TAWANAN
DATUK SESAT
oleh Aji Saka
1
Malam ini begitu cerah. Langit
tampak bersih, tanpa sepotong awan pun menggantung di sana. Bintang-bintang
seperti leluasa memancarkan sinar lembutnya ke persada. Bulan purnama berwarna
kuning keemasan semakin menambah indahnya suasana malam. Rasanya, suasana di
persada begitu aman dan tenteram.
"Auuung...!"
Mendadak, terdengar tolongan
anjing hutan. Suaranya melengking panjang dan menyelusup sampai ke lubuk hati.
Nadanya menimbulkan perasaan ngeri bagi setiap orang yang mendengarnya. Dan
menurut kepercayaan sebagian orang, lolongan anjing hutan tadi menjadi pertanda
akan adanya sebuah peristiwa berdarah!
Sementara itu, di bawah siraman
sinar sang Dewi Malam, tampak sosok-sosok tubuh tengah bergerak cepat dan
ringan, mempergunakan ilmu meringankan tubuh. Jumlahnya tak kurang dari seratus
orang! Dan tampaknya mereka rata-rata memiliki kepandaian silat Namun anehnya,
rombongan itu selalu mengambil jalan di tempat yang te-lindung. Kalau tidak
pepohonan, tentu semak belukar. Bahkan sepasang mata masing-masing selalu beredar mengawasi
sekitarnya. Tampaknya, mereka tidak ingin kehadirannya diketahui orang. Apakah
yang hendak mereka perbuat?
Mendadak, sosok yang berjalan
paling depan mengangkat tangannya ke atas. Dia, seorang kakek
bertubuh tinggi besar. Pakaiannya
berwarna hitam mengkilat. Wajahnya dipenuhi cambang bauk yang cukup lebat.
Penampilannya semakin menyeramkan oleh potongan rambutnya yang dikepang satu.
Dan pada bagian ujung kepangan, dipasangi sebuah benda logam berbentuk bintang
segi lima. Tampaknya, dari sini bisa dinilai kalau kakek berambut dikepang itu
rnempunyai pengaruh besar dalam rombongan ini.
"Setan Kecil!" panggil
kakek itu sambil menatap salah satu dari empat orang kakek yang tadi berjalan
di belakangnya.
"Hamba, Yang Mulia Mata
Malaikat," sahut seorang kakek bertubuh kecil kurus dan berwajah hitam.
"Setan Botak! Setan Muka
Tengkorak! Setan Tenaga Raksasa!" sebut kakek berambut dikepang, yang
ternyata berjuluk Mata Malaikat.
"Hamba, Yang Mulia Mata
Malaikat," sahut tiga orang kakek yang memiliki ciri-ciri berlainan satu
sama lain.
"Kalian telah siap dengan
rencana ini?" tanya Mata Malaikat seraya menatap satu persatu wajah-wajah
di depannya.
"Siap, Yang Mulia Mata
Malaikat," sahut empat orang kakek yang ternyata datuk-datuk sesat dari
empat penjuru mata angin (Untuk jelasnya mengenai tokoh-tokoh ini, silakan baca
serial Dewa Arak dalam episode "Garuda Mata Satu").
"Bagus! Ingat, jangan sampai
gagal! Besok Istana Kerajaan Gambang harus kita ambil alih," tandas Mata
Malaikat Suaranya terdengar bergetar, karena menahan gejolak nafsu angkara
murka. Sudah terbayang di benak, betapa dirinyalah yang seharusnya duduk di
singgasana istana.
"Percayalah, Yang Mulia Mata Malaikat.
Sebelum matahari tenggelam, singgasana Istana Kera-jaan Gambang berhasil direbut!"
tegas Setan Botak yang memang gemar bicara.
"Kau benar, Setan Botak!
Akulah yang akan menduduki takhta Kerajaan Gambang. Lalu, barulah Kerajaan Mandau kutundukkan. Dan, saat keberhasilan itu sebentar lagi akan
tiba," kata Mata Malaikat, gembira. "Tunggu apa lagi? Mari kita serbu
kerajaan keparat itu!"
Usai berkata demikian, Mata Malaikat
melangkah meninggalkan tempat itu. Langkah kakinya tampak lebar-lebar, saking
semangatnya untuk buru-buru mewujudkan impiannya selama ini. Menjadi raja
diraja!
Bagai kerbau dicucuk hidungnya,
rombongan besar yang ternyata anak buah Mata Malaikat bergerak mengikuti. Malam
ini, mereka harus mencari tempat beristirahat. Paling tidak untuk menyimpan
tenaga, guna dipakai menghadapi pertarungan esok pagi.
***
Sesuai kodratnya, pagi ini sang
Surya kembali muncul di ufuk timur. Roda kehidupan kembali berputar. Dan
orang-orang sibuk dengan urusan masing-masing. Sama sekali tidak ada yang
peduli kalau saat ini akan terjadi penjagalan manusia oleh orang yang tengah dimabuk
nafsu.
Dan memang, Mata Malaikat sudah
tidak sabar lagi untuk dapat segera menduduki Istana Kerajaan Gambang. Anak
buahnya seketika diberi aba-aba....
"Serbu...!" perintah
Mata Malaikat, berteriak. Seketika itu pula, bumi bagai berguncang oleh
derap kaki rombongan yang
jumlahnya tak kurang dari tiga ratus orang itu! Kakek berambut dikepang itu
tampak berkuda paling depan. Sementara anak buahnya yang masing-masing
menggenggam senjata telanjang di tangan, mengiringi dari belakang.
Derap kaki-kaki kuda yang bertubi-tubi
menghantam bumi, mengejutkan para prajurit yang menjaga pintu gerbang.
Untungnya, Istana Kerajaan Gambang terletak di hamparan tanah lapang yang luas
membentang. Sehingga, kedatangan rombongan itu segera dapat diketahui meskipun
jaraknya masih cukup jauh.
"Tidak salahkah
penglihatanku, Mota?" tanya prajurit yang bertubuh pendek gemuk. Suaranya
terdengar bergetar, karena rasa kaget yang menyergapnya.
"Tidak, Doga! Aku juga
melihat serombongan orang berkuda yang menuju kemari. Dan dari gerak-geriknya,
rasa-rasanya mereka hendak menyerbu istana ini. Kau tunggu di sini, Doga! Aku
akan memberitahukan hal ini ke dalam!"
Seiring keluarnya ucapan itu,
Mota berlari me-asuki pintu gerbang istana. Gerakannya begitu cepat, bagai
dikejar hantu menuju gardu penjagaan.
"Hhh...! Hhh..., Kang Garwa!
Gawat, Kang." Tanpa mengatur napas lagi, Mota sudah
berteriak-teriak. Suaranya
terdengar terputus-putus. Napasnya juga terengah-engah, karena disertai rasa
tegang yang melanda hati.
Karuan saja sikap Mota membuat
laki-laki yang berpangkat punggawa dan bernama Garwa ikut kelabakan juga.
Bergegas dia keluar dari gardu penjagaan.
"Tenang, Mota! Ceritakan dengan jelas
masalahnya," ujar Garwa
penuh wibawa.
Sikap tegas Garwa membuat Mota
tersadar. Buru-buru napasnya diatur, dan mulai bicara.
"Ada serombongan orang dalam
jumlah besar menuju kemari, Kang," lapor Mota. Suaranya terdengar lebih
tenang daripada sebelumnya.
"Hahhh...?! Cepat pukul
kentongan tanda bahaya!" perintah Garwa, cepat
Untuk yang kedua kalinya, Mota
harus berlari. Tapi kali ini arahnya menuju kentongan yang ada di sudut gardu
jaga itu. Tak lama, dipukulnya kentongan itu.
Tong, tong, tong...!
Bunyi kentongan tanda bahaya,
berkumandang memecahkan kesunyian pagi, dan terus menyelusup ke seluruh pelosok
Istana Kerajaan Gambang.
Sekejap kemudian, suasana kalut pun melingkupi seisi istana. Memang, sama sekali tidak disangka
akan terjadi peristiwa seperti ini. Namun herannya, mengapa penjaga perbatasan
sama sekali tidak mengirim kabar?
Meskipun demikian, ternyata para
prajurit Kerajaan Gambang mampu mengendalikan kekalutan itu, berkat bimbingan
seorang panglima. Hanya dalam waktu singkat, semua prajurit telah menempati
posnya masing-masing. Dan seperti biasanya, bila kerajaan diserbu lawan, maka
pasukan yang mendapat bagian pertama untuk menghalau lawan adalah pasukan
panah!
Luar biasa kesigapan
prajurit-prajurit Kerajaan Gambang di bawah pimpinan seorang panglima perang
bernama Reksabaya. Sebelum rombongan anak buah Mata Malaikat masuk dalam jarak
luncuran anak panah, pasukan pemanah telah siaga dengan busur
terentang siap melontarkan
anak-anak panah. Sementara itu, rombongan Mata Malaikat terus
meluruk maju. Seperti sebelumnya,
berada di barisan depan adalah Mata Malaikat. Di belakangnya, tampak datuk
empat penjuru angin, serta tokoh-tokoh yang berkepandaian tinggi. Dan paling
bela-ang, adalah anak buah Mata Malaikat.
Siasat yang digunakan rombongan
Mata Ma-laikat ini cukup cerdik! Karena apabila tokoh-tokoh yang memiliki
kepandaian rendah berada di bagian depan, pasti akan kesulitan menghadapi
serbuan anak-anak panah yang dilepaskan prajurit-prajurit Kerajaan Gambang.
Sudah bisa dipastikan, akan banyak timbul korban di pihak mereka.
Mata Malaikat tampaknya sudah
tidak sabar untuk segera masuk ke dalam Istana Kerajaan Gambang. Sedangkan prajurit-prajurit Kerajaan
Gambang tampaknya merasa tegang. Terutama sekali, pasukan panah! Sepertinya
waktu berjalan demikian lambat. Padahal, mereka sudah tidak sabar lagi untuk
segera meluncurkan serangan.
Dan kini rombongan Mata Malaikat
terlihat mulai memasuki jarak luncuran anak panah. Dan....
"Tembak...!" teriak
Panglima Reksabaya. Twang! Twang! Twang...!
Puluhan, bahkan mungkm ratusan
anak panah seketika meluncur bagai hujan, begitu dilepaskan oleh
prajurit-prajurit Kerajaan Gambang. Anak-anak panah itu terus meluncur,
mengancam rombongan Mata Malaikat yang hendak menjarah Istana Kerajaan Gambang.
Mendapat serangan itu,
orang-orang yang ilmunya hampir menyamai Mata Malaikat, kelihatannya tidak peduli. Dengan
pengerahan tenaga
dalam saja, tubuh mereka mampu
dibuat kebal terhadap senjata tajam. Kecuali, bila anak-anak panah itu meluncur
ke mata, yang terpaksa harus ditangkis dengan tangan. Memang dalam pengerahan
tenaga dalam yang dimiliki, kedua tangan itu bagaikan besi saja!
Namun tidak demikian dengan
seluruh anak buah Mata Malaikat Mereka terpaksa menangkisi luncuran anak panah
dengan senjata. Sementara itu, tindakan Mata Malaikat lebih mengagumkan lagi!
Beberapa kali anak panah yang meluncur ke arahnya berhasil ditangkapnya. Dan
begitu berada dalam genggaman, anak panah itu dilontarkan untuk memapak anak
panah lain yang meluncur ke arahnya.
Mengagumkan! Anak panah yang
dilemparkan Mata Malaikat mampu membentur anak panah pra-jurit-prajurit
Kerajaan Gambang, tepat pada ujungnya! Aneh, ujung anak panah prajurit Kerajaan
Gambang itu hancur seketika!
Sementara itu, sebagian besar
anak buah Mata Malaikat menangkisi luncuran-luncuran anak panah dengan senjata di tangan. Sungguh suatu
keberuntungan bagi tokoh-tokoh berkepandaian rendahan. Anak panah yang menyambar ke arah mereka
tampaknya tidak gencar. Bahkan, tidak jarang hanya sesekali. Masalahnya,
sebagian besar telah diruntuhkan oleh mereka yang berada di depan.
Wajah Panglima Reksabaya langsung
berubah ketika melihat kejadian di bawah. Betapa tidak? Dari ratusan anak panah
yang telah diluncurkan, tak satu pun yang mengenai sasaran. Semuanya berhasil
dikandaskan dengan cara yang membuat seluruh prajurit Kerajaan Gambang
menggeleng-gelengkan kepala.
"Jangan putus asa!"
seru Panglima Reksabaya memberi semangat "Hujani terus! Jangan biarkan
mereka maju!"
Begitu mendengar perintah,
prajurit-prajurit panah Kerajaan Gambang kembali menjepretkan busurnya.
Twang, twang, twang...!
Seketika ratusan batang anak
panah menghu-jani rombongan Mata Malaikat. Tapi untuk yang kesekian kalinya,
semua usaha yang dilakukan sia-sia belaka.
Sementara itu, sambil menangkis
hujan anak panah yang belum juga berhenti, Mata Malaikat dan
pengikut-pengikutnya terus merangsek maju. Dan kini, jarak antara mereka dengan
Istana Kerajaan Gambang semakin dekat saja.
"Celaka! Mereka terus merangsek maju.
Rasanya mereka sulit ditahan lagi," kata salah seorang prajurit pemanah.
"Jangan pikirkan hal itu!
Yang penting, cegah mereka agar jangan semakin mendekat. Masalah gagal atau
berhasil, tidak usah dipikirkan," sergah Panglima Reksabaya.
Ucapan panglima tinggi gagah itu
dipatuhi prajurit-prajurit pasukan panah. Mereka kembali memasangkan anak-anak
panah pada rentangan tali busur, kemudian menjepretkannya.
Tapi seperti juga kejadian
sebelumnya, hujan anak panah itu kembali dapat dikandaskan. Dan sambil terus
mematahkan serangan demi serangan, gerombolan Mata Malaikat terus merangsek
maju.
Siasat Mata Malaikat ternyata
luar biasa jitu. Empat datuk dan beberapa tokoh aliran hitam yang memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi
diperintahkan agar tidak
meninggalkan rekan-rekan yang lain saat bergerak maju. Tentu saja ini
dimaksudkan untuk menghindari kerugian di pihaknya.
Dan sekarang, mereka terus
memapak setiap serangan yang datang sambil terus merangsek maju secara teratur.
Kedua tangan dan berbagai macam senjata diputar di atas kepala, untuk
melindungi diri dari hujan serangan anak panah.
Setapak demi setapak, para tokoh
persilatan aliran hitam di bawah pimpinan Mata Malaikat itu semakin mendekati
dinding bangunan Istana Kerajaan Gambang. Sampai akhirnya, mereka semua
benar-benar hampir merapat dengan tembok!
"Sekarang...!" teriak
Mata Malaikat memberi perintah.
Belum juga gaung ucapannya
lenyap, kakek berambut dikepang itu telah menjejak tanah. Sesaat kemudian,
tubuhnya melayang ke atas. Rupanya, pimpinan tokoh-tokoh aliran hitam yang
memiliki penampilan menggiriskan ini ingin masuk ke dalam Istana Kerajaan
Gambang dengan melompati dinding!
Sebetulnya dinding Istana
Kerajaan Gambang ini tingginya tak kurang dari tiga tombak. Namun, Mata
Malaikat sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk meluncur ke atas. Tubuhnya
terus melayang, tanpa terlihat tanda-tanda akan mandek di tengah jalan. Dan di
saat tubuhnya tengah berada di udara, empat datuk golongan hitam ikut pula
melompat ke atas.
Tentu saja prajurit-prajurit
panah Kerajaan Gambang di bagian atas dinding, tidak
mau membiarkan mereka begitu saja. Apalagi, sampai berhasil masuk ke dalam
istana. Dengan sekuat
tenaga, mereka berusaha
menghambat dengan anak-anak panah yang kembali meluncur!
Wir, wir, wir...! Tap, tap,
tap...!
Beberapa batang anak panah yang
meluncur, mudah sekali ditangkap oleh Mata Malaikat hanya dengan sekali cekal!
Tindakan Mata Malaikat tidak
berhenti sampai di situ. Tangan yang berhasil menangkap anak-anak panah,
seketika dikibaskan ke atas. Dan....
Wut, wut..! Cap, cap...! "Akh...!"
"Aaa...!"
Beberapa jerit kematian
terdengar, ketika anak-anak panah yang dikibaskan Mata Malaikat mendarat di
leher para prajurit Kerajaan Gambang. Tak pelak lagi, para prajurit itu ambruk
ke tanah dengan leher terpanggang. Tewas!
Sementara itu, Mata Malaikat
terus saja melun-cur ke atas. Tapi sebelum mencapai bagian atas dinding,
beberapa prajurit berusaha mencegah. Dan kini senjata yang dipakai para
prajurit adalah pedang dan golok.
Sing, sing, sing...!
Beberapa senjata meluncur ke arah
tubuh bagian atas Mata Malaikat. Namun menghadapi serangan itu, Mata Malaikat
tetap bersikap tenang. Dengan enaknya tangannya segera diulurkan. Dan....
Tappp!
Dua dari sambaran beberapa batang
pedang dan golok berhasil ditangkap kedua tangan Mata Malaikat Dan secepat itu
pula, ditariknya.
"Hih!"
Pada saat tubuh Mata Malaikat
melayang ke atas, tubuh dua orang prajurit Kerajaan Gambang terjungkal ke bawah
disertai jeritan menyayat
Jliggg!
Ringan laksana daun jatuh, kedua
kaki Mata Malaikat hinggap di bagian atas dinding istana. Tapi belum juga
sempat berbuat sesuatu, sebagian prajurit pasukan panah yang sudah berganti
senjata meluruk ke arahnya dengan pedang di tangan. Sedangkan busur-busur,
ditinggalkan di tempat semula.
Sing, sing, sing...!
Sinar-sinar terang menyilaukan
mata langsung menyemburat ketika mata-mata golok itu tertimpa matahari. Dan itu
cukup membuat Mata Malaikat memejamkan matanya yang mengerikan karena merasa
silau.
Hebatnya, kakek bermata
mengerikan ini ter-nyata tetap tidak membuka matanya. Padahal, se-rangan
lawan-lawannya menyambar semakin dekat. Memang, bagi tokoh tingkat tinggi
seperti Mata Malaikat, hal itu tidak jadi masalah. Sepasang telinganya yang
tajam, ternyata lebih mampu untuk membaca sasaran yang dituju lawan. Dan itu bisa
diketahui dari desir angin yang mengiringi tibanya serangan.
Masih dalam keadaan sepasang mata
terpejam, Mata Malaikat memapak serangan lawan-lawannya.
Tak, tak...! Bukkk! Desss!
"Aaakh...!"
Rincian kejadiannya terlalu sulit
diikuti mata biasa. Beradunya senjata-senjata prajurit Kerajaan Gambang dengan
kedua tangan Mata Malaikat ter-
dengar begitu keras. Itu pun
masih ditambah dengan suara berdebuk keras dari serangan balasan kaki dan
tangan Mata Malaikat yarig mengenai sasaran, dan terpentalnya tubuh prajurit-prajurit Kerajaan Gambang.
Menilik nada jeritan-jeritan itu,
bisa diketahui kalau para prajurit Kerajaan Gambang harus menerima kematian.
Tapi, Mata Malaikat sama sekali tidak mempedulikan kejadian yang menimpa
lawan-lawannya. Begitu serangan balasan dikirimkan, dia segera melompat
turun. Indah dan manis gerakannya. Bahkan ketika kedua kakinya hinggap di
tanah, sedikit pun tidak ada suara terdengar.
Namun seperti juga sebelumnya,
begitu Mata Malaikat mendarat, para prajurit Kerajaan Gambang Jangsung
menyambutnya. Hanya saja, kali ini yang menyambutnya bukan pasukan panah lagi.
"Grrrhhh...!"
Mata Malaikat menggeram, karena
merasa jengkel bukan kepalang melihat prajurit Kerajaan Gambang berbondong-bondong datang menyerbu
dengan senjata terhunus. Padahal, saat itu dia tengah tidak ada keinginan
meladeni mereka, karena buru-buru ingin menghancurkan pintu gerbang Istana
Kerajaan Gambang. Mata Malaikat jadi kalap. Maka, seluruh kemampuannya pun
dikeluarkan. Kedua tangan dan kakinya juga digerakkan ke sana kemari.
Hebat bukan kepalang akibat
amukannya. Ke mana pun tangan atau kakinya bergerak, sudah dapat dipastikan ada
tubuh yang berpentalan tak tentu arah, disertai lengkingan kematian yang
menyayat.
Memang, tindakan para prajurit
Kerajaan Gam-bang dalam mengeroyok Mata Malaikat, tak ubahnya
segerombolan semut menerjang api.
Begitu berada di dekat kakek bermata mengerikan itu, mereka langsung
berpentalan tak tentu arah.
Ternyata, lolong kesakitan dan
kematian bukan hanya keluar dari mulut para prajurit yang menjadi lawan Mata
Malaikat. Di pertarungan lain, tampak dua dari empat datuk golongan hitam
tengah mengamuk pula. Rupanya, mereka juga telah berhasil melewati penjagaan
pasukan panah.
Di saat tengah sengit-sengitnya
pertarungan berlangsung, mendadak....
Blarrr!
Terdengar ledakan keras seperti
ada halilintar menyambar di sekitar tempat itu. Bagai diberi perintah,
pertarungan langsung terhenti. Dan kini, semua perhatian langsung beralih ke
arah asal suara gaduh itu.
Ternyata, bunyi keras yang
menggelegar tadi akibat hancurnya daun pintu gerbang istana. Pecahan-pecahan
dan potongan-potongan kayu tebal berukir pun berpentalan ke sana kemari.
Ternyata itu akibat hantaman Setan Kecil Muka Hitam dengan pengerahan tenaga dalam.
Dan seiring berpentalannya
pecahan-pecahan kayu tebal berukir itu, rombongan anak buah Mata Malaikat pun
menyerbu masuk. Mau tak mau, hal ini membuat sebagian prajurit Kerajaan Gambang
meninggalkan Mata Malaikat dan dua datuk golongan hitam. Karena, mereka
terpaksa harus menghadang serbuan anak buah Mata Malaikat agar jangan sampai
masuk ke bagian dalam istana. Maka, tak pelak lagi pertarungan sengit pun
terjadi.
Dentang senjata beradu, percikan
bunga api, jeritan kesakitan, dan raung kematian menyemaraki
pertarungan. Halaman Istana
Kerajaan Gambang pun mulai digenangi darah dan dipenuhi sosok tubuh yang
bergeletakan tanpa nyawa.
Ternyata, sebagian besar dari
sosok tubuh yang bergeletakan ada di pihak prajurit Kerajaan Gambang. Memang,
tampaknya pertempuran berlangsung tak seimbang. Meskipun jumlah anak buah Mata
Malaikat jauh di bawah lawan-lawannya, tapi dalam hal kepandaian jelas lebih
segala-galanya.
Bahkan punggawa yang bernama
Garwa telah tewas ketika menghadang Setan Kecil Muka Hitam. Demikian pula,
Panglima Reksabaya dan beberapa panglima lain. Mereka tewas di tangan tiga dari
empat datuk yang menguasai penjuru mata angin.
Mereka sama sekali tidak
mengalami kesulitan untuk menghadapi jumlah prajurit Kerajaan Gambang yang jauh
lebih banyak. Apalagi para panglima perang Kerajaan Gambang sebagian besar
sudah tewas. Maka, tidak heran tokoh-tokoh seperti Mata Malaikat dan empat
datuk golongan hitam secara leluasa menyebar maut. Jeritan-jeritan kesakitan
selalu terdengar setiap kali tangan atau kaki mereka bergerak.
Tanda-tanda kemenangan gerombolan
Mata Malaikat sudah terlihat. Buktinya, prajurit-prajurit Kerajaan Gambang
terlihat terus-menerus bergerak mundur, semakin mendekati bangunan istana.
Pa-dahal, semua pasukan panah telah bergabung.
Dan ketika akhirnya pasukan
Kerajaan Gam-bang semakin terdesak ke dalam bangunan, pasukan yang bertugas
menjaga bagian dalam istana pun ikut bertempur pula. Namun tetap saja semuanya
tergilas.
Sesumbar Setan Botak ternyata
tidak meleset. Matahari belum lagi mencapai titik tengahnya, namun perlawanan
pasukan Kerajaan Gambang telah berhasil
dilumpuhkan. Kecuali yang
melarikan diri, semua prajurit Kerajaan Gambang dibantai. Tidak ada seorang pun
yang dibiarkan hidup, meski telah menyerah. Kerajaan Gambang kini telah runtuh
ketika rajanya ikut terbunuh.
Seiring tidak adanya lagi
perlawanan dari pihak prajurit Kerajaan Gambang, pesta kegembiraan ge-rombolan
Mata Malaikat pun dimulai. Mereka semua sibuk memenuhi keinginan masing-masing.
2
"Hhh...!"
Helaan napas berat keluar dari
mulut seorang muda tampan. Rambutnya yang putih keperakan, tampak dipermainkan
angin. Badannya sedang, terbungkus pakaian berwarna ungu. Menilik dari helaan
dan raut wajahnya, bisa ditebak kalau hatinya tengah dilanda perasaan gelisah.
"Kenapa, Kang?"
Pertanyaan bernada penuh rasa
ingin tahu dari seorang gadis cantik berpakaian putih dan berambut panjang
sampai pinggang, membuat pemuda berambut putih keperakan itu menoleh. Meskipun
demikian, ayunan langkahnya sama sekali tidak dihentikan. Memang, sepasang anak
muda yang tidak lain Dewa Arak dan Melati itu tengah berlari.
"Aku geiisah sekali kalau
teringat gerombolan Mata Malaikat, Melati," kata Arya. "Dengan anak
buah sebanyak itu, mereka pasti mampu berbuat apa saja. Entah bagaimana cara
menanggulanginya. Mudah-
mudahan saja mereka belum memulai tindak kejahatan."
"Mudah-mudahan saja
harapanmu terkabul, Kang," sambut Melati bernada tidak yakin. "Tapi
menurut pendapatku, hal itu tidak mungkin. Aku yakin sekali, saat ini Mata
Malaikat dan anak buahnya tengah berusaha mewujudkan rencananya."
"Apa yang kau utarakan sama
sekali tidak salah, Melati. Tapi sebelum terjadi, aku akan menentangnya! Apa
pun akibatnya," tandas Arya mantap.
"Kau lupa, Kang. Aku kan
bersamamu. Kita sama-sama akan menentang tindakan angkara murka Mata Malaikat,
apa pun taruhannya!" sambut Melati, setengah memperbaiki ucapan
kekasihnya.
Arya hanya tersenyum. "Hey!
Lihat, Kang!"
Seruan kaget Melati yang disertai
tudingan jari telunjuk ke depan, membuat Arya mengarahkan pandangan ke depan.
Maka masih sempat dilihatnya sesosok tubuh berpakaian prajurit kerajaan,
terjatuh dari atas punggung seekor kuda yang tengah berlari cepat menuju tempat
mereka.
Brukkk!
Keras sekali tubuh sosok
berpakaian prajurit itu jatuh di tanah. Sementara, kuda yang berwarna coklat
bercak-bercak putih itu terus saja berpacu meninggalkan penunggangnya yang
mengerang-erang kesakitan di tanah.
Semua kejadian itu jelas
disaksikan Arya dan Melati. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi mereka segera
melesat ke arah tubuh sosok ber-pakaian prajurit itu tergolek.
Hanya dalam beberapa kali lesatan
saja, sepa-
sang pendekar muda itu telah
dekat dengan sosok berpakaian prajurit. Kemudian, mereka berjongkok.
Arya dan Melati saling
berpandangan ketika melihat keadaan sosok yang ternyata memang seorang
prajurit. Meskipun belum memeriksa lebih teliti, bisa diketahui kalau nyawa si prajurit tidak bisa diselamatkan
lagi. Luka-luka yang diderita terlalu parah. Bahkan napasnya pun tinggal
satu-satu. Melihat hal ini, Arya tidak berani membuang-buang waktu secara
percuma.
"Apa yang terjadi,
Kisanak?" tanya Arya, cepat "Hhh..., hhh.... Istana telah diserbu
oleh orang-
orang sakti. Hhh..., hhh.... Aku
khawatir, mereka telah berhasil merebut istana...," jawab prajurit yang
tengah di ambang ajal itu, terengah-engah.
Arya dan Melati saling
berpandangan. Tanpa diberi tahu lebih jelas lagi, bisa diperkirakan kalau para
penyerbu istana adalah gerombolan Mata Ma-laikat Seketika itu pula, perasaan
gelisah yang melanda hati Dewa Arak dan Melati semakin besar. Betapa tidak?
Ternyata gerombolan Mata Malaikat telah mulai bertindak! Kalau begitu, mereka
harus bergegas sebelum Mata Malaikat berhasil merampungkan maksudnya.
"Tolong katakan pada kami,
kerajaan asalmu. Dan, di mana letaknya?" pinta Arya agak kalap.
Namun permintaan Dewa Arak tidak
langsung terpenuhi, karena keadaan prajurit itu benar-benar sudah payah. Dia
malah tersengal-sengal beberapa saat sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Aku prajurit Kerajaan
Gambang. Hhh.... Dari sini, kau pilih arah barat. Setelah melalui hutan kecil,
kau tinggal menempuh arah lurus saja. Dan..., aaakh...!"
Kepala prajurit yang malang itu
pun terkulai, karena nyawanya telah melayang meninggalkan raga.
"Hhh...!"
Hampir berbareng, Arya dan Melati
menarik napas berat Sambil menatap wajah prajurit Kerajaan Gambang yang malang
itu, sepasang anak muda itu bangkit.
"Maafkan aku, Kisanak.
Bukannya aku tidak mau mengurus mayatmu dengan layak. Tapi..., keadaanlah yang
tidak mengizinkan. Aku harus bergegas kalau tidak ingin Mata Malaikat dan anak
bu-ahnya menyebar bencana di mana-mana," kata Arya, lirih.
Kemudian pemuda berambut putih
keperakan itu mengalihkan pandangan pada Melati.
"Mari, Melati!" ajak
Arya pada kekasihnya. Melati menganggukkan kepala. Sesaat kemu-
dian, sepasang pendekar muda ini
telah berlari cepat meninggalkan tempat itu. Arah yang dituju, sesuai arah yang ditunjukkan oleh prajurit Kerajaan Gambang yang sempat meloloskan diri
tadi, sebelum tewas.
***
Ternyata ucapan prajurit Kerajaan
Gambang yang berhasil kabur dan kemudian tewas itu benar. Belum juga jauh
berlari, tak jauh di hadapan Arya dan Melati membentang sebuah hutan kecil. Dan
begitu dilalui, tampaklah hamparan tanah lapang luas. Samar-samar, di kejauhan
terlihat sebuah bangunan. Kalau tidak diberi tahu lebih dulu oleh prajurit
Kerajaan Gambang sebelum meninggal, mungkin Arya dan Melati tidak akan
menyangka kalau bangunan itu
adalah sebuah istana!
"Itukah Istana Kerajaan Gambang,
Kang?" tanya Melati sambil menudingkan jari telunjuk ke depan, tanpa
menghentikan larinya.
"Kalau prajurit tadi tidak
salah memberi keterangan, pasti itu Istana Kerajaan Gambang," jawab Arya,
berputar.
Melati pun diam. Disadari
perkataan Dewa Arak ada benarnya.
Semakin lama, jarak antara
sepasang pendekar muda itu dengan tempat yang dituju semakin dekat. Dengan
demikian, bentuk bangunan itu semakin jelas. Dan, ternyata memang benar sebuah
istana!
Arya dan Melati menghentikan
larinya. Seka-rang mereka berdiri dengan pandangan tertuju lurus ke depan.
Terlihat jelas kalau sorot mata mereka penuh selidik.
"Kelihatannya sepi-sepi
saja, Kang? Tidak terli-hat adanya pertempuran sama sekali. Apakah prajurit
yang kita temui itu tidak berdusta?" Melati yang mulai ragu-ragu
mengutarakan kekhawatirannya.
"Aku tidak sependapat
denganmu, Melati," sahut Arya sambil mengalihkan pandangan ke arah Melati.
"Aku yakin, prajurit yang kita temui tadi berkata jujur."
''Tapi..., mengapa tidak terlihat
hal-hal seperti yang dikatakannya? Jangankan pertempuran.
Keributan pun, tidak kelihatan. Suasana aman-aman saja. Lihat saja dua orang
prajurit yang menjaga pintu gerbang! Coba, lihat juga ke atas tembok. Nah!
betul, kan? Bukankah itu pasukan panah?!" urai Melati mengajukan alasan
ketidakpercayaan atas cerita prajurit
yang mengaku berasal dari Kerajaan
Gambang.
Arya tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, pemuda berambut putih keperakan ini malah
termenung. Kepalanya agak tertengadah. Sedangkan pandangannya menerawang jauh
menembus langit
Menilik dari kernyitan pada
dahinya, bisa diperkirakan kalau tokoh muda yang menggemparkan ini tengah
berpikir.
"Apa yang kau katakan itu
sama sekali tidak salah, Melati. Keadaan istana itu terlihat tenang-tenang
saja. Bahkan prajurit-prajurit sepertinya ber-ada di tempat penjagaan
masing-masing. Meskipun demikian, aku tetap yakin kalau prajurit itu sama
sekali tidak berbohong! Pasti ada kekeliruan di sini!" mantap dan penuh
keyakinan Arya mengutarakan pendapatnya.
"Jadi..., bagaimana
maksudmu, Kang?" tanya Melati, masih merasa kurang jelas dengan ucapan
kekasihnya.
"Ada dua kemungkinan, Melati,"
sahut Arya. "Apa itu, Kang?" sambut Melati, tak sabar. "Pertama,
mungkin istana yang kita lihat seka-
rang ini bukan yang dimaksud
prajurit tadi," kata Arya memulai pendapatnya.
"Dan yang kedua?"
potong Melati, cepat Rupanya, gadis berpakaian putih ini tidak
sabar menunggu penjelasan kedua
Dewa Arak. Dan Melati merasa kan penjelasan pertama ada benarnya, tapi
kemungkinannya terlalu kecil.
"Kedua, istana ini memang
yang dimaksud pra-jurit tadi. Dan penyerbuan itu benar terjadi. Hanya saja,
sekarang telah usai," lanjut Arya lagi.
"Maksudmu..., pertempuran
itu telah berakhir, Kang?" duga Melati.
Arya menganggukkan kepala.
"Benar."
"Jadi..., gerombolan Mata
Malaikat berhasil dipukul mundur?! Ah! Sepertinya hal mustahil, Kang. Anak buah
Mata Malaikat terdapat banyak orang sakti, di samping Mata Malaikat sendiri dan
empat datuk golongan hitam. Rasanya, tidak mungkin kalau rombongan itu bisa
dikalahkan pasukan Kerajaan Gambang yang hanya sebuah kerajaan kecil!"
urai Melati panjang lebar.
"Siapa yang mengatakan kalau
gerombolan Mata Malaikat berhasil dipukul mundur oleh pasukan Kerajaan
Gambang?" tanya Arya dengan senyum tersungging di bibir.
"Lho?! Bukankah kau sendiri yang
mengatakannya, Kang?!" dengus Melati, pura-pura sewot
"Rupanya kau gemar
mengada-ada, Melati. Seingatku, aku tidak pernah berkata seperti itu,"
Arya juga bersikeras.
"Kau mengatakannya!"
Melati tak mau kalah. "Tidak, Melati!"
"Kau mengatakannya!"
tandas Melati lagi.
Kali ini Arya tidak langsung
menyambutinya. Pemuda berambut putih keperakan ini termenung sejenak. Kemudian,
perlahan-lahan kepalanya ter-angguk.
"Baiklah, Melati. Mungkin
kau benar. Tapi..., seingatku aku tidak bilang begitu," Arya terpaksa
mengalah agar persoalan ini tidak berlarut-larut.
"Memang, kau tidak
mengatakan begitu, Kang. Tapi pengertian yang terkandung di dalamnya seperti
itu," tandas Melati.
Arya mengangguk-anggukkan kepala
pertanda mengerti.
"Boleh kutahu ucapanku yang
mengandung pengertian seperti itu, Melati?" pinta Arya ingin tahu.
"Ucapan itu adalah, alasan
keyakinanmu atas ucapan prajurit yang telah membawa kita kemari," jelas
Melati.
"Ooo..., itu!"
Seketika itu pula terbentuk
bulatan di mulut Arya. Kepalanya pun terangguk-angguk, sementara di bibirnya
tersungging sebuah senyuman.
"Bagaimana? Benar kan,
pengertian ucapanmu seperti itu? Bukankah kau mengatakan, rombongan Mata
Malaikat benar menyerbu Istana Kerajaan Gambang dan pertempuran terjadi. Hanya
saja, se-karang telah usai! Nah! Melihat dari keadaan istana yang dijaga prajurit-prajurit
Kerajaan Gambang, bukankah berarti kalau gerombolan Mata Malaikat telah dipukul
mundur?!" urai Melati, penuh semangat
"Rupanya kau terlalu terburu
buru menarik simpulan, Melati," kata Arya sambil tersenyum lebar.
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Kang?" Melati mengernyitkan kening. "Aku terburu-buru
menarik kesimpulan?!"
"Benar," sahut Arya
sambil menganggukkan kepala. "Kau tahu, Melati. Ucapanku sebenarnya belum
selesai. Masih ada lanjutannya, sehingga jangan sampai menimbulkan salah
pengertian. Pantas saja kau menarik kesimpulan seperti itu."
Tanpa sadar, Melati terlongong
bengong. "Pertempuran telah usai. Tapi, bukan pihak Ke-
rajaan Gambang yang mendapat kemenangan,
melainkan gerombolan Mata Malaikat"
"Tapi..., mengapa yang
terlihat prajurit Kera-jaan Gambang? Atau.... Jadi, maksudmu prajurit-prajurit
itu tak lain adalah anak buah Mata Malaikat
yang berseragam prajurit?!"
Arya menganggukkan kepala pertanda membenarkan.
"Mengapa hal itu
dilakukannya, Kang?" tanya Melati, ingin tahu.
"Entahlah, Melati," jawab Arya sambil mengangkat bahu. ''Tapi..., ingatkah
kau dengan cerita Garuda Mata Satu?"
Melati mengernyitkan alisnya yang
berbentuk indah itu sejenak. Rupanya, itulah kebiasaannya bila setiap kali
mengingat-ingat sesuatu.
"Ingat sih ingat, Kang. Tapi,
cerita Garuda Mata Satu kan cukup banyak. Ucapan mana yang kau maksudkan?"
"Kau ingat cerita Garuda
Mata Satu tentang nafsu serakah Mata Malaikat? Tokoh sesat itu mempunyai
keinginan untuk menjadi seorang raja besar. Jadi, mana mungkin disebut raja kalau
tidak mempunyai prajurit? Mungkin itulah sebabnya, mengapa anak buahnya
mengenakan seragam prajurit kerajaan! Tapi ingat, Melati! Ini baru dugaanku
saja. Jadi, bukan tidak mungkin ada kesalahan!"
''Tapi aku yakin dugaanmu benar,
Kang," ujar Melati, sok yakin.
"Jangan terlalu yakin,
Melati," sergah Arya de-ngan senyum tersungging di bibir. "Barangkali
saja dugaanmu yang benar."
"Ah! Kau ini bagaimana,
Kang. Ucapanmu membuatku jadi bingung, tahu?!" rajuk Melati.
"Ha ha ha...!" Arya
tertawa bergelak. "Hanya ada satu jalan untuk membuktikan dugaan siapa
yang benar."
"Kita harus menyelinap ke sana dan menyelidikinya, kan?" tebak
Melati, cepat
"Kau memang pintar.
Jawabanmu tepat!" puji Arya sambil tersenyum menggoda.
"Kapan kita harus ke sana,
Kang?" tanya Melati berusaha sungguh-sungguh. Sikapnya menunjukkan kalau
dirinya sama sekali tidak mempedulikan pujian itu.
"Nanti malam," jawab
Arya, singkat
3
Angin lembut membawa hawa dingin
menusuk tulang, berdesir di malam yang hanya diterangi sinar bulan sepotong.
Juga, tidak terlihat adanya bintang di langit. Keadaan angkasa saat itu memang
tidak cerah.
Dalam suasana malam seperti itu,
tampak dua sosok bayangan melesat cepat menuju Istana Kerajaan Gambang. Cepat
bukan main gerakan mereka. Sehingga, yang terlihat hanyalah dua kelebatan
bayangan berwarna ungu dan putih dalam bentuk tidak jelas.
Hanya dalam beberapa kali
lesatan, dua sosok bayangan itu telah semakin mendekati dinding istana. Dan....
"Hup!"
Dua sosok bayangan itu langsung
menempelkan punggungnya ke dinding istana, agar tidak terlihat para prajurit
penjaga. Sesaat keduanya bersikap demikian, sambil mengatur desah napas.
Di bawah siraman sinar bulan
sepotong, ter-nyata masih bisa terlihat wajah dan perawakan kedua sosok
bayangan itu. Mereka adalah Arya dan Melati. Dan sepasang pendekar muda itu
saling berpandangan
sejenak, sebelum akhirnya
membalikkan tubuh. Lalu....
"Hih!"
Hanya dengan sebuah genjotan
perlahan, Arya dan Melati telah berhasil meluncur ke atas. Lalu ringan laksana
sehelai daun, kaki mereka hinggap di atas dinding istana.
"Hey! Siapa...?! Ah...!
Rupanya kau, Dewa Arak?!"
Serangkaian teguran bernada penuh keterkejutan menyambut kehadiran sepasang pendekar muda yang memiliki
kesaktian tinggi, begitu mendarat
Seketika itu pula, Dewa Arak dan
Melati lang-sung berpaling ke arah asal suara tanpa terkejut sama sekali. Dan
memang, hal itu sudah diduga sebe-lumnya. Maka, seketika beberapa orang
berpakaian seragam prajurit kerajaan meluruk ke arah mereka.
Srattt! Srattt! Singgg! Singgg!
Tanpa menunggu waktu lebih lama
lagi, pra-jurit-prajurit itu mencabut senjata masing-masing, kemudian meluruk
ke arah Dewa Arak dan Melati. Pancaran sinar bulan yang menjilati mata pedang
dan golok, menimbulkan kilatan-kilatan sinar yang menyilaukan
mata.
Namun orang yang diserang adalah
Dewa Arak dan Melati. Dua tokoh yang meskipun masih muda belia, namun telah
memiliki kepandaian begitu tinggi. Maka menghadapi serangan semacam itu, kedua
pendekar muda ini sama sekali tidak gugup.
Apalagi banyak keadaan yang
menguntungkan mereka. Salah satu di antaranya, lebar bagian atas tembok yang
tidak memungkinkan lawan untuk menyerang secara berbarengan.
Tak, tak!
Bunyi keras seperti ada dua logam
kuat berbenturan, terdengar ketika serangan para prajurit itu dipapak sepasang
tangan Dewa Arak. Yang lebih gila lagi, mata senjata-senjata itu malah
berpatahan! Itu pun masih diselingi jerit kesakitan dari mulut para prajurit
begitu tangan yang menggenggam pedang terasa sakit bukan kepalang.
Meskipun demikian,
prajurit-prajurit lain tidak menjadi gentar. Diiringi pekikan-pekikan nyaring
yang memekakkan telinga, mereka menerjang Dewa Arak dan Melati dalam jumlah
lebih banyak. Ternyata prajurit-prajurit yang lain telah berdatangan karena
mendengar adanya keributan. Dan mereka langsung memberi bantuan.
Tapi tindakan yang dilakukan para
prajurit itu tak ubahnya segerombolan semut menerjang api. Mereka semua roboh
tanpa daya, sebelum sempat menyarangkan sebuah serangan pun.
Desing senjata menyambar, dentang
senjata berbenturan, jerit kesakitan, dan suara jatuhnya tubuh prajurit-prajurit ke tanah, menyemaraki jalannya pertarungan. Sudah dapat
dipastikan, semua prajurit akan berhasil dirobohkan Dewa Arak dan Melati
Tapi sebelum hal itu terjadi....
"Menyingkir semua...!"
Bentakan keras menggelegar yang
membuat suasana di sekitar tempat itu bergetar keras tiba-tiba terdengar.
Jelas, orang yang mengeluarkan bentakan tadi menyertainya dengan tenaga dalam.
Akibatnya, semua prajurit yang
masih tersisa langsung menghentikan
penyerangannya. Mereka tahu,
kalau pemilik bentakan itu adalah pimpinan
mereka.
Melihat para prajurit
menghentikan serangan, Dewa Arak dan Melati pun menghentikan perlawanan. Maka,
kini pertempuran langsung berhenti, dan mereka semua mengalihkan perhatian pada
orang yang tadi mengeluarkan bentakan. Namun prajurit-prajurit itu hanya
sebentar memperhatikannya, karena sudah berlompatan turun dari dinding istana.
Jliggg!
Sampai prajurit terakhir telah berhasil mendarat di bagian atas dinding, Dewa Arak dan Melati
masih tetap berada di tempat semula. Keduanya mengedarkan pandangan ke bawah
untuk melihat orang yang telah mengeluarkan bentakan tadi.
Ternyata, orang itu adalah Setan
Kecil Muka Hitam! Sementara di belakangnya, berdiri belasan orang berpakaian
seragam prajurit. Rupanya, datuk sesat berwajah hitam ini telah mendengar
adanya keributan yang berlangsung tadi.
"Kiranya Dewa Arak! Ha ha
ha...! Betapa gagahnya tindakanmu, Dewa Arak! Menjatuhkan ta-ngan keras pada prajurit-prajurit
rendahan! Ha ha ha..., hebat! Hebat!" ejek Setan Kecil Muka Hitam.
Sikapnya terlihat jelas memandang rendah pada Dewa Arak.
Namun, Dewa Arak bukan orang
bodoh. Dia tahu, lawan tengah berusaha memanas-manasi hatinya. Maka, Dewa
Arak berusaha untuk tidak terpengaruh ejekan lawan dengan bersikap tenang.
Tanpa mengeluarkan kata sepatah
pun, Dewa Arak melompat ke bawah, diikuti Melati. Sesaat ke-mudian, laksana dua
ekor burung garuda, tubuh sepasang pendekar muda ini meluncur ke bawah.
"Hup!"
Ringan tanpa suara, Dewa Arak dan
Melati mendarat di tanah, sekitar tiga tombak di depan Setan Kecil Muka Hitam.
''Tidak salahkah penglihatanku?
Benarkah kau Setan Kecil?! Luar biasa! Sejak kapan kau menjadi seorang panglima
kerajaan, Setan Kecil?" sindir Melati, mencoba membalas makian datuk
berwajah hitam itu. "Sekarang tahulah aku! Semua prajurit yang ada di sini
pun pasti anak buahmu! Hi hi hi.... Gerombolan kalian ternyata tak lebih dari
pengecut hina! Kalian mengenakan seragam prajurit Kerajaan Gambang, karena
takut kalau kejadian ini didengar kerajaan tetangga! Kalian takut diserbu dan
dihancurleburkan!"
"Tutup mulutmu, Wanita
Liar!" maki Setan Ke-cil Muka Hitam, geram. "Atau aku yang akan
menutupnya dengan kekerasan!"
Memang, dugaan yang dilontarkan Melati
sama sekali tidak keliru. Meskipun demikian, tidak semuanya benar.
"Hi hi hi...!"
Hanya tawa mengikik dari Melati yang menyambuti ancaman Setan Kecil Muka
Hitam. Tam-pak jelas kalau gadis berpakaian putih itu tidak menganggap ancaman
datuk berwajah hitam itu sebagai suatu ancaman.
"Kau akan menutup mulutku dengan kekerasan?! Hi hi hi...! Apakah aku tidak salah
dengar? Ingin kulihat, bagaimana kau membuktikan ucapanmu, Kerbau Muka
Hitam?!"
"Mampus kau, Wanita
Sombong!"
Belum juga gema ucapan itu lenyap,
Setan Ke-cil Muka Hitam telah melancarkan serangan ke arah gadis berpakaian
putih itu. Serangannya dibuka dengan sebuah tendangan kaki kanan lurus ke arah
perut. Dan agar dapat mencapai
sasaran, terpaksa Setan Kecil Muka Hitam bergerak mendekat lebih dahulu.
Wuttt!
Serangan Setan Kecil Muka Hitam
mengenai tempat kosong begitu Melati telah lebih dulu mengelak sambil
melancarkan serangan. Gadis berpakaian putih itu melompat sambil melancarkan
sampokan ke arah pelipis.
Cittt!
Deru angin tajam terdengar dari
udara yang terobek oleh sampokan tangan Melati yang berbentuk cakar. Dari sini
saja sudah bisa diperkirakan kedahsyatan serangannya. Memang dalam pengerahan
tenaga dalam, Melati mampu menghancurkan batu karang yang paling keras
sekalipun dengan sampokan tangannya! Bisa diperkirakan akibat yang akan
terjadi, apabila jari-jari tangan itu menghantam kepala manusia!
Hal ini tentu saja disadari Setan
Kecil Muka Hitam. Itulah sebabnya, dia tidak berani membuang-buang waktu.
Serangan itu terlalu tiba-tiba datangnya. Tambahan lagi, meluncur demikian
cepat. Apabila terlambat sedikit, tentu akan gawat akibatnya.
Karena kesempatan yang tidak
memungkinkan, Setan Kecil Muka Hitam hanya sempat menarik kepala ke belakang sambil mendoyongkan tubuhnya. Meskipun hanya demikian,
tapi cukup membuat serangan Melati hanya mengenai tempat kosong. Dan sampokan
cakar Melati hanya lewat beberapa jari di depan wajah Setan Kecil Muka Hitam.
Namun, hasilnya memang cukup
mengerikan. Rambut dan sekujur pakaian Setan Kecil Muka Hitam berkibaran keras.
Dari sini saja sudah bisa diketahui,
betapa kuatnya tenaga dalam yang
terkandung dalam serangan gadis itu.
Melati menggertakkan gigi, karena rasa
penasaran yang menggelegak melihat lawan berhasil mengelakkan serangan. Dan seiring munculnya
perasaan itu, diputuskannya untuk
semakin memperhebat serangan.
Tapi, ternyata Setan Kecil Muka
Hitam bukan termasuk lawan yang mudah dirobohkan. Buktinya setiap serangan
Melati berhasil dipatahkan. Bahkan datuk berwajah hitam ini mampu mengirimkan
se-rangan balasan yang tidak kalah berbahaya! Maka, kini terjadilah pertarungan
sengit antara dua tokoh sakti yang berbeda jenis, usia, dan aliran.
Karena sama-sama memiliki gerakan
hebat dalam waktu sebentar saja lima belas jurus telah berlalu. Dan selama itu,
belum nampak adanya tanda-tanda yang akan keluar sebagai pemenang. Per-tarungan
masih berlangsung seimbang. Masing-masing saling serang, menangkis, dan
mengelak.
Semua kejadian itu disaksikan
penuh perhatian oleh Dewa Arak dan anak buah Mata Malaikat yang memakai seragam
prajurit Kerajaan Gambang. Tapi tentu saja di antara mereka semua, hanya Dewa
Arak yang dapat melihat jelas berlangsungnya pertarungan.
Memang kecepatan gerak Melati dan
Setan Kecil Muka Hitam tidak dapat tertangkap pandangan mata anak buah Mata
Malaikat. Yang dapat mereka lihat hanyalah kelebatan bayangan hitam dan putih,
dalam bentuk tidak jelas yang saling belit dan kadang saling pisah.
***
Dengan penuh perhatian Dewa Arak
menyaksikan jalannya pertarungan yang berlangsung semakin seru. Apalagi kedua
belah pihak telah menge-luarkan ilmu andalan masing-masing. Lima puluh jurus
telah lewat, namun selama itu belum nampak adanya tanda-tanda yang akan keluar
sebagai pemenang.
Dewa Arak mengernyitkan alisnya.
Disadari kalau pertarungan akan berjalan alot. Buktinya, sampai sekian jauh
tidak terlihat ada yang terdesak. Setan Kecil Muka Hitam memang lawan tangguh
untuk Melati!
Kontan perasaan cemas melilit
hati Dewa Arak. Segumpal pertanyaan bergayut di benaknya. Meng-hadapi Setan
Kecil Muka Hitam saja Melati sudah dibuat kerepotan. Padahal di tempat ini,
masih ada empat orang lagi yang memiliki kesaktian tinggi. Bahkan salah seorang
memiliki kepandaian yang menggiriskan! Dan dia adalah Mata Malaikat!
Hal itulah yang menyebabkan
timbulnya rasa gelisah di hati Dewa Arak. Keselamatan Melati benar-benar
membuatnya gelisah!
Dan sebelum pemuda berambut putih keperakan itu berhasil mengusir perasaan geiisah yang
melanda, hal yang dicemaskannya terjadi. Di kejauhan, terlihat puluhan sosok tubuh bergerak mendatangi. Dalam
keremangan sinar bulan, bisa diketahui kalau empat sosok terdepan adalah Mata
Malaikat dan tiga datuk golongan hitam. Maka, seke-tika itu pula jantung Dewa
Arak teras berdetak kencang.
"Ha ha ha...!"
Sebelum Dewa Arak sempat berbuat
sesuatu, Mata Malaikat telah mengeluarkan tawa bergelak
bernada penuh kegembiraan.
"Pucuk dicinta ulam
tiba!" kata kakek bermata mengerikan itu, setelah menghentikan tawanya.
"Sama sekali tidak kusangka! Tanpa bersusah payah mencari, kau datang ke
hadapanku, Dewa Arak! Ha ha ha...! Berarti, pertarungan kita yang belum selesai
dapat dilanjutkan."
Seraya berkata demikian, Mata Malaikat
mengibaskan tangan kanannya.
"Ringkus wanita itu! Dia
adalah calon bahan yang baik sekali untuk penyempurnaan ilmu yang
kumiliki!"
"Baik, Yang Mulia,"
kata Setan Botak, Setan Muka Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa,
berbarengan.
Kemudian ketiga datuk sesat ini
melangkah, menghampiri kancah pertarungan antara Melati dan Setan Kecil Muka
Hitam.
Dewa Arak terkejut mendengar
perintah Mata Malaikat. Betapa tidak? Hal itu mengandung arti kalau keselamatan
Melati terancam!
''Tunggu!" cegah Dewa Arak
cepat sambil melesat maju.
Hanya sekali lesat saja Arya
telah berada di hadapan tiga datuk yang tengah menuju kancah pertarungan antara
Melati dan Setan Kecil Muka Hitam.
Setan Botak, Setan Muka
Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa terpaksa menghentikan langkah, begitu Dewa
Arak berdiri menghadang jalan mereka. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu,
pemuda berambut putih keperakan itu telah mendahuluinya.
"Mata Malaikat! Persoalan
yang ada, adalah antara kau dan aku! Lepaskan gadis itu, dan mari kita
bertarung sampai ada yang
mati!" seru Dewa Arak, lantang.
Pemuda berambut putih keperakan itu
mencoba membuat Mata Malaikat merubah keputusannya. Tapi, usahanya
ternyata sia-sia!
"He he he...! Tidak usah
mengaturku, Dewa Arak! Sekalipun tidak ada urusan, kalau memang aku ingin
menginginkannya, kau mau apa?! Apalagi gadis itu! Dia telah banyak menanam
persoalan denganku. Telah cukup banyak anak buahku yang dilukainya! Kau
mengerti?! Kini, pusatkanlah perhatianmu kalau tidak ingin mati percuma di
tanganku!"
Seiring selesainya ucapan itu,
Mata Malaikat bergerak menghampiri Dewa Arak dengan langkah satu-satu. Terlihat
jelas kalau sikapnya sangat waspada. Masalahnya, kakek bermata mengerikan ini
telah merasakan sendiri kelihaian pemuda berambut putih keperakan itu.
Pada saat yang bersamaan dengan
bergeraknya Mata Malaikat menghampiri Dewa Arak, Setan Botak, Setan Muka
Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa melanjutkan maksud yang tertunda. Mereka
kembali menghampiri kancah pertarungan antara Melati dan Setan Kecil Muka
Hitam.
Tentu saja semua ini tak luput
dari penglihatan Dewa Arak. Dan dalam waktu yang hanya sekejap saja, Dewa Arak memutar benaknya untuk mem-perhitungkan
tindakan yang harus dilakukan. Maka, sebuah keputusan langsung diambilnya.
"Hih!"
Dewa Arak seketika menjejakkan
kaki. Sesaat kemudian, tubuhnya melayang menuju kancah per-tarungan yang terjadi
antara Melati dan Setan Kecil Muka Hitam.
"Melati! Cepat pergi!"
Di saat tubuhnya tengah meluruk
ke dalam kancah pertarungan, Dewa Arak menyerukan perintah pada kekasihnya.
Karuan saja, seruan Dewa Arak
membuat Me-lati kaget. Memang, saking terlalu memusatkan perhatian untuk
mengalahkan Setan Kecil Muka Hi-tam, gadis berpakaian putih ini tidak tahu
hal-hal yang tengah berlangsung di sekelilingnya. Namun meskipun demikian, perintah Dewa Arak tidak berani dibantahnya. Dia tahu, Dewa Arak
pasti mempunyai alasan kuat.
Itulah sebabnya, tanpa ragu-ragu
lagi Melati segera melempar tubuh ke belakang. Langsung dijauhinya kancah
pertarungan. Tubuhnya yang ramping berputaran di udara dalam usaha untuk
menjauhi lawan.
Tentu saja Setan Kecil Muka Hitam
tidak sudi memberi kesempatan pada lawan. Dia pun melesat mengejar. Dan
sekarang, Melati benar-benar dalam bahaya besar. Ini karena maksudnya
dijalankan disaat keadaannya tidak menguntungkan.
Tapi sebelum Setan Kecil Muka
Hitam sempat melancarkan serangan terhadap Melati, Dewa Arak telah lebih dulu
melesat memotong jalur lompatannya. Bukan hanya itu saja. Kedua tangannya cepat
dilayangkan untuk memapak serangan Setan Kecil Muka Hitam. Kali ini, Arya tidak
ragu-ragu lagi untuk mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Apalagi, keadaan yang
dihadapi sekarang amat gawat!
Kesudahannya sudah bisa diduga!
Terjadilah benturan antara dua pasang tangan yang sama-sama mengandung tenaga
dalam kuat!
Plakkk, plakkk!
"Aih...!"
Terdengar jeritan tertahan dari
mulut Setan Kecil Muka Hitam ketika tubuhnya melayang deras ke belakang. Kedua
tangannya terasa sakit bukan main. Bahkan dadanya pun terasa sesak. Memang,
tenaga dalam datuk berwajah hitam ini cukup jauh di bawah Dewa Arak.
Meskipun demikian, Setan Kecil
Muka Hitam masih bisa menunjukkan kelihaiannya sebagai datuk golongan hitam!
Maka tanpa menemui kesulitan, dipatahkannya kekuatan yang membuat tubuhnya
melayang ke belakang. Lalu....
"Hup!"
Dengan gerakan indah dan manis,
Setan Kecil Muka Hitam mendarat di tanah. Memang, pemuda berambut putih
keperakan itu tidak terpengaruh apa-apa setelah terjadi benturan.
Namun Dewa Arak tidak sempat
berbuat sesuatu. Karena di saat tubuh Setan Kecil Muka Hitam tadi tengah
melayang, Setan Botak, Setan Muka Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa telah
mengurungnya dan Melati yang belum melesat jauh.
"He he he...!"
Suara tawa bergetar yang
mengandung penge-rahan tenaga dalam, membuat Melati terjingkat bagai disengat
ular berbisa. Cepat kepalanya menoleh ke kanan, tempat suara terkekeh tadi
berasal.
Dada Melati seperti diseruduk
seekor kerbau ketika pandangannya tertumbuk pada sepasang mata yang menyorot
aneh. Sorotannya begitu terang menyilaukan, dan mengandung pengaruh mengerikan!
Sepasang mata milik Mata Malaikat!
"He he he...!"
Mata Malaikat kembali terkekeh
melihat Melati
terpaku. Dia tahu, mengapa gadis
berpakaian putih itu bersikap demikian. Maka....
"Tataplah mataku terus, Anak Manis. Tataaap...! Tataaap...!" ujar
Mata Malaikat, bergetar.
Kedengarannya sepele saja ucapan
Mata Malai-kat. Tapi anehnya, ada kekuatan tidak nampak yang memaksa Melati
mengikuti perintah itu. Betapapun hatinya dikeraskan untuk tidak menuruti, tapi
kepalanya sukar digerakkan! Terutama sekali, sepa-sang matanya yang terus saja
terpaku pada sepasang mata Mata Malaikat.
Ternyata, bukan hanya Melati saja
yang merasakan pengaruh aneh itu. Bahkan semua orang yang berada di situ,
merasakan adanya keinginan menuruti perintah itu. Hanya saja, keinginan itu
kecil sekali!
Dan termasuk di antara orang yang
merasakan adanya pengaruh itu adalah Dewa Arak! Dan seketika itu pula, pemuda
berambut putih keperakan ini sadar oleh sesuatu yang tengah dihadapi
kekasihnya. Melati hendak ditundukkan dengan kekuatan ilmu sihir. Dewa Arak tahu,
karena telah pernah mengalaminya sendiri. Kalau saja tidak ada yang
menolongnya, mungkin dia sudah tewas di tangan ahli sihir itu (Untuk jelasnya,
silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Penganut Ilmu Hitam").
"Melati! Jangan tatap
matanya! Dia tengah menyihirmu!" sentak Dewa Arak, keras.
Kemudian pemuda berambut putih
keperakan ini melesat ke tempat Melati dan Mata Malaikat tengah berhadapan.
"Hih!"
4
Setan Botak, Setan Muka
Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa tentu saja tidak membiarkan Dewa Arak
meloloskan diri dari kepungan. Maka begitu melihat pemuda berambut putih
keperakan itu bergerak, mereka pun melesat untuk mencegah.
Di antara tiga datuk golongan
hitam itu, hanya Setan Botak yang berada di tempat yang akan dilalui Dewa Arak.
Maka dia tidak mengalami kesulitan sedikit pun untuk menghadang.
Sadar kalau Dewa Arak merupakan
lawan tangguh, Setan Botak tidak berani bertindak main-main. Segera
dilepaskannya cambuk berujung dua yang semula membelit pinggang, lalu
dilecutkannya ke arah Dewa Arak.
Siuttt, siuttt!
Diiringi bunyi berkesiutan cukup
nyaring, ujung-ujung cambuk itu meluncur. Hebatnya, masing-masing ujung menuju
ke arah yang berbeda. Yang satu menuju ubun-ubun, sedangkan yang lain menuju
bawah hidung. Dan itu merupakan dua jalan darah kematian! Apabila terkena,
nyawa Dewa Arak pun akan melesat ke alam baka!
Pada saat yang bersamaan dengan
meluncur-nya serangan Setan Botak, Setan Muka Tengkorak, dan Setan Tenaga
Raksasa tengah meluruk ke arah Dewa Arak. Setan Muka Tengkorak melompat,
se-dangkan Setan Tenaga Raksasa menggelindingkan tubuhnya laksana bola. Rupanya,
masing-masing datuk itu tidak ingin mempunyai kesamaan dalam menyerang Dewa
Arak.
Tentu saja, Dewa Arak tidak
mempedulikan Setan Tenaga Raksasa dan Setan Muka Tengkorak yang masih berada di
belakangnya. Perhatiannya hanya dipusatkan pada Setan Botak yang telah
melancarkan serangan mematikan.
Kalau menuruti perasaan,
sepertinya Dewa Arak ingin menangkap ujung-ujung cambuk yang tengah meluncur ke
arahnya. Dia tahu, dengan kelebihan tenaga dalam yang dimiliki, cambuk itu
dapat ditangkapnya tanpa harus terluka.
Namun Dewa Arak tidak ingin
terlarut oleh pe-rasaan. Pengalaman demi pengalaman yang dialami telah memberi
pelajaran kepadanya kalau kebanyakan senjata tokoh golongan hitam mengandung
racun mematikan. Dia yakin kalau telapak tangannya tidak akan terluka apabila
cambuk itu ditangkapnya. Tapi, keadaan akan menjadi lain jika cambuk itu mengandung racun ganas!
Maka dalam waktu yang hanya
sedikit, guci arak yang tergantung di punggungnya diambil, ke-mudian
disampoknya lecutan cambuk itu.
Ctarrr, ctarrr!
Ledakan keras seperti halilintar
menyambar, terdengar ketika ujung-ujung cambuk itu beradu de-ngan badan guci.
Maka kesudahannya, lesatan Dewa Arak terhambat. Dan....
"Hup!"
Pemuda berambut putih keperakan
itu men-darat di tanah. Sementara, Setan Botak sendiri terhuyung-huyung ke
belakang. Hal ini saja cukup menjadi bukti kalau tenaga dalam Setan Botak masih
di bawah Dewa Arak.
Tapi sebelum Dewa
Arak meneruskan maksudnya,
Setan Tenaga Raksasa dan Setan Muka
Tengkorak telah lebih dulu meluruk
ke arahnya dari tempat yang berbeda. Setan Muka Tengkorak dari udara, sedangkan
Setan Tenaga Raksasa masih dalam keadaan bergelindingan.
Maka, terpaksa Dewa Arak mengalihkan
perhatian ke arah dua datuk itu. Dan untuk itu, terpaksa tubuhnya berbalik.
"Hih!"
Ketika telah berada di dekat Dewa
Arak, Setan Muka Tengkorak langsung melancarkan serangan berupa sampokan tangan
kanan dengan jari-jarinya terkembang ke arah pelipis.
Wuttt!
Di saat yang bersamaan, dari
bawah Setan Tenaga Raksasa mengirimkan tendangan ke arah dada Dewa Arak.
Cepat sekali kedua serangan itu
riba, Dewa Arak baru saja berbalik, ketika kedua serangan itu meluncur. Namun,
meskipun demikian dia tidak gugup. Dalam waktu yang hanya sekejap saja, jalan
keluar telah ditemukan.
Memang tepat sekali tindakan yang
diambil De-wa Arak. Tubuhnya cepat merendah, lalu guci yang sejak tadi
terpegang di tangan langsung dipalangkan di depan dada.
Wuttt! Blanggg!
Rentetan kejadiannya berlangsung
demikian cepat. Sampokan tangan Mata Malaikat hanya me-nyambar angin di atas
kepala Dewa Arak. Sedangkan kaki Setan Tenaga Raksasa terpaksa berbenturan
dengan guci. Kejadian itu berlangsung dalam selisih waktu yang demikian
singkat!
Tapi kesudahannya, baik Setan
Tenaga Rak-
sasa maupun Dewa Arak sama-sama
terhuyung ke belakang. Setan Tenaga Raksasa terhuyung tiga langkah, sedangkan
Dewa Arak hanya satu langkah. Itu pun sebagian besar karena kedudukan pemuda
berambut putih keperakan ini kurang menguntungkan.
Belum juga Dewa Arak sempat
memperbaiki keadaannya, Setan Muka Tengkorak telah kembali melancarkan serangan
susulan. Tangan kirinya yang berbentuk mengepal, dipukulkan ke arah dada.
Dan selagi serangan Setan Muka
Tengkorak meluncur, dari arah belakang cambuk Setan Botak kembali mematuk-matuk
ke arah ubun-ubun Dewa Arak. Kali ini, Dewa Arak diserang dari dua arah.
"Hih!"
Dewa Arak cepat melompat ke
kanan. Dan se-lagi tubuhnya berada di udara, gucinya diangkat ke atas
kepala....
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak, dalam perjalanannya menuju perut.
Sesaat kemudian, ada hawa hangat berputar di dalam perut, lalu merayap ke atas
kepala.
"Hup!
Tubuh Dewa Arak limbung ke kanan
dan ke kiri ketika mendarat di tanah. Ini menjadi pertanda kalau ilmu 'Belalang
Sakti' miliknya telah siap digunakan.
Setan Botak, Setan Muka
Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa langsung tertegun bercampur heran ketika
melihat tingkah laku Dewa Arak. Dengan sendirinya, pertarungan pun terhenti.
Meskipun mereka telah mendengar akan ilmu 'Belalang Sakti' milik Dewa Arak yang
khas, namun begitu melihat
sendiri tetap saja rasa heran itu
muncul.
Tapi hanya sebentar saja Setan Botak,
Setan Muka Tengkorak, dari Setan Tenaga Raksasa tertegun. Dan seiring hilangnya
perasaan kaget, mereka kembali melancarkan serangan. Hasilnya, pertarungan yang
sempat tertunda sejenak itu kembali berlangsung.
Sementara itu di arena Iain,
Melati benar-benar telah berada di bawah pengaruh Mata Malaikat Pandangannya
terus saja tertuju pada sepasang mata Mata Malaikat
"Bagus, Anak Manis. Tatap
terus mataku...! Tatap...! Tataaap...! Dan sekarang tubuhmu terasa lemas...!
Lemaaas...! Lemaaas...! Kau tidak mampu lagi berdiri. Lemaaas...!" ujar
Mata Malaikat.
Akibatnya memang hebat! Melati
yang memang sudah berada di bawah pengaruh kekuasaan Mata Malaikat, tidak kuasa
melawan perintah itu. Sekujur tubuhnya terasa lemas. Seakan-akan, semua
tulang-belulangnya copot. Tanpa mampu ditahan lagi, tubuhnya ambruk di tanah.
Dan kedua kakinya memang sudah tidak mampu lagi menyangga tubuh.
Brukkk!
Melihat Melati sudah tergolek
tidak berdaya lagi, Mata Malaikat menghampiri. Perlahan-lahan saja kakinya
terayun. Rupanya, kakek bermata mengerikan ini tidak merasa khawatir kalau
Melati akan bangkit dan menyerangnya.
Dan memang, gadis berpakaian
putih itu tetap tergolek lemah di tanah. Bahkan sampai Mata Malaikat berada di
dekatnya dan membungkuk, tubuhnya tetap tak bergeming. Demikian juga ketika
kakek bermata mengerikan itu menotoknya.
Tukkk!
Tak terdengar adanya keluhan dari
mulut
Melati ketika jari-jari tangan
Mata Malaikat meno-toknya. Sekarang, tubuhnya terasa lemas. Tidak hanya karena
pengaruh ilmu sihir lawan, tetapi juga karena totokan!
"Ha ha ha...!"
Tawa Mata Malaikat meledak. Dan
masih de-ngan suara tawa yang belum putus, dia bangkit. Nada kemenangan dan
kegembiraan tampak jelas dalam suaranya. Bahkan tawanya pun belum putus ketika
pandangannya beralih ke tempat anak buahnya bergerombol.
"Bawa gadis itu ke
dalam!" perintah Mata Ma-laikat sambil mengacungkan jari telunjuk ke arah
Melati.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
empat orang gerombolan golongan hitam yang kini
berseragam prajurit, melangkah menuju tempat tubuh Melati tergolek.
Sementara, Mata Malaikat sama
sekali tidak mempedulikan Melati lagi. Pandangannya kini dialihkan ke arah pertarungan yang
berlangsung antara Dewa Arak melawan empat datuk golongan hitam. Memang, kini
Setan Kecil Muka Hitam telah ikut menceburkan diri dalam kancah pertarungan.
Dengan penuh perhatian, Mata
Malaikat menyaksikan jalannya pertarungan. Sepasang mata-nya yang bersinar
kehijauan, hampir tidak pernah berkedip sama sekali. Beberapa kali kepalanya
terangguk-angguk.
"Ternyata berita yang terdengar
di dunia persilatan tentang keanehan dan kedahsyatan ilmu 'Belalang Sakti,
tidak berlebihan. Ilmu itu benar-benar dahsyat..," desah Mata Malaikat
Nadanya penuh kekaguman, setelah memperhatikan jalannya per-
tarungan beberapa saat.
Kekaguman Mata Malaikat atas
kepandaian Dewa Arak memang beralasan. Tokoh muda yang menggemparkan itu
dikeroyok empat datuk golongan hitam. Namun, tidak tampak kalau pemuda berambut
putih keperakan itu berada di pihak yang terdesak. Padahal, pertarungan telah
berlangsung lebih dari lima belas jurus!
Sementara itu, orang yang
dikagumi Mata Ma-laikat sama sekali tidak tahu apa-apa. Masalahnya seluruh
perhatian Dewa Arak tengah terpusat pada lawan-lawannya. Segenap kemampuannya
dikerahkan, karena serbuan gabungan dari keempat lawan memang dahsyat bukan
kepalang.
Kepandaian perseorangan dari
empat datuk go-longan hitam itu sudah cukup hebat. Dan kini mereka maju
menghadapi Dewa Arak secara berbarengan. Bisa dibayangkan kedahsyatan serangan
gabungan itu. Tambahan lagi, keempat datuk itu mampu saling isi-mengisi di
antara mereka. Serangan mereka seperti dikendalikan satu pikiran. Dengan sendirinya, kedahsyatan serangan pun semakin bertambah.
Dan, kedahsyatan serangan itu
jelas dirasakan Dewa Arak. Pemuda berambut putih keperakan ini merasakan
tekanan yang amat kuat dan setiap se-rangan lawan yang datang silih berganti
dan bertubi-tubi. Tentu saja hal itu membuat Dewa Arak hampir tidak mempunyai
kesempatan melancarkan serangan balasan. Hanya sesekali saja kesempatan ini
didapat. Dan itu pun selalu berhasil dikandaskan lawan-lawannya. Memang,
kerjasama empat datuk itu patut diberikan acungan jempol.
Namun hal itu bukan berarti Dewa
Arak tidak berdaya. Meskipun kelihatannya kewalahan, tapi
sebenarnya sama sekali tidak
terdesak.
Dan hal itu diketahui Mata
Malaikat. Itulah sebabnya kepalanya teangguk-angguk pertanda kagum pada Dewa
Arak. Dan kekagumannya semakin menebal ketika melihat tingkah tokoh muda yang
menggemparkan itu.
Betapa tidak? Di kancah
pertarungan itu, Mata Malaikat melihat Dewa Arak masih sempat meminum araknya!
Padahal, serangan demi serangan datang bertubi-tubi. Yang lebih gila lagi,
beberapa kali sewaktu serangan meluncur, Dewa Arak malah enak-enak menenggak
araknya! Baru ketika serangan hampir mengenai sasaran, dia mengelak dengan
gerakan seperti orang akan jatuh. Dan..., serangan itu pun lolos!
Karuan saja hal itu membuat lawan
Dewa Arak semakin kalap! Sebagai akibatnya, serangan-serangan yang dilancarkan
pun semakin dahsyat.
Menginjak jurus keenam puluh
lima, Dewa Arak mulai kewalahan. Memang, betapapun hebatnya ilmu 'Belalang
Sakti' dan kepandaiannya tinggi, namun karena lawan-lawan yang dihadapi adalah
tokoh utama dunia persilatan, tetap saja jadi keteter.
Jurus demi jurus berlalu. Dan
seiring semakin lamanya pertarungan berlangsung, semakin terlihat jelas keadaan
Dewa Arak yang terus dihimpit. Sudah bisa ditebak kalau pertarungan terus
berlanjut, Dewa Arak akan berada di pihak yang rugi!
"Ha ha ha...!"
Mata Malaikat tertawa bergelak
ketika melihat perubahan pada jalannya pertarungan. Sebagai seorang tokoh persilatan yang telah
memiliki kepan-daian tinggi, tentu saja akhir pertarungan itu bisa dinilainya.
"Sekarang kau baru tahu
kelihaian kami, Dewa Arak! Jangan coba-coba menentang tingkah kami. Karena
siapa pun yang mencoba menghambat, akan hancur! Ha ha ha...!"
Mata Malaikat mengakhiri ejekan
bernada kemenangan dengan sebuah tawa keras menggelegar yang panjang. Rupanya,
kakek bermata mengerikan ini merasa gembira sekali. Hatinya begitu yakin kalau
Dewa Arak akan roboh. Walaupun demikian, di hati kecilnya timbul perasaan
kagum. Sukar dipercaya kalau orang semuda Dewa Arak mampu menghadapi empat
datuk golongan hitam sekaligus. Bahkan sampai sekian lamanya. Padahal, dia
sendiri tidak yakin akan mampu bertarung sampai sekian puluh jurus.
***
Tentu saja bukan hanya Mata
Malaikat yang bisa menilai akhir dari pertarungan. Dewa Arak dan empat datuk
golongan hitam itu pun demikian pula.
Kini pertarungan telah menginjak jurus
kedelapan puluh. Sementara, keadaan Dewa Arak se-makin memburuk, terus terdesak
dan terhimpit!
Dewa Arak sadar kalau pertarungan
terus dilanjutkan, pasti akan kalah. Bila hal itu terjadi, kalau tidak tewas,
pasti akan tertawan. Lalu, bagaimana nasib Melati kalau dia pun ikut tertawan?
Memang, Arya selalu
mempertimbangkan setiap langkah yang akan diambil. Kadangkala, di dalam
mengambil keputusan perasaannya harus diabaikan. Demikian pula kali ini. Dewa
Arak yang menyadari akan keadaan yang tak menguntungkan, berpikir keras meneari
jalan untuk melarikan diri.
Kalau menuruti perasaan,
sebenarnya Dewa Arak tidak ingin meninggalkan tempat itu.
Masalahnya, hatinya sangat khawatir oleh keselamatan Melati yang tengah tertawan.
Tapi, akal sehatnya menyuruhnya pergi meninggalkan tempat itu. Karena kalau
sampai tertawan pula, siapa lagi yang akan menolong Melati. Dia harus selamat
agar bisa menolong Melati selama ada kesempatan.
Tapi begitu melihat Melati dibawa
anak buah Mata Malaikat, Dewa Arak tak tinggal diam. Dia berusaha keras
menolong. Tapi jangankan melakukan hal itu. Untuk keluar dari kepungan empat
lawannya saja, sudah sulit bukan kepalang. Sampai tubuh kekasihnya lenyap
dibawa masuk ke dalam bangunan istana, Dewa Arak tetap belum bisa menerobos
kepungan yang amat kuat dari lawannya.
Dewa Arak bukan orang bodoh! Malah sebaliknya, dia adalah pendekar muda
cerdik dan me-miliki wawasan luas. Itulah sebabnya, keinginannya untuk
melarikan diri tidak ditunjukkan secara terang-terangan. Karena apabila maksudnya
terbaca, besar kemungkinan akan sulit dilaksanakan. Pasti empat datuk golongan
hitam itu akan berusaha sekuat tenaga untuk menahannya. Bahkan bukan tidak
mungkin Mata Malaikat akan ikut campur.
Yakin akan dugaannya, Dewa Arak
tetap menunjukkan sikap seperti sebelumnya. Melakukan perlawanan sekuatnya,
sambil menunggu kesempatan muncul.
Akhirnya setelah menunggu sampai
lima belas jurus, kesempatan baik menghampiri Dewa Arak. Tanpa membuang-buang
waktu lagi, kedua tangannya dihentakkan berkali-kali.
"Hih!"
Wusss!
Hembusan angin keras berhawa panas
menyengat, keluar dari kedua tangan Dewa Arak yang dihentakkan. Inilah jurus
'Pukulan Belalang'.
Dan kejadian yang berlangsung,
sama sekali tidak menyimpang dari rencana dan dugaan Dewa Arak. Begitu pukulan
jarak jauh jurus 'Pukulan Be-lalang' menyambar, kontan empat datuk golongan
hitam itu bertindak untuk menyelamatkan diri secara serabutan.
Kesempatan seperti inilah yang
ditunggu-tunggu Dewa Arak. Tanpa membuang-buang waktu la-gi, tubuhnya
dilemparkan ke belakang, dan bersalto beberapa kali di udara. Lalu....
Tukkk!
Dewa Arak langsung menotokkan
ujung kaki-nya. Maka sesaat kemudian, tubuhnya pun kembali melayang. Hanya
saja, kali ini menuju bagian atas dinding istana.
"Keparat!" maki Mata
Malaikat geram.
Kakek bermata mengerikan ini tidak
menyangka kalau Dewa Arak akan bertindak seperti itu. Dengan sendirinya, dia
sama sekali tidak siap untuk mengejar. Sebagai akibatnya, dia terlambat
mengejar. Disadari kalau tidak akan sempat mencegah, pemuda berambut putih
keperakan itu akan meninggalkan istana.
Tapi hal itu tak berarti Mata
Malaikat diam berpangku tangan saja. Cepat kakinya digenjotkan. Se-saat
kemudian, tubuhnya melesat memburu Dewa Arak.
"Cegah dewa pengecut itu
pergi!" perintah Mata Malaikat pada anak buahnya yang bertugas menjaga
pintu gerbang.
Terdengar keras menggelegar
seruan Mata Malaikat, karena hampir seluruh tenaga dalam yang dimilild
dikerahkan pada teriakannya. Hal itu dila-kukan karena perasaan khawatir akan
lolosnya Dewa Arak.
Usaha Mata Malaikat ternyata
tidak sia-sia. Teriakannya yang keras terdengar oleh anak buahnya yang bertugas
menjadi pasukan panah di bagian atas dinding. Tanpa menunggu perintah dua kali,
mereka merentangkan busur masing-masing dengan anak panah siap luncur!
"Lepas!"
Salah seorang di antara mereka
yang mendapat tugas sebagai pemimpin kelompok, mengeluarkan perintah. Tak pelak
lagi....
Twang, twang, twang...!
Puluhan anak panah meluruk ke
arah berbagai bagian tubuh Dewa Arak disertai suara berdesing nyaring. Sudah
terbayang di benak kalau sekujur tubuh pendekar muda yang menggemparkan itu
akan ditembus puluhan anak panah! Apalagi, Dewa Arak tengah berada di udara
ketika mendapat serangan-serangan anak panah itu. Kelihatannya, antara Dewa
Arak dan puluhan anak panah itu saling songsong.
Namun menghadapi luncuran puluhan
anak panah itu, Dewa Arak tidak gugup. Sebelum ujung-ujung anak panah yang
runcing itu menembus tubuhnya, kedua tangannya segera diputar-putar di depan
dada. Arah gerakannya, dari dalam keluar dengan kedudukan kedua tangan saling
memalang.
Wut, wut, wut...!
Kelihatannya, sembarangan dan
tidak mengan-dung tenaga putaran kedua tangan Dewa Arak. Tapi akibatnya,
benar-benar menggiriskan! Dari kedua
tangan yang berputaran itu keluar
angin keras yang membuat luncuran anak-anak panah berpentalan tak tentu arah,
sebelum sempat mendekati tubuh Dewa Arak. Yang lebih gila lagi, sebagian di
antaranya berpentalan dalam keadaan berpatahan. Dari sini saja sudah bisa
diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang dimiliki Dewa Arak.
Karuan saja kejadian itu membuat
pasukan pa-nah gerombolan Mata Malaikat terkejut bukan ke-palang. Dan ternyata
puluhan anak panah yang tengah meluncur cepat tadi berbalik arah. Dan untuk
sesaat, mereka semua terkesima.
Hanya sekejap saja, gerombolan
anak buah Mata Malaikat terkesima. Tapi waktu yang sangat singkat itu dapat
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Arya. Kedua kakinya kini sudah hingga di atas
din-ding.
Tappp! "Hih!"
Tak sampai sekedipan mata, Dewa
Arak sudah melayang keluar laksana seekor kelelawar besar.
Jliggg!
Begitu kedua kaki Dewa Arak
mendarat di ta-nah, Mata Malaikat berhasil hinggap di atas dinding. Dan saat
itulah tangannya dihentakkan.
Wusss! Bresss!
Hebat bukan kepalang pukulan
jarak jauh yang dilepaskan Mata Malaikat. Dan ternyata serangan itu menghantam
punggung sebelah kiri Dewa Arak hingga terguling-guling. Namun, tak ada keluhan
sedikit pun dari mulutnya. Bahkan dengan menggunakan bantuan tenaga gulingan
itu, dia terus melesat kabur.
"Keparat!" maki Mata
Malaikat penuh geram, melihat Dewa Arak telah melesat meninggalkan tempat
itu.
Kini disadari tidak ada gunanya
lagi melakukan pengejaran. Dewa Arak telah berhasil lolos. Maka yang dapat
dilakukan Mata Malaikat hanya menatap penuh rasa marah pada Dewa Arak yang
semakin mengecil.
"Sekarang kau boleh lolos
lagi, Dewa Arak! Tapi tak untuk lain saat. Cukup sudah dua kali kau
memperdayaiku," desis Mata Malaikat. Suaranya terdengar tertahan,
menandakan kemarahan.
Setelah mengucapkan kata-kata
bernada an-caman, Mata Malaikat berbalik dan melompat turun.
"Perketat penjagaan! Jangan
biarkan ada seo-rang pun yang masuk kemari!"
Tanpa menunggu tanggapan anak
buahnya la-gi, Mata Malaikat melangkah ke dalam istana.
5
"Bangsat terkutuk!"
Ucapan bernada penuh rasa geram
keluar dari mulut seorang pemuda berambut putih keperakan. Suara menggelutuk
keras pun terdengar dari mulut-nya. Jelas, dia tengah dilanda kemarahan hebat.
Pemuda itu berpakaian ungu.
Rambutnya yang panjang, berwarna putih keperakan, dan sebuah guci arak yang
tergantung di punggung, adalah ciri khasnya. Ya! Dialah Dewa Arak!
Kali ini tampak Dewa Arak tengah
murka! Ini bisa dilihat dari tarikan wajahnya yang menegang dan sorot penuh
kemarahan dari sepasang matanya. Hal ini tidak aneh! Di sekelilingnya ternyata
tampak
rumah-rumah yang telah menjadi
onggokan arang! "Mata Malaikat! Orang seperti kau memang
harus cepat dilenyapkan! Kalau
tidak, malapetaka akan tersebar di mana-mana!" desis Dewa Arak penuh geram.
Diam-diam di dalam hati kecilnya,
pemuda be-rambut putih keperakan ini merasa menyesal bukan kepalang melihat
keadaan sekitarnya. Dia tahu, kejadian itu belum lama berlangsung. Baru dua
hari tempat ini dilalui, dan saat itu keadaan belum seperti sekarang ini. Kalau
saja tidak terluka dalam yang cukup parah, sehingga memaksanya tinggal di hutan
selama dua hari untuk mengobati luka, mungkin tidak akan terjadi keadaan
seperti ini. Paling tidak, akan dapat mengulurkan pertolongan.
Kini Dewa Arak sudah sehat kembali.
Luka dalamnya telah sembuh sama sekali. Maka,
sekaranglah saatnya untuk membuat perhitungan terhadap Mata Malaikat dan
gerombolannya. Meskipun tahu kalau pihak lawan amat kuat, tapi Dewa Arak tidak
putus asa. Biar bagaimapanun, Melati harus diselamatkan!
Memang, sudah dua hari Melati
menjadi tahanan Mata Malaikat. Dan Arya tidak tahu, apa yang tengah terjadi
pada kekasihnya. Meskipun demikian, hatinya yakin Melati tidak akan menerima
tindakan tidak senonoh dari gerombolan Mata Malaikat. Apalagi dia telah
mendengar sendiri kalau Mata Malaikat sangat membenci perbuatan itu. Dan
memang, tak pernah terdengar kalau Mata Malaikat dan
gerombolannya melakukan perbuatan rendah seperti itu.
Hal itulah yang menjadikan Dewa
Arak tidak terlalu cemas. Dia yakin, anak buah Mata Malaikat
tidak akan ada yang berani
melanggar larangan pimpinannya. Jadi, ancaman bagi Melati hanya akan muncul
dari Mata Malaikat. Dewa Arak tahu, Mata Malaikat adalah tokoh sesat yang
menguasai ilmu sihir! Jadi, kemungkinan besar Melati akan dijadikan semacam
tumbal untuk ilmunya. Begitulah dugaan Dewa Arak.
Terkaan seperti itu semakin
mengurangi kecemasannya akan nasib Melati. Dari pengalaman, Dewa Arak tahu
kalau menuntut ilmu seperti itu tidak bisa sembarangan. Ada saat-saat yang
tepat untuk melakukannya. Misalnya, di malam bulan purnama.
Dan yang penting, setelah sembuh
tujuan untuk menyelamatkan Melati harus dilaksanakan. Dalam keadaan siap tarung
seperti ini, kemungkinan untuk berhasil menyelamatkan Melati menjadi lebih
besar.
Teringat kembali akan Melati,
membuat Dewa Arak jadi tidak sabar. Setelah melempar pandangan sejenak ke arah
onggokan arang yang berhamparan di sana-sini, kakinya kemudian melangkah
meninggalkan tempat itu. Tujuannya sudah jelas. Tiba di Istana Kerajaan Gambang secepat mungkin untuk membebaskan Melati.
Perasaan tidak sabar mendorong
Dewa Arak untuk mengerahkan seluruh ilmu meringankan tu-buhnya agar bisa segera
tiba di Istana Kerajaan Gambang. Sesaat kemudian, tubuhnya lenyap. Se-karang
yang terlihat hanya sekelebatan bayangan ungu dalam bentuk tidak jelas, terus
melesat ke de-pan.
Karena Dewa Arak mengerahkan
seluruh ilmu meringankan tubuh, maka dalam waktu sebentar saja bentuk bangunan
itu sudah terlihat. Tambahan lagi,
jarak antara tempat pemuda berambut putih keperakan itu berada dengan
Istana Kerajaan Gam-bang memang tidak begitu jauh.
Di dalam hati, Dewa Arak memuji
kecerdikan orang yang telah membangun Istana Kerajaan Gambang. Nyatanya, letak
istana itu berada di tengah-tengah lapangan luas tanpa halangan. Hal ini amat
menguntungkan, karena membuat pandangan tidak terhalang bila datang serbuan
dari mana pun.
Hanya sayangnya, Istana Kerajaan
Gambang itu kini telah jatuh ke tangan Mata Malaikat dan ge-rombolannya. Dewa
Arak yakin, kedatangannya telah diketahui. Namun, hal itu tidak dipedulikan.
Sepasang kakinya terus saja diayunkan.
Sambil terus melangkah, Dewa Arak
mengarahkan pandangan ke depan. Sepasang matanya tertuju pada bangunan istana
yang semakin kelihatan membesar seiring semakin dekatnya jarak antara dirinya
dengan istana itu.
Namun, seiring semakin terlihat
jelas istana itu, kernyitan mulai timbul di dahi Dewa Arak. Dan semakin lama,
kernyitan itu semakin bertambah ba-nyak. Jelas, ada sesuatu yang mengganggu
pikirannya. Memang, hal itu tidak salah! Ada perasaan
tidak enak yang melingkupi hati
Dewa Arak ketika mulai melihat jelas keadaan Istana Kerajaan Gambang yang sepi
sekali! Tak terlihat seorang pun di sana.
Inilah yang menimbulkan kernyitan
di dahi Dewa Arak. Bermacam-macam dugaan menyelinap di benaknya. Mengapa Istana
Kerajaan Gambang terlihat demikian sepi? Apakah memang benar-benar tidak
ditinggali lagi? Kalau ya, ke mana Mata Malaikat dan gerombolannya pergi?
Atau..., sepinya keadaan di
Istana Kerajaan
Gambang ini hanya buatan saja?
Dan mereka bersembunyi, untuk menjebaknya? Ini bukan meru-pakan hal mustahil!
Bukankah Mata Malaikat dan gerombolannya adalah orang-orang dari golongan hitam
yang terbiasa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan?
Dugaan yang terakhir memaksa Dewa
Arak bertindak hati-hati. Dengan sendirinya, kecepatan larinya dikurangi. Dan
sekujur urat syaraf dan otot-otot tubuhnya menegang waspada. Dia telah
bersiap-siap menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.
Semakin dekat jaraknya dengan
Istana Kera-jaan Gambang, lari Dewa Arak semakin pelan. Bahkan akhirnya
berhenti sama sekali, ketika telah berjarak lima tombak dari pintu gerbang
istana.
Dewa Arak mengedarkan pandangan
ke seluruh penjuru istana yang pintu gerbangnya tertutup rapat. Tatapannya
lebih terarah pada dinding-dinding bagian atas istana. Dan ternyata tetap sepi!
"Mata Malaikat! Keluar
kau!" teriak Dewa Arak sambil mengerahkan tenaga dalam.
Dan memang, tindakan pemuda
berambut pu-tih keperakan ini sama sekali tidak sia-sia. Teriakan-nya membahana
ke seluruh penjuru. Gema yang ditimbulkannya terdengar bersahut-sahutan.
Dewa Arak menunggu sejenak untuk
melihat tanggapan atas teriakannya. Tapi sampai gema suaranya habis
dipantulkan, tetap saja sedikit pun tidak ada tanggapan.
Dewa Arak menajamkan telinganya.
Seluruh perhatiannya dipusatkan pada kedua belah alat pendengarannya.
Barangkali saja bisa ditangkap adanya suara-suara mencurigakan dari balik
dinding istana yang tinggi. Setidak-tidaknya, hal itu cukup
untuk menunjukkan adanya
seseorang di Istana Ke-rajaan Gambang.
Tapi, untuk yang kesekian kalinya
harapan De-wa Arak tidak terkabul. Buktinya tidak terdengar adanya suara-suara
seperti yang diharapkannya. Yang tertangkap sepasang pendengarannya hanya suara
desah angin!
"Mata Malaikat! Keluar kau,
Pengecut! Hadapi aku! Jangan berlindung di balik panggung tahanan wanitamu!
Hadapi aku, Mata Malaikat!"
Untuk yang kedua kalinya, Dewa
Arak menge-luarkan kata-kata bernada tantangan. Kali ini, bahkan lebih keras
daripada sebelumnya.
Hasil yang didapat Dewa Arak sama
dengan sebelumnya. Tidak ada sambutan sedikit pun atas tantangan yang
diajukannya, selain gema teriakannya sendiri dan desah angin. Maka kesabaran
Dewa Arak pun habis. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi. Seketika kedua
lututnya ditekuk. Lalu....
"Hih!"
Tubuh Dewa Arak melayang ke atas,
dan berputaran beberapa kali di udara. Gerakannya tam-pak indah dan manis.
Jliggg!
Ringan laksana sehelai daun,
sepasang kaki tokoh muda yang menggemparkan ini hinggap di atas dinding istana.
Dan ternyata, sepanjang dinding bagian atas kosong! Tak nampak adanya seorang
pun di sekitarnya.
Dewa Arak mengedarkan pandangan
ke bawah. Tapi hanya suasana lengang dan sepi yang terlihat, tanpa ada
tanda-tanda kehidupan sama sekali. Jelas, Istana Kerajaan Gambang telah tidak
berpenghuni lagi,
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas berat.
Tanpa memeriksa satu persatu bangunan, telah bisa diketahui kalau Istana
Kerajaan Gambang memang sudah tidak berpenghuni lagi. Mata Malaikat dan gerombolannya
ternyata sudah tidak berada di situ, dan kemungkinan besar telah pergi!
Lalu, bagaimana nasib Melati?
Apakah gadis berpakaian putih itu ikut dibawa pergi? Dan, ke mana perginya?
Lalu, mengapa Mata Malaikat pergi? Bukankah dia telah menjadi raja, meskipun
hanya di sebuah kerajaan kecil? Tidak sayangkah dia meninggalkan tempat yang susah payah telah
direbutnya itu?
Berbagai macam pertanyaan
menggayuti benak Dewa Arak, namun tidak ada satu pun yang dapat terjawab.
Meskipun demikian, Dewa Arak tidak putus asa. Dicobanya untuk mencari jawaban
dengan cara menghubung-hubungkan kejadian yang dialami
belakangan ini.
"Ah!"
Dewa Arak tersentak ketika telah
mendapat se-buah jawaban, begitu mengingat-ingat tentang bekas kepala rampok
yang dulu pernah menjabat sebagai pengawal khusus Kerajaan Gambang. Dialah
Garuda Mata Satu. Tokoh itu pemah bercerita padanya, tentang keinginan Mata
Malaikat (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode
"Garuda Mata Satu").
"Ya! Pasti Mata Malaikat
menuju Kerajaan Mandau," desah Dewa Arak perlahan. "Mungkin
keinginannya itu akan dilaksanakan sekarang!"
Tapi..., apakah anak buahnya
telah cukup un-tuk memerangi sebuah kerajaan besar seperti Kerajaan Mandau?
Keberhasilan Mata Malaikat dan anak
buahnya merebut Kerajaan Gambang,
tidak bisa dijadikan patokan. Masalahnya, Kerajaan Gambang adalah sebuah
kerajaan kecil, di bawah pimpinan seorang raja yang tidak ingin di istananya
ada manusia yang berjenis wanita!
Pikiran-pikiran seperti itu
membimbangkan De-wa Arak! Memang rasanya mustahil kalau Mata Malaikat akan menyerbu Kerajaan Mandau!
Sepertinya, itu tindakan gegabah dan terlalu terburu-buru. Tapi kalau bukan
untuk menyerbu Kerajaan Mandau, untuk apa Istana Kerajaan Gambang ditinggalkan?
Akhirnya setelah mempertimbangkan
beberapa saat, Dewa Arak mengambil keputusan untuk pergi ke Kerajaan Mandau.
Dan kalau ternyata dugaannya salah, dugaan selanjutnya akan dipikirkan lagi.
Yakin akan keputusannya, Dewa Arak
melompat turun dari atas tembok. Dan begitu kedua kakinya mendarat di tanah,
langsung saja melesat me-nuju ke timur, tempat Kerajaan Mandau terletak. Tanpa
ragu-ragu lagi, seluruh ilmu meringankan tu-buhnya dikerahkan. Masalahnya dia
tidak tahu, sejak kapan Mata Malaikat dan rombongannya me-ninggalkan Istana Kerajaan Gambang?
Hanya dalam beberapa kali
lesatan, Dewa Arak sudah terlihat seperti sebuah benda berwarna ungu sebesar
ibu jari kaki. Semakin lama, bentuknya semakin mengecil. Dan akhirnya, lenyap
di kejauhan.
Rasa cemas akan terjadinya
pertumpahan darah besar-besaran, membuat Dewa Arak harus mempercepat
perjalanannya. Seluruh kecepatan lari yang dimiliki dikeluarkan hingga mencapai
puncaknya. Dan pemuda berambut putih keperakan itu terus berlari tanpa mengendurkan
kecepatan sedikit pun.
Entah berapa lama berlari, Dewa
Arak sama sekali tidak mempedulikannya. Yang jelas, sewaktu meninggalkan Istana
Kerajaan Gambang, matahari baru saja terbit.
Tapi sekarang, sang surya telah
hampir berada di atas kepala. Sinarnya sudah terasa tidak nyaman di kulit. Dan
selama itu Dewa Arak belum berhenti berlari. Apalagi, mengendurkan
kecepatannya.
Hebatnya, meskipun telah berlari
sekian lamanya, tidak terlihat adanya tanda-tanda kalau De-wa Arak kelelahan.
Alunan napasnya masih biasa saja. Peluh yang tampak pun hanya pada dahi, bawah
hidung, dan sekitar leher.
Mendadak raut wajah Dewa Arak
berubah, be-gitu matanya tertumbuk pada sesuatu kejadian, dalam jarak belasan
tombak di depan. Di kejauhan sana, terlihat kepulan asap tebal berwarna hitam,
bergumpal-gumpal, membubung tinggi ke angkasa. Menilik keadaan itu bisa
diperkirakan kalau di ke-jauhan sana telah terjadi kebakaran.
Perkiraan ini mengingatkan Dewa
Arak akan peristiwa yang tadi pagi disaksikan. Rumah-rumah di Desa Sekupang telah
menjadi onggokan arang. Apakah kebakaran di kejauhan itu sengaja dibuat orang?
Dan, pelakunya adalah Mata Malaikat dan gerombolannya?
Dengan benak dililit
pertanyaan-pertanyaan, Dewa Arak meneruskan larinya. Rasanya, dia ingin segera
tiba di sana. Tapi bagaimana lagi? Hanya sampai di situlah puncak kemampuan
kecepatan larinya.
Beberapa lesatan kemudian, dugaan
Dewa Arak terbukti. Kebakaranlah yang menjadi penyebab timbulnya asap itu. Dan
ternyata kebakaran itu mengandung unsur kesengajaan. Buktinya,
segerombolan orang berpakaian
prajurit kerajaan tengah bertindak di luar batas, dengan membakari rumah yang masih tersisa dan membunuhi penghuninya.
Dewa Arak menggeram, murka bukan
kepa-lang. Masalahnya, enak saja mereka menyebar maut pada para pemilik rumah
yang berusaha mencegah pembakaran.
Desing suara senjata, gemeretak
api memakan kayu, disertai jeritan kesakitan dan kematian ter-dengar dari para
pemilik rumah. Mereka berusaha mencegah tempat bernaung dari si jago merah!
"Keparat! Orang-orang
seperti kalian memang tidak pantas dibiarkan hidup!" seru Dewa Arak, keras
sambil melompat menerjang.
Lompatan Dewa Arak ternyata
bertepatan de-ngan seorang prajurit yang tengah mengayunkan pedangnya ke arah
leher seorang pemilik rumah.
Singgg! Takkk!
Mata pedang yang hampir mengirim
nyawa se-orang pemilik rumah ke alam baka itu, berhasil dipapak Dewa Arak
dengan sentilan jari telunjuk. Akibatnya, mata pedang itu patah jadi dua!
Bahkan patahannya malah meluncur ke arah tenggorokan prajurit itu.
Tentu saja mendapat serangan yang
sama se-kali tidak terduga, prajurit yang apes itu jadi kelabakan dan gugup.
Dengan sebisa-bisanya, pe-dangnya yang tinggal sepotong diayunkan untuk
menangkis. Dan....
Tranggg!
Usaha untung-untungan prajurit
itu berhasil juga. Nyawanya yang sudah hampir terbang,. berhasil diselamatkan.
Namun prajurit itu tidak bisa buru-buru
menarik napas lega. Karena begitu
luncuran mata pedang berhasil ditangkis, Dewa Arak cepat melepaskan tendangan.
Wuttt! Bukkk! "Hugkh!"
Karena kejadiannya berlangsung
demikian ce-pat, prajurit itu sama sekali tidak sempat berbuat apa-apa. Dan
tahu-tahu, perutnya telah tertendang. Kelihatannya pelan saja, tapi akibatnya
cukup dahsyat. Rasanya, perutnya seperti mendapat seru-dukan seekor banteng
liar yang paling besar!
Tak pelak lagi, tubuh prajurit
itu pun terpental ke belakang disertai jeritan menyayat. Bahkan lebih mirip
lolong kematian. Memang, tendangan Dewa Arak terlalu dahsyat untuk dapat
diterima prajurit sial itu. Seluruh isi perutnya langsung hancur berantakan.
Darah segar pun mengalir di sudut-sudut mulutnya. Saat itu juga, nyawanya
melayang ke alam baka, sebelum tubuhnya sempat mencapai tanah.
"Dewa Arak...!"
Seruan-seruan kaget terdengar
dari mulut rekan-rekan prajurit yang malang itu. Jelas, mereka telah mengenai
Dewa Arak!
Dewa Arak hanya tersenyum pahit
mendengar panggilan itu. Diperhatikannya wajah para prajurit itu sekilas. Dan
seketika itu juga, langsung dikenalinya.
"Kiranya kalian anak buah
Mata Malaikat! Kali ini, jangan harap kuampuni!" ancam Dewa Arak dengan
suara berdesis.
Dewa Arak memang telah murka.
Maka setelah melihat kekejaman yang dilakukan anak buah Mata Malaikat, langsung
diputuskan untuk melenyapkan mereka selama-lamanya.
"Hanya sekian sajakah jumlah
kalian?! Mana
yang lainnya?! Dan mana pula Mata
Malaikat?!" dengus Dewa Arak tanpa menyembunyikan perasaan heran.
Tidak aneh kalau pemuda berambut
putih ke-perakan itu merasa heran. Terutama ketika melihat jumlah gerombolan
anak buah Mata Malaikat yang hanya sedikit. Mereka tak lebih berjumlah sepuluh
orang saja! Itu pun bila digabung dengan prajurit yang tewas di tangan Dewa
Arak tadi.
Kesembilan anak buah Mata
Malaikat hanya saling berpandangan satu sama lain. Tampak adanya sorot
kegentaran dalam sinar mata mereka, begitu telah mengetahui kelihaian Dewa
Arak. Jangankan hanya sembilan. Biar ditambah lima kali lipat lagi, Dewa Arak
pasti akan mampu menggilas mereka.
"Dengar! Apabila bersedia
menunjukkan di ma-na kawanku ditahan, dengan senang hati kalian akan kubiarkan
hidup! Cepat! Jangan sia-siakan ke-sempatan yang kuberikan ini!" ujar Dewa
Arak, memberi penawaran.
Kembali kesembilan anak buah Mata
Malaikat itu saling berpandangan sejenak. Kemudian....
"Haaat..!"
Diawali teriakan keras membahana,
kesembilan orang golongan hitam itu menerjang. Golok dan pedang yang sejak tadi
tercekal di tangan, diayunkan ke arah berbagai bagian tubuh Dewa Arak.
"Rupanya kalian memilih
mati!" kata Dewa Arak.
Seiring keluarnya ucapan itu,
Dewa Arak lang-sung bertindak. Sekali kakinya bergerak, tubuhnya telah
menyelinap di antara kelebatan senjata lawan, tak ubahnya bayangan. Dan ketika
tangan serta ka-kinya mulai bergerak, tubuh anak buah Mata Malaikat
telah berpentalan ke sana kemari.
Jerit kesakitan dan lolong kematian tampak mengiringi tertemparnya tubuh
mereka.
Hanya dalam beberapa gebrakan
saja, sudah tidak ada lagi anak buah Mata Malaikat yang masih berdiri tegak.
Semuanya telah bergeletakan tanpa nyawa di tanah.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas berat.
Ada pera-saan tidak enak mengganjal di hatinya ketika melihat semua lawan telah
tewas. Memang, pemuda berambut putih keperakan ini jarang membunuh lawan
kecuali terpaksa.
Setelah memperhatikan mayat
lawan-lawannya sekilas, Dewa Arak mengalihkan pandangan ke arah para pemilik rumah yang berdiri tertegun,
memperhatikan tempat tinggal mereka yang telah menjadi onggokan arang.
"Sebenarnya apa alasan
gerombolan penjahat itu membumihanguskan rumah-rumah ini, Kisanak?" tanya
Arya pada salah seorang di antara pemilik rumah yang masih terkesima.
"Mereka menanyakan pada kami
tentang orang yang berjuluk Garuda Mata Satu. Karena memang tidak tahu, kami
jawab saja apa adanya. Tapi, mereka menyangka kami berbohong. Dan akibatnya,
seperti ini!" jawab seorang laki laki berkumis tebal. Dia adalah salah
seorang dari tiga pemilik rumah yang masih hidup.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepala.
"O ya, Kisanak. Apakah di
samping sepuluh orang ini kau melihat yang lain? Dan mereka adalah kawan dari
sepuluh orang ini," tanya Dewa Arak.
"Aku sendiri tidak tahu
pasti rombongan yang
kau maksudkan, Tuan Pendekar.
Tapi yang jelas, aku memang melihat serombongan besar orang berpakaian
prajurit. Menilik arah yang ditempuh, mungkin rombongan itu tengah menuju
Kerajaan Mandau," jawab laki-Iaki berkumis tebal itu.
''Terima kasih, Kisanak."
Hanya itu yang diucapkan Dewa
Arak, karena sesaat kemudian tubuhnya telah lenyap dari situ. Yang dilihat tiga
orang pemilik rumah itu kini hanya sekelebatan bayangan ungu yang melesat cepat
ke depan.
"Luar biasa! Orang semuda
itu sudah memiliki kepandaian demikian tinggi," desis tiga orang pemilik
rumah itu hampir berbareng.
Ada nada kekaguman yang sarat
dalam ucapan tiga orang itu. Bahkan sepasang mata mereka terus tertuju pada
Dewa Arak, sampai akhirnya lenyap ditelan kejauhan. Baru setelah itu, mereka
meng-hampiri rumah yang telah menjadi onggokan arang. Mereka sama sekali tidak
pernah mimpi akan terjadi hal seperti ini, karena tinggal di sebuah tempat yang
letaknya terpisah dari perumahan penduduk lainnya.
Segumpal kesedihan kembali
membalut hati kebga orang itu. Bukan karena tempat tinggal yang sudah tidak karuan bentuknya, tapi karena
ditinggalkan oleh anggota keluarga yang tewas.
6
"Hm...!"
Sambil mengelus-elus jenggot yang
hanya be-berapa lembar, Raja Kerajaan Mandau yang bernama Prabu Tanjula mengangguk-anggukkan kepala.
Tampak sekali keagungannya, saat duduk di atas singgasana kerajaan.
"Jadi..., gerombolan yang
akan menyerbu ista-na kita adalah benar-benar gerombolan Mata Malaikat, Patih
Sanggara?" tanya Prabu Tanjula sambil menatap tajam wajah seorang
laki-laki tinggi kurus yang duduk di lantai.
Di sebelah kanan, kiri, dan depan
laki-laki tinggi kurus yang ternyata menjabat patih itu, duduk pula pejabat
kerajaan lain.
"Begitulah laporan yang
hamba terima dari para telik sandi, Gusti Prabu," jawab Patih Sanggara.
"Jadi, semua laporan yang
diberikan Garuda Mata Satu benar. Ahhh...! Dia benar-benar seorang prajurit
setia," gumam Prabu Tanjula lirih sambil mengelus-elus jenggotnya.
Rupanya, orang nomor satu di Kerajaan Mandau ini memiliki kebiasaan, gemar
mengelus-elus jenggot.
Beberapa saat lamanya, Prabu
Tanjula bertin-dak seperti itu. Sementara, Patih Sanggara dan semua pejabat
kerajaan yang ada di situ menunggu keluarnya ucapan selanjutnya dari junjungan
mereka dengan sabar.
"Kalau begitu, kita akan
siapkan penyambutan untuk mereka. Biar mereka tahu, kalau Kerajaan Mandau tidak
bisa dianggap remeh. Pengawal!" seru
Prabu Tanjula, agak keras.
"Hamba, Gusti Prabu,"
sambut salah satu dari dua orang pengawal yang menjaga pintu ruangan. Kedua
orang ini adalah prajurit pilihan yang bertugas menjaga keselamatan raja, dan
sekaligus menjadi anggota pasukan khusus.
"Katakan pada Panglima
Tungga agar segera menghadapku!" ritah Prabu Tanjula.
"Akan hamba laksanakan,
Gusti Prabu," sahut pengawal yang memiliki banyak tahi lalat di dahi itu.
Tubuhnya dibungkukkan sedikit sambil
menyentuhkan ujung-ujung jari kedua tangan yang dirapatkan ke hidung.
Usai berkata demikian, pengawal
khusus itu segera melangkah meninggalkan ruangan ini.
Sepeninggal pengawal khusus yang
memiliki banyak tahi lalat itu, suasana menjadi hening. Masing-masing orang
hanyut dalam alun pikiran sendiri-sendiri.
"O ya, Patih Sanggara.
Apakah sudah ada berita mengenai Garuda Mata Satu?"
Pertanyaan Prabu Tanjula memecahkan keheningan yang mencekam.
"Ampunkan hamba, Gusti
Prabu. Sampai saat ini, pasukan telik sandi yang dikirimkan belum mendapatkan
berita mengenai Garuda Mata Satu dan Puspa Kenaka."
"Hm...."
Hanya gumaman pelan dan anggukan
Prabu Tanjula yang menanggapi jawaban Patih Sanggara.
"Mudah-mudahan, tugas yang kuberikan padanya bisa berhasil dengan
baik," harap Prabu Tan-jula lagj.
Tidak ada satu suara pun yang
menyahuti.
Mereka semua diam. Namun di dalam
hati, sama-sama menginginkan agar harapan Prabu Tanjula terkabul. Masalahnya,
hal itu menyangkut keutuhan Kerajaan Mandau. Kalau tugas Garuda Mata Satu
sampai gagal, Kerajaan Mandau akan mendapat kerugian besar! Kembali suasana
jadi hening, larut oleh pikiran masing-masing.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Keheningan itu langsung membuyar
ketika terdengar suara langkah kaki mendekati ruangan ini. Dan sesaat kemudian,
tampak dua sosok tubuh melangkah masuk. Yang seorang pengawal khusus bertahi
lalat banyak. Sedangkan sarunya lagi, seorang laki-laki tinggi besar dan
bercambang bauk lebat. Siapa lagi kalau bukan Panglima Tungga?
"Hamba datang menghadap,
Gusti Prabu," ka-ta Panglima Tungga sambil memberi hormat
Laki-laki tinggi besar ini
kemudian bersimpuh. Lutut sebelah kirinya ditekuk, dan tangan terkepal
ditekankan ke bumi.
"Hm...," gumam Prabu
Tanjula sambil kembali mengelus-elus jenggotnya. "Memang, aku mempunyai
sebuah rencana. Dan hanya kau dan pasukanmu saja yang lebih cocok untuk
melaksanakan tugas ini. Itulah sebabnya kau kupanggil kemari."
"Hamba siap melaksanakan
tugas, Gusti Pra-bu," sambut Panglima Tungga cepat.
"Bagus! Nah! Sekarang
dengarkan baik-baik tugas yang akan kuberikan padamu...."
Prabu Tanjula diam sebentar. Hal
itu memang disengaja agar Panglima Tungga lebih siap
mendengarnya. Dan dengan adanya kesempatan yang diberikan Prabu Tanjula,
Panglima Tungga yang bertubuh tinggi besar itu jadi punya kesempatan
untuk memusatkan perhatian.
"Kau sudah mendengar berita
akan adanya penyerbuan terhadap Kerajaan Mandau ini, Panglima Tungga?"
tanya Prabu Tanjula, ingin tahu.
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba belum mendengarnya. Kalau boleh hamba tahu,
kerajaan manakah yang mempunyai nyali demikian besar, hingga berani menyerang
kerajaan kita?" Panglima Tungga malah balas bertanya.
"Tidak ada kerajaan yang
akan menyerbu kita, Panglima Tungga," sanggah orang nomor satu di Kerajaan
Mandau ini.
"Ampun, Gusti Prabu. Hamba belum mengerti...."
"Yang akan menyerbu kerajaan kita,
segerombolan tokoh golongan hitam di bawah pimpinan Mata Malaikat. Menurut
laporan mata-mata kita, mereka berjumlah banyak. Mungkin tidak kurang dari tiga
ratus orang! Bayangkan, Panglima Tungga. Kemampuan tokoh persilatan aliran
hitam yang paling rendah pun, belum tentu kalah menghadapi tiga orang prajurit kita!" Prabu Tanjula mengutarakan kekhawatirannya.
Panglima Tungga
mengangguk-anggukkan ke-pala. Cukup masuk akal juga kekhawatiran yang melanda
junjungannya.
''Tapi..., ada satu hal yang
Gusti Prabu lupakan," tegas Panglima Tungga.
"Hm.... Apa itu, Panglima
Tungga?" tanya Prabu Tanjula ingin tahu. Dan memang telah diketahuinya
kalau Panglima Tungga adalah seorang ahli siasat perang yang ulung.
"Begini, Gusti Prabu. Dalam
hal kemampuan perseorangan, boleh jadi gerombolan Mata Malaikat
memiliki kemampuan di atas
rata-rata kemampuan pasukan kita. Tapi dalam sebuah pertempuran besar, yang
memegang peranan adalah siasat! Kalau kita mempunyai siasat jitu, mereka akan
bisa dikalahkan!" tandas Panglima Tungga, yakin.
Seketika itu pula Prabu Tanjula
terdiam. Disadari ada kebenaran dalam ucapan Panglima Tung-ga.
"Apa siasatmu, Panglima
Tungga?" tanya Prabu Tanjula, ingin tahu.
Panglima Tungga tidak langsung
menjawab. Dahinya berkernyit sejenak sebelum kepalanya terangguk.
"Jelaskan kepada kami-kami
di sini, siasat apa yang akan kau gunakan, Panglima Tungga?" tanya Prabu
Tanjula.
"Tentu, Gusti Prabu,"
jawab Panglima Tungga. "Tapi sebelumnya, hamba ingin tahu pendapat
Panglima Banu. Dan, ampunkan hamba bila bertindak terlalu lancang."
"Sama sekali tidak, Panglima
Tungga," sahut Prabu Tanjula sambil menyunggingkan senyum.
"Panglima Banu! Coba
kemukakan siasatmu untuk menghadapi penyerbuan gerombolan Mata Malaikat!"
titah Prabu Tanjula pada panglima yang bernama Panglima Banu.
"Ampunkan hamba kalau
keliru, Gusti Prabu. Menurut pendapat hamba, lebih baik seluruh pasukan
Kerajaan Mandau berada di dalam benteng. Lalu, kita tempatkan pasukan panah di
bagian atas benteng untuk mencegah serbuan gerombolan itu."
Panglima yang bertubuh tegap dan
kekar yang bernama Panglima Banu itu menghentikan ucapannya untuk mengambil
napas.
"Setiap kali mereka berada
dalam jarak tembak anak panah, kita akan menghujani dengan anak panah. Dengan
demikian, mereka tidak bisa mendekati benteng. Dan andaikata nekat, anak panah
pasukan kita akan banyak menelan korban dari mereka," lanjut Panglima Banu
panjang lebar.
Semua orang yang berada di
ruangan itu sama-sama menganggukkan kepala. Disadari pen-jelasan Panglima Banu
ada benarnya.
"Sebuah usul yang
bagus!" puji Prabu Tanjula. "Bukankah demikian, Panglima
Tungga?"
"Benar, Gusti Prabu," sahut
Panglima Tungga sambil mengangguk. "Siasat
yang dikemukakan Panglima Banu memang bagus. Tapi rasanya, untuk menghadapi
gerombolan Mata Malaikat, siasat seperti itu tidak bisa dilaksanakan."
Prabu Tanjula mengangguk-angguk,
pertanda membenarkan pendapat Panglima Tungga.
"Apa yang kau kemukakan sama
sekali tidak salah, Panglima Tungga. Siasat yang dikemukakan Panglima Banu
tidak bisa diterapkan kali ini. Garuda Mata Satu telah memberi masukan yang
berharga sekali. Katanya, di samping Mata Malaikat, masih banyak lagi tokoh
kelas atas dari golongan hitam yang menjadi anak buahnya. Bahkan termasuk
datuk-datuk di empat penjuru angin. Banyaknya tokoh yang memiliki kemampuan
tinggilah yang menyebabkan siasat Panglima Banu sulit diterapkan."
Prabu Tanjula menghentikan ucapannya sejenak untuk membasahi
tenggorokannya yang kering.
"Kalau kita gunakan pasukan panah, kemungkinan besar tokoh-tokoh kelas ataslah yang
bertugas sebagai pembuka jalan. Serbuan pasukan
anak panah kita pasti akan mudah
dilumpuhkan. Nah! Setelah pasukan panah kita lumpuh, baru mereka akan menyerbu.
Di sinilah ketidaktepatannya usul Panglima Banu."
Panglima Tungga dan semua orang
yang berada di situ sama sekali tidak merasa heran mendengar penjelasan Prabu
Tanjula yang bisa mengupas secara demikian meyakinkan. Dan mereka semua tahu,
Prabu Tanjula memiliki ilmu kedigdayaan yang cukup tinggi. Hanya saja mereka
tidak tahu, di mana sang Junjungan itu belajar.
"Sekarang giliranmu,
Panglima Tungga. Bisa kau utarakan siasat yang akan kau terapkan?" tanya
Prabu Tanjula ingin tahu.
"Pada dasarnya, tidak
berbeda dengan siasat Panglima Banu, Gusti Prabu. Hanya saja, ada sedikit
perbedaannya. Pada siasat hamba, pasukan kita tidak hanya bertahan. Tapi, juga
mendahului."
"Maksudmu..., kita yang melakukan penyerangan lebih dulu. Begitu
maksudmu, Panglima Tungga?"
"Kira-kira demikian, Gusti
Prabu. Tapi, tentu saja tidak hanya siasat itu yang akan dijalankan. Siasat
Panglima Banu pun nanti akan diterapkan pula. Dan itu tentu ada sedikit
perbedaan di sana-sini. Bahkan serangan yang akan dilakukan pun, tidak untuk
menghadapi pertarungan secara langsung. Yang akan kita terapkan adalah siasat
pukul dan lari."
"Bisa diutarakan secara
lengkap rencana-rencana yang akan kau buat, Panglima Tungga?" tanya Prabu
Tanjula, ingin tahu lebih banyak.
"Dengan senang hati, Gusti
Prabu," sambut Panglima Tungga cepat
Kemudian, Panglima Kerajaan
Mandau yang
memiliki tubuh tinggi besar dan
bercambang bauk lebat ini menjelaskan secara lengkap siasat-siasat yang akan
dijalankan. Prabu Tanjula dan semua orang yang berada di situ mendengarkan
penuh seksama. Tak sekali pun ada yang menyelak sampai Panglima Tungga
menyelesaikan keterangannya.
"Begitulah rencana hamba, Gusti Prabu. Yaaah...! Walaupun mungkin
tidak memuaskan, tapi itulah siasat yang hamba dapatkan," kata Panglima
Tungga menutup keterangannya.
''Tidak mengapa, Panglima Tungga. Aku percaya, kau telah memilihkan sebuah siasat terbaik.
Untuk selanjutnya, kau dan Panglima Banu bisa saling berembuk untuk
mempersiapkan rencana yang telah dirancang," ujar Prabu Tanjula.
"Akan hamba laksanakan semua
perintah Gusti Prabu," hampir berbareng Panglima Tungga dan Panglima Banu
menjawabnya.
Saat yang ditunggu-tunggu disertai rasa kecemasan pun tiba. Pasukan panah Kerajaan Mandau yang berdiri di
atas benteng istana melihat
serombongan orang yang tengah menuju ke tempat mereka.
"Beritahukan pada Panglima
Tungga. Gerom-bolan Mata Malaikat telah terlihat!" ujar kepala pasukan
panah pada salah seorang anak buahnya.
"Siap!"
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
anggota pasukan panah yang memiliki tubuh kecil ramping itu meluruk turun
mempergunakan tambang-tambang yang tersedia, menjulur hampir mencapai tanah.
Dia kemudian beriari cepat ke arah pos penjagaan.
"Lapor, Panglima!" kata
prajurit itu sambil
memberi hormat ketika telah
berada di pos pusat penjagaan. Di sana terlihat Panglima Tungga dan Panglima
Banu tengah berbincang-bincang.
"Ya! Cepat sampaikan!"
ucap Panglima Tungga, penuh wibawa.
"Rombongan yang kita
tunggu-tunggu telah tiba!"
"Apa?!" Panglima Tungga
sampai terlonjak dari kursi yang didudukl "Kalau begitu, aku akan ke sana
untuk melihatnya. Tolong siapkan segala sesuatu yang telah dirembuk itu,
Panglima Banu."
Setelah meninggalkan pesan
seperti itu, Pang-lima Tungga berlari cepat menuju dinding istana. Tidak
dipedulikannya lagi anak buahnya yang tadi
memberikan laporan.
Hanya dalam beberapa kali lesatan
saja, Pang-lima Tungga telah tiba di dekat dinding istana.
"Hih!"
Tanpa menimbulkan suara yang
berarti, Pang-lima Tungga mendarat di dinding atas. Dan secepat kedua kakinya mendarat, secepat itu pula
pandangannya dilayangkan ke luar.
"Benar..., mereka telah
datang," desah Panglima Tungga pelan seperti berbicara pada diri sendiri.
Kemudian, perhatiannya dialihkan pada prajurit berkumis tebal yang menjadi
pimpinan pasukan panah.
"Musuh telah di ambang mata.
Apakah kau te-lah siap menyambutnya?"
"Siap, Panglima," sahut
prajurit berkumis tebal itu.
"Bagus!"
Usai berkata demikian, Panglima
Tungga beranjak meninggalkan pimpinan pasukan panah itu.
Kemudian dengan tergesa-gesa dia
melompat turun dan melesat menuju tempatnya semula. Dia bahkan sampai tidak
ingat pada prajurit yang telah memberi laporan padanya. Padahal di saat hendak
turun, prajurit itu tengah merayap naik ke dinding istana.
Sementara itu, pimpinan pasukan
panah segera mengumpulkan anak buahnya.
"Ingat! Apabila aku memberi
aba-aba, baru anak-anak panah kalian lepaskan. Yang pertama kali, adalah anak
panah biasa. Kedua, panah berapi. Dan yang terakhir, panah-panah istimewa.
Tapi, ingat! Anak panah berapi dan istimewa jumlahnya terbatas. Jadi, jangan
langsung dihambur-hamburkan begitu saja. Mengerti?!"
"Mengerti!" sahut
prajurit-prajurit itu serempak. "Kalau demikian, sekarang kalian kembali
ke
tempat masing-masing!"
perintah prajurit berkumis tebal itu.
Tanpa menungggu perintah dua
kali, prajurit-prajurit itu bubar untuk menuju tempat masing-masing. Dan begitu
telah sampai di tempat yang dituju, masing-masing prajurit segera menyiapkan
peralatannya. Sesaat kemudian, anak-anak panah yang siap meluncur telah berada
di tangan.
Kini pasukan panah Kerajaan
Mandau tinggal menunggu perintah. Pandangan mata mereka semua tertuju ke depan
menanrj hingga rombongan anak buah Mata Malaikat tiba di tempat yang dapat
dijangkau luncuran anak panah.
Tapi penantian yang dilakukan ternyata
membutuhkan kesabaran besar. Karena ternyata, se-belum mencapai tempat yang
dapat dijangkau lun-curan anak panah, rombongan anak buah Mata Malaikat
ternyata tidak bergerak maju lagi.
Tentu saja hal itu membuat
pasukan panah Ke-rajaan Mandau merasa heran bukan kepalang. Tanpa sadar, mereka
saling berpandangan satu sama lain, dengan sinar mata menyorotkan pertanyaan
besar. Memang, tidak satu pun dari mereka yang tahu pasti, mengapa rombongan
anak buah Mata Malaikat berhenti bergerak. Apalagi, jaraknya masih terlalu jauh
untuk bisa dilihat jelas. Tak kurang dari pimpinan pasukan panah ikut merasa
heran. Apa yang hendak dilakukan rombongan Mata Malaikat? Begitu pertanyaan yang bergayut di
benak mereka.
Sementara itu, pihak yang menjadi
bahan pe-mikiran sama sekali tidak tahu apa-apa. Mereka berpencar, mencari
tempat-tempat yang teduh di bawah pohon. Apalagi, saat itu udara cukup panas,
karena matahari sudah hampir berada di atas kepala.
Di tempat yang terpisah dari
rombongan lain, duduk enam sosok tubuh. Mereka adalah Mata Ma-laikat,
datuk-datuk sesat dari empat penjuru angin, dan Melati! Gadis berpakaian putih
itu sama sekali tidak terbelenggu. Bahkan sepertinya Melati telah menjadi kawan
mereka.
''Pertempuran kali ini tidak bisa
disamakan de-ngan pertempuran sebelumnya," Mata Malaikat membuka
percakapan tanpa mengalihkan pandangan dari bangunan Istana Kerajaan Mandau
yang nampak dari kejauhan. "Kerajaan Mandau tidak bisa disamakan dengan Kerajaan Gambang. Di
samping jumlah pasukan yang besar, kemampuan perorangan mereka berada di atas
prajurit-prajurit Kerajaan Gambang. Bahkan Kerajaan Mandau pun memiliki
sekumpulan prajurit terlatih! Bukan begitu, Setan Kecil?"
"Benar, Yang Mulia,"
jawab Setan Kecil Muka
Hitam sambil menganggukkan
kepala. "Berita yang kudapatkan sama seperti Yang Mulia katakan."
"Aku pun telah mendengarnya
pula," selak Setan Botak. "Kudengar, Kerajaan Mandau memiliki
prajurit-prajurit yang mampu melakukan serangan secara berkelompok dengan kerja
sama yang baik. Sehingga meskipun serangan mereka terdiri dari delapan orang,
tapi seperti dikendalikan satu pikiran. Kerja sama mereka demikian rapi!"
Dua datuk yang Iain
mengangguk-anggukkan kepala pertanda membenarkan ucapan rekan mereka.
"Itulah sebabnya, aku memberi
kesempatan pada rombongan kita untuk beristirahat. Meskipun jumlah kita kali
ini jauh lebih besar, tapi demi keberhasilan, kuputuskan untuk melakukan
serangan dalam keadaan segar bugar!" urai Mata Malaikat panjang lebar.
Empat datuk golongan hitam itu mengangguk-anggukkan
kepala pertanda menyetujui ucapan Mata Malaikat.
"Lalu..., bagaimana dengan
Dewa Arak, Yang Mulia. Karena bukan hal yang mustahil kalau dia akan datang
nanti. Aku yakin, dia telah sembuh dari luka dalamnya," sergah Setan Kecil
Muka Hitam tiba-tiba.
"Ha ha ha...!" mendadak
Mata Malaikat terta-wa. "Apalah artinya seorang Dewa Arak? Lagi pula
apabila dia benar datang mengganggu, akan kita bungkam untuk selama-lamanya
dengan perantaraan kekasihnya! Ha ha ha...!"
"Ha ha ha...!"
Setan Botak, Setan Muka
Tengkorak, dan Setan Tenaga Raksasa ikut tertawa bergelak. Di dalam hati,
mereka semua memuji kecerdikan akal Mata Malaikat.
"Bagaimana, Melati? Kau telah siap
melenyapkan Dewa Arak
selama-lamanya?" tanya Mata Malaikat pada Melati yang sejak tadi hanya
diam saja.
"Siap, Yang Mulia!"
jawab gadis berpakaian putih itu dengan raut wajah beku.
"Kau ingat semua rencana
yang kujelaskan padamu?" tanya Mata Malaikat lagi.
"Ingat, Yang Mulia!"
"Bagus! Ingat, Melati!
Jangan sampai gagal! Dewa Arak harus berhasil kau bunuh!" tandas Mata
Malaikat
Melati hanya mengangguk.
Keheningan langsung menyelimuti
mereka, setelah Mata Malaikat tidak mengatakan apa-apa lagi. Hal itu terjadi
karena, Melati, Setan Kecil Muka Hitam, Setan Muka Tengkorak, Setan Tenaga
Raksasa, dan Setan Botak tidak berkata-kata lagi.
Tapi keheningan itu tidak
berlangsung lama, karena Mata Malaikat bangkit dari duduknya.
"Siapkan pasukan! Sekarang
juga kita akan mengambil alih kekuasaan Istana Mandau!" ujar Mata
Malaikat.
"Baik, Yang Mulia!"
jawab empat datuk go-longan hitam itu hampir berbareng.
Usai berkata demikian, Setan
Kecil Muka Hitam mengalihkan perhatian ke arah tokoh-tokoh golongan hitam yang
berpencar-pencar di sekitar tempat itu.
"Bangun semua! Sekarang
saatnya merebut Is-tana Mandau!"
"Horeee...!" seru
seluruh anggota rombongan serempak.
"Hidup Yang Mulia Mata
Malaikat!" pekik salah seorang dari mereka.
"Hidup!" sambut yang
lain beramai-ramai. "Hancurkan Kerajaan Mandau!"
"Bunuh Prabu Tanjula!"
Hanya dalam waktu sekejap,
suasana di sekitar tempat itu langsung gaduh. Masing-masing orang berteriak semaunya.
Namun ketika Setan Kecil Muka Hitam mengangkat tangan kanan ke atas,
hiruk-pikuk itu kontan terhenti.
"Siapkan perlengkapan
kalian! Dan mari kita berangkat!" perintah Setan Kecil Muka Hitam.
Tanpa membantah sama sekali,
rombongan yang terdiri dari orang-orang golongan hitam itu bergerak maju. Sudah
dapat dipastikan, sebentar lagi genangan darah akan membasahi bumi!
Tapi ternyata tidak semua orang
yang berada di situ meninggalkan tempat ini. Masih ada yang tertinggal! Dan dia
adalah gadis cantik berpakaian putih dan berambut panjang tergerai! Melati!
Dan ternyata, Melati pun tidak
lama-lama duduk di situ. Sesaat kemudian, dia bangkit dan melangkah. Tapi arah
yang dituju tidak searah dengan Mata Malaikat dan rombongannya.
7
Tentu saja tindakan gerombolan
Mata Malaikat segera diketahui pasukan panah Kerajaan Mandau yang sejak tadi
sudah menunggu saat-saat yang tepat untuk meluncurkan anak panah.
Seiring semakin dekatnya jarak
gerombolan Mata Malaikat, semakin keras pula debaran jantung masing-masing
prajurit Kerajaan Mandau. Mereka semua merasa tegang Apalagi orang yang
memimpin
pasukan panah. Dialah yang paling
merasa tegang. Masalahnya, meluncurnya anak-anak panah para prajurit, ada pada
perintahnya. Dan kini, perhatian prajurit berkumis tebal itu terpusat pada
kedatangan lawan.
"Seluruh pasukan...!
Siaaap...! Aku akan mulai menghitung. Dan sampai pada hitungan ketiga, baru
anak panah diluncurkan! Semua, mengerti?!"
"Mengerti!" sambut
seluruh prajurit, kompak. "Satu.... Dua.... Ti... ga!"
Twang! Twang! Twang...!
Ratusan anak panah langsung
melesat dari busurnya ketika prajurit berkumis tebal itu selesai menghitung.
Bunyi terlepasnya anak panah dari busur, membuat telinga terasa sakit. Apalagi
ketika anak-anak panah itu meluncur membelah udara.
Kemudian tanpa menunggu hasilnya,
semua pasukan panah kembali mementangkan anak panah lain pada busur, lalu
melepaskannya kembali.
Twang! Twang! Twang...!
Kembali, tak kurang dari seratus
anak panah meluncur ke arah gerombolan Mata Malaikat. Dan pemandangan yang
terlihat mengerikan sekali. Bagi gerombolan Mata Malaikat, anak-anak panah yang
datang laksana buriran-butiran hujan.
Namun gerombolan Mata Malaikat
memang sudah memperhitungkannya. Itulah sebabnya, mereka tidak gugup.
Senjata-senjata yang sejak tadi tercekal di tangan pun langsung dikibaskan,
untuk mematahkan serangan anak-anak panah yang tengah mengancam keselamatan
nyawa.
Dan tentu saja tidak semua orang
yang menggunakan senjata. Tokoh-tokoh yang telah memiliki
tenaga dalam tinggi, langsung menggunakan
sepasang tangannya untuk
mematahkan semua serangan. Memang, dengan pengerahan tenaga dalam,
tangan-tangan itu sudah merupakan senjata bagiya.
Trang, trang! Takkk!
Dentang beradunya anak-anak panah
dengan senjata-senjata di tangan gerombolan Mata Malaikat, terdengar
susul-menyusul. Itu pun masih ditambah lagi memerciknya bunga-bunga api ke sana
kemari! Tak pelak lagi, suasana hiruk pikuk pun menyelimuti.
Dan sambil terus mengibaskan
tangan ke sana kemari para tokoh golongan hitam itu terus merangsek maju. Dan
setapak demi setapak, benteng Istana Kerajaan Mandau semakin dekat.
Mata Malaikat dan empat datuk
golongan hitam berada di baris terdepan. Sambil mengibaskan kedua tangan ke
sana kemari, mereka cepat merangsek maju. Dan sudah pasti maksudnya adalah
untuk masuk ke dalam istana lebih dulu!
Namun sebelum maksud itu
kesampaian, terja-di suatu hal yang mengejutkan. Ternyata anak-anak panah yang
dilepaskan pasukan Kerajaan Mandau adalah panah berapi!
Kalau Mata Malaikat dan empat
anak buah utamanya saja terkejut, apalagi para tokoh golongan hitam lain yang
menjadi anak buahnya. Mereka kini dilanda perasaan kaget yang berlipat ganda.
Dan mau tak mau, mereka harus lebih hati-hati dalam melancarkan tangkisan!
Trang, trang, cappp!
"Wuaaa...!"
Lolong kesakitan terdengar dari
mulut seorang tokoh golongan hitam yang kurang cepat bertindak menangkis. Anak
panah berapi menancap telak di bahu kirinya. Dan seketika itu pula, tubuhnya
ter-
huyung dengan kobaran api
langsung membakar dirinya. Tak pelak lagi, dia menggeliat-geliat menahan panas
dan sakit
Sambil meraung-raung kesakitan, tokoh golongan hitam yang sial itu
berusaha mencabut anak panah yang menancap di bahunya. Tapi, usahanya sia-sia
belaka. Tubuhnya telah terlampau termakan api demikian cepat, karena pakaiannya
terbuat dari bahan yang mudah terbakar.
Dan yang lebih sial lagi, tidak
seorang rekan pun yang sudi menolongnya. Masalahnya, mereka semua sendiri tengah
sibuk menghadapi anak-anak panah yang terus saja meluncur, seakan-akan tidak
pernah habis.
Sementara, gerombolan itu terus
saja bergerak sambil terus mengibaskan tangan untuk menangkis hujan anak panah
yang sesekali berapi! Korban pun mulai berjatuhan. Jerit kesakitan dan lolong
kematian menyeruak, mencoba mengatasi bisingnya benturan anak-anak panah dengan
senjata.
Mata Malaikat dan empat datuk
golongan hitam yang mendengar jeritan-jeritan anak buahnya, menjadi murka
setengah mati. Maka, kemampuannya pun segera dikerahkan untuk cepat bisa tiba
di atas dinding istana!
Mereka semua tahu pasti, kalau
keadaan tidak segera diperbaiki, akan banyak jatuh korban. Paling tidak,
kemampuan yang dimiliki akan menurun.
Dan dengan tekad yang bulat, Mata
Malaikat dan empat datuk sesat itu merangsek maju mendekati dinding tinggi yang
melingkari bangunan Istana Kerajaan Mandau yang berhalaman luas. Pada
kenyataannya mereka berhasil. Bahkan tak lama lagi, dipastikan akan berhasil
naik ke atas dinding.
Dan ketika akhirnya telah
berhasil mendekati dinding istana, kelima orang pimpinan datuk hitam itu
sama-sama menjejak tanah.
"Hih!"
Hanya sekali genjot, tubuh Mata
Malaikat, Setan Botak, Setan Kecil Muka Hitam, Setan Muka Tengkorak, dan Setan
Tenaga Raksasa, telah melayang ke atas. Sementara, para prajurit yang melihat
segera melepaskan anak-anak panah. Namun semua itu sia-sia belaka, karena
dengan mudah berhasil dipapak Mata Malaikat dan empat datuk sesat itu.
Tapi setelah berhasil memapak,
Mata Malaikat dan empat orang andalannya sama sekali tidak menduga kalau pihak
lawan telah mempersiapkan serangan lain. Dan di saat tubuh mereka baru
sete-ngah perjalanan, dari atas meluncur jala!
Wrrr! "Hehhh...?!"
Jeritan-jeritan kaget langsung
terdengar dari mulut Mata Malaikat dan empat orang anak buahnya, ketika melihat
serangan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Mereka ingin mengelak, tapi
bagaimana bisa? Jala-jala itu terkembang lebar dan langsung menutupi tubuh,
tanpa mereka sempat berbuat sesuatu.
Mau tak mau, Mata Malaikat dan
empat anak buah andalannya terpaksa membatalkan maksudnya. Bagaimana bisa tiba
di atas kalau tubuh mereka tertutupi jala-jala? Maka yang dilakukan mereka
adalah segera mendarat kembali di tanah.
Namun untuk yang kesekian
kalinya, Mata Ma-laikat dan empat datuk golongan hitam itu harus menelan
kenyataan pahit. Ternyata lawan benar-benar tidak bisa diremehkan.
Kenyataannya, sebelum kaki
menyentuh tanah, daun pintu
gerbang telah terbuka lebar. Dan dari daun pintu yang terkuak, keluar tak
kurang dari seratus orang bersenjata lengkap! Sungguh sebuah rencana yang rapi
dan matang!
Kali ini Mata Malaikat dan
datuk-datuk golong-an hitam dari empat penjuru mata angin itu benar-benar
dibuat sibuk. Padahal di saat tubuh mereka tengah meluncur turun dengan
tertutupi jala, hujan anak panah tetap tak berkurang! Hanya saja, anak panah
yang dilepaskan bukan anak panah api! Namun meskipun demikian, tetap saja cukup
membuat kelima orang sakti itu kerepotan! Betapa tidak? Dalam keadaan tertutup
jaring, mereka masih berusaha menghalau serangan anak-anak panah yang mengancam!
Sementara, hujan anak panah
terhadap orang-orang golongan hitam itu tetap tidak berkurang sedikit pun!
Korban di pihak anak buah Mata Malaikat terus berjatuhan. Padahal di pihak
Kerajaan Mandau sendiri, belum ada satu pun yang jadi korban.
Sedangkan baru saja Mata Malaikat
dan empat anak buah andalannya mendarat tanpa sempat membuka jaring, pasukan
Kerajaan Mandau telah lebih dulu menyerbu. Hebatnya, mereka tak
menyerang serampangan. Bahkan membentuk kelompok serangan
sendiri-sendiri, tanpa memberi ke-sempatan pada kelima orang lawannya untuk memperbaiki diri.
Patut dipuji siasat yang
diterapkan Panglima Tungga! Mata Malaikat dan gerombolannya dibuat kocar-kacir.
Terutama sekali, di pihak anak buah Mata Malaikat yang telah banyak jatuh
korban. Sedangkan sisanya, sudah mulai dihinggapi rasa letih. Meskipun demikian
usaha mereka tidak sia-sia, karena telah
mulai mendekati dinding istana.
Tapi sebelum mampu mencapai jarak
yang le-bih dekat lagi, dari dalam pintu gerbang meluruk serombongan besar pasukan
Kerajaan Mandau dalam jumlah yang banyak! Bahkan mungkin tak kurang dari
delapan ratus orang! Dan yang lebih hebat lagi, mereka semua mengenakan
perlengkapan prajurit!
Begitu keluar, rombongan Kerajaan
Mandau langsung meluruk ke arah gerombolan anak buah Mata Malaikat.
Teriakan-teriakan bernada perang kontan keluar dari mulut mereka.
Memang, sejak tadi pasukan
Kerajaan Mandau sudah menahan-nahan kejengkelan yang membara di hati. Maka
datangnya serbuan ini, membuka ke-sempatan untuk melampiaskan rasa jengkelnya.
Tak pelak lagi, pertempuran besar-besaran pun tidak terelakkan lagi.
Seketika itu pula, dentang
senjata beradu, percikan bunga api, dan jerit kesakitan serta lolong kematian
segera menghiasi pertarungan acak-acakan yang tengah berlangsung.
***
"Ahhh...! Jangan-jangan aku
telah terlambat!" Ucapan bernada keluhan ini keluar dari mulut
Dewa Arak tanpa menghentikan
ayunan langkah-kakinya yang masih saja berlari. Sepasang matanya yang
menyiratkan kecemasan, diarahkan ke depan.
Di kejauhan, terlihat debu-debu
mengepul ting-gi ke angkasa. Juga, tampak banyak titik hitam yang jelas
bergerak-gerak. Tampaknya, itu adalah suatu pertarungan besar. Yakin dengan
dugaannya, Dewa Arak memaksakan diri untuk terus berlari cepat bagai
kilat. Tapi baru juga beberapa
lesatan... "Kang...! Kang Arya...!"
Panggilan itu membuat Dewa Arak
tersentak bagai disengat ular berbisa! Seketika itu juga, larinya terhenti.
Bahkan hampir terjatuh, karena kedua kakinya mendadak lemas mendengar panggilan
itu. Dan yang lebih membuatnya lemas, orang yang memanggil adalah... Melati!
Dewa Arak yakin, kalau orang yang memanggilnya Melati. Tapi, akal sehatnya
membantah. Bukankah kekasihnya menjadi tawanan Mata Ma-laikat? Jadi, mana
mungkin Melati yang memanggil?
Takut akan menghadapi kenyataan,
meskipun langkahnya telah berhenti, tetap saja pandangan Dewa Arak tidak berani
beralih ke tempat asal panggilan itu.
"Kang..., Kang
Arya...!"
Lagi-lagi terdengar panggilan
untuk Dewa Arak. Hanya saja, kali ini lebih jelas. Mungkinkah kupingnya salah
dengar? Dan hal ini membuat Dewa Arak menjadi penasaran. Maka dengan
perlahan-lahan Dewa Arak berpaling ke arah kanan. Dan....
"Melati...!" pekik Arya
kaget campur gembira ketika melihat kekasihnya berdiri beberapa tombak di
sebelah kanan agak ke belakang.
"Kang Arya...!" orang
yang tak lain Melati itu balas memanggil.
Entah siapa yang memulai,
tahu-tahu Dewa Arak maupun Melati berlari saling menghampiri de-ngan kedua
tangan sama-sama terkembang. Hanya beberapa langkah saja saling menghampiri,
karena sesaat kemudian sepasang muda muda ini telah saling berpelukan erat.
"Melati..., ah...!
Melati...!" desah Arya setengah mengeluh tanpa mengendurkan pelukannya.
"Syukur
kau selamat..."
"Aku berhasil meloloskan
diri, Kang," jawab Melati lirih.
Dan seperti juga Dewa Arak, gadis
berpakaian putih ini sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Tapi tanpa Arya
tahu, Melati mengeluarkan sebilah pisau dari balik lengan bajunya. Sebilah
pisau yang berkilat-kilat tajam dan ada sorot kehijauan pada batangnya. Ini
menjadi pertanda kalau pisau itu mengandung racun ganas!
Dewa Arak yang tengah dilanda
rasa kaget dan gembira, menjadi berkurang kewaspadaannya. Tambahan lagi, dia percaya penuh pada
kekasihnya. Itulah sebabnya, Dewa Arak tidak tahu kalau maut tengah mengancam.
Dan memang, Melati hanya tinggal menghunjamkan pisau itu ke tengkuk Dewa Arak!
Mendadak...
"Dewa Arak..! Awaaas…''
"Hih!"
8
Tepat di saat Melati hampir
menikamkan pisau di tengkuk Dewa Arak, terdengar seruan keras memperingatkan.
Karuan saja Dewa Arak tersentak kaget. Dan ini mengakibatkan pelukannya pada
Melati mengendur. Dan, saat itulah Melati menghunjamkan pisaunya ke tengkuk
Dewa Arak. Dan...
Trakkk!
Ujung pisau Melati menghunjam di
tempat yang keliru. Bukannya tengkuk Dewa Arak yang ditikam,
tapi guci araknya! Namun tak
urung, beberapa helai rambut Dewa Arak terpapas.
"Melati..., kau...!"
ujar Dewa Arak kaget ketika menyadari kalau serangan itu berasal dari
kekasihnya.
Dalam kagetnya, pemuda berambut
putih keperakan itu tidak bertindak apa-apa kecuali melangkah mundur. Sorot
matanya memancarkan ketidakpercayaan yang amat sangat.
Tapi, Melati sama sekali tidak
mempedulikan keadaan Dewa Arak. Kegagalan usahanya tidak membuatnya putus asa. Dibuangnya pisau di
tangannya begitu saja ke tanah, kemudian pedangnya dicabut.
Srattt! Wunggg!
Suara menggerung keras terdengar
ketika Me-lati langsung menerjang Dewa Arak dalam penggunaan ilmu 'Pedang
Seribu Naga'.
Hal ini membuat keterkejutan Dewa
Arak se-makin menjadi-jadi. Dan disadari betul, Melati benar-benar hendak membunuhnya! Buktinya, gadis berpakaain putih itu langsung
menggunakan ilmu pedang andalan!
"Melati..., apa yang terjadi
terhadap dirimu...," keluh Dewa Arak bingung.
Tapi, pemuda berambut putih
keperakan ini ti-dak bisa bingung terlalu lama, ketika serangan Melati telah
meluncur. Terpaksa ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan, dan serangan
kekasihnya didakkan.
"Jangan buang-buang waktu
lagi, Anak Muda. Cepat robohkan dia. Gadis itu telah terpengaruh sihir dan
obat!"
Terdengar pemberitahuan di
telinga Dewa Arak. Kini Dewa Arak mengerti, kenapa Melati
mempunyai keinginan yang demikian
keras untuk
membunuhnya. Ternyata, gadis berpakaian
putih itu berada dalam pengaruh sihir dan obat! Ternyata, begitu telah tahu
penyebab keanehan tindakan Melati, Dewa Arak mulai melancarkan serangan. Dia
tahu, orang yang memberitahukannya berkepandaian tinggi. Terbukti, orang itu
tahu keadaan yang menimpa Melati. Dan yang lebih menegaskan kesaktian orang itu
adalah kemampuannya dalam mengirimkan suara dari jauh. Dari sini saja sudah
bisa diperkirakan tingkat kepandaiannya.
Meskipun sekarang telah melakukan
perla-wanan, namun bukan berarti hal mudah bagi Dewa Arak untuk merobohkan
Melati. Masalahnya, dia ingin merobohkan gadis itu tanpa harus melukai. Dan hal
itu lebih mudah dibicarakan, daripada dilaksanakan. Kenyataannya Melati
memiliki kepandaian tinggi. Tambahan lagi, gadis berpakaian putih itu menyerang
tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri. Dan akibatnya, pertarungan
berlangsung agak lama.
Baru pada jurus kedua puluh lima,
sebuah ke-sempatan emas terbuka bagi Dewa Arak. Itu pun setelah memancing
Melati lebih dulu. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan.
Tukkk! "Uhhh...!"
Melati terkulai lemas ketika jari
tangan Dewa Arak menotoknya. Tapi sebelum tubuh gadis berpa-kaian putih itu
ambruk, Dewa Arak telah lebih dulu menangkapnya. Dan dengan tubuh Melati berada
di pondongannya, Dewa Arak menoleh ke arah asal suara pemberitahuan itu.
"Garuda Mata Satu! Puspa
Kenaka! Ah! Hendak ke mana kalian...!" seru Arya gembira, ketika melihat
dua di antara tujuh sosok tubuh yang berada di sana.
Garuda Mata Satu dan putrinya.
Kemudian dengan langkah lebar,
Dewa Arak menghampiri Garuda Mata Satu dan Puspa Kenaka.
"Kami hendak ke Istana
Kerajaan Mandau. Tapi, terlebih dulu kuperkenalkan tokoh-tokoh sakti yang
bersamaku ini. Mereka berjuluk Lima Dewa Hati Emas...."
"Ah...!" desah Dewa
Arak kaget.
Memang, nama besar Lima Dewa Hati
Emas pernah disebut-sebut gurunya sebagai tokoh yang memiliki kepandaian amat
tinggi. Tapi menurut cerita gurunya, lima dewa itu telah mengundurkan diri dari
dunia persilatan. Bahkan tempat pengasingannya tak ada yang tahu! Maka
merupakan hal yang luar biasa kalau Garuda Mata Satu dan Puspa Kenaka bisa
bersama mereka.
"Merupakan sebuah kehormatan
besar bila bertemu kalian berlima. Terimalah salam hormatku, Ki," kata
Dewa Arak sambil membungkuk dengan penuh rasa hormat.
"Sudahlah, Dewa Arak!
Lupakan saja semua peradatan itu. Kau pun mempunyai nama besar yang tidak kalah
dengan kami! Garuda Mata Satu banyak bercerita tentang dirimu!" sergah
salah seorang dari Lima Dewa Hati Emas.
''Tapi, mana bisa dibandingkan
dengan nama besar Lima Dewa Hati Emas," kata Dewa Arak merendah.
Pemuda berambut putih keperakan
ini sama sekali tidak heran melihat wajah, pakaian, dan potongan tubuh Lima
Dewa Hati Emas yang mirip satu sama Iain. Semuanya bertubuh kecil kurus dan
berpakaian putih. Yang membedakan hanya alisnya yang masing-masing berwana
merah, biru, hitam,
putih, dan kuning.
"Mereka adalah guru-guru
dari Gusti Prabu Tanjula, Raja Kerajaan Mandau, Dewa Arak," jelas Garuda
Mata Satu tanpa diminta. "Dan beliau-beliau ini diminta datang oleh Gusti
Prabu, karena ada urusan yang sangat penting! Dan kamilah yang diutus
menjemputnya. O ya, Dewa Arak. Kami akan kembali ke Kerajaan Mandau."
"Selamat, Garuda Mata Satu,
Puspa," ucap Dewa Arak.
''Terima kasih, Dewa
Arak...."
"Ayah!" selak Puspa
Kenaka. "Jangan-jangan gerombolan Mata Malaikat telah menyerbu Kerajaan
Mandau."
"Ah! Kau benar! Mari kita ke
sana sebelum terlambat!" sambut Garuda Mata Satu, cepat.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, rombongan kecil itu langsung melesat
cepat menuju Istana Kerajaan Mandau.
***
Sementara itu, pertempuran
besar-besaran yang berlangsung tampak semakin sengit. Tempat pertarungan pun
telah bergeser. Sekarang, kancah pertarungan sudah tidak terbagi-bagi lagi.
Namun pertarungan masih terus berlangsung acak. Bahkan Mata Malaikat dan
datuk-datuk golongan hitam kini hanya menghadapi pasukan biasa. Maka akibatnya
bisa diduga. Setiap kali tangan atau kaki Mata Malaikat bersama empat datuk
sesat itu bergerak, sudah dapat dipastikan akan ada nyawa yang melayang.
Dan saat Kerajaan Mandau berada
dalam
keadaan terdesak, Dewa Arak, Lima
Dewa Hati Emas, Garuda Mata Satu dan Puspa Kenaka tiba di sana. Tanpa membuang-buang waktu, mereka semua melesat ke dalam kancah pertarungan.
Namun sebelum Puspa Kenaka
terlibat dalam pertarungan, Dewa Arak sudah keburu memanggilnya.
''Tolong jaga Melati,
Puspa," pinta Dewa Arak sambil menyerahkan tubuh kekasihnya.
Tanpa berkata apa-apa, Puspa
Kenaka segera menerima tubuh Melati. Kemudian dia menjauhkan diri, mencari
tempat yang agak jauh dari kancah pertarungan
Dan begitu telah memasuki kancah
pertarung-an, Dewa Arak, Lima Dewa Hati Emas, serta Garuda Mata Satu langsung
mencari lawan! Empat dari Lima Dewa Hati Emas telah menghadang empat datuk
golongan hitam. Sedangkan yang satu lagi terpaksa menghadapi anak buah Mata
Malaikat lainnya. Masalahnya, Dewa Arak telah lebih dulu menghadang Mata
Malaikat.
"Ha ha ha...! Rupanya kau
masih punya nyali untuk menghadapiku, Dewa Arak?! Jangan-jangan, kau akan
melarikan diri lagi! Ha ha ha...!" ejek Mata Malaikat, sambil tertawa
bergelak.
''Tutup mulutmu, Mata Malaikat!
Kali ini jangan harap nyawamu akan kuampuni!"
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak langsung menenggak araknya.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak, dalam perjalanan menuju perut. Sesaat
kemudian, ada hawa hangat yang menjalar di perut Dewa Arak. Kemudian hawa
hangat itu naik ke atas. Maka seketika itu pula tubuh
pemuda berambut putih keperakan
ini oleng ke kanan dan ke kiri. Ini menandakan kalau Dewa Arak telah siap
menggunakan ilmu 'Belakang Sakti'nya.
"Mampuslah kau, Dewa
Arak!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi,
Mata Malaikat langsung menerjang Dewa Arak. Serangannya dibuka dengan sebuah
tendangan kaki kanan miring ke arah leher.
Wuttt!
Deru angin keras yang seiring
luncuran serang-an Mata Malaikat, menjadi pertanda kekuatan tenaga dalam yang
terkandung di dalamnya.
Dewa Arak menyadari kedahsyatan
serangan lawan. Maka, buru-buru kakinya ditarik ke belakang sambil mendoyongkan
tubuh. Sehingga, kaki Mata Malaikat hanya mengenai tempat kosong.
Tapi, tindakan Dewa Arak tidak
hanya berhenti sampai di situ saja. Begitu serangan lawan berhasil dikandaskan,
tangan kirinya diluncurkan untuk menangkap pergelangan kaki Mata Malaikat yang
belum sempat ditarik kembali.
Tappp!
Tangkapan Dewa Arak ternyata
mengenai tem-pat kosong, karena Mata Malaikat telah lebih dulu menarik kakinya.
Tak lupa, dikirimkannya serangan balasan yang tak kalah dahsyat. Sesaat
kemudian, kedua tokoh yang berbeda aliran dan usia ini telah terlibat
pertarungan sengit!
Ternyata, bukan hanya di kancah
pertarungan Dewa Arak dan Mata Malaikat saja yang berlangsung sengit dan ramai.
Meskipun demikian, harus diakui kalau pertarungan antara Dewa Arak melawan Mata
Malaikat paling menarik dan seru.
Sedangkan pada pertarungan antara
empat
datuk golongan hitam melawan
empat dari Lima Dewa Hati Emas, berlangsung kurang seru. Karena tak sampai lima
puluh jurus, para tokoh sesat itu telah berhasil didesak. Tak bisa disangkal
lagi kalau anggota-anggota Lima Dewa Hati Emas terlalu kuat untuk dilawan.
Hal yang sama pun menimpa anak
buah Mata Malaikat lainnya. Memang, semula mereka berhasil mendesak pihak
Kerajaan Mandau, karena adanya lima pentolan tokoh hitam. Dan begitu
tokoh-tokoh yang diandalkan sudah berjatuhan, mereka pun terdesak kembali!
Apalagi, di pihak lawan ada salah
seorang dari Lima Dewa Hati Emas. Meskipun anggota Lima Dewa Hati Emas ini
tidak mau membunuh lawannya, tapi sekali kena sentuhan atau tepakan, sudah
cukup membuat gerombolan Mata Malaikat roboh dan tidak mampu melanjutkan
pertarungan. Dan akibatnya, gerombolan Mata Malaikat jelas akan hancur
berantakan!
Tanda-tanda kehancuran gerombolan
Mata Malaikat diawali oleh robohnya satu persatu empat datuk golongan hitam. Berturut-turut mereka
terjengkang ke belakang dan ambruk di tanah. Tewas dengan isi dada remuk!
Setelah berhasil merobohkan
lawan-lawannya, empat dari lima kakek berpakaian putih yang bergelar Lima Dewa
Hati Emas ini ikut terjun dalam kancah pertarungan yang acak-acakan. Tentu saja
hal ini membuat keadaan anak buah Mata Malaikat semakin kalang kabut.
Belum sampai sepuluh jurus, anak
buah Mata Malaikat yang masih hidup langsung melempar senjata dan menyerah. Dan
tanpa membuang-buang waktu,
prajurit-prajurit Kerajaan Mandau langsung meringkus.
Dengan menyerahnya anak buah Mata
Malai-kat, maka Lima Dewa Hati Emas pun terpaksa harus menganggur. Di saat prajurit-prajurit Kerajaan Mandau sibuk membenahi keadaan di sekitar tempat
itu, lima kakek sakti ini memperhatikan jalannya pertarungan antara Dewa Arak
melawan Mata Malaikat sudah mencapai tahap-tahap penentuan.
"Guru...!"
Sebuah sapaan bernada hormat
membuat Lima Dewa Hati Emas menoleh.
"Ah! Kiranya kau,
Tanjula...!" kata kakek yang beralis merah. "Kau benar. Dialah orang yang
kami cari-cari. Rupanya, Mata Malaikat julukannya. O, ya. Dari mana kau tahu
kalau dia adalah orang yang kami cari-cari, Tanjula? Padahal, kau belum pernah
melihatnya. Dan kami hanya menceritakan tentang matanya yang buta
sebelah."
Prabu Tanjula, Raja Kerajaan
Mandau itu tersenyum lebar.
''Itu hanya dugaanku saja, Guru.
O, ya. Kalau boleh kutahu, apa urusannya Mata Malaikat dengan Guru
berlima?"
"Dia sebenarnya bekas murid
kami. Tapi karena wataknya yang tidak baik, kami mengusirnya. Dan begitu
mendengar berita yang kau bawa, kami memutuskan untuk melenyapkannya. Syukurlah kalau Dewa Arak telah mendahului kami," urai
kakek beralis merah itu panjang lebar. Rupanya, dialah yang paling suka banyak
bicara.
"Hanya untuk masalah Mata
Malaikat saja, Guru berlima sampai datang kemari!"
''Tentu saja tidak. Kami ingin
melihatmu dan
kerajaanmu. Ingat, Tanjula. Kita
sudah dua puluh tahun lebih tidak bertemu."
Prabu Tanjula hanya
mengangguk-anggukkan kepala. Tapi baru saja hendak melanjutkan
ucapannya, terdengar suara keras dari kancah pertarungan.
"Haaat...!"
"Hiyaaat...!"
Ternyata, di jurus kedua ratus
sepuluh, baik Mata Malaikat maupun Dewa Arak sama-sama saling terjang. Dan
begitu sama-sama berada di udara, Mata Malaikat langsung mengegoskan rambu kuncir kepalanya.
Wuttt..!
Rambut berujung bintang segi lima
yang me-ngandung racun jahat itu tiba-tiba meluncur ke arah pelipis Dewa Arak.
Apabila terkena sedikit saja, Dewa Arak pasti tewas.
Dan herannya, kali ini Dewa Arak
mengambil tindakan berbahaya. Lewat perhitungan matang seorang tokoh silat
berkepandaian tinggi, ditangkisnya sabetan rambut Mata Malaikat dengan tangan
kiri. Dan tangkisannya diusahakan agar tidak mengenai bintang segi lima Mata
Malaikat
Tappp! Rrrttt!
Rambut Mata Malaikat seketika
membelit ta-ngan kiri Dewa Arak. Dan tentu saja, tidak melilit secara erat. Maka,
di saat itulah Dewa Arak menghantamkan guci araknya ke dada Mata Malaikat
disertai pengerahan tinaga dalam tinggi sekali.
Wuttt! Bukkk!
Telak dan keras sekali dada Mata
Malaikat
terhantam guci Dewa Arak!
Akibatnya, tubuhnya kontan melayang ke belakang. Darah segar yang memancur dari
mulut, hidung, dan telinganya lang-sung membasahi tanah sepanjang luncuran
tubuhnya yang tanpa nyawa lagi.
Jliggg!
Ringan laksana daun kering, Dewa
Arak men-darat di tanah. Kemudian, langsung dihampirinya Puspa Kenaka untuk
meminta Melati kembali. Tidak dipedulikannya lagi mayat Mata Malaikat. Yang ada
di benak Dewa Arak hanyalah mengobati Melati secepatnya. Dan Dewa Arak tahu, Melati akan sembuh
dalam waktu dekat!
SELESAI
No comments:
Post a Comment