AJIAN
CANDRA BIRAWA
Oleh Firman Raharja
1
Suara jeritan panjang dan menyayat
hati terdengar. Jeritan itu mengiringi luncuran sesosok tubuh wanita yang jatuh
dari puncak sebuah bukit cadas. Tubuh wanita berambut panjang mengena- kan
pakaian putih itu terlempar ke dasar jurang. Suara jeritannya telah lenyap
sebelum mencapai dasar jurang yang berbatu-batu. Barangkali wanita itu telah
tewas atau pingsan ketika tubuhnya me- layang di udara.
Sementara dari puncak bukit cadas
terden- gar pekikan dan bentakan-bentakan keras bebera- pa orang. Rupanya
tengah terjadi pertarungan sengit di sana.
Benar. Di bawah cahaya bulan yang
redup seorang lelaki berusia lima puluhan tengah berta- rung menghadapi tiga
lelaki bengis yang menge- royoknya. Lelaki berambut putih tanpa pengikat kepala
itu tampak kewalahan. Beberapa bagian tubuhnya terluka hingga mengeluarkan
darah. Senjatanya yang berupa keris panjang tak berarti sama sekali menghadapi
gempuran dahsyat cakra milik lawan. Berkali-kali senjata cakra yang terikat
rantai besi itu melesat ke arah tubuhnya.
"Ha ha ha...! Habisi saja dia,
Regosulung. Jangan biarkan orang seperti dia hidup lebih lama lagi...!"
teriak lelaki bercambang bauk. Ia bersenja- ta sepasang gading kuning. Lelaki
berpakaian me- rah ini tengah memperhatikan pertarungan ber- sama kawannya yang
juga mengenakan pakaian merah. "Biar kubantu, Kakang Regosulung,"
ujar kawan lelaki bercambang bauk yang juga meng- genggam sepasang gading
kuning. "Tak sabar ra- sanya. Aku ingin segera menghabisi si keparat
itu!" "Tunggu, Siung Warak! Untuk apa meng- hambur-hamburkan tenaga.
Tugas masih banyak. Kita harus membantai semua murid Perguruan Sangga Jagat
setelah Pratangga itu mampus," ujar lelaki brewok.
Namun tiba-tiba... Wuttt! Crrraakk!
Ketika Regosulung mengibaskan rantai baja yang mengikat cakra, lelaki berambut
putih mam- pu menangkisnya. Keris panjang di tangannya berhasil memapaki rantai
hingga terlibat. Terjadi- lah saling tarik-menarik.
"Hiaaa...!" Kedua lelaki
berpakaian serba merah yang memperhatikan jalannya pertarungan kembali ter-
sentak kaget, Regosulung terlontar beberapa tom- bak dan jatuh di depan mereka.
Sebuah tendan- gan keras telah mendarat telak di perutnya. Rego- sulung segera
bangkit berdiri meskipun sedikit sempoyongan.
"Kurang ajar!" Siung
Warak bergegas me- lompat ke arah lelaki berambut putih. "Hei, Pra-
tangga! Jangan harap kau mampu bertahan menghadapiku!" bentaknya dengan
mata meme- rah.
Tak! Tak! Tak!
Dengan gerak cepat Siung Warak
memukul- mukulkan sepasang gading yang tergenggam di tangan. "Cuih!
Orang-orang seperti kalianlah yang tak boleh hidup lama di dunia ini!"
"Hua ha ha...! Apa yang kau
miliki hingga berani berkata begitu, Pratangga? Apa kau lupa dengan kematian
kakakmu empat purnama yang lalu. Keris Sakti Tanpa Wujud miliknya tak berarti
apa-apa," ujar Siung Warak.
Pratangga tercenung. Ia teringat
kematian kakak kandungnya yang dibunuh secara licik oleh orang-orang yang tak
diketahui. Keris pusaka pe- ninggalan leluhurnya ikut raib. Keris panjang yang
di kalangan rimba persilatan sangat kesohor kare- na keanehannya itu memang
dipegang Sunu Ba- gaskara. Ayah mereka yang dikenal sebagai Pen- dekar Tanpa
Nama mempercayakan putra sulung- nya untuk memegang keris pusaka itu.
"Bedebah! Jadi, kalian yang
membunuh ka- kak kembarku?!"
"Hua ha ha...! Kau pun akan
segera menyu- sul Sunu Bagaskara ke akherat, Pratangga!"
Didorong oleh rasa dendam atas
kematian Kakak kembarnya, Pratangga tak mampu mena- han kemarahan yang
menggelegak di hatinya. Apa- lagi baru saja Nyi Roro Mintarsih, kakak iparnya,
terlempar ke dasar jurang akibat terpukul rantai baja Regosulung. Lelaki
berambut putih yang ber- pakaian lurik lengan panjang itu melesat dan
mengibaskan keris di tangannya.
Siung Warak yang melihat lawannya
menyerang langsung melompat untuk memapaki.
Benturan-benturan keras terjadi
ketika gad- ing kuning di tangan Siung Warak menangkis ba- batan dan tusukan
keris Pratangga. Sebentar saja keduanya telah terlibat pertarungan sengit. Ter-
nyata, lelaki bersenjata gading itu tak hanya ber- mulut besar. Serangan
dahsyat dan berbahaya yang dilakukan Pratangga berhasil diatasi dengan mudah.
Bahkan, ketika lelaki berambut putih itu melenting menghindarkan serangan,
Siung Warak tanpa ragu-ragu memburunya. Keduanya me- layang di udara. Dengan
gerakan yang sulit diikuti mata biasa, sepasang gading di tangan Siung Wa- rak
melesat.
Wuttt! Wuuttt! Pratangga
mengibaskan kerisnya memapaki kedua gading yang hampir menyambar leher dan
dadanya. Sepasang gading kuning itu berpentalan balik. Lalu, meluncur ke arah
pemiliknya. Dengan mudah Siung Warak menangkap kedua senjata andalannya itu.
"He he he...! Ini baru
permulaan, Pratangga. Jangan bangga dulu berhasil memapaki serangan- ku,"
ujar Siung Warak sesaat setelah kakinya mendarat ringan di tanah.
Pratangga mendarat sekitar tiga
tombak di depan Siung Warak. Kerisnya tersilang di depan dada. Namun belum
sempat ia melancarkan se- rangan kembali, Siung Warak telah melompat ke
arahnya. Lelaki berpakaian merah itu tampaknya tak ingin memberi kesempatan
kepada Pratangga. Sepasang gadingnya dikibas-kibaskan di depan wajah. Hingga,
bentuk kedua senjata berwarna kuning itu lenyap dari pandangan.
Melihat serangan lawan, Pratangga
segera melentingkan tubuhnya ke atas, ia hendak mela- kukan serangan dari atas.
Namun secepat itu pu- la, tanpa diduga-duga lawan melenting ke udara. Dengan
cepat Siung Warak menusuk serta mema- paki keris lawan.
Tangkisan yang dilakukan dengan
gading di tangan kanan dibarengi oleh gading di tangan kiri yang mendarat telak
di dada lawan. Pratangga ter- dorong ke belakang, lalu jatuh bergulingan dengan
mulut mengerang kesakitan. Meskipun gading itu tidak sampai menembus dadanya,
namun tusukan telak tadi telah menimbulkan luka cukup parah. Ketika tubuhnya
bangkit berdiri, Pratangga me- muntahkan darah segar.
Karena lawan telah kembali melompat
un- tuk melancarkan serangan susulan Pratangga memutar kerisnya. Meskipun ia
tahu benar tinda- kannya ini sangat berbahaya, tapi menunggu se- rangan lawan
sampai mengenai tubuhnya meru- pakan perbuatan konyol.
Dan, ternyata tidak sia-sia usaha
yang dila- kukan Pratangga. Kerisnya yang berputar cepat berhasil menggores
tangan kanan Siung Warak. Namun karena lawan belum terluka sementara di- rinya
telah mengalami luka parah, Pratangga ak- hirnya terdesak hebat. Ketika dia
melompat ke samping kanan untuk menghindari serangan gad- ing lawan, sebuah
tendangan keras mendarat di perutnya. Tubuh lelaki berpakaian lurik itu terlontar
ke belakang dan langsung terperosok ke dalam jurang. Jeritan panjang terdengar
dari mulut Pra- tangga. Tubuhnya hancur berantakan membentur batu cadas di
dasar jurang.
"Ha ha ha...! Nikmati
kematianmu yang mengerikan, Pratangga!" teriak Siung Warak dari bibir
jurang.
Kedua kawannya melangkah mendekati.
Ke- tiga lelaki berwajah bengis itu berdiri di tepi ju- rang. Mereka tertawa
terbahak-bahak mengejek lawannya yang tewas sangat mengenaskan.
"Betapa gembiranya Ketua bila
mendengar keberhasilan kita ini, Kakang Regosulung," ujar Siung Warak.
"Ya. Ayo, kita lanjutkan tugas
kita. Kita ma- sih harus mengobrak-abrik Perguruan Sangga Ja- gat milik
Pratangga! Jangan sisakan seorang pun muridnya. Tumpas habis!" sahut
Regosulung. La- lu, memberi isyarat kepada kedua kawannya un- tuk segera pergi.
Sambil memperdengarkan tawa penuh
ke- menangan, ketiga lelaki berpakaian merah itu me- lesat menuruni bukit.
Sebentar kemudian keti- ganya telah sampai di bawah. Di sana tiga ekor kuda
yang ditambatkan pada pohon besar tengah menunggu.
Tanpa membuang-buang waktu,
ketiganya langsung menggebah kuda masing-masing.
* * *
"Bodoh! Goblok kalian
semua!"
Bentakan penuh kemarahan itu
dikelua- rkan seorang lelaki berusia lima puluhan yang ber- tubuh tinggi gagah.
Alis matanya yang beralis tebal menatap tajam tiga lelaki berpakaian merah di
de- pannya. Regosulung, Siung Warak, dan Bardak tertunduk diam. Tak satu pun
berani memandang wajah lelaki gagah berjubah hitam itu.
Ada perasaan gentar yang sangat di
hati mereka. Tugas yang baru saja dijalankan ternyata kurang berkenan bagi sang
ketua.
"Sudah kukatakan jangan sampai
Nyi Roro Mintarsih mati. Aku sangat membutuhkan anak yang berada dalam
perutnya."
"Ampun, Ketua. Pesan Ketua itu
terpaksa tak dapat kami laksanakan. Tanpa sengaja Nyi Ro- ro Mintarsih terkena
pukulan hingga terlempar ke dasar jurang...," lapor Regosulung
takut-takut.
"Benar, Ketua. Tempat
pertarungan itu ter- lalu sempit untuk menghadapi keberingasan Pra- tangga.
Sebuah puncak bukit cadas yang tinggi dan terlalu licin. Dalam keadaan kalut
kami hanya bertekad dapat segera menghabisi nyawa Pratang- ga," tambah
Siung Warak.
"Hhh.... Bodoh. Bodoh
sekali!" dengus lelaki berjubah hitam. "Kematian Nyi Roro Mintarsih
te- lah menggagalkan rencanaku untuk mengambil anaknya. Aku yakin dia bibit
unggul yang akan mampu menerima semua ilmu silat. Dia darah daging seorang
pendekar. Ksatria sejati. Seharus- nya salah satu dari kalian menyelamatkan Nyi
Ro- ro Mintarsih!"
"Tapi, bukankah hal itu dapat
membahayakan Ketua? Kalau nanti anak itu tahu kitalah yang membunuh ayahnya,
dia akan menuntut balas...," ujar Regosulung mencoba menanggapi.
"Tahu dari mana? Memangnya aku
orang bodoh? Setelah dia lahir tentu kita bunuh ibunya. Bebal otakmu!"
bentak lelaki berjubah hitam. "Su- dah! Yang penting kalian telah membunuh
Pra- tangga. Tapi ingat, ini bukan tugas kalian terakhir. Masih banyak
perguruan golongan putih yang ha- rus kita tumpas. Dua bersaudara Kampak Kembar
dan anak buahnya telah kuperintahkan menum- pas Lurah Banaran yang mencoba menolak
tawa- ranku. Sementara Kebo Kluwuk dan Gajah Setan pagi ini berangkat untuk
memburuihanguskan Perguruan Jambe Anom."
Regosulung, Siung Warak, dan Bardak
hanya membisu mendengar ucapan ketua. Sedikit pun tak terlintas di benak mereka
akan menolak atau membantah perintah lelaki berjubah hitam. Kematian adalah
taruhan bagi mereka jika meno- lak. Rencana besar yang dicita-citakan lelaki
ber- jubah hitam baru akan terwujud jika semua tokoh dan perguruan golongan
putih telah binasa.
***
2
Terik matahari siang itu begitu
panas, sea- kan hendak membakar pemukaan bumi. Angin bertiup kencang
menghembuskan hawa panas.
Langit musim kemarau tampak biru
bersih tanpa awan.
Di suatu lembah tandus dan
berbatu-batu cadas tampak sesosok lelaki muda tengah berlatih ilmu silat. Di
bawah cahaya matahari tubuhnya yang kekar berotot berkilatan karena keringat.
Ru- panya, sudah cukup lama pemuda berambut pan- jang dikepang itu berlatih.
Kini dia duduk bersila menghadap ke
barat. Matanya yang tajam menatap tepat ke arah mata- hari. Kemudian,
dipejamkan rapat-rapat. Bersa- maan dengan itu kedua telapak tangannya dira-
patkan di depan dada. Cukup lama gerakan itu di- lakukan. Tiba-tiba, kedua
telapak tangannya di- hentakkan ke depan kuat-kuat.
Slats! Selarik cahaya merah melesat
sangat cepat menuju sebongkah batu cadas sebesar kerbau yang berada lima belas
tombak di depannya.
Glarrr...! Ledakan keras
menggelegar. Cahaya keme- rahan itu menghantam batu cadas hingga hancur
berkeping-keping. Pemuda bertelanjang dada itu melompat sambil tertawa
kegirangan.
"Ha ha ha...! aku berhasil.
Aku berhasil!" te- riaknya. Ia berlari menuju gubuk bambu yang ter- letak
tidak jauh dari tempatnya berlatih.
"Buyut! Buyut...! Aku
berhasil. Aku berha- sil, Buyut!"
Dari gubuk bambu yang cukup besar
itu ke- luar seorang nenek yang mengenakan pakaian hi- jau pupus. Dengan
langkah tersaruk-saruk nenek berambut panjang dan memegang tongkat itu
menghampiri si pemuda. Meskipun dia telah bera- da di depan pemuda itu, wajah
nenek yang di- panggil buyut tidak memandangi si pemuda. Den- gan mata terkatup
rapat dia memandang ke arah lain. Wajahnya sedikit mendongak, hingga tampak-
lah bekas luka-luka pada sepasang matanya.
Wajahnya yang bersih dan seperti
bersinar menandakan kalau nenek bertubuh tinggi semam- pai itu memiliki
kemampuan tinggi. Suatu pamor yang biasa dimiliki orang-orang berilmu tinggi.
Se- lain itu, raut wajahnya masih menampakkan be- kas kecantikannya di masa
muda.
"Suta, apa Buyut tadi tidak
salah dengar?" tanya wanita yang nama sebenarnya Nyi Buyut Brintik. Suara
tuanya terdengar lembut tapi ber- wibawa. "Hhh... Andai saja Buyut dapat
melihatku berlatih," ujar pemuda itu setengah bergumam.
"Aku melihatmu, Suta,"
sahut Nyi Buyut Brintik. Ia lebih suka dipanggil 'Buyut'. "Meskipun
sepasang mataku buta, tapi mata hatiku dapat melihat semuanya dengan jelas. Aku
gembira mendengar keberhasilanmu mempelajari ilmu 'Tapak Matahari'. Tidak
sia-sia kekerasan hatimu dalam berlatih, Cucuku.... "
Nenek itu menghentikan ucapannya
kemu- dian, dihelanya napas panjang. "Bersihkan tu- buhmu. Ada sesuatu
yang akan kusampaikan pa- damu, Suta," katanya.
Pemuda berambut panjang dikepang
mem- bisu. Tidak seperti biasanya Nyi Buyut Brintik menyuruhnya membersihkan
diri. Apalagi, menga- jaknya membicarakan sesuatu. Setelah menge- rutkan
kening, Suta Srengenge mengangguk dan beranjak pergi dari hadapan Nyi Buyut
Brintik.
Nenek itu kemudian melangkah masuk
kembali ke gubuknya. Dengan tongkat yang ber- guna untuk menopang tubuhnya ia
berjalan tersa- ruk-saruk.
Nyi Buyut Brintik duduk di atas
potongan kayu besar, menunggu muridnya kembali dari sungai. Tak lama kemudian
Suta Srengenge da- tang. Pemuda itu lalu duduk di lantai di depan Nyi Buyut
Brintik.
"Suta Srengenge, sudah saatnya
kau keluar dari gubukku ini. Habis sudah semua ilmu yang kumiliki. Semua telah
kuturunkan kepadamu," ujar Nyi Buyut Brintik. "Namun, tidak boleh
lantas berbangga diri, terlebih besar kepala karena telah menguasai ilmu
tingkat tinggi. Kelak jika dirimu terjun ke rimba persilatan kau akan bertemu
den- gan berbagai tokoh yang memiliki ilmu tinggi. Bahkan, tidak sedikit dari
mereka yang lebih tinggi ilmunya darimu. Bukan berarti aku merendahkan
kemampuanmu. Di sanalah kau akan mendapat banyak pengalaman hingga mampu mengembang-
kan ilmu yang kau miliki sekarang...."
Nyi Buyut Brintik menghentikan
ucapan- nya. Dihelanya napas dalam-dalam. Sepasang ma- tanya yang terkatup
rapat seolah mampu melihat wajah Suta Srengenge di hadapannya.
"Kau harus berhati-hati,
Cucuku. Sekali kaki melangkah tanggung jawab kehidupanmu ada pada pundakmu
sendiri. Aku sudah terlalu tua. Aku tak mungkin menyertaimu terus...."
"Buyut, ada janji yang belum
kau tepati pa- daku hingga saat ini," ujar Suta Srengenge dengan
mengangkat wajahnya. "Bagaimanapun aku harus tahu siapa kedua orangtuaku.
Kau hanya menye- butkan orangtuaku pendekar yang kesohor pada
zamannya...."
"Ya, ya. Karena itulah aku
mengajakmu berbicara," sahut Nyi Buyut Brintik. "Kau tak perlu
terkejut. Selama dua puluh tahun ini kau tinggal di rumah nenekmu sendiri,
Suta."
"Jadi..." "Ya.
Akulah nenekmu sebenarnya. Kedua batu nisan di belakang rumah kita adalah kubu-
ran ibu dan pamanmu. Nyi Roro Mintarsih adalah ibu kandungmu Dia istri Sunu
Bagaskara, putra sulungku. Sedangkan yang satu lagi kuburan pa- manmu,
Pratangga. Sunu Bagaskara dan Pratang- ga dua anak kembar Pendekar Tanpa Nama,
sua- miku. Mereka sangat terkenal empat puluh tahun yang lalu. Tak satu pun
orang-orang persilatan yang tidak mengenal nama Pendekar Kembar."
Nyi Buyut Brintik menghentikan
ceritanya sesaat. Sementara Suta Srengenge tampak terce- nung mendengar
penuturan nenek itu.
"Namun sayang, seorang tokoh
tingkat ting- gi dari golongan hitam membunuh mereka secara keji dan licik.
Ayahmu terbunuh di dalam pergu- ruannya ketika Mintarsih, istrinya, mengandung
dirimu. Empat purnama setelah ibumu dibawa Pratangga ke perguruannya, tiga
orang anak buah
Kolo Mareksa datang membunuh
mereka...."
"Bagaimana aku bisa lahir dari
perut ibu- ku?" tanya Suta Srengenge.
"Akulah yang menolong
Mintarsih ketika terlempar ke dalam jurang sana." Nyi Buyut Brin- tik
menunjuk ke arah utara. Tempat tinggal mere- ka memang tak jauh dari jurang
terjal yang sangat dalam dan berbatu-batu.
"Jadi, Nenek Buyut menyaksikan
kejadian itu?"
"Sudah kukatakan, meskipun
mataku buta, aku dapat melihat semua kejadian di sekitarku. Aku tahu saat
ketiga anak buah Kolo Mareksa memburu Pratangga yang ingin menyelamatkan Nyi
Roro Mintarsih. Aku tidak bisa berbuat banyak waktu itu. Aku telah telanjur
terikat sumpah yang pernah ku ucapkan di depan Kolo Mareksa, ketika aku
dikalahkannya. Aku bersumpah tidak akan mencampuri urusan Kolo Mareksa lagi
seumur hi- dupku." Kenapa Buyut sampai mengucapkan sum- pah seperti itu?
Bukankah Buyut orang golongan putih yang mestinya akan bertekad membela ke-
benaran sampai kapan pun?" tanya Suta Sren- genge yang merasa heran
mendengar sumpah gu- runya. "Kau tidak tahu, Cucuku. Begitu aku dika-
lahlan Kolo Mareksa, secara keji dia melukai kedua mataku hingga buta. Waktu
itu aku bersumpah hanya untuk menyelamatkan jiwaku. Agar aku bi- sa terus
mendidik dan membesarkan kedua putra kembarku, Sunu Bagaskara dan Pratangga.
Mereka telah dibawa lari suamiku untuk diselamatkan." Suta Srengenge
terdiam mendengar alasan neneknya. Ia mengerti betapa Nyi Buyut Brintik
terpaksa mengucapkan sumpah itu. Sebagai seo- rang pendekar wanita dirinya
harus bertanggung jawab akan tegaknya kebenaran dan keadilan, tapi juga harus
memikirkan keselamatan kedua pu- tranya. Kemudian Nyi Buyut Brintik
menceritakan semua kejadian yang dialaminya setengah abad la- lu. Suatu
peristiwa mengenaskan yang membuat dirinya terlempar jauh di tempat
pengasingan. Jauh dari dunia ramai. Jauh dari rimba persilatan yang
hingar-bingar oleh tokoh-tokoh golongan hi- tam.
* * *
Di depan sebuah rumah besar seorang
lela- ki setengah baya tengah sibuk melatih ilmu silat kepada dua orang anak.
Keakraban yang mereka tunjukkan jelas menggambarkan kalau yang ten- gah melatih
kedua anak kembar itu adalah ayah mereka sendiri.
"Tanganmu kurang lurus,
Pratangga. Lihat- lah kakakmu itu," ujar sang ayah sambil mendeka- ti anak
lelaki yang dipanggil Pratangga.
Anak itu menoleh ke arah kakaknya
yang berdiri di samping kanan. Lalu, dibetulkannya le- tak tangannya yang
memang agak kurang lurus.
"Capek, Yah!" ujar anak
itu mengeluh. "Husss! Baru beberapa kali kita latihan kau sudah bilang
capek, Pratangga," sahut kakaknya yang tak lain Sunu Bagaskara.
"Tidak mudah untuk menjadi
seorang pen- dekar, Pratangga. Kita harus bekerja keras. Berla- tih dan
berlatih. Ketekunan dan kerajinan akan membuat kita berhasil. Kelak kalian akan
menjadi pendekar-pendekar hebat. Orang akan menjuluki kalian sebagai Pendekar
Kembar," ujar ayahnya dengan tersenyum. Memberi semangat kepada ke- dua anak
kembar itu. "Alangkah bangganya hati ayah melihat kalian menjadi dua orang
pendekar yang tidak hanya ditakuti, tapi juga disegani oleh kawan maupun
lawan...."
"Hei, kalian beristirahatlah
dulu! Ibu telah membuatkan minuman dan ubi rebus untuk ka- lian...!" Seorang
wanita setengah baya berwajah cantik keluar dari rumah besar itu. Ia membawa
kendi air dan beberapa potong ubi rebus di piring kayu.
Melihat ibu mereka yang memanggil,
kedua anak kembar itu langsung berlarian menyambut- nya. Sang ayah hanya menggeleng-gelengkan
ke- pala melihat tingkah kedua anaknya. Dia pun me- langkah menghampiri
istrinya.
"Rasanya aku menyesal,
Kang," ujar wanita cantik itu seraya tersenyum kepada suaminya.
"Apa maksudmu, Nyi?"
tanya lelaki berpa- kaian coklat muda.
"Kenapa tidak dari dulu kita
mengundurkan diri dari dunia persilatan. Mungkin anak-anak kita sudah dewasa.
Usia kita sudah mendekati separo abad baru memiliki anak-anak"
"Apa kata para pendekar
kawan-kawan kita kalau kita mundur waktu itu? Mereka akan men- cibirkan bibir.
Seorang pendekar mestinya tak akan mundur sampai mati sekalipun," ujar
sang suami. Dipandanginya kedua anaknya yang asyik menikmati ubi rebus di
serambi rumah.
Ketika mereka tengah menikmati
waktu isti- rahat setelah berlatih pagi itu, tiba-tiba sesosok bayangan merah
berkelebat dan berhenti di depan rumah. "Ha ha ha...! Betapa nikmatnya
sepotong ubi rebus dan sekendi air hangat!"
Sesosok lelaki bertubuh tinggi
besar berdiri dengan kaki terpentang memandangi kedua anak yang tengah duduk
menikmati ubi rebus.
"Kolo Mareksa!" gumam
lelaki berpakaian coklat muda dengan mata terbelalak kaget. "Untuk apa kau
datang kemari...?"
"Tentu saja menantangmu,
Pendekar Tanpa Nama!" jawab lelaki berpakaian merah. "Kaulah yang
telah menggagalkan tindakan anak buahku membantai Perguruan Cakar Harimau
beberapa tahun lalu. Aku ingin mencoba seorang pendekar usilan seperti
kau."
"Tidak tahukah bahwa aku dan
istriku telah mundur dari dunia persilatan, Kolo Mareksa?"
"Ha ha ha...! Ternyata
Pendekar Tanpa Na- ma tak lebih dari seorang pengecut! Tidak tahukah kau kalau
hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula?" Lelaki berpakaian merah
yang ter- nyata Kolo Mareksa itu balik bertanya dengan nada mengejek. Mulutnya
tak henti-hentinya tertawa seraya memandangi istri Pendekar Tanpa Nama.
"Keparat!"
"Heaaa...!" Bersamaan dengan umpatan Pendekar Tan- pa Nama, Kolo
Mareksa melompat sambil meng- hentakkan kedua tangannya. Pendekar Tanpa Nama
terpental beberapa tombak ke belakang. Tu- buhnya jatuh bergulingan di serambi
rumah. Se- rangan jarak jauh Kolo Mareksa ternyata datang begitu cepat hingga
tak sempat dielakkannya.
Kedua anak kembar yang tadi asyik
menik- mati ubi rebus segera berlarian mendekati ibunya. Mereka tampak
ketakutan, meskipun sang ibu be- rusaha menenangkannya.
Belum sempat Pendekar Tanpa Nama
berdi- ri dengan sempurna, Kolo Mareksa telah melan- carkan serangan susulan.
Namun dengan cepat Pendekar Tanpa Nama melemparkan tubuhnya ke lantai, lalu
bergulingan. Brrraakkk! Serangan jarak jauh yang berupa deruan angin kencang
menghantam pintu rumah hingga roboh. Melihat kebringasan lawannya, Pendekar
Tanpa Nama tak ingin gegabah. Begitu berhasil mengelakkan serangan, tubuhnya
segera melent- ing bangkit dan melompat menjauhi rumah. Ia in- gin pertarungan
ini jauh dari kedua putranya yang masih kecil. Dia khawatir serangan lawan akan
mengenai mereka. Lelaki setengah baya berpa- kaian coklat muda itu mendarat
ringan di tengah halaman. Melihat lawannya berada di halaman, Kolo Mareksa
berbalik. Cepat dia melompat sambil me- lancarkan serangan. Lelaki berpakaian
merah ini tampaknya tak ingin memberi kesempatan kepada lawan untuk balas
menyerang. Dia tahu yang di- hadapinya bukan tokoh sembarangan.
Namun dengan secepat kilat Pendekar
Tan- pa Nama melentingkan tubuh ketika serangan la- wan datang. Ketika tubuhnya
berada di udara itu- lah dia melakukan serangan balasan. Kedua tan- gannya
dihentakkan dengan keras. Melesatlah se- larik cahaya kemerahan menuju tubuh
lawan. Pendekar Tanpa Nama pun tak ingin melakukan serangan dengan jurus-jurus
ringan. Lawannya te- lah menyerang dengan ilmu-ilmu andalan yang sangat
berbahaya.
Dalam sekejap pertarungan jarak
jauh itu tak terelakkan lagi. Keduanya saling pukul dan tangkis dari jarak
sekitar enam tombak. Bagi Sunu Bagas kara dan Pratangga kejadian ini tentu saja
sangat aneh dan mengherankan. Baru kali inilah mereka menyaksikan pertarungan
seperti itu.
Apalagi ketika kedua tokoh berilmu
tinggi itu saling mengadu tenaga dalam. Darah me- rembes dari mata dan telinga
Pendekar Tanpa Na- ma. Rupanya, pendekar yang telah sepuluh tahun lamanya
mengundurkan diri dari rimba persilatan itu kewalahan menghadapi musuhnya.
Meskipun seluruh kekuatan tenaga dalamnya telah dikerah- kan, ternyata kekuatan
lawan berada di atas ke- mampuannya.
Kedua anak kembar itu menjerit
melihat sang ayah gemetaran. Saat itulah istri Pendekar Tanpa Nama melepaskan
pelukan Sunu Bagaskara dan Pratangga. Tubuhnya yang terbalut pakaian putih
melesat ke tengah arena pertarungan. Ia ta- hu suaminya berada dalam keadaan
yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwanya.
* * *
"Hiaaa...!" Jrats! Sebuah
pukulan keras yang dilakukan Wa- let Putih Dari Selatan menyambar leher Kolo
Ma- reksa. Tubuh lelaki bertubuh tinggi dan besar itu oleng. Namun apa yang
terjadi kemudian benar- benar mengejutkan istri Pendekar Tanpa Nama.
Tiba-tiba saja tubuh Kolo Mareksa
berubah wujud menjadi dua. Di hadapan Walet Putih Dari Selatan kini berdiri dua
sosok kembar Kolo Marek- sa.
"Heh, Ilmu 'Canda
Birawa'...," gumam wani- ta itu dengan mata terbelalak, tak percaya.
Walet Putih Dari Selatan tentu saja
kehera- nan. Dari mana Kolo Mareksa memperoleh ilmu yang menurut kabarnya telah
punah ratusan ta- hun lalu?
"Ha ha ha...! Kau tentu heran
melihatku memiliki Ilmu 'Canda Birawa'. Apa kau lupa, Walet Putih, Kolo Mareksa
memiliki Ilmu 'Luluh Raga' yang mampu membuat orang tetap awet muda. Dengan
bantuan ilmu itu aku melakukan tapa selama bertahun-tahun untuk memperoleh Ilmu
'Canda Birawa' yang punah dari muka bumi ini ra- tusan tahun silam. Ha ha
ha...! Kini tak satu pun pendekar di rimba persilatan yang akan mampu
mengalahkan Kolo Mareksa. Dan, kau harus mati di tanganku, Walet Putih! Kecuali
kalau dirimu bersedia bersumpah tidak akan mencampuri uru- sanku selama
hidupmu!"
Tergetar hati Walet Putih Dari
Selatan men- dengar ancaman Kolo Mareksa.
"Sombong! Jangan kira aku akan
menyerah begitu saja kepadamu, Kolo Mareksa!" dengus Wa- let Putih Dari
Selatan penuh kemarahan. "Kita tuntaskan pertarungan ini!"
Sambil mengucapkan kata-kata itu
Walet Putih Dari Selatan mundur dua tindak untuk mengambil jarak. Dengan penuh
kewaspadaan tangannya bergerak meloloskan pedang yang ter- sampir di pundaknya.
Sringng! "Hadapi senjata pusaka 'Pedang Wangi'-ku ini, Kolo Mareksa!"
Wuutt! Wuttt! Walet Putih Dari
Selatan memutar senjata andalannya yang bernama Pedang Wangi. Deru angin
putaran pedang menghembuskan aroma wangi. Namun, sebentar kemudian berubah men-
jadi hawa panas yang menyengat. Walet Putih Dari Selatan melenting tinggi.
"Hiaaa...!" Begitu
mendarat dua tombak dari tempat suaminya berdiri, wanita itu langsung
melepaskan pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga da- lam tinggi. Tak
pelak lagi, Kolo Mareksa yang ten- gah mengadu tenaga dalam dengan Pendekar
Tan- pa Nama terkena serangan itu. Tubuhnya terdo- rong dua tombak ke belakang,
lalu jatuh bergulin- gan di tanah.
Melihat Kolo Mareksa berusaha
melancar- kan serangan balasan, wanita itu melompat dan menerjangnya. Sebuah
tendangan keras tak mam- pu dielakkan Kolo Mareksa. Dadanya telak terten- dang.
Lelaki berpakaian merah itu
terjungkal ke samping kanan. Namun, dengan cepat dia melom- pat bangkit.
"Perempuan Sundal, mampus
kau!" Kolo Mareksa melompat melancarkan ten- dangan keras. Namun, wanita
cantik itu memapa- kinya dengan pukulan tangan kanan.
Plakkk! "Ihh...!" Istri
Pendekar Tanpa Nama terpekik kaget ketika tangannya berbenturan keras dengan
kaki lawan. Dirasakan sekujur lengan kanannya berge- tar hebat. Tampaknya,
kekuatan tenaga dalamnya berada di bawah lawan. Menyadari hal itu ia me- lompat
untuk menghindari serangan susulan yang berupa pukulan tangan kanan.
Pendekar Tanpa Nama yang telah
terluka parah beringsut-ingsut mendekati kedua putra kembarnya. Dia ingin
menyelamatkan Sunu Ba- gaskara dan Pratangga, sementara istrinya meng- hadapi
Kolo Mareksa. Lawan terlalu berat dan berbahaya. Kalau kedua putranya tidak
segera dis- elamatkan bisa-bisa mereka menjadi korban ke- bengisan Kolo
Mareksa. Pendekar Tanpa Nama melesat membawa pergi kedua anaknya.
Istri Pendekar Tanpa Nama yang
dengan gi- gih menghadapi Kolo Mareksa memperlihatkan keunggulannya. Ternyata
tidak percuma julukan Walet Putih Dari Selatan yang diberikan orang ke-
padanya. Wanita itu terus mengerahkan jurus- jurus andalan.
Beberapa kali serangan gencar yang
dilaku- kannya berhasil mendesak Kolo Mareksa. Adu te- naga dalam dilakukannya
bersama Pendekar Tan- pa Nama ternyata telah menguras banyak tenaga dalam Kolo
Mareksa.
"Hiaaatt...!" Walet Putih
Dari Selatan melesat dengan membabatkan pedangnya ke arah dua sosok Kolo
Mareksa. Namun dengan secepat kilat kedua sosok Kolo Mareksa itu melompat ke
samping kanan dan kiri. Sehingga, babatan Pedang Wangi hanya men- genai tempat
kosong.
Wanita berpakaian putih itu memutar
tu- buhnya dan mengejar sosok Kolo Mareksa yang berada di sebelah kanan.
Diburunya lelaki berpa- kaian merah itu dengan babatan dan tusukan pe- dang.
Namun, Kolo Mareksa dengan tidak kalah cepatnya melompat lalu berjumpalitan ke
bela- kang.
"Ha ha ha...! Hadapi dia
sampai mati, Walet Putih!" ejek sosok Kolo Mareksa yang lain.
Mendengar ejekan itu berubahlah
pikiran
Walet Putih Dari Selatan.
Jangan-jangan yang ten- gah diburunya bukan sosok asli Kolo Mareksa.
"Bedebah! Heaatt...!"
Sambil memutar tubuh dengan cepat, Walet Putih Dari Selatan menebaskan 'Pedang
Wangi'- nya.
Wuuttt! Crrass! Tanpa
memperdengarkan pekikan atau jeri- tan, sosok Kolo Mareksa yang tengah
diburunya terjungkal dengan tubuh berlumuran darah. Luka menganga bekas babatan
pedang terlihat di bagian dada. Namun apa yang terjadi kembali menge- jutkan
wanita berpakaian putih itu. Kolo Mareksa yang terjungkal itu berubah wujud.
Tubuh berpa- kaian merah itu kini bertambah lagi jumlahnya.
Dengan mata terbelalak, Walet Putih
Dari Selatan memandangi kedua sosok jelmaan Kolo Mareksa. Hampir ia merasa
putus asa. Mana mungkin menghadapi tiga lawan yang tak dapat mati?
"Inikah kehebatan Ilmu 'Canda
Birawa' yang kesohor itu?" gumam Walet Putih Dari Selatan da- lam hati.
Ilmu 'Canda Birawa' memang memiliki
kea- nehan tersendiri. Barang siapa yang menguasai ilmu itu ia akan mampu
memperbanyak jumlah tubuhnya setiap terkena senjata lawan. Sehingga, sekuat dan
se ampuh apa pun lawan yang meng- hadapinya akan mati kelelahan. Sosok-sosok
jel- maan Ilmu 'Canda Birawa' memiliki kesaktian yang sama dengan sosok
aslinya.
Ketika ketegangan dan rasa heran
tengah mencekam Walet Putih Dari Selatan, tiba-tiba ber- kelebat sesosok
bayangan coklat di belakang ru- mah. Sosok bayangan yang tak lain Pendekar Tan-
pa Nama itu masuk ke rumahnya melalui pintu belakang. Tak lama kemudian,
Pendekar Tanpa Nama telah melangkah keluar, kali ini lewat pintu depan.
Rupanya, lelaki setengah baya itu mengam- bil senjata andalannya. Di tangan
kiri tergenggam sebatang keris berukuran panjang melebihi uku- ran keris biasa.
Warangkanya yang terbuat dari kayu jati hitam berukir gambar matahari terbit.
Itulah keris yang sangat terkenal di dunia persila- tan selama dua puluh tahun
terakhir ini. Keris Sakti Tanpa Wujud, begitulah nama senjata itu.
Begitu sampai di serambi depan
Pendekar Tanpa Nama langsung melesat ke tengah kancah pertarungan. Dia ingin
membantu istrinya yang tengah menghadapi keroyokan tiga sosok Kolo Ma- reksa.
"Kolo Mareksa! Hadapi
aku!" teriak Pende- kar Tanpa Nama. Laki-laki itu mendarat beberapa tombak
di dekat istrinya yang tengah bertarung melawan dua sosok Kolo Mareksa.
Sementara sosok Kolo Mareksa yang
tengah memperhatikan pertarungan menoleh ke arah Pen- dekar Tanpa Nama.
"He he he...! Kau datang lagi,
Pendekar Tan- pa Nama. Sia-sia saja kau kemari. Hanya akan mengantarkan nyawa
kepadaku...."
Menyadari lawan telah mengeluarkan
ilmu andalan untuk menghadapi Walet Putih Dari Selatan, Pendekar Tanpa Nama tak
membuang-buang waktu. Diloloskannya keris pusaka dari warang- kanya
Srrats! Keris panjang dan lebar itu
digenggam den- gan kedua tangan. Lalu, diangkatnya sampai ke atas kepala. Mata
Pendekar Tanpa Nama terpejam sesaat. Lalu....
"'Aji Sirna Wujud'...!
Heaaa...!" Teriakan ke- ras menggelegar dikeluarkan Pendekar Tanpa Na- ma.
Tiba-tiba Keris Sakti Tanpa Wujud lenyap dari pandangan. Sekejap kemudian tubuh
Pendekar Tanpa Nama ikut lenyap.
Kolo Mareksa tampak kaget
menyaksikan kejadian itu. Matanya jelalatan ke sana kemari mencari Pendekar
Tanpa Nama. Namun kemu- dian..... Sssts!
"Haaah...!" Kolo Mareksa
tersentak kaget bukan main. Tiba-tiba sebelah lengannya terpotong dan jatuh ke
tanah. Darah segar seketika mengucur deras dari lengannya yang buntung. Sedikit
pun tak ada rasa sakit ketika lengannya terbabat keris lawan yang tak tampak.
Itulah kehebatan Keris Sakti Tanpa
Wujud apabila dikerahkan dengan ajian 'Sirna Wujud'. Se- lain lawan tak mampu
melihat ke mana arah gera- kannya, lawan pun akan terbabat atau tertusuk tanpa
merasakan sakit.
Kolo Mareksa langsung berlompatan
ke sa- na kemari disusul dengan lentingan-lentingan tubuh yang cepat. Itu
dilakukan untuk menghindari serangan lawan. Dengan gerakan cepat dan tak
terduga itu mungkin dirinya dapat mengelakkan serangan lawan yang tak nampak.
Namun tindakannya ternyata sia-sia.
Sece- pat apa pun gerakan Kolo Mareksa tetap tak lepas dari pandangan lawan.
Itu terbukti ketika suatu saat Kolo Mareksa kembali tersentak kaget. Kaki
kanannya buntung dan terpental dari tubuhnya. Darah segar mengucur deras
membasahi tanah kering di halaman rumah itu.
"Ha ha ha...! Apa yang akan
kau lakukan, Kolo Mareksa" terdengar suara tawa tanpa wujud.
Kolo Mareksa kebingungan mencari
Pende- kar Tanpa Nama. Suara itu terdengar dari berbagai arah dan
berputar-putar. Kemudian, matanya ter- belalak kaget melihat kedua sosok
jelmaan dirinya yang tengah menghadapi Walet Putih Dari Selatan berjatuhan
dengan kaki buntung. Rupanya, mere- ka pun terbabat Keris Sakti Tanpa Wujud.
"Bedebah! Heaaa...!"
Teriakan keras terdengar memekakkan te- linga. Bersamaan dengan berhentinya
suara itu sosok-sosok tubuh Kolo Mareksa dan jelmaannya berubah menjadi banyak,
seolah tubuh mereka mampu membelah diri. Bahkan, mereka yang tadi terluka dan
berjatuhan kini bangkit kembali. Wa- jah mereka yang beringas dan menyeramkan
seo- lah hendak menelan Walet Putih Dari Selatan yang tampak kebingungan.
Wanita cantik berpakaian putih itu kini berada dalam kepungan sosok-sosok Kolo
Mareksa.
Namun belum sempat sosok-sosok Kolo
Ma- reksa yang berjumlah lima belas orang itu melan- carkan serangan, mendadak
mereka menjerit ka- get. Tubuh-tubuh berpakaian serba merah itu ja- tuh
bergulingan dengan tangan dan kaki buntung. Bahkan, dua orang di antaranya
terbabat lehernya hingga putus.
Ketika lawan-lawannya berjatuhan
Walet Putih Dari Selatan melesat dari tempatnya. Namun jelas sekali gerakannya
tidak dilakukan sendiri. Seseorang telah membopong tubuhnya.
Salah satu sosok Kolo Mareksa
memekik keras. Bersamaan dengan itu sosok-sosok lain membelah diri. Tanpa
diperintah lagi, ketiga puluh sosok Kolo Mareksa secara bersamaan menghen-
takkan tangan ke arah melesatnya tubuh Walet Putih Dari Selatan.
Srratss! Srratss! Belasan sinar
kemerahan melesat begitu ce- pat menghantam tubuh Walet Putih Dari Selatan. Tak
dapat dihindarkan, tubuh Walet Putih Dari Se- latan terpental dan jatuh
bergulingan ke tanah di luar halaman rumahnya. Pekikan keras terdengar dari
mulut wanita cantik itu, bersamaan dengan jeritan lain dari sosok tanpa wujud.
Namun ketika sosok tanpa wujud
jatuh ke bumi nampaklah sosok Pendekar Tanpa Nama. Tubuhnya yang mengenakan
pakaian coklat muda telah berubah hangus. Hanya kerisnya yang saat itu belum
terlihat. Kedua tangan Pendekar Tanpa Wujud terbuka, berarti keris itu tidak
ada di geng gamannya.
Rupanya, serangan yang dilakukan
Kolo Mareksa dan sosok-sosok jelmaannya menghan- tam telak tubuh Pendekar Tanpa
Nama yang ten- gah membopong istrinya. Sementara Walet Putih Dari Selatan
sendiri terhindar dari serangan dah- syat itu. "Hua ha ha...! Suamimu tak
akan mampu bertahan terhadap 'Pukulan Api Neraka'-ku, Walet Putih. Kini tinggal
satu pilihan untukmu, nyawa- mu melayang bersama suamimu atau tetap hidup
dengan satu janji. Kau tak akan mengganggu dan mencampuri urusanku," ujar
Kolo Mareksa seraya melangkah mendekati Walet Putih Dari Selatar yang terkapar
tak berdaya.
Hati wanita itu tergetar mendengar
tawaran yang diucapkan Kolo Mareksa. Hati kecilnya meno- lak untuk tidak
menyerang. Jiwa kependekaran- nya tak sudi menerima tawaran yang begitu me-
rendahkan dirinya itu. Namun saat teringat kedua putra kembarnya yang masih
kecil, perasaan itu sedikit luntur. Ingin rasanya ia menerima tawaran itu,
namun mulutnya tetap bungkam. Hanya me- ringis-ringis menahan hawa panas yang
mendera sekujur tubuhnya. Ia ragu dapat mengalahkan ke- hebatan Kolo Mareksa.
Apalagi jika benar sua- minya akan tewas akibat pukulan dahsyat 'Api Ne- raka'
tadi.
"Kau memang keras kepala,
Walet Putih! Hih...!" Jrats!
Walet Putih Dari Selatan menjerit
setinggi langit. Kolo Mareksa telah menghujamkan dua ja- rinya ke mata wanita
itu. Seketika darah mengu- cur dari sepasang mata Walet Putih Dari Selatan.
Rasa sakit yang tak terhingga dirasakannya. Pan- dangannya gelap. Ia tak mampu
melihat apa pun di sekitarnya. Tubuhnya yang telah kehabisan te- naga
berkelojotan sambil mengerang-erang kesaki- tan. Suara tawa berkepanjangan Kolo
Mareksa makin lama makin menjauh dari tempat itu.
Kolo Mareksa dan sosok-sosok
jelmaannya telah pergi. Tinggallah sepasang suami-istri, Pen- dekar Tanpa Nama
dan Walet Putih Dari Selatan, yang menderita. Tersiksa oleh rasa sakit bercam-
pur hawa panas yang mendera sekujur tubuh me- reka.
"Istriku...." Pendekar
Tanpa Nama memanggil istrinya. Kepalanya bergerak perlahan ingin melihat kea-
daan Walet Putih Dari Selatan yang mengerang- erang kesakitan.
"Bagaimana keadaanmu,
Kakang?" "Aaah.... Inilah yang harus ditanggung orang-orang seperti
kita. Aku rasanya tak kuat la- gi.... Ambillah Keris Sakti Tanpa Wujud dan
bawa- lah ke tempat kediaman Resi Watuhumalang. Ke- dua anak kita kutitipkan
kepadanya. Kuharap me- reka kelak akan mampu mengalahkan kedurja- naan Kolo
Mareksa...."
Dengan hati penuh rasa iba Walet
Putih Da- ri Selatan memeluk suaminya yang dalam keadaan sekarat. Sementara
tangan kanan Pendekar Tanpa Nama tampak telah menggenggam kembali kerisnya.
Rupanya tadi ketika Kolo Mareksa belum per- gi, keris itu dibiarkan tergeletak
di samping tu- buhnya dalam keadaan tanpa wujud.
Setelah Keris Sakti Tanpa Wujud
diberikan kepada Walet Putih Dari Selatan, Pendekar Tanpa Nama menghembuskan
napas terakhir. Tamatlah riwayat pendekar itu.
Walet Putih Dari Selatan yang telah
menga- lami kebutaan dengan tertatih-tatih melangkah meninggalkan suaminya.
Hatinya hancur dan di- rundung kesedihan yang tak terkira. Wanita itu te- rus
melangkah menuju tempat tinggal Resi Watu- humalang untuk menemui kedua putra
kembar- nya.
* * *
Nyi Buyut Brintik menghentikan
ceritanya sejenak. Dihelanya napas panjang. Kepalanya dito- lehkan ke kiri ke
kanan dan dengan matanya yang terkatup rapat.
Suta Srengenge hanya diam membisu.
"Hanya dua purnama aku berada di rumah Resi Watuhumalang. Kemudian, aku
berpamitan untuk meninggalkan kedua putraku. Aku tinggal- kan ayah dan pamanmu.
Mulai saat itulah aku pergi mengasingkan diri. Sengaja kupilih tempat ini yang
tidak terlalu jauh dengan kediaman Resi Watuhumalang. Maksudku agar aku tetap
selalu dekat dengan kedua putraku. Pada waktu-waktu tertentu kusempatkan
menjenguk mereka secara diam-diam. Hingga kedua putraku menjadi pendekar aku
tetap berada di sini. Aku tak tahu apakah Kolo Mareksa mengetahui kalau
pendekar kembar adalah putraku. Yang jelas, suatu ketika kudengar kabar bahwa
Sunu Bagaskara, ayahmu, terbunuh oleh anak buah Kolo Mareksa. Empat purnama
kemudian pamanmu pun terbunuh. Ibumu yang tengah hamil tua mengandung dirimu
ikut menjadi korban keganasan mereka. Untung saja aku dapat
menyelamatkanmu...."
Suta Srengenge terdiam dengan wajah
me- rah padam. Hatinya dipenuhi kemarahan dan dendam kesumat. "Betapa keji
perbuatan Kolo Ma- reksa," gumam Suta Srengenge dalam hati.
Namun hal itu bukan tak diketahui
Nyi Buyut Brintik. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu
menden- gar kisah hidup keluargamu, Suta Srengenge. Ta- pi, kuharap engkau
pandai-pandai menjaga diri, mengendalikan amarah dan perasaan dendammu,"
ujar Nyi Buyut Brintik yang dulu berjuluk Walet Putih Dari Selatan. "Aku
sering mengatakan kepa- damu bahwa seorang pendekar yang berjiwa ksa- tria
tidak layak memendam dendam kesumat. Seo- rang ksatria akan tetap berjiwa
gagah. Sekalipun dendam membara di dalam hatinya. Ia harus mampu meredamnya
hingga berubah menjadi sua- tu perasaan cinta kasih. Sebisa-bisanya seorang
pendekar harus berbuat baik kepada sesamanya. Memang, seorang pendekar perlu
bersikap keras dan tegar. Tapi ia juga harus bisa bersikap lembut seperti air.
Harus mampu mendahulukan sikap diri yang menunjukkan budi luhur kita...."
"Aku tak mengerti apa yang kau
maksud- kan, Buyut," ujar Suta Srengenge. Yang ia ketahui, seorang
pendekar adalah orang yang keras, mam- pu memaksakan kehendaknya kepada setiap
mu- suhnya. Apalagi jika musuh itu jelas-jelas telah bertindak durjana,
menyebar maut di mana-mana dan meresahkan hidup orang banyak
"Kau masih terlalu hijau,
Cucuku." Nenek bermata buta itu tersenyum seraya menggeleng-gelengkan
kepala. Ia segera menyadari wejangannya yang terlalu panjang kurang dapat
diterima cucunya. Seorang pemuda seperti Suta Srengenge masih diliputi hawa
nafsu yang meng- gebu-gebu. Darah mudanya akan cepat naik jika melihat atau
mendengar sesuatu yang tidak sesuai dengan hatinya. Apalagi jika hal itu jelas
menying- gung pribadi dan martabat dirinya.
Namun, Nyi Buyut Brintik segera
sadar kembali, pengalaman hidup seseorang akan men- ciptakan perubahan sikap
dan sifat orang itu. Orang bisa lembut dan ganas tergantung pada pengalaman
hidup yang dijalaninya.
"Maksudku seorang pendekar
sejati hanya akan berjuang untuk menegakkan dan membela kebenaran. Bukan
memusuhi atau membunuh se- samanya yang bertindak durjana. Yang harus kita
tumpas adalah kedurjanaan, kejahatan, dan keangkaramurkaan. Bukan manusia yang
berbuat durjana itu. Jadi, seorang pendekar sejati akan re- la memberi ampun
kepada orang yang bertaubat dan menyadari kesalahannya. Kalau kita mampu berbuat
seperti itu niscaya kedamaian akan tercip- ta di atas muka bumi. Tidak ada lagi
permusuhan antara sesamanya...."
Nenek buta itu kembali menerangkan
kepa- da cucunya. Pengasingan diri selama hampir se- tengah abad ini telah
mematangkan jiwanya. Pe- nyucian diri yang dilakukannya dengan menjalani tapa
bertahun-tahun menyadarkan dirinya bahwa kedamaian hanya akan tercipta jika
keangkara- murkaan lenyap dari hati manusia.
"Buyut, bagaimana kalau si
durjana itu tak bisa disadarkan dengan cara baik-baik?" tanya Su- ta
Srengenge setelah terdiam beberapa lama.
Nyi Buyut Brintik tersenyum melihat
kepo- losan cucunya.
"Itulah sebabnya mengapa
kuajarkan ilmu bela diri kepadamu, Suta. Gunakan kepandaian yang kau miliki
untuk menyadarkan mereka. Ka- lau dengan cara halus tak mempan, apa boleh buat.
Untuk menumpas kejahatannya kita harus menumpas pelakunya!" tegas Nyi
Buyut Brintik. "Kau harus berani menghadapi orang-orang durja- na. Kau
tidak boleh mengeluh dan pantang menye- rah. Aku memberimu nama Suta Srengenge.
Nama yang memiliki arti 'Putra Matahari'. Namamu tak berbeda dengan kedua putra
kembarku. Sunu Ba- gaskara dan Pratangga. Keduanya memiliki arti yang sama,
Putra Matahari. Bagi kebanyakan orang mungkin nama tidaklah berarti. Tapi
bagiku nama dapat memberi semangat dan menggambar- kan jiwa pemiliknya.
Kuharapkan hal ini terjadi pada semua keturunanku. Berbuatlah berani seperti
ayah dan pamanmu. Mereka lebih baik mati daripada harus tunduk kepada nafsu
setan yang menyesatkan...."
"Satu lagi yang ingin
kutanyakan kepada- mu, Buyut. Bagaimana mungkin aku mampu menghadapi kehebatan
Kolo Mareksa yang kini te- lah menjadi penguasa tertinggi dunia
persilatan?"
"Itulah yang menjadi
persoalanku saat ini, Suta. Kolo Mareksa memiliki Ilmu 'Luluh Raga' yang
membuat dirinya tak pernah bisa tua. Seha- rusnya dia lebih tua usianya dariku.
Aku sendiri telah hampir satu abad. Tapi perlu kau ketahui, Putra Matahari,
'Canda Birawa' yang dimiliki Kolo Mareksa ternyata bukanlah Ilmu 'Canda Birawa'
yang sesungguhnya. Ini baru kuketahui setelah sekian tahun mengamati sepak
terjangnya. Kau tahu aku sering keluar dari tempat pengasingan ini. Aku mencoba
melihat dari dekat sepak terjang Kolo Mareksa...," jawab Nyi Buyut
Brintik.
Nenek yang dulu dikenal dengan
julukan Walet Putih Dari Selatan itu memang pada waktu- waktu tertentu keluar
dari rumahnya. Dengan Ke- ris Sakti Tanpa Wujud dan Ilmu 'Sirna Wujud'-nya dia
bisa menghilang dari pandangan mata orang. Sehingga, ia dapat dengan leluasa
mengamati Kolo Mareksa yang setengah abad lalu pernah menga- lahkannya,
"Ilmu 'Canda Birawa' yang sejati tidak akan menyebabkan pemiliknya melakukan
tinda- kan durjana, Cucuku. Konon kabarnya ilmu itu dulu dimiliki seorang
begawan, manusia setengah dewa yang berhati suci. Jadi, tak mungkin ia akan
berbuat kejahatan. Ilmu yang dimiliki Kolo Mareksa bukanlah 'Canda Birawa'
sejati, melainkan ilmu sihir yang sangat kuat. Untuk saat ini hanya ada satu
pendekar yang mampu mengalahkan Kolo Mareksa. Kabar yang kudengar dari
pembicaraan orang-orang persilatan, pendekar itu berjuluk si Pendekar
Gila."
"Pendekar Gila?" Suta
Srengenge tersenyum mendengar julukan itu.
Nyi Buyut Brintik kemudian
menceritakan ciri-ciri pendekar itu, seperti yang sering didengar- nya dari
orang-orang persilatan.
"Dia mempunyai ajian yang
mampu membi- nasakan segala macam ilmu sihir dan siluman," lanjut Nyi
Buyut Brintik. "Kini tugasmu yang per- tama adalah mencari Pendekar Gila.
Saat ini orang-orang persilatan belum ada yang melaku- kannya. Mereka merasa
ragu, apakah pendekar itu akan mampu mengalahkan Kolo Mareksa. Mereka tak ada
yang mengira kalau ilmu yang dimiliki Ko- lo Mareksa itu ilmu sihir, bukan
'Canda Birawa' sejati." Nyi Buyut Brintik lalu bangkit dari duduk- nya.
Kakinya melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di samping kanan.
"Suta Srengenge, ikutlah
aku!" Nyi Buyut Brintik membuka pintu kamar yang terbuat dari kayu tebal.
Suta Srengenge men- gikuti di belakang. Begitu sampai di dalam ruan- gan yang
sangat gelap terasa oleh Suta Srengenge aroma harum yang menyemak menusuk
hidung- nya. Baru kali ini Suta Srengenge diajak masuk ke ruangan itu. Padahal,
sudah dua puluh tahun lamanya dia tinggal bersama Nyi Buyut Brintik.
"Lihatlah!" Nyi Buyut
Brintik menunjuk ke sebuah peti kayu yang panjangnya lebih dari satu tombak.
"Di sana tersimpan dua benda pusaka. Aroma wangi ini berasal dari pedangku
yang ber- nama Pedang Wangi. Biarkan pedang itu tetap di tempatnya. Kau akan
menerima warisan Keris Sakti Tanpa Wujud milik kakekmu, Pendekar Tan- pa
Nama."
"Bukankah keris itu dulu telah
kau serah- kan kepada ayah, buyut?" tanya Suta Srengenge.
"Akulah yang mengambilnya
kembali ketika Sunu Bagaskara terbunuh secara licik oleh Kolo Mareksa...,"
jawab Nyi Buyut Brintik. Lalu, mem- beri isyarat kepada Suta Srengenge agar
mengang- kat peti panjang itu.
Suta Srengenge berjalan mendekati
peti be- risi dua benda pusaka milik keluarganya. Diang- katnya peti yang
terbuat dari kayu jati berwarna hitam pekat itu.
"Heh?!" Suta Srengenge
hampir tak percaya. Dia tak mampu mengangkat peti. Dicobanya sekali lagi. Kali
ini dengan mengerahkan tenaga dalam. Na- mun, hati pemuda itu semakin heran. Kalau
tadi peti bisa terangkat sendiri, kini bahkan ketika dia mengerahkan seluruh
tenaga dalamnya peti itu bergeming pun tidak!
Nyi Buyut Brintik hanya tersenyum.
"Ada sopan santunnya, Cucuku. Kita harus tahu cara untuk memegang senjata
pusaka seperti itu. Apa- lagi jika baru pertama kali. Berlututlah. Pusatkan batin
dan pikiranmu kepada benda yang akan kau ambil." Pemuda tampan berambut
panjang dike- pang itu mengikuti perintah neneknya. Setelah berlutut sesaat di
depan peti, dia mulai mengang- kat peti kayu itu. Dan, ternyata benar. Tanpa
be- ban sedikit pun peti kayu berhasil diangkatnya. Lalu, dibawanya peti itu
keluar ruangan.
Nyi Buyut Brintik membuka peti.
Terlihat- lah sebatang pedang dan sebuah keris dengan wa- rangka kayu hitam
mengkilap. Kerisnya berukuran panjang dan lebar, sedangkan pedangnya seperti
ukuran pedang biasa. Diambilnya keris yang beru- kuran tidak seperti biasanya,
lalu diserahkan ke- pada Suta Srengenge.
Pemuda itu menerimanya. Diciumnya
ujung tangkai keris.
"Inikah Keris Sakti Tanpa
Wujud, Buyut?" tanya Suta Srengenge kemudian.
Nyi Buyut Brintik mengangguk.
"Gunakan keris itu untuk memerangi kejahatan, Cucuku. Penggabungan antara
keampuhan keris itu dengan Ilmu 'Sirna Wujud' yang pernah kuajarkan kepa- damu
akan membuat lawan tak mampu melihat tubuhmu."
Suta Srengenge mengangguk
mengiyakan. Rasa bangga dapat memiliki senjata pusaka yang pernah mengharumkan
nama keluarganya seketi- ka menyemak di hati pemuda itu. Betapa dirinya akan
menjadi seorang pendekar hebat di dunia persilatan kelak. Seperti kakek, ayah,
atau pa- mannya.
"Akan selalu aku ingat semua
pesanmu, Buyut. Aku mohon doa restumu...."
"Berangkatlah! Buyut akan
tetap berada di sini. Aku ingin menjalankan pertapaanku hingga akhir
hayatku!"
Suta Srengenge bangkit dari
duduknya. Ia melangkah menuju pintu. Nyi Buyut Brintik men- gikuti cucunya
sampai di ambang pintu. Dengan berat hati karena harus berpisah dengan nenek-
nya, Suta Srengenge melangkah meninggalkan gu- buk bambu.
Seakan mampu melihat dengan kedua
ma- tanya yang buta, Nyi Buyut Brintik memandangi keberangkatan Suta Srengenge.
Pemuda itu terus menaiki tebing batu cadas yang mengapit lembah tempat
tinggalnya selama ini.
Sampai di atas, Suta Srengenge
membalik- kan tubuh. Dipandanginya gubuk bambu nenek- nya dan semua yang ada di
sekitar tempat itu. Ha- tinya tak rela berpisah dengan tempat tinggalnya.
"Selamat tinggal, Buyut,"
gumam Suta Srengenge seraya memandangi neneknya.
Nyi Buyut Brintik tersenyum seolah
men- dengar ucapan cucunya. Tak lama kemudian, pe- muda berambut panjang
dikepang melesat ke arah utara.
***
3
Keberadaan Kolo Mareksa yang
menobatkan diri sebagai tokoh nomor satu rimba persilatan ternyata tidak hanya
menggemparkan tokoh-tokoh persilatan. Sepak terjang yang dilakukan anak buahnya
pun kian hari kian meresahkan masya- rakat. Di sana-sini terdengar keributan.
Perampo- kan terjadi di wilayah selatan. Penculikan terhadap wanita, terutama
gadis-gadis desa, semakin sering terdengar.
Anak buah Kolo Mareksa tak
segan-segan menganiaya. Bahkan, membunuh siapa pun yang membangkang keinginan
mereka. Tak satu pun orang yang berani bertindak. Anak buah Kolo Ma- reksa yang
dikenal dengan sebutan Setan Merah, karena mereka selalu mengenakan pakaian
serba merah, tak pernah pandang bulu. Lurah dibunuh. Rakyat kecil dianiaya
kalau tidak mau menyerah- kan anak gadis mereka.
Semua orang tentu mengetahui apa
yang akan dialami anak gadisnya jika diserahkan kepa- da Kolo Mareksa. Namun,
mereka tiada berdaya untuk menolak. Begitu pula setiap kali anak buah Kolo
Mareksa datang meminta upeti. Orang akan menyerahkan saja. Tangis pilu
mengiringi kebe- rangkatan anak gadis mereka. Dan, tangisan seru- pa akan
kembali terjadi manakala anak gadisnya dipulangkan ke rumah beberapa bulan
kemudian.
Mereka akan segera mendengar kisah
sedih yang dialami para wanita piaraan Kolo Mareksa.
Gadis-gadis cantik dipaksa melayani
nafsu setan Kolo Mareksa dan para anak buahnya.
Bertahun-tahun keadaan seperti itu
ber- langsung. Orang semakin lama menganggap hal itu sebagai sesuatu yang harus
terjadi. Mau apa? Melawan jelas tak mampu. Menolak, kematian yang akan
didapatnya.
Di rumah orang resah. Di pasar
orang re- sah. Di sawah atau ladang pun setali tiga uang. Bahaya selalu
mengancam.
* * *
Di sebuah pasar yang cukup ramai
pagi itu menjadi ajang keributan. Empat lelaki berpakaian merah turun dari
kuda. Mereka melangkah masuk ke pasar. Satu-persatu para pedagang menyerah- kan
upeti yang memang telah dipersiapkan.
Tanpa sepengetahuan mereka, di
sebuah kedai makan di depan pasar, sepasang mata ten- gah mengawasi. Mata tajam
seorang pemuda ber- pakaian putih itu terus mengawasi keempat anak buah Kolo
Mareksa.
"Ehm.... Siapa mereka itu,
Pak?" tanya pe- muda berpakaian putih. Rambutnya dikepang dan dikalungkan
di leher.
Lelaki tua pemilik kedai menjawab
dengan berbisik, "Mereka anak buah Kolo Mareksa. Setiap pagi kami harus
membayar upeti kepada mereka."
Pemuda berpakaian putih mengerutkan
kening. "Apa itu upeti?" tanyanya dalam hati. "Pak, apa upeti
itu?" tanyanya kemudian.
"Ssstt...! Mereka
datang," sahut lelaki tua pemilik kedai.
Keempat anak buah Kolo Mareksa
berjalan menuju kedai itu. Sebelum sampai di kedai mereka berhenti di depan
seorang pedagang buah yang be- rada dekat pintu pasar.
"Ampun, Tuan. Pagi ini saya
belum menda- patkan uang. Belum satu pun orang yang membeli dagangan
saya...."
"Heh! Goblok! Berapa kali
kuperingatkan, bawa uang dari rumah. Bukankah kau tahu setiap pagi aku akan
datang?!" bentak lelaki bertubuh tinggi besar dengan mata melotot lebar.
Lelaki tua pedagang buah
terbungkuk- bungkuk ketakutan. Tubuhnya yang kurus tam- pak bergemetaran.
"A... ampun, Tuan. Saya selalu
ingat itu. Tapi kemarin saya tidak banyak mendapat pembe- li. Dagangan ini pun
sisa kemarin...."
"Bodoh!" Plakkk!
"Aduh! Ampun, Tuan. Saya akan membayar dua kali lipat besok pagi. Saya
berjanji, Tuan."
Lelaki tua itu meringis kesakitan.
Di sudut bibirnya menetes darah karena digampar lelaki bercambang lebat.
Tiba-tiba salah seorang dari empat
lelaki berpakaian merah mencabut golok. Lalu, diang- katnya hendak membabat
pedagang buah. Namun belum sempat golok itu membacok, sesosok bayangan melesat.
Trrapp!
Lelaki yang membabatkan golok
tersentak kaget. Golok di tangannya terhenti di tengah jalan. Ketika menoleh,
dilihatnya seorang lelaki berpa- kaian putih telah mencekal goloknya.
"Kurang ajar! Siapa
kau?!" bentak lelaki berwajah bengis itu seraya menarik goloknya. Na- mun
begitu kuat cekalan tangan pemuda itu. Se- dikit pun goloknya tak bergeming.
"Tidak bisakah kalian bersikap
sopan sedi- kit terhadap orang tua ini?" tanya pemuda berpa- kaian putih,
dingin.
"Berani mati kau mencampuri
urusan Ma- haguru Kolo Mareksa!"
Dua orang lelaki berpakaian merah
merang- sek maju. Tendangan dan pukulan dilancarkan ke arah pemuda berpakaian
putih. Namun dengan gerakan cepat pemuda berambut dikepang itu ber- jumpalitan
ke belakang. Lelaki berpakaian merah yang telah mencabut goloknya tidak mau
ketingga- lan. Dengan penuh kegeraman dia memburu pe- muda berpakaian putih
yang punggungnya ter- sampir keris panjang.
Seketika pertarungan satu lawan empat
ter- jadi.
Orang-orang pasar berlarian keluar
menuju tempat pertarungan. Mereka terkejut melihat pe- muda berambut kepang.
Sungguh berani pemuda itu, pikir orang-orang itu. Namun ketika melihat betapa
pemuda itu mampu mengatasi setiap se- rangan lawan, mereka jadi berdecak kagum.
Pemuda berwajah tampan itu ternyata
bu- kan orang sembarangan. Ilmu silat yang dimilikinya mampu menghadapi
keroyokan ketiga lelaki berpakaian merah.
"Siapa pemuda itu?"
"Berani benar dia menantang anak buah Kolo Mareksa...."
Gumaman-gumaman terdengar dari
bebe- rapa orang yang berkerumun menyaksikan perta- rungan. Tentu saja mereka
tak menduga ada seo- rang pemuda yang berani menantang anak buah Kolo Mareksa.
Sementara itu, lelaki tinggi besar
dan ber- kumis melintang yang membentak pedagang buah berdiri menyaksikan
pertarungan ketiga kawan- nya. Dalam hati dia merasa kagum melihat ke- mampuan
pemuda itu.
Di kancah pertarungan, pemuda
berpakaian putih, melenting ke udara ketika dua orang lawan yang telah mencabut
golok membabat ke arahnya. Sambil meluncur turun kedua kaki pemuda itu
melancarkan serangan.
Dua orang lelaki berpakaian merah
yang tak sempat mengelak menjerit keras. Kedua kaki la- wan mendarat telak di
dada dan kepala mereka. Kedua anak buah Kolo Mareksa itu terdorong be- berapa
langkah ke belakang. Mulut mereka menge- luarkan darah.
Melihat kejadian itu beberapa orang
yang berkerumun bertepuk tangan. Ada pula yang ber- suit memberi semangat
kepada pemuda berpa- kaian putih.
"Biar mampus begundal-begundal
Kolo Ma- reksa itu," kata seorang lelaki setengah baya kepada kawannya.
Lelaki berkumis melintang yang
sejak tadi menyaksikan perkelahian menjadi geram. Tubuh- nya melesat memasuki
arena pertarungan. Sejenak pertarungan terhenti ketika lelaki berwajah bengis
itu membentak.
"Anak muda, siapakah kau
sebenarnya?!" "Untuk apa kau tanyakan namaku?" Pemu- da itu
balik bertanya. Sorot matanya tajam menen- tang pandang lelaki berwajah bengis.
"Asal kau ta- hu saja, akulah yang akan membantai Kolo Ma- reksa!" "He
he he...! Hadapi dulu Gopras!"
Lelaki berkumis melintang langsung
melesat dan memutar kedua tangannya. Ternyata lelaki bernama Gopras itu tidak
hanya bermulut besar. Gerakan tangannya yang cepat menerbitkan suara menderu.
Dengan sikap begitu tenang pemuda
be- rambut dikepang menggeser tubuhnya ke kanan dan ke kiri menghindari pukulan
lawan.
Blukkk! Satu pukulan keras mendarat
telak di pun- dak pemuda berpakaian putih. Tubuhnya sem- poyongan beberapa
langkah ke samping kanan. Dengan cepat dia segera memulihkan keseimban- gan
badannya. Begitu Gopras kembali melancar- kan serangan, kedua tangan pemuda
berpakaian putih terbuka dengan cepat.
Plakkk! Benturan keras terjadi.
Keduanya terdorong ke belakang. Tampaknya kedua belah pihak mengerahkan tenaga
dalam.
Lelaki bengis itu tak ingin memberi
kesem- patan. Tubuhnya melompat sambil melancarkan tendangan keras. Pemuda
berpakaian putih mem- buang tubuhnya ke kiri, lalu bergulingan di tanah. Saat
itulah Gopras membalikkan tubuh dan menghujaninya dengan tendangan-tendangan
maut. Tubuh pemuda berambut dikepang terus bergulingan. Kini rambutnya yang
tadi terkalung di leher lepas dan ikut berputaran bersama tubuh- nya.
"Heaaa!" Ketika mendapat
kesempatan, pemuda itu melompat bangkit dengan bertumpu pada kedua telapak
tangan. Begitu gesit dan ringan gerakan pemuda itu. Dalam sekejap tubuhnya
telah berdiri tegak. Kedua tangannya yang membentuk cakar membentang lebar ke
atas. Kaki-kakinya terpen- tang dengan dada dibusungkan
"Walet Putih Menyergap
Mangsa!"ujar pe- muda itu keras.
Matanya yang tajam menatap wajah
Gopras. Lawannya itu tengah mempersiapkan jurus anda- lan.
Orang-orang pasar kelihatan tegang.
Ada yang berbisik-bisik kepada kawannya. Tampaknya mereka menaruh harapan pada
kemenangan pe- muda berpakaian putih.
"Bunuh saja si Gopras!"
kata seorang lelaki setengah baya yang berdiri di depan kedai.
"Heaaa...!" Dengan penuh
kegeraman Gopras melesat melancarkan serangan. Tubuhnya berputar di udara
dengan kedua tangan ikut berputar cepat.
Pemuda berpakaian putih segera
melompat ke samping. Begitu serangan itu lewat, dia melan- carkan tendangan ke
tubuh lawan.
Blukkk! Tendangan itu telak
mendarat di punggung Gopras. Lelaki berkumis melintang itu terhuyung- huyung
hampir jatuh terjerembab. Namun, dengan mulut mengeluarkan geraman keras Gopras
kem- bali melancarkan serangan.
Kedua tangannya yang membentuk
cakar meluncur ke wajah lawan. Tetapi, pemuda berpa- kaian putih segera
menjulurkan tangan dengan bentuk serupa. Terjadilah benturan keras. Kedua- nya
terdorong ke belakang. Lalu, kembali melesat dan bertarung dalam jarak dekat.
Sampai akhir- nya, sebuah pukulan yang dikerahkan dengan te- naga dalam tinggi
mendarat telak ke dada Gopras. Tubuh lelaki berpakaian merah itu terlontar
bebe- rapa tombak sampai di depan kedai. Mulutnya mengerang kesakitan.
Melihat Gopras memuntahkan darah
segar, ketiga kawannya segera bergerak mengeroyok pe- muda berpakaian putih.
Dengan senjata terhunus mereka kembali menyerang. Pemuda berpakaian putih
dengan mudah mengatasi serangan mereka.
Sambil melenting ke atas kedua
kakinya menendang dua orang lawannya. Pekikan keras terdengar hampir bersamaan.
Tubuh kedua lelaki berpakaian merah terjungkal ke tanah.
Seorang lagi yang membabatkan goloknya
terpental ke belakang. Ternyata, pemuda berpa- kaian putih telah lebih dulu
menyerangkan puku- lan tangan kanan ke dada lawan.
Ketiga lelaki berpakaian merah
bangkit ber- diri hendak kembali melancarkan serangan. Na- mun ketika mereka
melihat Gopras melarikan diri dengar menunggang kuda, ketiganya segera mele-
sat kabur.
Pemuda tampan berpakaian putih
tidak me- lakukan pengejaran. Sambil membersihkan pa- kaiannya, pemuda itu
melangkah menuju kedai tempatnya singgah tadi. Orang-orang langsung
menyambutnya dengan senyum. Ada yang berjabat tangan sambil membungkukkan badan
memberi hormat. "Hati-hati terhadap mereka," ujar seorang lelaki.
"Aduh, terima kasih.
Den." Lelaki tua peda- gang buah bergegas mendekati pemuda berpa- kaian
putih. "Bagaimana jadinya saya tadi kalau tidak ada Aden."
Pemuda berambut dikepang hanya
terse- nyum dan terus melangkah menuju kedai. Tak ha- bis-habisnya orang
berdecak kagum melihat kebe- raniannya. Tersirat di hati mereka rasa bangga.
In- ilah pertama kali seorang pendekar muda berani menantang Kolo Mareksa,
begitu pikir orang-orang itu.
Tak lama kemudian, suasana kembali
se- perti semula. Para pedagang kembali ke tempat ju- alan masing-masing.
Sementara pemuda berpa- kaian putih setelah membayar makan pada pemilik kedai
segera pergi meninggalkan pasar.
***
4
Debu kering beterbangan dihembuskan
an- gin yang bertiup kencang. Matahari berada tepat di atas kepala. Sinarnya
yang terik menimbulkan hawa panas.
Dari kejauhan tampak dua sosok
tubuh berlari ke arah timur. Yang satu seorang pemuda bertubuh gagah yang
mengenakan rompi kulit ular. Kawannya yang bertubuh gemuk dan berpe- rut buncit
juga mengenakan rompi. Tapi bukan dari kulit ular, melainkan dari kain abu-abu
yang sudah agak kumal
"Aduh.... Ke mana kita akan
mencari tempat berteduh, Kakang?" pemuda bertubuh gemuk dan berkepala
botak menghentikan larinya. Napasnya terengah-engah kecapekan. Selembar daun
jati kering di tangan kanannya dikibas-kibaskan un- tuk mengusir hawa panas.
"Lihat di sana, Gol. Ada hutan
jati...," ujar pemuda berpakaian rompi kulit ular dengan terta- wa
cengengesan.
"Iya. Tapi, semua pohon jati
itu tak berdaun sama sekali. Di mana kita bisa berteduh, Kakang Sena?"
"Aha..., kamu ini bagaimana, Gol? Baru be- gitu saja sudah mengeluh.
Katanya mau jadi pendekar. Seorang pendekar pantang mengeluh, Do- gol,"
jawab pemuda berompi kulit ular yang tak lain Sena Manggala.
Pemuda bertingkah aneh yang lebih
dikenal dengan julukan Pendekar Gila itu menggeleng- gelengkan kepala sambil
tersenyum-senyum. Dia mengejek Dogol yang kecapekan. Suara tawanya terdengar
ketika melihat bibir Dogol yang tebal itu bagai hendak jatuh.
"Hi hi hi...! Ayo, Gol!"
Sena Manggala melesat meninggalkan Do- gol. Meskipun rasa lelah merejam sekujur
tubuh- nya, pemuda bertubuh gendut itu akhirnya berlari juga mengikuti Sena
Manggala. Kedua pemuda yang perbedaannya tampak sangat menyolok se- perti
saling kejar. Keduanya menuju hutan jati gundul yang daun-daunnya telah
berguguran ka- rena musim kemarau.
Tak lama kemudian, Sena atau
Pendekar Gila telah sampai di tepi hutan. Dia tertawa men- gejek Dogol yang
tampak lucu berlari ke arahnya. Tubuhnya yang gendut dan berperut buncit ber-
goyang-goyang.
"Gol...! Ayo cepat. Hujan
hampir turun. Nanti basah kuyup tubuhmu. Den Dogol!" ejek Se- na.
Akhirnya Dogol pun sampai. Begitu
berada di depan Sena, tubuh gendut dan berkepala botak itu jatuh. Napasnya
terengah-engah hampir putus. Dadanya naik turun cepat sekali.
"Ampuun... Ampuun ya,
Gusti!" seru Dogol. Daun jati di tangan kanannya dikipas-kipaskan ke tubuh.
"Haahh.... Hampir putus napasku, Kakang Sena. Di mana kita bisa mendapat
setetes air tem- pat seperti ini...?" keluhnya dengan wajah meme- las.
"Hi hi hi.... Jangan khawatir,
Dogol. Lihat, jalanan yang kita lewati tadi bekasnya seperti ser- ing dilewati
orang. Aku yakin tak jauh dari sini kita akar menemukan sebuah desa," ujar
Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Rambutnya yang ikal tampak sedikit basah
oleh keringat. Di dada, leher, dan keningnya mengalir butir-butir keringat.
Tidak dapat dipungkiri kalau pendekar muda itu pun se- benarnya juga kepanasan
dan kelelahan. Tetapi, hal itu tidak diperlihatkannya kepada Dogol.
Agak lama kedua pemuda itu
beristirahat di bawah pohon jati. Meskipun tanpa daun, tapi ke- rapatan
pohon-pohonnya cukup memberi ketedu- han bagi mereka.
Sena Manggala duduk bersandar pada
ba- tang pohon. Tangannya mengipas-kipaskan daun jati. Sementara Dogol tertidur
di sampingnya. Se- bentar saja pemuda bertubuh tambun itu telah terlelap.
Perutnya yang buncit kembang-kempis seiring dengan bunyi mengorok dari
mulutnya.
"Hi hi hi.... Ada kodok tidur
ngorok," ujar Sena sambil tertawa cekikikan.
Sena mencabut sebatang rumput
kering. Lalu perlahan-lahan dikiliknya telinga Dogol yang tengah tidur. Mungkin
karena terlalu pulas Dogol tidak terbangun. Hanya mulutnya yang meringis-
ringis merasa geli. Tangan kirinya bergerak hendak menepiskan. Tapi, dengan
cepat Sena menarik rumput itu dari telinga Dogol. Sebentar kemudian ketika
Dogol kembali tertidur, Sena mulai lagi den- gan keisengannya. Kini dia
berpindah mengilik lu- bang hidung Dogol yang besar dan dipenuhi bulu- bulu
halus. "Haajing...!"
Cepat Sena menarik tangannya ketika
Dogol mengeluarkan suara bersin yang keras. Sena ter- tawa cekikikan melihat
Dogol kembali tertidur se- telah mengucek-ucek hidungnya.
Namun ketika Sena hendak kembali
meng- ganggu Dogol, gerakannya terhenti. Tiba-tiba saja telinganya menangkap
suara deru kaki-kaki kuda di kejauhan. Sambil mengerutkan kening, dia me-
nelengkan kepala untuk mempertajam pendenga- rannya.
* * *
"Heaaa...! Heaaa...!"
"Heaaa.,.! Heaaa...!" Bentakan-bentakan keras dikeluarkan em- pat
orang lelaki berpakaian merah yang tengah menggebah kuda-kuda tunggangannya.
Sementara kira-kira seratus tombak di depan mereka sebuah kereta yang ditarik
empat ekor kuda melaju cepat. Sang kusir yang mengenakan pakaian lurik lengan
panjang tak henti-hentinya menyabeti kuda-kuda dengan cemetinya. Rupanya,
kereta itu sedang menghindari kejaran keempat penunggang kuda di belakangnya.
"Ha ha ha...! Mau lari ke mana
kau, Tan- trayana? Kalian takkan bisa lepas dari kejaran kami...!" seru
lelaki berwajah bengis yang menung- gang kuda paling depan.
Dari dalam kereta kuda terdengar
suara seorang wanita berteriak- teriak.
"Paman Subali, Paman Subali!
Terus diper- cepat lari kuda-kuda itu. Jangan sampai mereka menangkap kita
sebelum sampai di rumah Eyang!"
Tanpa memberi jawaban, kusir kereta
terus menghentak-hentakkan tali kekang kuda, semen- tara tangan kanannya
mencambuki kuda-kuda itu.
"Hea! Heaaa!" Gemeretak
suara roda kereta yang melindas jalan tanah berdebu terdengar di sela-sela
teriakan para penunggang kuda yang mengejarnya. Kusir kereta terus sibuk mengendalikan
kuda-kuda. Se- sekali kepalanya menoleh ke belakang dan kembali mencambuki
kuda-kuda itu.
Sayang, secepat apa pun kereta kuda
itu berlari para penunggang kuda di belakangnya te- tap mampu mengejar. Jarak
antara mereka kini hanya tinggal lima tombak lagi. . "Heaaa...!"
Tiba- tiba, penunggang kuda yang berada paling depan menggebah kudanya hingga
berlari lebih kencang. Ketika lelaki berpakaian merah itu berada tepat di
samping kanan kusir kereta, dia mencabut pedang yang tersampir di pundaknya.
Cepat pedang itu dibabatkan ke tangan sang kusir. "Huup! Heaaatt...!"
Namun, sang kusir yang bernama
Subali ternyata bertindak lebih cepat. Ditariknya dengan kuat tali kekang kuda.
Seketika keempat kuda itu berhenti. Namun, kuda yang berada paling depan meringkik
keras dan melompat tinggi-tinggi. Le- hernya mengucurkan darah segar. Ternyata,
baba- tan pedang lelaki berpakaian merah mengenai leh- er kuda itu.
Subali melompat ke depan seraya
melan- carkan tendangan keras. Penunggang kuda yang berhenti di depan kereta
itu terguling di tanah. Tendangan keras Subali mendarat di punggung- nya.
Ketika lelaki berpakaian merah itu melompat bangkit, Subali melesat memberikan
serangan su- sulan. Tangan kanannya yang telah menggenggam sebilah pedang
berkelebat cepat membabat leher lawan. Trang!
Benturan keras terjadi. Lelaki
berpakaian merah mampu menangkis serangan Subali dengan pedangnya yang ternoda
darah kuda. Terjadilah pertarungan sengit antara Subali dengan lelaki
berpakaian merah.
Sementara itu, tiga orang penunggang
kuda yang lain telah sampai di tempat pertarungan. Me- reka langsung melompat
turun dan mendekati pin- tu kereta dengan pedang terhunus. Namun belum sampai
mereka menjamah pintu kereta, mendadak pintu itu terbuka. "Heaaa...!"
Sesosok tubuh berpakaian kuning
melesat dari dalam kereta dan langsung melancarkan se- rangan. Sepasang trisula
pendek di tangannya berputar cepat.
Benturan-benturan pun tak dapat
dihindari lagi ketika sepasang trisula itu dipapaki pedang lawan. Ketiga lelaki
berpakaian merah berlompa- tan menghindar. Ketika sosok berpakaian kuning
mendarat di tanah tampaklah kini wajahnya. Dia seorang lelaki lima puluh
tahunan dengan tubuh tinggi semampai dan berwajah bersih. Rambutnya yang
sebagian telah memutih terikat kain lurik berwarna coklat.
"Kau akan menghadapi kesulitan
besar atas penolakanmu terhadap permintaan Mahaguru Ko- lo Mareksa, Tantrayana!
Sampai di mana pun kami akan mencarimu. Sekarang, kalau kau sayang nyawamu,
serahkan putrimu kepada kami. Jangan khawatir, anakmu akan hidup berbahagia
bersama Mahaguru Kolo Mareksa!"
"Chuih! Lebih baik mati
daripada hidup menjadi budak iblis Kolo Mareksa itu!" dengus le- laki
berpakaian kuning. "Langkahi dulu mayatku untuk dapat membawa Laras."
"Kurang ajar! Tangkap
dia...!" perintah lelaki berwajah bengis kepada kedua kawannya.
Tanpa diperintah dua kali, kedua
lelaki itu segera bergerak maju menyerang Ki Lurah Tan- trayana. Mereka
membabat dan menusukkan pe- dangnya ke tubuh lelaki berpakaian kuning. Na- mun,
Ki Lurah Tantrayana telah lebih dulu me- lompat ke belakang mengelakkan
serangan. Ke- mudian, meliukkan tubuh merendah seraya me- nusukkan kedua
trisulanya.
Wuuttt! Trakkk! Lelaki berpakaian
kuning itu sempoyongan ketika sepasang trisulanya berhasil dipapaki pedang
lawan. Saat itulah seorang lawannya melom- pat sambil membabatkan pedang.
Melihat maut mengancam dirinya, dengan cepat Ki Lurah Tan- trayana melempar
tubuh ke samping kanan. Baba- tan pedang lawan pun berhasil dielakkannya.
Tapi, lawan yang lain tampaknya tak
ingin memberi kesempatan kepada Ki Lurah Tantrayana. Begitu melihat lelaki
berpakaian kuning itu berha- sil mengelak, dia langsung memburunya. Semen- tara
Ki Lurah Tantrayana belum dapat bangkit dari tergulingnya. Maka....
Jrrabs! Lolong kesakitan terdengar
dari mulut Ki Lurah Tantrayana. Tubuhnya berkelojotan dengan dada robek
terbabat pedang lawan. Darah segar muncrat dari dadanya.
"Ayaaah...!" Terdengar
jeritan dari dalam kereta. Seo- rang wanita cantik yang tak lain Laras, putri
Ki Lurah Tantrayana, melompat dari tempat duduk- nya.
Di tempat lain, Subali yang masih
bertarung dengan lawannya juga terkejut mendengar jeritan Ki Lurah Tantrayana.
Ketika kepalanya menoleh ke belakang, serta-merta lawannya bergerak cepat
membabatkan pedang.
Subali yang tengah lengah menjerit
kaget ketika pedang lawan membabat punggungnya. Le- laki setengah baya
berpakaian lurik itu terjungkal dengan tubuh berlumuran darah. Dia berusaha
bangkit berdiri dengan tubuh sempoyongan. Na- mun, lelaki berpakaian merah yang
menjadi lawannya telah bergerak cepat. Sekali lagi ujung pe- dangnya mendarat
di perut Subali. Seketika Subali ambruk ke tanah dan tak berkutik lagi.
* * *
"Dogol! Dogol! Bangun,
Dogol!" Sena Mang- gala menggoyang-goyangkan tubuh Dogol yang ter- tidur
pulas di atas rerumputan kering. "Gol, ban- gun, Gol...!"
"Haits! Ups.... Heh?!"
Pemuda bertubuh tambun itu terbangun dengan geragapan. Tanpa sadar tangannya
berge- rak-gerak cepat memainkan jurus-jurus silat.
"Hi hi hi...! Hebat kau,
Gol!" Sena Manggala terkekeh melihat tingkah Dogol yang lucu. Mung- kin
pemuda berkepala botak itu mengira sedang berhadapan dengan musuh.
"Mimpi apa kau, Gol?"
"Aduuh, Kakang Sena, membuatku kaget saja...," ujar Dogol kemudian
ketika telah sadar dari rasa kagetnya. Ia mengusap bibirnya yang ba- sah. Ada
cairan mengalir di sudut bibir itu.
"Aku mendengar langkah kaki
kuda yang saling berkejaran. Tapi, tak lama kemudian mere- ka berhenti. Lalu
barusan kudengar suara jeritan. Mungkin ini petunjuk pertama bagi kita, Gol.
Ayo, kita lihat apa yang terjadi di sana!"
Pendekar Gila melesat ke arah
timur. Dogol bergegas mengikuti. Ternyata tempat suara jeritan itu berasal
masih jauh dari hutan jati. Itu sebab- nya meskipun tadi Sena telah mengerahkan
ilmu
'Sapta Pangrungu' yang mampu
menangkap suara dari jarak jauh, ia tidak dapat mendengar suara pertempuran.
* * *
Laras menangis tersedu-sedu dengan
me- meluk tubuh ayahnya yang berlumuran darah. "Kalian manusia keji.
Biadab!" teriak gadis cantik berambut panjang itu. Ditatapnya satu persatu
wajah keempat lelaki berpakaian merah yang telah membunuh Subali dan melukai
ayahnya.
"He he he...! Untuk apa kau
bersikeras me- nolak lamaran Mahaguru Kolo Majeksa, Anak Ma- nis? Kau tahu
sekarang apa akibatnya. Ayolah, ikut kami!" Lelaki berpakaian merah itu
kemudian mendekati Laras. Begitu tiba dekat, tangannya dengan cepat melayang,
menotok tubuh wanita cantik itu. Seketika tubuh Laras terkulai lemas. Gadis itu
merintih pilu ketika lelaki berpakaian merah membopong tubuhnya. Sedikit pun ia
tak mampu melawan. Sekujur tubuhnya lemas tak berdaya. Laras dimasukkan ke
dalam kereta. Salah satu dari keempat anak buah Kolo Mareksa duduk di kursi
kusir. Diputarnya arah kereta dan segera dipacunya. Walau salah seekor dari
keempat kuda kereta terluka, namun masih dapat berlari. Ketiga kawannya
mengiringi dari belakang. Mereka me- ninggalkan tubuh Ki Lurah Tantrayana dan
Subali yang tergeletak berlumuran darah di atas jalan ta- nah berdebu.
Tidak lama kemudian, sampailah
Pendekar Gila dan Dogol di tempat itu. Mereka terkejut me- nyaksikan
pemandangan di sana. Sena segera ber- lari mendekati Ki Lurah Tantrayana ketika
melihat lelaki berpakaian kuning itu sedikit menggeliatkan tubuhnya. Sena
berjongkok ke samping tubuh Ki Lurah Tantrayana.
"Apa yang telah
terjadi...?" Ki Lurah Tantrayana membuka sedikit ma- tanya. Setelah
tercenung sesaat mendadak mata itu membelalak lebar melihat sosok yang berjong-
kok di sampingnya. "Be... benarkah Tuan yang berjuluk Pendekar
Gila...?" tanyanya dengan ter- putus-putus.
"Begitulah orang menyebutku,
Ki. Siapa yang telah melakukan kekejian ini?"
"Tuan Pendekar, tidak sedikit
orang yang bernasib buruk seperti diriku ini. Mereka..., akh...." Belum
sempat Ki Lurah Tantrayana menye- lesaikan kata-katanya, nyawa lelaki itu telah
me- layang dari raga. Pendekar Gila segera berdiri dan menoleh ke arah Dogol
yang tertegun bingung.
"Gol, ayo kita kejar
mereka!" Dogol segera melesat mengikuti Pendekar Gila. Baru beberapa
tombak keduanya melesat ke arah timur, tiba-tiba terdengar bentakan keras.
"Berhenti...!" Dogol yang
menoleh lebih dulu dan bergegas membalikkan tubuh melihat sesosok bayangan pu-
tih mendarat sekitar enam tombak di depannya. Pemuda berpakaian putih dengan
rambut panjang berkepang itu menatap tajam wajah Dogol. Pende- kar Gila yang
baru saja membalikkan tubuh, cen- gengesan melihat pemuda itu.
Dogol yang mendapat tatapan tajam
menja- di salah tingkah. Dengan tersenyum lucu dia me- noleh ke arah Sena yang
juga tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. Masih dengan cengenge- san Sena
membuang muka dari tatapan tajam pemuda yang belum dikenalnya. Tatapan pemuda
itu begitu aneh dan mengandung suatu kekuatan. Pendekar Gila segera menyadari
pemuda di de- pannya ini bukan orang sembarangan.
Setelah cukup lama tidak terdengar
ucapan apa pun dari pemuda itu, Sena membuka suara.
"Aha... kita bertemu lagi,
Sobat. Ke mana saja kau? Sekian lama aku mencarimu ternyata ki- ta bertemu di
sini...." Sambil mengucapkan kata- kata itu mulut Sena tak henti-hentinya
tersenyum. Tangannya menggaruk-garuk kepala seperti mera- sa gatal "Jangan
banyak bicara! Rupanya kalian be- gundal-begundal Kolo Mareksa!" bentak
pemuda berambut dikepang. Dengan mata tetap menatap Pendekar Gila, dia mencabut
kerisnya. "Dengar, akulah yang akan menghabisi nyawa kalian. Juga semua
begundal Kolo Mareksa...!"
"Ah ah ah...! Tega nian hatimu
menuduhku seperti itu, Sobat. Baru berpisah beberapa bulan saja kau telah
berubah...," Sena memain-mainkan matanya. Berkedip-kedip, lalu melotot
lebar. Se- dang mulutnya cengengesan.
Sebenarnya Pendekar Gila telah
dapat menerka siapa pemuda itu. Sena yakin pemuda ini bukan dari golongan
sesat. Sikapnya yang lugu, je- las memperlihatkan kalau dia belum banyak ber-
pengalaman di dunia persilatan. Namun jelas pe- muda ini bukan pemuda
sembarangan.
"Sudah tertangkap basah kau
masih beru- saha mungkir! Heaaatt...!"
Pemuda berpakaian putih membentak
ke- ras. Tubuhnya melesat hendak melakukan seran- gan. Kerisnya yang panjang
secepat kilat dicabut dari warangkanya dan diputar memburu Pendekar Gila.
"Dogol, menyingkir kau!"
teriak Sena seraya melentingkan tubuh menghindari serangan pemu- da berpakaian
putih.
Dogol segera berlari menjauh.
Sementara Sena telah mendarat dengan ringan tiga tombak ke belakang lawan.
Namun, dengan cepat pemuda itu bersalto ke belakang dan berdiri dengan kedua
ka- ki terpentang menghadapi Pendekar Gila.
Melihat sikap Pendekar Gila yang
malas- malasan, pemuda berpakaian putih semakin naik darah. Tubuhnya melesat
seraya membabatkan kerisnya.
"He he he...! Tidak kena,
Sobat. Baru bebe- rapa hari saja kau sudah lupa jurus-jurus yang kuajarkan.
Pendekar macam apa kau ini!" dengan mudah Sena berhasil mengelakkan
serangan itu. Tubuhnya diliuk-liukkan ke kiri dan ke kanan mengelakkan serangan
keris.
"He he he.... Terlalu panjang
kerismu, So- bat. Tampaknya kau keberatan dengan kerismu.
Ayo, kejar aku!"
Pemuda berpakaian putih merubah
seran- gannya. Kerisnya yang panjang digenggam dengan kedua tangan tepat di
depan dada ketika tubuhnya meluncur cepat memburu Sena.
Namun, Pendekar Gila meliukkan
tubuhnya ke kanan kemudian melenting ke atas dan bersalto beberapa kali di
udara. Mendapati serangannya gagal, pemuda berambut dikepang tampak begitu
geram. "Hi hi hi... Mana ilmu andalanmu, Sobat? Kalau cuma seperti ini
anak ingusan juga bisa. Hayo, keluarkan ajian pamungkasmu! "
Pendekar Gila tertawa sambil
menggaruk- garuk kepalanya.
"Chuih! Percuma mengeluarkan
ilmu anda- lan hanya untuk menghadapi orang gila sepertimu. Heh?!" selesai
mengucapkan kata-kata itu pemuda berpakaian putih membelalakkan mata, kaget.
Di- tatapnya wajah Sena lekat-lekat. Lalu, matanya memperhatikan suling
berkepala naga yang terse- lip di pinggang pemuda berpakaian rompi kulit ular.
Inikah pemuda yang berjuluk
Pendekar Gi- la? tanyanya dalam hati. Ciri-ciri yang dimiliki per- sisi seperti
cerita Buyut. Tingkahnya pun seperti orang kurang waras. Pakaian yang
dikenakannya berupa rompi dari kulit ular. Yang jelas, Pendekar Gila memiliki
Suling Naga Sakti yang berwarna keemasan dan berkepala naga.
Perlahan pemuda berambut dikepang
me- nyarungkan kerisnya ke dalam warangka.
Namun, betapa terkejutnya Suta
Srengenge ketika tiba-tiba Pendekar Gila menyambar tubuh Dogol lalu dibawanya
melesat pergi. Dengan men- gerahkan ilmu 'Sapta Bayu' Sena melesat begitu
cepat. Dia ingin memburu para pelaku yang mem- bunuh Ki Lurah Tantrayana.
Suta Srengenge tidak tinggal diam.
Tubuh- nya segera melesat mengejar Pendekar Gila.
* * *
Setelah cukup jauh berlari,
Pendekar Gila menghentikan larinya ketika menemui jalan bun- tu. Di depannya
tampak hamparan rumput ilalang setinggi dada. Padang ilalang itu mengering
karena musim kemarau. Sena merasa aneh tak dapat me- nemukan jejak para
pembunuh. Lewat jalan mana mereka? Tak mungkin mereka menembus hutan ilalang
ini, pikir Sena.
Dogol yang telah diturunkan dari
pondon- gan Sena pun tampak keheranan. Bagaimana me- reka dapat begitu cepat
menghilangkan jejak.
"Pasti ada jalan rahasia yang
tidak diketa- hui orang...," gumam Sena. Belum selesai Sena mengucapkan
kata-katanya, muncul sesosok bayangan putih yang tak lain Suta Srengenge.
"Tuan Pendekar!" Sena dan
Dogol menoleh ke belakang. "Ampunkan saya yang bodoh ini, Tuan Pen- dekar.
Sungguh tak kusangka yang kuhadapi saat ini adalah seorang pendekar
besar..."
"Eh eh eh.... Ada apa
ini?" Sena tampak keheranan melihat perubahan sikap pemuda yang tadi
begitu memusuhinya. Seorang pendekar seha- rusnya tidak berbuat seperti ini,
Sobat. Jika benar akulah yang kau maksud Pendekar Gila... kalau bukan? Tak ada
lagi ampunan bagimu. Kau akan mati karena kecerobohanmu."
"Tidak! Justru karena aku
yakin Tuanlah si Pendekar Gila yang kesohor itu, aku berani bersi- kap
demikian. Tak ada alasan bagiku untuk mera- gukan Tuan. Ciri-ciri yang Tuan
miliki adalah milik Pendekar Gila. Ampunkan saya, Tuan."
"Sudahlah. Untung saja akulah
orangnya yang kau maksudkan," sahut Sena sambil mengge- leng-gelengkan
kepala. "Memang begitulah orang menjuluki diriku..."
"Bagaimana Tuan bisa sampai ke
daerah ini? Bukankah sangat jauh perjalanan yang harus Tuan tempuh. Yang aku
dengar belum lama ini Tuan berada di wilayah barat...?" tanya pemuda
berpakaian putih yang tak lain Suta Srengenge, cucu Nyi Buyut Brintik. Banyak
yang telah ia ke- tahui dari neneknya tentang Pendekar Gila. "Kabar
tentang keberhasilan Tuan menumpas Naga Merah Dari Merapi telah tersebar di
daerah ini," lanjut- nya.
"Sudahlah. Jangan kau panggil
aku seperti itu. Panggil saja Sena. Namaku Sena Manggala...," Sena
tersenyum-senyum malu. "Kenapa kau keli- hatan begitu dendam pada Kolo
Mareksa? O, ya. Siapa namamu, kalau aku boleh tahu?"
"Suta, Suta Srengenge."
"Aha, matahari! Namamu berarti anak matahari, Suta!" Sena tertawa
gembira.
Pemuda berpakaian putih mengangguk,
membenarkan ucapan Sena Manggala.
"Bagaimana aku tidak
mendendam, Sena," Suta Srengenge ingin mengadukan persoa- lan yang tengah
dihadapinya. "Kakekku, ayahku, ibuku, pamanku, semua terbunuh oleh
keganasan Kolo Mareksa. Bahkan, nenekku kini hidup den- gan kebutaan matanya
akibat kebengisan iblis itu...!"
Suta Srengenge kemudian
menceritakan pe- ristiwa tragis yang menimpa keluarganya. Diceri- takannya semua
dari peristiwa terbunuhnya sang kakek sampai kepada dirinya yang dididik dan
di- besarkan neneknya di suatu tempat terasing.
"Begitu mengenaskan kisah
kehidupan yang dialami para pendekar. Tidak sedikit manusia ber- nasib seperti
itu. Apalagi mereka yang jelas-jelas berpihak pada kebenaran. Mereka banyak
mem- punyai musuh. Banyak bahaya yang harus diha- dapi...," tutur Sena
ketika dilihatnya Suta Sren- genge terdiam.
"Ketahuilah, Suta," ujar
Dogol yang sejak tadi hanya membisu di samping Sena. "Kedatan- gan kami ke
sini juga karena mendengar kegana- san sepak terjang Kolo Mareksa."
"Aha. Benar kata kawanku
ini," sahut Sena, "Seorang tokoh tua, em... yang tadi kau sebutkan
menjadi guru paman dan ayahmu, si Pendekar Kembar itu, beberapa hari yang lalu
menemuiku. Siapa tadi namanya? Aku lupa." Sena menggaruk- garuk kepala
berusaha mengingat-ingat. "Resi Watuhumalang. Iya! Dia juga banyak
bercerita ten- tang kebengisan anak buah Kolo Mareksa. Kabar- nya mereka tidak
hanya membantai tokoh-tokoh golongan putih. Banyak wanita desa diculik dan
dijadikan piaraannya...."
"Itulah yang sangat meresahkan
para pen- duduk, Sena," timpal Suta Srengenge. "Sebenarnya aku
dipesan oleh Buyut agar mencarimu. Ilmu 'Canda Birawa' yang dimiliki Kolo
Mareksa menu- rut dugaan nenekku hanya ilmu sihir yang sangat kuat. Jadi, bukan
'Canda Birawa' sejati." Lalu Suta Srengenge menjelaskan alasan Nyi Buyut
Brintik kalau Ilmu 'Canda Birawa' sejati tidak akan bisa digunakan untuk
kejahatan.
Pendekar Gila mengangguk-angguk
men- dengar keterangan itu. Kalau ternyata Kolo Marek- sa benar menggunakan
ilmu sihir, Sena memiliki ilmu penangkal ilmu sihir.
"Cukup banyak yang kudapat
darimu, Suta. Tampaknya kita harus segera menumpas kejaha- tan yang dilakukan
Kolo Mareksa. Tapi, bagaimana kita bisa sampai ke sarangnya?" tanya Sena
yang masih merasa asing di tempat ini.
"Itulah.... Aku pun baru
beberapa hari ini keluar dari tempat pengasingan nenekku. Jadi, be- lum banyak
mengenal tempat ini. Meskipun sebe- narnya aku orang sini, Sena."
"Ya, ya. Aku tahu itu,"
Sena mengangguk- angguk. "Sementara tak satu pun orang desa yang berani
berbicara jika ditanya tentang Kolo Marek- sa. Nyawa taruhannya kalau mereka
sampai berani membicarakan Kolo Mareksa. Apalagi menun- jukkan di mana
sarangnya," jelas Suta Srengenge.
"Kalau begitu, ayo kita
lanjutkan pengejaran ini. Siapa tahu kita masih bisa menemukan jejak
mereka...," ajak Pendekar Gila. Pemuda itu lalu melesat ke arah timur.
Diikuti Dogol dan Suta Srengenge.
Ketiga pemuda itu berlari cepat
dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sementa- ra matahari telah mulai
condong ke arah barat.
***
5
Sebuah bangunan bertembok tinggi
berdiri megah di tengah tanah lapang tak jauh dari se- buah hutan jati.
Bangunan rumah beratap tinggi itu dikelilingi tembok tebal mirip sebuah
benteng. Di kanan kiri jalan tanah selebar dua tombak yang menuju rumah itu
ditumbuhi ilalang setinggi dada. Dari jauh terdengar sayup-sayup suara ga-
melan yang menghentak-hentak. Sesekali diselingi suara sorak dan tepuk tangan.
Rupanya, tengah berlangsung suatu pesta di dalam rumah besar itu.
Ternyata benar. Di dalam ruangan
besar yang terletak di tengah rumah tampak empat orang wanita cantik
melenggak-lenggok seiring irama gamelan. Belasan lelaki berpakaian serba merah
duduk bersila di lantai mengelilingi keempat penari. Sambil tertawa-tawa
gembira mereka menikmati minuman tuak dan menyaksikan para penari
melenggak-lenggok. Di antara mereka du- duk wanita-wanita cantik.
Dengan tertawa atau tersenyum manja
me- reka menyandarkan tubuh pada lelaki yang men- jadi pasangannya. Ada pula
yang tengah asyik bermesraan.
Seorang lelaki setengah tua yang
duduk di dekat tiang bangkit dari duduknya. Langkahnya sedikit gontai karena
mabuk. Dia menghampiri penari yang mengenakan penutup dada berwarna hijau.
Teman-teman lelaki itu memberinya tepu- kan tangan.
"Ayo, Kakang Rego! Kenapa
mesti ragu- ragu...!" teriak lelaki beralis tebal. "Bawa saja
dia...!"
Lelaki setengah tua yang bernama
Regosu- lung menjawil lengan penari berpenutup dada hi- jau. Wanita cantik
bertubuh sintal itu tersenyum. Disambutnya Regosulung dengan uluran selen-
dang. Ketika itu para penabuh gamelan semakin mempercepat tabuhannya.
Orang-orang pun ber- tepuk tangan memberi semangat.
Penari berdada mulus dan montok itu
sege- ra mengikuti Regosulung yang menggiringnya ke- luar arena. Keduanya
melangkah menuju sebuah kamar yang terletak di sebelah kanan ruangan be- sar
itu. "He he he.... Berapa lama kau kuat melaya- niku, Anak Manis?"
tanya Regosulung sambil ter- kekeh. Dicoleknya dada mulus penari muda berwajah
cantik itu.
"Mestinya aku yang bertanya
begitu, Ki," sahut wanita berusia dua puluh tahunan itu den- gan senyum
menggoda.
Sampai di dalam kamar Regosulung
lang- sung mendekap tubuh wanita itu. Dicium dan diji- latinya leher mulus si
penari. Napas lelaki bertu- buh tinggi itu terdengar memburu.
Si penari cantik memejamkan mata.
Mulut- nya mengeluarkan desahan-desahan nikmat. Tan- gan Regosulung telah
melepaskan kain kemben yang menutupi dadanya.
"Aahh.... Tutup dulu pintunya,
Kakang," ujar si penari dengan suara mendesah lirih di te- linga
Regosulung. Pintu kamar memang masih ter- buka sedikit.
Tanpa mempedulikan ucapan si penari,
Re- gosulung terus menciumi dadanya. Kemudian, tangannya beralih melepaskan
kain wanita itu hingga terlepaslah semua pakaiannya. Kini, tak sehelai benang
pun yang menutupi tubuh mulus dan sintal itu.
Si penari menggeser langkahnya
untuk me- nutup pintu. Begitu pintu kamar telah tertutup, sambil mendesah dia
melucuti pakaian Regosu- lung.
"Aku sudah tak kuat lagi.
Ayolah...." Rego- sulung mengangkat tubuh wanita itu dan diba- wanya
menuju ranjang.
Erangan-erangan lirih pun segera
terdengar dari mulut keduanya.
* * *
Sementara di ruangan lain seorang
lelaki berusia empat puluhan tengah berbaring di lantai. Ia dikelilingi tujuh
orang gadis berwajah cantik. Di atas lantai beralaskan permadani indah itu
mereka bercengkerama. Gadis-gadis cantik yang hanya mengenakan pakaian tipis
tembus pandang itu pun berbaring. Dengan mesra mereka membelai- belai tubuh
lelaki berjubah hitam. Seorang gadis membaringkan kepalanya di paha lelaki
berwajah kasar itu. Yang lain tampak mengelus-elus dada lelaki itu yang dipenuhi
bulu-bulu bulus.
Dari luar masih terdengar suara
gamelan dan ramai sorak-sorai.
Seorang gadis yang mengenakan
penutup dada berwarna merah jambu melepas jubah lelaki berwajah kasar.
"Kakang, hari ini giliranku...," de- sah gadis itu. Kepalanya dibaringkan
di dada bi- dang yang dipenuhi bulu-bulu hitam. "Aku... aku tak
tahan..."
"Ambilkan aku arak!"
perintah lelaki berwa- jah kasar.
Wanita yang terbaring di pahanya
bangkit berdiri. Dia melangkah menuju meja kayu berukir untuk mengambil arak.
Dengan malas-malasan wanita berpakaian putih itu memberikan arak yang
diambilnya.
"He he he.... Kenapa kau
tampak lesu, Ke- dasih?" tanya lelaki berwajah kasar. "Minumlah
ramuan yang telah dibuatkan Nyi Ngadirah!"
"Berapa lama lagi aku berada
di sini, Kakang Mareksa?" tanya gadis itu dengan kepala ter- tunduk.
Lelaki berjubah hitam yang ternyata Kolo Mareksa bangkit dari terbaringnya.
"Pulanglah se- karang! Perempuan tak tahu diuntung!" bentaknya dengan
wajah memerah.
Mendengar kemarahan Kolo Mareksa,
wani- ta-wanita yang dijadikan piaraannya langsung ter- diam. Tak satu pun yang
berani membuka mulut. Begitulah kalau Kolo Mareksa sedang marah, meskipun
mereka baru saja bercengkerama.
Suatu saat nanti mereka memang akan
di- kembalikan ke rumah masing-masing. Akan ber- kumpul kembali dengan orang
tua. Saat itulah me- reka akan mengakhiri kehidupan terkutuk ini. Ke- hidupan
yang setiap saat diwarnai dengan suasana penuh birahi.
Para gadis cantik itu tak pernah
mengetahui mengapa mereka sampai terjerumus ke dalam keadaan seperti ini. Yang
mereka tahu hanya per- pisahan secara paksa dari orangtua karena kehen- dak
Kolo Mareksa. Gadis-gadis itu tak tahu Kolo Mareksa telah menggunakan ilmu
sihirnya untuk mempengaruhi mereka. Sehingga, tak mampu me- nolak ketika mereka
diminta untuk melayani kein- ginan Kolo Mareksa.
Kolo Mareksa melangkah ke pintu.
Lelaki bertubuh tinggi itu memanggil seorang anak buahnya. Tak lama kemudian,
seorang lelaki ber- tubuh gemuk datang menghadap.
"Antarkan dia pulang!"
perintah Kolo Ma- reksa kepada anak buahnya itu.
"Baik, Ketua." Lelaki
bertubuh gemuk membawa Kedasih keluar dari kamar pimpinannya. Sampai di luar
mereka segera mendapat sambutan dari kawan- kawan lelaki gemuk.
"Aiih! Beruntung sekali kau,
Bardak!" seru lelaki yang duduk di sudut ruangan bersama seo- rang wanita
cantik. "Berikan padaku saja gadis itu...!"
Namun, belum sampai Bardak turun
dari serambi rumah dilihatnya sebuah kereta kuda da- tang. Di belakang kereta
itu tampak tiga orang pe- nunggang kuda mengiringnya. Bardak langsung
membalikkan tubuh dan berlari ke dalam. Dia me- nuju ruangan Kolo Mareksa.
"Ketua, Gajahsura dan anak
buahnya ber- hasil!" lapor Bardak.
Kolo Mareksa melangkah keluar dari
kamar. Sementara orang-orang di ruangan depan yang tengah asyik menyaksikan
tarian bangkit berdiri dan melangkah ke serambi.
Kusir kereta yang adalah Gajahsura
me- lompat turun. Lelaki berambut keriting itu berge- gas menghadang sang ketua
yang telah menunggu di serambi.
"Kami membawa Laras, putri
Lurah Tan- trayana, Ketua," ujar Gajahsura setelah menjura memberi hormat
"Hm. Bagaimana lurah keparat
itu?" tanya Kolo Mareksa. Matanya memperhatikan ketiga anak buah Gajahsura
yang tengah menyuruh La- ras keluar dari kereta.
"Terpaksa kami bunuh...,"
jawab Gajahsura. Ketiga anak buah Gajahsura menarik tan- gan Laras karena gadis
itu tak mau turun dari ke- reta. Gadis cantik berpakaian putih dan berambut
panjang tergerai itu meronta-ronta. Namun akhir- nya, ketiga anak buah Gajahsura
berhasil memak- sanya keluar.
Laras diseret sampai di depan
tangga se- rambi. Matanya yang berlinang melihat orang- orang berwajah bengis
tengah menatap dirinya. Saat tatapannya beradu dengan tatapan Kolo Ma- reksa,
tiba-tiba Laras merasakan ada getaran he- bat di hatinya. Sepasang mata lelaki
bertubuh tinggi dan berwajah kasar itu mengandung kekua- tan aneh, Laras
buru-buru membuang muka. Ia tak tahan menerima tatapan tajam mengandung
kekuatan aneh itu. Belum pernah Laras merasa- kan keanehan seperti ini.
"Bawa dia masuk!"
perintah Kolo Mareksa kepada ketiga anak buah Gajahsura.
Bergegas mereka menarik tangan
Laras dan membawanya masuk. Gadis itu dibawa ke sebuah ruangan khusus yang
biasa digunakan untuk me- nempatkan wanita baru. Gadis cantik itu berte-
riak-teriak. Namun, cekalan tangan ketiga lelaki yang menggiringnya terlalu
kuat. Ia tak mampu melepaskan diri.
Kolo Mareksa kembali masuk ke
ruangan pribadinya, tempat wanita-wanita piaraannya ten- gah menanti. Suara
gamelan pun kembali terden- gar. Para penari menari di tengah ruangan besar.
Orang-orang bertepuk tangan dan bergembira sambil menikmati tuak dan arak.
Mereka terus bergembira. Hanyut dalam suasana pesta hingga sore hari.
***
6
Matahari tenggelam di ufuk barat.
Di langit mega merah berarak terbias cahaya sang surya. Angin kemarau yang
kering bertiup semilir mem- belai rambut seorang pemuda berpakaian rompi kulit
ular. Pemuda itu berjalan bersama dua orang kawannya. Mereka tak lain Sena
Manggala, Dogol, dan Suta Srengenge. Saat itu ketiganya tengah me- langkah
memasuki sebuah desa.
"Kita harus bermalam dulu di
desa ini, Su- ta," ujar Sena. Ditolehnya Suta Srengenge yang berjalan di
samping kanannya.
"Ya. Siapa tahu kita mendapat
keterangan tentang tempat kediaman Kolo Mareksa," timpal Suta Srengenge.
Dogol yang hanya membisu tampak
berjalan dengan langkah berat. Perutnya yang buncit serta tidak tertutup rompi
bergoyang ke kanan dan ke kiri. Sesekali lengannya yang besar dan gempal
mengusap pipi atau lehernya. Keringat mengalir membasahi tubuhnya.
Ketiganya terus melangkah menyusuri
jalan utama desa yang lengang. Sepi sekali suasana de- sa kecil itu. Rumah-rumah
tertutup. Tak seorang pun berada di luar.
Ketika mereka sampai di sebuah
tikungan jalan, tampak di tepi jalan ada sebuah kedai. Tapi, kedai itu
tertutup.
"Hei, sepi sekali desa ini. Ke
mana para penduduknya?" tanya Sena seraya melempar pan- dangan
berkeliling. Tetapi, yang dilihatnya hanya tempat-tempat sepi.
"Tampaknya ada sesuatu yang
telah terjadi di sini, Kakang Sena," ujar Dogol dengan mengu- sapkan
lengannya ke leher.
Ketiganya terus melangkah menyusuri
ja- lan. Tak lama kemudian mereka melihat sebuah rumah besar, Belasan orang
berkumpul di sana. Lampu-lampu minyak telah dinyalakan.
Sena mengajak Dogol dan Suta Srengenge
mendatangi rumah besar itu. Orang-orang yang berada di serambi rumah berhalaman
luas itu me- noleh ketika melihat tiga orang lelaki asing mema- suki halaman.
Sena menganggukkan kepala memberi
hor- mat. Perbuatannya diikuti oleh Suta Srengenge dan Dogol. Lalu, seorang di
antara yang berada di rumah besar datang menyambut.
"Selamat datang,
Tuan-tuan!" ucap orang itu. Matanya menatap penuh selidik wajah Sena.
Lalu, pandangannya turun dan berhenti pada sul- ing berkepala naga yang
terselip di pinggang pe- muda berompi kulit ular itu.
"Boleh kami bertanya,
Ki?" tanya Sena me- mecah keheningan. "Di mana rumah penginapan di
desa ini?"
"Wah, penginapan?" ujar
orang itu. "Dulu ada rumah penginapan di ujung selatan desa ini. Tapi,
semenjak pemiliknya dibunuh orang-orang Kolo Mareksa, sekarang sudah tidak ada
lagi. Orang yang kemalaman biasanya menginap di sini, Tuan." Lelaki
setengah baya berpakaian hitam itu menudingkan ibu jarinya ke arah rumah yang
saat itu tengah dipenuhi penduduk. "Inilah rumah ke- pala desa kami, Ki
Lurah Tantrayana. Tapi...."
"Apa yang terjadi, Ki?"
potong Suta Sren- genge.
"Siang tadi anak buah Kolo
Mareksa men- gobrak-abrik rumah Ki Tantrayana. Empat orang anak buah Tantrayana
terbunuh. Nasib Ki Lurah sendiri dan anak buahnya belum kami ketahui. Mari,
silakan masuk dulu, Tuan."
Lelaki setengah baya itu mengajak
Sena, Suta Srengenge dan Dogol masuk. Setelah meno- leh ke arah Suta Srengenge
dan Dogol, Sena ak- hirnya mengikuti ajakan lelaki itu.
Orang-orang yang berada di rumah
kepala desa memperhatikan ketiga pemuda asing itu. Di antara mereka ada
beberapa lelaki muda yang ka- lau dilihat dari perawakan tubuh dan pakaiannya
merupakan orang-orang persilatan. Mereka berdiri ketika melihat pemuda
berpakaian rompi kulit ular memasuki serambi rumah.
"Tidak salahkah penglihatanku,
Kakang Soma? Bukankah pemuda itu..." salah seorang di antara mereka, yang
mengenakan pakaian biru dengan golok di pinggang berbisik.
"Benar," sahut kawannya.
"Ayo...."
Keempat lelaki yang tadi duduk di
sudut kanan serambi melangkah menyambuti Sena, Do- gol dan Suta Srengenge.
"Selamat datang, Tuan
Pendekar." "Selamat datang di desa kami...." Orang-orang
terkesima melihat Sena Mang- gala. Ada yang tersenyum ketika melihat Sena yang
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepa- la. Di sudut lain terdengar bisik-bisik
tak jelas.
"Siapa pemuda gila itu?"
"Iya ya. Wajahnya tampan. Tapi, sayang ku- rang waras!" Sena, Dogol,
dan Suta Srengenge di- persilakan duduk di kursi yang terletak di tengah
serambi. Namun, ketiganya menolak lalu ikut du- duk bersama para penduduk di lantai.
Keempat lelaki muda berpakaian
silat itu langsung mendekat dan duduk di dekat Sena.
"Ehm.... Benarkah Tuan yang
berjuluk Pen- dekar Gila?" tanya lelaki muda berpakaian biru.
Sena tidak segera menjawab.
Mulutnya ter- tawa cekikikan sambil tangannya menggaruk- garuk kepala.
Melihat tingkah Sena yang persis
orang gila orang-orang keheranan. Namun bagi keempat lela- ki muda itu justru
membuat hati mereka yakin. Orang yang tengah dihadapi ini jelas Pendekar Gi-
la.
"Aha, apa kalian perlu tahu
julukanku itu?" tanya Sena. "Sudahlah. Aku memang dijuluki se- perti
itu...."
"Wah.... Beruntung Tuan
datang! Kami ten- gah dilanda musibah, Tuah. Anak buah Kolo Mareksa telah
datang dan memaksa Ki Lurah Tan- trayana agar menyerahkan putrinya.... Sampai
kini kami belum mengetahui bagaimana nasib Ki Lurah dan putrinya. Kami semua
tak berani melawan ke- tika mereka mengobrak-abrik rumah ini siang tadi. Empat
orang kepercayaan Ki Tantrayana mati. Istri Ki Tantrayana pun tidak luput dari
kebengisan mereka." Lelaki berpakaian biru menjelaskan.
"Apa Ki Lurah mengenakan
pakaian kun- ing?" tanya Suta Srengenge beberapa saat kemu- dian setelah
dilihatnya Sena hanya cengengesan sendiri. Rupanya, dia tak sabar ingin segera
men- getahui. "Benar... benar, Tuan. Di mana Tuan meli- hatnya?"
Jawaban seperti itu terdengar dari beberapa orang. Suta Srengenge menghela
napas panjang.
"Siang tadi kami menemukan
mayat lelaki berpakaian kuning dan seorang lagi mengenakan pakaian lurik.
Mereka tergeletak mati di tengah ja- lan dekat hutan jati."
Orang-orang terkejut. Mereka
membelalak- kan mata kaget, meskipun sebelumnya telah men- duga Ki Lurah
Tantrayana akhirnya akan mati ju- ga. Kebengisan anak buah Kolo Mareksa sudah
terkenal. Mereka tak akan memberi ampun kepada orang yang membangkang atau menolak
kemaua- nnya.
Ramailah gumaman para penduduk
desa. Di antara mereka terdapat seorang wanita seten- gah baya yang menangis
dengan menyebut-nyebut nama Subali. Rupanya wanita itu istri Subali, kusir
kereta yang membawa Ki Lurah dan putrinya. Orang-orang segera menolong istri
Subali. Wanita itu dibawa masuk ke rumah kepala desa.
"Tolonglah kami, Tuan
Pendekar. Kalau di- biarkan berlarut-larut, orang-orang desa akan se- makin
dicekam rasa takut...," ujar seorang lelaki muda berpakaian coklat yang
duduk di samping Dogol.
"Dengar,
Saudara-saudara!" ujar Suta Sren- genge sambil memandangi wajah
orang-orang itu. "Kedatangan Pendekar Gila ke sini memang untuk menumpas
kejahatan Kolo Mareksa!"
Sena hanya mengangguk-anggukkan
kepala mendengar penjelasan Suta Srengenge.
"Siapa di antara kalian yang
mengetahui markas Kolo Mareksa dan anak buahnya...?" tanya Suta Srengenge.
Orang-orang terdiam mendengar
perta- nyaan Suta Srengenge. Selama ini mereka memang tak mengetahui di mana
sebenarnya tempat ke- diaman Kolo Mareksa.
"Kalau saja kami mengetahui,
tentu akan kami katakan kepada Tuan Pendekar. Mati pun kami rela asalkan iblis
itu dapat ditumpas...," ja- wab pemuda berpakaian biru. "Apalagi kini
Tuan Pendekar Gila ada di sini. Sayang, tak satu pun di antara kami yang
mengetahui tempat persembu- nyiannya."
"Hh.... Bagaimana, Sena?"
tanya Suta Sren- genge meminta pendapat Sena.
"Perintahkan saja kepada para
penduduk agar kembali ke rumah masing-masing.
No comments:
Post a Comment