Saturday, May 4, 2019

039 Ajian Candra Birawa


AJIAN CANDRA BIRAWA
Oleh Firman Raharja

1
Suara jeritan panjang dan menyayat hati terdengar. Jeritan itu mengiringi luncuran sesosok tubuh wanita yang jatuh dari puncak sebuah bukit cadas. Tubuh wanita berambut panjang mengena- kan pakaian putih itu terlempar ke dasar jurang. Suara jeritannya telah lenyap sebelum mencapai dasar jurang yang berbatu-batu. Barangkali wanita itu telah tewas atau pingsan ketika tubuhnya me- layang di udara.
Sementara dari puncak bukit cadas terden- gar pekikan dan bentakan-bentakan keras bebera- pa orang. Rupanya tengah terjadi pertarungan sengit di sana.
Benar. Di bawah cahaya bulan yang redup seorang lelaki berusia lima puluhan tengah berta- rung menghadapi tiga lelaki bengis yang menge- royoknya. Lelaki berambut putih tanpa pengikat kepala itu tampak kewalahan. Beberapa bagian tubuhnya terluka hingga mengeluarkan darah. Senjatanya yang berupa keris panjang tak berarti sama sekali menghadapi gempuran dahsyat cakra milik lawan. Berkali-kali senjata cakra yang terikat rantai besi itu melesat ke arah tubuhnya.

"Ha ha ha...! Habisi saja dia, Regosulung. Jangan biarkan orang seperti dia hidup lebih lama lagi...!" teriak lelaki bercambang bauk. Ia bersenja- ta sepasang gading kuning. Lelaki berpakaian me- rah ini tengah memperhatikan pertarungan ber- sama kawannya yang juga mengenakan pakaian merah. "Biar kubantu, Kakang Regosulung," ujar kawan lelaki bercambang bauk yang juga meng- genggam sepasang gading kuning. "Tak sabar ra- sanya. Aku ingin segera menghabisi si keparat itu!" "Tunggu, Siung Warak! Untuk apa meng- hambur-hamburkan tenaga. Tugas masih banyak. Kita harus membantai semua murid Perguruan Sangga Jagat setelah Pratangga itu mampus," ujar lelaki brewok.
Namun tiba-tiba... Wuttt! Crrraakk! Ketika Regosulung mengibaskan rantai baja yang mengikat cakra, lelaki berambut putih mam- pu menangkisnya. Keris panjang di tangannya berhasil memapaki rantai hingga terlibat. Terjadi- lah saling tarik-menarik.
"Hiaaa...!" Kedua lelaki berpakaian serba merah yang memperhatikan jalannya pertarungan kembali ter- sentak kaget, Regosulung terlontar beberapa tom- bak dan jatuh di depan mereka. Sebuah tendan- gan keras telah mendarat telak di perutnya. Rego- sulung segera bangkit berdiri meskipun sedikit sempoyongan.
"Kurang ajar!" Siung Warak bergegas me- lompat ke arah lelaki berambut putih. "Hei, Pra- tangga! Jangan harap kau mampu bertahan menghadapiku!" bentaknya dengan mata meme- rah.
Tak! Tak! Tak!
Dengan gerak cepat Siung Warak memukul- mukulkan sepasang gading yang tergenggam di tangan. "Cuih! Orang-orang seperti kalianlah yang tak boleh hidup lama di dunia ini!"
"Hua ha ha...! Apa yang kau miliki hingga berani berkata begitu, Pratangga? Apa kau lupa dengan kematian kakakmu empat purnama yang lalu. Keris Sakti Tanpa Wujud miliknya tak berarti apa-apa," ujar Siung Warak.
Pratangga tercenung. Ia teringat kematian kakak kandungnya yang dibunuh secara licik oleh orang-orang yang tak diketahui. Keris pusaka pe- ninggalan leluhurnya ikut raib. Keris panjang yang di kalangan rimba persilatan sangat kesohor kare- na keanehannya itu memang dipegang Sunu Ba- gaskara. Ayah mereka yang dikenal sebagai Pen- dekar Tanpa Nama mempercayakan putra sulung- nya untuk memegang keris pusaka itu.
"Bedebah! Jadi, kalian yang membunuh ka- kak kembarku?!"
"Hua ha ha...! Kau pun akan segera menyu- sul Sunu Bagaskara ke akherat, Pratangga!"
Didorong oleh rasa dendam atas kematian Kakak kembarnya, Pratangga tak mampu mena- han kemarahan yang menggelegak di hatinya. Apa- lagi baru saja Nyi Roro Mintarsih, kakak iparnya, terlempar ke dasar jurang akibat terpukul rantai baja Regosulung. Lelaki berambut putih yang ber- pakaian lurik lengan panjang itu melesat dan mengibaskan keris di tangannya.
Siung Warak yang melihat lawannya menyerang langsung melompat untuk memapaki.
Benturan-benturan keras terjadi ketika gad- ing kuning di tangan Siung Warak menangkis ba- batan dan tusukan keris Pratangga. Sebentar saja keduanya telah terlibat pertarungan sengit. Ter- nyata, lelaki bersenjata gading itu tak hanya ber- mulut besar. Serangan dahsyat dan berbahaya yang dilakukan Pratangga berhasil diatasi dengan mudah. Bahkan, ketika lelaki berambut putih itu melenting menghindarkan serangan, Siung Warak tanpa ragu-ragu memburunya. Keduanya me- layang di udara. Dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa, sepasang gading di tangan Siung Wa- rak melesat.
Wuttt! Wuuttt! Pratangga mengibaskan kerisnya memapaki kedua gading yang hampir menyambar leher dan dadanya. Sepasang gading kuning itu berpentalan balik. Lalu, meluncur ke arah pemiliknya. Dengan mudah Siung Warak menangkap kedua senjata andalannya itu.
"He he he...! Ini baru permulaan, Pratangga. Jangan bangga dulu berhasil memapaki serangan- ku," ujar Siung Warak sesaat setelah kakinya mendarat ringan di tanah.
Pratangga mendarat sekitar tiga tombak di depan Siung Warak. Kerisnya tersilang di depan dada. Namun belum sempat ia melancarkan se- rangan kembali, Siung Warak telah melompat ke arahnya. Lelaki berpakaian merah itu tampaknya tak ingin memberi kesempatan kepada Pratangga. Sepasang gadingnya dikibas-kibaskan di depan wajah. Hingga, bentuk kedua senjata berwarna kuning itu lenyap dari pandangan.
Melihat serangan lawan, Pratangga segera melentingkan tubuhnya ke atas, ia hendak mela- kukan serangan dari atas. Namun secepat itu pu- la, tanpa diduga-duga lawan melenting ke udara. Dengan cepat Siung Warak menusuk serta mema- paki keris lawan.
Tangkisan yang dilakukan dengan gading di tangan kanan dibarengi oleh gading di tangan kiri yang mendarat telak di dada lawan. Pratangga ter- dorong ke belakang, lalu jatuh bergulingan dengan mulut mengerang kesakitan. Meskipun gading itu tidak sampai menembus dadanya, namun tusukan telak tadi telah menimbulkan luka cukup parah. Ketika tubuhnya bangkit berdiri, Pratangga me- muntahkan darah segar.
Karena lawan telah kembali melompat un- tuk melancarkan serangan susulan Pratangga memutar kerisnya. Meskipun ia tahu benar tinda- kannya ini sangat berbahaya, tapi menunggu se- rangan lawan sampai mengenai tubuhnya meru- pakan perbuatan konyol.
Dan, ternyata tidak sia-sia usaha yang dila- kukan Pratangga. Kerisnya yang berputar cepat berhasil menggores tangan kanan Siung Warak. Namun karena lawan belum terluka sementara di- rinya telah mengalami luka parah, Pratangga ak- hirnya terdesak hebat. Ketika dia melompat ke samping kanan untuk menghindari serangan gad- ing lawan, sebuah tendangan keras mendarat di perutnya. Tubuh lelaki berpakaian lurik itu terlontar ke belakang dan langsung terperosok ke dalam jurang. Jeritan panjang terdengar dari mulut Pra- tangga. Tubuhnya hancur berantakan membentur batu cadas di dasar jurang.
"Ha ha ha...! Nikmati kematianmu yang mengerikan, Pratangga!" teriak Siung Warak dari bibir jurang.
Kedua kawannya melangkah mendekati. Ke- tiga lelaki berwajah bengis itu berdiri di tepi ju- rang. Mereka tertawa terbahak-bahak mengejek lawannya yang tewas sangat mengenaskan.
"Betapa gembiranya Ketua bila mendengar keberhasilan kita ini, Kakang Regosulung," ujar Siung Warak.
"Ya. Ayo, kita lanjutkan tugas kita. Kita ma- sih harus mengobrak-abrik Perguruan Sangga Ja- gat milik Pratangga! Jangan sisakan seorang pun muridnya. Tumpas habis!" sahut Regosulung. La- lu, memberi isyarat kepada kedua kawannya un- tuk segera pergi.
Sambil memperdengarkan tawa penuh ke- menangan, ketiga lelaki berpakaian merah itu me- lesat menuruni bukit. Sebentar kemudian keti- ganya telah sampai di bawah. Di sana tiga ekor kuda yang ditambatkan pada pohon besar tengah menunggu.
Tanpa membuang-buang waktu, ketiganya langsung menggebah kuda masing-masing.
* * *

"Bodoh! Goblok kalian semua!"
Bentakan penuh kemarahan itu dikelua- rkan seorang lelaki berusia lima puluhan yang ber- tubuh tinggi gagah. Alis matanya yang beralis tebal menatap tajam tiga lelaki berpakaian merah di de- pannya. Regosulung, Siung Warak, dan Bardak tertunduk diam. Tak satu pun berani memandang wajah lelaki gagah berjubah hitam itu.
Ada perasaan gentar yang sangat di hati mereka. Tugas yang baru saja dijalankan ternyata kurang berkenan bagi sang ketua.
"Sudah kukatakan jangan sampai Nyi Roro Mintarsih mati. Aku sangat membutuhkan anak yang berada dalam perutnya."
"Ampun, Ketua. Pesan Ketua itu terpaksa tak dapat kami laksanakan. Tanpa sengaja Nyi Ro- ro Mintarsih terkena pukulan hingga terlempar ke dasar jurang...," lapor Regosulung takut-takut.
"Benar, Ketua. Tempat pertarungan itu ter- lalu sempit untuk menghadapi keberingasan Pra- tangga. Sebuah puncak bukit cadas yang tinggi dan terlalu licin. Dalam keadaan kalut kami hanya bertekad dapat segera menghabisi nyawa Pratang- ga," tambah Siung Warak.
"Hhh.... Bodoh. Bodoh sekali!" dengus lelaki berjubah hitam. "Kematian Nyi Roro Mintarsih te- lah menggagalkan rencanaku untuk mengambil anaknya. Aku yakin dia bibit unggul yang akan mampu menerima semua ilmu silat. Dia darah daging seorang pendekar. Ksatria sejati. Seharus- nya salah satu dari kalian menyelamatkan Nyi Ro- ro Mintarsih!"
"Tapi, bukankah hal itu dapat membahayakan Ketua? Kalau nanti anak itu tahu kitalah yang membunuh ayahnya, dia akan menuntut balas...," ujar Regosulung mencoba menanggapi.
"Tahu dari mana? Memangnya aku orang bodoh? Setelah dia lahir tentu kita bunuh ibunya. Bebal otakmu!" bentak lelaki berjubah hitam. "Su- dah! Yang penting kalian telah membunuh Pra- tangga. Tapi ingat, ini bukan tugas kalian terakhir. Masih banyak perguruan golongan putih yang ha- rus kita tumpas. Dua bersaudara Kampak Kembar dan anak buahnya telah kuperintahkan menum- pas Lurah Banaran yang mencoba menolak tawa- ranku. Sementara Kebo Kluwuk dan Gajah Setan pagi ini berangkat untuk memburuihanguskan Perguruan Jambe Anom."
Regosulung, Siung Warak, dan Bardak hanya membisu mendengar ucapan ketua. Sedikit pun tak terlintas di benak mereka akan menolak atau membantah perintah lelaki berjubah hitam. Kematian adalah taruhan bagi mereka jika meno- lak. Rencana besar yang dicita-citakan lelaki ber- jubah hitam baru akan terwujud jika semua tokoh dan perguruan golongan putih telah binasa.
***

2
Terik matahari siang itu begitu panas, sea- kan hendak membakar pemukaan bumi. Angin bertiup kencang menghembuskan hawa panas.
Langit musim kemarau tampak biru bersih tanpa awan.
Di suatu lembah tandus dan berbatu-batu cadas tampak sesosok lelaki muda tengah berlatih ilmu silat. Di bawah cahaya matahari tubuhnya yang kekar berotot berkilatan karena keringat. Ru- panya, sudah cukup lama pemuda berambut pan- jang dikepang itu berlatih.
Kini dia duduk bersila menghadap ke barat. Matanya yang tajam menatap tepat ke arah mata- hari. Kemudian, dipejamkan rapat-rapat. Bersa- maan dengan itu kedua telapak tangannya dira- patkan di depan dada. Cukup lama gerakan itu di- lakukan. Tiba-tiba, kedua telapak tangannya di- hentakkan ke depan kuat-kuat.
Slats! Selarik cahaya merah melesat sangat cepat menuju sebongkah batu cadas sebesar kerbau yang berada lima belas tombak di depannya.
Glarrr...! Ledakan keras menggelegar. Cahaya keme- rahan itu menghantam batu cadas hingga hancur berkeping-keping. Pemuda bertelanjang dada itu melompat sambil tertawa kegirangan.
"Ha ha ha...! aku berhasil. Aku berhasil!" te- riaknya. Ia berlari menuju gubuk bambu yang ter- letak tidak jauh dari tempatnya berlatih.
"Buyut! Buyut...! Aku berhasil. Aku berha- sil, Buyut!"
Dari gubuk bambu yang cukup besar itu ke- luar seorang nenek yang mengenakan pakaian hi- jau pupus. Dengan langkah tersaruk-saruk nenek berambut panjang dan memegang tongkat itu menghampiri si pemuda. Meskipun dia telah bera- da di depan pemuda itu, wajah nenek yang di- panggil buyut tidak memandangi si pemuda. Den- gan mata terkatup rapat dia memandang ke arah lain. Wajahnya sedikit mendongak, hingga tampak- lah bekas luka-luka pada sepasang matanya.
Wajahnya yang bersih dan seperti bersinar menandakan kalau nenek bertubuh tinggi semam- pai itu memiliki kemampuan tinggi. Suatu pamor yang biasa dimiliki orang-orang berilmu tinggi. Se- lain itu, raut wajahnya masih menampakkan be- kas kecantikannya di masa muda.
"Suta, apa Buyut tadi tidak salah dengar?" tanya wanita yang nama sebenarnya Nyi Buyut Brintik. Suara tuanya terdengar lembut tapi ber- wibawa. "Hhh... Andai saja Buyut dapat melihatku berlatih," ujar pemuda itu setengah bergumam.
"Aku melihatmu, Suta," sahut Nyi Buyut Brintik. Ia lebih suka dipanggil 'Buyut'. "Meskipun sepasang mataku buta, tapi mata hatiku dapat melihat semuanya dengan jelas. Aku gembira mendengar keberhasilanmu mempelajari ilmu 'Tapak Matahari'. Tidak sia-sia kekerasan hatimu dalam berlatih, Cucuku.... "
Nenek itu menghentikan ucapannya kemu- dian, dihelanya napas panjang. "Bersihkan tu- buhmu. Ada sesuatu yang akan kusampaikan pa- damu, Suta," katanya.
Pemuda berambut panjang dikepang mem- bisu. Tidak seperti biasanya Nyi Buyut Brintik menyuruhnya membersihkan diri. Apalagi, menga- jaknya membicarakan sesuatu. Setelah menge- rutkan kening, Suta Srengenge mengangguk dan beranjak pergi dari hadapan Nyi Buyut Brintik.
Nenek itu kemudian melangkah masuk kembali ke gubuknya. Dengan tongkat yang ber- guna untuk menopang tubuhnya ia berjalan tersa- ruk-saruk.
Nyi Buyut Brintik duduk di atas potongan kayu besar, menunggu muridnya kembali dari sungai. Tak lama kemudian Suta Srengenge da- tang. Pemuda itu lalu duduk di lantai di depan Nyi Buyut Brintik.
"Suta Srengenge, sudah saatnya kau keluar dari gubukku ini. Habis sudah semua ilmu yang kumiliki. Semua telah kuturunkan kepadamu," ujar Nyi Buyut Brintik. "Namun, tidak boleh lantas berbangga diri, terlebih besar kepala karena telah menguasai ilmu tingkat tinggi. Kelak jika dirimu terjun ke rimba persilatan kau akan bertemu den- gan berbagai tokoh yang memiliki ilmu tinggi. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang lebih tinggi ilmunya darimu. Bukan berarti aku merendahkan kemampuanmu. Di sanalah kau akan mendapat banyak pengalaman hingga mampu mengembang- kan ilmu yang kau miliki sekarang...."
Nyi Buyut Brintik menghentikan ucapan- nya. Dihelanya napas dalam-dalam. Sepasang ma- tanya yang terkatup rapat seolah mampu melihat wajah Suta Srengenge di hadapannya.
"Kau harus berhati-hati, Cucuku. Sekali kaki melangkah tanggung jawab kehidupanmu ada pada pundakmu sendiri. Aku sudah terlalu tua. Aku tak mungkin menyertaimu terus...."
"Buyut, ada janji yang belum kau tepati pa- daku hingga saat ini," ujar Suta Srengenge dengan mengangkat wajahnya. "Bagaimanapun aku harus tahu siapa kedua orangtuaku. Kau hanya menye- butkan orangtuaku pendekar yang kesohor pada zamannya...."
"Ya, ya. Karena itulah aku mengajakmu berbicara," sahut Nyi Buyut Brintik. "Kau tak perlu terkejut. Selama dua puluh tahun ini kau tinggal di rumah nenekmu sendiri, Suta."
"Jadi..." "Ya. Akulah nenekmu sebenarnya. Kedua batu nisan di belakang rumah kita adalah kubu- ran ibu dan pamanmu. Nyi Roro Mintarsih adalah ibu kandungmu Dia istri Sunu Bagaskara, putra sulungku. Sedangkan yang satu lagi kuburan pa- manmu, Pratangga. Sunu Bagaskara dan Pratang- ga dua anak kembar Pendekar Tanpa Nama, sua- miku. Mereka sangat terkenal empat puluh tahun yang lalu. Tak satu pun orang-orang persilatan yang tidak mengenal nama Pendekar Kembar."
Nyi Buyut Brintik menghentikan ceritanya sesaat. Sementara Suta Srengenge tampak terce- nung mendengar penuturan nenek itu.
"Namun sayang, seorang tokoh tingkat ting- gi dari golongan hitam membunuh mereka secara keji dan licik. Ayahmu terbunuh di dalam pergu- ruannya ketika Mintarsih, istrinya, mengandung dirimu. Empat purnama setelah ibumu dibawa Pratangga ke perguruannya, tiga orang anak buah
Kolo Mareksa datang membunuh mereka...."
"Bagaimana aku bisa lahir dari perut ibu- ku?" tanya Suta Srengenge.
"Akulah yang menolong Mintarsih ketika terlempar ke dalam jurang sana." Nyi Buyut Brin- tik menunjuk ke arah utara. Tempat tinggal mere- ka memang tak jauh dari jurang terjal yang sangat dalam dan berbatu-batu.
"Jadi, Nenek Buyut menyaksikan kejadian itu?"
"Sudah kukatakan, meskipun mataku buta, aku dapat melihat semua kejadian di sekitarku. Aku tahu saat ketiga anak buah Kolo Mareksa memburu Pratangga yang ingin menyelamatkan Nyi Roro Mintarsih. Aku tidak bisa berbuat banyak waktu itu. Aku telah telanjur terikat sumpah yang pernah ku ucapkan di depan Kolo Mareksa, ketika aku dikalahkannya. Aku bersumpah tidak akan mencampuri urusan Kolo Mareksa lagi seumur hi- dupku." Kenapa Buyut sampai mengucapkan sum- pah seperti itu? Bukankah Buyut orang golongan putih yang mestinya akan bertekad membela ke- benaran sampai kapan pun?" tanya Suta Sren- genge yang merasa heran mendengar sumpah gu- runya. "Kau tidak tahu, Cucuku. Begitu aku dika- lahlan Kolo Mareksa, secara keji dia melukai kedua mataku hingga buta. Waktu itu aku bersumpah hanya untuk menyelamatkan jiwaku. Agar aku bi- sa terus mendidik dan membesarkan kedua putra kembarku, Sunu Bagaskara dan Pratangga. Mereka telah dibawa lari suamiku untuk diselamatkan." Suta Srengenge terdiam mendengar alasan neneknya. Ia mengerti betapa Nyi Buyut Brintik terpaksa mengucapkan sumpah itu. Sebagai seo- rang pendekar wanita dirinya harus bertanggung jawab akan tegaknya kebenaran dan keadilan, tapi juga harus memikirkan keselamatan kedua pu- tranya. Kemudian Nyi Buyut Brintik menceritakan semua kejadian yang dialaminya setengah abad la- lu. Suatu peristiwa mengenaskan yang membuat dirinya terlempar jauh di tempat pengasingan. Jauh dari dunia ramai. Jauh dari rimba persilatan yang hingar-bingar oleh tokoh-tokoh golongan hi- tam.
* * *

Di depan sebuah rumah besar seorang lela- ki setengah baya tengah sibuk melatih ilmu silat kepada dua orang anak. Keakraban yang mereka tunjukkan jelas menggambarkan kalau yang ten- gah melatih kedua anak kembar itu adalah ayah mereka sendiri.
"Tanganmu kurang lurus, Pratangga. Lihat- lah kakakmu itu," ujar sang ayah sambil mendeka- ti anak lelaki yang dipanggil Pratangga.
Anak itu menoleh ke arah kakaknya yang berdiri di samping kanan. Lalu, dibetulkannya le- tak tangannya yang memang agak kurang lurus.
"Capek, Yah!" ujar anak itu mengeluh. "Husss! Baru beberapa kali kita latihan kau sudah bilang capek, Pratangga," sahut kakaknya yang tak lain Sunu Bagaskara.
"Tidak mudah untuk menjadi seorang pen- dekar, Pratangga. Kita harus bekerja keras. Berla- tih dan berlatih. Ketekunan dan kerajinan akan membuat kita berhasil. Kelak kalian akan menjadi pendekar-pendekar hebat. Orang akan menjuluki kalian sebagai Pendekar Kembar," ujar ayahnya dengan tersenyum. Memberi semangat kepada ke- dua anak kembar itu. "Alangkah bangganya hati ayah melihat kalian menjadi dua orang pendekar yang tidak hanya ditakuti, tapi juga disegani oleh kawan maupun lawan...."
"Hei, kalian beristirahatlah dulu! Ibu telah membuatkan minuman dan ubi rebus untuk ka- lian...!" Seorang wanita setengah baya berwajah cantik keluar dari rumah besar itu. Ia membawa kendi air dan beberapa potong ubi rebus di piring kayu.
Melihat ibu mereka yang memanggil, kedua anak kembar itu langsung berlarian menyambut- nya. Sang ayah hanya menggeleng-gelengkan ke- pala melihat tingkah kedua anaknya. Dia pun me- langkah menghampiri istrinya.
"Rasanya aku menyesal, Kang," ujar wanita cantik itu seraya tersenyum kepada suaminya.
"Apa maksudmu, Nyi?" tanya lelaki berpa- kaian coklat muda.
"Kenapa tidak dari dulu kita mengundurkan diri dari dunia persilatan. Mungkin anak-anak kita sudah dewasa. Usia kita sudah mendekati separo abad baru memiliki anak-anak"
"Apa kata para pendekar kawan-kawan kita kalau kita mundur waktu itu? Mereka akan men- cibirkan bibir. Seorang pendekar mestinya tak akan mundur sampai mati sekalipun," ujar sang suami. Dipandanginya kedua anaknya yang asyik menikmati ubi rebus di serambi rumah.
Ketika mereka tengah menikmati waktu isti- rahat setelah berlatih pagi itu, tiba-tiba sesosok bayangan merah berkelebat dan berhenti di depan rumah. "Ha ha ha...! Betapa nikmatnya sepotong ubi rebus dan sekendi air hangat!"
Sesosok lelaki bertubuh tinggi besar berdiri dengan kaki terpentang memandangi kedua anak yang tengah duduk menikmati ubi rebus.
"Kolo Mareksa!" gumam lelaki berpakaian coklat muda dengan mata terbelalak kaget. "Untuk apa kau datang kemari...?"
"Tentu saja menantangmu, Pendekar Tanpa Nama!" jawab lelaki berpakaian merah. "Kaulah yang telah menggagalkan tindakan anak buahku membantai Perguruan Cakar Harimau beberapa tahun lalu. Aku ingin mencoba seorang pendekar usilan seperti kau."
"Tidak tahukah bahwa aku dan istriku telah mundur dari dunia persilatan, Kolo Mareksa?"
"Ha ha ha...! Ternyata Pendekar Tanpa Na- ma tak lebih dari seorang pengecut! Tidak tahukah kau kalau hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula?" Lelaki berpakaian merah yang ter- nyata Kolo Mareksa itu balik bertanya dengan nada mengejek. Mulutnya tak henti-hentinya tertawa seraya memandangi istri Pendekar Tanpa Nama.
"Keparat!" "Heaaa...!" Bersamaan dengan umpatan Pendekar Tan- pa Nama, Kolo Mareksa melompat sambil meng- hentakkan kedua tangannya. Pendekar Tanpa Nama terpental beberapa tombak ke belakang. Tu- buhnya jatuh bergulingan di serambi rumah. Se- rangan jarak jauh Kolo Mareksa ternyata datang begitu cepat hingga tak sempat dielakkannya.
Kedua anak kembar yang tadi asyik menik- mati ubi rebus segera berlarian mendekati ibunya. Mereka tampak ketakutan, meskipun sang ibu be- rusaha menenangkannya.
Belum sempat Pendekar Tanpa Nama berdi- ri dengan sempurna, Kolo Mareksa telah melan- carkan serangan susulan. Namun dengan cepat Pendekar Tanpa Nama melemparkan tubuhnya ke lantai, lalu bergulingan. Brrraakkk! Serangan jarak jauh yang berupa deruan angin kencang menghantam pintu rumah hingga roboh. Melihat kebringasan lawannya, Pendekar Tanpa Nama tak ingin gegabah. Begitu berhasil mengelakkan serangan, tubuhnya segera melent- ing bangkit dan melompat menjauhi rumah. Ia in- gin pertarungan ini jauh dari kedua putranya yang masih kecil. Dia khawatir serangan lawan akan mengenai mereka. Lelaki setengah baya berpa- kaian coklat muda itu mendarat ringan di tengah halaman. Melihat lawannya berada di halaman, Kolo Mareksa berbalik. Cepat dia melompat sambil me- lancarkan serangan. Lelaki berpakaian merah ini tampaknya tak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk balas menyerang. Dia tahu yang di- hadapinya bukan tokoh sembarangan.
Namun dengan secepat kilat Pendekar Tan- pa Nama melentingkan tubuh ketika serangan la- wan datang. Ketika tubuhnya berada di udara itu- lah dia melakukan serangan balasan. Kedua tan- gannya dihentakkan dengan keras. Melesatlah se- larik cahaya kemerahan menuju tubuh lawan. Pendekar Tanpa Nama pun tak ingin melakukan serangan dengan jurus-jurus ringan. Lawannya te- lah menyerang dengan ilmu-ilmu andalan yang sangat berbahaya.
Dalam sekejap pertarungan jarak jauh itu tak terelakkan lagi. Keduanya saling pukul dan tangkis dari jarak sekitar enam tombak. Bagi Sunu Bagas kara dan Pratangga kejadian ini tentu saja sangat aneh dan mengherankan. Baru kali inilah mereka menyaksikan pertarungan seperti itu.
Apalagi ketika kedua tokoh berilmu tinggi itu saling mengadu tenaga dalam. Darah me- rembes dari mata dan telinga Pendekar Tanpa Na- ma. Rupanya, pendekar yang telah sepuluh tahun lamanya mengundurkan diri dari rimba persilatan itu kewalahan menghadapi musuhnya. Meskipun seluruh kekuatan tenaga dalamnya telah dikerah- kan, ternyata kekuatan lawan berada di atas ke- mampuannya.
Kedua anak kembar itu menjerit melihat sang ayah gemetaran. Saat itulah istri Pendekar Tanpa Nama melepaskan pelukan Sunu Bagaskara dan Pratangga. Tubuhnya yang terbalut pakaian putih melesat ke tengah arena pertarungan. Ia ta- hu suaminya berada dalam keadaan yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.
* * *

"Hiaaa...!" Jrats! Sebuah pukulan keras yang dilakukan Wa- let Putih Dari Selatan menyambar leher Kolo Ma- reksa. Tubuh lelaki bertubuh tinggi dan besar itu oleng. Namun apa yang terjadi kemudian benar- benar mengejutkan istri Pendekar Tanpa Nama.
Tiba-tiba saja tubuh Kolo Mareksa berubah wujud menjadi dua. Di hadapan Walet Putih Dari Selatan kini berdiri dua sosok kembar Kolo Marek- sa.
"Heh, Ilmu 'Canda Birawa'...," gumam wani- ta itu dengan mata terbelalak, tak percaya.
Walet Putih Dari Selatan tentu saja kehera- nan. Dari mana Kolo Mareksa memperoleh ilmu yang menurut kabarnya telah punah ratusan ta- hun lalu?
"Ha ha ha...! Kau tentu heran melihatku memiliki Ilmu 'Canda Birawa'. Apa kau lupa, Walet Putih, Kolo Mareksa memiliki Ilmu 'Luluh Raga' yang mampu membuat orang tetap awet muda. Dengan bantuan ilmu itu aku melakukan tapa selama bertahun-tahun untuk memperoleh Ilmu 'Canda Birawa' yang punah dari muka bumi ini ra- tusan tahun silam. Ha ha ha...! Kini tak satu pun pendekar di rimba persilatan yang akan mampu mengalahkan Kolo Mareksa. Dan, kau harus mati di tanganku, Walet Putih! Kecuali kalau dirimu bersedia bersumpah tidak akan mencampuri uru- sanku selama hidupmu!"
Tergetar hati Walet Putih Dari Selatan men- dengar ancaman Kolo Mareksa.
"Sombong! Jangan kira aku akan menyerah begitu saja kepadamu, Kolo Mareksa!" dengus Wa- let Putih Dari Selatan penuh kemarahan. "Kita tuntaskan pertarungan ini!"
Sambil mengucapkan kata-kata itu Walet Putih Dari Selatan mundur dua tindak untuk mengambil jarak. Dengan penuh kewaspadaan tangannya bergerak meloloskan pedang yang ter- sampir di pundaknya. Sringng! "Hadapi senjata pusaka 'Pedang Wangi'-ku ini, Kolo Mareksa!"
Wuutt! Wuttt! Walet Putih Dari Selatan memutar senjata andalannya yang bernama Pedang Wangi. Deru angin putaran pedang menghembuskan aroma wangi. Namun, sebentar kemudian berubah men- jadi hawa panas yang menyengat. Walet Putih Dari Selatan melenting tinggi.
"Hiaaa...!" Begitu mendarat dua tombak dari tempat suaminya berdiri, wanita itu langsung melepaskan pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga da- lam tinggi. Tak pelak lagi, Kolo Mareksa yang ten- gah mengadu tenaga dalam dengan Pendekar Tan- pa Nama terkena serangan itu. Tubuhnya terdo- rong dua tombak ke belakang, lalu jatuh bergulin- gan di tanah.
Melihat Kolo Mareksa berusaha melancar- kan serangan balasan, wanita itu melompat dan menerjangnya. Sebuah tendangan keras tak mam- pu dielakkan Kolo Mareksa. Dadanya telak terten- dang.
Lelaki berpakaian merah itu terjungkal ke samping kanan. Namun, dengan cepat dia melom- pat bangkit.
"Perempuan Sundal, mampus kau!" Kolo Mareksa melompat melancarkan ten- dangan keras. Namun, wanita cantik itu memapa- kinya dengan pukulan tangan kanan.
Plakkk! "Ihh...!" Istri Pendekar Tanpa Nama terpekik kaget ketika tangannya berbenturan keras dengan kaki lawan. Dirasakan sekujur lengan kanannya berge- tar hebat. Tampaknya, kekuatan tenaga dalamnya berada di bawah lawan. Menyadari hal itu ia me- lompat untuk menghindari serangan susulan yang berupa pukulan tangan kanan.
Pendekar Tanpa Nama yang telah terluka parah beringsut-ingsut mendekati kedua putra kembarnya. Dia ingin menyelamatkan Sunu Ba- gaskara dan Pratangga, sementara istrinya meng- hadapi Kolo Mareksa. Lawan terlalu berat dan berbahaya. Kalau kedua putranya tidak segera dis- elamatkan bisa-bisa mereka menjadi korban ke- bengisan Kolo Mareksa. Pendekar Tanpa Nama melesat membawa pergi kedua anaknya.
Istri Pendekar Tanpa Nama yang dengan gi- gih menghadapi Kolo Mareksa memperlihatkan keunggulannya. Ternyata tidak percuma julukan Walet Putih Dari Selatan yang diberikan orang ke- padanya. Wanita itu terus mengerahkan jurus- jurus andalan.
Beberapa kali serangan gencar yang dilaku- kannya berhasil mendesak Kolo Mareksa. Adu te- naga dalam dilakukannya bersama Pendekar Tan- pa Nama ternyata telah menguras banyak tenaga dalam Kolo Mareksa.
"Hiaaatt...!" Walet Putih Dari Selatan melesat dengan membabatkan pedangnya ke arah dua sosok Kolo Mareksa. Namun dengan secepat kilat kedua sosok Kolo Mareksa itu melompat ke samping kanan dan kiri. Sehingga, babatan Pedang Wangi hanya men- genai tempat kosong.
Wanita berpakaian putih itu memutar tu- buhnya dan mengejar sosok Kolo Mareksa yang berada di sebelah kanan. Diburunya lelaki berpa- kaian merah itu dengan babatan dan tusukan pe- dang. Namun, Kolo Mareksa dengan tidak kalah cepatnya melompat lalu berjumpalitan ke bela- kang.
"Ha ha ha...! Hadapi dia sampai mati, Walet Putih!" ejek sosok Kolo Mareksa yang lain.
Mendengar ejekan itu berubahlah pikiran
Walet Putih Dari Selatan. Jangan-jangan yang ten- gah diburunya bukan sosok asli Kolo Mareksa.
"Bedebah! Heaatt...!" Sambil memutar tubuh dengan cepat, Walet Putih Dari Selatan menebaskan 'Pedang Wangi'- nya.
Wuuttt! Crrass! Tanpa memperdengarkan pekikan atau jeri- tan, sosok Kolo Mareksa yang tengah diburunya terjungkal dengan tubuh berlumuran darah. Luka menganga bekas babatan pedang terlihat di bagian dada. Namun apa yang terjadi kembali menge- jutkan wanita berpakaian putih itu. Kolo Mareksa yang terjungkal itu berubah wujud. Tubuh berpa- kaian merah itu kini bertambah lagi jumlahnya.
Dengan mata terbelalak, Walet Putih Dari Selatan memandangi kedua sosok jelmaan Kolo Mareksa. Hampir ia merasa putus asa. Mana mungkin menghadapi tiga lawan yang tak dapat mati?
"Inikah kehebatan Ilmu 'Canda Birawa' yang kesohor itu?" gumam Walet Putih Dari Selatan da- lam hati.
Ilmu 'Canda Birawa' memang memiliki kea- nehan tersendiri. Barang siapa yang menguasai ilmu itu ia akan mampu memperbanyak jumlah tubuhnya setiap terkena senjata lawan. Sehingga, sekuat dan se ampuh apa pun lawan yang meng- hadapinya akan mati kelelahan. Sosok-sosok jel- maan Ilmu 'Canda Birawa' memiliki kesaktian yang sama dengan sosok aslinya.
Ketika ketegangan dan rasa heran tengah mencekam Walet Putih Dari Selatan, tiba-tiba ber- kelebat sesosok bayangan coklat di belakang ru- mah. Sosok bayangan yang tak lain Pendekar Tan- pa Nama itu masuk ke rumahnya melalui pintu belakang. Tak lama kemudian, Pendekar Tanpa Nama telah melangkah keluar, kali ini lewat pintu depan. Rupanya, lelaki setengah baya itu mengam- bil senjata andalannya. Di tangan kiri tergenggam sebatang keris berukuran panjang melebihi uku- ran keris biasa. Warangkanya yang terbuat dari kayu jati hitam berukir gambar matahari terbit. Itulah keris yang sangat terkenal di dunia persila- tan selama dua puluh tahun terakhir ini. Keris Sakti Tanpa Wujud, begitulah nama senjata itu.
Begitu sampai di serambi depan Pendekar Tanpa Nama langsung melesat ke tengah kancah pertarungan. Dia ingin membantu istrinya yang tengah menghadapi keroyokan tiga sosok Kolo Ma- reksa.
"Kolo Mareksa! Hadapi aku!" teriak Pende- kar Tanpa Nama. Laki-laki itu mendarat beberapa tombak di dekat istrinya yang tengah bertarung melawan dua sosok Kolo Mareksa.
Sementara sosok Kolo Mareksa yang tengah memperhatikan pertarungan menoleh ke arah Pen- dekar Tanpa Nama.
"He he he...! Kau datang lagi, Pendekar Tan- pa Nama. Sia-sia saja kau kemari. Hanya akan mengantarkan nyawa kepadaku...."
Menyadari lawan telah mengeluarkan ilmu andalan untuk menghadapi Walet Putih Dari Selatan, Pendekar Tanpa Nama tak membuang-buang waktu. Diloloskannya keris pusaka dari warang- kanya
Srrats! Keris panjang dan lebar itu digenggam den- gan kedua tangan. Lalu, diangkatnya sampai ke atas kepala. Mata Pendekar Tanpa Nama terpejam sesaat. Lalu....
"'Aji Sirna Wujud'...! Heaaa...!" Teriakan ke- ras menggelegar dikeluarkan Pendekar Tanpa Na- ma. Tiba-tiba Keris Sakti Tanpa Wujud lenyap dari pandangan. Sekejap kemudian tubuh Pendekar Tanpa Nama ikut lenyap.
Kolo Mareksa tampak kaget menyaksikan kejadian itu. Matanya jelalatan ke sana kemari mencari Pendekar Tanpa Nama. Namun kemu- dian..... Sssts!
"Haaah...!" Kolo Mareksa tersentak kaget bukan main. Tiba-tiba sebelah lengannya terpotong dan jatuh ke tanah. Darah segar seketika mengucur deras dari lengannya yang buntung. Sedikit pun tak ada rasa sakit ketika lengannya terbabat keris lawan yang tak tampak.
Itulah kehebatan Keris Sakti Tanpa Wujud apabila dikerahkan dengan ajian 'Sirna Wujud'. Se- lain lawan tak mampu melihat ke mana arah gera- kannya, lawan pun akan terbabat atau tertusuk tanpa merasakan sakit.
Kolo Mareksa langsung berlompatan ke sa- na kemari disusul dengan lentingan-lentingan tubuh yang cepat. Itu dilakukan untuk menghindari serangan lawan. Dengan gerakan cepat dan tak terduga itu mungkin dirinya dapat mengelakkan serangan lawan yang tak nampak.
Namun tindakannya ternyata sia-sia. Sece- pat apa pun gerakan Kolo Mareksa tetap tak lepas dari pandangan lawan. Itu terbukti ketika suatu saat Kolo Mareksa kembali tersentak kaget. Kaki kanannya buntung dan terpental dari tubuhnya. Darah segar mengucur deras membasahi tanah kering di halaman rumah itu.
"Ha ha ha...! Apa yang akan kau lakukan, Kolo Mareksa" terdengar suara tawa tanpa wujud.
Kolo Mareksa kebingungan mencari Pende- kar Tanpa Nama. Suara itu terdengar dari berbagai arah dan berputar-putar. Kemudian, matanya ter- belalak kaget melihat kedua sosok jelmaan dirinya yang tengah menghadapi Walet Putih Dari Selatan berjatuhan dengan kaki buntung. Rupanya, mere- ka pun terbabat Keris Sakti Tanpa Wujud.
"Bedebah! Heaaa...!" Teriakan keras terdengar memekakkan te- linga. Bersamaan dengan berhentinya suara itu sosok-sosok tubuh Kolo Mareksa dan jelmaannya berubah menjadi banyak, seolah tubuh mereka mampu membelah diri. Bahkan, mereka yang tadi terluka dan berjatuhan kini bangkit kembali. Wa- jah mereka yang beringas dan menyeramkan seo- lah hendak menelan Walet Putih Dari Selatan yang tampak kebingungan. Wanita cantik berpakaian putih itu kini berada dalam kepungan sosok-sosok Kolo Mareksa.
Namun belum sempat sosok-sosok Kolo Ma- reksa yang berjumlah lima belas orang itu melan- carkan serangan, mendadak mereka menjerit ka- get. Tubuh-tubuh berpakaian serba merah itu ja- tuh bergulingan dengan tangan dan kaki buntung. Bahkan, dua orang di antaranya terbabat lehernya hingga putus.
Ketika lawan-lawannya berjatuhan Walet Putih Dari Selatan melesat dari tempatnya. Namun jelas sekali gerakannya tidak dilakukan sendiri. Seseorang telah membopong tubuhnya.
Salah satu sosok Kolo Mareksa memekik keras. Bersamaan dengan itu sosok-sosok lain membelah diri. Tanpa diperintah lagi, ketiga puluh sosok Kolo Mareksa secara bersamaan menghen- takkan tangan ke arah melesatnya tubuh Walet Putih Dari Selatan.
Srratss! Srratss! Belasan sinar kemerahan melesat begitu ce- pat menghantam tubuh Walet Putih Dari Selatan. Tak dapat dihindarkan, tubuh Walet Putih Dari Se- latan terpental dan jatuh bergulingan ke tanah di luar halaman rumahnya. Pekikan keras terdengar dari mulut wanita cantik itu, bersamaan dengan jeritan lain dari sosok tanpa wujud.
Namun ketika sosok tanpa wujud jatuh ke bumi nampaklah sosok Pendekar Tanpa Nama. Tubuhnya yang mengenakan pakaian coklat muda telah berubah hangus. Hanya kerisnya yang saat itu belum terlihat. Kedua tangan Pendekar Tanpa Wujud terbuka, berarti keris itu tidak ada di geng gamannya.
Rupanya, serangan yang dilakukan Kolo Mareksa dan sosok-sosok jelmaannya menghan- tam telak tubuh Pendekar Tanpa Nama yang ten- gah membopong istrinya. Sementara Walet Putih Dari Selatan sendiri terhindar dari serangan dah- syat itu. "Hua ha ha...! Suamimu tak akan mampu bertahan terhadap 'Pukulan Api Neraka'-ku, Walet Putih. Kini tinggal satu pilihan untukmu, nyawa- mu melayang bersama suamimu atau tetap hidup dengan satu janji. Kau tak akan mengganggu dan mencampuri urusanku," ujar Kolo Mareksa seraya melangkah mendekati Walet Putih Dari Selatar yang terkapar tak berdaya.
Hati wanita itu tergetar mendengar tawaran yang diucapkan Kolo Mareksa. Hati kecilnya meno- lak untuk tidak menyerang. Jiwa kependekaran- nya tak sudi menerima tawaran yang begitu me- rendahkan dirinya itu. Namun saat teringat kedua putra kembarnya yang masih kecil, perasaan itu sedikit luntur. Ingin rasanya ia menerima tawaran itu, namun mulutnya tetap bungkam. Hanya me- ringis-ringis menahan hawa panas yang mendera sekujur tubuhnya. Ia ragu dapat mengalahkan ke- hebatan Kolo Mareksa. Apalagi jika benar sua- minya akan tewas akibat pukulan dahsyat 'Api Ne- raka' tadi.
"Kau memang keras kepala, Walet Putih! Hih...!" Jrats!
Walet Putih Dari Selatan menjerit setinggi langit. Kolo Mareksa telah menghujamkan dua ja- rinya ke mata wanita itu. Seketika darah mengu- cur dari sepasang mata Walet Putih Dari Selatan. Rasa sakit yang tak terhingga dirasakannya. Pan- dangannya gelap. Ia tak mampu melihat apa pun di sekitarnya. Tubuhnya yang telah kehabisan te- naga berkelojotan sambil mengerang-erang kesaki- tan. Suara tawa berkepanjangan Kolo Mareksa makin lama makin menjauh dari tempat itu.
Kolo Mareksa dan sosok-sosok jelmaannya telah pergi. Tinggallah sepasang suami-istri, Pen- dekar Tanpa Nama dan Walet Putih Dari Selatan, yang menderita. Tersiksa oleh rasa sakit bercam- pur hawa panas yang mendera sekujur tubuh me- reka.
"Istriku...." Pendekar Tanpa Nama memanggil istrinya. Kepalanya bergerak perlahan ingin melihat kea- daan Walet Putih Dari Selatan yang mengerang- erang kesakitan.
"Bagaimana keadaanmu, Kakang?" "Aaah.... Inilah yang harus ditanggung orang-orang seperti kita. Aku rasanya tak kuat la- gi.... Ambillah Keris Sakti Tanpa Wujud dan bawa- lah ke tempat kediaman Resi Watuhumalang. Ke- dua anak kita kutitipkan kepadanya. Kuharap me- reka kelak akan mampu mengalahkan kedurja- naan Kolo Mareksa...."
Dengan hati penuh rasa iba Walet Putih Da- ri Selatan memeluk suaminya yang dalam keadaan sekarat. Sementara tangan kanan Pendekar Tanpa Nama tampak telah menggenggam kembali kerisnya. Rupanya tadi ketika Kolo Mareksa belum per- gi, keris itu dibiarkan tergeletak di samping tu- buhnya dalam keadaan tanpa wujud.
Setelah Keris Sakti Tanpa Wujud diberikan kepada Walet Putih Dari Selatan, Pendekar Tanpa Nama menghembuskan napas terakhir. Tamatlah riwayat pendekar itu.
Walet Putih Dari Selatan yang telah menga- lami kebutaan dengan tertatih-tatih melangkah meninggalkan suaminya. Hatinya hancur dan di- rundung kesedihan yang tak terkira. Wanita itu te- rus melangkah menuju tempat tinggal Resi Watu- humalang untuk menemui kedua putra kembar- nya.
* * *

Nyi Buyut Brintik menghentikan ceritanya sejenak. Dihelanya napas panjang. Kepalanya dito- lehkan ke kiri ke kanan dan dengan matanya yang terkatup rapat.
Suta Srengenge hanya diam membisu. "Hanya dua purnama aku berada di rumah Resi Watuhumalang. Kemudian, aku berpamitan untuk meninggalkan kedua putraku. Aku tinggal- kan ayah dan pamanmu. Mulai saat itulah aku pergi mengasingkan diri. Sengaja kupilih tempat ini yang tidak terlalu jauh dengan kediaman Resi Watuhumalang. Maksudku agar aku tetap selalu dekat dengan kedua putraku. Pada waktu-waktu tertentu kusempatkan menjenguk mereka secara diam-diam. Hingga kedua putraku menjadi pendekar aku tetap berada di sini. Aku tak tahu apakah Kolo Mareksa mengetahui kalau pendekar kembar adalah putraku. Yang jelas, suatu ketika kudengar kabar bahwa Sunu Bagaskara, ayahmu, terbunuh oleh anak buah Kolo Mareksa. Empat purnama kemudian pamanmu pun terbunuh. Ibumu yang tengah hamil tua mengandung dirimu ikut menjadi korban keganasan mereka. Untung saja aku dapat menyelamatkanmu...."
Suta Srengenge terdiam dengan wajah me- rah padam. Hatinya dipenuhi kemarahan dan dendam kesumat. "Betapa keji perbuatan Kolo Ma- reksa," gumam Suta Srengenge dalam hati.
Namun hal itu bukan tak diketahui Nyi Buyut Brintik. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu menden- gar kisah hidup keluargamu, Suta Srengenge. Ta- pi, kuharap engkau pandai-pandai menjaga diri, mengendalikan amarah dan perasaan dendammu," ujar Nyi Buyut Brintik yang dulu berjuluk Walet Putih Dari Selatan. "Aku sering mengatakan kepa- damu bahwa seorang pendekar yang berjiwa ksa- tria tidak layak memendam dendam kesumat. Seo- rang ksatria akan tetap berjiwa gagah. Sekalipun dendam membara di dalam hatinya. Ia harus mampu meredamnya hingga berubah menjadi sua- tu perasaan cinta kasih. Sebisa-bisanya seorang pendekar harus berbuat baik kepada sesamanya. Memang, seorang pendekar perlu bersikap keras dan tegar. Tapi ia juga harus bisa bersikap lembut seperti air. Harus mampu mendahulukan sikap diri yang menunjukkan budi luhur kita...."
"Aku tak mengerti apa yang kau maksud- kan, Buyut," ujar Suta Srengenge. Yang ia ketahui, seorang pendekar adalah orang yang keras, mam- pu memaksakan kehendaknya kepada setiap mu- suhnya. Apalagi jika musuh itu jelas-jelas telah bertindak durjana, menyebar maut di mana-mana dan meresahkan hidup orang banyak
"Kau masih terlalu hijau, Cucuku." Nenek bermata buta itu tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepala. Ia segera menyadari wejangannya yang terlalu panjang kurang dapat diterima cucunya. Seorang pemuda seperti Suta Srengenge masih diliputi hawa nafsu yang meng- gebu-gebu. Darah mudanya akan cepat naik jika melihat atau mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Apalagi jika hal itu jelas menying- gung pribadi dan martabat dirinya.
Namun, Nyi Buyut Brintik segera sadar kembali, pengalaman hidup seseorang akan men- ciptakan perubahan sikap dan sifat orang itu. Orang bisa lembut dan ganas tergantung pada pengalaman hidup yang dijalaninya.
"Maksudku seorang pendekar sejati hanya akan berjuang untuk menegakkan dan membela kebenaran. Bukan memusuhi atau membunuh se- samanya yang bertindak durjana. Yang harus kita tumpas adalah kedurjanaan, kejahatan, dan keangkaramurkaan. Bukan manusia yang berbuat durjana itu. Jadi, seorang pendekar sejati akan re- la memberi ampun kepada orang yang bertaubat dan menyadari kesalahannya. Kalau kita mampu berbuat seperti itu niscaya kedamaian akan tercip- ta di atas muka bumi. Tidak ada lagi permusuhan antara sesamanya...."
Nenek buta itu kembali menerangkan kepa- da cucunya. Pengasingan diri selama hampir se- tengah abad ini telah mematangkan jiwanya. Pe- nyucian diri yang dilakukannya dengan menjalani tapa bertahun-tahun menyadarkan dirinya bahwa kedamaian hanya akan tercipta jika keangkara- murkaan lenyap dari hati manusia.
"Buyut, bagaimana kalau si durjana itu tak bisa disadarkan dengan cara baik-baik?" tanya Su- ta Srengenge setelah terdiam beberapa lama.
Nyi Buyut Brintik tersenyum melihat kepo- losan cucunya.
"Itulah sebabnya mengapa kuajarkan ilmu bela diri kepadamu, Suta. Gunakan kepandaian yang kau miliki untuk menyadarkan mereka. Ka- lau dengan cara halus tak mempan, apa boleh buat. Untuk menumpas kejahatannya kita harus menumpas pelakunya!" tegas Nyi Buyut Brintik. "Kau harus berani menghadapi orang-orang durja- na. Kau tidak boleh mengeluh dan pantang menye- rah. Aku memberimu nama Suta Srengenge. Nama yang memiliki arti 'Putra Matahari'. Namamu tak berbeda dengan kedua putra kembarku. Sunu Ba- gaskara dan Pratangga. Keduanya memiliki arti yang sama, Putra Matahari. Bagi kebanyakan orang mungkin nama tidaklah berarti. Tapi bagiku nama dapat memberi semangat dan menggambar- kan jiwa pemiliknya. Kuharapkan hal ini terjadi pada semua keturunanku. Berbuatlah berani seperti ayah dan pamanmu. Mereka lebih baik mati daripada harus tunduk kepada nafsu setan yang menyesatkan...."
"Satu lagi yang ingin kutanyakan kepada- mu, Buyut. Bagaimana mungkin aku mampu menghadapi kehebatan Kolo Mareksa yang kini te- lah menjadi penguasa tertinggi dunia persilatan?"
"Itulah yang menjadi persoalanku saat ini, Suta. Kolo Mareksa memiliki Ilmu 'Luluh Raga' yang membuat dirinya tak pernah bisa tua. Seha- rusnya dia lebih tua usianya dariku. Aku sendiri telah hampir satu abad. Tapi perlu kau ketahui, Putra Matahari, 'Canda Birawa' yang dimiliki Kolo Mareksa ternyata bukanlah Ilmu 'Canda Birawa' yang sesungguhnya. Ini baru kuketahui setelah sekian tahun mengamati sepak terjangnya. Kau tahu aku sering keluar dari tempat pengasingan ini. Aku mencoba melihat dari dekat sepak terjang Kolo Mareksa...," jawab Nyi Buyut Brintik.
Nenek yang dulu dikenal dengan julukan Walet Putih Dari Selatan itu memang pada waktu- waktu tertentu keluar dari rumahnya. Dengan Ke- ris Sakti Tanpa Wujud dan Ilmu 'Sirna Wujud'-nya dia bisa menghilang dari pandangan mata orang. Sehingga, ia dapat dengan leluasa mengamati Kolo Mareksa yang setengah abad lalu pernah menga- lahkannya, "Ilmu 'Canda Birawa' yang sejati tidak akan menyebabkan pemiliknya melakukan tinda- kan durjana, Cucuku. Konon kabarnya ilmu itu dulu dimiliki seorang begawan, manusia setengah dewa yang berhati suci. Jadi, tak mungkin ia akan berbuat kejahatan. Ilmu yang dimiliki Kolo Mareksa bukanlah 'Canda Birawa' sejati, melainkan ilmu sihir yang sangat kuat. Untuk saat ini hanya ada satu pendekar yang mampu mengalahkan Kolo Mareksa. Kabar yang kudengar dari pembicaraan orang-orang persilatan, pendekar itu berjuluk si Pendekar Gila."
"Pendekar Gila?" Suta Srengenge tersenyum mendengar julukan itu.
Nyi Buyut Brintik kemudian menceritakan ciri-ciri pendekar itu, seperti yang sering didengar- nya dari orang-orang persilatan.
"Dia mempunyai ajian yang mampu membi- nasakan segala macam ilmu sihir dan siluman," lanjut Nyi Buyut Brintik. "Kini tugasmu yang per- tama adalah mencari Pendekar Gila. Saat ini orang-orang persilatan belum ada yang melaku- kannya. Mereka merasa ragu, apakah pendekar itu akan mampu mengalahkan Kolo Mareksa. Mereka tak ada yang mengira kalau ilmu yang dimiliki Ko- lo Mareksa itu ilmu sihir, bukan 'Canda Birawa' sejati." Nyi Buyut Brintik lalu bangkit dari duduk- nya. Kakinya melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di samping kanan.
"Suta Srengenge, ikutlah aku!" Nyi Buyut Brintik membuka pintu kamar yang terbuat dari kayu tebal. Suta Srengenge men- gikuti di belakang. Begitu sampai di dalam ruan- gan yang sangat gelap terasa oleh Suta Srengenge aroma harum yang menyemak menusuk hidung- nya. Baru kali ini Suta Srengenge diajak masuk ke ruangan itu. Padahal, sudah dua puluh tahun lamanya dia tinggal bersama Nyi Buyut Brintik.
"Lihatlah!" Nyi Buyut Brintik menunjuk ke sebuah peti kayu yang panjangnya lebih dari satu tombak. "Di sana tersimpan dua benda pusaka. Aroma wangi ini berasal dari pedangku yang ber- nama Pedang Wangi. Biarkan pedang itu tetap di tempatnya. Kau akan menerima warisan Keris Sakti Tanpa Wujud milik kakekmu, Pendekar Tan- pa Nama."
"Bukankah keris itu dulu telah kau serah- kan kepada ayah, buyut?" tanya Suta Srengenge.
"Akulah yang mengambilnya kembali ketika Sunu Bagaskara terbunuh secara licik oleh Kolo Mareksa...," jawab Nyi Buyut Brintik. Lalu, mem- beri isyarat kepada Suta Srengenge agar mengang- kat peti panjang itu.
Suta Srengenge berjalan mendekati peti be- risi dua benda pusaka milik keluarganya. Diang- katnya peti yang terbuat dari kayu jati berwarna hitam pekat itu.
"Heh?!" Suta Srengenge hampir tak percaya. Dia tak mampu mengangkat peti. Dicobanya sekali lagi. Kali ini dengan mengerahkan tenaga dalam. Na- mun, hati pemuda itu semakin heran. Kalau tadi peti bisa terangkat sendiri, kini bahkan ketika dia mengerahkan seluruh tenaga dalamnya peti itu bergeming pun tidak!
Nyi Buyut Brintik hanya tersenyum. "Ada sopan santunnya, Cucuku. Kita harus tahu cara untuk memegang senjata pusaka seperti itu. Apa- lagi jika baru pertama kali. Berlututlah. Pusatkan batin dan pikiranmu kepada benda yang akan kau ambil." Pemuda tampan berambut panjang dike- pang itu mengikuti perintah neneknya. Setelah berlutut sesaat di depan peti, dia mulai mengang- kat peti kayu itu. Dan, ternyata benar. Tanpa be- ban sedikit pun peti kayu berhasil diangkatnya. Lalu, dibawanya peti itu keluar ruangan.
Nyi Buyut Brintik membuka peti. Terlihat- lah sebatang pedang dan sebuah keris dengan wa- rangka kayu hitam mengkilap. Kerisnya berukuran panjang dan lebar, sedangkan pedangnya seperti ukuran pedang biasa. Diambilnya keris yang beru- kuran tidak seperti biasanya, lalu diserahkan ke- pada Suta Srengenge.
Pemuda itu menerimanya. Diciumnya ujung tangkai keris.
"Inikah Keris Sakti Tanpa Wujud, Buyut?" tanya Suta Srengenge kemudian.
Nyi Buyut Brintik mengangguk. "Gunakan keris itu untuk memerangi kejahatan, Cucuku. Penggabungan antara keampuhan keris itu dengan Ilmu 'Sirna Wujud' yang pernah kuajarkan kepa- damu akan membuat lawan tak mampu melihat tubuhmu."
Suta Srengenge mengangguk mengiyakan. Rasa bangga dapat memiliki senjata pusaka yang pernah mengharumkan nama keluarganya seketi- ka menyemak di hati pemuda itu. Betapa dirinya akan menjadi seorang pendekar hebat di dunia persilatan kelak. Seperti kakek, ayah, atau pa- mannya.
"Akan selalu aku ingat semua pesanmu, Buyut. Aku mohon doa restumu...."
"Berangkatlah! Buyut akan tetap berada di sini. Aku ingin menjalankan pertapaanku hingga akhir hayatku!"
Suta Srengenge bangkit dari duduknya. Ia melangkah menuju pintu. Nyi Buyut Brintik men- gikuti cucunya sampai di ambang pintu. Dengan berat hati karena harus berpisah dengan nenek- nya, Suta Srengenge melangkah meninggalkan gu- buk bambu.
Seakan mampu melihat dengan kedua ma- tanya yang buta, Nyi Buyut Brintik memandangi keberangkatan Suta Srengenge. Pemuda itu terus menaiki tebing batu cadas yang mengapit lembah tempat tinggalnya selama ini.
Sampai di atas, Suta Srengenge membalik- kan tubuh. Dipandanginya gubuk bambu nenek- nya dan semua yang ada di sekitar tempat itu. Ha- tinya tak rela berpisah dengan tempat tinggalnya.
"Selamat tinggal, Buyut," gumam Suta Srengenge seraya memandangi neneknya.
Nyi Buyut Brintik tersenyum seolah men- dengar ucapan cucunya. Tak lama kemudian, pe- muda berambut panjang dikepang melesat ke arah utara.
***

3
Keberadaan Kolo Mareksa yang menobatkan diri sebagai tokoh nomor satu rimba persilatan ternyata tidak hanya menggemparkan tokoh-tokoh persilatan. Sepak terjang yang dilakukan anak buahnya pun kian hari kian meresahkan masya- rakat. Di sana-sini terdengar keributan. Perampo- kan terjadi di wilayah selatan. Penculikan terhadap wanita, terutama gadis-gadis desa, semakin sering terdengar.
Anak buah Kolo Mareksa tak segan-segan menganiaya. Bahkan, membunuh siapa pun yang membangkang keinginan mereka. Tak satu pun orang yang berani bertindak. Anak buah Kolo Ma- reksa yang dikenal dengan sebutan Setan Merah, karena mereka selalu mengenakan pakaian serba merah, tak pernah pandang bulu. Lurah dibunuh. Rakyat kecil dianiaya kalau tidak mau menyerah- kan anak gadis mereka.
Semua orang tentu mengetahui apa yang akan dialami anak gadisnya jika diserahkan kepa- da Kolo Mareksa. Namun, mereka tiada berdaya untuk menolak. Begitu pula setiap kali anak buah Kolo Mareksa datang meminta upeti. Orang akan menyerahkan saja. Tangis pilu mengiringi kebe- rangkatan anak gadis mereka. Dan, tangisan seru- pa akan kembali terjadi manakala anak gadisnya dipulangkan ke rumah beberapa bulan kemudian.
Mereka akan segera mendengar kisah sedih yang dialami para wanita piaraan Kolo Mareksa.
Gadis-gadis cantik dipaksa melayani nafsu setan Kolo Mareksa dan para anak buahnya.
Bertahun-tahun keadaan seperti itu ber- langsung. Orang semakin lama menganggap hal itu sebagai sesuatu yang harus terjadi. Mau apa? Melawan jelas tak mampu. Menolak, kematian yang akan didapatnya.
Di rumah orang resah. Di pasar orang re- sah. Di sawah atau ladang pun setali tiga uang. Bahaya selalu mengancam.
* * *

Di sebuah pasar yang cukup ramai pagi itu menjadi ajang keributan. Empat lelaki berpakaian merah turun dari kuda. Mereka melangkah masuk ke pasar. Satu-persatu para pedagang menyerah- kan upeti yang memang telah dipersiapkan.
Tanpa sepengetahuan mereka, di sebuah kedai makan di depan pasar, sepasang mata ten- gah mengawasi. Mata tajam seorang pemuda ber- pakaian putih itu terus mengawasi keempat anak buah Kolo Mareksa.
"Ehm.... Siapa mereka itu, Pak?" tanya pe- muda berpakaian putih. Rambutnya dikepang dan dikalungkan di leher.
Lelaki tua pemilik kedai menjawab dengan berbisik, "Mereka anak buah Kolo Mareksa. Setiap pagi kami harus membayar upeti kepada mereka."
Pemuda berpakaian putih mengerutkan kening. "Apa itu upeti?" tanyanya dalam hati. "Pak, apa upeti itu?" tanyanya kemudian.
"Ssstt...! Mereka datang," sahut lelaki tua pemilik kedai.
Keempat anak buah Kolo Mareksa berjalan menuju kedai itu. Sebelum sampai di kedai mereka berhenti di depan seorang pedagang buah yang be- rada dekat pintu pasar.
"Ampun, Tuan. Pagi ini saya belum menda- patkan uang. Belum satu pun orang yang membeli dagangan saya...."
"Heh! Goblok! Berapa kali kuperingatkan, bawa uang dari rumah. Bukankah kau tahu setiap pagi aku akan datang?!" bentak lelaki bertubuh tinggi besar dengan mata melotot lebar.
Lelaki tua pedagang buah terbungkuk- bungkuk ketakutan. Tubuhnya yang kurus tam- pak bergemetaran.
"A... ampun, Tuan. Saya selalu ingat itu. Tapi kemarin saya tidak banyak mendapat pembe- li. Dagangan ini pun sisa kemarin...."
"Bodoh!" Plakkk! "Aduh! Ampun, Tuan. Saya akan membayar dua kali lipat besok pagi. Saya berjanji, Tuan."
Lelaki tua itu meringis kesakitan. Di sudut bibirnya menetes darah karena digampar lelaki bercambang lebat.
Tiba-tiba salah seorang dari empat lelaki berpakaian merah mencabut golok. Lalu, diang- katnya hendak membabat pedagang buah. Namun belum sempat golok itu membacok, sesosok bayangan melesat.
Trrapp!
Lelaki yang membabatkan golok tersentak kaget. Golok di tangannya terhenti di tengah jalan. Ketika menoleh, dilihatnya seorang lelaki berpa- kaian putih telah mencekal goloknya.
"Kurang ajar! Siapa kau?!" bentak lelaki berwajah bengis itu seraya menarik goloknya. Na- mun begitu kuat cekalan tangan pemuda itu. Se- dikit pun goloknya tak bergeming.
"Tidak bisakah kalian bersikap sopan sedi- kit terhadap orang tua ini?" tanya pemuda berpa- kaian putih, dingin.
"Berani mati kau mencampuri urusan Ma- haguru Kolo Mareksa!"
Dua orang lelaki berpakaian merah merang- sek maju. Tendangan dan pukulan dilancarkan ke arah pemuda berpakaian putih. Namun dengan gerakan cepat pemuda berambut dikepang itu ber- jumpalitan ke belakang. Lelaki berpakaian merah yang telah mencabut goloknya tidak mau ketingga- lan. Dengan penuh kegeraman dia memburu pe- muda berpakaian putih yang punggungnya ter- sampir keris panjang.
Seketika pertarungan satu lawan empat ter- jadi.
Orang-orang pasar berlarian keluar menuju tempat pertarungan. Mereka terkejut melihat pe- muda berambut kepang. Sungguh berani pemuda itu, pikir orang-orang itu. Namun ketika melihat betapa pemuda itu mampu mengatasi setiap se- rangan lawan, mereka jadi berdecak kagum.
Pemuda berwajah tampan itu ternyata bu- kan orang sembarangan. Ilmu silat yang dimilikinya mampu menghadapi keroyokan ketiga lelaki berpakaian merah.
"Siapa pemuda itu?" "Berani benar dia menantang anak buah Kolo Mareksa...."
Gumaman-gumaman terdengar dari bebe- rapa orang yang berkerumun menyaksikan perta- rungan. Tentu saja mereka tak menduga ada seo- rang pemuda yang berani menantang anak buah Kolo Mareksa.
Sementara itu, lelaki tinggi besar dan ber- kumis melintang yang membentak pedagang buah berdiri menyaksikan pertarungan ketiga kawan- nya. Dalam hati dia merasa kagum melihat ke- mampuan pemuda itu.
Di kancah pertarungan, pemuda berpakaian putih, melenting ke udara ketika dua orang lawan yang telah mencabut golok membabat ke arahnya. Sambil meluncur turun kedua kaki pemuda itu melancarkan serangan.
Dua orang lelaki berpakaian merah yang tak sempat mengelak menjerit keras. Kedua kaki la- wan mendarat telak di dada dan kepala mereka. Kedua anak buah Kolo Mareksa itu terdorong be- berapa langkah ke belakang. Mulut mereka menge- luarkan darah.
Melihat kejadian itu beberapa orang yang berkerumun bertepuk tangan. Ada pula yang ber- suit memberi semangat kepada pemuda berpa- kaian putih.
"Biar mampus begundal-begundal Kolo Ma- reksa itu," kata seorang lelaki setengah baya kepada kawannya.
Lelaki berkumis melintang yang sejak tadi menyaksikan perkelahian menjadi geram. Tubuh- nya melesat memasuki arena pertarungan. Sejenak pertarungan terhenti ketika lelaki berwajah bengis itu membentak.
"Anak muda, siapakah kau sebenarnya?!" "Untuk apa kau tanyakan namaku?" Pemu- da itu balik bertanya. Sorot matanya tajam menen- tang pandang lelaki berwajah bengis. "Asal kau ta- hu saja, akulah yang akan membantai Kolo Ma- reksa!" "He he he...! Hadapi dulu Gopras!"
Lelaki berkumis melintang langsung melesat dan memutar kedua tangannya. Ternyata lelaki bernama Gopras itu tidak hanya bermulut besar. Gerakan tangannya yang cepat menerbitkan suara menderu.
Dengan sikap begitu tenang pemuda be- rambut dikepang menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri menghindari pukulan lawan.
Blukkk! Satu pukulan keras mendarat telak di pun- dak pemuda berpakaian putih. Tubuhnya sem- poyongan beberapa langkah ke samping kanan. Dengan cepat dia segera memulihkan keseimban- gan badannya. Begitu Gopras kembali melancar- kan serangan, kedua tangan pemuda berpakaian putih terbuka dengan cepat.
Plakkk! Benturan keras terjadi. Keduanya terdorong ke belakang. Tampaknya kedua belah pihak mengerahkan tenaga dalam.
Lelaki bengis itu tak ingin memberi kesem- patan. Tubuhnya melompat sambil melancarkan tendangan keras. Pemuda berpakaian putih mem- buang tubuhnya ke kiri, lalu bergulingan di tanah. Saat itulah Gopras membalikkan tubuh dan menghujaninya dengan tendangan-tendangan maut. Tubuh pemuda berambut dikepang terus bergulingan. Kini rambutnya yang tadi terkalung di leher lepas dan ikut berputaran bersama tubuh- nya.
"Heaaa!" Ketika mendapat kesempatan, pemuda itu melompat bangkit dengan bertumpu pada kedua telapak tangan. Begitu gesit dan ringan gerakan pemuda itu. Dalam sekejap tubuhnya telah berdiri tegak. Kedua tangannya yang membentuk cakar membentang lebar ke atas. Kaki-kakinya terpen- tang dengan dada dibusungkan
"Walet Putih Menyergap Mangsa!"ujar pe- muda itu keras.
Matanya yang tajam menatap wajah Gopras. Lawannya itu tengah mempersiapkan jurus anda- lan.
Orang-orang pasar kelihatan tegang. Ada yang berbisik-bisik kepada kawannya. Tampaknya mereka menaruh harapan pada kemenangan pe- muda berpakaian putih.
"Bunuh saja si Gopras!" kata seorang lelaki setengah baya yang berdiri di depan kedai.
"Heaaa...!" Dengan penuh kegeraman Gopras melesat melancarkan serangan. Tubuhnya berputar di udara dengan kedua tangan ikut berputar cepat.
Pemuda berpakaian putih segera melompat ke samping. Begitu serangan itu lewat, dia melan- carkan tendangan ke tubuh lawan.
Blukkk! Tendangan itu telak mendarat di punggung Gopras. Lelaki berkumis melintang itu terhuyung- huyung hampir jatuh terjerembab. Namun, dengan mulut mengeluarkan geraman keras Gopras kem- bali melancarkan serangan.
Kedua tangannya yang membentuk cakar meluncur ke wajah lawan. Tetapi, pemuda berpa- kaian putih segera menjulurkan tangan dengan bentuk serupa. Terjadilah benturan keras. Kedua- nya terdorong ke belakang. Lalu, kembali melesat dan bertarung dalam jarak dekat. Sampai akhir- nya, sebuah pukulan yang dikerahkan dengan te- naga dalam tinggi mendarat telak ke dada Gopras. Tubuh lelaki berpakaian merah itu terlontar bebe- rapa tombak sampai di depan kedai. Mulutnya mengerang kesakitan.
Melihat Gopras memuntahkan darah segar, ketiga kawannya segera bergerak mengeroyok pe- muda berpakaian putih. Dengan senjata terhunus mereka kembali menyerang. Pemuda berpakaian putih dengan mudah mengatasi serangan mereka.
Sambil melenting ke atas kedua kakinya menendang dua orang lawannya. Pekikan keras terdengar hampir bersamaan. Tubuh kedua lelaki berpakaian merah terjungkal ke tanah.
Seorang lagi yang membabatkan goloknya terpental ke belakang. Ternyata, pemuda berpa- kaian putih telah lebih dulu menyerangkan puku- lan tangan kanan ke dada lawan.
Ketiga lelaki berpakaian merah bangkit ber- diri hendak kembali melancarkan serangan. Na- mun ketika mereka melihat Gopras melarikan diri dengar menunggang kuda, ketiganya segera mele- sat kabur.
Pemuda tampan berpakaian putih tidak me- lakukan pengejaran. Sambil membersihkan pa- kaiannya, pemuda itu melangkah menuju kedai tempatnya singgah tadi. Orang-orang langsung menyambutnya dengan senyum. Ada yang berjabat tangan sambil membungkukkan badan memberi hormat. "Hati-hati terhadap mereka," ujar seorang lelaki.
"Aduh, terima kasih. Den." Lelaki tua peda- gang buah bergegas mendekati pemuda berpa- kaian putih. "Bagaimana jadinya saya tadi kalau tidak ada Aden."
Pemuda berambut dikepang hanya terse- nyum dan terus melangkah menuju kedai. Tak ha- bis-habisnya orang berdecak kagum melihat kebe- raniannya. Tersirat di hati mereka rasa bangga. In- ilah pertama kali seorang pendekar muda berani menantang Kolo Mareksa, begitu pikir orang-orang itu.
Tak lama kemudian, suasana kembali se- perti semula. Para pedagang kembali ke tempat ju- alan masing-masing. Sementara pemuda berpa- kaian putih setelah membayar makan pada pemilik kedai segera pergi meninggalkan pasar.
***

4
Debu kering beterbangan dihembuskan an- gin yang bertiup kencang. Matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya yang terik menimbulkan hawa panas.
Dari kejauhan tampak dua sosok tubuh berlari ke arah timur. Yang satu seorang pemuda bertubuh gagah yang mengenakan rompi kulit ular. Kawannya yang bertubuh gemuk dan berpe- rut buncit juga mengenakan rompi. Tapi bukan dari kulit ular, melainkan dari kain abu-abu yang sudah agak kumal
"Aduh.... Ke mana kita akan mencari tempat berteduh, Kakang?" pemuda bertubuh gemuk dan berkepala botak menghentikan larinya. Napasnya terengah-engah kecapekan. Selembar daun jati kering di tangan kanannya dikibas-kibaskan un- tuk mengusir hawa panas.
"Lihat di sana, Gol. Ada hutan jati...," ujar pemuda berpakaian rompi kulit ular dengan terta- wa cengengesan.
"Iya. Tapi, semua pohon jati itu tak berdaun sama sekali. Di mana kita bisa berteduh, Kakang Sena?" "Aha..., kamu ini bagaimana, Gol? Baru be- gitu saja sudah mengeluh. Katanya mau jadi pendekar. Seorang pendekar pantang mengeluh, Do- gol," jawab pemuda berompi kulit ular yang tak lain Sena Manggala.
Pemuda bertingkah aneh yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila itu menggeleng- gelengkan kepala sambil tersenyum-senyum. Dia mengejek Dogol yang kecapekan. Suara tawanya terdengar ketika melihat bibir Dogol yang tebal itu bagai hendak jatuh.
"Hi hi hi...! Ayo, Gol!" Sena Manggala melesat meninggalkan Do- gol. Meskipun rasa lelah merejam sekujur tubuh- nya, pemuda bertubuh gendut itu akhirnya berlari juga mengikuti Sena Manggala. Kedua pemuda yang perbedaannya tampak sangat menyolok se- perti saling kejar. Keduanya menuju hutan jati gundul yang daun-daunnya telah berguguran ka- rena musim kemarau.
Tak lama kemudian, Sena atau Pendekar Gila telah sampai di tepi hutan. Dia tertawa men- gejek Dogol yang tampak lucu berlari ke arahnya. Tubuhnya yang gendut dan berperut buncit ber- goyang-goyang.
"Gol...! Ayo cepat. Hujan hampir turun. Nanti basah kuyup tubuhmu. Den Dogol!" ejek Se- na.
Akhirnya Dogol pun sampai. Begitu berada di depan Sena, tubuh gendut dan berkepala botak itu jatuh. Napasnya terengah-engah hampir putus. Dadanya naik turun cepat sekali.
"Ampuun... Ampuun ya, Gusti!" seru Dogol. Daun jati di tangan kanannya dikipas-kipaskan ke tubuh. "Haahh.... Hampir putus napasku, Kakang Sena. Di mana kita bisa mendapat setetes air tem- pat seperti ini...?" keluhnya dengan wajah meme- las.
"Hi hi hi.... Jangan khawatir, Dogol. Lihat, jalanan yang kita lewati tadi bekasnya seperti ser- ing dilewati orang. Aku yakin tak jauh dari sini kita akar menemukan sebuah desa," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Rambutnya yang ikal tampak sedikit basah oleh keringat. Di dada, leher, dan keningnya mengalir butir-butir keringat. Tidak dapat dipungkiri kalau pendekar muda itu pun se- benarnya juga kepanasan dan kelelahan. Tetapi, hal itu tidak diperlihatkannya kepada Dogol.
Agak lama kedua pemuda itu beristirahat di bawah pohon jati. Meskipun tanpa daun, tapi ke- rapatan pohon-pohonnya cukup memberi ketedu- han bagi mereka.
Sena Manggala duduk bersandar pada ba- tang pohon. Tangannya mengipas-kipaskan daun jati. Sementara Dogol tertidur di sampingnya. Se- bentar saja pemuda bertubuh tambun itu telah terlelap. Perutnya yang buncit kembang-kempis seiring dengan bunyi mengorok dari mulutnya.
"Hi hi hi.... Ada kodok tidur ngorok," ujar Sena sambil tertawa cekikikan.
Sena mencabut sebatang rumput kering. Lalu perlahan-lahan dikiliknya telinga Dogol yang tengah tidur. Mungkin karena terlalu pulas Dogol tidak terbangun. Hanya mulutnya yang meringis- ringis merasa geli. Tangan kirinya bergerak hendak menepiskan. Tapi, dengan cepat Sena menarik rumput itu dari telinga Dogol. Sebentar kemudian ketika Dogol kembali tertidur, Sena mulai lagi den- gan keisengannya. Kini dia berpindah mengilik lu- bang hidung Dogol yang besar dan dipenuhi bulu- bulu halus. "Haajing...!"
Cepat Sena menarik tangannya ketika Dogol mengeluarkan suara bersin yang keras. Sena ter- tawa cekikikan melihat Dogol kembali tertidur se- telah mengucek-ucek hidungnya.
Namun ketika Sena hendak kembali meng- ganggu Dogol, gerakannya terhenti. Tiba-tiba saja telinganya menangkap suara deru kaki-kaki kuda di kejauhan. Sambil mengerutkan kening, dia me- nelengkan kepala untuk mempertajam pendenga- rannya.
* * *

"Heaaa...! Heaaa...!" "Heaaa.,.! Heaaa...!" Bentakan-bentakan keras dikeluarkan em- pat orang lelaki berpakaian merah yang tengah menggebah kuda-kuda tunggangannya. Sementara kira-kira seratus tombak di depan mereka sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda melaju cepat. Sang kusir yang mengenakan pakaian lurik lengan panjang tak henti-hentinya menyabeti kuda-kuda dengan cemetinya. Rupanya, kereta itu sedang menghindari kejaran keempat penunggang kuda di belakangnya.
"Ha ha ha...! Mau lari ke mana kau, Tan- trayana? Kalian takkan bisa lepas dari kejaran kami...!" seru lelaki berwajah bengis yang menung- gang kuda paling depan.
Dari dalam kereta kuda terdengar suara seorang wanita berteriak- teriak.
"Paman Subali, Paman Subali! Terus diper- cepat lari kuda-kuda itu. Jangan sampai mereka menangkap kita sebelum sampai di rumah Eyang!"
Tanpa memberi jawaban, kusir kereta terus menghentak-hentakkan tali kekang kuda, semen- tara tangan kanannya mencambuki kuda-kuda itu.
"Hea! Heaaa!" Gemeretak suara roda kereta yang melindas jalan tanah berdebu terdengar di sela-sela teriakan para penunggang kuda yang mengejarnya. Kusir kereta terus sibuk mengendalikan kuda-kuda. Se- sekali kepalanya menoleh ke belakang dan kembali mencambuki kuda-kuda itu.
Sayang, secepat apa pun kereta kuda itu berlari para penunggang kuda di belakangnya te- tap mampu mengejar. Jarak antara mereka kini hanya tinggal lima tombak lagi. . "Heaaa...!" Tiba- tiba, penunggang kuda yang berada paling depan menggebah kudanya hingga berlari lebih kencang. Ketika lelaki berpakaian merah itu berada tepat di samping kanan kusir kereta, dia mencabut pedang yang tersampir di pundaknya. Cepat pedang itu dibabatkan ke tangan sang kusir. "Huup! Heaaatt...!"
Namun, sang kusir yang bernama Subali ternyata bertindak lebih cepat. Ditariknya dengan kuat tali kekang kuda. Seketika keempat kuda itu berhenti. Namun, kuda yang berada paling depan meringkik keras dan melompat tinggi-tinggi. Le- hernya mengucurkan darah segar. Ternyata, baba- tan pedang lelaki berpakaian merah mengenai leh- er kuda itu.
Subali melompat ke depan seraya melan- carkan tendangan keras. Penunggang kuda yang berhenti di depan kereta itu terguling di tanah. Tendangan keras Subali mendarat di punggung- nya. Ketika lelaki berpakaian merah itu melompat bangkit, Subali melesat memberikan serangan su- sulan. Tangan kanannya yang telah menggenggam sebilah pedang berkelebat cepat membabat leher lawan. Trang!
Benturan keras terjadi. Lelaki berpakaian merah mampu menangkis serangan Subali dengan pedangnya yang ternoda darah kuda. Terjadilah pertarungan sengit antara Subali dengan lelaki berpakaian merah.
Sementara itu, tiga orang penunggang kuda yang lain telah sampai di tempat pertarungan. Me- reka langsung melompat turun dan mendekati pin- tu kereta dengan pedang terhunus. Namun belum sampai mereka menjamah pintu kereta, mendadak pintu itu terbuka. "Heaaa...!"
Sesosok tubuh berpakaian kuning melesat dari dalam kereta dan langsung melancarkan se- rangan. Sepasang trisula pendek di tangannya berputar cepat.
Benturan-benturan pun tak dapat dihindari lagi ketika sepasang trisula itu dipapaki pedang lawan. Ketiga lelaki berpakaian merah berlompa- tan menghindar. Ketika sosok berpakaian kuning mendarat di tanah tampaklah kini wajahnya. Dia seorang lelaki lima puluh tahunan dengan tubuh tinggi semampai dan berwajah bersih. Rambutnya yang sebagian telah memutih terikat kain lurik berwarna coklat.
"Kau akan menghadapi kesulitan besar atas penolakanmu terhadap permintaan Mahaguru Ko- lo Mareksa, Tantrayana! Sampai di mana pun kami akan mencarimu. Sekarang, kalau kau sayang nyawamu, serahkan putrimu kepada kami. Jangan khawatir, anakmu akan hidup berbahagia bersama Mahaguru Kolo Mareksa!"
"Chuih! Lebih baik mati daripada hidup menjadi budak iblis Kolo Mareksa itu!" dengus le- laki berpakaian kuning. "Langkahi dulu mayatku untuk dapat membawa Laras."
"Kurang ajar! Tangkap dia...!" perintah lelaki berwajah bengis kepada kedua kawannya.
Tanpa diperintah dua kali, kedua lelaki itu segera bergerak maju menyerang Ki Lurah Tan- trayana. Mereka membabat dan menusukkan pe- dangnya ke tubuh lelaki berpakaian kuning. Na- mun, Ki Lurah Tantrayana telah lebih dulu me- lompat ke belakang mengelakkan serangan. Ke- mudian, meliukkan tubuh merendah seraya me- nusukkan kedua trisulanya.
Wuuttt! Trakkk! Lelaki berpakaian kuning itu sempoyongan ketika sepasang trisulanya berhasil dipapaki pedang lawan. Saat itulah seorang lawannya melom- pat sambil membabatkan pedang. Melihat maut mengancam dirinya, dengan cepat Ki Lurah Tan- trayana melempar tubuh ke samping kanan. Baba- tan pedang lawan pun berhasil dielakkannya.
Tapi, lawan yang lain tampaknya tak ingin memberi kesempatan kepada Ki Lurah Tantrayana. Begitu melihat lelaki berpakaian kuning itu berha- sil mengelak, dia langsung memburunya. Semen- tara Ki Lurah Tantrayana belum dapat bangkit dari tergulingnya. Maka....
Jrrabs! Lolong kesakitan terdengar dari mulut Ki Lurah Tantrayana. Tubuhnya berkelojotan dengan dada robek terbabat pedang lawan. Darah segar muncrat dari dadanya.
"Ayaaah...!" Terdengar jeritan dari dalam kereta. Seo- rang wanita cantik yang tak lain Laras, putri Ki Lurah Tantrayana, melompat dari tempat duduk- nya.
Di tempat lain, Subali yang masih bertarung dengan lawannya juga terkejut mendengar jeritan Ki Lurah Tantrayana. Ketika kepalanya menoleh ke belakang, serta-merta lawannya bergerak cepat membabatkan pedang.
Subali yang tengah lengah menjerit kaget ketika pedang lawan membabat punggungnya. Le- laki setengah baya berpakaian lurik itu terjungkal dengan tubuh berlumuran darah. Dia berusaha bangkit berdiri dengan tubuh sempoyongan. Na- mun, lelaki berpakaian merah yang menjadi lawannya telah bergerak cepat. Sekali lagi ujung pe- dangnya mendarat di perut Subali. Seketika Subali ambruk ke tanah dan tak berkutik lagi.
* * *

"Dogol! Dogol! Bangun, Dogol!" Sena Mang- gala menggoyang-goyangkan tubuh Dogol yang ter- tidur pulas di atas rerumputan kering. "Gol, ban- gun, Gol...!"
"Haits! Ups.... Heh?!" Pemuda bertubuh tambun itu terbangun dengan geragapan. Tanpa sadar tangannya berge- rak-gerak cepat memainkan jurus-jurus silat.
"Hi hi hi...! Hebat kau, Gol!" Sena Manggala terkekeh melihat tingkah Dogol yang lucu. Mung- kin pemuda berkepala botak itu mengira sedang berhadapan dengan musuh.
"Mimpi apa kau, Gol?" "Aduuh, Kakang Sena, membuatku kaget saja...," ujar Dogol kemudian ketika telah sadar dari rasa kagetnya. Ia mengusap bibirnya yang ba- sah. Ada cairan mengalir di sudut bibir itu.
"Aku mendengar langkah kaki kuda yang saling berkejaran. Tapi, tak lama kemudian mere- ka berhenti. Lalu barusan kudengar suara jeritan. Mungkin ini petunjuk pertama bagi kita, Gol. Ayo, kita lihat apa yang terjadi di sana!"
Pendekar Gila melesat ke arah timur. Dogol bergegas mengikuti. Ternyata tempat suara jeritan itu berasal masih jauh dari hutan jati. Itu sebab- nya meskipun tadi Sena telah mengerahkan ilmu
'Sapta Pangrungu' yang mampu menangkap suara dari jarak jauh, ia tidak dapat mendengar suara pertempuran.
* * *

Laras menangis tersedu-sedu dengan me- meluk tubuh ayahnya yang berlumuran darah. "Kalian manusia keji. Biadab!" teriak gadis cantik berambut panjang itu. Ditatapnya satu persatu wajah keempat lelaki berpakaian merah yang telah membunuh Subali dan melukai ayahnya.
"He he he...! Untuk apa kau bersikeras me- nolak lamaran Mahaguru Kolo Majeksa, Anak Ma- nis? Kau tahu sekarang apa akibatnya. Ayolah, ikut kami!" Lelaki berpakaian merah itu kemudian mendekati Laras. Begitu tiba dekat, tangannya dengan cepat melayang, menotok tubuh wanita cantik itu. Seketika tubuh Laras terkulai lemas. Gadis itu merintih pilu ketika lelaki berpakaian merah membopong tubuhnya. Sedikit pun ia tak mampu melawan. Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya. Laras dimasukkan ke dalam kereta. Salah satu dari keempat anak buah Kolo Mareksa duduk di kursi kusir. Diputarnya arah kereta dan segera dipacunya. Walau salah seekor dari keempat kuda kereta terluka, namun masih dapat berlari. Ketiga kawannya mengiringi dari belakang. Mereka me- ninggalkan tubuh Ki Lurah Tantrayana dan Subali yang tergeletak berlumuran darah di atas jalan ta- nah berdebu.
Tidak lama kemudian, sampailah Pendekar Gila dan Dogol di tempat itu. Mereka terkejut me- nyaksikan pemandangan di sana. Sena segera ber- lari mendekati Ki Lurah Tantrayana ketika melihat lelaki berpakaian kuning itu sedikit menggeliatkan tubuhnya. Sena berjongkok ke samping tubuh Ki Lurah Tantrayana.
"Apa yang telah terjadi...?" Ki Lurah Tantrayana membuka sedikit ma- tanya. Setelah tercenung sesaat mendadak mata itu membelalak lebar melihat sosok yang berjong- kok di sampingnya. "Be... benarkah Tuan yang berjuluk Pendekar Gila...?" tanyanya dengan ter- putus-putus.
"Begitulah orang menyebutku, Ki. Siapa yang telah melakukan kekejian ini?"
"Tuan Pendekar, tidak sedikit orang yang bernasib buruk seperti diriku ini. Mereka..., akh...." Belum sempat Ki Lurah Tantrayana menye- lesaikan kata-katanya, nyawa lelaki itu telah me- layang dari raga. Pendekar Gila segera berdiri dan menoleh ke arah Dogol yang tertegun bingung.
"Gol, ayo kita kejar mereka!" Dogol segera melesat mengikuti Pendekar Gila. Baru beberapa tombak keduanya melesat ke arah timur, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Berhenti...!" Dogol yang menoleh lebih dulu dan bergegas membalikkan tubuh melihat sesosok bayangan pu- tih mendarat sekitar enam tombak di depannya. Pemuda berpakaian putih dengan rambut panjang berkepang itu menatap tajam wajah Dogol. Pende- kar Gila yang baru saja membalikkan tubuh, cen- gengesan melihat pemuda itu.
Dogol yang mendapat tatapan tajam menja- di salah tingkah. Dengan tersenyum lucu dia me- noleh ke arah Sena yang juga tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. Masih dengan cengenge- san Sena membuang muka dari tatapan tajam pemuda yang belum dikenalnya. Tatapan pemuda itu begitu aneh dan mengandung suatu kekuatan. Pendekar Gila segera menyadari pemuda di de- pannya ini bukan orang sembarangan.
Setelah cukup lama tidak terdengar ucapan apa pun dari pemuda itu, Sena membuka suara.
"Aha... kita bertemu lagi, Sobat. Ke mana saja kau? Sekian lama aku mencarimu ternyata ki- ta bertemu di sini...." Sambil mengucapkan kata- kata itu mulut Sena tak henti-hentinya tersenyum. Tangannya menggaruk-garuk kepala seperti mera- sa gatal "Jangan banyak bicara! Rupanya kalian be- gundal-begundal Kolo Mareksa!" bentak pemuda berambut dikepang. Dengan mata tetap menatap Pendekar Gila, dia mencabut kerisnya. "Dengar, akulah yang akan menghabisi nyawa kalian. Juga semua begundal Kolo Mareksa...!"
"Ah ah ah...! Tega nian hatimu menuduhku seperti itu, Sobat. Baru berpisah beberapa bulan saja kau telah berubah...," Sena memain-mainkan matanya. Berkedip-kedip, lalu melotot lebar. Se- dang mulutnya cengengesan.
Sebenarnya Pendekar Gila telah dapat menerka siapa pemuda itu. Sena yakin pemuda ini bukan dari golongan sesat. Sikapnya yang lugu, je- las memperlihatkan kalau dia belum banyak ber- pengalaman di dunia persilatan. Namun jelas pe- muda ini bukan pemuda sembarangan.
"Sudah tertangkap basah kau masih beru- saha mungkir! Heaaatt...!"
Pemuda berpakaian putih membentak ke- ras. Tubuhnya melesat hendak melakukan seran- gan. Kerisnya yang panjang secepat kilat dicabut dari warangkanya dan diputar memburu Pendekar Gila.
"Dogol, menyingkir kau!" teriak Sena seraya melentingkan tubuh menghindari serangan pemu- da berpakaian putih.
Dogol segera berlari menjauh. Sementara Sena telah mendarat dengan ringan tiga tombak ke belakang lawan. Namun, dengan cepat pemuda itu bersalto ke belakang dan berdiri dengan kedua ka- ki terpentang menghadapi Pendekar Gila.
Melihat sikap Pendekar Gila yang malas- malasan, pemuda berpakaian putih semakin naik darah. Tubuhnya melesat seraya membabatkan kerisnya.
"He he he...! Tidak kena, Sobat. Baru bebe- rapa hari saja kau sudah lupa jurus-jurus yang kuajarkan. Pendekar macam apa kau ini!" dengan mudah Sena berhasil mengelakkan serangan itu. Tubuhnya diliuk-liukkan ke kiri dan ke kanan mengelakkan serangan keris.
"He he he.... Terlalu panjang kerismu, So- bat. Tampaknya kau keberatan dengan kerismu.
Ayo, kejar aku!"
Pemuda berpakaian putih merubah seran- gannya. Kerisnya yang panjang digenggam dengan kedua tangan tepat di depan dada ketika tubuhnya meluncur cepat memburu Sena.
Namun, Pendekar Gila meliukkan tubuhnya ke kanan kemudian melenting ke atas dan bersalto beberapa kali di udara. Mendapati serangannya gagal, pemuda berambut dikepang tampak begitu geram. "Hi hi hi... Mana ilmu andalanmu, Sobat? Kalau cuma seperti ini anak ingusan juga bisa. Hayo, keluarkan ajian pamungkasmu! "
Pendekar Gila tertawa sambil menggaruk- garuk kepalanya.
"Chuih! Percuma mengeluarkan ilmu anda- lan hanya untuk menghadapi orang gila sepertimu. Heh?!" selesai mengucapkan kata-kata itu pemuda berpakaian putih membelalakkan mata, kaget. Di- tatapnya wajah Sena lekat-lekat. Lalu, matanya memperhatikan suling berkepala naga yang terse- lip di pinggang pemuda berpakaian rompi kulit ular.
Inikah pemuda yang berjuluk Pendekar Gi- la? tanyanya dalam hati. Ciri-ciri yang dimiliki per- sisi seperti cerita Buyut. Tingkahnya pun seperti orang kurang waras. Pakaian yang dikenakannya berupa rompi dari kulit ular. Yang jelas, Pendekar Gila memiliki Suling Naga Sakti yang berwarna keemasan dan berkepala naga.
Perlahan pemuda berambut dikepang me- nyarungkan kerisnya ke dalam warangka.
Namun, betapa terkejutnya Suta Srengenge ketika tiba-tiba Pendekar Gila menyambar tubuh Dogol lalu dibawanya melesat pergi. Dengan men- gerahkan ilmu 'Sapta Bayu' Sena melesat begitu cepat. Dia ingin memburu para pelaku yang mem- bunuh Ki Lurah Tantrayana.
Suta Srengenge tidak tinggal diam. Tubuh- nya segera melesat mengejar Pendekar Gila.
* * *

Setelah cukup jauh berlari, Pendekar Gila menghentikan larinya ketika menemui jalan bun- tu. Di depannya tampak hamparan rumput ilalang setinggi dada. Padang ilalang itu mengering karena musim kemarau. Sena merasa aneh tak dapat me- nemukan jejak para pembunuh. Lewat jalan mana mereka? Tak mungkin mereka menembus hutan ilalang ini, pikir Sena.
Dogol yang telah diturunkan dari pondon- gan Sena pun tampak keheranan. Bagaimana me- reka dapat begitu cepat menghilangkan jejak.
"Pasti ada jalan rahasia yang tidak diketa- hui orang...," gumam Sena. Belum selesai Sena mengucapkan kata-katanya, muncul sesosok bayangan putih yang tak lain Suta Srengenge.
"Tuan Pendekar!" Sena dan Dogol menoleh ke belakang. "Ampunkan saya yang bodoh ini, Tuan Pen- dekar. Sungguh tak kusangka yang kuhadapi saat ini adalah seorang pendekar besar..."
"Eh eh eh.... Ada apa ini?" Sena tampak keheranan melihat perubahan sikap pemuda yang tadi begitu memusuhinya. Seorang pendekar seha- rusnya tidak berbuat seperti ini, Sobat. Jika benar akulah yang kau maksud Pendekar Gila... kalau bukan? Tak ada lagi ampunan bagimu. Kau akan mati karena kecerobohanmu."
"Tidak! Justru karena aku yakin Tuanlah si Pendekar Gila yang kesohor itu, aku berani bersi- kap demikian. Tak ada alasan bagiku untuk mera- gukan Tuan. Ciri-ciri yang Tuan miliki adalah milik Pendekar Gila. Ampunkan saya, Tuan."
"Sudahlah. Untung saja akulah orangnya yang kau maksudkan," sahut Sena sambil mengge- leng-gelengkan kepala. "Memang begitulah orang menjuluki diriku..."
"Bagaimana Tuan bisa sampai ke daerah ini? Bukankah sangat jauh perjalanan yang harus Tuan tempuh. Yang aku dengar belum lama ini Tuan berada di wilayah barat...?" tanya pemuda berpakaian putih yang tak lain Suta Srengenge, cucu Nyi Buyut Brintik. Banyak yang telah ia ke- tahui dari neneknya tentang Pendekar Gila. "Kabar tentang keberhasilan Tuan menumpas Naga Merah Dari Merapi telah tersebar di daerah ini," lanjut- nya.
"Sudahlah. Jangan kau panggil aku seperti itu. Panggil saja Sena. Namaku Sena Manggala...," Sena tersenyum-senyum malu. "Kenapa kau keli- hatan begitu dendam pada Kolo Mareksa? O, ya. Siapa namamu, kalau aku boleh tahu?"
"Suta, Suta Srengenge." "Aha, matahari! Namamu berarti anak matahari, Suta!" Sena tertawa gembira.
Pemuda berpakaian putih mengangguk, membenarkan ucapan Sena Manggala.
"Bagaimana aku tidak mendendam, Sena," Suta Srengenge ingin mengadukan persoa- lan yang tengah dihadapinya. "Kakekku, ayahku, ibuku, pamanku, semua terbunuh oleh keganasan Kolo Mareksa. Bahkan, nenekku kini hidup den- gan kebutaan matanya akibat kebengisan iblis itu...!"
Suta Srengenge kemudian menceritakan pe- ristiwa tragis yang menimpa keluarganya. Diceri- takannya semua dari peristiwa terbunuhnya sang kakek sampai kepada dirinya yang dididik dan di- besarkan neneknya di suatu tempat terasing.
"Begitu mengenaskan kisah kehidupan yang dialami para pendekar. Tidak sedikit manusia ber- nasib seperti itu. Apalagi mereka yang jelas-jelas berpihak pada kebenaran. Mereka banyak mem- punyai musuh. Banyak bahaya yang harus diha- dapi...," tutur Sena ketika dilihatnya Suta Sren- genge terdiam.
"Ketahuilah, Suta," ujar Dogol yang sejak tadi hanya membisu di samping Sena. "Kedatan- gan kami ke sini juga karena mendengar kegana- san sepak terjang Kolo Mareksa."
"Aha. Benar kata kawanku ini," sahut Sena, "Seorang tokoh tua, em... yang tadi kau sebutkan menjadi guru paman dan ayahmu, si Pendekar Kembar itu, beberapa hari yang lalu menemuiku. Siapa tadi namanya? Aku lupa." Sena menggaruk- garuk kepala berusaha mengingat-ingat. "Resi Watuhumalang. Iya! Dia juga banyak bercerita ten- tang kebengisan anak buah Kolo Mareksa. Kabar- nya mereka tidak hanya membantai tokoh-tokoh golongan putih. Banyak wanita desa diculik dan dijadikan piaraannya...."
"Itulah yang sangat meresahkan para pen- duduk, Sena," timpal Suta Srengenge. "Sebenarnya aku dipesan oleh Buyut agar mencarimu. Ilmu 'Canda Birawa' yang dimiliki Kolo Mareksa menu- rut dugaan nenekku hanya ilmu sihir yang sangat kuat. Jadi, bukan 'Canda Birawa' sejati." Lalu Suta Srengenge menjelaskan alasan Nyi Buyut Brintik kalau Ilmu 'Canda Birawa' sejati tidak akan bisa digunakan untuk kejahatan.
Pendekar Gila mengangguk-angguk men- dengar keterangan itu. Kalau ternyata Kolo Marek- sa benar menggunakan ilmu sihir, Sena memiliki ilmu penangkal ilmu sihir.
"Cukup banyak yang kudapat darimu, Suta. Tampaknya kita harus segera menumpas kejaha- tan yang dilakukan Kolo Mareksa. Tapi, bagaimana kita bisa sampai ke sarangnya?" tanya Sena yang masih merasa asing di tempat ini.
"Itulah.... Aku pun baru beberapa hari ini keluar dari tempat pengasingan nenekku. Jadi, be- lum banyak mengenal tempat ini. Meskipun sebe- narnya aku orang sini, Sena."
"Ya, ya. Aku tahu itu," Sena mengangguk- angguk. "Sementara tak satu pun orang desa yang berani berbicara jika ditanya tentang Kolo Marek- sa. Nyawa taruhannya kalau mereka sampai berani membicarakan Kolo Mareksa. Apalagi menun- jukkan di mana sarangnya," jelas Suta Srengenge.
"Kalau begitu, ayo kita lanjutkan pengejaran ini. Siapa tahu kita masih bisa menemukan jejak mereka...," ajak Pendekar Gila. Pemuda itu lalu melesat ke arah timur. Diikuti Dogol dan Suta Srengenge.
Ketiga pemuda itu berlari cepat dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sementa- ra matahari telah mulai condong ke arah barat.
***

5
Sebuah bangunan bertembok tinggi berdiri megah di tengah tanah lapang tak jauh dari se- buah hutan jati. Bangunan rumah beratap tinggi itu dikelilingi tembok tebal mirip sebuah benteng. Di kanan kiri jalan tanah selebar dua tombak yang menuju rumah itu ditumbuhi ilalang setinggi dada. Dari jauh terdengar sayup-sayup suara ga- melan yang menghentak-hentak. Sesekali diselingi suara sorak dan tepuk tangan. Rupanya, tengah berlangsung suatu pesta di dalam rumah besar itu.
Ternyata benar. Di dalam ruangan besar yang terletak di tengah rumah tampak empat orang wanita cantik melenggak-lenggok seiring irama gamelan. Belasan lelaki berpakaian serba merah duduk bersila di lantai mengelilingi keempat penari. Sambil tertawa-tawa gembira mereka menikmati minuman tuak dan menyaksikan para penari melenggak-lenggok. Di antara mereka du- duk wanita-wanita cantik.
Dengan tertawa atau tersenyum manja me- reka menyandarkan tubuh pada lelaki yang men- jadi pasangannya. Ada pula yang tengah asyik bermesraan.
Seorang lelaki setengah tua yang duduk di dekat tiang bangkit dari duduknya. Langkahnya sedikit gontai karena mabuk. Dia menghampiri penari yang mengenakan penutup dada berwarna hijau. Teman-teman lelaki itu memberinya tepu- kan tangan.
"Ayo, Kakang Rego! Kenapa mesti ragu- ragu...!" teriak lelaki beralis tebal. "Bawa saja dia...!"
Lelaki setengah tua yang bernama Regosu- lung menjawil lengan penari berpenutup dada hi- jau. Wanita cantik bertubuh sintal itu tersenyum. Disambutnya Regosulung dengan uluran selen- dang. Ketika itu para penabuh gamelan semakin mempercepat tabuhannya. Orang-orang pun ber- tepuk tangan memberi semangat.
Penari berdada mulus dan montok itu sege- ra mengikuti Regosulung yang menggiringnya ke- luar arena. Keduanya melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di sebelah kanan ruangan be- sar itu. "He he he.... Berapa lama kau kuat melaya- niku, Anak Manis?" tanya Regosulung sambil ter- kekeh. Dicoleknya dada mulus penari muda berwajah cantik itu.
"Mestinya aku yang bertanya begitu, Ki," sahut wanita berusia dua puluh tahunan itu den- gan senyum menggoda.
Sampai di dalam kamar Regosulung lang- sung mendekap tubuh wanita itu. Dicium dan diji- latinya leher mulus si penari. Napas lelaki bertu- buh tinggi itu terdengar memburu.
Si penari cantik memejamkan mata. Mulut- nya mengeluarkan desahan-desahan nikmat. Tan- gan Regosulung telah melepaskan kain kemben yang menutupi dadanya.
"Aahh.... Tutup dulu pintunya, Kakang," ujar si penari dengan suara mendesah lirih di te- linga Regosulung. Pintu kamar memang masih ter- buka sedikit.
Tanpa mempedulikan ucapan si penari, Re- gosulung terus menciumi dadanya. Kemudian, tangannya beralih melepaskan kain wanita itu hingga terlepaslah semua pakaiannya. Kini, tak sehelai benang pun yang menutupi tubuh mulus dan sintal itu.
Si penari menggeser langkahnya untuk me- nutup pintu. Begitu pintu kamar telah tertutup, sambil mendesah dia melucuti pakaian Regosu- lung.
"Aku sudah tak kuat lagi. Ayolah...." Rego- sulung mengangkat tubuh wanita itu dan diba- wanya menuju ranjang.
Erangan-erangan lirih pun segera terdengar dari mulut keduanya.
* * *

Sementara di ruangan lain seorang lelaki berusia empat puluhan tengah berbaring di lantai. Ia dikelilingi tujuh orang gadis berwajah cantik. Di atas lantai beralaskan permadani indah itu mereka bercengkerama. Gadis-gadis cantik yang hanya mengenakan pakaian tipis tembus pandang itu pun berbaring. Dengan mesra mereka membelai- belai tubuh lelaki berjubah hitam. Seorang gadis membaringkan kepalanya di paha lelaki berwajah kasar itu. Yang lain tampak mengelus-elus dada lelaki itu yang dipenuhi bulu-bulu bulus.
Dari luar masih terdengar suara gamelan dan ramai sorak-sorai.
Seorang gadis yang mengenakan penutup dada berwarna merah jambu melepas jubah lelaki berwajah kasar. "Kakang, hari ini giliranku...," de- sah gadis itu. Kepalanya dibaringkan di dada bi- dang yang dipenuhi bulu-bulu hitam. "Aku... aku tak tahan..."
"Ambilkan aku arak!" perintah lelaki berwa- jah kasar.
Wanita yang terbaring di pahanya bangkit berdiri. Dia melangkah menuju meja kayu berukir untuk mengambil arak. Dengan malas-malasan wanita berpakaian putih itu memberikan arak yang diambilnya.
"He he he.... Kenapa kau tampak lesu, Ke- dasih?" tanya lelaki berwajah kasar. "Minumlah ramuan yang telah dibuatkan Nyi Ngadirah!"
"Berapa lama lagi aku berada di sini, Kakang Mareksa?" tanya gadis itu dengan kepala ter- tunduk. Lelaki berjubah hitam yang ternyata Kolo Mareksa bangkit dari terbaringnya. "Pulanglah se- karang! Perempuan tak tahu diuntung!" bentaknya dengan wajah memerah.
Mendengar kemarahan Kolo Mareksa, wani- ta-wanita yang dijadikan piaraannya langsung ter- diam. Tak satu pun yang berani membuka mulut. Begitulah kalau Kolo Mareksa sedang marah, meskipun mereka baru saja bercengkerama.
Suatu saat nanti mereka memang akan di- kembalikan ke rumah masing-masing. Akan ber- kumpul kembali dengan orang tua. Saat itulah me- reka akan mengakhiri kehidupan terkutuk ini. Ke- hidupan yang setiap saat diwarnai dengan suasana penuh birahi.
Para gadis cantik itu tak pernah mengetahui mengapa mereka sampai terjerumus ke dalam keadaan seperti ini. Yang mereka tahu hanya per- pisahan secara paksa dari orangtua karena kehen- dak Kolo Mareksa. Gadis-gadis itu tak tahu Kolo Mareksa telah menggunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi mereka. Sehingga, tak mampu me- nolak ketika mereka diminta untuk melayani kein- ginan Kolo Mareksa.
Kolo Mareksa melangkah ke pintu. Lelaki bertubuh tinggi itu memanggil seorang anak buahnya. Tak lama kemudian, seorang lelaki ber- tubuh gemuk datang menghadap.
"Antarkan dia pulang!" perintah Kolo Ma- reksa kepada anak buahnya itu.
"Baik, Ketua." Lelaki bertubuh gemuk membawa Kedasih keluar dari kamar pimpinannya. Sampai di luar mereka segera mendapat sambutan dari kawan- kawan lelaki gemuk.
"Aiih! Beruntung sekali kau, Bardak!" seru lelaki yang duduk di sudut ruangan bersama seo- rang wanita cantik. "Berikan padaku saja gadis itu...!"
Namun, belum sampai Bardak turun dari serambi rumah dilihatnya sebuah kereta kuda da- tang. Di belakang kereta itu tampak tiga orang pe- nunggang kuda mengiringnya. Bardak langsung membalikkan tubuh dan berlari ke dalam. Dia me- nuju ruangan Kolo Mareksa.
"Ketua, Gajahsura dan anak buahnya ber- hasil!" lapor Bardak.
Kolo Mareksa melangkah keluar dari kamar. Sementara orang-orang di ruangan depan yang tengah asyik menyaksikan tarian bangkit berdiri dan melangkah ke serambi.
Kusir kereta yang adalah Gajahsura me- lompat turun. Lelaki berambut keriting itu berge- gas menghadang sang ketua yang telah menunggu di serambi.
"Kami membawa Laras, putri Lurah Tan- trayana, Ketua," ujar Gajahsura setelah menjura memberi hormat
"Hm. Bagaimana lurah keparat itu?" tanya Kolo Mareksa. Matanya memperhatikan ketiga anak buah Gajahsura yang tengah menyuruh La- ras keluar dari kereta.
"Terpaksa kami bunuh...," jawab Gajahsura. Ketiga anak buah Gajahsura menarik tan- gan Laras karena gadis itu tak mau turun dari ke- reta. Gadis cantik berpakaian putih dan berambut panjang tergerai itu meronta-ronta. Namun akhir- nya, ketiga anak buah Gajahsura berhasil memak- sanya keluar.
Laras diseret sampai di depan tangga se- rambi. Matanya yang berlinang melihat orang- orang berwajah bengis tengah menatap dirinya. Saat tatapannya beradu dengan tatapan Kolo Ma- reksa, tiba-tiba Laras merasakan ada getaran he- bat di hatinya. Sepasang mata lelaki bertubuh tinggi dan berwajah kasar itu mengandung kekua- tan aneh, Laras buru-buru membuang muka. Ia tak tahan menerima tatapan tajam mengandung kekuatan aneh itu. Belum pernah Laras merasa- kan keanehan seperti ini.
"Bawa dia masuk!" perintah Kolo Mareksa kepada ketiga anak buah Gajahsura.
Bergegas mereka menarik tangan Laras dan membawanya masuk. Gadis itu dibawa ke sebuah ruangan khusus yang biasa digunakan untuk me- nempatkan wanita baru. Gadis cantik itu berte- riak-teriak. Namun, cekalan tangan ketiga lelaki yang menggiringnya terlalu kuat. Ia tak mampu melepaskan diri.
Kolo Mareksa kembali masuk ke ruangan pribadinya, tempat wanita-wanita piaraannya ten- gah menanti. Suara gamelan pun kembali terden- gar. Para penari menari di tengah ruangan besar. Orang-orang bertepuk tangan dan bergembira sambil menikmati tuak dan arak. Mereka terus bergembira. Hanyut dalam suasana pesta hingga sore hari.
***

6
Matahari tenggelam di ufuk barat. Di langit mega merah berarak terbias cahaya sang surya. Angin kemarau yang kering bertiup semilir mem- belai rambut seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular. Pemuda itu berjalan bersama dua orang kawannya. Mereka tak lain Sena Manggala, Dogol, dan Suta Srengenge. Saat itu ketiganya tengah me- langkah memasuki sebuah desa.
"Kita harus bermalam dulu di desa ini, Su- ta," ujar Sena. Ditolehnya Suta Srengenge yang berjalan di samping kanannya.
"Ya. Siapa tahu kita mendapat keterangan tentang tempat kediaman Kolo Mareksa," timpal Suta Srengenge.
Dogol yang hanya membisu tampak berjalan dengan langkah berat. Perutnya yang buncit serta tidak tertutup rompi bergoyang ke kanan dan ke kiri. Sesekali lengannya yang besar dan gempal mengusap pipi atau lehernya. Keringat mengalir membasahi tubuhnya.
Ketiganya terus melangkah menyusuri jalan utama desa yang lengang. Sepi sekali suasana de- sa kecil itu. Rumah-rumah tertutup. Tak seorang pun berada di luar.
Ketika mereka sampai di sebuah tikungan jalan, tampak di tepi jalan ada sebuah kedai. Tapi, kedai itu tertutup.
"Hei, sepi sekali desa ini. Ke mana para penduduknya?" tanya Sena seraya melempar pan- dangan berkeliling. Tetapi, yang dilihatnya hanya tempat-tempat sepi.
"Tampaknya ada sesuatu yang telah terjadi di sini, Kakang Sena," ujar Dogol dengan mengu- sapkan lengannya ke leher.
Ketiganya terus melangkah menyusuri ja- lan. Tak lama kemudian mereka melihat sebuah rumah besar, Belasan orang berkumpul di sana. Lampu-lampu minyak telah dinyalakan.
Sena mengajak Dogol dan Suta Srengenge mendatangi rumah besar itu. Orang-orang yang berada di serambi rumah berhalaman luas itu me- noleh ketika melihat tiga orang lelaki asing mema- suki halaman.
Sena menganggukkan kepala memberi hor- mat. Perbuatannya diikuti oleh Suta Srengenge dan Dogol. Lalu, seorang di antara yang berada di rumah besar datang menyambut.
"Selamat datang, Tuan-tuan!" ucap orang itu. Matanya menatap penuh selidik wajah Sena. Lalu, pandangannya turun dan berhenti pada sul- ing berkepala naga yang terselip di pinggang pe- muda berompi kulit ular itu.
"Boleh kami bertanya, Ki?" tanya Sena me- mecah keheningan. "Di mana rumah penginapan di desa ini?"
"Wah, penginapan?" ujar orang itu. "Dulu ada rumah penginapan di ujung selatan desa ini. Tapi, semenjak pemiliknya dibunuh orang-orang Kolo Mareksa, sekarang sudah tidak ada lagi. Orang yang kemalaman biasanya menginap di sini, Tuan." Lelaki setengah baya berpakaian hitam itu menudingkan ibu jarinya ke arah rumah yang saat itu tengah dipenuhi penduduk. "Inilah rumah ke- pala desa kami, Ki Lurah Tantrayana. Tapi...."
"Apa yang terjadi, Ki?" potong Suta Sren- genge.
"Siang tadi anak buah Kolo Mareksa men- gobrak-abrik rumah Ki Tantrayana. Empat orang anak buah Tantrayana terbunuh. Nasib Ki Lurah sendiri dan anak buahnya belum kami ketahui. Mari, silakan masuk dulu, Tuan."
Lelaki setengah baya itu mengajak Sena, Suta Srengenge dan Dogol masuk. Setelah meno- leh ke arah Suta Srengenge dan Dogol, Sena ak- hirnya mengikuti ajakan lelaki itu.
Orang-orang yang berada di rumah kepala desa memperhatikan ketiga pemuda asing itu. Di antara mereka ada beberapa lelaki muda yang ka- lau dilihat dari perawakan tubuh dan pakaiannya merupakan orang-orang persilatan. Mereka berdiri ketika melihat pemuda berpakaian rompi kulit ular memasuki serambi rumah.
"Tidak salahkah penglihatanku, Kakang Soma? Bukankah pemuda itu..." salah seorang di antara mereka, yang mengenakan pakaian biru dengan golok di pinggang berbisik.
"Benar," sahut kawannya. "Ayo...."
Keempat lelaki yang tadi duduk di sudut kanan serambi melangkah menyambuti Sena, Do- gol dan Suta Srengenge.
"Selamat datang, Tuan Pendekar." "Selamat datang di desa kami...." Orang-orang terkesima melihat Sena Mang- gala. Ada yang tersenyum ketika melihat Sena yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepa- la. Di sudut lain terdengar bisik-bisik tak jelas.
"Siapa pemuda gila itu?" "Iya ya. Wajahnya tampan. Tapi, sayang ku- rang waras!" Sena, Dogol, dan Suta Srengenge di- persilakan duduk di kursi yang terletak di tengah serambi. Namun, ketiganya menolak lalu ikut du- duk bersama para penduduk di lantai.
Keempat lelaki muda berpakaian silat itu langsung mendekat dan duduk di dekat Sena.
"Ehm.... Benarkah Tuan yang berjuluk Pen- dekar Gila?" tanya lelaki muda berpakaian biru.
Sena tidak segera menjawab. Mulutnya ter- tawa cekikikan sambil tangannya menggaruk- garuk kepala.
Melihat tingkah Sena yang persis orang gila orang-orang keheranan. Namun bagi keempat lela- ki muda itu justru membuat hati mereka yakin. Orang yang tengah dihadapi ini jelas Pendekar Gi- la.
"Aha, apa kalian perlu tahu julukanku itu?" tanya Sena. "Sudahlah. Aku memang dijuluki se- perti itu...."
"Wah.... Beruntung Tuan datang! Kami ten- gah dilanda musibah, Tuah. Anak buah Kolo Mareksa telah datang dan memaksa Ki Lurah Tan- trayana agar menyerahkan putrinya.... Sampai kini kami belum mengetahui bagaimana nasib Ki Lurah dan putrinya. Kami semua tak berani melawan ke- tika mereka mengobrak-abrik rumah ini siang tadi. Empat orang kepercayaan Ki Tantrayana mati. Istri Ki Tantrayana pun tidak luput dari kebengisan mereka." Lelaki berpakaian biru menjelaskan.
"Apa Ki Lurah mengenakan pakaian kun- ing?" tanya Suta Srengenge beberapa saat kemu- dian setelah dilihatnya Sena hanya cengengesan sendiri. Rupanya, dia tak sabar ingin segera men- getahui. "Benar... benar, Tuan. Di mana Tuan meli- hatnya?" Jawaban seperti itu terdengar dari beberapa orang. Suta Srengenge menghela napas panjang.
"Siang tadi kami menemukan mayat lelaki berpakaian kuning dan seorang lagi mengenakan pakaian lurik. Mereka tergeletak mati di tengah ja- lan dekat hutan jati."
Orang-orang terkejut. Mereka membelalak- kan mata kaget, meskipun sebelumnya telah men- duga Ki Lurah Tantrayana akhirnya akan mati ju- ga. Kebengisan anak buah Kolo Mareksa sudah terkenal. Mereka tak akan memberi ampun kepada orang yang membangkang atau menolak kemaua- nnya.
Ramailah gumaman para penduduk desa. Di antara mereka terdapat seorang wanita seten- gah baya yang menangis dengan menyebut-nyebut nama Subali. Rupanya wanita itu istri Subali, kusir kereta yang membawa Ki Lurah dan putrinya. Orang-orang segera menolong istri Subali. Wanita itu dibawa masuk ke rumah kepala desa.
"Tolonglah kami, Tuan Pendekar. Kalau di- biarkan berlarut-larut, orang-orang desa akan se- makin dicekam rasa takut...," ujar seorang lelaki muda berpakaian coklat yang duduk di samping Dogol.
"Dengar, Saudara-saudara!" ujar Suta Sren- genge sambil memandangi wajah orang-orang itu. "Kedatangan Pendekar Gila ke sini memang untuk menumpas kejahatan Kolo Mareksa!"
Sena hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Suta Srengenge.
"Siapa di antara kalian yang mengetahui markas Kolo Mareksa dan anak buahnya...?" tanya Suta Srengenge.
Orang-orang terdiam mendengar perta- nyaan Suta Srengenge. Selama ini mereka memang tak mengetahui di mana sebenarnya tempat ke- diaman Kolo Mareksa.
"Kalau saja kami mengetahui, tentu akan kami katakan kepada Tuan Pendekar. Mati pun kami rela asalkan iblis itu dapat ditumpas...," ja- wab pemuda berpakaian biru. "Apalagi kini Tuan Pendekar Gila ada di sini. Sayang, tak satu pun di antara kami yang mengetahui tempat persembu- nyiannya."
"Hh.... Bagaimana, Sena?" tanya Suta Sren- genge meminta pendapat Sena.
"Perintahkan saja kepada para penduduk agar kembali ke rumah masing-masing.

No comments:

Post a Comment