Neraka Untuk Sang Pendekar
1
Malam telah larut. Bahkan sudah
mendekati dini hari. Tapi seorang pemuda tampan berambut keperakan dan seorang
laki-laki setengah baya berpakaian indah, masih memeriksa bangunan demi
bangunan di dalam lingkungan Istana Kadipaten Blambang.
"Hhh...!"
Sambil melangkah keluar dari
salah satu bangu-nan yang telah selesai diperiksa, laki-laki setengah baya itu
menghela napas berat. Tarikan wajahnya menyiratkan kelesuan.
Memang, laki-laki tinggi besar
ini merasa lelah bukan kepalang, baik lahir maupun batin. Hampir semalam suntuk
dia bersama pemuda yang kalau dilihat dari ciri-cirinya adalah Dewa Arak itu
me-meriksa seisi bangunan. Harapannya akan didapat-kan sebuah petunjuk. Tapi,
ternyata semuanya nihil. Tidak ada satu pun petunjuk yang didapatkan.
"Bagaimana, Kang? Rasanya
semua bangunan sudah diperiksa. Tapi, tak satu pun petunjuk yang
di-peroleh." Celetuk Arya seraya menatap wajah laki-laki setengah baya
yang tak lain dari Adipati Blambang yang bernama Subali.
"Aku juga bingung,
Arya," sambut Adipati Subali bernada keluhan. "Entah, dari mana lagi
aku harus menyingkap teka-teki yang menyelimuti Rara Kunti."
Arya tidak menyahuti ucapan itu.
Dan Adipati Subali pun tidak meneruskan ucapannya lagi. Maka, suasana jadi
hening. Masing-masing pihak tenggelam dalam alun lamunan.
Sambil menghela napas panjang,
Adipati Subali mengedarkan pandang. Tapi ketika kedua bola mata-nya tertumbuk
pada pot-pot tanaman dia terjingkat kaget.
Meskipun tidak memperhatikan,
tapi sudut mata Arya melihat gerakan mendadak laki-laki tinggi besar itu. Sudah
bisa diperkirakan ada sesuatu yang me-ngejutkan harinya. Hanya saja Arya tidak
ingin ber-tindak lancang. Sikapnya seperti berpura-pura tidak tahu. Barangkali
saja hal itu tidak boleh diketahui-nya.
"Masih ada harapan,
Arya," ungkap Adipati Subali sambil menoleh Dewa Arak disertai sinar mata
penuh harap.
"Mengapa kau berkata
demikian, Kang?" Tanya Arya ingin tahu.
"Ada sebuah ruang rahasia.
Tepatnya lagi, sebuah tempat persembunyian. Di... ah! Lebih baik kutunjuk-kan
saja tempatnya, Arya. Mari."
Lalu Adipati Subaji bergegas
menuju pot-pot kayu yang terletak beberapa tombak di hadapannya. Dewa Arak pun
mengikuti di belakangnya.
Hanya dalam beberapa langkah
saja, mereka telah berada di dekat pot-pot kayu itu. Adipati Subali lang-sung
membungkukkan tubuhnya. Dengan bantuan sinar bulan yang cukup terang,
diperhatikannya satu persatu pot-pot tanaman itu. Sedangkan Arya hanya
memperhatikan tingkah lakunya saja.
Meskipun tidak diberi tahu,
pemuda berambut putih keperakan sudah bisa menduga penyebab Adipati Subali
bertindak demikian. Salah satu dari sekian banyaknya pot yang berjejer, ada
yang mem-punyai hubungan dengan ruangan rahasia. Itu kesim-pulan yang
didapatnya.
Mendadak Arya merasakan keanehan
dalam diri-nya. Dia merasa seakan-akan ada orang yang tengah memperhatikan
mereka. Arya tahu, kalau telah mem-punyai indera keenam yang pada binatang
disebut naluri. Bahkan nalurinya lebih tajam. Dengan agak bergegas pandangannya
dialihkan ke sekeliling. Dan ternyata nalurinya tidak keliru. Di pinggir atap
bangunan, tampak sesosok tubuh tengah duduk ber-sila. Sorot matanya tampak
angker bukan kepalang.
Dalam siraman sinar rembulan yang
pucat, terlihat cukup jelas sosok tubuh itu. Dia ternyata seorang kakek berusia
sangat lanjut. Tubuhnya kurus kering, sehingga yang terlihat, hanyalah tonjolan
tulang-tulang di sana-sini, terbungkus kulit keriput, kumis, dan jenggotnya
berwarna putih. Kepalanya agak sedikit botak, karena rambutnya telah banyak
yang rontok.
Yang membuat penampilan sosok
tubuh itu se-makin menyeramkan adalah pakaiannya yang ber-warna merah menyala.
Pada bagian dadanya, tampak gambar sebuah peri mati berwarna hitam.
"Hentikan usahamu, Kang. Ada
orang yang tengah mengintai kita," bisik Arya, pelan.
Kontan hati Adipati Subali
tercekat mendengar penjelasan Arya. Buru-buru dia berdiri tegak. Panda-ngannya
juga beralih ke arah Arya menatap. Seketika itu pula, laki-laki tinggi besar
ini terjingkat kaget.
"Dia..., dia.... Iblis Mayat
Hidup...," desis Adipati Subali bergetar penuh nada gentar.
Arya tidak menyambuti ucapan itu.
Memang, dia sudah menduga siapa kakek kurus kering ini, setelah melihat wama
pakaian dan gambar yang sama dengan pakaian Jaranta. Dan Jaranta sendiri adalah
anak Iblis Mayat Hidup.
Arya tahu, kakek kurus kering
yang ternyata ber-juluk Iblis Mayat Hidup itu adalah seorang berkepan-daian
tinggi. Putranya saja memiliki kepandaian tinggi. Apalagi Iblis Mayat Hidup?!
Pemuda berambut putih keperakan ini sukar membayangkannya.
Bukan hanya hal itu saja yang
membuat Arya men-duga demikian. Sepasang mata Iblis Mayat Hidup yang mencorong
tajam dan bersinar kehijauan seperti mata harimau dalam gelap, menunjukkan
kalau tenaga dalamnya amat kuat. Karena hanya tokoh yang memiliki tenaga dalam
amat tinggi yang mem-punyai sorot mata seperti itu.
***
Mendadak, tubuh Iblis Mayat Hidup
melesat. Herannya masih dalam keadaan duduk bersila. Bebe-rapa saat lamanya,
tubuh Iblis Mayat Hidup yang dalam keadaan bersila itu melayang-layang di
udara. Dan sekitar setengah tombak dari permukaan tanah, kedua kaki yang
dilipat segera diluruskan kembali. Kemudian, kakinya menjejak tanah tanpa suara
sama sekali.
"Siapa di antara kalian yang
menjadi keturunan Eyang Mandura?"
Bulu kuduk Adipati Subali
langsung merinding mendengar pertanyaan itu. Tapi bukan karena suara yang
bernada serak, berat, dan bergaung itu yang menjadi penyebabnya. Tapi justru
ketakutannya karena ketika melihat bibir Iblis Mayat Hidup sama sekali tidak
bergerak sewaktu mengucapkannya. Pa-dahal, jelas-jelas kalau kakek kurus kering
itu yang mengatakannya.
Iblis Mayat Hidup menggeram
ketika tak men-
dengar adanya jawaban sepotong
pun dari mulut kedua orang yang hanya berjarak tiga tombak di hadapannya. Bila
Adipati Subali mungkin karena masih dilanda perasaan kaget, sedangkan Arya
memang tidak ingin menjawab.
Seiring lenyap geraman, Iblis
Mayat Hidup mena-tap wajah Adipati Subali dan Arya. Ada nada selidik di samping
kemarahan di dalam sorot matanya.
Adipati Subali merasa gentar
bukan kepalang. Tanpa sadar kakinya mundur selangkah. Sedangkan Arya tetap
tenang. Meskipun demikian, sekujur urat syaraf dan otot pemuda berambut putih
keperakan ini telah menegang penuh kewaspadaan.
"Kau..., ya.... Pasti kau
yang menjadi keturunan Eyang Mandura," tuding Iblis Mayat Hidup ke wajah
Adipati Subali.
Karuan saja hal itu membuat
Adipati Subali ter-peranjat. Wajahnya langsung pucat pasi. Disadari ada bahaya
yang tengah mengancamnya sekarang. Meski-pun kematian bukan merupakan hal yang
menakut-kan bagi Adipati Subali, tapi mati di tangan datuk sesat seperti Iblis
Mayat Hidup merupakan sebuah hal yang mengerikan.
Perasaan ngeri itulah yang
membuat Adipati Subali tanpa sadar melangkah mundur. Sementara, Iblis Mayat
Hidup terus menatapnya penuh selidik. Sama sekali tidak dipedulikan keberadaan
Dewa Arak yang sejak tadi sudah bersikap waspada. Bahkan telah bersiap
menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.
"Benar..., kau pasti
keturunan Eyang Mandura.... Ada kemiripan antara dirimu dengannya," lanjut
Iblis Mayat Hidup, semakin meninggi nada ucapannya. "Kau harus bertanggung
jawab atas perbuatan lelu-
hurmu! Ayo, hadapi aku! Akan
kubuktikan kalau ilmu-ilmu ciptaanku lebih dahsyat daripada ilmu
leluhur-mu!"
Usai berkata demikian, kakek
kurus kering itu mengulurkan tangan kanannya. Jari-jari tangan yang terkembang
membentuk cakar itu meluncur ke arah ubun-ubun Adipati Subali, diiringi suara
mencicit me-nyakitkan telinga.
Arya yang memang sudah bersiaga
sejak tadi, tidak tinggal diam. Buru-buru kakinya melangkah ke kiri, menghadang
di depan Iblis Mayat Hidup. Tak lupa, tangan kanannya diayunkan untuk menangkis
serangan dengan arah dari dalam keluar.
Takkk!
Suara keras seperti beradunya dua
batang logam keras terdengar, ketika benturan terjadi. Dewa Arak dan Iblis
Mayat Hidup sama-sama terhuyung mundur selangkah ke belakang. Jelas, tenaga
dalam dua tokoh tingkat tinggi berbeda aliran ini berimbang.
"Keparat!"
Iblis Mayat Hidup mendesis penuh
kemurkaan, disamping keterkejutan seorang pemuda belia ter-nyata mampu membuatnya terhuyung dalam benturan! Padahal, tadi telah
seluruh tenaga dalam-nya dikerahkan. Ini benar-benar merupakan sebuah tamparan
keras padanya. Ini adalah penghinaan! Lawan di hadapannya ini harus menanggung
akibat perbua-tannya.
"Siapa kau, Keparat?!"
Tanya Iblis Mayat Hidup, keras dengan sepasang mata menyala-nyala.
"Namaku Arya Buana.
Orang-orang biasa memang-gilku Arya," kalem jawaban pemuda berambut putih
keperakan itu.
"Ha ha ha...!"
Iblis Mayat Hidup tertawa
bergelak-gelak dan ke-ras sekali. Bahkan mulutnya sampai terbuka lebar. Padahal
sejak tadi jangankan terbuka. Bibirnya ber-gerak-gerak saja, tidak!
"Jadi, kiranya kau yang
berjuluk Dewa Arak?! Ha ha ha...! Sungguh kebetulan! Julukanmu terkenal sekali,
Dewa Arak! Menurut berita yang kudengar, kau telah banyak merobohkan lawanmu.
Sehingga banyak tokoh persilatan yang mangatakan, kalau kau patut mendapat
julukan Jago Nomor Satu!"
Iblis Mayat Hidup menghentikan
ucapannya. Mata-nya nyalang, menatap Dewa Arak.
"Hatiku seketika panas
mendengar berita itu. Rasanya, ingin kubuktikan sendiri kebenarannya. Aku akan
mati penasaran, apabila belum sempat ber-temu dan membuktikan sendiri
kelihaianmu! Sama sekali tidak kusangka kalau kita akan bertemu di sini! Ha ha
ha...! Roboh di tanganmu, bukan merupakan hal yang memalukan, Dewa Arak!
Bersiaplah kau! Hiyaaat..!"
Iblis Mayat Hidup membuka
serangannya dengan sebuah gedoran ke arah dada. Tapi hanya melang-kah mundur,
telah membuat serangan kakek kurus kering itu luput.
Iblis Mayat Hidup tidak kecil
hati melihat serangan-nya berhasil dipunahkan Dewa Arak. Disadari kalau
lawannya berkepandaian amat tangguh. Hasil dari benturan tenaga dalam saat
pertama kali, telah menjadi patokannya. Kalau tidak mengalami sendiri, Iblis
Mayat Hidup tidak akan percaya. Tidak masuk diakal, orang semuda Arya mempunyai
tenaga dalam demikian tinggi.
Atas dasar pemikiran itulah,
Iblis Mayat Hidup terus melancarkan serangan-serangan lanjutan. Ten-
tu saja kali ini lebih dahsyat
daripada sebelumnya. Bukan hanya Iblis Mayat Hidup saja yang menya-
dari ketangguhan lawan. Dewa Arak
pun demikian pula. Itulah sebabnya, pemuda berambut putih kepe-rakan itu tidak
berani bertindak main-main. Seluruh kemampuannya dikerahkan. Meskipun demikian,
ilmu 'Belalang Sakti' andalannya belum dikeluarkan. Dewa Arak tahu, Iblis Mayat
Hidup pun belum me-ngeluarkan ilmu andalan. Tapi tak urung, pertarungan
berlangsung letap dahsyat dan menggiriskan. Masalahnya, ilmu-ilmu yang
dimiliki kedua tokoh ber-beda aliran itu nemang bermutu tinggi.
Suara mencicit, mendesing, dan
mengaung menye-maraki pertarungan. Dan hal itu terdengar setiap kali Iblis
Mayat Hidup dan Dewa Arak menggerakkan tangan atau kakinya.
Akibatnya hebat bukan kepalang
pada keadaan di sekitamya. Pepohonan, semak-semak, tanah, dan tembok-tembok
bangunan, porak-poranda. Keadaan sekitar tempat itu seperti habis diobrak-abrik
pulu-han ekor kerbau liar.
Untung saja, Adipati Subali sudah
sejak tadi menyingkir dari tempat itu. Kalau tidak, mungkin dia sudah terkapar
di tanah terkena angin pukulan yang bisa saja nyasar, meskipun hanya terkena
angin pukulan nyasar dari kedua tokoh sakti itu, ternyata cukup membuat nyawa
melayang ke alam baka.
Sementara itu, karena kedua belah
pihak sama-sama memiliki ilmu meringankan tubuh tinggi, per-tarungan menjadi
berlangsung cepat. Dalam waktu sebentar saja, pertarungan sudah berlangsung
lima puluh jurus. Selama itu, belum nampak adanya tanda-tanda yang akan
terdesak dan masih berlangsung imbang.
Mendadak terdengar suara
melengking tinggi, seperti pekik seekor burung garuda. Nadanya pun menyakitkan
telinga. Jelas, suara itu dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi.
Menilik dari suaranya, bisa diketahui kalau pemiliknya masih berada di tempat
yang jauh.
"Hi...!"
Mendadak Iblis Mayat hidup
menjauhkan diri dari kancah pertarungan. Kakek kurus kering ini
kemudian bersalto beberapa kali di udara, sebelum hinggap di tanah tanpa suara
sedikit pun.
Dewa Arak sama sekali tidak
mengejar. Padahal, hal itu bisa saja dilakukannya sambil mengirimkan
serangan-serangan susulan. Paling tidak, dia akan berada di atas angin. Dan
kenyataannya, Dewa Arak memang membiarkan saja tindakan Iblis Mayat Hidup yang
kini berdiri tenang.
"Kau hebat, Dewa Arak!
Julukanmu yang meng-gemparkan memang bukan omong kosong. Sayang, aku mempunyai
urusan lain yang lebih penting. Apa-bila urusanku telah selesai, kau akan
kutantang lagi, Dewa Arak!"
Usai berkata demikian, tubuh
Iblis Mayat Hidup lalu berbalik. Begitu kakinya dijejakkan, maka seketika itu
juga tubuhnya melesat dari situ. Tampak jelas kalau arah yang ditempuh adalah asal
jeritan melengking tinggi yang tadi terdengar.
Luar biasa! Hanya dalam beberapa
kali lesatan saja, tubuhnya telah lenyap di balik tembok benteng Istana
Kadipaten Blambang.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas berat
sambil meng-geleng-gelengkan kepala. Pandangannya masih ter-tuju ke arah yang
tengah dituju Iblis Mayat Hidup.
Sementara Adipati Subali yang
sejak tadi menyaksi-kan jalannya pertarungan dari kejauhan, meng-hampiri Arya.
"Mengapa tidak kau kejar,
Arya?" Tanya Adipati Subali heran.
Arya tersenyum getir.
"Iblis Mayat Hidup sudah
tidak menghendakinya lagi, Kang. Tidak ada gunanya pertarungan
di-langsungkan."
Adipati Subali
mengangguk-anggukkan kepala per-tanda mengerti.
"Iblis Mayat Hidup memang
seorang lawan tang-guh, Kang. Padahal, dia belum mengeluarkan ilmu andalannya.
Tak bisa kubayangkan kalau ilmu andalannya telah dikeluarkan," desah Arya
penuh kagum.
"Tapi..., bukankah kau juga
belum mengeluarkan Ilmu andalanmu, Arya," bantah Adipati Subali.
"Jadi, kalian sama-sama belum mengeluarkan ilmu andalan."
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Memang, dia tadi juga belum mengeluarkan ilmu andalan. Dan Dewa Arak jadi
tersenyum kecut dalam hati.
"Kalau begitu, kita
lanjutkan urusan yang belum selesai, Arya." Ajak Adipati Subali ketika
teringat kembali akan maksudnya semula.
"Kau benar, Kang,"
sambut Arya cepat.
Mendapat sambutan menggebu-gebu
seperti itu, Adipati Subali jadi bersemangat. Cepat kakinya diayunkan menuju
pot-pot kayu yang sebagian besar telah porak-poranda.
Sekarang, Adipati Subali tidak terlalu
sulit lagi untuk mengetahui pot yang menjadi kunci masuk ke tempat rahasia.
Karena, pot-pot yang masih utuh
tinggal sedikit. Dan ketika
akhirnya berhasil me-nemukannya, Adipati Subali langsung memegang sisi-sisi pot
itu dan memutarnya ke kanan. Dan, ternyata pot itu sama sekali tidak bergeming.
"Harapan kita semakin besar,
Arya!" cetus Adipati Subali penuh rasa gembira.
"Aku masih belum mengerti
maksudmu, Kang," kata Arya.
"Kalau ruangan rahasia itu
belum dimasuki orang, pot ini bisa diputar untuk membuka jalan masuk ke ruangan
rahasia. Dan apabila pot ini tidak bisa di-putar, berarti seseorang telah masuk
ke dalam ruangan dan menghambat bekerjanya pot yang men-jadi pembuka ini.
Memang, dari dalam kegunaan pot ini bisa ditangkal," urai Adipati Subali
panjang lebar.
Arya mengangguk-anggukkan kepala
pertanda mengerti.
"Lalu..., bagaimana caranya
kita masuk ke sana, Kang?" Tanya Arya, agak heran.
"Melalui tembusan jalan
rahasia ini," jawab Adipati Subali, kalem. "Mari, Dewa Arak...!"
Arya tersenyum geli sendiri
ketika mendengar jawaban Adipati Subali. Mengapa dia menjadi begitu bodoh?
Bukankah hal-hal seperti itu telah dialaminya sendiri. Bahkan di lstana
Kerajaan Bojong Gading juga ada hal seperti ini.
Arya tahu, tembusan jalan-jalan
rahasia seperti itu biasanya terletak di tempat-tempat terpencil dan sulit
ditemukan orang.
"Ada apa, Arya?" Tanya
Adipati Subali ketika melihat Arya termenung dengan bibir menyungging-kan
senyuman lebar.
Teguran ini membuat Arya
tersentak. Buru-buru kepalanya digelengkan beberapa kali.
"Ah...! Tidak apa-apa,
Kang...," jawab pemuda berambut putih keperakan.
Tentu saja Adipati Subali tidak
percaya atas jawaban Arya. Dia tahu, tidak ada sesuatu yang dipikirkan bila
pemuda berambut putih keperakan itu tidak termenung. Tapi laki-laki tinggi
besar itu ber-usaha bertindak bijaksana, dan tidak berusaha men-desaknya lagi.
Adipati Subali tahu, pendekar muda itu adalah seorang yang berwawasan luas.
Apabila telah mengeluarkan jawaban seperti itu, berarti memang tidak ada hal
yang penting.
"Kalau begitu, mari kita
mencari Rara Kunti."
Arya menganggukkan kepala. Sesaat
kemudian kedua tokoh yang baru berkenalan ini sudah melesat meninggalkan tempat
itu. Suara cicit burung, dan ke-ruyuk ayam jantan menjadi pertanda dini hari
telah tiba. Itu berarti sang Surya akan segera muncul di ufuk Timur untuk
mengusir kegelapan yang men-cengkeram bumi.
***
2
Hari sudah tidak pagi lagi. Bola
raksasa di langit sudah mulai menyilaukan mata, ketika sesosok bayangan hitam
melesat cepat. Dia ternyata seorang gadis cantik berusia dua puluh tahun.
Pakaiannya serba hitam, membungkus tubuhnya yang langsing. Rambutnya yang
berwarna hitam digelung ke atas dan dihiasi sebuah amel berbentuk bunga mawar.
Menilik dari larinya yang cepat
dan ringan, bisa diperkirakan kalau gadis berpakaian hitam itu memiliki ilmu
silat yang cukup tinggi.
Sementara itu, gadis berpakaian
hitam terus ber-lari cepat. Di tangan kanannya tercekal dua ekor kelinci yang
masih hidup. Entah, bagaimana binatang itu bisa tertangkap hidup-hidup.
Langkah gadis berpakaian hitam
melambat, dan akhirnya terhenti ketika melihat sesosok tubuh ber-diri di
depannya. Dia berhenti dalam jarak sekitar lima tombak di depan penghadangnya.
"Siapa kau?! Mengapa
menghadang jalanku?!" tanya gadis berambut digelung itu, keras.
Sepasang mata bening dan indah
milik gadis ber-pakaian hitam itu menatap ke arah penghadangnya, sesosok tubuh
berpakaian hitam. Wajahnya tidak terlihat, karena tertutup selubung berwarna
hitam pekat. Yang terlihat hanya sepasang matanya, karena pada bagian selubung
itu memang terdapat dua buah lubang, tepat pada bagian matanya.
"Ha ha ha...!" sosok
berpakaian hitam itu tertawa bergelak. "Siapa adanya aku, tidak soal. Yang
jelas,
kau harus ikut denganku, Nisanak!
Atau... kau ingin dibunuh kawan-kawanku. Mereka tidak puas hanya dengan merebut
Kadipaten Blambang! Mereka juga menginginkan dirimu!"
Gadis berpakaian hitam itu mengedarkan
pandangan berkeliling. Dia tahu, sosok berpakaian hitam itu seorang laki-laki.
Nada suaranyalah yang memperkuat dugaannya. Tapi hal itu tidak menarik
perhatiannya. Dan pandangannya kembali beredar berkeliling, untuk memastikan
kalau laki-laki ber-pakaian hitam itu hanya sendirian.
"Kau hanya akan dapat
membawaku, apabila aku telah menjadi mayat!"
Usai berkata demikian, gadis
berpakaian hitam itu langsung melemparkan kelinci dalam genggaman-nya. Pada
saat yang bersamaan, tangan kanannya bergerak mencabut pedang yang tergantung
di punggungnya.
Srattt!
Sinar terang berkeredep ketika
pedang itu keluar dari sarungnya. Sinar mata hari yang menyorot tepat di bilah
pedang yang putih mengkilat, dapat mem-buat lawan silau memandangnya. Maka hal
itu akan membuat sasaran yang dituju oleh pedang tidak terlihat.
Tapi, rupanya hal itu sama sekali
tidak berlaku bagi laki-laki berpakaian hitam. Buktinya ketika pedang menyambar
ke arah lehernya dengan arah serangan mendatar, hal itu bisa diketahuinya.
Malah, dia bersikap tenang. Ditunggunya hingga serangan senjata lawan mendekat.
Baru ketika angin sera-ngannya sudah mulai menghembus lehernya, tubuh-nya
dirundukkan. Dan...
Wusss!
Babatan pedang itu lewat beberapa
jari di atas kepalanya. Menilik dari berkibarnya penutup kepala ketika bilah
pedang lewat, bisa diketahui kalau tenaga yang menopang serangan gadis
berpakaian hitam itu cukup kuat.
Gadis berpakaian hitam itu merasa
penasaran bukan kepalang melihat serangannya mampu dielak-kan begitu mudah.
Maka ketika serangan pembuka-nya gagal mengenai sasaran, masih dalam keadaan
berada di udara, kaki kanannya meluncur ke arah dada.
Wuttt!
Kali ini, laki-laki berpakaian
hitam itu tidak meng-elakkannya. Tendangan itu hanya dipapak dengan kedua
tangan terkepal yang saling disilangkan di depan dada.
Dukkk!
Benturan antara tangan dan kaki
yang sama-sama dialiri tenaga dalam tidak bisa dielakkan lagi. Kontan tubuh
gadis berpakaian hitam terpental balik ke belakang. Sedangkan penghadangnya
terhuyung satu langkah ke belakang.
Meskipun demikian, laki-laki
maupun gadis ber-pakaian hitam itu mampu mematahkan kekuatan yang membuat
tubuhnya terhuyung dengan gerakan manis.
"Hup!"
Pada saat yang bersamaan dengan
hinggapnya kedua kaki gadis berpakaian hitam itu di tanah, peng-hadangnya pun
telah berhasil memperbaiki keadaan-nya pula. Tanpa memberi kesempatan lagi,
gadis berambut digelung itu langsung melancarkan serangan kembali. Pedang
di tangannya kembali ber-kelebat cepat ke arah berbagai bagian tubuh lawan
disertai suara mendesing nyaring.
Tapi, lak-laki berpakaian hitam
ternyata bukan orang sembarangan. Meskipun gadis berambut di-gelung itu
melancarkan serangan secara cepat dan bertubi-tubi, namun berhasil ditangkal
tanpa me-nemui kesulitan. Laksana bayangan, tubuhnya ber-kelebatan di
celah-celah sambaran pedang lawan.
Bahkan ketika pertarungan mulai
menginjak jurus kesepuluh, laki-laki berpakaian hitam itu telah berani
menangkis serangan pedang lawan dengan tangan telanjang. Luar biasa! Jangankan
putus atau terluka. Tergores pun tidak. Malah sebaliknya, tangan kanan gadis
berambut digelung itu yang terasa sakit dan kesemutan setiap kali pedangnya berbenturan dengan tangan lawan.
Perlahan-lahan gadis berpakaian
hitam itu mulai terdesak. Gulungan sinar pedangnya yang tadi mem-bentuk
gundukan lebar, dan terkadang mengurung tubuhnya bersama lawannya, kini mulai
menyempit Serangan-serangan yang dilancarkannya juga mulai berkurang!
"Hhh...!"
Gadis berpakaian hitam itu
mengeluh dalam hati. Sama sekali tidak disangka kalau penghadangnya akan
selihai ini. Padahal, semula dia telah berbesar hati ketika melihat laki-laki
berpakaian hitam itu ha-nya sendirian saja. Dan dia yakin akan mampu
mem-bereskannya. Perasaan kaget bercampur cemas mulai melanda, ketika dalam
benturan pertama kali ternyata kemampuan lawan tidak di bawahnya. Dan
kekhawatirannya semakin membesar ketika menge-tahui kepandaian laki-laki
berpakaian hitam itu kian lama kian hebat. Tenaga dalam, ilmu meringankan
tubuh, maupun serangan-serangannya ternyata jauh
lebih dahsyat.
Namun gadis berambut digelung itu
juga bukan orang bodoh. Dia tahu, tadi lawannya tidak mengeluarkan seluruh
kemampuannya. Rupanya laki-laki berpakaian hitam itu ingin menjajaki
kepandaian-nya lebih dahulu.
Tak sampai lima belas jurus,
gadis berpakaian hitam itu sudah dibuat terpontang-panting untuk menyelamatkan
selembar nyawanya. Beberapa kali tubuhnya jatuh bangun dan bergulingan. Sekujur
wajah dan tubuhnya telah basah kuyup oleh keringat. Napasnya pun
terengah-engah, karena terlalu me-maksakan diri untuk mengerahkan seluruh
ke-mampuan.
"Akh...!"
Gadis berambut digelung itu
menjerit tertahan ketika kaki lawan menggaet kakinya, sehingga tubuh-nya jatuh
telentang di tanah. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu, laki-laki berpakaian
hitam itu telah memburunya dengan sebuah totokan ke arah jalan darah di leher.
Kali ini, gadis berambut digelung
itu tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Untuk mengelak atau menang kis, sama
sekali tidak bisa dilakukan. Memang, keadaannya yang lelah dan keadaannya yang
sama sekali tidak menguntungkan, membuatnya tidak mampu bertindak apa-apa.
Namun, rasanya dia tidak sanggup menerima kenyataan kalau dirinya tertotok
lumpuh tidak berdaya. Jelas malapetaka mengerikan akan terjadi atas dirinya.
Maka dengan sikap pasrah sepasang matanya dipejamkan agar tidak menyaksi-kan
kejadian itu.
Tapi, gadis berpakaian hitam itu
menjadi heran ketika menyadari serangan yang ditunggu-tunggu
sama sekali tidak kunjung datang.
Bahkan suasana di sekelingnya terasa hening dan sepi. Masih disertai perasaan
heran yang melanda, kelopak matanya segera dibuka. Maka seketika itu pula
matanya ter-belalak.
Betapa tidak? Laki-laki
berpakaian hitam itu ter-nyata sudah tidak berada lagi di situ. Tentu saja hal
ini membuat gadis berambut digelung itu heran bukan kepalang. Benarkah orang
tadi telah pergi? Lalu, mengapa meninggalkannya begitu saja. Pada-hal, dirinya
tadi telah dirobohkan! Perasaan heran pun berkecamuk di dalam benak gadis
berpakaian hitam itu. Benarkah laki-laki berpakaian hitam itu telah pergi?
Perasaan penasaran mendorong
gadis berpakaian hitam itu mengedarkan pandangannya berkeliling. Tapi, tetap
saja tidak dijumpai adanya laki-laki ber-pakaian hitam tadi. Sekitar tempat itu
sepi, tidak nampak adanya sepotong makhluk pun disana.
Masih dengan dahi berkemyit
dalam, gadis itu bangkit dari tertelentangnya. Pakaiannya yang kotor
dikebut-kebutkan, lalu dijumput pedangnya dan di-masukkan kembali ke dalam
sarung. Kemudian setelah mengedarkan pandangan sekali lagi ke sekitarnya, dia
melangkah meninggalkan tempat itu.
"Kunti...!"
Suara panggilan keras membahana
terdengar di sekitarnya, ketika gadis berambut digelung itu baru saja melangkah
beberapa tombak. Anehnya, dia ter-lonjak pertanda terkejut. Cepat laksana kilat
kepala-nya dipalingkan ke belakang, karena suara itu me-mang berasal dari sana.
"Ayah...!"
Terdengar teriakan bernada
ketidakpercayaan,
keheranan, sekaligus bercampur
kegembiraan dari mulutnya. Kemudian dengan kedua tangan ter-kembang, gadis
berpakaian hitam itu menghambur ke arah asal panggilan tadi.
Orang yang memanggil tadi
ternyata seorang laki-laki tinggi besar. Tubuhnya kekar, terbungkus paka-ian
indah berwarna kuning keemasan. Cambang bauk lebat yang menghias wajah, semakin
menambah kegagahan dan keangkerannya. Dia tak lain dari Adipati Subali!
"Tahan!" tiba-tiba
Adipati Subali menjulurkan ta-ngannya ke depan.
"Ayah...?!"
Di tengah-tengah perjalanan,
tubuh gadis ber-pakaian hitam yang ternyata Rara Kunti itu langsung berhenti
tak mengerti. Raut kekecewaan dan ketidak-mengertiannya tampak jelas pada
wajahnya.
"Sebelum telanjur, bisa kau
tunjukkan punggung-mu lebih dulu, Kunti?" Tanya Adipati Subali.
Sambil mengucapkan pertanyaan demikian,
laki-laki tinggi besar itu melangkah mundur. Sikapnya tampak penuh kewaspadaan.
Jelas, dia masih men-curigai Rara Kunti. Dan mundurnya, Adipati Subali pun
sudah dapat dipastikan untuk menjaga jarak antara mereka berdua.
Setidak-tidaknya apabila Rara Kunti melancarkan serangan, sebelum mengenai
sa-saran dia mampu lebih dulu mengelak atau menangkis.
"Aku tidak mengerti
maksudmu, Ayah?!" sambut Rara Kunti disertai sorot mata penuh tanda-tanya.
Dan tampaknya, dia merasa tidak suka atas usul yang diajukan ayahnya.
"Untuk saat sekarang ini kau
tidak perlu mengerti, Kunti," penuh kesungguhan ucapan Adipati Subali.
"Yang penting, lakukan saja
perintah yang kuberikan itu."
"Kau membuatku bingung,
Ayah. Perintahmu sama sekali tidak masuk di akal. Aku tidak sudi
melaku-kannya!" Tandas Rara Kunti, keras.
"Mengapa?" Tanya
Adipati Subali, agak bergetar suaranya.
"Karena itu akan membuatku
malu! Kau ingin aku memperlihatkan punggungku di depan orang asing?!"
Sambil mengucapkan perkataan
berapi-api, gadis berpakaian hitam itu.mengerling ke arah sosok tubuh yang tadi
datang bersama ayahnya, dan kini berdiri di belakang. Sosok tubuh seorang
pemuda berambut putih keperakan dan berpakaian ungu, yang tak lain dari Dewa
Arak!
Adipati Subali terlonjak kaget
bagai disengat kalajengking. Mengapa hal itu sampai dilupakannya? Rara Kunti
benar! Kalau perintah itu dilakukan, putri-nya akan menanggung malu!
Namun bukan hanya Adipati Subali
saja yang ter-kejut. Arya demikian pula. Bahkan pemuda berambut putih keperakan
itu dilanda perasaan malu yang lebih besar lagi. Selebar wajahnya kontan
memerah. Maka, bergegas, Arya membalikkan tubuh.
"Nah! Sekarang apa lagi
alasanmu, Kunti? Arya telah memberikan kelonggaran padamu untuk me-laksanakan
perintahku. Cepat, Kunti! Terus terang, aku ingin menyingkap tabir yang
menyelimuti perasa-anku. Bagaimana, Kunti? Kau keberatan memenuhi perintahku
itu?" Tanya Adipati Subali lagi, meminta kepastian.
Rara Kunti tidak sanggup menjawab
pertanyaan itu. Dia hanya menganggukkan kepala perlahan. Bibir-nya digigit
kuat-kuat gejolak perasaan yang melanda
hatinya.
"Jadi..., kau setuju,
Kunti?" desak Adipati Subali lagi.
Rara Kunti kembali mengangguk-anggukkan kepala.
Kini Adipati Subali tidak
ragu-ragu lagi. Buru-buru dihampirinya Rara Kunti. Meskipun demikian, laki-laki
tinggi besar itu masih bersikap waspada. Tapi, ter-nyata tidak dijumpai adanya
tindakan-tindakan yang mencurigakan pada Rara Kunti. Maka buru-buru kedua
tangannya dibalikkan dan diletakkan pada bahu gadis berpakaian hitam itu.
Sementara itu, Rara Kunti tampak
terguncang-guncang menahan isak tangis. Hal ini karena ayah-nya seperti sudah
tak mempercayainya sebagai anak. Namun, dia dapat memakluminya, karena diyakini
tujuan ayahnya benar.
Dan kini, ternyata Rara Kunti
tidak tinggal diam. Dia ikut membantu memperlihatkan bagian punggungnya, dengan mengangkat
baju bagian belakang.
Srrrkkk!
Sesaat kemudian, terpampang
punggung yang berkulit putih, halus, dan mulus, tanpa cacat sama sekali. Namun
kemulusan itu terusik oleh tanda yang berbentuk seekor ular kobra berwarna
biru. Suatu tanda kalau gadis berpakaian hitam itu adalah keturunan Eyang
Mandura.
"Kau memang benar Rara
Kunti. Anakku. Hhh...! Kini sudah jelas masalahnya. Kau sama sekali tidak
terlibat dalam pembunuhan terhadap ibumu!" desah Adipati Subali sambil
merapikan kembali pakaian Rara Kunti, seraya memeluk anaknya.
"Apa?! Apa katamu,
Ayah?!" Pekik Rara Kunti,
keras. Raut wajah maupun sinar
matanya kontan memancarkan ketidakpercayaan dan keterkejutan yang amat sangat,
tepat ketika dia melepaskan pelukannya.
"Ibumu tewas, Kunti! Dan
perintahku padamu tadi bukan perbuatan mengada-ada. Itu merupakan salah satu
cara untuk menyingkap tabir pembunuhan ter-hadap ibumu!" Jelas Adipati
Subali panjang lebar.
"Ohhh...?!"
Rara Kunti mengeluh tertahan, bibirnya
tampak berkembik-kembik seperti ingin menangis. Raut wajahnya pucat pasi
laksana mayat. Sepasang matanya tampak berkaca-kaca. Keluhan-keluhan kesedihan
keluar dari tenggorokannya. Jelas, gadis berpakaian hitam ini makin dilanda
sedih yang meng-gelegak.
"Ayah...!"
Tangis Rara Kuntj langsung
meledak ketika Adi-pati Subali tanpa ragu-ragu memeluknya kembali. Rara Kunti
menangis sesenggukan di pelukan ayah-nya.
Adipati Subali membiarkan saja
Rara Kunti menumpahkan perasaannya. Dia tahu, hal itu akan melegakan tekanan
batin yang melanda putrinya. Yang dilakukan Adipati Subali hanyalah
mengelus-elus rambut hitam dan tebal milik putrinya penuh kasih sayang.
Sepasang mata laki-laki tinggi besar ini nampak memerah, karena perasaan haru
yang melanda. Haru karena telah yakin kalau yang berada dalam pelukannya
benar-benar anaknya. Di samping itu juga karena mereka kembali bertemu.
Dan kini Rara Kunti sudah bisa
menguasai perasa-annya. Perlahan-lahan gadis berpakaian hitam itu melepaskan
pelukannya. Air mata dan ingus yang
timbul karena tangis disusut
dengan sapu tangan-nya. Kemudian, disimpannya kembali benda yang telah basah
itu ke selipan pinggangnya.
Sementara itu, Dewa Arak yang
berdiri di belakang mereka tampak tersenyum haru melihat pertemuan ayah dan
anak itu.
"Mengapa kau hanya sendirian
saja, Ayah? Mana Paman Sagala? Dan mengapa kau waktu itu meninggalkanku
sendirian, Ayah?" Tanya Rara Kunti bertubi-tubi, seraya menatap wajah
laki-laki tinggi besar itu lekat-lekat.
Sinar mata Rara Kunti tampak
penuh tuntutan dan menghendaki jawaban atas pertanyaannya.
"Hhh...!"
Sambil menghela napas berat,
Adipati Subali mem-balas tatapan putrinya tak kalah tajam.
"Panjang ceritanya,
Kunti," jawab laki-laki tinggi besar itu setengah mendesah.
Tarikan wajah Adipati Subali tampak
penuh kedukaan. Karuan saja hal itu membuat wajah Rara Kunti yang telah basah
oleh air mata itu menjadi heran bukan kepalang.
"Apakah kau keberatan untuk menceritakan
semua peristiwa itu, Ayah?" Tanya Rara Kunti, melihat tatapan ayahnya
seperti itu.
Masih terdengar serak dan
tersendat-sendat suara Rara Kunti, meskipun tangisnya telah usai. Sekarang,
yang tertinggal hanyalah sepasang mata dan ujung hidung yang merah.
"Tidak," sahut Adipati
Subali sambil menggeleng-kan kepala.
Kemudian laki-laki tinggi besar
ini lalu mencerita-kan semua kejadiannya. Sementara, Rara Kunti men-dengarkan
penuh perhatian.
***
"Begitulah ceritanya, Kunti.
Kalau saja tidak ada Arya alias Dewa Arak, mungkin kau tidak akan per-nah
bertemu lagi dengan ayahmu ini," tutur Adipati Subali mengakhiri
ceritanya.
Seiring selesainya cerita itu,
Adipati Subali dan Rara Kunti teringat akan keberadaan pemuda berambut putih keperakan yang berdiri mem-belakangi
mereka. Bagai diperintah, keduanya sama-sama mengalihkan pandangan ke tempat
Arya berada. Tampak pemuda berambut putih keperakan itu masih dalam keadaan
seperti tadi.
"Cukup, Arya." ujar
Adipati Subali.
Arya membalikkan badan, kemudian
menghampiri Adipati Subali dan Rara Kunti.
"Maaf. Kami terlupa Arya.
Ah! Masalah ini memang membingungkan kami...," desah Adipati Subali penuh
penyesalan.
"Lupakan, Kang. Tidak ada
yang perlu dimaafkan. Karena memang tidak ada kesalahan apa-apa. Aku
memakluminya, kok," ringan jawaban Arya.
"Aku pun minta maaf padamu,
Arya," ucap Rara Kunti pula sambil mengulurkan tangan. Dan Arya
menyambutnya.
"Justru akulah yang
seharusnya minta maaf pada-mu, Kunti." tegas Arya, menyebut nama gadis
ber-pakaian hitam itu seperti Adipati Subali memanggil-nya.
"Hehhh...?! Mengapa begitu,
Arya?" Tanya Rara Kunti dengan alis berkerut, heran.
"Karena, akulah yang telah
membuatmu terjatuh tadi," jelas Arya.
"Jadi..., kau...?!"
Rara Kunti sengaja menggantung ucapannya di tengah jalan. Tapi, Arya tahu
kelanjutan-nya. Maka kepalanya pun dianggukkan.
"Benar. Akulah orang yang
tadi bertarung dengan-mu. Akulah laki-laki yang berpakaian hitam tadi,"
jelas pemuda berambut putih keperakan itu.
"Ahhh...!"
***
3
Rara Kunti berseru kaget. Memang,
apa yang di-dengar tadi sama sekali tidak disangka-sangka.
"Mengapa kau lakukan itu, Arya?"
Tanya Rara Kunti bernada kesal. "Apakah hendak menunjukkan keting-gian
ilmu yang kau miliki, atau ingin menghinaku?"
Karuan saja nada tidak senang
yang terdengar jelas dalam ucapan gadis berpakaian hitam itu, mem-buat Arya
kelabakan. Apalagi, ketika melihat sorot mata Rara Kunti yang begitu tajam
menusuk. Tidak lagi ramah, seperti sebelumnya. Arya bisa memaklumi sikap yang
ditunjukkan Rara Kunti. Dia tahu, kelakuannya tadi pasti menyinggung hati gadis
itu.
"Sabar dulu, Kunti."
Sergah Arya cepat sambil menggoyang-goyangkan tangannya di depan dada.
"Kau salah paham. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu."
"Tidak usah pura-pura, Dewa
Arak!" Potong Rara Kunti keras. "Aku tahu, kepandaianku memang tidak
ada artinya bila dibanding kepandaianmu. Kuakui, kau seorang tokoh besar. Tapi
itu bukan berarti kau bisa seenaknya menghinaku! Mari, kita lanjutkan
per-tarungan tadi."
Arya kebingungan melihat
kemarahan Rara Kunti semakin berkobar-kobar. Apalagi, ketika melihat tangan
gadis itu sudah terjulur ke punggung. Maksud-nya sudah bisa ditebak. Apalagi
kalau bukan untuk menghunus pedangnya?
Tapi sebelum maksud gadis
berpakaian hitam itu tercapai, sebuah tangan kekar telah mencekal per-
gelangan tangannya.
"Sabar dulu, Kunti,"
cegah Adipati Subali lembut Memang, dialah pemilik tangan kekar itu.
"Lepaskan, Ayah. Biar aku
mengadu nyawa dengan pendekar besar ini! Jangan dikira mentang-mentang telah
menolong, lantas bisa seenaknya saja meng-hina orang lain!" Rara Kunti
tetap bersikeras.
"Dengar dulu penjelasan
Ayah, baru setelah itu ter-serah padamu untuk memutuskannya. Jangan kha-watir,
Ayah akan berada di pihakmu!"
Tangan Rara Kunti yang semula
sudah menegang keras dan siap untuk memberontak, perlahan-lahan mengendur.
Bahkan akhirnya kembali ke sisi ping-gang.
"Kalau begitu..., terserah
Ayah," desah Rara Kunti mengalah. Pelan sekali suaranya, mirip bisikan.
Adipati Subali
menggeleng-gelengkan kepala me-lihat sikap putrinya. Dia tahu betul sifat Rara
Kunti yang demikian keras! Apabila berkata hitam, tetap hitam sebelum mendapat
bukti kalau ucapannya sa-lah. Meskipun demikian, dia tidak pernah memban-tah
perintah. Terutama apabila ayahnya telah menun-jukkan sikap sungguh-sungguh.
"Arya tidak bisa disalahkan,
Kunti. Karena itu memang bukan kesalahannya. Hal itu dilakukan hanya untuk
memenuhi permintaan Ayah," jelas laki-laki tinggi besar itu.
"Aku..., aku jadi semakin
tidak mengerti, Ayah. Arya menghadang perjalananku dan memaksaku ber-tarung
adalah untuk memenuhi permitaan Ayah. Atau..., Ayah ingin melihat
kemajuanku?" Bertubi-tubi dan hampir tanpa henti Rara Kunti mengutarakan
kedongkolan hatinya.
"Kau kan sudah dengar cerita
ayah tadi, Kunti?!"
tanya Adipati Subali,
mengingatkan.
Rara Kunti menganggukkan kepala.
Namun masih belum dimengerti, mengapa laki-laki tinggi besar itu mengaitkan
penyerangan Dewa Arak dengan peris-tiwa berdarah yang menimpa rombongan
ayahnya.
"Kau lupa, Kunti. Gadis yang
bersama Sagala, menampilkan wajah dan sosok tubuh dirimu! Hanya saja,
kepandaiannya amat tinggi. Aku dan Dewa Arak mempunyai dua buah dugaan mengenai
dirimu tadi."
Sampai di sini Adipati Subali
menghentikan ucapannya sejenak untuk melihat tanggapan anak-nya. Tapi gadis
berpakaian hitam itu sama sekali tidak memberi tanggapan apa pun. Dia hanya
menga-ngguk-anggukkan kepala sambil mengernyitkan dahi. Jelas, ada sesuatu yang
tengah dipikirkannya.
"Dugaan pertama, gadis yang
bernama Sagala benar-benar dirimu. Hanya saja, diam-diam kau telah mempelajari
ilmu kepandaian darinya. Sedangkan dugaan kedua, ada gadis yang mempunyai
hubungan perguruan dengan Sagala, dan menyamar sebagai dirimu. Untuk
membuktikan dugaan itulah, aku dan Arya kembali kemari," sambung Adipati
Subali.
Ekor mata Rara Kunti mulai
mengerling ke arah Arya. Tampak pemuda berambut putih keperakan itu bersikap
tenang. Tak terlihat ada sedikit pun gambaran dendam di wajahnya. Hal ini
membuat hati gadis berpakaian hitam tidak enak. Dan gelagat adanya
ketidakbenaran tuduhannya terhadap Dewa Arak sudah mulai tercium. Diam-diam dia
mulai menyesali kecerobohannya.
"Di istana, aku tidak
menemukan dirimu. Untung, aku ingat ruang rahasia di balik pot. Sampai
akhirnya, aku bertemu denganmu. Untuk membuktikan duga-anku, Arya kuminta untuk
membuatmu terlibat dalam
pertarungan. Sedangkan aku
menyaksikan dari tempat tersembunyi. Lega hatiku ketika kulihat kau benar-benar
mengeluarkan ilmu warisanku. Dan aku tidak melihat adanya kelihaian yang
ditampilkan sewaktu terjadi peristiwa pembunuhan itu. Maka aku yakin, ada orang
yang telah memalsukan dirimu. Namun demikian, aku masih belum yakin atas
dirimu. Makanya, aku memintamu agar memperlihatkan punggungmu!" Adipati
Subali mengakhiri penjelasan-nya dengan raut wajah gembira bercampur lega.
"Tapi... Mengapa Ayah masih
mencurigaiku?" Ser-gah Rara Kunti penasaran.
"Aku hanya merasa penasaran.
Tanda di pung-gungmu itu merupakan bukti kalau kau adalah keturunanku,"
sahut Adipati Subali mantap. "Tanda itu berupa gambar seekor ular kobra.
Maaf. Selama ini aku belum menceritakannya padamu."
Rara Kunti kontan terdiam. Tidak
ada lagi per-tanyaan yang bergayut, baik di benak maupun di hati-nya. Semuanya
jelas, kalau dia telah salah duga ter-hadap Arya. Maka dengan wajah merah padam
karena perasaan malu, tatapannya dialihkan pada pemuda berambut putih keperakan
itu.
"Maafkan aku, Arya. Aku
telah menuduhmu yang bukan-bukan," ucap gadis berpakaian hitam itu pelan.
Bahkan ucapan itu dikeluarkan sambil menundukkan wajah. Kalau saja Arya dan
Adipati Subali bukan orang-orang yang memiliki kepandaian, pasti tidak akan
mendengarnya.
"Lupakanlah, Kunti. Aku
tahu, kau hanya salah paham. Lagi pula, kau memang patut untuk marah, kok. Aku
memang keterlaluan memperlakukanmu. Dan justru akulah yang seharusnya minta
maaf padamu," ucap Arya.
Kontan Rara Kunti jadi
tersipu-sipu mendengar sambutan Dewa Arak.
"Nah! Sekarang masalah ini
telah selesai. Kini tinggal dua masalah lagi yang belum diselesaikan,"
kata Adipati Subali mengalihkan pembicaraan agar suasana canggung itu lenyap.
"Apa masalah itu,
Ayah?" Tanya Rara Kunti, cepat. Sebenarnya bukan karena Rara Kunti ingin
menge-
tahui masalah-masalah itu. Tapi
sebagian besar di-dorong oleh perasaan ingin membebaskan diri dari keadaan
tidak enak yang mengungkukungnya.
"Masalah pertama, mencari dan membalas dendam pada pembunuh ibumu. Kunci
masalah ini ada di tangan Sagala. Dan kedua, memecahkan rahasia
leluhurmu!"
Setelah berkata demikian, Adipati
Subjali menoleh ke arah Arya. Tanpa laki-laki tinggi besar itu membuka suara
pun, Dewa Arak telah tahu maksudnya. Maka buru-buru dikeluarkannya gulungan kulit
binatang dari batik bajunya.
Adipati Subali mengulurkan tangan
menerimanya. Kemudian secara singkat tapi jelas, semua hal yang berhubungan
dengan surat peninggalan ini dicerita-kannya. (Untuk lebih jelasnya, silakan
baca episode sebelumnya, serial Dewa Arak dalam episode
"Rahasia Syair Leluhur").
Rara Kunti mendengarkan semua
cerita ayahnya penuh minat. Karena, memang baru kali inilah Adipati Subali
menceritakannya.
"Begitulah ceritanya,
Kunti," kata Adipati Subali mengakhiri ceritanya.
"Bisa kulihat surat itu,
Ayah?" Pinta gadis berpa-kaian hitam itu.
"Tentu saja, Rara
Kunti!"
Lalu Adipati Subali menyerahkan
gulungan surat yang terbuat dari kulit binatang itu pada putrinya. Rara Kunti
menerimanya penuh gairah, dan langsung membuka gulungannya. Sementara Arya dan
Adipati Subali hanya memperhatikan tanpa perasaan curiga. Memang, kedua orang
ini telah percaya kalau Rara Kunti sama sekali tidak terlibat dalam masalah
pembunuh itu.
Dengan bibir sedikit
berkemik-kemik, Rara Kunti membaca huruf-huruf yang tertera di atas surat yang
terbuat dari kulit binatang.
Matahari beredar....
Dari tempat hati yang pilu Air
berasal...
Tempat yang akan dituju Bukti
leluhur....
Awal dari kerja keras
Akhir dari Raja Memberi Derma
Pintu kebahagiaan
"Bagaimana tanggapanmu, Kunti?"
Tanya Adipati Subali tak sabar ketika melihat gadis berpakaian hitam itu
termenung.
Rara Kunti mengalihkan
pandangannya dari gulu-ngan kulit binatang itu. Kini, ditatapi wajah ayahnya
lekat-lekat. Kemudian, perlahan-lahan kepalanya menggeleng.
"Aku tidak bisa mengambil
kesimpulan apa-apa dari bait-bait syair ini, Ayah. Tapi aku hanya merasa heran.
Mengapa 'Bukti Leluhur' yang baru saja Ayah ceritakan dan 'Raja Memberi Derma'
yang merupa-kan salah satu jurus yang kita miliki masuk dalam bait-bait ini."
gumam Rara Kunti.
Adipati Subali terlonjak.
Wajahnya pun kontan berubah hebat. Tarikan wajahnya menyiratkan ke-terkejutan
yang amat sangat. Jelas, hal ini karena ucapan Kara Kunti. Melihat sikap ini,
tentu saja mem-buat gadis berpakaian hitam itu jadi heran.
Belum lagi hilang perasaan
kagetnya, Adipati Su-bali telah mengulurkan tangan. Dan....
Tappp!
Tanpa Rara Kunti mampu berbuat
apa-apa, gulungan kulit binatang itu telah berpindah tangan. Memang, gerakan
laki-laki tinggi besar terlalu cepat Ja-di, andaikata dia sempat berbuat
sesuatu pun, tetap saja gulungan kulit binatang itu akan terampas oleh Adipati
Subali.
***
Secepat surat itu berada di
tangan, secepat itu pu-la Adipati Subali membuka gulungannya dan mem-baca
ulang. Sementara, Rara Kunti mengawasi dengan perasaan heran. Tapi, tidak
demikian halnya dengan Arya. Pemuda berambut putih keperakan itu tahu, ucapan
Rara Kunti telah membuat Adipati Su-bali menemukan hubungan bait-bait yang
berada da-lam surat peninggalan leluhurnya.
"Ah! Kau benar, Kunti!"
seru Adipati Subali seraya menggulung surat itu. "Mengapa, aku demikian
bodoh?! Ah! Ucapanmu ini telah membuat salah satu bait ini telah terpecahkan.
Sekarang, tinggal satu bait lagi, Kunti, Arya."
"Aku tidak mengerti,
bagaimana hal itu bisa kau pecahkan, Ayah?" Tanya Rara Kunti tidak
mengerti.
"Baris demi baris yang
terdapat dibait kedua ini mudah sekali diartikan, setelah kau menemukan
kuncinya, Kunti. Ah! Kau
benar-benar seorang gadis cerdik," jawab Adipati Subali. "Agar kau
jelas, sebaiknya kuterangkan padamu."
Laki-laki tinggi besar ini
menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas.
"Syair dibait kedua ini
berhasil kupecahkan sete-lah menggabungkan kesimpulan yang kudapatkan bersama
Arya, dengan ucapanmu tadi. Menurut dugaanku, kita harus mencari tempat yang
memiliki tanda atau gambar seperti yang tertera pada punggung kita. Di sini
dikatakan, bukti leluhur awal dari kerja keras. Oleh karena itu, kita harus
men-carinya."
Adipati Subali menghentikan
ucapannya sejenak untuk menenangkan deru napasnya. Perasaan tergesa-gesa untuk
memberitahukan kesimpulan yang didapatnya pada Arya serta Rara Kunti, dan
perasaan gembira karena telah berhasil menemukan kesimpulan bait kedua, menjadi
penyebabnya.
"Dan apabila kita telah
menemukan gambar atau tanda 'Bukti Leluhur' di tempat itu, maka kita dapat
menemukan tempatnya hanya dengan jurus 'Raja Memberi Derma'," sambung
laki-laki tinggi besar itu lagi.
Rara Kunti Dan Arya
mengangguk-anggukkan kepala. Rupanya kedua orang itu sama-sama
menyetujui kesimpulan yang didapatkan Adipati Subali.
"Bagaimana pendapatmu atas kesimpulanku,
Arya?" Adipati Subali yang belum puas melihat anggukan kepala Arya,
mengajukan pertanyaan secara langsung.
"Aku yakin, kesimpulan yang
kau dapatkan itu sangat tepat, Kang," sahut Arya.
"Apa alasanmu, Arya?"
desak Adipati Subali tidak begitu saja menelan jawaban itu.
"Ada dua alasan yang
menyebabkannya."
"Dua?!" Alis Adipati
Subali berkernyit dalam. "Banyak sekali, Arya?!"
Arya hanya menyunggingkan senyum
lebar. "Pertama, kesimpulan yang Kakang dapatkan itu
memang masuk akal apabila
dihubung-hubungkan dengan syair yang terdapat pada bait kedua," Arya mulai
menguraikan alasannya.
Adipati Subali menggumam pelan
sambil meng-angguk-anggukkan kepala. Jawaban seperti itu memang sudah diduga.
"Lalu yang kedua?"
"Ini alasan yang paling
tepat, Kang. Begini. Leluhur-mu tak akan mungkin sembarangan membuat surat
rahasia yang berisi pusaka-pusaka peninggalannya. Aku yakin, dia tidak ingin
surat itu terjatuh di tangan orang yang bukan keturunannya. Jadi, dia harus
mem-buat sebuah teka-teki yang hanya dapat dipecahkan keturunannya. Itu
alasanku, Kang," urai Arya panjang lebar.
"Kau benar, Arya," ujar
Adipati Subali, setelah ter-menung sejenak memikirkan kata-kata pemuda berambut
putih keperakan itu. "Kini aku baru ingat, mengapa ayahku begitu
memperhatikan ilmu 'Enam Jurus Tingkah Raja'. Padahal, ilmu itu termasuk ilmu
rendahan. Ketika kutanyakan mengapa demikian? Jawabannya, itu adalah pesan
kakek sebelum meninggal. Hhh...! Sama sekali tidak kusangka kalau ilmu 'Enam
Jurus Tingkah Raja'lah yang akan menjadi bagian terpenting untuk bisa
mendapatkan pusaka itu."
"Ilmu 'Enam Jurus Tingkah
Raja'?!" Tanya Arya
dengan alis berkerut.
"Benar," Adipati Subali
menganggukkan kepala. "Jurus-jurus yang terkandung dalam ilmu itu, di
antaranya adalah jurus 'Raja Menolak Sembah', jurus 'Raja Merebut Tahta', dan
jurus 'Raja Memberi Derma'."
Sekarang Arya baru mengerti, dan
membuatnya terdiam. Adipati Subali tidak melanjutkan ucapannya lagi. Demikian
pula Rara Kunti. Gadis berpakaian hitam ini pun membisu. Hasilnya, suasana
menjadi hening.
"Tapi, di mana tempat gambar
atau tanda 'Bukti Leluhur' itu, Ayah?" Tanya Rara Kunti memecahkan
keheningan yang terjadi.
"Itu yang harus kita cari,
Kunti," jawab Adipati Su-bali cepat.
"Di mana kita harus
mencarinya, Ayah? Dunia ini begitu luas? Apakah kita harus meneliti setiap
tempat yang ditemui? Lalu sampai kapan kita akan menemukannya? Aku yakin sampai usia
selesai pun, dunia ini belum habis kita jelajahi." Sambut Rara Kunti
mengemukakan pendapat
Adipati Subali tercenung
mendengar ucapan putri-nya. Disadari ada kebenaran dalam ucapan Rara Kunti.
"Jangan berputus asa seperti
itu, Kunti. Tidak baik," celetuk Arya. "Ingat, ayahmu baru memecahkan
rahasia di bait kedua. Aku yakin, jawaban pertanya-anmu ada di bait
pertama."
"Kau benar, Arya!"
Sentak Adipati Subali cepat. Kembali laki-laki tinggi besar ini membuka kem-
bali gulungan kulit binatang itu.
"Ah! Mengapa aku sampai
lupa? Bukankah aku baru memecahan rahasia di bait kedua?!" rutuk Adi-
pati Subali dalam hati.
Tampak kedua tangan Adipati
Subali agak meng-gigil ketika membuka gulungan surat itu. Meskipun hafal syair
itu, tapi dia lebih suka membaca ketimbang mengingat-ingat hafalannya. Karena dengan melihat lulisan syair itu, lebih mudah untuk
memikirkan pemecahannya.
"Mungkin aku bisa
menyumbangkan pikiran, Kang. Aku mempunyai sebuah kesimpulan, tapi sayangnya
tidak untuk keseluruhan syair," sambu Arya yang sejak tadi juga berusaha
memecahkan bait pertama. Tanpa disengaja, Rara Kunti telah membuat tabir gelap
yang melingkupi syair leluhur itu mulai ter-singkap.
"Apa kesimpulan yang kau
dapatkan, Arya? Kata-kanlah," desah Adipati Subali seraya mengalihkan
pandangan ke arah Dewa Arak.
"Aku hanya bisa menarik
kesimpulan dari tiga baris syair itu, Kang. Satu baris di antaranya, tidak bisa
kuartikan. Aku yakin hal ini hanya akan dapat dipecahkan oleh kau atau Rara
Kunti!" sahut Arya.
"Begini, Kang. Baris
pertama, baris kedua, baris ke tiga, dan keempat, tidak bisa diartikan
perbaris. Karena masing-masing mempunyai hubungan. Untuk mengetahui arti baris
pertama atau ketiga, kita harus meminta bantuan baris kedua dan keempat."
Sampai di sini Arya menghentikan
penjelasannya untuk melihat tanggapan Adipati Subali dan Rara Kunti atas
kesimpulan yang diutarakan. Dan seperti yang sudah diduga, baik Rara Kunti
maupun Adipati Subali sama-sama menganggukkan kepala pertanda menyetujui
kesimpulannya. Maka Dewa Arak pun meneruskan ucapannya.
"Baris pertama mengandung
arti, kalau kita ingin
menemukan tempat yang memiliki
gambar bukti lelu-hur, maka kita harus mengikuti terbitnya matahari. Jadi kita
harus menuju ke arah Timur. Sayangnya, darimana harus memulai pencarian itu,
aku tidak bisa memastikan. Di situ dikatakan, 'Dari tempat hati yang pilu’. Aku
tidak bisa mengartikannya. Tapi aku yakin, kau akan tahu."
Arya menghentikan ucapannya
sejenak, mencari kata-kata yang tepat untuk melanjutkan ucapannya.
"Baris ketiga menunjukkan
pada mata air. Dan tempat itu akan ditemukan, apabila kita telah me-lakukan
perjalanan ke arah Timur, 'Dari tempat hati yang pilu itu'. Begitulah
kesimpulan yang kudapat-kan, Kang," Kata Arya, mengakhiri.
"Luar biasa!" seru
Adipati Subali sambil menga-cungkan jempol kanannya. Laki-laki tinggi besar ini
tampak gembira bukan kepalang. "Kau benar-benar hebat, Arya! Aku yakin
kesimpulan yang kau dapat-kan tidak meleset. Kita akan dapat memecahkan rahasia
syair ini!"
"Mengapa kau demikian yakin,
Kang? Bukankah itu hanya kesimpulanku saja. Dan lagi, baris kedua tidak bisa
kujabarkan," sambut Arya, heran.
"Baris kedua tidak jadi
masalah, Arya. Karena, aku telah bisa menduga di mana tempatnya," jawab
Adi-pati Subali bernada yakin.
Seketika itu juga, wajah Arya dan
Rara Kunti ber-seri-seri.
"Benarkah ucapanmu itu,
Ayah? Kau tahu arti yang terkandung di dalam baris kedua?!" Tanya Rara
Kunti, penasaran.
Adipati Subali menganggukkan
kepala.
"Aku teringat cerita ayah
padaku. Beliau mengata-kan, kakek meninggal dunia karena penyakit. Penya-
kit itu timbul karena kakek
dilanda perasaan sedih yang amat sangat dan berkepanjangan. Dan kesedihan itu timbul karena kakek terpaksa harus
meninggalkan tempat yang amat dicintainya. Memang, kakek meninggalkan
tempatnya disertai perasaan pilu."
"Jadi...," Rara Kunti
menggantung ucapannya. "Kita harus menuju ke tempat kediaman kakek kalau
ingin menemukan pusaka peninggalannya," sahut Adipati Subali, memberi
keputusan.
"Berarti, teka-teki ini
telah terpecahkan, Ayah?” Tanya Rara Kunti, meminta kepastian.
Laki-laki tinggi besar itu
menganggukkan kepala. Sepasang matanya berbinar-binar. Wajahnya pun tampak
ceria. Jelas, Adipati Subali merasa gembira bukan kepalang.
"Sekarang, kita harus menuju
tempat tinggal kakek yang dulu. Dari sana, kita akan menuju ke arah Timur
sampai akhirnya bertemu sebuah mata air kecil...."
"Lalu, kita cari tanda atau
gambar 'Bukti Leluhur’ di sekitar tempat itu. Dan bila telah bertemu, mainkan
jurus 'Raja Memberi Derma' untuk menemukan pusaka rahasia itu. Bukan begitu,
Ayah?" potong Rara Kunti, cepat.
"Kau cerdik, Kunti,"
puji Adipati Subali.
"Kau mengejekku, Ayah,"
rajuk Rara Kunti manja. 'Tidak, Kunti. Ayah mengatakan yang sejujumya.
Kau memang benar-benar cerdik.
Bukankah kau yang telah menyebabkan Ayah berhasil memecahkan teka-teki
ini?" Adipati Subali memberi alasan.
Rara Kunti pun terdiam. Diam-diam
matanya mengerling pada Arya. Memang, timbul perasaan suka di hatinya melihat
pemuda berambut keperakan itu. Ketenangannya, ketampanan wajahnya, dan
kematangan sikapnya membuat
hatinya tergetar. Tapi, gadis berpakaian hitam ini merasa kecewa ketika
mengetahui Arya sama sekali tidak mem-perhatikan dirinya.
"Tidak sukakah dia padaku?
Bukankah aku cantik?" kata Rara Kunti sendiri dalam hati.
"Mengapa melamun, Kunti.
Mari berangkat. Kita harus bergegas agar tidak keduluan orang lain."
Ucapan Adipati Subali membuat
Rara Kunti tersa-dar dari lamunannya. Buru-buru kakinya melangkah mengikuti
Adipati Subali dan Arya yang telah bersiap berangkat Sesaat kemudian, ketiga
orang ini pun telah beranjak meninggalkan tempat itu.
***
4
"Keparat!"
Sebuah makian keras menguak
keheningan pagi. Embun belum seluruhnya terusir pergi. Tampak masih ada
sebagian yang menempel di dedaunan.
"Mengapa, Kang Sagala?"
Suara bernada lembut menyambut makian kera tadi. Meskipun demikian, tampak
jelas nada keingintahuannya.
Pemilik suara lembut itu ternyata
seorang wanita berwajah cantik. Pakaiannya berwarna hitam. Rambutnya digelung ke atas dan
ditusuk sebatang amel berbentuk bunga mawar.
Wanita berpakaian hitam itu
menatap ke arah se-orang lelaki di sebelahnya yang dipanggil Sagala tadi.
Lelaki itu berwajah pucat, seperti orang penyakitan. Pakaiannya berwarna
kuning, membungkus tubuhnya yang kecil kurus. Saat ini, Sagala memang tengah
marah-marah. Ini bisa dibuktikan dari sorot matanya dan raut wajahnya yang
merah padam.
"Kau bertanya mengapa,
Kumari? Tidak bisakah kau menduga?! Aku sedang kesal tahu! Berhari-hari makna
syair ini kupikirkan, tapi tak juga kutemukan maksud yang terkandung di
dalamnya. Syair sialan!"
Sagala mengalihkan pandangan ke
arah surat yang tergenggam di kedua tangannya. Secarik surat yang terbuat dari
kulit binatang.
"Hehhh...?! Mengapa kau
memanggilku Kemari, Sagala? Mengapa tidak lagi Rara Kunti seperti
sebelumnya?!" wanita berpakaian hitam yang menyamar sebagai Rara Kunti, padahal
sebenarnya
bernama Kumari, menyambuti penuh
ejekan. "Sudahlah, Kumari. Aku sedang tidak ingin ber-
main-main! Lebih baik, copot
penyamaranmu! Tidak ada gunanya lagi menyamar sebagai Rara 'Kunti! Aku muak
melihatnya, tahu!" Sergah Sagala keras.
"Hi hi hi...! Baiklah kalau itu
maumu, Sagala!" Setelah berkata demikian, Kumari bangkit. Hanya
dengan sekali lesatan, tubuhnya
telah lenyap di balik semak-semak yang terletak di dekat mereka.
"Hhh...!"
Sagala menghela napas berat. Sama
sekali tidak dipedulikan keadaan Kumari lagi. Pandangannya di-alihkan sebentar
ke arah sungai yang terbentang di hadapannya. Sebuah sungai berair jemih dan
terlihat segar. Begitu indah. Apalagi di bagian kirinya tampak gerombolan
semak-semak memanjang, yang mem-buat sungai ini tidak tampak dari arah kiri.
Tapi hanya sebentar saja Sagala
terlarut dalam lamunan seperti itu, karena sekejap kemudian sepasang mata dan
pikirannya ditujukan ke arah secarik kulit binatang yang dibentang oleh kedua
tangannya. Dibacanya sekali lagi huruf-huruf yang tertera di atas kulit
binatang itu.
Orang mengajukan pertanyaan
padaku. Berapa lama waktu yang dibutuhkan Untuk pergi mengelilingi dunia?
Itu pertanyaannya
Aku hanya tersenyum saja
Karena itu pertanyaan yang mudah
Aku jawab sambil tertawa
Sehari bagi sang surya
"Keparat! Syair
terkutuk!"
Kembali Sagala memaki. Tapi, kali
ini disertai gerakan kedua tangannya yang meremas. Terdengar suara berkerisik
pelan ketika lembaran kulit binatang itu hancur berkeping-keping.
"Phuhhh...!"
Sagala meniup cabikan-cabikan
kulit binatai yang tergenggam di kedua tangannya. Maka cabikan-cabikan itu pun
melayang jauh ke angkasa. Lelaki kecil kurus itu hanya mengikuti dengan
pandangan matanya.
Dan pandangan mata Sagala sama
sekali tidak berubah sekalipun, di angkasa sudah tidak terlihat lagi adanya
cabikan-cabikan kulit binatang. Tampak-nya Sagala tengah melamun.
***
"Ikh...!"
Sagala sampai terlompat dari
duduknya ketika mendengar pekik keterkejutan itu. Pemilik suara itu dikenalinya
betul. Rara Kunti palsu alias Kumari! Cepat laksana kilat, laki-laki kecil
kurus Ini meng-alihkan pandangan ke arah asal suara. Sekujur urat-urat syaraf Ian otot-otot tubuhnya menegang waspada. Sagala tahu, pasti ada sesuatu yang tengah
terjadi. Oleh karena itu, dia bersiap-siap untuk menyambutnya.
Belum juga Sagala sempat berbuat
sesuatu, melesat sesosok bayangan biru. Cepat bukan kepalang gerakannya,
sehingga hanya dalam se-kejapan saja telah berada didepan Sagala.
"Ada apa, Kumari?! Kau
tampak demikian pucat?!" Tanya Sagala, heran.
Bayangan biru itu memang tak lain
dari Kumari, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Wajahnya
cantik, tapi pesolek dan terlihat genit. Rambutnya yang semula digelung ke
atas, sekarang dibiarkan terurai di bahu.
Tapi bukan dandanan Kumari yang
membuat Sa-gala kaget, karena memang dandanannya demikian. Yang membuat Sagala
heran adalah sikap Kumari yang nampak demikian gugup. Bahkan wajahnya pun pucat
bukan kepalang.
"Celaka, Sagala! Cepat pergi
dari sini...!"
Bukannya menjawab pertanyaan
Sagala, Kumari malah mengajaknya pergi. Bahkan diucapkan dengan suara gugup.
Terbukti, bibir yang mengucapkan per-kataan itu tampak menggigil. Karuan saja
hal itu membuat Sagala semakin heran dan kesal.
"Tingkahmu seperti anak
kecil saja, Kumari! Kata-kan, mengapa kau bersikap seperti ini! Kalau kau tidak
mau mengatakannya, jangan harap aku akan memenuhi ajakanmu itu!" keras
ucapan Sagala.
"Aku melihat guru...,"
pelan dan bergetar ucapan Kumari, pertanda dikeluarkan lewat hati yang
ketakutan. Kepala yang menoleh kesana kemari sebelum berucap, menjadi pertanda
betapa besarnya perasaan takut yang tengah melandanya.
"Apa...?! Kau yakin itu
guru?" Tanya Sagala ber-bisik. Meskipun demikian, tarikan wajahnya
me-nampakkan keterkejutan yang amat sangat.
Maka dengan sebuah lesatan cepat,
Sagala ber-sembunyi di balik kerimbunan semak-semak. Hal yang sama pun
dilakukan Kumari.
"Aku yakin sekali, Sagala!
Karena, aku jelas me-lihatnya. Aku tengah berganti pakaian di dalam
semak-semak, ketika melihat guru bersama orang
yang kuduga adalah Iblis Mayat
Hidup, tengah ber-jalan perlahan-lahan menuju kemari. Ahhh...! Mudah-mudahan
saja tua bangka-tua bangka itu tidak lewat sini...!" desah wanita
berpakaian hitam itu lagi dalam bisiknya di telinga Sagala.
"Sayang sekali, keinginanmu tidak terkabul,
Kumari."
Sebuah suara serak dan berat
menyambuti ucapan Kumari.
Bagai disengat ular berbisa,
tubuh Kumari dan Sagala terjingkat ke belakang. Raut wajah mereka menampakkan
keterkejutan yang amat sangat. Bahkan wajah keduanya pucat pasi, seperti tidak
dialiri darah sama-sekali.
Bagai diperintah, Sagala dan
Kumari langsung memalingkan wajah ke arah belakang. Kontan kedua-nya melangkah
mundur tanpa sadar, ketika melihat dua sosok tubuh tengah berdiri berjarak tiga
tombak di depan mereka.
"Bagaimana kabar kalian
berdua, Sagala, Kumari?" Suara yang berasal dari pemilik yang sama
kembali terdengar serak dan
berat.
Sagala dan Kumari saling
berpandangan sejenak. Kelihatan sekali kalau kedua orang ini merasa gugup bukan
kepalang. Kemudian, pandangan mereka dialihkan ke arah orang yang menegur. Dia
adalah seorang kakek berwajah mirip kera. Tubuhnya agak membungkuk. Kedua
tangannya terkulai di bawah lutut, mirip seekor kera. Bulu-bulu lebat, tebal,
dan hitam memenuhi sekujur tangan dan dadanya yang terbuka. Memang, guru Kumari
dan Sagala ini mengenakan rompi berwarna hitam dan berbulu kasar.
"Ba..., baik, Guru. Ka...,
kami baik-baik saja. Bukan
begitu, Kumari?" sahut
Sagala gugup. "Be..., benar, Guru," sahut Kumari, cepat. "Ha ha
ha...!"
Kakek berwajah mirip kera itu
tertawa bergelak. Keras bukan kepalang, sehingga terdengar meng-gelegar seperti
suara halilintar. Bahkan suasana di sekitar tempat itu seperti tergetar. Jelas,
tawa itu di-keluarkan disertai pengerahan tenaga dalam.
"Kau lihat sendiri, Iblis
Mayat Hidup. Inilah murid muridku yang membanggakan hati!" ujar kakek
ber-wajah kera sambil menoleh ke arah orang yang ber-diri di sebelah kirinya.
"Aku tidak butuh khotbahmu,
Lutung Tangan Baja! Aku hanya ingin melihat, bagaimana tindakanmu ter-hadap
kedua orang muridmu yang sangat mem-banggakan hati itu," sambut Iblis
Mayat Hidup tak acuh.
Kakek berwajah keras yang
ternyata berjuluk Lutung Tangan Baja mendengus keras mendengar ucapan yang
cukup menyakitkan hati itu. Dengan langkah satu-satu, dihampirinya Sagala dan
Kumari.
"Perlu kalian ketahui. Aku
sengaja keluar dari tempat kediamanku hanyalah untuk mencari kalian,
Murid-Murid Murtad!"
"Ampunilah kami, Guru. Kami
berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami lagi," ratap Sagala,
mewakili dirinya dan Kumari.
"Benar, Guru. Aku pun
bersedia kembali pada Gu-ru. Aku tidak akan menyeleweng lagi," pinta
Kumari pula.
"Tidak ada ampunan bagi
kalian berdua!" tandas Lutung Tangan Baja keras. "Kesalahan yang
kalian lakukan sudah terialu banyak dan tidak bisa di-ampuni. Hukuman mati
tampaknya adalah ganjaran
yang paling tepat untuk
kalian!"
Lutung Tangan Baja sampai
terengah-engah ketika mengucapkan kata-katanya. Jelas hatinya tengah di-landa
kemarahan yang amat sangat. Sehingga, mem-buat napasnya memburu hebat.
"Kesalahan pertama, kalian
berdua berani bermain gila di belakangku! Kedua, kalian malah bersekongkol
meracuniku sehingga aku hampir tewas. Untung, nyawaku mampu kuselamatkan. Walau
untuk itu aku harus beristirahat, mengobati luka dan bersemadi selama
bertahun-tahun. Dan ketiga, kalian tidak mewakiliku menerima tantangan yang
diajukan Tengkorak Darah. Sekarang, bersiaplah kalian me-nerima kematian!"
Sagala dan Kumari sadar, Lutung
Tangan Baja tidak akan mengampuni mereka. Maka diputuskanlah untuk mengadakan
perlawanan daripada mati konyol! Memang, tampaknya Lutung Tangan Baja tidak
salah. Buktinya, Sagala telah berani bermain gila dengan Kumari. Padahal, dia
tahu kalau wanita berpakaian biru itu adalah murid, sekaligus gundik Lutung
Tangan Baja. Tidak heran hal itu membuat kakek berwajah kera ini mencak-mencak.
Srattt!
Sinar terang berkeredep ketika
Sagala mencabut goloknya. Ctarrr!
Kumari pun tidak tinggal diam.
Wanita berpakaian hitam ini mengeluarkan sabuknya, kemudian me-lecutkannya ke
udara. Sehingga, terdengar ledakan keras yang memekakkan telinga.
"Ha ha ha...! Anak-anak
domba ingin menantang harimau?! Silakan! Majulah kalian!" tantang Lutung
Tangan Baja sambil tertawa bergelak. Kegembiraan yang amat sangat, tampak jelas
di wajahnya.
***
Iblis Mayat Hidup sama sekali
tidak menampak-kan perasaan apa-apa di wajahnya, melihat sikap guru dan murid
yang jelas-jelas akan terlibat dalam pertarungan. Dengan sikap tak acuh kakinya melangkah menyingkir dari tempat
itu.
Sementara itu, Sagala dan Kumari
sudah saling memberi tanda. Maka.... "Haaat...!"
Sagala menyerang lebih dulu.
Laki-laki kecil kurus ini melompat ke udara, menubruk Lutung Tangan Baja.
"Hiyaaat...!"
Diiringi teriakan tak kalah nyaring, Kumari menerjang pula. Hanya saja,
dia tidak melompat seperti Sagala. Wanita itu bergerak mendekati Lutung Tangan
Baja dengan langkah-langkah silang.
Ctarrr!
Pada saat yang bersamaan dengan
gerakan mem-babat golok Sagala ke arah leher Lutung Tangan Baja, Kumari
melecutkan sabuknya. Diawali lecutan keras, benda lemas itu meluncur ke arah
ulu hati Lutung Tangan Baja. Jangan dipandang ringan serangan sabuk ini. Karena
sekali lecut saja, akan mampu me-numbangkan sebatang pohon besar sekalipun!
Apa-lagi, dada manusia!
"Ha ha ha...!"
Lutung Tangan Baja masih tertawa
terkekeh-kekeh melihat serangan-serangan dari murid-muridnya.
Sama sekali tidak terlihat tanda-tanda kalau dia akan mengelak atau menangkis.
Baru ketika serangan-serangan itu menyambar dekat, kakek berwajah kera ini
bertindak.
Cepat laksana kilat, Lutung
Tangan Baja bergerak.
Tangan kirinya diangkat ke atas
untuk melindungi leher. Sementara, tangan kanannya digunakan untuk memapak
lecutan sabuk.
Takkk, ctarrr!
Hampir bersamaan waktunya, dua
kejadian ber-langsung. Kedua tangan Lutung Tangan Baja berhasil menangkis dua
serangan yang menuju ke arah sasaran. Tangan kiri membentur mata golok,
sedang-kan tangan kanan memapak sabuk.
"Akh...!"
Baik Sagala maupun Kumari
melompat mundur disertai perasaan kaget. Bahkan pada Sagala sampai terdengar
suara pekik tertahan. Memang, laki-laki kecil kurus ini merasakan betapa tangan
yang meng-genggam golok terasa sakit-sakit ketika berbenturan dengan tangan
Lutung Tangan Baja. Pada Kumari, hal itu tidak terasakan karena senjata yang
digunakan-nya lemas. Sehingga meskipun kalah tenaga bentu-ran, sama sekali tidak
mempengaruhinya.
"Ha ha ha...!"
Lutung Tangan Baja tertawa
bergelak. Hatinya gembira melihat kedua orang bekas muridnya ter-pukul mundur.
Masih dengan tawa yang belum putus, ditunggunya serangan lanjutan yang akan
meluncur.
Dan memang, Lutung Tangan Baja
tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menerima serangan susulan. Begitu telah
berhasil memperbaiki kedudu-kannya, Sagala dan Kumari kembali menerjang.
Se-kejap kemudian, suara mengaung dari gerakan golok Sagala dan suara ledakan
keras dari sabuk Kumari, mulai memeriahkan suasana di sekitar tempat itu.
Sagala dan Kumari mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki. Memang mereka tahu kelihaian
Lutung Tangan Baja, guru mereka. Lutung
Tangan Baja adalah salah satu
dari empat datuk aliran hitam yang dulu dikalahkan Eyang Mandura. Maka bisa
diperkirakan ketinggian ilmunya. Tak pelak lagi, pertarungan antara ketiga
orang ini pun ber-langsung sengit.
Memang hebat bukan kepalang
pertarungan yang terjadi. Hanya saja, terlihat tidak menarik karena kedua belah
pihak terutama sekali Lutung Tangan Baja, telah mengetahui semua ilmu yang
digunakan Sagala dan Kumari. Tidak heran, kedua orang itu adalah muridnya.
Sebagai akibatnya, kakek berwajah kera itu tahu arah yang dituju setiap
serangan yang dilancarkan Kumari maupun Sagala.
Pada jurus-jurus awal,
pertarungan masih berlang-sung imbang. Karena baik pihak Lutung Tangan Baja
maupun pihak Sagala dan Kumari sama-sama mengetahui tujuan serangan lawan. Tapi
begitu menginjak jurus ketiga puluh, Lutung Tangan Baja mulai mengeluarkan
ilmu-ilmu yang belum diajarkan-nya. Hasilnya, Kumari dan Sagala mulai
kebingungan. Dan sebagai akibatnya, mereka mulai terdesak.
Di jurus keempat puluh tiga,
Lutung Tangan Baja melompat mundur. Sagala dan Kumari sama sekali tidak
mengejarnya, karena khawatir kalau tindakan yang dilakukan lawan hanya
pancingan saja. Maka, kedua orang ini sama-sama menatap penuh selidik ke arah
bekas guru mereka.
Tampak Lutung Tangan Baja
termenung sejenak. Kemudian....
"Hih...!"
Kakek berwajah kera ini meluruk
ke arah Sagala dan Kumari sambil memutar tubuhnya seperti gasing. Suara angin
menderu mengiringi berpusingnya tubuh Lutung Tangan Baja.
Sagala dan Kumari membelalakkan
mata. Mereka merasa bingung bukan kepalang melihat hal ini. Memang, keduanya
tahu kalau guru mereka meng-gunakan ilmu andalan, 'Hujan Angin Badai Neraka'.
Dan mereka sering pula melihat kakek berwajah kera itu mempertunjukkannya. Tapi
sayangnya, mereka belum mendapatkan kesempatan mempelajarinya. Dan kini, Lutung
Tangan Baja menggunakan ilmu itu untuk menghadapi mereka. Maka tak heran kalau
keduanya kontan bingung.
Sagala dan Kumari sama sekali
tidak melakukan tindakan apa pun. Keduanya hanya berdiri terpaku dengan senjata
di tangan. Hanya pandangan mata mereka saja yang tertuju ke arah tubuh Lutung
Tangan Baja yang tengah berpusing. Dan arahnya jelas menuju tempat mereka
berdua.
Mendadak, ketika telah berada
cukup dekat, dari tubuh yang berpusing itu mencuat serangan-serangan ke arah
Sagala.
Laki-laki kecil kurus ini
terkejut bukan kepalang ketika mendadak sekelebatan bayangan meluncur ke arah
ubun-ubunnya. Meskipun demikian, Sagala mampu melihat sesuatu yang tengah
meluncur ke arahnya. Yang tengah mengancam ubun-ubunnya jelas adalah tangan
Lutung Tangan Baja.
Walaupun serangan itu begitu
mendadak dan tak disangka-sangka, namun Sagala masih mampu mem-buktikan kalau
dirinya adalah seorang berkepandaian cukup tinggi. Maka cepat-cepat pedangnya
dibabat-kan untuk menangkis.
Takkk!
Gila! Pedang Sagala malah
terlepas dari pegangan ketika berbenturan dengan tangan Lutung Tangan Baja. Dan
sebelum Sagala sempat berbuat sesuatu,
kembali dari tubuh yang berpusing
itu mencuat kaki Lutung Tangan Baja. Bahkan terus meluncur ke arah perut.
Bukkk!
Telak dan keras sekali tendangan
Lutung Tangan Baja mendarat di sasaran. Maka seketika itu juga tu-buh Sagala
terlempar jauh ke belakang. Darah segar langsung memancur deras dari mulut, dan
mem-basahi tanah sepanjang tubuhnya melayang. Terus....
Byurrr!
Tubuh Sagala terjatuh ke dalam sungai.
Seketika itu juga laki-laki keci kurus pun hanyut. Memang, arus sungai itu kuat
cukup deras.
"Sagala...!" teriak
Kumari keras.
Wanita berpakaian biru ini memang
terkejut bukan kepalang melihat kejadian ini. Sayang, dia tidak sempat
bertindak apa-apa. Karena, semua kejadian itu berlangsung demikian cepat. Dan
tahu-tahu, tubuh Sagala sudah terlempar jauh.
Dari perasaan kaget, muncul
perasaan murka dalam diri Kumari. Maka...
"Hiyaaat...!"
Kumari menjerit keras. Sabuk di
tangannya dile-cutkan ke arah tubuh Lutung Tangan Baja yang te-ngah berputar.
Wanita berpakaian biru ini mengarah-kan secara sembarangan saja. Hal itu
terpaksa dilakukan, karena mengalami kesulitan untuk menentukan bagian yang akan
diserang. Tubuh Lutung Tangan Baja yang berpusing itu membuatnya tidak bisa
melihat bagian demi bagian tubuh lawan secara jelas. Yang kelihatan hanyalah
segulung bayangan kehitaman yang berpusing laksana gasing. Tappp!
5
"Akh!"
Kumari memekik tertahan ketika
ujung sabuknya tidak bisa ditarik pulang. Dia pun sadar kalau senjata
andalannya telah kena cengkeraman lawan. Dan sebelum sempat berbuat sesuatu,
tahu-tahu tubuh-nya telah terbetot ke depan. Rupanya Lutung Tangan Baja telah
membetot ujung sabuk itu secara tiba-tiba.
Kumari terkejut bukan kepalang
ketika menyadari tubuhnya telah melayang ke arah Lutung Tangan Baja. Otaknya
seketika diputar, mencari jalan untuk menyelamatkan diri.
Dalam waktu yang demikian
singkat, wanita ber-pakaian biru ini telah menemukan sebuah jalan keluar.
Segera pegangan pada sabuknya dilepaskan, kemudian kedua tangannya dimasukkan
ke balik baju.
Sing, sing, sing...!
Suara mendesing nyaring terdengar
ketika Kumari mengibaskan kedua tangannya. Sekejap kemudian, melesat
benda-benda berkilat ke arah Lutung Tangan Baja! Sementara di belakangannya, Kumari menyusul. Malah di kedua tangannya telah
ter-genggam sebilah pisau.
Tapi Lutung Tangan Baja tidak
gugup melihat perubahan yang sama sekali tidak disangka-sangka itu. Dia tahu,
benda-benda berkilat itu adalah pisau-pisau terbang. Dan apabila mengenai
sasaran, hal yang akan terjadi sudah bisa diperkirakan.
Maka kakek berwajah kera ini
cepat-cepat ber-tindak cepat. Sabuk yang dilepaskan Kumari segera
dipergunakannya. Meskipun hanya
memegang ujung sabuk, tapi kemampuannya menggunakan senjata lemas itu tidak
kalah dengan Kumari.
"Hih!"
Lutung Tangan Baja menggertakkan
gigi, dan menggerak-gerakkan tangannya. Luar biasa! Sabuk itu bergerak naik
turun seperti gelombang laut! Hebatnya lagi, pisau-pisau yang meluncur ke
arahnya jadi terhalang!
Ajaib! Semua pisau langsung
runtuh begitu ber-papakan dengan sabuk yang bergerak naik turun. Sementara,
sabuk itu sama sekali tidak terpengaruh sedikit pun. Tanpa mempunyai tenaga
dalam tinggi, rasanya sulit melakukan hal seperti itu.
Saat itulah tubuh Kumari meluruk
turun dengan sebilah pisau di kanan kiri tangannya. Jelas, dia ber-siap-siap
melancarkan tikaman
Tapi sebelum jarak jangkauan
tikaman tercapai, Lutung Tangan Baja. kembali melakukan tindakan yang tidak
terduga-duga. Bahkan sepasang matanya kontan memancarkan kilatan aneh.
Mendadak....
Blesss...! "Aaakh...!"
Kumari menjerit memilukan ketika
perutnya ter-tembus sabuk yang tahu-tahtu telah mengejang kaku laksana sebilah
pedang panjang. Sabuk yang telah kaku itu menembus perut Kumari hingga sampai
ke punggung. Darah kontan muncrat-muncrat dari
bagian yang terluka.
Lutung Tangan Baja menghentikan
pengerahan tenaga dalam, sehingga telah membuat sabuk itu menegang kaku laksana
sebilah pedang. Seketika itu juga, sabuk itu melemas kembali Tapi tetap saja
masih menghunjam di perut Kumari hingga tembus
ke punggung.
Sementara itu, tubuh Kumari
langsung meluncur turun. Wajahnya menampakkan perasaan penasaran. Rupanya, dia
tidak menyangka akan terjadi peristiwa seperti itu. Masalahnya, tadi sabuk itu
tampak ter-kulai, sehabis Lutung Tangan Baja membuatnya ber-gerak naik turun
seperti gelombang laut.
Brukkk!
Tanpa sempat menggelepar lagi,
Kumari langsung tewas! Nyawanya langsung melayang meninggalkan raga ketika
tubuhnya masih berada di udara. Sementara, sepasang pisaunya sudah jatuh lebih
dulu ke tanah.
"Cuhhh...!"
Lutung Tangan Baja meludahi mayat
Kumari, kemudian tubuhnya berbalik. Lalu, dihampirinya Iblis Mayat Hidup yang
sejak tadi hanya bertindak sebagai penonton saja.
"Kau hebat, Lutung.Tangan
Baja," puji Iblis Mayat Hidup, kalem. "Ilmu 'Hujan Angin Badai
Neraka'mu memang hebat bukan kepalang. Entah mana yang lebih hebat bila
dibandingkan ilmu 'Tangan Delapan Penjuru Angin'."
"Ha ha ha..! Kau memang
cerdik, Iblis Mayat Hidup! Katakan saja terus terang, kau ingin menantangku bertarung, bukan?"
Sergah Lutung Tangan Baja, cepat.
"Itulah dugaanku ketika kau
mengeluarkan pekik-an. Huh! Betapa kecewanya hatiku, ketika kau malah meminta
bantuanku untuk mencari tempat murid-murid murtadmu berada!" rutuk Iblis
Mayat Hidup.
"Dugaanmu tidak seluruhnya
benar, Iblis Mayat Hidup," bantah Lutung Tangan Baja. "Lengkingan
yang kukeluarkan, semula untuk menantang bertarung.
Tapi setelah kupikir-pikir,
pertarungan antara kita bisa diurus belakangan. Maka kuurus murid-muridku lebih
dahulu."
"Terserahlah, Iblis Mayat
Hidup!" Lutung Tangan Baja mengangkat bahu. "Ingat! Dua minggu lagi
kita bertemu di Lembah Seribu Bunga!"
Usai berkata demikian, Lutung
Tangan Baja men-jejakkan kakinya. Gila! Hanya dalam sekali langkah saja,
tubuhnya telah berada dua belas tombak di-depan. Ilmu meringankan tubuh kakek
berwajah kera ini memang luar biasa.
Iblis Mayat Hidup memandangi
hingga tubuh Lutung Tangan Baja Lenyap ditelah kejauhan. Disadari kalau dia
merupakan seorang lawan yang amat tangguh. Baru setelah tubuh Lutung Tangan
Baja telah tidak terlihat lagi, kakek kurus kering ini berlari cepat menempuh
arah yang berbeda.
***
"Hih!"
Sesosok bayangan kuning melambung
ke atas, kemudian mendarat di atas sebongkah batu yang menonjol. Kembali
kakinya menjejak, maka tubuhnya pun kembali melambung ke udara. Begitu hinggap
di tonjolan batu yang lebih atas. Kakinya menotol lagi. Demikian seterusnya.
Rupanya, sosok bayangan kuning itu tengah mendaki lereng sebuah gunung.
Ternyata bukan hanya bayangan
kuning saja yang mendaki. Terbukti di belakangnya menyusul sosok bayangan
hitam, dan sosok bayangan ungu. Gerakan mereka rata-rata gesit dan lincah.
Terutama sekali, sosok bayangan ungu.
"Hup!"
Ringan hampir tanpa suara, sosok
bayangan ku-ning itu mendarat di tanah datar. Memang, dia telah berada di
bagian gunung yang mempunyai per-mukaan datar. Sesampainya di sini, sosok
bayangan kuning itu menghentikan gerakannya dan berdiri diam di situ,
seakan-akan tengah menunggu sesuatu.
Sesaat kemudian, melesat sosok
bayangan hitam dan disusul sosok bayangan ungu. Kini, tiga sosok bayangan itu
telah berkumpul di bagian yang datar.
Mereka ternyata Adipati Subali,
Dewa Arak, dan Rara Kunti.
"Masih jauhkah tempat yang
akan kita tuju, Ayah?" Tanya Rara Kunti, agak terengah-engah.
Rupanya gadis berpakaian hitam
ini telah merasa lelah. Bahkan wajahnya yang cantik itu pun dipenuhi
butir-butir keringat.
"Memang masih cukup jauh,
Kunti," kata Adipati Subali sambil menganggukkan kepala. "Kita masih
harus melalui jalan setapak, padang ruput yang cu-kup tinggi dan luas, serta
sebuah sungai untuk tiba di sana."
"Hhh...!" Rara Kunti
menghela napas berat. "Bagai-mana kalau kita beristirahat dulu,
Ayah?"
"Sebuah usul yang cukup
baik," Arya yang menya-huti. "Sebaiknya kita memang beristirahat
dulu."
Adipati Subali sama sekali tidak
membantah. Terus terang, dia sendiri juga merasa lelah, meskipun tidak selelah
putrinya. Hanya Arya sendiri yang terlihat biasa-biasa saja, tidak terlihat
adanya tanda-tanda kelelahan. Padahal, mereka bertiga telah men-daki hingga ke
lereng.
Kini Arya, Adipati Subali, dan
Rara Kunti meng-edarkan pandangan berkeliling untuk mencari tempat istirahat.
Sekitar beberapa tombak di kanan mereka,
tampak sebatang pohon yang cukup
rindang. Maka ke sanalah ketiga orang ini menuju, karena hanya itulah
satu-satunya yang dapat dijadikan tempat ber-istirahat. Tempat itu memang
sebuah lapangan ter-buka.
Pada, saat itu matahari telah
mulai beranjak menuju titik tengahnya, sehingga suasana terasa panas bukan
kepalang.
Tapi langkah ketiga orang itu
langsung terhenti ketika mendengar suara riuh, yang berasal dari lereng yang
dituju. Karuan saja hal itu membuat mereka terperanjat.
Baik Adipati Subali maupun Arya
langsung bisa menduga apa yang telah terjadi. Dari ciri-ciri suara-nya, sepertinya
ada seseorang yang tengah mendaki puncak. Tapi sewaktu menjejakkan kaki, batu
yang dipijaknya ternyata menggelincir dan menggelinding ke bawah.
Perasaan ingin tahu mendorong
Arya, Adipati Su-bali, dan terutama sekali Rara Kunti yang tidak men-duga apa
pun, untuk bergegas meluruk ke sana. Tapi baru beberapa tindak, langkah ketiga
orang itu kontan terhenti. Karena, sesosok bayangan hitam itu bersalto beberapa
kali di udara dari bawah lereng, lalu.
"Hup!"
Ringan laksana daun kering, kedua
kaki sosok bayangan hitam itu mendarat di tanah. Jaraknya hanya empat tombak
dari Arya, Adipati Subali, dan Rara Kunti.
Ada perubahan di wajah kedua
belah pihak, per-tanda tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Untuk
beberapa saat, mereka hanya saling tatap penuh selidik.
"Lutung Tangan Baja! Dia...
Lutung Tangan Baja." desis Adipati Subali.
Ada nada kegentaran dalam ucapan
laki-laki tinggi besar ini. Masalahnya, Adipati Subali kenal betul tokoh yang
berjuluk Lutung Tangan Baja ini.
Arya menganggukkan kepala, dengan sikap
tampak waspada. Memang, dia telah mendengar tentang tokoh yang berjuluk Lutung
Tangan Baja. Baik dari mulut Adipati Subali sendiri, maupun dari kabar dalam
dunia persilatan. Dewa Arak langsung teringat Iblis Mayat Hidup yang memiliki
kepandaian amat tinggi. Dan sekarang, dia bertemu lagi dengan tokoh yang
mempunyai tingkat setara dengan Iblis Mayat Hidup. Lutung Tangan Baja,
julukannya!
Sementara itu, Lutung Tangan Baja
yang juga memperhatikan ketiga sosok di hadapannya, mulai berkernyit dahinya.
"Kau...," tuding kakek
berwajah kera ini pada Adi-pati Subali. "Apa hubunganmu dengan Eyang
Man-dura?!"
Ucapan Lutung Tangan Baja
benar-benar menge-jutkan. Bukan hanya Adipati Subali yang merasa kaget, tapi
juga Rara Kunti dan Arya! Dari mana kakek berwajah kera ini tahu kalau Adipati
Subali mem-punyai hubungan dengan Eyang Mandura?
"Kau tidak bisa mungkir,
Keparat! Kau pasti mem-punyai hubungan dengan Eyang Mandura? Entah sebagai
anaknya atau cucunya!" Cetus Lutung Tangan Baja lagi, ketika melihat
Adipati Subali malah diam. "Kalau kau bukan seorang pengecut, mengakulah!
Atau..., keturunan Eyang Mandura adalah seorang pengecut hina?!"
"Tutup mulutmu yang busuk,
Manusia Kera!" tandas Rara Kunti keras sambil menudingkan
telunjuknya. "Ayahku memang
keturunan Eyang Mandura! Tokoh sakti yang telah membuatmu lari
terkentut-kentut!"
Keras dan tajam bukan kepalang
ucapan Rara Kunti, sehingga membuat Lutung Tangan Baja sampai menggemeretakkan
gigi karena hawa amarah yang melanda.
"Bocah liar! Rupanya kau dan
ayahmu adalah keturunan-keturunan si Keparat Eyang Mandura?! Kalau demikian,
kalian berdua harus mampus!"
Usai berkata demikian, Lutung
tangan Baja langsung menerjang Adipati Subali! Tanpa ragu-ragu lagi, segera
seluruh kemampuannya dikerahkan dalam serangan pembukaannya. Kakek berwajah
kera ini menyangka kalau Adipati Subali sebagai keturunan Eyang Mandura, pasti
memiliki kepandaian amat tinggi.
Wuttt!
Deru angin keras terdengar ketika
Lutung Tangan Baja melancarkan serangan. Kakek berwajah kera ini menyampokkan tangan
kanannya yang terkembang membentuk cakar ke arah pelipis kiri Adipati Subali.
Kalau mengenai sedikit saja, sepertinya cukup untuk mengirim nyawa laki-laki
tinggi besar itu ke neraka!
***
Dewa Arak tahu, Adipati Subali
tidak mungkin bisa mengelakkan serangan yang datang secara tiba-tiba dan cepat
bukan kepalang. Maka buru-buru tubuhnya melesat ke arah orang nomor satu di
Kadipaten Blambang itu. Dengan tangan kanan, didorongnya tubuh Adipati Subali.
Sedangkan, tangan kirinya memapak serangan Lutung Tangan Baja.
Tappp! Plakkk!
Berbarengan dengan terdorongnya
tubuh Adipati Subali hingga jatuh terpelanting, tangan kiri Dewa Arak
berbenturan dengan tangan kanan Lutung Tangan Baja. Akibatnya, baik tubuh Arya
maupun tubuh Lutung Tangan Baja sama-sama terjengkang ke belakang. Hanya saja,
Dewa Arak terpental lebih jauh, dan tangannya terasa nyeri. Hal. ini bukan
karena tenaga dalam Arya kalah kuat dibanding lawannya, tapi karena tenaganya
terbagi. Sebagian digunakan untuk mendorong tubuh Adipati Subali, sebagian lagi
untuk memapak.
"Hup!"
Hampir berbarengan, Lutung Tangan
Baja dan Dewa Arak sama-sama mendaratkan kedua kaki di tanah tanpa terhuyung
sedikit pun. Sementara, Adipati Subali dan Rara Kunti telah menyingkir dari
situ. Memang, mereka mengetahui betapa besar bahaya yang mengancam apabila
berada di sekitar pertarungan.
Kini dari jarak yang aman,
Adipati Subali dan Rara Kunti menatap ke arah Dewa Arak dan Lutung Tangan Baja
yang tengah berdiri berhadapan dalam jarak empat tombak.
"Hm.... Rupanya kau tokoh yang
berjuluk Dewa Arak," Lutung Tangan Baja mengangguk-anggukkan kepala,
setelah memperhatikan Arya beberapa saat lamanya. "Memang, julukanmu
sempat juga mampir ke telingaku. Kau terkenal sebagai tokoh luar biasa, Dewa
Arak. Tapi nyaliku tidak ciut karenanya. Aku bahkan berkeinginan untuk
mengajakmu bertarung! Dan keinginan itu semakin membesar ketika Iblis Mayat
Hidup kudengar telah bertarung denganmu. Hm.... Dia pun memujimu."
"Sayang sekali, Kek. Aku
tidak ingin bertarung denganmu," kalem ucapan Arya.
"Apakah kau tetap tidak
ingin bertarung dengan-ku, apabila aku berminat membunuh kedua orang kawanmu
itu!"
Usai berkata demikian, Lutung
Tangan Baja melesat ke arah Adipati Subali dan Rara Kunti. Cepat dan indah
gerakannya. Apalagi, ketika bersalto beberapa kali di udara. Kemudian, tubuhnya
menukik ke bawah dengan kedua tangan terkembang mem-bentuk cakar. Tingkahnya
mengingatkan orang akan seekor burung garuda yang tengah menyambar mangsa.
Hebatnya, dalam sekali serang
kakek berwajah kera ini telah mengancam ke arah Adipati Subali dan Rara Kunti.
Sasaran kedua cakar itu adalah ubun-ubun kepala.
"Ihhh...!"
Rara Kunti tidak bisa menahan
jeritan yang keluar dari mulutnya. Memang, dia dan ayahnya merasa ter-kejut
bukan kepalang melihat serangan yang tengah meluncur itu.
Tapi untuk yang kedua kalinya,
Dewa arak kembali menyelamatkan Adipati Subali dan putrinya. Pemuda berambut
putih keperakan itu menghentakkan kedua tangannya kedepan, mengeluarkan
serangan pukulan jarak jauh. Langsung dipotongnya jalur lompatan Lutung Tangan
Baja. Apabila kakek berwajah kera itu melanjutkan serangan, pukulan jarak jauh
Dewa Arak akan lebih dulu menghempaskan tubuhnya.
Sebagai seorang tokoh tingkat
tinggi, Lutung Tangan Baja tahu akan hal itu. Dan tentu saja dia tidak ingin
bertindak bodoh dengan meneruskan serangan. Buru-buru maksudnya diurungkan. Dan
dengan menjadikan tangan sebagai
tumpuan, tubuh-nya melenting ke udara. Sehingga, serangan pukulan jarak jauh
itu meluncur di bawah kakinya.
Jliggg!
Begitu kedua kaki Lutung Tangan Baja
mendarat di tanah, Dewa Arak telah berada didepan Adipati Subali dan Rara
Kunti. Pemuda berambut putih keperakan itu berdiri membelakangi. Sikap yang
ditunjukkannya memberi tanda seperti bermaksud melindungi ayah dan anak itu.
"Hiaaat..!"
Kali ini Dewa Arak yang membuka
serangan lebih dulu. Hal itu terpaksa dilakukan untuk menghindar-kan bahaya
yang akan mengancam Adipati Subali dan Rara Kunti, kalau Lutung Tangan Baja
dibiarkan menyerang lebih dahulu. Karena bukan mustahil, angin serangannya akan
mengenai kedua orang itu.
Serangan Dewa Arak dibuka dengan
sebuah terjangan. Hebatnya begitu berada di tengah jalan, tubuhnya langsung
berbalik. Pada saat yang ber-samaan, kaki kanannya bergerak mengibas ke arah
pelipis lawan. Dan apabila mengenai sasaran, meskipun hanya menyerempet saja,
cukup untuk mengirim nyawa ke alam baka.
Lutung Tangan Baja tidak berani
bertindak gegabah. Dari deru angin yang mengawali serangan lawan, bisa
diperkirakan kekuatan tenaga dalam yang terkandung di dalamnya. Memang, Dewa
Arak telah mengetahui kalau lawan yang dihadapinya sekarang tidak bisa dianggap
sembarangan. Maka, langsung saja dikeluarkannya seluruh kemampuannya.
Wukkk!
Kibasan kaki Dewa Arak lewat di
atas kepala, ketika Lutung Tangan Baja merundukkan tubuhnya.
Pada saat yang bersamaan, kakek
itu mengirimkan serangan berupa tusukan jari-jari tangan terbuka ke arah ulu
hati Dewa Arak. Terpaksa pemuda berambut putih keperakan itu memapaknya, karena
untuk mengelak sudah tidak memungkinkan lagi.
Pratrt!
Benturan keras yang terjadi
membuat kedua belah pihak sama-sama mundur. Lutung Tangan Baja
terhuyung-huyung, sedangkan Dewa arak terpental belakang. Masalahnya, kedudukan
Arya tengah ber-ada di udara.
Lutung Tangan Baja dan Dewa Arak
saling ber-pandangan sejenak. Dalam adu pandang itu, tampak sinar kekagumam
terhadap lawan di dalamnya. Tapi hal itu hanya berlangsung sekejap saja, karena
se-saat kemudian keduanya telah saling menggebrak kembali.
Hebat bukan kepalang pertarungan
antara dua tokoh sakti berkepandaian tinggi itu. Suara mencicit mengaung, dan
menderu mengiringi setiap gerakan tangan atau kaki. Tanah kontan terbongkar di
sana sini, sehingga menimbulkan kepulan debu tebal. Keadaan di sekitar tempat
itu seperti habis dibajak belasan kerbau liar saja layaknya.
Adipati Subali dan Rara Kunti
menatap ke arah pertarungan penuh takjub. Hati ayah dan anak ini diliputi
perasaan kagum bukan kepalang, terutama sekali terhadap Dewa Arak.
Sementara, tokoh-tokoh yang
dikagumi sama sekali tidak tahu-menahu. Keduanya sibuk mengerah-kan seluruh
kemampuan yang dimiliki untuk bisa mengalahkan satu sama lain.
Lima puluh jurus telah berlalu.
Dan selama ini belum nampak tanda-tanda yang akan keluar sebagai
pemenang. Pertarungan masih
berlangsung, dan saling bergantian melancarkan serangan.
"Hih...!"
Di jurus keenam puluh tiga,
Lutung Tangan Baja melentingkan tubuh ke belakang. Kemudian, dia ber-salto
beberapa kali ke belakang.
Dewa Arak sama sekali tidak
mengejar. Dia tahu, lawan ingin mengeluarkan ilmu andalan. Maka guci araknya
segera dijumput, dan diangkatnya di atas kepala. Kemudian, isinya dituangkan ke
dalam mulut.
Gluk.... Gluk.... Gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Dewa Arak. Sesaat kemudian, kedua kaki pemuda
berambut putih keperakan itu mulai oleng ke sana dan oleng ke sini. Itu berarti
pertanda Dewa Arak telah siap menggunakan ilmu 'Belalang Sakti' andalannya.
Di saat tubuh Dewa Arak tengah
limbung itu, Lutung Tangan Baja melompat menerjang! Dan ketika telah berada di
tengah perjalanan, tubuhnya ber-putaran. Inilah ilmu 'Hujan Angin Badai Neraka'
yang dahsyat.
***
6
Hebat bukan kepalang ilmu 'Hujan
Angin Badai Neraka'. Seiring meluncurnya tubuh Lutung Tangan Baja yang sambil
berputaran seperti gasing, bertiup angin keras berhawa panas membawa debu.
Inilah salah satu keistimewaannya. Debu yang bertiup mem-buat pandangan lawan
terhalang. Padahal, serangan yang dilancarkan belum tiba.
Dewa Arak kebingungan melihat
ilmu lawannya. Tubuh Lutung Tangan Baja yang berputaran,
membuatnya mengalami kesulitan untuk menjatuh-kan serangan. Karena yang
terlihat hanyalah segulungan
bayangan hitam yang berputaran.
Belum juga kebingungannya itu
lenyap, dari balik tubuh yang berputaran mencuat serangan-serangan ke arah
bagian-bagian berbahaya di tubuh Dewa Arak. Terkadang tangan, tapi tidak jarang
kaki. Dan yang lebih gila lagi, setiap serangan itu selalu didahului sergapan
angin panas.
Menghadapi ilmu aneh lawannya
ini, Dewa Arak tidak berani bertarung jarak dekat. Disadari kalau hal itu amat
berbahaya, sehingga akan menjadi sasaran empuk lawannya. Sedangkan tubuh Lutung
Tangan Baja sepertinya sukar diserang.
Untuk pertama kali dalam
pertarungan yang sudah tidak terhitung, Dewa Arak menghadapi penyerbuan lawan
dengan elakan-elakan jauh. Dia tidak berani mengelak, tanpa menggerakkan kaki.
Malah, itu pun dengan melompat jauh ke belakang. Untuk beberapa jurus lamanya,
tokoh muda yang menggemparkan itu
hanya mengelak saja. Kalau pun
beberapa kali melancarkan serangan, itu hanya berupa semburan araknya saja.
Akibatnya bisa ditebak. Dewa Arak
berada di bawah angin, dan terus-menerus terdesak.
Meskipun demikian, bukan berarti
Dewa Arak harus putus asa. Jelas tidak ada kata putus asa dalam kamus hidup
Dewa Arak. Dia tahu, dalam setiap persoalan selalu ada jalan keluarnya. Maka
sambil terus mengelak, benaknya berputar keras. Disadari kalau betapa pun
tingginya setiap ilmu, selalu mempunyai kelemahan. Apalagi, ilmu-ilmu yang
diciptakan tokoh sesat seperti Lutung Tangan Baja.
Sementara itu, Adipati Subali dan
Rara Kunti yang menyaksikan jalannya pertarungan menjadi cemas. Meskipun, tak
bisa menyaksikan jalannya per-tarungan secara jelas, tapi Adipati Subali dan
Rara Kunti dapat memperkirakannya. Sehingga yang jadi patokan ayah dan anak ini
hanyalah kelebatan bayangan hitam dan ungu. Memang, gerakan-gerakan Dewa Arak
dan Lutung Tangan Baja terlalu cepat. Dan tidak bisa tertangkap oleh pandang
mata mereka.
Dan karena melihat bayangan ungu
terdesak dan bergerak mundur, Adipati Subali dan Rara Kunti cemas. Rupanya,
Dewa Arak yang berpakaian ungu terus bermain mundur.
Tak terasa, pertarungan sudah
berlangsung masuk seratus jurus. Dan selama itu, Lutung Tangan tetap belum
mampu merobohkan Dewa Arak. Padahal, sejak jurus kedua puluh kakek berwajah
kera telah mendesak lawannya. Memang, meskipun kelihatan-nya ilmu 'Belalang
Sakti' tidak berdaya, tetap saja ilmu itu menunjukkan keanehannya. Dalam
peng-gunaan ilmu itu, Dewa Arak laksana bayangan. Sulit
dijadikan sasaran serangan lawan.
Beberapa kali, Dewa Arak sangat
terhimpit. Tapi dengan semburan arak dan jurus 'Pukulan Belalang”, desakan
lawannya berhasil dikendurkan. Itulah se-babnya, sampai seratus jurus tetap
saja Lutung Tangan Baja yang mendesak tetap tidak mampu merobohkan lawan.
Karuan saja hal ini membuat
Lutung Tangan Panjang penasaran bukan kepalang. Apalagi, ketika melihat Dewa
Arak mengelak sambil masih sempat menengak araknya beberapa kali. Hal ini
membuat kegeraman kakek berwajah kera ini semakin kalap. Disangkanya, Dewa Arak
melakukan hal itu untuk mengejek dirinya. Sama sekali Lutung Tangan Baja tidak
mengetahui kalau ilmu 'Belalang Sakti' memang harus demikian. Akibatnya,
serangan-serangan yang dilancarkan tokoh sesat itu semakin menggebu-gebu.
Dengan sendirinya, Arya semakin kerepotan dibuat-nya.
Menginjak jurus keseratus
sepuluh, Dewa Arak mulai menemukan cara untuk menghadapi ilmu 'Hujan Angin Badai Neraka' itu. Maka tanpa menunggu lebih lama lagi, segera
dipergunakannya.
"Hih!"
Dewa Arak menggertakkan gigi
dalam usahanya mengerahkan seluruh kemampuan sampai ke puncaknya. Sekejap kemudian, tubuhnya
melesat seraya berputar mengelilingi tubuh Lutung Tangan Baja disertai ilmu
meringankan tubuhnya yang telah mencapai tingkat kesempurnaan. Hanya saja, arah
putarannya berbeda dengan kakek berwajah kera itu.
Dan kini bentuk tubuh Dewa Arak
pun lenyap. Yang terlihat hanyalah sekelebatan bayangan ungu tak jelas
bentuknya mengelilingi tubuh Lutung Tangan
Baja yang berputaran.
Siasat Dewa Arak ternyata tidak
meleset. Begitu cara ini dipergunakan, Lutung Tangan Baja tampak kebingungan.
Gerakan Dewa Arak yang berputar mengelilingi, membuatnya kesulitan untuk
menjatuh-kan serangan. Keadaan yang berbeda didapat Dewa Arak. Pemuda berambut
putih keperakan itu sambil berlari mengelilingi, terkadang melancarkan
serangan-serangan. Kadang dengan jurus 'Pukulan Belalang', tak jarang dengan
semburan araknya. Tanpa disadari, tempat pertarungan mulai bergeser.
Tak sampai dua puluh jurus,
Lutung Tangan Baja sudah kebingungan. Pandangan matanya mulai
ber-kunang-kunang, karena berusaha mencari-cari tubuh lawan yang terus
berputaran untuk diserang. Per-lahan-lahan kakek berwajah kera ini mulai
terdesak.
Memang bila diperbandingkan,
keadaan Arak lebih menguntungkan. Putaran tubuhnya yang tidak di satu tempat,
membuatnya lebih sulit diserang lawan.
"Haaat..!"
Di jurus keseratus empat puluh
lima, Lutung Tangan Baja mengeluarkan teriakan melengking nyaring sambil
menghentikan putaran tubuhnya. Sekarang dia berdiri diam, tidak bertindak
apa-apa pun. Hanya sepasang matanya yang melirik kesana ke-mari memperhatikan
Dewa Arak yang masih mengelilinginya. Mendadak....
"Haaat...!"
Lutung Tangan Baja mengeluarkan teriakan kencang menggeledek, sehingga mampu membuat Adipati Subali
terhuyung-huyung dan Rara Kunti jatuh terduduk. Memang, teriakan itu
dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam tinggi. Bukan hanya itu saja
akibatnya. Suasana di sekitar tempat itu pun
sampai bergetar hebat.
Dan berbareng keluarnya teriakan
menggeledek itu, Lutung Tangan Baja melesat menerjang Di Arak yang masih
berputar mengelilinginya Kakek berwajah kera ini berlari, menyambut tubuh Dewa
Arak yang tengah berputar. Tentu saja tidak hanya hal itu yang dilakukan.
Sambil meluruk menghadang laju gerakan Dewa Arak, kedua tangan dihentakkan
kedepan.
Dewa Arak terkejut bukan
kepalang. Tindakan Lutung Tangan Baja sama sekali tidak diduga. Tambahan lagi,
tubuhnya saat itu tengah melesat dengan kecepatan penuh. Jadi, tidak mungkin
untuk menahannya. Maka tidak ada jalan lain baginya kecuali menghadapi serangan
itu sama kerasnya.
"Hih!"
Dewa Arak pun menghentakkan kedua
tangan pula untuk menyambuti. Seluruh tenaga dalamnya dikerahkan dalam tangkisan ini,
karena betapa besar bahayanya mengadu tenaga dalam secara langsung seperti ini.
Akibatnya, yang kalah kuat sedikit saja akan tewas. Apalagi, bila perbedaan
tenaga dalam itu terpaut hanya sedikit Tapi memang, pertemuan tenaga dalam
seperti itu tidak bisa dicegah lagi. Dan...
Blanggg...!
Suara menggelegar keras seperti
halilintar me-nyambar di tempat itu kontan terdengar ketika benturan itu
terjadi. Bahkan lereng gunung itu bergetar hebat seperti akan runtuh.
Sampai-sampai, Rara Kunti dan Adipati Subali terhuyung-huyung.
Dengan raut wajah memancarkan
kengerian yang amat sangat, Adipati Subali dan putrinya itu memandang ke arah
pertarungan. Dan seketika itu pula, sepasang mata mereka terbelalak.
Betapa tidak? Tampak jelas tubuh
Dewa Arak dan Lutung Tangan Baja sama-sama melayang ke belakang, seperti daun
kering tertiup angin. Beberapa saat lamanya tubuh kedua tokoh sakti itu
melayang-layang di udara.
"Arya...!"
Hampir berbarengan, Adipati
Subali dan Kunti menjerit. Mereka terkejut bukan kepalang melihat keadaan yang
diderita Dewa Arak. Apalagi, ketika me-lihat arah melayangnya tubuh pemuda
berambut putih keperakan itu. Bagai diperintah, keduanya ber gegas melesat
mengejar ke arah tubuh Dewa Arak yang melayang ke jurang!
Tapi, ternyata usaha yang
dilakukan sia-sia. Tubuh Dewa Arak telah melayang deras ke jurang yang sama
sekali tidak kelihatan dasarnya.
"Arya...!"
Adipati Subali dan Rara Kunti
kembali memang untuk yang kedua kalinya, ketika telah berada di bibir jurang.
Pandangan mata mereka terhunjam ke bawah tapi sama sekali tidak melihat
apa-apa. Di bawah sana terlalu pekat, terselimut kabut yang meng-halangi
pandangan.
Beberapa saat lamanya ayah dan
anak itu terpaku di bibir jurang. Raut wajah mereka menampakkan kedukaan besar.
Kemudian sambil menghela nafas berat dan menggumam ucapan selamat tinggal,
mereka beranjak dari tempat itu. Adipati Subali dan Rara Kunti melanjutkan
perjalanan, mencari tempat leluhur mereka. Sama sekali tidak dipedulikan tubuh
Lutung Tangan Baja yang tergolek tak jauh dari situ. Kakek berwajah kera itu
memang telah tewas, aklbat benturan tadi yang telah membuat seluruh isi
dada-nya hancur!
***
Wusss!
Tubuh Arya terus melayang ke dalam
jurang, tanpa disadarinya. Entah, sudah mati atau masih hidup. Sukar diketahui,
karena tidak nampak adanya gerakan apapun yang dilakukan. Mendadak....
Brusss! Srakkk!
Sebuah keajaiban terjadi. Tubuh
pemuda beram-but putih keperakan ini berhenti meluncur, begitu me-nimpa sebuah
pohon berdaun rimbun yang tumbuh di dinding jurang. Cabang-cabangnya yang alot
dan rapat, membuat tubuhnya tersangkut di situ. Tapi, Arya tetap tidak tahu
apa-apa.
Matahari terus bergulir. Hari pun
berganti. Malam telah tiba. Dan persada kini disaput kegelapan. Bulan yang
tampak di langit, hanya mampu membuat suasana menjadi remang-remang. Dan Arya
tetap belum sadarkan diri dari pingsannya.
Ketika sang Surya mulai muncul di
ufuk Timur berupa sebuah bola raksasa berwarna merah menyala, baru tampak
adanya gerakan-gerakan Arya. Memang masih lemah, tapi sudah menunjukkan adanya
tanda-tanda kehidupan. Dan semakin lama, gerakan yang timbul semakin terlihat.
Sampai akhirnya....
"Uhhh...!"
Dewa Arak menggeliat Tapi
seketika itu pula, mulutnya menyunggingkan seringai kenyerian. Per-lahan-lahan
kelopak matanya dibuka, tapi langsung ditutup kembali. Ada keterkejutan yang
amat sangat pada sorot mata pemuda berambut putih keperakan itu.
Arya membuka kembali kedua
kelopak matanya setelah beberapa saat. Tapi, ternyata pemandangan yang tampak
di hadapannya sama sekali tidak ber-ubah. Yang dilihatnya hanya tebing-tebing
yang men-julang tinggi ke atas, tanpa teriihat ujungnya.
Sekarang Arya baru yakin kalau
dirinya berada atas cabang sebatang pohon yang berada di dalam jurang. Mengapa
bisa sampai ada di sini? Beberapa per-tanyaan yang bergayut di benaknya.
Masih dengan pertanyaan yang
belum terjawab Dewa Arak bangkit dari berbaringnya. Tapi baru badannya
terangkat sedikit...
"Ukh...!"
Arya batuk-batuk setelah
sebelumnya menyung-gingkan seringai kenyerian. Dadanya terasa sakit bukan
kepalang. Bahkan ketika batuk, tampak ada percikan-percikan cairan kemerahan
keluar dari mulutnya.
Sebagai seorang tokoh tingkat
tinggi, Dewa Arak langsung bisa mengetahui kalau dirinya telah terluka dalam.
Arya berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya. Tak memakan waktu
lama, pemuda berambut putih keperakan itu sudah teringat.
"Jadi..., aku telah terjatuh
ke dalam jurang sehabis berbenturan dengan Lutung Tangan Baja," desah Arya
sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Masalahnya telah jelas sekarang.
Dan yang penting, Dewa Arak harus mengobati luka dalamnya dulu. Paling tidak,
agar bisa mencari jalan untuk lolos dari dalam jurang ini.
Berpikir sampai di sini, Arya memaksakan
diri untuk bangkit. Betapapun besar rasa sakit dan nyeri yang melanda, sama
sekali tidak dipedulikan. Yang penting, dirinya harus bisa duduk bersila untuk
ber-
semadi.
Pohon itu bergoyang-goyang ketika
Arya berusaha bangkit, dan akhirnya gagal. Tapi, pemuda berambut putih
keperakan itu tidak putus asa, dan terus me-ngulangi sampai akhimya bisa duduk
bersila. Tampak airan merah kental di sudut-sudut mulutnya mengalir, ketika
telah mulai bersemadi.
Sesaat kemudian, pemuda berambut putih keperakan itu telah tenggelam dalam keheningan
semadinya. Kini yang terdengar hanyalah alunan napasnya yang secara teratur dan
berirama tetap. Punggung Arya tampak lurus, dengan kedua telapak tangan
dipertemukan di depan dada. Arah ujung-ujung jari tangannya mengarah ke langit.
Arya terus menarik, menahan, dan
mengeluarkan napas tanpa mempedulikan suasana sekelilingnya. Yang ada di
benaknya hanya satu, mengobati luka dalamnya. Sama sekali tidak diketahui kalau
letak matahari kini sudah hampir berada di atas kepala.
Krrrkkk!
Terdengar suara gemeretak pelan,
disusul goyang-goyangnya pohon tempat Arya bersemadi. Tanah tempat akar pohon
itu terhunjam mulai guguran. Tampaknya, pohon itu sudah tidak kuat lagi menahan
bobot tubuhnya.
Goyangan pada pohon itu sama
sekali tidak meng-ganggu keheningan semadi Arya. Tapi, semakin liar goyangan
itu semakin sering dan menjadi-jadi. Mau tidak mau, semadi Dewa Arak mulai
terusik. Dengan agak segan, tarikan napasnya dihentikan. Kemudian sepasang
matanya dibuka.
Krakkk!
Pada saat yang bersamaan dengan
terbukanya kedua kelopak mata Dewa Arak, pohon itu tidak lagi
bertahan. Bahkan langsung tumbang
ke jurang ber-sama akar-akamya.
Arya terkejut bukan kepalang
ketika menyadari tubuhnya melayang turun seiring robohnya pohon yang
didudukinya. Padahal, dasar jurang sama sekali tidak terlihat Seandainya jatuh
ke bawah sana, kemungkinan nyawanya akan melayang.
Dewa Arak tentu saja tidak
menginginkan hal itu terjadi. Maka, dia berusaha menyelamatkan diri, dengan
sebisa-bisanya menjejakkan kakinya pada pohon yang tengah meluncur turun.
Tukkk!
Tubuh Arya pun kembali melayang
ke atas. Sasarannya adalah lubang tempat tumbuhnya akar pohon tadi. Karena,
memang hanya itulah satu-satunya tempat yang bisa dijadikan pegangan.
Tappp!
Usaha Arya tidak sia-sia, begitu
kedua tangannya berhasil menggapai mulut lubang. Tak pelak lagi, tubuh pemuda
berambut putih keperakan ini pun ter-gantung di dinding jurang.
"Ukh...!"
Arya menyeringai ketika dadanya
terasa sesak. Cairan merah kental pun kembali mengalir di sudut-sudut mulutnya.
Memang, luka dalam yang diderita Dewa Arak terlalu parah. Meskipun telah
diobati dengan semadi, tapi rupanya belum sembuh betul. Maka ketika tenaga
dalamnya dipergunakan kembali, luka dalamnya pun kambuh.
Arya menggigit bibirnya untuk
menguatkan tekad-nya. Biar bagaimanapun, Dewa Arak harus tiba dulu di dalam
lubang. Apapun yang terjadi! Tidak mungkin dia mampu bertahan tergantung
seperti ini.
Berpikir demikian, Arya segera
menggerakkan
kedua tangan untuk mengangkat
tubuhnya ke atas. Cairan merah kental yang mengalir melalui sudut bibirnya
semakin banyak. Bahkan rasa nyeri yang amat sangat pun semakin melanda. Tapi
Arya ber-usaha keras untuk bertahan. Dan ternyata, usahanya tidak sia-sia. Dia
kini telah berhasil sampai di dalam lubang.
Dan lubang itu ternyata besar
juga. Garis tengah-nya lebih dari setengah tombak. Sebuah lubang yang cukup
besar untuk akar sebatang pohon. "Hehhh...?"
Arya terperanjat ketika melihat
lubang tempat akar pohon itu ternyata panjang, sehingga berbentuk lorong.
Seketika itu pula timbul harapan di hati Arya untuk bisa lotos dari jurang ini.
Dia yakin, lubang yang ternyata lorong ini mempunyai hubungan dengan dunia
luar. Dan hal seperti itu sudah dibuktikan sendiri kebenarannya (Untuk
jelasnya, silakan baca Serial Dewa Arak dalam episode "Runtuhnya Sebuah
Kerajaan").
Meskipun demikian, Arya tidak
gegabah oleh perasaan gembira. Disadari, ada hal terpenting yang harus
dilakukannya, yakni mengobati luka dalamnya. Paling tidak agar perjalanan bisa
dilakukan secara cepat. Di samping itu, untuk menghindari adanya bahaya yang
tidak diinginkan. Maka pemuda be-rambut putih keperakan itu pun kembali
bersemadi. Bagian tubuh depannya menghadap keluar lubang, sedangkan punggungnya
berhadapan dengan bagian dalam gua.
Arya baru menghentikan semadinya
ketika malam telah menyelimuti persada. Rasa nyeri yang menusuk-nusuk dada
setiap kali napas ditarik, sudah tidak terasa lagi. Sekarang yang tertjnggal
adalah perasaan lapar. Masalahnya, sudah dua hari perutnya tidak
diisi. Minuman pun demikian pula.
Malah, Dewa Arak sendiri tengah dilanda kebingungan tentang ke-beradaan
gucinya! Yang diketahui, guci itu sudah tidak ada lagi sewaktu tersadar dari
pingsannya.
Tapi, Dewa Arak berusaha untuk
tidak mempe-dulikan perasaan lapar dan haus yang menyerang-nya. Bahkan dia
malah memulai usahanya, merayapi lorong itu.
Dewa Arak mengernyitkan dahi
ketika menyadari lorong ini ternyata panjang dan berkelok-kelok. Tapi anehnya,
arahnya selalu menanjak. Karena tinggi lorong ini tidak sama, sehingga membuat
pemuda berambut putih keperakan itu terpaksa menyusuri-nya dengan beberapa
cara. Terkadang merayap seperti seekor ular, tapi tak jarang merangkak seperti
seekor kambing.
Entah berapa lama menempuh
perjalanan itu, Dewa Arak sama sekali tidak tahu. Yang jelas, baju-nya di
bagian perut telah koyak-koyak. Demikian pula celananya. Bahkan kedua tangan
dan kakinya pun telah terasa pegal-pegal ketika akhirnya berhadapan dengan
jalan buntu. Kini, di hadapannya terpampang dinding batu yang menghambat jalannya.
Berbeda dengan lorong sebelumnya,
atap lorong ini berjarak tak kurang satu tombak dari tanah. Se-hingga, di sini
Arya bisa berdiri secara leluasa.
Meskipun berhadapan dengan jalan
buntu, Dewa Arak tidak putus asa. Dia sudah terlalu sering ber-temu
ruangan-ruangan rahasia. Maka begitu melihat kenyataan kalau lorong yang
ditelusurinya buntu, dia tidak begitu saja percaya. Dia yakin, ada cara untuk
membuka jalan.
Itulah sebabnya, pemuda berambut putih keperakan ini mengedarkan pandangan
berkeliling.
Seketika itu pula, sepasang
matanya tertumbuk pada sebatang obor yang bertengger di dinding sebelah kiri.
Maka buru-buru tangannya terulur, dan menekan obor ke bawah.
Grrrggghhh...!
Entah bagaimana caranya,
tahu-tahu dinding batu yang menghadang jalan bergeser ke kanan. Perlahan-lahan
namun pasti, dinding batu itu memperlihatkan pemandangan di baliknya. Ternyata,
di balik dinding itu terdapat sebuah ruangan luas.
Dewa Arak bergegas melangkah
maju. Pandangan-nya seketika beredar ke sekeliling ruangan. Tampak di bagian
kanan ruangan terdapat sebuah gua. Dengan langkah perlahan-lahan Arya segera
me-masukinya. Ruangan itu berbentuk memanjang. Dan dalam jarak sekitar tujuh
tombak dari ambang gua terdapat sebuah gundukan batu setinggi dua jengkal, dan
mempunyai bagian atas pipih.
Di atas gundukan itu tampak
sesosok kerangka manusia yang tengah duduk bersila. Dan kini, mata Dewa Arak
tertumbuk pada sebuah benda di pangkuan kerangka itu. Sebuah buntalan kain yang
cukup besar dan berwarna hitam.
Dewa Arak terkesima melihat hal
ini. Tapi ketika matanya tertumbuk pada sebuah papan yang ter-gantung di atas
gua dengan dua buah tali, dia langsung mengerti. Jaraknya sekitar dua tombak
darinya, dan letaknya di sebelah kanan.
Sebuah papan berukir dan berwarna
hitam, se-hingga terlihat indah. Tidak terlalu panjang atau ter-lalu lebar.
Tapi, bukan itu yang membuat Dewa Arak nengangguk-anggukkan kepala pertanda
mengerti, melainkan tulisan-tulisan yang tertera di atasnya. Arya segera
membacanya dalam hati.
7
Aku ucapkan selamat atas
keberuntunganmu. Kaulah yang telah berhasil mengungkapkan rahasia syair itu.
Kini terimalah hasil
jerih payahmu. Semua pusaka ini
menjadi milikmu. Di dalam buntalan itu ada kitab-kitab ilmu silat,
senjata-senjata pusaka, buku
pengobatan, dan pel-pel yang
dapat membuat dirimu mempunyai tenaga dalam dahsyat yang berhawa dingin dan
panas, apabila menuruti saran-saran yang tertera.
(Eyang Mandura)
"Eyang Mandura...."
Arya mendesis setengah tak
percaya. Jadi, ini tempat pusaka leluhur Adipati Subali. Sungguh gila! Mengapa
jadi dirinya yang menemukan tempatnya? Yang lebih gila lagi, Eyang Mandura
malah mewaris-kan pusaka itu padanya. Bukankah dalam papan itu tidak
disebut-sebut tentang keturunannya? Dia hanya mengatakan kalau orang yang telah
berhasil me-nemukan tempat itu akan menjadi pemiliknya.
Tapi, Arya bukan termasuk orang
yang serakah ter-hadap ilmu dan pusaka-pusaka. Apalagi, diketahuinya ada orang
yang lebih berhak atas pusaka-pusaka itu. Adipati Subali dan Rara Kunti! Tidak!
Dia tidak akan mengambil hak orang lain!
Maka Arya menundukkan kepala
iintuk memberi hormat.
"Maafkan aku, Eyang. Aku
tidak bisa menerima ke-baikanmu. Aku telah mempunyai guru. Pantang bagi-
ku menerima warisan ilmu orang
lain, tanpa seizin guruku," ucap Arya, pelan.
Mendadak Arya mengernyitkan dahi
ketika ter-tumbuk pada guratan-guratan halus di tanah. Secara kebetulan saja,
guratan itu tertangkap matanya. Dan itu terjadi karena dia bermaksud memberi
hormat pada Eyang mandura.
Sekali lihat saja, Dewa Arak tahu
kalau guratan-guratan itu adalah tulisan. Hanya yang membuatnya heran bercampur
curiga, mengapa ditulis di tempat yang begitu tersembunyi? Kecil-kecil lagi!
Seakan-akan memang sengaja ditulis agar tidak diketahui orang!
Perasaan penasaran pun bersemayam
di hati Dewa Arak. Dan perasaan itulah yang menyebabkan-nya membungkukkan tubuh
untuk melihat lebih jelas lagi. Kemudian dibacanya tulisan yang tertera di
dalam hati.
Cucuku....
Apabila kau maju setindak saja
melewati guratan tulisan, kau akan mati keracunan. Karena di sekitar tempat ini
telah kutaburkan racun yang mematikan. Di samping itu, ada jebakan-jebakan maut
lainnya. Kalau kau ingin selamat, gunakan ilmu 'Enam Jurus Tingkah Raja'. Tapi
hanya gerakan-gerakan langkah kakinya saja yang perlu dipergunakan.
Eyang Mandura
Arya mengangguk-anggukkan kepala,
menyiratkan kemengertiannya. Perasaan kagum di hatinya terhadap Eyang Mandura semakin
membesar. Sama sekali tidak diduga kalau kakek Adipati Subali itu ternyata
memiliki kecerdikan yang mengagumkan!
Semua jalan untuk mendapatkan
pusaka-pusaka peninggalannya hanya ditujukan untuk keturunannya. Karena bila
orang ingin selamat dalam mengambil pusaka, harus menggunakan ilmu milik Eyang
Man-dura turun-temurun. Jadi yang tidak mempunyai ilmu itu, mustal akan
berhasil.
Bahkan di bagian terakhir, Eyang
Mandura mengadakan penyaringan juga. Sekalipun, orang itu keturunannya. Dan
andaikata orang itu lupa daratan begitu melihat pusaka sehingga tidak memberi
peng-hormatan terlebih dulu, jelas tidak akan pemah ber-hasil mendapatkan
pusaka. Bahkan ajallah yang akan menjemput.
Arya menghela napas berat,
kemudian melangkah kembali ke tempat semula. Tempat dia tadi keluar dinding
batu. Kemudian pandangannya beredar ber-keliling. Tampak sebuah gua di
depannya, dan nam-pak terlihat terang. Maka bergegas langkahnya diayunkan
menuju kesana.
Arya terkejut ketika melihat gua
itu, seperti terang benderang. Sekitar satu tombak di depannya, berkas-berkas
cahaya tampak menyinari dari atasnya. Sesaat kemudian, Dewa Arak tahu kalau
bagian gua yang berbentuk bundar ini mirip sebuah sumur. Jadi kalau
digambarkan, seperti sebuah sumur yang ber-hubungan dengan sebuah gua tempat
Arya berdiri.
Gua ini ternyata tidak beda
dengan sebuah sumur, namun tidak terlalu dalam sinar terang yang menyinari
dasarnya, memang karena sinar matahari dari langit yang cerah. Rupanya, hari
telah siang.
***
"Hih!"
Arya menjejakkan kaki. Sesaat
kemudian, tubuh pemuda berambut putih keperakan itu melayang ke atas. Dan....
"Hup!"
Ringan laksana daun kering, tubuh
Dewa Arak telah mendarat di tanah, tidak jauh dari letak sumur. Suara
bergemerisik nyaring terdengar ketika kaki pe-muda berambut putih keperakan
hinggap di tumpu-kan daun dan rerumputan mengering.
"Hey!"
Terdengar seruan kaget, disusul
dengan berpaling-nya tiga sosok tubuh yang tengah membersihkan tangan dan
wajah, di sebuah sungai yang terletak bawah sebatang pohon besar.
Kontan wajah tiga orang yang
tengah membersih-kan diri di sungai jernih itu, berubah ketika melihat Dewa
Arak. Hal yang sama juga melanda pemuda berambut putih keperakan itu. Menilik
dari sikap kedua belah pihak yang langsung waspada, bisa di-ketahui kalau
masing-masing telah saling mengenal.
Tentu saja Arya mengenali ketiga
orang itu, karena belum lama ini telah berjumpa. Bahkan telah ber-tarung dengan
salah satu di antara mereka.
"Kita berjumpa lagi, Dewa
Arak," kata salah se-orang pemuda yang berwajah pucat dan berpakaian merah
menyala. Pada bagian dadanya tertera gambar sebuah peti mati berwarna hitam.
Dialah Jaranta.
"Sungguh suatu hal yang
sangat kebetulan," sam-bung seorang lagi yang berkepala botak. Namanya,
Taliwang. Tubuhnya pendek gemuk, dan hanya me-ngenakan celana pendek putih.
"Kita tuntaskan urusan yang
belum selesai," lanjut wanita berpakaian serba putih dan bertopeng teng-
korak, yang tidak lain dari Ratna
Ningsih.
Dewa Arak sama sekali tidak
menanggapi ucapan ketiga orang keturunan datuk-datuk sesat di empat penjuru
angin itu. Disadari, tidak ada gunanya hal itu dilakukan.
"Terimalah kematianmu, Dewa
Arak!"
Usai berkata demikian, Jaranta
menyerang Dewa Arak. Tak tanggung-tanggung, sekali menyerang langsung
menggunakan ilmu andalannya, 'Tangan Delapan Penjuru Angin'. Hasilnya, sebelum
secangan itu tiba, muncul kekuatan tak nampak yang menekan Dewa Arak dari
berbagai arah. Semakin serangan Jaranta mendekat, kekuatan tekanan itu semakin
membesar pula. Kontan Dewa Arak merasakan sesak pada dadanya.
Dewa Arak tidak berani bertindak
setengah-setengah lagi. Segera tenaga dalamnya dikerahkan untuk melawan
pengaruh kekuatan tak nampak yang menekannya. Dan ketika pengaruh tekanan itu
lenyap, kakinya cepat melangkah mundur. Sehingga, serangan-serangan Jaranta
hanya mengenai tempat kosong, beberapa jengkal di depan sasaran yang dicari.
Jaranta, Taliwang, dan Ratna
Ningsih seketika mengernyitkan kening. Mereka merasa heran bukan kepalang
melihat tindakan yang diambil Dewa Arak! Mengapa pemuda berambut putih
keperakan itu tidak menangkis, tapi malah mengelak? Bukankah dengan tenaga
dalamnya yang jauh lebih kuat, dia bisa menekan Jaranta? Tapi mengapa malah
mengelak? Tidak seperti pertemuan di waktu lalu!
Ketiga pemuda sesat itu sama
sekali tidak tahu kalau Dewa Arak baru saja berhasil memulihkan te-naga
dalamnya akibat luka dalam yang baru-baru ini
diderita. Memang, luka dalamnya
telah sembuh. Tapi, tenaga yang dimilikinya belum pulih seluruhnya. Paling
tidak masih membutuhkan beberapa kali semadi untuk mengembalikan kekuatannya
seperti semula.
Meskipun heran, Jaranta tidak
mengambil pusing. Sebagai seorang pemuda cerdik, maka bisa diduga ada sesuatu
yang terjadi pada Dewa Arak. Kalau tidak terjadi apa-apa, tak akan mungkin
pemuda berambut putih keperakan itu bertindak demikian. Pasti ada penyebabnya.
Yakin pada dugaannya, Jaranta
semakin ber-semangat melancarkan serangan-serangan. Ilmu 'Tangan Delapan
Penjuru Angin' dikerahkan sampai di puncaknya. Dewa Arak dicecarnya dengan
serangan-serangan beruntun yang mematikan.
Celakalah bagi Dewa Arak! Keadaan
pemuda be-rambut putih keperakan ini bagai telur di ujung tanduk. Tenaga
dalamnya belum pulih semua. Senjata andalannya yang berupa guci arak pun tidak
berada di tangannya. Maka, leluasalah Jaranta me-lancarkan desakan.
Taliwang dan Ratna Ningsih yang
semula akan membantu, jadi mengurungkan niatnya melihat rekan mereka berhasil
mendesak Dewa Arak. Tampak jelas pemuda berambut putih keperakan itu
terpontang-panting kesana kemari untuk menyelamatkan diri. Kedua orang ini pun
saling berpandangan dengan perasaan heran. Benarkah orang ini adalah Dewa Arak
yang beberapa waktu lalu mereka temui? Kalau benar demikian, mengapa
kepandaiannya begitu cepat menurun? Serangan-serangannya pun tidak terlalu
hebat.
Memang, hanya di jurus-jurus awal
saja Dewa Arak
berhasil mengimbangi lawannya.
Begitu menginjak jurus kedua puluh, dia sudah terdesak. Hal ini mem-buat Jaranta semakin bernafsu untuk dapat
merobohkan lawannya secepat mungkin.
Merupakan hal yang tidak aneh
kalau Dewa Arak sampai terdesak. Kali ini dia kalah segala-galanya dibanding
Jaranta. Kalah tenaga, kegesitan, dan mutu ilmu silat. Dan tanpa adanya guci,
Dewa Arak sama sekali tidak bisa menggunakan ilmu 'Belalang Sakti', yang hanya
bisa muncul apabila dalam keadaan mabuk! Di samping itu juga, membutuhkan arak
untuk diminum dalam pertarungan.
Tanpa arak, menggunakan ilmu
'Belalang Sakti' untuk menghadapi lawan samasaja mencari celaka. Apalagi di
saat keadaan seperti ini. Mempergunakan ilmu andalan itu sama saja mencari
mati! Dan hal itu memang sudah dibuktikan Dewa Arak dalam
per-tarungan-pertarungannya terdahulu.
Maka Dewa Arak hanya menggunakan
ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau' dan ilmu 'Sepa-sang Tangan Penakluk
Naga'. Padahal, ilmu 'Tangan Delapan Penjuru Angin' milik Jaranta mempunyai
mutu di atas kedua ilmu yang dipergunakan Dewa Arak.
Di jurus kelima puluh satu, Dewa
Arak tidak mampu lagi bertahan. Tekanan kekuatan tak nampak yang berasal dari
berbagai penjuru dan membuat dadanya sesak itulah, yang menjadikan Dewa Arak
tidak berdaya. Tubuhnya kini tampak terhuyung-huyung. Dan sebelum sempat
berbuat sesuatu, kedua tangan Jaranta telah meluncur ke arah dadanya.
Bukkk! "Huakh...!"
Cairan merah kental terlontar
dari mulut Arya
seiring tubuhnya yang melayang,
begitu serangan Jaranta menghantam sasaran dengan telak. Untung-nya, pemuda
berwajah pucat itu tidak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kalau tidak,
mungkin Dewa Arak sudah tewas. Memang Jaranta mempunyai rencana atas diri Dewa
Arak. Byurrr!
Tubuh Dewa Arak tercebur di
permukaan air dan langsung tenggelam ke dasar. Dewa Arak yang sudah terluka
tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sehingga banyak menelan air sungai. Tak aneh
kalau beberapa saat kemudian, gelap melingkupi pandangan pemuda berambut putih
keperakan itu. Tapi sebelum tidak sadarkan diri, matanya masih sempat melihat
kalau di dekat pohon ada air mengalir keluar. Mata air! Jadi, inilah tempat
yang dimaksud Eyang Mandura. Sekejap kemudian, Dewa Arak sudah tidak ingat
apa-apa lagi.
***
Dewa Arak membuka matanya ketika
merasakan perih menyengat sekujur punggungnya. Dia mem-butuhkan waktu beberapa
saat untuk mengetahui kalau dirinya tengah diseret-seret melalui jalan berbatu.
Tampak oleh Dewa Arak, Jaranta
tengah menyeret tubuhnya. Kedua kakinya diikat dan disatukan.
Demikian pula tangannya, yang
diikat pada bagian pergelangan. Sedangkan ujung tali lainnya dipegang Jaranta.
Dengan keadaan telentang, tubuh Dewa Arak ditarik oleh pemuda berwajah pucat
itu. Tak pelak lagi, tubuh tak berdaya itu terseret-seret.
Srettt! "Akh...!"
Sebuah pekikan tertahan keluar
dari mulut Dewa Arak ketika sebuah gundukan batu kerikil tajam, menggurat punggungnya.
Seketika itu pula pakaian di bagian punggungnya koyak-koyak. Bahkan darah yang
keluar dari bagian punggung semakin banyak.
Dewa Arak hanya bisa menggigit
bibir, dan tidak mampu berbuat apa pun. Jangankan mengerahkan tenaga dalam
untuk membuat kulit tubuhnya kebal, menggerakkan ujung jari kelingkingnya saja
tidak mampu! Rupanya, Jaranta telah menotok lumpuh tubuhnya.
Maka, leluasalah Jaranta menyiksa
Dewa Arak. Sambil tertawa-tawa, diseretnya tubuh Arya melewati jalan-jalan yang
berbatu runcing. Darah pun memba-sahi sepanjang jalan yang dilalui pemuda
berwajah pucat itu.
Bisa dibayangkan penderitaan yang
dialami Dewa Arak. Pakaian di bagian punggungnya sampai habis tergesek, berbarengan dengan kulitnya. Darah merembes keluar ketika kulit
pemuda berambut putih keperakan itu mulai
direncah-rencah batu-batu
runcing. Sakitnya sukar dilukiskan. Bahkan Dewa Arak yang terkenal paling kuat
menahan rasa sakit. Sepertinya sudah tak sanggup bertahan lagi. Suara kesakitan
dan desah kenyerian, bercampur baur dengan suara tawa Jaranta dan kedua orang
sekutu-nya. Jaranta baru menghentikan siksaannya ketika Dewa Arak tidak kuat
lagi menahan rasa sakit, dan akhirnya jatuh pingsan. "Hmh...!"
Jaranta mendengus kesal ketika
melihat korban-nya pingsan. Dicampakkannya tubuh pemuda berambut
putih keperakan itu di tanah. Kemudian, dia bergerak meninggalkan tempat itu.
Tapi tak lama, Jaranta sudah kembali sambil membawa sebuah
guci.
"He he he...!"
Taliwang dan Rama Ningsih tertawa
terkekeh, karena tahu apa isi guci itu. Air cuka!
"Tunggu sebentar, Jaranta!
Terlalu enak baginya kalau kau melakukannya pada saat dia tak sadar diri. Lebih
baik kusadarkan dulu, dan kuberi beberapa tambahan pekenaan yang membuat calon
korban kita menggeliat-geliat karena perasaan nikmat!"
Sambil berkata demikian, Taliwang
menghampiri tubuh Arya yang tergolek. Di tangan pemuda ber-kepala botak ini
terjinjing sebuah ember kayu berisi air. Lalu, disiramkannya air itu pada Dewa
Arak.
Byurrr!
Air sungai itu tepat mengguyur
wajah Arya. Kontan pemuda berambut putih keperakan itu gelagapan, dan langsung
tersadar dari pingsannya. Sesaat sepasang mata itu kebingungan, tapi langsung
sadar akan kejadian yang tengah dialami ketika melihat raut-raut wajah yang
tengah memperhatikannya dengan sinar mata bengis! Wajah Ratna Ningsih, Jaranta,
dan Taliwang.
"Nah! Sekarang, baru
kuberikan latihan tambahan padanya!" desis Taliwang dengan sinar mata
menyiratkan kekejaman.
Tangan pemuda berkepala botak ini
pun bergerak ke arah pinggang. Ternyata, pinggangnya terbelit cambuk berwarna
coklat dan berbulu kasar. Hanya dengan sekali sentak saja, Taliwang telah
membuat cambuk itu lolos dari pinggangnya.
"Hih!"
Ctarrr, ctarrr, ctarrr...!
Arya hanya mampu menggigit bibir.
Dia berusaha untuk tidak berteriak, ketika cambuk itu melecuti
sekujur dadanya yang memang dalam
keadaan telentang.
Dari tersentaknya tubuh Dewa Arak
setiap kali cambuk melecut tubuhnya, bisa diketahui kalau rasa sakit
benar-benar melanda tubuhnya. Garis-garis kehitaman memanjang pun menghias
sekujur tubuh Dewa Arak seiring terkoyak-koyak pakaian yang dikenakan.
Bukan hanya di perut dan di dada,
tapi juga di wajah. Untungnya, seperti juga Jaranta, Taliwang mencambuk hanya
mengerahkan tenaga kasar saja. Kalau disertai pengerahan tenaga dalam, Dewa
Arak yang sudah tidak berdaya itu pasti akan tewas!
Taliwang menghentikan tindakannya ketika seluruh tubuh Arya telah dipenuhi
garis-garis meng-hitam bekas cambukan.
"Hanya seperti itu saja hasil pekerjaanmu, Taliwang," cibir Jaranta,
bernada mencomooh. "Hanya sebuah perbuatan yang membuang-buang tenaga
percuma!"
"Tutup dulu bacotmu,
Jaranta! Lihat apa yang ter-jadi?!"
Ternyata bukan hanya Jaranta saja
yang menga-lihkan pandangan ke arah Arya. Ratna Ningsih pun demikian pula.
Rupanya wanita bertopeng tengkorak ini ingin tahu juga peristiwa yang dialami
Dewa Arak.
Bagaikan menyaksikan sebuah
tontonan yang me-narik, Ratna Ningsih, Taliwang, dan Jaranta menatap ke arah
Dewa Arak. Ternyata, pemuda berambut putih keperakan itu tengah mendesis-desis.
Sepasang bola matanya berputaran liar. Jelas, ada sesuatu yang amat dahsyat
tengah dirasakan pemuda berambut putih keperakan itu.
Dan memang demikian kenyataannya.
Ada rasa
gatal yang tidak tertahankan
menjalar dari bilur-bilur bekas cambukan. Kalau bisa, tentu Arya akan meng-garuknya,
sekalipun kulitnya sampai terkelupas. Tapi karena hal itu tidak bisa dilakukan,
bisa dibayangkan rasa tersiksa yang melandanya.
Meskipun demikian, Arya berusaha
bertahan se-kuat tenaga. Dia tidak ingin mengeluarkan keluhan sedikit pun dari mulutnya.
Tapi karena tubuhnya tidak bisa bergerak, tidak ada pelampiasan lain yang harus
dikeluarkannya. Dan akhirnya, Dewa Arak tidak tahan. Maka desisan-desisan
kesakitan pun meluruk dari mulutnya.
"Ha ha ha...!"
Jaranta, Ratna Ningsih, dan
Taliwang malah ter-bahak-bahak melihat adegan yang terpampang di hadapan
mereka. Seakan-akan yang mereka saksi-kan adalah sebuah pertunjukkan lucu yang
meng-gelitik hati.
"Kurasa, sekaranglah saat
yang paling tepat untuk menyiramkan ini!" ujar Jaranta sambil menuangkan
isi gucinya ke tubuh Arya. Dan...
Cuuur...! "Aaakh...!"
Arya memekik tertahan ketika air
cuka itu meng-guyur sekujur tubuhnya yang telah dipenuhi luka. Rasanya, sukar
dilukiskan lagi. Rasa gatal, panas, dan nyeri yang tidak tertahankan bercampur
aduk menjadi satu. Kalau saja Dewa Arak mampu bergerak, tentu sudah bergulingan
ke sana kemari seperti ayam disembelih. Tapi karena tidak mampu melakukannya,
dia hanya memekik tertahan. Rupa-nya, kekerasan hati saja tidak cukup untuk
bertahan terhadap siksaan.
Beberapa saat lamanya pendekar
muda yang telah
menggemparkan itu hanya
mendesis-desis karena siksaan ketiga orang lawannya, sebelum akhirnya tidak
sadarkan diri. Pingsan.
***
8
Hari sudah agak siang. Sang
Mentari tampak menyorot cukup garang ke bumi. Sinarnya yang cukup panas itu
menyengat tubuh Arya yang tergantung di atas cabang pohon dengan kepala di
bawah dan kaki di atas. Pergelangan kaki kanannya diikat dengan seutas tali
yang kuat ke cabang pohon itu.
Sudah sejak matahari terbit Dewa
Arak tergantung seperti itu. Kepalanya telah terasa panas bukan kepalang.
Terutama sekali, matanya. Hal ini disebab-kan, semua darah mengalir ke kepala.
Kalau dibiar-kan terus, Arya akan tewas dengan pembuluh-pembuluh darah di
bagian kepala pecah!
Luar biasa perubahan yang dialami
Dewa Arak Tidak sampai sehari di tangan Jaranta, Ratna Ningsih dan Taliwang,
dia sudah berubah demikian jauh. Sekujur tubuhnya mulai dari wajah sampai kaki,
penuh luka-luka. Bahkan rambutnya yang semula ber-warna putih keperakan, dan
meriap-riap, kini tampak kotor, kumuh, dan rusak di sana-sini. Dewa Arak
benar-benar mengalami perubahan yang amat cepat. Untung saja Dewa Arak yang
mengalami siksaan seperti itu. Kalau saja orang lain, mungkin sudah tewas.
Memang, meskipun saat itu kemampuan Arya yang sesungguhnya tidak keluar, tapi
tetap saja tubuhnya yang sudah terlatih mempunyai kekuatan di atas orang lain.
Tapi kalau disiksa seperti itu,
rasanya Arya tidak akan bertahan lama. Kepalanya sudah terasa panas demikian
pula sepasang matanya. Rasanya tidak
akan lama lagi, pendekar muda
yang menggempar-kan itu akan tamat riwayatnya.
"Hi hi hi...! Bagaimana
siksaanku, Dewa Arak?' Tegur sebuah suara kecil dan melengking nyaring.
Sepertinya suara seorang wanita. Siapa lagi kalau bukan Ratna Ningsih?
Arya sama sekali tidak berminat
menyambuti, dan hanya diam saja. Lagi pula andai kata berminat pun belum tentu
mampu menyambuti ucapan Ratna Nigsih. Yang dapat dilakukannya hanya menatap
tiga orang lawannya dengan sepasang mata yang telah berwarna merah membara.
Terlihat olehnya, meskipun dalam
keadaan ter-balik, Rama Ningsih, berdiri paling depan. Sementara Taliwang dan
Jaranta berdiri di belakangnya. Wajah wajah mereka tampak menyiratkan
kegembiraan.
"Ah!" Terdengar jeritan
kaget dari mulut Ratna Ningsih. "Kau tidak boleh mati dulu, Dewa Arak! Aku
mempunyai permainan yang menyenangkan untuk-mu!"
Setelah berkata demikian, Ratna Ningsih
menudingkan dua buah jarinya ke arah tambang.
Cittt, tasss! Brukkk!
Tubuh Arya jatuh berdebuk keras
di tanah, ketika tali pengikat kakinya putus tersambar angin pukulan Ratna
Ningsih. Luar biasa ilmu yang dimiliki wanita bertopeng tengkorak ini. Angin
pukulannya tak kalah tajam dengan babatan pedang atau pisau yang ber-mata
paling tajam!
Dewa Arak menyeringai kesakitan.
Memang bukan kepalanya yang jatuh lebih dahulu melainkan bahu kanannya, tapi,
tetap saja terasa sakit bukan kepalang. Dan dia tidak mengeluh sedikit pun.
Mendadak, tubuh Dewa Arak
terangkat naik.
Ketika matanya melirik, ternyata
Ratna Ningsih yang telah mengangkatnya. Lalu bagaikan menjinjing se-helai kain
basah, wanita bertopeng tengkorak itu membawanya pergi. Sedangkan Taliwang dan
Jaranta melangkah di belakangnya.
"Aku ingin tahu, permainan
apa yang akan kau suguhkan, Ratna Ningsih!" Kata Jaranta bernada mengejek.
Tawa bergelak bernada mendukung
Jaranta diper-dengarkan Taliwang. Tapi semua itu hanya disambut dengusan Ratna
Ningsih. Jelas, murid Ratu Tengkorak Putih ini tidak terpengaruh ejekan
rekan-rekannya, dan terus saja berjalan.
Tak lama kemudian, terdengar
decak kekaguman dari mulut Jaranta dan Taliwang.
"Luar biasa! Sama sekali
tidak kusangka, kalau kau mempunyai pemikiran yang demikian cemerlang, Ratna
Ningsih! Permainanmu akan menjadi tontonan yang paling menarik," puji
Jaranta.
"Benar, Ratna Ningsih. Kau
benar-benar luar biasa! Aku sama sekali tidak terpikir sampai kemari. Kau
memang pintar mencari permainan!" Taliwang ikut memuji.
"Hi hi hi...!" Ratna
Ningsih hanya tertawa mengikik saja mendengar pujian kedua orang rekannya.
***
Arya memandang ke depan.
Seketika, sepasang matanya terbelalak lebar. Betapa tidak? Sekitar lima tombak
di depannya nampak empat ekor kuda yang masing-masing menghadap arah mata
angin. Bina-tang-binatang itu berdiri seperti patung, tidak bergerak-gerak sama sekali. Jelas,
kuda-kuda itu
telah ditotok oleh tokoh yang
mengerti jalan-jalan darah binatang itu.
Yang membuat Arya terkejut adalah
ketika melihat di leher masing-masing binatang itu, tampak di situ terlilit
tali panjang yang terhampar ke belakang. Bisa diperkirakan hal yang akan
dilakukan Ratna Ningsih dengan kuda-kuda itu.
Tapi, Dewa Arak tidak bisa
berpikir lebih lama lagi, karena Ratna Ningsih telah membawanya ke arah tempat
kuda-kuda itu berada. Tubuh pemuda
berambut putih keperakan itu diturunkannya. Kemudian, masing-masing
tali yang terhampar di tanah, diikatkan pada pergelangan kedua tangan dan kaki
Arya.
"Mhh...!"
Arya mengeluh dalam hati.
Disadari akan bahaya yang tengah mengancamnya. Apabila dikejutkan, maka
seketika itu pula kuda-kuda ini akan berlari cepat ke arah masing-masing
menghadap. Dan karena masing-masing kuda menghadap satu mata angin, maka tubuh
Arya dapat dipastikan akan tercerai-berai ke tempat-tempat yang terpisah.
"Hi hi hi...!"
Ranta Ningsih tertawa terkikih
ketika telah selesai mengikatkan tali-tali itu pada pergelangan tangan dan kaki
Arya. Lalu, tangannya bergerak menepuk punggung Arya. Maka totokan pada tubuh
pemuda berambut putih keperakan itu pun punah. Kini, Arya berdiri limbung di
tengah-tengah empat ekor kuda yang akan menamatkan riwayatnya secara
mengeri-kan.
Hanya sekali lesatan, Ratna
Ningsih telah berada di sebelah Jaranta Dan Taliwang yang sejak tadi
ter-kekeh-kekeh penuh kegembiraan. Sudah terbayang di
benak kedua orang itu tubuh Dewa
Arak yang akan tercerai-berai.
"Mari kita mulai...!"
Seiring ucapannya, Ratna Ningsih
mengayunkan tangannya. Maka meluncurlah dua buah benda kecoklatan sebesar ibu
jari kaki ke arah dua dari empat ekor kuda yang berdiri mematung.
Pada saat yang bersamaan,
Taliwang dan Jaranta pun mengayunkan tangan pula. Maka, benda-benda coklat
sebesar ibu jari yang tak lain adalah kerikil itu meluncur menuju dua ekor kuda
lainnya.
Sing, sing, sing...!
Sementara itu pemuda berambut
putih keperakan ini menyadari akan adanya bahaya yang tengah mengancam. Disadari
pula kalau saat ini dia tidak bisa menyelamatkan selembar nyawanya. Maka pada
saat yang bersamaan dengan ketiga orang lawannya me-nyambitkan kerikil untuk
membebaskan totokan pada keempat ekor kuda, Dewa Arak cepat me-musatkan pikiran
pada belalang raksasa. Hati dan pikirannya disatukan untuk memanggil binatang
yang terdapat di alam gaib itu.
Seketika itu pula, tubuh Arya
bergetar ketika belalang Raksasa masuk ke dalam dirinya. Dan masuknya binatang
dari alam gaib itu, berbarengan waktunya dengan tibanya kerikil-kerikil yang diluncurkan Ratna Ningsih dan
rekan-rekannya pada tubuh empat ekor kuda.
Tuk, tuk, tukkk...!
Begitu kerikil-kerikil itu
mengenai sasaran, totokan yang membelenggu kuda-kuda itu langsung punah. Bagai
diberi perintah, maka binatang-binatang itu segera berlari ke arah
menghadapnya.
Tapi baru beberapa langkah
kuda-kuda itu berlari,
terdengar suara geraman keras
yang mengejutkan. "Grrrhhh...!"
Suara geraman keras yang membuat
suasana di sekitar tempat itu bergetar ternyata berasal dari mulut Arya! Dan
secepat geraman itu keluar, secepat itu pula tangan dan kaki Dewa Arak bergerak
aneh! Luar biasa! Tali-tali yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya
langsung terputus. Hasilnya, kuda-kuda itu berlari cepat meninggalkan tempat
itu tanpa membuat tubuh Dewa Arak cerai berai.
Pemandangan yang tidak
disangka-sangka itu ten-tu saja terlihat jelas oleh Ratna Ningsih, Taliwang dan
Jaranta. Sepasang mata mereka kontan terbelalak. Tapi bukan karena kejadian
yang tidak disangka-sangka itu, karena melihat adanya bayangan seekor binatang
berwarna coklat dan bersayap di belakang tubuh Dewa Arak. Bentuknya besar bukan
kepalang, tapi hanya tampak seperti bayangan. Samar namun jelas. Mereka tidak
tahu, binatang apa itu.
Dan sebelum Jaranta, Ratna Ningsih,
dan Taliwang sadar dari keterkejutan yang mendera, Dewa Arak telah melesat ke
arah mereka disertai suara geraman mengerikan. Bahkan geraman seperti itu
rasanya tidak layak keluar dari mulut manusia.
Jaranta, Ratna Ningsih dan
Taliwang, kontan ter-kejut ketika melihat gerakan Dewa Arak. Saat itu, Dewa
Arak seperti bukan manusia, melainkan seekor burung. Gerakannya ketika meluruk,
tak ubahnya seekor burung garuda menyambar mangsa.
Hati Jaranta, Taliwang, dan Ratna
Ningsih kontan tercekat melihat hal ini. Sekerika mereka saling men-dahului
untuk menyelamatkan diri. Ratna Ningsih ke kiri, Taliwang ke kanan, dan Jaranta
yang berada di tengah-tengah segera melompat ke belakang.
Menakjubkan! Masih dengan keadaan
tubuh ber-ada di udara, Dewa Arak menghentakkan tangannya ke arah Jaranta.
Tidak hanya sekali saja tangan itu dihentakkan dalam penggunaan jurus 'Pukulan belalang', tapi berkali-kali.
Seketika deru angin ke ber-hawa panas menyengat, meluncur bertubi-tubi arah
Jaranta.
Jaranta kelabakan bukan main.
Seluruh ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya dikerahkan untuk mengelakkan
diri dari incaran serangan pukulan jarak jauh Dewa Arak. Beberapa kali dia
memang berhasil mengelakkan. Dan pukulan jarak jauh itu hanya me-ngenai tanah,
sehingga menimbul-kan lubang yang mengepulkan asap tipis. Tapi pada hentakan
tangan Dewa Arak yang ketiga, keturunan Iblis Makhluk Hidup ini tidak bisa
menghindari lagi. Telak dan sekali jurus 'Pukulan Belalang' meng-hantam dada
Jaranta.
Tanpa dapat dicegah lagi, tubuh
Jaranta langsung melayang jauh ke belakang diiringi pekik kesakitan. Darah
segar langsung memancur deras dari mulut. Tubuh Jaranta jatuh berdebuk keras di
tanah setelah melayang-layang sejauh beberapa tombak. Jaranta seketika tidak
bergerak lagi untuk selamanya. Tewas dengan seluruh tubuh gosong. Samar-samar
tercium bau hangus daging yang terbakar.
***
Ratna Ningsih dan Taliwang
terperanjat melihat hal ini. Mereka sama sekali tidak sempat bertindak apa-apa
untuk membantu Jaranta. Memang, kejadian itu berlangsung cepat bukan kepalang,
Mereka juga baru saja bangkit dari mengelaknya, ketika tubuh Jaranta
terhantam jurus 'Pukulan
Belalang'.
Tapi hanya sebentar saja Ratna
Ningsih dan Taliwang dilanda perasaan itu, karena sebentar kemudian telah mampu
menguasai diri. Dan mereka langsung mencabut senjata masing-masing, siap
menyerang Dewa Arak.
Wuk, wuk, wuk! '
Suara mengaung keras terdengar
ketika Ratna Ningsih memutar tongkat berujung kepala tengkorak-nya di depan
dada. Hebat! Kontan bentuk senjata itu lenyap, dan kini menjadi segulungan
sinar berwarna kecoklatan.
Ctar!
Taliwang tidak mau kalah.
Cambuknya segera di-cabut dan dilecutkan. Sehingga, memperdengarkan suara
menggelegar keras laksana halilintar. Samar-samar terlihat kepulan asap tipis
keluar ketika cambuk itu dilecutkan.
"Haaat...!"
Hampir berbareng, Taliwang dan
Ratna Ningsih mengeluarkan teriakan keras menggeledek. Tubuh mereka melesat
menuju Dewa Arak. Senjata-senjata yang tergenggam di tangan, siap diarahkan ke
tubuh lawan.
Wukkk!
Setelah sebelumnya
memutar-mutarkan tongkat-nya laksana baling-baling di atas kepala, Ratna
Ning-sih menyodokan senjata itu ke arah dada Dewa Arak. Pada saat yang
bersamaan, dari arah samping kanan Taliwang meluncurkan cambuknya ke arah
ubun-ubun. Hebat! Cambuk itu bergerak mematuk-matuk seperti gerakan seekor
ular.
Serangan-serangan yang
dilancarkan kedua tokoh sesat ini memang serangan maut. Apabila salah satu
ada yang mengenai sasaran, cukup
untuk mengirim nyawa tokoh berkepandaian tanggung ke akhirat.
Dewa Arak tentu saja tahu hal
itu. Meskipun telah kemasukan belalang raksasa, pikirannya berjalan seperti
biasa. Hanya saja, gerakan-gerakan yang dila-kukannya lebih liar dan ganas.
Gerakannya mirip ting-kah laku binatang. Dan dengan perantaraan belalang
raksasa, Dewa Arak tidak mengalami kesulitan sedikit pun dalam menggunakan ilmu
'Belalang Sakti'! Kegunaan arak dan gucinya, telah digantkan belalang alam gaib
itu.
Kini, Dewa Arak bersiap-siap menghadapi
serangan-serangan yang datang dari Ratna Ningsih dan Taliwang. Luar biasa!
Serangan-serangan yang meluncur
ke arahnya, dihadapi. dengan cara
menakjubkan. Tangan kanan ditetakkan ke bawah, sedangkan tangan kiri diangkat
ke atas kepala untuk melindungi ubun-ubun.
Takkk, tappp, tappp...!
Gila! Dalam waktu demikian
singkat, senjata-senjata milik Ratna Ningsih dan Taliwang telah tertang-kap!
Hanya bedanya tongkat Ratna Ningsih lebih dulu ditangkis, dan baru ditangkap!
Karuan saja Ratna Ningsih dan
Taliwang kaget bukan kepalang melihat senjata andalan masing-masing tercengkeram tangan lawan. Buru-buru mereka mengerahkan tenaga untuk
menarik pulang senjata itu. Tapi sampai terdengar suara keluhan berat dari
mulut mereka, tetap saja senjata-senjata itu tidak bergeming dari cengkeraman
tangan Dewa Arak.
Mendadak Dewa Arak melepaskan
cekalannya. Tak pelak lagi, tubuh kedua orang itu terjengkang ke belakang,
terbawa tenaga tarikan sendiri.
Namun dengan sebuah jejakan kaki
pada tanah, Ratna Ningsih dan Taliwang telah berhasil memper-baiki keadaannya.
Dan saat itulah Dewa Arak meluruk ke arahnya. Ratna Ningsih dan Taliwang
bergegas menyambutnya. Maka, pertarungan sengit pun ber-langsung.
Baik Ratna Ningsih, Taliwang,
maupun Dewa Arak sama-sama mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki.
Masing-masing pihak berkeinginan meroboh-kan lawan secepat mungkin. Suara
mengaung, meledak-ledak, dan menderu dari setiap gerakan tangan, kaki, atau
senjata-senjata pihak yang ber-tarung, menyemaraki pertarungan.
Di awal jurus, pertarungan
berlangsung imbang. Masing-masing pihak saling melancarkan serangan. Tapi
begitu menginjak jurus kelima puluh, Ratna Ning-sih dan Taliwang mulai
terdesak. Serangan-serangan mereka yang semula gencar, kian lama kian
ber-kurang. Sebaliknya, gerakan mengelak lebih sering dilakukan.
Memang, meskipun tanpa adanya
guci dan arak, kelihaian Dewa Arak sama sekali tidak berkurang. Bahkan
sepertinya malah bertambah. Keberadaan belalang raksasa di dalam tubuhnya
ternyata jauh lebih menguntungkan daripada hanya guci dan arak saja.
"Haaat..!"
Di jurus kerujuh puluh dua, Ratna
Ningsih memba-batkan tongkatnya ke arah pinggang Dewa Arak. Pada saat yang
bersamaan, dari sebelah kanan Taliwang melecutkan cambuknya ke arah pelipis.
Dua buah serangan yang benar-benar berbahaya.
Tapi, Dewa
Arak tidak gugup
menghadapi Kenyataan seperti ini. Kakinya segera dijejakkan,
sehingga tubuhnya melayang ke
atas. Dan tangan kanannya langsung digerakkan untuk menangkap cambuk Taliwang
yang meluncur ke arahnya.
Wukkk! Bukkk! "Akh...!"
Begitu babatan tongkat Ratna
Ningsih lewat bawah kakinya, kaki kanan Dewa Arak langsung meluncur ke arah
dada. Bidang lowong itu sama sekali tidak disadari Ratna Ningsih. Akibatnya,
tendangan Dewa Arak telak mengenai sasaran. Suara bergeme-retak keras terdengar
diiringi terpentalnya tubuh wanita bertopeng tengkorak itu ke belakang disertai
jerit memilukan dari mulutnya. Dapat dipastikan, wanita itu langsung tewas
sekerika.
Pada saat yang bersamaan dengan
terpentalnya tubuh Ratna Ningsih, tangan kanan Dewa Arak ber-gerak menangkap
cambuk Taliwang yang tengah meluncur ke arah pelipis.
Tappp!
Cambuk itu berhasil dicengkeram.
Lalu, cepat-cepat Dewa Arak menyentakkannya.
"Ah...!"
Tubuh Taliwang seketika melayang
ke atas, meluncur ke arah tubuh Dewa Arak yang tengah berada di udara. Maka,
Dewa Arak buru-buru me-lepaskan cekalan cambuknya. Dan secepat cambuk itu
terlepas, secepat itu pula tangan kanannya bergerak ke arah ubun-ubun Taliwang.
Taliwang terperanjat bukan
kepalang. Rentetan kejadian yang demikian cepat sungguh membuatnya gugup.
Meskipun demikian, dia berusaha sekuat tenaga menyelamatkan selembar nyawanya.
Sebisa-bisa tubuhnya digeliatkan. Tapi....
Crokkk!
"Aaakh...!"
Taliwang menjerit memilukan
ketika jari-jari tangan Dewa Arak mencucuk ubun-ubunnya. Darah ber-campur otak
langsung muncrat-muncrat.
Brukkk!
Tubuh Taliwang jatuh di tanah,
dan diam tidak ber-gerak lagi untuk selama-lamanya. Mati!
"Hup!"
Begitu kedua kaki Dewa Arak
hinggap di tanah, belalang raksasa itu pun keluar dari dalam tubuhnya. Anehnya,
saat itu juga semua luka dalam yang di-derita Arya sembuh sama sekali! Luar
biasa!
"Hehhh...?!"
Arya terperanjat ketika mendengar
jeritan di kejauhan. Apalagi, ketika dikenalinya betul pemilik jeritan itu.
Rara Kunti! Maka secepat kilat, pemuda beram-but putih keperakan itu melesat
cepat menuju ke arah asal suara. Dan ternyata, suara itu berasal dari sumur
yang tadi ditinggalkannya.
Begitu telah berada di pinggir
sumur, tanpa ragu-ragu lagi Dewa Arak melompat turun. Ringan laksana daun
kering, kedua kakinya mendarat di tanah. Lalu, dia melesat cepat ke arah tempat
pusaka pe-ninggalan Eyang Mandura.
Tapi beberapa tombak sebelum
mencapai pintu gua ruangan pusaka peninggalan Eyang Mandura, Dewa Arak terpaksa
menghentikan langkahnya. Memang, dari arah depannya tengah bergerak, dua sosok
tubuh menghampirinya. Mereka tak lain dari Adipati Subali dan Rara Kunti. Dan
di tangan Adipati Subali sudah terjinjing buntalan kain hitam.
Sementara tidak jauh dari situ, tergolek sosok mayat yang sepertinya jasad
Iblis Mayat Hidup.
"Arya...!"
Hampir berbareng, Adipati Subali
dan Rara Kunti berseru kaget ketika melihat Dewa Arak. Apalagi ketika melihat
keadaan pendekar muda yang meng-gemparkan itu. Bagai berlomba, keduanya melesat
cepat mendekati Dewa Arak.
"Apa yang terjadi
terhadapmu, Arya?"
Begitu telah berada di dekat
Arya, gadis ber-pakaian hitam ini langsung mengajukan pertanyaan. Sepasang
matanya seperti juga sepasang mata ayah-nya, beredar memperhatikan sekujur
tubuh Dewa Arak.
"Tidak apa-apa," jawab
Arya.
Kemudian secara singkat tapi
jelas, Dewa Arak menceritakan semua kejadiannya. Rara Kunti dan Adipati Subali
mendengarkan penuh perhatian. Tidak sekali pun ada yang menyelak, hingga cerita
yang di-tuturkan selesai. Tentu saja Arya tidak menceritakan kalau telah
berhasil lolos dari maut karena bantuan belalang raksasa.
"Hhh...!"
Rara Kunti dan Adipati Subali
menghela napas berat mendengar cerita Dewa Arak.
"Sekarang, ganti kau dan
putrimu yang harus ber-cerita, Kang. Mengapa Iblis Mayat Hidup sampai
tewas?" Tanya Arya sambil menudingkan jari telunjuk-nya ke arah tubuh
Iblis Mayat Hidup yang tergolek dengan tubuh hangus.
"Hhh..!" Adipati Subali
menghembuskan napas berat terlebih dulu. "Setelah kau jatuh ke dalam
jurang, terpaksa kami melanjutkan perjalanan tanpa dirimu. Terus terang, kami
berkeyakinan kau telah tewas. Di tengah perjalanan, atau tepatnya di pinggir
sebuah sungai, kami bertemu Sagala yang tengah sekarat. Tapi sebelum tewas, dia
sempat men-
ceritakan banyak hal pada
kami."
Sampai di sini, Adipati Subali
menghentikan cerita. Dengan gerak isyarat diperintahkannya Rara Kunti
melanjutkan ceritanya.
"Paman Sagala mengakui,
bahwa dia dan adik seperguruannya yang menyamar sebagai diriku, memang menjadi
dalang kehancuran Kadipaten Blambang. Begitu pula pembunuhan terhadap ibuku.
Namun pelaku yang telah membunuh anggota rombongan ayah, telah
dibinasakannya," tutur Rara Kunti.
"Sagala dan adik
seperguruannya telah tewas di tangan Lutung Tangan Baja, karena sebuah
kesalahan. Itulah yang diceritakan Sagala sebelum tewas." urai Adipati
Subali.
"Kami melanjutkan
perjalanan, hingga menemu-kan tempat tinggal Eyang Mandura. Kemudian, kami
mengikuti petunjuk yang telah didapat hingga berhasil sampai di sini. Tapi
sayang, Iblis Mayat Hidup menguntit perjalanan kami, tanpa diketahui mulai dari
mana. Begitu melihat pusaka peninggalan Eyang Mandura, dia lalu muncul dan
langsung melesat ke arah buntalan itu," lanjut Rara Kunti.
Tapi sebelum maksudnya tercapai,
tubuhnya kontan menggelepar-gelepar. Rupanya, lantai gua di depan pusaka itu
telah ditaburi racun ganas, yang mampu menembus alas kaki. Dan akhirnya dia
tewas dengan tubuh hangus. Malah Rara Kunti sampai men-jerit!" sambung
Adipati Subali.
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Kini dia mengerti, mengapa Rara Kunti tadi menjerit.
"Semula kami kebingungan.
Tapi sewaktu mem-beri hormat pada tengkorak manusia yang diyakini adalah
leluhur kami, tampaklah tulisan-tulisan tertera
di atas lantai. Kami pun
mengikuti petunjuknya. Dan inilah hasilnya," tutur Adipati Subali sambil
meng-acungkan buntalan kain itu.
"Selamat, Kang, Kunti.
Mudah-mudahan harapan leluhur kalian terkabul," ujar Arya.
"Terima kasih, Arya,"
sahut Rara Kunti dan Adipati Subali berbareng.
Arya mengembangkan senyum lebar.
"O ya, Kang. Aku ingin
memberi hadiah padamu atas segala jasa yang kau berikan pada kami. Bukan
begitu, Ayah?"
Adipati Subali tampak
kebingungan. Tapi ketika melihat kerdipan pada mata anaknya, buru-buru
kepalanya terangguk.
"Benar... Benar sekali,
Arya. Memang, kami akan menghadiahkan sesuatu padamu," kata laki-laki
tinggi besar itu agak gagap.
"Tapi...," Arya mencoba
membantah.
"Tidak ada penolakan, Arya.
Lagi pula, aku yakin kau akan menerimanya. Inilah hadiah dari kami!"
Sepasang mata Arya membelalak
lebar ketika me-lihat benda yang tergenggam di tangan Rara Kunti. Benda itu
adalah guci araknya. Maka buru-buru tangannya diulurkan untuk menerimanya.
"Terima kasih, Kunti,
Kang," ucap Arya penuh ke-gembiraan.
"Aku menemukannya di dekat
mulut jurang. Rupanya, benda ini terjatuh sewaktu tubuhmu ter-pental,"
jelas Rara Kunti, senang karena melihat kegembiraan Arya melihat pemberiannya.
Sementara Adipati Subali hanya
bisa mengangguk-anggukkan kepala, bingung. Memang, dia tidak tahu-menahu akan
masalah ini.
Matahari mulai tergelincir dari
titik tengahnya
ketika Dewa Arak, Adipati Subali,
dan Rara Kunti keluar dari sumur yang menjadi kunci masuk tempat pusaka
peninggalan Eyang Mandura.
SELESAI
No comments:
Post a Comment