EMPAT BIDADARI LEMBAH NERAKA
Oleh
Firman Raharja
1
Empat sosok bayangan berlari di
tengah semak-semak penuh onak dan duri. Mereka melesat begitu cepat ke arah
barat. Ketika sampai di sebuah jalan tanah selebar dua tombak yang membelah
hamparan semak, keempatnya berhenti. Mereka ternyata para wanita cantik yang
mengenakan pakaian serba merah.
Matahari hampir tenggelam di kaki
langit sebelah barat. Cahayanya yang kemerahan membias di wajah-wajah cantik
keempat dara itu. Di pundaknya mereka tersampir pedang. Angin berhembus
mempermainkan rambut keempat dara cantik yang panjang tergerai. Mereka sedang
ragu untuk mengambil arah utara atau selatan. Sesaat kemudian, wanita yang
mengenakan ikat pinggang berwarna hijau memberi isyarat dengan tangannya agar
melanjutkan perjalanan ke selatan.
Ketiga kawannya segera mengikuti.
Keempatnya berlari ke selatan menyusuri jalan tanah yang membelah semak.
Melihat gerakan mereka yang begitu
ringan, jelas keempat dara cantik itu memiliki ilmu tinggi. Setidak-tidaknya
dalam ilmu meringankan tubuh. Hanya dalam waktu singkat mereka telah mencapai
ujung selatan hamparan semak belukar.
Tanpa sepengetahuan mereka, tiga
sosok bayangan lain berlari jauh di belakang. Sesekali ketiga sosok yang adalah
tiga lelaki berpakaian coklat, berhenti. Tampaknya, mereka ingin mengatur jarak
agar tidak terlalu dekat dengan keempat dara itu.
Ketika sampai di persimpangan
jalan, ketiga lelaki bersenjata golok itu menghentikan larinya. Mereka pun ragu
ketika harus memilih jalan ke utara atau ke selatan.
"Hm. Ke mana mereka?"
tanya lelaki berambut panjang yang diikat dengan kain hitam. Kedua kawannya
tengah meneliti tanah. Barangkali ada petunjuk dari jejak kaki keempat dara
cantik itu.
"Untuk apa mencari jejak
mereka, Jan?" Lelaki berambut panjang menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau mereka menuju ke perguruan kita, berarti berlari ke selatan. Ayo
kita kejar mereka!"
Kedua lelaki berpakaian coklat
segera menyusul kawannya yang sudah berlari ke selatan. Baru beberapa tombak
mereka melangkah, tiba- tiba.... "Haaai...! Berhenti...!"
Terdengar bentakan keras dari arah
belakang. Ketiga lelaki itu tersentak kaget dan menghentikan larinya. Empat
sosok bayangan merah berlompatan turun dari sebatang pohon besar tak jauh dari
persimpangan jalan.
"He he he he.... Ternyata
kalian masih di sini," sambut lelaki berambut panjang. Matanya memandangi
keempat dara cantik dengan liar.
"Kenapa kalian membuntuti
kami?" tanya dara cantik yang mengenakan ikat pinggang hijau. Wajahnya
merah menatap lelaki di depannya.
"He he he.... Mestinya aku
yang bertanya. Kalian telah memasuki wilayah ini tanpa seizin kami...,"
sahut lelaki lain yang berkumis tebal. "Tapi tidak apa. Yang datang
gadis-gadis cantik seperti kalian. Kebetulan sudah lama aku tak menikmati
pelukan wanita. Betul tidak, Kakang Sadran?"
Ketiga lelaki berpakaian coklat
kemudian tertawa terbahak-bahak. Lelaki berambut panjang yang dipanggil Sadran
melangkah mendekati dara berpakaian merah.
"Ayolah, Cah Ayu!" Sadran
mengulurkan tangan hendak mencolek dagu dara berikat pinggang hijau.
Plakkk! Betapa terkejutnya Sadran,
dengan cepat dara cantik itu memukul tangannya. Lebih mengejutkan lagi,
tangkisan gadis itu membuat tubuhnya sempoyongan. Sadran merasakan sekujur
lengannya sakit.
"Jangan sembarangan kalian
terhadap Empat Bidadari Lembah Neraka! Hiaaa...!"
Sring! Sring! Sring! Dara cantik
itu melompat sambil meloloskan pedang di pundaknya. Ketiga kawannya melakukan
hal yang sama. Dara-dara cantik itu merangsek maju menyerang ketiga lelaki
berpakaian coklat,
Sadran yang belum sempat berdiri
tegak jadi gelagapan menghadapi serangan itu. Begitu pula dengan kedua
kawannya. Mereka tak menduga sama sekali keempat dara cantik itu akan
menyerang. Maka.... Cras!
Sadran terpekik kaget. Pedang lawan
membabat dadanya hingga robek. Darah segar mengalir dari tubuhnya yang terjungkal
ke tanah. Lelaki berambut panjang itu kelojotan sebentar. Tak ampun lagi, dara
cantik berikat pinggang hijau menghujamkan pedangnya ke perut Sadran. Seketika
darah menyembur keluar bersama ususnya yang terburai. Lelaki berambut panjang
ini tewas dengan tubuh berlumur darah.
Kedua kawan Sadran yang sempat
mencabut golok berhasil menangkis serangan kilat ketiga gadis berpakaian merah.
Terjadilah pertarungan sengit dua melawan tiga.
Dara-dara cantik itu tak ingin
memberi kesempatan pada lawan. Mereka terus memburu dengan babatan dan tusukan
pedang. Wajah mereka yang cantik kini berubah bengis dan menggiriskan. Hawa
nafsu membunuh tersirat jelas di mata ketiganya.
Tampaknya, kemampuan kedua lelaki
berpakaian coklat jauh di bawah lawan-lawannya. Dalam sebentar saja mereka
telah terdesak hebat. Kedua lelaki itu terus melangkah mundur menghindari
serangan dahsyat. Sedikit pun kedua kawan Sadran itu tak mampu melancarkan
serangan. Yang dapat mereka lakukan hanya memapaki atau melompat untuk
mengelakkan serangan.
Serangan gencar ketiga dara
berpakaian merah berakhir dengan pekikan kedua kawan Sadran. Kedua lelaki
berpakaian coklat itu tewas dengan dada dan perut tertembus pedang lawan.
"Hhh.... Ini baru permulaan
dari tugas kita," ujar dara berikat pinggang hitam seraya memasukkan
pedang.
"Ratri, Laksmi, Kinanti, ayo
kita teruskan...!" ajak dara berikat pinggang hijau.
"Ke mana kita ambil arah,
Isyana?" tanya Laksmi. "Mereka telah memberi petunjuk kepada kita
harus pergi ke selatan," sahut Ratri yang mengenakan ikat pinggang kuning.
"Ayo. Hups!"
"Hups!" Keempat dara berpakaian merah itu melesat ke arah selatan.
Dalam sekejap mereka telah berada jauh dari persimpangan jalan.
* * *
Empat orang murid Perguruan Tapak
Bumi terkejut melihat empat sosok dara cantik berpakaian merah memasuki pintu
gerbang perguruan. Keempat lelaki muda bertubuh gagah yang mengenakan pakaian
coklat itu terkesima begitu menyaksikan kecantikan para tamunya. Wajah keempat
dara berambut panjang tergerai itu benar-benar cantik jelita. Kulit mereka yang
kuning langsat begitu serasi dipadu dengan warna merah pakaian yang membalut
tubuh-tubuh langsing itu. Belum lagi hidung yang bangir dan sepasang mata
bening yang terhias alis lentik. Bibir tipis dan ranum berwarna merah delima,
menggairahkan setiap lelaki yang memandangnya.
Siapa lagi mereka kalau bukan Empat
Bidadari Lembah Neraka. Empat dara cantik yang baru saja membantai tiga orang
murid Perguruan Tapak Bumi di tengah perjalanan mereka ke sini.
Isyana yang mengenakan ikat
pinggang hijau tersenyum.
"Kalau boleh aku tahu, Nona
sekalian mencari siapa?" tanya salah satu dari keempat murid Perguruan Tapak
Bumi.
"Sampaikan kepada guru kalian,
Empat Bidadari Lembah Neraka ingin bertemu. Cepat!"
Tersentak keempat murid Perguruan
Tapak Bumi mendengar ucapan Isyana. Ucapan itu lebih mirip bentakan ketimbang
permintaan. Tentu saja keempat lelaki berpakaian coklat tersinggung. Tamu-tamu
mereka ternyata kasar dan tak mengerti tata krama.
"Nona, tidak bisakah Nona
bersikap sopan sedikit?" tanya lelaki berpakaian coklat yang bertubuh
tinggi. Nada suaranya tetap lembut, msekipun dalam hati merasa jengkel.
"Kapan saja Ki Aji Darmagati bersedia menerima tamu. Tengah malam
sekalipun. Tapi tidak untuk orang-orang tak tahu sopan seperti Nona-nona
ini."
"Cuih! Kami akan menemui
langsung kalau kalian tak bersedia memanggilnya!" dengus Laksmi yang
memang berwatak kurang sabaran. Matanya menatap tajam keempat lelaki di
depannya.
"Hanya orang yang bermaksud
tidak baik mempunyai sikap seperti ini. Huh. Hadapi dulu kami!" Serentak
keempat lelaki berpakaian coklat mencabut golok masing-masing. Namun, keempat
dara cantik telah lebih dulu meloloskan pedang.
Hampir bersamaan Empat Bidadari
Lembah Neraka memutar pedang di tangannya. Bunyi angin berkesiutan terdengar
dari putaran pedang yang bagaikan sebuah titiran.
Semakin tercengang keempat murid
Perguruan Tapak Bumi. Saat itu pula
mereka menyadari kalau yang dihadapi bukanlah wanita- wanita sembarangan. Ilmu
mereka jelas tinggi dan tak dapat dianggap remeh.
Sementara keempat dara cantik itu
tertawa mengejek. "Hiaaa...!"
Tiba-tiba, Laksmi melesat dan
membabatkan pedangnya. Serangan itu membuat keempat murid Perguruan Tapak Bumi
terpencar. Tiga dara cantik yang lain segera menerjang dengan serangan cepat
dan menggiriskan. Pertarungan pun tak terelakkan. Dentingan golok dan pedang
yang saling berbenturan memecah keheningan malam.
Suara pertempuran tentu saja
terdengar oleh para murid yang lain. Mereka berlarian dari pondok- pondok
menuju tempat pertarungan.
"Siapa mereka?"
"Hei! Gadis-gadis cantik, Mat!" "Tapi lihat permainan pedang
mereka. Gila, mengharukan sekali!"
Belum sempat para murid Perguruan
Tapak Bumi menegaskan siapa keempat dara cantik yang tengah bertarung dengan
kawan-kawan mereka, tiba-tiba....
Jrabs! Cras! Pekikan kematian
berkumandang. Dua orang murid perguruan terbabat dan tertusuk pedang. Kedua
lelaki berpakaian coklat itu tergelimpang dengan tubuh berlumur darah. Setelah
berkelojotan sebentar, keduanya tewas dengan menyedihkan.
Beberapa saat kemudian kembali
terdengar berturut-turut lengking kesakitan. Tidak berbeda dengan yang pertama,
kedua lelaki itu pun tewas dengan tubuh bermandikan darah.
***
2
"Serbu...!"
"Serang...!" Pekikan-pekikan penuh kemarahan dikumandangkan.
Murid-murid Perguruan Tapak Bumi mengepung Empat Bidadari Lembah Neraka. Namun,
keempat dara cantik berpakaian merah itu sedikit pun tidak menampakkan
kegentaran. Mereka terus memainkan pedang dengan gerakan yang indah dan cepat
Pertempuran yang lebih seru segera
berlangsung. Murid-murid Perguruan Tapak Bumi yang marah melihat empat kawan
mereka tewas langsung melancarkan serangan secara keroyokan.
Meskipun menghadapi belasan lawan,
Empat Bidadari Lembah Neraka tetap gesit dan cekatan. Mereka melompat dan
melenting ke sana kemari menghindarkan serangan lawan. Murid-murid perguruan
itu tampaknya tak mampu mengimbangi kekompakan permainan pedang Empat Bidadari
Lembah Neraka. Dalam waktu yang begitu singkat tiga orang lelaki berpakaian
coklat telah berjatuhan terbabat pedang.
Jeritan kematian yang
susul-menyusul mengiringi jatuhnya tubuh-tubuh lelaki berpakaian coklat. Darah
berceceran membasahi halaman perguruan.
"Berhenti...!" Tiba-tiba,
bentakan keras menggelegar terdengar dari pintu bangunan induk. Sesosok tubuh
lelaki tua yang berjenggot putih dan mengenakan jubah coklat berdiri di serambi
rumah. Pandangannya nanar menatap ke arah tempat pertempuran. Delapan mayat
tergeletak tewas berlumuran darah.
"Siapa kalian...?" suara
lelaki tua itu bergetar, menyiratkan kemarahan yang ditahan.
"Orang Tua, kaukah Aji
Darmagati, pendekar yang memiliki Ilmu Pukulan Tapak Bumi...?" Isyana
balik bertanya. Tak dihiraukannya pertanyaan lelaki berjubah coklat yang memang
Ki Aji Darmagati. Seorang yang pada zamannya terkenal dengan julukan Pukulan
Tapak Bumi.
"Aku tanya, siapa
kalian?" Ki Aji Darmagati mengulang pertanyaannya dengan wajah memerah.
"Kami Empat Bidadari Lembah
Neraka, datang untuk meminta Kitab Candra Catur Pamukti yang kini berada di
tanganmu!" ujar Isyana dengan mata menentang pandang tatapan lelaki
berjenggot putih. Tangan kanannya masih menggenggam pedang yang ternoda darah.
"Huh. Mimpi apa kalian? Kitab
kuno itu sudah lama musnah dari muka bumi," ujar Ki Aji Darmagati dengan
tersenyum sinis.
"Berarti kau tak sayang dengan
nyawamu, Darmagati! Juga, puluhan muridmu akan mampus di ujung pedang Bidadari
Lembah neraka!" Setelah mengucapkan kata-kata itu Isyana memberi isyarat
kepada ketiga kawannya agar memulai pembantaian.
Seketika, keempat dara cantik
berpakaian merah bergerak melancarkan serangan mendahului murid-murid Perguruan
Tapak Bumi. Meskipun beberapa murid-murid sempat menghindar, namun
kawan-kawannya mengerang kesakitan tertusuk pedang Empat Bidadari Lembah
Neraka.
Pertempuran yang tadi sempat
terhenti kini berlangsung kembali. Jeritan kematian meningkahi suara pedang dan
golok yang saling berbenturan. Keempat dara cantik bersenjata pedang itu
menunjukkan kelebihan mereka. Dalam kepungan rapat murid-murid Perguruan Tapak
Bumi, mereka mampu bergerak cepat seraya melancarkan serangan mematikan.
Melihat para muridnya berjatuhan,
Ki Aji Darmagati tak bisa berdiam din lagi. Dia sadar keempat dara cantik itu
bukan wanita sembarangan. Kemampuan murid-muridnya berada jauh di bawah mereka.
Kalau dibiarkan, bukan tak mungkin mereka akan tewas semua.
Dengan mengeluarkan bentakan keras,
Ki Aji Darmagati melesat menuju kancah pertempuran.
"Haits!" Blukkk! Plakkk!
Dalam sekali gebrakan saja dua buah serangan lelaki tua itu mendarat di tubuh
dua dara cantik. Kedua wanita berpakaian merah itu meringis menahan rasa sakit
di dada dan punggung mereka. Namun, keduanya segera bangkit berdiri dan
melancarkan serangan kepada Ki Aji Darmagati.
Sementara Isyana dan Laksmi masih
terus membantai lawan-lawan mereka yang berjumlah dua belas orang. Serangan
kedua gadis itu yang bagai binatang buas terluka tak mampu diatasi murid- murid
Ki Aji Darmagati. Dalam beberapa gebrakan saja mereka telah berjatuhan.
Ki Aji Darmagati yang menghadapi
keroyokan Ratri dan Kinanti pun menghadapi keadaan yang sama. Lelaki berjubah
coklat itu pontang-panting menghadapi serangan gencar pedang lawan. Susul-
menyusul mereka membabat dan mengibaskan pedang. Sedikit pun tak ada kesempatan
bagi Ki Aji Darmagati untuk melancarkan serangan.
Dalam suatu kesempatan, ketika Ki
Aji Darmagati melenting tinggi, Ratri memburu ke atas.
Cras! Ki Aji Darmagati terpekik
ngeri. Babatan pedang Ratri menggores pangkal pahanya. Darah mengucur membasahi
jubah pada paha sebelah kiri.
Begitu mendarat di tanah lelaki tua
berjenggot putih itu nampak sempoyongan. Belum sempat ia mengatur keseimbangan
tubuhnya Kinanti telah melesat seraya membabatkan pedang.
Ki Aji Darmagati melihat bahaya
maut mengancam jiwanya. Cepat tubuhnya dilempar ke samping kanan, lalu
bergulingan mengelakkan tusukan pedang lawan yang terus memburunya.
Bagai makhluk haus darah, Kinanti
dan Ratri terus mengejar tubuh Ki Aji Darmagati. Mereka dengan bengis
menusukkan pedang ke arah tubuh lawan yang kini berjumpalitan ke belakang
dengan bertumpu pada kedua lengannya. Rupanya, meskipun usianya sudah lanjut,
Ki Aji Darmagati masih gesit. Ketika mendapat satu kesempatan, lelaki tua itu
segera melesat untuk mengambil jarak.
Kini Ki Aji Darmagati dengan kedua
lawannya terpaut sekitar tiga tombak. Lelaki tua itu bergegas meletakkan kedua
tangannya ke bumi. Sebentar kemudian, diangkat dan dihentakkan seraya
mengeluarkan bentakan keras menggelegar.
Wuuus! Brakkk! Serangkum angin
kencang melesat sangat cepat. Namun karena Kinanti dan Ratri sempat melihat apa
yang dilakukannya, mereka telah melompat menghindar. Serangan dahsyat itu pun
tak mengenai sasaran. Pintu rumah Ki Aji Darmagati yang terkena serangan langsung
ambruk.
"Hiaaa...!" Bagai telah
disepakati sebelumnya, Ratri dan Kinanti melesat bersamaan, Pedang mereka
tertuju lurus ke tubuh lawan
Jrabs! Meskipun Ki Aji Darmagati
sempat melompat, namun serangan Kinanti berhasil mendarat di punggungnya.
Pekikan keras pun dikeluarkan mulut lelaki tua itu. Tubuhnya terjungkal ke
tanah. Setelah berkelojotan sebentar, kemudian diam tak bergerak lagi.
Isyana dan Laksmi pun baru saja
menyelesaikan pertarungan. Dua belas mayat bergeletakan tak karuan.
"Cepat geledah rumahnya!"
ajak Laksmi. Keempat dara berpakaian merah itu menggeledah seisi rumah Ki Aji
Darmagati. Namun sebentar kemudian, mereka keluar tanpa membawa hasil. Keempat
dara itu segera melesat meninggalkan Perguruan Tapak Bumi. Bau anyir darah dan suasana
kematian menyelimuti perguruan itu. Bulan pucat pasi di langit yang berawan
menjadi saksi kebengisan keempat dara cantik berpakaian merah.....
***
3
Kabut menyelimuti sekitar
perbukitan Gunung Pring yang ditumbuhi pepohonan bambu yang sangat lebat. Sang
surya mestinya sudah sepenggalah tingginya. Namun karena mendung tebal menutup
langit di atasnya, cahaya matahari tidak sampai ke bumi. Gerimis turun menyiram
lembah dan perbukitan yang hijau subur itu.
Dari kejauhan sayup-sayup terdengar
teriakan orang seperti tengah berlatih silat. Agaknya mereka lebih dari sepuluh
orang. Sesekali terdengar satu orang memberi aba-aba, kemudian disusul suara
bentakan keras beramai-ramai.
Memang benar. Di lembah yang
merupakan hamparan rumput dan perdu berdiri sebuah rumah cukup besar.
Halamannya yang luas dipagari bambu-bambu yang tersusun rapi. Inilah tempat
kediaman Ki Dungkut Marta, seorang tokoh tua dunia persilatan yang kini
mendidik tak kurang dari empat puluh muridnya.
Hampir tiga dasa warsa ini Ki
Dungkut Marta mengundurkan diri dari dunia persilatan. Hari- harinya disibukkan
untuk mengajarkan ilmu silat kepada murid-muridnya. Perguruan Bambu Wulung, begitulah
nama perguruan yang dipimpinnya. Bambu Wulung dulu adalah nama senjata andalan
Ki Dungkut Marta. Sebuah bambu hitam sepanjang tombak yang selalu dibawa ke
mana Ki Dungkut Marta pergi. Konon, kekuatan Bambu Wulung tak kalah dengan
pedang atau keris yang terbuat dari besi baja.
Pagi itu di rumahnya yang dipagari
bambu hitam Ki Dungkut Marta sedang kedatangan tamu. Seorang sahabat lama yang
sudah lima belas tahun tidak pernah berjumpa.
"Sebenarnya aku belum berminat
mengunjungi perguruanmu ini, Dungkut," ujar tamu Ki Dungkut Marta, seorang
lelaki berusia tujuh puluhan yang mengenakan jubah kuning. Di pundak kakek
berambut putih itu tersampir sebilah pedang yang disarungkan dalam warangka
berwarna hitam. "Hhh.... Aku maklum, Langgengpura. Beberapa muridku yang
pernah kuutus ke perguruanmu beberapa tahun lalu telah menceritakan semuanya.
Kau sama sepertiku, sibuk mengurus murid-muridmu...."
"Ya. Habis, apa yang mesti
dilakukan orang- orang tua seperti kita ini, kecuali mengajarkan ilmu yang
pernah kita miliki. Bukan begitu, Dungkut?" kakek bernama Ki Langgengpura
itu tersenyum melihat Ki Dungkut Marta mengangguk.
"Aku merasa lebih tenang
setelah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan mendidik murid-murid. Kini
banyak pendekar berilmu tinggi yang telah menggantikan kita. Ilmu mereka tidak
kalah hebat dibandingkan kita-kita yang sudah tua ini. Langgeng."
"Itulah yang membuatku sampai
mengunjungi tempatmu itu, Dungkut" Senyum Ki Langgengpura tiba-tiba
lenyap, berganti dengan rasa khawatir yang tergambar jelas di wajahnya yang
telah keriput
Ki Dungkut Marta mengernyitkan
kening. Ia tak tahu apa yang dimaksud kawannya.
"Aku tak mengerti apa
maksudmu, Langgeng...?"
"Apa kau belum mendengar kabar
buruk yang menimpa dua perguruan di wilayah selatan?" tanya Ki Langgengpura
sambil menuang air minum dari poci kecil di depannya. "Salah satunya
Perguruan Banyu Putih milik Ki Ragil."
Ki Dungkut Marta terbelalak kaget.
Kepalanya digeleng-gelengkan tak percaya mendengar kabar itu.
"Apa yang telah terjadi dengan
perguruan mereka?"
"Tak satu pun murid Ki Ragil
yang hidup. Semua tewas dibantai secara keji. Bahkan, Ki Ragil sendiri mati
dengan keadaan mengerikan...."
"Siapa yang melakukan
kebiadaban itu, Langgeng?" Ki Dungkut Marta kelihatan penasaran.
"Beberapa murid Perguruan
Tapak Bumi yang sempat melarikan diri mengatakan, empat wanita muda berpakaian
merah telah membantai guru dan kawan-kawan mereka."
"Empat wanita muda...?"
gumam Ki Dungkut Marta. "Empat Bidadari Lembah Neraka. Begitu julukan yang
disebutkan keempat dara berpakaian merah itu!" jelas Ki Langgengpura.
"Hhh.... aku belum pernah
mengenal julukan itu," ujar Ki Dungkut Marta dengan kening berkerut
"Orang-orang muda di dunia
persilatan pun tak ada yang mengenal julukan itu. Apalagi tokoh tua seperti kita,
Dungkut. Tapi jelas mereka memiliki ilmu yang sangat tinggi. Kalau tidak, mana
mungkin mampu membantai murid-murid perguruan yang berjumlah sekian banyak. Ki
Ragil pun yang dulu kita anggap sangat tinggi ilmunya, tak berdaya menghadapi
mereka."
"Apa yang mereka inginkan
dengan menghancurkan kedua perguruan itu?"
"Kabarnya mereka mencari Kitab
'Candra Catur Pamukti'. Bukankah kitab kuno itu sudah lama lenyap?"
"Ya. Mungkin sudah satu abad
lebih kitab itu hilang dari dunia persilatan. Sebenarnya, agak aneh kalau
orang-orang persilatan memperebutkan kitab itu. Peristiwa beberapa puluh tahun
lalu, ketika banyak tokoh persilatan memperebutkan Kitab 'Candra Catur
Pamukti', sebenarnya hanya pekerjaan sia-sia," tutur Ki Dungkut Marta.
Ketua Perguruan Bambu wulung itu
teringat peristiwa beberapa puluh tahun silam. Ketika itu ia masih muda belia.
Di kalangan dunia persilatan tersebar kabar bahwa Kitab Canda Catur Pamukti
telah dicuri dari seorang pertapa yang bertugas menjaganya. Tak satu pun di
antara tokoh-tokoh persilatan waktu itu yang berhasil mendapatkannya.
"Kenapa kau bisa mengatakan peristiwa itu sebagai pekerjaan sia-sia,
Dungkut?" tanya Ki Langgengpura.
"Aneh memang," gumam Ki
Dungkut Marta.
"Mereka tidak tahu isi kitab
kuno itu. Kalau saja mereka mengetahuinya, mungkin tak akan terjadi saling
memperebutkan benda yang sebenarnya tak berarti banyak bagi dunia persilatan
itu. Mereka tentu mengira kitab yang sesungguhnya merupakan peninggalan sebuah
kerajaan kuno itu berisi pelajaran ilmu silat...."
"Jadi, apa sebenarnya isi
Kitab Candra Catur Pamukti itu, Dungkut?"
Lama Ki Dungkut Marta terdiam,
seakan- akan merasa enggan untuk membuka rahasia kitab kuno itu. Namun
kemudian, karena Ki Langgengpura adalah kawan akrabnya sejak masih muda, Ki
Dungkut Marta pun bercerita.
"Kau pun tentu mengira kitab
itu merupakan lembaran-lembaran daun lontar atau kulit binatang. Lalu, di
dalamnya berisi tulisan yang berupa pelajaran suatu ilmu seperti kitab-kitab
yang kita kenal selama ini. Padahal bukan, Langgeng. Kitab Candra Catur Pamukti
hanya terdiri dari satu helai daun lontar. Itu pun sudah tak karuan bentuknya
karena saking tuanya...."
"Isi kitab itu sendiri
mengenai apa, Dungkut?" Ki Langgengpura sudah tak sabaran.
"Kitab itu hanya berisi
petunjuk untuk mencapai suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan harta
kekayaan sebuah kerajaan yang aku lupa namanya," jawab Ki Dungkut Marta.
"Nama kitab itu sendiri mengandung arti Bulan Empat Kemuliaan. Aku kurang
paham maksud ketiga kata itu."
Ki Langgengpura mengangguk-angguk
mendengar cerita kawannya. "Dari mana kau mengetahui banyak tentang kitab
kuno itu, Dungkut?"
"Guruku pernah menceritakan
tentang hal ini kepadaku. Mungkin maksudnya agar aku tidak perlu ikut
memperebutkan kitab itu."
"Tapi, sekarang muncul kembali
orang-orang yang menginginkan kitab kuno itu..."
"Aku yakin mereka bukan
orang-orang golongan putih, Langgeng. Para pendekar dari golongan putih tak
layak mempunyai maksud seperti itu. Tapi jika benar, kitab itu hanya berisi
petunjuk tentang harta benda kerajaan," ujar Ki Dungkut Marta dengan
menggeleng-gelengkan kepala. "Hm. Bagaimanapun aku mempunyai alasan untuk
bersikap waspada, Dungkut. Aku khawatir mereka akan membabi buta dalam usahanya
mencari keterangan tentang kitab itu. Kita harus berhati-hati, Dungkut.
Jangan-jangan mereka datang kemari dalam waktu dekat ini. Kabar yang kudengar,
mereka telah membunuh beberapa tokoh putih yang berupaya mencegah tindakan keji
Empat Bidadari Lembah Neraka itu."
Ki Dungkut Marta membisu mendengar
ucapan kawannya. Ki Langgengpura pun tidak meneruskan kata-katanya. Suasana berubah
menjadi hening. Terdengar teriakan-teriakan para murid Perguruan Bambu Wulung
yang berlatih silat di bawah siraman gerimis pagi.
"Aku tidak bermalam di sini,
Dungkut. Pagi ini juga aku akan kembali. Dalam keadaan seperti ini aku harus
berada di antara murid-muridku."
"Biar hujan reda dulu.
Mestinya aku melarangmu kembali sekarang, Langgeng. Aku ingin kau bermalam di
pondokku. Lama kita tak berjumpa. Rasa kangenku belum habis hanya dengan
perjumpaan sekejap ini," ujar Ki Dungkut Marta seraya tersenyum. Ki
Langgengpura pun ikut tersenyum.
"Mungkin lain waktu kita bisa
berjumpa lagi. Mudah-mudahan Hyang Widi memberi umur panjang kepada kita,
Dungkut. Aku mohon diri sekarang juga...."
"Baiklah. Hati-hati!" Ki
Dungkut Marta mengantarkan tamunya sampai di pintu gerbang perguruan.
Murid-murid Perguruan Bambu Wulung memberi hormat dengan menghentikan latihan
mereka ketika melihat kedua orang tua itu berjalan di halaman rumah.
Ki Langgengpura yang mengenakan
jubah kuning segera naik ke punggung kuda. Di bawah gerimis yang masih turun
lelaki berambut putih itu menggebah kudanya meninggalkan lembah tempat
Perguruan Bambu Wulung.
***
4
Kabar tentang pembantaian dua
perguruan di wilayah selatan segera tersebar ke berbagai pelosok. Orang-orang
persilatan mulai menghubung- hubungkan peristiwa itu dengan berita tentang
penculikan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Di wilayah timur dan tengah
telah terjadi penculikan terhadap beberapa pemuda tanggung yang tak diketahui
pelakunya. Dengan terjadinya peristiwa pembantaian itu mereka mulai menaruh
curiga, bahwa pelaku penculikan mungkin Empat Bidadari Lembah Neraka.
Dunia persilatan mulai gempar.
Bukan hanya karena berita tentang pembantaian dan penculikan, melainkan karena
Empat Bidadari Lembah Neraka merupakan tokoh-tokoh yang belum mereka kenal sama
sekali.
Orang-orang awam pun tak
ketinggalan ramai membicarakan hal itu. Mereka yang mempunyai anak perjaka
mulai dilanda keresahan. Kian hari peristiwa penculikan itu kian merajalela.
"Yang semakin membingungkan kita,
antara penculikan dan pembantaian murid-murid Perguruan Tapak Bumi tidak ada
hubungannya sama sekali, Kakang Brasta," kata seorang lelaki muda
berpakaian putih kepada kawannya. Mereka tengah duduk di sebuah kedai makan.
Seperti kedua lelaki muda ini, para
pengunjung kedai pun membicarakan hal itu. Siang ini kebetulan kedai makan Ki
Durga yang terletak di ujung selatan Desa Nariban ramai dikunjungi orang.
Letaknya yang strategis, di tepi persimpangan jalan yang menghubungkan beberapa
desa, membuat kedai selalu ramai. Mereka yang sengaja datang maupun yang
kebetulan tengah berada dalam perjalanan menuju kota kerajaan. Di samping itu,
tak jauh dari Desa Nariban terdapat sebuah pasar yang cukup besar.
"Iya. Aku juga tak habis
pikir," sahut lelaki muda berambut sebahu yang tadi dipanggil Kakang
Brasta. "Untuk apa mereka
menculik para pemuda tanggung?"
Dilihat dari pakaian dan pedang
yang disandang kedua lelaki muda berwajah tampan itu, jelas mereka orang-orang
persilatan.
"Jangan-jangan mereka penganut
aliran sesat yang memerlukan para pemuda untuk tumbal memperdalam ilmu mereka,
Gan," lanjut Brasta.
Belum sempat kedua lelaki muda itu
melanjutkan pembicaraan, mereka menoleh ke arah pintu kedai. Begitu pula para
pengunjung yang lain. Pandangan mereka segera tertuju kepada seorang pemuda
berwajah tampan yang mengenakan pakaian rompi kulit ular. Pemuda itu berjalan
santai memasuki kedai.
Pemuda berambut panjang ikal itu
tertawa- tawa sendirian sambil seraya menggeleng-gelengkan kepala. Sebentar
kemudian, mulutnya cengengesan sambil matanya memandang ke sana kemari. Tentu
saja kelakuannya yang seperti orang kurang waras membuat para pengunjung kedai
tersenyum geli. Ada pula yang sinis memandangnya.
Ki Durga, pemilik kedai, berdiri
terpaku di depan pintu belakang. Ada rasa khawatir terhadap pemuda gila itu.
Kemudian, kakinya melangkah menghampiri pemuda berpakaian rompi kulit ular
dengan perasaan bimbang.
"Aha. Aku minta disediakan
ayam panggang yang masih hangat, Ki...," pinta pemuda itu dengan
cengengesan. "Siapa namamu, Ki?"
"Sa... saya, Durga,"
sahut lelaki tua agak bongkok itu.
Melihat Ki Durga tampak ragu-ragu,
pemuda berpakaian rompi kulit ular segera mengeluarkan beberapa keping uang
logam. Diserahkannya uang itu pada pemilik kedai.
"Ba... baik. Akan saya
sediakan pesananmu...." Ki Durga bergegas melangkah menuju dapur.
Pemuda bertingkah seperti orang
gila itu menempati kursi di tengah ruangan. Orang-orang tetap memandanginya.
Baru ketika pemuda itu sudah diantarkan makanan mereka melanjutkan kesibukan
masing-masing. Terdengar lagi obrolan seputar masalah penculikan dan pembunuhan
yang dilakukan Empat Bidadari Lembah Neraka.
"Gandra, aku pernah mendengar
nama pendekar kesohor yang ciri-cirinya mirip pemuda ini...," bisik
Brasta. Gandra yang mendengar bisikan Brasta mengerutkan kening sambil
mengangguk- angguk kecil. "Kau lihat suling emas di pinggangnya? Itu
senjata yang dimiliki Pendekar Gila."
Gandra menoleh dan memandangi
suling yang terselip di pinggang pemuda berpakaian rompi kulit ular.
"Jangan-jangan dialah
orangnya, Kakang Brasta, " bisik Gandra lirih. Dia takut suaranya
terdengar orang yang tengah mereka bicarakan.
Pemuda berpakaian rompi kulit ular
terus sibuk menikmati ayam panggangnya. Namun kemudian ia berhenti. Keningnya
dikerutkan. Pemuda itu mendengar ada orang yang membicarakannya. Tapi hanya
sebentar ia tercenung, lalu kembali melanjutkan makannya.
Setelah selesai, pemuda berambut
ikal dan berompi kulit ular itu bangkit berdiri. Dia melangkah mendekati Ki
Durga yang tengah memberesi sisa makan di meja lain.
"Ki Durga, aku ingin bertanya
kepadamu. Tahukah kau ke mana aku harus pergi untuk sampai ke Perguruan Bambu
Wulung?" tanya pemuda itu.
Orang-orang menoleh mendengar
pertanyaan pemuda itu. Tiga orang lelaki setengah baya yang berpakaian ungu dan
duduk di pojok ruangan langsung membelalakkan mata. Ada rasa curiga tersirat di
wajah mereka.
"A... aku tidak mengetahui di
mana perguruan itu, Anak Muda...," jawab Ki Durga tergagap. Lalu, wajahnya
menoleh ke arah ketiga lelaki berpakaian ungu di pojok ruangan.
"Hi hi hi.... Baiklah, kalau
kau tak mengetahuinya. Terima kasih atas pelayananmu." Pemuda berpakaian
rompi kulit ular lalu melangkah pergi meninggalkan kedai.
Baru saja kakinya selangkah keluar
dari ambang pintu, seseorang menegurnya.
"Hei, Anak Muda! Untuk apa kau
hendak pergi ke Perguruan Bambu Wulung?!" Pertanyaan itu berasal dari
salah seorang lelaki berpakaian ungu. Dua orang lainnya telah melangkah
menghampiri pemuda berpakaian rompi kulit ular.
"Ah ah ah.... Galak nian
kau," sahut pemuda itu sambil cengengesan. Tangannya menggaruk- garuk
kepala.
"Dalam suasana seperti
sekarang ini semua orang dituntut untuk selalu waspada. Jangan- jangan kaulah
orang yang telah membuat keonaran.
Akui saja kalau kau termasuk
orang-orang yang membantai Perguruan Tapak Bumi!"
"Hi hi hi.... Bagaimana aku
harus membantah tuduhanmu, Kawan. Kedatanganku kemari justru karena mendengar
kabar buruk itu...."
"Ah, banyak alasan! Kakang
Busro, tangkap saja pemuda itu!" sergah lelaki berpakaian ungu yang
berkumis tebal. Sebilah golok terselip di pinggangnya.
Lelaki yang dipanggil Busro
langsung melangkah mendekati pemuda berpakaian rompi kulit ular.
"Ah ah ah.... Jangan-jangan
kalianlah begundal-begundal Empat Bidadari Lembah Neraka...," ujar pemuda
berpakaian rompi kulit ular. Ia kelihatan tidak gentar sedikit pun. Bahkan
bibirnya terus tersenyum.
"Kurang ajar! Ketahuilah, kami
orang-orang dari Perguruan Bambu Wulung. Murid Ki Dungkut Marta!
Heaaa...!"
Selesai mengucapkan kata-kata itu,
Busro segera merangsek maju mengirimkan serangan. Pemuda berompi kulit ular
hanya meliukkan badannya perlahan. Serangan Busro pun lewat.
Melihat Busro tak berhasil, kedua
kawannya berlompatan memberikan serangan susulan. Dua buah tendangan keras
hampir saja mengenai kepala dan dada pemuda berpakaian rompi kulit ular. Namun
sambil cengengesan dia melentingkan tubuh, hingga tak satu pun serangan itu
yang mengenai sasaran. Kedua lelaki berpakaian ungu semakin geram. Lawannya
begitu mudah mengelakkan serangan mereka. Keduanya segera mencabut golok.
Di depan kedai para pengunjung
telah keluar. Mereka ingin menyaksikan pertarungan yang tak disangka-sangka
akan terjadi. Gerimis saat itu turun membasahi bumi.
Para pengunjung kedai dan
prang-orang yang lemah menggeleng-gelengkan kepala melihat jalannya pertarungan.
Ada yang berdecak kagum menyaksikan kelincahan pemuda berpakaian rompi kulit
ular. Yang mengherankan, pemuda berambut ikal itu hanya meliuk-liukkan tubuh
perlahan untuk menghindari serangan lawan. Dengan gerakan seperti itu dia
berhasil mengelakkan semua serangan. Babatan dan tusukan golok tidak satu pun
yang mendarat di tubuhnya.
"Tak salah lagi dugaan kita,
Brasta," bisik Gandra yang berdiri di depan pintu kedai. "Dia pasti
Pendekar Gila."
Sementara itu, pemuda berpakaian
rompi kulit ular yang memang Pendekar Gila terus berusaha mengelakkan serangan
ketiga lawannya. Tampaknya dia tak ingin balas menyerang. Dia tahu ketiga
lelaki berpakaian ungu ini bukan orang-orang dari golongan hitam. Meskipun
sikap mereka tadi begitu kasar dan menuduhnya tanpa alasan. Sena Manggala
memakluminya. Keadaan yang terjadi di daerah ini memang menuntut setiap orang
untuk bersikap waspada.
Ketiga lelaki berpakaian ungu yang
mengaku murid Perguruan Bambu Wulung, mendadak melakukan serangan secara
serentak. Tiga batang golok membabat cepat mengancam keselamatan jiwa Sena.
Melihat keberingasan
lawan-lawannya, Sena bergegas meliukkan tubuh mengelakkan serangan maut itu.
Kemudian, langsung melancarkan serangan balasan dengan kedua telapak tangan
terbuka. Gerakannya lentur sekali dan seperti tak mengandung tenaga. Namun....
Plakkk! Bukkk! Dua orang berpakaian
ungu terlontar dua tombak ke belakang. Keduanya menjerit kaget dan kesakitan.
Mereka tak menduga serangan lawan akan membuat tubuh mereka terlontar.
Busro yang masih berdiri tegap di
depan Sena pun membelalakkan mata penuh keheranan. "Ilmu apa itu...?"
gumamnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Namun karena kemarahannya telah
memuncak, dia segera melesat kembali melancarkan serangan dengan goloknya. Babatan
golok itu terarah ke dada Sena yang masih cengengesan.
Wuuut! Trap! Busro terkejut bukan
main. Goloknya berhasil ditangkap lawan. Busro mencoba menghentakkan goloknya,
tapi tak berhasil menariknya dari tangan Sena.
"Hi hi hi.... Kalian terlalu
gegabah, Kawan. Seharusnya jangan seperti ini jika kalian memang murid-murid Ki
Dungkut. Seberapa pun kecurigaan kalian, harus bersikap baik terhadap orang
yang belum kalian ketahui pasti...."
"Huh. Siapa kau sebenarnya?
Untuk apa hendak datang ke perguruan kami?"
Belum sempat Sena menjawab
pertanyaan itu, terdengar sahutan dari orang lain.
"Dia Pendekar Gila, Kawan.
Kalian salah besar telah menuduhnya sebagai anak buah Empat Bidadari Lembah
Neraka...."
Brasta yang menyambuti pertanyaan
Busro. Pemuda berpakaian putih itu melangkah mendekati Busro dan Sena Manggala.
"Heh? Ampunkan kami, Tuan
Pendekar. Ampunkan kami yang bodoh ini..."
"Aha. Sudahlah. Jangan kalian
ulangi lagi sikap seperti tadi. Selidiki dulu semuanya baru kita menentukan
sikap. Dan, jangan panggil aku seperti itu. Namaku Sena Manggala. Panggil saja
Sena," ujar Sena dengan mulut cengengesan lucu.
"Selamat datang di daerah
kami, Sena. Kami memang pernah mendengar namamu. Tapi, Ki Dungkut tidak banyak
memberi penjelasan tentang dirimu." "Kalau begitu, bisakah kalian
antarkan aku ke Perguruan Bambu Wulung? Aku mempunyai keperluan dengan Ki
Dungkut Marta."
"Tentu saja bersedia. Mari
kami antar!" Ketiga lelaki berpakaian ungu itu kemudian melangkah
mengantarkan Pendekar Gila. Sementara kedua pemuda berpakaian putih, Brasta dan
Gandra, mengikuti.
"Kami juga sedang dalam
perjalanan menuju Perguruan Bambu Wulung," ujar Brasta ketika Sena menoleh
kepadanya.
"Berapa jauh Perguruan Bambu
Wulung dari sini, Kawan?" tanya Gandra kepada salah seorang murid Ki Dungkut
Marta.
"Kalau kita terus, tanpa
bermalam di sebuah desa, lewat tengah malam nanti kita baru sampai di perguruan
kami," jawab Busro menjelaskan.
"Ya. Kita bisa bermalam di
rumah Kepala Desa Tuksanga. Di sanalah kami selalu bermalam. Ki Marjan pun bekas
murid Bambu Wulung," tambah kawan Busro yang berjalan paling depan.
Mereka lalu melesat ke arah utara
meninggalkan kedai makan. Orang-orang di depan kedai menggelengkan kepala
menyaksikan kepergian mereka.
***
5
Di sebuah lembah terjal dan
berbatu-batu tampak sesosok bayangan kuning melesat menuruni jalan setapak.
Meskipun jalanan yang dilewati sempit dan sangat licin, sosok bayangan kuning
bergerak sangat cepat. Tampaknya ia sudah terbiasa melalui jalan itu.
Sampai di bawah tebing cadas yang
cukup tinggi, sosok bayangan yang ternyata seorang lelaki tua berhenti berlari.
Disekanya keringat di kening dengan lengan tangannya. Dia mengedarkan pandangan
berkeliling. Setelah yakin tidak ada orang yang melihatnya, lelaki tua
berpakaian kuning itu melenting ke atas. Sekali hentak saja tubuhnya telah
hinggap pada sebongkah batu cadas setinggi sepuluh tombak,
Gerakannya sangat ringan dan cepat.
Lelaki berambut putih itu agaknya memiliki ilmu cukup tinggi. Terutama dalam
ilmu meringankan tubuh.
Dari bongkahan batu cadas kakinya
melangkah beberapa tindak. Tampaklah seutas tali dari kulit kayu yang
dililit-lilit. Tali yang basah dan berwarna kehitaman itu menjulur dari atas
tebing cadas yang sangat tinggi.
Dengan menggunakan tali itu lelaki
berpakaian kuning memanjat tebing cadas. Bagi orang yang belum terbiasa tentu
akan menemui kesulitan memanjat tebing yang tegak lurus. Terlebih dinding
tebing berlumut dan mengandung air yang mengalir dari atas. Namun lelaki
berusia tujuh puluhan itu tidak menemui kesulitan sama sekali. Kedua kakinya
bergerak cepat mencari bagian dinding yang berlobang. Sekali saja kedua
tangannya terlepas memegang tali yang sangat licin itu, akan melayanglah
tubuhnya ke bawah. Dan, terhempas di atas bebatuan cadas yang runcing bagai
gigi-gigi raksasa.
Kakek berpakaian kuning terus
merambat ke atas setapak demi setapak. Hingga akhirnya dia sampai pada
sebongkah batu cadas berbentuk segi empat, mirip sebuah meja yang menempel pada
dinding tebing. Ternyata, di balik batu cadas itu terdapat dinding tebing yang
menjorok ke dalam. Sebuah lobang besar setinggi dua tombak menganga. Air dari
atas menetes melewati mulut gua.
Kakek berpakaian kuning kini
berdiri di atas batu cadas persegi. Diusapnya keningnya. Lalu, sekujur wajahnya
yang basah kuyup. Rambutnya yang putih juga basah. Begitu pula pakaiannya.
Bahkan, kotor oleh lumut bercampur lumpur.
Setelah menghela napas dalam-dalam
dia melangkah memasuki mulut gua yang gelap. Kakinya terus melangkah ke dalam
melewati lorong berdinding batu cadas. Setelah melalui tikungan tampaklah
seberkas sinar dari dalam gua. Kakek itu melangkah mendekati cahaya. Ternyata
sinar terang itu berasal dari beberapa obor yang terpancang di sebuah ruangan
cukup besar.
Baru dua langkah kakek itu menuruni
tangga berundak untuk masuk ke ruangan, terdengar sebuah suara menegurnya,
"Bagaimana hasil yang kau
peroleh, Langgengpura...?" suara seorang wanita tua. Belum terlihat di
mana wanita itu berada.
"Ada kabar baru, Nyai,"
jawab kakek berpakaian kuning yang ternyata Ki Langgengpura. Kakinya melangkah
mendekati ruangan yang tertutup pintu dari batu besar.
Ketika Ki Langgengpura sampai di
depannya, pintu itu terbuka perlahan-lahan. Dia terus melangkah ke dalam.
Ruangan itu terang benderang. Beberapa obor terpancang di dinding-dinding
ruangan. Di satu sudut duduk seorang wanita tua berambut putih. Ia mengenakan
pakaian longgar berwarna merah. Wajahnya yang terkena bias cahaya obor terlihat
sangat buruk. Kasar dan kehitaman. Raut wajah kasar itu menunjukkan kebengisan
yang dimiliki wanita berusia delapan puluh tahun ini.
"Kabar apa itu,
Langgeng?" Nenek itu menggoyangkan kepalanya yang berambut putih.
"Sungguh tak kusangka, Nyai
Cangkring
Abang. Sahabatku yang kini memimpin
Perguruan Bambu Wulung ternyata banyak mengetahui tentang Kitab Candra Catur
Pamukti. Kemarin aku mengunjunginya. Banyak kudapat keterangan penting tentang
kitab kuno itu. Sayang, dia tidak menjelaskan di mana kitab itu kini
berada..."
Ki Langgengpura kemudian
menceritakan apa yang didengarnya dari Ki Dungkut Marta. Mendengar penuturan Ki
Langgengpura, nenek berpakaian merah terkekeh-kekeh,
"Heh he he he,..! Kau ternyata
lebih bodoh, Langgeng! Kalau Dungkut tahu banyak tentang kitab itu, tentu dia
pun tahu di mana kitab itu kini berada. Biar Empat Bidadari nanti yang akan
mengoreknya."
"Tidak bisa, Nyai."
"Apa yang tidak bisa?" "Dungkut sudah tahu kabar pembantaian
yang dilakukan Laksmi dan adik-adiknya. Sebaiknya aku saja yang mendatangi
Dungkut. Dia belum menaruh curiga kepadaku," sahut Ki Langgengpura.
"Terserah. Atur bagaimana
baiknya, Langgeng. Yang penting, aku harus tahu di mana kitab itu berada,"
Nyai Cangkring Abang lalu bangkit dari duduknya. "Pergilah sekarang!"
Ki Langgengpura hanya memandangi
ketika Nyai Cangkring Abang memasuki ruangan lain yang dipisahkan dinding batu
cadas. Di dalam ruangan itu tampak beberapa pemuda berwajah tampan dan bertubuh
gagah tengah berbaring di lantai. Tubuh- tubuh gagah yang tak mengenakan
pakaian secuil pun itu bangkit berdiri ketika Nyai Cangkring Abang memasuki
ruangan.
Nenek berwajah kasar dan bengis itu
tersenyum, tapi terus melangkah menuju ruangan lain, ia memasuki ruangan yang
tidak seberapa luas dan remang-remang. Di atas meja batu terdapat bejana besar
mirip penggorengan. Nyai Cangkring Abang melepaskan pakaiannya satu-persatu.
Kini tubuh perempuan tua berambut panjang itu tak tertutup sehelai benang pun.
Tubuhnya yang renta sudah keriput. Buah dadanya kendor dan menggantung lemas.
Nyai Cangkring Abang mendekati
bejana besar yang berisi cairan merah mirip darah. Matanya terpejam dengan
mulut berkomat-kamit merapal mantera. Tak lama kemudian, kedua tangannya
dijulurkan ke dalam bejana. Dicelupkan ke cairan merah. Lalu, nenek itu
membasuh wajah dan sekujur badannya dengan kedua telapak tangan yang sudah
basah oleh cairan merah. Sekujur badan yang telah keriput dan kendor itu kini
berwarna merah tak beraturan. Namun, apa yang terjadi kemudian sungguh
mengejutkan. Tubuh tua renta itu menjelma menjadi sesosok tubuh sintal, mulus,
dan muda.
Masih dalam keadaan tanpa sehelai
pakaian pun Nyai Cangkring Abang melangkah keluar ke tempat para pemuda tampan.
Begitu cahaya obor menerangi tampaklah sesosok wanita cantik jelita bertubuh
sintal dan mulus. Rambutnya yang hitam panjang tergerai. Senyum Nyai Cangkring
Abang benar-benar mengagumkan. Nenek yang menjelma menjadi wanita cantik itu
menjulurkan kedua belah tangan menyambut para pemuda tampan yang berebut hendak
memeluknya.
Mereka saling berebut mencium dan
memeluk tubuh wanita cantik itu. Ada yang menjilati dada, perut, bahkan
kakinya. Para pemuda itu mendesah- desah dalam pelukan dan belaian Nyai
Cangkring Abang. Rintihan kemesraan memenuhi ruangan yang terang-benderang.
Keempat pemuda itu kemudian mengangkat Nyai Cangkring Abang, lalu dibawa ke
sebuah tempat tidur dari batu halus dan licin sekali. Mereka menciumi dan
menjilati sekujur tubuh sintal Nyai Cangkring Abang.
Ki Langgengpura yang belum juga
beranjak dari tempatnya semula memejamkan mata rapat- rapat. Ia tak tahan
mendengar desahan-desahan penuh kenikmatan dari mulut Nyai Cangkring Abang di
antara dengusan nafas para pemuda piaraannya. Tak lama kemudian, kakek
berpakaian kuning itu melangkah keluar dan melesat turun melalui tali.
Hari telah menjelang malam ketika
Ki Langgengpura meninggalkan lembah terjal berbatu- batu. Suasana gelap dan
hujan gerimis tak dihiraukannya. Ia terus berlari meninggalkan lembah yang
sunyi dan sepi itu.
***
6
Pagi baru saja mengantarkan cahaya
sang surya menerangi bumi. Seekor kuda melesat menuju Lembah Gunung Pring.
Kakek berpakaian kuning itu terus menggebahnya. Sampai di depan pintu gerbang
Perguruan Bambu Wulung, kakek yang tak lain Ki Langgengpura melompat turun.
Beberapa murid Perguruan Bambu
Wulung segera menyambutnya dengan ramah. Mereka tahu Ki Langgengpura sahabat Ki
Dungkut Marta.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ki
Langgengpura menuju rumah Ki Dungkut Marta. Seorang murid perguruan Bambu
Wulung berlari untuk memberitahu Ki Dungkut Marta. Tak lama kemudian, Ki
Dungkut Marta keluar dari bangunan induk yang dijadikan tempat tinggalnya. Lelaki
tua berpakaian ungu itu mengerutkan kening menyaksikan kedatangan kawannya yang
begitu tergesa-gesa.
"Apa yang telah terjadi,
Langgeng?" tanya Ki Dungkut Marta dengan suara parau.
Ki Langgengpura tidak segera
menjawab. Kakinya terus melangkah tergesa-gesa menaiki anak tangga serambi
rumah. Sementara, Ki Dungkut Marta terus memandangi dengan berbagai perasaan
aneh di hatinya.
"Masuklah! Kita bicara di
dalam...," ajak Ki Dungkut Marta.
Kedua lelaki tua itu segera masuk.
Sampai di dalam keduanya duduk seperti beberapa hari lalu, ketika membicarakan
tentang sepak terjang Empat Bidadari Lembah Neraka.
"Ada kabar buruk, Dungkut.
Semua muridku kudapati tewas bergelimpangan di pelataran rumahku. Ini pasti
perbuatan Empat Bidadari Lembah Neraka...," lapor Ki Langgengpura dengan
napas terengah-engah. Wajahnya dibuat sedih dan tegang.
Kegelisahan melanda hati Ki Dungkut
Marta. Wajah lelaki berpakaian ungu itu tampak muram. Kesedihan tergambar jelas
di matanya yang tajam dan terhias alis tebal berwarna putih.
"Hhh..... Cepat atau lambat
mereka pasti akan kemari juga," ujar Ki Dungkut Marta setelah menghela
napas berat, seolah hendak membuang perasaan sedihnya.
"Beruntung aku tidak ada di
rumah, Dungkut. Tapi, aku tak tega melihat nasib murid- muridku. Tubuh mereka
habis dicincang! Aku pun tak yakin dapat menghadapi Empat Bidadari Lembah
Neraka. Mulai sekarang kau harus berhati- hati, Dungkut! Mungkin hari ini
mereka menuju kemari." Ki Langgengpura menatap wajah Ki Dungkut Marta
dalam-dalam. "Satu-satunya pilihan bagi kita hanya mengatakan di mana
kitab itu berada. Kecuali kalau kita ingin mati konyol di tangan mereka."
Tercengang Ki Dungkut Marta
mendengar kata-kata kawannya. Hatinya menaruh rasa curiga pada Ki Langgengpura.
Ucapan Ki Langgengpura dirasakan sebagai desakan agar ia mengatakan di mana
kitab kuno itu.
"Hm. Apa kau juga menginginkan
kitab itu, Langgeng?" tanya Ki Dungkut Marta, datar.
"Jangan salah sangka, Dungkut.
Aku hanya menginginkan keselamatanmu...."
"Keselamatan dengan menjual
harga diri, Langgeng?" sahut Ki Dungkut Marta lagi. Ia mulai merasa kesal.
"Katakan di mana Kitab Candra
Catur Pamukti berada, Dungkut! Jangan sampai aku harus bertarung
denganmu...!"
Terkejut bukan main Ki Dungkut
Marta mendengar tantangan Ki Langgengpura. Sungguh tak disangka sahabatnya itu
akan bertindak demikian. Rasa curiga yang ada sejak kedatangan Ki Langgengpura
tadi kini semakin jelas terasa.
Namun, lelaki tua berambut panjang
digelung ini tetap tenang duduk bersila di lantai. Sementara Ki Langgengpura telah
bangkit berdiri di depannya.
"Terpaksa kugunakan kekerasan
kalau kau tak bersedia menunjukkan di mana kitab itu, Dungkut!" Mata Ki
Langgengpura berkilat menatap Ki Dungkut Marta.
Ki Dungkut Marta tetap duduk
bersila. Matanya yang tajam menentang pandang tatapan Ki Langgengpura. Sekarang
jelas terlihat di mata Ki Langgengpura sinar kejahatan. Lelaki tua berjubah
ungu itu baru menyadari Ki Langgengpura bukanlah sahabatnya yang dikenal dulu.
Ki Langgengpura yang ada di depannya kini telah menjadi seorang kakek yang
hatinya diliputi keangkaramurkaan.
Sebagai tokoh tua yang telah
kenyang makan asam garam kehidupan dunia persilatan, Ki Dungkut Marta dapat
membaca sinar mata berkilat milik Ki Langgengpura.
"Dungkut, tak ada waktu untuk
berlama-lama di sini. Cepat katakan, di mana kitab itu berada! Atau, katakan
siapa orang yang mengetahuinya. Cepat...!" Melihat Ki Dungkut Marta tetap
membisu, habislah kesabaran Ki Langgengpura. Dicabutnya pedang yang tersampir
di pundak. Lalu, dengan cepat dan tanpa ragu-ragu dibabatkan ke kepala Ki
Dungkut Marta yang masih duduk di
depannya.
Siut! Braaakkk! Dengan gerakan yang
tak kalah cepat, Ki Dungkut Marta menggulingkan tubuh ke belakang. Pedang Ki
Langgengpura pun membabat lantai yang terbuat dari kayu. Melihat lawan berhasil
mengelak, Ki Langgengpura langsung melompat memburunya. Tetapi Ki Dungkut Marta
yang telah melompat ke belakang setelah berdiri dari bergulingan berhasil
merenggut senjata andalannya. Sebatang tongkat dari bambu hitam yang tadi
tergantung di dinding.
Trakkk! Babatan pedang Ki
Langgengpura berhasil dipapaki dengan tongkat bambu hitam. Anehnya, sedikit pun
tak ada bekas yang terlihat pada tongkat bambu. Hanya tubuh Ki Dungkut Marta
yang tergetar ketika terjadi benturan dengan pedang lawan. Ki Langgengpura pun
demikian. Tubuhnya terdorong mundur dua langkah. Namun kemudian, dengan penuh
nafsu kakek berpakaian kuning itu merangsek maju. Pertarungan sengit terjadi di
dalam ruangan utama rumah besar itu.
Teriakan dan benturan kedua senjata
didengar oleh murid-murid Perguruan Bambu Wulung yang berada di luar rumah.
Mereka berlarian masuk ke rumah. Ketika melihat guru mereka tengah bertarung
dengan kawannya, murid- murid itu tampak ragu untuk bertindak.
"Menyingkirlah kalian! Ini
bukan urusan kalian...!" seru Ki Dungkut Marta kepada murid- muridnya. Itu
semakin membuat murid-murid Bambu Wulung tak berani bertindak.
Perhatian kepada murid-muridnya
membuat Ki Dungkut Marta lengah. Satu babatan secepat kilat yang dilancarkan Ki
Langgengpura tak mampu dielakkan. Tangannya dengan cepat mengangkat tongkat
Bambu Wulung untuk menangkisnya.
Benturan keras pun terjadi. Tubuh
Ki Dungkut Marta terdorong hingga membentur dinding. Sementara Ki Langgengpura
yang hanya tergetar sedikit segera melancarkan serangan susulan berupa tusukan
ke arah perut.
Tusukan itu pun tidak mengenai
sasaran, melainkan menghujam bilik bambu. Ki Dungkut Marta telah lebih dulu
menggeser tubuhnya ke samping kanan. Lalu, dengan tak kalah cepat pula lelaki
tua berjubah ungu itu menghantamkan tongkat Bambu Wulung-nya ke punggung lawan.
Blukkk! Ki Langgengpura terpekik
kaget. Tubuhnya tersungkur ke depan dan membentur dinding rumah. Ki Dungkut
Marta sengaja tidak menusukkan tongkatnya. Padahal kalau mau, dia mampu
menghabisi nyawa sahabatnya dengan ujung tongkat Bambu Wulung yang runcing.
Namun pertimbangan lain telah membuatnya hanya menggebuk punggung Ki
Langgengpura.
"Langgeng, untuk apa kau
mencari kitab itu?" tanya Ki Dungkut Marta. Ia tidak melanjutkan
serangannya.
Ki Langgengpura bangkit berdiri dan
membalas tatapan Ki Dungkut Marta. "Aku hanya ingin menyelamatkan dunia
persilatan dan mengamankan keresahan orang banyak. Dengan menyerahkan kitab itu
kepada Empat Bidadari
Lembah Neraka mungkin keadaan akan
berubah. Sebelum korban jatuh lebih banyak lagi, Dungkut. Kuminta, serahkan kitab
itu padaku sekarang!" ujarnya bernada memaksa.
"Sudah kukatakan, kitab itu
telah lenyap dari muka bumi ini. Ke mana pun akan kau cari takkan ketemu,
Langgeng."
"Kau sejak dulu memang keras
kepala. Dungkut!"
Wuuuttt! Belum habis ucapan Ki
Langgengpura pedangnya telah berkelebat membabat tubuh Ki Dungkut Marta. Namun,
Ki Dungkut Marta dapat mengelakkannya dengan melompat ke belakang. Lelaki tua
berjubah ungu itu melanjutkan lompatannya untuk keluar dari rumah lewat pintu
belakang.
Melihat lawannya melesat keluar, Ki
Langgengpura pun memburunya. Terjadilah pertarungan di halaman belakang.
Saat itulah tiga sosok bayangan
hijau melesat memasuki pintu gerbang Perguruan Bambu wulung. Murid-murid Ki
Dungkut Marta segera menyambut ketiga lelaki berpakaian hijau itu. Di pundak
mereka tersampir pedang panjang dengan sarung berwarna hitam legam. Ketiganya
memiliki rambut panjang dan ikal.
"Benarkah ini Perguruan Bambu
Wulung?" tanya lelaki yang berwajah bersih tanpa kumis dan cambang.
"Benar. Siapakah Saudara
sekalian?" Seorang murid Perguruan Bambu Wulung balik bertanya.
"Kami ingin menemui Ki Dungkut
Marta.
Kami bertiga diutus oleh guru kami
untuk menyampaikan surat ini...." Lelaki berpakaian hijau itu menunjukkan
segulungan lembaran kulit.
Tiba-tiba, terdengar pekik menyayat
hati dari arah belakang rumah. Suara itu tentu saja mengejutkan ketiga lelaki
berpakaian hijau. Mereka tidak mengetahui apa yang tengah terjadi.
Mendadak sesosok bayangan kuning
melayang di atas atap rumah. Lalu, mendarat di depan mereka.
"Ha ha ha.... Guru kalian
telah tewas! Siapa di antara kalian yang mengetahui di mana Kitab Candra Catur
Pamukti berada?" tanya kakek berpakaian kuning yang tak lain Ki
Langgengpura.
Mendengar pertanyaan Ki
Langgengpura, ketiga lelaki muda berpakaian hijau membelalakkan mata. Mereka
tidak tahu apa yang harus dilakukan saat itu. Tujuan mereka datang kemari
adalah hendak menemui Ki Dungkut Marta. Ternyata beliau baru saja tewas di
tangan kakek yang berdiri gagah di depan mereka ini.
"Hei, siapa kalian?!"
bentak Ki Langgengpura kepada ketiga lelaki berpakaian hijau.
"Seraaang...!"
"Serbuuu...!"
* * *
Beberapa murid Perguruan Bambu
Wulung langsung berlompatan menerjang Ki Langgengpura. Pedang dan golok di
tangan mereka berkelebatan tertuju ke tubuh kakek berpakaian kuning itu.
Ki Langgengpura bergegas melenting menjauhi
murid-murid Ki Dungkut Marta. Tapi, mereka terus memburu dengan kemarahan yang
meluap-luap mendengar guru mereka tewas di tangan Ki Langgengpura.
Begitu mendarat beberapa tombak dari
ketiga lelaki berpakaian hijau, Ki Langgengpura memutar pedangnya memapaki
semua serangan murid Ki Dungkut Marta. Bentakan penuh kemarahan pun meningkahi
suara pedang dan golok yang saling beradu. Tak lama kemudian, dua orang murid
Perguruan Bambu Wulung terjungkal dengan dada tergores pedang Ki Langgengpura.
Melihat kedua kawan mereka tewas,
murid- murid yang lain serentak merangsek maju ke arah Ki Langgengpura. Mereka
dengan berani membabatkan golok dan pedangnya. Dengan cepat Ki Langgengpura
melenting dan melompat ke sana kemari seraya mengibaskan pedangnya memapaki
serangan lawan. Kakek berambut panjang ini masih tangguh dalam usianya yang
telah lebih dari tujuh puluh tahun. Tak satu pun serangan murid-murid Ki
Dungkut Marta yang berhasil melukai tubuhnya. Bahkan, sekali Ki Langgengpura
memperoleh kesempatan pedangnya berputar dan membabat tubuh mereka. Jeritan
kesakitan pun berkumandang susul-menyusul dari murid-murid Perguruan Bambu
Wulung.
Sungguh tak ada yang mampu
menandingi ilmu meringankan tubuh kakek itu. Meskipun belasan murid Ki Dungkut
Marta mengeroyoknya, Ki Langgengpura dengan mudah mengelak dan menangkis setiap
serangan.
Suatu ketika, salah seorang murid
Perguruan
Bambu Wulung berhasil menyarangkan
goloknya di punggung Ki Langgengpura. Golok itu mendarat telak. Namun
keterkejutan segera terjadi. Golok itu membalik kembali bagai membabat benda
kenyal yang tak mempan dengan benda tajam.
"Ilmu setan...," gumam
ketiga lelaki berpakaian hijau.
"Ha ha ha ha...! Jangan
terlalu gegabah menghadapiku! Kalau kalian sayang dengan nyawa, katakan di mana
kitab kuno itu berada...?"
Namun, tak satu pun di antara
murid-murid Ki Dungkut Marta yang memberikan jawaban.
"Hei, Orang tua! Siapa kau
sebenarnya?" seru salah seorang lelaki berpakaian hijau sambil menatap Ki
Langgengpura.
"Untuk apa kau tanyakan
namaku, Anak Muda? Aku Ki Langgengpura...," jawab Ki Langgengpura.
"Heh? Kakang Panji dialah
orang yang disebutkan Ki Hajar dalam surat ini!" gumam lelaki berpakaian
hijau kepada kawannya.
Rupanya, gumaman itu didengar Ki
Langgengpura. Tubuh kakek berpakaian kuning itu melesat menghampiri ketiga
lelaki berpakaian hijau.
"Rupanya kalian murid-murid
Hajar Barada. Surat apa yang kalian bawa?" tanya Ki Langgengpura.
Sementara murid-murid Perguruan Bambu Wulung telah bergerak mendekati kakek
itu.
Mendapati dirinya telah terkepung,
Ki Langgengpura melesat cepat. Tangan kirinya menyambar surat yang dipegang
lelaki berpakaian hijau. Namun dengan cepat lelaki berwajah bersih itu
menariknya ke belakang, hingga Ki
Langgengpura tak berhasil merebut
surat itu.
Kedua kawannya telah menyebar ke
kanan dan kiri sambil meloloskan pedang. Ki Langgengpura yang melihat ketiga
lelaki berpakaian hijau telah menghunus pedang segera memutar tubuh. Lalu,
melenting ke atas keluar dari kepungan.
"Heaaa...!" Murid-murid
Perguruan Bambu Wulung yang berjumlah lima belas orang merangsek maju ke arah
Ki Langgengpura. Dua orang murid berpakaian ungu itu melompat melancarkan
serangan dengan tendangan kaki. Namun Ki Langgengpura telah membabatkan pedang
ke belakang.
Crakkk! Pekik kesakitan pun
berkumandang. Salah satu murid Ki Dungkut Marta terjungkal dengan kaki kanan
buntung terbabat pedang Ki Langgengpura. Satu orang lagi yang juga tak berhasil
menyarangkan serangan mendapat pukulan tangan kiri. Keduanya terjungkal ke
tanah.
Setelah berhasil menjatuhkan kedua
lawannya, Ki Langgengpura bergerak cepat. Tubuhnya diputar gasing. Sementara
pedang yang ikut berputar menyambar ke sana kemari memburu mangsa. Wut! Wut!
Wut!
Cras! Cras! Dari serangan kilat itu
tiga orang murid Perguruan Bambu Wulung berjatuhan dengan tubuh terbabat
pedang. Tanpa mempedulikan ketiga korbannya, Ki Langgengpura terus mengirimkan
serangan gencar. Bagai sebuah kitiran pedangnya hanya menampakkan cahaya
keperakan yang berputar. Deru angin putarannya terdengar berkesiutan. Sekejap
kemudian, dua orang lelaki berpakaian ungu kembali terjungkal dengan punggung
robek.
Tiga lelaki berpakaian hijau yang
tadi hanya menonton dan membawa surat untuk Ki Dungkut Marta kini melesat
melakukan serangan. Dengan bersenjata pedang mereka menerjang Ki Langgengpura.
Namun, kakek berpakaian kuning itu mengetahui serangan mereka.
"Heaaa...!" Trang! Trang!
Dua benturan keras terdengar ketika Ki Langgengpura berhasil menangkis serangan
ketiga lelaki berpakaian hijau. Ki Langgengpura maupun ketiga murid Ki Hajar
Barada tergetar mundur. Tampaknya, Ki Langgengpura mengerahkan kekuatan tenaga
dalam ketika melakukan tangkisan.
Kakek berjubah kuning ini lebih
dulu berhasil menguasai keadaan. Ketika ketiga lawannya tengah merasakan
getaran di tangan mereka, Ki Langgengpura sudah melompat menerjang. Pedangnya
berkelebat cepat menyambar tubuh lawan. Craaas!
Pekik kesakitan mengiringi
terhuyung- huyungnya tubuh salah seorang murid Ki Hajar Barada. Sambaran pedang
Ki Langgengpura mendarat di pundak kanannya. Darah mengucur deras dari pundak
lelaki berpakaian hijau itu. Namun, dia mampu bertahan untuk berdiri. Kini
pedangnya digenggam dengan kedua tangan, siap menghadapi Ki Langgengpura.
Kedua kawannya yang sempat
menghindar dari sambaran pedang Ki Langgengpura cepat berlompatan memberikan
serangan dari kanan dan kiri.
Serangan yang tak diperhitungkan
sama sekali itu membuat Ki Langgengpura kelabakan. Tangan kanannya mengibaskan
pedang untuk menangkis.
Trang! Bekkk! Ketiga lelaki
berpakaian hijau tersentak kaget. Tusukan pedang Panji yang mendarat telak di
pinggang Ki Langgengpura terpental balik. Bagai menusuk benda kenyal pedang itu
tak mampu menembusnya.
Mereka baru menyadari kalau lawan
yang dihadapinya bukan tokoh sembarangan. Ilmu kebal tubuhnya tak mampu
ditembus pedang.
Ki Langgengpura sejak muda memang
telah memiliki ilmu yang mampu membuat kebal tubuhnya. Dia yang dulu dikenal
sebagai Pendekar Seribu Pedang sangat kesohor di dunia persilatan. Ia
bersahabat dengan Ki Dungkut Marta yang menjadi murid Ki Hajar Barada. Kakek
itu kini masih hidup dan berdiam di kaki Gunung Sumbing.
Namun, siapa yang menyangka
sekarang pendekar yang mampu memainkan pedang secepat kilat itu menggabungkan
diri dengan tokoh sesat bernama Nyai Cungkring Abang.
"He he he he.... Mana mungkin
kalian murid- murid Ki Hajar mampu mengalahkanku."
"Ki Langgeng, ketahuilah!
Kedatangan kami kemari memang untuk menyelidiki sepak terjangmu. Ki Hajar
Barada telah mencium kegiatanmu. Kami menduga kau telah bersekongkol dengan
Empat Bidadari Lembah Neraka...!"
"Huh. Kepalang tanggung bagiku
untuk me- nyembunyikan diri. Aku memang bekerja sama dengan mereka," ujar
Ki Langgengpura mengakui. "Bosan aku malang melintang di rimba persilatan.
Aku ingin menghabiskan masa tua untuk menikmati kebahagiaan hidup di dunia.
Maka ketika aku dikalahkan Nyai Cangkring Abang beberapa bulan yang lalu, aku
memutuskan untuk bergabung dengan mereka. Aku tahu Dungkut banyak mengetahui
tentang Kitab Candra Catur Pamukti. Terpaksa aku menghabisi nyawanya karena dia
bertahan tak mau menerangkan di mana kitab itu berada. Lalu, apa yang kalian
inginkan sekarang...?" tanyanya sambil terus menggenggam pedang dengan
kedua tangan. Matanya yang mencorong tajam menatap Panji dan kedua kawannya.
'Terpaksa kami pun akan menggunakan
kekerasan kalau kau tak bersedia kembali ke jalan lurus. Maafkan sebelumnya
jika kami terpaksa menantangmu, Ki Langgeng."
"He he he.... Sungguh berani
mati kalian menantang Pendekar Pedang Seribu!" Ki Langgengpura terus
mengawasi ketiga murid Ki Hajar Barada yang telah bergerak menyebar. Ketiganya
mengepung kakek berpakaian kuning itu dari tiga penjuru. Sementara murid-murid Perguruan
Bambu Wulung hanya menyaksikan. Mereka tahu ketiga lelaki berpakaian hijau itu bukan
orang-orang sembarangan. Ki Hajar Barada telah mempercayakan mereka, tentu
karena ketiganya merupakan murid-murid andalan.
"Pedang Seribu Membelah Badai.
Heaaah...!" teriakan keras mengguntur dikeluarkan salah se- orang lelaki
berpakaian hijau. Tampaknya, mereka memiliki ilmu yang hampir sama dengan Ki
Langgengpura.
Melihat ketiga lawannya telah
melesat melancarkan serangan, Ki Langgengpura segera mempersiapkan kuda-kuda.
Begitu kedua tangannya menggenggam pedang terangkat ke atas, tubuhnya segera
berputar bagai gasing. Pedangnya ikut berputar cepat. Bentuk pedang panjang itu
lenyap. Yang terlihat hanya kilatan-kilatan cahaya keperakan yang berputar
cepat. Deru angin mengiringi putaran pedang Ki Langgengpura.
Ketiga murid Ki Barada telah
merangsek dalam jarak dekat. Benturan pedang yang bergerak cepat
memperdengarkan suara rentetan keras bagai ratusan pedang yang saling beradu.
Demikian cepat gerakan yang mereka
lakukan hingga sulit diikuti mata biasa. Mereka saling berputar dan
berkelebatan dalam jarak dekat. Tiba- tiba, terdengar pekik kesakitan
mengiringi terlontarnya salah seorang lelaki berpakaian hijau.
Darah segar muncrat dari bagian
lehernya yang tersayat ujung pedang Ki Langgengpura.
"Brata...!" Panji
terpekik kaget melihat kawannya terjungkal dengan leher hampir putus. Lelaki
berpakaian hijau itu berkelojotan sebentar kemudian diam tak bergerak-gerak.
Murid-murid Perguruan Bambu Wulung
yang menyaksikan pertarungan pun terkejut. Mereka tak melihat apa yang
dilakukan Ki Langgengpura. Tubuh Brata telah terlontar beberapa tombak dari
kancah pertarungan.
Tewasnya Brata membuat kekuatan
ketiga murid Ki Hajar Barada mulai tak seimbang. Namun, mereka tanpa kehilangan
semangat terus bertahan dan memburu Ki Langgengpura. Bentakan dan pekikan penuh
kegeraman terdengar dari mulut kedua lelaki berpakaian hijau. Sementara Ki
Langgengpura sedikit pun tidak mengeluarkan suara, kecuali bunyi berkesiutan
pedang di tangannya.
Dalam satu kesempatan yang baik,
Panji dan kawannya berhasil menggempur pertahanan lawan. Kakek berpakaian
kuning itu bergerak mundur, meskipun pedang di tangannya tidak berhenti
berputar. Sebuah bentakan keras dari mulut Panji mengiringi serangan maut
pedangnya. Babatan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga dalam tinggi
berhasil membabat bawah pundak Ki Langgengpura. Akibatnya, Ki Langgengpura
terdorong ke belakang beberapa langkah. Namun tak sedikit pun luka pada
pundaknya. Ilmu kekebalan tubuhnya tak mampu ditembus 'Pedang Seribu Membelah
Badai' murid Ki Hajar Barada.
Melihat lawan sempoyongan dan
kehilangan keseimbangan, Panji langsung memburu dengan serangan susulan.
Namun...
"Hiiih...!" Jrabs!
Pekikan menyayat mengiringi terjungkalnya tubuh pemuda berpakaian hijau itu.
Darah segar muncrat dari dadanya yang tertusuk pedang Ki Langgengpura.
"He he he.... Sudah kubilang,
kalian tak akan mampu menghadapi Pendekar Pedang Seribu! Boleh juga ilmu
kalian. Sayang, kalian terlalu gegabah....!"
Nampaknya Ki Langgengpura tadi
hanya berpura-pura untuk memberi kesempatan lawan menyerangnya. Ternyata benar.
Ketika dengan penuh nafsu Panji mengirimkan serangan, pedang Ki Langgengpura
bergerak cepat menusuknya.
Kini tinggal satu lawan yang harus
dihadapi Pendekar Pedang Seribu. Lelaki muda berpakaian hijau itu meskipun
tinggal sendirian tak sedikit pun menampakkan kegentaran. Ditatapnya wajah
kakek di depannya seraya menarik kedua tangannya yang menggenggam pedang sampai
di depan dada.
Kemudian, tubuhnya melesat cepat
sambil membabatkan pedang ke tubuh Ki Langgengpura. Namun hanya dengan sedikit
menarik tubuh ke samping kanan, kakek itu berhasil mengelakkan serangan. Lalu,
pedangnya cepat dikibaskan memotong pedang lelaki berpakaian hijau.
Mendapat tebasan pedang Ki
Langgengpura, lelaki berpakaian hijau hampir tersuruk jatuh. Namun secepatnya
ia mengatur keseimbangan tubuh. Bahkan dengan gerakan yang manis dia bersalto
ke belakang.
Bersamaan dengan mendaratnya kedua
kaki lelaki muda itu babatan pedang Ki Langgengpura meluncur ke arahnya!
Cepat ditangkisnya pedang lawan
hingga memperdengarkan bunyi berdentang. Tetapi Ki Langgengpura hanya ingin
mengecohnya. Setelah terjadi benturan, kaki kanannya melayang dan mendarat di
atas pinggang lawan.
Bluk! Lelaki muda berpakaian hijau
itu terpental dua langkah ke samping kiri. Ketika tubuhnya terhuyung-huyung, Ki
Langgengpura melanjutkan serangan dengan babatan pedang. Hingga....
Crasss! Murid Ki Hajar Barada
menjerit kesakitan. Pedang Ki Langgengpura membabat punggungnya. Tanpa ampun
lagi tubuh pemuda berpakaian hijau terjungkal. Ki Langgengpura segera
memburunya dengan serangan susulan.
Namun pemuda itu mengetahuinya.
Tubuhnya yang tergeletak di tanah dengan cepat digulingkan ke kanan. Maka,
sambaran pedang lawan hanya mengenai tanah. Pemuda berpakaian hijau terus
bergulingan menjauh, mengelakkan tusukan pedang lawan yang terus memburu. Darah
yang keluar dari punggungnya berceceran membasahi tanah.
Tiba-tiba, pemuda itu menghentikan
gulingannya. Lawan tak lagi mengejarnya. Dengan cepat dia bangkit berdiri. Ki
Langgengpura telah melompat ke arah tubuh Panji yang tergeletak berlumuran
darah. Kakek itu menyambar gulungan surat yang berada di tangan Panji.
Kemudian, cepat melesat meninggalkan tempat pertarungan.
"Pengecut, jangan
lari...!" Lelaki berpakaian hijau hendak mengejar. Namun, dalam sekejap
saja sosok Ki Langgengpura telah berada jauh. Mengingat tubuhnya yang mengalami
luka parah, pemuda itu mengurungkan niatnya.
Enam orang murid Perguruan Bambu
Wulung segera memberikan pertolongan. Mereka sebagian mengangkat tubuh Panji
dan kawannya serta kawan-kawan mereka yang tewas. Yang lain mengajak pemuda
berpakaian hijau yang terluka masuk ke dalam rumah untuk diberikan pengobatan.
***
7
Murid-murid Perguruan Bambu Wulung
masih sibuk menguburkan kawan-kawan mereka yang tewas ketika enam orang pemuda
memasuki pintu gerbang perguruan. Keenam pemuda itu tidak lain Busro dan kedua
kawannya yang mengantarkan Pendekar Gila serta dua pendekar lain yaitu Brasta
dan Gandra.
Ketiga murid Perguruan Bambu Wulung
yang baru datang itu terkejut bukan main melihat pemandangan di depan rumah Ki
Dungkut Marta. Mayat-mayat berlumuran darah bergelimpangan di sana-sini.
Perasaan serupa pun menyelimuti hati Brasta dan Gandra. Sementara Pendekar Gila
justru tertawa-tawa sendirian.
"Apa yang terjadi...?"
tanya Busro kepada salah seorang kawannya yang hendak mengangkat mayat lelaki
berpakaian hijau.
"Ki Langgeng telah membunuh
guru kita, Kang Busro," jawab murid itu dengan wajah murung.
"Heh?! Di mana...?"
"Mayat Ki Dungkut masih di belakang." Tanpa mengucapkan kata-kata
lagi, Busro dan kedua kawannya bergegas berlari ke belakang rumah. Pendekar
Gila, Brasta, serta Gandra segera mengikuti.
Sampai di belakang rumah mereka
melihat dua orang murid Ki Dungkut Marta tengah mengangkat lelaki tua itu untuk
dibawa masuk ke rumah. Tampaknya Ki Dungkut Marta masih hidup. Busro dan yang
lainnya bergegas mengikuti masuk ke rumah.
Tubuh lelaki tua berpakaian ungu
itu diletakkan di atas balai-balai bambu. Pakaiannya penuh bersimbah darah.
Namun, wajahnya tampak bersinar-sinar, seolah semangat hidup masih bertahan di
sana.
Pendekar Gila segera mendekati Ki
Dungkut Marta. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu berdiri di samping
balai-balai bambu. Ditatapnya wajah lelaki tua berjenggot putih itu yang juga
tengah menatapnya. Bibir Ki Dungkut Marta tersenyum. Ia hendak mengucapkan
kata-kata, tapi tak mampu. Dari wajahnya terbaca keinginan untuk bangkit duduk
ketika melihat Pendekar Gila ada di hadapannya. Namun, luka-luka di dada dan
perutnya menghalangi hasratnya yang besar itu.
Sebagai seorang pendekar yang
memiliki ketajaman naluri perasaan Sena Manggala mampu membaca keinginan Ki
Dungkut Marta. Kini dia berjongkok di samping tempat pembaringan. Telinganya
didekatkan. Barangkali lelaki tua itu ingin mengucapkan sesuatu. Ternyata
benar.
Ucapan itu lirih sekali. Tak
seorang pun yang ada di situ dapat mendengarnya kecuali Sena sendiri.
"Aku tahu, kau murid Singo Edan...,"
bisik Ki Dungkut Marta setelah menarik napas dalam-dalam. "Hanya kau yang
mampu mengatasi kekacauan ini, Pendekar Gila..."
Sena tersenyum. Ki Ageng Mantingan
memang banyak bercerita tentang dirinya kepada Ki Dungkut Marta. Maka ketika Ki
Ageng Mantingan memintanya untuk mengunjungi Perguruan Bambu Wulung ini, beliau
mengatakan Ki Dungkut Marta pasti sudah mengenalnya, meskipun belum pernah
berjumpa dengan Sena.
Sebenarnya sudah lama Ki Ageng
Mantingan menyuruh Sena agar memenuhi undangan Ki Dungkut Marta. Namun Sena
tampaknya tak banyak memiliki waktu untuk perjalanan yang cukup jauh. Selama
perjalanan saja pasti ada persoalan yang harus dihadapi. Ketika terbetik kabar
adanya kekacauan yang dilakukan Empat Bidadari Lembah Neraka, Sena segera memutuskan
untuk berangkat menemui Ki Dungkut Marta.
Kini setelah sampai di Perguruan
Bambu Wulung ternyata yang ditemui sungguh di luar dugaan. Orang yang akan
ditemuinya tengah sekarat akibat pertarungan dengan sahabatnya sendiri.
"Akulah murid singo Edan, Ki.
Sudah lama aku ingin berkunjung ke sini. Tapi, baru kali ini niat itu
terpenuhi. Ternyata malapetaka telah menimpamu," ujar Sena dengan suara
batin. Pembicaraan itu hanya dapat didengar Ki Dungkut Marta yang menggunakan
pendengaran batinnya. Cara itu dilakukan karena Ki Dungkut Marta tampaknya
sudah tidak mampu membuka mulut. Entah ilmu apa yang digunakan Ki Langgengpura
hingga Ki Dungkut Marta tak mampu membuka mulutnya.
"Seorang sahabat lamaku telah
bekerja sama dengan Empat Bidadari Lembah Neraka. Dialah yang membuatku seperti
ini. Aku bertahan untuk merahasiakan di mana kitab itu berada. Pendekar
Gila..., kau harus menyelamatkan Kitab Candra Catur Pamukti. Ki Hajar Barada,
guruku, adalah pewaris yang berhak atas kitab kuno itu. Dia sebenarnya seorang
kerabat kerajaan yang mengasingkan diri karena tak ingin hidup di lingkungan
istana," tutur Ki Dungkut Marta dengan suara batinnya. Kemudian, lelaki
tua yang sudah payah itu menceritakan tentang Kitab Candra Catur Pamukti kepada
Sena.
Di situlah Sena baru dapat
mengetahui secara jelas mengenai Kitab Candra Catur Pamukti. Kitab kuno yang
hanya berisi sehelai kulit binatang itu ternyata merupakan sebuah petunjuk. Di
dalam kitab itu disebutkan bahwa untuk mencapai suatu kemuliaan seperti yang
disebutkan dalam kitab orang harus bisa mencapai suatu tempat tertentu yang
telah ditetapkan. Ada empat kunci utama agar dapat mencapai tempat rahasia itu.
Diterangkan bahwa di suatu tempat orang akan menemukan empat buah batu hitam
berbentuk bulan. Jadi, sesuai dengan nama kitab itu: Canda Catur Pamukti,
berarti empat bulan untuk mencapai tujuan kemuliaan.
Sayang, Ki Dungkut Marta sendiri
tidak mengetahui di mana keempat batu hitam itu disimpan. Yang mengetahui
tentang hal itu hanya Ki Hajar Barada.
Belum tuntas memberikan keterangan
mengenai kitab itu, Ki Dungkut Marta sudah tak kuat lagi. Lelaki tua itu
menghembuskan napas terakhir dengan wajah menggambarkan kepuasan. Mungkin
karena pada saat-saat terakhir hidupnya dia dapat menemui pendekar yang telah
banyak menggemparkan dunia persilatan.
Sena bangkit berdiri setelah
menghela napas berat. Rasa haru menyelimuti hatinya. Namun rasa gembira juga
timbul. Sedikit banyak ia telah mengetahui rahasia kitab kuno yang bertahun-
tahun menjadi rebutan banyak tokoh persilatan.
Sena menatap berkeliling, kemudian
bertanya, "Siapa di antara kalian yang mengetahui tempat kediaman Ki Hajar
Barada?"
Keenam murid Perguruan Bambu Wulung
yang berada di ruang itu tak ada yang menjawab. Mereka hanya saling
berpandangan. Selama ini mereka memang tidak pernah mendengar di mana tempat
kediaman guru Ki Dungkut Marta itu.
Belum sempat Sena melanjutkan
pertanyaannya, seorang lelaki berpakaian hijau masuk. Dialah salah seorang
pembawa surat Ki Hajar Barada yang selamat. Rupanya tadi dia mendengar
pertanyaan Pendekar Gila. Matanya menatap tajam pada Sena Manggala yang hanya
tersenyum-senyum lucu. Keningnya lalu berkerut, seolah tengah mengingat-ingat
sesuatu. "Benarkah Tuan yang berjuluk Pendekar Gila...?" tanyanya
ragu-ragu.
"Begitulah orang menjuluki
diriku, Kawan," sahut Sena masih dengan tersenyum.
"Aku murid Ki Hajar Barada.
Kami bertiga diutus Guru untuk mengantarkan surat kepada Ki Dungkut Marta. Kami
juga ditugaskan untuk menyelidiki Ki Langgengpura, sahabat Ki Dungkut Marta. Ki
Hajar Barada telah mencium kabar kalau Ki Langgengpura bergabung dengan Empat
Bidadari Lembah Neraka," tutur lelaki berpakaian hijau. "Namun,
untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Kedua kawanku tewas di
tangan Ki Langgengpura. Surat itu pun berhasil direbutnya...."
"Surat apa sebenarnya yang
kalian bawa...?" tanya Sena.
"Kami kurang tahu pasti. Yang
jelas, menyinggung tentang Ki Langgengpura. Aku khawatir jangan-jangan surat
itu menyebutkan tentang tempat rahasia. Soalnya, aku tahu Ki Hajar Barada
mempercayakan kepada Ki Dungkut Marta untuk mengamankan Kitab Candra Catur
Pamukti. Ki Dungkut Marta adalah murid utama Ki Hajar Barada...."
"Kalau begitu, aku harus
secepatnya menemui Ki Hajar," ujar Pendekar Gila. "Kuharap kau dapat
menunjukkan tempat kediaman beliau."
"Apa tak sebaiknya aku
mengantarkan Tuan Pendekar ke sana?"
"Hm. Keadaanmu tidak
memungkinkan. Kurasa lebih baik kau beristirahat dulu di sini. Jelaskan saja di
mana tempat tinggal gurumu."
"Perguruan kami terletak di
kaki timur Gunung Sumbing. Dua hari dua malam kalau kita melakukan perjalanan
biasa. Tapi, aku yakin kau dapat menempuhnya lebih cepat. Tanyakan kepada penduduk
di sekitar kaki Gunung Sumbing. Mereka banyak mengetahui tentang perguruan Ki
Hajar Barada." Setelah mendapat penjelasan dari murid Ki Hajar Barada,
Sena Manggala segera meninggalkan Perguruan Bambu Wulung. Ia tak ingin
membuang- buang waktu. Sena mengerahkan ilmu lari 'Sapta Bayu'-nya.
Sementara itu, murid-murid
Perguruan Bambu Wulung menguburkan mayat Ki Dungkut Marta. Suasana berkabung
menyelimuti perguruan yang terletak di lembah Gunung Pring itu.
***
8
Ki Langgengpura berhenti dari
berlarinya sebelum mencapai jalan menuju lembah tempat kediaman pimpinannya.
Semula ia bermaksud menemui Nyai Cangkring Abang yang berada di Lembah Neraka.
Namun, tiba-tiba muncul di hatinya perasaan bimbang.
Setelah menoleh ke sana kemari,
kakek itu membuka surat dari kulit binatang yang direbutnya dari murid Ki Hajar
Barada.
Dungkut Marta, kini saatnya bagimu
mengamankan Kitab Candra Catur Pamukti. Hampir setengah abad aku membiarkan
kitab itu tersimpan di bawah bangunan suci. Kalau sampai kitab kuno itu jatuh
ke tangan orang-orang durjana akan hancurlah dunia persilatan.
Kudengar Empat Bidadari Lembah
Neraka telah memulai perburuan mereka. Dungkut Marta, ketahuilah, Langgengpura
juga menjadi calon musuhmu. Hati-hatilah terhadapnya. Dia bukan Langgengpura
yang dulu. Tindakan yang dilakukannya di wilayah barat telah banyak meresahkan
tokoh persilatan. Beberapa pemuda tanggung telah diculiknya. Aku sendiri tak
mengetahui untuk apa para perjaka itu. Sayang, aku tak pernah bertemu
dengannya.
Dungkut, tugasmu mendatangi
bangunan suci. Selamatkan kitab warisan itu. Aku berharap kitab itu suatu saat
akan sampai di tangan seorang pendekar sejati yang benar-benar pembela
kebenaran.
Dengan usia yang sudah mencapai
satu abad ini, jelas aku tak mungkin lagi mempelajari isinya. Apalagi mencari
kemuliaan dan kesaktian seperti yang disebutkan di dalamnya. Biarkan mereka
yang muda mendapatkan isi kitab itu, Dungkut....
Sampai di situ Ki Langgengpura berhenti
membaca. Surat itu ternyata terdiri dari dua lembar. Dibukanya lembar yang
kedua, lalu dilanjutkan membaca.
Sekarang ikutilah petunjukku ini!
Berjalanlah ke arah barat daya dari tempat kediamanmu. Jika kau berangkat
bersama sang surya, maka bersama sang surya kau sampai di tempat yang
kumaksudkan. Kau akan melihat sebuah tempurung raksasa yang tertelungkup.
Tempurung itu terbuat dari batu-batu besar. Berjalanlah ke timur! Jika bertemu
dengan bangunan setinggi delapan tombak yang terbuat dari batu, kau tak boleh
singgah di sana. Kitab itu kusimpan di bawah bangunan lain yang terletak tak
jauh dari bangunan ini. Berjalanlah ke utara. Inilah bangunan suci itu,
Dungkut. Di bawahnya akan kau temukan lorong yang menghubungkan dengan ruangan
besar di bawah tanah. Di tanganmu kitab itu berada!
Tersentak Ki Langgengpura membaca
kalimat yang terakhir. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud Ki Hajar Barada
dengan kalimat terakhir itu. Sudah dua kali dibacanya surat itu, tapi tak juga
dapat ditemukan maksudnya.
Perlahan-lahan digulungnya kembali
surat itu, lalu disimpan di balik pakaiannya. Dengan hati mantap kakek berjubah
kuning itu membalikkan tubuh dan melesat pergi. Dia tak jadi kembali ke tempat
kediaman Nyai Cangkring Abang. Ki Langgengpura hendak mencari sendiri kitab itu
dengan mengikuti petunjuk dalam surat Ki Hajar Barada. Namun, belum jauh Ki
Langgengpura meninggalkan tempat itu....
"Berhenti...!" Seruan
melengking nyaring terdengar dari arah belakang. Ki Langgengpura segera
menghentikan larinya, dan bergegas membalikkan tubuh. Dilihatnya empat sosok
wanita muda berwajah cantik yang sudah sangat dikenalnya.
Empat sosok wanita yang tak lain
Empat Bidadari Lembah Neraka itu keluar dari balik batu-batu cadas tak jauh
dari tempat Ki Langgengpura tadi membaca surat. Rupanya, keempat dara cantik
berpakaian merah ini mengintai apa yang dilakukan Ki Langgengpura.
"Surat apa yang kau baca tadi,
Ki Langgeng?" tanya Isyana dengan bibir tersenyum sinis.
Dara cantik berpakaian merah dan
mengenakan ikat pinggang hijau itu melangkah mendekati Ki Langgengpura.
"Ini bukan urusan kalian! Juga
bukan urusan Nyai Cangkring Abang!"
"Hm. Baik, kalau begitu. Lalu,
bagaimana urusanmu dengan Ki Dungkut Marta...? Kami diperintahkan untuk
menyelidikinya."
"Sudah kukatakan, aku yang
akan membereskan sahabatku itu!"
"Lalu?" desak Laksmi yang
juga sudah melangkah mendekati Isyana.
"Terpaksa kubunuh dia! Aku
belum mendapat keterangan di mana Kitab Candra Catur Pamukti berada,"
jawab Ki Langgengpura berusaha meyakinkan.
Namun, Isyana dapat membaca sinar
mata kakek itu. Ada kedustaan yang tak dapat disembunyikan di sana. Dara cantik
ini terus menatap wajah Ki Langgengpura. Namun sebagai tokoh tua yang sudah
berpengalaman, Ki Langgengpura mengetahui kecurigaan dara berpakaian merah itu.
"Sudahlah. Aku tak banyak
waktu bercakap- cakap dengan kalian...." Ki Langgengpura segera melesat
pergi meninggalkan Empat Bidadari Lembah Neraka.
Laksmi dan Isyana yang telah
menaruh kecurigaan terhadap Ki Langgengpura langsung melesat mengejarnya.
"Langgeng! Ada yang belum kau
katakan tentang surat itu," teriak Laksmi yang telah sampai di depan Ki
Langgengpura. Dara cantik itu berdiri dengan kaki terpentang menghadang jalan
Ki Langgengpura.
Dengan mata agak menyipit, Ki Langgengpura
memandang wajah Laksmi. Sementara Kinanti dan Ratri juga telah berlari
mendekati Ki Langgengpura. Isyana yang berdiri di samping Laksmi memberi
isyarat dengan kepala agar kedua kawannya waspada.
"Huh! Ternyata keliru Nyai
Cangkring Abang memelihara empat bidadari cantik seperti kalian. Sekian lama
bekerja hanya sia-sia belaka. Puluhan korban telah jatuh, tapi tak membawa
hasil apa pun...," ujar Ki Langgengpura dengan nada meremehkan. Bibirnya
menyunggingkan senyum sinis.
"Perlukah kami buktikan bahwa
kaulah yang mesti pergi dari Nyai Cangkring Abang? Justru Nyai Cangkring Abang
kuanggap gegabah menerimamu untuk bergabung, Langgeng. Orang berhati busuk
sepertimu harus mampus! Seraaang...!" Laksmi yang sudah tak sabar segera
memberi perintah.
Ki Langgengpura secepat kilat
memutar tubuhnya dalam jurus 'Ilmu Pedang Seribu'. Tampaknya kakek ini pun
sudah tak sabar ingin segera menghabisi Empat Bidadari Lembah Neraka. Itu bisa
dimaklumi. Ki Langgengpura ingin buru- buru menuju tempat penyimpanan Kitab Candra
Catur Pamukti.
Trang! Trang! Benturan-benturan
pedang terdengar susul- menyusul. Empat Bidadari Lembah Neraka telah
mengeluarkan ilmu andalan untuk mengimbangi kecepatan gerak lawan. Dalam
sekejap pertarungan seru dan menegangkan pun terjadi. Masing-masing
mengandalkan ilmu meringankan tubuh untuk bergerak. Sosok-sosok merah
berkelebatan mengepung Ki Langgengpura yang terus berputar.
Tiba-tiba, tanpa terlihat dengan
jelas, sesosok tubuh berpakaian merah terlempar dari kancah pertarungan.
Ternyata sosok tubuh Kinanti. Lengan kirinya mengeluarkan darah. Gadis itu
telah tersambar pedang Ki Langgengpura.
Melihat kawannya terjatuh, Isyana,
Laksmi, dan Ratri semakin geram. Bentakan-bentakan nyaring semakin sering
terdengar mengiringi serangan mereka. Namun, kakek berjenggot putih itu memang
bukan tokoh sembarangan. Sekian lama pertarungan berlangsung, Ki Langgengpura
masih sanggup mengelak dan menangkis setiap serangan lawan. Mendadak, bagai
diberi perintah, ketiga gadis berpakaian merah itu berhenti menyerang. Mereka
berkumpul menjadi satu berhadapan dengan Ki Langgengpura. Kinanti meskipun
terluka mampu melesat menyatu dengan ketiga kawannya.
* * *
'"Bidadari Membelah Langit'!
Hiaaah...!" Serentak keempat dara berpakaian merah itu berteriak nyaring.
Seketika itu pula Empat Bidadari Lembah Neraka berlompatan menerjang ke arah Ki
Langgengpura.
Melihat gerakan lawan yang sangat
cepat, Ki Langgengpura sempat tercengang. Tahu-tahu keempat lawannya telah
berada di sekitar tubuhnya. Mereka mengepung dengan sambaran dan tusukan.
pedang. Bunyi angin menderu berkesiutan di telinga. Ki Langgengpura melenting
ke udara.
Sungguh tak disangka, keempat dara
berpakaian merah seolah mengetahui apa yang hendak dilakukan lawan. Keempatnya
melesat menyusul ke udara. Pertarungan pun terjadi di atas.
Tak lama kemudian, keunggulan Empat
Bidadari Lembah Neraka terlihat. Ketika mereka memburu tubuh lawan yang
meluncur ke tanah, serangan-serangannya terus berdatangan. Mereka tak ingin
memberi kesempatan kepada lawan untuk menginjakkan kaki di tanah.
"Hahhh?!" Pekikan pendek
dikeluarkan Ki Langgengpura. Keempat dara berambut panjang secara bergantian
melancarkan serangan. Satu menyerang yang lain bersiap untuk menyusul. Ketika
kawannya mundur dari hadapan lawan, yang lain telah menyambar datang.
Menghadapi serangan gencar yang tak
habis- habisnya bagai ombak samudera, Ki Langgengpura semakin kewalahan.
Hingga, satu ketika serangan Empat Bidadari Lembah Neraka yang dilakukan secara
bersamaan benar-benar membuatnya tak bisa bergerak.
"Aaakh...!"
Ki Langgengpura menjerit tertahan
ketika dadanya berhasil disambar pedang. Tubuhnya tergetar mundur. Saat itulah
Empat Bidadari Lembah Neraka dengan bengis saling menusukkan pedang ke tubuh
lawan.
Jrabs! Satu tusukan menghujam di
perut kakek itu. Tubuhnya terhuyung ke belakang.
Wuttt! Trang! Tusukan lain yang
meluncur deras ke arah pinggangnya mampu ditangkis Ki Langgengpura dengan
babatan pedang. Namun, sebuah tendangan keras dari Laksmi mendarat telak di
tengkuknya.
Ketika tubuh tua berpakaian kuning
itu tersungkur ke depan, tusukan pedang Isyana langsung menyambutnya.
Jrabs! Pekikan melolong pun
berkumandang. Ketika Isyana mencabut pedang dari dada Ki Langgengpura, darah
segar muncrat bersamaan dengan tergulingnya tubuh kakek itu.
"Ha ha ha ha...! Mana ilmu
kebalmu, Langgeng?!" teriak Laksmi dengan tertawa gembira. Dipandanginya
tubuh Ki Langgengpura yang tergeletak berlumuran darah. "Tak ada ilmu
kebal bagi pedang-pedang Bidadari Lembah Neraka...!"
Ki Langgengpura yang sekarat tak
mampu menjawab ejekan dara cantik itu. Hanya geraman lirih keluar dari
mulutnya. Tubuhnya menggeliat- geliat menahan rasa sakit yang sangat.
Sambil menyarungkan kembali
pedangnya, Isyana melangkah mendekati Ki Langgengpura. Ia yakin lawannya sudah
tak berdaya. Pengalaman- pengalaman yang lalu menunjukkan setiap lawan yang
terbabat pedangnya tanpa ampun lagi pasti menemui ajalnya.
Gadis cantik yang mengenakan ikat
pinggang hijau itu hendak mengambil surat yang tersimpan di balik pakaian Ki
Langgengpura.
"Isyana, tunggu...!"
Ratri berteriak memperingatkan. "Jangan terlalu gegabah menganggap lawan
tak berdaya!"
Ratri, Kinanti, maupun Laksmi masih
menggenggam pedang. Ratri mendekati ke arah Isyana yang telah berdiri dua
tombak dari Ki Langgengpura. Namun tiba-tiba....
Siiing! Siiing! Siiing! Ki
Langgengpura yang diduga telah sekarat ternyata masih mampu melemparkan senjata
rahasia yang diambil dari balik pakaiannya.
"Awaaas!" Trang! Trang!
Trang! Kinanti yang paling dulu bergerak dapat membabat tiga batang pisau kecil
yang meluncur menuju Isyana. Sementara Ratri dan Laksmi hanya mampu mengelakkan
pisau-pisau yang mengarah kepada mereka. Keduanya bergulingan ditanah dan
bergegas melompat bangkit. Kinanti yang sudah telanjur melompat meneruskan
serangannya dengan babatan pedang ke tubuh Ki Langgengpura.
Pedang di tangan Kinanti menghujam
dada kakek itu. Tanpa mengeluarkan pekikan, Ki Langgengpura langsung tak
bergerak lagi. Rupanya, nyawanya melayang saat itu juga. Kinanti segera
menggeledah pakaian Ki Langgengpura. Segulungan kulit berwarna coklat yang
terpercik darah diambil Kinanti. "Ayo, cepat tinggalkan tempat
ini...!" ajak Laksmi. Tubuhnya melesat menuju lembah Neraka untuk menemui
Nyai Cangkring Abang.
Ketiga kawannya segera menyusul.
Mereka berlari cepat menuruni lembah terjal berbatu-batu cadas itu. Tanpa
sepengetahuan Empat Bidadari Lembah Neraka, Ki Langgengpura yang dikira sudah
menjadi mayat menggeliat dan perlahan bangkit berdiri. Kakek berjubah kuning
yang telah berlumuran darah itu terkekeh memandangi Empat Bidadari Lembah
Neraka yang terus melesat menuju lembah. Dengan langkah tertatih-tatih, Ki
Langgengpura berjalan ke arah barat meninggalkan tempat pertempuran.
***
9
Kakek berjubah putih itu terbaring
di atas bale-bale bambu. Di samping bale-bale bambu duduk seorang pemuda
berpakaian rompi kulit ular. Di belakangnya empat orang lelaki berusia empat
puluhan yang mengenakan pakaian hijau duduk bersila. Mereka tengah mendengarkan
pembicaraan
Pendekar Gila dengan kakek itu.
"Aku sungguh tak menduga kau
akan datang ke tempat kediamanku ini, Sena...," ujar kakek yang ternyata
Ki Hajar Barada. "Memang, sudah lama aku mendengar julukanmu disebut-sebut
para tokoh persilatan yang berkunjung ke sini. Tapi, tak pernah kumimpikan kau
akan datang. Tempatku ini terlalu jauh dan sulit ditempuh. Terima kasih atas
semua yang kau sampaikan kepadaku."
Kakek itu menggeliat, lalu
memiringkan tubuhnya menghadap Pendekar Gila. Ditatapnya wajah tampan yang
selalu tersenyum-senyum sendirian itu. Meski baru kali ini berjumpa, Ki Hajar
Barada telah memaklumi sikap yang dimiliki Sena.
"Saya sendiri tidak mengira Ki
Hajar ternyata guru Ki Dungkut Marta. Ki Ageng Mantingan hanya menceritakan
kalau Ki Dungkut Marta memiliki perguruan di Lembah Gunung Pring," ujar
Sena melihat Ki Hajar Barada terdiam untuk memberi kesempatan kepadanya
berbicara. "Aku tak bisa berlama-lama berada di sini, Ki. Kalau benar
surat itu telah sampai di tangan Empat Bidadari Lembah Neraka lewat Ki
Langgengpura, sebaiknya secepat mungkin aku menuju ke sana...."
Ki Hajar Barada
mengangguk-anggukkan kepala menyetujui ucapan Sena.
"Ya.... Kini semuanya
kuserahkan kepadamu, Sena. Rupanya sudah kehendak Hyang Widhi, aku pasrahkan
tugas itu kepadamu. Seperti yang kusebutkan dalam suratku itu, aku berharap
suatu saat Kitab Candra Catur Pamukti akan sampai kepada seorang pendekar
sepertimu. Dalam usiaku yang sudah mencapai satu abad tubuhku tak mungkin
mempertahankan kitab kuno itu. Hatiku selalu dilanda kecemasan. Aku khawatir
kitab itu jatuh ke tangan orang-orang durjana. Aku tak tahu apa yang akan
terjadi dengan dunia persilatan jika mereka dapat menguasai kitab itu. Itulah
sebabnya aku selalu berpesan kepada Dungkut Marta yang banyak mengetahui
tentang Kitab Candra Catur Pamukti. Kupesan kepadanya agar selalu mengatakan
kepada siapa saja bahwa kitab itu sudah lenyap dari muka bumi ini. Dungkut
memang murid yang patuh. Dia selalu berbohong kepada siapa pun yang menanyakan
kitab itu. Orang-orang hanya tahu kitab itu berisi petunjuk untuk sampai pada
tempat penyimpanan harta karun sebuah kerajaan. Asal kau tahu saja, Sena. Kitab
itu sebenarnya berisi petunjuk tempat penyimpanan senjata pusaka yang sangat
ampuh...."
Kakek itu menghentikan ucapannya.
Sena Manggala mengangguk-angguk mengerti. Sejak puluhan tahun lalu para tokoh
persilatan memang memperebutkan Kitab Candra Catur Pamukti. Ternyata nama kitab
itu pun hanya samaran agar orang mengartikan sebagai suatu petunjuk untuk
mendapat kemuliaan. Candra berarti bulan. Catur artinya empat. Sedangkan Pamukti
mengandung arti kemuliaan. Orang akan segera mengartikan sebagai harta benda
peninggalan kerajaan yang akan membuat orang hidup berbahagia di dunia.
"Sena, Berangkatlah.
Kuserahkan kepadamu untuk menyelamatkan kitab itu. Berjalanlah sesuai dengan petunjuk
yang kukatakan tadi. Kuharap kau dapat mendahului Langgengpura atau Empat
Bidadari Lembah Neraka." Ki Hajar Barada menepuk bahu Pendekar Gila yang
duduk bersila di samping kanannya.
Sena bangkit berdiri. Lalu, memberi
hormat kepada kakek berjubah putih. "Kumohon doa restumu, Ki...,"
ujarnya sebelum melangkah mundur dari hadapan Ki Hajar Barada.
Keempat murid Ki Hajar Barada
menyertai Sena sampai pagar halaman rumah yang terletak di lereng Gunung
Sumbing itu.
Keempat lelaki berpakaian hijau itu
kelihatan kagum sekali, melihat gerakan Sena yang berlari begitu cepat. Dalam
sekejap tubuh pemuda berpakaian rompi kulit ular itu telah berada jauh.
Pendekar Gila memang tak ingin
membuang- buang waktu. Segera dikerahkannya ilmu lari 'Sapta Bayu' yang membuat
dirinya melesat bagai angin!
* * *
Di dalam gua tempat kediamannya
Nyai Cangkring Abang tengah menerima kedatangan empat anak buahnya, Empat Bidadari
Lembah Neraka. Nenek berpakaian longgar berwarna merah itu menggulung lembaran
surat yang baru saja dibacanya.
"Hi hi hi hi.... Kalian tak
perlu mengikuti petunjuk dalam surat ini. Aku sudah tahu bangunan suci mana
yang dimaksud Barada. Inilah yang kutunggu-tunggu hampir setengah abad lamanya.
Baru kali ini ku tahu kalau kitab itu tersimpan di sana. Sekarang, berangkatlah
kalian sesuai dengan petunjukku!" Nyai Cangkring Abang kemudian menjelaskan
petunjuk baru yang berbeda dengan petunjuk dalam surat.
Rupanya, nenek itu sangat mengenal
wilayah selatan yang dijadikan tempat pembangunan bangunan-bangunan suci berupa
candi. Lebih dari itu, ia ternyata mengetahui siapa Ki Hajar Barada
sesungguhnya. Meskipun tadinya Nyai Cangkring Abang tidak menduga Ki Hajar
Baradalah tokoh yang menyimpan Kitab Candra Catur Pamukti.
Pada zamannya Nyai Cangkring Abang
memang seangkatan dengan Ki Hajar Barada. Hanya Nyai Cangkring Abang termasuk
tokoh golongan hitam sedangkan Ki Hajar Barada sebaliknya. Dalam usianya yang
telah mencapai satu abad Nyai Cangkring Abang ternyata masih kuat. Itu terjadi
karena ia memiliki ilmu yang mampu merubah bentuk tubuhnya menjadi muda
kembali. Ilmu itulah yang digunakannya untuk menikmati kehidupan bersama para
perjaka peliharaannya.
Setiap kali hendak bercengkerama
bersama para pemuda di dalam gua ia selalu merubah tubuhnya. Dengan menggunakan
darah dari pemuda-pemuda yang dibunuhnya, setelah bosan dikerjai, nenek itu
menjelmakan diri menjadi seorang wanita muda berwajah cantik jelita.
"Sudah. Tunggu apa
lagi?!" ujar Nyai Cangkring Abang kepada anak buahnya. "Aku akan
mengawasi kalian dari sini. Jangan khawatir jika ada yang berbuat usil terhadap
kalian. Aku akan segera datang membantu."
"Baik. Kami mohon diri,
Nyai!" ujar Isyana. Gadis tertua di antara keempat dara cantik. Gadis
berpakaian merah dengan ikat pinggang hijau itu segera bangkit dari duduknya
dan melangkah meninggalkan ruangan. Ketiga kawannya bergegas mengikuti.
Keempat gadis cantik itu tidak
melewati pintu depan yang biasa dilewati Ki Langgengpura. Berarti mereka tidak
harus menuruni tebing tinggi dan licin dengan menggunakan tali. Mereka berjalan
lewat belakang. Ternyata di sana terdapat sebuah pintu yang langsung tembus
dengan dataran di atas lembah. Empat Bidadari Lembah Neraka segera melesat ke
arah barat. Suasana gelap menjelang malam membuat tubuh-tubuh berpakaian merah
itu lenyap dari pandangan.
* * *
Ketika sampai di tempat mereka
bertempur melawan Ki Langgengpura siang tadi, Empat Bidadari Lembah Neraka
menghentikan lari mereka. Keempatnya tercengang melihat mayat Ki Langgengpura
tidak berada di sana.
"Ke mana tua bangka itu?"
tanya Isyana sambil mengedarkan pandangan ke sekitar tempat itu. Memang malam
sudah mulai turun. Tapi, mata mereka yang tajam dan terlatih dapat melihat
jelas.
Laksmi melangkah mendekati tempat
tadi siang mayat Ki Langgengpura tergeletak. Yang didapatinya hanya
bercak-bercak darah di tanah. Kakinya pelahan mengikuti bekas-bekas darah.
Ketiga kawannya mengikuti apa yang dilakukan Laksmi. Mereka berjalan menuruti
bercak darah yang ditinggalkan Ki Langgengpura.
"Tampaknya dia belum mampus,
Isyana...," ujar Kinanti setengah bergumam.
"Hhh.... Ilmu apa yang
dimiliki Ki Langgeng?" sahut Isyana dengan wajah memperlihatkan
kegelisahan. "Aku yakin ini pasti jejak tua bangka itu."
Rasa curiga yang bercampur
menyelimuti hati keempat dara cantik itu. Itu memang beralasan. Ki Langgengpura
tokoh tua yang tak bisa dianggap remeh. Mereka tidak tahu kalau Ki Langgengpura
memiliki ilmu yang mampu menahan rasa sakit. Dengan begitu, tusukan dan babatan
pedang mereka tadi sebenarnya tidak dirasakan oleh Ki Langgengpura. Namun
karena merasa terdesak dan tak mungkin bertahan dari gempuran Empat Bidadari
Lembah Neraka, Ki Langgengpura segera mencari akal untuk menipu mereka.
Kakek itu memutuskan untuk
mengalah. Apalagi ketika menyadari ia tidak dapat memahami petunjuk yang ada di
dalam surat Ki Hajar Barada. Sementara dia tahu benar Nyai Cangkring Abang
telah mengetahui banyak tentang Ki Hajar Barada. Kesempatan itu segera
dimanfaatkannya. Dan, ternyata berhasil.
Keempat gadis berpakaian merah
terus melangkah mengikuti jejak yang ditinggalkan Ki Langgengpura. Mereka
berharap dapat menemukan kakek itu. Namun sudah hampir tiga puluh tombak
jauhnya mereka berjalan, tetesan darah masih juga terlihat. Sampai pada
sebongkah batu cadas sebesar kerbau mereka mendapati tetesan darah di atasnya.
Empat Bidadari Lembah Neraka
kembali menemui keanehan. Tetesan darah berhenti di atas batu cadas yang
berpermukaan rata itu.
"Hhh.... Aneh!" gumam
Laksmi seraya menggeleng-gelengkan kepala. Dia tak habis pikir melihat kejadian
ini. Apa yang telah terjadi pada diri kakek itu sungguh tak masuk akal mereka.
"Kita kehilangan jejak di sini...," lanjutnya dengan memandangi
ketiga kawannya.
"Langgeng...! Langgeng
Keparat, tunjukkan dirimu! Hadapi Empat Bidadari Lembah Neraka kalau kau memang
lelaki sejati!"
Saking kesalnya Isyana
berteriak-teriak memanggil Ki Langgengpura. Namun tak ada sahutan. Yang
terdengar hanya gema suaranya. Tiba-tiba....
"Hi hi hi hi...! Untuk apa
kalian mencari-cari Langgeng? Sampai kapan pun kalian tak akan menemukannya.
Dia memiliki ilmu lari secepat angin yang mampu menerbangkan tubuhnya."
"Heh?!" Isyana terkejut
mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Siapa lagi kalau bukan suara Nyai
Cangkring Abang.
Laksmi, Kinanti, maupun Ratri
menoleh ke arah asal suara. Tetapi mereka tak melihat sosok Nyai Cangkring
Abang.
"Teruskan saja langkah kalian.
Jangan khawatir. Kalau dia menghalangi jalan kalian, aku yang akan
menghadapinya!" lanjut Nyai Cangkring Abang yang rupanya melihat keempat
anak buahnya dari dalam gua.
Mendengar perintah Nyai Cangkring
Abang, Isyana segera memberi isyarat kepada ketiga kawannya agar melanjutkan
perjalanan. Keempat dara cantik berpakaian merah itu pun melesat ke arah barat.
10
Seorang pemuda berpakaian rompi
kulit ular melompat-lompat dari satu batu ke batu lain yang bersembulan di
sungai besar dan berair deras. Begitu riangnya pemuda tampan yang tak lain
Pendekar Gila menyeberangi sungai berair coklat itu. Sebentar saja dia telah
sampai di seberang.
Baru melangkah dua tindak Sena
berhenti karena matanya melihat sesuatu di atas pasir. Langkahnya segera
terayun mendekati. Terdapat bercak-bercak darah yang belum lama mengering. Sena
meneliti ke sekitar tempat itu. Tidak ditemukannya tetes darah lain. Ia merasa
heran, kenapa hanya di tempat ini ada tetesan darah. Sena segera melesat ke
arah barat. Baru beberapa tombak dia kembali berhenti. Di depannya ditemui lagi
bercak-bercak darah.
Kakinya melangkah mengikuti arah
yang mungkin ditempuh pemilik darah. Setelah berjalan sekitar dua puluh tombak,
Sena kembali menemukan tetesan darah hanya pada satu tempat. Pendekar Gila
segera berpikir orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
Buktinya, dia mampu melesat sampai belasan tombak. Pemuda berpakaian rompi
kulit ular itu tercenung. Kemudian, dia menajamkan telinganya berusaha mendengar
sesuatu. Namun, tak ada suara yang mencurigakan. Hanya kicau burung, desau
angin, dan gemercik air sungai yang terantuk batu-batu. Meski begitu, naluri
kependekarannya merasa ada sesuatu yang mencurigakan. Orang yang meninggalkan
bercak darah itu bergerak ke arah yang sama dengan tujuannya.
Tubuh Sena melesat ke arah barat
dengan mengerahkan seluruh ilmu meringankan tubuhnya. Ia ingin orang yang
dicurigai tidak bisa menangkap suara gerakannya.
Matahari yang baru saja terbit
belum mampu mengusir seluruh kabut yang menyelimuti hutan. Sena terus berlari
sesuai petunjuk Ki Hajar Barada. Sampailah dia di suatu tempat yang merupakan
lembah sangat luas. Di sebelah selatan terdapat pegunungan yang memanjang bagai
memagari lembah hijau yang subur itu. Di tengah-tengah lembah tampak sebuah
bukit tidak seberapa tinggi. Di atas bukit itulah berdiri sebuah bangunan
candi. Inilah bangunan dari batu yang oleh Ki Hajar Barada disebut tempurung
raksasa. Bangunan itu memang mirip tempurung dalam keadaan tertelungkup.
Di sini Sena tak lagi menemukan
bercak- bercak darah. Dia segera melesat ke arah timur mengikuti petunjuk Ki
Hajar Barada. Begitu melihat bangunan lain setinggi delapan tombak, Sena tidak
berhenti tapi langsung berlari ke utara.
Setelah menyeberangi sebuah sungai
yang tidak seberapa lebar, Sena baru menemukan bangunan yang digunakan untuk
tempat menyimpan Kitab Candra Catur Pamukti. Jarak Sena dengan bangunan candi
setinggi lima belas tombak itu masih terlalu jauh. Namun, langkahnya terhenti
karena di atas rumput dia kembali menemukan bercak-bercak darah.
Karena menaruh curiga Sena
melenting ke atas dan hinggap di atas sebatang pohon besar. Dari atas pohon itu
dia berharap dapat melihat apa yang terjadi di sekitar bangunan candi. Matanya
yang tajam memandang ke sekitar tempat itu. Tapi, tak ada tanda-tanda yang
mencurigakan.
Tak lama kemudian, empat sosok
bayangan merah melesat menuju pintu candi. Sosok-sosok bayangan itu adalah
Empat Bidadari Lembah Neraka. "Itukah Empat Bidadari Lembah Neraka?"
tanya Sena dalam hati sambil terus mengawasi mereka. Keempat dara cantik
berpakaian merah itu memasuki pintu candi melalui anak-anak tangga. Saat mereka
lenyap dari pandangan, melesatlah sesosok bayangan mendekati pintu candi.
Seorang kakek yang mengenakan jubah kuning berlumuran darah. Dialah Ki
Langgengpura.
"Ini rupanya orang yang
meninggalkan tetesan darah itu...." Sena mengucek-ucek matanya, seolah
ingin meyakinkan pandangannya.
Ki Langgengpura duduk di lantai
batu candi. Rupanya, dia menunggu Empat Bidadari Lembah Neraka keluar. Matanya
memandangi ke sekitar tempat itu, seperti khawatir kalau-kalau ada pihak lain
yang tengah mengintai.
* * *
Empat Bidadari Lembah Neraka telah
sampai di dekat pintu yang menuju ruang bawah tanah. Mereka melangkah masuk,
lalu menuruni anak- anak tangga yang berjumlah sepuluh. Di anak tangga
kesepuluh mereka menemukan lorong gelap yang di kanan kirinya berdinding batu.
Air bertetesan dari atas memperdengarkan suara gemercik yang bergema. Hawa
dingin dan pengap membuat napas terasa sesak.
Keempat dara cantik berpakaian
merah itu menajamkan pandangannya untuk melihat di tempat gelap. Tidak satu pun
di sudut ruangan yang lepas dari pengawasan mereka. Semakin ke dalam semakin
terasa ketegangan hati keempat dara itu. Dan, semakin tinggi pula kewaspadaan
mereka untuk menjaga hal-hal yang tak terduga.
Isyana yang berjalan paling depan
mendadak menghentikan langkah. Gadis itu menoleh ke belakang menatap ketiga
kawannya.
"Buntu...," bisik Isyana,
lirih. Dua tombak di depan mereka sebuah dinding batu hitam menghadang. Isyana
menggeleng- gelengkan kepala merasa putus asa.
"Hhh.... Kita kembali ke
atas!" usul Kinanti. Lalu, membalikkan tubuh dan melangkah pergi.
"Tunggu! Kita lihat dulu
barangkali ada pintu rahasia di sini...." Laksmi melangkah mendekati
dinding batu penghalang. Namun....
Srrrak! "Akh!" Laksmi
menjerit pendek ketika tiba-tiba tubuhnya terjeblos. Batu lantai yang
diinjaknya anjlok ke bawah. Untung dengan cepat gadis itu meraih bibir lobang,
sehingga tubuhnya menggantung dengan kedua tangan berpegangan lantai. Serta-merta
ketiga kawannya memegang kedua tangan Laksmi. Mereka tersentak kaget ketika
melongokkan kepala ke dalam lobang. Terdapat lobang besar yang sangat dalam,
bahkan tak terlihat dasarnya.
"Gila. Sumur tanpa dasar!"
seru Laksmi setelah berhasil naik dengan dibantu ketiga kawannya.
"Mampuslah aku kalau terperosok ke sana."
Mereka kemudian dengan hati-hati
memeriksa dinding batu penghalang lorong. Mereka yakin akan menemukan pintu
lain di tempat itu. Perlahan-lahan Isyana dan Kinanti meraba batu- batu bersegi
empat yang tertata rapi pada dinding.
"Jangan-jangan di sumur tanpa
dasar itu Kitab Candra Catur Pamukti tersimpan...." Laksmi memandangi
lobang yang tadi menjebloskannya.
"Tidak mungkin. Itu hanya
penghalang bagi siapa saja yang berusaha mengambilnya. Mungkin sudah ada orang
lain terperosok ke sana. Untung saja kau sempat meraih lantai, Laksmi."
"Hei, lihat!" Kinanti
berseru mendapati sebuah batu yang disentuhnya bergerak ke dalam. "Dorong
terus!" perintah Isyana. Maka, didoronglah batu persegi itu ke dalam.
Srrrak! Blukkk! Laksmi dan Ratri
berlompatan menghindar ketika sekonyong-konyong sebuah batu besar meluncur dari
atas dan tepat jatuh pada lobang. Lobang yang menjebloskan Laksmi kini tertutup
batu besar. Anehnya, batu itu begitu pas menempati lobang sehingga kembali rata
seperti semula.
No comments:
Post a Comment