DEWI PENYEBAB MAUT
1
"Ayah...," suara pelan
mengandung isak terdengar memecah kesunyian pagi. Suara itu berasal dari sebuah
mulut mungil berpakaian serba putih yang duduk bersimpuh di depan sebuah
gundukan tanah merah.
Wajah sosok tubuh ramping ini
tidak terlihat karena kepalanya tertunduk
"Aku menyesal sekali,
Ayah...," kembali suara mengandung isak itu terdengar. Menilik suaranya
yang begitu menyayat, dapat diperkirakan kalau sosok tubuh ramping ini adalah
seorang wanita.
"Kalau aku tidak datang
terlambat, mungkin Ayah tidak meninggal. Aku menyesal sekali. Tapi, tenanglah
di dalam kuburmu. Akan kubalaskan sakit hatimu. Akan kubunuh mereka yang telah
secara curang mengeroyokmu. Dengar janjiku ini, Ayah. Kalau tidak berhasil
memenuhi janjiku ini, maka akan kuganti namaku, Ayah. Akan kubuang nama
Melati!"
Tegas dan mantap sekali ucapan
terakhir yang keluar dari mulut sosok yang berpakaian serba putih, dan ternyata
bernama Melati itu. Apalagi kata-kata itu ditutup dengan kepalan tangannya di
depan dada, sambil mengangkat wajah! Tangan yang terkepal itu begitu indah!
Jari-jemarinya terlihat lentik, halus, dan berkulit putih mulus. Punggung
tangannya yang tidak tertutup baju bertangan panjang itu pun putih, halus, dan
mulus! Tetapi bila dibandingkan dengan wajah yang kini nampak jelas itu, tangan
itu tidak berarti apa-apa. Wajah sosok serba putih itu begitu cantik jelita,
laksana Dewi! Kulit wajahnya putih, halus, dan mulus. Hidungnya mbangir, dan
bibirnya yang tipis dan mungil itu berwarna merah segar.
Hanya satu yang menyeramkan pada
gadis berusia sekitar sembilan belas tahun itu. Sepasang matanya yang tajam
mencorong, dan bersinar kehijauan! Persis seperti sorot mata kucing dalam
gelap.
Setelah mengucapkan sumpahnya,
Melati bangkit dari duduknya, kemudian melesat dari situ. Cepat sekali
gerakannya. Sehingga dalam sekejap mata saja, hanya terlihat sebuah titik di
kejauhan yang semakin lama semakin mengecil dan akhirnya lenyap.
***
Seraut wajah cantik jelita
berpakaian serba putih, dengan sikap tak acuh melangkah memasuki sebuah kedai
di Desa Waringin. Dihampirinya sebuah meja yang masih kosong. Dan dengan malas
dihenyakkan tubuhnya ke kursi. Tak dipedulikan berpasang-pasang mata yang
menatap liar ke arahnya.
Sang pemilik kedai, seorang
setengah tua yang berwajah totol-totol hitam, tergopoh-gopoh datang
menghampirinya.
"Mau pesan apa,
Nisanak?" tanya pemilik kedai ramah.
Wanita yang tidak lain dari
Melati ini lalu memesan makanan yang disukainya. Suaranya begitu merdu.
Sang pemilik kedai
mengangguk-angguk mengerti, kemudian berlalu untuk menyiapkan pesanan itu.
Sebelum berlalu, mulutnya sempat berbisik pelahan pada Melati.
"Hati-hati, Nisanak. Di sini
banyak orang jahat. Kalau bisa, cepatlah pergi dari sini..."
Melati hanya tersenyum sinis.
Sama sekali tidak digubris peringatan. pemilik kedai itu.
Tidak lama, pemilik kedai itu
sudah kembali sambil membawa makanan
pesanan Melati. Setelah mempersilakan, ia pun berlalu dari situ.
Baru beberapa langkah pemilik kedai itu
meninggalkan meja Melati, dua orang berwajah kasar yang sejak tadi menatap liar
pada Melati, bangkit dari kursinya. Tampaknya mereka melangkah mendekati meja
Melati.
"Nisanak...," ucap
salah seorang di antara mereka yang berkulit hitam dan berwajah penuh
bercak-bercak putih. Lagaknya membuat Melati merasa perutnya mual. "Makan
sendirian tidak enak. Lebih baik pindah ke meja kami, dan kita makan
bersama-sama."
"Benar, Nisanak,"
sambut seorang lagi, yang bermulut lebar.
"Lalat-lalat kotor
menyebalkan!" ucap Melati tak acuh. Tanpa mempedullkan mereka, gadis itu
terus saja melanjutkan makannya. "Aku heran, kenapa di kedai sebersih ini
masih ada dua ekor lalat busuk yang menjemukan?!"
"Keparat!" teriak si muka hitam berang. "Perempuan tak tahu diuntung!
Berani benar kau menghina Sepasang Setan Hitam?! Kau harus dihukum atas
kekurangajaranmu itu! Kecuali kalau kau mau meminta maaf dan mencium kami
masing-masing sepuluh kali."
"Ya, betul," sambut si
mulut lebar. Sudah terbayang di benaknya betapa nikmat dicium gadis secantik
wanita berpakaian serba putih ini.
Sepasang mata Melati mencorong
mendengar ucapan yang kurang ajar itu. Tangannya yang tengah menyuap nasi,
terhenti di depan mulut.
"Lalat-lalat busuk bermulut
kotor! Orang seperti kalian tidak pantas hidup lebih lama lagi!" bentak
gadis itu geram.
"Ha ha ha...!" si mulut
lebar tertawa bergelak. "Kau dengar apa yang dikatakannya, Kang? Lucu!
Sungguh lucu! Kelinci hendak mengalahkan harimau!"
Si muka hitam yang berangasan
tidak menyahuti gurauan rekannya. Sambil mendengus seperti kerbau marah, kedua
tangannya begitu kurang ajar hendak mencengkeram ke arah dada Melati.
Wajah gadis itu langsung memerah
melihat serangan yang kurang ajar ini. Seketika itu juga tangannya cepat
bergerak menyambut. Dan di lain saat, dua tangan yang mungil dan indah itu
sudah mencekal pergelangan kedua tangan si muka hitam yang terarah ke dada.
Pelahan sekali tangan gadis itu meremas, tetapi akibatnya hebat bukan kepalang!
Terdengar suara gemeretak tulang patah dari pergelangan si muka hitam. Kelihatannya
tulang-tulang itu hancur diremas tangan mungil yang mengandung tenaga dalam
tinggi itu.
"Akh...!" si muka hitam
berteriak kesakitan. Keringat sebesar biji-biji jagung bermunculan di wajahnya
karena menahan rasa sakit pada kedua tangannya.
Si muka hitam kaget bukan main.
Sekuat tenaga ditarik kedua tangannya yang dipegangi Melati. Tapi betapa pun
telah mengerahkan segenap tenaganya, tetap saja dia tidak mampu membebaskan
kedua tangannya dari cekalan tangan halus itu. Belum lagi sempat berbuat
sesuatu, tangan kiri gadis berpakaian serba putih itu sudah bergerak menampar
pelipis si muka hitam.
Prakkk...!"
"Akh...!"
Terdengar suara berderak keras
ketika tangan halus gadis itu menghantam pelipis si muka hitam. Orang pertama
dari Sepasang Setan Hitam ini mengeluh tertahan, sebelum rubuh ke tanah dengan
napas putus.
Si mulut lebar meraung murka
melihat temannya tewas. Tak dipikirkan lagi, bahwa kematian rekannya yang
begitu mudah menjadi suatu tanda betapa tingginya kepandaian yang dimiliki
gadis berpakaian serba putih itu. Dengan amarah meluap-luap, dicabut senjatanya
yang berupa sebuah kapak dari baja putih. Seketika diayunkannya senjata itu ke
kepala Melati. Dan memang, hilang sudah gairahnya pada gadis itu.
Wuttt..!
Angin keras berhembus sebelum
serangan kapak itu tiba. Tetapi, Melati sama sekali tidak gugup melihat
serangan itu. Hanya dimiringkan kepalanya sedikit, maka kapak itu lewat
beberapa rambut di depan mukanya. Dan sebelum kapak itu
menghantam meja, tangan Melati sudah bergerak cepat menotok pergelangan tangan
si mulut lebar.
Si mulut lebar mengeluh tertahan.
Pergelangan tangannya terasa lumpuh, sulit digerakkan lagi. Dan sebelum ia
berbuat sesuatu, kapak itu kini sudah berpindah ke tangan Melati. Begitu tangan
gadis yang kini telah menggenggam kapak itu bergerak, si mulut lebar menjerit ngeri.
Dadanya tertembus kapaknya sendiri. Beberapa saat lamanya tubuh salah satu dari
Sepasang Setan Hitam itu menggelepar-gelepar sebelum akhirnya tidak
bergerak-gerak untuk selama-lamanya.
Setelah menewaskan si mulut
lebar, Melati kembali duduk menghadapi mejanya. Sikapnya tak acuh, seolah-olah
tidak pernah terjadi apa-apa. Para pengunjung yang melihat keganasan gadis itu
menjadi ngeri. Beberapa di antara mereka secara diam-diam meninggalkan kedai
itu setelah membayar makanannya. Tentu saja Melati mengetahuinya. Tapi, gadis
itu tidak mempedulikan. Terus saja dilanjutkan makannya yang tertunda.
Tak lama kemudian, Melati menyelesaikan
makannya. Diletakkan pembayarannya di atas meja. Dengan sikap tidak peduli,
dilangkahkan kakinya berjalan ke luar kedai.
Sepeninggal Melati, maka
terdengarlah suara-suara bergumam mirip kerumunan lebah di dalam kedai itu.
Semuanya sibuk membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.
"Sayang sekali!" ucap
salah seorang pengunjung menyayangkan. "Siapa sangka kalau di balik wajah
cantik seperti Dewi, tersembunyi hati yang kejam."
"Benar!" sambut yang
lain. "Begitu mudah dan enaknya ia menyebar maut di sini!"
"Tindakannya seperti
Malaikat Pencabut Nyawa saja!" orang pertama menyahuti lagi.
"Ah, tidak cocok dong!"
sergah yang lain. "Mana ada malaikat wanita! Kalau menurutku, julukan yang
pantas baginya adalah Dewi Penyebar Maut!"
"Benar...!" sahut salah
seorang. "Akur...!"
Sejak peristiwa di kedai itu,
tanpa sepengetahuan Melati sendiri, ia telah dijuluki orang Dewi Penyebar Maut.
Dalam waktu sebentar saja, julukan itu telah menyebar ke seluruh pelosok desa.
Bahkan sampai ke desa-desa sekitar. Dewi Penyebar Maut, sebuah julukan bagi
seorang gadis cantik yang berpakaian serba putih, tapi berhati kejam.
***
"Perguruan Elang
Sakti," gumam Melati sinis, membaca tulisan pada sebuah papan besar dan
tebal yang tergantung di depan pintu gerbang sebuah bangunan besar yang
dikelilingi tembok tinggi.
"Hup!"
Melati melompati tembok yang
tingginya tidak kurang dari satu tombak itu. Tanpa suara, kakinya mendarat
seperti seekor kucing.
Tetapi belum juga gadis itu
berbuat sesuatu, terdengar sebuah bentakan keras.
"Berhenti!"
Melati menoleh ke arah asal suara
itu. Nampak di depannya berdiri seorang pemuda gagah dengan kedua tangan
bersedekap. Tatapan matanya penuh selidik. Tetapi, sepasang mata yang semula
tajam itu mendadak lunak begitu melihat wajah Melati.
"Eh! Nggg..., siapa Nini?
Mengapa masuk secara gelap-gelapan?" tanya pemuda itu gagap.
"Siapa pun aku, tidak perlu
kau tahu. Yang jelas, kedatanganku ke sini adalah karena mempunyai keperluan
yang sangat penting dengan gurumu!" sahut Melati sambil tersenyum sinis.
"Ahhh.... Ada keperluan
apakah, sehingga Nini ingin bertemu guruku?"
"Aku ingin mengirimnya ke
akherat!" lantang dan tegas kata-kata Melati.
"Apa?!" Sepasang mata
pemuda itu terbelalak. Kini sikapnya seketika berubah kembali. "Jangan
harap mampu melakukannya sebelum melangkahi
mayatku!"
"Hi hi hi...! Berapa sih,
susahnya melangkahi mayatmu?!" ejek Melati tajam, setelah tawa
mengikiknya selesai.
"Boleh kau coba!"
tantang pemuda itu.
"Manusia dungu yang suka
mencari penyakit sendiri! Jangan salahkan aku kalau kau mati di tanganku!"
Setelah berkata demikian, tubuh
Melati berkelebat ke arah sasaran. Pemuda itu kaget sekali. Yang terlihat hanya
sekelebat bayangan yang cepat meluruk ke arahnya. Dengan sebisanya, pemuda itu
bergerak menangkis. Tapi usahanya sia-sia.
Crokkk! "Aaakh...!"
Pemuda malang itu langsung rubuh
sambil berteriak keras menyayat. Darah segar seketika membasahi ubun-ubunnya
yang pecah!
Tanpa mempedulikan keadaan pemuda
itu lagi, Melati bergerak menghampiri pintu gerbang. Tepat di depan pintu
gerbang itu langkahnya terhenti seraya bertolak pinggang.
"Satria, Mega..., keluar!
Kalian harus menerima kematian!" teriak Melati lantang.
Teriakan Melati yang disertai
pengerahan tenaga dalam, langsung menggema ke sekitar tempat itu. Akibatnya sudah bisa diduga. Belasan murid
Perguruan Elang Sakti bermunculan, dan bersikap waspada.
"Iblis dari mana yang
tersesat ke sini?!" tanya salah seorang murid kepala, bernada kasar.
Kemudian dengan amarah meluap-luap, dihampirinya Melati. Untuk sesaat hatinya
terperangah melihat kecantikan si pengacau yang luar biasa itu. Tapi, sekejap
kemudian perasaannya sudah bisa dikuasai.
Tetapi sebelum Melati menjawab, terdengar
sebuah suara dari arah belakang para murid itu.
"Mundur, Kusna!"
Si murid kepala yang ternyata
bernama Kusna, segera mengenali suara gurunya. Maka buru-buru dia melangkah
mundur. Seiring mundurnya Kusna, dari belakang kerumunan murid itu menyeruak
dua orang pria berusia tiga puluhan.
"Kaliankah yang bernama
Satria dan Mega itu?" tanya Melati sinis.
"Tidak salah! Aku Satria,
dan ini temanku, Mega," jawab Satria yang kini bersama Mega menjadi Ketua
Perguruan Elang Sakti (Untuk mengetahui kisah ten-tang Satria dan Mega
sebelumnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Pedang
Bintang").
"Ada urusan apakah, sehingga
Nini datang mencari kami? Bahkan dengan cara yang sangat tidak sopan!"
Wajah Melati berubah beringas
melihat orang yang dicarinya telah di depan mata.
"Hutang nyawa!" sahut
gadis itu keras, bernada penuh kebencian.
Berkerut kening Satria mendengar
jawaban yang tidak disangka-sangka itu.
"Hutang nyawa? Aku tidak
mengerti maksudmu, Nini. Apakah kau tidak salah alamat?"
"Tidak!" bentak Melati
lagi. "Bersiaplah kalian berdua untuk menerima kematian!"
"Tunggu dulu, Nini!"
cegah Satria cepat. "Kalau boleh tahu, siapakah yang telah kami
bunuh?"
Semakin beringas wajah Melati.
Kini sepasang matanya mencorong tajam bersinar kehijauan.
"Ayahku," jawab Melati,
agak ditekan suaranya. "Ayahmu? Siapa nama ayahmu?" tanya Mega cepat.
"Ayahku berjuluk Raja Racun
Pencabut Nyawa! Jelas?! Atau masih mau mungkir?" Geraham Melati
bergemeletuk, karena menahan amarah (Bila ingin jelas tentang Raja Racun
Pencabut Nyawa, silakan baca serial Dewa Arak, dalam episode "Pedang
Bintang").
"Tidak mungkin!" potong
Satria cepat. "Raja Racun itu tidak mempunyai anak, lagipula..."
"Terimalah kematianmu, manusia pengecut!" potong gadis itu
cepat sambil menyerang Satria dengan mendorongkan tangannya ke depan.
Wuuuttt...!
Angin kuat berhembus menyambar ke
arah Satria. Ketua Perguruan Elang Sakti ini buru-buru melempar tubuh ke
samping dan bergulingan beberapa kali di tanah. Akibatnya serangan itu lewat
terus ke belakang dan kontan menghantam murid-murid Satria yang tidak sempat
mengelak lagi.
Suara jerit kesakitan terdengar
saling susul, ketika pukulan jarak jauh Melati menghantam mereka. Tidak kurang
dari lima orang terjengkang rubuh ke belakang dengan dada pecah!
Satria dan Mega terkejut bukan
main. Dalam segebrakan saja dapat diketahui
kalau gadis berpakaian serba putih ini memiliki tenaga dalam tinggi. Tanpa ragu - ragu lagi, keduanya segera mencabut senjatanya dan menyerang
secara berbareng.
"Hi hi hi...," Melati
tertawa mengikik. "Keroyoklah aku, manusia-manusia pengecut! Tapi, kali
ini jangan harap akan semujur dulu!" berbareng dengan selesainya Melati mengucapkan
ancamannya, serangan dua batang pedang itu telah menyambar kembali. Tetapi,
gadis itu hanya tersenyum sinis.
Kemudian, tangannya yang telanjang segera
memapak bacokan kedua pedang itu.
Satria dan Mega kaget sekali. Apa
yang diperbuat gadis berpakaian serba putih ini benar-benar
membuat mereka terkejut. Menangkis serangan pedang dengan tangan telanjang,
membutuhkan tenaga dalam yang amat tinggi. Dan selama ini hanya Bargolalah yang
berani menangkis seperti itu (Baca; Serial Dewa Arak dalam episode "Pedang
Bintang"). Mungkinkah gadis yang mengaku putri Raja Racun Pencabut Nyawa
itu mempunyai tenaga dalam setingkat Bargola? Tapi....
Trakkk! Trakkk!
Satria dan Mega menyeringai.
Tangan dua orang Ketua Perguruan Elang Sakti yang menggenggam pedang, terasa
lumpuh ketika tangan telanjang gadis itu menangkis pedang mereka. Hampir saja
pedang mereka terlepas dari genggaman. Kini, terbukti bahwa tenaga dalam yang
dimiliki gadis itu benar-benar setingkat dengan Bargola.
"Hi hi hi...," kembali
Melati tertawa mengikik.
Hati gadis itu kelihatan gembira
melihat kedua lawannya kaget. Sengaja dia tidak terburu-buru membinasakan, karena ingin melihat mereka ketakutan sebelum maut menjemput.
"Kini, terimalah kematian
kalian!"
Setelah berkata demikian, tubuh
Melati melesat cepat menerjang kedua pemimpin Perguruan Elang Sakti itu.
Jari-jari kedua tangannya berkelebat cepat, membentuk cakar naga. Angin tajam
berciutan mengiringi tibanya serangan itu.
Satria dan Mega kebingungan.
Gerakan lawan yang terlalu cepat membuat mereka tidak dapat menduga, ke arah mana
dan dengan cara bagaimana gadis itu
menyerang. Dengan cara untung-untungan mereka memutar pedang bagai
baling-baling untuk membuat pertahanan.
Tapi, mendadak putaran pedang itu
lenyap. Se-dangkan pedang-pedang itu sendiri sudah berpentalan jatuh ke lantai, sehingga
menimbulkan suara berkerontangan. Satria dan Mega tidak tahu bagaimana hal itu
terjadi. Yang jelas, tiba-tiba sekujur tangan mereka terasa lumpuh. Tetapi
diyakini, pasti tangan gadis berpakaian serba putih itu telah menotok
pergelangan tangan mereka. Dan belum lagi dapat berbuat sesuatu, tangan
Melati telah menyambar pelipis
dan ubun-ubun mereka, yang merupakan dua bagian tubuh yang mematikan.
Crokkk! Plakkk!
Terdengar suara berderak dua kali
berturut-turut Dan seiring lenyapnya suara itu, tubuh Satria dan Mega rubuh ke
tanah, tanpa bersuara lagi. Mati.
Tentu saja kematian kedua
pemimpin Perguruan Elang Sakti itu membuat para muridnya menjadi terkejut
bercampur marah. Dengan serentak mereka yang kini berjumlah tiga belas orang,
mencabut senjata masing-masing.
Srattt! Srattt! Srattt!
Melati hanya tersenyum sinis.
"Aku tidak mempunyai urusan
dengan kalian. Kuperingatkan, jangan ikut campur dalam masalah ini, kalau tidak
ingin bernasib seperti guru kalian," ancam gadis itu.
"Perempuan keparat! lblis
berwajah manusia! Kau kira kami takut mati? Serbuuu...!" teriak salah seorang
dari mereka.
Tiga belas orang murid itu pun
serentak menerjang Melati. Belasan senjata tajam yang terdiri dari pedang dan golok berkelebat menyambar sekujur tubuh
gadis itu. Tapi Melati melayani hanya dengan senyum sinis.
Dan seketika kedua tangannya yang
lembut dan halus itu memapak semua serangan lawannya, sekaligus memberikan
serangan-serangan balasan.
Akibatnya sudah bisa diduga. Ke
mana tangan atau kaki Melati bergerak, berarti di situ ada korban. Dan dalam
waktu yang singkat, tidak ada seorang pun murid Perguruan Elang Sakti yang
masih berdiri. Semua telah terkapar tanpa nyawa.
Melati memandangi hamparan
mayat-mayat di sekelilingnya beberapa saat. Pandang matanya berhenti agak lama
pada tubuh Satria dan Mega. Kepalanya pun kemudian menengadah.
"Ayah...," desis gadis
itu pelan tapi tajam. "Lihat-lah! Telah kubalaskan dendammu. Telah kubunuh
dua dari empat orang yang telah secara pengecut mengeroyokmu! Kini tinggal dua
orang lagi, Ayah. Dan setelah itu tenanglah kau di alam sana!"
Belum habis gema suaranya, Melati
sudah melesat dari situ. Tujuannya jelas, mencari pembunuh Raja Racun Pencabut
Nyawa. Masih tinggal dua orang lagi yang dicarinya. Ningrum, dan Ular Hitam.
Tanpa sepengetahuan Melati, ada
sepasang mata yang mengintai semua perbuatannya. Dan begitu dilihatnya gadis
itu telah pergi, baru si pemilik sepasang mata itu berani keluar. Ditatapnya
belasan sosok tubuh yang terkapar bergelimpangan disertai perasaan ngeri.
"Sungguh ganas dan kejam
sekali, Dewi Penyebar Maut itu...," desahnya bergidik. Memang, dia juga
sudah melihat peristiwa di kedai beberapa hari yang lalu, sewaktu Melati
menewaskan Sepasang Setan Hitam. Oleh karena itu, begitu melihat, langsung dikenalinya.
"Tolooong...! Tolooong...!
Ada pembunuhan!" te-riaknya sambil berlari ke luar.
Dalam waktu sebentar saja,
halaman depan Perguruan Elang Sakti dipenuhi penduduk yang berkumpul karena
mendengar teriakan itu! Dan julukan Dewi
Penyebar Maut pun, kembali digumamkan orang dengan perasaan ngeri.
2
Suara irama napas teratur, tetap,
dan berulang-ulang terdengar memecah keheningan pagi dalam sebuah hutan di luar
Desa Kemukus. Suara itu ternyata berasal dari hidung dan mulut seorang gadis
yang tengah bersemadi.
Gadis itu berwajah cantik manis,
dan berpakaian serba hijau. Di pipi kirinya bertengger sebuah tahi lalat, yang
membuat wajahnya yang memang cantik itu kian bertambah menarik. Gadis itu
adalah Ningrum, putri Raja Pisau Terbang. Sudah beberapa hari ini, gadis itu
berada di hutan. Dia memang dalam perjalanan mengikuti jejak Arya Buana, si
Dewa Arak yang telah membuat hatinya terguncang pada pandangan pertama.
Selama beberapa hari di dalam
hutan ini, Ningrum berlatih keras. Gadis ini merasa kecewa menyadari betapa kepandaiannya masih terlalu rendah. Sehingga sewaktu menghadapi Raja Racun
Pencabut Nyawa, ia terdesak. Padahal, waktu itu ia dibantu dua orang murid
kepala Perguruan Tangan Sakti! Hal ini membuatnya penasaran
sekali. Maka, dalam perjalanannya menyusuri jejak pemuda
berambut putih keperakan, ia selalu menyempatkan diri untuk berlatih. Tapi bila
situasinya tidak memungkinkan, dia hanya bersemadi dan latihan pemapasan saja.
Dan bila situasinya memungkinkan, ia pun melatih pula jurus-jurus pisau terbang
dan tangan kosong.
Pelahan-lahan sang mentari mulai
meninggi.
Sinarnya yang hangat pun mulai
menerpa sekujur tubuh dan wajah Ningrum. Tapi, sedikit pun gadis itu tidak terganggu, dan tetap tenggelam dalam
semadinya. Napasnya keluar masuk dengan irama tetap.
Putri Raja Pisau Terbang ini baru
menghentikan semadi, ketika pendengarannya yang tajam
menangkap suara-suara langkah kaki menuju ke arahnya.
Baru saja Ningrum membuka mata,
di depannya, telah berdiri beberapa sosok tubuh berwajah kasar sambil menatap
liar. Bergegas gadis yang bertahi lalat di pipi kiri ini bangkit dari bersilanya.
Melihat dari gelagatnya, Ningrum tahu bahwa saat ini tengah berhadapan dengan
orang-orang yang tidak berniat baik.
"Ha ha ha...! Sungguh tidak
disangka di dalam hutan ini aku dapat bertemu seorang bidadari! Ha ha ha...!
Mimpi apa aku semalam?!" seru orang paling depan yang bertubuh tinggi
besar, berwajah kasar. Di lehernya tergantung seuntai kalung bermatakan
tengkorak kepala bayi. Tampaknya dia gembira sekali. Ucapan si tinggi besar ini
segera disambut gelak tawa tujuh sosok tubuh yang berada di belakangnya.
"Bagaimana? Cocokkah bila kujadikan permaisuriku?" tanya si tinggi
besar yang rupanya pemimpin gerombolan
itu sambil menoleh ke belakang.
"Ha ha ha...! Kakang memang
pintar memilih. Wanita ini memang pantas menjadi permaisuri Kakang. Dan kelihatannya
dia menguasai sedikit ilmu silat. Dunia persilatan akan memuji Kakang, karena
pandai memilih istri," sahut salah seorang dari mereka.
Ningrum tak kuat lagi menahan
kemarahannya mendengar pembicaraan mereka.
"Manusia-manusia bermulut
kotor! Pergilah kalian sebelum hilang kesabaranku!"
"Ha ha ha...!" kembali
laki laki tinggi besar yang berjuluk Raksasa Kulit Baja itu tertawa bergelak.
"Kalian lihat! Bukan hanya wajahnya saja, sikapnya pun memenuhi persyaratan untuk menjadi
permaisuriku. Ha ha ha...!"
Untuk yang kesekian kalinya tujuh
orang yang berada di belakang Raksasa Kulit Baja itu tertawa bergelak. Kali ini
amarah Ningrum pun meledak.
"Tutup mulutmu yang bau itu,
raksasa busuk!" bentak gadis itu keras.
Kontan berubah merah wajah si
tinggi besar mendengar makian pedas itu. Tawanya pun seketika terhenti.
"Rupanya kau tidak senang
diperlakukan baik-baik, Cah Ayu! Kau lebih suka diperlakukan secara kasar dulu,
baru mau tunduk, heh?! Akan kuturuti bila itu yang diinginkan!"
Setelah berkata demikian, Raksasa
Kulit Baja menggerakkan ujung telunjuk, pada salah seorang yang berdiri di
belakangnya.
Sambil tertawa-tawa, si muka
kuning, yang diberi isyarat Raksasa Kulit Baja ini melangkah maju. Sepasang
matanya liar menatap Ningrum. Sekejap kemudian, dia telah bergerak menyerang
gadis itu. Tangannya menangkap lengan kanan gadis yang bertahi lalat di pipi
kirinya ini. Dikiranya, gadis ini pasti tak akan dapat mengelakkan sergapannya.
Tetapi, si muka kuning tertipu.
Dengan sebuah gerakan sederhana,
Ningrum telah membuat tangkapan itu hanya mengenai tempat kosong.
Sebaliknya adalah ujung kaki
putri Raja Pisau Terbang ini telah mendarat di perut si muka kuning.
Bukkk..! "Hugh!"
Si muka kuning mengeluh tertahan.
Sodokan ujung kaki Ningrum memang keras sekali. Tak pelak lagi, tubuh si muka
kuning terbungkuk-bungkuk seraya memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa mulas
bukan main. Dan selagi si muka kuning sibuk merasakan sakit pada perutnya, kaki
Ningrum kembali bergerak menendang bahunya. Tentu saja gadis itu tidak
mengerahkan seluruh tenaganya. Sebab kalau hal itu dilakukan, si muka kuning
ini pasti tewas.
Desss!
Tubuh si muka kuning terpental ke
belakang dan keras sekali mencium tanah. Laki-laki itu terguling-guling sesaat,
untuk kemudian tidak bergerak lagi. Pingsan.
Tentu saja hal ini membuat
Raksasa Kulit Baja dan anak buahnya yang lain terperanjat kaget. Dengan mata
terbelalak, mereka menatap Ningrum. Sungguh sulit dipercaya dengan apa yang
terjadi di depan mereka ini. Benarkah gadis yang mereka sangka seekor domba
ternyata adalah singa betina?
Raksasa Kulit Baja tentu saja
merasa penasaran sekali. Dengan gerak kepalanya, diperintahkan sisa anak
buahnya untuk menyerang berbareng. Maka keenam orang anak buahnya melangkah
maju mengepung Ningrum. Sadar kalau gadis itu bukanlah lawan empuk, mereka pun
tidak mau bersikap main-main lagi.
"Mengapa tanggung-tanggung,
raksasa busuk? Majulah! Biar urusan ini cepat selesai!' ejek Ningrum sambil
tersenyum sinis.
Mendengar ejekan itu, Raksasa Kulit Baja meraung murka.
"Kau terlalu sombong,
perempuan keparat! Kalau nanti sudah tertangkap, kau akan kutelanjangi dan
kuperkosa sampai aku puas. Tidak sampai di situ saja, tubuhmu akan kuberikan
pada mereka, agar dapat dinikmati sampai kau mati kelelahan!"
Ningrum bergidik mendengarnya,
dan wajahnya langsung memerah. Ucapan Raksasa Kulit Baja itu benar-benar
membuat kemarahannya berkobar.
Orang seperti dia memang tidak patut untuk dibiarkan hidup. Tetapi putri Raja
Pisau Terbang itu tidak bisa
berlama - lama termenung. Serangan-serangan
anak buah Raksasa Kulit Baja itu telah menyambar cepat ke arahnya
Ningrum tersenyum mengejek. Dari
gerakan dan serangan mereka, sudah dapat dinilai kekuatan lawannya. Jangankan hanya tujuh orang, biar
ditambah dua kali lipat lagi pun masih sanggup menghadapinya. Maka, sikapnya pun tenang
menghadapi hujan serangan itu.
Ningrum yang tidak sudi
bersentuhan tangan dengan mereka, tidak menangkis serangan-serangan itu. Dengan
ilmu meringankan tubuh yang jauh di atas lawan-lawannya, dihindari setiap serangan
yang datang. Serta-merta, dibalas serangan-serangan yang datang dengan sepasang
kakinya yang berkelebatan ke sana kemari. Terdengar suara berdebuk berulang
ulang, disusul berpentalannya tubuh para pengeroyoknya. Hanya beberapa gebrakan
saja, semua lawan telah bergeletakan di tanah dalam keadaan pingsan. Beberapa
di antaranya mengalami patah kaki, maupun patah tangan. Bahkan ada pula yang
benjol-benjol kepalanya.
"Kini giliranmu, raksasa
busuk!" tantang Ningrum sambil berkacak-pinggang.
Raksasa Kulit Baja menggeram.
Wanita ini sungguh keterlaluan! Berkali-kali menghinanya. Maka dengan wajah merah, dilangkahkan kakinya menghampiri Ningrum.
"Hiyaaa...!" manusia bertubuh raksasa itu membuka serangan dengan sebuah cengkeraman ke arah bahu Ningrum.
Bagaimanapun juga Raksasa Kulit Baja ini merasa sayang untuk memukul mati gadis
yang telah membangkitkan gairahnya ini.
Wut...!
Sambaran angin keras mengawali tibanya
cengkeraman itu. Dari angin serangan ini, Ningrum dapat mengetahui kalau
lawannya ini memiliki tenaga dalam tinggi.
Tetapi, walaupun serangan itu mengandung
tenaga dalam tinggi, tapi gerakannya kelihatan terlalu lambat. Mudah saja bagi
putri Raja Pisau Terbang ini untuk mengelakkannya. Bahkan menyusuli dengan
totokan ujung kakinya pada punggung Raksasa Kulit Baja.
Tukkk...! "Aih...!"
Ningrum menjerit kaget, ketika
ujung kakinya membentur kulit daging yang keras,
sehingga tendangannya membalik. Dirasakan, jari-jari kakinya terasa nyeri bukan
main. Dan ini membuatnya kaget tak terkirakan, juga penasaran. Maka dikirimkan
serangan bertubi-tubi pada bagian tubuh Raksasa Kulit Baja yang lainnya. Namun
tetap saja hasilnya sama saja. Ningrum menjadi bingung. Laki-laki tinggi besar
itu ternyata memiliki ilmu kebal! Bahkan pisau
terbang gadis itu pun tidak mampu
melukai kulit lawannya ini.
"Ha ha ha...! Silakan kau
pilih kulitku yang paling empuk, Manis," ejek Raksasa Kulit Baja
menantang.
Ningrum sadar, bahwa tidak ada
gunanya lagi melawan Raksasa Kulit Baja yang ternyata memiliki ilmu kebal ini.
Maka gadis ini memutuskan untuk melarikan diri saja. Dan memang, adalah suatu
perbuatan bodoh untuk melawan terus. Karena sudah dapat dipastikan,
lama-kelamaan gadis itu akan kehabisan tenaga. Dan apabila hal itu terjadi,
bahaya yang mengerikan akan diterima dari si tinggi besar ini. Setelah berpikir
demikian, Ningrum segera melesat kabur. Tentu saja Raksasa Kulit Baja menjadi
terkejut bukan main. Sungguh di luar dugaan kalau lawannya ini melarikan diri.
Buru-buru manusia bertubuh bagai raksasa itu berlari mengejar. Tapi karena ilmu
meringankan tubuhnya masih berada jauh di bawah putri Raja Pisau Terbang itu,
jarak antara mereka semakin bertambah jauh saja. Sampai akhirnya tubuh
gadis itu lenyap di kejauhan.
Raksasa Kulit Baja memaki-maki
dan menyumpah serapah. Dipandangi arah tubuh Ningrum menghilang, kemudian bergerak
mengikutinya. Tak dipedulikan lagi anak buahnya yang tergeletak di dalam hutan
dalam keadaan pingsan.
"Akan kucari ke mana pun kau
pergi, perempuan keparat!" teriaknya keras. "Sekalian akan kucari
pembunuh saudara angkatku, si Harimau Mata Satu. Ya, akan kucari si Dewa Arak
alias Arya Buana...." (Harimau Mata Satu terbunuh oleh Arya Buana dalam
serial Dewa Arak, episode "Pedang Bintang").
***
Ningrum mengerahkan segenap
kemampuannya. Hatinya benar-benar ngeri membayangkan kalau sampai bisa
ditangkap Raksasa Kulit Baja itu. Ancaman si tinggi besar itu tidak main-main
dan benar-benar membuat bulu tengkuknya meremang.
Legalah hati Ningrum ketika tidak
melihat lagi bayangan tubuh Raksasa Kulit Baja yang
mengejarnya.
"Hhh...!" desah Ningrum
pelan.
Gadis itu menghentikan larinya, dan untuk beberapa saat hanya berdiri
termenung. Otaknya berpikir keras, apakah terus melanjutkan perjalanan atau
kembali ke tempat ayahnya. Jika kembali ke tempat ayahnya, dia bisa kembali
berlatih. Disadari kalau dengan tingkat kepandaian sekarang ini, akan banyak
mengalami kekecewaan-kekecewaan dalam petualangannya.
Setelah lama mempertimbangkan, Ningrum memutuskan untuk kembali pulang ke
tempat kediaman ayahnya. Tekadnya, harus berlatih keras, dan tidak
malas-malasan seperti dulu. Setelah keputusannya bulat, gadis berpakaian serba
hijau ini pun melesat dengan tujuan pasti. Tempat kediaman ayahnya.
Beberapa hari kemudian, sampailah
gadis ini di mulut sebuah hutan yang menjadi tempat menyepi ayahnya. Dan baru
saja hendak melangkah masuk, sebuah seruan keras membuatnya terpaksa mengurungkan langkah.
"Nisanak yang di depan!
Tunggu sebentar!" Ningrum menoleh ke belakang. Tampak di kejauhan, sesosok
bayangan putih melesat cepat menuju ke arahnya. Dalam waktu sekejap saja sosok
bayangan itu telah berada di depannya.
Ningrum memperhatikan sosok tubuh di
hadapannya ini dengan pandangan mata kagum. Betapa tidak? Sosok tubuh di
hadapannya ini ternyata adalah seorang wanita cantik jelita. Walaupun Ningrum
menyadari kalau dirinya terhitung cantik, tapi secara jujur diakui kalau wanita
di hadapannya ini memiliki kecantikan yang mengunggulinya.
"Ada apa, Kak?" tanya
Ningrum ramah.
"Ah, tidak. Aku hanya ingin
bertanya. Apakah betul di sini tempat tinggal Raja Pisau Terbang?" tanya
wanita yang tidak lain adalah Melati.
Ningrum mengerutkan alisnya yang
indah. Dari mana wanita di hadapannya ini mengetahui kalau ayahnya tinggal di
sini?
"Kalau boleh tahu, Kakak ini
sebenarnya siapa?" "Panggil saja aku Melati," jawab gadis
berpakaian
serba putih ini pelan. Dari raut
wajah dan nada suaranya, nampak kalau gadis itu tidak suka mendapat pertanyaan
itu.
"Hm... Begini, Kak. Ada
urusan apa sehingga Kakak menanyakan tempat tinggal Raja PisauTerbang?" tanya Ningrum lagi, bernada
tidak enak. Tentu saja dia pun mengetahui kalau wanita di hadapannya ini tidak
senang mendapat pertanyaan seperti itu. Perasaan simpatinya pun pupus seketika.
"Apa urusannya hal itu
denganmu?!" sambut Melati ketus.
"Apa urusannya?!" pekik
Ningrum keras. Meluap sudah kemarahan yang sejak tadi ditahan-tahannya.
"Perlu kau ketahui, wanita
liar! Aku adalah putri dari orang yang kau cari itu!"
Terbelalak sepasang mata Melati
yang berjuluk Dewi Penyebar Maut itu.
"Apa?! Kau putri Raja Pisau
Terbang? Kau..., kau
yang bernama Ningrum itu? Ah...!
Mengapa aku begitu bodoh?! Gadis cantik bertahi lalat di pipi kiri, dan
berpakaian serba hijau! Tololnya aku...! Sungguh aku tidak tahu kalau musuhku
berada di depan mata!"
Kini ganti sepasang mata Ningrum
yang terbelalak. "Apa
katamu?! Siapa dan
apa maksudmu
sebenarnya?" tanya Ningrum
tak mengerti.
"Ingatkah kau pada Raja
Racun Pencabut Nyawa yang telah kau bunuh secara curang?!" tanya Melati
dengan kasar sambil mencorongkan matanya.
Tak terasa Ningrum mengangguk.
"Nah! Perlu kau ketahui,
Ningrum. Raja Racun Pencabut Nyawa itu adalah ayahku. Sengaja aku datang ke
sini untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah, Ningrum. Agar kau tidak mati secara
percuma!"
"Ayahnya iblis, anaknya pun
pasti kuntilanak! Jadi, sudah kewajibanku untuk melenyapkan bibit penyakit yang
ada di dunia!" balas Ningrum tak kalah gertak.
"Terimalah kematianmu,
Ningrum!"
Dibarengi ucapannya, Melati
menerjang putri Raja Pisau Terbang dengan jari-jari tangan berbentuk cakar naga
ke arah ulu hati.
Suara bercicitan terdengar
mengawali serangan Melati. Dari bunyi angin itu, Ningrum sudah dapat mengetahui
betapa tingginya tenaga dalam yang mengarah dadanya itu.
Buru-buru gadis bertahi lalat ini
melangkahkan kaki kanannya ke kiri belakang, sehingga serangan itu lewat di
depan dadanya. Dengan cepat Ningrum mengirimkan serangan balasan ke arah
pelipis Dewi Penyebar Maut itu.
Gadis berpakaian serba putih itu
memiringkan kepalanya, sambil tangan kirinya menangkis
serangan itu. Plakkk...!
"Aih...!"
Ningrum menjerit. Dirasakan
jari-jari tangannya yang beradu dengan jari-jari tangan lawan sakit bukan main.
Bahkan sekujur tangannya terasa lumpuh. Suatu bukti kalau tenaga dalam Dewi
Penyebar Maut jauh lebih kuat darinya.
Tetapi bukan Ningrum namanya
kalau baru beradu tangan sekali, sudah kapok. Malah sebaliknya, rasa penasaran
segera timbul. Mana mungkin gadis itu lebih lihai darinya. Gurunya saja belum
jelas. Mungkinkah guru gadis itu lebih lihai dari ayahnya? Karena belum
dibuktikan, jadi tidak ada alasan baginya untuk tidak melawan gadis itu. Dan
kini Ningrum menyerang dahsyat. Dikeluarkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Tetapi, lagi-lagi untuk yang
kesekian kalinya, Ningrum harus menerima kenyataan pahit. Setiap serangannya
selalu mudah dapat dielakkan Dewi Penyebar Maut. Sebaliknya, setiap serangan
balasan yang dilakukan gadis itu, memaksanya pontang-panting untuk
menyelamatkan diri.
Setelah beberapa jurus bertarung, sadarlah
Ningrum kalau gadis yang bernama Melati itu memiliki kemampuan beberapa tingkat
di atasnya. Baik dalam tenaga, maupun kecepatan gerak. Dan dalam waktu sebentar
saja Ningrum sudah terdesak hebat, sehingga hanya mampu bertahan tanpa berani
balas menyerang.
Ningrum sadar. Kalau keadaan ini terus berlangsung, sudah pasti akhirnya
ia akan rubuh di tangan putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini. Maka taktik harus
dirubah, kalau ingin selamat.
"Cabut senjatamu, gadis
jahat! Kalau kau tidak mau mati sia-sia di tanganku!" dengus Ningrum.
Belum habis ucapannya, tubuh Ningrum
sudah melenting ke belakang. Dan ketika hinggap di tanah dengan manis, pada kedua tangannya telah
tergenggam sebuah pisau putih berkilat.
"Menghadapi
pengecut-pengecut seperti kau dan dua orang temanmu yang telah kukirim ke
akherat, tidak perlu mengeluarkan senjata!" dengus Dewi Penyebar Maut tak
kalah garangnya.
Putri Raja Pisau Terbang ini
kaget mendengar ucapan gadis berpakaian serba putih itu. Sudah bisa ditebak,
siapa yang dimaksud dua orang temannya itu. Pasti Satria dan Mega! Jadi, iblis
wanita ini telah membunuhnya!
Menilik kepandaiannya, memang merupakan suatu hal yang mudah bagi
gadis itu untuk membunuh kedua murid kepala Perguruan Tangan Sakti.
"Kuntilanak sombong! Kau
harus mati di tanganku untuk menebus nyawa kedua orang temanku yang telah kau
bunuh itu! Haaat...!"
Sambil berteriak nyaring, Ningrum
melompat menerjang Melati. Dua buah pisau putih berkilat di tangannya,
mengeluarkan suara berdesing ketika berkelebat cepat mencari sasaran-sasaran di
tubuh gadis berpakaian serba putih itu.
Melati tahu betapa berbahayanya
sepasang pisau terbang itu. Juga, betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam
setiap sabetan, atau tusukan pisau itu. Maka gadis itu tidak berani bertindak
ceroboh. Apalagi untuk memapak kedua pisau itu dengan tangan telanjang. Sekarang
ini Ningrum tidak bisa disamakan dengan Satria dan Mega!
Beberapa saat lamanya, Dewi
Penyebar Maut hanya menghindar terus. Gadis ini tidak ingin bertindak gegabah.
Diperhatikan baik-baik setiap serangan Ningrum. Memang, dengan tingkat ilmu
meringankan tubuh yang berada cukup jauh di atas Ningrum tidak sukar baginya
untuk mengelakkan setiap serangan.
Ningrum menggertakkan giginya
dengan perasaan geram. Hatinya dongkol bukan kepalang, melihat lawannya itu hanya mengelak tanpa balas menyerang. Jelas dia merasa
diremehkan. Hal ini membuat amarahnya kian meluap. Dan sebagai akibatnya,
serangan kedua pisau terbangnya pun semakin bertubi-tubi.
Melati yang merasa sudah cukup
mengetahui perkembangan gerak dan ciri khas pada setiap serangan lawan, kini
mulai balas menyerang.
Pelahan namun pasti, putri Raja
Pisau Terbang itu mulai terdesak. Serangan-serangan pisau terbangnya mulai
mengendor. Sampai akhirnya sepasang pisau berwarna putih berkilat itu hanya
dipakai untuk mempertahankan diri dari setiap serangan Melati.
Tak terasa Ningrum mengeluh dalam
hati. Diakui kalau kepandaian Melati memang berada jauh di atasnya. Dan
rasa-rasanya, kepandaian gadis ini tak kalah dengan kepandaian Raja Racun
Pencabut Nyawa!
"Akh...!"
Ningrum memekik ketika sebuah
totokan ujung kaki Dewi Penyebar Maut menyerang pergelangan tangan kirinya.
Kontan sekujur tangannya terasa lumpuh. Dan tanpa dapat ditahan lagi, pisau
terbangnya pun terlepas dari pegangan.
Belum lagi gadis itu berbuat
sesuatu, serangan
susulan dari Melati telah menyusul
tiba. Tangan kanan menyampok pelipis, sedangkan tangan kiri dari arah bawah,
mengancam dagu.
Ningrum kaget bukan main.
Serangan itu datang begitu cepat. Sudah bisa diperkirakan kalau akhirnya ia
akan tewas di tangan putri Raja Racun Pencabut Nyawa ini.
Mendadak saja, ada sesuatu yang
menarik tubuhnya ke belakang. Dan untunglah, kedua serangan maut itu hanya
mengenai tempat kosong. Buru-buru Ningrum menoleh ke belakang, melihat sosok
yang telah menolongnya.
Tampak di belakangnya telah
berdiri sosok tubuh tua dari seorang kakek berusia enam puluh tahun. Sepasang
matanya tampak tajam berkilat. Raut mukanya menampakkan kesabaran. Ningrum
kenal betul siapa pemilik wajah ini.
"Ayah...," desah gadis
itu dengan suara lemah. Kakek penolong yang ternyata adalah Raja Pisau
Terbang itu hanya tersenyum
getir. Ditarik tubuh putrinya ke belakang, kemudian dilangkahkan
kakinya beberapa tindak.
"Ada urusan apa dengan
anakku, sehingga sedemikian tega hendak menurunkan tangan maut padanya,
Nisanak?" tanya Raja Pisau Terbang, bernada sabar. Tidak tampak ada nada
kemarahan, baik pada suara maupun wajahnya.
"Dia adalah putri Raja
Racun, Ayah!" selak Ningrum cepat.
"Ahhh...! Benarkah
demikian?" tanya Raja Pisau Terbang memastikan.
"Benar!" jawab Melati
ketus.
Melati mengangkat dagunya,
seperti menantang. Memang, begitu geram hatinya melihat pada saat
terakhir Ningrum berhasil lolos
dari maut. Dan gadis ini tahu betul orang yang telah menyelamatkan gadis itu.
Raja Pisau Terbang! Ini diketahui
karena Ningrum memanggil orang itu dengan sebutan ayah.
"Dan aku datang untuk
membalaskan kematian ayahku pada anakmu itu!" tegas Melati.
Raja Pisau Terbang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Walaupun berkali-kali Melati bersikap kasar padanya, tetap saja ia tidak
menampakkan kemarahan.
"Putri Raja Racun Pencabut
Nyawa? Aneh! Tidak salahkah pendengaranku, Nisanak. Sepanjang pengetahuanku, almarhum Raja Racun tidak mempunyai anak seorang pun. Yang justru
kudengar adalah keponakannya, yang bernama Arya Buana alias si Dewa Arak!"
bantah Raja Pisau Terbang, seperti tidak mengerti.
"Aku tidak butuh keterangan
darimu, Orang Tua! Yang kuinginkan adalah melenyapkan anakmu untuk membalas
kematian ayahku! Menyingkirlah dari situ! Aku tidak mau membunuh orang yang
tidak punya urusan apa-apa denganku!" tandas Melati tegas.
"Bagus! Aku hargai
pendirianmu. Berarti, kau bukanlah seorang gadis jahat. Marilah kita berbincang-bincang. Aku yakin
ada kesalahpahaman dalam hal ini..."
"Jaga seranganku, Orang
Tua!" teriak Melati tiba-tiba sambil menyerang bagian dada kakek itu
dengan jari-jari tangan berbentuk cakar naga. Jari-jari tangan yang membentuk
cakar itu nampak berwarna merah.
Raja Pisau Terbang hanya
tersenyum. Ia tahu kalau serangan cakar itu tidak akan mencapai sasaran. Jarak
antara dirinya dengan gadis itu sekitar
satu setengah tombak. Jadi,
mustahil dapat dijangkau tangan manusia.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
kakek ini ketika melihat cengkeraman itu terus menjulur menyambar dadanya.
Gadis ini ternyata memiliki ilmu yang dapat memanjangkan tangan! Dan Raja Pisau
Terbang ini tahu, siapa pemilik ilmu itu. Ki Gering Langit!
"Jurus 'Naga Merah Mengulur
Kuku'...!" teriak kakek itu dengan hati kaget bukan kepalang. Jelaslah
kalau ilmu yang digunakan gadis itu adalah ilmu 'Cakar Naga Merah'!
Buru-buru kakek ini menangkis
serangan maut itu dengan pengerahan seluruh tenaga dalam.
Prattt...!
Tubuh Raja Pisau Terbang
terhuyung dua langkah ke belakang. Sementara tubuh Melati hanya terhuyung satu langkah.
Tangannya yang tadinya mulur, langsung memendek lagi seperti sediakala.
Seketika pucat wajah Raja Pisau
Terbang! Dari adu tenaga itu tadi sudah dapat diketahui kalau tenaga dalam yang
dimiliki gadis berpakaian serba putih itu, masih lebih tinggi darinya. Suatu
hal yang nampaknya amat mustahil!
"Tahan...!" teriak Raja
Pisau Terbang untuk mencegah gadis itu menyerangnya lebih lanjut. "Ada
hubungan apa kau dengan Ki Gering Langit?"
Seketika Melati pun menghentikan
gerakannya. Sikap kakek itu membuat gadis itu jadi menghormatinya, sehingga tanpa
sadar dihentikan gerakannya.
"Aku tidak
mengenalnya!" tandas gadis itu, setelah mengerutkan alisnya sesaat.
"Tidak mungkin! Bukankah
jurus itu adalah 'Naga
Merah Mengulur Kuku'? Salah satu
jurus dari ilmu 'Cakar Naga Merah'?" desak kakek berwajah sabar ini
penasaran.
Melati menganggukkan kepalanya.
"Memang betul apa yang kau
katakan itu, Orang Tua. Tapi, aku sama sekali tidak kenal terhadap orang yang
kau sebutkan tadi!"
"Aneh! Lalu dari mana kau
mendapatkan ilmu itu? Apakah kau menemukan kitab-kitab
peninggalannya?"
"Kau ini aneh, Orang Tua.
Tentu saja ilmu itu kupelajari dari guruku. Beliaulah yang telah
mengajarkan aku...."
"Siapa nama gurumu?"
selak Raja Pisau Terbang cepat.
Gadis berpakaian serba putih itu
menggelengkan kepalanya.
"Ia melarangku untuk
menyebutkan namanya. Jadi, terpaksa tidak dapat kuberitahukan padamu."
Alis Raja Pisau Terbang nampak
berkerut. Ia bingung memikirkan masalah ini. Tapi yang sudah jelas, gadis itu
sama sekali tidak mengenal Ki Gering Langit!
"Jaga seranganku,
Nisanak!" tiba-tiba Raja Pisau Terbang menyambitkan beberapa buah pisau terbangnya ke arah Melati.
Karuan saja serangan tiba-tiba
itu membuat Melati terkejut bukan main. Apalagi yang melepaskan adalah seorang
ahli pisau, sehingga berjuluk Raja
Pisau Terbang. Sudah dapat diperkirakan kedahsyatan serangan pisau-pisau itu.
Dewi Penyebar Maut melempar
tubuhnya ke belakang, kemudian bergulingan beberapa kali di tanah. Maka semua
serangan itu hanya mengenai
tempat kosong. Dan cepat-cepat
gadis itu bangkit berdiri, tapi menjadi terlongong. Kakek itu dan Ningrum telah
lenyap dari tempatnya semula.
Melati menggertakkan giginya
menahan rasa geram. Secara untung-untungan dia mengejar masuk ke dalam hutan
itu. Cukup lama juga gadis itu berada di dalam hutan. Dan sewaktu kembali ke
luar, wajah gadis itu merah padam.
"Kali ini kau boleh mujur,
Ningrum! Tapi, kelak apabila kita berjumpa lagi, jangan harap akan semujur
ini!" Dewi Penyebar Maut itu berteriak sambil mengerahkan tenaga dalamnya,
sehingga suaranya bergema ke seluruh pelosok hutan.
Puas dengan ancamannya, Melati melesat
meninggalkan tempat itu. Dari mulutnya yang mungil itu terdengar suara desahan.
"Dewa Arak, kau pun harus bertanggung jawab atas kematian ayahku. Meskipun
bukan kau yang membunuhnya, tapi jika tidak kau biarkan, Ayah tidak mungkin mati.
Ya, kau harus mendapat hukuman pula. Apalagi kau tidak berniat membalas dendam atas kematiannya. Padahal, ia pamanmu
sendiri..."
3
Seorang pemuda yang berwajah
tampan, berahang kokoh, berambut putih keperak-perakan, dan berpakaian berwarna ungu tengah melangkah
memasuki pintu gerbang Desa Canting.
Pemuda itu berusia sekitar dua
puluh tahun. Di punggungnya tergantung sebuah guci arak yang terbuat dari
perak. Dengan langkah yang tidak tergesa-gesa, pemuda itu mengayun kakinya memasuki desa yang kelihatan
sepi. Sepasang matanya bergerak liar memperhatikan setiap bangunan yang ditemukan.
Langkah pemuda yang tak lain
adalah Dewa Arak atau Arya Buana ini baru terhenti ketika sepasang matanya
tertumbuk pada sebuah papan tebal, dan lebar. Di situ tertulis huruf-huruf yang
berbunyi 'Perguruan Mawar Merah'. Papan tebal itu bergantung pada pintu gerbang
sebuah bangunan yang dikelilingi tembok cukup tinggi.
Arya mengerutkan alisnya yang tebal. Ada perasaan curiga yang timbul di hati
ketika melihat keadaan papan nama perguruan yang begitu kumuh, dan tak terurus.
Bahkan huruf-huruf yang membentuk nama Perguruan Mawar Merah itu pun sudah
banyak yang terkelupas.
"Kalau tidak salah, inilah
yang dimaksud Paman Lindu itu," gumam Arya pelan.
Sebelum tewas, Raja Racun
Pencabut Nyawa memang sempat memberitahu Ular Hitam tentang
keberadaan ibu kandung Arya Buana
(Untuk jelasnya, silakan baca serial Dewa Arak dalam episode "Pedang
Bintang"). Dan berdasarkan pesan itulah, pemuda berpakaian ungu ini
memasuki Desa Canting dan mencari Perguruan Mawar Merah.
Beberapa saat lamanya Dewa Arak
termenung di depan pintu gerbang perguruan itu. Sedikit pun tidak ada suara
yang terdengar dari dalam. Sepi sekali. Dari celah pintu gerbang yang tidak
tertutup rapat itu, pemuda berambut putih keperakan ini mengintai ke dalam.
Tetap sepi. Perasaan curiga dan penasaran memaksa Arya melangkahkan kakinya
memasuki pintu gerbang itu.
Tapi, baru beberapa langkah
kakinya melewati ambang pintu, terdengar sebuah teguran halus.
"Apa yang kau cari, Anak
Muda?"
Arya menoleh ke arah asal suara
itu. Tampak seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun, berjalan
menghampirinya. Tubuhnya kecil dan kurus, sehingga membuatnya terlihat lebih
tua.
"Betulkah ini Perguruan
Mawah Merah, Nyi?" tanya Arya Buana sopan.
"Betul," wanita itu
menganggukkan kepalanya. "Kau siapa, Anak Muda?"
"Aku Arya Buana, Nyi. Orang-orang biasa memanggil Arya. Lalu, kalau boleh
tahu, siapa namamu, Nyi?"
"Aku? Panggil saja Nyi
Parti," jawab nenek itu memperkenalkan diri. "Ada urusan apa kau ke
sini, Nak Arya?"
Pemuda berambut putih keperakan
ini termenung sejenak.
"Betulkah ini Perguruan
Mawar Merah, Nyi?" tanya Arya ingin memastikan.
"Betul," Nyi Parti
menganggukkan kepalanya, tapi hatinya heran. Memang pertanyaan itu sudah
dijawabnya tadi.
Arya memperhatikan sekelilingnya
sekilas. Keragu-raguan nampak terbayang pada wajahnya.
"Mengapa begitu sepi,
Nyi?"
Wanita yang bernama Nyi Parti itu
menghela napas.
"Sudah bertahun-tahun
perguruan ini bubar, Anak Muda. Yahhh..., sejak pemimpin kami diculik
orang."
"Diculik?!" Sepasang mata Arya terbelalak.
Perasaan tidak enak seketika menjalari hatinya. Pemimpin Perguruan Mawar Merah
diculik! Bukankah menurut penururan Raja Racun Pencabut Nyawa sebelum
meninggal, Ketua Perguruan Mawar Merah adalah ibunya? Jadi ibunya.... Tidak
berani pemuda berpakaian ungu ini melanjutkan dugaannya.
"Ya, diculik. Oleh seorang
datuk sesat...." "Bukankah Ketua Perguruan Mawar Merah adalah
Nyi Sani?" tanya Arya
memastikan.
"Memang. Padahal Nyi Sani memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi
tidak berdaya juga menghadapi lawannya..."
Lemaslah tubuh Arya. Benar.
Ibunya telah diculik orang yang disebut datuk kaum sesat oleh Nyi Parti. Datuk
kaum sesat? Arya terlonjak bagai disengat kalajengking. Datuk kaum sesat hanya
ada dua. Ular Hitam dan Bargola. Tidak mungkin kalau Ular Hitam yang
melakukannya. Jadi, tinggal satu tertuduh lagi. Bargola!
"Tadi, Nyi Parti katakan
I..., eh! Nyi Sani diculik datuk kaum sesat. Bagaimana ciri-cirinya, Nyi?"
tanya Arya.
Beberapa saat lamanya, kening Nyi
Parti berkerut.
Tampaknya tengah berpikir keras.
"Penculik itu bertubuh
tinggi besar. Dan berkulit hitam legam. Di telinga kirinya terdapat sebuah
anting, anting yang berukuran sebesar gelang dan berwarna putih."
"Bargola...," desis
Arya Buana pelan. Tiba-tiba Nyi Parti terlonjak.
"Ya. Nama itu pula yang
diucapkan Den Lindu. Beberapa waktu yang lalu, Den Lindu bersama temannya yang
selalu berselubung putih itu juga mencari-cari ke mana Bargola membawa Nyi
Sani."
"Ketemu?" Arya tiba-tiba merasa bodoh mengajukan pertanyaan itu.
"Tidak!"
"Sudah lamakah kejadian itu,
Nyi?" tanya Arya lagi. Kembali Nyi Parti mengerutkan keningnya.
Rupanya begitulah yang dilakukan
kalau sedang mengingat-ingat.
"Kalau tidak salah..., sudah
empat belas tahun!" "Empat belas tahun!" pemuda berambut putih
keperakan ini terpekik kaget.
Apakah dalam waktu yang selama itu ibunya masih hidup? Perasaan ragu-ragu yang
hebat melanda hari Arya Buana. Tetapi hidup atau mati, harus ditemuinya. Paling
tidak, jika ibunya sudah meninggal, harus ditemukan
kuburannya!
Setelah mengambil keputusan
begitu, Arya segera melesat meninggalkan tempat itu, setelah terlebih dulu
berpamit pada Nyi Parti.
Nyi Parti memandangi kepergian pemuda
berambut putih keperakan itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sampai bayangan
tubuh pemuda itu lenyap ditelan jalan, dia masih terpaku di situ.
***
Arya bergerak cepat meninggalkan
Perguruan Mawar Merah dengan perasaan resah. Ke mana harus mencari Bargola?
Mencari seseorang di dunia yang luas ini laksana mencari sebuah jarum di
tumpukan jerami! Apalagi, tokoh ini sudah terlalu lama tidak terdengar
beritanya. Jelas kalau datuk itu telah mengasingkan diri.
Hanya ada satu patokan yang bisa
dijadikan pegangan Dewa Arak ini. Bargola adalah datuk yang merajai daerah
Timur. Jadi, kemungkinan besar tetap berada di wilayah kekqasaannya. Tapi
wilayah Timur sangat luas. Apalagi, jangan-jangan dia telah menyepi. Perasaan putus asa mulai
merayapi hari Arya Buana. Ke mana ia harus mencari datuk itu?
Plakkk!
Arya menepak kepalanya sendiri.
Betapa bodohnya ia! Mengapa bingung-bingung? Bukankah di antara dua datuk, hanya Bargola yang mempunyai
perguruan? Mengapa harus
pusing-pusing? Ya, datangi
saja perguruan itu!
Wajah pemuda berambut putih keperakan
ini pun kembali cerah. Dengan langkah penuh semangat, kembali dilanjutkan
pencariannya.
Beberapa hari kemudian, pemuda
ini sudah sampai pada sebuah desa yang termasuk dalam wilayah Timur. Rasa lelah
yang menyerang kedua kaki, membuatnya memutuskan untuk beristirahat. Pandangan
mata Arya liar mengawasi sekelilingnya. Dan senyumnya pun melebar ketika
menemukan apa yang dicari.
Dengan langkah lebar,
dihampirinya sebuah pohon
yang cukup besar. Dan...
"Hup!"
Sekali mengenjotkan kaki, tubuh
Dewa Arak ini melayang ke atas dan hinggap ringan pada sebuah cabang besar.
Diambilnya guci yang bertengger di punggung, kemudian digantungkan pada sebuah
ranting. Baru setelah itu dibaringkan tubuhnya.
Tanpa sengaja pandangan mata Arya
menerawang jauh ke arah rumah-rumah penduduk yang berada di depannya. Dan
seketika matanya yang sudah merem-melek itu membelalak lebar.
Dari ketinggian di atas cabang
pohon itu, pemuda ini melihat asap tebal dan hitam yang membumbung tinggi.
Sekali lihat saja Arya tahu kalau asap itu berasal dari rumah yang terbakar.
Dan tidak hanya satu buah! Jelas, ada kejanggalan di sini!
Naluri Dewa Arak sebagai seorang
pendekar langsung bangkit. Lenyap seketika rasa lelahnya. Segera disambarnya
guci arak yang baru saja digantungkan di ranting pohon, lalu diikatkan lagi ke
punggungnya. Bergegas pemuda itu melompat turun.
Ringan sekali kedua kaki Dewa
Arak hinggap di tanah, sehingga tak terdengar suara sedikit pun. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuhnya melesat ke arah asap itu berasal.
Berkat ilmu meringankan tubuh
yang memang sudah mencapai taraf kesempurnaan, Arya tidak membutuhkan waktu
yang terlalu lama untuk tiba di tempat asal api itu.
Seperti yang diduga Arya, api itu
memang tidak wajar. Di depan rumah yang terbakar itu, tampak tengah terjadi pertempuran
yang tidak seimbang.
Arya memperhatikan orang-orang
yang bertempur itu sejenak. Tampak seorang yang bertubuh bagai
raksasa, berwajah kasar, dan
memakai kalung ber-matakan tengkorak kepala bayi, tengah dikeroyok belasan
orang bersenjata. Melihat senjata yang mereka gunakan, Dewa Arak itu dapat
menduga kalau para pengeroyok itu adalah penduduk desa yang rata-rata tidak
memiliki ilmu olah kanuragan.
Si tinggi besar yang tidak lain
dari Raksasa Kulit Baja ini tertawa-tawa. Dibiarkan saja hujan senjata
menghantam tubuhnya. Dan setiap senjata yang mengenai tubuh raksasa ini, selalu
terpental balik.
Sebaliknya, setiap Raksasa Kulit Baja ini melakukan serangan balasan, sudah dapat
dipastikan ada satu tubuh yang tumbang. Beberapa di antaranya, dengan tulang
tangan atau kaki patah. Malah ada pula yang menyemburkan darah dari mulut.
Sekali lihat saja Arya tahu, jika
hal ini terus dibiarkan, tidak akan ada lagi penduduk yang berdiri tegak. Jiwa
kependekaran pemuda berarnbut putih keperak-perakan ini bangkit. Apalagi si
tinggi besar ini juga bertangan telengas. Setiap kali melakukan serangan,
selalu menimbulkan akibat yang parah bagi para pengeroyoknya.
"Manusia keji! Akulah
lawanmu!" Sambil berkata demikian, Arya bergerak memasuki kancah pertempuran. Langsung saja
dikirimkan sebuah serangan berupa tepakan ke arah hahu Raksasa Kulit Baja ini.
Dewa Arak yang memang tidak pernah menurunkan tangan maut kalau tidak terpaksa
sekali, sengaja mengarahkan serangan ke arah bagian tubuh yang tidak berbahaya.
Pemuda ini memang tahu kalau lawannya memiliki ilmu kebal, sehingga tidak
sungkan-sungkan lagi mengerahkan separuh dari tenaga dalamnya.
Plakkk!
Arya Buana terperanjat kaget.
Tepakan tangannya seolah-olah bukan menghantam tubuh manusia, melainkan seperti
menghantam gumpalan karet keras yang membuat tenaganya berbalik!
"Hebat...," puji Dewa
Arak dalam hati.
Sementara itu, Raksasa Kulit Baja
juga dilanda kekagetan serupa. Walaupun tepakan tangan Arya tidak membuatnya
kesakitan atau terluka dalam, tapi karena kuatnya tenaga dalam lawan, tubuhnya
tak urung terhuyung-huyung dua langkah ke belakang.
"Menyingkirlah, Kisanak
semua!" perintah Arya pada para penduduk yang masih berdiri di situ.
"Tapi.... Orang ini sangat
berbahaya, Kisanak," bantah salah seorang penduduk, memberitahu pemuda berambut putih keperak-perakan di depannya.
"Saya akan mencoba
menjauhkan dia dari desa ini, Paman," jawab Arya merendah, sambil
tersenyum tipis.
"Tapi...."
"Sudahlah, Paman. Lebih
baik, padamkanlah api yang membakar rumah itu sebelum seluruh desa ini musnah
dilalap api!"
Ucapan itu menyadarkan para
penduduk desa akan ancaman bahaya lain. Kontan mereka serentak meninggalkan
arena pertarungan.
"Groahhh..!" tiba-tiba
saja Raksasa Kulit Baja itu menggeram hebat. Sejak tadi ia memang menatap Arya
seperti orang terkesima. Keningnya berkerut, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Jahanam! Kaukah yang
berjuluk Dewa Arak itu?!" tanya manusia tinggi besar itu dengan suara
keras. Sepasang matanya memerah karena amarah yang
meluap-luap.
Belum lagi Arya memberikan
tanggapan, Raksasa Kulit Baja itu telah menyelak lagi. "Ya. Kau pasti Dewa
Arak itu. Pakaianmu, rambutmu, dan juga guci arak di punggungmu! Grrrhhh...!
Kau harus mati di tanganku, keparat!"
"Tunggu...!" cegah Arya
begitu melihat manusia raksasa itu akan menyerangnya. "Siapa kau? Dan
mengapa ingin membunuhku?! Padahal kita bertemu pun baru kali ini?"
"Groahhh...!" dengus Raksasa Kulit Baja
menggeram.
"Baiklah! Agar tidak mati penasaran, akan kuberitahu padamu, keparat! Aku,
Raksasa Kulit Baja. Saudara angkat Harimau Mata Satu yang telah kau bunuh! Dan
aku membakar rumah itu, karena orang-orang keparat itu tidak mau memberitahu di
mana dirimu. Sungguh tidak kusangka kalau kau datang sendiri mencari mati.
Orang lain boleh takut padamu. Tapi, jangan harap kau akan mampu
menghadapiku!"
Arya manggut-manggut. Disadari kalau tidak
mungkin lagi menghindari pertempuran. Raksasa Kulit Baja tidak mungkin akan
menghabiskan persoalan sebelum salah satu di antara mereka tewas. Tentu saja
pemuda berambut putih keperak-perakan ini tidak ingin mati. Masih banyak tugas
yang belum diselesaikan.
"Mampuslah kau,
keparat!" teriak Raksasa Kulit Baja disertai suara mengguntur seraya
menyerang dengan sebuah pukulan ke arah dada Dewa Arak.
Angin keras bertiup mengawali
serangan itu. Dari sini saja Dewa Arak dapat menilai kekuatan yang terkandung
dalam serangan itu. Hanya saja gerakan itu terlalu lambat.
Dewa Arak mencondongkan tubuhnya
ke kanan sehingga serangan itu lewat di depan dadanya. Dan cepat bagai kilat kaki
kanannya terayun deras ke arah perut lawan.
Tukkk...!
Tendangan cepat yang dilakukan
Dewa Arak tidak mampu dielakkan Raksasa Kulit Baja yang memiliki gerakan
terlampau lambat. Dengan telak tendangan itu mengenai perutnya.
Tapi lagi-lagi tendangan Dewa Arak tidak menghasilkan apa-apa. Tubuh manusia
raksasa itu hanya terhuyung dua langkah ke belakang. Kini ia kembali menerjang
dengan serangan-serangan buas dan brutal.
Sadarlah Arya kalau lawannya ini
benar-benar memiliki kekebalan tubuh. Pemuda itu kini tidak ragu-ragu lagi
untuk menyarangkan serangan pada sasaran-sasaran yang berbahaya dan bertenaga
dalam penuh. Hanya saja, Dewa Arak ini masih belum ingin menggunakan ilmu andalannya. Untuk
menghadapi Raksasa Kulit Baja ini, hanya digunakan ilmu warisan ayahnya saja.
Beberapa jurus telah berlalu. Dan
entah sudah berapa kali serangan Dewa Arak mendarat di berbagai bagian tubuh
Raksasa Kulit Baja. Namun tak nampak tanda tanda sedikit pun kalau serangan
Arya itu dirasakannya.
Diam-diam pemuda berpakaian ungu
ini terkejut bukan kepalang melihat kekuatan tubuh lawannya ini. Sepanjang
pengetahuannya, kekebalan hanya dapat dimiliki oleh orang yang telah memiliki
tenaga dalam tinggi, misalnya Dewa Arak sendiri. Itu pun hanya terbatas pada
bagian-bagian yang tidak berbahaya saja. Tapi kekebalan yang dimiliki Raksasa
Kulit Baja
ini sungguh aneh. Padahal si
manusia raksasa ini tidak memiliki tenaga dalam, tapi hanya memiliki tenaga
luar yang besar.
Dewa Arak segera sadar kalau
Raksasa Kulit Baja ini mendapatkan ilmu kekebalan tubuh lewat cara yang tidak
wajar. Ular Hitam pernah menceritakan kepadanya tentang berbagai macam ilmu
yang terdapat di dunia persilatan.
Sebagai seorang yang telah lama malang-melintang dalam rimba persilatan,
tentu saja Ular Hitam memiliki pengetahuan luas. Pengalamannya yang sudah
ratusan kali bertempur menghadapi lawan. Ular Hitam mengatakan kalau kekebalan
bisa didapat dengan dua cara. Dengan meningkatkan tenaga dalam, dan dengan
mempelajari ilmu hitam. Dari sini Arya menduga bahwa orang macam Raksasa Kulit
Baja pasti mendapatkannya dari ilmu hitam.
Tak terasa dua puluh jurus telah
berlalu. Dan pertarungan antara kedua orang itu telah bergeser jauh dari tempat
semula. Itu memang disengaja Dewa Arak, karena ingin menghindari dari
kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.
Plakkk!
Kibasan kaki Dewa Arak yang
dilakukan sambil berputar itu telak menghantam pelipis Raksasa Kulit Baja.
Kibasan yang disertai pengerahan tenaga sepenuhnya itu membuat tubuh lawannya
terlempar, melayang sejauh beberapa tombak. Kemudian tubuh besar itu jatuh, dan
terguling guling di tanah.
Tapi lagi-lagi, Raksasa Kulit
Baja kembali bangkit tanpa kurang suatu apa pun.
"Gila...!" teriak Arya
putus asa. Pemuda berambut putih keperak-perakan ini jadi hilang kesabarannya.
Dengan perasaan geram bercampur bingung, diambil
guci araknya.
Gluk... gluk... gluk....
Terdengar suara berceglukan
ketika arak itu memasuki tenggorokan. Arya mengusap mulutnya dengan punggung
tangan, lalu disimpan lagi guci araknya di punggung.
Tak berapa lama kemudian,
tubuhnya pun mulai sempoyongan. Pemuda berbaju ungu ini terpaksa menggunakan
jurus 'Belalang Mabuk'-nya.
"Haaat...!" Raksasa
Kulit Baja melolos senjatanya. Tampak sebuah rantai baja berujung mata arit
tajam berkilat, yang sejak tadi melilit pinggang, kini berputar-putar mencari
mangsa.
Wukkk... wukkk... wukkk...!
Seketika disabetkan rantai baja
itu ke arah kepala Dewa Arak.
Singgg. .!
Suara mendesing nyaring terdengar
ketika rantai baja itu menyambar ke arah kepala Arya.
Tubuh pemuda berambut putih keperak-perakan
yang semula sempoyongan itu, mendadak berubah kokoh. Dan secepat posisi tubuh
itu berubah, secepat itu pula tubuh Dewa Arak melayang ke arah Raksasa Kulit
Baja. Kedua tangannya bergerak persis seperti seekor belalang yang tengah
mempermainkan kaki-kakinya.
Prattt...! Pralll. .!
Rantai baja yang menyambar kepala
itu tertangkis tangan Arya, dan kontan putus berantakan!
Belum lagi, Raksasa Kulit Baja
berbuat sesuatu, tubuh Arya telah berada di mukanya. Dan...
Prattt! Prattt! Desss. !
Bertubi-tubi dan hampir
bersamaan, tiga buah
serangan Dewa Arak mendarat telak
pada sasaran. Kedua tangannya menghantam pelipis dan ubun-ubun.
Disusul kedua kakinya menggedor dada. Kelihatannya itu adalah serangan maut!
Jangankan ketiga-tiganya. Satu
saja serangan itu diterima seorang seperti datuk sesat sekalipun, cukup membuat
orang itu pergi ke alam kubur! Kini ketiga tiganya diterima sekaligus oleh
Raksasa Kulit Baja!
Tanpa ampun lagi, tubuh Raksasa
Kulit Baja terlempar jauh, tidak kurang dari delapan tombak! Luncuran tubuhnya
baru berhenti ketika menabrak sebuah pohon besar hingga tumbang, menimbulkan
suara gemuruh. Bahkan pohon itu juga menimpa tubuh Raksasa Kulit Baja yang
tergolek di bawahnya.
Arya menghentikan gerakannya.
Dengan posisi kaki tidak tetap, dia masih bergerak sempoyongan. Kedua tangannya
terus bergerak-gerak liar di depan dada.
Beberapa saat lamanya pemuda
berambut putih keperakan ini menunggu. Sepertinya tidak ada tanda-tanda kalau
lawannya yang luar biasa itu akan bangkit kembali.
Lalu Arya pun membalikkan
tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu, walaupun langkahnya sempoyongan. Tapi
tiba-tiba saja terdengar suara ribut-ribut dari arah belakangnya. Segera Arya
menoleh. Terbelalaklah sepasang matanya yang sudah sayu itu ketika melihat
pemandangan di belakangnya.
Tampak batang pohon itu bergerak-gerak,
kemudian tiba-tiba terangkat dan terlempar ke arahnya. Suara yang ditimbulkan
begitu bergemuruh.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Dewa Arak segera mendorongkan kedua telapak tangannya ke depan, mengirimkan
pukulan jarak jauh.
Wuttt...! Brakkk...!
Batang pohon itu hancur berkeping-keping
sebelum mengenai Arya. Bahkan daun-daunnya langsung mengering layu.
Arya Buana menatap sosok tubuh
yang kini bangkit dari tindihan pohon tadi. Siapa lagi kalau bukan sosok
Raksasa Kulit Baja. Seketika sepasang mata Dewa Arak membelalak. Ternyata
manusia raksasa itu tidak terluka sama sekali!
"Ilmu iblis!" desah
Arya, antara takjub dan ngeri. "Ha ha ha...! Keluarkan semua ilmumu, dewa
keparat!" Raksasa Kulit Baja tertawa pongah. "Sekarang kau baru tahu kehebatan
ilmu 'Tameng Waja'ku! Kalau saja ilmu ini sudah kumiliki sejak dulu, mungkin
akulah yang akan menjadi raja kaum sesat! Ha ha ha...!"
Dewa Arak menarik napas dalam-dalam.
Dikumpulkannya segenap tenaganya. Kemudian...
"Hiyaaa...!" Arya Buana
berteriak keras, kemudian mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Wuttt...!
Angin panas berhembus keras
menyambar tubuh Raksasa Kulit Baja yang tengah melangkah
menghampirinya.
Bresss...!
Pukulan jarak jauh yang
dilepaskan pemuda berambut putih keperakan itu telak menghantam dada saudara
angkat Harimau Mata Satu.
Akibatnya hebat sekali! Tubuh
Raksasa Kulit Baja melayang jauh bagai dihempas angin ribut, dan jatuh belasan
tombak dari tempat semula.
"Iblis!" pekik Arya
ketika melihat lawannya itu bangkit kembali.
Sungguh tidak ada tanda-tanda
sedikit pun kalau tokoh itu terpengaruh pukulan yang merupakan usaha terakhir Dewa Arak. Hanya satu yang membuktikan kalau pukulan Arya tepat
menghantam sasaran. Pakaian Raksasa Kulit Baja itu hangus, dan pelahan-lahan
hancur berkeping-keping ketika angin meniupnya. Dan kini, si tinggi besar ini
jadi telanjang bulat!
"Keparat!" Raksasa
Kulit Baja berteriak memaki. "Kali ini kau mujur, Dewa Arak! Tapi, jangan
harap
lain kali akan seberuntung
ini!"
Setelah berkata demikian, Raksasa
Kulit Baja melesat kabur dari situ. Dia merasa malu melanjutkan pertarungan tanpa penutup
tubuh.
Arya menghela napas lega. Pemuda
berambut putih keperakan ini merasa lelah bukan main. Sungguh bingung
memikirkan bagaimana caranya menghadapi Raksasa Kulit Baja itu. Dengan langkah
lunglai, diayunkan kakinya melanjutkan perjalanan mencari jejak Bargola.
4
Siang ini udara begitu panas.
Matahari menyengat kulit sejuruh makhluk yang ada di permukaan maya-pada ini.
Demikian pula dengan Arya Buana. Pemuda itu tengah mempercepat langkahnya
ketika beberapa tombak di depannya membentang sebuah sungai. Ingin rasanya
segera mandi atau setidak-tidaknya membasuh muka untuk menyegarkan diri.
Sekujur tubuhnya dirasakan penat dan lengket akibat pertarung-annya melawan
Raksasa Kulit Baja. Apalagi udara demikian panasnya.
Pertarungannya yang alot tadi benar - benar membuat tenaga Dewa
Arak terkuras. Tetapi diam-diam pemuda itu mengakui kehebatan ilmu Tameng Waja' milik Raksasa Kulit Baja. Bahkan pertarungannya melawan Siluman
Tengkorak Putih seperti tidak berarti apa-apa bila dibandingkan dengan manusia
yang tubuhnya bagai raksasa itu.
"Hhh...!" Arya menghela
napas berat.
Dia memang baru menyadari kalau
kepandaian yang tinggi tidak menjamin kemenangan dalam suatu pertarungan.
Ternyata pengalaman dan pengetahuan luas juga tidak kalah pentingnya. Dan ini
telah dialaminya sendiri.
Pemuda berbaju ungu ini yakin,
masih banyak lagi hal baru yang akan dijumpai dalam petualangannya.
Ia memang belum berpengalaman,
sehingga banyak hal yang tidak diketahuinya. Berbeda dengan Ular Hitam.
Pembimbing Dewa Arak itu banyak
pengalaman dalam dunia
persilatan. Mungkin kalau Ular Hitam yang menghadapi, Raksasa Kulit Baja belum
tentu akan mampu menandingi.
Arya terus menyusuri sepanjang
sungai itu. Melihat betapa jernihnya air itu, maka dia berniat mandi untuk
menyegarkan tubuh. Tentu saja untuk itu, harus dicari tempat yang tersembunyi
sehingga tidak dapat dilihat orang.
Hampir saja pemuda itu bersorak
ketika melihat ada tempat tersembunyi, yang terletak di kelokan sungai.
Rerimbunan semak dan pepohonan, rapat menutupinya.
Bergegas Dewa Arak menghampiri
tempat itu. Ketika rerimbunan semak-semak dan pepohonan disibak, mendadak wajah
Arya memerah. Ternyata di dalam sungai itu ada seorang wanita yang tengah
mandi! Memang, hanya rambutnya saja yang terlihat, tapi cukup membuat pemuda
ini memerah wajahnya. Tubuh wanita itu terlindung sebuah baru besar yang datar,
dan tengah menundukkan kepalanya.
Rupanya bunyi semak-semak dan
pepohonan yang tersibak tangan Arya cukup keras. Terbukti wanita itu
mendongakkan kepalanya, memandang ke arah suara itu berasal. Sesaat lamanya
sepasang mata wanita itu terbelalak. Keterkejutan yang amat sangat nampak pada
wajahnya.
"Manusia kurang ajar!"
teriak wanita itu keras seraya lebih menyembunyikan tubuhnya ke dalam air.
Kontan wajah Arya kian memerah.
"Celaka! Bisa-bisa aku
dituduh sebagai lelaki hidung belang yang hendak mengintip wanita mandi!"
ujar Dewa Arak dalam hati.
Pemuda berambut putih keperakan
itu langsung membatalkan niatnya untuk mandi, dan buru-buru berlalu dari situ
dengan wajah memerah. Jantung dalam dadanya berdetak keras. Ada perasaan aneh
menyelinap ketika sekilas melihat wajah yang memandang kepadanya dengan
terbelalak itu.
Wajah itu demikian cantik. Belum
pernah Arya melihat wajah secantik itu. Ada sesuatu yang terselip dalam dadanya
ketika melihat wajah itu. Sesuatu yang belum pernah dirasakan ketika melihat
wanita-wanita cantik lainnya.
Pemuda berbaju ungu ini
meninggalkan tempat itu dengan perasaan berat. Seketika ada sesuatu yang hilang
dan dalam rongga dadanya. Hal ini membuat Arya merasa bingung sendiri. Apa yang
terjadi pada dirinya? Baru kali ini Arya mengalami hal seperti itu. Dan ini
tidak pernah terjadi sebelumnya.
Tanpa sadar Arya menghentikan larinya.
Ditolehkan kepalanya ke arah tempat yang baru saja ditinggalkan. Ada dorongan
kuat yang seolah-olah membetot kedua kakinya untuk kembali ke sana.
Selagi Dewa Arak ini dilanda
perasaan bimbang, tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat mendekatinya.
Cepat sekali gerakan bayangan itu, sehingga dalam sekejap saja telah berdiri di
depannya.
Arya menatap sosok bayangan putih di hadapannya, yang ternyata
seorang wanita berwajah sangat cantik. Beberapa saat lamanya pemuda berambut
putih keperak-perakan ini terkesima, tapi mendadak tersentak kaget. Memang!
Wajah wanita di depannya adalah wanita yang tadi tengah mandi!
"Mau lari ke mana kau,
manusia kurang ajar?!" tanya gadis yang berpakaian serba putih itu sinis.
Mulutnya menyunggingkan senyum mengejek.
"Manusia semacam kau tidak pantas dibiarkan hidup!"
Kontan wajah Arya memerah.
"Ini..., eh anu ... Kau
salah paham, Nini. Nggg... sungguh! Aku... aku tidak bermaksud begitu....
Sungguh!" dengan gugup pemuda ini mencoba menerangkan yang sebenarnya.
"Pengecut!" desis sosok
serba putih itu.
Walaupun wanita itu mendamprat,
namun tak urung memperhatikan Arya sekilas. Diam-diam dipuji kegagahan pemuda
berambut putih keperakan yang ada di depannya ini. Dan memang ada perasaan aneh
yang mencuat dari dalam dadanya ketika menatap wajah pemuda ini. Dan
perasaannya ini pula yang telah mencegahnya untuk menurunkan tangan maut pada
pemuda di hadapannya.
Gadis yang berpakaian serba putih
ini ternyata Melati. Kalau saja tidak terpengaruh perasaan aneh yang menjalari
hatinya, pasti ia akan tahu kalau pemuda berambut putih keperakan ini adalah
orang yang dicari-carinya untuk diberikan hukuman! Arya Buana, si Dewa Arak
yang juga keponakan ayahnya!
Merah padam wajah Arya dimaki
seperti itu. Kalau saja bukan gadis ini yang mengatakan demikian, mungkin sudah
turun tangan menghajarnya. Pantang baginya dimaki seperti itu.
Sementara itu, si gadis setelah
memaki Arya segera melesat kabur dari situ. Tercekat hati Dewa Arak melihat
kecepatan gerak gadis itu. Dan ini dipujinya dalam hati. Mata pemuda itu terus
menatap punggung gadis yang habis memakinya hingga lenyap di kejauhan.
"Huh...!" Arya mendesah
pelan, mencoba mengusir perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Rasanya seperti
ada sesuatu yang hilang dari dada, seiring dengan perginya gadis berpakaian
putih itu.
***
Arya memasuki sebuah kedai dengan
langkah lunglai. Memang, sejak pertemuannya dengan gadis yang ditemuinya di
sungai, Arya jadi sering merasa lesu. Bahkan jadi sering melamun. Kadang-kadang
tersenyum sendiri, bila teringat pada raut wajah gadis itu sewaktu dipergoki
tengah mandi di sungai. Tapi di lain saat, wajah pemuda berambut keperakan ini
menjadi murung, mengingat betapa gadis itu seperti jadi membencinya karena
persoalan itu.
"Hhh...!" desah Arya
pelan.
Pemuda itu menghenyakkan tubuhnya
di salah satu kursi dalam kedai. Sering dicobanya untuk mengusir bayangan gadis
itu dari pelupuk matanya, tapi tidak mampu. Selalu terbayang kembali di
benaknya, senyum sinis gadis itu. Juga, keterkejutannya sewaktu
dipergokinya tengah mandi. Apalagi sikapnya yang begitu dingin. Dan anehnya,
semua tingkah laku itu di matanya sangat menarik.
"Mau pesan apa, Tuan?"
sebuah suara, pelan dan sopan menyadarkan Arya dari lamunan. Dengan suara agak
gagap, disebutkan pesanannya. Dan pemilik kedai itu pun bergegas masuk ke dalam
untuk menyiapkan pesanan pemuda berbaju ungu itu.
"Ha ha ha...!"
tiba-tiba terdengar tawa terbahak-bahak dari meja yang terletak di sebelah kiri
Arya.
Dengan sudut mata, Arya melirik
ke arah asal suara itu. Dilihatnya tiga orang laki-laki kasar tengah
tertawa-tawa. Dengan lagak memuakkan, mereka memandang ke satu arah.
Sambil lalu Arya mengikuti arah
pandangan ketiga orang kasar itu. Kontan sepasang matanya terbelalak. Jantung
dalam dadanya berdebar kencang. Betapa tidak? Di sebuah meja di sudut sana
duduk tenang sesosok tubuh yang selama ini mengganggu
pikirannya.
Jadi, rupanya orang-orang kasar
itu tengah mengganggu gadis itu Perasaan tegang melanda hatinya. Dan ini
disadari Arya. Diam-diam pemuda itu merasa heran, karena tidak pernah merasa
tegang seperti ini walaupun keadaan yang dihadapi begitu gawat. Tapi sekarang?
Salah seorang dari tiga laki-laki
kasar itu tiba-tiba bangkit dari kursinya.
Sambil tertawa-tawa dihampirinya meja gadis berpakaian serba putih, yang
ternyata Melati.
Jantung dalam dada Arya kian
keras berdetak. Perasaan pemuda ini tegang bukan main. Seluruh urat syaraf di
tubuhnya menegang, untuk bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Sungguh
bertolak belakang keadaan pemuda ini dengan keadaan Melati. Gadis itu nampak tenang-tenang saja menikmati makanannya.
Perasaan tegang yang melanda Dewa
Arak memaksanya meraih guci arak yang sejak tadi sudah diletakkan di atas meja.
Gluk... gluk... gluk....
Suara tegukan terdengar ketika arak
itu memasuki tenggorokan. Sesaat kemudian hawa arak yang hangat menyerbu,
membuat perasaan tegangnya berkurang.
Suara tegukan yang timbul sewaktu
Arya meminum arak, rupanya terdengar tiga orang kasar itu. Terbukti ketiganya
menoleh ke arah asal suara itu. Dan ketika pandangan mereka tertumbuk pada
sesosok tubuh yang mengeluarkan suara tegukan itu, kontan wajah mereka memucat.
"De..., Dewa Arak?!"
desis mereka dengan suara bergetar. Tentu saja mereka telah mendengar berita
yang menggemparkan tentang tokoh aneh ini, yang dalam pemunculannya telah membuat dunia
persilatan gempar.
Sebenarnya mereka tadi juga telah
melihat Arya. Tapi karena tengah terpusat pada gadis berpakaian serba putih,
mereka tidak teringat akan tokoh itu. Baru setelah pemuda berambut putih
keperak-perakan itu mengeluarkan suara tegukan yang keluar dari mulutnya,
mereka semua tersadar.
Ketiga pasang mata milik
orang-orang kasar itu berputar liar, mencari jalan untuk kabur. Begitu ada
kesempatan, bergegas mereka bergerak saling
mendahului untuk melarikan diri. Sedangkan Arya sama sekali tidak mengejar, dan
dibiarkan saja ketiga orang kasar itu melarikan diri.
Tetapi baru saja Dewa Arak hendak
menikmati araknya kembali, terdengar bunyi kursi tarseret. Sebentar kemudian
disusul suara langkah kaki mendekati mejanya. Arya mengangkat kepalanya, dan
tampaklah gadis berpakaian serba putih itu telah berdiri di hadapannya.
Pandangan matanya begitu menusuk.
"Kau yang berjuluk Dewa
Arak?!" tanya Melati dengan suara merdu.
Dan sebenarnya diam-diam gadis
ini merasa heran terhadap kelakuannya kali ini. Tidak biasanya ia bersikap
seperti ini jika berhadapan dengan orang yang diduga sebagai musuh. Biasanya,
Melati selalu mengharapkan anggukan kepala dari orang yang ditanya. Namun kali
ini, gadis itu berharap agar pemuda itu menggelengkan kepalanya.
Betapa kecewanya hati gadis itu
ketika dilihatnya Arya menganggukkan kepalanya.
"Namamu Arya Buana?"
tanya Melati lagi.
Kembali Arya menganggukkan kepalanya. "Begitulah nama yang
diberikan orang tuaku, Nini..."
"Kalau begitu, bersiaplah
kau, Dewa Arak...!" teriak Melati dengan suara yang diusahakan keras.
Berat rasanya bersikap kasar terhadap pemuda di
hadapannya ini. Tapi, hal itu mau tidak mau harus dilakukannya. Tidak mungkin
sumpahnya sendiri dikhianati.
Srattt!
Dicabut pedangnya, dan
ditodongkan ke dada Arya.
"Keluarkan senjatamu, Dewa
Arak! Atau kau lebih suka mati sia-sia di tanganku!" teriak Melati yang
dijuluki Dewi Penyebar Maut itu. Namun demikian, suaranya terdengar agak
gemetar. Bukan karena perasaan marah, tapi karena harus berperang melawan
perasaannya sendiri. Tak heran kalau dia mencabut pedang, karena untuk lebih
menguatkan hatinya.
"Nini," ucap Arya
sambil menengadahkan kepala. Sesaat tak ada suara yang keluar dari mulut pemuda
itu. Dia hanya menatap wajah cantik yang berdiri di depannya. Pandangan matanya
sayu. Memang pemuda ini merasa terpukul melihat gadis yang dikagumi ini nampak
membencinya. Dan sekarang bahkan memusuhinya.
"Bukankah telah kukatakan padamu,
kalau peristiwa itu terjadi
tidak sengaja. Aku...."
"Aku tidak meributkan
masalah itu lagi!" potong Melati cepat. Wajahnya seketika menyemburat merah.
"Lalu masalah apa, Nini?
Rasanya baru dua kali kita bertemu. Dan sepengetahuanku, belum pernah aku
berbuat salah pada Nini. Kecuali peristiwa di sungai itu...," sahut pemuda
ini setelah termenung beberapa saat lamanya.
"Kau memang tidak salah
padaku, Dewa Arak. Tapi, pada ayahku kau mempunyai kesalahan besar."
Tercekat hati Arya Buana
mendengar ucapan gadis itu.
"Ayahmu? Siapa ayahmu?"
Melati menghela napas berat.
Digertakkan giginya untuk lebih menguatkan hati.
"Raja Racun Pencabut
Nyawa..."
Pelan dan lambat-lambat gadis itu
mengucapkan kata-katanya. Tapi, akibatnya tidak demikian bagi Arya.
"Apa?!" Arya terlonjak kaget. Bangku yang
didudukinya hancur berantakan karena getaran tenaga dalam yang menghambur dari
tubuhnya.
"Siapa nama ayahmu,
Nini...?" pemuda berambut putih
keperakan ini mengulangi pertanyaannya dengan suara gemetar.
"Raja Racun Pencabut
Nyawa!" ulang Melati. Kali ini suaranya lebih keras.
"Tidak mungkin!" teriak
Arya lantang. Benda-benda yang terletak di atas meja, bergetaran keras. Jelas,
ini akibat pengaruh teriakan pemuda itu yang
mengandung tenaga dalam dahsyat.
"Paman Lindu tidak punya
anak!"
Melati sama sekali tidak mengacuhkan
bantahan Arya. Sambil meletakkan tangan kirinya di pinggang, tangan kanannya
yang menggenggam pedang menuding wajah
pemuda berpakaian ungu ini.
"Paman?! Kau memanggil
ayahku paman?! Aneh sekali! Sang Paman mati dibunuh, tapi si Keponakan
membiarkan saja pembunuh-pembunuh pamannya berkeliaran! Aneh sekali! Keponakan
macam apa kau ini, Dewa Arak?!"
Merah muka Arya mendengar
sindiran tajam itu. Ditatapnya wajah gadis yang telah menjatuhkan hatinya ini
lekat-lekat.
"Banyak hal yang tidak kau
mengerti, Nini. Paman Lindu bukan orang baik-baik. Tindakannya banyak merugikan
orang. Tak sedikit orang yang tewas di tangannya. Dan adalah wajar kalau
akhirnya tewas di tangan orang-orang yang telah dirugikannya itu.
Setidak-tidaknya, orang yang membunuh Paman Lindu memiliki itikad baik, yakni
memusnahkan sumber kerusakan di muka bumi," kilah Arya.
"Aku tidak peduli orang
macam apa ayahku! Yang kutahu, beliau telah dibunuh secara pengecut. Dan telah
menjadi kewajibanku untuk membalaskan kematiannya. Pikirlah, Dewa Arak! Kapan
lagi aku membalas budinya, kalau tidak sekarang?"
Suara gadis itu kian pelan. Dan
Arya menangkap ada isak tertahan di dalamnya, sehingga membuat hatinya
tersentuh. Bisa dimaklumi perasaan yang terkandung dalam hati gadis itu, karena
dia sendiri pernah mengalami hal
yang serupa. Hal ini membuatnya
terdiam.
"Bersiaplah, Dewa
Arak," tegas Melati lagi. Kini suaranya sudah kembali terdengar seperti
biasa. Dingin.
"Eh! Apa maksudmu,
Nini?" tanya Arya kaget. "Tidak usah banyak cakap, Dewa Arak! Aku harus
membuat perhitungan padamu
atas kematian ayahku! Bersiaplah, agar tidak mati percuma!"
"Tahan dulu, Nini!"
teriak pemuda ini mencegah. Tetapi gadis itu tidak menghiraukannya. Pedang di
tangan kanannya berkelebat menebas leher Arya.
Suara berdesing nyaring mengawali tibanya serangan itu. Buru-buru Arya melempar tubuhnya ke
belakang seraya tangan kanannya menyambar guci arak yang terletak di atas meja.
Wut...! Tappp!
Pedang Melati hanya menyambar
tempat kosong, karena tubuh pemuda berambut putih keperakan itu telah agak jauh
dari situ.
Begitu kedua kakinya mendarat di
tanah, Arya segera melompat ke luar kedai. Tak lupa dilemparkan uang pembayaran
pesanannya ke meja tempat dia tadi duduk.
"Mau kabur ke mana kau,
pengecut! Jangan harap dapat lolos dari tanganku!" sambil berkata
demikian, Melati melompat mengejar.
Dewa Arak tentu saja tidak suka
dianggap pengecut Sesampainya di luar kedai, dihentikan langkahnya. Kemudian
dibalikkan tubuhnya, menanti Melati.
Baru juga Arya membalikkan
tubuhnya, Melati telah berdiri di hadapannya. Dalam hati, Arya memuji kecepatan gerak gadis ini. Sulit dibayangkan
kepandaian dan tenaga dalam gadis itu. Dan jika melihat ilmu meringankan tubuhnya, gadis berpakaian serba putih ini
merupakan seorang lawan yang amat berat dan berbahaya!
"Rupanya kau tidak pengecut,
Dewa Arak. Tidak seperti Raja Pisau Terbang dan putrinya! Sebelum berhasil
kubunuh, mereka telah melarikan diri dengan cara
licik. Mudah-mudahan kau tidak sepengecut itu," ujar Dewi Penyebar Maut
seraya tersenyum sinis.
Berubah wajah Arya. Benarkah apa
yang dikatakan gadis ini. Rasanya mustahil Raja Pisau Terbang dapat dikalahkan.
Tokoh itu adalah seorang datuk. Kalau benar gadis
itu telah mengalahkannya, sukar dibayangkan sampai di mana tingkat kepandaian
gadis berpakaian serba putih itu.
"Kau..., kau telah menemui
mereka? Dari mana kau mengetahuinya?" tanya pemuda berambut putih
keperakan ini dengan suara tersendat.
Memang, Arya Buana kaget juga
mendengar ucapan itu. Dia dapat memperkirakan kalau ikut campurnya Raja Pisau
Terbang, karena anaknya terancam maut. Tapi yang menjadi pertanyaan, dari mana
gadis itu mengetahui kalau Ningrum adalah salah seorang pembunuh ayahnya?
"Lho, apa susahnya
mengetahui siapa pengecut-pengecut yang membunuh ayahku? Saksi sangat
banyak!" jawab Dewi Penyebar Maut. "Sayang sekali, Ningrum bisa lolos
dari tanganku. Kalau tidak, hanya tinggal kau dan Ular Hitam. Dan setelah itu
tugasku pun selesai!"
"Jadi..., jadi..." Arya
tergagap, karena tercekat hatinya.
"Ya. Dua orang yang ikut
andil dalam membunuh ayahku telah kubereskan," selak Melati sambil
menganggukkan kepalanya.
"Maksudmu, Kakang Satria dan
Kakang Mega?" tanya Dewa Arak dengan wajah pucat pasi.
Gadis berpakaian serba putih itu
tidak menjawab, tapi hanya mengangguk kecil. Tapi anggukan itu sudah cukup bagi
Arya.
"Kau keterlaluan,
Nini!" bentak Arya Buana keras.
Tapi gadis itu hanya menyambutnya
dengan tawa sinis.
Srakkk!
Melati memasukkan pedang ke dalam
sarungnya. "Sekarang giliranmu, Dewa Arak!" Setelah berkata demikian,
gadis berpakaian serba putih ini menerjang Arya. Kaki kanannya melangkah ke depan
membentuk kuda-kuda ke arah kanan. Tangan kiri mengancam pelipis, sedangkan
tangan kanan terpalang di depan perut. Melati yang sebenarnya tidak sampai hati
mencelakai pemuda yang telah menjatuhkan hatinya ini, tidak mengerahkan seluruh
tenaga sewaktu menyerang. Hanya dikerahkan tiga perempat dari tenaganya.
Angin berciut keras menyambar
Arya sebelum serangan itu tiba. Pemuda berambut putih keperakan ini pun segera
tahu kalau serangan lawan itu mengandung tenaga dalam cukup kuat.
Dewa Arak cepat menarik kaki
kanannya mundur sambil mencondongkan tubuhnya ke belakang. Berbarengan dengan
itu, tangan kanannya diulurkan memapak serangan yang mengarah ke pelipis. Arya
yang tidak ingin mencelakakan gadis yang mengaku putri pamannya ini, hanya
mengerahkan separuh dari tenaganya.
Plakkk!
Dua buah tangan yang mengandung
tenaga dalam yang sangat kuat bertemu. Arya terhuyung dua langkah ke belakang.
Sedangkan Melati hanya terhuyung satu langkah.
Pemuda berambut putih keperakan
ini terkejut. Ternyata tenaga dalam gadis itu cukup tinggi juga. Sedangkan
Melati sudah bisa memastikan kalau pemuda yang berjuluk Dewa Arak ini, ternyata
hanya mengeluarkan kekuatan tenaga dalam sedikit rendah dibanding tenaga dalamnya.
Jadi dia tidak akan menambah kekuatan tenaganya dalam serangan selanjutnya.
Sedangkan Arya yang merasakan
betapa kuatnya tenaga dalam gadis itu, terpaksa menambah tenaga untuk pertarungan selanjutnya. Dalam
pertarungannya melawan gadis ini, pemuda berambut putih keperakan ini hanya
menggunakan ilmu 'Delapan Cara Menaklukkan Harimau'. Rasanya, tidak tega jika
menggunakan ilmu andalannya.
Dalam waktu sebentar saja, mereka
sudah bertarung lebih dari lima jurus. Melati penasaran bukan main ketika
menyadari tenaga dalam pemuda itu ternyata sepertinya semakin lama semakin
kuat.
Semula dengan tiga perempat dari
tenaganya saja, pemuda itu sudah terhuyung. Tapi kini sampai mengeluarkan
hampir seluruh tenaganya, pemuda itu mampu menangkisnya tanpa terhuyung. Kini
gadis ini sadar kalau Dewa Arak tadi tidak bersungguh-sungguh dalam menangkis
serangannya.
Hal ini membuat Dewi Penyebar
Maut yang memang mempunyai watak ganjil jadi tersinggung. Gadis ini merasa
diremehkan. Dan sebagai akibatnya, kini dikerahkan seluruh kemampuan dalam
serangan selanjutnya. Ilmu 'Cakar Naga Merah'-nya menyambar-nyambar buas ke arah
Arya.
"Tahan...!" Dewa Arak
berseru keras sambil melentingkan tubuhnya ke belakang menghindari serangan
Melati yang bertubi-tubi.
Gadis berpakaian serba putih yang
tengah dilanda penasaran itu terpaksa menahan serangannya. Dengan napas masih
memburu, ditatapnya Arya.
"Mengapa berhenti, Dewa
Arak? Takut?"
Pemuda berpakaian ungu itu sama
sekali tidak menggubris ejekan tajam Melati. Wajahnya terlihat tegang bukan
main.
"Dari mana kau dapatkan ilmu
itu, Nini?" tanya Dewa Arak dengan suara gemetar.
Sepasang mata putri Raja Racun
Pencabut Nyawa itu seketika membelalak.
"Apa hubunganmu dengan ilmu
yang kumiliki?! Mau kudapatkan dari mana saja, atau dari mencuri pun itu
urusanku. Dan tidak ada sangkut-pautnya denganmu!" jawab gadis itu ketus.
"Memang ada hubungannya,
jika dugaanku benar. Maka sudah menjadi urusanku kalau ilmu yang kau gunakan
itu adalah 'Cakar Naga Merah'," tandas Arya tegas.
"Kalau memang benar ilmu itu
adalah 'Cakar Naga Merah', kau mau apa?" tantang Melati.
"Harus kau katakan dari mana
memperolehnya! Apakah kau mempelajarinya dari Ki Gering Langit?"
Wajah Melati memerah.
Pelahan-lahan kemarahan mulai membakar hatinya. Pemuda di hadapannya ini
terlalu usilan dan sombong.
"Apa hakmu dengan ilmuku
ini, Dewa Arak?!" "Apakah Ki Gering Langit itu gurumu, Nini?"
desak
Arya, tidak menggubris ucapan
gadis itu.
Kemarahan yang sejak tadi
membakar hati Melati, kini tak bisa ditahan lagi.
"Keparat! Kau terlalu sombong,
Dewa Arak! Jangan dikira aku takut padamu!"
Setelah berkata demikian, gadis
itu kembali menerjang Arya. Tidak dipedulikannya lagi teriakan-teriakan
mencegah dari pemuda itu. Hatinya telah sangat tersinggung terhadap sikap
pemuda itu, yang sama sekali tidak menganggap dirinya.
Dewa Arak tidak punya pilihan
lagi. Cepat-cepat disambut serangan Melati, dan dibalasnya dengan serangan yang
tak kalah dahsat. Kali ini Dewa Arak terpaksa menggunakan ilmu andalannya.
'Belalang Mabuk', dan 'Delapan langkah Belalang'. Tak lupa, diambilnya guci
arak yang berada di punggungnya. Dan diangkat ke atas mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Terdengar suara berceglukan dari
mulut Arya ketika arak itu memasuki mulutnya. Sesaat kemudian tubuhnya mulai
sempoyongan.
Melati mulai menyerang secara
ganas. Kini hatinya tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan segenap kemampuannya.
Disadari kalau kepandaian pemuda di hadapannya ini tidak serendah dugaannya.
Berkali-kali tubuhnya terhuyung setiap kali pemuda itu menangkis serangannya.
Hal ini membuat amarah gadis itu
kian meluap. Apalagi terlihat jelas kalau pemuda itu jarang sekali membalas serangannya. Lebih sering Arya
mengelakkan serangan atau menangkisnya.
Delapan puluh jurus telah
terlewati, tapi belum nampak ada tanda-tanda yang akan terdesak. Diam-diam Arya
memuji kelihaian lawannya ini. Pantaslah kalau Raja Pisau Terbang harus
melarikan diri dari hadapannya. Kepandaian gadis berpakaian serba putih ini
memang sangat tinggi.
Melati menggertakkan gigi. Gadis
ini sadar, tak mungkin rasanya mengalahkan Arya Buana. Diiringi sebuah keluhan
tertahan dari kerongkongannya, Dewi Penyebar Maut segera melesat meninggalkan
Dewa Arak.
Tentu saja Arya yang tidak
menduga hal itu menjadi kaget bukan main.
"Nini!" teriak Arya
keras. "Tunggu...!"
Tetapi gadis berpakaian serba
putih itu tak menggubris teriakan Arya, dan terus saja berlari. Dalam sekejap
tubuhnya sudah lenyap di kejauhan.
Arya hanya termenung memandangi
kepergian Melati. Disadari kalau tidak ada gunanya mengejar gadis itu.
"Hhh...!" Arya menghela
napas berat. Dilangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu, untuk menyusuri
jejak Bargola yang telah menculik ibunya.
5
Pandangan mata pemuda berbaju
ungu itu terpaku pada sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi. Dia
adalah Arya Buana alias Dewa Arak. Setelah cukup lama bersikap seperti itu,
baru kemudian dihampirinya gerbang yang sudah tidak memiliki pintu lagi.
Di ambang pintu itu, langkah kaki
Arya terhenti. Pemuda ini lalu
berjongkok, mengamat-amati kepingan-kepingan papan tebal yang berserakan di
bawah kakinya. Pada tiap kepingan papan tebal itu tertera tulisan.
Dewa Arak lalu menyusun tiap
kepingan papan bertulisan itu, dan benarlah dugaannya. Kepingan papan tebal itu
memang mulanya adalah papan nama perguruan, yang kini sudah hancur berantakan.
"Perguruan Beruang
Hitam," gumam pemuda itu pelan.
Perguruan itu memang didirikan
Bargola, yang sekarang tengah dicarinya. Pemuda itu datang ke sini dengan
harapan ada berita mengenai tempat Datuk Timur itu mengasingkan diri.
Dengan langkah setengah hati-hati, Arya melangkah masuk. Seperti yang sudah diduganya, hanya kelengangan dan kesunyian saja
yang dijumpai. Juga, bangunan-bangunan yang bekas terbakar di sana-sini.
"Hhh...!" Arya
menghembuskan napas kecewa. Tanpa diberitahu pun, ia telah bisa menebak orang
yang mengobrak-abrik perguruan ini. Siapa lagi kalau bukan Raja Racun Pencabut
Nyawa yang dibantu Siluman Tengkorak Putih?
Kali ini Arya tidak menyalahkan tindakan pamannya itu. Wajar
bila pamannya melampiaskan kekesalan atas tindakan Bargola yang menculik adik
kandungnya. Tidak
tanggung-tanggung, dihancurkannya perguruan yang didirikan Bargola itu.
Tengah pemuda itu termenung
bingung, pendengarannya yang tajam
menangkap suara langkah kaki dari arah bangunan yang tidak terbakar.
Tanpa pikir panjang lagi, Arya
melompat ke atas dan hinggap di atas sebuah cabang pohon yang terletak tidak
jauh dari situ. Dari situ Dewa Arak mengintai ke arah suara langkah kaki tadi
berasal.
Tampaklah seorang laki-laki
tengah melangkah keluar dari bangunan itu. Wajah maupun potongan tubuhnya tidak
jelas, karena jarak yang cukup jauh. Kepala laki-laki itu nampak menoleh ke
kanan dan ke kiri, seolah-olah ada sesuatu yang ditakutinya. Baru setelah itu,
sosok tubuh itu melangkah ke luar dengan berindap-indap.
Melihat tindak-tanduk orang itu,
Arya menjadi curiga. Keadaan tempat itu sebenarnya sudah membuat orang berpikir
kalau di situ tidak ada penghuninya. Kalau sosok tubuh itu tetap tinggal di
situ, berarti ada satu dugaan. Dia sengaja
bersembunyi di situ.
Setelah sosok tubuh itu lenyap
ditelan kejauhan, Arya melompat turun dari tempat persembunyiannya.
Rasa ingin tahu memaksanya untuk
menyelidiki ke dalam bangunan itu.
Dengan sikap waspada, Arya
melangkah masuk. Heran juga hatinya ketika melihat keadaan dalam bangunan itu.
Begitu kotor, kumuh dan tak terurus.
Debu dan sarang laba-laba
berserakan di sana-sini. Semua ruangan keadaannya sama. Lalu, di manakah orang
itu tinggal?
Sungguh pun jaraknya cukup jauh,
Arya dapat melihat kalau pakaian orang itu bersih. Padahal di seluruh ruangan
yang ada di dalam bangunan ini, tidak ada tempat yang bersih. Aneh! Ataukah ada
ruang rahasia di dalam bangunan besar ini?
Pemuda berambut putih keperakan
ini tahu bahwa akan memakan waktu yang sangat lama, kalau mencoba mencari ruang
rahasia itu. Jalan yang paling mudah adalah menunggu lelaki tadi kembali, kemudian
menguntitnya menuju ruang rahasia itu. Kalau memang benar ruang rahasia itu
ada.
Tanpa membuang-buang waktu lagi,
Arya segera keluar dari gedung itu. Diintainya keadaan di depan sebelum
dilangkahkan kakinya ke luar. Barangkali saja orang yang tadi diintainya telah
kembali. Tapi di luar sepi. Bergegas pemuda ini kembali ke tempat
persembunyiannya semula. Menunggu.
Cukup lama juga pemuda berambut putih keperakan ini menunggu, sebelum
akhirnya melihat orang itu di kejauhan.
Kini nampak jelas, kalau kelakuan
orang itu yang aneh. Sebelum melangkahkan kakinya memasuki pintu gerbang yang
terdapat papan nama perguruan, orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri dengan
sikap penuh curiga.
Baru setelah yakin tidak ada yang
melihatnya, orang itu bergegas masuk ke dalam. Kelihatennya setengah berlari
saat memasuki bangunan besar yang baru saja ditinggalkan Arya.
Bergegas Dewa Arak melompat turun
dari cabang pohon itu. Dan dengan hati-hati diikutinya orang itu.
Orang yang ternyata adalah
seorang laki-laki berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bertubuh sedang, dan
berkumis tebal itu, sama sekali tidak sadar kalau tengah diikuti. Bahkan
tenang-tenang saja saat melangkahkan kakinya di dalam.
Sampai di sebuah ruangan,
diambilnya sebuah kursi rusak yang memang terdapat di situ, lalu, berdiri di
atasnya. Sebentar kemudian diulurkan tangannya ke atas.
Arya yang mengintip dari balik
pintu yang terbuka, kaget juga melihat apa yang dilakukan orang itu. Si kumis
tebal itu ternyata hendak menangkap cecak yang tadi juga dilihatnya.
Anehnya, cecak itu diam saja.
Binatang melata itu tidak berusaha mengelak dari ancaman tangan si kumis tebal.
Seolah-olah tidak tahu adanya bahaya yang mengancam.
Kreppp!
Tangan si kumis tebal dengan tepatnya mencengkeram tubuh cecak itu. Arya terbelalak.
Tapi di lain saat, pemuda ini sadar, kalau cecak itu bukanlah cecak sungguhan.
Cecak itu pasti alat rahasia menuju ruangan tersembunyi.
Dugaan Arya tidak salah. Begitu
si kumis telah memutar 'cecak' itu, tiba-tiba terdengar suara berderak keras.
Sesaat kemudian lantai di tengah-tengah ruangan bergeser. Dan begitu bunyi
berderak itu berakhir di belakang si kumis tebal terlihat sebuah lubang
berukuran setengah tombak kali setengah tombak.
Begitu melihat lantai ruangan itu
bergeser, tanpa membuang-buang waktu lagi, Arya segera melesat dan melompat
masuk ke dalam. Untuk berjaga-jaga terhadap sesuatu yang tidak diinginkan,
pemuda berambut putih keperakan ini mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.
Ringan dan hampir tanpa suara,
kedua kaki Arya hinggap di tanah. Belum lagi pemuda ini berbuat sesuatu,
terdengar sebuah teguran keras.
"Kaukah itu, Sentaka?"
Tercekat hati Arya mendengar
teguran keras itu dan buru-buru menyelinap ke balik tiang.
Baru saja Arya bersembunyi,
terdengar suara yang cukup keras. Pemuda berbaju ungu ini mengintai dari balik
tiang. Tampak si kumis tebal itu kini telah turut pula. Rupanya suara itu
berasal dari kedua kaki kumis tebal itu yang hinggap di dalam ruangan ini.
Sekilas Arya memperhatikan
sekelilingnya. Segera saja dapat diketahui, kalau dirinya kini berada di dalam
sebuah ruangan cukup luas. Keadaan di sini hanya remang-remang saja, karena
hanya diterangi sebuah obor yang terpasang di sudut ruangan ini.
Arya memperhatikan arah asal
suara teguran itu. Segera saja dapat diketahui kalau suara itu berasal dari
ruangan yang terang benderang di sebelah sana.
Kini Arya mengalihkan
perhatiannya pada si kumis tebal yang sekarang diketahui bernama Sentaka. Tampak
Sentaka tengah mendekati sebuah tangkai obor yang tidak terpakai, lalu ditarik
ke bawah. Terdengar suara berderak keras. Maka, lantai di ruangan atas yang
tadi terbuka itu pun bergerak menutup kembali.
Tiba-tiba pendengaran Arya yang tajam menangkap suara langkah mendekati.
Dari bunyi suara langkah yang pelan hampir tanpa suara, pemuda berbaju ungu ini
dapat memperkirakan kalau orang yang akan hadir ini memiliki kepandaian tinggi.
Dengan demikian dia harus bersikap waspada.
Bahkan suara napasnya pun
ditahan.
Sesaat kemudian terlihat sesosok
tubuh tinggi besar dan berkulit hitam legam tiba di situ.
Sungguhpun suasana di situ
remang-remang, Arya dapat mengenali kalau sosok tubuh itu adalah orang yang
tengah dicari-carinya. Siapa lagi kalau bukan Bargola! Ciri-ciri orang itu
persis dengan apa yang dikatakan Kakek Ular Hitam.
"Sentaka," sapa orang
tinggi besar itu kepada si kumis tebal.
"Ada apa, Guru?" sahut
Sentaka.
"Tahukah kau, ada orang lain
yang masuk ke sini sebelum kau tiba? Kuakui ilmu meringankan tubuh orang itu
hebat sekali. Kalau saja tidak waspada penuh, tidak mungkin aku
mendengarnya."
"Tapi, Guru. Aku yakin
betul, kalau aku masuk ke dalam bangunan ini sendiri. Bagaimana mungkin ada
orang yang masuk ke sini?" bantah si kumis tebal yang bernama Sentaka itu.
"Tapi aku mendengar
suaranya, Sentaka! Dan telingaku belum pernah tertipu!" tandas Bargola.
"Barangkali saja hanya suara
kucing melompat..." Dan seperti hendak membela Sentaka, terdengar suara
mengeong lirih. Sebentar kemudian muncullah? seekor kucing, yang langsung
berjalan mendekati kedua orang itu.
Dengan sorot mata penuh
kemenangan, Sentaka menatap wajah gurunya. Bargola tidak bisa berkata apa-apa
lagi. Ditatapnya binatang itu sejenak, sebelum dilangkahkan kakinya
meninggalkan tempat itu.
Arya menunggu sampai tubuh
Bargola lenyap di balik ruangan. Kemudian, dipungutnya sebuah batu sebesar
kacang kedelai dan dijentokkan ke arah
Sentaka. Singgg .! Tukkk!
Tubuh Sentaka mengejang ketika batu itu mengenai punggungnya. Tanpa sempat
mengeluh lagi, si kumis tebal itu pingsan. Sebelum tubuh itu sempat jatuh ke
tanah, pemuda berambut putih keperakan itu telah lebih dulu melesat untuk
menyangga tubuh Sentaka yang hendak rubuh. Pelahan-lahan sekali, direbahkannya
tubuh itu di tanah. Setelah itu dengan hati-hati, Arya melangkahkan kakinya menuju arah
Bargola tadi lenyap.
Pemuda berpakaian ungu ini
melintasi lorong yang diterangi cahaya obor yang terpancang di kanan kiri
dinding. Baru beberapa langkah Arya memasuki lorong, terdengar suara-suara
bernada marah dari arah depannya. Buru-buru Dewa Arak mempercepat langkahnya,
seraya tetap mendengarkan suara itu.
"Sampai kapan lagi aku harus
bersabar, Sani," pendengaran Arya menangkap suara yang bernada marah itu.
Suara itu segera dikenal sebagai suara Bargola!
Arya merasa tengkuknya tiba-tiba dingin
mendengar suara itu. Bukan karena gentar pada pemilik suara itu. Tapi, karena
isi ucapan itu. Datuk itu marah-marah pada orang yang bernama Sani!
"Sani? Ibukukah?" tanya
Arya dalam hati.
Tak terasa pemuda itu mempercepat
langkahnya. Sementara suara itu terus bergema sepanjang lorong yang dilalui.
"Empat belas tahun bukan
waktu yang singkat, Sani. Bayangkan! Empat belas tahun lamanya aku menunggu kesediaanmu, untuk sukarela menyerahkan
diri padaku. Tapi kau benar-benar wanita tak tahu diuntung! Padahal, karena
kaulah aku rela mengundurkan diri dari dunia persilatan. Sekuat tenaga kutahan
rasa penasaranku untuk menantang Siluman Tengkorak Putih. Hhh...! Kini
kesabaranku sudah habis, Sani! Mungkin kau termasuk seorang wanita yang lebih suka dikasari daripada diperlakukan
baik-baik!"
"Jangan harap dapat menyentuh tubuhku,
Bargola!" teriak wanita itu. "Sebelum kau menjamah tubuhku, aku lebih
dulu akan bunuh diri!"
"Ha ha ha...! Boleh kau coba
kalau bisa, Sani!" tantang Bargola.
Tepat pada saat itu, Arya berada
di ambang pintu. Tampak Bargola bergerak lambat-lambat meng-hampiri seorang
wanita setengah baya berpakaian kuning, yang di dada sebelah kirinya terdapat
sulaman bunga mawar merah. Dan pemuda
berambut putih keperakan ini melihat jelas kalau wanita itu tengah menggerakkan
tangan kanannya untuk memukul ubun-ubunnya sendiri.
Wut...!
Serasa terbang semangat Arya
melihat hal ini. Jaraknya yang terlampau jauh dan kedatangannya yang agak
terlambat, membuatnya tidak berdaya untuk mencegah.
Tapi sebelum niat wanita itu
terlaksana, Bargola sambil tertawa terbahak-bahak memutar-mutar
kedua tangannya di depan dada dari luar ke dalam. Dari kedua tangan yang
berputar itu, bertiup angin keras yang langsung menyerbu ke arah wanita
setengah baya itu.
Wanita berpakaian kuning itu memekik.
Tanpa dapat dicegahnya lagi, tubuhnya terlontar ke belakang, dan jatuh di
pembaringan. Untung Bargola tidak berniat mencelakainya, sehingga dalam
serangannya itu hanya membuat perut wanita itu mual dan tubuhnya terlempar.
Sambil terkekeh-kekeh, Datuk
Timur itu melangkah mendekati wanita yang di dada sebelah kirinya terdapat
sulaman bunga mawar merah. Pandang matanya nampak liar penuh nafsu. Tapi
sebelum datuk yang menggiriskan ini mengoyak-ngoyak pakaian wanita yang
dipanggil Sani, tiba-tiba... "Bargola, manusia rendah! Orang semacam kau
memang tidak layak dibiarkan hidup!" terdengar bentakan keras menggeledek.
"Heh!" Bargola sangat
terkejut mendengar teriakan itu. Dengan amarah yang meluap karena kesenangannya terganggu, dibalikkan tubuhnya menghadap ke arah asal suara.
Di ambang pintu, tampak berdiri
seorang pemuda berambut putih keperak-perakan, berwajah jantan, dan berpakaian
ungu. Di tangannya tergenggam sebuah guci arak yang terbuat dari perak.
"Ha ha ha...!" kembali
Bargola tertawa bergelak. Tidak salahkah penglihatanku? Bukankah kau yang
berjuluk Dewa Arak itu? Ha ha ha...! Pucuk dicinta. ulam tiba! Bahkan lebih
dari yang kuharapkan. Mari, mari Dewa Arak. Ingin kulihat, sampai di mana
kelihaianmu. Sehingga mampu menundukkan
Siluman Tengkorak Putih yang tersohor itu!" (Untuk jelasnya, baca serial
Dewa Arak dalam episode "Pedang Bintang").
Arya sudah bisa mengukur
kelihaian lawan di hadapannya ini. Memang, kemungkinan besar kepandaian datuk ini masih di bawah
kepandaian Siluman Tengkorak Putih. Tapi biar bagaimanapun, datuk ini tidak
kalah berbahaya. Bargola telah memiliki pengalaman luas. Dan itu kelebihannya
dibanding Siluman Tengkorak Putih.
Sekilas Dewa Arak menatap wajah wanita berpakaian kuning yang
masih meringkuk di pembaringan.
Kontan hatinya bergetar. Walaupun waktu itu usianya belum mencapai lima tahun
saat ibunya pergi meninggalkan dia dan ayahnya, raut wajah ibunya tak mungkin
dapat terlupakan. Wanita yang tengah meringkuk di pembaringan itu benar-benar
ibunya!
Amarah Arya pun bangkit. Bargola
nyata-nyata telah melukai ibunya. Bahkan kalau ia tadi terlambat, mungkin datuk
ini telah pula menodai. Kesalahan datuk sesat ini tidak dapat diampuni lagi.
Maka, pemuda berambut putih keperakan ini bertekad untuk melenyapkan datuk ini
selama-lamanya.
"Hm...!"
Diawali sebuah dengusan yang
menjadi ciri khasnya, Datuk Timur itu melesat menerjang Arya. Tanpa
sungkan-sungkan lagi, Bargola mengerahkan ilmu andalannya, 'Tapak Bara'. Kedua
tangannya dengan jari-jari terbuka berwarna merah, menyambar ganas ke arah ulu
hati dan pusar Dewa Arak. Seketika hawa panas berhembus keras sebelum serangan
itu tiba.
Arya yang tahu betapa berbahayanya
kedua serangan itu, sebelum datuk itu menyerangnya, telah menuangkan guci arak
ke dalam mulutnya.
Gluk... gluk... gluk...!
Begitu serangan Bargola tiba, Arya mengelakkannya dengan jurus 'Delapan Langkah Belalang'.
Kakinya bergerak sempoyongan seperti akan jatuh, melangkah, dan meliuk-liuk
aneh.
Hebatnya, kedua serangan itu
dapat dielakkan seperti tidak sengaja. Bahkan tubuh Dewa Arak ini telah berada
di belakang datuk itu. Dengan cepat pemuda berambut putih keperakan ini pun mengayunkan gucinya menghantam punggung
Bargola.
Bargola terperanjat. Sungguh di
luar dugaan kalau lawannya bisa berbuat seperti itu dalam tempo yang cepat!
Tapi, Bargola adalah seorang datuk yang telah kenyang pengalaman. Telah puluhan
bahkan mungkin ratusan kali laki-laki kasar ini berhasil meloloskan diri dari
ancaman maut.
Maka, pada saat yang kritis itu
pun ia masih sanggup menyelamatkan selembar nyawanya. Cepat dibanting tubuhnya
ke tanah, dan hinggap dengan bertumpu pada kedua tangan dan ujung kakinya.
Wuttt!
Sambaran guci Arya lewat di atas
tubuhnya. Sementara itu, saat kedua tapak tangannya
hinggap
di tanah, kaki kanan Bargola menendang ke belakang, mengarah dada Dewa Arak.
Pemuda berambut putih keperakan
ini tercekat hatinya melihat serangan itu. Tidak ada waktu lagi untuk
menghindari serangan tiba-tiba itu. Tendangan Bargola datangnya hampir bersamaan dengan lolosnya serangan guci
yang mengancam punggung datuk itu.
Tidak ada jalan lain bagi Arya,
kecuali menangkis serangan itu dengan tangan kirinya yang bebas. Cepat-cepat
digerakkan tangan kirinya menepak kaki Bargola.
Plakkk!
Tubuh Datuk Timur itu terputar
dan terpelanting. Sedangkan tubuh Arya sendiri terjajar satu langkah ke belakang.
Bargola meraung murka. Selama
puluhan bahkan mungkin ratusan kali bertarung, baru kali ini sewaktu adu tenaga
dalam, tubuhnya sampai terpelanting. Apalagi oleh seorang lawan yang masih
sangat muda. Rasa penasarannya pun semakin memuncak.
Sebagai akibatnya, serangan-serangannya
seketika bertambah dahsyat! Datuk ini mengamuk membabi buta. Kedua tangannya
yang berisi ilmu 'Tapak Bara', dan mengandung tenaga panas itu
menyambar-nyambar ganas mencari sasaran.
Tetapi yang dihadapi Bargola kali
ini adalah Dewa Arak, murid pilihan Ki Gering Langit. Bagi pemuda berambut
putih keperak-perakan itu, hawa panas yang mengiringi setiap serangan Bargola
seperti tiupan angin sejuk. Karena, dia sendiri memiliki tenaga yang mengandung
hawa panas. Bahkan jauh lebih dahsyat ketimbang hawa panas yang dimiliki datuk
itu.
Dengan ilmu 'Belalang Sakti',
Arya menghadapi setiap serangan Bargola. Setiap serangan yang datang dielakkan
secara mudah, menggunakan jurus 'Delapan Langkah Belalang'. Bahkan pemuda itu
sekaligus mengirimkan serangan balasan yang tak kalah dahsyatnya, menggunakan
jurus 'Belalang Mabuk'.
Nyi Sani bergegas menghindar dari
tempat itu. Karena untuk keluar dari ruangan sudah tidak sempat lagi, terpaksa
dia bersembunyi di balik sebuah lemari. Ini dilakukan untuk berjaga-jaga dari
sambaran pukulan yang nyasar.
Sebentar saja sekujur tubuh Ketua
Perguruan Mawar Merah ini sudah basah oleh keringat. Hawa di dalam ruangan ini
terasa panas bukan main, dan terasa menyengat kulit.
Sementara itu pertarungan antara
kedua orang sakti itu berjalan sengit, dan terlihat seimbang. Tapi lewat enam
puluh jurus, Bargola mulai terdesak. Datuk sesat ini memang kalah
segala-galanya dibanding Dewa Arak. Baik tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh,
maupun kalah dalam mutu ilmunya.
Hanya berkat pengalaman bertarung
saja yang membuat Arya agak mengalami sedikit kesulitan untuk mendesak
laki-laki kasar itu.
Keadaan sekitar arena
pertempuran. itu sudah kacau-balau. Dinding ruangan itu tak henti-hentinya
bergetar setiap kali Dewa Arak atau Bargola melepaskan pukulan. Dan setiap kali
kedua tangan atau kaki mereka beradu, lantai dan dinding ruangan bergetar lebih
kuat lagi.
Pada jurus ke delapan puluh satu,
Bargola menggerakkan kaki kanannya menyapu kaki Arya.
Wut...!
"Hup...!" Dewa Arak
melompat ke belakang dengan langkah sempoyongan.
Bargola memang sudah menunggu
saat ini. Begitu dilihatnya Arya melompat ke belakang, segera disusulnya tubuh
Arya dengan kedua tangan yang berisi tenaga dalam penuh. Seketika didorongkan
ke arah dada pemuda berambut putih keperak-perakan itu.
Wut..!
Angin berhawa panas luar
biasa kerasnya, menderu hebat. Dalam perkiraan Datuk Timur ini, Dewa Arak tidak
akan sanggup mengelak lagi. Jalan satu-satunya hanya menangkis, karena
serangannya itu begitu tiba-tiba. Dan melihat posisi lawan yang kurang menguntungkan, ia banyak menerima keuntungan
dalam adu tenaga ini.
Tetapi, Bargola lupa pada satu
hal. Ilmu yang dimiliki Arya adalah ilmu 'Belalang Sakti'. Dan belalang adalah
binatang yang dapat terbang. Sehingga walaupun sebagai manusia Arya tidak
mungkin dapat terbang, tapi keistimewaan binatang itu dimiliki juga. Dewa Arak
memang memiliki ilmu meringankan tubuh yang tidak dimiliki manusia biasa! Dalam
posisi yang seburuk apa pun, ia dapat melompat atau melenting sempurna.
Baru datuk ini terperanjat kaget
ketika tiba-tiba Dewa Arak melompat melewati atas kepalanya. Bukan itu saja
yang diperbuat pemuda berambut putih keperakan itu. Sambil melompat, diayunkan
guci araknya ke kepala Datuk Timur itu.
Wuuuttt!
Bargola terperanjat kaget bukan
main. Serangan guci itu berbarengan dengan serangan kedua tangannya yang hanya
menghantam tempat kosong. Itu jelas, karena Dewa Arak telah melompat dari situ.
Sebisa-bisanya dirundukkan kepalanya.
Bukkk...!
Bargola menyeringai. Tubuhnya
terhuyung-huyung jauh ke depan. Kepalanya memang dapat diselamatkan dari
ancaman maut guci Dewa Arak, tapi tak urung guci itu berhasil juga menghantam
bahunya. Terdengar suara berderak keras, ketika guci itu menghantam sasaran.
Suatu bukti kalau tulang-tulang bahu itu patah.
Datuk Timur ini berusaha
memperbaiki posisi, dan secepat itu pula membalikkan tubuhnya. Tapi, sayangnya
terlambat. Arya yang melihat tubuh datuk sesat itu terhuyung-huyung jauh ke
depan, segera melesat mengejar.
Dewa Arak kembali mengayunkan
gucinya ke arah. kepala Bargola, tepat saat tubuh datuk itu berbalik.
Kali ini serangan susulan Arya
tidak dapat dielakkan lagi. Dan....
Wut...! Prakkk...!
"Akh...!"
Telak dan keras sekali guci perak
itu menghantam kepala Bargola. Terdengar suara berderak keras ketika kepala
datuk itu pecah, terhantam guci yang mengandung tenaga dalam tinggi.
Darah seketika muncrat dari
kepala yang pecah. Sesaat lamanya tubuh Bargola bergoyang-goyang, baru kemudian
ambruk dan tidak bergerak lagi untuk selama-lamanya.
6
Arya memandangi sosok tubuh
tinggi besar berkulit hitam legam yang kini terkapar di depannya. Sebentar
kemudian pandangannya dialihkan pada sesosok tubuh wanita setengah baya yang
masih bersembunyi di balik lemari.
Dada Arya berdebar keras menatap
wanita berpakaian serba kuning itu. Wajah ibunya yang telah sekian belas tahun
dirindukan.
Wanita berpakaian serba kuning
yang bernama Nyi Sani, memperhatikan pemuda berambut putih
keperakan itu tanpa berkedip. Wajah Arya memang mirip wajah suaminya, sehingga
tidak aneh kalau Nyi Sani merasa mengenali.
"I... Ibu...," Arya
memanggil dengan suara serak. "Si... siapa kau?" tanya Nyi Sani
tersentak. Nada suaranya terdengar menggigil.
"A... aku... aku Arya, Bu.
Arya Buana...," jawab pemuda berpakaian ungu itu.
"Arya... Arya
Buana...?" ulang Ketua Perguruan Mawar Merah itu. Nada suaranya terdengar
ragu-ragu.
"B... benar, Bu. Ayahku
bernama Tribuana, dan berjuluk Pendekar Ruyung Maut..."
"Tidak mungkin!" sentak
Nyi Sani. "Wajahmu memang mirip suamiku. Juga, warna pakaianmu memang
warna kesenangan anakku. Tapi.., kau bukan Arya Buana! Kau bukan anakku!"
"Ibu...," lirih suara pemuda berambut
putih keperakan itu. "Aku benar-benar Arya Buana anakmu..."
"Bukan! Kau bohong! Anakku
tidak memiliki rambut mengerikan
seperti itu! Juga tidak pemabukan! Arya adalah anak yang baik!" Nyi Sani
masih mencoba menyangkal.
"Percayalah, Bu. Aku memang
benar Arya Buana, anakmu. Rambutku menjadi seperti ini karena pengaruh ilmu
yang kupelajari. Begitu pula arak yang selalu menemaniku."
Nyi Sani hanya terdiam saja. Ia
sebenarnya sudah menduga keras kalau pemuda yang berdiri di hadapannya ini
adalah anaknya. Nalurinya sebagai seorang ibu menyatakan demikian. Tapi melihat
keadaan aneh pada pemuda itu membuatnya ragu, walaupun bukti-bukti telah cukup
meyakinkan.
Melihat wanita yang diduga ibunya
itu diam saja, Arya buru-buru melanjutkan ucapannya.
"Aku mencari Ibu atas
perintah Ayah, dan petunjuk Paman Lindu..."
Kini wanita berpakaian serba
kuning ini tidak ragu-ragu lagi. Mulutnya yang gemetar nampak komat-kamit
seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi tidak ada suara yang ke luar. Beberapa
saat lamanya, baru keluarlah kata-kata yang sejak tadi hendak diucapkannya.
"Arya..., Arya
anakku..."
"Ibu...!" seru Arya.
Tubuhnya pun meluruk ke arah ibunya. Dijatuhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan
ibunya dan dipeluknya kedua kaki itu erat-erat.
"Bu.... betapa rindunya aku
pada Ibu...."
Nyi Sani mengusap-usap rambut
anaknya yang putih keperak-perakan itu penuh kasih sayang.
"Aku pun merindukanmu,
Arya...," ucap Nyi Sani
lirih menahan keharuan yang
menyeruak ke dalam rongga dadanya. "Bagaimana keadaan ayahmu? Apakah
baik-baik saja?"
Tangan pemuda yang memeluk kedua
kaki wanita itu menegang seketika. Didongakkan kepalanya dan ditatapnya wajah
ibunya dengan pandangan sedih.
"Ada apa, Arya? Katakan, apa
yang terjadi terhadap ayahmu?" desak wanita berpakaian kuning itu dengan
perasaan tidak enak.
Dari sikap yang diperlihatkan
anaknya, wanita itu merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan. Hatinya kini
dalam perasaan yang tidak menentu.
Pelahan-lahan Arya bangkit dari beriututnya. Sambil menundukkan kepala,
karena tak ingin melihat kekecewaan dan kesedihan yang akan dialami ibunya,
pemuda itu menatap tanah di ujung kaki ibunya.
"Ayah sudah tiada,
Bu..."
"Apa katamu, Arya?"
walau sudah dapat menduga, tak urung berita yang didengar dari mulut anaknya
ini membuatnya kaget bukan kepalang. Tanpa sadar dicengkeram kedua bahu Arya
dan diguncang-guncangnya.
"Ayahmu tewas? Siapa yang
membunuhnya, Arya?" Pemuda berambut putih keperak-perakan ini lalu menceritakan
semuanya. Mulai dari perpisahan dengan ayahnya, sampai menerima pesan dari
pamannya tempat di mana ibunya berada.
"Walau Paman telah
mengetahui bahwa Ibu telah tidak berada lagi di Perguruan Mawar Merah, Paman
tetap memberitahu tempat itu. Mungkin maksud Paman agar aku dapat melacak jejak
Ibu," ucap Arya Buana menutup ceritanya.
Nyi Sani tercenung setelah
putranya itu mengakhiri cerita. Raut
wajahnya nampak memancarkan kesedihan yang hebat. Baru saja ia merasa gembira
dapat bertemu putranya kembali, kini harus mendengar berita
mengenai kematian suami dari kakak kandungnya.
"Sungguh tidak kusangka,
kalau umur ayah dan pamanmu begitu singkat, Arya," keluh Nyi Sani.
Mendengar keluhan ibunya, Arya
tersadar. Tidak sepantasnya kalau mereka tenggelam
dalam kesedihan yang berlarut-larut. Yang mati tidak akan hidup kembali,
sekalipun mereka menangis hingga mengeluarkan air mata darah.
"Sudahlah, Bu. Tidak ada
gunanya kita menangisi kepergian mereka. Ini akan merugikan diri kita sendiri
Yang sudah tiada, toh tidak akan kembali lagi."
Mendengar ucapan putranya, Nyi Sani
tersadar. Disusut air matanya, kemudian sambil tersenyum ditakapnya wajah Arya.
Senyumnya terlihat getir.
"Nah! Begitu dong, Bu,"
puji pemuda berpakaian ungu ini. "Sekarang, aku ingin mendengar pengalaman Ibu sejak Paman Lindu
membawa Ibu meninggalkan aku dan Ayah."
Istri Pendekar Ruyung Maut itu
menghela napas sebelum memulai bicara.
"Ceritanya panjang, Arya.
Panjang dan sama sekali tidak menarik."
"Tak apa, Bu. Aku ingin
mendengarnya," sahut pemuda berambut putih keperakan ini mendesak.
"Baiklah, kalau itu
maumu." Nyi Sani terpaksa mengalah. Pandang matanya menerawang ke atas.
"Lebih dari lima belas tahun
lalu, karena tidak punya pilihan lain lagi, aku terpaksa pergi mengikuti kakak kandungku, yaitu pamanmu Arya. Ia
membawaku ke sebuah tempat yang jauh. Di sana,
kami tinggal berdua. Tapi itu
hanya berlangsung beberapa bulan saja, karena pamanmu kembali pergi dan lama
tidak pernah kembali. Untuk mengisi waktu luang yang membuatku bosan, aku
mendirikan perguruan silat. Perguruan itu kuberi nama Perguruan Mawar
Merah."
Sampai di sini, wanita setengah baya ini menghentikan
ceritanya. Arya yang memang tidak berniat memotong cerita itu, tetap diam
mendengarkan. Sesaat lamanya suasana menjadi hening.
"Lebih dari setengah tahun
suasana tenang-tenang saja. Sampai suatu hari muncul seorang kakek tinggi besar
berkulit hitam legam...
"Bargola...," desis
Arya
"Benar. Sialnya kakek itu
tertarik padaku. Wajahku, katanya, mengingatkan pada istrinya. Ia pun lalu
meminta agar aku bersedia menjadi istrinya."
"Dan Ibu mau?" selak
Arya.
"Tidak! Dengan tegas
permintaannya kutolak!" tandas wanita berpakaian kuning ini. "Tapi
ternyata, itu tidak membuatnya putus asa. Tahu kalau lewat cara baik-baik
gagal, dia lalu menggunakan cara kasar. Maka dengan paksa aku dibawanya kabur.
Karena kepandaiannya jauh berada di atasku, aku jadi tidak berdaya sehingga
dibawa ke sini. Setiap hari dia membujukku agar aku bersedia menjadi istrinya.
Tapi aku tetap mengulur waktu, sampai akhirnya kesabarannya habis. Untung
engkau datang, Arya," ucap Nyi Sani menutup ceritanya.
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini pemuda itu mengerti, mengapa Bargola
tidak terdengar kabar beritanya lagi. Rupanya datuk itu disibuki oleh
urusan asmara! Hatinya telah terpincuk pada seorang wanita. Terpikir begitu,
tak terasa jantung dalam dada pemuda berambut putih keperak-perakan ini
berdebar keras.
Terbayang kembali di benaknya
wajah seorang gadis berpakaian serba putih yang telah membuat pikirannya tak
karuan. Wajah seorang wanita yang telah mencuri sekeping hatinya. Tak terasa
wajah pemuda ini berubah mendung.
"Ada apa, Arya?" tanya
ibunya yang tentu saja melihat perubahan wajah putranya. Karena memang sejak
tadi ibunya memperhatikan wajah pemuda itu. Dari sepasang mata pemuda di
hadapannya yang tengah memandang kosong pada satu titik, Nyi Sani tahu kalau
putranya ini tengah melamun. Hanya saja ia tidak tahu, apa yang dilamunkan Arya
Buana.
Dewa Arak tersentak. Teguran itu
mengingatkan kalau dirinya tidak sendirian di tempat ini.
"Ah...! Tid..., tidak ada
apa-apa, Bu," jawab Arya gagap.
"Ibu tahu ada sesuatu yang
sedang memberatkan pikiranmu. Katakanlah, barangkali Ibu bisa membantumu. Atau..., Ibu tidak boleh mengetahuinya? Rahasia pribadimu
barangkali?" tanya Nyi Sani sambil tersenyum maklum.
Seketika wajah Arya menyemburat
merah. "Sama sekali bukan, Bu."
"Lalu, kenapa kau tampaknya berat untuk
mengatakannya?"
Dewa Arak menghembuskan napasnya.
Sepertinya dangan menghembuskan napas, dia berharap dapat membuang beban yang
bersarang di dadanya.
"Ini menyangkut Paman Lindu,
Bu."
"Paman Lindu?! Memangnya ada
apa dengan pamanmu?!"
"Bu, apakah Paman Lindu
mempunyai anak?" "Anak? Pamanmu? Tidak, Arya. Pamanmu tidak mempunyai
anak. Bagaimana mungkin mempunyai anak kalau beristri pun tidak. Dari mana kau
mendapat berita seperti itu, Arya?" tanya Nyi Sani penasaran.
"Itulah masalahnya,
Bu," keluh Arya.
"Katakan Arya, dari mana kau
mendapat fitnah seperti itu?" desak ibunya lagi.
Pemuda berambut putih keperakan
ini ragu. Tapi ketika melihat pandangan mata ibunya, ia tidak dapat menghindar
lagi.
"Dari orang yang
bersangkutan, Bu," ujar Arya lemah.
"Dari orang yang
bersangkutan? Apa maksudmu, Arya? Ibu tidak mengerti! Katakanlah yang jelas!
Aneh, mengapa kau kelihatannya takut betul untuk mengatakannya," desak Nyi
Sani sambil mengerutkan dahinya.
Merah wajah pemuda itu. Teguran
ibunya telak betul mengenai sasaran. Segera dikuatkan hatinya untuk mengucapkan
sesuatu.
"Dari anak Paman Lindu
sendiri, Bu."
"Anak Paman Lindu? Baiklah.
Rupanya kau perlu tahu juga, Arya. Tapi janganlah berprasangka buruk pada
pamanmu, karena mungkin saja kau menduga dia mempunyai istri gelap. Kau tahu,
pamanmu itu mandul. Itu karena kesukaannya bermain racun yang akhirnya
mencelakakan dirinya sendiri. Bahkan bukan hanya mandul saja. Pamanmu itu sama
sekali tidak mempunyai keinginan terhadap wanita. Jadi,
bagaimana mungkin mempunyai seorang anak? O ya..., orang yang mengaku-aku anak
pamanmu itu laki-laki?" jelas Nyi Sani yang diakhiri dengan
pertanyaan.
Arya menggelengkan kepalanya.
"Wanita?"
Kali ini Arya menganggukkan
kepalanya. "Berapa kira-kira usianya?" tanya Nyi Sani lagi.
Dan memang, sedikit banyak istri
Pendekar Ruyung Maut ini sudah bisa menduga, kalau putranya ini mempunyai
perasaan lain terhadap wanita yang mengaku anak kakak kandungnya. Sebenarnya
tanpa diberitahu pun bekas Ketua Perguruan Mawar Merah ini sudah dapat
memperkirakan usia wanita itu. Tapi dia ingin memastikan kebenaran dugaannya
lebih dahulu.
"Kira-kira..., sembilan
belas atau delapan belas, Bu...," jelas Arya, yang wajahnya kian memerah.
Bahkan dahinya pun berkerut.
Nyi Sani menahan senyum yang
hampir saja tercipta dari mulutnya. Tepat dugaannya! Putranya ini pasti sudah
terpincuk pada gadis itu.
"Cantik?" goda Nyi
Sani. Semakin merah wajah Arya. "Begitulah kira-kira, Bu."
"Siapa namanya?" tanya
wanita itu dengan senyum dikulum.
"Entahlah, Bu," jawab
Arya sambil menggeleng kan kepalanya.
"Lho, aneh?! Kau tidak tahu
namanya?" sepasang mata Nyi Sani terbelalak.
"Bagaimana mungkin ia akan
memperkenalkan namanya, Bu. Begitu bertemu, dia marah-marah. Bahkan hendak
membunuhku."
"Heh?! Ini lebih gila lagi!
Apakah tidak kau katakan kalau kau adalah keponakan orang yang dianggap
ayahnya?"
"Dia sudah tahu, Bu. Justru
karena itulah ia hendak membunuhku. Katanya, aku keponakan yang sama sekali
tidak berguna. Pamannya dibunuh orang, sama sekali tidak berniat membalaskan
kematiannya. Begitu katanya."
Bekas Ketua Perguruan Mawar Merah ini tercenung. Bisa diterima alasan gadis itu
menyerang Arya. Tapi, Arya pun sama sekali tidak bersalah. Lindu, kakaknya
memang terlalu banyak membuat kesalahan. Adalah wajar kalau akhirnya tewas di
tangan orang yang dendam padanya.
Sesaat lamanya suasana menjadi
hening. Arya telah selesai dengan ceritanya. Sementara ibunya sibuk dengan
pikirannya sendiri. Wanita ini tengah mencoba memeras seluruh ingatannya
terhadap setiap perkataan yang diucapkan kakaknya dulu. Tapi, tetap saja dia
tidak mampu mengingatnya.
"Bu, apa tidak sebaiknya
kalau kita keluar dari tempat ini dulu...?" usul Arya memenggal lamunan
ibunya.
Nyi Sani tersentak sadar dari
lamunannya.
"Kau benar, Arya. Memang
sebaiknya kalau kita keluar dari tempat terkutuk ini. Aku sudah bosan tinggal
di sini, dan ingin melihat dunia luar yang bebas lepas!"
Di lain saat ibu dan anak ini
sudah beranjak dari ruangan itu. Masing-masing melangkahkan kakinya dengan
benak yang dipenuhi pikiran sendiri-sendiri.
Sementara itu, Sentaka masih
tergeletak pingsan.
7
"Haaat...! Hiyaaa...!"
Wut!
Brakkk...!
Teriakan-teriakan melengking
tinggi, diselingi angin menderu-deru keras, terdengar dari dalam sebuah hutan.
Itu pun masih ditingkahi suara bergemuruh,
Semua itu ternyata berasal dari
tindakan seraut wajah cantik. Usianya sekitar sembilan belas tahun, dan
berpakaian serba putih. Rambutnya panjang terurai, hampir mencapai pinggang.
Siapa lagi kalau bukan Melati.
Gadis ini rupanya sedang marah.
Di dalam hutan ini, kekesalan hatinya dilampiaskan pada pepohonan dan
semak-semak belukar.
"Mampus kau, pemuda
sombong!" teriak gadis itu keras. Tangan kanannya dengan jurus 'Naga Merah
Membuang Mustika' didorongkan ke depan.
Wuuusss...!
Angin keras berhembus keluar dari
tangan yang mendorong itu. Desiran angin itu terus melesat ke depan dan
menghantam sebatang pohon sebesar dua pelukan tangan orang dewasa.
Brakkk...!
Pohon itu hancur berkeping-keping
menimbulkan suara bergemuruh dahsyat!
"Hhh...!" Melati
menghela napas. Lega sudah dadanya sekarang.
Kegagalannya mengalahkan Arya
Buana alias Dewa Arak, dan
melihat sikap pemuda
itu
membuatnya mendongkol bukan
kepalang. Rasa kemangkelan hatinya itu pun dilampiaskan dengan mengamuk di
dalam hutan ini. Kini kedongkolannya telah sirna. Yang tinggal sekarang
hanyalah akibat dari pelampiasan kedongkolannya. Dipandangi keadaan sekelilingnya. Pohon-pohon bertumbangan,
semak-semak yang centang perenang, dan tanah yang terbongkar di sana sini.
"Semua ini gara-gara Dewa
Arak!" sangkal gadis itu membela diri, dalam hati.
Dengan punggung tangan, disusuti
peluh yang membasahi dahi dan lehernya yang mulus. Kemudian dihampirinya sebatang pohon, lalu direbahkan
tubuhnya di situ untuk beristirahat.
Setelah cukup lama berbaring
seperti itu, Melati beranjak bangkit. Kemudian sekali menggerakkan kaki,
tubuhnya sudah melesat dari situ. Dalam sekejap saja tubuhnya sudah lenyap
bagai ditelan bumi.
***
Tubuh Melati berkelebatan cepat.
Kini tinggal satu lagi tujuannya. Menuju tempat Ular Hitam! Dari berita yang
didapat, dia tahu kalau tanpa bantuan Datuk Barat itu, ayahnya tidak akan bisa
dikalahkan lawan-lawannya. Jadi, bila dihitung-hitung, kakek itulah yang
menjadi penyebab utama ayahnya tewas.
Kalau saja gadis berpakaian serba
putih ini mencari tempat tinggal Ular Hitam sepuluh tahun yang lalu, sampai
kapan pun tidak akan bisa menemukan. Untungnya, ia mencarinya sekarang. Sejak
kemunculan Arya Buana alias Dewa Arak, tempat tinggal Ular Hitam sudah bukan
merupakan rahasia lagi.
Maka, mudah saja bagi gadis yang
berjuluk Dewi Penyebar Maut ini mendapat petunjuk tempat tinggal Ular Hitam.
Beberapa hari kemudian, ia pun
sudah melewati Desa Jati Alas. Desa yang paling dekat dengan tempat tinggal
Ular Hitam.
Sesampai di luar Desa Jati Alas,
menurut petunjuk yang diterima, dia hanya tinggal melalui sebuah hutan. Dan
setelah itu akan sampai di tempat kediaman Ular Hitam.
Petunjuk yang diterimanya itu
benar. Beberapa lama kemudian setelah ia keluar dari mulut Desa Jati Alas,
dijumpai sebuah hutan. Bergegas dipercepat langkahnya.
Sesaat kemudian Melati telah tiba
di mulut hutan itu. Tapi baru saja hendak melangkahkan kakinya memasuki mulut
hutan, dari depan terlihat sesosok bayangan hitam melesat cepat menuju mulut
hutan.
Seketika Melati menahan
langkahnya. Gerakan sosok bayangan hitam itu cepat bukan main. Sampai-sampai tercekat hati gadis ini melihatnya.
Kecurigaannya pun mendadak timbul. Sosok
bayangan hitam ini ternyata datang dari arah tempat tinggal Ular Hitam. Bukan
tidak mungkin kalau justru sosok bayangan hitam itu adalah orang yang
dicari-carinya.
Berpikiran demikian, Melati
bergegas menghadang jalan sosok bayangan hitam itu.
"Kisanak yang di depan,
pelahan dulu!" seru Melati keras dan tegas. Berbareng dengan itu kedua
tangannya didorongkan ke depan, mengirimkan sebuah serangan jarak jauh. Melati
yang berjuluk Dewi Penyebar Maut memang berwatak telengas.
Langsung saja mengerahkan seluruh
tenaga dalam serangannya itu.
Wuuuttt...!
Angin menderu keras keluar dari
sepasang tangan yang mendorong itu.
Seketika terdengar seruan kaget
dari sosok bayangan hitam di depan. Sama sekali tidak diduga, kalau di depannya
disambut sebuah pukulan jarak jauh yang amat dahsyat.
Tahu betapa berbahayanya serangan
itu, sosok bayangan hitam itu menghentikan larinya. Berbareng dengan itu, kedua
tangannya didorongkan pula ke depan disertai pengerahan seluruh tenaga dalam
yang dimilikinya.
Wuuuttt...! Blarrr...!
Dua pukulan jarak jauh yang
sama-sama dahsyat itu beradu di tengah jalan. Udara sampai bergetar hebat
akibat pertemuan dua buah tenaga dahsyat itu. Akibatnya bagi kedua orang itu
hebat sekali! Baik Melati maupun sosok bayangan hitam itu sama-sama terjengkang
keras ke belakang, kemudian berguling-guling di tanah.
Tapi dengan sigap keduanya
bergegas bangkit berdiri. Sikap mereka sama-sama waspada. Baik Melati maupun
sosok bayangan hitam, sama-sama menyadari kalau mereka satu sama lain adalah
lawan yang amat tangguh.
Dewi Penyebar Maut merasa
penasaran bukan main melihat sosok bayangan hitam itu mampu membuatnya
bergulingan. Dengan rasa penasaran yang meluap-luap, diperhatikan sosok tubuh
di hadapannya yang berjarak sekitar sepuluh tombak.
Gadis berpakaian serba putih ini
mengerutkan
alisnya. Di depannya berdiri
seorang kakek bertubuh tinggi kurus, berkulit hitam legam, dan sorot mata
mencorong kehijauan.
"Ular Hitam!" jerit
Melati keras. "Kau..., kau Ular Hitam, bukan?!"
Kakek yang ternyata memang Ular
Hitam itu hanya tersenyum.
"Siapa kau, Nisanak? Dan
mengapa tiba-tiba menyerangku tanpa sebab? Dari mana kau tahu julukanku?"
berondong kakek itu.
"Kau tidak perlu tahu siapa
aku! Kedatanganku untuk mencabut nyawamu! Bersiaplah kau, Ular Hitam!"
"Eit...! Tunggu dulu,
Nisanak! Katakan, mengapa kau ingin membunuhku?" Ular Hitam
menggoyang-goyangkan kedua tangannya di depan dada
mencegah gadis itu yang sudah bersiap menyerang-nya.
"Karena kau telah membunuh
ayahku!" jerit Melati penuh kemarahan.
"Fitnah!" teriak Ular
Hitam tak kalah keras. "Siapa nama ayahmu?!"
"Raja Racun Pencabut
Nyawa!"
Wajah Ular Hitam berubah. Rasa
keterkejutan yang amat sangat terpancar di wajahnya.Jadi, gadis ini putri orang
yang sangat memusuhinya itu?
"Bagaimana, ular kepala dua? Masih ingin menyangkal lagi?!" ejek Melati
tajam.
Ular Hitam menghela napas
panjang.
"Tak bisa kupungkiri hal
itu. Ayahmu memang mati di tanganku."
"Heh?! Mengaku juga? Kau ini
memang jantan, atau ingin dianggap jantan, manusia pengecut!"
Merah wajah Ular Hitam.
"Jaga mulutmu, 'Nisanak! Aku
bukan orang semacam itu!"
"Bukan orang semacam itu?!
Hm..,! Lalu bukan pengecutkah namanya kalau bertarung dengan orang lain secara
keroyokan?"
Ular Hitam terdiam. Kembali tidak
bisa disangkal perkataan gadis itu.
"Kini terimalah kematianmu,
ular pengecut!" Setelah berkata demikian, Melati melompat
menerjang Datuk Barat itu. Kedua tangannya berputar di
samping kiri tubuhnya, kemudian berbareng terayun ke arah kepala
kakek itu.
Wuuuttt...!
Angin menderu keras mengawali
tibanya serangan Melati.
Ular Hitam merendahkan tubuh
sehingga serangan itu lewat beberapa rambut di atas kepalanya. Tapi tak urung
rambutnya berkibaran keras juga. Suatu tanda kalau serangan kedua cakar itu
mengandung tenaga dalam tinggi.
Ular Hitam mulanya merasa tak
sampai hati menurunkan tangan besi pada gadis yang masih muda belia ini. Tapi,
melihat betapa telengasnya gadis berpakaian serba putih ini, membuat kakek ini
memutuskan untuk tidak bertindak sungkan-sungkan. Bersikap lunak hanya akan
mencelakakan diri sendiri. Itulah sebabnya, sambil merendahkan tubuh, kedua
tangan Ular Hitam dengan telapak terbuka, melakukan sodokan bertubi-tubi pada
dada dan perut lawannya yang telengas ini.
Hebat dan berbahaya sekali
serangan Ular Hitam ini. Apalagi serangan itu dilakukan dengan kecepatan gerak
luar biasa, yang menjadi ciri khas ilmu 'Ular Terbang'. Akibatnya, serangan
sodokan bertubi-tubi itu menjadi amat berbahaya!
Tapi apa yang dilakukan Dewi
Penyebar Maut, tidak kalah hebatnya! Dengan sebuah gerakan yang tidak masuk
akal, karena posisi kakinya begitu sulit untuk mengenjotkan tubuh. Digerakkan
tubuhnya secara aneh. Akibatnya seluruh tubuhnya dari mulai dada ke bawah
terangkat ke atas. Dan dengan posisi seperti itu, kedua tangannya menyampok
bagian belakang kepala Ular Hitam dari atas ke bawah.
Wuuuttt. !
Ular Hitam terkejut bukan main
melihat hal ini. Dikenali betul
gerakan yang dilakukan gadis berpakaian serba putih ini. Itu adalah jurus 'Naga
Merah Mengangkat Ekor', salah satu jurus dari ilmu 'Cakar Naga Merah'! Siapa
lagi pemilik ilmu itu kalau bukan kakak kandungnya, Ki Gering Langit.
Tetapi datuk ini tidak dapat
berpikir lebih lama lagi. Serangan maut
yang mengancam belakang kepalanya telah menyambar tiba. Maka cepat-cepat dielakkan
serangan itu kalau tidak ingin mati konyol. Karena, untuk menangkis sudah tidak
memungkin-kan lagi. Cepat-cepat Ular Hitam melompat ke depan, dari langsung
bergulingan di tanah. Dan selamatlah dia dari serangan maut itu.
Tetapi Dewi Penyebar Maut yang
hatinya tengah dilanda dendam membara, tentu saja tidak berhenti sampai di
situ. Setelah kelihatan lawannya berhasil lolos, segera disusulinya dengan
serangan-serangan dahsyat!
Tentu saja Ular Hitam pun tak
tinggal diam, dan segera menyambutnya. Di lain saat kedua tokoh yang sama-sama
sakti itu sudah terlibat dalam pert-arungan sengit.
Dua puluh jurus telah berlalu,
namun belum ada tanda-tanda yang terdesak. Sementara itu Ular Hitam kini
semakin yakin kalau ilmu yang digunakan lawannya adalah 'Cakar Naga Merah'!
Maka pada suatu kesempatan, kakek itu cepat melentingkan tubuhnya ke belakang,
dan bersalto beberapa kali di udara. Manis sekali kakinya hinggap beberapa
tombak dari tempat semula.
"Tahan...!" teriak Ular
Hitam keras mencegah Dewi Penyebar Maut yang sudah bergerak mengejarnya.
Gadis berpakaian serba putih ini
memang seorang yang tidak suka menyerang lawan yang belum siap. Maka begitu
mendengar teriakan itu, gerakannya seketika terhenti. Dengan napas agak
memburu, ditatapnya wajah orang yang dibencinya ini tajam-tajam.
"Apa hubunganmu dengan Ki
Gering Langit?" tanya Ular Hitam cepat sebelum Melati sempat membuka
mulut.
Berkilat sepasang mata putri Raja
Racun Pencabut Nyawa ini mendengar pertanyaan itu. Gadis ini marah bukan main.
Sudah tiga orang bertanya serupa, dan hal ini membuatnya terasa muak. Karena
memang, ia sama sekali tidak mengenal tokoh itu.
"Aku sama sekali tidak
mengenalnya!" jawab gadis itu ketus. "Jangan coba-coba mengalihkan
persoalan, Ular Hitam!"
Merah wajah Ular Hitam. Kata-kata
yang keluar dari mulut gadis itu memang pedas bukan main.
"Aneh...! Lalu dari mana kau
mendapatkan ilmu 'Cakar Naga Merah' itu?" tanya Ular Hitam lagi dengan
perasaan bingung.
"Aku datang ke sini bukan
untuk berbincang-bincang denganmu, Ular Hitam. Bersiaplah! Aku tidak
segan-segan lagi membunuhmu sekarang, sekalipun kau belum siap!"
Setelah berkata demikian, Melati kembali
menyerang Ular Hitam. Tidak ada pilihan lain lagi bagi kakek ini kecuali
meladeni serangan gadis yang telah kalap oleh pengaruh dendam itu. Sebentar
saja mereka sudah kembali bertarung sengit. Keduanya sama-sama mengerahkan
seluruh kemampuan yang dimiliki.
Hebat sekali akibat pertarungan
dua orang sakti itu. Suara menderu hebat diseling suara bercicitan dari udara
yang terobek akibat gerakan 'Cakar Naga Merah' milik Melati, mewarnai
pertarungan itu. Pohon-pohon bertumbangan terlanda angin pukulan yang tidak
mengenai sasaran. Batu-batu besar dan kecil berpentalan tak tentu arah seperti
dilanda angin topan.
Tak terasa delapan puluh jurus telah
berlalu. Tapi, masih belum nampak tanda-tanda siapa, yang akan terdesak.
Pertarungan masih berjalan berimbang.
Sebenarnya bila dibandingkan,
Melati masih sedikit lebih unggul dalam hal tenaga dalam dan mutu ilmu silat.
Dalam hal kecepatan gerak, keduanya berimbang. Hanya saja, Ular Hitam menang
pengalaman. Itulah sebabnya sampai sekian lamanya, pertarungan masih berlangsung
seimbang.
Hal ini membuat Melati yang
mempunyai watak pemberang, jadi tidak sabar. Dengan serangan bertubi-tubi
berusaha dipojokkannya Ular Hitam. Gadis ini memang berniat mengadu keras lawan
keras.
Dan begitu kelihatan lawannya
telah tersudut, gadis berpakaian serba putih ini segera meluruk menerjang,
sambil mendorongkan kedua tangannya ke depan.
Ular Hitam terperanjat kaget.
Posisinya sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengelakkan serangan itu. Sungguh
tidak diduga kalau gadis itu memaksanya untuk mengadu tenaga dalam secara
langsung. Berarti dia mengajak mengadu nyawa!
Sebagai seorang yang telah
kenyang pengalaman, Datuk Barat ini tahu betul kalau adu tenaga dalam semacam
ini amat berbahaya. Bagi lawan yang kalah kuat, kemungkinan besar akan tewas.
Tapi walaupun demikian, bukan berarti kalau yang lebih kuat tenaganya tidak
menderita apa-apa. Apalagi jika tenaga dalam antara keduanya tidak berbeda
jauh. Paling tidak, dia akan teriuka parah!
Karena tidak ada pilihan lain
lagi, Ular Hitam mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Kemudian sambil
mengeluarkan teriakan melengking nyaring, kakek itu melompat dengan kedua tangan didorongkan ke depan. Rupanya
Ular Hitam benar-benar nekad menyambut serangan Melati.
8
"Tahan...!"
Terdengar suatu teriakan nyaring bernada mencegah. Dan belum habis gema suara itu, sesosok
bayangan ungu berkelebat ke arena pertarungan.
"Hiyaaa...!"
"Hup!"
Dengan kecepatan gerak
menakjubkan, sosok bayangan itu telah memotong lompatan Ular Hitam. Dan sebelum
Datuk Barat ini sadar, sosok bayangan ungu itu mendorongkan tangan ke bahu
sehingga tubuhnya terlempar ke samping.
Pada saat tangan orang itu
mendorong tubuh Ular Hitam, sosok bayangan ungu itu membarengi dengan egosan
tubuhnya, untuk mengelakkan serangan Melati. Tapi terlambat! Kedua tangan gadis
itu lebih dulu tiba.
Bukkk...!
Kedua tangan Melati begitu telak
menghantam tubuh sosok bayangan ungu itu. Untungnya, karena si bayangan ungu
itu sempat mengegoskan tubuh, serangan itu menyimpang dari sasaran semula.
Tidak mengenai dada, tapi mengenai bahunya. Meskipun demikian, akibat yang
diderita si bayangan ungu itu cukup dahsyat juga.
Tubuhnya terlempar beberapa tombak,
kemudian jatuh berdebuk di tanah, lalu
terguling-guling. Gulingan itu baru berhenti ketika tubuh itu akhirnya
membentur sebatang pohon.
"Arya...!" jerit Ular
Hitam keras. Wajah kakek ini pucat pasi ketika mengenali sosok bayangan ungu
yang terguling-guling di tanah itu. Pakaian, rambut, dan terutama sekali guci
arak yang terlempar dari punggungnya, membuat Ular Hitam segera mengenali
pemuda itu.
"Arya...!" teriak kakek
itu lagi. Dengan lari laksana terbang, dihampirinya sosok bayangan ungu yang
tak lain adalah Arya Buana. Pemuda itu kini tergolek seperti tidak bergerak
lagi. Cairan kental berwarna merah mengucur keluar dari mulut dan hidungnya.
"Arya...?!" sentak
Melati. Gadis itu terpaku kaku di tempatnya. Bibirnya yang telah menggumamkan
nama pemuda itu nampak menggigil keras. Ditatapnya tubuh pemuda itu yang diam tidak bergerak
lagi. Kemudian dengan pandangan mata jijik ditatap kedua tangannya yang tadi
menghantam tubuh pemuda itu.
Beberapa saat lamanya Melati
terpaku. Kemudian sambil mengeluarkan isak tertahan dari kerong-kongannya dia
berlari meninggalkan tempat itu. Tidak dihiraukan air bening yang menggulir
membasahi pipinya.
Seorang wanita selengah baya
berpakaian serba kuning, yang tiba di situ hampir berbarengan dengan kedatangan
Arya Buana, sempat melihat air mata yang bercucuran dari sepasang mata gadis
itu. Tapi, segera hal itu terlupakan ketika melihat sosok tubuh Dewa Arak yang
terkapar tidak bergerak.
Wanita itu adalah Nyi Sani. Arya
Buana memang sengaja mengajak ibunya ke tempat tinggal Kakek Ular Hitam, untuk
diperkenalkan. Dia juga meminta agar ibunya bisa tinggal di situ Tapi siapa
sangka di tengah perjalanan, pemuda itu melihat Ular Hitam tengah bertarung melawan
gadis yang telah mencuri sekeping hatinya. Pada saat pertarungan itu dalam
keadaan kritis, ia pun segera melesat mendahului ibunya untuk mencegah
terjadinya korban nyawa. Usaha pemuda ini memang berhasil, tapi membawa akibat
yang tidak ringan. Dia kini tergolek tanpa. mampu berbuat apa-apa lagi.
Nyi Sani ikut jongkok di sebelah
Ular Hitam yang telah jongkok lebih dulu. Kakek itu tengah memeriksa detak
jantung dan denyut nadi Arya.
"Bagaimana, Kek?" tanya Nyi Sani. Tanpa dijelaskan pun ia sudah bisa menduga,
siapa kakek ini. Arya telah bercerita banyak mengenai pem-bimbingnya.
"Bersyukurlah kepada Gusti
Allah, Nyi!" hanya itu yang diucapkan Ular Hitam.
"Jadi...?" sebuah
senyuman tersungging di wajah wanita tua yang sejak tadi cemas itu.
"Arya masih hidup..."
lanjut kakek berkulit hitam itu.
"Ahhh...!" Nyi Sani
mendesah lega
***
Sepekan lebih Arya Buana alias si
Dewa Arak terkapar di pembaringan. Untungnya di saat-saat terakhir, masih
sempat diegoskan tubuhnya, sehingga pukulan Melati hanya bersarang di bahu.
Tapi walaupun demikian, karena
dashyatnya tenaga yang terkandung dalam serangan itu, tak urung luka dalamnya
cukup parah. Padahal Arya telah mengerahkan tenaga dalam untuk
melindungi tubuhnya.
Pada hari ke delapan, Arya baru
dijinkan Kakek Ular Hitam meninggalkan pembaringan. Pemuda berambut putih
keperakan ini merasa sekujur tubuhnya terasa lemas sekali. Pemuda yang berjuluk
Dewa Arak ini segera mengambil tempat untuk duduk bersila, sesaat kemudian
sudah tenggelam dalam semadinya.
Selama tiga hari setelah
diijinkan meninggalkan pembaringan, Arya berusaha memulihkan tenaga dalam
dengan semadi, dan melatih ilmu andalan. Baru pada hari yang keempat, pemuda
itu meminta ijin Ular Hitam dan ibunya untuk melanjutkan perjalanan, karena
masih banyak tugas yang belum diselesaikan. Terutama tugas dari gurunya, Ki
Gering Langit.
"Arya...," ujar Ular
Hitam sebelum Arya berangkat meninggalkan dirinya dan ibunya. Nyi Sani memang
telah memutuskan untuk tinggal di kediaman Ular Hitam.
"Ya, Kek...."
"Sebelum kau pergi, aku akan
memberitahukan sesuatu hal kepadamu. Hm, mengenai gadis yang berpakaian serba
putih itu."
"Maksud, Kakek?" tanya
Arya tidak mengerti. "Selama di sini, aku dan ibumu terus memikirkan gadis
itu. Dan, syukurlah! Akhirnya kami berhasil mengetahui keberadaan gadis itu.
Ibumu mengetahui asal-usulnya, sedangkan aku mengetahui siapa gurunya."
Pemuda berambut putih keperakan
ini merasa jantung dalam dadanya berdetak kencang. Entah kenapa, ia sendiri
tidak mengerti. Setiap kali ada pembicaraan mengenai gadis berpakaian serba
putih itu, jantungnya selalu berdetak lebih cepat dari biasa.
"Benar, Arya," sambung
Nyi Sani. "Berhari-hari di sini Ibu memeras ingatan tentang semua
perkataan yang diucapkan almarhum pamanmu. Beruntung sebelum gadis itu pergi,
Ibu sempat melihatnya. Dan hal itu yang sangat membantu, sehingga Ibu berhasil
mengingatnya."
"Jadi..., benarkah gadis itu
putri dari Paman, Bu?" tanya Arya dengan suara gemetar.
Nyi Sani tersenyum. Bisa
dimaklumi ketegangan yang melanda hari putranya itu.
"Sebenarnya bukan."
"Jadi...?"
"Ia adalah seorang anak yang
diselamatkan pamanmu ketika masih bayi. Orang tuanya telah tewas dalam keadaan menyedihkan. Mungkin dibunuh orang jahat. Sejak masih bayi
pamanmu merawatnya penuh kasih sayang, sampai ia berumur lima tahun. Anak itu
diberi nama Melati. Karena kesukaannya pada pakaian serba putih yang terdapat
sulaman bunga melati pada dada kiri. Pada suatu hari, ketika pamanmu pergi
entah untuk urusan apa, anak itu ditinggalkan. Dan ketika ia kembali, anak itu
telah lenyap. Tak ada yang tahu, ke mana perginya anak itu. Pamanmu
mencari-cari, bahkan sampai meminta bantuan Ibu. Tapi, tetap saja Melati tidak
berhasil ditemukan. Ia lenyap begitu saja seperti ditelan bumi," urai Nyi
Sani menutup ceritanya.
"Kenapa Paman tidak
menitipkannya pada Ibu?" tanya Arya heran.
Nyi Sani menghela napas panjang.
Sejenak ditatap anaknya dalam-dalam.
"Aku sendiri juga tidak
mengerti, Arya. Pamanmu tidak pernah menjawab setiap kali Ibu
menanya-kannya."
Pemuda berbaju ungu ini terdiam
beberapa saat. Pandangan matanya tertuju pada satu titik. Jelas ada sesuatu
yang tengah dipikirkannya.
"Kakek menemukan suatu hal
yang mengejutkan, Arya," selak Ular Hitam memenggal lamunan pemuda
berambut putih keperakan itu.
"Apa, Kek?" tanya
pemuda itu ingin tahu.
"Kau sudah pernah bertarung
melawan gadis itu kan?" Ular Hitam malah balik bertanya.
"Sudah, Kek," Arya
menganggukkan kepalanya. "Apa kau menjumpai sesuatu yang mengejutkanmu?"
desak kakek itu lagi.
"Ada, Kek," sahut Arya
membenarkan. "Jurus 'Cakar Naga Merah'!"
"Tepat!"
"Apa tidak mungkin kalau
Melati adalah murid Guru, Kek?" tebak Dewa Arak.
"Bukan, Arya. Gadis itu sama
sekali tidak mengenal Kakang Gering Langit!"
"Jadi...?" desak Arya.
"Heh?!" Sepasang alis
Ular Hitam berkerut. "Kau tidak dapat menduganya, Arya?"
Pemuda berambut putih keperakan ini
mengerutkan alisnya sejenak. Dicobanya untuk berpikir, tapi tetap saja tidak
dapat menduga apa-apa. Pikirannya benar-benar seperti buntu!
"Hhh...!" Ular Hitam
menghela napas. "Rupanya ada sesuatu yang memberati pikiranmu, Arya.
Sehingga otakmu yang biasanya cerdas, kini tidak mampu menduga hal yang
sebenarnya sangat mudah!"
Wajah Arya memerah. Memang secara
jujur diakui, kalau benaknya diganggu bayangan Melati. Sikap gadis itu yang
selalu memusuhi, membuatnya hampir gila. Otaknya buntu, tidak bisa diajak
berpikir.
Melihat keadaan Arya, Ular Hitam
tidak tega untuk mendesak lebih lama.
"Gadis yang bernama Melati
itu adalah murid orang yang hendak kau cari atas perintah gurumu!" jelas
Ular Hitam.
"Ahhh...!" Dewa Arak
tersentak.
Arya jadi merasa begitu bodoh.
Dalam Kitab Belalang Sakti, Ki Gering Langit telah memberi tugas untuk mencari
dua orang yang sebenarnya pelayan di rumah kakek itu. Mereka telah kabur
membawa lari kitab-kitab milik Ki Gering Langit. Waktu itu puluhan tahun yang
lalu, rumah Ki Gering Langit adalah rumah yang selama ini ditempati Pendekar
Ruyung Maut.
"Jadi...?"
"Ya!" selak Ular Hitam.
"Melati adalah satu-satunya kunci yang dapat menunjukkan kepadamu di mana
dua orang pengkhianat itu!"
Dewa Arak mengangguk-anggukkan
kepalanya. "Satu yang perlu kau perhatikan, Arya," sambung kakek itu
lagi. "Kau harus berhati-hati! Aku tidak bisa membayangkan sampai di
mana kepandaian pengkhianat-pengkhianat itu. Bayangkan! Muridnya saja sampai
selihai itu! Hhh...! Kau harus sering-sering bersemadi untuk lebih memantapkan
tenaga dalammu, Arya. Aku khawatir, pengkhianat-peng-khianat itu kini telah
memiliki tingkat tenaga dalam yang sukar diukur tingginya!"
"Akan kuingat baik-baik
nasihat Kakek. O ya, Kek. Aku ada suatu masalah yang ingin kutanyakan pada
Kakek." Kemudian Arya menceritakan tentang Raksasa Kulit Baja yang memiliki
kekebalan tubuh yang luar biasa.
Setelah mendengar penuturan
pemuda berambut putih keperakan ini Ular Hitam mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Setiap ilmu memiliki
kelemahan, Arya. Apalagi ilmu yang didapat dengan cara tidak wajar. Mengenai
ilmu kekebalan tubuh yang kau ceritakan itu, banyak sekali yang kuketahui
penangkalnya. Mungkin salah satunya ada yang benar."
Lalu Ular Hitam memberitahu
macam-macam cara menaklukkan ilmu kekebalan tubuh. Arya mendengar-kan dan mencatat
di otaknya semua petunjuk yang diberikan Ular Hitam.
Setelah semua petunjuk kakek
bertubuh tinggi kurus itu dihapalnya, Arya pun pamit pada ibu dan kakeknya. Mereka melepas kepergian pemuda berambut putih keperakan itu
dengan pandang mata berkaca-kaca.
***
Arya kini melakukan perjalanan
mencari berita tentang Melati yang berjuluk Dewi Penyebar Maut. Karena
ciri-ciri gadis itu yang memang menyolok, pemuda berambut putih keperakan ini
sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk melakukan
pengejaran. Hampir di setiap tempat berita mengenai Melati selalu didapat. Dan
berita yang didapatnya membuat Arya mengerutkan dahinya.
Betapa tidak? Hampir di setiap
desa dan tempat yang dikunjunginya, Melati selalu menyebar maut! Tidak ada
orang yang masih hidup apabila telah berurusan dengannya. Satu hal yang
melegakan Arya, Melati menimbulkan korban karena ia diusik. Tak pernah gadis
itu yang memulai lebih dulu.
Arya mempercepat langkahnya. Dari
desa yang baru saja ditanyainya, didapat keterangan bahwa orang yang tengah dicarinya
belum lama melalui desa itu. Dan sudah pasti telah menimbulkan korban nyawa!
Perkara biasa. Bergajul-bergajul itu pasti hendak berbuat kurang ajar padanya.
Setelah melewati perbatasan desa,
dan mendekati mulut sebuah hutan, pendengaran Arya yang tajam menangkap adanya
suara-suara pertarungan di depan. Tanpa membuang-buang waktu lagi, tubuh pemuda
ini berkelebat cepat ke arah asal suara pertempuran.
Berkat ilmu meringankan tubuhnya
yang sudah mencapai taraf kesempurnaan
dalam waktu sebentar saja Arya sudah melihat orang yang bertarung. Dan mendadak
pemuda berambut putih keperakan ini tersentak begitu mengenali kedua orang yang
sedang bertarung itu.
Tidak jauh darinya, sekitar
sepuluh tombak di depan, nampak seorang gadis cantik berpakaian serba putih dan
bersenjatakan pedang, tengah bertarung melawan seseorang bertubuh tinggi besar,
dan berwajah kasar. Di lehernya tergantung kaking yang bermatakan tengkorak
kepala bayi. Siapa lagi kalau bukan Melati yang tengah bertarung melawan
Raksasa Kulit Baja.
Pandangan mata Dewa Arak yang
tajam segera saja dapat mengetahui kalau Melati
terlihat kelelahan. Peluhnya yang membanjiri tubuh dan gerakannya yang sudah
tidak gesit lagi, menjadi bukti dugaan pemuda berambut putih keperakan itu.
"Ha ha ha...!" terdengar
tawa terbahak-bahak dari mulut Raksasa Kulit Baja itu.
Pemuda ini tahu kalau Melati,
seperti dirinya juga dulu, kebingungan
dan habis daya melawan kehebatan ilmu lawannya. Dan Dewa Arak yang telah
mendapat petunjuk cara menghadapi Raksasa Kulit
Baja, segera melompat ke arena
pertempuran. "Mundur, Melati!" perintah Dewa Arak.
Terdengar seruan kaget dari mulut
gadis itu. Dan memang sebenarnya Melati mengalami kekagetan yang
bertumpuk-tumpuk. Dari mana Arya Buana mengetahui namanya? Tapi dalam kekagetan
yang melanda hatinya itu, menyeruak rasa gembira yang tak terperikan. Arya
Buana ternyata masih hidup! Pemuda yang telah membuat gejolak perasaannya tak menentu itu ternyata tidak mati akibat pukulannya!
Oh, mengapa dia tidak pernah merasa segembira seperti sekarang? Inikah yang
dinamakan cinta? Mengapa pemuda itu ada di sini? Apakah Arya juga memperhatikan
dirinya?
Tanpa sadar gadis itu melompat
mundur. Arya yang melihat hal ini menjadi tersentak sekaligus gembira. Berarti
benarlah dugaan ibunya. Gadis ini adalah Melati kecil yang dulu ditemukan
pamannya sewaktu masih bayi!
"Grrroah...!" Raksasa
Kulit Baja meraung murka begitu melihat siapa yang masuk ke arena pert-empuran,
dan kini berdiri di hadapannya sambil menuangkan arak ke dalam mulut.
Gluk... gluk... gluk...!
"Sungguh besar nyalimu, Dewa
Arak! Kali ini jangan harap dapat lolos dari tanganku!"
Setelah berkata demikian, manusia
raksasa itu melolos rantai berujung arit yang melilit pinggangnya. Sambil menggeram marah, diputar-putar, dan dilemparkannya ke arah Arya.
Singgg...!
Suara mendesing nyaring terdengar
ketika rantai berujung arit itu meluncur cepat ke arah kepala Dewa Arak.
Sedangkan pemuda itu seperti biasa tengah
sempoyongan sehabis menenggak
araknya, seolah-olah tidak menyadari adanya bahaya mengancam. Tapi begitu
serangan rantai itu menyambar dekat, Dewa Arak cepat menggerakkan tangan
memapak, setelah lebih dulu menyimpan kembali gucinya di punggung.
Pralll...!
Rantai yang terbuat dari baja itu
putus berantakan ketika mengenai tangan kanan Dewa Arak. Berbareng dengan itu,
tangan kiri pemuda itu menangkap ujung rantai yang tersisa.
Kreppp! "Hup!"
Hanya sekali sentak, tubuh
Raksasa Kulit Baja terbetot dan melayang ke arah Dewa Arak. Hal ini memang
disengaja. Pemuda itu ingin mencoba salah satu cara yang diberikan Ular Hitam.
Menurut Ular Hitam, kalau Raksasa Kulit Baja memperoleh kekebalan dengan cara melumuri
ramuan-ramuan ke tubuhnya, pasti ada bagian tubuh yang tidak terkena ramuan
itu. Karena tidak mungkin seluruh tubuhnya terlumuri ramuan. Dan bagian yarig
tidak terkena ramuan itu adalah kelemahan dari Raksasa Kulit Baja. Arya tahu,
di antara seluruh tubuh tinggi besar ini hanya satu anggota tubuh yang belum
pernah diserangnya. Telapak kaki! Kini pemuda berambut putih keperakan itu akan
mencobanya.
Wuuuttt...!
Begitu tubuh Raksasa Kulit Baja
itu telah menyambar dekat, Dewa Arak mencuatkan kakinya. Maka dengan ujung
kaki, disodoknya telapak kaki manuka bertubuh raksasa itu.
Tukkk...!
Tubuh Raksasa Kulit Baja
terpental ke atas.
Pegangannya pada rantai langsung
terlepas. Sesaat lamanya tubuh itu melayang-layang di udara, kemudian jatuh ke tanah
sehingga menimbulkan suara berdebuk keras.
Dengan hati berdebar tegang, Arya
menunggu hasil percobaannya itu. Tapi betapa kecewa hatinya ketika lawannya
bangkit kembali tanpa kurang suatu apa.
Berarti manusia raksasa ini tidak
mempergunakan ramu-ramuan untuk mendapatkan kekebalan.
Srattt...!
Arya mencabut sesuatu dari balik
punggungnya Cara kedua yang diajarkan Ular Hitam untuk menaklukkan kekebalan
tubuh Raksasa Kulit Baja.
"Ha ha ha...!" manusia
raksasa itu tertawa bergelak ketika melihat senjata yang tergenggam di tangan
Dewa Arak. Bambu kuning! Panjangnya sama dengan panjang sebatang pedang.
"Rupanya kau ini sudah jadi
gila karena bingung, Dewa Arak! Jangankan bambu, baja pun tidak akan membuat
kulitku lecet!"
Tapi Arya tidak mempedulikan
ejekan itu. Sambil mengeluarkan pekik melengking, Dewa Arak melompat menyerang lawannya.
Raksasa Kulit Baja yang mempunyai
gerakan lambat, tidak mungkin menghindari serangan Dewa Arak yang sangat cepat
itu? Bertubi-tubi bambu kuning di tangan Arya mengenai sasarannya. Ditusuk,
disabet, disontek, sampai akhirnya bambu itu hancur!
"Ha ha ha...!" kembali
Raksasa Kulit Baja tertawa bergelak.
"Masih ada lagi senjatamu,
Dewa Arak? Keluarkan! Puaskan hatimu, sebelum kau tewas di tanganku!"
Arya membuang sisa
bambu yang masih digengamnya. Sesaat
kemudian matanya liar mengawasi sekelilingnya. Dan
seketika matanya berseri ketika melihat sebuah pohon yang memang dicarinya.
Pohon kelor!
Cepat laksana kilat, tubuh Arya
melesat ke atas. Dan di lain saat tubuhnya sudah melayang turun. Kini di
tangannya tergenggam sebatang ranting pohon itu yang berdaun lebat.
Secepat kedua kakinya hinggap di
tanah, secepat itu pula tubuh Dewa Arak melayang ke arah Raksasa Kulit Baja.
Daun kelor yang tergenggam di tangannya disabetkan ke tubuh manusia raksasa
itu.
Prattt! "Akh...!"
Dengan telak sabetan itu mengenai
badan Raksasa Kulit Baja. Mendadak saja terdengar jerit kesakitan dari mulut
manusia raksasa yang kebal ini. Jerit yang lebih menyerupai raungan binatang
buas terluka.
Dewi Penyebar Maut tersentak
kaget melihat hal ini. Hampir tidak dipercaya akan apa yang dilihatnya barusan.
Raksasa Kulit Baja yang memiliki kekebalan luar biasa itu meraung-raung hanya
dengan sabetan daun kelor!
Dan sebaliknya, begitu Arya
melihat usahanya berhasil, ia pun cepat menghujani sekujur tubuh lawan dengan
sabetan-sabetan daun kelor yang digenggamnya.
Prattt! Prattt!
"Akh...! Aduh! Ahhh...!"
Jerit kesakitan terdengar
susul-menyusul. Tubuh Raksasa Kulit Baja ini menggeliat-geliat, bahkan
terguling-guling. Tapi, Dewa Arak tidak memberi kesempatan. Tubuh yang
bergulingan di tanah itu terus dihujaninya dengan daun kelor.
Baru setelah ranting yang
digenggamnya hancur, Arya menghentikan sabetan. Dibuangnya ranting itu, lalu
ditatapnya sejenak tubuh tinggi besar yang masih berguling-guling. Kemudian
sambil mengumpulkan seluruh tenaga, didorongkan kedua tangannya dengan jari-jari terbuka ke depan.
Dewa Arak menggunakan jurus 'Pukulan
Belalang' dalam lambaran 'Tenaga
Dalam Inti Matahari'!
Wuuuttt...!
Angin yang berhawa panas menderu
keras ke arah tubuh Raksasa Kulit Baja yang masih berguling kesakitan.
Bresss...!
Tubuh Raksasa Kulit Baja terpental
keras ke belakang ketika pukulan jarak jauh Dewa Arak telak menghantam
tubuhnya.
Suara jerit menyayat keluar dari
mulut si tinggi besar ini. Tubuhnya bergulingan jauh. Dari mulut, hidung, mata,
dan telinga mengalir darah segar. Dan begitu gulingan itu terhenti, berhenti
pulalah riwayat tokoh menggiriskan ini. Sekujur tubuhnya nampak menghitam
hangus!
Sambil mengumpulkan seluruh
tenaganya, Dewa Arak mendorongkan kedua tangannya ke arah Raksasa Kulit Baja
yang masih berguling kesakitan!
Arya Buana tercenung memandang
sosok tubuh yang kini tergolek di hadapannya. Dalam hati, dikagumi juga
kehebatan ilmu yang dimiliki orang bertubuh seperti raksasa itu.
Cukup lama juga pemuda itu
tercenung, dan baru sadar ketika mendengar suara gerakan halus di belakangnya.
Dalam sekelebatan, benaknya teringat pada Melati. Buru-buru ditolehkan
kepalanya ke belakang.
Dapat dibayangkan betapa
terperanjatnya hati pemuda berambut putih keperakan ini ketika tidak melihat
siapa-siapa di situ. Dengan perasaan cemas, diedarkan pandangannya berkeliling.
Tapi, tetap saja tidak dijumpai sosok tubuh yang dirindukan dan yang selalu
mengganggu ingatannya.
"Melati...!" teriak
Arya kalap. Teriakannya yang disertai pengerahan tenaga dalam itu bergaung,
menggema ke sekitarnya.
Sesaat pemuda berbaju ungu ini
menunggu sambutan. Tapi sampai lelah menunggu, tak juga ada tanda-tanda akan
adanya sahutan. Hanya gema suaranya sendiri yang menyambut panggilannya.
"Melati...!" teriak
Dewa Arak lagi. Dan memang, suaranya terdengar bernada putus asa. Dia seperti,
kehilangan sesuatu yang amat dicintainya. Tanpa pikir lagi, Dewa Arak bergerak
mengejar ke dalam hutan. Tujuannya jelas, mencari Melati! Selain untuk
ketenangan hatinya, juga untuk memenuhi tugas gurunya. Seperti diketahui, gadis
ini adalah satu-satunya kunci untuk mencari pencuri kitab-kitab milik Ki Gering
Langit.
Tanpa sepengetahuan Arya, dari
balik pohon, se-raut wajah cantik berpakaian serba putih menatap kepergiannya
dengan mata merembang berkaca-kaca. Gadis itu merasa malu menemui Arya, karena
sejak pertama kali selalu bentrok dengannya. Tapi gadis itu juga merasa sedih
tidak bisa bersama-sama dengan Arya, pemuda yang diam-diam dicintainya. Dia
hanya bisa menatap tubuh Arya Buana hingga lenyap di kejauhan....
Nah, apakah kelak Melati mau menjumpai
Dewa Arak lagi? Berhasilkah Arya mencari Melati? Dan memenuhi tugas dari
gurunya untuk mengambil kitab-
kitab yang dicuri oleh pelayan Ki
Gering Langit? Bagi para pembaca yang ingin mengetahui kisah
selanjutnya, silakan ikuti serial Dewa Arak dalam episode "Cinta Sang
Pendekar".
SELESAI
No comments:
Post a Comment