TEROR
MACAM PUTIH
1
Angin malam yang berhembus keras,
begitu dingin meng-gigilkan tulang di sekujur tubuh. Bulan penuh tampak di
langit. Sinarnya yang cukup terang berwarna kuning keperakan, memancar ke bumi.
Suasana malam ini demikian hening dan sepi. Bahkan tak nampak ada binatang yang
bergerak barang seekor pun.
Dalam suasana malam seperti ini,
rasanya orang akan lebih suka tinggal di dalam rumah, berkawan selimut dan
pembaringan. Namun tidak demikian dengan dua orang yang masing-masing
berpakaian serba abu-abu dan merah. Dalam suasana seperti ini, ternyata mereka
masih berada di luar rumah, di atas punggung kuda masing-masing.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Mereka terus memacu kudanya
tergesa-gesa, melewati jalan tanah berdebu. Berkali-kali pecut mereka
dihantam-kan ke bagian belakang binatang tunggangan masing-masing.
Yang berpakaian serba abu-abu
ternyata laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun. Matanya sipit,
sehingga seperti sebuah garis saja layaknya. Sementara orang yang berpakaian
serba merah, adalah seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Wajahnya
yang cantik dan manis, semakin bertambah manis dengan dandanan rambutnya yang
dikuncir ke belakang. Apalagi sinar rembulan yang berwarna kuning keemasan
memperjelas keadaan wajahnya. Sehingga, membuat kecantikannya semakin menonjol.
"Apakah mereka tidak akan
mengejar kita, Paman Kusuma?" tanya gadis cantik itu. Kepalanya ditolehkan
ke arah laki-laki berpakaian serba abu-abu, seraya tetap menghentakkan pecutnya
ke bagian belakang kudanya agar binatang itu mampu beriari semakin cepat.
"Mereka pasti akan mengejar
kita, Rara Inggar," sahut
laki-laki bermata sipit yang
dipanggil Paman Kusuma seraya tetap memacu kudanya. Raut wajahnya menyirat-kan
kecemasan yang amat sangat. Jelas, ada sesuatu yang ditakutinya.
Belum juga ucapan Kusuma lenyap,
terdengar gemuruh langkah kaki kuda di belakang mereka.
"Kau benar, Paman..!"
seru gadis yang ternyata ber-nama Rara Inggar keras. "Hiyaaa...!
Hiyaaa...!"
Memang, di belakang mereka dalam
jarak sekitar sepuluh tombak, nampak serombongan orang berkuda. Rata-rata,
mereka mengenakan pakaian serba hitam yang pada bagian dadanya terdapat gambar
kepala seekor macan putih.
"Itu mereka...!" teriak
salah seorang dari rombongan yang berkuda paling depan seraya menudingkan
telunjuk-nya ke arah Kusuma dan Rara Inggar. Dia adalah seorang laki-laki
berwajah bopeng. "Cepat susul mereka sebelum memasuki desa di depan!"
Perintah laki-laki berwajah
bopeng itu membuat anak buahnya berusaha menyusul sekuat tenaga. Maka dengan
sendirinya, pecut mereka pun menghantam bertubi-tubi ke bagian belakang tubuh
binatang tunggangan masing-masing. Akibatnya, kuda-kuda yang merasa kesakitan
itu terpaksa berlari lebih cepat. Maka di malam yang sepi dan hening itu
terjadi kejar-kejaran yang menegangkan. Derap kaki kuda yang bertubi-tubi
menghantam bumi, memecah-kan keheningan malam yang sepi.
Kusuma dan Rara Inggar berusaha
memacu kuda secepat mungkin. Pecut dan mulut mereka tak henti-hentinya bekerja
dan berteriak dalam upaya mempercepat laju kuda. Tapi hal yang sama juga dilakukan
para pengejar berpakaian hitam di bawah pimpinan laki-laki berwajah bopeng.
Masing-masing pihak berusaha
sekuat tenaga meng-ungguli lawan. Dan memang, hasilnya ditentukan kuda
tunggangan mereka. Namun ternyata, kuda orang-orang berpakaian hitam itu begitu
kuat dan memiliki kemampuan
lari yang cepat.
Dan kini, sedikit demi sedikit
jarak di antara mereka semakin bertambah dekat. Maka sudah bisa diperkirakan
hasilnya.
Tapi, rupanya laki-laki berwajah
bopeng itu tidak sabar lagi menunggu. Tangan kanannya segera dimasukkan ke
balik baju, sehingga tali kekang kuda itu kini hanya dipegang tangan kiri.
Hanya sabentar saja tangannya masuk ke balik baju, dan begitu keluar langsung
bergerak mengibas.
Sing, sing, sing...!
Suara mendesing nyaring terdengar
seiring kibasan tangan laki-laki berwajah bopeng. Bukan itu saja. Dan kini
beberapa benda berkilatan pun menyambar cepat ke arah sasarannya.
Namun Kusuma dan Rara Inggar
bukan orang bodoh. Meskipun tidak mendengar, tapi dari suara desing tajam
langsung bisa diketahui kalau lawan telah mengirimkan serangan.
Cappp...!
Satu dari sekian banyak pisau
yang dilepaskan laki-laki berwajah bopeng itu ternyata mengenai kaki kuda
Kusuma. Seketika terdengar ringkikan diiringi tersungkurnya kuda ke tanah
bersama tubuh laki-laki bermata sipit itu.
"Paman...!" jerit Rara
inggar kaget.
"Jangan pedulikan aku,
Inggar! Cepat lari!" seruan kecemasan Kusuma telah memaksa Rara Inggar
memacu kudanya kembali.
Tubuh laki-laki berpakaian
abu-abu itu jatuh di tanah. Dan sebelum bangkit berdiri, tangan kanannya
bergerak mengibas. Dan....
Sing, sing, sing...!
Sinar-sinar terang berkilauan
seketika meluncur cepat ke arah gerombolan orang-orang berseragam hitam itu.
“Keparat...!"
Laki-laki berwajah bopeng itu
berteriak memaki melihat serangan benda-benda berkilauan yang tak lain dari
beberapa bilah pisau. Mau tidak
mau, hal itu membuat dia dan rombongannya memperlambat langkah kuda untuk
menghadapi serangan.
Beberapa di antara mereka segera
mencabut senjata masing-masing untuk menangkis serangan. Maka suara berdentang
nyaring kontan terdengar ketika senjata-senjata itu beradu.
Lain lagi yang dilakukan
laki-laki berwajah bopeng itu. Serangan pisau itu dihadapinya dengan mengelak.
Tubuh-nya dirapatkan dengan punggung kuda, sambil tetap memacu kuda. Tampaknya
serangan pisau itu menuju ke arah dada. Maka, serangan itu pun tewat sejengkal
di atas kepala.
Hanya itu yang sempat dilihat
Rara Inggar. Karena, pecutnya langsung dilayangkan ke arah bagian belakang
tubuh binatang tunggangannya.
Sesak rasanya dada gadis
berpakaian merah itu oleh keharuan menggelegak. Sepasang matanya pun me-rembang
berkaca-kaca. Ada sedu sedan yang naik ke kerongkongannya, sehingga membuat
suaranya jadi ber-campur isak.
"Selamat tinggal,
Paman...'" ucap Rara Inggar.
"Selamat jalan
Inggar...!" balas laki-laki bermata sipit itu.
Dan saat itulah kuda tunggangan
laki-laki berwajah bopeng meluncur tiba! Hal ini membuat Kusuma kaget bukan
kepalang. Dengan sebisa-bisanya dia melompat ke samping kanan untuk menghindari
tabrakan kuda itu.
Usaha yang dilakukan Kusuma
memang berhasil. Tapi, kaki lawan tak tinggal diam. Begitu laki-laki berpakaian
abu-abu itu mengelakkan diri, kaki kiri lawan melayang.
Bukkk...!
Keras bukan main tendangan yang
dilancarkan laki-laki berwajah bopeng itu. Tambahan lagi, tendangan itu begitu
telak menghantam perut Kusuma. Akibatnya, tubuh laki-laki bermata sipit itu
terjengkang ke belakang. Keluhan ter-tahan terdengar mengiringi tersungkurnya
tubuh Kusuma.
Suara berdebuk keras kontan
terdengar begitu tubuh Kusuma jatuh di atas tanah.
"Bunuh monyet kecil itu,
sementara yang lain ikut aku! Kita harus mendapatkan gadis berpakaian merah
itu!"
Tanpa menunggu sambutan rekan
rekannya, laki-laki berwajah bopeng itu telah memacu kudanya. Suara derap kaki
kuda dan debu yang mengepul tinggi ke udara meng-iringi kepergian laki-laki
berwajah bopeng itu, untuk menyergap Rara Inggar.
Empat dari belasan gerombolan
berpakaian hitam segera menarik tali kekang kudanya, kemudian ber-lompatan
mengepung Kusuma. Sedangkan sisanya yang tak kurang dari sepuluh orang,
melecutkan cambuknya, terus mengikuti laki-laki berwajah bopeng itu.
Ctarrr, ctarrr...!
***
Kusuma berusaha keras untuk
bangkit, walaupun rasa sakit dan mual yang amat sangat menyengat perutnya.
Giginya bergemeretak berkali-ka-i menahan rasa sakit dan amarah yang bercampur
menjadi satu.
Memang, akhirnya laki-laki
bermata sipit itu berhasil bangkit berdiri. Tapi belum bisa berdiri tegak,
empat orang berseragam hitam telah siap menyerangnya.
Srat, srat, srat…!
Sinar-sinar terang berkeredep
ketika tiga orang ber-pakaian hitam itu mencabut senjata masing-masing. Kini di
tangan mereka telah tergenggam sebilah pedang yang bergagang kepala harimau,
berwarna putih.
"Saat ajalmu sebentar lagi
tiba, Tua Bangka…!" ancam salah satu dari empat orang berpakaian hitam
itu. Dia adalah seorang laki-laki bertubuh pendek kekar.
Kusuma berusaha menegakkan tubuh,
tapi ternyata tidak mampu, karena rasa sakit di perutnya. Maka dengan
terbungkuk-bungkuk kakinya melangkah mundur seraya mencabut golok yang
tergantung di pinggang.
Srattt..!
"He... he... he...!"
Laki-laki bertubuh pendek tertawa
terkekeh seraya melangkah maju. Jelas, hatinya merasa geli melihat Kusuma yang
hendak mengadakan perlawanan.
"Biar aku saja yang
membereskan keledai ini...!" pinta laki-laki bertubuh pendek itu, sombong.
"Terserah padamu,
Sancang." sahut rekannya yang ber-kumis tipis seraya mengangkat bahu. Maka
langkah kaki-nya pun dihentikan.
Hal yang sama ternyata dilakukan
rekan yang lainnya. Mereka pun menghentikan langkahnya pula. Memang, ketiga
orang itu bermaksud membiarkan laki-laki bertubuh pendek yang ternyata bernama
Sancang untuk menyelesai-kan lawannya tanpa di bantu.
Kusuma menyipitkan mata untuk memperjelas
pandangannya. Meskipun keadaan tubuhnya belum pulih dan masih
terbungkuk-bungkuk, namun berusaha menguatkan diri kalau nyawanya
ingin selamat. Laki-laki berpakaian abu-abu itu hanya memperhatikan dengan
seksama langkah-langkah Sancang.
Langkah Sancang bergerak
menggeser saat mendekati Kusuma. Kedua telapak kakinya tetap menyentuh tanah.
"Haaat..!"
Begitu jarak mereka telah dekat,
Sancang mulai melancarkan serangan. Pedang di tangannya menusuk cepat ke arah
ulu hati. Kusuma tentu saja tidak sudi mem-biarkan lawan mengancam nyawanya.
Maka goloknya segera digerakkan untuk menangkis serangan pedang itu.
Trang...!
Bunga api berpijar ketika dua bilah
senjata berbeda itu berbenturan nyaring. Akibatnya tubuh kedua orang itu
sama-sama terhuyung satu langkah ke belakang. Jelas, tenaga dalam Sancang dan
Kusuma berimbang.
Sancang menggertakkan gigi, marah
karena lawan berhasil memunahkan serangannya. Akibarnya, serangan-nya pun
membabi buta.
Pedang di tangan Sancang
berkelebat cepat ke arah lawan. Membacok, menusuk, dan menyobek. Karuan saja
hal itu membuat Kusuma kelabakan. Dengan susah payah, goloknya dikelebatkan ke
sana kemari untuk menjegal setiap serangan.
Trang, trang, trang...!
Suara dentang senjata beradu
menyemaraki per-tarungan yang terjadi. Percikan bunga api pun semakin menambah
riuhnya pertarungan.
Serangan yang dilancarkan Sancang
tampak bertubi-tubi. Tapi, semuanya berhasil dikandaskan Kusuma. Walaupun untuk
itu, laki-laki berpakaian abu-abu itu harus pontang-panting ke sana kemari
untuk menyelamatkan selembar nyawanya.
Tindakan seperti itu karuan saja
membuat sakit yang mendera Kusuma semakin menjadi-jadi. Begitu menusuk dan
menggigit. Tidak aneh, kalau beberapa kali tubuhnya terbungkuk-bungkuk ketika
mengelakkan serangan. Tak sampai delapan jurus, Kusuma sudah terdesak hebat.
Bahkan beberapa bagian tubuhnya mulai terserempet senjata lawan. Sementara
cairan merah kental pun mulai mengalir dari bagian yang terluka.
Kalau saja Kusuma diberi
kesempatan memulihkan diri, mungkin tidak akan semudah itu Sancang mendesak dan
bahkan membuatnya terluka.
"Hih...!"
Wuttt..! Crottt...!
"Aaakh...!"
Kusuma kontan menjerit keras
ketika pedang Sancang menghunjam perutnya hingga tembus ke punggung. Darah
segar pun muncrat-muncrat dari bagian yang tertembus pedang.
Sepasang mata laki-laki bermata
sipit itu membelalak menjemput ajal. Golok yang tergenggam pun terlepas dari
cekalan. Dan ketika Sancang menarik pedangnya, tubuh Kusuma pun roboh ke tanah.
Sebentar dia berkelojotan, lalu tewas!
"Ha... ha... ha...!"
Tawa bergelak Sancang yang
disusul tawa ketiga rekan-nya berkumandang memecah keheningan malam. Sebuah
tawa kemenangan.
"Tinggal gadis manis itu
yang menjadi buruan kita...," ujar Sancang dengan dada dibusungkan. Tampak
jelas, dia merasa bangga atas kemenangannya.
"Mudah-mudahan Kang Jalatang
berhasil menangkap-nya," harap laki-laki yang berkumis tipis.
Sancang dan kedua orang rekannya
hanya meng-anggukkan kepala saja, tidak menyambuti ucapan itu.
"Mari kita
menyusulnya," ajak Sancang seraya berjalan meninggalkan tempat itu.
Ketiga rekannya sama sekali tidak
menyahuti ucapan laki-laki pendek itu. Mereka bergegas mengikuti setelah
menyetujui saran rekannya.
"Hih...!"
Hanya dengan menekuk lutut dan
menekan kaki di tanah, tubuh keempat orang itu sudah melesat ke atas. Kemudian,
mereka hinggap di atas punggung kuda masing-masing.
Sancang dan ketiga orang rekannya
mendecak pelan seraya menggeprakkan tali kekang. Sekejap kemudian,
binatang-binatang tunggangan itu pun mulai berpacu cepat.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
***
Sementara itu laki-laki berwajah
bopeng yang dipanggil dengan nama Jalatang, bersama rekan-rekannya masih sibuk
mengejar Rara Inggar.
Sedangkan Rara Inggar terus
memacu kudanya secepat mungkin. Pecut yang tergenggam di tangannya sudah tidak
terhitung lagi yang menyengat bagian belakang tubuh kuda itu. Tak heran kalau
tangannya pun sampai pegal-pegal karenanya.
Meskipun begitu, usahanya sia-sia
belaka. Semakin lama jaraknya dengan para pengejar semakin bertambah dekat.
Apalagi kuda lawan jauh lebih unggul dari kudanya. Orang-orang berseragam itu
menggunakan kuda-kuda kuat dan mempunyai kemampuan lari cepat.
Tapi Rata Inggar pantang berputus
asa. Selama masih mampu, dia terus saja berusaha. Dan memang itu yang
dilakukannya. Pecut di tangannya terus saja dilecutkan.
Ctar, ctar, ctarrr...!
Meskipun tidak melihat, tapi Rara
Inggar tahu jarak para pengejarnya semakin bertambah dekat. Dan itu bisa
diketahui dari gemuruh kaki kuda yang semakin keras terdengar di telinganya.
Tak lama kemudian, dua ekor kuda
mulai membarengi kuda Rara Inggar dari sebelah kanan dan kiri. Para pengejarnya
kini mulai menyusul gadis itu.
Bahkan kini, laki-laki berwajah
bopeng yang bernama Jalatang telah mendahului kuda Rara Inggar. Sementara, kuda
temannya bergerak mengikuti. Dan begitu berada beberapa batang tombak di depan,
kedua penunggang kuda itu menarik tali kekangnya.
Diringi ringkikan nyaring, kedua
kuda itu menghentikan larinya. Kedua kaki depan kuda itu terangkat
tinggi-tinggi ke atas.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan kedua orang penunggang kuda itu. Tatkala kuda mereka berhenti,
segera dilbalikkan arahnya. Dan kini, kedua kuda itu berdiri menghadang jalan.
Rara Inggar terkejut bukan
kepalang melihat hal ini. Tidak ada jalan keluar lagi untuknya. Apalagi, jalan
tempat para penunggang kuda menghadang adalah sebuah jalan sempit, yang tidak
mungkin dapat dilalui tiga ekor kuda yang berpacu berbarengan. Dengan
sendirinya, gadis itu tidak bisa lagi terus memacu kudanya.
Mau tidak mau, gadis berpakaian
merah itu menarik tali kekang kuda untuk menghentikan lari kudanya. Disadari
kalau kini tidak mempunyai kesempatan lolos lagi.
Kanan kirinya adalah dinding batu
yang tinggi, sedangkan di belakangnya telah terdengar gerombolan pengejarnya
yang lain.
Diam-diam Rara Inggar memaki-maki
diri sendiri, yang tadi begitu bodoh. Mengapa jalan sempit yang di kanan dan kirinya terpampang
dinding-dinding batu tinggi menjulang ini yang dipilihnya.
Tapi nasi telah menjadi bubur,
jadi tidak ada gunanya lagi disesali. Dan itu yang akhirnya disadari Rara
Inggar. Dia tahu, hal yang perlu dilakukan sekarang adalah meng-hadapi
pilihannya.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, gadis
berambut dikuncir itu melompat turun dari atas punggung kudanya. Kemudian
binatang tunggangannya ditambatkan di situ.
Srattt..!
Sinar terang berkeredep ketika
Rara Inggar mencabut pedangnya yang tersampir di punggung.
"Majulah kalian semua, Iblis
Berwajah Manusia...!" tantang gadis berpakaian merah itu lantang.
"Ha ha ha...!"
Jalatang tertawa terbahak-bahak.
Tanpa menghentikan tawanya, laki-laki berwajah bopeng itu melompat turun dari
kudanya. Dituntunnya kuda itu ke pinggir, lalu ditambatkannya. Hal yang sama
dilakukan semua rekan rekannya. Mereka pun tertawa terbahak-bahak, sehingga
malam yang semula hening dan sunyi menjadi ramai.
"Lucu...! Ada seekor kelinci berani menantang harimau…! Lucu sekali! Ha... ha...
ha...!" kata Jalatang ber-nada meremehkan. sambil menuding ke arah Rara
Inggar.
"Tidak usah banyak
basa-basi, Muka Bopeng! Majulah kalau berani...!" dengus Rara Inggar
keras.
"Keparat!" bentak
Jalatang.
Laki-laki berwajah bopeng itu
seketika menghentikan tawanya. Bahkan seri wajahnya pun langsung lenyap,
berganti raut kemarahan. Dengan langkah lebar-lebar, dia maju menghamprri Rara
Inggar. Sepasang matanya
nampak menyorotkan ancaman hebat.
"Perempuan liar! Orang sepertimu harus diberi pelajaran biar kapok!"
Terdengar bergetar suara yang
keluar dari mulut laki-laki berwajah bopeng. Betapa tidak? Karena, ucapan itu
keluar dari hati yang panas terbakar amarah.
"Kau akan kutelanjangi dan
kami perkosa beramai-ramai sampai mati!" lanjut Jalatang.
***
2
"Kang...!"
Sebuah seruan kaget terdengar
dari mulut seorang laki-laki berkulit hitam. Raut wajahnya tampak menyiratkan
keterkejutan. Dan perasaan yang sama juga terpampang di raut wajah orang-orang
berseragam hitam yang lainnya. Hanya saja, mereka tidak sampai mengeluarkan
seruan.
Jalatang menoleh ke arah
laki-laki berkulit hitam yang berdiri di belakangnya dengan sinar mata penuh
teguran.
"Kau tidak ingat larangan
ketua?" agak ragu-ragu laki-laki berkulit hitam itu mengeluarkan ganjalan
hatinya, karena tahu kalau Jalatang tidak senang atas tegurannya.
"Hm.... Kalau kalian tidak
membocorkan rahasia ini, aku yakin ketua tidak akan tahu!" kata Jalatang,
enteng. Pandangannya juga beredar merayapi rekan-rekannya. "Wanita ini
telah terlalu menghina. Jadi, harus menerima balasan yang setimpal! Apa kalian
tidak ingin menikmati-nya juga?"
“Tapi, Kang…," laki-laki
berkulit hitam masih mencoba membantah. "Bagaimana tugas yang diberikan
ketua kita?"
"Itu bisa diurus setelah
urusan kita selesai!" tandas Jalatang tak sabar.
Laki-laki berkulit hitam itu pun
diam. Dia tahu, Jalatang telah marah sekali. Maka kalau tetap bersikeras, bukan
tidak mungkin laki-laki berwajah bopeng itu akan mem-bunuhnya.
Dengan amarah yang semakin
berkobar, Jalatang kembali membalikkan tubuhnya dan bersiap melaksana-kan
maksudnya.
Tapi belum juga sempat melangkah.
Rara Inggar yang sejak tadi mendengar niat busuk Jalatang dan sudah merasa
geram bukan kepalang, langsung melompat menyerang.
Sing...!
Suara mendesing nyaring mengawali
tibanya serangan pedang Rara Inggar yang meluncur deras ke arah leher Jalatang.
Laki-laki berwajah bopeng itu
kontan terperanjat. Sungguh tidak disangka kalau gadis berpakaian merah itu
mempunyai gerakan demikian cepat Sehingga, tahu-tahu saja ujung pedang lawan
hampir menembus lehernya.
Tidak ada kesempatan lagi bagi
laki-laki berwajah bopeng ini untuk menangkis serangan itu. Apalagi untuk
mencabut senjatanya. Memang, tibanya serangan itu demikian cepat!
“Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, kaki
Jalatang dijejakkan di tanah. Dia langsung bersalto di udara sehingga serangan
itu lewat di celah-celah kedua kakinya.
Rara Inggar yang tengah dilanda
kemarahan meng-gelegak sama sekali tidak memberi kesempatan. Begitu serangan
pertamanya gagal ujung pedangnya terus meluncur deras mengancam berbagai bagian yang mematikan. Kelebatan pedangnya menimbulkan suara mendesing
nyaring dari udara yang terobek. Tampaknya, serangan itu disertai pengerahan
tenaga dalam tinggi.
Akibatnya Jalatang harus berjuang
keras menyelamat-kan selembar nyawanya. Tubuhnya terpontang-panting ke sana
kemari, menghindari malaikat maut yang ada di ujung pedang lawannya.
Jalatang sadar kalau tidak ada
bantuan akan tewas di tangan gadis berambut dikuncir itu. Serangan-serangan
yang dilancarkan Rara Inggar terlalu gencar, susul-menyusul seperti gelombang
laut. Bahkan tidak mem-berinya kesempatan sama sekali. Jangankan untuk balas
menyerang, mengelak saja sulit bukan main!
Sebuah keuntungan ada di pihak
Jalatang. Rekan-rekannya rupanya mengetahui kesulitan yang dihadapinya. Itulah
sebabnya, sebelum hal terburuk terjadi pada dirinya rekan- rekannya segera
meluruk membantu.
Suara-suara mendesing diikuti
berkeredepnya sinar-
sinar menyilaukan dari
senjata-senjata yang berkelebat menuju ke berbagai bagian tubuh, membuat Rara
Inggar menghentikan desakannya pada Jalatang.
Sing...! Suara mendesing nyaring
mengawali tibanya serangan pedang Rara Inggar yang meluncur deras ke arah leher
Jalatang.
"Hih...!" sambil
menggertakkan gigi, kaki Jalatang dijejakkan di tanah. Dia langsung melompat,
sehingga serangan itu lewat di celah-celah kedua kakinya.
Orang-orang berseragam hitam
bergambar kepala macan putih di bagian dada, terperanjat ketika merasakan
tangan yang menggenggam senjata terasa lumpuh. Akibat-nya, senjata-senjata yang
digenggam pun terlepas dari pegangan dan jatuh ke tanah.
Bukan hanya itu saja. Tanpa dapat
dicegah, kaki mereka pun terhuyung-huyung ke belakang. Hal ini mem-buat
orang-orang berseragam hitam itu sadar. Ternyata Rara Inggar bukan lawan
sembarangan.
Meskipun akibatnya cukup
mengejutkan, tapi dari usaha yang mereka lakukan membuat Jalatang lolos dari
ancaman maut.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, laki-laki
berwajah bopeng itu mendaratkan kedua kakinya di tanah.
"Hhh...!"
Jalatang menghela napas lega
ketika menyadari ancaman maut yang sejak tadi memburunya telah lenyap. Dengan punggung
tangan, dihapusnya peluh yang mem-basahi kening. Peluh yang timbul karena
perasaan tegang yang memuncak!
"Minggir semua...!"
teriak Jalatang keras. "Biar aku yang menghadapinya!"
Srattt..!
Begitu golok keluar dari warangkanya, laki-laki berwajah bopeng itu langsung
memutar-mutarnya di depan dada. Sehingga, suaranya terdengar nyaring. Lalu....
"Haaat..!"
Diawali jeritan melengking
nyaring, Jalatang menyerang Rara Inggar. Golok di tangannya meluncur cepat ke
arah berbagai bagian tubuh yang mematikan.
Rara Inggar yang memang sudah
bersiap sejak tadi, langsung menyambutnya. Pertarungan sengit dan mati-matian
pun tidak bisa dielakkan lagi.
***
Memang hebat pertarungan yang
terjadi antara dua orang yang ternyata sama-sama lihai itu. Gerakan mereka
sama-sama cepat, sehingga yang tampak hanya
sekelebatan bayangan merah dan hitam saling belit dan saling pisah.
Orang-orang berpakaian hitam itu
sampai menyipitkan mata untuk dapat melihat lebih jelas pertarungan yang
terjadi. Tapi, tetap saja mereka tidak mampu. Gerakan-gerakan Rara Inggar dan
Jalatang terlalu cepat untuk dapat dilihat mata biasa.
Kini tubuh Jalatang dan Rara
Inggar telah terbungkus gulungan sinar senjata masing-masing. Jalatang
diselimuti gulungan sinar putih goloknya, sedangkan Rara Inggar gulungan sinar
kuning pedangnya.
Semula gulungan pedang itu
sama-sama lebar. Tapi menginjak jurus ketiga puluh, gulungan sinar putih mulai
menyempit. Sebaliknya, gulungan sinar kuning yang semakin melebar. Melihat hal
ini saja, bisa dipastikan kalau Jalatang terdesak. Dan ini membuat orang orang
berpakaian hitam terkejut bukan kepalang. Jalatang, di per-guruan mereka adalah
seorang kepala kelompok yang membawahi dua belas orang yang rata-rata memiliki
kepandaian cukup tinggi. Tapi kini menghadapi Rara Inggar saja, ternyata
terdesak. Jelas, kepandaian gadis ber-pakaian merah itu lebih tinggi dari pada
Jalatang.
"Hih...!”
Pedang Rara Inggar meluncur cepat
ke arah leher Jalatang. Karuan saja serangan itu membuatnya terkejut
bukan kepalang. Apalagi saat itu
baru saja mengelakkan serangan sebelumnya. Bahkan kedudukannya dalam keadaan
tidak memungkinkan. Maka terpaksa goloknya digerakkan untuk menangkis.
Trang...!
Jalatang meringis ketika tangan
kanannya dira seakan kesemutan akibat benturan dua senjata itu. Dan belum lagi
dia sempat berbuat sesuatu, kaki kanan gadis berambut dikuncir itu telah
terlebih dahulu melesat ke arah pangkal paha kirinya.
Bukkk! "Akh...!”
Keluhan tertahan keluar dari
mulut Jalatang ketika tubuhnya terjengkang ke belakang dan jatuh bergulingan di
tanah. Sekujur kakinya terasa lumpuh! Memang, keras sekali tendangan yang
dilancarkan Rara Inggar. Apalagi mendarat secara telak ke sasaran.
Dan rupanya Rara Inggar tidak mau
menyia-nyiakan kesempatan itu. Pedangnya segera ditusukkan ke arah tubuh lawan
yang berada di tanah.
Tapi walaupun sebelah kakinya
lumpuh, Jalatang masih sanggup membuktikan kelihaiannya. Karena untuk melompat sudah tidak mungkin
lagi, maka tubuhnya segera bergulingan di tanah. Hasilnya, serangan pedang Rara
Inggar hanya mengenai angin.
Karuan saja hal ini membuat gadis
berpakaian merah ini semakin bertambah geram. Tubuh yang bergulingan itu terus
saja dihujani dengan tusukan-tusukan pedangnya.
Walaupun berada dalam keadaan
mengkhawatirkan, tapi karena memang telah terbiasa berhadapan dengan maut,
pikiran Jalatang tetap jernih. Sambil terus berguling, pikirannya bekerja keras
untuk menyelamatkan diri. Laki-laki berwajah bopeng itu sadar kalau dirinya
tidak bisa terus-menerus mengelak. Memang, sampai saat ini masih berhasil mengelak. Tapi sampai berapa lama ke-beruntungan itu tetap berpihak padanya.
Bukan hanya Jalatang saja yang
mengkhawatirkan
keselamatan dirinya.
Rekan-rekannya yang sekaligus juga anak buahnya pun merasa khawatir melihat
keadaan laki-laki berwajah bopeng itu. Mereka ingin membantu, tapi khawatir
Jalatang akan marah. Memang, tadi pimpinan mereka itu telah mengatakan akan
menghadapi Rara Inggar seorang diri!
Pada satu kesempatan sambil
menggulingkan tubuh menghindari serangan, Jalatang mengibaskan tangannya. Dan…
Brrr...!
Segumpal abu berhamburan ke arah
wajah Rara Inggar. Karuan saja hal ini membuatnya gelagapan. Maka buru-buru
matanya dipejamkan untuk menghindari masuk-nya debu itu ke mata. Dengan
sendirinya, serangannya kontan terhenti.
Kesempatan yang hanya sekejap itu
tidak disia-siakan Jalatang. Tubuhnya melenting ke atas. Dan begitu tubuh-nya
telah berada di udara, kaki kanannya meluncur cepat ke arah dada Rara Inggar.
Bukkk! "Hugh...!"
Tubuh Rara Inggar terjengkang ke
belakang. Darah segar langsung mengalir deras dari mulutnya. Tampaknya gadis
berpakaian merah ini terluka dalam. Memang, tendangan yang dilancarkan Jalatang
dikeluarkan lewat pengerahan seluruh tenaga dalam. Tambahan lagi, tendangan itu
mengenai sasaran secara telak.
Dengan suatu pijakan dari kedua
tangan yang jari-jarinya saling dipertemukan, Jalatang melesat mengejar tubuh
Rara Inggar yang masih terjengkang. Dengan jari telunjuk menegang lurus, dan
jari-jari lainnya mengepal, dilancarkannya totokan ke arah leher gadis
berpakaian merah itu.
Tukkk...!
Seketika itu juga tubuh Rara
Inggar ambruk ke tanah dengan sekujur tubuh lemas ketika totokan jari tangan
Jalatang mengenai jalan darah di lehernya.
"Hup...!"
Pada saat tubuh Rara Inggar jatuh
di tanah, Jalatang pun berhasil mendarat, gerakannya ringan, dan hampir tidak
menimbulkan suara. Tapi meskipun begitu, tampak jelas seringai pada mulutnya.
Rupanya tendangan Rara Inggar masih terasa olehnya.
Rara Inggar hanya mampu menatap
dengan perasaan ngeri ketika Jalatang benalan menghampirinya. Lehernya yang
tertotok terasa sakit bukan kepalang. Sehingga, membuat seluruh tubuhnya lemas
dan tak mampu digerakkan.
"Sekarang kau akan menerima
pembalasan dariku, Wanita Sial!" desis Jalatang penuh ancaman, sambil
terus melangkah lambat-lambat. Hal itu memang disengaja agar lebih menimbulkan
kegelisahan pada Rara Inggar.
Wajah Rara Inggar seketika
memucat. Perasaan takut yang amat sangat telah melanda hatinya ketika menyadari
bahaya mengerikan yang akan menimpa. Ingin rasanya bergerak, dan melawan
mati-matian. Tapi apa daya? Jangankan melawan, menggerakkan ujung jemarinya saja
tidak mampu! Seluruh tubuh gadis itu lemas bukan main. Belum lagi ditambah luka
dalamnya, akibat tendangan lawan.
Ternyata ketegangan bukan hanya
melanda hati Rara Inggar, tapi juga semua orang yang mengenakan pakaian hitam.
Mereka tahu, pimpinan kelompok mereka itu akan berbuat senonoh dan bakal tidak
diampuni ketua per-guruan. Memang diakui, sebenarnya mereka ingin juga
merasakan kemolekan tubuh gadis itu. Tapi keinginan itu dikalahkan rasa takut
akan hukumannya.
Namun demikian, perasaan seperti
itu tidak melanda Jalatang. Yang ada di benaknya hanya bayangan tubuh molek dan
montok menggiurkan milik Rara Inggar. Tak ada yang lain. Dan begitu telah
berada di dekat tubuh Rara Inggar yang tergolek lemah, Jalatang berjongkok.
Tangan-nya pun langsung dijulurkan.
Brettt..!
Suara kain robek terdengar ketika
Jalatang meng-gerakkan tangannya merenggut pakaian Rara Inggar, mulai dari
leher sampai ke perut.
Jalatang menelan ludah melihat
pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Deru napasnya memburu hebat
seperti orang tengah berlari jauh.
Bukan hanya Jalatang saja yang
terpengaruh. Belasan pasang mata orang berpakaian hitam yang lain pun tertuju
ke sana. Jakun mereka turun naik, membasahi teng-gorokan yang mendadak kering.
Sementara pandangan mereka pun tak ubah nya seperti serigala lapar melihat
seekor anak domba gemuk!
Tanpa menunggu lebih lama lagi,
Jalatang langsung menubruk tubuh Rara Inggar. Namun belum juga niatnya
tersampaikan, mendadak...
"Hekh...!"
Jerit terputus keluar dari mulut
Jalatang begitu ada sebuah benda yang menahannya, saat hendak menindih tubuh
Rara Inggar. Benda itu melilit lehernya, sehingga napasnya tersumbat. Tanpa
melihat pun, Jalatang sudah bisa memperkirakan sesuatu yang menjerat lehernya.
Sadar akan keadaannya yang
berbahaya, Jalatang buru-buru menggerakkan tangan ke sela-sela tambang yang
melilit lehernya. Karena bila pemilik tambang menyentakkan, dia akan mati
tercekik!
Dugaan laki-laki berwajah bopeng
ini ternyata tidak meleset. Baru juga kedua tangannya menyelinap di sela-sela
tambang dan leher, si pemilik tambang sudah meng-gerakkan tangan menyentak.
Jalatang memang tidak melihat
pemilik tambang, karena arah luncuran tubuhnya ke belakang. Dan itu berarti si
pemilik tambang ada di belakangnya.
Keras bukan main tenaga sentakan
itu. Meskipun Jalatang telah mengerahkan seluruh tenaga, tetap saja tubuhnya
tersentak ke belakang.
Tapi, lagi-lagi Jalatang
membuktikan kalau tidak mudah dipecundangi. Ketika tubuhnya tengah melayang di
udara,
tangan kanannya mencabut golok
yang tadi telah dimasuk-kan kembali dalam sarungnya di pinggang. Sedangkan
tangan kirinya tetap memegangi tambang yang membelit lehernya. Langsung saja
goloknya dikibaskan ke arah belakang.
Tasss...!
Tambang itu kontan putus. Tapi
meskipun begitu, tetap saja tubuh Jalatang melayang ke belakang karena pengaruh
tenaga sentakan tadi.
"Hup...!"
Meskipun agak terhuyung-huyung,
laki-laki berwajah bopeng itu berhasil juga mendaratkan kedua kakinya di tanah.
Langsung saja tubuhnya dibalikkan, bersiap meng-hadapi pemilik tambang.
Dalam jarak sekitar dua tombak di
hadapan Jalatang, berdiri seorang pemuda berwajah tampan. Jubahnya berwarna
biru, dan pakaian dalamnya berwarna abu-abu. Tubuhnya kekar. Rambutnya yang
panjang dan hitam diriap ke belakang.
"Siapa kau, Keparat! Sungguh
berani mati mencampuri urusan Gerombolan Macan Putih!" gertak Jalatang.
"Hm... jadi kalian
Gerombolan Macan Putih yang terkenal itu?! Ingin aku menjajalnya!" tantang
pemuda berjubah biru setelah melepaskan senyum mengejek.
"Keparat! Kau mencari mampus
sendiri, Pemuda Tak Tahu Diri! Hiyaaat..!"
Diawali sebuah jeritan melengking
nyaring, Jalatang melompat menerjang pemuda berjubah biru itu. Golok di
tangannya meluncur cepat, membacok ke arah kepala dari atas ke bawah. Rupanya
tubuh lawannya ingin dibelahnya menjadi dua bagian yang sama.
"Hmh...!"
Pemuda berjubah biru itu hanya
mendengus. Dibiarkan saja serangan yang mengancamnya. Baru setelah dekat,
tangan kirinya diangkat ke atas. Jari tengah dan telunjuk-nya ditudingkan
membentuk celah. Sedangkan jari-jari yang lainnya menekuk.
Tappp..!
Golok di tangan Jalatang
berbenturan dengan dua jari tangan pemuda berjubah biru. Hebatnya, jari tangan
itu tidak putus. Padahal, babatan golok itu cukup mampu untuk membelah batu
yang paling keras sekalipun!
Bukan hanya itu saja. Kedua jari
tangan pemuda berjubah biru lalu bergerak menjepit, sebelum Jalatang sempat
menarik goloknya kembali.
Jalatang terkejut bukan kepalang.
Sekuat tenaga goloknya berusaha ditarik kembali. Tapi sampai terdengar mulutnya
menggeram, tetap saja goloknya yang terjepit tidak bergeming. Seolah-olah, yang
menjepit golok Jalatang itu adalah jepitan baja!
Rupanya Jalatang bukan termasuk
orang yang mudah menyerah. Dia tetap saja berusaha menarik kembali senjatanya. Dihirupnya napas dalam-dalam, untuk mengumpulkan semua tenaga dalam di
kedua tangannya. Lalu, kembali diusahakannya menarik senjata itu kembali.
Wajah Jalatang jadi merah padam
karena mengerah-kan tenaga dalam sampai melewati batas. Di lain pihak, pemuda
berjubah biru itu masih tetap berdiri tenang. Kedudukan kakinya tidak
menunjukkan kalau tengah mengerahkan tenaga. Begitu juga, pada tangan dan
wajah-nya. Semua terlihat biasa saja.
"Hmh...!"
Kembali pemuda bertubuh kekar
berotot itu men-dengus. Dan begitu dengusannya lenyap, kedua jari tangannya
bergerak menekuk.
Takkk!
Mata golok itu kontan patah.
Akibatnya, Jalatang yang saat itu tengah mengerahkan tenaga dalam sekuatnya
untuk membetot, jadi terjengkang ke belakang.
Tindakan pemuda berjubah biru itu
ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Di saat tubuh lawan tengah
terjengkang, tangan kanannya dikibaskan.
Sing...!
Suara mendesing nyaring terdengar
ketika patahan
mata golok yang tadi tertinggal
di jepitan jarinya melesat cepat, laksana anak panah lepas dari busur.
Cappp...! "Akh...!"
Jalatang memekik kesakitan ketika
patahan golok itu mengenai sambungan bahunya. Cairan merah kental kontan
mengalir dari bagian yang terhunjam patahan golok.
Tapi Jalatang benar-benar orang yang pantang menyerah Dia tahu, pemuda berjubah
biru itu memiliki kepandaian lebih tinggi darinya. Maka tangannya segera
diusapkan ke arah rekan rekannya.
"Bunuh pemuda keparat
itu!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
belasan orang berpakaian hitam itu meluruk cepat ke arah pemuda ber-tubuh kekar
berotot. Senjata-senjata yang memang sejak tadi tergenggam, diayunkan ke arah
berbagai bagian tubuh pemuda berjubah biru itu.
***
3
Sambil menggertakkan gigi
Jalatang mencabut patahan golok yang menghunjam tulang bahunya. Mulutnya sampai
meringis menahan sakit ketika patahan golok itu dicabut.
Memang, untuk sementara Jalatang
bisa tenang, karena pemuda berpakaian biru itu kini tengah dikeroyok
rekan-rekannya.
Begitu patahan golok itu berhasil
dicabut, laki-laki ber-wajah bopeng itu langsung menotok jalan darah di sekitar
luka untuk mencegah darah yang terus mengalir. Setelah itu, baru kepalanya
ditolehkan menatap pemuda berjubah biru yang dikeroyok rekan-rekannya. Kontan
sepasang matanya terbelalak.
Tampak pemuda berjubah biru itu
hanya mengibas-ngibaskan tangan secara sembarangan saja. Hasilnya, tubuh
orang-orang berpakaian hitam itu berpentalan tak tentu arah sebelum berhasil
mencapai tubuh lawan.
Memang, dari kibasan kedua tangan
pemuda bertubuh kekar berotot itu keluar angin keras, sehingga mampu membuat
orang yang memiliki tenaga dalam tanggung akan terjengkang tak karuan.
Jalatang menggeram ketika melihat
semua rekannya bergeletakan di tanah. Kemudian sambil mengeluarkan pekikan
nyaring, kembali dilancarkan serangan dengan goloknya yang tinggal sepotong
itu.
Laki-laki berwajah bopeng itu
melompat ke atas. Dan dari atas, tubuhnya meluruk ke bawah. Dan laksana burung
garuda hendak menerkam mangsa, tubuhnya meluncur sambil mengarahkan goloknya ke
ubun-ubun lawan.
"Hmh...!"
Lagi-lagi pemuda berjubah biru
itu hanya mendengus. Tanpa menggeser kedudukan kaki, tangan kanannya diulurkan
Luar biasa! Entah bagaimana
caranya, tahu-tahu per-gelangan tangan kanan Jalatang telah berhasil
dicekalnya. Dan sekali pemuda bertubuh kekar berotot itu bergerak membetot,
tubuh Jalatang tertarik ke bawah, dan jatuh keras di tanah.
Keras bukan main betotan pemuda
bertubuh kekar ber-otot itu. Sehingga sambungan pergelangan bahu Jalatang
sampai terlepas.
Laki-laki berwajah bopeng itu
meringis kesakitan. Dan belum lagi rasa sakit itu lenyap, tangan pemuda
berjubah biru yang masih mencekal pergelangan tangan Jalatang bergerak meremas.
Krrrkkk...!
Terdengar suara gemeretak dari
tulang tulang yang hancur!
Jalatang menggigit bibirnya
kuat-kuat sampai berdarah untuk mencegah keluarnya jerit kesakitan. Peluh
sebesar biji jagung bermunculan di selebar wajahnya.
Saat itu, pemuda berjubah biru
baru melepaskan cekalannya. Karuan saja, Jalatang yang tengah menderita rasa
sakit yang amat sangat tidak mampu menguasai ke-seimbangan tubuhnya dan jatuh
bertutut di tanah. Dan untuk yang kesekian kalinya, laki-laki berwajah bopeng
ini meringis kesakitan karena kedua lututnya berbenturan dengan tanah.
"Pergilah...!"
Pemuda berjubah biru langsung
mengibaskan tangan-nya. Seketika itu juga, muncul angin keras yang membuat
tubuh Jalatang terpental jauh dan terguling-guling di tanah. Dan begitu
kekuatan yang membuat tubuhnya terlempar lenyap, Jalatang merangkak bangun.
Keadaan laki-laki berwajah bopeng ini sangat menyedihkan. Untuk bangkit saja
hampir tidak mampu. Untung rekan-rekannya bergegas menghampiri dan mem-bantunya
berdiri.
Setelah melempar tatapan penuh
dendam pada pemuda berjubah biru, lelaki berwajah bopeng itu lalu
melangkah meninggalkan tempat itu
dengan dipapah dua rekannya. Dia juga dibantu untuk menaiki punggung kudanya.
"Hiya...! Hiyaaa...!"
Gerombolan Macan Putih itu
menggeprakkan tali kekang kudanya seraya mendecak pelan. Perlahan kuda-kuda itu
bergerak melangkah meninggalkan tempat itu. Mula-mula lambat, tapi beberapa
tombak kemudian mulai cepat dan semakin cepat. Sesaat kemudian, kuda-kuda itu
telah lenyap meninggalkan kepulan debu tebal di udara.
Setelah kuda-kuda itu lenyap dari
pandangan, baru pemuda berjubah biru itu mengalihkan perhatiannya pada Rara
Inggar yang masih tergolek lemas di tanah.
Sementara Rara Inggar hanya
memperhatikan tindak tanduk pemuda bertubuh kekar itu penuh selidik. Namun
perasaan cemas bergayut di hatinya, karena khawatir kalau pemuda berjubah biru
akan berbuat tidak patut seperti halnya Jalatang.
Pemuda berjubah biru itu
mengibas-ngibaskan kedua tangannya secara sembarangan. Perlahan saja
kelihatan-nya tapi akibatnya berhembus angin cukup keras ke arah Rara Inggar.
Sekejap kemudian, bagian tubuh gadis itu yang tadi terbuka, telah tertutup
kembali.
Kemudian, pemuda bertubuh kekar
itu melangkah mendekati Rara Inggar. Dia lalu berjongkok ketika telah berada di
dekat gadis berpakaian merah itu. Tangannya diulurkan, untuk menepuk beberapa
bagian tubuh Rara Inggar. Seketika jalan darah gadis itu yang tadi tersumbat
kini lancar kembali. Dengan sendirinya, anggota tubuhnya mampu digerakkan
kembali.
Setelah membebaskan totokan Rara
Inggar, pemuda berjubah biru itu lalu bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya.
Maka kesempatan itu dipergunakan sebaik-baik-nya oleh Rara Inggar untuk memperbaiki
pakaiannya yang koyak- koyak.
"Terima kasih atas
pertolongan, Kisanak," ucap gadis berpakaian merah itu setelah merapikan
keadaannya
kembali.
"Lupakanlah...," pemuda
bertubuh kekar berotot itu mengulapkan tangannya.
"Maaf. Aku ingin menyembuhkan
luka dalamku dulu…," pinta Rara Inggar lagi.
Memang, ada rasa nyeri yang
menyengat dadanya ketika tadi menarik napas. Hal ini menjadi pertanda kalau
dirinya telah terluka dalam.
"Silakan…," sahut
pemuda berjubah biru mempersila-kan.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Rara Inggar segera menolehkan kepala ke sana kemari untuk mencari tempat yang
terlindung. Baru ketika menemukan tempat, kakinya melangkah ke sana.
Gadis berpakaian merah itu
langsung duduk bersila. Jari- jari kedua tangannya yang terbuka lurus
dipertemukan di depan dada. Punggungnya pun ditegakkan. Sesaat kemudian, dia
sudah tenggelam dalam semadinya.
***
"Mengapa Gerombolan Macan
Putih sampai bisa berurusan denganmu, Nisanak?” tanya pemuda berjubah biru itu
setelah Rara Inggar selesai bersemadi. Memang, bagi orang yang telah mempunyai
tenaga dalam cukup tinggi bukan hal yang aneh untuk mengobati luka dalam dengan
semadi.
Rara Inggar menggelengkan kepala.
"Kau tidak tahu?!"
desak pemuda berjubah biru itu. Ada nada ketidak percayaan dalam pertanyaannya.
"Aku benar-benar tidak
tahu," tegas gadis berambut dikuncir itu. "Yang kutahu, orang-orang
yang menamakan diri Gerombolan Macan Putih datang menyerbu perguruan
ayahku...."
Sampai di sini, ucapan Rara
Inggar terhenti. Sepasang matanya nampak berkaca-kaca. Wajahnya pun berubah
mendung. Jelas, hatinya tengah dilanda kesedihan.
"Hm... lalu..?" selak
pemuda berjubah biru yang tidak sabar menunggu tertalu lama.
“Tentu saja, ayah dan
murid-muridnya tidak bisa ber-diam diri. Mereka pun mengadakan perlawanan…,”
sambung Rara Inggar di sela-sela isaknya. "Tapi, per-lawanan mereka
sia-sia. Gerombolan itu ternyata memiliki banyak tokoh berkepandaian tinggi.
Sehingga, tanpa menemui kesulitan perlawanan ayah dan murid-murid perguruan
kami dipatahkan."
Kembali gadis berpakaian merah
itu menghentikan ceritanya. Dibersihkannya cairan yang memenuhi hidung, karena
perasaan sedih yang melanda Rara Inggar pun berdehem untuk mengembalikan
suaranya yang tercekat di tenggorokan.
“Rupanya mereka memendam dendam
hebat. Semua yang ada di Perguruan Hati Naga milik ayahku, dibantai. Tidak saja
manusia, binatang-binatang peliharaan kami pun dibantainya. Mereka bukan
manusia! Tapi, iblis!"
Rara Inggar menghentikan
ceritanya sejenak untuk meredakan napasnya yang memburu hebat karena pengaruh
amarah yang menggelegak dalam dada.
"Jadi, ayahmu juga
tewas?!"
"Ya. Begitu pula dengan
ibuku. Lawan yang mereka hadapi terlalu lihai. Ayah menghadapi seorang yang
ber-celana putih. Di dadanya terdapat gambar kepala seekor macan putih. Sayang,
wajahnya tidak jelas karena dipenuhi coreng-moreng aneh, dan bulu-bulu yang
membuat tampangnya mirip seekor macan. Tapi kalau menilik tubuhnya, aku yakin
dia tidak terlalu tua. Apalagi, tubuhnya terlihat kekar dan berotot!"
"Kalau lawan ibumu"
tanya pemuda berjubah biru itu lagi. Nada suaranya juga menyiratkan
keingin-tahuannya yang mendalam.
Rara Inggar menarik napas
dalam-dalam, lalu meng-hembuskannya kuat-kuat sebelum menjawab pertanyaan itu.
"Kalau orang yang berhadapan
dengan ibuku, bisa
dikenali. Dia seorang wanita
berusia sekitar lima puluh tahun. Pakaiannya dari kulit macan putih, dan
bergambar kepala seekor macan putih besar di bagian dada. Seperti juga orang
yang melawan ayahku, wajahnya juga penuh coreng-moreng dan bulu-bulu halus.
Sehingga, membuat wajahnya mirip seekor macan," jelas gadis berpakaian
merah itu.
"Hm.... Mungkin kedua orang
itu pemimpinnya," tebak pemuda berpakaian biru itu.
"Aku pun menduga
demikian...," sambut Rara Inggar cepat
"Lalu... kenapa kau berada
di sini?!"
"Itulah yang
kusesalkan," keluh Rara Inggar. "Sebelum ikut terjun menghadapi
musuh, ayah berpesan kalau keadaan tidak memungkinkan. Maka aku disuruh pergi
ke suatu tempat bersama Paman Kusuma.... Tapi di perjalanan, kami dihadang
Gerombolan Macan Putih. Bahkan Paman Kusuma berhasil dirobohkan. Yahhh...!
Nasibnya sudah bisa kuduga!"
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Rara Inggar menghentikan ceritanya.
"Aku juga telah mendengar
berita tentang Gerombolan Macan Putih, yang konon tidak pernah terkalahkan.
Mungkin benar katamu kalau mereka memendam
dendam. Karena sepanjang yang kudengar, mereka tidak pernah membunuhi
binatang-binatang," pemuda berjubah biru mengernyitkan keningnya.
"Apakah orang tuamu mempunyai musuh?"
Rara Inggar menggelengkan kepala.
"Cobalah ingat-ingat
Nisanak.... Aku yakin perlakuan Gerombolan Macan Putih ini mempunyai latar
belakang.... Mungkin saja, guru, kakak, atau ayah kedua pemimpin gerombolan itu
tewas di tangan orang tuamu atau kakek gurumu... "
"Ah! Kau benar!" sentak
Rara Inggar tiba-tiba. Nada keterkejutan tampak jelas, baik pada wajah mau pun
nada suaranya.
"Jadi... orang tuamu benar
telah membunuh orang yang mempunyai hubungan dengan pemimpin Gerombolan Macan
Putih?!"
Rara Inggar menggelengkan kepala.
"Hm…. Lalu?" wajah
pemuda bertubuh kekar itu seketika berubah.
"Aku sempat mendengar ucapan
wanita yang melawan ibuku karena bicaranya jelas sekali...."
"Apa yang
diucapkannya?" tanya pemuda berjubah biru penuh perhatian.
Rara Inggar tercenung sejenak
untuk mengingat-ingat ucapan yang sempat didengarnya.
"Dia mengatakan kalau ayah
dan ibuku mendapat kehormatan menjadi korban awal pembalasan dendam orang yang
berjuluk Raja Ular Pelenyap Sukma!" ucap Rara Inggar.
"Raja Ular Pelenyap
Sukma...," ulang pemuda berjubah biru itu pelan. Dahinya tampak
berkernyit, pertanda tengah memikirkan sesuatu.
"Kau mengenalnya, Ki, eh!
Ng..., Kisanak?" tanya Rara Inggar agak bingung karena belum mengenal nama
pemuda bertubuh kekar itu.
Rupanya pemuda berjubah biru itu
tidak mengetahui kebingungan gadis itu saat ingin menyebut namanya Buktinya dia
tetap tidak memperkenalkan nama. Hanya kepalanya saja yang digelengkan untuk
menanggapi pertanyaan Rara Inggar.
"Mengenalnya sih, tidak.
Tapi julukannya pernah ku-dengar."
"Ah! Kau benar...!"
sentak Rara Inggar mendadak. "Ya! Aku juga telah pernah mendengar julukan
itu, Raja Ular Pelenyap Sukma! Seorang tokoh sesat yang mengerikan, dan pernah
merajalela di dunia persilatan tanpa ada seorang pun yang bisa menghalangi
sepak terjangnya...."
"Benar! Aku pun mendengarnya
demikian," sambut pemuda bertubuh kekar. "Apakah kau tahu cerita
selanjutnya?"
Rara Inggar menganggukkan kepala.
"Ya. Ibu telah
menceritakannya padaku."
"Bisa kau ceritakan
padaku?" pinta pemuda berjubah biru.
“Tentu saja!" sahut Rara
Inggar semangat. "Menurut cerita ibuku, sepak terjang Raja Ular Pelenyap
Sukma itu sangat sewenang-wenang. Tidak terhitung orang yang sudah menjadi
sasaran tindak kejahatannya."
Rara Inggar menghentikan
ceritanya sejenak untuk mengambil napas.
"Merasa tidak ada orang yang
berani melawannya lagi, tindakan Raja Ular Pelenyap Sukma semakin menggiriskan
saja. Sampai akhirnya, dia membunuh seorang pendekar muda yang menjadi anak
kakek guruku...."
Kembali Rara Inggar menghentikan
ceritanya sejenak untuk memberi kesempatan. Barangkali saja pemuda bertubuh
kekar itu akan mengutarakan sesuatu. Karena pemuda itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Tapi setelah ditunggu beberapa saat tidak nampak adanya tanda-tanda
kalau dia akan mengatakan sesuatu.
"Kakek guruku marah bukan
main, karena yang dibunuh adalah anak satu-satunya. Tapi karena sudah tidak
ingin mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dia mencoba bersabar.
Murid-muridnya pun dilarang meng-adakan pembalasan."
"Hm.. berita yang kudengar
tidak seperti itu," sergah pemuda bertubuh kekar. "Kudengar, Raja
Ular Pelenyap Sukma tewas secara menyedihkan di tangan kakek gurumu!"
"Sabar dulu! Aku kan, belum
selesai!" selak Rara Inggar cepat.
Pemuda berjubah biru itu pun
terdiam.
Tak lama kemudian, nenek guruku
sakit keras karena rasa sedih akibat meninggalnya anak satu-satunya. Tidak ada
lagi harapan untuk sembuh karena dia memang tidak ingin berharap untuk
kesembuhan. Usia tua, rasa sedih, dan ketidak inginan untuk sembuh, semakin
menambah
parah sakitnya.”
Rara Inggar menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering karena
terlalu banyak ber-cerita.
"Sebelum meninggal, dia
mempunyai sebuah per-mintaan agar tidak penasaran. Beliau ingin agar kematian
anak tunggalnya dapat terbalaskan Raja Ular Pelenyap Sukma harus ikut pergi ke
alam baka! Tidak ada pilihan lagi bagi kakek guruku. Dia pun kembali terjun
dalam dunia persilatan untuk mencari Raja Ular Pelenyap Sukma. Ketika bertemu,
pertarungan pun tidak bisa dielakkan lagi. Melalui pertempuran yang sengit dan
mati-matian, kakek guruku berhasil membinasakan Raja Ular Pelenyap Sukma.
Hingga akhirnya, nenek guruku dapat mati dengan senyum di bibir…," Rara
Inggar menutup ceritanya.
Suasana menjadi hening ketika
Rara Inggar meng-hentikan ceritanya. Apalagi, pemuda berjubah biru juga tidak
berkata- kata.
"Kurasa teka-teki telah
terjawab..," kata Rara Inggar, kembali memecahkan kehenungan di antara
mereka.
"Teka-teki...?" pemuda
berpakaian biru mengernyitkan dahi.
"Ya. Teka-teki yang
menyebabkan Gerombolan Macan Pulih begitu keterlaluan membasmi Perguruan Hati
Naga Sudah bisa ditebak, dua orang pimpinan Gerombolan Macan Putih mempunyai
hubungan dengan Raja Ular Pelenyap Sukma.... Karena kakek guruku telah tiada,
pasti dendam itu dilimpahkan pada murid-muridnya "
"Jadi kakek gurumu banyak
mempunyai murid?" tanya pemuda berjubah biru itu.
Rara Inggar mengangguk.
"Kakek guruku mempunyai
empat orang murid. Satu di antaranya adalah wanita, yang kemudian menjadi
ibuku. Sedangkan ayahku, juga salah satu dari empat murid itu," jawab Rara
Inggar.
"Berarti... kau masih
mempunyai dua orang paman guru, Nisanak?"
Rara Inggar mengangguk.
"Pasti kau akan menuju ke
sana...," duga pemuda berjubah biru itu.
"Musibah ini harus
kuberitahukan kedua paman guruku. Sekaligus, aku hendak memberitahu kemungkinan
Gerombolan Macan Putih akan menyerbu tempat mereka. Aku yakin, lama-kelamaan
Gerombolan Macan Putih akan menemukan tempat mereka...."
"Di mana tempat tinggal
kedua paman gurumu..?" "Maaf. Bukannya aku tidak percaya padamu.
Kisanak.
Tapi... ini terlalu membahayakan.
Sekali lagi, aku minta maaf," tolak Rara Inggar halus.
"Tidak apa-apa…," sahut
pemuda berjubah biru dengan senyum di bibir. "Aku bisa
memakluminya...."
"Terima kasih ," ucap
Rara Inggar tulus.
"O, ya...! Boleh aku
tahu.... ke mana arah yang kau tuju? Barangkali saja arah yang kita tempuh
sama...," pemuda bertubuh kekar membuka suara lagi setelah beberapa saat
lamanya tercenung.
"Ng... aku hendak menuju ke
Barat..."
"Kalau begitu.... arah yang
kita tuju sama!" sentak pemuda berjubah biru. "Aku pun hendak menuju
ke Barat. Ke Desa Ganjar. Apakah kau tidak keberatan bila kita menempuh
perjalanan bersama?"
"Tentu saja tidak!"
jawab Rara Inggar sambil tersenyum manis.
"Kapan kau hendak berangkat
Nisanak?"
"Sekarang Juga," sahut
Rara Inggar cepat. "Lebih cepat lebih baik! Aku yakin, Gerombolan Macan
Putih tidak akan menghentikan pencariannya terhadap diriku!"
Setelah berkata demikian, Rara
Inggar segera melesat ke arah kudanya yang masih tertambat di dekat dinding
tebing. Rupanya, Gerombolan Macan Putih lupa mem-bunuh binatang tunggangan
gadis berpakaian merah itu.
"Kau sendiri...
bagaimana?" tanya Rara Inggar ketika telah berada di atas punggung
kudanya. Wajah gadis berambut dikuncir itu tampak kebingungan. Haruskah
pemuda bertubuh kekar itu
berlari, sementara dia menunggang kuda?
"Tidak usah khawatir."
jawab pemuda berjubah biru sambil tersenyum lebar. Meskipun Rara Inggar belum
mengatakan, sudah bisa diduga hal yang menyebalikan gadis itu kebingungan.
Ini untuk pertama kalinya pemuda
berjubah biru itu ter-senyum. Karena sejak tadi sikapnya terlihat
sungguh-sungguh. Bahkan tak pernah tersenyum itulah sebabnya, Rara Inggar agar
terpukau sejenak melihat pemuda itu tersenyum.
Tapi pemuda berjubah biru itu
sama sekali tidak mem-pedulikan keheranan Rara Inggar Kemudian beberapa jarinya
dimasukkan ke dalam mulut.
Suiiit...!
Suitan nyaring melengking
terdengar. Keras bukan main, sehingga menggema ke seluruh penjuru tempat itu.
Jelas, pemuda berjubah biru itu mengerahkan tenaga dalam pada suitannya.
Rara Inggar sampai menekap
telinga dengan kedua tangan. Suitan itu memang membuat telinga berdenging dan
kakinya menggigil. Dari sini saja sudah bisa di-perkirakan kekuatan tenaga
dalam yang dimiliki pemuda berjubah biru itu.
Sesaat kemudian terdengar suara
bergemuruh. Di kejauhan tampak seekor kuda berwarna coklat berlari cepat menuju
ke arah mereka. Debu yang mengepul tinggi terlihat di belakangnya.
"Itulah kudaku…, Kilat
namanya," jelas pemuda ber-jubah biru itu seraya menudingkan telunjuknya
ke arah kuda coklat yang semakin lama semakin dekat. Sampai akhirnya, kuda itu
telah berada dekat dengan dengan dirinya.
Kuda coklat itu meringkik riang,
ketika melihat pemuda berjubah biru. Dengan sikap manja, kepalanya
digesek-gesekkan ke dada majikannya.
Pemuda berjubah biru itu
mengusap-usap leher
binatang tunggangannya.
Kemudian.... "Hup...!"
Hanya sekali genjotkan kaki,
tubuh pemuda berjubah biru telah melayang ke atas. Kemudian, dia hinggap di
atas punggung kuda. Manis dan indah gerakannya.
"Seekor kuda yang
baik...." puji Rara Inggar tulus. "Hm...," hanya gumam perlahan
pemuda berjubah biru
yang menyambut ucapan Rara
Inggar.
Rara Inggar berdecak pelan. Lalu
tali kekang kudanya digeprak. Sekejap kemudian, binatang tunggangan itu mulai
berlari meninggalkan kepulan debu pekat di belakangnya.
Pemuda berjubah biru itu pun
melakukan hal yang sama. Sesaat kemudian, kuda coklat itu melesat menyusul kuda
Rara Inggar yang telah melesat lebih dahulu.
***
4
Rara Inggar yang ingin segera memberi
tahu tentang malapetaka yang menimpa orang tuanya, segera memacu kudanya
secepat mungkin. Pecut di tangannya berkali-kali menyengat bagian belakang kuda
tunggangannya.
Rara Inggar memang memaksa
kudanya agar berlari secepat mungkin. Sementara pemuda berjubah biru itu sama
sekati tidak memaksa kudanya. Pecutnya hanya sesekali saja dilayangkan. Tapi
ternyata, lari kedua kuda itu bersisian! Jelas, kuda yang bernama Kilat itu
bukan kuda sembarangan.
Bahkan ketika memasuki Desa
Mentawa. Rara Inggar tetap tak mengendurkan lari binatang tunggangannya. Bahkan
pecutnya terus saja diayunkan.
Pemuda berjubah biru itu
menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Rara Inggar. Tapi, dia pun harus
memacu kudanya pula kalau tidak ingin tertinggal.
Akibatnya, malam yang larut dan
semula hening men-cekam, dipecah suara gemuruh derap langkah dua ekor kuda.
Dua ekor kuda itu terus saja
berpacu, sekalipun telah memasuki desa. Para penduduk yang terjaga dari
tidurnya karena gemuruh derap kaki kuda hanya bisa menyumpah serapah. Beberapa
di antara mereka malah ada yang bangkit dan pembaringan. Dibukanya jendela, dan
kepala-nya melongok keluar. Semua itu didorong rasa ingin tahu terhadap orang
tidak tahu diri yang telah menimbulkan suara berisik itu!
Tapi yang mereka jumpai hanya
gumpalan debu pekat yang ditinggalkan. Sementara, penyebab suara ber-gemuruh
itu sudah tidak tertihat lagi.
Memang, Rara Inggar dan pemuda
berjubah biru itu telah berada di tempat yang jauh dari pemukiman
penduduk. Di sini gadis
berpakaian merah baru mem-perlambat lari kudanya.
Lagi-lagi pemuda berjubah biru
itu ikut pula mem-perlambat lari binatang tunggangannya.
"Apa yang kau ketahui
tentang Gerombolan Macan Putih. Nisanak?" tanya pemuda berjubah biru. Dia
masih tetap memanggil seperti sebelumnya. Rupanya hatinya tidak berminat
mengetahui nama gadis berpakaian merah itu.
Rara Inggar menggelengkan kepala.
"Kau tahu?" Gadis itu
malah balas bertanya
"Sedikit. Karena sebelum
Gerombolan Macan Putih menyerbu perguruan ayahmu yang terletak di Desa Kaung,
aku telah beberapa kali melihat hasil perbuatan mereka...." "Bisa kau
jelaskan tentang Gerombolan Macan Putih?"
pinta Rara Inggar.
Pemuda bertubuh kekar itu
mengangguk.
"Gerombolan Macan Putih
mempunyai puluhan anak buah. Pemimpinnya adalah orang yang berhadapan dengan
ayahmu. Sedangkan yang bertarung melawan ibumu adalah wakilnya," jelas
pemuda berjubah biru itu. "Kedua orang itu memiliki tiga orang pemimpin
regu. Setiap pemimpin regu mempunyai empat orang pemimpin kelompok yang masing-
masing memiliki belasan bawahan lagi."
Rara Inggar mengernyitkan dahinya mendengar
penuturan pemuda bertubuh kekar tentang Gerombolan Macan Putih. Rupanya, dia
merasa bingung mendengar uraian itu.
"Lalu... bagaimana kita tahu
kalau orang yang dihadapi adalah keroco, pemimpin kelompok, atau pemimpin
regu?" tanya Rara Inggar lagi beberapa saat kemudian, setelah berhasil
mencerna penjelasan tadi.
"Dari gambar kepala macan
pada pakaian mereka," jawab pemuda itu. "Kau bisa lihat perbedaan
antara sulaman gambar macan pada orang yang merobohkanmu, dan belasan
lainnya."
Rara Inggar tercenung sejenak
untuk mengingat-ingat. "Ya. Pada orang yang merobohkanku, di dada kirinya
tersulam dua kepala macan,"
jawab Rara Inggar. "Sedangkan pada kepala kelompok ada tiga buah, dan
berbentuk segi tiga ," jelas
pemuda berjubah biru lagi. Mendadak Rara Inggar menarik tali kekang, sehingga
kudanya langsung berhenti.
Tentu saja pemuda berjubah biru
itu terkejut melihat sikap Rara Inggar. Maka ucapannya kontan terhenti.
Pandangannya pun diarahkan ke depan, ke arah yang ditatap gadis berpakaian
merah itu.
Pemuda bertubuh kekar langsung mengangguk-anggukkan
kepala ketika melihat belasan sosok tubuh berpakaian hitam bersulamkan gambar
kepala macan putih di dada kiri. Mereka berdiri menghadang jalan, dalam jarak
sekitar sepuluh tombak di depan.
"Gerombolan Macan
Putih...," desah pemuda berjubah biru itu pelan.
"Yaaah...," sahut Rara
Inggar, mendesah. "Dua di antara mereka mempunyai sulaman tiga kepala
macan di dada kiri...."
Pemuda bertubuh kekar mengalihkan
pandangannya. Ditatapnya wajah gadis di sebelahnya lekat-lekat.
"Kau takut?"
"Tak ada kata takut dalam
kamus hidupku," tegas Rara Inggar.
"Tapi, nada suaramu..,"
pancing pemuda itu lagi "Hanya menyadari keadaan," desah Rara Inggar
lirih. "Maksudmu ..?"
"Menghadapi pemimpin
kelompok saja, aku tidak mampu... Apalagi menghadapi pemimpin regu…."
"Hhh...!"
Pemuda bertubuh kekar itu
menghembuskan napasnya yang berat, mendengar ucapan Rara Inggar.
"Kau coba dulu,
Nisanak," saran pemuda berjubah biru itu. "Sisanya, biar kuhadapi.
Andaikata kulihat kau ter-desak, baru akan kubantu. Yang penting, kau harus
tiba di
tempat tinggal kedua paman
gurumu!"
Rara Inggar menoleh. Ditatapnya
wajah pemuda ber-jubah biru itu dengan sepasang mata merembang berkaca-kaca.
Hatinya merasa terharu melihat pembelaan yang di-lakukan pemuda di sebelahnya.
Padahal mereka belum saling mengenal nama! Tidak disangka, di balik sikap
dinginnya, tersembunyi hati yang baik!
Perlahan-lahan Rara Inggar
mengulurkan tangan, kemudian menggenggam pergelangan tangan pemuda ber-tubuh
kekar itu.
“Terima kasih…. Kau... kau baik
sekali...."
Hanya itu yang bisa diucapkan
Rara Inggar. Itu pun dengan suara serak dan terputus-putus karena rasa haru
yang mencekik tenggorokan.
"Sudahlah," kata pemuda berjubah biru sambil
mengulapkan tangannya. "Hentikan segala kecengengan ini, Nisanak! Sekarang
yang perlu dilakukan adalah meng-hadapi lawan yang telah berada di hadapan
kita."
Kepala Rara Inggar bagai direndam
dalam air es. Pemuda berjubah biru itu benar! Sekarang memang bukan saatnya
bersedih! Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, ditariknya napas dalam-dalam
dan dihembuskannya kuat-kuat untuk melegakkan dadanya yang terasa sesak akibat
rasa haru yang melanda.
"Hih...!"
Ringan tanpa suara, kedua kaki
Rara Inggar mendarat di tanah. Hal yang sama pun dilakukan pemuda bertubuh
kekar. Hanya saja, Rara Inggar harus menambatkan kudanya, karena khawatir
binatang itu lari. Sementara, pemuda berjubah biru sama sekali tidak
melakukannya.
"Ng... Sebelum mati aku
ingin mengenal namamu, Kisanak. Aku, Rara Inggar. Biasa dipanggil Inggar,"
kata gadis berpakaian merah itu memperkenalkan diri.
Pemuda berjubah biru menoleh ke
arah Rara Inggar yang berdiri di sebelah kirinya.
"Rupanya kau termasuk orang
yang berjiwa rapuh juga, Ni…. eh.... Inggar," kata pemuda bertubuh kekar
itu tanpa
peduli kalau kata-katanya membuat
selebar wajah gadis berambut dikuncir itu merah. "Sebenarnya, aku paling
tidak suka dengan kecengengan-ke-cengengan seperti ini. Aku sudah terbiasa
hidup keras! Tapi,, tak apalah. Namaku, Suta!"
***
“Pemuda keparat!" maki
Jalatang.
Rupanya, dia tak kuat lagi
menahan sabar melihat Suta dan Rara Inggar masih tenang-tenang saja.
"Sebentar lagi kau akan mengenal orang-orang Gerombolan Macan Putih!"
"Menyingkir, Jalatang,"
perintah seorang laki-laki tinggi kurus.
Menilik dari sikapnya yang berani
memerintahkan Jalatang yang merupakan pemimpin kelompok, bisa diperkirakan
kalau kedudukannya lebih tinggi.
Hal ini dibuktikan oleh sulaman
kepala macan ber-warna putih. Jumlah sulamannya ada tiga buah, dan terdapat
pada dada kiri pakaiannya yang berwarna hitam. Memang, laki-laki tinggi kurus
itu adalah pemimpin regu!
Jalatang tidak berani membantah.
Dengan sikap lesu dan kepala tertunduk, kakinya melangkah mundur. Dibiar-kan
saja laki-laki tinggi kurus itu yang melangkah maju lebih dahulu. Saat itu,
bukan dirinya yang menjadi pimpinan. Di situ, masih ada dua orang lagi yang
mem-punyai kedudukan lebih tinggi daripadanya. Jabatan mereka adalah pemimpin regu.
Mereka adalah laki-laki tinggi kurus yang tadi menyuruhnya menyingkir, dan
laki-laki bertubuh pendek gemuk yang berdiri di sebelah laki-laki tinggi kurus.
Tambahan lagi, keadaan diri
Jalatang memang tidak memungkinkan untuk bertarung. Luka-luka yang diderita-nya
akibat tindakan Suta masih belum pulih, meskipun memang telah diobati.
"Kau hadapi orang yang
bertubuh tinggi kurus itu,
Inggar," kata Suta
menganjurkan. "Biar sisanya aku yang urus."
Tanpa menunggu persetujuan Rara
Inggar, Suta langsung melompat ke arah kerumunan Gerombolan Macan Putih,
sebelum mereka bergerak mengurung dan membuat rencananya kacau.
Suta benar-benar memburu waktu.
Selagj tubuhnya masih berada di udara, kedua tangannya diputar-putarkan dengan
arah gerakan dari luar ke dalam.
Memang sungguh dahsyat serangan
Suta. Dari kedua tangannya yang berputaran itu keluar angin keras yang
berhembus ke arah Gerombolan Macan Putih.
Gerombolan Macan Putih yang sama
sekali tidak menduga hal itu, kontan menerima akibatnya. Tubuh-tubuh mereka berpentalan
tak tentu arah ke belakang, bagaikan terlanda angin ribut.
Hanya ada beberapa orang di
antara mereka yang tak terjengkang, karena sempat mengerahkan tenaga dalam ke
arah kaki sehingga seolah-olah berakar di bumi. Mereka adalah dua orang
pemimpin regu dan seorang pemimpin kelompok, selain dari Jalatang. Karena,
tubuh Jalatang sendiri terjengkang ke belakang.
Meskipun ketiga orang pemimpin
itu tidak ikut ter-jengkang, bukan berarti mereka bebas dari deru angin keras
yang keluar dari putaran tangan Suta. Memang, mereka tidak jatuh, tapi tetap
saja tubuhnya bergeser jauh ke belakang. Sedangkan kedua kaki mereka tetap
menempel di tanah, sehingga menimbulkan geseran cukup dalam di tanah. Dan
hasilnya, pimpinan kelompok terseret sejauh tiga tombak lebih, sedangkan kedua
pimpinan regu hanya terhuyung sekitar dua tombak.
"Gila...! Pemuda keparat itu
memiliki tenaga dalam luar biasa, Kakang Samparan...," desis pimpinan
kelompok itu begitu melihat kemampuan lawan, sehingga membuatnya kaget.
"Kita harus hati-hati
menghadapinya, Karugi," sahut pimpinan regu yang bertubuh tinggi kurus.
"Bukan begitu,
Bangor."
Bangor yang ternyata pemimpin
regu yang bertubuh pendek gemuk mengangguk, membenarkan.
Namun baru saja Bangor
menghentikan anggukannya, Suta sudah melayang ke arah mereka seraya melancarkan
serangan bertubi-tubi ke arah Bangor dan Karugi.
Karuan saja kedua orang itu
terkejut bukan kepalang. Buru-buru mereka melempar tubuh ke belakang dan bersalto
beberapa kali di udara. Lalu, mereka mendaratkan kedua kaki masing-masing di
dekat belasan anggota Gerombolan Macan Putih yang tadi terjengkang ke sana
kemari.
Suta tidak bertindak sampai di
situ saja. Kembali tubuhnya melesat cepat ke arah Bangor dan Karugi yang
berkumpul bersama belasan anggota Gerombolan Macan Putih. Dibiarkan saja
Samparan yang tertinggal sendiri.
Suta memang sengaja membuat
Samparan terpisah dengan gerombolannya, agar Rara Inggar dapat tenang
menghadapi laki-laki tinggi kurus itu.
Sadar kalau Suta merupakan lawan
yang amat tangguh, Bangor tidak segan-segan memerintahkan seluruh anak buahnya untuk
turun tangan.
"Serbu...!" seru
laki-laki pendek gemuk itu. Srrrt..! Srrrt..!
Sinar-sinar terang berkeredep
dari tenjata golok Gerombolan Macan Putih yang tercabut dari sarungnya. Sesaat
kemudian, pertarungan sengit antara Suta melawan Gerombolan Macan Putih di
bawah pimpinan Bangor ber-langsung sengit.
***
"Kau dengar suara itu,
Melati?" tanya seorang pemuda tampan berpakaian ungu.
Kepalanya langsung menoleh ke
arah gadis cantik berpakaian putih yang berada agak jauh di belakangnya. Gadis
itu duduk di cabang sebuah pohon, dan punggung-
nya disandarkan pada batangnya.
Kepala pemuda berpakaian ungu itu
agak dimiringkan. Sehingga rambutnya yang panjang meriap dan berwarna putih
keperakan, terurai menutupi bahunya.
Gadis berpakaian putih yang tidak
lain memang Melati, dengan malas membuka matanya. Lalu kepalanya dimiring-kan
sebentar, baru kemudian mengangguk.
"Sepertinya suara denting
senjata orang bertarung, Kang Arya.... Arahnya dari sana...," sahut Melati
sambil menudingkan telunjuknya ke arah Utara.
"Kau benar, Melati.
Bagaimana kalau kita melihatnya sebentar?" usul pemuda berambut putih
keperakan yang tak lain dari Arya Buana alias Dewa Arak.
"Aaah...! Kau ini ada-ada
saja, Kang…," rutuk gadis berpakaian putih itu. "Waktu telah
menjelang pagi. Apakah kau tidak mengantuk? Nanti saja kita lihat asal suara
riuh itu."
"Tidakkah itu terlalu
lambat, Melati?" bantah Arya setengah membujuk. "Bagaimana kalau di
sana sebetulnya ada orang yang tengah membutuhkan pertolongan kita."
"Tapi aku ngantuk, Kang.
Ngantuk sekali! Jangankan untuk bertarung, mempertahankan agar mataku tetap
ter-buka saja sudah sulit"
Dewa Arak tercenung sebentar.
"Kalau begitu..., biar aku
yang pergi saja ke sana..." "Dan aku di sini, berteman nyamuk-nyamuk
hutan?
Begitu?" sambung Melati
merajuk.
"Kalau memang itu yang kau
inginkan." goda Dewa Arak.
"Hhh...!"
Melati menghembuskan napas berat,
lalu menjauhkan punggungnya dari batang pohon.
"Bagaimana?" tanya Arya
lagi dengan senyum di bibir. "Ingin berteman nyamuk di sini... atau ikut
denganku melihat keramaian di sana?"
"Kau memang paling pintar
memutarbalikkan ucapan, Kang," kata gadis berpakaian putih itu. Mulutnya
tampak
memberengut kesal.
"Jadi...?" Arya
menggantung ucapannya.
"Yahhh.... Aku lebih suka
berteman denganmu daripada berteman dengan nyamuk-nyamuk di sini..," sahut
Melati bernada keluhan.
"Ha ha ha...!" tawa
pemuda berambut putih keperakan itu meledak. "Sudah kuduga...."
"Kau memang keterlaluan,
Kang..." hanya itu ucapan yang bisa dikeluarkan Melati.
Dengan tawa pelan yang masih
keluar dari mulutnya, Dewa Arak mengulurkan tangan ke arah guci yang
ter-gantung di cabang pohon. Dibukanya ikatan tali di cabang pohon yang membuat
gucinya tergantung, kemudian di-sampirkannya ke punggung.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, kedua kaki
pemuda berpakaian ungu itu mendarat di tanah. Pada saat yang sama Melati juga
mendaratkan kakinya.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, sepasang
pendekar yang sama-sama digdaya itu melesat cepat menuju ke arah asal suara
denting senjata beradu yang terdengar.
Ilmu meringankan tubuh Dewa Arak
dan Melati memang telah mencapai tingkatan tinggi. Tidak heran ketika melesat,
bentuk tubuh mereka tidak nampak lagi. Yang terlihat hanya sekelebatan bayangan
ungu dan putih yang tidak jelas bentuknya.
Berbeda dengan Melati yang
mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Dewa Arak hanya mengeluar-kan
sebagian saja. Karena kalau dikerahkan seluruhnya, jelas gadis itu akan
tertinggal. Sedangkan pemuda berambut putih keperakan itu tidak menginginkan
hal itu terjadi.
Semakin lama, denting senjata
beradu itu terdengar semakin jelas.
"Tidak salah lagi, Melati.
Rupanya di sana tengah terjadi pertarungan," kata Arya sambil menudingkan
jari
telunjuknya ke arah semak-semak
dan pepohonan yang berada tak jauh di hadapannya.
Hanya beberapa kali melangkah,
sepasang pendekar muda itu telah berada di dekat semak-semak dan pepohonan. Dan
memang, suara berisik itu berasal dari sana.
Dengan gerakan perlahan dan
hati-hati sekali, Dewa Arak dan Melati menggenjotkan kakinya. Kontan tubuh
mereka melayang ke atas, dan mendarat ringan laksana seekor burung di cabang
pohon.
Begitu telah berada di atas
pohon, kedua orang itu langsung mengedarkan pandangan ke bawah. Dan dalam
keremangan sinar rembulan di langit, tampaklah seorang pemuda berjubah biru
tengah bertarung menghadapi belasan orang berpakaian hitam. Tak jauh dari
tempat itu, nampak seorang gadis berpakaian merah dan seorang laki-laki tinggi
kurus tengah memperhatikan jalannya per-tarungan.
"Kurasa pemuda itu tidak
memerlukan bantuan kita, Kang...," kata Melati pelan, setelah
memperhatikan pertarungan antara pemuda berjubah biru dengan belasan orang
Gerombolan Macan Putih.
"Kau benar, Melati."
sahut Dewa Arak seraya meng-anggukkan kepala.
"Kau mengenai mereka,
Kang...?" tanya Melati lagi ingin tahu.
Arya menggeleng.
"Makanya, jangan sembarangan
turun tangan dulu, Melati. Kita tidak tahu permasalahannya, dan juga tidak tahu
siapa yang benar dan salah. Tidak bijaksana kalau kita ikut campur. Kecuali...
kalau keadaan memaksa demikian."
Melati mengangguk-anggukkan
kepala. Dia memang sudah tahu betul watak kekasihnya. Dan meskipun ter-kadang
tidak setuju dengan tindakan yang diambil Arya, tapi kenyataan yang terjadi
selalu membuktikan kebenaran perbuatan Dewa Arak!
Kini Melati dan Arya kembali
mengalihkan perhatian ke arah pertarungan yang berlangsung di bawah sana.
Ternyata ada sedikit perubahan
yang terjadi. Gadis berpakaian merah yang sejak tadi memperhatikan jalannya
pertarungan, mulai melangkah menghampiri laki-laki ber-tubuh tinggi kurus yang
juga sejak tadi memperhatikan jalannya pertarungan.
***
Samparan tersenyum mengejek
ketika melihat Rara Inggar bergerak menghampirinya.
"Jangan harap bisa lolos dan
Gerombolan Macan Putih, Wanita Liar...!" dengus laki-laki tinggi kurus
itu.
Rara Inggar sama sekali tidak
menggubris ancaman Samparan. Gadis berpakaian merah itu sadar kalau lawan yang
ada di hadapannya memiliki kepandaian tinggi. Dan itu bisa diperkirakan karena
dia telah merasakan sendiri kelihaian Jalatang.
Oleh karena itu, Rara Inggar
tidak mau bersikap main-main lagi. Segera dikeluarkan ilmu andalannya. Jurus
‘Trenggiling', yang menjadi andalan kakek gurunya. Dengan ilmu itulah, kakek
gurunya yang berjuluk Dewa Muka Putih menaklukkan Raja Ular Pelenyap Sukma.
"Hih...!"
Rara Inggar melompat ke depan,
kemudian bergulingan di tanah mendekati lawan. Dan begitu telah berada di dekat
Samparan, kedua kakinya melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah dada dan ulu
hati.
"Heh...?!"
Seruan keterkejutan keluar dari
mulut Samparan. Dia tahu betul kedahsyatan serangan itu. Makanya dia tidak
berani bertindak ceroboh. Sebongkah batu yang paling keras pun akan hancur
berantakan apabila terkena. Buru-buru laki-laki tinggi kurus itu melompat ke
belakang, sehingga serangan itu hanya menghantam tempat kosong, beberapa
jengkal di depannya.
Tapi serangan Rara Inggar tidak
berhenti sampai di situ saja. Tubuh gadis berpakaian merah itu kembali ber-gulingan.
Dan tahu-tahu, kedua kakinya telah meluncur cepat mengancam lutut Samparan.
Seperti juga serangan sebelumnya,
serangan kali ini pun didahului deru angin keras. Jelas, tendangan itu ditopang
tenaga dalam kuat.
Kali ini Samparan tidak berani
melakukan elakan seperti semula. Sebagai orang yang telah kenyang makan asam
garamnya pertarungan, laki-laki tinggi kurus itu tahu, kalau melakukan gerakan
mengelak yang sama, serangan lanjutan kembali akan meluncur ke arahnya. Dan hal
itu tidak diinginkannya.
Sambil mengeluarkan pekikan keras
yang menyakitkan telinga, Samparan melompat ke depan. Dilewatinya tubuh Rara
Inggar, lalu dari atas kedua tangannya disampokkan ke arah kepala lawan.
Wuttt...! Plakkk!
Samparan kontan meringis. Kedua
tangannya yang ber-benturan dengan kedua kaki Rara Inggar nyeri bukan kepalang.
Entah dengan cara bagaimana, laki-laki tinggi kurus itu tidak mengerti. Yang
jelas, tahu-tahu kedua kaki gadis berambut dikuncir itu telah melindungi
kepala.
"Hup...!"
Samparan mendaratkan kedua kakinya
di tanah, se-telah bersalto beberapa kali di udara meski agak ter-huyung. Dan
begitu kedudukannya telah diperbaiki, langsung tubuhnya berbalik. Kini dia
bersiap-siap meng-hadapi serangan susulan.
Dugaan laki-laki tinggi kurus itu
ternyata tidak meleset. Rara Inggar kembali telah menggulingkan tubuhnya.
Langsung dilancarkannya serangan bertubi-tubi dengan kedua kakinya.
Kini, Samparan tidak bisa
bersikap main-main lagi. Dikerahkan seluruh kepandaian yang dimiliki, kalau
tidak ingin mati sia-sia. Sesaat kemudian, pertarungan sengit dan mati-matian
pun terjadi.
Sebenarnya kalau dibuat
perbandingan, Rara Inggar bukan tandingan Samparan. Laki-laki tinggi kurus itu
memiliki banyak keunggulan dibanding lawannya. Baik tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh, maupun pengalaman bertarung. Tapi karena
kedahsyatan jurus 'Tringgiling' yang dimiliki Rara Inggar, keunggulan
Samparan jadi tertutupi.
Jurus 'Trenggiling' memang hebat
bukan kepalang. Bahkan pada waktu Dewa Muka Putih yang meng-gunakannya. Raja
Ular Pelenyap Sukma pun roboh karenanya. Memang, sebenarnya tidak ada satu
tokoh pun yang sanggup mengalahkan Raja Ular Pelenyap Sukma. Padahal, datuk
sesat iu telah merajalela belasan tahun dalam rimba persilatan. Jangankan mengalahkan, menandinginya saja tidak
ada yang mampu. Ditambah lagi, waktu itu beberapa orang pentolan golongan putih
telah bersatu padu untuk mengeroyoknya.
Sekarang, Samparan yang mendapat
kesempatan untuk menjajaki kehebatan jurus itu. Dan memang, akibat-nya
laki-laki tinggi kurus itu kewalahan.
Jurus ‘Trenggiling' yang menitik beratkan pada kemampuan kaki, memang mempunyai
kehebatan ter-sendiri. Setiap serangan dan pertahanan selalu dilakukan dengan
kaki. Anehnya, ke manapun serangan dilakukan lawan, selalu bertemu sepasang
kaki. Dan anehnya lagi, dalam pengerahan jurus ini, tenaga dalam si pemakai
jadi bertambah. Kedua kaki orang yang memiliki jurus ini akan sanggup menahan
gempuran lawan. Bahkan mampu mem-buat tangan atau kaki orang yang memiliki
tenaga dalam tinggi, akan menjadi terasa lumpuh bila berbenturan.
Sayangnya, Rara Inggar hanya
mempunyai beberapa jurus saja dari delapan Jurus 'Trenggiling'. Bahkan
jurus-jurus pamungkasnya pun tidak dimiliki. Itulah sebabnya, meskipun berhasil
mendesak Samparan, tetap saja tidak mampu merobohkannya.
Samparan menggertakkan gigi,
menahan geram. Pertarungan
telah berlangsung hampir dua puluh jurus,
tapi tetap saja lawannya tidak
mampu dikalahkan. Jangankan mengalahkan, mendesak pun tidak mampu. Malah
sebaliknya. dirinyalah yang dibuat pontang-panting oleh Rara Inggar.
Bukan hanya itu saja. Kedua
tangan dan kaki Samparan pun terasa nyeri bukan kepalang, akibat ber-benturan
dengan kedua kaki lawan. Kedudukan Rara Inggar memang menyulitkan Samparan
untuk melancarkan serangan.
Perasaan marah, malu, dan
penasaran bercampur aduk di hati laki-laki tinggi kurus ini. Dia adalah ketua
regu Gerombolan Macan Putih. Tapi kini menghadapi seorang gadis muda saja
dibuat terpontang-panting. Kalau didengar tokoh tokoh persilatan, mau ditaruh
di mana mukanya?
Maka hal ini membuat Samparan
jadi kalap bukan kepalang. Serangan-serangannya pun dengan sendirinya jadi
semakin bertubi-tubi. Suara tangan atau kaki yang ber-benturan terdengar
berkali-kali. Dan hal ini selalu membuat seringai kesakitan di mulut Samparan!
Di arena lainnya, pertarungan
yang berlangsung antara Suta dengan belasan orang Gerombolan Macan Putih
berlangsung tak kalah seru.
Sepak terjang pemuda berjubah
biru ternyata luar biasa. Meskipun lawan yang dihadapinya banyak, namun dia
tidak tampak terdesak. Bahkan tampak jelas kalau pertarungan benar-benar
dikuasainya.
Bangor dan Karugi merasa
penasaran bukan main. Lebih-lebih Bangor. Memang, Jalatang telah menceritakan
kelihaian pemuda berjubah biru itu. Namun sungguh di luar dugaan kalau akan
sampai selihai ini. Setiap serangan yang dilancarkannya, selalu mudah dapat dipatahkan.
Bahkan setiap kali berbenturan, tangan atau kakinya terasa sakit dan nyeri.
Jelas, tenaga dalam lawan berada di atasnya.
Yang lebih hebat lagi, Suta
berani menyerahkan badan-nya sebagai tameng, untuk menerima serangan senjata
Karugi dan anak buahnya. Dan hebatnya, pemuda ber-
jubah biru itu sama sekali tidak
terluka! Malah sebaliknya, senjata-senjata itulah yang terpental balik. Bahkan
tangan yang menggenggam senjata pun terasa sakit bukan kepalang.
Namun setiap kali Suta melancarkan serangan balasan, dapat dipastikan beberapa
sosok tubuh akan ter-jengkang.
Hanya saja yang menjadi bahan
pemikiran Bangor. Lawannya ternyata tak bermaksud menurunkan tangan kejam.
Laki-laki bertubuh pendek gemuk ini pun yakin kalau lawan tidak
bersungguh-sungguh menghadapinya.
Hal ini bisa diketahui dari gerakan-gerakan sembarangan yang dilakukan
Suta. Padahal, Bangor ingin mengetahui ilmu-ilmu yang dimiliki lawan. Paling
tidak bisa diketahui, dari mana asal pemuda bertubuh kekar itu.
Tapi sampai sekian jauh bertarung,
Bangor tetap tidak mengetahuinya. Memang, Suta seperti menyembunyikan
kepandaiannya. Gerakan-gerakan mengelak atau menyerang pun, hanya yang umum saja. Pemuda berjubah
biru belum mengeluarkan llmu khasnya.
Meskipun Suta menghadapi lawan secara
sembarangan, tetap saja Bangor tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu. Karuan
saja hal ini membuatnya penasaran bukan kepalang. Dan sebagai akibatnya,
serangan-serangan laki-laki pendek gemuk ini pun jadi semakin bertambah
dahsyat.
Pada akhirnya, Suta ternyata
memenuhi janjinya ter-hadap Rara Inggar. Sambil bergerak mengelakkan
serangan-serangan yang mengancam bagian-bagian ber-bahaya di tubuhnya, Suta
menyempatkan diri untuk mem-perhatikan keadaan gadis berpakaian merah itu.
Maka tidak aneh kalau Suta
mengetahui keadaan Rara Inggar, sejak melancarkan desakan-desakan pada Samparan.
Di jurus-jurus awal, Rara Inggar
berhasil membuat Samparan pontang-panting. Tapi menginjak jurus ketiga puluh,
serangan-serangan yang dilancarkan gadis ber-
pakaian merah mulai mengendur.
Bahkan ketika pertarungan
memasuki jurus ketiga puluh dua, Rara Inggar lebih sering menangkis dan
ber-tahan. Malah hampir tidak pernah melancarkan serangan lagi.
Sebagai seorang yang telah
kenyang bertarung, Samparan tentu saja tahu kelelahan yang dialami lawan. Dan
itu bisa diketahui dari napas gadis itu yang menderu-deru.
Memang itulah akibat yang harus
ditanggung Rara Inggar. Jurus 'Tringgiling' memang terlalu banyak mem-butuhkan
pengerahan tenaga. Padahal, gadis itu memiliki tenaga dalam yang tidak begitu
kuat. Dan dengan sendirinya, kekuatan yang dimilikinya pun terbatas.
Keadaan yang dialami Rara Inggar
dipergunakan Samparan sebaik-baiknya. Laki-laki tinggi kurus itu pun
melancarkan serangan bertubi-tubi. Dia tidak ingin mem-berikan kesempatan pada
gadis berambut dikuncir itu untuk memulihkan diri.
Kini ganti Rara Inggar yang
terpontang-panting. Di awal-awal serangan Samparan, gadis itu memang bisa
mem-pergunakan sepasang kakinya untuk menangkis. Tapi karena menggunakan jurus
'Tringgiling' itu semakin mem-buatnya semakin lelah, Rara Inggar mulai
mengelak.
Tanpa menggunakan jurus
‘Tringgiling’, tidak sulit bagi Samparan untuk menghadapi Rara Inggar. Dalam
beberapa gebrakan saja, gadis berambut dikuncir itu sudah dibuat
terpontang-panting ke sana kemari. Bahkan hampir saja nyawanya melayang akibat
cecaran serangan yang bertubi-tubi dilancarkan Samparan. Untung di saat-saat
terakhir, dia masih mampu menyelamatkan selembar nyawanya.
Akhirnya saat yang
ditunggu-tunggu Samparan tiba. Kedua tangan Rara Inggar kini telah terpojok.
Dan saat itulah kedua tangan laki-laki tinggi kurus itu meluncur cepat ke arah
dada kiri gadis itu.
Rara Inggar hanya bisa
membelalakkan sepasang mata
menanti tibanya serangan.
Jangankan untuk mengelak, menangkis pun sudah tidak sempat lagi.
Dan pada saat yang tepat, Suta
melesat ke arahnya. Cepat bukan main gerakan pemuda berjubah biru itu.
Tahu-tahu....
Plakkk...!
Tubuh Samparan terlempar ke
belakang ketika tangan Suta menangkis serangan. Dan sebelum semua sempat
berbuat sesuatu, pemuda bertubuh kekar itu telah menyambar tubuh Rara Inggar.
Dan sekali kakinya bergerak melangkah, tubuhnya telah berada dalam jarak
belasan tombak dari situ.
"Kejar...!" teriak
Bangor keras memberi perintah seraya bergerak mengejar diikuti Karugi dan
belasan anak buah-nya.
Sementara Jalatang yang sejak
tadi menonton jalannya pertarungan karena keadaannya yang tidak memungkin-kan,
segera melesat ke arah Samparan yang terguling-guling di tanah.
Samparan berusaha bangkit
berdiri. Tapi.... "Huaaakh...!"
Darah segera muncrat dari
mulutnya. Jelas laki-laki ber-tubuh tinggi kurus itu terluka dalam. Bahkan
sambungan siku tangannya terlepas, saking kerasnya tenaga tangkisan yang
diketuarkan Suta.
Jalatang yang saat itu tengah
membungkukkan tubuh dan menunduk, mengangkat kepalanya begitu mendengar adanya
suara langkah-langkah kaki mendekat. Tampak Bangor, Karugi, dan belasan orang
anggota Gerombolan Macan Putih.
Tanpa bertanya pun laki-laki
berwajah bopeng itu tahu kalau Suta dan Rara Inggar telah berhasil meloloskan
diri. Dan hal itu tidak aneh. Karena, di samping ilmu meringan-kan tubuh pemuda
berjubah biru itu memang tinggi, suasana malam yang gelap dan kerimbunan pohon,
membuat Suta lebih cepat meloloskan diri
Dengan langkah lesu, rombongan
Gerombolan Macan
Putih itu pun kembali
meninggalkan tempat itu. Rekan-rekan mereka yang luka-luka harus terpaksa
ditandu atau dipapah.
"Kurasa, ketua harus turun
tangan kalau masih ingin melenyapkan gadis liar itu...," kata Karugi
pelan.
"Benar," sambut Bangor.
“Pemuda itu memang terlalu sakti untuk kita lawan.... Hanya ketualah yang akan
sanggup menaklukkannya."
"Meskipun ketua turun
tangan, tapi aku masih ragu, Kang Bangor. Ilmu pemuda itu terlalu tinggi.
Mungkin kalau ketua dan wakil ketua maju bersama, pemuda itu dapat
dirobohkan."
Bangor menatapi Karugi dengan
sinar mata penuh teguran.
"Kau terlalu meremehkan
ketua, Karugi. Kau tahu, semua ilmu Raja Ular Pelenyap Sukma sudah dikuasai
ketua.... Bahkan ketua masih mempunyai keunggulan, yaitu jurus ‘Macan'nya.
Hanya satu yang belum dikuasai-nya, yakni ilmu ‘Pelenyap Sukma’. Karena, kitab
dan seruling itu dirampas Dewa Muka Putih!"
"Aku tahu, Kang Bangor.
Itulah sebabnya, ketua menyuruh kita menyelidiki tempat tinggal kedua orang
murid Dewa Muka Putih lainnya. Karena, kitab dan seruling itu ternyata tidak
berada di Perguruan Hati Naga...."
Bangor tidak menanggapi ucapan
itu. Sementara Karugi pun sadar kalau laki-laki pendek gemuk itu tidak mau
memperpanjang pembicaraan. Maka, dia hanya ter-diam. Dan kini mereka
melanjutkan perjalanan tanpa berkata-kata lagi.
Sama sekali Gerombolan Macan
Putih itu tidak mengetahui kalau sepeninggal mereka, dua sosok tubuh pun
melesat turun dari atas pepohonan. Siapa lagi kalau bukan Dewa Arak dan Melati?
"Kalau saja, pemuda itu
tidak cepat bertindak, mungkin aku telah keburu turun tangan, Kang Arya."
kata Melati.
"Lebih baik kita memang
tidak ikut campur dulu, Melati," sahut Arya, tenang.
"Mengapa, Kang?" tanya
Melati, putri angkat Raja Bojong Gading.
"Karena kita tidak tahu
masalahnya. Kita tidak tahu, siapa yang benar dan yang salah. Bukankah kita
datang, pada saat mereka tengah bertarung?"
"Tapi, Kang. Aku yakin kalau
sepasang muda-mudi itu berada di pihak yang benar." bantah Melati tak mau
kalah. "Siapa yang tidak kenal kekejian Gerombolan Macan Putih?!"
"Gerombolan Macan Putih?!
Jadi, belasan orang berpakaian hitam itu adalah Gerombolan Macan Putih? Dari
mana kau mengetahuinya, Melati?"
"Mudah saja, Kang,"
jawab gadis berpakaian putih itu, kalem.
Arya mengernyitkan keningnya
sebentar.
"Kau benar, Melati. Mereka
adalah Gerombolan Macan Putih! Gambar kepala seekor macan di dada kiri mereka
itu pasti yang membuatmu mengenali mereka, bukan?"
Gadis berpakaian putih itu
menganggukkan kepala sambil tersenyum manis.
"Lebih baik, kita susul
sepasang muda-mudi itu, Melati," ujar Dewa Arak mengalihkan perhatian
"Aku yakin, gerombolan itu akan terus mengejar mereka!"
"Kau benar, Kang,"
sambut gadis berambut panjang itu cepat "Lagi pula, tanganku sudah
gatal-gatal, nih! Sudah lama aku tidak memukuli orang-orang jahat!"
Arya hanya tersenyum lebar
mendengar ucapan kekasihnya. Dengan mulut masih menyunggingkan
senyum, kakinya melangkah meninggalkan tempat itu. Melati yang tidak mau
tertinggal, ikut melangkah pula.
Luar biasa! Yang tampak hanyalah
seleret bayangan ungu dan putih yang melesat, kemudian lenyap ditelan
kerimbunan pepohonan.
***
5
Hari sudah agak siang ketika
sebuah perahu meluncur ke tengah danau.
"Di pulau itulah paman
guruku tinggal, Suta," jelas Rara Inggar seraya menudingkan jari
telunjuknya ke arah sebuah pulau yang tampak samar-samar di depan.
Memang, gadis berpakaian merah itu
akhirnya meng-ambil keputusan untuk mengajak Suta ke tempat tinggal paman
gurunya. Rara Inggar ingin memperkenalkan orang yang telah berkali-kali
menyelamatkan nyawanya pada kedua paman gurunya.
Dapat dibayangkan, betapa
gembiranya hati Rara Inggar ketika Suta menyatakan kesanggupannya untuk ikut
bersamanya. Itulah sebabnya, kini mereka berperahu ber-dua di tengah danau.
"Hm...." Suta hanya
menggumam saja.
Tangan kanan pemuda itu tetap
mengayuhkan dayung. Menilik dari luncuran perahu yang cepat, bisa diperkirakan
kalau pemuda berjubah biru itu mengerahkan sebagian besar tenaga dalam pada
kedua tangannya.
Karena perahu itu meluncur cepat,
dalam waktu sebentar saja pulau kecil yang dituju telah berada di depan mata.
"Hup...!
Suta melompat ketika perahunya telah
mencapai tepi danau. Rara Inggar juga melompat menyusul.
Dan begitu kedua kakinya telah
mendarat di tanah, Suta segera menyeret perahu itu ke darat. Lalu,
ditambat-kannya perahu itu pada patok yang telah tersedia.
"Kau pernah kemari,
Inggar?" tanya Suta setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah dua kali aku
kemari," jawab gadis berpakaian merah itu.
Suta mengangguk-anggukkan kepala.
"Mari, Suta...," ajak
Rara Inggar sambil bergerak mendahului menuju ke dalam pulau.
Suta pun melangkah mengikuti di
belakang. Semula dikira, mudah saja menemukan tempat tinggal kedua paman guru
Rara Inggar setelah berada di pulau itu. Tapi ternyata tidak sesederhana itu!
Ternyata, mereka berdua harus
melewati kerimbunan semak-semak di sana-sini dan jalan berliku-liku. Itu pun
memakan waktu yang agak lama, sebelum akhirnya tiba di sebuah tempat yang
terlihat nyaman. Memang, di kanan kiri jalan yang ditumbuhi hamparan rumput
hijau halus dan dipotong pendek, juga ditumbuhi tanaman bunga-bunga dan
rempah-rempah.
"Itulah tempat tinggal paman
guru...." Rara Inggar menudingkan jari telunjuknya ke arah sebuah bangunan
sederhana yang terletak sekitar delapan tombak di depan mereka.
Sebenarnya tanpa diberi tahu,
Suta sudah bisa memperkirakan.
"Paman...! Paman
Karundeng…!” panggil Rara Inggar sambil berhambur ke arah seorang laki-laki
setengah baya yang baru keluar dari dalam pondok.
Laki-laki kecil kurus dan
berpakaian abu-abu yang dipanggil Karundeng pun bergerak menyambuti.
"Inggar...! Ya Tuhan...! Kau
benar, Rara Inggar...!" teriakan bernada kaget keluar dari mulut
Karundeng.
Karena kedua belah pihak
sama-sama bergerak men-dekat di pertengahan jalan tubuh keduanya bertemu dalam
sebuah pelukan kerinduan.
"Inggar...! Mana ayah dan
ibumu...?" tanya Karundeng sambil memeluk tubuh gadis berpakaian merah itu
erat-erat. Pandangan matanya beredar berkeliling mencari-cari orang tua Rara
Inggar. "Dan... siapa pemuda gagah itu?"
"Ceritanya panjang, Paman
.," kata Rara Inggar dengan suara tersendat-sendat. Kesedihan yang selama
ini selalu ditahan karena tidak ada tempat pencurahan, ditumpah-kan semua pada
pamannya.
Air mata yang selama ini
diusahakannya untuk tidak keluar, kini tumpah ruah. Tubuh gadis berpakaian
merah itu pun terguncang-guncang karena isak tangis yang melanda.
Sebagai seorang yang telah berpengalaman,
Karundeng tahu kalau jiwa murid ponakannya ini tengah terguncang. Oleh karena
itu dibiarkan saja, Rara Inggar menangis. Laki-laki kecil kurus ini tahu,
tangis akan dapat mengurangi tekanan perasaan yang mendera keponakan-nya itu.
Tak lama kemudian, Rara Inggar
pun berhasil menguasai perasaan. Dilepaskan pelukan pada pamannya, kemudian air
matanya disusut.
"Maafkan aku, Paman. Aku
telah mengotori pakaian Paman..," ucap Rara Inggar malu-malu.
Suara gadis berpakaian merah itu
masih terdengar serak, karena habis menangis. Bahkan wajah dan hidung-nya pun
masih merah.
"Lupakanlah, Inggar," sahut Karundeng sambil mengelus kepala gadis berpakaian
merah itu penuh kasih sayang. "Sekarang, centakanlah apa yang terjadi. Dan
siapa pula pemuda yang gagah itu."
Rara Inggar terkejut bukan main,
mendengar ucapan Karundeng. Sungguh keterlaluan sekali. Dia telah mengabaikan Suta! Maka
buru-buru tangannya digapaikan pada pemuda berjubah biru itu.
Dengan sikap tenang seperti
biasanya. Suta melangkah mendekat.
"Inilah orang yang selalu
menyelamatkan nyawaku, Paman. Suta namanya ," kata Rara Inggar
memperkenal-kan.
Suta mengulurkan tangannya.
"Ah...! Terima kasih atas
pertolonganmu, Suta. Aku Karundeng," laki-laki berpakaian abu-abu itu balas mengulurkan tangan dan kemudian
menggenggamnya erat-erat.
"Inggar terlalu
membesar-besarkan, Paman." elak
pemuda berjubah biru itu, ikut
memanggil paman pada Karundeng. Perlahan-lahan genggaman tangannya
dilepaskan. "Padahal pertolongan yang kuberikan tidak seberapa...."
Karundeng tersenyum lebar. Dia
tahu, memang begitu seharusnya sikap seorang pendekar tulen. Paling tidak agar
orang yang ditolong tidak terjerat dalam keinginan untuk membalas budi.
"O, ya. Di mana Paman Tapas
Jaya, Paman?" tanya Rara Inggar ketika teringat ketidakhadiran paman
gurunya yang satunya lagi.
"Dia tengah tidak mau
diganggu. Inggar. Tapi, nanti akan kupanggilkan. Sekarang yang penting,
ceritakanlah apa yang telah terjadi. Barangkali, Suta juga ingin mendengarnya."
Rara Inggar menarik napas
dalam-dalam dan meng-hembuskannya kuat-kuat untuk menenangkan hati. Baru
setelah dirinya telah terasa tenang, gadis berpakaian merah itu mulai
bercerita. Sementara, Karundeng dan Suta mendengarkannya. Meskipun sudah mendengar
ceritanya dari Rara Inggar, tapi Suta tidak keberatan untuk ikut mendengarkan
kembali.
Beberapa kali sewaktu Rara Inggar bercerita, Karundeng menggertakkan gigi
menahan geram. Tapi perasaan geramnya itu masih kalah besar oleh perasaan
terkejut yang melanda.
"Begitulah ceritanya,
Paman," tutur Rara Inggar. Karundeng tercenung beberapa saat.
"Apa yang dikhawatirkan
Kakang Tapas Jaya ternyata benar...." pelan dan bernada keluhan ucapan
yang keluar dari mulut laki-laki berpakaian abu-abu itu.
"Maksud, Paman?" tanya
Rara Inggar. Kedua alisnya hampir bertautan. Suta pun menatap wajah Karundeng
tajam tajam. Ada sorot pertanyaan memancar pada sepasang mata yang mencorong
itu.
"Bertahun-tahun yang
lalu..., Kakang Tapas Jaya telah menduga Raja Ular Pelenyap Sukma pasti akan
mem-
punyai ahli waris. Dan dia yakin
ahli waris Raja Ular Pelenyap Sukma akan menguasai kepandaian yang dimilikinya.
Mengapa demikian? Karena bagi golongan seperti mereka, banyak jalan untuk
mencapainya "
Karundeng menghentikan ucapannya
sejenak untuk mengambil napas.
"Di lain pihak, kami
berempat yang menjadi murid Dewa Muka Putih tak lebih dari keledai-keledai
dungu. Di antara kami semua, hanya Rupaksa yaitu ayahmu, yang paling berhasil
menguasai jurus 'Trenggiling' yang dapat melumpuhkan ilmu-ilmu milik Raja Ular
Pelenyap Sukma itu."
"Jadi.. ayah yang paling
menguasai jurus 'Trenggiling' itu, Paman?" tanya Rara Inggar setengah tak
percaya.
"Benar," Karundeng
menganggukkan kepala. "Dia ber-hasil menguasai dua belas dari delapan
belas jurus 'Trenggiling'. Itu pun tidak begitu sempurna dikuasainya. Dan
menilik dari tewasnya ayahmu di tangan ahli waris Raja Ular Pelenyap Sukma,
sudah bisa kuperkirakan kalau ahli waris itu telah mewarisi seluruh ilmu-ilmu
yang dimiliki tokoh sesat yang menggiriskan itu!"
"Hm.... Lalu..?"
Suasana menjadi hening sejenak
ketika Karundeng menghentikan ucapannya.
"Kini aku mengerti...!"
seru Rara Inggar tiba-tiba. ''Paman Tapas Jaya tengah berusaha menguasai jurus
'Trenggiling'. Bukan begitu?!"
Dengan perasaan berat Karundeng
menganggukkan kepala.
"Belasan tahun dia bergelut
dengan jurus ‘Trenggiling’ tapi tetap hanya mampu mempelajari tiga belas
jurus," Ada nada keluhan dalam ucapan laki-laki kecil kurus itu.
"Mengapa begitu,
Paman?" Rara Inggar mengajukan keheranannya.
"Jurus 'Trenggiling' bukan
ilmu sembarangan, Rara Inggar. Justru jurus itu malah penuh bahayanya. Apalagi
bila mempelajarinya tanpa pembimbing. Akibatnya akan
sangat berbahaya. Bahkan pamanmu
itu mengalami nasib seperti itu."
"Maksud. Paman...?"
"Kakang Tapas Jaya selalu
mengalami akibat yang tidak menyenangkan setiap kali melatih jurus keempat
belas...." lanjut Karundeng setengah mengeluh.
"Ahhh...!" Rara Inggar
memeklk kaget.
"Satu-satunya orang yang
berhasil mencapai jurus ketujuh belas adalah putra kakek gurumu Tapi,
sayang...," Karundeng menghentikan ucapan. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan yang amat
hebat.
"Hhh…!"
Rara Inggar menghela napas berat.
Tanpa laki-laki kecil kurus itu meneruskan, sudah bisa diperkirakan
kelanjutan-nya. Memang gadis itu sudah mengetahui nasib yang menimpa putra
kakek gurunya.
"Mengapa dia masih bisa
dikalahkan Raja Ular Pelenyap Sukma. Paman? Bukankah dia telah menguasai hampir
seluruh rangkaian jurus dalam jurus ‘Tringgling'?"
"Banyak hal yang menyebabkan
putra kakek gurumu itu tewas di tangan Raja Ular Pelenyap Sukma," sahut
Karundeng dengan wajah murung.
Rupanya kenangan menyedihkan itu
belum dapat dilupakannya. Terbukti kesedihan masih tergambar di wajahnya sekalipun
peristiwa itu telah lama berlalu.
"Saat itu, dia masih sangat
muda dan belum berpengalaman. Apalagi, untuk menghadapi seorang tokoh kawakan
semacam Raja Ular Pelenyap Sukma." lanjut kakek kecil kurus itu memberi
penjelasan. "Kau tahu Inggar, Raja Ular Pelenyap Sukma tidak hanya
meng-gunakan ilmu kepandaian yang wajar untuk menghadapi lawan, tapi juga
menggunakan ilmu hitam. Itulah sebabnya dia mendapat julukan Pelenyap Sukma di
samping julukan Raja Ular."
Karundeng menghentikan ucapannya
sejenak untuk mengambil napas.
"Untuk menggunakan ilmu
hitamnya tokoh itu meng-
gunakan pula senjata andalannya
yang bernama Suling Naga. Tanpa adanya benda itu, ilmu-ilmu hitamnya tidak akan
bisa dipergunakan. Keampuhan Suling Naga memang sangat dahsyat. Dengan nada-nada
tertentu. Raja Ular Pelenyap Sukma bisa memanggil segala macam ular, dan dapat
diperintahkan sekehendak hatinya."
Rara Inggar mengangguk-anggukkan
kepala. Perasaan ngeri menghinggapi dirinya. Sungguh tidak pernah di-sangka
akan begitu mengerikan tokoh yang berjuluk Raja Ular Pelenyap Sukma itu.
"Sulit kubayangkan ketinggian ilmu kakek guru
sehingga Raja Ular Pelenyap Sukma yang begitu mengeri-kan bisa
dikalahkan…," kata Rara Inggar seperti berbicara pada diri sendiri
"Dengan jurus 'Trenggiling'
tingkat terakhir, kakek gurumu berhasil menaklukkan Raja Ular Pelenyap Sukma.
Kau tahu, Inggar. Jurus kedelapan belas 'Trenggiling' mem-buat Suling Naga Raja
Ular Pelenyap Sukma kehilangan keperkasaannya...."
"Apakah ahli waris Raja Ular
Pelenyap Sukma itu memiliki juga ilmu-ilmu hitam peninggalan leluhurnya,
Paman?" tanya Rara Inggar.
Ada nada kegentaran pada suara
gadis berambut dikuncir itu. Dan itu dapat dirasakan baik Karundeng maupun
Suta.
Karundeng menggelengkan kepala
sambil tersenyum lebar.
"Mengapa, Paman?" desak
Rara Inggar penasaran. "Karena kakek gurumu telah mengambil Suling Naga
dari tangan Raja Ular Pelenyap
Sukma. Tanpa adanya senjata itu tetap saja tidak bisa menggunakannya, meskipun
si ahli waris telah menghafal kitab itu."
"Lalu... di manakah Suling
Naga itu, Paman?" tanya Rara Inggar ingin tahu. "Aku ingin sekali
melihat bentuk suling yang memiliki nama begitu gagah."
Kakek kecil kurus itu mengangkat
bahu.
"Entahlah. Kakek gurumu
tidak pernah membicarakan
senjata itu padaku. Mungkin pada
ayahmu, ibumu, atau pada Kakang Tapas Jaya. Tapi kalau menurut dugaanku, Suling
Naga itu mungkn diberikan pada ayahmu, Inggar. Karena, dialah murid yang paling
berbakat."
"Tapi ayah tidak menyimpan
benda itu, Paman. Kalau benar dia yang menyimpannya, pasti akan diberikan
pada-ku untuk diselamatkan…"
"Kalau begitu, benda itu
pasti ada di tangan Kakang Tapas Jaya."
"Maaf, Paman, Inggar. Kurasa
aku telah terlalu lama berada di sini. Aku ingin pamit saja. Hatiku sudah lega
karena kau telah tiba selamat di sini," Suta yang sejak tadi bertindak
sebagai pendengar, buru-buru menyelak pem-bicaraan ketika Karundeng menghentikan
cerita
"Lho?!"
Bukan hanya Rara Inggar saja yang
terkejut, Karundeng pun demikian pula.
"Mengapa buru-buru, Suta.
Masuklah dulu ke dalam untuk benstirahat...," sambut Karundeng buru-buru.
"Terima kasih, Paman. Tapi,
aku masih mempunyai keperluan di Desa Mentawa…," tolak Suta halus.
Rara Inggar baru saja hendak
membuka mulut, tapi segera ditahan karena Karundeng telah mendahuluinya.
"Baiklah, Suta. Tapi jangan
lupa singgah kemari, bila kau sempat."
"Jangan khawatir, Paman.
Sehabis menyelesaikan urusan di Desa Mentawa, aku akan singgah kemari,"
Janji Suta.
Setelah berkata demikian, Suta
melesat meninggalkan tempat itu. Meskipun baru sekali ke tempat Karundeng, tapi
dia tidak mengalami kesulitan untuk kembali ke tempat semula, ketika perahu
ditambatkan.
***
6
Brosss...!
Tanah keras seketika amblas
sedalam betis begitu kaki kanan seorang laki-laki yang bertubuh kekar
dijejakkan. Menilik akibatnya, bisa diperkirakan kekuatan tenaga dalam pemilik
kaki itu.
Dia adalah seorang laki-laki
dengan bentuk tubuh kekar berotot. Dadanya telanjang dan hanya mengenakan
sehelai celana panjang berwarna putih.
Hanya sayangnya, wajah laki-laki
bertubuh kekar berotot ini tidak tampak jelas. Dandanan yang menghias, membuat
raut wajahnya jadi mirip seekor macan. Itu pun masih ditambah lagi dengan
adanya bulu-bulu halus yang menempel, meramaikan selebar wajahnya.
Tidak hanya itu saja keanehan
yang dimiliki laki-laki yang tampaknya memiliki kepandaian tinggi, mengingat
akibat yang ditimbulkan pada tanah keras itu. Di bagian dada nya terlukis
gambar kepala seekor macan putih yang besar.
"Kalian tahu, mengapa aku
marah besar?!"
Kembali suara menggeledek
terdengar dari mulut laki-laki bertubuh kekar berotot itu. Pandangannya juga
beredar ke arah puluhan orang yang berdiri di hadapannya. Mereka rata-rata
mengenakan pakaian hitam, dan memiliki sulaman gambar kepala macan putih di
dada kiri.
Sedangkan di sebelah laki-laki
bercelana putih yang tengah marah-marah itu, tampak seorang wanita berusia
sekitar lima puluh tahun. Pakaiannya terbuat dari kulit macan putih. Dia juga
memiliki sulaman gambar kepala seekor macan pada bagian dada. Wajahnya juga
penuh coreng moreng dan bulu-bulu yang membuat raut wajahnya mirip wajah seekor
macan!
Laki-laki kekar dan wanita tua
itu adalah Ketua dan Wakil Ketua Gerombolan Macan Putih!
Puluhan orang berseragam hitam
itu yang sejak tadi hanya menundukkan kepala saja, perlahan mengangguk
bersamaan seperti diberi perintah. Perasaan yang melanda mereka pun sama.
Mereka sama-sama takut bukan kepalang melihat kemurkaan sang Ketua. Sehingga,
terik matahari yang tepat berada di atas kepala, sama sekali tidak dirasakan.
Padahal, mereka tengah berdiri di tanah lapang yang hanya sedikit ditumbuhi
rumput. Sementara, di sekeliling mereka bertebaran pepohonan lebat.
Tanpa disadari Gerombolan Macan
Putih ternyata ada dua sosok tubuh yang tengah mengintai. Dua orang itu, adalah
pemuda berambut putih keperakan dan seorang gadis cantik berpakaian putih.
Mereka tak lain adalah Arya dan Melati.
Memang, begitu tidak menemukan jejak
Suta dan Rara Inggar, Arya dan Melati akhirnya memutuskan untuk mengikuti jejak
Gerombolan Macan Putih. Barangkali saja dengan mengikuti jejak gerombolan itu,
Suta dan Rara Inggar bisa ditemukan.
Akhirnya setelah melakukan
pencarian terus menerus, mereka berhasil menemukan tempat pertemuan
Gerombolan Macan Putih. Mereka sempat melihat juga kedatangan sang Ketua yang
agak terlambat, ketika matahari telah hampir berada di atas kepala.
Dan begitu tiba, sang Ketua itu
sudah membuat Arya dan Melati terkejut. Sang Ketua Gerombolan Macan Putih itu
ternyata tengah murka! Rasa-rasanya, akan ada anak buahnya yang diberi hukuman.
Dan sepasang pendekar itu ingin mengetahui, penyebab kemarahan sang Ketua itu.
Di samping itu juga ingin mengetahui secara lebih jelas duduk masalahnya.
Itulah sebabnya, dari tempat persembunyian, Arya dan Melati hanya memperhatikan
saja.
"Jadi kalian tahu?! Coba
katakan...!" dengus Ketua Gerombolan Macan Putih.
"Karena kegagalan kami
menangkap putri Ketua Perguruan Hati Naga, Ketua," Bangor yang
memberanikan diri mengajukan jawaban.
"Hmh..." dengus
laki-laki bertubuh kekar berotot itu. Karuan saja sambutan sang Ketua membuat
wajah laki-laki pendek gemuk itu pucat. "Bagaimana dengan yang lain? Apa
jawaban kalian?"
Semua kepala terangguk. Jelas
mereka semua mem-punyai jawaban pertanyaan yang sama.
"Bodoh kalian
semua...!"
Kontan tubuh puluhan anggota
Gerombolan Macan Putih itu terlonjak ketika sang Ketua mendadak mem-bentak
nyaring. Wajah mereka semuanya pucat
"Kalian semua dengar! Aku
tidak akan semarah ini bila kalian hanya gagal menangkap putri musuh leluhurku!
Tapi yang membuatku marah, adanya orang-orang yang berani melanggar laranganku
dan menyelewengkan perintah-perintahku di antara kalian semua."
Tegas, jelas, dan keras sekali
ucapan yang dikeluarkan Ketua Gerombolan Macan Putih itu.
"Dan seperti yang telah
kalian ketahui.... Aku tidak akan mendiamkan saja orang-orang yang berani
menentang perintah dan laranganku! Kuharap... orang-orang yang merasa melakukan
kesalahan maju ke depan, sebelum aku sendiri yang akan menyeretnya
kemari!" ujar laki-laki bertubuh kekar berotot itu sambil melayangkan
pandangan.
Wajah Jalatang dan Samparan pucat
pasi seketika. Memang, kedua orang inilah yang telah melakukan kesalahan
seperti yang telah disebutkan ketua mereka.
"Hmh...! Di samping berani
menginjak-injak peraturan, orang-orang tak berguna itu tidak berani pula
mem-pertanggungjawabkan perbuatannya. Mereka harus
dihukum berat, Kala. Biar menjadi contoh bagi yang lain," tambah wanita
berpakaian kulit macan putih, dingin.
Setelah beberapa saat lamanya
perintah Ketua Gerombolan Macan Putih, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan
ada yang maju mengakui kesalahan.
"Pasti akan kulakukan, Nyi Nila." sahut Ketua
Gerombolan Macan Putih yang ternyata bernama Kala.
Menilik dari pangilan yang
dipanggil masing-masing, bisa diduga kalau kedudukan wanita tua itu tidak
berada di bawah Kala.
"Baiklah. Rupanya orang yang
telah melakukan kesalahan mengira bisa menyembunyikan diri dariku?!" Ada
kegeraman dalam ucapan Kala. "Angkat wajah kalian semua!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
kepala puluhan orang berseragam hitam itu terangkat.
"Kalian semua perhatikan dan
camkan ucapanku baik-baik! Jangan mengira kalian bisa melanggar peraturan tanpa
kuketahui. Dan buktinya, akan segera kuungkapkan di hadapan kalian!"
Berpuluh puluh jantung berdebar keras penuh ketegangan. Masing-masing diri
menebak-nebak, siapa orang yang telah melakukan kesalahan itu.
Kala melangkah maju
lambat-lambat. Karuan saja hal itu semakin menambah besar ketegangan yang
melanda puluhan orang Gerombolan Macan Putih.
Meskipun ketegangan besar
melanda, namun Jalatang berusaha menenangkan hati. Sehingga, wajahnya tidak
terlalu gelisah. Sama saja dengan raut wajah anggota gerombolan yang lain, yang sama-sama dicekam ketegangan.
Tapi ketenangan laki-laki
berwajah bopeng itu mulai goyah. Jantungnya berdetak keras ketika melihat Kala
bergerak menghampirinya.
Semakin Ketua Gerombolan Macan Putih itu mendekatinya, debar jantung Jalatang
kian keras. Dan ketika akhirnya Kala menghentikan langkah tepat di depannya,
laki-laki berwajah bopeng ini tidak bisa menahan diri Lagi. Kedua kakinya
langsung menggigil hebat!
"Anjing kurap...!"
desis KaLa penuh geram sambil melayangkan kaki.
Tuk, tuk...!
Jalatang memekik kesakitan ketika
kaki sang Ketua
menghantam kedua lututnya.
Tubuhnya pun langsung terkulai karena kedua tulang lututnya langsung hancur
terkena tendangan yang ditopang tenaga dalam tinggi.
Tanpa mengenai kasihan sedikit
pun, Kala segera menjejak kedua siku Jalatang.
Krek, krek...!
Suara berkeretek keras dua kali,
menjadi pertanda hancurnya kedua tulang siku Jalatang.
Kali ini tidak ada keluh
kesakitan lagi dari mulut Jalatang. Bibirnya digigit kuat-kuat untuk menahan
keluarnya jeritan itu Saking kerasnya, sampai-sampai bibir itu pecah. Tak pelak
lagi, darah pun mengalir.
Ternyata tindakan Kala tidak
berhenti sampai di situ saja. Kali ini ujung kaki kanannya bergerak. Dan dengan
sebuah gerakan mengungkit, tubuh Jalatang telah
dibuatnya melayang ke atas.
Brukkk...!
Diiringi suara berdebuk keras,
tubuh laki-laki berwajah bopeng itu jatuh ke tanah, tepat di sebelah Nyi Nila!
"Hmh...!"
Wanita setengah tua itu mendengus
seraya meng-gerakkan kaki menekan pergelangan tangan Jalatang. Dan...
Krekkk!
Tulang pergelangan tangan
Jalatang pun kembali hancur.
Jalatang sudah tidak mampu lagi
menjerit. Siksaan Kala telah membuatnya hampir pingsan! Memang, siksaan yang
mendera tidak tanggung-tanggung. Tambahan lagi, laki-laki berwajah bopeng ini
belum pulih dari luka-luka yang diderita setelah bertarung melawan Suta.
Hanya suara keluhan pelan dan tak
jelas yang keluar dari mulut Jalatang ketika pergelangan tangannya hancur
berantakan.
***
Tanpa mempedulikan keadaan Jalatang yang dilemparkannya, Kala mengedarkan pandangan. Lalu,
kakinya melangkah kembali.
Kali ini, laki-laki bertubuh
kekar berotot itu harus menyibak kerumunan anak buahnya karena orang yang
dicarinya ternyata berada di bagian tengah.
Wajah Samparan seketika berubah.
Menilik dari tatapan mata, bisa diperkirakan kalau sang Ketua tengah menuju ke
arahnya.
Dugaan laki-laki tinggi kurus itu
ternyata tidak salah. Tepat di hadapannya, Kala menghentikan langkahnya.
"Cacing busuk..!"
Untuk yang kedua kalinya. Ketua
Gerombolan Macan Putih itu memaki. Belum lagi ucapannya lenyap, tangan Kala
telah terulur. Dan....
Kreppp…!
Leher baju Samparan telah dicekal
tangan Kala. Sekali tangan itu bergerak menyentak, tubuh laki-laki tinggi kurus
itu telah terlempar.
Tapi, Samparan memang sudah
bersiap siaga sejak tadi. Maka begitu tubuhnya dilontarkan, segera ilmu
meringankan tubuhnya digunakan. Samparan memper-gunakan tenaga lontaran itu
untuk bersalto beberapa kali di udara.
"Keparat..! Berani kau
memamerkan kepandaian seperti itu di hadapanku...?!" geram Kala.
Pada saat yang bersamaan dengan
lenyapnya suara makian itu, Kala menggenjotkan kaki. Seketika itu pula,
tubuhnya melayang ke udara, menyusul tubuh Samparan yang tengah berjumpalitan
di udara.
Samparan terkejut bukan kepalang.
Sepasang matanya hanya melihat sekelebatan sosok bayangan meluncur ke arahnya.
Dan tahu-tahu….
Plakkk, plakkk…!
"Huakh...!"
Samparan memuntahkan darah segar
dari mulutnya ketika dua tangan Kala menepuk kedua bahunya.
"Hup...!"
Indah dan manis Kala mendaratkan
kedua kakinya di tanah. Disusul kemudian, Samparan hinggap di tanah dalam
keadaan terhuyung-huyung. Lelehan cairan merah kental tampak di kedua sudut
mulutnya.
Tanpa mempedulikan keadaan Samparan, Kala mengalihkan pandangan ke arah puluhan anak buahnya yang
hanya bisa memperhatikan semua kejadian.
"Kalian semua lihat
baik-baik!" ujar Kala, pelan tapi mengandung getaran yang membuat isi dada
bergetar. "Inilah orang-orang yang telah berani menentang
aturanku!"
Laki-laki bertubuh kekar berotot
itu menghentikan ucapannya sejenak untuk mengambil napas.
"Anjing kurap ini...,"
lanjut Ketua Gerombolan Macan Putih sambil menudingkan jari telunjuk ke arah
tubuh Jalatang yang masih tergolek tanpa daya di tanah. "Telah berusaha
memperkosa putri Ketua Perguruan Hati Naga."
"Ah...!"
Seruan-seruan keterkejutan keluar
dari mulut anggota Gerombolan Macan Putih, kecuali yang menjadi bawahan
Jalatang. Bahkan Sancang dan ketiga rekannya yang ditugaskan melenyapkan Kusuma
ikut berseru kaget. Memang, keempat oang itu tidak mengetahui hal itu, bertemu
di tengah jalan dengan rombongan Jalatang yang tampak terburu-buru. Dan ketika
ditanyakan, hanya men-dapatkan jawaban kalau Rara Inggar telah diselamatkan
seorang tokoh sakti, dan mereka dipukul mundur ketika mencoba melawan.
Itulah sebabnya, Sancang menjadi
terkejut mendengar ucapan Ketua Gerombolan Macan Putih. Dia hanya mampu
memandang dengan mata terbelalak.
Kala mengangkat tangan kanannya
ke atas. Seketika itu pula, suasana yang semula riuh rendah suara teriak
keterkejutan, kontan hening. Jelas, sang Ketua amat disegani anak buahnya.
"Dan cacing busuk ini,"
tunjuk Kala pada Samparan
yang hanya dapat berdiri dengan
wajah pucat. “Telah berani bertindak lancang hendak membunuh gadis liar putri
Ketua Perguruan Hati Naga! Padahal, cacing busuk ini tahu kalau aku sangat
membutuhkan gadis liar itu untuk mendapatkan kembali pusaka leluhurku! Suling
Naga!"
Kala menghentikan ucapannya
sejenak untuk melihat tanggapan anak buahnya. Sepasang matanya beredar
berkeliling memperhatikan wajah wajah anak buahnya.
"Kedua orang yang telah
berani menentang peraturan-ku ini akan mendapatkan hukuman. Terutama sekali,
Jalatang! Dia telah begitu berani hendak melakukan dosa tak terampunkan dalam
perkumpulan kita!"
Usai berkata demikian, Kala lalu
membalikkan tubuh. Kemudian dia berjalan menghampiri Jalatang yang berada dalam
keadaan setengah sadar.
"Anjing kurap…! Sekarang kau harus menerima hukuman atas perbuatanmu...!"
Seiring selesainya ucapan itu,
Kala mulai dengan siksaannya.
Dengan senyum kecut tersungging
di bibir, Ketua Gerombolan Macan Putih itu lalu mengangkat kaki kirinya.
Kemudian, diletakkannya di atas paha Jalatang yang memang terbaring
menelentang. Suara berkeretekan dari tulang-tulang yang patah terdengar ketika
kaki Kala bergerak menekan.
Kontan tubuh Jalatang menggeliat
dilanda rasa sakit yang menggelegak. Memang, tidak ada jeritan yang keluar dari
mulutnya. Tapi gigitan gigi pada kedua bibirnya yang membuat darah mengalir,
telah menjadi bukti kedahsyatan rasa sakit yang melanda.
Seringai menggiriskan semakin
tampak di mulut Kala. Kaki kirinya kembali bergerak. Kali ini turun ke betis
karena tulang tulang di paha, dan lutut Jalatang telah hancur. Maka, rasa sakti
yang mendera kembali harus diterima Jalatang. Dan untuk yang kesekian kalinya
pula tubuhnya menggeliat.
Tanpa mengenal rasa kasihan, Kala
terus melakukan
penyiksaan. Setelah tulang tulang
kaki Jalatang hancur semua, tulang-tulang tangannya menyusul mendapat giliran.
Siksaan itu baru berakhir ketika
nyawa Jalatang melayang meninggalkan raganya. Dan itu terjadi ketika kaki kiri
Kala menekan dada Jalatang hingga hancur berantakan!
Darah segar yang menghambur deras
dari mulut Jalatang mengiringi melayangnya nyawa laki-laki berwajah bopeng itu
ke alam baka.
Dengan seringai sadis yang
menghias wajah, Kala menolehkan kepala ke arah Samparan yang sejak tadi
menyaksikan penyiksaan dengan hati ngeri. Padahal kalau dalam keadaan biasa,
laki-laki tinggi kurus ini pasti akan tertawa terbahak-bahak. Tapi karena sadar
kalau nasib yang akan diterima tidak akan jauh berbeda dengan Jalatang, bulu
tengkuknya seketika merinding.
Maka ketika Kala menatap ke
arahnya dengan pandangan menggiriskan. Samparan segera melompat ke belakang.
"Mau ke mana kau, Cacing
Busuk...?!" dengus Ketua Gerombolan Macan Putih seraya melompat mengejar.
"Jangan harap bisa lolos dari tanganku dan.... Hey...!"
Prakkk...!
Kepala Samparan kontan pecah.
Darah bercampur otak mengalir keluar dari bagian yang tertuka.
Kala memekik kaget ketika melihat
tangan Samparan bergerak memukul kepalanya sendiri. Maksud laki-laki tinggi
kurus ini sudah jelas. Ingin membunuh diri! Rupanya, dia yakin kalau tidak
mungkin lagi bisa lolos dari tangan laki-laki bertubuh kekar berotot itu. Maka,
dipilihnya jalan singkat.
"Pengecut..!" maki Kala
geram ketika kedua kakinya telah mendarat di tanah.
Beberapa saat lamanya pandangan
laki-laki bertubuh kekar berotot itu terpaku pada mayat Samparan. Baru
kemudian, dialihkan ke arah kerumunan anak buahnya.
"Besok siang kuharap kalian
telah berada di pulau kecil yang terletak di tengah Danau Garu. Di sanalah sisa
murid-murid Dewa Muka Putih tinggal. Di situ, ada juga gadis liar itu dan
pemuda penolongnya! Seperti biasa, aku tidak akan turun tangan, sebelum
diperlukan. Kalian mengerti?!"
Puluhan kepala anggota Gerombolan
Macan Putih menganggukkan kepala.
"Sekarang kalian boleh
bubar!"
Kontan puluhan orang berpakaian
hitam melangkah meninggaikan tempat itu dengan perasaan lega karena tidak
terkena hukuman.
Meskipun merasa lega, tapi
rombongan Gerombolan Macan Putih yang ikut bersama Jalatang, dan yang ikut bersama
Samparan sewaktu mengejar Suta dan Rara Inggar, dilanda keheranan. Di antara
mereka yang keheranan itu termasuk pula Karugi dan Bangor!
Berbagai pertanyaan berkecamuk di
benak mereka semua. Benarkah Kala melihat semua itu? Ataukah hanya menduga
saja? Kalau hanya menduga, tidak mungkin akan diberikan hukuman seperti itu
pada anak buahnya. Dan kalau benar berada di sana, mengintai misalnya, mengapa
tidak turun tangan mencegah kepergian Suta yang mem-bawa kabur Rara Inggar?
Namun akhirnya sebuah jawaban berhasil
ditemukan Bangor! Ya! Ketua Gerombolan Macan Putih itu sudah pasti berada di
sana. Dan ketika Suta membawa kabur Rara Inggar, sang Ketua pun mengejar. Toh,
hasilnya sudah terbukti! Kala telah berhasil menemukan tempat per-sembunyian
sisa murid-murid Dewa Muka Putih!
Ketika tidak ada lagi anggota
Gerombolan Macan Putih di situ, Kala melangkah menghampiri Nyi Nila.
"Mudah-mudahan semua yang
kita rencanakan berhasil dengan baik, Nyi. Maka, dendam Raja Ular Pelenyap
Sukma akan terbalaskan.... Di samping itu, Suling Naga akan berhasil pula
kudapatkan!"
"Pasti, Kala! Aku yakin
semuanya akan berhasil baik! Kalau tidak, rasanya akan sia-sia kita menundukkan
tokoh-
tokoh hitam itu, dan
menjadikannya sebagai pengikut kita." "Terima kasfh, Nyi," ucap
Kala.
"Tidak usah berterima kasih,
Kala. Kau adalah cucu Raja Ular Pelenyap Sukma. Sedangkan aku adalah pelayan
kakekmu. Sudah sewajarnya aku membantumu agar dendam majikanku bisa
terbalaskan!"
"Yang aku heran, mengapa kau
bisa secepat itu mengumpulkan mereka, Nyi?"
"Mudah saja," sahut
wanita berpakaian dari kulit macan putih itu. "Dengan panah ini."
Sambil berkata demikian, Nyi Nila
lalu mengangsurkan busur dan sekelompok anak panah yang sejak tadi tersampir di
pinggangnya. Baik busur mau pun anak panah itu tidak sebesar biasanya, tapi
kecil. Paling-paling hanya berukuran setengah dari yang biasa.
Kala mengangguk-anggukkan kepala pertanda mengerti. Dan memang, dia telah
mengetahui kegunaan peralatan itu. Anak panah itu berapi, dan akan dilontarkan
bila hendak meminta bantuan.
Pantas saja kalau semua anggota
gerombolan yang bergerak mengejar dan berpencar bisa berkumpul di tanah lapang
di Gunung Garu.
"Aku pergi dulu, Kala."
"Silakan, Nyi."
Belum juga gema ucapan Ketua
Gerombolan Macan Putih lenyap, tubuh wanita berpakaian kulit macan itu telah
melesat dari situ. Dalam beberapa kali langkah saja, tubuh-nya telah lenyap
ditelan kerimbunan pepohonan.
Sepeninggal Nyi Nila, Kala pun
melangkah meninggal-kan tempat itu. Arah yang ditempuh berlawanan dengan nenek
berpakaian merah itu.
Setelah suasana di tempat itu
sepi, baru Dewa Arak dan Melati keluar dari tempat persembunyiannya.
"Bagaimana, Kang? Apa yang
harus kita lakukan?" tanya gadis berpakaian putih itu.
"Kita harus ke pulau kecil
di tengah Danau Garu itu, Melati," ujar Dewa Arak mengambil keputusan.
"Aku telah
mendengar tentang tokoh yang
berjuluk Dewa Muka Putih. Kalau tidak salah, dia termasuk tokoh aliran putih.
Maka sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu murid-muridnya."
Melati hanya mengangkat bahu. Dia
telah percaya penuh pada pemuda berambut putih keperakan itu. Apa pun keputusan
Arya, pasti disetujuinya. Karena, dia tahu kalau keputusan yang diambil
kekasihnya tidak pernah salah!
Tak lama kemudian, Arya dan
Melati pun melesat cepat meninggalkan tempat itu.
***
7
"Hhh...!"
Suara helaan napas kakek tinggi
besar berkepala botak mengusik keheningan pagi yang sejuk. Sehelai pakaian
berwarna coklat dan longgar membungkus tubuhnya yang kokoh laksana batu karang.
Kakek berpakaian kuning itu
tengah duduk bersila di teras depan sebuah bangunan sederhana yang bagian
depannya terhampar rapi tanaman rempah dan bunga-bunga. Sementara di sana juga
tergelar rerumputan hijau yang dipotong pendek. Kesejukan memang menyelimuti
tempat itu.
Dua sosok tubuh yang juga duduk
bersila di depan kakek tinggi besar itu menundukkan kepala. Jelas hati mereka
dilanda keresahan pula, sebagaimana yang dirasa-kan kakek berpakaian kuning.
Yang seorang adalah kakek kecil
kurus berpakaian abu-abu. Sementara yang satunya, adalah seorang gadis
ber-pakaian merah. Wajahnya yang cantik jelita. Apalagi dengan rambut yang
dikuncir. Hanya saja, sayangnya saat itu nampak tengah bersedih. Meskipun
begitu, tidak mengurangi kecantikannya. Dua sosok tubuh itu tak lain adalah
Karundeng dan Rara Inggar.
"Apa yang kukhawatirkan
ternyata terjadi juga...," kembali kakek berkepala botak mengucapkan
kata-kata bernada keluhan. "Ahli waris Raja Ular Pelenyap Sukma, akhirnya
muncul juga. Sementara, aku baru berhasil mem-pelajari tiga belas dari delapan
belas Jurus 'Trenggiling’. Ahhh...! Sungguh tidak kusangka kalau diriku begitu
bebal " "Kakang Tapas Jaya.... Kau tidak usah menyesali diri. Jurus
'Trenggiling' memang sulit luar bisa. Bukankah guru pun telah mengatakannya.
Kecuali orang yang sangat berbakat, sulit untuk bisa menguasainya. Apalagi
sampai
menguasai semua nya," hibur
Karundeng.
“Tapi... bagaimana kalau ahli
waris Raja Ular Pelenyap Sukma merajalela lagi? Siapa yang akan mampu
meng-hadapinya?" tanya kakek tinggi besar yang ternyata Tapas Jaya, murid
tertua Dewa Muka Putih!
"Kita tak perlu khawatir,
Kang. Ahli waris Raja Ular Pelenyap Sukma tidak akan selihai dan berbahaya
seperti leluhurnya," kata Karundeng bernada menenangkan. "Bukankah
Suling Naga telah dirampas guru?"
"Ah...! Kau benar,
Adi." sahut Tapas Jaya terkejut ber-campur gembira. "Mengapa aku bisa
melupakannya?"
"Jadi... kau yang menyimpan
Suling Naga, Kang?" "Benar! Benda itu kusimpan di suatu tempat. Maaf,
Adi.
Aku tidak bisa memberitahukanmu.
Kau mau memaklumi-nya, bukan?"
Karundeng tersenyum lebar.
"Aku mengerti, Kang. Lebih
sedikit orang yang tahu, lebih baik dan lebih sulit untuk bocor ketimbang
diketahui banyak orang."
"Tapi, Paman...."
Rara Inggar terpaksa menahan
ucapannya ketika Tapas Jaya mengangkat jari telunjuk dan menempelkannya ke
bibir.
"Aku mendengar ada langkah
kaki menuju kemari...," bisik kakek tinggi besar itu, sebelum Rara Inggar
sempat mengajukan pertanyaan.
"Banyak, Paman?" tanya
Rara Inggar pelan, lebih mirip bisikan.
Tapas Jaya menggelengkan kepala.
"Hanya satu orang...."
"Mungkin Suta...." duga
Rara Inggar dengan wajah berseri, seraya membalikkan tubuhnya.
Tapas Jaya dan Karundeng
tersenyum lebar. Meskipun gadis berpakaian merah itu tidak mengutarakannya,
tapi bisa diterka-terka kalau Rara Inggar menyukai Suta. Baik Karundeng maupun
Tapas Jaya sama sekali tidak melarang. Bahkan sebaliknya merestui. Memang,
Tapas Jaya telah mendengar perihal pemuda berjubah biru itu
dari Karundeng dan juga Rara
Inggar sendiri.
Bukan hanya Rara Inggar saja yang
membalikkan tubuh. Karundeng pun demikian pula. Dia juga ingin mengetahui
pemilik langkah itu. Dan hanya Tapas Jaya seorang yang sama sekali tidak
merubah sikap tubuhnya, karena memang tengah duduk bersila menghadap jalan.
Sesaat kemudian, pemilik langkah
itu pun terlihat. Dugaan Rara Inggar ternyata tidak keliru. Sutalah orang-nya.
Ingin rasanya Rara Inggar bangkit dari duduk bersila-nya dan menghambur ke arah
Suta. Hanya saja, perasaan malu yang melanda menghalanginya berbuat seperti itu.
Memang, gadis berpakaian merah
itu bangkit dari duduk bersilanya. Tapi tidak lantas menghambur, melain-kan
melangkah perlahan menyambut Suta.
Ternyata bukan hanya Rara Inggar
saja yang me-langkah maju menghampiri Suta, tapi juga Tapas Jaya dan Karundeng.
Tapi senyum yang mengembang di
bibir Rara Inggar kontan menciut ketika melihat raut wajah pemuda ber-tubuh
kekar yang terlihat begitu tegang.
"Ada apa, Suta?" tanya
Rara Inggar khawatir, begitu telah berhadapan dalam jarak dua tombak dari
pemuda berjubah biru itu. "Kau membatalkan niatmu ke Desa Garu?"
Rara Inggar mengajukan pertanyaan
seperti itu karena tahu kalau perjalanan dari tempat kedua pamannya ini ke Desa
Garu membutuhkan waktu sehari semalam. Itu pun bila perjalanan dilakukan cepat
dan tanpa henti.
"Apa boleh buat..."
sambut Suta pelan. "Mengapa, Suta?" tanya Karundeng ingin tahu.
"Kemarin malam, di
perjalanan aku menyaksikan pertemuan yang diadakan Gerombolan Macan
Putih," tutur pemuda berjubah biru itu memulai ceritanya.
"Ahhh...! Lalu...?"
selak Rara Inggar ingin tahu. Perasaan terkejut amat sangat tampak di wajahnya.
Bukan hanya gadis berpakaian
merah itu saja yang ter-kejut Tapas Jaya dan Karundeng pun dilanda perasaan
yang sama. Hanya saja, kedua
kakek itu mampu menguasai perasaan sehingga tidak tampak di wajahnya.
"Rupanya mereka telah
mengetahui tempat ini, Paman, Inggar. Karena kudengar mereka hendak menyerbu
tempat ini."
"Ahhh….!" desah Rara
Inggar seraya menatap wajah Karundeng dan Tapas Jaya berganti-ganti. "Apa
yang harus kita lakukan, Paman?"
Tapas Jaya dan Karundeng tidak
langsung menjawab. Dahi kedua orang itu nampak berkernyit dalam. Jelas, kedua
kakek sakti itu tengah memikirkan masalah yang dibawa Suta.
"Kita lihat saja dulu
keadaannya, Inggar," jawab kakek bertubuh tinggi besar itu. "Kalau
memang perlu, kau dan Suta harus pergi dari sini menyelamatkan diri. Biar aku
dan Karundeng yang akan menahan mereka."
"Mengapa Paman tidak ikut
bersama kami meninggal-kan tempat ini saja?" tanya Rara Inggar.
"Kami bukan
pengecut-pengecut yang takut mati, Inggar. Apa pun yang terjadi, kami tidak
akan meninggal-kan tempat ini!" tandas Karundeng mantap.
Nada suara kakek berpakaian
abu-abu ini mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah lagi.
"Kalau begitu, kami pun
tidak akan meninggalkan tempat ini! Kami akan melawan Gerombolan Macan Putih
itu sampai titik darah penghabisan! Bukan begitu, Suta?"
"Jangan bertindak bodoh,
Inggar!" sergah Tapas Jaya keras. "Kami berdua sudah tua. Mati
sekarang atau nanti tidak menjadi persoalan. Sedangkan kau masih sangat muda.
Adalah sebuah tindakan bodoh untuk membuang nyawa secara percuma…"
"Tapi, Paman..."
Rara Inggar terpaksa menahan
ucapannya ketika melihat kakek berkepala botak itu mengangkat tangan,
mencegahnya bicara lebih lanjut.
"Dan tindakan bodoh kedua yang
kau lakukan adalah usahamu melibatkan Suta dalam persoalan kita. Kau ingin
Suta menjadi buruan Gerombolan
Macan Putih itu?!" Rara Inggar terdiam.
Ucapan Tapas Jaya tidak hanya
sampai di situ saja. Kepalanya ditolehkan ke arah Suta yang sejak tadi diam mendengarkan.
“Terima kasih atas
pemberitahuanmu, Suta. Kuharap kau segera pergi dari sini sebelum terlibat
terlalu jauh yang akibatnya membuat kami menyesal seumur hidup. Kami tidak
ingin orang luar yang tidak tahu apa-apa, jadi korban karena kami."
"Paman..!" seru Rara
Inggar kaget.
"Hhh...!" Suta
menghembuskan napas berat. Sesaat lamanya dia terdiam, dan hanya menatap
wajah-wajah di hadapannya berganti-ganti.
"Aku memang orang luar,
Ki," kata pemuda berjubah biru itu merubah panggilannya. "Tapi, aku
tidak bisa me-ninggalkan Rara Inggar di sini menghadapi Gerombolan Macan
Putih."
Tapas Jaya dan Karundeng terdiam,
sedangkan Rara Inggar menundukkan kepala begitu ucapan Suta selesai. Memang,
meskipun hanya segitu, tapi cukup untuk diketahui maksud yang tersirat di
dalamnya.
"Kalau kau memang tidak
ingin melihat Rara Inggar celaka, bawa dia pergi dari sini, Suta. Kupercayakan
murid keponakanku ini padamu," ujar Tapas Jaya setelah beberapa saat
lamanya terdiam.
"Kalau menurut pendapatku,
lebih baik kita lihat dahulu perkembangannya... Apabila betul Gerombolan Macan
Putih datang dan kita tidak bisa menanggulanginya, baru Suta dan Rara Inggar
harus pergi pergi dari sini. Dan...."
"Kalau saja keadaanku
memungkinkan, usulmu itu bisa kuterima, Adi," selak Tapas Jaya.
"Ap... apa
maksudmu...?"
"Hhh…! Aku mengalami luka
dalam yang lumayan parah ketika memaksakan diri menguasai jurus keempat belas
‘Tringgiling'...."
"Kenapa kau tidak segera
mengobatinya, Kang?!" tanya
Karundeng kaget.
''Karena aku ingin melihat dan
bercakap-kacap dulu dengan murid keponakanku...."
“Paman...!" seru Rara Inggar
sambil menghambur ke arah kakek berkepala botak itu.
Ada isak tangis keluar dari mulut
gadis berpakaian merah itu karena perasaan haru yang menggelegak. Sungguh tidak
disangka akan sebesar itu kasih sayang Tapas Jaya padanya, sehingga rela
menangguhkan pengobatannya demi untuk bertemu dan bercakap-cakap dengan murid
keponakannya!
Tapas Jaya tersenyum lebar. Kedua tangannya mengembang. Disambutnya tubuh yang
menghambur ke arahnya, lalu direngkuhnya penuh kasih sayang. Kedua tangannya
yang masih tampak kekar, meskipun telah dipenuhi keriput di sana-sini,
mengelus-elus rambut hitam dan tebal milik Rara Inggar.
"Maukah kau memenuhi
permintaan terakhir kami ber-dua, Inggar?" tanya Tapas Jaya.
Rara Inggar mendongakkan kepala,
kemudian perlahan kepalanya terangguk.
"Kau dan Suta pergi dari
sini."
Rara Inggar terperanjat sebentar,
tapi kemudian tersenyum walaupun getir.
"Kalau hal itu dapat membuat
hati Paman berdua gembira, aku mau memenuhinya," kata gadis berambut
dikuncir itu dengan suara serak.
"Bukan hanya gembira saja,
Inggar. Tapi juga bahagila. Kami akan berbahagia sekali bila kau sudi memenuhi
permintaan kami...."
"Ada apa, Paman?" tanya
Rara Inggar ketika melihat kakek tinggi besar itu menghentikan ucapannya secara
mendadak.
"Aku mendengar banyak langkah kaki menuju kemari...."
"Banyak?" selak Suta.
“Jangan-jangan mereka adalah Gerombolan Macan Putih."
"Mungkin kau benar,
Suta," kali ini Karundeng yang menanggapi. "Menilik dari suaranya,
jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang...."
"Kalau begitu kita harus
bersiap-siap menghadapinya," tegas Rara Inggar gagah sambil melepaskan
pelukannya.
“Tapi, ingat. Begitu keadaan
tidak menguntungkan, kau dan Suta harus segera meninggalkan tempat ini!"
Rara Inggar mengangguk. "Aku
bukan orang yang suka menarik kembali ucapan yang telah keluar dari mulutku.
Paman"
"Bagus! Aku percaya
padamu...!"
***
Dugaan Suta tidak keliru. Di
kejauhan tampak banyak sosok tubuh berpakaian hitam yang tengah bergerak cepat
menuju ke arah mereka.
"Itukah Gerombolan Macan
Putih yang telah meng-hancurkan perguruan ayahmu, Inggar?" tanya Tapas
Jaya.
Rara Inggar mengangguk.
Pandangannya tertuju ke arah sosok-sosok tubuh yang berada jauh di sana dengan
sorot mata mengandung dendam.
"Mari kita sambut
mereka!" kata Karundeng sambil melangkah meninggalkan pondok.
Tapas Jaya, Rara Inggar, dan Suta
bergegas mengikuti. Pandangan mata mereka tertuju pada puluhan sosok tubuh yang
semakin lama semakin bergerak mendekat.
Memang, rombongan itu tak lain
adalah Gerombolan Macan Putih! Berdiri paling depan adalah Nyi Nila, Bangor dan
beberapa orang pemimpin kelompok.
"Serbu...!" teriak Nyi
Nila seraya mengibaskan tangan kanan ke depan.
Tanpa menunggu perintah dua kali, puluhan Gerombolan Macan Putih meluruk ke
arah rombongan Tapas Jaya. Suara suara berdesing nyaring dan berkeredep
sinar-sinar berkilatan mengiringi tercabutnya golok ber-
gagang kepala macan putih. Maka
dengan senjata ter-hunus di tangan, Gerombolan Macan Putih menerjang.
Serbuan Gerombolan Macan Putih
itu disambut hangat oleh rombongan Tapas Jaya. Sementara Rara Inggar tanpa
ragu-ragu lagi segera menghunus pedangnya. Tapi Tapas Jaya, Karundeng, dan Suta
sama sekali tidak meng-gunakan senjata. Dengan tangan telanjang, mereka
menghadapi serbuan puluhan Gerombolan Macan Putih.
Seperti telah diatur saja, Nyi
Nila segera melesat ke arah Karundeng. Tapas Jaya dikepung Bangor, seorang
pemimpin regu lagi dan empat orang pemimpin kelompok. Sedangkan sisa pemimpin
kelompok yang berjumlah tujuh orang dan puluhan orang Gerombolan Macan Putih
lainnya, mengeroyok Rara Inggar dan Suta.
Pertarungan sengit dan
mati-matian pun tak bisa dielakkan lagi. Memang, masing-masing pihak telah
mengeluarkan seluruh kemampuan.
Di antara semua orang yang tengah
bertarung, hanya Tapas Jaya saja yang merasa menyesal bukan kepalang. Mengapa
lawan datang di saat dirinya belum berhasil memulihkan kesehatannya. Sehingga, kelihaiannya menurun jauh. Oleh karena
itu, Tapas Jaya mengalami sedikit kesulitan untuk menghadapi keroyokan enam
orang lawan. Terutama sekali Bangor dan rekan setingkatannya.
Ternyata bukan hanya Tapas Jaya
saja yang mengalami kesulitan. Karundeng, Rara Inggar, dan Suta pun mengalami hal yang sama.
Karundeng yang menghadapi Nyi
Nila dibuat ter-pontang-panting ke sana kemari. Memang, tingkat kepandaian kakek berpakaian abu-abu ini hanya
sedikit di atas ibu Rara Inggar yang tewas di tangan Nyi Nila. Maka tidak aneh
kalau Karundeng menghadapi lawan berat.
Di antara keempat orang itu, yang
terlihat menggebu-gebu hanya Rara Inggar seorang. Pedang di tangannya melesat
ke sana kemari mencari-cari sasaran. Tapi, serangannya selalu kandas, karena
lawan-lawan yang dihadapi terlalu berat. Empat orang pemimpin kelompok.
Padahal seorang di antara mereka saja, memiliki
kepandaian yang hanya berselisih sedikit saja daripadanya. Dan kini gadis
berpakaian merah itu menghadapi empat orang sekaligus. Akibatnya, dia
terpontang-panting ke sana kemari untuk menyelamatkan selembar nyawanya.
Sebuah keuntungan bagi Rara
Inggar. Suta selalu memperhatikan keadaannya. Pemuda itu selalu melesat
menolong, apabila Rara Inggar berada dalam keadaan bahaya. Padahal, Suta tengah
menghadapi keroyokan banyak lawan.
Hal ini pun tak lepas dari
perhatian Karundeng dan Tapas Jaya, walaupun memang hanya sekilas saja
terlihat. Diam-diam kedua tokoh sakti itu bersyukur, Rara Inggar mendapatkan
seorang yang bersedia melindunginya dari segala bahaya.
Kalau melihat dari letak pulau
kecil itu, kemungkinan pertarungan dilihat orang tipis sekali. Tapi ternyata
ada juga orang yang menyaksikan pertarungan mati-matian itu.
Sang penonton itu berjumlah dua
orang, dan mengintai dari balik kerimbunan pepohonan. Mereka tak lain adalah
Melati dan Arya.
"Bagaimana, Kang? Apakah
kita pertu turun tangan sekarang?" tanya Melati yang sudah tidak sabar
lagi untuk segera terjun dalam pertarungan.
"Sabar dulu, Melati,"
sahut Arya. "Aku ingin melihat kehadiran Ketua Gerombolan Macan Putih
dulu. Dan lagi, ada hal hal yang mencurigakan hatiku...."
"Apa itu, Kang?" tanya
Melati ingin tahu.
"Maaf Melati. Aku tidak bisa
mengatakannya. Dan andaikata dugaanku benar, aku tak ingin kau terkejut...
Tambahan lagi, aku ingin melihat kau berusaha berpikir dan memperhatikan
pertempuran."
"Hm...," Hanya gumam
pelan tak jelas dari mulut gadis berpakaian putih yang menyambuti ucapan Arya.
"Hanya yang perlu kau
ketahul, Melati. Aku yakin Ketua Gerombolan Macan Putih telah berada dalam
kancah pertarungan. Hanya saja, belum mau mengunjukkan diri.
Mungkin ada sesuatu yang
ditunggunya,"
"Mengapa kau bisa mengambil
kesimpulan seperti itu, Kang?" tanya Melati lagi.
“Tentu saja dari pengamatan
jalannya pertarungan," kalem jawaban pemuda berambut putih keperakan itu.
Melati pun diam. Dan kini
pandangannya kembali dialihkan ke arah pertarungan.
Sementara itu di antara
pertarungan. Tapas Jaya mulai dilanda rasa was-was. Telah hampir lima puluh
jurus ber-tarung, tapi tidak juga mampu merobohkan lawan seorang pun. Kerja
sama enam orang lawan benar-benar menyulit-kannya. Apa lagi keadaannya memang tidak
menguntung-kan.
Sambil lalu, diliriknya
Karundeng. Ternyata tidak jauh beda dengannya. Begitu pula keadaan Rara Inggar.
Hanya Suta saja yang keadaannya lebih baik. Meskipun kelihatan terdesak, tapi
selalu menolong Rara Inggar pada saat gadis itu dalam keadaan berbahaya.
"Inggar, Suta...! Ombak
besar, gulung layar...!" teriak Tapas Jaya menyuruh sepasang muda-mudi itu menyelamatkan diri. Sengaja kakek berkepala botak ini
menggunakan bahasa rahasia untuk membuat pihak lawan tidak mengetahui
maksudnya.
Rara Inggar menoleh ke arah Suta.
Dan dengan sebuah gerakan mengejutkan, pemuda berjubah biru itu melesat cepat,
dan tahu-tahu telah berada di sebelah Rara Inggar.
Tapi para pengeroyok Suta mana
mau membiarkan-nya? Mereka pun bergerak mengejar.
Kini Rara Inggar dan Suta
bersama-sama dalam satu kurungan puluhan Gerombolan Macan Putih.
"Mintalah sesuatu untuk
kenang-kenangan, Inggar. Agar kita bisa selalu mengingat beliau, anggaplah
sebagai eh... hadiah perkawinan dari mereka," ujar Suta.
Belum juga Rara Inggar sempat
menyambuti ucapan itu, kembali Gerombolan Macan Putih telah meluruk menyerbu.
Terpaksa mereka berdua bahu membahu meng-hadapinya.
"Mari kita menuju tempat
paman untuk memberi tahu, Inggar.... Teroboslah cepat, aku akan
melindungimu..."
Tanpa ragu-ragu, Rara Inggar
bergerak menerobos kepungan. Tentu saja, para pengeroyok tidak sudi
mem-biarkannya. Berbondong-bondong mereka bergerak meng-hadang. Hujan senjata
pun bertubi-tubi mengancam ber-bagai bagian tubuh gadis berpakaian merah itu.
Tapi semua hambatan itu kontan
buyar berantakan ketika Suta menggerak-gerakkan tangannya. Angin kuat berhembus
dari kedua tangan pemuda berjubah biru itu, sehingga membuat tubuh-tubuh lawan
berpentalan seperti dilanda angin ribut. Tak terkecuali tubuh-tubuh para pemimpin
kelompok.
Tidak hanya sampai di situ saja
tindakan Suta. "Maaf, Paman...!"
Sambil berteriak keras, tubuhnya
meluruk ke arah enam orang pimpinan Gerombolan Macan Putih yang tengah
mengeroyok Tapas Jaya. Tangan dan kakinya me-lancarkan serangan bertubi-tubi.
Enam orang pimpinan Gerombolan
Macan Putih itu ter-kejut bukan kepalang ketika menyadari kedahsyatan serangan
lawan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, segera tubuhnya dibanting dan
bergulingan menjauh.
Kesempatan yang hanya sesaat itu
dimanfaatkan Rara Inggar sebaik-baiknya.
"Kami minta sesuatu sebagai
kenang-kenangan dari Paman, sekaligus sebagai hadiah pernikahan kami...
Paman," pinta Rara Inggar dengan wajah berubah merah.
Benak Tapas Jaya berputar cepat.
Apa yang pantas untuk diberikan? Dia tidak memiliki apa pun yang cukup
berharga, kecuali…. Suling Naga!
Bertepatan dengan berhasilnya
kakek berkepala botak itu menemukan hadiah untuk Rara Inggar, serangan-serangan
dari enam orang lawan kembali tiba. Sedangkan Suta sudah sibuk menahan
pengeroyok yang tadi ditinggalkan.
"Ambil hadiah itu di dalam
tanah di bawah pohon
Melati… Inggar," ujar Tapas
Jaya seraya menyambut datangnya serangan lawan.
Belum juga Rara Inggar
melaksanakan perintah itu, Suta sudah melesat meninggalkan lawan-lawannya.
“Tahan mereka dulu, Inggar. Aku
yang akan mengambil hadiah itu!"
Mau tidak mau, Rara Inggar pun
terpaksa menghadapi lawan-lawannya karena Suta sudah melesat meninggalkan.
Hanya dalam beberapa gebrakan saja, dia sudah dibuat terpontang-panting ke sana
kemari.
***
Suta segera mengedarkan pandangan ke arah tanaman depan pondok, begitu telah
keluar dari kancah pertarungan. Sesaat kemudian, senyumnya berseri ketika telah
melihat pohon melati. Hanya ada satu tanaman melati di sekitar situ. Jadi,
tidak mungkin salah lagi.
Tapi sebelum sempat menghamiri
pohon itu, belasan orang Gerombolan Macan Putih telah menyerbunya. Memang, Rara
Inggar tidak mampu mencegah mereka yang tengah memburu Suta karena terlalu
banyak lawan yang dihadapinya.
"Keparat..!"
Suta menggeram keras. Kedua
tangannya bergerak cepat memapak hujan senjata yang menuju ke arah berbagai
bagian tubuhnya.
Suara berdetak keras senjata
senjata yang berpatahan, dan jeritan kesakitan belasan Gerombolan Macan Putih
terdengar meningkahi tubuh-tubuh yang berpentalan.
Tanpa mempedulikan keadaan
lawan-lawannya, Suta segera melesat menghampiri pohon melati. Tangannya
diulurkan mencengkeram batang pohon itu, kemudian bergerak mencabut.
Brelll..!
Pohon itu tercabut sampai ke
akar-akarnya. Tanpa mempedulikan keadaan sekelilingnya, Suta melemparkan
pohon melati itu. Pandangannya
langsung dialihkan ke arah lubang yang kini terbentuk.
Wajah pemuda berjubah biru ini
kontan berseri ketika melihat sebuah buntalan kain kuning di dasar lubang.
Dengan tangan menggigil dan dada berdebar tegang, diambilnya buntalan kain itu,
lalu dikeluarkan isinya.
"Suling Naga...," desis
Suta. Wajahnya kontan berseri dan sepasang matanya berbinar-binar pertanda
tengah dilanda perasaan gembira yang menggelegak.
Sepasang matanya menatap ke arah
benda yang kini tergeletak di tangan. Sebuah suling yang pada bagian ujungnya
terdapat bentuk kepala seekor naga. Sementara, badan ular naga itu melilit di
sekitar badan suling.
"Ha... ha... ha...!"
Mendadak Suta tertawa terbahak-bahak. "Akhirnya kudapatkan juga benda ini.
Ha ha ha...!"
"Berikan senjata itu pada
kami...!" teriak Karugi sambil melangkah maju diikuti belasan temannya
yang tadi memekik kesakitan ketika senjata mereka berpatahan.
"Hentikan pertempuran
!"
Kontan semua Gerombolan Macan
Putih menghentikan gerakan. Mereka semua mengenal pemilik suara yang melengking
nyaring itu. Suara Nyi Nila, Wakil Ketua Gerombolan Macan Putih!
Seiring selesai ucapan itu, tubuh
Nyi Nila melenting ke belakang. Dia kemudian bersalto beberapa kali di udara,
lalu mendarat beberapa tombak dari tempat semula.
Karundeng sama sekali tidak
mengejar, tapi sebaliknya malah bergerak mendekati Rara Inggar dan Tapas Jaya
yang telah bersama-sama. Memang, lawan telah bergerak menjauh akibat perintah
yang dikeluarkan Nyi Nila.
"Inggar...! Cepat kau
lari…!" perintah Tapas Jaya seraya mendorong tubuh gadis berpakaian merah
pelan.
Tanpa membuang-buang waktu, Rara
Inggar berlari menghampiri Suta.
"Mari, Suta...!"
Melihat tindakan Rara
Inggar, belasan orang Gerombolan Macan Putih sudah
bergerak dan siap
mengejar. Tapi....
"Tahan...!"
Lagi-lagi suara Nyi Nila
terdengar menggelegar mem-buat gerakan Gerombolan Macan Putih itu tertahan.
Hanya pandangan mata keheranan saja yang menjadi saksi kalau mereka merasa
bingung mendengar perintah itu. Gilakah Nyi Nila? Kalau tidak, mengapa seperti
sengaja mem-berikan kesempatan kabur pada Rara Inggar?
Karena tidak ada yang bergerak
menghalangi, tidak ada kesulitan bagi Rara Inggar untuk tiba di dekat Suta.
"Mari kita pergi,
Suta...!" ajak Rara Inggar. Agak heran hatinya melihat sikap pemuda
berjubah biru itu.
"Pergi? Ha... ha... ha…! Aku
memang akan pergi, Wanita Liar! Tapi setelah kau dan kakek-kakek jompo itu
kulenyapkan! Apalagi, pusaka leluhurku telah berada di tanganku…!" kasar
dan keras sekali ucapan yang keluar dari mulut pemuda kekar itu. Wajah dan
sepasang mata yang semula lembut, kini berubah beringas, penuh hawa membunuh.
Karuan saja ucapan dan perubahan
sikap Suta bukan hanya membuat Rara Inggar tersentak kaget. Tapas Jaya dan
Karundeng, serta belasan Gerombolan Macan Putih pun begitu terkejut.
Orang-orang berpakaian hitam itu merasa heran melihat di antara lawan ada
perselisihan.
"Kau..? Kau...?! Apa
maksudmu...?!" tanya gadis berpakaian merah itu terbata-bata.
“Inggar...! Cepat kemari !"
teriak Tapas Jaya yang sudah menyadari adanya gelagat yang tidak menguntungkan.
Ucapan Suta telah membuat dirinya sadar, siapa adanya pemuda berjubah biru itu.
"Tapi, Paman…," Rara
Inggar mencoba membantah. "Cepat kemari...! Dia adalah ahli waris Raja
Ular
Pelenyap Sukma...!" teriak
Tapas Jaya lagi.
"Ah...! Benarkah itu...
Suta?" tanya Rara Inggar gagap seraya melangkah mundur.
"Ha ha ha...!"
Bukannya jawaban yang diperoleh
Rara Inggar, tapi
sebuah tawa bergelak yang
menyeramkan. Tapi mendadak saja tawanya dihentikan, dan diputuskan dengan
dengus.
"Hih...!" Prall...!
Pakaian yang dikenakan Suta langsung hancur berkeping-keping, ketika
terdengar suara berkerotokan keras. Seolah-olah seluruh tulang di tubuh pemuda
berjubah biru itu hancur berantakan.
Kini Suta berdiri kokoh tanpa
mengenakan pakaian lagi. Pemuda berjubah biru itu kini bertelanjang dada.
Sehingga, tampak otot-otot dan urat-urat yang bertonjolan di sekujur tubuhnya.
Tapi bukan itu yang membuat semua
pasang mata, kecuali mata Nyi Nila, terbelalak. Gambar kepala seekor macan
putih besar di bagian dada Sutalah yang membuat mereka semua hampir terlonjak.
Tanda seperti itu hanya dimiliki Ketua Gerombolan Macan Putih! Jadi, Suta
adalah....
"Kau...?!" jerit Rara
Inggar dengan perasaan hancur. Sama sekali tidak disangka, orang yang selama
ini
menolongnya adalah pembunuh
ayahnya. Dialah keturunan Raja Ular Pelenyap Sukma. Beberapa saat lamanya gadis
itu hanya terpaku kaku.
"Keparat..! Kubunuh kau...!"
"Inggar...!"
Karundeng dan Tapas Jaya
sama-sama berseru kaget ketika melihat Rara Inggar melancarkan serangan ke arah
Suta. Pedang di tangan gadis berpakaian merah itu meluncur deras ke arah
tenggorokan Ketua Gerombolan Macan Putih.
"Hmh...!"
Suta hanya mendengus. Ditunggunya
hingga serangan menyambar dekat, kemudian tangannya diulurkan. Dan....
Tappp...!
Pedang Rara Inggar berhasil
dicekalnya. Dan sekali tangannya bergerak menekuk, kontan senjata itu
patah-patah. Akibatnya tubuh gadis berpakaian merah itu
terhuyung- huyung.
"Habisi mereka...!"
perintah Suta yang ternyata adalah Ketua Gerombolan Macan Putih.
Tanpa menunggu perintah dua kali,
Gerombolan Macan Putih bergerak menyerbu rombongan Tapas Jaya. Kini Bangor,
Karugi, dan sebagian besar Gerombolan Macan Putih yang menjadi anak buah
Jalatang mengerti, mengapa Ketua Gerombolan Macan Putih itu tahu orang-orang
yang melanggar aturan gerombolan itu. Karena tanpa se-pengetahuan mereka sang
Ketua berada di sana waktu itu! Suta alias Ketua Gerombolan Macan Putih meng-
hampiri Nyi Nila yang telah
menjauhi arena pertarungan. "Bagaimana, Nyi? Rencanaku berhasil baik,
bukan?
Berarti nama Kala Suta tidak jadi
kubuang! Bukankah begitu tekadku, Nyi?"
Wanita berpakaian kulit macan
putih ttu meng-anggukkan kepala sambil tersenyum.
"Kau akan lebih sakti dari
kakekmu sendiri, Kala. Kau akan menguasai dunia persilatan!" tegas Nyi
Nila yakin seraya menatap Suling Naga yang dipegang Kala Suta. "Tapi,
ingat. Larang setiap anak buahmu memperkosa wanita! Kau tahu, betapa besar
kengerian yang melanda hati wanita yang akan diperkosa!"
"Akan kuperhatikan ucapanmu,
Nyi!" sahut Suta yang ternyata memiliki nama lengkap Kala Suta.
"Kala...! Lihat..!"
seru Nyi Nila sambil menudingkan jari telunjuknya ke arah pertarungan.
Terdengar suara gemeretak dari
mulut Kala Suta ketika sepasang matanya mengikuti arah tudingan telunjuk wanita
berpakaian kulit macan putih itu.
Betapa tidak? Di kancah
pertarungan ternyata bukan anak buahnya yang tengah membantai lawan. Tapi,
justru anak buahnya yang tengah dibantai!
Saking asyiknya terlibat
percakapan, Kala Suta dan Nyi Nila sama sekali tidak curiga mendengar
jeritan-jeritan kematian sejak tadi. Rupanya, jeritan itu keluar dari mulut
anak buahnya!
"Siapa keparat-keparat busuk
itu, Nyi?!" tanya Kala Suta sambil menatap penuh perhatian pada dua sosok
tubuh yang tengah sibuk merobohkan Gerombolan Macan Putih.
Dua sosok tubuh yang tak lain
dari Arya dan Melati rupanya telah ikut campur tangan. Beberapa sosok tubuh
lawan tampak bergeletakan tanpa nyawa di tanah.
Nyi Nila menggeleng.
"Siapa pun adanya kedua
orang itu, mereka harus dilenyapkan! Mari, Nyi. Kita bunuh mereka!"
Sambil berkata begitu, Kala Suta
dan Nyi Nila melompat ke dalam kancah pertarungan.
Seperti telah dimufakati lebih
dahulu, Kala Suta langsung menerjang Dewa Arak. Sementara, Nyi Sula langsung
menerjang Melati. Tanpa sungkan-sungkan lagi, mereka mengirimkan serangan
bertubi-tubi dan memati-kan ke arah berbagai bagian tubuh sepasang pendekar
itu.
Arya dan Melati tidak menjadi
gugup, dan buru-buru menangkis. Seluruh tenaga dalam dikerahkan dalam tangkisan
itu.
Plak, plak, plak...!
Suara nyaring seperti beradunya
dua batang logam keras terdengar ketika empat pasang tangan itu ber-benturan.
Tubuh mereka pun sama-sama terhuyung ke belakang.
Sadar akan ketangguhan lawan,
Dewa Arak segera mengambil guci araknya yang terletak di punggung, kemudian
dituangkan ke mulut.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu melewati tenggorokan Arya. Sesaat kemudian, tubuh pemuda berambut
putih keperakan itu pun limbung.
Kala Suta sama sekali tidak
memberi Dewa Arak kesempatan. Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka lurus
dan menegang kaku meluncur bertubi-tubi menimbul-kan suara berdesing nyaring.
Inilah Jurus 'Ular', warisan Raja Ular Pelenyap Sukma.
Cit, cit, cit...!
Suara mendecit nyaring menjadi
pertanda kuatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu.
Tapi lawan yang dihadapinya
adalah Dewa Arak. Dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang', serangan itu mudah
saja dikandaskan. Bahkan pemuda berambut putih keperakan itu balas menyerang
yang tak kalah dahsyat. Sesaat kemudian, pertarungan sengit pun berlangsung.
Bukan hanya pertarungan antara
Dewa Arak meng-hadapi Kala Suta saja yang berlangsung ramai. Per-tarungan
Melati melawan Nyi Nila, dan pertarungan rombongan Tapas Jaya menghadapi
Gerombolan Macan Putih pun berlangsung tak kalah seru.
Riuhnya suara denting senjata
beradu, gerakan setiap tokoh-tokoh tingkat tinggi, serta jerit kematian dari
mulut anggota Gerombolan Macan Putih, meningkahi per-tarungan sengit itu.
Memang, setelah tanpa Nyi Nila
ikut bertarung. Tapas Jaya, Karundeng, dan Rara Inggar tidak mengalami
kesulitan mendesak Gerombolan Macan Putih. Apalagi, dua pemimpin regu, dan
beberapa orang pimpinan kelompok sudah roboh di tangan Arya dan Melati.
Sehingga, lawan yang tinggal kebanyakan hanya keroco saja.
Tak sampai tujuh puluh jurus,
hanya tinggal beberapa gelintir saja Gerombolan Macan Putih yang tersisa. Dan
itu pun tak berlangsung lama. Dua jeritan kematian mengiringi robohnya dua
orang terakhir Gerombolan Macan Putih.
Tapas Jaya, Karundeng, dan Rara
Inggar menghentikan gerakan. Lalu, mereka menghapus peluh yang membasahi kening
dan leher. Kini perhatian mereka beralih pada pertarungan antara Dewa Arak
melawan Kala Suta, dan Melati melawan Nyi Nila.
Memang hebat bukan kepalang
pertarungan yang terjadi. Terutama sekali pertarungan antara Dewa Arak
menghadapi Kala Suta.
Dalam hati, Dewa Arak harus
mengakui kelihaian
lawan. Jurus 'Ular' milik
lawannya mengingatkannya pada lawan tangguhnya dulu yang juga memiliki jurus
'Ular Terbang' (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak dalam episode perdana
'Pedang Bintang"). Seluruh kemampuan yang dimilikinya telah dikeluarkan.
Kedua tangan, guci, dan semburan araknya juga telah dikeluarkan. Tapi tetap
saja mengalami kesulitan menanggulangi lawan. Baru pada jurus keseratus dua
puluh lima, lawannya berhasil ditekan.
Ternyata bukan hanya Arya saja
yang berhasil meng-ungguli lawan. Melati pun demikian pula. Pedang di
tangan-nya dalam penggunaan ilmu ‘Pedang Seribu Naga' meng-gerung mendesak Nyi
Nila yang bersenjatakan sepasang pisau bergagang kepala seekor harimau.
Pada jurus keseratus enam puluh
dua, Kala Suta yang kini telah menggunakan Suling Naga melompat menerjang Dewa
Arak. Suling Naga di tangannya menotok cepat ke arah dada, menimbulkan suara
berciutan nyaring.
Menyadari akan kedahsyatan
serangan itu. Dewa Arak segera melangkahkan kaki ke kanan seraya men-doyongkan
tubuh sehingga serangan itu lewat di sebelah kirinya. Di saat itulah kaki kiri
Arya melayang ke arah dada.
Kedudukan Kala Suta yang saat itu
tidak menguntung-kan berusaha keras mengelak. Tapi…
Desss...!
Telak dan keras bukan kepalang
tendangan itu mengenai sasarannya. Diiringi suara berderak dari tulang-tulang
yang patah, dan darah menyembur dari mulut, tubuh Ketua Gerombolan Macan Putih
itu melayang ke belakang dan jatuh ke tanah. Pada saat yang tepat, Dewa Arak
cepat melompat. Begitu tubuh Kala Suta telentang, kaki Arya dijatuhkan, tepat
di leher Ketua Gerombolan Macan Putih itu. Sebentar Kala Suta kelojotan, laki
diam tidak bergerak lagi. Mati!
Pada saat kematian Kala Suta, Nyi
Nila menusukkan kedua pisaunya bertubi-tubi ke arah dada Melati.
Tapi dengan sebuah genjotan pelan
pada kaki, gadis berpakaian pulih itu telah membuat serangan lawan tidak
mengenai sasaran, dan hanya
meluncur lewat di bawah kakinya. Memang, Melati telah melompat ke atas.
Dan dari atas, dengan kecepatan
luar biasa Melati menusukkan pedangnya ke arah kepala Dan...
Cappp..! "Aaakh...!"
Nyi Nila menjerit ngeri. Tubuhnya
pun roboh ke tanah, berbarengan dengan hinggapnya kedua kaki Melati. Sesaat
tubuh Wakil Ketua Gerombolan Macan Putih itu meng-gelepar, sebelum akhirnya
diam tidak bergerak lagi.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Dewa Arak dan Melati segera melesat meninggalkan tempat itu.
"Anak Muda! Tunggu..!"
Karundeng berusaha mencegah kepergian Arya, tapi terlambat. Karena, hanya dalam
beberapa langkah saja tubuh sepasang muda-mudi itu telah mengecil.
Rara Inggar hanya dapat menatap
mayat Kala Suta dengan berbagai macam perasaan yang bercampur aduk. Pandangan
matanya pun tetap tidak bergeming, meski Tapas Jaya berjalan menghampiri mayat
Kala Suta dan mengambil Suling Naga.
Sementara, Karundeng masih telah
melayangkan pandangannya ke depan, ke arah tubuh Dewa Arak dan Melati yang
telah semakin mengecil.
"Sayang sekali, kedua orang
itu cepat pergi. Ingin aku berkenalan dengan sepasang anak muda yang begitu
sakti…Ahhh…! Mereka berdua memang pendekar-pendekar sejati...."
Matahari perlahan mulai gelincir
dari titik tengahnya. Tapi Rara Inggar, Tapas Jaya, dan Karundeng tetap hanyut
dalam lamunan masing-masing.
SELESAl
No comments:
Post a Comment