MISTERI
DENDAM BERDARAH
Oleh Firman Raharja
1
Malam merebak, membedah sisi alam
dalam kehidupan gulita. Suasana hening. Gerimis pun mulai turun. Desa yang
terletak sepuluh perjalanan menanak nasi dari Hutan Alas Warangan, sunyi. Lampu
sentir yang ada di setiap rumah hanya bisa bertahan sekejap, karena gerimis
telah- memadam- kannya.
Suara binatang malam pun tak
terdengar. Mereka lebih suka berdiam di sarangnya daripada harus kena hujan.
Tetapi binatang yang memang gemar air, begitu asyik bersenda gurau dengan
sesamanya.
Desa yang bernama Bojong Sawo itu
kalau pagi merupakan sebuah desa yang penuh dengan kegiatan. Para laki-lakinya
kalau pagi bekerja di sawah dan ladang. Sementara yang wanita mencuci dan
menanak nasi. Kehidupan yang ramah, ramai dan penuh kesahajaan.
Hanya saja beberapa bulan
belakangan ini para penduduk di Desa Bojong Sawo mengalami sebuah tekanan yang
menyakitkan, dengan kedatangan seorang laki-laki yang bernama Soka Wijaya
beserta antek-anteknya. Ketenangan mereka pun menjadi kacau-balau. Mereka tidak
lagi merasakan ke- damaian hidup seperti dulu. Selalu berbalur ketakutan demi ketakutan,
terutama yang memiliki anak gadis.
Sampai sejauh ini mereka tidak ada
yang berani memberontak, diam saja dengan kepasrahan dan berharap satu saat
kemurkaan yang mereka alami sekarang ini akan pergi.
Tiba-tiba, dua sosok tubuh melompat
dari balik semak. Keduanya mengenakan topeng berwarna hitam. Di punggung mereka
tersampir sepasang pedang yang bersilangan. Melihat dari gerak-geriknya, mereka
bersiap menuju ke arah yang paling besar di desa itu. Di depan pintu
gerbangnya, berdiri dua orang laki-laki gagah dengan posisi tegap. Tidak
mempedulikan hawa dingin dan gerimis yang semakin banyak menumpahkan airnya.
“Kau yakin ini rumah juragan tanah
yang serakah itu, Kakang?” salah seorang yang mengenakan topeng hitam itu
bertanya pada kawannya.
Kawannya hanya menganggukkan
kepalanya. “Ya, Adimas. Aku sudah menyelidikinya tadi siang. Hhh! Juragan Soka
Wijaya adalah seorang lintah darat yang sangat kejam. Ia tidak segan-segan
untuk memeras rakyat dengan praktek lintah daratnya. Kau ingat yang dialami oleh
Bibik Utari?”
“Ya.” “Hhh! Manusia itu bukan hanya
telah mem- bunuhnya, tetapi memperkosanya begitu saja karena ia tidak mampu
membayar hutang-hutangnya! Aku tidak akan pernah tenang bila masih membiarkan
laki-laki keparat itu hidup, Adimas!”
“Betul, Kakang!” sahut yang
dipanggil 'Adimas' dengan kegeraman yang sama. Tubuh keduanya mulai membasah
karena gerimis. Tetapi mereka tidak mem-pedulikannya. Dendam sudah bergejolak
di sanubari mereka. Mereka harus menuntut balas atas kematian bibik mereka yang
dibunuh secara kejam oleh Juragan Soka Wijaya.
“Ayo!” seru si kakang sambil
mengendap men- dekati rumah besar itu. Di belakangnya si adik mengikuti dengan
kesigapan yang sama. Mereka berhenti di balik semak. Jarak dari tempat mereka
ke rumah besar itu hanya beberapa tombak saja. “Adimas... kau sanggup
melumpuhkan penjaga yang sebelah kanan tanpa menimbulkan suara?” bisik si
kakang.
“Ditanggung beres, Kakang.” “Aku
akan melumpuhkan yang sebelah kiri. Ayo, kita mulai!” seraya berkata begitu, si
kakang melompat dari tempat persembunyiannya. Gerakan- nya sangat ringan
sekali, menandakan kalau ilmu yang dimilikinya cukup tinggi. Si adik pun tidak
mau ketinggalan, melakukan gerakan yang bersamaan.
Dua penjaga yang membiarkan tubuh
mereka diterpa gerimis, tidak menyangka akan serangan mendadak itu. Kedua
penjaga langsung lunglai dan menemui ajalnya dengan leher patah.
Kedua kakak beradik itu saling
mengangguk. Lalu mengempos tubuhnya, hup! Kini hinggap di atas tembok yang
cukup tinggi mengelilingi rumah besar itu.
“Kita harus bergerak cepat, Adi!
Jangan sampai rencana ini gagal!” “Baik, Kakang!”
Keduanya bersalto, namun malang,
bertepatan mereka menginjak tanah, lima orang penjaga yang sedang berpatroli di
sekeliling rumah, memergoki mereka.
“Siapa kalian?” bentak salah
seorang. Tubuhnya tegap dengan kumis tebal menakutkan. Di tangannya ada sebuah
golok yang tajam sekali. Ia bernama Tunggal Murka.
Kakak beradik itu beradu pandang.
Memang tidak ada jalan lain lagi, selain menghadapi para peng- hadangnya.
Si kakang maju selangkah, suaranya
mengan- dung ancaman ketika berseru, “Kalian lebih baik pergi dari sini! Kami
tidak ada urusan dengan kalian!”
“Hhh! Siapa pun yang berani
menginjakkan kakinya di tanah Juragan Soka Wijaya, harus ber- kalang tanah!”
“Bangsat! Lihat serangan!” Mendadak
si kakang melesat dengan cepat, sambil melompat itu kedua tangannya bergerak.
Kini sepasang pedang yang ada di punggungnya telah berpindah, di telapak
tangannya dan siap menghunjamkan ke tubuh lawan.
Namun Tunggal Murka pun tidak mau
kalah, Baginya, gebrakan yang dilakukan lawannya hanyalah permainan anak kecil
saja. Ia menyongsong dengan menggulirkan tubuhnya di tanah. Melewati serangan
si kakang yang bernama Seto itu, dan mengibaskan goloknya, membujur dari bawah
ke atas, mengancam selangkangan Seto.
“Heeeaaa...!” Seto mendengus.
Gebrakan pertama yang diperlihatkan lawannya menandakan sang lawan bukanlah
orang yang bisa dianggap ringan. Gerakan itu sungguh menakjubkan, menandakan
lawannya memiliki keberanian dan ketangkasan yang menjadi modalnya.
“Yiaaattt!” Seto mengeropos
tubuhnya dengan tumpuan pedang di tangan kanannya yang menangkis golok Tunggal
Murka.
Trang! Bersamaan dengan itu
tubuhnya melenting, dan sepasang pedang kembarnya mengarah pada empat orang
lawannya yang sejak tadi bersiaga.
“Jangan seperti sapi ompong,
Monyet-monyet
Lintah Darat! Jaga serangan!”
Sudah tentu keempat lawannya
langsung menarik golok mereka dari sarungnya, dan memapaki serangan Seto. Jurus
'Pedang Kembar Mencabik Laut' yang dimainkan Seto bukannya ilmu pedang yang
ringan, itu adalah jurus warisan dari gurunya, Resi Mulia yang berjuluk Setan
Pedang Kembar. Kembangan dari jurusnya, merupakan rangkaian seperti bacokan
pedang asal saja. Namun sebenar- nya itu sangat terarah.
Bunyi beradunya pedang dan golok
terdengar nyaring di keremangan malam. Membangkitkan keingintahuan orang-orang
di dalam rumah besar itu. Sepuluh orang bersenjatakan tombak, pun berlarian
keluar. Yang sebagian lagi berjaga-jaga di dalam.
Seorang yang bertubuh tambur dengan
pakaiannya yang bagus keluar dari peraduannya. Ia nampak , jengkel dan marah.
“Ada apa?” “Maaf, Tuan... ada dua
orang pengacau yang menyerang kita. Saya harap, Tuan berada di dalam saja... semuanya
akan beres,” sahut pengawal yang mengenakan pakaian seperti orang keraton
layaknya. Ia bernama Jalaluta, atau yang berjuluk si Keris Dewa, karena
senjatanya berupa sebilah keris yang sakti.
Juragan Soka Wijaya mendengus.
“Beritahu aku siapa mereka! Setelah itu, bunuh kedua cecunguk itu!”
“Baik, Tuan....” “Aku tidak suka
maling kecil yang ingin mencoba menembus rumah ini dibiarkan hidup!” “Baik,
Tuan...” Pintu kamar yang terukir itu terbuka, satu sosok tubuh yang hanya
mengenakan kain saja dan rambut yang awut-awutan keluar. Wajahnya jelita
sekali.
Sepasang matanya bening, penuh
dengan ke- gairahan. Tubuhnya yang hanya tertutup kain belaka, menampilkan satu
sosok penuh gairah, menjanjikan surga dunia yang akan bisa diberikannya.
“Ada apa, Kangmas?” tanyanya
mendayu-dayu. Mengerling pada Jalaluta yang langsung menunduk- kan kepalanya.
Bila ia membalas kerlingan itu dan diketa: hui oleh Juragan Soka Wijaya, maka
akan tamatlah riwayatnya.
“He he he... tidak apa-apa, Nimas.
Ayo, ayo... kita lakukan lagi,” sahut Juragan Soka Wijaya sambil tertawa. Lalu
katanya pada Jalaluta, “Kenapa kau masih berada di sini, hah?!”
Tergagap Jalaluta segera berlalu.
Sialan! Memang enak jadi orang kaya. Apa saja bisa diperbuat. Lalu ia segera
keluar sementara Juragan Soka Wijaya menggandeng wanita itu masuk ke kamar
kembali.
Di halaman rumah besar itu, dua
kakak beradik yang menyelinap masuk, sedang sibuk menghadapi keroyokan dari
orang-orang gagah pengawal Juragan Soka Wijaya. Orang itu tidak malu-malu untuk
mengeroyok mereka. Karena pada dasarnya, mereka memang suka sekali mengeroyok.
Bagi mereka, yang penting adalah memetik kemenangan. Persetan dengan cara apa
pun! Jangankan cuma main keroyokan, menjebak lawan dengan siasat yang paling
licik pun.
“Panggil keluar semua orang-orang
juragan busuk itu! Kalian akan mampus secara mengerikan!” seru Seto sambil
menebaskan pedangnya ke sana kemari. Gerakannya tetap seperti asal saja. Seolah
ia hanya mengibaskan pedangnya bagai sedang menepuk lalat, tanpa melihat
sasaran. Namun hasilnya justru mengejutkan. Dan dua buah jeritan terdengar
dengan dua sosok tubuh ambruk bergelimang darah.
Orang-orang itu semakin mencecar
Seto dan Bo- no yang berusaha membebaskan diri. Dengan mengerahkan segala
kemampuannya, keduanya beberapa kali berhasil menghindarkan diri, bahkan
membalas dengan hebatnya.
Seto sebenarnya bermaksud hendak
melompat ke dalam rumah. Namun ia masih memperhitungkan kedudukan adiknya.
Melawan sepuluh orang itu, bukanlah hal yang mudah. Makanya, ia masih
mengurungkan niatnya untuk masuk ke rumah mewah itu dan membunuh Juragan Soka Wijaya.
Tetapi agaknya Bono mengerti maksud
kakaknya. “Kakang! Jangan ragu-ragu! Cari bangsat itu dan bunuh biar mampus!”
'Tapi, Adi...,” balas Seto sambil
menyabetkan pedangnya ke bagian bawah lawannya. Lawannya masih bisa menghindar,
namun dengan gerakan yang lebih jitu lagi, Seto melancarkan sabetan sekali
lagi.
Des! “Aaakhhh!” Tubuh lawannya
terbelah di bagian perut! “Jangan khawatir, Kakang... aku bisa menghadapi
manusia- manusia busuk ini!” sahut Bono sambil mem- pergencar serangannya.
“Heeeaaa!”
“Tidak usah, kita habisi saja dulu
manusia- manusia bangsat ini! Setelah itu, kita cincang Juragan busuk itu!
Tingkatkan ilmu pedang ke tingkat dua, Adi!” “Baik, Kakang! Yeaaa!”
“Yiaaat! Mampuslah kalian semua!”
Keduanya bergerak semakin gencar. Semakin membabi buta. Pada gebrakan
selanjutnya, terlihat lawan yang kini tinggal tujuh orang bukan tandingan ilmu
pedang tingkat kedua milik Seto dan Bono. Mereka malah kalang kabut menghadapi
rangkaian jurus mematikan dari keduanya. Sabetan empat buah pedang yang berada
di tangan keduanya, seolah menjelma menjadi banyak. Menimbulkan suara deru
angin yang keras, disertai jeritan demi jeritan.
Tiba-tiba terdengar bentakan keras,
“Hentikan!” Gerakan dari lawan Seto dan Bono segera terhenti. Mereka bersyukur
karena ada yang menghentikan pertarungan itu. Kesempatan itu pun dipergunakan
oleh Seto dan Bono untuk mengatur napas. Mereka melihat satu sosok tubuh
berpakaian keraton keluar dengan langkah pelan namun berisi. Wajahnya
menampilkan kegeraman yang amat sangat.
“Hhh! Bodoh kalian semua!
Menghadapi dua manusia bangsat ini harus mengorbankan beberapa nyawa teman
kalian!” bentak Jalaluta dengan tatapan nyalang pada kedua kakak beradik itu.
“Siapa kalian adanya?”
“Kami adalah orang-orang yang akan
meng- hancurkan kebusukan Juragan Soka Wijaya!” sahut Seto dengan dengusan yang
panjang, la bisa mengukur tenaga dalam lawan, yang sudah dialiri melalui
suaranya.
“Sudah tinggikah rupanya ilmu yang
kalian miliki? Cih! Lebih baik segera kembali dan menetek pada ibu kalian!” Jalaluta
membuang ludahnya.
“Ha ha ha... kau tidak pernah
memandang betapa tingginya langit dan dalamnya bumi, Antek Soka Wijaya!”
Mendapat jawaban seperti itu,
Jalaluta semakin terbahak-bahak. Lebih keras dari yang pertama.
“Biasanya, orang yang ingin mati
lebih suka sesumbar!”
Kedua kakak beradik itu beradu
pandang. Lalu seperti sudah disepakati, mereka segera menerjang dengan ilmu
pedang gabungan, 'Dua Kembar Menghalau Bukit'. Gerakan itu begitu dahsyat,
menimbulkan suara gemuruh yang keras dan setiap kali mereka mengayunkan pedang,
terdengar suara siungan angin yang menderu-deru.
“Mampuslah kau, Keparat!” dengus
Seto. “Heeeaaa!” Jalaluta hanya terbahak-bahak saja. “Ada hubungan apa kalian
dengan Setan Pedang Kembar, hah?” “Bertekuk lututlah kau saat menyebutkan nama
guru kami!” bentak Bono yang menyerang dari sisi sebelah kiri.
“Ha ha ha... rupanya si Tua itu
telah mempunyai murid! Bagus, bagus! Sampaikan salamku untuknya! Katakan, biar
dia cepat mampus!”
Mendengar ejekan yang ditimpakan
kepada guru mereka, membuat kedua kakak beradik itu marah besar. Mereka terus
menerjang dengan gabungan jurus pedang yang dahsyat. Namun sampai sejauh itu
belum membawakan hasil yang seperti diharapkan. Karena Jalaluta memiliki ilmu
meringankan tubuh dalam taraf yang cukup tinggi. Tubuhnya melenting ke sana
kemari menghindari setiap serangan mereka.
Hal itu semakin membuat kedua kakak
beradik itu bertambah geram. Mereka meningkatkan penyerangan, dengan
menggunakan tenaga dalam yang berlipat ganda.
“Gunakan 'Gabungan Kembar Menipu
Setan', Adi Bono!” Dengan menggunakan jurus berikutnya, agaknya membawa hasil.
Jurus itu merupakan rangkaian kelitan yang hebat, dan sekali-sekali menyerang
dengan gerakan cepat dan bertenaga. Merupakan rangkaian gerak yang sangat
dahsyat. Lebih hebat dari jurus gabungan pertama yang mereka perlihatkan tadi.
Kali ini Jalaluta menggeram marah.
Ia berkelit ke sana kemari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Hanya
kali ini ia tertipu beberapa kali. Karena, serangan yang kedua kakak beradik
itu lakukan, sepertinya selalu berkelit. Jadi, mengikuti setiap gerakan kelitan
yang dilakukan oleh Jalaluta. Hal itu teramat menyulitkannya. Bukan hanya
sampai di sana tingkat kesulitan yang dihadapinya, melainkan karena ia pun
harus mengelakkan setiap sodokan, sabetan dan pan-cungan dari pedang yang
dilakukan oleh kakak beradik itu.
“Anjing buduk!” geramnya sambil
bersalto beberapa kali ke belakang, lalu hinggap di tanah dengan ringannya.
Tetapi ia harus mengempos lagi tubuhnya, karena serangan yang datang kembali
beruntun. Rupanya kakak beradik itu tidak pernah mau membiarkan Jalaluta
bernapas. “Monyet!”
Terpaksa Jalaluta melompat kembali.
Tetapi kali ini ia sudah terdesak dan terjebak. Ia terkurung dalam kilatan
empat buah pedang yang berkelebat ke sana kemari. Nasib Jalaluta sudah di ujung
tanduk, ia tidak mungkin menghindari serangan yang kembali datang.
Namun mendadak terdengar seruan
keras. Tunggal Murka sudah menerjang maju dengan goloknya. Maksudnya, untuk
membebaskan Jalaluta dari kepungan golok itu.
Namun itu adalah kesalahan terbesar
yang dilakukannya. Selagi pedang yang berada di tangan kakak beradik berkelebat
mengurung Jalaluta, seharusnya Tunggal Murka tidak menyerang dan masuk ke dalam
pusaran. Karena, itu hanya membuang nyawa dengan percuma.
“Bangsat!” maki Seto sambil
menggerakkan kibasan pedangnnya.
Terdengar bunyi nyaring beberapa
kali. Disusul dengan lolongan yang sangat kuat. Tubuh Tunggal Murka mencelat ke
atas dalam keadaan tercabik- cabik. Beberapa temannya segera memburu. Dan
melihat tubuh yang sangat mengerikan sekali. Penuh darah dan wajahnya hancur.
Mereka menjadi marah, dan memasuki
pertarungan itu. Hal ini membawa hasil yang menggembirakan bagi Jalaluta. Ia
segera terbebas dari jebakan pedang yang mengitarinya, karena Seto dan Bono
harus menghadapi serangan yang baru datang itu.
Jalaluta mempergunakan kesempatan
itu untuk mengatur napasnya. Dan melihat betapa para penjaga itu tewas dengan
tubuh yang tak kalah mengerikannya dari yang dialami oleh Tunggal Murka.
“Mampuslah kau, Keparat!” Kali ini Jalaluta menyerang dengan kerisnya. Sinar merah
terpancar dari keris itu. Menyilaukan mata. Dan kilatan itu menerpa kedua mata
kakak beradik yang sekejap memejamkan matanya. Namun sekejap pula Jalaluta
sudah merang-sek maju, yang ditujunya adalah Bono, karena ia berada paling
dekat dengannya.
“Adi Bono!” seru Seto mengingatkan
Bono akan serangan yang mendadak masuk. Sebisanya ia menangkis serangan keris
itu.
Trang! Hanya sekali ia berhasil
melakukannya. Karena tiba-tiba tubuh Jalaluta berputar dan kerisnya segera
menyambar lengan kanan Bono.
Cras! “Aaakhhh!” Lengan itu putus
mengalirkan darah. Bono meraung-raung dengan keras sambil mendekap tangan
kanannya dengan tangan kirinya. Pedangnya sudah dilepaskan.
Melihat darah yang sudah memancar,
mendadak saja Jalaluta bergerak cepat. Ia seperti manusia yang haus darah. Itu
karena pengaruh dari Keris Dewa yang dipegangnya. Keris yang seolah mempunyai
indera penciuman dan sangat haus darah.
Seto melihat kedudukan adiknya
tidak menguntungkan, sementara Jalaluta sudah merangsek maju dengan cepatnya,
la pun menjerit keras dan menerjang, mencoba memotong gerakan keris itu dengan
'Kembar Menghalau Gunung'. Namun sayang, keris itu sepertinya bermata. Mendadak
saja tangan Jalaluta yang menggenggam keris bergerak ke arahnya, sementara kaki
Jalaluta menendang Bono hingga terlempar beberapa tombak.
Menghadapi serangan balik seperti
itu, Seto menjadi gugup. Ia tidak menyangka kalau serangan- nya menjadi seperti
disongsong dengan kuat. Tidak ada jalan lain selain memapaki.
Trang! Trang! Dua kali terjadi
benturan. Seto merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Dan dirasakannya hawa panas
mengalir sekujur tubuhnya. Mendadak saja ia melemparkan sepasang pedangnya yang
seolah menjadi bara api. Dipejamkannya matanya. Ia pasrah menerima kematiannya di ujung keris Jalaluta.
Tetapi yang mengherankannya,
Jalaluta justru kembali menyerang Bono yang sedang mengerang hebat Rasa sakit
yang dialaminya tak terkira. Begitu menyiksanya.
Seto tidak tahu, kalau gerakan yang
dilakukan Jalaluta itu bukanlah atas kemauan Jalaluta sendiri, melainkan atas
kemauan dari keris di tangannya. Keris itu memang menginginkan darah lawannya.
Tubuh Bono sudah mengalirkan darah, sementara Seto belum terluka, meskipun
getaran dan hawa panas di tubuhnya semakin mengencang.
Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain
menyaksikan kematian yang siap menerpa adiknya. Dipejamkannya matanya ketika
dilihatnya keris itu menusuk tepat di bagian jantung Bono. Suara jeritan yang
sangat keras terdengar. Lolongan itu memecahkan malam, membuat para penduduk
terbangun, namun tidak ada yang berani keluar. Lebih baik berdiam saja di
rumah.
Seto menggigil karena menahan
amarah yang menjalari setiap tubuhnya. Mendadak ia bergerak dengan cepatnya,
tidak dipedulikannya hawa panas yang mengaliri setiap pori-porinya. Begitu
menyiksanya.
“Kau harus membayar semua ini,
Anjing Buduk!” serunya keras sambil mengarahkan sebuah pukulan ke arah
Jalaluta. Jalaluta hanya memiringkan tubuhnya, dan kesempatan itu dipergunakan
oleh Seto untuk menyambar tubuh adiknya yang sudah menjadi mayat. Menepak keris
Jalaluta yang mengancam tubuhnya. Tangannya berdarah. Tetapi tidak
dihiraukannya. Langsung ia melarikan diri dengan membawa tubuh Bono yang tak
bernyawa.
Beberapa orang hendak mengejar,
tetapi Jalaluta menahannya.
“Tidak usah! Biarkan dia menderita
akibat hawa panas yang menerpanya! Kalau ia memiliki hawa murni yang cukup,
tubuhnya akan bertahan selama tiga hari tiga malam. Tetapi kalau tidak, ha ha
ha... ia akan mampus dengan tubuh meledak besok pagi juga! Inilah akibatnya
bila berani bermain-main nyawa dengan Jalaluta! Ha ha ha!”
Lalu Jalaluta masuk kembali ke
dalam, setelah memerintahkan para penjaga untuk mengangkuti mayat-mayat kawan
mereka dan menguburkannya. Suasana kembali hening. ***
Hutan Alas Warangan merupakan hutan
yang lebat dan menyeramkan di daerah itu. Konon, hutan itu tempat bermukimnya
para buto. Satu sosok tubuh tidak mempedulikannya. Sosok itu terus berlari dan
berlari. Sudah setengah tersaruk-saruk karena keletihan dan beban yang
dibawanya.
Ia tak lain adalah Seto yang
memanggul mayat Bono. Tubuhnya sudah dirasakan semakin panas saja. Gerakannya
sudah tidak selincah tadi. Tenaganya semakin terkuras dengan keadaan yang
sangat menyakitkan.
Beberapa menit kemudian, ia tidak
bisa bertahan lagi. Tubuhnya ambruk. Mayat Bono terpental beberapa tombak.
Masih dikuatkannya seluruh tenaganya, dihimpunnya dengan jalan merangkak untuk
menggapai mayat adiknya.
Malam semakin merambat Hutan Alas
Warangan tetap mengerikan. Namun ia tidak peduli, terus dikerahkannya sisa-sisa
tenaganya untuk men- dapatkan mayat adiknya.
Dengan sisa tenaganya pula ia
membuka topeng hitam yang menutupi wajah adiknya, dan memegangi wajah itu yang
terdiam, kaku. Seolah ia tenang dalam matinya. Namun Seto yakin, kalau adiknya
mati dengan membawa berjuta dendam. Dendam mereka atas kematian Bibik Utari
belum terbalas, kini harus menerima nasib yang mengenaskan. Bono telah tewas
bersama dendam yang masih membara.
Seto pun melepaskan topeng
hitamnya. Ia memandangi mayat adiknya dengan hati yang pilu sekali. Dengan kenyataan
yang tak pernah ia bayangkan. Tak dipedulikannya kalau hawa panas di tubuhnya
semakin menyerang. Ia merasa bagaikan berada dalam neraka.
Hatinya terpukul menghadapi
kenyataan yang terasa pahit ini. Bono adalah adik kandungnya, temannya semasa
kecil hingga remaja seperti sekarang ini. Dan kini, Bono sudah meninggalkannya.
Hal ini membuatnya sakit hati sekali.
Tiba-tiba pandangannya terbuka,
memancarkan sinar amarah dan dendam yang teramat sangat. “Soka Wijaya... satu
saat kau akan mampus!” geramnya. “Kau Jalaluta, kau pun akan mam... pus....”
Lalu tubuh itu terkulai. Pingsan karena tak kuat menahan hawa panas.
Malam pun bergulir menjadi pagi.
Mentari sudah menampakkan wajahnya di ufuk timur sana. Satu sosok tubuh yang
mengenakan pakaian berwarna kuning keemasan sedang melangkah di hutan itu.
Nampak ia sedang mencari angin belaka sambil menari-nari seperti anak kecil.
Bila melihat kulit tubuhnya, sosok
tubuh itu kira- kira berusia sekitar enam puluh delapan tahun. Namun bila
melihat wajahnya yang dipoles dengan baju wama kuning keemasan, menandakan ia
sangat suka bersolek. Begitu pula melihat sikapnya yang nampak begitu riang tak
ubahnya seorang gadis remaja. Dan sekali-sekali ia mengambil cermin kecil dari
balik kebayanya.
Lalu berkaca sambil
tersenyum-senyum. “Kau memang cantik,” katanya pada diri sendiri. Ia kembali
meneruskan langkahnya, tetap dengan gaya menari-nari. Sekali-sekali keluar dari
mulutnya senandung kecil, yang menceritakan keindahan alam. Namun di satu
tempat, mendadak ia berhenti melangkah, ketika melihat dua sosok tubuh yang
tergeletak di tanah. Keningnya berkerut sejenak.
“Hmm, apalagi ini? Kenapa banyak
sekali yang mati?” desisnya sambil mendekati dua sosok tubuh itu. Lalu
diperiksanya dua sosok tubuh itu. “Wah, wah... yang ini sudah mampus rupanya.
Hmm... yang ini masih punya napas. Edan! Gila! Sinting! Rupanya ia terkena hawa
panas dari Keris Dewa. Wah, wah... katanya si Tua Keris Dewa sudah mengundurkan
diri dari dunia persilatan, mengapa sekarang masih menurunkan tangan
telengasnya?” katanya sambil mendengus.
Lalu nenek pesolek itu bersila,
mengatupkan kedua tangannya di dada. Lalu perlahan-lahan menempelkannya pada
tubuh Seto. Rupanya ia mengalirkan hawa dingin ke tubuh Seto, terbukti dari
asap yang mengepul hebat. Wanita itu tidak bergeming beberapa saat, masih
mengalirkan hawa dinginnya ke tubuh Seto. Sementara asap yang mengepul semakin
banyak dan lama kelamaan menipis. Wajah nenek pesolek itu pun sudah tidak
setegang tadi.
Setelah itu ia mendesah. “Tua,
Tua... rupanya kau masih kejam juga...,” kekehnya sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya. “Kupikir kau sudah mengasingkan diri. Hhh! Orang seperti kau- yang
selalu haus darah, mana mungkin menghentikan segala kegiatan busukmu itu, Tua
Keris Dewa!” dengusnya.
Nenek pesolek itu mengambil sebuah
cermin dari balik kebayanya. Lalu dibukanya, dan diperhatikannya wajahnya dalam
cermin.
“Wah, wah... gara-gara kau ada debu
di wajahku.” Lalu dengan selendang yang tersampir di pinggangnya, dihapusnya
debu itu. Kembali ia me- mandangi cermin yang masih dipegangnya sambil
tertawa-tawa.
“Ha ha ha... Nimas Kunti, Nimas
Kunti... semakin lama kau nampak semakin ayu saja.”
Kembali ia memasukkan cermin itu ke
balik kebayanya. Lalu merapikan pakaiannya yang ber- warna kuning keemasan.
Sambil menggeleng- gelengkan kepalanya, Nimas Kunti yang bergelar si Nenek
Pesolek, lalu bangkit. Diambilnya sebatang ranting yang paling kecil. Dengan
ranting itu ia menggali tanah dan menguburkan mayat Bono! Tanpa keringat
setitik pun!
Pekerjaan itu pun dilakukan dengan
sangat cepat. Seolah tanpa beban sedikit pun. Bahkan ia melakukannya sambil
menggeleng-gelengkan kepala- nya, menandakan kekesalannya karena masih saja
keangkaramurkaan berlangsung di muka bumi ini.
Setelah itu dibawanya tubuh Seto
yang masih pingsan. Sekali lagi seolah tanpa beban. Begitu ringannya. Dan tetap dengan gayanya yang
mirip gadis remaja. Menari-nari dan berdendang.
***
2
Pagi kembali membedah alam. Mentari
telah memberikan penerangannya ke seluruh penjuru. Satu sosok tubuh mengenakan
rompi dari kulit ular, melangkah sambil mendendangkan kidung senja, lambang
keabadian dan persahabatan. Langkahnya santai sekali sambil menggerak-gerakkan
tubuhnya.
Tetapi tiba-tiba sosok tubuh yang
tak lain si Pendekar Gila terkekeh.
“Lucu, lucu.. mengapa aku bernyanyi
seperti itu? He he he... padahal dunia ini penuh darah, darah yang bersimbah.
Edan memang! Gila, gila! Ya, ya... gila!” Pendekar Gila terus melangkah.
Memperhatikan jalan setapak yang dilaluinya, di sana-sini penuh dengan
pohon-pohon yang tinggi. Tiba-tiba pen- dengarannya yang tajam menangkap sebuah
kidung dari sebelah timur.
“Ealah... ada gadis menyanyi dengan
suara yang merdu,” desisnya terkekeh. “Ini lucu, ini harus dilihat...”
Tiba-tiba tubuhnya melenting ke
atas. Dari pohon itu ia melihat ke bawah, di sebelah timur sana ternyata
terdapat sebuah sungai yang airnya mengalir jernih. Pendekar Gila melihat satu
sosok tubuh sedang berendam di sungai itu.
“Wah, wah... badannya itu, itu
badan... mulus, mulus.... Ah, Mei Lie... aku rindu padamu... Ya, ya... aku
rindu... Du-du-du...”
Sejenak Pendekar Gila
menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingatannya kembali pada kekasihnya Mei Lie.
Mendadak ia teringat akan kenangan terakhirnya dengan Mei Lie. Tetapi tugasnya
sebagai pembela kebenaran mengharuskannya meninggalkan Mei Lie. Entah di mana
gadis itu sekarang berada.
Mendadak lamunannya buyar ketika
telinganya menangkap jeritan yang sangat keras dari arah sungai itu. Sena
melihat tiga orang laki-laki yang mengenakan gelang bahar sedang mendekati
gadis itu dengan menyeringai.
“Wah, wah... kejahatan itu memang
tidak pernah berakhir!” dengusnya sambil bersalto turun.
Sementara itu di sungai, Lastri
terkejut bukan main ketika menyadari tiga sosok tubuh seram mendekatinya.
Lastri adalah salah seorang gadis dari warga Desa Bojong Sawo. Kecantikannya
tidak pernah dipoles apa pun. Begitu alami dan mumi. Alamlah yang telah menempa
kecantikannya. Alamlah yang membuatnya tumbuh menjadi seorang gadis yang
jelita.
“Oww!” serunya kaget begitu
menyadari ketiga sosok tubuh itu semakin mendekat. Ia langsung berendam untuk
menutupi bagian-bagian tubuhnya yang terlarang. “Sana pergi! Pergi!”
“He he he..., Manis, mengapa kau
harus marah pada kakangmu, nah?” salah seorang dari tiga laki- laki yang
mengenakan gelang bahar itu menyeringai. Wajahnya bulat, dengan bopeng di
sana-sini. Ia bernama Menggolo. Sementara dua orang temannya bernama Karto Suro
dan Wono Jarot. Mereka ter- gabung dalam Tiga Iblis Bergelang Bahar.
Lastri semakin ketakutan. Wajahnya
yang cantik pias seketika. Ia dapat membayangkan apa yang akan dialaminya bila
ketiga laki-laki itu berhasil mendapatkannya. Tidak, ia harus mempertahankan
diri. Mendadak ia berenang ke arah yang berlawanan, membiarkan Wono Jarot
merobek-robek pakaiannya.
“Hei, mau ke mana, Manis? Tidak
usah takut! Kakangmu akan menyerahkanmu kepada Juragan Soka Wijaya!”
Lastri tidak menggubris ucapan
kotor Menggolo, ia terus berenang sekuat tenaganya.
Sebenarnya Tiga Iblis Bergelang
Bahar itu baru saja keluar dari kediaman mereka, di Lembah Iblis. Mereka
bermaksud untuk mengabdi pada Juragan Soka Wijaya, karena Jalaluta, sahabat
mereka sudah berada di sana. Menurut Jalaluta, ia mendapatkan apa saja yang
diinginkannya. Itulah yang membuat Tiga Iblis Bergelang Bahar bertekad untuk
mengabdi pada Juragan Soka Wijaya.
Kebetulan sekali, mereka melihat
seorang gadis cantik sedang mandi seorang diri di sungai. Mereka sudah tahu
dari Jalaluta, kalau Juragan Soka Wijaya sangat menyukai gadis-gadis cantik
untuk digaulinya. Mereka pun bermaksud menyerahkan gadis itu pada Juragan Soka
Wijaya.
“Hei, kau mau ke mana?!” seru
Menggolo, lalu mengambil sebuah kerikil dan dilemparkannya ke arah Lastri yang
sedang bersusah payah mencapai tepi sungai. Kerikil itu tepat mengenai punggung
Lastri, mendadak saja tubuhnya menjadi kaku. Lalu mengambang layaknya orang
mati.
“He he he... sudah kukatakan, jangan
lari! Karto, ambil dia!”
Karto Suro segera melemparkan
beberapa ranting ke sungai itu, lalu dengan gerakan yang ringan sekali ia
melompati ranting demi ranting dan mengambil tubuh Lastri dengan ringannya. Dan
kembali ke tempat semula Menggolo tertawa.
“Ha ha ha... gila, sayang sekali
aku menginginkan mengabdi pada Juragan Soka Wijaya, kalau tidak... kau sudah
kumakan di sini, Manis!” serunya yang melihat tubuh telanjang Lastri.
Kelaki-lakiannya perlahan-lahan naik. Tetapi ia mendengus karena teringat kalau
ia akan menyerahkan gadis ini pada calon majikannya.
Lastri yang tidak bisa bergerak
karena terkena totokan namun masih bisa bersuara berseru lantang bercampur
ketakutan, “Lepaskan aku, Manusia busuk! Lepaskan!”
“Mana mungkin kami melepaskanmu, hah?”
Menggolo menotok urat suara Lastri sehingga gadis itu tidak bisa berbicara.
“Wono, buka pakaianmu, tutupi tubuh gadis itu! Ayo, kita harus segera tiba di
rumah Juragan Soka Wijaya, Jalaluta pasti sudah menunggu kita!”
Belum lagi mereka melangkah, tiba-tiba
terdengar kekehan dari atas pohon, “Enak saja membawa anak orang, Monyet-monyet
gendut! Lepaskan dia!”
Ketiganya terkesiap kaget. Mereka
melihat satu sosok tubuh sedang berayun-ayun pada ranting kayu paling ujung,
mengenakan rompi kulit ular.
“Manusia iseng! Siapa kau
sebenarnya?” bentak Menggolo dengan tatapan nyalang. Ia paling tidak suka ada
yang turut campur dalam urusannya.
“Iseng? He he he.. bagus, bagus.
Biasanya orang menyebutku gila. He he he... terbukti sekarang, kalau aku tidak
gila, kan? Ya, ya... iseng, iseng....”
Menggolo mengerutkan keningnya.
Melihat sikap pemuda yang duduk di ranting kecil itu, sepertinya ia memang
tidak waras. Tetapi bila melihat betapa ranting kecil itu tidak patah
didudukinya, menandakan orang itu memiliki ilmu yang tinggi.
“Hei, Monyet busuk! Katakan, siapa
kau adanya?” “Lho, lho! Aneh! Bukankah tadi kau menyebutku manusia iseng.
Barangkali... ya, namaku memang itu! Sekarang, sebutkan namamu! Tetapi kalau
melihat wajahmu yang buruk itu, pasti namamu si Bopeng, kan? He he he...
Bopeng, Bopeng!”
Menggolo menggeram marah. Kakinya
me- nendang sebatang ranting di tanah. Mendadak saja ranting itu melesat
menderu dengan kekuatan penuh ke arah Pendekar Gila.
“Cih! Mengajak main lempar-lemparan
rupanya!” Sena menggerakkan tangan kanannya, mendadak saja ranting itu berbalik
arah. Mengarah pada Menggolo yang langsung bersalto. Ketika ia hinggap kembali
ke tanah, ia melihat ranting itu sudah menancap hampir ke pangkalnya.
“Bangsat! Turun kau, biar kuberi
pelajaran padamu!”
Sena menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku tidak ingin mendapatkan pelajaran darimu! Yang kuminta lepaskan gadis itu!
Kalian akan meninggalkan tempat ini dengan selamat!”
Wono Jarot sudah tidak sabar lagi
melihat kakangnya masih bermain-main kata-kata seperti itu. Mendadak saja ia
mengegos tubuhnya. Hup!
Tubuhnya meluncur ke atas, dengan
dua tangan berbentuk cakar. Pendekar Gila cuma tertawa saja. Bertepatan kedua
tangan Wono Jarot akan mencengkeram tubuhnya, mendadak ia bersalto turun.
Gerakan yang diperlihatkan mirip gerakan kera yang menghindari lawannya.
Hebatnya, sambil bersalto itu, kedua tangan Sena bergerak dengan cepat.
Membetot turun celana pangsi yang dipergunakan oleh Wono Jarot, sehingga kini
ia bertelanjang celana. “Ha ha ha... lucu, lucu!”
Wono Jarot pun hinggap di tanah.
Wajahnya memerah karena marahnya. Lebih marah lagi karena ia tidak mengenakan
pakaian. Pakaiannya diberikan pada Lastri. Jadinya ia telanjang.
“Rupanya ada orang hutan di sini!
Hi hi hi... bagus sekali itu, bagus sekali!”
Melihat adik seperguruannya
dipermalukan dengan sekali gebrak, Karto Suro melempar tubuh Lastri begitu saja
ke tanah. Lalu ia mengegos tubuhnya, mencelat ke depan.
“Mampus kau, Orang gila! Heeeeaaa!”
Sena cuma tertawa saja. Malah ia menggaruk- garuk pantatnya, lalu bergantian
menggaruk kepalanya.
“Ini lagi! Mau apa!” serunya sambil
berkelit. Karto Suro tidak mau membuat gebrakan hanya sekali. Ia mencoba
memperpadukannya dengan jurus 'Gelang Bahar Membentuk Lingkaran'. Mendadak saja
tubuh- nya bagaikan sebuah gelang bahar, bergerak me- lingkari Sena yang masih
terkekeh.
Mendadak saja tubuh Pendekar Gila
mem- bungkuk, kedua tangannya siap mencengkeram lawan. Jurus 'Si Gila
Mencengkeram Mangsa' memang dipergunakan untuk melepaskan diri dari lawan yang
menyerang bagian bawah. Namun karena lawan berbentuk melingkar dengan
sekali-sekali melepaskan pukulan dan tendangan berisi, jurus itu pun berguna.
Mendadak saja tangan Pendekar Gila
berhasil mencengkeram kaki kanan Karto Suro. Lalu diputarnya tubuh itu sehingga
Karto Suro minta dilepaskan. Tetapi sudah tentu Pendekar Gila tidak ingin
melepaskannya. Mendadak saja tubuh itu dilemparnya. Bersamaan dengan
melayangnya tubuh Karto Suro, tubuh Pendekar Gila pun mencelat.
Dengan mempergunakan jurus 'Kera
Gila Berayun Menyambar', Sena bergerak dengan cepat. Hinggap di satu dahan
pohon dan menendang tubuh Karto Suro sehingga terpental kembali. Lalu Sena
melompat lagi ke dahan yang lain dan kembali menendang tubuh Karto Suro.
Melihat Karto Suro di ambang maut,
Menggolo segera melepaskan gelang baharnya.
Singng! Gelang bahar yang telah
dialiri tenaga dalam itu melesat ke arah Sena. Memotong gerakan yang
dilakukannya. Sena yang akan menendang tubuh Karto Suro lagi menjadi urung
menarik pulang kakinya. Dan senjata gelang bahar yang dilemparkan oleh Menggolo
kembali ke pemiliknya, mirip bumerang.
Sementara Wono Jarot segera
menyambut tubuh Karto Suro yang melayang jatuh. Ia melihat tubuh Karto Suro
membiru dengan wajah yang merah legam.
“Sudah kukatakan tadi, lebih baik
kalian tinggalkan gadis itu dan segera pergi dari sini!” bentak Pendekar Gila
sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Menggolo menggeram. “Kejadian ini
tidak pernah aku lupakan, Bangsat!” “He he he... aku pun tidak akan pernah
melupakan wajahmu yang mulus itu, Bopeng!” balas Pendekar Gila sambil
mengusap-usap wajahnya dengan gerakan meledek.
“Kakang...,” bisik Wono Jarot.
“Ingatkah Kakang, kalau saat ini di rimba persilatan muncul seorang pemuda yang
berjuluk Pendekar Gila? Apakah ini orangnya?”
Menggolo menggelengkan kepalanya.
“Sebenarnya sejak tadi sudah kupikirkan soal itu. Hmmm... rupanya pendekar itu
masih sangat muda.”
“Lalu bagaimana sekarang, Kakang?”
“Kita tinggalkan gadis itu. Karto Suro harus segera ditolong, kalau tidak ia
akan mampus! Pendekar busuk, kita akan bertemu lagi!” Sesudah berkata demikian,
Menggolo segera mengegoskan tubuhnya, begitu pula dengan Wono Jarot yang
memanggul tubuh Karto Suro.
Sena cuma terkekeh saja. Lalu
menghampiri Lastri yang sejak tadi terbaring di tanah.
“Jangan takut, Manis... kau sudah
aman sekarang, “ katanya setelah membebaskan totokan dari tubuh Lastri.
Lastri tersipu. Apalagi mengingat
ia tidak mengenakan apa-apa di balik pakaian gombrong milik Wono Jarot.
“Terima kasih atas pertolongan
Kakang...” “Ya, ya... siapa namamu?” “Lastri, Kakang....” “Lastri, Lastri... he
he he... bagus, nama itu bagus sekali. Namaku... Sena...”
“Kang Sena....” “Nah, nah... itu
bagus, bagus sekali. Kang Sena... he he he... Kang Sena...”
Melihat sikap Pendekar Gila yang
blak-blakan dan agak lucu itu membuat Lastri bisa memulihkan rasa malunya.
“Kakang mau ke mana sekarang?”
“Aku? Tidak tahu.” “Bagaimana...
bagaimana kalau ke rumah saya?” tanya Lastri tersipu.
“Ke rumahmu? Mau apa?” “Ya...
saya... cuma ingin menjamu Kakang sedikit saja... sebagai... ucapan terima
kasih....”
“Oh, boleh, boleh....” Hati Lastri
berbunga. Entah kenapa. Sebenarnya banyak pemuda yang menaruh hati pada Lastri,
tetapi sampai sekarang ini gadis itu masih menolak saja. Dan kini, entah kenapa
tiba-tiba hatinya bergetar melihat pemuda ini.
***
Ki Sobrang adalah bapak dari
Lastri. Ia menyambut kedatangan anaknya yang datang bersama Sena dengan hati
gembira. Pertama-tama begitu melihat Sena, hatinya jengkel sekali. Karena,
anaknya berani berjumpa dengan seorang pemuda. Tetapi setelah mendengar cerita
Lastri kalau ia baru saja diselamatkan oleh Sena, Ki Sobrang bisa mengerti.
Bahkan menerimanya dengan baik.
“Terima kasih atas bantuan Saudara Pendekar pada anak saya,” katanya dengan
tulus.
Sena tersenyum. “Anak Aki cantik.”
Kening Ki Sobrang berkerut. Apa-apaan anak muda ini berkata demikian. Tetapi
ketika ia melihat Lastri yang bersimpuh di sebelahnya tersipu, ia pun tertawa.
“Ha ha ha... ya, ya... Lastri
memang cantik. Ia adalah burung gelatikku satu-satunya, setelah ibunya meninggal....
Pujian Saudara Sena sangat tinggi sekali....”
“Lho? Anak Aki memang cantik,”
sahut Sena. Wajah Lastri kali ini memerah. Ia buru-buru masuk ke dalam sebelum
ia telanjur malu. Namun hatinya senang bukan main.
Ki Sobrang masih tertawa, lalu
menghentikan tawanya. “Sebenarnya, siapa Anak ini?”
“Saya Sena.” “Maksud Aki... mau ke
manakah Nak Sena sekarang?”
“Saya tidak tahu, Ki. Di mana ada
bumi, mungkin di sanalah saya berpijak.”
“Ah, gemar berpetualang
rupanya....” “Begitulah, Ki... he he he....” Lagi Ki Sobrang mendesah dalam
hati. Ia suka terkejut bila melihat Sena mendadak tertawa sendiri.
Jangan-jangan, pemuda ini agak tidak waras?
“Saya ingin bertanya, Ki.... Ketika
orang-orang kasar itu mengganggu rayi Lastri, saya mendengar mereka hendak
mengabdi pada Juragan Soka Wijaya. Siapakah dia gerangan, Ki?”
Sena melihat wajah Ki Sobrang
menjadi pias. “Kenapa Anak bertanya begitu?” “Karena saya penasaran, Ki....” Ki
Sobrang menghela napas berkali-kali. Lalu katanya seraya menatap Sena, “Anak
muda... ketahuilah... dulu desa ini sangat makmur sekali. Kehidupan para
penduduknya sangat aman sentosa, kami semua saling bahu-membahu dan gotong
royong. Hanya saja... setelah kedatangan Juragan Soka Wijaya berikut tukang
pukulnya setahun yang lalu... kehidupan di desa ini berubah total. Semuanya
menjadi berantakan dan tidak pernah sekalipun kami membayangkan akan terjadi
perubahan besar- besaran di desa ini....”
“Perubahan apa yang Aki maksudkan?”
Ki Sobrang mendesah. Rupanya anak muda ini bisa serius juga. “Perubahan yang
sangat menyedih- kan sekali. Juragan Soka Wijaya dan anak buahnya tidak
segan-segan menghancurkan siapa saja. Mula- mula ia memang baik sekali,
meminjamkan uang kepada para petani, namun ketika mereka mengem- balikan uang
yang dipinjamkannya, mereka sangat terkejut. Karena Juragan Soka Wijaya meminta
pengembalian tiga kali lipat dari pinjaman. Hal ini sudah tentu tidak bisa
diterima. Mereka membantah dan melawan, namun nyawanyalah yang justru
melayang.”
“Kejam!” “Ya, sangat kejam! Yang
tidak berhasil membayar hutang berikut bunganya, akan disita apa saja miliknya.
Ternak. Sawah. Ladang dan apa saja. Bagi yang tidak memiliki benda-benda itu,
anak gadis mereka atau istri mereka sebagai penggantinya. “ “Apakah tidak ada
yang berani melawan, Ki?” “Kami bukannya tidak berani, hanya kami masih
mengingat bagaimana anak-anak kami kelak. Lagipula, tukang pukul Juragan Soka
Wijaya sangat kejam. Mereka tidak segan-segan membunuh siapa saja yang melawan
peraturan yang ditetapkan oleh Juragan Soka Wijaya....”
Sena menggangguk-anggukkan
kepalanya. “Di manakah Juragan Soka Wijaya tinggal, Ki?” tanyanya kemudian.
“Oh! Kau... kau mau apa, Anak
Muda?” Pendekar Gila menggaruk-garukkan kepalanya. Ia nyengir. “He he he...
bertamu saja. Barangkali saya mendapatkan hidangan yang enak. Orang kaya itu
hidupnya enakan, Ki?”
Ki Sobrang mendesah. Mulai kumat
lagi anak muda ini.
“Aku yakin... kau memiliki ilmu
yang tinggi. Tetapi kuharap, kau tidak usah ikut campur dalam urusan ini,
Sena.'
“Ki Sobrang... saya paling tidak
suka melihat keonaran dan keangkaramurkaan di dunia ini. Selagi saya masih
hidup dan bisa mengatasi setiap kejahatan, saya akan tetap melakukannya. He he
he... kan ini bagus ya, Ki?”
“Apa yang kau katakan itu benar,
Sena... jadi...” Kata-kata Ki Sobrang terputus, karena mendadak terdengar
seruan keras dari luar, “Ki Sobrang! Keluar kau!” “Siapa itu, Ki?” tanya Sena
yang sudah bersiaga.
“Tenang saja. Pasti itu pengawal
Juragan Soka Wijaya.”
“Ada apa mereka kemari?” tanya Sena
yang melihat ketenangan Ki Sobrang.
“Apa lagi kalau bukan untuk meminta
anakku?” “Lastri?”
“Ya. Karena cuma dia anakku
satu-satunya.” “Ki Sobrang! Jangan bersembunyi seperti anak perempuan!” seruan
itu terdengar lagi. “Bila kau tidak muncul juga, kubakar rumah ini!”
Ki Sobrang pun bangkit, menemui
tamunya. Sementara Sena berlari lewat pintu belakang.
“Kang Sena,” suara itu terdengar.
Sena nyengir dan menggaruk-garuk kepalanya. “He he he... kenapa?”
“Saya... saya takut, Kang...,” kata
Lastri yang mendengar seruan itu. Ia teringat bagaimana ancaman dari
orang-orang Juragan Soka Wijaya bila bapaknya atau ia tidak bersedia menjadi
selir dari Juragan Soka Wijaya. Mereka akan dicincang sebelum dibunuh!
“Rayi Lastri, lebih baik Rayi
berdiam di kamar saja. Tidak usah keluar.”
'Tapi...” Sena tersenyum.
“Masuklah...” Lastri menuruti kata-kata Sena. Di dalam kamarnya ia berdoa
banyak-banyak demi ke- selamatan bapaknya dan sudah tentu, Sena. Sena sendiri
keluar lewat pintu belakang.
Di depan rumah itu, Ki Sobrang
sudah berhadapan dengan tamu-tamunya yang berjumlah enam orang. Semuanya
bersenjatakan tombak.
Yang berdiri di depan seorang
laki-laki berwajah seram, dengan kedua tangan yang kekar. Kedua kakinya dibuka
sedikit, menandakan ia seorang jagoan.
“Akhirnya kau keluar juga, Orang
tua,” katanya sambil tertawa. “Bagaimana dengan janjimu, ha?”
Ki Sobrang mendengus. Ia sudah muak
dengan tingkah laku orang-orang ini. Meskipun usianya sudah lanjut, namun
keberaniannya tidak pernah luntur.
“Kebo Ijo! Aku tidak pernah punya
janji apa-apa denganmu. Jadi kuharap... lebih baik kau segera me ninggalkan
tempat ini sebelum kemarahanku naik!' sahutnya gagah. Matanya memperhitungkan
jarak.
Kebo Ijo tertawa mendengar suara
penuh tantangan itu. Begitu pula dengan lima orang kawannya. Bagi mereka,
kata-kata Ki Sobrang itu hanya patut untuk menggertak anak kecil.
“Aku tidak suka bertele-tele! Sudah
tiga kali kami datang ke sini, untuk membawa Rayi Lastri ke kediaman Juragan
Soka Wijaya! Dan kau masih belum juga memberikan jawaban yang enak untukku,
Ki!” Ki Sobrang mendengus. Kedua tangannya terkepal.
“Kebo Ijo, aku tidak punya jawaban
yang enak untukmu, selain jangan kau ganggu anakku lagi!”
Wajah Kebo Ijo memerah. “Apa maksud
kata-katamu itu, Ki?” suaranya mengeras, mengandung ancaman yang tidak main-
main. Ki Sobrang pun merasakan hal itu. Namun ia tidak mau lagi mengulur-ngulur
waktu. Sudah tiba saatnya ia harus unjuk gigi. Kalau tidak, ia akan terus
menerus dicecar dan diancam. Yang dikhawatirkan- nya, kalau ia lengah menjaga
Lastri.
Seperti kejadian di sungai tadi.
Kalau tidak ada Sena, sudah tentu nasib putrinya berada di ambang kehancuran.
Dan ia pun mendengus muak ketika menyadari kalau Juragan Soka Wijaya menambah
kekuatannya dengan tambahan orang-orang ber- gelang bahar seperti yang
diceritakan oleh Sena.
Ki Sobrang menyahut dengan gagah,
“Kebo Ijo! Aku tak pernah suka bertarung dengan siapa pun, tetapi kalau kau
memaksaku juga, silakan....”
Ki Sobrang menggeser tubuhnya ke
kiri dua tindak, mencari kelowongan bila diserang dan menyerang. Membuka
kakinya, menumpukkan kekuatannya pada kaki sebelah kanan.
Melihat hal itu, keenam tukang
pukul Juragan Soka Wijaya terbahak-bahak sambil memandang melecehkan. Terutama
Kebo Ijo yang tidak me- nyangka akan mendapatkan sambutan seperti ini.
“Pikirkan nyawa tuamu, Ki...
sebelum kucabut!”
“Sudah lama aku ingin merasakan
ketajaman tombakmu, Kebo Busuk! Mengapa kau masih berdiam diri, hah? Bila kau
takut, katakan pada Soka Wijaya, untuk cepat-cepat angkat kaki dari desa ini!”
Wajah Kebo Ijo memerah. Mendadak ia
mengempos tubuhnya, “Keparat! Mampuslah kau! Heaaa...!”
***
3
Ki Sobrang yang sejak tadi sudah
memperhitungkan posisinya, menggeser kakinya dua tindak, lalu memutar tubuhnya
sambil melancarkan sebuah tendangan. Gerakan itu sangat cepat dilakukannya.
Kebo Ijo tersentak melihat cara Ki
Sobrang menghindarkan diri dan langsung melancarkan serangan. Sungguh tidak
disangka. Sehingga mau tidak mau ia melompat ke samping satu tombak, bila tidak
ingin tubuhnya terhantam tendangan Ki Sobrang. Ketika hinggap di tanah wajahnya
memerah. Ia tidak menyangka kalau Ki Sobrang memiliki ilmu yang cukup tinggi
juga.
“Pantas kau berani membantah, Tua
Keparat!” geramnya sambil memegang tombaknya. “Tetapi jangan harap kau bisa
melihat rembulan nanti malam!”
“Ha ha ha... mengapa tidak kau
selesaikan saja nyawa tuaku ini?” sahut Ki Sobrang penuh ejekan. “Atau... kau
sebenarnya hanyalah seorang pengecut yang berkedok jagoan?”
Kebo Ijo menjadi semakin marah. Ia
tadi begitu yakin dengan hanya sekali gebrak saja Ki Sobrang akan berkalang
tanah. Namun pada kenyataannya, justru ia yang hampir saja menerima tendangan
yang penuh tenaga.
Sekarang, ia diejek seperti itu.
Tua keparat ini memang harus mampus.
“Mampuslah kau, Ki! Yeeeaaa!” Kebo
Ijo menyerang lagi. Kali ini dengan perhitungan yang lebih matang.
Mempergunakan tombaknya yang ia gerakkan dengan kecepatan penuh. Suaranya
bagaikan dengungan puluhan tawon yang menyerang. Ki Sobrang ternyata memang
memiliki ilmu yang cukup tinggi. Terbukti ia bisa menghindari sodokan, sabetan,
tusukan atau pun pentungan tombak yang dilakukan oleh Kebo Ijo. Semua gerakan
yang dilakukannya sangat manis, lincah, dan berisi. Bahkan sekali-sekali ia
bisa menyerang.
Melihat hal itu, Kebo Ijo semakin
penasaran. Ia mengangkat tangannya sebagai tanda agar kelima temannya jangan
dulu ikut campur. Pamornya bisa menurun bila ia tidak dapat mengalahkan Ki
Sobrang. Kali ini ia bergerak dengan tenaga penuh dan kemarahan yang sudah
menjalari setiap tubuhnya. Tetapi rupanya Ki Sobrang memang seorang pendekar
tua yang handal. Sampai lima belas jurus terlewati, Kebo Ijo belum berhasil
menjatuhkannya. Padahal hanya dihadapi dengan tangan kosong belaka.
“Aku sudah bosan bermain-main
denganmu, Kebo Busuk!” seru Ki Sobrang sambil meliukkan tubuhnya ke kiri,
menghindari sodokan tombak yang dilakukan Kebo Ijo. Lalu mendadak saja dengan
gerakan seperti ular dan tangan berbentuk patuk ular, Ki Sobrang mendesak masuk
dan mematuk tepat di bagian kening Kebo Ijo, yang menjadi terhuyung ke
belakang.
“Setan!” makinya sambil menyerang
kembali. Ia sangat malu bila ia tidak segera menyerang. Dengan menyerang
seperti itu, ia bisa menutupi kekalahannya. “Lihat tombakku, Ki!”
“Aku belum buta, Kebo Busuk!” sahut
Ki Sobrang dan kembali melayani setiap serangan yang dilaku oleh Kebo Ijo. Kali
ini lebih hebat dari serangan yang pertama. Tombaknya terus mengancam bagian
bawah Ki Sobrang yang harus berlompatan ke sana kemari. Lalu berganti arah,
dengan cara memutar tombaknya ke bawah dan dibawa melalui punggung sebagai
lan-dasan, dan tahu-tahu bagian leher Ki Sobrang yang diserang.
Ki Sobrang cukup kewalahan juga
menghadapi serangan gencar yang dilakukan oleh Kebo Ijo. Namun ia sudah melihat
titik kelemahan ilmu tombak yang diperlihatkan lawannya. Kebo Ijo selalu
memegang tombak pada tumpuan tenaga tangan kiri, kemudian melemparkannya ke
tangan kanan. Sehingga, tangan kiri seolah hanya menjadi landasan belaka,
sementara tangan kanan yang bekerja.
Ini kuncinya, dan Ki Sobrang telah
menemu- kannya. Ketika Kebo Ijo kembali melancarkan putaran tombaknya ke bagian
kepala Ki Sobrang, Ki Sobrang mundur dua tindak. Bukannya untuk meng- hentikan
serangan, melainkan mencoba melompat melewati kepala Kebo Ijo. Rupaya Kebo Ijo
mengetahui taktik seperti itu. Ia mengangkat tombak- nya tinggi-tinggi.
Ujungnya siap menghantam perut Ki Sobrang bila me-lompatinya.
Inilah taktik yang dipergunakan Ki
Sobrang. Ia tidak jadi melompat, justru ia meluncur cepat dengan sepakan kaki
pada kaki Kebo Ijo dan satu sontekan tangan ke tangan kirinya. Apa yang
diduganya ternyata benar. Kekuatan ilmu tombak Kebo Ijo terpusat pada tenaga di
tangan kiri. Begitu tangan kirinya kena hantam, gerakannya melemah. Dengan satu
gerakan yang lebih cepat, Ki Sobrang mengirim- kan satu sodokan ke perut.
“Heegggh!”
Kebo Ijo untuk kedua kalinya
terhuyung ke belakang. Kali ini sangat nyeri sekali lambungnya.
“Ha ha ha... hebat! Hebat!” seruan
itu terdengar dari sebatang ranting pohong di dekat pertarungan itu. Mereka
melihat satu sosok tubuh yang mengenakan rompi kulit ular sedang bertepuk
tangan sambil cengar-cengir.
Ki Sobrang sudah mengenal siapa
pemuda itu. Makanya, keberaniannya semakin berlipat ganda. Sementara Kebo Ijo
yang sedang menahan sakit, memperhatikan dengan kening berkerut. Begitu pula
dengan kelima temannya.
“Monyet gila! Turun kau!” bentak
salah seorang dari mereka. Ia bernama Sudra Kepala. Tubuhnya kurus tinggi,
dengan wajah tirus dan sepasang mata yang menurun bagian bawahnya. Suaranya
cempreng dan keras.
Sebenarnya sejak tadi ia ingin
membantu Kebo Ijo. Namun karena melihat isyarat Kebo Ijo agar jangan
membantunya, ia segera mengurungkan niatnya. Dan hasilnya, Kebo Ijo kini dalam
keadaan kesakitan.
Lalu muncul pemuda berpakaian rompi
kulit ular itu. Siapa lagi pemuda itu?
Sena turun dengan ringannya, dan
hinggap di bumi bagaikan sebuah kipas, la cengar-cengir.
“Nah, aku sudah turun? He he he...
kau mau apa? Ingin mengajakku dalam pertarungan ini? Bagus! Sungguh kebetulan
sekali! Aku memang sudah gatal untuk mengepruk kepalamu!” seru Sena sambil
menggaruk-garukkan kepalanya.
“Siapa kau, Orang Gila?!” bentak
Sudra Kepala. Sena terkekeh-kekeh. Tiba-tiba ia membalikkan tubuhnya dan
menungging, lalu berbicara dengan posisi kepala di bawah dan kedua kaki
terbuka.
“He he he... berkaca dululah kau!
Siapa yang gila... he he he...”
Diperlakukan seperti itu Sudra
Kepala menjadi murka. Ia bermaksud hendak melampiaskan kemarahannya pada pemuda
itu, karena tidak berhasil melepaskannya pada Ki Sobrang yang sudah memukul
mundur Kejo Ijo.
la pun melompat menerjang ke arah
Sena. Yang diserang masih saja menungging. Melihat hal itu, Sudra Kepala
semakin bernafsu saja. Namun mendadak saja ia mundur, karena begitu ia
mendekat, angin dari perut Sena berbunyi.
“Duuttt!” Sudra Kepala langsung
melompat mundur, sementara Sena terkekeh-kekeh kembali pada posisi semula.
“Hi hi hi... kau ini rakus sekali,
ya? Maunya makan sendiri saja?”
Ki Sobrang tersenyum geli melihat
tingkah laku Sena. Seperti sudah disepakati, empat orang dari mereka segera
melesat ke arah Sena dengan tombak terhunus. Mereka sangat marah sekali,
terutama Sudra Kepala.
“Heeeaaa!” “Mampuslah kau!”
“Kucabik-cabik tubuhmu, Monyet gila!” “Yeaaa!” Seruan-seruan itu terdengar
bersamaan empat tubuh yang memburu ke arah Sena yang masih tertawa-tawa saja
sambil cengar-cengir.
“He he he... sudah bosan hidup
rupanya... bagus, bagus!” serunya sambil melompat dengan ringan.
Sodokan empat buah tombak itu tidak
mengenai sasarannya. Dan tombak-tombak itu terus men- cecarnya, sementara Sena
dengan mempergunakan ilmu meringankan tubuhnya, terus menghindari serangan itu.
Melihat serangan demi serangan yang
dilaku- kannya, Sudra Kepala berseru keras, “Kerahkan 'Tombak Pembuka Jalan'!”
Dan serentak tiga orang temannya
mendekatinya. Saling menempelkan punggung. Sementara tombak di tangan siap
dihujamkan ke tubuh lawan.
“He he he... apa lagi ini?” “Hhhh!
Kini mampuslah kau, Bocah gila!” seru Sudra Kepala, lalu memberi komando
menyerang. 'Tombak Pembuka Jalan' merupakan satu paduan jurus yang cepat dan
tepat. Serangan dilakukan saling susul-menyusul dengan gerakan kaki sedikit
demi sedikit melebar. Bila salah seorang kawan terdesak, yang lain bisa saling
menutupi. Tidak mudah untuk menerobos masuk ke dalam pertahanan 'Tombak Pembuka
Jalan'. Bila berani menerobos, itu namanya nekat. Karena, tombak- tombak itu
akan segera mendapatkan sasaran yang empuk sekali.
Sena pun harus mengalami hal yang
sulit sekarang. Setiap kali ia merangsek masuk, tombak- tombak itu segera
menghadangnya. Hebatnya, bisa langsung menyerang dengan menggeserkan tubuh
sedikit demi sedikit. Bila lawan lengah, maka ia akan terjebak dan masuk ke
lingkaran tombak itu.
Sementara itu Ki Sobrang sudah
menghadapi salah seorang dari enam orang itu yang tinggal. Kejo Ijo yang sudah
pulih dari rasa sakitnya pun segera membantu kawannya. Keduanya saling susul menyusul
dan bahu membahu melakukan satu serangan yang cepat, hebat dan tangkas.
Kali ini Ki Sobrang harus
mengeluarkan segenap kemampuannya. Karena, bila ia lengah, maka tubuhnya akan
menjadi sasaran empuk kedua tombak itu.
Suara yang keras itu menimbulkan
keingintahuan para penduduk. Mereka melihat Ki Sobrang sedang menghadapi dua
orang bersenjata tombak. Mereka juga melihat seorang pemuda yang berpakaian
rompi kulit ular sedang dikeroyok oleh empat laki-laki yang mengenakan tombak
pula. Mereka tidak tahu siapa pemuda itu. Namun mereka sangat mengenal siapa
yang sedang berhadapan dengannya, begitu pula yang berhadapan dengan Ki
Sobrang.
Mereka orang-orang Juragan Soka
Wijaya. Para penduduk yang menyaksikan pertarungan itu, tidak berani untuk
membela atau pun melerai. Mereka masih sayang pada nyawa masing-masing.
Lalu disuruhnya masuk istri dan
anak-anak mereka.
“Ayo, ayo masuk! Nanti jadi
sasaran!” Sementara dari balik jendela rumah Ki Sobrang, Lastri mengintip
dengan harap-harap cemas. Ia berdoa banyak-banyak semoga ayahnya dan Sena
berhasil memenangkan pertarungan itu. Sama halnya yang dilakukan oleh para
penduduk. Karena, mereka sangat membenci orang-orang Juragan Soka Wijaya dan
Soka Wijaya sendiri.
“Hei, kenapa kau hanya bisa
melompat-lompat, hah!” seru Sudra Kepala sambil terus mempergencar serangannya.
Begitu ia menusuk, tubuhnya masuk dua tindak ke lingkar, ganti yang sebelahnya
menusukkan tombak. Begitu seterusnya, bagaikan berputar mengelilingi lawan.
Sementara Sena masih tertawa-tawa
saja. Sambil tertawa-tawa itu ia memikirkan bagaimana untuk menerobos masuk ke
rangka tombak itu. Karena ia yakin, bila ia berhasil merangsek masuk, maka
pertahanan jurus 'Tombak Pembuka Jalan', akan kocar-kacir dan ia bisa
menghabisi lawan-lawannya.
Tiba-tiba Sena melompat ke
belakang. Lalu mendadak tubuhnya berputar berlawanan dengan arah jarum jam,
sekaligus berlawanan dengan tombak-tombak lawan. Yang dipergunakannya adalah
jurus 'Si Gila Melepas Belitan Benang Kusut'. Sudah tentu Sudra Kepala menjadi
kaget.
Bila lawan berputar berlawanan arah
dengan putarannya, berarti lawan berada di belakang. Dan sudah tentu sangat
tidak menguntungkan bagi kedudukannya. Ia segera memberi komando untuk memutar
tubuh.
Dalam waktu yang sangat sempit,
penyesuaian memutar gerakan pada arah yang berlawanan tidak mungkin. Karena
harus melakukan gerakan lurus ke muka, sehingga semua beraturan sebelum kembali
pada sasaran.
Sena melihat kesempatan itu. “He he
he... kacau, ya? Kacau!” serunya lalu mempergunakan saat yang ditunggunya untuk
merangsek masuk. Dengan mempergunakan 'Si Gila Menari Menepuk Lalat', ia
berhasil masuk. Gerakannya seperti menari, dan dengan gemulainya menepuk.
Sudra Kepala melihat gerakan yang
dilakukan lawannya seperti tidak bertenaga. Ia memberi komando, “Hadang!”
Itu adalah kesalahan. Karena di
balik tepukan yang lembut itu, tersimpan tenaga dalam yang hebat. Salah seorang
dari mereka mencoba menghadang, dan hasilnya... tubuhnya mencelat beberapa
tombak dan ambruk dengan muntah darah.
“Bangsat keparat! Kubunuh kau!”
seru Sudra Kepala. “Hiaaattt!”
Buyarlah sudah paduan jurus 'Tombak
Membuka Jalan'. Selain salah seorang sudah mampus, juga Sudra Kepala yang
justru melepaskan dari paduan jurus itu.
Kemarahannya melihat salah seorang
adik seperguruannya tewas, membuat serangannya menjadi tidak terarah. Hal ini
sudah tentu dimanfaat- kan sebaik-baiknya oleh Pendekar Gila. Masih dengan
rangkaian jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat', tubuh Sudra Kepala terlontar
beberapa tombak setelah menjerit keras. “Aaakkhh!” Tubuhnya ambruk menabrak
pohon. Dari kepala- nya mengalir darah segar.
Melihat hal itu, dua orang
pengeroyoknya yang masih tersisa, segera menerjang dengan hebat. Gerakan tombak
mereka sekarang tidak mempunyai bentuk. Hanya sekadar untung-untungan untuk
menjatuhkan lawannya.
Sena pun menghabisi keduanya dengan
sekali gebrak.
“Nah, nah... itu akibatnya kalau
nekat!” Lalu diperhatikannya Ki Sobrang yang masih menghadapi serangan dari
Kebo Ijo dan seorang kawannya.
Sebenarnya perhatian Kebo Ijo sudah
terpecah begitu melihat keempat temannya sudah berkalang tanah. Namun ia masih
berusaha mengembalikan semua konsentrasinya pada lawannya. Begitu pula dengan
temannya yang lebih sering mempergencar serangan tombaknya.
Sena sendiri melihat kalau Ki
Sobrang mulai ter- desak. Namun diam-diam ia mengakui kehebatan Ki Sobrang.
Hanya mempergunakan tangan kosong belaka ia bisa menghadapi dua serangan tombak
yang datang susul-menyusul.
“Ki! Kayaknya aku ingin turut juga!
Biar aku ambil satu!” seru Pendekar Gila sambil melompat me- mapaki serangan
dari Kala Dera. “Heit! Jangan terburu nafsu! Sabar, sabar saja... he he he....”
Kala Dera kini berhadapan dengan
Sena yang semakin bernafsu untuk menjatuhkan lawannya. Sementara Ki Sobrang
merasakan mendapat keringanan hanya melawan Kebo Ijo. Kali ini ia yang justru
menguasai jalannya pertarungan. Didesaknya dengan rangkaian tangan kosong yang
cepat dan penuh tenaga itu ke arah Kebo Ijo. Membuat Kebo Ijo kalang kabut.
Apalagi dengan rangkaian jurus yang cukup mematikan.
Dengan satu gerak tipu yang hebat,
Ki Sobrang berhasil menendang jatuh tombak yang dipergunakan Kebo Ijo.
“Ha ha ha... kau bisa berbuat apa
sekarang, Kebo Busuk?” ejeknya sambil terus mencecar.
Tanpa mempergunakan senjatanya,
sudah tentu membuat Kebo Ijo kewalahan. Berkali-kali tubuhnya terkena pukulan
dan tendangan Ki Sobrang. Namun ia masih bertahan dan masih berusaha menyerang.
Sementara itu Sena yang sejak tadi
memper- mainkan Kala Dera, kini segera menghabisi lawannya. 'Elang Gila
Menyambar Mangsa' pun dipergunakan. Tubuhnya melenting ke atas, lalu dengan
satu gerakan manis segera mencengkeram leher Kala
Dera, dan memuntirnya.
Krak! Tubuh Kala Dera pun ambruk.
Melihat kawannya mampus dan merasa seorang diri, Kebo Ijo segera mencari jalan
untuk meloloskan diri. Ia yakin, kalau nyawanya pun akan habis di sini saat ini
juga. Tiba-tiba saja ia menjerit keras dan menyeruduk masuk ke arah Ki Sobrang.
Ki Sobrang segera bersalto ke belakang.
Rupanya yang dipergunakan oleh Kebo
Ijo itu hanyalah pancingan belaka. Karena begitu tubuh Ki Sobrang mundur, Kebo
Ijo segera mengambil kesempatan untuk melarikan diri.
“Hayo! Hayo! Pegang, pegang!” seru
Sena sambil berjingkrakan. Sementara Ki Sobrang mendesah panjang. Menghapus
keringatnya.
“Aku sudah terlibat dalam
kesulitan, Sena...” “He he he... tidak usah khawatir, Ki. Tetapi menurutku,
lebih baik sekarang juga kita segera meninggalkan rumah ini.”
Ki Sobrang pun sudah memikirkan
kemungkinan itu tadi. Ia yakin, kalau orang-orang Juragan Soka Wijaya akan
kembali lagi ke rumahnya.
Setelah itu, bertiga dengan Lastri
dan Sena, mereka menyelinap memasuki Hutan Alas Warangan.
***
“Bodoh! Bodoh! Begitu saja tidak
becus menangkap orang tua, hah?!” maki Juragan Soka Wijaya sambil melangkah
mondar-mandir dengan tangan terkepal. Sejak tadi ia sudah membayangkan
bagaimana nikmatnya tubuh Lastri. Tetapi sekarang, yang didapatkannya hanyalah
bayangannya belaka.
Mereka berada di ruang belakang
rumah besar itu. Di sana telah duduk Jalaluta, Tiga Iblis Bergelang Bahar yang
segera diterima dengan baik oleh Soka Wijaya, Nyai Sisik Merah yang bernama
Mayang, dan orang cebol yang wajahnya begitu dingin, dikenal dengan julukan Si
Cebol dari Utara.
Sementara itu Kebo Ijo berlutut di
lantai dengan wajah yang ketakutan dan keringat dingin yang keluar.
“Maaf... maafkan saya, Juragan...
Sebenarnya saya dan yang lainnya, berhasil menangkap Ki Sobrang....”
“Bagus! Tapi mana buktinya?” bentak
Juragan Soka Wijaya dengan kemarahan yang semakin kuat. Tiga orang gadis yang
bersimpuh di sisinya hanya menundukkan kepalanya. Ketiganya mengenakan pakaian
hijau yang tipis menerawang, memperlihatkan lekuk tubuh bagian dalam yang
merangsang.
“Soalnya... Ki Sobrang dibantu oleh
seorang pemuda, Juragan...”
“Dan kau tidak sanggup
menghadapinya juga, hah?!”
“Ilmunya... sangat tinggi,
Juragan...” “Bodoh! Bodoh!”
Menggolo yang sejak tadi
mendengarkan, mengangkat tangannya. “Maaf, Tuan Soka Wijaya... bila saya
memotong. Boleh saya bertanya pada Kebo Ijo?” “Hhh!” Juragan Soka Wijaya
kembali duduk di kursinya. Ketiga gadis itu segera mengipasinya kembali.
“Kebo Ijo... bagaimanakah ciri-ciri
dari pemuda itu?”
“Ia... ia sangat muda, Tuan... dan
kesaktiannya sangat tinggi.... Ia... mengenakan rompi terbuat dari kulit ular.”
“Pendekar Gila!” seru Menggolo
keras. Terbayang bagaimana pertarungannya tadi pagi dengan pemuda yang
mengenakan rompi terbuat dari kulit ular. “Tuan Soka Wijaya... yang dihadapi
oleh Kebo Ijo dan lainnya, tak lain adalah Pendekar Gila.”
Juragan Soka Wijaya terdiam.
Mengusap-usap dagunya.
“Hhh! Rupanya Pendekar Budiman itu
sudah masuk ke daerah ini! Sekarang kuperintahkan kepada Jalaluta dan kalian
Tiga Iblis Bergelang Bahar, tangkap si Pendekar Gila! Dan bunuh Ki Sobrang!
Sementara, bawa Lastri ke sini!”
Yang disebut oleh Soka Wijaya
segera berdiri. “Ingat, jangan kembali sebelum membawa salah seorang dari
mereka! Dan kau Kebo Ijo, karena kelalaian dan ketololanmu, kau harus menerima
hukuman!”
Wajah Kebo Ijo menjadi pias. Ia meratap
ketakutan dan memohon ampun. Tetapi Soka Wijaya hanya tertawa saja dan sudah
menggerakkan tangannya. Selarik sinar merah melesat.
Singng! “Aaaakkkhhh!” Sinar merah
itu tepat menghujam ke jantung Kebo Ijo yang segera ambruk. Anehnya, perlahan
demi perlahan tubuh Kebo Ijo menciut. Memucat dan memutih, seolah darah sudah
tidak ada lagi di tubuhnya. Itu akibat pengaruh sinar merah yang memang
mematikan, dengan jalan mengisap darah lawan.
“Buang mayat itu! Dan segera
lakukan tugas kalian!” bentak Soka Wijaya. Lalu merangkul ketiga gadis cantik
itu.
“Ha ha ha... hayo, Manis... hibur
aku dengan permainan kenikmatan yang kalian miliki...”
Jalaluta dan Tiga Iblis Bergelang
Bahar itu pun segera menjalankan tugasnya dengan hati marah. Terutama Tiga
Iblis Bergelang Bahar yang sempat bentrok dengan Sena tadi pagi. Kali ini,
mereka tidak akan bertindak murah hati lagi. Akan dihabisinya Pendekar Gila
itu!
Ketika mereka tidak menemui
orang-orang yang mereka cari, mereka menjadi marah. Rumah itu pun dibakar.
Orang-orang di sana tidak berani
berbuat apa- apa, ketika mata Jalaluta dan Tiga Iblis Bergelang Bahar menoleh
kepada mereka. Mereka pun buru- buru masuk ke rumah dan mengunci pintu daripada
terkena sasaran.
***
4
“Seto... kini tenagamu sudah pulih
kembali. Ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi padamu?” Nimas Kunti bertanya
sambil tersenyum pada Seto yang duduk bersila di hadapannya. Mereka berada di
gubuk Nimas Kunti di bagian timur dari Hutan Alas Warangan. Selama lima belas
tahun Nimas Kunti yang berjuluk si Nenek Pesolek menghuni gubuk itu.
Pagi mulai membedah alam. Suasana
begitu sunyi sekali. Meskipun matahari sudah sepenggalah, namun sinarnya belum
mampu menembus tinggi dan rimbunnya pepohonan di Hutan Alas Warangan. Binatang
hutan pun sudah banyak yang berkeliaran demi mencari makan.
Seto mendesah pendek. Ingatannya
kembapi pada Bono yang telah menemui ajalnya. Seketika ia menjadi geram. Lalu
perlahan-lahan ditatapnya wanita tua yang masih pesolek itu. Seto yakin kalau
Nimas Kunti adalah seorang wanita yang jelita. Terbukti sisa-sisa kecantikannya
masih membias di wajah Nimas Kunti.
“Nimas... sebelumnya aku ucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya atas pertolonganmu....”
“Pemuda yang tahu sopan santun,”
Nimas Kunti tersenyum.
“Sebenarnya, luka yang kuderita ini
diakibatkan oleh sebuah keris dari tangan Jalaluta....”
“Jalaluta?” Nimas Kunti
menghentikan mengu- nyahnya.
“Tetapi setahuku, luka dan hawa
panas yang kau derita itu hanya bisa dilakukan oleh si Tua Keris Dewa alias
Wasongso. Mengapa kau sebut Jalaluta?”
“Karena memang itulah namanya,
Nimas....” Nimas Kunti mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hmmm... aku tahu
sekarang, rupanya si Tua Keris Dewa itu telah mengangkat seorang murid. Tetapi,
ada urusan apakah kau dengan Jalaluta?”
“Nimas, sebenarnya... aku dan
adikku Bono datang dengan maksud untuk membunuh Juragan Soka Wijaya.”
“Aku sudah pernah mendengar nama
laki-laki itu. Yang berpraktek lintah darat dan bertanggung jawab atas
serangkaian pembunuhan terhadap para penduduk.... Mengapa kau ingin
membunuhnya, Seto?”
Seto mendesah panjang. Lalu
diceritakannya asal muasal ia dan adiknya bermaksud untuk membunuh Soka Wijaya.
Seto dan Bono adalah kakak beradik
yang telah lama ditinggal mati oleh kedua orangtuanya. Satu- satunya yang
mendidik mereka adalah adik dari ayah mereka, Bibik Utari. Dengan Bibik
Utari-lah mereka dibesarkan dan hidup di Desa Bojong Lolo, desa tetangga dari
Desa Bojong Sawo.
Ketika mereka berusia sembilan dan
tujuh tahun, datang seorang kakek yang mengaku bernama Setan Pedang Kembar.
Mereka pun dibawa ke sebuah gunung yang terletak di sebelah utara di mana
mereka tinggal.
Setelah sepuluh tahun mereka
berguru pada Setan Pedang Kembar, lalu tibalah mereka untuk kembali pulang.
Setan Pedang Kembar memang mengizinkan, karena ia tahu, Bibik Utari terlalu
lama menunggu.
Mereka pun pulang dan melihat
beberapa perubahan di Desa Bojong Lolo. Desa yang dulunya sepi, kini mulai
banyak penduduk yang tinggal di sana. Suasana pun sudah semakin berubah.
Keramaian mulai mewarnai.
Ketika keduanya tiba di muka
perbatasan desa saja, sudah berdiri gapura tinggi yang melambangkan perdamaian
dalam kehidupan ini. Rasa tak sabar mulai menyeruak pada hati keduanya. Mereka
sangat rindu sekali pada Bibik Utari. Sekian tahun mereka berpisah dan tak
sekalipun juga pernah bersua.
Mereka sejenak mengerutkan
keningnya, ketika tiba di rumah Bibik Utari sudah melihat perubahan rumah besar
itu. Sejenak mereka ragu, apakah benar ini rumah Bibik Utari? Tetapi mengingat
ada dua buah pohon kelapa di sebelah kanan rumah Bibik Utari, keyakinan mereka
mulai tumbuh.
“Menurutmu bagaimana, Adi Bono?”
tanya Seto sambil memperhatikan rumah besar itu.
“Aku tidak yakin apakah ini rumah
Bibik Utari. Tetapi bila mengingat letak pohon kelapa itu, sepertinya, ya,”
sahut Bono sambil memperhatikan rumah besar itu pula.
“Mengapa ia menjadi kaya begitu?
Setahu kita, Bik Utari hanya memiliki sebidang sawah belaka.”
“Mungkin Yang Kuasa tengah
menganugerahkan rezeki padanya, Kakang.”
“Kita masuk?” ajak Seto. “Untuk
lebih meyakinkan, kita memang harus masuk.”
Tetapi ketika keluar sang tuan
rumah, mereka cukup terkejut juga. Seorang gadis cantik. Ia te- rsenyum-senyum.
“Mencari siapa, Kakang?”
Keduanya gelagapan. Sepuluh tahun
mereka bermukim jauh dari keramaian dan gadis-gadis, sudah tentu kemunculan
gadis yang nampak pesolek itu cukup membuat mereka gugup.
“Maaf... kami... kami ingin
bertanya...,” sahut Seto yang mendadak merasakan keringatnya turun.
Gadis itu terkikik. “Hi hi hi...
silakan...” “Ini... rumah Bik Utari?” “Bik Utari?” 'Ya. Ia adalah bibik kami.”
“O...,” Gadis itu mengangguk-angguk. “Ya, ya... saya ingat. Wanita setengah
umur yang kurus kering itu, bukan?”
Seto dan Bono saling berpandangan.
Kurus kering? Setahu mereka Bibik Utari bertubuh gemuk dan sehat.
“Kami... sudah sepuluh tahun tidak
bertemu, jadi... tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang ini,..,” sahut Seto.
“Kalau yang kalian cari wanita itu,
ia tinggal di gubuk di ujung jalan sana.”
“Gubuk?” Kedua kakak beradik itu
serentak menyahut.
“Ya, gubuk.” “Tetapi, bukankah ini
rumahnya?” tanya Seto tidak mengerti.
“Dulu memang, iya. Tetapi sekarang,
bukan lagi.” “Mengapa?” “Rumah ini sudah dijualnya.” “Oh, Gusti... rumah siapa
ini?” Gadis itu tersenyum-senyum. “Memang betul- betul baru, ya? Ini Rumah
Bunga Mawar milik Nyi Alas Nipah. Bagaimana kalau kalian mampir? Untuk
Kakang-kakang yang ganteng begini,
semuanya gratis. Ayo, ayo!”
Kedua kakak beradik itu buru-buru
pergi. Gadis itu berseru-seru memanggil, tetap mereka tidak peduli.
“Huh! Kayak banci! Belum tahu
enaknya perempuan!” dengusnya sambil memasuki kamarnya lagi. Seorang laki-laki
yang sejak tadi tidak sabar menunggu langsung berkata, “Oh... mengapa lama,
Dewi?”
Gadis itu cekikikan. “Ih! Tidak
sabar amat!” katanya sambil membukai pakaiannya dan ternyata tidak mengenakan
lapisan apa-apa lagi di dalamnya.
Laki-laki itu tidak mau membuang
waktu. Ia langsung menubruk tubuh gadis itu yang cekikikan.
Sementara itu Seto dan Bono dengan
hati bertanya-tanya mengapa rumah itu sampai dijual, bergegas menuju ke ujung
jalan sebelah timur sana. Mereka tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti
itu.
Mengapa? Mereka mencari-cari rumah
yang ada di jalan setapak itu. Di belakang jalan itu banyak terdapat semak dan
pepohonan yang tinggi. Tidak ada rumah di sana, tetapi ada sebuah gubuk yang
terletak agak jauh dari jalan setapak itu.
Hati mereka tercekat. “Apakah gubuk
itu tempat tinggal Bibik Utari sekarang? Oh, Gusti... mengapa jadi seperti
itu?” desis mereka pilu.
Lalu perlahan-lahan mereka
mendekati gubuk itu. Suasana hening dan sepi. Padahal matahari sudah
sepenggalah. Kehidupan sudah mewarnai Desa Bojong Lolo.
Keduanya sekarang tiba di depan
gubuk itu.
Sejenak mereka memperhatikannya.
Oh, bila memang benar Bibik Utari tinggal di gubuk reot ini, betapa
menyedihkannya.
“Sampurasun!” Seto berseru. Tak ada
sahutan. Sekali lagi ia berkata, “Sampurasun!” Lama mereka menunggu sebelum
terdengar suara batuk dari dalam, menandakan orang itu sedang sakit. “Ya, ya...
tunggu sebentar... huk! Huk! Huk!” Keduanya berpandangan. Mereka sangat ingat
suara Bibik Utari. Jadi... apa yang dikatakan gadis itu ternyata benar. Bibik
Utari yang meninggali gubuk ini.
Pintu gubuk itu terbuka. Seorang
wanita kurus kering keluar dengan mata mengeriap-ngeriap.
“Siapa, ya?” Hati mereka semakin
pilu. Semakin tertindih oleh batu besar. Selama sepuluh tahun mereka
meninggalkan Bibik Utari, ternyata kehidupan telah mengubah Bibik Utari menjadi
kurus kering dan miskin seperti ini.
Tak sanggup menahan haru dan sedih,
keduanya melemparkan buntalan yang mereka bawa ke tanah, lalu menubruk kaki
wanita itu.
“Bibik!” “Hei, hei... siapa
kalian?” Seto menengadah. Matanya berkaca-kaca. “Lupakah Bibik dengan kami?”
“Siapa?” “Aku Seto, Bik. Aku Seto!”
Wanita itu tercekat. “Oh, Gusti! Kau... kau Seto?” tanyanya terbata. “Iya, Bik.
Ini Bono!” “Saya Bono, Bik...,” kata Bono dengan suara tersendat di
tenggorokan.
Wanita itu memejamkan matanya.
Mendadak saja ia terhuyung. “Bibik!” seru keduanya bersamaan. Seto berkata,
“Bibik nampaknya sakit panas, Adi Bono. Kau buat ramuan, aku akan mengalirkan
hawa dingin ke tubuhnya! Cepat!”
Keduanya pun bekerja dengan cepat,
untuk menyelamatkan nyawa Bibik Utari. Selama dua belas jam Bibik Utari
pingsan. Ketika ia terbangun, dirasa- kannya kepalanya sedikit pening, dengan
mata yang berkunang-kunang.
Perlahan-lahan fokus matanya
membaik. Ia melihat dua orang pemuda sedang duduk di tepi pembaringannya. Yang
seorang sedang memijat-mijat kepalanya dan yang lainnya, sedang memijat-mijat
kakinya.
“Bik...,” desis Seto dengan hati
pilu. “Mengapa semua ini sampai terjadi, Bik?”
Bibik Utari tersenyum. Sekian tahun
ia memendam rindu yang amat sangat kepada kedua- nya. Dan kini, keduanya sudah
kembali. Tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan.
“Tidak, Bibik tidak apa-apa....”
“Bik, katakan... siapa yang melakukan semua ini? Mengapa, Bik? Mengapa?
Bukankah Bibik sangat menyayangi rumah kita yang dulu, mengapa harus
menjualnya? Pasti ada alasan yang sangat kuat sehingga Bibik terpaksa
menjualnya, bukan?”
Bibik Utari tersenyum lagi. Sarat
dengan duka. “Bibik terpaksa menjualnya. Kau lihat sendiri bukan, Bibik sedang
sakit? Bibik membutuhkan uang untuk biaya pengobatan...,” katanya dengan
kepasrahan yang semakin kentara.
Hati keduanya terasa pilu. Bono
membuka buntalannya. Ada buntalan kecil yang kemudian diambilnya. Diserahkannya
pada Bibik Utari, “Ini uang, Bik:.. dengan uang ini... sakit Bibik akan bisa
disembuhkan....”
Lagi-lagi Bibik Utari tersenyum.
“Bibik rindu pada kalian. Siang dan malam Bibik mendoakan agar kalian selamat,
dan tidak kurang satu apa. O ya, kalian sudah makan?”
Seto tahu kalau Bibik Utari
mengalihkan pem- bicaraan dari masalah penjualan rumah. Tetapi untuk sementara
ia akan menurut saja, nanti bila saat tepat, ia akan mulai menanyakannya lagi.
Saat ini biar saja ia mencoba memendam rasa ingin tahunya.
“Kami sudah memasak untuk Bibik.
Ayo, makan dulu... “
Saat mereka makan, Seto lebih
banyak bercerita tentang apa yang mereka dapatkan dari Setan Pedang Kembar.
Juga tentang kerinduan mereka pada Bibik Utari yang sudah menumpuk. Bono pun
bercerita tak kalah serunya. Ia mengatakan, siang dan malam selalu mengingat
Bibik Utari.
Di wajah wanita setengah baya yang
nampak letih itu, mulai terpancar sinar kebahagiaan. Rasanya sudah sangat lama
sekali ia tidak merasakan kebahagiaan seperti hari-hari yang lalu.
“Sekarang kalian sudah pulang,”
kata Bibik Utari. “Apa yang akan kalian kerjakan?”
“Ha ha ha... Bibik ini bagaimana?”
pancing Seto. Sedikit banyaknya ia masih penasaran dengan masalah yang dihadapi
Bibik Utari. “Sudah tentu kami akan membantu Bibik menggarap sawah. Iya kan,
Adi Bono?”
Bono yang tidak tahu maksud dari
kakangnya hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Betul, Bik... di samping itu, kami
juga akan membangun rumah yang layak untuk Bibik. Gubuk yang reyot seperti ini
tidak layak untuk kesehatan Bibik.” Bukannya gembira, Bibik Utari justru
menghentikan makannya. Wajahnya nampak lesu sekali. Seto semakin yakin kalau
ada masalah yang sangat mengganggu bibiknya.
“Kenapa, Bik?” tanyanya berlagak
tidak tahu. Bibik Utari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, tidak ada
apa-apa. Hmmm... kalian sebaiknya... ah, tidak enak rasanya Bibik mengatakan
hal ini.”
“Maksud Bibik, karena gubuk Bibik
kecil, kemudian kami tidak bisa tidur di sini?” kata Bono sambil tersenyum.
“Tidak jadi masalah, Bik. Semua- nya beres. Kami bisa tidur di luar. Selama
hidup bersama Guru, kami sudah digemblengnya untuk mempertahankan diri dari
kehidupan alam yang keras ini.” Bibik Utari hanya tersenyum.
Malam pun semakin merambat. Seto
dan Bono mencari tempat yang tidak jauh dari gubuk Bibik Utari. Mereka
mengambil dedaunan yang dijadikan alas tubuh.
Tengah malam, selagi semua penghuni
Desa Bo- jong Lolo terlelap, Seto terbangun. Pertama yang dilihatnya, hanyalah
gelap semata. Setelah fokus matanya membaik, ia bisa melihat ke sekelilingnya.
Hanya semak belukar dan pepohonan belaka. Dan suara binatang malam yang
terdengar ramai.
Tiba-tiba ia teringat akan bibiknya.
Oh, apakah tiba-tiba sakitnya akan kumat? Kalau kumat, siapa yang akan
menolongnya? Mendadak ia bangkit, lalu perlahan-lahan melirik adiknya. Bono
nampak sangat terlelap, ia lelah sekali.
Lalu Seto pun melangkah mendekati
gubuk di mana bibiknya tinggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.
Rupanya Bibik Utari terlelap dalam tidurnya.
Menyadari hal itu, Seto pun
bermaksud kembali ke tempatnya. Namun tiba-tiba ia terkejut, karena tiga sosok
tubuh berkelebat dari sana.
“Hei! Berhenti!” serunya sambil
mengerahkan ilmu larinya. Di tanah terbuka, Seto berteriak, “Heaaa!” Tubuhnya
bersalto dua kali dan hinggap di hadapan ketiga orang itu. Ia melihat salah
seorang dari mereka memegang golok, dan di ujungnya meneteskan darah!
Pikirannya menerawang pada Bibik
Utari. Dan sesuatu yang mengerikan menjelma di pikirannya.
“Hhh! Minggir kau, Bocah sialan!”
membentak salah seorang yang mengenakan angkin berwarna merah. Ialah yang
memegang golok berdarah itu.
“Aku cuma ingin tahu, apa yang
telah kalian lakukan di gubuk itu, hah?” bentak Seto dengan mata yang tajam
memperhatikan mereka.
Bukannya menyahuti kata-katanya, si
angkin merah justru terbahak-bahak.
“Siapa kau adanya, Anak Muda?”
bentaknya. “Jawab pertanyaanku itu! Bila terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan
atas Bibik Utari, kalian akan mampus di tanganku!”
Si angkin merah bernama Pujo
Dondong. Ia tertawa terbahak-bahak.
“Bibik? Ha ha ha... rupanya kau
masih punya hubungan darah dengan si penghutang itu, hah?”
Kening Seto berkerut. Penghutang?
Apa maksud laki-laki itu? Bibik Utarikah?
“Hei, Anak muda! Bibikmu telah
mendapatkan hukuman yang setimpal karena tak mampu mem- bayar
hutang-hutangnya!”
“Apa maksudmu dengan berhutang,
hah?” “Ya, ya... kau memang orang bodoh! Bibikmu itu telah berhutang banyak
sekali pada Juragan Soka Wijaya. Dan ia tidak mampu membayar! Apakah kau sudah
tahu kalau rumah dan sawahnya sudah disita, hah?!” Seto tidak bisa lagi menahan
amarahnya. Semua yang ingin diketahuinya, justru melalui orang-orang biadab
ini. Tiba-tiba ia melompat seraya memekik keras, “Anjing keparat! Mampuslah
kau!”
Pujo Dondong hanya terkekeh. Lalu
melompat pula, memapaki serangan yang dilakukan oleh Seto.
“Bocah kemarin sore sudah
bertingkah di depanku!” dengusnya sambil meningkatkan tenaga dalamnya.
Sementara dua temannya hanya memperhatikan saja. Pikir mereka, bocah itu
terlalu nekat. Pasti ia akan roboh hanya dengan sekali gebrak.
Benturan itu terjadi. Des! Des!
Satu sosok tubuh terpental ke belakang. Tubuh Pujo Dondong! Sementara Seto
bukannya terpental, malah semakin menggenjot tubuhnya. Memburu Pujo Dondong.
Sudah tentu Sengkala dan Bayantoro
terkejut melihatnya. Mereka tidak menyangka kalau pemuda yang kelihatan lemah
itu bisa membuat Pujo Dondong terpental.
Seketika keduanya mengegos tubuh,
mencoba memotong gerakan Seto dengan golok di tangan.
Seto yang sudah memperhitungkan
kalau serangannya akan dipotong hanya melepaskan tendangan dua kali.
Duk! Duk! Golok di tangan Bayantoro
terlepas, sementara Sengkala merasakan dadanya bagai dihantam godam. Karena
tendangan yang penuh tenaga itu tepat mengenai dadanya.
Seto terus memburu Pujo Dondong
yang sudah terhuyung. Ia tidak menyangka kalau pemuda itu bisa melepaskan
pukulan telaknya saat tubuh keduanya beradu tenaga. Dan yang tidak disangkanya
pula, kalau pukulan yang dilepaskan pemuda itu mengandung tenaga dalam yang
tinggi.
Kini tak ada jalan lain baginya,
kecuali hanya mencoba menutupi gerakan Seto dengan jalan mengibaskan goloknya.
Seto sendiri sudah tidak mungkin untuk menarik pulang serangannya. Golok yang
mengibas di depan itu di tendang, hingga mencelat ke atas. Sementara dua buah
pukulannya sekaligus masuk menghantam dada Pujo Dondong yang semakin terhuyung.
Bersamaan dengan itu, Seto mendadak
bersalto, dan menendang dengan secepat kilat golok yang sudah turun kembali.
Plak! Singng! Golok itu melesat
cepat ke arah Pujo Dondong yang hanya bisa ternganga dan... bles!
“Aaaakhhhgghhh!” Jeritan panjang
terdengar, memecah malam yang sunyi. Tetapi tidak ada yang keluar, karena jarak
tanah kosong itu agak jauh dari desa. Hanya satu sosok tubuh yang muncul dan
memperhatikan Seto sedang bertarung dengan Pujo Dondong.
“Kakang!” Seto menoleh. “Adi
Bono... periksa keadaan Bibik Utari! Dua cecunguk ini harus mampus! Heaaa!”
Meskipun tidak mengerti apa maksud
kakangnya, Bono berlari juga ke gubuk Bibik Utari. Sementara itu Sengkala dan
Bayantoro harus menghadapi serangan yang dilakukan oleh Seto.
Keduanya cukup mengalami kesulitan
dengan serangan-serangan yang dilakukan Seto! Mereka benar-benar tidak
menyangka kalau pemuda itu memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Sebisanya
mereka menghadapi dengan golok setiap serangan yang datang ke arahnya. Mencoba
untuk mencari sela menyerang... dan kalau mempunyai kesempatan mereka akan
melarikan diri.
Tetapi sudah tentu Seto yang murka
tidak mau melepaskan kesempatan itu. Disambarnya dua buah ranting dan
dipergunakannya sebagai senjata. Sebuah ranting di tangan orang yang memiliki
ilmu kesaktian, bukanlah barang tak berguna. Bisa menjelma menjadi barang yang
sangat berbahaya.
Begitu pula yang dilakukan Seto. Ia
adalah murid dari Setan Pedang Kembar. Dengan memadukan jurus-jurus pedangnya,
ia menghantam kedua lawannya hingga tunggang-langgang. Dan berkali-kali
terdengar jeritan kesakitan. “Ampun... ampun...!” “Aaauhh... sakit...!” Tetapi
Seto tidak juga mengendurkan serangan- nya. Ia semakin gencar. Tiba-tiba
dilemparkannya salah sebuah ranting di tangannya, yang meluncur ke arah
Bayantoro.
“Mampuslah kau, Anjing!”
Ranting itu tepat menusuk jantung
Bayantoro. Menembus hingga ke punggungnya! Lalu tubuh itu ambruk tanpa sempat
berteriak lagi, bersimbah darah. Melihat Bayantoro sudah mampus, Sengkala
menjadi panik. Ia mencoba melarikan diri, tetapi dengan sekali kelebat, Seto
sudah berhasil menangkapnya.
“Mau ke mana kau, Setan!” “Ampun...
ampun..., Jangan bunuh saya... jangan...,” jerit Sengkala dengan wajah yang
memucat. Sungguh, ia tidak menyangka akan mengalami kejadian tidak enak seperti
ini.
“Ceritakan, siapa Soka Wijaya itu!”
seru Seto sambil memuntir tangan Sengkala ke belakang. Dan menariknya sehingga
Sengkala menjerit-jerit.
“Ampun... ampun!” “Katakan, siapa
dia?” 'Ya, ya... saya katakan. Dia... dia majikan kami....” “Apa kerjanya?”
“Dia... memeras rakyat dan melakukan praktek lintah darat.”
“Apa hubungannya dengan bibiku,
hah? Mengapa ia sampai terlibat hutang padanya!”
“Karena... karena ia tidak pemah
membayar pajak.”
“Bangsat! Pajak apa yang
diterapkan!” “Semua... penduduk Desa Bojong Lolo dan Bo- jong Sawo... harus
menyetor pajak kepada Juragan Soka Wijaya. Kalau tidak hari ini... berarti
besok akan berlipat ganda... begitu seterusnya...”
“Gara-gara pajak itu sawah dan
rumah Bibik Utari dijual?”
'Ya, ya... dengan harga yang sangat
murah.”
“Di mana manusia busuk itu
tinggal?” “Ampun, Tuan Pendekar... saya tidak berani mengatakannya?”
“Kau mau mampus?” “Jangan, Tuan...
jangan....” “Katakan, Monyet!” Seto memuntir tangan Seng- kala lebih kuat, yang
hanya bisa menjerit-jerit kesakitan.
‘Ya, ya... dia tinggal di Desa
Bojong Sawo... rumah yang paling besar....”
Seto melepaskan puntirannya dan
mendorong tubuh Sengkala hingga tersuruk.
“Pergilah kau dari sini, kalau
tidak, kau akan mampus!”
“Oh, baik, baik...,” Sengkala
berlari terbirit-birit. Ia merasa tenang sekarang, meskipun ia geram dengan
anak muda itu.
Seto mengatur napasnya. Ia
bermaksud hendak ke gubuk Bibik Utari, tetapi tiba-tiba terdengar lolongan
kematian dari kejauhan. Seto bermaksud mencari suara itu, tetapi Bono telah
muncul. Di tangannya ada kepala Sengkala yang putus.
“Jangan dibiarkan manusia itu
hidup, Kakang.... Mereka telah membunuh Bibik Utari...,” desisnya dingin.
Seto menengadah. Lalu jatuh
terduduk. “Kita harus membalas kematian Bibik Utari, Adi Bono...,” katanya
dengan hati pilu. Baru sekarang ini mereka berjumpa selama sepuluh tahun
berpisah. Dan perjumpaan itu hanya terjadi sesaat saja.
Bono melemparkan kepala Sengkala
jauh-jauh. Suaranya dingin dan kejam. “Segera, Kakang...!”
***
Seto menghela napas panjang.
“Begitulah ceritanya, Nimas. Kemudian kami mendatangi rumah Soka Wijaya. Dan
semuanya itu sia-sia belaka... bahkan harus mengorbankan nyawa Bono.”
Nimas Kunti yang mendengarkan
dengan seksama, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kau masih mendendam pada mereka?”
“Ya.” “Hi hi hi... kalau begitu aku akan ikutan maju. Kebetulan sudah lama aku
tidak mencoba ilmu- ilmuku.... Terutama setelah aku sadari kalau bukan si Tua
Keris Dewa yang melakukan semua ini. Hmmm, ternyata ia masih menepati janjinya
dulu, bahwa Tiga Malaikat Pencabut Nyawa tidak akan muncul di dunia persilatan.
Entah kalau Mayang, yang berjuluk Nyai Sisik Merah. Hei, Seto... kau tahu,
kalau aku, Wasongso dan Mayang, adalah orang-orang dari golongan putih yang
selalu membela kebenaran. Karena sudah tua, kami memutuskan untuk tidak
memasuki dunia persilatan lagi. Dan... aku akan membantumu....”
Seto mengangkat kepalanya. “Nimas
mau membantu?” “Bahkan aku akan membelikanmu sesuatu,” Nimas Kunti berdiri.
Lalu masuk ke kamarnya dan keluar lagi dengan membawa sebilah peti besar. Ia
begitu ringan sekali membawanya. Sejak semula sebenarnya Seto sudah merasakan
kalau wanita tua ini bukanlah orang sembarangan. Nimas Kunti mem- buka peti
itu. Lalu dikeluarkannya sebilah pedang dari sana. Pedang itu bersinar ungu,
agak menyilaukan.
Lalu ditariknya dari warangkanya.
Sreettt! Sinar ungu itu semakin
menyilaukan. “Hi hi hi... sudah sangat lama Pedang Sinar Ungu ini ada di
tanganku. Nah, sekarang pedang ini men- jadi milikmu, Seto...” “Tetapi, Nimas?”
“Kenapa? Kau menolaknya?” “Bukan... maksudku, bagaimana aku bisa menerimanya?”
“Hi hi hi... kau memang pemuda yang
tahu sopan santun. Sekarang mudah saja, pedang ini kuberikan kepadamu.... Dan
sudah tentu kau bisa menerimanya dengan segera. Nah, apalagi yang kau pikirkan,
Seto?”
Seto hanya tersenyum saja. Ia tidak
menyangka kalau ia akan bertemu dengan Nimas Kunti. Hal ini sudah tentu sangat
menguntungkannya. Diterimanya Pedang Sinar Ungu yang diberikan oleh Nimas
Kunti.
“Tetapi Seto... ada syaratnya saat
kau mempelajari kitab Ilmu Pedang Sinar Ungu ini,” kata Nimas Kunti kemudian.
“Oh, apakah itu gerangan, Nimas?”
tanya Seto dengan dada berdebar.
“Mudah-mudahan saja. Pedang Sinar
Ungu ini adalah sebuah pedang yang sangat sakti. Bahkan kesaktiannya hanya bisa
ditandingi oleh Suling Naga Sakti milik Pendekar Gila.”
“Siapa pula Pendekar Gila ini,
Nimas?” Nimas Kunti tertawa-tawa. Rupanya pemuda ini memang benar-benar baru
turun gunung. Nama Pendekar Gila selama ini sudah mulai membubung tinggi
sebagai pendekar pembela kebenaran.
“Ketahuilah, Seto... Pendekar Gila
adalah seorang pemuda budiman yang telah banyak menghancurkan tokoh-tokoh
jahat. Ia adalah murid tunggal dari Singo Edan, yang hingga sekarang ini terus
berdiam diri di Gua Setan. Kesaktian si Pendekar Gila teramat tinggi, begitu
pula dengan senjatanya, yaitu Suling Naga Sakti. Nah, Pedang Sinar Ungu inilah
yang bisa sejalan dengan Suling Naga Sakti. Jadi bila kau bisa mempergunakannya
pada jalan kebaikan, kau akan menjadi pendekar kenamaan. Tetapi bila kau berada
pada jalan sesat, maka kau akan menjadi pendekar durjana....”
“Kalau begitu, Nimas... mengapa kau
tidak khawatir bila ternyata Pedang Sinar Ungu ini kubawa pada jalan sesat?”
tanya Seto sambil menatap Nimas Kunti yang terkekeh-kekeh.
“Aku tahu siapa kau, Seto. Dan aku
yakin, murid dari Setan Pedang Kembar tak akan mengkhianati kebajikan. Tetapi
seperti yang kukatakan tadi, kau masih harus melakukan satu syarat yang harus
kau jalani.”
Dada Seto kembali berdebar. “Apakah
itu gerangan, Nimas?” Nimas Kunti memasukkan kembali tangannya ke dalam peti
yang masih ada di hadapannya. Lalu diangkatnya sebuah benda yang terbungkus
kain perca yang sudah tua.
“Ini adalah kitab Pedang Sinar
Ungu. Kau harus mempelajarinya untuk bisa mendapatkan kesaktian dari Pedang
Sinar Ungu.”
“Saya akan menjalankannya,
Nimas...” “Hi hi hi... hebat, hebat! Nyalimu sungguh besar, Seto. Meskipun
masih kurasakan kau menyimpan dendam yang sangat kuat kepada orang-orang yang
telah membunuh bibikmu dan adikmu. Kau memiliki semangat yang sangat bagus. Itu
patut dipuji. Tetapi sekarang, yang menjadi masalah adalah syarat yang harus
kau jalani,” kata Nimas Kunti. Lalu melanjutkan, “Sekarang yang terpenting
adalah kitab ini, Seto “
“Nimas... apakah syaratnya?” “Kau
harus menamatkan seluruh isi kitab Pedang Sinar Ungu ini hanya dalam waktu satu
malam.”
Seto tersentak. Menamatkan kitab
setebal itu hanya dalam satu malam? Edan! Siapa yang sanggup
“Tetapi, Nimas. “ “Di mana
semangatmu, Seto? Pergunakanlah otakmu untuk menemukan jawaban yang paling
singkat dan cara menamatkan seluruh isi kitab ini. Bila kau tidak sanggup,
lebih baik kau kembalikan lagi kepadaku. Bila kau sanggup, masih ada pula hal
yang sangat mengejutkan.”
“Apakah itu, Nimas?” “Bila kau
gagal menamatkan isi kitab Pedang Sinar Ungu ini dalam satu malam, maka nyawamu
sendiri yang akan terkena sinar pedang itu yang sangat mematikan. Bagaimana?”
Nimas Kunti melihat wajah Seto
menjadi pias. Namun ia pun melihat ketegaran di mata itu. Betapa pemuda ini
masih sanggup untuk menjalankan apa yang hendak dilakukannya.
“Bagaimana?” Seto mendesah pendek.
Terbayang bibiknya yang telah menjadi mayat. Terbayang pula bagaimana Bono
harus menemui ajalnya dengan cara yang menyedihkan. Semuanya masih
berpendar-pendar dalam ingatan Seto.
Mungkin pula, ia tidak akan pernah
bisa melupakannya. Karena dendam itulah Seto akhirnya mengangguk.
“Baiklah, Nimas... saya akan
melakukannya.” “Hi hi hi... bagus, bagus sekali... Purnama tinggal tiga hari
lagi. Nah, saat purnama tiba kau harus mulai mempelajari kitab Pedang Sinar
Ungu yang harus kau tamatkan satu malam. Dan... hi hi hi... kau tidak lupa akan
resikonya, bukan?”
Seto mengangguk mantap. Terbayang
lagi bagaimana jeritan Bono ketika tangannya disambar putus oleh keris
Jalaluta. Menyusul ajal yang segera menjemputnya. Tidak, ia tidak akan
membiarkan semua itu membayanginya terus menerus. Ia harus membalaskan sakit
hatinya!
Juga membalas sakit hati Bibik
Utari. “Baiklah, Nimas... saya siap untuk melakukan- nya.” “Bagus!”
***
5
Pagi mulai menjelang kembali.
Suasana di Desa Bojong Sawo tetap seperti biasa, selalu dihiasi oleh ketakutan
demi ketakutan. Mereka terkadang lebih suka berada di dalam rumah demi menjaga
keselamatan istri dan anak gadis mereka. Tetapi pajak yang telah diterapkan
oleh Soka Wijaya, mau tidak mau membuat mereka terpaksa angkat kaki ke sawah.
Sebagian besar sawah dan ladang di Desa Bojong Sawo, kini sudah berpindah
tangan. Menjadi milik Soka Wijaya.
Pagi itu, seorang wanita setengah
umur yang melangkah dengan menggunakan tongkat, memasuki Desa Bojong Sawo. Bila
melihat arah dari mana nenek itu datang, sudah jelas muncul dari Hutan Alas
Warangan.
Nenek itu tak lain adalah Nimas
Kunti, yang menjadi sangat penasaran ingin mengetahui rupa Jalaluta. Baginya,
yang ia kenal sebagai pemilik Keris Dewa adalah Wasongso, alis si Tua Keris
Dewa. Tetapi menurut Seto, yang memiliki sekarang adalah Jalaluta. Kemungkinan
besar, menurut Nimas Kunti, Jalaluta adalah murid dari Wasongso. Hanya yang membuatnya
tidak habis berpikir, mengapa sangat jauh sekali watak dari Jalaluta dengan
Wasongso?
Itulah yang menyebabkannya datang
ke Desa Bojong Sawo.
Kemunculannya sudah tentu memancing
per- hatian orang-orang di sana, terutama para pengawal Soka Wijaya yang memang
banyak berkeliaran.
Mereka mencari siapa saja
orang-orang yang menjelek-jelekkan nama Soka Wijaya, atau pun tengah berunding
untuk melawannya. Bila ada yang ketahuan seperti itu, sudah pasti besoknya
tidak akan pernah lagi melihat matahari.
Nimas Kunti menggeleng-gelengkan
kepalanya melihat keadaan yang sepi seperti itu. Jarang sekali ia melihat anak
kecil yang bermain-main di luar rumah. Juga, kaum wanitanya yang biasanya
sedang sibuk menjemur sepagi ini.
Ia mulai merasakan kebenaran ucapan
Seto. Tiba-tiba dia berhenti di satu rumah. Di sana seorang laki-laki berusia
tiga puluh tahun sedang membelah kayu.
“Maafkan aku, Kisanak... tahukah di
mana tempat tinggalnya Soka Wijaya?”
Laki-laki yang menghentikan
kegiatannya dan menatap ke arah Nimas Kunti, segera meneruskan pekerjaannya
lagi. Seolah tidak mendengar apa yang ditanyakan olehnya.
Nimas Kunti mengerutkan keningnya.
Ia jelas- jelas sekali melihat kalau sebelumnya laki-laki itu mendengar
perkataannya. Namun mengapa kemudian akhirnya justru berlagak seperti tidak
men- dengar?
Ia yakin, ini berkaitan dengan nama
Soka Wijaya yang ia sebutkan. Gagal mendapatkan jawaban, ia meneruskan langkahnya.
Sementara laki-laki yang ditanya tadi mengangkat kepalanya, lalu menggeleng-
geleng.
Nimas Kunti mencoba bertanya lagi
pada seorang wanita yang kebetulan sedang mengejar anaknya yang keluar rumah.
Bukannya memberikan jawaban yang memuaskan, wanita itu justru tergesa-gesa masuk
dan mengunci pintu.
Semakin kuat keyakinan Nimas Kunti,
kalau nama Soka Wijaya merupakan momok yang menakutkan.
Kini ia tiba di sebuah kedai yang
cukup ramai. Seluruh pengunjungnya adalah kaum laki-laki. Melihat kemunculannya,
orang-orang yang berada di sana berpandangan. Mereka yakin belum pernah melihat
wanita tua itu sebelumnya.
Nimas Kunti tidak menghiraukan
pandangan mereka. Ia hanya tersenyum-senyum saja sambil melangkah mendekati
salah seorang pelayan yang sedang sibuk menuangkan arak. Di sudut sana,
beberapa orang sudah dalam keadaan mabuk.
“Ki... tahukah di mana tempat
tinggal Soka Wijaya?” tanyanya.
Pelayan itu lagi-lagi menunjukkan
sikap yang sama seperti orang-orang yang ditanyanya. Pandangannya sekilas
tertuju pada lima orang laki- laki berpakaian Jingga yang duduk di pojok
sebelah kiri. Lalu ia meneruskan pekerjaannya.
“Hei, tahukah kau?!” bentaknya.
Orang itu lagi-lagi tidak menghiraukannya. Nimas Kunti menjadi gemas sendiri.
Tiba-tiba Nimas Kunti membalikkan tubuhnya. Pandangannya mengedar pada
orang-orang yang berada di dalam kedai itu. Mereka sebagian besar
memperhatikannya sejenak, lalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Tiba-tiba Nimas Kunti berseru,
“Hei, kalian semua! Barang siapa yang bisa menunjukkan kepadaku, di mana rumah
Soka Wijaya, keping uang perak!”
Orang-orang itu mengangkat
kepalanya. Namun sebagian besar buru-buru menyibukkan diri dengan hidangan
mereka. Kecuali enam orang yang ber- pakaian jingga.
Salah seorang berdiri, “Siapa yang
kau cari, Nenek peot?”
“Hi hi hi... rupanya ada yang
bersuara juga sekarang. Aku mencari rumah Juragan Soka Wijaya! Bila kau bisa
memberitahukan di mana letaknya, kau akan mendapatkan dua keping uang perak!”
sahut Nimas Kunti sambil mengeluarkan dua keping uang perak dari angkinnya.
Orang itu berpandangan pada
teman-temannya. Setelah saling mengangguk, mereka serentak berdiri dan
mendekati” Nimas Kunti.
“Kami tahu!” “Di mana?” “Mana uang
itu?” “Bila kau sudah memberitahukan kepadaku di mana. Rumahnya, uang ini akan
berpindah ke tanganmu,” sahut Nimas Kunti sambil tersenyum. Pandangannya
mengarah satu persatu pada orang- orang berpakaian jingga itu.
“Uangnya dulu!” “Katakan di mana
tempatnya,” sahut Nimas Kunti tak mau kalah.
Salah seorang mencolek bahu si
pembentak tadi. la bernama Kagangga. “Tenang... kalau Nyai bersedia kami
antar... kami akan mengantarnya...”
“Bagus! Tetapi, jangan panggil aku
Nyai, panggil aku Nimas. Mengerti?” Nimas Kunti mengerling genit.
Kagangga ingin rasanya tertawa,
namun dua keping uang perak itu membuatnya menahan tawa- nya. Kalau tidak jadi,
sangat sayang. Ia pun yakin, kalau nenek ini membawa lebih dari dua keping uang
perak itu.
“Kalau begitu, ikuti kami!” katanya
seraya melangkah, menyusul teman-temannya yang meng- iringi langkah Nimas
Kunti.
Orang-orang yang berada di kedai
itu mendesah panjang. Mereka bisa membayangkan apa yang akan dialami oleh nenek
itu, yang berani-beraninya mencari Soka Wijaya. Padahal, orang-orang berpakaian
jingga itulah anak buah Soka Wijaya.
Dan sepeninggal mereka, orang-orang
yang berada di kedai pun mulai berani berbicara banyak. Sejak tadi mereka hanya
makan sambil berdiam diri dan hanya membiarkan orang-orang berpakaian jingga
itu bersuara.
“Ah, siapakah nenek itu
sebenarnya?” tanya salah seorang, menyesali kecerobohan si nenek tadi.
“Aku baru melihatnya,” sahut salah
seorang. “Aku juga,” sahut yang lainnya. “Aku tak bisa membayangkan bagaimana
mengenaskannya nasib nenek itu nanti,” kata salah seorang.
Sementara itu, Nimas Kunti tetap mengikuti
langkah orang-orang itu. Sikapnya begitu tenang sekali. Ia adalah seorang
pendekar wanita yang memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Ia bukannya tidak
tahu kalau orang ini bermaksud tidak baik dengannya. Paling tidak, ia yakin,
orang-orang ini punya hubungan dengan Soka Wijaya.
Nimas Kunti semakin yakin akan
pikirannya, karena orang-orang itu membawanya ke arah semak belukar. Namun
tetap dengan ketenangan yang sama, ia terus melangkah.
“Masih jauhkah rumah Soka Wijaya?”
tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kau diam saja! Yang pasti kau
sampai di sana!” bentak Kagangga sambil terus melangkah. Hhh! Ia bisa
membayangkan kalau ia akan mendapatkan uang perak yang banyak dari nenek itu.
Akan didatanginya tempat plesiran yang ada di Desa Bojong Lolo. Akan
dipuaskannya nafsunya bermain- main dengan gadis-gadis cantik di sana. Nimas
Kunti cuma tertawa saja. “Pemarah,” desisnya. Kagangga sangat jengkel dibilang
seperti itu. Namun ia masih mencoba bersabar. Ketika tiba di tempat yang
ditentukan sebuah tempat yang sepi dan penuh dengan semak belukar tiba-tiba ia
meng- hentikan langkahnya dan berbalik pada Nimas Kunti.
Pandangannya geram. Lalu membentak
dengan sangar. “Mau apa kau mencari Soka Wijaya, nah?”
Yang dibentak bukannya ketakutan,
malah tertawa-tawa.
“Bukankah tadi kita sudah berjanji,
kau tunjukkan di mana rumahnya, aku akan memberikan dua keping uang perak!”
“Tidak ada perjanjian! Serahkan
semua uangmu, Nenek peot!” tertawa Kagangga sekarang.
Nimas Kunti masih tetap tersenyum.
Lalu katanya sambil membalikkan tubuh, “Bila kau tidak mau menunjukkan di mana
rumah Soka Wijaya, aku akan
Begitu ia melangkah, lima orang di
belakangnya sudah menghadangnya dengan pandangan beringas. Nimas Kunti masih
tertawa-tawa.
“Ada apa ini?” “Jangan banyak
bacot, serahkan seluruh uang perakmu, Nenek Peot! Kalau tidak... kau akan
mampus!” bentak Togonggo sambil mencabut goloknya dari pinggang. Ia
menimang-nimang golok itu di hadapan Nimas Kunti. “Hmm.... tubuhmu yang peot
dan renta itu, hanya sekali sabet saja sudah berantakan!”
Kini Nimas Kunti semakin yakin,
kalau orang- orang ini punya hubungan dengan Soka Wijaya.
“Kalau kau memang yakin, mengapa
tidak segera kau lakukan untuk merebut uang perakku, hah?” katanya sambil
tersenyum.
Sudah tentu Togonggo yang bertubuh
bulat pendek menjadi tersinggung mendengar kata-kata itu. Ia langsung
menyabetkan goloknya, dengan keyakinan sekali sabet nyawa Nimas Kunti akan
melayang.
“Mampus kau! Yeeeaaa!” Nimas Kunti
tidak bergeming dari tempatnya. Ia cuma terkekeh saja. Bersamaan golok Togonggo
bergerak ke arahnya, Nimas Kunti menggerakkan tongkatnya. Tuk! Ujung tongkat
itu menotok urat kaku Togonggo yang terletak di bawah ketiak. Seketika Togonggo
terdiam dalam keadaan mulut terbuka, mata terbelalak dan tangan terangkat.
“Lho, mengapa tidak jadi?” kata
Nimas Kunti sambil tertawa-tawa.
Melihat gebrakan yang dilakukan
oleh Nimas Kunti itu, membuat yang lainnya menjadi murka. Kini mereka yakin,
nenek ini tidak bisa dianggap enteng. Terbukti dari sekali gerak, Togonggo
sudah terdiam kaku. Yang paling marah adalah Kagangga. Ia mendahului
teman-temannya menyerang. Serangan yang dilakukan adalah pembokongan, karena
Nimas Kunti sudah membelakanginya. Ia mengayunkan goloknya dengan kuat ke arah
leher Nimas Kunti.
Wuuttt! Sepersekian detik Nimas
Kunti tidak merunduk- kan tubuhnya, lehernya akan berpisah dari tubuhnya.
Lalu ia melompat ke samping, “He he
he... mem- bokong adalah pekerjaan seorang pengecut.”
“Mampuslah kau, Nenek Tua!”
Kagangga menyerang kembali. Kali ini dengan diiringi oleh teman-temannya.
Sementara Togonggo masih berdiri kaku. Nimas Kunti pun harus melayani
golok-golok yang mengarah ke tubuhnya. Dengan licahnya ia me- mainkan
tongkatnya dengan jurus 'Sapuan Ke Tengah Telaga'. Gerakannya begitu cepat sekali,
menimbul- kan gemuruh yang keras. Dan sekali-sekali tongkat itu bagaikan
baling-baling belaka.
Sudah tentu Kagangga dan
kawan-kawannya menjadi terkejut. Serangan mereka bukan hanya terhalang,
melainkan sekali-sekali mereka mendapat- kan balasan.
Trakkk! Wuttt! “Aaaakhh!” Tongkat
itu telah berubah fungsinya sebagai mesin penggebuk yang cepat dan tangkas.
Gerakan demi gerakan yang dilakukan oleh Nimas Kunti penuh tenaga dan sangat
cepat.
“Hei, mengapa kalian menjadi
kocar-kacir begitu? Mana sesumbar kalian yang ingin membunuhku, hah!” serunya
sambil tertawa dan terus meng- gerakkan tongkatnya dengan cepat.
Orang-orang itu berusaha untuk
menghindar, menangkis dan membalas. Namun tongkat itu seolah memiliki mata yang
tajam, ke mana mereka berpijak, ke sana tongkat itu menyerang. Dedaunan yang
telah gugur beterbangan kembali. Suasana di tempat itu yang semula tenang kini
menjadi hiruk-pikuk. Ramai oleh orang suara teriakan. Ramai oleh suara senjata
beradu.
Kagangga merasa yakin, dalam dua
gebrakan berikutnya, mereka tidak akan berhasil mengalahkan wanita tua ini.
Terlihat dari gerakan yang dilakukan oleh nenek itu begitu cepat, hebat dan
tangkas.
Mereka berlima saja tidak mampu
untuk mengalahkannya. Jangankan untuk mengalahkan, memukul mundur saja tidak
berhasil. Justru mereka yang terus didesak oleh tongkat yang menimbulkan angin
kencang.
“Mengapa jadi berantakan begini,
hah?” tertawa Nimas Kunti sambil terus mendesak. Sekali-sekali tongkatnya
berhasil menemui sasarannya. Yang terkena pukulannya merasa bagaikan patah.
“Siapa yang mengatakan di mana rumah Soka Wijaya kepadaku, maka ia akan
kuampuni! Ayo, tunjuk tangan kalian, hi hi hi!”
Namun kelimanya tidak mempunyai
kesempatan untuk mengangkat tangan. Karena tongkat kayu itu terus mencecar
dengan gencarnya, membuat mereka menjadi kalang kabut tak karuan.
Kali ini Nimas Kunti sendiri sudah
tidak mau lagi bertindak tanggung. Ia memutar tongkatnya ke atas, lalu dengan
gerakan yang cepat sekali, tongkatnya menyambar kaki-kaki lawan, sehingga
mereka bertumbangan.
Nimas Kunti tertawa sambil berdiri
tegak. Tongkat terpancang di tangan kanannya.
Suaranya kali ini mendesis geram,
“Sekali lagi kuminta, katakan... di mana rumah Soka Wijaya?”
Tak ada yang bersuara. Ada
ketakutan yang lebih kuat lagi di hati mereka bila memberitahukan di mana rumah
Soka Wijaya pada wanita tua ini. Karena, mereka yakin hukuman yang lebih keras
akan mereka terima dari Soka Wijaya. Inilah yang membuat mereka lebih suka
berdiam saja walaupun tubuh mereka menggigil ketakutan.
Nimas Kunti mendengus. “Katakan!”
bentaknya keras. Tak ada yang bersuara. Semuanya menundukkan kepalanya. Kaki
mereka seakan mau patah sehingga tidak bisa diangkat kembali. Melarikan diri
pun tidak kuasa lagi. Yang ada, hanya kepasrahan belaka.
Tiba-tiba Nimas Kunti menggeram,
lalu meng- ayunkan tongkatnya dengan cepat. Lima buah jeritan terdengar,
bersamaan tubuh-tubuh yang tumbang dengan kepala pecah berdarah!
“Hhh! Orang-orang tak berguna!”
Lalu dihampirinya Togonggo yang masih berdiri kaku. Nimas Kunti menyeringai
sambil menjewer telinga Togonggo. Lalu memutar tubuhnya, bagaikan memutar
patung belaka.
“Kau lihat itu, Monyet! Apakah kau
ingin mampus juga menyusul teman-temanmu itu?” Dengan satu gerakan, Nimas Kunti
membuka totokan Togonggo yang jatuh menggelosoh ke bumi. Dan terburu-buru
mengangkat kepalanya serta meratap-ratap mohon ampun.
“Yang kuinginkan, di mana rumah
Soka Wija- ya....” “Saya... saya tidak tahu, Nimas... sungguh saya tidak
tahu....”
“He he he... kebohongan yang tak
ada gunanya. Baiklah, aku pun bosan bermain denganmu. Kau akan menyusul
teman-teman busukmu itu!”
“Jangan, Nimas... jangan... ampun,
ampuni aku, Nimas.... Jangan... jangan bunuh aku....”
“Katakan di mana rumahnya, dan kau
akan tetap mendapatkan dua keping uang perak sebagaimana janjiku tadi...”
Togonggo adalah orang yang tamak.
Mendengar janji Nimas Kunti ia menjadi tersenyum gembira.
“Benarkah?” “Di mana rumahnya?”
“Nimas... Nimas berjalan saja ke arah barat. Di sana nanti Nimas akan melihat
rumah yang sangat besar sekali, dan sudah tentu ada beberapa penjaga di rumah
itu.... Itulah rumah Juragan Soka Wijaya.”
“Apakah benar, di sana tinggal
seseorang yang memiliki senjata sebilah keris?”
“Ya, ya....” “Keris Dewa?” “Ya,
ya... saya pernah mendengar nama keris itu.” “Siapa yang memilikinya?” “Tuan...
Tuan Jalaluta.” “Hmmm... bagaimana orangnya? Sudah tua?” “Tidak, tidak... Tuan
Jalaluta masih muda. Ia adalah tangan kanan dari Juragan Soka Wijaya.
Kesaktiannya sangat tinggi sekali.”
“Apakah ada yang bernama Wasongso
sebagai pengawal Soka Wijaya?”
“Wasongso? Tidak, sepertinya tidak
ada.” “Apakah kau dan teman-temanmu ini bekerja padanya?”
'Ya, ya... kami bekerja padanya.”
“Mengapa tadi kau mengatakan tidak tahu di mana tempat tinggalnya?” Pandangan
Nimas Kunti menusuk.
“Saya... saya... takut akan
dibunuh.”
No comments:
Post a Comment