RAJA
TENGKORAK
1
Hari masih pagi sekali. Tampak matahari
menyembul dari ufuk Timur. Bentuknya laksana, sebuah bola besar berwarna merah
menyala.
Di pagi yang cerah itu, suara
kecipak air laut terdengar ketika seorang pemuda berambut putih keperakan
mengayuhkan dayungnya. Sesekali dia menarik napas dalam-dalam untuk menghirup
uda-ra laut yang sejuk.
"Sebenarnya kita hendak
menuju kemana, Kang Arya?" tanya gadis cantik yang duduk di sebelah pemuda
berambut putih keperakan. Pemuda itu tidak lain adalah Arya Buana atau yang
dikenal dengan julukan Dewa Arak. Dia, bertubuh kekar dan berotot. Sepasang
matanya menatap lembut ke wajah gadis berkulit, putih di sampingnya.
Kemudian dia, melingkarkan tangannya
perlahan ke bahu gadis berpakaian putih. Ada perasaan aman yang menyelinap di
hati gadis berambut panjang dan berwarna hitam itu.
"Coba tebak, Melati. Akan ke
mana tujuan kita sebenarnya," ujar pemuda
berambut putih keperakan tanpa menjawab pertanyaan gadis yang ter-nyata
bernamaMelati. Putri angkat Raja Bojong Gading. Arya mengetatkan lingkaran
tangannya yang mengitari pangkal lengan gadis berkulit putih itu. Sehingga
membuat tubuh mereka makin rapat. Melati merasakan kehangatan dalam dekapan
Arya.
"Sayang sekali, Kang. Aku
lagi malas menebak," elak Melati sambil menyandarkan kepalanya di bahu
Arya.
Arya mengelus-elus rambut Melati
beberapa saat lamanya. Dijumputnya beberapa helai, dan dibawa ke arah
hidungnya. Sementara tangan yang satunya sibuk mengayuh dayung.
Pelan tapi pasti perahu itu
melaju membelah permukaan laut yang tenang.
"Ayolah, Kang. Beri tahu
aku, ke mana tujuan kita sebenamya?" desak Melati tanpa mengangkat kepalanya.
"Kita menuju Pulau Ular,
Melati," jawab Arya pelan. "Apa ... ?! Pulau Ular?!"
Melati terjingkat bagai disengat
kalajengking. Bola matanya terbelalak lebar, dan menatap wajah Arya
lekat-lekat.
Arya mengangguk seraya mengulas
senyum. "Memangnya kenapa, Melati?" kalem pemuda berpakaian
ungu itu mengajukan pertanyaan.
"Untuk apa kita ke tempat
yang mengerikan itu, Kang?"
Arya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat.
"Kau ingat ceritaku tentang
Kemamang Danau Neraka?" Dewa Arak malah balas bertanya.
Melati menganggukkan kepala. Dia
sedikit paham tempat itu. Karena
Arya pemah menceritakan kepadanya ketika pemuda itu berada di Pulau Ular untuk
mencari obat bagi kesembuhan dirinya (Untuk jelasnya, baca serial Dewa Arak
dalam episode "Perjalanan Menantang Maut").
"Nah, aku datang untuk
memenuhi janjiku, Melati," kata pemuda berambut putih keperakan itu.
"Aku telah berjanji untuk menemuinya, setelah kau sembuh. Janji seorang
gagah harus ditepati. Ingat, Melati. Seorang gagah sekali berkata hitam, tetap
hitam. "
"Ooo ... ! Jadi, kau adalah
orang gagah, Kang?!" goda Melati seraya mencibirkan
mulutnya. Kontan wajah Arya memerah.
"Ini...,
eh...! Aku tidak bermaksud begitu..., maksudku ......
"Ah...! Tidak usah
pura-pura, Kang!" sergah Melati cepat. Raut wajahnya dibuat sungguh-sungguh. Seakan-akan dia memang tidak
bermaksud menggoda Arya. "Tidak malu memuji-muji diri sendiri!"
Semakin merah wajah Arya
mendengar ucapan itu. Dia tahu Melati menggodanya. Dan, dia ingin meloloskan diri dari godaan
gadis cantik yang duduk manja di sebelah dirinya. Tapi dia tak mampu
menghindari godaan Melati.
Di tengah kebingungan menghadapi ulah kekasihnya, mendadak langit berubah
gelap. Halilintar menyambar tak henti-henti. Laut pun bergolak dahsyat Tak
pelak lagi, perahu mereka terombangambing dipermainkan gelombang.
Karuan saja perubahan cuaca yang
mendadak itu membuat pasangan pendekar Sakti itu terperanjat kaget.
"Ada apa, Kang?!"
teriak Melati keras mengatasi suara riuh, agar suaranya dapat didengar oleh
Arya. Wajah gadis berpakaian putih ini tampak pucat. Gentar dan ciut juga nyalinya melihat alam mempertunjukkan kekuatannya.
"Entahlah, Melati,"
jawab Arya berteriak. "Mungkin akan terjadi badai!"
Brakkk ... !
Dengan diiringi suara hiruk-pikuk
yang memekakkan telinga, perahu itu hancur dihantam segulung ombak besar. Tubuh
Dewa Arak dan Melati terpelanting, lalu tercebur ke laut.
"Kang Arya...!"
Melati menjerit keras ketika
tubuhnya terpental ke dalam laut dan jatuh dipermainkan gelombang. Sesaat
kepalanya timbul di dalam air. Tapi sekejap kemudian, tenggelam kembali diterpa
segulung gelombang.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 3
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Melatii ... !" teriak
Arya kalap melihat tubuh kekasihnya lenyap. Tubuh pernuda berambut putih
keperakan itu juga timbul tenggelam dalam alunan gelombang laut yang bergelora.
Hatinya lega ketika melihat
kepala Melati kembali timbul di permukaan taut. Dewa Arak berusaha sekuat
tenaga berenang ke arah Melati, yang terpisah jauh dari dirinya. Dalam
kekalutan hati, Arya berenang dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Tapi apalah artinya kekuatan
manusia, dibandingkan dengan kekuatan alam? Meskipun Arya berupaya sekuat
tenaga mendekati Melati, tapi ombak besar telah menyeret putri angkat Raja
Bojong Gading itu. Arya dan Melati makin jauh terpisah.
Dewa Arak dan Melati sadar
walaupun mereka memiliki kesaktian, tak mungkin dapat bertahan di taut yang
berombak besar tanpa alat bantu.
Arya kemudian mengalihkan
perhatian ke sekeliling. Dia melihat papan pecahan perahu yang berserakan
berada tak jauh dari dirinya. Tapi, tak sepotong papan pun berada di dekat
Melati. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya segera meraih sepotong papan yang
agak besar.
"Melati...! Ambil papan ini
... !"
Arya berteriak keras sambil
melemparkan kepingan papan ke arah Melati, yang tubuhnya timbul tenggelam
dipermainkan gelombang taut.
Singgg ... ! Pyarrr ... !
Tak tanggung-tanggung lagi,
seluruh tenaga dalam dikerahkan Dewa Arak ketika melempar kepingan papan ke
arah putri angkat Raja Bojong Gading itu. Air laut memercik ke sana kemari
tatkala terlanda papan yang dilontarkan Arya.
Prasss ... !
Kepingan papan itu, mendarat di
permukaan laut
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 4
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
dekat dengan Melati. Buru-buru
Melati berenang menuju ke arah papan, yang dapat dipergunakan sebagai
pelampung.
Karena, kekhawatiran yang amat sangat
akan keselamatan gadis yang dicintainya, tak hanya satu potong saja papan yang
dilemparkan Arya. Dalam gulungan gelombang yang semakin menggila, dia terus
mengambil papan-papan itu dan melemparkannya ke arah Melati.
Pemuda berambut putih keperakan itu baru menghentikan kesibukannya, karena
papan tinggal sekeping lagi. Dia segera meraihnya, dan berpegangan erat-erat sambil mengapungkan tubuhnya di permukaan taut
Badai terus mengamuk. Laut pun
bergolak. Halilintar tak henti-hentinya menyambar. Arya jatuh pingsan. Tapi,
kedua tangannya mencengkeram erat papan itu. Entah karena naluri untuk menyelamatkan
nyawanya. Atau, karena tangannya telah menjadi kaku. Sehingga mencekal erat
kepingan papan yang berfungsi sebagai pelampung.
Arya tidak tahu sama sekali kalau
sewaktu pingsan, dirinya dipermainkan ornbak. Terkadang, tubuhnya dibawa oleh
segulung ombak hingga ke puncak, lalu dihempaskan ke bawah. Dewa Arak yang
terkenal menggemparkan dunia persilatan itu kini sama sekali tidak berdaya. Tubuhnya
terapung mengikuti arah gelombang.
ooOWKNBROoo
"Uhhh...!"
Arya mengeluh perlahan. Air
menerpa wajahnya berkali-kali. Dan sinar matahari terik membakar
tubuhnya, membuat dia siuman kembali.
Pemuda berpakaian ungu itu
mengerjap-ngerjapkan
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 5
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
sepasang matanya. Kepalanya dirasakan agak pusing. Arya beranjak
bangkit ketika air laut kembali menerpa tubuhnya yang tergolek di pantai.
Kontan sepasang matanya beredar berkeliling.
"Ah ... ! Mengapa aku bisa
berada di sini... kata pemuda berambut putih keperakan itu dalam hati.
Arya segera berdiri. Benaknya
berputar keras mengingat-ingat peristiwa yang dialaminya. Sedangkan kedua
tangannya sibuk membersihkan butiranbutiran pasir yang melekat di pakaiannya.
"Melati...," gumam Arya
setelah mampu mengingat semua peristiwa yang menimpa dirinya dan Melati.
Kepalanya menoleh ke sana kemari. Tapi, tetap tidak menemukan gadis berpakaian
putih yang ikut pergi bersamanya. Ada rasa khawatir yang menyelinap di dalam
hati kecilnya. Perasaan itu segera dibuangnya, dan dia berdoa dalam hati semoga Tuhan menyelamatkan kekasihnya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu menyusuri tepian pantai. Sepasang matanya tertumbuk sebuah bongkahan.
Sepercik harapan terbetik di hatinya. Dia segera mempercepat langkah kakinya.
Namun tatkala jaraknya makin dekat, dia baru tahu kalau bongkahan itu sepotong
kayu yang sudah lapuk.
Arya sadar pantai tempat dirinya
terdampar cukup luas. Lalu, disusurinya tepian pantai dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sampai
matahari tenggelam di Barat, tak juga dia menemukan Melati. Bahkan tidak ada
sama sekali tanda-tanda kalau gadis berpakaian putih itu ter-dampar di situ.
"Melati...," desah Arya
pilu. Sepasang matanya menerawang jauh menatap laut yang sudah tenang. Kemudian
pandangannya dialihkan ke arah tempat dirinya terdampar. Perlahan-lahan kakinya
melangkah memasuki hutan, mencari kayu untuk membuat rakit
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 6
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
yang akan digunakan untuk
melanjutkan perjalanan ke Pulau Ular, dan mencari Melati.
Arya bertindak hati-hati. Pulau
itu berbeda dengan pulau-pulau yang pernah. dikunjunginya. Urat-urat syaraf di
sekujur tubuhnya menegang, pertanda dia senantiasa waspada dengan segala
kemungkinan. Suasana di pulau itu mulai gelap, tapi tak
menghalangi niatnya melanjutkan perjalanan.
Pemuda berpakaian ungu itu tidak
mengetahui bila gerak-geriknya diawasi sosok tubuh yang berlindung di balik pepohonan. Kemudian sosok tubuh yang
mengenakan seragam tengkorak itu melesat cepat mendahului Arya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 7
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
2
"Aunggg ... !"
Lolongan anjing hutan terdengar
mengaung panjang, membuat suasana malam makin menyeramkan. Tampak beberapa
sosok bayangan berkelebat cepat menuju mulut hutan. Menilik gerakan yang ringan
dan gesit, dapat dipastikan kalau bayangan itu adalah orang-orang persilatan
yang mempunyai kepandaian cukup tinggi. Tujuan mereka cuma satu, Hutan Jambak.
"Kau percaya dengan berita
yang tersebar itu, Juriga?" tanya seorang dari dua sosok tubuh yang
bergerak cepat memasuki Hutan Jambak.
DI bawah siraman sinar rembulan
di langit, tampak jelas sosok bayangan yang berbicara itu. Seorang laki-laki
bertubuh kekar dan berotot. Pada wajahnya terdapat kumis dan jenggot yang tak
terurus. Urat tangannya tampak menonjol keluar.
"Maksudmu..., tentang pemimpin besar kita,
Dulimang?" sahut Juriga yang bertubuh kecil kurus. Sepasang matanya seperti orang mengantuk. Sedangkan wajahnya tampak
pucat seperti orang berpenyakitan.
"Ya...," sahut
laki-laki kekar berotot yang ternyata bernama Dulimang.
Sambil berkata demikian, Dulimang terus melangkahkan kakinya. Tak terdengar deru napas memburu
ketika laki-laki bertubuh kekar dan berotot itu menjawab pertanyaan Juriga.
Dari sini dapat diketahui kalau Dulimang memiliki kepandaian yang cukup tinggal
Dulimang memalingkan kepalanya ke arah suara yang berasal dari mulut
Juriga. Memang rekannya ingin menanggapi ucapan laki-laki bertubuh kekar dan
berotot itu. Tapi karena dia diliputi rasa khawatir, tetap
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 8
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
saja dia melangkah ke depan.
"Kau percaya kalau orang
yang menyuruh kita datang ke tempat ini adalah pemimpin besar kita,
Juriga?" Dulimang tidak sabar menunggu jawaban rekannya.
"Hentikan pertanyaanmu,
Dulimang. Jika kau masih sayang dengan nyawamu!" sergah Juriga.
Kontan wajah Dulimang pucat pasi.
Untung saja suasana remang-remang, sehingga warna pucat pada wajahnya tak
nampak. Bentakan pelan itu telah menimbulkan rasa takut di hati laki-laki kekar
berotot itu. Dia tahu Juriga tidak sembarangan bicara, karena dia sendiri telah
mendengar keke jaman dan kesadisan pemimpinnya.
"Tidak cukupkah surat yang
ditancapi dengan pisau berkepala tengkorak sebagai bukti, Dulimang," ujar
Juriga.
Ucapan yang mengandung teguran keras itu membuat Dulimang terkesima.
"Bukan aku tidak percaya,
Juriga," Dulimang memperbaiki kata-kata yang diucapkan
sebelumnya. Jelas laki-laki berkumis dan berjenggot lebat itu diliputi rasa
gentar.
"Tapi, bukankah menurut
kabar yang kudengar, beliau telas tewas dalam sebuah pertempuran?!" suara
yang keluar dari mulut Dulimang terdengar berhati-hati, pertanda ucapan rekannya tadi
berpengaruh.
"Siapa tahu beliau mempunyai
murid atau keturunan, Dulimang. Apakah kau tidak berpikir sampai ke sana?"
Dulimang terdiam mendengar dugaan yang
dilontarkan Juriga. Disadari ucapan rekannya itu mengandung kebenaran.
"Ya! Siapa tahu, tokoh yang
mengundang mereka adalah murid atau keturunan pemimpin besar. Kenapa aku tak
berpikir sampai ke situ?" rutuk Dulimang dalam
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 9
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
hati.
Melihat rekannya membisu seribu
bahasa, Juriga melanjutkan langkahnya. Dia merasa sudah cukup berbicara, dan
tidak ingin berbincang-bincang lagi. Lalu, mereka berdua melanjutkan perjalanan
tanpa berkata-kata sepatah pun.
Juriga berjalan tanpa dibebani
perasaan apa pun. Sedangkan Dulimang melangkah dengan segumpal rasa takut
Ucapan rekannya telah membuat laki-laki kekar berotot itu diliputi rasa
khawatir bukan kepalang.
Perasaan itu muncul bukan tanpa penyebab. Dulimang telah
mendengar kekejaman dan kesadisan pemimpin besar itu bila
memperlakukan orang yang tak disukainya. Apalagi orang yang membicarakan
tentang kejelekan dan keburukan dirinya. Dapat dipastikan ia akan menerima
hukuman yang mengerikan dari pemimpin besar itu. Tak mengherankan bila perasaan
takut menyergap diri Dulimang.
Rasa takut dalam diri laki-laki
yang bertubuh kekar dan berotot itu makin mendalam, bila diingat kalau ilmu
yang dimiliki pemimpin besar mampu mengetahui orang yang berniat buruk, atau
membicarakan dirinya.
Kedua orang itu makin dalam
memasuki hutan. Tampak beberapa sosok bayangan berkelebat dari berbagai
jurusan. Mereka bergerak ke arah lapang an luas. Ternyata sudah banyak para tokoh persilatan berkumpul di sana. Dulimang
dan Juriga segera membaur dalam kerumunan itu.
Dulimang yang tengah dilanda rasa takut, memperhatikan suasana
sekelilingnya. Sepasang matanya mengamati para tokoh persilatan yang hadir di
situ. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang. Menilik gerak-gerik mereka, bisa
diperkira-
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 10
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
kan kalau para tokoh persilatan
itu berasal dari aliran hitam.
Aneh! Tak seorang pun yang berani
membuka suara. Mereka semua diam membisu. Dari sikap yang ditunjukkan tokoh
persilatan golongan hitam itu sudah bisa diperkirakan betapa besar pengaruh
orang yang disebut pemimpin besar itu.
Di sebuah lapangan luas, tampak
gundukan batu sebesar kerbau setinggi satu tombak. Sekilas tampak wajah
Dulimang pucat ketika menatap se-batang tongkat bergagang kepala tengkorak yang
tertancap di puncak gundukan batu. Begitulah ciri khas pemimpin besar mereka.
"Aunggg...!"
Tiba-tiba saja terdengar lolongan
serigala.Wajah-wajah yang sejak tadi tenang mulai berubah menegang. Mereka sudah tahu, jika
serigala meng-aung maka muncul sang pemimpin besar. Tapi, mereka tak mengerti
hubungan kedua peristiwa itu.
Begitu suara lolongan serigala
lenyap, sebagian dari tokoh persilatan melihat sosok tubuh yang melintas di
atas kepala mereka. Kemudian setelah itu sosok bayangan itu melakukan salto di
udara. Dan....
Tappp...
Gerakan yang indah dari sosok
bayangan itu mengundang rasa kagum tokoh persilatan yang hadir di situ. Namun,
yang lebih membuat tokoh-tokoh aliran hitam itu terpesona, ketika melihat sosok
bayangan yang melakukan salto di udara tadi mendarat dengan mulus di atas
tongkat berujung tengkorak kepala manusia, dalam posisi duduk bersila.
Puluhan pasang mata tak berkedip
menatap ke arah pemimpin besar mereka. Sungguh luar biasa kekuatan sorot mata
tokoh persilatan yang duduk bersila di atas tongkat berujung tengkorak kepala
manusia itu. Karena pandangannya yang tajam telah membuat
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 11
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
rasa gentar para tokoh persilatan
beraliran hitam. Bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya, tokoh-
tokoh persilatan golongan hitam
itu menundukkan kepalanya, tatkala sang pemimpin memandang tajam ke arah
mereka. Hanya beberapa gelintir saja Yang berani menentang pandang pemimpin
besar itu, termasuk Juriga dan Dulimang.
Dulimang memperhatikan terus sang
pemimpin itu. Tinggi tubuhnya sukar ditebak. Lantaran dia duduk dengan posisi
bersila. Sedangkan wajahnya tak dapat dikenali sama sekali, karena tertutup
kain bergambar tengkorak.
Dulimang mengalihkan pandangan
ketika sang pemimpin yang lebih patut disebut manusia tengkorak itu, menatap
tajam ke arah dirinya. Dan, buru-buru kepalanya ditundukkan. Sebab sepasang
mata Yang tajam itu memancarkan cahaya berwama kehijauan.
Setelah mengedarkan pandangan,
pemimpin besar yang mengenakan pakaian tengkorak itu menurunkan kedua tangannya
yang semula terlipat di depan dada. Lalu, kedua tangan itu digerakkan ke
belakang punggungnya.
Gerakan yang dilakukan sang
pemimpin itu perlahan sekali. Seolah-olah tidak ada pengerahan tenaga dalam
sama sekali. Anehnya, tubuh laki-laki berpakaian tengkorak itu melesat cepat
tanpa mampu ditangkap mata. Lalu, dia berdiri di atas gundukan batu besar.
Tampak sosok tubuhnya yang agak kurus dan jangkung.
"Di antara semua yang hadir
di sini, ternyata masih ada, yang meragukan diriku sebagai Raja
Tengkorak!" Cetus laki-laki bertubuh tinggi kurus itu.
Terdengar suara yang aneh dari
mulut laki-laki berjuluk Raja Tengkorak itu. Keanehan suara itu mungkin disebabkan selubung bergambar
tengkorak yang menutupi seluruh kepalanya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 12
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Barangkali juga dia mengerahkan
tenaga dalam, sehingga suaranya bergema.
"Aku tahu, ada beberapa
gelintir di antara kalian yang tidak mempercayaj diriku. Dan, mereka berbicara
di belakangku," Raja Tengkorak kembali melanjutkan ucapannya. "Tapi, itu masih bisa kumaklumi."
Laki-laki bertubuh tinggi kurus
itu menghentikan ucapannya. Sepasang matanya yang bercahaya kehijauan, terpaku
pada wajah Dulimang. Karuan saja laki-laki kekar berotot itu menjadi cemas dan
pucat. "Benarkah kabar yang
tersebar bahwa Raja Tengkorak memiliki ilmu yang mampu
mengetahui orang yang membicarakan dirinya?" tanya Dulimang dalam hati sambil tergesa-gesa
menundukkan kepalanya.
Laki-laki kekar berotot itu baru
berani mengangkat kepalanya kembali ketika sang pemimpin besar itu melanjutkan
ucapannya.
"Perlu kalian ketahui, aku
tidak dapat mengampuni seseorang yang secara terang-terangan menentangku!"
tandas dan jelas sekali ucapan yang dikeluarkan Raja Tengkorak.
Belum lenyap gema. ucapan Raja
Tengkorak, tiba-tiba beberapa sosok tubuh melesat dan langsung mendarat di
bawah batu besar tempat Raja Tengkorak berdiri.
"Memang, kami tidak percaya
kau adalah Raja Tengkorak!" seru seorang dari tiga sosok tubuh yang kini
berdiri di bawah Raja Tengkorak. Dia adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi
besar dan berhidung besar. Sebuah rompi terbuat dari kulit buaya membungkus tubuhnya yang
berwarna coklat kehitaman.
Dua orang yang mengenakan rompi
yang sama, juga menganggukkan kepala pertanda
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 13
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
mendukung ucapan laki-laki
berhidung besar tadi. "Siapa kau, Anjing Kecil?!" tanya Raja
Tengkorak
tenang. Sepasang matanya beredar berkeliling. Menatapi satu persatu wajah yang berdiri di,
bawahnya.
"Kami bejuluk Tiga Buaya
Sungai Rampoa!" jawab laki-laki yang memiliki tahi lalat besar di pipi
kiri. Dari nada suara dan dada yang dibusungkan ketika menjawab pertanyaan Raja
Tengkorak, dapat diketahui kalau laki-laki bertahi lalat besar itu bangga
dengan julukannya.
"Hmh ...!"
Raja Tengkorak mendengus. Dan
begitu suara dengusannya lenyap, tubuhnya telah melayang ke bawah. Padahal
tidak terlihat sedikit pun kalau dia menggerakkan kaki. Tiba-tiba dia telah
berada dalam jarak satu setengah tombak di hadapan Tiga Buaya Sungai Rampoa.
Kini Raja Tengkorak dan Tiga
Buaya Sungai Rampoa saling berhadapan. Kedua tangan laki-laki bermata kehijauan
itu dilipatkan di depan dada. Sementara kepalanya menatap ke tanah. Dia pun
melangkah kecil-kecil, tai peduli dengan kehadiran Tiga Buaya Sungai Rampoa.
Jelas sikap Raja Tengkorak ini meremehkan calon lawannya.
Melihat tingkah laki-laki
bertubuh tinggi kurus itu, membuat hati Tiga Buaya Sungai Rampoa
menjadi panas. Sebab, ketiga tokoh yang dijuluki Tiga Buaya Sungai Rampoa ini
cukup ditakuti lawan dan disegani kawan di sepanjang Sungai Rampoa. Yang dari
hulu sampai hilir, merupakan wilayah kekuasaannya.
"Keparat ... !"
laki-laki berhidung besar berteriak memaki. "Rupanya semua tulang-tulangmu ingin kupatahkan!"
Ucapan itu mengenai sasarannya.
Terbukti kepala Raja Tengkorak yang sejak tali tertunduk, tiba-tiba mendongak.
Ada suara gemeretak keras yang
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 14
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
keluar dari mulut laki-laki
bertubuh tinggi kurus itu. "Cecak-cecak kudisan berani berlagak menjadi
buaya sungguhan?!" Cetus
Raja Tengkorak.
Ucapan bemada tantangan telah
dikeluarkan Raja Tengkorak. Rupanya meskipun kemarahan melanda hatinya, dia
tidak ingin kehilangan kewibawaannya. Laki-laki bertubuh tinggi kurus ini tetap
bersikap tenang, seperti layaknya seorang tokoh persilatan yang memiliki
kepandaian tinggi menghadapi tokoh yang tingkatannya masih berada di bawah.
Laki-laki bertahi lalat besar
tidak sanggup lagi menahan kemarahannya. Sambil mengeluarkan pe-kik melengking, dia melompat menerjang Raja Tengkorak. Sekali menyerang, tokoh
Tiga Buaya Sungai Rampoa ini telah melancarkan pukulan bertubi-tubi ke
arah dada, ulu hati, dan pusar lawannya,
"Hmh ... !"
Raja Tengkorak mengeluarkan suara
dengusan dari hidung. Melihat dari gelagatnya, seolah-olah laki-laki tinggi
kurus ini sama sekali tidak berniat mengelak atau menangkis serangan. Malah membiarkan setiap
serangan lawan mengenai sasarannya.
Sikap meremehkan itu, tentu saja
membuat laki-laki bertahi lalat menggelegak amarahnya.
"Raja Tengkorak palsu ini benar-benar telah merendahkan diriku!" pekik hati
salah seorang Tiga Buaya Sungai Rampoa gusar.
Bukkk, bukkk, bukkk..!
Laki-laki bertahi lalat besar
memukul bertubi-tubi dan tepat mengenai sasarannya. Tapi, bukan Raja Tengkorak yang merasa kesakitan, malah yang memukul menjerit menahan rasa sakit.
Seolah-olah yang dipukul bukan tubuh manusia, melainkan sebongkah baja yang amat
keras.
Dua orang anggota Tiga Buaya
Sungai Rampoa
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 15
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
terkejut melihat kelakuan
rekannya. Tapi, sebagai tokoh persilatan yang telah mempunyai banyak pengalaman
bertarung, segera menyadari apa yang telah terjadi. Maka....
Srettt...!
Anggota Tiga Buaya Sungai Rampoa
yang berhidung besar segera mencabut senjata andalannya yang berupa sebilah
golok besar! Sedangkan rekannya, laki-laki berbibir tebal mencabut senjatanya
yang berupa gada panjang dan berduri. Mereka dengan kemampuan masing-masing segera memainkan
senjatanya.
Sementara itu, laki-laki bertahi
lalat besar yang melihat kedatangan rekan-rekannya sambil membawa senjata, segera mencabut senjatanya pula
yang berupa sebuah bola besi bulat sebesar kepala manusia, berduri, dan
memiliki tangkai. Dia segera membuka jurus dengan memutar senjatanya bagai
baling-baling. Sehingga menimbulkan suara mendesing merobek udara.
"Hmh ...!”
Raja Tengkorak mendengus dan menyunggingkan senyuman sins melihat
gerakan-gerakan lawannya. Tidak terlihat tanda-tanda kalau laki-laki berpakaian tengkorak ini mewaspadai serangan yang bakal dilakukan
Tiga Buaya Sungai Rampoa. Jelas, dia memandang remeh ketiga laki-laki kasar
itu. Tentu saja hal itu membuat darah tiga orang laki-laki berompi kulit buaya
itu menjadi mendidih. Dan....
"Haaat...
Serangan yang diiringi suara
pekikan keras dari laki-laki berhidung besar, melesat ke arah leher Raja
Tengkorak, setelah terlebih dahulu memutar-mutarkan senjatanya di atas kepala.
Sehingga menimbulkan suara mengaung keras pertanda kuatnya tenaga, yang
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 16
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
terkandung dalam putaran golok
besar itu. Sedangkan kedua rekannya segera membuka
jurus serangan. Mereka bergerak
menyongsong Raja Tengkorak dari arah yang berbeda. Dan kemudian melancarkan
serangan dengan senjata andalan masing-masing.
Raja Tengkorak tetap dengan
sikapnya yang semula. Kedua tangannya masih berlipat di depan dada. Kepalanya
menunduk menghadap ke tanah. Seolah-olah tak ada musuh yang akan menyerangnya.
Dia tetap saja memandang remeh ketiga orang laki-laki kasar berompi kulit buaya
itu.
Ketika serangan datang dari tiga
jurusan itu menyambar dekat, tokoh yang mempunyai dandanan mendirikan bulu
kuduk ini, menggerakkan kakinya.
Sederhana saja gerakan yang
dilakukan Raja Tengkorak. Tapi anehnya, tidak ada satu pun serangan lawan yang
mampu mengenai anggota tubuhnya.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan laki-laki berpakaian tengkorak itu. Setelah berhasil
mengelakkan serangan ketiga orang lawan, kedua tangannya bergerak cepat. Sehingga,
tangan yang sebenamya berjumlah dua itu jadi terlihat berjumlah puluhan.
Kontan Tiga Buaya Sungai Rampoa
merasakan Pandang mata mereka berkunang-kunang. Tapi, mereka berusaha menahan
serangan yang akan di lancarkan Raja Tengkorak, dengan mengelak sebisa-bisanya,
tapi....
Tuk, tuk, tuk. !
Suara-suara pelan terdengar disusul dengan lumpuhnya tangan Tiga Buaya Sungai Rampoa yang memegang senjata, disusul berjatuhannya senjata-senjata mereka ke tanah.
Ternyata totokan Raja Tengkorak tepat sekali mendarat di belakang sikut mereka.
Sehingga membuat tangan itu lumpuh untuk
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 17
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
beberapa saat.
Wajah Tiga Buaya Sungai Rampoa kontan
memucat, mereka sadar lawan yang dihadapi kali ini, memililki kepandaian yang
tidak terukur. Tapi mereka telah terlambat. Raja Tengkorak tak akan membiarkan
mereka hidup. Kekejaman tokoh sesat itu terhadap lawannya sudah sering
didengar. Tiga Buaya Sungai Rampoa menyadari hal itu. Tapi, sebagai tokoh-tokoh
persilatan tingkat tinggi, mereka lebih suka mati sebagai seekor harimau
ketimbang hidup sebagai seekor anjing. Itulah sebabnya, meskipun tidak adanya
senjata andalan di mereka tetap mengadakan perlawanan.
Tiga Buaya Sungai Rampoa segera
melancarkan serangan bertubi-tubi dengan tangan kosong ke arah tubuh Raja
Tengkorak. Tapi serangan itu dengan mudah dapat digagalkan dengan ilmu
meringankan tubuh yang dimiliki pemimpin besar itu. Tampaknya, dia ingin
memperlihatkan tingkat ilmu yang dimilikinya di hadapan ketiga tokoh Sungai
Rampoa itu.
Hampir sepuluh jurus lamanya Raja
Tengkorak mempermainkan lawan-lawannya. Dia sama sekali tidak mengadakan perlawanan, kecuali mengelakkan serangan yang datang. Laki-laki
berpakaian tengkorak ini rupanya bermaksud mempermainkan lawan sebelum
membunuhnya.
Ketika napas lawan telah memburu
karena rasa capek dan amarah yang menggelegak di dalam dada, baru Raja
Tengkorak bertindak cepat. Kedua tangannya yang masih menggenggam senjata milik
Tiga Buaya Sungai Rampoa, bergerak cepat membentuk pusingan. Sehingga mata
tokoh persilatan yang
menyaksikan pertarungan itu menjadi nanar. Begitu Pula yang dialami Tiga Buaya
Sungai Rampoa.
"Aaakh...!"
Jerit kematian terdengar
susul-menyusul diiringi
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 18
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
dengan tumbangnya satu persatu
anggota Tiga Buaya Sungai Rampoa. Sungguh mengerikan kematian mereka. Seluruh
tubuh tercabik-cabik, dan senjata andalan mereka sendiri tertancap di batok
kepala masing-masing.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 19
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
3
"Siapa di antara kalian yang
berminat menyusul mereka, silakan maju!" ujar Raja Tengkorak sambil
mengedarkan pandangan berkeliling.
Tegas dan jelas ucapan yang
keluar dari mulut sosok berpakaian tengkorak itu. Sambil berkata begitu, jari
telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah tiga sosok mayat yang tergeletak
berlumuran darah.
Tak satu pun tokoh yang berani
membuka suara. Mereka merasa ngeri melihat kesaktian yang
dipamerkan Raja Tengkorak. Tiga Buaya Sungai Rampoa adalah tokoh-tokoh
persilatan yang cukup tangguh. Tapi, tak berdaya menghadapi Raja Tengkorak
Kini semua kepala tokoh persilatan yang menyaksikan pertarungan tadi
serentak tertunduk ke bawah. Tak satu pun yang berani mengangkat kepala.
Kegentaran merayapi hati masing-masing to-koh persilatan yang berkumpul di
sebuah tanah lapang itu.
"Perlu kalian semua ketahui
...” ujar Raja Tengkorak setelah melihat tidak ada orang yang menentang
pandangannya. "Aku sengaja mengumpulkan kalian semua, demi kepentingan
kalian juga. "
Tokoh yang menggiriskan itu menghentikan
ucapannya sebentar. Kembali pandangannya diedarkan ke sekeliling untuk
mengenali raut-raut wajah yang tertunduk.
"Selama ini, kulihat
golongan kita selalu diruntuhkan oleh tokoh persilatan aliran putih. Apalagi
ketika muncul seorang tokoh yang berjuluk Dewa Arak!"
Sampai di sini, Raja Tengkorak kembali menghentikan ucapannya. Dia
menoleh dan menatap tokoh-tokoh yang ada di sekelilingnya, untuk melihat
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 20
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
reaksi ucapannya. Dan memang,
meskipun tidak ada suara-suara ribut yang terdengar. Tapi tampak wajah-wajah
mereka memancarkan keterkejutan. Kepala mereka yang sejak tadi tertunduk,
kontan terdongak mendengar nama Dewa Arak disebut
"Aku tidak menginginkan
golongan kita senantiasa menjadi permainan golongan putih. Dan, itu tak akan
terjadi bila kita bersatu!" Raja Tengkorak menghentikan ucapannya sejenak
untuk mengambil napas.
"Aku telah melihat Dewa Arak
datang ke daerah ini. Dan, sepanjang yang kudengar, setiap kali dia datang,
pendekar yang usilan itu pasti menghancurkan golongan kita. Dan, aku tidak mau
hal itu terjadi! Kalian mengerti?!"
Kepala semua tokoh yang berada di
situ terangguk.
"Nah! Sebelum Dewa Arak
menggilas kita. Dia harus kita dahului. Kita semua harus bersatu untuk melenyapkan Dewa Arak, agar
golongan kita berjaya!" sambung laki-laki berpakaian tengkorak itu dengan
suara yang lebih keras. Lantaran semangatnya terbangkit melihat sambutan
dari orang-orang yang berada di sekelilingnya.
"Aku yakin apabila kita
bersatu, jangankan cuma ada satu Dewa Arak, biarpun ada puluhan Dewa Arak kita dapat melenyapkannya! Bagaimana! Kalian semua setuju dengan
usulku?!"
"Setuju ... !"
Serempak puluhan tokoh persilatan
itu menyahut. Menilik jawaban mereka yang begitu bersemangat dan berapi-api,
dapat diketahui kalau mereka semua memang setuju dengan rencana itu.
"Kita cincang Dewa
Arak...!" teriak Dulimang keras sambil mengacungkan tangan ke atas.
"Hancurkan semua tokoh
golongan putih...!" sambut tokoh lainnya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 21
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Kita rajai dunia
persilatan...!" tokoh lainnya pun tak mau kalah.
Dalam waktu sebentar saja,
suasana di sekitar tempat itu sudah menjadi hiruk-pikuk oleh teriakan teriakan
tokoh persilatan golongan hitam itu.
Di balik selubung bergambar
tengkorak, pemimpin baser itu tersenyum gembira. Dibiarkan puluhan tokoh-tokoh
persilatan itu berteriak semaunya. Setelah dirasanya cukup, tangan kanannya diangkat
ke atas.
Luar biasa! Seketika itu juga
suara-suara berisik itu kontan lenyap. Dari pertunjukan ini sudah bisa
diketahui kalau tokoh-tokoh persilatan aliran hitam yang hadir di situ, telah
tunduk sepenuhnya pada Raja Tengkorak.
"Untuk pertemuan kali ini,
aku bisa memaklumi kalau yang hadir hanya beberapa orang. Untuk menambah
pengikut, aku akan mengadakan pertemuan lagi. Kuminta kalian mengabarkan kepada
tokoh-tokoh golongan kita lainnya. Kalian mengerti?!"
"Mengerti ... !" sahut
puluhan tokoh-tokoh persilatan itu serempak.
"Perlu kalian ketahui,
sekarang lawan yang paling berat dan harus kita taklukkan adalah Dewa Arak!
Kita bungkam dia untuk selama-lamanya! Nah! Cukup sampai di sini pertemuan
kita!"
Setelah berkata demikian, Raja
Tengkorak segera melesat dari tempat situ. Luar biasa! Hanya dalam beberapa
langkah saja, tubuhnya telah lenyap ditelan kegelapan malam dan kerimbunan
semak-semak.
Sepeninggal tokoh yang
menggiriskan itu, suasana kembali menjadi riuh. Masing-masing tokoh persilatan
berbicara, sehingga membuat suasana di tempat itu menjadi berisik bukan
kepalang.
Cukup lama juga tokoh-tokoh
persilatan itu saling berbicara. Baru beberapa saat kemudian, mereka
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 22
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
mulai meninggalkan tempat itu.
Suasana kembali menjadi hening
seperti sediakala. Kini yang terdengar hanyalah suara kerik jangkerik dan
binatang malam lainnya.
ooOWKNBROoo
"Uhhh ... !"
Arya membuka mulutnya
lebar-lebar. Kedua kaki dan tangannya dijulurkan sejauh-jauhnya. Semua itu
dilakukannya untuk membuang rasa kantuk yang masih melanda.
Perlahan-lahan sepasang kelopak
matanya terbuka. Tapi langsung ditutup kembali. Karena merasa silau terkena
sinar matahari pagi yang menyorot lewat celah-celah dedaunan. Memang, pemuda
berambut putih keperakan itu tertidur di atas sebatang pohon besar, yang
batangnya saja memerlukan empat orang dewasa untuk mengukurnya.
“Uaaah ... !"
Arya kembali membuka mulutnya
lebar-lebar. Jelas kalau perasaan ngantuk yang menderanya masih cukup kuat
Kemudian setelah mengerjap-ngerjapkan sepasang kelopak matanya, dia bangkit dari berbaringnya.
Pemuda tampan yang mengenakan pakaian
berwarna ungu itu lalu mengulurkan tangan, untuk menjumput guci araknya yang
tergantung di dahan pohon.
Setelah menyampirkan gucinya di
punggung, Arya lalu melompat turun. Gila! Cabang pohon yang tingginya dua setengah tombak dari tanah itu dilompatinya dengan ringan sekali. Tanpa
menimbulkan suara sedikit pun, kedua kakinya mendarat di tanah. Hal ini tidak
aneh karena ilmu meringankan tubuh pemuda berpakaian ungu itu memang amat
tinggi.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 23
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Begitu kedua kakinya mendarat di
tanah, Arya lalu melangkah cepat meninggalkan pohon itu. Dia sengaja
menggunakan ilmu meringankan tubuh, karena perutnya yang lapar segera minta diisi.
Arya tak mengetahui letak desa
yang paling dekat dari hutan ini. Padahal, rasa lapar telah begitu melilit
perutnya.
Itulah sebabnya Arya memutuskan
untuk mencari makanan sendiri. Maka dia pun hendak mengisi perutnya dengan
binatang-binatang penghuni hutan. Sekaligus mencari jejak Melati, walaupun
sudah ada perasaan tidak akan bertemu dengan gadis itu di pulau ini. Karena
tidak adanya tanda-tanda kalau Melati juga terdampar di sini.
Arya mengedarkan pandangannya ke
sana kemari. Tidak hanya itu saja, semak-semak pun dihampiri dan disibaknya.
Tapi tetap saja tidak ditemukannya binatang-binatang buruan.
Hutan yang disinggahi Dewa Arak
kali ini memang lain dari biasanya. Banyak pohon-pohon besar berbatang coklat dan licin. Tak satu pun terdengar suara
binatang-binatang yang biasanya menghuni hutan.
Setelah lama mencari-cari dan
tidak bertemu, Arya putus asa. Diambilnya keputusan untuk menghentikan
pencarian. Lalu melangkah meninggalkan tempat itu tanpa mengedarkan pandang
seperti sebelumnya.
Perut yang lapar mendorong Dewa Arak mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya,
agar dapat cepat keluar dari hutan. Sesaat kemudian, yang tampak hanya
sekelebatan bayangan ungu yang melesat cepat.
Entah sudah berapa lama pemuda
berambut putih keperakan ini berlari. Yang jelas, tak lama kemudian, di
hadapannya terlihat sebuah sungai.
Wajah Arya
seketika berseri-seri. Tak
bisa Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 24
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
menyantap daging hewan penghuni
hutan pun, tak mengapa. Karena kini ada makanan pengganti yang tak kalah lezatnya. Binatang-binatang penghuni
sungai! Apa lagi kalau bukan ikan?
Seketika itu juga Arya mempercepat larinya. Semangatnya seketika bangkit membayangkan
perutnya akan terisi penuh binatang-binatang peng-huni sungai itu.
Sekejap kemudian Dewa Arak telah
berada di pinggir sungai. Diamat-amatinya sejenak permukaan sungai yang berair
jernih, sehingga sampai terlihat ke dasarnya.
Senyum di mulut pemuda berpakaian
ungu itu semakin lebar tatkala melihat ikan besar dan kecil berseliweran di
bawah permukaan air.
Tapi senyum itu perlahan mulai
memudar, ketika menyadari dirinya tidak membawa alat untuk
menangkap ikan! Lalu, Arya memutar otak, bagaimana caranya menangkap ikan tanpa
menggunakan kail, jala, atau bubu?
Cukup lama juga Dewa Arak memutar
otaknya. Kemudian dia menemukan sebuah cara menangkap ikan. Dengan kayu panjang
yang berujung runcing! Matra bergegas pandangannya diedarkan ke sekeliling
mencari-cari benda yang dapat dipergunakan menangkap ikan.
Mendadak Arya tersentak.
Pandangannya tertumbuk pada sesosok tubuh, yang tengah duduk di pinggir sungai, dan bersandar pada pohon besar di
belakangnya. Sebuah kail
yang gagangnya ditancapkan di
tanah, berada di depannya. Rupanya sosok tubuh itu tengah mengail!
Pemuda berambut putih keperakan
ini mengerutkan alisnya. Dia kebingungan sejenak. Mengapa tadi sewaktu menuju
ke sungai ini dia tidak melihat sosok tubuh di situ? Tapi begitu pandangannya
tertumbuk
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 25
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pada pohon yang disandari sosok
tubuh itu, Arya jadi maklum mengapa tadi tidak melihatnya. Orang itu terhalang
batang pohon yang disandarinya.
Seketika itu juga Dewa Arak lupa dengan
maksudnya semula. Sepasang matanya menatap sosok tubuh yang tengah duduk
bersandar itu.
Sosok tubuh itu berpakaian hitam.
Wajahnya tidak tampak jelas karena tertutup oleh taping lebar.
Mendadak kayu kail itu
terangguk-angguk. Talinya pun menegang. Jelas ada sesuatu yang telah menariknya dari dalam sungai.
Apa lagi kalau bukan ikan?
Arya mengerutkan alisnya ketika
melihat orang berpakaian hitam itu tidak menarik pancingannya sama sekali.
"Tertidurkah dia?"
tanya Arya dalam hati.
Kayu pancingan itu semakin keras
teranggukangguk. Tapi, orang berpakaian hitam itu tidak juga menariknya. Maka
Arya melangkah menghampirinya, dan berniat memberi tahu orang itu kalau umpan
pada kailnya telah dimakan ikan.
Selangkah demi selangkah Arya
mendekati sosok tubuh berpakaian hitam itu. Tapi, sampai jaraknya tinggal satu
batang tombak lagi, tetap saja orang berpakaian hitam itu sama sekali tidak
bergerak
"Matikah orang itu?"
duga Arya lagi dalam hati.
Dewa Arak memperhatikan perut
orang itu, kontan sepasang mata pemuda berambut putih keperakan ini terbelalak
karena tak ada gerak sama sekali di perut orang berbaju hitam itu.
Bergegas Dewa Arak menghampiri
orang bercaping lebih dekat lagi. Sepasang alisnya berkerut ketika melihat
pakaian orang itu tidak hitam seluruhnya. Tapi ada lukisan aneh berwama putih.
Begitu telah berada di dekat
orang itu, Arya segera
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 26
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
berjongkok untuk memeriksa
keadaan orang berpakaian hitam itu.
Mendadak orang berpakaian hitam
itu bangkit dari sandarannya, dan langsung mengirimkan totokan tangan
bertubi-tubi ke arah dada dan ulu hati Dewa Arak. Jari-jari kedua tangan orang
itu lures dan menegang kaku. Kedudukan jari-jari tangannya mirip jurus 'Ular'.
Wuttt ... !
Angin yang berkesiut nyaring
pertanda kalau serangan itu didukung pengerahan tenaga dalam yang kuat.
Dewa Arak terkejut bukan
kepalang. Serangan itu benar-benar di luar dugaannya. Dia sama sekali tidak
siap untuk menghadapi serangan yang tiba-tiba seperti itu.
Meskipun begitu, karena sudah
terbiasa mendapat serangan mendadak, Dewa Arak bergerak cepat Kedua tangannya
dihentakkan ke bawah untuk mematahkan serangan itu.
Plak, plak ... !
Benturan kedua tangan yang
sama-sama dialiri tenaga dalam itu menimbulkan suara yang amat keras. Usaha
yang dilakukan Arya memang tidak sia-sia. Serangan lawan berhasil
dimentahkannya.
Tapi meskipun din mampu
mengelakkan serangan mendadak itu, tak urung bajunya di bagian dada berlobang
sebesar jari tangan.
Begitu telah berhasil memunahkan
serangan itu, Dewa Arak segera bersalto ke belakang beberapa kali untuk memperbaiki keadaannya yang tidak menguntungkan.
"Hih...!"
Orang berpakaian hitam itu
menjumput capingnya dan kemudian melontarkannya ke arah Dewa Arak.
Wunggg...
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 27
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Dengan diiringi suara mengaung
keras, caping bambu itu meluncur deras ke arah kepala Arya.
Pemuda berambut putih keperakan
itu terkejut bukan kepalang. Saat caping lawan meluncur, tubuhnya tengah berada
di udara. Sulit baginya untuk mengelakkan serangan itu. Menangkis dengan tangan kosong merupakan tindakan
gegabah. Dari suara mengaung keras dapat diperkirakan kekuatan tenaga dalam pemiliknya. Arya berusaha mengelakkan serangan itu. Tubuhnya
digeliatkan ke camping. Dan....
Crass... !
Meskipun sudah berusaha mengelakkan serangan itu, tak urung
sebagian rambut Dewa Arak terserempet. Akibatnya rambut yang berwama putih
keperakan itu pun putus!
"Hup ...!"
Tanpa suara Dewa Arak mendaratkan
kedua kakinya di tanah, berbarengan dengan orang berpakaian hitam menangkap capingnya. Rupanya caping yang
dilempar ke arah tubuh Arya tadi dapat berbalik kembali.
Arya menatap wajah orang
berpakaian hitam yang kini tidak mengenakan caping lagi. Seketika itu Pula
sepasang mata pemuda berpakaian ungu ini
terbelalak. Wajah dan pakaian orang berpakaian hitam itulah yang membuatnya
terperanjat.
Memang wajar kalau pemuda
berambut putih keperakan ini merasa terkejut. Sosok berpakaian hitam itu
ternyata mengenakan seragam tengkorak. Terlihat jelas gambar semua
tulang-belulangnya. Tubuh yang tinggi kurus semakin menambah keangkerannya.
"Siapa kau, Kisanak? Mengapa
menyerangku?" tanya Dewa Arak penasaran. Sementara benaknya sibuk menduga-duga dan
mengingat-ingat siapa gerangan tokoh yang memiliki, ciri-ciri seperti itu.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 28
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Hmh ... !"
Laki-laki berpakaian hitam yang
tak lain adalah Raja Tengkorak mendengus sebelum menjawab pertanyaan Arya.
"Agar kau tidak mati
penasaran, kuperkenalkan diriku. Aku adalah Raja Tengkorak! Dan maksudku
menghadangmu di sini adalah untuk melenyapkan orang usilan sepertimu!"
Setelah berkata demikian, kembali
tangan lakilaki berpakaian tengkorak itu bergerak Dan....
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 29
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
4
Wunggg ... !
Suara berdengung keras mengiringi
serangan caping bambu. Belum lagi serangan itu mengenal sasaran, Raja Tengkorak
telah melepaskan ikatan rantai berujung tengkorak kepala manusia yang membelit
pinggangnya.
Begitu rantai yang panjangnya tak
kurang dari dua tombak tidak lagi membelit pinggangnya, lakilaki bertubuh
tinggi kurus itu segera memutarmutarkannya di atas kepala. Kemudian melontarkan
ke arah Dewa Arak
Meskipun mendapat serangan
beruntun, Dewa Arak tidak gugup. Dia sudah dapat memperkirakan kekuatan tenaga
dalam lawannya ketika tangan mereka saling berbenturan tali.
Arya segera mengerahkan tenaga
dalam ke tangan kanannya. Dengan keberanian luar biasa, luncuran caping bambu
itu ditangkap.
Tappp ... !
Caping bambu berhasil dipegang
Dewa Arak, tapi pemuda berambut putih keperakan ini merasakan getaran hebat
pada tangannya.
Bukan hanya itu saja. Tanpa mampu
ditahan, tubuhnya terhuyung ke belakang. Dari sini saja, sudah bisa
diperkirakan betapa dahsyat tenaga dalam yang terkandung pada lemparan caping
bambu itu.
Ngunggg...
Di saat itulah, serangan rantai
berkepala tengkorak menyambar cepat ke arah kepala Dewa Arak. Jangankan kepala manusia, batu
karang yang paling keras pun akan hancur apabila terkena hantaman rantai itu.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 30
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
“Hih...!"
Sambil menggertakkan gigi, Dewa
Arak melemparkan caping bambu ke rantai tengkorak yang mengarah ke tubuhnya.
Prakkk .. !
Caping bambu itu hancur
berkeping-keping tatkala berbenturan dengan kepala tengkorak yang terdapat di
ujung rantai baja.
Raja Tengkorak menggeram marah melihat
serangannya berhasil dipatahkan Dewa Arak. Rantai berujung kepala tengkorak
berputar-berputar di atas kepalanya. Lalu, diluncurkan kembali ke arah kepala
Arya.
Dewa Arak tidak berani bertindak
main-main lagi. Dia sadar tokoh berjuluk Raja Tengkorak ini memililiki
kepandaian luar biasa. Maka buru-buru dijumput guci arak yang tersampir di
punggungnya. Lalu, ditenggak isinya.
Gluk.. gluk... gluk...!
Suara tegukan arak yang melewati
tenggorokan pemuda berambut putih keperakan itu terdengar. Hanya dalam sekejap
saja, hawa hangat menyebar di perutnya. Kemudian perlahan-lahan naik ke atas
kepala.
Di saat itulah, tengkorak yang
berada di ujung rantai baja meluncur cepat ke arah kepala Dewa Arak. Dengan
langkah terhuyung seperti akan jatuh, Arya memapak serangan itu dengan guci
araknya.
Klanggg ... !
Suara berdentang keras terdengar
ketika tengkorak itu berbenturan dengan guci.
Raja Tengkorak ternyata sangat
ahli memainkan rantai berujung kepala tengkorak. Terbukti, begitu senjata
andalannya tertangkis, langsung ditarik kembali dan diluncurkan cepat ke arah
leher Dewa Arak.
Jarak antara mereka terlalu jauh.
Arya tahu keadaan itu sangat menguntungkan lawan. Sehingga
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 31
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
dia sulit melancarkan
serangan-serangan balasan. Sementara lawan dengan mudah mengirim serangan ke
arahnya. Senjata lawan yang panjang memungkinkan untuk melakukan gempuran yang
membahayakan.
Maka, pemuda berambut putih keperakan ini berusaha keras memperpendek jarak.
Sebagai seorang yang mempunyai
tingkat ke-pandaian amat tinggi, tentu saja Raja Tengkorak tahu maksud Arya.
Dia tidak menghendaki lawan mencapai jarak serang. Bila pemuda berambut putih
keperakan itu berhasil memperkecil jarak, senjata rantai bajanya akan
kehilangan keampuhan.
Menyadari kelemahan senjata rantai bajanya,
berbagai cara dilakukannya untuk mencegah maksud Arya. Serangan pun
bertubi-tubi dilancarkan, agar bisa melompat mundur untuk mempertahankan jarak.
Ketika Raja Tengkorak melompat ke belakang, serangan berikut segera menyusul
untuk membuat pemuda berambut putih keperakan Itu tidak mampu mencecamya
terus-menerus.
Arya mengeluh dalam hati.
Disadari kalau keadaan seperti itu berlangsung terus, dia dapat dilumpuhkan
lawan. Menilik sikap laki-laki berpakaian tengkorak ini, sudah bisa
diperkirakan, kalau seandainya kalah, dia akan dibunuh!
Padahal pemuda berambut putih keperakan itu masih mempunyai tugas yang teramat
panting. Mencari Melati, baik hidup ataupun mati.
Karena didorong oleh keinginan
itulah Dewa Arak mengadakan perlawanan dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Ilmu 'Belalang Sakti'nya dikeluarkan seluruhnya.
Guci, kedua tangan, langkah kaki yang aneh, dan juga semburan-semburan arak
semua dikeluarkan.
Meskipun begitu, tetap saja usaha yang dilakukan pemuda berambut putih
keperakan itu belum membuahkan hasil. Raja Tengkorak
benar-benar
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 32
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
merupakan seorang tokoh sakti
luar biasa. Dia mampu membuat semua usaha Arya untuk mende-katinya kandas.
Arya menggertakkan gigi. Lima
puluh jurus telah berlalu, tapi tetap saja dia tidak mampu memperpendek jarak
Dengan sendirinya, dia selalu menjadi pihak yang diserang dan didesak Untung
saja dia memiliki jurus 'Delapan Langkah Belalang' yang aneh, sehingga membuat
setiap serangan rantai Raja Tengkorak selalu dapat dikandaskan. Tapi berapa
lama dia akan mampu bertahan?
Akhimya ketika telah berlalu enam
puluh lima jurus dan dia belum mampu juga memperpendek jarak, Arya jadi tidak
sabar lagi.
"Hih...!"
Pemuda berambut putih keperakan itu
menghentakkan kedua tangannya ke depan. Lalu, meluncurkan pukulan jarak jauh dengan
mempergunakan jurus 'Pukulan Belalang'.
Wusss ... !
Angin keras berhawa panas menyengat dan menyambar deras ke arah Raja
Tengkorak. "Hm ...!"
Laki-laki berpakaian tengkorak itu
bergumam untuk menutupi perasaan kaget, setelah menerima pukulan jarak jauh
yang dilancarkan Dewa Arak.
Menyadari kedahsyatan pukulan
jarak jauh Dewa Arak, Raja Tengkorak tidak berani bertindak sembarangan.
Buru-buru dia melompat ke samping dan bergulingan di tanah.
Dan, keadaan itu memang
ditunggu-tunggu Dewa Arak. Begitu melihat lawannya melompat, dia segera
memburu.
"Hmh ... !"
Raja Tengkorak mendengus. Jelas
bukan dengus karena penyakit bengek, tapi dengus mengandung
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 33
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
cemoohan. Berbarengan dengan
keluarnya dengusan itu, tangan kirinya bergerak mengibas.
Sing, sing, sing...!
Beberapa buah benda mirip pisau terbang menyambar cepat ke arah Dewa Arak.
Arya kaget bukan kepalang. Tidak
menduga sama sekali kalau lawan ternyata cerdik dan lihai. Dalam keadaan
terjepit, dia masih mampu mengirim serangan yang membahayakan lawan.
Semula pemuda berambut putih
keperakan ini bermaksud menangkap benda mirip pisau yang menuju ke arahnya.
Tapi niat itu diurungkan, tatkala mencium bau amis yang menyebar seiring
serangan pisau-pisau terbang itu.
Dengan kecepatan gerak seorang
yang memiliki kepandaian tinggi, tangan Dewa Arak segera
bergerak ke arah punggung. Kontan guci arak yang tadi tersampir di punggung
ketika dia melancarkan jurus 'Pukulan Belalang', sudah terpegang kembali di
tangan, dan kini berada di depan dada.
Trang, trang, trang...
Suara berdentang keras, diiringi
bunga api yang memercik ke udara menyemaraki benturan antara guci dengan
pisau-pisau terbang. Akibatnya sudah bisa diduga, pisau-pisau terbang akan
berpentalan tak tentu arah.
"Hup ...!"
Raja Tengkorak bangkit berdiri,
bersamaan dengan kedua kaki Dewa Arak yang menjejak di tanah. Secepat itu pula,
tokoh sesat yang menggriskan itu kembali mengayunkan rantai bajanya.
Wunggg ... !
Suara mengaung keras terdengar
seiring de-ngan rantai baja yang meluncur ke arah kepala Arya. Untuk kesekian
kali, pemuda berambut putih keperakan itu gagal memperpendek jarak.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 34
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Arya buru-buru menundukkan kepala seraya
merendahkan tubuh. Maka....
Wusss ... !
Rambut dan pakaian pemuda itu
berkibar keras, ketika rantai berujung tengkorak manusia lewat di atas
kepalanya. Jelas kalau sambaran rantai itu ditopang tenaga dalam yang amat
kuat.
Terdengar suara menggertak keras
dari mulut Raja Tengkorak Laki-laki berpakaian hitam ini memang geram terhadap
Dewa Arak. Karena selalu berhasil mematahkan serangannya.
'Hih ... ! "
Gila! Dengan sentakan yang cepat,
rantai baja berujung tengkorak kepala manusia itu telah meluncur kembali ke
arah Arya. Kali ini serangannya ditujukan pada kedua paha Arya.
Tidak ada pilihan lain bagi
pemuda berpakaian ungu itu, kecuali menjejakkan kaki ke tanah, dan melompat ke
atas. Memang, hal itulah yang dilakukan Arya.
"He he he...
Raja Tengkorak tertawa terkekeh.
Tangan kiri nya langsung bergerak. cepat ke balik baju. Dan, tiba-tiba melesat
sejumlah pisau bergagang kepala tengkorak.
Sing, sing, sing...
Sebelum pisau-pisau terbang itu
berhasil mendarat pads sasarannya, tangan laki-laki berpakaian tengkorak itu kembali
bergerak. Dan, beberapa bilah pisau kembali menyambar ke arah Arya.
Karuan saja serangan itu membuat
Dewa Arak kaget bukan kepalang. Keadaan yang dihadapinya kurang menguntungkan.
Karena ia masih berada di udara, dan sukar sekali menghindari pisau yang
meluncur dalam posisi seperti itu. Yang dapat dilakukan pemuda berpakaian ungu
ini hanyalah menangkis serangan itu.
Arya memutar gucinya di depan
dada untuk memapak serangan pisau. Setiap kali pisau membentur Dewa Arak – 026.
Raja Tengkorak 35
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
guci, terdengar suara dentingan
nyaring.
"Akh...!"
Arya memekik tertahan tatkala
sebatang pisau berkepala tengkorak mengenai bahu kirinya. Rasa panas dan
gatal-gatal, kontan menyengat di bagian tubuhnya yang terluka. Sesaat kemudian,
pandangan pemuda berambut keperakan itu berkunang-kunang.
"Hup ...!"
Dengan tubuh agak terhuyung, Arya
menjejakkan kakinya di tanah. Namun rasa posing yang mendera, membuat apa pun
yang dilihatnya berputar.
"He he he...!"
Raja Tengkorak tertawa terkekeh.
Dia tahu apa yang diderita Dewa Arak. Tanpa membuang-buang waktu, dia segera
mengayunkan kembali rantai bajanya.
Wunggg ... ! Bukkk..
Tubuh Arya terlempar ke belakang
ketika tengkorak kepala manusia membentur bahu kanannya. Tak ayal lagi, sungai
yang tak jauh dari tempat dia berdiri semula segera menampung tubuhnya.
Byurrr...!
Dewa Arak tercebur ke dalam
sungai yang berarus cukup deras. Tak pelak lagi, tubuhnya diseret arus. Arya
masih sadar, memang sengaja dia tidak melawan arus sungai.
"Habisi dia...!" teriak
Raja Tengkorak keras seraya jari telunjuk kirinya menunjuk ke arah tubuh Arya
yang terapung di permukaan air.
Arya merasa heran dan Samar-Samar
mendengar perintah itu. Tidak salahkah pendengarannya? Sesaat kemudian rasa
kagetnya lenyap, kesadarannya mulai pulih. Kendati pandangan masih ber
kunang-kunang, tapi masih mampu menangkap beberapa sosok tubuh yang melompat
dari atas ke sungai.
Byurrr... ! Byurrr....! Byurrr...
Air memercik tinggi ke atas
tatkala beberapa sosok Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 36
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
tubuh berjatuhan di sungai.
Ternyata mereka, adalah tokoh-tokoh aliran hitam, anak buah Raja Tengkorak.
Mereka berenang dengan cepat dan berusaha menyusul Dewa Arak.
Walaupun sepasang mata Arya hanya
mampu menangkap sosok bayang-bayang dengan kabur. Tapi, dia berusaha meloloskan
diri dari sergapan lawannya. Tak dihiraukannya lagi rasa gatal, sakit dan panas
yang mendera bagian tubuhnya. Yang terpikir dalam benaknya, bagaimana
menghindarkan dirinya dari ancaman bahaya.
Dalam usaha untuk menyelamatkan
dirinya dari kejaran pihak lawan, Dewa Arak meluncurkan jurus 'Pukulan Belalang'nya. Serangan itu dilakukan sekenanya. Sebab pandangan
matanya masih kabur dan tak mampu menangkap sosok lawannya.
Deru angin keras berhawa panas
susul-menyusul dilancarkan Dewa Arak. Tanpa dia tahu apakah serangan itu
berhasil mengenai sasaran atau tidak.
Sebetulnya dalam keadaan terluka
seperti itu, menggunakan jurus 'Pukulan Belalang' terlalu ba nyak mengandung risiko.
Karena jurus tersebut banyak menguras tenaga. Padahal, keadaan pemuda berambut putih keperakan ini
sudah payah. Akibatnya, luka yang dideritanya pun semakin parah.
Tapi, Arya terus saja mengirimkan
jurus'Pukulan Belalang'nya. Tentu saja kedahsyatan pukulan itu makin berkurang
karena kekuatannya pun semakin melemah.
Serangan-serangan 'Pukulan Belalang' yang
dilancarkan Dewa Arak terhenti, ketika
pemuda berambut putih keperakan ini jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Dewa Arak tidak tahu sama sekali
kalau orang-orang yang mengejarnya, sebagian tewas terkena 'Pukulan Belalang'.
Sedangkan sebagian lagi mengurungkan
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 37
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
niatnya karena serangan pemuda
berambut putih keperakan itu datangnya bertubi-tubi. Sehingga
memaksa mereka mundur dan naik ke darat
"Maafkan kami, Ketua. Kami
gagal memenuhi perintah Ketua," ucap Dulimang, salah seorang Yang selamat
dari serangan pukulan jarak jauh Dewa Arak.
"Hm ... !" hanya
gumaman pelan menyambut ucapan laki-laki bertubuh kekar dan berotot itu.
Sepasang matanya tertuju pada
hulu sungai yang telah membawa tubuh Dewa Arak.
“Tidak jadi soal, Dulimang. Yang
jelas, belum ada orang yang berhasil selamat dari keganasan racun pisauku.
"
"Tapi..., mengapa Ketua menyuruh kami
membinasakannya?" tanya Dulimang penuh keheranan mendengar ucapan Raja
Tengkorak.
"Aku ingin melihat dia mati
dengan mata kepalaku sendiri," ucap laki-laki berpakaian serba hitam itu.
Setelah berkata demikian, Raja Tengkorak
melangkah meninggalkan tempat itu. Diikuti Dulimang dan rekan-rekannya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 38
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
5
Suara senandung bernada gembira
keluar dari mulut seorang kakek bertubuh tinggi kurus, dan berpakaian longgar
berwarna hitam Dia duduk bersila di atas sebongkah batu besar yang menonjol melewati permukaan sungai.
Di tangan kakek bertubuh tinggi
kurus yang berwajah tirus, tergenggam sebatang joran. Jelas, kakek yang
berpakaian hitam itu sedang memancing ikan.
Sepintas perbuatan yang dilakukan
kakek bertubuh tinggi kurus itu tidaklah aneh. Sebagian orang kerap berbuat
serupa itu bila memancing. Namun, jika diamati secara cermat, akan terlihat
keanehannya.
Kakek bertubuh tinggi kurus itu
duduk di atas permukaan batu besar yang berada di tengah-tengah sungai. Lebar
sungai tak kurang dari sepuluh tombak Jadi, batu itu terletak dalam jarak lima
tombak dari tepi sungai. Bagaimana kakek ini dapat duduk di situ? Padahal tidak
ada batu yang menonjol dan dapat dijadikan perantara untuk tiba di situ.
Dari keanehan itu sudah dapat
diduga kalau kakek berpakaian hitam itu bukanlah tokoh sembarangan. Tidak semua
tokoh persilatan mampu melompat dalam jarak seperti itu. Apalagi, tempat sasaran sulit dijangkau,
seperti letak batu, tempat kakek bertubuh kurus memancing ikan.
"Hup ... !"
Kakek berwajah tirus itu menarik
jorannya. Di ujung joran tampak seekor ikan berkelojotan. Sebetulnya, joran
milik kakek bertubuh tinggi kurus itu tak pantas disebut joran. Karena tidak
ada tali, pelampung dan mata kail. Ternyata benda itu hanya sebatang kayu
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 39
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
yang bentuknya mirip joran.
Sungguh luar biasa cara kakek berbaju hitam itu memancing ikan.
Sambil bersiul-siul, kakek
bertubuh tinggi kurus itu menjumput ikan yang menggeliat di ujung joran. Lalu,
dimasukkan ke dalam keranjang yang telah berisi ikan hasil tangkapan.
Setelah memasukkan ikan ke dalam
keranjang, kakek berwajah tirus itu kembali bermaksud mencelupkan jorannya ke
dalam sungai. Tapi mendadak gerakan tangannya terhenti di udara, tatkala
melihat sesosok tubuh yang terapung terbawa arus sungai, sekitar dua tombak di
depannya.
Semula tidak ada guratan perasaan
apa pun di wajah kakek yang mengenakan pakaian berwarna hitam itu. Tapi, ketika
sosok tubuh itu makin mendekat, bola matanya segera terbelalak. Perasaan kaget
tampak jelas di wajah kakek yang mulai keriput itu.
Sosok tubuh yang terapung itu
mengenakan pakaian warna ungu. Rambutnya tampak berwarna putih keperakan. Siapa
lagi kalau bukan Dewa Arak!
Tidak salahkah penglihatanku ...
?" kata kakek berwajah tirus dengan suara bergetar. "Benarkah itu
Kuku Tengkorak?"
Sepasang mata kakek tinggi kurus
itu menatap tak berkedip pada benda yang menancap di bahu kiri Arya. Pisau
bergagang kepala tengkorak!
Makin lama tubuh Dewa Arak makin
mendekati tempat kakek berpakaian hitam. Begitu tubuh Arya lewat di dekat batu
besar, tangan kakek berwajah tirus cepat menyambarnya.
Tappp ... !
Baju bagian leher Arya dicekal
kakek berpakaian hitam. Dan sekali tangannya bergerak, tubuh pemuda berambut putih keperakan terangkat naik dan
diletakkannya di batu.
Dan secepat tubuh itu tergeletak
di atas batu, segera
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 40
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pandangannya tertuju lekat pada
bahu kiri Arya, tempat pisau bergagang tengkorak kepala tertancap.
"Ya, Tuhan ... !" delis
kakek bertubuh tinggi kurus sambil mendekapkan tangan ke arah wajahnya.
"Benar-benar Kuku Tengkorak!
Mungkinkah ini.,.?! Mustahil ... ! Apakah aku bermimpi?"
Sambil berkata begitu, kakek
berpakaian hitam mencabut pisau bergagang kepala tengkorak yang ternyata
bernama Kuku Tengkorak. Diamatinya gagang dan mata pisau itu dengan cermat.
Keadaan mata pisau menyeramkan
bukan kepalang. Warnanya yang putih dan berkilat-kilat mencerminkan ketajaman
yang luar biasa. Gagang pisau bertengkorak kepala manusia makin menambah
keangkeran senjata yang membuat Arya tak berdaya.
"Kuku Tengkorak...!"
ujar kakek berpakaian hitam seraya menyipitkan matanya. "Andaikata kau
bisa bercerita, pasti aku akan bertanya padamu. Kenapa kau bisa muncul kembali,
sedangkan pemilikmu tak pernah terjun lagi ke dunia persilatan."
Kakek berpakaian hitam
menghentikan sejenak ucapannya. Raut kebingungan tampak tergambar di wajahnya.
"Entah siapa pula pemuda
ini," gumam kakek berwajah tirus itu sambil merayapi sekujur tubuh Dewa
Arak. Kemudian diperiksanya denyut jantung dan nadi Arya.
Mendadak tangan kakek berpakaian
hitam itu ditarik kembali begitu memegang kulit Arya.
"Gila...!" desis
keterkejutan terlontar dari mulutnya. Betapa tidak? Sekujur tubuh pemuda
berambut putih keperakan itu panas bukan main. Dia, merasakan ada
getaran-getaran kuat di balik permukaan kulit.
Sepasang mata kakek yang
mengenakan pakaian berwama hitam itu menatap wajah Dewa Arak Dia tak percaya
dengan pandangannya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 41
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Tidak kelirukah aku? Tadi
kurasakan ada getaran-getaran kuat di balik kulit tubuhnya? Mungkinkah orang
semuda ini telah memiliki tenaga dalam yang begitu tinggi? Kalau benar
demikian, dia pasti seorang yang memiliki kepandaian luar biasa!"
Mulut kakek bertubuh tinggi kurus
mengucapkan kata-kata demikian, tapi sepasang matanya tercenung. Jelas ada
sesuatu yang dipikirkannya. Kemudian diperiksanya lagi keadaan Arya.
Kelopak mata Arya yang terpejam
dibuka. Mulut pun dingangakan dan dengan teliti diperhatikan oleh kakek
berpakaian hitam itu.
"Sekujur tubuhnya telah
terkena racun. Kalau saja dia tidak memiliki tenaga dalam yang bersih dan kuat, dia mungkin sudah tewas. Aku harus
menyelamatkannya. Dialah saksi hidup yang bisa bercerita padaku mengenai ihwal
Kuku Tengkorak ini!"
Usai mengucapkan kata-kata demikian, kakek bertubuh tinggi kurus itu menatap kembali pisau yang
bergagang tengkorak kepala.
"Nasibmu baik, Anak
Muda," bisik kakek berwajah tirus itu, seolah-olah berbicara dengan
seseorang yang tidak pingsan. "Kau terjatuh ke tangan yang tepat "
Kemudian kakek berpakaian hitam itu
memanggul tubuh Dewa Arak Tanpa mempedulikan lagi joran dan hasil tangkapannya.
"Hih ... !"
Sekali menggenjotkan kaki, tubuh
kakek berwajah tirus itu telah melayang, dan mendarat di pinggir sungai dengan
mantap tanpa menimbulkan suara. Ringan sekali kakek itu melakukannya, padahal
kedua tangannya memondong tubuh Arya.
Begitu tiba di darat, kakek
berpakaian hitam segera melesat dari situ. Gerakannya cepat sekali, sehingga
yang terlihat hanya sekelebatan bayangan hitam. Jelas kalau kakek bertubuh
tinggi kurus itu memiliki ilmu
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 42
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
meringankan tubuh yang tinggi.
Dalam waktu sekejap saja, tubuh kakek berwajah
tirus itu telah mengecil, dan lamat-lamat hilang dari pandangan mata.
ooOWKNBROoo
"Uhhh...”
Arya menggeliat dan mengerjap-ngerjapkan sepasang matanya.
Begitu kelopak matanya terbuka, tampak
sepasang alis pemuda berambut putih keperakan itu bertaut Dia mulai
sadar bahwa dirinya terbaring di balai-balai di sebuah ruangan yang sederhana.
"Mengapa aku bisa berada di
sini?" tanya Arya dalam hati.
Matanya menatap ke sekeliling
ruangan. Sepasang alisnya masih tetap saling bertaut, karena
pemuda berpakaian ungu ini tengah mengingat-ingat kejadian yang dialami sampai
dia bisa berada di sini.
Arya berusaha bangkit, tapi
terpaksa diurungkan. Mulutnya menyeringai menahan rasa sakit. Yang sangat
Memang, ada luka di bagian bahu kirinya.
Pemuda berpakaian ungu itu
menyibak bajunya. Tampak kain putih membalut bagian bahu yang terluka. Noda
merah pada kain itu membantu Arya mengingat-ingat peristiwa yang dialaminya.
Kini dia teringat semua kejadiannya, sejak bertarung menghadapi Raja Tengkorak
sampai dia tercebur di sungai. Melihat dari keadaannya, bisa diketahuli ada
orang yang telah menolongnya.
"Hmh ...!"
Sebuah deheman pelan membuat Arya
terkejut dan menoleh ke arah sumber suara. Mengapa suara langkah sama sekali
tidak terdengar? Diakui kalau dia tengah
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 43
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
sibuk mengingat peristiwa yang
menimpa dirinya.
Di ambang pintu berdiri seorang
kakek berwajah tirus dan berpakaian hitam. Tubuhnya tinggi kurus, dan kumis
menghiasi bagian tengah atas bibir yang membuat angker.
"Kau sudah sadar, Anak
Muda?" tanya kakek berwajah tirus seraya tersenyum lebar. Lalu, dia
melangkah ke arah tempat Arya terbaring.
"Mengapa aku bisa berada di
sini, Ki?" tanya Arya setelah terlebih dulu menganggukkan kepalanya
membenarkan pertanyaan kakek berpakaian hitam itu.
Begitu melihat bentuk tubuh kakek
berwajah tiros itu, ada terselip rasa curiga di hati Arya. Bentuk tubuh kakek
itu mirip sekali dengan Raja Tengkorak. Begitu pula dengan sepasang matanya, meski sedikit
mencorong tajam dan berwana kehijauan laksana mata seekor harimau dalam gelap!
Arya bergerak dan ingin bangkit.
"Jangan bangkit dulu, Anak
Muda," cegah kakek bertubuh tinggi kurus buru-buru. "Kau masih lelah
dan perlu istirahat yang banyak.
Terpaksa Dewa Arak mengurungkan
maksudnya. Kembali ia berbaring. Di samping masih terasa lelah dan sakit pada
bahu kirinya, dia pun tak ingin mengecewakan kakek berpakaian hitam yang telah
menolongnya.
Kakek berwajah tirus itu
tersenyum lebar melihat Arya mengikuti nasihatnya.
"Aku menemukan tubuhmu
terbawa arus sungai. Kau terluka, dan kebetulan aku menguasai sedikit ilmu
pengobatan. Karena itu kau kubawa ke rumah dan kurawat"
"Ah ... ! Aku telah
merepotkanmu, Ki," ucap Arya malu-malu.
Kakek bertubuh tinggi kurus
mengulapkan tangannya. Baru saja akan berbicara, terdengar suara
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 44
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
berkeruyuk pelan. Tapi karena
kakek berpakaian hitam mempunyai pendengaran yang tajam, suara itu mudah
dicerna.
Wajah Arya kontan memerah. Dia
tahu, mengapa kakek itu menghentikan percakapan. Apa lagi kalau bukan karena,
suara perutnya yang lapar. "Perut tak tahu malu!" umpat Arya dalam
hati.
Plak!
Kakek berwajah tirus menepak
keningnya. Karuan saja tindakan itu membuat Arya merasa heran. Sebelum pemuda
berpakaian ungu itu bertanya, terlebih dahulu kakek berbaju hitam itu berkata,
"Tuan rumah macam apa aku ini? Tamu sudah dua hari tidak makan, belum juga
disuguhi makanan."
Setelah berkata, demikian, kakek
berpakaian hitam itu melangkah keluar ruangan, meninggalkan Arya yang tercenung sendirian di balai-balai bambu yang
beralaskan selembar tikar lusuh.
Tidak salah dengarkah aku?"
tanya Arya dalam hati.
Ucapan kakek berpakaian hitam itu
tadi bermakna bahwa dirinya tidak sadarkan diri selama dua hari.
"Aku yang salah dengar atau
kakek itu yang salah ucap? Kalau benar aku tidak sadarkan diri selama dua hari,
wajar saja perutku dirasakan begin keroncongan," bisik hati Arya lagi.
Tak lama kemudian, kakek
berpakaian hitam itu muncul kembali dengan baki berisi makanan dan minuman yang
masih hangat. Diletakkannya baki itu dekat Arya terbaring.
"Makan dulu, Anak Muda. Nanti
kita bicara lagi," kata kakek berwajah tirus seraya melangkah
meninggalkan Arya.
"Terima kasih, Ki," sahut Arya. "Aku hanya
merepotkanmu saja."
Tapi ucapan pemuda berambut putih
keperakan
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 45
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
itu tidak mendapat jawaban,
karena kakek berwajah tirus telah berlalu dari ruangan itu.
Arya segera bangkit dari
pembaringan, meskipun ada rasa nyeri yang menggigit. Arya menyantap bubur yang
berisi racikan bermacam-macam sayuran hijau dan segelas teh hangat.
ooOWKNBROoo
"Kalau boleh kutahu,
siapakah kakek sebenarnya? Maaf, bukan bermaksud lancang, tapi aku ingin
mengenal orang yang telah menyelamatkan nyawaku," ujar Arya setelah kakek
tinggi kurus berpakaian hitam kembali, dan duduk di sebuah kursi dekat
balai-balai bambu. "Aku Arya, Ki. Arya Buana. "
"Ha ha ha...
Kakek berwajah tirus tertawa
pelan mendengar pertanyaan Dewa Arak. Arya merasa lega mendengar kakek itu
tidak merasa terkejut mendengar namanya. Biasanya setiap tokoh persilatan,
langsung bisa menduga setelah dia memperkenalkan Nama.
"Baiklah kalau kau rasa hal
itu perlu, Arya," sahut kakek berpakaian hitam yang kini memanggil Dewa
Arak dengan namanya. "Memang lebih baik kalau kita saling mengenal satu
sama lain. Agar pembicaraan kita dapat berlangsung lebih menyenangkan. Namaku
Kalpa Reksa. Seorang kakek yang tengah menunggu maut di tempat ini."
Arya mengangguk-anggukkan kepala,
tampak dia mulai paham kenapa kakek yang bernama Kalpa Reksa itu belum
mendengar julukannya. Rupanya dia telah lama mengasingkan diri dari rimba
persilatan. Padahal, gelar yang disandangnya baru beberapa bulan muncul di dunia
persilatan.
"Sekarang ceritakanlah siapa
dirimu sebenarnya, dan mengapa bisa terkena senjata ini," ucap Kalpa
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 46
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Reksa seraya menunjuk pisau
bergagang tengkorak kepala manusia.
Arya menarik napas panjang dan
menghembuskannya kuat-kuat, sebelum menjawab pertanyaan Kalpa Reksa.
" C e r i t a n ya c u k u p p
a n j a n g , K i . "
"Ceritakanlah," sambut Kalpa Reksa bijaksana. "Aku bersedia
mendengarkan. Kau tahu, Arya. Pisau ini hanya dimiliki oleh seorang tokoh yang
aku tahu tidak pernah muncul lagi sampai sekarang. "
"Jadi, kau mengenal
pemiliknya, Ki?" tanya Dewa Arak. Perasaan terkejut dan ingin tahu, tampak
tergambar jelas di wajah pemuda berambut putih keperakan itu.
"Lebih dari sekadar
mengenalnya, Arya. Karena itu ceritakan semuanya sejelas mungkin. Percayalah,
aku akan mendengarkan ceritamu dengan sabar. "
Arya bukan orang bodoh. Dia tahu
kakek bertubuh tinggi kurus ini merasa keberatan menceritakan tentang pemilik
pisau itu, karena itu dia tidak mendesaknya. Semua kejadian yang dialami,
dituturkan Arya secara rinci.
Kalpa Reksa mendengarkan cerita
itu dengan penuh perhatian. Tak satu pun cerita pemuda berambut putih keperakan
diselaknya. Dahinya berkernyit ketika Dewa Arak melukiskan mengenai orang yang
dijuluki Raja Tengkorak.
"Begitulah ceritanya,
Ki," tutur Arya, menutup ceritanya.
Dahi Dewa Arak berkerut tatkala
melihat sikap Kalpa Reksa kebingungan. Sepasang matanya me natap lekat-lekat
pada wajah kakek yang duduk di sampingnya. Jelas cerita Arya telah memaksanya
berpikir keras.
"Selain senjata rantai baja
berkepala tengkorak dan pisau ini, senjata apa lagi yang dipergunakannya?"
tanya Kalpa Reksa setelah beberapa saat terdiam.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 47
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Hanya itu, Ki," jawab
Arya yang tengah diliputi perasaan heran. Tapi, ia tidak berani lancang
menanyakan penyebab kakek berpakaian hitam itu kebingungan.
"Hhh ... !" Kalpa Reksa
menghembuskan papas berat "Semua ciri-ciri yang kau sebutkan itu, mirip
dengan tokoh yang tidak pernah terdengar lagi namanya, karena ia telah menarik
diri dari rimba persilatan. Bahkan julukan Raja Tengkorak persis sama."
"Barangkali tokoh itu telah keluar dari pengasingannya, Ki?" kata Dewa Arak
menduga.
Kalpa Reksa menggelengkan kepala, pertanda menyangkal dugaan Arya.
"Mengapa kau begitu yakin,
Ki?" Arya heran melihat keyakinan kakek tinggi kurus itu.
Kalpa Reksa diam. Tidak menjawab
pertanyaan pemuda berpakaian ungu itu.
"Mungkin benar, kau
mengawasi gerak-geriknya. Tapi, boleh jadi dia memanfaatkan kelengahanmu, Ki.
Lalu, dia keluar dari pengasingan dan terjun kembali ke rimba persilatan."
Kalpa Reksa tercenung sejenak Dia
menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya kuat-kuat. Di dalam hati,
diakuinya ucapan pemuda berambut putih keperakan itu mengandung kebenaran.
"Ada baiknya kuberitahukan
padamu mengenai Raja Tengkorak yang telah tidak pernah terdengar beritanya itu.
Agar kau tahu kalau dugaanmu itu keliru," ujar Kalpa Reksa.
"Aku tidak menuntut agar kau
menceritakan tentang tokoh itu, Ki," Arya yang merasa tidak enak hati,
buru-buru menyelak. "Aku hanya mengajukan dugaan saja, Ki. "
Kalpa Reksa mengulapkan tangannya. Dia
memahami apa yang membuat gundah hati dan pikiran Dewa Arak.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 48
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Aku mengerti, Arya. Tapi,
agar tidak timbul prasangka buruk terhadap Raja Tengkorak. Aku kira perlu
menceritakan padamu."
Arya terdiam. Disadari kalau tidak mungkin mencegah kakek tinggi kurus itu
menuturkan masalah sesungguhnya. Sebab niat Kalpa Reksa sudah demikian bulat
untuk menceritakan tentang diri Raja Tengkorak. Yang dapat dilakukan pemuda
berpakaian ungu ini hanya berdiam diri.
"Hhh... !"
Kalpa Reksa menghela napas berat sebelum berkisah. Seolah-olah ada beban berat yang
menekan batinnya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 49
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
6
''Puluhan tahun yang lalu, dunia persilatan digemparkan dengan munculnya Raja
Tengkorak Tokoh yang mempunyai ciri-ciri seperti yang kau sebutkan, memiliki
ilmu silat yang tinggi. Tak satu pun tokoh persilatan yang mampu
menandinginya," ujar Kalpa Reksa membuka cerita. Sementara Arya hanya diam
dan mendengarkan penuh perhatian.
"Sayang, Raja Tengkorak lupa
diri. Kepandaian yang tinggi itu disalahgunakan untuk menyiksa, membunuh, dan
memperkosa. Sehingga di mana dia berada, pasti timbul kekacauan. Masyarakat pun
diliputi ketakutan dan rasa khawatir. "
Kakek berpakaian hitam itu
menghentikan sejenak ceritanya untuk mengambil napas. Arya memperhatikan
perubahan pada wajah kakek bertubuh tinggi kurus itu. Dia melihat ada rasa
kesedihan yang mendalam pada wajah dan sorot mata Kalpa Reksa.
"Karuan saja tindakan Raja
Tengkorak yang brutal itu menimbulkan amarah tokoh-tokoh persilatan aliran
putih. Banyak tokoh yang bangkit dan menentang, tapi semua digilas habis. Raja
Tengkorak terlalu kuat untuk mereka."
Kembali Kalpa Reksa menghentikan
ceritanya. Kali ini sepasang bola matanya tampak berkaca-kaca. Jelas kalau
cerita selanjutnya menyedihkan hatinya.
"Meskipun dia dikenal jahat
dan sadis, Raja Tengkorak mempunyai rasa kasih sayang yang besar. Dia sangat mengasihi istrinya. Sang istri pun sebenarnya tidak suka dengan perbuatan
suaminya. Tapi apa dayanya, meskipun, telah
berkali-kali melarang, Raja Tengkorak tetap saja menyebarkan maut,"
kembali Kalpa Reksa menghentikan ceritanya sejenak untuk mengambil napas.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 50
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Raja Tengkorak ingin
mempunyai seorang anak dari istri yang sangat dicintainya itu. Karena ia akan
mewariskan kesaktian yang dimilikinya. Tapi keinginan itu tidak pernah
terkabul. Buah hati yang dirindukannya tidak pernah muncul ke dunia," ujar
Raja Tengkorak dengan suara tersendat
Arya mengernyitkan dahi. Benaknya
sibuk menduga-duga hubungan Kalpa Reksa dengan Raja Tengkorak.
"Akhimya, hadir juga seorang
anak yang sudah lama mereka rindukan. Raja Tengkorak bahagia sekali. Dia
berjanji akan memenuhi permintaan istri nya.
Lagi-lagi Kalpa Reksa menghentikan ceritanya Tampak bibirnya yang kering itu
bergetar hebat Jelas kalau kakek tinggi kurus itu tengah menahan gejolak perasaan.
"Sungguh di luar
dugaan," sambung Kalpa Reksa. "Istri Raja Tengkorak minta agar
suaminya menghentikan tindakan kejahatan, dan mengundurkan diri dari dunia
persilatan. Meskipun permintaan itu berat, Raja Tengkorak tetap memenuhinya.
Sejak itulah Raja Tengkorak tidak pernah lagi membuat onar. Dan menarik diri
dari rimba persilatan."
Arya tidak menyangka kehidupan
Raja Tengkorak sangat menarik.
"Pada bulan ketiga, sejak
Raja Tengkorak menarik diri, muncul adik seperguruannya dengan membawa kabar
kalau Raja Tengkorak ditantang Pendekar Pedang Kilat di Lembah Gandar."
"Jadi, Raja Tengkorak mempunyai saudara
seperguruan?" tanya Arya tak tahan memendam rasa ingin tahunya.
"Ya," cetus kakek berpakaian hitam seraya menganggukkan kepala.
"Dari mana dia tahu kalau
yang menjadi saudara seperguruannya adalah Raja Tengkorak?" kejar Dewa
Arak.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 51
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Dari berita-berita yang
tersebar mengenai ilmu dan senjata yang digunakan Raja Tengkorak," jelas
Kalpa Reksa.
"Lalu, bisa mengetahui
tempat tinggalnya?" "Tentu saja dengan mencarinya, Arya," sahut
Kalpa Reksa setengah menggoda.
Arya pun diam. Tidak bertanya
lagi.
'Walaupun sang istri melarang,
Raja Tengkorak tetap pergi juga. Pantang menolak tantangan. Begitulah prinsip
dalam dunia persilatan. Setelah anak dan istrinya dititipkan pada adik
seperguruannya, Raja Tengkorak pergi ke Lembah Gandar. Sampai di sana, dia
tidak menemukan orang yang menantangnya. Maka dengan rasa heran, dia pun
kembali ke rumahnya," Kalpa Reksa sejenak menghentikan ceritanya. Sepasang matanya yang cekung
berkacakaca. Suara laki-laki berbaju hitam itu terdengar bergetar.
"Hampir saja Raja Tengkorak
pingsan ketika tiba di rumah. lstri dan anaknya tewas dalam keadaan
menyedihkan. Wajah anak yang dicintainya rusak, dan sulit dikenali. Kecuali
pakaian yang dikenakan bocah malang itu. Sementara, adik seperguruannya tidak
dijumpai di situ. Dia menghilang," Kata Kalpa Reksa dengan suara tinggi
dan penuh amarah.
"Orang yang paling dungu pun
bisa memperkirakan pelaku kejadian itu. Apalagi Raja Tengkorak," sambung
Kalpa Reksa dengan nada suara masih meninggi. "Dia yakin kalau pelaku
semua kekejian itu adalah adik seperguruannya."
Arya tercenung. Sungguh tidak
disangka kalau riwayat kehidupan Raja Tengkorak sangat tragis.
"Berbulan-bulan Raja Tengkorak mencari adik
seperguruannya yang bernama Turgawa. Ketika mereka bertemu, tak terhindarkan lagi pertarungan pun berlangsung sengit Raja Tengkorak berhasil membuntungi tangan kanan Turgawa. Sayang,
sebelum
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 52
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
nyawanya dihabisi, tubuh adik
seperguruannya jatuh ke dalam jurang yang cukup dalam. Setelah dia berhasil membalas dendam kesumatnya, Raja Tengkorak tidak pernah muncul lagi.
Sejak itu, julukan Raja Tengkorak pun lenyap. Orang yang tidak mengetahui,
menduga kalau Raja Tengkorak telah tewas," ucap Kalpa Reksa, menutup
ceritanya.
"Jadi, karena peristiwa itu Raja Tengkorak menyadari jalan yang ditempuhnya
selama ini sesat" komentar Arya memberikan dugaan.
Kalpa Reksa mengangguk.
"Kematian istri dan anaknya
telah menyadarkan Raja Tengkorak. Dia merasa sedih dan sepi ditinggal orang
yang mencintai dan mengasihi dirinya."
Arya diam. Ucapan kakek
berpakaian hitam itu tak dihiraukannya lagi. Dia sibuk memikirkan makna cerita
si kakek tentang Raja Tengkorak.
"Dari cerita itu, aku dapat
memperkirakan siapa sebenarnya Raja Tengkorak," ucap Arya tiba-tiba.
Kalpa Reksa tersenyum getir
menyambut ucapan pemuda berambut putih keperakan itu.
"Boleh aku mengutarakan
dugaanku, Ki?"
"Silakan, Arya," kalem
terdengar sambutan kakek berpakaian hitam itu. Tidak nampak lagi kesedihan
dalam suaranya.
"Tokoh yang berjuluk Raja
Tengkorak tidak lain bernama Ki Kalpa Reksa," sebut Arya. "Kaulah
orang yang berjuluk Raja Tengkorak itu, Ki."
"Hhh ...!"
Dengan menghela napes berat,
kakek berwajah tiros itu menganggukkan kepala.
"Dugaanmu tidak salah, Arya. Akulah Raja Tengkorak itu," terdengar pelan dan
mirip desahan suara Kalpa Reksa.
"Kini aku paham kenapa kau
bersikeras bahwa Raja Tengkorak tidak pernah keluar sama sekali dari
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 53
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pengasingan, karena kaulah
orangnya," Arya mengerti mengapa kakek tinggi kurus itu membela
mati-matian Raja Tengkorak
"Yahhh...., begitulah,
Arya...."
'’Lalu, siapakah tokoh yang kini
menjadi Raja Tengkorak itu?" tanya Dewa Arak bingung.
"Seharusnya aku yang pantas lebih bingung daripada dirimu, Arya. Orang yang
menguasai ilmu seperti yang kumiliki, tak lain adik seperguruanku. Tapi dia
telah tewas. Sedangkan guruku sudah lama meninggal. Lalu, siapakah orang yang
telah menyamar sebagai Raja Tengkorak?" tanya Kalpa Reksa bernada
mengeluh.
"Mungkin gurumu telah
mengambil murid tanpa sepengetahuanmu, Ki," duga Arya setelah beberapa
saat lamanya termenung.
Kakek berpakaian hitam itu menggelengkan
kepalanya.
"Atau, mungkin tokoh itu
adalah murid adik seperguruanmu?" ujar pemuda berpakaian ungu menduga.
"Hm ... !" Kalpa Reksa
bergumam menyambut ucapan Dewa Arak.
"Boleh aku bertanya sesuatu,
Ki?" ujar Arya memecah keheningan.
"Silakan, Arya ...... sambut
Kalpa Reksa memberi kesempatan.
"Apakah dulu sewaktu Raja
Tengkorak melakukan tindakan mempunyai pengikut?"
Kalpa Reksa menggeleng.
"Raja Tengkorak selalu
bertindak sendiri, Arya. Kesombongan membuatnya berpikir tak perlu memiliki
pengikut Ada apa, Arya?" kakek berpakaian hitam itu balas bertanya.
"Raja Tengkorak yang telah
melukai tubuhku banyak pengikutnya, Ki," ujar Dewa Arak.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 54
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Kalpa Reksa terdiam sejanak
Dahinya berkernyit Jelas ada sesuatu yang mengganggu pikirannya,
"Bila benar dia memiliki
pengikut.., barangkali dapat ditarik kesimpulan ......
"Dia pasti mempunyai tujuan,
Ki?" tebak Arya. "Tepat!"
"Kira-kira tujuan mereka
apa, Ki?" tanya Arya ingin tahu pendapat kakek berpakaian serba hitam itu.
"Kurasa tidak jauh berbeda
dari keinginanku, ketika masih menyandang julukan Raja Tengkorak," jawab
Kalpa Reksa sambil mengelus-alas dagunya.
"Apa itu, Ki!"
"Merajai dunia persilatan!
Dan mengangkat diri sendiri sebagai jagoan nomor satu!" tandas kakek
bertubuh tinggi kurus. "Begitulah perasaan yang melandaku puluhan tahun
lalu."
Arya mengangguk-anggukkan kepala. Dia memaklumi keinginan seperti itu menguasai
para tokoh persilatan tingkat tinggi.
"Tapi, mereka pasti akan mengalami banyak hambatan dalam tindakannya,"
sambung Kalpa Reksa.
"Mengapa, Ki?" kejar
Dewa Arak.
"Seorang tokoh sakti yang
mengasingkan diri di Gunung Jawul, tergerak hatinya ketika mendengar kekacauan
dan keonaran yang ditimbulkan Raja Tengkorak waktu dulu. Lalu, dia mengangkat
dua orang murid."
Kalpa Reksa diam sejenak, dan
menarik napas dalam-dalam.
"Kedua murid itu
masing-masing memiliki sebuah perguruan silat Yang satu bernama Perguruan Gajah
Putih, dan lainnya bernama Perguruan Banteng Sakti. Kedua perguruan silat itu
telah banyak mencetak pendekar yang membela kebenaran. Raja Tengkorak itu pasti
menemui kesukaran untuk mewujudkan cita-cita
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 55
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
merajai dunia persilatan,"
sambung Kalpa Reksa. Arya menganggukkan kepala.
"Pembicaraan kali ini kurasa
cukup dulu, Arya. Nanti, kita rundingkan lagi. Kau belum sembuh benar. Lebih
baik kau beristirahat, agar kesehatanmu cepat pulih kembali."
Setelah berkata demikian, kakek
berwajah tirus itu meninggalkan Dewa Arak.
Arya menyadari bahwa dirinya
memang memerlukan istirahat Meskipun luka-luka akibat hantaman tengkorak kepala
sudah sembuh, tapi tenaganya belum begitu pulih. Dan, dia harus sering
bersemadi, agar tubuhnya segar kembali seperti semula.
Pemuda berambut putih keperakan
itu segera duduk bersila. Punggungnya ditegakkan, kedua tangannya terbuka lurus
di depan dada. Lalu, Arya tenggelam dalam semadi.
Sekejap kemudian suasana menjadi
hening. Yang terdengar hanyalah suara desah napas halus, keluar dan masuk dari
mulut dan hidung Dewa Arak.
"Aunggg ..."
Suara lolong anjing mengusik
kesenyapan ma-lam. Bulan bulat muncul dan memancarkan sinar. Langit yang bersih
dari awan membuat cukup benderang.
Dalam suasana malam seperti itu, tampak berkelebatan sosok-sosok bayangan.
Yang bergerak paling depan adalah laki-laki bertubuh tinggi kurus dan
berpakaian tengkorak. Dialah
yang dijuluk Raja Tengkorak. Terlihat pula sosok Juriga, Dulimang, dan sosok
bayangan lainnya. Jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang. Mereka
bergerak dari arah yang berbeda, tapi menuju satu arah.
"Dulimang ...... panggil
Juriga pelan sambil terus melangkah.
"Hm.... Ada apa ... ?''
tanya Dulimang.
"Dia benar-benar seorang
pemimpin. Di bawah perintahnya, kita akan berjaya. Tidak disangka setelah
lenyap belasan tahun, dia muncul dengan cara baru," puji Juriga.
"Ya," sahut Dulimang.
"Dulu kita menganggap dia sebagai pemimpin, tapi bukan dalam arti yang
sebenarnya. Sebab dia memang tak pernah menjadi pemimpin kita. Hm.... Apa yang
membuatmu yakin kalau golongan kita akan berjaya di bawah pimpinannya?"
Juriga tidak langsung menjawab
pertanyaan itu Dia terus melangkahkan kakinya. Begitu pula dengan Dulimang.
"Kau masih ingat, Dewa Arak
yang terkenal telah berhasil dilenyapkan. Dan kini, kita akan menyerbu
Perguruan Gajah Putih. Padahal perguruan itu adalah perguruan yang besar dan
terkenal memiliki murid-murid yang berilmu tinggi. Bila Perguruan Gajah Putih
roboh, maka tinggal satu lagi tugas kita. Dan, jika kita berhasil menaklukkan
yang terakhir, maka dunia persilatan berada di tangan kita!"
Dulimang tidak lagi menyahuti
ucapan rekannya. Dia tidak terlalu yakin kalau rencana Raja Tengkorak akan
berhasil. Dia menyadari kehebatan ilmu yang dimiliki murid Perguruan Gajah
Putih. Tapi dia tidak berani bicara, khawatir terdengar Raja Tengkorak.
Kini kedua orang itu berlari
cepat tanpa berbicara lagi. Benak mereka dirasuki pikiran sendirisendirt.
Tak lama kemudian, mereka
memperlambat gerakan larinya ketika berada di batik pohon dan semak-semak yang
lebat
Dalam jarak sekitar sepuluh
tombak dari tempat mereka bersembunyi, tampak sebuah bangunan besar dan
berpagar kayu tinggi. Mereka tahu di atas pintu gerbang, terpampang sebuah
papan lebar, tebak
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 57
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
dan beruldr bertuliskan
huruf-huruf yang berbunyi 'Perguruan Gajah Putih'.
Meskipun suasana di sekeliling
tampak sunyi, Dulimang dan Juriga sadar betul di sekitar daerah itu banyak
tokoh persilatan yang memiliki ilmu tinggi. Karena itu sambil menunggu saat
penyerangan, mereka tetap waspada.
Waktu terasa lama berlalu bagi
pengikut Raja Tengkorak. Seolah-olah waktu bergerak seperti keong merayap.
"Kaaak, kaaak, kaaak..
Mendadak suara berkaokan
terdengar keras. Sekilas mirip suara burung gagak, tapi bagi orang yang jeli
dapat mengetahui perbedaannya. Suara itu mempunyai irama,
seperti sebuah sandi.
Dan itu memang benar, seiring
suara berkaokan keras lenyap, tampak dari balik semak-semak, sosok bayangan bergerak cepat menuju ke arah
Perguruan Gajah Putih. Temyata suara berkaokan itu berasal dari Raja Tengkorak sebagai tanda penyerangan dimulai.
Sosok-sosok tubuh itu bergerak
cepat Tapi, kalah cepat dari sosok bayangan hitam yang tidak lain adalah Raja
Tengkorak. Walaupun dia bergerak belakangan, dan telah tertinggal sekitar enam
tombak, tapi dia mampu melewati tubuh belasan sosok bayangan yang menuju ke
arah bangunan berpagar kayu.
Raja Tengkorak terus melesat
cepat menuju pintu gerbang Perguruan Gajah Putih. Dan.... Brakkk..
Pintu gerbang perguruan hancur
dengan me-ngeluarkan suara gaduh, ketika kedua tangan Raja Tengkorak menghantam
pintu yang terbuat dari kayu jati tebal.
Karuan saja suara ribut-ribut itu
mengejutkan empat orang murid Perguruan Gajah Putih yang tengah
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 58
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
bejaga-jaga di pos. Mereka
serentak melompat keluar, dan bergerak cepat ke arah pintu gerbang.
Tapi salah seorang dari mereka
tidak langsung menuju ke arah pintu gerbang, melainkan memukul kentongan yang
berada di depan pos penjagaan.
Tong, tong, tong...!"
Riuh suara kentongan sebagai tanda bahaya mengusik keheningan malam.
Dua orang murid Perguruan Gajah
Putih yang tengah memeriksa sudut-sudut perguruan, terkejut ketika mendengar
suara berderak keras dan bunyi kentongan yang bertalu-talu.
Buru-buru kedua orang murid ini
berlari ke arah pintu gerbang. Sambil berlari, yang satunya lagi terus memukul kentongan yang dibawa untuk
memberitahukan adanya ancaman bahaya.
Akibatnya sudah bisa diduga.
Seisi Perguruan Gajah Putih pun gempar. Mereka semua bergegas keluar dari
bangunan masing-masing sambil menyambar senjata.
7
Sementara itu tiga orang murid
Perguruan Gajah Putih yang telah melompat keluar dari gardu penjagaan, terkejut
bukan kepalang ketika melihat sosok bayangan hitam melesat cepat. Dan, kepingan
dawn pinto gerbang yang tebal meluncur berhamburan.
"Raja Tengkorak... !"
desis salah seorang dari tiga murid Perguruan Gajah Putih yang berkumis tebal,
seraya menghentikan langkah. Tangan mereka yang menggenggam gagang pedang sejak
tadi, tampak bergetar hebat.
"Ha ha ha...
Laki-laki berpakaian tengkorak
itu tertawa tergelak. Suara tawanya terdengar aneh, meskipun pelan, berat, dan
bergema. Raja Tengkorak pun menghentikan langkah. Sehingga mereka berdiri
berhadapan dalam jarak sekitar dua tombak.
"Serang...!" seru murid
Perguruan Gajah Putih yang berkumis tipis. Rupanya dialah yang menjadi kepala
jaga hari itu.
Seiring dengan teriakan itu, tiga
orang murid Perguruan Gajah Putih bergerak cepat Mereka langsung berpencar,
melangkah maju dengan sikap waspada. Kemudian....
"Haaat..!"
Sambil mengeluarkan suara
teriakan melengking nyaring, tiga orang murid Perguruan Gajah Putih menyerang
Raja Tengkorak. Sadar lawan yang dihadapi sangat tangguh, ketiga orang itu
menyerang serentak dari tiga jurusan.
Sing, sing, sing... !
Suara berdesing nyaring terdengar
ketika pedang-pedang itu meluncur cepat ke arah Raja Tengkorak.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 60
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Hmh...
Laki-laki berpakaian tengkorak
itu mendengus. Tidak tampak tanda-tanda yang menunjukkan kalau dia akan
menyerang atau menangkis.
Baru ketika serangan menyambar
dekat ke arah tubuhnya, kedua tangan Raja Tengkorak bergerak cepat
Tak, tak, tak..
Suara berdetak keras terdengar
berkali-kali tatkala kedua tangan Raja Tengkorak berbenturan dengan senjata
ketiga murid Perguruan Gajah Putih.
Sungguh luar biasa! Ketiga pedang
itu patah dan jatuh berserakan di tanah!
Belum sempat ketiga orang murid
Perguruan Gajah Putih berbuat sesuatu, kedua tangan Raja Tengkorak bergerak
cepat
"Akh .. !"
Jerit kematian terdengar saling
susul, ketika jari telunjuk Raja Tengkorak amblas ke dalam dahi ketiga orang
murid Perguruan Gajah Putih yang bernasib malang itu.
Tubuh mereka berkelojotan dan
menggelepar. Lalu, diam dan tak bergerak-gerak lagi. Mereka tewas dengan dahi
berlubang.
Bertepatan dengan robohnya tiga
murid Perguruan Gajah Putih, bermunculan tokoh-tokoh persilatan yang menjadi
pengikut Raja Tengkorak.
Dua orang murid Perguruan Gajah
Putih yang baru tiba di pintu gerbang, terkejut bukan kepalang begitu melihat
banyak tokoh persilatan yang berada. di dalam perguruan mereka. Rasa kaget berganti dengan kemarahan bercampur rasa
gentar, ketika melihat mayat rekan mereka tergeletak
di hadapan kaki Raja
Tengkorak.
Raja Tengkorak bertepuk tangan
satu kali. Tampak pelan tepukannya. Tapi, sesaat kemudian terdengar suara dentuman keras laksana halilintar yang
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 61
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
menggelegar.
Seketika itu pula, sekitar dua
puluh pengikut laki-laki berseragam tengkorak itu meluruk maju, dan mengeluarkan seruan-seruan keras.
Keadaan itu membuat dua orang
murid Perguruan Gajah Putih tidak mempunyai pilihan lain, kecuali
mempertahankan nyawa. Meskipun sadar kalau lawan terlalu banyak, dan didampingi
Raja Tengkorak, tapi mereka setapak pun tidak mundur. Perguruan Gajah Putih harus
dipertahankan sekalipun nyawa sebagai taruhannya.
Pada saat yang bersamaan dengan
para pengikut Raja Tengkorak menyerbu dua orang murid Perguruan Gajah Putih,
tangan laki-laki berpakaian tengkorak itu bergerak mengibas.
Singgg...
Sinar terang berpendar ketika
pisau bergagang tengkorak kepala meluncur cepat ke arah murid Perguruan Gajah
Putih yang masih memukul kentongan tanda bahaya.
Cappp... "Akh ... !"
Murid Perguruan Gajah Putih yang
tengah memukul kentongan itu memekik keras sebelum tubuhnya roboh dan jatuh ke
tanah. Pisan bergagang tengkorak kepala menancap di dahinya.
Nasib yang sama menimpa dua orang
murid Perguruan Gajah Putih lainnya. Perlawanan mereka mudah dikandaskan
pengikut Raja Tengkorak. Sekali gebrak mereka sudah roboh dengan sekujur tubuh
penuh luka. Lawan yang dihadapi terlampau banyak, dan mereka memiliki
kepandaian yang tinggi.
Tanpa mempedulikan mayat-mayat
murid Perguruan Gajah Putih, Raja Tengkorak dan pengikutnya bergerak masuk ke
dalam perguruan. Tapi di tengah jalan, mereka berpapasan dengan muridmurid
Perguruan
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 62
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Gajah Putih. Pertarungan sengit
pun tidak bisa dihindari.
ooOWKNBROoo
Suara denting senjata yang
beradu, terdengar gaduh. Suasana malam yang semula sepi, kontan berubah bising.
Murid-murid Perguruan Gajah Putih
berjuang keras menghalau tamu-tamu yang tidak mereka undang. Tak mengherankan
bila pertarungan yang terjadi sengit dan seru luar biasa.
Perguruan Gajah Putih memiliki
murid yang cukup banyak. Tak kurang dua puluh orang murid yang terlibat
pertarungan. Kepandaian mereka rata-rata cukup
tinggi. Sehingga pertarungan berlangsung imbang.
Raja Tengkorak mengawasi dengan
cermat jalannya pertarungan. Laki-laki berpakaian
tengkorak ini sama sekali tidak ikut terjun dalam pertarungan. Dia adalah
seorang tokoh sesat yang memiliki
keangkuhan dan kesombongan. Lantaran mempunyai ilmu yang
tinggi.
Tak lama kemudian, korban di
kedua belah pihak mulai berjatuhan. Darah muncrat dari
tubuh-tubuh yang roboh, dan diiringi jerit kematian.
Raja Tengkorak mulai tidak sabar
menyaksikan Pertarungan yang berlangsung lama, tapi ketua
Perguruan Gajah Putih belum juga muncul.
"Ranjana...! Keluar kau...!
Hadapi aku ... ! Kalau tidak, semua muridmu kubantai sekarang juga... Aku, Raja
Tengkorak menantangmu ..."
Suara Raja Tengkorak keras bukan
kepalang. Hal itu hanya bisa dilakukan bila disertai pengerahan tenaga dalam yang
tinggi. Memang, tokoh sesat itu menggunakan tenaga dalam. Agar suaranya
terdengar sampai ke seluruh bangunan Per-
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 63
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
guruan Gajah Putih.
Belum hilang gema suara tantangan laki-laki berseragam tengkorak, tiba-tiba terdengar suara penuh wibawa menyambut ucapan Raja Tengkorak
"Kuterima tantanganmu, Raja
Tengkorak....!”
Seiring dengan lenyapnya suara
itu, tampak sosok bayangan putih melesat keluar dari salah satu bangunan yang
ada di Perguruan Gajah Putih.
"Hup ...!"
Tanpa menimbulkan suara, sosok
bayangan putih itu mendaratkan sepasang kakinya dengan ringan. Tak jauh dari
tempat Raja Tengkorak berdiri.
"Ha ha ha ... !"
Laki-laki berseragam tengkorak
itu tertawa terbahak-bahak. Sepasang matanya merayapi wajah dan sekujur tubuh
orang yang berdiri di hadapannya. Yang tidak lain adalah Ranjana, Ketua
Perguruan Gajah Putih.
Ranjana bertubuh tegap dan
berisi. Kumis, jenggot, dan cambang yang terawat rapi menghiasi wajahnya.
Pakaiannya yang serba putih, dan Sulaman seekor gajah yang terbuat dari benang
emas menempel pada dada kirinya, semakin menambah kegagahannya.
"Kukira kau sudah kabur
meninggalkan tempat ini, Ranjana," ejek Raja Tengkorak seraya tersenyum
sinis.
"Aku bukan orang sepertimu,
Raja Tengkorak!" sergah Ranjana keras. Suaranya ternyata seperti juga
penampilannya, keras dan berwibawa. "Kau akan lari begitu melihat keadaan
tidak menguntungkan. Jangan samakan aku dengan dirimu!"
"Sombong ... !" Raja
Tengkorak memaki keras. "Raja Tengkorak pantang dihina orang!"
Setelah berkata demikian,
laki-laki berpakaian hitam
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 64
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
itu langsung menyerang dengan
tendangan terbang ke arah leher Ranjana., Cepat dan berbahaya bukan main
serangan Raja Tengkorak
Ranjana tidak berani bersikap
main-main. Nama besar Raja Tengkorak sudah lama didengarnya. Meskipun tokoh itu
pernah menghilang belasan tahun. Tapi, ilmu dan kepandaiannya amat tinggi. Dan,
kini tokoh sesat yang menggiriskan itu berada di hadapannya, dan tengah
melancarkan serangan.
Tahu betapa berbahayanya serangan
serupa itu, laki-laki berwajah jantan itu tidak berani menangkis. Dia tahu
dirinya akan rugi bila serangan itu ditangkis. Sebab tenaga lawan makin kuat
dengan menerjang. Bila serangan itu ditangkis, maka kaki yang satu lagi dengan
mudah menghajar dada, tanpa sempat terlindungi. Karena menangkis tendangan
terbang seperti itu, lebih menguntungkan bila menggunakan dua buah tangan.
Oleh karena itu, Ranjana tidak menangkis tendangan itu. Buru-buru dia
melompat ke samping. Ketua Perguruan Gajah Putih itu tidak ingin mengambil
risiko. Dia membuat gerakan menjauhi tubuh lawan. Karena kaki Raja Tengkorak
yang satu lagi, belum dipergunakan. Dan, sangat berbahaya kalau dia
mengelak tanpa menjauhkan diri.
Berbareng dengan mendaratnya
kedua kaki, Raja Tengkorak di tanah, Ranjana sudah siap menghadapi serangan lawan selanjutnya.
Dan, memang serangan Raja
Tengkorak meluncur secara tiba-tiba, cepat dan bertubi-tubi. Kedua tangannya terkembang membentuk cakar dan melesat ke arah ulu hati Ketua Perguruan
Gajah Putih.
Dengan diiringi suara mendecit
nyaring dari udara yang terobek, cakar tangan Raja Tengkorak meluncur cepat. Ranjana sama sekali tidak menghindari
serangan itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 65
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
dalam yang dimiliki, dan
menyongsong serangan itu dengan jari-jari yang sama dengan lawan.
Prat...
"Akh ...!"
Ketua Perguruan Gajah Putih
memekik tertahan. Kedua tangannya terasa sakit-sakit bukan main. Terutama
sekali jari-jari tangannya yang seakan-akan telah patah-patah tulangnya. Bukan
hanya itu saja, tanpa dapat ditahan lagi tubuhnya terhuyung dua langkah ke belakang.
Jelas kalau tenaga dalam Raja Tengkorak lebih kuat dari tenaga dalam yang
dimiliki Ranjana.
Belum lagi Ketua Perguruan Gajah
Putih itu sempat memperbaiki kedudukannya, kaki kanan Raja Tengkorak kembali meluncur deras ke
arahnya dengan tendangan lures ke arah dada.
"Hih ...!"
Meskipun dalam keadaan yang tidak
menguntungkan, Ranjana masih
mampu menunjukkan kalau dirinya bukan tokoh sembarangan yang gampang
dipecundangi. Sekali menjejakkan
kaki, tubuhnya telah melompat ke belakang. Sehingga tendangan itu
mengenai tempat kosong.
Raja Tengkorak tidak
menyia-nyiakan kesempatan itu. Secepat tendangannya berhasil dielakkan, secepat
itu pula tubuhnya melesat memburu tubuh Ranjana yang sedang melompat. Maksud
laki-laki berseragam tengkorak ini sudah bisa diduga. Apa lagi kalau bukan
menyerang tubuh yang akan mendarat di tanah. Begitu tubuh itu mendarat,
serangan pun akan tiba. Jadi, sulit bagi laki-laki berwajah jantan itu untuk
mengelak.
Rupanya Ranjana juga sudah
memperhitungkan hal itu. Sewaktu tubuhnya berada di udara, benaknya berputar cepat. Dan, dia segera. men cabut
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 66
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
pedangnya. "Hup ...!"
Ketika kedua kakinya mendarat di
tanah, pedang di tangannya dikelebatkan cepat. Dan....
Cappp ... !
Telak dan keras sekali pedang itu
membabat leher Raja Tengkorak. Tak pelak lagi kepala tokoh sesat yang
menggiriskan itu pun terbabat buntung. Kepalanya jatuh dan menggelinding di tanah. Sedangkan tubuhnya, tetap tegak berdiri
dengan kedua kaki.
Ranjana terkejut bukan kepalang
melihat kenyataan ini. Mimpikah dia? Tidak salahkah penglihatannya? Mengapa
begitu mudah membinasakan tokoh yang terkenal Sakti dan ditakuti itu? Berbagai
macam pertanyaan bergayut di benaknya.
Karena dilanda perasaan bingung,
beberapa saat lamanya Ranjana terpaku kaku. Dia menatap mata pedangnya. Jelas
dilihatnya ada darah yang membekas di sana.
Tapi Ketua Perguruan Gajah Putih
ini menjadi curiga. Karena kematian lawan begitu mudah. Apalagi tubuh itu tidak
roboh ke tanah, tapi tetap berdiri tegak.
Rasa curiga membuat Ranjana
berusaha keras menenangkan pikirannya. Kini perhatiannya dialihkan pada tubuh
tanpa kepala yang masih berdiri tegak
Sepasang mata Ranjana terbelalak
begitu melihat kenyataan di hadapannya. Betapa tidak? Kepala yang semula
tergolek dengan bagian wajah menempel ke tanah, mendadak bergerak-gerak
sendiri. Kepala itu hidup! Dan mendadak, kepala itu berbahk. Kini leher yang
terbabat pedang tadi menempel dengan tanah. Dan mendadak kepala itu melayang.
Karuan saja hal itu membuat Ketua Perguruan Gajah Putih terkejut bukan
kepalang. Buru-buru dia melompat mundur, seraya memutarmutarkan pedangnya di
depan dada.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 67
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Berjaga-jaga terhadap serangan
kepala itu.
Ternyata kekhawatirannya lama
sekali tidak terbukti. Kepala itu tidak melayang ke arahnya, melainkan ke arah
tubuh Raja Tengkorak yang masih berdiri tegak. Dan....
Tappp ... !
Begitu kepala itu menempel ke
tempat semula, tangan Raja Tengkorak bergerak ke atas. Kemudian mengusap
sambungan leher yang putus tertebas pedang.
Ajaib! Ketika kedua tangan itu
kembali diturunkan, sambungan pada bagian leher itu telah tidak terlihat lagi.
"Ha ha ha...!"
Raja Tengkorak tertawa bergelak-gelak Tawa
kemenangan. Sementara Ranjana menatapnya dengan pandang mata memancarkan
kengerian.
"Jangan mimpi bisa
mengalahkanku, Ranjana," kata laki-laki berpakaian tengkorak itu. Mulutnya
yang terlindung dalam sebuah selubung bergambar tengkorak, tersenyum
mengejek,
"llmu iblis ... !"
desis Ketua Perguruan Gajah Putih dengan perasaan ngeri melihat kedahsyatan
ilmu lawannya. Dia pemah mendengar ilmu yang membuat seseorang tidak bisa mati.
ilmu 'Rawa Rontek'. Tapi, sungguh tidak diduga sama sekali kalau Raja Tengkorak
memiliki ilmu seperti itu. Dengan ilmu 'Rawa Rontek', bagian tubuh yang
terpisah mudah bersatu kembali. Hanya dengan mengetahui kelemahannya, lawan
yang memiliki ilmu itu baru bisa dibinasakan.
"Ha ha ha... !"
Raja Tengkorak tertawa
terbahak-bahak. Sebuah tawa yang panjang, tapi mendadak berhenti seketika.
"Hmh ... ! Saat kematianmu
sudah tiba, Ranjana! Kini aku tidak akan main-main lagi!"
Setelah berkata demikian, tokoh sesat yang
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 68
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
menggiriskan itu meluruskan kedua
jari-jari tangan nya. Suara aneh mirip desah ular mengiringi terbentuknya
kedudukan jari-jari seperti itu.
Ranjana bersikap waspada. Dia
sadar kalau Raja Tengkorak telah siap menggunakan ilmu andalannya. Sepasang
mata Ketua Perguruan Gajah Putih menatap tak berkedip pada kedua tangan
lawannya, yang tampak bergetar penuh kekuatan.
"Haaat ... !"
Laki-laki berwajah jantan ini
berusaha tidak kalah gertak. Pedang di tangannya diputar-putarkan di depan dada
sehingga menimbulkan suara berderit nyaring yang menyakitkan gendang telinga.
"Hiyaaat..!"
Diiringi suara teriakan
melengking nyaring, Raja Tengkorak melompat menerjang Ranjana. Kedua
tangannya yang terbuka lurus dan menegang kaku itu, menotok bertubi-tubi ke
arah leher lawan. Ada suara bercicitan nyaring yang mengawali tibanya serangan
itu.
Ranjana tahu betapa berbahayanya
serangan itu, maka buru-buru dia memutar pedangnya di depan dada. Cepat bukan main gerakannya, sehingga yang tampak hanyalah
segulungan sinar putih yang mendindingi tubuhnya. Bila Raja Tengkorak
memaksakan diri untuk meneruskan serangan, sebelum mencapai sasaran, pedang
di tangan Ketua Perguruan Gajah Putih itu sudah terlebih dulu memenggal kedua
tangannya.
Aneh! Raja Tengkorak sama sekali
tidak menarik pulang serangannya. Kedua tangannya tetap saja diluncurkan ke
arah sasaran.
Tak, tak, tak..!
Suara berderak keras terdengar
berkali-kali, tatkala kedua tangan itu berbenturan dengan pedang. Seakan-akan
yang berbenturan itu dua batang logam keras.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 69
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Ah…!"
Tubuh Ranjana terhuyung-huyung ke
belakang. Tangan yang menggenggam pedang terasa ngilu bukan kepalang. Terutama
sekali jari-jari kedua tangannya. Terasa sakit-sakit bukan main. Sementara
kedua tangan lawannya sama sekali tidak terluka.
Tapi Ketua Perguruan Gajah Putih
ini tidak bisa berpikir lebih lama lagi, karena Raja Tengkorak yang memang
sudah ingin melenyapkannya, kembali maju menyerang. Pertarungan sengit pun tak terhindarkan.
Ranjana melawan mati-matian.
Dikerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Tapi tetap saja dia tidak mampu menandingi lawan. Kepandaian Raja Tengkorak memang berada di atasnya.
Ketua Perguruan Gajah Putih ini
memang kalah segala-galanya. Baik dalam hal ilmu meringankan tubuh, tenaga
dalam, maupun mutu ilmu silat Belum lagi kelebihan Raja Tengkorak yang memiliki
ilmu- ilmu aneh. Di antaranya, ilmu 'Rawa Rontek' yang membuatnya mampu hidup kembali. Meskipun seluruh anggota tubuhnya
telah dipisahkan satu sama lain.
Bukan hanya itu saja, Raja
Tengkorak masih memiliki ilmu yang membuat kedua tangannya, kebal terhadap
segala macam senjata. 'Ilmu Baju Ular Emas' namanya.
Tak sampai tiga puluh jurus,
Ketua Perguruan Gajah Putih itu sudah terdesak hebat Kalau semula dia mampu
balas menyerang, kini dia tidak mampu melakukannya lagi. Ranjana hanya mampu
mengelak. Menangkis pun jarang dilakukannya, karena hal itu bisa merugikan
dirinya. Memang dengan kekuatan tenaga dalam yang berada di bawah lawannya,
menangkis hanya akan menguntungkan lawan.
Tappp ... !
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 70
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Di jurus keempat puluh satu,
pedang Ranjana tertangkap lawan. Dia berusaha menariknya, tapi sia-sia, karena
Raja Tengkorak memiliki tenaga dalam yang lebih kuat daripadanya. Ketua
Perguruan Gajah Putih itu melempar tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa
kali.
"Hmh ...!"
Raja Tengkorak mendengus seraya melemparkan pedang lawan yang berhasi
dirampasnya.
Dengan diiringi suara mendesing
nyaring yang menyakitkan telinga, pedang itu melesat ke arah tubuh Ranjana yang
tengah berada di udara.
Ranjana sama sekali tidak
terkejut melihat hal itu, karena dia sudah memperkirakannya. ltuah sebabnya,
begitu pedang itu meluncur ke arahnya, segera dia memapak dengan sarung
pedangnya.
Pyarrr ... !
Sarung pedang itu hancur
berkeping-keping ketika berbenturan dengan pedang.
Saat itulah Raja Tengkorak
melancarkan serangan susulan. Memang, begitu melemparkan pedang pada Ranjana,
tokoh sesat yang menggiriskan itu melompat mengirim serangan susulan. Kedua
tangannya yang menegang kaku dan lurus, membentuk kedudukan jurus 'Ular',
bertubi-tubi ditusukkannya ke arah dada lawan.
Wajah Ranjana pucat seketika. Dia
tahu kalau tidak mungkin lagi mengelakkan serangan itu. Jalan satu-satunya,
hanya menangkis. Dan, itulah yang dilakukan Ketua Perguruan Gajah Putih ini.
Plak plak .. ! Crottt ... !
"Akh ... !"
Beberapa serangan bertubi-tubi itu berhasil
ditangkisnya. Namun hasilnya membuat sambungan kedua pergelangan
tangannya terlepas. Itulah sebabnya serangan lanjutan dari
Raja Tengkorak
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 71
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
tidak bisa ditangkisnya lagi.
Akibatnya, kedua tangan Raja
Tengkorak amblas ke dalam dadanya. Cairan merah kental muncrat-muncrat di
bagian yang tertembus tangan.
Brukkk ... !
Seiring dengan jatuhnya tubuh
Ranjana, Raja Tengkorak mendaratkan kedua kakinya ke tanah.
Tokoh sesat yang menggiriskan itu
menatap tubuh lawan yang masih menggeliat-geliat beberapa saat, sebelum akhimya
diam dan tak bergerak lagi.
"Hih...
Raja Tengkorak melesat ke arah
pertarungan antara pengikut-pengikutnya melawan murid-murid Perguruan Gajah
Putih yang masih berlangsung sengit.
Hebat luar biasa sepak terjang
Raja Tengkorak. Ke mana saja tangannya bergerak, di situ ada tubuh murid
Perguruan Gajah Putih yang roboh di tanah untuk selamanya.
Suara lolong kesakitan yang
disertai robohnya tubuh-tubuh murid Perguruan Gajah Putih, terdengar dan saling
susul-menyusul.
Hanya dalam waktu sekejap, tidak
ada lagi murid Perguruan Gajah Putih yang masih berdiri tegak. Semua tergeletak
di tanah dalam keadaan tidak bernyawa.
"Geledah seluruh tempat ini
... ! Siapa pun yang kalian temukan segera dibunuh. Jangan disisakan seorang
pun!"
Tanpa menunggu perintah dua kali,
tokohtokoh persilatan itu bergerak ke arah bangunan-bangunan yang ada di dalam
markas Perguruan Gajah Putih. Mereka memasuki dan memeriksa setiap bangunan
yang ada.. Sementara Raja Tengkorak menunggu di luar.
Tak lama kemudian, belasan orang
itu telah kembali. "Bagaimana?" tanya Raja Tengkorak cepat
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 72
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Semua tempat telah kami
periksa, Ketua. Dan, beberapa orang pelayan yang ada di dalam telah kami
bunuh!" lapor seorang yang berkepala botak dan bertubuh pendek. Dunia persilatan
menjulukinya Setan Botak.
Belasan tokoh persilatan itu bergerak cepat meninggalkan bangunan Perguruan
Gajah Putih sambil meraih obor-obor yang terdapat di sudutsudut rumah. Kemudian
dilemparkan ke arah ba ngunan. Ada yang melempar ke dalam, ke atap, dan ada
juga yang ke jendela.
Sesaat kemudian, api pun berkobar
di setiap bangunan yang ada di situ. Mula-mula kecil, kemudian membesar dan
membumbung tinggi.
Raja Tengkorak dan pengikut-pengikutnya melangkah mundur
menjauhi bangunan yang tengah diamuk api. Mereka memandang dari tempat yang
agak jauh. Setelah seluruh bangunan itu dipastikan terbakar habis, Raja
Tengkorak melesat cepat meninggalkan tempat itu diikuti oleh pengikutnya.
Kini, tinggal bangunan Perguruan
Gajah Putih yang masih diamuk api dan puluhan sosok tubuh yang tergolek tanpa
nyawa. Tidak ada lagi suara denting senjata terdengar. Malam kembali hening,
sepi, dan senyap.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 73
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
8
"Ha ha ha...!"
Suara tawa pelan, berat tapi
bergaung, mengejutkan Kalpa Reksa yang tengah termenung di depan rumahnya.
Kakek berpakaian hitam ini memang tengah dilanda kebimbangan. Cerita Dewa Arak
mengenai Raja Tengkoraklah yang menyebabkan dia bersikap demikian. Haruskah dia kembali
ke dunia persilatan lagi?
"Kau terkejut, Kalpa
Reksa?!" ejek pemilik tawa yang tak lain adalah Raja Tengkorak.
Jantung kakek berpakaian hitam
ini berdebar keras ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Raja Tengkorak...!"
desis Kalpa Reksa. Meskipun agak lama, akhimya keluar juga sebutan itu dari
mulutnya.
"Ha ha ha...!"
laki-laki berseragam tengkorak itu tertawa menyambuti ucapan Kalpa Reksa.
"Tidak mungkin!" Cetus
Kalpa Reksa ketika akhinya bisa menenangkan hatinya yang terguncang hebat
Memang, pemandangan yang terlihat oleh kakek itu mengejutkan hatinya.
"Raja Tengkorak sudah lama
mati! Aku tahu betul hal itu! Kau pasti sengaja menggunakan nama besar Raja
Tengkorak untuk kepentingan dirimu!" sambung Kalpa Reksa.
"Keluarkan seluruh perasaan
yang mengganjal di hatimu, Kalpa Reksa. Agar kau tidak mati penasaran! Aku
datang kemari ingin menjemput nyawamu. Ingat! Kau telah membuat kesalahan
besar! Kau masih ingat pada Turgawa?"
Terdengar suara gemeretak dari
mulut Kalpa Reksa ketika mendengar ucapan Raja Tengkorak Setup kali
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 74
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
nama Turgawa disebut, hatinya
terasa dicabik-cabik dengan sebilah pedang tajam.
"Tidak! Aku tidak akan
melupakan manusia jahanam itu!" tegas kakek berwajah tirus dengan suaranya
yang bergetar, karena menahan geram. Kalpa Reksa menghentikan ucapannya sejenak, untuk menenangkan deru napas yang
penuh diliputi rasa amarah.
"Jangan kau katakan kalau
dirimu adalah Turgawa," kata Kalpa Reksa, seraya sepasang matanya menatap
ke arah tangan Raja Tengkorak. Dilihatnya kedua tangan laki-laki berseragam
tengkorak itu tampak masih utuh. Padahal, dia yakin kalau tangan Turgawa sudah
tidak lengkap lagi. Karena dia telah menewasnya dalam pertarungan belasan tahun
yang lalu.
"Siapa bilang Raja Tengkorak
itu adalah Turgawa?" tanya laki-laki berbaju tengkorak dengan suarra parau
dan keras. "Kau telah salah mendengar berita, atau pendengaranmu sudah tak
sempurna lag!?"
Kontan Kalpa Reksa terguncang
mendengar ucapan itu. Bukan kata-kata itu yang menjadi penyebabnya. Tapi suara
itu amat dikenalnya betul meskipun telah belasan tahun tidak didengarnya lagi.
Bagaimana mungkin dia bisa melupakan suara orang yang amat dibencinya? Kalpa
Reksa tahu betul kalau pemilik suara itu adalah Turgawa!
"Apa kabarmu, Kakang
Reksa?!"
Kembali pemilik suara yang mirip
dengan suara Turgawa itu terdengar.
Tengkuk Kalpa Reksa terasa dingin
mendengar teguran itu. Tidak salah lagi. Pemilik suara itu adalah Turgawa, adik
seperguruannya. Memang hanya Turgawa seorang yang memanggilnya dengan panggilan
seperti itu.
'’Mimpikah aku?!" tanya
Kalpa Reksa dalam hati. "Tak mungkin.... Turgawa sudah tawas......
Untuk meyakinkan hati, tangannya
dicubit. Tercekat
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 75
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
hati kakek berpakaian hitam ini
tatkala rasa sakit mendera bagian tubuh yang dicubitnya.
Ini menjadi pertanda kalau dia
tidak bermimpi. Oleh karena itu, dengan jantung berdebar tegang, kepalanya
ditolehkan ke arah asal suara.
Kontan hati Kalpa Reksa tercekat,
tatkala melihat sosok yang berdiri di sebelah kanan Raja Tengkorak dalam jarak sekitar dua
tombak.
"Kau.... Turgawa. ?!
Tapi..., tak mungkin kau masih hidup ... ?!" ujar Kalpa Reksa dengan suara
terputus-putus.
"Begitulah, Kang Reksa.
Hampir dua puluh tahun aku menanggung dendam ini. Dan sekarang tibalah saatnya
pembalasan dendam itu, Kalpa Reksa!"
Setelah berkata demikian, Turgawa
menoleh ke arah Raja Tengkorak.
"Ayo, Sengkala! Balaskan
dendamku...
Raja Tengkorak yang temyata
bernama Sengkala segera bergerak cepat menerjang Kalpa Reksa. Dan sekali
menyerang, tokoh sesat yang menggiriskan itu telah menyerang dengan ilmu
andalannya, 'llmu Baju Ular Emas' yang membuat kedua tangannya kebal terhadap
segala jenis senjata tajam.
Suara mencicit nyaring terdengar
ketika kedua tangan Raja Tengkorak meluncur deras ke arah dada dan ulu hati
Kalpa Reksa.
"Hehhh ... ?! 'Ilmu Baju
Ular Emas'?!" seru kakek berpakaian hitam terkejut "Dari mana kau
curi ilmu itu, Raja Tengkorak Palsu?!"
Sambil berkata begitu, Kalpa Reksa segera menyusun kedudukan jari yang mirip
dengan jari-jari lawannya. Memang, dia juga menggunakan 'llmu Baju Ular Emas'.
Lucu dan unik sekali pertarungan
yang terjadi antara dua orang yang sama-sama memiliki ilmu serupa itu.
Jalannya pertarungan sudah bisa
ditebak. Karena
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 76
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
kedua belah pihak menggunakan
ilmu yang sama, pertarungan berjalan tidak menarik. Hal ini tidak aneh karena baik
Kalpa Reksa maupun Raja Tengkorak telah mengetahui perkembangan gerakan lawan.
Suara mencicit nyaring mengiringi
setiap gerakan kedua tokoh yang tengah bertarung itu. Jelas, kalau gerakan
kedua orang itu selalu dilandasi dengan tenaga dalam tinggi.
Seratus jurus telah berlalu. Dan
selama itu belum nampak adanya tanda-tanda yang akan terdesak. Pertarungan masih berjalan seimbang. Hal ini
membuat Turgawa jadi kehilangan kesabaran.
"Sengkala ... ! Cepat
robohkan dia...!" "Hih...
Tubuh Raja Tengkorak melenting ke
belakang dan bersalto beberapa kali di udara.
Kalpa Reksa yang memang merasa
marah bukan kepalang pada Raja Tengkorak palsu ini bergegas mengejar.
Saat itulah, tangan Raja
Tengkorak mengibas. Sing, sing, sing... !
Suara berdesing nyaring terdengar
ketika beberapa batang pisau melesat dari tangan yang mengibas itu.
Kalpa Reksa terkejut. Kemarahan
yang membakar hatinya, dan keinginannya untuk segera menewaskan rekannya ini
membuatnya kurang waspada sehingga lupa kemungkinan lawan akan mengirimkan
serangan.
Meskipun berada dalam keadaan
sulit, di mana serangan datang pada saat tubuhnya tengah berada di udara, Kalpa
Reksa masih mampu memunahkan serangan itu. Cepat-cepat kedua tangannya
diturunkan, dan dengan berlandasan pada kedua tangan itu, tubuhnya melenting ke
atas sehingga serangan-serangen pisau itu meluncur lewat di bawahnya.
Tapi rupanya serangan dari Raja
Tengkorak tidak hanya itu saja. Begitu, serangan pisau-pisaunya
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 77
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
melesat ke arah lawan, tangannya
bergerak cepat Dan.... Wunggg ...
Rantai berujung tengkorak kepala
itu meluncur cepat ke arah Kalpa Reksa.
Kontan wajah kakek berpakaian
hitam ini memucat Serangan susulan itu datang begitu tiba-tiba dan pada saat
tubuhnya tengah melayang. Dengan sebisa-bisanya tubuhnya digeliatkan, seraya
menggerakkan tangan menangkap rantai itu. Kalpa Reksa bertindak nekat
Tappp....!Bukkk..
"Hugh...!"
Rantai baja itu berhasil
ditangkap oleh Kalpa Reksa. Tapi tengkorak kepala itu tetap saja meluncur.
Hanya saja meleset dari sasaran semula. Tidak lagi mengenai kepala melainkan
bahu!
Meskipun begitu tidak berarti
akibatnya ringan buat kakek berpakaian hitam itu. Tubuhnya terpental. Dan ada
cairan merah kental keluar dari mulutnya. Jelas Kalpa Reksa terluka dalam.
"Hup ...!"
Hebatnya dalam keadaan seperti itu, Kalpa Reksa masih mampu mendaratkan kedua
kakinya di tanah, walaupun dengan agak terhuyung-huyung. Darah kental menetes
di sudut-sudut bibimya. Belum juga Kalpa Reksa berbuat sesuatu, rantai berujung
tengkorak kepala milik Raja Tengkorak kembali meluncur. Dan....
Bukkk ..
Telak dan keras sekali tengkorak
kepala itu menghantam perut Kalpa Reksa. Tak pelak lagi, tubuh kakek itu
terjengkang ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah. Darah segar memancar
deras dari mulut kakek berwajah tirus itu.
"Biar aku yang memberikan
pukulan terakhir, Sengkala ... !" sera Turgawa.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 78
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
Raja Tengkorak mengurungkan niatnya. Dibiarkannya Turgawa melangkah maju
menghampiri tubuh Kalpa Reksa yang tergolek.
"He he he...!" Turgawa
tertawa terkekeh.
Tapi sebelum kakek bertangan
carat itu menjatuhkan pukulan maut, sesosok bayangan ungu berkelebat Dan....
Tappp ... Hey... !"
Turgawa terpekik kaget Tanpa
sadar dia melompat mundur, karena sosok bayangan itu juga melancarkan kibasan
ke arah kepalanya.
"Grrrhhh ... !"
Raja Tengkorak menggeram keras.
Dan sekali kakinya bergerak menggenjot, tubuhnya telah melesat mengejar sosok
bayangan ungu yang telah membawa lari Kalpa Reksa.
Tapi sosok bayangan ungu itu sudah memperhitungkan hal itu. Tubuhnya
berbalik sebentar. Dan Langan kanannya yang bebas, karena tubuh Kalpa Reksa
dipanggul di bahu kiri, dihentakkan.
Wusss ... !
Angin keras berhawa panas
menyengat menyambar ke arah Raja Tengkorak.
Tokoh sesat yang menggiriskan itu
terperanjat Dia tahu kalau lawan telah mengirimkan sebuah pukulan jarak jauh
yang dahsyat Maka dia tidak berani bertindak sembrono. Buru-buru dia melompat
ke samping kanan dan bergulingan menjauh.
Kesempatan yang hanya sedikit itu
dipergunakan sebaik-baiknya oleh sosok bayangan ungu itu.
Tubuhnya melesat cepat
ke batik kerimbunan pepohonan.
"Keparat...!"
Begitu bangkit, Raja Tengkorak
memaki lawannya yang telah lenyap. Lebatnya hutan menyulitkannya
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 79
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
untuk mengetahui arah sosok
bayangan ungu itu melarikan diri
"Menilik dari pakaian dan
rambutnya, aku yakin dia adalah Dewa Arak..! Tapi begitu saktikah dia sehingga
tidak tewas oleh pisau beracunku...!" kata Raja Tengkorak pelan. Memang,
dia telah melihat sekilas ciri-ciri, sang penolong itu.
"Aku lebih condong menduga
kalau dia diselamatkan oleh Kalpa Reksa, Sengkala ... !"
"Hm ... !" Raja
Tengkorak hanya bergumam pelan. "Sudahlah ... ! Mari kita kembali. Masih
banyak waktu
lagi untuk membereskannya!".
Turgawa mencoba menenangkan hati tokoh sesat yang menggiriskan itu.
"Hhh ...!"
Raja Tengkorak menghela napas
berat sebelum akhimya melangkah meninggalkan tempat itu bersama Turgawa.
ooOWKNBROoo
"Cukup, Arya... !" kata
Kalpa Reksa.
Dan Dewa Arak yang duduk bersila sambil
menempelkan kedua tapak tangannya untuk menyembuhkan luka dalam kakek
berpakaian hitam itu, dengan cara menyalurkan tenaga dalam secara
per-lahan-lahan menarik kedua tangannya.
Kalpa Reksa membalikkan tubuh. Kini dia berhadapan dengan Arya.
"Kau telah melihat Raja
Tengkorak itu, Ki?" tanya Arya dengan nada menuntut.
"Yahhh ... !" jawab
Kalpa Reksa dengan suara mendesah. "Dia benar-benar memiliki kesaktian
luar biasa. Entah siapa yang berada di balik seragam tengkorak itu. Tapi yang
jelas, dia murid Turgawa!"
"Turgawa?! Adik
seperguruanmu itu, Ki?! Jadi, dia masih hidup?!" tanya Arya dengan
sepasang mata Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 80
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
membelalak.
"Ya," jawab Kalpa Reksa
singkat
"Ah ... ! Pasti kakek
berpakaian kuning itu! Betulkan, Ki?" Arya yang mulai teringat langsung
saja menduga.
Kakek berwajah tirus itu hanya
menganggukkan kepalanya.
"Hm ... !" Arya
bergumam pelan.
"Ada satu hal yang membuatku
agak bingung, Arya. "Apa itu, Ki?!"
"Ilmu 'Baju Ular Emas' yang
dimiliki Raja Tengkorak palsu itu," ucap Kalpa Reksa lagi. "Kenapa
dengan ilmu itu, Ki!"
"llmu itu bukan ilmu
sembarangan, Arya. Tapi ilmu yang terhitung aneh. Bila orang yang diwarisi ilmu
itu tidak mempunyai hubungan darah dengan pemilik 'llmu Baju Ular Emas'
sebelumnya, ilmu itu tidak akan memiliki kemampuan ke puncaknya."
Kalpa Reksa menghentikan
ucapannya. Sejenak untuk mengambil napas.
"Pada Raja Tengkorak palsu
itu, kulihat 'llmu Baju Ular Emas'nya telah mencapai puncak kesempurnaan!"
"Berarti dia memiliki
hubungan darah dengan Turgawa," ucap Arya sekenanya.
"Hal itu sepertinya
mustahil, Arya," bantah Kalpa Reksa.
"Mengapa, Ki?"
"Turgawa tidak mampu melakukan tugas sebagaimana layaknya seorang lelaki
normal terhadap seorang wanita. Dia mandul. ltulah sebabnya, sewaktu kami masih
sama-sama berguru, dia sering merasa iri padaku. Lalu, bagaimana dia bisa
mempunyai anak?!" jelas kakek berwajah tirus panjang lebar.
Karuan saja hal itu membuat Arya
tercenung. Benaknya berputar keras untuk mencari jawaban. Tapi sampai lelah dia
memikirkannya, tak juga jawaban bagi pertanyaan itu diketemukannya.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 81
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Kurasa lebih baik kita
menyelidikinya nanti, Ki," usul Dewa Arak akhimya setelah beberapa saat
lamanya tidak juga menemukan jawaban.
Kalpa Reksa sama sekali tidak
menyambuti ucapan itu. Dia masih saja tercenung.
"Lalu, apa yang akan kau
lakukan, Ki?" tanya pemuda berpakaian ungu itu ingin tahu.
"Hhh ... !" Kakek
berwajah tirus itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat "Mungkin aku akan menjadi Raja Tengkorak kembali,
Arya. "
"Aku belum mengerti
maksudmu, Ki," ucap Dewa Arak dengan alis berkerut.
"Aku akan terjun kembali ke
dunia persilatan dengan memakai seragam Raja Tengkorak."
"Mengapa mesti begitu,
Ki?!" Dengan perasaan heran pertanyaan itu diajukan Arya.
"Nama Raja Tengkorak telah
tercemar. Musti muncul Raja Tengkorak asli untuk memberitahukan pada dunia
persilatan kalau kekacauan ini dilakukan oleh Raja Tengkorak palsu untuk
menjelek-jelekkan julukan Raja Tengkorak. Aku yakin itulah maksud Turgawa
memakaikan seragam tengkorak pada seorang tokoh yang entah siapa itu,"
jelas Kalpa Reksa panjang lebar.
Arya terdiam. Disadari ada
kebenaran dalam ucapan itu.
"Mari ikut aku, Arya.
Setelah berkata demikian, Kalpa
Reksa segera beranjak meninggalkan tempat itu. Melewati kelebatan pepohonan.
Sampai akhirnya tiba di depan sebatang pohon beringin yang telah tumbang.
Sampai di sini, Kalpa Reksa menghentikan langkahnya. Kemudian dia
berjongkok, dan menggali tanah di dekat pohon itu.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah
mencapai
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 82
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
tingkatan tinggi, mudah saja bagi
kakek berwajah tirus itu untuk menggali. Sekalipun tanah di situ keras.
Tak lama kemudian terlihat sebuah
peti. Kalpa Reksa bergegas mengangkatnya.
"Di sinilah peralatan Raja
Tengkorak kusimpan," ucap kakek berpakaian hitam itu sambil membuka tutup
peti. Dan memang, di dalam peti itu terdapat pakaian seragam tengkorak, pisau,
rantai baja berujung kepala tengkorak dan pedang.
Tanpa mempedulikan Dewa Arak yang
keheranan, Kalpa Reksa segera mengambil pakaian seragam tengkorak itu
dan mengenakannya. Sekejap kemudian, di hadapan Arya telah
berdiri Raja Tengkorak Pemuda berpakaian ungu itu menelan ludah ketika
menyadari tidak ada perbedaan sedikit pun antara Raja Tengkorak palsu dengan
Raja Tengkorak Kalpa
Reksa. Baik tinggi tubuhnya
maupun seragamnya.
"Kini Raja Tengkorak telah
siap untuk membersihkan namanya yang dicemarkan ......
Suara yang keluar dart mulut
Kalpa Reksa mirip sekali dengan suara Raja Tengkorak palsu. Benar-benar tidak
ada bedanya sedikit pun.
"Lalu, bagaimana aku bisa
membedakanmu dengan Raja Tengkorak palsu itu, Ki? Semuanya begitu mirip,"
tanya Arya bingung.
Tidak usah khawatir, Arya. Kita
buat sebuah kata rahasia.
"Maksudmu, Ki?" Arya
masih belum mengerti.
"Begini. Apabila kau bertemu dengan Raja Tengkorak. Kau harus menyapanya, Raja
Tengkorak.Nah, nanti aku akan menjawab, 'lenyapkan'. Bagaimana paham? Ingat,
kalau jawaban yang kau terima beda, dia adalah Raja Tengkorak palsu!"
Arya mengangguk pertanda
mengerti. Sungguh tidak disangka kalau Kalpa Reksa demikian cerdik.
Dewa Arak – 026. Raja Tengkorak 83
EBook By : Wakinamboro wakinamboro@gmail.com
"Nah! Kalau begitu, aku
pergi dulu. Kita bekerja sandiri-sendiri Arya. "
Belum juga habis kata-katanya, tubuh Raja Tengkorak alias
Kalpa Reksa telah melesat cepat meninggalkan pemuda berambut putih keperakan
itu.
Arya hanya bisa memandangi
kepergian Kalpa Reksa. Sama sekali tidak disangka kalau dirinya bisa terlibat
dalam masalah yang begini pelik. Dipandanginya bayangan tubuh Raja Tengkorak
asli itu hingga lenyap ditelan
kerimbunan pepohonan. Kemudian kakinya dilangkahkan menempuh arah yang berbeda.
Berhasilkah Kalpa Reksa melenyapkan Raja
Tengkorak Palsu alias
Sengkala? Dan siapakah sesungguhnya Sengkala itu?
Apa hubungannya dengan Turgawa, sehingga tokoh sesat yang
menggiriskanituterlihat sangat patuh kepadanya? Lalu, bagaimanakah nasib Melati
yang belum diketahuisampai sekarang?
Untuk jelasnya, silakan para
pembaca mengikuti serial Dewa Arak selanjutnya dalam episode "Kembalinya
Raja Tengkorak".
SELESAI
No comments:
Post a Comment