet itu!" sahut Mahendra setengah mengeluh.
"Kau pintar tapi bodoh,
Mahendra!" Songka Lawung menggeleng-gelengkan kepala. "Memangnya di
dunia ini hanya ayahmu dan Raja Monyet Tangan Delapan yang sakti? Ho ho,
walaupun ayahmu dan Raja Monyet Tangan Delapan pentolan-pentolan dunia
persilatan, tapi masih banyak tokoh yang memiliki kepandaian tinggi,"
jawab Songka Lawung.
"Ah! Ucapanmu seperti ayahku
saja, Kek. Beliau sering berkata begitu. Di dunia persilatan banyak orang
sakti, kau harus berlatih keras agar tidak menjadi bulan-bulanan orang lain,
demikian katanya," sahut putra Malaikat Ruyung lagi, "Tapi sayangnya,
ayah tidak pernah memberitahukan padaku siapa orang sakti yang
dimaksudkannya."
"Mengapa kau ingin ayahmu
memberitahukan padamu mengenai orang-orang sakti itu?" pancing Songka
Lawung sambil menatap wajah Mahendra penuh selidik.
"Aku ingin menjadi
muridnya!" lantang ucapan Mahendra. "Dan setelah kepandaianku
mencukupi akan kulenyapkan Raja MonyetTangan Delapan dari muka bumi!"
"Mengapa kau harus
repot-repot mencari orang sakti, Mahendra?! Aku pun dapat mengajarmu,"
ucap Songka Lawung menawarkan diri.
Mahendra tersentak sebentar.
"Tapi..., apakah kau
termasuk orang sakti yang diceritakan ayahku, Kek?!" tanya Mahendra ragu,
sambil menatap tajam Songka Lawung penuh selidik
"Ha ha ha...!"
Tawa kakek berpakaian compang-camping
itu lepas, begitu mendengar pertanyaan yang demikian polos bocah berpakaian
biru itu. "Walaupun mungkin aku bukan termasuk orang sakti yang dimaksud
ayahmu, tapi aku yakin akan dapat mengalahkannya!"
"Aku tidak percaya!"
bantah Mahendra.
"Mengapa kau berpendapat
demikian, Bocah Bagus? Apa karena kau sudah melihat keadaan tubuhku? Ho ho ho,
kau keliru besar kalau berpendapat demikian! Ataukah... aku perlu
membuktikannya?" tantang Songka Lawung.
"Bagaimana kau dapat
membuktikan kesaktianmu, Kek?! Tidak ada orang yang dapat kau jadikan sebagai
lawan!" ujar Mahendra, bingung.
"Mengapa mesti repot-repot
mencari lawan?!" sergah Songka Lawung cepat "Bisa kita gunakan yang
lain untuk uji coba kepandaianku! Sekarang, perhatikan baik-baik! Kau lihat
pohon besar itu!"
Kakek berpakaian compang-camping
itu menudingkan jari telunjuk kanan pada sebatang pohon besar yang terletak
sekitar enam tombak dari tempat mereka berdiri. Sebuah pohon yang amat besar.
Untuk melingkari batangnya memerlukan dua tangan orang dewasa.
"Nah, menurutmu sanggupkah
ayahmu menghancurkan pohon itu dari sini?!" Mahendra menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu, Kek.
Tapi..., apakah kau sendiri mampu melakukannya?" "Tentu saja!"
jawab Songka Lawung yakin. "Nah, sekarang kau lihat baik-baik!"
Usai berkata demikian, Songka
Lawung menarik kedua tangannya ke sisi pinggang. Lalu....
"Hih!" Songka Lawung
menghentakkan tangan dengan keras. Wusss!
Deru angin keras terdengar ketika
kakek itu menghentakkan kedua tangannya sampai ke depan dada. Sesaat kemudian....
Glaaar...! Brakkk!
Diiringi suara menggelegar dan
berderak keras batang pohon besar itu hancur berantakan. Pohon pun ambruk
seketika.
"Haaah, hebat..! Rupanya kau
memiliki kepandaian hebat, Kek!" puji Mahendra penuh perasaan kagum
menyaksikan kepandaian yang diperlihatkan kakek berwajah buruk itu kepadanya.
"Bagaimana?" senyum
lebar tersungging di Songka Lawung. "Apakah aku bisa diterima menjadi
gurumu, Mahendra?"
"Guru...!" sahut
Mahendra sambil melangkah mendekat
Mahendra yang cerdik langsung
memberi hormat pada Songka Lawung. Kakek itu tertawa terkekeh melihat
keberhasilannya membujuk Mahendra menjadi muridnya.
"He he he... bagus! Sekarang
kau jadi muridku, Mahendra. Nah, mari kita tinggalkan tempat ini. Aku akan
membawamu ke sebuah tempat yang dapat membuat kau cepat menguasai ilmu-ilmu
tinggi. Tapi sebelum itu, mari kita kubur dulu mayat ayahmu!"
Mahendra menganggukkan kepala.
Kemudian diikutinya Songka Lawung yang menghampiri onggokan mayat ayahnya.
Untuk yang kedua kalinya,
Mahendra terkagum-kagum melihat kepandaian Songka Lawung. Dengan mata kepala
sendiri dilihatnya, Songka Lawung menggali tanah yang keras dengan ranting kayu
se besar ibu jari. Hebatnya, meskipun hanya mempergunakan sebatang ranting,
pekerjaan itu hanya diselesaikannya dalam waktu yang sebentar saja. Mahendra
terlongong bengong menyaksikan pekerjaan kakek tua itu.
Hanya dalam sekejapan saja,
sebuah lubang telah tergali. Dan di tempat itulah onggokan mayat Malaikat
Ruyung disemayamkan diiringi tatapan wajah sedih Mahendra.
"Mari kita berangkat,
Mahendra!" ajak Songka Lawung setelah memberikan waktu cukup lama pada
Mahendra untuk berpamitan dengan ayahnya.
Digandengnya tangan Mahendra yang
masih memandangi kuburan ayahnya itu. Tak ada pilihan lagi bagi Mahendra.
Dengan hati berat, diayunkan langkahnya meninggalkan kuburan ayahnya untuk
mengikuti Songka Lawung. Seorang tokoh aneh yang menjadi juru penolongnya tanpa
diketahui dari mana asalnya dan kapan dia datang.
5
"Jadi..., rupanya kau bocah
sialan putra Malaikat Ruyung itu?!" tanya lelaki berompi merah agak
terbata-bata. Dirinya mulai merasakan adanya bahaya besar mengancam jiwanya.
Kesadaran akan adanya ancaman bahaya
itu menyebabkan lelaki berompi merah segera melompat dari punggung kudanya.
"Hup!" Jliggg!
Lompatan itu begitu cepat dan
ringan, seolah-olah tak ingin didahului. Segera dikeluarkan senjata andalannya.
Sebuah bola sebesar kepala yang dipenuhi duri baja. Bola itu terikat rantai
baja yang cukup panjang.
Krekek...! Krekeeek!
Melihat lelaki berompi merah
turun dari punggung kudanya, lelaki kecil kurus pun melakukan hal yang sama.
Dirinya bermaksud membantu lelaki berompi merah apabila diperlukan.
"Ha ha ha...!"
Pemuda berpakaian biru itu
tertawa bergelak. Sebuah tawa yang mengerikan dan mengandung hawa maut.
Keseraman tawa itu semakin terlihat jelas ketika pemuda itu menutup tawanya
dengan dengusan bengis yang terlontar dari mulutnya.
"Syukur kau masih ingat,
Monyet Botak! Dan kini telah tiba saatnya pembalasan dendamku! Kau akan menjadi
korban perdanaku! Ha ha ha...!"
"Sombong! Kaulah yang akan
kujadikan cacahan daging seperti ayahmu, Bocah Gila! Hiyaaat..!" lelaki
berompi merah berteriak dan memburu ke lelaki berpakaian biru.
Wukkk! Wukkk! Siuuut...!
Krekek..., krekek!
Lelaki berompi merah
memutar-mutarkan bola berdurinya itu di atas kepala beberapa kali, lalu
dilontarkannya. Seketika bola berduri itu meluncur deras ke bagian tubuh pemuda
berpakaian biru. Serangan itu nampaknya tak menginginkan kematian mendadak
lawannya secara mudah. Serangan itu terarah ke bagian dada, perut, atau kaki
lelaki berpakaian biru.
Mahendra menggertakkan gigi
menahan geram, ketika mendengar ucapan lelaki berompi merah. Seketika darah di
kepalanya membludak, ucapan itu telah mengingatkan kembali pada kematian
ayahnya yang mengerikan.
Meskipun demikian Mahendra
bersikap tenang. Dirinya tak ingin terburu-buru dan gegabah melakukan tindakan,
baik untuk mengelak maupun menangkis serangan itu. Dengan sabar ditunggunya
hingga bola berduri yang berputar-putar kencang itu mendekat ke tubuhnya.
"Hiaaat..!"
"Wuuuk! Wuuuk...!"
Dan ketika bola berduri itu
hampir saja menerjang, tubuhnya segera didoyongkan ke samping kanan. Dan itu
dilakukannya tanpa menggeser kaki. Bola berduri lelaki berompi merah lewat di
sisi kiri tubuhnya.
Setelah gerakan menghindar
Mahendra segera bersiap dengan serangannya. Begitu serangan bola berduri itu
berhasil dielakkan, tangan kirinya menjulur cepat menangkap rantai baja yang
berkelebat cepat di samping kirinya.
Tappp! Creeek...!
Gerakan secepat kilat tangan kiri
Mahendra berhasil menangkap rantai baja itu. Padahal, lelaki berompi merah itu
nampak telah berusaha menarik senjata andalannya dari cekalan tangan Mahendra.
Tetapi gerakan Mahendra lebih cepat mencekal rantai baja itu.
Karuan saja gerakan cepat tangan
Mahendra membuat lelaki berompi merah gugup! Lelaki berompi merah itu memang
bukan tergolong pentolan bagi golongan hitam. Namun, julukannya telah cukup
dikenal orang, sebagai 'Penjagal Nyawa'. Di samping seringnya terlibat dalam
berbagai pertarungan maut
Sebagai tokoh persilatan yang
telah begitu sering terlibat pertarungan, lelaki berompi merah itu segera
mengetahui kalau lawan yang dihadapi kini memiliki kepandaian tinggi. Hal
itu bisa diketahuinya dari
keberanian dan keberhasilan pemuda itu menangkap rantainya. Maka tanpa
mernbuang-buang waktu lagi, segera dikerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk
membetot kembali bola berdurinya.
"Ngmmmh...! Hmmmh...!
Terdengar suara lenguhan-lenguhan
berat dari mulutnya. Tetapi rantai bajanya sama sekali tak bergeming dari cekalan
tangan pemuda gagah berpakaian biru itu. Rantai baja itu hanya dicekal dengan
sebelah tangan. Itu pun nampaknya tanpa pengerahan tenaga, karena wajah lelaki
gagah berpakaian biru itu nampak tenang. Berbeda sekali dengan si penjagal
nyawa. Wajah lelaki berompi merah itu merah padam ketika berusaha keras menarik
senjatanya. Wajahnya tegang. Kenngat mengalir di kening dan lehernya. Dan
tangannya bergemetar hebat.
Penjagal Nyawa seharusnya sudah
bisa menduga kalau tenaga dalam lawannya berada jauh di atas tingkatannya. Dan
tindakan paling aman yang harus dilakukannya, melepaskan saja senjata itu.
Tapi, karena perasaan sayang, ditambah lagi dengan kekerasan hatinya, sehingga
lelaki berompi merah itu memaksakan diri. Tangannya terus membetot senjatanya
dari tangan Mahendra.
Sementara lelaki kecil kurus
kawan si penjagal nyawa hanya mampu menyaksikan kejadian itu. Seperti juga
Penjagal Nyawa, dirinya pun terkejut bukan kepalang melihat betapa mudahnya
senjata andalan kawannya itu disambar tangan kiri pemuda berpakaian biru itu.
Disadarinya kalau keadaan gawat tengah di hadapi oleh kawannya. Maka tanpa
membuang-buang waktu lagi, lelaki kecil kurus segera bertindak.
Lelaki kecil kurus langsung
menyelusupkan kedua tangannya ke balik baju. Dan begitu dikeluarkan, langsung
saja dikibaskan.
Sing! Sing! Sing!
Bunyi berdesing nyaring yang
memekakkan telinga terdengar seiring dengan melesatnya empat buah benda
berkilat yang tidak lain pisau-pisau terbang. Senjata andaian itu melesat deras
ke tubuh Mahendra.
Mahendra melihat ancaman bahaya
itu. Namun dirinya tetap bersikap tenang. Tanpa mengendurkan cekalannya pada
rantai baja itu, diperhatikan arah yang dituju pisau-pisau terbang itu. Hanya
sekilas saja, langsung diketahuinya. Dahi, leher, dan ulu hati menjadi sasaran
senjata yang melesat cepat itu.
Dan ketika pisau terbang itu
hampir mencapai sasaran dengan cepat Mahendra baru bertindak.
Takkk! Takkk! Prattt!
Dua pisau terbang yang menuju ke
ulu hati dan perutnya sengaja dibiarkan, hingga tepat mengenai sasarannya.
Namun, pisau-pisau itu terpental jatuh ke tanah tak mampu menembus. Jangankan
menancap, melukai pun, tidak. Sedangkan dua lagi dapat dimusnahkan dengan cara
luar biasa.
Yang menuju ke leher dipatahkan
dengan sampokan tangan kanan. Satu lagi dapat diatasi dengan mulutnya. Tentu
gerakan yang terakhir ini membutuhkan perhitungan dan kemahiran, karena jika
meleset sedikit saja dapat melukai mulutnya. Namun ternyata, Mahendra mampu
melakukannya. Pisau terbang itu berhasil ditangkap dengan giginya. Lalu,
dilemparkan kembali ke tubuh pemiliknya denganegosan kepala.
Singgg!
Pisau itu meluncur kembali ke
tubuh lelaki kecil kurus menyusul luncuran pisau lain akibat sampokan tangan
Mahendra.
Lelaki kecil kurus terkejut bukan
kepalang melihat kejadian yang sama sekali tidak disangkanya itu. Apalagi
ketika menyadari kecepatan luncuran pisau-pisau terbang itu berlipat kali
kecepatan semula.
Meskipun demikian, lelaki kecil
kurus ini masih sempat mempertunjukkan kebolehannya dalam melempar pisau. Dalam
keadaan gawat seperti itu, dirinya mampu melakukan tindakan penyelamatan.
Dilemparkannya pisau lain guna menangkis serangan balik pisau terbang itu.
Trang! Trang!
Bunga api mencelat ketika empat
batang pisau berbenturan dengan keras di udara. Namun, karena luncuran
pisau-pisau terbang lelaki kecil kurus lebih lambat, pisau-pisau itu terpental.
Sedangkan pisau-pisau dari Mahendra masih sempat meluncur beberapa jauh. Dan
sisa tenaga luncuran itu mengarah ke tubuh lelaki kurus pemilik senjata
terbang. Dan....
"Uuuh...!"
Mata lelaki kecil kurus terpekik.
Hampir saja nyawanya melayang terterjang senjatanya sendiri. Tangannya nampak
mengusap keringat dingin yang membasahi keningnya.
***
Rupanya Mahendra merasa sudah
cukup memberikan kesempatan pada Penjagal Nyawa.
"Hih!"
Mahendra menghentakkan tangannya,
dengan pengerahan tenaga dalamnya. Gerakan itu dilakukan dengan begitu cepat
dan tiba-tiba.... Akibatnya, tubuh Penjagal Nyawa terhentak keras ke tubuh
Mahendra.
"Aaah...!"
Tanpa sadar lelaki berompi merah
terpekik keras. Jerit yang keluar karena perasaan ngeri dan kaget ketika
tubuhnya melayang tertarik ke tubuh Mahendra.
Dalam keadaan yang demikian
gawat, Penjagal Nyawa masih berusaha keras menyelamatkan nyawanya. Ketika
tubuhnya melayang di udara itu, segera pikirannya mencari cara untuk
menyelamatkan diri. Untungnya, berhasil pula didapatkan sebuah siasat
Diikuti arah luncuran tubuhnya
yang sudah pasti ke arah Mahendra. Dan begitu telah berada dekat, rantai baja
yang berada di genggamannya akan dilecutkan ke ubun-ubun Mahendra.
Namun perasaan lega hanya
berlangsung sesaat. Karena sebelum tubuhnya berada dalam jarak yang
diancang-ancangkan, Mahendra lebih dulu melakukan tindakan yang mengejutkan
hati Penjagal Nyawa.
Betapa tidak? Pemuda berpakaian
biru itu melemparkan bola berduri di tangannya untuk menyambut datangnya tubuh
Penjagal Nyawa. Kontan lelaki berompi merah ini kelabakan. Keadaannya yang
tengah melayang di udara menimbulkan kesulitan untuk mengelakkan serangan itu.
Jalan satu-satunya untuk
menyelamatkan diri hanyalah menangkis serangan itu. Siuuut!Trakkk! Bukkk!
"Akh...!"
Lelaki berompi merah yang
berjuluk Penjagal Nyawa terpekik. Bola berduri yang berhasil dipapak dengan
sabetan rantai, ternyata hanya mampu membuat arah bola berduri itu menyeleweng
tidak meluncur ke arah dada. Tetapi bola baja berduri itu meleset dan mengenai
pahanya.
"Aaah...!"
Seketika itu pula tulang paha
Penjagal Nyawa hancur berantakan. Darah mengalir dari pahanya yang hancur.
Jerit kesakitan pun keluar dari mulut Penjagal Nyawa itu.
Jliggg!
Lelaki berompi merah cukup
tangguh, dalam keadaan terluka, ternyata masih mampu mendarat di tanah dengan
kedua kaki. Meskipun agak sempoyongan ke sana kemari karena luka di pahanya
terlalu parah.
"Ha ha ha...! Itu baru babak
awal dari kematian yang akan kau terima, Iblis Busuk!" ejek Mahendra
sambil mengayunkan langkah mendekati.
"Cuhhh!"
Penjagal Nyawa membuang ludah
dengan kasar. Lalu ditotoknya jalan darah di sekitar paha untuk mencegah
derasnya darah yang mengalir. Baru kemudian dilayangkan pandangannya ke arah
Mahendra. Lalu....
Wuk! Wuk! Wukkk!
Senjata andalannya kembali
berputar-putar di atas kepab. Penjagal Nyawa telah bersiap kembali melanjutkan
pertarungannya.
Lelaki kecil kurus yang menyadari
kalau Penjagal Nyawa bukan tandingan Mahendra langsung mencabut senjata andaian
berupa sebatang ganco, lalu menyabet-nyabetkan di depan dada dengan begitu
cepat
Wut! Wuuut..!
Tahu kalau Penjagal Nyawa dan
lelaki kecil kurus telah bersatu untuk menghadapinya, Mahendra sama sekali
tidak gentar. Wajahnya tetap tenang sekali. Nampaknya Mahendra menyadari kalau
kepandaian kedua lawannya jauh di bawahnya. Sehingga jangankan hanya berdua,
sekalipun ditambah lima kali lipat, Mahendra menganggap remeh lawan macam
begini.
"Hih!"
Diawali gertakan gigi, Mahendra
mulai melancarkan serangan. Karena yang mempunyai urusan sebenarnya diri
Penjagal Nyawa, lelaki itulah yang diserangnya.
Penjagal Nyawa tentu saja tidak
mau menyerahkan nyawanya percuma. Begitu dilihatnya pemuda berpakaian biru itu
melancarkan serangan terhadapnya, buru-buru dipapaknya kembali dengan bola baja
berduri yang masih terayun-ayun di tangannya.
Lelaki kecil kurus pun tak tinggal
diam. Rupanya dia memiliki kesetiakawanan yang besar. Maka melihat adanya
ancaman bahaya terhadap Penjagal Nyawa, dia pun mengayunkan ganconya ke arah
Mahendra.
Serangan beruntun ini memaksa
Mahendra membatalkan serangannya. Dan keadaan ini dipergunakan Penjagal Nyawa
dan lelaki kecil kurus untuk melancarkan desakan. Sementara itu pula luka parah
di paha Penjagal Nyawa semakin mendera. Beberapa kali giginya bergemeretak
menahan rasa sakit yang hebat. Kali ini Mahendra tidak bisa menundukkan lawan-lawannya
secara mudah seperti sebelumnya. Karena nampaknya kedua orang lawannya itu
telah mengetahui secara pasti kelihaian Mahendra. Sehingga mereka bertindak
lebih berhati-hati. Tambahan lagi, kali ini penyerangan dilakukan secara
bersama-sama, sehingga cukup merepotkan gerakan Mahendra untuk menghadapi
mereka.
Pertarungan itu kian lama
bertambah seru. Sambaran bola berduri dan ganco beberapa kali berkelebat tetapi
belum juga berhasil mengenai sasarannya. Gerakan cepat dan ringan tubuh
Mahendra mampu menghindarkan setiap serangan.
Pada jurus kesebelas, Mahendra
sudah mulai menguasai keadaan. Perlahan-lahan berhasil mendesak kedua lawannya.
Bahkan beberapa jurus kemudian, Mahendra berhasil merampas ganco dari tangan
lelaki kecil kurus. Lalu secepat kilat menyabetkannya ke perut pemiliknya.
Jraaabbb...!
"Aaakh...!"
Lelaki kecil kurus menjerit ngeri
ketika ujung ganco itu merobek perutnya. Seketika itu pula darah menyembur
keluar dari perutnya yang terkoyak lebar. Lelaki yang ahli melemparkan pisau
ini nampak terbungkuk mendekap perut dengan kedua tangannya.
"Haaah...! Keparat!"
Penjagal Nyawa terpekik dan
mengumpat keras melihat kejadian yang menimpa kawannya. Dengan kemarahan yang
meluap-luap dilontarkan bola berdurinya ke kepala Mahendra.
Wukkk! Tranggg! Rrrttt!
Suara gemerincing nyaring
terdengar ketika ganco di tangan Mahendra berhasil menangkis serangan bola
berduri yang meluncur deras ke kepalanya. Ganco itu terlilit rantai baja.
Penjagal Nyawa pun tak dapat menggunakan senjata andalannya lagi.
Saat itulah Mahendra
menghentakkan tangan kirinya ke tubuh Penjagal Nyawa. Wusss! Dukkk...!
"Hekh!"
Mulut Penjagal Nyawa terpekik,
tubuhnya terjengkang dan terguling-guling di tanah. Pukulan jarak jauh Mahendra
menghantam telak bahu kanannya. Dan sebelum tubuhnya berhasil bangkit, pemuda
berpakaian biru itu telah berdiri tepat di depannya.
"Sekarang saatnya pembalasan
untukmu, Monyet Botak!" ujar Mahendra sambil menginjakkan kaki di paha
Penjagal Nyawa. Lalu dihentakkan kakinya dengan keras sekali.
Krrrkkkhhh!
"Aaakh...!
Huaaahhh...!"
Bunyi gemeretak terdengar ketika
tulang-tulang paha Penjagal Nyawa hancur berantakan. Jeritan menyayat hati pun
keluar dari mulut lelaki berompi merah itu mengiringi hancurnya tulang paha
itu.
"Ha ha ha...! Nikmat
bukan?" ejek Mahendra sambil menatap wajah Penjagal Nyawa. Sementara itu
mulut Penjagal Nyawa masih mengerang keras karena rasa sakit yang
mendera kedua tulang pahanya.
Sekujur badannya basah oleh keringat bercampur debu. Kakinya basah dialiri
darah segar dari lukanya yang parah.
Penjagal Nyawa sama sekali tidak
memberikan jawaban. Sorot matanya memancarkan kengerian. Disadari akan adanya
siksaan mengerikan lainnya. Raut wajah Mahendra yang memancarkan dendam kesumat
membuktikan kalau pemuda berpakaian biru itu akan membunuh lawannya secara
perlahan-lahan.
Penjagal Nyawa bukan orang yang
takut mati. Tetapi, mati secara perlahan-lahan dengan siksaan demi siksaan,
tetap membuat hatinya bergetar ketakutan. Dan dalam cekaman rasa ngeri yang
memuncak, tokoh yang berkepala botak ini terpaksa harus bertindak nekat. Ketika
Mahendra tengah hanyut dalam perasaan gembiranya, tiba-tiba digigitnya lidah
sendiri keras-keras hingga putus.
"Hmmmhhh...!" Krrrttt!
"Hey...!"
Mahendra menjerit kaget ketika
melihat mulut Penjagal Nyawa berlumuran darah. Sesaat kemudian, baru mengetahui
hal yang telah terjadi. Maka buru-buru diperiksanya tubuh tokoh berkepala botak
itu. Sayang, terlambat. Penjagal Nyawa telah tewas dengan potongan lidahnya
masih di dalam mulut
"Keparat!" maki
Mahendra geram. Rasa penasaran yang amat sangat membayang jelas pada wajahnya.
"Betapa bodohnya aku! Tapi, kecerobohan seperti ini tak akan terulang
lagi!"
Setelah berkata demikian,
Mahendra segera mengalihkan pandangan pada lelaki kecil kurus. Tapi, lagi-lagi
kecele. Lelaki kecil kurus telah terbujur tak bernyawa di tanah. Nampak lelaki
kurus itu pun telah melakukan bunuh diri karena merasa ketakutan menghadapi
kebengisan pemuda berpakaian biru itu.
"Hmh...! Bedebah!"
Dengan cepat Mahendra melesat
meninggalkan tempat itu. Hanya dalam beberapa kali hentakan saja, tubuhnya
telah melesat dan tak nampak lagi.
Kini suasana kembali hening.
Tidak ada lagi denting senjata beradu maupun jerit kesakitan dan kematian.
Keadaan telah kembali seperti semula sebelum terjadinya peristiwa mengerikan
itu. Hening dan sepi, yang terdengar hanyalah bunyi hembusan angin. Pelan,
seperti ikut merasa sedih atas kejadian yang baru saja terjadi. Dua tubuh
lelaki terkulai berlumur darah di atas tanah berdebu.
Tapi kesunyian itu tidak
berlangsung lama. Karena sesaat kemudian, dari kejauhan nampak dua sosok
berpakaian ungu dan putih bergerak menuju tempat itu. Kedua sosok ungu dan
putih itu melesat begitu cepat. Hanya dalam sekejap mata keduanya telah
mencapai tempat kedua tubuh lelaki itu terkulai.
"Kang, lihat!" seru
sosok berpakaian putih yang tak lain Melati, sambil menuding ke tubuh dua
lelaki yang terkulai berlumuran darah itu.
Dewa Arak, sosok yang satunya
lagi, hanya menganggukkan kepala mengerti maksud kekasihnya. Karena tanpa
diberitahukan pun matanya telah melihat. Jarak antara mereka dengan kedua mayat
itu tinggal beberapa tombak.
"Hup!"
Sesaat kemudian Dewa Arak dan
Melati telah berada di dekat mayat Penjagal Nyawa dan laki-laki kecil kurus.
Keduanya langsung memeriksa kedua tubuh yang berlumur darah itu.
"Baru saja tewas,
Kang," kata Melati setelah memeriksa tubuh Penjagal Nyawa.
"Berarti kejadiannya belum
lama, Melati," sambut Dewa Arak sambil menganggukkan kepala.
"Dia mati bunuh diri, Kang.
Lidahnya putus...," ujar Melati lagi.
Dewa Arak tercenung
sebentar. Wajahnya kemudian memandangi tempat sekelilingnya.
"Hanya ada satu kemungkinan
yang menjadi penyebab lelaki ini melakukan bunuh diri, Melati. Dia tidak kuat
menahan siksaan. Begitu menurut dugaanku," ujar Dewa Arak mencoba menerka
kejadian yang dialami lelaki naas ini.
"Aku pun menduga begitu,
Kang. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah persoalan yang menyebabkan lawan
orang ini melakukan penyiksaan yang demikian keji ini. Tulang-belulangnya
dihancurleburkan! Sungguh sebuah siksaan yang kejam!" tandas Melati.
Dewa Arak hanya
mengangguk-anggukkan kepala. Tiba-tiba terdengar suara. "Hmmmhhh...!"
Rintihan pelan membuat Dewa Arak
dan Melati menolehkan kepala ke asal suara. Seketika itu pula mereka ingat
kembali akan sosok tubuh yang satu lagi. Dewa Arak dan Melati melesat ke tubuh
lelaki kurus kecil yang tergolek lemas tak jauh di belakang mereka.
Suara rintihan itu ternyata
berasal dari mulut lelaki kecil kurus yang tengah berusaha untuk duduk. Nampak
jelas betapa lelaki kecil kurus ini mengalami kesulitan. Perut lelaki kecil
kurus itu robek. Tubuhnya dibasahi darah bercampur debu dan tanah.
Dan sebelum lelaki kecil kurus
berhasil dengan usahanya, Dewa Arak dan Melati telah sampai di dekatnya. Dewa
Arak dan Melati segera berjongkok.
Tanpa memeriksa lagi, hanya
dengan sekali pandang Dewa Arak langsung mengetahui kalau nyawa lelaki kecil
kurus tidak bisa diselamatkan lagi. Luka-luka yang diderita terlalu parah.
Darah yang keluar telah terlalu banyak, menyebabkan tubuh lelaki kecil kurus
itu lemas dan tak berdaya.
"Apa yang telah terjadi,
Kisanak?" tanya Dewa Arak buru-buru, karena mengetahui bahwa lelaki kecil
kurus itu tak mungkin bertahan lebih lama lagi.
"Pemuda berpakaian biru...
mengamuk. Pemuda itu punya dendam terhadap Penjagal Nyawa..., karena
orangtuanya telah dibasmi secara kejam. Dan... akh!" ucapannya terputus.
Kepala lelaki kecil kurus telah
terkulai sebelum ucapannya berhasil diselesaikan. Saat itu nyawa lelaki kecil
kurus telah melayang, dan sampailah ajalnya.
Dewa Arak dan Melati sating
pandang. Meskipun erangan lelaki kecil kurus terputus, nampaknya mereka telah
tahu orang yang dimaksudkan lelaki kecil kurus itu. Karena baru saja mereka
telah bertemu dengan pemuda berpakaian biru. Bahkan sempat bentrok dengan
Melati
"Rupanya dia, Kang...,"
desah Melati pelan.
"Hhh...! Pemuda berpakaian
biru itu rupanya telah mulai menyebar maut. Dugaanku benar. Pemuda itu bukan
orang jahat. Hanya karena menyimpan dendam terhadap tokoh-tokoh golongan hitam.
Tetapi tindak pembasalan yang dilakukannya terlalu keji. Sayang
sekali...!" keluh Dewa Arak sambil mengarahkan pandangan matanya ke
sekitar tempat itu.
"Pembalasan dendamnya
terlalu sadis, Kang. Pantas kalau lelaki berompi merah itu bunuh diri. Pasti
merasa ngeri dengan siksaan yang akan diterimanya."
"Kurasa julukan yang cocok
baginya adalah Pendekar Sadis!" ujar Dewa Arak setengah berseloroh.
"Tepat, Kang!" Melati
langsung mendukungnya.
"Lupakanlah, Melati! Yang
penurig sekarang, bagaimana caranya agar kita bisa menyadarkan pemuda itu dari
kekeliruannya. Kita harus bertindak cepat sebelum dia merajalela secara
mengerikan!"
Melati hanya mengangkat alis. Tak
bisa ditafsirkan maksudnya. Namun yang jelas, sesaat kemudian sepasang pendekar
muda itu telah kembali melesat meninggalkan tempat itu. Mereka bermaksud
mengejar pemuda berpakaian biru yang telah melakukan tindakan begitu sadis dan
mengerikan terhadap lawan-lawannya.
6
"Hait..! Hiaaat...!
Hih!"
Teriakan-teriakan keras
melengking terdengar penuh semangat memecah kesunyian pagi. Saat itu keadaan
masih sepi. Sang Surya pun baru saja muncul di ufuk timur berwarna kuning
kemerahan. Namun teriakan-teriakan melengking itu seolah-olah tak mempedulikan
suasana pagi itu.
Suara-suara itu ternyata berasal
dari halaman belakang sebuah bangunan besar dan megah yang terkurung pagar
tembok tebal, kokoh, dan tinggi. Suara-suara itu keluar dari mulut mungil sosok
tubuh ramping terbungkus pakaian jingga.
Sosok ramping ini ternyata
seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya yang cantik itu jadi
semakin terlihat cantik karena rambutnya yang panjang dikepang satu. Gadis
berpakaian jingga itu tengah berlatih silat. Nampak di tangannya sepasang sumpit
terbuat dari baja putih. Kedua batang sumpit itu berujung runcing.
Suit! Siiit!
Bunyi menderit nyaring selalu
terdengar setiap kali gadis berpakaian jingga itu menusukkan sepasang sumpitnya
ke depan. Hal ini karena gadis itu memiliki tenaga dalam kuat yang dialirkan
dalam gerakan-gerakan menusuk itu. Nampaknya karena kekuatan tenaga dalamnya
itu yang menyebabkan bunyi berderit dari tusukan-tusukan sepasang sumpit itu.
"Hih!"
Mendadak gadis berpakaian jingga
itu menjejakkan kedua kakinya. Sesaat kemudian tubuhnya telah terlontar ke
belakang, dan berputar beberapa kali di udara. Dan ketika tubuhnya meluncur
turun, kedua tangannya bergerak mengibas.
Sing! Sing!
Desingan nyaring terdengar
disusul meluncurnya benda-benda putih berkilat Dan.... Crabs! Crabs!
Benda-benda berkilat yang
ternyata hiasan berbentuk bunga mawar sebesar ibu jari kaki dan terbuat dari
baja putih itu menancap pada batang sebuah pohon. Dan hebatnya lagi, tancapan
bunga-bunga itu, berjajar membentuk segi tiga. Sungguh sebuah gerakan yang mengagumkan.
Karena tanpa kemahiran dan kepandaian tak mungkin tindakan itu dapat dilakukan.
Gadis itu mampu melakukannya.
Plok, plok, plok...!
Rangkaian tepuk tangan nyaring
mengiringi mendaratnya sepasang kaki gadis itu di tanah. Gadis berpakaian
jingga menoieh ke asal suara tepukan tangan yang mengandung pujian itu.
"Ah! Kiranya kau,
Ayah," ujar gadis berpakaian jingga sambil tersenyum, ketika melihat
sesosok tubuhhitam yang memiliki ciri-ciri aneh.
Betapa tidak? Sosok berpakaian
hitam itu menyerupai kera besar. Sulit dikatakan manusia jenis manakah sosok
serba hitam ini? Manusia yang mirip kera, atau sebaliknya?
Dan pertanyaan seperti itu tidak
berlebihan. Raut wajah lelaki bertubuh besar itu ditumbuhi bulu-bulu halus yang
hitam. Potongan tubuhnya pun agak mem-ungkuk sehingga kedua tangannya yang
memang melebihi ukuran manusia biasa, tergantung sampai di bawah lutut Sekujur
tubuhnya ditumbuhi bulu-bulu halus hitam.
"Kau kira siapa,
Winarti?" sapa tokoh yang mirip kera besar sambil tersenyum. Terdengar lemah
lembut suaranya mengandung perasaan kasih sayang yang dalam.
"Kukira ada orang usil yang
masuk kemari...."
"Dan bermaksud mengganggumu,
begitu?! Ho ho ho..., apakah orang itu mempunyai nyawa cadangan sehingga berani
mengganggumu?!" tukas tokoh yang mirip kera besar penuh bernada
kebanggaan.
Gadis berpakaian jingga yang
ternyata bernama Winarti itu tersenyum malu. Namun, sorot kebanggaan tampak
jelas pada sinar matanya. Winarti menyadari kebenaran ucapan ayahnya. Siapa
orangnya yang berani mati mendatangi tempat itu? Hampir semua orang tahu
siapa ayahnya. Raja Monyet Tangan
Delapan! Seorang datuk sesat yang belum pernah terkalahkan sejak puluhan tahun
lalu. Jangankan untuk mengganggu, mendengar julukannya saja sudah cukup membuat
merinding bulu kuduk tokoh persilatan mana pun.
"Nah, sekarang tenangkanlah
hatimu! Percayalah! Tak seorang pun yang berani memasuki tempat tinggal kita.
Berlatihlah lebih keras, Winarti! Aku ingin semua ilmu yang kuberikan padamu
dapat kau kuasai dengan sempurna sebelum aku meninggal dunia!"
"Jangan khawatir, Ayah! Aku
berjanji akan memperhatikan semua nasihat yang Ayah berikan," ujar Winarti
mantap.
"O, ya. Tak lama lagi akan
ada orang yang mengajarkanmu cara-cara mempergunakan pisau terbang sebagai
senjata rahasia."
"Ah! Mengapa harus orang
lain, Ayah. Mengapa tidak Ayah sendiri?!" sahut gadis berpakaian jingga
itu dengan wajah agak bersungut-sungut
"He he he...!" Raja
Monyet Tangan Delapan tertawa terkekeh. "Memang, aku mampu mengajarkanmu,
Winarti. Tapi, aku bukan ahlinya. Tokoh yang akan datang nanti, seorang yang
amat mahir dalam penggunaan pisau terbang. Kudengar dia mampu melakukan
penyerangan dengan pisau-pisau terbang hanya dengan pemusatan pikiran. Nah,
apakah kau masih tidak tertarik? Terus terang, aku tidak mampu melakukan hal
seperti itu."
"Benarkah ucapan yang kau
katakan itu, Ayah?!" tanya Winarti setengah tak percaya. "Aku sendiri
belum membuktikan kebenarannya. Tapi berita yang tersebar di dunia
persilatan, mengatakan demikian.
Nanti, kalau tokoh itu datang kita buktikan saja kebenarannya! Bagaimana?"
tanya Raja MonyetTangan Delapan sambil menepuk-nepuk bahu Winarti.
"Baik, Ayah!" sahut
Winarti gembira membayangkan betapa dirinya mampu melancarkan serangan dengan
pisau terbang menggunakan pikiran seperti layaknya menggunakan tangan.
"Tapi, apa julukan orang itu?"
"Setan Pisau! Sekarang,
berlatihlah lagi!" jawab Raja MonyetTangan Delapan.
Setelah berkata demikian, tokoh
yang mirip kera besar itu mengayunkan langkah meninggalkan tempat itu. Winarti
mernandangi hingga punggung ayahnya lenyap di balik bangunan. Baru setelah itu
dara cantik itu meneruskan kembali latihannya.
Sementara itu, Raja MonyetTangan
Delapan terus melangkah menuju ke depan. "Naga!" panggil Raja Monyet
Tangan Delapan keras.
"Ya, Ketua!" sahut
seorang lelaki bertubuh kekar yang dipanggil Naga. Dadanya yang telanjang
tampak bergambar seekor naga. Lelaki bertubuh besar dan kekar itu berjuluk Naga
Berekor Sembilan. Seorang kepala bajak sungai yang memiliki kepandaian cukup
tinggi, namun telah takluk dan mengabdi pada Raja MonyetTangan Delapan.
"Apakah Penjagal Nyawa telah
tiba?!" tanya Raja Monyet Tangan Delapan ketika Naga Berekor Sembilan
telah berdiri di depannya.
"Belum, Ketua. Aku pun sejak
tadi tertgah menunggunya," jawab Naga Berekor Sembilan penuh hormat
"Aneh!" desis Raja
Monyet Tangan Delapan sambil mengernyitkan kening. "Menurut perhitungan,
dia harus sudah sampai semalam. Tapi, mengapa sampai saat ini belum
muncul?"
"Barangkali si Setan Pisau
berani main gila, Ketua," Naga Berekor Sembilan menyampaikan dugaannya.
"Mustahil!" sergah Raja
Monyet Tangan Delapan dengan suara keras. "Aku tidak percaya si Setan
Pisau berani bertindak demikian. Tapi, apabila dugaanmu benar..., dia akan
merasakan hukumannya!"
"Perlukah aku menyusulnya,
Ketua?" ujar Naga Berekor Sembilan menawarkan diri. "Tidak
perlu!"
"Tapi, Ketua...."
"Apa lagi, Naga?!"
sentak Raja MonyetTangan Delapan kesal.
"Anu..., Ketua. Aku telah
bertindak lancang. Tanpa seijinmu telah kukirim beberapa orang untuk menyusul,
barangkali saja mereka mendapat halangan di jalan...," terbata-bata karena
cekaman rasa takut melanda Naga Berekor Sembilan mengeluarkan ucapan yang sejak
tadi ingin dikatakannya.
"Hhh...! Kalau begitu tidak
mengapa, Naga. Sekarang kita tinggal menunggu kedatangan mereka."
Seketika merasa lega hati Naga
Berekor Sembilan. Hatinya merasa khawatir kalau tindakari yang dilakukannya
telah menyinggung hati Raja Monyet Tangan Delapan dan mengakibatkan dirinya
mendapat hukuman. Tapi ternyata tidak. Datuk sesat yang mirip kera itu sama
sekali tidak menghukumnya.
Sesaat suasana menjadi hening.
Masing-masing tenggelam dalam alun pikirannya. Namun baru saja hal itu
berlangsung sebentar, tiba-tiba salah seorang penjaga pintu gerbang berlari
tergopoh-gopoh menuju Raja Monyet Tangan Delapan.
"Lapor, Ketua. Orang-orang
yang bertugas menyusul Penjagal Nyawa telah tiba!" ujar penjaga pintu
gerbang yang bermata juling itu.
"Apakah mereka datang
bersama Penjagal Nyawa dan Setan Pisau?!" tanya Raja MonyetTangan Delapan,
cepat
"Tidak, Ketua!" jawab
lelaki bermata juling itu cepat
"Jadi...," Raja Monyet
Tangan Delapan tidak melanjutkan ucapannya.
"Mereka datang tanpa
disertai Penjagal Nyawa dan Setan Pisau!" jelas lelaki bermata juling.
"Keparat! Mengapa mereka
berani kembali tanpa Penjagal Nyawa dan Setan Pisau?! Apakah mereka ingin
mendapatkan hukuman dariku?!" terdengar penuh ancaman ucapan Raja
MonyetTangan Delapan.
Karuan saja Naga Berekor Sembilan
dan penjaga pintu gerbang itu menundukkan kepala penuh rasa gentar, mengetahui
pimpinan mereka murka. Belum lenyap suaranya, Raja MonyetTangan Delapan
melangkah tergesa-gesa menuju pintu gerbang.
Melihat hal ini, tanpa diperintah
Naga Berekor Sembilan dan penjaga yang bermata juling segera melangkah,
mengikuti di belakang Raja Monyet Tangan Delapan. Seperti juga sang Ketua,
mereka pun ingin mengetahui mengapa utusan yang dikirimkan untuk menjemput
Penjagal Nyawa telah kembali demikian cepat
Hanya dalam beberapa langkah saja
ketiga orang ini telah sampai di pintu gerbang. Ternyata laporan penjaga
bermata juling itu tidak salah. Dari kejauhan tampak dua ekor kuda tengah
berpacu cepat. Di atas punggung kuda itu duduk dua orang yang diutus Naga
Berekor Sembilan untuk menyusul Penjagal Nyawa.
Seperti halnya orang-orang yang
berada di pintu gerbang yang melihat mereka, dua orang utusan Naga Berekor
Sembilan pun demikian pula. Mereka segera menggebah kudanya.
"Hiya! Hiyaaa...!"
Debu mengepul tinggi ke angkasa,
ketika kuda-kuda itu berpacu cepat menuju bangunan tempat tinggal Raja Monyet
Tangan Delapan.
"Hooop...!"
Masih berada dalam jarak lima tombak,
dua orang utusan Naga Berekor Sembilan yang sama-sama bertubuh pendek kekar itu
melompat dari atas punggung kuda dan mendarat ringan di tanah. Kemudian tanpa
mempedulikan kuda mereka, keduanya berlari menuju Raja MonyetTangan Delapan.
"Mengapa kalian berani
kembali tanpa Penjagal Nyawa dan Setan Pisau?!" tegur Raja MonyetTangan
Delapan tak sabar dan penuh ancaman.
"Penjagal Nyawa dan Setan
Pisau telah tewas, Ketua," jawab salah satu di antara mereka yang berbibir
tebal.
"Apa kau bilang?! Coba
katakan sekali lagi!" perintah Raja Monyet Tangan Delapan, penuh perasaan
tak percaya.
"Penjagal Nyawa dan Setan
Pisau tewas, Ketua," ulang lelaki berbibir tebal lagi sambil menelan ludah
karena perasaan gentar melihat kemarahan pemimpinnya.
"Siapa yang telah membunuh
mereka?!" desis Raja Monyet Tangan Delapan sambil menggemeretakkan
gigi-giginya.
"Kami tak tahu, Ketua. Yang
kami temukan hanya mayat mereka. Tapi, menurut berita yang kami dengar dari
penduduk desa yang letaknya tak jauh dari situ, ada seorang pemuda berpakaian
biru yang mengejar-ngejar mereka," jelas lelaki lain yang berkumis jarang.
"Pemuda berpakaian
biru...?!" ulang Raja Monyet Tangan Delapan dengan alis berkernyit
seolah-olah tengah berusaha mengingat-ingat. Tapi sampai lelah dia menggali
ingatannya tetap saja tidak dikenalnya tokoh yang berpakaian seperti itu.
"Kau yakin kalau yang
mengejar-ngejar Penjagal Nyawa dan Setan Pisau seorang pemuda?" tanya Raja
Monyet Tangan Delapan lagi penasaran.
"Kami yakin betul, Ketua.
Karena kami telah menanyakannya pada beberapa orang. Dan jawaban yang mereka
berikan ternyata sama," jawab lelaki berbibir tebal mantap.
Raja MonyetTangan Delapan
tercenung. Sementara benaknya sibuk memikirkan tokoh muda yang mengenakan
pakaian biru.
"Kau yakin warna pakaiannya
biru? Bukannya ungu?" ulang Raja Monyet Tangan Delapan lagi meminta
kejelasan.
Tokoh yang mirip kera besar itu
sengaja mengajukan pertanyaan demikian. Karena dirinya telah mendengar
keberadaan seorang tokoh muda yang berjuluk Dewa Arak. Menurut kabar yang tersiar,
tokoh itu juga seorang pemuda dan mengenakan pakaian ungu. Barangkali orang
yang dimaksudkan dua anak buahnya ini Dewa Arak.
"Bukan, Ketua! Pengejar
Penjagal Nyawa seorang pemuda berpakaian biru. Sedangkan pemuda berpakaian ungu
teman dari seorang gadis yang telah bertarung menghadapi pemuda berpakaian
biru," jelas lelaki berkumis jarang.
"Jadi..., pemuda berpakaian
ungu pun ada pula?" tanya Raja Monyet Tangan Delapan setengah tak percaya
karena sama sekali tidak menduganya. "Coba kau ceritakan secara
lengkap!"
Lelaki berbibir tebal tidak
langsung memenuhi perintah pimpinannya. Wajahnya tercenung sejenak, memikirkan
dari mana cerita itu harus dimulai sesuai dengan berita yang didengarnya.
"Menurut cerita yang kami
dapatkan, ada tiga orang kasar hendak mencuri kuda pemuda berpakaian biru.
Tapi, sebelum mereka berhasil, pemuda berpakaian biru telah mengetahuinya.
Sehingga pertarungan antara mereka pun terjadi."
Lelaki berbibir tebal
menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas dan kembali menelan ludah
yang mengumpul di mulutnya.
"Ternyata pemuda berpakaian
biru itu sangat tangguh. Hanya segebrakan mereka telah dirobohkan. Kemudian
ketiga orang kasar itu disiksanya secara kejam. Namun, sebelum ketiga orang itu
tewas, karena menderita siksaan demi siksaan, muncul seorang berpakaian ungu
dan seorang gadis berpakaian putih. Kedua orang ini rupanya tidak tega melihat
penyiksaan itu. Sehingga pertarungan pun terjadi lagi."
"Jadi..., pemuda berpakaian
biru itu bertarung dengan pemuda berpakaian ungu?" potong Raja Monyet
Tangan Delapan tidak sabar.
"Tidak, Ketua," lelaki
berkumis jarang memberikan jawaban. "Pemuda berpakaian biru itu bertarung
melawan gadis berpakaian putih, teman pemuda berpakaian ungu," lanjutnya.
"Dengan gadis berpakaian
putih itu?" tanya Raja Monyet Tangan Delapan dengan suara kurang
bersemangat. Dan helaan napas kecewa pun terhempas dari mulutnya ketika lelaki
berkumis jarang itu menganggukkan kepala.
"Pemuda berpakaian biru itu
ternyata sangat tangguh dan lihai. Ilmu yang dipergunakan juga sangat aneh dan
dahsyat sekali. Hanya dalam beberapa gebrakan gadis berpakaian putih itu hampir
dibuatnya tak berdaya. Tapi, ketika pertarungan tengah berlangsung seru, pemuda
berpakaian biru tiba-tiba menghentikannya. Semula orang-orang merasa heran.
Tapi sesaat kemudian mereka tahu. Pemuda berpakaian biru ternyata memburu dua
orang penunggang kuda. Jelas, urusannya dengan dua orang penunggang kuda itu
lebih penting daripada menghadapi si gadis berpakaian putih."
"Dan..., dua orang
penunggang kuda itu Penjagal Nyawa dan Setan Pisau! Iya?" lagi-lagi Raja
Monyet Tangan Delapan menyelak karena perasaan tidak sabar.
"Benar, Ketua," kini
ganti lelaki berbibir tebal yang memberikan jawaban.
"Dia benar-benar sadis,
Ketua. Penjagal Nyawa akhirnya mati bunuh diri! Mungkin karena merasa tak tahan
dengan siksaan yang diberikan pemuda berpakaian biru," tutur lelaki
berbibir tebal mengakhiri ceritanya.
Suasana berubah hening ketika
lelaki berbibir tebal dan lelaki berkumis jarang telah menghentikan ceritanya.
Mereka semua tenggelam dalam alun pikirannya masing-masing. Hati mereka
bertanya-tanya siapakah sebenarnya pemuda berpakaian biru itu?
"Apakah kau tidak mendapat
berita siapa sebenarnya pemuda berpakaian biru itu?" tanya Raja Monyet
Tangan Delapan ketika teringat
Lelaki berbibir tebal menggelengkan
kepala.
"O, ya. Tadi kau bilang dia
menggunakan ilmu aneh tapi dahsyat. Di mana keanehannya?"
"Dia bertarung dalam keadaan
tubuh terbalik, Ketua. Kepalanya di bawah dan kedua kakinya di atas,"
jelas lelaki berbibir tebal.
"Hhh...!" jerit
keterkejutan keluar dari mulut Raja MonyetTangan Delapan.
Raut wajah tokoh mirip gorila itu
memancarkan keterkejutan yang amat sangat. Begitu pula Naga Berekor Sembilan
dan beberapa orang yang berada di pintu gerbang itu.
Tentu saja hal itu membuat semua
anak buahnya merasa heran. Tapi, mereka berpura-pura tidak tahu dan menundukkan
kepala.
"Lalu..., mengapa pemuda
berpakaian biru itu membunuh Penjagal Nyawa dan Setan Pisau? Apa urusannya
dengan Penjagal Nyawa dan Setan Pisau?" tanya Raja Monyet Tangan Delapan
lagi setelah berhasil menguasai perasaannya.
"Kami tidak tahu, Ketua.
Tapi menurut dugaan kami, yang mempunyai urusan dengan pemuda berpakaian biru
itu hanya Penjagal Nyawa. Karena dialah nampaknya yang menjadi tujuan
pelampiasan dendam. Pada tubuh Penjagal Nyawa kami lihat bekas-bekas siksaan,
sedangkan pada Setan Pisau tidak ada sama sekali," lanjut lelaki berbibir
tebal menjelaskan apa yang telah dilihatnya.
Raja Monyet Tangan Delapan
mengangguk-anggukan kepala, sambil memukul-mukulkan kepalan tangan kanan ke telapak
tangan kirinya.
"Kalau begitu, kembali ke
tempatmu semula! Kau juga, Naga!" perintah tokoh mirip gorila itu seraya
melangkah menuju ke dalam.
Hal yang sama pun dilakukan Naga
Berekor Sembilan, lelaki berbibir tebal, dan lelaki berkumis jarang. Mereka
mengayunkan langkah kembali ke tempat semula.
Sementara itu, sambil terus
menindakkan kaki, benak Raja Monyet Tangan Delapan berputar keras. Kabar yang
dibawa dua orang anak buahnya benar-benar telah menyebabkan benaknya dipenuhi
banyak pertanyaan yang tak terjawab.
Berbagai macam pertanyaan
memenuhi benak tokoh yang mirip kera besar itu. Siapa sebenarnya pemuda
berpakaian biru itu? Mengapa begitu dendam terhadap Penjagal Nyawa? Lalu, dari
mana didapatkan ilmu aneh itu. Raja Monyet Tangan Delapan tahu pasti nama ilmu
itu dan siapa pemiliknya.
Tanpa sadar, terbayang kembali di
benaknya kejadian puluhan tahun silam saat dirinya masih berusia tiga belas
tahun. Bersama dua orang kawannya berperahu ke laut untuk mencari ikan. Malang,
badai datang. Maka perahu mereka pun diombang-ambingkan gelombang dan akhirnya
hancur berantakan.
Untung Raja Monyet Tangan Delapan
dan seorang kawannya yang bernama Songka Lawung berhasil menangkap pecahan
perahu. Raja Monyet Tangan Delapan dan Songka Lawung akhirnya dapat selamat. Berhari-hari
lamanya mereka berdua dipermainkan gelombang sebelum akhirnya terhempas ke
sebuah pulau.
Nasib baik menyertai mereka
berdua. Mereka bertemu dengan seorang kakek yang sudah amat tua. Keadaannya
sudah lebih mendekati tengkorak daripada manusia. Meskipun demikian, kakek itu
memiliki kepandaian amat tinggi. Dan Raja Monyet Tangan Delapan serta Songka
Lawung akhirnya menjadi muridnya. Mereka berdua berlarih dengan giat ilmu-ilmu
dari kakek itu.
Mula-mula mereka mengalami
kemajuan berbarengan. Tapi lama-kelamaan, bakat Songka Lawung terhadap ilmu
silat mulai terlihat. Dirinya mampu maju secara cepat dalam ilmu-ilmu yang
dipelajarinya. Sehingga, Raja Monyet Tangan Delapan tertinggal. Semakin lama
perbedaan tingkat mereka semakin jauh. Hal ini menimbulkan perasaan iri hati
Raja Monyet Tangan Delapan. Apalagi, ketika akhirnya Songka Lawung menerima
ilmu 'Pembalik Jagad', dan Raja Monyet Tangan Delapan hanya mendapatkan ilmu
'Tangan Seribu". Rasa iri
di hatinya berubah menjadi
kebencian. Raja Monyet Tangan Delapan pun mengambil keputusan singkat, Songka
Lawung harus dilenyapkan.
Dan peluang bagi Raja Monyet
Tangan Delapan untuk melaksanakan niat jahatnya semakin terbuka, ketika guru
mereka akhirnya pergi meninggalkan mereka. Sang Guru hanya meninggalkan pesan
yang mengatakan bahwa mereka berdua telah menamatkan semua ilmu darinya.
Dengan sebuah siasat licik, Raja
Monyet Tangan Delapan berhasil menjebak Songka Lawung di sebuah sumur yang amat
dalam. Kemudian dari atas, Raja. Monyet Tangan Delapan mengguyurkan cairan besi
yang panas membara.
Setelah kejadian itu, hari Raja
MonyetTangan Delapan pun puas. Karena dirinya yakin betul Songka Lawung telah
tewas.
Itulah sebabnya kini Raja Monyet
Tangan Delapan terkejut bukan kepalang, ketika mengetahui ada seorang pemuda
yang memiliki ilmu 'Pembalik Jagat' itu. Mungkinkah pemuda berpakaian biru itu
mempunyai hubungan dengan Songka Lawung? Apakah saudara seperguruannya itu
masih hidup? Kalau benar demikian, berarti bahaya besar tengah mengancamnya.
Mulai sekarang, kewaspadaannya harus ditingkatkan. Demikian Raja Monyet Tangan
Delapan memutuskan. Nampaknya pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi hati dan
benaknya sedikit mulai terjawab, ingatannya terhadap masa lalunya membuka jalan
bagi jawaban atas semua pertanyaan tadi.
7
Perlahan-lahan matahari terus
merangkak, dan kini telah berada tepat di atas kepala. Cahaya terik menerpa
seluruh permukaan bumi. Di bawah teriknya cahaya matahari siang itu, nampak
dari kejauhan melesat cepat sesosok bayangan biru. Gerakan melesat sosok
bayangan biru itu menuju tempat kediaman Raja MonyetTangan Delapan.
Sementara itu, dua orang penjaga
pintu gerbang rumah Raja Monyet Tangan Delapan mengawasi dari kejauhan gerakan
cepat bayangan kebiruan yang menuju tempatnya.
"Kau lihat?!" tanya
penjaga yang bermata juling pada kawannya, menunjuk ke bayangan biru itu.
"Ya, aku melihatnya,"
jawab penjaga yang satunya lagi. "Apakah dia yang membunuh Penjagal Nyawa
dan Setan Pisau?"
"Mungkin orang itu!"
sahut penjaga yang bermata juling. "Bukankah dia mengenakan pakaian
biru?!"
"Kalau begitu, cepat
beritahukan Naga Berekor Sembilan! Biar, aku yang mengawasinya!" usul
kawan si mata juling.
"Baik!"
Tanpa membuang waktu, penjaga
yang bermata juling itu segera melesat ke dalam. Sementara kawannya terus
mengawasi sosok bayangan biru yang ternyata jelas-jelas menuju tempat mereka.
Gerakan sosok bayangan biru itu
ternyata sangat cepat. Dalam waktu sebentar saja, kawan si mata jubng mampu
melihat dengan jelas ciri-cirinya. Karena sosok bayangan biru kini telah berada
hanya dalam jarak belasan tombak.
Dan, ternyata sosok bayangan biru
itu memang benar seorang pemuda berpakaian biru. Karuan saja hati penjaga pintu
gerbang itu menjadi gentar dan melangkah mundur.
"Hup!"
Pemuda berpakaian biru itu
mendaratkan kaki berjarak tiga tombak dari tempat penjaga pintu gerbang
berdiri. Kemudian dengan sepasang matanya yang tajam dirayapinya sekujur tubuh
penjaga pintu gerbang itu.
Karuan saja, tindakan pemuda
berpakaian biru itu membuat nyali penjaga pintu gerbang itu semakin menciut.
Kalau Penjagal Nyawa dan Setan Pisau saja bisa dibinasakan, apalagi dirinya
yang memiliki kepandaian tidak seberapa jika dibanding dengan Penjagal Nyawa.
"Kau...! Ya..., aku ingat!
Kau salah satu di antara mereka. Kau pun akan merasakan pembalasanku!"
desis Mahendra penuh dendam.
Ucapan Mahendra semakin
menciutkan nyali penjaga itu. Dirasakan adanya ancaman dari ucapan yang
terdengar penuh getaran itu. Penjaga itu jadi teringat akan cerita-cerita yang
didengarnya tentang Mahendra. Pemuda berpakaian biru ini berwatak sadis, yang
akan menyiksa lawannya sampai mati.
Penjaga itu melangkah mundur.
Namun, langkahnya segera terhenti. Dan nyalinya yang telah kuncup pun kembali
mekar, ketika Naga Berekor Sembilan dan belasan kawannya telah berada di
dekatnya.
Naga Berekor Sembilan langsung
maju ke depan.
"Kaukah orang yang telah
membunuh Penjagal Nyawa?!" tanya Naga Berekor Sembilan menuduh, sambil
menudingkan jari telunjuknya.
"Hmh...!" Mahendra
mendengus penuh ejekan. "Bukan hanya Penjagal Nyawa yang kubunuh! Kau dan
semua orang yang berada di tempat ini akan bernasib yang sama dengannya!"
"Keparat! Kau akan menerima
balasan atas tindakan keji yang kau lakukan terhadap Penjagal Nyawa!
Serbu..,!" seru Naga Berekor Sembilan keras sambil mengibaskan tangannya.
Mendengar perintah itu belasan
anak buah Raja Monyet Tangan Delapan bergerak menerjang Mahendra.
Senjata-senjata yang terdiri dari berbagai macam jenis meluncur ke berbagai
bagian tubuh Mahendra.
Sing! Sing! Wuk!
Mahendra masih bersikap tenang.
Dibiarkan hingga semua serangan itu meluncur dekat. Baru ketika ujung
senjata-senjata itu mengenainya, dirinya pun bertindak. Laksana bayangan,
tubuhnya menyelinap di antara kelebatan senjata-senjata lawan. Kemudian tangan
dan kakinya bergerak.
Setiap kali tangan atau kaki
Mahendra bergerak, pasti ada sosok tubuh yang terpental keluar dari kancah
pertarungan diiringi jeritan kesakitan.
Karuan saja hal itu membuat Naga
Berekor Sembilan yang menjadi pimpinan penyerang semakin kalap. Golok besar di
tangannya semakin merajalela mencari sasaran di tubuh Mahendra. Hal yang sama
pun dilakukan belasan kawan-kawannya.
Maka pertarungan sengit pun tak
terelakkan. Pertarungan antara belasan anak buah Raja MonyetTangan Delapan yang
menggunakan aneka ragam senjata dengan Mahendra yang bertangan kosong.
Meskipun tidak menggunakan
senjata, sepak-terjang Mahendra benar-benar menggiriskan. Dengan ilmu
meringankan tubuh yang jauh di atas lawan-lawannya, tidak sulit untuk mengelakkan
setiap serangan. Sebaliknya, setiap kali tangan atau kakinya bergerak, sudah
dapat dipasrikan akan ada tubuh-tubuh yang terpental dan tak mampu bangkit
lagi. Meskipun mereka tidak tewas seketika.
Tak sampai dua puluh jurus, lebih
dari setengah jumlah anak buah Raja Monyet Tangan Delapan yang bergeletakan di
tanah dalam keadaan tak berdaya. Meskipun demikian, mereka tetap melakukan
perlawanan sengit
Patut dipuji semangat anak buah
Raja Monyet Tangan Delapan. Padahal, mereka tahu kalau tindakan yang dilakukan
tak ubahnya kelompok semut menerjang api. Mereka semuanya roboh terkulai tak
berdaya. Jika tak ada perubahan, mereka akan roboh semua di tangan Mahendra.
Ketika pertarungan berjalan
semakin tak seimbang, karena tubuh-tubuh pengeroyok telah bergelimpangan,
tiba-tiba nampak sesosok bayangan jingga.
"Mundur semua,
Cecunguk-CecungukTak Berguna! Biar aku yang menghadapinya!" Sebuah
bentakan keras dan melengking nyaring keluar dari mulut sosok bayangan
jingga itu. Sisa-sisa anak buah
Raja Monyet Tangan Delapan melompat mundur, mematuhi perintah itu. Mereka semua
kenal betul suara itu. Siapa lagi kalau bukan Winarti? Putri Raja Monyet Tangan
Delapan yang mempunyai sifat manja itu, namun terkadang mampu juga bertindak
kejam.
Melihat lawan-lawannya melompat
mundur, Mahendra pun menghentikan serangan. Tubuhnya berdiri di tempat dan siap
menghadapi segala kemungkinan.
"Hup!"
Di hadapan Mahendra telah berdiri
seorang gadis berpakaian jingga. Gadis cantik itu tidak lain Winarti putri dari
Raja MonyetTangan Delapan.
"Siapa kau, Keparat! Mengapa
mengacau tempat kediamanku?!" bentak Winarti keras. "Namaku Mahendra.
Dan kedatanganku kemari untuk membalas dendam atas
tindakan semua orang yang berada
di tempat ini terhadap orangtua dan kakak-kakak seperguruanku sepuluh tahun
yang lalu. Menyingkirlah kau, Nisanak! Kau tidak termasuk di antara
mereka!" jawab Mahendra panjang lebar.
"Apa kau bilang? Kau suruh
aku menyingkir? Kau kira aku tidak tersangkut dalam masalah ini?! Kau tahu,
siapa pemilik rumah ini? Kau tahu siapa orang orang yang hendak kau bunuh
itu?!" sahut Winarti.
"Siapa pun dirimu aku tidak
tahu, Nisanak! Yang jelas, aku tahu siapa pemilik bangunan ini. Raja Monyet
Tangan Delapan, bukan? Menyingkirlah, Nisanak! Aku telah bersumpah untuk
membalas sakit hati orangtua dan kakak-kakak seperguruanku. Siapa pun yang
menghalangi akan kuterjang!" tandas Mahendra.
"Kalau begitu, terjanglah
aku, Manusia Sombong! Akulah orang yang akan menjadi perintang pertama atas
sumpahmu itu!" tegas Winarti tak kalah mantap.
"Kalau itu keinginanmu apa
boleh buat! Berhati-hatilah, Nisanak! Hiyaaat..!"
Dengan sebuah teriakan keras
menggelegar, Mahendra memulai penyerangan. Pemuda berpakaian biru itu membuka
serangan dengan sebuah tendangan lurus ke arah pusar lawannya.
Wuttt!
Deru angin keras mengiringi
serangan yang dikerahkan dengan pengerahan tenaga dalam yang tinggi. Winarti
pun mengetahuinya. Itulah sebabnya gadis itu tak mau bertindak gegabah. Segera
didoyongkan tubuhnya ke kanan sehingga serangan itu lewat di sisi kiri
tubuhnya. Lalu secepat kilat dikirimkan bacokan tangan kanan ke lutut kanan
Mahendra.
Mahendra yang tetap bersikap
tenang telah menduga serangan balasan itu. Sehingga ketika serangan itu
dilakukan dirinya siap untuk menangkalnya. Dan itu memang benar! Sebelum sisi
tangan Winarti mengenai sasaran, telah lebih dulu Mahendra menarik kakinya.
Wusss!
Bacokan sisi tangan miring
Winarti hanya membabat tempat kosong. Namun, Winarti pun sudah menduga akan
terjadi hal seperti itu. Maka sambil melangkahkan kaki kanan ke depan, dengan
cepat tinju tangan kirinya diluncurkan ke ulu hati Mahendra.
"Heits!"
Mahendra agak terkejut menerima
serangan susulan ini. Karena pikirannya tak menduga demikian cepat tindakan
Winarti. Ternyata gadis berpakaian jingga itu memiliki kepandaian yang perlu
diperhitungkan. Mahendra dengan cepat menarik tubuhnya ke belakang, sehingga
serangan pun luput
Karena menyadari keadaan kalau
Winarti bukan lawan yang bisa dianggap ringan, Mahendra mulai melancarkan
serangan balasan. Sesaat kemudian pertarungan sengit antara mereka pun terjadi.
Baik Mahendra maupun Winarti telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang
dimiliki.
Pertarungan antara sepasang
muda-mudi yang sama-sama berwajah rupawan itu berlangsung cepat. Pada
jurus-jurus awal keduanya nampak berimbang. Baik Winarti maupun Mahendra
sama-sama bertarung dengan gerakan cepat sekali. Sehingga pertarungan makin
seru dan ramai. Bunyi angin menderu dan mencicit menyemarakkan suasana ditambah
pekikan dan teriakan setiap kali serangan dilancarkan.
Pada jurus-jurus awal itu nampak
keduanya saling berhati-hati, masing-masing tidak berani bertindak sembrono
karena belum mengenal ilmu lawan. Tapi ketika pertarungan menginjak pada jurus
kesepuluh, baik Mahendra maupun Winarti mulai unjuk gigi.
***
Naga Berekor Sembilan dan
kawan-kawannya masih berdiri tegak, terus mengawasi jalannya pertarungan yang
cukup menarik dan seru itu. Meskipun mereka tidak dapat melihat jelas jalannya
pertarungan. Tapi, karena Mahendra dan Winarti mengenakan pakaian yang menyolok
perbedaannya, mereka tidak kesulitan untuk membedakan antara keduaorang itu.
Ketika pertarungan telah mencapai
jurus ketiga puluh mulai tampak adanya perubahan. Perlahan-lahan Mahendra dapat
menekanWinarti.
Dan saat itulah Raja Monyet
Tangan Delapan muncul. Tokoh yang mirip kera besar itu tidak langsung
menceburkan diri dalam kancah pertarungan. Tubuhnya yang besar berdiri dekat
anak buahnya, turut menyaksikan jalannya pertarungan. Raja Monyet Tangan
Delapan ingin membuktikan apakah benar pemuda berpakaian biru itu murid Songka
Lawung. Itulah sebabnya dibiarkan saja Mahendra terus mendesak putrinya.
Tak perlu waktu lama bagi tokoh
yang mirip kera besar ini untuk memastikan dugaannya. Pengamatan itu membuatnya
terkejut. Betapa tidak? Terlihat jelas, betapa ilmu yang digunakan Mahendra dan
Winarti berasal dari satu cabang.
Memang terdapat kelainan pada
beberapa jurus. Namun, itu terjadi mungkin karena pengembangan dari dirinya dan
Songka Lawung Atau mungkin juga karena bakat yang berada pada Winarti dan
Mahendra berbeda. Yang jelas, secara kasar bisa ditarik kesimpulan kalau
Mahendra dan Winarti memiliki ilmu dari sumber yang sama. Jadi benar Mahendra
murid Songka Lawung. Dan ini berarti Songka Lawung tidak tewas. Begitulah
pikiran Raja Monyet Tangan Delapan setelah menyaksikan sendiri pertarungan
pemuda berpakaian biru itu.
Sementara itu, keadaan Winarti
semakin mengkhawatirkan, semakin terdesak. Hal itu rupanya membuat gadis
berpakaian jingga itu penasaran. Kenyataannya, ketika mendapatkan sedikit
kesempatan dengan cepat tubuhnya melenting ke belakang dan bersalto beberapa
kali di udara. Lalu....
Jliggg!
Manis sekali gerakan yang
dilakukan Winarti. Dan itu dapat dilakukannya tanpa hambatan sama sekali.
Padahal, Winarti menduga Mahendra pasti akan memburu agar dirinya tidak
mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kedudukannya. Ternyata pemuda berpakaian
biru itu sama sekali tak melakukannya. Pemuda berpakaian biru malah berdiam
diri di tempatnya. Mahendra bermaksud menunggu tindakan selanjutnya yang
dilakukan lawan. Mahendra tahu, gadis itu menjauhkan diri darinya pasti untuk
mempergunakan ilmu lainnya.
Dugaan Mahendra memang tidak
meleset. Winarti memang hendak menggunakan ilmu andalan. Gadis berpakaian
jingga nampak memejamkan mata. Kedua tangannya dipalangkan di depan dada,
dengan kedudukan yang kanan berada di atas yang kiri. Kedua tangan yang berselisih
jarak sekitar seperempat jengkal itu, menegang kaku, penuh dengan kekuatan
tenaga dalam.
"Hih!"
Diiringi suara bentakan,
tiba-tiba Winarti menarik kedua tangannya dengan begitu cepat ke sisi pinggang.
Kemudian diputar-putarkannya di depan dada. Tangan Winarti pun telah berubah
menjadi banyak, saling berputaran di depan dadanya. Belasan, bahkan mungkin
puluhan jumlahnya. Hal itu terjadi karena saking cepatnya pergerakan tangan
Winarti. Inilah ilmu 'Tangan Seribu' andalan Raja MonyetTangan Delapan!
"Hiaaat..!"
Dengan teriakan menggelegar dan
nyaring yang membuat suasana di sekitar tempat itu tergetar hebat, Winarti
menerjang Mahendra. Tangannya yang kini seperti berjumlah banyak itu meluncur
deras ke tubuh Mahendra. Sukar untuk diketahui sasaran yang tengah dituju
karena banyaknya jumlah tangan yang terus berputar-putar.
Namun Mahendra tidak mudah
tertipu. Pikirannya tahu kalau tangan Winarti tetap berjumlah dua. Kecepatan
gerakan tangannya itulah yang menyebabkan jumlah tangannya seperti banyak.
Segera dipusatkan perhatian pada sepasang matanya untuk mengetahui mana tangan
yang aslinya.
Kemudian tanpa ragu-ragu lagi
segera dipapaknya serangan Winarti yang meluncur deras ke tubuhnya.
Plakkk! Plakkk! Bukkk...!
"Akh...!"
Suara keluhan tertahan keluar
dari mulut Mahendra. Bahu kanannya terhajar. Memang, berturut-turut dirinya
berhasil menangkis serangan yang mengancam. Tapi serangan lanjutan yang datang
begitu cepat, tidak mampu ditangkisnya. Dalam penggunaan ilmu 'Tangan Seribu',
kecepatan gerak tangan Winarti jadi berlipat ganda. Sehingga serangan pertama
dan kedua dapat ditangkis serangan lainnya telah kembali meluncur dengan
kecepatan tinggi.
Melihat keberhasilan serangan
perdananya, maka semangat Winarti membesar. Kembali dilancarkan serangan
susulan ketika Mahendra tengah terhuyung-huyung karena sakit dibahunya.
Tapi bagi Mahendra, tidak terlalu
sulit mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung. Hanya dengan sebuah
gerakan sederhana, tubuhnya telah berhasil mengatasi keadaannya. Dan saat
itulah serangan lanjutan Winarti kembali meluncur.
Wuttt!
Kali ini Mahendra tidak berani
bertindak gegabah lagi. Pengalaman pertama telah memberinya pelajaran. Masih
untung hanya bahunya yang terhajar. Kalau pelipis atau ulu hati? Akibatnya
tentu akan lebih parah bagi dirinya.
Itulah sebabnya Mahendra tidak
menangkis serangan itu. Yang dilakukannya kini melempar tubuh ke samping dan
bergulingan menjauh. Lalu....
"Hih!"
Dug!
Secepat kilat Mahendra merubah
keadaan tubuhnya yang barusan masih bergulingan. Sekarang Mahendra telah siap
dengan ilmu 'Pembalik Jagat' andalannya. Kini yang bersentuhan dengan tanah
bukan kakinya melainkan kepalanya. Sekarang sepasang kakinya menjulang tinggi
ke atas.
"Hey...!"
"Akh...!" "Hah...!"
Tanggapan-tanggapan yang penuh
keterkejutan keluar dari mulut semua orang yang berada di situ. Tidak hanya
Winarti dan belasan tokoh golongan hitam yang merasa kaget melihat keanehan
ilmu Mahendra. Raja Monyet Tangan Delapan pun demikian pula. Namun tokoh yang
mirip kera besar ini mampu menyembunyikan rasa kagetnya sehingga yang keluar
dari mulutnya hanya dengusan pendek.
Padahal kalau diperbandingkan,
rasa kaget yang dialami Raja Monyet Tangan Delapan malah jauh lebih besar.
Karena kini sudah tidak diragukan, Mahendra ternyata murid dari Songka Lawung.
Ilmu 'Pembalik Jagat' yang dimiliki menjadi bukti kuat yang tidak bisa
dibantahnya lagi. Ini berarti Mahendra mempunyai bakat besar terhadap ilmu
silat. Hanya orang-orang berbakat besar yang bisa menguasai ilmu itu. Ini
berarti, Mahendra merupakan orang yang amat berbahaya. Pemuda ini harus
dilenyapkan secepat mungkin.
Begitulah yang terus berkecamuk
di dalam kepala Raja MonyetTangan Delapan.
Tapi sebelum itu, Raja Monyet
Tangan Delapan ingin menyaksikan lebih dulu ilmu 'Pembalik Jagat' yang dimiliki
Mahendra. Benarkah pemuda berpakaian biru itu telah berhasil menguasainya?
Ataukah hanya kulit-kulitnya saja?! Keinginan itu membuat tokoh yang mirip kera
besar memutuskan untuk membiarkan Winarti terus melakukan pertarungan dengan
Mahendra.
Raja Monyet Tangan Delapan tidak
perlu menunggu terlalu lama untuk menyaksikan jalannya pertarungan yang
diharapkan itu. Sebentar kemudian Winarti yang terkejut melihat keanehan ilmu
yang dihadapinya kini gadis berpakaian jingga itu telah sadar kembali.
Begitu kesadaran itu timbul,
Winarti kembali menerjang Mahendra. Kedua tangannya yang terlihat berjumlah
banyak itu meluncur ke berbagai bagian tubuh Mahendra.
Dengan keadaan tubuh Mahendra
yang terbalik seperti itu Winarti pun segera merubah arah sasaran. Serangan
kedua tangan Winarti kini lebih banyak tertuju pada sepasang kaki yang terlihat
kokoh kuat itu. Sasaran lainnya yang dapat dituju hanya perut atau pusar. Tak
mungkin Winarti menyerang dada atau leher, apalagi kepala! Keadaan tubuh
Mahendra benar-benar mempersulit gerakan Winarti.
Mahendra sebaliknya justru mendapat
keuntungan. Di samping dirinya sulit dijadikan sasaran serangan, bidang sasaran
untuknya terbuka banyak. Bahkan sebagian besar merupakan bagian sasaran yang
tidak terlindung.
Dan keadaan menguntungkan itu
dirasakan benar-benar ketika Winarti melancarkan serangan terhadapnya. Serangan
yang semula ditujukan ke kepala dan leher itu, terpaksa berubah menuju perut
dan selangkangannya atau kaki.
Mahendra tidak berani bertindak
gegabah. Buru-buru dipapak serangan itu dengan kedua tangannya. Pada saat yang
bersamaan, laksana sebuah pohon tumbang, kedua kakinya meluncur ke ubun-ubun
dan pelipis Winarti. Dua jalan darah kematian.
Wuttt..! Bletakkk..!
"Aikh...!"
Winarti menjerit kaget. Di
samping karena tangkisan tangan Mahendra membuat tubuhnya terhuyung dan tangannya
merasa sakit, serangan kedua kaki pemuda berpakaian biru itu benar-benar
membuatnya gugup.
Namun, Winarti masih sanggup
membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang gampang dipecundangi. Dalam keadaan
gawat itu Winarti masih mampu menyelamatkan diri. Dilemparkan tubuhnya ke
belakang, kemudian bersalto beberapa kali di udara sebelum akhirnya mendarat
mantap di tanah.
Sit! Sit!
Tangan gadis berpakaian jingga
ini kini menggenggam sepasang sumpit putih. Mahendra seolah-olah tak
mempedulikan. Dengan tangan kosong dan keadaan tubuh terbalik terus
menghadapinya. Diiringi suara dag-dug dag-dug kepalanya yang berbenturan dengan
tanah, pemuda itu mendekati Winarti. Sesaat kemudian pertarungan pun kembali
berlangsung.
Tapi jalannya pertarungan kali
ini berbeda jauh dengan sebelumnya. Sekarang, semakin tampak jelas
ketidakberdayaan Winarti. Padahal, gadis cantik itu telah menggunakan senjata
andalannya yang digabung dengan penggunaan ilmu 'Tangan Seribu'. Ditambah lagi
dengan lontaran-lontaran senjata rahasianya yang berupa bunga. Sedangkan
Mahendra hanya bertangan kosong. Namun dengan ilmu pembalik jagatnya Mahendra
terus berhasil mendesak Winarti.
Sejak awal jurus, Winarti terus
dihimpit dan didesak. Sehingga ambruknya tubuh gadis berpakaian jingga ini
tinggal menunggu waktu saja. Karena begitu menginjak jurus ke tujuh,
serangan-serangan yang dilancarkan terus mengendor. Yang dapat dilakukannya
hanya mengelak dan terus bergerak mundur.
Keadaan kritis gadis berpakaian
jingga ini diketahui Raja Monyet Tangan Delapan. Sedangkan Naga Berekor
Sembilan dan kawannya tidak. Namun, mereka dapat menduganya, melihat dari
terus-menerusnya sosok bayangan jingga bermain mundur, sedangkan sosok bayangan
biru mengejarnya. Pertarungan semakin berjalan tak seimbang.
Ketika pertarungan menginjak
jurus ke tujuh belas, Raja Monyet Tangan Delapan tidak bisa tinggal diam lagi.
Dia tidak ingin Winarti keburu celaka!
"Menyingkir, Winarti!
Hiyaaat..!"
8
Sambil mengeluarkan bentakan
menggelegar, Raja Monyet Tangan Delapan terjun ke kancah pertarungan. Tokoh
yang mirip kera besar ini langsung melancarkan serangan. Tak tanggung-tanggung
lagi, serangan yang dilancarkannya. Dia mengirimkan sebuah tendangan terbang.
Tetapi karena sikap lawan yang tidak semestinya, Raja Monyet Tangan Delapan
sedikit merubah tendangan terbangnya. Tendangan itu dilakukan tidak dengan
lompatan yang tinggi.
Wuttt!
Winarti menyadari kalau dirinya
bukan tandingan Mahendra. Ilmu lawan yang aneh itu benar-benar membuatnya
bingung dan hilang akal. Oleh karena itu ketika melihat ayahnya telah menyerbu
Mahendra, dirinya langsung melesat keluar dari kancah pertarungan.
Mahendra sama sekali tidak
mengejar Winarti. Karena saat itu, serangan Raja Monyet Tangan Delapan tengah
meluncur ke punggungnya. Disadari betapa dahsyatnya serangan tokoh yang mirip
kera besar itu. Kalau dirinya bertindak kurang cepat, bukan mustahil nyawanya
akan melayang saat itu juga.
"Hih!" Dug!
Mahendra dengan cepat sekali
membalikkan tubuh sehingga berhadapan dengan Raja Monyet Tangan Delapan. Lalu
tanpa ragu-ragu lagi dipapaknya tendangan terbang tokoh yang mirip kera besar
dengan kakinya pula. Akibatnya....
Dukkk!
Benturan keras antara dua batang
kaki yang sama-sama dialiri tenaga dalam tinggi pun terjadi. Bunyi keras
seperti halilintar menyambar membuat suasana di sekitar tempat itu tergetar
hebat
Akibat yang lebih hebat menimpa
kedua tokoh itu. Karena Mahendra berada di pihak yang bertahan, tubuhnya
merasakan getaran hebat dari benturan itu. Tetapi yang jelas kedua tubuh nampak
sama-sama terpental ke belakang.
Duggg!
Pada saat yang bersamaan dengan
mendaratnya Raja Monyet Tangan Delapan di tanah, Mahendra berdiri dengan
kepalanya.
Untuk beberapa saat lamanya
pertarungan terhenti. Kedua belah pihak saling tatap. Agak aneh, karena Raja
Monyet Tangan Delapan harus agak menundukkan kepala untuk melakukan hal itu.
"Siapa kau sebenarnya,
Pemuda Sombong! Dan mengapa kau sepertinya memusuhi kami?" tanya Raja
Monyet Tangan Delapan ingin tahu.
Pertanyaan ini membuktikan kalau
Raja Monyet Tangan Delapan seorang yang cerdik. Dirinya menyadari kalau
Mahendra memiliki kepandaian tinggi. Bahkan mungkin tidak kalah dengannya.
Apabila terjadi pertarungan, dan di antara mereka ada yang tewas, lainnya pasti
terluka parah! Dan, tokoh yang mirip kera besar ini tidak ingin mempertaruhkan
risiko yang demikian besar tanpa lebih dulu mengetahui secara jelas masalah
yang tengah mereka perselisihkan.
"Dengar baik-baik, Iblis
Keparat!" seru Mahendra keras. Suaranya terdengar aneh, akibat sikap
berdi-rinya yang tidak semestinya. "Ingatkah kau akan Malaikat Ruyung yang
keluarga dan perguruannya telah kau musnahkan?"
"Ooo...!" mulut Raja
Monyet Tangan Delapan langsung membulat. Kepalanya pun terangguk-angguk.
"Aku mengerti sekarang! Jadi..., kau putra Malaikat Ruyung, hehhh?! Dan
kau ingin membalas dendam kematian seluruh keluarga dan Perguruan Ruyung Baja
milik ayahmu itu?"
"Tidak salah!" tandas
Mahendra keras. "Dan sekaranglah saatnya hutang nyawa itu harus kau tebus,
hih!"
Dug! Dug!
Dengan mengandalkan kepala,
Mahendra melompat-lompat menghampiri Raja Monyet Tangan Delapan. Dan ketika
jaraknya dekat, kedua kakinya melayang ke tubuh tokoh mirip kera besar itu.
Wut! Wut!
Raja Monyet Tangan Delapan nampaknya
telah siap menghadapi serangan seperti itu. Sehingga, tidak sedikit pun rasa
gugup menghadapi serangan itu. Buru-buru dipapaknya dengan kedua tangannya.
Pada saat yang bersamaan, kaki kanannya diayunkan ke arah ulu hah Mahendra.
Plak! Plak! Dukkk!
Tiga benturan keras terdengar
berturut-turut ketika tangan dan kaki itu berbenturan berkali-kali. Tubuh Raja
Monyet Tangan Delapan tergetar, sedangkan sikap tubuh Mahendra bergoyang-goyang
hampir ambruk. Gerakan melompat menggunakan kepala itu berhasil memperbaiki
kedudukannya yang tak menguntungkan itu. Dari benturan yang terjadi tadi jelas
kalau tenaga dalam Mahendra belum bisa menyamai tenaga dalam Raja Monyet Tangan
Delapan.
Sebagai seorang datuk kaum sesat
yang mempunyai banyak pengalaman, Raja Monyet Tangan Delapan mengetahui
keunggulannya. Dan dia pun tahu kalau saat itu lawannya tengah berada dalam
kedudukan yang tidak menguntungkan. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, segera
dilancarkan serangan susulan. Sesaat kemudian, kedua belah pihak telah terlibat
dalam pertarungan sengit
Raja Monyet Tangan Delapan
menyadari kalau Mahendra memiliki kepandaian tinggi dan ilmu 'Pembalik Jagat'
yang aneh. Maka tanpa ragu-ragu lagi segera dikeluarkan ilmu 'Tangan
Seribu'nya. Akhirnya pertarungan antara dua tokoh yang berbeda usia, namun
memiliki ilmu ilmu yang sealiran itu berlangsung semakin seru.
Unik dan terlihat menggelikan
pertarungan yang tengah berlangsung. Namun semua orang yang menyaksikan
jalannya pertarungan itu tahu kalau setiap gerakan Mahendra maupun Raja Monyet
Tangan Delapan mampu mengirim nyawa masing-masing ke alam baka. Mereka pun menyaksikannya
dengan perasaan tegang.
Kali ini jalannya pertarungan
tidak seperti ketika Mahendra menghadapi Winarti. Raja Monyet Tangan Delapan
seorang datuk kaum hitam dan telah memiliki pengalaman bertempur tak terhitung,
sehingga sedikit banyak bisa menerapkan taktik yang baik untuk menghadapi ilmu
aneh Mahendra.
Apalagi, dulu pernah menyaksikan
Songka Lawung mempertunjukkannya. Bahkan mereka sering berlatih menggunakan
ilmu masing-masing. Sehingga ilmu 'Pembalik Jagat' tidak terlalu membingungkan
Raja MonyetTangan Delapan.
Pertarungan antara kedua tokoh
sakti itu semakin dahsyat. Jangankan terkena secara telak, terkena angin
serangan mereka pun cukup untuk menghabisi nyawa mereka.
Jurus demi jurus berlangsung
begitu cepat karena baik Mahendra maupun Raja Monyet Tangan Delapan memang
memiliki gerakan yang sama-sama cepat. Saking cepatnya, jangankan Naga Berekor
Sembilan dan yang lain-lainnya, mata Winarti sendiri tak dapat melihat dengan
jelas pertarungan yang tengah berlangsung.
Tak terasa pertarungan telah
menginjak jurus ke tujuh puluh. Dan selama itu belum terlihat adanya pihak yang
akan menang, pertarungan masih berlangsung seimbang.
Hal ini membuat Raja Monyet
Tangan Delapan semakin penasaran. Disadari jika taktik pertarungan tidak
diubah, keadaan yang berlangsung akan tetap seperti ini. Maka, tokoh yang mirip
kera besar ini mempersiapkan siasat untuk secepat mungkin bisa mengakhiri
pertarungan.
Dan siasat itu dilaksanakannya
pada jurus kesembilan puluh tiga. Sambil melompat ke belakang untuk mengelakkan
serangan, Raja Monyet Tangan Delapan mengambil sesuatu dari balik pakaiannya.
Kemudian dilemparkannya ke tubuh Mahendra.
Karuan saja Mahendra yang sama
sekali tidak menyangka akan terjadinya peristiwa itu kaget bercampur gugup.
Buru-buru tubuhnya mengelak dengan melompat ke belakang. Dan....
Glaaarrr...!
Benda yang dilemparkan Raja
Monyet Tangan Delapan meledak menghantam tanah. Disusul dengan munculnya asap
kehijauan.
"Racun" desis Mahendra
kaget ketika sempat mengisap asap itu yang membuat kepalanya langsung pening.
Dengan cepat tubuhnya melenting beberapa kali ke belakang untuk menjauhi.
Dug! Dug! Dug!
Tapi tindakan Mahendra sudah
diperhitungkan Raja Monyet Tangan Delapan. Maka tokoh mirip kera itu pun
menggerak-gerakkan kedua tangannya. Seketika itu pula dari kedua tangan yang
digerak-gerakkan berhembus angin keras yang membuat asap asap beracun itu terus
mengejar Mahendra.
Kontan Mahendra kelabakan ketika
asap asap beracun itu menyelubungjnya. Dan tak dapat dicegahnya lagi, Mahendra
mengisap asap itu. Akibatnya, rasa pusing yang menderanya pun semakin
menjadi-jadi. Dirasakan kepalanya menjadi berat dan pandangannya
berkunang-kunang. Sesaat kemudian semua yang terlihat Mahendra menjadi gelap.
Dan....
Brukkk!
Tubuh Mahendra ambruk di tanah.
Pemuda berpakaian biru yang sakti dan memiliki ilmu menggiriskan itu roboh
pingsan.
"Ha ha ha...!"
Raja Monyet Tangan Delapan
tertawa bergelak melihat lawan tangguhnya roboh tak berdaya. Sesaat kemudian
sekitar tempat itu pun dipenuhi gelak tawa dari mulut seluruh anak buah Raja
Monyet Tangan Delapan. Tawa kemenangan yang sarat kegembiraan dan kebanggaan.
***
"Uuuh...!"
Mahendra mengeluarkan keluhan
panjang. Kepalanya dirasakan masih berat bukan kepalang, sehingga dirinya belum
mau membuka matanya. Dan dalam keadaan sepasang mata terpejam, dicobanya untuk
menggerakkan tubuhnya. Ternyata tidak mampu.
Tentu saja hal itu menyebabkan
Mahendra merasa penasaran. Dicobanya lagi sebelum akhirnya menyadari kalau
dirinya terbelenggu
"Ha ha ha...!"
Suara tawa keras bergelak yang
penuh dengan nada ejekan membuat Mahendra mulai teringat akan kejadian yang
dialaminya. Dibukanya mata. Tampak di hadapannya Raja MonyetTangan Delapan,
Winarti, dan belasan tokoh golongan hitam.
"Merontalah, Kunyuk Kecil!
Ingin kulihat, mampukah kau membebaskan diri?!" ejek Raja MonyetTangan
Delapan lagi.
"Cuhhh!"
Mahendra meludah ke samping. Lalu
usahanya untuk meronta-ronta dihentikan. Disadari kalau sekarang tubuhnya telah
terbelenggu pada sebuah tonggak besi. Kedua tangan dan kakinya diikat ke
belakang. Sementara di sekeliling tonggak-tonggak itu terhampar tumpukan-tumpukan
kayu. Tanpa berpikir lebih lama lagi pun, Mahendra tahu kalau tubuhnya akan
dibakar hidup-hidup.
"Sama sekali tidak kusangka
kekhawatiranku yang dulu menjadi kenyataan. Kau menjadi duri yang berusaha
merobohkanku! Dan sama sekali tidak kusangka pula kalau kau bisa mendapatkan
ilmu 'Pembalik Jagat'!" ujar Raja MonyetTangan Delapan lagi.
Ada perubahan pada wajah Mahendra
begitu mendengar ucapan Raja Monyet Tangan Delapan. Hal itu terjadi karena
merasa terkejut mendengar tokoh yang mirip kera besar itu mengenal nama
ilmunya.
"Kau kaget, Kunyuk Kecil?!
Kau tidak menyangka kalau aku bisa mengetahui ilmumu ini. Ho ho ho...!
Ketahuilah, sebelum kau tahu apa-apa. Aku telah tahu ilmu 'Pembalik Jagat' itu.
Aku tahu dari mana asal mulanya. Dan pencipta ilmu itu bukan gurumu. Kau kaget?
Aku tahu siapa gurumu, Kunyuk Kecil! Si Songka Lawung!" lanjut Raja
MonyetTangan Delapan.
"Jadi..., jadi... kau orang
yang telah mencelakakan guruku?! Kaukah saudara seperguruannya?!" ucap
Mahendra terbata-bata. Ada penyesalan dalam suaranya.
"Aku ingin tahu, bila kau
kubakar hidup-hidup, apakah gurumu akan menolongmu, Mahendra?!" ujar Raja
Monyet Tangan Delapan keras. "Naga, bakar!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Naga Berekor Sembilan segera melangkah maju. Obor dalam genggamannya diangkat
tinggi ke udara. Siap membakar tumpukan kayu bakar yang telah disirami minyak!
Memang Songka Lawung pernah
menceritakan riwayatnya pada Mahendra, bagaimana saudara seperguruannya
bermaksud membunuhnya. Kalau saja dia tidak menemukan sebuah lubang yang menuju
ke luar sumur, mungkin sudah tewas.
Meskipun Mahendra bertahun-tahun
bersamanya, Songka Lawung tak mau mengatakan pada Mahendra kalau Raja Monyet
Tangan Delapan itu saudara seperguruannya. Padahal kakek itu mengetahuinya.
Ah! Mengapa aku demikian bodoh?!
Mahendra memaki dirinya sendiri dalam hati. Kalau saja pikiran Mahendra tidak
terlalu dirasuki keinginan untuk membalas
dendam, tentu dirinya sudah bisa
menduganya. Sebab, sebagian besar ilmu-ilmu yang dipergunakan Winarti dan Raja
Monyet Tangan Delapan mempunyai kemiripan dengan yang dimilikinya.
"Aku ingin tahu, apakah
gurumu akan menolongmu bila kau kubakar hidup-hidup!" ujar Raja Monyet
Tangan Delapan keras, sehingga membuat Mahendra tersadar kembali dari alun
pikirannya.
"Kau boleh melakukan
tindakan apa pun terhadapku, Monyet! Tapi, ketahuilah usaha yang kau lakukan
akan sia-sia. Beliau sudah tidak berniat terjun ke dunia persilatan lagi!"
tandas Mahendra.
"Kita lihat saja
nanti!" sergah Raja MonyetTangan Delapan. "Naga, bakar!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Naga Berekor Sembilan segera melangkah maju. Obor menyala yang sejak tadi
berada dalam genggamannya, diangkat tinggi-tinggi ke udara. Dengan senyum
mengejek menghias bibir ditujukan kepada Mahendra, Naga Berekor Sembilan
bersiap menyulut tumpukan kayu bakar yang telah disirami minyak
"Guru...! Ayah, Ibu, dan
semua kakak seperguruanku, maafkan atas kegagalanku ini!" teriak Mahendra
lantang.
Tidak sedikit pun terlihat
perasaan gentar, baik dalam raut wajah maupun tatapan matanya. Bahkan dengan
tatapan tajam, diperhatikannya semua gerak-gerik Naga Berekor Sembilan.
Selangkah demi selangkah jarak
Naga Berekor Sembilan semakin dekat dengan tumpukan kayu bakar. Hanya tinggal
beberapa langkah lagi, dan kobaran api pun akan membakar Mahendra hidup-hidup.
Di saat yang amat gawat itu,
mendadak.... Singgg! Tukkk!
"Akh...!"
Naga Berekor Sembilan menjerit
tertahan ketika sebuah kerikil sebesar ibu jari kaki menghantam sikunya.
Seketika itu pula tangannya langsung lumpuh. Maka tanpa dapat dicegahnya, obor
itu jatuh ke tanah.
Dan sebelum Naga Berekor Sembilan
atau semua orang yang berada di situ sempat berbuat sesuatu, dua sosok bayangan
berkelebat. Dan tahu-tahu di tempat itu, telah berdiri membelakangi Mahendra,
Melati, dan Dewa Arak!
"Keparat! Monyet-monyet tak
tahu diri! Sungguh berani kalian mencampuri urusanku?!" bentak Raja Monyet
Tangan Delapan dengan suara menggeledek menandakan besarnya kemarahan yang
melanda hati.
Tokoh yang mirip kera besar ini
seperti juga yang lain-lainnya tidak sempat berbuat sesuatu. Di samping mereka
sama sekali tak menyangka, kejadiannya pun berlangsung demikian cepat. Bahkan
Naga Berekor Sembilan yang sempat mendengar dan melihat meluncurnya benda kecil
ke tubuhnya tidak sempat menghindar sama sekali.
"Raja Monyet Tangan Delapan!
Tindak kejahatan yang kau lakukan telah melampaui batas. Orang seperti kau
harus dilenyapkan selama-lamanya dari muka bumi!" ucap Dewa Arak tenang.
Masih dengan sikap tenang, pemuda
berambut putih keperakan itu mengambil guci araknya, dan menuangkan ke
mulutnya.
Gluk...! Gluk...! Gluk...!
Bunyi tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian ada hawa hangat yang
berputaran di perut Dewa Arak. Perlahan-lahan hawa hangat itu merayap ke atas.
Kontan tubuh Dewa Arak iimbung. Kedudukan kedua kakinya
sudah tidak tetap lagi di tanah.
Hal ini menjadi pertanda kalau Dewa Arak telah siap menggunakan ilmu 'Belalang
Sakti' andalannya.
"Ah! Rupanya kau, Dewa
Arak?! Sungguh kebetulan! Sudah lama aku mendengar julukanmu yang
menggemparkan. Sama sekali tak kusangka kau akan datang ke sini! Pucuk dicinta
ulam tiba! Aku tak perlu repot-repot lagi mencarimu! Mimpi apa aku semalam
sehingga bisa sekaligus mendapatkan pemuda berpakaian biru dan dirimu!
Bersiap-siaplah untuk menerima kematian Dewa Arak!"
Usai berkata demikian Raja Monyet
Tangan Delapan langsung menerjang Dewa Arak. Kebetulan pemuda berambut putih keperakan
itu memang telah siap, dan langsung menyambutinya. Tak pelak lagi, sesaat
kemudian keduanya telah terlibat dalam pertarungan.
Melihat ayahnya telah terlibat
dalam pertarungan dengan Dewa Arak, Winarti tidak tinggai diam. Tanpa bicara
sepatah kata pun diterjangnya Melati. Karena ingin buru-buru menyelesaikan
urusannya, Winarti langsung saja menggunakan senjata andalannya.
Sit! Sit!
Bunyi mendesit terdengar ketika
sepasang sumpit itu meluncur ke tubuh Melati. Namun bunyi itu langsung tertutup
ketika Melati mencabut pedangnya, kemudian membolang-balingkan di depan dada
dalam penggunaan ilmu 'Pedang Seribu Naga'!
Wunggg! Wunggg!
Dan seperti juga yang terjadi
antara Dewa Arak dengan Raja Monyet Tangan Delapan, pertarungan antara Melati
dan Winarti pun terjadi.
Kini yang belum mendapatkan lawan
adalah Naga Berekor Sembilan dan kawan-kawannya. Namun, hal itu sama sekali tak
menjadi masalah bagi mereka. Karena begitu empat tokoh sakti itu terlibat
pertarungan, Naga Berekor Sembilan dan kawan-kawannya langsung mengalihkan
pandangan, menyaksikan pertarungan sengit itu.
Kesempatan itu dipergunakan
Mahendra. Dia tahu Naga Berekor Sembilan dan kawan-kawannya tengah terlupa.
Maka harus dipergunakan saat itu sebaik-baiknya, karena jika Naga Berekor
Sembilan mengetahuinya jelas nyawanya tak mungkin terselamatkan. Dewa Arak dan
Melati sulit untuk diharapkan pertolongannya karena tengah sibuk menghadapi
lawan masing-masing.
Mahendra memusatkan perhatian.
Dia menyadari kalau racun yang masuk ke tubuhnya racun pembius. Dan pengaruh
itu pun sudah mulai berkurang, kini yang tinggal hanya rasa lemas di tubuhnya.
Mahendra sadar bahwa rasa lemas
di tubuhnya tidak hanya karena racun pembius dari Raja Monyet Tangan Delapan,
melainkan totokan yang membuat aliran darahnya tersumbat
Tapi Mahendra tahu, dia mempunyai
kelainan ketimbang orang lain. Berkat latihan-latihan yang dilakukannya ketika
hendak mendapatkan ilmu 'Pembalik Jagat', aliran dan jalan darahnya bisa
diatur. Mahendra mampu memindahkan jalan darah di dalam tubuhnya. Dan masih
banyak lagi keistimewaan lain yang dapat dikuasai selama berguru kepada Ki
Songka Lawung.
Sadar akan kelebihan yang
dimilikinya, membuat pemuda berpakaian biru itu berusaha untuk membebaskan
totokan yang membuatnya tidak berdaya. Mahendra tahu kalau bukan dirinya
rasanya tidak mungkin bisa membebaskan diri dari kungkungan totokan Raja Monyet
Tangan Delapan. Jadi, ketika Dewa Arak, Melati, Winarti, dan Raja Monyet Tangan
Delapan berusaha sekuat tenaga untuk secepat mungkin menaklukkan lawan. Dan
Naga Berekor Sembilan serta kawan-kawannya sibuk memperhatikan jalannya
pertarungan, Mahendra pun sibuk untuk dapat segera melepaskan diri dari
pengaruh totokan Raja Monyet Tangan Delapan.
Sementara itu di arena,
pertarungan antara Mahendra dan Raja Monyet Tangan Delapan berlangsung jauh
lebih menarik daripada pertarungan antara Melati melawan Winarti. Baik Dewa
Arak maupun Raja Monyet Tangan Delapan harus mengakui kalau lawan yang dihadapi
amat tangguh.
Betapapun kedua belah pihak telah
mengeluarkan seluruh kemampuan, hingga empat puluh jurus, pertarungan belum
mengaiami perubahan. Pertarungan masih berlangsung seimbang. Ternyata Dewa Arak
maupun Raja Monyet Tangan Delapan memiliki tingkat yang
sama, baik tenaga dalam maupun
ilmu meringankan tubuh. Jadi, akhir dari pertarungan ini hanya ditentukan mutu
ilmu silat masing-masing dan pengalaman bertarung.
Dalam bidang pertarungan,
meskipun memang jumlah pertarungan yang dilakoni Dewa Arak belum bisa
dibandingkan dengan Raja Monyet Tangan Delapan. Namun, hal itu hampir tidak
banyak berpengaruh, karena Dewa Arak pun telah banyak melakukan berbagai
pertarungan maut melawan tokoh tokoh sakti yang berkepandaian tinggi.
Ternyata dalam mutu ilmu silat
pun rupanya tidak bisa ditarik keuntungan. Ilmu 'Tangan Seribu' ternyata cukup
mampu menanggulangi kedahsyatan ilmu 'Belalang Sakti'. Buktinya, setelah
pertarungan melewati seratus jurus keadaan belum berubah.
Seperti juga halnya pertarungan
Dewa Arak dan Raja Monyet Tangan Delapan, pertarungan antara Melati dan Winarti
pun berlangsung seimbang. Seperti telah diatur saja. Kemampuan mereka pun
hampir sama. Hanya saja Melati lebih unggul dalam ilmu meringankan tubuh.
Sedangkan Winarti unggul di bidang lainnya. Akhirnya, dengan sedikit kelebihan
dan kekurangan itu, pertarungan jadi berlangsung imbang.
Tapi menginjak jurus kedua ratus,
mulai ada perubahan dalam pertarungan antara Dewa Arak dan Raja Monyet Tangan
Delapan. Tokoh mirip kera besar ini mulai merasa lelah. Tenaga dan kegesitannya
pun berkurang. Apalagi bila diingat, Raja Monyet Tangan Delapan telah berusia
cukup lanjut.Tak aneh kalau dirinya segera merasa lelah.
Hal yang dialami Raja Monyet
Tangan Delapan tidak dialami Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan itu
tetap segar bugar seperti semula. Karena sebentar-sebentar sempat meminum
araknya. Bahkan tadi, beberapa kali sewaktu tengah diserang Dewa Arak
enak-enakan menenggak araknya. Justru karena arak itulah Dewa Arak selalu
berada dalam keadaan segar. Setiap kali tenaga dan kegesitannya mengendur,
menenggak araknya, kembali pulih seperti sediakala
Perlahan-lahan Dewa Arak mulai
bisa mendesak Raja Monyet Tangan Delapan. Karuan saja tokoh yang mirip kera
besar ini merasa khawatir bukan kepalang. Di hatinya juga terselip rasa kagum
melihat Dewa Arak masih tetap segar bugar, padahal telah bertarung sedemikian
lamanya.
Raja Monyet Tangan Delapan
menyadari keadaan kalau dirinya tidak akan mungkin bisa menundukkan Dewa Arak.
Siasat yang berhasil merobohkan Mahendra pun segera dipergunakan untuk pemuda
berambut putih keperakan yang berjuiuk Dewa Arak itu. Namun hasilnya tidak
sama. Dewa Arak tidak bisa disamakan dengan Mahendra yang masih hijau. Dewa
Arak seorang pendekar besar yang telah kenyang dengan pengalaman sehingga tidak
mudah dikelabui.
"Hiaaat..!"
Pada jurus kedua ratus lima
belas, sambil mengeluarkan teriakan menggelegar Dewa Arak menerjang Raja Monyet
Tangan Delapan. Tangan kirinya dengan kedudukan jari-jari tangan terbuka
ditepakkan ke dada.
Raja Monyet Tangan Delapan
bertindak nekat. Dirinya sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Dikumpulkan
seluruh sisa tenaganya dan dipapaknya serangan Dewa Arak dengan tindakan
serupa.
Plakkk!
"Arrrggghhh...!"
Raja Monyet Tangan Delapan
memekik penuh kengerian. Tubuhnya melayang ke belakang bagai layang-layang
putus.
Anehnya, tubuh Raja Monyet Tangan
Delapan melayang ke tumpukan kayu yang mengelilingi tiang tempat Mahendra
terbelenggu. Dan...
"Hih!"
Sebelum tubuh Raja Monyet Tangan
Delapan jatuh di tumpukan kayu itu, Mahendra yang sejak tadi berjuang keras
untuk membebaskan diri, berhasil. Cepat, pemuda ini melompat memapak tubuh Raja
MonyetTangan Delapan.
Tukkk!
Sebuah totokan dilancarkan
Mahendra membuat tubuh Raja Monyet Tangan Delapan lemas tak berdaya. Akibatnya,
tubuh datuk sesat yang menggiriskan itu jatuh berdebuk di
hamparan kayu! Sedangkan
Mahendra, begitu berhasil mendaratkan kedua kakinya di tanah, langsung saja
menggosok-gosokkan dua batang kayu.
Bruakkk...!
Tanpa menemui kesulitan, api pun
tercipta. Kemudian tanpa buang-buang waktu dilemparkannya api itu ke hamparan
kayu. Seketika api berkobar membakar tumpukan kayu. Dan tak pelak lagi tubuh
Raja MonyetTangan Delapan yang berada di sana diselimuti kobaran api! Jerit
kematian pun keluar dari mulut tokoh yang mirip kera besar itu.
"Huaaakhhh...!"
"Ayah...!" "Ketua...!"
Hampir berbarengan Winarti dan
anak buah Raja Monyet Tangan Delapan memekik kaget melihat kejadian yang sama
sekali tidak tersangka-sangka itu. Kejadian itu begitu cepat dan tak terduga.
Sehingga Dewa Arak sendiri tidak sempat berbuat sesuatu. Karena saat itu
dirinya pun baru saja mendarat di tanah.
Sementara itu bagai diberi
perintah, Winarti dan anak buah Raja Monyet Tangan Delapan meluruk ke kobaran
api. Malang, bagi Winarti. Saat itu, pedang Melati tengah meluncur deras ke
punggungnya.
Jrabbb! "Hukh!"
Pedang Melati menancap di
punggung Winarti hingga tembus ke perut. Seketika itu langkah gadis berpakaian
jingga terhenti. Sepasang matanya membelalak lebar. Dan ketika Melati mencabut
pedangnya, tubuh putri Raja MonyetTangan Delapan itu ambruk ke tanah.
Nasib yang sama dialami oleh Naga
Berekor Sembilan dan kawan-kawannya. Mereka yang tengah melesat ke tubuh Raja
Monyet Tangan Delapan, dan kalau mampu bermaksud menolongnya, disambut
kayu-kayu berapi yang dilontarkan Mahendra.
Wuuukkk! Bletak.... Bletak!
"Aaakh...!" "Aaakh...!"
Jeritan menyayat terdengar
susul-menyusul ketika tubuh-tubuh mereka diterjang kayu-kayu berapi Tubuh Naja
Berekor Sembilan dan kawan-kawannya bergulingan di tanah meregang nyawa.
Sementara api terus berkobar membakar tubuh-tubuh mereka yang berkelojotan.
"Ayah.... Ibu....
Kakak-kakak seperguruan semua..., lihatlah! Aku telah berhasil membalaskan
dendam kalian, Tenanglah, di alam baka!" seru Mahendra sambil mendongakkan
kepalanya ke langit ketika tubuh Naga Berekor Sembilan dan kawan-kawannya tak
bergerak lagi.
Terlihat jelas kalau sepasang
mata pemuda berpakaian biru itu berkaca-kaca. Bahkan suaranya pun tergetar.
Ucapan itu dikeluarkan dengan penuh perasaan.
Dewa Arak dan Melati hanya bisa
menghela napas dan memandang punggung Mahendra. Kedua pendekar muda sadar tak
dapat berbuat apa-apa lagi. Mahendra telah menyelesaikan tugasnya. Sementara
itu api terus membesar dan membumbung tinggi. Bangunan tempat tinggal Raja
Monyet Tangan Delapan sebentar lagi akan musnah. Maka, sepasang pendekar muda
itu pun mengayunkan langkah meninggalkan halaman depan tempat tinggal Raja
Monyet Tangan Delapan.
SELESAI
No comments:
Post a Comment