RAKSASA RIMBA NERAKA
Oleh Aji Saka Cetakan pertama
Penerbit Cintamedia, Jakarta
Penyunting : Puji S. Gambar sampul oleh Pro's Hak cipta pada Penerbit
1
"Hiyaaat...!
Haaat...!"
Teriakan keras seperti tengah terjadi
pertempuran terdengar merobek kesunyian pagi, di sebuah tanah lapang yang luas
di Lereng Gunung Jarak. Teriakan itu terdengar berasal dari seorang pemuda
bertelanjang dada yang tengah berlatih.
"Haaat...!"
Kembali pemuda
itu berteriak nyaring melengking. Dibarengi teriakan, kaki kanannya dikibaskan ke sebatang
pohon.
Brakkk...!
Seketika itu
juga pohon sebesar dua pelukan orang dewasa, tumbang. Suara bergemuruh
mengiringi rubuhnya pohon itu ke tanah.
"Bagus
sekali, Sapta!" puji seorang kakek yang sejak tadi memperhatikan. Di
sebelah kakek itu nampak seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun.
Wajahnya cantik manis. Rambutnya digelung ke atas. Pakaiannya berwarna jingga,
sehingga cocok sekali dengan warna kulitnya.
Pemuda
bertelanjang dada yang dipanggil Sapta itu menghentikan latihannya. Dibalikkan
tubuhnya menghadap kakek yang kira-kira berusia enam puluh tahun. Pakaiannya
rompi dan celana sebatas bawah lutut tampak penuh tambalan, membungkus tubuhnya
yang kurus kering. Kakek itu ternyata memang seorang pengemis! Di tangan
kanannya, tergenggam sebatang tongkat kayu berwarna merah. Dalam rimba
persilatan, dia berjuluk Pengemis Tongkat Merah.
"Aku mohon
petunjuk, Guru," pinta Sapta yang berusia sekitar dua puluh satu tahun
itu.
Pengemis
Tongkat Merah yang ternyata guru pe-muda yang bernama Sapta itu tertawa
terkekeh.
Dipandanginya sosok tubuh tinggi besar, dan berhidung melengkung di hadapannya
sebentar.
"Tidak ada
lagi yang dapat kuajarkan, Sapta. Semua ilmu yang kumiliki telah beralih
kepadamu dan Kami," tegas kakek kurus kering itu sambil menoleh kepada
gadis yang berdiri di sebelahnya. "Kau telah menguasainya dengan baik. Aku
bangga padamu, Sapta!"
Wajah pemuda
tinggi besar dan berhidung me-lengkung itu memerah, menerima pujian itu.
"Ah, semua
ini adalah berkat bimbingan Guru, dan Kami juga," ucapnya merendah.
"Kau
memang terlalu rendah diri, Sapta. Aku
hanya membantu, sedangkan hasilnya semua tergantung padamu. Kau rajin dan
sungguh-sungguh, sehingga tidak aneh kalau
hampir setingkat Kami yang telah lebih dulu belajar," ujar kakek itu
sambil tersenyum.
Ucapan Pengemis
Tongkat Merah membuat Sapta termenung. Ingatannya terlempar ke masa sepuluh
tahun silam.
Waktu itu ia,
ayah dan ibunya pergi berburu ke sebuah hutan. Karena ayah Sapta adalah seorang
kepala desa, tidak aneh jika dalam perburuan itu, mereka dikawal beberapa anak
buah ayahnya.
Tapi
sesungguhnya di dalam hutan, terjadilah hal yang tidak disangka-sangka. Toga
yang bertindak sebagai kepala pengawal, tiba-tiba melompat turun dari kudanya.
"Ha ha
ha....! Sekarang adalah akhir dari kejayaanmu, Ki Panjar!" ucap laki-laki
bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam, dan berkumis melintang itu. Suaranya
begitu keras dan kasar. Ketika dijentikkan jarinya, seketika para pengawal yang
berjumlah delapan orang itu bergerak mengurung Ki Panjar, istrinya dan Sapta,
yang waktu itu baru berusia sebelas tahun.
Wajah Ki Panjar
dan istrinya langsung berubah. Mereka menyadari adanya ancaman dari ucapan
Toga.
"Apa
maksudmu, Toga?" tanya Ki Panjar. Suara-nya terdengar tenang.
"Maksudku
sudah jelas, Panjar! Kau dan keluargamu ini, akan kukirim ke neraka. Sementara
aku akan menggantikan kedudukanmu menjadi kepala desa! Ha ha ha...!"
Wajah Nyi
Panjar semakin bertambah pucat. Sebaliknya Ki Panjar tetap tenang-tenang saja.
"Apa yang
kau andalkan, Toga? Apakah hanya keroco-keroco tak berguna ini?!" tanya Ki
Panjar sambil mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Tawa Toga berhenti.
Sepasang alis matanya berkerut. Sikap tenang Ki Panjar membuat si kumis
melintang ini merasa curiga. Apalagi kata-kata kepala desa itu, yang mengatakan
bahwa delapan orang pengawal itu hanyalah keroco-keroco tak berguna.
Toga memang
tahu kalau Ki Panjar memiliki kepandaian. Tapi apakah kepandaian yang
dimilikinya cukup tinggi? Paling-paling kepandaiannya hanya dapat menghadapi
empat orang pengawal itu!
"Kau
terkejut, Toga? Aku pun tahu kalau kau secara sembunyi-sembunyi sering
mengintai latihanku. Untunglah aku mencurigai kelakuanmu itu. Maka di depanmu
aku melatih ilmu-ilmu tingkat rendahan saja. Sementara ilmu-ilmu lain kulatih
saat kau lengah."
Wajah Toga
berubah. Benarkah semua yang dikatakan kepala desa ini? Atau hanya bualan
belaka? Selagi dia berpikir, tubuh Ki Panjar berkelebat. Gerakannya cukup
gesit, jauh di luar dugaanToga.
Dalam sekejap
saja, tubuh Ki Panjar, Nyi Panjar, dan Sapta telah lenyap dari punggung kuda.
Segera Toga mengalihkan perhatiannya ke arah Ki Panjar tadi melesat.
Ternyata Ki
Panjar tidak pergi jauh-jauh. Sekitar tiga tombak dari situ, tampak kepala desa
itu berdiri tegak membelakangi anak dan istrinya. Di tangannya tergenggam
sebuah keris berkeluk tujuh.
"Seraaang...!"
teriak Toga keras.
Belum juga gema
suaranya habis, tubuhnya sudah melesat menerjang Ki Panjar. Golok di tangannya
yang sudah terhunus, cepat ditusukkan ke perut laki-laki yang sebenarnya adalah
atasannya.
Ki Panjar tetap
bersikap tenang. Keris di tangannya digerakkan cepat.
Trak!
"Akh...!"
Toga menjerit
kesakitan. Ternyata bahu kirinya sobek terserempet keris. Sungguh si kumis
melintang ini tidak habis pikir. Padahal, jelas teriihat kalau kepala desa itu
menangkis serangan goloknya. Tapi mengapa begitu mengenai goloknya, keris itu
melesat ke arah leher? Untung dia cepat mengelak. Terlambat sedikit saja,
mautlah baginya.
Toga sama
sekali tidak tahu kalau itu adalah keistimewaan ilmu keris Ki Panjar. Begitu
menangkis, keris di tangan kepala desa ini dapat terus melesat. Laksana bola,
keris itu membal, begitu membentur golok. Hanya saja 'membalnya' keris itu
diatur Ki Panjar.
"Kaget,
Toga?!" tanya Ki Panjar. Senyum mengejek tersungging di bibirnya.
"Sekarang terimalah kematianmu!"
Untung saja
sebelum Ki Panjar mengirimkan se-rangan susulan, pengawal yang berjumlah
delapan orang, cepat-cepat mengirimkan serangan. Mau tidak mau kepala desa itu
memusatkan perhatiannya ke arah mereka.
Ternyata ucapan
yang keluar dari mulut Ki Panjar, bukanlah sekadar omong kosong. Delapan orang
bekas pengawalnya memang sama sekali tidak berarti menghadapinya. Dengan ilmu
meringankan tubuh yang berada jauh di atas para pengeroyoknya, mudah saja
baginya untuk mengelakkan setiap serangan.
Sebaliknya
setiap kali tangannya bergerak, pasti ada sosok tubuh yang rubuh tanpa nyawa.
Jerit lengking kematian terdengar saling susul. Dalam sekejap mata saja, sudah
tiga orang pengawal yang tewas.
Sementara Toga
yang telah selesai menotok jalan darah di sekitar luka agar darah berhenti
mengalir, menjadi geram melihat kematian tiga orang anak buahnya. Kembali si
kumis melintang menerjang. Golok di tangannya berkelebat cepat mencari sasaran.
Kini gerakan Ki
Panjar mulai agak tertahan. Kepandaian yang dimiliki kepala pengawalnya tidak
bisa dibandingkan dengan delapan orang pengawal itu. Kalau tadi Toga terluka,
ini karena belum mengetahui keistimewaan permainan keris lawan. Setelah tahu,
Toga bersikap hati-hati. Akibatnya beberapa saat lamanya, pertarungan itu
berlangsung seru dan seimbbang.
Tapi lewat dua
puluh jurus, tampaklah keunggulan Ki Panjar. Pelahan namun pasti, kepala desa
ini mulai berada di atas angin. Keris di tangannya kembali mengambil korban.
Satu demi satu para pengawal berguguran.
Melihat hal
ini, Toga menjadi gelisah. Sudah dapat dipastikan kalau usahanya akan gagal. Ia
bersama sisa tiga orang anak buahnya semakin terdesak hebat
"Ha ha
ha...!"
Tiba-tiba saja
terdengar tawa bergelak. Belum lagi suara tawa yang membuat istri dan anak Ki
Panjar jatuh terduduk itu lenyap, sesosok tubuh tegap berwajah mirip seekor
kera telah muncul di tempat itu.
Pertarungan
langsung terhenti. Ki Panjar, Toga, dan para pengawal sama-sama menoleh ke arah
asal suara.
"Kakang
Gajula...!" teriak Toga. Wajahnya lang-sung berseri-seri. Bergegas
dihampirinya si wajah kera, yang usianya tak lebih dari empat puluh tahun.
Orang berwajah
kera yang bernama Gajula hanya tertawa saja. "Sungguh memalukan kau, Adi
Toga! Menghadapi orang seperti itu saja sampai mengandalkan banyak orang!"
Merah wajah si
kumis melintang.
"Dia lihai
sekali, Kang!" sergahToga keras. Gajula
mendengus. " Ingin kulihat sampai di mana kelihaiannya!"
Setelah berkata
demikian, dihampirinya Ki Panjar yang hanya mendengarkan percakapan itu. Orang
yang bernama Gajula itu ternyata adalah kakak kepala pengawal yang bernama
Toga.
Gajula menatap
Ki Panjar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tampak senyum mengejek
tersungging di bibirnya.
Melihat hal
ini, seketika panas hati Ki Panjar. Sambil mengeluarkan suara melengking
nyaring, diterjangnya lawan di hadapannya.
Singgg...!
Keris di tangan
kepala desa itu ditusukkan ke arah leher Gajula. Cepat bukan main gerakannya.
Tapi, masih lebih cepat gerakan Gajula! Begitu serangan keris lawan mendekat,
dengan sebuah gerakan sederhana, ditarik kepalanya ke belakang. Tepat ketika
tangan kanannya menangkap pergelangan tangan Ki Panjar yang menggenggam keris,
Gajula langsung membetotnya.
Tak pelak lagi,
tubuh kepala desa itu tertarik ke depan. Belum lagi Ki Panjar sempat berbuat
sesuaru, kembali tangan Gajula bergerak.
Krak!
"Akh...!"
Terdengar suara
berderak keras ketika tangan itu menghantam telak dan keras bahu Ki Panjar.
Kepala desa itu langsung mengeluh tertahan, karena tulang bahunya remuk
seketika. Rasa sakit yang amat sangat mendera tubuhnya.
"Ha ha
ha...!"
Kembali
terdengar tawa Gajula yang bergelak "Hanya sampai di sini sajakah orang
yang kau bilang lihai itu, Toga?! Atau, kau sendiri yang kurang becus!? Nih!
Kuberikan padamu...!"
Setelah berkata
demikian, Gajula melemparkan tubuh Ki Panjar yang sudah setengah sadar pada
Toga.
Si kumis melintang tertawa terkekeh.
Tangannya bergerak cepat
Blesss...!"
"Aaakh...!"
Ki Panjar
memekik tertahan ketika golok Toga menghunjam perutnya hingga tembus ke
punggung! Dan begitu si kumis melintang ini mencabut kembali goloknya, darah
langsung muncrat keluar. Beberapa saat lamanya kepala desa itu ambruk, lalu
menggele-par-gelepar di tanah. Dan kini diam tidak bergerak lagi.
" Kakang...!"
terdengar jerit penuh kepiluan memecah
tawa kemenangan Gajula. Seiring terdengarnya jeritan tadi, seorang wanita
setengah baya berlari mendekati tubuh Ki Panjar. Wanita itu adalah istri kepala
desa yang kini membujur kaku.
Sementara Sapta
hanya memandang mayat ayahnya dengan mata merembang berkaca-kaca. Bibirnya
terlihat menggigil gemetar, tapi tidak sedikit pun terdengar isak dari
mulutnya.
Nyi Panjar
terus menghambur. Tapi sebelum kaki perempuan setengah tua mencapai tubuh
suaminya, tangan Toga bergerak.
Singgg...!
Cappp...! "Akh...!"
Nyi Panjar
memekik tertahan. Ternyata golok yang dilempar kepala pengawal itu menghunjam
tubuh wanita itu hingga tembus ke punggung! Tanpa ampun lagi Nyi Panjar ambruk
ke tanah. pan saat itu pula, nya-wanya telah melayang meninggalkan raganya.
"Ibu...!"
Kali ini Sapta
tidak bisa lagi menahan perasaannya. Anak yang baru berusia sebelas tahun ini
menjerit keras, sambil berlari menubruk ibunya.
"Anak ini
akan menjadi bibit penyakit di kemudian hari!" desis Gajula. Seketika
didorongkan kedua tangannya ke depan.
Wuuuttt...!
Angin keras
berhembus keluar dari kedua telapak tangan laki-laki berwajah kera itu. Angin
itu mehincur deras ke arah Sapta, yang tengah beriari menghampiri tubuh ibunya
yang tergeletak di tanah.
Tapi sebelum
angin pukulan Gajula itu mengenai Sapta, sesosok bayangan telah lebih dulu
berkelebat menyambar bocah kecil itu.
Brakkk...!
Sebatang pohon
sebesar pelukan orang dewasa tumbang seketika, terkena angin pukulan yang salah
sasaran itu.
"Keparat...!"
Gajula berteriak memaki. Digenjotkan kakinya mengejar ke arah berkelebatnya
sosok bayangan itu. Tapi, sosok bayangan itu telah lebih dulu lenyap, ditelan
kerimbunan semak-semak dan pepohonan.
Sosok bayangan
yang ternyata berjuluk Pengemis Tongkat Merah ini, membawa Sapta ke tempat
tinggalnya di Lereng Gunung Jarak. Di situ kakek kurus kering ini memilikt
sebuah perguruan, yang diberi nama Perguruan Tongkat Merah.
Sejak saat itu,
Sapta menjadi muridnya. Apalagi setelah terbukti kalau pemuda ini memiliki
bakat yang baik untuk mempelajari ilmu silat.
***
"Apa yang
kau pikirkan, Sapta?" tanya Pengemis Tongkat Merah memenggal lamunan pemuda
berhidung melengkung itu.
"Ah...!"
Sapta berdesah kaget "Tidak, Guru. Tidak ada yang kupikirkan."
Pengemis
Tongkat Merah tersenyum maklum. "Kau jangan berdusta, Sapta. Berkali-kali
kupanggil, kau tidak menyahut. Aku yakin, ada sesuatu yang te-ngah kau
pikirkan."
Sapta tertunduk
diam.
"Kau
tengah memikirkan peristiwa sepuluh tahun yang lalu, bukan?" duga kakek
itu.
Beberapa saat
lamanya pemuda berhidung me-lengkung itu hanya terdiam. Pengemis Tongkat Merah
dengan sabar menunggu. Dan memang, penantian ka-kek ini tidak sia-sia. Pelahan
namun pasti kepala mu-ridnya terangguk pelan.
"Sudah
kuduga...," ucap kakek berpakaian rompi tambalan itu. "Memang sudah
saatnya kau mengamalkan ilmu yang telah kau pelajari, untuk orang yang membutuhkan. Aku tidak akan
menghalangi jika kau ingin membalas dendam atas kematian orang tuamu, Sapta.
Hanya satu pesanku. Jangan gunakan ilmu yang kuwariskan ini untuk kejahatan.
Sumbangkan ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan semampumu!"
"Akan
kuperhatikan semua nasihat Guru...." Pengemis Tongkat Merah
mengangguk-anggukkan kepalanya, dan tampak gembira.
"Kapan kau
akan berangkat?" tanya kakek itu. "Besok, Guru!"
Kakek kurus
kering ini terdiam sejenak. "Kau setuju, kalau Kami ikut turun gunung
bersamamu?"
Sapta
menundukkan kepalanya. Dengan ekor mata, diliriknya gadis cantik berpakaian
jingga yang berdiri di samping gurunya.
Selama ini
Kami-lah yang selalu menemani berlatih. Bahkan kepandaian gadis itu masih
berada di atas kepandaiannya. Karena di samping Kami memiliki bakat yang hebat,
gadis itu telah dididik lebih dulu oleh Pengemis Tongkat Merah.
"Bagaimana,
Sapta?" desak kakek itu ketika melihat pemuda berhidung melengkung itu
diam saja.
"Terserah
pada Kami, Guru," sahut Sapta mengelak.
"Jawablah
sebagaimana seharusnya seorang laki-laki menjawab, Sapta!" tegur kakek
pengemis itu. Tajam nada suaranya.
"Kalau
aku, setuju saja, Guru. Bahkan merasa senang sekali, bila Dik Kami bersedia
ikut!" tegas pemuda itu. Ekor matanya melirik wajah gadis di sebelah
gurunya. Dilihatnya wajah gadis itu berseri-seri. Kami memang gadis pendiam.
Dan secara diam-diam pula Sapta mencintai putri angkat gurunya ini.
"Ha ha
ha...! Itu baru jawaban seorang laki-laki, Sapta! Baik, besok kalian
berangkat!"
Keesokan
harinya, tampak dua sosok tubuh bergerak menuruni Lereng Bukit Jarak. Mereka
adalah Kami dan Sapta. Berkat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki, tidak sulit
bagi keduanya untuk menurum lereng gunung itu.
2
Brakkk...!
Pintu sebuah
rumah kecil yang berdinding bilik, hancur berantakan ketika sebuah kaki kokoh menghantamnya. Diiringi suara hiruk pikuk,
kepingan-kepingan pintu itu jatuh berderai di tantai. Seorang laki-laki berusia
sekitar lima puluh lima tahun, yang tengah terbaring di dipan bambu langsung
terlonjak. Wajahnya kian memucat ketika melihat dua sosok tubuh yang amat
dikenalnya berdiri di ambang pintu.
Belum juga rasa
kagetnya hilang, sosok tubuh tinggi besar dan berkepala botak yang tadi
menendang pintu, berjalan masuk ke dalam. Langkahnya sengaja dibuat
lebar-lebar, menampilkan kepongahannya.
"Tua
bangka tidak tahu diuntung!" geram si ke-pala botak sambil melayangkan
kakinya kembali me-nendang.
Krak!
Brakkk...! "Aaakh...!"
Si kakek
memekik kesakitan. Kaki salah satu dipan bambu itu langsung patah terkena
tendangan. Seketika itu juga, dipan bambu itu pun rubuh bersama kakek itu.
Si kepala botak
membungkukkan badan. Dan di saat tegak kembali, tangannya telah mencengkeram
leher baju kakek itu dan mengangkatnya ke atas.
"Hekh...!"
Si kakek mengeluh tertahan, dan jalan napasnya terasa sesak.
Karena tubuh si kakek jauh lebih kecil daripada tubuh si kepala botak, maka
tubuhnya jadi seperti menggantung.
"Ampun....
Maafkan aku, Den Sagar. Aku tidak bisa bekerja.... Aku sedang sakit...,
ampunkan aku...," ucap kakek itu tersendat-sendat.
"Hugh...!"
Ucapan si kakek
terhenti ketika lutut si kepala botak yang bernama Sagar menyodok perutnya.
Wajah kakek itu seketika memerah, dan kedua bola matanya membeliak lebar.
Sodokan pada perutnya membuat napasnya sesak seketika.
"Enak saja
kau bicara! Ingat, Ki Marta! Kau sudah terima upahnya! Mau sakit, kek.... Mau
mati, kek.... aku tidak peduli! Yang penting, kau harus bekerja seperti
biasanya! Mengerti?!"
Ki Marta
menelan ludah, lalu menganggukkan kepala berulang-ulang.
"Bagus!"
Setelah berkata
demikian, tubuh kakek itu diturunkan. Tapi kerena keadaan kakek itu yang memang
sedang sakit, apalagi baru saja mendapat sodokan lutut yang amat keras, begitu
diturunkan Ki Marta langsung sempoyongan dan jatuh berdebuk di lantai.
Melihathal itu,
Sagar menggeram.
"Bangun, Ki Marta! Cepat...! Kita pergi sekarang, sebelum kesabaranku
hilang...!" ancam Sagar tak sabar.
Tubuh Ki Marta
menggigil. Kedua tangannya bergetar keras, ketika mencoba bertumpu pada kedua
tangannya untuk bangkit. Tapi betapapun berusaha, kondisinya yang tidak
memungkinkan menggagalkan usahanya.
Melihat hal ini
Sagar menjadi tidak sabar. Untuk yang kesekian kalinya, kakinya kembali
bergerak
Buk!
Dengan telak
tendangan Sagar menghantam perut Ki Marta. Untung saja si kepala botak ini
tidak mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kalau tidak, tentu kakek yang sial
itu tewas! Tapi meskipun demikian, tak urung tubuh Ki Marta terlempar dan
terguling-guling.
"Rupanya
kau memang sudah bosan hidup, tua bangka! Dasar tidak tahu diuntung! Tapi
jangan harap akan mati dengan enak! Kau akan kusiksa dulu sebe-lum
kubunuh!"
Setelah berkata
demikian, Sagar bergerak menyusul tubuh kakek itu.
"Hup...!"
Dengan kaki,
dicungkilnya tubuh terkapar yang berusaha bangkit. Tubuh tua itu melayang ke
atas. Di saat itu, sapuan kaki laki-laki berkepala botak menyambutnya.
Buk...!
Kini pinggul Ki
Marta yang mendapat giliran. Cukup keras, sehingga membuat tubuh yang sedang
berada di udara itu meluruk ke luar.
Brukkk...!
Tubuh kakek itu
jatuh deras mencium tanah. Keras bukan main. Tapi Ki Marta rupanya termasuk
orang yang keras hati. Buktinya ia kembali berusaha bangkit. Darah segar
menetes keluar dari sela-sela bibirnya ketika dirinya memaksakan untuk bangkit.
"Hekh...!"
Ki Marta
memekik tersendat. Dirasakan adanya sebuah kaki yang menekan punggungnya.
Dengan susah payah laki-laki tua itu menolehkan kepalanya untuk mengetahui
siapa pemilik kaki itu.
"Ha ha
ha...!"
Sebuah tawa
tergelak dari mulut orang yang menjejak punggung
Ki Marta ketika wajahnya
bertatapan dengan wajah tua renta itu. Seraut wajah kasar, bertotol-totol
hitam. Gurat, namanya.
"Uhk...
uh...."
Suara napas Ki
Marta tersendat-sendat ketika kaki itu kian keras menekan.
"Ha ha
ha...!" Sagar juga tertawa terbahak-bahak. "Rupanya kau pun tidak ingin
ketinggalan, Adi Gurat!"
"Begitulah,
Kang Sagar!" jawab si wajah totol-totol hitam yang bernama Gurat seraya kian
menambahkan tenaga pada kakinya. Karuan saja hal ini membuat napas Ki Marta
kian tersendat-sendat
Tuk!
"Akh...!"
Tiba-tiba Gurat
memekik. Ternyata sebuah kerikil kecil
sebesar kuku jari tangan, telah menghantam tulang kering kakinya yang tengah
menekan punggung Ki Marta. Keras bukan main, sehingga membuatnya terlonjak
keras dan melepaskan tekanannya.
Laki-laki
berwajah kasar itu kontan meloncat-loncat dengan satu kaki. Kedua tangannya
memegangi kaki yang terkena sambitan kerikil itu. Sakit sekali rasanya.
"Keparat!"
Sagar yang juga melihat sambaran batu kerikil itu berteriak memaki. Diarahkan pandangannya ke tempat batu kerikil itu
berasal.
Pandangannya langsung tertumbuk pada seorang pemuda berusia sekitar
dua puluh tahun, yang berdiri dalam jarak sekitar tiga tombak darinya. Yang
aneh pada diri pemuda itu adalah rambutnya yang meriap dan berwarna putih
keperakan.
"Siapa
kau?! Mengapa mencampuri urusan kami?!" bentak Sagar penuh ancaman.
"Aku tidak
berniat mencampuri urusan kalian, tapi hanya menentang kesewenang-wenangan yang
terjadi di depan mataku!" jawab pemuda itu.
"Hm...,
rupanya kau seorang pendekar?!" tanya si kepala botak itu. Nada suaranya
penuh ejekan. Ia memang tidak tahu berhadapan dengan siapa.
Merah wajah
pemuda yang ternyata Arya Buana atau yang lebih dikenal berjuluk Dewa Arak itu.
"Sebutan
itu terlalu tinggi, Kisanak."
"Pergilah
kau cepat, Anak Muda! Aku kasihan padamu! Sudah terlalu banyak pahlawan
kesiangan yang membuang nyawa percuma di sini! Apakah kau ingin menambah jumlah
mereka dengan membela ka-kek pemalas ini?!"
"Apa boleh
buat!?" ujar Arya sambil mengangkat bahu. "Aku tidak bisa tinggal
diam melihat kekejaman berlangsung di depan mataku!"
Baru saja Arya
menyelesaikan ucapannya, Gurat yang kini kakinya telah sembuh seperti
sediakala, telah menerjangnya dengan pukulan keras dan bertubi-tubi.
Sekali lihat
saja Dewa Arak telah mengetahui kalau kepandaian yang dimiliki laki-laki
berwajah totol-totol hitam ini masih amat rendah.
Buk! Buk!
Buk...!
Berkali-kali
pukulan itu mendarat telak di sekujur tubuh Dewa Arak yang berdiri diam tidak
mengelak. Dibiarkan saja pukulan Gurat menghujani tubuhnya. Dengan tenaga dalam
amat kuat dan disalurkan ke bagian tubuh yang dijadikan sasaran pukulan, semua
pukulan Gurat tidak berarti apa-apa bagi Arya.
"Ah...!"
Gurat memekik
kaget. Kedua tangannya terasa bukan tengah memukuli tubuh manusia, melainkan
gumpalan baja yang keras bukan main. Bahkan kini kedua kepalan tangannya
menjadi bengkak-bengkak!
Melihat
kekejaman Gurat yang menyiksa orang tua tidak berdaya, membuat Dewa Arak
bermaksud memberi pelajaran cukup keras padanya. Setelah membiarkan lawan puas
memukuli, tangan Arya ber-gerak cepat.
"Hugh...!"
Gurat memekik
tertahan ketika pukulan Dewa Arak telak menghantam perutnya. Seketika tubuhnya
terbungkuk, dan perutnya terasa mulas.
Untung saja
Dewa Arak hanya mengerahkan sebagian kecil tenaga dalamnya. Kalau saja
dikerahkan seluruhnya, tentu laki-laki berwajah totol-totol hitam itu tewas
dengan dada remuk!
Dan kini Dewa
Arak tidak berhenti sampai di situ saja. Tangannya
cepat kembali bergerak, menampar.
Plak...!
Telak sekali
tamparan itu mendarat di pipi. Seketika itu juga tubuh Gurat melintir, kemudian
jatuh berdebuk di tanah. Rasa pusing yang amat sangat menyergap kepala
laki-laki itu. Beberapa saat lamanya dia terduduk diam, tidak mampu bangkit
kembali.
Sagar
terperanjat sekali melihat kejadian yang tidak disangka-sangka itu. Dia tahu
betul kalau tingkat kepandaian Gurat, hanya sedikit di bawahnya. Maka dapat
dibayangkan betapa kaget hatinya melihat kawannya begitu mudah dirubuhkan.
Sebaliknya
Gurat merasa penasaran bukan main. Dia tidak bisa menerima kekalahan yang
begitu mudah, oleh seorang pemuda berambut putih keperakan di hadapannya. Itulah sebabnya dia
menggeleng-geleng untuk mengusir rasa pening yang menggayuti kepalanya.
Setelah
dirasakan peningnya lenyap, segera laki-laki berwajah totol-totol hitam ini
bangkit berdiri.
Dan....
Srat...!
Gurat menghunus
senjatanya, sebuah golok panjang yang matanya bergerigi mirip gergaji.
Kemu-dian....
"Hiyaaa...!"
Sambil mengeluarkan teriakan keras,
dibabatkan goloknya ke arah leher Dewa Arak.
Sementara, Dewa
Arak hanya mengerutkan keningnya melihat sikap keras kepala Gurat. Perasaan
tidak senangnya semakin bertambah. Kelihatannya si wajah totol-totol hitam ini
benar-benar tidak peduli kalau dia telah
bersikap lunak. Maka Arya memutuskan untuk memberi pelajaran yang lebih keras
lagi.
Dewa Arak
benar-benar membiarkan saja babatan golok itu. Dan ketika serangan itu dekat,
tangan kirinya bergerak ke arah sambaran golok itu.
Tap...!
Gurat terperanjat
melihat goloknya tahu-tahu telah terjepit dua buah jari tangan kiri Dewa Arak.
Segera dikerahkan tenaga dalamnya untuk menarik goloknya, sekaligus hendak
membabat putus jari-jari lawan.
Tapi walaupun
si wajah totol-totol hitam ini me-ngerahkan seluruh tenaga yang dimiliki, tetap
saja golok itu sama sekali tidak bergeming dari jepitan jari Dewa Arak.
Tiba-tiba tanpa diduga-duga, Dewa Arak
menggerakkan jari-jarinya. Terdengar suara berdetak nyaring, ketika golok
bermata gergaji itu patah dua. Dan tiba-tiba saja tubuh Gurat terjengkang,
akibat tarikan goloknya.
Brukkk...!
Tak pelak lagi,
tubuh laki-laki kasar itu terjatuh di tanah cukup keras. Terbukti begitu
bangkit kembali, ia meringis-ringis. Dipegangi pinggulnya yang tadi menghantam
tanah.
"Keparat...!" Gurat berteriak memaki. Ditolehkan kepalanya ke
arah Sagar yang masih berdiri terkesima. Kejadian demi kejadian yang disaksikan
membuat laki-laki berkepala gundul itu terkesima.
"Apa yang
kau tunggu, Kakang Sagar! Ayo bantu aku menghajar orang sok ini!"
Teriakan Gurat menyadarkan Sagar dari terkesimanya. Segera dicabut
trisulanya yang sejak tadi ditancapkan di tanah.
Wuk! Wuk!
Wuk...!
Senjata pendek
bermata tiga itu diputar-diputar. Angin menderu keras begitu senjata andalan
itu digerakkannya.
"Hiyaaa...!"
Sagar berteriak
keras sambil menusukkan trisula itu ke dada Dewa Arak. Berbarengan dengan itu,
serangan golok bermata gergaji milik Gurat yang kini telah tinggal setengah,
juga menyambar tiba.
Dan kini,
kesabaran Dewa Arak pupus! Kedua orang lawannya ini benar-benar tidak tahu
diri, sehingga harus diberikan pelajaran yang lebih keras agar kapok. Tapi
tentu saja, menghadapi lawan yang memiliki kepandaian seperti Gurat dan Sagar,
Dewa Arak tidak mengeluarkan ilmu andalan. Dia hanya mengeluarkan ilmu warisan
ayahnya, 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Kedua tangannya bergerak cepat,
mencari sasaran.
Tap...! Tap...!
Tanpa mengalami
kesulitan sedikit pun, kedua senjata itu telah berhasil ditangkap Dewa Arak.
Belum lagi kedua orang lawannya itu berbuat sesuatu, Arya segera menggerakkan
tangannya.
Buk...! Tuk…!
"Uhk...!" "Hugh...!"
Sagar dan Gurat
mengeluh tertahan ketika gagang senjata masing-masing begitu keras menghantam dada mereka sendiri. Arya
memang menyodokkan senjata-senjata yang ditangkap ke arah perut lawan.
Beberapa saat
lamanya keduaorang laki-laki itu terbungkuk-bungkuk memegangi perutnya. Cairan
merah kental nampak di sudut bibir mereka. Sodokan itu keras bukan main! Memang
kali ini Dewa Arak se-dikit menambah tenaganya dalam serangan itu.
Kini, Sagar dan
Gurat baru menyadari kalau pemuda berambut putih keperakan itu sama sekali
bu-kan tandingan mereka. Apalagi ketika melihat lawan yang menggerakkan sedikit
jari-jarinya, telah membuat senjata mereka patah-patah. Seolah-olah yang dipatahkan pemuda itu hanya sebatang lidi saja! Jadi,
meneruskan pertarungan sama saja mencari mati.
Maka, Sagar dan
Gurat tidak mau bertindak bodoh! Apalagi ketika melihat lawan tidak melanjutkan
serangannya, dan hanya berdiri menanti. Jelas kalau pemuda itu memang tidak
berniat mencari-cari urusan. Dan tanpa malu-malu lagi, dengan langkah kaki
tertarih-tatih mereka meninggalkan tempat itu. Namun demikian tetap saja ada
perasaan cemas kalau-kalau pemuda sakti itu tidak membiarkan mereka pergi.
Legalah hari Sagar dan Gurat ketika melihat
Dewa Arak sama
sekali tidak menahan kepergian mereka. Sebaliknya pemuda itu malah menghampiri
tubuh Ki Marta yang tergolek di tanah dengan napas satu-satu.
Sekali lihat
saja Dewa Arak tahu kalau nyawa kakek ini tidak mungkin diselamatkan lagi.
Luka-luka akibat siksaan tadi terlalu parah. Apalagi itu terjadi sewaktu ia
sedang sakit cukup parah.
"Terima.,.,
kasih atas..., pertolonganmu, Anak Muda. Hhh...," ucap kakek itu
terengah-engah. "Tapi..., kusarankan kau..., cepatlahhh pergi... dari
si... nii..."
"Sudahlah,
Kek. Kakek tidak boleh banyak bicara. Kakek harus beristirahat. Luka-luka Kakek
sangat parah," Dewa Arak yang merasa tidak tega, berusaha mencegah.
Ki Marta
menggelengkan kepalanya. Terpaksa Dewa Arak menempelkan kedua tapak tangannya
ke punggung kakek itu, agar kondisinya jadi lebih baik.
Cukup lama juga
Arya menyalurkan hawa murni ke tubuh kakek itu. Setelah dirasakan cukup, baru
dilepaskan tangannya.
"Katakanlah,
Kek. Apa yang hendak Kakek sam-aikan padaku?" pinta Dewa Arak
terburu-buru. Pemuda berbaju ungu ini tidak ingin kakek itu mati sebelum apa
yang hendak diutarakannya tersampaikan.
Ki Marta
tersenyum. Dirasakan keadaannya sudah lebih baik sekarang.
"Pesanku
hanya singkat, Anak Muda. Pergilah cepat dari sini!"
"Mengapa,
Kek?"
"Desa ini
penuh orang jahat! Kepala desa yang sekarang juga bekas penjahat. Dulu sewaktu
yang menjadi Kepala Desa Gebang ini Ki Panjar, desa ini aman tenteram. Tapi
sejak Toga yang menjadi kepala desa, keadaan berubah banyak! Dengan kekerasan,
diambilnya semua yang jadi milik kami. Sawah, ladang, ternak, bahkan anak gadis
dan istri-istri kami. Penduduk desa hanya menjadi orang upahan. Bekerja di
ladang dan di sawah dengan upah yang mencekik leher. Setiap hari kami harus
bekerja. Kalau sawah kebetulan tidak panen, maka kami diperintahkan bekerja di
ladang, atau beternak. Sakit tidak bisa menjadi halangan. Pokoknya harus
bekerja! Tadi kebetulan aku terserang sakit, dan kedua orang itu datang dan memaksaku
harus bekerja. Dan seterusnya seperti yang kau lihat sendiri, Anak Muda."
Kepala Dewa
Arak terangguk-angguk. "Siapa Toga itu, Kek?"
"Kepala
keamanan desa ini, Anak Muda," jelas Ki Marta.
"Lalu,
kepala desa yang dulu ke mana, Kek?" ta-nya Arya tidak mengerti
"Ki
Panjar, maksudmu?" "Ya."
Kakek itu menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Beliau telah tewas."
"Tewas?!"
Arya Buana mengerutkan keningnya. "Mengapa?"
Ki Marta
mengangguk. "Menurut cerita Toga, se-waktu mereka sedang berburu, segerombolan
perampok menyerang. Tentu saja Toga dan para pengawal yang lain tidak tinggal
diam. Tapi karena jumlah perampok yang terlalu banyak, mereka jadi tidak bisa
melindungi Ki Panjar dan anak istrinya. Setelah melalui sebuah pertarungan
sengit, akhirnya mereka berhasil mengusir gerombolan perampok itu. Tapi, Ki
Panjar dan istrinya tewas. Sementara anaknya dibawa kawanan perampok itu."
Dewa Arak
mengerutkan keningnya. "Apakah para penduduk desa percaya?"
"Mulanya
percaya. Maka kami percayakan kedudukan kepala desa kepadanya. Karena memang
menurut kami, dialah yang paling pantas menjabat kedudukan itu. Tapi siapa
sangka kalau jadi begini akibat-nya. Belakangan kami semua jadi curiga,
jangan-jangan tewasnya Ki Panjar pun sudah direncanakan."
Dewa Arak
tercenung diam.
"Yang
lebih gila lagi, Toga membangun rumah-rumah judi dan pelacuran di desa ini.
Akibatnya sudah jelas. Banyak orang yang berdatangan ke desa ini. Sebagian
besar adalah orang yang terbiasa bertindak kasar. Maka tak heran jika sering
terjadi bentrokan di antara mereka. Desa ini sudah tak ubahnya neraka! Uhk...
uhk...!"
Tiba-tiba saja Ki Marta terbatuk-batuk. Beberapa titik
cairan merah kental memercik keluar dari mulutnya. Melihat hal ini, Dewa Arak
sadar kalau waktu kematian untuk kakek itu sudah hampir tiba. Dan tidak ada
lagi yang dapat dilakukannya.
Dugaannya
memang tidak meleset. Beberapa saat setelati terbatuk-batuk untuk yang kesekian
kalinya, tubuh Ki Marta terkulai lemas. Kakek ini pun pergi untuk
selama-lamanya.
***
Arya termenung
memandangi gundukan tanah merah yang terpampang di hadapannya. Di situlah mayat
Ki Marta dikuburkan. Beberapa saat lamanya kepalanya tertunduk.
"Maafkan
aku, Ki," bisik Dewa Arak pelahan. "Aku tidak dapat melaksanakan
pesanmu untuk pergi dari sini. Tidak bisa kutinggalkan desa ini begitu saja.
Aku akan berusaha menumpas kejahatan yang berse-mayam di sini, apa pun
akibatnya."
Setelah berkata
demikian, Dewa Arak melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu Pikirannya
bekerja keras. Memang sejak pertama kali memasuki pintu gerbang desa, sudah
timbul rasa curiga di hatinya.
Desa yang kini
diketahui bernama Desa Gebang ini, berbeda dengan desa-desa yang biasa
disinggahinya. Desa ini terlalu banyak dimasuki orang luar. Dan jika ditilik
dari gelagatnya, mereka adalah orang-orang yang terbiasa bertindak kasar. Kini
kecurigaannya ternyata beralasan.
Oleh karena
itu, Dewa Arak memutuskan untuk tinggal di desa ini beberapa waktu lamanya.
Barangkali saja tenaganya bisa diperlukan di sini.
3
Brakkk...!
Sebuah meja
bundar besar dari batu marmer, kontan retak ketika tangan seorang lelaki tinggi
besar berkumis melintang, menghantamnya.
"Bodoh!
Dungu kalian...!" teriaknya keras. Sepasang matanya menatap penuh
kemarahan pada dua sosok tubuh yang terduduk dengan kepala tunduk.
"Sagar!
Gurat! Ceritakan sejelas-jelasnya semua yang terjadi! Memalukan! Kalian pulang
seperti seekor anjing dipukul ekornya!"
Dua sosok tubuh
yang tengah mendapat pelampiasan kemarahan itu ternyata Sagar dan Gurat. Dan
kini mereka baru berani mengangkat kepalanya. Kemudian dengan jelas, Sagar
menceritakan kejadian yang menimpa mereka.
"Seorang
pemuda? Kira-kira berapa usianya?" tanya si kumis melintang yang
ternyataToga. Suaranya terdengar mulai melunak. Terbayang kembali di benaknya,
seorang anak berusia sekitar sebelas tahun yang lolos dari tangan mautnya
beberapa tahun yang lalu. Bukan tidak mungkin kalau pemuda yang mengalahkan
Gurat adalah anak itu, anak Ki Panjar.
Gurat mengerutkan alisnya. Sejenak ia mengingat-ingat
"Sekitar..., dua puluh tahun, Tuan."
Toga menolehkan
kepalanya ke belakang, menatap sosok
tubuh tegap berwajah mirip kera, yang tengah duduk di sebuah kursi. Keningnya
berkernyit.
"Apakah
bukan anak Ki Panjar, Kang Gajula?" tanya Toga mengemukakan dugaan yang
sejak tadi berkecamuk di benaknya. Agak heran juga hatinya melihat sikap
kakaknya kali ini.
Laki-laki yang wajahnya mirip
kera itu membalas tatapan
Toga. Beberapa saat lamanya sepasang matanya terpaku pada wajah si kumis
melintang itu, lalu pelahan kepalanya menggeleng.
"Aku yakin
bukan...," sahut Gajula dengan suara mengambang.
"Lalu
siapa?" tanya Toga putus asa.
"Lebih
jelasnya akan kita ketahui nanti. Tapi ciri-ciri pemuda yang dikemukakan Sagar,
mengingatkan aku pada seorang tokoh muda yang namanya belum lama ini
menggemparkan dunia persilatan."
Toga
mengerutkan alisnya. "Siapa yang kau maksud, Kang?"
Gajula sama
sekali tidak mempedulikan pertanyaan itu, tapi sebaliknya malah dialihkan
pandangannya pada Sagar.
"Ada satu
ciri yang mungkin belum kau ceritakan, Sagar," tegas laki-laki berwajah
kera itu.
Sagar
mengerutkan alisnya, mencoba mengingat-ingat. Tapi sampai lelah mengingat,
tetap saja tidak menemukan lagi ciri yang lainnya.
"Bagaimana
dengan kau, Gurat?" tanya Gajula pada si wajah totol-totol hitam. Tapi
setelah sekian lama menunggu, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.
Gurat berusaha keras mengerahkan segenap ingatannya, tapi akhirnya
menggelengkan kepalanya juga.
"Hhh...!"
Gajula menghela napas. "Mungkin aku salah. Tapi coba kalian ingat-ingat,
apakah pemuda itu membawa guci arak?!"
"Guci?!"
serentak Sagar dan Gurat berseru kaget. Berbareng keduanya saling pandang, dan
kontan teringat sesuatu. Memang, di punggung pemuda berambut putih keperakan
itu tergantung sebuah guci arak.
"Ya! Guci
arak!" tegas Gajula. "Bagaimana? Ada atau tidak?"
Sagar
menganggukkan kepalanya.
"Katakan
yang jelas! Atau kau ingin menjadi orang bisu selamanya?!" sentak Gajula.
Dingin dan datar suaranya.
Wajah Sagar
kontan memucat. Tenggorokannya terasa kering. Dia tahu betul siapa Gajula itu.
Tokoh ini adalah kakak kandung Toga. Dulu, seperti yang didengar dari cerita
Toga, Gajula tidak selihai sekarang. Tapi, kini tahu-tahu muncul dan memiliki
kepandaian luar biasa.
Tapi bukan
karena kepandaiannya yang membuat Sagar gentar, melainkan kekejamannya! Si
wajah kera ini memiliki sifat yang luar biasa kejam!
"Benar, Kang,"
jawab Gurat dengan suara gemetar.
"Betul
dugaanku!" teriak Gajula keras.
"Siapa
orang itu, Kang?" tanya Toga penasaran. "Pernah dengar julukan Dewa
Arak?!" kata
Gajula balik
bertanya.
Toga
mengerutkan alisnya.
"Sedikit"
Gajula menghelanapas dalam-dalam. "Kau ketinggalan berita, Toga. Julukan
Dewa
Arak terkenal
sekali. Banyak tokoh tangguh yang telah roboh di tangannya. Aku ragu, apakah
mampu menandinginya."
Dahi Toga
mengernyit. Agak heran hatinya meli-hat sikap Gajula yang tidak seperti
biasanya. Sampai di manakah kelihaian tokoh yang berjuluk Dewa Arak itu? Batin
Toga terus menduga-duga.
"Mengapa
belum apa-apa sudah khawatir, Kang?" tegur Toga dengan nada halus.
"Apakah Kakang sudah pernah bertarung dengannya?"
Gajula
menggelengkan kepalanya. "Melihat dia bertarung?"
Lagi-lagi si
wajah kera menggeleng.
"Lalu,
mengapa khawatir, Kang? Berita yang tersebar itu belum tentu benar. Andaikata
benar, Dewa Arak mampu mengungguli Kakang, tapi mustahil akan mampu menghadapi kita
berdua. Aku tidak percaya kalau ilmu yang diberikan gurumu, dan telah kupelajari
dengan tekun darimu, dapat dikalahkannya."
Si wajah kera
termenung beberapa saat lamanya. Dipikir-pikir ada benarnya juga semua yang
dikatakan Toga. Tapi baru saja Gajula menarik napas lega, seorang anak buah
Toga menghambur masuk. Napasnya tampak terengah-engah.
"Ada orang
mengamuk di luar, Tuan," lapor orang itu terputus-putus.
"Keparat!"
Toga berteriak memaki. "Kalian tidak mampu meringkusnya?! Apa saja yang
kalian mampu, heh?!"
"Ampun,
Tuan. Mereka memiliki kepandaian tinggi."
"Mereka?"
berkerut alis Toga. "Berapa jumlahnya?"
"Dua
orang, Tuan."
Belum juga
habis ucapan orang itu, tubuh Toga dan Gajula telah berkelebat lenyap dari
situ. Kema-rahan yang hebat telah membakar hari mereka. Belum juga urusan
mengenai Dewa Arak selesai, kini muncul kembali urusan lain.
Sagar dan Gurat
saling pandang sebelum akhirnya melesat ke luar, tak ketinggalan juga orang
yang tadi melapor.
Toga dan Gajula
berdiri di ambang pintu. Di depan mereka, di halaman luas yang dikelilingi
pagar tembok tinggi, terlihat dua sosok tubuh yang tengah mengamuk. yang
seorang adalah pemuda berusia sekitar dua puluh satu tahun. Tubuhnya tinggi
besar dan kekar. Wajahnya cukup tampan walaupun hidungnya melengkung. Pemuda
ini tak lain adalah Sapta.
Sedangkan yang
seorang lag! adalah gadis berusia sekitar dua puluh tahun. Tubuhnya kecil
ramping, dan rambutnya digelung ke atas. Wajahnya cantik. Apalagi dengan
pakaian warna jingga yang dikenakannya. Gadis ini adalah Kami, putri angkat
Pengemis Tongkat Merah.
Toga dan Gajula
memperhatikan dua orang itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sementara itu
muda-mudi asuhan Pengemis Tongkat Merah terus mengamuk dahsyat dengan senjata
di tangan masing-masing. Ke mana senjata itu berkelebat, pastilah di tempat itu
ada sesosok tubuh yang rubuh diiringi suara pekik lengking kesakitan.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Jerit lengking
kematian terdengar saling susul Toga dan Gajula memandang mayat-mayat yang
bergelimpangan di atas tanah dengan sinar mata kemerahan. Di wajah mereka
terpancar kemarahan yang amat sangat. Dan gigi-gigi mereka pun
bergemeletuk menahan geram.
"Keparat!"
teriak Toga geram. "Mundur...!" Belasan sosok tubuh yang sedang
mengeroyok itu pun bergegas mundur. Kedua murid Pengemis Tongkat Merah itu
membiarkan saja. Terlebih Sapta. Keroco-keroco itu memang bukanlah tujuannya.
Toga dan Gajulalah yang dicari-cari! Sepasang mata pemuda itu berkilat-kilat
tajam melihat dua orang musuh berada di depannya.
"Kau masih
ingat padaku, pengkhianat?!" bentak pemuda tinggi besar dan kekar ini.
Jari telunjuknya menuding ke arah Toga. Keras dan kasar suaranya.
Seketika merah wajah Toga, mendengar
pertanyaan yang bemada kasar itu. Apalagi melihat jari yang menuding ke
arahnya.
"Untuk apa
aku mengingat anjing buduk sepertimu?!" balas Toga tak kalah kasar.
Sapta
menggertakkan giginya. "Aku putra Ki Panjar yang kalian bunuh secara licik
itu, akan menagih hutang!"
"Ha ha
ha...!" Toga tertawa bergelak. "Pucuk dicinta ulam tiba. Tanpa perlu
bersusah payah mencari, kau datang sendiri kemari. Sekarang juga akan
kutuntaskan pekerjaanku sepuluh tahun yang lalu."
"Tutup
mulutmu, pengkhianat! Sekarang kau harus membayar hutang nyawa atas kematian
ayah ibu-ku!"
Setelah berkata
demikian, pemuda tinggi besar dan kekar ini melompat menerjang. Jari-jari kedua
tangannya terbuka dan saling bersilang menyerang ke arah dada.
Wut...!
Angin keras
berhembus mengiringi tibanya serangan itu. Pertanda kalau serangannya ditunjang
tenaga dalam tinggi.
Toga hanya
mendengus. Kepandaian yang dimiliki laki-laki itu sekarang tidak bisa disamakan
dengan sepuluh tahun yang lalu. Selama itu Gajula telah membimbingnya. Sehingga
kini kepandaian yang dimilikinya meningkat pesat. Jadi memang, Toga bukanlah
tokoh kosong.
"Haaat...!"
Kepala Desa
Gebang ini berteriak keras. Kedua tangannya dalam posisi jari yang sama
digerakkannya.
Prattt..!
Dua pasang
tangan yang sama-sama mengandung tenaga dalam tinggi beradu. Akibatnya tubuh
Sapta tergetar hebat, sementara tubuh Toga terhuyung dua langkah ke belakang. Sekujur tangannya terasa sakit bukan
main.
Wajah Toga
langsung berubah. Sungguh tidak disangka kalau tenaga dalam yang dimiliki putra
Ki Panjar ini sedemikian hebatnya. Padahal selama se-puluh tahun, ia sudah
berlatih keras di bawah bimbingan kakaknya.
Sapta yang
memang menyimpan dendam hebat, tidak membiarkan lawannya menarik napas. Pemuda itu
cepat melompat, dan laksana seekor burung garuda ia menerkam lawannya.
Kepala Desa
Gebang ini kaget. Tapi untunglah kekagetan itu tidak membuatnya gugup.
Buru-buru dilempar tubuhnya
ke depan, dan kemudian bergulingan menjauh.
Sehingga serangan Sapta mengenai tempat kosong.
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara, kedua kaki Sapta mendarat di tanah. Secepat kakinya hinggap, secepat itu
pula kembali menerjang Toga. Tapi Toga yang sekarang sudah mengetahui kelihaian
lawannya, tidak berani bertindak gegabah. Dan kini keduanya sudah terlibat
dalam sebuah pertarungan seru.
Begitu melihat
Sapta telah menyerang lawannya, Kami pun tidak tinggal diam. Seketika
diserangnya pula orang berwajah kera yang berada di sebelah si kumis melintang.
Seperti halnya Sapta, Kami juga membuka serangannya dengan serangan kedua
tangannya. Posisi jari-jarinya terbuka dan saling bersilang.
Persis seperti
yang dilakukan Toga, Gajula pun melakukan tindakan serupa untuk menangkis serangan
Kami.
Prattt...!
Tubuh Kami
terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara Gajula hanya terhuyung satu
langkah ke belakang. Dari hasil benturan kedua pasang tangan itu dapat
diketahui kalau tenaga dalam yang dimiliki Gajula masih lebih unggul sedikit.
Gajula sadar
kalau wanita di hadapannya adalah lawan yang tangguh. Maka laki-laki kasar itu
tidak mau bersikap sungkan-sungkan. Begitu tubuh gadis itu terhuyung mundur,
segera dia bergerak mengejar. Kedua
kakinya melakukan tendangan bertubi-tubi
ke depan.
Plak! Plak!
Wusss...!
Tendangan
pertama yang berupa tendangan lurus ke depan, disusul tendangan miring ke arah
leher dapat ditangkis Kami. Dan tendangan ketiga, berupa kibasan kaki yang
dilakukan sambil membalikkan tubuh juga bisa dielakkan gadis itu dengan
membungkukkan tubuh.
Tak lama
kemudian, Kami dan Gajula pun sudah terlibat dalam suatu pertarungan yang seru.
***
Sementara itu
di arena lain, Toga tampak mulai terdesak ketika melewati dua puluh lima jurus.
Me-mang bila dibanding Sapta, ia masih kalah segala-galanya. Baik dalam hal
tenaga dalam maupun dalam hal ilmu meringankan tubuh.
Bahkan
menjelang jurus ketiga puluh, Toga hanya mampu bertahan dan mengelak. Dia hanya
sesekali balas menyerang. Itu pun hanya untuk mengurangi desakan yang
menderu-deru dari pemuda berhidung melengkung ini.
Toga menggeram. Disadari kalau lama-kelamaan dtrinya akan roboh di tangan
pemuda ini. Semakin lama keadaannya kian terjepit. Kini Kepala Desa Gebang itu
benar-benar hanya mampu bermain mundur.
Berbeda dengan
Sapta, keadaan yang dialami Kami malah sebaliknya. Putri angkat Pengemis
Tongkat Merah ini kewalahan menghadapi hujan serangan Gajula. Hanya saja
keadaannya tidak separah Toga. Gadis itu masih mampu membalas serangan si wajah
kera dengan serangannya yang tak kalah dahsyat.
Keringat dingin sebesar-besar
biji jagung bermunculan di
sekujur wajah Toga. Semakin lama keadaannya semakin terjepit. Bahkan sudah
beberapa kali tubuhnya terpontang-panting.
Pada jurus
ketiga puluh, sebuah sapuan kaki Sapta membuat kepala desa ini terpelanting,
dan jatuh telentang.
"Haaat..!"
Sambil
berteriak melengking nyaring, putra Ki Panjar ini menerkam tubuh Toga.
Mata si kumis
melintang terbelalak lebar. Tak ada kesempatan lagi baginya untuk mengelakkan
serangan itu atau menangkisnya, karena begitu tiba-tiba datangnya.
"Ha ha
ha...!"
Tiba-tiba
terdengar suara tawa bergelak, dan belum lagi habis gemanya, di tempat itu
telah berdiri sesosok tubuh tinggi besar. Sekitar satu setengah kali manusia
sewajarnya. Rambutnya panjang, lebat, dan terurai. Wajahnya penuh cambang
lebat. Sekujur badan bagian depannya nampak dipenuhi bulu, karena si raksasa
memang bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana berwarna hitam sebatas
lutut. Di bagian lehernya terdapat sebuah kalung yang rantainya tersusun dari
rangkaian tulang jari tangan manusia. Sedangkan mata kalung itu dibuat dari
kepala manusia dewasa.
Secepat berada
di situ, secepat itu pula si raksasa menggerak-gerakkan pelahan tangannya. Tapi
akibatnya hebat sekali! Tubuh Sapta terlempar jauh ke belakang bagai dilanda
angin ribut.
Ketika berada
di situ, raksasa tersebut menggerakkan tangannya pelahan saja kea rah Sapta.
Tapi akibatnya hebat sekali! Tubuh Sapta seperti dipukul oleh godam yang sangat
kuat dan terlempar jauh ke belakang bagai dilanda angin ribut!.
Brakkk...!
Lontaran pada
tubuh pemuda itu terhenti ketika menabrak sebatang pohon hingga tumbang. Murid
Pengemis Tongkat Merah ini berusaha bangkit. Kedua tangannya yang dijadikan
tempat bertumpu itu terlihat menggigil keras. Ada cairan merah kental yang
mengalir dari sudut bibirnya. Kelihatannya Sapta terluka dalam.
"Ha ha
ha...!"
Kembali si
raksasa tertawa tergelak. Sapta menatapnya dengan hati ngeri. Disadari kalau
dirinya bukanlah tandingan manusia setengah raksasa ini. Hatinya mendadak
berdebar tegang ketika teringat penuturan gurunya tentang seorang tokoh yang
memiliki ciri-ciri seperti itu.
Diperhatikannya
si raksasa yang masih saja ter-tawa berkakakan sekali lagi. Pada kedua
pergelangan tangan dan kakinya tampak melingkar gelang yang terbuat dari
tulang-tulang jari tangan manusia.
"Raksasa
Rimba Neraka...," desis Sapta. Penge-mis Tongkat Merah memang pernah
menceritakan ten-tang tokoh sesat yang kejam, dan gemar makan daging manusia.
Tapi menurut cerita gurunya, raksasa itu tinggal di sebuah hutan yang amat jauh
letaknya dari Desa Gebang ini. Sebuah hutan yang penuh bahaya maut. Penuh
binatang besar, tanaman beracun, lumpur hidup, dan segala macam bahaya maut
lainnya. Sehingga, hutan itu dinamai orang Rimba Neraka.
"Grrrh...!"
si, raksasa menggeram. Tampak dua buah taring pada bagian sudut-sudut mulutnya.
"Da-gingmu past! empuk sekali, Anak Muda!"
Sambil berkata
demikian, si raksasa yang berjuluk Raksasa Rimba Neraka ini melangkah
lambat-lambat menghampiri Sapta. Setiap langkahnya menimbulkan getaran keras di
tanah.
Tubuh pemuda
tinggi besar ini menggigil keras. Memang diakui kalau tidak takut mati. Tapi
tak urung menghadapi kematian yang begitu mengerikan,
dimakan hidup-hidup, rasa takutnya pun muncul.
"Kakang...!"
"Hiyaaa...!"
Kami menjerit
melihat bahaya maut yang mengancam Sapta. Cepat-cepat dilentingkan tubuhnya
menghadang Raksasa Rimba Neraka. Sadar akan kelihaian lawan, sambil melompat
gadis itu segera mencabut pedangnya.
Singgg...!
Dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, pedang yang sudah
terhunus itu ditusukkan ke leher si raksasa.
Dengan mengerahkan sepenuh tenaganya, pedang yang sudah
terhunus itu ditusukkan ke leher si raksasa.
"Jangan,
Kami! Cepat kau pergi selamatkan diri!" Sapta yang tahu pasti kalau gadis
itu bukan tandingan Raksasa Rimba Neraka yang sakti, berteriak memperingatkan.
Tapi Kami
adalah gadis yang keras hari. Baginya mati bukan suatu hal yang perlu ditakuti.
Maka peringatan Sapta tidak digubrisnya.
"Ha ha
ha...!"
Raksasa Rimba Neraka kembali tertawa
bergelak. Diulurkan tangannya ketika serangan pedang Kami tiba.
Kreppp...!
Tanpa mengalami
kesulitan apa-apa, pedang itu sudah dicengkeramnya.
"Akh...!"
Kami menjerit
kaget. Sekuat tenaga gadis itu membetot pedang yang tercengkeram tangan raksasa
itu. Tapi betapapun segenap tenaganya telah dikerah-kan, tetap saja pedangnya
tak mampu dilepaskan dari cengkeraman tangan itu.
"Ha ha
ha...!"
Raksasa Rimba
Neraka hanya tertawa-tawa saja. Tak nampak ada tanda-tanda kalau dia
mengerahkan tenaganya. Sementara di hadapannya, Kami terus berusaha sampai
napasnya terengah-engah.
'Tidak kusangka, kalau malam ini aku mendapat santapan yang
istimewa. Seorang perawan cantik. Ha ha ha...!"
Wajah Gajula
berseri-seri ketika tadi melihat kedatangan si Raksasa Rimba Neraka. Karena
memang kakek yang memiliki penampilan mengerikan itu adalah gurunya! Namun
demikian, di samping rasa gembiranya, timbul pula rasa kecewanya. Kedatangan
gurunya berarti membuat laki-laki kasar itu kehilangan kesempatan untuk
menikmati tubuh montok Kami.
Gajula tahu
persis manusia macam apa gurunya. Di samping gemar makan daging manusia, kakek
ini pun gemar terhadap wanita!
"Akh...!"
Kami memekik
tertahan ketika tahu-tahu tubuhnya terlempar ke depan. Memang Raksasa Rimba
Neraka telah balas membetot. Dan karena tenaga yang dimilikinya kalah jauh,
gadis itu tidak kuasa menaha.
"Hiyaaa...!"
Putri Pengemis Tongkat Merah terpaksa melepaskan pedangnya. Dan dengan
meminjam tenaga betotan, gadis Itu bersalto di udara.
Raksasa Rimba
Neraka mendengus. Secepat kilat dijulurkan tangan kanannya ke atas.
Tappp...!
"Akh...!"
Kami memekik
tertahan ketika pergelangan kakinya tertangkap. Dan sekali si raksasa itu
menarik tangannya kembali, tubuh gadis itu pun terbawa turun.
"Hup...!"
Tubuh molek
Kami kini jatuh tepat di pelukan Raksasa Rimba Neraka. Dan sebelum gadis itu
sempat berbuat sesuatu, tangan si raksasa telah lebih dulu bergerak menotok
Tukkk...!
"Oh...!"
Sekujur tubuh
Kami lumpuh seketika. Dan sambil tertawa terkekeh-kekeh si raksasa mulai
menjarah sekujur tubuh Kami Dengan rakusnya, mulut besar dan bergigi kuning itu
melumat bibir Kami, begitu kasar dan buas.
"Oh...!
Jangan.... Bunuh saja aku...," rintih Kami. Gadis ini mulai menyadari
adanya ancaman yang mengerikan. Dan kesadaran akan terjadinya hal ini membuat
ia takut bukan main. Ciuman kasar raksasa itu membuatnya kehabisan napas. Bau
amis yang memuakkan keluar dari mulut dan hidung raksasa di hadapannya ini,
membuat gadis itu jadi ingin muntah.
Tapi orang
seperti Raksasa Rimba Neraka, mana sudi mendengar rintihan Kami! Bagi orang
sepertinya, rintihan para korbannya tak ubahnya sebuah rintihan kenikmatan,
yang membuatnya kian bergairah.
Ciuman-ciumannya
pun semakin kasar, seiring nafsu birahinya yang semakin berkobar.
Ciuman-ciumannya yang liar, kini tidak hanya menjarah bibir, tapi terus turun,
ke dagu, ke leher.
Kami yang
sekujur tubuhnya lumpuh, hanya dapat merintih-rintih tanpa mampu berbuat
apa-apa.
"Kami...!"
Sapta menjerit
keras. Pemuda ini menyadari betul ancaman mengerikan yang akan menimpa gadis
itu. Maka dengan penuh daya upaya, dicobanya menge-rahkan seluruh kemampuan
yang dimiliki. Sekujur tu-buhnya nampak menggigil keras dalam usaha berjuang
untuk bangkit
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba
Neraka menggeram hebat karena merasa terganggu. Dihentikan ciuman-ciuman
liarnya pada gadis yang masih dipeluknya.
"Rupanya
kau minta mati, heh?!" Brukkk...!
Tubuh Kami
jatuh berdebuk di tanah ketika si raksasa yang tengah murka ini melemparkannya.
De-ngan tangkah lambat-lambat, dihampirinya Sapta yang masih berusaha bangkit.
Melihat hal ini
Gajula buru-buru berlari menghampiri.
"Ampun,
Guru...."
Raksasa Rimba Neraka menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Gajula! Apa kau pun ingjn
kubunuh?!"
Pucat wajah
Gajula. Si wajah kera ini tahu pasti watak aneh gurunya. Bila kemarahannya
timbul, siapa pun tanpa kecuali akan dibunuhnya.
"Tentu
saja tidak, Guru...," ucap Gajula terputus-putus.
"Lalu?!
Kenapa kau menghalangiku membunuh bocah sial ini?" desak raksasa itu,
masih keras dan ka-sar nada suaranya.
"Maafkan
aku, Guru. Bocah ini adalah orang yang mencoba memberontak terhadap Adi Toga
yang merupakan murid Guru juga, karena aku telah mengajarkannya...."
"Aku sudah tahu dari jurus-jurus yang
dimainkannya! Maka karena itulah aku menolongnya!" selak Raksasa Rimba
Neraka.
Gajula
membasahi tenggorokannya yang dirasa-kan kering.
"Dan untuk
mencegah terjadinya pemberontakan serupa, serta juga untuk memancing kedatangan
kawan-kawannya, kami akan mengikatnya di alun-alun desa! Bahkan kami juga akan menyiksanya...! Harap Guru
maklum!"
Dahi si raksasa
berkerut dalam, dan rupanya tengah berpikir. Tak lama kemudian baru keluar
ucapannya.
''Terserah
padamu! Toh, aku sudah punya santapan yang luar biasa lezat untuk nanti
malam!"
Setelah berkata
demikian, Raksasa Rimba Neraka melangkahkan kakinya kembali. Dijumputnya
kembali tubuh Kami yang tergolek di tanah tanpa ada yang berani menyentuhnya.
"Hhh...!"
Gajula menghela
napas lega. Untunglah kali ini gurunya bersedia mengerti. Padahal hatinya tadi
sudah khawatir kalau-kalau Raksasa Rimba Neraka itu akan marah.
"Mari
istirahat di dalam, Guru," ajak Toga sambil mendahului masuk ke dalam.
Kini yakinlah kepala desa ini bahwa raksasa ini adalah guru Gajula. Walau
sebelumnya sudah diduga, ketika melihat ciri-cirinya, tapi Toga masih ragu.
"Seret si
keparat itu, dan ikat di alun-alun!" perintahToga pada anak buahnya.
"Baik, Tuan!"
sahut mereka mengiyakan.
***
Dewa Arak
mengerutkan keningnya. Agak heran hatinya melihat di depannya banyak orang
berkumpul, merubung sesuatu. Sepertinya ada sesuatu yang te-ngah mereka
saksikan. Rasa penasaran membuat Arya mempercepat langkah kakinya.
Pendengarannya yang tajam, menangkap adanya ledakan lidah cambuk Ada apa
gerangan di sana? Batin Dewa Arak terus bertanya-tanya.
Semakin
mendekati tempat kerumunan orang-orang itu, suara yang didengarnya pun semakin
jelas.
Ctarrr...!
Ctarrr...!
Kembali
terdengar ledakan cambuk itu. Dan kali ini karena jaraknya sudah dekat, di
samping suara ledakan cambuk juga terdengar keluhan tertahan. Keluhan
kesakitan.
Jiwa
kependekaran dalam diri Arya Buana pun bangkit. Tanpa melihat pun sudah dapat
menduga ke-jadian yang teriadi dalam kerumunan orang banyak itu. Apalagi kalau bukan tindak kesewenang-wenangan..
Tanpa
mempedulikan suara-suara bernada menggerutu, Dewa Arak menyeruakkan tubuhnya.
Disibakkan kerumunan orang-orang, lalu dia masuk terus ke dalam. Sesampainya di
bagian terdepan, wajah Dewa Arak memerah. Kemarahan menjalari hatinya. Tampak
seorang pemuda berwajah tampan dan berhidung melengkung tengah dihukum cambuk!
Tubuh pemuda
itu terikat erat di sebuah tonggak tegak lurus. Sinar matahari yang cukup terik
memanggang kulit dadanya yang tidak tertutup pakaian. Sementara di sebelahnya
berdiri seseorang bertubuh tinggi besar dan berkepala botak, tengah menggenggam
cambuk
Dewa Arak yang
pantang melihat kekejaman berlangsung di depan matanya, menjadi geram. Sekali
lihat saja pemuda berambut putih keperakan ini tahu kalau pemuda berhidung
melengkung itu telah menderita luka yang cukup parah. Apalagi ditambah
lecutan-lecutan cambuk yang terus-menerus
menyengatnya. Sekujur tubuhnya nampak dipenuhi garis hitam memanjang.
"Sungguh
tega hati kalian, menontoni orang disiksa," desis Dewa Arak tajam pada
salah seorang di sebelahnya.
Orang yang
mendapat teguran itu menoleh. Ditatapnya Arya lekat-lekat
"Rupanya
kau bukan penduduk sini, Kisanak! Perlu kau ketahui, kami pun sebenarnya tidak
suka melihat penyiksaan ini. Batin kami menjerit. Tapi apa daya? Kami hanya
orang lemah. Mereka memaksa un-tuk menonton penyiksaan ini. Kalau ada yang
membangkang, pasti akan bernasib serupa...," jelas orang itu dengan suara
berbisik.
"Ah...,"
Dewa Arak mendesah pelan. Seketika timbul perasaan malunya karena telah
melempar tuduhan jelek pada orang-orang yang selama ini hidup dalam keadaan
jiwa tertekan. "Maafkan saya, Ki...."
"Tidak
usah meminta maaf. Aku memaklumi perasaan yang bergayut di hatimu. Pesanku,
janganlah ikut campur, Kisanak. Mereka berjumlah banyak, dan rata-rata memiliki
kepandaian tinggi!"
Dewa Arak
terlongong. Trenyuh hatinya mendengar
penuturan orang itu. Dalam penderitaan, dia tidak ingin membuat orang lain ikut
menderita. Nasihat yang keluar dari mulut orang itu sama persis dengan nasihat
Ki Marta.
Tapi tentu saja
Dewa Arak tidak mau menuruti nasihat itu. Sejak belajar ilmu silat, dia telah
bertekad mengamalkan ilmu
yang dimiliki untuk menghancurkan keangkaramurkaan di mana pun. Sekalipun untuk
ituharus dibayar dengan nyawanya.
Ctarrr...!
Kembali untuk
yang kesekian kalinya ujung cambuk itu menyengat kulit Sapta. Pemuda itu
meringis. Tapi tidak terdengar suara keluhan yang keluar dari mulutnya.
Dan kini Dewa
Arak tidak bisa bersabar lagi. Tapi baru saja dia hendak bergerak menolong,
sesosok bayangan merah berkelebat mendahului. Seketika Arya menahan gerakannya.
Sosok bayangan
merah itu ternyata adalah se-orang kakek berusia sekitar enam puluh tahun.
Tubuhnya kurus kering, pakaiannya rompi penuh tambalan berwarna hitam. Begitu
pula celananya. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat berwarna merah.
"Guru...,"
desah Sapta lemah.
Ternyata
laki-laki tua itu adalah Pengemis Tongkat Merah. Ditatapnya orang yang memegang
cambuk, yang tak lain adalah Sagar! Dan tiba-tiba....
"Hiyaaat...!"
Sambil mengeluarkan pekik melengking nyaring,
kakek kurus kering ini menerjang maju. Tongkat merah yang terbuat dari kayu
biasa dan memiliki bentuk yang tak beraturan itu ditusukkan ke perut Sagar.
Angin keras
menderu, mengiringi serangan tong-katnya. Sagar kaget bukan main, lalu mencoba
menge-lak Tapi serangan Pengemis Tongkat Merah itu terlalu cepat baginya.
Buk!
"Akh...!"
Suara jerit
menyayat hari keluar dari mulut Sagar. Seketika tubuhnya terlempar ke belakang.
Dari mulut, hidung, dan telinganya mengalir mengalir darah segar.
Brukkk...!
Diiringi suara
berdebum keras, tubuh si kepala botak itu jatuh di tanah. Sebentar dia
menggelepar-gelepar, lalu diam tidak bergerak lagi untuk selamanya. Tulang
dadanya hancur berantakan terkena hantaman tongkat yang mengandung tenaga dalam
tinggi itu.
Usai merubuhkan
Sagar, Pengemis Tongkat Me-rah bergegas menghampiri Sapta yang terikat di
tonggak kayu. Tapi....
"Ha ha
ha...!"
Sebuah tawa
bergelak yang menggema di sekitar tempat itu membuat langkah kaki kakek itu
terhenti seketika. Pengemis Tongkat Merah menoleh dengan slkap waspada.
Di belakangnya,
dalam jarak sekitar tiga tombak berdiri sesosok tubuh tinggi besar dan kekar.
Dadanya dibiarkan telanjang sehingga memperlihatkan bulu-bulu yang lebat. Rambutnya
panjang meriap. Sekujur tubuhnya dipenuhi hiasan tulang-belulang tengkorak
manusia.
"Raksasa
Rimba Neraka...," desah Pengemis Tongkat Merah dengan raut wajah
menampakkan rasa kaget dan tidak percaya. Memang, kakek itu kaget bu-kan main.
Dia tahu betul tempat tinggal raksasa ini. Di Rimba Neraka! Tempat itu letaknya
sangat jauh dari desa ini. Tapi mengapa tokoh yang mengerikan ini bisa sampai
kemari?
"Kau
Pengemis Tongkat Merah, bukan?! Apa hubunganmu dengan pemuda itu?" tanya
raksasa itu sambil menunjuk tubuh Sapta yang terikat di tonggak.
"Dia
muridku. Raksasa Rimba Neraka. Kalau dia memang bersalah, biarlah aku selaku
gurunya minta maaf padamu!"
"Ha ha
ha...! Enak saja! Kau tahu, pengemis busuk! Pemuda keparat ini hampir saja
membunuh adik kandung muridku! Kalau saja aku tidak cepat-cepat datang, mungkin muridmu ini sudah membunuhnya! Sekarang, begitu enaknya kau
datang memintakan ampun untuknya! Jangan harap!"
Wajah Pengemis
Tongkat Merah langsung berubah. Sikap raksasa itu amat merendahkannya.
Betapapun disadari kalau dirinya bukanlah tandingan tokoh yang menggiriskan
itu, tapi pantang baginya menerima penghinaan. Ditegakkan kepalanya, dan
dibusungkan dadanya yang krempeng.
"Kalau begitu..., biarlah kupertaruhkan selembar
nyawa tuaku untuk keselamatan muridku!" sambut Pengemis Tongkat Merah,
tegas dan mantap suaranya.
"Ha ha
ha...! Kenapa tidak sejak tadi saja berkata begitu?!"
Tiba-tiba Pengemis Tongkat Merah menggerakkan tangannya. Dan seketika tongkat butut
berwarna merah melesak masuk ke dalam tanah, hingga hampir setengahnya ketika
kakek kurus ini menekannya. Dia sadar kalau lawan di hadapannya ini memiliki
kepandaian luar biasa. Maka Pengemis Tongkat Merah memang tidak mau bersikap
sungkan-sungkan lagi.
"Hiyaaat..!"
Diiringi teriakan
melengking nyaring memekakkan telinga,
Pengemis Tongkat Merah melompat Dan dari atas, dilancarkan serangan
bertubi-tubi ke arah ubun-ubun dan pelipis lawannya.
Raksasa Rimba
Neraka hanya mendengus. De-ngan keyakinan penuh akan kekuatan tenaga dalam yang
dimiliki, dipapaknya serangan kakek kurus kering itu.
Plak! Plak!
Plak...!
Benturan antara
dua pasang tangan yang sama-sama memiliki tenaga dalam tinggi pun terjadi berkali-kali.
Tubuh Pengemis Tongkat Merah yang tengah berada di udara, terlempar kembali ke
belakang. Sementara kedua tangan Raksasa Rimba Neraka hanya bergetar saja.
Pengemis
Tongkat Merah bersalto beberapa kali dengan meminjam tenaga benturan tadi.
Dirasakan se-kujur tangannya terasa seperti lumpuh. Tenaga dalam yang dimiliki
Raksasa Rimba Neraka itu memang luar biasa!
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara, kedua kaki kakek itu hinggap di tanah. Dan secepat kedua kakinya
mendarat, secepat itu pula kakek kurus kering ini kembali menyerang. Maka kini
keduanya sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit.
Di tempat itu
kini hanya tiga pasang mata saja yang menjadi penonton pertarungan antara dua
orang yang memiliki kepandaian tinggi. Mereka adalah Dewa Arak, Sapta, dan
Gajula. Sementara para penduduk yang semula menyaksikan, telah bubar ketika
Sagar tiba-tiba tewas terbunuh. Mereka memang tidak ingin nantinya
terbawa-bawa.
Pengemis
Tongkat Merah yang telah mendengar betapa lihainya Raksasa Rimba Neraka,
mengerahkan segenap kemampuannya. Tangan dan kakinya berkelebat
cepat mengancam bagian-bagian lemah di tubuh raksasa itu.
Tapi betapapun
kakek kurus kering ini bekerja keras, tetap saja tidak mampu mendesak lawannya.
Setiap serangannya selalu kandas. Kalau tidak dielakkan, pasti ditangkis. Dan
setiap kali Raksasa Rimba Neraka menangkis serangannya, tubuhnya selalu
terhuyung. Dadanya juga terasa sesak. Bahkan sekujur tangannya terasa sakit
bukan main.
Tidak sampai
dua puluh jurus sudah terlihat keunggulan Raksasa Rimba Neraka. Memang
sebenarnya kakek kurus kering ini kalah segala-galanya. Baik dalam, hal tenaga
dalam, maupun dalam ilmu meringankan tubuh.
Memasuki jurus
ketiga puluh lima, Pengemis Tongkat Merah mulai terdesak. Kakek kurus kering
ini hanya mampu main mundur, dan hanya sesekali saja balas menyerang.
Sementara itu,
Dewa Arak yang sejak tadi mengawasi pertarungan, segera dapat mengetahui kalau
Pengemis Tongkat Merah tak akan lama lagi dapat bertahan. Dan dugaan pemuda
berambut putih keperakan ini memang tidak meleset. Pada jurus keempat puluh,
kaki kanan Raksasa Rimba Neraka meluncur deras ke arah perut Pengemis Tongkat
Merah. Karena untuk mengelak sudah tidak memungkinkan
lagi, kakek kurus
kering Ini memutuskan untuk
menangkisnya.
Plak..!
Dengan kedua
tangan terkepal saling bersilang di depan dada, tendangan itu berhasil
ditangkisnya. Tapi akibatnya tubuh Pengemis Tongkat Merah terhuyung-huyung ke
belakang. Dan belum lagi kakek kurus kering ini memperbaiki posisi, kaki
raksasa yang tertangkis itu secara mengejutkan kembali
mengancamnya
dengan sebuah tendangan miring ke arah leher.
"Hup...!"
Pengemis
Tongkat Merah begitu susah payah mengelakkan serangan itu dengan menggeser kaki
ke samping.
"Hiya...!"
Raksasa Rimba Neraka berteriak keras. Berbareng dengan itu, kaki
kirinya dikibaskan sambil membalikkan tubuh.
Wuuusss...!
Angin menderu
keras seperti terjadi topan di sekitar tempat itu. Dan memang sebenarnya, dari
rentetan serangan kaki yang bertubi-tubi dengan cara mengibas inilah seluruh
kekuatan ditumpukan. Tentu saja kekuatan tenaga dalam yang terkandung dalam
serangan ini pun sangat dahsyat.
Buk...!
"Akh...!"
Tubuh Pengemis
Tongkat Merah terlempar deras. Kibasan kaki Raksasa Rimba Neraka telak mendaiat
di pangkal lengannya. Mulanya serangan kibasan itu diarahkan ke pelipis.
Untungnya, kakek kurus kering ini sempat mengelak, sehingga kibasan yang semula
mengarah ke pelipis itu hanya mengenai pangkal lengan.
Meskipun
demikian akibat yang diterima kakek kurus kering ini tidak ringan. Bagian yang
terkena kibasan kaki terasa sakit bukan main. Seolah-olah tulang-belulangnya remuk. Padahal tadi
sudah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk melindungi bagian yang
terserang.
Belum sempat Pengemis
Tongkat Merah memperbaiki
posisinya, kini serangan susulan Raksasa Rimba Neraka menyambar tiba. Seketika
wajah kakek kurus kering ini pucat.
Di saat kritis
itu mendadak sesosok bayangan berkelebat memapak serangan itu.
Plak! Plak...!
Benturan keras
terdengar berkali-kali, disusul terpentalnya kedua sosok tubuh itu ke belakang.
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba Neraka menggeram. Diam-diam kakek tinggi besar ini kaget bukan
main. Dari benturan yang baru saja terjadi, diketahui kalau sosok bayangan yang
menangkis serangannya pasti memiliki tenaga dalam yang tidak rendah. Malah
kedua tangannya sampai tergetar hebat dan sakit-sakit karenanya.
Dapat dibayangkan
betapa kagetnya hati si rak-sasa ini ketika melihat orang yang menangkis
serang-annya itu. Tampak di hadapannya dalam jarak sekitar tiga tombak, berdiri
seorang pemuda berambut panjang meriap berwarna putih keperakan. Betulkah
pemuda ini yang baru saja menangkis serangannya tadi? Padahal serangan itu
dilakukan dengan pengerahan tenaga seluruhnya! Hampir-hampir kakek raksasa ini
tidak percaya kalau tidak menyaksikan sendiri!
Seumur hidupnya
belum pernah ditemukan tokoh yang mampu membuatnya terjengkang ke belakang
dalam adu tenaga, kecuali pemuda di hadapannya ini. Apalagi yang berada di
hadapannya ini adalah tokoh muda.
"Siapa
kau, bocah! Apa hubunganmu dengan kakek itu?!" tanyanya keras. Sepasang
mata Raksasa Rimba Neraka yang besar ini pelahan menyipit.
Dewa Arak yang
juga merasakan betapa kuatnya tenaga dalam yang dimiliki kakek raksasa di
hadapannya ini, bersikap hati-hati.
"Aku Arya,
seorang pengelana. Dan aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan kakek yang
hendak kau bunuh itu. Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan adanya kekejaman
berlangsung di depan mataku!" tegas dan jelas kata-kata pemuda berambut
putih keperakan itu.
"Ha ha
ha...! Jadi kaulah rupanya orang yang berjuluk Dewa Arak!? Ha ha ha...! Pucuk
dicinta ulam tiba. Memang sudah lama aku ingin menjajal kelihaian tokoh yang
katanya menggemparkan dunia persilatan itu. Sungguh tidak kusangka, julukan
yang cukup menyeramkan itu hanya dimiliki seorang pemuda ingusan. Bersiaplah
kau, pemuda sombong!"
Setelah berkata
demikian, Raksasa Rimba Neraka menjulurkan kedua tangannya ke depan, kemudian
pelahan-lahan mengepalkannya. Terdengar suara bergemeletuk keras seolah-olah
sekujur tulang-tulangnya berpatahan.
Dewa Arak yang
sudah bisa mengukur kepandaian lawan, tidak berani bersikap main-main.
Segera diambil guci yang terikat di punggung, lalu diangkat ke atas kepala.
Sebentar saja beberapa teguk arak telah berpindah ke tenggorokannya.
Gluk... gluk...
gluk....!
Terdengar suara
tegukan ketika arak itu melewati tenggorokannya. Sesaat kemudian tubuh pemuda
itu pun mulai hangat dan limbung.
"Hiyaaa...!"
Tiba-tiba
terdengar teriakan menggeledek dari mulut Raksasa Rimba Neraka. Dan belum lagi
gema suara teriakan itu hilang, tubuhnya sudah melesat ke arah Dewa Arak. Kedua
tangannya yang mengepal, dihantamkan ke arah Arya dalam sebuah pukulan lurus ke
dada.
Suara
meledak-ledak seperti suara perir menggelegar terdengar mengiringi serangan
itu. Itu pun masih diiringi hawa panas yang menyambar tiba sebelum pukulan itu
sendiri mendekat. Dewa Arak seketika terkejut. Tak disangka kalau lawannya yang
mengerikan ini memiliki ilmu begitu ampuh.
Jangankan terkena langsung serangan itu, terkena anginnya saja sudah cukup
membuat sebuah pohon hancur lebur hangus.
Dewa Arak yang
selalu bersikap hati-hati dan tidak pernah memandang rendah lawan, segera mengeluarkan
jurus 'Delapan Langkah Belalang' untuk menghadapinya.
Brakkk...!
Sebatang pohon
sebesar pelukan dua orang de-wasa langsung hancur terkena angin pukulan yang
ti-dak mengenai sasaran karena tubuh Dewa Arak sudah lenyap dari situ.
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba Neraka meraung keras melihat lawannya tiba-tiba lenyap dari hadapannya.
Untuk sesaat ia kebingungan. Tapi begitu terasa ada angin mendesir di
belakangnya, segera saja diketahui kalau lawan ada di belakangnya. Dan seketika
itu pula raksasa itu melempar tubuhnya ke depan, kemudian menggulingkan
tubuhnya.
Dewa Arak tidak
memberi kesempatan pada ka-kek raksasa ini untuk memperbaiki posisinya. Segera
diburu tubuh yang sedang bergulingan itu.
Wut!
Diayunkan
gucinya ke arah kepala lawannya. "Ah,..!" seru Dewa Arak kaget
Entah bagaimana
caranya, kini posisi kepala itu telah berada di tempat aman, tenaga sepasang
kaki yang mempunyai kembangan gerakan tidak terduga-duga.
Walaupun Dewa
Arak berusaha keras menjatuhkan serangan pada bagian
kepala dan tubuh, tapi niatnya selalu kandas. Setiap serangannya selalu dihadang
sepasang kaki yang mempunyai pertahanan luar biasa kokohnya. Raksasa itu
menghadapi Dewa Arak dengan posisi tubuh terlentang di tanah! Bahkan beberapa
kali Dewa Arak terpaksa menghindar ketika Raksasa Rimba Neraka melancarkan
serangan balasan. "Hm.... 'Jurus Trenggiling'...," desah Pengemis
Tongkat Merah yang sejak tadi memperhatikan jalannya pertempuran itu. Sejak
mendengar pemuda berambut putih keperakan itu memperkenalkan namanya, kakek kurus
kering ini sudah menduga kalau pemuda itu adalah Dewa Arak.
Maka begitu
dugaannya benar, diputuskan untuk menonton pertarungan yang sudah dibayangkan
berlangsung dahsyat. Ingin diketahui, siapa di antara kedua tokoh yang
sama-sama memiliki kesaktian tinggi dan menggegerkan rimba persilatan itu.
Tapi melihat
tokoh yang digelari Dewa Arak, Pengemis Tongkat Merah merasa kurang yakin kalau
tokoh muda itu akan mampu menaklukkan Raksasa Rimba Neraka. Dewa Arak ternyata
masih begitu muda, dan sudah pasti belum banyak pengalaman meng-hadapi berbagai
macam ilmu yang aneh-aneh. Berbeda dengan Raksasa Rimba Neraka yang telah
puluhan tahun malang-melintang di dunia persilatan.
Setelah belasan
jurus Dewa Arak berusaha mendesak lawan tanpa hasil, dia menjadi tidak sabar.
Disadari kalau ilmu 'Belalang Sakti' di samping mempunyai banyak keistimewaan,
tetap saja memiliki kekurangan dan kelemahan. Dan itu memang wajar, karena
tidak ada ilmu yang sempurna.
Ilmu 'Belalang
Sakti' ternyata menjadi lumpuh dan tidak cocok untuk menghadapi Raksasa Rimba
Neraka. Ilmu yang dimiliki Dewa Arak memang tidak dirancang untuk menghadapi
ilmu permainan bawah, seperti 'Jurus Trenggiling', atau 'Jurus Kelabang'.
"Okh...!"
Suara keluhan
Sapta menyadarkan Pengemis Tongkat Merah kalau dirinya masih mempunyai sebu-ah
urusan yang lebih penting, yaitu menyelamatkan nyawa muridnya.
Dengan perasaan berat, ditinggalkan pertempuran yang tengah berlangsung seru
itu. Bergegas kakek itu menghampiri muridnya yang terikat erat di tonggak,
setelah terlebih dulu mengambil tongkat bututnya yang tadi ditancapkan di
tanah.
Tentu saja
Gajula tidak membiarkan Sapta lolos. Begitu melihat Pengemis Tongkat Merah
bergerak mendekati tempat pemuda itu terikat, Gajula cepat-cepat bertindak.
Singgg...! Singgg...!
Suara berdesing
nyaring terdengar ketika si wajah kera itu melemparkan beberapa buah pisau
sekaligus ke arah tubuh Sapta yang tergolek tidak berdaya.
"Hih...!"
Pengemis
Tongkat Merah yang melihat bahaya maut mengancam muridnya segera menghentakkan
kedua tangannya ke depan.
Wut...! Trak!
Serentetan
angin keras menghambur keluar dari tangannya yang dihentakkan itu, dan menerpa
pisau-pisau yang meluncur cepat mengarah tubuh Sapta. Pisau-pisau itu pun
langsung runtuh ke tanah dengan keras.
Pengemis Tongkat Merah yang masih
merasakan lumpuh pada tangan kirinya, menatap beringas ke arah Gajula. Seketika
itu juga, si wajah kera yang mengetahui bahwa dirinya bukan tandingan kakek
kurus kering itu segera melompat menjauh.
Pengemis Tongkat
Merah tidak mempedulikannya.
Segera saja tubuhnya melompat mendekati tubuh muridnya. Sebentar kemudian,
tangan kanannya pun bergerak.
Pralll...!
Kontan rantai
baja yang melilit tangan dan kaki Sapta hancur berantakan.
"Hup...!"
Kakek kurus
kering ini menjejakkan kakinya, dan sesaat kemudian tubuhnya sudah melesat
meninggalkan tempat itu bersama tubuh Sapta berada dalam pondongannya.
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba Neraka menggeram keras.
Memang,
walaupun tengah bertarung, kakek tinggi besar ini masih sempat melihat Pengemis
Tongkat Merah yang telah menyelamatkan muridnya.
Dan ini
membuatnya murka bukan main. Dengan 'Jurus Trenggiling',
didesaknya
Dewa Arak.
Tendangannya bertubi-tubi dan susul-menyusul mengancam bagian tubuh yang berbahaya
di sekujur tubuh pemuda itu.
Tapi berkat keistimewaan
jurus 'Delapan Langkah Belalang', Arya berhasil mengelakkan setiap serangan
itu. Hanya saja tidak seperti biasanya, kali ini jurus 'Delapan Langkah
Belalang' tidak bisa digunakan untuk mengelak dan langsung mengancam lawan.
Selagi Dewa
Arak sibuk mengelakkan serangan-serangan, Raksasa Rimba Neraka melentingkan
tubuh-nya menjauh. Dia langsung mengejar Pengemis Tong-kat Merah yang melarikan
diri.
Melihat
kepergian gurunya, Gajula pun segera melesat kabur dari situ. Dewa Arak yang
memang sama sekali tidak mempunyai urusan dengan mereka, tidak mengejar. Yang
dipentingkan kali ini adalah menye-lamatkan desa ini dari tangan jahat Toga, si
kepala desa.
Dewa Arak pun
melesat meninggalkan tempat itu. Cepat sekali gerakannya, sehingga dalam
sekejap saja yang nampak hanyalah sebuah titik yang semakin lama semakin
mengecil, dan akhirnya lenyap di kejauhan.
4
Tubuh Raksasa
Rimba Neraka melesat cepat, disertai pengerahan seluruh ilmu meringankan tubuh
yang dimiliki untuk mengejar Pengemis Tongkat Merah yang berada jauh di
depannya.
Sedikit demi
sedikit jarak antara mereka mulai dekat. Bayangan tubuh kakek kurus kering yang
semula hanya berupa titik kecil hitam di kejauhan, kini semakin lama semakin membesar. Sudah bisa
dipastikan kalau akhirnya Raksasa Rimba Neraka berhasil mengejar buruannya.
Tapi senyum
yang tadi telah menghias wajah Raksasa Rimba Neraka pelahan mulai melenyap
ketika tampak di kejauhan sana membentang sebuah hutan. Sebagai tokoh yang
penuh pengalaman, kakek tinggi besar ini tahu kalau Pengemis Tongkat Merah
berhasil masuk ke dalam hutan itu, sudah bisa dipastikan akan berhasil lolos.
Raksasa Rimba
Neraka mengerahkan segenap kemampuan yang dimiliki. Tujuannya, menyusul kakek
kurus kering itu sebelum sempat memasuki hutan. Tapi betapapun mengerahkan
segenap kemampuan yang dimiliki, tetap saja usaha yang dilakukannya tidak
mendapatkan hasil. Jarak antara mereka masih terlalu jauh. Sementara jarak
antara Pengemis Tongkat Merah dengan hutan itu sudah demikian dekat.
Apa yang
dikhawatirkan Raksasa Rimba Neraka pun terjadi. Pengemis Tongkat Merah telah
lebih duiu memasuki mulut hutan sebelum berhasil disusul. Jarak antara mereka
masih terpisah puluhan tombak.
Beberapa saat
setelah kakek pengemis itu memasuki hutan itu, baru laki-laki bertubuh raksasa
ini tiba di mulut hutan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raksasa Rimba Neraka
itu melesat masuk.
Tapi
sesampainya di dalam hutan, kakek bertubuh raksasa itu menjadi kebingungan.
Hutan ini terlalu lebat, ditumbuhi pohon-pohon besar kecil, dan semak-semak.
Apalagi akar-akar pohon yang menjalar juga menghalangi pandangan. Sesaat
lamanya Raksasa Rimba Neraka ini mengedarkan pandangannya berkeliling, mencari-cari
barangkali ada pohon atau semak yang masih bergoyang. Kalau ada, itu tandanya
baru dilewati orang. Tapi, tetap saja itu tidak dijumpainya.
Lalu dia
memilih satu arah saja yang diyakininya. Tapi sampai lama mengejar, tak juga
nampak tanda-tanda bayangan tubuh kakek pengemis di depannya. Setelah lama mencari
ke sana kemari tanpa hasil, meledaklah kemarahan Raksasa Rimba Neraka ini.
"Grrrrh...!"
kakek raksasa ini menggeram hebat. Kemudian tangan kanannya yang mengepal dipukulkan ke depan.
Wut...!
Brakkk...!
Sebatang pohon
sebesar pelukan dua orang dewasa tumbang seketika, tatkala angin pukulan
Raksasa Rimba Neraka ini melandanya. Dengan mengeluarkan suara bergemuruh,
pohon besar itu pun tumbang dalam keadaan hancur luluh dan hangus. Tidak hanya
sampai di situ saja, tangan dan kakinya terus saja dipu-kulkan ke sana kemari,
melampiaskan kemarahannya.
Kontan suara hiruk-pikuk menyemaraki suasana hutan itu.
Pohon-pohon yang tumbang dalam keadaan hancur dan hangus, semak-semak yang
cerai-berai dalam keadaan mengering layu, mengiringi setiap gerakan tangan atau
kaki Raksasa Rimba Neraka.
Cukup lama juga
Raksasa Rimba Neraka ini me-lampiaskan amarahnya. Dan kini ditatapnya keadaan
dalam hutan yang porak-poranda. Kemudian dilangkahkan kakinya,
melesat dari tempat itu.
***
"Hhh...!"
Pengemis Tongkat Merah mendesah lega di tempat persembunyiannya, setelah
melihat kepergian Raksasa Rimba Neraka. Memang, kakek ini masih berada di hutan
itu, bersembunyi di kerimbunan semak-semak dan pepohonan. Dia memang telah
me-lihat semua sepak terjang si raksasa yang mengamuk membabi buta.
Suara lenguh
kesakitan Sapta menyadarkan kakek ini dari lamunannya. Kini perhatiannya
tercurah pada pemuda berhidung melengkung yang tergolek lemah di tanah.
Tanpa
membuang-buang waktu lagi, kakek kurus kering ini segera memeriksa luka-luka
muridnya. Yang menjadi perhatiannya pertama kali adalah, luka-luka bekas
cambukan yang menggurat hampir sekujur tubuh pemuda itu.
Sekali lihat
saja, Pengemis Tongkat Merah yang penuh pengalaman segera mengetahui kalau luka-luka
cambuk itu tidak membahayakan jiwa Sapta, karena hanya luka luar belaka. Yang
lebih berbahaya adalah luka-luka dalamnya.
"Guru....,"
sapa Sapta lirih, begitu tersadar dari pingsannya. Memang sejak kakek kurus
kering ini membawanya lari, pemuda ini sudah tidak sadarkan diri lagi.
''Tenanglah,
Sapta," sambut kakek itu.
Namun Sapta
seolah-olah tidak mendengar peringatan itu. Pemuda itu malah berusaha bangkit.
Kedua tangannya yang ditekankan ke tanah, tampak gemetar.
"Berbaringlah
dulu, Sapta."
Pemuda berhidung
melengkung itu mendengar ada nada ketegasan dalam ucapan gurunya. Perintah yang
tidak menghendaki adanya bantahan. Maka se-gera dibaringkan tubuhnya kembali.
"Kami,
Guru...."
"Kami?! Ada apa dengan Kami?!" tanya Pengemis Tongkat Merah
kaget. Sikap pemuda di hadapannya ini yang begitu mengkhawatirkan Kami,
membuatnya cemas bukan main. Walaupun kakek ini sudah dapat mengira-ngira, tapi
mendengar penegasan pemuda itu dia merasa khawatir bukan main.
"Kami
tertangkap, Guru...," desah Sapta lirih. "Aku tidak bisa memenuhi
janjiku pada Guru untuk menjaga Kami."
Pengemis
Tongkat Merah berusaha bersikap tenang. Ia tidak ingin menambah kekalutan hati
murid-nya dengan menunjukkan kegelisahannya. Sebenarnya banyak pertanyaan yang
menggayuti benak kakek ini. Terutama ketika melihat Sapta hanya sendiri saja
saat ditolong. Juga, apa urusannya sehingga pemuda itu bisa bentrok dengan
Raksasa Rimba Neraka.
Memang dari
raksasa itu sudah diketahuinya kalau Sapta hampir membunuh adik kandung dari
muridnya. Itulah yang menjadi teka-teki lagi baginya. Siapakah adik kandung
murid Raksasa Rimba Neraka itu sehingga Sapta hendak membunuhnya?
"Ceritakan
semuanya secara jelas, Sapta!"
Sapta pun
segera menceritakan semuanya. Mulai dari pertempurannya dengan Toga, sampai
akhirnya muncul Raksasa Rimba Neraka yang telah merobohkannya secara mudah.
Wajah Pengemis
Tongkat Merah langsung pucat. Sungguh tidak disangka kalau Toga, musuh besar
muridnya ini, mempunyai kakak kandung yang menjadi murid dari Raksasa Rimba
Neraka! Dan kini gadis itu menjadi tawanan raksasa yang mengerikan itu.
Kakek kurus
kering ini menyadari bahwa dirinya bukanlah tandingan Raksasa Rimba Neraka.
Kekalahan yang baru saja diterimanya, telah
memperjelas dugaannya selama ini. Kalau saja tidak muncul Dewa Arak menolongnya,
mungkin ia sudah tewas di tangan kakek tinggl besar itu.
"Hhh...!"
Pengemis Tongkat Merah menghela napas panjang. "Sungguh tidak kusangka
kalau urusannya menjadi begjni pelik, Sapta. Apalagi Raksasa Rimba Neraka juga
terlibat dalam urusan ini. Kini jangankan untuk membalas dendam untuk menolong
Kami pun kita belum tentu mampu!"
"Tapi biar
bagaimanapun aku akan tetap meno-long Kami, Guru. Akan kudatangi lagi tempat si
keparat itu. Dan..., kalau bisa membalaskan dendam orang tuaku!" tegas dan
mantap kata-kata pemuda itu.
Kakek kurus
kering itu tersenyum. Terlihat begitu kering dan dipaksakan senyumnya.
"Tentu
saja, Sapta. Untuk kedua hal itu, aku bersedia mengorbankan selembar nyawa
tuaku ini. Hhh...! Semula aku tidak ingin campur tangan dalam urusan balas
dendammu. Tapi kini setelah Raksasa Rimba Neraka berdiri di belakang
musuh-musuhmu, aku tidak bisa berpangku tangan lagi."
Dada Sapta
terasa sesak oleh rasa haru yang amat sangat melihat pembelaan gurunya yang
begitu besar.
"Sekarang yang penting, pulihkan dulu tubuhmu. Jangan bangkit
dulu. Aku akan mencari daun-daunan dan akar-akaran untuk mengobati
luka-lukamu." Sapta menganggukkan kepalanya. Pengemis Tongkat Merah pun
segera melesat dari situ. Beberapa saat kemudian, kakek itu pun kembali dan
telah menggenggam daun-daunan dan akar-akaran yang berkhasiat untuk mengobati
luka-luka yang diderita Sapta dan dirinya sendiri.
***
"Auuung...!"
Lolongan anjing
hutan menggaung panjang, merobek kesunyian malam yang mencekam. Padahal malam
itu langit bersih tidak berawan. Bulan bersinar penuh, memancarkan sinarnya
yang kekuningan di la-ngit. Tapi anehnya dalam suasana secerah itu, di Desa
Gebang nampak sepi seperti mati.
Tapi rupanya
masih ada juga orang yang berada di luar rumah. Terbukti, tampak sesosok
bayangan ungu melesat dari satu atap ke atap rumah lainnya. Gerakannya gesit
sekali. Kalau saja ada penduduk yang melihat, tentu akan disangka hantu.
Apalagi ba-yangan itu memiliki rambut berwarna putih keperakan.
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara kedua kakinya mendarat di tanah. Dan secepat kedua kakinya hinggap,
secepat itu pula tubuhnya melesat ke arah tembok pagar sebuah rumah besar yang
megah dan berhalaman luas. Beberapa saat lamanya si rambut putih keperakan itu
berdiri menempel tembok, baru kemudian
menengadahkan kepalanya, mengira-ngira tinggi pagar tembok yang tengah
disandarinya.
"Hih...!"
Tubuhnya
direndahkan sedikit, dan sebentar kemudian tubuh si rambut putih keperakan itu
melayang ke atas. Suasana malam yang cerah, dan sinar bulan pumama yang cukup
terang itu menyoroti wajah itu selagi tubuhnya berada di atas. Ternyata memang
si rambut putih keperakan itu adalah Arya Buana atau yang lebih dikenal
berjuluk Dewa Arak!
"Hup...!"
Kedua kaki Dewa
Arak hinggap di atas tanah di dalam pekarangan yang luas itu tanpa suara.
Sepi-sepi saja suasana di dalam pekarangan ini.
"Hih...!"
Tubuh Dewa Arak
kini melesat dan hinggap di atas atap tanpa suara. Pendengarannya yang tajam
menangkap adanya langkah kaki mendekat. Dugaannya tidak keliru. Tak
lama kemudian di tempat dia berdiri tadi, lewat dua orang yang membawa obor dan
kentongan.
"Ronda...,"
bisik hati Arya.
Pelan laksana
seekor harimau yang berjalan mengendap-endap menghampiri mangsa, Dewa Arak
berjalan di atas atap. Dia memang mencoba mencari-cari kamar kepala desa.
Tapi baru
beberapa langkah berjalan, langkah kaki pemuda ini tertahan di udara.
Pendengarannya yang tajam, menangkap adanya rintihan lirih di bawah sana. Dan
perasaan penasaran mendorong pemuda ini mendekatkan telinganya ke genteng.
Suara rintihan itu pun semakin jelas terdengar.
"Jangan....
Jangan lakukan itu..., bunuh saja aku...."
Wajah Arya
langsung berubah. Suara rintihan lirih itu berasal dari mulut wanita! Berarti
ada seorang wanita yang tengah membutuhkan pertolongan di ba-wah sana.
Dewa Arak
memutuskan menjebol atap ini untuk menolong wanita yang diduga dalam bahaya
besar itu. Tapi baru saja akan bertindak, sebuah suara lain yang menyambut
rintihan itu membuat dia harus menahan gerakannya.
"Ha ha
ha...! Enak saja! Jarang kutemukan wanita istimewa sepertimu, tahu!? Kau
memiliki banyak kelebihan dibanding santapan-santapanku sebelumnya. Kau cantik,
masih gadis, dan memiliki kepandaian. Ha ha ha…! Betapa bodohnya kalau aku
membunuhmu!"
Wajah Arya
Buana langsung berubah! Memang, suara dan tawa itu sangat dikenalnya. Dan
seketika itu juga jantung Dewa Arak berdebar tegang. Bukankah pemilik suara dan
tawa itu adalah musuh tangguh yang berjuluk Raksasa Rimba Neraka dan baru saja
dihadapinya? Lalu, kenapa tokoh sakti yang
menggiriskan itu berada di sini? Apa hubungannya dengan Toga, yang menjadi
Kepala Desa Gebang? Batin Dewa Arak terus
dibebani bermacam-macam pertanyaan.
Tapi Dewa Arak
tidak bisa berpikir lebih lama lagi. Suara kain robek yang terdengar dari bawah,
disusul jerit ketakutan seorang wanita memaksanya bertindak cepat
Brakkk...!
Atap rumah itu
hancur berantakan ketika Dewa Arak menghajarnya. Karuan saja hal itu
mengejutkan Raksasa Rimba Neraka. Padahal laki-laki tinggi besar itu baru saja
menindih tubuh wanita yang tak lain dari Kami. Cepat-cepat dilentingkan
tubuhnya.
Wuuuttt...!
Serentetan
angin pukulan yang mengandung hawa panas telah menyambar ke arah Raksasa Rimba
Neraka, ketika kedua kakinya hinggap di tanah. Sebentar kemudian, meluncur
sesosok bayangan ungu dari atap yang telah ambrol.
"Hih...!"
Tidak ada jalan
lain bagi Raksasa Rimba Neraka, kecuali melompat menghindar. Laki-laki tinggi
besar itu menyadari betul kalau angin pukulan yang menyambarnya itu mengandung
tenaga dalam yang amat kuat. Dan ia tidak berani berlaku ceroboh.
Brakkk...!
Tembok yang
terbuat dari tembok batu itu ambrol terhantam tubuh si raksasa yang menabraknya
dalam upaya keluar ruangan.
Blarrr...!
Lantai tempat
kakek tinggi besar tadi berdiri langsung ambrol, ketika angin pukulan Dewa Arak
yang tidak mengenai sasaran menghantamnya. Tampak sebuah lubang besar tercipta
akibat pukulan itu.
"Hup...!"
Secepat kedua
kakinya mendarat di tanah, secepat itu pula Dewa Arak memalingkan wajahnya. Di
sebuah pembaringan nampak tergolek seorang gadis dalam keadaan tanpa busana!
Kulitnya yang putih mulus, dan lekuk-lekuk tubuhnya yang menggairahkan membuat
Dewa Arak menelan ludah.
Melihat keadaan
gadis ini yang diam tidak bergerak, Dewa Arak segera saja tahu kalau gadis ini
tertotok lumpuh. Arya segera bergerak mendekati. Tentu saja, mau atau tidak mau
tubuh yang mulus indah dan menantang itu terlihat olehnya. Jantung pemuda
berambut putih keperakan ini berdebar tegang. Kedua tangannya terasa dingin.
Darah kelaki-lakiannya seketika bergolak.
Sambil menarik
napas untuk menenangkan hatinya yang terguncang,
Arya menggerakkan tangannya membuka totokan yang membuat gadis itu lumpuh.
"Cepat
kenakan pakaianmu, dan pergilah...!" perintah Arya sambil melesat keluar,
melalui lubang di tembok yang dibuat Raksasa Rimba Neraka tadi.
Kami buru-buru
mencari pakalan, dan dengan tergesa-gesa mengenakannya. Dalam hati ia
bersyukur, di saat terakhir muncul seorang yang menolongnya.
Sementara itu
begitu keluar dari ruangan, Dewa Arak terkejut. Ternyata di luar telah menanti
banyak sekali sosok tubuh. Tapi yang menjadi perhatian Arya hanya satu, yaitu
sosok yang tingginya satu setengah kali manusia biasa. Siapa lagi kalau bukan
Raksasa Rimba Neraka yang amat tangguh.
Tanpa
membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera meraih guci dari punggungnya.
Kemudian diangkatnya ke atas kepala, dn dituangkan ke mulutnya
Gluk... gluk...
gluk...!
Suara tegukan
terdengar begitu arak itu memasuki mulutnya. Sesaat kemudian langkahnya pun
mulai sempoyongan.
"Ha ha
ha...! Kiranya kau orangnya!? Pantas begitu usilan!" teriak Raksasa Rimba
Neraka keras, begitu melihat Dewa Arak keluar dari ruangan itu. Memang dia
sudah merasakan kehebatan pemuda berambut putih keperakan itu tadi siang,
terutama tenaga dalamnya.
"Hiyaaa...!"
Kali ini di
luar kebiasaannya, Dewa Arak mendahului menyerang. Pemuda ini bermaksud membuat repot Raksasa Rimba Neraka agar Kami
dapat meloloskan diri.
Wuuuttt..!
Guci di tangan
kanannya diayunkan deras ke arah kepala si raksasa itu. Angin keras mengiringi
tibanya serangan itu.
Raksasa Rimba
Neraka yang sudah mengetahui kelihaian pemuda di hadapannya, memang sejak tadi
sudah bersiap siaga. Pertarungan tadi siang memang membuatnya penasaran bukan
main. Selama puluhan bahkan mungkin ratusan kali bertanding, belum pernah 'Ilmu
Pukulan Tinju Geledek' miliknya ditahan lawannya. Tapi ternyata Dewa Arak ternyata
mampu membuat ilmu andalannya itu tidak berdaya. Ingin dibuktikannya sekali
lagi, apakah memang pemuda pemabukan ini mampu membuat ilmu andalannya itu
tidak berdaya? Maka tanpa ragu-ragu lagi, diangkat tangan kirinya melindungi
kepala.
Klanggg...!
Benturan keras
yang terjadi antara guci Dewa Arak dengan tangan kiri Raksasa Rimba Neraka,
menimbulkan suara berdentang nyaring. Tampak tubuh kakek tinggi besar itu
terhuyung-huyung beberapa langkah ke belakang. Begitu pula Dewa Arak. Seperti
kejadian sebelumnya, tenaga dalam mereka memang berimbang.
Berkat
keisrimewaan ilmu 'Belalang Sakti', Dewa Arak lebih dulu berhasil mematahkan
daya dorong yang membuat tubuhnya terhuyung-huyung. Dan kini, kembali tubuhnya
melesat menyambar, sementara gucinya sudah terikat kembali di punggung. Entah
kapan dan bagaimana caranya, guci itu telah berada di punggung kembali. Bahkan
Raksasa Rimba Neraka sendiri tidak tahu.
Yang diketahui
laki-laki bertubuh raksasa itu, kedua tangan Dewa Arak dengan kecepatan tinggi
me-nyambar bertubi-tubi. Gerakan tangannya begitu aneh, mengancam pelipis dan
ubun-ubunnya. Raksasa Rim-ba Neraka kaget bukan main. Posisinya tidak
memungkinkan untuk menangkis serangan yang nantinya hanya akan memperburuk
keadaan. Maka buru-buru dibanting tubuhnya ke tanah kemudian bergulingan
menjauh.
Dan tepat pada
saat itu, Kami melesat keluar dari kamar.
Namun sayang,
ternyata di luar bukan hanya ada Raksasa Rimba Neraka saja. Di situ juga ada
Gajula, Toga, dan puluhan anak buahnya. Maka begitu gadis itu keluar, segera
mereka mengurungnya.
Dewa Arak sadar
kalau keadaan itu amat berbahaya. Kalau tidak bertindak keras, sulit baginya
untuk membawa keluar gadis itu. Raksasa Rimba Neraka kelihatannya terlalu tangguh untuk
ditaklukkan.
"Hiyaaa...!"
Tiba-fiba Dewa
Arak berteriak keras. Kedua ta-ngannya dihentakkan ke depan. Inilah jurus
'Pukulan Belalang' yang jarang sekali digunakan, kalau tidak terpaksa sekali.
Wuuusss...!
Angin berhawa
panas menyambar deras ke arah kerumunan orang yang menghadang langkah Kami.
Bresss...!
Beberapa sosok tubuh terlempar jauh, kemudian ambruk ke tanah dan
terguling-gullng jauh. Sekujur tubuh mereka hangus. Dari mulut, hidung, dan
telinga mengalir darah segar. Mereka memang tewas seketika! Sementara itu Toga,
Gajula, dan belasan orang lain yang berhasil menyelamatkan diri, bergidik ngeri
melihat akibat angin pukulan itu.
"Cepat
pergi...!" teriak Arya ketika melihat gadis yang diusahakan setengah mati
untuk lotos dari situ, malah terbengong-bengong.
Bentakan Dewa
Arak berhasil menyadarkan Kami dari ketertegunannya. Segera gadis ini bergerak
kabur dari situ. Tapi Toga dan Gajula tidak membiarkannya lolos! Dan cepat-cepat mereka bergerak mengejar.
Dewa Arak tidak
bisa membantu Kami lagi, karena tampak Raksasa Rimba Neraka itu sudah berhasil
memperbaiki posisinya. Terpaksa dipusatkan perhatiannya lagi pada kakek raksasa
ini kalau masih ingin hidup.
"Hih...!"
Arya menggertakkan gigi. Kembali kedua tangannya dihentakkan ke
depan.
Wusss...!
Raksasa Rimba
Neraka tidak mau kalah. Dikepalkan kedua tangannya, lalu dipukulkan ke depan.
"Hiyaaa...!"
Wuuusss...! Blarrr...!
Dua tiupan
angin pukulan yang sama-sama me-ngandung hawa panas itu bertemu di udara.
Ledakan keras luar biasa terjadi bagaikan gunung runtuh. Ke-adaan di sekitar
tempat itu bergetar hebat bagai dilanda gempa. Bahkan bangunan-bangunan yang
berada di sekitar tempat itu pun bergetar hebat!
Tapi yang lebih
hebat lagi, adalah yang dialami kedua tokoh sakti yang tengah bertarung itu.
Baik tubuh Dewa Arak maupun tubuh Raksasa Rimba Neraka, sama-sama terjengkang
ke belakang. Dan serentetan hawa panas merayap di sekujur tubuh masing masing.
"Akh...!"
Terdengar pekikan tertahan, disusul terhuyungnya tubuh Kami.
Rupanya Toga dan Gajula berhasil mengejarnya. Dan dalam keadaan kondisi tubuh
yang kurang sehat, Kami tidak mungkin mampu menghadapi kedua orang lihai itu.
Segera saja gadis itu terdesak hebat. Sampai akhirnya, sebuah pukulan telakToga
berhasil mendarat di dadanya.
Walaupun
sekujur tubuh Dewa Arak dilanda rasa panas, tapi tidak separah yang diderita
Raksasa Rimba Neraka! Dan ketika melihat keadaan Kami, Arya menggertakkan gigi
menahan kemarahan yang meluap. Kemudian tubuhnya melesat ke tempat Gajula dan
Toga yang tengah mengeroyok Kami.
Karuan saja
Gajula dan Toga menjadi gentar bukan main, karena sudah melihat kedahsyatan
pemuda berambut putih keperakan itu. Maka begitu melihat tubuh pemuda itu
melayang mendekati, keduanya pun berlari menghindar.
Tappp...!
Tanpa
menghhaukan Toga dan Gajula, Dewa Arak segera menyambar tubuh Kami yang sudah
limbung itu. Dipondong dan dibawanya gadis itu kabur dari situ.
Tak ada seorang
pun yang berani menghalangi kepergian Dewa Arak. Sedangkan Raksasa Rimba
Neraka, orang satu-satunya yang dapat menahan Arya, tengah sibuk mengusir
serangan hawa panas yang merayap di sekujur tubuhnya. Maka, tanpa mengalami
kesulitan sama sekali Kami dapat lolos dibawa Dewa Arak.
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara kedua kaki Arya hinggap di tanah, di luar pagar tembok yang mengelilingi
rumah gedung milik Toga. Tubuhnya tampak terhuyung begitu kedua kakinya
mendarat di tanah, tapi tidak dipedulikan. Dan terus berlari. Walaupun disadari
kalau dirinya telah terkena serangan hawa panas, pemuda itu juga tidak
mempedulikan. Padahal kalau tidak segera diusir akan mengakibatkan luka dalam.
Arya terus
berlari cepat, walaupun tempat tinggal kepala desa itu telah jauh dilewatinya.
Dan kini perasaan pening mulai menjalari kepala Dewa Arak. Seketika pemuda
berambut putih keperakan ini memperlambat larinya. Dan di saat itu terdengar
sebuah bentakan nyaring.
"Manusia
cabul! Lepaskan wanita itu!" Belum habis gema suara bentakan itu, sesosok
bayangan yang belum terlihat jelas telah menyerangnya. Dan Arya mencoba
mengelak, tapi keadaan tubuhnya yang tidak memungkinkan begitu menyulitkannya.
Bukkk...!
Pukulan dari sosok bayangan itu telak mengenai pangkal lengannya.
"Akh...!"
Dewa Arak
mengeluh tertahan, dan tubuhnya langsung terjengkang. Dan dengan demikian,
tubuh Kami yang tengah dipondongnya terlepas dan
terlempar. Tapi sebelum tubuh gadis itu terjatuh di tanah, si penyerang telah
terleblh dulu bergerak.
Tappp...!
Tubuh Kami
berhasil ditangkap orang itu.
Arya
menggeleng-gelengkan kepalanya. Hawa panas yang menyerang membuat pandangannya
berkunang-kunang. Sehingga, Dewa Arak kini tidak bisa melihat jelas sosok tubuh
di hadapannya. Tapi bentuk tubuh pemuda itu masih bisa dikenali. Jelas, dia
adalah murid Pengemis Tongkat Merah. Dan kini samar-samar terdengar ucapan si
penyerang.
"Kau tidak
apa-apa, Kami?"
Tampaklah si
penyerang tengah meletakkan gadis itu di bawah sebatang pohon. Pikiran Arya
yang cerdas segera saja dapat menduga kalau pemuda itu adalah teman wanita yang
ditolongnya. Itu terbukti dari ucapannya tadi. Memang tadi gadis itu sempat
mengenalkan nama padanya. Dan nama Kami adalah nama yang disebutkan gadis itu.
Jadi kemungkinan pemuda itu salah paham padanya. Dan kini, tampak pemuda teman
Kami itu hendak menyerang Dewa Arak.
"Tahan...,"
ucap Dewa Arak lemah. Digoyang-goyangkan tangannya di depan dada.
Tapi Sapta
kelihatannya sudah marah bukan main ketika melihat pemuda
berambut putih keperakan itu membawa lari orang yang dicintainya. Dia tidak
mempedulikan cegahan itu. Keadaannya yang waktu itu setengah sadar, membuatnya
lupa kalau pemuda yang berada di hadapannya inilah yang telah menolong dirinya
dan gurunya. Apalagi saat itu kemarahan
tengah melanda hatinya. Kembali tangannya
bergerak melancarkan serangan.
Dewa Arak kaget
sekali. Walaupun tidak melihat jelas serangan itu, tapi dari suara desir angin
saja dapat diketahui kalau pemuda di hadapannya tengah menyerangnya secara ganas!
Padahal, bukankah pemuda itu tahu kalau dialah yang
telah menyelamatkan dirinya dan gurunya dari keganasan Raksasa Rimba Neraka?
Kenapa kini pemuda itu hendak membunuhnya?
Perasaan
penasaran dan keinginan untuk menyelamatkan nyawanya yang hanya satu-satunya,
membuat Dewa Arak jadi mata gelap.
"Hiyaaa...!"
Sambil berteriak
keras Dewa Arak menghentakkan kedua tangannya ke depan.
Wuuusss...!
Angin berhawa panas menyambar deras memapak serangan Sapta. Pemuda tinggi besar ini menjadi
kaget bukan main. Cepat dilempar tubuhnya ke samping, dan bergulingan di tanah.
Brakkk...!
Sebatang pohon
sebesar pelukan orang dewasa hancur berantakan ketika angin pukulan Dewa Arak
yang tidak mengenai sasaran menghantam.
"Huakkk...!"
Tiba-tiba Dewa
Arak memuntahkan darah segar dari mulutnya. Memang karena pengerahan tenaga
yang dipaksakan, akibatnya hawa panas yang
menyebar di seluruh tubuh telah melukainya.
Tapi Arya tidak
memperdulikannya. Segera dia melesat kabur dari situ, meninggalkan Sapta yang
masih terpaku menatap akibat angin pukulan yang dilepaskan Dewa Arak.
6
"Okh...," Kami mengeluh lirih. Sepasang matanya yang
berbulu lenrik mengerjap-ngerjap. Gadis ini memang jatuh pingsan sewaktu Dewa
Arak terjengkang diserang Sapta.
Sementara Sapta
yang sejak tadi menunggui Kami yang tergolek pingsan, seketika menjadi
berseri-seri wajahnya begitu melihat gadis itu sadar.
"Eh! Di
mana dia...?" tanya putri angkat Pengemis Tongkat Merah ini. Sepasang
matanya berkeliaran ke sana kemari, seolah-olah mencari sesuatu.
"Mencari
siapa, Kami?" Sapta balas bertanya. Kecewa juga hatinya, melihat betapa
gadis itu sepertinya tidak memperhatikan dirinya.
"Pemuda
yang menolongku...." Ada suatu perasaan aneh yang menyelinap di hati gadis
ini ketika teringat Dewa Arak. Wajahnya jantan, keperkasaan, dan
tindak-tanduknya yang begitu tenang, begitu mengagumkan hatinya.
Seketika wajah
pemuda berhidung melengkung ini berubah.
"Siapa?"
"Pemuda
berambut putih keperakan," jelas Kami.
"Pemuda
yang memondongmu?" tanya Sapta. Ada nada tidak senang dalam suara itu.
Kami tentu saja
merasakan adanya nada ketidak-senangan dalam suara itu. Sepasang alis yang
bagus bentuknya itu pun berkerut. Ditatapnya wajah pemuda di hadapannya itu
lekat-lekat. Mendadak terbayang kembali, sesosok bayangan yang memukul pemuda
yang memondongnya sehingga tubuhnya terlempar, dan jatuh pingsan.
"Jadi...,
jadi kau rupanya yang menyerang pe-muda itu sampai terjengkang?!"
Pucat wajah
Sapta seketika. Tapi pantang baginya menyembunyikan perbuatannya.
"Ya!"
jawabnya tegas. "Akulah yang menyerangnya!"
"Lalu, ke
mana dia?!" desak Kami. Tajam dan keras nada suaranya.
"Kabur!
Sehabis melepaskan pukulan yang menimbulkan akibat mengerikan pada pohon
itu!" sahut Sapta sambil menunjuk pohon yang terkena angin pukulan Dewa
Arak.
Kami menolehkan
kepalanya, memandang ke arah telunjuk tangan Sapta. Meremang bulu kuduk gadis
itu melihat pohon yang begitu besar, hancur berantakan. Beberapa saat lamanya
putri angkat Pe-ngemis Tongkat Merah ini terpaku.
"Aku tahu pasti,
tidak akan mungkin dia melepaskan pukulan sedahsyat itu kalau nyawanya tidak
terancam. Aku tahu dia terluka dalam. Karena berkali-kali sewaktu membawaku
lari, langkahnya sempoyongan dan hampir jatuh."
Sapta menghela
napas. "Memang kuakui, Kami. Pemuda itu berusaha mencegah
seranganku."
"Dan yang
pasti, kau menyerangnya dengan se-buah pukulan mematikan, bukan?" selak
Kami berapi-api. ''Tidak mungkin dia bertindak demikian hingga mengeluarkan
pukulan yang sangat menguras tenaga. Kau tahu, saat itu dia telah terluka dalam
karena bertarung melawan Raksasa Rimba Neraka dan antek-antek musuh besarmu!
Kalau tidak, jangan harap kau dapat merubuhkannya!"
Sapta
mengangkat kepalanya. Kesal juga pemuda ini disalahkan terus-menerus.
"Kuakui,
aku memang salah. Tapi itu tidak berarti kau terus membela pemuda itu! Aku
terpaksa menyerangnya, karena khawatir pemuda itu akan berbuat tidak baik
kepadamu!"
Kami tersadar
seketika. Memang disadari kalau sikapnya tidak adil. Sapta sebenarnya sama
sekali tidak bersalah. Pemuda itu terpaksa berbuat demikian karena khawatir
akan keselamatan dirinya.
"Maafkan
aku, Kang," ucap gadis itu pelan. Sapta tersenyum pelahan. Kecerahan pada
wajahnya pun nampak kembali.
''Tidak ada
yang perlu dimaafkan. Kau sama sekali tidak bersalah. Tapi yang jelas, aku
bersalah pada pemuda penolongmu itu. Kelak bila berjumpa kembali dengannya, aku
akan meminta maaf," jelas Sapta.
Pemuda ini
memang mengakui kalau hatinya terbakar api cemburu terhadap Dewa Arak.
Akibatnya, dia menyerang lebih dulu.
Kami hanya
dapat mengangguk.
"Nah,
sekarang mari kita menemui Guru," ajak Sapta.
"Heh?!
Kita kembali ke perguruan?!" Langkah kaki Kami seketika terhenti.
"Tentu
saja tidak!" "Lalu?!"
"Guru
memang telah berada di desa ini," jelas Sapta.
"Ayah ada
di desa ini?!" tanya Kami setengah ti-dak percaya.
"Ya!"
jawab Sapta membenarkan. Kemudian diceritakan semuanya. Sejak dirinya
tertangkap sampai dibawa kabur gurunya.
"Dan
ketika kami berdua merasa lapar, aku pamit pada Guru untuk berburu binatang.
Siapa sangka aku melihat
sesosok bayangan tengah
memanggul tubuh wanita. Karena curiga, dia kuikuti. Kutinggalkan kelinci yang
telah kudapatkan. Sinar bulan membantuku untuk mengetahui kalau kaulah orang
yang dibawa lari orang itu. Dan seterusnya kau sendiri pun tahu."
Kami
mengangguk-anggukkan kepala. Sesaat kemudian, keduanya terperangkap dalam
keheningan.
"Sekarang,
mari kita berangkat," ajak Sapta. Setelah berkata demikian, tubuh Sapta
pun
melesat sambil
mengerahkan ilmu meringankan tubuh ringkat tinggi, agar cepat sampai ke
tujuannya. Kami pun segera melesat mengikuti. Tak lama kemudian suasana di
sekitar tempat itu pun kembali sepi.
***
Pengemis
Tongkat Merah bangkit berdiri. Pende-ngarannya yang tajam menangkap suara
langkah kaki. Semula kakek ini menyangka kalau Sapta-lah pemilik langkah kaki
itu. Pemuda itu memang sejak tadi ditunggunya. Tapi, ketika telinganya
menangkap dua langkah kaki mendekati tempatnya, kecurigaannya pun timbul.
Dalam sekejap
pikiran kakek pengemis ini berpu-tar. Tiba-tiba....
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara, kedua kakinya hinggap di cabang sebuah pohon. Dari sini mudah baginya
untuk mengetahui, apakah yang datang itu kawan ataukah lawan.
Berkat sinar
bulan yang cukup terang, kakek ini dapat melihat cukup jelas, dua orang yang
melangkah mendekati tempatnya. Dan begitu jelas teriihat orang yang bergerak
mendekatinya, kegembiraan kakek ini pun meledak!
Tampak di bawah
sana Sapta dan seorang gadis yang membuatnya gembira bukan main! Betapa tidak?
Karena gadis itu adalah Kami! Anak angkatnya yang menurut ceritaSapta tertawan
Raksasa Rimba Neraka.
Semula begitu
mendengar anak angkatnya tertangkap, Pengemis Tongkat Merah sudah tidak
mempunyai harapan lagi akan keselamatan Kami. Dia telah mendengar kebiasaan
terkutuk tokoh Rimba Neraka yang menggiriskan itu. Selain kebiasaannya memakan
daging manusia, dia juga suka mempermainkan wanita!
Sebenarnya
kakek itu bersama Sapta sudah menyusun rencana untuk membebaskan Kami, sehabis
mengisi perut. Berhasil atau tidak bukan masalah. Demikian keputusan mereka
berdua.
Tapi
kenyataannya, kini gadis itu berjalan bersama muridnya dalam keadaan selamat.
Apakah Sapta telah pergi ke sana
seorang diri dan menyelamatkannya?
Ataukah gadis itu sendiri yang berhasil menyelamatkan diri?
"Hup...!"
Ringan tanpa
suara Pengemis Tongkat Merah mendaratkan kedua kakinya di tanah, tepat di depan
Sapta dan Kami. Tentu saja Sapta dan Kami kaget bukan main. Seketika seluruh
urat syaraf di tubuh me-reka menegang, bersiap menghadapi segala kemungkinan. Tapi begitu mengenali
orang yang secara mendadak berada di hadapan mereka, seketika itu juga
urat-urat syaraf ditubuh keduanya
kembali mengendur.
"Guru...!"
seru Sapta.
"Ayah...!"
ujar Kami tak mau kalah. Kedua ta-ngannya langsung dikembangkan. Ditubruknya
ayah angkatnya.
Pengemis
Tongkat Merah memeluk tubuh anak angkatnya erat-erat. Diusap-usapnya rambut
tebal dan hitam milik gadis itu. Suaranya terdengar tersendat.
"Ayah
hampir tidak percaya melihatmu, Kami. Menurut penuturan Sapta, kau ditangkap
Raksasa Rimba Neraka. Bagaimana kau bisa lolos dari tangan raksasa itu?"
Kami melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah kakek
kurus kering di hadapannya dalam-dalam. Sepasang mata gadis ini nampak memerah.
Memang, kini rasa takut belum sepenuhnya hilang dari hati Kami. Rasa takut akan
terjadinya sesuatu yang mengerikan, dan hampir
menghaneurkan masa depannya.
"Seseorang
telah menolongku, Ayah."
"Ah...!"
Pengemis Tongkat Merah berseru kaget. Siapa orang yang berani mati membebaskan
tawanan Raksasa Rimba Neraka itu? Perasaan bingung menggayuti hatinya.
"Apakah
orang itu Sapta?" tanya kakek itu dalam hati.
Seketika wajah
pemuda tinggi besar itu memerah. Jawaban gurunya itu mengingatkan, betapa dia
telah melakukan perbuatan tercela. Dia telah melukai penolong Kami, walaupun
hal itu tidak disengaja.
"Dewa
Arak, Ayah," tegas Kami.
"Dewa
Arak...?!" teriak kakek pengemis ini kaget.
Kami
menganggukkan kepala membenarkan. Lalu gadis berpakaian jingga itu pun
menceritakan semuanya. Dari mulai kedatangan Dewa Arak di saat ancaman
mengerikan hampir menimpanya, sampai De-wa Arak terluka oleh Sapta karena
kesalahpahaman.
"Ah...!
Memang, berita tentang keluhuran budi Dewa Arak tidak berlebihan. Walaupun kita
sama sekali bukan kerabat atau sahabatnya, ia rela mempertaruhkan nyawa untuk
menolongmu. Sungguh besar budi yang kita terima darinya! Entah kapan dapat
membalasnya...," keluh kakek itu. "Dan kau, Sapta. Ingat, kau harus
meminta maaf padanya atas perbuatanmu itu. Mengerti?!"
"Mengerti, Guru," pemuda berhidung
melengkung itu menganggukkan kepalanya.
"Nah,
sekarang pangganglah dulu kelinci hasil tangkapanmu itu, Sapta!" ujar
Pengemis Tongkat Merah mengalihkan pembicaraan.
Sapta segera
mengerjakan perintah gurunya, membakar kelinci yang sejak tadi dijinjingnya.
Tak lama kemudian mereka pun sudah sibuk
mempersiapkan semuanya.
***
Seorang kakek
bertubuh tinggi besar, satu sete-ngah kali manusia biasa, bergerak cepat
mendaki Le-reng Gunung Jarak. Kakek tinggi besar ini adalah Raksasa Rimba
Neraka. Tujuannya mendaki gunung itu jelas mencari Pengemis Tongkat Hitam. Dan
dari penduduk yang tinggal di sekitar lereng gunung itu, Raksasa Rimba Neraka
telah tahu markas Perguruan Tongkat Merah.
Raksasa Rimba
Neraka memang mempunyai aturan aneh. Setiap lawan yang telah kalah olehnya
harus mati. Pengemis Tongkat Merah memang telah dikalahkan. Tapi karena keburu
ada yang menolong, kakek kurus kering ini tidak tewas di tangannya.
Berkat ilmu
meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkatan tinggi, tak lama kemudian
Raksasa Rimba Neraka telah menemukan tempat itu. Kakek raksasa itu memandangi
bangunan yang terbuat dari bilik bambu, dan mempunyai halaman luas yang
dikelilingi pagar bambu tinggi. Di atas pintu gerbang, terpampang papan lebar
yang bertuliskan huruf-huruf yang berbunyi 'Perguruan Tongkat Merah'.
Hanya beberapa
kali lompatan saja, kakek raksasa ini sudah berada di depan pintu gerbang. Dan
tiba-tiba dua orang murid perguruan yang berjaga di depan pintu gerbang,
langsung menghadang langkah kakek ini Mereka saling memiringkan tongkat
berwarna merah yang digenggam, sehingga membentuk tanda silang.
"Siapa
Kisanak ini? Mengapa memasuki daerah kekuasaan Perguruan Tongkat Merah?"
tanya salah seorang yang berjaga-jaga. Wajahnya nampak memancarkan kekagetan
melihat tubuh kakek yang berdiri di hadapannya. Sikap keduanya nampak waspada.
Melihat dandanan kakek di hadapan mereka ini saja, mereka sudah bisa
memperkirakan kalau kakek ini bukanlah tokoh baik-baik.
"Ha ha
ha...!" Raksasa Rimba Neraka tertawa bergelak. "Aku datang untuk
membunuh Pengemis Tongkat Merah! Sekaligus ingin menghancurkan perguruan
ini!"
"Keparat..!"
teriak salah seorang dari penjaga itu. Tongkat merah di tangannya pun
disabetkannya. Tujuannya mungkin kepala. Tapi karena si penjaga ini ukuran
tubuhnya biasa saja, sementara Raksasa Rimba Neraka memiliki tubuh di atas
sewajarnya, maka serangannya pun hanya mengancam bawah pundak kakek raksasa
itu.
Raksasa Rimba
Neraka tersenyum mengejek. Dibiarkan saja sabetan tongkat ke arah pangkal
lengannya itu
Bukkk...!
Krakkk...?
Telak dan keras
sekali tongkat itu menghantam sasarannya. Tapi akibatnya, tongkat yang
menghajar pangkal lengan Raksasa Rimba Neraka justru yang patah!
"Ha ha
ha...!" kembali kakek tinggi besar itu ter-tawa terbahak-bahak.
Berbarengen dengan itu, kedua tangannya diulurkan ke depan.
Tappp...!
Tappp...!
Tanpa kedua
penjaga itu sempat berbuat apa-apa, kuduk keduanya sudah dicengkeram tangan si
raksasa itu.
"Akh...!"
"Ah...!"
Kedua penjaga
itu memekik tertahan. Dirasakan tulang leher belakang mereka patah-patah. Belum
lagi mereka sempat berbuat sesuatu, tangan Raksasa Rimba Neraka bergerak.
Prakkk...!
Terdengar suara
berderak keras ketika kedua kepala penjaga yang sial itu diadu satu sama lain.
Cairan kental
berwarna kemerahan, berikut cairan kental berwarna keputihan langsung muncrat
dari kepala yang pecah itu. Tidak ada lagi suara yang ter-dengar. Dan ketika
kakek tinggi besar itu melepaskan cengkeramannya, tubuh kedua penjaga yang sial
itu pun ambruk ke tanah. Mati.
Tentu saja
keributan yang terjadi di depan pintu gerbang itu, segera mengundang
murid-murid lainnya. Dalam waktu sekejap saja, seluruh murid Perguruan Tongkat
Merah yang berjumlah sekitar dua belas orang berkumpul di depan Raksasa Rimba
Neraka dengan sikap mengancam.
Dapat
dibayangkan betapa marahnya hati mereka, melihat kematian rekan mereka yang
begitu mengerikan. Tanpa banyak tanya lagi mereka pun bergerak menyerbu.
"Hiyaaa...!"
"Haaattt..!"
Dengan
didahului jerit melengking nyaring, tongkat-tongkat mereka pun berkelebat cepat menyambar ke arah berbagai bagian tubuh Raksasa Rimba
Neraka.
Bukkk...!
Bukkk...! Takkk...!
Suara
berdebukan terdengar susul-menyusul ketika hujan serangan tongkat itu, mendarat
pada sasaran masing-masing. Raksasa Rimba Neraka
memang tidak menghindari semua serangan itu. Dengan tenaga dalamnya yang jauh
di atas lawan-lawannya, pukulan tongkat-tongkat itu tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan
sebagian besar tongkat yang menghantam sasarannya patah-patah.
"Sekarang
giliranku...!" ucap raksasa itu keras ketika tidak ada lagi hujan serangan
tongkat menyambarnya. Belum lagi gema suara ucapannya lenyap, tangan kakek
raksasa itu bergerak ke sana kemari. Sederhana saja gerakannya, tapi akibatnya
hebat bukan main. Ke manapun tangannya bergerak, sudah dapat dipastikan ada
satu jiwa yang melayang.
Jerit kematian
terdengar saling susul dibarengi berjatuhannya tubuh-tubuh yang sudah
ditinggalkan nyawanya.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Dua jeritan
melengking panjang, mengiringi robohnya dua orang terakhir yang masih hidup.
"Ha ha
ha...!"
Raksasa Rimba Neraka kembali mengumandangkan tawanya ketika melihat
tidak ada lagi sosok tubuh yang masih berdiri. Semuanya telah tewas dalam
keadaan mengerikan.
Tapi rupanya
kakek tinggi besar ini belum puas terhadap semua perbuatan yang dilakukan. Didekatinya sebatang pohon
sebesar pelukan orang dewasa yang berdaun lebat.
Setelah jarak
antara dirinya dengan pohon itu hanya sekitar tiga tombak, raksasa ini
menjulurkan kedua tangannya ke depan. Kemudian pelahan-lahan tangannya
dikepalkan. Suara berkerotokan keras terdengar ketika kakek tinggi besar ini
mengepalkan tangannya.
Lambat tapi
penuh tenaga, kedua tangan yang telah terkepal keras itu ditariknya ke
pinggang. Suara berkerotokan semakin terdengar keras ketika kedua tangan itu
ditarik.
"Hiyaaat..!"
Sambil berteriak keras melengking yang
membuat sekitar tempat itu bergetar hebat, Raksasa Rimba Neraka memukulkan
kedua tangannya yang terkepal itu ke depan.
Wuttt...!
Bresss...! Pralll...!
Angin berhawa
panas menderu keras, lalu menyambar ke arah rerimbunan dedaunan. Dan secepat
angin pukulan itu mengenai rerimbunan dedaunan itu, secepat itu pula dedaunan
itu terbakar! Dalam waktu sekejap saja, api telah berkobar besar.
"Haaat...!"
Sekali lagi
Raksasa Rimba Neraka memukulkan kedua tangannya ke depan. Kali ini ke arah
batang pohon besar itu.
Wuuusss...!
Braaakkk...!
Pohon itu
langsung rubuh ketika angin pukulan kakek tinggi besar itu menghantamnya.
Tampak bagian dalam batang pohon ituhangus bagai terbakar!
"Hih...!''
Kembali kakek
raksasa ini menggerakkan tangannya, tapi dengan gerakan berbeda dengan
sebelumnya. Kali ini Raksasa Rimba Neraka melakukan gerak mendorong!
Wusss...!
Wuk...! Brakkk...!
Hebat luar biasa
tenaga dalam yang dimiliki Raksasa Rimba Neraka ini. Dengan angin pukulannya,
pohon itu didorong sehingga jatuh tepat di depan salah satu bangunan Perguruan
Tongkat Merah.
Seketika itu
juga api yang tengah membakar po-hon itu, menjalar ke arah bangunan berdinding
bilik bambu. Mendapat sasaran yang memang mudah terbakar ini, api pun lebih
cepat berkobar.
"Ha ha
ha...!" Raksasa Rimba Neraka tertawa terbahak-bahak, memandangi api yang
berkobar melahap bangunan itu. Sekujur tubuhnya nampak penuh keringat. Napasnya
pun memburu hebat. Memang apa yang baru saja dilakukannya, banyak menguras
tenaga.
Sebenarnya
kalau kakek raksasa ini hanya ingin membakar bangunan itu, tidak perlu bersusah
payah seperti itu. Dia bisa langsung mengerahkan 'Tinju Geledek' pada dinding
bangunan dari bilik itu. Dan itu akibatnya sama saja. Dan memang, Raksasa Rimba
Neraka sebenarnya hanya ingin mengetahui kemampuan dirinya. Dan ternyata memang
mampu!
"Ha ha
ha...!" Diiringi tawa terbahak-bahak, di-tinggalkannya tempat yang pelahan
namun pasti mulai
habis dimakan
api! Namun tanpa diketahui, ada sesosok tubuh yang berlari meninggalkan tempat
itu.
***
"Keparat...!"
Pengemis Tongkat Merah memaki. Wajah kakek kurus kering ini nampak merah padam.
Kedua tangannya terkepal erat. Terdengar suara bergemeletak dari tulang-rulang
tangan yang mengepal itu.
Dipandangi dalam-dalam sosok tubuh di hadapannya. Sosok tubuh
muridnya yang berhasil melarikan diri sewaktu Raksasa Rimba Neraka mengamuk di
sana. Sapta dan Kami pun nampak pucat wajahnya.
"Benarkah
ciri-ciri orang yang kau sebutkan itu, Kantara?" tanya kakek pengemis ini
lagi, untuk memastikan.
"Benar,
Guru."
Pengemis Tongkat Merah mengangkat
wajahnya.
"Kalau begitu, aku harus membalas
perlakuannya! Mati pun tidak mengapa, asal berhasil membunuh kawanan mereka
sebanyak-banyaknya!"
"Aku ikut,
Ayah!" tegas Kami buru-buru. "Aku juga, Guru!" Sapta tak mau
kalah. "Begitu pula aku, Guru," pinta Kantara.
Kakek kurus
kering ini, memandangi wajah anak dan murid-muridnya satu persatu. Ada nada
kebanggaan terpancar di mata kakek ini.
"Sudah dipertimbangkan masak-masak keputusan kalian itu?"
"Sudah,
Guru!" sahut mereka serentak. "Sekalipun taruhannya adalah nyawa
kalian
sendiri?"
"Kami
tidak takut!"
"Bagus!
Kalau begitu, mari kita berangkat!" ajak kakek itu seraya beranjak dari
situ.
Sapta, Kami dan
Kantara, berjalan mengikuti. Telah bulat tekad mereka untuk menumpas gerombolan Toga dan kawan-kawannya sekalipun harus
berkorban nyawa!
7
Dengan
sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Dewa Arak berlari meninggalkan Sapta. Arya tahu
kalau murid Pengemis Tongkat Merah salah paham. Mungkin dia disangka hendak
berbuat sesuatu yang tidak senonoh terhadap gadis itu. Maka dengan itu,
terpaksa ditinggalnya pemuda itu.
Tapi belum
berapa jauh berlari, tubuh Dewa Arak mulai limbung dan akhirnya tak mampu
bertahan. Tanpa ampun lagi, dia terjatuh di tanah. Untuk beberapa saat lamanya,
pemuda berbaju ungu itu sama sekali tidak bergerak. Dibiarkan saja tubuhnya
tergolek di tanah. Arya memang bermaksud meredakan dulu napasnya yang memburu.
Setelah alur
napasnya kembali normal, Dewa Arak beringsut mendekati rerimbunan semak yang
agak tersembunyi. Di sudut bibir pemuda itu nampak bercak-bercak cairan darah merah. Dikeluarkan
sebuah obat pulung yang terjepit di sebuah gulungan kain yang terselip di
pinggangnya. Dewa Arak mengambil sebutir, kemudian menelannya. Obat itu memang
manjur untuk menyembuhkan luka dalam.
Beberapa saat
kemudian, Arya mulai diserang rasa kantuk. Dan pelahannamun pasti, sepasang
mata itu mulai mengatup. Tak lama kemudian Dewa Arak pun tertidur.
Cukup lama juga
pemuda itu tertidur. Dan ketika terbangun, yang terasa adalah lemas yang amat
sangat. Tapi, rasa nyeri yang melanda dadanya sudah tidak ada lagi.
Tanpa
membuang-buang waktu lagi, pemuda berambut putih keperakan ini segera duduk
bersila. Punggungnya diluruskan, sementara kedua tangannya dirangkapkan di
depan dada. Tak lama kemudian, Arya sudah tenggelam dalam keheningan semadi
untuk memulihkan tenaganya kembali.
Waktu berlalu
tak terasa. Malam pun berganti pagi. Tapi, Arya masih belum juga menghentikan
semadinya. Sampai matahari naik tinggi, baru pemuda itu menghentikan semadinya.
"Hhh...!"
Dewa Arak
mendesah lega. Kini seluruh tubuhnya terasa segar kembali dan tenaganya pun
telah pulih.
Pelahan Arya
bangkit dari bersilanya. Kemudian berdiri menyandar pada sebatang pohon.
Sepasang matanya menerawang ke depan, sementara benaknya berpikir keras
mengingat hal aneh yang dijumpainya semalam.
Memang Dewa Arak tengah dilanda
kebingungan. Mengapa Raksasa Rimba Neraka ada di rumah Kepala Desa Gebang?
Padahal menurut cerita Ki Marta, kepala desa itu adalah Toga. Dan dia itu bekas
kepala pengawal Ki Panjar. Juga sebenarnya Toga bukan tokoh golongan hitam.
Lalu, bagaimana bisa bersama Raksasa Rimba Neraka?
Tapi sampai
otaknya lelah berpikir, Dewa Arak belum juga mendapatkan jawabannya. Pemuda
berbaju ungu ini sadar kalau jawaban bagi semua pertanyaannya ada di rumah Kepala Desa Gebang. Maka
seketika tubuh Dewa Arak ini pun kembali melesat ke sana.
Cepat bukan
main gerakannya. Sehingga dalam sekejap saja, yang nampak hanya sebuah titik
hitam kecil. Dan akhirnya titik kecil itu lenyap di kejauhan.
***
Empat sosok
tubuh berkelebat cepat ke arah ru-mah Kepala Desa Gebang. Mereka adalah
Pengemis Tongkat Merah, Sapta, Kami, dan Kantara.
"Ingat,
Sapta. Kau tidak perlu menghiraukan diriku. Aku akan mencoba menahan Raksasa
Rimba Neraka, dan kau cari musuh besar yang telah membunuh keluargamu. Kami
akan membantumu. Mengeiti?!" jelas Pengemis Tongkat Merah sambil terus
berlari.
Sapta
menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
Tak lama
kemudian, keempat sosok tubuh itu pun sudah berada di depan pintu gerbang rumah
besar dan megah yang berhalaman luas itu. Rumah Kepala Desa Gebang.
Tentu saja dua
orang yang menjaga pintu gerbang itu mengenali Sapta dan Kami, yang telah
menewaskan banyak teman mereka. Dan keduanya pun sadar, kalau bukan tandingan
muda-mudi yang berkepandaian tinggi itu. Maka, seketika diputuskan untuk
memberitahu teman-teman mereka.
Sebelum kedua
orang itu sempat berbuat sesuatu, Kami dan Sapta bergerak cepat. Tanpa
sungkan-sungkan lagi mereka telah menghunus senjata masing-masing. Sapta dengan
tombak pendek, dan Kami dengan pedang.
Wut...! Wuk...!
Dua buah
senjata itu melesat cepat mengiringi melesatnya tubuh mereka.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Dua jerit
kematian terdengar saling susul, mengiringi rubuhnya dua penjaga itu ke tanah.
Mereka tewas dengan leher hampir putus.
Tentu saja suara jerit kematian itu menimbulkan kegemparan. Maka
berbondong-bondong anak buahToga, melesat ke arah suara itu berasal.
Pengemis
Tongkat Merah, Sapta, Kami, dan Kan-ara tidak bertindak setengah-setengah lagi. Mereka segera menyambut serbuan
anak buah Toga dengan penuh semangat. Setiap serangan yang dilancarkan, pasti
membuat lawan mereka roboh dalam keadaan tidak bernyawa lagi.
"Akh...!"
"Aaa...!"
Jerit lengking
kematian kembali terdengar saling susul. Para penjaga itu bagaikan segerombolan
sernut menerjang api, dan satu persatu berguguran.
"Mundur
semua...!"
Tiba-tiba
terdengar seruan menggelegar, yang membuat sekitar tempat itu sepertinya
bergetar hebat. Begitu hebatnya pengaruh bentakan itu, sehingga tan-pa sadar
Pengemis Tongkat Merah, dan murid-murid-nya melompat mundur. Mereka semua
memandang ke satu arah, ke tempat suara itu berasal.
Sekitar tiga
tombak dari arena pertarungan, nampak berdiri seorang kakek tinggi besar yang
tak lain Raksasa Rimba Neraka. Dia memang telah kembali, setelah membumihanguskan Perguruan Tongkat Merah. Di belakang kakek
itu nampak berdiri Gajula dan Toga.
"Kau urusi
saja musuh besarmu, Sapta. Biar kucoba menahan raksasa itu," bisik
Pengemis Tongkat Merah.
"Tapi,
Guru...," Pemuda berhidung melengkung yang tahu kalau gurunya bukan
tandingan Raksasa Rimba Neraka, mencoba membantah.
"Tidak ada
bantahan lagi, Sapta! Ini perintah...!" desis kakek pengemis itu tegas.
"Ha ha
ha...!" Raksasa Rimba Neraka tertawa ter-bahak-bahak. "Tidak kusangka
kalau berani datang kemari, pengemis busuk! Apakah kali ini kau tidak akan lari
terbirit-birit lagi seperti dulu?!"
Merah wajah
Pengemis Tongkat Merah. "Raksasa Rimba Neraka! Tidak kusangka kalau
kau ternyata
begitu pengecut! Kau membantai semua muridku selagi aku tidak berada di sana!
Sekarang aku datang untuk menuntut balas atas kekejianmu terhadap semua
muridku!"
Setelah berkata
demikian, Pengemis Tongkat Merah segera memutar tongkatnya di depan dada. Angin
menderu keras, mengiringi putaran tongkat itu.
"Hiyaaat...!"
Sambil berseru
keras, kakek pengemis ini melompat menerjang. Tongkat merah di tangannya
disabetkan ke arah leher lawannya.
Sedangkan Raksasa Rimba Neraka cepat-cepat
mengangkat tangannya, menangkis.
Plak!
Hebat
akibatnya. Tubuh Pengemis Tongkat Merah terjengkang ke belakang. Tangannya yang
menggenggam tongkat terasa sakit bukan main. Sementara itu tubuh Raksasa Rimba
Neraka hanya bergetar saja.
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba
Neraka menggeram keras. Telah bulat tekadnya untuk melenyapkan Pengemis Tongkat
Merah, setelah kakek pengemis itu tidak ditemukan di perguruannya. Tidak akan
dibiarkan kakek pengemis ini berhasil menyelamatkan diri lagi!
Kini kakek itu
menjulurkan kedua tangannya ke depan, kemudian mengepalkannya pelahan-lahan.
Terdengar bunyi bergemeletuk seolah-olah tulang-belulang kakek raksasa ini
berpatahan. Suara itu semakin jelas terdengar ketika Raksasa Rimba Neraka
menarik kedua tangannya yang terkepal itu ke sisi pinggang.
"Hiyaaa...!"
Tangan kanan
kakek raksasa yang terkepal itu dipukulkan ke depan. Terdengar suara
meledak-ledak, seolah-olah ada halilintar menyambar ke arah Penge-mis Tongkat
Merah.
"Hup...!"
Kakek kurus
kering membanting tubuhnya ke tanah, lalu berguling-gulingan.
Blarrr...!
Seketika itu
juga, tanah berlubang besar terhantam pukulan Raksasa Rimba Neraka yang tidak
mengenai sasaran.
Melihat
serangannya gagal, si raksasa ini marah bukan main. Maka dihujaninya tubuh
lawannya yang tengah bergulingan itu, dengan pukulan jarak jauh yang
mengeluarkan suara meledak-ledak laksana hali-lintar.
Maka repotlah
Pengemis Tongkat Merah dibuat-nya. Tiada jalan lain baginya kecuali terns
bergulingan kalau ingin selamat. Berhenti berguling berarti berhenti pula
nyawanya. Sementara itu, Sapta dan Kami yang semula ingin menerjang Toga dan
Gajula, jadi mengurungkan niat setelah melihat guru mereka dalam keadaan
demikian. Namun tiba-tiba....
Sraat...!
Kami segera
menghunus pedangnya. Wuk...! Wuk...!
Sapta pun memutar-mutarkan tombak pendeknya.
"Hiyaaa.,.!"
Sambil memekik
melengking, Kami melompat. Dan seketika itu pula, ujung pedangnya ditusukkan ke
arah leher Raksasa Rimba Neraka yang tengah menghujani Pengemis Tongkat Merah
dengan pukulan mautnya.
"Haaat...!"
Sapta pun tak
ketinggalan. Pemuda berhidung melengkung ini juga melompat. Tombak pendek di
ta-ngannya diputar-putarkan di udara, sebelum ditusuk-kan ke perut Raksasa
Rimba Neraka.
Menghadapi dua
serangan maut ini, Raksasa Rimba Neraka tidak bertindak ceroboh. Terpaksa
dialihkan perhatiannya dari Pengemis Tongkat Merah.
"Grrrh...!"
Sambil
mengeluarkan gerengan kemarahan, kakek raksasa ini menggerakkan tangannya menangkis.
Trak...!
Trak..! "Ihhh...!" "Ahhh...!"
Sapta dan Kami
berbarengan menjerit kaget. Tangan kedua anak muda itu yang menggenggam
sen-jata, terasa lumpuh seketika saat tangan telanjang si raksasa menangkis
serangan mereka.
Belum lagi
hilang rasa terkejut yang melanda hati mereka, tangan Raksasa Rimba Neraka
kembali bergerak. Dan....
Tappp...! Kreppp...!
Pedang dan
tombak pendek milik kedua muda-mudi itu tahu-tahu telah dicengkeram si raksasa.
Dan Sapta dan Kami tentu saja tidak membiarkan senjata andalan mereka terampas.
Buru-buru mereka me-ngerahkan seluruh tenaga yang dimiliki untuk membetot.
Tapi, cekalan pada senjata mereka sama sekali tidak bergeming. Sebaliknya,
begitu Raksasa Rimba Neraka menggerakkan tangan membetot, tubuh Kami dan Sapta
pun tertarik maju
Pengemis
Tongkat Merah tentu saja melihat ke-adaan gawat yang dialami murid-muridnya
itu. Maka cepat-cepat dia melompat sambil menyabetkan
tongkatnya ke kepala si raksasa. Namun Raksasa Rimba Neraka tentu saja tidak
membiarkan kepalanya hancur tersabet tongkat kakek kurus kering. Mau tidak mau
dibatalkan betotannya pada Sapta dan Kami.
Wusss...!
Tongkat merah
itu lewat beberapa rambut di depan muka kakek tinggi besar itu ketika raksasa
itu menarik kepalanya mundur ke belakang.
Beberapa saat
kemudian, keempat orang itu pun sudah terlibat dalam sebuah pertarungan sengit.
Kini setelah Sapta dan Kami ikut terlibat, pertarungan berlangsung seimbang.
Sementara itu
Toga, Gajula dan anak buahnya, terpukau melihat pertandingan yang menegangkan
itu. Demikian pula dengan Kantara yang hanya berdiri
mematung tanpa
memberi bantuan pada Kami dan Sapta.
Suara mendecit,
menderu dan meledak-ledak mengiringi pertempuran mereka. Batu-batu besar dan
kecil beterbangan tidak tentu arah. Debu pun mengepul tinggi ke udara.
Tapi setelah
pertarungan berlangsung tiga puluh jurus, mulai nampak keunggulan Raksasa Rimba
Neraka yang pelahan namun pasti mulai menguasai keadaan.
"Hiyaaa...!"
Kami berteriak
nyaring. Pedang di tangannya berkelebat ke arah tenggorokan. Suara mendesing
nyaring mengiringi tibanya serangan pedang itu.
Melihat hal ini, Raksasa Rimba Neraka menggeram. Tangan kanannya berkelebat
cepat.
Takkk...!
Tappp...! "Ikh...!"
Kami berteriak
tertahan. Tubuhnya melayang deras ketika tangan si raksasa itu menangkis,
sekaligus menangkap dan membetot. Kejadian itu berlangsung begitu cepat dan
tiba-tiba. Akibatnya gadis itu tidak mampu berbuat apa-apa, dan membiarkan
pedangnya dirampas lawan.
"Hup...!"
Gadis
berpakaian jingga itu mendaratkan kedua kakinya di tanah, walaupun tubuhnya
agak limbung.
Singgg...!
Secepat pedang
Kami dirampas, secepat itu pula dilemparkan ke arah Sapta yang tengah
menyerang. Terpaksa pemuda berhidung melengkung itu memba-talkan serangannya,
dan menangkis sambitan pedang yang melesat ke arahnya.
Tranggg...!
Begitu kuatnya
tenaga yang terkandung dalam lemparan pedang itu, sehingga begitu Sapta
me-nangkis, tombak di tangannya terlepas dari pegangan.
Kini leluasalah Raksasa Rimba Neraka menghujani Pengemis Tongkat Merah
dengan pukulan geledeknya.
Kembali untuk
yang kesekian kalinya, kakek kurus kering itu berlompatan ke sana kemari
menghindari setiap serangan lawan. Tak ada kesempatan baginya untuk balas
menyerang. Sudah dapat dipastikan kalau tak lama lagi, kakek kurus kering ini
tak akan bertahan lama.
Sadar jika
keadaan seperti ini berlangsung terus, jelas amat berbahaya baginya. Maka
Pengemis Tongkat Merah bertekad menerobos hujan pukulan jarak jauh yang
bertubi-tubi menyerangnya.
"Hiyaaa...!"
Tubuh kakek
pengemis itu melayang ke arah Raksasa Rimba Neraka. Tongkat di tangannya disodokkan ke arah ulu hati. Tapi sebelum
serangan itu tiba, si raksasa telah melepaskan pukulan 'Tinju Geledek'-nya.
"Hih...!"
Wuuuttt...!
Prattt...! "Akh...!"
Pengemis
Tongkat merah memekik tertahan. Luncuran tubuhnya langsung terhenti di tengah
jalan, ketika pukulan 'Tinju Geledek' lawan menyerempet pahanya.
Dengan tubuh
sempoyongan, kakek pengemis ini hinggap di tanah. Dan selagi kakek ini belum
sempat berbuat apa-apa, serangan susulan lawan menyambar tiba.
Wuuusss...!
Angin berhawa panas
menderu keras ketika ilmu 'Tinju Geledek' itu menyambar ke arah Pengemis
Tongkat Merah, yang hanya mampu menatap dengan mata membeliak lebar.
Di saat yang
amat gawat bagi Pengemis Tongkat Merah, dari arah yang berlawanan, menyambar serentetan
angin berhawa panas, yang menderu memapak serangan Raksasa Rimba Neraka.
Blarrr...!
Tanpa dapat
dicegah lagi, dua buah pukulan jarak jauh yang sama-sama mengandung hawa panas
bertemu di udara. Bunyi ledakan yang amat keras terdengar, membuat suasana di
tempat itu bergetar seolah terjadi gempa.
Pengemis
Tongkat Merah segera membanting tubuhnya dan bergulingan menjauh. Sementara
tubuh Raksasa Rimba Neraka tampak terhuyung. Tanpa me-lihat pun dia sudah dapat
menduga orang yang telah mampu membuat dirinya seperti itu.
8
Di hadapan
Raksasa Rimba Neraka, tampak berdiri tenang seorang pemuda berambut putih
kepe-rakan. Sebuah guci arak yang terbuat dari perak, nampak tengah dituangkan
ke mulutnya.
Gluk... gluk...
gluk...!
Suara tegukan
terdengar ketika arak itu memasuki tenggorokannya.
"Grrrh...!"
Raksasa Rimba
Neraka menggeram. Kakek pemakan manusia ini memang murka bukan kepalang. Sebab,
lagi-lagi Dewa Arak menggagalkan usahanya yang hampir berhasil membunuh
Pengemis Tongkat Merah.
"Hih...!"
Dan kini tanpa
sungkan-sungkan lagi Raksasa Rimba Neraka segera mengeluarkan ilmu andalannya,
'Tinju Geledek'. Kedua tangannya melakukan pukulan bertubi-tubi ke arah dada.
Setiap gerakan tangannya menimbulkan suara meledak-ledak bagai geledek.
Tapi berkat jurus
'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak tidak mengalami kesulitan menghindari
serangan itu. Dengan gerakan terhuyung-huyung se-perti akan jatuh, Arya
berkelit. Maka, setiap serangan Raksasa Rimba Neraka kandas dan mengenai tempat
kosong.
Yang lebih hebat
lagi, begitu mengelak, Dewa Arak langsung berbalik mengancam lawan. Satu
keistimewaan jurus 'Delapan Langkah Belalang'!
Sementara itu,
begitu melihat Raksasa Rimba Neraka telah mendapat lawan, Sapta dan Kami tidak
mau membuang-buang waktu lagi. Mereka cepat-cepat menerjang musuh besar
masing-masing. Sapta mener-jang Toga, sedangkan Kami menerjang Gajula. Se-
mentara
Pengemis Tongkat Merah dan Kantara menghadapi pengeroyokan anak buahToga.
Sapta kini
telah menggenggam kembali tombak pendeknya yang tadi terlepas dari pegangan.
Dengan senjata itu diterjangnya Toga penuh kemarahan. Tom-bak pendek di
tangannya berputaran, menimbulkan suara angin menderu-deru.
Toga yang telah
mengetahui kelihaian pemuda putra Ki Panjar ini, tidak mau bertindak gegabah.
Maka, segera dicabut goloknya. Dalam hati, Kepala Desa Gebang ini memaki-maki
Dewa Arak yang untuk kesekian kalinya mengacau urusannya.
Tranggg...!
Tranggg...!
Dua kali berturut-turut Toga menangkis
serangan Sapta. Dan akibatnya, sekujur tangannya terasa bergetar hebat.
Sadarlah si kumis melintang ini kalau tenaga dalam yang dimilikinya masih di
bawah Sapta. Walaupun waktu itu, Toga sudah merasakan sendiri kehebatan tenaga dalam pemuda di
hadapannya ini, tapi rasa penasaran membuatnya mencoba mengadu tenaga kembali.
Wut...!
Kembali
serangan susulan tombak pendek Sapta menyambar deras. Tombak itu berputaran
sejenak, sebelum membabat leher.
Melihat
serangan ini, Toga kebingungan. Karena tidak bisa menduga arah serangan itu
sebenarnya. Apalagi serangan itu dilakukan secara berputar, se-hingga
membuatnya pusing. Dan baru setelah serang-an itu menyambar dekat, diketahuinya
arah sasaran serangan itu.
Toga buru-buru
mendoyongkan tubuhnya ke belakang, sehingga serangan tombak itu lewat beberapa senti di depan
lehernya. Dan begitu serangan itu lewat, tanpa membuang-buang waktu lagi golok
di tangannya ditusukkan ke bagian perut Sapta yang terbuka lebar.
Tapi murid
andalan Pengemis Tongkat Merah ini, tentu saja tidak ingin perutnya ditembus
golok. Buru-buru tusukan itu dielakkan sambil tak lupa mengirim serangan balasan yang tak kalah berbahayanya. Kini
keduanya sudah terlibat pertarungan mati-matian.
Di bagian lain,
Kami tampak tengah berjuang keras menghadapi Gajula. Murid Raksasa Rimba Neraka
ini memang cukup lihai. Dan tentu saja Kami harus menguras kemampuan untuk
melawannya. Pedang di tangannya berkelebat cepat mencari sasaran di sekujur
tubuh lawan.
Di antara para
penyerbu itu, Pengemis Tongkat Merahlah yang paling beruntung. Kakek ini hanya
menghadapi puluhan keroco. Dengan gerakan
seenaknya, dirangsek lawan-lawannya. Ke
mana tongkat di tangannya bergerak, sudah pasti di situ ada sesosok
tubuh yang roboh.
Jerit pekik
kematian terdengar saling susul. Dalam waktu sebentar saja, sudah delapan orang
yang roboh di tangan kakek kurus kering ini.
Pengemis
Tongkat Merah bertarung tidak sepenuh hati. Sepasang matanya berkeliaran memperhatikan pertempuran lainnya. Terutama pertempuran Dewa Arak melawan
Raksasa Rimba Neraka.
"Akh...!"
Jerit tertahan
membuat Pengemis Tongkat Merah yang tengah enak-enaknya membunuhi lawannya jadi terperanjat. Suara
itu cukup dikenalnya. Suara Kantara!
Segera saja
kepala kakek kurus kering itu ditolehkan ke arah asal suara. Dapat dibayangkan
betapa kaget hatinya, melihat Kantara terhuyung-huyung. Di dada pemuda itu
tertancap sebatang golok bergerigi mirip gergaji yang tembus sampai ke
punggung. Kalau melihat bentuknya, jelas golok itu milik Gurat! Dan memang
sejak tadi Kantara bertempur melawan Gurat.
Seketika pucat
wajah Pengemis Tongkat Merah. Apalagi ketika melihat tubuh Kantara kemudian
roboh. Kakek ini melompat meninggalkan arena pertempuran, dan langsung
menerjang Gurat. Dan memang, dia pun telah menghabisi lawan-lawannya.
Gurat kaget
bukan main. Maka sebisanya dia berusaha mengelak. Tapi gerakannya terlalu
lambat bagi guru Kantara.
Prak!
"Aaakh...!"
Tubuh Gurat
rubuh di tanah ketika tongkat merah di tangan kakek kurus kering itu,
menghantam kepalanya hingga remuk.
Tepat saat
Gurat tewas, Sapta berteriak nyaring. Tombak pendek di tangannya melesat cepat
ke arah perut Toga yang sudah terdesak. Cepat-cepat kepala desa itu menangkis.
Tranggg...!
Tangan Toga
tergetar hebat. Dart di saat itu kaki kanan Sapta menyambar ke arah siku.
Tukkk...!
Toga merasakan
tangannya mendadak lumpuh, dan golok di tangannya pun terlempar. Di saat
itulah, dengan kecepatan yang sukar diikuti mata, tombak di tangan Sapta
meluruk deras ke arah lambung Toga.
Blesss...!
"Aaakh...!"
Toga menjerit memilukan. Beberapa saat lamanya tubuhnya bergetar
melawan maut, kemudian roboh untuk selamanya.
"Adi
Toga...!"
Gajula menjerit
ketika melihat adik kandungnya berkelojotan sesaat, untuk kemudian diam tidak
ber-gerak lagi.
"Keparat...!
Kubunuh kau...!"
Tanpa
mempedulikan Kami, Gajula melompat menerkam Sapta laksana seekor macan menerkam
mangsa. Kami yang melihat bahaya besar mengancam Sapta, segera melesat memburu. Pedangnya ditusukkan ke depan.
Sementara itu, Sapta hanya terkesiap. Terkaman itu begitu tiba-tiba
datangnya, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mengelak. Terpaksa dikerahkan
seluruh tenaga dalam yang dimiliki untuk memapak serangan dengan kedua tangan.
Plak!
Tubuh Sapta
terjengkang ke belakang. Memang tenaga dalam yang dimiliki Gajula lebih kuat.
Tapi sebelum Gajula sempat memberikan serangan susulan, serangan pedang Kami
telah lebih dulu tiba.
Cappp...!
"Akh...!"
Gajula memekik
tertahan. Pedang Kami telah menghunjam punggungnya hingga tembus ke perut.
Darah segar kontan muncrat ketika Kami mencabut pedangnya.
Tubuh Gajula
sempoyongan. Tampak jelas kalau si wajah kera ini mencoba bertahan. Tapi karena
luka-luka yang diderita terlalu parah, dia pun roboh ke tanah. Tubuhnya
menggelepar-gelepar sejenak, sebe-lum akhirnya diam tidak bergerak lagi.
"Kau tidak
apa-apa, Kang?" tanya Kami. Wajah-nya menampakkan kecemasan yang hebat.
Sapta
menggelengkan kepalanya. Rasa gembira yang amat sangat melanda hatinya melihat kekhawatiran gadis itu terhadap keselamatannya.
"Hanya
dadaku saja yang agak sesak sedikit Si wajah kera itu memang lihai bukan main.
Kalau saja tidak ada dirimu...."
"Sudahlah,
Kang...," selak Kami cepat.
"Grrrh...!"
terdengar gerengan murka Raksasa Rimba Neraka.
Seratus dua
puluh lima jurus telah berlalu, tapi kakek raksasa itu tidak juga mampu
mendesak Dewa Arak. Padahal 'Tinju Geledek' yang
jadi ilmu andalannya telah
digunakan. Bahkan sebaliknya, malah dia yang terdesak.
Kini terpaksa Raksasa Rimba Neraka menggunakan 'Jurus
Trenggiling'. Dan memang menghadapi jurus ini, Dewa Arak
kebingungan. Ilmu 'Belalang Sakti' jadi lumpuh menghadapi ilmu ini. Posisi
lawan yang selalu di bawah, membuat Arya repot bukan main. Sulit baginya untuk
menjatuhkan serangan.
Setiap serangan
Dewa Arak selalu berhadapan dengan sepasang kaki yang memiliki pertahanan kokoh
dan kuat. Sebaliknya setiap serangan kaki raksasa itu, membuatnya repot bukan
main. Pelahan namun pasti Dewa Arak terdesak.
Tapi walaupun
terdesak, pikiran Dewa Arak bekerja keras. Dari pengalaman menghadapi
lawan-lawan tangguh, pemuda berambut putih keperakan ini sadar kalau tidak ada
ilmu yang sempurna. Semua ilmu memiliki kelemahan. Oleh karena itu, Dewa Arak
sibuk berpikir untuk melumpuhkan ilmu lawan yang aneh ini.
Selama dua
puluh jurus kemudian, Dewa Arak hanya bisa mengelak. Tanpa mampu balas
menyerang. Karena memang tidak bisa menyarangkan serangan satu pun.
"Hait...!"
Sambil
berteriak nyaring, Raksasa Rimba Neraka kembali menyerang Dewa Arak. Kedua
kakinya bergerak menggunting kaki Arya.
"Hup...!"
Dewa Arak
melompat ke belakang. Sehingga guntingan kedua kaki raksasa itu mengenai tempat
kosong. Dan begitu tubuhnya berada di udara, Arya menghentakkan kedua
tangannya. Dengan jurus 'Pukulan Belalang' dari 'Tenaga Dalam Inti Matahari' yang jarang dipergunakan
Arya mengirimkan serangan.
Wuuusss...!
Blarrrr...!
Pukulan itu menghantam tanah tempat
Raksasa Rimba Neraka tadi berada. Namun demikian, Dewa Arak terus mencecar
raksasa itu dengan jurus 'Pukulan Belalang'-nya, sehingga lawannya hanya bisa
berguling-gulingan menghindari serangan yang dahsyat itu!
Serentetan
angin pukulan berhawa panas, menyambar deras ke arah Raksasa Rimba Neraka.
Kakek raksasa ini kaget bukan main. Cepat-cepat dilentingkan tubuhnya, kemudian
berguling-guling menjauh.
Blarrrr...!
Tak pelak lagi
pukulan itu menghantam tanah tempat Raksasa Rimba Neraka berada, hingga
berlubang besar. Namun demikian, Dewa Arak tidak membiarkan lawannya lolos.
Segera dicecarnya si raksasa itu dengan jurus 'Pukulan Belalang'-nya.
Suara menggelegar terdengar bertubi-tubi,
setiap kali Raksasa Rimba Neraka berhasil
mengelakkan serangan Dewa Arak. Kini keadaan jadi berbalik, karena Raksasa Rimba Neraka tidak memperoleh
kesempatan membalas.
Kakek bertubuh raksasa itu menggeram.
Disadari kalau keadaan seperti ini berlangsung terus-menerus, dia akan tewas di
tangan lawannya. Maka pada suatu kesempatan, raksasa ini melentingkan tubuhnya
ke atas sambil mengirimkan serangan pukulan jarak jauh.
Suara meledak-ledak terdengar mengiringi tibanya serangan itu. Tapi Dewa Arak yang
memang sudah memperhitungkan hal itu, segera membanting tubuh ke tanah. Tepat
pada saat itu, Arya melepaskan 'Pukulan Belalang'-nya.
Wuusss...!
Bresss...! "Aaakh...!"
Terdengar
jeritan ngeri dari mulut Raksasa Rimba Neraka. Pukulan yang dilepaskan Dewa
Arak telak menghantam
dadanya. Seketika itu juga
tubuhnya terlempar ke belakang sejauh beberapa tombak.
Brukkk...!
Disertai suara
berdebuk keras, tubuh itu jatuh ke tanah. Tapi kakek raksasa ini memang hebat
bukan main. Jurus 'Pukulan Belalang' yang biasanya langsung mematikan
lawan, ternyata tidak mampu menewaskannya. Walaupun dengan tertatih-tatih, kakek bertubuh raksasa itu
berusaha bangkit. Sekujur tubuhnya nampak hitam hangus.
Dewa Arak
terperangah juga melihat kekuatan Raksasa Rimba Neraka ini. Terpaksa
dilepaskannya lagi jurus 'Pukulan Belalang'-nya!
Bresss...!
"Aaakh...!"
Diiringi
jeritan menyayat hati, tubuh Raksasa Rimba Neraka terpental jauh ke belakang.
Beberapa saat lamanya tubuh itu melayang-layang di udara, sebelum akhirnya
jatuh ke tanah menimbulkan suara berdebuk keras. Dan seiring jatuhnya tubuh
kakek raksasa itu di tanah, nyawanya pun melayang meninggalkan raganya.
Pengemis
Tongkat Merah, Sapta, dan Kami bergegas memburu ke arah tubuh Raksasa Rimba
Neraka. Bergidik hati mereka melihat sekujur tubuh si raksasa itu yang tewas
dalam keadaan mengerikan, hangus seperti terbakar.
"Hei...!
Ke mana dia...?"
Sapta yang
lebih dulu tersadar karena ingin meminta maaf, merupakan orang pertama yang
menyadari kalau Dewa Arak telah tidak ada lagi di situ.
Karuan saja
ucapan Sapta membuat kaget Pe-ngemis Tongkat Merah dan juga Kami. Mereka pun
menolehkan kepalanya ke sana kemari, mencari-cari Dewa Arak.
"Dewa
Arak...! Aku, Sapta meminta maaf padamu! Aku telah berlaku tidak pantas padamu
kemarin malam...!"
Suara yang
dikeluarkan lewat pengerahan tenaga dalam itu menggema ke sekitarnya. Sapta
berdiri diam menunggu. Sayup-sayup di telinga pemuda berhidung melengkung itu
terdengar bisikan lirih, yang dikirimkan dari jarak jauh.
"Tidak ada
yang perlu dimaafkan, Sapta. Aku tahu kau tidak bersalah. Semua itu hanya salah
paham saja. Lupakanlah...!"
Seketika wajah
Sapta berseri-seri.
"Ada apa,
Kang? Mengapa kelihatan gembira sekali?" tanya Kami yang tidak dapat
menahan keingintahuannya.
"Dewa Arak
memang seorang pendekar sejati...," puji Sapta.
"Maksudmu...?"
tanya Pengemis Tongkat Merah. Agak tertahan suaranya.
"Dia sama
sekali tidak menyalahkan aku, atas peristiwa yang terjadi kemarin
malam...."
"Sudah
kuduga...," desah kakek kurus kering. Sementara itunun jauh di sana, orang
yang mereka percakapkan, tengah melangkah pelahan
menyusuri jalan. Sesekali, arak dalam guci yang digenggamnya itu dituangkan ke
mulut. Terdengar suara tegukan ketika arak itu memasuki kerongkongannya. Dewa Arak terus
melangkahkan kakinya. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan selaku seorang
pendekar. Nah, para pembaca yang budiman, sampai jumpa pada kisah Dewa Arak selanjutnya.
SELESAI
No comments:
Post a Comment