Banjir
Darah Di Bojong Gading
1
"Auuunggg…!"
Lolongan anjing hutan terdengar
menggaung panjang, membuat suasana malam yang sudah menyeramkan, menjadi
semakin seram.
Dalam suasana malam yang agak
gelap itu, nampak sesosok bayangan kuning berkelebat. Dan menilik dari gerakannya, bisa diketahui kalau bayangan kuning ini memiliki ilmu
meringankan tubuh yang tinggi.
Sosok bayangan kuning itu berlari
terus dengan kecepatan tinggi. Ketika kebetulan cahaya sinar obor menjilat
wajahnya, tampak kalau sosok bayangan kuning itu adalah seorang kakek berusia
sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya kecil kurus, dan wajahnya kecil mirip wajah
seekor tikus. Kumisnya hitam dan jarang-jarang.
Si wajah tirus itu baru
memperlambat langkahnya ketika mendekati sebuah bangunan besar yang berhalaman
luas. Pagar yang terbuat dari kayu bulat yang kokoh kuat mengelilingi bangunan
itu. Di atas pintu gerbang, terpampang sebuah papan tebal yang berukir indah.
Di situ tertulis huruf-huruf yang ber-bunyi "Perguruan Naga Api".
Kakek berwajah tirus itu
menghentikan langkah-nya di depan pintu gerbang perguruan yang tertutup rapat
itu. Perlahan-lahan diketuknya pintu gerbang itu.
Tok…! Tok...!
Kelihatannya pelan saja kakek itu
mengetuk, tapi
Akibatnya cukup dahsyat.
Seolah-olah pintu gerbang dari jati tebal itu digedor oleh balok kayu yang besar.
Dan karuan saja suara berisik itu membuat para murid Perguruan Naga Api yang
tengah bertugas jaga, berlarian mendekati pintu gerbang.
"Buka pintu
gerbang...!" perintah salah seorang dari mereka yang bercambang bauk
lebat.
"Tapi, Kang Somali,"
bantah seorang yang bertahi lalat besar di pipinya. "Bagaimana kalau orang
yang mengetuk itu tidak bermaksud baik?"
Si cambang bauk lebat yang
bernama Somali menatap tajam pada orang yang menyatakan dugaan itu.
"Tidak mungkin, Adi Prawira!
Kalau orang itu bermaksud tidak baik, tak mungkin datang terang-terangan
begitu."
Orang yang dipanggil Prawira mengangguk-anggukkan
kepalanya, tanda menerima alasan Somali.
Segera Prawira melangkah maju.
Diangkatnya palang kayu yang mengunci pintu gerbang itu, kemudian baru ditariknya
daun pintu gerbang itu.
Kriiittt...!
Suara bergerit tajam terdengar
mengiringi ter-bukanya pintu gerbang itu.
"Ah...! Kiranya Ki
Temula…!" kata Prawira kaget. "Silakan masuk, Ki!"
Kakek berwajah tirus yang
dipanggil Ki Temula hanya tersenyum. Kemudian dilangkahkan kakinya masuk ke
dalam. Begitu kakek itu masuk, Prawira segera menutup pintu kembali.
"Apakah Adi Gayadi
ada?" tanya Ki Temula, seraya memalingkan wajah ke arah Somali.
"Ada, Ki. Guru ada di
dalam," jawab Somali.
"Apakah Aki ada keperluan
dengan Guru?" "Benar!" sahut kakek berwajah tirus itu singkat.
"Kalau begitu, mari kuantar
untuk menemui beliau!"
Setelah berkata demikian, Somali
segera bergerak melangkah mendahului. Ki Temula pun mengikutinya Sementara para
murid yang tengah mendapat giliran jaga, kembali pada tugasnya masing-masing.
Ki Temula memang sahabat kental Ketua Perguruan Naga Api. Sering mereka
mengadakan pertemuan. Kadang-kadang di Perguruan Naga Api, dan sesekali di
perguruan yang dipimpin Ki Temula ini. Tidak jarang pula, di hutan-hutan sunyi,
atau di puncak-puncak gunung. Sehingga bukan merupakan hal yang mengejutkan
kalau malam ini kakek berwajah tirus itu datang berkunjung.
Somali mengantarkan Ki Temula
sampai di depan sebuah bangunan, tempat Ki Gayadi biasa ber-semadi. Biar ada
peristiwa penting apa pun, biasanya Somali tidak akan berani memberitahukan
pada gurunya, bila tengah bersemadi. Tapi, kedatangan Ki Temula merupakan suatu
pengecualian.
Tok...! Tok...!
Somali menunggu sejenak sehabis
mengetuk daun pintu pondok kecil itu.
"Siapa?!"
Terdengar sahutan dari dalam
pondok itu. Nada-nya terdengar agak kasar, seperti orang yang merasa terganggu.
"Aku, Guru..!" sambut
Somali cepat.
"Siapa?!" Kian keras
suara dari dalam pondok itu. "Somali, Guru."
"Hm.... Ada keperluan apa
sehingga kau berani membangunkan aku, Somali?!"
Somali menelan ludahnya untuk
membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Hatinya memang merasa tidak enak
juga, karena telah mengganggu ketenangan semadi gurunya.
"Aku mengantarkan Ki Temula
yang ingin bertemu guru...."
Hening sejenak, setelah si
cambang bauk itu menyelesaikan perkataannya.
Tidak ada suara sahutan yang terdengar dari dalam pondok.
Somali dan Ki Temula menanti.
Kriiittt..!
Terdengar suara bergerit agak
nyaring, disusul terbukanya pintu pondok kecil itu. Nampak di balik pintu itu
berdiri sesosok tubuh pendek gemuk berwajah cerah, penuh senyum. Usianya paling
banyak enam puluh tahun. Kakek inilah yang ber-nama Ki Gayadi, Ketua Perguruan
Naga Api.
"Ha ha ha...! Kakang Temula,
mari.... Silakan masuk, Kakang," ucap Ki Gayadi mempersilakan. Senyum
lebar tersungging di wajahnya yang penuh keceriaan.
"Terima kasih, Adi
Gayadi," sambut kakek berwajah tirus itu sambil melangkah masuk ke dalam.
Begitu Ki Temula telah melangkah
masuk, Ki Gayadi kembali menutup pintu pondoknya. Somali yang tahu diri sudah
lebih dahulu pergi, setelah memberi penghormatan pada kedua orang tua itu.
"Urusan apa yang membawa
Kakang ke sini? Ataukah ada perubahan rencana pada pertemuan Kita tiga purnama
mendatang?" tanya Ki Gayadi begitu menjatuhkan tubuh, duduk bersila di
depan tamunya. Memang, kakek pendek gemuk ini merasa heran melihat kedatangan
Ki Temula yang tidak diduga-duga itu.
Kakek berwajah tirus itu
menundukkan kepalanya sebentar.
"Memang, aku mempunyai
keperluan padamu, Adi Gayadi Makanya, malam-malam begini kupaksakan datang
menemuimu."
"Kalau boleh kutahu, apa
keperluan itu, Kang?" "Membunuhmu!"
Setelah berkata demikian, dengan
cepat Ki Temula menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan.
Wusss...!
Ki Gayadi terkejut bukan main.
Serangan itu datangnya terlalu tiba-tiba dan tidak tersangka-sangka. Apalagi,
Ketua Perguruan Naga Api ini tengah duduk bersila dan tidak bersikap waspada.
Bahkan jarak antara mereka terlalu dekat. Maka, walaupun kakek bertubuh pendek gemuk ini berusaha mengelak, tetap saja terlambat!
Bresss...! "Aaakh...!"
Ki Gayadi berteriak keras
memilukan. Pukulan jarak jauh itu telak dan kerasnya menghantam perutnya.
Seketika itu juga tubuh kakek pendek gendut itu lerlempar jauh ke belakang
menabrak dinding pondok yang terbuat dari papan.
Brak...!
Seketika itu juga dinding papan
itu jebol, terlanda tubuh laki-laki tua Ketua Perguruan Naga Api.
Brukkk..!
Terdengar suara berdebuk keras
ketika tubuh Ketua Perguruan Naga Api itu jatuh ke tanah.
"Huakkk. .!"
Segumpal cairan kental berwarna
merah keluar dari mulut kakek pendek gemuk yang berusaha bangkit dari
terbaringnya.
"Hup...!"
Ki Temula melompat keluar,
menyusul tubuh Ketua Perguruan Naga Api yang tergolek di sana. Ringan tanpa
suara, kedua kakinya mendarat di tanah, di depan Ki Gayadi.
Laki-laki tua pendek gemuk itu
berusaha bangkit, tapi luka dalam yang dideritanya terlalu parah, sehingga tak
mampu berdiri. Pukulan yang dilepaskan Ki Temula memang hebat sekali, karena
disertai pengerahan tenaga dalam penuh. Seluruh tulang-belulangnya seolah-olah
hancur berantakan semua-nya.
"Pergilah ke neraka,
Gayadi...!" dengus Ki Temula. Dingin dan datar suaranya. Dan tiba tiba
saja kakinya bergerak menyepak.
Prak...! "Aaakh...!"
Ki Gayadi memekik tertahan.
Kepala kakek pendek gemuk ini pecah ketika kaki Ki Temula telak meng-hantamnya.
Sesaat tubuhnya menggelepar-gelepar, sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi
untuk selamanya.
***
"Ha ha ha...!"
Ki Temula tertawa terbahak-bahak
melihat Ketua Perguruan Naga Api itu tewas. Sama sekali tidak dipedulikan derap
langkah kaki yang menuju ke tempatnya berdiri. Memang suara jebolnya dinding
papan itu telah didengar murid-murid Perguruan Naga Api. Mereka segera memburu
ke arah asal suara itu.
"Guru...!" teriak
Somali keras. Laki-laki bercambang bauk ini memang merupakan satu-satunya orang
yang paling dekat jaraknya dari tempat gurunya terbantai. Memang, ruang semadi
Ki Gayadi letaknya agak terpisah dari bangunan lainnya, tapi Somali saat itu
tidak jauh dari situ.
Sepasang mata Somali menatap
penuh rasa tidak percaya, pada sosok tubuh yang tergolek di tanah. Kemudian
tatapannya berpindah pada Ki Temula yang tengah tertawa terbahak-bahak.
Ki Temula menghentikan tawanya
ketika melihat kehadiran Somali. Sepasang matanya nampak
beringas, memandang pemuda bercambang bauk lebat itu. Tapi Somali sama sekali
tidak gentar. Kematian gurunya di tangan kakek kecil kurus yang berdiri di
hadapannya ini, benar-benar membuatnya terpukul. Jelas, ini terjadi Akibat
keteledorannya.
"Keparat..! Kau harus
mengganti nyawa guruku dengan nyawamu!"
Srat..!
Somali mencabut pedangnya,
lalu.... "Heyaaat..!"
Didahului sebuah pekik melengking nyaring, pemuda bercambang bauk
lebat ini melompat menerjang Ki Temula. Pedangnya diputar-putar-kannya di atas
kepala sebelum dibabatkannya ke leher kakek pembunuh gurunya itu.
Singgg...!
Suara mendesing nyaring mengawali
tibanya serangan pedang itu. Namun Ki Temula hanya mendengus.
"Susullah arwah gurumu ke
neraka, manusia dungu...!" desis laki-!Aki berwajah tirus itu tajam.
Kemudian tanpa ragu-ragu lagi, diulurkan tangan kanannya.
Tappp...!
Dengan sigap, pedang Somali
ditangkap laki-laki tua berwajah tirus itu. Dan sebelum pemuda itu berbuat
sesuatu, Ki Temula cepat menariknya. Tentu saja Somali yang tidak ingin pedangnya
terebut, berusaha menahan sekuat tenaga. Tapi tenyata tenaganya kalah kuat.
Apalagi tubuhnya sendiri saat itu tengah berada di udara. Maka tak pelak lagi,
tubuhnya ikut tertarik oleh tenaga lawan.
Pada saat tubuh Somali mendekat,
dengan cepat, Ki Temula menyodokkan ujung pedang ke perut Somali
Ceppp…! "Aaakh...!"
Somali menjerit ngeri. Gagang
pedang itu tembus hingga ke punggungnya. Memang hebat tenaga dalam kakek itu.
Dalam posisi terbalik, pedang itu mampu menembus perut pemuda bercambang bauk
lebat itu.
Tapi, daya tahan tubuh Somali
patut dipuji. Meskipun luka-luka yang diderita parah, dia masih mampu bertahan.
Padahal, kedua kakinya tampak menggigil keras. Tentu saja hal ini membuat Ki
Temula jadi kehilangan kesabarannya. Maka tangannya pun terayun menampar ke arah
pipi.
Prak...!
Terdengar suara berderak keras ketika
kepala pemuda bercambang bauk itu pecan terhantam tangan laki-laki tua itu.
Tanpa sempat mengeluh lagi tubuh Somali terjerembab jatuh.
Tepat saat tubuh Somali ambruk,
murid-murid Perguruan Naga Api yang lain pun tiba. Dapat dibayangkan betapa
kagetnya hati mereka melihat dua sosok tubuh yang tergeletak di tanah. Berkat
sinar obor yang terpancang di sudut rumah, mereka dapat melihat jelas dua sosok
tubuh yang tergeletak diam tidak bergerak itu.
"Guru...!" teriak
mereka berbareng. Beberapa saat lamanya berpasang-pasang mata terpaku menatap
tak percaya sosok tubuh yang tergolek di tanah.
Melihat kesempatan yang baik itu,
Ki Temula tidak menyia-nyiakannya.
"Hup...!"
Kakek kecil kurus berwajah tirus
ini segera melesat dari situ. Cepat bukan main gerakannya, sehingga dalam
sekejap mata saja tubuhnya sudah berjarak sepuluh tombak dari tempat semula.
Melihat Ki Temula melarikan diri,
para murid perguruan itu pun tersadar.
"Pembunuh keparat itu
kabur...!" teriak Prawira. "Kejar...!" sambut yang lain.
Tak pelak lagi, sebagian besar
dari mereka berlari mengejar Ki Temula. Sementara sisanya menghampiri mayat Ki
Gayadi dan Somali.
Mereka segera mengangkat
tubuh-tubuh yang telah kaku itu ke ruang utama perguruan.
Sementara itu, sepertinya Prawira
dan beberapa murid perguruan tak mampu mengejar Ki Temula. Ilmu meringankan
tubuh kakek berwajah tirus itu berada jauh di atas mereka. Maka, tanpa
mengalami kesulitan kakek itu berhasil melompati pagar dari kayu bulat dan kuat
yang mengelilingi bangunan besar berhalaman luas itu.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara kedua kaki Ki
Temula mendarat ringan di tanah. Dan sekali tubuh kakek ini melesat, tubuhnya
pun lenyap ditelan kegetapan malam.
"Keparat..!" maki
Prawira yang kalang kabut melihat buronannya berhasil kabur dari situ.
***
Beberapa saat lamanya, Prawira
dan murid-murid lainnya menatap ke arah kepergian Ki Temula. Wajah mereka menyiratkan perasaan dendam dan kemarahan yang amat sangat.
Beberapa saat kemudian, dengan langkah bergegas mereka semua melesat ke ruang
utama perguruan tempat Ki Gayadi dan Somali dibaringkan.
"Bagaimana, Kakang
Branta?" tanya Prawira pada seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun.
Napas pemuda bertahi lalat besar ini agak memburu.
Orang yang dipanggil Branta
tersenyum getir. "Beliau telah tewas...," sahui Branta lirih.
"Keparat..!" Prawira berteriak keras. "Keparat kau.
Ki Temula! Tunggulah
pembalasanku...!"
"Tutup mulutmu,
Prawira...!" bentak Branta keras Seketika sepasang mata Branta tampak
berKilat penuh kemarahan ketika menatap wajah adik seper-guruannya itu. Memang,
di Perguruan Naga Api hanya tinggal satu orang murid kepala, yaitu Branta.
Sementara murid tingkat dua ada dua orang, yaitu Somali dan Prawira.
Sebenarnya, masih ada tokoh yang
terhitung sesepuh di Perguruan Naga Api. Dia adalah kakak seperguruan Ki Gayadi
yang bernama Ki Santa. Hanya sayangnya beliau jarang ikut campur dalam urusan
perguruan. Kakek itu lebih suka bersemadi dan menyepi.
Mendengar bentakan Branta,
Prawira langsung melengak kaget
"Mengapa, Kang?! Tidak
bolehkah aku membalas dendam pada orang yang membunuh Guru secara licik
itu?!" sergah pemuda Itu. Ada nada penasaran dalam suaranya.
Branta menatap Prawira tajam,
tapi yang ditatap malah membalas tidak kalah tajamnya pula. Beberapa saat
lamanya kedua pasang mata itu saling tatap.
"Hhh...!"
Setelah Branta menghela napas
panjang, dialihkan pandangannya dari Prawira. Dia tahu kalau diterus-kan
mungkin tidak akan bisa menahan diri. Dan ucapan Prawira yang berani
menentangnya secara jelas di depan murid-murid lainnya membuat amarah-nya bangkit. Hanya saja, Branta tidak ingin menambah suasana yang
sudah rusuh ini menjadi semakin rusuh oleh keributan dengan Prawira.
Maka, walaupun dadanya terasa
sesak oleh hawa amarah yang membakar. Branta tetap menyabarkan hatinya.
Dialihkan pandangannya pada wajah adik-adik seperguruan yang lain. Sudah bisa
diduga kalau di wajah mereka tersirat adanya ketidakpuasan pada sikapnya yang
membentak Prawira.
"Kuharap kalian semua bisa
menahan diri, dan jangan mudah terpancing oleh peristiwa ini. Yang paling
penting bagi kalian adalah berpikir secara jernih. Buangiah jauh-jauh perasaan
amarah yang melanda hati kalian," ujar Branta menenangkan adik-adik seperguruannya.
"Kakang. Guru telah dibunuh
orang! Dan sekarang kau menyuruh kami bersabar?! Bahkan melarang kami untuk
membalas dendam. Murid macam apa kau ini?!" sergah Prawira keras.
"Jaga mulutmu, Prawira!
Redakan amarahmu! Bukan hanya kau saja yang terpukul dan dendam atas kematian
Guru!" tegas Branta.
Prawira pun terdiam. Disadari
kebenaran ucapan kakak seperguruannya ini. Tapi amarah yang ber-kobar di dalam
dada, membuatnya menuduh kehati-hatian kakak seperguruannya itu, sebagai sikap
pengecut! Hanya saja, perasaan segan pada kakak seperguruannya, memaksanya
untuk diam, dan tidak membantah lagi. Dia bertekad akan membalaskan dendam ini
secara diam-diam.
"Sudahlah...! Kita pikirkan
hal itu nanti. Sekarang yang penting, uruslah mayat-mayat ini," ucap
Branta lagi mengalihkan persoalan. Pemuda bermata sayu ini sudah merasa lega
melihat usahanya meredakan amarah Prawira telah berhasil. Dia tidak tahu bahwa
sebenarnya Prawira masih sangat penasaran, dan bertekad akan mencari pembunuh
gurunya itu.
Setelah berkata demikian, Branta
lalu mengangkat mayat gurunya dan membawanya masuk ke dalam. Prawira pun
mengikutinya sambil memanggul tubuh Somali.
2
Seorang pemuda berambut putih
keperakan dan dibiarkan meriap, melangkah pelahan memasuki mulut sebuah hutan.
Di punggungnya tersampir sebuah guci arak yang terbuat dari perak.
Baru saja beberapa langkah,
kening pemuda ini mendadak berkerut. Pendengarannya yang tajam menangkap adanya
banyak langkah kaki yang menuju ke arahnya. Tapi pemuda yang tak lain Arya
Buana atau lebih terkenal dengan julukan Dewa Arak, tidak mempedulikannya. Dewa
Arak pura-pura tidak tahu dan terus saja melangkahkan kakinya.
Benar saja. Beberapa langkah
kemudian, Dewa Arak sudah melihat serombongan orang yang rata-rata berusia
muda. Jumlah mereka tak kurang dari dua puluh orang, dan semuanya berpakaian
warna putih-putih. Di bagian dada sebelah kiri, ada sulaman gambar kepala naga
yang tengah menyemburkan api.
Sekali lihat saja Dewa Arak tahu
kalau rombongan itu berasal dari sebuah perguruan beraliran putih. Hal ini bisa
diketahui dari sikap mereka yang rata-rata tidak menampakkan keliaran dan
kecongkakan.
Hanya saja yang membuat Dewa Arak
tidak habis pikir, adalah wajah mereka yang rata-rata mem-bayangkan kemarahan
hebat. Dewa Arak pun mem-pertajam pendengarannya untuk mencuri dengar
pembicaraan mereka, walaupun jaraknya cukup jauh dengan mereka.
"Kita harus membalas
dendam..! Semalam aku ragu mendengar kata-kata yang diucapkan Kakang
Branta. Tapi, tak lama kemudian
aku teringat. Ternyata pembunuh itu menggunakan ilmu 'Cakar Garuda' ketika
membunuh Kakang Somali."
"Benar, Kakang Prawira! Kau
harus membalas dendam pada kakek itu!" sambut yang lainnya.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
Dia seketika menduga kalau rombongan ini pasti hendak ber-tarung.
Semakin lama jaraknya dengan
rombongan itu semakin dekat. Dan dengan sendirinya percakapan mereka pun
semakin jelas terdengar telinganya. Tak lama kemudian Dewa Arak berpapasan
dengan mereka pada sebuah jalan kecil yang di kanan kirinya ditumbuhi
semak-semak dan pohon-pohon rimbun.
Kekaguman Dewa Arak semakin
bertambah, ketika melihat rombongan itu menghentikan langkah-nya. Bahkan
menggeser tubuh mereka ke pinggir, memberi jalan padanya untuk lewat. Baru
setelah Arya lewat, mereka kembali melanjutkan langkahnya.
Arya ragu-ragu untuk meneruskan
langkahnya. Simpatinya seketika timbul melihat sikap mereka. Ingin diketahui,
masalah apa yang membuat pemuda-pemuda gagah itu hendak bertarung. Memang dari
ucapan yang tadi sempat didengar, diketahui kalau rombongan itu ingin membalas
dendam. Tapi pada siapa?
Beberapa saat lamanya batin
pemuda ini ber-perang, antara melanjutkan perjalanannya ataukah mengikuti
rombongan pemuda gagah itu tadi. Akhirnya, Dewa Arak memutuskan untuk mengikuti
rombongan berseragam putih-putih itu. Langkahnya segera dihentikan dan berbalik
ke arah yang tadi ditinggalkan. Sesaat matanya menatap ke arah pohon di
depannya, dan....
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, kedua kakinya
hinggap di cabang sebatang pohon, kemudian melompat ke cabang lainnya. Begitu seterusnya.
Sehingga tak lama kemudian, rombongan orang berseragam putih-putih itu terlihat
kembali.
Kening Dewa Arak berkernyit
ketika melihat rombongan pemuda itu mulai mendaki lereng gunung. Pemuda
berambut putih keperakan itu tahu kalau yang mereka daki itu adalah Gunung
Munjul, yang pada salah satu lerengnya terdapat sebuah perguruan yang bernama
Perguruan Garuda Sakti. Apakah rombongan orang itu hendak menuju ke sana? Maka
perasaan tidak enak pun menjalari hati Dewa Arak. Karena yang diketahuinya, Perguruan
Garuda Sakti adalah sebuah perguruan beraliran putih.
Dugaan Dewa Arak tidak meleset.
Rombongan itu ternyata benar menuju Perguruan Garuda Sakti, dan rata-rata
gerakan mereka cukup gesit ketika mendaki lereng gunung itu.
Tak lama kemudian, rombongan itu
pun sudah mendekati pintu gerbang Perguruan Garuda Sakti. Dan rupanya dua orang
murid Perguruan Garuda Sakti yang tengah menjaga pintu gerbang itu melihat
kehadiran rombongan itu. Nampak jelas kalau dua orang penjaga itu agak bingung
melihatnya.
Tapi sebelum mereka sempat
bertindak, tiba-tiba saja rombongan murid Perguruan Naga Api yang dipimpin
Prawira itu meluruk menyerbu.
"Serbuuu...!"
Maka serentak dua puluh orang
murid Perguruan Naga Api itu meluruk ke arah pintu gerbang.
Singgg...! Singgg...!
Suara desing golok dan pedang
yang melesat keluar dari sarungnya, menyemaraki suasana yang hening dan sepi
itu. Melihat hal ini, karuan saja dua orang murid Perguruan Garuda Sakti yang
menjaga pintu gerbang itu terkejut. Serentak keduanya mencabut senjatanya masing-masing, mencoba meng-halau
serbuan dua puluh orang itu.
Sementara Dewa Arak yang melihat
hal itu tidak berani gegabah ikut campur, karena belum tahu masalahnya. Ikut
campur tangan sebelum tahu masalahnya merupakan perbuatan tidak bijaksana.
Lagi pula, dua puluh orang itu
kelihatannya ber-sikap ksatria. Jelas mereka kelihatan tidak bermain curang.
Buktinya dua orang penjaga itu tidak di-keroyok melainkan diserang oleh dua di
antara mereka. Sedangkan sisanya menyerbu masuk. Dewa Arak memutuskan untuk menonton
saja sambil ber-tengger di atas sebuah cabang pohon.
Trang..! Trang...!
Denting suara senjata beradu
terdengar ketika dua orang penjaga pintu gerbang itu menangkis dua buah
serangan yang mengancam nyawa mereka. Sesaat kemudian keempat orang itu sudah
terlibat per-tarungan mati-matian.
Sementara itu, Prawira dan
rekan-rekan lain menerobos masuk. Mereka segera berhadapan dengan murid-murid
Perguruan Garuda Sakti. Tak pelak lagi. pertarungan massal pun terjadi
Mulanya pertarungan itu berjalan
seimbang. Tapi lama-kelamaan, mulal nampak kalau Prawira dan rekan-rekannya
lebih unggul katimbang mereka. Memang rombongan yang menyerbu adalah
murid-murid pilihan, walau bukan murid-murid kepala. Sementara di Perguruan
Garuda Sakti, hanya terdapat murid-murid rendahan. "Aaa...!"
Jerit kematian pertama terdengar
dari mulut penjaga pintu gerbang ketika golok murid Perguruan Naga Api menembus
perutnya hingga ke punggung.
"Aaakh...!"
Kembali salah seorang murid
Perguruan Garuda Sakti memekik tertahan ketika pedang di tangan lawan memenggal lehernya hingga buntung. Beberapa saat lamanya tubuhnya
menggelepar-gelepar sebelum akhirnya, diam tidak bergerak lagi.
Belum lama tubuh orang kedua itu
roboh ke tanah, terdengar lagi jerit kematian dari mulut murid Perguruan Garuda
Sakti Satu persatu tubuh mereka berguguran ambmk ke tanah.
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
Pandangan matanya yang tajam, dapat melihat adanya sosok tubuh yang bersembunyi
di balik wuwungan rumah. Dan hal ini membuat Dewa Arak heran. Menilik dari
pakaiannya yang berwarna kuning, dapat diper-kirakan kalau yang bersembunyi itu
adalah orang Perguruan Garuda Sakti. Tapi mengapa tidak mem-bantu murid-murid
perguruan yang dalam keadaan kritis itu?
Belum lagi Dewa Arak menemukan
jawabannya, dari dalam salah satu bangunan berkelebat sesosok tubuh. Dan
tahu-tahu, di arena pertarungan telah berdiri seorang kakek bertubuh tinggi
kurus dan berwajah mirip kuda.
"Mundur semua...!"
teriak kakek muka kuda itu. Seketika itu juga, murid-murid Perguruan Garuda
Sakti yang tengah bertarung
berlompatan mundur. Sedangkan murid-murid Perguruan Naga Api tidak mengejar,
dan hanya berlompatan mundur untuk berkumpul.
Kakek muka kuda itu memandang
berkeliling. Wajahnya nampak beringas melihat murid-murid Perguruan Garuda
Sakti yang bergeletakan tanpa nyawa di sana-sini.
"Kalian semua harus
mati...!" dengus kakek itu dingin.
"Hiyaaa...!"
Tubuh kakek muka kuda melesat ke arah
kumpulan murid-murid Perguruan Naga Api. Sasaran pertama adalah seorang murid
bernama Kelana yang berada paling depan.
Wut..!
Tangan kakek muka kuda itu
melayang deras ke arah kepala pemuda berkuping caplang itu. Tentu saja Kelana
tidak membiarkan kepalanya hancur ditampar tangan mengandung tenaga dalam
tinggi itu. Buru-buru disabetkan pedangnya pada tangan yang menampar itu.
Trak...!
Pedang itu langsung patah begitu
tertangkis tangan si kakek muka kuda. Karuan saja hal ini membuat Kelana kaget
bukan main. Belum lagi pemuda ini sadar, kaki kanan kakek itu sudah melayang ke
arah dadanya.
Buk...! "Aaakh...!"
Dengan deras dan keras, kaki itu
menghantam dadanya. Seketika itu juga tubuh Kelana terlempar jauh ke belakang
dan jatuh di tanah menimbulkan suara berdebuk nyaring. Darah segar langsung
berhamburan dari mulut, hidung dan telinganya. Saat itu juga nyawa pemuda itu
melayang meninggalkan raganya. Tulang dadanya remuk seketika.
Tidak hanya sampai di situ saja
yang dilakukan si kakek muka kuda. Patahan pedang Kelana yang berada di
tangannya langsung dilesatkan ke arah lawannya.
Singgg...! Cappp..!
"Aaa...!"
Seorang yang bertubuh pendek
menjerit panjang ketika patahan pedang itu menancap di perutnya hingga tembus
ke punggung. Beberapa saat lamanya tubuh laki-laki itu menggelepar-gelepar di
tanah sebelum akhirnya diam tidak bergerak lagi.
"Serbuuu...!" perintah
Prawira keras. Pemuda ini sadar kalau
lawan di hadapannya memiliki kepandaian tinggi. Jadi kalau dihadapi seorang
demi seorang hanya akan mengantarkan nyawa sia-sia.
Kini delapan belas orang murid
Perguruan Naga Api itu, menyerbu kakek muka kuda secara berbareng. Belasan
senjata tajam berkelebat meng-ancam sekujur tubuhnya.
Tapi si kakek muka kuda itu hanya
mendengus. Bahkan enak saja menyelinap di antara hujan senjata yang menyambar
tubuhnya. Sehingga, tak satu pun serangan pengeroyoknya yang mengenai sasaran.
Selama beberapa gebrakan, kakek
muka kuda ini hanya mengelak.
Dan pada saat mempunyai kesempatan, mulai
balas menyerang. Tangan dan kakinya segera berkelebat, mencari sasaran yang
mematikan.
Plak! Buk! "Aaakh... !"
"Aaa...!"
Dua orang pengeroyoknya menjerit
tertahan dan langsung roboh ke tanah, tidak bergerak lagi untuk selamanya.
Tamparan dan tendangan yang ditunjang tenaga dalam tinggi itu memang tidak
mungkin bisa ditahan, sehingga dada dan perut mereka hancur!
Tentu saja hal ini membuat
Prawira dan rekan-rekannya semakin marah. Akibatnya, serangan yang dilancarkan
pun semakin dahsyat Tapi, karena tingkat kepandaian mereka memang terpaut jauh,
maka tidak sulit bagi kakek muka kuda untuk mengelakkan setiap serangan.
Dewa Arak kaget bukan main
melihat hal ini. Sungguh tidak disangka kalau kakek muka kuda itu bersikap
begitu telengas. Seperti tidak berperasaan, begitu enaknya dia membunuhi murid-murid Perguruan Naga Api yang
telah bersikap begitu ksatria.
Jiwa kependekaran Dewa Arak pun
bangkit, karena tidak suka melihat kekejaman kakek Itu. Masalahnya, dia sendiri hampir tidak pernah membunuh
sembarangan orang, sekalipun lawannya itu seorang penjahat! Tapi, kakek muka kuda itu begitu
gampangnya membunuhi murid Perguruan Naga Api. Padahal dari sikap yang
ditunjukkan, jelas kalau mereka adalah golongan penentang ketidakadilan.
Segera saja Dewa Arak melompat
turun dari cabang pohon yang sejak tadi didudukinya, dan langsung meluruk ke
arena pertempuran. Sempat dilihatnya orang yang bersembunyi di balik wuwungan
itu melesat kabur.
Saat itu, Prawira tengah
menyerang kakek muka kuda dengan sebuah tusukan ke arah perut. Seketika kakek muka kuda melangkahkan kakinya ke belakang. Sehingga tusukan pedang
itu tidak menemui sasaran. Sebelum Prawira menarik pulang serangan, tangan kakek
itu telah lebih dulu menangkap
pedangnya.
Prawira yang mengetahui adanya
bahaya besar yang mengancam, tidak berani bersikap malu-malu. Buru-buru
dilepaskan pedangnya, dan secepat itu pula dilempar tubuhnya ke belakang.
Tapi kakek muka kuda itu ternyata
tidak mem-biarkannya lolos. Begitu Prawira melempar tubuh ke belakang segera
dihentakkan kedua tangannya ke depan.
Wut!
Angin berhembus keras ke arah
tubuh pemuda bertahi lalat besar itu. Tentu saja wajah Prawira memucat, karena
menyadari adanya bahaya maut mengancam. Jelas, dia tidak mampu mengelak-kannya.
Tapi di saat kritis itu, dari
arah yang berlawanan tiba-tiba berhembus angin keras yang memapak angin pukulan
kakek muka kuda. Tak dapat dicegah lagi, dua angin pukulan itu kini bertemu di
udara.
Blarrrr...!
Ledakan keras seketika terdengar
begitu dua angin pukulan itu bertemu. Sekitar tempat itu sampai bergetar Akibat
ledakan itu.
Bukan hanya itu saja. Bahkan para
murid Perguruan Naga Api yang berada dekat situ kontan berpentalan ke belakang,
Akibat pengaruh getaran tadi.
"Keparat..!" maki kakek
muka kuda.
Sebagai orang yang telah
mempunyai pengalaman luas, kakek ini tahu kalau ada orang berkepandaian tinggi
yang telah menyelamatkan korbannya. Dan tentu saja hal ini membuatnya geram
bukan main.
Dengan pandang mata marah, diarahkan
sepasang matanya ke arah asal angin pukulan tadi.
Di sebelah kanan Prawira yang
kini telah selamat hinggap di tanah, tampak seorang pemuda berambut putih
keperakan yang tengah berdiri tenang. Di tangan kanannya telah tergenggam
sebuah guci arak yang terbuat dari perak.
"Siapa kau?!" tanya
kakek muka kuda. Kasar dan keras suaranya. "Mengapa mencampuri
urusanku!"
Pemuda yang tak lain dari Dewa
Arak itu ter-senyum getir.
"Aku Arya. Sudah menjadi
watakku untuk tidak membiarkan melihat kekejaman berlangsung di depan mataku!"
sahut Dewa Arak, keras dan tegas suaranya.
"Ketidakadilan?! Apa
maksudmu, Anak Muda?! Apakah yang kau maksud dengan ketidakadilan itu? Apakah
tindakanku yang telah menghukum orang-orang yang telah mengacau dan membunuhi
murid-muridku salah?!"
"Kau terlalu kejam,
Ki!" tandas Arya tajam. "Kuperingatkan padamu, Anak Muda. Ini adalah
urusan dalam perguruan.
Perguruanku dikacau, dan murid-muridku dibantai! Adalah hakku untuk meng-hukum
si pengacau. Dan ini tidak ada sangkut pautnya denganmu!" tegas kakek muka
kuda, langsung merah mukanya.
Dewa Arak menggelengkan
kepalanya.
"Sayang sekali, Ki. Sejak
mulai mempelajari ilmu silat, aku sudah bertekad untuk tidak membiarkan adanya
kekejaman berlangsung di depan mataku!" tegas Arya.
"Kau keras kepala, Anak Muda!
Tapi..., tunggu dulu! Katamu tadi namamu Arya?" tanya kakek muka kuda.
Sepasang matanya menatap Dewa Arak penuh selidik. Kemarahannya pun seketika
mereda, ketika mengingat nama Arya Buana.
"Begitulah nama yang
diberikan orang tuaku, Ki." "Arya?!" ulang kakek itu. Sepasang
alisnya berkerut
"Rasanya aku pernah mendengar orang yang mempunyai nama seperti itu?! Kalau tidak
salah..., Arya Buana. Apa betul itu namamu?!"
"Benar, Ki. Namaku adalah
Arya Buana. Aki sendiri siapa?" tanya Dewa Arak yang kemarahannya juga
telah mereda.
"Aku? Namaku tidak sekondang
dirimu, Anak Muda! Bukankah kau yang berjuluk Dewa Arak? Aku tahu, orang sering
membicarakanmu!" ujar orang tua itu, yang mulai merendah. Dia memang
merasa tidak mungkin mampu berhadapan dengan tokoh yang telah terkenal
kedigdayaannya.
"Ah...! Berita itu terlalu
berlebih-lebihan, Ki," ucap Arya merendah. "Apakah Aki bernama Ki
Temula, Ketua Perguruan Garuda Sakti itu?!"
Kakek muka kuda itu menggelengkan
kepalanya. "Bukan. Namaku Ki Matija. Sedangkan Ki Temulaadalah kakak
seperguruanku. Sayang sekali dia sudah enam hari masuk ruang semadi, sehingga
tidak bisa keluar sekarang. Dan kalau tidak salah, besok baru bisa
keluar."
"Bohong! Kau bohong, Ki
Matija!" teriak Prawira. Keras sekali suaranya.
Wajah kakek muka kuda yang
bernama Ki Matija itu memerah. Sepasang matanya memancarkan kemarahan ketika
menatap pemuda bertahi lalat besar itu.
"Tutup mulutmu, pengacau!
Kalau tidak me-mandang Dewa Arak, sudah kubunuh kau!"
"Demi membela kehormatan,
bagiku mati tidak berarti apa-apa, Ki Matija! Tidak seperti kau,
pengecut!" teriak Prawira
sambil menuding ke arah laki-laki tua muka kuda itu.
"Keparat...! Akan kuadukan
sikapmu yang tidak pantas ini pada gurumu!" bentak Ki Matija.
"Tidak perlu berpura-pura
bodoh, Ki Matija!"
Ki Matija yang memang mempunyai
sifat pemberang, seketika wajahnya merah padam. Sikap Prawira dirasakan sudah
keterlaluan. Bahkan Dewa Arak pun terkejut melihatnya. Tapi belum sempat Ki
Matija dan Dewa Arak berbuat sesuatu, Prawira telah melanjutkan ucapannya.
"Kau pikir untuk apa kami
semua ke sini mem-pertaruhkan nyawa, Ki Matija?! Dengarlah baik-baik! Kami
datang untuk membalaskan kematian guru kami! Kau tahu, Ki Gayadi telah dibunuh
Ki Temula secara licik! Maka, demi budi baik dan kehormatan Ki Gayadi, kami
semua rela mati di sini!"
"Apa?!" sepasang mata
Ki Matija membelalak lebar. "Ki Gayadi tewas?! Benarkah apa yang kau
ucapkan ttu, Anak Muda? Kapan dia tewas?"
Nampak jelas kalau kakek muka
kuda itu kaget bukan main. Bahkan Dewa Arak sendiri terkejut mendengarnya.
Pemuda ini sadar kalau persoalan yang dihadapi bukan persoalan kecil. Bahkan
bisa terjadi pertumpahan darah antara dua perguruan ini!
"Semalam!" sahut
Prawira keras.
Sesaat lamanya keheningan melanda
tempat itu. Berita yang dikatakan Prawira memang membuat terkejut semua orang
yang ada di situ.
"Benarkah apa yang kudengar
ini? Benarkah Adi Gayadi telah mendahuluiku?" tiba-tiba keheningan itu
dipecahkan oleh sebuah suara.
Dan belum lagi gema suara itu
lenyap, sesosok bayangan berkelebat dan telah berdiri di tengah-
tengah
mereka. Tampak di situ seorang kakek kecil kurus berwajah tirus mirip tikus.
" Kakang...!" seru Ki
Matija kaget melihat kehadiran kakak seperguruannya.
Prawira mendesis melihat kehadiran
kakek itu. Perasaan geram yang hebat tersirat di wajahnya. Tapi baru saja dia
hendak bergerak. Dewa Arak telah lebih dulu memegang pergelangan tangannya.
"Tenangiah, Kisanak. Dalam
persoalan sebesar ini, tidak baik bersikap ceroboh. Lebih baik, dengar dulu apa yang dikatakan Ki Temula," ucap Arya
menasehati.
Prawira menoleh, dan menatap Dewa
Arak lekat-lekat. Pemuda berambut putih keperakan itu ter-senyum lalu
menganggukkan kepalanya.
"Hhh...!"
Prawira menghela napas panjang.
Kedua tangan-nya yang semula sudah menegang penuh kemarahan, pelahan mengendur. Dilangkahkan kakinya ke belakang. Dia memang telah
percaya penuh pada Dewa Arak. Sebab tanpa pertolongan pendekar kondang itu,
mungkin dia dan seluruh rekannya telah tewas di tangan Ki Matija.
"Ah…! Tidak salahkah
pengilhatanku ini? Benarkah Dewa Arak yang
telah menggemparkan dunia persilatan itu, yang berkunjung ke sini?" ucap
kakek kecil kurus itu. Pandangan matanya memancarkan ketidakpercayaan melihat
kehadiran Dewa Arak di sini.
Wajah Arya memerah karena merasa
malu.
"Ah! Berita itu terlalu
dilebih-lebihkan, Ki." elak Dewa Arak malu. "Mana bisa dibandingkan
dirimu, Ki. Hampir semua orang tahu siapa dirimu, Ki. Bahkan para prajurit dan
Panglima pilihan Kerajaan Bojong
Gading berasal dari perguruan ini!"
"Aku dan rekan-rekanku
datang kemari untuk membalaskan kematian guruku. Ki Temula!" selak
Prawira. Pemuda bertahi lalat besar ini menjadi tidak sabar melihat orang yang
dicari malah terlibat pembicaraan dengan Dewa Arak.
Ki Temula segera megnalihkan perhatiannya.
"Semua pembicaraanmu telah kudengar, Anak
Muda," sahut kakek kecil
kurus yang bernama Ki Temula ini. Suaranya terdengar pelan. "Mungkin perlu
kuberitahukan padamu, bahwa telah enam hari lamanya aku tidak keluar dan ruang
semadi. Kalau tidak percaya pada ucapanku, kau boleh bertanya pada semua
muridku yang ada di sini. Mungkin perlu kau ketahui, Anak Muda.... Ki Gayadi
adalah segala-nya bagiku. Dia tidak hanya sekedar seorang sahabat. Bahkan boleh
dikatakan kami seperti kakak adik. Jadi kesedihanmu atas kematian gurumu itu
mungkin tidak sebesar kesedihanku. Hanya ini yang bisa kukatakan padamu.
Sekarang terserah bagaimana penilaianmu. Tapi yang jelas, aku tidak akan
tinggal diam. Aku juga akan mencari orang yang telah memakai namaku, dan membunuh
sahabat terbaik-ku."
Prawira dan rekan-rekannya
terdiam. Mereka melihat adanya nada kesungguhan pada suara dan wajah kakek
kecil kurus itu. Keragu-raguan kembali melanda hati mereka. Tentu saja hal ini
membuat bingung. Kalau bukan kakek ini lalu siapa orang yang telah datang
kemarin malam itu?
Dalam kebingungannya. Prawira
menatap satu persatu rekan-rekannya. Tapi semua rekannya malah menundukkan
kepala. Makin bingungiah hati pemuda ini. Dipandangnya Dewa Arak. Dari sinar
matanya, jelas kalau dia meminta pendapat pemuda berambut putih keperakan itu.
Dewa Arak mulanya tidak ingin
ikut campur, karena ini adalah urusan dalam kedua perguruan itu. Tapi ketika
Prawira memandangnya dengan sorot mata penuh permohonan, terpaksa Dewa Arak
ikut campur.
"Kalau menurut pendapatku,
jelas ada orang yang sengaja mengadu domba dengan jalan membunuh Ki
Gayadi," ucap Arya mengemukakan pendapat.
Ki Temula mengerutkan alisnya.
Memang dugaan Dewa Arak masuk akal. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, untuk
apa si pengadu domba itu melaku-kan semua ini?
"Kau yakin kalau yang
membunuh gurumu adalah aku, Anak Muda?" tanya Ki Temula pada Prawira.
Prawira yang kini sudah mereda
amarahnya menganggukkan kepala.
"Jelas sekali aku melihatmu,
Ki. Bahkan bukan hanya aku saja. Masih ada tiga orang lagi yang melihatnya.
Sayang, dua di antara mereka sudah tewas. Yang tersisa hanya aku dan
Sentanu," jawab pemuda itu sambil menunjuk pemuda berhidung besar di
sebelahnya.
Lagi-lagi kakek kecil kurus itu
menghela napas panjang.
"Matija," panggil Ki
Temula pada kakek muka kuda itu.
"Ya, Kang"
"Kau kutugaskan untuk
menyelidiki peristiwa ini. Cari, siapa pembunuh Ki Gayadi! Siapa pun dia, kalau
bisa kau tangkap hidup-hidup, bawa dia ke hadapanku! Tapi, kalau dia mati di
tanganmu, bawa mayatnya pun tidak apa-apa. Yang perlu kutegaskan
adalah, kau harus bertindak
tegas. Sekalipun orang itu aku sendiri. Ingat, kebenaran tidak mengenal tali
persaudaraan! Mengerti, Matija!"
"Mengerti, Kang," sahut
kakek muka kuda itu seraya menganggukkan kepalanya.
"Bagus!"
"Kapan aku harus berangkat,
Kang?"
"Sekarang juga! Aku tidak
ingin persoalan ini menjadi berlarut-larut!" tegas Ki Temula.
"Baik, Kang!"
Setelah berpamitan pada kakak
seperguruannya dan pada Dewa Arak, Ki Matija berkelebat dari situ. Cepat bukan
main gerakannya. Sehingga dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap di balik
pagar. Memang ilmu meringankan tubuh kakek muka kuda itu hampir mencapai
tingkat kesempurnaan.
"Sekarang masalah ini sudah
kita selesaikan. Aku harap, kalian kembali ke perguruan. Aku yakin, kedatangan
kalian kemari tanpa seijin Ki Santa!" tebak Ki Temula pelan.
Prawira dan rekan-rekannya
memasukkan kembali senjata-senjata yang digenggam ke dalam sarung masing-masing
"Kami pergi dulu, Ki,"
pamit Prawira.
"Silakan. O, ya. Kalau murid-murid
utamaku telah kembali, aku akan datang menjenguk ke sana. Sampaikan salamku
pada Ki Santa!"
"Akan kusampaikan, Ki!"
Ki Temula dan Dewa Arak
memandangi kepergian murid-murid Perguruan Naga Api itu hingga lenyap di balik
pagar.
"Terima kasih, Dewa Arak.
Tanpa campur tangan-mu, mungkin persoalan ini kian membesar. Dan Akibatnya
bukan hanya bagi dua perguruan saja, tapi kemungkinan besar akan merembet ke
Kerajaan Bojong Gading. Karena, banyak murid Perguruan Naga Api dan Perguruan
Garuda Sakti yang menjadi prajurit dan panglima di sana! Syukurlah, kau telah
bertindak tepat'"
"Ah! Kau terlalu berlebihan
memuji, Ki!" sambut Dewa Arak merendah.
"Ha ha ha...! Semua berita
yang kudengar cocok sekali dengan apa yang kulihat. Kau memang mengagumkan,
Dewa Arak! Mari, mari masuk...!"
Ki Temula melangkah mendahului
masuk ke dalam salah satu bangunan, diikuti Dewa Arak.
3
Murid-murid Perguruan Naga Api
berlari cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh. Lincah laksana kera, mereka
melompat ke sana kemari, menuruni lereng. Dan tak lama kemudian, mereka pun
telah memasuki hutan. Karena medan ini lebih mudah ditempuh, maka perjalanan
pun jadi lebih cepat.
Tapi, ketika mereka sampai di
tempat saat ber-papasan dengan Dewa Arak,
langkah mereka serentak terhenti. Pandangan mata mereka ter-tumbuk pada sosok
tubuh yang berdiri menghadang jalan.
Prawira dan kawan-kawannya kaget
seketika. Jelas sekali mereka mengenali sosok tubuh yang meng-hadang jalan itu.
Seorang kakek kecil kurus ber-pakaian kuning. Wajahnya tirus mirip wajah seekor
tikus. Siapa lagi kalau bukan wajah Ki Temula.
Melihat sikap yang dttunjukkan Ki
Temula, Prawira merasakan adanya bahaya mengancam.
Srat..!
Tanpa ragu-ragu lagi, pemuda
bertahi lalat besar di wajah itu menghunus pedangnya.
Srat..! Srat..!
Adik-adik seperguruan Prawira pun
segera meng-ikuti tindakannya. Prawira melangkah waspada. Selangkah demi
selangkah pemuda bertahi lalat besar ini berjalan. Dan dengan demikian, jarak
di antara mereka pun semakin bertambah dekat.
"Maai, Ki. Mengapa kau
menghadang perjalanan
kami? Apakah ada sesuatu yang
hendak dibicara-kan?" tanya Prawira. Dicobanya mengusir dugaan jelek yang
muncul.
"Ha ha ha...!" kakek
kecil kurus itu tertawa. Dan secara mendadak pula dihentikan tawanya.
"Enak saja! Sehabis mengacau, dan membunuh ingin pergi begitu saja, heh!
Orang seperti kalian harus mati!"
Wajah murid-murid Perguruan Naga
Api kontan berubah hebat!
"Apa maksudmu, Ki? Bukankah
baru saja kau telah mengutus Ki Matija untuk membuat masalah ini jadi jelas?
Tapi, mengapa sekarang bersikap lain? Kami jadi tidak mengerti!" tanya
Prawira keras.
"Kalian tidak perlu
mengerti!" sergah kakek kecil kurus itu. "Yang jelas, kalian harus
mampus! Habis perkara! Hiyaaa...!"
Setelah berkata demikian, Ki
Temula melesat menerjang. Kedua jari tangannya mengembang membentuk cakar
burung. Ibu jari dan kelingkingnya dilipat ke dalam. Seketika angin tajam
bersiutan nyaring mengi-ringi tibanya serangan itu.
Prawira kaget bukan main! Dia
tahu betapa dahsyatnya serangan itu. Pengalaman ketika hampir tewas di tangan
Ki Matija, telah membuatnya lebih berhati-hati. Telah dibuktikan sendiri,
betapa dahsyat-nya kepandaian kakek muka kuda itu. Apalagi kepandaian kakek di
hadapannya, yang merupakan kakak seperguruan Ki Matija.
Dengan demikian, pemuda ini tidak
boleh berlaku sembrono. Serangan-serangan yang datang itu tidak ditangkisnya, melainkan dihindari. Cepat-cepat dibanting tubuhnya ke
tanah, dan terus bergulingan menjauh.
Tapi Ki Temula ternyata tidak
membiarkannya
lolos. Dikejarnya tubuh yang
bergulingan itu dengan serangan cakar garudanya.
Untunglah di saat kritis bagi
Prawira, datang bantuan dari adik-adik seperguruannya. Secara berbareng, tiga
orang murid Perguruan Naga Api menyerang kakek kecil kurus itu dengan tusukan
pedang.
Singgg...! Singgg...! Singgg...!
"Keparat...!"
Ki Temula dongkol bukan main.
Terpaksa diurung-kan serangannya ke arah Prawira. Tubuhnya segera digeliatkan
sedikit, agar serangan itu tidak mengenai bagian-bagian tubuh yang berbahaya.
Kemudian secara berbareng kedua tangannya mengibas.
Takkk...! Takkk...! Takkk...!
Pedang-pedang itu meleset ketika
telak mengenai dada dan perut Ki Temula. Sepertinya yang ditusuk itu bukanlah
tubuh manusia, melainkan sebuah benda licin.
Ketiga murid Perguruan Naga Api
itu terkejut ketika tangan mereka bergetar hebat dan terasa sakit-sakit. Dan
belum lagi sempat berbuat sesuatu, kibasan cakar kakek kecil kurus itu telah
menyambar ke arah mereka.
Wut..! "Akh...!"
"Aaa...!"
Jerit lengking kematian terdengar
saling susul. Kibasan cakar Ki Temula telak merobek leher mereka. Darah
seketika menyembur dari leher mereka yang terluka. Beberapa saat lamanya mereka
menggelepar-gelepar meregang nyawa di tanah, sebelum akhirnya diam tidak
bergerak lagi.
Prawira bangkit berdiri. Wajahnya
pucat melihat kematian tiga orang adik seperguruannya yang hanya sekali gebrak
saja. Pemuda itu tahu kalau mereka tewas karena hendak menyelamatkannya. Hal
ini membuatnya geram bukan main. Tanpa mempeduli-kan keselamatannya lagi,
Prawira segera melompat menerjang Ki Temula.
Tapi Prawira kalah cepat.
Ternyata adik-adik seperguruannya yang lain telah mendahuluinya. Secara
serentak mereka menyerang kakek kecil kurus itu dengan senjata terhunus.
Suara desing senjata mereka
mengiringi tibanya hujan serangan ke arah Ki Temula. Tapi laki-laki tua
berwajah tirus itu tenang-tenang saja, dan malah membiarkan saja serangan itu. Baru setelah serangan itu hampir menyambar, cepat laksana
kilat dia mengelak. Tubuhnya menyelinap di antara sambaran senjata lawannya.
Berkat ilmu meringankan tubuh
yang sudah mencapai tingkatan tinggi, tak sulit bagi kakek kecil kurus ini
untuk mengelakkan serangan-serangan itu. Sebaliknya setiap serangan balasannya, selalu mengenai sasaran. Dan sudah dapat
dipastikan, setiap serangannya selalu membuat nyawa lawan melayang ke akhirat.
"Aaakh...!"
Suara Jerit kematian terdengar
saling susul mengiringi robohnya tubuh-tubuh tanpa nyawa. Dalam waktu sebentar
saja, sudah tujuh orang murid Perguruan Naga Api yang roboh bergelimpangan tak
bernyawa.
Memang sudah dapat diduga kalau
akhirnya hampir semua murid Perguruan Naga Api akan tewas di tangan kakek kecil
kurus yang sakti ini. Dan untung saja tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat
cepat
memasuki kancah pertarungan yang langsung
menghujani Ki Temula dengan serangan bertubi-tubi.
Plak...! Plak...!
Berturut turut Ki Temula
menangkis serangan orang yang baru datang itu. Akibatnya, tubuh bayangan itu
terjengkang ke belakang, sementara tubuh Ki Temula terhuyung-huyung dua langkah
ke belakang.
"Ah...!"
Ki Temula berseru kaget. Disadari kalau penyerangnya itu
memiliki tenaga dalam yang tidak kalah dahsyat darinya.
"Mundur semua !" teriak
orang yang menyerang Ki Temula kepada sisa murid-murid Perguruan Naga Api. Maka
serentak Prawira dan sembilan rekannya berlompatan mundur. Mereka mengenali betul pemilik suara itu.
Sekitar tiga tombak di hadapan Ki
Temula, telah berdiri seorang kakek bungkuk berusia sekitar tujuh puluh tahun.
Kumis, Jenggot. dan cambangnya berwarna hitam. Hanya alisnya saja yang
kelihatan berwarna putih.
"Apa kabar, Santa?"
tanya Ki Temula. Bibirnya yang tipis menyunggingkan senyuman mengejek.
Keter-kejutan hatinya pun sirna tatkala mengetahui orang yang telah menangkis
serangannya. Tidak aneh kalau orang yang menyerangnya itu memiliki tenaga dalam
tinggi, karena dia adalah kakak seperguruan Ki Gayadi!
Ki Santa mengedarkan pandangannya
ke sekitar-nya. Tampak sosok-sosok tubuh murid Perguruan Naga Api yang telah
berserakan tanpa nyawa. Karuan saja hal ini membuatnya marah bukan kepalang.
"Tidak usah banyak
basa-basi. Temula! Aku menyesal sekali, tidak mempercayai ucapan murid-muridku.
Akibatnya, kembali mereka berguguran Akibat kekejianmu! Kau harus membalas
semua kekejianmu ini dengan nyawamu, Temula!"
"Ha ha ha..! Mampukah kau
melakukannya. Santa?!" ejek kakek kecil kurus itu tajam.
"Kita lihat saja
buktinya!" sergah kakek beralis putih, yang ternyata tidak pandai
berdebat.
Setelah berkata demikian. Tubuh Ki
Santa berkelebat menerjang. Sepasang kakinya melayang-kan tendangan
bertubi-tubi ke arah dada dan perut Ki Temula.
Ki Santa mengawalinya dengan
tendangan lurus kaki kanannya ke arah perut. Namun Ki Temula kelihatannya
bersikap tenang. Tanpa ragu-ragu lagi ditangkisnya tendangan itu dengan sabetan
tangan kanan. Tapi di luar dugaan, Ki Santa menarik kembali kakinya di tengah
jalan. Dan secepat itu pula dirubah menjadi sebuah tendangan miring ke arah
dada.
"Heh?!" dengus Ki
Temula.
Cepat-cepat laki-laki berwajah tirus
itu men-doyongkan tubuhnya ke belakang,
sehingga tendangan lawan hanya mengenai tempat kosong. Dan saat itulah tangan
kanannya bergerak cepat melakukan totokan ke arah mata kaki Ki Santa. Keras
bukan main totokan itu sehingga menimbulkan suara angin bersiutan nyaring.
Ki Santa tentu saja tidak ingin
mata kakinya hancur oleh totokan lawan. Buru-buru ditarik kakinya kembali, dan
secepatnya mengirimkan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya. Tampaknya
kedua tokoh sakti itu semakin bertarung sengit. Masing-masing berusaha menjatuhkan lawan secepatnya.
Suara angin mencicit dan menderu,
menyemaraki pertarungan dua tokoh sakti lain perguruan itu. Batu-batu besar dan
kecil beterbangan tak tentu arah. Ranting-ranting berpatahan di sana-sini. Dan
debu mengepul tinggi ke udara. Prawira dan kawan-kawannya buru-buru menjauh,
karena tidak berani menonton pertarungan itu dalam jarak dekat. Jangankan
terkena pukulan mereka, bahkan angin pukulannya saja sudah cukup membuat nyawa
terancam!
Ki Santa mengerahkan segenap
kemampuan yang dimiliki, seperti ingin buru-buru mengakhiri per-kelahian ini.
Kakek ini sadar kalau lawannya mempunyai banyak keunggulan dibanding dirinya.
Memang kelihatannya Ki Temula
masih giat berlatih diri. Sedangkan Ki Santa sendiri, hampir tidak pernah lagi
melatih ilmu-ilmu yang dimiliki, kecuali hanya bersemadi. Itu pun hanya
sekedarnya saja.
Memang kakek ini sudah tidak
berniat lagi untuk mengotori tangannya dengan darah. Tapi melihat keselamatan
murid-muridnya terancam, guru mana yang sampai hati?
Memang tidak aneh jika menginjak
jurus ke seratus, napas Ki Santa mulai memburu. Otot-otot tubuhnya yang sudah
tua dan tidak pernah terlatih lagi itu, tidak kuat lagi untuk dipakai
bertanding demikian lama.
"Ha ha ha...!"
Ki Temula tertawa terbahak-bahak melihat
keadaan lawannya yang mulai kepayahan. Kakek kecil kurus ini yakin, tak lama
lagi akan dapat merobohkan lawannya.
Saking merosotnya kondisi tubuh, maka
per-lawanan Ki Santa pun semakin mengendur. Perlahan
namun pasti, kakek beralis putih
ini mulai terdesak. Prawira dan adik-adik seperguruannya tentu saja
melihat kenyataan ini. Beberapa
kali terlihat tubuh Ki Santa terhuyung ke belakang, setiap kali menangkis
serangan Ki Temula. Sampai akhirnya....
Plak...!
"Akh...!" Ki Santa
mengeluh tertahan.
Tubuh laki-laki tua beralis putih
itu terjajar ke belakang ketika sebuah tamparan Ki Temula meng-hantam bahunya.
Seketika dirasakan sekujur tulang-tulang tangannya terasa remuk-redam.
"Hiyaaa...!"
Ki Temula melompat menerjang.
Tangan kanannya yang berbentuk cakar Garuda dijulurkan ke depan, ke arah ulu
hati Ki Santa. Terdengar angin bersiutan nyaring mengiringi tibanya serangan
cakar itu.
Sepasang mata Ki Santa terbelalak
lebar. Kelihatannya kondisi tubuhnya yang sudah lelah. Tidak memungkinkan untuk menangkis atau mengelakkan serangan itu. Yang
dapat dilakukan hanyalah menanti datangnya maut dengan mata terbuka lebar.
"Hiyaaa...!"
"Haaat...!" "Hih...
Sambil berteriak nyaring, tiga
sosok tubuh berkelebat memotong laju serangan Ki Temula. Mereka tidak lain
adalah murid-murid Perguruan Naga Api yang secara nekad menyerang kakek
berwajah tirus. Tampak tiga batang pedang pun berkelebat cepat mencari sasaran,
menuju ke bagian-bagian tubuh yang mematikan.
"Jangan…!" teriak Ki
Santa mencegah. Kakek beralis putih ini tahu akibat yang akan dihadapi tiga orang
muridnya bila mencoba memotong serangan Ketua Perguruan Garuda Sakti.
Sementara itu, Ki Temula kelihatan
geram dan marah bukan main melihat tindakan tiga orang itu. Terpaksa diurungkan
niatnya menyerang Ki Santa. Segera kedua tangannya berputaran cepat. Maka...
"Aaakh...!"
"Aaa...!" "Aaa…!"
Terdengar jerit kematian yang
saling susul. Sedangkan Ki Santa memandang dengan mata membelalak. Hampir saja
air matanya menetes melihat robohnya tiga sosok tubuh murid yang telah
menyelamatkan nyawanya. Kepala mereka semua remuk terkena cakar maut Ki Temula.
"Ha ha ha...! Kini
giliranmu, Santa! Ingin kulihat, siapa yang akan menyelamatkanmu kali ini!
Hiya...!"
Ki Temula meluruk menerjang Ki
Santa. Kedua tangannya yang berbentuk cakar menyerang ke arah ubun-ubun dan
dada kakek beralis putih itu.
Tapi sebelum Ki Santa berbuat
sesuatu, sesosok bayangan ungu telah lebih dulu melesat memapak serangan itu.
Prarrt…!
Tubuh kedua orang itu sama-sama
terjengkang ke belakang. Sedangkan Ki Temula kaget bukan main. Sekujur
tangannya terasa nyeri bukan main. Bahkan dadanya pun terasa sesak. Sadarlah
kakek kecil kurus berwajah tikus itu kalau orang yang baru datang ini memiliki
tenaga dalam sangat tinggi.
"Dewa Arak...!" dengus
Ki Temula tajam ketika melihat sosok pemuda berambut putih keperakan di
hadapannya.
Ki Temula sadar, keberadaan Dewa
Arak di situ
jelas akan membuat kedudukannya tidak menguntungkan. Rasanya bodoh kalau dia masih memaksakan diri
untuk melawan pemuda berbaju ungu itu. Mungkin kalau menghadapi Dewa Arak saja,
dia tidak gentar. Tapi di sana masih ada Ki Santa!
Maka, sebelum Dewa Arak sempat
berbuat sesuatu, tangannya segera bergerak ke balik jubah-nya. Dan secepat
tangan itu keluar, secepat itu pula berhamburan puluhan batang jarum halus ke
arah Arya. Bersamaan dengan itu, tubuh kakek berwajah tirus itu melesat pergi
dari situ.
Dewa Arak kaget bukan main.
Serangan itu sama sekali di luar dugaannya. Memang, bagi Dewa Arak tidak sulit
untuk mengelakkan serangan itu dan terus mengejar Ki Temula. Tapi, Dewa Arak
tidak ingin mengambil resiko. Kalau serangan itu dielakkan, bukan tidak mungkin
akan membawa korban murid-murid Perguruan Naga Api, atau Ki Santa. Dan Arya
tidak ingin hal itu terjadi. Segera dikeluarkan jurus yang jarang digunakannya,
jurus 'Pukulan Belalang'!
Wusss..!
Angin berhawa panas menyambar
deras dan langsung memukul runtuh jarum-jarum
yang dilepaskan Ki Temula. Tapi begitu jarum-jarum itu jatuh ke tanah, kakek
kecil kurus itu telah lenyap dari situ.
Dewa Arak memang tidak berniat
mengejarnya, karena disadari kalau hal itu tidak ada gunanya. Hutan ini cukup
lebat, lagi pula lawannya telah lenyap. Merupakan suatu pekerjaan amat sulit
dan berbahaya jika melakukan pengejaran, karena lawan dapat saja membokongnya
dari belakang!
***
Ki Santa memandang takjub
terhadap Dewa Arak Dari adu tenaga tadi, dan pukulan berhawa panas yang
dilepaskan, dapat diketahui kalau pemuda berambut putih keperakan ini memiliki
kepandaian tinggi.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Dewa Arak," ucap Ki Santa.
Walaupun kakek ini belum pernah
melihat Arya, tapi dia segera dapat mengenalinya. Memang, nama besar Dewa Arak
telah sampai ke Kerajaan Bojong Gading. Kini rasa lelahnya telah menghilang.
"Kalau tidak ada dirimu, mungkin hari ini aku hanya tinggal nama
saja," sambung Ki Santa merendah.
"Ah! Jangan berterimakasih kepadaku,
Ki. Berterima kasihlah pada Gusti Allah. Aku hanya perantara-Nya. Gusti
Allah-lah yang telah menuntun langkahku kemari."
Ki Santa tersenyum. Kekagumannya
pada Dewa Arak pun semakin bertambah tebal. Jelas, pemuda ini tidak mempunyai
sifat sombong! Ini nampak dari tindak-tanduknya.
"Kau benar, Dewa Arak,"
dukung Ki Santa. "Hhh...! Sungguh tidak kusangka kalau Ki Temula bisa
sekeji ini..."
"Maaf, Ki Aku tidak
sependapat denganmu," sergah Arya pelan, seraya mengerutkan keningnya.
"Aku yakin bukan Ki Temula pelaku semua pem-bunuhan keji ini. Masalahnya
belum lama ini aku juga habis dari Perguruan Garuda Sakti dan
berbincang-bincang dengan Ki Temula."
Mendengar pernyataan ini, Ki
Santa tersentak. Rasanya memang ada yang tak beres dalam persoalan ini. Ingatan
laki-laki beralis putih itu tiba- tiba terarah pada seorang tokoh hitam yang
menjadi musuh Ki Gayadi, adik seperguruannya itu. Namun di lain hal, dia malah
jadi sangsi. Ya! Mengapa orang itu begitu sempurnanya memainkan ilmu 'Cakar Garuda'? Sungguh suatu persoalan
yang rumit!
"Hhh.. !" Ki Santa
menghela napas. "Bisa kuterima ketidakpercayaanmu, Dewa Arak. Semula aku
juga tidak percaya ketika mendengar berita itu dari Branta. Bahkan Branta juga
telah melarang mereka untuk bertindak brutal seperti ini. Tapi sungguh tidak
kusangka kalau mereka pergi juga secara sembunyi-sembunyi. Khawatir masalah itu
akan bertambah runyam, maka aku segara menyusul kemari. Untung saja
kedatanganku tepat pada waktunya. Kalau tidak..., hhh...! Sukar dpercaya
..."
Dewa Arak mengerutkan alisnya.
"Tadi, Aki mengatakan kalau
mulanya tidak percaya bahwa pembunuh Ki Gayadi itu adalah Ki Temula?"
"Benar," jawab kakek
berahs putih itu singkat "Apa alasannya untuk tidak mempercayai?"
kejar Dewa Arak lagi.
"Karena aku tahu kalau Ki
Temula adalah sahabat akrab adik seperguruanku "
"Hanya itu saja, Ki?"
"Masih ada satu alasan lagi,
Dewa Arak," sahut Ki Santa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
"Apa itu, Ki," desak
Dewa Arak penuh gairah. "Kami. Maksudku, Ki Gayadi dan Ki Temula dulu
mempunyai musuh yang mempunyai keahlian
menyamar. Sudah lama dia mendendam pada kedua orang itu, tapi tidak pernah
berhasil terlampiaskan"
"Siapa dia, Ki?" tanya
Dewa Arak ingin tahu. "Peri Muka Seratus."
"Peri?" kening Dewa
Arak berkernyit.
"Benar!" tegas kakek
beralis putih itu. "Kabarnya dulu dia adalah seorang wanita berwajah
cantik, sehingga orang memberi julukan peri."
"Hm...," gumam Dewa
Arak. Kepalanya terangguk-angguk." Lalu mengapa
sekarang pendirianmu berubah, Ki? Maaf, bukannya aku sok tahu. Tapi dari nada
bicaramu, sepertinya kini kau percaya kalau pembunuh Ki Gayadi justru adalah Ki
Temula."
Ki Santa menatap wajah Dewa Arak
tajam-tajam. Sepasang bola matanya merayapi sekujur wajah pemuda tampan
berambut putih keperakan yang berdiri di hadapannya ini.
"Peri Muka Seratus memang
memiliki kepandaian tinggi. Tapi rasanya tidak mungkin kalau sampai menguasai
ilmu milik Perguruan Garuda Sakti. Apalagi memainkan ilmu 'Cakar Garuda' begitu
sempurna. Menyamar wajah orang dia memang bisa. Tapi memainkan ilmu orang yang
disamarinya dengan begitu sempurna, jelas tidak mungkin dapat dilakukannya!" tandas Ki Santa.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Perlu kau ketahui, Dewa Arak," sambung kakek alis putih
itu lagi. "Hanya ada dua orang yang menguasai Ilmu 'Cakar Garuda'. Yang
pertama Ki Matija, dan kedua Ki Temula! Sementara, orang yang tadi bertempur
denganku mempergunakan Ilmu 'Cakar Garuda'. Dan memainkannya demikian sempurna.
Nah! Dari pertempuran tadi, aku yakin kalau Ki Temula pembunuh adik
seperguruanku!"
Dewa Arak menghela napas panjang.
Memang dia sendiri pun tadi melihat jelas kalau orang yang menyerang Ki Santa
adalah Ki Temula. Tapi, bukankah belum lama ini dia habis berbincang- bincang
dengan Ki Temula? Dan kelihatannya, kakek muka tirus itu menolak mentah-mentah
jika dituduh membunuh Ki Gayadi.
"Prawira...'" panggil
Ki Santa keras.
"Ya, Paman Guru," sahut
pemuda bertahi lalat itu cepat, seraya melangkah mendekati kakek beralis putih
itu.
"Kau dan Sentanu kembali ke
perguruan. Katakan pada Branta agar segera kemari bersama seluruh murid. Kita
akan menyerbu Perguruan Garuda Sakti untuk membalas dendam!"
"Ki..!" teriak Arya
kaget. Ditatapnya tajam-tajam wajah kakek berahs putih itu. Tapi Ki Santa sama
sekali tidak mempedulikannya.
"Cepat, Prawira...!" perintah
Ki Santa lagi.
Pemuda bertahi lalat ini tidak
bisa membantah. Bersama Sentanu, dia segera melesat meninggalkan tempat itu.
Tapi belum begitu jauh mereka pergi, tiba-tiba sesosok bayangan ungu melesat
menghadang. Sesaat kemudian, di hadapan kedua orang muda itu telah berdiri Dewa
Arak.
"Tunggu sebentar...!"
seru Dewa Arak mencegah. Kedua tangannya diulurkan ke depan.
Seketika Prawira dan Sentanu
menahan langkah-nya. Dengan pandangan meminta pertimbangan, mereka menoleh ke
arah Ki Santa. Kakek beralis putih ini melangkah maju.
"Kuakui, aku dan seluruh
murid Perguruan Naga Api yang ada di sini, berhutang nyawa padamu, Dewa Arak.
Tapi, hal itu tidak berarti kau seenaknya ikut campur urusan ini! Ini urusan
dalam perguruan, Dewa Arak. Urusan kehormatan! Kehormatan bagi kami lebih
daripada nyawa. Aku berjanji, atas nama Perguruan Naga Api, akan membalas
budimu!"
Keras dan tajam sekali kata-kata
yang keluar dari mulut kakek beralis putih itu. Bahkan wajah Dewa Arak pun jadi
merah padam. Arya memang paling tidak suka kalau ada orang yang
mengungkit-ungkit pertolongan yang diberikan tanpa pamrih itu. Apalagi dengan
nada kasar begitu!
"Aku kecewa sekali melihat
sikapmu, Ki. Jadi memang pantas kalau adik seperguruanmu yang menjadi Ketua
Perguruan Naga Api, dan bukan dirimu! Sebab, wawasan pikiranmu terlalu sempit!
Hanya amarah dan dendam saja yang kau ikuti! Kau tentu tahu, Akibat apa yang terjadi karena
keputusanmu ini. Perang saudara! Apakah kau ingin hal itu terjadi? Kalau ingin,
silakan! Silakan turuti amarahmu itu! Dan si pembunuh sebenarnya, pasti akan
bersorak-sorak di belakang tengkukmu!"
Napas Dewa Arak terengah-engah.
Ucapan yang didorong karena harga dirinya tersinggung, dan kecemasan akan
terjadinya sesuatu yang mengeri-kan, membuat ucapannya begitu berapl-api.
Bahkan terdengar kasar dan keras.
Kepala Ki Santa bagai tersiram
seember air es. Ucapan Dewa Arak menyadarkan dan meredakan amarahnya yang
menggelegak. Amarahnya memang telah sampai ke ubun-ubun. Ditariknya napas
panjang-panjang, dan dihembuskannya kuat-kuat untuk mendinginkan kepalanya yang
dirasakan panas terbakar amarah.
"Jadi menurutmu...,
kudiamkan saja semua peng-hinaan yang dilakukan Ki Temula itu padaku?!"
Dewa Arak tersenyum pahit.
"Jangan salah mengerti, Ki.
Terus terang ku-katakan padamu, aku tidak membela pihak mana pun dalam hal ini
Aku hanya ingin meluruskan keadaan yang sebenarnya. Kalau ternyata terbukti Ki
Temula yang bersalah, terserah tindakanmu. Kau berhak melakukan pembalasan, dan
aku akan berada di belakangmu! Tapi dalam persoalan ini. aku melihat adanya
banyak kejanggalan. Terutama pertarungan-mu dengan orang yang kau anggap
sebagai Ki Temula!"
"Kejanggalan?!" tanya
Ki Santa. Kening kakek ini berkernyit dalam. "Boleh kutahu, di mana
kejang-galannya, Dewa Arak?"
"Tentu saja, Ki, Malah kau
harus tahu. Karena kaulah orang yang paling berkepentingan dalam hal ini!"
Kakek beralis putih itu hanya
tersenyum hambar. "Boleh kutahu, sudah berapa jurus kau dan Ki
Temula bertempur?"
Ki Santa mengerutkan alisnya yang
putih. Nampak jelas kakek ini tengah mengingat-ingat.
"Kira-Kira... seratus
jurus."
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Waktu yang cukup lama. Apalagi, sebelum bertempur denganmu
pembunuh itu juga telah ber-tempur dengan murid-muridmu. Berarti sudah lama
sekali dia berada di sini. Padahal.... aku baru saja pamit pada Ki Temula untuk
mencoba menyingkap rahasia ini."
Wajah Ki Santa seketika berubah
hebat. "Jadi..., kau baru saja dari sana, Dewa Arak?!"
"Benar!"
"Lalu..., kalau bukan Ki
Temula, siapa orang yang membunuh adik seperguruanku dan murid-murid-nya?"
tanya kakek beralis putih ini. Kedengarannya, memang bodoh sekali pertanyaan
itu.
"itulah yang harus kita
selidiki, Ki!" sahut Dewa
Arak tegas. "Sekarang kau
bisa memaklumi tindakan-ku yang mencegah keputusanmu tadi, Ki?"
"Hhh...!" Ki Santa
menghela napas panjang. "Maafkan atas kekasaran ucapanku tadi, Dewa
Arak."
Dewa Arak tersenyum lebar.
"Tidak ada yang perlu di
maafkan, Ki. Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu. Ucapanku ter-lalu
kasar tadi."
"Tapi, kadang-kadang sikap
kasar pun diperlukan juga, Dewa Arak."
"Ya, Kira-Kira
begitu...," desah Arya. "O, ya. Sekarang, apa yang hendak kau
lakukan, Ki?"
Ki Santa termenung beberapa saat
lamanya. "Menyuruh semua muridku kembali ke perguruan dan tidak melakukan
perbuatan apa pun sampai keadaan menjadi tenang. Hhh...! Terpaksa aku harus
turun tangan untuk menyingkap rahasia ini."
"Apakah tidak sebaiknya
diwakilkan padaku, Ki?" tanya Dewa Arak menawarkan bantuan.
"Bersantai-santai saja di
perguruan, sementara kau bersusah payah menyelidikinya? Tidak, Dewa Arak! Sudah
terlalu banyak kau menanam budi pada kami! Dan, aku tidak ingin menumpuk
budimu, sehingga kami tidak mampu membayarnya."
Dewa Arak menghembuskan napas
panjang. "Aku mohon, jangan sebut-sebut lagi tentang budi, Ki! Aku
menolong secara sukarela, tanpa pamrih!" tandas Arya tegas.
Ki Santa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ditepuk-tepuknya bahu Dewa Arak.
"Sikapmu inilah yang lebih
menimbulkan ke-kaguman di hatiku daripada kepandaian yang kau miliki, Dewa
Arak. Jarang orang seusiamu yang memiliki kepandaian tinggi dan sekaligus
mempunyai sifat arif sepertimu!" puji kakek beralis putih itu.
"Ah! Kau memang pandai sekali
memuji orang, Ki," elak Arya malu-malu. "O, ya. Aku pergi dulu,
Ki!"
Setelah berkata demikian, Dewa
Arak meng-gerakkan tubuhnya. Kelihatannya seperti melangkah saja. Tapi
hebatnya, dalam sekejap mata saja tubuhnya sudah berada lebih sepuluh tombak dari
tempat semula. Sesaat kemudian, tubuhnya sudah lenyap ditelan kerimbunan semak-semak dan
pepohonan yang lebat.
"Bukan main...!" desah
Ki Santa dengan mata memancarkan kekaguman. Sepasang matanya masih saja menatap
lurus ke depan, sekalipun tubuh Dewa Arak telah tidak terlihat lagi.
"Pemuda luar biasa...,"
desah kakek itu lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sebentar kemudian, Ki Santa telah
memerintah-kan murid-murid Perguruan Naga Api yang masih tersisa untuk
menguburkan eman teman mereka yang tewas. Dan setelah pekerjaan itu selesai. Ki
Santa dan murid-muridnya pun berkelebat meninggal-kan tempat itu.
4
Siang baru saja merambat menuju
senja, ketika sosok bayangan ungu berkelebat cepat menyusuri Lereng Gunung
Munjul. Berkat ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai taraf kesempurnaan,
tidak berapa lama kemudian bayangan ungu yang ternyata Dewa Arak sudah berada
di depan pintu gerbang Perguruan Garuda Sakti. Dan tentu saja kedatangannya
segera diketahui oleh dua orang murid perguruan yang tengah berjaga-jaga.
"Ah...! Kiranya Dewa Arak.
.," desah salah seorang penjaga. Nada suaranya menyiratkan perasaan lega.
Memang, semula begitu melihat sesosok tubuh yang melesat cepat ke arah
perguruan, hati dua orang murid ini sudah merasa tegang. Tidak aneh, karena
baru saja perguruan mereka telah diserbu.
"Ki Temula ada?" tanya
Arya cepat.
"Ada Silakan masuk, Dewa
Arak." sahut salah seorang penjaga, kemudian mengantarkan Arya ke dalam.
Mereka lalu bersama-sama menuju ruang utama perguruan.
Tentu saja kedatangan Dewa Arak
mengejutkan Ki Temula, yang saat itu tengah duduk menyendiri di ruang utama.
Sebuah ruangan yang tertata apik, walaupun berdinding papan. Pada tiap sisi
dinding, dihiasi senjata-senjata kebanggaan perguruan.
Sementara itu, Ki Temula bergegas
menghampiri Dewa Arak dengan benak dipenuhi tanda tanya. Masalahnya, pemuda
berambut keperakan itu belum lama pamit dari sini. Dan sekarang, dia kembali
lagi.
Apakah ada sesuatu yang
tertinggal? "Ada apa, Arya? Bukankah..."
"Aku ingin bicara, Ki. Ada
persoalan yang amat penting," potong Dewa Arak, melihat keheranan yang
membayang di wajah kakek kecil kurus itu tatkala melihat kedatangannya.
"Mari. Kita bicara di
dalam," ajak Ketua Perguruan Garuda Sakti ini seraya melangkah masuk lebih
dulu. Tanpa banyak bicara, Arya segera mengikutinya.
"Sekarang katakan apa yang
ingin kau bicarakan, Arya?" tanya Ki Temula setelah mereka duduk berdua di
sebuah ruangan dalam yang sepi. Dewa Arak memang telah meminta agar kakek kecil
kurus itu memanggil nama saja, bukan julukannya.
Dewa Arak mendehem sebentar, kemudian
menceritakan peristiwa yang terjadi di hutan di kaki Gunung Munjul ini. Dari
mulai pertarungan antara Ki Santa dengan kakek kecil kurus yang wajahnya mirip
Ki Temula, sampai pada keputusan Ki Santa yang hendak menyerang markas
Perguruan Garuda Sakti secara besar-besaran. Untunglah niatan itu berhasil
dicegahnya.
"Ahhh...!" desah Ki
Temula.
Perasaan kaget yang amat sangat
nampak jelas di wajah laki-laki berwajah tikus itu. Tapi meskipun demikian,
sorot matanya memancarkan kegembiraan. Bukankah kini dia telah bebas dari
tuduhan?
"Sungguh tidak kusangka,
persoalan telah menjadi segawat ini.... Untung ada kau, Arya. Sehingga,
kesalahpahaman ini dapat diatasi. Bukankah dari kejadian ini mereka tahu kalau
aku bukan pelaku pembunuhan itu?" lanjut Ki Temula.
"Memang, kecurigaan mereka
padamu sudah agak pupus, Ki. Tapi, tetap saja masih ada satu ganjalan lagi yang
membuatku dan Ki Santa merasa heran...," ujar Arya seraya mengerutkan
keningnya.
"Apa itu, Arya?
Katakanlah...! Barangkali saja dapat kubantu," pinta Ki Temula. Kembali
perasaan tidak enak melanda hatinya. Sikap Dewa Arak itulah yang membuatnya
demikian.
Dewa Arak menatap kakek kecil
kurus di depannya tajam-tajam. Sepasang matanya merayapi sekujur wajah kakek
itu, seolah-olah dengan cara begitu masalah yang membingungkan hatinya bisa
ter-singkap.
"Pembunuh itu menguasai
seluruh ilmu per-guruanmu, Ki. Bahkan ilmu 'Cakar Garuda' pun dikuasainya.
Padahal Ki Santa mengatakan bahwa hanya kau dan adik seperguruanmu yang
menguasai ilmu itu. Ini yang masih menjadi teka-teki buatku, Ki."
"Benar kata-katamu ini,
Arya?" tanya kakek kecil kurus ini meminta kepastian.
Dewa Arak mengernyitkan
keningnya. Tidak enak hatinya mendapat pertanyaan seperti itu. Terasa seperti
adanya nada ketidakpercayaan dalam suara kakek itu.
"Perlukah bersumpah,
Ki?" sindir Dewa Arak
Wajah Ki Temula memerah. Bisa
dimaklumi ketidaksenangan hati pemuda di hadapannya ini.
"Maaf, Arya. Tentu saja
tidak perlu sampai seberat itu. Ahhh...! Tapi.... maksudku. kuharap kau bisa
memakluminya. Berita yang kudengar ini terlalu mengejutkan hatiku "
"Jadi, benar yang dikatakan
Ki Santa itu, Ki?" desak Dewa Arak.
Perlahan-lahan kepala Ki Temula
mengangguk. "Jadi..., Kini tinggal Ki Matijalah sebagai tertuduh itu,
Ki," ujar Dewa Arak.
"Bisa kumaklumi kecurigaanmu
itu, Arya," ucap kakek itu pelan.
"Ada satu hal lagi yang
membuatku curiga pada nya, Ki!" sambung Arya.
"Apa itu, Arya. Katakan
saja, jangan ragu-ragu...," desak Ki Temula.
"Sikap Ki Matija yang
terlalu telengas! Aku melihat sendiri, Ki. Betapa mudahnya dia menurunkan
tangan maut pada murid-murid Perguruan Naga Api!"
"Memang sudah menjadi
sifatnya, Arya," jelas Ki Temula. "Adik seperguruanku itu memang
mempunyai sifat aneh. Apabila orang berbuat baik padanya, dia akan membalas
dengan kebaikan melebihi yang diterimanya. Demikian pula jika orang menyakitinya,
pembalasan yang dilakukannya lebih pula. Dia mempunyai sifat angin-anginan.
Mudah marah, tapi mudah pula memaafkan orang."
"Jadi..., dengan kata
lain... Aki tidak sependapat denganku?" tanya Dewa Arak meminta ketegasan.
Ki Temula termenung sejenak.
"Yahhh.... Kira-kira begitu,
Arya. Tidak mungkin kalau Matija adalah pelaku semua pembunuhan keji itu,"
Jawab Ki Temula tegas.
"Hhh...!"
Dewa Arak menghela napas panjang
dan berat, dan keningnya berkernyit. Ketegasan kata-kata kakek kecil kurus itu
membuatnya agak bingung.
"Kalau bukan Aki atau Ki
Matija..., lalu siapa lagi? Masih adakah orang lain yang menguasai ilmu 'Cakar
Garuda' selain dirimu dan Ki Matija, Ki?"
Ki Temula menggelengkan
kepalanya.
"Tidak ada. Hanya aku dan
Matija yang menguasai ilmu 'Cakar Garuda'. Eh, tapi..!"
"Ada apa, Ki?" tanya
Dewa Arak. Kaget juga pemuda ini, melihat kakek kecil kurus ini meng-hentikan
ucapannya begitu tiba-tiba. Wajah Ki Temula berubah dan keningnya berkernyit
dalam. Rupanya memang ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
Ki Temula menatap tajam Dewa
Arak. Sedangkan yang ditatap bersikap tenang-tenang saja.
"Kau mau berjanji untuk
tidak memberitahukan pada orang lain, Arya?" tanya kakek kecil kurus itu.
Pelan sekali suaranya.
Dewa Arak tercenung sebentar. Dibalasnya pandang mata Ketua Perguruan Garuda
Sakti ini tak kalah tajam. Ada perasaan curiga di hatinya, melihat sikap Ki
Temula yang seperti menyembunyikan sesuatu. Sementara itu Ki Temula juga menyadari
adanya kecurigaan pemuda berambut putih keperakan di depannya.
"Jangan salah paham, Arya.
Bukan maksudku ingin menyembunyikan sesuatu. Tapi..., ini lain... Rahasia
perguruan. Tanpa adanya janjimu, aku terpaksa tidak berani mengatakannya."
"Meskipun karena sikapmu itu
akan semakin banyak korban berjatuhan, Ki?" sindir Dewa Arak.
Ki Temula tersentak sehingga
mengerutkan alis-nya.
"Korban?! Apa maksudmu,
Arya?" tanya Ki Temula. Sepasang matanya merayapi wajah Dewa Arak penuh
selidik.
"Maaf, Ki. Tanpa Aki
teruskan pun sudah dapat kuduga bahwa ada orang ketiga yang menguasai ilmu-ilmu
Perguruan Garuda Sakti, termasuk 'Cakar Garuda'! Dan orang itu adalah, apa yang
dijadikan sebagai rahasia perguruan," tebak Arya. "Bukan tidak
mungkin kalau orang ketiga itulah yang memfitnah Aki selama ini!"
"Tidak mungkin!" bantah
Ki Temula keras seraya bangkit dari duduknya.
"Mengapa tidak mungkin? Aki
terlalu menutup-nutupi persoalan. Padahal masalah ini sudah terlalu
berlarut-larut. Bahkan pertumpahan darah hanya tinggal menunggu waktu saja.
Pembunuh itu jelas, orang dalam Perguruan Garuda Sakti!" tegas Dewa Arak
bernada menuduh.
"Jaga mulutmu, Dewa
Arak!" teriak Ki Temula keras. Sepasang mata kakek ini berkilat-kilat
memancarkan sinar kemarahan. Dalam kemarahan-nya, Ki Temula tidak memanggil pemuda
di hadapannya dengan namanya.
"Lalu kalau bukan orang
dalam Perguruan Garuda Sakti, siapa lagi yang mampu memainkan semua ilmu
perguruan ini? Terutama sekali ilmu 'Cakar Garuda'! Pikirlah, Ki!" balas
Dewa Arak tak kalah keras.
Ki Temula terdiam. Perlahan-lahan
kakek kecil kurus ini kembali duduk di tempatnya.
"Bukan hanya kau yang
bingung, Arya. Aku pun dilanda perasaan yang sama," keluh Ki Temula, mulai
reda amarahnya.
"Hanya dengan
keterusterangan Aki, persoalan ini mungkin bisa terungkapkan. Mengapa Aki yakin
kalau orang ketiga ini tidak mungkin melakukannya?" tanya Dewa Arak. Juga
lunak dan pelan suaranya.
Ki Temula menghela napas panjang.
Nampak jelas kakek ini merasa berat untuk menjawab pertanyaan itu.
"Baiklah, Ki. Aku berjanji
tidak akan memberitahu-kan cerita ini kepada siapa pun," desah Dewa Arak
mengalah.
Ki Temula tersenyum mendengar
janji Dewa Arak. "Puluhan tahun yang lalu," tutur kakek itu memulai ceritanya.
"Guruku mempunyai tiga orang murid. Kerpala sebagai murid tertua, lalu
aku, dan Matija. Kami bertiga memang memiliki bakat menonjol. Tak aneh, kalau
semua ilmu guru bisa dikuasai dengan cepat. Tapi sayang, Kakang Kerpala
tergelincir ke jalan sesat, sehingga Guru terpaksa mengutusku dan Matija untuk
membawanya pulang. Hanya sayang Kakang Kerpala waktu itu menolak, sehingga
ter-paksa aku dan Matija membawanya pulang dengan kekerasan. Maka Guru pun
menghukumnya dengan hukuman seumur hidup."
"Jadi...," gumam Dewa
Arak yang mulai paham keadaan sebenarnya.
"Ya. Sampai sekarang dia
masih berada dalam ruang hukuman," keluh Ki Temula.
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Itulah sebabnya, mengapa aku tidak percaya ketika kau
menyatakan kecurigaanmu padanya," sambung kakek itu lagi
"Bisa kulihat ruang hukuman
itu, Ki?" tanya Arya meminta.
Ki Temula tersentak kaget dan
beberapa saat lamanya termenung. Tampak jelas kalau kakek ini tengah
menimbang-nimbang. Ditatapnya lagi wajah Dewa Arak tajam-tajam, kemudian
pelahan tapi pasti kepalanya terangguk pelan.
"Mari kuantar ke sana,
Arya," ajak Ki Temula pada pemuda berambut putih keperakan itu sambil
bangkit dari duduknya. Maka Dewa Arak pun bangkit dan berjalan mengikuti Ki
Temula.
***
"Inilah ruang tahanan itu,
Arya," jelas Ki Temula menunjukkan sebuah ruangan berukuran dua tombak
kali dua tombak yang terpisah jauh dari bangunan-bangunan lainnya.
Dinding-dindingnya terbuat dari batu cadas yang amat tebal. Sementara pintunya
terbuat dari batangan baja bulat sebesar paha.
Dewa Arak memperhatikan ruang
tahanan ini. Ruang tahanan ini ternyata tidak dibuat manusia, melainkan secara
alami. Hanya pintu ruang tahanan itu saja yang dibuat tangan manusia.
Setelah memeriksa beberapa saat,
tahulah Dewa Arak kalau tidak mungkin membobol ruang tahanan ini dengan
kekerasan. Dinding ruang itu terlalu tebal, dan tak akan mungkin dapat
dihancurkan tangan manusia.
Begitu pula pintunya yang terbuat
dari baja yang amat kuat. Mungkin orang yang memiliki tenaga dalam tinggi bisa
mendobraknya. Hanya saja, sebelum pintu ini didobrak, terlebih dahulu atap
ruangan itu yang runtuh. Dan, orang yang hendak menjebol pintu itu lebih dulu
akan mati terkubur.
Perhatian Dewa Arak ini. Kini
beralih pada jeruji-jeruji baja itu. Dengan seksama, diamat-amatinya
jeruji-jeruji itu karena barangkali ada tanda-tanda pernah dibengkokkan secara
paksa. Tapi kembali Arya kecewa. Ternyata batang-batang jeruji itu mulus semua,
tidak ada tanda-tanda pernah dibengkokkan secara paksa.
Di dalam ruang tahanan yang lebih
patut disebut gua tahanan itu, tampak meringkuk seorang kakek kecil kurus.
Wajahnya berwarna hitam. Dan tangan dan kakinya terlilit gelang-gelang baja yang
disambung dengan rantai baja yang besar dan kuat. Sepertinya, yang diikat itu
bukan manusia melainkan
binatang tak berdaya.
"Bagaimana, Arya?"
tanya Ki Temula yang sejak tadi memperhatikan Dewa Arak meneliti tempat itu.
Ada nada kemenangan dalam suaranya.
"Hhh...!" Dewa Arak
menghela napas panjang. "Rasanya memang tidak mungkin Ki Kerpala bisa keluar
dari sini...."
"Itulah sebabnya mengapa aku
tidak sependapat denganmu, Arya!"
"O ya, Ki. Apakah kau sering
menjenguknya?" tanya Dewa Arak tiba-tiba.
Ki Temula mengerutkan alisnya.
"Tidak. Aku datang
menjenguknya tiga hari sekali. Itu pun hanya untuk membawakan makanan."
"Kapan, Ki?" kejar Dewa
Arak lagi. "Malam atau siang?"
"Pagi," jawab kakek itu
singkat.
Sekali lagi Dewa Arak menatap ke
dalam ruang tahanan. Tampak kakek kecil kurus berwajah hitam itu masih saja
memejamkan mata. Mungkin sedang tidur.
"Aku rasa sudah cukup,
Ki," ucap Dewa Arak "Dan terima kasih atas kesediaan Aki memenuhi
per-mintaanku."
"Tidak perlu berterima
kasih, Arya. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu. Kau yang sama sekali
tidak mempunyai sangkut-paut dalam hal ini, tapi secara suka rela campur
tangan...," sergah Ki Temula sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Memang itu sudah menjadi
tekadku sejak mempelajari ilmu silat, Ki," jelas Dewa Arak
"Ha ha ha...!" Ki
Temula tertawa terbahak-bahak. "Kau luar biasa, Arya. Sebenarnya bukan
hanya kau saja yang mempunyai tekad seperti itu. Tapi
sayangnya begitu telah merasa
cukup, mereka pun lupa akan tekadnya!"
Dewa Arak hanya tersenyum saja.
"Aku pergi dulu, Ki,"
pamit Dewa Arak. Lama-lama rasanya memang risih juga dipuji terus-menerus.
Seketika tubuhnya pun melesat. Cepat bukan main gerakannya, sehingga dalam
sekejap saja yang terlihat hanya sebuah titik yang semakin lama semakin
mengecil dan akhirnya lenyap di kejauhan.
***
Malam mulai jatuh menyelimuti
bumi ketika dari lereng Gunung Munjul, melesat sesosok bayangan kuning. Cepat
sekali gerakannya, sehingga yang terlihat hanya kelebatan bayangan kuning yang
ber-gerak cepat ke kaki gunung.
Suasana malam yang gelap membuat
wajah sosok bayangan kuning itu sukar dikenali. Yang terlihat hanyalah tubuhnya
yang kecil kurus.
Cukup lama juga tubuh kecil kurus
ini berlari, sehingga hutan di kaki Gunung Munjul pun telah jauh di
belakangnya. Dan tiba-tiba larinya dihentikan di depan sebuah rumah berdinding
bilik. Kemudian dilangkahkan kakinya mendekati pintu rumah itu. Tapi baru saja
kakinya melangkah masuk sebuah suara telah menyambutnya.
"Mengapa lama sekali,
Kakang?"
Sosok tubuh kecil kurus itu
menatap ke arah pemilik suara. Tampak seorang wanita setengah baya berpakaian
biru tengah duduk di sebuah bangku. Rambutnya digelung ke atas, dan di
punggungnya tersampir sebatang pedang. Orang itu dikenal betjuluk Peri Muka Seratus.
Di samping wanita itu juga duduk seorang laki-laki.
"Keadaan menghendaki
demikian, Komala," jawab laki-laki kurus itu sambil memandang Peri Muka
Seratus. Wanita itu memang mempunyai nama asli Komala. Kemudian sepasang
matanya beralih, pada seorang laki-laki berusia tiga puluh lima tahun dan berpakaian
indah. Dia juga tengah duduk di sebelah Peri Muka Seratus.
"Bagaimana usahamu, Kang?
Berhasil...?" tanya laki-laki berpakaian indah itu, sambil menatap sosok
tubuh kecil kurus yang kemudian duduk di hadapannya.
Laki-laki kecil kurus hanya
menghela napas panjang.
"Sayang sekali, Adi
Pradipta," desah laki-laki kurus yang ternyata seorang kakek, pelan
bernada keluhan.
Wajah laki-laki setengah baya
yang dipanggil Pradipta seketika berubah. Dia adalah seorang adipati di
Kadipaten Tasik.
"Jadi..., usahamu gagal,
Kang?" terdengar ada nada kekecewaan dari ucapan Pradipta.
"Gagal sih, tidak. "
"Lalu...?" desak Pradipta.
"Tidak berjalan sesuai
rencana kita," jelas kakek kecil kurus.
"Hm...," gumam Adipati
Pradipta sambil meng-angguk-anggukkan kepalanya.
"Seseorang telah ikut campur
tangan dalam urusan ini! Kalau tidak, mungkin semua berjalan sesuai
rencana!" tambah si kakek kecil kurus.
"Keparat!" maki Peri
Muka Seratus. "Siapa orang yang usilan itu, Kang? Sudah kau singkirkan
dia?"
"Belum, Komala," jawab
kakek kecil kurus itu seraya menggelengkan kepalanya.
"Mengapa, Kang?! Bereskan
saja orang itu, sebelum mengacaukan rencana Kita selanjutnya!" selak
Pradipta.
"Orang itu memiliki
kepandaian tinggi, Adi. Aku sendiri ragu, apakah sanggup menghadapinya."
"Kau kenal orang itu,
Kang?" tanya Pradipta. Mulai melunak suaranya.
"Kenal sih, tidak. Tapi berita mengenai kepandaiannya yang tinggi, sudah
sering kudengar," jelas kakek itu,
"Jadi, kau belum pernah
bertempur dengannya, Kang?!"
"Sudah! Satu kali. Dan kabar
itu tidak berlebihan. Tenaga dalam yang dimilikinya cukup tinggi!"
"Ah...!" keluh Pradipta
kaget. "Kalau begitu orang itu hebat sekali! Siapa dia, Kang?!"
Kakek kecil kurus itu bangkit
berdiri, lalu melangkah pelahan ke arah jendela. Pandangannya menatap kosong ke
luar beberapa saat lamanya. Baru setelah itu dibalikkan tubuhnya.
"Dewa Arak...!" jawab
kakek kurus itu lambat-lambat tapi penuh tekanan.
"Dewa Arak...?!" ulang
Pradipta dan Peri Muka Seratus terkejut. Memang nama besar Dewa Arak sudah
sering terdengar, sebuah julukan yang telah menggoncangkan dunia persilatan,
dengan banyak tewasnya tokoh sakti di tangannya.
"Ya! Dewa Arak...!"
tegas kakek itu lagi. Kemudian diceritakan pertarungannya waktu menghadapi Dewa
Arak, selagi dia hampir berhasil membasmi murid-murid Perguruan Naga Api.
Tampak jelas Pradipta kebingungan
mendengar berita itu. Adipati ini melangkah mondar-mandir di ruangan itu.
Keningnya berkernyit dalam dan rupanya tengah berpikir keras.
"Aku ada usul, Kang...!"
ucap adipati itu keras. Sepasang matanya nampak berseri-seri.
Melihat sikap adipati itu, kakek
kecil kurus menatap tajam ke arah laki-laki berusia tiga puluh lima tahun itu.
Ada rasa keingintahuan yang mendalam pada sorot matanya.
"Coba kemukakan usulmu, Adi
Pradipta," pinta kakek itu penuh gairah.
Adipati Pradipta berdehem
sebentar.
"Tidak ada jalan lain lagi,
Kakang. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk segera merebut Istana Bojong
Gading. Kita langsung saja pada puncak rencana," tegas Adipati Pradipta.
"Maksudmu bagaimana,
Pradipta?" tanya Peri Muka Seratus. Wanita licik ini memang masih belum
mengerti.
"Ya, Adi. Aku dan gurumu belum paham maksudmu," tambah kakek
kecil kurus itu. Memang, Peri Muka Seratus adalah guru Adipati Pradipta.
"Begini, Kang. Kakang dan
seluruh murid kakang malam ini juga menyerbu Perguruan Naga Api. Bantai semua
yang ada di sana, tapi sisakan seorang saja. Sudah bisa kuperkirakan kalau
orang yang tak terbunuh itu pasti ingin mengadakan pembalasan. Dugaanku, kalau
tidak ke Panglima Jumali, dia tentu mengadu ke Panglima Gotawa. Dan paling
tidak, pasti panglima itu membalas dendam dengan membawa pasukannya. Bila ini
benar, aku akan mengutus anak buahku untuk memberitahu Panglima Jatalu. Maka
dapat dipastikan akan terjadi bentrok antar pasukan. Bagaimana, Kang? Bisa kau
terima usulku ini?" jelas adipati itu. Ada senyum terkembang di bibirnya.
Kakek kecil kurus ini
mengacungkan ibu jarinya.
Bahkan Peri Muka Seratus pun
tersenyum lebar.
"Dan selagi mereka semua
saling bentrok, Kita akan menyerbu Istana Bojong Gading. Begitu bukan maksudmu,
Pradipta?" tebak Peri Muka Seratus.
"Benar, Guru."
"Otakmu memang selalu
cemerlang, Adi," puji kakek berpakaian kuning itu. "Memang mulanya
sudah terpikir olehku untuk segera memajukan rencana Kita, lebih cepat dari
semula. Hanya saja, aku tidak tahu dari mana harus memulai. Kau memang cerdik,
Adi Pradipta!"
"Ha ha ha...!" Adipati
Pradipta tertawa terbahak-bahak. "Tak lama lagi Kerajaan Bojong Gading
akan jatuh ke tanganku! Ha ha ha...!"
Kakek kecil kurus berpakaian kuning itu mengerutkan alisnya ketika teringat
sesuatu.
"Tunggu, Adi. Bagaimana dengan seragam
Perguruan Garuda Sakti untuk murid-muridku?"
Adipati Pradipta tersenyum lebar.
"Tidak perlu kau pusingkan
masalah itu, Kang. Semuanya sejak jauh-jauh hari sudah kupersiapkan. Kakang
tinggal menyuruh mereka untuk mengena-kannya. Dan..., menghancurkan Perguruan
Naga Api!"
"Ha ha ha...!"
Suara gelak tawa langsung pecah
dari rumah kecil berdinding bilik. Mereka memang tidak pertu merasa khawatir
terdengar orang, karena tempat itu letaknya amat jauh dari tempat lainnya.
5
Glaar...!
Kembali untuk yang kesekian
kalinya halilintar menggelegar di angkasa. Beberapa saat lamanya, suasana malam
yang tersetimut awan hitam dan tebal sehingga menutupi bulan, menjadi terang
benderang. Titik-titik hujan pun pelahan-lahan turun membasahi bumi, diiringi
hembusan angin dingin membekukan tulang.
Dalam suasana malam seperti itu,
rasanya orang lebih suka tinggal di dalam rumah. Tapi, tidak demikian halnya
dengan sosok bayangan serba kuning yang tengah berkelebatan. Tubuhnya kecil
kurus, namun gerakannya cepat bukan main.
Glarr…!
Halilintar menggelegar lagi.
Untuk beberapa saat lamanya keadaan kembali menjadi terang benderang. Cahaya terang yang sekilas itu cukup untuk menerangi wajah sosok bayangan kuning
yang ternyata seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun dan berwajah mirip
tikus.
Dan ternyata tidak hanya kakek
kecil kurus berpakaian kuning itu saja yang berkeliaran di malam gelap dan
dingin itu. Di belakangnya juga berkelebat puluhan sosok tubuh berpakaian
kuning yang bergerak gesit bukan main. Rupanya kakek kecil kurus berpakaian
kuning itu adalah pemimpin orang berseragam kuning yang mengikuri di
belakangnya.
Tak lama kemudian kakek kecil
kurus itu meng-hentikan gerakannya, dan cepat menyelinap ke batik sebatang
pohon. Kepalanya ditolehkan ke belakang, melihat rombongan orang berseragam
kuning yang masih berlarian agak jauh di belakang.
Sebentar kemudian, sepasang
matanya dialihkan ke depan, menatap sebuah bangunan besar dan megah yang
dikelilingi pagar kayu bulat yang kelihatan kokoh kuat Pada bagian atas pintu
gerbang, terpampang sebuah papan tebal berukir yang bertuliskan huruf-huruf
yang berbunyi, Perguruan Naga Api.
Tak lama kemudian, rombongan
orang berseragam kuning itu pun tiba. Mereka pun bergerombol bersembunyi.
Sementara kakek kecil kurus ber-pakaian kuning itu segera membalikkan tubuhnya,
menghadap mereka yang jumlahnya tak kurang dari tiga puluh orang.
"Ingat! Jangan kalian bunuh
semua! Sisakan satu orang, agar mengabarkan penyerbuan Kita! Kalian
mengerti?!" desis kakek pakaian kuning seraya menatap tajam.
"Mengerti...!" desah
mereka serempak. "Bagus! Mari Kita mulai!"
Tanpa diperintah dua kali,
puluhan sosok tubuh itu berkelebat cepat menuju markas Perguruan Naga Api.
Sementara itu, kakek berpakaian kuning telah terlebih dulu melesat pergi.
Keadaan alam saat itu memang menguntungkan orang-orang berseragam kuning.
Laksana iblis bergentayangan, mereka berkelebatan cepat mendekati sasaran.
Kakek berpakaian kuning merupakan orang pertama yang telah
mendekati pintu gerbang. Cepat laksana kilat, sebelum kedua penjaga itu
menyadari, tubuhnya telah melesat cepat ke arah mereka.
"Aaakh...!"
"Aaa...!"
Jerit kematian panjang seketika
terdengar susul-menyusul mengikuti robohnya dua sosok penjaga itu ke tanah.
Karuan saja jeritan itu menyentakkan suasana yang semula hening itu. Dan suara
jeritan yang memang sudah keras, jadi bertambah keras. Seketika suasana di
perguruan itu menjadi gempar.
Sesaat kemudian, dari dalam
bangunan-bangunan yang terdapat dalam markas Perguruan Naga Api, berkelebatan beberapa
orang yang bergerak cepat ke arah asal jeritan tadi. Tapi, belum juga mereka
mencapai tempat itu, sosok-sosok bayangan kuning berkelebatan cepat menghadang.
Di antara mereka yang berkelebat
keluar, tampak Prawira dan Sentanu. Mereka
nampak geram dihadang orang-orang berseragam kuning itu. Sinar lampu obor yang
terpancang hampir di setiap tempat, cukup untuk menerangi halaman luas itu,
sehingga mereka dapat melihat jelas
orang-orang yang menghadang.
"Keparat..! Kalian
murid-murid Perguruan Garuda Sakti...!" sentak Prawira kaget melihat
orang-orang itu berseragam kuning.
Dan seketika itu juga,
orang-orang berseragam kuning serentak menyerang. Maka, denting senjata beradu
pun mulai menyemaraki suasana malam yang semula hening dan sunyi mencekam itu.
Sesekali diselingi jerit tertahan orang yang terkena serangan lawan.
Tampak kakek berpakaian kuning
dan bertubuh kecil kurus tengah mengamuk hebat. Ke mana saja tangan atau
kakinya bergerak, sudah dapat dipasti-kan di situ ada tubuh yang roboh tanpa
nyawa. Sehingga dalam sebentar saja, sudah lima orang tewas di tangannya.
Murid-murid Perguruan Naga Api
yang kepandaian-nya jauh di bawah kakek itu, terdesak hebat. Apalagi ditambah
para pengikutnya memang dalam hal jumlah tidak kalah. Tapi banyak hal yang merugikan
mereka. Salah satu di antaranya adalah ketidak-siapan dalam menghadapi lawan
yang tidak disangka-sangka itu. Apalagi ketika beberapa saat kemudian, terbukti
bahwa rata-rata kepandaian orang-orang Perguruan Garuda Sakti di atas mereka.
Tampak satu persatu murid
Perguruan Naga Api berguguran. Apalagi yang dihadapi kini juga kakek kecil
kurus berpakaian kuning. Keadaan mereka tak ubahnya semut-semut menerjang api
yang langsung roboh tanpa daya.
"Keparat..! Temula, akulah
lawanmu!"
Berbareng selesainya ucapan itu,
sesosok tubuh berjubah putih masuk ke tengah arena dan langsung menerjang kakek
berpakaian kuning yang ternyata Ki Temula. Dia mengenal serangan yang berbahaya
itu. Cepat-cepat Ki Temula melompat mundur ke belakang, sehingga serangan itu
mengenai tempat kosong.
"Mengapa tidak sejak tadi
kau keluar, Santa?!" ejek kakek berwajah tirus tajam.
Tapi si penyerang yang ternyata
Ki Santa tidak mempedulikan ejekan Ki Temula, dan cepat
menyerang lawannya. Amarahnya memang sudah sejak tadi berkobar-kobar, melihat
banyak murid Perguruan Naga Api yang tergeletak tanpa nyawa.
Jari-jari tangannya terkembang
membentuk cakar naga. Tangan kanannya meluruk deras ke arah ulu hati, sementara
cakar tangan kiri menempel di pergelangan tangan kanan. Posisi tangan itu terpalang
di depan dada.
Ki Temula yang sudah tahu
kelihaian kakek beralis putih itu, tanpa sungkan-sungkan lagi mengeluarkan ilmu
andalannya. 'Cakar Garuda'. Ibu jari dan kelingkingnya dilipat ke dalam,
membentuk cakar garuda. Tanpa sungkan-sungkan lagi, dipapaknya serangan cakar
itu.
Prattt !
Tubuh Ki Santa terdorong dua
langkah, sementara Ki Temula hanya terhuyung satu langkah ke belakang. Tapi,
begitu daya dorong yang membuat tubuh mereka terhuyung habis, mereka pun saling
gebrak kembali.
Ki Santa bertarung bagai macan
luka. Kemarahan yang amat sangat berkobar-kobar dalam hatinya. melihat satu
persatu murid Perguruan Naga Api berguguran.
"Aaakh...!"
Kembali terdengar jeritan
menyayat. Kali ini terdengar dari mulut Prawira! Pemuda bertahi lalat besar ini
berdiri tertatih-tatih sambil memegangi perutnya yang robek memanjang. Darah
mengalir deras dari luka lewat sela-sela jarinya. Kemudian, tubuhnya roboh
untuk selama-lamanya. Mati.
Gigi Ki Santa bergemeletuk
menahan geram. Pilu hatinya melihat murid-muridnya terbantai di depan mata
tanpa dia mampu berbuat apa-apa. Maka kemarahannya pun ditumpahkan pada Ki
Temula. Namun walau kakek beralis putih ini telah mengerah-kan segenap
kemampuan yang dimiliki, tetap saja tidak mampu mendesak lawannya.
Memasuki jurus ketujuh puluh, Ki
Santa mulai terdesak. Sampai akhirnya pada jurus ke tujuh puluh tiga, sebuah
pukulan Ki Temula telak bersarang di perutnya.
"Hukh...!" keluh Ki
Santa tertahan dan tubuhnya kontan terbungkuk. Di saat itulah, kembali kaki
kakek kecil kurus itu bergerak menendang.
Prak...!
Terdengar suara berderak keras
ketika tendangan itu menghantam kepala Ki Santa.
"Aaakh...!"
Kakek beralis putih itu memekik tertahan. Beberapa saat lamanya tubuh
Ki Santa terhuyung-huyung, sebelum akhirnya roboh ke tanah dengan kepala pecah.
Ki Santa tewas seketika itu juga.
"Ha ha ha...!" tawa
bergelak penuh kemenangan terdengar dari mulut Ki Temula. "Bakar habis
semua bangunan ini...!" Tanpa diperintah dua kali, orang-orang berseragam
kuning itu melemparkan beberapa obor ke arah bangunan. Tak lama kemudian, api
pun mulai berkobar melahap bangunan Perguruan Naga Api.
"Ada yang berhasil
meloloskan diri?" tanya kakek berpakaian kuning itu pada salah seorang
anak buahnya.
"Ada, Guru," jawab
orang itu.
"Bagus...! Dan kita hanya
tinggal menunggu api pertempuran meletus. Sebentar lagi, Kerajaan Bojong Gading
akan Kita kuasai. Bojong Gading akan dibanjiri darah!" desis kakek kecil
kurus itu tajam.
"Benar, Guru...," sahut
si murid membenarkan. "Kumpulkan mereka semua cepat, dan segera pergi dari
sini! Api itu akan menarik perhatian orang untuk menuju kemari! Cepat
laksanakan!"
"Baik, Guru...!" sahut
murid itu. Segera kawan-kawannya diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu.
Sementara si kakek kecil kurus telah lebih dulu melesat dari situ.
"Hup...!"
Ringan tanpa suara, kedua kakinya
hinggap di luar pagar yang mengelilingi bangunan Perguruan Naga Api. Tapi baru
saja kakinya akan melangkah, sebuah teguran telah menyapanya.
"Mau ke mana, Kang?"
Kakek berwajah tirus mirip tikus
itu seketika mengangkat kepalanya. Di depannya dalam jarak sekitar tiga tombak,
berdiri seorang kakek berpakaian kuning dan wajahnya mirip kuda. Siapa lagi
kalau bukan Ki Matija.
"Matija...," desis
kakek bertubuh kurus itu. "Ya. Aku, Kang," desah Ki Matija pelan.
"Mau apa kau kemari,
Matija?!" tanya Ki Temula. Keras dan tajam nada suaranya.
"Seharusnya aku yang
bertanya seperti itu, Kang. Apa yang kau lakukan di Perguruan Naga Api?!
Sungguh tidak kusangka kalau memang kaulah pelakunya!" tandas kakek
beimuka kuda itu seraya tersenyum mengejek.
Ki Temula menghela napas panjang.
"Kau salah paham, Matija.
Perlu kau ketahui, aku... eh...! Matija! Awas di belakangmu...!" teriak Ki
Temula kalap.
Ki Matija terkejut bukan main mendengar
peringatan itu. Secepat kilat dibalikkan tubuhnya ke belakang, bersiap untuk
menghadapi segala kemung-kinan. Tapi ternyata di belakangnya tidak ada apa-apa.
Sadarlah Ki Matija, kalau dirinya tertipu.
Buru-buru Ki Matija berbalik,
tapi terlambat! Ki Temula yang telah menemukan kesempatan, tidak
menyia-nyiakannya begitu kakek muka kuda itu membalikkan tubuh. Cepat laksana Kilat, dia Melompat menerjang. Dikerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya dalam
penyerangan ini.
Prattt..! "Aaakh...!"
Ki Matija memekik tertahan.
Serangan Ki Temula dalam jurus 'Cakar Garuda', telah menghantam pelipisnya.
Tanpa ampun lagi tubuhnya terjengkang ke belakang dengan tulang pelipis retak.
Ki Matija tewas, setelah meregang nyawa sebentar. Darah segar langsung
membasahi bumi.
"Ha ha ha...!"
Kembali tawa kemenangan terdengar
dari mulut Ki Temula. Kemudian diangkatnya tubuh kakek muka kuda itu, lalu
dilemparkan ke dalam api yang tengah berkobar. Tanpa ampun lagi, tubuh wakil
ketua Perguruan Garuda Sakti segera dilalap api. Sementara Ki Temula segera melesat kabur
dari situ.
"Sayang waktuku tidak
banyak, Matija! Kalau saja waktuku banyak, tak akan kubiarkan kau mati secara
demikian enak," desah kakek berwajah tirus itu pelahan.
Setelah berkata demikian, tubuh
Ki Temula melesat dari situ. Dalam sekejap mata saja bayangan tubuhnya sudah lenyap
ditelan kegelapan malam.
***
Sesosok bayangan ungu melesat
cepat mendaki Lereng Gunung Munjul. Gerakannya gesit bukan main. Suasana malam
begitu gelap, sehingga wajahnya tersembunyikan. Dan yang terlihat hanyalah
sekelebat sinar ungu dan putih keperakan.
Rupanya bayangan itu menuju ruang
tahanan tempat Ki Kerpala berada. Ya, dia memang menuju ruang tahanan yang
lebih mirip gua itu. Langkahnya terhenti di sebuah ruang yang depannya
berjeruji besi baja bulat, dan berdinding baru cadas yang amat tebal. Jelas,
itu adalah ruang tahanan untuk Ki Kerpala.
Glarrrr...!
Halilintar menggelegar kembali.
Sesaat sinarnya yang terang menyinari bumi. Tapi waktu yang hanya sesaat itu,
sudah cukup untuk menerangi wajah bayangan ungu itu dan ruang tahanan Ki
Kerpala.
"Kosong...," desis si
bayangan ungu yang ternyata adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Ruangan tahanan
itu memang kosong, tak ada seorang pun di dalamnya. Yang ada hanya
rantai-rantai baja yang berserakan di lantai.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Dewa Arak melesat dari situ. Dikerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki,
sehingga yang terlihat hanya bayangan ungu saja yang berkelebatan cepat. Dan
tak lama kemudian, Dewa Arak telah berada di depan pintu gerbang Perguruan
Garuda Sakti.
"Ki Temula ada?" tanya
Arya pada murid Perguruan Garuda Sakti yang menjaga pintu gerbang.
"Ada. Silakan masuk, Dewa
Arak!" ucap salah seorang di antara mereka.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya
melangkah masuk dengan diantar salah seorang dari dua penjaga pintu gerbang
itu. Dan kini mereka tiba di ruang semadi Ki Temula. Penjaga itu lalu
meninggalkan Dewa Arak. Setelah mengetuk pintu sebentar, Arya segera masuk
ketika mendapat sahutan dari dalam.
"Arya! Silakan masuk,"
kata Ki Temula, seraya berdiri menyambut Arya.
"Aku membawa berita buruk
untukmu, Ki," jelas Arya.
"Penting sekalikah berita
itu, Arya? Sehingga di malam selarut ini kau datang mengunjungiku?" tanya
Ki Temula begitu mereka berdua telah berada di dalam ruang semadinya.
"Sangat penting, Ki,"
sahut Arya cepat. Ki Temula mengerutkan alisnya.
"Hm..., urusan orang yang
menyamar sebagai aku kan?" tebak kakek berwajah tirus itu.
"Benar, Ki. Dan aku telah
tahu sekarang, siapa orang yang telah memfitnahmu itu!" tandas Dewa Arak.
Wajah Ki Temula berubah. Sepasang
matanya menyipit merayapi wajah Dewa Arak.
"Benarkah apa yang kau
katakan, Arya. Yakinkah kau kalau kali ini dugaanmu tidak meleset?" tanya
Ki Temula kurang yakin.
"Yakin, Ki," sahut Arya
seraya menganggukkan kepalanya.
"Siapa orang itu,
Arya?" tanya kakek kecil kurus itu. Agak bergetar suaranya karena perasaan
tegang yang melanda hatinya.
"Hhh...!" desah Dewa
Arak sebelum memulai ucapannya. "Orang itu adalah..., Ki Kerpala,
Ki."
"Tidak mungkin!" sentak
Ki Temula. Sepasang matanya memancarkan sinar kemarahan. "Tarik kembali
ucapanmu, Arya! Atau..., terpaksa Kita berhadapan sebagai musuh!"
Dewa Arak menatap tajam Ki
Temula.
"Apakah memang sudah menjadi
sifatmu untuk tidak mempercayai ucapan setiap orang, Ki?" sindir Arya
tajam. "Apakah kau tidak berkeinginan untuk membuktikan kebenaran berita
yang kubawa ini. Mari
Kita cepat melihat ruang tahanan
itu, Ki. Aku berani mempertaruhkan kepalaku seandainya ucapanku tidak
benar!"
"Baik! Mari Kita melihatnya!
Dan ingat, Dewa Arak. Kalau ternyata terbukti kata-katamu itu tidak benar.
Enyahlah kau dari sini, dan jangan injak tempatku lagi!"
"Baik! Mari Kita buktikan!
Cepat, sebelum dia kembali lagi ke sana!"
Setelah berkata demikian, tubuh
Dewa Arak melesat Cepat bukan main gerakannya. Ki Temula tentu tak mau kalah.
Tubuhnya berkelebat cepat menyusul Dewa Arak yang telah melesat lebih dulu.
***
"Mustahil...!" teriak
Ki Temula ketika melihat ruang tahanan sudah kosong, dan rantai-rantai baja
yang berserakan di lantai dalam keadaan utuh. Bergegas diambilnya kunci pintu
jeruji baja itu, kemudian dibukanya.
Dewa Arak tidak berkata apa-apa
dan hanya mengikuti tubuh Ketua Perguruan Garuda Sakti yang telah masuk ke
dalam ruangan itu. Ki Temula membungkukkan tubuh, memungut gelang-gelang baja
yang melilit pergelangan tangan dan kaki Ki Kerpala. Diperhatikannya sejenak,
kemudian diper-lihatkan pada Arya.
"Tidak ada tanda-tanda
dibuka dengan kekerasan," desah Dewa Arak. Alisnya berkerut pertanda
tengah berpikir keras. Memang Arya telah mendengar, bahkan telah menjumpai
tokoh-tokoh yang memiliki berbagal ilmu yang aneh. Tapi, penemuannya kali ini
membuat Dewa Arak bingung.
Ki Temula tampak tercenung. Wajahnya
menyorotkan penyesalan yang mendalam. Ditatapnya lagi seruruh ruangan tahanan
itu.
"Hhh...!" kakek kecil
kurus ini menghela napas panjang. "Maafkan atas kekasaran sikapku, Dewa
Arak. Ahhh..., betapa tololnya aku! Padahal dulu telah kuketahui kalau Kakang
Kerpala gemar mempelajari ilmu-ilmu hitam. Tak salah lagi, ilmu yang
digunakan-nya untuk membuat tangan dan kakinya lolos dari gelang-gelang baja
itu pastilah aji 'Welut Putih'. Tapi, ilmu apa yang membuatnya mampu menerobos
sela-sela jeruji baja ini? Hhh...! Kecerobohanku telah menyebabkan peristiwa
ini terjadi."
"Sudahlah, Ki. Tidak ada
gunanya lagi menyesal dan mengeluh sekarang. Yang harus Kita lakukan adalah
mencegah terjadinya peristiwa selanjutnya," usul Dewa Arak.
Ki Temula menatap tajam Dewa
Arak.
"Apa yang kau ucapkan sama
sekali tidak salah, Arya. Tapi, pelaksanaan ucapan itu yang sulit. Apalagi kau
sama sekali belum mengetahui kelihaian Kakang Kerpala. Dulu sewaktu aku dan Adi Matija menangkapnya, dia tengah
mempelajari ilmu 'Sirna Raga'. Hhh...! Aku khawatir kalau sekarang ilmu itu
telah sempurna dikuasainya. Entah bagaimana
menghadapinya...," ujar Ketua Perguruan Garuda Sakti itu bernada mengeluh.
'"Sirna Raga'?!" tanya
Dewa Arak Wajahnya menunjukkan keterkejutan yang amat sangat. Telah didengarnya
kehebatan ilmu 'Sirna Raga' itu. Dengan ilmu itu, seseorang akan mampu
menghilang. Jadi bagaimana caranya menghadapi ilmu seperti itu?
"Yang masih kubingungkan.
Dengan ilmu apa dia sanggup meloloskan diri dari celah-celah jeruji baja yang
sempit ini? Mungkinkah dengan aji 'Welut Putih' juga?" tanya Ki Temula
seperti untuk dirinya sendiri.
Dewa Arak tercenung. Keistimewaan
aji 'Welut Putih' memang sudah pernah didengarnya. Ilmu itu mampu membuat tubuh
si pemilik aji itu selicin belut, dan mampu membuat tubuh seolah tak bertulang.
Memang sukar bagi lawan untuk menyarangkan serangan karena kelicinan kulitnya
itu.
"Sudahlah, Ki. Lagi pula
bukan maksudku mem-buat pusing Aki dengan menunjukkan hal ini. Aku hanya ingin
memberitahu ada orang yang telah mencemarkan nama Aki."
Ki Temula sama sekali tidak
menyahut. Kakek ini masih dibingungkan dengan lolosnya Ki Kerpala dari dalam
kurungan itu.
"Lebih baik Kita tunggu
saja, Ki. Bukan tidak mungkin, setelah selesai dengan aksinya Ki Kerpala akan
kembali kemari. Dengan demikian Kita berdua bisa mencoba untuk
menangkapnya," usul Dewa Arak.
"Hhh...!" Lagi-lagi Ki
Temula menghela napas panjang. "Jadi merepotkanmu saja, Arya."
"Sama sekali tidak,
Ki," sergah Dewa Arak cepat "Memang sudah menjadi sifatku yang suka
menyelesaikan urusan yang tidak wajar."
"Terima kasih, Arya,"
ucap kakek itu pelahan. "Lupakanlah, Ki," sahut Dewa Arak risih.
Setelah itu suasana pun hening.
Tidak terdengar lagi ada yang berbicara. Keduanya tenggelam dalam lamunan
masing-masing. Tapi meskipun demikian, sepasang mata dan pendengaran mereka
dipasang tajam-tajam, menunggu kembalinya Ki Kerpala ke dalam kurungan.
6
Seorang pria berseragam
putih-putih melangkah tersuruk-suruk menembus kepekatan malam yang gelap
gulita.
Glaar...!
Ketika kilat menyambar dan
menerangi bumi, tampaklah kalau sosok tubuh itu adalah seorang pemuda berusia
sekitar dua puluh tahun. Di baju bagian dada kirinya yang putih, tersulam
gambar kepala seekor naga yang tengah menyemburkan api.
Dari sini sudah bisa ditebak
kalau pemuda ini adalah salah seorang murid Perguruan Naga Api. Memang, pemuda
itu adalah Sentanu yang sengaja dibiarkan lolos oleh kawanan penyerang
berseragam kuning, tanpa setahu pemuda itu sendiri.
"Hhh... hhh... hhh...!"
Napas Sentanu nampak
terengah-engah, tapi sama sekali tidak dipedulikannya. Terus saja kakinya
berlari menuju Kotaraja Kerajaan Bojong Gading.
Setelah cukup jauh dari bangunan
perguruannya, Sentanu menolehkan kepala. Dan terkejutlah hati pemuda ini ketika
melihat api membumbung tinggi dari arah yang ditinggalkannya. Tanpa ke sana pun
pemuda ini sudah tahu kalau tempat yang tengah dilalap oleh api itu adalah
bangunan perguruannya.
Dada Sentanu seketika sesak oleh
rasa amarah dan haru yang mendalam. Kalau menuruti perasaan hatinya, ingin
rasanya dia kembali ke sana dan mengadu nyawa dengan orang-orang yang telah
membumi-hanguskan perguruannya. Tapi kalau dirinya juga tewas, siapa yang akan
membalas kekejian ini?
Entah berapa lama Sentanu
berlari, dan pemuda ini tidak mempedulikannya. Langkahnya semakin dipercepat
ketika tak jauh di depannya sudah nampak sebuah bangunan besar dan megah.
Halamannya luas, dan dikurung pagar tembok yang tinggi dan kokoh.
"Berhenti...! Siapa
kau?!" cegat salah seorang penjaga pintu gerbang, begitu melihat Sentanu
bergerak menuju pintu gerbang yang dijaganya. Tombak di tangannya ditodongkan
ke perut Sentanu. Sentanu mengatur napasnya sejenak
"Tolong…tolong antarkan aku menghadap Panglima Jumali,"
pinta Sentanu terengah-engah.
"Ada urusan apa hendak
menemui beliau?" tanya penjaga itu. Todongan tombaknya tidak juga
dijauh-kan dari tubuh Sentanu. Sementara, sepasang matanya merayapi wajah
pemuda di hadapannya, dalam keremangan cahaya obor yang terpancang dekat situ.
"Aku adalah adik
seperguruannya. Katakan saja pada Panglima Jumali bahwa ada murid Perguruan
Naga Api yang ingin bertemu."
"Ahhh...!" seru penjaga
itu terkejut. Dijauhkannya todongan tombaknya dari perut Sentanu. Penjaga itu
rupanya tahu kalau Panglima Jumali adalah murid Perguruan Naga Api.
"Maaf... aku tidak tahu."
"Tidak mengapa...,"
desah Sentanu. Dimakluminya perlakuan penjaga itu padanya.
"Kalau begitu, harap Kisanak
menunggu sebentar." Setelah berkata demikian, penjaga itu berlari masuk ke
dalam. Sedangkan Sentanu berdiri didepan pintu gerbang ditemani seorang penjaga
lain.
Tak lama kemudian, penjaga yang
melapor itu telah kembali bersama seorang pria tinggi besar bercambang bauk
lebat dan berpakaian seragam Panglima.
"Benarkah kau dari Perguruan
Naga Api?" tanya Panglima yang bernama Jumali itu ketika sampai di depan
pintu gerbang. Sepasang matanya menatap tajam sosok tubuh yang berdiri di
hadapannya.
"Benar, Panglima. Hamba
bernama Sentanu," jelas pemuda itu. Tak berani Sentanu memanggil orang
yang berdiri di hadapannya dengan panggilan keakraban. Bagaimana pun juga, dia
adalah seorang Panglima kerajaan, dan kali ini berada di depan prajurirnya. Harus dijaga martabat orang itu, meskipun juga berasal
dari Perguruan Naga Api.
"Sentanu? Kau adik
seperguruan Adi Branta?" tanya Panglima Jumali mulai teringat. Memang dia
pernah kenal orang yang bernama Sentanu, tapi itu lima tahun yang lalu. Wajar
kalau sekarang telah agak lupa.
"Benar, Panglima,"
sahut Sentanu.
"Ahhh...! Silakan masuk, Adi
Sentanu. Dan tidak usah terlalu banyak peradatan. Panggil saja aku seperti
layaknya seseorang memanggil kakak seper-guruannya. Mari!...! Mari, silakan
masuk...!"
Tanpa sungkan-sungkan lagi
Panglima Jumali menarik tangan Sentanu dan membawanya masuk. Panglima itu tahu
kalau pemuda di hadapannya ini pasti membawa berita yang sangat penting. Kalau
tidak, mana mungkin datang menemuinya tengah malam begini.
Sentanu melangkah mengikuti
Panglima itu yang sudah berjalan cepat menuju bangunan tempat untuk menerima
tamu penting.
"Sekarang katakan, apa maksudmu datang menemuiku malam-malam begini, Adi
Sentanu," tagih Panglima itu tidak sabar begitu mereka telah duduk di
dalam.
Wajah Sentanu berubah muram.
"Bencana menimpa perguruan
Kita, Kang" tutur Sentanu, yang kini tidak ragu-ragu lagi memanggil
Panglima itu dengan panggilan kekerabatan.
"Bencana? Apa maksudmu. Adi
Sentanu. Aku masih tidak mengerti!" tegas Panglima itu, langsung
berkernyit dahinya.
"Perguruan Naga Api sekarang
telah musnah, Kang," sahut Sentanu. Perlahan sekali suaranya seperti
mendesah, tapi akibatnya bagi Panglima Jumali tidaklah demikian.
"Apa?!" pekik Panglima
itu. Tubuhnya sampai terlonjak dari duduknya. "Apa katamu, Adi
Sentanu?!"
Sentanu menundukkan kepalanya,
tidak sanggup melihat wajah kakak seperguruannya yang begitu tegang. Bahkan
suaranya terdengar gemetar.
"Guru dan semua murid
perguruan telah tewas, Kang. Hanya aku yang selamat. Dan itu pun karena
melarikan diri. Namun demikian, berat rasanya hatiku berbuat ini. Tapi
terpaksa, Kang. Aku harus mem-beritahukan berita ini padamu."
"Ya Tuhan...!" keluh
Panglima Jumali. Kedua tangannya ditekapkan
ke wajah, dan sesaat kemudian diturunkan kembali. Terdengar suara ber-gemeretak
keras ketika Panglima ini mengepalkan kedua tangannya.
"Betapa berdosanya aku. Di
sini aku enak-enakan saja, dan tak pernah menengok
perguruan. Sementara Guru dan yang lainnya dibunuh orang. Hhh...! Murid macam
apa aku ini!"
Sentanu membiarkan saja. Dia tahu kalau Panglima Jumali tengah terpukul.
"Katakan, Adi Sentanu! Siapa
yang melakukan perbuatan keji itu?!" desak Panglima itu. Ada ancaman hebat
yang tersembunyi dalam kata-katanya.
"Perguruan Garuda Sakti,
Kang...."
"Apa?! Sentanu! Sadarkah kau
akan apa yang telah kau ucapkan itu?!"
"Aku sadar, Kang. Dan semula
pun aku ragu. Tapi kejadian kemarin malam telah menghapus semua
keragu-raguanku."
Kemudian Sentanu menceritakan
semua yang terjadi.
Panglima Jumali mendengarkan
penuh seksama. Wajahnya sebentar pucat, sebentar kemudian memerah mendengar
hal-hal yang menggiriskan. Baru setelah Sentanu menyelesaikan ceritanya,
Panglima ini menarik napas panjang.
"Kita harus membalas dendam,
Adi Sentanu!" desis Panglima itu tajam. "Jaladi!" teriaknya
keras.
Sesaat kemudian terdengar derap langkah mendekat, lalu muncul seorang
pengawal yang segera memberi hormat padanya.
"Panglima memanggilku?"
tanya pengawal yang bernama Jaladi itu.
"Ya! Berikan surat ini pada
Panglima Gotawa dan Panglima Mantaya! Cepat..!" perintah Panglima Jumali
sambil memberikan surat yang saat itu juga dibuatnya.
"Baik, Panglima," sahut prajurit itu sambil menerima
surat yang disodorkan Panglima Jumali.
"Sekarang mari Kita
berangkat, Adi Sentanu. Kita basmi Perguruan Garuda Sakti. Aku rela, sekalipun
akibat perbuatanku ini harus
dihukum oleh raja!"
***
"Biadab! Terkutuk! Harus
kubalaskan perbuatan keji ini!" teriak Panglima Jumali. Begitu melihat
keadaan markas Perguruan Naga Api yang kini telah menjadi puing-puing.
"Benar, Kang," sahut
Panglima Gotawa yang juga bekas murid Perguruan Naga Api.
"Kita harus hancurkan
Perguruan Garuda Sakti!" sambut Panglima
Mantaya, juga bekas murid Perguruan Naga Api.
"Mari berangkat! Kita
hancurkan markas mereka seperti mereka menghancurkan perguruan Kita!"
Setelah berkata demikian, rombongan yang dipimpin tiga orang Panglima itu segera
bergerak. Jumlah mereka ratusan orang, dan kini bergerak menuju markas Perguruan
Garuda Sakti.
Menjelang pagi, rombongan itu
telah tiba di tujuan. Dan tanpa bicara apa-apa, pasukan itu langsung menyerbu.
Tentu saja murid-murid Perguruan
Garuda Sakti menjadi terkejut bukan kepalang melihat serbuan pasukan Kerajaan
Bojong Gading. Tapi terpaksa mereka melawan, karena tidak ingin mati konyol.
Sebentar saja, terjadilah pertempuran massal.
Tapi karena jumlah mereka yang
hanya sekitar tiga puluh lima orang,
sementara jumlah pasukan penyerbu itu tidak kurang dari dua ratus orang, maka
dalam waktu sebentar saja mereka sudah terdesak hebat. Apalagi di antara para
penyerbu terdapat bekas murid Perguruan Naga Api.
Bagi yang berhadapan dengan
prajurit masih untung. Tapi siallah bagi mereka yang bertemu Panglima Jumali,
Panglima Gotawa, maupun Panglima Mantaya. Ketiga Panglima itu adalah bekas
murid kepala Perguruan Naga Api. Dan walaupun telah lama keluar, mereka tetap
rajin melatih diri. Sehingga, tidak aneh kalau kepandaian mereka semakin lihai
karenanya. Ke mana saja ketiga Panglima ini bergerak, pasti ada satu tubuh yang
roboh ke tanah.
Dan mendadak saja sepak terjang
Panglima-Panglima ini tertahan, ketika bertemu dua orang murid kepala Perguruan
Garuda Sakti.
"Apa maksudmu menyerang
perguruan kami, Panglima Jumali?!" tanya salah seorang dari dua orang
murid kepala yang berkulit wajah kuning. Keras nada suaranya.
"Tidak usah berpura-pura bodoh...!" sentak Panglima
Jumali. "Aku datang untuk membalaskan dendam Guru dan adik-adik
seperguruanku yang kalian bantai!"
"Apa?! Gilakah kau,
Jumali?" sergah salah seorang lagi yang berkulit muka merah.
"Tidak usah banyak bacot!
Awas serangan...!" selak Panglima Gotawa seraya menusukkan tombak pendeknya
ke perut si wajah kuning.
Wut..!
Si muka kuning tidak bisa berkata
apa-apa lagi Cepat-cepat dielakkan serangan tombak itu dengan menggeser kaki.
Kemudian dibalasnya serangan itu dengan menyabetkan pedang secara mendatar ke
leher Panglima itu.
Melihat kawannya sudah menyerang,
Panglima Jumali pun tidak tinggal diam. Cepat diputar pedangnya laksana
baling-baling. Kemudian secara tidak terduga-duga, ditusukkan ke arah
kerongkongan si muka merah.
Si muka merah cepat menarik
kepalanya ke belakang. Golok yang sejak tadi sudah terhunus di tangannya,
segera disabetkan ke tangan Panglima Jumali yang menghunus pedang.
"Eh...!"
Panglima Jumali berseru kaget. Cepat-cepat ditarik pulang
serangannya. Tak lupa, dilontarkannya tendangan lurus ke arah perut lawan.
Si muka merah melompat ke
belakang seraya mengirimkan serangan yang tak kalah dahsyatnya. Sesaat kemudian
keduanya sudah terlibat per-tempuran sengit, dan berjalan seimbang. Sedangkan
pertempuran antara murid-murid Perguruan Garuda Sakti melawan pasukan kerajaan
berlangsung berat sebelah. Dan tampak, satu demi satu mereka roboh. Sudah dapat
dipastikan kalau tak lama lagi mereka semua akan tewas di tangan pasukan
kerajaan itu.
Mendadak saja terdengar suara
sorak sorai, disusul munculnya pasukan kerajaan di bawah pimpinan Panglima
Jatalu. Tanpa bicara apa-apa, pasukan itu segera menyerbu pasukan yang tengah
membantai murid-murid Perguruan Garuda Sakti.
Panglima Mantaya kaget. Dia tahu,
siapa Panglima Jatalu itu. Seorang Panglima bekas murid kepala Perguruan Garuda
Sakti. Rupanya berita penyerbuan ke perguruan ini sampai juga ke telinganya.
Maka dia langsung buru-buru membawa pasukan untuk
membela perguruannya.
Tak dapat dihindarkan lagi,
terjadilah pertempuran antara kedua pasukan dari kerajaan yang sama, Kerajaan
Bojong Gading. Panglima Mantaya tanpa ragu-ragu lagi segera menyongsong datangnya
Panglima Jatalu. Dan sesaat
kemudian keduanya sudah terlibat dalam pertempuran sengit. Dan kini, kembali
korban berjatuhan.
Tapi sebelum pertempuran semakin
berlarut-larut Terdengar bentakan nyaring. "Hentikan per-tempuran...!"
Belum lagi gema suara bentakan
itu lenyap, melesat dua sosok tubuh ke arena pertempuran. Sosok tubuh berwarna
ungu dan kuning. Rupanya bentakan yang dikeluarkan disertai pengerahan tenaga
dalam itu, membuat semua orang yang ada di situ terpaku. Dada mereka semua
terasa tergetar. Bahkan lutut pun terasa lemas
Seketika itu juga pertarungan
terhenti. Begitu juga pertarungan antara dua Panglima melawan dua murid kepala
Perguruan Garuda Sakti. Dari suara bentakan, keempat orang itu sudah bisa
memperkirakan kesaktian pemiliknya. Segera semua mata tertuju pada asal suara
itu.
Di tengah-tengah arena
pertempuran, telah berdiri dua sosok tubuh. Yang pertama adalah seorang pemuda
berusia dua puluh tahun dan berambut putih keperakan, yang tak lain adalah Dewa
Arak. Sedangkan yang seorang lagi adalah kakek ber-pakaian kuning berwajah
tirus mirip tikus. Siapa lagi kalau bukan Ki Temula.
Memang, semula kedua orang sakti
ini menunggu kembalinya Ki Kerpala. Tapi setelah lelah menunggu, sampai hari
menjelang pagi, tidak juga nampak ada tanda-tanda kemunculannya. Dan pada saat
itulah mereka malah mendengar suara denting senjata dan lengking kematian di
kejauhan.
Ki Temula dan Dewa Arak menjadi
curiga. Suara ribut-ribut itu sepertinya berasal
dari sekitar
Perguruan Garuda Sakti. Maka,
cepat mereka melesat meninggalkan tempat itu menuju ke sana.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
hati kedua orang sakti ini, melihat pertempuran massal yang terjadi di situ.
Maka tanpa membuang-buang waktu lagi, Dewa Arak segera berteriak mencegah
per-tempuran itu berlanjut.
"Keparat..!" teriak Panglima Jumali ketika
mengenali salah satu dari dua orang yang baru datang itu.
"Hiyaaa...!"
Sambil bertenak melengking
nyaring, panglima itu menyerang kakek kecil kurus itu. Pedang di tangannya melesat cepat menusuk lurus ke
arah ulu hati.
"Sabar dulu, Panglima. Tahan
dulu amarahmu," desah kakek itu lirih seraya menggerakkan tangannya
mendorong ke depan.
Wuuussa...!
Serangkum angin keras berhembus
ke arah tubuh Panglima Jumali. Dan tusukan pedang itu pun melenceng arahnya,
seperti tertahan oleh dinding yang tidak nampak.
Tubuh Panglima Jumali terhuyung.
Meskipun demikian, Panglima ini tidak putus asa. Disadari kalau kakek di
hadapannya ini bukan tandingannya. Tapi hal itu tidak membuatnya menjadi
gentar. Namun sebelum Panglima itu kembali menyerang, Dewa Arak telah melangkah
maju dan berdiri di tengah-tengah, di antara panglima itu dan Ki Temula.
"Sabar, Panglima,"
bujuk Arya pelan.
"Siapa kau?! Mengapa
mencampuri urusanku!? Menyingkirlah sebelum kesabaranku hilang!"
"Namaku Arya, Panglima.
Kehadiranku di sini hanya untuk menghilangkan kesalahpahaman yang
terjadi," jelas Dewa Arak, masih tetap tenang suaranya.
"Arya?!" kata Panglima
itu mengulang perkataan Dewa Arak. Keningnya berkernyit. Nama itu seperti
pernah didengarnya. Tapi kapan dan di mana? Dia terus mengingat-ingatnya Dan
sekarang dia ingat, karena pernah mendengarnya dari mulut Sentanu. Arya inilah
yang telah dua kali menyelamatkan murid-murid Perguruan Naga Api.
"Benar, Panglima.
Mengapa?"
Panglima Jumali
menggeleng-gelengkan kepala-nya.
"Tidak! Tidak apa-apa.
Hm.... bukankah kau yang telah menolong murid-murid Perguruan Naga Api dari
ancaman maut orang-orang jahat ini? Tapi kenapa sekarang kau malah bersama
dengan gembong penjahat ini?" tanya Panglima Jumali sambil menunjuk Ki Temula. Dia benar-benar
tidak mengerti.
Dewa Arak menganggukkan
kepalanya. "Menolong murid-murid Perguruan Naga Api memang benar. Tapi Ki
Temula dan murid-murid Perguruan Garuda Sakti bukanlah orang jahat
Panglima."
Wajah Panglima Jumali berubah.
"Ucapan apa ini?! Ki Temula dan murid-murid Perguruan Garuda Sakti telah
membumihanguskan Perguruan Naga Api. dan membunuh Ki Santa! Itu bukan perbuatan
jahat katamu, Arya?! Lalu, perbuatan manakah yang kau anggap jahat?"
"Apa?! Benarkah apa yang kau
ucapkan itu, Panglima? Benarkah Perguruan Naga Api telah
dibumihanguskan?!" tanya Dewa Arak. Wajah pemuda ini memancarkan
keterkejutan yang amat sangat. Sementara Ki Temula hanya berdiri terpaku, tak
tahu
harus berbuat apa.
Panglima Jumali hanya tersenyum
sinis. Tak dijawabnya pertanyaan Dewa Arak. Sebaliknya perhatiannya malah dialihkan pada
rombongan prajurit di belakangnya.
"Sentanu...! Kemari
kau!" teriak Panglima Jumali sambil melambaikan tangannya.
Pemuda berhidung besar itu
melangkah maju. "Nah, Dewa Arak. Inilah satu-satunya murid
Perguruan Naga Api yang berhasil lolos dari pembantaian Ki Temula dan orang-orang Perguruan Garuda
Sakti! Sentanu! Ceritakanlah apa yang kau alami! Agar Dewa Arak tidak tertipu
oleh penjahat culas itu!" teriak Panglima Jumali sambil menuding Ki Temula.
"Tutup mulutmu, Panglima
Jumali!" teriak Panglima Jatalu keras. Tidak senang hatinya melihat
gurunya berkali-kali dihina Panglima Jumali. Kalau tidak segan pada gurunya,
sudah diterjangnya Panglima itu.
"Tenanglah, Jatalu,"
bujuk Ki Temula, pelan sekali. Memang, berita yang didengarnya
dari mulut Panglima Jumali terlalu mengejutkan hatinya, sehingga membuatnya
agak terpukul.
Panglima Jatalu pun terdiam. Bisa
dimaklumi kata-kata gurunya. Kalau perasaan harinya dituruti, bisa jadi
persoalan ini akan menjadi kian kusut. Padahal, gurunya telah bersusah-payah
berusaha meluruskan persoalan.
"Maafkan aku, Guru,"
ucap Panglima Jatalu pelan.
7
Dewa Arak menatap tajam. langsung
ke bola mata Sentanu. Pemuda berambut putih keperakan ini mengenali pemuda
berhidung besar ini sebagai salah seorang yang pernah menyerbu Perguruan Garuda
Sakti.
"Benar yang dikatakan
Panglima Jumali, Sentanu?" tanya Dewa Arak. Sepasang matanya yang tajam
mencorong dan bersinar kehijauan merayapi sekujur wajah pemuda di hadapannya.
Sentanu bergidik melihat sorot
mata Dewa Arak. Sepasang mata di hadapannya seolah-olah bukan mata manusia
saja, tapi lebih cocok mata harimau!
"Semua yang dikatakan
Panglima Jumali benar. Semalam, Ki Temula bersama tiga puluh murid Perguruan
Garuda Sakti menyerbu. Ki Santa tewas di tangannya. Sementara, semua murid
Perguruan Naga Api, tewas pula di tangan murid-murid Perguruan Garuda Sakti.
Tidak itu saja yang dilakukan, mereka juga membakar habis bangunan perguruan
kami!"
Dewa Arak tepekur. Terasa ada
kesedihan yang mendalam pada suara pemuda di hadapannya. Dia tahu Sentanu
berkata benar. Tapi, Ki Temula juga tidak salah. Yang masih menjadi tanda tanya
baginya, siapa puluhan orang yang diyakini Sentanu sebagai murid-murid
Perguruan Garuda Sakti?
Dengan pandang mata penuh pertanyaan, ditatapnya wajah Ki Temula.
Sementara yang ditatap tengah tercenung bingung. Keningnya berkernyit dalam
Kakek ini memang tengah berpikir keras.
"Kau yakin kalau orang-orang
itu adalah murid-murid Perguruan Garuda Sakti, Sentanu?" tanya Dewa Arak
lagi meminta ketegasan.
Sentanu menatap tajam wajah Dewa
Arak. "Jangan salah paham, Sentanu. Yakinkah kau kalau mereka bukan
orang-orang persilatan golongan hitam?"
"Hhh...!" Sentanu
menghela napas panjang. "Kau tidak mempercayaiku, Dewa Arak?" tanya
Sentanu. Nada suaranya terdengar kesal.
Dewa Arak menggelengkan
kepalanya. Mulutnya menyunggingkan senyum.
"Aku mempercayaimu. Sentanu.
Hanya saja, aku butuh keterangan yang sejelas-jelasnya. Maka, aku mohon agar
kau bersedia memberikan keterangan yang jelas," tegas Arya.
Mendengar ucapan Dewa Arak, wajah
Sentanu kembali berseri.
"Aku tidak akan begitu
sembarangan menuduh, Arya. Orang orang yang menyerbu Perguruan Naga Api semalam
berseragam kuning, dan di dada kiri ada sulaman gambar kepala seekor burung
garuda.
"Hanya itu saja,
Sentanu?" tanya Dewa Arak seraya mengernyitkan keningnya. Dan memang,
kalau hanya atas dasar itu saja, betapa kerdilnya wawasan pemuda ini
Sentanu menggelengkan kepalanya.
"Tidak hanya itu saja, Arya. Mereka juga
memainkan semua ilmu Perguruan Garuda Sakti, kecuali ilmu 'Cakar Garuda'
Kepandaian mereka rata rata tinggi, sehingga tidak aneh kalau semua murid
perguruan kami semuanya terbantai. Tingkat
kepandaian mereka rata-rata setingkat dengan Kakang
Prawira."
"Ahhh...!" desah Arya terkejut bukan main.
Ditatapnya wajah Ki Temula tajam.
Sudah dapat diduga kalau orang-orang itu adalah didikan Ki Kerpala. Dan
mendengar kelihaian mereka, sudah bisa diperkirakan kalau Ki Kerpala telah lama
men-didiknya. Luar biasa! Sekian tahun Ki Kerpala telah mampu keluar tanpa
diketahui Ki Temula. Diam-diam Dewa Arak menyalahkan keteledoran Ketua
Perguruan Garuda Sakti itu.
"Bagaimana, Dewa Arak. Masih
tidak percaya akan semua ucapannya? Cepat Menyingkirlah dari situ, Dewa Arak.
Sebelum kakek licik itu membokongmu!" tegas Panglima Jumali.
Dewa Arak tersenyum.
"Terima kasih atas
nasihatmu, Panglima. Aku percaya akan keterangan Sentanu, Tapi, ketahuilah Aku
telah lama menyelidiki peristiwa ini."
"Lalu bagaimana akhirnya,
Dewa Arak?" tanya Panglima Jumali penuh gairah dan berusaha melunakkan hatinya.
"Aku berhasil menemukan pelaku semua
kejahatan ini."
"Siapa dia, Dewa Arak? Ki
Temula kan?" tebak Panglima itu langsung.
Dewa Arak menggelengkan kepalanya
"Bukan, Panglima. Bukan Ki
Temula pelakunya." "Ahhh...!" terdengar seruan-seruan terkejut
dari mulut Panglima Jumali, Panglima Gotawa, Panglima Mantaya dan Sentanu.
"Bukan dia pelakunya? Lalu,
siapa?" desak Panglima Jumali keras.
Tapi sebelum Dewa Arak sempat
menjawab, seorang prajurit berseru keras.
"Panglima, istana kerajaan
diserbu!"
"Apa?!" teriak Panglima
Jumali, Panglima Gotawa,
Panglima Mantaya dan Panglima
Jatalu berbareng. Bagai berlomba mereka berlari ke arah prajurit yang berteriak
itu. Dan apa yang dikatakan prajurit itu memang benar. Dari ketinggian lereng
gunung, nampak terlihat serombongan orang bergerak cepat menuju Istana Kerajaan
Bojong Gading.
"Cepat kembali ke
istana!"
Serentak seluruh rombongan
bergerak menuruni lereng menuju Kotaraja Kerajaan Bojong Gading.
***
Dua orang prajurit penjaga pintu
gerbang Kerajaan Bojong Gading mengernyitkan kening, melihat di kejauhan debu
tebal mengepul tinggi di udara.
"Apa itu, Badrun?"
tanya salah seorang dari mereka.
Orang yang dipanggil Badrun
menyipitkan matanya. "Astaga...! Ituserombongan pasukan berkuda!"
"Apa?!" sahut temannya
kaget "Mengapa prajurit penjaga perbatasan tidak memberi kabar?"
Setelah berkata demikian, kawan Badrun itu berlari masuk
memberitahukan hal itu.
Sesaat kemudian, gegerlah suasana
dalam istana. Apalagi tatkala diketahui, pasukan prajurit di bawah pimpinan
empat orang Panglima tidak berada di tempat. Yang tinggal hanya sepasukan
prajurit di bawah pimpinan Panglima Dampu.
Memang, pasukan berkuda itu tak
lain dari pasukan prajurit Kadipaten Tasik, dibantu murid-murid Ki Kerpala dan
tak ketinggalan pula Peri Muka Seratus. Mereka memang bermaksud mengadakan
pemberontakan di bawah pimpinan Adipati Tasik, Pradipta.
Di bawah pimpinan Panglima Dampu
dan Patih Rantaka, prajurit Kerajaan Bojong Gading berusaha keras
mempertahankan istana. Satu keuntungan bagi pasukan Kerajaan Bojong Gading
adalah, mereka mempunyai tempat berlindung yang amat kuat. Dan kelebihan itu
dimanfaatkan oleh mereka. Segera saja dipersiapkan pasukan panah untuk mencegah pasukan penyerang mendekati istana.
Dan siasat itu berhasil baik.
Pasukan pemberontak yang mencoba maju segera berguguran dibantai pasukan panah,
sebelum sempat mendekat. Berkali-kali mereka maju, tapi berkali-kali terpaksa
mundur kembali dengan membawa banyak korban.
"Keparat!" Peri Muka
Seratus menggeram melihat banyaknya korban di pasukan mereka. "Kakang
Kerpala, lebih baik kita yang lebih dulu masuk ke sana. Kita hancurkan dulu
pasukan panah itu. Karena kalau tidak, sampai kapan pun pasukan Kita tidak akan
mampu masuk!"
"Usulmu baik sekali, Komala.
Mari Kita habisi mereka!" sahut Ki Kerpala gembira.
Maka kedua tokoh sakti ini segera
melesat ke arah benteng Istana Bojong Gading.
Pasukan panah prajurit Bojong
Gading yang memang sejak tadi sudah siap siaga, segera menjepretkan gendewanya
begitu melihat dua sosok tubuh melesat cepat mendekati benteng.
Twang...! Twang...!
Puluhan batang anak panah melesat
menyambar ke arah Ki Kerpala dan Peri Muka Seratus. Tapi kali ini yang menjadi
sasaran anak panah itu bukanlah tokoh yang gampang tewas begitu saja, melainkan
dua tokoh tingkat tinggi. Maka begitu melihat sambaran puluhan anak panah yang
melesat ke arah mereka, keduanya tidak menjadi gugup.
Peri Muka Seratus segera mencabut
pedangnya, kemudian memutar-mutarnya laksana baling baling.
Trang...! Trang...! Trang...!
Akibatnya, puluhan anak panah
yang menyambar ke arahnya, kandas di tengah jalan. Tak satu pun yang mampu
mengenai sasarannya. Memang hebat tindakan Peri Muka Seratus! Tapi, masih lebih
hebat lagi apa yang dilakukan Ki Kerpala! Kakek ini sama sekali tidak
menggunakan senjata. Dibiarkan saja hujan anak panah yang menyambar tubuhnya.
Tasss...! Tasss !
Puluhan anak panah yang menyambar
sekujur tubuhnya meleset begitu mengenai sasaran. Seolah-olah yang dipanah itu
bukanlah tubuh manusia, melainkan batang logam yang
licin! Inilah keistimewaan aji
'Welut Putih' milik kakek kecil kurus ini.
Sementara anak panah yang
menyambar ke arah matanya, ditepis dengan tangan kosong. Maka, kontan anak-anak
panah itu berpentalan dalam keadaan patah. Dari peragaan ini saja, sudah bisa
diperkirakan kedahsyatan tenaga dalam yang dimiliki kakek ini.
"Hup...!"
Tanpa mengalami halangan yang
berarti, Ki Kerpala mendaratkan kedua kakinya di atas tembok benteng itu.
"Hup...!"
Peri Muka Seratus pun menyusul
tiba. Tak ada sedikit pun bagian tubuhnya yang terluka. Jangankan terluka.
Lecet pun tidak.
Dan begitu berhasil mendarat,
kedua tokoh tingkat
tinggi itu segera mengamuk
dahsyat. Setiap kali tangan atau kaki mereka bergerak, sudah dapat dipastikan
akan ada tubuh yang rubuh dalam keadaan tidak bernyawa lagi. Jerit lengking
kematian terdengar saling susul. Dalam sekejap mata saja, lebih dari separuh
pasukan panah itu yang tewas.
Dan di saat itulah pasukan
pemberontak itu maju menyerbu. Kali ini, tanpa ada penghalang mereka dapat
mencapai pintu gerbang. Adipati Pradipta adalah orang yang pertama kali
mencapai pintu gerbang istana. Laki-laki setengah baya itu terdiam sejenak di
depan pintu gerbang istana yang tertutup rapat. Seluruh tenaga dalamnya kini
dikumpulkan. Sambil mengeluarkan pekik nyaring, Adipati Pradipta memukulkan
kedua tangannya ke depan.
"Hiyaaa...!" Brakkk...!
Terdengar suara keras ketika
pintu gerbang itu hancur berantakan. Dan begitu pintu gerbang itu hancur, pasukan pemberontak itu pun maju
menyerbu sambil mengeluarkan teriakan-teriakan liar. Maka tak dapat dicegah
lagi, pertempuran massal pun terjadi. Pasukan Kerajaan Bojong Gading di bawah
pimpinan Panglima Dampu dan Patih Rantaka, mati-matian melawan.
Tapi karena di pihak lawan banyak
terdapat tokoh cukup tinggi ilmunya yang merupakan murid Ki Kerpala, maka
sebentar saja pasukan kerajaan sudah terdesak hebat. Satu persatu mereka
berguguran.
Adipati Pradipta tertawa tergelak.
Dengan perasaan tak sabar dia terus bergerak mendahului pasukannya menuju
istana. Hatinya benar-benar tak sabar lagi untuk segera masuk ke dalam istana
itu, dan membunuh Raja Bojong Gading, Prabu Nalanda.
Tapi di saat-saat gawat bagi
keutuhan Kerajaan Bojong Gading, terdengar derap langkah kuda. Itu pun masih
disusul dengan munculnya, pasukan kerajaan yang dipimpin empat orang Panglima.
Munculnya bantuan tak
terduga-duga ini, tentu saja mengejutkan pihak Adipati Pradipta. Tapi
sebaliknya, menggembirakan pasukan Kerajaan
Bojong Gading.
Dewa Arak dan Ki Temula tanpa
membuang-buang waktu lagi segera menerjang Ki Kerpala dan Peri Muka Seratus
yang tengah menyebar maut.
Ki Temula segera menghadang Ki
Kerpala, sementara Dewa Arak menghadang Peri Muka Seratus.
"Cukup, Kakang! Hentikan
semua kekejaman ini Tanganmu sudah terlalu banyak berlumur darah!" geram
kakek kecil kurus bermuka tikus ini pelan tapi penuh wibawa.
Ki Kerpala menghentikan gerakannya.
Ditatapnya wajah adik seperguruannya tajam-tajam.
"Menyingkirlah, Temula. Aku
tidak ingin mem-bunuhmu. Jangan sampai pikiranku berubah!"
"Aku bersedia menyingkir.
Tapi dengan satu syarat! Kau harus ikut aku. Kita kembali ke Perguruan Garuda
Sakti!" tandas Ki Temula tegas.
"Keparat..! Rupanya kau
memilih mati, Temula! Kalau begitu, mampuslah!"
Setelah berkata demikian, Ki
Kerpala melompat menerjang. Jari-jari tangannya terkembang mem-bentuk cakar
garuda. Serangannya lurus ke arah kepala dengan tangan kiri, sementara tangan
kanan menyilang di depan dada.
Wut…!
Ki Temula mendoyongkan tubuhnya
ke belakang.
Tangan kanannya digerakkan dari
dalam ke luar untuk menangkis serangan itu. Sadar kalau lawan di hadapannya ini
memiliki ilmu kepandaian tinggi, tanpa sungkan-sungkan lagi dikeluarkannya ilmu
'Cakar Garuda'
Takkk...! "Akh...!"
Ki Temula terpekik kaget. Sekujur
tangannya terasa sakit-sakit. Bahkan seluruh tubuhnya pun tergetar hebat. Belum
lagi kekagetannya hilang, kaki kanan kakak seperguruannya lelah menyusul
tiba-tiba dengan sebuah tendangan miring ke arah kepala.
Cepat-cepat Ki Temula merendahkan
tubuhnya membentuk kuda-kuda rendah, sehingga serangan itu lewat di atas
kepalanya. Beberapa saat kemudian, kedua kakak beradik seperguruan ini sudah
terlibat pertempuran sengit. Pertempuran yang hampir seimbang
karena satu sama lain telah mengetahui ilmu masing-masing.
8
Sementara di tempat terpisah.
Peri Muka Seratus menatap Arya lekat-lekat. Tokoh hitam yang ahli dalam
penyamaran ini teringat akan cerita Ki Kerpala. "Hm..., kaukah yang
berjuluk Dewa Arak itu?" tanya perempuan itu sambil tersenyum sinis.
Tapi Dewa Arak sama sekali tidak
mempedulikan ucapan lawannya. Dengan sikap tenang, diambilnya guci yang
tersampir di punggung. Kemudian diangkat-nya ke atas kepala, dan dituangkan ke
dalam mulutnya.
Gluk… gluk… gluk...!
Suara tegukan terdengar ketika
arak itu memasuki kerongkongannya. Sesaat kemudian, hawa yang hangat pun mulai
naik dari perut dan terus ke atas kepalanya.
Peri Muka Seratus geram bukan
kepalang melihat sikap Dewa Arak yang seperti tidak mempedulikannya Sambil
mengeluarkan pekik melengking nyaring, diterjangnya pemuda berambut putih
keperakan di depannya. Pedang di tangannya menusuk cepat ke arah leher.
Tapi dengan jurus 'Delapan
Langkah Belalang', mudah saja bagi Dewa Arak untuk mengelakkan serangan itu.
Bahkan sekaligus berbalik mengancam lawannya. Sesaat kemudian keduanya sudah
terlibat pertarungan cukup sengit.
Tapi lama kelamaan, nampaklah
keunggulan Dewa Arak. Dan pertarungan pun berlangsung berat sebelah. Kepandaian
yang dimiliki Peri Muka Seratus itu sebenarnya tinggi. Tapi lawan yang
dihadapinya adalah Dewa Arak, seorang pendekar muda yang memiliki ilmu lebih
tinggi. Dengan keistimewaan ilmu 'Delapan Langkah Belalang', setiap serangan
perempuan yang bernama asli Komala itu kandas percuma. Sebaliknya setiap
serangan Dewa Arak membuatnya terpontang-panting menyelamatkan diri.
Tak heran belum sampai tiga puluh
jurus, Peri Muka Seratus sudah terdesak hebat. Dan sudah dapat dipastikan kalau
tak lama lagi tokoh hitam yang ahli dalam penyamaran ini akan roboh di tangan
Arya. Berbeda dengan keadaan Dewa Arak yang berada di atas angin, keadaan Ki
Temula malah sebaliknya. Kakek ini malah terdesak hebat. Ki Kerpala dengan
keistimewaan aji 'Welut Putih', membuat Ketua Perguruan Garuda Sakti itu
terdesak hebat.
"Haaat..!"
Ki Temula berteriak nyaring.
Dengan kuda-kuda rendah dan saling bersilang, tangan kanannya menyambar deras
ke arah ulu hati lawannya. Dan sungguh di luar dugaan, Ki Kerpala sama sekali
tidak mempedulikan serangan itu. Dibiarkan saja serangan itu, dan sebaliknya
kaki kanannya menendang ke arah lutut adik seperguruannya.
Prattt..! Rrrttt..! Tukkk...!
"Akh...!"
Kejadian yang berlangsung terlalu
cepat. Serangan cakar Ki Temula yang tepat mengenai ulu hati langsung meleset
seperti menghantam sebuah benda licin. Tak sedikit pun jari-jari tangan yang
biasanya mampu menembus baru karang keras itu mampu melukai kulit Ki Kerpala.
Tangan itu langsung terpeleset membawa serta baju kakak seperguruannya yang koyak
terkena cakaran tangan.
Sebaliknya tendangan Ki Kerpala
tak mampu dielakkan Ki Temula. Telak dan keras sekali tendangan itu mengenai
lutut. Seketika itu juga sambungan tulang lutut Ki Temula terlepas dan tubuhnya
kontan terhuyung.
"Hiyaaa...!"
Ki Kerpala melompat memburu.
Tangan kanannya menyampok deras ke arah pelipis.
Wajah Ki Temula pucat. Disadari
kalau dirinya tidak akan mungkin mampu
mengelak atau menangkis serangan itu. Yang dapat dilakukannya hanya
membelalakkan sepasang matanya sambil menanti datangnya maut.
Sementara itu, Dewa Arak yang
bertanding dengan Peri Muka Seratus, sesekali perhatiannya terarah pada pertarungan Ki Temula melawan kakak seperguruannya. Maka begitu melihat ancaman maut yang
mengancam laki-laki berwajah tirus itu, Arya langsung menghentikan desakan pada
lawannya.
"Hih...!"
Dewa Arak memekik keras sambil
menghentakkan kedua tangannya ke depan, mengerahkan jurus 'Pukulan Belalang'
yang jarang digunakannya.
Wuttt…!
Serangkum angin berhawa panas
menyembur keras mencegat tubuh Ki Kerpala yang tengah mem-buru Ki Temula. Maka
laki-laki berwajah hitam itu kaget bukan main. Dia sadar betul kalau pukulan
jarak jauh itu begitu dahsyat. Segera diurungkan serangannya, kemudian langsung
dibanting tubuhnya ke tanah dan bergulingan menjauh.
Peri Muka Seratus tidak menyia-nyiakan
kesempatan itu. Begitu melihat lawan perhatiannya terpecah, segera wanita licik
ini melompat menerjang.
Pedang di tangannya diayunkan
membacok kepala Dewa Arak dari atas ke bawah.
Tapi Peri Muka Seratus kecelik.
Sungguh tidak dikira kalau Dewa Arak telah memperhitungkan hal itu. Arya segera
membalikkan tubuh dan meng-hentakkan kedua tangannya menyambut serangan Peri
Muka Seratus.
Wusss...! Bressss...!
"Aaa...!"
Peri Muka Seratus melengking
panjang. Serangan jurus 'Pukulan Belalang' yang dilontarkan Dewa Arak telak
menghantam dadanya. Seketika itu juga. Tubuh-nya yang tengah berada di udara
terpental jauh ke belakang. Sekujur tubuh wanita sesat ini hangus. Tampak cairan
merah berhamburan keluar dari mulut, hidung, dan telinganya. Tamatlah riwayat
Peri Muka Seratus.
"Jahanam...!" Ki
Kerpala menggeram hebat melihat kematian bekas kekasihnya. Memang puluhan tahun
yang lalu. Peri Muka Seratus adalah kekasih Ki Kerpala.
Tanpa mempedulikan adik
seperguruannya lagi, tubuh Ki Kerpala melesat ke arah Arya. Kakek ini melambung
tinggi ke udara. Kemudian dari atas tubuhnya menukik turun, menyerang ubun-ubun
Dewa Arak dengan jari-jari tangan terpentang lebar.
Karena tak ada kesempatan
mengelak, Dewa Arak terpaksa menangkisnya. Sadar akan kesaktian lawan, tanpa
sungkan-sungkan lagi dikerahkan seluruh tenaga dalamnya
yang telah mencapai taraf kesempurnaan.
Plak...!
Maka benturan dua buah tangan
yang sama-sama memiliki tenaga dalam tinggi terjadi. Tubuh Ki Kerpala
terpental balik ke udara.
Sedangkan Dewa Arak tidak bergeming sedikit pun, tapi kedua kakinya
me-nimbulkan jejak cukup dalam di tanah. Rupanya tekanan dari atas yang terlalu
berat, tak dapat ditahan tanah.
"Hiyaaa...!"
Dewa Arak segera bergerak
mendahului. Guci yang tadi digenggamnya, kini telah kembali tersampir di
punggung. Kedua tangannya yang berisi ilmu
'Belalang Sakti', bergerak-gerak aneh, dan secara tidak terduga-duga menyerang
lawannya yang kini telah melayang turun.
"Hup...!"
Secepat kedua kakinya menapak
tanah, secepat itu pula Ki Kerpala menggerakkan tangan menangkis serangan itu.
Kakek ini masih merasa penasaran bukan main. Benturan tenaga dalam sebelumnya
masih belum membuatnya puas. Mungkinkah Dewa Arak mampu menandingi
tenaga dalam yang dimilikinya?
Dan kini, tak pelak lagi benturan
antara sepasang tangan yang sama-sama memiliki tenaga dalam tinggi, tidak
tercegah lagi.
Plakkk...!
Baik tubuh Dewa Arak maupun tubuh
Ki Kerpala sama-sama terhuyung mundur dua langkah ke belakang. Keduanya
merasakan sekujur tangan mereka sakit dan nyeri.
Dewa Arak kaget bukan main.
Sungguh tidak disangka kalau tenaga dalam yang dimiliki kakek berwajah hitam
ini setingkat dengannya. Padahal, selama ini Dewa Arak tidak pernah lalai
berlatih. Baik berlatih dengan cara bersemadi maupun pernapasan untuk menambah
kekuatan tenaga dalamnya. Dan
pemuda ini juga tahu pasti kalau
tenaga dalam yang dimilikinya kini telah maju pesat. Jauh lebih kuat daripada
saat pertama kali terjun ke dunia persilatan. Tapi sekarang kenyataannya? Kakek
ini mampu membendungnya!
Tapi kekagetan yang dialami Dewa
Arak, tidak separah yang dialami Ki Kerpala. Kakek ini kaget sekaligus terpukul
bukan main, melihat kenyataan kalau lawannya yang masih sangat muda itu mampu
mengimbangi tenaga dalamnya. Padahal sejak dikurung gurunya, dia selalu
berlatih.
Tanpa diketahui kedua orang adik seper-guruannya,
Ki Kerpala terus berlatih keras. Baik semadi,
pernapasan, bahkan ilmu-ilmu hitam.
Dugaannya, kini tidak akan ada seorang pun yang mampu menandingi kekuatan
tenaga dalamnya. Tapi kenyataannya? Lawan yang masih muda itu mampu
mengimbangi!
Tapi perasaan amarah Ki Kerpala
ketika teringat kematian kekasihnya, telah mengusir perasaan terkejut itu.
Dengan amarah meluap-luap, kembali diterjang lawannya. Sedangkan Arya tanpa
sungkan sungkan lagi cepat menyambut tenangan itu. Sesaat kemudian keduanya
sudah lertibat dalam per-tarungan sengit.
Melihat kakak seperguruannya
telah bertarung melawan Dewa Arak, Ki Temula segera melangkah menghampiri Prabu
Nalanda. Raja Bojong Gading ini kini sudah tidak khawatir lagi.
Sementara itu pertempuran antara pasukan pemberontak dengan pasukan
Kerajaan Bojong Gading telah berakhir. Dengan datangnya bantuan pasukan dari
empat orang Panglima itu, pasukan pemberontak pimpinan Adipati Pradipta
berhasil dilumpuhkan. Bahkan sang adipati sendiri tewas. Panglima Jumali,
Panglima Gotawa, Panglima
Mantaya, dan Panglima Jatalu,
segera menjatuhkan diri di hadapan Prabu Nalanda.
"Kami siap menerima hukuman
atas kesalahan kami, Gusti Prabu." ucap mereka serentak.
Prabu Nalanda tersenyum.
"Semula aku marah sekali
atas tindakan kalian ini. Tapi, Ki Temula telah menceritakan semuanya pada ku.
Dan aku memakluminya. Kalian semua ku-maafkan. Bangkitlah…" tutur Prabu
Nalanda bijak-sana.
"Ahhh...! Terima kasih, Gusti Prabu," sahut
keempat Panglima itu sambil bangkit berdiri.
"Jadi, pemuda itukah orang
yang kau ceritakan itu, Ki?" tanya Prabu Nalanda sambil menatap Dewa Arak
yang tengah bertarung melawan Ki Kerpala. Dan kini semua pasang mata tertuju
pada pertarungan antara Dewa Arak melawan kakek bermuka hitam itu.
"Benar, Gusti Prabu."
sahut Ki Temula. Memang, laki-laki berwajah tirus itu sudah menceritakan pada
Prabu Nalanda, mengenai semua kesalahpahaman yang terjadi. Demikian pula
tentang kerja keras Dewa Arak untuk menyelesaikan pertikaian itu.
"Rasanya tidak pantas kalau
Kita tidak membalas semua jasa-jasanya yang besar ini, Ki. Dialah yang telah
menyelamatkan Kerajaan Bojong Gading dari kehancuran," tegas Prabu Nalanda
lagi. Pelan suara-nya.
Ki Temula mengernyitkan alisnya.
"Maaf, Gusti Prabu. Bukannya
hamba tidak setuju. Tapi sepengetahuan hamba, pemuda itu benar-benar tidak suka
jika pertolongannya itu dianggap jasa-jasa yang perlu dibalas," bantah Ki
Temula dengan nada halus.
"Kita kan punya akal untuk
mengatasinya, Ki," tegas Prabu Nalanda kalem, seraya tersenyum.
"Maksud, Gusti Prabu?"
tanya Ki Temula, masih belum dapat menangkap maksud ucapan Prabu Nalanda.
"Sudahlah, Ki. Serahkan saja
semuanya padaku," potong Raja Bojong Gading itu cepat sambil mengulapkan tangan.
Ki Temula tidak bisa membantah
lagi, dan hanya mengalihkan pandangannya ke arah pertempuran.
Tampak gigi Dewa Arak
bergemeletuk. Seluruh kemampuannya telah dikeluarkan, tapi tak juga mampu
mendesak kakek di hadapannya ini. Seratus jurus telah berlalu, tapi belum
nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Pertarungan masih ber-langsung
seimbang.
Sebetulnya dengan keistimewaan
Jurus 'Delapan Langkah Belalang', Dewa Arak beberapa kali hampir berhasil
menyarangkan pukulan atau tendangan ke sekujur tubuh lawan. Dan memang, setiap
pukulan itu selalu meleset dan tergelincir setiap mengenai sasaran. Itulah
keistimewaan aji ‘Welut Putih’ yang mampu membuat kulit tubuh menjadi licin
sekali.
Prabu Nalanda mengerutkan
alisnya. Kecepatan gerak kedua tokoh sakti itu, membuatnya tidak dapat melihat
jelas jalannya pertarungan. Yang terlihat hanyalah kelebatan bayangan keunguan dan
kekuningan yang kadang saling belit, tapi kadang terpisah.
Ki Temula sejak tadi tengah
menunggu-nunggu Ki Kerpala menggunakan ilmu 'Sirna Raga'. Tapi, sampai sekian
lamanya menanti, ternyata tak juga nampak ada tanda-tanda akan dikeluarkan.
Jadi, rupanya kakak seperguruannya ini tidak berhasil mendapat-kan ilmu dahsyat
itu.
"Bagaimana, Ki? Siapa kira-kira yang akan
menang?" tanya Prabu Nalanda sambil menolehkan kepalanya menatap Ki
Temula.
"Dewa Arak memang luar
biasa," desah kakek kecil kurus itu sambil menggeleng-gelengkan kepala,
penuh kekaguman.
"Jadi, kakak seperguruanmu
itu akan dapat dikalahkannya?" tanya Prabu Nalanda berseri-seri. Ada nada
kekaguman dalam nada suaranya. Prabu Nalanda sukar membayangkan, sampai di mana
ketinggian ilmu pemuda yang berjuluk Dewa Arak itu. Padahal Ki Temula saja
tidak mampu menghadapi Ki Kerpala.
"Sebenarnya Dewa Arak memang mampu
mengalahkannya. Gusti Prabu. Tapi kakak seper-guruan hamba memiliki aji 'Welut
Putih'. Sehingga, setiap pukulan atau tendangan Dewa Arak tidak berarti
apa-apa," jelas Ki Temula.
"Jadi... bagaimana,
Ki?"
Ki Temula menghela napas panjang.
"Rasanya sulit bagi pemuda
itu untuk mengalah-kannya. Sayang, dia masih kurang berpengalaman dalam
menghadapi ilmu-ilmu aneh, Gusti. Padahal, dia memiliki ilmu yang dapat
melumpuhkan aji 'Welut Putih' itu."
"Ahhh..., jadi ..."
suara Prabu Nalanda terputus di tengah jalan.
"Yahhh.... Kita hanya
tinggal menunggu waktu saja, Gusti. Mudah-mudahan Dewa Arak berhasil menemu-kan
caranya. Kalau tidak, mungkin dia akan tewas di tangan kakak seperguruan hamba.
Lambat laun Dewa Arak akan kelelahan
karena setiap serangannya
hanya sia-sia. Sementara kakak seper-guruan hamba nampaknya menyimpan tenaga,
karena jarang melakukan serangan. Hamba dapat menduga siasatnya. Dia menunggu
Dewa Arak kelelahan, lalu baru turun tangan Dan saat itu, tidak begitu sulit
untuk menjatuhkan Dewa Arak"
"Kau tahu, bagaimana
seharusnya Dewa Arak menghadapi lawannya, Ki?" tanya Prabu Nalanda yang
gelisah mendengar uraian panjang lebar kakek kecil kurus itu.
Ki Temula menganggukkan
kepalanya, "Cepat beritahukan padanya, Ki," pinta Prabu Nalanda penuh
gairah.
"Maaf, Gusti Prabu. Bukannya
hamba membantah perintah Gusti. Tapi hamba tidak bisa bersikap seperti itu.
Biar mereka bertarung secara jantan."
"Ahhh...!" Prabu
Nalanda menghela napas. Alasan Ketua Perguruan Garuda Sakti itu memang bisa
diterima dan masuk akal. Maka, raja ini tidak mendesak lagi. Dialihkan
pandangannya ke depan, ke arah pertarungan.
Sementara itu pertarungan sudah
berlangsung hampir seratus tujuh puluh lima jurus. Dan selama itu, entah berapa
kali pukulan, tendangan, dan gebukan guci Dewa Arak bersarang di sekujur tubuh
Ki Kerpala, namun tanpa hasil apa-apa. Sementara setiap serangan Ki Kerpala,
belum ada satu pun yang mengenai sasarannya. Memang dengan jurus 'Delapan
Langkah Belalang'-nya, tidak sulit bagi Dewa Arak untuk mengelakkan setiap
serangan itu.
Pada jurus keseratus delapan
puluh, Dewa Arak melentingkan tubuhnya ke belakang dan bersalto beberapa kali
di udara. Sementara Ki Kerpala yang sejak menginjak jurus keseratus tujuh puluh
lima, telah merasakan kalau
serangan-serangan Dewa Arak telah mengendur, segera melompat memburu. Tidak
dibiarkan lawannya memulihkan tenaga.
"Hiyaaa...!"
Tapi Dewa Arak sudah memperhitungkan
hal itu. Sengaja sekarang ini serangannya agak dikendurkan, supaya lawan
mengira dirinya lelah. Padahal, berkat keistimewaan ilmu 'Belalang Sakti', Arya
hampir tidak pernah lelah. Setiap kali tenaganya mengendur, dia segera meminum
araknya, dan seketika itu juga pulih kembali. Dia berlaku seperti itu untuk
menghilangkan kewaspadaan lawan.
Ternyata usahanya berhasil,
karena Ki Kerpala sudah mulai terpancing dan memburunya penuh emosi. Di saat
itulah, kedua tangan Dewa Arak dihentakkan ke depan, menggunakan jurus 'Pukulan
Belalang'!
Wuuusss...!
Angin berhawa panas berhembus
keras ke arah tubuh Ki Kerpala yang tengah berada di udara. Kakek berwajah
hitam ini berteriak ngeri. Dan....
Bresss...! "Aaa...!"
Pukulan jarak jauh itu telak
bersarang di dada Ki Kerpala. Seketika itu juga tubuhnya terhempas jauh ke
belakang, dan jatuh berdebuk di tanah dalam keadaan tanpa nyawa. Sekujur
tubuhnya hangus. Tampak darah bercucuran dari mulut, hidung, dan telinganya.
"Hhh...!" Arya menghela
napas lega. Diangkatnya guci arak yang sejak tadi digenggam ke atas kepala,
lalu dituangkan arak itu ke dalam mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Suara tegukan terdengar begitu
arak itu memasuki tenggorokannya.
Prabu Nalanda dan Ki Temula
bergegas meng-hampiri Dewa Arak.
"Terima kasih atas semua
pertolonganmu, Arya," ucap Prabu Nalanda tanpa ragu-ragu.
"Ah! Jangan berterima kasih
padaku, Gusti Prabu. Berterima kasihlah pada Gusti Allah," elak Dewa Arak.
Memang pemuda ini sudah bisa menduga
kalau orang yang berdiri di hadapannya ini adalah seorang raja.
"Apa yang kau katakan tidak
salah, Arya. Tapi, sebagai seorang yang telah menerima pertolongan begitu
besar, wajar kalau aku memberi sesuatu, sebagai tanda syukurku atas pertolongan
Gusti Allah," ujar Prabu Nalanda, sambil tersenyum lebar.
"Tapi, Gusti.. ," Arya
mencoba membantah.
"Kau harus menerimanya,
Arya. Atau kau ingin mempermalukanku di hadapan seluruh prajuritku?"
Dewa Arak tidak bisa membantah
lagi.
"Nah! Sebagai tanda terima
kasihku pada Gusti Allah, kau akan kunikahkan dengan putriku, Arya," tegas Prabu Nalanda penuh wibawa, namun
terdengar buru-buru.
"Hah...?!" Dewa Arak
melengak kaget. Ucapan Prabu Nalanda itu tak ubahnya petir di tengah hari.
"Tapi, Gusti Prabu..."
"Ingat, Arya. Jangan
membantah perintah seorang raja...!" potong Prabu Nalanda cepat.
Dewa Arak tertegun kebingungan. Dengan pandangan mata seperti orang bodoh, ditatapnya Ki Temula.
Tapi kakek itu malah mengangkat bahu, lalu menghindari pandangan mata Dewa
Arak.
Di saat gawat itu, tiba-tiba
berkelebat sesosok tubuh, dan tahu-tahu di dekat mereka telah berdiri
seorang gadis berpakaian putih.
Wajahnya tampak cantik laksana dewi. Rambutnya panjang terurai.
"Ayahanda..." sapa
gadis itu lirih sambil memberi hormat pada Raja Bojong Gading itu.
Prabu Nalanda menoleh ke arah Ki
Temula.
"lnilah wanita yang
kuceritakan itu, Ki. Wanita perkasa yang telah menyelamatkanku beberapa minggu
lalu, dari tangan maut Peri Muka Seratus ketika aku tengah berburu." jelas
Raja Bojong Gading itu. "Sebagai tanda terima kasihku, kujadikan dia
anakku."
"Melati...," desah Dewa
Arak terkejut. Sepasang matanya terbelalak melihat gadis yang dicintainya itu
telah menjadi putri seorang raja.
"Inilah putriku yang akan
kujodohkan denganmu, Arya. Bagaimana, kau suka?" tanya Prabu Nalanda
sambil tersenyum dikulum. Dia telah tahu ada pertalian cinta antara Melati,
anak angkatnya dengan si Dewa Arak. Maka dia memang tidak ragu-ragu lagi untuk
memutuskan demikian.
Wajah Dewa Arak seketika memerah.
Sungguh terbuka sekali Prabu Nalanda
mengajukan pertanyaan seperti itu. Bahkan Melati sendiri sampai menundukkan
wajahnya yang mendadak menyem-burat merah.
"Itu..., eh! Anu... terserah
Gusti Prabu saja...," jawab Dewa Arak terbata-bata.
"Jawablah sebagaimana
seorang lelaki memberi jawaban, Arya," tegur Prabu Nalanda dengan suara
penuh wibawa.
Kian merah wajah Dewa Arak
"Hamba setuju, Gusti
Prabu." tegas Arya Buana "Bagus! itu baru jawaban seorang lelaki
sejati!" puji
Raja Bojong Gading ini dengan
wajah berseri-seri.
"Tapi hamba punya satu
permintaan, Gusti," sambung Dewa Arak cepat.
"Apa itu, Arya? Katakan
saja, jangan malu-rnalu." "Hamba ingin usul agar pernikahan
dilaksanakan nanti saja. Masih banyak tugas
yang harus kukerjakan, Gusti Prabu."
Prabu Nalanda mengernyitkan
keningnya, tapi sesaat kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Disadari banyak
orang yang membutuhkan per-tolongan Dewa Arak.
"Aku tidak keberatan,
Arya."
"Ayahanda...," ucap Melati
yang sejak tadi menundukkan
kepalanya. Suaranya pelan sekali.
"Ada apa, Anakku,"
sahut Prabu Nalanda. "Maafkan Ananda, Ayahanda. Ananda datang terlambat
sehingga tidak bisa membantu Ayahanda menghadapi para pengacau itu "
"Tidak mengapa, Anakku. Ayah
pun memaklumi-nya," jawab Prabu Nalanda sambil tersenyum. Memang, Raja Bojong
Gading ini tahu kalau selama ini Melati sibuk mencari Dewa Arak, setelah
didengarnya Arya ada di Kotaraja Kerajaan Bojong Gading ini.
"Terima kasih,
Ayahanda," ucap Melati seraya memberi hormat. "Ayahanda...."
"Ada apa lagi, Anakku?
Katakanlah...," tegas Prabu Nalanda, masih dengan senyum di bibir.
"Hamba mohon pamit,
Ayahanda. Hamba khawatir akan keselamatan guru hamba."
Prabu Nalanda tersenyum maklum. Diusap-usapnya
rambut Melati yang hitam tebal itu.
"Pergilah, Anakku. Tapi
ingat, jangan lupakan Ayahmu ini. Sekali-sekali mampirlah kemari."
"Akan kuusahakan,
Ayahanda," sambut Melati
gembira mendapat persetujuan itu.
"Hamba juga mohon diri,
Gusti Prabu," pamit Dewa Arak pula.
"Silakan, Arya. O, ya. Kalau
sempat, sering-seringlah datang kemari!"
Dewa Arak hanya menganggukkan
kepalanya, lalu segera melesat dari situ bersama Melati. Dalam sekejap saja tubuh keduanya sudah lenyap meninggalkan para prajurit dan perwira
Kerajaan Bojong Gading.
"Bagaimana kau bisa sampai
kemari, Melati?" tanya Dewa Arak yang agak bingung melihat kemunculan
Melati di sini.
Melati menghela napas. Wajahnya
yang semula cerah, mendadak muram. Tentu saja hal ini membuat Arya merasa tidak
enak.
"Sejak kita datang waktu
itu, sebenarnya Kakek sudah terluka dalam. Tapi, Kakek tidak ingin aku
mengetahuinya. Sampai akhirnya aku mengetahuinya sendiri. Maka cepat-cepat aku
pergi mencarimu, karena kaulah yang telah membawa obat pulung itu."
Arya terdiam. Ingatannya melayang
pada Ki Julaga yang selalu dipanggil kakek oleh gadis itu (Untuk jelasnya, baca
serial Dewa Arak, dalam episode "Cinta Sang Pendekar") Perlahan diambilnya sebuah gulungan kain dari jepitan sabuk di pinggangnya,
kemudian diberikan pada Melati.
"O ya, Kang. Kita kan sekarang sudah
dijodohkan!?" ujar Melati, tak tahan menyimpan perasaannya sejak tadi.
Ditatapnya lekat-lekat wajah Dewa Arak.
"Benar! Seharusnya aku
berterima kasih pada Prabu Nalanda. Kalau saja tidak ada beliau, mungkin aku
belum resmi dijodohkan denganmu," goda Arya.
"Apa?!" pekik Melati.
Sepasang matanya melotot "Enaknya!"
Setelah berkata demikian,
dicubitnya pinggang Arya, namun tidak keras. Arya malah membiarkannya dan
menangkap tangan gadis itu. Pelahan dibawanya tangan itu ke mulutnya, dan
dikecup lembut. Lama sekali baru dilepaskan kecupan itu.
"Pergilah, Melati. Kakek
menantikanmu," ucap Arya pelan, namun cukup jelas terdengar.
"Tapi aku masih kangen,
Kang," rajuk Melati sambil merangkul pinggang Arya.
"Ya. Tapi di lain saat Kita
kan masih bisa bertemu lagi," bujuk Arya dengan perasaan haru melihat
Melati sangat membutuhkannya.
Setelah puas melepas kerinduan,
akhirnya Melati meninggalkan tempat itu.
"Nanti kau mampir ya,
Kang...," teriak Melati di kejauhan.
"Pasti..., pasti
Melati," teriak Arya pula sambil memperhatikan kepergian gadis yang
disayanginya itu.
Setelah bayangan Melati lenyap di
kejauhan, Arya baru melangkahkan kakinya untuk menyongsong tugas-tugas lain
yang telah menunggunya. Tugas selaku seorang pendekar pembela keadilan.
SELESAI
No comments:
Post a Comment