TOKOH
DARI MASA SILAM
oleh Aji Saka
1
Matahari telah agak tergelincir
dari titik tengahnya. Sinarnya yang masih garang menyiram bumi, perlahan-lahan
mulai terhalang sekumpulan awan yang berarak. Sehingga membuat suasana di
persada mulai terasa lebih sejuk.
Tampak dua orang tua tengah
melangkah mendekati seorang pemuda yang juga tengah melangkah menghampiri.
Seorang laki-laki berkumis tebal yang berada di sebelah kedua orang tua itu pun
bergerak pula menghampiri pemuda berambut putih keperakan ini.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Dewa Arak," ucap seorang laki-laki tua yang berpakaian
putih, ketika mereka telah dekat dengan pemuda berambut putih keperakan yang
ternyata memang Dewa Arak. "Kalau kau tidak datang, mungkin Garuda Laut
Timur telah membinasakan kami."
"Lupakanlah, Ki
Waringin," sahut Arya sambil mengulapkan tangan. "Tolong-menolong
merupakan kewajiban sesama manusia. Bukan tidak mungkinkalau suatu saat nanti
kau akan menolongku, Ki?"
Memang, Dewa Arak baru saja
menyelesaikan kemelut yang terjadi di dalam rimba persilatan. Sebuah kemelut
yang bermula dari pengiriman sebuah benda di dalam sebuah kereta berkuda. Waktu
itu, Ki Waringin yang membuka usaha pengiriman, mengutus Sangga Juwana untuk
ikut serta dalam pengawalan yang dilakukan oleh murid-murid Perguruan Harimau
Terbang.
Namun pada akhirnya, benda itu
berhasil dirampas Garuda Laut Timur. Kemudian, Ki Sancaka yang merupakan
pimpinan Perguruan Naga Laut datang menjelaskan duduk persoalannya kepada Ki
Waringin yang merupakan Ketua Perguruan Harimau Terbang. Dan selagi mereka
berbincang-bincang, Garuda Laut Timur datang karena merasa tertipu. Masalahnya,
ternyata benda yang dirampasnya hanyalah kepala seekor orang hutan! Untung
saja, pada saat yang gawat, Dewa Arak datang membantu (Untuk jelasnya, silakan
baca serial Dewa Arak dalam episode "Kemelut Rimba Hijau").
Ki Waringin, seorang laki-laki
tua berpakaian coklat, dan seorang laki-laki berkumis tebal, saling
berpandangan. Laki-laki berpakaian coklat adalah Ki Sancaka. Sedangkan
laki-laki yang berkumis tebal adalah Sangga Juwana. Mereka kemudian melemparkan
senyum, mendengar penuturan Dewa Arak.
"O ya, Ki. Kumohon, kau
memanggilku dengan nama saja. Bukankah Sangga Juwana telah memberitahukan
namaku padamu?"
Ki Waringin menganggukkan kepala,
membenarkan pertanyaan Dewa Arak.
"Dan kau tidak keberatan
memanggilku dengan nama saja kan, Ki?"tanya Arya lagi. "Tentu saja
tidak, De..., eh! Arya," jawab Ki Waringin cepat. "Bukan begitu,
Sancaka?"
"Eh..., ya.... Ya,
benar," Ki Sancaka yang sama sekali tidak menduga pertanyaan itu menjadi
gugup. "Kalau begitu, kuucapkan terima kasih atas kesediaan kalian."
Ki Waringin dan Ki Sancaka hanya
bisa tersenyum. Mereka sama sekali tidak memberikan tanggapan. Sehingga,
suasana menjadi hening. Masing-masingorang tenggelam dalam alun pikiran yang
menerawang jauh.
"Ah! Mengapa aku sampai
lupa?!" pekik keterkejutan Ki Waringin, memecahkan keheningan yang
terjadi. Ki Sancaka, Arya, dan Sangga Juwana agak kaget bercampur heran melihat
sikap kakek berpakaian putih
itu. Dengan penuh rasa ingin
tahu, mereka menatap Ki Waringin.
"Sangga! Mengapa kau hanya
datang sendiri? Mana kawan-kawanmu yang lain?!" tanya Ki Waringin, bernada
sungguh-sungguh.
Rupanya saking tertarik oleh
pertarungan antara Dewa Arak melawan Garuda Laut Timur, Ki Waringin lupa
menanyakan keadaan murid-muridnya yang lain. Sama sekali dia tidak merasa heran
melihat kedatangan Sangga Juwana yang hanya seorang diri.
Kontan wajah laki-laki berkumis
tebal itu berubah muram mendengar pertanyaan gurunya. Memang, pertanyaan itu
mengingatkan Sangga Juwana akan masib buruk yang menimpa rekan-rekannya, sesama
anggota Perguruan Harimau Terbang.
Ki Waringin bukan orang bodoh.
Melihat perubahan wajah Sangga Juwana, sudah bisa diperkirakan nasib
murid-muridnya yang ditugaskan mengantar barang kiriman. Tapi meskipun
demikian, Ketua Perguruan Harimau Terbang ini inginmendengar sendiri mengenai
kejadian yang menimpa rombongan perguruannya dari mulut Sangga Juwana.
Bukan hanya Ki Waringin saja yang
ingin mendengar berita tentang rombongan Perguruan Harimau Terbang. Tapi juga
Ki Sancaka, walaupun sudah dapat menduga kejadian yang menimpa. Hal itu memang
terlihat dari sikap Sangga Juwana.
Tapi lain halnya bagi Dewa Arak.
Dia memang tidak ingin mengetahuinya, karena telah melihat sendiri kejadiannya.
Maka, pemuda berambut putih keperakan ini pun diam menunggu.
"Katakanlah, Sangga. Seburuk
apa pun berita yang akan kudengar, adalah lebih baik. Daripada, aku
bertanya-tanya sendiri dalam hati tanpa ada kepastian," desak Ki Waringin
ketika Sangga Juwana belum juga menceritakannya.
Sangga Juwana menarik napas
panjang-panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Mungkin dia berharap, dengan
melakukan hal itu akan membuat hatinya lebih tenang.
"Mereka semua telah tewas,
Guru," kata Sangga Juwana. Pelan sekali suaranya, sehingga mirip bisikan.
"Hhh...!"
Meskipun sudah menduga, tapi tak
urung Ki Waringin merasakan nyeri pada dadanya. Sehingga, tanpa sengaja
dihelanya napas berat.
Sementara, Ki Sancaka tahu
perasaan yang melanda hati sahabatnya. Maka ditepuk-tepuknya bahu Ki Waringin
untukmemberi kekuatan batin.
Ki Waringin menoleh sambil
melemparkan senyum penuh terima kasih pada Ketua Perguruan Naga Laut itu. Maka
senyum itulangsung disambut Ki Sancaka dengan anggukan kepala.
"Apakah Garuda Laut Timur
yang telah membunuh mereka, Sangga?" tanya Ki Waringin lagi, masih serak
suaranya. Jelas, berita yang baru saja didengar mempengaruhi jiwanya.
Sangga Juwana menggelengkan
kepala.
"Raja Ular Beracun yang
telah membunuh mereka semua, Guru. Dengan cara yang amat mengerikan!" Lalu
secara singkat dan jelas, laki-laki berkumis tebal itu menceritakan
kejadiannya. Sementara, Ki
Waringin dan Ki Sancaka
mendengarkan penuh perhatian. Hanya Dewa Arak seorang yang mendengarkannya
sambil lalu, karena memang telah tahu.
"Demikianlah ceritanya,
Guru. Kalau saja Arya tidak datang menolong, aku pun akan menjadi korban
kekejian Raja Ular Beracun itu," tutur Sangga Juwana mengakhiri ceritanya.
Ki Waringin tersenyum getir.
Ditatapnya wajah Sangga Juwana lekat-lekat
"Sayang sekali, Sangga. Aku
tidak akan pernah bisa membalas sakit hati Lantar dan yang lain-lain. Raja Ular
Beracun terlalu sakti bagiku."
Ada nada ketidakberdayaan dan
kegetiran yang amat sangat dalam ucapan Ki Waringin. Sehingga Arya, Sangga
Juwana, dan Ki Sancaka merasa terharu mendengarnya.
"Ah! Mengapa aku begini
cengeng!" sentak Ki Waringin mendadak dan tiba-tiba.
Rupanya Ketua Perguruan Harimau
Terbang ini mulai menyadari ketidakpantasan sikapnya. Maka diusahakannya untuk
mengeluarkan kata-kata bernada jantan. Tapi, tetap saja terdengar sumbang di
telinga.
"Ah! Aku tolol! Tolol
sekali! Mengapa harus bersedih? Yang telah mati, ya relakan! Sekalipun kita
menangis darah pun, yang telah mati tidak akan hidup kembali! Hey, Sangga!
Hilangkan kesedihanmu! Tidak malukah kalau kecengenganmu dilihat Dewa
Arak?!"
Usai berkata demikian, Ki
Waringin menyunggingkan senyum di bibir. Tapi karena perasaan sedih belum
sepenuhnya hilang, senyum itulebih mirip seringai kesakitan.
Sangga Juwana pun berusaha
tersenyum, meskipun terasa pahit dan datar. Akibatnya, senyumnya jadi terlihat
kecut.
"Ki...,"tegur Arya
hati-hati.
"Ada apa, Arya?" tanya
Ki Waringin. "Ada yang bisa kubantu?" "Banyak, Ki. Banyak
sekali," sahut Arya.
"Kalau begitu,
katakanlah."
Pemuda berambut putih keperakan
itu tidak langsung mengutarakan hal yang ingin dikatakannya. Dia tercenung
sebentar memikirkan kata-kata yang tepat.
"Sebelumnya, aku ingin minta
maaf, Ki. Bukannya aku bermaksud untuk ikut campur dalam masalah
perguruanmu," kata Arya, memulai. "Tapi karena masalah ini telah
membesar, terpaksa aku memberanikan diri untuk ikut campur. Dan untuk itu, aku
membutuhkan bantuanmu, Ki."
Ki Waringin tertegun sejenak.
Kemudian, ditatapnya wajah Ki Sancaka. Tapi, yang ditatap malah angkat bahu.
"Katakanlah sejelas-jelasnya,
Arya. Mereka bingung kau bicara berputar-putar seperti itu," kata Sangga
Juwana.
Rupanya, laki-laki berkumis tebal
itu mengetahui arti raut wajah kedua kakek pemimpin perguruan yang membuka jasa
pengawalan barang itu. Memang wajah Ki Waringin dan Ki Sancaka sama-sama
menyiratkan kebingungan.
"Baiklah kalau begitu,"
sahut Arya mengalah.
Kemudian, pemuda berpakaian ungu
itu menatap wajah Ki Waringin dan Ki Sancaka berganti-ganti. "Begini, Ki.
Kedatanganku kemari sebenarnya hanya untuk mencari keterangan, yang barangkali
saja bisa
kugunakan untuk memecahkan
masalah pelik ini. Yaitu, masalah perampasan barang kawalan Perguruan Harimau
Terbang oleh tokoh-tokoh persilatan berbagai aliran dan tingkatan."
Arya menghentikan penuturannya
sejenak. Sedangkan Ki Waringin dan Ki Sancaka yang sejak tadi mendengarkan
penuh perhatian, kini mulai mengerti maksudpembicaraan Arya.
"Kau menemukan adanya
hal-hal yang aneh, Dewa Arak?" duga Ki Sancaka.
Kakek berpakaian coklat itu lupa
memanggil Arya dengan julukannya. Tapi, rupanya pemuda berambut putih keperakan
itu pun lupa. Buktinya, dia sama sekali tidak menegurnya.
"Benar, Ki. Apakah kau juga
menemukan dugaan yang sama?" balas tanya Arya penuh gairah. Ki Sancaka
mengangguk-anggukkan kepala.
"Baru saja aku dan Ki
Waringin memperbincangkan masalah itu, Arya. Jadi, kau rupanya tertarik untuk
mengungkap rahasia barang kiriman itu?"
"Aku hanya merasa heran
karena banyaknya tokoh persilatan dari berbagai aliran hitam dan tingkatan yang
mencoba merampas barang itu. Yang menjadi pertanyaan bagiku, apa sebenarnya
jenis barang itu sehingga membuat geger rimba persilatan."
"Jadi..., kau belum tahu
bentuk barang kiriman itu, Arya?"
Ada nada keheranan dalam suara
kakek berpakaian coklat itu. Dan memang, dia tidak menyangka kalau Dewa Arak
belum mengetahuinya.
"Benar, Ki," jawab Arya
jujur. "Justru karena ingin tahulah aku mengajak Sangga Juwana kemari. Apa
kau tahu, benda apa yang dikawal Sangga Juwana dan rekan-rekannya itu,
Ki?"
"Kalau secara pasti, aku
juga tidak tahu, Arya," jawab Ki Sancaka terus terang. "Tapi menurut
kabar yang tersiar, barang kawalan itu adalah sebuah kepala manusia."
"Kepala manusia, Ki? Lalu,
mengapa sampai membuat dunia persilatan gempar?" tanya Arya, tanpa
mehyembunyikan perasaan heran.
"Karena kepala itu bukan
sembarang kepala, Arya," jelas Ketua Perguruan Naga Laut itu.
Kemudian Ki Sancaka menceritakan
kepada Arya mengenai kepala itu (Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak
dalam episode "Kemelut Rimba Hijau").
Meskipun yang diceritakan adalah Arya,
tapi Sangga Juwana pun ikut mendengarkan pula. Memang, laki-laki berkumis tebal
itu juga belum mengetahuinya. Sedangkan Ki Waringin hanya diam saja. Dibiarkan
saja sahabatnya yang bercerita kepada Dewa Arak, karena Ki Sancakalah yang
lebih mengetahui.
Arya dan Sangga Juwana
mendengarkan cerita Ki Sancaka penuh perhatian. Sama sekali cerita kakek
berpakaian coklat itu tidak diselaknya hingga selesai.
Suasana menjadi hening ketika Ki
Sancaka menyelesaikan cerita. Masing-masing telah tenggelam dalam alun pikiran.
"Sekarang satu persoalan
telah berhasil ditemukan jawabannya. Yakni, teka-teki mengenai barang kiriman
itu," kata Arya setelah beberapa saat lamanya termenung. "Sekarang
tinggal dua masalah lagi."
"Apa itu, Arya?" tanya
Ki Waringin, angkat bicara.
"Orang yang telah
menyebarkan berita mengenai barang kiriman. Dan, untuk apa barang kiriman
itu?"jelas Arya.
"Aku tidak setuju dengan
pendapatmu, Arya," selak Ki Sancaka. "Kalau menurutku, belum ada satu
pun masalah yang terpecahkan. Semuanya masih gelap!"
Arya terkejut mendengar ucapan
Ketua Perguruan Naga Laut itu. Sedangkan Ki Sancaka tahu perasaan yang tengah
berkecamuk dalam hati Dewa Arak.
"Barang yang dikawal Sangga
Juwana dan kawan-kawannya belum tentu kepala manusia. Bahkan kalau boleh
kutebak, tengkorak itu adalah tengkorak kepala monyet besar. Sejenis orang
hutan!"
Usai berkata demikian, Ki Sancaka
menudingkan telunjuknya ke arah kepala orang hutan yang tergeletak di tanah.
"Itulah benda yang terdapat
di dalam peti yang akan dikirimkan rombonganPerguruan Harimau Terbang ke tempat
yang telah disepakati," runjuk Ki Sancaka
Arya, dan Sangga Juwana mengikuti
arah tudingan telunjuk Ki Sancaka. Maka, kontan sepasang mata mereka
terbelalak.
"Mengapa benda itu bisa
berada di sini?" tanyaSangga Juwana.
"Garuda Laut Timuryang
membawanya. Dan karena benda itulah, dia inginmembunuh gurumu, Sangga."
"Mengapa demikian, Ki?" tanya Sangga Juwana masih belum mengerti.
"Garuda Laut Timur jauh-jauh
datang untuk merampas barang kawalanmu. Konon, dia telah mendengar berita yang
tersiar di dunia persilatan, bahwa iring-iringan Perguruan Harimau Terbang
membawa kepala tokoh sesat pemilik ilmu 'Rawa Rontek' yang meninggal dunia
seratus lima puluh tahun yang lalu. Maka, bisa kau bayangkan sendiri
kemarahannya ketika benda yang diperebutkannya diketahui hanya kepala seekor
orang hutan. Dia merasa dipermainkan."
"Jadi, berita yang tersiar
di dunia persilatan itu hanya kabar bohong belaka?" Sangga Juwana jadi
bingung sendiri.
"Itulah yang harus kita
pecahkan, karena itulah pokok masalahnya!" sambut Ki Sancaka, cepat.
"Lalu..., bagaimana caranya memecahkan masalah yang rumit itu?"tanya
Sangga Juwana lagi.
Kalau saja rekan-rekannya dari
Perguruan Harimau Terbang masih hidup, pasti akan merasa heran bukan kepalang
melihat sikap Sangga Juwana. Laki-laki berkumis tebal itu dikenal sebagai orang
yang mampu menyelesaikan persoalan, betapapun rumitnya. Tapi sekarang?
"Tentu saja mencari hal-hal
yang ada hubungannya dengan barang itu," sahut Dewa Arak. "Betapapun
tampaknya remeh, tapi jangan diabaikan. Bukan tidak mungkin dari situlah akan
ditemukan pemecahan masalah pelik ini."
Ki Sancaka dan Ki Waringin
mengangguk-anggukkan kepala, pertanda menyetujui ucapan pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Kalau menurut pendapatmu,
dari mana kita harus memulai, Arya?" tanya Ki Waringin, ingin tahu
pendapat Dewa Arak.
Dewa Arak tidak langsung menjawab
pertanyaan Ki Waringin. Dia tercenung sejenak, dengan dahi berkernyit
"Kalau menurut
pendapatku..., kita harus menyelidikinya dari awal dulu, Ki?" kata Arya
mengutarakan pendapat.
"Maksudmu, dari
pemilikbarang?" Ki Sancaka yang menyambuti. "Benar, Ki."
"Usulmu sama dengan rencana
yang akan kujalankan, Arya!" sambut Ki Sancaka, gembira. "Kita harus
yakinkan dulu kalau dari pemiliknya, barang kiriman itu benar kepala tokoh
sesat pemilik ilmu'Rawa Rontek'. Dan, bukan kepala seekor orang hutan."
"Dan untuk itu, bantuan Ki
Waringin sangat kita perlukan," sambut Arya, sambil melirik Ketua
Perguruan Harimau Terbang.
"Dengan senang hati aku akan
membantu kalian," mantap dan tegas kata-kata yang keluar dari mulut Ki
Waringin.
"Apa yang dikatakan Arya
tidak salah, Waringin. Kau adalah satu-satunya saksi hidup yang mengenali
pengirim barang itu. Hanya, kau yang mengenalnya dan bukan orang lain!"
dukung Ki Sancaka.
"Lalu..., ke mana kita harus
mencarinya?" tanya Ki Waringin, bingung. "Aku sama sekali tidak tahu
tempat tinggalnya."
Arya, Sangga Juwana, dan Ki
Sancaka pun terdiam seketika. Kembali mereka menemukan jalan buntu. Dahi
masing-masing tampak berkernyit, pertanda benak mereka tengah dipakai untuk
berpikir keras.
"Mengapa tidak ke tempat
tujuan pengiriman saja, Guru?" celetuk Sangga Juwana tiba-tiba.
Kontan semua wajah berseri.
Sungguhtidak disangka, jalan keluarnya akan bisa ditemukan semudah itu.
"Sebuah usul yang bagus," puji Arya, tulus.
Berbeda dengan Dewa Arak, Ki
Waringin dan Ki Sancaka sama sekali tidak memuji Sangga Juwana. Tapi, sorot
kebanggaan terpancar jelas pada sinar mata Ketua Perguruan Harimau Terbang itu.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi?" tanya Ki Sancaka bernada teguran. "Mari kita satroni tempat
tujuan pengiriman barang itu."
Sesaat kemudian, empat orang
gagah ini segera melangkah meninggalkan tempat itu. Tujuan mereka sudah jelas,
tempat tujuan pengiriman barang. Desa Sintang!
2
Angin kering membawa debu bertiup
lembut. Hari memang belum siang. Matahari juga belum lama muncul di ufuk Timur.
Hembusan angin memang masih semilir. Tapi karena daerahnya kering dan berdebu,
maka tiupan angin itujadi tidak terasa nikmat sama sekali.
Empat sosok laki-laki yang
mengenakan pakaian berlainan, mendekapkan tangan ke wajah ketika angin yang
membawa debu berhembus lebih keras dari sebelumnya. Wajah mereka tentu saja
tidak ingindilumuri debu.
"Itu Desa Sintang,
Arya," kata laki-laki berkumis tebal yang mengenakan pakaian putih. Dia
tak lain dari Sangga Juwana.
Sambil berkata demikian, Sangga
Juwana menudingkan jari telunjuk kanannya ke depan. Memang, di kejauhan tampak
tembok batas sebuah desa. Apa lagi kalau bukan tembok batas Desa Sintang?
"Jadi di situkah tempat
tinggal Juragan Dursana, Sangga?" tanya pemuda berambut putih keperakan
yang memang Dewa Arak.
Sementara itu, dua orang tua yang
mendampingi mereka tak lain dari Ki Sancaka dan Ki Waringin. Ada sedikit
kelainan pada diri Ki Sancaka, Ki Waringin, dan Sangga Juwana. Ketiga orang itu
walaupun masih mengenakan pakaian perguruan masing-masing, namun tidak nampak
adanya sulaman gambar harimau bersayap atau naga emas. Memang, atas persetujuan
Ki Waringin dan Ki Sancaka, diputuskan untuk melepaskan saja lambang perguruan
masing-masing demi kelancaran tugas.
"Hehhh...?!
Apaitu?"tanya Arya ketika melihat adanya sesosok tubuh yang berlari cepat.
Dewa Arak mengernyitkan dahi.
Pandangan matanya yang tajam menangkap adanya keanehan dari sesosok tubuh yang
melesat cepat ke arah mereka. Sebentar saja, pemuda berpakaian ungu itu tahu
kalau sosok tubuh yang tengah berlari ternyata tidak bertangan kosong. Ada
sesuatu yang dipanggulnya di pundak.
Bukan hanya Arya saja. Sangga
Juwana, Ki Waringin, dan Ki Sancaka pun memperhatikan penuh perhatian. Dan
sesaat kemudian, tampak jelas terlihat oleh sepasang mata mereka.
Untuk beberapa saat lamanya,
Arya, Ki Waringin, dan Ki Sancaka, serta Sangga Juwana kebingungan. Tapi
sebentar kemudian mereka sadar dan mengerti, ketika mendengar jeritan meminta
pertolongan. Sosok tubuh yang tengah berlari menuju ke arah mereka itu membawa
seseorang di pondongannya.
"Tolong...!Tolong...!"
Kembali terdengar jeritan yang
menilik dari nadanya, jelas keluar dari mulut seorang wanita.
"Keparat!" geram Sangga Juwana.
Laki-laki berkumis tebal ini
sudah bisa memperkirakan, apa yang tengah terjadi. Sosok tubuh yang tengah
menuju ke arah mereka jelas seorang penculik wanita! Dan tentu saja sudah bisa
diperkirakan, apa yang akan dilakukannya!
Yakin akan dugaannya, membuat
Sangga Juwana bergerak melesat mendahului tiga orang teman seperjalanannya.
"Biar aku yang memberi
pelajaran pada makhluk terkutuk itu, Guru."
Begitu ucapan yang dikeluarkan
Sangga Juwana, sebelum tubuhnya melesat menghadang kedatangan sosok tubuh itu.
"Jangan sembrono, Sangga!
Selidiki dulu kebenarannya!" nasihat Ki Waringin.
Sangga Juwana yang sudah berada
beberapa tombak dari tempat semula, tidak sempat menyambutinya lagi. Dia hanya
menganggukkan kepala, pertanda akan mematuhi nasihat yang diberikan gurunya.
Ki Sancaka, Ki Waringin, dan Dewa
Arak sama sekali tidak mengejar Sangga Juwana. Dibiarkan saja laki-laki
berkumis tebal itumencoba membereskan masalah. Ketiga orang itu hanya
memperhatikan saja dari kejauhan.
***
Sementara itu, Sangga Juwana
dengan penuh semangat berlari menyongsong kedatangan sosok tubuh yang ternyata
berpakaian kuning. Sosok itu tampak tengah memanggul seseorang yang diyakini
Sangga Juwana sebagai wanita. Karena kedua belah pihak sama-sama bergerak
mendekat, maka tak berapa lama kemudian jarak mereka telah demikian dekat.
"Berhenti...!" teriak
Sangga Juwana ketika jaraknya tinggal tiga tombak lagi dari sosok berpakaian
kuning itu.
Sosok berpakaian kuning itu
menghentikan larinya. Seketika, dirayapi sekujur tubuh Sangga Juwana penuh
selidik.
Sangga Juwana juga bertindak
sama, merayapi sosok tubuh berpakaian kuning di hadapannya.
Sosok tubuh berpakaian kuning itu
ternyata seorang laki-laki yang terlihat matang. Usianya tentu tidak akan
kurang dari tiga puluh tahun. Tubuhnya sedang, tertutup pakaian yang terlihat
indah. Wajahnya juga cukup tampan. Apalagi dengan adanya sebaris bulu-bulu
halus di bawah hidungnya. Laki-laki berpakaian kuning itu ternyata seorang
pesolek. Benda kecil berbentuk seekor kumbang terbuat dari emas, tampak
menghiasi keningnya.
"Siapa kau?!
Berani-beraninya kau menghadang jalanku!" bentak laki-laki berpakaian
kuning, keras. "Hmh...! Kukira siapa. Rupanya kau, Kumbang Emas!"
desis Sangga Juwana sambil mengangguk-
anggukkan kepala.
Rupanya, Sangga Juwana mengenal
laki-laki berpakaian kuning di hadapannya. Dan memang, hal itu tidak aneh.
Sangga Juwana adalah seorang pengawal barang kiriman yang telah puluhan kali
menjalankan tugasnya dengan baik. Hubungannya dengan tokoh-tokoh dunia persilatan
amat luas. Tak aneh kalau tokoh persilatan dari berbagai aliran banyak
dikenalnya. Meskipun, sebagian besar hanya dikenal lewat ciri-cirinya saja.
Wajah laki-laki berpakaian kuning
itu berubah pucat. Raut keterkejutan tampak jelas di wajahnya.
"Kalau sudah tahu, mengapa
tidak lekas menyingkir?" sambut laki-laki berpakaian kuning yang ternyata
berjuluk Kumbang Emas. Secercah senyum mengejek tersungging di bibirnya.
Memang, Kumbang Emas semula
terkejut bukan kepalang kalau julukannya banyak dikenal orang. Tapi, hanya
sebentar saja perasaan itu melanda. Bahkan dia langsung bisa merubah sikap,
dengan menggertak Sangga Juwana.
"Menyingkir katamu, Manusia
Cabul?!" sahut Sangga Juwana tak kalah gertak. "Justru sudah lama aku
mencari-carimu, tahu! Kau adalah manusia terkutuk yang harus cepat-cepat
dimusnahkan dari muka bumi sebelum semua wanita menjadi korbanmu!"
Sambil berkata demikian, Sangga
Juwana melayangkan pandangan sekilas ke arah sosok dalam pondongan Kumbang,
Emas. Dugaannya tidak salah. Orang yang dipondong Kumbang Emas adalah seorang
wanita berpakaian hijau.
"Kalau begitu, kau mencari
penyakit sendiri, Keparat!"
Si Kumbang Emas menggeram keras.
Dia marah bukan kepalang melihat kekerasan hati orang yang lancang
menghadangnya. Namun demikian, Kumbang Emas bukan orang bodoh! Dia tahu, calon
lawannya tidak sendirian. Di belakangnya masih ada tiga orang lagi. Memang,
tadi laki-laki berpakaian kuning ini melihat kalau Sangga Juwana berjalan
bersama-sama dua orang tua, dan seorang pemuda berambut putih keperakan. Dia
pun melihat pula ketika orang di hadapannya ini memisahkan diri dari rombongan.
Sekali pandang saja, Kumbang Emas
tahu kalau tiga orang yang masih berjarak sekitar sepuluh tombak di belakang
calon lawannya, bukan orang sembarangan. Langkah mereka yang rata-rata ringan
telah mempertebal dugaan Kumbang Emas.
Kumbang Emas memutar otaknya
untuk mencari jalan keluar dari keadaan yang tidak menguntungkan ini. Dan
karena otaknya memang telah terbiasa melakukan hal-hal yang licik, sekejap
kemudian sebuah jalan telah ditemukan.
Tampak seulas senyum keji
tersungging di bibir Kumbang Emas. "Kau menginginkan wanita ini, Keparat?!
Ambillah untukmu!"
Pada saat ucapan itu berakhir,
Kumbang Emas melemparkan tubuh wanita yang dipanggulnya ke arah Sangga Juwana.
Wuttt...! "Hey...!"
Sangga Juwana terkejut bukan
kepalang. Disadari kalau tidak buru-buru ditangkapnya, wanita yang hampir saja
menjadi korban kekejian nafsu setan Kumbang Emas akan tewas. Maka tanpa
berpikir dua kali, Sangga Juwana segera membalikkan tubuh dan melesat mengejar
tubuh wanita itu.
Inilah kesempatan licik yang
ditunggu-tunggu Kumbang Emas. Begitu Sangga Juwana membalikkan tubuh dan
melesat mengejar tubuh wanita itu, tangannya segera dimasukkan ke balik baju.
Dan ketika tangan itu keluar lagi, di tangannya telah tergenggam beberapa buah
benda berbentuk kumbang berwarna kuning keemasan. Hanya saja, benda itu
tidakterbuat dari emas sungguhan seperti yang bertengger di dahi.
Wuttt...!Tiba-tiba, wanita yang dipanggulnya
dilemparkan begitu saja oleh Kumbang Emas!
"Hey...!" Sangga Juwana
sangat terkejut. Buru-buru ia melesat mengejar wanita itu. Sangga Juwana sama
sekali tidak menyadari siasat Kumbang Emas! Kini, bahaya sedang mengintainya!
Benda-benda yang berbentuk
kumbang itu terbuat dari logam. Lagi pula, pada bagian kepalanya terdapat
bagian yang meruncing. Tampaknya tajam mengkilat, dan cukup panjang.
Dan secepat benda-benda berbentuk
kumbang itu tergenggam di tangan, secepat itu pula dilemparkan ke arah Sangga
Juwana. Kemudian, dia langsungmelesat kabur, menempuh arah ke kanan.
Wut, wut, wut...!
Sangga Juwana begitu terperanjat.
Walau tidak melihat, tapi dari suara desingan yang tertangkap telinga,
laki-laki berkumis tebal ini tahu akan ada bahaya yang tengah mengancam.
Padahal, saat itu tubuhnya tengah berada di udara. Apalagi dia tengah melompat
untukmenangkap tubuh wanita berpakaian hijau.
Haruskah niatnya diurungkan?
Tapi, bagaimana mungkin Sangga Juwana melakukan hal itu? Kakinya sama sekali
tidak mempunyai pijakan untuk melenting. Dalam waktu sekejap itu, Sangga Juwana
mengambil keputusan nekat! Maksudnya tetap diteruskan untuk menangkap tubuh
wanita berpakaian hijau yang masih melayang. Tapi pada saat yang bersamaan,
tubuh Sangga Juwana menggeliat. Ini dilakukan untuk menyelamatkan diri dari
ancaman bahaya maut yang tidak diketahui bentuknya. Memang, hanya itulah
satu-satunya jalan yang bisa dilakukan, Sangga Juwana.
"Sangga! Awaaas...!"
teriak Ki Waringinmemperingatkan.
Memang, Ketua Perguruan Harimau
Terbang ini melihat adanya bahaya mengancam terhadap keselamatan muridnya.
Bukan hanya dia saja yang melihatnya, tapi juga Ki Sancaka, dan Arya.
Tidak cukup dengan peringatan
saja, Ki Waringin segera melesat ke depan untuk menyelamatkan nyawa muridnya.
Dan pada saat yang bersamaan, Ki Sancaka dan Arya melesat pula.
Ketiga orang ini seperti berlomba
menyelamatkan Sangga Juwana. Raut kecemasan tampak di wajah Ki Waringin, Ki
Sancaka, dan Arya. Memang, serangan mendadak itu sama sekali tidak diduga.
Sementara itu.... Tappp!
Sangga Juwana berhasil menangkap
tubuh wanita berpakaian hijau. Dan pada saat tubuhnya tengah meluruk turun
itulah beberapa senjata rahasia yang dikirimkan Kumbang Emas meluncur ke
arahnya.
Sudah dapat diperkirakan,
benda-benda berbentuk kumbang ini akan menghunjam tubuh Sangga Juwana. Namun di
saat yang gawat itu, berhembus serangkum angin keras memapak luncuran
senjata-senjata rahasia yang mengancam tubuh Sangga Juwana. Dewa Arak yang tahu
akan sempitnya waktu, sambil melompat menghentakkan kedua tangannya ke arah
senjata-senjata rahasia yang dikirimkan Kumbang Emas.
Prattt...!
Benda-benda berbentuk kumbang itu
langsung terpental balik ke arah Kumbang Emas, begitu terpapak hembusan angin
keras yang dihentakkan oleh kedua tangan Dewa Arak.
"Hup!"
Ketika kedua kaki Sangga Juwana
hinggap di tanah, Ki Sancaka, Ki Waringin, dan Dewa Arak pun telah berada di
sebelahnya.
"Dugaanku benar, Guru,"
lapor Sangga Juwana. "Orang itu adalah penjahat terkutuk! Dia Kumbang
Emas, Guru!"
Sangga Juwana kemudian segera
membebaskan totokan pada wanita berbaju hijau, yang telah dilakukan Kumbang
Emas. Lalu, dibiarkannya wanita itu berdiri.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Kang,"kata wanita berpakaian hijau itu pada Sangga Juwana.
"Lupakanlah," sahut Sangga Juwana.
***
Sementara itu, Dewa Arak yang
mendengar ucapan Sangga Juwana langsung melesat mengejar Kumbang Emas. Bahkan
Arya telah bertekad untuk melenyapkan Kumbang Emas selama-lamanya. Dan untuk
itu, alasan Dewa Arak amat kuat. Memang Dewa Arak paling benci terhadap
penjahat pemerkosa wanita! Tidak ada kata ampun baginya apabila bertemu
penjahat seperti itu.
Kumbang Emas kelabakan ketika
mengetahui dirinya dikejar. Segera seluruh ilmu meringankan tubuhnya dikerahkan
sampai ke puncaknya dalam usaha untuk melarikan diri sejauh-jauhnya.
Dapat dibayangkan betapa kaget
hati tokoh durjana ini ketika ekor matanya melihat seleret bayangan ungu
melesat lewat sebelahnya. Bahkan kemudian menyusulnya. Dan ketika telah
berjarak beberapa tombak di depannya, sosok bayangan ungu itumenghentikan
lesatan dan membalikkan tubuh.
Dengan sendirinya, Kumbang Emas
menghentikan larinya. Dirayapinya sejenak sekujur tubuh sosok bayangan ungu
yang tak lain dari Dewa Arak. Diam-diam, bulu tengkuk Kumbang Emas meremang
ketika melihat
tidak ada tanda-tanda kelelahan
sedikit pun kalau Arya telah mengerahkan kemampuan untuk mengejar dirinya.
Padahal, dia sendiri agak terengah-engah.
Dari sini saja, sudah dapat
diperkirakan kalau Dewa Arak memiliki ilmukepandaian yang amat tinggi. Dan dugaannya
semakin menguat ketika teringat senjata-senjata rahasianya yang dirobohkan
pemuda berambut putih keperakan itu pula.
Tengkuk Kumbang Emas terasa
dingin ketika teringat akan tokoh yang memiliki ciri seperti yang dimiliki
pemuda berambut putih keperakan itu. Dewa Arak! Benarkah pemuda yang berdiri di
hadapannya ini Dewa Arak?! Kalau memang demikian, nasib celakalah yang akan
menimpanya! Mana mungkin dia mampu menghadapi Dewa Arak!
Tanpa pikir panjang lagi, Kumbang
Emas segera membalikkan tubuh. Rupanya, dia bermaksud melarikan diri ke lain
arah. Namun, langkahnya kontan terhenti ketika di belakangnya berdiri empat
sosok tubuh. Yang berdiri paling depan adalah Ki Waringin. Sementara Ki
Sancaka, Sangga Juwana, dan wanita berpakaian hijau, berdiri di belakangnya.
Seketika wajah Kumbang Emas pucat
pasi. Disadari kalau dirinya tidak akan mungkin bisa lolos lagi! Maka otaknya
segera diputar untuk bisa meloloskan diri.
"Luar biasa! Apakah kalian
ini adalah gerombolan pengecut yang bermaksud mengeroyokku?! Ha ha ha...!
Majulah! Kumbang Emas tidak bakal takut menghadapi keroyokan!" teriak
Kumbang Emas memulai siasat liciknya. Ki Waringin, Ki Sancaka, Sangga Juwana,
dan Arya bukan orang bodoh. Mereka tentu saja tahu maksud
tokoh durjana ini mengucapkan
kata-kata seperti itu. Meskipun demikian, tetap saja membuat wajah mereka
memerah.
"Menghadapi manusia busuk
sepertimu, tidak perlu mengandalkan keroyokan!" tandas Ki Waringin.
"Ah! Begitukah?!"
sambut Kumbang Emas bersikap meremehkan ucapan Ki Waringin. Bahkan seulas
senyum mengejek pun menghias wajahnya. "Jadi, kalian akan menghadapiku
satu persatu! Bila satu di antara kalian kalah, lalu diganti yang lain. Begitu?
Ah, benar! Siasat kalian benar-benar jitu. Aku akan mati kelelahan!"
"Tutup mulutmu, Manusia
Cabul!" bentak Sangga Juwana tak kuat menahan kemarahan. "Untuk
menghadapi orang busuk sepertimu, aku pun sudah cukup! Kalau berhasil
mengalahkan diriku, kau boleh bebas pergi dari sini!"
"Sangga!" seru Ki
Waringin dan Ki Sancaka terkejut.
Ketua Perguruan Harimau Terbang
dan Ketua Perguruan Naga Laut itu memang kaget bukan kepalang mendengar ucapan
Sangga Juwana. Sama sekali tidak disangka kalau Sangga Juwana akan mengeluarkan
perkataan seperti itu. Sungguh merupakan sebuah sikap yang ceroboh. Bahkan Arya
pun diam-diam menyayangkan sikap yang diambil laki-laki berkumis tebal itu.
Kini mereka hanya dapat menunggu
sambutan Kumbang Emas. Harapan mereka, penjahat cabul itu akan menolak usul
yang diajukan Sangga Juwana. Tapi, ketiga orang lelaki ini tahu kalau hal itu
tidak mungkin. Karena mereka tahu, Kumbang Emas memang menunggu-nunggu
keluarnya ucapan itu. Buktinya sejak tadi laki-laki berpakaian kuning itu
tengah memancing-mancing keluarnya ucapan itu. Dan dugaan mereka rasanya tidak
akan keliru. Kini tampak sepasang mata Kumbang Emas berkilat-kilat gembira.
"Kalau itu memang sudah
menjadi kehendakmu, akan kuturuti, Kecebong Kecil!" sambut Kumbang Emas
cepat. Hatinya merasa lega karena tidak menyangka siasat yang dijalankannya
berlangsung mulus.
"Semua yang ada di sini menjadi
saksi atas ucapanmu!"
"Kami bukan orang semacam
dirimu, Kumbang Emas!" tandas Sangga Juwana tegas. "Sangga!"
tegur Ki Waringin lagi.
"Biar, Guru. Aku yang akan
menghabisi riwayat penjahat cabul ini!" sergah Sangga Juwana gagah.
"Hhh...!" Ki Waringinmenghela napas berat. "Hati-hati,
Sangga!"
"Akan kuperhatikan semua
nasihatmu, Guru!" sahut Sangga Juwana gagah sambil melangkah maju.
Sementara Arya, Ki Waringin, dan Ki Sancaka terpaksa melangkah mundur untuk
memberi tempat pada
kedua pihak yang akan bertarung.
Mereka kini memperhatikan gerak-gerik Sangga Juwana dan Kumbang Emas dengan
hati berdebar tegang, dan merasa khawatir akan keselamatan Sangga Juwana.
Kumbang Emas sebenarnya adalah
seorang tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi. Dan itu bisa diketahui
dari ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, dan juga kekuatan tenaga dalamnya
sewaktu melemparkan benda-benda berbentuk kumbang. Akan mampukah laki-laki
berkumis tebal itu menghadapi lawannya?
Sementara itu, Sangga Juwana dan
Kumbang Emas tampak sudah siap siaga. Kedua belah pihak sudah mengambil jarak.
Sepasang mata mereka menatap satu sama lain. Untuk sesaat lamanya, kedua belah
pihak tidak saling menggebrak, tapi hanya saling menilai kepandaian lawan
melalui pandangan.
"Haaat...!"
Kumbang Emas ternyata mulai
menyerang lebih dulu. Serangannya dibuka dengan sebuah tendangan lurus ke arah
perut.
Wuttt!
Tendangan itu mengenai tempat
kosong ketika Sangga Juwana menarik kaki kanannya mundur sambil mendoyongkan
tubuh ke belakang.
Kumbang Emas tidak merasa
penasaran melihat serangannya berhasil dielakkan lawan secara mudah. Kembali
dilancarkan serangan susulan. Kakinya yang tidak berhasil disarangkan ke
sasaran, ditarik setengah jalan. Kemudian, kembali diluncurkan dalam bentuk
tendangan miring ke arah leher. Untuk melakukan hal ini, terpaksa Kumbang Emas
harus mengubah letak tubuhnya.
Kali ini, Sangga Juwana tidak
mengelak lagi. Rupanya dia sudah bisa memperkirakan kekuatan tenaga dalam. Dan
kini, laki-laki berkumis tebal itu menangkis tendangan dengan kedua tangannya.
Maksudnya hendak menangkis sekaligus menangkapnya.
Plakkk!
Suara berderak keras terdengar
ketika kaki dan tangan berbenturan. Akibatnya, tubuh Sangga Juwana
terhuyung-huyung tiga langkah ke balakang. Sedangkan lawannya hanya terhuyung
satu langkah. Jelas, tenaga dalam Kumbang Emas lebih kuat daripada Sangga
Juwana.
Kenyataan ini tentu saja tidak
hanya mengejutkan Sangga Juwana, tapi juga Ki Waringin, Ki Sancaka, dan Arya.
Rupanya Kumbang Emas tidak ingin
memberi kesempatan pada lawan. Secepat kekuatan yang membuat tubuhnya terhuyung
dipatahkan, secepat itu pula serangan lainnya dilancarkan. Sesaat kemudian,
keduanya sudah terlibat pertarungan sengit.
3
Arya, Ki Sancaka, dan Ki Waringin
memperhatikan jalannya pertarungan dengan perasaan cemas. Benturan yang pertama
kali terjadi antara Sangga Juwana dan Kumbang Emas, telah membuat mereka
mengkhawatirkan keselamatan laki-laki berkumis tebal itu. Tapi apa yang dapat
dilakukan? Sangga Juwana sendirilah yang telah menentukan pilihannya!
Kini yang dapat mereka lakukan
hanyalah memperhatikan jalannya pertarungan, dan berharap Sangga Juwana dapat
memanfaatkan kesempatan.
Sementara itu, pertarungan yang
berlangsung telah berjalan semakin sengit. Namun perlahan-lahan, begitu
menginjak jurus ke lima belas, Kumbang Emas mulai dapat mendesak Sangga Juwana.
Hal ini tidak aneh, mengingat laki-laki berpakaian kuning ini memang memiliki
keunggulan dalam segala hal. Baik tenaga dalam maupun ilmumeringankan tubuh.
Sepertinya, robohnya Sangga Juwana hanya tinggal menunggu waktu saja.
Sekarang, Sangga Juwana lebih
banyak bertahan. Serangan-serangan yang dilancarkannya berkurang jauh. Bahkan
menangkis pun jarang dilakukan, karena hal itu akan merugikan dirinya. Kekuatan
tenaga dalamnya yang berada di bawah lawan, menyebabkan tangannya sakit-sakit
setiap kali terjadi benturan.
Semakin lama, keadaan Sangga
Juwana semakin memburuk. Bahkan menginjak jurus kedua puluh lima, dia sudah
tidak mampu melancarkan serangan lagi. Kini laki-laki berkumis lebat itu hanya
mengelak dari serangan lawan. Itu pun tampak terpontang-panting ke sana kemari
dalam upaya menyelamatkan selembar nyawa.
"Sangga! Kumbang Emas adalah
penjahat keji yang licik. Dia telah berhasil memperdayaimu dengan tantangannya.
Kalau kau kalah, dia akan lolos. Dan aku tidak suka hal itu terjadi. Kau
paham?! Maka aku akan memberi petunjuk padamu. Perhatikan baik-baik dan
ikuti!"
Mendadak Sangga Juwana tertegun.
Dia mendengar adanya suara bisikan halus di telinganya.
Sambil terus mengelakkan setiap
serangan yang dilancarkan, Sangga Juwana mendengarkan ucapan itu. Tanpa sadar
kepalanya terangguk ketika mendengar kalimat terakhir yang terdengar di
telinganya. Sangga Juwana tahu, siapa pemilik suara itu. Dewa Arak! Benar,
Aryalah yang berbicara padanya. Tapi, apakah tidak ada orang lain yang
mendengarnya?
Karena perasaan penasaran yang
mendera, Sangga Juwana sekilas memperhatikan wajah-wajah yang berada di
sekitarnya. Terutama sekali, wajah Kumbang Emas! Tapi, tidak nampak adanya
tanda-tanda kalau laki-laki berpakaian kuning itu mendengarnya.
Sangga Juwana sama sekali tidak
tahu kalau Dewa Arak telah menggunakan ilmu mengirim suara dari jauh. Bagi
orang yang telah memiliki tingkat kepandaian seperti Dewa Arak, hal itu seperti
merupakan pekerjaan mudah.
Dewa Arak benar-benar menepati
janjinya. Sesaat setelah ucapan itu dikeluarkan, petunjuk-petunjuk yang
dijanjikan pun muncul. Sedangkan Sangga Juwana segera mengikuti setiap petunjuk
yang diberikan Dewa Arak.
Memang, setelah Sangga Juwana
mengikuti petunjuk-petunjuk yang diberikan Dewa Arak dari jauh, perlahan-lahan
keadaannya yang sudah terdesak hebat mulai berubah. Laki-laki berkumis tebal
ini tidak lagi terpontang-panting seperti sebelumnya. Bahkan dengan gerakan
sederhana serangan Kumbang Emas sudah bisa dielakkannya.
Tak sampai lima jurus setelah
mendapat petunjuk dari Dewa Arak, keadaan telah kembali seperti sewaktu
pertarungan baru menginjak jurus-jurus awal. Bahkan Sangga Juwana sudah bisa
melancarkan serangan-serangan balasan kembali! Hebatnya, bagian-bagian yang
ditujunya adalah celah-celah terlemah dari tubuh lawan. Yang lebih gila lagi,
setiap serangannya selalu dilancarkan secara mendadak dan tiba-tiba.
Karuan saja hal ini membuat
Kumbang Emas kelabakan bukan kepalang. Sama sekali tidak disangka kalau keadaan
akan berubah seperti ini. Padahal, semula dia sudah yakin akan memenangkan
pertarungan, mengingat keadaan Sangga Juwana yang sudah terdesak.
Kumbang Emas hampir tidak percaya
melihat kenyataan yang dialaminya. Dan memang, hal itu sulit dipercaya! Jelas-jelas
kalau Sangga Juwana hanya memiliki kemampuan di bawahnya. Baik tenaga dalam,
maupun ilmu meringankan tubuh.Tapi mengapa dia bisa mendesak?
Bukan hanya laki-laki berpakaian
kuning itu saja yang dilanda perasaan bingung. Ki Sancaka, dan Ki Waringin pun
heran bukan kepalang. Beberapa kali kedua kakek ini menggelengkan kepala dan
mengucek-ucek mata, untukmeyakinkan diri kalau tidak salah lihat.
Namun ketika beberapa kali
melakukan hal itu, tetap saja tidak berubah. Padahal Ki Sancaka dan Ki Waringin
yakin kalau mereka tidak salah lihat. Buktinya, Sangga Juwana ternyata memang
berhasil mengimbangi Kumbang Emas.
Berbeda dengan Kumbang Emas yang
hanya bisa heran melihat perubahan mendadak itu, sementara di pihak Ki Sancaka
dan Ki Waringin bukanlah orang bodoh. Mereka tahu, Sangga Juwana tidak akan
mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Terutama sekali, Ki Waringin yang tahu
pasti kalau gerakan-gerakan yang dilakukan Sangga Juwana berlainan aliran
dengan miliknya.
Ki Sancaka dan Ki Waringin
langsung bisa menduga kalau ada orang yang telah memberi petunjuk pada Sangga
Juwana. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak? Kedua kakek ini tidak merasa heran
kalau Dewa Arak memiliki ilmu mengirimkan suara dari jauh. Sebagai orang-orang
yang telah memiliki tingkat kepandaian cukup tinggi, mereka sudah pernah
mendengar tentang ilmu itu. Meskipun, mereka tidak memilikinya.
Yakin akan kebenaran dugaannya,
maka kedua ketua perguruan itu pun mengalihkan pandangan ke arah Arya. Tapi,
alis Ki Sancaka dan Ki Waringin langsung berkerut ketika tidak terlihat adanya
tanda-tanda kalau pemuda berambut putih keperakan itu tengah mengerahkan ilmu
mengirim suara dari jauh. Buktinya, kedua bibir Dewa Arak tidak bergerak sama
sekali.
Ki Sancaka dan Ki Waringin sama
sekali tidak tahu kalau cara yang dilakukan Dewa Arak menandakan kalau
penguasaan ilmunya sudah begitu tinggi. Jadi tidak heran kalau komat-kamitnya
tentu saja tidak akan muncul.
Ki Sancaka dan Ki Waringin saling
berpandangan. Maka perasaan bingung kembali melanda kedua orang ini. Apakah
memang tidak ada orang yang membantuSangga Juwana?
Sadar kalau tidak ada gunanya
memikirkan hal itu, Ki Sancaka dan Ki Waringin langsung membuang pertanyaan
yang mengganggu benak mereka. Kini pandangan mereka dialihkan ke arah
pertarungan yang tengah berlangsung sengit.
***
Di arena pertarungan, keadaan
sudah berubah. Baik Sangga Juwana maupun Kumbang Emas tidak bertarung dengan
tangan kosong lagi. Mereka telah sama-sama menggenggam senjata. Kalau Sangga
Juwana menggunakan pedang, maka Kumbang Emas menggunakan kipas baja berwarna
kuning yang ujung-ujungnya lancip seperti pisau.
Dengan telah digunakannya senjata
masing-masing, maka pertarungan yang berlangsung pun jadi semakin ramai. Kedua
belah pihak tampak telah sama-sama mengerahkan seluruh kemampuan.
Hebat dan mengagumkan permainan
kipas Kumbang Emas! Benda itu memang merupakan senjata yang serba guna. Apabila
ditutup bisa seperti pedang, dan bila dibuka berguna sebagai tameng.
Meskipun demikian, permainan
pedang Sangga Juwana tidak kalah hebat. Pedang di tangannya menyambar-nyambar
secara tidak terduga-duga. Bahkan Ki Sancaka dan Ki Waringin yang melihatnya
pun jadi terbeliak kaget. Terutama sekali Ki Waringin! Dia tahu pasti kalau
permainan pedang Sangga Juwana bukan ilmu yang diajarkannya.
Orang yang paling merasakan
kedahsyatan ilmu pedang Sangga Juwana adalah Kumbang Emas! Laki-laki berpakaian
kuning ini merasakan betapa beratnya tekanan pedang yang dilancarkan lawannya.
Betapapun seluruh kemampuan yang dimiliki telah dikerahkan, tapi tetap saja
berada dalam pihak yang terdesak.
Dan pada jurus yang keempat puluh
tujuh.... "Akh...!"
Kumbang Emas menjerit kesakitan
ketika ujung pedang Sangga Juwana menyerempet pergelangan tangan kanannya.
Darah segar mengalir dari luka itu. Seketika itujuga, kipas yang digenggamnya
terlepas dari pegangan.
Dan sebelum Kumbang Emas sempat
berbuat sesuatu, pedang di tangan Sangga Juwana kembali meluncur cepat ke arah
perutnya. Dan....
Blesss! "Aaakh...!"
Kumbang Emas kontan melolong
kesakitan. Pedang Sangga Juwana menancap di perutnya, hingga tembus ke
punggung. Darah muncrat-muncrat seketika dari bagian yang terluka.
Sangga Juwana mencabut kembali
pedangnya dari perut Kumbang Emas. Maka, darah yang muncrat-muncrat pun semakin
banyak keluar.
Tubuh Kumbang Emas jadi terbungkuk.
Sepasang kelopak matanya pun membelalak lebar. Dengan kedua tangan, didekapnya
luka pada perutnya. Tapi karena terlalu besar, tetap saja darah mengalir deras
lewat celah-celah jarinya. Kedua kakinya pun tampak menggigil keras.
Sangga Juwana hanya memperhatikan
saja laki-laki berpakaian kuning itu berjuang melawan maut. Dia ingin tahu,
berapa lama Kumbang Emas mampu bertahan terhadap panggilan malaikat maut.
Ternyata, Sangga Juwana tidak
menunggu terlalu lama. Sesaat kemudian tubuh Kumbang Emas ambruk ke tanah.
Setelah berkelojotan meregang nyawa sebentar dia tidak bergerak lagi untuk
selama-lamanya. Tewas!
Sangga Juwana menghampiri.
Dibersihkannya batang pedangnya yang berlumuran darah, dengan cara
menggosok-gosokkannya pada pakaian Kumbang Emas. Baru setelah itu, dimasukkan
kembali ke dalam sarungnya.
Trek!
Sangga Juwana menatap wajah Ki
Sancaka, Ki Waringin, dan Arya serta wanita berpakaian hijau. Wajah-wajah
mereka tampak menyiratkan kegembiraan atas kemenangannya.
"Kau hebat, Sangga! Sungguh
tidak kusangka kalau kau bisa mengalahkan Kumbang Emas. O ya, dari mana
ilmu-ilmu hebat itu kau dapat? Dan mengapa kau tidak memberitahukannya
padaku?" sambut Ki Waringin ketika Sangga Juwana telah berada di dekatnya.
"Ah! Semuanya karena bantuan
Arya, Guru," jawab Sangga Juwana, gembira. "Terima kasih atas
pertolonganmu, Arya."
"Lupakanlah, Sangga!
Bukankah sekarang kita telah menjadi sahabat? Di antara sahabat, mana bisa ada
sikap sungkan-sungkan?" kalem jawaban yang keluar dari mulut Arya.
Ki Waringin dan Ki Sancaka saling
berpandangan. Jadi, benar. Rupanya Dewa Arak-lah yang telah membantu Sangga
Juwana, dengan memberi petunjuk dari jauh. Tapi, mengapa bibir Arya tidak
berkemik-kemik sama sekali?
"O ya, Arya. Bagaimana
caranya sehingga kau bisa mengirimkan suara padaku tanpa ada orang lain
mendengarnya?" tanya Sangga Juwana, ingin tahu.
Meskipun hanya laki-laki berkumis
tebal itu saja yang mengajukan pertanyaan, tapi secara diam-diam Ki Sancaka dan
Ki Waringin pun memasang kuping. Mereka rupanya juga ingin tahu jawaban yang
akan diberikan Dewa Arak. Hanya seorang saja yang tidak peduli terhadap masalah
yang diributkan keempat orang itu, yakni wanita berpakaian hijau.
"Aku menggunakan ilmu
mengirimkan suara dari jauh, Sangga," jawab Arya jujur. "Dengan ilmu
itu, aku bisa mengucapkan sesuatu terhadap orang yang kutuju, tanpa ada orang
lain yang mendengarnya."
"Ah...!" desah Sangga
Juwana penuh kagum. "Luar biasa...!"
"Tapi, mengapa tadi kami
lihat bibirmu tidak bergerak-gerak, Arya?" desak Ki Waringin bernada penuh
harap.
Arya hanya tersenyum.
"Tanda seperti itu hanya
akan nampak pada orang yang belum terlalu tinggi tingkat ilmu mengirim suara
dari jauhnya, Ki," jelas Arya, tanpa bernada menggurui.
Hampir bersamaan, Ki Sancaka dan
Ki Waringin mengangguk-anggukkan kepala. Perasaan kagum mereka terhadap Dewa
Arak menjadi semakin mendalam. Karena, jawaban tadi membuktikan kalau pemuda
berambut putih keperakan itu telah memiliki ilmumengirimkan suara dari jauh
yang hampir mencapai tingkat kesempurnaan.
"Bagaimana kalau kita
lanjutkan perjalanan lagi, Ki?" tanya Arya untuk mengalihkan persoalan.
"Boleh," jawab Ki
Waringin, singkat "Tapi..., apa tidak lebih baik kalau kita kembalikan
wanita itu ke tempatnya lebih dulu?"
Hampir bersamaan Arya, Ki
Sancaka, dan Sangga Juwana menganggukkan kepala. Jelas, mereka semua menyetujui
usul Ki Waringin.
Tanpa diminta, Sangga Juwana
segera menghampiri wanita berpakaian hijau itu.
"Siapa namamu, Nisanak?
Kalau aku, Sangga Juwana. Panggil saja aku Sangga," tanya laki-laki
berkumis tebal itu.
"Namaku Sarini," jawab
wanita berpakaian hijau, malu-malu.
"Sarini? Sebuah nama yang
bagus," puji Sangga Juwana sambil menatap wajah Sarini.
Karuan saja wajah Sarini jadi
merah. Jelas dia merasa malu mendapat pujian seperti itu. Wajahnya yang sudah
cantik, jadi semakinmenarik seiring memerah wajahnya.
"Kini kau telah selamat,
Sarini," kata Sangga Juwana yang diam-diam mengagumi kecantikan Sarini.
"Sekarang, kami akan mengantarkanmu kembali ke tempat tinggalmu. Bisa kau
beritahukan tempat tinggalmu?"
"Desa Sintang," jawab
Sarini.
"Desa Sintang?!" ulang
Sangga Juwana, gembira. "Mengapa bisa begitu kebetulan. Kami sendiri
tengah menuju ke sana."
"O ya, Sangga?!" Sarini
tampak terkejut juga. "Apakah ada urusan penting yang membuat kalian
hendak menuju ke desaku?"
Kini Sarini sudah bisa berbicara
agak banyak. Mungkin sikap Sangga Juwana-lah yang membuatnya jadi berani.
"Kami memang mempunyai
keperluan di sana," jawab Sangga Juwana apa adanya. "Kami tengah
mencari tempat tinggal orang yang bernama Juragan Dursana. Dan.... Hey! Kau...,
kenapa, Sarini?!"
Sangga Juwana terpaksa
menghentikan ucapannya ketika melihat wajah Sarini mendadak berubah.
Keterkejutan yang amat sangat tampak jelas pada raut wajah gadis itu.
Bukan hanya Sangga Juwana saja
yang menjadi heran melihat perubahan hebat di wajah wanita berpakaian hijau
itu. Dewa Arak, Ki Sancaka, dan Ki Waringin pun merasa heran juga. Namun dengan
pandainya, mereka menyembunyikan perasaan itu hingga tidak tampak pada wajah.
Meskipun demikian, ketiga orang itu tidak ingin ikut campur. Mereka membiarkan
saja Sangga Juwana yang mencoba menyelesaikan masalah itu.
"Aku tidak apa-apa,
Sangga," jawab Sarini sambil menyunggingkan senyum. Jelas, wanita
berpakaian hijau ini bermaksud menimbulkan kesan seolah-olah benar-benar tidak
mengalami apa pun.
Tapi Sangga Juwana orang yang
telah berpengalaman. Dia tahu, nama Juragan Dursana mempunyai arti bagi Sarini.
Itulah sebabnya, mengapa gadis itu merasa terkejut bukan kepalang ketika Sangga
Juwana menyebut nama tokoh penting di Desa Sintang itu.
Meskipun demikian, Sangga Juwana
memilih bertindak bijaksana. Maka, Sarini sama sekali tidak dipaksa untuk
menjelaskan mengenai Juragan Dursana. Bahkan sikapnya seolah-olah tidak
mengetahui keterkejutan Sarini.
"Syukurlah kau tidak
apa-apa. Aku khawatir sekali tadi, barangkali kau jatuh sakit?" Sangga
Juwana mencoba mengalihkan persoalan.
"Mungkin kau benar, Sangga.
Memang tadi aku merasa sedikit pusing,"sambut Sarini cepat. Rupanya, kini
dia sudah mendapatkan alasan untuk menutupi keterkejutan hatinya. "Tapi
sekarang, sudah agak sembuh."
"Syukurlah," hanya itu
yang diucapkan Sangga Juwana.
Suasana menjadi hening sejenak
ketika laki-laki berkumis tebal itu tidak berkata-kata lagi. Memang, Sarini pun
tidak bersuara lagi.
"Sebenarnya..., apa urusanmu
dengan Juragan Dursana, Sangga?" tanya Sarini memecahkan keheningan yang
terjadi.
Sangga Juwana tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Sudah diduga kalau gadis itu pasti akan menanyakannya.
Dan itu menunjukkan kalau Sarini ada hubungan dengan Juragan Dursana.
"Sebenarnya, tidak ada
urusan apa pun," jawab Sangga Juwana, jujur. "Kami sebenarnya pun
belum kenal dengan Juragan Dursana. Bahkan mendengar namanya karena orang lain
yang memberitahukannya."
"Kalau tidak ada urusan
apa-apa, mengapa ingin mengunjunginya?" kejar Sarini lagi, tanpa
menyembunyikan perasaan ingin tahunya.
"Kami adalah orang-orang
yang bertugas mengawal barang dengan imbalan bayaran. Dan kedatangan kami hanya
ingin memberitahukan padanya, kalau barang kiriman miliknya telah dirampas
orang. Dan tentu saja kami tidak ingin lepas dari tanggung jawab. Barangkali,
kami bisa mengganti kerugian yang dialami Juragan Dursana," jawab Sangga
Juwana agak sedikit berbohong.
Arya, Ki Sancaka, dan Ki Waringin
merasa puas mendengar penuturan Sangga Juwana. Mereka sudah khawatir sekali
kalau Sangga Juwana akan mengutarakan apa adanya. Kini, mereka tinggal menunggu
jawaban yang keluar dari mulut Sarini.
Sementara orang yang
ditunggu-tunggu untuk berbicara, masih terdiam. Tarikan wajahnya masih
menyiratkan kebimbangan.
"Sepengetahuanku..., Juragan
Dursana jarang dikirimi barang...,"sahut Sarini ragu-ragu.
"Hhh...!"
Sangga Juwana menghela napas
berat.
"Sebenarnya..., siapa
pemilik barang itu kami tidak tahu, Sarini. Yang jelas, ada orang yang membayar
kami untuk mengirimkan barang itu kepada Juragan Dursana di Desa Sintang.
Karena kami tidak tahu alamat pengirim barang itu, yahhh..., terpaksa kami
bermaksud memberitahukannya kepada orang yang menjadi tempat tujuan barang
kiriman," jelas Sangga Juwana, panjang lebar.
"Jadi...,
begitukiranya?" Sarini mulai mengerti.
"Benar, Sarini. Kau
bisamemberitahukannya pada kami, di mana tempat ringgal Juragan Dursana?"
Sarini menganggukkan kepala.
"Kalau begitu, mari kita
berangkat sekarang," ajak Sangga Juwana. Maka rombongan kecil itu kini
berangkat menuju Desa Sintang.
4
"Apa kalian tidak salah
alamat?"
Sebuah pertanyaan bernada lesu
terdengar dari dalam sebuah rumah besar dan terkurung pagar kayu bulat tinggi.
Suara itu ternyata berasal dari sebuah ruang tengah yang cukup luas. Di sana,
tampak duduk bersila enam sosok tubuh. Lima laki-laki, dan seorang wanita.
Sedangkan yang berbicara tadi ternyata seorang laki-laki setengah baya. Pakaian
mewah dan indah, membungkus tubuhnya yang berperut buncit.
Usai berkata demikian, laki-laki
berpakaian mewah itu mengedarkan pandangan berkeliling, ke arah empat sosok
tubuh di depannya. Sedangkan di sebelahnya adalah gadis berpakaian hijau yang
memang Sarini. Sementara empat sosok tubuhyang duduk di hadapannya, tak lain
dari Arya, Ki Sancaka, Ki Waringn, danSangga Juwana.
"Aku yakin tidak salah,
Dursa," jawab Ki Waringin, mantap. "Meskipun sudah tua, pendengaranku
tidak kalah dengan orang muda. Jelas sekali kalau pemilik barang itu meminta
agar barangnya diantar ke tempat tinggal Juragan Dursana, di Desa Sintang.
Bukankah kau yang bernama Juragan Dursana?"
"Kuakui, aku yang bernama
Juragan Dursana," jawab laki-laki berperut buncit itu. "Tapi secara
jujur kutegaskan, aku tidak tahu-menahu mengenai adanya barang kiriman itu
untukku."
"Lalu kalau bukan...,
mengapa minta dikirimkan ke alamat Ayah?" celetuk Sarini.
Sangga Juwana, Ki Sancaka, Arya,
dan Ki Waringin menatap ke arah Sarini. Pertanyaan gadis berpakaian hijau yang
ternyata putri Juragan Dursana itu membuat benak mereka berputar.
Sementara itu, Juragan Dursana
yang mendapat pertanyaan itu langsung mengangkat bahu. "Mana aku tahu,
Sarini?"laki-laki berpakaian mewah itu malah balas bertanya.
"Siapa tahu ada kawan baik
Ayah yang ingin memberi hadiah?" kata Sarini lagi. Juragan Dursana
menggelengkan kepala.
"Sepengetahuanku..., aku
tidak pernah mempunyai kawan seorang wanita muda. Apalagi, yang mempunyai
ciri-ciri seperti itu,"bantah Juragan Dursana.
Memang, Ki Waringin telah
menceritakan pada Juragan Dursana tentang orang yang telah mengirimkan barang.
Ki Sancaka, Ki Waringin, Arya,
dan Sangga Juwana yang memperhatikan tanya jawab anak beranak ini, langsung
berpandangan satu sama lain. Mereka semua yakin, Juragan Dursana sama sekali
tidak terlihat mengenai barang yang kabarnya berisi kepala tokoh sesat yang
tewas seratus lima puluh tahun lalu. Buktinya, raut wajah laki-laki berperut
buncit itu menyiratkan kesungguhan yang amat sangat.
"Juragan...," ucapan
Arya membuat Sarini men-urungkan niatnya untuk bertanya lagi.
"Hm...,"laki-laki berpakaian mewah itu meng-gumam pelan sambil
menoleh.
Jelas, Juragan Dursana ingin
mengetahui hal yang ingin dikatakan Arya. Bahkan, bukan hanya Juragan Dursana,
tapi juga semua orang yang berada di situ. Tak terkecuali Sarini. Sikap tenang
Dewa Arak itulah yang membuat orang ingin tahu hal yang akan dikatakannya.
"Kurasa, ada ketidakberesan
dalam masalah ini," lanjut Arya ketika semua pasang mata telah tertuju ke
arahnya.
"Maksudmu bagaimana,
Arya?" tanya Juragan Dursana, masih belum mengerti.
Laki-laki berperut buncit ini
memang telah mengenal nama empat orang tamunya, karena mereka telah saling
memperkenalkan diri sebelumnya.
Arya tidak langsung menjawab
pertanyaan itu. Pandangannya beredar ke arah wajah-wajah di sekelilingnya.
Tampak di wajah Ki Waringin dan Ki Sancaka sama sekali tidak tampak raut
kebingungan. Jelas, kedua kakek itu sudah mengerti maksud pembicaraannya.
"Kami sudah yakin, Juragan
tidak terlibat dalam masalah ini. Dan kami minta maaf, karena telah mengganggu
isrirahat Juragan."
"Ah! Sama sekali tidak,
Arya," sahut Juragan Dursana cepat. Kedua tangannya digoyang-goyangkan
untuk lebih menjelaskan kenyataan kalau dia sama sekali tidak merasa terganggu.
"Aku justru merasa senang atas kehadiran kalian. Aku berkata sejujurnya.
Tanpa kehadiran kalian, aku tidak bisa membayangkan hal yang terjadi pada
putriku...."
"Ah! Lupakanlah itu,
Juragan. Bukankah orang hidup memang harus saling tolong-menolong. Lagi pula,
bukan tidak mungkin suatu saat nanti Juragan atau Sarini yang akan ganti
menolongku," sambut Sangga Juwana cepat.
Arya, Ki Sancaka, dan Ki Waringin
menoleh menatap Sangga Juwana. Arya dengan alis berkernyit, sementara Ki
Waringin dan Ki Sancaka dengan bibir tersenyum. Dua tanggapan yang berbeda ini
terjadi akibat
mendengar jawaban Sangga Juwana
atas ucapan terima kasih yang disampaikan Juragan Dursana. Arya bingung karena
perasaan dia pernah mendengar perkataan seperti itu, tapi sayangnya lupa kapan
dan di mana mendengarnya. Sedangkan Ki Waringin dan Ki Sancaka merasa geli,
karena mendengar Sangga Juwana mengulang perkataan Arya.
"Tapi merupakan perbuatan
yang wajar pula kalau kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan kalian.
Coba bagaimana tanggapanmu kalau..., misalkan..., aku kau tolong, tapi tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Bagaimana?" debat Sarini.
"Ini..., ini...,"
Sangga Juwana kebingungan. Dan untuk beberapa saat lamanya, dia hanya
mengucapkan kata-kata yang tidak jelas maksudnya.
"Nah! Percaya tidak? Biar
bagaimanapun juga, basa-basi itu perlu, Sangga," ujar Sarini, bernada
menang ketika melihat Sangga Juwana sama sekali tidak bisa berbuat apa pun.
Bahkan hanya diam saja tanpa tahu harus berbuat apa.
Ki Sancaka, Dewa Arak, dan Ki
Waringin hanya tersenyum lebar melihat Sangga Juwana sama sekali tidak mampu
membalas bantahan gadis berpakaian hijau itu.
"Sudahlah, Sarini. Kau ini
keterlaluan sekali sampai menggoda orang," tegur Juragan Dursana, merasa
tidak enak hati.
Sarini pun diam, dan tidak
berkata-kata lagi. Tampak jelas kalau gadis berpakaian hijau ini adalah gadis
yang patuh.
"O ya, Arya," kata
Juragan Dursana sambil menatap pemuda berambut putih keperakan itu lekat-lekat
Rupanya, dia masihinginmelanjutkan pembicaraannya yang terputus tadi.
"Ada apa, Juragan?"
tanya Arya.
"Entah mengapa...,
akhir-akhir ini para penjahat kembali berani melancarkan undak kejahatannya. Di
desa ini saja, hampirsetiap hari terjadi kekacauan yang disebabkan orang-orang
aliran hitam itu.... Ah, akuingat!"
Juragan Dursana tersentak. Dia
tercenung beberapa saat lamanya, sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya
kembali. Sementara, Arya dan rombongan yang sempat terkejut melihat sikap
laki-laki berpakaian mewah itu hanya menunggu dengan sabar.
"Aku ingat sekarang. Semakin
mengganasnya tindakan orang-orang aliran hitam itu semenjak adanya kabar di
dunia persilatan. Kabar mengenai sebuah perkumpulan pengawalan barang yang
membawa kepala tokoh sesat. Bahkan tokoh sesat yang sudah meninggal dunia
seratus lima puluh tahun lalu. Ya! Sejak saat itulah di sana-sini terjadi
kekacauan."
Juragan Dursana menghentikan
ceritanya sejenak untuk mengambil napas.
"Untung saja, Desa Sintang
banyak memiliki tokoh aliran putih. Dan merekalah yang meredam tindak kejahatan
tokoh-tokoh aliran hitam itu."
Kembali Juragan Dursana
menghentikan ceritanya. Kali ini, untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak
kering. Sementara, Arya dan yang lain tetap diam mendengarkan.
"Dalam keadaan tidak aman
seperti itu, Sarini sudah kularang untuk bermain jauh. Tapi, tetap saja aku
kecolongan. Kumbang Emas telah menculiknya tanpa diketahui. Hhh...! Untungsaja
ada kalian. Kalau tidak...."
Sarini bergidik ngeri ketika
teringat kembali akan Kumbang Emas. Sudah bisa dibayangkan, nasib apa yang akan
menimpanya.
Sementara itu, Ki Waringin
berdehem ketika suasana telah hening, karena tidak ada yang membuka suara lagi
"Karena tidak ada lagi yang
dapat kami lakukan di sini, kami ingin pamit saja, Dursa," kata Ketua
Perguruan Harimau Terbang itu seraya bangkit berdiri.
Juragan Dursana tahu, tidak akan
ada gunanya lagi membujuk. Maka rombongan Ki Waringin diantarkannya sampai
pintu pagar rumahnya.
***
"Auuunggg...!"
Lolong anjing hutan mengaung
panjang mengusik kesunyian malam. Bulan sepotong yang ada di langit semakin
menambah keseraman suasana malam ini.
Dalam siraman sinar rembulan,
tampak dua sosok tubuh bergerak cepat menuju Gunung Bubat. Gerakan mereka gesit
bukan main, sehingga yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan yang bergerak
cepat mendaki lereng. Kalau saja ada penduduk yang melihat, tentu akan mengira
sebagai hantu-hantu yang tengah bergentayangan.
Lincah laksana kera, dua sosok
bayangan itu bergerak mendaki lereng. Sesekali, kaki kedua bayangan itu menotol
bebatuan yang menonjol, untuk kemudian melenting ke atas. Lalu, mereka menotol
lagi ke bebatuan, dan melenting lagi.
Gerakan dua sosok bayangan itu
baru berhenti ketika telah berada di depan sebuah gua yang garis tengahnya
sekitar satu tombak.
"Jadi di sini kau
menyembunyikannya, Cendani?"tanya salah satu dari dua sosokbayangan itu.
Orang yang dipanggil Cendani
menganggukkan kepala. Ternyata dia adalah seorang gadis cantik berkulit putih
bersih. Rambutnya juga tampak keritinghalus.
"Itu pun masihmenggunakan
cara kucing-kucingan. Kalau tidak...."
Cendani tidak melanjutkan
ucapannya. Tapi, rupanya sosok bayangan hitam satu lagi, yang ternyata seorang
kakek bertubuh tinggi kurus dan bergigi tonggos, sudah mengerti. Buktinya dia
tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Kini mereka berdua melangkah
menuju ke dalam gua itu. Tapi ketika telah berada di ambang gua, kakek bergigi
tonggos itumenghentikan langkahnya.
"Ada apa, Ki Ringkul?"
tanya Cendani, heran.
Kakek tinggi kurus yang ternyata
bernama Ki Ringkul tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ditatapnya wajah
Cendani tajam-tajam.
"Kalau aku berhasil
melaksanakan tugasku ini, kau berjanji akan memenuhi permintaanku?" Ki
Ringkul malah balas bertanya.
"Aku janji, Ki,"jawab
Cendani, mantap.
"Bagus! Sekarang hatiku
tenang! Mari kita ke dalam!"
Cendani dan Ki Ringkul pun
melangkah masuk ke dalam gua. Di dalam gua itu, ternyata tidak ada penerangan
sama sekali. Sehingga, suasana tampak gelap. Tapi baik Cendani maupun Ki
Ringkul sama sekali tidak mempedulikannya, dan terus saja melangkah masuk.
Menembus kegelapan yang pekat.
Tapi setelah melangkah sebanyak
lima tindak, Cendani mengambil dua batang kayu dari selipan pinggangnya.
Kemudian kedua batang kayu itu digosok-gosokkannya. Luar biasa! Hanya beberapa
kali gosok, api pun memercik, dan tak lama kemudian sebatang obor pun menyala.
Seketika itu pula, suasana di
dalam gua itu terang-benderang. Sehingga, kini mereka berdua dapat melangkah
leluasa.
Gua itu ternyata mempunyai lorong
yang panjang dan berliku-liku. Cendani dan Ki Ringkul harus melalui belokan
demi belokan. Entah berapa banyaknya belokan, kedua orang itu tidak
menghitungnya. Yang jelas, mereka menghentikan langkah ketika telah berada di
sebuah ruangan yang luas. Ukurannya tak kurang dari enam tombak kali lima
tombak.
Ki Ringkul mengedarkan pandangan
ke sekeliling ruangan itu. Tidak ada apa-apa di dalamnya, kecuali dua buah peti
hitam berukir. Yang satu berukuran dua jengkal kali dua jengkal, sedangkan yang
satunya lagi berukuran biasa. Ukurannya seperti layaknya peti mati manusia
dewasa.
"Dari kedua peti itulah
sesosok mayat harus kau bangkitkan, Ki," kata Cendani, setelah beberapa
saat lamanya membiarkan kakek bergigi tonggos itumemperhatikan seisi ruangan.
"Hm..., ya,"hanya
itujawaban yang keluar dari mulut Ki Ringkul.
Kemudian, Ki Ringkul melangkah
menghampiri kedua peti mati itu. Diperhatikannya sejenak, lalu tubuhnya
berbalik kembali. Kemudian, ditatapnya wajah Cendani lekat-lekat. Dalam siraman
sinar obor, wajah gadis itu terlihat semakin cantik. Tubuhnya yang terbungkus
pakaian berwarna biru tua tampak montok dan menggiurkan. Hal itu tidak aneh,
karena Cendani baru berusia dua puluh tahun.
"Sebenarnya aku takut
melakukannya, Cendani. Apalagi kalau kuingat cerita leluhur-leluhur kita
dulu.... Aku jadi semakin takut saja. Kalau saja tubuhmu tidak dijadikan upah
atas usahaku ini, tak akan nantinya aku mau melakukannya."
Cendani tersenyum mengejek.
"Dan..., upah yang akan
kuberikan ini tergantung padamu, Ki Ringkul. Kalau kau ingin mencicipi tubuhku
lebih cepat, tentu saja harus sesegera mungkin memulai tugasmu."
Usai berkata demikian, Cendani
segera meraih bajunya di bagian dada. Brettt!
Baju itu kontan robek lebar. Tak
pelak lagi, dua buah bukit kembar yang berbentuk indah mencuat ke luar. Kulit
dada Cendani yang putihhalus dan mulus tampakmengkilat-kilat terjilat sinar
obor.
Ki Ringkul menelan ludahnya
dengan susah-payah. Sementara, sepasang matanya terbelalak menatap dua bukit
kembar yang mencuat ke luar, seperti menatang.
"Kalau kau ingin cepat
menikmatinya, lakukan pekerjaanmu cepat!" tandas Cendani. "Baik...,
baik.... Akan kulakukan segera...," sahut Ki Ringkul terbata-bata.
Kemudian, kakek bergigi tonggos
itu mengambil buntalan kain hitam yang tergantung di punggungnya, lalu
diletakkannya di lantai. Dan kini perlahan-lahan dibukanya ikatan buntalan itu.
Dari dalam buntalan itu, Ki
Ringkul mengeluarkan bermacam-macam benda. Kain lebar berwarna merah menyala,
beberapa obor kecil, bunga tujuhmacam, dan air dari tujuhtempat di dalam guci.
"Padamkan obor itu,
Cendani," perintah Ki Ringkul dengan suara bergetar.
Tanpa banyak membantah, Cendani
segera memadamkan obor itu. Kontan suasana di dalam gua menjadi gelap.
Tidakterlihat apa pun lagi, kecuali kegelapan.
Tapi, hal itu tidak berlangsung
lama. Dan kini Ki Ringkul telah menyalakan obor-obor kecilnya. Tapi, terlebih
dulu digelarnya kain berwarna merah menyala itu, yang ternyata lebar juga.
Panjangnya tak kurang dari satu tombak. Sedangkan lebarnya sekitar setengah
tombak.
Kemudian, Ki Ringkul meletakkan
obor-obor kecilnya yang berjumlah tujuh buah di sekeliling kain. Bau-bauan yang
aneh menusuk hidung segera tercium, dan berasal dari obor-obor kecil itu.
Jelas, obor itu bukan obor sembarangan!
Ki Ringkul memperhatikan sejenak,
kemudian dijumputnya sebagian kembang tujuh macam. Kemudian, ditaburkannya
bunga itu di dalam keliling kain berwarna merah. Sementara, sebagian lagi
direndam ke dalam air.
Cendani memperhatikan semua
perbuatan Ki Ringkul tanpa berkedip. Tampak kakek bergigi tonggos itu
menghampiri kedua peti.
Kriiiet!
Suara berderit tajam terdengar
ketika tutup peti mati terbuka. Ki Ringkul langsung menatap isi peti mati
sekilas. Dan seperti yang sudah diduga, di dalamnya terbujur sesosok mayat
tanpa kepala. Agak meremang bulu kuduk Ki Ringkul ketika menyadari kalau mayat
itu telah meninggal dunia seratus lima puluh tahun lalu. Tapi anehnya, mayat
itu sama sekali tidak membusuk. Menilik dari keadaan pakaian yang dikenakan,
jelas pakaian itu telah berkali-kali diganti dengan yang baru.
Dengan tangan agak menggigil, Ki
Ringkul mengeluarkan tubuh mayat tanpa kepala itu. Kemudian dengan hati-hati,
diletakkannya di atas hamparan kain merah.
Untuk pertama kalinya, Ki Ringkul
merasa takut terhadap mayat. Padahal biasanya, tidak ada sepercik pun rasa
takut. Mungkin karena mayat kali ini lain dari biasanya, kakek bergigi tonggos
ini jadi takut.
Kemudian, Ki Ringkul membuka peti
yang kecil. Dari situ, dikeluarkannya sebuah kepala manusia. Dan kini, kepala
itu dibawanya ke tempat mayat tadi diletakkan. Sesaat kemudian, tubuh mayat itu
telah disatukan dengan kepalanya. Walaupun belum menempel, tapi sudah
menciptakan ketegangan.
Ki Ringkul lalu duduk bersila.
Perlahan-lahan, sepasang matanya dipejamkan. Mulutnya tampak komat-kamit,
mengucapkan kata-kata yang tidak jelas. Terkadang, suaranya seperti orang
menggumam. Tapi di lain saat, seperti ada sekumpulan tawon yang sarangnya
diganggu.
Semakin lama, ucapan yang keluar
dari mulut Ki Ringkul terdengar semakin keras. Gerakan pada bibirnya pun
semakin cepat Tubuhnya juga mulai menggigil. Semakin lama semakin keras, lalu
kemudian diam. Hal itu terjadi ketika tubuhnya telah menggigil beberapa saat
lamanya.
Tanpa mempedulikan keringat yang
membasahi wajah dan dahinya, Ki Ringkul mengambil guci yang berisi air dan
kembang. Dihirupnya air itu, lalu disemburkannya ke sekujur tubuh mayat yang
terbujur sebanyak tiga kali.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Ki Ringkul. Mulutnya kembali berkomat-kamit mengucapkan
kalimat-kalimat tak jelas pada guci yang telah didekatkan ke bibirnya.
Beberapa saat lamanya Ki Ringkul
berbuat demikian, kemudian air di dalam kendi dituangkannya ke sekujur tubuh
mayat di atas kain, mulai dari kaki sampai kepala.
Cesss...!
Ajaib! Seperti besi panas disiram
air dingin, tiba-tiba asap putih tebal mengepul ketika air kendi itu menyiram
tubuh mayat yang terbaring!
5
Mula-mula hanya sedikit saja asap
yang timbul. Tapi semakin lama, semakin banyak. Bahkan sampai menyelubungi
seluruh tubuh mayat itu.
Ki Ringkul segera bangkit dan
bersilanya, dan melangkah ke belakang. Tapi, dia berdiri di sebelah Cendani.
Wajah kakek bergigi tonggos ini tampak tegang, seperti orang ketakutan.
Perlahan-lahan asap itu kembali
menipis. Semakin lama, semakin sedikit. Sampai akhirnya, tidak tersisa asap
sama sekali. Sekarang, mayat itu kembali terlihat. Tapi, tidak nampak adanya
perubahan sedikit pun pada mayat itu.
Namun sesaat kemudian,
pemandangan yang mencekam hati dan membuat bulu kuduk berdiri pun terjadi.
Betapa tidak? Jari-jari mayat itu tampak mulai bergerak-gerak. Mula-mula pelan
dan kelihatan sulit, tapi kian lama kian cepat dan lancar.
Tanpa sadar, Cendani melangkah
mundur. Sedangkan Ki Ringkul yang lebih tabah, hanya bisa memandang dengan
wajah pucat pasi. Meskipun demikian, pandangan matanya tetap tidak beralih.
Cukup lama juga hal itu
berlangsung. Sampai akhirnya, tiba-tiba tubuh itubangkit berdiri. Dan ketika
telah tegak, kepalanya yang kelihatan belum menyambung benar, juga tidak
terlepas. Seperti sudah melekat begitu saja!
Wajah Ki Ringkul semakin memucat.
Tanpa bisa dicegah lagi, kedua kakinya menggigil keras. Hal yang sama juga
terjadi pada Cendani. Bahkan gadis itumengalaminya sejak tadi.
Kedua orang yang berbeda usia dan
jenis itu sama-sama dilanda ketakutan hebat. Apalagi, ketika mendadak....
Tappp!
Kedua tangan mayat itu bergerak
mengusap lehernya yang masih belum tersambung benar. Setelah diusap, tidak
nampak ada tanda-tanda kalau leher itu bekas buntung. Kulit leher itu kembali
seperti semula, tidak nampak tanda ada sayatan sama sekali.
"Ha ha ha...!"
Mayat hidup itu tertawa
terbahak-bahak. Suaranya keras sekali, sampai-sampai membuat dinding-dinding
gua bergetar hebat, seakan-akan akan runtuh! Jelas, tawa itu dikeluarkan lewat
pengerahan tenaga dalam.
***
Memang menggiriskan sekali
keadaan mayat itu. Tubuhnya tinggi kurus, laksana tulang terbungkus kulit.
Tapi, bukan itu yang membuat orang ngeri. Wajahnya yang pucat karena lama tak
kena sinar matahari itulah yang membuat orang bergidik memandangnya. Demikian
pula sinar matanya. Rasanya, tak pantas dimiliki manusia, melainkan iblis!
Begitumengerikan!
Setelah puas tertawa, mayat hidup
yang kalau menilik keadaannya berusia tiga puluh lima tahun itu, menatap Ki
Ringkul dan Cendani berganti-ganti. Karuan saja hal itu membuat kedua orang
yang sudah sejak tadi merasa gentar, melangkah mundur tanpa sadar.
"Ha ha ha...! Jangan takut...!"
cegah mayat hidup itu. Suaranya terdengar kering dan parau. "Aku tidak
akan menyakiti kalian. Bahkan aku merasa berterima kasih karena kalian telah
membangkitkan jasadku dari tidur panjang. Ha ha ha...!"
Cendani dan Ki Ringkul dengan
susah payah menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering.
Sementara, mayat yang telah
bangkit itu seperti berpura-pura tidak tahu tentang perasaan yang berkecamuk di
hati Cendani dan Ki Ringkul. Masih dengan tawa tidak putus-putus, kakinya
melangkah menghampiri.
"Namaku Burangrang,"
kata mayat hidup itumemperkenalkan namanya. "Siapa kalian?"
"Aku..., Ki
Ringkul,"jawab kakek bergigi tonggos. Pelan sekali suaranya, hampir tidak
terdengar.
"Hm.... Ki Ringkul,"
ulang mayat hidup yang ternyata bernama Burangrang. "Dan kau. Siapa
namamu, Anak Manis?"
"Cendani," jawab gadis
berambut keriting itu, tak kalah lirih dengan Ki Ringkul.
Memang, dalam cekaman rasa takut
yang melanda, lidah Cendani dan Ki Ringkul terasa kelu. Sehingga, sulit
mengeluarkan suara.
Burangrang mengangguk-anggukkan
kepala. Entah apa maksudnya. Hanya laki-laki berwajah pucat itu sendiri yang
tahu.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Ki Ringkul,"ucap Burangrang parau.
"Jangan berterima kasih
padaku. Tapi, berterima kasihlah pada Cendani," jawab Ki Ringkul tanpa
sadar. Perasaan takut yang melanda, membuat akal sehat Ki Ringkul menguap entah
ke mana. Sehingga, ucapan
yang keluar tercetus tanpa sempat
terpikir lebih dulu. "Heh...?!Mengapa demikian?" tanya Burangrang
heran.
Sambil berkata demikian, Burangrang
menatap wajah Cendani dan Ki Ringkul berganti-ganti.
"Karena..., karena akulah
yang menginginkan kau bangkit kembali," jawab Cendani, masih tetap lirih
suaranya.
Jelas, gadis berambut keriting
ini belum mampu menghilangkan rasa takut yang melanda hatinya. Sepasang alis
Burangrang berkerut dalam, sehingga hampir saja bertautan satu sama lain.
"Mengapa kau menginginkan
aku bangkit dari kematian, Cendani?" desak Burangrang, penuh tekanan.
Cendani membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya.
"Karena kau adalah
buyutku," kali ini Cendani mampuberkata lantang. Bahkan gadis itu
mampumembalas tatapan Burangrang, meskipun dengan hati kebat-kebit.
"Heh...?!"
Burangrang terjingkat ke
belakang. Jelas, ucapan yang dikeluarkan Cendani amat mengejutkan hatinya.
"Aku buyutmu?!" ulang Burangrang sambil menudingkan jari telunjuk ke
dadanya sendiri. "Tidak
kelirukah kau, Cendani?! Usiaku
belum tiga puluhtahun. Dan tidurku tidaklama. Mana mungkinaku buyutmu?!"
"Kau memang buyutku. Kau telah tertidur selama seratus lima puluhtahun
lebih," jelas Cendani. "Ahhh...!" desah Burangrang, kaget
"Benarkah aku telah tertidur selama seratus lima puluh tahun?!"
Cendani mengangguk-anggukkan kepala pertanda membenarkan. Sementara, Ki Ringkul
diam saja. Tidak
nampak adanya tanda-tanda kalau
kakek bergigi tonggos ituingin ikut ambil bagian dalam pembicaraan. Burangrang
tercenung melihat anggukan kepala Cendani.
"Mungkin kau benar, kalau
aku tertidur lebih dari seratus lima puluh tahun. Tapi, tetap saja aku bukan
buyutmu. Perlu kau ketahui, Cendani. Akutidak pernah beristri! Jadi, mana
mungkinmempunyai keturunan."
Pelan dan halus Burangrang
mengeluarkan kata-katanya. Padahal, ini bukan tabiat Burangrang. Tapi entah
mengapa, terhadap Cendani dia tidak sampai hati bersikap kasar.
"Kau memang tidak beristri.
Tapi, berapa banyak wanita yang menjadi korbanmu! Dan kakekku, lahir dari salah
seorang wanita yang menjadi korbanmu! Wanita itulah yang menceritakan kepada
kakek, ketika ditanyakan tentang siapa ayahnya," jelas Cendani.
Kali ini Burangrang tidak bisa
berkata-kata lagi. "Jadi, aku mempunyai keturunan?!" desah
Burangrang, setengah tak percaya.
Ada nada kegembiraan dalam ucapan
Burangrang. Dan memang, sebenarnya Burangrang merasa gembira bukan kepalang.
Bahkan bercampur bangga karena keturunannya yang berhasil membebaskannya dari
tidur panjang.
"Lalu..., mana kakekmu,
ayahmu, ibumu, dan seluruh keluargamu, Cendani?" tanya Burangrang, penuh
gairah.
Wajah Cendani kontan muram.
Karuan saja hal ini membuat Burangrang heran bukan kepalang. Perasaan tidak
enak pun bersemayam di hatinya. Dia yakin, ada sesuatu yang tidak beres telah
terjadi terhadap keluarga Cendani.
"Itulah sebabnya, aku
bersusah-payah menempuh bahaya dan penderitaan hanya untuk membangunkanmu dari
tidur panjang," kata Cendani, serak.
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Cendani," sahut Burangrang, heran.
"Semua keluargaku telah
tiada, tewas dibunuh orang. Kakekku, ayahku, dan saudaraku, dan juga pamanku.
Dan orang satu-satunya yang dapat membalaskan semua sakit hati ini adalah
kau!" jelas Cendani.
Terdengar geraman keras laksana
binatang terluka dari mulut Burangrang. Jelas, laki-laki berwajah pucat ini
dilanda kemarahan hebat.
"Kakek tewas di tangan Raja
Ular Beracun. Demikian pula halnya ayah," sambung Cendani lagi.
"Paman tahu kalau tidak gunanya membalas dendam bila mempergunakan
kemampuan sendiri. Kemudian, diusahakannya untuk mencari tempat
disembunyikannya tubuh dan kepalamu. Paman tahu, kautelah mati. Tapi, dia tahu
pula kalau kau bisa bangkit kembali dari kematian. Maka, dia pun mulai
berkelana untuk mencari tempat beradanya tubuh dan kepalamu. Hampir sepuluh
tahun paman berkelana, baru tempat itu ditemukannya."
Cendani menghentikan ceritanya
sejenak untuk mengambil napas.
"Tapi sayang, usaha
penyelidikan paman diketahui tokoh-tokoh aliran putih yang memang mendapat
tugas dari leluhurnya untuk menjaga tubuh dan kepalamu baik-baik."
"Tapi, bukankah tubuh dan
kepalaku ditempatkan di tempat yang terpisah jauh?!" kejar Burangrang
ingin tahu.
"Paman dipergoki sewaktu
menyelidiki kepalamu. Tapi sebelum ajal menjemput nyawanya, beliau sempat
memberitahukannya padaku. Dan akulah yang meneruskan usahanya. Waktu mengambil
tubuhmu, sama sekali tidak menemui kesulitan. Tapi sewaktu mengambil kepalamu,
sempat terjadi kegemparan. Perbuatanku diketahui mereka. Untung saja,
ituterjadi setelah aku berada jauh dari tempat itu."
"Lalu...?" tanya
Burangrang tidak sabar ketika melihat Cendani menghentikan ceritanya.
"Aku dikejar," sahut
Cendani cepat. "Dan karena khawatir usahaku gagal, segera kucari jalan
untuk membebaskan diri dari kejaran. Maka kudatangilah Perguruan Harimau
Terbang yang menyediakan jasa pengawalan barang. Lalu, kumasukkan kepala seekor
orang hutan dalam peti kecil, dan kuminta agar dikirimkan ke Desa Sintang. Dan
seperti yang sudah kuduga, hal itu tersebar luas di dunia persilatan. Perguruan
Harimau Terbang yang diburu-buru, baik oleh tokoh aliran hitam, aliran putih,
maupun tokoh-tokoh aliran putih yang bertugas menjaga kepalamu." Cendani
menghentikan ceritanya sebentar.
"Kau cerdik, Cendani,"
puji Burangrang. "Tidak memalukan menjadi keturunanku."
"Akhirnya, kudengar kalau
para pengejarku tewas di tangan Garuda Laut Timur. Syukurlah! Dengan demikian,
aku aman. Dan dengan leluasa, kusembunyikan kepala dan tubuhmu di gua ini. Di
sini beberapa kali kucoba untuk membangkitkanmu dari kematian, tapi gagal.
Karena putus asa, maka kuhubungi Ki Ringkul, sahabat paman," sambung
Cendani, yang kini tidak lagi menggunakan istilah tidur panjang.
"Lalu, kau meminta
pertolongan padanya kan, Cendani?" dugaBurangrang tidak sabar.
"Benar," jawab Cendani.
"Tapi sayang, Ki Ringkul tidak bersedia. Namun setelah kudesak-desak, dia
bersedia juga, walau dengan satu syarat."
"Apa syaratnya,
Cendani?" tanya Burangrang sambil melemparkan kening penuh ancaman pada Ki
Ringkul.
Tentu saja Ki Ringkul jadi takut
bukan kepalang. Tapi apa daya? Tempat Burangrang berdiri membuat jalan keluar
jadi terhalang. Maka, dia tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menunggu
perkembangan yang akan terjadi.
"Dia memintaku agar menjadi
istrinya." "Jahanam!" seru Burangrang keras.
Terdengar suara berkerotokan
keras seperti ada tulang-tulang patah. Padahal, tokoh yang menggiriskan itu
sama sekali tidak berbuat apa-apa. Suara itu timbul karena tenaga dalamnya
mengalir sendiri, akibat kemarahan yang melanda.
Burangrang menatap Ki Ringkul.
Ada hawa maut yang memancar dari sepasang mata yang memiliki sorot menakutkan
itu.
"Lalu..., kau
menyetujuinya?"desak Burangrang, semakin tinggi nada suaranya. Cendani
menggelengkan kepala.
"Kukatakan terus terang,
kalau aku tidak mau! Tapi Ki Ringkul pun berkeras pula dengan keinginannya.
Kami saling silang pendapat. Cukup lama juga, sampai akhirnya aku mengalah. Aku
bersedia memenuhi permintaannya, tapi hanya sehari!"
"Kau..., kau memenuhi
permintaan gila itu, Cendani?!" tanya Burangrang setengah tidak percaya.
"Apa boleh buat!" desah
Cendani "Tidak ada jalan lain lagi untuk membangkitkanmu dari kematian.
Jadi, permintaannya terpaksa kupenuhi"
"Jadi kau...,
sudah...."
Burangrang menghentikan ucapannya
di tengah jalan, tidaksanggup untukmenyambung ucapannya lagi. Cendani
menggelengkan kepala.
"Belum," jawab Cendani.
"Menurut perjanjian yang disepakati, apabila kau berhasil bangkit dari
kematian, baru aku akan memenuhi permintaannya."
"Jangan kau penuhi
permintaan gila itu, Cendani!" tandas Burangrang cepat dan keras.
"Aku tidak ingin keturunanku berjodoh dengan orang sembarangan! Hanya
orang yang bisa mengalahkanku yang akan menjadi jodohmu, Cendani!"
"Tapi..., aku sudah berjanji
pada Ki Ringkul. Dan...."
"Perjanjian tidak berlaku
bila salah satu pihak terpaksa melakukannya! Itu pandanganku! Dan kau
keturunanku, Cendani! Dengan demikian, kau harus ikut pula memegang pandanganku
itu! Saat ini juga, perjanjian dengan Ki Ringkul batal!" potongBurangrang,
cepat.
Wajah Cendani dan Ki Ringkul
berubah. Tapi, gadis berambut keriting itu hanya terkejut saja. Tidak demikian
halnya dengan Ki Ringkul. Kakek bergigi tonggos itu kaget bercampur gentar,
karena tahu ada bahaya besar yang tengah mengancam.
***
Dengan langkah satu-satu,
Burangrang melangkah menghampiri Ki Ringkul. Kakek bergigi tonggos ini memang
sudah sejak tadi ketakutan, karena tahu ada bahaya besar yang tengah
mengancamnya. Maka ketika Burangrang menghampiri, dia menjadi kalangkabut.
"Ampun..., ampunkan aku.
Kutarik kembali perjanjianku dengan Cendani..., tapi jangan bunuh aku,"
ratap Ki Ringkul terputus-putus, seraya melangkah mundur.
"Tidak semudah itu,
Ringkul!" desis Burangrang. "Tindakanmu sudah keterlaluan! Dan aku
tidak bisa mengampuninya lagi! Asal kau tahu saja, Ringkul! Aku tidak pernah
mengampuni orang yang berani menghinaku! Dan perjanjianmu dengan Cendani sama
saja penghinaan untukku! Dan balasannya, mati!"
Sambil berkata demikian,
Burangrang terus melangkah maju. Lambat-lambat saja kakinya melangkah. Dia
terus mendekati Ki Ringkul yang melangkah mundur.
Tapi baru beberapa tindak, Ki
Ringkul sudah tidak bisa mundur lagi. Bagian belakangnya adalah dinding gua.
Dan kini, punggungnya telah menyentuh dindingitu.
Wajah Ki Ringkul semakin memucat
ketika menyadari keadaan kalau dirinya tidak bisa mundur lagi. Dengan raut
wajah membayangkan ketakutan amat sangat, ditatapnya Burangrang yang tengah
menghampiri.
Bagi Ki Ringkul, satu tindak
Burangrang melangkah mendekati, berarti satu pukulan keras menghantam dadanya.
Jantungnya yang memang sejak tadi sudah berdegup kencang, semakin keras
berdetak. Maka dalam cengkeraman rasa takut yang memuncak, Ki Ringkul jadi
nekat. Dicabutnya golok yang terselip di pinggang.
Srattt!
Sinar terang menyilaukan berkelebat
ketika golok itu keluar dari sarungnya. Lalu.... "Haaat...!"
Diiringi pekik melengking
nyaring, Ki Ringkul melompat menerjang. Goloknya dibabatkan ke arah leher
secara mendatar.
Singgg!
Suara mendesing nyaring,
mengawali tibanya babatan golok itu. "Hmh...!"
Burangrang hanya mendengus
melihat serangan itu. Tanpa berusaha mengelak atau menangkis, dibiarkan saja
golok itu meluncur ke arahnya. Memang, dia bermaksud menerima serangan itu
dengan pengerahan tenaga dalamnya.
Takkk!
Telak dan keras sekali mata golok
itumenghantam sasaran. Tapi akibatnya, senjata itu yangjustru terpental balik
seperti membentur sebuah karet kenyal.
"Ukh...!"
Sebuah keluhan tak terasa keluar
dari mulut Ki Ringkul.Tangan yang menggenggam pedang kontan terasa sakit-sakit.
Sementara, leher Burangrang sama sekali tidak terpengaruh. Jangankan luka,
tergores pun tidak.
"Ha ha ha...!"
Tawa bergelak Burangrang
menyambuti perasaan terkejut yang melanda hati Ki Ringkul. "Kau boleh
pilih bagian yang palinglunak di tubuhku, Ringkul!" seru Burangrang.
Ada nada kesombongan dalam ucapan
tokoh sesat yang berasal dari masa silam itu. Perasaan yang timbul karena
dirinya merasa jauh lebih unggul daripada lawannya.
6
Cendani menatap ngeri semua
kejadian di depan matanya. Meskipun bisa dirasakan kalau Burangrang
menyayanginya, namun tetap saja tidak mampu menghilangkan perasaan takut yang
melanda. Sikap maupun tindak-tanduk Burangrang memang membuat orang merasa
ngeri.
Walaupun demikian, gadis berambut
keriting itu tetap saja memaksakan matanya untuk memperhatikan kejadian yang
terpampang di hadapannya.
Tampak Ki Ringkul tengah
kelabakan. Kakek bergigi tonggos itu nampak terpaku di tempat. Namun hal itu
hanya berlangsung sebentar saja, karena sesaat kemudian sudah kembali
melancarkan serangan. Goloknya dikelebatkan ke berbagai bagian tubuh
Burangrang.
Tak, tak, tak...!
Berkali-kali golok Ki Ringkul
menghantam sasaran. Menusuk, menetak, membacok, dan membabat. Dan itu dilakukan
pada seluruh bagian tubuh Burangrang. Hasil yang didapatkan kakek bergigi
tonggos tidak berbeda dengan sebelumnya. Sia-sia!
"Ha ha ha...!"
Sambil berkacak pinggang,
Burangrang tertawa terbahak-bahak. Hujan serangan golok Ki Ringkul sama sekali
tidak dirasakannya. Padahal, senjata itu bertubi-tubi menghantam berbagai
bagian tubuhnya.
Akhirnya, Ki Ringkul sendiri yang
kelelahan. Napasnya memburu hebat. Memang, dia telah mengerahkan seluruh
kemampuan dalam serangan itu.
"Sudah selesai, Ringkul?
Sudah puaskah kau melancarkan serangan-seranganmu?" ejek Burangrang.
Memang, Ki Ringkul sudah menghentikan serangan-serangannya. Napasnya memburu
hebat. Bahkan
tubuhnya pun sampai
terbungkuk-bungkuk.
"Sekarang giliranku,"
ucap Burangrang lagi, sambil melangkah maju bersikap mengancam.
Ki Ringkul tidak bisa berbuat
apa-apa lagi. Disadari, tidak ada gunanya melakukan perlawanan yang akan
membuatnya lelah sendiri. Oleh karena itu, Ki Ringkul hanya pasrah saja ketika
melihat Burangrang menghampirinya.
Karena perasaan ngeri, Ki Ringkul
tidak berani menentang pandangan mata Burangrang. Malah kepalanya ditundukkan,
untuk menghindari adu pandang dengan Burangrang. Sepasang mata laki-laki
berwajah pucat yang memiliki sorot mata menakutkan itu, membuat nyalinya ciut!
"He he he...!"
Burangrang tertawa bernada
menyeramkan. Kemudian, tangan kanannya diulurkan ke arah dada Ki Ringkul.
Susunanjari-jari tangannya seperti membentuk totokan jurus 'Bangau'.
Tukkk.
Tubuh Ki Ringkul langsung
terkulai ketika totokan tangan Burangrang menghantam sasarannya. Bagaikan
sehelai karung basah, tubuh kakek bergigi tonggos ituambruk ke tanah.
Masih dengan tawa yang belum
putus, Burangrang membungkukkan tubuh. Dilihatnya sejenak tubuh Ki Ringkul yang
tergolek tidak berdaya, dan hanya bisa memperhatikan semua tindakan Burangrang
dengan perasaan ngeri yang mencekam hati.
"Aku membutuhkan
makanan-makanan berkhasiat untuk mengisi perutku yang sudah lama tidak terisi,
Ringkul! Untung saja, ada kau di sini sehingga aku tidak repot-repot lagi
mencarinya," kata Burangrang, bernada menyeramkan.
Kontan bulu tengkuk Ki Ringkul
berdiri. Terasa ada ancaman yang mengerikan dalam ucapan Burangrang. Dan
perasaan itu bukan hanya dialami Ki Ringkul saja, tapi jugaoleh Cendani.
Usai berkata demikian, Burangrang
mengulurkan tangan kanannya, dengan jari telunjuk dijulurkan. Sementara,
jari-jari tangannya dilipat ke dalam.
Cendani dan Ki Ringkul bergidik
ngeri ketika melihat kukupanjang dan hitam yang menyembul dari ujung jari
telunjuk Burangrang. Dan kini, kuku yangmenyeramkan itu meluncur ke arah dahi
Ki Ringkul.
Tappp!
Kuku jari yang panjang dan
runcing itu telah menempel di dahi Ki Ringkul. Dan ketika Burangrang
mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, maka....
Krrrsss!
Dahi Ki Ringkul kontan amblas,
diiringi darah segar yang merembes keluar. Tapi karena Burangrang memang tidak
bermaksud membenamkan kuku jari tangannya dalam-dalam, darah yang mengalir
keluar pun hanya sedikit saja.
Ki Ringkul meringis karena
menahan perih pada kulit dahinya. Rasa heran seketika melanda hatinya.
"Apa yang hendak dilakukan Burangrang?" tanya kakek bergigi tonggos
dalam hati.
Tapi, Ki Ringkul tidak terlalu
lama dilanda perasaan heran, karena sesaat kemudian jawabannya telah ditemukan.
Rupanya tangan Burangrang seperti hendak membuat guratan yang digoreskan ke
sekeliling kepala Ki Ringkul, secara mendatar. Mulai dari dahi melewati
belakang kepala, dan kembali lagi ke dahi. Sepertinya, Burangrang ingin
membelah kepala Ki Ringkul menjadi dua bagian!
Rasa sakit yang mendera Ki
Ringkul makin luar biasa! Lolong kesakitan yang keluar dari mulutnya telah
menjadi bukti nyata. Keringat sebesar biji jagung pun bermunculan di selebar
wajahnya yang pucat pasi.
Tapi, Ki Ringkul tidak terlalu
lama mengalami penderitaan itu. Karena sebelum Burangrang menyelesaikan
kekejiannya dengan membelah kepala korbanya menjadi dua bagian, kakek bergigi
tonggos itu sudah tidak mampu lagi bertahan. Ki Ringkul tewas sebelum kepalanya
terbelah menjadi dua bagian!
***
Rasa mual yang amat sangat
mendera Cendani ketika tempurung kepala Ki Ringkul bagian atas terpisah. Hampir
saja isi perut gadis itu keluar.
Kini, di depan mata Cendani
tampak gumpalan benda putih yang menempel di dalam tempurung kepala bagian
bawah Ki Ringkul. Tempurung kepala bagian bawah itu masih bersatu dengan utuh.
Cendani tahu, gumpalan benda putih ituadalah otak Ki Ringkul!
Meskipun perasaan ngeri yang amat
sangat melanda hati, Cendani memaksakan diri untuk terus melihatnya. Dia
ingintahu kelanjutan tindakan tokoh yangmenjadi buyutnya itu.
Cendani melihat Burangrang
tertawa terkekeh-kekeh dengan sepasang mata berbinar-binar. Raut kegembiraan
yang amat sangat tampak jelas terlihat, karena Burangrang memang tidak
menyembunyikannya. Atau, sengaja tidak menyembunyikannya.
Kemudian sambil mengeluarkan
geraman laksana seekor beruang lapar, tangannya diulurkan ke arah gumpalan otak
Ki Ringkul.Tampak hati-hati sekali laki-laki berwajah pucat itu melakukannya.
Sesaat kemudian, gumpalan otak
itu telah berada di tangan Burangrang. Laki-laki berwajah pucat itu
memandanginya sesaat, lalu..., memakannya dengan lahap! Burangrang memakan otak
Ki Ringkul mentah-mentah, dengan penuh nafsu! Seakan-akan, benda putih lunak
ituadalah makanan lezat!
Cendani yang menyaksikan
kejadiannya itu hampir tidak mampu lagi menahan isi perutnya keluar. Rasa mual
yang amat sangat, timbul ketikamenyaksikan adegan itu.
Tak lama kemudian, otak Ki
Ringkul telah habis disantap Burangrang, tanpa bersisa sedikit pun! Bahkan
Burangrang sampai menjilat jilati seluruhjari tangannya hingga licin tandas.
Tapi, tindakan Burangrang tidak
hanya sampai di situ saja. Begitu otak Ki Ringkul telah habis dilahap, tangan
kanannya kembali bergerak. Kali ini, ke arah perut Ki Ringkul.
Blosss!
Perut Ki Ringkul kontan jebol
ketika tangan kanan Burangrang menghunjam perutnya. Memang, tokoh dari masa
silam itumengerahkan tenaga dalamnya sewaktu menjulurkan tangannya.
Untuk yang kesekian kalinya,
darah kembali mengalir keluar dari perut Ki Ringkul yang ambrol. Sedangkan
tangan Burangrang terus saja menerobos masuk ke dalam perut. Dan ketika keluar
kembali, di tangan yang berlumuran darah itu telah tergenggam hati Ki Ringkul.
Tanpa merasa jijik sama sekali,
Burangrang memakan lahap hati yang masih berlumuran darah itu. Tak
dipedulikannya sama sekali darah yang mengotori wajah dan pakaiannya.
Sementara itu, Cendani yang masih
nekat memperhatikan, kali ini tidak sanggup lagi bertahan. Tanpa mampu dicegah
lagi, isi perutnya keluar.
"Huakhhh...!"
TubuhCendani terbungkuk-bungkuk
ketika isi perutnya keluar. Karuan saja suara muntah-muntah gadis itu terdengar
Burangrang. Tanpa menghentikan kesibukannya, kepala laki-laki berwajah pucat
ini pun menoleh ke belakang. Memang, saat ituCendani berada di belakang
Burangrang.
"Mengapa, Cendani?"
tanya Burangrang, pelan tapi bernada teguran.
"Aku tidak tahan melihat
kelakuanmu," kata Cendani sambil mengangkat wajah. Suara itu terdengar
cukup lantang, meskipun wajah Cendani masih pucat pasi. "He he
he...!"
Sambil masihtetap menggeragoti
hati Ki Ringkul, Burangrang tertawa terkekeh.
"Masih bisa kumaklumi
ucapanmu, Cendani. Tapi apabila telah mencoba mencicipi makanan-makanan
berkhasiat ini, aku yakin kau akan ketagihan. Dan yang pasti, kau akan
meninggalkan makanan-makanan yang biasa kau makan," ujar Burangrang
bernada yakin.
"Hal itu tidak akan
mungkinterjadi!" tandas Cendani mantap.
"Kita lihat saja buktinya,
Cendani," sambut Burangrang sambil memasukkan potongan hati Ki Ringkul
yang terakhir ke dalam mulutnya.
Cendani sama sekali tidak
menyambuti ucapan Burangrang. Ditariknya napas dalam-dalam, dan dihembuskannya
kuat-kuat untuk menghilangkan sisa rasa mual yang masih bersarang.
"Apakah kau bersedia
membantuku, Buyut?"tanya Cendani setelah perasaan mualnya lenyap.
"Maksudmu..., membalas dendam, Cendani?"
Cendani menganggukkan kepala
pertanda membenarkan dugaan buyutnya.
"Tentu saja, Cendani!"
tegas Burangrang. "Akan kubalaskan sakit hati keturunanku! Katakan, siapa
saja orang yang harus kubunuh!"
"Seperti yang telah
kuceritakan sebelumnya, orang pertama adalah Raja Ular Beracun!" tandas
Cendani. Sepasang mata gadis berambut keriting itu tampak memancarkan sorot
kebencian ketika mengucapkan
kata-kata terakhir. Jelas,
perasaan dendam yang melanda hatinya sangat besar.
"Kalau begitu, tunggu apa
lagi? Mari kitasatroni tempatnya!" sambung Burangrang, cepat.
Kontan wajah Cendani
berseri-seri. Dia yakin, dengan perantaraan buyutnya, dendam yang membara di
hatinya dapat terlampiaskan. Memang, kesaktian leluhurnya ini sudah lama
terdengar telinganya.
Sesaat kemudian, dua tokoh yang
berasal dari zaman yang berbeda jauh itu segera melesat meninggalkan tempat
itu.Tak mereka pedulikan mayat Ki Ringkul yang tergolek diam di tanah, tanpa
bentuk lagi.
***
Matahari sudah berada di ufuk
Barat. Bias-bias kemerahan telah tampak di kaki langit, tempat bola raksasa itu
terbenam. Hari telah petang. Tak lama lagi persada akan diliputi kegelapan. Dan
sang Dewi Malam pun akan memulai tugasnya, menyorotkan sinarnya untuk menguak
kepekatan malam.
Dalam suasana yang sebentar lagi
akan diselimuti kegelapan, tampak berkelebatan empat sosok bayangan. Mereka
semuanya menuju ke arah sebuah bangunan cukup besar yang terkurung pagar kayu
bulat tinggi. Di bagian atas pintu gerbang itu tergantung sebuah papan tebal
berukir yang bertuliskan, Perguruan Harimau Terbang.
Karena gerakan empat sosok tubuh
itu rata-rata cepat, sehingga sukar mengenali mereka. Yang terlihat hanyalah
warna pakaian yang dikenakan. Itu pun tidak terlalu jelas. Satu sosok
mengenakan pakaian ungu, dua sosok mengenakan pakaian putih, dan satu sosok
lagi mengenakan pakaian coklat. Sudah bisa diduga, siapa empat sosok bayangan
itu. Ya! Mereka tak lain adalah Arya, Ki Sancaka, Sangga Juwana, dan Ki
Waringin!
"Aneh...,"kata Ki
Waringin tanpa menghentikan larinya. "Mengapa di dalam perguruan tampak
terang?" Ki Sancaka, Arya, dan Sangga Juwana saling pandang, tanpa
menghentikan larinya. Sorot keheranan
memancar pada pandangan mata
mereka semua. Memang, sejak kedatangan Garuda Laut Timur, Ki Waringin telah
menyuruh semua pelayan di Perguruan Harimau Terbang untuk segera meninggalkan
tempat itu. Dia tidak ingin mereka menjadi korban. Dan memang, sebelum
keberangkatan Ki Waringin dan rombongan ke Desa Sintang, para pelayan itu sudah
meninggalkan tempat ini. Tapi, mengapa bagian dalam perguruan tampak terang?
"Mungkin ada pelayan yang
kembali lagi, kemudian menyalakan obor ketika bagian dalam perguruan dilihatnya
gelap, Guru?" sambut Sangga Juwana, terengah-engah.
"Mudah-mudahan dugaanmu
benar, Sangga," hanya itu jawaban yang diberikan Ki Waringin.
Ki Sancaka, Arya, dan Sangga
Juwana tahu kalau Ki Waringin merasa tidak yakin akan dugaan tadi. Kata-kata,
maupun nada suaranya telah menjelaskan kenyataan yang telah terjadi. Namun
meskipun demikian, tidak ada lagi yang mengajukan dugaan. Karena memang mereka
sama sekali tidak tahu hal yangtengah terjadi.
Yang dilakukan keempat orang itu
adalah terus melanjutkan langkah, agar bisa secepatnya mengetahui hal yang
tengah terjadi. Maka, sesaat kemudian mereka telah berjarak tiga tombak dari
pintu gerbang Perguruan Harimau Terbang.
"Hati-hati, Ki," seru
Arya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu terpaksa berkata demikian ketika melihat Ki Waringin hendak menerobos
masuk.
Ucapan Arya seketika menyadarkan
Ki Waringin akan kecerobohan tindakannya. Bukan tidak mungkin kalau di dalam
perguruan telah siap tokoh-tokoh persilatan yang akan menurunkan tangan jahat,
apa-bila dia telah berada di dalam. Maka, langkahnya pun segera dihentikan.
"Terima kasih atas
peringatan yang kau berikan, Arya," ucap Ketua Perguruan Harimau Terbang
itu.
"Lupakanlah, Ki,"
sambut Arya cepat
"Kalau menurut
perhitunganku...," Ki Sancaka angkat bicara. "Rasanya tidak mungkin
ada serangan dari orang yang berada di dalam, Arya!"
Sangga Juwana, Arya, dan Ki
Waringinmengalihkan pandang.
"Dugaanmu sama sekali tidak
salah, Ki," sambut Arya sambil tersenyum lebar. "Memang, aku yang
terlalu hati-hati."
Sangga Juwana menjadi bingung.
"Mengapa kau yakin kalau
dugaan Ki Sancaka benar, Arya?" tanya Sangga Juwana, bingung. Memang,
laki-laki berkumis tebal ini belum mengerti maksud pembicaraan yang terjadi.
"Menurut perhitungan, tidak
mungkin orang yang berada di dalam akan melancarkan serangan, apabila kita
berada di dalam. Kau tahu, mengapa?" Arya malah balas bertanya.
Sangga Juwana menggelengkan
kepala pertanda tidak tahu.
"Kalau orang yang berada di
dalam hendak membokong orang yang hendak masuk ke dalam dengan serangan
mendadak, mengapa mesti menyalakan lampu?" jelas Ki Waringin berapi-api.
Sangga Juwana
mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti.
"Tapi kan..., bisa saja
orang itu terlupa. Atau sengaja memperliihatkan keberadaannya agar orang
menjadi lengah?" bantah Sangga Juwana.
"Itu hanya kemungkinan kecil
saja, Sangga," seiak Ki Sancaka cepat
"Apa yang dikatakan Ki
Sancaka tepat sekali, Sangga," sambung Arya. "Terjadinya serangan
dari orang yang berada di dalam terhadap orang yang masuk, merupakan kemungkinan
yang amat kecil."
"Kalau begitu, mengapa kau
menyuruh guruku berhati-hati, Arya?" kejar Sangga Juwana penasaran. Arya
tersenyum.
"Seperti yang sudah
kukatakan tadi, aku memang mempunyai sikap demikian. Selalu berhati-hati,
bahkan cenderung terlalu berhati-hati. Mungkin dikarenakan seringnya aku
bertemu kelicikan-kelicikan dalam petualanganku," urai Arya members
penjelasan.
Ucapan Arya terhenti ketika telah
berjarak satu tombak dari pintu gerbang Perguruan Harimau Terbang. Memang
meskipun terlibat percakapan, keempat orang itu terus saja melanjutkan langkah.
Dan kini, mereka tidak berlari seperti semula.
Seperti hendak menunjukkan
kenyataan ucapannya, Ki Sancaka langsung saja melangkah mendahului masuk ke
dalam. Ketiga rekannya sama sekali tidak mencegah, dan hanya saling pandang
sejenak sebelum melangkah mengikuti.
Tapi karena langkah Ki Waringin,
Sangga Juwana, dan Arya tidak seperti langkah Ki Sancaka yang tergesa-gesa,
mereka tertinggal agak jauh. Ki Sancaka telah berada di ambang pintu gerbang,
sedangkan rombongan Ki Waringin masihberjarak setengah tombak lebih di
belakangnya.
Tampak oleh mereka Ki Sancaka
melangkah memasuki pintu gerbang. Dan seperti ucapan yang dikeluarkannya,
kakinya melangkah tanpa sikap waspada sama sekali. Bahkan secara sembarangan
saja.
Wunggg, singgg...!
"Ah...!"
Ki Sancaka menjerit tertahan! Dia
merasa kaget bukan kepalang mendengar desingan nyaring, disusul berkelebatnya
beberapa batang senjata ke arahnya. Satu menyambar leher, sedangkan yang lain
mengancam perutnya!
Serangan itu datang mendadak
sekali. Tambahan lagi, Ki Sancaka tengah berada dalam keadaan tidak siap sama
sekali. Dia tengah melangkah masuk secara sembarangan, akibatnya serangan itu
membuatnya jadi kelabakan bukan main.
Meskipun demikian, sebagai
seorang ahli silat yang telah ratusan kali bertarung, seluruh otot dan urat
syaraf Ki Sancaka seperti telah mempunyai kemauan sendiri. Maka begitu ancaman
bahaya itu muncul, dengan sendirinya Ki Sancaka langsung bertindak
menyelamatkan diri. Dan gerakan itu tanpa diperintah otaknya lagi, melainkan
langsung begitu saja.
Tukkk!
Kaki Ki Sancaka langsung menotol
tanah. Seketika itu juga, tubuhnya melayang ke atas. Memang inilah jalan
satu-satunya bagi Ketua Perguruan Naga Laut ini untuk menyelamatkan diri.
Namun.....
"Ah...!"
Ki Sancaka menjerit tertahan. Dia
merasa kaget bukan kepalang mendengar desingan nyaring, disusul berkelebatannya
beberapa batang senjata ke arahnya.
Meskipun tidak sempat melihat
jelas karena cepatnya serangan, tapi ekor matanya sempat melihat adanya dua
sosok bayangan yang melancarkan serangan ke arahnya. Satu menyambar leher,
sedangkan yang lain mengancam perutnya.
7
Crasss...! "Aaakh...!"
Ki Sancaka menjerit keras ketika
kedua kakinya terbabat putus sampai sebatas lutut. Darah segar langsung
memancur deras seiring jatuhnya dua potongan kaki Ki Sancaka ke tanah.
Memang, elakan yang dilakukan Ki
Sancaka tadi kurang cepat. Sehingga, walaupun serangan yang menuju perutnya
bisa dielakkan, namun serangan yang menuju ke leher tak mampu dielakkannya.
Tubuhnya belum sempat melayang tinggi, ketika babatan senjata itu akhirnya
menyambar kedua kakinya. Dan akibatnya, kedua kaki Ki Sancaka terbabat putus.
"Sancaka...!"
"Ki...!"
Hampir berbareng, Ki Waringin,
Arya, dan Sangga Juwana berseru kaget melihat kejadian yang menimpa Ki Sancaka.
Bagai diperintah, ketiga orang itu segera melesat ke depan. Masing-masing
berlomba untuk lebih dahulu tiba agar bisa menolong Ki Sancaka segera.
Sementara Ki Sancaka dengan kedua
kakinya yang telah buntung, terus meluncur ke atas. Baru ketika daya luncuran
habis, tubuhnya pun meluruk turun. Dan selama itu, luka yang keluar dari kedua
kakinya yang buntung terus mengucurkan darah segar.
Sebelum mendarat di tanah, Ki
Sancaka segera bertindak cepat dengan bergegas mengulurkan kedua tangannya.
Kakek berpakaian coklat ini bermaksud mendarat dengan kedua tangannya.
Tappp!
Usaha Ki Sancaka tidak sia-sia.
Kedua telapak tangannya berhasil mendarat di tanah. Dan dengan sedikit
gulingan, tubuhnyalangsung menggelinding di tanah.
Dan ketika telah berputar
kembali, kedua tangannya langsung bergerak cepat menotok jalan darah di kedua
lututnya.
Tuk, tuk, tuk...!
Beberapa totokan beruntun
langsung dilakukan pada jalan darah di sekitar lutut. Sehingga, cucuran darah
yang mengalir keluar kontan terhenti.
Namun sebelum Ki Sancaka sempat
berbuat se suatu, dua orang penyerangnya telah kembali menyerbu.
Senjata-senjata di tangan mereka langsung dikelebatkan ke arah berbagai bagian
tubuh Ki Sancaka yang mematikan.
Wajah Ki Sancaka kontan pucat
ketika menyadari kenyataan sulit itu. Maka, jalan satu-satunya adalah
menangkis.Tapi menangkis menggunakan kedua tangan telanjang terhadap dua
senjata yang digerakkan dengan tenaga dalam cukup tinggi, justru akan membuat
tangannya buntung. Dan memang, tingkat tenaga dalam yang dimiliki Ki Sancaka
belum mampu memapak serangan senjata tokoh persilatan dengan tangan kosong.
Di saat gawat bagi keselamatan Ki
Sancaka, tiba-tiba melesat sesosok bayangan ungu yang langsung saja memapak
serangan senjata dua orang penyerang Ki Sancaka, menggunakan tangan kosong.
Tak, tak, tak...!
Suara berderak keras terdengar
ketika tangan dan golok berbenturan. Dan akibatnya, tubuh kedua orang penyerang
Ki Sancaka langsung terhuyung-huyung ke belakang. Sedangkan sosok bayangan ungu
sama sekali tidak terpengaruh.
Sosok bayangan ungu yang tak lain
dari Dewa Arak itu menatap penuh selidik pada dua orang lawannya. Sedangkan
kedua orang itu tampak tengah tertegun. Rasa ngilu yang mendera kedua tangan,
menjadi penyebab kebingungan mereka.
Kedua orang itu berusia sekitar
empat puluh tahun. Wajah dan bentuk tubuh mereka serupa satu sama lain. Tapi
anehnya, mereka mempunyai kulit tubuh yang saling bertolak belakang. Yang satu,
putih. Sedangkan yang lain, hitam. Yang lebihaneh lagi, mereka pun mengenakan
pakaian yang sama dengan kulit wajahnya.
"Siapa kalian?! Mengapa
menyerang kawanku?!" tanya Dewa Arak pelan tapi tegas.
Bukannya menjawab pertanyaan
Arya, kedua orang itu malah terlongong. Raut wajah dan sinar mata mereka
memancarkan keterkejutan yang amat sangat
"Kau..., kau.... Bukankah
kau Dewa Arak...?!" tanya orang yang berkulit putih, terbata-bata.
"Begitulah julukan yang diberikan orang kepadaku," jawab Arya.
"Lalu, siapakah Kisanak berdua?" "Tidak usah kautanyakan,
Arya!" seru Sangga Juwana keras. "Aku tahu, siapa kedua orang
itu!"
Laki-laki yang berkulit hitam
membalikkan tubuh untuk melihat orang yang berbicara. Di hadapannya tampak
berdiri dua orang laki-laki. Yang satu berpakaian warna putih, sedangkan yang
lainnya coklat. Mereka tak
lain adalah Ki Waringin dan
Sangga Juwana yang tadi bersama-sama Dewa Arak saling mendahului untukmencapai
tempat Ki Sancaka.
"Kau tahu, siapa mereka,
Sangga?" tanya Arya seraya menatap laki-laki berkumis tebal itu. Sangga
Juwana menganggukkan kepala.
"Dua Dewa Kembar. Yang satu
berjuluk Dewa Hitam. Sedangkan yang satunya Dewa Putih," jelas Sangga
Juwana.
Dewa Arak mengernyitkan dahi.
Sepengetahuannya, kedua orang itu adalah tokoh persilatan aliran putih, dan
amat terkenal di wilayah Selatan. Kepandaian mereka cukup tinggi. Hanya
sayangnya, mereka tidak pernah mencampuri urusan persilatan. Lalu, mengapa kini
mereka menyerang Ki Sancaka?
"Mengapa kalian menyerang Ki
Sancaka?" tanya Arya ingin tahu.
"Siapa pun orangnya yang
bersahabat dengan Ki Waringin, akan kami basmi! Tidak terkecuali kau, Dewa
Arak!" tandas Dewa Hitam keras.
"Mengapa?" kejar Arya.
"Karena sebentar lagi akibat
tindakan Ki Waringin, akan terjadi bencana di dunia persilatan," sahut
Dewa Putih yang kelihatannya lebih sabar.
"Maaf. Kurasa kalian berdua
salah paham," ujar Arya hati-hati.
"Tidak!" tandas Dewa
Hitam dan Dewa Putih berbareng. "Kami jelas-jelas mendengar berita itu.
Perguruan Harimau Terbang telah membawa barang kiriman yang berupa kepala
Burangrang, tokoh sesat pembawa bencana yang tewas lebih dari seratus lima
puluhtahun lalu!"
Arya tersenyum lebar.
"Kalian salah paham! Berita
itu tidak benar! Kami berempat telah membuktikan ketidakbenaran berita yang
tersiar! Sebenarnya, bukan kepala tokoh sakti yang dlkirim, melainkan kepala
seekor orang hutan! Mungkin ada orang yang ingin menciptakan keresahan dalam
dunia persilatan!" jelas Dewa Arak.
Dewa Hitam dan Dewa Putih
salingberpandangan.
"Bagaimana kalian tahu kalau
kepala itu berisi kepala seekor orang hutan?" tanya Dewa Hitam.
Arya lalu menceritakan semuanya.
Sementara, Dewa Hitam dan Dewa Putih mendengarkan penuh perhatian. Sekali pun
mereka tak menyelak cerita pemuda berambut putih keperakan itu.
Sementara, Ki Waringin tampak
sibukmengurusi Ki Sancaka yang terluka.
***
"Celaka...!" cetus Dewa
Hitam ketika Dewa Arak mengakhiri ceritanya. "Jangan-jangan, wanita
siluman itu telah mengecoh semua orang!"
"Wanita siluman?"ulang
Arya dengan dahi berkernyit dalam.
"Tentu saja bukan siluman
sungguhan, melainkan seorang manusia seperti kita. Menurut berita yang berhasil
kami peroleh, wanita itu adalah keturunan Burangrang. Hm.... Dia pasti ingin
membangkitkan leluhurnya dari kematian," jelas Dewa Hitam.
Kemudian wajah Dewa Hitam
berpaling ke arah Ki Sancaka yang terbaring dengan kaki buntung, ditemani Ki
Waringin. Lalu, tokohitu berpaling menatap Dewa Putih. Sementara, yang ditatap
hanya menganggukkan kepala saja.
Sebentar kemudian, Dewa Hitam dan
Dewa Putih menghampiri Ki Sancaka.
"Maafkan kami, Ki.
Sungguhkami tidak tahu kalau ini ternyata siasat wanita itu,"ucap Dewa
Hitam.
Ki Sancaka hanya tersenyum getir.
Walaupun dia menyadari kesalahpahaman ini, tapi rasanya berat untuk memberi
maaf. Masalahnya, kedua penyerangnya tidak bertanya lebih dahulu, dan langsung
menyerang.
"Kami berjanji akan
mengobati luka-lukamu, Ki,"tambah Dewa Putih.
Ki Sancaka masih diam saja. Dewa
Putih dan Dewa Hitam jadi salah tingkah. Mereka jadi tidak tahu harus berbuat
apa. Sungguh suatu kesalahan bodoh yang baru mereka perbuat kali ini. Maka
sejenak suasana jadi hening.
"Bisa kau ceritakan
sejelas-jelasnya, Dewa Hitam," pinta Ki Waringin yang masih menolong Ki
Sancaka. Hal itu dilakukan untukmenghilangkan kekakuan yang terjadi.
Dewa Hitam menatap Ki Waringin.
"Baik! Kami akan ceritakan
dari awal," Dewa Hitam mengambil keputusan.
Usai berkata demikian, laki-laki
berpakaian hitam ini termenung. Rupanya, dia tengah mencari kata-kata yang
tepat untuk memulai ceritanya.
"Sejak keturunan sebelum
kami, telah ada kewajiban untuk menjaga sebuah tempat terlarang untuk didatangi
siapa pun. Tempat itu berisi kepala seorang tokoh sakti angkara murka yang
tewas seratus lima puluh tahun lalu. Burangrang namanya. Maaf, nama tempat
itutidak bisa kami beritahukan."
Dewa hitam menghentikan ceritanya
sejenak untuk melihat tanggapan di antara mereka. Sementara Ki Waringin
mengangguk, memaklumi permintaan maafDewa Hitam yang tidak bisa menyebutkan
tempat beradanya kepala Burangrang.
"Kepala Burangrang digantung
di atas langit-langit tempat itu. Maksudnya, agar tak bersentuhan dengan
tanah," sambung Dewa Hitam lagi. "Selama ratusan tahun, tempat itu
aman. Sampai pada suatu saat, ada seorang laki-laki keturunan Burangrang
berusia empat puluh tahun yang mengetahui tempatnya. Untung kami berhasil
membungkam mulutnya untuk selamanya. Tapi entah bagaimana caranya, tahu-tahu
seorang wanita muda yang juga keturunan Burangrang, berhasil membawa lari
kepala itu. Kami pun mengejarnya karena tidak ingin malapetaka mengerikan
terulang kembali."
Kembali Dewa Hitam menghentikan
ceritanya. Ditelannya air liur, untuk membasahi tenggorokannya yang kering
karena terlalu banyak berbicara.
Tapi sebelum laki-laki berpakaian
hitam ini melanjutkan cerita, sudah didahului Dewa Putih.
"Sayangnya, pengejaran yang
kami lakukan terlambat. Wanita itu ternyata telah pergi jauh. Maka, kami pun
berpencar untuk mengikuti jejaknya. Salah seorang dari kami memberi tahukan
kalau wanita itu masuk ke Perguruan Harimau Terbang sambil membawa peti. Dan
berita yang kami dapatkan adalah, wanita siluman itu menitipkan peti pada
Perguruan Harimau Terbang. Maka, rombongan kami pun merencanakan untuk
merampasnya. Sebagian menuju ke tempat asal Burangrang, sedangkan kami berdua
menuju tempat persembunyian tubuh Burangrang, yang memang cukup jauh dari
tempat kami. Dan betapa gegernya kami ketika tahu tubuh Burangrang ternyata
telah lenyap!"
Dewa Putih menghentikan ceritanya
untuk mengambil napas. Dan kesempatan itu digunakan oleh Ki Waringin sebaik-baiknya.
"Apakah wanita yang kau
maksudkan mengenakan pakaian biru, berambut keriting halus, dan berkulit
putih?"tanya Ketua Perguruan Harimau Terbang ingin memastikan.
Dewa Putih menganggukkan kepala,
pertanda membenarkan dugaan Ki Waringin. "Dialah wanita itu. Cendani
namanya," sambut Dewa Hitam, tak mau ketinggalan.
"Tak kami sangka telah
terjadi peristiwa mengerikan. Rombongan yang bertugas mencegat rombongan
Perguruan Harimau Terbang tewas terbantai bersama-sama tokoh lainnya. Menurut
kabar yang berhasil kami dengar, pembunuh itu adalah Garuda Laut Timur."
"Dari mana kalian tahu,
kalau laki-laki dan wanita itu adalah keturunan Burangrang?" tanya Dewa
Arak ingin tahu.
"Dari berita yang didapatkan
rombongan kami ketika menuju ke tempat asal Burangrang. Bahkan seorang penganut
ilmu hitam di tempat Burangrang tinggal, telah lenyap tanpa ketahuan kabar
beritanya. Kami khawatir kalau kepergian tokoh ahli ilmu hitam itu berhubungan
dengan Burangrang. Bahkan bukan tidak mungkin Cendani yang datang memintanya
untuk membangkitkan Burangrang kembali."
Dewa Hitam menghentikan
ceritanya. Tapi, tidak ada seorang pun yang membuka pembicaraan. Maka Suasana
pun menjadi hening sejenak.
"Andaikata dugaanmu itu
benar, untuk apa Cendani membangkitkan kembali leluhurnya?" tanya Arya
ingin tahu.
Dewa Hitam menarik napas
dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat sebelum menjawab pertanyaan Arya.
"Semula kami pun merasa
bingung juga. Tapi dari berita yang didapat ketika rombongan kami mendatangi
tempat asal Cendani, kami bisa memperkirakan alasannya. Keluarga Cendani
dibinasakan oleh Raja Ular Beracun. Kalau mengukur kemampuan sendiri, tidak
akan mungkin Cendani bisa mengalahkan Raja Ular Beracun. Jalan satu-satunya
adalah membangkitkan kembali Burangrang Karena, hanya Burangranglah
satu-satunya yang bisa membalaskan sakit hati itu!" jelas Dewa Hitam.
Arya menggangguk-anggukkan
kepala.
"Kalau begitu, bagaimana
kalau kita mendahului Cendani dan Burangrang?" usul Dewa Arak
"Maksudmu..., kita satroni sarang Raja Ular Beracun?" sambut Dewa
Hitam cepat
Arya menganggukkan kepala,
pertanda membenarkan.
"Hal itu pun sudah kami
pikirkan sebelumnya, Dewa Arak. Hanya saja setelah kami pertimbangkan, maksud
itu pun kami urungkan. Apabila Burangrang belum menuju ke sana, akibatnya kami
malah akan bentrok dengan Raja Ular Beracun? Dan itulah yang sama sekali
tidakdiinginkan,"urai Dewa Hitam.
"Kalau begitu, biar aku saja
yang ke sana," kata Arya. "Kebetulan aku mempunyai urusan dengan Raja
Ular Beracun!"
"Aku ikut, Arya!" selak
Sangga Juwana. Arya menggelengkan kepalanya.
"Maaf, Sangga! Bukannya
tidak mengizinkan, tapi aku harus bertindak cepat. Maksudku, apabila Burangrang
benar-benar telah bangkit dari kematiannya, dapat segera kutanggulangi sebelum
menelan korban lebih banyak," jelas Dewa Arak.
"Apa yang dikatakan Arya
tidak salah, Sangga!" Ki Waringin memberi dukungan pada Arya. "Lebih
baik, kau temani aku mengobati Ki Sancaka!"
"Hhh...!"Sangga Juwana
menghela napas berat. "Kalau demikian, apa boleh buat...."
"Benar! Kami juga tetap akan
membantu Ki Waringin untuk mengobati luka-luka Ki Sancaka! Maafsekali lagi.
Kami benar-benar menyesal atas kejadian yang menimpa Ki Sancaka," kata
Dewa Putih disertai raut wajah penuh penyesalan.
"Maafkan kami sekali lagi,
Ki Sancaka," ucap Dewa Hitam pula seraya berjongkok di sebelah Ketua
Perguruan Naga Laut itu.
Sementara itu, Dewa Arak tidak
menunggu lebih lama lagi. Setelah berpamitan pada semua orang yang berada di
situ, pemuda berambut putih keperakan itu melesat cepat. Tujuannya sudah jelas,
yakni tempat kediaman Raja Ular Beracun. Dari Sangga Juwana, Dewa Arak tahu, ke
mana harus pergi.
8
"Ssshhh...!"
Suara desisan tajam terdengar
dari mulut seorang kakek bermata picak. Tubuhnya yang kecil dan kurus,
terbungkus rompi dan celana dari kulit ular.
Kakek itu rupanya tengah berlatih
pernapasan. Tubuhnya membentuk kuda-kuda sejajar, dengan kedua tangan tampak
menegang penuh tenaga. Jari-jari kedua tangannya menegang lurus, kaku.
"Ssshhh...!"
Seiring keluarnya desisan dari
mututnya, kakek bermata picak yang tak lain dari Raja Ular Beracun itu
menyodokkan tangan kanannya ke depan secara perlahan-lahan, tapi penuh tenaga.
Lalu setelah semuanya terjulur penuh, tangan kanannya ditarik kembali secara
cepat dan diletakkan di pinggang sambil menarik napas. Kemudian, ganti tangan
kirinya yang dijulurkan. Demikianseterusnya.
Hari masih sangat pagi. Matahari
baru saja muncul di ufuk Timur. Angin yang bertiup pun masih terasa sejuk di
kulit dan nikmat dalam dada. Dan sepagi itulah, Raja Ular Beracun telah
berlatih pemapasan.
Meskipun tengah berlarih, rupanya
kemampuan pendengaran Raja Ular Beracun tetap tidak berkurang. Terbukti,
telinganya menangkap adanya langkah di balik tembok pelataran tempatnya
berlatih. Memang,
Raja Ular Beracun tengah berlatih
di halaman samping rumahnya. Dan antara halaman rumah dengan dunia luar,
dibatasi tembok batu setinggi hampir dua tombak! Dan dari luar itulah suara
berasal.
Tapi Raja Ular Beracun sama
sekali tidak mempedulikannya. Dari langkah itu bisa diketahui kalau kepandaian
orang yang berada di luar tembok, tidak perlu ditakutinya. Maka, dia pun terus
saja meneruskan lahhannya.
Raja Ular Beracun bersikap
tenang-tenang saja sambil menunggu hingga pemilik langkah itu masuk ke dalam.
Ingin diketahuinya, apa yang akan dilakukan orang itu.
Raja Ular Beracun tidak perlu
menunggu terlalu lama, karena sesaat kemudian.... "Hup! Hup!"
Dua sosok bayangan telah
mendaratkan kakinya di hadapan Raja Ular Beracun, hanya berjarak dua tombak.
Yang seorang mendaratkan kakinya dengan suara terdengar jelas oleh telinga Raja
Ular Beracun. Tapi, tidak demikian halnya dengan sosok tubuh yang satu lagi.
Sepasang kakinya mendarat laksana sehelai daun kering jatuh ke tanah. Tidak
terdengar sedikit pun suara ketika hinggap di tanah. Jelas, ilmu meringankan
tubuhnya telah mencapai tingkat tinggi
Raja Ular Beracun tidak berani
bertindak sembrono. Buru-buru latihannya dihentikan. Kemudian, ditatapnya dua
sosok tubuh yang berdiri di hadapannya, penuh selidik.
Yang seorang adalah gadis
berambut keriting halus. Wajahnya cantik jelita. Kulit tubuhnya yang putih
halus dan mulus, dibungkus pakaian berwarna biru.
Tapi, Raja Ular Beracun tidak
memperhatikan gadis berambut keriting lama-lama, karena hanya lawan ringan.
Walaupun, tampak ada sorot kebencian yang memancar dari sepasang mata indah dan
bening itu.
Raja Ular Beracun lebih
memusatkan perhatian pada sosok tubuh di sebelah gadis itu. Dia adalah seorang
laki-laki berusia tiga puluh tahun. Tubuhnya kurus kering seperti seekor cicak
kelaparan. Ada rasa nyeri yang menyelinap di dalam hati kakek berpakaian ular
ini ketika menatap sosok tubuh kurus kering di hadapannya. Sorot matanya
memancarkan kengerian! Rasanya, sinar mata seperti itu tidak akan dimiliki
manusia.
Raja Ular Beracun sama sekali
tidak tahu kalau laki-laki yang menumbuhkan rasa takut di hatinya tak lain dari
Burangrang. Walaupun pernah mendengarnya, tapi dia tak pernah melihatnya.
Padahal, tokoh sesat di hadapannya ini kepalanya telah berusaha direbutnya. Dan
memang, dia tidak ingjn tokoh berilmu 'Rawa Rontek' itu bangkit kembali dari
kematiannya. Raja Ular Beracun tahu, kalau Burangrang bangkit kembali dari
kematiannya, kedudukannya sebagai datuk sesat akan bisa tergusur. Alasan yang
sama juga mendorong Garuda Laut Timur untuk merebut kepala Burangrang agar tidak
bisa bersatu kembali dengan tubuhnya.
"Inikah orang yang berjuluk
Raja Ular Beracun itu, Cendani?" tanya Burangrang dengan suara parau dan
serak.
"Benar, Buyut," jawab
Cendani sambil menganggukkan kepala. "Dialah yang telah membunuh ayah dan
kakek!"
Setelah mendapat pemberitahuan
dari Cendani, Burangrang melangkah maju.
"Bersiaplah untuk menerima
kematian, Raja Ular Beracun!" desis tokoh sesat dari masa silam itu.
Tapi orang seperti Raja Ular
Beracun mana bisa digertak? Apalagi belum pernah melihat orang yang
menggertaknya. Dia malah tersenyum mengejek untuk menyembunyikan rasa ngeri
yang melanda hatinya.
"Orang seperti kalian ingin
merobohkan Raja Ular Beracun?! Jangan mimpi! Kalian berdualah yang akan
kubantai! Dengarkan! Kalian berdua akan kusiksa sebelum kubunuh karena telah
bertindak kurang ajar! Kalian telah mengganggu latihanku dan juga
mengancamku!"
Meskipun tidak mengerti, siapa
ayah dan kakek Cendani yang telah dibunuhnya, Raja Ular Beracun tidak ingin
memperpanjang urusan itu. Perasaan angkuhlah yang mendorongnya bertindak
demikian.
Burangrang menggeram keras,
hingga terdengar mengerikan sekali! Geraman yang keluar dari mulutnya
seakan-akan keluar dari mulut seekor binatang buas yang tengah murka. Memang,
Burangrang tengah murka bukan kepalang. Untungnya, meski dalam keadaan seperti
itu, dia masih ingat untuk tidak mengerahkan segenap tenaga dalamnya. Karena
bila hal itu dilakukan, Cendani pasti akan celaka.
Meskipun demikian, walaupun hanya
mengerahkan sebagian kecil dari tenaga dalamnya, namun toh tetap saja
berpengaruh pada Cendani. Gadis berambut keriting itu cepat mendekapkan kedua
tangannya ke telinga, karena dengungan keras telah menyerangnya.
***
Seiring lenyapnya geraman itu,
Burangrang melompat menerjang Raja Ular Beracun. Kedua tangannya terkembang
membentuk cakar. Dan selagi tubuhnya berada di udara, tangan kanannya bergerak
menyampok kepala Raja Ular Beracun. Arah gerakannya dari atas ke bawah.
Sedangkan tangan kirinya disiapkan di pinggang.
Cittt..!
Suara mencicit nyaring
menyakitkan telinga terdengar ketika cakar itu bergerak menuju sasaran.
Sementara Raja Ular Beracun yang memang sejak tadi sadar kalau calon lawannya
memiliki kepandaian lihai, tidak berani bertindak sembarangan. Buru-buru dia
melompat ke belakang, sehingga sampokan itu lewat beberapa jengkal di depan
wajahnya.
Luar biasa! Dalam keadaan tubuh
berada di udara seperti itu, Burangrang mampu melancarkan serangan susulan!
Entah bagaimana caranya, tahu-tahu kaki kanan tokoh sesat dari masa silam ini
telah bergerak mengibas. Dan itu dilakukannya sambil membalikkantubuh.
Wuttt!!
Kali ini, pelipis Raja Ular
Beracun yang diancam. Menilik dari deru angin keras yang mengawali tibanya
serangan, bisa diperkirakan besarnya kekuatan tenaga dalam yang terkandung.
Memang, jangankan kepala manusia, batu karang yang paling keras pun akan hancur
berantakan apabila terlanda kibasan Burangrang.
Untuk yang kedua kalinya, Raja
Ular Beracun tidak berani bertindak sembarangan. Dia tidak sudi melakukan
elakan-elakan jarak pendek, karena belum mengetahui perkembangan ilmu lawannya.
Padahal, serangan itu bisa dielakkan dengan merendahkan tubuh. Tapi karena
belum membaca perkembangan ilmu lawan, Raja Ular Beracun tidak mengelak seperti
itu. Datuk sesat yang merajai daratan itu cepat melempar tubuh ke belakang,
kemudian bersalto beberapa kali di udara. Dan....
"Hup!"
Begitu kedua kakinya menginjak
tanah, Burangrang pun berhasil mendarat pula. Dan secepat itu pula,
dilancarkannya serangan bertubi-tubi ke arah Raja Ular Beracun. Pertarungan
sengit antara dua tokoh sakti pun tidak bisa dielakkan lagi.
Pertarungan yang mendebarkan hati
itu memang hanya disaksikan Cendani seorang. Gadis berambut keriting ini
memperhatikan penuh perhatian. Sepasang matanya hampir tidak pernah berkedip
memperhatikan. Namun betapapun matanya telah disipitkan agar dapat melihat
lebih jelas, tetap saja jalannya pertarungan tidak bisa disaksikan secara
jelas. Memang, gerakan kedua tokoh sakti berbeda zaman itu berlangsung cepat
bukan kepalang.
Yang tampak dari pertarungan itu
hanyalah bayangan hitam dan kuning yang terkadang saling belit, tapi tak jarang
saling pisah. Namun terpisahnya dua bayangan itu hanya berlangsung sebentar
saja. Karena begitu bayangan kuning terpental dari kancah pertarungan, bayangan
hitam segera melesat memburu. Sesaat kemudian, kedua bayangan itu telah saling
belit kembali.
Raja Ular Beracun menggertakkan
gigi. Hatinya merasa heran bukan kepalang melihat cara bertarung lawannya.
Kelihatannya Burangrang bertarung tanpa mempedulikan keselamatan diri sendiri.
Bahkan seperti sengaja hendak mengadu nyawa. Yang dilakukan Burangrang adalah
melancarkan serangan terus-menerus, tanpa mempedulikan pertahanan sama sekali.
Tentu saja Raja Ular Beracun yang
belum ingin mati, tidak sudi meladeni tindakan Burangrang. Dan sebagai
akibatnya, datuk sesat penguasa daratan ini jadi terdesak hebat. Namun
sebenarnya, Raja Ular Beracun menunggu saat yang tepat untuk melancarkan
serangan ke arah pertahanan lawan yang terbuka di sana-sini.
Beberapa kali serangan
dilancarkan ke bagian bagian tubuh Burangrang. Memang, banyak celah-celah yang
terbuka di sana-sini. Tapi, serangannya segera ditarik kembali oleh Raja Ular
Beracun. Karena pada saat
serangan itu dilancarkan,
Burangrang sama sekali tidak mempedulikannya. Bahkan dia melancarkan serangan
serupa. Melihat hal ini, Raja Ular Beracun tidak mau mati konyol.
Maka, pada saat pertarungan belum
mencapai tujuh puluh jurus, Raja Ular Beracun sudah terdesak. Memang, apabila
dibuat perbandingan dengan Burangrang, Raja Ular Beracun kalah segala-galanya.
Baik tenaga dalam, maupun ilmu meringankan tubuhnya. Beberapa kali sewaktu
terjadi benturan, tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang disertai rasa nyeri
yang amat sangat.
Kini, Raja Ular Beracun hanya
bisa bermain mundur. Serangan-serangannya yang semula bertubi-tubi kini sudah
tidak terlihat lagi. Dia lebih banyak mengelak. Menangkis pun apabila keadaan
sudah terlahj memaksa saja. Dengan tingkat tenaga dalam yang berada di bawah
lawan, banyak menangkis hanya akan merugikan dirinya.
Tapi berapa lama Raja Ular
Beracun dapat bertahan? Mengelak terus-menerus, sementara lawan yang
dihadapinya bukan tokoh sembarangan? Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi, Raja
Ular Beracun pun mengetahui hal itu. Maka, sambil mengelak dicarinya kesempatan
baik.
Sementara, Burangrang terus saja
melakukan serangan bertubi-tubi tanpa mempedulikan pertahanan diri. Hal ini
sebenarnya cukup membuat Raja Ular Beracun jadi kebingungan. Tapi, buru-buru
pikiran itu dihilangkan dari benaknya. Saat ini, dia tangah menghadapi lawan amat
tangguh. Bahkan dalam keadaan terdesak. Kalau masih harus memusingkan masalah
yang mengherankan itu, dia akan celaka.
***
"Haaat..!"
Pada jurus kedelapan puluh tiga,
disertai suara teriakan nyaring, Burangrang melancarkan serangan bertubi-tubi.
Kedua tangannya meluncur cepat ke arah dada dan ulu hati Raja Ular Beracun.
Raja Ular Beracun memutar
benaknya. Kesempatan baik untuk mendapatkan kemenangan, telah terpampang di
depan mata. Kalau tidak bisa memanfaatkan, belum tentu kesempatan baik seperti
ini akan muncul kembali.
Setelah mempertimbangkannya
sejenak, Raja Ular Beracun langsung berrindak. Buru-buru tubuhnya didoyongkan
ke samping kanan untuk mengelakkan serangan. Pada saat yang bersamaan, kaki
kirinya diluncurkan ke arah dada.
Prat, prat... Bukkk!
"Akh...! Akh...!"
Kejadiannya berlangsung demikian
cepat. Serangan-serangan dari Burangrang maupun Raja Ular Beracun mendarat di
tubuh satu sama lain. Hanya saja, serangan-serangan Raja Ular Beracun mendarat
tepat di sasaran. Sedangkan serangan Burangrang meleset dari sasaran, karena
daruk sesat penguasa daratan itu telah keburu mengelak. Serangan-serangan
Burangrang hanya mengenai dada kiri atas sebanyak dua kali berturut-turut.
Akibatnya, disertai jeritan
kesakitan dari mulut tubuh kedua tokoh sakti itu terjengkang ke belakang. Dari
mulut masing-masing keluar darah segar. Tapi, darah yang keluar dari mulut
Burangrang jauh lebih banyak. Namun meskipun demikian, bukan berarti Raja Ular
Beracun tidak apa-apa. Luka-luka yang dideritanya ternyata cukup parah. Karena
serangan-serangan Burangrang memang dahsyat bukan kepalang.
"Buyut...!" jerit
Cendani ketika melihat tubuh laki-laki berwajah pucat itu terjengkang deras ke
belakang disertai semburan darah dari mulutnya
Dengan raut wajah beringas,
Cendani memalingkan wajahnya ke arah Raja Ular Beracun. Dan....
"Hiyaaat..!"
Disertai teriakan keras
melengking tinggi, Cendani meluruk ke arah Raja Ular Beracun. Dan ketika berada
di udara, tangan kanannya bergerak mengambil pedang yang tergantung di
punggung. Dan....
Srattt!
Sinar terang berkelebat ketika
pedang Cendani tercabut dari sarungnya. Dan secepat pedang itu tercabut,
secepat itu pula ditusukkan ke perut Raja Ular Beracun.
Datuk sesat penguasa daratan itu
terkejut bukan kepalang. Padahal saat itu tubuhnya tengah terluka dan tengah
terhuyung. Jadi, merupakan suatu hal yang amat sulit untuk mengelak. Maka,
jalan satu-satunya untuk mengelak hanya menangkis! Segera saja Raja Ular
Beracun menggunakan tangan kanannya untuk menangkis serangan itu. Memang tangan
kirinya sudah tidak bisa digunakan lagi. Langsung dipapaknya serangan pedang
itu dengan tangan telanjang.
Trak!
Suara berderak keras terdengar
ketika batang pedang itu berbenturan dengan tangan Raja Ular Beracun.
"Akh...!"
Cendani menjerit tertahan.
Tangannya yang menggenggam pedang terasa lumpuh. Akibatnya, senjata yang
tergenggam pun terlepas dari pegangan.
Tapi, bukan hanya Cendani saja
yang menderita kerugian dalam benturan itu. Raja Ular Beracun pun mengalami hal
yang sama. Tangannya tergores pedang, hingga kulit dagingnya sobek. Darah segar
pun mengucur keluar. Memang, sewaktu memapak serangan tadi, Raja Ular Beracun
tidak bisa mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, karena tengah terluka cukup
parah. Jadi dia hanya mengerahkan separuh tenaganya.
Sementara itu, Cendani rupanya
sudah memperhitungkannya. Karena begitu pedangnya terlepas dari pegangan,
tangan kirinya bergerak ke arah perut Raja Ular Beracun. Ada sinar berkilat
seiring meluncur tangannya. Ternyata, di genggaman tangan gadis itutercekal
sebilah pisau yang berkilat-kilat saking tajamnya.
Raja Ular Beracun terperanjat.
Namun, sudah tidak ada waktu lagi untukmengelak. Maka.... Blesss!
Pisau di tangan Cendani kontan
amblas ke dalam perut sampai ke gagang. Kemudian, gadis berambut keriting
itulangsung melepaskan cekalan pada pisaunya, dan melompat menjauh.
"Hup!"
Baru saja kedua kakinya hinggap
di tanah, terdengar tawa yang amat dikenalnya. Suara tawa Burangrang, buyutnya!
Bagai disengat kalajengking, Cendani menoleh
ke belakang. Tampak Burangrang tengah menghampirinya. Namun, tidak
nampak ada tanda-tanda kalau tokoh sesat dan masa silam itu terluka.
"Kau..., kau tidak apa apa,
Buyut?"tanya Cendani gagap karena kaget Burangrang menggelengkan kepala.
"Tidak akan ada seorang pun
yang bisa membinasakanku, Cendani!" sahut Burangrang sombong.
"Tap..., tadi kulihat..."
"Memang kubiarkan serangan
itu mengenaiku, Cendani. Karena aku tahu, tidak akan terjadi apa pun atas
diriku," tenang ucapan yang keluar dari mulut Burangrang. "Jangan
panggil aku Burangrang kalau cecoro seperti Raja Ular Beracun mampu
melukaiku!"
Karuan saja ucapan Burangrang
membuat wajah Raja Ular Beracun yang sudah pucat karena tengah menjelang ajal,
semakin bertambah pias. Tarikan wajahnya juga menampakkan keterkejutan yang
amat sangat.
"Jadi, kau..., kau...."
Sebelum sempat menyelesaikan
ucapannya, tubuh Raja Ular Beracun sudah roboh, tidak bangkit lagi untuk
selamanya. Namun di akhir hayatnya, dia sempat tahu kalau pembunuhnya adalah
tokoh sesat dari masa silam yang kepalanya dicari-carinya agar tidak bisa
bersatu dengan tubuhnya.
"He he he...!"
Burangrang tertawa bergelak
panjang, bernada kemenangan. Tapi, mendadak tawanya dihentikan Kepalanya
langsung menoleh ke balik tembok. Memang, pendengaran Burangrang yang tajam
mendengar adanya deheman pelan di balik tembok
"Ada orang lihai
datang," kata Burangrang pada Cendani yang tampak kebingungan. Burangrang
tahu kalau orang yang berada di balik tembok sengaja mengunjukkan diri.
Belum juga lenyap gema suara
Burangrang, sesosok bayangan ungu melompat melewati atas tembok. Indah dan
manis gerakannya. Ketika kedua kakinya mendarat di tanah, sedikit pun tak
terdengar suara. Laksana daun kering yang jatuh ke tanah saja gerakannya.
Begitu berada di dalam, pandangan
mata sosok bayangan ungu yang tak lain dari Dewa Arak itu segera beredar
berkeliling. Yang pertama kali dilihatnya adalah dua sosok tubuh yang berdiri
menghadap ke arahnya. Salah satu dari mereka sudah bisa diduga. Siapa lagi
kalau bukan Cendani! Dan yang satunya lagi, pasti Burangrang.
Dugaan Dewa Arak semakin menguat
ketika melihat mayat Raja Ular Beracun tergeletak di tanah. Sama sekali tidak
disangka kalau akan keduluan. Dia tahu, di balik tembok ada orang. Makanya dia
pun berdehem untuk memberitahukan keberadaan dirinya pada orang yang ada di dalam.
"Siapa kau?" tegur
Burangrang keras.
Burangrang tahu Dewa Arak adalah
seorang calon lawan tangguh. Itu bisa dilihat dari gerakannya tadi, dan dari
sorot matanya yang mencorong tajam. Tokoh sesat masa silam ini tahu, sorot mata
seperti itu hanya dimiliki orang yang telah memiliki tenaga dalam tinggi.
Arya tidak merasa heran kalau
Burangrang tidak mengenalinya. Tokoh yang menggiriskan ini telah tewas lebih
dari seratus lima puluh tahun yang lalu, dan baru bangkit dari kematian. Jadi
bukan hal yang aneh jika tidak mengenalinya.
"Dia pasti Dewa Arak,
Buyut!" celetuk Cendani yang sudah mendengar berita mengenai Dewa Arak.
"Dewa Arak?!" ulang Burangrang dengan alis berkernyit
"Benar," Cendani
menganggukkan kepala. "Seorang pendekar muda sakti yang telah banyak
merobohkan pentolan golongan hitam! Selama ini, diabelum pernah
terkalahkan!"
Burangrang mengangguk-anggukkan
kepala pertanda mengerti. "Lalu, apa maumu, Dewa Arak?" tanya
Burangrang keras.
"Sederhana saja.
Melenyapkanmu selama-lamanya agar tidak mengacau dunia persilatan lagi!"
tegas Dewa Arak.
"He he he...! Kau hanya akan
mencari mati, Dewa Goblok!"
"Kematian bukan merupakan
hal yang menyeramkan bagiku, Burangrang! Apalagi, mati di dalam mempertahankan
kebenaran!" tegas dan mantap kata-kata yang keluar dari mulut Dewa Arak.
"Kalau begitu,
mampuslah!"
Usai berkata demikian, Burangrang
melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah Dewa Arak. Serangannya dibuka dengan
sebuah tendangan miring kaki kanan, bertubi-tubi ke arah dada, ulu hati, dan
pusar. Semuanya, dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam sepenuhnya. Kalau
tepat mengenai sasaran, sudah bisa diperkirakan hal yang akan terjadi.
Dewa Arak tentu saja mengetahui
hal itu. Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya segera dilempar ke
belakang. Lalu, Dewa Arak bersako beberapa kali di udara. Dan selagi kedua
kakinya belum menginjak tanah, diambilnya guci arak yang tersampir di punggung
dandituangkan ke mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan pemuda berambut putih keperakan itu. Sesaat
kemudian, hawa hangat pun menjalari perutnya dan terus merayap naik ke atas
kepala. Dan ketika kedua kakinya mendarat di tanah, Dewa Arak telah siap
menggunakan ilmu 'BelalangSakti'nya.
Tapi, bukan hanya pemuda berambut
putih keperakan itu saja yang telah bersiap sedia. Burangrang pun telah
bertindak sama. Sadar kalau lawan telah menggunakan ilmu andalan, dikerahkan
pula hal yang sama. Entah dari mana mengambilnya, tahu-tahu di tangan tokoh
yang menggiriskan itu telah tergenggam sebilah kapak besar yang bertangkai
panjang.
"Hiiih...!"
Disertai teriakan keras yang
mendirikan bulu roma, Burangrang mengayunkan kapaknya ke arah pinggang Dewa Arak
Rupanya, dia bermaksud membelah tubuh lawannya menjadi dua bagian.
Wuttt..!
Babatan kapak itu lewat di bawah
kaki, ketika Dewa Arak melompat ke atas. Tapi, tindakan Burangrang tidak hanya
sampai di situ saja. Kembali dilancarkannya serangan susulan ke arah Arya.
Sesaat kemudian, kedua tokoh yang sama-sama memiliki kepandaian tinggi
ituterlibat pertarungan sengit
Kapak besar bergagang panjang di
tangan Burangrang menyambar-nyambar ke arah Dewa Arak disertai deru angin keras
yang menyeramkan. Apabila terkena sedikit saja, maka kulit Dewa Arak akan robek
lebar.
Hebat bukan kepalang permainan
kapak Burangrang, tapi masih tak kalah hebat lagi ilmu 'Belalang Sakti' Dewa
Arak. Guci, kedua tangan, dan semburan araknya saling tunjang-menunjang,
menanggulangi setiap serangan Burangrang.
Beberapa gebrakan kemudian, tubuh
kedua tokoh yang tengah bertarung itu telah tidak terlihat lagi. Yang tampak
hanyalah bayangan ungu dan hitam yang salingsambar dan gempur.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
Hatinya merasa heran bukan kepalang melihat cara bertempur Burangrang. Tokoh
dari masa silam itu bertempur tanpa mempedulikan pertahanan. Yang dilakukannya
hanya menyerang dan terus merangsek
Sudah tidak terhitung lagi,
banyaknya celah yang terbuka di tubuh lawan. Beberapa kali serangan
dilancarkan, tapi langsung ditarik kembali ketika Burangrang tidak
mempedulikannya. Bahkan malah balik melancarkan serangan.
Pada jurus kedelapan puluh tiga,
Dewa Arak melihat bagian dada Burangrang terbuka lebar. Maka tanpa
membuang-buang waktu lagi, gucinya segera disorongkan.
Bukkk!
Telak dan keras sekali guci Dewa
Arak menghantam sasaran. Seketika itu juga, tubuh Burangrang terlempar ke
belakang. Darah bermuncratan dari mulutnya.
Brukkk!
Tubuh Burangrang jatuh berdebuk
di tanah, bahkan sampai terguling-guling. Arya sudah menghela napas lega. Sudah
bisa diperkirakan kalau Burangrang pasti akan tewas. Atau paling tidak gedoran
gucinya tadi telah membuat Burangrang terluka parah.
Bahkan Cendani pun menjerit
ngeri. Dia lupa akan ucapan buyutnya tadi. Dengan kemarahan meluap-luap,
diserbunya Dewa Arak. Pedang di tangan Cendani berkelebat cepat membentuk
gulungan sinar terang menyilaukan mata. Kemudian, dari gulungan sinar pedang
itumendadak mencuat ujung pedang ke arah leher Dewa Arak.
Melihat serangan maut yang
meluncur ke arahnya, Dewa Arak bersikap tenang. Dipapaknya luncuran ujung
pedang itu dengan sentilanjari telunjuknya.
Tinggg! "Ikh!"
Cendani menjerit kaget ketika
tangannya terasa mendadak lumpuh. Maka pedangnya pun terlepas dari pegangan.
Bukan itu saja. Bahkan tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya terhuyung ke
belakang.
Tapi, Cendani benar-benar seorang
gadis keras kepala. Tangan kirinya segera dimasukkan ke balik baju. Ketika
ditarik kembali, sebilah pisau tampak telah tergenggam di tangan, dan langsung
dilemparkan ke arah Dewa Arak.
Serangan seperti itu tentu saja
tidak berarti apa pun bagi Dewa Arak. Segera gucinya diayunkan untuk memapak
kedatangan pisau itu.
Tranggg! Singgg...! Cappp!
"Akh...!"
Kejadiannya berlangsung terlalu
cepat. Tahu-tahu, Cendani menjerit memilukan ketika pisau miliknya menyate
lehernya hingga tembus ke tengkuk. Rupanya, tangkisan guci Dewa Arak membuat
pisau itu membalik ke arah pemiliknya!
Dewa Arak menatap mayat Cendani
dengan sinar mata penuh penyesalan. Memang, hal seperti itu sama sekali tidak
disangka. Walaupun harus diakui, kematian memanglebih baik bagi Cendani.
Sebuah geraman keras bernada
penuh kemarahan, menyadarkan Dewa Arak dari termenungnya. Dapat dibayangkan,
betapa kaget hatinya ketika melihat Burangrang telah bangkit berdiri! Bahkan
terlihat segar bugar, tidak nampak adanya tanda-tanda kalau Burangrang telah
terluka dalam.
"Kubunuh kau....'"
geram Burangrang keras sambil melompat menerjang.
Tokoh dari masa silam itu memang
murka bukan kepalang melihat keturunannya yang bernama Cendani itu tewas.
Akibatnya, kedahsyatan serangannya pun berlipat ganda.
Tapi lawan yang dihadapinya
adalah Dewa Arak, seorang pendekar muda yang memiliki kepandaian menakjubkan.
Ilmu-ilmu yang dimilikinya memungkinkan dirinya untuk menanggulangi setiap
serangan Burangrang. Dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak telah
membuat kandas setiap serangan Burangrang. Sebaliknya, dengan jurus 'Belalang
Mabuk' berkali-kali Dewa Arak berhasil menyarangkan sasaran.
Namun sebenarnya, Dewa Arak mulai
dirayapi perasaan putus asa. Pertarungan telah berlangsung lebih dari dua ratus
jurus. Bahkan serangannya telah berkali-kali mendarat di sasaran, tapi semua
sama sekali tidak berarti. Memang, sewaktu terkena serangannya, tubuh
Burangrang tampak tak berdaya. Tapi ketika tubuhnya menyentuh tanah, dan bisa
bangkit kembali, tidak ada tanda-tanda kalau pentolan sesat seratus lima puluh
tahun silam itu terluka! Kalau seperti ini terus, bukantidak mungkinkalau
dirinya yang akan tewas di tangan lawan.
Sambil terus berjuang keras untuk
menundukkan lawan, Dewa Arak memutar otaknya. Dan mendadak pemuda itu tersentak
ketika menemukan suatu kesimpulan. Mungkinkah yang membuat Burangrang tidak
bisa mati adalah tanah?! Hampir Dewa Arak bersorak ketika menemukan kenyataan
yang membuatnya semakin yakin akan kebenaran dugaannya! Setiap kali bangkit
dari tanah, Burangrang kembali segar bugar. Haruskah tokoh ini dibuat tewas
tanpa menyentuh tanah? Maka Dewa Arak pun bersiap melaksanakan rencananya.
Sementara itu, Burangrang sama
sekali tidak tahu kalau Dewa Arak telah bersiap melakukan rencananya. Tokoh
sesat dari masa silam itu terus saja melakukan penyerangan dahsyat. Memang,
seperti juga Dewa Arak, Burangrang seakan-akan tidak pernah merasakan lelah.
Tenaganya kontan pulih, sehabis bangkit dari tanah. Bahkan kedahsyatan
serangannya sama sekali tidak mengendur.
"Haaat..!"
Diiringi teriakan menggeledek,
Burangrang melesat memburu Dewa Arak dengan kapak di tangan. Hal itu dilakukan
karena melihat Dewa Arak melompat ke belakang.
Tapi, sama sekali tidak diduga
deh Burangrang kalau hal itu memang sudah direncanakan Dewa Arak Maka begitu
pemuda berambut putih keperakan itu melihat Burangrang mengejarnya, kedua
tangannya dihentakkan ke depan. Inilah jurus 'Pukulan Belalang'.
Wusss!
Deru angin keras berhawa panas
menyengat, meluruk ke arah tubuh Burangrang yang tengah merangsek maju. Seperti
juga sebelumnya, tokoh dari masa silam ini sama sekali tidak mempedulikannya.
Bahkan kapaknya dibabatkan dengan dahsyat
Bresss! Crattt!
Tubuh Burangrang melayang ke
belakang ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak mendarat telak di tubuhnya.
Seketika itu juga, tubuhnya menghitam hangus. Sedangkan Dewa Arak hanya
meringis karena pergelangan tangannya terserempet kapak Burangrang.
Namun, Dewa Arak sama sekali
tidak mempedulikan lukanya. Segera tubuh Burangrang yang tengah melayang
dikejarnya. Kedua tangan pemuda berambut putih keperakan itu terjulur ke depan.
Dan....
Tappp!
Tubuh Burangrang berhasil
ditangkap Dewa Arak. Dan memang, seperti yang sudah diduga, Burangrang tidak
bangkit lagi. Dia tewas dengan seluruh tubuhnya gosong. Samar-samar tercium bau
daging yang terbakar hangus.
Kemudian, dengan satu tangan,
Dewa Arak menotok jalan darah di sekitar lukanya, untuk mencegah cairan merah
kental lebih banyak membanjir keluar. Sementara mayat Burangrang disangga
dengan satu tangan lainnya.
Tuk, tuk, tuk...!
Seketika aliran darah pada tangan
Dewa Arak terhenti.
Matahari naik semakin tinggi. Dan
kini, telah hampir mencapai titik tengahnya. Angin yang bertiup pun sudah tidak
nyaman di kulit ketika Dewa Arak beranjak meninggalkan tempat itu sambil
memanggul tubuh Burangrang. Entah dibawa ke mana mayat itu. Hanya Dewa Arak
sendiri yang tahu.
SELESAI
No comments:
Post a Comment