KEMBALINYA
RAJA TENGKORAK
Aji Saka
1
Kepak sayap kelelawar, kukuk
burung hantu, kerik suara jangkrik, dan serangga malam lainnya menguak
keheningan malam sepi yang hanya disirami sinar bulan sepotong di langit.
Malam itu langit memang terlihat
agak kelam. bulan sabit disaput awan kelabu yang tipis. Tapi sinar sang dewi
malam tidak mampu menembus awan, sehingga cahayanya tertahan. Dan, suasana di
bumi pun menjadi remang-remang.
Dalam suasana malam seperti itu,
di sebuah tanah lapang luas di dalam Hutan Jambak, banyak sekali orang
berkumpul. Ditilik dari dandanan dan gerak-geriknya, mereka adalah tokoh-tokoh
persilatan aliran hitam.
Jumlah mereka tak kurang dari
tiga puluh orang, dan membentuk lingkaran luas mengelilingi tanah lapang yang di
tengahnya terdapat gundukan batu setinggi setengah tombak. Bentuknya lebar dan
pipih. Sebatang tongkat berujung tengkorak kepala manusia terhunjam di atasnya.
Mendadak terdengar lolongan
serigala mengaung panjang. Seketika semua kepala tokoh-tokoh persilatan yang
hadir di situ tertunduk. Mereka tahu suara lolongan itu tanda akan hadirnya
tokoh yang mereka nanti-nantikan, Raja Tengkorak!
Benar saja! Begitu lolongan serigala itu lenyap, dua sosok bayangan
melesat di atas kepala tokoh tokoh persilatan yang berdiri di situ.
Dengan gerakan indah dan manis, dua sosok bayangan
berwarna kuning dan hitam bersalto di udara. Kemudian mereka mendarat di atas
gundukan batu lebar dan tipis.
"Angkat kepala kalian
semua... seru sosok tubuh berpakaian hitam yang mengenakan seragam tengkorak.
Dialah Raja Tengkorak! Sementara sosok tubuh berpakaian kuning adalah Turgawa!
Serentak kepala tokoh-tokoh
persilatan yang hadir di situ tertengadah. Agak terperanjat hati mereka melihat
orang lain di sebelah pimpinan mereka.
"Kalian lihat orang yang
berada di sisiku ini?" tanya Raja Tengkorak dengan suara khasnya yang
peIan, berat, tapi bergaung.
Bagai diberi aba-aba semua kepala
tokoh persilatan yang ada di situ terangguk.
"Dia adalah pamanku! Turgawa
namanya!"
Kepala tokoh-tokoh persilatan itu
terangguk-angguk pertanda mengerti. Suara percakapan yang berisik seperti segerombolan lebah yang sarangnya diusik segera terdengar
mengaung.
Raja Tengkorak mengangkat
tangannya. Kontan suara-suara berisik itu lenyap.
"Perlu kalian ketahui, aku
merasa gembira sekali. Gembira dan bangga. Usaha-usaha yang telah kita lakukan
berhasil dengan baik. Semula kita berhasil melenyapkan Dewa Arak. Lalu,
Perguruan Gajah Putih. Semua usaha kita telah berjalan lancar. Dunia persilatan
akan berhasil kita kuasai. Tapi sayang ......
Laki-laki berseragam tengkorak
itu menghentikan ucapannya sejenak.
Para tokoh-tokoh persilatan yang
hadir di situ mengernyitkan alisnya ketika mendengar kalimat terakhir dari
mulut pemimpin mereka. Nada suaranya menyiratkan penyesalan, bukan kegembiraan. Mereka merasa heran bukan
kepalang. Pasti ada sesuatu yang membuat hati Raja Tengkorak tidak senang.
"Orang yang kusangka telah
tewas ternyata masih hidup! Dewa Arak belum mati! Inilah yang membuatku menyesal
bukan kepalang. Aku terlalu ceroboh. Tapi kecerobohan itu tidak akan kuulangi
lagi! Dewa Arak harus mati!"
“Ya! Dia harus dilenyapkan
selama-lamanya!" teriak Dulimang keras.
"Betul!" sambut Juriga
tak mau kalah.
"Kita sapu bersih semua
tokoh aliran putih!" yang lain pun tak mau ketinggalan.
Sebentar saja, suasana di sekitar
tempat itu jadi hiruk-pikuk oleh teriakan-teriakan tokoh persilatan.
Tindak-tanduk yang liar, membuat mereka berteriak semaunya. Tapi suara-suara
teriakan itu kontan lenyap, ketika Raja Tengkorak mengangkat tangannya ke atas.
"Kita memang harus
melenyapkan Dewa Arak! Tapi perlu diketahui, mencari Dewa Arak sangat sulit
karena, pendekar keparat itu tidak mempunyai tempat tinggal tetap! Jadi,
rencana melenyapkan Dewa Arak harus kita tangguhkan dulu!"
Raja Tengkorak menghentikan
ucapannya sejenak untuk mengambil napas. Rupanya dia terlalu berapiapi dalam
berbicara, hingga napasnya jadi memburu dan agak tersengal-sengal.
"Meskipun begitu,"
sambung Raja Tengkorak. "Bukan berarti aku akan menyepelekannya begitu saja! Usaha untuk
melenyapkan Dewa Arak tetap diteruskan. Akan kutunjuk beberapa orang di antara
kalian untuk mencari jejak pendekar itu. Baru setelah
tempatnya diketahui, kita melenyapkannya!"
"Sekarang apa yang harus
kami lakukan, Ketua?!" tanya seorang tokoh persilatan yang
mengenakan rompi kulit ular. Tubuhnya terlihat kekar. Tapi, wajahnya layu dan
penuh keriput. Di kalangan persilatan, laki-laki ini berjuluk Naga Tua. Dia
salah satu tokoh aliran hitam yang cukup terkenal dan disegani.
"Kita serbu Perguruan
Banteng Sakti besok malam! Kita hancurkan perguruan itu seperti menghancurkan
Perguruan Gajah Putih!" tandas Raja Tengkorak tegas.
"Hidup Raja
Tengkorak...!" seru Naga Tua keras sambil mengangkat tangannya ke atas.
"Hidup... !" sambut
yang lainnya.
"Kita hancurkan Perguruan
Banteng Sakti...!" "Kita cincang Ki Tampar Waja ... I"
Dalam sekejap, tempat itu bergemuruh oleh teriakan-teriakan yang keluar dari
mulut tokoh-tokoh persilatan itu. Dan seperti sebelumnya, suara itu
baru berhenti bila Raja Tengkorak mengangkat tangannya ke atas.
"Beberapa orang di antara
kalian, tidak usah ikut dalam penyerbuan ini!" sambung Raja Tengkorak
ketika, suara-suara riuh rendah itu berhenti. "Karena mereka akan
kutugaskan untuk mencari jejak Dewa Arak!"
Setelah berkata demikian,
laki-laki berseragam tengkorak itu mengedarkan pandangan berkeliling. Sepasang matanya yang mencorong tajam dan
berwarna kehijauan menatap satu persatu wajah-wajah yang ada di sekitarnya. Di
dalam sorot matanya, tampak dia sedang menilai orang-orang yang cocok mengemban
tugas mencari jejak Dewa Arak!
Cukup lama juga Raja Tengkorak
menatap dan mengamati wajah-wajah pengikutnya. Kemudian
ditunjuknya beberapa orang untuk mengemban tugas mencari jejak Dewa Arak! Di
antara mereka yang terpilih adalah Dulimang dan Naga Tua.
"Kurasa pertemuan kita cukup
sampai di sini.
Ingat. Besok, sebelum malam tiba,
kita sudah berada di Desa
Jarak." Belum habis
gema suaranya, Raja Tengkorak sudah menggenjotkan kakinya. Seketika itu
pula tubuhnya melesat ke atas, melewati kepala tokoh-tokoh persilatan.
Berbareng dengan itu, Turgawa pun menjejakkan kakinya pula. Sesaat kemudian
kedua tubuh itu lenyap ditelan kegelapan malam dan kerimbunan pepohonan.
Suasana kontan gaduh, setelah Raja
Tengkorak dan Turgawa tidak berada lagi di situ. Sambil melangkah meninggalkan
tempat itu, tokoh-tokoh
persilatan terlibat perbincangan serius. Banyak masalah yang
membingungkan benak mereka. Di antaranya adalah Dewa Arak yang berhasil lolos
dari kematian!
"Aku ingin bertanya sesuatu kepadamu, Paman," Raja Tengkorak membuka pembicaraan, ketika
telah berada cukup jauh
dari tempat pertemuan itu,
seraya mereka terus
berlari menembus kegelapan malam.
Turgawa tidak langsung menyahuti. Tanpa menghentikan langkah, kepalanya menoleh ke arah
laki-laki berseragam tengkorak itu.
"Katakanlah, Sengkala,"
ucap Turgawa pelan. "Aku merasa heran dengan kejadian tadi
pagi, Paman," Raja Tengkorak
mulai mengeluarkan ganjalan hatinya.
"Hm...," Turgawa
bergumam tak jelas.
"Aku tidak menyangka kalau lawanku,
pembunuh ayah dan ibuku ternyata memiliki ilmu yang serupa denganku. Dia
memiliki 'llmu Baju Ular Emas', bahkan dengan tingkat yang tidak kalah
denganku!"
Turgawa terdiam. Meskipun begitu
gerakan kakinya tidak dia hentikan. Sepasang kakinya terus saja melangkah. Raja
Tengkorak yang berjalan di sisinya, terpaksa diam dan menunggu jawaban.
"Hhh ... !"
Setelah cukup lama laki-laki berseragam
tengkorak itu menunggu, keluar juga sambutan dari kakek berpakaian kuning.
Sekalipun hanya sebuah helaan napas berat.
Di balik selubungnya, Raja Tengkorak mengernyitkan dahi. Dia merasa
heran melihat Turgawa tidak menjawab pertanyaannya. Malah dia menghela napas berat. Seolah-olah
pertanyaannya mengganggu hat kakek berpakaian kuning itu.
"Sangat berat untuk
mengatakannya, Sengkala," akhirnya keluar juga ucapan itu dari mulut Turgawa. "Tapi, aku terpaksa
memberitahukan hal yang sebenarnya kepadamu. "
Turgawa menghentikan ucapannya
sejenak. Ditariknya napas dalam-dalam dan
dihembuskannya kuat-kuat
"Ceritakanlah, Paman,"
desak Raja Tengkorak tidak sabar. "Sejak kutahu, kedua orang tuaku telah tiada
dan dibunuh oleh makhluk biadab yang bernama Kalpa Reksa, aku sudah siap untuk
menghadapi kenyataan. Bagaimanapun pahitnya."
"Baiklah. Kalau itu
maumu...," Turgawa terpaksa mengalah. "Aku, Kalpa Reksa dan ayahmu
adalah saudara seperguruan. Kami bertiga saling kasih-mengasihi sampai
akhirnya kami bertemu dengan seorang wanita cantik. Kami
bertiga jatuh cinta padanya. Namun yang beruntung mendapat kasih wanita itu
adalah ayahmu. "
Kakek berpakaian kuning itu kembali
menghentikan ceritanya sebentar untuk bernapas.
"Aku menerima kenyataan
pahit itu. Tapi tidak demikian
halnya dengan Kalpa
Reksa. Dia menjadi sakit hati
pada wanita itu. Dan juga merasa iri pada ayahmu. Tak tahan memendam perasaan
itu, suatu hari dengan cara yang licik, dia berhasil membunuh ayahmu. Kemudian
ibumu diperkosa habis-habisan."
Terdengar suara menggeretak keras dari
mulut Raja Tengkorak ketika mendengar cerita itu. Tampak jelas kalau dia merasa
geram bukan kepalang.
"Untung aku datang di saat
yang tepat, ketika Kalpa Reksa hendak membunuhmu. Buru-buru aku menyelamatkan
dirimu," sambung Turgawa lagi.
"Hm ... !" Raja
Tengkorak menggumam pelan untuk menutupi perasaan geram yang
berkecamuk di hatinya.
"Kalpa Reksa lalu
mengejarku. Malang, aku terkejar. Aku kerahkan seluruh kemampuan yang kumiliki
untuk menghadapinya. Dengan sedikit siasat aku berhasil lolos darinya meskipun
untuk itu, tanganku harus putus dan kaki kiriku cacat. Begitulah kejadian yang
sebenarnya, Sengkala. Niatku hanya satu. Mendidikmu menjadi tokoh sakti yang tak terkalahkan" tutur Turgawa mengakhiri
ceritanya.
"Siapakah ayah dan ibuku,
Paman?" tanya Raja Tengkorak dengan suara parau. Jelas, dia
merasa terpengaruh dengan cerita kakek berpakaian kuning itu.
"Ayahmu bernama Jagat Nata dan ibumu
Nilamsari. "
Raja Tengkorak kontan terdiam.
Langkah kakinya pun terhenti. Turgawa pun ikut menghentikan
langkahnya.
Bagaimana? Puas?" tanya
Turgawa seraya menatap wajah laki-laki berseragam tengkorak itu.
Raja Tengkorak tidak menyahuti
pertanyaan itu. Kepalanya ditengadahkan menghadap ke langit.
"Kalpa Reksa...! Kalau aku tidak berhasil membunuhmu, akan kubuang nama
Sengkala...!"
Keras bukan kepalang suara yang
keluar dari mulut laki-laki berseragam tengkorak itu. Suaranya menggema dan
mengaung ke seluruh penjuru tempat Itu. Memang, dia telah mengerahkan
seluruh tenaga dalamnya ketika berteriak.
Setelah mengucapkan kata-kata bernada ancaman itu, Raja Tengkorak
kembali melangkahkan kaki. Gila! Dalam sekali langkah saja, dua belas tombak
telah terlampaui. Ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, tentu saja telah
mencapai tingkatan amat tinggi.
Sambil melangkahkan kakinya,
mulut Turgawa menyunggingkan senyuman aneh. Dan sekali mengayunkan kakinya, jarak sebelas
tombak telah dicapainya. Sesaat kemudian,
Turgawa dan Sengkala berlari
cepat meninggalkan tempat itu. Andaikata ada penduduk yang melihat mereka tentu
akan mengira ada dua sosok hantu tengah berkejaran. Memang, dua sosok bayangan
hitam dan kuning ini berkelebat cepat meninggalkan tempat itu.
2
Wunggg, wunggg ... !
Suara mengaung keras mengusik
keheningan malam yang sepi-senyap. Andaikata suara itu terdengar di dalam
hutan, mungkin orang akan menduga berasal dari mulut seekor harimau yang sangat
besar.
Tapi suara keras itu bukan
berasal dari hutan, melainkan dari halaman luas di hadapan sebuah bangunan yang
terkurung pagar kayu bulat tinggi. Di situ terdapat papan lebar, tebal, dan
berukir yang terletak di atas pinto gerbang bertuliskan 'Perguruan Banteng
Sakti'.
Suara keras itu ternyata berasal
dari seorang gadis yang tengah berlatih ilmu pedang di perguruan silat itu. Di
tangannya tergenggam sebilah pedang.
Cukup lama juga gadis berpakaian
putih itu berlatih ilmu pedang. Dan selama berlatih, suara menggerung keras itu
senantiasa terdengar, pertanda kalau gerakan itu didukung oleh tenaga dalam
tinggi. Karena hanya orang-orang yang memiliki tenaga dalam tinggi saja yang
mampu mengeluarkan suara keras dalam setup pergerakan tangan atau senjatanya.
Dari sini sudah bisa diperkirakan
kekuatan tenaga dalam yang dimiliki gadis berpakaian putih itu. "Hih ...
!" Gadis berpakaian putih itu melentingkan tubuh ke belakang, dan bersalto
di udara beberapa kali, kemudian indah sekali kedua kakinya didaratkan di
tanah. Trek!
Setelah memasukkan pedang di punggungnya, gadis berpakaian
putih itu mengusap peluh yang membasahi leher dan dahinya dengan sapu tangan.
Plok, plok, plok... !
Terdengar suara tepuk tangan di
belakang punggung gadis berpakaian putih itu. Dia segera membalikkan tubuhnya
ke arah sumber suara.
"Luar biasa! Sudah kuduga kalau kau bukan seorang gadis sembarangan,
Melati," puji orang yang bertepuk tangan. Seorang laki-laki berusia
sekitar empat puluh tahun. Seperangkat pakaian berwarna coklat membungkus tubuhnya yang pendek kekar. Kulit wajahnya agak
kemerahan, dihiasi kumis tebal dan hitam.
"Ah! Kau terlalu memuji,
Ki," sahut gadis berpakaian putih malu-malu. Yang tidak lain adalah Melati, putri angkat Raja Bojong Gading.
"Kepandaianku tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kepandaianmu,"
sambung Melati.
"Ha ha ha... ! "
Laki-laki berkulit kemerahan itu
tertawa terbahak-bahak. Sehingga tubuhnya terlihat berguncang. Dia merasa geli mendengar jawaban gadis
berpakaian putih itu.
Melati tidak marah bila ucapannya
disambut dengan gelak tawa. Dia tahu laki-laki berkulit kemerahan itu tidak
bermaksud mengejeknya.
"Mengapa kau berpendapat
begitu, Melati?" tanya laki-laki berkulit kemerahan setelah tawanya
terhenti.
"Karena kau adalah Ketua Perguruan
Banteng Sakti! Siapa yang tak mengenal Ki Tampar Waja.
Jangankan ketuanya, murid-muridnya saja disegani kawan dan
ditakuti lawan. Mana mungkin kepandaianku yang hanya segini bisa berarti di
hadapanmu, Ki?" sambut Melati sambil jempolnya menekan jari kelingking.
"Kau keliru, Melati," ujar laki-laki berkulit kemerahan yang ternyata
bernama Ki Tampar Waja, Ketua Perguruan Banteng Sakti, bernada teguran halus. Sepasang matanya
menatap tepat pada bola mata gadis berpakaian putih di hadapannya dengan sinar
mata sungguh-sungguh.
Terbayang kembali di benak Ketua
Perguruan Banteng Sakti, tatkala dia menemukan gadis berpakaian putih itu
terapung-apung di laut, di atas sekeping papan dalam keadaan pingsan. Waktu itu
laut memang sudah tenang. Dia sendiri tengah berperahu untuk memenuhi kegemarannya memancing ikan. Lalu,
gadis itu dibawa dan dirawat di perguruannya.
Melati sama sekali tidak menyelak
tutur kata Ki Tampar Waja. Meski dia menghentikan ucapannya sejenak untuk
melihat tanggapan gadis berpakaian putih itu.
"Kau tahu, Melati. Di atas
dunia ini banyak sekali tokoh-tokoh yang berilmu tinggi. Ada yang
memiliki ilmu tinggi, pasti ada yang lebih tinggi. Di atas gunung yang
menjulang tinggi, masih ada langit. Dan, di atas langit masih ada langit. Jadi,
jangan karena kabar yang tersiar di luaran, kau terpengaruh dan menganggapku
memiliki kepandaian paling tinggi," urai Ketua Perguruan Banteng Sakti
panjang lebar.
Melati tetap diam. Di dalam
hatinya, dia mengakui kebenaran ucapan laki-laki berkulit kemerahan itu. Dia
sendiri memang telah memahami tokoh-tokoh persilatan berkepandaian tinggi
bersikap seperti itu. Selalu merendah dan tidak pernah takabur dengan ilmu yang
dimilikinya.
"Kau pernah mendengar cerita
tentang Raja Tengkorak?" sambung Ki Tampar Waja lagi.
Melati menggelengkan kepala.
Sepasang matanya menatap
lekat-lekat pada laki-laki berkulit kemerahan itu.
"Julukan Raja Tengkorak amat menggemparkan dunia persilatan. Belasan, bahkan mungkin puluhan tahun, dia
merajalela tanpa tandingan. Tapi, toh akhirnya tewas. Malah dilakukan oleh
tokoh persilatan, yang sama sekali kurang terkenal. Begitulah berita yang
kudengar."
Memang Ki Tampar Waja belum
mendengar sama sekali tentang kemunculan Raja Tengkorak bernama Sengkala yang mengacau dunia persilatan.
Tokoh sesat yang menggiriskan itu telah
membumihanguskan Perguruan Gajah
Putih. Perguruan ini letaknya terpisah jauh
dengan Perguruan Banteng Sakti.
Ki Tampar Waja tidak melanjutkan
ucapannya. Melati pun tidak menanggapi lagi. Suasana kini jadi terasa hening.
"Kaaak, kaaak, kaaak...
Suara berkaokan keras memecahkan
keheningan suasana yang tercipta. Menilik dari suaranya, jelas kalau suara itu
keluar dari mulut burung gagak.
"Aneh ... !" gumam Ki
Tampar Waja sambil mengernyitkan kening.
"Mengapa, Ki?" tanya
Melati heran melihat sikap Ketua Perguruan Banteng Sakti itu.
"Kau dengar suara berkaokan
tadi, Melati!" Ki Tampar Waja malah balas bertanya.
Melati mengangguk. "Suara
burung gagak, Ki."
"Hm...," laki-laki
berkulit kemerahan ini meng-gumam pelan. "Aku tidak sependapat denganmu, Melati. "
"Maksudmu, Ki?" kejar
gadis berpakaian putih itu. "Aku tidak percaya kalau suara itu keluar dari
mulut burung gagak! Selama aku di sini, belum pernah kudengar suara burung gagak!" tandas Ki Tampar Waja.
"Jadi...." Melati tidak
melanjutkan ucapannya. "Suara itu keluar dari mulut manusia!" dugs
Ketua
Perguruan Banteng Sakti itu.
"Aku merasakan di dalam suara itu terdapat getaran tenaga dalam.
"Tapi..., apa maksudnya
kalau benar suara itu keluar dari mulut manusia?"
"Aku tidak berani
berprasangka dulu. Tapi yang jelas, orang itu pasti tidak bermaksud baik dan
tidak sendirian!"
"Aku mendengar ada suara
langkah kaki mendekati tempat ini, Ki," beri tahu Melati.
"Ya," Ki Tampar Waja
mengangguk. "Jumlah mereka pun cukup banyak. Ayo cepat ke pintu
gerbang!"
Setelah berkata demikian, laki-laki berkulit kemerahan segera melesat cepat ke arah pintu
gerbang. Melati pun melakukan gerakan serupa. Cepat bukan main gerakan mereka,
sehingga yang tampak hanya sekelebatan bayangan putih dan coklat bergerak cepat
menuju pintu gerbang.
Masih dalam jarak lima tombak
dari pintu gerbang, Melati dan Ki Tampar Waja telah dikejutkan oleh kejadian
mendadak.
Brakkk ... !
Daun pintu gerbang Perguruan Banteng
Sakti hancur berantakan seperti diseruduk gajah liar! Dan dari balik daun pintu
itu melesat masuk sosok tubuh berseragam tengkorak. Siapa lagi kalau bukan Raja
Tengkorak?! Disusul oleh sosok berpakaian kuning yang Langan kanannya
putus sebatas pergelangan. Dia adalah Turgawa.
Bukan hanya mereka saja yang
melesat masuk, melainkan belasan orang yang memiliki wajah dan sikap kasar.
Mereka adalah orang-orang golongan hitam yang telah menjadi anak buah Raja
Tengkorak alias Sengkala.
Karuan saja suara riuh-rendah itu
mengejutkan murid-murid Perguruan Banteng Sakti yang berada di pos penjagaan.
Serentak mereka yang berjumlah tiga orang, melompat keluar. Dua di antaranya
melesat ke arah rombongan tamu tak diundang. Sedangkan seorang lagi memukul
kentongan.
Tong, tong, tong... !
Suara kentongan tanda bahaya pun
bergema di sekitar Perguruan Banteng Sakti. Dua orang murid Perguruan Banteng
Sakti yang mendapat giliran meronda ke sekeliling wilayah perguruan, langsung
menyambuti bunyi kentongan itu seraya berlari ke arah asal suara kentongan.
Tak pelak lagi, seluruh
murid-murid Perguruan Banteng Sakti geger. Mereka semua bergegas melesat keluar
sambil menyambar senjata masing-masing. Ada beberapa orang di antaranya yang
tidak sempat mengenakan alas kaki.
"Raja Tengkorak... !"
desis Ki Tampar Waja pelan tapi tajam sehingga mengalahkan suara kentongan yang bergema ke seluruh penjuru perguruan itu. Ketua Perguruan
Banteng Sakti itu terkejut ketika berada dalam jarak empat tombak di hadapan
laki-laki berpakaian seragam tengkorak, berbarengan dengan tibanya dua murid
Perguruan Banteng Sakti yang tadi berlari dari pos penjagaan. Raut keterkejutan
yang amat, sangat membayang di wajah Ki Tampar Waja. Dia melihat kehadiran
tokoh yang pernah dikabarkan tewas itu.
Melati mengernyitkan kening.
Inikah Raja Tengkorak itu? Tanyanya dalam hati. Bukankah Ki Tampar Waja mengatakan
tokoh yang menggiriskan itu telah tewas? Kenyataannya tokoh itu ada di sini!
Apakah Ketua Perguruan Banteng Sakti itu. berbohong? Mustahil! Gadis berpakaian
putih ini tidak percaya kalau laki-laki berkulit kemerahan itu berbohong. Jadi,
Raja Tengkorak tidak tewas. Berita yang tersebar itu tidak benar.
"Ha ha ha...!"
Laki-laki berpakaian seragam
tengkorak tertawa bergelak. Girang hatinya melihat keterkejutan Ki Tampar Waja.
"Ki Tampar Waja, Kini sudah
saatnya kau dan perguruanmu kulumatkan! Kau dan perguruanmu akan menyusul
Perguruan Gajah Putih yang telah lebih dulu kumusnahkan!"
“Apa….!” Sepasang mata Ketua
Perguruan Banteng Sakti terbelalak lebar. Perasaan kaget yang amat sangat
mendera hatinya. Benarkah semua yang dikatakan oleh Raja Tengkorak itu?!
Ataukah hanya satu muslihat saja?
Raja Tengkorak melihat keraguan yang
membayang di wajah Ki Tampar Waja.
"Kau boleh tidak percaya
pada ucapanku, Ki Tampar Waja! Tapi yang jelas, kau dan perguruanmu, akan
kuhancurkan seperti Perguruan Gajah Putih!" lanjut laki-laki berpakaian
seragam tengkorak itu.
Setelah berkata demikian, Raja
Tengkorak bertepuk tangan sekali.
Plok ... !
Suara keras menggelegar terdengar
seperti ada halilintar menyambar. Kerasnya bukan kepalang sehingga semua orang
yang berada di situ, merasa telinganya berdengung.
"Serbu ... !"
"Hancurkan Perguruan Banteng
Sakti... "Bunuh Ki Tampar Waja... !"
Teriakan-teriakan keras tak
beraturan mengiringi serbuan pengikut Sengkala.
Murid-murid Perguruan Banteng
Sakti tidak tinggal diam. Mereka pun bergerak maju memapak. Sekejap kemudian
terdengar denting suara senjata beradu, dan bunga-bunga api berpercikan di
udara. Pertarungan mati-matian pun tak bisa dielakkan lagi.
Raja Tengkorak dan Turgawa pun
tidak tinggal diam. Begitu pars pengikutnya menyerbu, mereka berdua pun meluruk
maju.
Tapi sebelum kedua orang itu
menyebarkan maut di Perguruan Banteng Sakti, Melati dan Ki Tampar Waja bergerak menyambut. Ketua Perguruan Banteng Sakti segera menghadang Raja Tengkorak.
Dan, Melati menghadapi Turgawa!
Raja Tengkorak rupanya tidak
ingin bermain-main lagi. Begitu dihadang oleh Ki Tampar Waja yang memang diincarnya, dia langsung saja mengeluarkan 'llmu Baju Ular
Emas' andalannya. Jari-jari kedua tangannya yang menegang lurus dan kaku
meluncur bertubi-tubi ke arah leher lawan.
Ki Tampar Waja tahu kalau lawan yang
dihadapinya kali ini cukup tangguh. Maka dia pun segera mengeluarkan ilmu
andalannya, jurus 'Kera'.
"Hih ... !"
Dengan sekali mengenjotkan kaki,
tubuh Ketua Perguruan Banteng Sakti itu melayang ke atas dan melewati kepala
Raja Tengkorak. Sesuai dengan nama ilmunya, jurus 'Kera' memang menitikberatkan
pada kelincahan. Dengan sendirinya, Ki Tampar Waja yang menguasai ilmu itu,
mempunyai kegesitan seperti layaknya kera sungguhan.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Ki Tampar Waja. Begitu tubuhnya telah berada di udara, tangan
kanannya disampokkan ke arah belakang kepala lawan. Keras bukan kepalang
tamparan itu sehingga menimbulkan suara bercicitan nyaring. Jangankan kepala
manusia, batu karang yang paling keras pun akan hancur apabila terkena sampokan
itu.
Cepat bukan main serangan balasan
itu tiba. Dan, memang Ki Tampar Waja memiliki gerakan yang luar biasa cepat.
Tapi orang yang mendapat serangan
bukanlah sembarang orang. Dia, adalah Raja Tengkorak! Seorang pentolan sesat
yang memiliki kepandaian tinggi. Maka sampokan yang datangnya tiba-tiba itu,
tidaklah membuatnya menjadi gugup. Dia segera merundukkan kepalanya. Dan....
Wusss ... !
Sampokan itu mengenai tempat kosong,
lewat beberapa jengkal di atas kepala Raja Tengkorak.
Bukanlah Raja Tengkorak kalau
tindakannya berhenti sampai di situ. Seiring dengan kepalanya merunduk, kaki
kanannya segera menendang ke atas melalui belakang.
Ki Tampar Waja tidak terkejut
melihat serangan balasan Raja Tengkorak. Dia telah lama
mendengar lawan yang dihadapinya. Dan, dia tahu kalau tokoh sesat yang
menggiriskan itu memiliki ilmu-ilmu aneh. Maka, dia tidak
gentar melihat serangan yang
mendadak itu. Bahkan dengan tangan kirinya serangan itu dipapaknya.
Dukkk.... I
Ki Tampar Waja meringis ketika
benturan terjadi. Kontan tubuhnya terjengkang ke belakang dengan
kedua tangan dirasakan sakit. Kedudukannya di udara kurang menguntungkan,
selain itu Raja Tengkorak memang memiliki tenaga dalam yang lebih kuat
daripadanya.
Meskipun demikian, bukan hanya
laki-laki berkulit kemerahan saja yang terhuyung. Tubuh Raja Tengkorak pun
terhuyung akibat benturan itu.
Hanya saja Ki Tampar Waja merasakan tangannya sakit, Raja Tengkorak
tak merasakan apa-apa. Kalau tubuhnya ikut terhuyung bukan karena tenaga dalam
Ki Tampar Waja, melainkan kedudukannya yang memang kurang menguntungkan.
"Hup ... !"
Begitu Ketua Perguruan Banteng Sakti
menginjakkan kedua kakinya di tanah, Raja Tengkorak pun telah berhasil
memperbaiki kedudukannya. Dan, pertarungan yang sempat tertunda sejenak itu
kembali berlangsung sengit.
Bersamaan dengan saling serang
antara Raja Tengkorak dan Ki Tampar Waja, untuk yang kedua kalinya, Turgawa
baru mulai menggebrak Melati.
Berbeda dengan Sengkala yang sama
sekali tidak merasa terkejut dengan serangan Ki Tampar Waja. Karena dia telah
mengetahui kepandaian Ketua Perguruan Banteng Sakti itu, sedang
Turgawa amat terperanjat bukan kepalang ketika mulai bergerak menyerang Melati.
Semula, laki-laki berpakaian kuning ini
memandang remeh dan hampir tertawa ketika melihat seorang gadis muda berpakaian
putih menghadang langkahnya.
Meskipun gadis berpakaian putih itu
bukanlah lawan berat, Turgawa yang berwatak keji dan telengas, sekali serang lawan langsung menggunakan seluruh tenaga
dalamnya. Memang, dia bermaksud menewaskan Melati dengan sekali serang.
Tangan kanan Turgawa dengan
kedudukan jari terkembang membentuk cakar meluncur ke arah dada Melati.
Sedangkan tangan kirinya di sisi pinggang.
Laki-laki berpakaian kuning itu menduga
kalau Melati tidak akan bisa mengelak serangan yang demikian cepat
dikirimkannya. Tapi, betapa kaget hatinya ketika melihat gadis berpakaian putih itu dengan mudah mengelakkan serangannya. Hanya dengan
melangkahkan kaki kirinya seraya mencondongkan tubuh, make serangan itu lewat
di sebelah kanannya.
Tidak itu saja yang dilakukan
Melati. Begitu serangan lawan berhasil dielakkan, tangan kanannya bergerak
menyampok ke arah pelipis lawan.
Turgawa terkejut bukan kepalang.
Dengan agak terbata-bata, dia melompat ke samping. Dia pun terpaksa bergulingan di tanah agar
terhindar dari serangan susulan Melati.
"Hup ... !"
Keringat sebesar biji jagung
bermunculan di sekujur wajah Turgawa ketika ia bangkit dari berguling-guling menghindari serangan Melati.
Hampir saja dia tewas karena terlalu memandang rendah lawan. Untung di saat
terakhir dia berhasil menyelamatkan diri. kalau tidak? Nyawanya sudah dikirim
Melati ke neraka.
"Wanita keparat ... !"
maki Turgawa keras. "Berani kau mempermalukan aku?!
Setelah berkata demikian, laki-laki berpakaian kuning itu
menyusun jari-jarinya dan membentuk jurus 'Ular'. Jeri jari kedua tangannya
terbuka lures, menegang kaku. Turgawa memang bersiap menggunakan ilmu andalannya,
'Ilmu Baju Ular Emas'.
3
"Ssshhh... !"
Diiringi suara mendesis, Turgawa mulai
melancarkan serangan ke arah dada dan ulu hati Melati. Kedua tangannya menusuk
bertubi-tubi ke arah sasaran, Sehingga mengeluarkan suara
angin bercicit nyaring.
Melati terperanjat melihat
kedahsyatan ilmu lawan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, dia segera melompat ke
belakang. Sehingga serangan itu tidak mengenai sasaran.
Tapi ternyata, Turgawa sudah memperhitungkan hal itu. Terbukti, begitu serangannya berhasil dielakkan,
kedua kakinya bergeser maju tanpa melangkah. Suara gesekan alas kaki laki-laki
berpakaian kuning itu. terdengar.
Berbarengan dengan itu
kembali kedua tangannya
meluncur cepat ke arah Melati. Kali ini mengarah ke bawah hidung dan leher
lawan. Dua jaIan darah kematian.
Melati tidak punya pilihan lain.
Dia menggeserkan kaki kanannya ke belakang, seraya mencondongkan tubuh ke arah yang
sama. Lalu kedua tangannya yang berbentuk
cakar naga bergerak menangkis serangan lawan. Gadis berpakaian putih ini memang
mengeluarkan ilmu 'Cakar Naga Merah' untuk melumpuhkan 'Ilmu Baju Ular Emas'.
Prattt ... ! Prattt ... !
Melati dan Turgawa terhuyung-huyung ke belakang ketika kedua pasang tangan
mereka yang samasama dialiri tenaga
dalam tinggi saling berbenturan. Bersamaan dengan
itu terdengar suara keras
bukan kepalang. Seolah-olah suara itu bukan berasal dari dua pasang tangan
manusia, melainkan dua logam keras yang saling berbenturan.
Melati meringis karena rasa sakit
dan nyeri yang mendera kedua tangannya. Menilik kejadian yang dialami gadis itu,
dapat diketahui kalau lawan memiliki tenaga dalam lebih kuat dari dirinya.
Sekitar tiga langkah jarak tubuh
Melati terhuyung, sementara lawannya hanya satu
langkah. Hal ini memperkuat kenyataan kalau Turgawa memiliki tenaga dalam di
atasnya.
Tapi Melati tidak bisa
berlama-lama larut dalam rasa sakit dan nyeri yang melandanya, karena Turgawa
sudah kembali bersiap melancarkan serangan 'Ilmu Baju Ular Emas'. Sehingga
memaksa gadis berpakaian putih itu menggunakan jurus andalannya 'Cakar Naga Merah'. Tak terhindarkan lagi pertarungan pun berlangsung sengit.
Gerakan-gerakan tangan kedua
tokoh Sakti itu mengeluarkan suara, bahkan suara tajam dari udara yang robek
menyemarakkan pertarungan mereka.
Di jurus-jurus awal pertarungan
berjalan imbang. Keduanya saling serang dan saling elak.
Ketika memasuki jurus ketiga
puluh lima, mulai tampak keunggulan Turgawa. Memang, kakek berpakaian kuning ini mempunyai kelebihan dibanding Melati. Dengan
kelebihan itu dia menekan lawan. Kedua tangannya menjadi lebih keras laksana
baja. Sedangkan tenaga dalamnya jauh lebih kuat dari Melati, sehingga dia mampu
menekan lawan.
Melati tak mampu melancarkan
serangan, kecuali mundur dan mengelak bila lawan menyerang. Sebab bila dia
menangkis serangan lawan akan merugikan dirinya. Lantaran lawan memiliki tenaga
dalam lebih kuat dan memiliki sepasang tangan yang keras. Jadi, bila terjadi
benturan maka kedua tangannya akan
bergetar hebat dan menimbulkan rasa sakit.
Bukan hanya itu, tampak setiap kali dia
melancarkan serangan, dan lawan akan menangkis serangannya, maka gadis
berpakaian putih ini menarik tangannya kembali buru-buru. Karena itu dia
senantiasa terdesak oleh lawannya.
Bukan Melati saja yang terdesak dalam pertarungan sengit
itu, Ki Tampar Waja pun mengalami hal serupa. Bahkan keadaan kakek
bertubuh pendek kekar yang terdesak ini sangat tak menguntungkan dirinya.
Sedangkan murid-murid Perguruan Banteng Sakti yang terlibat pertempuran itu
terdesak dan terhimpit.
Karena jumlahnya tak seimbang
dengan pengikut Raja Tengkorak. Lagi pula mereka adalah tokoh-tokoh aliran
hitam yang cukup ternama. Dengan sendirinya ilmu mereka lebih unggul dibanding
murid Ki Tampar Waja. Sehingga tak mengherankan bila banyak korban yang jatuh.
Jeritan kematian terdengar merobek kesunyian malam. Disusul bertumbangannya beberapa sosok
tubuh dalam keadaan tanpa nyawa. Seiring dengan
gugurnya rekan-rekan mereka, keadaan murid-murid Ki
Tampar Waja semakin terdesak.
Ki Tampar Waja terdesak hebat,
dan terpontang panting dalam usahanya untuk menyelamatkan nyawa, tapi dia
sempat melihat sekilas keadaan Melati dan murid-muridnya.
Kontan perasaan cemas menyelimuti dirinya. Dia khawatir keselamatan putri
angkat Raja Bojong Gading itu. Sedang bagi murid dan dirinya tidaklah menjadi
masalah.
Karena memang perguruan mereka
diserbu, dan sudah menjadi kewajiban mereka untuk mempertahankannya
sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Bagaimana dengan Melati? Gadis itu adalah seorang tamu. Tidak layak jika dia
tewas pula. Gadis berpakaian putih itu harus pergi menyelamatkan diri sebelum
menjadi korban. Maka tanpa mengalihkan perhatian dari Raja Tengkorak, dan dalam
keadaan tubuh terpontang-panting, Ki Tampar Waja berteriak teriak,
"Melati...! Cepat pergi
selamatkan dirimu...
Tapi orang yang mempunyai
watak keras seperti Melati mana mau disuruh menyelamatkan diri, sementara
laki-laki berkulit kemerahan dan murid-muridnya dalam keadaan terancam maut.
Malah sebaliknya, seruan itu makin membuat gadis berpakaian putih itu melakukan
perlawanan sengit.
"Maaf, Ki! Aku bukan seorang
pengecut ... ! Lebih baik kita mati bersama-sama ... ! "
Karuan saja sikap Melati itu membuat kecemasan Ketua Perguruan
Banteng Sakti makin menggelegak. Sambil membanting
tubuh dan bergulingan di tanah,
Ki Tampar Waja kembali berseru.
"Jangan bertindak bodoh,
Melati! Kau akan mati sia-sia dan.... Akh ... !"
Tubuh Ki Tampar Waja
terhuyung-huyung ketika totokan tangan lawan berhasil mengenai bahu kanannya.
Darah pun mengalir keluar dari bagian tubuh yang terkena serangan Raja
Tengkorak.
"Ki... !"
Melati berteriak kaget mendengar jerit
kesakitan Ki Tampar Waja. Seraya menggertakkan gigi, kedua tangannya yang
terkembang membentuk cakar dihentakkan ke depan. Gadis berpakaian putih ini
melancarkan jurus 'Naga Merah Membuang Mustika'.
Wusss ... !
Serentetan angin keras berhembus
ke arah
Turgawa. Dan, kakek berpakaian kuning ini bertindak lebih waspada. Buru-buru tubuhnya
dilempar ke samping dan bergulingan ke tanah untuk menyelamatkan diri dari
serangan Melati. Dia tidak berani menangkis serangan pukulan jarak jauh itu.
Kesempatan yang hanya sekejap itu
dipergunakan Melati untuk melirik keadaan Ki Tampar Waja. Dilihatnya laki-laki
berkulit kemerahan itu tengah bergulingan di tanah, sementara Raja Tengkorak
mengejarnya seraya mengirimkan serangan-serangan mematikan.
Walaupun dalam keadaan seperti. itu, Ki Tampar Waja masih
tetap memikirkan keselamatan Melati. Tubuhnya yang bergulingan, tidak menghalangi mulutnya untuk terus
mengucapkan kata-kata peringatan kepada gadis berpakaian putih itu.
"Melati... ! Selamatkan
dirimu ... ! Cepat ... ! Kalau tidak aku akan mati penasaran ... ! "
Melati menggertakkan gigi untuk menguatkan hatinya yang terguncang. Dia merasa terharu bukan kepalang melihat
keadaan laki-laki berkulit kemerahan itu terancam maut, tapi masih sempat
memikirkan keselamatannya. Gadis berpakain
putih ini berniat melompat
dan menerjang Raja Tengkorak untuk menyelamatkan nyawa Ketua Perguruan Banteng Sakti. Tapi sebelum hal itu dilakukannya,
serangan dari Turgawa kembali meluncur.
"Akh ... !"
Kembali terdengar jerit tertahan
dari mulut Ki Tampar Waja ketika serangan Raja Tengkorak kembali mengenai
sasarannya. Kali ini bahu kirinya terluka.
Kembali cairan merah kental
mengalir. Memang, bila menggunakan 'llmu Baju Ular Emas', sepasang tangan
laki-laki berseragam tengkorak itu jadi sekeras baja dan jari-jari tangannya
setajam pedang pusaka. Tidak aneh kalau setiap kali terkena totokan tangannya,
kulit tubuh lawan langsung robek seperti tertusuk pedang.
Melati menggertakkan gigi. Dia
bertarung dengan benak dipenuhi berbagai macam pikiran. Ucapan
terakhir dari Ketua Perguruan Banteng Sakti itulah yang menyebabkannya bimbang.
Akibatnya, gadis berpakaian putih ini terdesak hebat.
"Melati... ! Cepat pergi
.... !"
Lagi-lagi seruan bernada penuh
kekhawatiran itu terdengar.
Melati tidak punya pilihan lain
lagi. Dia tidak ingin Ki Tampar Waja tewas dalam keadaan penasaran. Maka dia buru-buru mencabut pedangnya, dan langsung ditusukkan cepat ke arah
perut Turgawa.
Wunggg ... !
Suara menggerung keras seperti
naga murka terdengar ketika pedang itu meluncur cepat ke arah sasaran. Melati
menggunakan 'llmu Pedang Seribu Naga' untuk mendesak lawan.
Turgawa kontan terperanjat begitu mendengar suara menggerung keras
itu. Dia tidak berani lagi bertindak main-main. Maka buru-buru tubuhnya
dilempar ke belakang, dan cepat-cepat bersalto beberapa kali di udara dalam
usahanya untuk berjaga-jaga terhadap serangan
susulan lawan.
Tapi Melati sama sekali tidak
melancarkan serangan balasan. Gadis berpakaian putih itu
melancarkan serangan untuk mencari kesempatan dalam upayanya melarikan diri.
Maka begitu melihat kakek berpakaian kuning itu melompat ke belakang dan
bersalto beberapa kali di udara, putih angkat Raja Bojong Gading itu melesat
kabur dari situ.
"Selamat tinggal, Ki.
!"
Dengan suara serak, gadis
berpakaian putih itu mengucapkan kata-katanya, sebelum tubuhnya melesat kabur dari situ.
Sekali lompat, tubuhnya telah melewati
pagar kayu bulat tinggi. Kemudian dia
melesat cepat keluar menembus kepekatan malam.
"Selamat jalan, Melati...
!" balas Ki Tampar Waja sambil terus menggulingkan, tubuh. Ada senyum
kelegaan di mulut Ketua Perguruan Banteng Sakti ini. Lega melihat gadis berpakaian putih mau memenuhi sarannya dan meninggalkan
tempat itu.
"Hey...!" teriak
Turgawa terkejut begitu kedua kakinya hinggap di tanah. Dia melihat lawannya
tidak berada di situ lagi. Tapi pandangan matanya yang tajam, sempat menangkap
sosok bayangan gadis itu melesat cepat keluar.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, kakek
berpakaian kuning ini mengejamya. Sekali
saja menggenjotkan kaki, tubuhnya sudah melayang melompati pagar kayu
bulat yang tinggi menjulang.
"Hup...
Begitu kedua kakinya mendarat di
tanah, pandang matanya langsung diedarkan ke sekeliling. Tapi dia tidak
menjumpai bayangan tubuh Melati. Hanya kepekatan malam dan kerimbunan pepohonan
yang terlihat
Beberapa, saat lamanya, Turgawa
memperhatikan sekeliling tempat itu. Setelah yakin kalau gadis berpakaian putih
itu telah menghilang, dia segera masuk ke dalam markas Perguruan Banteng Sakti
melalui pintu gerbang yang tidak memiliki daun pintu lagi.
Turgawa memperhatikan sejenak
jalannya pertarungan. Segera dia
mengetahui kalau pertarungan
tidak akan lama lagi berakhir. Murid-murid Perguruan Banteng Sakti hanya
tinggal beberapa gelintir lagi. Sedangkan Ki Tampar Waja sudah terdesak hebat.
Hanya tinggal menunggu waktu saja laki-laki berkulit kemerahan itu akan
tumbang.
"Aaakh ... !"
Dua buah jeritan melengking
nyaring mengiringi robohnya dua orang murid Perguruan Banteng Sakti yang
tersisa. Tubuh mereka rebah ke tanah, menggelepar-gelepar sejenak, lalu diam
dan tidak bergerak lagi.
Pada saat yang bersamaan dengan
robohnya kedua orang murid Perguruan Banteng Sakti itu, Raja Tengkorak melompat
ke atas. Dan selagi tubuhnya berada di udara, laksana burung garuda yang
melayang menyambar mangsa, kedua tangannya
meluncur cepat dan
bertubi-tubi menyerang ke arah pelipis dan ubun-ubun Ki Tampar Waja.
Lelaki berkulit kemerahan itu
terperanjat. Dengan sisa kemampuannya dia berusaha mengelak serangan. Tapi....
Crattt...
Tangan kanan laki-laki berseragam
tengkorak itu menyerempet dan mengenai pelipis kiri Ki
Tampar Waja. Ada suara keluhan tertahan terdengar dari mulut laki-laki berkulit
kemerahan itu ketika pelipisnya retak. Tubuhnya pun roboh ke tanah seiring
dengan melayang nyawanya meninggalkan raga. Walaupun serangan itu tidak telak,
tapi karena bagian yang terkena pukulan adalah pelipis, akibatnya pun tidak
kalah dahsyat dengan sasaran-sasaran yang mematikan.
"Hup.. !"
Ringan tanpa suara kedua kaki
Raja Tengkorak mendarat di tanah. Sejenak dia memperhatikan mayat Ketua Perguruan Banteng Sakti. Lalu pandangannya beralih ke arah pengikut-pengikutnya.
"Bakar ... !" sera
laki-laki berseragam tengkorak itu pada pengikutnya.
Serentak puluhan tokoh persilatan itu
bergerak cepat menghampiri
bangunan-bangunan yang berjejer. Sesaat kemudian tangan-tangan kekar terlatih
itu menjumput batang-batang obor yang menyala. Lalu, mereka melemparkan obor
itu ke arah bangunan, atap, jendela, bahkan ruang dalam pun tidak ketinggalan.
Di saat tokoh-tokoh persilatan itu sibuk membumihanguskan perguruan, Raja
Tengkorak menghampiri Turgawa.
"Bagaimana, Paman? Apakah gadis itu berhasil kau temukan?" tanya laki-laki berseragam
tengkorak itu. Dia tahu kalau lawan Turgawa berhasil meloloskan diri.
Kakek berpakaian kuning
menggeleng.
"Dia lenyap," ucap
Turgawa bernada keluhan. Raja Tengkorak diam tidak memberikan sambutan.
"Entah, murid siapa gadis
berpakaian putih itu," kata Turgawa lagi. Ada nada penasaran dan keheranan
dalam ucapan itu. "Dalam usia semuda itu sudah memiliki ilmu-ilmu yang
begitu dahsyat. Entah siapa gurunya.... "
"Kau tidak mengetahui dari
aliran mana gadis itu berasal, Paman?" tanya Raja Tengkorak.
"Tidak. ltulah yang
membuatku heran, Sengkala. Padahal, hampir semua tokoh persilatan di daerah ini
kukenal baik. Entah juga kalau gadis itu murid seorang tokoh sakti yang
mengasingkan diri...."
Raja Tengkorak mengangguk-anggukkan
kepala. Dia menerima dugaan yang dikeluarkan kakek berpakaian kuning itu. Tapi,
dia tidak menyahutinya.
Sementara api mulai berkobar.
Makin lama api itu makin besar. Hawa panas pun menjalar ke seluruh penjuru
tempat itu.
Terpaksa Raja Tengkorak, Turgawa, dan
pengikutnya melangkah mundur menjauhi
bangunan yang tengah terbakar hebat itu.
Setelah mereka yakin api yang
berkobar itu akan melumatkan seluruh bangunan perguruan, Raja Tengkorak menepuk
tangannya. Kali ini tidak seperti biasanya.
Plok, plok...
Laksana ada halilintar
menggelegar bunyi yang tercipta akibat tepukan tangan itu.
Seiring dengan tepuk tangannya
terhenti, Raja Tengkorak melesat meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul
oleh Turgawa dan semua
pengikutnya. Memang, tepukan
dua kali itu merupakan isyarat bagi para tokoh
persilatan untuk segera meninggalkan tempat itu.
Sungguhpun ada perasaan gembira
karena usahanya berhasil dengan baik, tapi ada ganjalan yang bersarang di dalam
dada Raja Tengkorak dan Turgawa. Sebab gadis berpakaian putih mampu lolos dari
maut yang mereka tebarkan. Apalagi masih ada Dewa Arak dan Kalpa Reksa. Bila
ketiga tokoh itu bergabung maka akan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat.
Dengan benak dihantui
pikiran-pikiran semacam itu, Raja Tengkorak dan Turgawa melangkahkan kakinya. Kini tinggal
tiga sasaran lagi yang harus mereka bereskan, sebelum merajai dunia persilatan.
4
Hati Melati remuk dan hancur
meninggalkan Ki Tampar Waja. Dalam keadaan sendiri dia berlari cepat
mengerahkan seluruh kemampuan yang
dimilikinya. Kalau tidak
mengingat ucapan terakhir Ki
Tampar Waja, dia tidak akan mau melarikan diri dari pertarungan. Kendatipun
nyawanya akan melayang.
Entah berapa lama gadis
berpakaian putih ini berlari. Dia tidak peduli lagi karena hatinya terguncang
hebat akibat peristiwa yang baru saja disaksikannya. Yang jelas, dia merasakan
kedua kakinya pegal-pegal, tapi tetap saja langkah kakinya tidak berhenti.
Mendadak hati Melati tercekat.
Tidak salahkah penglihatannya? Tak jauh di hadapannya, ada sesosok tubuh yang bergerak cepat ke arah yang
ditinggalkannya. Dalam suasana malam yang agak gelap, terlihat jelas siapa
sosok tubuh itu karena pakaian yang dikenakannya memang menyolok. Raja
Tengkorak!
Melati menggertakkan gigi.
Seketika itu pula kemarahannya bergolak. Laki-laki berseragam tengkorak itu adalah orang yang tadi bertarung
dengan Ki Tampar Waja. Keberadaan Raja
Tengkorak di sini menjadi pertanda kalau Ketua Perguruan Banteng Sakti itu
telah berhasil ditewaskan. Dan, itu pula yang membuat gadis berpakaian putih
ini geram bukan kepalang.
Diam-diam ada perasaan heran di
hati Melati. Mengapa Raja Tengkorak itu malah datang dari tempat yang akan
ditujunya. Padahal, bukankah tempat yang baru ditinggalkan itu berada di
belakang? Bagaimana mungkin dia bisa melesat secepat itu dan melewati Melati.
Kemudian dia akan mencegat perjalanan gadis berpakaian putih itu?
Sepasang mata Melati beredar ke depan, memperhatikan sekelilingnya. Dia
ingin mengetahui apakah Turgawa berada di situ pula. Tapi tidak ada tanda-tanda
kalau kakek berpakaian kuning itu bersama Raja Tengkorak.
"Aku harus membuat
perhitungan...!" desis hati Melati.
Dengan mengambil keputusan itu,
Melati bergegas menghentikan langkah kakinya. Dia berdiri menunggu kedatangan
Raja Tengkorak yang akan melewati dirinya.
Dugaan Melati memang tidak salah.
Raja Tengkorak terus saja melesat menuju ke arahnya. Anehnya, dia seperti tidak
mempedulikan gadis berpakaian putih itu. Sekalipun jarak di antara mereka
semakin bertambah dekat, dia terus saja melesat cepat.
Tapi Melati tidak peduli sama
sekali. Dia beranggapan sikap Raja Tengkorak seperti itu karena memandang lawan
sepele.
Srattt...
Seberkas sinar terang mencuat ketika
gadis berpakaian putih itu menghunus pedangnya. Memang, Melati
telah mengetahui kepandaian lawannya. Maka dia tak
sungkan-sungkan lagi mengeluarkan senjatanya. Gadis berpakaian putih ini
bersiap-siap untuk menggunakan ilmu pedang
andalannya.
Raja Tengkorak nampak terkejut
melihat gadis berpakaian putih berdiri di hadapannya, dan menghadang jalannya sambil menghunus pedang. Maka dia pun
segera menghentikan larinya. Kini dia berdiri dalam jarak tiga tombak dengan
Melati.
"Siapa kau, Nisanak? Mengapa
menghadang jalanku?" tanya laki-laki berseragam tengkorak itu dengan
suaranya yang khas. Pelan, berat, tapi bergaung seperti suara hantu kuburan.
"Keparat ... !" Melati
memaki seraya melangkah maju dengan sikap waspada. "Lupakah kau padaku? Aku adalah orang yang tadi bertarung dengan
kawanmu! Sekarang, terimalah pembalasanku atas perbuatan kejimu!"
Setelah berkata demikian, Melati
melancarkan serangan berupa tusukan ke arah leher lawan. Ada suara gerungan
dahsyat seperti naga marah mengiringi tibanya serangan pedang itu.
"Hey...! Tunggu dulu ... !
Tahan sebentar, Nisanak. Kau salah paham ... !"
Raja Tengkorak berteriak-teriak mencegah. Tapi Melati yang tengah dilanda kemarahan
menggelegak tak mau mendengarkan ucapannya. Gadis berpakaian putih itu tetap dalam posisi menyerang.
Laki-laki berseragam tengkorak
itu tentu saja tidak mau mati konyol. Buru-buru dia menekuk kedua lututnya
seraya merendahkan tubuh, sehingga tusukan pedang Melati meluncur lewat
setengah jengkal di atas kepalanya.
Raja Tengkorak rupanya belum mengenal
kepandaian Melati. Menghadapi 'Ilmu Pedang Seribu Naga' kalau mengelak tanpa
menjauhi serangan merupakan sebuah tindakan berbahaya. Karena,
akan disusul serangan berikutnya. Sesuai dengan
namanya, Seribu Naga, pedang yang sebenarnya hanya satu berubah menjadi puluhan
banyaknya.
Itulah sebabnya begitu laki-laki
berseragam tengkorak itu berhasil mengelakkan serangan, pedang Melati kembali menyambar. Dengan kecepatan gerak seorang ahli pedang tingkat tinggi,
senjata itu berputar ke kanan dan
kemudian membabat cepat ke arah leher.
"Heh ... ?!"
Seruan keterkejutan keluar dari
mulut Raja Tengkorak. Memang, dia tidak menyangka sama sekali kalau gadis muda
itu memiliki kemampuan yang begitu luar biasa.
Tapi, dia adalah Raja Tengkorak!
Seorang datuk sesat yang terkenal memiliki kepandaian menggiriskan. Walaupun
serangan itu tiba secara mendadak dan di luar dugaannya, tidak membuatnya
menjadi gugup. Dia buru-buru merebahkan tubuhnya ke belakang. Mulai dari bagian
pinggang ke bawah mendatar. Kedua lututnya ditekuk seiring dengan gerakan yang
dilakukannya.
Wuuut..!
Babatan pedang Melati meluncur
deras lewat di atas tubuh Raja Tengkorak.
Raja Tengkorak sadar kalau
kedudukannya kurang menguntungkan. Sebab bila lawan kembali melancarkan serangan, dapat dipastikan dia akan terancam bahaya besar.
Laki-laki berseragam tengkorak itu tidak ingin hal itu terjadi. Maka sebelum
Melati mengirim serangan kembali, dia lebih dulu melancarkan serangan.
Kaki kanan Raja Tengkorak mencuat
cepat ke arah perut Melati ketika mata pedang gadis berpakaian putih itu telah
meluncur lewat.
Melati terperanjat. Buru-buru dia
melompat ke belakang. Sehingga serangan Raja Tengkorak tidak mengenal sasaran.
Raja Tengkorak sama sekali tidak
mempedulikan hasil serangannya. Sebab serangan yang dilancarkannya sekadar
untuk menghindarkan dirinya dari serangan susulan lawan. Sementara kedudukannya
kurang menguntungkan sama sekali.
Ketika Melati melompat ke
belakang, Raja Teng-korak pun ikut melompat ke belakang pula.
"Hup... !"
Pada saat bersamaan dengan
mendaratnya kedua kaki Melati di tanah, laki-aki berseragam tengkorak itu pun telah berhasil memperbaiki
kedudukannya.
Belum sempat Raja Tengkorak
berbuat sesuatu, serangan susulan Melati kembali meluncur. Mau tak mau
laki-laki berseragam tengkorak itu mengadakan perlawanan sengit Memang, menghadapi kepandaian seperti putri
angkat Raja Bojong Gading itu, tanpa melakukan perlawanan adalah sama dengan
mencari mati.
Pertarungan sengit antara Raja
Tengkorak dengan Melati pun terjadi.
Melati yang tengah diamuk kemarahan,
mengerahkan seluruh kemampuannya. Pedang
yang berada di tangannya berkelebatan cepat dan bertubi-tubi diarahkan ke daerah
berbahaya di tubuh Raja Tengkorak.
Kemarahan membuat pikiran Melati
buntu. Sama sekali dia tidak menyadari kalau Raja Tengkorak tidak
bersungguh-sungguh menghadapinya. Meskipun laki-laki berseragam tengkorak itu
menggunakan senjatanya, sebatang pedang bergagang kepala tengkorak manusia.
Tapi, dalam pertarungan itu, tampak dia tak menggunakannya sekalipun sewaktu
melakukan serangan.
Raja Tengkorak lebih sering
mengelak dan menangkis ketimbang menyerang. Dia baru menyerang
ketika keadaannya sudah terjepit Dan begitu kedudukannya tidak terdesak, dia
menghentikan serangannya.
Melati bukanlah orang
bodoh. Dia segera menyadari lawannya. Setelah pertarungan berlangsung hampir lima
puluh jurus, dia tahu kalau lawan tidak bersungguh-sungguh menghadapi serangannya.
Bahkan sewaktu dia menyerang tidak pernah
diarahkan pada bagian-bagian yang
mematikan. Tapi semua itu dia anggap sebagai pertanda kalau lawan meremehkan
kemampuannya. Akibatnya,
serangan-serangannya
kini kian bertambah dahsyat
Karuan saja serangan beruntun
membuat Raja Tengkorak kelabakan. Disadari kalau tindakan gadis berpakaian
putih ini tidak bisa ditanggulangi dengan cara baik-baik. Harus dilakukan cara
lain untuk,menahannya.
"Haaat...
Seraya mengeluarkan suara keras
melengking nyaring, Raja Tengkorak melompat menerjang. Pedang di tangannya
menusuk bertubi-tubi ke arah ubun-ubun, bawah hidung, dan leher. Semua jalan
darah kematian.
Melati terperanjat. Disadari akan
adanya bahaya besar yang terkandung dalam serangan itu. Dia pun segera
menggerakkan pedangnya dan memapak serangan yang meluncur bertubi-tubi itu.
Trang, trang, trang... !
Bunga-bunga api memercik ke udara
ketika kedua buah senjata itu berbenturan. Akibatnya tubuh Melati
terhuyung-huyung ke belakang sejauh dua langkah. Tangan yang menggenggam pedang
pun dirasakan kesemutan. Hampir saja senjata itu terlepas dari genggamannya.
Saat itu, serangan susulan Raja
Tengkorak kembali meluncur tiba. Kedua kakinya kembali meluncur ke arah Melati
dengan sebuah tendangan miring bertubi-tubi ke arah dada dan leher.
Tidak ada jalan lain bagi gadis
berpakaian putih itu, kecuali menjejakkan kedua kakinya ke tanah dan melemparkan
tubuh ke belakang. Lalu, bersalto beberapa kali di udara untuk menghindari
adanya serangan susulan dari lawan.
Raja Tengkorak tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Buru-buru dia
melesat kabur dari situ. Khawatir kalau gadis yang keras hati itu akan
mengejarnya, laki-laki berseragam tengkorak itu melesat ke arah kerimbunan
pepohonan dan semak-semak yang berada di hutan itu.
"Hup ... !"
Melati terkejut bukan kepalang
melihat lawan sudah tidak berada lagi di situ, ketika kedua kakinya berhasil
mendarat di tanah. Dengan agak bergegas dia edarkan pandangannya berkeliling,
dan mengawasi sekitarnya. Sepasang matanya mencari-cari arah kepergian lawan.
Tapi, dia tidak menemukan petunjuk sama sekali. Jalan yang tadi dilaluinya tidak menampakkan adanya sosok tubuh
itu.
Melati membanting-banting kaki
kanannya ke tanah untuk melampiaskan kekesalan melihat lawannya telah menghilang. Disadari kalau mengejar pun tidak akan ada
gunanya, sebab dia tidak mengetahui ke arah mana jalan yang dipilih laki-laki
berseragam tengkorak itu.
Dengan hati masih diliputi rasa
kesal, Melati melangkah lesu meninggalkan tempat itu. Tapi, dia tidak mempunyai
tujuan yang pasti, diikutinya saja arah kakinya melangkah.
Melati membiarkan kakinya
melangkah semaunya, dan benaknya digeluti berbagai persoalan-persoalan yang
memusingkan. Mengapa Raja Tengkorak seperti tidak
mengenalnya? Bahkan tokoh sesat itu pun terheran-heran melihat dia menghadang
perjalanan dan menyerang! Mengapa pula laki-laki berseragam tengkorak itu
terlihat tidak bersungguh-sungguh menghadapinya? Dan mengapa pula harus melarikan diri? Padahal
gadis berpakaian putih itu yakin kalau Raja Tengkorak itu belum tentu akan
kalah bila pertarungan dilanjutkan.
Pertanyaan-pertanyaan itu
menghantui benak Melati. Tapi tidak ada satu pun yang terjawab. Dalam keadaan
tidak berdaya dan tidak menentu tujuannya, dia teringat pada kekasihnya, Dewa
Arak. Kalau saja pemuda berambut putih keperakan itu berada di sampingnya,
masalah seperti ini pasti dapat dipecahkannya. Tidak ada persoalan yang tidak bisa
dipecahkan Dewa Arak.
"Kang Arya ...," desah
gadis berpakaian putih itu pelan. "Di mana kau berada? Apakah kau berhasil
menyelamatkan diri dari badai itu. Ohhh...!"
"Hhh ... !"
Raja Tengkorak menghela napas
lega ketika tidak melihat lagi bayangan Melati mengejarnya. Kecepatan larinya
pun sedikit dikuranginya.
"Aku yakin gadis, itu
menyerang bukan tanpa alasan! Pasti ada hubungannya dengan Raja Tengkorak
palsu. Apakah manusia busuk itu telah menyebarkan bencana lagi?"
Berbagai pertanyaan muncul di
benaknya dan tidak mampu dipecahkan laki-laki berseragam tengkorak itu, dan
ternyata dia adalah Raja Tengkorak asli alias Kalpa Reksa. Dia pun segera
melanjutkan langkahnya.
Raja Tengkorak melesat cepat
menempuh jalan yang semula ditempuh Melati ketika meninggalkan Perguruan
Banteng Sakti.
Raja Tengkorak melangkah
tergesa-gesa. Terbukti dia hanya sebentar memperlambat larinya. Sesaat
kemudian, larinya kembali cepat menyusuri jalan yang dilalui Melati. "Ah
... !"
Mendadak terdengar seruan kaget
dari mulut Raja Tengkorak ketika melihat asap tebal dan hitam bergumpal-gumpal
di angkasa. Keadaan langit yang cerah membuat asap hitam, tebal dan
bergumpal-gumpal itu terlihat jelas dari kejauhan.
Seiring dengan seruan kaget itu,
larinya makin dipercepat. Menilik dari tindakannya bisa diketahui kalau asap
itulah yang menjadi penyebab kenapa larinya makin cepat.
"Ya, Tuhan.... Mudah-mudahan
asap itu tidak berasal dari Perguruan Banteng Sakti ....!" desah laki-laki
berseragam tengkorak itu bernada mengharap.
Semakin dekat kakinya melangkah
ke arah yang dituju, semakin jelas kalau asap itu memang berasal dari sana.
"Ohhh...!"
Raja Tengkorak akhimya mengeluh
lirih ketika melihat secara pasti asal asap itu. Langkah kakinya pun terhenti.
Sekujur tubuhnya tampak menggigil dengan pandangan mata tertuju lurus ke depan.
Ke arah bangunan berpagar kayu bulat tinggi yang telah hampir menjadi
puing-puing.
Beberapa saat lamanya, laki-laki berseragam tengkorak itu berdiri mematung dalam jarak
sekitar delapan tombak. Dia menatap dengan pandangan mata tak percaya pada
penglihatan di hadapannya.
Kemudian Raja Tengkorak melangkah lesu,
menghampiri bangunan itu. Lambat dan satu-satu kakinya dilangkahkan. Dia tahu
kalau tidak ada seorang pun yang hidup di dalam. Dari tanda pisau bergagang
tengkorak kepala manusia yang tertancap, di papan nama perguruan yang
tergantung di alas pintu gerbang, sudah bisa diketahui pelakunya. Siapa lagi
kalau bukan Raja Tengkorak!
Kembali langkah Raja Tengkorak
terhenti. Kali ini dia berdiri di ambang pintu gerbang yang sudah tidak
memiliki daun pintu lagi. Pandang matanya
terpaku pada puluhan sosok mayat yang
bergeletakan di tanah dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
"Ah ... ! Aku terlambat ...
! Tidak kusangka kalau Raja Tengkorak palsu punya pikiran cerdik. Dia lebih
dulu melenyapkan orang-orang yang dapat menghambat gerakannya," keluh Raja
Tengkorak bernada penuh penyesalan. "Kini lenyap sudah dua, kekuatan besar yang akan menentang tindak kelaliman Raja Tengkorak palsu. Perguruan Gajah Putih dan
Perguruan Banteng Sakti telah berhasil ditumpasnya.
"Ah... !"
Laki-laki berseragam tengkorak
itu memang telah menyaksikan Perguruan Gajah Putih
dibumihanguskan. Karena itu,
dia bergegas menuju Perguruan
Banteng Sakti. Sebelum Raja Tengkorak palsu dengan pengikutnya lebih dulu
berada di sana.
Sungguh di luar dugaan Raja
Tengkorak, Raja Tengkorak palsu alias Sengkala telah bertindak begitu cepat.
Dengan langkah lesu, Raja
Tengkorak memeriksa mayat-mayat yang bergeletakan di halaman perguruan
itu. Sebagian besar memang terdapat tubuh-tubuh selamat
dari kobaran api,
karena tergoleknya
jauh dari bangunan-bangunan Perguruan Banteng
Sakti yang terbakar itu.
"Hhh ... !"
Raja Tengkorak asli alias Kalpa
Reksa menghela napas berat. Jelas, laki-laki berseragam tengkorak itu merasa
terpukul menyaksikan semua itu.
"Hiyaaa ... !"
Tiba-tiba Raja Tengkorak
membentak nyaring seraya menghentakkan kedua tangannya. Seketika itu pula,
bertiup angin keras dari kedua tangan tokoh sakti itu. Dan....
Brakkk...
Papan nama Perguruan Banteng
Sakti yang ditancapi dua bilah pisau bergagang tengkorak kepala manusia,
langsung hancur berantakan. Raja Tengkorak memang mengarahkan pukulan jarak
jauhnya ke situ sebagai pelampiasan rasa kesalnya.
"Raja Tengkorak palsu...!
Jangan harap kau akan lolos dari tanganku ... !"
Setelah berkata demikian, Raja
Tengkorak alias Kalpa Reksa melesat cepat dari situ. Kemarahan
hebat yang membakar dadanya, membuat Raja Tengkorak memutuskan untuk mengejar
Raja Tengkorak palsu dan pengikut-pengikutnya.
5
Tubuh Raja Tengkorak berkelebatan
cepat menembus kerimbunan pepohonan dan
kegelapan malam. Mendadak, langkahnya diperlambat ketika pendengarannya yang
tajam menangkap adanya suara lirih memanggil dirinya.
"Ketua...
Sejenak Raja Tengkorak bimbang.
Haruskah langkah kakinya dihentikan? Benarkah dirinya yang dipanggil oleh
pemilik suara yang ternyata adalah enam orang yang masing-masing berwajah
kasar. Ataukah terus saja berlari tanpa peduli?
Laki-laki berseragam tengkorak
itu mengedarkan pandangan berkeliling. Barangkali saja memang ada orang lain di
sekitar tempat itu. Dan orang itu yang sebenarnya dipanggil oleh enam orang tokoh persilatan itu.
Tapi ternyata tidak ada satu pun
orang di sekitar tempat itu. Yang ada hanya dirinya sendiri. Jadi, jelas kalau
dialah yang dipanggilk-panggil.
Mendadak dugaan muncul di benak
Raja Tengkorak. Mungkinkah enam orang itu adalah tokoh-tokoh persilatan anak
buah Raja Tengkorak palsu? Dan dia dikira sebagai pimpinan mereka. Hal itu
wajar, mengingat dia memakai seragam Raja Tengkorak!
Dugaan itu membuat Raja Tengkorak
alias Kalpa Reksa menghentikan langkah. Bila benar mereka adalah anak buah Raja
Tengkorak palsu, dan dirinya dianggap pimpinan mereka, maka bisa dimanfaatkan
kekeliruan itu untuk keuntungan dirinya.
Maka laki-laki berseragam
tengkorak itu pun berhenti melangkah. Dia berdiri dan diam
menunggu keenam orang itu medekat.
"Ketua.... kami sudah menemukan orang
yang Ketua cari...," ucap seorang yang bertubuh kekar berotot. Dia adalah
Dulimang.
"Hm ... !"
Raja Tengkorak hanya menggumam
pelan. Tidak menyambuti ucapan itu karena
takut salah bicara. Karena itu
dia bersikap tenang
dan menunggu sehingga masalahnya jelas.
"Benar, Ketua," sambung
Naga Tua. "Dewa Arak telah berhasil kami temukan. Semula kami hendak
menangkapnya dan menyerahkan pada Ketua. Tapi kami tidak berani bertindak
lancang mendahului ......
Raja Tengkorak tercenung sejenak.
Benaknya berputar keras. Sungguh tidak disangkanya, Raja Tengkorak palsu itu
demikian cerdik. Memberi tugas pada anak buahnya yang lain, sementara dia
dengan anak buah lainnya menyerbu Perguruan Banteng Sakti. Raja Tengkorak palsu
itu benar-benar ingin bertindak cepat.
Apa yang harus dilakukannya sekarang?
Sudah jelas kalau dia dan Arya telah kalah cepat bergerak. Raja Tengkorak palsu
itu ternyata telah mempunyai perhitungan sampai sejauh ini. Dia ingin
secepatnya melenyapkan orang-orang yang
dianggap menjadi penghalang semua keinginannya. Bukan tidak
mungkin kalau dirinya pun sudah masuk dalam rencana Sengkala!
"Aku memang memberi perintah
seperti itu," ujar Raja Tengkorak setelah beberapa saat
benaknya berputar. "Perintah untuk mencari jejak Dewa Arak!"
Kalpa Reksa menghentikan ucapan sejenak
untuk mengambil napas.
"Tapi seingatku, tugas itu
tidak kuserahkan pada kalian. Tapi lain orang! Aku malah tidak pernah melihat
wajah-wajah kalian!"
Kontan wajah enam orang itu
berubah.
"Mungkin Ketua lupa. Kami
telah dua kali menghadiri pertemuan yang Ketua adakan," bantah Naga Tua.
"Benar, Ketua," sambung
Dulimang. "Ya!" sambung Juriga.
Yang lain, sekalipun tidak mengeluarkan
suara, tapi menganggukkan kepala. Ini berarti mereka menyetujui ucapan yang
dikeluarkan oleh rekan mereka tadi.
"Hm ... !" hanya gumam
Raja Tengkorak yang menyambuti ucapan yang lebih mirip disebut teriakan
teriakan riuh rendah itu.
"Kalian berani bermain-main dengan Raja
Tengkorak?! Rupanya kalian sudah tidak sayang pada nyawa kalian sendiri!" ancam laki-laki
berseragam tengkorak itu dengan suara khasnya yang berat, pelan, tapi bergaung.
"Kami..., kami tidak
main-main, Ketua. Kami berkata benar! Sudah dua kali kami menghadiri pertemuan
yang Ketua adakan," jawab Naga Tua, terdengar gugup nada suaranya.
"Kalau benar begitu, mengapa aku tidak pernah melihat wajah kalian?!" desak
Raja Tengkorak keras dan tegas.
Naga Tua membasahi tenggorokannya
yang mendadak kering. Ternyata bukan hanya dia saja, lima orang rekannya pun menelan ludah untuk
membasahi kerongkongan.
"Bisakah kalian buktikan
kalau kalian benar-benar hadir dalam pertemuan itu?!" sambung Raja
Tengkorak lagi dengan nada semakin meninggi.
"Bisa, Ketua...," sahut Dulimang, agak terbata-bata.
"Apa ... ?!" bentak
Raja Tengkorak.
"Pada pertemuan pertama kali.... Ketua datang sendiri. Tapi
pada pertemuan kedua kalinya, Ketua membawa seorang kakek
berpakaian kuning yang Ketua akui sebagai paman Ketua. Namanya adalah......
Naga Tua menghentikan ucapannya, dan
mengernyitkan kening. Diam-diam dia memaki dirinya yang mendadak lupa akan nama
tokoh yang menjadi paman Raja Tengkorak itu.
"Turgawa ... !" sambung
Juriga cepat begitu melihat rekannya tidak melanjutkan ucapannya lagi. Dia tahu
kalau Naga Tua lupa, sehingga buru-buru dia angkat suara.
"Hm...," lagi-lagi Raja Tengkorak hanya
bergumam tidak jelas. "Lalu, apa lagi yang bisa kalian jadikan bukti kalau
kalian memang pernah ikut hadir dalam pertemuanku?"
"Ketua memerintahkan kami dan juga tokoh-tokoh aliran hitam lainnya
untuk berkumpul kembali lusa malam," kali ini Dulimang yang menjawab.
Sedangkan tiga orang tokoh persilatan lainnya hanya diam saja. Rupanya mereka
tidak terhitung orang yang pandai berbicara.
"Hm..., ya. Pertanyaan
terakhir. Di mana tempat yang kujadikan pertemuan lusa malam?!"
"Sama dengan tempat sebelumnya,
Ketua. Tanah lapang luas di dalam Hutan Jambak!" sahut Juriga buru-buru.
"Hm.... Semua ucapan kalian
benar," ujar Raja Tengkorak akhirnya. "Sekarang tunjukkan padaku tempat kalian bertemu dengan Dewa
Arak!"
"Baik, Ketua...!" sahut
Naga Tua.
Meskipun agak heran melihat perangai Raja Tengkorak yang mendadak berubah,
keenam orang itubergerak juga untuk memberitahukan tempat Arya yang telah
mereka temukan. Naga Tua dan kelima orang rekannya berlari mengerahkan seluruh kemampuannya. Dan itu terpaksa
mereka lakukan agar Raja Tengkorak tidak murka karena lari mereka yang lambat.
Meskipun keenam orang itu telah
mengerahkan seluruh ilmu
meringankan tubuhnya, tapi
tetap saja Raja Tengkorak hanya mengerahkan sebagian kecil ilmu meringankan
tubuh yang dimilikinya, karena memang perbedaan ilmu meringankan tubuh mereka
terpaut jauh.
"Di mana. Dewa Arak
berada...?" tanya Raja Tengkorak sambil terus berlari. Tidak nampak, ada
desah napas memburu, sekalipun dia berbicara sambil berlari.
“Tak begitu jauh dari sini,
Ketua. Pendekar keparat itu berada di Desa Jawul," sahut Naga Tua dengan
napas agak memburu ketika berbicara.
Raja Tengkorak terdiam. Tidak melanjutkan
pertanyaannya lagi. Hampir saja ditamparnya mulut Naga tua yang telah memaki
Arya dengan panggilan pendekar keparat. Untung saja amarahnya masih bisa
dikendalikan.
Mereka tak lagi berbicara. Kini
yang terdengar hanyalah langkah-langkah kaki mereka yang menerabas semak-semak
dan rerumputan.
Cukup lama juga mereka berlari, sebelum tembok batas Desa Jawul tampak di
hadapan mereka. Jaraknya tak lebih dari dua puluh tombak.
Melihat desa yang sudah tampak di
depan matanya, lari Naga Tua semakin dipercepat.
Semangatnya seketika bangkit untuk segera menunjukkan kepada pemimpinnya tempat
Dewa Arak berada, sebelum pemuda berambut putih keperakan itu pergi.
Hanya dalam beberapa langkah
saja, tujuh orang itu telah mulai memasuki mulut desa.
"Dewa Arak berada di sana,
Ketua," beri tahu Naga Tua sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah
sebuah pos penjagaan yang di bagian depannya tergantung sebuah kentongan.
Raja Tengkorak segera bergerak perlahan
menghampiri. Diikuti oleh keenam orang tokoh sesat di belakangnya. Dengan
bantuan sinar bulan di langit, tampak cukup jelas kalau di dalam pos penjagaan
itu tergolek sesosok tubuh berpakaian ungu dan berambut putih keperakan.
Tapi sebelum Raja Tengkorak dan
enam orang tokoh persilatan itu melangkah lebih dekat lagi, sosok pakaian ungu
yang memang tidak lain adalah Arya itu telah bangkit.
Begitu bangkit, pemuda berambut putih keperakan itu langsung bersikap waspada. Apalagi di
hadapannya telah berdiri Raja Tengkorak dan enam orang tokoh persilatan
lainnya. Sesaat Arya kebingungan. Apakah laki-laki berseragam tengkorak yang
berdiri di hadapannya adalah Sengkala, atau Kalpa Reksa?
Namun hanya sebentar saja
kebingungan itu melanda hatinya. Pemuda berpakaian ungu itu sudah bisa
memperkirakan kalau Raja Tengkorak yang berada di hadapannya ini adalah
Sengkala! Buktinya, ada enam orang yang bersikap dan berdandan kasar berdiri di
samping Raja Tengkorak itu. Tentu saja laki-laki berseragam tengkorak itu
adalah Raja Tengkorak palsu!
"Haaat...
Tanpa ragu-ragu lagi, Dewa Arak segera melancarkan serangan. Sambil melompat
ke depan, tangan kanannya yang berbentuk cakar, bergerak menyampok ke arah
pelipis. Sedangkan tangan kirinya terletak di sebelah kiri pinggang.
Wuttt ... !
Terdengar deru angin keras ketika
sampokan tangan pemuda berambut putih keperakan itu meluncur cepat ke
arah sasaran. Dewa Arak menggunakan ilmu warisan ayahnya, 'Delapan Cara
Menaklukkan Harimau'!
"Hm...
Raja Tengkorak menggumam pelan.
Sepintas saja sudah bisa diperkirakannya kekuatan tenaga dalam yang, terkandung
pada serangan itu. Meskipun demi kian, hatinya tidak menjadi gentar atau jerih.
Segera kakinya dilangkahkan ke kanan, seraya mencondongkan tubuh. Pada saat
yang bersamaan, tangan kirinya bergerak menangkis serangan itu dengan arah
gerakan dari dalam keluar.
Laki-laki berseragam tengkorak
itu sengaja menangkis sambil mencondongkan tubuh dan melangkah ke samping, agar kekuatan
serangan lawan tidak sepenuhnya menerpa. Sebagian dari kekuatan lawan, tenaga tambahan karena lompatan, telah dipunahkannya
melalui tangkisan dengan diiringi gerakan seperti itu.
Takkk.....
Hebat bukan main akibat benturan
dua buah tangan yang sama-sama dialiri tenaga dalam amat tinggi itu. Suara
berdetak keras terdengar seperti beradunya dua batang logam keras.
Tubuh Arya terpental ke belakang.
Sedangkan Raja Tengkorak terhuyung-huyung. Namun berkat ilmu meringankan tubuh
mereka yang telah mencapai tingkat tinggi, dengan mudah
keduanya mematahkan daya yang mendorong tubuh mereka ke belakang.
"Hup ... !"
Pada saat yang bersamaan dengan
mendaratnya kedua kaki Dewa Arak di tanah, Raja Tengkorak pun
telah berhasil memperbaiki
kedudukannya.
Arya segera menjumput guci
araknya. Tapi belum juga sempat dituangkan ke mulut....
"Tahan, Arya... !"
Bagai dicengkeram oleh tangan tak
tampak, guci yang dipegang pemuda berambut putih keperakan itu tertahan di
udara. Ucapan yang keluar dari mulut Raja Tengkorak itulah yang menyebabkannya.
Pemuda berpakaian ungu itu
menyipitkan matanya, menatap wajah Raja Tengkorak lekat-lekat. Perasaan heran
tampak di wajahnya. Dewa Arak memang tengah dilanda perasaan bingung yang amat
sangat. Pandang matanya menatap berganti-ganti pada laki-laki berseragam
tengkorak itu, juga pada enam orang tokoh persilatan yang berada tak jauh di
belakangnya.
Suara itu amat dikenal Arya.
Suara Kalpa Reksa! Tapi kalau benar, mengapa bisa bersama-sama dengan enam
tokoh persilatan yang menilik dari gerak-geriknya adalah tokoh-tokoh golongan
hitam?
Arya terpaku beberapa saat lamanya,
sebelum akhirnya teringat sesuatu.
"Raja Tengkorak...,"
ucap pemuda berambut putih keperakan itu ragu-ragu.
"Lenyapkan ...... lirih tapi
tajam ucapan yang keluar dari mulut laki-laki berseragam tengkorak itu.
Kini Arya yakin kalau Raja
Tengkorak yang berada di hadapannya adalah Raja Tengkorak yang asli. Raja
Tengkorak tua yang bernama asli Kalpa Reksa!
"Lebih baik kita singkirkan
enam keroco ini dulu, Arya. Aku mempunyai sebuah rencana yang jitu ......
Serentetan kata-kata terdengar di
telinga Arya. Dewa Arak tahu kalau ucapan itu dikerahkan melalui ilmu
mengirimkan suara dari jauh. Dan suara itu hanya ditujukan untuknya. Dari suara
yang khas, Arya tahu kalau orang yang mengirimkan pesan itu adalah Kalpa Reksa!
Dewa Arak mengangguk samar ketika
beradu pandang dengan Raja Tengkorak
Sedangkan Raja Tengkorak mengangguk pula. Sama seperti yang
dilakukan Dewa Arak. Samar dan hampir tidak terlihat.
Yakin kalau laki-laki berseragam
tengkorak yang berdiri di hadapannya adalah Kalpa Reksa, Arya segera melangkah maju. Dia melintasi camping kiri tubuh Raja
Tengkorak, dan terus menuju ke arah enam orang pengikut Raja Tengkorak palsu
itu.
Enam pasang mata terbelalak
ketika melihat pimpinan mereka membiarkan Dewa Arak berialu di
sebelahnya. Tidak salah lihatkah
mereka? Perasaan heran meliputi keenam orang tokoh aliran hitam itu. Dan,
mereka saling pandang dengan mata terbelalak lebar.
"Ketua...," agak
bingung Naga Tua menyapa.
Tapi Raja Tengkorak diam. Dia
sama sekali tidak membalas sapaan laki-laki berpakaian rompi kulit ular itu.
"Dia pasti Raja Tengkorak
palsu!" desis Dulimang keras.
Kontan wajah lima orang rekannya
berubah. Ucapan Dulimang tali membuat rekannya mampu melihat
keanehan-keanehan yang tampak dari Raja Tengkorak yang dikira sebagai pimpinan
mereka.
"Ya. Dia pasti menyamar
sebagai pimpinan kita!" seru Juriga mendukung dugaan rekannya.
"Keparat..!" maki Naga Tua keras. Nada kegeraman tampak jelas di wajahnya.
Tidak cukup hanya dengan makian
saja, kedua tangannya bergerak ke arah punggung. Dan.... Srattt .. !
Sinar berkilauan terlihat saat
Naga Tua mencabut sepasang goloknya yang tersampir di punggung.
Wuk, wuk, wuk..!
Begitu sepasang goloknya
terhunus, langsung saja laki-laki berpakaian kulit ular ini memutar-mutarkannya
di depan dada, sehingga menimbulkan angin dan suara menderu.
Melihat rekannya telah mencabut
senjata dan siap untuk menyerang, Dulimang, Juriga, dan tiga orang lainnya pun
mencabut senjata masing-masing sehingga menimbulkan suara mengiuk.
Arya tetap bersikap tenang.
Bahkan guci yang tadi sudah dijumputnya, kembali disampirkan ke punggung. Dewa
Arak tahu, menghadapi enam orang lawan yang berada di hadapannya, tidak perlu
mengeluarkan ilmu 'Belalang Sakti', karena hal itu hanya akan
menghambur-hamburkan araknya saja.
Pemuda berambut putih keperakan
itu masih tetap diam dan tidak bergeming sedikit pun. Walaupun keenam orang lawannya sudah
bergerak mendekati dengan senjata di tangan. Mereka berpencar dan mengurung
diri Arya. Semakin lama kurungan itu semakin menyempit seiring dengan gerakan
mereka yang mendekat ke arah Dewa Arak.
"Haaat ... !"
Naga Tua berteriak keras mengguntur.
Sepasang golok di tangannya meluncur ke arah leher Dewa Arak dengan gerakan
menggunting.
"Hih ... !"
"Hiyaaa ... "Hiyaaat ...
Pada saat yang bersamaan dengan
meluncurnya serangan Naga Tua, serangan dari Dulimang, Juriga, dan tiga orang
lainnya meluncur pula. Masing-masing senjata menyambar ke arah sasaran yang
berlainan. Ubun-ubun, leher, dada, punggung, perut dan bagian-bagian lainnya.
Dewa Arak tetap diam. Tidak ada
gelagat bila dia akan menangkis atau mengelak. Baru ketika
serangan itu menyambar dekat ke arah dirinya, dia mulai bertindak.
Luar biasa! Tubuh pemuda
berpakaian ungu itu menyelinap di antara hujan serangan senjata lawannya. Cepat bukan main gerakan Arya,
sehingga yang terlihat hanyalah bayangan berwarna ungu yang berkelebatan cepat
di antara sinar berkilauan dari senjata senjata yang meluncur ke arah berbagai
bagian tubuhnya.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Dewa Arak. Berbarengan dengan lesatan tubuhnya, kedua tangannya pun bergerak cepat.
"Hup ... !"
Begitu Arya mendaratkan kedua
kakinya di tanah, pads kedua tangannya telah tergenggam senjata-senjata
lawannya.
Naga Tua dan rekan-rekannya
tersentak kaget Sepasang mata mereka menatap tak percaya ke arah tangan mereka
yang tidak lagi menggenggam senjata. Kalau saja tidak mengalami sendiri, mereka
tidak akan percaya dengan kejadian ini.
Gerakan Dewa Arak memang sangat
cepat untuk bisa diikuti pandangan mata enam orang tokoh persilatan itu. Naga
Tua dan rekan-rekannya merasakan tangan yang menggenggam senjata langsung
lumpuh. Dan saat itulah senjata mereka berpindah ke tangan Dewa Arak. Sama
sekali mereka tidak tahu kalau Arya telah menotok jalan darah di siku, sehingga
membuat tangan mereka lumpuh sejenak.
6
Arya tersenyum lebar melihat
lawannya terkejut lalu dengan gerakan perlahan seperti orang mematahkan lidi,
senjata-senjata yang terdiri dari pedang, golok, tombak pendek, dan toya,
dipatah-patahkannya. Suara berdetak keras terdengar ketika senjata-senjata itu
berpatahan.
Naga Tua dan kelima rekannya
menelan ludah melihat kekuatan tenaga dalam yang ditunjukkan pemuda berambut
putih keperakan itu.
Tapi hanya sesaat saja keenam
orang itu terpaku. Kemudian dengan diiringi teriakan-teriakan nyaring dan
keras, mereka kembali melancarkan serangan tangan kosong ke arah Dewa Arak.
Lagi-lagi Arya bersikap tenang.
Dibiarkan saja semua serangan itu. Baru ketika serangan-serangan itu menyambar
dekat, tangannya segera diputar-putarkan di depan dada.
Perlahan saja kelihatan gerakan
itu. Tapi akibat yang ditimbulkannya hebat bukan kepalang. Semua serangan yang
tertuju ke arahnya mendadak terhenti di tengah jalan. Betapapun keenam orang
itu telah memaksakan diri, mengeluarkan seluruh tenaganya untuk melanjutkan
serangan, tetap saja mereka tidak mampu maju. Sampai-sampai terdengar suara
keluhan dari mulut mereka sebagai pertanda telah mengerahkan tenaga sampai ke
puncaknya.
Peristiwa itu berlangsung beberapa saat
lamanya, dan baru berakhir ketika Dewa Arak menambah kecepatan putarannya.
Tubuh enam orang pengikut Raja
Tengkorak itu berpentalan ke belakang diiringi suara jeritan kesakitan. Dari
mulut mereka memercik darah segar.
Memang, bertambahnya kecepatan gerak tangan Dewa Arak, akan
mengakibatkan kekuatan tenaganya. Enam orang itu mana mungkin mampu bertahan?
Brukkk ... ! Brukkk ... !
Suara-suara berdebuk keras
terdengar ketika tubuh keenam orang itu berjatuhan di tanah. Dan belum sempat
mereka bangkit, sekelebatan bayangan hitam telah lebih dulu melesat. Dan....
Tuk, tuk, tuk... !
Seketika itu juga tubuh Dulimang
dan lima orang rekannya lemas. Raja Tengkorak telah menotok jalan darah mereka di punggung, dan mengakibatkan sekujur tubuh mereka lemas tidak berdaya.
"Mereka harus kita tahan,
Arya," ujar Raja Tengkorak.
"Mengapa, Ki?" tanya pemuda berpakaian ungu itu.
"Aku mempunyai sebuah
rencana. Dan, aku tidak ingin rencana itu berantakan bila mereka sampai bebas," sambung laki-laki berseragam tengkorak itu memberi penjelasan.
Dewa Arak menganggukkan kepala
pertanda mengerti.
"Kalau begitu, mari kita
sembunyikan mereka dulu, hingga rencanamu berhasil baik."
"Kau mempunyai tempat untuk
menyembunyikan mereka, Arya?" tanya Raja Tengkorak.
"Kira-kira begitu, Ki."
"Kalau begitu, mari kita
bawa ke sana!" sambut Raja Tengkorak cepat
Arya segera mengulurkan
tangannya, menjumput tubuh-tubuh yang tergolek. Dengan kekuatan tenaga dalamnya yang telah mencapai tingkat tinggi, tidaklah sulit
untuk membawa tiga tubuh
penjahat itu. Sedangkan tiga tubuh yang lain dibawa Raja Tengkorak.
Arya sebagai penunjuk jalan,
berjalan lebih dahulu. Sedangkan Kalpa Reksa mengikuti dari
belakang.
Ternyata tempat persembunyian yang dimaksud Dewa Arak, letaknya
cukup jauh dari tempat pertarungan tadi. Agak lama juga kedua orang itu
berlari cepat mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki sebelum
akhimya tiba di tempat tujuan yang ternyata adalah sebuah gua yang berada di
dalam hutan.
"Inikah tempat yang kau
maksudkan itu, Arya?" tanya Raja Tengkorak seraya memperhatikan gua yang
letaknya agak tersembunyi, karena tertutup pepohonan
dan kerimbunan semak-semak yang berada tak jauh di depannya.
"Benar, Ki," sahut Dewa Arak seraya menganggukkan kepala. "Bagaimana? Cukup tersembunyi, bukan?"
"Kira-kira begitu,
Arya," sahut Raja Tengkorak.
Arya pun melangkah memasuki mulut
gua itu. Di belakangnya, Raja Tengkorak mengikuti pula.
Gua itu meskipun di luarnya tidak
terlihat besar, tapi bagian dalamnya ternyata luas dan agak terang. Padahal tidak
nampak adanya obor yang tergantung di situ. Tapi, baik Dewa Arak maupun Raja
Tengkorak sama sekali tidak mempedulikan sumber cahaya itu karna mereka tahu
ada sejenis batu yang dapat menyerap sinar, dan memancarkan kembali apabila
hari telah gelap. Barangkah saja gua itu tersusun dari batu-batu semacam itu.
Sesampainya di bagian dalam gua,
Arya dan Raja Tengkorak Wu menjatuhkan tubuh-tubuh yang mereka bawa ke lantai
gua, tanpa peduli enam orang itu merasa kesakitan atau tidak.
Raja Tengkorak dan Arya memperhatikan
enam
sosok
tubuh itu sesaat, sebelum akhimya melangkah meninggalkan tempat itu.
"Apa rencanamu, Ki?"
tanya Dewa Arak setelah mereka berada agak jauh dari mulut gua. "Menyerang
mereka!" tandas Raja Tengkorak.
"Kau sudah tahu sarang Raja
Tengkorak palsu itu, Ki?" tanya Arya lagi.
"Bukan sarangnya, Arya. Tapi
tempat pertemuan mereka," sahut-Raja Tengkorak, memperbaiki kata-kata Dewa
Arak
"Tapi, itu berbahaya sekali, Ki," ada nada
kekhawatiran dalam ucapan pemuda berpakaian ungu itu. "Kita tidak tahu
pasti seberapa besar kekuatan mereka. Padahal, Raja Tengkorak palsu dan Turgawa
saja sudah merupakan lawan-lawan yang teramat tangguh.
"Apa yang kau ucapkan itu
memang tidak salah, Arya," Raja Tengkorak yang memang sudah
mempekirakan sambutan Arya,
tetap bersikap tenang.
"Dan aku pun tentu saja
tidak bermaksud langsung menyerang.
"Hm...," Arya menggumam
pelan. "Lalu ... ?' "Apakah menurutmu, Raja Tengkorak dan pengikut-
pengikutnya berada dalam satu sarang?" Raja Tengkorak malah balas bertanya.
Pemuda berambut putih keperakan itu
mengernyitkan dahi sebentar, pertanda tengah berpikir. Perlahan kepalanya
digelengkan.
"Tidak, Ki," sahut Arya.
"Mengapa kau menduga
demikian, Arya?" kejar laki-laki berseragam tengkorak itu lagi.
"Atas dasar adanya tempat
pertemuan itu, aku menduga demikian, Ki," jawab Dewa Arak mantap.
"Apabila Raja Tengkorak dan
pengikutnya tinggal di satu tempat, tak perlu mereka mengadakan
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 55
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pertemuan di tempat yang
lain."
"Tepat!" sambut Raja Tengkorak gembira.
"Begitu pula dugaanku, Arya. Jadi, begitu pertemuan selesai, mereka kembali
ke tempat masing-masing. Raja Tengkorak dan Turgawa mungkin akan bersama-sama.
Tapi tidak dengan tokoh-tokoh persilatan lainnya."
"Aku mengerti, Ki,"
lanjut Arya buru-buru. "Di saat mereka tengah berdua, kita
menyergapnya!"
"Tepat sekali, Arya! Memang
itu maksudku... sambut Raja Tengkorak cepat. "Bagaimana rencanaku, Arya? Cukup baik
bukan?"
"Bagus sekali, Ki!"
puji Dewa Arak jujur. "Tapi, kalau boleh kutahu, dari mana kau mengetahui
tempat pertemuan Raja Tengkorak dengan tokoh-tokoh persilatan itu, Ki?"
"Dari enam orang yang kita
tawan, Arya."
"Kau yakin mereka tidak
menipu, Ki?" tanya Dewa Arak khawatir.
"Aku berbicara dengan mereka
sebagai Raja Tengkorak, Arya. Mana mungkin mereka berani ber-bohong! Apakah
mereka sudah mempunyai nyawa rangkap? Lagi pula siapa yang tahu kalau Raja
Tengkorak tidak hanya seorang selain Turgawa? Dan, aku yakin dia tidak akan mau
menceritakannya, karena hal itu akan membuat tokoh-tokoh persilatan itu
berkurang kepercayaannya pada Raja Tengkorak. Akibatnya, bisa jadi mereka
bubar!"
Arya mengangguk-anggukkan kepala.
Memang, penjelasan panjang lebar yang diajukan Raja Tengkorak bisa diterima
akalnya.
"Di mana tempat pertemuan
itu, Ki?"
"Di Hutan Jambak. Di sebuah
tanah lapang luas yang di bagian tengahnya terdapat sebuah gundukan batu lebar
dan pipih. Dua malam lagi pertemuan itu akan diadakan, Arya."
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 56
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Kalau begitu, kita harus
bergegas, Ki," sahut Dewa Arak cepat. "Perjalanan ke sana cukup
jauh."
"Kau benar, Arya. Mari ...
!"
Begitu gema ucapannya selesai,
Raja Tengkorak pun melesat. Kini ilmu meringankan tubuhnya tidak ragu-ragu lagi
dikerahkan sampai tiga perempat bagian. Telah disaksikannya sendiri kecepatan
gerak Arya dan kekuatan tenaga dalamnya.
Laki-laki berseragam tengkorak
ini terkejut begitu melihat sekelebatan bayangan ungu melesat cepat dan
tahu-tahu sudah berada di samping kanannya. Dan terus berada di situ. Sama
sekali tidak tertinggal olehnya.
Melihat hal ini Raja Tengkorak
pun menambah kecepatan larinya. Tapi tetap saja Dewa Arak mampu mengimbanginya. Bahkan sampai seluruh ilmu
meringankan tubuhnya dikerahkan, tetap saja pemuda berambut putih keperakan itu
mampu mensejajari langkahnya.
Karuan saja Raja Tengkorak kaget
juga melihat hal itu. Memang sudah bisa diperkirakannya kalau pemuda berambut
putih keperakan itu adalah seorang yang lihai. Tapi sama sekali tidak disangka
bisa menyamai ilmu meringankan tubuhnya. Entah dalam hal tenaga dalam dan mutu
ilmu silat.
ooOWKNBROoo
Sang surya telah lama tenggelam.
Bias-bias berwarna kemerahan tampak di ufuk Barat.
Kegelapan pun mulai menyelimuti persada.
"Kau yakin tempat kita ini
sulit diketahui oleh mereka yang di bawah, Ki?" tanya Arya sambil
berpindah ke cabang pohon yang lebih banyak dikelilingi dedaunan.
"Kira-kira begitu,
Arya," kalem jawaban Raja
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 57
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Tengkorak. "Di samping
tempat ini tertutup oleh kerimbunan dedaunan, juga keadaan malam pun nanti akan
banyak menolong kita."
Memang, Arya dan Kalpa Reksa
telah berada di atas cabang sebatang pohon tinggi berdaun lebat yang berjarak
sekitar lima tombak dari lapangan luas di Hutan Jambak.
Pemuda berambut putih keperakan
itu terdiam. Alasan yang diajukan Raja Tengkorak bisa
diterimanya.
Kini suasana pun menjadi hening,
karena baik Dewa Arak maupun laki-laki berseragam tengkorak itu tidak berbicara
lagi. Mereka berdua hanya diam menunggu.
Waktu berlalu terasa begitu
lambat bagi kedua tokoh sakti yang tengah diam menunggu itu. Malam tiba seperti
seekor siput merayap.
"Hem... !"
Dewa Arak dan Raja Tengkorak
terjingkat bagai disengat kalajengking! Hampir saja kedua orang itu terlempar
dari atas pohon, saking besamya perasaan kaget yang melanda dada mereka.
Betapa tidak? Suara deheman itu
berasal dari atas mereka. Dengan wajah pucat, Arya dan Raja
Tengkorak mendongak ke atas. Memang, di cabang pohon di atas mereka tampak
duduk sesosok tubuh berpakaian abu-abu!
Kini tidak hanya wajah Arya saja
yang berubah. Sepasang matanya pun membelalak lebar. Sejak tadi dia dan Raja
Tengkorak berada di cabang pohon ini, namun sama sekali tidak mengetahui adanya
sosok berpakaian abu-abu itu. Dari sini saja sudah bisa diperkirakan ketinggian
ilmunya! Karena baik Arya maupun Raja Tengkorak memiliki pendengaran yang luar
biasa tajamnya. Tapi sama sekali tidak mampu mendengar helaan napas sosok
berpakaian abu-abu
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 58
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
itu. Tak terasa hati kedua tokoh
sakti ini berdebar tegang.
Sebelum Arya dan Raja Tengkorak
berbuat sesuatu, sosok tubuh berpakaian abu-abu itu telah lebih dulu melayang
turun. Ringan sekali gerakannya seperti seekor burung.
Tappp ... !
Tanpa menimbulkan getaran pada cabang
pohon sedikit pun, sosok berpakaian abu-abu itu telah hinggap di cabang pohon,
persis di tengah-tengah Dewa Arak dan Raja Tengkorak. Dia lalu duduk dalam
keadaan bersila.
"Tenanglah. Aku bukan
lawan...," ucap sosok berpakaian abu-abu itu.
Ucapan sosok berpakaian abu-abu
itu membuat urat-urat syaraf dan sekujur otot-otot Raja
Tengkorak dan Dewa Arak yang semula
menegang waspada, langsung, mengendur kembali. Ucapan itu bisa mereka terima,
sebab bila sosok berpakaian abu-abu itu bermaksud tidak baik, tentu sudah sejak
tadi dia turun tangan.
Arya dan Raja Tengkorak menatap
lekat-lekat sosok berpakaian abu-abu itu. Ternyata dia adalah seorang kakek
yang sudah berusia lanjut. Sekujur kulit wajahnya penuh keriput. Kumis, dan
jenggotnya telah memutih semua. Bulu-bulu hidungnya yang juga putih, nampak
menerobos keluar dari lubang hidungnya.
"Aku Jaran Sangkar.... Dan
berada di sini karena memang ingin menjumpai kalian berdua. Terutama sekali
bertemu denganmu, Raja Tengkorak. Karena, kalian sepertinya tidak mempedulikanku, maka sengaja aku berdehem. Maafkan bila perbuatanku itu
mengejutkan kalian ......
"Sama sekali tidak,
Ki," sahut Arya buru-buru. Sementara Raja Tengkorak hanya diam. Menilik
dari pandangannya yang menatap tajam pada satu
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 59
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
titik, bisa diketahui kalau laki-laki berseragam tengkorak ini tengah
berpikir.
"Jaran Sangkar ...... ulang
Raja Tengkorak setelah beberapa saat lamanya terdiam. "Bukankah kau orang
yang mengasingkan diri di Gunung Lontar? Ya. Kau guru Ranjana dan Tampar
Waja."
Bibir kakek berpakaian abu-abu itu
menyunggingkan senyum pahit.
"Matamu awas juga, Kalpa
Reksa. Memang, aku adalah guru kedua orang itu."
Deg!
Tubuh Raja Tengkorak terjengkang ke belakang. Kalau saja Arya tidak lekas mengulur tangan dan menangkap
pergelangan tangannya, tubuh laki-laki berseragam tengkorak itu akan terjatuh
dari cabang pohon.
Arya mengernyitkan dahi. Sungguh tidak
dimengertinya mengapa Raja Tengkorak kaget. Semula kakek berpakaian abu-abu
yang ternyata bernama Jaran Sangkar,
disangkanya adalah kawan Raja
Tengkorak.
"Ba... bagaimana kau bisa
tahu?" tanya Raja Tengkorak agak tergagap.
Kini pemuda berpakaian ungu itu
baru terkejut Rupanya Kalpa Reksa dan Jaran Sangkar sama sekali tidak saling mengenal.
"Tampar Waja sering
berkunjung ke tempatku, Reksa. Dia sering bercerita tentang sahabatnya yang
bernama Kalpa Reksa," jawab Jaran Sangkar tenang. "Dia juga
memberitahukan padaku ciri-cirimu. Oleh karena itu aku bisa langsung
mengenalimu."
"Aku memang sering
berkunjung ke tempatnya. Begitu pula ke tempat Ranjana. Mereka berdua sudah
kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Tapi..., aku benar-benar tidak menyangka
kalau Tampar Waja tahu kalau aku adalah Raja Tengkorak......
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 60
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Tampar Waja tidak tahu
kalau kau adalah Raja Tengkorak," masih terdengar kalem suara Jaran
Sangkar.
"Jadi..., Ranjana?"
Lagi-lagi kakek berpakaian abu-abu itu
menggelengkan kepalanya.
"Lalu ... ?! Bagaimana kau
bisa mengetahui kalau aku yang berada di balik seragam Raja Tengkorak
ini?" ada nada keputusasaan dalam suara laki-laki berseragam tengkorak
ini. Arya yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua orang itu pun jadi tertarik
pula.
Jaran Sangkar tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Ditariknya napas dalam-dalam, lalu dihembuskannya
kuat-kuat.
"Bukankah sudah kukatakan
tadi, Tampar Waja telah menceritakan semua ciri-cirimu, Kalpa Reksa. Bahkan
sewaktu kau kebetulan pulang berkunjung dari tempatnya, aku melihatmu di jalan,
karena aku saat itu hendak menuju ke tempatnya pula. Itulah sebabnya, begitu
mehhat, aku langsung bisa mengenali dirimu.
Raja Tengkorak rupanya masih
belum mengerti juga maksud pembicaraan Jaran Sangkar. Memang, perasaan terkejutlah yang menyebabkan hatinya terguncang. Sehingga membuat
pikirannya seperti buntu, tidak bisa diajak berpikir.
"Bukankah wajah Ki Kalpa
Reksa tersembunyi di balik selubung, Ki?" meskipun ada sekelumit dugaan
yang muncul di hatinya, Dewa Arak menanyakannya untuk memperoleh kejelasan.
"Aku mempunyai ilmu yang
mampu melihat sesuatu benda secara jelas meskipun benda itu berada di balik
tembok tebal. Jadi, selubung tengkorak itu sama sekali tidak menjadi penghalang
bagiku untuk melihat wajahnya.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 61
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Ah ... ! " hampir
berbareng terdengar desah keterkejutan dari mulut Dewa Arak dan Raja Tengkorak.
Luar biasa ilmu yang dirnfliki kakek berpakaian abu-abu ini.
Meskipun sama-sama berseru kaget
namun ada perbedaan dalam keterkejutan Dewa Arak dan Raja Tengkorak. Kalau
kekagetan Arya, memang kekagetan murni, tidak demikian halnya dengan kekagetan
Raja Tengkorak.
Laki-laki berseragam tengkorak
itu memang kaget ketika mendengar Jaran Sangkar memiliki ilmu itu. Tapi
keterkejutan yang dialaminya bercampur dengan kemengertian. Kini dia baru tahu
mengapa kakek berpakaian abu-abu itu tahu kalau Raja
Tengkorak adalah Kalpa Reksa.
"Untung saja tadi aku
bertindak hati-hati, sehingga tidak langsung menyerang. Melainkan lebih dulu
melihat wajah yang berada di balik selubung. Kalau tidak, mungkin aku tadi sudah langsung menyerangmu. Kau bisa mengerti
kan?"
Raja Tengkorak mengangguk.
"Ya. Kedua orang muridmu
telah dibunuh oleh Raja Tengkorak."
Jaran Sangkar tersenyum getir.
"Kalpa Reksa...," ucap
kakek berpakaian abu-abu itu. Nada suaranya kini terdengar sungguh-sungguh
seperti raut wajahnya.
Raja Tengkorak diam menunggu
kelanjutan ucapan Jaran Sangkar. Sebagai seorang yang telah banyak makan garam
kehidupan, dia tahu kalau laki-laki berpakaian abu-abu itu mulai bersikap
sungguh-sungguh.
"Aku minta penjelasan darimu
mengenai Raja Tengkorak.... Benarkah kau orang yang telah membu nuh kedua,
muridku? Dari tanda yang ditinggalkan, aku tahu kalau kedua orang muridku dan
perguruan yang
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 62
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
mereka dirikan dihancurkan oleh
Raja Tengkorak-..." "Hhh... !"
Raja Tengkorak asli alias Kalpa
Reksa menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Cukup panjang juga
ceritanya, Ki," terdengar pelan jawaban laki-laki berseragam tengkorak
itu. "Padahal, kami berada di sini untuk menunggu hadirnya Raja Tengkorak
yang telah membunuh kedua orang sahabatku itu ......
"Ceritakanlah secara
singkat," kata Jaran Sangkar. Raja Tengkorak tercenung sejenak, mencari
kata-kata yang tepat untuk memulai ceritanya.
"Aku memang Raja Tengkorak
yang puluhan tahun merajalela di rimba persilatan," laki-laki berseragam
tengkorak itu memulai ceritanya. "Tapi sebuah kejadian menyedihkan
menyadarkanku. Aku lalu mengasingkan diri ......
"Hm.... Pantas kalau
tiba-tiba saja Raja Tengkorak lenyap dari dunia persilatan...," Jaran Sangkar
mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda mengerti. Tapi mendadak keningnya
berkernyit dalam ketika teringat sesuatu.
"Menurut berita yang
kudengar, Raja Tengkorak telah tewas dalam pertandingan melawan musuhnya.... !”
Sambil berkata demikian, kakek
berpakaian abu-abu ini menatap wajah Raja Tengkorak penuh selidik. Tampak
adanya nada tuntutan, baik dalam suara maupun sorot matanya.
ooOWKNBROoo
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 63
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
7
Raja Tengkorak tidak langsung
menjawab pertanyaan itu. Ditariknya napas dalam-dalam, dan dihembuskannya
kuat-kuat.
"Akulah yang menciptakan
desas-desus itu, Ki. Karena aku memang ingin mengubur kenangan pahit Raja
Tengkorak....
"Jadi...? Berita pertarungan antara Raja
Tengkorak dengan musuhnya itu tidak benar?!" nada suara Jaran Sangkar terdengar penuh tuntutan. "Padahal berita yang
kudengar begitu jelas kalau Raja Tengkorak mencari-cari musuh besarnya."
Raja Tengkorak tersenyum getir.
"Berita itu memang benar,
Ki. Raja Tengkorak memang mencari-cari musuh besarnya, bertemu dan akhimya
bertarung. Tapi dalam pertarungan itu, Raja Tengkorak berhasil membinasakan musuhnya. Jadi, cerita yang
merupakan kabar bohong adalah kekalahan Raja Tengkorak oleh musuhnya," jelas Kalpa Reksa
panjang lebar.
"Hm...." kakek
berpakaian abu-abu itu bergumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampak jelas kalau dia telah mengerti maksud
pembicaraan Raja Tengkorak.
Sesaat suasana menjadi hening sejenak, ketika Jaran Sangkar tidak melanjutkan pertanyaannya lagi dan Raja
Tengkorak telah selesai dengan penjelasannya.
"Boleh aku bicara?" ucapan Dewa Arak memecahkan
keheningan yang terjadi.
Hampir berbareng Jaran Sangkar
dan Raja Tengkorak menganggukkan kepala
pertanda
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 64
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
membolehkan.
"Dari mana kau tahu, kalau
kami akan menuju kemari, Ki?!" Arya langsung saja mengeluarkan ganjalan
yang mengganggu hatinya sejak tadi.
"Aku melihat sewaktu Kalpa
Reksa menanyai enam orang tokoh persilatan...."
"Jadi..., kau mengikuti kami
sejak dari sana, Ki?" tanya Raja Tengkorak kaget karena bisa memperkirakan
betapa hebatnya ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kakek berpakaian abu-abu
ini, sehingga dia dan Dewa Arak yang sama-sama memiliki pendengaran yang tajam,
sama sekali tidak mengetahui kehadirannya.
Jaran Sangkar mengangguk.
"Tapi, aku mendahului kalian
ke pohon ini. Karena aku yakin kalau kalian berdua pasti akan sembunyi di sini
......
Mendadak Dewa Arak, Jaran
Sangkar, dan Raja Tengkorak menghentikan pernbicaraannya. Karena pendengaran mereka yang tajam
menangkap suara langkah-langkah kaki menuju ke arah tempat mereka bersembunyi.
Benar saja! Sesaat kemudian, muncul sosok-sosok bayangan yang kemudian berhenti
di pinggir lapangan.
Semula jumlah mereka terlihat beberapa
orang saja. Tapi lama-kelamaan makin banyak bayangan yang berkelebatan.
Kemudian mereka menghentikan langkahnya setelah berada di pinggir lapangan.
Dewa Arak, Jaran Sangkar, dan
Raja Tengkorak membisu. Sedangkan mata mereka menatap tajam ke arah sosok-sosok
bayangan yang berada di pinggir lapangan. Mereka tidak lagi mendengar
langkah-langkah kaki. Jelas, tidak ada lagi tokoh persilatan yang bakal datang.
"Rupanya hanya tinggal Raja
Tengkorak yang
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 65
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
belum muncul...," ujar Raja
Tengkorak asli, lirih.
"Kira-kira begitu, Ki,"
sahut Arya dengan suara yang tidak kalah lirih, agar tidak terdengar oleh
tokoh-tokoh persilatan yang berkumpul di pinggir lapangan.
"Jadi... inikah anak buah
Raja Tengkorak palsu itu, Reksa?" tanya Jaran Sangkar pelan.
"Aku sendid tidak tahu
pastinya, Ki," jawab Raja Tengkorak sambil menggelengkan-gelengkan kepalanya. "Tapi,
dari cerita yang kudengar dari tokoh persilatan yang menjadi pengikut Raja Tengkorak itu, bisa kujawab, ya!"
Jaran Sangkar pun terdiam. Rupanya
jawaban yang diberikan Raja Tengkorak alias Kalpa Reksa cukup memuaskan
hatinya.
“Ki....!”
Setelah suasana hening beberapa saat
lamanya karena kakek berpakaian abu-abu
itu menghentikan ucapannya, Kalpa Reksa membuka suara. Menilik dari
ucapannya yang tertahan, bisa diketahui kalau dia ragu-ragu untuk mengatakan
sesuatu.
"Hm...," gumam Jaran Sangkar pelan,
menyambut ucapan Raja Tengkorak.
"Apakah kau akan membuat perhitungan
juga dengan Raja Tengkorak palsu itu?"
Jaran Sangkar tidak langsung
menjawab pertanyan itu. Dia termenung beberapa saat lamanya. Jelas, kakek
berpakaian abu-abu itu tengah berpikir keras.
Tak lama kemudian, Jaran Sangkar
menggelengkan kepalanya.
"Kenapa, Ki?" tanya
Raja Tengkorak ingin tahu alasan kakek berpakaian abu-abu itu. Tapi, Raja
Tengkorak sudah dapat menduga kalau Jaran Sangkar juga ingin membalas dendam atas
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 66
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
kematian kedua muridnya.
"Karena sudah ada orang yang
lebih patut melakukannya. Dan orang itu adalah kau, Reksa," jawab Jaran
Sangkar. "Lagi pula sejak semula, aku masih ragu-ragu dengan niatku
sendiri. Kau tahu kan maksudku, Reksa?"
Laki-laki berseragam tengkorak itu menganggukkan kepalanya. Dia
mengetahui hal-hal yang masih menjadi hambatan bagi Jaran Sangkar. Kakek
berpakaian abu-abu itu sudah tidak ingin lagi mencampuri urusan dunia.
Bukan hanya Raja Tengkorak asli saja yang mengerti maksud pembicaraan Jaran Sangkar. Dewa Arak yang sejak tadi
terdiam pun memahami maksud ucapan kakek berpakaian abu-abu itu. Sifat Jaran
Sangkar memang mirip sekah dengan gurunya, Ki Gering Langit Karena dia teringat
dengan kakek yang memiliki kepandaian luar biasa itulah, Arya langsung dapat menemukan
jawaban dari ucapan Jaran Sangkar!
"Auuung...!"
Suara lolongan serigala membuat pembicaraan mereka terhenti.
Dewa Arak, Raja Tengkorak, dan Jaran Sangkar terperanjat begitu melihat
perubahan sikap tokoh-tokoh persilatan yang berkerumun di bawah pohon. Mereka
tidak lagi kasak-kusuk, tapi hening dan tenang. Bahkan hampir-hampir tidak
bergerak sama sekali. Kepala mereka semua sama-sama tertunduk.
"Apakah ini pertanda Raja
Tengkorak palsu akan muncul?" ketiga orang yang berada di atas pohon
bertanya dalam hati.
Baru saja lolongan serigala
lenyap, dua sosok bayangan berkelebat cepat memasuki lingkaran tokoh-tokoh
persilatan, yang mengelilingi gundukan batu setinggi setengah tombak.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 67
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Jaran Sangkar, Raja Tengkorak,
dan Dewa Arak memperhatikan dengan penuh seksama. Sekilas pandang saja, mereka
semua tahu kalau sosok bayangan itu adalah Raja Tengkorak palsu dan Turgawa.
Tapi Jaran Sangkar tidak mengenali kedua orang itu, karena memang dia belum
pernah melihatnya. Raja Tengkorak palsu alias Sengkala mengedarkan Pandang
berkeliling. Sedangkan Turgawa berdiri diam dengan pandangan lurus ke depan.
Sebatang tongkat yang berujung tengkorak kepala manusia,
terhunjam di hadapan mereka.
"Keberhasilan kembali
menyertai usaha kita," Raja Tengkorak palsu memulai ucapannya. Suaranya
yang terdengar pelan, berat, tapi bergaung, tampak mendukung penampilannya yang
menggiriskan itu.
Semua kepala tokoh persilatan
tertengadah, menatap pemimpin, mereka yang berdiri di tempat yang jauh lebih
tinggi.
"Kembali kita berhasil
memusnahkan lawan kita, Perguruan Banteng Sakti telah berhasil kita hancurkan.
Ketuanya, Ki Tamper Waja telah berhasil kita bunuh. Kita telah berhasil
memusnahkan orang-orang sombong itu!"
"Hidup Raja
Tengkorak...!" teriak seorang tokoh persilatan yang tak mampu menahan luapan kegembiraannya. Tangan kanan yang dikepalkannya diangkat
tinggi-tinggi ke udara, seraya meninju ke arah langit.
"Hidup... !" sambut
yang lainnya.
Yang lain tak mau ketinggalan.
Dalam sekejap saja suasana di sekitar tempat itu menjadi hiruk-pikuk oleh
teriakan-teriakan semua tokoh persilatan yang hadir di situ.
Raja Tengkorak palsu mengangkat
tangannya ke atas. Suara berisik seperti tawon yang diusik dari sarangnya itu
pun segera lenyap.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 68
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Kalian jangan bergembira
dulu," ucap laki-laki berseragam tengkorak yang bernama Sengkala itu.
"Kita masih mempunyai penghalang yang akan menghambat maksud
kita...."
Raja Tengkorak menghentikan
ucapannya. Diedarkan pandangannya berkeliling untuk menatap satu persatu wajah
tokoh persilatan yang berada di sekelilingnya. Dia ingin tahu tanggapan
pengikut-pengikutnya.
"Kukira kalian sudah tahu,
siapa tokoh yang kumaksudkan ... ?!"
Semua kepala tokoh persilatan
yang berada di situ sama-sama terangguk.
"Kami tahu, Ketua. Bukankah
orang itu adalah Dewa Arak...?!" salah seorang tokoh persilatan yang
bertubuh kecil kurus angkat suara.
"Betul...!" sahut
laki-laki berseragam tengkorak itu seraya menganggukkan kepala. "Pertemuan
kali ini cukup. Ingat kalian semua harus mencari jejak Dewa Arak. Dan bila
bertemu, beritahukan padaku. Setiap malam aku akan ke sini."
Setelah berkata demikian, Raja
Tengkorak palsu menjejakkan kakinya. Sesaat kemudian tubuhnya telah melambung
ke atas.
Selagi tubuh tokoh yang
menggiriskan itu berada di udara, tubuh Turgawa pun melesat cepat ke atas pula.
Indah dan manis sekali gerakan
kedua pimpinan tokoh sesat itu, ketika melampaui kepala belasan tokoh
persilatan yang mengelilingi gundukan batu.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raja
Tengkorak asli melesat pula dari cabang pohon yang didudukinya. Dia tidak ingin
kehilangan jejak Turgawa dan
orang yang telah menjelek-jelekkan julukannya.
Arya tahu kalau Kalpa Reksa tidak
akan mampu
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 69
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
menghadapi dua orang tokoh sesat
yang memiliki kepandaian luar biasa itu. Maka dia pun bergegas melesat keluar
dari cabang pohon yang didudukinya.
Jaran Sangkar
menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Luar biasa...! Menilik dari
ilmu meringankan tubuhnya, rasa-rasanya kepandaian yang dimiliki pemuda
berambut putih keperakan itu tidak berada di bawah Raja Tengkorak. Hhh ... !
Sayang sekali, aku tidak pernah mendengar julukan Dewa Arak karena selalu
menyembunyikan diri. Kalau melihat dari sikap yang ditunjukkan Raja Tengkorak,
sudah bisa kupastikan kalau Dewa Arak adalah seorang tokoh yang disegani,"
ucap kakek berpakaian abu-abu itu dalam hati.
Sekali menggenjotkan kaki, tubuh
Jaran Sangkar telah melesat cepat, menyusul sosok bayangan hitam dan ungu yang
telah melesat lebih dulu.
ooOWKNBROoo
Raja Tengkorak asli mengernyitkan
dahinya ketika melihat Turgawa dan Raja Tengkorak palsu melesat masuk ke dalam
rimbunan pepohonan.
Sejenak hati laki-laki berseragam
tengkorak ini ragu-ragu. Tapi kemarahan dan penasaran yang hebat membuatnya
kembali berani. Tanpa ragu-ragu lagi segera diterobosnya kerimbunan pepohonan
yang lebat itu.
Di sini, Raja Tengkorak asli
kebingungan ketika tidak melihat tanda-tanda keberadaan kedua orang buruannya.
Sesaat dia dilanda kebimbangan. Ke mana hendak mencari buruannya itu?
Tapi hanya sekejapan saja
perasaan bimbang melandanya. Sesaat kernudian telah ditentukan pilihannya. Dengan hati-hati dan perasaan
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 70
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
waspada penuh, dilangkahkan
kakinya menuju ke kiri. Kalpa Reksa bersikap hati-hati karena tahu kelicikan
lawan-lawannya.
Pada saat yang bersamaan dengan
lenyapnya tubuh Kalpa Reksa ditelan kerimbunan pepohonan, Dewa Arak tiba di
tempat laki-laki berseragam tengkorak yang sedang kebingungan itu.
Setelah beberapa saat lamanya mempertimbangkan, akhirnya Arya
memilih jalan ke kanan.
Jaran Sangkar yang mengikuti
secara diam-diam dari belakang, mengikuti langkah yang diambil pemuda berambut
putih keperakan itu.
Arya memasang sikap waspada penuh.
Sekujur urat-urat syaraf dan otot-otot tubuhnya menegang waspada, bersiap untuk
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Memang, pemuda berambut putih
keperakan ini tahu kalau lawan yang dihadapinya adalah tokoh-tokoh persilatan aliran hitam, yang meskipun telah memiliki kepandaian tinggi
tapi tetap saja lebih sutra menggunakan cara licik untuk mengalahkan lawan.
Itulah sebabnya dia bersikap hati-hati.
Jantung dalam dada Dewa Arak
berdebar tegang ketika melihat adanya sosok yang tidak ubahnya tengkorak tak
jauh di hadapannya, tengah membelakanginya karena tengah menempuh arah yang sama
dengannya. Siapa lagi kalau bukan Raja
Tengkorak! Tapi Raja
Tengkorak yang mana? Asli atau
palsu? Kalpa Reksa atau Sengkala? Sesaat Dewa Arak kebingungan. Tapi kemudian
dia berhasil mengambil sebuah
kesimpulan. Sudah bisa dipastikan kalau Raja Tengkorak yang di
hadapannya itu adalah Kalpa Reksa! Keberadaannya yang hanya
seorang diri saja
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 71
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
sudah merupakan dugaan kalau dia
adalah Kalpa Reksa! Bukankah Raja Tengkorak palsu tadi bersama Turgawa?
Meskipun yakin kalau Raja
Tengkorak yang berada di hadapannya sekarang adalah Kalpa, Reksa, Dewa Arak
tetap saja tidak mau meninggalkan kewaspadaannya.
Walaupun agak bergegas, tapi dengan
kewaspadaan tidak berkurang, Arya melangkah menghampiri. Dan karena Raja Tengkorak
melangkah perlahan-lahan, jarak antara
mereka dengan mudah dapat diperpendek.
Srakkk...
Suara berisik ranting dan
dedaunan kering yang terpijak kaki Arya membuat Raja Tengkorak terperanjat. Wajahnya langsung menoleh ke belakang dan sikapnya pun langsung
waspada penuh.
Tapi....
"Ah ... ! Kiranya kau,
Arya... ," ada nada kelegaan dalam suara. Raja Tengkorak. Kedua tangannya
yang semula menegang penuh kekuatan, kini mengendur ketika
melihat orang yang
telah menimbulkan suara berkerosakan itu.
"Raja Tengkorak...,"
sebut Dewa Arak pelan untuk lebih meyakinkan diri kalau Raja Tengkorak yang
berdiri di hadapannya ini benar Kalpa Reksa. Meskipun sebenarnya dari suara teguran itu sudah bisa
diperkirakan Arya kalau Raja Tengkorak yang berada di hadapannya benar Kalpa
Reksa.
"Lenyapkan...," sahut laki-laki berseragam tengkorak itu.
Kini tidak ada lagi keragu-raguan
dalam diri Dewa Arak. Semua bukti-bukti telah menunjukkan kalau Raja Tengkorak ini adalah
Kalpa Reksa. Maka dia pun kian maju menghampiri.
"Anak Muda ... ! Kau
tertipu! Dia bukan Kalpa
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 72
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Reksa... !"
Arya terkejut bukan kepalang mendengar
teriakan itu. Dikenalinya betul kalau suara itu adalah suara Jaran Sangkar. Dan
bersamaan dengan terdengarnya suara teriakan itu, Raja
Tengkorak telah meluncurkan serangannya. Sekali menyerang, langsung dengan
'Ilmu Baju Ular Emas' andalannya.
Ciiittt..!
Suara berdecit nyaring seperti
puluhan ekor tikus mencicit, mengawali tibanya serangan Raja Tengkorak.
Arya terperanjat bukan kepalang.
Serangan itu datang secara tiba-tiba dan tidak disangka-sangka, padahal dia
tengah dalam keadaan tidak bersiap sama sekali. Kalau saja tidak ada teriakan
Jaran Sangkar yang memberitahukannya, sudah bisa dipastikan kalau dirinya akan
terkena serangan itu karena yang melancarkan serangan adalah Raja Tengkorak.
Pemberitahuan Jaran Sangkar telah sedikit menolongnya. Dengan sebisa-bisanya dielakkannya serangan yang datang secara tiba-tiba itu.
Karena untuk menangkis serangan itu sudah tidak tersedia kesempatan. Pemuda berambut putih keperakan itu segera melangkahkan
kakinya ke kiri sambil mendoyongkan tubuh.
Crat, crat...
Arya meringis ketika ujung-ujung
jari Raja Tengkorak palsu menyerempet bahu kanannya. Seketika itu juga cairan
merah agak kental mengalir keluar dari bagian yang terluka.
"Grrrhhh ... !"
Raja Tengkorak menggeram keras
begitu melihat serangannya tidak membawa hasil seperti yang diharapkan. Geram
pada orang yang telah memberitahukan Dewa Arak. Kalau saja, tidak ada
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 73
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
suara usilan itu tentu Arya telah
berhasil dikirimnya ke alam baka. Sebelum Raja Tengkorak mengirimkan serangan
lanjutan, Dewa Arak telah lebih dulu memberikan sebuah
pukulan jarak jauh dengan hentakan tangan kirinya.
Wusss...
Raja Tengkorak tidak berani bertindak
sembrono. Dari kerasnya hembusan angin yang terdengar, bisa diperkirakan
kedahsyatan serangan itu. Maka buru-buru dia melompat ke belakang.
Kesempatan itu dipergunakan
sebaik-baiknya oleh Dewa Arak. Dia melentingkan tubuhnya ke belakang, bersalto
beberapa kali di udara. Dan kemudian mendaratkan kakinya di sebelah Jaran
Sangkar. Indah dan manis sekali gerakannya.
Arya buru-buru menotok jalan
darah di sekitar luka untuk menghentikan aliran darah.
"Terima kasih atas
pemberitahuanmu, Ki," ucap Arya. "Kalau saja tidak ada kau mungkin
aku sudah tewas di tangan Raja Tengkorak palsu itu ......
"Lupakanlah, Dewa Arak," Jaran Sangkar
mengibaskan tangannya. "Kalau saja
aku tidak terkesima sebelumnya,
mungkin kau tidak perlu terluka seperti itu. Raja Tengkorak palsu ini memiliki
wajah yang amat mirip dengan Kalpa Reksa. Hanya saja dia jauh lebih muda.
Itulah yang membuatku terlambat memberi peringatan padamu ......
Jantung Dewa Arak berdebar tegang.
Mungkinkah Raja Tengkorak palsu ini mempunyai hubungan darah dengan Kalpa
Reksa? Bukankah menurut cerita Raja Tengkorak asli itu, hanya orang yang
mempunyai hubungan darah dengan Kalpa Reksa dan Turgawa-lah yang mampu
menguasai 'Ilmu Baju Ular Emas' secara sempurna. Padahal, Turgawa mandul. Hanya
tinggal satu kemungkinan saja, Kalpa Reksa. Kemungkinan besar Sengkala
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 74
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
punya hubungan darah dengan Kalpa
Reksa! Mungkinkah Sengkala ini putra Kalpa Reksa? Tapi bukankah menurut Raja
Tengkorak asli itu, putranya telah tewas dalam keadaan yang sangat menyedihkan?
Berbagai macam pertanyaan bergayut di
benak Dewa Arak, tapi tidak sempat dipikirkannya lebih lama lagi. Karena Raja
Tengkorak telah kembali menyerang dengan 'llmu Baju Ular Emas'nya.
Kontan baik Jaran Sangkar maupun
Dewa Arak melompat berpencaran. Arya belum ingin memapak serangan lawan,
sedangkan kakek berpakaian abu-abu itu tidak ingin ikut campur dalam urusan
Raja Tengkorak.
Sambil melompat, tangan Arya
bergerak ke arah pungung. Dan begitu kedua kakinya mendarat di tanah, guci araknya pun dituangkan ke mulut.
Gluk... gluk... gluk... !
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati kerongkongan Dewa Arak. Sesaat kemudian kedua kaki pemuda berambut putih
keperakan itu mulai oleng. Jelas, kalau pengaruh arak dari guci perak itu mulai
mempengaruhinya.
Raja Tengkorak tidak
mempedulikannya. Terus saja dihujaninya tubuh lawan dengan serangan-serangan
mematikan.
Tapi kini Dewa Arak telah siap.
Dengan ilmu 'Be-lalang Sakti'nya dihadapi semua gempuran Raja Tengkorak alias
Sengkala.
Berbeda dengan Raja Tengkorak
yang menyerang dengan mempergunakan seluruh kepandaiannya, Dewa Arak tidak
berlaku demikian. Ketika timbul dugaan kalau Raja Tengkorak palsu ini mempunyai
hubungan dengan Kalpa Reksa, dia tidak ingin menjatuhkan tangan maut lebih
dulu, sebelum Kalpa Reksa, mengetahui hal ini.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 75
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Itulah sebabnya, Arya hanya
mempergunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Dia, hanya mengelak menghadapi hujan serangan yang dilancarkan Raja Tengkorak
Untung saja, pemuda berambut putih keperakan itu mempunyai jurus 'Delapan Langkah
Belalang' yang membuatnya tidak mengalami kesulitan untuk mengelakkan setiap,
serangan.
Meskipun begitu, bukan berarti
mudah saja Arya memunahkan setiap serangan yang dilancarkan lawan.
Disadarinya kalau jurus 'Delapan
Langkah Belalang' memang luar biasa. Tapi, lawan yang dihadapinya kah ini
adalah Raja Tengkorak. Kalau terus-menerus mengelak, meskipun mempunyai gerakan mengelak yang luar biasa, sampai
kapan dia bisa bertahan?
Sebagai seorang tokoh tingkat
tinggi, Raja Tengkorak tentu saja mengetahui kalau Dewa Arak sama, sekali tidak
mengadakan perlawanan dan hanya mengelak saja. Hal itu membuat
kemarahannya berkobar hebat. Dia
merasa direndahkan oleh lawannya. Dan
sebagai akibatnya, serangan-serangan yang dilancarkan pun semakin
dahsyat. Dia, Raja Tengkorak yang selama ini ditakuti di kalangan rimba
persilatan, kini dihadapi oleh Dewa Arak tanpa balas menyerang!
Kalau didengar oleh tokoh-tokoh
persilatan, mau ditaruh di mana mukanya?
ooOWKNBROoo
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 76
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
8
Dewa Arak tidak tahu kalau Raja
Tengkorak mempunyai sebuah rencana. Sama sekali tidak disadarinya kalau. Raja Tengkorak berusaha menggiringnya ke sebuah tempat.
Jangankan Arya, Jaran Sangkar
sendiri tidak tahu kalau Raja Tengkorak tengah berusaha mengajak lawannya ke
suatu tempat. Saking tertariknya dia dengan pertarungan yang tengah
berlangsung, tanpa sadar kakinya terus melangkah mengikuti ke mana
arah pertarungan bergeser.
Seperti juga Raja Tengkorak,
Jaran Sangkar pun tahu kalau. Dewa Arak bersikap mengalah terhadap, Raja
Tengkorak. Dia sendiri pun merasa heran, tapi tidak mempedulikannya. Kakek berpakaian abu-abu
ini yakin kalau
pemuda berambut putih keperakan itu punya alasan kuat untuk bertindak
seperti itu.
Sedikit demi sedikit pertarungan terus
bergeser. Suara mencicit nyaring, diseling suara tegukan, arak menyemaraki
pertarungan yang terjadi.
Arya dan Jaran Sangkar baru
terperanjat ketika mendengar suara pertarungan lain di dekatnya. Sekilas dia
melirik, ternyata Raja Tengkorak lain tengah bertarung sengit menghadapi
Turgawa. Sudah bisa diketahui kalau Raja Tengkorak itu adalah Kalpa Reksa.
Belum sempat hilang keterkejutan
Dewa Arak, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh nyaring. Sesaat kemudian di
sekitar tempat itu bermunculan puluhan tokoh-tokoh persilatan yang tak lain
adalah pengikut-pengikut Raja Tengkorak palsu yang tadi telah pergi menyebar
untuk mencari Dewa Arak.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 77
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Begitu bermunculan, puluhan tokoh
persilatan itu langsung bergerak menyebar dan mengurung.
Ha ha ha... !"
Raja Tengkorak dan Turgawa
tertawa bergelak. Kemudian keduanya melompat mundur, menjauhi lawan
masing-masing.
Arya dan Raja Tengkorak asli
saling Pandang sejenak kemudian keduanya bergerak menghampiri. Jaran Sangkar
pun yang masuk dalam kepungan, bergerak perlahan menghampiri keduanya.
"Kita terjebak, Arya,"
ucap Raja Tengkorak asli yang tak lain adalah Kalpa Reksa.
"Bagaimana mungkin mereka
bisa mengetahui kehadiran dan maksud kita?" tanya Arya heran.
"Kalian tidak melihat adanya
orang-orang yang kalian tawan di dalam gua?" pelan saja Jaran Sangkar
mengucapkannya. Tapi akibat yang dialami Arya dan Raja Tengkorak tidak
sesederhana itu.
Raja Tengkorak asli dan Dewa Arak
segera meng alihkan pandangan ke arah yang ditunjukkan Jaran Sangkar. Benar
saja, dari sekian banyaknya tokohtokoh persilatan yang mengurung, terlihat Dulimang, Juriga, Naga Tua, dan
tiga orang lainnya yang mereka tawan.
"Ha ha ha... I"
Raja Tengkorak tertawa terbahak-bahak.
Sebuah tawa kemenangan yang bernada mengejek.
"Jangan harap untuk bermain
siasat dengan Raja Tengkorak, Manusia-manusia Kerdil ... !" teriak
laki-laki berseragam tengkorak itu penuh kemenangan. "Percuma! Kalian tidak akan
menang!"
Dewa Arak dan Raja Tengkorak asli
saling pandang dengan raut wajah memancarkan keheranan.
"Bagaimana mungkin keenam
orang itu bisa tiba di sini?" gumam Raja Tengkorak asli pelan, seperti
berbicara pada dirinya sendiri. "Aku yakin, totokanku
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 78
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
itu akan punah dalam waktu sehari
semalam. Tapi mengapa mereka sudah bisa berada di sini? Jarak tempat itu dari
sini membutuhkan waktu lebih dari sehari semalam, sekalipun perjalanan
dilakukan secara cepat dan terus-menerus ......
"Kemungkinannya hanya satu,
Ki...," sahut Arya kalem.
"Mereka dibebaskan orang.
Begitu kan, Arya?" tebak Raja Tengkorak.
Arya mengangguk.
"Kalau tidak Raja Tengkorak,
tentu Turgawa.
Karena tidak sembarangan orang
bisa memunahkan totokanku," sambung Raja Tengkorak asli lagi.
"Berarti ada dua kemungkinan
kalau benar yang melakukannya adalah Raja Tengkorak palsu. atau
Turgawa...," ajar Dewa Arak lagi.
"Apa itu, Arya?" Kalpa
Reksa ingin tahu.
"Salah satu atau justru
kedua-duanya melihat kita sewaktu tengah membawa mereka... atau salah satu atau
kedua-duanya tinggal di dalam salah satu ruang di gua tempat kita
menyembunyikan tahanan."
"Ha ha ha ... !"
Suara tawa bergelak mengejutkan
hati Dewa Arak dan Raja Tengkorak asli. Tanpa melihat pun keduanya sudah bisa
mengetahui orang yang telah mengeluarkan suara tawa itu. Suara tawa yang
nadanya aneh. Pelan, berat, tapi bergaung. Siapa lagi
pemiliknya kalau bukan Raja Tengkorak! Dan sudah pasti Raja Tengkorak palsu
alias Sengkala.
Meskipun begitu Arya dan Kalpa
Reksa menoleh juga. Bahkan Jaran Sangkar pun melakukan hal yang sama.
"Ternyata kau tidak sedungu
yang kukira, Dewa Arak! Dugaanmu tepat sekali!" sambung Raja Tengkorak
palsu dengan suaranya yang menggelegar.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 79
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Arya, Raja Tengkorak asli, dan
Jaran Sangkar sama sekali tidak menyambuti ucapan itu. Mereka semua diam
menunggu kelanjutan ucapan itu.
"Gua tempat kau
menyembunyikan enam orang anak buahku adalah tempat tinggalku! Sekarang, kau
bisa menduga sendiri kan mengapa, mereka semua bisa berada di sini. Saat
kematianmu telah hampir tiba, Dewa Arak!"
"Manusia licik! Aku pun
sudah sejak lama ingin membunuhmu! Kau benar-benar seorang pengecut hina. Menyamar menjadi Raja Tengkorak!"
teriak Raja Tengkorak asli keras.
Seiring dengan lenyapnya suara
bentakan ku, Kalpa Reksa melompat menerjang Raja Tengkorak palsu.
"Ki ... !“
Arya berusaha mencegah. Tapi
terlambat Raja Tengkorak asli sudah tidak bisa dicegah lagi.
"Kau adalah lawanku, Dewa
Arak..!"
Sebuah suara keras dan parau
terdengar disusul dengan berkelebatnya sesosok bayangan kuning yang meluncur
cepat ke arah Dewa Arak dalam sebuah serangan totokan jari tangan lurus dan
bertubi-tubi ke arah leher dan ulu hati.
Memang, meskipun sebelah tangannya sudah tidak mempunyai
jari, bukan berarti kalau keampuhan tangan itu hilang. Kedahsyatan tangan itu,
tak kalah dengan tangan yang utuh.
Sekali lihat saja Arya tahu kalau
Turgawa telah mengeluarkan ‘Ilmu Baju Ular Emas' andalannya. Maka ilmu
'Belalang Sakti' andalannya tidak ragu-ragu lagi digunakan.
Dengan langkah terhuyung-huyung seperti akan jatuh, Dewa Arak mengelakkan
serangan bertubi-tubi ke arahnya. Tapi hebatnya serangan yang menuju ke arah
sasaran, hanya mengenai tempat
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 80
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
kosong.
Turgawa tidak menjadi heran
melihat serangannya berhasil digagalkan. Dia tahu kalau Dewa Arak adalah
seorang lawan yang amat tangguh. Maka
begitu serangannya berhasil dielakkan, segera disusulinya dengan serangan
selanjutnya. Sesaat kemudian, pertarungan sengit pun terjadi.
Seperti juga Turgawa, Dewa Arak
tidak ragu-ragu lagi untuk mengeluarkan seluruh kemampuannya. Ilmu 'Belalang
Sakti' dikerahkan seluruhnya. Kedua tangan, guci dan semburan araknya dipergunakan
untuk menghadapi serangan Turgawa.
ooOWKNBROoo
Di arena lainnya, pertarungan
antara dua Raja Tengkorak sedang berlangsung sengit meskipun kurang menarik, karena kedua belah pihak
menggunakan ilmu yang sama, 'Ilmu Baju Ular Emas'.
Suara mendecit nyaring seperti
puluhan ekor tikus mencicit mengiringi pertarungan yang terjadi antara
kedua tokoh yang sama-sama menggiriskan itu.
Pertarungan antara kedua tokoh itu
memang berlangsung agak berbeda dengan pertarungan antara Dewa Arak
menghadapi Turgawa. Karena masing-masing Raja
Tengkorak telah mengetahui perkembangan ilmu
masing-masing lawan. Ke mana serangan dilancarkan dan juga serangan
susulan yang akan dikirimkan.
Pertarungan antara empat orang
yang sama-sama memiliki ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi itu berlangsung
cepat, karena memang keempat tokoh itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang
tinggi.
Itulah sebabnya, di antara
puluhan tokoh persilatan yang ada di situ, hanya Jaran Sangkar seorang yang mampu menyaksikan jalannya
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 81
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pertarungan secara jelas. Sedangkan tokoh
persilatan lainnya hanya melihat sosok bayangan putih, ungu, dan kuning yang
saling berkelebatan. Terkadang saling belit, tapi tak jarang saling
berpencaran.
Jaran Sangkar memperhatikan jalannya pertarungan yang
terjadi dengan perasaan tertarik. Memang, meskipun telah
mengundurkan diri dari dunia persilatan, tapi sebagai seorang ahli silat tetap
saja dia dijangkiti penyakit umum, senang
menyaksikan pertarungan. Terutama sekali pertarungan
yang berlangsung antara
tokoh-tokoh silat tingkat tinggi, seperti pertarungan yang kini berlangsung di
hadapannya.
Tapi belum juga lima puluh jurus menyaksikan jalannya
pertarungan, gangguan
sudah datang melanda. Tokoh-tokoh persilatan yang melihat adanya kakek
berpakaian abu-abu, dan tahu kalau kakek itu berada di pihak Dewa Arak, segera
meluruk menyerbu.
Meskipun belum mengetahui
kelihaian lawan, tapi mengingat Jaran Sangkar datang bersama-sama Dewa Arak,
tokoh-tokoh persilatan itu tidak ragu-ragu lagi untuk menggunakan senjata
andalan mereka, dan juga mengeroyoknya secara bersama-sama.
"Hm.. !”
Jaran Sangkar hanya bergumam tak
jelas ketika melihat datangnya serbuan belasan orang tokoh persilatan itu. Dengan
sikap tenang dia berdiri diam menunggu datangnya serangan. Tidak tampak adanya
tanda-tanda kalau kakek sakti ini akan berbuat sesuatu.
Baru ketika serangan
lawan-lawannya menyambar dekat, kedua tangan kakek itu bergerak cepat, berputar
di depan dada.
Gila! Dari kedua tangan yang
berputaran itu tiba-tiba muncul serentetan angin keras. Seolah-olah
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 82
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
di situ sedang terjadi badai.
Jeritan-jeritan kekagetan
terdengar dari mulut tokoh-tokoh persilatan yang menerjang maju. Tubuh mereka semua berpentalan tak tentu arah.
Senjata-senjata yang mereka pegang pun berpentalan ke sana kemari.
Karuan saja hal itu membuat
rekan-rekan mereka yang lain terkejut bukan kepalang. Tapi tentu saja hal itu
tidak berarti kalau mereka takut.
Kini sisa dari tokoh-tokoh
persilatan yang belum kebagian menyerang tadi, mulai menyerang. Sedangkan
rekan-rekan mereka yang tadi terlempar bergulingan pun kembali bangkit berdiri
dan langsung menyerang.
"Hhh...
Jaran Sangkar menghela napas
berat. Sungguh tidak disangka kalau dirinya akan terlibat dalam pertarungan
seperti ini. Padahal dia sudah tidak ingin terlibat dalam kekerasan lagi.
Itulah sebabnya tadi, dengan kekuatan tenaga dalamnya, dia hanya melontarkan tubuh-tubuh lawannya. Dan tidak melukainya.
Seperti juga sebelumnya, kali ini
pun Jaran Sangkar sama sekali tidak bermaksud melukai lawan-lawannya. Dia hanya memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada. Dan dengan pengerahan tenaga
dalam yang dimilikinya, tubuh-tubuh lawannya dibuat berpentalan tak tentu arah
sebelum serangan-serangan mereka sempat menyentuh tubuhnya.
Keadaan tokoh-tokoh persilatan
itu seperti semut-semut menerjang api. Meskipun terlihat kalau yang melakukan
penyerangan adalah mereka, tapi tampak jelas kalau mereka sendiri yang roboh
tak tentu arah.
ooOWKNBROoo
Sementara itu pertarungan antara
Dewa Arak
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 83
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
melawan Turgawa dan antara Raja
Tengkorak tua alias Kalpa Reksa menghadapi Raja Tengkorak palsu alias Sengkala, masih berlangsung imbang. Padahal
pertarungan sudah berlangsung hampir seratus jurus.
Di antara ketiga kancah
pertarungan itu yang sulit diketahui antara tokoh-tokoh yang tengah berlaga
adalah pertempuran antara dua Raja Tengkorak
Pertarungan antara Raja-Raja Tengkorak itu memang membingungkan jika ada orang yang melihatnya.
Karena bukan hanya pakaian saja yang sama, kedua tokoh itu juga memiliki ilmu,
potongan tubuh serta suara yang sama.
Menginjak jurus yang keseratus,
mulailah terjadi perubahan dalam pertarungan antara dua Raja
Tengkorak. Tampak kalau salah satu dari Raja Tengkorak itu mulai terdesak oleh
lawannya. Kini Raja Tengkorak yang terdesak, bermain mundur. Dia lebih sering
mengelak ketimbang menangkis.
Tapi rupanya Raja Tengkorak yang
terdesak itu belum mengaku kalah. Tangan kanannya pun bergerak. Entah dari mana
mengambilnya, pada kedua tangannya telah tergenggam sebilah pisau bergagang
tengkorak kepala manusia.
Begitu kedua senjata itu telah
berada di tangannya, langsung digunakannya untuk melancarkan serangan pada Raja Tengkorak yang tengah
mendesaknya.
Raja Tengkorak yang unggul tidak berani bertindak gegabah. Dia tahu betul
ketajaman senjata-senjata di tangan lawannya. Maka buru-buru tubuhnya dilempar
ke belakang, bersalto beberapa kali di udara. Dan akhimya mendaratkan kedua
kakinya di tanah dengan kedua bilah pisau berada di kanan kiri tangannya.
Tapi baru saja kedua kakinya mendarat
di tanah, serangan susulan dari Raja Tengkorak yang pertama
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 84
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
kali mengeluarkan pisau, kembah meluncur ke arahnya. Tidak ada kesempatan
mengelak bagi Raja Tengkorak yang baru hinggap di tanah. Maka segera digerakkan sepasang pisaunya untuk memapak serangan itu.
Trang, trang, trang...!
Percikan bunga api mengiringi
dentang nyaring dua pasang pisau yang beradu. Akibatnya, kedua belah pihak
sama-sama terhuyung dua langkah ke belakang. Hanya saja, Raja Tengkorak yang
menyerang, lebih parah lagi keadaannya. Karena kedudukan kakinya agak goyah.
Sedangkan Raja Tengkorak yang menangkis sama sekali tidak terpengaruh.
"Hih ... !”
Sambil menggertakkan gigi, Raja
Tengkorak yang menyerang, kembali membabatkan pisaunya ke arah leher Raja
Tengkorak yang diserang.
Anehnya, Raja Tengkorak yang
diserang sama sekali tidak mempedulikannya. Justru ketika lawan meluncurkan
serangan, dia pun mengirimkan serangan pula, dengan sebuah tusukan ke arah
dada.
Blesss, crattt ... !
Hampir berbareng kedua pisau itu
sama-sama mendarat pada sasarannya masing-masing. Serangan Raja Tengkorak yang
pertama kali mencabut pisau, menabas putus kepala lawannya. Sebaliknya, dia pun
terkena serangan pisau lawan pada dada kanannya. Memang, di saat terakhir, Raja
Tengkorak yang pertama kali mencabut pisau ini sempat menggeliatkan tubuh,
sehingga serangan lawan tidak tepat mengenai ulu hatinya.
Pada saat yang bersamaan dengan
terjengkangnya Raja Tengkorak yang pertama kali mencabut pisau, kepala Raja
Tengkorak yang satu lagi menggelinding lepas dari lehernya. Tapi anehnya, tubuh
yang sudah tidak memiliki kepala itu tidak roboh ke tanah.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 85
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Raja Tengkorak yang terluka pada dadanya menatap dengan sepasang mata terbelalak pemandangan di hadapannya. Tangannya sibuk menotok jalan darah di sekitar luka
untuk mencegah mengalirnya darah. Sementara racun yang terkandung dalam pisau
yang mengenai tubuhnya sama sekali tidak dihiraukan, karena memang dia sudah
memiliki penangkal di dalam tubuhnya.
Dengan tubuh agak terbungkuk, dia melihat pemandangan yang terpampang di
hadapannya.
Tampak kepala Raja Tengkorak yang
tergeletak di tanah, bergerak-gerak. Kemudian mendadak
meluncur bagaikan terbang dan mendarat di
tempatnya kembali.
Dan begitu kepala itu telah
bersatu kembali dengan tubuhnya, tangan Raja Tengkorak mengusap bagian sayatan
pada lehernya.
Ajaib! Luka babatan pedang itu
mendadak lenyap seperti sediakala!
"Ha ha ha... I"
Raja Tengkorak yang terbabat
putus kepalanya tertawa bergelak
"Ki...! Jangan bunuh Raja
Tengkorak palsu! Aku yakin dia adalah anakmu ... !" seru Dewa Arak sambil
melempar tubuh ke belakang dan bersalto beberapa kali di udara.
Memang, Arya baru teringat kembali akan dugaannya ketika melihat
bentrok berdarah kedua Raja Tengkorak itu. Karena tidak tahu mana di antara
Raja Tengkorak itu yang Kalpa Reksa, dia langsung berteriak saja ketika melihat
salah seorang dari Raja Tengkorak itu terancam maut.
Hebat akibat ucapan Dewa Arak!
Turgawa, dan Raja Tengkorak yang kepalanya tadi putus kontan terpaku kaku.
Tampak jelas, kalau kedua orang itu terkejut bukan kepalang. Kekagetan yang sama
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 86
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
melanda Raja Tengkorak yang
tertusuk dadanya. Bahkan kedua kakinya tampak menggigil.
Dengan sendirinya, suara-suara
pertarungan pun lenyap karena tokoh-tokoh persilatan yang mengeroyok Jaran Sangkar merasa
jerih, dan tidak melanjutkan penyerangan lagi ketika berkali-kali usaha mereka
kandas.
"Bohong...!"
Suara pekikan keras Turgawa memecahkan
keheningan yang tercipta. Sekaligus juga menyadarkan dua Raja Tengkorak yang
sama-sama terpaku kaku.
"Jangan percaya ucapan busuk Dewa Arak, Sengkala!" seru Turgawa lagi seraya bergerak menghampiri Raja
Tengkorak yang tadi
putus kepalanya. "Orang yang menyamar sebagai Raja Tengkorak itu
adalah pembunuh ayahmu! Cepat kau binasakan dia!"
Hebat akibat pengaruh yang
ditimbulkan oleh ucapan Turgawa. Sepasang mata Raja Tengkorak palsu alias
Sengkala kembali mencorong kehijauan. Kedua tangannya tampak bergetar hebat.
Jelas, kalau dia tengah bersiap mengirimkan serangan mematikan. Tapi....
"Kau jangan kena, dihasut
oleh Turgawa, Sengkala! Sebelum kau menyesal seumur hidupmu karena telah
membunuh ayah kandungmu, lebih baik kau beri kesempatan pada ayahmu untuk menjelaskan masalahnya!" teriak Arya tak kalah kalap.
Ucapan Dewa Arak membuat Raja
Tengkorak palsu itu menghentikan gerakannya. Memang, sudah sejak lama dia
heran, mengapa Turgawa yang mengaku pamannya, sepertinya selalu menyembunyikan
rahasia tentang keluarganya. Baru kalau telah didesak-desak, akan diceritakan.
Itu pun hanya sekadarnya saja. Sehingga tetap saja Sengkala tidak mengetahui
secara persis tentang ayahnya.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 87
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Keparat ... ! " teriak
Turgawa. Tubuhnya pun bergerak, slap untuk melancarkan serangan. Tapi, kontan
ditariknya kembah ketika ada tangan kuat yang mencekal tangannya.
"Biarkan mereka mengemukakan
masalah itu, Paman...," pelan saja ucapan yang keluar dari mulut Raja
Tengkorak palsu itu. Tapi dari nada suaranya, semua orang tahu ada tekanan
dalam ucapan itu. Tekanan yang tidak menghendaki adanya bantahan.
Turgawa menatap wajah Raja
Tengkorak lekat-lekat Perlahan-lahan dia melangkah mundur ketika melihat sorot
mata penuh ancaman dari sepasang mata laki-laki berseragam tengkorak itu.
"Bisa kau memberikan bukti
kalau aka adalah putra dari Raja Tengkorak palsu ini, Dewa Arak?!" agak
bergetar suara yang keluar dari mulut Raja Tengkorak palsu alias Sengkala. Dia
tetap menyangka kalau Raja Tengkorak yang di hadapannya adalah Raja Tengkorak palsu
dan dirinya Raja Tengkorak tulen.
Arya menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa. Tapi
mungkin ayahmu. bisa.... " Setelah berkata demikian, pemuda berambut putih
keperakan itu menoleh ke arah
Raja Tengkorak asli yang masih terpaku dengan tangan mendekap dada. Kedua kaki
Kalpa Reksa tampak menggigil keras, karena guncangan perasaan. Benarkah Raja Tengkorak palsu itu adalah
anaknya?
"Kalau kau benar anakku....
Kau mempunyai beberapa ciri...."
Sesampainya di sini, Raja
Tengkorak asli alias Kalpa Reksa menghentikan ucapannya sejenak karena tenggorokannya dirasakan
kering. Ditelannya air liur untuk membasahinya.
"Apa ciri-ciri yang kumiliki
... ?!" selak Raja Tengkorak palsu tak sabar. Lenyap sudah suara khasnya
karena getaran perasaan yang melanda.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 88
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Kini suara tokoh sesat
yang menggiriskan itu terdengar serak.
"Kau... kau..., mempunyai
benjolan daging di ketiak sebelah kirimu ...... Agak terputus-putus ucapan yang
keluar dari mulut Raja Tengkorak yang terluka dada kirinya.
"Lalu..., apa
lagi...?!" tanya Raja Tengkorak palsu dengan suara semakin serak.
Kekagetan tampak jelas dari tubuhnya yang agak terjingkat.
"Di bawah dagumu ada
tompel...," lanjut Kalpa Reksa lagi. "Dan nama aslimu bukan
Sengkala... tapi Prawira.... Sedangkan Turgawa adalah
orang yang telah membunuh ibumu dan membawa lari dirimu...
"Dusta...!"
Teriakan keras Turgawa menyambuti
ucapan Kalpa Reksa. Tidak cukup hanya sampai di situ saja, dia pun mengibaskan
tangannya. Seketika itu juga beberapa buah benda berkilat yang tidak lain
adalah pisau meluncur cepat ke arah Raja Tengkorak.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan kakek berpakaian kuning. Begitu pisau-pisaunya meluncur, tubuhnya pun
meluruk menyusul pisau-pisaunya.
Dews Arak, Raja Tengkorak palsu,
dan Jaran Sangkar terperanjat bukan main melihat serangan yang sama sekali
tidak terduga-duga itu. Apalagi Raja Tengkorak asli sendiri.
Kalpa Reksa saat itu tengah tidak
berwaspada sama sekali karena tengah tenggelam dalam luapan perasaannya. ltulah
sebabnya dia merasa terkejut bukan kepalang melihat datangnya serangan itu
Tapi, meskipun begitu sebagai seorang tokoh tingkat tinggi walaupun dalam
keadaan terluka, dan tengah tidak bersiap, dia masih mampu berbuat sesuatu.
Cepat-cepat tangan kanannya yang
memegang pisau, digerakkan menangkis. Memang, pisau yang terpegang
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 89
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
di tangan kirinya, terpental
sewaktu dia terkena tusukan lawan.
Tranggg, tranggg, tranggg...!
Cappp ... !
"Akh ... !”
Satu di antara sekian banyaknya
pisau itu berhasil menghunjam perut Kalpa Reksa. Tak pelak lagi, tubuh
laki-laki berseragam tengkorak itu terhuyung, Pisau yang tergenggam di
tangannya pun telepas dari pegangan.
Saat itu, serangan susulan dari
Turgawa menyusul tiba.
Tapi sebelum serangan itu
mencapai sasaran, angin keras berhawa panas menyengat dari Dewa Arak dan
pukulan jarak jauh yang dilepaskan Raja Tengkorak palsu telah lebih dulu
menyambar ke arahnya.
Memang, Saking terkejutnya, Arya dan
Sengkala langsung melancarkan pukulan jarak jauh masing-masing ke arah Turgawa.
Brass... !
Kakek berpakaian kuning itu
memekik ngeri. Dahsyat bukan main pukulan jarak jauh gabungan itu. Tubuh
Turgawa yang tengah berada di udara terpental Darah segar mengucur deras ketika
tubuhnya terpental. Dan sekujur tubuhnya hangus seketika.
Brukkk .. !
Tubuh Turgawa jatuh berdebuk di
tanah dan diam tidak bergerak lagi. Karena saat tubuhnya melayang, nyawanya
sudah meninggalkan raganya.
ooOWKNBROoo
"Ayah ... !”
Raja Tengkorak palsu melesat
memburu tubuh Raja Tengkorak asli yang tergolek rebah di tanah.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 90
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Kini dia tidak ragu-ragu lagi
menyebut demikian pada laki-laki yang memiliki seragam sama dengan dirinya.
Memang, semua keterangan yang
diberikan Raja Tengkorak asli telah membuat dirinya yakin kalau dia, anak Kalpa
Reksa. Di samping semua ciri-ciri yang disebutkan pada dirinya benar. Ada hal
lain yang membuat pertanyaan yang selama, ini bergayut di benaknya dan tak
pernah terjawab oleh pamannya, kini terjawab. Huruf bertuliskan 'Prawira' pada
selimutnya sewaktu dia masih bayi ternyata adalah namanya.
Tanpa ragu-ragu lagi, Raja
Tengkorak palsu itu duduk di tanah dan meletakkan kepala
ayahnya di pangkuan. Tak dipedulikannya darah segar yang keluar dari luka di
tubuh ayahnya mengotori pakaiannya.
"Prawira, Anakku.... Syukur kau telah membalaskan sakit hati
ibumu...," dengan suara terputus-putus, Raja Tengkorak asli mengeluarkan
ucapannya. "Sebelum aku mati... ingin kulihat wajah aslimu ......
Raja Tengkorak palsu membuka selubung
tengkoraknya. Tampaklah seraut wajah seorang pemuda yang mempunyai wajah mirip
dengan Kalpa Reksa. Dialah Prawira alias Sengkala.
"Bukalah selubungku,
Prawira.:.," pinta Raja Tengkorak asli.
Dengan tangan gemetar Sengkala mengulurkan tangan dan membuka selubung ayahnya. Dan....
"Kau...?!" seru
Sengkala kaget. "Kalpa Reksa...
Raja Tengkorak asli menganggukkan
kepalanya. Kemudian dengan terputus-putus diceritakan
semua kejadian yang menimpa keluarganya akibat tindakan jahat Turgawa.
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 91
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Dewa Arak, Jaran Sangkar, dan
seluruh tokoh persilatan yang ada di situ menatap penuh haru. Meskipun begitu, sebagai orang yang telah
kenyang makan garam kehidupan, mereka bisa mengendalikan diri.
Sementara Sengkala sendiri kini
mengerti keculasan hati Turgawa. Kini dia baru mengerti mengapa kakek
berpakaian kuning itu memberikan perlengkapan Raja Tengkorak, yang katanya
adalah peninggalan ayahnya yang telah tewas oleh Kalpa Reksa. Rupanya Turgawa
ingin menjelek-jelekkan nama Raja Tengkorak yang telah tidak muncul ke dunia
persilatan lagi.
"Begitulah ceritanya,
Prawira ...... kata Kalpa Reksa menutup ceritanya. "Kuharap kau segera
melepas seragam tengkorakmu itu. Masa Raja Tengkorak telah lenyap karena aku
telah menguburnya belasan tahun lalu. Kau mau memenuhi permintaanku ini,
Prawira?!"
Prawira alias Sengkala menganggukkan kepalanya. Meskipun
tidak ada butiran air yang mengalir keluar dari matanya. Tapi tampak jelas
kalau sepasang mata itu berkaca-kaca. Memang, tokoh yang menggiriskan ini
merasa sedih sekali.
"Kau harus mempertanggungjawabkan
perbuatanmu pada Ki Jaran Sangkar. Kedua orang muridnya, Ki Tampar Waja dan
Ranjana, telah kau bunuh ......
Sambil berkata demikian, Raja Tengkorak
mengalihkan pandangannya ke arah kakek berpakaian abu-abu itu.
"Lupakanlah, Reksa. Aku
tidak mendendam," sahut Jaran Sangkar cepat. Dia tidak sampai hati
menghukum Sengkala di depan ayahnya yang telah menjelang ajal ini. Biarlah di
akhir hayatnya, Kalpa Reksa merasa lega karena anaknya tidak kurang suatu apa.
"Asalkan dia tidak mengulangi kejahatannya lagi...
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 92
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
semua kesalahannya
kumaafkan,"
"Terima kasih, Ki. Kau
memang bijaksana," kata Kalpa Reksa dengan raut wajah penuh terima kasih.
"O ya, Prawira. Katakan dari mana kau mendapat ilmu 'Rawa Rontek'
itu?!"
"Dari orang sakti yang
bersedia menjadikanku murid, Ayah.... Dan..., Ayaaah ... !"
Sengkala terpaksa memutuskan ucapannya karena kepala Kalpa Reksa telah
terkulai lemas dan tak bernyawa lagi.
"Ayah... !" teriak
Sengkala lagi seraya menggoyang-goyangkan pipi Kalpa Reksa.
Dengan hati sedih, Sengkala
bangkit berdiri, kemudian menatap satu persatu wajah-wajah anak buahnya.
"Kalian dengarkan
semua...!" ujar Raja Tengkorak palsu. "Mulai saat ini aku tidak lagi
menjadi Raja Tengkorak. Kalian boleh memilih jalan sendiri-sendiri. "
Raja Tengkorak palsu menghentikan
ucapannya sebentar. Sementara anak buahnya tetap menunduk-kan kepala.
"Kalian tahu..., kalau Ki
Jaran Sangkar mau, sudah sejak tadi kalian jadi mayat! Bagaimana? Yang ingin
sadar, boleh mengikutiku! Bagi yang tak mau, kuberi kebebasan untuk pergi! Tapi
ingat! Bila kalian melakukan kejahatan dan bertemu denganku, jangan harap akan
kuampuni...!"
Setelah berkata demikian, Prawira
alias Sengkala lalu membungkukkan tubuh dan mengangkat mayat Kalpa Reksa, lalu
berjalan sambil membopong mayat ayahnya.
Jaran Sangkar dan Dewa Arak
membiarkannya. Mereka berdua tahu, hati putra Kalpa Reksa itu sangat terpukul.
Jaran Sangkar dan Arya hanya
memandangi saja Sengkala yang semakin jauh sambil membawa
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 93
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
ayahnya. Sementara di belakang
pemuda yang telah menggemparkan karena telah menjadi Raja Tengkorak itu,
berjalan dengan kepala tertunduk, tokoh-tokoh persilatan yang menjadi anak
buahnya. Hanya sebagian kecil saja yang tidak mengikuti Prawira.
"Ada orang yang tengah
menuju kemari, Arya...," ucap Jaran Sangkar pada Dewa Arak yang juga telah
mendengar langkah-langkah kaki mendekati
tempat mereka. "Aku pergi dulu...."
"Tunggu sebentar, Ki ......
cegah Arya cepat.
"Ada apa, Arya?" tanya
Jaran Sangkar, sambil menghentikan langkahnya.
"Boleh kutahu tempat
tinggalmu, Ki?" tanya Arya. "Lupakanlah, Arya. Aku tidak ingin
terlibat dalam
kekerasan dunia
persilatan...."
Belum lagi lenyap, ucapannya,
tubuh kakek berpakaian abu-abu telah berada dalam jarak belasan tombak di
depan.
Arya hanya menggeleng-gelengkan
kepala melihat kehebatan kakek itu. Lalu dipalingkan kepalanya ke arah asal
suara. Dan mendadak wajahnya berubah!
"Kang Arya...!" seru
sosok serba putih yang berada dalam jarak lima tombak.
"Melati... !" jawab
pemuda berambut putih keperakan itu tak
kalah keras. Nada suaranya mengandung kekagetan tapi juga
kegembiraan yang tak terkirakan. Dan memang, Dewa Arak merasa gembira bukan
kepalang melihat siapa adanya sosok tubuh yang bergerak mendatangi. Sosok tubuh
wanita cantik jelita laksana bidadari, berpakaian serba putih dan berambut
panjang terurai. Siapa lagi kalau bukan Melati?
Seiring keluarnya ucapan itu,
Arya melesat ke depan dengan kedua Lengan terkembang. Hal yang sama pun
dilakukan oleh sosok tubuh yang
Dewa Arak – 027. Kembalinya Raja
Tengkorak 94
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
tidak lain Melati adanya.
Dua sosok tubuh yang berlari
cepat saling mendekati itu akhirnya bertemu di pertengahan jalan.
"Kang Arya... !" sebut
Melati dengan sepasang mata berkaca-kaca. Kepalanya disandarkan di dada Arya
yang bidang dan kokoh itu. Nada suara gadis berpakaian putih ini terdengar agak
serak karena rasa haru yang menyekat
tenggorokannya.
Arya pun dilanda perasaan yang sama. Sungguh tidak diduga kalau dia bisa
bertemu dengan tunangannya. Bertubi-tubi diciuminya, rambut, telinga dan pipi
gadis berpakaian putih itu dengan kerinduan yang menggelegak.
"Melati..., syukur kau
selamat...," dengan suara tak kalah serak, Arya menyahuti. Dipeluknya
tubuh Melati erat-erat seakan-akan khawatir kalau gadis itu akan pergi lagi.
Melati pun balas memeluk tak
kalah erat. Dan tanpa melepaskan pelukannya dia pun menceritakan semua kejadian
yang dialami.
"Ketika aku tiba di hutan
ini, kudengar sayup-sayup suara ribut-ribut. Karena ingin tahu, kudekati.
Syukur, aku malah bertemu denganmu, Kang." Arya sama sekali tidak
menyahuti. Dia masih diliputi rasa gembira melihat gadis yang dicintainya,
berhasil ditemukan kembali dalam keadaan selamat.
Waktu terus saja bergulir, tapi
Melati dan Dewa Arak tetap dalam kerinduan dan kebahagiaan. Mereka tidak
mempedulikan lagi keadaan alam sekelilingnya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment