BENCANA
PATUNG KERAMAT
oleh Aji Saka
1
Hari sudah agak siang. Sang Surya
pun sudah mulai meninggi. Angin yang berhembus sudah tidak nikmat lagi dihirup
ke dada, tapi cukup membuat semak-semak dan daun pepohonan di
HutanJatibergoyang-goyang.
"Nah, kurasa tempat ini
cocok, Kang. Sepi! Kecil sekali kemungkinan kita akan mendapatkan
gangguan," sebuah suara kecil dan melengking nyaring menyeruak mengatasi
hembusanangin di Hutan Jati itu.
Suara itu ternyata berasal dari
mulut gadis cantik berpakaian serba putih. Rambutnya hitam panjang dan
dibiarkan melambai-lambaitertiup angin.
Gadis itu tidak sendirian. Di
sebelahnya tampak seorang pemuda berpakaian ungu. Seperri si gadis, pemuda itu
pun memiliki rambut panjang. Hanya saja tidak hitam, melainkan putih keperakan.
Indah sekali kelihatannya.
Pemuda yang berambut putih
keperakan tak langsung menanggapi ucapan gadis berpakaianputih itu. Dihentikan
langkahnya,kemudian diedarkan pandangannya kesekeliling. Tapi yang nampak hanya
pepohonan besar danrimbun daunnya.
"Kau benar, Melati. Tempat
ini memang cocok. Jauh dari keramaian dan terlindung. Seperti katamu tadi,
kecil sekali kemungkinan akan adanya gangguan," sambut pemuda berambut
putihkeperakan,menyetujui usul yang diajukan Melati,gadis berpakaian putih itu.
Sekarang sudah bisa diketahui,
pemuda berambut putih keperakan itu tak lain Arya, yang lebih dikenal dengan
julukan Dewa Arak.
Melati tersenyum manis mendengar
ucapanpersetujuan kekasihnya.
"Kalaubegitu tunggu apa
lagi, Kang?! Mari kita mulai,"ajak Melatipenuh semangat.
"Ayolah!" sahut Arya mengalah.
Melati telah berjalan mendahului,
lalu keduanya nampak mengayunkan kaki menuju sebatang pohon besar yang berada
di dekat situ. Lagi-lagi Melati mendahului duduk di akar pohon yang menyembul
ke atas tanah. Terlihat jelas kalau gadis berpakaian putih itu sudah merasa
tidak sabar.
"Hhh...!" Arya menghela
napas lebih dulu sebelum memulai ucapannya. "Sebenarnya..., mengapa
kauberkeinginan memanggil naga merah dialam gaib itu, Melati?"
"Yang pertama, aku ingin
menambah ilmuku. Kusadari betapa banyak orang sakti di dunia persilatan. Sudah
tidak terhitung banyaknya aku bertemu dengan tokoh-tokoh yang memiliki
kepandaian di atasku. Oleh karena itu timbul keinginanku untuk menambah
ilmu," jawab Melati setelah tercenung beberapa saat lamanya.
"Hm..., mengapa tak menempuh
dengan cara latihan saja, Melati? Dengan sering berlatih dan bersemadi,
kemampuanmu akan meningkat. Dan itu sudah pasti! Akan semakin kuat tenaga
dalammu dan semakin lincah gerakanmu. Dengan sendirinya tingkat kepandaianmu
akan bertambah!"jelas Arya.
"Buru-buru amat Kakang
memberi nasihat?" selak Melati, berpura-pura merengut. "Aku kan belum
mengutarakan semuanya."
"O ya, aku lupa mungkin ada
alasan lain hingga kau berkeinginan memanggil naga merah di alamgaib! Coba
utarakan, Melati!"
"Aku tahu, Kang. Bahkan tahu
pasti, kalau dengan sering berlatih dan bersemadi, kemampuanku akan meningkat.
Tapi, untuk melakukannya sulit sekali. Selalu saja ada
masalah yang kuhadapi. Sehingga
membuatku tidak sempat untuk berlatih. Ini alasan kedua, Kang."
Melati menghentikan ucapannya
untuk mengambil napas.
"Alasan ketiga, karena rasa
ingin tahuku. Bagaimana rasanya kalau tubuh kita termasuki makhluk gaib itu?
Bagaimana rupa naga itu?" lanjut Melati. "Kuakui, di antara ketiga
alasan, yang lebih membuatku bersikeras untuk memasukkan naga di alam gaib ke
dalamdiriku adalahalasan yang ketiga."
Keadaan langsung hening ketika
Melati menghentikan ucapannya, dan Arya belum memberikan tanggapan. Yang
terdengar hanya suara binatang-binatang penghuni hutan, dan gemerisik dedaunan
serta semak-semakdihembus angin.
"Aku tak menyalahkan kalau
kau punya keinginan demikian, Melati. Aku sendiri kalau dalam keadaan seperti
dirimu kemungkinan akan melakukan tindakan yang sama," ujar Arya
bijaksana.
"Lalu..., bagaimana, Kang?
Apa keinginanku bisa kau kabulkan?!" tanya Melati ingin mengetahui
tanggapan pemuda berambutputih keperakanitu.
"Tentu saja! Jangankan hanya
permintaan seperti itu, yang lebih besar lagi pun akan kuusahakan asal kau yang
meminta!" mantap dan tegas jawaban yang keluar dari mulut Dewa Arak.
"Kapan kau ingin melakukannya?!"
"Sekarang, Kang!" tegas
jawaban Melati.
"Baik, kalau itu yang kau
mau! Nah, sekarang dengarkan baik-baik ucapanku ini, Melati!"
Sampai di sini Arya sengaja
menghentikan ucapannya. Maksudnya memberi kesempatan pada Melati agar
mempersiapkandiri mendengar kelanjutan ucapannya.
"Sebelum membawa masuk naga
merah di alam gaib itu ke dalam tubuhmu, perlu kau ketahui secara pasti
keberadaannya dan hal-hal lain yang bersangkut-paut dengan naga merah
itu."
Untuk yang kesekian kalinya Dewa
Arak menghentikan ucapannya. Dan itu dilakukannya dengansengaja, agar Melati
bisa memahamisetiap kata-katanya.
"Naga merah itu bukan
sejenis makhluk ataupun roh, Melati. Dia merupakan sebuah ilmu. Mungkin perlu
kujelaskan sedikit. Di alam gaib, setiap ilmu itu mempunyai bentuk. Hanya saja
tidak bisa kita lihat. Dan karena ilmu, naga merah itu bisa kita bawa masuk ke
dalam tubuh kita.Kaubisa mengerti uraianku ini, Melati?!"
Melati menganggukkan kepala.
Memang, bisa ditangkapnya penjelasan kekasihnya, meskipun tidakbegitu jelas.
Tapi secara kasar Melati mengerti maksud pembicaraan Arya.
"Berbeda dengan ilmu-ilmu
yang dimiliki orang lain, ilmu yang kita miliki, utuh bentuknya. Ilmuku,
'Belalang Sakti', di alam gaib berbentuk seekor belalang raksasa. Demikian pula
dengan ilmu 'Cakar Naga Merah' milikmu, di alam gaib bentuknya berupa seekor
naga berwarna merah darah. Sedangkan ilmu-ilmu yang dimiliki orang lain
rata-rata tidak mempunyai bentuk dialam gaib,"sambung Dewa Arakmenjelaskan.
"Mengapa demikian, Kang?!
Mengapa hanya ilmu kita yang mempunyai bentuk di alam gaib? tanya Melati heran,
setelah terlebih dulu mengernyitkan kening.
"Karena cara pengambilan
ilmu itu berbeda. Guruku..., yang berarti gurumu juga, mengambil ilmu secara
utuh dari belalang dan naga merah yang ada di alam gaib. Hal ini tidak rumit
baginya. Karena beliau telah lebih dahulu menguasai seluk-beluk alam gaib.
Bahkan, ilmu-ilmu yang dimilikinya sebagian besar merupakan ilmu gaib!"
jawab Arya panjang lebar agar Melati jelas."Mengerti, Melati?"
"Mengerti, Kang." Arya
tersenyum lebar.
"Kalau begitu, sekarang kita
masuk pada pokok persoalan. Yaitu, bagaimana caranya memasukkan naga merah di
alam gaib ituke dalam dirimu," lanjutDewa Arak.
"Mudahkah menarik naga merah
ke dalamdiri kita, Kang?!" tanya Melati ingin tahu. Pada sepasang mata
yang berbentuk indah milik gadis berpakaianputih itu, terlihat ada
kilatan rasa gentar. Hal ini
wajar saja. Karena dirinya memang belum tahu pasti kejadian sebenarnya.
"Dibilang mudah, tidak.
Dikatakan sulit.., sebenarnya juga tidak. Jadi, kira-kira setengah sulitlah.
Sedangkan modal terpenting agar usaha yang dilakukan dapat berhasil yaitu
dengan kemauan keras! Lalu yang kedua, penekanan terhadap alam bawah sadar
kita!" jelas Dewa Arak.
Sampai di sini, pemuda berpakaian
ungu itu teringat kembali akan pengalamannya ketika berusaha memasukkan
belalang raksasa ke dalam dirinya (Untuk jelasnya, silakan baca Serial Dewa
Arak, dalam episode: "Dalam Cengkeraman Biang Iblis"). Membutuhkan
kesabaran yang tinggi untuk bisa memasukkan belalang raksasa itu ke
dalamdirinya.
"Jadi...,apa yang harus
kulakukan, Kang?" selak Melati.
Nampaknya gadis itu merasa belum
jelas dengan keterangan kekasihnya. Dia masih belum tahu,bagaimana caranya
memasukkan naga merah ke dalamdirinya.
Dewa Arak tercenung sebentar
untuk mencari kata-kata yang tepat guna memulai nasihatnya.
"Pertama-tama, buang semua
pikiran lain yang ada di benakmu. Kemudian, pusatkan perhatian pada naga merah
yang akan kaubawa masuk kedalamdirimu. Panggillah dia dalam hati, agar masuk
kedalam dirimu. Mengerti, Melati?!"
Gadis berpakaian putih hanya
menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sama sekali tak disangka kalau cara
untuk mendapatkan naga merah demikian mudahnya. Memusatkan pikiran, bagi orang
yang memiliki kepandaian seperti Melati bukan hal yang sulit. Betapa tidak?
Semadi, yang dilakukan sejak mempelajari ilmu silat, telah mengajarkan
cara-cara pemusatan pemikiran. Bagaimana setiap kali dalam menarik napas,
dibayangkan kalau udara yang dihirup mengandung kekuatan dahsyat. Yang ada
sebenarnya berasal dari tiada, itulah prinsipnya!
"Boleh kumulai sekarang,
Kang?" Melati meminta pendapat dengan penuh gairah Arya menganggukkan
kepala pertanda menyetujuinya.
Seketika itu pula wajah Melati
berubah cerah. Dengan senyum manis terkembang di bibir, dirinya mulai duduk
bersila, mengambil sikap seperti tengah bersemadi. Namun, kedua tangannya
tidakterletak di depan dada, melainkandi atas lutut.Memang, Melati bukan hendak
bersemadi,tapi memusatkan pikiranagar dapat memanggil naga merah.
Tak lama kemudian, Melati mulai
tenggelam dalam alun pikirannya. Segenap hati, perasaan, dan pikiran dicurahkan
untuk naga merah. Suasana menjadi hening, karena tidak ada lagi di antara
mereka yang bersuara.
Dewa Arak pun berdiam diri di
tempatnya. Jangankan berbicara, bergerak pun tidak. Pemuda berambut putih
keperakan ini khawatir kalau gerakan yang dilakukan akan mengejutkan Melati.
Bahkan,bernapas punagak ditahan-tahan.
Waktu berlalu terasa demikian
lambat bagi Dewa Arak. Apalagi berdiam diri begitu saja, tanpa ada yang harus
dilakukan. Dengan sendirinya waktu pun berjalan seperti keong merayap. Lambat
sekali!
Semula Dewa Arak mengarahkan
pandangan ke tanah, tapi lama-kelamaan bosan sendiri. Maka biji matanya pun
diedarkan ke sana kemari, memperhatikan sekelilingnya tanpa menggerakkan leher.
Akhirnya bosan juga. Perhatian
Dewa Arak kembali dialihkan. Kali ini ke tubuh Melati. Yang pertama kali
dilihatnya wajah kekasihnya, tampak cantik bukan kepalang. Dan dalam keadaan mata
terpejam seperti itu, Melati seakan tengah menunggu Dewa Arak untuk berbuat
sesuatu.
Karuan saja, hal itu membuat
jantung Arya berdetak kencang. Tenggorokannya pun dirasakankering, dan
susah-payah ditelanair liurnya. Di benak Arya mulai berputaranpikiran-pikiran
indah.
Perhatian Dewa Arak mulai
beralih. Dan hatinya langsung memuji, setiap kali sepasang matanya terpaku di
satu titik. Mulai dari dahi Melati yang licin, putih, hahis, dan terlihat
begitu mulus. Lalu merayap turun ke pipi yang agak kemerahan, juga hidungnya
yang bangir, bibir yang indah, ranum, terlihat menantang. Semua itu membuat
jakun Dewa Arak turun naik. Serentetan kata-kata pun muncul di relung hatinya,
Melati memang seorang gadis yang memiliki kecantikan sempurna!
Ada suatu dorongan kuat yang
tiba-tiba membuat Dewa Arak mendekatkan wajahnya ke wajah Melati. Hati-hati
sekali, pemuda berambut putih keperakan ini melaksanakan tindakannya. Meskipun
demikian, sedikit demi sedikit jarak antara dua wajah semakin dekat Arya lupa
akan keinginannya semula untuk tak mengganggu kekasihnya.
Cuppp!
Pelan sekali mulut Arya menyentuh
dahi Melati. Tapi, kecupan itu sudah cukup membuat gadis tersentak kaget dan
segera menjauhkan tubuhnya. Raut wajahnya
memancarkan keterkejutan yang
amat sangat. Namun, ketika disadari hal yang telah terjadi, dan orang yang
melakukannya,Melati menghembuskannapas lega.
"Hhh...! Kau
mengejutkankusaja, Kang," ujar Melati pelan.
"Maaf, Melati! Aku...,aku
tidaksengaja,"sahutDewa Arak terbata-bata karena gugup. Perasaan gugup
muncul ketika teringat bahwa tindakannya telah mengganggu Melati.
Usaha gadis berpakaianputih itu
batal,dantentu saja harus diulang dari semula.
"Ah..., tidak apa-apa,
Kang," ucap Melati buru-buru karena tahu perasaan yang tengah berkecamuk
di hati kekasihnya. "Lagi pula,aku sendiri memang sudah ingin
menghentikannya. Untuk pertama kali kurasa cukup sampai di sini
dulu.Perkenalan!" lanjutnya sambil tersenyum pada Dewa Arak,
Memang, cukup lama juga Melati
tenggelam dalam alun pikirannya. Mulai dari matahari belumberada diatas
kepala,sampai hampir condong ke barat!
"Maafkan aku, Melati! Aku
telah membuat usahamu sia-sia. Ah...! Keinginan itu muncul begitu tiba-tiba.
Dan aku tak sempat menyadarinya...," perasaan bersalah yang melanda belum
juga lenyap dari hati Arya.
"Lupakanlah, Kang! Toh,
usahaku sama sekali tak sia-sia. Lagi pula, masih ada kesempatan lainnya
kan?"
Ada nada tantangan dalam ucapan
itu, meskipun samar-samar. Namun, cukup untuk dapat ditangkap Arya.
"Kalau begitu...,"
ucapan pemuda berambut putih keperakan itu terhenti sebelum selesai.
"Kenapa, Kang...?!"
tanya Melatisambil tersenyum menggoda.
Dewa Arak diam. Kelihatan hatinya
merasa ragu-ragu melanjutkan ucapannya. "Kenapa sih, Kang...?!" rajuk
Melati, tak sabarari menunggu ucapan selanjutnya dari
mulut kekasihnya.
"Bagaimana kalau kuteruskan
tindakanku tadi. Hanya saja, kali ini dengan sepengetahuanmu?!" Arya nekat
meneruskan ucapannya meskipun dengan suara bergetar dan serak karena malu
bercampur ragu.
Tak ada tanggapan sama sekali
dari Melati. Baik berupa ucapan maupun anggukan kepala. Gadis berpakaian putih
itu hanya menundukkan kepala. Namun, Arya sama sekali tak khawatir melihat
sikap yang ditunjukkan kekasihnya. Dirinya tahu kalau Melati tak marah padanya.
Dia hafal benar bagaimana tanda-tanda kalaukekasihnya itu tengah marah.
Oleh karena itu, Arya yang sejak
tadi sudah terbuai bayangan-bayangan nikmat yang melintas-lintas di pikirannya,
tanpa ragu-ragu meneruskan tindakannya. Dengan perlahan-lahan dan hati-hati
sekali, pemuda berambut putih keperakan mengulurkan tangannya. Kemudian, dengan
jari telunjuk dipegangnya dagu Melati. Lalu diangkatnya secara perlahan-lahan
danbegitu lembut.
Dan sepeiti yang diduga Dewa
Arak, tak ada perlawanan sama sekali atas tindakan yang dilakukannya. Melati
pasrah. Gadis berpakaian putih itu membiarkan saja tindakan kekasihnya yang
memaksanya untuksaling bertatapan wajah.
Kemudian perlahan-lahan Dewa Arak
mendekatkan wajah. Tetap tak ada tanggapan dari Melati. Bah-kan, ketika
akhirnya wajah Arya menyentuh wajahnya. Melati baru memberikan tanggapan ketika
Arya mulai melumat bibirnya. Gadis berpakaian putih itu balas memagut dengan
tubuhsaling berangkulan erat.
Rupanya Arya benar-benar sudah
kehilangan kesadarannya. Yang ada di benaknya hanya menuruti secara membuta,
keinginan yang tak tertahankan. Ciuman dan kecupan yang semula hanya bersarang
di wajah Melati, kini mulai merayap ke leher. Sehingga, membuat tubuh Melati
menggeliat-geliat ke sana ke-mari karena rasa geli bercampur nikmat yang mulai
melanda sekujur tubuhnya.
Tindakan Arya semakin menggila.
Kini, kedua tangannya pun mulai bergerilya, berusaha melepaskan pakaian Melati.
Dan Melati, yang juga sudah lupa daratan, membiarkan saja tindakan kekasihnya.
Bahkan dirinya nampak membantu tangan Dewa Arak membuka pakaiannya.
Sudah dapat dipastikan segalanya
akan terjadi, kalau saja tidak ada sesuatu yang tiba-tiba membuatDewa Arakdan
Melati tersentak kaget. Dan sesuatu itu adalah....
"Aaakh...!"
Jeritan panjang menyayat keluar
dari mulut seseorang yang berada di ambang kematian, memecahkan kesunyian yang
melingkupi Hutan Jati. Jeritan itulah yang membuat
Dewa Arak dan Melati terkejut,
dan seketika langsung menyadari ketidakpantasan sikap mereka,
"Ah..., eh..., ma... maafkan
aku, Melati!" untuk yang kesekian kalinya Arya mengeluarkan ucapan minta
maaf.
Wajah pemuda berambut putih
keperakan itu memerah karena perasaan malu yang mendera, setelahmenyadari
ketidakpantasan kelakuannya barusan.
"Ti...
tidakapa-apa,Kang," jawab Melati gugup.
Seperti Arya, dia pun merasa
malu. Apalagi ketika menyadari letak pakaiannya yang sudah tidak karuan.
Buru-buru dirapikan lagi.
"Kau dengar suara jeritan
tadi, Melati?" tanya Dewa Arak mencoba mengalihkan perhatian untuk
menghilangkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka. Terdengar jelas kalau
suara Arya belum pulih. Masih bergetar dan memburu akibat dorongan perasaan
yang mendera.
Melati menganggukkan
kepala.Wajahnya nampak dingin dan kaku.
"Sepertinya ada orang yang
membutuhkan pertolongan...,"jawab Melatisekenanya. "Kalaubegitu, mari
kita kesana!"ajakDewa Arak lagi.
Kali ini tidak ada suara keluar
dari mulut Melati. Gadis berpakaian putih itu hanya menganggukkan kepala
pertanda menyetujui ajakankekasihnya.
Melihat sikap Melati, tanpa
menunggu lebih lama lagi, Dewa Arak segera melesat menuju asal jeritan keras
tadi. Melati pun mengikuti di belakangnya. Sesaat kemudian, Dewa Arak dan
Melati seperti berlomba untuk bisa lebih dulu tiba.
Begitu cepat lari Dewa Arak dan
Melati. Sehingga, bentuk tubuh mereka lenyap, yang terlihat hanya kelebatan
bayangan putih dan ungu saling mengejar.
Karena ilmu meringankan tubuh
sepasang pendekar muda itu telah mencapai tingkatan tinggi, hanya dalam
beberapa kali lesatan, mereka telah mengetahui penyebab timbulnya jeritan
menyayat. Memang, untuk mencapai tempat itu keduanya harus melalui kerimbunan
semak-semak dan pepohonan yang cukup lebat. Tapi tentu saja bagi sepasang
muda-mudi itu, hambatan seperti demikian sama sekalitakberarti.
Dewa Arak dan Melati langsung
terperanjat, ketika berhasil mengetahui asal timbulnya jeritan menyayat. Tanpa
sadar keduanya melangkah mundur denganwajah bersemu merah!
Betapa tidak? Di hadapan mereka,
dalam jarak sekitar tiga tombak, berdiri sebuah patung besar yang berbentuk
aneh. Patung itu berwajah manusia dan berbadan kuda, tapi berdiri dengan dua
kaki. Kedua kaki yang di atas, berbentuk seperti tangan manusia dengan
kedudukan jari saling dirangkapkan.Danpada bagian mulutnya ada taring.
Namun, yang lebih menggiriskan
hati adanya dua buah tanduk pada bagian atas kepalanya. Ditambah sepasang
matanya yang bagaikan hidup, mencorong! Hal itu bisa terjadi karena mata
makhluk itu terbuatdari intan.
Namun, yang menarik perhatian
Dewa Arak dan Melati bukanlah besar dan tinggi patung yang hampir dua kali
lipat manusia biasa. Melainkan sosok yang tergantung di tangan patung itu.
Sosok ituseorang wanita muda yang pakaiannya terkoyak-koyak.
Menilik dari keadaannya, bisa
diketahui, wanita berpakaian compang-camping itu telah tewas. Lidahnya terjulur
keluar, dan sepasang matanya yang membelalak lebar menjadi tanda kematiannya.
Rupanya wanita ini mati tercekik. Memang ada tali yang melilit lehernya dan
terikat pada tangan patung. Sehingga tubuh wanita itu nampaktergantung!
2
"Keparat! Siapa pun pelaku
kekcjian ini, jangan harap akan bisa lolos dari tanganku!" desis Arya
penuh kemarahan.
"Benar, Kang! Penjahat keji
ini harus kita kirim ke akhirat!" sambut Melati dengan suara tak kalah
geram.
Wajar saja kalau Dewa Arak dan
Melati merasa murka. Karena keadaan wanita itu begitu mengenaskan. Memang, dia
mati karena jeratan tambang. Namun, baik Dewa Arak maupun Melati tahu belaka
bahwa sebelum dibunuh, wanita itu telah diperkosa dulu. Tanda-tanda itu nampak
jelas. Baik dari pakaiannya yang compang-camping maupun pada keadaan tubuhnya.
"Lebih baik kau turunkan
tubuhnya dulu, kasihan kalau dia harus tergantung terus di sana,"sambil
ber-kata demikianDewa Arak menundukkan kepala.
Tentu saja ada alasan yang
membuat Dewa Arak melakukan hal seperti itu. Keadaan pakaian mayat wanita yang
compang-camping itulah penyebabnya. Dengan keadaan pakaian seperti itu,
bagian-bagian tubuhnya menyeruak di sana sini.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Melati segera menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian tubuhnya melayang ke
atas.Lalu tangannya pun digerakkanmembacok!
Tasss!
Luar biasa! Tali penggantung
tubuh wanita malang itu pun putus. Rupanya dalam pengerahan tenaga dalamnya,
Melatimampumembuat tangannya setajam pedang.
"Hup!"
Dengan sigap Melati menangkap
tubuh wanita berpakaian compang-camping itu sebelum jatuhdi tanah. Lalu,...
Jliggg!
Dengan begitu ringan kedua kaki
Melati hinggap di tanah. Dalam keadaan memondong mayat seorang wanita, gadis
berpakaian putih itu mampu mendarat secara manis dan mengagumkan.
Melati mengedarkan pandangan
berkeliling. Hal itu membuat Dewa Arak merasa heran. "Apa yang kau cari,
Melati?" tanya pemuda berambut putih keperakan ingin tahu. "Tempat
yang baik untuk mengubur mayat wanita malang ini, Kang. Aku tidak sampai
hati membiarkan mayatnya begitu
saja. Paling tidak kita bisa memberinya tempat istirahat yang cukup
nyaman," jawab Melati.
"Kau benar, Melati,"
hanya jawaban itu yang diberikan Dewa Arak. Disadari ada kebenaran
dalampendapat Melati.
Melati hanya melemparkan seulas
senyum tipis. Kemudian diayunkan kakinya menuju sebatang pohon kamboja. Gadis
berpakaian putih bermaksud mengubur wanita yang malang itu di sana.
Sementara itu, Dewa Arak hanya
mengawasi semua tindakan Melati. Namun, sikap pemuda berambut putih keperakan
ini tampak waspada. Nampaknya Dewa Arak telah bersiap-siap untuk menghadapi
kemungkinan yang bakal terjadi. Barangkali saja orang yang telah melakukan
kekejian itu masih berada di sekitarnya dan saat ini tengah bersiap untuk
melancarkan serangan mendadak.
Dewa Arak tidak hanya mengawasi
Melati. Keadaan di sekitarnya pun diperhatikan secara seksama. Namun, dari
hasil pengamatannya, bisa diketahui kalau pelaku tindak
kekejian itu sudahtidakberada
lagi di sinl Hanya anehnya,mengapa perasaannya mengatakan, bahwa ada orang lain
selain dirinya, Melati, danwanita malang itu, di sekitar sini?
Dewa Arak tidak berani
mengenyampingkan perasaannya. Dirinya tahu kalau perasaan itu bukan sembarang
perasaan.Tapi, naluri yang telah dimiliki semenjak belalang raksasa dari alam
gaib masuk ke dalam dirinya. Dan Arya telah beberapa kali membuktikan kebenaran
nalurinya itu.
Melati segera menjejakkan kakinya
dan melayang ke atas. Lalu tangannya pun
digerakkan membacok!
Tasss!
Luar biasa! Rupanya Melati mampu
membuat tangannya setajam pedang! Tali penggantung tubuh wanita malang itu pun
putus, dan tubuh wanita itumeluncur ke bawah!
Oleh karena itu, kali ini Dewa
Arak tidak mau menyepelekannya begitu saja. Kembali diedarkan pandangannya ke
sekeliling untuk memastikan kebenaran dugaannya. Hasil yang didapatnya
sama!Tidakterlihat seorang pun disekitar tempat itu.
Mungkin kali ini naluriku keliru,
batin Dewa Arak karena nalurinya tetap mengatakan adanya orang laindi sekitar
tempatitu.
Lalu Arya mengalihkan perhatian
pada Melati yang telah menyelesaikan tugasnya. Sesaat kemudian Melati
telahberada di dekatDewa Arak.
"Ada apa,Kang?" tanya
Melati.
Memang, meskipun Arya tidak
memberitahu, dan pada wajah dan sikapnya tidak menampakkan perasaan apa pun,
Melati telah mengenal kekasihnya secara mendalam. Itulah sebabnya gadis itu
tahu,ada sesuatu yang tengah dipikirkandi benak Dewa Arak.
"Hhh...!" Dewa Arak
lebih dulu menghembuskan napas berat sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Aku merasakan adanya kehadiran orang lain di sekitar sini, Melati.
Tapi..., betapapun telah kupasang mata dan pendengaranku ke sekeliling, tetap
tak kutemukan keberadaan orang itu. Apakah perasaanku keliru?!" pertanyaan
ini seperti tidak ditujukan kepada Melati, melainkan kepada dirinya sendiri.
Melati tidak langsung menanggapi
pertanyaan itu. Wajahnya tercenung sejenak. Telah diketahuinya kalau Arya
mempunyai perasaan yang amat tajam, yang lebih tepat disebut naluri. Dan
biasanya perasaan itu benar. Tapi kini pemuda berambut putih keperakan itu
merasa bimbang terhadap nalurinya sendiri.
"Kalau menurutku...,
perasaanmu benar, Kang. Ada seseorang berada di sekitar sini. Hanya mungkin
berada ditempat tersembunyi."
"Mungkin kau benar, Melati.
Kalau begitu kita harus lebih berhati-hati. Bukan tak mungkin orang yang
bersembunyi itu tengah merencanakan sesuatu," ujar Dewa Arak pada Melati
dengan suara yang jauh lebih pelandari sebelumnya.
Melati menganggukkan kepala.
"Kita berada di pihak yang
tidak menguntungkan, Melati. Orang itu tahu kedudukan kita, sedangkan kita sama
sekali tidak tahu keberadaannya. Kita harus meningkatkan kewaspadaan,"
lanjut Arya memperingatkan kekasihnya.
Untuk yang kedua kali Melati
hanya menganggukkan kepala. Sementara Dewa Arak mulai mengalihkan perhatian ke
patung besar yang memiliki wujud aneh. Melati pun mengarahkan pandangan seperti
yang dilakukan Arya.
"Kau tidak melihatadanya
keanehan,Melati?" tanya Dewa Arak ingin tahu.
Melati mengedarkan pandangan ke
sekelilingnya sejenak. Kemudian perlahan digelengkan kepalanya.
"Tidak,Kang. Aku tidak
melihatkeanehan yang kau maksudkan."
"Patung itu, Melati,"
ujar Dewa Arak sambil menudingkan jari telunjuk ke patung yang tingginya hampir
mencapai dua tombak itu.
"Aku tidak melihat adanya
keanehan yang kau maksudkan,Kang," jawab Melati setelah memperhatikan
patung itu beberapa saat "Apakah bentuknya yang kau maksudkan?"
"Bukan, Melati," kata
Dewa Arak."Bukan itu keanehan yang kumaksudkan." "Lalu
apa,Kang?" ujar Melati.
"Keberadaan patung ini,
Melati Patung ini berbeda dengan pepohonan dansemak-semak yang ada
disini..."
"Ah! Ucapanmu semakin ngawur
dan aneh, Kang!" selak Melati cepat, dan tidak sabar. 'Tanpa kau katakan pun
aku tahu, patung itu berbeda dengan pepohonan, semak-semak, dan juga
binatang-binatang."
"Bukan itu maksudku,
Melati," jelas Dewa Arak dengan sabar. "Begini. Apakah kau merasa
heran dengan keberadaan pepohonan dan semak-semak yang ada di sekelilingmu,
Melati?"
"Lho?! Mengapa aku harus
heran?! Ini hutan,Kang. Merupakansesuatu yang wajar,dan bahkan keharusan kalau
di tempat ini ada pepohonan dan semak-semak! Mengapa kau malah
mempertanyakannya?" bantah Melati, heran.
"Nah! Itulah yang
kumaksudkan, Melati. Tempat ini adalah hutan. Keberadaan pepohonan dan
semak-semak di tempat ini tidak aneh. Bahkan andaikata tempat ini bukan hutan
pun, keberadaan pepohonan dan semak-semak bukan hal yang patut dipertanyakan.
Mengapa demikian? Karena pepohonan dan semak-semak terjadi atas kekuasaan
Tuhan. Dengan kata lain, bukan buatan manusia. Tapi patung itu...?" tanya
Arya setelah memberi penjelasanpanjang lebar.
"Sekarang aku mengerti
maksudmu, Kang," sahut Melati sambil mengangguk-anggukkan
kepala."Sekarang aku mengerti mengapa kau mengatakan kalau patung ini
berbeda dengan pohon. Patung ini tidak mungkin terjadi begitu saja. Jadi, jelas
tak mungkin berada di sini kalau tidak ada yang menciptakan."
"Tepat! Itulah yang
kumaksudkan, Melati!" sambut Arya cepat. "Ada orang yang
membuatnya.Dansiapa pun orangnya tentu punya maksud tertentu."
Melati kontan tercenung. Disadari
ada kebenaran yang tidak bisa dibantah dalam ucapan kekasihnya.Dan sekarang,
gadis itu tengah memikirkan maksud dan tujuan orang yang telah membawa patung itu
ke hutan ini
"Apa kausudahpunya dugaan,
Kang?" tanya Melati, ingin tahu.
"Ya," jawab pemuda
berambut putih keperakan singkat "Patung ini diciptakan sebagai alat
pembantaian yang ditujukan untuk sebuah maksud. Yahhh..., misalnya pemujaan
terhadap roh-roh yang ada di alam ini. Dan, kalau dugaanku benar, pelakunya
mungkin merupakan sekelompok orang yang menganut suatukepercayaan keji!"
jelas Arya panjang lebar.
"Ya, mungkin kau benar,
Kang," Melati mendukung dugaan kekasihnya. "Kalau begitu, kita harus
segera mencegah terjadinya tindak kekejian berikutnya, Kang!"
"Tentu saja,
Melati!"tandas Arya mantap."Kita harus melakukan penyelidikan."
'Tapi dari mana kita harus
memulainya, Kang? Titik terang persoalan ini sama sekali belum kita
dapatkan."
"Kita mulai saja dari
bukti-bukti yang telah kita dapatkan," jawab Arya. "Patung ini dan
wanita itu.Kau ingat ciri-cirinya kan, Melati?"
Gadis berpakaian putih itu
menganggukkan kepala. "Nah, kita mulai dari patung ini dulu!"
Usai berkata demikian, maka
pendekar muda yang telah menggemparkan dunia persilatan dengan julukan anehnya
itu, mengayunkan langkah mendekati patung. Hal yang sama pun dilakukan Melati.
"Hm..., patung ini ternyata
telah lama dibuat, Melati. Menilik dari keadaannya... jelas usianya jauh lebih
tua dari umur kita," ucap Arya seraya memperhatikan penuh seksama keadaan
patung berwujud aneh di hadapannya.
Melati tak memberikan tanggapan.
Namun dirinya mengakui kalau kesimpulan kekasihnya kemungkinan besar, benar.
Keadaan patung memang sudah tidak bisa dikatakan baru lagi. Selain hampir
sekujur bagian patung telah ditumbuhi lumut, tanda-tanda kalau usia patung itu
telah tua pun terlihat jelas.
"Berarti..., kalau patung
ini merupakan tempat dilangsungkannya sebuah upacara keji sekelompok orang yang
menganut kepercayaan aneh, tentu telah berlangsung lama, tahunan. Bahkan
mungkin belasan,ataupuluhan tahun!" lanjutArya lagi.
"Tapi, sepengetahuanku...
upacara seperti itu hanya dilangsungkan pada waktu-waktu tertentu, Kang.
Misalnya pada waktu bulan purnama. Sedangkan saat ini tidak, Kang," bantah
Melati.
"Hm... kau benar,
Melati," sahut Arya dengan suara mendesah, menyadari kebenaran bantahan
kekasihnya. "Hhh...!Persoalan ini mulai rumit."
Usai berkata demikian, sejenak pemuda
berambut putih keperakan tercenung. Kernyitan dahinya, memperlihatkankalau Arya
tengahberpikir.
"Bagaimana kalau kita
mengungkapnya melalui wanita malang itu, Kang?" usul Melati tiba-tiba.
"Apa boleh buat," ucap
Arya sambil mengangkat bahu. "Penyelidikan tentang patung ini telah buntu
sampaidi sini. Dan sekarang kita lanjutkanpenyelidikan terhadap wanita itu.
Tapi, tidak berarti penyelidikan kita terhadap patung ini terhenti, Melati.
Kita selidiki terus keduanya. Mari, Melati!"
Lalu Dewa Arak mengayunkan kaki
meninggalkan tempat itu, diikuti Melati. Sepasang muda-mudi itu sama sekali
tidak tahu kalau dari atas sehuah pohon besar yang berdaun rimbun, ada sepasang
mata yang tengah memperhatikantingkah mereka.
***
"Hhhh...!"
Sebuah helaan napas berat keluar
dari mulut seorang lelaki bertubuh pendek dan kekar yang tengah mondar-mandir
di depan pintu rumahnya. Raut wajahnya menyiratkan kegelisahan. Sementara
pandangannya tertuju ke satu arah.
"Bagaimana,Kang? Warsini
sudah pulang?"
Seiring terdengarnya pertanyaan
yang sarat dengan rasa kekhawatiran, di ambang pintu menyeruak sesosok mungil
berusia tidak muda lagi. Seperti juga wajah lelaki pendek kekar, wajah wanita
mungil itu diselimuti perasaankhawatir yang amatsangat.
"Belum, Ni," jawab
lelaki pendek kekar tanpa mengalihkanpandangannya, tetap tertuju ke satu
tempat.
"Kalau begitu, cepat susul,
Kang. Aku khawatir terjadi sesuatu atas dirinya," seru wanita mungil
dengan perasaankhawatir yang sudah takbisa dibendung lagi.
Kini lelaki pendek itubaru
membalikkan tubuhnya.
"Jangan mengharapkan yang
tidak-tidak, Ni! Desa kita aman. Kau tahu, selama ini tak pernah terjadi
peristiwa yang mencemaskandi sini. Karena itu tenangkanlah dirimu!"
"Bagaimana aku bisa tenang,
Kang!" sergah wanita mungil itu keras. "Warsini itu anakku, dan
sampai sekarang belum pulang! Hhh...! Kalau tahu akan begini, tak akan
kuizinkan dirinya pergi tadi! Warsini..! Anakku... oh...!"
"Ni...! Tak usah kau
khawatirkan! Tenangkan saja hatimu. Toh, dia tidak sendiri. Ada Barada yang
menyertainya. Aku yakin Barada akan mampu melindunginya kalau ada bahaya
mengancam," ujar lelaki pendek kekar,berusaha menenangkan hati istrinya.
"Tapi mana bukti kebenaran
ucapanmu, Kang?! Nyatanya sekarang Warsini belum juga kembali! Tanda-tanda
kemunculannya pun belum terlihat. Padahal sebentar lagi malam akan
tiba.Ohhh..., Warsini, anakku! Apa yang terjadi atas dirimu, nak!" keluh
wanita mungil itu.
"Diam!" bentak lelaki
pendek kekar kehilangan kesabaran. "Kau pikir hanya kau yang merasa
cemas?! Aku juga! Warsini bukan hanya anakmu! Tapi, juga anakku! Kau dengar?!
Aku juga menyayanginya! Tapi, tidak dengancara begitu mempertunjukkanperasaan
sayang itu!"
"Kalau begitu, mengapa kau
tidak mencarinya, Kang?! Mengapa?! Mengapa kau malah diam saja di sini?!"
perasaan kalap yang melanda, membuat wanita mungil itu tak bisa menggunakan
pikirannya dengan benar.
"Hhh...!"
Lelaki pendek kekar menghembuskan
napas berat untuk menenangkan gejolak perasaan yang tengah melandanya. Disadari
kalau dirinya menanggapi ucapan-ucapan istrinya dengan keras, persoalan akan
semakin meruncing. Hal itu sama sekali tidak diinginkannya, sebab saat
itunampak istrinya telah kehilangan pikiran jernihnya.
"Aku bukan tak mampu
mencarinya, Ni! Aku hanya khawatir akan terjadi selisih jalan. Hal itulah yang
membuatkuragu untuk menyusulnya."
"Aku tak peduli! Yang
penting, Warsini harus kembali! Oh, Warsini, anakku! Betapa malangnya nasibmu,
nak!"
Dan wanita mungil itu menangis
mengguguk. "Hhh...!"
Telah yang kesekian kalinya
lelaki pendek kekar menghela napas berat untuk melonggarkan isi dadanya yang
dirasakan sesak. Kalau menuruti perasaan, mungkin sudah dimaki-maki istrinya.
Dirinya tengah kebingungan hebat, menghadapi tindakan-tindakan istrinya.
Sehingga beban perasaan yang harus ditang-gung semakin berat.
"Baiklah kalau itu yang kau
inginkan, Ni. Aku akan memberitahukan kejadian ini pada yang lain. Sekarang,
lebih baik kau masuk ke dalam. Kunci pintu dan janganbuka sebelum aku
kembali!"
Kali ini wanita mungil itu tidak
banyak membantah lagi. Sambil menyusut air matanya dia membalikkan tubuh,
kemudian mengayunkan kaki kedalam. Dan....
Trakkk!
Pintu rumah telah dikuncinya.
"Hhh...!"
Lelaki pendek kekar itu kembali
menghembuskan napas berat sebelum menghampiri kentongan yang tergantung di
sudut rumah. Diulurkan tangan mengambil kayu pemukulnya, lalu dipukulnya ke
badankentongan itu.
Tong! Tong! Tong!
Bunyi kentongan pun terdengar
memecahkan suasana sepi seluruh desa. Karena malam memang telah turun. Dan
penduduk Desa Ginang yang sebagianbesar petani, telahbersiap-siap untuk
melanglang buana kealammimpi setelah seharian bekerja keras.
Hal yang sama hendak dilakukan
seorang petani yang tempat tinggalnya tidak jauh dengan lelaki pendek kekar.
Lelaki itu tengah rebahan di balai bambu ketika mendengar suara kentongan.
Tong! Tong! Tong
Kentongan tanda bahaya? Pikirnya.
Seketika itu pula lelakibertubuh
tinggi besar ini melompat bangun. "Mau ke mana, Kang?" tegur
istrinya.
"Kau dengar bunyi kentongan
itu?" lelaki tinggi besar itubalas bertanya. Sang istri yang bertubuh
gemuk, menganggukkan kepala.
"Arahnya dari sebelahkiri,
Kang."
"Ya. Kau tunggu di sini. Ada
orang yang membutuhkan pertolongan,"sahut petani itu. Tak lama kemudian,
lelaki tinggi besar itu bergegas keluar dari dalam dan menuju ke
pintu. Lalu membukanya dengan
cepat. Dan setelah berada di luar rumah, langsung dihampirinya kentongan.
Sesaat kemudian...,
Tong! Tong! Tong...!
Isyarat tanda bahaya yang
dikirimkan lelaki pendek kekar, disambung oleh lelaki tinggi besar. Tak lama
kemudian, bunyi kentongan lain pun menggema di seluruh penjuru Desa Ginang
mengisyaratkan adanya bahaya. Sesaat kemudian, lelaki pendekkekar telah
berkumpul belasan pendudukDesa Ginang dengan obor terangkat tinggi-tinggi di
atas kepala.
"Apa yang telah terjadi,
Gobar?" tanya seorang lelaki setengah baya berpakaian putih. Sikapnya
terlihat penuh wibawa. Apalagi karena raut wajahnya penuh dengan sorot
ketenangan. Dialah Kepala Desa Ginang, Ki Sagotra namanya.
"Anakku, Ki," lapor
lelaki pendek kekar yang ternyata bernama Gondewa. "Anakku belum
kembali."
"Apa yang terjadi dengan
anakmu, Gondewa? Ceritakanlah secara jelas!" masih tetap tenang ucapan Ki
Sagotra.Tampak jelas kematangansikapnya.
Gondewa tak langsung menjawab
pertanyaan itu. Dia tercenung sebentar, mencari kata-kata yang tepat untuk
memberitahukan peristiwa yang telah terjadi. Sementara Ki Sagotra dan belasan
penduduk Desa Ginang menunggu keluarnya penjelasan Gondewa dengan perasaan tak
sabar.
"Begini, Ki. Tadi menjelang
siang, anakku, Warsini berniat pergi ke rumah kakeknya. Karena tempat tinggal kakeknya cukup jauh, istriku menyuruh Barada, untuk
mengantarkannya. Memang, Barada yang biasanya mengantarkan jika Warsini hendak
ke sana."
Gondewa menghentikan ceritanya
sejenak untuk mengambil napas. Sementara Ki Sagotra dan para penduduk desa
dengan sabar mendengarkan penuturan itu. Sama sekali mereka takbermaksud
menyelaknya. Mereka semua tahubahwa Barada adik Gondewa.
"Tapi, sampai sekarang
mereka belum kembali. Padahal, biasanya sebelum matahari condong ke barat,
Warsini dan Barada telah berada di rumah. Aku khawatir terjadi sesuatu terhadap
mereka berdua. Itulah sebabnya segera kupukul kentongan," tutur Gondewa
mengakhiri ceritanya.
"Di mana tempat tinggal
kakeknya,Gondewa?" tanya Ki Sagotra. "Di Desa Dadap," jawab
Gondewa cepat.
"Hm..., berarti kita harus
melewati mulut HutanJati," desah Ki Sagotra. "Benar, Ki," jawab
Gondewa sambil menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi? Mari kita mencarinya! Kau tahu jalan yang dilalui anakmu kalau pergi ke
sana,Gondewa?" tanya Ki Sagotra lagi.
Gondewa menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu lewat jalan
mana biasanya anakku pergi. Tapi, aku tahu jalan pintas untuk menuju ke
sana."
"Kalau begitu..., kita pakai
jalan yang biasa kau lalui saja," putus Ki Sagotra. "Mari kita
berangkat!"
Sesaat kemudian rombongan
penduduk Desa Ginang pun mulai bergerak menuju Desa Dadap. Ki Sagotra dan
Gondewa berada dibarisanterdepan.
3
"Kang...!Lihat...!"
seru Melati sambil menudingkan jari telunjuknya.
Arya menolehkan pandangan ke arah
yang ditunjuk kekasihnya. Terlihat api obor tengah menuju arah mereka berdua.
Jumlahnya belasan. Alis pemuda berambut putih keperakan itu berkernyit dalam.
"Aneh...! Apa yang akan
dilakukan mereka malam-malam begini?!" desah Dewa Arak keras. "Apakah
mereka akanmenuju Hutan Jati?"
Saat itu, Arya dan Melati baru
saja keluar dari mulut Hutan Jati.
"Jangan-jangan..., mereka
rombongan orang yang akan melakukan upacara keji itu, Kang?!" duga Melati.
"Mungkin dugaanmu benar,
Melati. Tapi lebih baik jangan melakukan tindakan apa pun. Siapa tahu, dugaan
kita keliru. Barangkali mereka rombongan orang yang tengah mencari wanita
malang tadi. Aku yakin, wanita itu berasal dari salah satu desa di sekitar
sini," urai Dewa Arak panjang lebar.
Melati mengangguk-anggukkan
kepala karena merasa kalau dugaan Dewa Arak lebih mendekati kebenaran. Karena
biasanya hanya penduduk desa dan yang kebetulan tengah melakukan suatu pencarian,beramai-ramaidan
menggunakan obor.
"Lalu..., sekarang bagaimana
baiknya, Kang? Kita teruskan perjalanan, atau bersembunyi di sini sambil
mengawasi keadaan selanjutnya?" tanya Melati.
"Kita
teruskanperjalanan," jawab Dewa Arak memberi keputusan.
Melati hanya mengangkat bahu.
Sebenarnya dirinya tak setuju dengan keputusan kekasihnya, tapi sama sekali
tidak membantahnya. Hatinya segera terhibur dengan keyakinan, bahwa tindakan
yang diambil Dewa Arak selalubenar.
Dan karena keyakinan itulah
Melati mengikuti Arya yang terus saja mengayunkan langkahnya. Dewa Arak dan
Melati menuju kearah rombongan yang membawa obor itu berasal. Sehingga jarak
antara mereka pun semakin dekat. Kedua belah pihak nampak seperti saling
menghampiri.
Seiring dengan semakin dekatnya
jarak antara kedua belah pihak, mereka pun telah saling melihat Seperti Dewa
Arak dan Melati, rombongan pembawa obor itu juga dapat melihat mereka berdua.
"Hati-hati...! Siapa tahu
dua orang ini mempunyai maksud tidak baik terhadap kita," ujar lelaki
berpakaian putih yangberdiri terdepan dari rombongannya.
Lelaki ini tak lain Ki Sagotra.
Memang, mereka rombongan pendudukdari Desa Ginang. Mendengar pemberitahuan itu,
belasan orang di belakangnya pun bersikap waspada.
Pemberitahuan yang disampaikan
kepala desa mereka diperhatikan betul-betul.
Namun tidak hanya rombongan
penduduk Desa Ginang saja yang bersikap waspada. Dewa Arak dan Melati pun
demikian pula. Dan semakin dekat jarak mereka, kewaspadaan pun semakin
ditingkatkan.
"Selamat malam, Kisanak
semua!" tegur Arya dengan sopan ketika jarak antara dirinya dengan
rombongan penduduk Desa Ginang sekitardua tombak.
"Selamat malam?"
sambutKi Sagotra takkalahramah,
Seperti juga Arya dan Melati,
Kepala Desa Ginang ini menghentikan langkah. Sehingga gerak maju rombongannya
pun terhenti.
"Kami berdua pengelana,boleh
kami bertanya?" ujar Arya lagi memperkenalkan diri.
Dalam waktu sesingkat itu,
sepasang mata tajam pemuda berambut putih keperakan itu langsung bisa
mengetahui kalau rombongan ini bukan orang-orang yang terbiasa dengan kerasnya
dunia persilatan. Ini bisa diketahuinya dari sikap dan gerakan mereka yang
tidak gesit. Napas mereka pun nampak terengah-engah. Dewa Arak segera
menyimpulkan bahwa rombongan ini adalah penduduk desa. Oleh karena itu, dirinya
bermaksud mengutarakan peristawa yang ditemuinya tadisiang.
"Ooo...silakan,Anak
Muda!"sambut Ki Sagotra cepat.
"Begini, Ki. Kami hanya
ingin tahu, hendak ke manakah kau dan rombongan waktu malambegini?"
Keramahan Ki Sagotra langsung
lenyap. Dan kini ketegasanlah yang tampak di wajahnya.
"Maaf, Anak Muda! Bukannya
kami bersikap tidak sopan. Tapi, kami tidak bisa memberitahukannya. Kuharap kau
bisa mengerti!"
Arya segera menggoyang-goyangkan
tangannya di depan dada.
"Tentu saja kami mengerti,
Ki. Kami sama sekali tak menganggap kau dan rombonganmu tidaksopan.Bisa
dimaklumi. Karena kamiorang-orang asing, bukan?"
"Terima kasih, kalau kau
dapat mengerti, Anak Muda! Sekarang, kami akan melanjutkan perjalanan. Dan
kuharap kau jangan menghalang-halangi!" tandas Ki Sagotra mantap.
"Tentu saja tidak, Ki. Maaf,
kalau aku telah bertindak lancang, berani menanyakan sesuatu masalah yang bukan
urusanku. Tapi, ini terpaksa kami lakukan. Tadi siang kami menemui sesuatu di
tengah perjalanan. Barangkali saja hal yang telah kami jumpai ada hubungannya
dengan urusan rombonganmu."
"Menyingkirlah, Anak Muda!
Kami tidak ada waktu untuk berbincang-bincang denganmu! Kami mempunyai urusan
yang lebih penting! Tahu?! Jangan paksa kami bertindak kasar!"seru Gondewa
taksabar.
Lelaki pendek kekar ini sejak
tadi memang telahmenahan-nahansabar. Hatinya tengah dilanda kegelisahan akan
nasib putrinya. Tentu saja menjadi kesal dengan tindakanDewa Arak yang
dianggapnya memperlambat tindakan pencarian terhadap Warsini.
Ucapan keras Gondewa membuat
Melati naik darah. Hal ini tidak aneh karena Melati memiliki watakpemarah.
"Mari kita pergi,
Kang!" ajak Melati sambil menggamit tangan Dewa Arak.
Lalu, tanpa memberi kesempatan
pada Dewa Arak untuk berbuat sesuatu, gadis berpakaian putih itu langsung
menarik tangan kekasihnya. Kemudian melangkah untuk meninggalkan rombongan itu.
Dewa Arak terpaksa membiarkan
tindakan kekasihnya yang menariknya untuk meninggalkan tempat itu. Rombongan
penduduk Desa Ginang pun menyeruak memberi jalan. Karena apabila hal itu tidak
dilakukan, tentu mereka ditabrak Melati yang saking kesalnya tak mempedulikan
jalan di hadapannya terhalang rombongan itu. Memang, Melati berjalan biasa,
tidak mempergunakan ilmu meringankan tubuh.
Belum jauh Melati membawa Arya
dari tempatitu. Ketika tiba-tiba.... "Tunggu!" seru Ki Sagotra keras.
Namun Melati tak menghiraukan
perintah itu dan terus melanjutkan langkahnya dengan setengah menyeret Arya.
Melihat hal ini, Ki Sagotra
tidaktinggal diam.
Memang, Kepala Desa Ginang ini
bukan orang sembarangan. Digenjotkan kakinya. Maka sesaatkemudiantubuhnya
melesat menuju Melati dan Dewa Arak.
Jliggg!
Setelah bersalto beberapa kali di
udara, Ki Sagotra mendaratkan kedua kakinya di tanah dengan mantap, tepat di
hadapan Melatidan Arya.
"Tunggu sebentar,
Nisanak!" cegah Ki Sagotra sambil menjulurkan kedua tangannya ke depan.
"Apa lagi yang kau inginkan?
Menyingkirlah dari situ sebelum hilang kesabaranku!" tandas Melati keras.
"Sayang sekali, Nisanak! Aku
tidak akan memenuhi permintaanmu sebelum kawanmu menjelaskan maksud
ucapannya,"tolakKi Sagotra.
"Kalau memang begitu,
mengapa tadi kaubiarkan orangmu mengucapkan kata-kata tak pantas pada
kawanku?!" sergah Melati keras.
"Kalau hal itu kauanggap
suatu kesalahan, biar aku yang meminta maaf padamu. Tapi, percayalah! Aku tak
bermaksud membiarkannya mengucapkan kata-kata seperti itu. Tapi, karena saat
itu aku tengah berusaha memahami ucapan kawanmu. Jadi, aku tidak sempat mencegah
ucapan kasar tadi. Bahkan mencegah kepergianmu pun akan hampir tidak
sempat'" bantahKepala Desa Ginang.
Melati kontan terdiam. Amarahnya
mulai mereda. Memang, gadis berpakaian putih ini memiliki watak aneh. Sifatnya
sukar untuk ditebak. Hatinya mudah marah. Tapi, kalau orang minta maafpadanya
maka amarahnya langsung lenyap. Dengan kata lain, kalau orang bersikap kejam,
dia bisa membalas lebih kejam,dansebaliknya.
Dan kesempatan itu
dipergunakansebaik-baiknya oleh Dewa Arak. "Apa yang kau inginkan,
Ki?" tanya Arya tenang.
Sementara itu rombongan penduduk
Desa Ginang bergegas menghampiri, dan berdiri di dekat Ki Sagotra. Nampaknya
mereka bersiap-siap untuk membantu apabila terjadi sesuatu atas diri Kepala
Desa Ginang. Di samping itu, mereka pun ingin mendengar lebih jelas mengenai
hal yang membuat Ki Sagotra mencegah sepasang muda-mudi itu meninggalkan tempat
itu.
"Aku hanya ingin kau
menjelaskan padaku maksud ucapanmu yang tadi, Anak Muda. Bukankah kau tadi
mengatakan, kalau sesuatu yang kau temui dalam perjalananmu itu ada hubungannya
dengan urusan kami?! Nah! Kami ingin tahu apa sebenarnya yang telah kau
temui," jelas Ki Sagotra sabar.
Dewa Arak tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Sejenak matanya menatap satu persatu wajah-wajah di hadapannya.
"Sebenarnya, agak berat
untuk mengutarakannya, Ki. Karena hal yang akan kukatakan kepadamu ini mungkin
bukan berita yang menyenangkan, bahkansebaliknya."
"Tidak mengapa, Anak Muda.
Kami siap untuk mendengarnya. Lagi pula, belum tentu hal yang akan kau
beritahukan itu ada hubungannya dengan kami,"kelit Ki Sagotra cerdik.
"Aku pun berharap demikian,
Ki. Karena apabila benar ada hubungannya, sulit kubayangkan betapa kecewa dan
sedihnya hati kalian. Terutama bagi orang yang bersangkutan," ucap Arya
masihbelum menuju pokokpermasalahan.
Bukan tanpa alasan pemuda
berambut putih keperakan itu berkata demikian. Dirinya tak ingin, jika benar
berita yang dibawanya mempunyai hubungan dengan rombongan Ki Sagotra, akan
berakibat yang tidak diinginkan. Itulah sebabnya Dewa Arak tidak langsung
mengatakannya.
"Kalau kau memang ingin
mengatakannya, katakanlah, Anak Muda!Tidakusahbertele-tele. Kecuali bila kau
menghendaki lain. Kami, terutama sekali aku tidak akan memaksamu. Kau
dankawanmu bolehpergi dari sini!" tegas KiSagotra.
"Baiklah kalau itu yang kau
inginkan, Ki," sahut Arya memutuskan. "Begini ceritanya, Ki. Tadi
menjelang matahari tenggelam, ketika tengah melewati hutan, kami mendengar
adanya suara jeritan menyayat. Begitu kami menuju ke tempat suara berasal, kami
temui mayat tergantung pada sebuah patung besar. Wanita itu telah tewas,"
lanjutnya menjelaskan.
"Seorang wanita? Bagaimana
ciri-cirinya?!" selak Gondewa penuh nafsu. Ada kecemasan yang amat sangat
dalamsuaranya.
Arya menatap wajahGondewa
sejenak.
"Mengenai pertanyaan itu aku
tidakbisa menjawabnya, Ki. Biar kawanku ini yang akan menjawabnya." Lalu
pemuda berambut putih keperakan ini memberi isyarat pada Melati.
Melati tidak langsung memberikan
jawaban pada Gondewa yang telah menunggu dengan perasaan tidak sabar. Rupanya
kejengkelan atas kelakuan lelaki pendek kekar itu terhadap kekasihnya, masih
membekas di hati.
Gondewa pun rupanya mengetahui
perasaan yang berkecamuk di hati Melati. Maka, meski dengan perasaan berat
karena perasaan ingin tahunya jauh lebih besar, dikuatkan hati untuk berbicara
pada gadis berpakaianputih itu.
"Aku minta maaf atas
ucapanku tadi, Nisanak. Andaikata, sukar bagimu untuk memaafkanku, dengan
memandang muka Ki Sagotra selaku Kepala Desa Ginang, sudilah kiranya kau
memaafkanku," ucap Gondewa dengansuara lirih.
Kejengkelan hati Melati pun
lenyap seperti asap ditiup angin. Kini, tanpa diberitahu pun pikirannya telah
bisa menebak, kalau rombongan ini memang bermaksud akan mencari seorang wanita.
Dan, wanita yang dicari sudah pasti putri Gondewa. Buktinya, dia lah yang
paling kalap ketika mendengarberita dari Dewa Arak tentang mayatseorang wanita.
"Kawanku menyerahkan
jawabannya padaku, bukan karena hatinya masih mendendam atas ucapanmu, Ki.
Tapi..., karena dia memang tidak mengetahui ciri-ciri wanita yang malang ini.
Akulah yang tahu, meskipun sebenarnya kami berdua yang menjumpainya
terbunuh," jelas Melati dengan hati lapang.
"Mengapa demikian,
Nisanak?" tanya Ki Sagotra,heran.
"Karena..., karena keadaan
wanita itu amat mengenaskan, Ki. Dia... dia menerima perlakuan tak patut dari
orang yang membunuhnya. Perlakuan yang..., ah sulit bagiku untuk
mengatakannya,Ki," ucap Melatdengan wajah memerah.
"Ya, ya,aku mengerti,
Nisanak," potong Ki Sagotra, cepat
Lelaki berpakaian putih ini tak
tega melihat Melati yang dilanda kebingungan untuk menerangkan kejadian
yangsebenarnya.
"Ceritakan saja
ciri-cirinya, biar kami mengetahuinya secara jelas. Karena terus terang, tujuan
kamisemua mencari seorang wanita."
Lalu, tanpa diminta, orang nomor
satu di Desa Ginang ini menceritakan semuanya, lengkap, berdasarkan cerita yang
didapatnya dari Gondewa. Sementara Dewa Arak dan Melati mendengarkan penuh
perhatian.
"Jadi..., Warsini mengenakan
pakaian hijau?!" tanya Melati dengan suara pahit.
"Benar, Nisanak,"
Gondewa yang menyahuti dengan suara bergetar karena perasaan tegang yang
melanda. Lelaki pendek kekar sadar kalau sebuah kenyataan pahit sebentar lagi
akan diterimanya. Pertanyaan bemada minta penegasan dari mulut Melati barusan
menjadi pertanda buruk baginya. Karena anaknya, Warsini memang
mengenakanpakaian hijau!
"Benar, Nisanak," jawab
Gondewa terbata-bata karena rasa khawatir yang berkecamuk di hati. "Apakah
wanita yang kau temukanmengenakan pakaian hijau?"
Dengan hati beratMelati menganggukkan
kepala, Bisa dibayangkanbetapa terpukulnya hati lelaki pendek kekar ini,
apabila wanita malang yang ditemui Melati benar putrinya. Dan hal itu bisa
dirasakan Melati.
Tanggapan yang diberikan Gondewa
memang seperti yang diduga Melati. Lelaki pendek kekar itu kontan terdiamdengan
raut wajahpucat pasi.
"Bisa kau sebutkan ciri-ciri
lainnya, Nisanak?" tanya Ki Sagotra mengambil alih ketika melihat keadaan
Gondewa.
"Tentu saja, Ki," jawab
Melati sambil menganggukkan kepala. Sementara Dewa Arak hanya bertindaksebagai
pendengar.
"Kalau begitu, tolong
katakan, Nisanak! Barangkali saja wanita yang kau temukan itu bukan Warsini.
Tapi kebetulan mengenakan pakaian yang sama," Ki Sagotra masih berharap
akan kemungkinan lainnya.
"Mudah-mudahan,
Ki!"hampir berbareng Arya dan Melati memberikan harapan. "Wanita yang
kami temukan itu berambut panjang terurai sampai di pinggang," Melati
mulai menurutkan ciri-ciri yang
dimiliki wanita itu.
"Kalaubegitu bukan
Warsini!" selak Ki Sagoi penuh perasaan gembira. "Benarkah begitu,
Ki?" tanya Melatidengan perasaan lega.
"Benar," Ki Sagotra
menganggukkan kepala, "Sepengetahuanku Warsini memiliki rambut
pendek."
"Warsini berambut panjang,
Ki," selak Gondewa dengan suara getir. "Hanya dia jarang mengurai
rambutnya. Lebihsering digelungnya. Agar lebih rapi, katanya,"
lanjutGondewa.
Seketika rasa lega di wajah Ki
Sagotra dan Melat lenyap. Keduanya mulai menyadari adanya kemungkinan kalau
korban itu adalahWarsini.
"Lalu,adakah ciri-ciri lain
yang kau temui, Nisanak?" tanya Gondewa lesu.
"Ada, Ki. Ada. Ada dua buah
tahi lalat yang kulihat. Satu di leher sebelah kanan, dan satu lagi di…"
Cukup, Nisanak. Tak perlu kau
jelaskan lagi!" potong Gondewa, sambil menjulurkan kedua tangannya.
"Jadi...,"
Ki Sagotra tidak meneruskan
ucapan yang akai dikeluarkan. Ditatapnya wajah lelaki pendek kekar lekat-lekat.
WajahKepala Desa Ginang itu puntampak diiiputiperasaan cemas.
"Ciri-ciri itu hanya
dimiliki Warsini. Warsini, anakku...! Sama sekali tak kuduga kalau nasib
hidupmu demikian buruk!" keluh Gondewa dengan sedih. "Kekhawatiran
ibumu ternyata tidak keliru."
"Kalau dia benar Warsini,
lalu ke mana perginya Barada?!" tanya Ki Sagotra sambil menatap wajah
Gondewa. Dan ketika tak ada jawaban, karena Gondewa memang tidak mengetahuinya,
dialihkan perhatiannya ke Melati. "Apakah kau melihat ada orang lain di
sekitar situ, Nisanak? Seorang pemuda...."
"Hm... aku tidak melihatnya.
Yang ada di sana hanya mayat wanita itu, tidak ada lainnya."
Suasana langsung hening ketika
Melati menghentikan ucapannya. Mereka terhanyut dalam alun pikiran
masing-masing. Yang terdengar hanya bunyi jangkrik dan serangga malam serta
angin yang berhembus di antara pepohonan.
"O ya, Nisanak. Kalau aku
tidak salah dengar, kau mengatakan mayat Warsini tergantung pada sebuah patung.
Padahal, aku tahu betul, di Hutan Jati tak ada patung apa pun. Apalagi patung
yang sebesar ukuran manusia. Apakah kau dan kawanmu ini tidak mengada-ada?!
Maaf, aku tak bermaksud mencurigai kalian. Tapi, di antara keterangan yang kau
berikan,ada beberapa di antaranya yang tidakmasuk akal kami "
Bukan hanya Melati yang
mengernyitkan alisnya kali ini Dewa Arak pun demikianpula. Sepasang muda mudi
ini menyadari adanya kecurigaan dalampernyataanKi Sagotra.
"Coba katakan, mana diantara
keterangan kami yang tidak masukakal itu,Ki?"
Arya buru-buru mendahului
bertanya sebelum Melati menyambut ucapan Ki Sagotra. Pemuda berambut putih
keperakan itu khawatir kekasihnya akan tersinggung dan marah besar, lalu
mengakibatkan terjadinya keributan.
"Pertama, masalah patung
itu. Dan yang kedua, ketidaktahuan kalian atas nasib Barada.Padahal
Baradalahyang mengantarkan Warsini!"
Rombongan penduduk Desa Ginang
itu termakan ucapan Ki Sagotra. Mereka pun, terutama Gondewa, menatap Melati
dan Dewa Arak berganti-ganti dengan sorot mata mengandung keingintahuan besar.
Mereka semua ingin tahu alasan yang dikemukakan sepasang muda-mudiberwajahelok
itu.
"Mengenai patung itu, perlu
kuberitahukan, Ki. Jangankan kau, kami berdua pun sempat merasa heran. Mengapa
patung itu ada di sana? Menurut pendapatku, ada orang yang telah membawanya ke
sana. Entah berapa orang. Tapi yang jelas, andaikata pelaku tindak kekejian ini
hanya seorang, maka tenaga dalamnya sudah pasti amat kuat! Karena patung itu
amatbesar!"
"Hm...," Ki Sagotra
bergumam. Tampak jelas kalau laki-laki pendek kekar ini tidak mempercayai
keterangan Dewa Arak. "Lalu..., bagaimana dengan Barada? Kata rekanmu yang
kalian lihat hanya mayat Warsini. Padahal Warsini pergi bersama dengan Barada.
Lebih jelasnya bisa kukatakankalau Barada bertugas menjaga keselamatan Warsini.
Lalu..., mengapa kalian berdua tidak melihatnya? Suatu hal yang aneh, bukan?!"
urai Ki Sagotra menjelaskan kecurigaannya.
"Sama sekali tidak, Ki. Bisa
saja Barada dibunuh, sedangkan Warsini dibawa ke tempat itu. Ini kemungkinan
pertama andaikata benar wanita yang terbunuh itu Warsini. Kemungkinan keduanya,
bisa saja Barada pelaku pembunuhan itu. Kalau dia bukan pembunuhnya, mengapa
tidak kembali?! Ini juga dapat dijadikan bahan kecurigaan, Ki?!" bantah
Arya.
"Kau memang pintar bicara,
Anak Muda. Kuakui alasan yang kau jelaskan itu memang masuk akal. Tapi, kau
janganbergembira dulu. Perasaan curiga terhadapmu tetap belum hilang di
hatiku!" tandas Ki Sagotra tegas.
"Terima kasih atas
kejujuranmu,Ki!"
"Bisa antarkan akuke tempat
kau mengubur mayat wanita itu,Nisanak?!"
Tanpa mempedulikan Ki Sagotra dan
Arya yang masih berbicara. Gondewa langsung saja menyelaknya.Lelaki pendek
kekar itu tetap belum mengakui kalau mayat yang ditemukan Melati adalahanaknya.
Itulah sebabnya dia tetap
memanggilnya dengan wanita itu.
Melati tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Malah dialihkan pandangannya ke Dewa Arak. Baru setelah melihat
kekasihnya menganggukkan kepala, gadis itu langsung meluluskan
permintaanGondewa.
"Aku bersedia mengantarkanmu
kesana, Ki."
"Terima kasih, Nisanak! Bisa
kita berangkat sekarang?" tanya Gondewa lagi, tidak sabar.
"Bisa, Ki," Arya yang
memberikan jawaban. Memang, pemuda berambut putih keperakan itu sudah tak
terlibat pertengkaran lagi dengan Ki Sagotra, setelah tindakan Gondewa yang
menyelakpembicaraan.
"Kalau demikian tunggu apa
lagi?"
Melihat hal ini, Ki Sagotra hanya
mengangkat bahu. Dibiarkannya Gondewa melaksanakan keinginannya. Perasaan
kasihan yang mendorongnya seperti itu.
"Kita selesaikan
persoalannya nanti, Dewa Arak!" kata Kepala Desa Ginang itu bernada
menantang.
Dewa Arak menyambutnya dengan
senyum di bibir. Kemudian diayunkan langkahnya menuju Hutan Jati
kembali.Belasanpenduduk Desa Ginang mengikuti di belakangnya.
4
"Itu kuburannya, Ki,"
ujar Melati sambil menuding sebuah gundukan tanah berisi mayat wanita malang
yang diduga Warsini.
Tanpa menunggu lebih lama lagi,
belasanpenduduk Desa Ginang meluruk ke gundukan tanah itu. Mereka seperti
saling mendahului untuk segera tiba di Sana. Namun, yang berada paling
depanadalah Gondewa.
Arya, Melati, dan Ki Sagotra
serta beberapa orang penduduk Desa Ginang yang tidak ikut mendekati
kuburanWarsini, hanya mengawasi.
"O ya, di mana patung yang
kau ceritakan itu, Anak Muda?" tanya Ki Sagotra sambil matanya beredar ke
sekeliling tempat itu.
Namun belum sempat Arya maupun
Melati memberikan jawaban,terjadi peristiwa yang tak disangka-sangka! Rombongan
penduduk desa yang bermaksud membongkar kuburan Warsini rupanya
mendapatmasalah.
"Aaakh...!"
"Aduhhh...!" "Uuukh, kakiku...!"
Terdengar suara-suara jeritandari
sebagian besar penduduk. Dan tiba-tiba langkah kaki mereka pun terhenti.
Melihat kejadian ini, tanpa
membuang waktu Dewa Arak dan Melati segera melesat ke sana.Tapi, tentu saja
sepasang pendekar muda yang telah kesohor ini tetap selalu berwaspada.
Sebelum mencapai tempat rombongan
penduduk menjerit-jerit kesakitan, keduanya tidak melanjutkan lari mereka.
Arya dan Melati memperhatikan.
Sesaat kemudian keduanya telah mengetahui penyebabnya. Di sekitar kuburan
Warsini, telah tersebar ratusan bahkan mungkin ribuan paku berukuran cukup
panjang, sehingga mampu menembus alas kaki dan melukai yang menginjaknya.
Paku-paku itu tidak terlihat jelas karena tanah itu ditumbuhi rumput yang
meskipun pendek, cukup untuk menutupi paku-paku itu hingga tidak jelas terlihat
mata. Apalagi di waktu malam seperti sekarang
Sekarang para penduduk Desa
Ginang yang sial itu harus menerima akibat tindakan mereka yang tergesa-gesa.
Telapak kaki mereka tertembus paku dan terluka. Mereka terkejut dan kebingungan.
Betapa tidak? Kedua telapak kaki mereka tertusukpaku-pakuberacun!
Belasan orang penduduk Desa
Ginang itu pun semakin kebingungan. Mereka tak dapat berdiri. Paku-paku beracun
itu telah menembus telapak kaki mereka. Dan sialnya, karena kedua telapak kaki
tertusuk paku menyebabkan kesulitan untuk mencopoti paku yang menancap.
Betapa tidak? Untuk mencopoti
paku-paku itu tentu memerlukan salah satu kaki untuk bertumpu. Dengan
sendirinya luka yang diderita semakin parah, jika paku semakin dalam menembus. Dan
hal itu dialami mereka yang berusaha mencopot paku. Sementara sebagian lagi
hanya berdiamdiri saja di tempat karena menyadari sulitnya melakukantindakan
pertolongan.
Ketika mereka terlibat dalam
kesulitan itulah Dewa Arak dan Melati menghentikan langkah sambil mengawasi
keadaan. Sepasang muda-mudi berwajah elok ini tak berani
bertindak gegabah. Itulah
sebabnya mereka tidak langsung memberikan pertolongan. Yang dilakukan hanya
memperharikan sejenak suasana sekitar tempat itu. Tiba-tiba....
"Aaakh...!"
Jeritan menyayat hati keluar dari
mulut salah seorang penduduk yang berusaha mencopot paku dari telapak kakinya.
Seiring dengan keluarnya jeritan itu, tubuh penduduk itu menggelepar-gelepar.
Dan dari mulutnya keluar busa putih dan kental!
Kemudian diiringi suara mengorok
seperti kerbau disembelih, tubuh lelaki yang sial itu ambruk ke tanah. Di situ,
tubuhnya berkelojotan seperti orang ayan. Sementara dari mulutnya terus-menerus
keluar cairan kental berwarna putih.
"Lugira...!" seru
kawan-kawannya yang juga terjebak di tempat itu. Mereka semua terkejut bukan
kepalang melihat kejadian yang menimpa Lugira.
Dewa Arak, Melati, dan Ki
Sagotra, serta penduduk yang bersamanya pun terkejut. Dengan tindakan
tergesa-gesa, Kepala Desa Ginang bersama warga desa yang bersamanya melesat
mendekati. Dan mereka menghentikan langkahketika telah berada di dekat Dewa
Arak dan Melati.
"Kalian harus bertanggung
jawab atas terjadinya peristiwa ini!" tandas Ki Sagotra keras sambil
menatap Dewa Arak. "Kalianlah yang membuatmereka semua terjerumus di
situ!"
"Simpan dulu kemarahanmu,
Ki. Tindakan yang harus kita lakukan sekarang, menolong mereka sebelum
segalanya terlambat. Hal-hal lain bisa diurus belakangan," sahut Dewa
Arak, cepat
Ki Sagotra melengak. Mengapa dia
begini bodoh?! Mengapa dia meributkan masalah seperti itu di saat genting
seperti ini? Apa yang dikatakan Dewa Arak benar belaka. Pada saat gawat seperti
ini, hal yang paling penting dilakukan mencari jalan untuk menyelamatkan
mereka. Bukan meributkan peristiwa. yang telah terjadi. Maka, lelaki berpakaian
putih pun terdiam. Pikirannya berputar mencari cara untuk menyelamatkan nyawa
warga desanya yang belum menjadi korban.
Tapi sebelum Ki Sagotra menemukan
cara,Dewa Arak telahberhasil mendapatkannya. "Lepaskan sabuk kalian, dan pergunakan
untuk menjerat tubuh mereka," ucap Dewa
Arak tiba-tiba.
Sambil berkata demikian pemuda
berambut putih keperakan itu segera meloloskan sabuk dari pinggangnya. Hal yang
sama dilakukan pula oleh Melati dan Ki Sagotra. Sementara para penduduk Desa Ginang
yang berada bersama kepala desanya hanya bisa saling pandang. Mereka sama
sekali tidak mengenakan sabuk pengikat pinggang. Sebagai petani mereka tidak
terbiasa mengenakan sabukdi pinggang.
Namun, Dewa Arak sama sekali
tidak mempedulikan karena menyadari kalau Ki Sagotra dan penduduk desanya tak
akan mampu melakukan hal yang telah direncanakan. Seruan itu sebenarnya
ditujukan pada Melati. Namun, karena khawatir Ki Sagotra dan lainnya merasa
disepelekan,maka ditujukanucapannya itu untuk mereka semua.
Dan dugaan pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak keliru. Ki Sagotra meloloskan sabuknya juga
seperti yang dilakukan Dewa Arak dan Melati, tapi raut wajahnya memancarkan
kebingungan.
Sementara itu Dewa Arak danMelati
langsung bertindak.
"Harap kalian tenang, dan
jangan melakukan tindakan apa pun," teriak Dewa Arak. "Kami hendak
menolong. Apabila sabuk ini telah membelit tubuh kalian, jangan melakukan
tindakan perlawanan.Lemaskansaja,agar pertolongan ini berjalan lancar!"
Lalu.... Ctarrr!
Diawali bunyi ledakan keras,
sabuk di tangan wa Arak dan Melati mulai meluncur menuju para penduduk yang
tengah menunggu maut. Salah seorang di antara mereka telah tewas setelah
menggelepar leparbeberapa saatlamanya.
Siuuut! Rrrttt!
Seperti telah disepakati saja,
sabuk Dewa Arak dan Melati meluncur ke sasaran yang berlainan. Perhitungan yang
tepat, sabuk itu berhasil membelit tubuh dua di antara para penduduk yang
terjebak.
Dan ketika Dewa Arak dan Melati
melakukansentakan, tubuh-tubuh yang telah terbelit itu pun terbawa ke
arahmereka.
"Cepat kau berikan
pertolongan pada mereka Melati! Mereka keracunan. Biar aku yang menarik mereka
keluar dari sana," kata Dewa Arak setelah tubuh dua penduduk itu berada di
antara mereka.
***
Tanpa menunggu perintah dua kali
Melati langsung membelitkan sabuknya kembali ke pinggang, ia berjongkok dan
memeriksa keadaanmereka.
Ki Sagotra dan para penduduk yang
bersaman pun ikut berjongkok. Mereka ingin tahu kejadian yang tengah menimpa
kawan-kawan mereka. Ki Sagotra kini telah menyimpan kembali sabuknya karena
menyadari kalaudirinya tidak dapatmembantu Dewa Arak.
Karena tugas yang diterima Melati
membutuhkan waktu yang lebih lama, maka ketika Dewa Arak telah menyelesaikan
semua tugasnya, gadis itu baru melakukan tindakan pencegahan terhadap semua
korban. Berarti pertolongan yang diberikan Melati baru dimaksudkan untuk
mencegah racun menjalar lebih jauh.
"Bagaimana, Melati?"
tanya Arya ketika melihat kekasihnya telah selesai memberikan pertolongan pada
orang yang terakhir.
"Ini jenis racun yang aneh,
Kang," jawab Melati sambil menyusut peluh yang membasahi keningnya.
"Ya. Aku juga telah melihat
akibatnya tadi," jawab Dewa Arak sambil menghela napas, karena merasa
tidak yakin apakah mereka akan sanggup menyelamatkan nyawa para penduduk Desa
Ginang yang malang itu.
"Tidakakanada satupun
diantara mereka yang selamat, Anak Muda," selak Ki Sagotra sambil menatap
Dewa Arak.
Karuan saja ucapan itu membuat
Dewa Arakdan Melati menolehkan kepala.
"Mengapa kau berkata demikian,
Ki?" tanya Arya bernada penasaran. Sorot perasaan yang sama,terpancar pula
di wajah Melati.
"Hhh...!"
Jawaban bagi pertanyaan Dewa Arak
hanya hembusan napas berat. Tapi hal itu tidak membuat Dewa Arak terkejut. Yang
membuatnya merasa terkejutbukan kepalang justru ketika melihat adanya
kengerian, baikdi wajah maupun di mata Ki Sagotra.
"Sebenarnya berat bagiku
untuk mengatakannya, Anak Muda. Tapi, bisa kukatakan secara singkat. Kematian
yang didahului tanda-tanda seperti ini telah pernah terjadi di Desa Ginang dan
didesa-desa sekitarnya," jelas Ki Sagotra dengan suara lirih.
"Maksudmu..., kematian yang
didahului dengan gejala-gejala seperti ini, Ki?!" tanya Arya menegaskan.
Ki Sagotra menganggukkan kepala
membenarkan pertanyaan Dewa Arak. Sementara Melati tengah sibuk memerangi racun
yang mengendap di tubuh para penduduk yang malang itu. Namun, seperti yang
telah dikatakan Ki Sagotra, tindakan Melati ternyata sia-sia. Salah seorang di
antara mereka tahu-tahu menggelepar-gelepar disertai keluarnya cairan putih dan
kental dari mulutnya, laludiam takberkutik lagi. Mati!
"Bisa kau jelaskan padaku
tentang kejadian itu, Ki?" pinta Arya hati-hati.
Ki Sagotra tidak langsung
memberikan tanggapan terhadap pertanyaan Dewa Arak. Dilayangkan pandangannya
keangkasa seolah-olah tengahmencari jawabandi sana.
"Sebenarnya..., aku tak
pernah ingin mengingatnya lagi, Anak Muda. Kejadian itu telah lama berlalu.
Tepatnya puluhan tahun lalu. Rentetan kejadian mengerikan yang membuat bulu
kuduk berdiri. Begitu mengerikan!" ujar Ki Sagotra masih dengan tatapan
tertuju ke angkasa. Jelas,ingatan lelakiberpakaian putih itu melayang ke masa
puluhan tahun lalu.
Dewa Arak sama sekali tak
memberikan tanggapan. Dengan sabar ditunggunya hingga Kepala Desa Ginang itu
melanjutkan ucapannya. Sementara itu, Melati masih tetap sibuk menyelamatkan
nyawa para penduduk yang keracunan.
"Puluhan tahun lalu...,
ketika aku seusiamu, terjadi peristiwa-peristiwa mengerikan. Entah dari mana
datangnya tak seorang pun yang tahu. Ada sekelompok orang yang menganut
kepercayaan keji. Suatu kepercayaan yang sangat menggiriskan. Mereka melakukan
pemujaan terhadap roh-roh jahat. Dan demi kesempurnaan pemujaan, mereka harus
mengorbankan seorang wanita yang masih suci. Entah bagaimana kejadiannya aku
tak tahu dengan pasti. Yang jelas, kami hanya selalu menemukan sesosok mayat
wanita tergantung di atas sebuah patung dalam keadaanmengenaskan!"
Ki Sagotra menghentikan ucapannya
sejenak untuk mengambil napas, lalu menelan ludahnya yang terbendung di
mulutnya. Dan kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya oleh Dewa Arak untuk
mengutarakan hal yang mengganjaldi dadanya.
"Seperti itu pula keadaan
mayat wanita yang kami temukan, Ki," sahut Arya. "Dia pun tergantung
di atas sebuahpatung besar yang berwujud mengerikan."
Ki Sagotra tersenyum pahit.
Wajahnya pun tampak tegang.
"Sekarang aku bisa
mempercayai ceritamu, Anak Muda. Tanpa kau jelaskan pun aku tahu bentuk patung
yang kau maksudkan.Bukankah patung itu terdiri dari campuran beberapa macam
bentuk? Badan dan kaki belakangnya berbentuk kuda, wajah dan tangan manusia,
bertaring, dan memiliki tanduk?" tanya Ki Sagotra sambil menatap wajahDewa
Arak.
Dewa Arak juga menganggukkan
kepala pertanda membenarkan.
"Hhh...! Berarti bencana
yang pernah menghebohkan puluhan tahun lalu akan terulang. Bencana yang terjadi
akibat patung yang dianggap keramat oleh kelompok itu. Padahal, dahulu banyak
tokoh persilatan yang telah membantu, tapi kami tetap mengalami kesulitan. Tak
mampu mengatasi setiap malapetaka mengerikan itu. Apalagi sekarang?! Hhh...!
Entah apa yang bakal terjadi terhadap desa ini!" keluh Ki Sagotra lagi
sambil menghembuskan napas berat.
"Maaf, Ki! Boleh kudengar
cerita selengkapnya sehingga kelompok yang mempunyai kepercayaan keji itu bisa
dimusnahkan?!"
"O ya, aku belum
menyelesaikan ceritaku," Ki Sagotra teringat kembali. "Teror yang
melanda Desa Ginang, puluhan tahun lalu lebih mengerikan lagi. Bukan hanya
wanita yang menjadi korban. Tapi juga para pemuda yang masih perjaka. Tak
sedikit korban yang berjatuhan. Dan hal itu membuat para penduduk memutuskan
untuk melakukan perlawanan. Di bawahpimpinan guru silat desa, kami menyiapkan
perlawanan.Tapi sayang, dengan mudah perlawanan kami dapatdipatahkan."
Ki Sagotra menghentikan ceritanya
kembali untuk mengambil napas sambil berusaha mengingat-ingat peristiwa
mengerikan yang sejak lama diusahakan untuk dilupakannya.
"Untung berita itu terdengar
oleh tokoh-tokoh persilatan aliran putih. Itu pun berkat usaha guru silat desa
yang sebelum tewas sempat meminta bantuan per-guruan-perguruan silat aliran
putih melalui surat. Pertarungan demi pertarungan pun terjadi. Tapi tetap saja
kemenangan berada di pihak kelompok penganut aliran sesat itu. Mereka
menggunakan ilmu hitam yang mereka dapatkan dari hasil upacara mengerikan itu!"
Lagi-Iagi Ki Sagotra menghentikan
ucapannya. Ditelannya kembali liur untuk melegakan tenggorokannya yang kering.
"Dan ketika tokoh-tokoh
persilatan aliran putih mulai putus asa, muncul seorang kakek sakti. Berkat
bantuannya kelompok itu bisa dihancurkan. Dia memiliki ilmu yang membuat ilmu
hitam kelompok itu tak berdaya. Bahkan pimpinan gerombolannya pun berhasil
dibinasakan! Sehingga kelompok keji itu pun berhasil dihancurkan! Ditumpas
habis! Itu keyakinan kami dahulu. Namun nyatanya, sekarang peristiwa ini berulang
lagi. Berarti kelompok itu belum sepenuhnya tuntas. Kupikir masih ada di antara
mereka yang selamat!" Ki Sagotra mengakhiri ceritanya dengan raut wajah
memancarkan kengerian mendalam. Beberapa kali terdengar napasnya dihembuskan
denganberat karena menahan ketegangan di hatinya.
Dewa Arak tercenung begitu Ki
Sagotra menyelesaikan cerita. Lalu diedarkan pandangan ke wajah-wajah penduduk
Desa Ginang. Dan seperti juga Ki Sagotra, wajah dan sorot mata mereka semua
memancarkan kengerian yang amat sangat.
Kengerian yang sama melanda hati
Melati. Gadis berpakaian putih ini membayangkan betapa besarnya perasaan ngeri
yang melanda hati para pendudukDesa Ginang puluhan tahun lalu.
"Ki...,"sapa Arya
perlahan.
"Hm...," hanya gumaman
pelan Ki Sagotra yang menyambut ucapan pemuda berambut putih keperakan itu.
"Kalau mendengar ceritamu
tadi, berarti sumber bencana itu tak lain patung yang dianggap keramatoleh
kelompok penganutkepercayaan itu. Bukankah demikian?"
Ki Sagotra mengernyitkan dahi
sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Benar, Anak Muda."
"Barangkali..., kalau patung
aneh itu tidak ada, malapetaka pun tidak akan terjadi lagi? Begitu kan,
sepatutnya?!" tanya Arya.
Kini kernyitan dahi Ki Sagotra
makindalam.
Rupanya kepala desa itu belum
bisa menebak arah pembicaraan Dewa Arak. Namun, karena pernyataan yang
dikemukakan Arya sama sekali tidak salah, Ki Sagotra mengangguk meskipun
kebingungan masihterlihat jelas di wajahnya.
"Kalau begitu..., patung
keramat itu akan kuhancurkan saja! Dengan demikian tidak ada lagi tempat yang
dapat dijadikan peristiwa keji oleh kelompok penganut kepercayaan keji
itu!" tandas Dewa Arak penuhsemangat.
"Kau benar, Kang!"
Melatilah yang pertama kali memberikan sambutan. "Biar aku saja yang
menghancurkannya. Bagaimana, Ki?!"
"Sebuah usul yang
bagus!" sambutKi Sagotra, juga dengan perasaan gembira.
"Apakah hal itu tidak akan
membuat gerombolan keji itu semakin meningkatkan kekejiannya?" bantah
seorang lelaki bertubuh tinggi besar ragu-ragu. Sorot matanya memancarkan
kekhawatiran besar.
"Kalau menurut pendapatku,
sama saja, Ki," sahut Arya, cepat.
"Kau benar, Anak Muda. Mari
kita hancurkan patung keparat itu!" ajak Ki Sagotra penuh semangat
Tapi riak penuh semangat di wajah
Ki Sagotra kontan buyar ketika melihatsikap Dewa Arak dan Melati. Kedua
pendekar muda ini tampak menatap penuh perasaan heran pada satu arah.
"Apa yang terjadi,
AnakMuda?" tanya Ki Sagotra penasaran.
"Patung itu sudah tidak ada
lagi, Ki," jawab Arya tenang. Rupanya pemuda berambut putih keperakan ini
telahmampumenguasaidirinya kembali.
"Apakah tadi sewaktu kita
datang, patung itu masihada, Anak Muda?" tanya Ki Sagotra ingin tahu.
"Sayang sekali, aku tak
melihatnya, Ki. Urusan mayat wanita itu yang menyebabkan kami tidak ingat sama
sekali. Tapi, barangkali masih ada di sekitar sini. Kau juga di sini, Melati.
Aku akan memeriksa sekitar tempat itu. Siapa tahu patung itu masih ada dan kita
hanya keliru tempat!"
"Aku yakin kita tidak keliru
tempat, Kang.Orang itu pasti telah memindahkannya." "Ucapanmu mungkin
benar, Melati. Tapi tak ada salahnya kalau aku memeriksanya
untuk meyakinkan benar
tidaknya,"kelit Arya.
"Kalaubegitu pergilah, Kang!
Biar akuberjaga-jaga disini."
Tanpa menunggu lebih lama lagi,
Dewa Arak segera melesat. Ingin dibuktikannya sendiri kalau patung itu
benar-benar sudah tidak berada di tempatnya lagi.
Berkat sinar bulan dan tidak
adanya awan yang menggantung, suasana di persada cukup terang. Sehingga Arya
tak mengalami kesulitan untuk mengawasi segala sesuatu di sekelilingnya. Dan
memang ucapan Melati benar. Patung keramat yang memiliki bentukaneh itu sudah
tidakberada di situ!
Maka dengan lesu,Arya mengayunkan
langkah kembali ke tempatsemula. "Bagaimana,Kang?"
Sebelum Arya tiba di dekat
mereka, Melati telah lebih dulu mengajukan pertanyaan. Gadis itumerasa
tidaksabar untuk segera mengetahuinya.
"Tidak ada, Melati. Mungkin
dugaanmu benar, orang itu telah lebih dulu menyembunyikan di tempatyang
aman," jawab Arya ketika telahberada didekat mereka.
"Kalau begitu, kami akan
kembali ke desa, Anak Muda. Tentu saja setelah mengurus mayat-mayat ini,"
ujar Ki Sagotra sambil menudingkan jari telunjuknya ke mayat-mayat yang
tergolek di hadapannya. Memang, tidak ada satu pun yang selamat di antara
orang-orang yang terkena pakuberacun.
Ki Sagotra segera memberi
perintah pada para penduduk Desa Ginang yang masih hidup agar membuatkan
kuburan bagi mereka yang tewas karena paku beracun. Tak berapa lama kemudian,
lubang-lubang kuburan pun terbentuk karena Arya dan Melati ikut membantu.
"Bagaimana, Anak Muda? Kau
ingin melanjutkan perjalanan sendiri atau ikut bersama kami?" tanya Ki
Sagotra ketika urusanpenguburan mayattelah selesai.
"Karena sudah telanjur
terlibat, tambahan lagi karena tertarik, kami putuskan untuk ikut bersamamu,
Ki. Meskipun mungkin tidakbanyakberarti, akan kami coba untuk membantu
menyelesaikan kemelut ini," ujar Arya panjang lebar.
"Terima kasih, Anak Muda.
Memang itulah yang kami harapkan," sambut Ki Sagotra gembira. Ki Sagotra
merasa gembira mendengar kesanggupan Dewa Arak membantu
penyelesaian ini. Karena telah
dilihatnya tadi, kedua pendekar muda itu memperlihatkan, kelihaian ketika
memberi pertolongan kepada penduduknya yang menginjak paku beracun.
Maka sesaat kemudian, rombongan
penduduk Desa Ginang itu pun kembali bergerak. Ada rasa duka dan ngeri yang
menyelimuti hati, ketika teringat bencana yang bakal mengancam mereka.
5
Keesokan harinya seluruh Desa
Ginang gempar ketika mendengar berita yang dibawa rombongan Ki Sagotra. Kesan
kengerian tampak jelas baik pada wajah maupun sorot mata mereka. Sebagian besar
penduduk masih bersedih karena kematian suami,ayah, anak,ataupun saudara.
Ki Sagotra sengaja mengumpulkan
semua penduduknya di balai desa guna memberitahukan peristiwa yang dialami
rombongan tadi malam.
"Kuharapkan, dengan adanya
pemberitahuan ini, kita semua semakin meningkatkan kewaspadaan! Hindarilah
bepergian jauh. Dan kalau terpaksa, usahakan untuk tidak sendiri. Paling
sedikit bertiga! Ini untuk sekadar pencegahan terhadap terjadinya hal-hal yang
tak kita inginkan!" jelas Ki Sagotra panjang lebar.
Tidak ada tanggapan sama sekali
dari para penduduk. Mereka semua tenggelam dalam alun pikiran masing-masing.
Pikiran-pikiran yang diselimuti kengerian dan ketakutan. Karena itulah,
meskipun kelihatannya mendengarkan, mereka tidak mendengar jelas semua ucapan
Kepala Desa Ginang itu.
"Nah! Kalau kalian semua
telah merasa jelas, kupersilakan meninggalkan tempat ini! Tapi ingatbaik-baik
pesanku, usahakan untuk tidak berada sendirian! Kalianmengerti?!"
"Mengerti...!" sahut
para penduduk meskipun dengan pengertian setengah-setengah. "Bagus!
Sekarang kalian boleh pergi! Tenangkanlah hati kalian, karena aku tidak akan
berdiam diri begitu saja. Akan
kukirim orang untuk meminta bantuan pada perguruan-perguruan silat aliran
putih. O ya, hampir lupa. Di sini pun telah hadir dua orang pendekar sakti!
Yang lelaki bernama Arya Buana, tapi lebih dikenal dengan julukan Dewa
Arak," lanjut Ki Sagotra sambil menolehkan wajah ke Dewa Arak.
"Sedangkan yang di sebelahnya adalah rekan seperjalanannya. Melati
namanya. Dirinya pun memiliki kepandaian yang tidak kalah hebat dibanding Dewa
Arak! Merekalah yang akan membantu kita menumpas sisa-sisa kaum iblis
itu!" jelas kepala desa dengan lantang.
Memang antara Arya, Melati, dan
Ki Sagotra telah saling mengenal lebih jauh. Hal itu dilakukan selama
perjalanan menuju Desa Ginang. Tak aneh kalau kini Ki Sagotra telah bisa
memperkenalkan sepasang pendekar itupada warganya.
Seketika itu pula puluhan pasang
mata tertuju ke Dewa Arak dan Melati yang duduk di sebelah Ki Sagotra. Ada
sorot ketidakyakinan dalam pancaran sinar mata dan raut wajah para penduduk,
ketika melihat kedua tokoh yang akan membantu mereka menghadapi penyembah
patung keramat itu adalah dua orang muda belia. Sebagai petani, mereka tidak
pernah mencampuri urusan dunia persilatan. Tak aneh kalau mereka sama sekali
tidak mengenal julukan Dewa Arak yang telah sangat kesohor dalamdunia
persilatan.
Sementara itu, Dewa Arak dan
Melati langsung menganggukkan kepala sambil melemparkan senyum ramah pada para
penduduk Desa Ginang, begitu Ki Sagotra memperkenalkan jati diri mereka.
"Nah! Sekarang kalian boleh
kembali ketempat masing-masing. Kecuali... kau!Kau,dan kau!" tuding Ki
Sagotra pada tiga orang di antara mereka. "Aku memerlukan kalian untuk
menyampaikansurat permintaan tolongku kepada perguruan-perguruan silat aliran
putih."
Seketika itu pula wajah ketiga
orang yang terpilih itu pias. Terlihat jelas kalau mereka dilanda rasa takut
yang amat sangat. Tapi, apa daya? Ini sudah pilihan kepala desa, dan mereka
tidak bisa membantah lagi. Dengan perasaan iri, mereka menatap kawan-kawan
mereka yang tidak terpilih, dan kini tengah beranjak meninggalkan tempat
pertemuanitu.
Dewa Arak dan Melati hanya bisa
mengeluh dalam hati melihat ketakutan yang melanda hati tiga penduduk yang
terpilih itu. Mereka berdua sama sekali tidak bisa menyalahkan. Karena sepasang
pendekar muda ini telah mendengar berita kalau dulu, puluhan tahun lalu, setiap
urusan yang dikirimkan guru silat desa ini tidak pernah sampai di tempat
tujuan! Mereka tewas di tengah jalan dalamkeadaan mengerikan!
"Nah! Ini surat yang harus
kalian sampaikan!" kata Ki Sagotra lagi, berusaha untuk tidak mempedulikan
perasaanyang berkecamuk di hatiketiga orang urusan itu.
Dengan hati berat, ketiga
penduduk yang terpilih jadi utusan itu bangkit dan menerima gulungan surat yang
diulurkan kepala desa. Ada dua buah gulungan.
"Serahkan surat ini ke
Perguruan Belibis Putih dan Perguaian Tangan Geledek," perintah Ki
Sagotra. "Kalian takperlu menceritakan peristiwa yang telahterjadi,
didalamsurat itu telah kuceritakan semuanya. Jelas?!" pesan Ki Sagotra
lagi.
"Jelas,Ki," jawab tiga
orang itu hampir berbareng. "Bagus! Nah, sekarang berangkatlah!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
ketiga utusan yang bertubuh kekar dan berotot karena terbiasa bekerja keras itu
mengayunkan kaki meninggalkan tempat itu. Langkah mereka nampak gontai. Lesu,
selesu hati dan wajah mereka yang terus diliputi rasa takut dan cemas.
Sekarang di tempat itu tinggal Ki
Sagotra, Arya, dan Melati, serta lima orang kepercayaan Ki Sagotra. Mereka
termasuk di antara penduduk yang selamat dalam peristiwa paku beracun karena
tak ikutmeluruk ke kuburan Warsini.
Setelah ketiga orang utusan tak
terlihat lagi, Ki Sagotra mengalihkan perhatian ke Dewa Arak dan Melati. Kedua
pendekar itu sejak tadi diam saja menyaksikan semua kejadian di dalampertemuan
warga Desa Ginang.
"Bagaimana dengan nasib
Barada, Ki?! Apakah sudah ada berita mengenai dirinya?!" tanya Arya
tiba-tiba.
"Hhh...! Aku belum sempat
melakukan tindakan apa pun untuk mengusut beritanya, Arya. Mungkin nanti siang
baru kuutus serombongan orang untuk mencari jejaknya. Hhh...! Kali ini kelompok
penyembah setan terkutuk itu memang harus dilenyapkan untuk selama-lamanya.
Bahkan patung itu pun harus dihancurkan! Kalau tidak, bencana ini akan terus
datang,"desis Ki Sagotra dengan suara ditekan berat
"Kami berada dibelakangmu,
Ki," sambut Dewa Arak, cepat"Percayalah, kami takakan meninggalkan
Desa Ginang sebelum masalah ini tuntas!"
"Benar, Ki!" Melati pun
menyahut "Dan jangan khawatir masalah ini tidakakan selesai! Kau tahu, Ki.
Tidak ada satu pun persoalan yang tidak selesai, setiap kali kawanku ini turun
tangan!"
"Melati...," tegur
Arya, pelan mendengar ucapan Melati yang sepintas lalu menunjukkan kesombongan.
"Ah...! Begitukah?! Kalau
benar demikian, seluruh penduduk desa ini, tentu saja termasuk aku akan
berterima kasih sekali pada kalian berdua. Walaupun, untuk kesediaan kalian
membantu kami saja, sudah cukup untuk membuat kami mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga," ujar Ki Sagotra dengan sepasang mata berbinar.
"Lupakanlah semua basa-basi
itu, Ki! Bukankah hal paling penting yang harus kita lakukan adalah melenyapkan
pelaku penyebar maut itu?!" Arya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ki Sagotra mengangguk-anggukkan
kepala membenarkan ucapan pemuda berambut putih keperakan disampingnya.
Mendadak Dewa Arak menolehkan
kepala ke kiri. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya suara langkah kaki
mendekati tempat itu. Namun, belum sempat pemuda berambut putihkeperakan
ituberpaling secara penuh,angin telah lebihdulu berkesiut. Dan...
Jliggg!
Di tempat itu telahberdiri
seorang kakek bertubuh tinggi kurus dan berpakaian kuning. Menilik dari kumis,
jenggot, dan rambutnya yang telah memutih, kakek itu telah berusia lanjut.
Mungkin tak kurang dari delapanpuluh tahun.
"Eyang Sawunggaling...!"
seru Ki Sagotra agak terkejut.
Kepala Desa Ginang itu langsung
memberi hormat, diikuti lima orang kepercayaannya. Maka, Dewa Arak dan Melati
punburu-buru memberi hormat pula.
Kakek berpakaian kuning yang
ternyata bernama Eyang Sawunggaling segera membalas penghormatanmereka.
"Aku mendengar keributan di
desa ini, Sagotra?! Apa yang telah terjadi?! Kudengar kelompok penyembah patung
keramat itu muncul lagi dan meminta korban! Apakah hal itu benar?!" tanya
Eyang Sawunggaling.
Anehnya, kedua bibir kakek
berpakaian kuning sama sekali tidak bergerak! Padahal suara tanya itu jelas
terdengar di telinga mereka.
Dewa Arak dan Melati terkejut
bukan kepalang melihat kenyataan ini, Jelas, kalau kakek itu memiliki
kepandaian tinggi, sehingga mampu berbicara tanpa menggerakkan bibir. Eyang
Sawunggaling mampu berbicara melalui perut!
Sepasang pendekar muda itu
melirik Ki Sagotra dan orang-orang kepercayaannya. Ternyata raut wajah mereka
tidak menampakkan perasaan kaget. Hanya ada dua dugaan. Mereka tidak menganggap
hal itu sebagai hal yang aneh, atau mungkin mereka memang sudah mengetahui,
kakekberpakaian kuning itu orang yang memiliki kepandaiantinggi.
"Benar, Eyang. Semua yang
Eyang dengar itu benar. Korban telah berjatuhan dengan ciri-ciri kematian yang
sama dengan kejadian puluhan tahun lalu. Aku, lima orang kepercayaanku, danpara
penduduk yang selamat telah menyaksikansendiri kematianbeberapa penduduk
desa."
Kemudian secara singkat Ki
Sagotra menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi. "Hm..., benarkah
patung keramat itu telah muncul lagi?!" tanya Eyang Sawunggaling
setengah takpercaya.
"Benar, Eyang. Memang, kami
tidak sempat menyaksikan kebenarannya, begitu juga dengan korban yang berada di
patung itu. Tapi dua orang sahabat ini menyaksikannya," sahut Ki Sagotra
sambil menunjuk Dewa Arak dan Melati sebagai saksinya.
Eyang Sawunggaling menolehkan
kepala ke Dewa Arak dan Melati. Dengan penuh selidik ditatapnya sepasang
pendekar muda itu.
"Hm..., kalian berdua bukan
orang sembarangan rupanya," ujar Eyang Sawunggaling tanpa menggerakkan
bibir, setelah memperhatikan sejenak. "Coba kalian ceritakan semua yang
kalian lihat."
Dewa Arak dan Melati segera
menceritakansemuanya secara bergantian.
"Hm...," Eyang
Sawunggaling mengangguk-anggukkan kepala setelah sepasang pendekar berwajah
elok itu menyelesaikan ceritanya.
"O ya, hampir aku lupa.
Arya, Melati, beliau ini Eyang Sawunggaling. Orang yang telah berhasil menumpas
kepala kelompok penyembah patung keramat
itu," Ki Sagotra memperkenalkan Eyang Sawunggaling pada Melatidan Dewa
Arak.
Dewa Arak dan Melati
mengangguk-anggukkan kepala.
Rupanya ini dia tokoh yang luar
biasa itu? Pantas Ki Sagotra dan lima orang kepercayaannya begitu
menghormatinya, pikir kedua pendekar itu.
"Aku juga semula tidak
percaya, Eyang. Bukankah dahulu kita dibantu tokoh-tokoh persilatan aliran
putih telah berhasil menumpas habis gerombolan itu. Bahkan sarang mereka pun
telah kita hancurkan hingga rata dengan tanah! Rasanya mustahil kalau ada dari
antara mereka yang selamat. Bukankah begitu, Eyang?!" ucap Ki Sagotra
lagi.
Eyang Sawunggaling tak langsung
menjawab pertanyaan itu. Kakek berpakaian kuning itu terdiam dengan dahi
berkernyit dalamseperti tengah memikirkan sesuatu.Lalu...,
"Hhh...!" Eyang
Sawunggaling menghela napas berat seolah-olah tengah mengusir suatu ganjalan di
hati. "Sebenarnya tidak semua anggota gerombolan itu tertumpas. Masih ada
di antara mereka yang selamat," lanjutnya.
"Mana mungkin, Eyang?!"
bantah Ki Sagotra, heran. "Aku tahu pasti takseorang pun di antara mereka
yang selamat. Sekeliling tempat itu telah kita kurung. Demikian pula dengan
jalan rahasia yang menghubungkan sarang mereka dengan tempat lain, telah kita
hadang! Bagaimana bisa ada yang lolos?! Apa kau tidak salah, Eyang?!"
"Tidak, Sagotra. Aku tidak
salah. Memang masih ada yang tidak tertumpas," ujar kakek berpakaiankuning
itu dengan yakin.
"Kau mengetahuinya secara
pasti, Eyang?" tany Ki Sagotra meminta ketegasan.
"Benar," Eyang
Sawunggaling menganggu kepala. Terlihat jelas di mata Dewa Arak betapa kakek
berpakaian kuning itu menanggung beban berat. Itu bisa diketahui dari caranya
menjawab pertanyaan Sagotra. Tentu saja hal ini menimbulkan tanda tanya besar
di hati pemuda berambutputih keperakanitu.
"Dan kau membiarkannya, Eyang?!"
kejar Ki Sagotra setengah tak percaya bercampur kaget. Bahkan saking tidak
menyangkanya, pertanyaan itu dikeluarkan dengan setengah menjerit
Kali ini Eyang Sawunggaling tak
menjawab, hanya menganggukkan kepala. Tapi hal itu sudah cukup untuk menjelaskansemuanya.
"Hhh...!" Ki Sagotra
menghela napas berat "Kalau tidak mendengar dari Eyang, aku tak akan
percaya, Eyang. Tapi, mengapa kau melakukan hal itu, Eyang? Bukankah kau
sendiri telah mengetahui betapa besar ancaman bahaya kelompok terkutuk itu. Jangan-jangan
kekuatan kelompoksetan itu sekarang jauh lebih kuat dari yang dulu."
"Tidak mungkin!" tandas
Eyang Sawunggalin mantap.
"Mengapa kau begitu yakin,
Eyang?! O ya, kalau boleh, aku ingin tahu mengapa Eyang membiarkannya lolos
dari kematian? Danbagaimana caranya dia bisa lolos dari maut?!"
"Sayang sekali, Sagotra. Aku
belum bisa menjawabnya sekarang. Tapi, percayalah! Aku yang akan menangkapnya
dan membawanya kepadamu untuk dihukum sesuai dengan tindakan
kejahatannya!"
Usai berkata demikian, kakek berpakaian
kuning itu menghentakkan kaki. Hanya dengan sekali lesatan saja, tubuhnya telah
berada tiga belas tombak di depan. Hal ini menjadi pertanda kalau ilmu
meringankan tubuhnya telah mencapai tingkat kesempurnaan.
Dewa Arak, Melati, dan Ki Sagotra
menatap hingga bayangan tubuh Eyang Sawunggaling lenyap di kejauhan.
"Hhh...! Sama sekali tak
kusangka kalau Eyang Sawunggaling melakukan tindakan yang demikian berbahaya.
Membiarkan anggota kelompok penyembah setan itu lolos. Hhh...! Benar-benar tak
bisa kumengerti," desah Ki Sagotra setengah tidak percaya.
"Tapi kalau mendengar
ceritanya, bisa kusimpulkan kalau yang dibiarkan lolos oleh Eyang Sawunggaling
hanya satu orang," ujar Arya.
"Meskipun hanya satu orang,
tetap saja berbahaya, Arya. Keberanian tindakannya telah menjadi bukti bahwa
dirinya telah memiliki kekuatan! Dan jika hal itu benar, dengan mudah kami
akandibinasakannya. Masalahnya, saat ini kami belum mempunyai persiapan sedikit
pun untuk menghadapinya," jelas Kepala Desa Ginang setengah mengeluh.
"Lalu..., sekarang apa yang
hendak kau lakukan, Ki?" tanya Arya ingin tahu. Ki Sagotra mengangkat
bahu.
"Aku belum memikirkan
tindakan apa pun, Arya. Paling-paling mencari tahu di mana kelompok jahanam itu
bersarang. Baru setelah itu, dengan bantuan tokoh-tokoh persilatan yang kami
hubungi, dan juga kalian berdua, serta mungkin Eyang Sawunggaling, tindakan
penyerbuan akandilakukan."
"Kalau demikian, bagaimana
jika kami mencoba mencari tahu sarang mereka, Ki? Daripada hanya berdiam diri
di sini. Barangkali ada yang kami dapatkan. Kalau tidak sarang penjahat
itu,yahhh...,siapa tahu mayatBarada," usul Dewa Arak.
"Itu pun bagus, Arya,"
jawab Ki Sagotra setelah memikirkannya sejenak. "Kalau demikian, kami
pergi dulu, Ki. Ayo, Melati!"
Setelah berkata demikian, Arya
segera melesat meninggalkan tempat itu bersama Melati. Hanya dalam beberapa
lesatan, tubuh mereka sudah lenyap dari pandangan Ki Sagotra dan anak buahnya.
6
Bunyi derap kaki-kaki kuda
menghantam jalan tanah berdebu mengiringi perjalanan tiga sosok tubuh kekar
berotot. Menilik pakaian yang dikenakan, mereka adalah para petani. Tidak
salah, ketiga orang ini ternyata penduduk Desa Ginang yang diutus untuk mengirimkan
surat Ki Sagotra kepada Perguruan Belibis Putih danPerguaian Tangan Geledek.
Ctar! Ctar! Ctar! "Hiya!
Hiyaaa...!"
Tak henti-hentinya tiga orang
warga Desa Ginang itu melecutkan cambuknya ke bagian belakang tubuh kuda
tunggangannya. Itu pun masih disertai teriakan-teriakan keras. Semua
dimaksudkan agar kuda-kuda ituberlari lebih cepat.
Dalam cekaman rasa takut yang
luar biasa, tiga orang bertubuh kekar itu kehilangan akal jernihnya. Tak
terpikir oleh mereka rasa sakit yang diderita kuda-kuda itu. Yang ada di benak
mereka hanyalah tiba ditempat tujuansecepat mungkin.
Dan hal itu hanya bisa tercapai
kalau kuda-kuda mereka berlari dengan cepat. Sehingga mereka melecutnya
terus-menerus. Ketiga orang itu tidak berpikir kalau kekuatan binatang-binatang
yang mereka tunggangi ada batasnya. Demikianpula kecepatannya.
Debu tebal yang mengepul tinggi
di belakang jadi pertanda betapa cepatnya lari kuda-kuda itu. Tak aneh kalau
sebentar saja mereka telah melewati mulut desa. Dan tak lama lagi mereka
akanmelewati HutanJati.
Dan seiring dengan semakin
dekatnya dengan mulut Hutan Jati, ketegangan yang melanda hati ketiga orang itu
pun semakin memuncak. Mereka tahu kalau beberapa penduduk Desa Ginang telah
tewas secara mengerikan di dalam hutan itu.
Seiring dengan meningkatnya rasa
takut yang mencekam, semakin sering pula pecut-pecut mereka mendaratdi tubuh
kuda-kuda itu.
Dan kekhawatiran tiga orang
penduduk Desa Ginang itu terbukti. Ketika mereka baru saja melewati mulut
HutanJati, berkelebat sesosokbayangan coklatmemotong jalan. Dan...,
"Hup!"
Tepat di hadapan mereka, sosok
bayangan coklat itu mendaratkan kaki. Karuan saja ketiga utusan Ki Sagotra
terkejut bukankepalang. Tanpa sadar, tali kekang kuda ditarik.
"Hiiieeeh...!"
Diiringi suara ringkikan nyaring,
kuda-kuda itu berhenti, dengan kaki depan terangkat tinggi-tinggi ke udara.
"Aaah..., kiranya kau, Den!
Hampir saja kami mati kaget...?" seru salah seorang di antara tiga utusan
Ki Sagotra. Suaranya menyiratkan perasaan lega.
Sosok berpakaian coklat itu
menyeringai.
"Hendak ke mana kalian
sampai tergesa-gesa begitu?" tanya sosok yang dipanggil den itu, tidak
ramah suaranya.
"Kami diutus ayahmu untuk
menyampaikan surat kepada Perguruan Belibis Putih dan Perguruan Tangan
Geledek," jawab lelaki itusambil mengacungkan dua gulungan surat.
Lelaki itu menjawab pertanyaan
sambil tersenyum. Dirinya masih menunjukkan sikap ramah, kendati sosok
berpakaian coklat itu memperlihatkan tindak-tanduk sebaliknya. Dan begitu
lelaki itu tersenyum tampak gigi depannya yang patah.
"Kau sendiri mengapa berada
disini, Den?" tanya lelaki bergigi patahitu.
"Aku?! Kau menanyakan
keberadaanku di sini?! Tidakkah kalian bisa menduganya?!"
sambutsosokberpakaian coklat dengan sikap dansuara yang semakin membuat tiga
utusan itu merasa tidak enak.
"Benar, Den. Kalau kau tidak
keberatan, kita bisa pergi bersama mengantarkan surat ini. Kau tahu, Den.
Sekarang bencana besar tengah mengancam desa kita...," jelas lelakibergigi
patahdengan suara pelan.
"Benar, Den!" sambung
kawannya mulaibicara.
"Hup!"
Tepat di hadapan mereka,
berkelebat sesosok bayangan coklat yang menghadang. Karuan saja ketiga
penunggang kuda itu terkejut setengah mati.
"Hieeeh...!" Disertai
ringkikan kuda-kudanya, mereka menghentikan laju kudanya.
"Ah! Kiranya kau,
Den!"seru salah seorang penunggang kuda paling depan.
"Hmh...! Tak perlu kalian
memberitahukannya padaku!" tandas sosok berpakaian coklat ketus.
"Bukankah bencana yang diakibatkanmunculnya patung keramat itu
lagi?!"
"Benar. Jadi, kau
telah mengetahuinya pula, Den? Apakah ayahmu yang menceritakannya?
Tapi, kami yakin jika Eyang Sawunggaling, gurumu, bersedia turun tangan dan
surat-surat ini bisa sampai di tujuan, kelompok keji itu bisa kita tumpas
seperti puluhan tahun lalu," lelakibergigi patah terus mengumbar
pembicaraan.
"Tutup mulutmu! Jangan
sembarangan membacot! Aku sudah tahu bencana yang akan menimpa Desa Ginang,
karena akulah pelakunya! Kalian dengar?! Aku pelakunya! Dan kalian enak saja
mengatakan kalau aku bakal tertumpas?! Kalian harus mampus! Cabut senjata
kalian! Atau ingin mati tanpa melakukan perlawanan?!"
"Biadab! Jadi, kau pelaku
semua kekejian itu, Bangsat! Kau tahu tindakanmu akan membuat ayah dan gurumu
tak akan bisa mati meram! Kau harus menerima balasannya, Manusia Keji!"
Usai berkata demikian, lelaki
bergigi patah itu melompat turun dari kuda. Dan dengan cukup mantap,kedua
kakinya berhasil mendarat
Tindakan yang sama pun dilakukan
kedua teman-nya. Mereka melompatdari punggung kuda. Dan....
Srat! Srat! Srat!
Sinar terang berkeredep ketika golok-golok
yang tergantung di pinggang, mereka cabut "Kau harus menerima
balasannya,Iblis Keji!
Hiyaaat..!"
Tanpa menunggu lebih lama lagi
tiga urusan Ki Sagotra langsung melakukan penyerangan terhadap sosok berpakaian
coklat. Golok-golok mereka menyambar deras ke bagian tubuhputra Ki Sagotra itu.
Tapi sosok berpakaian coklat
hanya tersenyum mengejek melihat serangan lawan-lawannya. Jelas, dirinya
menganggap ringan serangan-serangan itu. Tak nampak adanya gelagat kalau putra
Ki Sagotra akai melakukan tindakan, baik menangkis maupun mengelak. Dia tetap
berdiam diri dengan senyum penuh ejekan menghias wajahnya.
Tak! Tak!Tak!
Bertubi-tubi tiga batang golok
itu mendarat di dada dan perut sosok berpakaian coklat. Namun bukan tubuh putra
Kepala Desa Ginang yang terbelah, melainkan tubuh tiga utusan itu. yang
terhuyung-huyung! beberapa langkahke belakang.
Mata golok mereka gompal-gompal.
Ketiganya merasakan tangannya begitu sakit. Seolah-olah bukan tubuh manusia
yang mereka bacok melainkan gumpalan baja! Benturan mata golok dengan tubuh
putra Ki Sagotra pun terdengar seperti beradunya dua buah logam keras.
"Ha ha ha...!"
Sosok berpakaian coklat itu
tertawa bergelak. Tawa gembira bernada penuh kemenangan.
"Kalian boleh pilih bagian
yang paling empuk! Ha ha ha...! Kuberi kalian kesempatan untuk melancarkan
serangan sepuas hati kalian, sebelum aku turun tangan membunuh kalian! Ha ha
ha...!"
Tiga orang utusan Ki Sagotra
saling menatap dengan sorot mata ngeri. Sejak semula pun mereka telah menyadari
kalau sosok berpakaian coklat itu terlalu kuat bagi mereka. Namun, perasaan
geram dan dendam, membuat mereka tak menghiraukannya. Ditambah karena adanya
perasaan nekat karena tahu kalau sosok berpakaian coklat tak akan mau
mengampuni mereka.
Tapi sekarang ketiganya sadar
kalau tindakan perlawanan mereka akan sia-sia. Itulah sebabnya meskipun dalam
adu pandang itu tidak terlihat isyarat apa pun. Namun mereka sama-sama mengerti
kalau masing-masing diri membuat keputusan sama. Kabur! Kebetulan kuda-kuda
mereka masih berada disitu.
Maka bagai diberi perintah,
ketiga orang ini membalikkan tubuh dan berlari menuju kuda-kuda mereka.
"Hup!"
Hampir bersamaan waktunya, ketiga
penduduk desa itu telah berhasil duduk di punggung kuda.
***
"Hmh! Mau ke mana kalian?
Jangan harap bisa lolos dari tanganku!" desis sosok berpakaian coklat,
masih dengan sikap tenang. Tidak terlihat sedikit pun tanda-tanda kalau dirinya
merasa kaget melihat tindakan yang diambil tiga orang lawannya.
Dan seiring keluarnya ucapan itu,
tangan kanannya dikibaskan setelah terlebih dulu dimasukkan ke balik baju.
Sing! Sing! Sing!
Bunyi berdesing nyaring terdengar
dari bendar benda yang dikibaskan sosok berpakaian coklat, dan ternyata
pakuitu, meluncur.
Cap! Cap! Cap!
"Hieeeh...!"
Baru saja ketiga kuda itu bcriari
beberapa langkah, paku paku yang dilepaskan sosok berpakaiancoklat telah
menancap ditubuh bagian belakangnya.
Dan seperti juga paku-paku yang
membantai penduduk Desa Ginang, paku-paku yang dilepaskan sosokberpakaian
coklat kali ini pun mengandung racun. Bahkan mungkin jauh lebih ganas.
Terbukti, daya kerjanya demikian cepat Baru saja berlari beberapa tindak
setelah terhujam paku, ketiga kuda langsung ambruk ketanah.
Tentu saja hal itu membuat para
penunggangnyaj terkejut bukan kepalang. Tapi karena sama sekali tidak menyangka
terjadinya hal seperti itu, mereka tidak sempat melompat Akibatnya, tiga utusan
Ki Sagotra pun ambruk di tanah bersama kuda-kuda tunggangannya.
Brukkk!
Untungnya di saat terakhir,
mereka masih sempat melakukan tindakan penyelamatan diri, sehingga tidak
tertindih kuda. Jadi, meskipun ikut terbawa jatuh, mereka tetap berada di atas
tubuh kuda.
Tapi keberuntungan mereka hanya
sampai di situ saja. Karena sebelum mereka sempat berbuat
sesuatu,tangansosokberpakaian coklat kembali dikibaskan.
Sing! Sing! Cap, cap! "Akh!
Akh!"
Jeritan-jeritan tertahan keluar
dari mulut tiga penduduk yang malang itu, ketika paku-paku yang dilepaskan
sosok berpakaian coklat menancap di tubuh mereka. Sesaat kemudian, akibatnya
mulai tampak. Tubuh ketiga orang itu berkelojotan seperti ayam disembelih! Dan
yang lebih mengerikan lagi, dari mulut mereka keluar cairan putih dan kental.
"Ha ha ha...!"
Sosok berpakaian coklat tertawa
bergelak melihat ketiga lawannya menggelepar-gelepar menjelang ajal. Masih
dengan tawa yang tidak putus, ditunggunya hingga tubuh ketiga orang itu diam,
tidakberkutik lagi.
Setelah itu, putra Ki Sagotra
melesat cepat meninggalkan mayat ketiga lawannya. Dan hanya dalam beberapa kali
lesatan tubuhnya telah lenyap ditelan kelebatan Hutan Jati.
Kini di tempat itu tinggal ketiga
mayat utusan Ki Sagotra. Tidak ada lagi suara ribut-ribut yang berasal dari
teriakan-teriakan dan sabetan senjata tajam. Suasana kembaii hening seperti
semula. Yang terdengar hanyalah hembusan angin. Pelan, seperti tengah bersedih.
Bahkan awan pun berarak menutupisang
Surya yang telah hampir berada diatas kepala. Alam seperti ikut bersedih
denganterjadinya peristiwa itu.
Cukup lama keheningan
berlangsung, sebelum akhirnya dari arah Desa Ginang melesat cepat dua
sokbayangan! Mula-mula tak jelas karena jaraknya yang masih terlalu jauh
sehingga yang terlihat hanya benda hitamsebesar ibu jari kaki.
Namun ternyata benda-benda hitam
itu memiliki kecepatan luar biasa. Terbukti hanya dalam bebera saat saja,
bentuknya telah terlihat jelas. Dua benda itu ternyata dua orang manusia yang
mengenakan pakaian ungu dan putih. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak dan Melati.
"Kau lihat itu,
Melati?" sambil tetap berlari, Arya bertanya. Telunjuk kanannya
ditudingkan ke depan.
"Lihat, Kang," sahut
Melati sambil menganggukkan kepala.
Gadis berpakaian putih telah
melihat jelas pemandangan di hadapannya. Tiga sosok tubuh manusia tiga ekor
kuda bergeletakandi atas tanah.
Seperti juga Arya, gadis
berpakaian putih itu menjawab pertanyaan tanpa menghentikan lari. Yang
menakjubkan, mereka sama sekali tidak merasa kesulitan melakukan hal itu. Nada
bicaranya biasa saja, tidak terengah-engah seperti biasanya orang yang
berbicara dalam keadaanberlari.
"Sepertinya...,
korban-korban itu para penduduk yang diutus Ki Sagotra untuk menyampaikan surat
ke Perguman Belibis Putih dan Perguman Tangan Geledek, Kang?" duga Melati.
"Kurasa kau benar,
Melati." "Hih!"
Hampir berbarengan, sepasang
pendekar muda sampai di dekat tubuh-tubuh yang bergelimpangan itu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Dewa Arak dan Melati langsung jongkok memeriksa ketiga mayat itu. Hariya
sebentar mereka melakukanpemeriksaan.
"Benar. Mereka utusan-utusan
yang dikirim Ki Sagotra, Melati," ucap Arya dengan suara berdesah.
"Ya.... Dan kematian mereka
sama persis dengan kematian para penduduk yang mencoba mendekati makam
Warsini," sahut Melati. "Berarti mereka dibunuh orang yang
sama." "Lebih tepatnya lagi kelompok yang sama andaikata pelakunya
lebih dari seorang,"
sambung Arya setengah memperbaiki
ucapan kekasihnya.
"Kalau menurut dugaanmu...,
apakah pelakunya lebih dari seorang, Kang?" tanya Melati, ingin tahu
pendapat kekasihnya.
Arya tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Diedarkan pandangannya sebentar. Lalu...,
"Meskipun memang belum tentu
benar, tapi kemungkinannya besar, Melati. Misalnya, pelaku pencegatan ini
seperti telah tahu kalau ada orang yang akan melalui tempat ini untuk meminta
bantuan. Kau lihatbuktlnya? Surat-surat yang dititipkan Ki Sagotra tidak ada di
sini. Berarti pelaku pencegatan ini telah mengambilnya," jelas Arya panjang
lebar.
"Jadi, kalau menurutmu
kelompok penyembah setan itu mempunyai mata-mata, Kang? Dan mata-mata itu hadir
ketika Ki Sagotra memberikan tugas pada ketiga orang ini? Menurutku, sulit,
Kang. Kau tahu sendiri, kalau waktu Ki Sagotra menyerahkan surat-surat itu
hanya ada kita, Ki Sagotra, dan lima orang pengawalnya. Dan sampai kita pergi,
tak ada satu pun di antara mereka yang beranjak dari tempatnya. Kapan mereka
memberitahukan kepada kelompoknya di sini untuk bersiap-siap mencegat?!"
berondong gadis berpakaian putih itu, menyatakan ketidaksetujuannya.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Bisa diterimanya alasan yang diajukan kekasihnya. Alasan itu demikian masuk
akal.
"Aku lebih condong menduga
kalau tindakan yang akan dilakukan Ki Sagotra, sudah ditebak oleh kelompok keji
itu. Tentu, terkaan itu berdasarkan pengalaman yang mereka dapatkan
puluhantahun ialu. Bagaimana menurutmu, Kang?" tanya Melatipenuh semangat
"Dugaanmu masuk akal,
Melati. Dan mungkin pula benar. Meskipun demikian, aku tetap yakin kalau pelaku
keonaran ini tidak sendirian!" Arya tetap berkeras dengan keyakinannya.
"Aku pun menduga
demikian,Kang,"dukung Melati.
Arya tak menanggapinya lagi. Dan
rupanya Melati memang telah selesai pula mengeluarkan dugaan yang berkecamuk di
hatinya. Dan sekarang, keduanya mulai sibuk memperhatikan keadaan di sekitar
tempat itu.
"Apakah kau telah menemukan
titik terang yang dapat dijadikan batu loncatan untuk mengungkap rahasia
ini,Kang?" tanya Melati, lagi.
Arya menganggukkan kepala
pertanda membenarkan. "Apakah titikterang itu, Kang?" lanjut Melati
ingin tahu. "Eyang Sawunggaling," jawab Arya singkat.
"Eyang Sawunggaling,"
dahi Melati berkernyit "Apakah kau bermaksud mencari keterangan darinya
mengenai kelompok penyembah setan itu, Kang?! Apakah penjelasan Ki Sagotra
kurang jelas?!"
"Bukan hal itu yang menjadi
alasanku, menjadikan Eyang Sawunggaling sebagai titik terang yang dapat membantu
kita mengungkapkan rahasia ini," jawab Arya setengah memperbaiki
ucapanMelati.
"Lalu...,"
"Kau tidak mendengar
percakapan Eyang Sawunggaling dengan Ki Sagotra, Melati?" Dewa Arak
malahbalas bertanya.
Kontan Melati termenung. Benaknya
berputar untuk mengingat-ingat pembicaran yang berlangsung antara Eyang
Sawunggaling dan Ki Sagotra dibalaidesa tadi
"Aku ingat, Kang!"
celetuk Melati setelah beberapa saat lamanya memutar otak. "Bukankah Eyang
Sawunggaling telah membiarkan salah seorang kelompok keji itu lolos dari
maut?!"
'Tepat, Melati! Dan kau dengar
sendiri kan? Eyang Sawunggaling tidak mau memberitahukan pada Ki Sagotra siapa
orang yang ditolongnya dan di mana adanya sekarang!"
"Benar, Kang. Malah Eyang
Sawunggaling seperti berada di pihak pelaku pembunuhan keji itu. Ini berarti
Eyang Sawunggaling punya hubungan erat dengan kelompok keji itu!" dengan
penuh semangatMelati mengutarakandugaannya.
"Tapi ingat, Melato. Kakek
itulah yang telah menumpas kelompok itu. Mustahil kalau dirinya kini malah
bersekutu,"bantah Arya.
"Barangkali dia diancam,
Kang?" kembali Melati mengajukan dugaan.
"Untuk jelasnya lebih baik
kita selidiki nanti. Sekarang yang penting kita harus masuk Hutan Jati lagi.
Barangkali ada sesuatu yang kita temukandi sana."
Kemudian setelah mengubur mayat
utusan Ki Sagotra dan bangkai tiga ekor kuda itu, Dewa Arak dan Melati melesat
memasuki hutan.
7
"Kang...,"sapa Melati.
Saat itu sepasang pendekar muda
telah berada di dalam Hutan Jati. Mereka berjalan saling bersisian.
"Ada apa, Melati?"
tanya Arya seraya menolehkankepala pada kekasihnya.
"Apakah kau bermaksud terus
mengadakan pencarian?! Ingat, Kang. Kita sudah sejak siang tadi mengaduk-aduk
seluruh hutan ini, tapi mana hasilnya? Tidak! Kini kau masih saja terus
memutari seisi hutanini! Apakahkau tidakbosan?"
Arya menghentikan langkah.
Kemudian ditatap wajah kekasihnya lekat-lekat. Mau tak mau hal itu membuat
Melati menghentikan langkah kakinya pula. Bahkan, gadis berpakaian putih itu
balas menatap. Dewa Arak tersenyum untuk meredakan ketegangan yang melanda hati
kekasihnya.
"Aku akan terus melakukan
pencarian, Melati. Dan bahkan aku bertekad untuk tinggal di tempat ini sampai
berhasil kudapatkan sebuah titik terang. Entah mengapa,aku yakin sekali kalau
pemecahan semua masalah ada di Hutan Jati ini. Sekarang, kita cari tempat untuk
beristirahat!" begitu keputusan yang diambil pemuda berambutputih
keperakan itu.
Dan seiring selesai ucapannya,
pemuda berambut putih keperakan itu mengedarkan pandang ke sekelilingnya. Hanya
sebentar saja. Dalam waktu sesingkat itu telah berhasil ditemukan tempat
istirahat yang tengah dicarinya. Memang, sinar bulan sepotong di langit cukup
jelas untuk menampakkan keadaandi sekitar tempat itu.
"Mari, Melati," ajak
Dewa Arak seraya mengayunkan langkah lebih dulu menghampiri sebatang pohon
besar berdaun rimbun yang tumbuh di dekatsitu.
"Apa yang hendak kau
lakukan, Kang?" tanya Melati. Rupanya gadis itu masih belum mengerti
tindakanyang akandilakukanDewa Arak.
"Istirahat di tempatyang
aman, Melati," jawab Arya. Kemudian.... "Hih!"
Hanya dengan sekali genjotan
kaki, tubuhnya telah melayang ke atas dan hinggap pada salahsatu cabang pohon
itu.Terpaksa Melati punmelakukan tindakanyang sama.
"Mengapa kau jadi berubah
pikiran demikian cepat, Kang?! Bukankah kau bermaksud menyelidiki Eyang
Sawunggaling?!" meskipun telah berada di atas pohon, Melati yang tengah
dilanda rasa penasaran, langsung mengajukanpertanyaan.
"Aku tidak berubah pikiran,
Melati. Justru malah sebaliknya. Aku tengah menunggu Eyang Sawunggaling di
sini. Aku yakin dirinya menuju kemari. Hanya saja aku masih belum yakin, apakah
sudah berada di dalam hutan ini atau belum. Tapi, tidak ada salahnya kita
menunggunya di sini."
Sekarang Melati tidak mengajukan
pertanyaan lagi. Walaupun merasa heran, disembunyikan saja perasaan itu, karena
dirinya tahu tindakan yang diambil kekasihnya, biasanya benar. Maka, gadis
itupun dudukbersandar pada batang pohondan menunggu.
Belum berapa lama gadis
berpakaian putih itu berada dalam keadaan seperti itu, Arya telah memberikan
isyarat padanya. Dengan raut wajah dipenuhi pertanyaan, dijauhkan punggungnya
dari batang pohon. Tapi sebelum dirinya sempatmengeluarkan pertanyaan, Dewa
Arak telah mendahuluinya. Pemuda berambut putih keperakan itu membisikkan
peringatan padanya melalui ilmu mengirim suara dari jauh.
"Jangan berisik,Melati! Aku
mendengar ada langkah kaki orang yang mendekati tempat kita...,"
Mendengar pemberitahuan Dewa
Arak, Melati langsung memusatkan perhatian pada kedua telinganya, karena ingin
mendengar bunyi langkah yang didengar kekasihnya.
Tanpa bersusah-payah dan
berlama-lama, Melati telah berhasil mendengarnya. Hal itu bukan karena sosok
yang tengah bergerak mendekat memiliki ilmu meringankan tubuh belum sempurna,
melainkan karena langkah kakinya yang menerobos hamparan rumput dan semak-semak
kering. Jelas,sosok yang bergerak mendekati, tidak memilih-milih jalan.
Menilik dari semakin kerasnya
bunyi yang terdengar, dapat diketahui kalau si pemilik langkah memang tengah
menuju tempat Dewa Arak dan Melati berada. Karuan saja hal itu membuat sepasang
muda-mudi berwajah elok ini menjadi tegang. Di tempat persembunyian, keduanya
tak berani bergerak karena khawatir terdengar oleh sosok yang akan melewati
tempat mereka itu.
Dan memang, sesaat kemudian sosok
yang ditunggu-tunggu lewat di dekat tempat persembunyian Dewa Arak dan Melati.
Sepasang pendekar muda itu pun melihatnya. Seketika itu pula, jantung mereka berdebar
tegang. Betapa tidak? Sosok itu ternyata Eyang Sawunggaling! Pucuk dicinta ulam
tiba! Demikian pikir Arya dan Melati.
Berbeda dengan Dewa Arak dan
Melati yang melihat Eyang Sawunggaling, kakek berpakaian kuning itu sama sekali
tidak mengetahui adanya sepasang pendekar berwajah elok itu di dekatnya.Dia
terus saja mengayunkan langkahnya semakin memasuki perut hutan.
"Apa yang harus kita
lakukan, Kang?" tanya Melati dengan menggunakan ilmu mengirim suara dari
jauh
"Jangan melakukan rindakan
apa pun! Tunggu saja sampai saat yang tepat. Aku ingin tahu ke mana dia akan
pergi. Barangkali dirinya tengah menuju ke tempat pelakupembunuhan keji itu.
Mudah-mudahan saja hal itu benar, sehingga kita tak perlu repot-repot lagi
untuk mencari sarangnya," jawab Dewa Arak.
Seperti juga Melati, pemuda
berambut putih keperakan itu memberikan jawaban dengan menggunakan ilmu
mengirim suara dari jauh.
Sementara itu, Eyang Sawunggaling
terus mengayunkan kakinya. Terlihat agak tergesa-gesa, tapitidakberlari.
Langkahyang digunakannya lebar-lebar.
Dengan pandangan mata, Dewa Arak
dan Melati memperhatikan Eyang Sawunggaling yang mulai menjauh. Baru setelah
dirasakan keadaan aman, Arya merayap turun. Pemuda berambut putin keperakan itu
tidak berani melompat turun karena khawatir bunyi yang terdengar akan sampai di
telinga Eyang Sawunggaling. Telah disaksikan sendiri kelihaian Eyang
Sawunggaling, ketika berada di balai desa. Hal itulah yang menyebabkan Arya
bertindak hati-hati.
Hal yang sama pun dilakukan
Melati. Dan kini dengan langkah hati-hati, serta sesekali berlindung di balik
kerimbunan pepohonan dan semak-semak, sepasang pendekar muda mengikuti Eyang
Sawunggaling dari belakang.
Sementara itu Eyang Sawunggaling
terus mengayunkan langkah tanpa memperhatikan suasana di sekelilingnya. Sama
sekaii tidak ditoleh-tolehkan kepalanya ke belakang. Kakek berpakaian kuning
terus melangkah dengan pasti. Seolah-olah dirinya tak merasa khawatir sekali
kalau ada orang yang menguntit perjalanannya.
Setelah melalui perjalanan yang
berliku-liku, dan terkadang menguak kerimbunan semak-semak, tak lama kemudian
di kejauhan tampaksebuah bangunan.
Dewa Arak dan Melati saling berpandangan.
Mereka sama sekali tak menyangka, di dalam hutan ini terdapat sebuah bangunan.
Mereka telah mengaduk-aduk seluruh penjuru hutan, tapitakpernah menemukanadanya
bangunan itu.
Meskipun demikian, Dewa Arak dan
Melati langsung bisa menduga kalau bangunan itu sarang kelompok penjahat keji
di waktu puluhan tahun lalu. Benarkah Eyang Sawunggaling
tersangkut-paut dengan peristiwa
pembunuhan beruntun belakangan ini? Batin sepasang muda-mudi ini menduga-duga.
Masih dengan pandangan tertuju ke
depan, Eyang Sawunggaling mengayunkan langkah memasuki bangunan yang sudah
tidak pantas disebut bangunan itu. Keadaannya amat menyedihkan. Di samping
sudahtua,juga terlihat porak-poranda.
Yang lebih parah lagi, tidak
nampak sedikit pun bentuk bangunannya. Hanya pagar tembok melingkari bekas
sebuah bangunan yang terlihat. Pagar itu pun tidak memiliki daun pintu gerbang.
Dan di dalam pagar tembok itu pun hanya hamparan lantai semen dengan sedikit
puing-puing di sana-sini.
Begitu melihat Eyang Sawunggaling
telah berada di dalam lingkungan pagar tembok tinggi itu, Dewa Arak dan Melati
pun melesat cepat ke balik tembok. Merapatkan punggung di sana. Kemudian dengan
langkah hati-hati, menuju ke pagar tembok yang berada di samping kanan. Di
sana, tumbuh sebatang pohon besar berdaun rimbun. Mereka telah sepakat untuk
melakukan pengintaiandari sana.
Tanpa menemui kesulitan sedikit
pun, Dewa Arak dan Melati telah berhasil duduk di salah satu cabang pohon yang
terlindung dedaunan rimbun. Dari sini sepasang pendekar muda melayangkan
pandang ke bawah.
Dugaan mereka ternyata tidak
meleset. Di tengah hamparan lantai semen, di antara puing-puing yang
berserakan, tampak benda yang selama ini dicari-cari Arya, patung keramat!
Patung itu berdiri kokoh seperti menunjukkan kelebihannya atas semua reruntuhan
puing-puing di sekitar situ.
Hampir saja Dewa Arak dan Melati
berseru gembira saking senangnya melihat pemandangan dibawah mereka. Apalagi
ketika melihatadanya pemuda berpakaian coklat yang duduk bersimpuh di depan
patung itu. Inikah pelaku serangkaian pembunuhan keji itu?! Batin kedua
pendekar itu.
Bukan hanya itu yang dapat mereka
saksikan. Nampak Eyang Sawunggaling tengah mengayunkan langkah mendekatipemuda
berpakaian coklat.
Pemuda berpakaian coklat rupanya
mengetahui kedatangan Eyang Sawunggaling, buktinya langsung bangkit berdiri
sambil membalikkan tubuh. Sikapnya terlihat demikian waspada. Jelas, pemuda
berpakaian coklat itu telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tapi, begitu melihat orang yang
menghampirinya, pemuda berpakaian coklat langsung merubah sikap.
"Guru...," sambutpemuda
berpakaian coklatitu sambil memberi hormat.
"Hm...," sambutan yang
keluar hanya dengus pendek bernada dingin. Ketidaksenangan tampakjelas di wajah
Eyang Sawunggaling.
"Bagus benar kelakuanmu, Jantara,"
terdengar dingin ucapan dari mulut Eyang Sawunggaling. Sama dinginnya dengan
tarikan wajah dan sorotsepasang matanya.
"Aku... aku tidak mengerti
maksud ucapanmu, Guru," ujar pemuda berpakaian coklat yang ternyata
bernama Jantara, terbata-bata.
"Rupanya kau masih mau
berpura-pura bodoh, hehhh?! Kau tahu semua perbuatanmu sudah kuketahui! Kau
tidak usah mungkir lagi! Sekarang juga saatnya kau harus menerima kematian,
Manusia Tidak Tahu Diri!" hardik Eyang Sawunggaling, keras. "Dari
mana kau dapatkan patung itu, hehhh?!"
"Aku mengambilnya dari dalam
Danau Songket, Guru," jawab Jantara, bernada salah. "Itulah tempat
aku membuang patung itu, tahu?! Dari mana kau bisa mengetahui
tentang patung itu, hehhh?!"
desak Eyang Sawunggaling masih dengan rasa murka yang tidak tertahan.
"Maaf, Guru! Aku tidakbisa
memberitahukannya padamu."
"Keparat! Menyesal aku
menyelamatkanmu dulu, Manusia Tidak Tahu Di Untung! Kau tahu siapa dirimu?! Kau
keturunan iblis-iblis berwajah manusia penyembah patung sialan itu! Karena tak
sampai hati, kuselamatkan dirimu dari ancaman maut ketika kelompok jahat orangtuamu
hampir menemui kehancuran!"
Eyang Sawunggaling menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Rasa kecewa terhadap kelakuan muridnya
telah menyebabkan dirinya mengeluarkan kata-kata yang kasar.
"Tanpa sepengetahuan
tokoh-tokoh persilatan lain kau telah kuselamatkan. Harapanku, mudah-mudahan
kau tidak mempunyai kelakuan seperti orangtuamu! Saat itu kau masih bayi.
Umurmu belum ada satu tahun.
Dengan harapan agar menjadi orang baik, kuangkat kau sebagai murid. Bahkan
kuminta Ki Sagotra agar bersedia menjadi ayahmu. Karena memandang diriku, dia
bersedia. Sama sekali tidak kusangka kalau kau mempunyai kelakuan tak beda
dengan orangtuamu! Aku lupa kalau buah apel tidak akan jatuh jauh dari
pohonnya. Orangtuanya jahat, mana mungkin keturunannya akanbaik!"
"Aku mohon hentikan,
Guru," pinta Jantara memelas. "Kau boleh menghukumku atas kesalahan
yang telah kuperbuat. Tapi, jangan menghina orangtuaku terus-menerus! Betapapun
jahatnya mereka masih tetap orangtuaku, orang yang telah membuatku lahir ke atas
dunia ini. Dan akutak rela mereka dijelek-jelek-kan!"
"Kau tidak usah mengajariku,
Murid Murtad!" dalam cekaman rasa kecewa yang menggelegak, Eyang
Sawunggaling tidak kuasa mengontrol ucapannya. Kata-kata itu meluncur begitu
saja dari mulutnya.
Sebenarnya, bisa dimaklumi
kekecewaan Eyang Sawunggaling, karena semula berharap banyak pada muridnya itu.
Murid yang membuatnya merasa bangga kalau dalam usia dua puluh tahun telah
berhasil mewarisiseluruh ilmunya.
"Bersiaplah untuk menerima
hukumannya,Murid Murtad! Hih!" Wuttt!
Deru angin keras terdengar ketika
Eyang Sawunggaling melancarkan serangan ke arah dada Jantara. Tapi pemuda
berpakaian coklat itu sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Dia berdiri
tanpa persiapan sama sekali. Bahkan sepasang matanya pun dipejamkan. Jelas,
Jantara telah pasrah menerirna hukuman gurunya.
Semua kejadian itu tidak luput
dari pandangan Melati dan Dewa Arak. Kedua pendekar muda terkejut bukan
kepalang. Mereka tak menyangka kalau masalahnya berkembang seperti itu. Dan
keterkejutan keduanya semakin memuncak ketika melihat sikap pasrah yang
ditunjukkan Jantara!
Perasaan kaget ini membuat Melati
terjingkat. Bunyi gemerisik dedaunan pun timbul. Suara itu ternyata berpengaruh
terhadap Jantara dan Eyang Sawunggaling! Murid dan guru yang sama sekali tak
menyangka ada orang lain di sekitar tempat itu, juga menjadi kaget karenanya.
Danhal itu kembali menyebabkanperubahan yang tak terduga.
Pukulan yang dilancarkan Eyang
Sawunggaling jadi meleset arahnya. Tidak menghantam ulu hati, melainkan dada
kiri.
Bukkk! "Huakh...!"
Darah segar muncrat dari mulut
Jantara ketika pukulan Eyang Sawunggaling menghantam telak dadanya. Seketika
tubuh pemuda berpakaian coklat itu terlempar deras ke belakang, dan
melayangsejauhbeberapa tombaksebelumakhirnya terbanting di tanah.
Tanpa mempedulikan keadaan
Jantara lagi, Eyang Sawunggaling mengalihkan perhatian ke asal suara yang
mengejutkannya bamsan. Tapi belum lagi, dia berbuat sesuatu, telah
berkelebatdua sosokbayangan.
Jliggg!
Begitu ringan kedua sosok tubuh
itu mendarat di dekat Eyang Sawunggaling. Hal ini membuat kakekberpakaian
kuning itu mengalihkan perhatian.
"Ah...! Kiranya kau,
Sagotra, Liwung," ujar Eyang Sawunggaling dengan suara berdesah.
Dua sosok yang baru datang itu
memang Ki Sagotra bersama seorang pemuda berpakaian coklat. Tubuhnya kekar.
Namun wajah pemuda gagah itu tidak mempunyai kulit yang baik. Kulit wajahnya
rusak, penuhbopeng!
"Guru...!" sebut pemuda
berpakaian coklat yang bernama Liwung itu pada Eyang Sawunggaling. "Apa
yang terjadi, Guru?!"
"Iya. Apa yang telah
terjadi? Mengapa Jantara terkapar di sana? Siapa yang telah melakukannya?
Dan.., bukankah itu patung keramat milik kelompok penyembah setan itu,
Eyang?" Ki Sagotra menudingkan telunjuknya ke patung yang berada takjauh
dari mereka.
"Hhh...!" Eyang
Sawunggaling menghela napas berat "Ceritanya cukup panjang. Tapi akan
kucoba untuk menjelaskannya pada kalian."
Kakek berpakaian kuning ini
menghentikan ucapannya untuk mencari kata-kata yang tepat guna memulai
ceritanya,
"Begitu kudapat berita
darimu, aku langsung kemari, Sagotra. Mengapa? Karena aku tahu, anggota
kelompok pembunuh keji yang masih tersisa itu akan berada di sini, di tempat
leluhurnya. Dan dugaanku tidak
salah. Kujumpai orang itu di sini. Jantara lah, orang yang kubiarkan lolos
waktu itu, Sagotra. Jantara, saudara seperguruanmu, sekaligus adikmu adalah
keturunan kelompok penyembah setan, Liwung! Maka aku terpaksa melenyapkannya
selama-lamanya!" tutur Eyang Sawunggaling menutup ceritanya.
"Aaah...!Sama sekaii tidak
kusangka!"desis Liwung setengah tak percaya.
"Untunglah, kau telah
bertindak cepat, Eyang. Sehingga malapetaka selanjutnya tidak akan
terjadilagi," sambung Ki Sagotra penuh perasaan gembira.
"Semua itu karena tindakan
cepatmu, Sagotra. Kalau tidak ada kau, mungkin peristiwa puluhan tahun lalu
akan terulang kembali. Maafkan aku, Sagotra! Kecerobohanku membuat petaka ini
telah terulang lagi. Bahkan mungkin akan membuatmu malu, bagaimanapun orang-orang
desa hanya tahu kalau Jantara adalah anakmu. Mereka tak tahu kalau Jantara anak
angkatmu!" ujar Eyang Sawunggaling penuh penyesalan.
"Lupakanlah, Eyang! Semua
itu telah terjadi. Tidak ada gunanya lagi disesali,"sahut Ki Sagotra
bi-jaksana.
"Kau benar, Sagotra,"
ujar Eyang Sawunggaling menganggukkan kepala. "Tapi..., ada satu masalah
yang masih membuatku bingung."
"Apa itu, Eyang?" tanya
Ki Sagotra ingin tahu.
"Dari mana Jantara tahu
kalau dirinya keturunan kelompok penyembah setan itu? Patung keramat itu, dan
bahkan tempat di mana patung itu kubuang! Aku yakin, kalau tidak ada yang
memberitahukannya, dia tak akan pernah tahu. Karena aku tidak pernah
membicarakannya. Bahkan aku selalu mengatakan kalau dia putramu! Aku yakin, ada
yang telah memberitahukannya. Apakah kau tahu dengan siapa dia sering
berbincang-bincang, Sagotra?"
Ki Sagotra tercenung sejenak.
"Aku juga tidak tahu,
Eyang," jawab Ki Sagotra,singkat.
Eyang Sawunggaling
mengangguk-anggukkan kepala dengan dahi berkernyit dalam. Jelas,kakekberpakaian
kuning ini tengah berpikir keras.
"Guru...,"
Mendengar sapaan Liwung itu,
membuat Eyang Sawunggaling menolehkan kepala ke belakang. Entah kapan, Liwung
berada di belakangnya, Eyang Sawunggaling sama sekali tidak mengetahuinya. Dan
begitu, kepala Eyang Sawunggaling ditolehkan,
Brrr! "Uhp!"
Secepat kilat Eyang Sawunggaling
melindungi wajah dan terutama sekali sepasang matanya ketika Liwung menyebarkan
serbuk ke wajahnya. Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Dan Eyang
Sawunggaling tak menyangkanya. Akibatnya, dia sama sekali tak sempat mengelak
selain hanya melindungi wajahnya.
Dan memang Eyang Sawunggaling
berhasil melindungi sepasang matanya dari serbuk-serbuk itu, tapi gagal untuk
menghalangi hidungnya. Begitu terisap, Eyang Sawunggaling merasa kepalanya
mendadak pening.
Saat itulah Ki Sagotra
membokongnya denganbabatan pedang! Wuttt! Crattt!
"Akh...!"
Eyang Sawunggaling memekik
kesakitan ketika pedang Ki Sagotra menyerempet perutnya. Lalu dengan cepat Ki
Sagotra melompat ke belakang, menjauhkan diri dari serangan balasan yang akan
dilancarkan Eyang Sawunggaling. Tindakan yang sama telah dilakukan Liwung
setelah berhasil melaksanakan maksudnya.
"Uh...! Uh...!"
Dengan tubuh terhuyung-huyung
Eyang Sawunggaling mendekap perutnya yang mengeluarkan darah.
"Kalian..., apa yang telah
kalian lakukan...?" tanya Eyang Sawunggaling terbata-bata. Raut wajahnya
menyiratkan keheranan yangamatsangat.
"Sederhana saja, Eyang. Kami
ingin membunuhmu," datar ucapan Ki Sagotra.
"Uh... uh...! Tapi,
mengapa?" kejar Eyang Sawunggaling lagi, masih dengan raut wajah yang
menyiratkan ketidakmengertian.
"Tentu saja untuk membuang
ancaman dikemudian hari," enteng jawaban Ki Sagotra. "Ancaman?! Aku
merupakan ancaman bagi kalian?! Aku... aku jadi semakin tidak
mengerti...!"
"Ha ha ha...!"
Hampir berbareng Liwung dan Ki
Sagotra tertawa bergelak.
"Sebenarnya kau tak perlu
mengerti, Eyang Sawunggaling! Tapi, karena kau memaksa, akan kami beritahukan.
Tapi, akibatnya kau tahu? Kau tak akan bisa mati meram! Kau akan mati dengan
penuh perasaan menyesal! Mengapa? Karena kau telah membunuh orang yang sama
sekali takbersalah!"tandas Ki Sagotra.
"Aku membunuh orang yang tak
bersalah?! Aku... aku jadi semakin tak mengerti!" raut keheranan semakin
tampak jelas di wajahEyang Sawunggaling.
"Hehhh?! Kau tak mengerti?
Bukankah kau baru saja membunuh orang yang tak bersalah, Eyang? Orang yang sama
sekali tidak tahu malapetaka yang tengah menimpa Desa Ginang karena sibukdengan
patung peninggalan orangtuanya?!"
"Hahhh...? Jadi..., jadi...
Jantara bukan pelaku pembunuhan beruntun terhadap penduduk Desa Ginang?!"
tanya Eyang Sawunggaling dengan perasaan terkejut yang tak terkira. Sorot
penyesalan pun mulai nampakpada wajahnya.
8
"Siapa yang mengatakan kalau
Jantara pembunuh yang cerdik itu?! Tidak ada bukan? Kau saja yang terlalu
terburu nafsu! Kau!" tuding Ki Sagotra pada Eyang Sawunggaling.
"Oooh..,!"
Masih dengan kedua tangan
memegangi perutnya, Eyang Sawunggaling menundukkan kepala sambil mengeluarkan
keluhan penyesalan.
"Lalu..., siapa sebenarnya
pelaku pembunuhan itu, Sagotra? Pasti kau, bukan?! Kau bersama Liwung,
bukan?!" tebak Eyang Sawunggaling tanpa gairah.
Rasa menyesal yang amat sangat
memenuhi seluruh rongga dada kakek berpakaian kuning itu. Betapa tidak? Dirinya
telah menghukum Jantara yang sama sekali tidak bersalah.
"Dugaanmu tepat, Eyang. Aku
bersama anakkulah pelaku semua pembantaian ini! Aku yang merencanakannya, dan
Liwung yang melaksanakannya. Rapi, bukan?!" jelas Ki Sagotra panjang
lebar.
"Aku masih tidak mengerti
mengapa kau lakukan semua kekejian ini, Sagotra? Padahal, apa yang kau dapatkan
dari semua tindakanmu?" tanya Eyang Sawunggaling tidak mengerti.
Kepala Desa Ginang tak langsung
menjawab pertanyaan itu. Diperhatikannya Eyang Sawunggaling penuh selidik.
Aliran darah dari perut sudah terhenti karena kakek itu telah menotok jalan
darah di sekitar luka. Dilihatnya pula sikap berdiri Eyang Sawunggaling yang
mulai limbung. Ki Sagotra tahu apa penyebabnya. Apalagi kalau bukan bubuk yang
ditaburkan Liwung. Bubuk itu mengandung racun yang dapat membuat orang
kehilangan tenaga dalamnya sekalipun hanya mengisap baunya. Untung dirinya dan
Liwung telah lebih dulu meminum obat penangkalnya sehingga tidakterpengaruh.
Karena tahu kalau kakek
berpakaian kuning yang sakti ini sudah tidak berdaya, Ki Sagotra berani membuka
semua rahasia yang selama ini disimpannya.
"Tentu saja kepuasan batin,
Eyang. Kau tahu kan, puluhan tahun lalu seluruh anggota keluargaku habis
dibantai kelompok penyembah setan itu! Bahkan istriku pun demikian pula. Adik-adik
perempuanku malah mengalami nasib yang lebih mengerikan! Sejak itulah aku
bersumpah untuk membasmi habis kelompok jahanam itu! Akan kuhancurkan semua
orang yang termasuk dalam kelompok itu berikut keturunannya!" terdengar
berapi-api dan penuh dendam ucapan yang keluar dari mulut Ki Sagotra. Rupanya
dirinya teringat kembali sakit hatinya.
"Dapat kau bayangkan betapa sakitnya hatiku, ketika kutahu
kau malah menyelamatkan keturunan pimpinan kelompok penjahat itu!" sambung
Ki Sagotra lagi dengan nada pahit. Ingatan-ingatan tentang masa lalu, membuat
kegembiraannya tertutupi.
"Jadi..., kau tahu kalau aku
menyelamatkan keturunan Sepasang Iblis Kembar itu?" tanya Eyang
Sawunggaling setengah tak percaya.
Memang, kelompok penyembah setan
itu dipimpin suami istri tokoh sesat yang berjuluk Sepasang Iblis Kembar. Suami
istri ini sebenarnya saudara kembar. Namun mereka sakti, di samping sangat
kejam. Telah banyak tokoh persilatan yang tewas di tangan mereka. Baik
dikalahkan oleh ilmusilat, maupun ilmu hitamyang mereka miliki.
"Kau kira aku buta, Eyang
Sawunggaling?! Hanya saja aku berpura-pura tidak tahu! Kulayani permainan
sandiwaramu, sambil diam-diam merancang siasat yang baik untuk
menghancurkannya!" tukas Ki Sagotra cepat.
"Oooh..., kalaudemikian
akulah yang bodoh!"keluh Eyang Sawunggaling lemas. "Dendamku semakin
berkobar ketika kau malah menyuruhku mengangkatnya sebagai
anakku. Apalagi ketika kau
menjadikannya murid!"sambung Ki Sagotra dengan suara tinggi. "Aku pun
membencinya pula!" sahut Liwung. "Karena di samping dia punya bakat
yang
lebih baik dariku. Aku iri
padanya. Dan perasaan iri itu berkembang menjadi kebencian dan dendam ketika
dia memikat hati Warsini bermodal ketampanannya. Maka kuputuskan untuk
melenyapkannya agar aku bisa mendapatkan Warsini!"
"Aku tahu perasaan yang
berkobar di hati Liwung. Itulah sebabnya kuajak dia merencanakan suatu jalan
untuk melenyapkan Jantara. Untuk melakukannya secara berterus terang, kami
tidak berani karena Jantar memiliki kepandaian tidak rendah. Belum lagi kau yang
berada di belakangnya. Maka kuputuskan untuk mencari siasat yang dapat
menyingkirkannya sekaligus menghancurkanmu! Tindakan-tindakanmu yang selalu menyakitikulah
yang membuatku mengambil keputusan untuk membawamu serta dalam
pembalasandendamini, Eyang," urai Ki Sagotra panjang lebar.
"Dan rencana yang kami susun
ternyata luar biasa. Mula-mula kuceritakan pada Jantara siapa sebenarnya
dirinya. Tentu saja setelah lebih dulu kubuat janji dengannya, agar dia
tidakmembicarakan hal itudenganmu."
"Terkutuk! Iblis! Rupanya
kau yang telah memberitahukannya!" maki Eyang Sawunggaling geram. Kini dia
duduk di tanah karena tidak kuat lagi berdiri. Tubuhnya terasa lemas bukan
kepalang.
"Setelah dia berhasil
mengambil patung keramat milik orangtuanya dari danau, pelaksanaan rencana yang
kami susun pun, kami mulai. Keberuntungan tengah berpihak pada kami, Warsini
dan Barada melakukan perjalanan ke Desa Dadap. Maka rencana pertama pun
kulaksanakan. Barada kubunuh dan mayatnya kubuang ke tempat yang tidak mungkin
kalian temui. Sedangkan Warsini..., tentu saja kunikmati dulu sebelum kubunuh.
Aku sama sekali tidak mimpiakanbisa mendapatkan dara molek itu," ujar
Liwung dengan nada kurang ajar.
"Dan kejadian selanjutnya
berlangsung sesuai rencana kami," sambung Ki Sagotra lagi.
"Oooh...!"
Kembali Eyang Sawunggaling
mengeluarkan keluhan penyesalan. Dilayangkan lagi pandangannya ke sosok tubuh
Jantara yang terkapar. Sorot penyesalan tampak jelas baik pada tarikan wajah
maupun sorot matanya.
"Untuk melaksanakan pembalasan
dendam, kau tega membunuhi penduduk yang sama sekali tidak berdosa,
Sagotra?!"
"Apa boleh buat? Untuk
mencapai sebuah tujuan selalu diperlukan pengorbanan. Lagi pula, bukan aku yang
melakukan pembunuhan, jadi aku sama sekaii tidak menyesal," kelit Ki Sagotra.
"Aku pun tidak menyesal.
Bahkan aku merasa gembira melakukannya, orang-orang itu sering mengejekku
karena cacat yang kumiliki. Memang, tidak secara langsung tapi aku tahu.
Mengapa aku harus menyesal membunuh orang seperti itu?" bantah Liwung pula.
"Lalu..., tindakanmu
terhadapku?!" kejar Eyang Sawunggaling lagi
"Apa boleh buat,
Eyang," jawab Ki Sagotra. "Hal itu kami lakukan sebagai pembelaan
diri saja. Kau dapat menjadi ancaman di kemudian hari, apabila tidak
dilenyapkan. Karena kami tahu, serapat-rapatnya rahasia disimpan, pasti akan
terbongkar pula. Dan kami tidak ingin itu terjadi! Itulah sebabnya halini kami
lakukan!"
"Mereka sama sekali tidak
salah, Liwung. Kaulah yang salah. Watak yang buruk membuat mereka tak suka
padamu. Bukan karena wajahmu. Kenyataannya, semua penduduk menyukai Jantara.
Hhh...! Hanya aku saja yang terburu nafsu, sehingga tak bisa membedakan mana
yang benar dan yang salah!"
"Tutup mulutmu, Tua
Bangka!Dan mampuslah! Hih!"
Diawali sebuah teriakan keras
yang membuat suasana di sekitar tempat itu bergetar, Liwung melompat menerjang
gurunya. Golok besar di tangannya disabetkan ke leher Eyang Sawunggaling secara
mendatar.
Wukkk!
Bunyi mengiuk nyaring dari udara
yang terbabat golok mengiringi meluncurnya serangan itu menuju sasaran. Sudah
dapat dipastikan kalau sebentar lagi kepala kakek berpakaiankuning itu akan
terpisah dari lehernya karena sudahtidakberdaya lagi.
Patut dipuji kebesaran hati Eyang Sawunggaling. Meskipun maut tengah
menghampirinya, tetap tidak merasa gentar. Bahkan matanya menatap terus senjata
Liwung yang tengah meluruk ke tubuhnya.
Tapi sebelum mata golok itu
mendarat di sasaran, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat memapak!
Trangngng!
Bunga api berpijar ketika batang
golok Liwung berbenturan dengan pedang sosok bayangan putih. Begitu keras
benturan yang terjadi, sehingga mengakibatkan tubuh kedua belah pihak sama-sama
kembali ke tempat semula. Liwung terhuyung-huyung ke belakang,
sedangkansosokbayanganputih kembali terlempar ke udara.
Namun dengan sebuah gerakan
manis, baik Liwung maupun sosok bayangan putih berhasil mematahkan kekuatan
yang membuattubuh mereka terlon-tar ke belakang.
"Keparat! Kiranya kau,
Wanita Jalang! Kau akan menerima ganjaran atas kelancanganmu ini! Kau akan
kutelanjangi lalu kuperkosa sampai mati!" seru Liwung keras.
Wajah sosok bayangan putih yang
tak lain adalah Melati ini kontan merah padam, mendengar ucapan Liwung. Maka
sambil mengeluarkan jeritan melengking nyaring, diteriangnya pemuda
berpakaiancoklat itu.
Wungngng!
Bunyi mendengung keras laksana
naga murka terdengar ketika Melati menusukkan pedangnya ke leher Liwung. Dalam
kemarahannya gadis berpakaian putih itu mengeluarkan 'Ilmu Pedang Seribu Naga'
andalannya.
Liwung terkejut bukan kepalang
melihat kedahsyatan serangan Melati. Namun hal itu tidak membuatnya menjadi
gugup. Buru-buru dilempar tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa kali
diudara untukmenyelamatkan diri.
Usaha yang dilakukan Liwung tidak
sia-sia. Serangan Melati hanya mengenai tempat kosong. Tapi, tentu saja gadis
berpakaian putih itu tidak tinggal diam. Serangan yang dilancarkannya tidak
berhenti sampai di situ. Begitu, serangan pertamanya berhasil dielakkan, segera
dilancarkan serangansusulan. Maka Liwung pun kewalahan menyelamatkan diri.
***
Wajah Ki Sagotra langsung berubah
ketika mengetahui orang yang telah menyerang putranya. Dirinya tahu kalau
Melati ada,Dewa Arakpasti ada pula. Dan ternyata benar dugaan Kepala Desa
Ginang. Karena sesaat kemudian, berkelebat sosok bayangan biru. Dan tahu-tahu
didekat Eyang Sawunggaling telah berdiri Dewa Arak.
Dewa Arak menatap Ki Sagotra
sekilas. Kemudian menatap pertarungan yang berlangsung antara Melati dan Liwung
sejenak. Baru ketika diyakini kalau Melati akan sanggup menghadapi
lawannya,dialihkanperhatian pada Eyang Sawunggaling.
"Terima kasih atas
pertolongan yang kau berikan, Anak Muda," ucap Eyang Sawunggaling.
"Tapi kumohon, kau periksa dulu keadaan muridku! Barangkali dia belum
tewas."
"Jangan khawatir, Eyang! Aku
akan melaksanakan permintaanmu. Tapi, terlebih dulu aku akan membawa Eyang ke
sana agarbisa lebih leluasa memberikanpertolongan."
Usai berkata demikian, Dewa Arak
membopong tubuh Eyang Sawunggaling. Kemudian membawanya ke tempattubuh Jantara
tergeletak.
Karuan saja tindakan Dewa Arak
membuat Ki Sagotra khawatir bukan kepalang. Dia tahu kalau Eyang Sawunggaling
tertolong, bahaya besar akan mengancam dirinya dan Liwung. Maka begitu
dilihatnya, pemuda berambut putih keperakan itu tengah menuju ke arah Jantara,
dan tidak mempedulikannya lagi. Langsung saja goloknya dicabut!
Srattt! Singngng!
Ki Sagotra langsung melemparkan
goloknya ke punggung Dewa Arak
Tapi serangan itu tak berarti
banyak untuk tokoh yang memiliki kepandaian seperti Dewa Arak. Tanpa
membalikkan tubuh, dipapaknya luncuran golok itu dengan sebuah tendangan kaki
kanan kebelakang.
Takkk! Singngng!
Dengan tendangan seperti itu,
Dewa Arak telah berhasil membuat golok yang ditemparkan Ki Sagotra meluncur
kembali ke arah dirinya. Dan yang lebih mengerikan lagi, golok itu meluncur
dengan kecepatan yang berlipat ganda.
Tentu saja kejadian itu sama
sekali tidak disangkanya.Ki Sagotra menjadi gugup. Buru-buru dilempar tubuhnya
ke samping dan dengan menggunakan tangan sebagai tumpuan, digulingkan tubuhnya.
Ki Sagotra melakukan lompatan harimau untuk menyelamatkandiri.
"Uuuh...!"
Ki Sagotra menghembuskan napas
lega begitu berhasil menyelamatkan diri dari maut Dihapusnya keringat yang
membasahi kening dengan punggung tangan.
Sementara itu Dewa Arak terus
saja mengayunkan langkahnya. Dirinya sama sekali tak mempedulikan
akibatpapakanyang dilakukannya tadi.
Langkah pemuda berambut putih
keperakan itu terhenti ketika telah berada di dekat tubuh Jantara yang
tergolek. Dibungkukkan tubuhnya, lalu diletakkannya tubuh Eyang Sawunggaling di
tanah, di sebelah tubuh Jantara. Setelah ituDewa Arak baru memeriksa tubuh
Jantara.
Dengan tindakan seorang yang
telah memiliki pengalaman luas, Dewa Arak memeriksa detak jantung dan denyut
nadi Jantara. Hasil pemeriksaan yang didapat membuat wajah Arya berseri.
"Bagaimana keadaannya, Anak
Muda? Ada harapan?" tanya Eyang Sawunggaling tak sabar ingin segera
mengetahui hasilnya. Meskipun dari raut wajah Dewa Arak bisa diperkirakan
hasilnya, tapi kakek ini ingin mendengar jawabandari Dewa Arak.
"Ada, Eyang," jawab
Dewa Arak sambil menggelengkan kepala.
"Syukurlah," ucap Eyang
Sawunggaling dengan bibir menyunggingkan senyuman. "Yang jelas,
membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkannya kembali seperti
sediakala."
"Hal itu tidak menjadi
masalah, Anak Muda. Asal dirinya selamat aku sudah sangat bersyukur. Kalau
tidak, aku akan mari penasaran. Hhh...! Sudah dua kali kau menolong kami, Anak
Muda."
"Dua kali?" Dewa Arak
mengernyitkan alis. "Bukankah hanya baru kali ini aku menolongmu,
Eyang."
"Bukankah kau dan kawanmu
yang berada di atas pohon itu?" tanya Eyang Sawunggaling.
"Benar, Eyang," Arya
menganggukkan kepala. "Tapiapa hubungannya?"
"Keberadaan kalian ketika
akutengah melancarkan serangan terhadap Jantaralah yang telah menyelamatkan
nyawanya. Aku kaget karena tidak menyangka ada orang yang mengintai kami.
Sehingga serangan yang kulakukan meleset. Jantara pun dilanda perasaan yang
sama. Dan tanpa dapat dicegah lagi, tenaga dalamnya bergolak sehingga tubuhnya
terlindung tenaga dalam sewaktu seranganku menghantamnya. Padahal, aku tahu
kalau semula dirinya tak mengerahkan tenaga dalam sama sekali. Bukankah itu
berarti kau telah menyelamatkan kami pula?" jelas Eyang Sawunggaling
panjang lebar.
"Kalau begitu kau keliru dua
kali, Eyang. Yang menyelamatkan kalian berdua adalah kawanku. Kedua-duanya dia
yang melakukannya. Pertama dia kaget melihat sikap pasrah Jantara, sehingga
tanpa sadar dia melakukan gerakan yang membuat kau dan muridmu mengetahuinya.
Dan yang kedua,dia pula yang menyelamatkan nyawamudari tangan Liwung!" bantah
Arya bermaksud meluruskan keadaan yang sebenarnya.
"Kau atau dia sama saja,
Anak Muda. Yang jelas, kami berdua berhutang nyawa padamu. Mudah-mudahan kami
berhasil membalasnya kelak," ucap Eyang Sawunggaling berharap.
"Lupakanlah, Eyang! Orang
hidup di dunia ini memang untuk saling tolong-menolong. Kau pun bertindak
demikian, Eyang. Bukankah kau yang telah membasmi kelompok pemuda setan
itu?!"
Usai berkata demikian, Arya
mengalihkan perhatian ke arah Melati. Ternyata keadaan di kancah pertarungan
sudah mulai berubah. Melati mulai kerepotan menghadapi lawannya. Karena kini
yang dihadapinya bukan hanya Liwung tapi juga Ki Sagotra. Mereka berdua tak
segan-segan mempergunakan racun
dalam serangannya. Baik dengan mempergunakan serbuk-serbuk beracun,
maupunserangan berupa senjata rahasia berbentuk paku.
Dewa Arak tak berani mengambil
risiko. Dirinya tidak ingin Melati menjadi korban. Telah disaksikannya sendiri
kedahsyatan racun yang terkandung dalam paku.
"Menyingkirlah, Melati! Biar
aku yang menghadapi mereka. Kau jaga Eyang Sawunggaling dan Jantara saja!"
ujar Dewa Arak dengan penggunaan ilmu mengirim suara dari jauh.
Lalu tanpa menunggu lebih lama
lagi, Dewa Arak melesat menuju kancah pertarungan. Dan ketika tubuhnya tengah
berada di udara, diambil guci yang tergantung di punggung, kemudian dituangkan
kemulutnya.
Gluk...! Gluk...! Gluk...!
Bunyi tegukan terdengar, ketika
arak itu melewati tenggorokan Arya dalam perjalanannya menuju ke perut.
Seketika itu pula ada hawa hangat yang berputar di perut Dewa
Arak.Perlahan-lahan hawa itu naik keatas.
Jliggg!
Dewa Arak mendaratkan kedua
kakinya dekat kancah pertarungan dengan kedudukan kaki tidak tetap. Tubuhnya
terhuyung-huyung ke sana kemari seperti hendak jatuh. Hal ini menjadi pertanda
kalau Dewa Arak telah siap mempergunakan ilmu 'Belalang Sakti' andalannya.
Melihat kekasihnya telah siap
untuk bertarung, Melati pun melempar tubuh ke belakang untuk menjauhkan diri.
Tubuhnya bersalto beberapa kali di udara, kemudian mendarat tepat didekattubuh
Jantara dan Eyang Sawunggaling tergolek.
Liwung dan Ki Sagotra sama sekali
tidak bisa mengejar Melati untuk melancarkan serangan-serangan susulan. Karena
Dewa Arak telah menghadang langkah mereka. Mau tak mau ayah dan anak yang
merupakan orang-orang terpandang Desa Ginang ini menyerbu Dewa Arak.
Tahu kalau Dewa Arak merupakan
lawan yang amat tangguh dan sudah pasti memiliki kepandaian di atas Melati,
Liwung, dan Ki Sagotra tak ragu-ragu mengeluarkan seluruh kemampuan yang
dimiliki. Golok di tangan Liwung dan Ki Sagotra berkelebat cepat mencari-cari
sasaran. Rupanya Ki Sagotra telah mengambil kembali golok miliknya yang tadi
hampir memanggang tubuh Arya.
Tidak hanya itu saja
serangan-serangan yang di kirimkan Liwung dan Ki Sagotra. Sesekali Liwung
melemparkanpaku-paku beracunnya.
Sing! Sing! Sing!
Tapi semua serangan ayah dan anak
ini selalu kandas. Serangan-serangan yang dikirimkan selalu saja mengenai
tempat kosong. Memang, dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang' tidak merupakan
hal yang sulit bagi Dewa Arak mengelakkan setiap serangan yang mengancamnya.
Bahkan Dewa Arak membalas dengan serangan-serangan yang membuat Liwung dan Ki
Sagotra kelabakan dan pontang panting berusaha menghindarinya.
Dewa Arak tahu di antara
lawannya, Ki Sagotra yang lebih lemah. Itulah sebabnya desakan-desakan yang
dilancarkan sebagian besar ditujukan pada Ki Sagotra. Karuan saja hal itu
membuatKi Sagotra kelabakan. Untung berkali-kali Liwung berhasil
menyelamatkannya.
Brrr!
Pada jurus ketiga puluh dua,
mendadak Liwung melemparkan serbuk beracunnya. Menurut perkiraan pemuda
berpakaian coklat ini, Dewa Arak pasti akan mengelakkannya seperti yang
dilakukan Melati. Namun dia kecele! Dewa Arak malah meniup serbuk itu. Terlihat
jelas pemuda berambut putih keperakan itu tidak merasa khawatir kalau hawa
beracun itu akan terisap olehnya.
Melihat hal ini Liwung dan Ki
Sagotra merasa girang bukan kepalang. Menurut dugaan mereka, Dewa Arak pasti
akan lemas. Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati mereka ketika melihat pemuda
berambut putih keperakan itu sama sekali tidak terpengaruh. Memang, di dalam
penggunaan ilmu 'Belalang Sakti', Dewa Arak seperti kebal akan segala jenis
racun (Untuk jelasnya, silakan baca serialDewa Arakdalam episode perdananya:
"Pedang Bintang").
Liwung dan Ki Sagotra merasa
takjub bercampur geram melihat kenyataan ini. Sama sekaii tak disangka, kalau
racun mereka sama sekaii tidak berpengaruh terhadap Dewa Arak yang bertarung
bagai orang mabuk itu. Beberapa kali pemuda berambut putih keperakan itu
seperti akan jatuh. Baik dalam mengelak atau melakukan penyerangan. Dan yang
lebih hebat
lagi, saat mendapat serangan
pemuda berambut putih keperakan itu malah enak-enakan menenggak araknya. Begitu
juga ketika melakukanserangan
Kini pertarungan telah menginjak
jurus ke sembilan puluh sembilan. Keadaan Liwung dan Ki Sagotra semakin
terdesak. Sudah dapat dipastikan kalau mereka akan roboh di tangan Arya.
Lamanya pertarungan itu pun sebagian karena serangan-serangan racun mereka yang
cukup menghambatserangan balasan Dewa Arak.
Penyebab lain yang membuat
pertarungan itu berlangsung lama, kemampuan ayah dan anak ini untuk bekerja
sama. Hal ini tidak aneh karena Liwung dan Ki Sagotra memiliki ilmu yang sama,
ilmu-ilmu milik Eyang Sawunggaling. Liwung menimbanya dari Eyang Sawunggaling,
sedangkan Ki Sagotra mempelajarinya dari putranya.
"Haaat...!"
"Hiyaaat..!"
Pada jurus ke seratus tiga belas,
Liwung dan Ki Sagotra melancarkan serangan berbareng dari dua arah. Liwung
mengirimkan serangan dari depan dengan sebuah babatan ke pinggang Dewa Arak.
Sedangkan Ki Sagotra melancarkan serangan berupa tusukan ke arah punggung
pemuda berambutputih keperakan itu.
"Hih!"
Dewa Arak menghentakkan kaki
hingga tubuhnya melayang ke atas. Hasilnya serangan-serangan lawannya mengenai
tempat kosong. Pada saat yang bersamaan dengan lompatannya, dilancarkan
serangan ke arah lawan-lawannya dengan kakinya. Kaki kanan ke tubuh Liwung sedang
kaki kiri pada Ki Sagotra. Masing-masing kaki menjulur ke arah yang berlawanan.
Bukkk! Bukkk!
Bunyi berderak keras
tulang-tulang yang patah terdengar ketika sepasang kaki Dewa Arak mendarat di
tenggorokan kedua lawannya,. Telak dan keras bukan kepalang. Sehingga tubuh
Liwung dan Ki Sagotra terpental ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah.
Darah segar menyembur deras dari mulut, hidung, dan telinga. Saat itu juga
nyawa ayah dan anak itu melayang ke alambaka.
Jiiggg!
Begitu mendaratkan kedua kakinya
di tanah, Dewa Arak memperhatikan tubuhLiwung dan Ki Sagotra tergolek diam di
tanah. Kemudian dilangkahkan kakinya menuju tempat Melati, Jantara, danEyang
Sawunggaling berada.
Seiring dengan selesainya
pertarungan itu, suasana hening pun kembali menyergap. Malam semakin terus
bergulir menuju dini hari, dan tak lama lagi fajar akan muncul mengusir
kegelapan yang menerangi persada.
SELESAI
No comments:
Post a Comment