PRAHARA
DI GUNUNG KEMATIAN
Oleh Firman Raharja
1
Di sebelah utara Lembah Setan,
terdapat sebuah pegunungan yang amat menyeramkan. Gunung yang disebut oleh para
penduduk di sana, Gunung Kematian. Karena, bentuk gunung itu amat menakutkan.
Penuh dengan hutan yang lebat dan binatang buas yang mencari mangsa.
Pagi itu, Gunung Kematian nampak
semakin mengerikan saja. Kabut tebal yang menyelimutinya, seolah raksasa yang
sedang terlelap. Dan suatu waktu bisa bangun dengan amarah yang membabi buta.
Di sanalah tempat bermukim para gerombolan yang telah lama menyerang desa-desa
di sekitar sana dan banyak membuat keonaran. Gerombolan itu menamakan diri
Gerombolan Iblis dari Pacitan, yang terdiri dari orang-orang kejam dan bengis.
Teror yang mereka timbulkan amat
membuat orang-orang yang tinggal di sekitar Gunung Kematian dan desa-desa dekat
sana, selalu dicekam ketakutan. Karena orang-orang itu tak segan-segan membunuh
bila keinginan mereka tak terpenuhi. Dan terkadang dengan diiringi tawa yang
menggema, mereka bergilir memperkosa seorang gadis.
Tidak hanya sampai di sana saja
mereka berbuat. Setelah diperkosa, gadis itu pun mereka bunuh. Bahkan ada yang
dicincang sambil tertawa-tawa.
Kekejaman mereka tiada taranya. Tak
seorang pun yang berani menentang semua tindakan mereka.
Sehingga lambat laun mereka pasti
akan rebah berkalang tanah.
Gerombolan itu juga sering mencegat
para pedagang yang siap menjajakan barang dagangan yang mereka bawa ke desa
seberang. Bukan sekali dua kali perampokan yang mereka lakukan disertai dengan
pembunuhan terjadi. Tetapi sudah berpuluh kali. Dan mereka merasa memiliki
kepuasan tersendiri melakukan kejahatan itu, tertawa-tawa bermandikan darah.
Kalau rombongan itu membawa penumpang wanita, sudah bisa dipastikan kalau
wanita itulah yang paling mengenaskan nasibnya.
Mereka akan memperkosanya
bergantian. Tidak jarang sepuluh orang yang melakukannya. Setelah itu, dibunuh
dengan kepala ditumbuk pakai batu. Lalu orang-orang kejam itu pun akan kembali
ke markas mereka di Gunung Kematian. Mereka selalu mengenakan pakaian berwarna
hijau, lambang Gerombolan Iblis dari Pacitan.
Namun di pagi ini, ketua mereka
yang bernama Rodopalo sedang marah-marah, karena gerombolan- nya gagal
menggasak desa yang dijadikan sasaran perampokannya. Rodopalo bertubuh tegap,
dengan sepasang alis yang tebal dan mata yang tajam. Cambang bauk menghiasi
wajahnya yang keras. Di dadanya ada kalung tengkorak yang menambah kengerian
siapa saja yang melihatnya.
Menurut laporan anak buahnya, ada
seorang pemuda yang mengenakan rompi terbuat dari kulit ular yang menggagalkan
rencana mereka. Bahkan banyak yang tewas ketika bertarung dengan pemuda yang
selalu cengengesan itu.
Beberapa orang anak buahnya yang
datang menghadap hanya menundukkan kepala saja, ketika
Rodopalo mengebrak meja hingga
beberapa kendi berisikan tuak segar berterbangan dan pecah di lantai.
Tuak-tuak segar dengan harga yang
cukup mahal itu tumpah. Wajahnya demikian geram sekali. Jiwanya tidak pernah
mau menerima apa yang telah terjadi. Kemarahan sudah mengikatnya. Dan bila ia
marah, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi sesuatu yang amat mengerikan. Amat
menakutkan untuk dibayangkan.
Dia adalah sosok manusia yang kejam
dan bengis. Siapa pun yang melihatnya akan jatuh mental du- luan karena ngeri.
Di samping wajahnya sendiri memang menakutkan. Belum lagi dengan kesaktian yang
dimilikinya. Konon amat tinggi sekali.
“Bodoh, bodoh semua! Menghadapi
seorang saja kalian tidak mampu? Itu bodoh namanya!”
Penuh kegeraman yang memuncak
Rodopalo memaki-maki. Mendengus, dengan wajah yang mem- biaskan kemarahan yang
tak terkirakan. Membuat para anak buahnya semakin ketakutan saja. Dan merasa
kecil. Mereka tahu, sebentar lagi mereka akan menghadapi kiamat dari Rodopalo.
Kakinya yang mondar-mandir
menandakan bahwa dirinya amat marah. Tangannya berkali-kali terbuka dan
mengepal. Penuh dengan tenaga yang sanggup menghancurkan batu sebesar kambing.
Konon, Rodopalo memiliki tenaga dalam yang amat dahsyat Bahkan terdengar kabar
pula, bahwa dialah yang telah menghancurkan batu besar kala sebuah jalan
tertutup akibat gempa bumi kecil, yang telah mem- buat semuanya menjadi panik.
Di dekatnya sejak tadi duduk
bersila seorang wanita berusia kira-kira enam puluh tujuh tahun.
Wajah wanita itu mengerikan sekali.
Sudah peot semuanya. Ia asyik mengunyah sirihnya sambil sekali- sekali
menganggukkan kepalanya.
Di sisinya tergeletak sebuah
tongkat kayu ber- warna hitam, dan di ujungnya ada relief ular cobra. Dia
adalah Nyai Titir, guru dari Rodopalo yang bergelar, Wanita Berhati Iblis.
Kekejamannya tidak perlu disangsikan lagi. Nyai Titir sangat pandai dalam ilmu
racun.
Sejak tadi ia hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya saja melihat kelakuan muridnya yang
mencak-mencak. Dia membiarkan saja muridnya itu marah-marah. Namun karena tak
melihat hasil yang diinginkan di hatinya, akhirnya ia berkata, “Rodopalo...”
panggilnya masih tetap tersenyum.
“Oh! Nyai Guru... Kenapa?” sahut
Rodopalo dengan wajah memerah dan masih mondar-mandir. Ia masih sangat geram
sekali pada anak buahnya. Hhh! Siapa sebenarnya pemuda yang memakai rompi
terbuat dari kulit ular itu?
“He he he... tak pernah kusangka
kalau anak buahmu sebodoh itu!” kata Nyai Titir yang sejak tadi selalu berdiam
diri dan hanya memperhatikan Rodopalo saja. Pikirannya terus bekerja memikirkan
siapakah pemuda yang telah mengacaukan rencana muridnya. Sebenarnya pikirannya
tiba pada satu ingatan, kalau di rimba persilatan ini telah tersiar kabar
tentang seorang pemuda yang mengenakan rompi berkulit ular, yang berjuluk
Pendekar Gila. Apakah pemuda yang mengacaukan rencana murid- nya itu adalah
Pendekar Gila?
“Kau benar, Nyai Guru! Mereka
bodoh! Bodoh!” seru Rodopalo sambil menendang meja yang langsung berantakan.
Benda yang ada di atasnya berpentalan. Tak ada yang berani mengangkat wajah-
nya. “Kau tidak bisa menerimanya?” Mereka me- lakukan sebuah tindakan yang
teramat bodoh! Dan aku tidak menyuruh mereka untuk gagal dalam menjalankan
perintahku?”
“Memang benar. Tetapi bila memang
demikian lagi mau di apakan?” tanya Nyai Titir sambil tersenyum penuh arti.
“Mereka harus mati!” Mendengar
kata-kata itu, sepuluh orang anak buahnya yang gagal menjalankan perintahnya,
semakin ciut saja hatinya. Mereka menundukkan kepala dalam-dalam sementara hati
mereka berdoa agar tidak menerima hukuman yang mengerikan itu.
Nyai Titir tersenyum, “Mengapa kau
masih ber- diam diri saja?”
Mendengar kata-kata Nyai gurunya,
Rodopalo menghentikan langkahnya. Lalu mendadak dia terbahak-bahak. Perutnya
yang buncit berguncang- guncang.
“Ya, ya... mengapa aku harus
marah-marah tak karuan? Ya, ya... hei kalian semua!” bentaknya dengan suara
yang menggelegar yang mampu mem- buat jantung copot bagi yang mendengarnya.
Karena saking kerasnya.
Tergagap semuanya mengangkat kepala
dan saling berpandangan dengan hati cemas. Lalu serempak dengan suara yang
gugup mereka mendesis.
“Ya... iya... Ketua...” “Kalian
mendengar apa kata guruku?” Tak ada sahutan, yang ada hanya kepala-kepala yang
mengangguk dengan wajah memucat.
“Kalau kalian sudah mendengarnya,
mengapa kalian tidak segera membunuh diri, hah?”
Serempak terdengar suara yang
mengiba, meminta belas kasihan dengan tubuh ditundukkan ke depan. Bagaikan
ratapan belaka. “Ketua... ampuni kami, Ketua... ampuni kami...”
“Hmm... meminta ampun, berani
kalian me- lakukannya, hah?!” maki Rodopalo dengan suara mengejek.
“Ketua... beri kami kesempatan
sekali lagi,” kata salah seorang. “Kami berjanji... tidak akan melalaikan tugas
ini lagi....”
“Bagus!” Wajah yang berkata tadi
berseri-seri. “Terima kasih Ketua. Terima kasih. Ketua memang junjungan
kami...,” katanya yang serentak diikuti oleh teman-temannya yang memuja-muja
Rodopalo.
Rodopalo terbahak melihat
wajah-wajah pias yang kini gembira itu.
“Jadi kalian pikir, aku mengampuni?
Ha ha ha... lucu, lucu! Aku, Rodopalo ternyata masih memiliki rasa kasihan!”
Tiba-tiba Rodopalo memalingkan kembali wajahnya kepada para anak buahnya yang
semakin ciut nyalinya. Sepasang matanya memerah menandakan kejengkelan dan
kemarahan. Suaranya pun bagaikan dengusan kala dia berkata, “Kalian harus
mampus sekarang!”
Wajah-wajah itu bagaikan melihat
sesuatu yang amat mengerikan. Mulut mereka terbuka bagaikan menanti masuknya
jaringan yang jahat.
Dan serentak kepala-kepala itu
menundukkan kepala. Lalu suara mereka terdengar bagaikan meratap-ratap.
“Ketua... ampuni kami... Ampuni
kami...”
“Berilah kami kesempatan sekali
lagi, Ketua...” Tetapi sosok di hadapannya itu malah tertawa lebih lebar. Lebih
mengerikan. Tawanya mengandung hawa kematian yang semakin tercium dan merebak.
'Tak akan pernah lagi aku
mengampuni orang- orang macam kalian! Orang-orang yang bodoh! Cepat cabut golok
kalian dan penggal kepala kalian!”
“Ketua....” “Bangsat! Kalian masih
berani membantah juga, hah?!” maki Rodopalo dengan suara yang meng- gelegar.
Menangis bagai anak kecillah
mereka. Meratap- ratap minta dikasihani. Meskipun mereka tahu siapa ketua
mereka, yang sudah tentu tidak mengenal arti kasihan dan ampun.
“Percuma kalian menangis di
hadapanku!” seru Rodopalo sambil menghentikan langkahnya, kedua kakinya dibuka.
Sepasang tangannya mengepal dengan keras. Mendadak saja ia membuka kedua
tangannya, mendorongnya ke depan sambil berseru, “Mampuslah kalian semua!”
Serangkum angin keras menerpa
kesepuluh orang yang sedang mohon ampun itu. Tubuh mereka langsung terjengkang
ke belakang diiringi dengan jeritan yang menyayat hati. Lalu terlihatlah
pemandangan yang amat mengerikan. Sepuluh buah kepala jatuh bergulir di lantai.
Dan darah pun bersimbah.
Melihat pemandangan yang mengerikan
itu, Ro- dopalo malah terbahak-bahak.
“Itulah akibatnya bila berani
melalaikan tugas da- riku!” seru Rodopalo yang membuat anak buahnya yang lain
hanya menundukkan kepalanya. “Bila kalian gagal menjalankan tugas dariku, maka
inilah akibatnya! Mengerti?!”
Sahutan 'mengerti' terdengar keras.
“Singkirkan mayat-mayat itu! Buang ke Lembah Setan!” seru Rodopalo sambil
melangkah mendekati Nyai Titir.
Anak buahnya yang semuanya memakai
baju berwarna hijau itu segera menjalankan perintahnya. Lalu mereka keluar dari
aula besar yang terdapat di belakang.
“Hhh! Siapa sebenarnya pemuda
berompi ular itu, Nyai Guru?” tanya Rodopalo sambil menangkap tabung bambu yang
berisi tuak merah, lalu menenggaknya dan menghapus mulutnya yang masih tersisa
tuak itu dengan lengannya.
Nyai Titir masih mengunyah
sirihnya. “Aku sudah memikirkan sesuatu sebenarnya.” “Nyai Guru tahu siapa
pemuda keparat itu? Hhh! Aku sudah tidak sabar untuk mengepruk kepalanya!”
sahut Rodopalo geram.
“He he he... tenang, tenang,” kata
Nyai Titir. “Rodopalo... pernahkah kau mendengar kalau di rimba persilatan
sekarang ini, ada seorang pemuda yang mengenakan rompi dari kulit ular?”
“Aku. . tidak pernah mendengarnya,
Nyai Guru.” Nyai Titir mendengus. Bagaimana kau bisa tahu kalau kau sibuk
memuaskan nafsumu pada gadis-gadis itu? “Orang-orang rimba persilatan
menyebutnya Pendekar Gila. Kalau memang dia yang mengacaukan rencanamu, bisa
jadi.”
“Maksud Nyai Guru... ilmunya sangat
tinggi.” “Bahkan terlalu tinggi.” “Hhhh! Seperti apa tampang pemuda itu? Aku
sudah tidak sabar untuk membunuhnya!” Rodopalo mengepalkan tangannya dengan
geram, lalu meng- hentakkannya ke depan. Serangkum angin keras yang
bergulung-gulung melontarkan beberapa buah kursi. Uniknya, kursi-kursi itu
seperti bisa dimain- kannya. Ibarat bermain layang-layang. Dilontarkannya ke
sana kemari, lalu dihempaskannya ke lantai hingga pecah berantakan. “Aku ingin
tahu, apakah Pendekar Gila mampu menghadapi 'Pukulan Angin Manik'ku?”
Nyai Titir tertawa. “Pukulan Angin
Manik itu sengaja aku ciptakan untukmu. Yakinlah, kalau pukulan itu tak ada
duanya. Namun, sekarang aku hendak meninggalkan tempat ini.” Rodopalo terkejut.
“Mau ke manakah, Nyai Guru?” “Aku
mau menghubungi kerabatku yang telah lama mengasingkan diri. Dulu kami dikenal
dengan julukan Empat Malaikat Kahyangan. Hhh! Aku adalah orang pertama. Kedua,
Ki Rongsowungkul yang bergelar, Si Tua Penghuni Gunung Karang. Orang ketiga
adalah Nyai Priatsih, yang bergelar Si Tongkat Iblis. Dan orang keempat dari
Malaikat Kahyangan adalah Kuntala yang bergelar Kipas Maut. Dulu, Empat
Malaikat Kahyangan sangat menguasai rimba persilatan.
Hanya karena ada sedikit
kesalahpahaman saja sehingga kami memutuskan untuk memisahkan diri. Tetapi sekarang
aku yakin, dengan bergabungnya kembali Empat Malaikat Kahyangan, kekuatan kita
akan semakin bertambah, Rodo...”
Rodopalo menganggukkan kepalanya.
Ia sangat setuju dengan usul gurunya. Namun saat ini, ia sangat geram sekali
dengan pemuda berompi kulit ular yang telah menggagalkan rencananya. “Hhh!
Seperti apa saktinya Pendekar Gila itu?”
“Tetapi mengapa harus hari ini juga
Nyai Guru berangkat?” tanyanya kemudian.
Nyai Titir berdiri dari duduknya.
“Menurut pengamatanku, malam ini adalah malam yang terbaik untukku. Hmmm,
persiapkanlah kudaku, Rodo!”
Rodopalo segera bertepuk tiga kali.
Dua orang anak buahnya dengan sigap mendekat dan sedikit membungkuk, “Ada apa,
Ketua?”
“Siapkan si Hitam untuk Nyai Guru,”
sahut Rodopalo
“Baik, Ketua.” Kedua anak buahnya
segera menjalankan perintahnya. Tak lama kemudian, Nyai Titir sudah berada di
atas kuda hitam yang gagah perkasa.
“Aku tidak lama, Rodo,” katanya.
“Aku akan menunggu, Nyai Guru. Dan jangan lupa... kalau Nyai Guru bertemu
dengan seorang gadis yang cantik, bawa saja kemari. Sudah lama aku
menginginkannya... hua ha ha ha...”
Nyai Titir cuma mendengus saja.
Meskipun ia tahu kebiasaan dan kesenangan murid tersayangnya. Tak lama kemudian
kudanya pun segera melesat. Begitu kencangnya karena Nyai Titir telah
menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, sehingga kuda hitam itu seakan tidak
membawa beban apa-apa.
Rodopalo segera masuk ke dalam. Dan
memerin tahkan beberapa anak buahnya untuk pergi ke perbatasan Gunung Kematian.
Daerah hutan kecil namun lebat.
***
Rombongan iring-iringan itu
melangkah perlahan- lahan. Ada tiga buah kereta kuda yang sarat dengan muatannya.
Beberapa penunggang kuda berpakaian pendekar mengiringi kereta kuda di mana ada
dua orang gagah yang menjaga muatannya.
Di belakang kereta kuda itu pun
mengiringi dua orang penunggang kuda dengan pedang di punggung. Jelas sekali
kalau rombongan itu adalah para pedagang yang hendak berniaga ke desa Sawo
Jajar.
Di salah satu kereta kuda itu yang
berada di tengah, satu sosok tubuh berpakaian bagus sedang melihat keadaan di
sekelilingnya. Ia adalah Baruna, pemilik barang-barang dagangan itu. Baruna
sengaja menyewa orang-orang bayaran untuk menjaganya dan barang-barangnya ke
tempat tujuan.
Siang perlahan-lahan meranggas,
namun rombongan itu terus bergerak. Pimpinan mereka, Soko Pati yang mengenakan
pakaian putih-putih dengan selendang warna hitam di pinggang, mengangkat
tangannya ketika rombongan mulai memasuki Hutan Bawengan, yang terletak di
perbatasan Gunung Kematian. “Kita beristirahat di sini.” Tak lama terlihatlah
kesibukan di hutan Bawengan. Beberapa orang menjaga keamanan. Mereka
mondar-mandir dengan gagah. Beberapa orang segera mendirikan tenda darurat dan
memasak air. Mereka pun lalu makan dengan lahapnya. Setelah itu memberi
kuda-kuda mereka makan dan minum.
Namun belum lagi mereka melepaskan
lelah dengan sempurna, mendadak saja bermunculan berpuluh orang bersenjatakan
golok yang amat tajam. Dan di antara mereka berdiri seorang laki-laki yang
bertubuh tegap dengan kalung tengkorak di dadanya.
Soko Pati bersiaga. Tangannya
mengepal, ia mencium sesuatu yang tak enak sekarang. Begitu pula dengan
teman-temannya. Tangan mereka pun berada di hulu golok, siap dicabut dan
diayunkan.
Tetapi Soko Pati yang tidak mau
mencari keributan, mengangkat kedua tangannya tanda bersahabat. Baginya, jalan
kekerasan tak ada gunanya. Apalagi ia melihat wajah-wajah di hadapannya itu
begitu amat ganas dan sepertinya kelaparan, siap menerkam mangsa yang berada di
hadapannya. Hal ini membuat cuping hidungnya seolah mencium darah.
“Sabarlah...,” desisnya pada
teman-temannya yang sudah amat bersiaga. Sementara dalam kereta kuda kedua,
Baruna menjadi pias. la ngeri membayangkan apa yang akan terjadi.
Soko Pati memperhatikan orang-orang
yang berdiri di hadapannya, yang memandangnya dengan wajah beringas. Tidak
sedikit pun terlihat kesan bersahabat. “Kisanak sekalian... ada apakah gerangan
Kisanak sekalian mengganggu saat istirahat kami?” katanya dengan suara yang
sopan dan bibir yang menguak senyum.
Laki-laki yang berkalung tengkorak
itu mendengus. Sepasang matanya berkilat-kilat, menandakan sebuah kebencian
yang amat sangat.
“Hhh! Kisanak... jangan
berpura-pura tidak tahu!” katanya dengan nada membentak.
“Apa maksud, Kisanak?” tanya Soko
Pati dengan nada suara yang tenang. Dia bisa menduga, laki-laki inilah yang
memimpin gerakan mereka. Terlihat hanya dialah yang bersuara sementara yang
lain terdiam mendengarkan, namun tetap dengan golok di tangan. Dan golok itu
siap menerkam mangsanya!
“Hhh! Serahkan semua yang kau bawa
kepadaku, Kisanak? Bila kau melakukannya, sudah pasti aku tidak akan mengusik
dan mengganggu perjalananmu...”
Soko Pati yang sudah menduga akan
niat jahat orang-orang beringas di hadapannya, hanya ter- senyum saja.
Ketenangannya sungguh benar-benar nyata.
“Hmm... apakah tidak salah
pendengaranku?” 'Tidak!” “Mengapa kalian harus mengharuskan aku untuk
menyerahkan harta milikku ini?”
“Jangan banyak bacot!” “Aku sungguh
tidak mengerti.” “Hmm... agaknya kau mau bermain-main dengan- ku, hah?!” bentak
si kalung tengkorak yang tak lain adalah Rodopalo. Semenjak kegagalan anak
buahnya menyerang Desa Sawo Jajar, Rodopalo memang sengaja memimpin aksi
perampokannya. Karena ia berharap, suatu saat akan bertemu dengan Pendekar
Gila. “Kisanak... bukankah ini barang-barang milikku, mengapa harus kuserahkan
kepadamu?!”
“Keparat!” “Aku tidak mengerti!”
kata Soko Pati yang mencoba mengulur waktu. “Jangan banyak lagak!” Soko Pati
mendesah. Rasanya tidak mungkin bisa mengulur waktu lagi. Manusia berkalung
tengkorak ini nampak amat kejam. Dan tentunya tak segan-segan mengayunkan
senjatanya untuk memusnahkan orang yang membuatnya marah.
“Bagaimana bila tidak kuserahkan?”
“Berarti kau memancing macan yang sudah ada di hadapanmu untuk bangun!” bentak
Rodopalo dengan suara marah.
“Hmm... agaknya aku tidak pernah
menyangka, kalau di muka bumi ini masih banyak terdapat orang- orang jahat dan
serakah! Di antaranya kau!”
“Keparat!” 'Yah, dan kau pun tahu
bukan apa jawabanku?” “Anjing buduk! Kau menghendaki mati rupanya!” “Sebenarnya
tidak, tetapi daripada kebebasanku dijajah oleh kau, lebih baik aku dan
kawan-kawanku ini melawanmu!” kata Soko Pati tetap dengan suara yang tenang.
“Bangsat! Kau memang ingin mampus
rupanya!” “Atau... kau yang ingin mampus, karena telah lancang berani
mengganggu ketenangan kami!”
“Bangsat!” “Dan kau lebih bangsat
lagi, karena kau dan teman-temanmu itu kerjanya hanya mengganggu ketenangan
orang lain dan mengambil harta benda
Rodopalo sudah tidak kuasa lagi
menahan amarahnya. Ia memang sengaja berlama-lama karena menunggu kemunculan
Pendekar Gila, namun setelah ia yakin Pendekar Gila tidak akan muncul, ia pun
segera mengambil keputusan. Sambil mem- bentak keras ia menenang, “Buat lumat
mereka! Ratakan dengan tanah!”
Tanpa perlu dikomando sekali lagi,
anak buahnya pun segera menerjang dengan ganasnya.
Sudah tentu Soko Pati pun segera
berbuat yang sama. Ia pun mengomandoi orang-orangnya seraya ia sendiri, ikut
terjun ke medan laga.
“Jaga Tuan Baruna!” serunya dan
beberapa orangnya segera bersalto dari kuda mereka, hingga di sisi kanan dan
kiri kereta kuda yang dinaiki Baruna. Baruna menjadi panik. Ia menjerit-jerit
ketakutan.
Pertempuran memang tak bisa
dielakkan lagi.
Masing-masing sudah saling
menyerang dan berupaya menjatuhkan lawan dengan membela diri.
Suara senjata beradu, pekikan yang
dahsyat dan suara jeritan membaur menjadi satu. Soko Pati segera menghadapi si
kedok hitam yang terlihat paling ganas.
“Hhh! Kau punya nyali juga,
Bangsat!” maki Rodopalo sambil tertawa-tawa.
Soko Pati yang merasa memang sudah
saatnya untuk membela diri pun bersiap dengan goloknya.
“Tidak ada jalan lain, bukankah kau
sendiri yang menghendaki hal seperti ini?!”
“Dan kau akan mampus di tanganku!”
“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan berkalang tanah!” sahut Soko Pati
gagah.
“Bangsat keparat! Lihat
serangan...!” seru Rodo- palo dan tubuhnya pun segera melesat ke muka diiringi
dengan jeritan yang keras.
Soko Pati pun berbuat yang sama.
Dengan tak kalah garangnya ia pun memapaki serangan itu. Trang! Trang!!
Memang pertempuran tak bisa
dielakkan lagi, karena senjata-senjata telah terangkat. Soko Pati sendiri
berusaha sekuat tenaga, di samping ingin menjatuhkan lawannya ini, juga ingin
melindungi Baruna yang telah menyewanya.
“Ha ha ha... lebih baik menyerahkan
saja barang- barang bawaanmu itu, daripada kau mati konyol!” tertawa Rodopalo
sambil terus mencecar. Senjatanya berkelebat ke sana kemari dengan dahsyatnya.
Ia masih mencoba menggunakan senjatanya. Padahal biasanya, ia selalu bertangan
kosong. Terutama dengan jurus 'Pukulan Angin Manik'nya. Tetapi ia pun secara
tidak langsung hendak mencoba jurus-jurus ilmu goloknya.
Setiap gerakan yang ia lakukan,
menimbulkan angin yang berdesis. Jurus-jurus yang diperlihat- kannya teramat
kejam. Namun Soko Pati hingga sejauh ini masih bisa mengimbanginya dengan
permainan goloknya yang hebat.
Perlahan-lahan terdengar jeritan
kematian dari mereka. Soko Pati bisa menduga, kalau satu persatu orang-orangnya
menemui ajal. Para gerombolan ini teramat kejam dan sakti. Mereka nampaknya
tidak sanggup untuk melayani mereka.
“Ha ha ha... bodoh! Kau bukan hanya
mengorbankan hartamu, tetapi juga mengorbankan nyawamu!” desis Rodopalo dan
mendadak ia bersalto ke angkasa, lalu meluncur deras ke arah Soko Pati dengan
senjata yang mengarah ke dada.
Sepersekian detik saja Soko Pati
lengah, habislah dia. Untungnya ia masih sempat berguling ke kiri dan mendadak
pula tubuhnya bagaikan terbang menyerbu ke arah Rodopalo yang masih bergerak
meluncur.
Rodopalo terkejut. Cepat ia
mengangkat tangannya dan menangkis. Trang! Namun Soko Pati yang melihat adanya
kesempatan untuk terus menyerang, melakukannya lagi. Dia berbalikkan tubuh dan
memutar goloknya pindah ke tangan kiri, lalu dikibaskannya dengan ganas.
Wuuuttt! Bila saja Rodopalo tidak
menghindar, maka lepaslah kepalanya dari lehernya. Hal ini membuatnya begitu
amat geram dan marah. Ia menggeram dengan hebat.
“Bangsat busuk! Mampuslah kau!
Hiaaaattt!” Dan mendadak kembali ia menyerang. Kali ini dengan teramat ganas.
Ia tidak suka lawannya bisa mempermalukannya dengan gerakan seperti itu.
Rasanya menyakitkan sekali.
Tentu saja Rodopalo yang memiliki
tabiat mengerikan dan ganas itu, tidak terima dengan perlakuan yang
diperlihatkan oleh Soko Pati.
Ia menyerbu dengan ganasnya.
“Mampuslah kau!” Kali ini Soko Pati yang kewalahan menghadapi serangan-serangan
yang ganas dari lawannya. Serangan-serangannya begitu cepat dan mencecar titik
kematian dari tubuh Soko Pati. Serangan yang benar-benar hebat dan mengejutkan.
Dan tak mengenal ampun.
Sebisanya Soko Pati bertahan. Ia
adalah seorang jago dari timur yang telah lama dikenal dengan julukan si Golok
Maut. Telah berulangkali orang-orang mempercayakan dirinya untuk menjaga
keselamatan mereka, dan selama ini Soko Pati selalu berhasil membuktikan diri
dalam menjalankan tugasnya. Namun kali ini ia nampaknya gagal. Berkali-kali
bagian tubuhnya terkena pedang Rodopalo. Melihat darah yang keluar dari
berbagai bagian tubuh Soko Pati, semakin membuat Rodopalo bertambah buas dan
marah. Ia terus mencecar dengan ganasnya.
Hingga suatu ketika, senjatanya
mengenai paha Soko Pati yang langsung ambruk. Tak kuasa berdiri lagi. Wajahnya
menampakkan kesakitan yang luar biasa.
Goloknya terlepas. Kini ia merasa
sedang mandi dalam keadaan telanjang bulat, tanpa mengenakan apa-apa. Sama seperti
yang dirasakannya sekarang, ia tak me- megang senjata apa-apa. Itu adalah
kekalahan bagi seorang pendekar yang biasa bersenjata. Sama seperti halnya
dengan pendekar yang selalu mempergunakan tangan kosong. Saat seperti yang
dialami oleh Soko Pati, pendekar itu telah buntung kedua tangannya. Rodopalo
menghentikan serangan- nya. “Ha ha ha... apakah kau masih ingin melanjutkan
pertarungan ini?” ejeknya terbahak-bahak, sementara mayat-mayat sudah
bergelimpangan. Dari rombongan Soko Pati, sudah banyak sekali yang mati. Darah
sudah bersimbah.
Sambil menahan rasa sakit di hati
maupun di bagian-bagian tubuhnya, Soko Pati mendengus.
“Bangsat! Jangan kau pikir aku akan
menyerah begitu saja? Sejengkal pun aku tak akan mundur dari hadapanmu!”
“Bagus! Aku menyukai keberanianmu
itu!” “Bangsat perampok! Kerjamu hanya menyakiti dan menyabet harta milik orang
lain saja?!”
“Bukankah itu suatu hal yang
menyenangkan?” “Apakah tidak kau pikir, betapa kejamnya kau yang menghabisi
nyawa orang lain begitu saja?”
“Dan setelah mendengar kata-katamu
itu, apakah kau pikir aku akan membiarkan kau hidup begitu saja?” ucap Rodopalo
dengan nada mengejek yang menyakitkan. “Tidak... aku tidak akan pemah
melepaskan lawanku yang hendak kujadikan mangsa begitu saja? Tak terkecuali
kau!”
“Keparat!” “Aku sudah bosan
berlama-lama berbicara kepadamu! Kini terimalah ajalmu, Bangsat!”
Lalu tubuhnya pun melenting dan
melayang menyerbu dengan ganasnya.
Pekikannya teramat keras. Soko Pati
yang menahan rasa sakit di pahanya, tak kuasa lagi untuk menggerakkan tubuhnya.
Ia hanya pasrah saja menerima ajal yang hampir tiba.
Perlahan-lahan dipejamkannya
matanya, seakan ia telah siap menerima ajalnya.
Namun mendadak terdengar suara,
“Trang!” yang amat keras. Salah seorang anak buah Soko Pati dengan nekat
menyerbu dan menahan serangan yang dilancarkan oleh Rodopalo.
Sudah tentu kejadian itu membuat
Rodopalo kaget, sekaligus menjadi marah. Maka ia pun meng- alihkan serangannya
kepada orang yang berani menahan serangannya itu.
“Bangsat! Rupanya kau dulu yang
harus mampus!” serunya terus mencecar.
Tak memerlukan waktu yang cukup
lama, karena Rodopalo berhasil melepaskan kepala orang itu dari lehernya. Lalu
ia mendengus dengan nafas turun naik. “Keparat! Itulah ganjaran bagi orang yang
berani menghalangi musang murka!” makinya. Lalu ia menoleh kembali kepada Soko
Pati, “Kini tiba giliranmu untuk mampus!”
Mendadak saja ia membuka kedua kakinya
agak lebar. Lalu kedua tangannya direntangkan ke samping dan dibawanya ke atas,
lalu disatukan di dada. Gerakan itu sangat cepat dilakukan, merupa- kan gerakan
pertama dari 'Pukulan Angin Manik' miliknya. Dan mendadak saja ia menggerakkan
kedua tangannya ke depan secara bersamaan.
Serangkum angin dingin menerpa ke
arah Soko Pati.
Ambruklah Soko Pati menjadi mayat
yang sebelumnya melengkingkan suara jeritan yang teramat keras.
Terbahak-bahak manusia kejam itu.
“Ha ha ha... itulah ganjaran bagi orang yang berani menentang keinginan
Rodopalo!” serunya sambil melangkah mendekati mayat Soko Pati dengan langkah
yang pasti dan lebar. Seakan ingin menunjuk- kan, bahwa ialah orang yang paling
berkuasa di muka bumi ini.
Lalu menendang mayat itu setelah
meludahinya berkali-kali. Dan ia terbahak-bahak sendiri dengan suara yang
terdengar menakutkan, “Ha ha ha... tak seorang pun yang bisa menghalangi
keinginanku!” Tiba-tiba ia menggeram. “Pendekar Gila, tak lama lagi kau pun
akan mampus di tanganku!”
Lalu ia menoleh kepada para anak
buahnya yang masih bertempur dengan hebat, dan berseru, “Cepat bereskan! Aku
sudah bosan melihatnya!”
Tak perlu menunggu waktu lama lagi,
para gerombolan itu semakin menyerang dengan ganas- nya. Dan tak lama kemudian,
semuanya pun ambruk berkalang tanah.
Salah seorang menendang pintu
kereta kuda di mana Baruna sedang meringkuk ketakutan. Ditarik- nya tubuh itu
dengan hentakan keras sehingga terjerembab ke tanah. Lalu tanpa banyak cakap,
diayunkannya pedangnya ke leher Baruna. Baruna yang belum sempat berkata
apa-apa pun ambruk dengan leher putus.
Kemudian gerombolan itu dengan
leluasa dan sambil bernyanyi-nyanyi menjarah harta milik Baruna. Namun masih
ada yang belum puas begitu saja melepaskan mayat yang telah mati, mereka menendang
dan meludahi. Bahkan masih ada yang mengayunkan goloknya dengan perasaan geram.
“Ketua... tidak ada wanita di
sini,” kata salah seorang.
“Bangsat! Kembali ke markas!
Sia-sia aku muncul, karena Pendekar Gila tidak muncul di sini! Hhh! Sia- sia
aku memperlihatkan 'Pukulan Angin Manik'ku.”
Tak lama kemudian, barang-barang
hasil jarahan itu mereka bawa ke markas mereka dengan kegembiraan yang luar
biasa. Sambil masih terus bernyanyi-nyanyi.
Meninggalkan mayat-mayat yang
bergeletakan. Siang pun berganti senja. Senja terasa amat kelam. Dan di senja
itulah baru saja terjadi pembantaian besar-besaran yang amat mengerikan.
Selang beberapa lama, terlihat satu
sosok di antara mayat yang bergelatak bergerak. Rupanya ia belum mati. Tadi
hanya pingsan saja.
Melihat keadaan di sekelilingnya,
orang itu men- jadi amat sedih sekali. Lebih sedih melihat keadaan Soko Pati
yang terluka parah dan kini telah mampus.
Beringsut sambil dengan menahan
rasa sakitnya, ia bergerak ke arah Soko Pati. Hatinya semakin hancur melihat
kenyataan itu. Lalu sambil mengerah- kan sisa-sisa tenaganya yang terakhir, ia
naik ke atas kudanya dengan susah payah setelah mengucapkan selamat jalan pada
Soko Pati.
Dihelanya tali kekang kuda itu agar
kuda bergerak. Dari tubuhnya banyak mengalirkan darah. Dan dira sakannya hawa
dingin dan panas yang bermain di sekujur tubuhnya. Terutama bila angin
berhembus kencang, terasa sangat menyiksa sekali.
Lalu perlahan-lahan ia tertelungkup
di atas kuda- nya. Seakan mengerti ada orang yang membutuhkan tenaganya agar
cepat berlari, kuda itu pun melesat dengan cepatnya. Sangat cepat sekali menuju
ke satu tempat
***
2
Pagi sudah menjelang beberapa saat.
Matahari pun sudah tinggi, sinarnya sepenggalah. Menaungi seisi Hutan Bawengan.
Angin berhembus semilir, seakan memberikan kesejukan pada siapa saja. Namun bau
yang datang pagi itu sangat tidak enak, sangat amis dan memuakkan.
Bau itu pun tercium oleh si
penunggang kuda ber- warna putih. Ia seorang gadis yang berparas jelita.
Mengenakan pakaian ringkas berwarna merah. Wajahnya bulat telur dengan kedua
alis hitam legam. Kulitnya sawo matang, mulus dan langsat. Sepasang matanya
jernih dan bening, sebening air telaga. Hidungnya bangir dan sepasang bibir
yang tipis ranum, semakin menambah kejelitaannya. Namun, di punggungnya
terdapat sepasang pedang kembar yang bersilangan, menandakan di balik
kejelitaannya juga terdapat darah pendekar yang mengalir.
Gadis itu bernama Sekar Wangi.
Mendadak ia menghentikan lari kudanya. Memandangi alam sekitarnya yang penuh
dengan pepohonan tinggi. Cuping hidungnya bergerak-gerak, lalu mendengus karena
bau amis itu sangat menyesakkan nafasnya.
“Hhh! Aku seperti berada di tempat
pemotongan hewan,” katanya dalam hati. “Bau amis ini berasal dari mana?”
Lalu ia memacu kudanya dan
dirasakannya bau amis itu semakin menyengat, semakin menggoda perasaannya untuk
mengetahui dari manakah asal bau amis dan busuk itu. Alangkah terkejutnya Sekar
Wangi ketika matanya melihat
berpuluh mayat bergeletakan di hadapannya. Ada tiga buah kereta kuda yang
hancur berantakan, sementara kuda-kuda yang menariknya entah ke mana.
“Oh, Gusti Allah... apa yang telah
terjadi?” desisnya sambil melompat turun dari kudanya. Gerakannya sangat ringan
sekali, menandakan ilmu yang dimiliki gadis itu sangat tinggi. Lalu ia berjalan
perlahan- lahan, memeriksa mayat-mayat itu satu persatu. Gadis itu
menggeleng-gelengkan kepalanya, “Bukan main, rupanya telah terjadi pembantaian
besar- besaran. Hhh! Rupanya apa yang dikatakan Guru benar, kalau di dunia ini
sangat banyak sekali kejahatan.”
Gadis itu terus berjalan dan
memeriksa mayat- mayat itu. Dan berkali-kali ia menggeleng-gelengkan kepalanya,
melihat mayat-mayat yang sangat mengerikan. Karena, mayat-mayat itu ada yang
buntung kepalanya, lengannya, kakinya, perutnya. Bahkan beberapa mayat memburai
isi perutnya. Membuat gadis itu ingin muntah, namun ditahannya. Karena, ia
ingin mengetahui apakah penyebab dari semua ini.
“Sepertinya mereka para pedagang,”
gumamnya lagi. “Hmmm... mungkin dijegal oleh komplotan perampok yang sangat
ganas.”
Tiba-tiba gadis itu mendadak
menoleh dan sepasang matanya yang jernih memicing.
“Hhh! Rupanya ada Pengintip busuk
yang tidak mau menampakkan batang hidungnya!” dengusnya keras. Lalu bertolak
pinggang, “Manusia pengecut, keluar kau!”
“He he he he... hebat, hebat...
gadis manis yang sangat hebat...,” terdengar kekehan itu dan ber-
samaan dengan munculnya satu sosok
tubuh dari atas pohon. Ia seorang pemuda berpakaian rompi terbuat dari kulit
ular. Di pinggangnya terselip sebuah suling yang di ujungnya ada ukiran naga.
la tak lain dari Pendekar Gila.
Sekar Wangi mendengus melihat siapa
yang muncul.
“Rupanya manusia seperti kau yang
bertindak pengecut!”
Sena menggaruk-garuk kepalanya. “He
he he... pengecut, pengecut? Tidak, aku tidak pengecut... he he he...”
Mata Sekar Wangi memicing.
Tiba-tiba ia mem- bentak keras, “Rupanya manusia busuk seperti kaulah yang
telah melakukan pembantaian seperti ini!” Sena terbengong sejenak. Lalu
cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Aku? Wah, wah... sudah tentu
tidak. He he he... kau salah sangka, Manis. Ya, ya... kau manis. Hmm... tidak,
tidak... kau jelita. Ya, ya... Jelita Penunggang Kuda... Wah, wah... bagus itu,
bagus sekali...”
Sekar Wangi mengerutkan keningnya.
Merasa aneh melihat sikap pemuda itu. Tetapi ia sudah salah sangka. Pikirnya,
pasti pemuda yang bersikap gila inilah yang melakukan pembantaian ini. Dengan
men- dadak saja ia menggerakkan tangannya ke belakang dan kini sepasang
pedangnya sudah berada di tangan. Sangat cepat sekali gerakan yang dilaku-
kannya.
“Kau harus membayar nyawa
orang-orang ini, Pemuda Gila!” bentaknya dan menyilangkan kedua tangannya di
dada, bertanda ia siap menyerang.
Sena masih cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepalanya.
“Tidak, aku tidak melakukannya...
sumpah! Tetapi... he he he... pasti kau yang melakukannya, bukan?”
“Aku?” Sekar Wangi melotot. “Sudah
tentu tidak! Pasti kau yang melakukannya!”
“Aku?” Sena mengikuti gerakan yang
dilakukan oleh Sekar Wangi. “Sudah tentu tidak! Pasti kau yang melakukannya!”
Sekar Wangi merasa diejek dengan
sikap Sena. Ia menggeram marah. “Kau! Pasti kau!” “Kau! Pasti kau!” sahut Sena
menirukan seruan Sekar Wangi.
“Brengsek!” serunya sambil
menghentakkan kaki- nya. “Brengsek!” Sena menirukan gerakannya sambil
cengengesan.
Wajah Sekar Wangi memerah padam. Ia
jengkel ditirukan seperti itu. Mendadak saja tubuhnya melenting ke arah Sena,
kedua tangannya yang menggenggam pedang siap dihujamkan ke tubuh Sena. “Hhh!
Lebih baik kau mempertanggungjawab- kan perbuatanmu, Orang gila!”
Pedangnya berkelebat dua kali,
merupakan satu rangkaian jurus pedang yang tangguh. Sena sendiri sejenak cukup
terkejut. Karena sebelum pedang itu ditebaskan pada tubuhnya, ia sudah
merasakan hawa panas yang menerpa tubuhnya.
“Haittt! Hebat, hebat!” serunya
sambil melompat menghindar. “Sayang, dilakukan dengan penuh amarah! Tetapi...
he he he... kalau tidak begitu, bisa buntung leherku nanti....”
Sekar Wangi yang sudah marah dan
merasa yakin kalau pemuda inilah yang harus bertanggungjawab atas kematian
orang-orang ini, semakin mencecar. Sabetan dan tusukan pedangnya dilakukan
secara beruntun. Hawa panas setiap kali ia menggerakkan pedangnya terus
dirasakan oleh Sena. Merupakan hawa yang mampu menghanguskan tubuh, terutama
bila mengenai tubuhnya.
Namun Sena masih terus menghindari
saja. Karena ia sendiri yakin kalau pertarungan ini hanya- lah salah paham
belaka. Ia sendiri tidak yakin kalau gadis itu yang melakukan pembantaian
terhadap orang-orang ini. Karena bau bangkai sudah merebak ke hidungnya.
“Nona Manis... lebih baik kita
sudahi saja per- tarungan ini,” katanya sambil terus menghindar. “He he he...
kau lebih manis bila tidak sedang marah.”
“Kurang ajar!” Sekar Wangi terus
mencecar. Men- dadak ia bersalto ke belakang dan ketika hinggap di bumi, kedua
pedangnya sudah bersilangan di dada- nya. “Hhh! Rupanya kau punya kebolehan
juga, Orang gila! Sekarang lihat serangan!”
Kedua tangan Sekar Wangi bergerak,
ke atas dan ke bawah. Ini merupakan jurus 'Sepasang Pedang Menguasai Mata
Angin'. Suatu jurus yang sangat dahsyat sekali. Karena ke mana lawannya pergi,
pedang-pedang itu akan mengejar, persis menguasai penjuru angin
Sena sendiri sudah memperhitungkan
kehebatan ilmu pedang yang diperlihatkan Sekar Wangi. Tetapi seperti sifatnya,
ia hanya tersenyum-senyum saja.
He he he... lumayan, karena
pedangmu itu seolah mengipasi tubuhku,” katanya terkekeh, padahal justru hawa
panas yang keluar dari ayunan pedang itu. “Kurang ajar! Mampuslah kau!
Heeeeaaa!” sambil berseru keras, Sekar Wangi menenang dengan hebat Pedangnya
terus mencecar Sena ke mana Sena menghindar. Dan beberapa batang pohon yang
terkena babatan pedangnya segera hangus dan mengeluarkan asap. Jurus pedang
yang sangat hebat “Hei, apakah kau hanya bisa menghindar saja?” bentak Sekar
Wangi.
Sampai sekian lamanya Sena belum
juga mem- balas. Karena, ia yakin ini adalah salah paham belaka. Tetapi lama
kelamaan ia bisa kewalahan juga. Mendadak sambil bersalto ia meraih sebatang
ranting yang segera dialiri tenaga dalamnya. Dengan ranting itulah ia menangkis
setiap serangan Sekar Wangi.
Justru Sekar Wangi yang kini
diam-diam merasa kagum. Karena ketajaman pedangnya sudah tidak pernah
disangsikannya lagi. Baja yang terkeras sekali pun akan putus seketika. Tetapi
sang lawan hanya menggunakan sebatang ranting. Itu menandakan betapa tingginya
tenaga dalam lawannya.
“Wah, wah... mengapa jadi pias
seperti itu, nah?” ejek Sena yang dengan memadukan jurus 'Kera Gila Melempar
Buah' dengan ranting yang dipegangnya, justru membuat Sekar Wangi terdesak.
Karena, Sekar Wangi seolah-olah
melihat kalau ranting itu akan dilemparkan Sena, sehingga ia sangat
berkonsentrasi dengan lemparan ranting itu. Padahal sebenarnya tidak. Jurus
'Kera Gila Melempar Buah' memang merupakan jurus yang mirip dengan seekor kera
yang sedang melempar buah, padahal hanya angin saja yang mampu menahan serangan
lawannya.
Mendengar ejekan Sena, Sekar Wangi
mengubah jurusnya, 'Sepasang Pedang Kembar Membunuh Naga'. Jurus ini lebih
dahsyat dari jurus yang pertama.
Karena, tenaga dalam dan hawa panas
yang terangkum menjadi satu, menimbulkan bunyi seperti ledakan. Bunyi itu bukan
hanya mampu mengecoh lawannya, juga mampu menghancurkan lawannya.
“Wah, wah... ini baru seimbang!
Bagus, bagus... gadis manis seperti kau ini ternyata memiliki banyak ilmu... He
he he... bagaimana kalau kau jadi istriku?” kata Sena sambil terus menghindar
dan sekali-sekali menyerang tetapi ia tidak bermaksud melukai. 'Tetapi tidak,
punya bini yang galak kayak kau ini, bisa gawat nanti... he he he....”
Wajah Sekar Wangi memerah lagi.
Sambil meludah jijik dan meneruskan serangannya, ia ber- seru, “Siapa kesudian
menjadi istri orang gila, hah?!”
“Benar, benar... siapa yang mau,
ya?” sahut Sena sambil terkekeh-kekeh. “Tetapi, kau mau, bukan?”
“Kurang ajar!” “He he he...
biasanya begitulah gadis-gadis... pura- pura tak mau padahal hatinya mau...”
Sekar Wangi semakin jengkel diejek
seperti itu. Ia semakin mempergencar serangannya.
Sena sendiri merasa kalau ia tidak
segera mengalahkan Sekar Wangi, bisa-bisa pertarungan ini akan berlangsung
lama. Padahal kedatangannya ke Hutan Bawengan untuk menyelidiki Gerombolan
Iblis dari Pacitan yang bermukin di Gunung Kematian. Soalnya, kemarin malam
ketika Sena sedang ber- cakap-cakap dengan Ki Lurah Somata, mendadak muncul
seekor kuda dengan penunggangnya yang luka parah. Dan sebelum ajalnya, si
penunggang kuda itu hanya mampu berkata pelan dan terpatak-patah, “Kami.,
dirampok....”
Hanya itu. Karena ajal lalu
menjemputnya. Sena pun bermaksud menyelidiki tentang hal itu.
Yang tidak disangkanya, ia bertemu
dengan Sekar Wangi yang justru menganggapnya sebagai pelaku dari pembantaian
itu. Sena sekarang yakin, kalau mayat-mayat yang bergeletakan di hadapannya,
adalah teman-teman dari si penunggang kuda yang tidak sempat menyebutkan
namanya.
Mengingat hal itu, mendadak saja
Sena melempar- kan ranting yang dipegangnya dan membuat Sekar Wangi menjadi
kalang kabut Dengan gerakan yang cepat ia membabat ranting itu hingga
terpotong- potong.
Itu adalah pengalihan perhatian dari
Sena, karena begitu Sekar Wangi sibuk mempertahankan diri dari lemparan
rantingnya, ia segera melesat maju. Dan menubruk tubuh Sekar Wangi sehingga
keduanya jatuh bertindihan.
“Ih!” desis Sekar Wangi sambil
berusaha mem- bebaskan diri. Tetapi Sena segera menotok urat kakunya, sehingga
gadis itu terdiam.
Masih dengan menindih tubuh Sekar
Wangi, Pendekar Gila cengar-cengir. “Hehehe... asyik juga. Empuk lagi. Jangan
marah, jangan marah, Nona Manis? Kalau tidak kulakukan seperti ini, kau tidak
akan mau diam, bukan? He he he... tetapi asyik juga...”
“Lepaskan aku! Lepaskan! Kita akan
bertarung sampai mati, Pengecut!” seru Sekar Wangi dengan wajah merah padam. Ia
malu diperlakukan seperti ini. Sena pun perlahan-lahan bangkit dari tubuh Sekar
Wangi dan duduk di sebelahnya sementara Sekar Wangi menjerit-jerit marah dengan
mata melotot.
“He he he... jangan marah. Kita
hanya salah paham saja, Nona.... Atau... kau senang ya aku tindih? He he he...
jangan kuatir, masih banyak kesempatan...”
Lalu Sena bangkit. “Maaf... aku
masih ada tugas yang harus kuse- lesaikan. Mudah-mudahan kita bertemu lagi,”
katanya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Lalu.... Wuuutt! Tubuhnya segera
menghilang dari pandangan.
Tinggal Sekar Wangi yang
menjerit-jerit minta dilepaskan dari totokan Sena. Namun mendadak saja ia bisa
melepaskan dirinya. Rupanya totokan yang dilakukan Sena hanya bersifat
sementara.
Sekar Wangi segera melompat
mengejar, tetapi Pendekar Gila sudah tidak nampak lagi di matanya. Ia
menghentakkan kakinya jengkel. Malu karena diper- lakukan seperti itu oleh
Sena. Ia berjanji, akan membalas rasa malunya.
Lalu dinaikinya kudanya dan
dihentakkannya dengan cepat. Harinya masih marah pada Pendekar Gila. la
bermaksud akan membalas perbuatan Pendekar Gila. Tanpa sadar, kudanya menuju ke
Gunung Kematian.
Siapakah sebenarnya Sekar Wangi
yang dijuluki Pendekar Gila sebagai, Jelita Penunggang Kuda?
***
Di pesisir Laut Kidul, terlihat
satu sosok tubuh yang mengenakan pakaian ringkas berwarna merah sedang berlatih
memainkan ilmu pedangnya. Ia adalah Sekar Wangi, gadis berusia tujuh belas
tahun yang telah lama digembleng oleh Nyai Harum Tari, yang dikenal sebagai
Penjaga Laut Kidul.
Nyai Harum Tari sangat sayang pada
Sekar Wangi, nama yang diberikannya ketika ia menemui gadis itu selagi bayi.
Dan di sisi bayi perempuan montok yang sedang menangis itu tergolek satu sosok
tubuh wanita yang sudah menjadi mayat.
Dengan hati iba, Nyai Harum Tari
menguburkan mayat wanita itu yang ia yakin adalah ibu dari bayi perempuan itu.
Lalu membawa bayi itu pulang. Memberinya nama dan membesarkannya. Dari
selentingan kabar, Nyai Harum Tari mendengar kalau desa yang ada di sebelah
utara Laut Kidul telah diserbu oleh Gerombolan Iblis dari Pacitan, daerah
selatan dari Laut Kidul.
Nyai Harum Tari pun melakukan
pembalasan ke Pacitan seorang diri. Dan berhasil mengusir gerombolan itu dari
sana. Yang sekarang entah berada di mana.
Lalu ia pun mendidik dan
menggembleng Sekar Wangi dengan ilmu yang dimilikinya. Ternyata gadis itu
memiliki otak yang sangat cerdas. Pada suatu malam, Nyai Harum Tari
menceritakan asal-usul Sekar Wangi yang hanya bisa menangis pilu men- dengar
ceritanya.
“Lalu di manakah Gerombolan Iblis
dari Pacitan itu bermukim sekarang, Nyai?” tanyanya tersendat.
“Aku tidak yakin mereka berada di
mana. Tetapi selentingan kabar, aku mendengar mereka bermukim di Gunung
Kematian.”
“Oh, di manakah gunung itu berada,
Nyai?” “Jauh dari sini, Sekar.” Sekar Wangi terdiam. Air matanya semakin
menitik. Tiba-tiba ia mengangkat kepalanya, “Nyai... aku ingin membalas
kematian kedua orang tuaku yang telah mereka bunuh.”
Mendengar kata-kata Sekar Wangi,
Nyai Harum Tari hanya menundukkan kepalanya. Ia bisa merasa- kan dendam yang
tiba-tiba muncul di hati murid tunggalnya. Namun sangat disayangkan bila ia mempunyai
dendam seperti itu.
“Sekar... memang sudah tiba saatnya
kau keluar ke dunia ramai. Tidak hanya berdiam di daerah yang sepi dan dingin
seperti ini.”
“Tetapi aku senang berada di sini,
Nyai. Aku bisa melihat debur ombak dan lautan yang luas. Juga ca- mar-camar
yang beterbangan kian kemari. Namun, aku ingin mencari orang yang telah
membunuh kedua orangtuaku.”
Nyai Harum Tari mengangguk. “Bagus.
Memang, di dunia persilatan ini, darah harus dibalas darah. Tetapi akan lebih
bagus lagi bila kita saling memaafkan. Tetapi bila tekadmu telah bulat, kau
bisa segera keluar dari daerah sunyi ini besok siang...”
“Nyai....” “Jangan bersedih. Bila
Hyang Widi menghendaki kita bertemu, kita pasti akan bertemu lagi.”
Malam itu Sekar Wangi tidak bisa
tidur dengan nyenyak. Ia hanya bisa menatap langit-langit gubuk di mana ia dan
Nyai Harum Tari tinggal. Ada rasa berat untuk meninggalkan gubuk dan daerah
yang sudah melekat di hatinya. Tetapi ia telah bertekad untuk mencari
orang-orang yang telah membunuh kedua orangtuanya, yang telah dipukul mundur
oleh Nyai Harum Tari dan kini menamakan diri mereka Gerombolan Iblis dari
Pacitan.
Dan pagi itu, Sekar Wangi berlatih
seorang diri di tepi pesisir Laut Kidul. Sejak pagi buta. Sementara itu Nyai
Harum Tari hanya memperhatikan saja dari kejauhan. Ia sangat menyayangkan kalau
Sekar Wangi sampai pergi meninggalkannya. Namun ia pun merasa tidak memiliki
hak untuk menahan Sekar Wangi lebih lama.
Setelah berpikir demikian, ia pun
memanggil Sekar
Wangi yang datang menghadap dengan
keringat bercucuran di wajah dan sekujur tubuhnya. Kedua pedangnya sudah
disarungkan kembali ke warangka- nya. “Nyai...,” ia bersimpuh. Kedua lututnya
menekan pasir putih yang banyak terdapat di sana. Angin laut berhembus dingin.
“Berdirilah, Cucuku...,” kata Nyai
Harum Tari dengan suara gemetar. “Kini, telah tiba saatnya bagimu untuk
meninggalkan daerah ini dan mencari orang-orang yang telah membunuh kedua orang
tuamu. Carikah orang yang bernama Rodopalo dan Nyai Titir salah seorang dari
Empat Malaikat Kahyangan yang sangat kejam. Jangan lupa pula, setelah kau
menumpas mereka, berjalanlah di jalan yang lurus. Minta ampunlah pada Hyang
Widi.”
“Nyai...” “Aku tidak suka
bersedih-sedihan. Sudah kupersiapkan seekor kuda yang membawamu dalam
perjalanan. Ingat Sekar, dunia ramai penuh dengan intrik kejahatan. Kau jangan
sampai lengah sedikit pun. Apalagi kau seorang gadis.”
“Nyai....” Nyai Harum Tari memeluk
Sekar Wangi. Lalu meninggalkannya setelah berkata, “Pergilah... dan jangan
menengok lagi ke sini sebelum kau keluar dari daerah ini....” “Nyai!” Nyai
Harum Tari terus melangkah. Sekar Wangi tahu kalau gurunya sekaligus orangtua
angkatnya, menuju ke Pendopo yang ada di samping batu karang besar di sebelah
timur.
Sekar Wangi menguatkan hatinya.
Lalu ia berlari ke belakang tempat tinggal mereka. Seperti yang dikatakan Nyai
Harum Tari, ada seekor kuda putih di sana. Juga ada sebuah buntalan yang berisi
pakaian dan sedikit makanan di sisi pelana kuda itu. Lalu dinaikinya kuda itu.
Sejenak ia memperhatikan gubuk dan sekelilingnya.
Lalu dikuatkannya hatinya. Dan
mulailah digebraknya kudanya dengan kencang, dengan satu tekad untuk mencari
orang-orang yang telah membunuh kedua orangtuanya. Akan ia balaskan sakit hati
mereka!
***
3
Malam menyelimuti alam. Ratu malam
nampak enggan bersinar, tersaput oleh awan hitam yang berarak. Suasana Desa
Sawo Jajar sangat sepi sekali. Sesekali terdengar bunyi binatang malam yang
sibuk mencari makan atau pun sedang memacu birahi.
Biasanya kalau malam begini, masih
ada satu dua orang yang berkeliaran. Namun semenjak penye- rangan yang
dilakukan orang-orang Gerombolan Iblis dari Pacitan dan berhasil digagalkan
dengan bantuan Pendekar Gila, sudah membuat mereka justru tidak bisa tidur.
Penjagaan pun sebenarnya
diperketat. Para penjaga malam siaga dalam menjalankan tugasnya. Apalagi mereka
tahu, Pendekar Gila yang membantu mereka waktu itu dalam menghadapi orang-orang
biadab, kini sedang meninggalkan desa.
Di rumahnya, Ki Lurah Somata sedang
bercakap- cakap dengan beberapa orang. Membicarakan masalah yang baru saja
mereka hadapi. Menurut Ki Lurah Somata, keadaan sudah semakin genting. Sehingga
penjagaan harus diperketat.
Namun mendadak dari satu rumah
terdengar jeritan-jeritan keras, membangunkan seisi Desa Sawo Jajar. Rumah itu
telah terbakar. Api terus menjalar. Membuat desa yang sunyi itu menjadi riuh
rendah. Kepanikan sudah meraja dan menguasai seisi desa Orang-orang segera
bergotong royong untuk me- madamkan api. Ki Lurah Somata dengan sigap melompat
keluar rumah bersama tamu-tamunya. Ia memberi semangat dan ikut terjun langsung
me- madamkan api.
“Jangan panik! Selamatkan anak dan
istri kalian!” serunya sambil menyiram air. Suara jerit kepanikan semakin
terdengar kencang.
Tetapi mendadak saja beberapa anak
panah berapi melesat dari satu tempat, membakari rumah- rumah yang lain.
Kepanikan semakin terasa.
“Kawan-kawan!” seru Ki Lurah Somata
di tengah kepanikan. “Nampaknya ada orang jahat di balik semua ini! Siapkan
senjata kalian dan ungsikan anak- anak dan wanita!”
Segera yang laki-laki mempersiapkan
diri dengan senjata mereka. Apa saja. Pacul, golok, parang, pedang, tombak atau
apa saja yang bisa dijadikan senjata. Sementara anak-anak dan wanita berlarian
ke Hutan Gamis yang ada di belakang Desa Sawo Jajar. Sebisanya mereka
menyelamatkan diri. Barang yang bisa mereka raih, mereka bawa.
Para laki-laki termasuk Ki Lurah
Somata bersiaga di tanah yang lapang. Mereka tidak lagi meng- hiraukan rumah
yang terbakar, walau memang ada beberapa orang yang berusaha memadamkan api.
Apa yang diperkirakan oleh Ki Lurah
Somata ternyata benar. Karena, mendadak saja dari balik semak belukar
bermunculan berpuluh orang ber- senjata golok dengan suara gegap gempita.
“Hancurkan mereka!” “Bunuh!”
Mendapat serangan seperti itu, Ki Lurah Somata pun tak mau kalah. Ia
mengomandoi dan mengobar- kan semangat para warganya untuk menyongsong serangan
itu.
Seketika terjadi pertempuran yang
hebat sekali. Suara senjata beradu dan jerit kematian pun ter- dengar. Baru
beberapa saat pertempuran itu terjadi, darah sudah bersimbah dan mayat-mayat
ber- geletakan.
Ki Lurah Somata melihat satu sosok
tubuh yang menyeramkan dengan mengenakan pakaian ber- warna hitam, sedang
mengibaskan kedua tangannya dengan cepat. Hasil yang dilihat Ki Lurah Somata
amat mengenaskan sekali. Karena para penduduk yang berada di dekatnya dan
mencoba menyerang atau menghalanginya, harus ambruk dengan kepala putus terkena
angin dari pukulan laki-laki itu tanpa menjerit!
Ki Lurah Somata segera bersalto
sambil mengibas- kan tombaknya ke kanan dan kiri. Beberapa orang dari
penyerangnya segera mampus. Lalu ia tiba di hadapan laki-laki tinggi besar itu
dengan wajah marah dan hati yang panas.
“Anjing buduk! Rupanya kau Rodopalo
yang gagal menyerang desa kami dua hari yang lalu!” geramnya murka.
Rodopalo terbahak-bahak. “Ha ha
ha... inilah akibatnya bila berani melawan kehendakku! Ki Lurah, desamu akan
selamat bila kau menyerahkan Pendekar Gila kepadaku!”
“Jahanam! Kau harus mampus!” “Ha ha
ha... kasihan kau, Ki Lurah. Memang, hanya orang-orang bodohlah yang merasa
ajalnya masih jauh dalam menghadapi kejadian seperti ini!” seru Rodopalo sambil
terbahak-bahak. “Tetapi, seluruh rimba persilatan mengenal aku sebagai orang
baik-baik! Serahkan atau tunjukkan di mana Pendekar Gila berada, maka kau akan
terbebas dari ancaman maut yang akan menimpamu beserta isi desa ini!”
“Manusia anjing! Lebih baik kau
pergi ke neraka... heaaa!” Dengan tombak terhunus, Ki Lurah Somata menerjang ke
arah Rodopalo yang masih terbahak- bahak, namun ia segera mendesis kaget,
“Keparat!” Karena Ki Lurah Somata sudah sepersekian meter saja berada di
hadapannya dan siap menghujamkan tombaknya ke tubuhnya..
“Kau mempunyai nyali juga, Ki!”
seru Rodopalo sambil menghindar.
“Karena orang seperti kau bukan
hanya harus minggat dari tempat ini, tetapi harus mampus meng- hadap Yang Kuasa
untuk dimasukkan ke neraka!”
“Ha ha ha... bagus, bagus sekali!
Tetapi jangan salahkan aku bila kau harus mampus sekarang juga, Ki!”
Pertarungan keduanya pun berlangsung seru. Ki Lurah Somata, meskipun yakin ia
tidak akan mampu untuk mengalahkan Rodopalo, terus berusaha untuk mendesaknya.
Paling tidak, sebagai lurah ia telah mempertanggungjawabkan tugasnya meskipun
ajal akan menjemputnya.
Sementara itu pertempuran masih
terus ber- langsung. Kali ini sudah jelas sekali kemenangan berada di pihak
para penyerang. Karena, mereka adalah orang-orang yang terlatih sementara para
penduduk Desa Sawo Jajar hanya mengandalkan keberaniannya saja. Paling tidak,
mereka akan mempertahankan milik mereka.
Para penyerang itu pun mulai masuk
ke dalam rumah yang belum terbakar, mengambili apa saja. Dan beberapa orang
dari mereka mulai menyergap para wanita yang tidak sempat melarikan diri.
Beberapa orang dari wanita itu
langsung mengambil tindakan membunuh diri daripada kesuciannya ternodai. Namun
yang tidak sempat melakukannya, sudah tentu dengan terpaksa menjadi pemuas
nafsu laki-laki yang menyergapnya.
Kejadian itu membuat para laki-laki
penduduk desa itu menjadi terpecah. Apalagi bila melihat wanita yang sedang
diperkosa oleh para gerombolan itu adalah anak atau istri mereka. Mereka
langsung menyerang si pemerkosa yang sedang asyik memacu diri. Namun para
penduduk laki-laki yang bermaksud menyelamatkan para wanitanya, harus mampus
sebelum mengayunkan senjata mereka.
Para penyerang pun semakin buas
memperkosa para wanitanya. Ada yang digilir. Ada yang langsung dibunuh setelah
berhasil memuaskan nafsunya.
Sementara itu Ki Lurah Somata sudah
terdesak hebat oleh Rodopalo yang sudah menggunakan 'Pukulan Angin Manik'nya
yang hebat.
“Sudah kukatakan, beritahu ke mana
perginya Pendekar Gila?” seru Rodopalo yang sejak tadi tidak melihat Pendekar
Gila muncul. Berarti, saat ini memang Pendekar Gila tidak berada di sana.
“Pergilah kau ke neraka!” sahut Ki
Lurah Somata dengan gagah. Ia masih berusaha untuk memper- tahankan diri, namun
hanyalah kesia-siaan belaka yang ditemuinya.
Karena, dadanya jebol terkena
'Pukulan Angin Manik' yang dilepaskan oleh Rodopalo secara jitu. Laki-laki
gagah itu pun menemui ajalnya. Rodopalo terbahak-bahak.
“Itulah akibatnya bila berani
membantah keinginan dari Rodopalo! Hei, kalian semua! Bakar seluruh rumah ini!
Ambil harta apa saja! Jangan lupa, bawa beberapa gadis manis untukku!”
Merasa yakin kalau Pendekar Gila
tidak berada di sana, dengan gerakan yang sangat ringan, Rodopalo melompat ke
kudanya kembali dan menggebraknya. Hhh! Ia akan tetap mencari Pendekar Gila.
Dan membunuhnya!
Anak buahnya pun segera
mengikutinya. Dengan membawa barang-barang hasil rampasan dan beberapa orang
gadis yang menjerit-jerit minta dilepaskan. Sedangkan orang-orang Rodopalo yang
tewas, tidak diangkuti. Dibiarkan bergeletakan di sana. Namun belum lagi mereka
sempat meninggalkan tempat itu, mendadak saja tubuh mereka beterbangan dengan
muntah darah dan ajal segera menjemput.
Satu sosok tubuh berpakaian rompi
terbuat dari kulit ular menerjang dengan cepat, memukuli mereka satu persatu.
Setelah tak satu pun yang dilihatnya masih, pemuda yang tak lain Pendekar Gila
itu segera melompat ke satu arah. Mencoba mengejar Rodopalo yang tidak
mengetahui kejadian itu.
Tetapi Rodopalo dan gerombolannya
sudah menghilang dari pandangan.
***
4
Pendekar Gila pun kembali lagi ke
tempat kejadian bersamaan dengan pagi menjelang. Pagi tragis, pagi berdarah di
Desa Sawo Jajar.
Suasana sangat mengerikan sekali.
Bau amis darah tercium. Semuanya bergeletakan dengan tubuh yang tidak lengkap.
Sisa asap masih membubung dari rumah-rumah yang terbakar.
Hatinya marah menyaksikan
mayat-mayat itu. Yang membuatnya murka, ketika melihat beberapa orang wanita
yang mati dalam keadaan telanjang bulat. Ada di antara mereka dari selangkangannya
mengalirkan darah.
Dengan sigap Sena meneliti
mayat-mayat itu satu persatu. Lalu menemui satu mayat yang dadanya jebol. “Ki
Lurah!” desisnya. Dan perasaannya semakin terpukul melihat kenyataan ini.
Ia menyesali kejadian ini, kejadian
yang tak pernah disangkanya sebelumnya. Padahal, ia hanya menyelidiki tentang
gerombolan yang pernah menyerang desa itu sebelumnya. Namun rupanya,
orang-orang gerombolan itu lebih dulu datang dan menyerang, selagi ia tidak
berada di sana.
Sementara satu sosok tubuh menunggang
kuda putih tiba di tempat itu. Keningnya berkerut, la adalah Sekar Wangi yang
hanya terheran-heran melihat mayat-mayat bergeletak dan bau amis darah tercium.
Ia melihat seorang pemuda berompi
kulit ular sedang terpekur di salah satu mayat yang ada di sana. Ia melompat
turun, tidak berbuat apa-apa, hanya berdiri tegak. Ia yakin kalau laki-laki
yang mengenakan rompi dari kulit ular itu dan telah membuatnya malu kemarin
pagi, mengenal orang- orang ini.
Ia melihat Sena jatuh terduduk
dengan kepala terlungkup ke tanah. Nampak sangat menyesali diri. Dan mendadak
saja Sekar Wangi terkesiap, karena pemuda itu berdiri dan sambil menjerit
keras, ia menghentakkan kedua tangannya ke empat penjuru angin.
Serangkum angin, besar terdengar.
Rupanya, saking marahnya, Pendekar Gila melampiaskan kemarahannya dengan
mengeluarkan ajian 'Inti Bayu' yang menerpa dan segera menerbangkan pohon-
pohon yang tumbang, rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat yang
bergeletakan.
Entah mengapa melihat hal itu,
Sekar Wangi menjadi pilu. Padahal yang dilakukan Sena sangat mengerikan.
'Tuan Pendekar... hentikan semua
ini!” desisnya. Namun Sena masih terus melakukannya dengan hati marah. Sampai
kemudian ia jatuh terduduk dan menangis tersedu-sedu. Hati Sekar Wangi menjadi
pilu. Perlahan-lahan ia mendekatinya dan memegang kedua pundak Sena.
'Tuan... sabarlah....” Sena masih
menangis. “Hu hu hu... mengapa hal ini harus terjadi? Mengapa? Oh, Gusti...
siapa yang melakukan semua ini?”
Hati Sekar Wangi semakin pilu. Rasa
marah dan dendamnya pada Sena menghilang. Ia pun berlutut di samping Sena.
“Sudahlah... semuanya sudah
terjadi....” Entah apa yang menggerakkan semua ini, mendadak saja Sekar
Wangi merangkul Sena yang masih
menangis. Mengusap-usap kepalanya dan berkata, “Tabahlah... akan kita cari
siapa yang telah melakukannya....”
Sena masih menangis di dada Sekar
Wangi, sampai ia mengangkat kepalanya lagi. Sekar Wangi mengira ia masih
melihat air mata yang keluar, tetapi justru pemuda itu sekarang cengengesan.
Sekar Wangi mengerutkan keningnya.
Kenapa jadi begini?
“He he he... aku sedih melihat
semua ini. Ini salahku, salahku...”
“Mengapa?” tanya Sekar Wangi yang
semakin heran. “Tadi pemuda ini menangis, sekarang malah cengar-cengir. Apakah
pemuda ini... gila?” desisnya dalam hati.
Sena duduk bersila, di antara
puluhan mayat, begitu pula dengan Sekar Wangi. , “He he he... seharus-nya aku
tidak meninggalkan desa ini kemarin. Ah, semuanya memang sudah terjadi. Benar
kata-katamu itu, Nona manis...”
Sekar Wangi hanya mengerutkan
keningnya. Apakah karena melihat pemandangan yang mengeri- kan seperti ini
sehingga pemuda itu jadi kacau bicaranya?
“Tuan, namaku Sekar Wangi.” “Hmm,
nama yang bagus. Bagus sekali. Namaku Sena...,” sahut Sena sambil cengengesan
dan menjabat tangan Sekar Wangi yang terulur. Setelah menjabat tangan itu, ia
mencium telapak tangannya sendiri. “He he he... wangi, wangi sekali...”
Sekar Wangi jadi tertawa sendiri.
Seluruh rasa kesal dan dendamnya karena dipermainkan Sena waktu itu menghilang.
Kini ia yakin, kalau pemuda ini tidak gila karena mayat-mayat yang bergeletakan.
Sikapnya memang sudah tenang,
tetapi sekali-sekali masih menunjukkan rasa sedihnya.
“Kakang Sena...,” panggil Sekar
Wangi dan ia tidak meneruskan kata-katanya karena Sena sudah memotong dengan
gembira.
“Haya! Betul itu, betul sekali.
Kakang Sena... he he he... enak sekali kedengarannya. Ada apa, Rayi Sekar? Wah,
wah... pas sekali. Kayak sepasang kekasih yang sedang memadu kasih...,” Sena
meng- garuk-garuk kepalanya.
Sekar Wangi tertawa dengan tersipu.
“Hmm, apakah Kang Sena tahu siapa yang melakukan semua ini?” tanyanya kemudian.
“Pasti, siapa lagi kalau bukan
Gerombolan Iblis dari Pacitan yang melakukannya.”
Mendengar jawaban Sena, Sekar Wangi
tersentak. “Oh, Gusti! Gerombolan Iblis dari Pacitan?” “Ya, pasti mereka.
Karena, beberapa hari yang lalu mereka gagal menyerang desa ini. Ah,
sebenarnya... he he he... aku sudah yakin kalau mereka akan kembali lagi
menyerang. Tetapi, aku sudah telanjur melangkah untuk mencarinya.”
“Kakang tahu di mana mereka
bermukim?” “Di Gunung Kematian.” “Oh, jauhkah dari sini?” “Cukup jauh, Rayi
Sekar. Kira-kira... sehari satu malam bila menunggang kuda.... He he he...
kalau berjalan kaki, bisa encok kita.”
Sekar Wangi terdiam. Ia teringat
kembali akan tugasnya keluar dari pesisir Laut Kidul. Untuk mencari gerombolan
itu yang telah membunuh kedua orang- tuanya.
Melihat Sekar Wangi terdiam, Sena
bertanya, “Rayi Sekar... apakah ada masalah dengan Gerombolan
Iblis dari Pacitan?”
Sekar Wangi menganggukkan
kepalanya. Lalu berceritalah ia seperti yang diceritakan oleh gurunya tentang
orangtuanya yang telah dibunuh oleh Rodo- palo, Ketua Gerombolan Iblis dari
Pacitan.
“Hmmm, sepertinya kita punya tugas
yang sama,” kata Sena kemudian. “Aku juga mempunyai tugas untuk menghancurkan
gerombolan itu...”
“Kang Sena, katamu kau bentrok
dengan mereka beberapa hari yang lalu di sini. Benarkah?”
“Ya, Rayi....” “Ceritakan,
Kakang... aku ingin tahu bagaimana ciri-ciri Rodopalo itu?”
Sena pun akhirnya bercerita.
***
Malam itu, sudah hampir menjelang
subuh, ketika Sena alias Pendekar Gila memasuki Desa Sawo Jajar. Ia sama sekali
tidak menyangka kalau di Desa Sawo Jajar sedang terjadi bentrokan yang hebat.
Antara penduduk dengan orang-orang yang berpakaian hijau lumut.
Sena juga melihat seorang laki-laki
setengah baya yang sedang gigih mempertahankan diri dan mem- berikan komando
pada yang lainnya.
“Jangan mundur! Kita hancurkan
mereka!” serunya gagah sambil mengibaskan tombaknya ke sana kemari dan
menimbulkan desingan angin yang cukup kuat.
Orang-orang yang menyerang Desa
Sawo Jajar, terdiri dari tiga puluh orang, dengan keganasan yang semakin
menjadi-jadi. Dalam beberapa menit saja, sudah terlihat kalau para penduduk
sudah terserang hebat.
Saat itulah, Sena melentingkan
tubuhnya dan terjun dalam pertempuran itu. Dengan memperguna- kan 'Si Gila
Menari Menepuk Lalat' ia menghajar para penyerang Desa Sawo Jajar dengan hebat
dan cepatnya. Tubuhnya meliuk-liuk dengan manisnya seperti menari dan tangannya
sekali-sekali menepuk. Sekilas memang hanya bagai tepukan belaka, namun hasil
yang terjadi sangat luar biasa. Tubuh lawan yang terkena tepukan-nya akan
terhuyung ke belakang dan bisa mati seketika dengan meninggalkan bekas di dada
lawan.
Melihat kemunculan seorang pemuda
yang berompi dari kulit ular, membuat para penduduk desa bersemangat. Terutama
laki-laki setengah baya yang menyerang dengan menggunakan tombak. Ia adalah Ki
Lurah Somata yang terjun langsung dan memberi- kan semangat para penduduk.
Sudah tentu dengan kemunculan Sena,
orang- orang ganas yang menyerang Desa Sawo Jajar menjadi terhenyak. Mereka
memperkirakan, kalau tidak segera membunuh pemuda yang menyerang sambil
cengengesan itu, akan membahayakan kedudukan mereka.
Dan mendadak tiga orang segera
mengurungnya dengan golok tajam di tangan.
“Anjing buduk! Siapa kau?”
membentak salah seorang yang berwajah seram dan memiliki codet di pipi
kanannya.
Sena cuma terkekeh saja. “He he
he... namaku Sena. Orang-orang menjuluki Pendekar Gila.”
“Hhh! Kau memang patut menyandang
julukan seperti itu, Orang gila!” serunya sambil menyerang.
Dan seperti dikomandoi, kedua
temannya pun ikut menyerang dengan ganasnya.
Golok-golok tajam yang berada di
tangan mereka berkelebat dengan cepat dan ganas. Pendekar Gila hanya terkekeh-kekeh
saja, sambil bergerak bagaikan menari. Dan sekali-sekali melepaskan pukulannya
yang seperti menepuk.
“He he he... siapa sebenarnya
kalian ini yang kerjanya hanya merampok dan membunuh saja?” seru Sena sambil
menghindar dan membalas dengan santainya.
“Keparat busuk! Kau seharusnya
bertekuk lutut dan bersujud di hadapan kami, hah!”
“He he he... di depan kaki buduk?
Wah, wah... tidak mau! Tidak mau!”
“Orang gila keparat! Cepat kau
bersujud di hadapan kami, Gerombolan Iblis dari Pacitan!” seru si Codet sambil
terus menyerang dengan cepat, begitu pula dengan kedua temannya. Namun sampai
sejauh ini mereka belum mendapatkan hasil yang memuas- kan. Sementara itu
pertempuran antara para penduduk dengan orang-orang jahat itu semakin bertambah
seru. Kali ini kemenangan berada di pihak para penduduk.
Ki Lurah Somata dengan cepat dan
tangkasnya merangsek maju ke penyerang-penyerang itu, se- hingga sedikit
banyaknya mereka mulai terpukul mundur.
Sedangkan Sena kali ini sudah tidak
ingin bertindak tanggung lagi. Mendadak saja ia meliuk- liukkan tubuhnya dan
tiga buah tepukan mengenai dada lawannya. Yang langsung ambruk berkalang tanah.
Melihat keadaan yang tidak
memungkinkan dan suasana yang mulai kacau-balau, sisa-sisa penyerang itu segera
melarikan diri dengan kuda-kuda mereka.
“Hayo, hayo! Jangan lari! Pegang!
Pegang!” seru Sena sambil berjingkrakan, membuat Ki Lurah Somata hanya
tersenyum saja. Lalu menghampirinya.
'Tuan Pendekar... terima kasih atas
bantuanmu...,” katanya sementara yang lain sedang mengangkuti mayat-mayat teman
mereka, atau memberi pert- olongan pada yang terluka.
Sena menggaruk-garukkan kepalanya.
“He he he... sebagai sesama manusia, kita memang wajib tolong menolong.... He
he he sudah tentu dalam kebaikan, Ki...”
“Aku Lurah di sini. Orang-orang
memanggilku Ki Lurah Somata.”
“He he he... namaku Sena.
Orang-orang menju- lukiku Pendekar Gila... he he he... aku tidak gila
sebenarnya.... Ya, ya... aku tidak gila....”
Sementara itu, pagi semakin
menjelang dan suasana yang biasanya hiruk-pikuk dengan kegiatan sehari-hari,
kali ini mereka sibuk dengan menggali tanah untuk mengubur kawan-kawan mereka
yang menjadi mayat.
Suara jerit dan tangis terdengar
memilukan dari sanak famili yang ditinggal mati. Lebih memilukan dari seorang
wanita yang sedang hamil tua, begitu menyadari suaminya sudah meninggal. Wanita
itu jatuh pingsan dan langsung diberi pertolongan.
Ki Lurah Somata hanya menghela
nafas panjang. Sedih bercampur pilu. Lalu ia berkata pada Sena, “Mari kita ke
tempat tinggalku.”
Tempat tinggal Ki Lurah Somata sama
seperti kebanyakan rumah-rumah yang ada di sana.
Keduanya duduk di pendopo. Tidak
ada air minum dan sedikit makanan. Suasana dalam keadaan tidak enak.
“Ki Lurah... siapakah sebenarnya
orang-orang itu?” tanya Sena setelah kebisuan meraja beberapa saat.
“Ah...,” Ki Lurah Somata mendesah.
“Mereka adalah para begundal dan perampok yang kejam, Nak Sena....”
Sena menggaruk-garukkan kepalanya.
“Mereka menyebut diri Gerombolan Iblis dari Pacitan. Benar?”
“Ya.” “Siapakah pemimpin mereka, Ki
Lurah?” tanya Sena cengengesan. Seolah tanya jawab yang dilakukannya dengan Ki
Lurah Somata tidak ada artinya. Tetapi, memang seperti itulah sifat Pendekar
Gila. Sepertinya tidak serius, padahal ia sangat serius. “Hmmm... namanya
Rodopalo. Laki-laki yang terkenal sangat kejam dan telengas. Tidak pandang
bulu. Kekejaman mereka sudah lama terdengar, dengan seringkalinya mereka
merampok para pedagang di daerah perbatasan atau pula di Hutan Bawengan. Yah,
kekejaman itu sangat mengerikan sekali...”
“Apakah tidak ada upaya
pemberantasan mereka?”
“Sudah berulang kali. Namun, Gunung
Kematian di mana tempat mereka bermukim, sangat menyeram- kan. Sementara
penjagaan yang ada di sana sangat ketat sekali.”
“He he he... dan jalannya, pun
seram, bukan?” “Begitulah keadaannya, Nak Sena....” “Kalau begitu... saya akan
mendatangi tempat itu.” “Oh! Nak Sena...,” Ki Lurah Somata terbelalak dan tidak
jadi berkata apa-apa karena Sena sudah memotong.
“He he he... sekalian
berjalan-jalan. Tempat itu sudah tentu sangat indah, bukan?”
Ki Lurah Somata hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dulu, dulu sekali. Tetapi
sekarang, seperti nama- nya, gunung itu menyimpan banyak misteri yang
mengerikan....”
Tetapi Sena tetap pada tekadnya
untuk men- datangi tempat itu. Jiwanya yang paling tidak suka bila melihat
kejahatan, memberontak.
Pagi itu pula ia berpamitan menuju
Gunung Kematian.
***
Sena mendesah panjang, “He he he...
begitulah ceritanya, Rayi Sekar.... Mengapa sampai aku merasa dekat sekali
dengan orang-orang ini.”
Sekar Wangi mendesah panjang. Rasa
bencinya pada Rodopalo berikut gerombolannya semakin menikam dadanya. Semakin
membuatnya muak bercampur marah yang sangat besar.
“Lalu, apa yang hendak Kang Sena
perbuat sekarang?” tanyanya sambil menatap Sena. Ah, pemuda ini sangat tampan
sekali. Sikapnya meskipun agak tidak waras, namun mencerminkan kebijak-
sanaannya. Di matanya ada kilatan Jenaka. Sena cengar-cengir.
“Sudah pasti aku akan memburu
Gerombolan Iblis dari Pacitan.”
“Kalau begitu aku turut bersamamu.”
Sena terbelalak. “Hah? Bersama dengan gadis cantik?” Kening Sekar Wangi
berkerut.
“Kang Sena keberatan?” “He he he...
sudah tentu tidak, Manis.... Malah sangat mengasyikkan.”
Wajah Sekar Wangi memerah.
Tiba-tiba ia berdiri dengan jengahnya, ketika terbayang kembali bagai- mana
Sena memeluk dan menindihnya waktu itu.
Sena pun berdiri. Menepuk-nepuk
pantatnya yang berdebu.
“Kenapa membelakangiku?” tanyanya
sambil cengar-cengir. Lalu melangkah berhadapan dengan Sekar Wangi. “He he
he... wajahku yang ganteng ini tiba-tiba jadi jelek, ya?”
“Ah, Kang Sena ini!” seru Sekar
Wangi sambil melompat ke kudanya dan langsung menggebraknya.
“Hei, mau kemana?” seru Sena. “Ke
Gunung Kematian!” sahut gadis itu sambil menghentikan laju kudanya.
“Mengapa tidak bersamaku?” “Kang
Sena menolaknya tadi!” “He he he... tidak, Manis... sudah tentu tidak!” Tetapi
Sekar Wangi sudah jengah, lalu ia menggebrak laju kudanya.
“Hei!” seru Sena. Tetapi Sekar
Wangi terus men- jalankan kudanya. “Kita belum menguburkan mayat- mayat ini?”
seru Sena pula sambil menggaruk- garukkan kepalanya. Tiba-tiba ia mendengus,
“Hhh! Jelita Penunggang Kuda!”
Bersamaan dengan.itu, bermunculan
para wanita dan anak-anak yang bersembunyi di Hutan Gamis. Karena cukup lama
menunggu tidak ada yang muncul juga, mereka sepakat untuk segera kembali ke
desa.
Dan alangkah terkejutnya mereka
begitu melihat mayat-mayat bergeletakan. Bergegap gempita mereka berlarian
mencari suami dan sanak famili. Tangis berkepanjangan pun terdengar. Sena hanya
berdiri mematung tanpa bisa berbuat apa-apa Lalu perlahan-lahan ia membujuk
mereka untuk merelakan yang telah pergi.
'Tuan... cari bangsat-bangsat itu!
Bunuh mereka! Balaskan sakit hati kami!” rintih mereka sambil berlutut di
hadapannya.
Sena cuma mendesah panjang. Setelah
menguburkan mayat-mayat itu seorang diri ia pun segera berkelebat, dengan satu
tujuan, meng- hancurkan Gerombolan Iblis dari Pacitan.
***
5
Gunung Kematian pagi hari.
Suasana tetap menyeramkan.
Kesunyian Gunung Kematian teramat menakutkan. Di beberapa tempat tersembunyi,
telah bersiaga beberapa anak buah Gerombolan Iblis dari Pacitan.
Di pendopo bangunan besar di mana
Gerombolan Iblis dari Pacitan berdiam, nampak sedang ada pesta kecil. Suasana
terdengar riuh. Di empat buah pintu masuk, berdiri dua orang penjaga dengan
senjata di tangan.
Saat ini, Nyai Titir sudah kembali
ke Gunung Kematian. Ia berhasil mengundang kembali Empat Malaikat Kahyangan
untuk bersatu. Dalam menyambut kedatangan mereka, Nyai Titir khusus
memerintahkan Rodopalo mengadakan pesta.
Empat Malaikat Kahyangan telah lama
dikenal di rimba persilatan ini. Terdiri dari orang-orang hitam yang kerjanya
hanya membuat orang lain merana. Namun, pertikaian terjadi sendiri di kubu
Empat Malaikat Kahyangan, sehingga akhirnya mereka tercerai-berai. Dan
sekarang, Nyai Titir berhasil mengumpulkan mereka kembali.
Nyai Titir sendiri duduk bersila
sambil menuang tuaknya. Di sebelah kirinya, berjarak satu tombak duduk seorang
kakek yang mengenakan jubah berwarna putih dengan wajah yang kekar dan
menampakkan kekerasannya, la adalah Ki Rongsowungkul atau yang berjuluk si Tua
Penghuni Gunung Karang. Telah sekian tahun Ki Rongsowungkul mendiami tempat
itu. Ia bersenjatakan sebuah tasbih.
Di sebelah kanan Nyai Titir yang
berjarak satu tombak pula, duduk seorang laki-laki tegap yang sangat tampan.
Kulitnya putih. Kumis tipis menghiasi wajahnya, menambah ketampanannya. Ia
adalah Kuntala atau yang berjuluk si Kipas Maut. Ayunan kipasnya mampu
menghancurkan batu sebesar kerbau.
Di sebelah Kuntala, berjarak satu
tombak pula, duduk Nyai Priatsih yang mengenakan pakaian berwarna hitam.
Sikapnya tenang dan dingin. Ia memiliki banyak cara untuk menyiksa lawannya
sangat kejam. Ia benuluk Si Tongkat Iblis. Ilmu tongkatnya cukup tinggi.
Sementara Rodopalo sendiri duduk di
hadapan mereka.
“Mari, mari, Saudara-saudara
sekalian!” katanya sambil mengangkat tuaknya. “Kira rayakan keber- samaan ini
dengan meminum tuak sampai mabuk... ha ha ha ha!”
Suasana ruangan itu pun penuh
dengan tawa. Semuanya mengangkat tuak masing-masing.
Setelah beberapa saat, terdengar
suara Ki Rongsowungkul, “Titir... kau belum menceritakan maksudmu untuk
mengundang kami di sini?”
“Ya,” sahut Nyai Priatsih.
“Sekarang ceritakan kepada kami, ada apa gerangan?”
Nyai Titir menunggu sampai Kuntala
bertanya pula, tetapi si Kipas Maut nampak tak acuh saja. Barulah Nyai Titir
berkata, “Ha ha ha... jangan bersikap sungkan seperti itu sesama teman. Kita
masih tetap Empat Malaikat Kahyangan yang telah lama menguasai rimba persilatan
dan kini akan menguasainya kembali....”
“Kau tahu bukan, aku tidak suka
bertele-tele?” tiba-tiba Kuntala bersuara sambil berkipas.
“Sifatmu memang tidak pernah berubah,
Kipas Maut,” kata Nyai Titir. “Baik, akan kujelaskan maksudku mengundang kalian
untuk berkumpul di sini. Hmmm, terus terang, saat ini aku telah memungut
seorang murid dan ia berada di hadapan kalian sekarang ini. Dengan bantuan
muridku itulah aku mengadakan perampokan, pembunuhan dan pencurian
besar-besaran. Ha ha ha... aku menyukai ini, sangat menyukai-nya....
“Lalu, apa maksudmu mengundang
kami?” tanya Ki Rongsowungkul sambil mengusap janggutnya yang putih.
“Ha ha ha... sudah tentu untuk
mengundang kalian bersatu padu dengan kami. Dengan bergabungnya kita kembali,
sudah tentu Empat Malaikat Kahyangan tidak akan pemah terkalahkan. Hmm...
apakah kalian sudah pernah mendengar tentang Pendekar Gila?”
“Singo Edan!” seru semuanya
berbarengan sambil menatap Nyai Titir.
“Ha ha ha... nama besar Singo Edan
memang masih menjadi momok sampai sekarang ini. Tetapi, aku tahu, sekarang ia
menyembunyikan diri di Gua Setan,” kata Nyai Titir sambil tersenyum meremeh-
kan. “Lalu, siapa maksudmu dengan Pendekar Gila itu?” tanya Nyai Priatsih.
“Aku menduga, kalau Singo Edan
telah mengambil seorang murid, yang sudah tentu kesaktiannya sama dengannya.”
“Dari mana kau tahu?” tanya Kuntala
ya ini memperlihatkan perhatiannya.
“Karena, baru-baru ini ia
menggagalkan aksi perampokan yang kami lakukan di Desa Sawo Jajar. Ia adalah
seorang pemuda yang mengenakan rompi dari kulit ular. Dan aku yakin
seyakin-yakinnya, kalau pemuda itu adalah murid dari Singo Edan yang juga
berjuluk Pendekar Gila.”
“Dengan maksud untuk
menghadapinyakah kau mengundang kami kembali?” tanya Nyai Priatsih sambil
mendengus.
“Ha ha ha... sudah tentu tidak.
Kesaktianku semakin meningkat sekarang ini. Aku cuma ingin mengembalikan nama
besar Empat Malaikat Kahyangan ke dunia persilatan. Apakah kalian bersedia?”
Nyai Titir memandang ke sahabat- sahabatnya.
Tak ada yang bersuara. Tiba-tiba Ki
Rongso- wungkul mendehem. “Titir... bukannya aku tidak menghendaki nama besar
Empat Malaikat Kahyangan bersatu padu dan kembali merajai rimba persilatan.
Namun usiaku sudah tua... dan sebentar lagi ajal akan menjemputku. “
Nyai Titir menatap tajam, “Jadi...
apa maksudmu, Rongsowungkul?''
“Sekali lagi kukatakan, aku tidak
menolak bila Empat Malaikat Kahyangan bersatu kembali. Namun, aku keberatan
bila kita bergabung untuk kejahatan.”
“Hei, apakah Gunung Karang telah
membuatmu mematikan segala dosa-dosamu?” ejek Nyai Titir. Ia nampak kecewa
sekali karena Ki Rongsowungkul menolak keinginannya.
“Tidak. Tetapi rasa penyesalan itu
datang dari diriku sendiri. Aku tidak ingin lagi di masa tua seperti ini harus
melumuri tanganku dengan dosa, Titir. Sekali lagi kukatakan, aku minta maaf...
karena telah menolak ajakanmu.”
Suasana kelihatan menegang. Satu
sama lain saling berpandangan kecuali Ki Rongsowungkul yang masih mengusap-usap
janggutnya yang putih. Sampai Nyai Titir berkata, “Hei, kalian tidak usah
tegang. Ha ha ha... Ki Rongsowungkul terima kasih atas kesediaanmu memenuhi
undanganku. Tidak apa-apa, kau bisa membersihkan dosa-dosa yang selama ini
telah kau lakukan.”
Ki Rongsowungkul berdiri. “Akan
kulakukan, Titir. Dan aku hanya bisa ber- harap, agar kalian mengikuti jejakku
untuk meninggalkan perbuatan dosa yang telah lama kita lakukan....”
Lalu dengan gerakan yang ringan
sekali, Ki Rongsowungkul meninggalkan tempat itu.
Sepeninggalnya, Kuntala mendengus,
“Tua bang- ka keparat! Masih bertingkah rupanya! Titir, aku ikut denganmu!”
“Bagus, bagus!” sahut Nyai Titir.
“Kau bagaimana, Priatsih?”
Nyai Priatsih terkekeh. “Sudah
tentu aku akan mengikutimu. Hhhh! Terlalu bodoh bila aku harus berdiam diri di
masa tuaku....”
“Bagus, bagus sekali! Mari, kita
bersulang untuk kembali pada masa jaya!” Mereka meminum tuak lagi. Lalu Nyai
Titir berkata, “Empat Malaikat Kahyangan telah mati seorang... berarti, kita
tinggal bertiga....”
“Kau hebat sekali, Titir...,” sahut
Nyai Priatsih. “Lalu mengapa kita berdiam saja untuk men- jadikan Empat
Malaikat Kahyangan menjadi tiga?”
Nyai Titir terbahak-bahak.
“Bagaimana Kuntala, kau setuju?”
“Sejak semula aku menyatakan persetujuanku, sudah tentu aku akan ikut denganmu
selamanya.”
“Ha ha ha... bagus, bagus! Kita
akan menghajar adat pada Ki Rongsowungkul! Dan akan kita beritahu padanya,
kalau salah seorang dari Empat Malaikat Kahyangan harus mati!”
Mereka kembali terbahak-bahak.
Rodopalo yang sejak tadi berdiam diri, semula tidak mengerti maksud kata-kata
Nyai gurunya. Namun kemudian ia paham. Berarti, Ki Rongso- wungkul harus mati!
***
Ki Rongsowungkul meneruskan
langkahnya dengan ringan. Ia sudah berani berkata, dan berarti berani
mempertanggungjawabkan kata-katanya. Ia paham, kalau maut sedang mengintainya.
Namun ia sudah tidak mempedulikannya. Baginya yang terpenting, ia harus
meninggalkan segala perbuatan- nya. Sambil melangkah, Ki Rongsowungkul membuka
mata dan telinganya. Karena ia yakin, kalau ketiga sahabatnya sangat tidak
menyukai tindakannya. Lebih-lebih diucapkan dalam pertemuan mereka yang
pertama.
Namun sudah bulat tekad di hati Ki
Rongso- wungkul, kalau ia akan meninggalkan dunia hitam yang telah lama
digelutinya. Selama ia bermukim di Gunung Karang, ia sudah bertekad untuk
mensucikan dirinya dari dosa.
Yang tak pernah disadarinya, ia
selalu terbayang bagaimana jerit kematian dari orang-orang yang mereka bunuh.
Bahkan kaum wanita pun dibunuhnya setelah diperkosa. Tidak hanya itu, anak
kecil yang masih bayi pun pernah dibunuhnya.
Dan sungguh, keadaan seperti itu
teramat menyiksa Ki Rongsowungkul. Itulah sebabnya ia bertekad untuk
meninggalkan dunianya yang lama.
Ketika Nyai Titir muncul dan
menyuruhnya untuk datang ke Gunung Kematian ia memang bersedia. Dan Ki
Rongsowungkul pun sedikit banyak sudah mencium, masalah apa gerangan yang akan
dirundingkan. Karena, Nyai Titir berkata akan mengundang pula Kuntala dan Nyai
Priatsih.
Ternyata apa yang diduganya benar.
Walaupun ia yakin akibat dari penolakannya itu, namun ia sudah bertekad untuk
tetap mengundurkan diri.
Apa yang diduganya ternyata benar.
Begitu ia memasuki Hutan Bawengan, mendadak terdengar derap langkah kuda yang
cepat mendekatinya. Ki Rongsowungkul bersiap dan memicingkan mata. Ia melihat
tiga sosok tubuh di atas kuda-kuda itu, dan melompat dengan jalan bersalto ke
arahnya. Lalu hinggap di tanah dengan ringannya.
Ki Rongsowungkul hanya tertawa
saja. “Sudah kuduga, pengalaman yang pahit akan kualami sekarang ini,” katanya
sambil tertawa dan memperhatikan tiga orang yang dulu menjadi sahabatnya. Kini
mengurungnya dengan sikap siap menyerang.
Nyai Titir tersenyum sinis.
“Rongsowungkul, kita dikenal dengan nama Empat Malaikat Kahyangan. Tetapi,
karena kau menolak untuk bersatu kembali, nama itu terpaksa harus
dihapuskan....”
“Dengan kata lain, kalian menjelma
menjadi Tiga
Malaikat Kahyangan?” kata Ki
Rongsowungkul dengan sikap tenang. Lalu terbahak-bahak.
“Kalau kau sudah tahu, mengapa kau
tidak membunuh diri?” ejek Kuntala si Kipas Maut sambil mengipas-ngipas
dirinya.
“Aku sangat menyayangi nyawaku.
Dulu, aku pun selalu mempertahankannya. Dan sekarang, apakah aku harus berdiam
diri bila bahaya menghadangku?” kata Ki Rongsowungkul dengan sikap yang tetap
tenang.
“Bagus kalau begitu!” dengus Nyai
Titir sambil memutar tongkatnya. “Bersiaplah untuk mampus!”
“Ha ha ha... kau, ingin
menghadapiku seorang diri? Jangan bermimpi, Titir. Dulu, bolehlah kau menjadi orang
pertama dalam Empat Malaikat Kahyangan. Tetapi sekarang, jangan kau pandang
dirimu sebagai orang pertama.”
Nyai Titir merah padam mendengar
kata-kata Ki Rongsowungkul yang bernada mengejek. Mendadak saja ia mengempos
tubuhnya dan melenting ke arah Ki Rongsowungkul.
“Orangtua keparat! Mampuslah kau!
Heaaaa!” Ki Rongsowungkul hanya tertawa saja. Tidak bergeming dari tempatnya.
Tubuh Nyai Titir menderu maju. Namun beberapa tindak lagi tongkat di tangan
Nyai Titir menghantam kepalanya, Ki Rongsowungkul mengibaskan sebelah tangannya
ke depan!
Nyai Titir terhenyak sejenak, namun
ia sudah tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Dirasakannya serang- kum angin keras
menerpa tubuhnya, membuatnya menjadi sedikit oleng. Bila bukan Nyai Titir yang
terkena pukulan itu, sudah jelas dadanya akan jebol.
“Hebat! Rupanya di usia senjamu ini
kau masih bisa menciptakan jurus yang ampuh!”
Ki Rongsowungkul terbahak-bahak.
“Itu adalah jurus 'Pukulan Angin Gunung Karang' yang sengaja kuciptakan untuk
menandingi 'Pukulan Angin Manik'-mu, Titir! Ha ha ha... sebuah jurus yang
sangat hebat, bukan? Hmm, mana racunmu yang hebat itu? Aku sudah lama ingin
merasakannya!”
Diejek seperti itu, Nyai Titir
menggeram. Lalu ia mengambil sesuatu dari dalam kantong yang tersampir di
pinggangnya. Dua ekor ular berwarna merah.
“Hmmm, kalau kau ingin bermain-main
dengan racunku, lebih baik kau hadapi saja kawanku ini.”
Wajah Ki Rongsowungkul diam-diam
pias. Ia tahu kalau dua ekor ular yang berwarna merah itu adalah salah satu
senjata dari Nyai Titir. Kedua ular itu dikenal dengan sebutan 'Si Merah
Pencabut Nyawa'.
Tetapi sudah tentu Ki Rongsowungkul
tidak mem- perlihatkan rasa piasnya. Ia cuma terbahak-bahak saja. “Bagus, bagus
sekali! Sudah lama aku ingin merasakan kehebatan si Merah Pencabut Nyawa,”
katanya. “Mengapa kau tidak melepaskannya, hah?”
Nyai Titir menggeram, dengan
kegeraman yang sama, dilepaskannya sepasang ular merahnya.
“Ayo, Manis... lakukan tugasmu
dengan baik...,” katanya sambil tertawa.
Sepasang ular berwarna merah itu
mendesis. Hebat, karena ular-ular itu seolah tahu siapa yang harus diserangnya.
Keduanya menjalar ke arah Ki Rongsowungkul yang menjadi waspada. Ia sudah
sangat mengetahui betapa kejamnya bisa yang keluar dari ular-ular itu.
Ular-ular itu meliuk-liuk seolah
mencari sela. Tatapan keduanya memerah, semerah kulitnya. Dan mendadak saja
keduanya meluncur ke arah Ki Rongsowungkul yang menghindar dengan berkelit.
Serangan pertama dari dua ular itu melesat.
Dan naluri yang dimilikinya tak
bedanya dengan kekejaman milik Nyai Titir. Ular-ular itu terus merang- sek maju
ke arah Ki Rongsowungkul yang harus berkelit dengan sekali-sekali melancarkan
'Pukulan Angin Gunung Karang'nya.
Namun ular-ular itu jelas-jelas
ular pembunuh yang terlatih. Karena keduanya dapat menghindari setiap pukulan
yang dilancarkan oleh Ki Rongsowungkul.
“Ha ha ha... bagaimana mungkin kau
mampu menghadapi kehebatanku dalam ilmu racun, melawan dua binatang
kesayanganku saja kau sudah kewalahan seperti monyet gila,” kata Nyai Titir
sambil tertawa.
Begitu pula dengan Nyai Priatsih
dan Kuntala yang terbahak-bahak.
“Lebih baik kau membunuh diri saja,
Orangtua!” seru Kuntala dengan tatapan dinginnya.
Ki Rongsowungkul terus berusaha
menghindar. Dan mendadak ia melenting ke belakang dan ke depan, karena kedua
ular itu mendadak menegak dan dari mulut mereka, meluncur bisa-bisa ular yang
sangat kuat racunnya.
“Bangsat!” Ki Rongsowungkul memaki
sambil menghindar. Karena kedua ular itu terus menerus melancarkan serangan
bisa mereka. Membuat Ki Rongsowungkul harus bekerja lebih keras dalam upaya
menyelamatkan diri.
“Ha ha ha... ada tarian monyet gila
di sini!” tertawa Nyai Titir. “Ayo manis... jangan beri kesempatan dia untuk
hidup lagi... ha ha ha!”
Ki Rongsowungkul terus menghindar.
Bisa-bisa ular yang tak mengenainya, menghantam batang kayu yang langsung
menghitam, dan dahannya langsung mengering. Sementara daun-daunnya meranggas
lalu berguguran.
“Kalau begini, lama-lama tenagaku
akan terkuras,” dengus Ki Rongsowungkul dalam hati. Ia menunggu sampai ular-ular
itu melontarkan lagi bisa-bisa mereka. Saat itulah Ki Rongsowungkul berkelit ke
depan, melewati kedua ular itu. Dan sambil bersalto, ia melepaskan jurus,
'Angin Gunung Karang'nya.
Satu ular terhantam dan langsung
terbelah retak. Yang satunya lagi mendesis. Lebih ganas menyerang. Ki
Rongsowungkul kali ini memutar tubuhnya, dengan tiba-tiba saja ia kembali
melepaskan 'Pukulan Angin Gunung Karang'-nya.
Des! Ular itu mendesis kelojotan.
Lalu tubuhnya meledak. Melihat kenyataan itu, Nyai Titir sambil menjerit marah
menyerang membabi buta dengan tongkatnya.
“Kau harus mengganti nyawa kedua
binatang kesayanganku dengan nyawamu, Rongsowungkul!”
Serangannya kali ini lebih ganas,
lebih terarah dan bertubi-tubi. Setiap kali ia menggerakkan tongkatnya, menimbulkan
suara angin yang keras dan cukup memekakkan telinga
Namun menghadapi Nyai Titir bagi Ki
Rongsowungkul yang sudah banyak mengetahui kelemahan ilmu dari Nyai Titir,
lebih mudah daripada harus menghadapi ular-ular berbisa itu.
“Ha ha ha... kau sudah tua, Titir.
Kau sudah tidak punya gigi lagi!” ejeknya sambil membalas dengan cepat.
'Pukulan Angin Gunung Karang' yang dilepaskannya membuat Nyai Titir kalang
kabut. Ia harus berjumpalitan ke sana kemari.
Bersamaan Nyai Titir menghindar,
mendadak saja tubuh Ki Rongsowungkul berputar bagai baling-baling. Itu adalah
jurus 'Angin Gunung Karang Menerbangkan Badai' yang berhasil ia ciptakan.
Hasilnya sudah mengejutkan Nyai
Titir. Ia seakan terbawa dalam arus pusaran angin yang ditimbulkan akibat
berputarnya tubuh Ki Rongsowungkul. Bahkan ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya
lagi.
Tanpa ampun dua sodokan keras yang
dilakukan oleh Ki Rongsowungkul menghantam telak dadanya. Membuat Nyai Titir
terhuyung dengan tangan mendekap dadanya.
“Ha ha ha... kau sudah tua, Titir.
Sudah tua!” seru Ki Rongsowungkul.
Kuntala melompat satu tindak.
“Ki... aku pun ingin bermain-main dengan 'Pukulan Angin Gunung Karang'mu itu,”
katanya dengan suara dingin, sedingin tatapannya.
“Bagus! Mengapa kau tidak segera
maju? Atau... mengapa kalian tidak sekaligus maju menyerangku, hah? Jangan
sampai yang terjadi, bukannya tinggal Tiga Malaikat Kahyangan lagi, melainkan
Satu Malaikat Kahyangan. Ha ha ha ha.,..”
Mendengar kata-kata yang diucapkan
dengan nada mengejek itu, Kuntala segera merangsek maju. Kipas di tangannya
mengembang dan menutup. Menyerang Ki Rongsowungkul dengan hebatnya. Ki
Rongsowungkul masih tertawa-tawa saja. Ia segera memapaki serangan Kuntala
dengan 'Pukulan Angin Gunung Karang'nya yang sangat ampuh.
Di luar dugaan, Kuntala justru
membuka kipasnya dan mengayunkan ke depan. Serangkum angin tercip- ta dari sana
dan memapaki 'Pukulan Angin Gunung
Karang' Ki Rongsowungkul. Sementara
tubuhnya menderu dengan deras.
Plak! Plak! Terpaksa Ki
“Rongsowungkul memapaki serangan itu. Gerakan yang diperlihatkan- nya sangat
cepat.
Kuntala tertawa. “Ha ha ha... hanya
begitu saja keampuhan dari pukulan angin kentutmu, Ki!” serunya sambil mencoba
mendesak Ki Rongsowungkul. Kali ini keduanya bertarung sangat sengit.
Berkali-kali Kuntala mengibaskan kipas mautnya yang menimbul- kan hawa panas
dan dingin bergantian. Itu adalah jurus 'Kipas Mengubah Mata Angin'.
Ki Rongsowungkul pun segera
melepaskan senjata tasbihnya yang ia putar-putar untuk melayani serangan si
Kipas Maut Saat menggunakan tasbih- nya, terlihat kalau Ki Rongsowungkul bisa
menghalau semua serangan yang dilakukan oleh Kuntala.
Melihat itu, Nyai Titir dan Nyai
Priatsih saling berpandangan. Lalu setelah saling angguk, keduanya memasuki
kancah pertempuran.
“Ha ha ha... mengapa tidak sejak
tadi kalian lakukan itu?” tertawa Ki Rongsowungkul. Meskipun ia yakin tidak
akan mampu bertahan melawan ketiga- nya, ia tetap berusaha menahan dan membalas
setiap serangan.
Sudah tentu kali ini keadaan Ki
Rongsowungkul yang sangat terdesak. Ia diserang dari tiga arah yang berbeda.
Berkali-kali ia terkena pukulan, tendangan atau pun senjata lawan-lawannya. Dan
dirasakannya dadanya sangat sesak ketika si Tongkat Iblis menghantam telak di
ulu hatinya.
“Hhh! Masih menjual lagak saja kau
di hadapan kami!” dengus Nyai Priatsih sambil terus mencecar dengan jurus
'Tongkat Iblis Menghancurkan Badai'. Setiap kali tongkatnya bergerak,
menimbulkan deru angin yang sangat keras sekali.
Tetapi Ki Rongsowungkul tetap
berusaha ber- tahan. Sebisanya, karena keadaannya sudah sangat tidak
memungkinkan sekali.
Dan mendadak ia terjungkal di tanah
ketika 'Pukulan Angin Manik' yang dilepaskan oleh Nyai Titir menghantam kedua
kakinya. Posisinya sangat sulit sekali untuk melepaskan diri. Mencoba menahan
setiap serangan yang datang pun tidak memungkin- kan. “Mampuslah kau, Orangtua
keparat!” dengus Nyai Titir sambil melepaskan 'Pukulan Angin Manik'nya.
Sementara Nyai Priatsih dan Kuntala sudah menderu maju.
Kali ini Ki Rongsowungkul hanya
bisa memejam- kan mata. Untuk menghindar suatu hal yang sangat tidak mungkin
sekali. Terlalu sempit posisinya. Bahkan tenaganya sudah lenyap sama sekali.
Ia hanya bisa pasrah. Dalam
hatinya, ia sudah merasa puas, karena bisa membuktikan diri untuk tidak
melakukan perbuatan dosa lagi.
Namun ia justru terkejut karena
terdengar teriakan dari ketiga lawannya yang bernada kaget.
Lalu tubuh masing-masing
berlompatan seperti terkena serangan mendadak. Memang, beberapa senjata rahasia
berupa sirip ikan layur beterbangan ke arah ketiganya.
“Bangsat! Siapa yang berani menjual
muka, hah?” dengus Nyai Titir begitu hinggap di tanah.
Ia baru menyadari kalau satu sosok
tubuh telah menyambar tubuh Ki Rongsowungkul dan hinggap dengan ringannya pada
kuda yang sedang berlari.
Lalu digebraknya kudanya dengan
kecepatan tinggi.
Tinggal ketiga orang itu yang
saling mendengus sendiri.
“Bangsat! Siapa bocah perempuan
yang berani ikut campur itu!” dengus Kuntala marah.
“Melihat gerakan yang dilakukannya,
ilmunya cukup tinggi!” seru Nyai Priatsih marah.
“Hhh! Bila ia berani muncul
kembali, akan kupa- tah-patahkan tubuhnya!” seru Nyai Titir. Lalu melompat ke
kudanya. “Biarkan saja mereka, kita kembali ke Gunung Kematian!”
Nyai Priatsih nampak masih terdiam.
Ia memandangi senjata rahasia sirip ikan layur yang dilepaskan penyerangnya
semata untuk mengalihkan perhatian mereka.
“Priatsih!” seru Nyai Titir.
“Kenapa kau?” Nyai Priatsih menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa!” Lalu
melompat ke kudanya. Ia seperti mengenal senjata rahasia ikan layur ini. Namun
ia lupa siapakah tokoh yang pernah menggunakan senjata rahasia serupa.
Lalu disusulnya Nyai Titir dan
Kuntala yang sudah melesat dengan cepatnya ke arah Gunung Kematian. Di wajah
Nyai Titir dan Kuntala memperlihatkan wajah yang marah. Kemarahan itu sangat
nampak di wajah Nyai Titir.
“Hhh! Kalau saja ia berhasil
menangkap manusia itu, akan disiksanya dengan racun-racunnya yang berbisa.”
Sementara itu, Nyai Priatsih masih
memikirkan tentang tokoh yang pernah didengarnya memiliki senjata rahasia
berupa sirip ikan layur.
Namun ia belum juga berhasil
memulihkan ingatannya.
***
Sementara itu, kuda putih itu terus
bergerak dengan cepatnya. Penunggangnya yang tak lain adalah Sekar Wangi mengendalikan
kudanya dengan baik. Di depan tubuhnya yang menggebrak kuda, satu sosok tubuh
tergolek pingsan karena keletihan.
Tadi Sekar Wangi tidak sengaja
melihat per- tempuran yang menurutnya sangat dahsyat dan mengerikan. Setelah
berpisah dengan Pendekar Gila, ia langsung menggebrak kudanya menuju ke Gunung
Kematian. Dendamnya pada Rodopalo yang telah membunuh kedua orangtuanya,
semakin dalam saja. Ia merasa tidak akan pernah tenang hidup di dunia ini
sebelum melihat durjana itu mampus di tangannya.
Dan yang tak disangkanya, ketika
kudanya me- masuki Hutan Bawengan, ia melihat pertempuran yang sangat seru.
Karena, satu orang dikeroyok tiga orang. Bila mendengar dari bentakan demi
bentakan yang mereka lakukan, sepintas Sekar Wangi bisa menduga, kalau laki-laki
yang berbaju putih itu sebelumnya adalah sahabat dari ketiga penyerang- nya.
Yang karena suatu sebab entah apa Sekar Wangi tidak tahu, terjadi perselisihan
di antara mereka.
Sebagai orang yang baru muncul di
rimba persilatan, sudah tentu berjumpa dengan tokoh-tokoh aneh dan ilmu-ilmu
yang asing membuatnya keheranan. Selama ini, Sekar Wangi hanya meng- anggap
kalau orang yang paling sakti adalah gurunya, Nyai Harum Tari. Ialah
satu-satunya di mata Sekar Wangi yang paling tinggi kesaktiannya.
Namun pada kenyataannya, apa yang
dikatakan oleh gurunya memang benar. Kalau rimba persilatan adalah dunia yang
sangat kejam sekali. Banyak tokoh sakti yang bermunculan. Banyak pula
tokoh-tokoh hitam dengan ilmunya yang keji dan ganas.
Kini Sekar Wangi disadarkan oleh
pengalaman baru. Kalau sekarang ia tidak bisa menganggap remeh siapa pun juga.
Termasuk Pendekar Gila yang ditinggalkannya.
Ah, bila teringat pemuda itu, Sekar
Wangi menjadi malu sendiri. Pertama, ia dipeluk dan ditindih oleh Sena ketika
sedang bertarung karena salah paham. Kedua, ia merangkul Sena yang menangis
bagai anak kecil ketika menyaksikan mayat-mayat Desa Sawo Jajar yang
bergeletakan.
“Sena, Sena... mengapa ada sesuatu
yang tidak wajar di hatiku?” desisnya. Sungguh, ia menyesal telah meninggalkan
Pendekar Gila di Desa Sawo Jajar. Namun ia tidak mau mengingatnya lagi.
Dipacu kudanya dengan cepat. Ia
yakin, kalau laki- laki tua yang gagah ini membutuhkan pertolongan. Seharusnya
ia bisa dengan segera mencoba menyadarkan laki-laki berbaju putih ini. Namun
Sekar Wangi pun tidak mau kepergok oleh orang-orang yang menyerang laki-laki
tua ini.
Makanya, ia terus memacu kudanya.
Melarikannya jauh-jauh dari tiga orang penyerang laki-laki berbaju putih ini
tadi yang ia yakin, kalau kesaktian mereka sangat tinggi sekali.
Di sebuah sungai yang mengalirkan
air jernih, ia menghentikan laju kudanya. Dengan satu gerakan ringan, ia
bersalto sambil membopong tubuh Ki Rongsowungkul.
Dialirkannya tenaga dalamnya ke
tubuh yang lemah itu. Namun tidak ada fungsi sama sekali. Ia mencoba melakukannya
berulang-ulang, namun hasilnya tetap sama. Laki-laki tua yang gagah itu tidak
bergeming sama sekali. Tetap tergolek pingsan.
Bergegas ia ke tepi sungai untuk
mengambil air. Barangkali saja dengan bantuan air yang dingin ia bisa
menyadarkan laki-laki ini.
Namun baru saja ia akan mengambil
air dengan daun lebar itu, terdengar bentakan yang keras, “Siapa itu yang iseng
mengintip, hah?!”
***
6
Sekar Wangi menjadi bersiaga, ia
menarik keluar sepasang pedangnya dari warangkanya.
“Siapa itu?” bentaknya dengan
tatapan me- nerawang. Kali ini perhatiannya menjadi terbagi dua. Pertama, ia
harus menyelamatkan nyawa laki-laki tua berpakaian putih itu. Kedua, ada
seseorang yang ia yakin bukanlah orang yang dikenalnya.
Yang dikhawatirkannya, bila suara
itu keluar dari tiga orang penyerang laki-laki berbaju putih yang sekarang
sedang pingsan.
Bukannya sahutan yang terdengar,
justru kekehan yang menerpa telinganya, dari atas pohon. Sekar Wangi mengangkat
wajahnya. Ia melihat seorang pemuda berompi kulit ular sedang cengar-cengir
dengan kaki menjuntai di atas pohon itu.
Sekar Wangi mendengus. “Sena! Bantu
aku!” Bukannya turun, Pendekar Gila justru menggaruk- garuk kepalanya. “He he
he... ketahuan ya, kau suka mengintip orang mandi?”
Sekar Wangi sadar, kalau yang
membentak itu - adalah Sena yang sedang mandi. Untungnya, ia tidak memergoki
pemuda yang tentunya sedang ber- telanjang bulat.
Melayani Pendekar Gila dalam
suasana genting semacam ini percuma. Sekar Wangi buru-buru mengambil air dan
kembali mendatangi Ki Rongso- wungkul yang tergeletak di tanah.
Sena melihat semua itu dari atas.
Dengan satu lentingan yang ringan, ia melompat dan hinggap di sisi Sekar Wangi
yang sedang berusaha menyadarkan Ki Rongsowungkul.
“Siapa dia, Rayi?” “Jangan banyak
tanya! Bantu aku!” bentak Sekar Wangi.
Sena menggaruk-garuk kepalanya.
“Wah, wah, jadi galak lagi rupanya, si Jelita Penunggang Kuda ini.” Lalu ia
membungkuk dan memeriksa tubuh Ki Rongsowungkul. Sesaat kemudian ia berdecak
kagum. “Hebat, meskipun tubuhnya sudah renta seperti ini, namun ia memiliki
kekuatan yang tinggi. Berarti tenaga dalamnya cukup tinggi. Kalau tidak, ia
akan langsung mampus terkena pukulan sakti seperti ini. Lihat, di dadanya ada
bekas telapak tangan.”
“Kenapa dia tidak mau siuman juga,
Kakang?” Sena nyengir. “He he he... ceritakan apa yang terjadi, aku akan
mencoba menyadarkannya...”
Sementara Sekar Wangi bercerita
tentang laki-laki berjanggut putih ini, Sena berusaha mengalirkan tenaga dalamnya.
Bekas 'Pukulan Angin Manik' Nyai Titir perlahan-lahan menghilang, bersamaan
Sekar Wangi selesai bercerita.
“Sepintas, aku hanya mengetahui
namanya, Ki Rongsowungkul,” kata Sekar Wangi mengakhiri ceritanya.
Sena menutup kembali pakaian yang
dikenakan Ki Rongsowungkul. Ia mengangkat tubuhnya, men- dudukkannya dengan
kaki selonjor ke depan. Mendadak ia menotok di beberapa bagian tubuh Ki
Rongsowungkul. Lalu terdengar gagah itu terbatuk- batuk dan... huak!
Tuak yang telah mengisi perutnya,
terbuang sebagian. Perlahan-lahan Ki Rongsowungkul merasakan kepalanya
berdenyut. Dan perlahan-lahan pula ia membuka matanya.
Begitu melihat ada dua sosok tubuh
di dekatnya, mendadak ia melompat ke belakang.
“Hei!” seru Pendekar Gila. “Kau
masih lemah, Orangtua!”
Apa yang diserukan Sena terbukti,
karena Ki Rongsowungkul bukannya hinggap di tanah dengan ringannya, ia justru
terpelanting dan ambruk.
Sena memburu sambil ngomel-ngomel.
“Bandel!” dengusnya, sementara Ki Rongsowungkul sudah jatuh pingsan lagi. Sena
memeriksa lagi tubuh itu. Lalu katanya pada Sekar Wangi, “He he he... orangtua
ini memang bandel. Sudah ketahuan sedang terluka dalam, mencoba menyerang juga.
Rayi... tolong kaujaga dia, aku hendak mencari buah-buahan. He he he... bukan
dia saja yang lapar tentunya, perutku sendiri sudah kekuruyukan. Kau mau,
Rayi?”
Sekar Wangi cuma mengangguk saja.
Ia geli melihat sikap Sena yang lucu seperti itu. Lalu Sena berkelebat memasuki
hutan untuk mencari buah- buahan. Sedangkan Sekar Wangi, membopong tubuh Ki
Rongsowungkul ke balik semak. Sementara si Putih sudah asyik memakan rumput.
Tak lama kemudian Pendekar Gila
sudah kembali dengan buah-buahan yang banyak. “He he he... kita makan enak
sekarang. Seperti orang di kadipaten atau pun di keraton yang suka makan
enak... Mari, Rayi...
Keduanya pun memakan buah-buahan
itu. Sekar Wangi entah mengapa merasakan dirinya sudah semakin akrab dengan
Pendekar Gila. Padahal, baru beberapa hari ia bertemu dengan Pendekar Gila.
Tiba-tiba terdengar suara
batuk-batuk, keduanya segera melompat ke arah Ki Rongsowungkul. Sekar Wangi
yang tidak ingin kalau Ki Rongsowungkul membuat gerakan lagi, segera berkata
pelan, “Ki... jangan takut, kami orang baik-baik....”
Ki Rongsowungkul membuka matanya.
Baru kali ini ia mendengar suara yang sangat merdu menerpa telinganya. Ia
melihat seorang gadis jelita sedang tersenyum padanya. Sementara di sisi gadis
itu, dilihatnya seorang pemuda yang berompi kulit ular sedang menggaruk-garuk
kepalanya sambil cengar- cengir.
“Oh!” desisnya bagai keluhan. Sekar
Wangi membantu Ki Rongsowungkul untuk bangkit, menyandar di sebatang pohon. Ki
Rongso- wungkul menghela nafas panjang. Terbayang bagai- mana pertempurannya
dengan sahabat-sahabatnya sendiri karena ia menolak untuk bergabung dengan
mereka. Ah, bukankah saat itu ia sudah dalam keadaan terjepit, terjebak dalam
lingkaran serangan yang dilakukan sahabatnya yang telah menjadi lawannya?
Diingatnya pula kalau satu sosok tubuh menyambar tubuhnya. Hanya itu yang
diingatnya, karena setelah itu ia jatuh pingsan.
“Sia... siapakah kalian?” tanyanya
terbata. Sekar Wangi tersenyum.
“Namaku Sekar Wangi.” Sena
terkekeh. “Kalau aku... Sena. Siapakah kau, “Oh, namaku Ki Rongsowungkul. Orang
lebih mengenal julukanku, si Tua Penghuni Gunung Karang.”
“Siapakah orang yang bertempur
denganmu, Ki?” tanya Sekar Wangi.
“Oh! Mereka... mereka adalah
sahabat-sahabat- ku....”
Kali ini kening Sekar Wangi
berkerut, sementara Sena cuma terkekeh saja sambil memakan terus buah-buahan
yang dipetiknya di hutan tadi.
“Kalau memang kalian bersahabat,
mengapa harus saling tempur, Ki?”
Ki Rongsowungkul menceritakan apa
yang baru saja dialaminya. “Begitulah, karena aku menolak untuk bergabung
dengan mereka, sehingga akhirnya aku harus dimusnahkan....”
Sena cengengesan sambil berkata,
“Ki... he he he... apakah ada orang yang bernama Rodopalo di sana?”
“Oh! Ada! Ia murid dari Nyai Titir,
sekaligus pimpinan Gerombolan Iblis dari Pacitan.”
“Bisakah Ki Rongsowungkul
memberikan gam- baran jalan yang tepat untuk menuju ke Gunung Kematian?” tanya
Sena pula, kali ini sambil meng- garuk-garuk kepalanya.
“Mau apa kau, Anak muda?” “He he
he... mereka telah membunuh sahabat- sahabatku di Desa Sawo Jajar. Aku harus
menuntut balas atas kematian mereka, di samping aku sendiri hendak memusnahkan
gerombolan mereka...,” sahut Sena.
Ki Rongsowungkul
menggeleng-gelengkan kepala- nya. Anak muda yang nampaknya gila ini hanya
bermaksud untuk mencari mati saja. Menghadapi Empat Malaikat Kahyangan yang
kini menjadi tiga dan bersa-tupadu, haruslah orang yang memiliki kesaktian yang
sangat tinggi. Hanya Singo Edan-lah yang mampu mengalahkan mereka. Mungkin
juga... muridnya. Tetapi di manakah muridnya sekarang ini?
“Anak muda... mereka terdiri dari
orang-orang yang tinggi ilmunya. Bukan maksudku untuk melarangmu ke sana,
tetapi berpikirlah sebelum semuanya terlambat,” kata Ki Rongsowungkul sambil
menerima buah yang disodorkan .Sekar Wangi.
Sena menggaruk-garuk kepalanya. “He
he he... aku memang tidak boleh sombong. Guru bisa marah besar kalau tahu aku
sombong... tetapi aku tidak sombong. Karena, Guru yang me- merintahkan aku
untuk membasmi setiap ke- jahatan... he he he... Guru, Guru... aku jadi rindu
padamu....”
Ki Rongsowungkul kali ini
mengerutkan keningnya. Bila melihat caranya berbicara, sudah jelas pemuda ini
gila. Tetapi bila mendengarkan dengan seksama, kata-katanya sangat terarah. Dan
mendadak hatinya berdebar keras.
“Anak muda... siapakah gurumu itu
dan di mana ia bermukim?” tanyanya hati-hati.
“He he he... guruku adalah seorang
pendekar sakti yang mengundurkan diri.... Namanya... Singo Edan...”
“Oh, Tuhan!” “... ia bermukim di
Gua Setan.” Jantung Ki Rongsowungkul seolah berhenti berdetak. Sejurus kemudian
ia terbahak-bahak.
Ha ha ha... rupanya engkaulah
pemuda yang telah menggagalkan aksi Gerombolan Iblis dari Pacitan ke Desa Sawo
Jajar. Bagus, bagus... Nyai Titir pasti kebingungan bila engkau muncul... ha ha
ha... Maafkan aku, Anak muda... aku tidak tahu kalau engkaulah Pendekar Gila
yang diceritakan Nyai Titir....”
Bukannya bangga dipuji seperti itu,
Sena Manggala justru menggaruk-garukkan kepalanya.
“Memangnya kenapa dengan namaku?
Semua orang sepertinya kaget bila mengetahui kalau akulah si Pendekar Gila....”
“Karena, engkaulah pendekar pembela
kebenaran...”
Suasana tidak lagi tegang seperti
tadi. Ki Rongso- wungkul yang memang tidak suka dengan rencana Nyai Titir
semakin bersemangat saja. Ia pun bertekad untuk menghancurkan rencana Nyai
Titir berikut gerombolannya.
Lalu diceritakannya tentang
kelemahan dari Nyai Titir, Kuntala si Kipas Maut dan Nyai Priatsih si Tongkat
Iblis.
“Merekalah orang-orang yang menjadi
pentolan dari Gerombolan Iblis dari Pacitan. Sayangnya, aku tidak tahu tentang
ilmu Rodopalo. Namun yang kuduga, pasti tidak jauh berbeda dengan Nyai Titir.
Karena ia adalah muridnya. Meskipun kalian sudah mengetahui letak kelemahan
dari ilmu mereka, bukan berarti mereka mudah untuk ditaklukkan. Masih ada ajian
yang sangat sakti yang mereka miliki...” “Apa itu, Ki?” tanya Sekar Wangi
serius. “Ajian 'Empat Malaikat Kahyangan'.” “Oh, katamu... kau pun termasuk
salah seorang dari mereka ?” “Benar.” “Apakah ajian itu masih ampuh tanpa
dirimu?” “Kemungkinannya sangat tipis untuk mengatakan masih sangat ampuh.
Karena ajian 'Empat Malaikat Kahyangan' merupakan penguncian gerak empat
penjuru. Tetapi jangan lupa... masih ada Rodopalo yang akan mengisi
tempatku....”
“Maksudmu Ki... mereka akan
melatihnya?” tanya Sekar Wangi pula.
No comments:
Post a Comment