Rahasia Syair Leluhur
1
Bulan bersinar penuh tampak indah
di langit. Bentuknya bagai sebuah piring tembaga, yang bersinar keperakan.
Bintang-bintang pun bertaburan menghias angkasa. Nyanyian binatang-binatang
malam semakin menambah semaraknya suasana malam. Persada tampak terang dan
meriah, layak untuk dinikmati.
Namun itu tidak berlangsung lama.
Suara lecutan cambuk, derap kaki kuda, dan gemeretak roda kereta telah
mengganggu malam yang begitu indah ini.
Sesaat kemudian, muncullah sebuah
kereta yang ditarik dua ekor kuda. Beberapa ekor kuda yang masing-masing
ditunggangi laki-laki bersikap gagah, tampak mengiringi-nya.
Jumlah laki-laki berwajah gagah
itu ada dua belas orang. Enam di depan, empat di belakang, dan masing-masing
satu orang di kanan kiri kereta. Semuanya menunggangi kuda-kuda pilihan.
"Kau yakin kita telah jauh
meninggalkan bahaya, Kakang Subali?" tanya salah seorang dari enam
penunggang kuda terdepan.
Orang itu adalah seorang
laki-laki tinggi kurus bermata sipit. Gagang pedangnya tampak menyembul dari
balik punggung. Menilik dari pakaiannya yang terlihat mewah, bisa diketahui
kalau laki-laki tinggi kurus itu orang kecukupan.
Penunggang kuda yang dipanggil
Subali menoleh. Sepasang matanya menatap wajah laki-laki tinggi kurus yang
mengenakan pakaian kuning. Subali ternyata seorang laki-laki bertubuh tinggi
besar. Tubuhnya terlihat gagah bukan kepalang. Apalagi dengan adanya cambang
bauk lebat yang menghias wajahnya. Seperti laki-laki bermata sipit, pakaian
yang dikenakannya juga tampak indah. Hanya saja warnanya kuning keemasan. Jadi
terlihat lebih
indah daripada pakaian yang
dikenakan laki-laki tinggi kurus.
"Hhh....!”
Subali menghela napas panjang,
sebelum menjawab pertanyaan laki-laki tinggi kurus itu. Langkah kudanya juga
tidak dihentikan, namun tidak tergesa-gesa seperti sebelumnya.
"Kurasa untuk sementara kita
aman, Adi Sagala. Kita telah cukup jauh dan kadipaten. Keparat-keparat itu
tidak mungkin bisa cepat mengejar kita. Aku yakin, mereka tengah berpesta pora
menikmati kemenangan!" ada nada kegeraman pada kalimat-kalimat terakhir
yang diucapakan Subali. Jelas, laki-laki tinggi besar ini tengah murka.
Laki-laki berpakaian kuning yang
ternyata bernama Sagala itu mengangguk-anggukkan kepala, pertanda menyetujui
ucapan yang dikeluarkan Subali.
"Tak pemah terbayangkan di
benakku kalau jabatan adipati akan lepas darimu, Kang," keluh Sagala.
Subali yang ternyata seorang
adipati ini menghela napas berat.
"Bukan hanya kau saja yang
merasa tak percaya, Sagala. Aku pun masih merasa kalau kejadian yang menimpaku
ini seperti sebuah mimpi buruk! Aku masih belum percaya kalau Kadipaten
Blambang telah lepas dari tanganku!"
Adipati Subali menghentikan ucapannya sejenak.
Kepalanya ditolehkan ke belakang, menatap kereta kuda yang bergerak
tertatih-tatih merayapi jalan penuh bebatuan dan lubang.
Rombongan berkuda yang dipimpin
Adipati Subali itu terus melanjutkan perjalanan. Dan perlahan-lahan, rombongan ini mulai
memasuki mulut Hutan Maung.
"Aku tidak pemah bermimpi
akan kabur menyelamatkan diri seperti anjing hina yang teraniaya." keluh
Adipati Subali lagi. "Kalau tidak mengingat keselamatan anakku, ter-utama
sekali istriku yang tengah mengandung, aku lebih baik bertempur sampai titik
darah penghabisan!"
Kali ini Sagala tidak menyahuti
ucapan Adipati Subali. Mungkin kehabisan kata-kata atau malas menyambuti. Dan
karena Adipati Subali tidak melanjutkan ucapannya, suasana menjadi hening.
Kini yang terdengar hanyalah
suara langkah kaki kuda dan gemeretak roda kereta menggilas jalanan.
Iring-iringan rombongan yang dipimpin orang nomor satu Kadipaten Blambang ini
kian masuk ke dalam hutan. Mendadak…..
"Hooop...!"
Adipati Subali mengangkat tangan
kanan ke atas, sedangkan tangan kirinya menarik tali kekang kuda hingga
langkahnya berhenti. Dengan sendirinya, iring-iringan yang berada di
belakangnya pun berhenti pula.
"Kita istirahat dulu di
sini." ujar Adipati Subali setelah membalikkan arah binatang tunggangannya
hingga meng-hadap rombongan.
Usai berkata demikian, laki-laki
tinggi besar itu me-lompat turun dari kudanya. Indah dan manis gerakannya.
Jelas, Adipati Subali bukan orang sembarangan. Dan memang sebelum menjadi
adipati di Kadipaten Blambang, Subali adalah seorang Panglima Kerajaan Sewu.
Dan karena telah banyak berjasa pada kerajaan, Prabu Cakra Ningrat meng-hadiahkan
pangkat adipati pada Subali di Kadipaten Blambang.
***
Kesibukan melingkupi rombongan
kecil itu. Belasan laki-laki bersikap gagah yang tak lain dari prajurit pilihan
Kadipaten Blambang, bergegas berlompatan dari punggung kuda masing-masing. Gerakan
mereka rata-rata lincah, pertanda memiliki ilmu meringankan tubuh yang tidak
rendah.
Begitu menjejak di tanah, belasan
prajurit itu segera menambatkan kuda masing-masing. Lalu, mereka mem-bantu
kusir untuk menempatkan kereta kuda di tempat yang terlindung. Dan kini, kereta
kuda itu ditempatkan di
tengah-tengah belasan prajurit pilihan Kadipaten
Blambang. Ini dimaksudkan, agar bila ada serangan dari arah manapun, akan
berhadapan dengan prajurit lebih dulu. Sang Kusir pun ikut pula berjaga-jaga.
Kriiit..!
Terdengar suara bergerit pelan
ketika daun pintu kereta sebelah kanan terbuka. Sebuah tangan yang berkulit
putih halus dan mulus menyembul dari dalam kereta. Kemudian tampak sosok wanita
cantik keluar dari dalam kereta.
Tidak terdengar suara yang berarti
ketika sepasang kaki ramping itu mendarat di tanah. Hal ini menjadi pertanda
kalau si pemilik kaki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.
"Akan ke mana, Gusti
Ayu?"
Sebuah suara berat telah menyapa
penuh hormat, begitu wanita cantik ini baru saja merayapi sekelilingnya.
Memang, derit pintu kereta itu begitu jelas terdengar, sehingga membuat para
prajurit yang tengah berjaga langsung menolehkan kepala. Dan kini, kepala
pasukan pengawal itu pun segera menghampiri.
"Ah! Kiranya Paman Lembu
Sura." desah gadis cantik yanag dipanggil Gusti Ayu setengah terkejut.
Gadis itu tersenyum manis. Senyum
seorang gadis yang paling banyak baru berusia dua puluh tahun. Sehingga membuat
siapa saja yang memandangnya, enggan me-malingkan wajah. Kulit putih halus dan
mulus. Pas sekali dengan pakaian indah berwama hitam kelam yang dikena-kannya.
Rambutnya digelung ke atas dan dijepit dengan sebuah aruel berbentuk bunga
mawar.
"Benar, Gusti Ayu. Hamba
Lembu Sura," jawab kepala pasukan pengawal yang ternyata bernama Lembu
Sura sambil membungkuk sedikit.
Lembu Sura ternyata memang
mempunyai tubuh hampir sebesar lembu. Begitu kekar! Gumpalan otot dan urat yang
melingkar-lingkar menghiasi sekujur tubuhnya. Senjata golok besar yang terselip
di pinggang, semakin menambah seram penampilannya.
"Aku ingin menghirup udara
malam, Paman," jawab gadis berpakain hitam itu, pelan.
"Tapi.., Gusti Adipati telah
melarang keluar siapa pun yang berada di dalam kereta," bantah Lembu Sura
dengan dahi berkernyit dalam.
"Apakah aku pun termasuk
dalam larangan ayah?" desak gadis berambut digelung yang ternyata putri
Adipati Subali.
"Benar. Gusti Ayu Rara Kunti
termasuk di dalamnya," tegas Lembu Sura.
"Kalau aku tidak mau?!"
tanya Rara Kunti bernada menantang.
Lembu Sura tercenung sejenak.
"Apa boleh buat. Hamba tidak
berani melalaikan perintah Gusti Adipati." tegas Lembu Sura, setengah
ber-desah.
"Maksudmu..., kau akan
menggunakan kekerasan untuk memaksaku masuk kembali ke dalam kereta?!"
Lembu Sura mengangguk mantap.
Rara Kunti kontan terdiam, tanpa
berkata-kata lagi. Putri Adipati Subali ini tentu saja tidak bisa menyalahkan
Lembu Sura. Disadari kalau kepala pasukan pengawal itu hanya menjalankan
perintahnya.
“Tapi aku tidak betah terus
menerus di dalam kereta, Paman. Sumpek rasanya! Aku ingin keluar, menghirup
udara malam dan berbincang-bincang bersama ayah."
"Hamba tidak berani
mengizinkannya, Gusti Ayu," ada nada penyesalan dalam suara Lembu Sura.
"Lagi pula, perlu Gusti Ayu ketahui. Larangan itu dikeluarkan oleh Gusti
Adipati, karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan atas Gusti Ayu
sendiri. Dan...."
"Biarkan dia keluar, Lembu
Sura," potong sebuah suara, sehingga membuat ucapan kepala pasukan
pengawal itu terputus di tengah jalan.
Hampir berbarengan, Lembu Sura
dan Rara Kunti menoleh ke arah yang sama. Tampak dua sosok tubuh yang tengah
menghampiri. Baik Lembu Sura, maupun Rara
Kunti mengenalinya. Mereka adalah
Adipati Subali dan Sagala!
"Hamba, Gusti Adipati."
sahut Lembu Sura memberi hormat.
Seusai bersikap demikian,
laki-laki bertubuh kekar berotot inl lalu bergerak menyingkir. Lembu Sura
memberi jalan pada Rara Kunti untuk menghampiri ayahnya. Maka tanpa
membuang-buang waktu, Rara Kunti segera ber-gerak menghampiri ayahnya.
"Kau ingin bicara denganku,
Kunti?" tanya Adipati Subali, orang nomor satu di Kadipaten Blambang
dengan suara lembut.
"Benar, Ayahanda."
jawab Rara Kunti, gembira. "Kalau begitu, mari kita cari tempat yang
enak!"
Adipati Subali, Sagala, dan Rara Kunti segera
melangkah meninggalkan tempat itu. Sementara, belasan prajurit mulai bertugas.
Lembu Sura, selaku kepala pasukan pengawal segera mengatur anak buahnya.
Sebagian besar berjaga-jaga, sedangkan sisanya tidur setelah terlebih dahulu
mengisi perut sekadarnya.
***
"Sebenarnya, sudah cukup
lama aku ingin berbicara dengan Ayah," Rara Kunti mulai membuka
pembicaraan.
Rara Kunti duduk di sisi ayahnya,
Adipati Subali. Sedangkan Sagala duduk menghadap Adipati Blambang itu, mereka
saat ini memang tengah berbincang-bincang di bawah sebatang pohon besar berdaun
rimbun yang letak-nya hanya beberapa tombak dari rombongan.
"Mengapa tidak segera kau
katakan padaku, Kunti?" tanya Adipati Subali, bernada teguran.
"Bagaimana mungkin hal itu
bisa kulakukan, Ayah! Rombongan inl bergerak hampir tanpa henti. Lagi pula,
kulihat Ayah kelihatan sibuk. Jadi, aku tidak berani meng-ganggu," kilah
Rara Kunti.
"Ooo...! Kukira pertanyaan
itu sudah kau pendam ber-
bulan-bulan, atau tahunan.
Kiranya baru beberapa hari yang lalu?! Nah! Sekarang katakan, Kunti. Ayah akan
mendengarkannya!" sahut Adipati Subali memberi kesempatan.
Rara Kunti tidak langsung
mengutarakannya. Dia malah tercenung. Mungkin tengah memilih kata-kata yang
tepat sebagai pembuka cerita. Sementara, Adipati Subali dan Sagala menunggu
dengan sabar.
"Aku merasa kecewa melihat
tindakan Ayah..."
Pelan ucapan Rara Kunti, dan
lebih mirip bisikan. Kalau saja Adipati Subali dan Sagala tidak mempunyai
pen-dengaran tajam, perkataan itu tidak akan terdengar. Apalagi, Rara Kunti
mengucapkannya sambil menunduk-kan wajah. Sehingga gerak bibirnya tidak
terlihat Adipati Subali dan Sagala.
Meskipun dikatakan pelan, tapi
bagi Adipati Subali dan Sagala, perkataan Rara Kunti bagaikan halilintar di
siang hari. Begitu mengejutkan hati mereka. Tapi, tentu saja kekagetan yang
dialami Adipati Subali jauh lebih besar daripada Sagala
“Mengapa kau berkata demikian,
Kunti?!" tanya Adipati Subali agak parau suaranya.
"Selama ini aku merasa
bangga pada Ayah. Telah banyak cerita yang kudengar tentang kegagahan Ayah
sewaktu menjadi panglima di Kerajaan Sewu. Tapi, apa kenyataan yang kulihat?!
Di saat kadipaten diserbu orang. Ayah malam melarikan diri sambil membawa
keluarga. Kabur pontang-panting seperti anjing digebuk orang. Tindakan Ayah
membuatku kecewa bukan kepalang! Mana cerita kegagahan Ayah yang selama ini
kudengar?!"
Rara Kunti berapi-api mengucapkan
kata-katanya! Sama sekali tidak dipedulikan kalau setiap ucapannya laksana
tusukan pisau berkarat pada hati Adipati Subali. Wajah orang nomor satu
Kadipaten Blambang itu sebentar pucat, sebentar merah sepanjang putri
tunggalnya mengungkap-kan kehancuran hatinya.
"Kau pantas kecewa padaku.
Kunti," sahut Adipati
Subali ketika Rara Kunti telah
menghentikan ungkapan kekesalannya. “Aku memang bukan jenis orang yang patut
kau kagumi. Aku melarikan diri di saat Kadipaten Blambang berada di ambang
kehancuran! Adipati macam apa aku ini?! Di saat para prajurit berjuang
mati-matian menyelamatkan kadipaten, aku malah kabur! Hhh …! Aku memang seorang
pengecut, Kunti!"
Rara Kunti terkejut bukan
kepalang mendengar jawaban tak terduga yang dikemukakan ayahnya. Semula dikira
Adipati Subali akan mengemukakan berbagai macam alasan, mengapa tindakan
melarikan diri itu harus dilaku-kan. Tapi, ternyata ayahnya itu malah
membenarkan tuduhan yang dilontarkan. Karuan saja gadis berambut digelung ini
jadi kebingungan.
Bukan hanya Rara Kunti saja yang menjadi
kebingungan. Sagala pun mengalami perasaan yang sama. Hanya saja ada sedikit
perbedaan pada keduanya. Sagala tahu, mengapa Adipati Subali sama sekali tidak
mengemu-kan alasan yang menyebabkan dirinya melarikan diri. Karena jelas,
Adipati Subali merasa terpukul!
Sagala adalah adik misan Adipati
Subali. Telah dua tahun dia tinggal bersama laki-laki tinggi besar itu.
Maka tidak aneh kalau watak kakak
misannya dikenal-nya betul. Sagala tahu, sebenarnya Adipati Subali merasa
terpukul atas tindakannya dengan meninggalkan
Kadipaten Blambang. Namun, perasaan itu bisa di-sembunyikan orang nomor satu di
Kadipaten Blambang. Dan kini, ucapan Rara Kunti telah membuat perasaan itu
muncul. Bahkan jauh lebih parah!
"Kau keterlaluan,
Kunti!" sentak Sagala, agak keras. Sepasang matanya menatap gadis
berpakaian hitam itu penuh teguran "Perkataanmu benar-benar tak pantas
di-ucapkan di depan ayahmu.”
“Terus terang aku membenci orang
yang mempunyai sikap pengecut. Tak terkecuali ayahku!" sambut Rara Kunti
tak kalah keras.
"Ayahmu bukan seorang
pengecut, Kunti!" semakin
meninggi kata-kata Sagala.
"Lalu apa namanya kalau di
saat para prajurit mem-pertahankan istana tapi justru sang Pemimpin malah
melarikan diri?! Orang lain bergulat dengan maut, sementara dia sendiri
melarikan diri! Bukan pengecutkah itu namanya?!"
"Ayahmu mempunyai alasan
kuat untuk bertindak seperti itu! Berilah kesempatan padanya untuk
mengemukakannya padamu!" sambut Sagala setengah membentak.
"Sudahlah, Adi! Tidak usah
diributkan lagi masalah itu!" Adipati Subali berusaha melerai.
"Kurasa, lebih baik kau beri
tahukan padanya, Kang!" tukas Sagala tak mau kalah.
Setelah berkata demikian. Sagala
terdiam. Rara Kunti pun diam, ingin mengetahui tanggapan Adipati Subali.
Sedangkan adipati yang bertubuh tinggi besar ini belum juga membuka
pembicaraan. Maka suasana pun menjadi hening.
"Hhh...!" Adipati
Subali menghembuskan napas berat "Kau benar, Sagala. Lebih baik
kuceritakan saja masalah yang sesungguhnya. Bukankah dengan demikian, dia bisa
bersikap lebih hati-hati?
Sagala menganggukkan kepala,
pertanda membenar-kan. Sementara Rara Kunti jadi bingung. Dia tahu, Adipati
Subali dan Sagala tengah membicarakannya. Tapi, gadis itu tidak mengerti
maksudnya.
"Nah, Kunti. Sekarang
dengarlah baik-baik ceritaku ini. Dan setelah itu, terserah apa
tanggapanmu!"
Adipati Subali menatap wajah Rara
Kunti sejenak. Tapi yang ditatap malah menampakkan wajah beku. Tanpa ada
perasaan apa-apa Adipati Kadipaten Blambang kemudian menarik napas panjang, dan
menghembuskannya kuat-kuat.
"Sekitar sepuluh hari yang
lalu, di salah satu dinding istana kadipaten ditemukan sebuah surat yang
ditancap-kan oleh sebatang ranting sebesar jari kelingking. Padahal,
dinding itu terbuat dari batu
keras. Dan hebatnya, ranting itu menancap hingga setengahnya lebih. Beberapa
orang prajurit segera melaporkan hal itu padaku. Jelas, ini berarti ada orang
telah berani masuk ke dalam istana secara diam-diam. Dan hunjaman ranting itu
membuktikan kalau pelakunya adalah orang yang memilik tenaga dalam tinggi!
Rasanya aku sendiri tidak mampu melakukan hal seperti itu!"
Adipati Subali menghentikan
cerita. Lalu tenggorokan-nya yang terasa kering dibasahi dengan ludah-nya
sendiri. Sementara Rara Kunti memperhatikan semua ceritanya penuh minat.
Karena, dia memang belum mengetahui hal itu.
"Mengapa aku tidak
mengetahui kejadian itu?” tanya Rara Kunti penasaran.
"Karena hal itu memang
sengaja disembunyikan," kalem jawaban Adipati Subali.
"Mengapa?!" desak Rara
Kunti.
"Karena, kami tidak ingin
seisi Istana kadipaten gempar dan menjadi gelisah. Hanya saja Lembu Sura
kuperintah-kan agar lebih memperketat penjagaan," jelas Adipati Kadipaten
Blambang ini.
Kini Rara Kunti mengerti.
"Lalu, apa isi surat itu,
Ayah?" tanya Gadis berambut digelung itu. Suaranya kini terdengar mulai
melunak.
"Surat yang tidak kuketahui
dari mana asalnya itu, meminta agar aku menyerahkan pusaka warisan kakekku!
Kalau tidak, Kadipaten Blambang akan dihancurkan!"
"Apa?!" jerit Rara
Kunti kaget "Pusaka warisan kakek?! Mengapa ayah tidak pernah bercerita
padaku?! Berupa apa pusaka itu? Dan mengapa orang yang mengirim surat itu
mengetahuinya?”
***
2
Adipati Subali tidak langsung
menjawab pertanyaan itu, dan kembali terdiam. Masih dicarinya beberapa kata
yang tepat untuk menjawabnya. Dan sebentar kemudian…..
"Aku memang sengaja tidak
menceritakannya, sampai kau telah benar-benar menjadi dewasa. Setidak-tidaknya
sudah mengerti hal-hal yang boleh dinyatakan, dan yang perlu
dirahasiakan," sahut laki-laki tinggi besar ini.
"Tapi, sekarang aku telah
cukup dewasa, Ayah. Aku telah bisa membedakan hal-hal yang bersifat rahasia
atau bukan," sambut Rara Kunti. "Jadi, aku sekarang sudah ber-hak
mengetahui pusaka peninggalan leluhur kita."
Adipati Subali
mengangguk-anggukkan kepala.
"Apa yang kau katakan itu
benar, Kunti! Sekarang kau boleh mengetahui rahasia itu. Aku pun memang sudah
ingin bicara padamu, karena keadaan sudah segawat ini. Dan aku tidak ingin mati
sebelum memberitahukan hal ini padamu"
"Apakah aku boleh
mendengarnya, Kang?" selak Sagala. "Karena kau adalah adik misanku,
kau pun berhak men-
dengarnya, Adi," kata
Adipati Subali dengan suara pelan "Nah! Sekarang dengarkan baik-baik"
Sagala dan Rara Kunti mulai
memasang telinga baik-baik. Raut wajah mereka menyiratkan perasaan ingin tahu
yang amat sangat. Bahkan karena khawatir ucapan Adipati Subali tidak terdengar,
keduanya sampai menahan napas tanpa sadar.
"Dulu, sebelum meninggal
dunia kakek telah memberi sehelai surat wasiat pada ayahku, Adi Sagala. Lalu,
surat wasiat itu diberikan lagi oleh ayahku, kepadaku. Tak lama kemudian ayahku
meninggal dunia," Adipati Subali me-mulai ceritanya. "Meskipun
demikian, ayahku sempat ber-pesan agar keberadaan surat ini diberitahukan pula
pada adik laki-lakinya yaitu ayahmu, Adi. Maksudnya, kalau aku
tidak berhasil memecahkan
rahasianya, ayahmu atau keturunannya diharapkan bisa memecahkannya."
"Jadi…., pusaka peninggalan
kakek hanya berupa sehelai surat?" tanya Sagala.
Adipati Subali merasakan adanya
kekecewaan. Baik dalam raut wajah mapun ucapan adik misannya ini.
"Memang hanya berupa sehelai
surat, tapi surat rahasia! Apabila berhasil dipecahkan maka akan ditemukan
pusaka-pusaka peninggalan kakek," jelas Adipati Subali.
"Kalau hanya untuk sehelai
surat, lalu ayah sampai merelakan Kadipaten Blambang dihancurkan sungguh
membuatku tidak habis pikir!" tukas Rara Kunti penuh kekecewaan.
Adipati Subali tersenyum pahit.
"Bukankah sudah kukatakan
kalau di balik surat peninggalan itu tersimpan pusaka-pusaka peninggalan
kakek?!" sergah orang nomor satu Kadipaten Blambang ini, cepat.
"Apakah pusaka-pusaka
peninggalan kakek buyutku, Ayah?" tanya Rara Kunti setengah hati.
“Kitab-kitab ilmu silat,
pengobatan, senjata-senjata, dan berbagai macam," sahut Adipati Subali
cepat. "Kau tahu, Kunti. Puluhan tahun yang lalu, datuk-datuk persilatan
di empat penjuru mata angin telah mengadakan pertemuan untuk menentukan, siapa
yang lebih lihai di antara mereka semua! Keempat datuk itu adalah tokoh tak
terkalahkan di wilayah masing-masing. Meskipun demikian, mereka belum puas. Dan
ingin menjadi jago nomor satu di kolong langit dengan bekal surat wasiat milik
kakekku itu. Itulah sebabnya, mereka mengadakan pertemuan."
Adipati Subali menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Ini merupakan kesempatan bagi Sagala
dan Rara Kunti bila ingin mengajukan pertanyaan. Tapi, ter-nyata keduanya itu
sama sekali tidak bicara apa-apa. Baik Sagala maupun Rara Kunti terlalu
tertarik untuk men-dengarkan cerita Adipati Subali.
"Masing-masing datuk pun
lalu memilih lawan dan ber-
tanding. Datuk Timur bertarung
melawan Datuk Barat. Dan Datuk Utara melawan Datuk Selatan," sambung
Adipati Subali lagi. "Pertarungan berlangsung alot, tanpa ada yang keluar
sebagai pemenang. Lalu, masing-masing pihak ber-istirahat untuk memulihkan
tenaga. Dan kemudian, mereka memutuskan untuk melanjutkan pertarungan di tempat
lain, di sebuah lereng gunung. Kali ini satu sama lain menukar lawan"
Untuk yang kesekian kalinya
Adipati Subali meng-hentikan cerita. Dia tercenung mencari-cari kata yang tepat
untuk meneruskan kisahnya. Sementara, Sagala dan Rara Kunti mendengarkan dengan
perasaan tidak sabar.
"Tapi sebelum pertarungan
dilangsungkan, muncul seorang kakek yang mencegah mereka agar tidak ber-tarung
di situ. Kakek itu rupanya tahu kalau orang yang akan bertarung adalah
tokoh-tokoh sakti. Makanya dia ber-usaha mencegah, karena khawatir sekitar
tempat itu akan longsor. Padahal, dia tinggal di sekitar tempat itu."
"Kakek itu pasti kakek Ayah,
kan?" tebak Rara Kunti tidak sabar menunggu Adipati Subali menjelaskannya.
Laki-laki tinggi besar itu
menganggukkan kepala.
"Benar. Namanya, Eyang
Mandura." Jawab Adipati Subali. "Dan ketika Eyang Mandura berusaha
mencegah terjadinya pertarungan, empat datuk itu malah marah-marah. Bahkan
kakek malah diancam. Karena kesabaran-nya hilang, kakek pun meladeni mereka.
Satu demi satu, datuk-datuk itu dirobohkannya. Sehingga karena malu,
datuk-datuk itu pergi meninggalkan tempat itu."
"Ah! Luar biasa sekali
kepandaian Eyang Mandura!" pekik Rara Kunti kaget. "Apa julukannya,
Ayah!"
"Kakek tidak mempunyai
julukan, Kunti. Dia bertekad tidak ingin mencampuri urusan dunia persilatan.
Penduduk sekitar gunung itu hanya mengenalnya sebagai ahli peng-obatan,"
tutur Adipati Subali menutup ceritanya.
“Tapi, mengapa kepandaian yang
kau miliki biasa-biasa saja, Kang?!" celetuk Sagala, heran. "Ataukah
ilmu datuk-datuk itu yang masih terlampau cetek?"
Adipati Subali menghembuskan
napas berat.
"Kakek memang tidak
mempunyai keturunan yang ber-bakat. Ayah sebagai keturunan kakek, ternyata
memiliki bakat yang amat mengecewakan. Dia hanya menerima sebagian kecil dari
ilmu-ilmu warisan kakek. Bahkan ilmu-ilmu andalan hampir tidak ada yang
didapatkannnya. Jadi, bisa kau perkirakan sendiri tingkat kepandaianku. Karena,
aku hanya belajar dari ayah."
"Mengapa Ayah tidak belajar
dari buyut saja? Apakah buyut tidak mau mengajarimu? Atau.... Ayah juga tidak
me-miliki bakat seperti kakek?!" tanya Rara Kunti bertubi-tubi.
"Kakek meninggal dunia
karena usia tua sewaktu aku baru berusia tiga tahun. Kalau aku tidak salah,
kakek me-ninggal pada usia seratus sepuluh tahun. Dan sebelum meng-hembuskan
napasnya yang penghabisan, kakek telah membuat surat wasiat untuk diberikan pada
keturunannya."
"Kalau begitu, datuk-datuk
yang menjadi lawan kakek sekarang telah tidak ada pula, Kang?!" tanya
Sagala ingin tahu.
"Dua di antara mereka
kudengar sudah meninggal, Adi. Entah meninggalkan murid atau tidak. Sedangkan
yang dua lagi, kudengar masih hidup. Mungkin sekarang umur mereka telah
mencapai delapan puluh tahun lebih. Memang, kakek jauh lebih tua daripada
datuk-datuk per-silatan itu."
Suasana kontan hening ketika
Adipati Subali meng-hentikan cerita. Baik Rara Kunti, Sagala, maupun Adipati
Subali tenggelam dalam alunan pikiran masing-masing.
***
"Ayah lalu berusaha sekuat
tenaga memecahkan teka-teki surat wasiat kakek. Maksudnya, andaikata dia
berhasil memecahkannya, keturunannya tinggal mempelajarinya saja. Tapi usahanya
ternyata sia-sia. Surat itu tetap ter-selimut teka- teki. Aku pun meneruskan
perjuangannya,
tapi nihil juga."
"Kau gagal juga, Ayah?"
tanya Rara Kunti.
Bodoh sekali sebenarnya
pertanyaan itu. Kalau Adipati Subali berhasil, tak akan mungkin memiliki
tingkat kepandaian seperti itu. Dan Adipati Subali hanya meng-anggukkan kepala
saja. Secercah senyum getir tersungging di bibirnya.
"Bisa kau perlihatkan surat
peninggalan kakek pada kami, Kang?" tanya Sagala tiba-tiba.
"Mengapa tidak, Adi.
Bukankah kau dan Rara Kunti merupakan keturunan Eyang Mandura pula? Barangkali
saja kau atau Rara Kunti yang berhasil menemukan rahasia itu!”
Adipati Subali segera membungkuk
kemudian meng-gulung celananya. Karuan saja tindakannya membuat Rara Kunti dan
Sagala heran. Tapi sesaat kemudian, perasaan itu pun lenyap ketika Adipati
Subali mengambil segulung surat yang terikat di betisnya.
Begitu tubuhnya tegak kembali,
Adipati Subali segera mengulurkan gulungan surat itu pada Sagala. Tapi
men-dadak….
"Aaakh...!"
Adipati Subali, Sagala, dan Rara
Kunti sampai berjingkat kaget ketika mendengar jeritan menyayat dari seseorang
yang tengah menerima ajal itu. Apalagi ketika mereka mengenali jeritan itu.
Jeritan Menggala, salah seorang prajurit Kadipaten Blambang.
"Sagala! Rara Kunti! Tunggu
di sini! Atur penjagaan! Biar aku yang akan melihat sendiri, apa yang telah
menimpa-nya!"
Seiring keluarnya ucapan itu,
Adipati Subali melesat cepat ke depan. Gerakannya cepat juga. Sehingga yang
terlihat hanyalah sekelebatan bayangan kuning yang melesat cepat menuju asal
teriakan tadi.
Sambil terus berlari, Adipati
Subali mengulurkan tangan mencabut pedangnya. Meskipun jeritan yang terdengar
hanya sekali tapi cukup membuat Adipati Kadipaten
Blambang mengetahui asalnya. Dan
kini, larinya kian dipercepat menuju arah asal suara.
Crasss!
Semak-semak kontan berhamburan
ketika laki-laki tinggi besar yang tengah kalap ini membabatkan pedang-nya.
Memang, Adipati Subali yakin kalau jeritan tadi keluar dari balik semak-semak
ini.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
Adipati Subali ketika tidak menemukan adanya mayat Menggala di situ. Bahkan
tidak nampak noda-noda darah di sekitar situ. Sinar bulan yang cukup terang
membantu laki-laki tinggi besar ini, tidak dapat membantu melihat pencariannya.
Tapi Adipati Subali tidak
langsung percaya begitu saja. Meskipun mayat Menggala tidak ditemukan, dia
tidak putus asa. Segera pandangannya beredar ke sekeliling, meneliti keadaan
sekitarnya. Paling tidak, dia harus mendapatkan tanda-tanda kalau di tempat itu
telah terjadi pembunuhan.
Tanah, semak-semak, dan dedaunan
pun tidak luput dari sasaran perhatian Adipati Subali. Dan perasaan heran pun
merayap di hati, ketika tidak juga menemukan tanda-tandanya! Mungkinkah dia
salah tempat? Mungkinkah Menggala tidak dibunuh, melainkan diculik? Tapi kalau
diculik, mengapa harus melolong seperti itu?! Berbagai macam pertanyaan
bergayut di benak Adipati Subali.
Tengkuk Adipati Subali mendadak dingin ketika telinganya mendengar jeritan lagi. Tapi
kali ini, berasal dari tempat yang ditinggalkannya! Hanya saja, jeritan kali
ini terdengar pendek, tidak panjang seperti tadi.
Sebagai seorang bekas panglima
perang, Adipati Subali tahu kalau rombongannya telah diserbu. Namun serangan
itu tampaknya tidak ingin diketahui olehnya. Menyerang secara diam-diam,
sementara Adipati Subali tengah lengah. Buktinya para penyerang itu membungkam
teriakan salah seorang prajurit Kadipaten Blambang!
Kegelisahan kini menghantui hati
Adipati Subali. Disadari kalau dirinya telah terpancing. Lawan yang tengah
bersembunyi, menunggu saat-saat
yang tepat. Dan begitu Adipati Subali menjauhi rombongannya, lawan langsung
menyerang anggota-anggota rombongan itu.
Karena kekhawatiran yang amat sangat akan keselamatan anggota rombongannya, Adipati
Subali berlari seperti orang gila! Laki-laki tinggi besar ini berlari tanpa
mempedulikan apa yang ada di depannya. Semua yang menghalangi jalannya langsung
diterabas. Semak-semak lebat langsung diterabasnya. Sedangkan semak-semak
berduri dipangkas dulu dengan pedangnya sebelum diterjang.
***
Adipati Subali begitu geram
ketika melihat Rara Kunti dan Sagala tengah dikeroyok orang-orang berpakaian
serba hitam. Sementara beberapa sosok tubuh telah ber-geletakan di tanah, mandi
darah. Hatinya jadi geram juga ketika tidak mendapati prajurit-prajurit Kadipaten Blambang yang lainnya. Ke
manakah perginya belasan orang prajurit Kadipaten Blambang?
Adipati Subali terus melesat ke
arah pertarungan. Dan begitu tiba di tempat Sagala dan Rara Kunti, dia segera
membantu menghadapi lawan. Dan rupanya kehadirannya memang telah diketahui
orang-orang berpakaian serba hitam itu. Terbukti tiga dari tujuh orang
pengeroyok Sagala dan Rara Kunti, melompat menjauhi pertarungan.
"Hup!"
Begitu menjejak tanah,
tangan-tangan kanan mereka bergerak mengayun.
Wusss, wuttt, wuttt!
Tiga buah benda berbentuk bulat
sebesar telur bebek meluncur ke arah Adipati Subali yang tengah membantu Sagala
dan Rara Kunti. Dan pada saat yang bersamaan, empat orang pengeroyok Rara Kunti
dan Sagala juga berbuat yang sama!
Adipati Subali, Sagala, dan Rara
Kunti bergegas
melompat menjauh. Tindakan ketiga
orang itu ternyata tepat, karena…..
Darrr, darrr, darrr!
Ledakan keras terdengar ketika
benda-benda bulat itu menghantam tanah. Asap tebal dan hitam kontan mengepul.
Mau tidak mau hal ini membuat Adipati Subali, Sagala, dan Rara Kunti tidak bisa
melihat apa-apa. Yang terlihat kini hanyalah gumpalan asap hitam. Dan tanpa
diketahui mereka, orang-orang berpakaian serba hitam itu cepat melesat kabur.
Adipati Subali yang merasa tidak
sabar menunggu asap itu terusir, segera mendorong-dorongkan tangannya. Rupa-nya
dia bermaksud mengusir asap itu dengan pengerahan tenaga dalamnya.
Wusss!
Hembusan angin yang cukup keras
timbul dari gerakan mendorong yang dilakukan Adipati Subali berkali-kali. Dan
ternyata, usaha laki-laki tinggi besar ini sama sekali tidak sia- sia. Kini
asap yang menghalangi pandangannya lenyap. Seiring lenyapnya tabir asap hitam
itu, lawan-lawannya ternyata telah lenyap dari situ. Jelas, mereka menggunakan
tabir asap untuk memudahkan
kabur.
Adipati Subali sadar, kini tidak
ada yang bisa dilakukan-nya lagi. Orang-orang berseragam hitam itu memang sudah
tidak ada lagi. Dan dia tidak tahu, ke mana arah yang mereka tempuh. Maka
perhatiannya dipalingkan buru-buru pada Sagala dan Rara Kunti. Untung mereka
belum celaka! Hanya Sagala yang menderita luka kecil pada bahunya yang
tersayat.
"Apa yang terjadi, Adi
Sagala?!" tanya Adipati Subali bergetar karena menahan perasaan.
Seiring keluarnya pertanyaan itu,
laki-laki tinggi besar itu mengedarkan pandangan berkeliling. Tampak
tubuh-tubuh pengawal Kadipaten Blambang berserakan di tanah. Jelas, mereka
semua telah tewas!
"Hhh...!" Sagala
menghela napas berat. "Sepeninggalmu, muncul belasan orang berseragam
hitam-hitam menyerbu
kami, Kang. Mereka berkepandaian
cukup tinggi. Dalam beberapa gebrakan saja, pengawal-pengawal kita berguguran. Bahkan aku dan Rara
Kunti dibuat tidak berdaya. Kami menghadapi keroyokan beberapa orang seperti
yang kau lihat. Kelihatan mereka membuat kami tidak sempat memperhatikan yang
lain-lain. Dan...
"Ah...!"
Adipati Subali menjerit keras
seraya melesat ke arah kereta. Ucapan Sagala mengingatkannya pada istri dan
dayang-dayang kadipaten yang berada di dalam kereta. Memang berbeda dengan
adipati lainnya, Adipati Subali tidak mempunyai gundik.
Tapi lesatannya langsung terhenti
ketika melihat apa yang ada di hadapannya. Daun pintu kereta tampak telah lepas
dari engselnya. Dan tepat di pintu kereta, terjuntai sesosok mayat wanita!
"Marni...!"
Setelah beberapa saat mulutnya
berkemak-kemik tanpa ada sepatah kata pun, akhirnya keluar juga jeritan dari
mulut Adipati Subali.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Adipati Subali! Sebelum gema teriakannya lenyap, tubuhnya telah
melesat ke arah sosok tubuh wanita yang terjuntai di pintu kereta.
"Marni..., ahhh... Marni...!"
ratap Adipati Subali ketika telah berjongkok di depat mayat wanita yang tak
lain dari istrinya.
Memang tidak ada air mata yang
keluar dari matanya. Bekas Panglima Kerajaan Sewu ini. Meskipun demikian rasa
sedih yang menggelegak jelas mengguncang hatinya juga. Berkali-kali Adipati
Subali mengepal dan membuka genggaman jemari tangannya, seraya menarik napas
panjang dan dihembuskannya. Tampak jelas kalau Adipati Kadipaten Blambang ini
tengah menenangkan hatinya.
"Ibu...!"
Terdengar jeritan melengking
nyaring. Rupanya jeritan seorang wanita. Tanpa menoleh pun Adipati Subali tahu,
orang yang telah menjerit itu adalah putrinya, Rara Kunti!
Sekejap kemudian, Rara Kunti
telah berada di sebelah Adipati Subali. Gadis berpakaian hitam ini langsung
bersimpuh. Sepasang matanya menatap ke arah mayat ibunya.
Akhirnya, Adipati Subali berhasil
meredakan perasaan sedihnya. Dan kini dia bangkit berdiri, seraya menepuk-nepuk
pundak Rara Kunti.
“Hentikan semua kecengengan itu,
Kunti!" ujar Adipati Subali.
Bekas Panglima Kerajaan Sewu ini
bermaksud untuk mengambil sikap wibawa. Tapi, tetap saja suaranya masih
terdengar serak. Jelas, kesedihan belum bisa sepenuhnya dihilangkan.
Rara Kunti menghentikan
tangisnya. Dengan kedua bahu masih terguncang-guncang, dia bangkit berdiri.
Kedua belah pipinya yang putih, halus, dan mulut tampak masih dibasahi air
mata.
"Biarkan Kunti menyelesaikan
tangisnya dulu, Kang. Biar rasa sesak di dadanya hilang. Tangis merupakan
sebuah obat yang mujarab untuk menghilangkan rasa sedih yang menggelegak buat
seorang wanita," Sagala yang ikut melangkah menghampiri, segera angkat
suara.
Adipati Subali tidak bisa berkata
apa-apa lagi. Kali ini gadis berambut digelung itu tidak dilarang menangis
lagi.
"Apa yang harus kita lakukan
sekarang, Kang?!" tanya Sagala lagi.
“Terus melanjutkan
perjalanan," sahut Adipati Subali cepat "O, ya. Kau juga harus segera
memecahkan rahasia yang tersembunyi di dalam surat peninggalan kakek,
Sagala."
"Baik Kang. Tapi, sebaiknya
kita kuburkan mayat-mayat ini dulu."
Tak lama kemudian, rombongan
Kadipaten Blambang yang kini tinggal tiga orang kembali melanjutkan
per-jalanan. Mayat-mayat para korban telah dikuburkan. Dan sebelum berangkat
Adipati Subali sempat bersumpah di depan kubur istrinya, untuk mencari orang-orang
berpakaian hitam itu sekaligus
memusnahkannya.
Malam telah mendekati pagi.
Satu-satu mulai terdengar keruyuk ayam hutan di kejauhan. Tampaknya, sebentar
lagi pagi akan tiba. Sang surya akan timbul dan kehidupan baru dimulai kembali.
***
3
Sang surya muncul di ufuk Timur.
Sinarnya merah membara, namun tidak menyilaukan mata. Kicau riang burung
mengiringi langkah tiga sosok tubuh keluar dari dalam Hutan Maung. Dan kini,
mereka berhadapan dengan padang ilalang yang cukup luas. Untungnya ilalang itu
hanya sebatas betis, sehingga tidak mengganggu
pemandangannya.
Semua orang itu berpakaian indah.
Tampaknya mereka berasal dari golongan orang berada. Dua di antara mereka
adalah laki-laki yang telah berusia empat puluhan. Sedangkan yang seorang lagi
adalah seorang gadis dengan rambut digelung. Dan mereka memang Adipati Subali,
Sagala, dan Rara Kunti!
Beberapa tindak sebelum melintasi
padang ilalang itu Sagala, Rara Kunti, dan Adipati Subali tiba-tiba
meng-hentikan langkah. Pandangan mata mereka tertuju lurus ke depan, begitu
sekitar empat tombak di depan tertancap sebuah tongkat berwarna hitam kelam.
Pada bagian atas tongkat, berkibar secarik kain berbentuk persegi berwama merah
menyala. Gambar sebuah peti mati berwama hitam tampak pada kain itu.
Tampak jelas Adipati Subali, Rara
Kunti, dan Sagala ter-kejut bukan kepalang melihatnya. Raut wajah mereka
menampakkan gambaran perasaan terkejut yang nyata.
"Benarkah Iblis Mayat Hidup
berada di sini?" desis Adipati Subali. Suaranya terdengar bergetar karena
perasa-an tegang yang melanda.
Sagala dan Rara Kunti menoleh.
Tanpa dijelaskan pun keduanya tahu kalau tokoh yang berjuluk Iblis Mayat Hidup
itu adalah seorang datuk kaum sesat yang merajai wilayah Utara! Dan dia juga
salah satu dari empat datuk yang menguasai rimba persilatan.
"Kau mengenalnya Kang?"
tanya Sagala, pelan suara-nya. Sementara Rara Kunti hanya diam mendengarkan.
"Mengenalnya sih, tidak. Aku hanya mendengar ceritanya saja. Dan perlu kau tahu,
Sagala. Iblis Mayat Hidup adalah salah satu dari empat datuk sesat yang
dikalahkan kakek kita puluhan tahun lalu." jelas Adipati Subali.
"Ah...!" desis Sagala
dan Rara Kunti kaget.
Bagai diperintah kedua orang itu
saling berpandangan. Tarikan wajah-wajah mereka menampakkan perasaan kaget.
Mereka memang pernah mendengar tentang sepak terjang tokoh lblis Mayat Hidup
itu. Tapi sungguh tak disangka, kalau tokoh itu ternyata salah satu dari empat
datuk yang pernah dikalahkan leluhur mereka.
"Jadi.., datuk-datuk sesat
yang dikalahkan kakek adalah datuk-datuk sesat yang masih merajai dunia
persilatan sekarang ini, Kang?" tanya laki laki tinggi kurus setengah tak
percaya.
Adipati Subali hanya
menganggukkan kepala, sementara sepasang matanya beredar mengawasi sekeliling.
"Kalau begitu..., bisa
kuperkirakan betapa tingginya kepandaian yang dimiliki kakek..," desah
Sagala penuh perasaan kagum. “Tapi, Kang...."
"Ssst..!"
Adipati Subali buru-buru memberi
isyarat agar Sagala diam.
"Aku kahwatir, berita
mengenai surat rahasia ini telah tersebar luas, Sagala. Kalau tidak, Iblis
Mayat Hidup tak mungkin kemari. Tempat tinggalnya terlalu jauh dari sini. Dia
tinggal di Utara. Sedangkan kita berada di Selatan. Kutakutkan, bukan hanya dia
saja yang muncul. Tapi juga satu datuk lainnya...."
"Ha ha ha...!"
Tiba-tiba suara tawa keras
menggelegar membuat Adipati Subali menghentikan ucapannya. Adipati Subali,
Sagala, dan Rara Kunti terkejut bukan kepalang. Seketika perasaan tegang menyelimuti hati mereka semua.
Benarkah Iblis Mayat Hidup yang
akan datang?
Dengan jantung berdetak kencang,
mereka menunggu keluarnya si pemilik suara tawa. Tapi sampai lama menunggu,
tidak juga ada tanda-tanda kemunculannya. Maka ketiga orang itu pun mencoba
mengira-ngira tempat keberadaan pemiliknya. Namun ternyata sia-sia. Suara tawa
itu seperti berasal dari delapan penjuru.
Betapapun Adipati Subali, Sagala,
dan Rara Kunti telah mengerahkan seluruh kemampuannya, namun tetap saja tidak
mengetahuinya. Tubuh ketiga orang itu sampai-sampai terputar-putar karena ingin
bisa mendengar lebih jelas. Tapi, tetap saja sia-sia.
"Aku tidak bisa
memperkirakan, dari mana asal suara tawa ini, Kang," kata Sagala masih
terus berputar-putar.
"Iblis itu pasti menggunakan
ilmu istimewanya dalam suara tawa ini," Jawab Adipati Subali. “Tidak ada
gunanya kita bertindak seperti ini. Lebih baik, diam menunggu. Aku yakin iblis
itu akan datang menemui kita."
Sagala dan Rara Kunti menyadari
ada kebenaran juga dalam ucapan bekas orang nomor satu Kadipaten Blambang itu.
Maka keduanya ikut berdiri menunggu.
"Kakek menceritakan pada
Ayah mengenai ilmu-ilmu andalan yang dimiliki empat datuk itu. Aku yakin, Iblis
Mayat Hidup menggukan dasar ilmu andalan dalam pengerahan tawanya,” jelas
Adipati Subali lagi.
"Aku belum mengerti
maksudmu, Kang," ujar Sagala jujur.
Rara Kunti pun menganggukkan
kepala.
Adipati Subali menatap adik misan dan anak
kandungnya sejenak.
"Iblis Mayat Hidup memiliki
sebuah ilmu yang bernama 'Tangan Delapan Penjuru Angin'. Apabila ilmu itu
digunakan lawan yang menghadapinya seakan-akan mendapat
tekanan dari delapan arah. Nah! Aku yakin, dasar ilmu 'Tangan Delapan Penjuru
Angin' digunakannya dalam tawanya. Buktinya, kita merasakan kalau suara tawa
itu sepertinya berasal dari semua arah!"
Rara Kunti dan Sagala
menganggukkan kepala.
"Lalu, mengapa iblis itu
mencegat perjalanan kita. Ayah?" tanya Rara Kunti, ingin tahu.
"Mana aku tahu," Jawab Adipati Subali sambil
mengangkat bahu. "Mungkin saja juga berminat merampas surat wasiat
peninggalan kakek."
"Kalau begitu, berbahaya
sekali," celetuk Rara Kunti, tanpa menyembunyikan perasaan takutnya.
Adipati Subali dan Sagala sama sekali tidak
menyambutinya. Tapi meskipun demikian, bisa diketahui kalau mereka membenarkan
ucapan gadis berpakaian hitam itu. Tarikan wajah dan sikap mereka menjadi
jawabannya.
***
Mendadak suara tawa itu lenyap.
Dan seketika itu pula, perasaan tegang menyelimuti hati Adipati Subali, Rara
Kunti, dan Sagala. Bisa diduga, berhentinya suara tawa itu menjadi pertanda
kalau orang yang diyakini sebagai Iblis Mayat Hidup akan segera keluar dari
sarangnya.
Dugaan ketiga orang itu ternyata
tidak keliru. Sesaat kemudian, berkelebat sesosok bayangan. Cepat bukan main
gerakannya, sehingga tidak terlihat jelas bentuknya. Yang terlihat hanyalah
sekelebat bayangan merah, dan tahu-tahu hinggap di sebelah tongkat berlambang
peti mati itu.
Adipati Subali, Sagala, dan Rara
Kunti menatap sosok bayangan merah yang baru tiba itu lekat-lekat. Dan
seketika, sepasang mata mereka terbelalak. Sorot ketiga pasang mata itu
memancarkan keterkejutan, tapi juga kelegaan. Betapa tidak? Semula dikira di
depan mereka akan berdiri sesosok tubuh ringkih seorang kakek. Tapi ternyata
dugaan itu keliru!
Di sebelah tongkat berlambang
peti mati itu berdiri seorang pemuda bertubuh kurus. Wajahnya tampan, tapi
sayang terlihat pucat seperti orang penyakitan. Pakaiannya
yang berwama merah menyala dan
gambar peti mati besar pada bagian dada, semakin menambah kepucatan wajah-nya.
Di tangannya tampak tergenggam sebatang cangkul!
"Siapa di antara kalian yang
menjadi keturunan si keparat Eyang Mandura?!" tanya pemuda berwajah pucat
itu bemada mengancam.
Sambil berkata demikian, pemuda kurus itu mengedarkan pandangan berkeliling.
Ditatapnya wajah Adipati Subali, Rara Kunti, dan Sagala satu persatu.
Seakan-akan ketiga orang yang menjadi turunan Eyang Mandura tengah dinilainya.
Kontan wajah Adipati Subali merah
padam. Sepasang matanya pun berkilat-kilat. Tampak jelas, laki-laki tinggi
besar ini marah bukan kepalang. Kakeknya dihina, siapa yang tidak menjadi
marah? Dengan yang langkah lebar-lebar dia maju ke depan.
"Aku! Akulah yang menjadi
keturunan Eyang Mandura! Tokoh sakti yang telah menumbangkan kesombongan Iblis
Mayat Hidup! Siapa kau, Orang Sakti?!" sahut Adipati Subali tak kalah
kasar.
"Ha ha ha...! Kebetulan
sekali sudah lama sekali aku ingin membuktikan kepandaian si keparat Eyang
Mandura. Tak kusangka, aku akan bertemu keturunannya di sini! Hei, Brewok
Jelek! Ketahuilah! Aku adalah Jaranta putra tunggal Iblis Mayat Hidup,
kekalahan ayahku dulu karena terlalu mengalah! Nah! Sekarang, mari kita
buktikan kenyataan-nya!"
Adipati Subali menggertakkan
giginya menahan geram. Untuk pertama kalinya dia menyesali diri, mengapa dulu
tidak mewarisi ilmu-ilmu kakeknya. Padahal, di depannya telah berdiri orang
yang mengajaknya bertarung. Dan bahkan lawan itu adalah keturunan orang yang
telah dirobohkan kakeknya.
Meskipun sudah bisa menduga kalau
Jaranta memiliki tingkat kepandaian yang jauh di atasnya, Adipati Subali tidak
gentar. Demi membela nama baik kakeknya, dia rela mati di tangan lawannya. Maka
dihampirinya Jaranta.
Baik Jaranta maupun Adipati
Subali sama-sama meng-hentikan langkah ketika telah berjarak kurang dari tiga
tombak. Keduanya saling pandangan sejenak. Mendadak...
"Haaat...!"
Diiringi suara keras melengking nyaring, Jaranta menyerang Adipati Subali.
Pemuda berwajah pucat ini membuka serangannya dengan sebuah cengkeraman tangan
bertubi-tubi ke arah leher dan ulu hati.
Wut, wut!
Suara berkesiutan nyaring
mengiringi serangan Jaranta. Hal ini menjadi pertanda kalau serangan itu
dilakukan disertai pengerahan tenaga dalam tinggi.
Adipati Subali paham kalau
serangan yang dibuka lawannya sangat berbahaya. Bukan hanya serangannya saja
yang berbahaya, tapi juga bagian yang akan dijadikan sasaran. Ternyata Jaranta
lebih memilih bagian-bagian yang mematikan. Kalau sampai terkena, Adipati
Subali akan celaka!
Dan belum Juga Adipati Subali
sempat berbuat sesuatu, terasakan ada sebuah kekuatan tak nampak yang
meng-gencet tubuhnya dari berbagai penjuru. Kuat sekali tenaga yang menekan,
sehingga membuat dada laki-laki tinggi besar ini terasa sesak bukan kepalang.
Dan seiring semakin mendekatnya serangan Jaranta, kekuatan tak nampak yang
menekan dadanya semakin membesar pula. Betapapun seluruh kemampuannya telah
dikerahkan untuk membebaskan diri dari tekanan itu, tapi tetap saja tidak
mampu. Kini yang dapat dilakukan Adipati Subali hanyalah menunggu datangnya
sang Maut!
Adipati Subali pun sadar kalau
kekuatan tak nampak yang menekannya dari berbagai penjuru adalah akibat
serangan lawannya. Dan seketika itu pula, dia teringat. Ya! Jaranta pasti menggunakan
ilmu 'Tangan Delapan Penjuru Angin'! Ilmu yang menjadi andalan Datuk Utara,
ayahnya.
Selama ini, Adipati Subali hanya
mendengar cerita tentang kehebatan Ilmu 'Tangan Delapan Penjuru’. Dan dia sama
sekali belum pernah membuktikannya. Sama sekali
tidak disangka kalau akan
sedahsyat ini! Belum apa-apa, dia sudah dlbuat tidak berdaya. Tubuhnya bagaikan
tengah digencet kekuatan raksasa!
Memang dahsyat ilmu 'Tangan
Delapan Penjuru Angin'! Orang yang mempunyai kekuatan tenaga dalam rendah akan
celaka. Karena sewaktu ilmu ini dipergunakan untuk menyerang, sebelum serangan
itu sendiri tiba akan muncul sebuah kekuatan maha dahsyat yang menekan lawan
dari segala penjuru. Akibatnya, lawan akan sukar untuk mengelak, hingga menjadi
sasaran serangan pemakai ilmu ‘Tangan Delapan Penjuru Angin'!
Kini sudah dapat diperkirakan
nasib yang akan menimpa Adipati Subali. Dia akan tewas di tangan Jaranta.
Bahkan putra Iblis Mayat Hidup itu sudah terrawa bergelak, karena yakin
serangannya akan mengenai sasaran dengan tepat.
Di saat yang gawat bagi
keselamatan Adipati Subali, melesat sesosok bayangan ungu ke arah kancah
per-tarungan. Lalu bayangan itu langsung memapak serangan yang tengah
dilancarkan Jaranta.
Plak plak…!
Suara berderak keras terdengar
berkali-kali ketika Jaranta mengalihkan serangan ke arah bayangan yang hendak
memapaknya. Akibatnya dahsyat sekali, tubuh Jaranta kontan terhuyung-huyung ke
belakang. Hampir saja, putra Iblis Mayat Hidup ini terjengkang kalau tidak
segera mematahkan kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung.
Sementara itu, sosok bayangan
ungu itu pun terpental balik ke atas! Tapi dengan sebuah salto yang indah,
kekuatan yang melontarkannya berhasil dipatahkan. Tidak hanya itu saja yang
dilakukannya. Sambil berjumpalitan di udara, disambarnya tangan Adipati Subali.
Tappp! "Hup!"
Ringan laksana daun kering jatuh
ke tanah, sosok bayangan ungu itu mendaratkan kedua kakinya di tanah.
Menyingkirlah, Kisanak. Dia
terlalu lihai untukmu," ujar sosok bayangan ungu itu pada Adipati Subali.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Kisanak," ucap orang nomor satu Kadipaten Blambang sambil menatap wajah
penolongnya.
Hanya sekilas saja Adipati Subali
menatap wajah penolongnya, lalu menghampiri Sagala dan Rara Kunti. Adipati
Subali bukan orang bodoh! Dia tahu, Jaranta terlalu sakti untuk dirinya. Bila
terus mengadakan perlawanan sama dengan mencari mati!
***
Jaranta menatap penolong Adipati
Subali dengan wajah beringas. Sepasang matanya memancarkan hawa
kematian. Dia benar-benar murka, karena sudah hampir berhasil menamatkan
riwayat Adipati Subali tapi ternyata gagal. Tentu saja pemuda berwajah pucat
ini jadi kalap ketika mengetahui ada orang yang telah menolongnya. Kekalapannya
bertambah ketika mengetahui tangkisan penolong Adipati Subali membuat tubuhnya
terhuyung-huyung dengan tangan sakit-sakit.
Sosok bayangan ungu itu yang
menolong Adipati Subali ternyata seorang pemuda tampan berusia sekitar dua
puluh tahun. Pakaiannya berwarna ungu, membalut tubuhnya yang tegap dan kekar.
Rambutnya berwama putih keperakan dan meriap sampai ke punggung. Bahkan
sebagian rambutnya sampai menutupi sebuah guci perak yang tersampir di
punggung.
"Siapa kau, Keparat?!"
benrak Jaranta setelah puas memperhatikan sosok yang berdiri di hadapannya.
Ada kernyitan pada dahi Jaranta.
Dan itu tercipta ketika memandang wama rambut penolong Adipati Subali. Aneh
sekali warna rambut pemuda berpakaian ungu itu!
"Namaku Arya. Dan kau siapa,
Biang Keparat?!" pemuda berpakaian ungu itu balas bertanya.
Jaranta mengangguk-anggukkan
kepala.
"Kini aku tahu, mengapa kau
mempunyai sikap begitu sombong! Bukankah nama lengkapmu adalah Arya Buana?! Hm,
jadi kau yang berjuluk Dewa Arak itu?" tebak pemuda berwajah pucat
disertai senyum sinis yang ter-sungging di bibir.
"Dugaanmu sama sekali tidak
salah, Kisanak!" kalem sambutan Arya
"Ha... ha... ha...!"
Jaranta tertawa bergelak-gelak.
Tentu saja kelakuan putra Iblis
Mayat Hidup itu mem-buat semua orang yang berada di situ jadi terkejut
ber-campur heran. Mengapa Jaranta malah tertawa-tawa? Gilakah dia?! Kini mereka
semua menatap wajah Jaranta dengan dahi berkernyit.
"'Sudah lama kudengar nama
besarmu. Dewa Arak! Dan sudah lama pula aku ingin bertemu denganmu! Aku ingin
tahu, apakah gema kebesaran julukanmu sebanding kepandaian yang kau miliki?!
Bersaplah kau, Dewa Arak?!"
Dewa Arak tersenyum hambar.
"Sayang sekali, Kisanak. Aku
tidak suka bertarung tanpa alasan kuat," tolak Arya sambil menggelengkan
kepala.
"Kau bilang tidak mempunyai
alasan, Dewa Arak?!" sergah Jaranta dengan sepasang mata membelalak lebar.
"Apakah tindakan yang barusan kau lakukan tidak bisa dianggap sebagai
alasan?! Kau telah mencapuri urusanku, Dewa Arak! Itulah alasannya!"
Kembali Dewa Arak menggelengkan
kepala.
“Itu lain, Kisanak! Aku hanya
bermaksud menyelamat-kan nyawa orang yang tengah terancam. Lain tidak!"
Jaranta menggeram. Dia kehabisan
akal untuk me-maksa Arya bertarung.
"Kalau begitu, menyingkirlah
dari situ, Dewa Pengecut!" perintah Jaranta keras.
"Mengapa kau menyuruhku
menyingkir dari sini, Kisanak?!" Arya masih mencoba bersabar.
"Aku ingin membunuh
keturunan si keparat Eyang Mandura!"
"Sayang sekali. Kalau itu
maksudmu, terpaksa aku tidak bisa menyingkir dari sini." kalem ucapan yang
keluar dari mulut Arya.
Arya mengambil keputusan untuk
bertarung dengan Jaranta. Hal itu karena didorong beberapa alasan. Satu di
antaranya karena orang di hadapannya hendak mem-bunuh. Dan Arya sadar kalau
yang dihadapinya ternyata berpakaian seperti Iblis Mayat Hidup, seorang datuk
sesat yang amat kejam. Jadi, paling tidak pemuda berwajah pucat itu punya
hubungan dekat dengan Iblis Mayat Hidup. Dan Dewa Arak tahu, kalau Iblis Mayat
Hidup adalah tokoh yang amat kejam dalam rimba persilatan.
"Kalau begitu, kau dulu yang
harus kusingkirkan, Dewa Arak!" seru Jaranta, keras.
Usai berkata demikian, Jaranta bersiap-siap
melancar-kan serangan. Tahu kalau yang yang dihadapinya kali ini adalah lawan
tangguh, Jaranta tidak ingin bertindak main-main.
"Hiyaaat...!"
Sambil berteriak keras, Jaranta
menerjang Dewa Arak. Kedua tangannya yang terkembang membentuk cakar meluncur
berbareng ke arah dada.
Cit, cit!
Suara mencicit nyaring mengiringi
tibanya serangan itu. Sementara, Dewa Arak tahu, kalau ada kekuatan tenaga
dalam yang terkandung dalam serangan lawan.
"Heh...?!"
Dewa Arak tersentak ketika merasa
ada kekuatan tak nampak yang menekan tubuhnya dari berbagai penjuru. Begitu
kuat tekanannya, sehingga membuat dadanya terasa sesak. Dan seiring semakin
mendekat serangan Jaranta, kekuatan tak nampak itu semakin kuat menekan.
Pemuda berambat putih keperakan
itu sadar, mengapa Adipati Subali sama sekali tidak menghindar meskipun
serangan Jaranta hampir mengenai sasaran. Rupanya, laki-laki tinggi besar itu
terhimpit tenaga yang menekan, se-hingga tidak bisa mampu bergerak.
Tapi tentu saja hal yang dialami
Adipati Subali tidak terus menerus menimpa Dewa Arak. Sekali pemuda berambut
putih keperakan itu mengerahkan tenaga dalam, kekuatan yang menekannya pun
sirna. Kemudian tanpa ragu-ragu lagi dipapaknya serangan yang mengancam dada.
Prakkk! "Akh!"
Jaranta memekik kesakitan.
Tangannya kontan terasa sakit-sakit. Bahkan, tubuhnyapun terhuyung tiga langkah
ke belakang. Sementara, Dewa Arak hanya terhuyung satu langkah. Jelas, tenaga
dalam putra Iblis Mayat Hidup masih di bawah Dewa Arak.
Jaranta menggeram keras. Dia sama
sekali tidak pemah mimpi akan mengalami kejadian seperti ini. Terhuyung-huyung
dalam benturan tenaga dalam, melawan seorang pemuda. Sekali pun orang itu Dewa
Arak, dia tidak sudi hal itu terjadi. Jaranta adalah putra tunggal Iblis Mayat
Hidup! Jadi, pantang baginya disaingi orang. Apalagi dikalahkan.
Perasaan geram bercampur penasaran membuat
Jaranta mengambil keputusan untuk melancarkan
serangan susulan. Tapi sebelum hal itu dilakukannya, mendadak....
"He... he... he... ho...
ho... ho... hi... hi... hi...!"
Sebuah tawa aneh membuat Jaranta
menghentikan gerakan. Menilik dari gerakan yang terhenti tiba-tiba, bisa
diperkirakan kalau Jaranta merasa terkejut bukan
kepalang.
Bahkan dia melangkah mundur
setindak. Kepalanya, langsung menoleh ke arah asal suara tawa aneh itu
ter-dengar.
Krosek!
Ilalang dan semak-semak yang
berada di sebelah kiri berkerosakan. Sesaat kemudian, muncul seorang pemuda
berkepala botak. Tubuhnya pendek gemuk. Perutnya yang buncit terlihat jelas,
karena tidak mengenakan pakaian kecuali sebuah celana pendek.
Masih dengan tawa aneh yang tidak
putus-putus pemuda berkepala botak ini melesat ke arah Jaranta dan Arya.
Sementara Adipati Subali, Sagala, dan Rara Kunti yang agak jauh dari situ hanya
memperhatikan saja kehadiran sosok berkepala botak itu.
Gerakan sosok berkepala botak itu
terlihat lucu bukan main. Karena gerakannya seperti tidak tengah berlari,
me-lainkan menggelinding!
Arya terkejut ketika
memperhatikan wajah Jaranta, Adipati Subali, Sagala, dan Rara Kunti satu
persatu. Tampak wajah mereka berubah menegang ketika melihat kedatangan pemuda
berkepala botak itu. Siapakah sebenarnya pemuda itu?
***
4
Adipati Subali rupanya mengetahui
perasaan yang bergolak di hati Dewa Arak. Buktinya, segera dihampirinya pemuda
berambut putih keperakan itu.
"Suara tawa itu hanya
dipunyai seorang datuk kaum sesat wilayah Barat. Namanya Setan Gila, Dewa
Arak." jelas laki-laki tinggi besar itu.
Dan sebenarnya, Adipati Subali
sungguh-sungguh tidak menyangka kalau akan bisa bertemu Dewa Arak! Tokoh muda aliran
putih yang julukannya sudah lama didengar-nya. Terus terang, Dewa Arak adalah
pendekar yang amat dikaguminya. Tadi ketika melihatnya, Adipati Subali merasa
ragu. Tapi, akhirnya dia baru percaya ketika Jantara menerka, dan Arya tidak
membantahnya. Perasaan yang sama pun bersemayam di hati Rara Kunti dan Sagala.
Sementara itu, Arya
mengangguk-anggukkan kepala ketika mendengar penjelasan Adipati Subali. Julukan
Setan Gila telah didengar. Dia adalah seorang datuk sesat yang memiliki tingkat
kepandaian sejajar dengan Iblis Mayat Hidup.
Tapi menilik dari keadaannya,
Arya tahu kalau pemuda berkepala botak ini bukan datuk sesat yang menggiriskan
itu. Jadi paling tidak kalau bukan anak, pasti muridnya.
"Cihuiii...!”
Pemuda berkepala botak berseru
nyaring. Begitu larinya dihentikan, tubuhnya langsung berbalik. Dan seketika,
dia mengunjukkan pantatnya. Sesaat kemudian....
Dut!
Bunyi cukup keras keluar dari
pantat pemuda cebol itu. Apalagi kalau kentut, atau angin yang berbau busuk
itu? Bagai diperintah, semua yang berada di situ melangkah mundur sambil
menutupi lubang hidung, untuk mencegah hawa busuk dari angin keras yang keluar
lewat pantat pemuda berkepala botak itu.
"Ha... ha... ha... ho...
ho... ho... hi... hi... hi...! Bagaimana bunyi siulanku?! Merdu, bukan?!"
Pemuda berperut gendut itu
kembali tertawa-tawa, dan terlihat gembira sekali. Perutnya yang buncitpun
sampai terguncang-guncang. Masih belum puas juga, maka tubuh-nya langsung
dijatuhkan ke tanah dan berguling-gullngan.
"Keparat'"
Jantara yang paling berangasan di
antara mereka ber-teriak memaki. Dia murka bukan kepalang mendapat per-lakuan
seperti itu dari pemuda berkepala botak yang diduga mempunyai hubungan dengan
Setan Gila.
"Hi... hi... hi...! Lucu.. !
Lucu sekali!"
Tiba-tiba terdengar lagi sebuah
seruan melengking tinggi. Jelas seruan itu keluar dari mulut seorang wanita.
Serentak semua kepala menoleh ke arah sebuah bayangan yang berkelebatan sambil
memperdengarkan suara tawa-nya. Dan hebatnya akibat yang ditimbulkan suara itu
mem-buat telinga semua orang yang berada di situ seperti ditusuk-tusuk. Sangat
sakit!
Tampak sesosok tubuh ramping
berpakaian serba putih telah berdiri di sebelah kiri pemuda berkepala botak.
Rambutnya berwarna hitam, panjang dan tergerai sampai ke bawah. Rasanya tidak
ada yang ditakutkan kalau saja tidak terlihat wajahnya yang ternyata tertutup
sebuah topeng tengkorak! Bahkan di tangannya pun tergenggam sebuah topeng yang
ujungnya dihiasi tengkorak kepala manusia dewasa.
Tidak hanya itu saja. Di
lingkaran pinggang wanita ber-topeng tengkorak itu pun berjajar tengkorak
kepala. Hanya saja, ukurannya jauh lebih lecil. Mungkin tengkorak bayi yang
baru lahir.
"Ha... ha... ha... ho...
ho.. ho... hi... hi... hi...!" pemuda ber-kepala botak tertawa
terkekeh-kekeh. "Luar biasa! Tinggal satu orang lagi, maka lengkaplah
keturunan datuk-datuk di empat penjuru! Hi... hi... hi...! Ciri-cirimu mirip
sekali dengan Ratu Tengkorak Putih, ho ho ho...!"
Memang, seperti juga Jantara,
wanita bertopeng
tengkorak itu juga mempunyai
hubungan dengan Ratu Tengkorak Putih, salah satu dari empat datuk kaum sesat
dunia persilatan!
"Hmh!" dengus wanita bertopeng tengkorak itu. "Tingkahmu sama sekali tidak
lucu, Cebol Jelek! Padahal, guruku pernah bercerita kalau Setan Gila memiliki
tingkah amat lucu! Rupanya, kau terhitung murid bebal. Buktinya, kau tidak bisa
mewarisi kelucuan gurumu!"
"Setan Gila bukan guruku,
Penghuni Kuburan!" maki pemuda berkepala botak itu sambil menggaruk-garuk
kepalanya yang tidak gatal. "Orang tua gila itu adalah kakekku! Dan namaku
pun bukan Cebol Jelek! Tapi, Taliwang!"
"Aku pun bukan Penghuni
Kuburan! Namaku Ratna Ningsih!" balas wanita bertopeng tengkorak tak mau
kalah. Kemudian perhatiannya dialihkan ke tempat lain, dan tidak mau menoleh
kembali ke arah Taliwang.
***
Adipati Subali terkejut bukan
kepalang menyaksikan semua ini. Sungguh tidak disangka, tiga ahli waris dari
tiga datuk sesat yang merajai dunia persilatan bisa berkumpul di sini. Tinggal,
seorang ahli waris dari seorang datuk sesat lainnya yang belum muncul. Dan mereka
semua meng-inginkan surat wasiat yang dibawa Adipati Subali, akan celakalah
jadinya. Memang benar di situ ada Dewa Arak! Tapi mampukah pendekar muda yang
menggemparkan itu menanggulangi tiga orang lawannya?
"Sungguh tidak disangka kita
semua bisa berkumpul di sini. Walaupun masih kurang seorang lagi, tapi
merupakan sebuah hal yang aneh kalau pertemuan yang terjadi hanya secara
kebetulan," kata Jaranta, sambil berusaha bersikap tenang.
"Ho... ho... ho...!"
Taliwang yang tidak bisa melucu
seperti gurunya, ter-tawa sambil menggaruk-garuk dadanya dengan kedua
tangan. Sikapnya mengingatkan
pada seekor kera.
"Tidak usah berpura-pura
seperti monyet bodoh, Jaranta! Kami semua tahu, kau berminat memperebutkan
kotoran Eyang Mandura!" keras ucapan Taliwang.
Wajah Jaranta merah padam
seketika. Dia tahu, kotoran Eyang Mandura yang dimaksud Taliwang adalah pusaka
peninggalannya. Memang, Jaranta berniat merampasnya dari tangan Adipati Subali.
Makanya, dia mencegahnya di sini. Tapi sama sekali tidak disangka kalau murid
datuk-datuk pun melakukan hal yang sama.
"Jangan samakan aku dengan
kalian!” sergah Jaranta keras. "Aku sama sekali tidak berniat memperebut
kotoran Eyang Mandura. Toh dengan ilmu warisan ayahku, dunia persilatan bisa
kukuasai! Aku akan menjadi jago nomor satu menggantikan ayahku!"
"Jangan harap impianmu
terujud Jaranta! Selama masih ada aku, kau tidak akan bisa menjadi jago nomor
satu di kolong langit!" balas Ratna Ningsih.
"Ho... ho... ho...! Rupanya
Jaranta tengah bermimpi," Taliwang menyambung ucapan murid Ratu Tengkorak
Putih. Kali ini sambil berjingkrak-jingkrak.
"Apakah kalian membutuhkan
bukti? Silakan maju! Akan kalian lihat sendiri betapa mudahnya bagiku untuk
me-robohkan kalian!" sumbar Jaranta bernada tantangan.
"Kau benar-benar berotak
udang Jaranta! Untuk apa kita cakar-cakaran sekarang?! Masalah sepele ini bisa
diurus belakangan. Yang penting sekarang, membereskan lawan-lawan di hadapan
kita. Terutama sekali, Dewa Arak!" tukas Ratna Ningsih.
Jaranta terperanjat. Dia tersadar
seketika. Kalau ucapan murid Ratu Tengkorak Putih benar belaka! Yang penting,
sekarang membereskan Dewa Arak dan mendapatkan pusaka Eyang Mandura terlebih
dulu. Telah dibuktikannya sendiri kelihaian Dewa Arak. Tingkatan tenaga dalam
pemuda berambut putih keperakan itu benar-benar berada di atasnya. Bukan mustahil keunggulan pendekar berambut putih keperakan itu tidak hanya sampai di
situ
saja!
"Kau benar! Lebih baik, kita
bereskan mereka lebih dulu!"
Setelah berkata demiktan, Jaranta
melangkah meng-hampiri Adipati Subali, Sagala, dan Rara Kunti yang sejak tadi
menyaksikan apa yang terjadi. Dan langkah Jaranta segera diikuti Ratna Ningsih
dan Taliwang.
Menilik dari langkah kaki mereka,
bisa diketahui adanya ancaman besar yang tengah bergerak ke arah Adipati
Subali, Sagala, dan Rara Kunti. Tapi sebelum hal itu terjadi, Dewa Arak yang
tadi menyisih ke samping segera memotong langkah mereka. Maka hal ini membuat
Jaranta, Ratna Ningsih, dan Taliwang terpaksa meng-hentikan langkah. Kini di
hadapan mereka telah berdiri Dewa Arak yang membelakangi Adipati Subali,
Sagala, dan Rara Kunti.
"Keparat! Kau terlalu
sombong, Dewa Arak! Mampuslah kau, hiyaaat..!"
Jaranta yang tidak bisa menahan
kemarahannya lagi, langsung menerjang Dewa Arak. Kedua tangannya
menyampok bertubi-tubi ke arah kedua pelipis Dewa Arak.
Wuttt, wuttt!
Seperti kejadian sebelumnya,
muncul kekuatan tak nampak yang menekan Dewa Arak dari segala penjuru. Dan
seiring semakin dekatnya serangan Jaranta, kekuatan yang menghimpit itu semakin
membesar.
Tapi juga seperti sebelumnya,
dengan mengerahkan tenaga dalam dari bawah pusat ke seluruh tubuh, Dewa Arak
berhasil membebaskan diri dari kekuatan tak nampak yang menekannya. Tidak hanya
sampai di situ saja tindakan Dewa Arak. Sadar akan ketangguhan lawan, apalagi
tidak hanya seorang saja yang akan dihadapi, pemuda berambut putih keperakan
ini memutuskan untuk melakukan perlawanan.
Meskipun demikian, Dewa Arak
belum berniat meng-gunakan ilmu 'Belalang Sakti' andalannya. Yang
dikeluar-kannya hanya ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau
dan 'Sepasang Tangan Penakluk
Naga’. Dan dalam peng-gunaan ilmu itu, serangan Jaranta dipapaknya. Namun tak
lupa, 'Tenaga Dalam Inti Matahari'nya juga dikerahkan.
Prat, prat! "Akh...!"
Jaranta terpekik kaget. Bukan
karena tubuhnya ter-huyung akibat benturan itu, tapi ketika terasa ada hawa
panas yang merayap melalui jari-jari tangannya.
Buru-buru putra Iblis Mayat Hidup
itu mengerahkan hawa murni untuk mengusir hawa panas yang merayap. Kemudian
dengan hati panas karena perasaan amarah dan penasaran, kembali dilancarkannya
serangan pada pemuda berambut putih keperakan itu.
Perasaan yang bergolak di hati,
membuat Jaranta meng-umbar serangan-serangan dahsyat. Hebat bukan kepalang ilmu
'Tangan Delapan Penjuru Angin' itu. Di samping sebelum serangan itu tiba, telah
didahului lebih dulu kekuatan tak nampak yang menekan seluruh tubuh lawan.
Dalam penggunaan ilmu itu pun, tangan Jaranta seperti berubah menjadi
berpasang-pasang.
Dewa Arak terperanjat melihat
keistimewaan ilmu yang dipergunakan lawan. Tampak kedua tangan Jaranta telah
berjumlah banyak. Sehingga, sukar untuk diketahui tangan yang asli. Di samping
itu, tekanan kekuatan tak nampak yang menghimpit tubuhnya cukup untuk membuat
Dewa Arak kerepotan. Setidak-tidaknya, Dewa Arak harus mengerahkan sebagian tenaga
dalamnya untuk memunah-kan tekanan kekuatan tak nampak yang menghimpit sekujur
tubuhnya.
Melihat kenyataan ini, timbul
perasaan kagum dalam hati Dewa Arak. Kalau Jaranta saja sudah mampu berbuat
seperti ini, apalagi ayahnya?! Sukar dibayangkan, sampai di mana ketinggian
ilmu Iblis Mayat Hidup!
Namun Dewa Arak segera membuang
pikiran-pikiran yang menggayuti benaknya. Lalu perhatiannya dipusatkan untuk
menghadapi serbuan Jaranta. Dan pertarungan menarik antara dua tokoh muda pun
berlangsung sengit.
***
Ratna Ningsih dan Taliwang
mengawasi jalannya pertarungan penuh perhatian. Memang sebagai seorang tokoh
persilatan, tidak ada kegemaran lain bagai mereka, kecuali mengadu ilmu dan
menyaksikan pertarungan. Apalagi, bila tokoh-tokoh yang bertempur memiliki kepandaian tinggi seperti Dewa
Arak dan Jaranta.
Ternyata bukan hanya kedua orang
pewaris ilmu datuk-datuk sesat itu saja yang sibuk memperhatikan jalannya
pertarungan. Sagala, Rara Kunti, dan Adipati Subali mengarahkan pandangannya
pada pertarungan yang tengah berlangsung.
Sementara itu di kancah
pertarungan, begitu menginjak jurus kelima puluh, Dewa Arak mulai berhasil
menekan lawan. Ada banyak hal yang membuat pemuda berambut putih keperakan
berhasil mendesak lawannya. Keunggulan dalam hal tenaga, kelincahan, dan
pengalaman bertarung.
Tentu saja keadaan yang tengah
dialami Jaranta diketahui secara pasti oleh Ratna Ningsih dan Taliwang. Dahi
kedua tokoh sesat ini pun berkernyit dalam. Mereka tahu, tingkat kepandaian
yang dimiliki Jaranta kurang lebih setingkatan dengan mereka. Kalau pemuda
berwajah pucat itu bisa didesak, dengan sendirinya pendekar muda yang memiliki
rambut aneh itu pun akan mampu melaku-kan hal yang sama pada mereka.
Perasaan khawatir melanda hati
Ratna Ningsih dan Taliwang. Hati mereka cemas kalau maksud pencegatan terhadap
Adipati Subali akan pupus. Mendadak....
"Haaat..!"
Tiba-tiba Ratna Ningsih
menggenjotkan kaki. Sesaat kemudian tubuhnya melayang ke arah Adipati Subali.
Tak ada yang melihat gerakannya, kecuali satu orang Taliwang!
"Hih!"
Taliwang yang juga sudah berpikir
sampai ke situ tapi telah keduluan Ratna Ningsih, tidak mau tinggal diam.
Pemuda cebol itu pun ikut pula
melesat ke arah Adipati Subali! Rupanya, dia tidak ingin ketinggalan oleh murid
Ratu Tengkorak Putih.
Tapi, rasa-rasanya usaha Taliwang
ini akan pupus! Kenyataannya Ratna Ningsih telah lebih dulu melesat, dan telah
beberapa jengkal di depannya. Biar bagaimanapun, wanita bertopeng tengkorak itu
pasti akan lebih dulu men-capai Adipati Subali. Maka benak Taliwang pun
berputar. Dan...
Sing, sing, sing!
Suara berdesing nyaring terdengar
ketika kedua tangan Taliwang bergerak mengibas, setelah sebelumnya dimasuk-kan
ke balik pakaiannya. Beberapa buah gelang berwarna putih mengkilat seketika
meluncur ke arah punggung dan belakang kepala Ratna Ningsih!
Tentu saja murid Ratu Tengkorak
Putih itu tahu adanya bahaya mengancam. Disadari apabila diteruskan sebelum
maksudnya tercapai, senjata-senjata yang dilepaskan Taliwang akan merencah
tubuhnya lebih dahulu. Dan, tentu saja Ratna Ningsih tidak menginginkan hal itu
terjadi.
Luar biasa! Tanpa membalikkan
tubuhnya. Ratna Ningsih mengibaskan tongkat bergagang kepala tengkorak manusia
ke belakang Maka....
Trang, tring, tring!
Bunga api berpercikan ke udara
ketika geleng-gelang baja itu tertangkis kibasan tongkat Ratna Ningsih, hingga
terpental jauh! Maka, pupuslah semua serangan Taliwang. Tapi akibatnya,
luncuran tubuhnya yang tengah menuju ke arah Adipati Subali pun terhenti. Dan
kini kedua kakinya pun mendarat di tanah. Sementara, Adipati Subali baru sadar
kalau dirinya akan dijadikan sasaran gelap oleh Ratna Ningsih. Maka, bergegas
dia bersiap-siap menjaga segala kemungkinan.
"He he he...!"
Taliwang tertawa terkekeh-kekeh
ketika telah men-daratkan kedua kakinya di tanah. Serangan yang di-lancarkannya
memang tidak diharapkan akan berhasil. Hal
itu dilakukan hanya untuk
mencegah Ratna Ningsih men-dahuluinya dalam meringkus Adipati Subali.
Karuan saja suara tawa Taliwang
membuat kemarahan Ratna Ningsih semakin berkobar dahsyat. Memang, sejak
Taliwang mengirimkan serangan yang membuat maksud-nya kandas dia sudah murka.
"Keparat! Akan kupecahkan
kepalamu yang botak itu, Taliwang! Hih!"
Wukkk!
Angin berhembus keras ketika
Ratna Ningsih meng-ayunkan tongkatnya ke arah kepala Taliwang! Tapi sambil
tertawa terkekeh-kekeh, laki-laki berkepala botak itu ber-hasil mengelakkannya.
Tubuhnya berguling ke depan, hingga serangan itu kandas.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Taliwang. Setelah menggulingkan tubuhnya beberapa kali dengan sebuah
gerakan indah, tubuhnya melenting ke atas.
"Kereaaah!"
Dibarengi jeritan keras laksana
seekor kera murka, Taliwang melompat ke atas dan langsung dilancarkannya
sampokan bertubi-tubi ke arah pelipis, dengan kedua tangannya yang terkembang
membentuk cakar.
Ratna Ningsih terperanjat bukan
kepalang. Sama sekali tidak disangka kalau dari keadaan terancam, Taliwang
masih bisa berbalik mengancam. Tindakan yang dilakukan Taliwang sungguh
menakjubkan! Dia sendiri pun mungkin tidak akan mampu melakukan hal seperti itu.
Dan dia yakin, Jaranta pun tidak akan mampu. Tapi, Taliwang merupakan sebuah
kekecualian! Ratna Ningsih tahu, pemuda bertubuh gendut itu adalah pewaris ilmu
'Setan Gila'! Seorang datuk yang ilmu meringankan tubuhnya telah terkenal dan
menakjubkan.
Setan Gila adalah salah seorang
datuk kaum sesat yang memiliki keistimewaan dalam ilmu meringankan tubuh. Ilmu
andalannya yang bemama 'Kera Gila', memang menitik beratkan pada meringankan
tubuh, di samping serangan-serangan tiba-tiba yang berbentuk kasar.
Sementara itu walaupun
terperanjat, Ratna Ningsih masih mampu untuk membuktikan kelihaiannya. Dalam
kesempatan yang hanya sekejap, kepalanya ditarik ke belakang sambil
mendoyongkan tubuhnya ke belakang. Itu dilakukannya tanpa menggeser kaki,
karena waktunya tidak memungkinkan.
Wuttt, wuttt!
Sampokan bertubi-tubi yang
dilancarkan Taliwang lewat beberapa jengkal di depan wajah Ratna Ningsih.
Menilik dari sekujur pakaian dan rambut wanita bertopeng tengkorak yang
berkibar keras, bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam
serangan itu.
Baru setelah serangan itu
berhasil dielakkan, Ratna Ningsih melempar tubuh ke belakang. Dia bersalto
be-berapa kali di udara, seraya mengobat-abitkan tongkatnya untuk mencegah
serangan susulan Taliwang.
"Hup!"
Keinginan murid Ratu Tengkorak
Putih terlaksana. Dia berhasil mendaratkan kedua kakinya di tanah, tanpa ada
gangguan apa pun. Memang, putaran tongkatnya telah berhasil menggagalkan maksud
Taliwang untuk mengejar-nya.
"He... he... he...! Kau
mengajakku bertarung, Ratna Ningsih?! Boleh! Boleh! Dengan senang hati
kemauanmu akan kulayani!" tantang Taliwang sambil berjingkrakan di tanah.
Kalau ditilik dari
gerakan-gerakannya, Taliwang tidak ubahnya kera. Caranya memamerkan mulut,
menggaruk-garuk badan, bertepuk-tepuk tangan, berjingkrakan, mau-pun
menjerit-jerit, lebih mirip kera daripada manusia!
Ratna Ningsin diam. Sama sekali
tidak ditanggapinya tantangan Taliwang. Topeng yang menutupi wajahnya
menyulitkan pemuda bertubuh gendut itu untuk mengetahui perasaan yang tengah
berkecamuk di hati Rama Ningsih!
"Kalau menuruti perasaan,
ingin rasanya mulutmu kuhancurkan sekarang juga, Monyet Gendut! Tapi, aku
tidak sebodoh dirimu! Berikan
kesempatan padaku untuk menyelesaikan urusan dengan Adipati Subali! Baru
tantanganmu akan kulayani!" kata Ratna Ningsih, mantap.
***
5
"He... he... he… Kau kira
aku orang bodoh, Ratna Ningsih?! Kau tahu, bukan hanya dirimu saja yang
mempunyai urusan dengan Adipati Subali! Tapi juga aku!" sergah Taliwang,
sambil memamerkan gigi-giginya yang kuning.
"Lalu..., apa maumu
sekarang, Taliwang?!" sambut Ratna Ningsih, bernada menantang.
Rupanya kesabaran Ratna Ningsih
sudah tidak bisa ditahan lagi. Sikap Taliwang yang urakan membuat Ratna Ningsih
mengambil keputusan untuk melabrak murid Setan Gila itu.
"Ho... ho... ho...! Kau
menginginkan Adipati Subali? Aku pun demikian. Nah! Sekarang apa cara yang
lebih tepat untuk menentukan orang yang lebih berhak atas adipati itu?
Bertarung?!" tukas Taliwang tak kalah hangat.
"Baik kalau itu maumu!"
sergah Ratna Ningsih disertai perasaan geram.
Murid Ratu Tongkat Putih ini
sudah memutuskan untuk menerima tantangan yang diajukan Taliwang. Tapi sesaat
kemudian, sebuah pikiran baik berkelebat di benaknya. Pikiran itu timbul ketika
matanya melihat Jaranta yang semakin terdesak oleh Dewa Arak. Sedangkan Adipati
Subali kini telah berdiri dekat Sagala dan Rara Kunti. Mata-nya terus
memperhartikan tingkah Ratna Ningsih dan Taliwang.
"Kita jangan bertindak
bodoh, Taliwang!" desis Ratna Ningsih. "Lebih baik, kita sekarang
bekerja sama untuk mendapatkan Adipati Subali! Nanti setelah berhasil, baru
kita tentukan yang lebih berhak!"
Taliwang tercenung sambil
menggaruk-garuk dadanya yang tidak gatal dengan kedua tangan. Meskipun
kelihatannya laki-laki bertubuh pendek gemuk ini adalah orang bodoh, tapi
sebenarnya memiliki otak cerdik.
"Apa maksud kata kerja sama
itu, Ratna Ningsih?" tanya Taliwang, masih tetap melanjutkan kesibukannya
meng-garuk-garuk dada.
"Begini, Taliwang. Kalau
berusaha sendiri-sendiri, aku yakin kita gagal! Dewa Arak memiliki kepandaian
di atas kita. Jadi jelas, dia yang akan berhasil mendapatkan Adipati Subali!
Kau mengerti, Taliwang?!" Jelas Ratna Ningsih.
Taliwang menganggukkan kepala
sambil berjingkrakan. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Mari kita ringkus
Adipati
Subali!"
Usai berkata demikian, laki-laki
bertubuh pendek gemuk ini langsung melesat ke arah Adipati Subali, disusul
Ratna Ningsih!
Adipati Subali memang sudah
menduga sejak tadi. Tapi tak urung hatinya gentar bukan kepalang melihat serangan
itu. Jangankan dua orang. Untuk menghadapi satu orang saja dia tidak akan mampu
berbuat sesuatu! Meskipun demikian, bekas Panglima Kerajaan Sewu ini bukan
seorang pengecut! Segera pedangnya yang tersampir di pinggang dicabut. Adipati
Subali bertekad mengadakan perlawanan.
Srattt!
Sinar terang berkeredep ketika
pedang itu keluar dan sarungnya.
Pada saat yang bersamaan,
kepalanya menoleh ke samping Adipati Subali bermaksud memerintahkan Sagala dan
Rara Kunti untuk menyelamatkan diri. Tapi kenyataan yang terlihat benar-benar
mengejutkan hati! Rara Kunti dan Sagala malah telah melesat kabur dari situ
lebih dahulu.
Kontan benak orang nomor satu di
Kadipaten Blambang ini dipenuhi pertanyaan. Begitu tegakah Rara Kunti
meninggalkan dirinya menentang maut? Meski Adipati Subali memang tidak
mengharapkan pembelaan, dan andaikata dibelapun akan disuruhnya pergi, tapi
sama sekali tidak disangka kalau Rara Kunti akan melarikan diri seperti seorang
pengecut. Kalau mengenai Sagala, dia
tidak terlalu memusingkan. Karena
pertemuannya dengan adik misannya itu baru beberapa tahun! Jadi belum bisa
dipahami sikapnya.
Perasaan hati Adipati Subali
benar-benar terpukul. Benarkah Rara Kunti adalah seorang anak yang mementingkan keselamatan
sendiri.
Di samping perasaan terpukul, timbul
perasaan heran di hati laki-laki tinggi besar ini. Gerakan Rara Kunti ternyata
gesit sekali. Demikian pula gerakan Sagala. Sehingga ketika mereka melesat
kabur, yang terlihat hanyalah sekelebat bayangan kuning dan hitam yang tak
jelas bentuknya. Sama sekali Adipati Subali tidak pemah tahu kalau Rara Kunti
dan Sagala memiliki ilmu lari cepat yang demikian tinggi!
Tapi Adipati Subali tidak bisa
berpikir lebih lama lagi. Dia harus bersiap-siap menghadapi Taliwang dan Ratna
Ningsih. Maka pedangnya diputar laksana kitiran, untuk menyambut serangan yang
keroyokan itu.
***
"Hei!"
Bagai telah sepakat, Ratna
Ningsih dan Taliwang ber-seru berbarengan begitu melihat Sagala dan Rara Kunti
melarikan diri. Kedua tokoh sesat ini terkejut bukan kepalang melihat kecepatan
gerakan dua orang yang mem-punyai hubungan dengan Adipati Subali! Dan lagi,
mengapa mereka meninggalkan adipati itu? Keterkejutan inilah yang membuat Ratna
Ningsih dan Taliwang mengurungkan serangannya pada Adipati Subali.
Sebagai tokoh-tokoh tingkat
tinggi, sekali lihat saja Ratna Ningsih dan Taliwang bisa menilai kalau ilmu
lari yang dimiliki Sagala dan Rara Kunti tidak di bawah mereka! Dan ini
merupakan suatu hal yang amat mengejutkan! Apakah tingkat tenaga dalam dan mutu
ilmu silat Sagala dan Rara Kunti pun setara dengan mereka? Dan kalau benar,
mengapa Rara Kunti dan Sagala malah melarikan
diri? Mengapa bukannya membantu
Adipati Subali meng-hadapi lawan-lawannya?
Banyaknya pertanyaan yang tidak
terjawab, berputar-putar di dalam benak. Sehingga, menimbulkan kecurigaan di
benak Ratna Ningsih dan Taliwang. Tanpa diperintah, Taliwang mengambil
keputusan sendiri.
"Kukejar mereka, Ratna
Ningsih. Kau uruslah dulu Adipati Subali!"
Usai berkata demikian, Taliwang
mengambil ancang-ancang. Kemudian jari-jari kedua tangannya saling dirapat-kan.
Dan…..
Tappp!
Tubuh Taliwang kembali melesat.
Kali ini, arahnya menuju arah yang ditempuh Sagala dan Rara Kunti.
Pada saat yang bersamaan, Ratna
Ningsih melesat ke arah Adipati Subali. Begitu berada di udara, langsung dilancarkannya
sebuah totokan ke arah dada. Padahal saat itu, Adipati Subali masih
memutar-mutar pedangnya laksana kitiran untuk mencegah serangan ke arah
kirinya.
Wunggg, wunggg!
Suara mengaung keras mengiringi
berputarnya pedang itu. Dan apabila Ratna Ningsih terus memaksakan serangannya,
bisa diperkirakan tangannya akan terpapas putaran pedang Adipati Subali!
Adipati Subali terperanjat ketika
melihat Ratna Ningsih tetap meneruskan serangannya. Sudah gilakah wanita
ber-topeng tengkorak ini? Ataukah Ratna Ningsih telah memiliki tenaga dalam
yang demikian kuat, sehingga berani memapak pedangnya dengan tangan telanjang?!
Adipati Subali bisa menduga demikian, karena leluhurnya sendiri mampu melakukan
tindakan-tindakan yang bahkan lebih dari apa yang dilakukan Ratna Ningsih!
Timbulnya pikiran demikian
membuat Adipati Subali menggertakkan gigi. Maksudnya untuk menambah kekuatan tenaga pada putaran
pedangnya.
Trak, trak! "Akh!"
Kejadiannya berlangsung demikian
cepat. Tangan Ratna Ningsih langsung berbenturan dengan putaran pedang Adipati
Subali, sehingga menimbulkan suara berdetak keras. Hebatnya tidak terjadi
sesuatu pun atas tangan Ratna Ningsih. Jangankan buntung, tergores pun tidak.
Tapi tidak demikian halnya dengan
Adipati Subali. Begitu terjadi benturan, tangannya terasa hampir lumpuh. Tanpa
dapat dicegahnya lagi, pedangnya terlepas dari cekalan. Khawatir akan munculnya
serangan susulan Adipati Subali buru-buru melompat ke belakang untuk menjaga
jarak.
Tapi, ternyata kekhawatiran
Adipati Subali sama sekali tidak beralasan! Ratna Ningsih sama sekali tidak
melancar-kan serangan kembali. Kedua kakinya kini tengah men-darat di tanah.
Sebentar kemudian, Ratna Ningsih telah berdiri berhadapan dengan Adipati
Subali.
***
Sementara itu, Taliwang telah
berhasil mencegat per-jalanan Sagala dan Rara Kunti. Memang kedua orang itu
belum terlalu jauh berlari. Apa lagi, Taliwang telah meng-ambil jalan pintas,
disamping ilmu lari cepat nya juga tinggi. Dan karena Sagala dan Rara Kunti
belum terlalu jauh berlari, di samping daerah ini terdiri dari padang ilalang,
Adipati Subali masih dapat
melihat keadaan mereka.
"He... he... he,..!"
Taliwang tertawa terkekeh sambil melompat-lompat. "Akan ke mana kalian?
Jangan harap bisa lolos dari tangan Taliwang!"
Sagala dan Rara Kunti saling
berpandangan. Sementara Taliwang masih tertawa-tawa. Meskipun demikian, sepasang matanya menatap
dua sosok tubuh yang berdiri di hadapannya penuh selidik. Mendadak....
"Hiyaaat..!" teriak
Sagala keras seraya melesat ke arah Taliwang.
"Hiyaaa...!" Rara Kunti
pun melesat pula.
Tawa Taliwang seketika terhenti.
Hatinya kontan ter-cekat ketika melihat dua orang buruannya meluruk cepat
ke arahnya dengan senjata yang
sudah terhunus di tangan masing-masing. Begitu berada di udara Rara Kunti dan
Sagala langsung mengarahkan senjatanya masing-masing. Ke bagian-bagian tubuh
Taliwang yang mematikan.
Indah dan menggiriskan gerakan
Sagala dan Rara Kunti. Sehingga, Adipati Subali dan Ratna Ningsih yang tengah
bertarung terkejut bukan kepalang. Memang walaupun tengah bertarung mereka
masih sempat membagi per-hatian ke sana. Mungkin karena rasa terkejut dan rasa
ke-tertarikan yang menyelimuti, entah bagaimana Adipati Subali dan Ratna
Ningsih tiba-tiba menghentikan per-tarungan. Bahkan kini mereka seperti
mendapat tontonan menarik, melihat pertarungan Sagala dan Rara Kunti me-lawan
Taliwang.
Namun di pihak Adipati Subali
tersirat suatu ketidak-percayaan. Bahkan wajahnya sampai memucat. Betapa tidak?
Gerakan yang dilakukan Rara Kunti sama sekali bukan gerakan yang diajarkannya.
Bahkan Adipati Subali belum pemah melihat gerakan seperti itu. Yang lebih gila
lagi, gerakan Rara Kunti sama dengan gerakan Sagala! Hal ini benar-benar
membuat orang nomor satu di Kadipaten Blambang ini terperanjat.
***
Begitu telah mendekati sasaran
tiba-tiba Sagala bersalto beberapa kali di udara, melewati atas kepala
Taliwang. Dan ketika telah berada di belakang, pedang di tangannya di-babatkan,
seperti ingin memisahkan kepala Taliwang dari badannya. Pada saat yang
bersamaan, pedang di tangan Rara Kunti menusuk deras ke arah tenggorokan. Suara
mengaung keras mengiringi tibanya serangan kedua senjata itu.
"Gila!"
Tanpa sadar Adipati Subali
mendesis tajam. Sama sekali tidak pemah diketahuinya kalau Sagala dan Rara
Kunti memiliki kepandalan setinggi itu. Sepengetahuannya,
kepandaian Sagala masih di bawah
tingkatannya. Dan itu diakui sendiri oleh Sagala. Tapi kenyataannya, ternyata
tidak demikian! Mengapa Sagala menyembunyikan ke-pandaiannya?
Demikian pula terhadap Rara
Kunti. Berbagai per-tanyaan benar-benar menggayut di benak Adipati Subali.
Kapan putrinya mempelajari ilmu-ilmu tingkat tinggi seperti itu? Apakah Sagala
yang mengajarinya? Kalau benar demikian, mengapa dia tidak mengetahuinya?
Hebat dan menggiriskan serangan
yang dilancarkan Rara Kunti dan Sagala. Meskipun demikian, gerakan yang
dilakukan Taliwang tidak kalah hebat! Laki-laki bertubuh pendek gemuk ini
segera menjatuhkan tubuhnya ke tanah, sehingga serangan-serangan itu lewat
beberapa jengkal di atas kepalanya.
Tidak hanya sampai di situ
tindakan Taliwang. Begitu berhasil mengelakkan serangan lawan, tubuhnya lalu
ber-gulingan. Dan itu dilakukan Taliwang, karena menyadari ancaman besar
terhadap dirinya. Kedua lawannya ternyata memiliki kepandaian tinggi. Sementara
dirinya berada dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Kalau lawan-lawannya
melakukan serangan susulan, jelas keadaannya terancam bahaya besar!
Tapi, rupanya Sagala dan Rara
Kunti tidak berminat me-lakukan serangan susulan. Kedua orang itu malah melesat
cepat, menempuh arah yang berlawanan dengan arah gulingan Taliwang.
Taliwang yang sedang sibuk
bergulingan, tidak bisa ber-buat apa-apa. Dia hanya dapat melihat kepergian dua
orang buruannya, walaupun dengan kerlingan mata.
Semakin leluasalah Sagala dan
Rara Kunti melarikan diri, ketika Ratna Ningsih ternyata tidak mengejar.
Memang, wanita bertopeng tengkorak ini lebih
mementingkan Adipati Subali daripada Sagala dan Rara Kunti.
Hanya dalam beberapa kali
lesatan, tubuh Sagala dan Rara Kunti telah lenyap dari pandangan mata. Dan ber-
bareng dengan lenyapnya bayangan
tubuh dua orang itu, perhatian Ratna Ningsih beralih ke arah Adipati Subali.
Sementara, Adipati Subali sendiri sama sekali tidak merasa kalau dirinya tengah
diperhatikan. Dia memang tengah dilanda bingung mengenai Sagala dan Rara Kunti.
Ratna Ningsih sama sekali tidak
tahu perasaan yang tengah berkecamuk di hati Adipati Subali. Dan andaikata
tahu, sama sekali tidak dipedulikannya. Tapi sebelum wanita itu sempat berbuat
sesuatu, sesosok bayangan ungu melesat melewati kepalanya. Dan tahu-tahu, di
sebelah Adipati Subali telah berdiri Dewa Arak
Ratna Ningsih terperanjat melihat
keberadaan Dewa Arak di sebelah Adipati Subali. Dengan agak bergegas kepalanya
menoleh ke tempat pertarungan Jaranta melawan Dewa Arak tadi. Dia ingin tahu,
apa yang telah menimpa Jaranta sehingga Dewa Arak bisa berada di sebelah
Adipati Subali
Ternyata, Jaranta sama sekali
tidak cedera.
Dewa Araklah yang meninggalkan
pertarungan untuk melindungi Adipati Subali. Karena keadaan pendekar berambut
aneh itu memang menguntungkan, maka mudah saja baginya untuk meninggalkan
Jaranta.
Sementara itu Ratna Ningsih tidak
berani bertindak gegabah. Disadari kalau kepandaian Dewa Arak
kemungkinan di atasnya. Dan itu terbukti dalam per-tarungannya melawan Jaranta.
Maka wanita bertopeng tengkorak ini tidak langsung bertindak.
"Untuk sementara, sebaiknya
kita lupakan dulu masalah kita, Ratna Ningsih," ujar Jaranta sambil
melangkah meng-hampiri.
"Benar! Kita bereskan dulu
Dewa Arak. Baru setelah itu urusan kita!" sambung Taliwang, juga dengan
langkah yang ter-tuju ke arah Ratna Ningsih.
"Rupanya kalian mempunyai
otak juga," sambut Ratna Ningsih "Kuterima usul kalian. Sekarang kita
harus hadapi dulu Dewa Arak!"
***
Sesaat kemudian Jaranta dan
Taliwang telah berada di dekat Ratna Ningsih. Seperti juga Ratna Ningsih,
Jaranta, dan Taliwang menatap Dewa Arak dengan sorot mata tidak bersahabat.
Kini Adipati Subali dan Dewa Arak berhadapan dengan Jaranta, Taliwang, dan
Ratna Ningsih!
Dewa Arak memperhatikan tiga
sosok tubuh yang berdiri di hadapannya penuh selidik. Diakui kepandaian ketiga
orang itu rata-rata tinggi. Namun, kini mereka bersatu. Sudah bisa diperkirakan
kedahsyatan serangan mereka jika dilakukan bersama-sama. Dan terus terang, Dewa
Arak tidak yakin akan mampu menanggulangi mereka.
"He... he... he...! Kami
ingin tahu, bagaimana kau akan bisa menghadapi kami bertiga, Dewa Arak!"
tantang Taliwang.
"Kau akan kami kirim ke
akhirat, Manusia Sombong!" desis Jaranta penuh dendam, karena tadi dirinya
hampir dirobohkan Dewa Arak!
"Hik... hik... hik...! Apa
yang kalian katakan, sama sekali tidak salah! Julukan Dewa Arak pasti akan
punah dari dunia persilatan!" sambung Ratna Ningsih, gembira.
Dewa Arak tidak menyambuti ucapan
mereka, dan tengah sibuk memutar otaknya. Jelas Dewa Arak tidak bisa gegabah,
dan tidak mau bertindak sembarangan. Kalau sampai terjadi pertarungan, pasti
akan terjadi jatuh korban. Padahal, dia tidak ingin hal itu terjadi.
Masalahnya, persoalan yang mereka hadapi belum terlalu jelas baginya
"Bersiap-siaplah, Kisanak.
Aku akan membawamu pergi meninggalkan mereka," kata Dewa Arak pada Adipati
Subali.
Adipati Subali yang saat itu
melirik ke arah Dewa Arak jadi tersentak ketika mendengar suara di telinganya.
Itu memang suara Dewa Arak pada hal jelas-jelas, kalau pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak menggerakkan bibirnya tadi. Karuan saja hal itu
mem-buatnya heran bukan kepalang. Kembali tatapannya
beralih ke sekitar. Kalau musuh
di hadapan mereka rasanya tidak mungkin. Kalau orang lain, siapa orangnya?
Karena perasaan penasaran yang
melanda Adipati Subali kembali menatap Dewa Arak. Dia ingin mengetahui
kepastiannya. Benarkah tadi Dewa Arak berbicara
padanya?
"Kau tidak usah memandangku
seperti itu, Kisanak Bersiaplah! Kalau mereka keburu menyerang, rasanya akan
sulit bagi kita untuk menyelamatkan diri. Kau sudah siap?!"
Kini Adipati Subali yakin kalau
suara tadi adalah benar-benar Dewa Arak yang berbicara. Maka tanpa ragu-ragu
kepalanya dianggukkan, memberi tanda kalau dirinya telah siap untuk kabur
bersama Dewa Arak.
"Hih!"
Dengan gerakan yang tidak
terlihat mata biasa, Dewa Arak menggamit tangan Adipati Subali. Kemudian, kedua
orang itu melesat kabur dari situ. Karuan saja hal itu membuat Jaranta. Ratna
Ningsih, dan Taliwang terkejut bukan kepalang.
"Hei!"
Hampir berbareng, ketiga orang
itu berseru kaget. Dan secepat seruan itu keluar, secepat itu pula Jaranta,
Ratna Ningsih, dan Taliwang melesat mengejar. Tapi, Dewa Arak yang telah
mengetahui kelihaian lawan-lawannya tidak berani bertindak gegabah. Langsung
saja dikerahkan seluruh kemampuan ilmu larinya.
Hebat! Hanya dalam sekali
langkah, Dewa Arak telah berjarak hampir dua belas tombak di depan. Kemudian
hanya dalam beberapa kali lesatan, tubuhnya telah jauh di depan. Seperti juga
Dewa Arak ketiga orang ini pun mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki. Sesaat kemudian, kejar mengejar antara dua pihak yang berbeda
kepentingan pun berlangsung.
Namun hal itu tidak berlangsung lama. Pada
kenyataannya, ilmu lari Dewa Arak memang beberapa tingkat di atas lawan
lawannya. Maka semakin lama, jarak
antara mereka semakin jauh.
Sampai akhirnya, Jaranta, Ratna Ningsih, dan Taliwang kehilangan jejak sama
sekali. Dewa Arak yang lari dan masuk ke dalam Hutan Maung telah lenyap di
balik kerimbunan pepohonan dan semak-semak.
Beberapa saat kemudian, baru
Jaranta, Ratna Ningsih, dan Taliwang tiba di tempat lenyapnya Dewa Arak! Tidak
ada yang bisa dilakukan kecuali menjulurkan kepala ke sana kemari dengan
perasaan geram.
"Keparat!" maki Jaranta
keras.
"Telur busuk!" maki
Taliwang sambil membanting-banting kaki kanannya.
"Dewa Arak memang
hebat!" desah Ratna Ningsih, lesu. "Dia memiliki kepandaian yang jauh
di atas kita. Kalau tidak lekas-lekas dilenyapkan, dia akan menjadi peng-halang
paling berat!"
Jaranta dan Taliwang
mengangguk-anggukkan kepala. Keduanya menyadari kebenaran dalam ucapan wanita
bertopeng tengkoran itu.
"Kau benar, Ratna Ningsih!
Kita harus melenyapkannya!" dukung Jaranta.
Setelah kata sepakat didapat,
ketiga orang pewaris ilmu para datuk-datuk persilatan aliran hitam itu pun
melesat meninggalkan tempat ini. Tujuan mereka jelas, melanjut-kan pengejaran
kembali terhadap Dewa Arak!"
***
6
Dewa Arak menghentikan lari
ketika tidak melihat bayangan Ratna Ningsih, Jaranta, Taliwang di belakang.
Jelas, ketiga tokoh sesat itu telah kehilangan jejak atas dirinya. Buat Arya,
hal itu sama sekali tidak mengherankan, karena memang telah direncanakan.
Pemuda berambut putih keperakan itu berlari melalui pepohonan dan semak-semak
yang lebat.
Seiring berhenti larinya, Arya
lalu melepaskan cekalan tangannya pada Adipati Subali.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Dewa Arak," ucap laki-laki tinggi besar itu.
"Lupakanlah, Kisanak,"
sahut Arya buru-buru sambil mengulapkan tangannya. "Tolong-menolong sesama manusia itu biasa. Jangan
terlalu dibesar-besarkan. O, ya. Boleh kutahu, mengapa tiga orang itu ingin
membunuh-mu?!"
"Hhh...!"
Bukannya menjawab pertanyaan itu,
Adipati Subali malah menghembuskan napas berat. Dahinya berkernyit dalam.
Sepertinya, dia ingin membuang semua kegalauan dalam hatinya.
"Mereka menginginkan pusaka
peninggalan leluhurku, Dewa Arak. Sungguh tidak kusangka kalau mereka bisa
mengenaliku," desah Adipati Subali, lirih.
"Aku belum mengerti
maksudmu, Kisanak?" tanya Dewa Arak, belum mengerti.
"Puluhan tahun yang lalu, di
tempat kediaman leluhurku terjadi pertarungan antara leluhurku melawan
masing-masing orang tua tiga orang itu. Hasilnya, leluhurkau menang. Karena
khawatir mereka yang dikalahkannya masih mendendam dan akan membuat keributan
lagi, leluhurku pergi meninggalkan tempat tinggalnya.
Kemudian Adipati Subali pun
menceritakan semua kejadiannya. Mulai dari sejarah leluhurnya, sampai kabur-nya
rombongan keluarganya dari Kadipaten Blambang. Sepertinya laki-laki tinggi
besar ini telah percaya penuh pada Dewa Arak.
Sementara, Dewa Arak mendengarkan
penuh perhatian. Sekalipun cerita yang tengah dipaparkan Adipati Subali tak
pernah diselaknya.
"Begirulah centanya,
Arya," tutur Adipati Subali meng-akhiri ceritanya.
Laki-Laki tinggi besar ini
merubah panggilannya pada Dewa Arak atas permintaan pemuda berambut putih
keperakan itu. Dan dia pun mengajukan permintaan yang serupa, agar Dewa Arak
memanggilnya dengan sebutan kakang saja.
Dewa Arak tercenung sejenak.
"Ada sesuatu yang membuatku
heran, Kang," desah Arya pelan bernada hati-hati.
"Apa itu, Arya?" tanya
Adipati Subali cepat.
"Tapi, aku merasa tidak enak
untuk mengutarakannya padamu," ada keraguan dalam ucapan pemuda berambut
putih keperakan itu.
"Katakanlah, Arya,"'
dukung Adipati Subali "Percayalah. Aku tidak akan marah atau
tersinggung."
"Mengenai Sagala dan Rara
Kunti," kata Dewa Arak, pelan.
Pemuda berambut putih keperakan
itu menghentikan ucapannya sejenak. Segera ditatapnya wajah Adipati Subali
sekilas. Dan seperti yang sudah dktuga, tampak adanya perubahan pada wajah
Adipati Subali.
"Maaf, kalau dugaanku ini
salah, Kang. Tapi aku melihat adanya kejanggalan pada mereka berdua. Apakah kau
tidak merasakannya? sambung pemuda putih keperakan itu lagi.
"Hhh...!"
Adipati Subali menghembuskan
napas berat. Perlahan-lahan kepalanya dianggukkan. Rupanya dia sependapat
dengan ucapan Arya.
"Memang, aku tadinya melihat
hal yang mencurigakan itu," desah orang nomor satu di Kadipaten Blambang
"Bisa kutahu, apa keanehan yang kau maksudkan itu, Arya?"
Walaupun bisa menduga, tak urung
Adipati Subali me-minta Dewa Arak agar menjelaskannya juga.
“Tadi kau ceritakan, Sagala
adalah adik misanmu. Sedangkan Rara Kunti adalah anak kandungmu. Tapi, mengapa
mereka berdua malah melarikan diri di saat kau terancam bahaya maut? Padahal,
jelas kulihat Sagala dan Rara Kunti memiliki kepandaian tinggi. Aku yakin,
tingkat kepandaian mereka tidak di bawah tiga orang pencegatmu itu, Kang. Dan
kalau diperhitungkan, kekuatan kita berada di atas mereka. Karena Jaranta telah
menjadi lawanku," urai Arya tentang kecurigaannya.
"Dugaanmu sama sekali tidak
salah, Arya!" sambut Adipati Subali. “Tapi, itu hanya sebagian kecil dari
keheranan yang menimpaku. Namun memang wajar, karena kau tidak tahu jelas duduk
masalahnya."
Laki-laki tinggi besar ini
menarik napas panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Rupanya, dia
ber-maksud mengusir kegalauan hatinya.
"Sepengetahuanku, Sagala dan
Rara Kunti tidak memiliki kepandaian setinggi itu. Sagala memiliki tingkat
kepandaian di bawahku. Sedangkan Rara Kunti aku yang mendidiknya. Jadi mustahil
kalau mereka bisa memiliki kepandaian yang melampauiku. Dan andaikata benar
pun, tidak akan terpaut demikian jauh," sambung Adipati Subali.
"Heh...?!" Dewa Arak
tersentak kaget "Kalau ucapanmu itu benar, berarti ada hal-hal yang tidak
beres di sini, Kang."
"Apa maksudmu Arya?” tanya
Adipati Subali, tak kalah kaget.
"Aku rasa, ada hal-hal
tertentu yang menyebabkan mereka selama ini menyembunyikan kepandaian! Lagi
pula, maaf, Kang. Menurut penglihatanku, Rara Kunti memiliki jurus yang mirip
dengan Sagala. Mungkin mereka
mempelajari dari sumber yang
sama...."
"Mustahil! Hal itu tidak
mungkin, Arya!" tukas Adipati Subali cepat "Sejak kecil, Rara Kunti
kudidik ilmu-ilmu warisan keluargaku. Sedangkan Sagala baru datang ke Kadipaten
Blambang, dua tahun yang lalu."
Dahi Dewa Arak berkernyit dalam.
"Apakah kau telah
mengenalnya sejak kecil, Kang?" kejar pemuda berambut putih keperakan itu.
"Tidak Arya! Aku baru tahu
kalau mempunyai seorang adik misan bernama Sagala, setelah dia datang dan
mengenalkan diri padaku. Itu pun dua tahun yang lalu. Jangankan dirinya.
Pamanku saja tidak pernah kulihat, bagaimana rupanya," jelas Adipati
Subali.
"Lalu, bagaimana kau bisa
yakin kalau Sagala adalah adik misanmu? Padahal, kau belum pernah melihat
wajah-nya!" tanya Arya, penuh rasa heran.
"Hal itu tidak menjadi
masalah, Arya. Setiap keturunan kakekku, mempunyai ciri-ciri pada bagian
punggung berupa rajahan gambar seekor ular kobra. Tanda itu ada pada diri Sagala,
dan juga pada punggung Rara Kunti. Kalau rajahan anakku, akulah yang
membuatnya."
Kali ini Arya tidak bisa
membantah lagi. Pemuda berambut putih keperakan itu hanya bisa
mengangguk-anggukkan kepala.
"Bisa kau ceritakan sedikit
mengenai pamanmu itu, Kang?" tanya Arya.
"Mengapa tidak, Arya?"
sahut Adipati Subali cepat, sambil tersenyum lebar. "Seperti juga ayahku,
paman kurang memiliki bakat untuk dapat mewarisi ilmu-ilmu kakek. Walaupun
memang, bila dibandingkan ayah, paman memiliki bakat yang lebih baik. Apabila
latihannya sungguh-sungguh, niscaya akan berhasil memiliki tingkatan yang
melampaui ayahku "
Adipati Subali menghentikan
ucapannya sejenak, untuk mengambil napas.
"Sayang, kemauan paman tidak
sebesar kemauan ayah. Paman merasa jenuh, lalu pergi mengembara. Dan dia
tidak pernah kembali sampai kakek
meninggal. Ayah yang merasa terpukul, lalu meninggalkan desa tempat kelahiran
kakek. Lalu, kami menetap di tempat lain sampai aku lahir. Jadi, sampai
sekarang aku belum pemah melihat rupa pamanku!"
Dewa Arak termenung ketika
Adipati Subali telah menyelesaikan ceritanya.
"Kalau Sagala rasanya masuk
akal apabila meninggal-kanmu pada saat kau tengah terancam bahaya, Kang.
Mungkin dia belum punya hubungan batin denganmu. Tapi kalau Rara Kunti, sulit
untuk bisa diterima akal sehat. Tega benar dia sampai meninggalkan dirimu.
Sekalipun dia tidak memiliki kepandaianpun, tentunya akan menunjukkan baktinya
padamu. Apalagi, dia memiliki kepandaian yang demikian tinggi. Ada masalah
tersembunyi di sini, Kang," jelas Arya panjang lebar.
Adipati Subali menganggukkan
kepala setelah terlebih dulu menghembuskan napas berat. Memang, dia pun sudah
menduga hal itu. Dan rasanya tidak aneh. Karena laki-laki tinggi besar ini
bukan orang sembarangan. Dia bekas Panglima Kerajaan Sewu yang disegani! Tentu
saja Adipati Subali terhitung orang yang memiliki kecerdikan.
"Kau tidak keberatan bila
aku ikut menyelidikinya, Kang?" Arya menawarkan bantuan.
“Tentu saja tidak, Arya. Malah
dengan senang hati akan kuterima. Hm, kita memang harus bekerja sama untuk
memecahkan masalah aneh ini," sambut Adipati Subali gembira.
"Apakah kau tidak berminat
merebut kembali Kadipaten Blambang, Kang'" tanya Arya, iseng-iseng.
"Tentu saja berminat, Arya.
Dan itu akan kulakukan setelah berhasil menyelamatkan surat peninggalan
leluhur-ku Dan…, ah! Celaka!"
"Ada apa, Kang?" tanya
Arya kaget.
Kontan sekujur urat syaraf dan
otot Dewa Arak menegang waspada. Sikap Adipati Subali-lah yang
menyebabkannya demikian.
"Surat peninggalkan kakekku
telah kuberikan pada Sagala!" sentak Adipati Subali, kalap.
Memang, laki-laki tinggi besar
ini merasa kalap bukan main, dugaan Dewa Araklah yang membuatnya demikian.
Pemuda berambut putih keperakan itu menyadarkannya, akan adanya kemungkinan
maksud tidak baik dari Sagala. Padahal, surat peninggalan leluhurnya berada di
tangan Sagala!
"Ah!" desah Arya tidak
kalah kaget "Surat wasiat itu kau berikan padanya?"
"Aku tidak bermaksud
memberikannya, Arya. Tapi kejadian bertubi-tubi yang menimpa, membuatku
lupa." Jelas Adipati Subali. "Padahal, aku telah menyembunyi-kannya
secara rapi di.. eh..."
"Ada apa lagi, Kang'"
tanya Arya ketika melihat Adipati Subali untuk yang kedua kalinya menghentikan
ucapan, dan menampakkan raut wajah kaget.
"Aku telah melupakan sesuatu
hal. Tapi, untungnya lupa yang menguntungkan."
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Kang?" tanya Arya. Tanpa menyembunyikan perasaan tidak
mengertinya.
"Aku telah membuat tiruan
surat itu untuk mengaman-kannya dari kejadian yang tidak kuinginkan. Kemudian,
surat yang palsu kuletakkan di tempat yang asli. Ah! Sama sekali tidak kusangka
kalau terlupanya aku, malah menimbulkan sebuah keuntungan."
"Jadi, surat yang asli tetap
berada di tanganmu?" tanya Arya, gembira.
Adipati Subali menganggukkan
kepala. "Benar."
Usai berkata demikian, laki-laki
tinggi besar itu lalu me-masukkan tangannya ke balik baju. Dan ketika dikeluarkan, di genggaman
tangannya terdapat segulungan kulit binatang.
"Inilah surat yang asli itu,
Arya!" seru Adipati Subali gembira.
Kemudian Adipati Subali
mengangsurkan ke arah Dewa
Arak.
"Kau tidak ingin mengetahui
isinya, Arya?"
Pemuda berambut putih keperakan itu hanya menyunggingkan senyum di bibir.
"Sebenarnya, aku juga merasa
penasaran mengenai isi surat peninggalan leluhurmu. Ingin kutahu hal yang
mem-buat keturunan datuk-datuk persilatan itu berniat mem-perebutkannya. Tapi
tanpa perkenanmu, aku tidak berani bertindak lancang, Kang," jelas Arya.
"Aku mengizinkan, bahkan
memohon agar kau sudi melihat surat peninggalan leluhurku ini, Arya. Barangkali
saja kau bisa menguak rahasia yang tersembunyi di baliknya."
"Terima kasih atas
kepercayaan yang kau berikan padaku," sambut Arya sambil mengulurkan tangan
menerima gulungan surat yang diangsurkan Adipati Subali.
Begitu kulit binatang itu telah
berada di tangan, Arya lalu membuka gulungannya. Kontan sepasang matanya
ber-tumbukan dengan huruf-huruf yang tertera di atas kulit binatang lusuh itu.
Matahari beredar….
Dari tempat hati yang pilu Air
berasal…..
Tempat yang akan dituju. Bukti
leluhur....
Awal dari kerja keras
Akhir sang Raja memberi derma....
Kunci kebahagiaan
Arya mengernyitkan dahi setelah
membaca kalimat-kalimat yang tertera sampai usai.
"Bagaimana, Arya? Bisa kau
pecahkan arti kalimat-kalimat itu?" tanya Adipati Subali ketika melihat
Arya mengalihkan pandangan dari surat itu.
"Mari kita pecahkan masalah
ini di sana, Kang"
Sambil berkata demikian, Arya
menudingkan jari
telunjuknya ke arah sebatang
pohon besar yang akarnya menyembul dari tanah. Pohon itu berdaun rimbun,
sehingga panasnya sinar matahari tidak akan sampai ke bawah pohon. Memang, saat
itu hari sudah siang. Dan sang surya memancarkan sinarnya yang terik ke bumi.
***
Adipati Subali menatap ke arah
pohon itu sejenak. kemudian mengalihkan perhatian pada Arya.
"Sebuah usul yang baik,
Arya," puji laki-laki tinggi besar itu.
"Kau bisa saja, Kang,"
sambut Arya sambil menyungging-kan senyum kecil.
Usai berkata demikian, pemuda berambut putih keperakan itu melangkah
menghampiri pohon, diikuti Adipati Subali.
Masih dengan dahi berkernyit
dalam, pemuda berambut putih keperakan itu menghempaskan pantatnya di akar
pohon yang melintang. Sedangkan Adipati Subali pun mengikutinya.
"Bagaimana, Arya? Bisa kau
pecahkan arti teka-teki itu?" desak lelaki tinggi besar itu lagi. Raut
keingintahuan tampak jelas tersirat pada wajahnya.
Arya tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Dia ter-cenung sejenak, sebelum akhirnya menggelengkan kepala
perlahan-lahan sambil menghembuskan napas berat.
"Aku tidak bisa
memecahkannya, Kang," jawab Arya, pelan.
"Sedikit gambaran kasar
mengenai arti dan maksud syair itu barangkali bisa kau utarakan, Arya?"
desak Adipati Subali, lagi.
Ucapan Adipati Subali membuat
Arya mengalihkan perhatian lagi pada surat yang berada di tangannya. Dibacanya
kembali baris demi baris kalimat yang tertera di atas gulungan kulit binatang
itu.
"Bagaimana, Arya? Ada dugaan
yang berhasil kau
dapatkan?"
"Memang ada, Kang. Tapi,
hanya berupa dugaan kasar…."
“Tapi, setidak-tidaknya akan
memudahkan kita untuk menyelidiki selanjutnya " potong Adipati Subali
ketika melihat Arya seperti ragu-ragu untuk mengutarakan ucapannya.
"Baiklah, Kang. Bait pertama
menunjukkan tempat yang dimaksud leluhurmu, sedangkan bait kedua menunjukkan
cara untuk mendapatkannya."
"Kau hebat, Arya!" puji
Adipati Subali dengan wajah berseri-seri. "Aku yakin, teka-teki leluhurku
ini akan bisa kupecahkan dengan bantuanmu "
“Tapi, itu hanya dugaan saja,
Kang. Lagi pula, belum pasti kebenarannya," bantah Arya, memperbaiki
dugaan-nya.
"Aku yakin dugaanmu itu
benar," sergah laki-Laki tinggi besar itu bernada yakin. "Karena,
jawaban itulah yang kudapatkan setelah memutar otak selama berbulan-bulan. Dan
hasil pemikiranku selama berbulan-bulan, ternyata sama dengan hasil pemikiranmu
yang sebentar. Kau hebat, Arya! Bisa kau utarakan pendapatmu selanjutnya?"
"Belum. Hanya itu yang baru
kudapatkan," sahut pemuda berambut putih keperakan itu sambil
meng-gelengkan kepala.
Adipati Subali tidak berani
mendesak lagi. Bagaimana pun juga, perkembangan yang menggembirakan telah
di-dapatnya. Ternyata Dewa Arak mampu menjawab teka-teki yang telah berhasil
dijawabnya berbulan-bulan, hanya dalam waktu sebentar. Jadi, bukan tidak
mungkin kalau pemuda berambut putih keperakan itu akan berhasil memecahkan
teka-teki syair itu.
Maka meskipun keinginan untuk
menyuruh Arya memikirkan masalah itu lagi amat menggebu-gebu, Adipati Subali
terpaksa menahannya. Arya tampak sudah pusing, dan perlu beristirahat.
"O, ya, Arya. Aku belum
menjawab pertanyaan yang kau
ajukan tadi." Adipati Subali
sengaja mengalihkan per-soalan.
"Pertanyaan yang mana,
Kang?" Arya mengernyitkan alisnya. Rupanya dia terlupa.
"Kau tadi menanyakan apakah
aku berminat merebut kembali Kadipaten Blambang. Dan tadi aku akan
men-jawabnya, tapi.., surat peninggalan leluhurku membuatku terlupa. Bukankah
itu tadi yang kau tanyakan?"
Dewa Arak menganggukkan kepala.
"Sekarang kujawab, Arya. Aku
memang berminat. Dan itu kulakukan setelah mengamankan surat peninggalan
leluhurku. Aku akan kembali ke Kerajaan Sewu, untuk meminta bantuan pasukan.
Gerombolan yang telah merebut Kadipaten Blambang dari tanganku pasti akan
kugempur!"
"Jadi..., sewaktu kau
bersama rombonganmu melarikan diri, ke mana tujuanmu, Kang?" tanya Arya.
"Ke Kerajaan Sewu.
Menitipkan anak istriku di sana. Sekaligus, surat leluhur ini kuserahkan pada
Rara Kunti. Setelah itu, aku akan menggempur gerombolan yang telah merebut
kadipatenku!"
Mantap dan tegas sekali ucapan
yang keluar dari mulut Adipati Subali. Apalagi, ucapan itu ditutup dengan
kepala-nya yang menengadah, sambil membusungkan dada.
Arya tercenung ketika Adipati
Subali telah menyelesai-kan ucapannya.
"Jadi, kau ingin ke Kerajaan
Sewu sekarang, Kang?" tanya Arya ingin tahu.
"Entahlah, Arya. Aku sendiri
tidak tahu. Kematian istriku, dan tindakan anakku serta Sagala, membuat
keinginanku merebut kembali Kadipaten Blambang musnah!" sahut laki-laki
tinggi besar itu dengan suara berdesah.
"Bagaimana kalau kita
menyelidiki keanehan itu dulu?" usul Arya.
"Aku belum mengerti
maksudmu, Arya?" Adipati Subali mengernyitkan alis.
"Maaf kalau ucapanku ini
tidak berkenan di hatimu.
Masalah Sagala, sama sekali tidak
kupikirkan. Yang menjadi pertanyaan bagiku, adalah Rara Kunti. Maaf, apakah kau
pernah memergoki keanehan sikapnya belakangan ini?"
"Mengapa kau menanyakan hal
itu, Arya?" Adipati Subali balas bertanya.
Arya menghela napas berat.
"Ketika aku sempat
memperhatikan pertarungan, aku berpikir pula kalau ilmu yang dimiliki Rara
Kunti adalah ilmu keji. Serangan maupun perkembangan Ilmu seperti itu hanya
dimiliki tokoh-tokoh beraliran hitam! Dan lagi, ilmu yang dimilikinya mempunyai
mutu yang amat tinggi. Ilmunya bukan ilmu sembarangan. Tak cukup dua tahun
untuk mempelajarinya. Aku yakin, dia telah mempelajarinya jauh sebelum
itu!" tegas Arya bemada yakin.
“Tapi... dari mana dia mendapatkannya?
Padahal, aku tahu pasti Rara Kunti tidak memiliki ilmu itu!" Adipati
Subali jadi kebingungan.
"Kalau begitu, ada dugaan
yang memungkinkan, Kang. Dugaan pertama, wanita itu benar Rara Kunti. Tapi,
tanpa sepengetahuan dia mempelajari ilmu-ilmu sesat tingkat tinggi. Dan itu
telah dimulai paling tidak tujuh tahun lalu. Dan, juga gurunya bukan Sagala,
melainkan guru dari Sagala."
"Mengapa demikian,
Arya?!" tanya Adipati Subali, serak. "Sagala tidak akan bisa
mengajarinya sampai setinggi
itu. Yang jelas. Tingkat
kepandaian Rara Kunti hanya ber-selisih sedikit dengan Sagala."
Adipati Subali tercenung. Terbayang kembali di
benaknya semua kemampuan mengagumkan yang dimiliki Rara Kunti Dan diam-diam,
harus diakui kebenaran ucapan Dewa Arak.
"Lalu..., bagaimana dengan
dugaan yang kedua, Arya?" tanya Adipati Subali setengah hati.
"Wanita itu bukan Rara
Kunti. Melainkan, seorang tokoh sesat yang mempunyai kemampuan untuk menyamar,
menjadi seperti orang lain," Jawab Arya, kalem.
"Ah...!" Adipati Subali terperangah. Disadari ada kebenaran dalam ucapan Dewa Arak.
"Kalau dugaan itu benar, lalu ke mana Rara Kunti yang asli, Arya?"
"Kemungkinan sudah dibunuh.
Tapi, mungkin pula hanya ditawan."
"Apa pun yang terjadi pada
Rara Kunti, aku harus menemukannya! Adaikata dia sudah mati, aku harus
menemukan mayatnya!" tandas Adipati Subali dengan suara bergetar.
"Aku ikut Kang!" sambut
Arya cepat.
"Tapi, ke mana kita harus
mencarinya?" keluh Adipati Subali.
Dalam cekaman perasaan cemas,
laki-laki tinggi besar ini tidak bisa mempergunakan otaknya sama sekali.
Benak-nya benar-benar seperti buntu.
"Kita mulai saja dan awal
tempat kejadian, Kang." "Maksudmu. Kadipaten Blambang?!" duga Adipati
Subali.
"Tepat! Bagaimana?!"
Jawaban dari pertanyaan Arya,
adalah berupa lesatan tubuh Adipati Subali. Jelas, laki-laki tinggi besar itu
sudah tidak sabar lagi untuk tiba di tempat yang dituju.
Tanpa berkata apa pun, pemuda
berambut putih keperakan itu melesat menyusul. Sesaat kemudian, kedua orang itu
telah berlari cepat menuju Kadipaten Blambang.
***
7
Matahari telah tergelincir ke
Barat. Angin yang berhembus pun sudah terasa tidak terlalu panas lagi. Dan saat
itulah Arya dan Adipati Subali telah berada di wilayah perbatasan Kadipaten
Blambang.
"O, ya, Kang Masih ada hal
yang membuatku agak bingung," kata Arya, sambil menoleh ke samping dan
tanpa menghentikan larinya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu terus berlari. Tapi tentu saja, hanya mengerahkan sebagian kecil dari ilmu
larinya. Memang, bila dikerahkan agak penuh, Adipati Subali jelas akan
tertinggal jauh.
"Katakanlah, Arya."
sambut Adipati Subali terputus-putus. Tampak jelas kalau bekas orang nomor satu
di Kadipaten Blambang ini telah lelah.
"Kau hanya menceritakan,
kalau istana kadipaten diserbu. Kalau boleh kutahu, apakah kau mengenali para
penyerbu itu? Apa mungkin dari kadipaten lain? Atau yahhh, setidak-tidaknya kau
mengenalnya, barangkali "
"Hhh…!" Adipati Subali
menghembuskan napas berat. "Kalau teringat hal itu, aku masih heran dan
bingung, Arya."
"Mengapa, Kang?" Arya
juga merasa heran.
"Rombongan itu terdiri dari
berbagai golongan aliran hitam. Aku sendiri tidak habis pikir, mengapa mereka
ber-satu. Padahal, mereka tidak pernah akur. Dan yang lebih gila lagi, mereka
menyerang kadipaten! Entah, siapa yang menjadi dalangnya," jawab laki-laki
tinggi besar itu setengah berdesah.
"Berbagai aliran golongan
hitam? Aku belum mengerti maksudmu, Kang?" tanya Arya jujur.
Adipati Subali menganggukkan
kepala. Dia berdehem sejenak, untuk menenangkan napasnya yang menderu-deru.
"Maksudmu.... para penyerbu
itu sebenarnya terdiri dari beberapa kelompok yang mempunyai pimpinan sendiri
sendiri. Ada yang berasal dari gerombolan perampok, maling, dan biang kerok di
sekitar Kadipaten Blambang," jelas Adipati Subali.
Arya mengangguk-anggukkan kepala, pertanda mengerti.
"Kau yakin, selama ini
mereka tidak pernah akur, Kang?!" tanya Arya, memastikan.
"Aku yakin betul. Karena,
mereka satu sama lain sering kulihat saling bentrok!" tandas Adipati
Subali.
"Kau melihat sendiri
pertarungan yang berlangsung?!" “Ya!"
"Bisa kau perkirakan,
kelompok mana yang menjadi pimpinan dalam penyerbuan itu?" kejar Arya,
penuh gairah.
Adipati Subali tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Sepasang alisnya berkerut dalam. Jelas ada sesuatu
yang tengah dipikirkannya. Dan memang, laki-laki tinggi besar ini tengah
mengingat-ingat.
Arya sama sekai tidak mendesak.
Dengan sabar, ditunggunya ucapan yang keluar dari mulut Adipati Subali. Dan
karena laki-laki tinggi besar itu agak lama berpikir, suasana hening pun
terjadi. Yang terdengar hanyalah suara ayunan kaki Adipati Subali yang berlari.
Memang mereka masih terus berlari. Tentu saja langkah kaki Arya sama sekali
tidak terdengar, karena tingkat ilmu meringankan tubuhnya susah diukur
tingginya.
"Kini aku mengerti maksudmu,
Arya. Dalam pertarungan itu, jelas-jelas tidak ada seorang pun yang bertindak
sebagai pemimpin rombongan penyerbuan. Jadi mungkin ada orang luar yang telah
menyatukan mereka. Tapi, mengapa orang itu tidak terlihat dalam penyerbuan
itu?"
"Kurasa kau bisa menjawab
pertanyaan itu sendiri, Kang. Mengapa orang luar yang menjadi pemimpin
rombongan tidak ikut dalam penyerbuan? Atau lebih tegasnya lagi, tidak berani
menampakkan diri? Padahal, menilik dari bisa bersatunya kelompok-kelompok yang
selama ini suka bentrok, bisa
kuperkirakan kalau dia mempunyai pengaruh yang besar. Orang itu ditakuti oleh
seluruh tokoh yang ikut dalam penyerbuan. Jadi, dia berarti memiliki kepandaian
tinggi. Tapi, mengapa dia tidak muncul?" urai Arya panjang lebar dan penuh
semangat.
Adipati Subali terdiam. Dia tidak
berani menjawab. Meskipun sudah mempunyai dugaan, tapi dia takut menghadapi kenyataan bila jawaban yang akan diucapkannya itu betul belaka.
"Kemungkinannya hanya ada
dua, Kang," sambung Arya lagi ketika melihat Adipati Subali sama sekali
tidak ada tanggapan.
Namun, Arya, segera menghentikan
ucapannya saat melihat raut wajah Adipati Subali yang seperti tengah menderita
rasa nyeri yang hebat.
"Perlukah menguraikan dua
kemungkinan itu, Kang?" tanya Arya hati-hati
Perlahan-lahan kepala Adipati
Subali tergeleng.
"Tidak perlu, Arya. Aku
sudah bisa menebak dua kemungkinan itu. Pertama, orang itu gentar. Kedua, dia
tidak ingin dikenal. Dan kalau aku lebih condong yang kedua."
"Jadi?"
“Tokoh yang menjadi penyebab
bencana di Kadipaten Blambang adalah Sagala, adik misanku sendiri!'"
tandas Adipati Subali, sambil menyeringai "Kini aku mengerti, mengapa
setelah surat peninggalan itu kuserahkan pada Sagala, tiba-tiba terdengar suara
lolong kematian. Padahal sewaktu kuselidiki, mayat itu tidak ada. Bahkan dalam
perjalanan kembali menuju kereta, ketika hampir tiba ter-dengar suara berkaok
nyaring. Aku tahu, pasti itu bukan suara burung gagak. Sayangnya, aku tidak
mempedulikan-nya."
Adipati Subali menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas dan menenangkan hati.
"Aku yakin, dugaanku tida
salah lagi, Sagala-lah dalang semua kejadian ini! Orang-orang berseragam hitam
itu
kemungkinan besar anak buahnya!
Kalau benar dia dan juga Rara Kunti berada di pihakku, gerombolan orang ber-seragam
hitam itu pasti akan bisa dihancurkan," sambung Adipati Subali berapi-api.
Dewa Arak sama sekali tidak
memberi tanggapan, karena memang tidak menyaksikan gerombolan ber-seragam hitam
yang menyerbu rombongan Adipati Subali. Jadi, dia tidak bisa memperkirakan,
sampai di mana tingkat kepandaian mereka.
"Mari, Arya. Kita harus
secepatnya ke Istana kadipaten. Aku sudah tidak sabar lagi mengungkap semua
rahasia ini," ajak Adipati Subali tidak sabar.
"Jadi kita memulainya dengan
penyelidikan mengenai Rara Kunti, Kang?"
"Ya!"
Lalu, Adipati Subali melesat
cepat meninggalkan tempat itu. Tampak jelas kalau laki-laki tinggi besar itu
sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di Istana Kadipaten Blambang.
***
Perlahan-lahan kegelapan mulai
turun menyelimuti bumi. Tapi, hal itu tidak berlangsung lama. Karena sang dewi
malam segera dengan sinarnya yang kuning keemasan mulai menguak kepekatan
malam.
Dalam suasana seperti itu, tampak
dua sosok bayangan berkelebat cepat mendekati tembok Istana Kadipaten Blambang.
Sosok bayangan yang satu berwama kuning, sedangkan yang lain ungu.
Sekejap kemudian, tubuh dua sosok
telah menempel pada pagar tembok Istana kadipaten. Tampak dua sosok bayangan
itu terdiam. Punggung mereka sama-sama bersentuhan dengan tembok batu.
Siraman sinar sang rembulan,
membuat wajah kedua tokoh itu jadi tampak cukup jelas. Mereka ternyata tidak
lain dari Arya dan Adipati Subali!
Adipati Subali menoleh ke arah
Arya. Dan Arya pun
menganggukkan kepala sambil
menunjuk dirinya sendiri, baru kemudian menujuk Adipati Subali. Tanpa
dijelaskan pun, laki-laki tinggi besar itu telah mengerti maksudnya. Arya
hendak melompat lebih dulu, baru kemudian Adipati Subali!
"Hih!"
Hanya dengan sebuah genjotan
ringan, Dewa Arak telah membuat tubuhnya melayang ke atas. Begitu ringan
kaki-nya mendarat di atas tembok istana.
Begitu kedua kakinya hinggap,
Arya langsung bersikap waspada. Pandangannya beredar berkeliling. Lega hatinya
ketika tidak menjumpai adanya sesosok tubuh pun di sana. Ke mana perginya
orang-orang yang telah menguasai kadipaten?
Tapi Arya tidak mempedulikannya
lagi. Diberinya isyarat pada Adipati Subali untuk segera melompat menyusulnya.
Laki-laki tinggi besar itu pun melompat ke atas, dan men-darat di atas tembok
di sebelah Dewa Arak. Indah dan manis gerakannya! Memang, bekas Panglima
Kerajaan Sewu ini memiliki kepandaian lumayan juga.
"Mengapa begini sepi?"
tanya Adipati Subali heran, seperti bicara untuk diri sendiri.
Setelah mengawasi sekeliling
beberapa saat lamanya, tampak semua sudut begitu sepi dan mati. Tidak tampak
adanya tanda-tanda kehidupana sama sekali!
"Hm...! Kesunyian yang
mencurigakan, Kang," sambut Arya yang merasa kan adanya keanehan suasana
itu.
Sambil berkata demikian, pemuda
berambut putih keperakan itu melompat rurun. Ringan tanpa suara kedua kakinya
menginjak tanah.
"Mungkin ini sebuah
perangkap, Arya?" duga Adipati Subali, setelah kedua kakinya mendarat di
tanah.
"Mungkin," sahut Arya
menyambuti.
Meskipun ucapan dan anggukan
kepalanya terlihat menyetujui dugaan Adipati Subali, tapi tampak jelas kalau
Dewa Arak merasa bimbang. Raut wajahnya menampakkan keragu-raguan. Bukan hanya
itu saja. Nada suaranya pun
terdengar sumbang, pertanda
keluar dari hati yang tidak yakin.
"Sepertinya, kau tidak
setuju dengan dugaanku, Arya?!" Adipati Subali yang merasakan ada nada
ketikdakyakinan dalam suara Arya, langsung mengajukan pertanyaan.
Arya menganggukkan kepala.
"Mengapa, Arya?" kejar
Adipati Subali, penasaran. "Kalau benar mereka telah siap menjebak kita,
setidak-
tidaknya bisa kudengar adanya
desah napas atau langkah kaki. Tapi, sekarang aku tidak mendengarnya sama
sekali," jelas Arya.
"Lalu, bagaimana maksudmu,
Arya?"
"Aku khawatir ada sesuatu
yang tidak kita inginkan " Hanya itu jawaban yang dlutarakan Dewa Arak.
Dan
setelah itu, pemuda berambut
putih keperakan ini meng-hampiri sebuah bangunan yang bentuknya paling besar
dan megah. Itulah bangunan Istana Kadipaten Blambang.
Hanya dalam beberapa kali lesatan
saja, Arya telah berada di mulut pintu bangunan itu. Sementara, Adipati Subali
tetap mengikuti di belakangnya.
"Aku mencium bau anyir darah
Arya," bisik Adipati Subali, parau. Jelas, laki-laki tinggi besar ini
merasa tegang. Arya hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh. Memang, dia pun
mencium bau yang sama sebelum Adipati Subali menciumnya. Karena di samping
melangkah lebih dulu. Dewa Arak memiliki ketajaman penciuman di
atas Adipati Subali!
Adipati Subali sama sekali tidak
merasa tersinggung melihat Arya menganggukkan kepala tanpa menoleh. Itu pun
masih ditambah sambil berjalan. Disadari kalau pemuda berambut putih keperakan
itu tengah bersikap waspada. Dan hal itu tidak berlebihan. Karena sudah bisa
diperkirakan kalau di dalam lingkungan istana Kadipaten Blambang ini telah
terjadi peristiwa menggemparkan.
Sementara itu, Arya terus saja
melangkah masuk. Tapi baru saja beberapa tindak, langkahnya kontan terhenti.
Raut wajah maupun sorot matanya menunjukkan keter-
kejutan yang amat sangat
Betapa tidak! Di hadapan Dewa
Arak, terpampang pemandangan mengerikan! Belasan sosok tubuh tergolek dalam
keadaan mengerikan. Seluruh anggota tubuhnya tercerai-berai. Potongan-potongan
tubuh, tangan, kaki, dan kepala berserakan. Darah tampak menggenangi lantai.
Dewa Arak dan Adipati Subali
sangat terperanjat! Betapa tidak?! Di hadapan mereka terpampang pemandangan
yang mengerikan! Belasan sosok tubuh tergolek dalam keadaan mengerikan. Seluruh
anggota tubuhnya tercerai-berai! Potongan-potongan tubuh, tangan, kaki, dan
kepala berserakan!
***
8
"Iblis dari mana yang tengah
melakukan hal seperti ini?" desis Arya, penuh kengerian.
Sambil berkata demikian, pandang
matanya dilayangkan ke arah potongan-potongan tubuh yang berserakan di lantai.
Menilik dari banyaknya, mungkin puluhan orang yang telah terbantai.
"Mmm…. mereka adalah gerombolan yang telah
menyerbu kadipaten ini, Arya," jelas Adipati Subali agak ter-gagap.
Rupanya, laki-laki tinggi besar ini belum bisa meredakan perasaannya yang
terguncang.
"Jadi, mereka adalah gerombolan
yang terdiri dari ber-bagai kelompok penjahat itu, Kang?" tanya Arya
setengah hati.
Tanpa diberi tahu pun, sebenarnya
pemuda berambut putih keperakan itu sudah bisa menduga kalau para korban adalah
gerombolan yang telah meruntuhkan Kadipaten Blambang.
Adipati Subali menganggukkan
kepala kepala sambil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak
kering. Sementara, Arya membungkukkan tubuh dan memeriksa keadaan mayat-mayat
itu. Sesaat kemudi-an dia bangkit kembali.
"Pembunuhan ini belum lama
terjadi, Kang. Mungkin tadi sore. Bukan mustahil pembunuhnya masih berada di
sini," ujar pemuda berambut putih keperakan itu.
Kontan wajah Adipati Subali
semakin menegang. Mendadak Arya menelengkan kepala. Pendengarannya
yang tajam menangkap adanya
gerakan halus di sebelah kanannya.
"Ada apa, Arya?" tanya
Adipati Subali. Serak terdengar suaranya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu sama sekali tidak
menjawab. Telunjuk tangan
kanannya diletakkan di bibir, memberi isyarat agar laki-laki tinggi besar itu
jangan berisik.
Adipati Subali sama sekali tidak
membantah. Meskipun perasaan ingin tahunya amat besar, tapi berusaha
ditekan-nya. Disadari kalau Dewa Arak bersikap demikian, karena mempunyai
alasan kuat
Benar saja. Baru saja Dewa Arak
mengembalikan jari telunjuk yang semula diletakkan di bibir ke tempat semula,
terdengar tawa keras menggelegar dan bergaung. Karena mereka berada di dalam
bangunan, gema suara jadi ter-dengar panjang.
Obor-obor yang cukup banyak
terpasang di tiap-tiap dinding ruangan membuat suasana di dalam bangunan itu
cukup terang. Sehingga, tampak jelas perawakan dan wajah pemilik tawa yang
keras menggelegar itu.
Dia ternyata seorang laki-laki
setengah tua. Pakaiannya hanya berupa rompi abu-abu, membungkus tubuhnya yang
kurus kering. Saking kurus keringnya, dia jadi seperti cecak kelaparan. Bahkan
wajahnya tampak pucat. Sepasang matanya yang sipit, semakin menambah keras
dugaan kalau laki-laki berompi abu-abu ini seperti penyakitan.
"Siapa kau?!" tanya
Adipati Subali, mantap.
Sikap dan tingkah Adipati Subali
menunjukkan kalau dirinya adalah pemilik bangunan itu. Memang, meskipun sudah
terusir dari istana kadipatennya, Adipati Subali tetap merasa sebagai
pemiliknya.
"He... he... he...! Rupanya
meskipun sudah tidak memiliki gigi lagi, kau masih bisa menggonggong,
Subali!" ejek laki-laki berompi abu-abu itu. "Kau ingin tahu aku?
Baik! Aku adalah Hantu Hutan Lodan!"
Adipati Subali menelan ludah,
untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Julukan laki-Laki kurus
kering itulah yang membuat tenggorokannya kering. Laki-laki tinggi besar ini
tahu betul tokoh yang mempunyai julukan seperti itu.
Hantu Hutan Lodan adalah seorang
tokoh aliran hitam
yang muncul beberapa tahun lalu.
Karena sepak terjangnya yang menggemparkan, laki-laki kurus kering ini telah
berhasil mengukir nama besar. Julukannya memang ditakuti, baik oleh tokoh-tokoh
persilatan aliran hitam maupun aliran putih. Ini disebabkan karena tindakannya
yang kejam dan kepandaiannya yang tinggi.
Tak terhitung tokoh golongan
hitam dan putih yang tewas di tangannya, secara mengerikan. Hantu Hutan Lodan
memang sakti disamping wataknya yang sombong. Dan itu terbukti ketika dengan
beraninya laki-laki kurus kering ini mengajukan tantangan pada datuk wilayah
Selatan.
Tantangan yang diajukan Hantu
Hutan Lodan benar-benar menggemparkan dunia persilatan. Karena, untuk pertama
kalinya ada seorang tokoh yang berani meng-ajukan tantangan pada salah satu
dari empat datuk itu.
Maka, berbondong-bondonglah tokoh
persilatan dari berbagai aliran datang untuk menyaksikan pertarungan antara
Hantu Hutan Lodan dan Datuk Selatan.
Namun, ternyata Datuk Selatan
tidak kunjung datang. Sehingga, Hantu Hutan Lodan pun mengukuhkan diri men-jadi
salah satu dari empat orang datuk di empat penjuru angin.
"Mengapa kau membunuhi
mereka, Hantu Hutan Lodan?" tanya Adipati Subali dengan suara bergetar.
Seiring keluarnya pertanyaan yang
diajukan, tangan laki-laki tinggi besar itu ditudingkan ke arah mayat-mayat
yang bergeletakan di lantai.
"Cuh!"
Hantu Hutan Lodan meludah secara
kasar di tanah. "Mereka patut dibunuh! Tindakan mereka terlalu
lancang. Mereka telah menyerbu
Kadipaten Blambang, atas perintah orang datuk wilayah Selatan, yang tidak
pantas memangku kedudukan datuk!"
Laki-laki bertubuh kurus kering
ini menghentikan ucapannya sebentar. Dirayapinya dua sosok tubuh yang penuh
perhatian mendengarkan ucapannya yang terlalu
berapi-api dan penuh semangat.
"Tidakkah mereka tahu, kalau
aku yang telah menjadi Datuk Selatan?! Mereka berani bertindak lancang mentaati
perintah orang lain, tanpa sepengetahuanku! Dan hukuman yang tepat bagi mereka adalah kematian!"
tandas Hantu Hutan Lodan tegas.
Usal berkata demikian, laki-laki
kurus kering ini lalu menatap wajah Adipati Subali dan Dewa Arak lekat-lekat.
Mendadak wajah Hantu Hutan Lodan berubah. Sepasang mata nya yang semula hanya
beredar pada wajah Arya, kemudian beralih ke arah rambut dan pakaian.
Arya yang sejak tadi diam
mendengarkan, menjadi tahu mengapa Hantu Hutan Lodan menatapnya demikian.
Seperti juga yang lainnya, dia tahu kalau laki-laki kurus kering tengah
meneliti ciri-ciri pada diri Dewa Arak. Dan dugaan pemuda berambut putih
keperakan itu sama sekali tidak meleset.
"Hm.... Bukankah kau, Dewa
Arak?!" agak tergagap suara yang terdengar dari mulut Hantu Hutan Lodan.
Arya menganggukkan kepala.
"Kalau memang demikian,
memangnya kenapa Hantu Hutan Lodan? Aku tahu, julukanmu tidak kalah tenar
dari-padaku .
"Ha ha ha...! Itu memang
betul!"
Hantu Hutan Lodan yang memang
mempunyai watak sombong dan senang diagung-agungkan, langsung menyambuti penuh semangat
Dia tertawa-tawa gembira, tapi sesaat kemudian tawanya lenyap. Pandangannya
di-alihkan pada Adipati Subali.
"Kalau ingin selamat, cepat
serahkan pusaka pe-ninggalan leluhurmu padaku, Adipati Subali?!" ancam
Hantu Hutan Lodan.
"Sayang sekali, pusaka itu
tidak ada padaku," kalem jawaban yang terdengar dari mulut Adipati Subali.
Memang, laki-Laki tinggi besar
ini berkata sejujurnya. Surat wasiat leluhurnya itu sekarang ada pada Arya.
Adipati Subali sendirilah yang menyuruh Dewa Arak memegangnya
dengan alasan agar lebih aman.
"Kau mencari penyakit
sendiri, Adipati Subali! Kau ku-beri kesempatan sekali lagi! Serahkan pusaka
itu, atau nyawamu akan kucabut?!” geram Hantu Hutan Lodan memberi pilihan.
Adipati Subali membusungkan dada.
"Sayang sekali, Hantu Hutan
Lodan. Andaikata pusaka itu ada padaku pun, tidak akan kuberikan padamu!"
jawab laki taki tinggi besar ini lantang.
"Keparat!"
Kali ini Hantu Hutan Lodan tidak
bisa menahan ke-sabarannya lagi. Tanpa bergeser dari tempat semula, tangan
kanannya meluncur ke arah dada Adipati Subali dalam sebuah cengkeraman yang
menimbulkan suara angin bercicitan.
Adipati Subali tahu, jarak antara
dirinya dengan Hantu Hutan Lodan tidak mungkin bisa dijangkau tangan. Jadi biar
bagaimana pun, serangan Hantu Hutan Lodan tidak akan mungkin bisa mencapai
sasaran. Maka, dia hanya bersikap tenang. Dia yakin tidak akan terjadi sesuatu
yang membahayakan dirinya. Lain halnya, apabila Hantu Hutan Lodan menyerang mempergunakan
pukulan jarak jauh.
Seperti juga Adipati Subali, Dewa
Arak pun merasa heran pula. Hanya saja, ada perbedaannya. Pemuda berambut putih
keperakan ini langsung bisa mengetahui kalau laki-laki kurus kering itu
mempunyai maksud yang tersembunyi dalam serangannya.
Seiring timbulnya dugaan ini,
Dewa Arak pun teringat sesuatu. Melati, tunangannya, sering menggunakan serangan seperti ini! Hal ini
tidak aneh, karena gadis ber-pakaian putih itu memiliki ilmu yang bisa membuat
tangan-nya menjadi satu setengah kali lebih panjang! Jurus 'Naga Merah Mengulur
Kuku", demikian namanya.
Teringat akan hal itu, membuat
Dewa Arak terperanjat. "Awas, Kang...!"
Sambil berseru demikian, Dewa
Arak langsung ber-tindak. Tangan kanannya bergerak cepat ke arah pangkal
lengan kiri Adipati Subali.
Memang, saat ini pemuda berambut putih keperakan itu berada di sebelah kiri
Adipati Subali.
Tappp!
Secepat tangan kanannya hinggap
di tempat yang dituju, secepat itu pula didorongnya. Akibatnya, tubuh Adipati
Subali pun terjengkang
Tapi, justru karena itulah,
Adipati Subali selamat dari maut! Pada saat yang bersamaan, tangan Hantu Hutan
Lodan meluncur ke arah dada. Dugaan Dewa Arak memang tepat! Tangan laki-laki
kurus kering itu ternyata terus terulur dengan serangan membahayakan. Jadi,
tangan itu memang bertambah panjang!
“Terkutuk!"
Untuk yang kesekian kalinya,
Hantu Hutan Lodan memaki. Tapi hal ini tidak ditujukan pada Adipati Subali,
melainkan pada Dewa Arak. Sementara, pemuda berambut putih keperakan itu tetap
bersikap tenang. Bahkan sempat mengerling sekilas ke arah Adipati Subali.
"Cepat menjauh dari sini,
Kang." kata Dewa Arak bernada perintah.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Adipati Subali segera bangkit dan bergerak menjauh. Dia tahu, mengapa Arya
menyuruhnya bertindak demikian. Karena bila terjadi pertarungan, ada
kemungkinan akan terkena serangan nyasar jika berada di daerah pertarungan.
***
"Semula, aku berniat
membiarkanmu pergi, Dewa Arak. Kau sama sekali tidak masuk hitunganku. Tapi
sekarang, kau malah mencampuri urusanku. Maka, terpaksa kau pun akan
kulenyapkan!"
Puas mengucapkan kalimat bernada penuh
kesombongan, Hantu Hutan Lodan mengedarkan pandangan berkeliling.
Tampak olehnya mayat-mayat yang berserakan di sana sini. Tentu saja hal ini
akan meng-
ganggu jalannya pertarungan.
Karena, mereka berdua akan mengalami kesulitan untuk berpindah tempat
"Biarlah ruangan ini kubuat
agak luas sedikit"
Hantu Hutan Lodan lalu
mengibas-ngibaskan kedua tangannya. Kelihatannya sembarangan dan tanpa pengerahan tenaga dalam. Tapi
hebatnya, potongan-potongan tubuh mayat itu berpentalan seperti tertiup angjn
keras.
Dan ketika laki-laki kurus kering
itu menghentikan gerakan tangannya, lantai ruangan tempat mereka berada jadi
bertambah luas. Karena, sebagian besar potongan tubuh mayat telah berpindah
tempat ke sudut.
"Aku bukan sejenis orang
yang mau enaknya sendiri, Hantu Hutan Lodan. Biarlah kusumbangkan kemampuanku
yang tidak seberapa, untuk membuat ruangan di sekitar tempat ini jadi bertambah
luas!"
Dan begitu ucapannya selesai itu,
Dewa Arak ikut mengibas-ngibaskan tangannya pula. Sama seperti Hantu Hutan
Lodan, hal itu dilakukannya secara sembarangan.
Tapi pemandangan yang terpampang
justru lebih hebat! Potongan-potongan tubuh mayat yang masih bergeletakan
memenuhi tiap ruangan, kontan beterbangan ke sudut dan langsung berkumpul
membentuk tumpukan. Hebatnya, potongan yang berupa kepala berada di bagian
atas!
Adipati Subali
menggeleng-gelengkan kepala melihat pertunjukkan ini. Meskipun tingkatannya
tidak bisa disamakan dengan kedua tokoh itu, tapi bisa diketahui kalau dalam
pertunjukan tadi Dewa Arak lebih unggul, ketimbang Hantu Hutan Lodan!
Tentu saja Hantu Hutan Lodan pun
menyadari hal itu. Maka, seketika perasaan sombongnya pun bangkit. Dia tidak
percaya kalau orang semuda Dewa Arak akan mampu menyainginya! Apalagi,
mengalahkannya. Mungkin tadi ada kesalahan dalam pengerahan tenaga dalam?
"Aku belum kalah, Dewa Arak!
Hiyaaa!"
Diiringi teriakan keras. Hantu
Hutan Lodan mulai melancarkan serangan. Kedua tangannya meluncur cepat
dan bertubi-tubi ke arah kedua
tulang rusuk Dewa Arak, di-sertai angin bercicitan nyaring. Jelas sebuah
serangan ber-bahaya!
Tapi, orang yang diserangnya
adalah Dewa Arak! Hanya dengan sebuah lompatan ke belakang, Dewa Arak telah
membuat serangan Hantu Hutan Lodan mengenai tempat kosong. Tahu kalau lawannya
bukan orang sembarangan, maka selagi tubuhnya masih berada di udara Dewa Arak
mengambil guci araknya. Lalu, isinya dituangkan ke dalam mulut
Gluk…. Gluk….Gluk…!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Arya. Sesaat kemudian, ada hawa hangat berputar
di perutnya, lalu perlahan naik ke atas kepala. Kontan tubuh Dewa Arak limbung
ketika mendarat di tanah. Ini terjadi karena kedua kakinya tidak bisa menapak
tepat di tanah.
Tapi, justru pada saat seperti
inilah Dewa Arak berada dalam keadaan siap untuk memainkan ilmu 'Belalang
Sakti’ Kedua tangannya bergerak-gerak aneh di depan dada, seperti seekor
belalang yang tengah memper-mainkan kedua kaki depannya. Bukan itu saja. Tubuh
pemuda berambut putih keperakan itu pun berkelejetan. Sementara, kedua kakinya
oleng ke sana kemari.
Melihat hal ini, Hantu Hutan
Lodan agak terperanjat. Tapi sesaat kemudian, langsung bisa ditebak kalau Dewa
Arak telah mulai menggunakan ilmu andalannya. Maka tanpa ragu lagi, dia
melancarkan serangan susulan.
Wuk, wuk, wuk...! Wuttt!
Entah dari mana mengambilnya
tahu-tahu di tangan Hantu Hutan Lodan telah tergenggam sebilah ganco. Sebentar
senjata itu diputar-putar di atas kepala, baru kemudian disabetkan ke arah
kepala Dewa Arak.
Tranggg!
Benturan keras terdengar diiringi
berpercikannya bunga-bunga api ketika Dewa Arak menangkis serangan ganco itu
dengan gucinya
Hantu Hutan Lodan menyeringai
ketika merasakan sekujur tangannya tergetar hebat, akibat benturan itu. Bahkan tanpa
dapat dicegah lagi tubuhnya terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara, Dewa
Arak sama sekali tidak terpengaruh.
Maka, kesempatan itu dipergunakan
masing-masing pihak untuk melihat senjata masing-masing. Memang, keduanya
merasa khawatir akan rusaknya senjata akibat benturan keras tadi.
Dan begitu melihat tidak terjadi
sesuatu atas senjata masing-masing, keduanya kembali saling gebrak. Sesaat
kemudian, kedua tokoh berbeda aliran ini terlihat dalam pertarungan sengit.
Hebat bukan kepalang pertarungan yang
berlangsung. Suara mengaung dan mencicit, diiringi tegukan ketika di
tengah-tengah pertarungan Dewa Arak menenggak araknya, membuat suasana semakin
bertambah semarak.
Akibatnya, keadaan sekitar
ruangan itu lebih parah lagi. Ubin-ubin retak-retak. Tembok-tembok mulai
berguguran. Kalau pertarungan itu terus berlangsung, bukan tidak mungkin
bangunan itu akan ambruk.
Tapi begitu pertarungan menginjak
jurus ke seratus, mulai tampak keunggulan Dewa Arak.
Tampaknya pemuda berambut putih
keperakan ini mulai bisa menguasai keadaan. Serangan-serangan Hantu Hutan Lodan
yang semula menggebu-gebu, kini semakin ber-kurang. Sampai akhirnya, dia hanya
bisa mengelak.
"Haaat..!"
Di jurus keseratus delapan, Dewa
Arak mengayunkan guci araknya ke arah pelipis kiri Hantu Hutan Lodan. Melihat
hal ini, pentolan aliran hitam yang berjiwa kejam ini terkejut bukan kepalang.
Serangan itu meluncur demikian tiba-tiba Maka dengan agak gugup, tubuhnya
dirundukkan.
Wusss!
Guci Dewa Arak meluncur lewat di
atas kepala, hingga membuat rambut dan seluruh pakaian Hantu Hutan Lodan
berkibaran keras. Ini menandakan betapa kuatnya tenaga
dalam yang terkandung dalam
ayunan guci itu.
Tapi, serangan Dewa Arak ternyata
tidak hanya sampai di situ saja. Kaki kanannya meluncur cepat ke arah perut.
Tapi karena Hantu Hutan Lodan tengah membungkuk, maka ujung kaki itu jadi
mengarahkan ke arah dada. Dan....
Krakkk! "Akh...!"
Hantu Hutan Lodan menjerit ngeri
ketika kaki Dewa Arak menghantam telak pada sasaran. Memang, tibanya serangan
itu hanya berselisih sedikit sekali dengan serangan guci.
Kontan tubuh laki-laki kurus
kering itu terlempar ke belakang. Darah segar seketika memancur deras dari
mulutnya, dan membasahi lantai sepanjang tubuhnya melayang. Sesaat itu juga,
nyawa Hantu Hutan Lodan melayang dari raganya. Tendangan Dewa Arak telah
membuat tulang dadanya hancur berantakan.
Brukkk!
Disertai suara berdebuk keras,
tubuh Hantu Hutan Lodan jatuh ke lantai
"Hhh...!"
Dewa Arak menghembuskan napas
lega. Sama sekali tidak disesali, karena telah membunuh Hantu Hutan Lodan. Dewa
Arak tahu, tokoh seperti laki-laki kurus kering itu memang harus dilenyapkan
dari muka bumi agar tidak menyebar malapetaka lebih luas.
"Kau hebat, Arya," puji
Adipati Subali sambil mendekati pemuda berambut putih keperakan itu.
"Lupakanlah, Kang. Sekarang
yang penting, kita harus mencari tahu keberadaan Rara Kunti," kata Arya
meng-alihkan persoalan.
"Kau benar, Arya,"
sambut Adipati Subali.
Lalu laki-laki tinggi besar itu
mengayunkan langkah mengikuti Dewa Arak. Memang, pemuda berambut putih
keperakan itu telah melangkah lebih dulu.
Berhasilkah Dewa Arak dan Adipati
Subali menguak rahasia Rara Kunti? Benarkah
Sagala yang telah memimpin
penyerbuan terhadap Kadipaten Blambang? Kalau betul, mengapa? Murid siapakah
Sagala, sehingga bisa memiliki kepandaian yang demikian tinggi? Bagai-mana
akhir persekutuan keturunan datuk-datuk persuatan yang ingin menumpas Dewa
Arak? Apakah 'Rahasia Syair Leluhur" itu bisa terungkap? Siapakah yang
berhasil mengungkapnya? Dan, apakah datuk-datuk persilatan puluhan tahun lalu
pun akan ikut meninggalkan sarang untuk mengejar pusaka Eyang Mandura? Jawaban
semua itu ada di dalam episode "Neraka untuk Sang Pendekar".
SELESAI
No comments:
Post a Comment