MISTERI
RAJA RACUN
oleh Aji Saka
1
"Ck, ck, ck...!" Ctar,
ctar, ctar...!
Suara decakan pelan, lecutan
cambuk, langkah kaki kuda, dan gemeretak roda kereta kuda menggilas jalan,
memecah keheningan pagi.
Saat itu suasana pagi masih
menyelimuti mayapada. Sang Surya belum begitu jauh bergeser dari tempat
terbitnya. Sinarnya masih terasa lembut menghangatkan kulit. Desir angin pun
masih membawa hawa kesegaran.
Dan lelaki yang duduk di bangku
kusir kereta itu pun nampaknya tahu benar manfaat udara pagi seperti itu.
Beberapa kali ditariknya napas dalam-dalam, seakan-akan ingin mengisi rongga
dadanya dengan udara bersih yang terus menerpa wajahnya.
Kusir kereta itu seorang lelaki
bertubuh tegap dan kekar. Wajahnya yang nampak segar kemerahan pertanda kalau
lelaki itu memiliki tubuh yang sehat. Meskipun
sebagian rambut di kepala telah
memutih, karena usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Ck, ck, ck...!"
Untuk kesekian kali, mulut lelaki
kekar yang mengenakan pakaian coklat itu berdecak. Kemudian dengan pelan sekali
cambuknya dilecutkan ke punggung kuda. Lecutan itu tidak sekeras lazimnya kusir
yang menghendaki kudanya agar bergerak lebih cepat.
Kereta sederhana yang ditarik
seekor kuda itu terus bergerak meninggalkan jalan berbatu-batu yang sulit untuk
dilalui. Tak jauh di depan kereta yang berjalan terseok-seok itu tampak
membentang sebuah hutan lebat.
"Kalau kita telah melewati
hutan itu, kau bisa beristirahat, Putih," kata lelaki berpakaian coklat
itu sambil menatap kudanya. Ternyata, kuda putih penarik kereta itulah yang
barusan dipanggil Putih.
Aneh juga tingkah laku lelaki
itu. Kalau saja ada orang melihat tingkah lakunya itu, mungkin akan merasa
heran. Betapa tidak? Seorang manusia tampak akrab berbicara dengan seekor kuda.
Namun, rupanya kuda putih itu
berbeda dengan kuda umumnya. Kuda putih penarik kereta itu meskipun tak dapat
berbicara seperti manusia, seakan-akan mengerti benar ucapan lelaki itu.
Buktinya, kuda itu langsung meringkik pelan, dan segera mempercepat langkahnya.
Padahal, lelaki berpakaian coklat itu sama sekali tidak mencambuknya.
Tak lama kemudian, kereta kuda
itu mulai memasuki mulut hutan yang cukup besar dan menyeramkan. Pepohonan di
dalam hutan itu besar-besar dan menjulang tinggi. Kelebatan pepohonan
menghalangi sinar matahari menembus ke dalam hutan itu. Sehingga suasana pagi
hari di dalam hutan terlihat begitu remang-remang.
Meskipun keadaan hutan yang
bernama Hutan Gendar itu cukup menyerarnkan, lelaki berpakaian coklat itu tidak
cemas sedikit pun. Nampaknya dia tahu pasti tentang hutan itu. Itulah sebabnya,
meski sendirian, lelaki itu dengan tenang memasuki hutan lebat itu.
Gemeretak bunyi roda, langkah
kaki kuda, dan sesekali decakan mulut lelaki itu seolah-olah memecah kesunyian
hutan. Namun, betapa kagetnya hati lelaki tua yang duduk di kereta kuda itu
ketika melihat kemunculan
beberapa sosok berpakaian hitam.
Wajah mereka tak dapat dikenali karena tertutup selubung kain hitam.
Mereka langsung bergerak menyebar untuk mengepung dan menghadang kereta yang memasuki hutan
itu. Seketika lelaki berpakaian coklat itu menghentikan keretanya.
"Hhh...!"
Lelaki berpakaian coklat itu
mendesah dalam hati. Sebenarnya tadi telinganya mendengar suara berkerosakan
dalam hutan itu. Tapi dia tidak menaruh curiga sama sekali. Diduganya, suara
berkerosakan itu hanya disebabkan binatang-binatang di dalam hutan. Sama sekali
hatinya tak menduga kalau ternyata yang muncul di hadapannya sosok-sosok
berpakaian serba hitam.
"Hm... siapa kalian? Mengapa
merintangi jalanku? Kalau kalian perampok, sia-sia saja kalian! Aku tidak punya
barang-barang berharga sama sekali!" tandas lelaki berpakaian coklat itu, seolah ingin memberi tahu.
"Perampok? Jaga mulutmu, Ki Gadung! Atau kuhancurkan mulutmu!"
bentak salah satu dari tiga orang yang berdiri di depan kereta.
"Hehhh...? Jadi, kalian
mengenalku? Hebat! Tidak kusangka kalau namaku demikian terkenal! Sekarang,
kuminta buka tutup muka kalian! Dan..."
"Diam...!" bentak
seseorang yang bertubuh tinggi kurus. "Turun dari keretamu! Cepat! Atau
aku harus menyeretmu turun!"
Kusir kereta yang ternyata
bernama Ki Gadung itu tercenung sejenak. Kemudian bangkit dari duduknya dan
melompat turun dari kereta.
"Hap!" Jiiggg!
Tanpa menimbulkan suara keras,
kedua kaki Ki Gadung mendarat di tanah. Dari lompatannya yang indah dan cepat
ini bisa diketahui kalau Ki Gadung pun mempunyai kepandaian silat yang perlu
diperhitungkan. Setidak-tidaknya dia menguasai ilmu meringankan tubuh yang
cukup tinggi.
"Hm...!"
Sosok berseragam hitam yang
bertubuh tinggi kurus mendengus. Sepasang mata yang terlihat melalui dua lubang
pada selubung itu, menatap
sekujur tubuh Ki Gadung dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Bunuh dia!" perintah
sosok tinggi kurus itu.
Perintah itu terdengar begitu
datar, seperti perintah untuk membunuh nyamuk atau tikus.
Ki Gadung tentu saja terkejut
mendengar uca-an sosok tinggi kurus yang dilihat dari tindak-tanduknya dialah
pemimpin gerombolan itu. Dan keterkejutan Ki Gadung semakin menjadi-jadi ketika
melihat sosok-sosok serba hitam itu mulai bergerak mendekatinya. Sehingga
keadaannya semakin terjepit.
"Tahan! Tunggu
sebentar!" cegah Ki Gadung, buru-buru. "Mungkin kalian salah orang.
Kurasa kita tidak pernah bertemu dan tak ada urusan antara kita!"
Ucapan Ki Gadung membuat mereka
yang tengah bergerak mendekat, menghentikan langkah. Mereka tidak berani
melancarkan serangan terhadap Ki Gadung, karena lelaki berpakaian coklat itu
kemudian terlibat percakapan dengan pimpinan mereka.
"Ha ha ha...!"
Sosok serba hitam yang bertubuh
tinggi kurus tertawa bergelak begitu mendengar ucapan Ki Gadung.
"Kau kira kami keliru? Ha ha
ha...! Bukankah namamu Gadung? Siapa yang tidak mengenalmu? Kau terkenal
sebagai orang yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Asalmu Desa
Gedong, kan?"
Tanpa sadar, Ki Gadung
menganggukkan kepala membenarkan.
"Nah, sekarang sudah jelas.
Bunuh dia!" perintah pemimpin gerombolan itu.
Orang-orang berseragam hitam itu
tidak ragu-ragu lagi bergerak ke arah Ki Gadung.
Srat, srat, srattt!
Cahaya berkilau pun segera nampak
ketika sosok berseragam serba hitam mencabut senjata masing-masing. Golok-golok
besar terhunus sudah diayun-ayunkan tangan mereka terarah ke tubuh Ki Gadung.
Sing, sing, sing!
Bunyi desing nyaring terdengar
dari golok-golok besar yang terayun-ayun membelah udara. Nampaknya ayunan
golok itu dibarengi pengerahan
tenaga dalam yang cukup kuat.
Ki Gadung segera sadar kalau saat
ini bukan waktunya lagi untuk berdebat kalau dirinya masih ingin selamat. Yang
harus dilakukannya sekarang mempersiapkan perlawanan.
Ki Gadung segera mencabut
sepasang pedang yang tergantung bersilangan di punggung.
Srat, srat!
Sinar-sinar yang tidak kalah
terang pun keluar dari kedua batang pedang Ki Gadung. Pedang itu mulai
terayun-ayun mencoba mengatasi serangan serangan gencar golok lawan.
Trang, trang, trang!
Suara riuh rendah teriakan dan
dentang senjata memecah keheningan hutan. Percikan bunga-bunga api dari
benturan senjata senjata tajam pun menambah semarak pertarungan.
Untuk sementara Ki Gadung
berhasil menangkis dan mengelakkan setiap serangan golok-golok besar itu. Tentu
saja Ki Gadung terus mempercepat gerakannya.
Kini Ki Gadung bersikap lebih
waspada. Dengan tajam kedua matanya memperhatikan tiap gerak-gerik lawan yang
berada di sekelilingnya. Lelaki berpakaian coklat ini telah bersiap-siap untuk menghadapi munculnya serangan
mendadak yang sewaktu-waktu berkelebat ke tubuhnya.
***
Sementara itu, sosok-sosok
berseragam hitam yang masih mengepung Ki Gadung pun tidak kalah waspada dalam bertindak. Dengan langkah hati-hati, mereka mendekati Ki Gadung. Selangkah demi selangkah
kepungan itu pun semakin menyempit.
"Haaat...!"
Diawali sebuah teriakan keras,
tiga dari sembilan sosok berpakaian hitam yang mengurung, langsung
melancarkan serangan. Namun Ki Gadung nampak tidak begitu terkejut, karena
sejak tadi sudah bersiap menghadapi setiap serangan. Maka begitu serangan tiba,
Ki Gadung langsung menyambutnya.
Lelaki berpakaian coklat ini
secepat kilat memutar sepasang pedangnya di atas kepala seperti baling-baling.
Tak lama kemudian kedua pedang itu diayunkan memapak serangan lawan-lawannya.
"Hiaaat...!"
Trang! Trang! Trang!
Tiga serangan golok besar lawan
berhasil dipatahkan Ki Gadung. Bahkan akibat benturan itu, tiga penyerangnya
terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang.
Sedangkan Ki Gadung sendiri hanya tergetar saja.
Namun, lelaki berpakaian coklat
itu belum sempat berbuat sesuatu, serangan sosok-sosok berpakaian hitam lainnya
datang meluncur. Akibatnya, Ki Gadung kewalahan menghadapi serangan itu. Betapa
tidak? Serangan datang silih berganti. Namun, dalam keadaan terjepit, lelaki
berpakaian coklat ini terus mengadakan perlawanan sengit.
Pada jurus-jurus awal,
pertarungan berlangsung seimbang. Kedua belah pihak belum berani membuka diri.
Serangan-serangan dan elakan-elakan yang dilakukan sebagian besar hanya
bersifat penjajakan kemampuan terhadap lawan.
Tapi ketika pertarungan mulai
menginjak jurus ketiga puluh, Ki Gadung mulai kewalahan. Perlahan-lahan
serangannya menurun dan tidak segencar pada awal-awal pertarungan. Bahkan
akhirnya Ki Gadung lebih banyak melakukan gerakan menghindar.
Sekarang keadaan Ki Gadung tak
ubahnya seekor tikus kecil yang tengah dipermainkan sekelompok kucing. Ki
Gadung rerpontang-panting ke sana kemari berusaha menyelamatkan diri dari
setiap serangan lawan. Bahkan terkadang tubuhnya bergulingan di tanah,
sementara senjata lawan terus memburunya.
Dan pada jurus keempat puluh
tiga, salah seorang lawan yang bertubuh sedang melancarkan serangan berupa
sabetan mendatar ke arah leher. Buru-buru Ki Gadung merendahkan tubuhnya.
Wuttt!
Babatan golok itu lewat beberapa
jari di atas kepala Ki Gadung. Tapi belum sempat berbuat sesuatu, dari belakang
sebatang golok meluncur ke punggung. Dan...
Jrottt!
"Aaakh...!"
Ki Gadung terpekik keras. Darah
segar muncrat dari bagian punggungnya yang tertikam ketika golok yang menembus
punggung dicabut. Seketika itu pula tubuhnya tersungkur ke tanah, tidak berdaya
lagi.
"Tahan...!"
Terdcngar suara bentakan keras
mencegah, ketika sosok berseragam hitam itu hendak menghabisi nyawa Ki Gadung.
Seketika itu pula mereka mengurungkan tindakan itu. Mereka tahu suara bentakan
itu berasal dari mulut pemimpin mereka yang sejak awal berdiri sambil menyaksikan pertarungan dari kejauhan.
Dugaan mereka tidak salah. Suara
bentakan itu berasal dari sang Pemimpin. Dan melihat anak buahnya telah
menjatuhkan lawan, lelaki tinggi kurus ini mengayunkan langkah menuju anak buahnya. Maka, sosok-sosok berpakaian hitam yang
tengah berkerumun pun menyibak, memberi jalan pada pemimpinnya.
"Ha ha ha...!"
Lelaki tinggi kurus itu tertawa
bergelak penuh kemenangan. Masih dengan tawa yang belum putus ditatapnya Ki
Gadung yang tengah mengerang kesakitan.
"Itulah ganjaran bagi orang
yang terlalu usil!" ujar lelaki tinggi kurus. "Dan perlu diketahui,
kau bukan orang pertama yang kami lenyapkan. Sudah beberapa orang yang punya
keahlian sepertimu terpaksa kami lenyapkan. Kau tahu, kenapa?"
Tidak ada sambutan dari mulut Ki
Gadung atas pertanyaan lelaki tinggi kurus itu. Bagaimana mungkin Ki Gadung
akan dapat menjawabnya? Sedangkan ucapan pimpinan gerombolan berpakaian hitam
itu hanya samar-samar tertangkap telinganya. Ditambah lagi rasa sakit yang
teramat sangat, membuat pikirannya tak mampu
memperhatikan ucapan pemimpin gerombolan berpakaian serba hitam itu.
"Karena mereka mempunyai
sifat seperti kau. Gemar mencampuri urusan orang lain. Nah, sekarang terimalah
kematianmu!"
Setelah berkata demikian,
pemimpin gerombolan itu mencabut golok besarnya yang tergantung di punggung.
Srat!
"Hihhh...!"
Mata golok besar itu terayun siap
menebas leher Gadung. Semua mata anak buahnya telah siap menyaksikan suatu
pemandangan mengerikan, terputusnya batang leher Ki Gadung!
Tapi, tiba-tiba... Singgg! Tukkk!
Sebuah batu meluncur ke tangan
pemimpin yang tengah mengacungkan golok besarnya.
"Aaakh...!"
Jerit kesakitan keluar dari mulut
pemimpin ge-rombolan, ketika sebuah batu sebesar ibu jari menghantam punggung tangannya.
Telak dan keras. Tak aneh kalau pemimpin gerombolan itu merasa sakit bukan
kepalang. Goloknya sampai terlepas ke samping. Tubuhnya
membungkuk sambil mulutnya menyeringai kesakitan. Tangan kirinya nampak
memegangi punggung tangan kanannya yang kesakitan.
Dan sebelum laki-laki tinggi
kurus itu sempat berbuat sesuatu, seosok bayangan ungu berkelebat.
Wuttt! Tappp!
Begitu cepat sosok bayangan ungu
itu berkelebat. Sehingga, tak seorang pun dari mereka yang dapat melihat jelas
bentuknya.
Lelaki berpakaian serba hitam
begitu terkejut ketika melihat tubuh Ki Gadung sudah tidak ada di tempat
semula. Seketika mereka menduga kalau sosok yang barusan berkelebat begitu
cepat itu yang telah membawa tubuh Ki Gadung. Siapa lagi kalau bukan sosok ungu
itu, karena tak ada orang lain yang datang ke tempat ini.
Orang-orang berseragam hitam
segera mengalihkan pandangan ke arah melesatnya sosok bayangan ungu. Ternyata
benar, sekitar enam tombak dari tempat mereka tampak dua sosok tubuh.
"Siapa kalian, Keparat?! Dan
mengapa men-ampuri urusan kami?!" bentak lelaki tinggi kurus.
Tidak percuma lelaki tinggi kurus
ini menjadi pimpinan rekan-rekannya. Dia mampu menguasai perasaan. Sehingga,
meskipun kemarahan hebat melandanya, tidak langsung mengumbarnya. Pikirannya berputar untuk
mengungkap maksud campur tangan orang atas urusannya.
Sang pemimpin gerombolan ini
memperhatikan dua sosok tubuh yang berada di hadapannya. Yang satu, seorang
pemuda berpakaian ungu dengan rambut putih keperakan. Sedangkan di sebelahnya,
seorang gadis cantik berpakaian putih dengan rambut panjang tergerai, sedang
berlutut memeriksa luka Ki Gadung.
"Maaf! Bukan aku tidak mau
memperkenalkan diri. Tapi jika kalian bersedia membuka selubung, dengan senang
hati akan kusebutkan namaku!" jawab pemuda berpakaian ungu, kalem.
Ternyata pemuda itu yang telah
menyambar tubuh Ki Gadung dari kerumunan orang-orang berpakaian hitam tadi.
"Keparat! Kuberikan
kesempatan sekali lagi, apabila kau dan kawanmu tetap tidak mau memperkenalkan
diri, jangan salahkan kalau kami akan menangkapmu!" ancam laki-laki tinggi
kurus.
"Sudah kukatakan, aku dan kawanku akan memperkenalkan diri. Tapi dengan
syarat, kalian semua membuka selubung yang menutup wajah kalian. Bagaimana?
Setuju dengan usul kami?!" masih tetap tenang ucapan pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Keparat! Mampuslah kau...!
Hiyaaat…!"
Diiringi teriakan keras, lelaki
tinggi kurus itu melompat menerjang pemuda berambut putih keperakan. Sambil
melompat, pimpinan gerombolan berseragam hitam ini langsung mengirimkan sebuah tendangan
terbang dengan kaki kanan meluncur ke dada.
Wuttt!
Tendangan yang begitu cepat dan
keras itu cukup berbahaya, karena mendapat bantuan dari tenaga lompatan.
Pemuda berambut pulih keperakan
tetap bersikap tenang meskipun agak terkejut melihat tendangan yang begitu
cepat itu. Tidak nampak tanda-tanda kalau dirinya akan melakukan tangkisan atau
elakan. Baru ketika serangan itu meluncur hampir mengenai dadanya tanpa
menggeser kaki, tubuhnya dimiringkan ke kiri.
Kemudian gerakan menghindar itu
disusul dengan gerakan tangan yang cepat. Tangan kanannya dengan cepat sekali
menyambar pergelangan kaki kanan lawan.
Tappp!
Kaki kanan pimpinan gerombolan
itu berhasil dicekalnya. Tentu saja lelaki tinggi kurus itu kelabakan dan
begitu kaget. Belum sempat lelaki tinggi kurus itu berbuat sesuatu, tiba-tiba
pemuda berpakaian ungu itu telah lebih dulu menarik kakinya.
Kemudian dengan cepat pemuda
berpakaian ungu itu memutar-mutarkan tubuh lawannya di atas kepala.
Wuk! Wuk! Wuk...!
"Aaa...!"
Lelaki tinggi kurus itu menjerit.
Betapa tidak? Tubuhnya yang kurus itu diputar begitu cepat, hingga semua yang
berada di sekelilingnya seolah-olah berputar-putar. Kepalanya mulai merasa
pening tidak karuan, sedang perutnya terasa mual seperti hendak muntah.
Semua anak buahnya terlongong
bengong me-nyaksikan tubuh pimpinannya diputar-putar seperti itu.
Sementara, lelaki bertubuh kurus itu merasa
perutnya mual dan kepalanya pusing. Dia langsung menduga, jika pemuda itu
mempercepat putarannya, sudah pasti perutnya yang mual akan segera memuntahkan
isinya.
Tapi kekhawatiran pemimpin
gerombolan orang berseragam hitam ini ternyata tidak terjadi. Pemuda berambut putih keperakan itu tiba-tiba melepaskan cekalannya.
Wuttt! "Aaa...!"
2
Untuk yang kesekian kalinya,
tanpa sadar laki-laki tinggi kurus ini terpekik keras ketika tubuhnya terlempar
dengan deras. Untung saja tubuhnya terlempar ke semak-semak yang rimbun.
Gusrakkk!
Tubuh lelaki tinggi kurus itu
masuk ke semak-semak rimbun.
Kejadian itu berlangsung demikian
cepat. Sehingga, orang-orang berpakaian hitam yang lain tidak sempat berbuat
sesuatu untuk menolong pemimpin mereka. Baru ketika tubuh tubuh pemimpin itu
terjatuh ke dalam semak-semak, mereka tersadar.
Seiring dengan timbulnya
kesadaran itu, kemarahan pun menyeruak. Gerombolan itu pun segera menyerbu
pemuda berpakaian ungu di depan mereka.
Sing! Sing! Sing!
Desing suara ayunan golok-golok
membeset udara, terdengar ketika gerombolan berseragam hitam itu
mengayunkan senjatanya dengan cepat ke bagian tubuh pemuda berpakaian ungu itu.
Tujuh dari sembilan orang
berseragam hitam kini serentak menyerbu pemuda itu. Sedangkan dua lainnya
berlari ke semak-semak untuk menolong pemimpin mereka.
Tapi seperti juga sebelumnya,
pemuda berambut putih keperakan itu begitu tenang menghadapi serangan
lawan-barannya. Dia tetap berdiri di tempat semula. Tidak nampak tanda-tanda akan mengelak atau merubah kedudukan kaki. Bahkan hingga
serangan-serangan golok itu menghujani tubuhnya.
Trak! Trak! Trak!
Suara berdetak keras terdengar
seperti benturan antara dua benda yang terbuat dari logam, ketika golok-golok
itu mengenai sekujur tubuh pemuda itu. Tak satu pun serangan golok-golok itu
yang melukai kulit tubuhnya.
Dari kejadian ini bisa diketahui
kalau pemuda berambut putih keperakan itu memiliki tenaga dalam yang amat
tinggi. Dan jelas jauh di atas tingkat tenaga dalam lawan-lawannya.
"Hehhh...?!"
Orang-orang berpakaian hitam yang
menyerangnya terkejut bukan kepalang. Betapa tidak? Semula mereka menduga kalau
golok-golok mereka akan merobek kulit lawan. Kulit tubuh pemuda berambut putih
keperakan itu keras bagai batu. Tidak sedikit pun luka yang menggores tubuhnya.
Bahkan beberapa mata golok mereka gompal!
Ketika ketujuh orang berpakaian
serba hitam tengah dicekam rasa kaget dan heran, tiba-tiba tangan pemuda
berambut putih keperakan mengibas dengan cepat sekali. Sehingga orang-orang
yang berusaha menyerangnya tak sempat berkelit atau menangkis.
Buk, bukkk...!
"Uhk! Akh! Hugkh...!"
Suara jeritan tertahan terdengar
bersahutan ketika kedua tangan pemuda berambut putih keperakan itu mendarat di
tubuh tujuh orang lawannya. Pukulan tangan kosong itu terjadi begitu cepat.
Dalam waktu sekejap, tujuh orang
berseragam hitam itu terjengkang ke belakang. Tubuh mereka terguling-guling di
tanah.
Sementara itu kedua orang yang
memisahkan diri untuk menolong sang Pemimpin, menyeruak keluar dari balik
kerimbunan semak-semak. Mereka memapah lelaki tinggi kurus yang masih dalam
keadaan payah itu. Langkahnya masih goyah dan terseok-seok.
"Badai datang, gulung
layar...!" seru lelaki tinggi kurus pada tujuh orang anak buahnya yang
tengah berusaha bangkit dengan susah payah.
Kemudian tanpa menunggu ketujuh
anak buahnya siap, sang Pemimpin dan dua orang yang bersamanya segera
membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Ketujuh orang anak
buahnya yang baru dipecundangi pemuda berambut putih keperakan, berlari
menyusul, meskipun dengan langkah terseok-seok.
Pemuda berambut putih
keperakan hanya memperhatikan
sambil tersenyum. Sama sekali tidak
dicegahnya mereka melarikan diri.
Kemudian wajahnya segera dipalingkan pada rekannya yang tengah tertunduk lesu
mengawasi Ki Gadung.
"Bagaimana keadaannya,
Melati?" tanya pemuda berambut putih keperakan itu pelan.
"Hhh...!" gadis
berpakaian putih yang ternyata Melati, putri angkat Raja Bojong Gading itu
menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan itu. "Tidak ada harapan
lagi, Kang Arya. Luka-Iuka yang dideritanya terlalu parah. Jadi..., hanya
tinggal menunggu saatnya saja."
Pemuda berambut putih keperakan
yang d-panggil Arya atau lebih terkenal berjuluk Dewa Arak itu ikut
membungkukkan tubuh. Kemudian berjongkok dengan bertumpu pada ujung-ujung jari
kakinya.
Dewa Arak memperhatikan keadaan
Ki Gadung sejenak.
"Kau benar, Melati. Nyawanya
tidak mungkin bisa diselamatkan lagi. Kita harus cepat mengorek keterangan dari
mulutnya, untuk mengetahui penyebab bentrokan antara dirinya dengan gerombolan
berseragam hitam tadi."
"Kau benar, Kang,"
hanya itu yang bisa dikatakan Melati.
Dewa Arak melemparkan seulas
senyum sebagai tanggapan atas persetujuan kekasihnya. Segera perhatiannya
dialihkan pada Ki Gadung.
Keadaan lelaki berpakaian coklat
ini sudah payah sekali. Napasnya sudah terengah-engah dan dadanya bergerak
lambat.
"Katakan pada kami, Ki.
Mengapa mereka hendak membunuhmu? Dan siapa mereka?" tanya Arya tidak
sabar.
"Hhh... hhh... hhh...!"
Lelaki berpakaian coklat itu
tidak langsung menjawab pertanyaan Dewa Arak. Dia sibuk mengatur napasnya yang
tersengal-sengal.
"A..., aku... ti... tidak
tahu, Anak Muda.... Tapi..., sempat kudengar... mereka menuduhku telah
mencampuri urusannya. Hhh... hhh...!"
Sampai di sini Ki Gadung menghentikan
ucapannya. Keadaannya yang sudah payah, hingga tak mampu meneruskan ucapannya.
Meskipun keinginannya untuk menceritakan tentang kejadian yang dialami terlihat
sangat
besar. Terbukti, beberapa saat
kemudian ucapannya kembali dilanjutkan.
"Mereka mengatakan... hhh...
hhh..., sebelum aku, telah dibinasakan pula beberapa orang yang telah mencampuri urusan mereka... hhh...
hhh...."
"Apa sebenarnya urusan yang
mereka maksudkan itu, Ki?" tanya Melati yang sejak tadi hanya diam
mendengarkan.
"Aku..., aku...,
akh...!"
Lelaki berpakaian coklat itu belum sempat menuntaskan ucapan, maut telah lebih
dulu menjemputnya. Seketika itu pula kepalanya terkulai.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas berat!
Ditatapnya Melati, yang pada saat itu juga tengah menatapnya.
"Sayang dia tidak sempat
menyebutkan urusan yang dimaksudkannya itu, Kang," kata Melati pelan.
"Bukan hanya urusannya saja
yang tidak sempat kita ketahui, Melati. Nama dan tempat tinggalnya pun kita
tidak tahu. Hhh...! Persoalan ini belum jelas bagi kita," kata Arya
mengeluh.
"Tapi..., aku percaya kau akan bisa mengungkapkannya, Kang," jawab
Melati bernada yakin.
"Kau memang pandai
membesarkan hati orang, Melati," kata Dewa Arak sambil tersenyum.
"Persoalan ini harus segera
terungkap, Kang," snmbut Melati lagi.
"Sudahlah...! Mari kita urus
dulu mayat ini," ajak Arya, memutuskan pembicaraan.
Setelah itu, Dewa Arak lalu
mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia bermaksud mencari tempat yang layak
untuk mengubur mayat lelaki itu.
"Kang, kita kubur saja di
sana!" kata Melati sambil jarinya menunjuk sebatang pohon beringin yang
tumbuh di dekat situ.
"Aku pun berpendapat begitu,
Melati," sahut Arya. Lalu Dewa Arak segera bangkit sambil membopong
tubuh Ki Gadung ke arah pohon
beringir itu.
***
Setelah selesai mengubur mayat Ki
Gadung, Dewa Arak dan Melati melangkah ke kereta ber kuda putih yang tidak jauh
dari tempat itu.
"Kalau menurutmu, siapa
pemilik kereta itu, Melati?" tanya Arya sambil menatap kereta itu.
Melati tidak langsung menjawab pertanyaan kekasihnya. Sambil mengayunkan langkah mendekati
kereta, diikutinya langkah Dewa Arak. Pikirannya diputar untuk mencari jawaban
bagi pertanyaan itu.
"Kurasa, kereta itu pasti
milik lelaki yang tewas tadi, Kang," jawab Melati.
"Dugaanku juga begitu,
Melati. Rasanya dugaan kita tidak keliru. Tidak mungkin gerombolan berseragam
hitam itu menggunakan kereta sepert ini."
Melati mengangguk-anggukkan kepala sambil merayapi kereta yang berkuda putih itu.
"O ya, Kang. Bagaimana kalau
kita periksa isi kereta itu. Barangkali ada sesuatu yang bisa kita dapatkan
untuk menambah jelas persoalan ini!" usul Melati sambil mendekat ke arah
kereta.
"Boleh juga, Melati,"
sahut Arya menyetujui.
Sesaat kemudian mereka telah
berada di dekat kereta itu. Dengan agak bergegas mereka menuju bagian belakang
untuk mendapatkan pintu kereta itu.
Tanpa bicara sepatah kata pun,
Melati langsung mengulurkan tangan untuk membuka daun pintu kereta.
"Tunggu! Tahan dulu, Melati!
Jangan tergesa-gesa!" Melati langsung membatalkan maksudnya. Kemudian
kepalanya menoleh ke arah Dewa
Arak yang masih berdiri di belakangnya.
"Mengapa kau menahanku,
Kang?" tanya Melati merasa penasaran.
"Aku tidak melarangmu,
Melati. Aku hanya ingin agar kita bertindak hati-hati. Bukan tidak mungkin, di
dalam kereta itu ada sesuatu yang membahayakan kita. Bisa jadi..., binatang.
Atau, mungkin... ada senjata rahasianya."
Melati hanya terdiam. Disadari
kebenaran yang tidak bisa dibantah dalam ucapan kekasihnya itu.
"Betul juga, Kang. Aku
sering lupa untuk waspada. Apalagi setelah keadaan seperti ini. Maksudku...,
ketika
lawan sudah kabur seperti
ini," jawab Melati mengakui keteledorannya.
"Jangan mempunyai pikiran
seperti itu, Melati. Usahakan untuk tidak meninggalkan kewaspadaanmu dalam
setiap tindakan yang akan kau lakukan. Kau mengerti maksudku?" ujar Dewa
Arak.
"Mengerti, Kang," jawab
Melati.
"Nah! Sekarang bukalah pintu
kereta itu."
Tanpa menunggu perintah dua kali,
dengan hati-hati Melati mengulurkan tangan untuk membuka daun pintu kereta.
Sekujur otot dan urat syarafnya menegang, bersiap menghadapi kemungkinan yang
dapat terjadi.
Kreeet!
Dengan sekali sentak, Melati
membuka daun pintu itu sambil melompat ke belakang. Hal itu dilakukan untuk
menghadapi kemungkinan seperti yang dikatakan Dewa Arak.
Wuttt!
Begitu daun pintu telah terkuak
lebar, tiba-tiba dari dalam kereta melesat dengan cepat bayangan hitam menuju
leher Melati. Begitu cepat lesatan bayangan hitam itu hingga Melati bahkan Dewa
Arak tidak sempat melihat jelas bentuknya.
Namun, Melati tidak nampak gugup
melihat lesatan bayangan hitam itu. Karena gadis berpakaian putih ini telah
lebih dulu bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Bahkan,
buru-buru tangannya mencabut pedang yang tergantung di punggung.
Srattt!
Secepat pedang itu tercabut,
secepat itu pula diayunkan ke arah kelebatan bayangan hitam yang tengah
meluncur ke arahnya.
"Ihhh...!"
Melati kaget melihat darah
muncrat ketika pedangnya berhasil membabat benda hitam itu.
Plukkk!
Benda hitam itu jatuh ke tanah.
Secara bersamaan, Melati dan Dewa Arak langsung mengarahkan matanya ke benda
itu. Dan seketika itu pula mereka terperanjat. Ternyata benda hitam itu seekor
ular hitam mengkilat. Dan kini ular sebesar lengan bayi itu tergeletak tak
bernyawa lagi. Darah mengalir dari luka akibat tebasan pedang Melati.
"Minggir, Melati! Mungkin
masih ada yang lainnya." Dewa Arak yang merasa khawatir akan keselamatan
kekasihnya, segera bergerak
melompat mendekati Melati yang masih berdiri di depan pintu kereta. Matanya
diedarkan merayapi bagian dalam kereta itu.
Pemuda berambut putih keperakan
ini mengawasi dengan cermat seluruh bagian dalam kereta. Bahkan sampai ke
sudut-sudutnya. Namun tak satu pun benda yang mencurigakan dapat membahayakan
dirinya. Kecuali sebuah peti coklat dan berukir yang terletak di dalam kereta
itu. Panjang dan lebar peti itu sekitar lima jengkal tangan.
Dewa Arak mengernyitkan dahi
melihat peti itu. Apakah isi yang ada di dalamnya? Apakah ular juga? Tapi
rasanya tidak mungkin. Peti itu sama sekali tidak berlubang untuk pertukaran
udara. Sehingga, tidak mungkin kalau di dalamnya tersimpan makhluk hidup.
Setelah meyakini dugaannya benar
dan setelah menunggu beberapa saat, tidak ada tanda-tanda akan terjadinya
penyerangan, Dewa Arak memutuskan untuk memeriksa peti itu.
Tanpa meninggalkan kewaspadaan, Dewa Arak menurunkan peti itu
dari kereta. Di luar dugaan, ternyata peti itu cukup berat.
Sementara Melati hanya
memperhatikan semua tindakan yang dilakukan kekasihnya. Sama seperti Dewa Arak,
hatinya pun ingin tahu isi peti itu. Maka gadis berpakaian putih itu mendekat
ketika Dewa Arak akan membuka peti. Hatinya penasaran ingin tahu makhluk atau
benda di dalamnya.
Dewa Arak mulai memperhatikan
sekeliling peti itu. Melati tampaknya tahu maksudnya. Dewa Arak tengah mencari
bagian dari peti itu yang dapat dibuka.
Dugaan Melati tidak salah! Dewa
Arak tengah mencari bagian yang menjadi tutup peti. Akhirnya, pemuda berambut
putih keperakan ini berhasil menemukannya. Segera ditariknya bagian penutup
peti coklat dan berukit itu.
Kriiit...!
Suara berderit pelan terdengar
ketika tutup peti terbuka. Dan seiring dengan terbukanya tutup peti, tercium
bau menyengat hidung, seperti bau rempah-rempah.
Ketika akhirnya tutup peti itu
terbuka lebar, tampak benda-benda yang ada di dalamnya. Benda-benda itu tidak
lain guci-guci kecil yang besarnya tidak lebih dari kepalan tangan. Lubang
guci-guci itu tertutup rapat.
Sebenarnya, tanpa memeriksa pun
Dewa Arak telah menduga isi guci-guci itu. Bau khas yang tercium sudah
menjelaskan isi guci-guci itu. Tapi, untuk memastikan kebenaran dugaannya, Dewa
Arak mengambil salah satu guci dan membuka penyumbatnya. Kemudian guci itu
didekatkan ke hidungnya.
"Apa isi guci itu, Kang?
Benarkah obat-obatan?" tanya Melati tidak sabar.
Dewa Arak menganggukkan kepala
membenarkan dugaan Melati.
"Jadi..., lelaki berpakaian
coklat yang tewas itu seorang tabib, Kang?" tanya Melati lagi.
"Yahhh...! Kira-kira
begitulah," jawab Arya.
"Berarti sebuah keterangan
telah kita dapatkan, Kang. Kemungkinan, lelaki berpakaian coklat itu tengah
menuju suatu tempat untuk mengobati orang sakit atau terluka. Tapi ternyata ada
pihak yang tidak menginginkan orang yang terluka itu diobati. Maka tabib itu
dibunuh," ujar Melati mencoba menguraikan kesimpulan yang ada dalam
benaknya.
"Kemungkinan besar memang
demikian, Melati," dukung Arya.
"Jadi..., dugaanmu sama
denganku, Kang?" tanya Melati, setengah tak percaya.
Dewa Arak menganggukkan kepala.
"Hanya dugaan itu yang
paling masuk akal, Melati." Melati terdiam, matanya memandang ke
sekeliling
hutan yang sangat lebat itu. Dia
pun menyadari kalau dugaan yang dikemukakannya kemungkinan besar benar.
"Sekarang yang perlu kita
ketahui, ke mana sebenarnya tujuan lelaki berpakaian coklat itu?" tanya
Dewa Arak bernada desahan.
Suasana hening langsung
melingkupi tempat itu. Hanya suara burung dan angin yang bertiup terdengar.
Baik Dewa Arak maupun Melati tenggelam dalam pikirannya sendiri. Masing-masing memikirkan pertanyaan yang dikeluarkan Dewa Arak.
"Tapi, ada satu hal yang
aneh, Kang," kata Melati tiba-tiba.
"Apa itu, Melati?"
tanya Arya, terpaksa menghentikan pikirannya yang tengah berusaha memecahkan
teka-teki itu.
"Mengapa di dalam kereta itu
dimasukkan seekor ular? Bukankah binatang itu dapat mengancam orang yang
membuka pintu kereta?"
"Hal itu bisa dimaklumi,
Melati," sahut Arya sambil tersenyum. "Obat-obatan itu bagi seorang
tabib seperti dia sangat berharga. Dan untuk melindunginya dari tangan
orang-orang yang bermaksud tidak baik, hal itu dilakukannya. Walaupun mungkin dalam
keadaan terpaksa. Namun, aku juga tidak yakin, kalau hanya untuk itu dimasukkan
ular ke dalamnya. Aku yakin ada maksud lainnya."
Selesai berkata demikian, Dewa
Arak melangkah menuju bangkai ular hitam yang tergeletak di samping roda kereta
itu. Begitu berada dekat, tubuhnya dibungkukkan. Sambil berjongkok dengan
bertumpu pada jari-jari kakinya, Dewa Arak memperhatikan bangkai ular hitam yang
sudah tak berkepala itu.
Kurang puas hanya dengan
memperhatikan, Dewa Arak lalu memungut sebilah golok yang tergeletak dekat
situ. Kemudian dengan senjata itu, bangkai ular hitam itu dibolak-balikkan.
"Bukan ular sembarangan,
Melati," kata Arya setelah cukup lama memeriksa.
"Aku belum mengerti
maksudmu, Kang? Jadi..., ini ular ajaib?"
Dewa Arak menggelengkan kepala,
tanpa mengalihkan matanya dari ular hitam itu.
"Tidak, Melati. Terlalu
berlebihan kalau disebut ajaib. Tetapi, ular ini memiliki banyak kelebihan
dibanding dengan ular lainnya. Darah dan bisa ular ini bisa dijadikan untuk
obat," jelas Arya.
"Ooo...," sambut Melati sambil mengangguk-anggukkan
kepala. Rupanya itulah alasan lelaki berpakaian coklat itu membawa ular ini,
Kang."
"Kira-kira begitu, Melati."
"Kau tahu ular apa itu,
Kang?" tanya Melati, setelah terdiam beberapa saat, sambil memandangi ular
hitam itu.
Dewa Arak menganggukkan kepala.
"Apa, Kang?" tanya Melati lagi.
"Ular Terbang Hitam,"
jawab Arya. "Jenis ular yang cukup sulit didapatkan. Tidak banyak orang
yang tahu tempat hidup ular seperti ini. Apalagi untuk menangkapnya. Ular macam
ini banyak dicari jago-jago racun dan ahli obat. Karena memang itulah kegunaan
Ular Terbang Hitam seperti ini."
"Berarti..., lelaki yang
kita kubur tadi seorang yang memiliki kepandaian tinggi, Kang. Buktinya dia
berhasil menangkap Ular Terbang Hitam itu," ujar Melati membuat
kesimpulan.
"Belum tentu demikian, Melati. Tidak perlu kepandaian yang terlalu tinggi untuk
menangkapnya. Yang penting tahu kelemahannya. Dan, lelaki berpakaian coklat itu
rupanya memiliki keahlian itu," jelas Arya.
Untuk yang kesekian kalinya,
Melati mengangguk-anggukkan kepala. Dia menyadari adanya kebenaran yang tidak
bisa dibantah dalam ucapan Dewa Arak. Kalau benar Ki Gadung memiliki kepandaian
tinggi, barangkali gerombolan orang berseragam hitam itu tidak mampu
melukainya. Padahal, Melati sendiri yakin kalau dirinya saja mungkin akan mampu
mengatasi gerombolan berseragam hitam itu.
"Berarti tinggal satu
persoalan lagi. Dan setelah itu, masalahnya akan selesai, Kang," kata
Melati bemada yakin.
"Jangan terlalu cepat
menarik kesimpulan, Melati," kata Arya. "Bukankah yang kau maksud
tempat tujuan lelaki berpakaian coklat itu?"
Melati menganggukkan kepala.
"Kalau demikian, kau terlalu
cepat menarik ke-simpulan. Kau tahu, Melati. Kalau kita berhasil menemukan
tempat tujuan lelaki berpakaian coklat itu, berarti kita baru masuk dalam
persoalan. Masih banyak liku-liku yang harus kita selesaikan."
Dewa Arak menghentikan ucapannya
sebentar untuk membasahi tenggorokannya yang kering, sambil bangkit dari
jongkoknya.
"Sampai di sana nanti kita
harus menyelidiki apakah orang yang bakal ditolong lelaki berpakaian coklat itu
terluka secara wajar ataukah tidak. Setelah itu, kita masih harus menyelidiki
lagi tentang orang-orang yang tadi membunuh
lelaki berpakaian coklat itu.
Benarkah mereka terlibat dalam masalah ini? Dan banyak lagi hal lain yang harus
diselidiki, Melati."
Melati mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Sekarang mari kita memulai
penyelidikan, Melati. Aku yakin tempat orang-orang yang akan diobati tak jauh
dari tempat orang-orahg berseragam hitam berada. Dan, aku yakin kalau mereka
berada di salah satu desa sekitar sini."
"Tapi bukankah di sekitar
tempat ini banyak terdapat desa, Kang? Di sebelah barat, timur, mau pun utara,
ada desa. Arah mana yang harus kita tempuh, Kang?" tanya Melati.
"Kalau melihat jejak yang
ditinggalkan roda kereta, jelas berasal dari timur. Tinggal tiga pilihan yang
harus kita tuju, utara, selatan, dan barat."
"Lalu..., sekarang arah mana
dulu yang harus kita tempuh, Kang?" tanya Melati lagi.
"Aku belum bisa
memutuskannya. Tapi kalau menurutku, lebih baik kita coba ikuti gerombolan
berseragam hitam tadi. Barangkali mereka meninggalkan jejak yang bisa kita
ikuti," jawab Arya sambil mengarahkan matanya ke tempat gerombolan tadi
pergi.
Melati sama sekali tidak
memberikan tanggapan. Di dalam hati, dia menyetujui tindakan yang akan
dilakukan Dewa Arak. Namun hatinya merasa tidak yakin mereka akan menemukan
jejak orang-orang berseragam hitam tadi.
Sesaat kemudian, Dewa Arak dan
Melati bergerak meninggalkan tempat itu. Tetapi kali ini sepasang muda-mudi
yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi itu tidak mengerahkan seluruh ilmu
meringankan tubuh untuk mengejar gerombolan berpakaian hitam. Hal itu karena
Dewa Arak dan Melati berjalan sambil terus memeriksa ke sekeliling. Barangkali
ada jejak yang ditinggalkan gerombolan berseragam hitam itu.
Beberapa kali Dewa Arak dan
Melati menghentikan langkah ketika menemukan tanda-tanda adanya jejak yang
ditinggalkan gerombolan berseragam hitam.
3
Brakkk!
Seketika sebuah meja bundar
terbuat dari papan tebal hitam dan berukir, hancur berkeping-keping. Sebuah
tangan yang tertutup sarung tangan menghantamnya. Jelas, pukulan tangan kosong
itu mengerahkan tenaga dalam tinggi.
"Bodoh! Dungu! Kalian semua
benar-benar buta!" Suara bentakan terdengar menggelegar keras dari
mulut lelaki yang telah
menghancurkan meja barusan. Suaranya yang begitu keras menggelegar bagaikan
halilintar itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi.
"Ampunkan kami, Ketua.
Sebenarnya..., kalau saja tidak segera muncul segerombolan orang yang langsung
menolong Ki Gadung, tentu kepalanya akan kami bawa kemari. Tapi, serbuan
gerombolan itu terlalu kuat untuk bisa kami lawan. Namun, kami yakin Ki Gadung
akan tewas sebelum sempat mengatakan sesuatu. Luka-luka yang dideritanya
terlalu parah," lapor salah satu dari sepuluh orang berseragam serba hitam
yang bertubuh tinggi kurus.
Sembilan orang yang berdiri di
belakangnya, hanya diam membisu. Mereka berdiri dengan kepala tertunduk.
Kepasrahan akan jatuhnya hukuman atas diri mereka, terlihat jelas dalam sikap
seperti itu.
Sang Ketua yang tengah murka,
langsung terdiam mendengar laporan laki-laki tinggi kurus itu. Hanya ada sebuah
perbedaan pada mereka, yaitu bagian dahi di selubung sosok yang tengah murka
terdapat sebuah gambar tengkorak kecil.
"Segerombolan orang?! Coba
kau ceritakan dengan jelas, bagaimana mereka bisa muncul? Bagaimana ciri-ciri
pimpinan mereka?" tanya sosok hitam yang pada dahinya terdapat gambar
sebuah tengkorak.
Lelaki tinggi kurus itu tidak
segera menjawab. Ditelannya air liur yang sejak tadi terbendung di mulutnya.
"Tentang kemunculan mereka,
kami tidak tahu pasti, Ketua. Mereka muncul secara mendadak. Tapi, kalau
pemimpinnya kami tahu. Dia adalah seorang pemuda tampan, berpakaian ungu dan
rambutnya putih keperakan," jawab lelaki kurus yang tadi memimpin
gerombolan itu.
Sekelebatan terlihat ada
perubahan pada sorot mata sang Ketua. Nampaknya cerita lelaki tinggi kurus itu
berpengaruh cukup besar terhadap dirinya.
"Hm..., jadi orang itu
pemimpinnya?" tanya sang Ketua menegaskan keterangan anak buahnya.
"Benar, Ketua," jawab
lelaki tinggi kurus yakin. "Hm...!"
Sosok berseragam hitam yang
dipanggil ketua mengangguk-anggukkan kepala. Kemudian tatapan matanya dialihkan
ke sembilan orang berseragam hitam yang lainnya.
"Angkat wajah kalian, dan
tatap aku!"
Tanpa menunggu keluarnya perintah
yang kedua kali, sembilan orang berseragam hitam itu langsung mengangkat kepala
dan menatap sang Ketua. Karena sosok yang mempunyai tanda tengkorak di dahinya
itu tengah menatap pula, maka bentrokan pandangan pun tidak bisa dihindari
lagi.
"Aku akan bertanya pada
kalian. Benarkah ada yang menghalangi kalian membunuh Ki Gadung?" lanya
sang Ketua sambil mengedarkan pandangan, menatap wajah mereka satu persatu.
"Benar, Ketua," jawab
sembilan orang berseragam hitam itu serempak sambil menganggukkan kepala.
"Apakah benar mereka
berjumlah banyak dan dipimpin oleh seorang pemuda berambut putih keperakan?"
tanya sang Ketua lagi.
Brakkk!
"Bodoh! Dungu! Kalian semua
benar-benar buta!" bentak lelaki yang telah menghancurkan meja barusan.
Suaranya terdengar keras menggelegar.
Sepuluh orang anak buahnya hanya
diam membisu. Mereka berdiri pasrah menanti hukuman yang akan dijatuhkan sang
Ketua.
Kali ini sembilan orang
berseragam hitam yang berdiri di hadapannya tidak langsung menjawab. Mereka
tampak merasa ragu untuk menjawabnya. Tenntu saja hal ini membuat lelaki tinggi
kurus kebingungan. Dia mengharap rekan-rekannya turut mendukung pengakuannya.
"Bagus! Rupanya kalian masih
kepingin hidup, sehingga tidak berani mendustaiku seperti dia!" bentak
sang Ketua sambil menuding lelaki tinggi kurus yang kini tertunduk ketakutan.
Kemudian dengan sorot mata
bengis, ditatapnya wajah lelaki tinggi kurus yang tanpa sadar melangkah mundur.
Hatinya ngeri ketika melihat sorot mata penuh ancaman.
"Kau kira aku percaya
ceritamu itu, Keparat?! Untung saja yang lain tidak mengikutimu, mencoba
membohongiku. Kalau tidak, mereka akan mengalami nasib yang sama sepertimu!"
tandas sang Ketua dengan suara berdesis.
Lelaki tinggi kurus mengetahui
adanya bahaya besar yang tengah mengancam keselamatan dirinya. Maka secepat
kilat tubuhnya berbalik. Lalu berlari tunggang-langgang meninggalkan tempat
itu.
"Mau lari ke mana kau, Keparat
Busuk?! Jangan harap dapat lolos dari tanganku!" seru sang Ketua dengan
nada suara yang membuat bulu kuduk berdiri. Seiring dengan ucapan itu,
tangannya dikebutkan.
Srrr!
Suara berdesir pelan mengiringi meluncurnya
beberapa batang jarum berwarna kehijauan.
Crep! Crep! "Aaakh...!"
Tubuh laki-laki tinggi kurus itu
kontan menggeliat diiringi pekikan keras ketika jarum-jarum halus menancap
tubuhnya. Tapi hal itu hanya berlangsung sebentar. Karena kemudian lelaki
tinggi kurus itu telah kembali berlari.
Kali ini sang Ketua tidak kembali
melancarkan jarum dari tangannya. Hanya matanya yang terus memperhatikan
larinya lelaki tinggi kurus itu. Apakah sang Ketua hendak melepaskan anak
buahnya vang telah berbohong begitu saja?
Ternyata tidak! Tak ada maksud
sedikit pun di henaknya untuk membiarkan anak buahnya itu lolos. Tidak
dilakukannya tindakan apa pun, karena diyakini kalau
jarum-jarum yang telah mendarat
di sasaran akan mampu menghentikan anak buahnya itu.
Ternyata benar! Tubuh lelaki
tinggi kurus itu seketika terjungkal hanya beberapa langkah setelah berlari
lagi.
"Akh...!"
Kembali teriakan keras terdengar
seiring dengan robohnya tubuh lelaki tinggi kurus yang berusaha kabur itu.
"Ha ha ha...!"
Sang Ketua tertawa
terbahak-bahak. Sebuah tawa yang mengandung kemenangan. Menilik dari tawanya
yang keras dan menggelegar, sosok dengan gambar tengkorak kecil di dahinya ini
mengerahkan tenaga dalam sewaktu mengeluarkan tawanya.
Sembilan orang berseragam hitam
yang berdiri di belakangnya, semua mendekapkan tangan pada kedua telinga
masing-masing. Suara tawa itu dirasakan telah mengguncangkan dada mereka.
Untung saja suara tawa itu tidak
berlangsung lama. Sehingga sembilan orang itu kembali tenang setelah tawa
menggelegar itu terhenti. Namun ketakutan di hati mereka belum juga reda.
"Bawa si keparat itu
kemari!" perintah sang Ketua sambil menggelengkan kepala kepada kesembilan
anak buahnya yang tengah gemetar ketakutan.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
salah satu dari mereka yang berseragam hitam itu berlari me-nuju lelaki tinggi
kurus yang terkulai lemah di tanah.
Sosok lelaki tinggi besar yang
berlari untuk menjalankan perintah itu segera membungkuk. Kemudian mengangkat
tubuh lelaki tinggi kurus yang tengah terkulai lemas.
Namun, baru saja sosok tinggi
besar itu mengulurkan kedua tangannya untuk memondong kawannya, tiba-tiba
terdengar suara sang Ketua.
"Apa yang akan kau lakukan,
Manusia Dungu?!" Seketika itu pula sosok tinggi besar itu
mengurungkan maksudnya. Kedua tangannya
yang sudah meluncur itu seketika terhenti.
"A..., aku... Aku hanya
bermaksud melaksanakan perintahmu, Ketua," jawab lelaki tinggi besar itu
dengan gugup.
"Lalu..., apa yang akan kau
lakukan?!" tanya sang Ketua lagi, dengan suara keras.
"Aku..., aku akan
memondongnya..., tentu saja untuk kubawa ke hadapan Ketua," jawab sosok
tinggi besar, juga tetap terbata-bata.
"Siapa suruh kau
memondongnya?! Atau..., rupanya kau pun ingin menerima hukuman yang
sama?!" ancam sang Ketua keras.
"Tentu saja tidak, Ketua,"
sahut sosok tinggi besar itu lagi.
"Kalau begitu, seret dia
kemari! Dia bukan anak buahku lagi! Jadi, jangan terlalu baik kepadanya. Kau
mengerti?"
"Me..., mengerti,
Ketua."
"Nah! Sekarang bawa
kemari!" perintah sang Ketua lagi.
"Baik, Ketua."
Dengan agak bergegas, sosok
tinggi besar itu lalu meraih kedua pergelangan kaki bekas pimpinannya. Lalu
menyeretnya dengan kasar.
Sosok-sosok berseragam hitam yang
lain hanya mampu memandangi bekas pimpinannya yang diseret di atas lantai.
Suara mengerang masih terdengar dari mulut lelaki tinggi kurus itu, menahan
rasa sakit akibat tusukan jarum-jarum yang menghunjam tubuhnya.
Sosok berseragam hitam dan
bertubuh tinggi besar yang menyeret tubuh bekas pimpinannya berhenti di depan
sang Ketua. Kemudian melangkah kembali ke kelompoknya.
"Bagaimana rasanya, Manusia Busuk? Nikmat bukan?" ejek sang Ketua sambil menatap wajah
lelaki tinggi kurus dengan sorot mata puas.
Lelaki tinggi kurus itu hanya
diam, tidak menjawab pertanyaan ketuanya. Karena tengah sibuk menahan rasa
sakit yang hebat akibat jarum-jarum yang menancap di tubuhnya.
Kini beberapa saat setelah
jarum-jarum itu menancap di tubuh, akibatnya mulai terasa. Seluruh otot dan
tulang-belulangnya seperti lumpuh. Semakin lama rasa sakit itu semakin hebat
menjalari seluruh tubuhnya. Kemudian, sedikit demi sedikit muncul rasa gatal
menjalari kulit tubuhnya.
Kalau menurut perasaan, ingin
rasanya lelaki tinggi kurus itu menggaruk tubuhnya untuk mengusir rasa gatal
yang semakin bertambah terus. Namun sayang, hal itu tidak bisa dilakukan karena
kedua tangannya sama sekali tak mampu digerakkan. Kedua tangannya telah lumpuh
seperti juga kedua kaki dan tubuhnya.
Karena sibuk dengan rasa sakit
yang tengah dideritanya, lelaki tinggi kurus ini tidak bisa memberikan
tanggapan atas pertanyaan mengejek dari sang Ketua.
"Itulah ganjaran bagi orang
yang mencoba berbohong padaku!" dengus sang Ketua. "Dengar, Manusia
Busuk! Aku percaya kalau kegagalan kalian akibat campur tangan pihak lain. Aku
pun akan percaya seandainya kalian mengatakan diserbu segerombolan orang yang
jumlahnya lebih banyak dan tingkat kepandaian mereka lebih tinggi."
Sang Ketua menghentikan ucapannya
sebentar. Ditelannya air liur untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Tapi kepercayaanku
membuyar, ketika kudengar pemimpin mereka seorang pemuda berambut putih keperakan dan berpakaian ungu. Aku mengenal...,
maksudku setidak-tidaknya pernah mendengar berita tentang orang yang kalian
maksud. Tapi setahuku, pemuda itu tidak pernah bekerja dengan gerombolan. Dia
selalu bekerja sendiri. Itulah sebabnya aku tidak percaya pada ceritamu!"
Lagi-lagi sang Ketua menghentikan
ucapannya untuk mengambil napas. Sama sekali tidak dihiraukannya lelaki tinggi
kurus yang tengah menggeliat-geliat kesakitan di bawah kakinya.
"Tanpa kau ceritakan pun aku
tahu. Pemuda berambut putih keperakan itu tidak bersama rombongannya. Dia
sendirian! Dan kau tahu siapa orang itu?"
Sang Ketua menghentikan ucapannya
sejenak, lalu melihat tanggapan dari semua anak buahnya.
Kesembilan orang itu
menggelengkan kepala.
"Kalian memang bukan
manusia! Tapi kerbau! Ya, kerbau-kerbau dungu! Oleh karena itu sama sekali
tidak tahu kalau keadaan kini sangat berbahaya! Pemuda berambut putih keperakan
yang kalian temui itu adalah orang yang paling usil di dunia ini. Dia adalah
Dewa Arak! Kalian dengar! Dewa Arak!" tandas sang Ketua, keras.
Sembilan orang berseragam hitam
itu saling pandang. Raut wajah mereka menampakkan keterkejutan yang amat
sangat. Jadi, orang yang telah mereka hadapi itu adalah pendekar muda yang
telah menggemparkan dunia persilatan. Kalau saja tidak mendengar sendiri dari
sang Ketua, mereka tak akan percaya.
Padahal, sebenarnya mereka telah
mendengar julukan Dewa Arak yang menggemparkan dunia persilatan. Tahu pula
kalau tokoh yang tersohor itu masih berusia muda, dan memiliki rambut berwarna
putih keperakan. Namun sama sekali tidak disangka kalau orang yang mereka temui
di Hutan Gendar tadi adalah Dewa Arak. Seandainya pemuda berambut putih
keperakan itu memperkenalkan diri pun belum tentu mereka akan percaya. Hanya
seperti itukah penampilan Dewa Arak yang namanya telah menggegerkan rimba
persilatan?
"Sudah bisa kuperkirakan
kalau sekarang Dewa Arak pasti tengah berusaha menyelidiki kalian. Hal ini
berarti rencana yang telah kuatur bisa hancur berantakan. Aku tak mau hal ini
terjadi. Sebelum Dewa Arak berhasil menemukan sesuatu, kita harus mendahuluinya
lebih dulu. Dewa Arak harus disingkirkan secepat mungkin!"
Sembilan orang berseragam hitam
itu tidak memberi tanggapan apa pun. Mereka khawatir salah tanggap dapat
mengakibatkan kemarahan ketua mereka.
Sang Ketua rupanya tidak
memerlukan adanya tanggapan apa pun dari mulut sembilan orang berseragam hitam
itu. Matanya kembali beralih pada anak buahnya yang sedang kesakitan.
"Tapi sebelum aku
melenyapkan Dewa Arak, terlebih dulu kau kusingkirkan, Manusia Busuk!"
Setelah berkata demikian, sang Ketua segera memasukkan tangan kanannya ke balik
baju. Sebentar kemudian, tangannya telah menggenggam sebuah guci kecil.
"He he he...!"
Sang Ketua tertawa terkekeh
bernada m-nyeramkan. Dan masih dengan tertawa, dicabutnya sumbat guci kecil
itu. Kemudian dituangkannya isi guci itu ke tubuh lelaki tinggi kurus yang
tengah mengerang kesakitan dan tak mampu bergerak sedikit pun.
Tesss! Tesss!
Cairan kuning berbau tak sedap
menetes dari mulut guci kecil itu. Hanya dua tetes yang dituangkan, namun tepat
mengenai tubuh lelaki tinggi kurus yang tengah terkulai tak berdaya.
"Wuaaa...!"
Jeritan kesakitan langsung keluar
dari mulut lelaki tinggi kurus. Selain itu, tubuhnya yang sejak tadi terkulai
tanpa mampu bergerak sedikit pun, kini kontan menggelepar-gelepar seperti ikan
dilemparkan ke darat. Hal ini mungkin pertanda betapa hebatnya rasa sakit yang
diderita. Tubuhnya yang sejak tadi sama sekali tak berkutik, mampu
bergerak-gerak.
"Ha ha ha...!"
Sang Ketua tertawa terbahak-bahak
menyaksikan derita yang dialami anak buahnya. Nampak begitu puas dengan hasil
perbuatannya.
Sementara itu, kesembilan anak
buahnya yang lain merasa sedih dan ngeri. Bahkan nyali mereka menciut,
menyaksikan derita dan rasa sakit yang dialami bekas pimpinannya. Lelaki tinggi
kurus terus menjerit dan menggelepar-gelepar kesakitan.
Betapa tidak? Dari bagian tubuh
yang terkena tetesan cairan kuning itu, timbul asap. Mula-mula tipis, tapi
semakin lama semakin tebal, diikuti bau busuk yang menusuk hidung. Tak lama
kemudian, seiring dengan semakin tebalnya asap, tubuhnya mulai meleleh bagai
lilin terbakar.
Tak berapa lama kemudian, tubuh
lelaki tinggi kurus itu lenyap. Sementara sembilan anak buahnya hanya bisa diam
membisu dengan perasaan takut dan ngeri yang berkecamuk di hati.
Cukup lama sang Ketua hanyut
dalam perasaan gembira. Dan ketika tawanya terhenti, pandangannya dialihkan
pada sembilan anak buahnya yang masih terpaku dengan perasaan ngeri.
Sepasang mata yang menyeramkan
milik sang Ketua menatap wajah mereka satu persatu.
"Sebenarnya aku tidak ingin
melenyapkan kalian. Tapi, karena sekarang Dewa Arak telah mengetahui masalah
ini, dan sudah pasti akan mencari kalian, aku mengambil kebijaksanaan lain.
Daripada nanti kalian membocorkan
rahasiaku. Lebih baik kalian
semua kulenyapkan!" tandas sang Ketua dengan suara bergetar.
Kontan wajah sembilan orang itu
berubah memucat mendengar ucapan sang Ketua. Meskipun tidak terlihat karena
wajah itu tertutup selubung, namun bisa diketahui dari sorot mata mereka. Mata-mata mereka saling memandang satu sama lain. Dan dengan perasaan sangat takut,
mereka melangkah mundur perlahan.
"Kami..., kami berjanji
tidak akan membocorkan rahasia ini, Ketua..," ujar salah satu dari
sembilan orang berseragam hitam itu dengan suara gagap.
"Be..., benar, Ketua,"
sambung yang lainnya.
Dan berturut-turut semua
mendukung ucapan kedua rekan mereka dengan menganggukkan kepala. Lidah-lidah
mereka terasa kelu saking takutnya, sehingga tidak mampu mengeluarkan ucapan
sepatah kata pun.
"Hmh...!" sang Ketua
mendengus. "Sayang sekali, aku tidak bisa mempercayai ucapan kalian begitu
saja!"
Ringan saja ucapan sosok yang
mempunyai gambar tengkorak kecil di dahinya itu. Tapi bagi kesembilan anak
buahnya yang tengah ketakutan, ucapan itu bagaikan halilintar di telinga mereka.
"Tapi karena kesalahan
kalian tidak sebesar si keparat itu, maka kalian akan mati tanpa
menderita."
Sambil berkata begitu, tangan
kanan sang Ketua terjulur. Telunjuk dan jari tengah dihimpitkan menunjuk lurus.
Lalu ditudingkan ke arah sembilan anak buahnya. Kesembilan orang berpakaian
serba hitam yang belum sempat tahu benar apa yang bakal terjadi, terkejut
seketika. Dan....
Cit, cit, cit!
Suara mencicit nyaring seperti
ada tikus terjepit, terdengar ketika tangan itu ditudingkan. Dan hasilnya
benar-benar menakjubkan.
"Akh! Akh! Akh...!"
Berturut-turut sembilan orang
berseragam hitam itu menjerit tertahan. Jerit yang belum sempat keluar seluruhnya terputus karena
nyawa mereka telah lebih dulu melayang dari raga.
Bruk! Bruk! Bruk...!
Susul-menyusul tubuh mereka
ambruk ke tanah dan tak berkutik lagi. Nampak pelipis mereka sobek dan
mengeluarkan darah segar. Luka yang dilancarkan sang Ketua itu, seperti
tersabet senjata tajam.
"Ha ha ha...!"
Kembali sang Ketua tertawa terbahak-bahak.
Kemudian untuk yang kedua kalinya, isi gucinya dituangkan pada tubuh sembilan
orang itu. Sesaat kemudian, kejadian yang dialami lelaki tinggi kurus tadi
berulang pada sembilan orang anak buahnya.
4
"Uh, panasnya hari
ini," keluh gadis cantik jelita berpakaian putih. Rambutnya yang hitam,
panjang, dan tergerai disibakkan. Dan sesekali tangannya mengusap keringat yang
membasahi leher dan kening.
"Bukan hanya panas,"
sambut pemuda berambut putih keperakan yang berjalan di sebelahnya. "Angin
yang berhembus pun mengandung hawa yang tidak sedap. Tempat ini benar-benar
tidak nyaman, Melati."
"Benar, Kang," jawab
gadis berpakaian putih yang tidak lain Melati. "Sepertinya udara di tempat
ini telah tercemar racun."
"Dugaanmu beralasan,
Melati," jawab Arya, pemuda berambut putih keperakan yang lebih dikenal
dengan julukan Dewa Arak itu. "Aku pun menduga demikian. Tapi, hal itu
kita pikirkan saja nanri. Sekarang yang penting mengisi perut. Apakah kau tidak
merasa lapar, Melati?"
"Bukan hanya lapar, Kang.
Tenggorokanku juga kering sejak tadi," sambut Melati cepat. "Hawa
panas dan tidak sehat di sini membuatku cepat merasa haus."
"Kalau begitu kita mencari
kedai makan untuk mengisi perut."
'Tapi..., mana ada kedai di
sekitar sini, Kang?" sergah Melati sambil mengedarkan pandangan ke
sekeliling.
Di sekeliling mereka tidak tampak
satu bangunan pun. Yang terlihat hanya hamparan tanah gersang. Tempat sepasang
pendekar muda ini berada sebuah tanah lapang luas yang sedikit berumput. Sejauh
mata memandang, yang terlihat hanyalah tanah yang di beberapa bagian ditumbuhi
rumput dan ilalang.
"Di sini memang tidak ada,
Melati. Tapi aku yakin di sana ada," jawab Dewa Arak sambil menudingkan
jari telunjuknya ke depan.
"Kalau begitu...,"
Melati menggantung ucapannya. "Yahhh..., kita harus mempercepat perjalanan
kalau
ingin segera tiba di sana."
Usai berkata demikian, Melati
lalu menjejakkan kaki melesat mendahului Dewa Arak. Dalam sekejap, tubuh gadis
berpakaian putih itu telah melesat sejauh sembilan tombak di depan kekasihnya.
Dewa Arak hanya
menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Melati. Namun hal itu hanya
sebentar saja dilakukannya. Kakinya segera menjejak pula dengan cepat. Dalam
sekejap saja tubuhnya telah menjajari Melati yang bergerak cepat sekali.
Sesaat kemudian, sepasang
pendekar muda itu telah nampak saling berkejaran. Keduanya melesat cepat,
sehingga yang nampak hanya dua bayangan putih dan ungu dalam bentuk tidak jelas
yang terus melesat.
Dugaan Dewa Arak tidak meleset.
Baru beberapa kali lesatan, dari kejauhan mereka telah melihat banyak bangunan
berdiri. Semangat mereka semakin besar untuk segera tiba di sana.
Dan ketika akhirnya jarak itu
telah demikian dekat, Dewa Arak dan Melati menghentikan lesatan mereka. Hal itu
dilakukan agar tidak membuat terkejut penduduk tempat itu.
Kini sepasang muda-mudi itu
meneruskan perjalanan dengan berjalan biasa. Pandangan mereka beredar ke
sekeliling tempat itu, menatap satu persatu bangunan-bangunan yang ada. Namun,
kedua pendekar muda itu tidak mendapatkan yang diharapkan.
"Sepi, Kang," ujar
Melati memecahkan keheningan.
"Benar, Melati. Rumah-rumah ini seperti tak berpenghuni. Tapi..., tunggu dulu. Kau
dengar suara gaduh itu?" tanya Dewa Arak sambil menggerakkan kepalanya
perlahan, seolah-olah tengah mempertajam pendengarannya.
Melati terdiam sejenak. Kedua
telinganya dipusatkan untuk mencoba menangkap suara gaduh yang dikatakan Dewa
Arak. Kepalanya bergerak perlahan mencari asal suara itu.
"Kau benar, Kang. Aku pun
mendengar suara-uara itu. Arahnya dari sebelah sana."
"Mari kita ke sana,"
sambut Arya memutuskan.
Melati langsung menganggukkan
kepala dan segera menghentakkan kaki melesat mendahului Dewa Arak.
Tak berapa lama kemudian, mereka
telah sampai di tempat asal suara riuh-rendah.
"Sebuah kedai, Kang!"
ujar Melati gembira.
Perutnya merasa lapar bukan
kepalang, dan sudah dari tadi minta diisi. Maka hatinya gembira ketika melihat
sebuah kedai di depan matanya.
"Mari kita masuk!"
Kemudian Dewa Arak dan Melati melangkah memasuki kedai. Dewa Arak berjalan
di depan. Di Ambang pintu kedai pemuda berambut putih keperakan itu
menghentikan langkah sebentar, lalu matanya memandang ke dalam kedai.
Pengunjung kedai itu ternyata
cukup ramai. Beberapa meja yang tersedia, hampir terisi semua. Tinggal dua buah
meja kosong yang terletak di tengah-tengah ruangan.
Setelah sekian lama memperhatikan
ke dalam, Dewa Arak mendekat ke salah satu meja. Melati menyikuti dari
belakangnya.
"Mau makan apa, Den?"
tanya seorang lelaki kira-kira empat puluh lima tahun dan bertubuh kecil kurus
ketika melihat Dewa Arak dan Melati telah duduk di bangku.
"Teh manis seguci kecil,
arak seguci besar, ayam panggang, dan jagung bakar empat buah," sebut Dewa
Arak untuk pesanannya.
"Harap sabar menunggu,
Den!" jawab lelaki kecil kurus yang ternyata pemilik kedai itu.
Setelah itu pemilik kedai segera
beranjak ke dalam untuk. menyiapkan pesanan Dewa Arak.
Selama menunggu pesanan, baik
Dewa Arak maupun Melati tidak berbicara sepatah kata pun. Keduanya diam sambil
memperhatikan keadaan sekitar ruangan kedai yang ramai itu.
Meskipun nampak tenang-tenang
saja, Dewa Arak tetap memasang kewaspadaan penuh. Hal ini bukan tanpa alasan, sebab ketika memasuki kedai ini, hatinya
membisikkan akan adanya bahaya yang mengancam. Dan getaran perasaan itu semakin
membesar setelah berada di dalam kedai.
Dewa Arak bukan orang yang
terlalu menuruti perasaan prasangka buruknya. Tapi kali ini lain. Bukan
perasaannya menyimpulkan demikian, tapi naluri jiwanya.
Memang, sejak belalang raksasa
dari alam gaib berhasil ditarik masuk ke tubuhnya, naluri Dewa Arak bertambah
tajam. Dan semakin seringnya belalang raksasa itu masuk ke tubuhnya, nalurinya
pun semakin bertambah tajam (Untuk jelasnya cerita mengenai belalang raksasa,
silakan baca serial Dewa Arak, dalam episode "Makhluk dari Dunia
Asing" dan "Dalam Cengkeraman Biang Iblis").
Dewa Arak tahu naluri itu sama
sekali tidak pernah meleset. Memang benar ada bahaya yang tengah mengancam.
Sayangnya, Dewa Arak belum tahu dari mana asal bahaya itu. Yang jelas,
nalurinya membisikkan adanya bahaya di tempat ini.
Dewa Arak semakin bersikap
waspada. Seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang. Bahkan ekor matanya beberapa
kali diedarkan ke sekeliling. Barangkali ditemukan adanya tanda-tanda
mencurigakan. Tapi sampai sejauh itu belum terlihat adanya hal-hal yang
mencurigakan.
Sementara itu, lelaki pemilik
kedai telah datang sambil membawa baki berisi pesanan Dewa Arak. Di
belakangnya, berjalan seorang lelaki bertubuh kekar, membawa seguci besar
berisi arak.
Pemilik kedai itu meletakkan
semua pesanan di meja dengan hati-hati.
"Silakan dinikmati, Den," ujar pemilik kedai mempersilakan.
"Terima kasih, Ki."
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak lalu mengambil guci araknya yang tergantung di punggung. Lalu
diletakkannya di atas meja.
Sementara itu Melati mulai mengambil salah satu potongan ayam panggang dan
segera menyantapnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Sementara Dewa Arak sibuk
menuangkan arak dari guci besar ke dalam guci miliknya, Melati mulai mengunyah
santapannya.
Di tangan Dewa Arak, guci besar
yang berisi penuh dengan arak itu, bagaikan segumpal kapas. Dengan ringan, satu
tangannya mengangkat guci itu. Padahal, lelaki bertubuh kekar tadi membawanya
dengan kedua tangan. Itu pun nampaknya sambil mengerahkan sebagian besar
tenaganya.
Setelah guci miliknya penuh. Dewa
Arak segera mengambil gelas bambu yang disediakan pemilik kedai untuknya.
Kemudian sisa arak dalam guci besar itu dituangkan ke dalam alat minum dari
bambu itu. Dalam sekejapan saja arak itu telah ditenggaknya. Kemudian,
diambilnya sebuah jagung bakar dan segera digigit. Kini nampak sepasang muda-mudi itu tengah
menikmati santapannya.
Namun sebelum sebatang jagung
habis di tangan Dewa Arak, tiba-tiba Melati memanggilnya.
"Kang...," suara
panggilan lemah Melati membuat Dewa Arak mengalihkan perhatian dari jagung yang
tengah dinikmatinya.
"Ada apa, Melati?"
tanya Dewa Arak sambil menatap wajah kekasihnya.
"Kepalaku pusing, Kang.
Tubuhku gemetaran dan lemas...," lanjut gadis berpakaian putih itu sambil
memijit-mijit keningnya.
"Apa?!"
Dewa Arak terlonjak kaget bagai
disengat ular berbisa. Matanya langsung menatap tajam makanan dan minuman yang
tersaji di atas meja mereka.
"Jangan lanjutkan makan dan
minummu. Makanan ini pasti mengandung racun!" seru Dewa Arak ketika
merasakan sepasang matanya mulai berkunang-kunang.
Seketika itu juga Dewa Arak
bangkit dari duduknya. Namun tiba-tiba...
Srat! Srat! Srat!
Sinar-sinar terang berpendar
ketika semua orang di kedai itu menghunus senjatanya masing-masing. Kemudian,
sambil mengacungkan senjata, mereka bergerak menerjang Dewa Arak dan Melati.
Sing! Sing! Sing...!
Suara berdesing nyaring
mengiringi ayunan senjata-senjata itu menuju sasaran.
Sementara, keadaan sepasang
pendekar muda itu semakin parah. Terutama sekali Melati. Kepalanya semakin
bertambah pening, matanya berkunang-kunang, sehingga semua yang dilihat
berputaran tidak karuan.
Kalau hanya rasa pening menyerang
kepalanya, bagi Melati mungkin bukan masalah berat. Meskipun sepasang matanya
tidak mampu melihat jelas, dia masih mempunyai pendengaran. Dengan pendengaran
yang tajam, Melati mampu mengetahui arah yang dituju. Namun sayangnya,
tiba-tiba seluruh kekuatan tenaga dalamnya bagaikan lenyap. Tubuhnya gemetaran
dan lemas. Keringat dingin pun mulai membasahi sekujur tubuhnya.
Bagaikan seorang bayi yang baru
dilahirkan, tubuh Melati tidak mampu berbuat apa pun selain berdiam diri.
Untung saja keadaan Dewa Arak
tidak separah yang dialami Melati. Mengetahui keadaan mulai berbahaya, dengan
kecepatan yang sukar diikuti mata, Dewa Arak menyambar tubuh Melati.
"Hih!"
Dewa Arak melesat dan melenting
beberapa kali melewati kepala-kepala para penyerangnya.
Jliggg!
Dengan begitu ringan dan manis
sekali, kedua kaki pemuda berambut putih keperakan itu mendarat di belakang
para pengeroyoknya.
Tentu saja para pengunjung kedai
yang nampaknya bermaksud hendak melenyapkan Dewa Arak dan Melati, tidak membiarkan
buruan mereka lolos. Maka begitu melihat Dewa Arak berhasil meloloskan diri
dari kepungan, mereka serentak membalikkan tubuh memburu Dewa Arak yang memapah
tubuh Melati.
Sewaktu para pengeroyok tengah
membalikkan tubuh, Dewa Arak nampak menuangkan arak dari guci ke mulutnya.
Gluk.., gluk..., gluk..!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan. Seketika itu pula hawa hangat terasa berhembus
di dalam perut Arya. Perlahan-lahan hawa itu merayap ke atas. Dan akhirnya
tubuh pemuda berambut putih keperakan itu pun limbung.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Dewa Arak segera menyampirkan kembali gucinya ke punggung. Karena, tangan
kirinya memanggul tubuh Melati, Dewa Arak terpaksa menggunakan satu tangan
dalam menghadapi lawan-lawannya.
Dan Dewa Arak tidak perlu
menunggu lama kedatangan serangan lawan-lawannya. Karena baru saja gucinya
tersampir kembali ke punggung, serangan-serangan itu datang.
Para penyerang itu ternyata tidak
hanya pengunjung kedai. Pemilik kedai dan laki-laki tinggi besar yang membawa
guci juga turut menyerang. Jelas, kalau semua kejadian itu memang telah
direncanakan sebelumnya.
Dewa Arak segera mempersiapkan
diri menghadapi serangan-serangan itu. Jumlah para pengeroyoknya sepuluh orang.
Namun, pemuda berambut putih keperakan ini nampak tidak menganggap remeh
lawan-lawannya yang memiliki kepandaian lumayan itu.
Dewa Arak merasa bahwa tubuhnya
pun telah kemasukan racun dari makanan yang tadi disantapnya. Itulah sebabnya
Dewa Arak segera menenggak arak dari gucinya, karena arak yang telah masuk ke
gucinya akan mampu menawarkan segala macam racun yang masuk ke tubuhnya.
Di samping itu dengan perantaraan
arak, Arya ingin mengerahkan ilmu 'Belalang Sakti' andalan-nya. Dewa Arak
merasa perlu mengerahkan ilmu itu untuk menghindari terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan.
"Hait...!"
Dengan mempergunakan jurus
'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak berhasil mengelakkan serangan
lawan-lawannya. Padahal serangan itu datang dari segala penjuru, sehingga sulit
baginya untuk lolos dari kepungan para pengeroyok. Namun ternyata kecepatan
tubuhnya berkelit mampu menyelamatkan jiwanya dan Melati yang masih tetap dalam
dekapannya.
Bahkan, sesekali sambil berkelit
di antara kelebatan senjata lawan-lawannya, tangan dan kakinya sempat bergerak
cepat melancarkan serangan balasan.
Plak! Bukk! Desss! "Akh!
Ugkh...!"
Jerit kesakitan berturut-turut
terdengar seiring dengan pukulan tangan dan kaki Dewa Arak yang mendarat di
tubuh lawan. Dua di antaranya bersarang di dada, sedangkan yang satu lagi menghantam
perut. Seketika ketiga tubuh lawannya terjengkang ke belakang. Nampak dari
mulut ketiga penyerang itu memuntahkan darah.
Dewa Arak tidak meneruskan
serangannya kepada ketiga lawannya yang nampak tengah memegangi dada dan perut
mereka. Barangkali karena Dewa Arak belum tahu dengan jelas mengapa tiba-tiba
mereka menyerang dirinya dan Melati.
Nampak ketiga orang yang
terjungkal karena serangan balik Dewa Arak, kini bergerak terseok-seok
meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, ketujuh orang
lainnya sama sekali tidak ciut nyalinya melihat kejadian yang menimpa tiga
teman mereka. Bahkan sebaliknya mereka semakin ganas menyerang. Golok dan
pedang di tangan mereka berkelebatan ke bagian tubuh Dewa Arak.
"Hiaaat...!" Sing!
Sing! Sing!
Mata-mata senjata tajam berkilat
dan meluncur dari berbagai arah, siap mencacah tubuh Dewa Arak yang masih tetap
berdiri tenang. Namun, ketika serangan itu hampir menyambarnya, pemuda berambut
putih keperakan itu bergerak melancarkan serangan balik.
"Akh! Ukh! Hugkh...!"
Jeritan-jeritan tertahan
terdengar berkali-kali. Tangan dan kaki Dewa Arak beberapa kali tepat mendarat
di tubuh lawan-lawannya. Sesaat kemudian disusul ambruknya tubuh-tubuh mereka
ke tanah dan tak mampu bangkit lagi. Mereka hanya merintih-rintih kesakitan
sambil memegangi bagian tubuh yang terkena serangan Dewa Arak.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas lega
melihat semua lawannya telah roboh di tanah. Kejadian itu begitu cepat.
Sepasang matanya menatap
tubuh-tubuh yang tergeletak dengan luka parah itu. Satu persatu wajah-wajah
kesepuluh orang itu ditatapnya.
"Katakan, mengapa kalian
ingin membunuhku?" tanya Dewa Arak dengan suara yang ditekan.
"Cuihhh...!"
Pemilik kedai membuang ludah
sambil menatap tajam ke arah Dewa Arak.
"Tidak usah banyak tanya,
Dewa Arak! Kau tidak perlu tahu mengapa kami hendak membunuhmu! Mau bunuh,
silakan bunuh! Kami tidak takut mati. Yang penting, tugas kami untuk membunuhmu
telah selesai dan berhasil dengan baik!"
"Kau terlalu berlebihan,
Sobat!" sergah Dewa Arak. "Kuakui kelicikan kalian telah berhasil
melukai kawanku. Tapi terhadapku, kalian tidak berhasil. Pimpinan kalian akan
memberi hukuman atas kegagalan tugas kalian."
Dengan cerdik Dewa Arak
mengajukan pernyataan demikian untuk memancing apakah orang-orang itu hanya
suruhan. Dengan kata lain ada tokoh yang telah mendalangi tindakan mereka.
"Mana mungkin pimpinan kami
akan memberikan hukuman pada anak-anak buahnya yang telah berhasil menunaikan
tugas dengan baik? Kau yang keliru, Dewa Arak. Kau telah terkena racun kami,
dan jangan harap dapat lolos dari maut!" ucap sang Pemiliki kedai begitu
semangat dan yakin.
"Aku keracunan...? Sayang
sekali, Sobat. Kurasa keinginan kalian tidak berhasil. Aku tadi telah minum
obat untuk menawarkan pengaruh racun itu."
"Ha ha ha...! Jangan terlalu
yakin dengan obat penawar racun yang kau miliki, Keparat! Kau tahu, racun milik
pimpinan kami tidak bisa dimusnahkan dengan penawar racun apa pun," sergah
pemilik kedai.
Dan ternyata benar. Dewa Arak
tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuktikan kebenaran ucapan lelaki
kecil kurus itu. Karena tiba-tiba dirasakan ada kabut yang meliputi sepasang
matanya. Kabut itu membuat pandangan matanya samar-samar. Bahkan perlahan-lahan
tubuhnya dirasakan mulai gemetar dan lemas. Racun itu benar-benar telah menjalar
dan mulai bekerja.
"Dan jangan harap kau akan
bisa lolos dari sini. Dewa Goblok! Pimpinan kami telah memperhitungkan semuanya
secara cermat...."
Bersamaan dengan ucapan lelaki
kecil kurus itu, telinga Dewa Arak segera menangkap suara langkah-langkah kaki
mendekati tempatnya. Langkah-langkah kaki yang hanya dimiliki orang-orang
berkepandaian tinggi.
Bergegas Dewa Arak mengalihkan
pandangan ke luar. Dilihatnya dengan jelas, belasan orang yang menggenggam
senjata terhunus di tangan, bergerak cepat menuju kedai itu.
Dewa Arak segera menyadari
keadaan yang tengah dihadapinya tidak dapat dianggap remeh. Sepasang matanya
yang telah berpengalaman, segera mengetahui kalau orang-orang itu memiliki
kepandaian yang perlu diperhitungkan.
Kalau dalam keadaan biasa bukan
soal berat untuk berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Tapi kini tubuh
Dewa Arak telah terkena racun ganas yang tak mampu diatasi oleh arak dari
gucinya yang selalu tersampir di punggung itu. Apalagi kini disadarinya kalau
racun itu telah mulai menyerangnya. Sehingga, tubuhnya dirasakan semakin
melemah.
"Aku harus cepat-cepat
meninggalkan tempat ini, sebelum seluruh tenaga dalamku lenyap," pikir
Dewa Arak, sambil menatap tubuh-tubuh lelaki yang tengah bergerak ke kedai itu.
Dewa Arak segera melesat ke luar.
Dan serangan pemuda berambut putih keperakan ini langsung mendapat sambutan.
Belasan orang yang tengah menuju tempatnya siap memapak dengan senjata di
tangan mereka.
Dewa Arak segera berhenti dan
bersiap menghadapi mereka. Dipapaknya serangan senjata lawan dengan ayunan
gucinya.
"Hiaaat...!" Klang!
Klang....!
5
Dentang suara nyaring diiringi
berpijarnya bunga-bunga api langsung terjadi ketika senjata-senjata itu
berbenturan dengan guci Dewa Arak.
Seketika tubuh para pengeroyok
itu terhuyung-huyung ke belakang. Tangan mereka terasa bergetar. Sementara Dewa
Arak pun mengalami hal yang sama. Karena belasan senjata-senjata lawan
membentur gucinya hampir bersamaan, sehingga mengakibatkan tenaga-tenaga itu
seperti bersatu. Gabungan dari belasan tenaga itu dirasakan begitu kuat
menghantam guci yang digerakkan untuk menangkis. Lebih-lebih saat itu kekuatan
Dewa Arak telah berkurang akibat ganasnya racun yang menjalari tubuhnya.
Dewa Arak menggertakkan gigi ketika
merasakan kekuatannya semakin menurun. Dirasakan pula kedua matanya semakin
tertutup penghalang berupa lapisan putih. Sehingga pemandangan yang dilihatnya
pun semakin kabur, dan tidak jelas.
Untung saja rasa pusing yang
dialami Melati, tidak terjadi pada kepala Dewa Arak. Meskipun takaran racun
yang disajikan untuk dirinya jauh lebih besar. Namun, di samping daya tahannya
yang lebih besar, Dewa Arak pun sempat menenggak araknya. Meskipun arak itu
tidak mampu memusnahkan seluruh racun yang menjalar di tubuhnya,
setidak-tidaknya mampu mengusir rasa pening akibat racun itu.
Rupanya lawan-lawannya mengetahui
keadaan yang tengah dialami Dewa Arak. Buktinya, mereka tidak memberikan
kesempatan sama sekali padanya. Begitu kekuatan yang membuat tubuh mereka terhuyung
telah berhasil dipatahkan, kembali serangan lanjutan dilancarkan.
Kali ini belasan orang yang
menggunakan beraneka ragam senjata itu menerapkan siasat lain dalam menghadapi
Dewa Arak. Mereka tidak langsung menyerang sekaligus. Tapi menyerang secara
berganti-ganti.
Kekuatan mereka yang cukup besar
dengan enam belas orang, membuat taktik itu tidak terlalu sulit untuk
diwujudkan. Delapan orang dengan senjata terayun mulai maju menyerang lebih
dulu. Sisanya, delapan orang lagi bersiap menunggu giliran. Dengan siasat
penyerangan seperti itu, diharapkan Dewa Arak tak punya kesempatan untuk
beristirahat.
"Haaat...!"
Teriakan-teriakan melengking
nyaring yang susul menyusul saling bersahutan, seiring
dengan serangan delapan orang itu. Seketika itu pula, cicitan senjata-senjata
tajam seperti tombak, pedang, dan golok berkelebatan mengancam berbagai bagian
tubuh Dewa Arak. Mereka menyerang dari berbagai jurusan secara bersamaan.
Dewa Arak yang memang sejak tadi
sudah bersiaga, merasa kewalahan. Meskipun sepasang matanya tidak bisa
diandalkan, tapi dia masih mempunyai sepasang telinga yang dapat diandalkan.
Dengan menggunakan pendengaran, Dewa Arak mencoba meladeni serbuan
lawan-lawannya.
Menyadari keadaan yang tidak
menguntungkan, Dewa Arak segera mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ilmu
'Belalang Sakti' andalannya segera dikerahkan.
Namun kali ini ilmu andalannya
tidak sedahsyat biasanya. Karena di samping kekuatan Dewa Arak telah menurun,
di bahunya terpanggul tubuh Melati. Bukan tidak mungkin kedua hal ini mengganggu
kedahsyatan ilmu 'Belalang Sakti'.
Meskipun demikian, bukan berarti
kedahsyatan ilmu 'Belalang Sakti' itu pupus. Jurus-jurus dalam ilmu itu, tetap
menunjukkan keampuhannya. Dan hal itu terbukti.
"Heit!"
Dengan gerakan terhuyung-huyung
seperti akan jatuh, Dewa Arak mengelakkan serangan berbahaya
lawannya. Inilah jurus 'Delapan Langkah Belalang."
Tapi, baru saja Dewa Arak
berhasil mengelakkan serangan itu, beberapa serangan susulan telah meluncur ke
tubuhnya. Kali ini dilakukan oleh kelompok kedua. Untuk yang kedua kalinya
beberapa senjata tajam mengancam keselamatan Dewa Arak dan Melati yang terkulai
di bahunya.
Dewa Arak melakukan hal yang
sama, hanya mengelak. Sama sekali tidak dilancarkannya serangan
balasan. Karena yang ada di benak
pemuda berambut putih keperakan itu bagaimana secepatnya meninggalkan tempat
ini sebelum seluruh tenaga dalamnya habis terkuras.
Sebagai pendekar yang telah
kenyang makan asam garam dunia persilatan, Dewa Arak tahu kalau penyebaran
racun akan semakin cepat jika peredaran darah cepat. Dan, cepatnya peredaran darah tergantung kegiatan yang dilakukan tubuh.
Itulah sebabnya, Dewa Arak berusaha tidak melakukan perlawanan. Bahkan
setiap kali berkelit, dilakukan sambil
menjauhkan diri.
Usaha Dewa Arak tidak sia-sia.
Lawan-lawannya yang terlalu bersemangat untuk segera merobohkannya, sama sekali
tidak menduga kalau pemuda berambut putih keperakan itu akan melarikan diri.
Apalagi, jurus 'Delapan Langkah Belalang' terlalu cepat untuk bisa diketahui
perkembangannya oleh para pengeroyok yang memiliki kemampuan jauh di bawah Dewa
Arak. Dan akhirnya, pemuda berambut putih keperakan ini berhasil meloloskan
diri dari sergapan lawan-lawannya.
Karuan saja hal itu membuat enam
belas orang pengeroyoknya terkejut bukan kepalang. Dengan serentak mereka
bergerak mengejar.
"Mau lari ke mana kau, Dewa
Pengecut?!" teriak salah seorang di antara mereka yang berkumis melintang.
Seperti juga yang lainnya, lelaki
itu memiliki raut wajah kasar dan tubuh kekar.
"Jangan harap bisa lolos
dari tangan kami!" sambung lainnya yang memiliki codet menyilang di dahi,
dengan suara tak kalah keras.
Suara-suara makian dan teriakan
keluar dari mulut-mulut mereka yang terus berusaha mengejar Dewa Arak.
Sementara itu, Dewa Arak terus
melesat cepat meninggalkan lawan-lawannya. Dia tidak mempedulikan caci-maki dan
ejekan yang diteriakkan orang-orang yang mengejarnya.
Hinaan, caci-maki, dan ejekan
terus terdengar dari mulut mereka. Dengan sabar, hatinya tidak menghiraukan
suara-suara itu. Yang penting bagi Dewa Arak dapat segera meninggalkan tempat
itu, untuk menyelamatkan dirinya dan
Melati. Disadari benar kalau
keselamatan jiwanya dalam bahaya kalau tidak segera lolos dari mereka.
Itulah sebabnya, Dewa Arak terus
mengayunkan langkahnya, berusaha secepat mungkin meninggalkan lawan-lawannya
sebelum kekuatan yang dimilikinya lenyap.
Namun harapan memang tidak
selamanya bisa menjadi kenyataan. Ketika Dewa Arak melarikan diri, kekuatan tubuhnya
telah menurun jauh. Semakin lama, kekuatan tubuhnya semakin berkurang.
Sehingga, pemuda berambut putih keperakan itu tak mampu bergerak cepat untuk
segera kabur sejauh-jauhnya dari para pengeroyoknya. Meskipun tenaganya terus
dikerahkan sekuat tenaga, para pengejar semakin mendekat.
Dan lebih sial lagi ketika
tiba-tiba seluruh tenaganya musnah! Rasa lemas yang luar biasa melanda
tubuhnya. Seluruh tulang-tulangnya bagai dilolosi. Tubuhnya lunglai, dan....
Brukkk!
Seketika tubuh Dewa Arak yang
tengah memanggul Melati, ambruk ke tanah. Dewa Arak tidak putus asa,
diusahakannya untuk segera bangkit. Semangat yang besar karena dorongan ingin
menyelamatkan Melati, membuatnya mampu terus bertahan sehingga tidak pingsan.
Berkali-kali dicobanya untuk
bangkit, tapi sia-sia. Rasa lemas yang melanda tubuhnya membuat Dewa Arak tidak
mampu berdiri lagi.
***
"Ha ha ha...!"
Tawa keenam belas orang pengejar
Dewa Arak pun meledak. Tawa kegembiraan bercampur ejekan. Mereka merasa menang
melihat tubuh Dewa Arak terkulai lemas di samping tubuh kekasihnya.
Dan masih dengan tawa yang belum
tuntas, mereka menyerbu ke arah Dewa Arak yang terkulai beberapa tombak di
depan mereka. Senjata-senjata tajam yang tergenggam di tangan, telah siap untuk
diayunkan.
Srat! Srat! Srat!
Senjata-senjata mereka seketika
terayun. Cahaya berkilau bermunculan dari senjata-senjata yang tertimpa
sinar matahari. Keenam belas
orang itu telah siap menebas kepala Dewa Arak! Mereka begitu bernafsu untuk
segera menghabisi nyawa pemuda yang namanya tengah
menggemparkan dunia persilatan itu. Apalagi mata mereka melihat tubuh Dewa Arak
yang terkulai tak berdaya itu.
Tapi rupanya nasib baik berpihak
pada Dewa Arak. Sebelum belasan senjata beraneka ragam itu merencah tubuhnya, sesosok bayangan putih berkelebat cepat menyambar tubuhnya dan Melati.
Tappp, tappp!
Cappp! Cappp! Kreppp! Jrebbb!
Seketika sambaran senjata-senjata
itu membabat tempat kosong. Gerakan sosok bayangan putih itu begitu cepat.
Sehingga dalam sekejap saja kedua tubuh yang terkulai lemas telah berada di
tangannya. Terlambat sedikit saja, pasti tubuh sepasang pendekar muda itu akan
hancur terbabat belasan senjata.
"Keparat!"
Laki-laki berkumis melintang
menggeram ketika mengetahui senjatanya hanya membabat tanah. Mereka segera tahu
kalau dua orang calon korban mereka telah berhasil diselamatkan seseorang.
Keenam belas pengeroyok Dewa Arak itu melihat kelebatan sosok bayangan putih
itu, meskipun tidak begitu jelas.
Sesaat setelah hilang rasa
terkejutnya, mereka bergerak memburu bayangan putih itu. Namun enam belas orang
ini kecele! Sosok bayangan putih itu ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh
yang luar biasa. Sehingga keenam belas lelaki berwajah kasar dan beringas itu
tidak mampu mengejarnya. Sosok bayangan putih yang membawa tubuh Dewa Arak dan
Melati melesat secepat kilat. Sampai akhirnya lenyap dari pandangan mata.
Terpaksa gerombolan pengejar itu menghentikan langkahnya.
"Keparat!"
Untuk yang kesekian kalinya,
lelaki berkumis melintang mengeluarkan makian. Kegeraman yang hebat tampak
jelas di wajahnya.
"Kau kenal orang usilan itu,
Kang?" tanya lelaki yang memiliki codet melintang di dahi.
Lelaki berkumis melintang
menggelengkan kepala.
"Aku tidak sempat
melihatnya. Jangankan wajahnya, bentuk tubuhnya pun tidak sempat kulihat secara
jelas. Keparat! Orang itu harus mendapat ganjaran atas kelancangannya!" desis
lelaki berkumis melintang dengan sorot mata memancarkan dendam.
"Apa yang harus kita
laporkan pada ketua, Kang?" tanya salah seorang di antara mereka yang
berkulit wajah kemerahan.
"Hhh...!" lelaki
berkumis melintang menghela napas berat. "Apa lagi kalau bukan
menceritakan apa adanya? Tapi, yang jelas kita semua tidak akan lolos dari
hukuman! Hhh...! Padahal, ketua sudah yakin, kalau rencana ini akan berhasil.
Sukar dibayangkan kemurkaannya, kalau mengetahui Dewa Arak berhasil
lolos."
"Tapi, Kang," sergah
salah seorang yang mempunyai tahi lalat besar di pipi kanan. "Bukankah
Dewa Arak dan kawannya telah berhasil kita cekoki racun? Aku yakin nyawa mereka
akan melayang. Bukankah racun milik ketua tidak diragukan lagi kemampuannya?
Jadi, meskipun kita tidak melihat sendiri kematian Dewa Arak dan kawannya, tapi
sudah pasti mereka akan tewas!"
"Apa yang kau katakan itu
benar, Wigura," kata lelaki berkumis melintang pada rekannya yang memiliki
tahi lalat besar di pipi kanan. "Menurut pengalaman selama ini, Dewa Arak
dan rekannya itu akan tewas. Tapi, aku yakin ketua tidak akan berpendapat
seperti itu. Tanpa melihat dengan mata kepala sendiri bangkai Dewa Arak, ketua
tidak akan percaya kalau Dewa Arak telah tewas. Aku sendiri pun tidak yakin kalau
Dewa Arak tewas! Bukan tidak mungkin dia tetap hidup."
Kontan semua yang mendengar
ucapan lelaki berkumis melintang itu terdiam. Tidak satu pun dari mereka yang
berbicara. Disadari kebenaran dari ucapan lelaki berkumis melintang itu. Mereka
nampak mulai merasa cemas.
"Lalu..., sekarang apa yang
harus kita lakukan, Kang?" tanya lelaki yang memiliki kulit wajah
kemerahan.
"Tentu saja melaporkan
semuanya pada ketua," jawab lelaki berkumis melintang, tak bergairah.
Usai berkata demikian, lelaki
berkumis melintang itu segera membalikkan tubuhnya.
"Mari kita berangkat,"
ajak lelaki berkumis melintang itu tidak bersemangat.
Kelima belas orang kawannya
segera mengayunkan langkah, mengikuti gerakan lelaki berkumis melintang yang
telah melesat lebih dulu.
6
"Uaaah...!"
Arya membuka mulutnya lebar-lebar sambil menggeliatkan tubuh untuk melemaskan urat-uratnya yang
terasa kaku. Perlahan-lahan sepasang matanya terbuka. Seketika dia tersentak
dari berbaringnya. Tampak jelas kalau pemuda berambut putih keperakan ini
merasa kaget bukan kepalang.
Saat ini, Dewa Arak berada di
sebuah ruangan yang luas dan cukup baik, meskipun dinding-dindingnya terbuat
dari bilik. Tubuhnya pun tergolek di sebuah balai-balai dari bambu. Sementara
tak jauh darinya, tampak sebuah meja yang di atasnya terdapat kendi, dan
beberapa buah gelas bambu. Salah satu dari gelas bambu itu mengepulkan asap
beraroma khas. Aroma yang telah dikenal pemuda berambut putih keperakan itu.
Aroma ramuan obat.
Kontan benak Arya berputar keras.
Berbagai macam pertanyaan muncul di benaknya. Mengapa dirinya berada di sini?
Dan di mana adanya tempat ini? Mengapa ada obat-obatan di tempat ini? Siapakah
yang tengah sakit?
Pertanyaan-pertanyaan yang timbul di benak
membuat Dewa Arak penasaran. Dan karena tidak ada orang di sekitar situ,
pikirannya berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dicobanya juga untuk
mengingat-ingat kejadian yang telah dialaminya.
Kemudian sedikit demi sedikit
ingatannya kembali ke kejadian yang baru saja dialaminya. Dia diracuni secara
licik oleh pemilik kedai palsu, yang ternyata sudah merencanakan
semua itu untuk membunuhnya.
Kemudian dia kabur untuk menyelamatkan diri. Tapi, sebelum maksudnya terlaksana
dia keburu jatuh, dan akhirnya pingsan. Lalu, bagaimana dengan Melati?
Teringat akan Melati, membuat
Dewa Arak tersentak kaget. Perasaan khawatirnya pun kembali menyeruak. Dan
dalam cekaman rasa cemas yang melanda, pandangannya diedarkan ke sekeliling.
Namun, Melati tidak ditemukannya. Hal ini membuat Dewa Arak kalap.
Perasaan khawatir yang amat sangat akan keselamatan kekasihnya, membuat pemuda
berambut putih keperakan itu berusaha bangkit dari berbaringnya. Tapi....
"Uuuh...!"
Tanpa sadar sebuah keluhan
tertahan keluar dari mulut Arya ketika baru saja tubuhnya sedikit terangkat.
Rasa pusing yang amat sangat langsung melandanya, membuat pemandangan yang
terlihat berputaran.
Terpaksa pemuda berambut putih
keperakan itu mengurungkan niatnya. Tubuhnya direbahkan kembali di pembaringan. Kemudian matanya dipejamkan untuk menghilangkan rasa pusing yang melanda.
Saat itulah telinganya mendengar
suara langkah-langkah halus di luar kamar. Semakin lama semakin jelas
tertangkap di telinganya. Seseorang yang tengah menuju tempatnya, tentu
memiliki kepandaian tinggi. Ini dibuktikan dari ringannya suara langkah kaki
yang menapak tanah.
Rasa ingin tahu membuat Dewa Arak
membuka matanya. Dia tidak khawatir orang yang hendak datang ke tempatnya
bermaksud buruk. Dewa Arak yakin kalau orang itu adalah orang yang membawanya
kemari. Dan menilik dari perlakuan orang itu terhadap dirinya, hatinya menduga
kalau orang itu bermaksud menolongnya. Lagi pula, sebelum pingsan Dewa Arak
sempat merasakan ada sesosok bayangan yang telah menyambar tubuhnya, tepat
ketika sambaran senjata-senjata para pengeroyok hampir menerjangnya.
Tak lama kemudian.... Kriiit...!
Suara berderit pelan terdengar
dari daun pintu ruangan yang terbuka. Dan sesaat kemudian, seraut wajah tua
menyembul dan balik daun pintu itu. Seraut wajah yang terlihat masih segar
meskipun telah ditumbuhi kumis dan
jenggot putih. Warna pakaian yang
dikenakannya pun putih bersih.
"Rupanya kau telah sadar,
Anak Muda," kata kakek berpakaian putih itu sambil mengayunkan langkah
menghampiri Dewa Arak.
"Berkat pertolonganmu,
Ki," jawab Arya agak gugup. Nampaknya pemuda berambut putih keperakan itu
belum yakin benar kalau kakek berpakaian putih itulah yang telah menolongnya.
Meskipun diakui kalau samar-samar telah melihat orang yang telah menolongnya,
mengenakan pakaian putih.
"Ah! Matamu sungguh awas,
Anak Muda. Dalam keadaan gawat kau masih bisa mengenaliku? Hebat! Benarkah kau
orang yang berjuluk Dewa Arak?" tanya kakek berpakaian putih itu sambil
menarik kursi yang terletak di kolong meja tempat guci dan gelas-gelas bambu
berada. Kemudian dengan perlahan-lahan pantatnya diletakkan di kursi itu.
"Apa istimewanya julukan
itu, Ki? Aku yakin kau memiliki kepandaian dan julukan yang melebihiku,"
sambut Arya merendah.
"Ha ha ha...!"
Kakek berpakaian putih itu
tertawa lunak sambil menatap wajah Dewa Arak.
"Kau terlalu merendah, Dewa
Arak. Siapa yang belum mendengar tentang dirimu? Julukanmu begitu menggemparkan dunia
persilatan. Hampir semua tokoh persilatan tahu kalau kau memiliki kepandaian
yang tidak ada bandingannya. Tak terhitung sudah datuk-datuk kaum sesat yang
tewas di tanganmu. Tapi kau masih bersikap begitu rendah hati. Luar biasa! Kau
luar biasa, Dewa Arak!" lanjut kakek berpakaian putih itu.
"Ah! Kau terlalu berlebihan,
Ki. Toh, kenyataannya menghadapi gerombolan orang kasar saja aku dan kawanku
tak berdaya. Kalau kau tidak datang menolongku, mungkin kami telah tewas, Ah,
ya...! Apakah kau melihat kawanku, Ki?"
Langsung saja Dewa Arak
menanyakannya begitu teringat kembali akan Melati. Perasaan penuh harap tampak
jelas baik dalam sorot wajah dan sinar matanya, maupun nada suaranya.
"Apakah kawanmu itu gadis berpakaian
putih yang tergeletak di sampingmu?" tanya kakek berpakaian putih
memastikan.
"Benar, Ki. Melati
namanya," sambut Dewa Arak penuh semangat. "Apakah kau
melihatnya...?"
Kakek berpakaian putih itu
menganggukkan kepala. "Bukan hanya melihatnya, aku pun membawanya
kemari. Seperti kau, dia pun
menderita keracunan hebat. Kutempatkan dia di kamar sebelah, setelah kuberikan
pengobatan seperlunya."
"Hhh...!" Dewa Arak
menghembuskan napas lega. "Aku tak tahu harus berkata apa untuk
mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang telah kau berikan, Ki. Budi yang
kau berikan pada kami terlalu besar...."
"He he he...!"
Kakek berpakaian putih tertawa
terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kau ini aneh, Dewa Arak.
Masih saja kau meributkan soal budi. Padahal, dibandingkan dengan semua yang
telah kau lakukan terhadap dunia persilatan, tindakanku ini sama sekali tidak
berarti apa-apa."
Dewa Arak hanya bisa
menyunggingkan senyum kaku. Kini disadari mengapa orang-orang yang telah
diberinya pertolongan mengucapkan terima kasih. Rupanya karena perasaan
bersyukur atas pemberian bantuan yang diberikan sang penolong.
"Kau terlalu merendahkan diri, Ki.
Meskipun demikian, aku yakin kau bukan orang sembarangan. Bolehkah aku
mengenalmu lebih jauh, Ki?" tanya Dewa Arak hati-hati.
"Tentu saja boleh, Dewa
Arak. Tapi hal itu nanti saja. Sekarang, yang lebih penting menyembuhkan lukamu
dulu. Kau tahu, racun yang mengendap di tubuhmu dan juga di tubuh kawanmu itu
adalah sejenis racun yang amat berbahaya. Racun ganas yang mematikan."
Kakek berpakaian putih itu
menghentikan ucapannya sebentar untuk mengambil napas.
"Untunglah aku berhasil
menjinakkannya. Sekarang keadaanmu dan juga kawanmu sudah tidak berbahaya lagi.
Tinggal menunggu waktu agar kau segera sembuh."
"Terima kasih atas jerih
payahmu, Ki. Kebe-hasilanmu menyembuhkan kami sebagai bukti kalau kau bukan
orang sembarangan. Kalau aku tidak salah menebak, kau pasti yang berjuluk Dewa
Obat Baju Putih. Apakah dugaanku benar, Ki?"
"Kau memang cerdik, Dewa
Arak. Dugaanmu sama sekali tidak keliru. Memang, akulah yang berjuluk Dewa Obat
Baju Putih. Tapi, apa alasan yang mendorongmu menduga demikian, Dewa
Arak?" tanya kakek berpakaian putih yang ternyata berjuluk Dewa Obat Baju
Putih.
"Sederhana saja, Ki.
Ucapanmu dan terutama sekali keberhasilan pengobatanmu, serta ciri-ciri yang
kau miliki. Telah kudengar kalau Dewa Obat Baju Putih adalah seorang kakek ahli
obat, sakti, dan mengenakan pakaian putih," jawab Arya.
"Kau memang cerdik, Dewa
Arak," puji Dewa Obat Baju Putih tulus.
"Rupanya kau senang memuji,
Ki," sahut Arya merasa tidak enak.
Kemudian dengan mata tajam,
ditatapnya wajah kakek berpakaian putih itu lekat-lekat.
"Kurasa agar percakapan kita
berjalan lebih enak, bagaimana kalau kau memanggil namaku saja, Ki? Namaku Arya
Buana. Tapi, orang-orang biasa menyapaku Arya."
"Begitu pun boleh, De..., eh
Arya...!" sambut Dewa Obat Baju Putih. "Sayang sekali, aku tidak
ingat lagi nama asliku sendiri, Arya."
"Tidak mengapa, Ki. Aku pun
bisa memaklumi," sambut Arya.
Dewa Obat Baju Putih
mengembangkan senyum tipis. "O, ya Arya. Hampir saja aku lupa. Kau masih
harus
minum sekali lagi ramuan obatku
agar pengaruh racun yang mengendap di tubuhmu lenyap semua."
Dewa Obat Baju Putih lalu
mengambil gelas bambu berisi ramuan obat yang dibuatnya. Kemudian gelas itu
didekatkan ke mulut Arya.
Semerbak aroma agak pedas tercium
hidung Dewa Arak. Tapi pemuda berambut putih keperakan itu tidak
mempedulikannya. Tanpa ragu-ragu ramuan obat itu diminumnya hingga habis.
"Sekarang beristirahatlah,
Arya. Aku pergi dulu untuk menengok kawanmu. Dia pun harus minum ramuanku
sekali lagi agar terbebas dari pengaruh racun itu."
Kemudian tanpa menunggu tanggapan
Arya, Dewa Obat Baju Putih mengayunkan langkah meninggalkan tempat itu.
Sementara Dewa Arak hanya memandangi punggung kakek berpakaian putih itu. Lega
sudah rasa hatinya mendengar Melati berada di situ pula. Dan bahkan akan sembuh
dari lukanya. Kini tanpa perasaan cemas lagi, sepasang matanya dipejamkan.
***
Matahari sudah naik tinggi,
bahkan sudah hampir tegak lurus ketika tiga sosok tubuh duduk di teras depan
sebuah pondok berdinding bilik bambu. Tiga sosok itu terdiri dari dua orang
lelaki dan seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak, Melati, dan Dewa
Obat Baju Putih. Kini mereka duduk saling berhadapan beralaskan tikar daun
kelapa.
"Aku ingin mengajukan sebuah
pertanyaan padamu, Ki. Dan aku ingin sekali mendapatkan jawabannya. Tapi tentu
saja, kalau kau tidak keberatan," ucap Arya.
Wajah pemuda berambut putih
keperakan itu terlihat sudah cerah kembali. Tubuhnya telah pulih seperti
sediakala. Seluruh kekuatannya pun telah pulih kembali.
"Katakan saja, Arya. Kalau
bisa, tentu akan kujawab," ringan sambutan Dewa Obat Baju Putih.
"Terima kasih, Ki. Begini.
Di perjalanan, kami bertemu seseorang yang tengah dikeroyok segerombolan orang
berseragam hitam yang mukanya tertutup kain hitam. Sayangnya, kami agak
terlambat sehingga orang itu keburu tewas."
Dewa Arak berhenti sejenak ingin
melihat tanggapan Dewa Obat Baju Putih. Tapi ternyata kakek berpakaian putih
itu tetap diam mendengarkan.
"Tapi berdasarkan hasil
penyelidikan kami dan berbekal sedikit keterangan dari si korban, bisa kami
ketahui kalau dia seorang ahli obat yang bermaksud melaksanakan tugasnya.
Sedangkan orang-orang berselubung hitam itu
pihak yang tidak menyenangi
pekerjaan yang akan dilakukan ahli obat itu. Sehingga ahli obat itu
dibinasakan."
Kembali Dewa Arak menghentikan ucapannya
sebentar untuk mengambil napas.
"Penyelidikan membawa kami
ke sebuah tempat yang berhawa tidak enak. Tapi kami belum sempat menyelidikinya
lebih lanjut. Karena perut kami waktu itu sangat lapar," lanjut Dewa Arak.
"Benar, Ki," sambung
Melati ketika melihat isyarat dari Arya untuk menggantikan melanjutkan cerita.
"Kami lalu menemukan sebuah kedai. Kemudian memesan makanan dan minuman.
Siapa sangka kalau dalam makanan dan minuman itu telah dicampuri racun.
Akibatnya, yahhh...! Seperti yang kau jumpai, Ki."
"Nah! Yang menjadi
pertanyaan kami, Ki. Apakah kau mengetahui pula akan adanya peristiwa seperti
ini?" sambung Dewa Arak seraya mengajukan pertanyaan pada kakek berpakaian
putih itu.
Dewa Obat Baju Putih tidak
langsung menjawab pertanyaan Dewa Arak. Bibirnya tersenyum pada sepasang
muda-mudi yang duduk di hadapannya. Kemudian dihelanya napas panjang sebentar.
"Maksudmu peristiwa
pembunuhan terhadap ahli obat itu, Arya?" kakek berpakaian putih malah
balas bertanya.
"Tidak, Ki," jawab Dewa
Arak sambil menggelengkan kepala. "Yang kumaksudkan adalah, apakah kau
mengetahui adanya orang-orang yang membutuhkan pengobatan si ahli obat
itu?"
"Kalau secara pastinya...,
aku tidak tahu, Arya. Tapi yang jelas di tempat kau mencium bau tidak enak itu,
memang telah terjadi malapetaka hebat," ujar Dewa Obat Baju Putih.
"Malapetaka hebat, Ki?"
selak Melati tidak sabar. "Benar. Malapetaka hebat!" jawab Dewa Obat
Baju
Putih sambil menganggukkan
kepala. "Di dekat tempat itu beberapa waktu yang lalu berdiri sebuah
perguruan silat yang bernama Perguruan Naga Terbang. Ketuanya adalah sahabat
lamaku. Memang, muridnya tidak banyak. Tapi, saat ini perguruan itu sudah tidak
ada lagi. Sudah musnah! Mereka semua tewas karena racun. Tapi, konon menurut
berita yang kudengar, sebagian
dari mereka mati secara perlahan-lahan."
"Ahhh...!" desah Arya.
"Kau tahu siapa pelaku tindak kekejian itu, Ki?"
"Secara pastinya, aku belum
tahu. Tapi, dari hasil pemeriksaanku terhadap mayat orang-orang Perguruan Naga
Terbang, aku bisa menduga siapa pelakunya," kata Dewa Obat Baju Putih
lagi.
"Siapa, Ki?" tanya
Melati ingin tahu.
Memang gadis ini memiliki watak
tidak sabaran. Bahkan kadang-kadang kewaspadaannya hilang karena tergesa-gesa.
"Raja Racun...," jawab
Dewa Obat Baju Putih.
"Raja Racun?" tanya
Dewa Arak dengan suara berdesah. "Kau menduga dia pelakunya, Ki?"
Dewa Obat Baju Putih
menganggukkan kepala, membenarkan pertanyaan itu.
Arya memperhatikan wajah kakek
berpakaian putih sejenak.
"Maaf, kalau aku bersikap
lancang, Ki. Tapi, menurut perasaanku kau tidak yakin kalau pelakunya adalah
Raja Racun. Ini hanya dugaanku saja, Ki."
"He he he...!" Dewa
Obat Baju Putih tertawa lunak. "Kau memang cerdik, Arya. Kuakui, aku tidak
yakin akan dugaanku sendiri."
"Boleh aku tahu alasannya,
Ki?" desak Arya lagi, sedangkan Melati hanya mendengarkan saja percakapan
yang terjadi.
Dewa Obat Baju Putih menghela
napas berat.
"Sayang sekali aku tidak
bisa menjelaskan alasannya, Arya. Bukannya tidak mau, tapi memang sulit untuk
mengutarakannya. Tapi secara singkat bisa kukatakan. Aku telah lama menjalin
hubungan dengan Raja Racun. Lebih dari dua puluh tahun. Kami sering mengadakan
pertemuan untuk saling menguji kepandaian. Itu kami lakukan setiap dua tahun
sekali. Dan, aku tahu betul sifat-sifatnya. Karena itulah aku tidak percaya
kalau pelaku semua pembantaian itu adalah dia. Jelas, Arya?!"
Dewa Arak tidak langsung
memberikan sambutan. Dia tengah berusaha mencerna penjelasan Dewa Obat Baju
Putih. Hal yang sama pun dilakukan Melati.
"Mungkin keteranganku kurang
jelas, Arya. Agar kau jelas, bisa kuambil perbandingan. Andaikata kau dengar
berita yang mengatakan kawanmu melakukan tidak kejahatan. Apakah kau akan percaya begitu saja, Arya?
Misalnya saja, korban itu tewas karena ilmu yang kau tahu dimiliki kawanmu ini.
Percayakah kau, Arya?"
"Tidak, Ki," Dewa Arak
menggelengkan kepala. "Tapi meskipun demikian, aku akan menyelidiki
keberarannya. Kalau benar dia pelakunya, aku yakin ada hal-hal yang
mendorongnya melakukan tindakan seperti itu."
"Tepat! Tindakan itu pula
yang tengah kulakukan, Arya!" sambut Dewa Obat Baju Putih, cepat.
"Walaupun tidak percaya akan berita yang tersebar, penyelidikan tetap
kulakukan. Sayangnya sampai sekarang, tetap saja belum kutemukan adanya titik
terang. Masalah ini masih gelap!"
"Aku dan kawanku akan
membantumu menyingkap masalah ini, Ki. Mudah-mudahan saja bantuan yang kami
berikan ini ada gunanya," ujar Dewa Arak menawarkan diri.
"Terima kasih, Arya. Memang, aku sangat membutuhkan bantuanmu untuk
menyingkap masalah ini. Banyak hal di luar pengetahuanku yang kudengar dari
mulutmu. Di antaranya adalah pembunuhan terhadap ahli obat."
"O ya, Ki. Menurut ceritamu,
kau telah menjalin hubungan cukup lama dengan Raja Racun. Jadi...,
setidak-tidaknya kau mengetahui ciri-ciri racun yang dimilikinya. Apakah racun
yang menyerang kami termasuk di antara racun yang dimiliki Raja Racun?!"
tanya Dewa Arak ingin mencari kejelasan.
"Hhh...!"
Dengan didahului helaan napas
berat, Dewa Obat Baju Putih menganggukkan kepala.
"Racun yang menyerangmu dan
kawanmu memang racun yang dimiliki Raja Racun. Tidak ada orang lain yang
memilikinya kecuali dia! Hhh...! Entah apa yang membuatnya bertindak seperti
itu...?" keluh Dewa Obat Baju Putih dengan pandang mata menerawang jauh ke
atas.
"Jawaban dari pertanyaan itu
hanya kita dapatkan melalui penyelidikan, Ki," ujar Dewa Arak pelan.
Ucapan Dewa Arak membuat kakek
berpakaian putih itu tersentak.
"Apa yang kau ucapkan benar,
Arya. Tunggu apa lagi? Mari kita memulainya sekarang!"
Usai berkata demikian, kakek
berpakaian putih itu bergerak bangkit. Hal yang sama pun dilakukan Dewa Arak
dan Melati.
"Apakah kau telah mempunyai
tujuan, Ki?" tanya Dewa Arak sambil lalu.
"Ya!" jawab Dewa Obat
Baju Putih singkat. "Ke mana, Ki?" tanya Dewa Arak lagi. "Tempat
kediaman Raja Racun!"
Kemudian, tanpa menunggu
pertanyaan selanjutnya keluar dari mulut Dewa Arak, Dewa Obat Baju Putih
mengayunkan langkah. Hanya sekali hentak, tubuhnya telah melesat jauh. Kali ini
Dewa Arak dan Melati dapat melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki kakek berpakaian putih itu. Tubuh Dewa Obat Baju Putih begitu cepat
melesat, sehingga yang nampak hanyalah sebuah bayangan putih yang melesat.
Tapi sepasang muda-mudi itu tidak
bisa terlalu lama tenggelam dalam kekagumannya. Keduanya segera melesat begitu
cepat menyusul Dewa Obat Baju Putih yang telah jauh meninggalkan tempat itu.
7
"Itulah tempat kediaman Raja
Racun, Arya," kata Dewa Obat Baju Putih sambil menudingkan jari
telunjuknya ke sebuah gua yang tak jauh di hadapan mereka.
Saat itu, Dewa Arak, Dewa Obat
Baju Putih, dan Melati berada di lereng Gunung Gawar. Dewa Arak dan Melati
segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling lereng gunung itu. Kemudian
kembali menatap tajam ke gua tempat tinggal Raja Racun.
Alis sepasang pendekar muda itu
sama-sama berkerut ketika melihat gua yang ditunjukkan Dewa Obat Baju Putih.
Yang terlihat hanyalah kegelapan di sekitar mulut gua. Tidak terlihat sedikit
pun isi yang ada di dalamnya.
"Mari kita lihat lebih dekat
lagi," ajak Dewa Obat Baju Putih ketika melihat sepasang pendekar muda itu
terdiam.
Dewa Arak dan Melati mengayunkan
kaki mengikuti Dewa Obat Baju Putih yang telah melangkah lebih dahulu. Hanya
dalam beberapa langkah, jarak antara mereka dengan mulut gua itu tinggal tiga
tombak lagi. Dan di sini, Dewa Obat Baju Putih menghentikan langkahnya. Mau tak
mau Dewa Arak dan Melati pun berhenti.
"Boleh aku mengajukan
permohonan pada kalian berdua?" tanya Dewa Obat Baju Putih sambil menatap
wajah Dewa Arak dan Melati bergantian.
"Apa itu, Ki? Katakanlah.
Apabila kami mampu dan selama tidak bertentangan dengan kebenaran, pasti akan
kami kerjakan," mantap dan tegas ucapan Dewa Arak.
Melati hanya menganggukkan
kepala. Memang, gadis berpakaian putih itu telah percaya penuh pada Arya. Dia
yakin setiap keputusan yang diambil pemuda berambut putih keperakan itu pasti
benar dan sesuai dengan pendapatnya.
Seulas senyum lebar dan sorot
mata kekaguman terpancar dari sepasang mata Dewa Obat Baju Putih.
"Tentu saja tidak bertentangan
dengan kebenaran, Arya. Aku hanya minta agar kau dan Melati bersembunyi dulu.
Aku khawatir, dengan keberadaan kalian, Raja Racun tidak mau menemuiku. Paling
tidak, dia tidak akan terus-terang mengutarakan hal-hal yang mengganjal di
hatinya. Bagaimana? Kau bersedia meluluskan permintaanku ini, Arya?"
"Hanya permintaan seperti
itu, apa beratnya, Ki? Baiklah. Kami akan bersembunyi dan baru akan keluar
apabila kau memberikan isyarat, atau jika ada perkembangan lain yang tidak
terduga."
"Terima kasih atas kebijaksanaan
hatimu, Arya." Dewa Arak hanya tersenyum.
"Mari, Melati," ajak
Arya pada kekasihnya.
Tanpa membantah, Melati mengikuti
Dewa Arak yang telah bergerak lebih dulu menuju gundukan-gundukan batu yang
terdapat di sekitar tempat itu. Besarnya gundukan
batu-batu yang sebesar kerbau itu
memungkinkan untuk dijadikan tempat bersembunyi.
Sementara itu, Dewa Obat Baju
Putih mengamati hingga Arya dan Melati menyelinap di balik batu besar itu. Baru
setelah itu, matanya menatap gua di hadapannya.
"Raja Racun....! Aku, Dewa
Obat Baju Putih datang...! Ada urusan yang harus kubicarakan denganmu.
Keluarlah...!" seru kakek berpakaian putih itu.
Pandangan matanya tetap tertuju
ke dalam gua. Tenaga dalamnya dikerahkan pada teriakan itu. Hal ini dimaksudkan
agar ucapan itu terdengar sampai jauh ke dalam gua.
Namun, tidak hanya ke dalam gua
suara teriakan itu bergema. Teriakan lelaki tua itu menggema ke seluruh dataran
di lereng gunung. Gema suara menggelegar itu terdengar berulang-ulang.
Beberapa saat Dewa Obat Baju
Putih menunggu. Dia yakin teriakannya akan terdengar telinga Raja Racun, jika
tokoh yang ahli racun itu berada di dalam guanya.
Harapan Dewa Obat Baju Putih
terlaksana. Tidak perlu menunggu lama, karena sesaat kemudian dari dalam gua
berkelebat sesosok bayangan.
Jliggg!
Begitu cepat gerakan sosok
bayangan itu. Hanya dalam sekelebatan telah mendarat tepat di hadapan Dewa Obat
Baju Putih. Jarak dua tombak memisahkan antara mereka.
Dewa Obat Baju Putih langsung
memasang sikap waspada. Meskipun kelihatannya bersikap tenang saja, seluruh
otot dan urat syarafnya telah menegang. Jelas, kakek berpakaian putih ini telah siap
menghadapi segala kemungkinan.
"Bagaimana kabarmu, Raja
Racun. Baik-baik saja bukan?" sapa Dewa Obat Baju Putih sambil menatap
penuh selidik sosok yang berdiri di hadapannya.
Tokoh yang berjuluk Raja Racun
itu ternyata adalah seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun, berwajah
pucat, dan bermata sipit. Pakaian terbuat dari kulit ular membungkus tubuhnya
yang tinggi kurus. Penampilannya menimbulkan perasaan gentar di hati orang yang
bernyali kecil. Apalagi jika sampai beradu tatap dengan sepasang
matanya. Betapa tidak? Sepasang
mata itu mencorong tajam dan berwarna kehijauan. Sorot seperti itu hanya
dimiliki tokoh-tokoh yang memiliki tenaga dalam sangat tinggi. Jelas, kakek
tinggi kurus ini bukan orang sembarangan.
Raja Racun tersenyum. Tapi Dewa
Obat Baju Putih yang telah lama mengenal kakek tinggi kurus itu, tahu kalau
senyum itu adalah senyum paksaan. Sehingga kewaspadaannya semakin ditingkatkan.
"Aku baik baik saja, Dewa
Obat," ujar Raja Racun berusaha terlihat gembira. "O, ya. Pasti ada
keperluan sangat penting yang kau butuhkan dariku, Dewa Obat. Kalau tidak, mana
mungkin kau mau bersusah payah datang ke tempatku. Padahal, waktu pertandingan
masih cukup lama. Katakan, Dewa Obat. Apa keperluanmu kemari?"
Dewa Obat Baju Putih tidak
langsung menjawab pertanyaan itu. Malah kakek berpakaian putih itu menghela
napas berat. Seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya.
"Dugaanmu memang tidak
keliru, Raja Racun. Ada keperluan sangat penting yang memaksaku keluar dari
tempat tinggalku dan menemuimu di sini. Apakah kau bisa menduga keperluanku
itu?"
Raja Racun mengernyitkan dahi
beberapa saat sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
"Tidak. Aku tak tahu alasan
yang mendorongmu untuk menemuiku di sini," jawab Raja Racun dengan wajah
sungguh-sungguh.
"Hhh...!"
Dewa Obat Baju Putih menghela
napas berat. Dia tahu Raja Racun tidak berbohong dengan ucapannya. Tarikan
wajah kakek tinggi kurus yang terlihat bersungguh-sungguh itu telah menjadi
pertanda kebenaran ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Apakah kau tidak mendengar berita yang menggemparkan dunia persilatan belum
lama ini?" tanya Dewa Obat Baju Putih sambil menatap wajah Raja Racun penuh
selidik.
"Tidak, Dewa Obat. Aku
selalu berdiam di guaku dan tidak pernah turun gunung. Dan lagi tidak ada orang
yang memberitakan padaku mengenai kejadian yang menimpa dunia persilatan. Lain
halnya dengan kau," jawab Raja Racun
sambil menggelengkan kepala.
"Memangnya kenapa, Dewa Obat?"
"Perguruan Naga Terbang dihancurkan. Ada segerombolan orang yang menyerbunya. Dan menurut berita yang kudapatkan, keberhasilan gerombolan itu melaksanakan maksudnya karena
menggunakan racun. Mereka lebih dulu melumpuhkan perlawanan orang-orang
Perguruan Naga Terbang dengan menggunakan racun," jelas Dewa Obat Baju
Putih panjang lebar.
Raja Racun mengangguk-anggukkan
kepala ketika kakek berpakaian putih itu menghentikan ceritanya. Menilik
sikapnya, bisa ditebak kalau Raja Racun telah berhasil menarik sebuah
kesimpulan, setelah mendengar cerita Dewa Obat Baju Putih. Dan itu terbukti
beberapa saat kemudian.
"Sekarang aku mengerti maksud tujuanmu menemuiku, Dewa Obat Baju Putih. Bukankah kau
ingin mengatakan kalau orang-orang Perguruan Naga Terbang tewas akibat racun
milikku?.'" tebak Raja Racun, langsung.
Dewa Obat Baju Putih tidak
terkejut mendengar ucapan Raja Racun. Telah diketahuinya
betul sifat sahabatnya yang selalu blak-blakan dan terbuka.
"Dugaanmu hampir tepat, Raja
Racun. Hanya saja aku tidak menduga sekasar itu. Yang jelas, orang-orang
Perguruan Naga Terbang tewas karena racun yang mirip dengan racun milikmu.
Namun, kebenaran dugaan itu masih belum bisa kupastikan. Itulah sebabnya, aku
bersusah payah mencarimu. Kau tahu, orang-orang persilatan belum dapat
menduganya. Itu pun karena aku mengenali ciri-ciri racun yang kau miliki,"
jelas Dewa Obat Baju Putih panjang lebar.
"Memangnya kenapa kalau
kalangan persilatan mengetahui penyebab kematian orang-orang Perguruan Naga
Terbang itu? Mengapa pula kalau mereka mengetahui pemilik racun itu? Mereka
akan mencari-cariku, dan kemudian menyerbu kemari? Begitu kan maksudmu?"
Tanpa sadar Dewa Obat Baju Putih
menganggukkan kepala mendengar desakan Raja Racun yang begitu berapi-api.
"Huh! Kau kira aku takut
mati, Dewa Obat?!" semakin meninggi suara Raja Racun. "Aku bukan
seorang pengecut! Biar mereka semua datang ke sini dan mengeroyok, aku tidak
takut!"
"Rupanya watakmu tetap belum
berubah, Raja Racun. Masih saja keras
kepala! Kau tahu yang menjadi permasalahan di sini
bukannya perkara takut atau beraninya kau menghadapi mereka. Tapi, kebenaran
kenyataan yang kulihat. Benarkah kau yang telah melakukan semua kekejian itu,
Raja Racun?! Kalau bukan kau pelakunya, untuk apa membiarkan orang-orang
persilatan datang kemari untuk membinasakanmu? Katakan saja kau bukan
pelakunya. Gampang kan?! Nah, sekarang katakan terus terang, demi persahabatan
kita, Raja Racun. Benarkah kau yang melakukan semua kekejian itu?!"
Dewa Obat Baju Putih menatap
wajah Raja Racun lekat-lekat. Hal yang sama pun dilakukan Raja Racun.
"Sayang sekali, Dewa Obat. Aku tidak bisa
menjawabnya! Hanya itu yang bisa kukatakan!"
Terdengar keras dan mantap ucapan
yang keluar dari mulut Raja Racun. Tapi Dewa Obat Baju Putih yang telah
berhubungan lama dengan tokoh itu tahu kalau ucapan yang terdengar tidak sesuai
dengan hatinya. Ada keluhan yang tertangkap oleh perasaan Dewa Obat Baju Putih.
"Katakan, Raja Racun! Kau
tahu, aku tidak percaya kalau kau pelaku semua kekejian itu. Katakanlah kalau
kau bukan pelaku semua kekejian itu!" desak Raja Obat Baju Putih lagi.
"Jangan paksa aku untuk
mengatakan hal yang tidak ingin kukatakan, Dewa Obat!" tandas Raja Racun
tegas. "Atau pertarungan antara kita berlangsung lebih cepat dari rencana
semula."
"Tapi..."
"Kalau begitu, jaga
seranganku...! Hih!"
***
Raja Racun membuka serangannya
dengan sebuah tusukan jari-jari tangannya ke arah perut Dewa Obat Baju Putih.
Bertubi-tubi serangan itu dilancarkan. Suara mencicit nyaring yang menyakitkan telinga, terdengar seiring meluncurnya serangan yang
dikerahkan dengan tenaga dalam tinggi.
"Hehhh...?!"
Dewa Obat Baju Putih yang tidak
menyangka akan meluncurnya serangan mendadak itu menjadi terkejut. Dengan cepat
tubuhnya melakukan lompatan harimau ke samping. Dan dengan bertumpu pada kedua
tangan, tubuhnya digulingkan. Sehingga serangan yang dilancarkan Raja Racun
mengenai tempat kosong.
Akan tetapi serangan Raja Racun
tidak berhenti. Begitu berhasil dielakkan Dewa Obat Baju Putih, kembali
dikirimkan serangan lanjutan. Kakek tinggi kurus ini melakukan lompatan harimau
pula. Bahkan tubuhnya pun digulingkan pula untuk mengejar Dewa Obat Baju Putih.
"Hih!"
Begitu telah berada dalam jarak
serangan, Raja Racun langsung melancarkan kibasan kaki kanan ke tubuh Dewa Obat
Baju Putih yang baru saja berhenti.
Wukkk! "Hih!"
Lagi-lagi serangan Raja Racun
kandas. Dewa Obat Baju Putih yang mengetahui serangan susulan itu langsung
menjejakkan kaki, sehingga tubuhnya melenting ke atas. Akibatnya, sapuan Raja
Racun hanya mengenai angin kosong.
Bahkan kali ini Dewa Obat Baju
Pulih yang berada di udara, dengan manis berputar. Lalu....
"Hih!"
"Kalau begitu, jaga
seranganku...! Hih!" Raja Racun membuka serangannya dengan tusukan
jari-jari tangan ke arah perut Dewa Obat Baju Putih.
"Hehhh...?!" Dewa Obat
Baju Putih segera melakukan lompatan harimau ke samping. Sehingga, serangan
yang dilancarkan Raja Racun mengenai tempat kosong!
Wuttt!
Sebuah serangan berupa sampokan
kedua tangan ke bagian belakang kepala lawan, dilancarkan. Begitu keras dan
cepat sampokan itu dilakukan. Sehingga kalau serangan itu mengenai sasaran,
mungkin nyawa lawan akan melayang.
Namun, Raja Racun bukan tokoh
sembarangan. Seperti juga Dewa Obat Baju Putih, dia pun memiliki kepandaian
tinggi. Maka menghadapi serangan itu, tidak sedikit rasa gugup di wajahnya.
Wusss!
Serangan Dewa Obat Baju Putih
lewat beberapa jari di atas kepala Raja Racun. Rambut dan pakaian si ahli racun
yang berkibaran keras, karena kekuatan yang terkandung dalam serangan itu.
Sesaat kemudian, kedua belah
pihak telah terlibat dalam pertanjngan sengit.
Kejadian itu tidak lepas dari
perhatian Dewa Arak dan Melati. Kini yang bisa mereka lakukan hanyalah menyaksikan jalannya
pertarungan. Apabila Dewa Obat Baju Putih dalam keadaan bahaya, baru Dewa Arak
akan turun tangan. Dewa Arak merasa hanya dirinya yang dapat membantu jika Dewa
Obat Baju Putih terdesak. Melati jelas tak mungkin mampu, karena kepandaiannya
jauh di bawah mereka.
Sementara itu pertarungan
berlangsung semakin sengit. Sampai belasan jurus pertarungan berlangsung, belum
nampak salah satu pihak yang terdesak atau kalah. Pertarungan masih berlangsung
imbang.
Suara angin menderu, mencicit
terdengar setiap kali kedua belah pihak menggerakkan tangan atau kaki. Tanah
yang terbongkar di sana-sini pertanda dahsyatnya setiap serangan yang terlontar
dari tangan dan kaki kedua tokoh tua itu.
Jurus demi jurus berlangsung
cepat, karena kedua belah pihak memiliki kecepatan gerak yang mengagumkan.
Dalam wakru sebentar saja lima puluh jurus telah terlewati, tapi keadaan masih
belum berubah. Pertarungan masih berlangsung imbang.
Saat itulah Dewa Arak dan Melati
mendengar adanya langkah-langkah kaki yang bergerak mendekati tempat itu. Suara
itu terdengar jelas di telinga sepasang pendekar muda itu. Nampaknya
langkah-langkah kaki seorang yang memiliki ilmu meringankan tubuh biasa-biasa
saja.
Yang mengejutkan hati Dewa Arak
dan Melati jumlah mereka yang begitu banyak. Sehingga suara langkah mereka
bergemuruh. Siapakah mereka? Dan mengapa datang kemari? Apakah orang-orang
persilatan? Dan mereka datang karena telah bisa menduga pelaku kekejian
terhadap Perguruan Naga Terbang?
Pertanyaan demi pertanyaan itu
yang menggayuti benak Dewa Arak dan Melati. Tapi karena tahu kalau
jawaban bagi pertanyaan itu akan
mereka dapatkan, segera dibuangnya semua pertanyaan itu. Kini keduanya bersikap
waspada menghadapi kemungkinan yang akan terjadi.
Dewa Arak dan Melati tidak perlu
menunggu terlalu lama untuk mendapatkan jawaban Itu. Karena sesaat kemudian,
orang-orang itu telah terlihat. Kontan Dewa Arak dan Melati terperanjat ketika
melihat mereka mulai mendekat.
Rombongan itu ternyata
orang-orang berpakaian serba hitam dan berselubung hitam. Jelas, mereka
mempunyai hubungan dengan orang-orang berselubung hitam di Hutan Gendar.
"Akhirnya kita menemukan
mereka kembali, Kang," desah Melati setengah berbisik.
Raut ketegangan tampak jelas di
wajah gadis berambut putih itu. Karena sosok-sosok yang tengah mereka cari-cari
akhirnya berhasil diketemukan juga.
"Benar, Melati," sahut Dewa Arak sambil menganggukkan kepala. "Tapi yang
membuatku bingung, untuk apa mereka kemari? Apakah ada hubungan antara mereka
dengan gerombolan yang menyergap kita di kedai dulu?"
"Tak lama lagi akan kita
ketahui, Kang. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?"
"Untuk sementara kita
menunggu saja, Melati. Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya. Apakah
yang akan dilakukan gerombolan orang berseragam hitam itu?" ujar Arya
memutuskan.
Melati menganggukkan kepala
menyetujui keputusan yang diambil Dewa Arak. Karena disadari ada kebenaran
dalam keputusan yang diambil kekasihnya itu.
Dan sekarang, sepasang pendekar
muda itu terus memperhatikan gerombolan berseragam hitam tak jauh di hadapan
mereka. Seluruh urat syaraf menegang waspada. Apabila keadaan menghendaki,
mereka tinggal melesat menyerbu.
Tapi ternyata gerombolan serba
hitam itu tidak langsung bertindak. Mereka hanya berdiri diam sambil
memperhatikan pertarungan sengit antara kedua tokoh tua itu.
Sementara itu, meskipun tengah
bertarung sengit, Dewa Obat Baju Putih maupun Raja Racun nampaknya mengetahui
keadaan di seldtarnya.
Mereka pun mengetahui kedatangan
orang-orang berseragam hitam. Namun, Raja Racun bersikap tidak peduli.
Perhatian tetap dipusatkan pada pertarungannya menghadapi Dewa Obat Baju
Putih.
Tidak demikian halnya dengan Dewa
Obat Bau Putih. Begitu mengetahui keberadaan orang-orang berselubung hitam itu,
pikirannya langsung teringat pada cerita Dewa Arak. Maka, perhatiannya pun
terpecah. Sepercik harapan untuk bisa mengungkap rahasia pembunuh besar-besaran
terhadap Perguruan Naga Terbang melalui mulut orang orang berseragam hitam itu,
menyeruak di benaknya. Sehingga dia kehilangan semangat untuk terus melanjutkan
pertarungan.
Dan seiring dengan hilangnya gairah
untuk terus melangsungkan pertarungan, serangan-serangan Dewa Obat Baju Putih
pun semakin berkurang. Kini dia lebih banyak mengelak. Kakek berpakaian putih
itu ingin segera mengakhiri pertarungan. Namun, belum menemukan kesempatan untuk menjauhkan diri.
Lagi pula, nampaknya Raja Racun tidak menginginkan pertarungan itu dihentikan.
Akhirnya, pertarungan unik pun
terjadi. Dewa Obat Baju Putih terus-menerus menjauhkan diri untuk menghentikan pertarungan.
Sementara, Raja Racun tak henti-hentinya berusaha melancarkan serangan.
Sehingga pertarungan berlangsung tidak manarik lagi karena mirip dengan
kejar-mengejar.
Pemandangan seperti itu
berlangsung sampai hampir sepuluh jurus. Semua itu disaksikan oleh Dewa Arak
dan Melati.
"Aneh...!" gumam Dewa
Arak
"Apa yang aneh, Kang?"
tanya Melati.
"Tindakan Raja Racun!"
jawab Dewa Arak "Menurut perhitunganku, dia tahu kalau Dewa Obat Baju
Putih tidak berminat untuk melanjutkan pertarungan lagi. Dan kurasa dia pun
tahu penyebabnya. Yaitu karena Dewa Obat Baju Putih melihat keberadaan
orang-orang berseragam hitam, tapi mengapa Raja Racun bersikap seolah-olah
keberadaan orang-orang berseragam hitam sama sekali tidak
menimbulkan masalah?"
Melati kontan terdiam. Dia tidak
tahu harus memberikan tanggapan apa. Tapi, kebingungan gadis berpakaian putih
itu tidak berlangsung lama.
"Kang! Lihat! Dewa Obat Baju
Putih berhasil melaksanakan maksudnya...," bisik Melati dengan suara agak
ditekan. Telunjuk tangan kanannya ditudingkan ke arah pertarungan yang tengah
berlangsung.
Dewa Arak melayangkan pandangan
ke arah yang ditunjukkan Melati. Tampak olehnya, Dewa Arak
melentingkan tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara, sebelum
tubuhnya meluruk ke arah rombongan orang-orang berseragam hitam.
"Hih!"
Laksana seekor garuda yang
menerkam mangsa, Dewa Obat Baju Putih mengirimkan serangan dari udara. Kedua
tangannya yang terkembang membentuk cakar, meluncur deras ke kepala rombongan
orang berseragam hitam.
Wuttt!
8
"Hey...!"
Sosok berpakaian hitam yang
mendapat serangan dari Dewa Obat Baju Putih adalah sosok yang pada dahinya
terdapat gambar tengkorak kecil. Berarti, sosok hitam ini adalah sang Pemimpin.
Dan dia merasa terkejut bukan kepalang mendapat serangan yang tidak disangka-sangka
itu. Akibatnya, jerit kekagetan pun keluar dari mulutnya.
Meskipun demikian bukan berarti
sosok berpakaian hitam itu berdiam diri begitu saja. Walaupun sama sekali tidak
menduga, tetap saja masih bisa menyelamatkan diri. Dan hal itu terjadi dengan
sendirinya.
Wut! Wut!
Plak! Plak!
Sang Pemimpin itu mengibaskan
kedua tangan ke atas untuk memapak serangan yang mengancam ubun-ubunnya. Tak
pelak lagi benturan keras antara dua pasang tangan yang sama-sama dialiri
tenaga dalam tinggi pun terjadi. Sosok hitam yang memiliki tanda tengkorak di
bagian dahinya itu mengerahkan seluruh tenaga dalam pada kibasan yang
dilakukannya.
Tubuh kedua belah pihak sama-sama
terpental balik. Bedanya, Dewa Obat Baju Putih terpental ke udara, karena
kedudukannya yang memang berada di udara. Sementara sang Pemimpin
terhuyung-huyupg beberapa langkah ke belakang. Namun, tanpa kesulitan, kedua
belah pihak berhasil mematahkan kekuatan yang membuat tubuh mereka terhuyung.
Jliggg!
Bersamaan dengan mendaratnya
kedua kaki Dewa Obat Baju Putih secara mantap di tanah, sang Pemimpin
gerombolan telah berhasil memperbaiki kedudukannya.
"Buka kedokmu, Pengecut! Dan
katakan kalau kaulah pelaku semua kekejian terhadap Perguruan Naga
Terbang?!" bentak Dewa Obat Baju Putih penuh ancaman.
"Hmh...!"
Sosok hitam yang memiliki gambar
tengkorak di dahi mendengus mendengar perintah Dewa Obat Baju Putih. Tampak
jelas adanya nada mengejek dalam dengusannya.
"Tidak pantas makian seperti
itu kau tujukan padaku, Dewa Obat Baju Putih...!" sahut pemimpin gerombolan
berpakaian hitam itu.
"Tidak usah berbelit-belit!
Aku hanya ingin tahu, apakah kau yang telah melakukan semua kekejian terhadap
Perguruan Naga Terbang?!" potong Dewa Obat Baju Putih dengan suara semakin
meninggi.
"Benar! Lalu, apa
maumu?!" tanya sosok berpakaian hitam menantang.
"Melenyapkanmu dari muka
bumi ini!" peru Dewa Obat Baju Putih keras.
Seiring lenyapnya gema teriakan
itu, Dewa Obat Baju Putih melompat menerjang pemimpin gerombolan itu. Di udara, tubuhnya berputar seraya mengibaskan kaki kanannya.
Tidak tanggung-tanggung lagi sasaran yang
ditujunya, pelipis. Andaikata
terkena, sekalipun tidak telak, sudah cukup untuk mengirim nyawa sosok hitam
itu ke neraka.
Pimpinan sosok berseragam hitam
bukan orang bodoh. Dia pun tahu betapa berbahayanya serangan yang telah
dilancarkan lawan terhadapnya. Buru-buru kaki kanannya ditarik ke belakang
sambil mendoyongkan tubuh.
Wuttt!
Tendangan itu lewat beberapa jari
di depan wajahnya. Meskipun demikian, tendangan itu membuat selubung dan
pakaian sang Pemimpin berkibaran keras. Begitu dahsyat kekuatan tenaga dalam
yang terkandung di dalam kibasan kaki itu.
Namun tindakan pimpinan sosok
berseragam hitam segera bersiap kembali menghadapi lawannya. Begitu kibasan
lawan berhasil dielakkan, tangan kanannya dijulurkan ke depan untuk menangkap
kaki lawan yang masih berada di udara.
Plasss!
Usaha sang Pemimpin ternyata
sia-sia. Tangannya hanya menangkap angin. Dewa Obat Baju Putih telah lebih dulu
menarik kakinya kembali. Bahkan secepat kedua kakinya telah mendarat di tanah,
secepat itu pula kembali dilancarkan serangan terhadap pimpinan gerombolan
berseragam hitam. Rupanya, kakek berpakaian putih ini begitu bersemangat untuk
dapat merobohkan lawannya secepat mungkin.
Namun pemimpin gerombolan
berpakaian hitam itu bukan lawan yang mudah untuk dibekuk. Buktinya, mampu
melakukan perlawanan sengit. Sehingga meskipun Dewa Obat Baju Putih telah
mengerahkan seluruh kemampuannya untuk secepat mungkin merobohkan lawannya,
pemimpin itu masih mampu bertahan.
Mendadak Dewa Obat Baju Putih
menghentikan desakannya terhadap sosok hitam yang memiliki gambar tengkorak di
dahi. Padahal, pertarungan baru berlangsung dua belas jurus. Dan kini, kakek
berpakaian putih itu menatap mata lawannya penuh selidik.
"Siapa sebenarnya kau,
Pengecut?! Cepat buka selubungmu!" seru Dewa Obat Baju Putih, keras.
"Ha ha ha...! Mengapa kau
menyuruhku, Dewa Obat?! Apakah kau tak mampu melakukannya sendiri? Ha ha ha...!
Tak malukah dengan ucapan yang kau keluarkan itu?" sambut sang Pemimpin
sambil tertawa bergelak.
"Tutup mulutmu, Pengecut!
Asal kau tahu saja, sekarang aku tidak akan mengampunimu lagi. Kau punya tiga
kesalahan besar! Pertama, kau telah melakukan tindak kejahatan terhadap
Perguruan Naga Terbang! Kedua kau telah keterlaluan menghinaku! Dan ketiga...,
kau telah mencuri ilmu-ilmu yang kumiliki! Kau tidak bisa ingkar lagi,
Pengecut! Aku belum buta! Aku tahu pasti kalau ilmu-ilmu yang kau gunakan
sebagian, merupakan ilmu milikku! Sekarang, terimalah kematianmu!"
Srat! Srat!
Seketika Dewa Obat Baju Putih
mencabut sepasang pedang yang tersampir di punggung. Inilah senjata andalan
kakek berpakaian putih itu. Dan secepat kilat pedang itu diputar-putar di depan
dada, sehingga mengeluarkan suara mengaung nyaring.
Wung! Wung! Wung...!
"Keluarkan senjatamu kalau tidak ingin mati percuma, Pengecut!" seru kakek
berpakaian putih itu memberi peringatan.
Tanpa berkata sepatah pun, sosok
hitam yang memiliki gambar tengkorak di dahi segera mengeluarkan senjatanya.
Sebuah ruyung baja yang ujung-ujungnya dihubungkan dengan rantai terbuat dari
baja. Masih tanpa mengeluarkan suara apa pun, senjatanya diputar-putarkan di
depan dada.
Wuk! Wuk! Wuk!
"Terimalah kematianmu,
Pengecut...!"
Diiringi suara teriakan nyaring
yang membuat suasana di sekitar tempat itu bergetar hebat, Dewa Obat Baju Putih melancarkan serangan. Sepasang pedangnya berputaran cepat sehingga
tak jelas bentuknya. Dan kini, yang terlihat hanyalah segulungan sinar
menyilaukan mata yang meluruk ke tubuh lawan.
Namun pemimpin gerombolan
berseragam hitam ini sama sekali tidak gugup. Dia sudah bersiap siaga untuk
menghadapi setiap serangan Dewa Obat Baju Putih. Dengan ruyung andalannya,
dihadapinya kakek berpakaian putih itu.
Tak pelak lagi, pertarungan yang
lebih seru dan sengit kembali berlangsung.
Suara mendesing, mengaung, dan menderu
mengiringi pertarungan yang terjadi antara kedua tokoh sakti itu. Pertarungan yang terjadi berlangsung
dalam tempo tinggi. Jurus demi jurus berlalu demikian cepat.
Pertarungan tingkat tinggi itu
disaksikan puluhan pasang mata dengan hati berdebar tegang. Termasuk di antara
yang menyaksikan pertarungan itu adalah Dewa Arak, Melati, dan Raja Racun.
Tentu saja belasan orang berseragam hitam pun menyaksikan pula. Meskipun yang
mereka lihat hanyalah bayangan hitam dan putih yang tidak jelas bentuknya.
"Menurutmu..., siapa yang
akan keluar sebagai pemenang, Kang?" tanya Melati dengan suara pelan tanpa
mengalihkan pandangan dari pertarungan sengit itu.
"Kalau tidak ada perubahan
mendadak, Dewa Obat Baju Putih akan keluar sebagai pemenang," ujar Dewa
Arak pelan.
Kesimpulan yang didapat Dewa Arak
memang beralasan. Setelah pertarungan menginjak jurus ke delapan puluh,
perlahan-lahan sosok hitam yang memiliki gambar tengkorak di dahi mulai
terdesak. Ruyung di tangannya yang semula sering berkelebatan ke arah bagian
tubuh Dewa Obat Baju Putih, kini mulai jarang beraksi. Sekarang, senjata itu
hanya digunakan untuk bertahan saja.
Singgg, trakkk...!
"Hih!"
"Ahhh...!"
Kejadian yang berlangsung
demikian cepat. Tahu-tahu, ruyung baja itu terlepas dari pegangan dan terlempar
ke udara, ketika pimpinan sosok berseragam hitam itu menangkis serangan pedang
Dewa Obat Baju Putih. Sama sekali tidak disangka kalau Dewa Obat Baju Putih
langsung menyentakkan pedangnya sehingga ruyung itu terbabat dan lepas.
Menyadari keadaan yang sangat
berbahaya itu, sang Pemimpin buru-buru melentingkan tubuh ke belakang untuk
menyelamatkan diri. Tapi, Dewa Obat Baju Putih yang sudah berada di atas angin
nampaknya tidak mau memberikan kesempatan kepada lawan. Dikejarnya lelaki
berpakaian
hitam itu dan menghujaninya
dengan serangan sepasang pedangnya. Akibatnya, pimpinan sosok berseragam hitam
itu terpontang-panting ke sana kemari menyelamatkan nyawanya.
Dan sekarang, keselamatan sang
Pemimpin benar-benar, bagai telur di ujung tanduk. Sampai akhirnya, tokoh yang
mukanya berselubung ini terjepit. Dan belum sempat bangkit dari bergulingnya
saat pedang Dewa Obat Baju Putih meluncur ke tubuhnya. Maka yang bisa dilakukan
hanya menanti maut dengan sepasang mata terbelalak ngeri.
Di saat yang amat genting bagi
keselamatan pemimpin gerombolan itu, terdengar sura jeritan melengking tinggi.
"Hiyaaat...!"
Suara itu ternyata berasal dari
mulut Raja Racun. Kakek tinggi kurus itu melompat menerjang Dewa Obat Baju
Putih sambil mengayunkan senjata andalannya, sebuah tongkat yang gagangnya
berbentuk kepala ular.
Wukkk!
Suara mengiuk keras terdengar
ketika tongkat itu diayunkan ke kepala Dewa Obat Baju Putih.
Pada saat yang bersamaan dengan
gerakan Raja Racun, puluhan sosok berseragam hitam pun meluruk ke arah Dewa
Obat Baju Putih untuk menyelamatkan sang Pemimpin. Maka belasan senjala tajam
pun berkelebatan ke tubuh Dewa Obat Baju Putih.
Dewa Arak dan Melati terkejut
bukan kepalang melihat kejadian itu. Bukan karena melihat gerombolan itu
menyerbu. Tapi ikut sertanya Raja Racun dalam penyerangan itu, benar-benar
menimbulkan keterkejutan di hati merka. Bagai diperintah, sepasang pendekar
muda ini melesat keluar dari tempat persembunyiannya untuk menolong Dewa Obat
Baju Putih. Melati berusaha mencegat puluhan sosok berseragam hitam. Sedangkan
Dewa Arak meluruk ke arah Raja Racun.
Sementara itu, Dewa Obat Baju Putih telah mengetahui adanya penyerbuan
terhadap dirinya. Dalam waktu yang amat singkat, benaknya berputar cepat. Dia
tahu, penyerbuan yang datang dari puluhan sosok berseragam hitam, bukan masalah
baginya. Karena menurutnya, mereka dapat dengan mudah dihalau setelah menyelesaikan
pemimpinnya. Yang perlu mendapat
perhatian adalah Raja Racun yang juga tengah melesat ke arahnya.
Memang, perhitungan kakek
berpakaian putih itu sama sekali tidak salah. Kecepatan gerak Raja Racun
menyebabkan Dewa Obat Baju Putih segera
memperhitungkan tindakannya. Karena jika serangannya diteruskan, pasti
kepalanya terkena tongkat lawan.
Dalam waktu yang sangat singkat
itu, Dewa Obat Baju Putih mengambil keputusan. Serangannya terhadap sang Pemimpin
tetap diteruskan dengan pedang di tangan kanannya. Sedangkan gebukan tongkat Raja Racun
ditangkisnya dengan pedang di tangan kirinya.
Wuttt....! Tranggg!
"Aaakh...!"
Kejadian itu berlangsung demikian
cepat. Bentrokan antara pedang Dewa Obat Baju Putih dan tongkat Raja Racun,
serta menancapnya pedang Dewa Obat Baju Putih di perut sang Pemimpin terjadi
hampir berbarengan. Tepat seperti yang telah diperhitungkan Dewa Obat Baju
Putih.
"Ludira...!"
Jeritan melengking tinggi penuh
keterkejutan, keluar dari mulut Raja Racun, seiring dengan tubuhnya yang
melesat ke tubuh pemimpin gerom bolan itu. Tongkat yang berada di tangannya di
lemparkan begitu saja.
"Ludira...?!"
Ucapan yang sama keluar dari
mulut Dewa Obat Baju Putih. Ketidakpercayaan dan keterkejutan yang dalam
tersirat dalam ucapannya. Dengan wajah bingung, ditatapnya Raja Racun yang
telah berjongkok di dekat pemimpin gerombolan berpakaian hitam itu. Tokoh
misterius yang mengaku sebagai pelaku pembantaian terhadap Perguruan Naga
Terbang itu kini terkulai dengan napas satu-satu. Darah segar mengalir dari
bagian perutnya yang terobek lebar.
Ternyata bukan hanya Dewa Obat
Baju Putih saja yang terpaku kaku. Puluhan sosok berseragam hitam, Dewa Arak
dan Melati yang telah berada di situ pun ikut membisu penuh perasaan bingung.
Perkembangan kejadian yang mereka
saksikan sama sekali tidak dimengerti Dewa Arak dan Melati. Mereka hanya
menyaksikan semua peristiwa yang
terjadi begitu cepat di depan mata.
"Ludira...!"
Dengan kedua bahu
terguncang-guncang, Raja Racun memeluk tubuh sosok hitam yang memiliki gambar
tengkorak di dahi. "Kau tidak boleh mati, Anakku...."
"I... ibu...! Kini...
hatiku... lega.... Sakit hati ibu telah berhasil kubalaskan.... Aku tidak akan
mati penasaran...," ujar sosok berpakaian hitam yang dipanggil Ludira,
terbata-bata.
"Tidak, Ludira! Kau tidak
boleh mati!" pekik Raja Racun kalap. "Kau... kau akan sembuh!"
"Be... benarkah dia Ludira,
Kanti?"
Dewa Obat Baju Putih yang
tiba-tiba telah berada di situ menyapa Raja Racun.
Dewa Arak dan Melati yang
mendengar semua pembicaraan itu saling pandang. Raja Racun itu ternyata seorang
wanita! Buktinya sosok hitam yang tubuhnya tengah sekarat itu memanggilnya ibu.
Bahkan Dewa Obat Baju Putih menyapanya dengan nama Kanti. Nama yang hanya
dimiliki oleh seorang wanita. Karuan saja Dewa Arak dan Melati semakin bingung.
Namun, karena tahu jawabannya ada di mulut tiga sosok yang telah berkumpul itu,
mereka berdiam diri untuk mendengarkan.
Sementara itu, sebelum Raja Racun
yang ternyata seorang wanita dan bernama Kanti menjawab, sosok hitam yang
bernama Ludira mendahului menjawabnya.
"Be..., benar, Ayah. Aku
Ludira!" ujar pimpinan sosok berseragam hitam. Kemudian dengan susah payah,
dicabutnya selubung yang menutupi wajahnya.
"Ludira...!"
Seketika itu pula Dewa Obat Baju
Putih terpekik ketika melihat seraut wajah muda berwajah tampan dan berkumis
tipis yang saat itu tengah dibanjiri keringat dingin. Wajah itu memang dikenal
betul. Wajah Ludira, anaknya!
Tanpa ragu-ragu lagi Dewa Obat
Baju Putih memeluk Ludira. Penyesalan tergambar jelas di wajahnya. Dia telah
kesalahan tangan terhadap putranya sendiri. Apalagi ketika disadari nyawa
Ludira tidak akan tertolong lagi, karena luka yang dideritanya sangat parah.
"Mengapa kau lakukan ini,
Ludira?!" tanyn Dewa Obat Baju Putih penuh penyesalan.
Ludira tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Keadaannya yang parahlah penyebab utamanya. Beberapa saat
kemudian, dengan suara terputus-putus Ludira mulai berbicara.
"Orang-orang Perguruan Naga
Terbang memang patut dibasmi, Ayah. Mereka orang-orang terkutuk. Tahukah Ayah,
apakah yang menyebabkan ibu meninggalkan Ayah?!"
Dewa Obat Baju Putih yang sama
sekali tidak menyangka akan mendengar ucapan seperti itu, terkejut. Apalagi
saat itu penyesalan tengah melandanya. Pikirannya tak mampu mencari kata-kata
untuk menanggapi pertanyaan Ludira. Maka, kepalanya digelengkan perlahan.
"Ketua Perguruan Naga
Terbang itu telah memperkosa ibu ketika menginap di rumah kita. Sejak kejadian itu,
ibu merasa tidak berharga lagi hidup bersama Ayah. Maka ibu pergi meninggalkan
Ayah dengan hati hancur. Untung ibu bertemu seorang ahli racun yang
mengangkatnya menjadi murid. Ibu pun berlatih dengan tujuan untuk membalas
dendam...."
"Hahhh...!"
Dewa Obat Baju Putih terperanjat
mendengar penuturan putranya. Karena masalah itu sama sekali tidak
diketahuinya. Memang, sekitar dua puluh tahun lalu, sahabatnya yang waktu itu
belum mendirikan Perguruan Naga Terbang pernah menginap di rumahnya. Saat itu
Ludira baru berusia sepuluh tahun.
"Mengapa kau tidak
menceritakan peristiwa itu padaku, Kanti?" tanya Dewa Obat Baju Putih pada
Raja Racun.
"Ibu sengaja tutup mulut
karena khawatir Ayah akan membuat perhitungan terhada si keparat itu. Ibu tidak
ingin Ayah mati percuma di tangan Ketua Perguruan Naga Terbang yang jelas
memiliki kepandaian di atas Ayah."
Lagi-lagi Ludira menjawab dengan
suara yang semakin melemah. Sedangkan Raja Racun hanya mengangguk-angguk menahan isak tangis.
"Agar Ayah mau menambah
kepandaian, Ibu sengaja meninggalkan surat yang mengatakan, kalau Ayah sanggup
mengalahkannya, ibu baru bersedia tinggal kembali bersama
Ayah. Tapi, sampai dua kali
pertarungan, Ayah tetap tidak bisa mengalahkan ibu," lanjut Ludira.
Dewa Obat Baju Putih sama sekali tidak
memberikan tanggapan.
"Lalu..., dari mana kau tahu
cerita itu, Ludira?" tanya Dewa Obat Baju Putih dengan suara berat.
"Apakah ibumu yang menceritakannya?"
Ludira menggelengkan kepala.
"Dulu aku melihat kejadian
terkutuk itu tetapi waktu itu aku belum mengerti. Kalau saja Ibu tidak
memaksaku berjanji untuk tutup mulut, hal itu telah kuberitahukan pada
Ayah."
"Tapi, mengapa kau yang
membalaskan dendam itu? Mengapa bukan ibumu?" desak Dewa Obat Baju Putih,
penasaran.
Ibu kehilangan jejaknya. Dan aku
yang sejak sepuluh tahun lalu belajar pada ibu, mengajukan diri untuk
mencarinya. Kutaklukkan orang-orang golongan hitam agar membantu rencananku.
Syukur, aku berhasil dan dendam ibu telah berhasil kubalaskan. Aku puas dan...
akh...!"
Kepala Ludira terkulai sebelum menyelesaikan ucapannya. Maut telah lebih dulu
menjemputnya. Ludira tewas dengan senyum tersungging di bibir.
"Ludira...!" rintih
Raja Racun.
"Ludira...!" panggil
Dewa Obat Baju Putih pula sambil mengguncang-guncangkan tubuh pemuda berkumis
tipis itu.
Melihat kejadian ini, Dewa Arak
segera memberi isyarat pada Melati agar meninggalkan tempat itu. Tanpa
membantah, Melati segera bangkit dan melangkah mengikuti Dewa Arak. Dengan hati
penuh rasa haru, sepasang pendekar muda itu beranjak pergi.
Hembusan angin lembut sama sekali
tidak berhasil mengusir rasa terenyuh di hati mereka. Dewa Arak dan Melati
semakin jauh melangkah meninggalkan keluarga yang tengah berkabung itu.
SELESAI
No comments:
Post a Comment