Saturday, May 4, 2019

037 Petaka Seorang Pendekar


PETAKA SEORANG PENDEKAR
Oleh Firman Raharja

1
Suasana di Ibukota Kerajaan Bumi Segara tampak berbeda dengan hari-hari biasanya. Di tepi sepanjang jalan utama menuju istana kerajaan terpancang beraneka warna bendera dan umbul- umbul. Pada setiap mulut jalan atau gang kecil di- hiasi gapura-gapura indah dari dedaunan dan bunga-bungaan. Seolah kota itu tengah menyam- but tamu agung.
Keadaan di dalam kota tampak sepi dari ke- giatan sehari-hari penduduknya. Ternyata, di ista- na kerajaan tengah dilangsungkan suatu upacara adat pertunangan antara Putri Sekar Arum, anak Raja Galih Kertarejasa, dengan Pangeran Danu- wirya putra mahkota dari Kerajaan Tanjung Anom. Upacara itu berlangsung cukup meriah. Tidak hanya para pembesar istana dan prajurit kerajaan yang menyaksikan upacara kebesaran yang baru kali ini dilaksanakan selama masa pemerintahan Raja Galih Kertarejasa. Banyak warga kota yang menyempatkan diri turut melihatnya.
Alunan suara gamelan mengiringi tembang yang menyiratkan makna penyambutan bagi para tamu agung istana. Upacara itu dilaksanakan di Pendopo Agung yang bernama Balai Paseban. Yai- tu, tempat penyambutan dan perjamuan bagi ta- mu-tamu istimewa kerajaan,
Rombongan tamu yang menyertai Pangeran Danuwirya semua duduk bersila di lantai sebelah kanan, berhadapan dengan para undangan serta pembesar-pembesar istana. Sementara di tengah agak ke belakang, kursi-kursi berukir indah didu- duki oleh sepasang calon pengantin yang didam- pingi kedua orangtua masing-masing.

Setelah upacara pertunangan dan jamuan makan bagi semua undangan, acara dilanjutkan dengan suguhan hiburan. Empat orang gadis can- tik dengan gemulai menari di tengah para tamu. Sesekali terdengar tepuk tangan memberi sambu- tan, meningkahi alunan gamelan yang mengiringi para penari. Bahkan ada yang ikut menggerak- gerakkan kepala atau pundaknya. Namun, tak ada yang berani tampil di depan untuk turut menari, seperti layaknya hiburan ronggeng atau tayub.
Di tengah-tengah rombongan yang menyer- tai Pangeran Danuwirya tampak seorang pemuda tampan berambut ikal dan gondrong sampai ke pundak. Warna dan jenis pakaiannya terlihat me- nyolok. Rombongan itu mengenakan pakaian sera- gam istana Kerajaan Tanjung Anom. Sementara pemuda tampan yang sejak tadi tersenyum- senyum sendiri berpakaian rompi terbuat dari ku- lit ular. "Hi hi hi...! Kalau saja tidak di dalam istana tentu aku sudah turun menari. Hmmm. Cantiknya para penari istana itu!" ujar pemuda berpakaian rompi dari kulit ular sambil menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa cekikikan. Sebentar kemudian, ia menggaruk-garuk rambutnya yang awut- awutan. Gadis cantik berpakaian putih yang duduk bersila di sebelah kiri pemuda itu melotot. Dengan gemas disikutnya pinggang si pemuda.
Beberapa tamu tampak memperhatikan tingkah laku pemuda berpakaian kulit ular. Ada yang menggeleng-geleng karena merasa heran dan lucu. Ada pula yang tersenyum sinis dan men- ganggap pemuda itu tidak tahu sopan santun.
Melihat sikap kawannya tidak berubah, bahkan kelihatan semakin konyol, gadis berpa- kaian putih segera mencubit keras-keras pinggang si pemuda.
"Aaauw...!" Pemuda berpakaian rompi kulit ular kontan menjerit kesakitan. Orang-orang yang tengah asyik menyaksikan tarian langsung menoleh kaget ke arah pemuda itu. Namun seperti tak peduli, pe- muda yang di pinggangnya terselip sebuah suling berkepala naga tetap tertawa cengengesan. Hal itu tentu saja membuat gadis berpakaian putih sema- kin jengkel.
"Ah ah ah...! Mau ke mana kau, Mei...?" tanya pemuda itu sambil tertawa. Lalu, dia meno- leh ke kanan "Dogol, kau ikuti Mei Lie!" perintah- nya kepada pemuda bertubuh gemuk di samping- nya.
"Baik, Kang Sena," jawab pemuda gemuk itu seraya bangkit dari duduknya. Bergegas ditinggal- kannya tempat itu mengikuti gadis berpakaian pu- tih yang bernama Mei Lie.
Sementara itu pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain Pendekar Gila tetap me- nyaksikan para penari melenggak-lenggok di pen- dopo. Mulutnya terus cengengesan dengan sesekali tangannya menggaruk-garuk kepala seolah merasa gatal.
* * *

Di saat pagelaran tari itu berlangsung, ten- gah terjadi suatu pembicaraan antara keluarga Ke- rajaan Bumi Segara dengan keluarga dari Tanjung Anom. Mereka mengambil tempat di sebuah ruan- gan dalam istana.
Raja Galih Kertarejasa dan permaisurinya menerima dengan senang hati usulan Prabu Wira- buana, ayahanda Pangeran Danuwirya. Mereka sepakat akan mengadakan pesta perkawinan Putri Sekar Arum dengan Pangeran Danuwirya pada dua purnama mendatang.
"Baik. Kalau rencana kita memang begitu, pekan ini juga kita harus segera menyebarkan un- dangan itu," ujar Prabu Wirabuana dengan terse- nyum bahagia.
"Ya, ya. Paling tidak kita mesti mengundang lima kerajaan mancanegara yang terdekat, Kakan- da Prabu," ujar Raja Galih Kertarejasa. "Kurasa pe- ristiwa seperti ini sangat tepat bagi kita untuk sal- ing menjalin persahabatan dan persaudaraan. Bu- kan begitu?"
Mendengar ucapan Raja Galih Kertarejasa, yang lain menganggukkan kepala membenarkan.
"Tapi...." Tiba-tiba penguasa tertinggi Kera- jaan Bumi Segara itu mengeryitkan kening. "Hmm. Kakanda Prabu, siapa pemuda berpakaian rompi kulit ular dan kedua kawannya yang turut bersama rombonganmu itu?" tanya Raja Galih Kertare- jasa kemudian
"Wah, wah! Sampai aku terlupa, Dinda. Aku sungguh merasa kedatangan tamu penting dalam upacara pertunangan putraku ini. Dialah pendekar yang membantu kami menumpas para pemberon- tak dua pekan lalu. Tanpa kehadiran Pendekar Gi- la dan kedua kawannya itu mungkin kerajaan akan banyak kehilangan putra-putra terbaiknya, Dinda...."
"Pendekar Gila?!" Terkejut juga Raja Galih Kertarejasa mendengar nama pemuda yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Hmm. Jadi dia pende- kar muda itu? Aku memang pernah mendengar nama itu," ujarnya kemudian seraya mengangguk- angguk. Kedua pemimpin kerajaan itu pun membi- carakan Pendekar Gila sesekali keduanya terse- nyum ketika melihat tingkah laku Pendekar Gila yang lucu.
Tanpa mempedulikan keadaan di sekitarnya yang semua terdiri dari para pembesar istana, Pendekar Gila tersenyum-senyum dan tertawa ce- kikikan sendiri. Kelakuannya itu membuat Mei Lie, kekasihnya, jengkel dan meninggalkannya.
Sementara itu tak jauh dari arena tempat pagelaran tari tampak Senapati Saka Bawana, Panglima Ganjar Seta, dan beberapa panglima tinggi lainnya duduk dengan tenang. Kewibawaan mereka sebagai prajurit utama kerajaan jelas ter- pancar dari sinar mata dan garis wajah yang te- nang dan dingin. Di antara mereka tampak seorang lelaki tua berjenggot putih mengenakan pa- kaian lurik lengan panjang. Kepalanya yang be- rambut putih tertutup blangkon lurik hitam.
Lelaki tua berjenggot putih yang adalah mertua Raja Galih Kertarejasa tak henti-hentinya memperhatikan Pendekar Gila. Sesekali mulutnya yang tipis menyunggingkan senyum, merasa geli dengan tindakan Sena. Ayahanda Permaisuri Ayu Mustika ini sebenarnya seorang kepala desa. Meski putrinya telah terpilih menjadi istri Raja Galih Ker- tarejasa, dirinya tetap setia memimpin Desa Tingal. Tiba-tiba Kepala Desa Tingal itu menge- rutkan kening ketika dilihatnya seorang prajurit menghampiri Pendekar Gila. Prajurit itu membi- sikkan sesuatu ke telinga Sena yang masih asyik menonton tarian. Setelah mengangguk beberapa kali, pemuda berpakaian rompi kulit ular itu bangkit dari duduknya. Lalu, melangkah mengiku- ti prajurit yang memanggilnya.
Ternyata Sena dibawa menuju tempat per- temuan Raja Galih Kertarejasa dengan calon besannya, Prabu Wirabuana.
"Ah, Sena! Sengaja kau kami undang kemari. Raja Galih ingin sekali berkenalan dengan- mu...," sambut Prabu Wirabuana ketika Sena ma- suk ke ruangan.
"Wah, ampunkan hamba, Kanjeng Gusti se- kalian!" ujar Sena dengan tersenyum.
"Hm. Pendekar Gila," ujar Raja Galih Kerta- rejasa. Diperhatikannya Sena lekat-lekat. "Kami sangat bergembira dapat berjumpa denganmu. Sudah lama sebenarnya aku mendengar namamu, tapi baru kali ini dapat bertatap muka denganmu. Sungguh tak menduga aku dapat berjumpa den- gan seorang pendekar sejati sepertimu, Sena."
"Ah ah ah...." Sena tertawa. Tak ada peru- bahan pada sikapnya, meski yang dihadapinya itu seorang raja. "Kanjeng Gusti terlalu memuji ham- ba," ujarnya sambil tersenyum.
"Mungkin saat ini tidak ada orang yang tak mengenal namamu, Sena," sahut Raja Galih Kerta- rejasa. "Bahkan, di kalangan rakyat biasa namamu telah mereka kenal. Maka kebetulan sekali kau tu- rut datang menyaksikan pertunangan kedua pu- tra-putri kami. Secara pribadi aku mengundang- mu, sempatkan datang pula pada pesta pernika- han mereka kelak!"
"Terima kasih. Terima kasih, Kanjeng Gusti. Ini suatu kehormatan yang terlalu tinggi bagi hamba. Mendapat undangan langsung dari seo- rang raja seperti Raja Galih."
Pendekar Gila mengangguk-anggukkan ke- pala dengan tersenyum.
Matahari telah condong ke arah barat. Si- narnya tak terasa menyengat lagi. Alunan gamelan dari istana Kerajaan Bumi Segara masih terdengar. Namun para penarinya sudah tak ada di pendopo. Para tamu pun sudah meninggalkan tempat itu. Rombongan yang menyertai Pangeran Danuwirya dan Prabu Wirabuana telah diantarkan ke tempat peristirahatan. Malam ini mereka akan menginap di istana dan esok pagi akan kembali ke Kerajaan Tanjung Anom.
Dua hari dua malam perjalanan telah membuat para prajurit Kerajaan tanjung Anom kelela- han. Apalagi mereka tidak beristirahat sama seka- li. Ketika tiba di istana Kerajaan Bumi Segara, upacara pertunangan segera dilaksanakan. Keda- tangan mereka ternyata terlambat dari rencana. Mestinya mereka datang sehari sebelum upacara dilangsungkan.
Sehingga, ketika malam belum larut mereka semua telah tertidur lelap. Begitu pula dengan Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol yang masing- masing mendapatkan kamar sendiri.
Semua merasa tenang dan puas. Upacara pertunangan itu terlaksana dengan lancar tanpa mendapat hambatan apa pun.

2
Pernikahan agung yang telah direncanakan itu pun berlangsung dengan segala kemeriahan. Pesta besar yang dihadiri para pembesar istana dan tamu-tamu dari kerajaan mancanegara dilak- sanakan tepat sesuai dengan rencana. Siang hari diadakan acara perjamuan di Pendopo Agung yang merupakan Balai Paseban. Rumah yang diguna- kan untuk menjamu tamu-tamu agung. Malam harinya berlangsung suguhan hiburan berupa ke- senian. Namun, ada sesuatu yang aneh dan menge- jutkan. Pernikahan itu ternyata antara Putri Sekar Arum dengan Pendekar Gila! Seorang pendekar muda yang saat ini tengah menjadi pembicaraan di kalangan dunia persilatan.
Tanpa meninggalkan sikap konyolnya, meskipun tengah duduk berdampingan dengan Putri Sekar Arum sebagai sepasang pengantin, Se- na Manggala tetap tersenyum-senyum sendirian.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tak seorang pun yang tahu. Semua menerima peristiwa ini se- bagai sesuatu yang mesti terjadi. Meskipun semua tamu menggelengkan kepala penuh keheranan dan bertanya-tanya dalam hati. Tak satu pun di antara mereka yang berani melontarkan pertanyaan. Sua- sana aneh melingkupi ruang pesta istana.
Undangan yang tersebar sampai pada raja- raja dan pembesar istana mancanegara adalah pernikahan antara Putri Mahkota Sekar Arum dengan Pangeran Danuwirya, putra Prabu Wirabu- ana dari Kerajaan Tanjung Anom. Lalu, bagaimana peristiwa yang mestinya suatu aib bagi keluarga Istana Kerajaan Bumi Segara ini bisa terjadi? Bu- kankah Pendekar Gila telah memiliki kekasih seo- rang pendekar wanita yang berjuluk Bidadari Pen- cabut Nyawa? Apakah Pangeran Danuwirya dan keluarga besar Istana Kerajaan Tanjung Anom ti- dak marah atas kejadian ini? Bukankah mereka telah meminang Putri Sekar Arum dua purnama yang lalu?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya dipendam dalam benak para undangan. Mereka benar-benar tak mengerti menghadapi kejadian aneh ini.
Pendekar Gila sendiri sebagai mempelai la- ki-laki tampaknya tak menghiraukan keheranan para tamu. Dengan tertawa-tawa dia terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Putri Sekar Arum yang cantik jelita.
Sungguh sangat menyolok pemandangan yang terlihat di atas kursi singgasana. Seorang pu- tri raja cantik jelita duduk berdampingan dengan seorang pemuda berambut gondrong awut-awutan. Pakaiannya yang berupa rompi dari kulit ular tetap dikenakannya.
Tidak diganti dengan pakaian pengantin se- bagaimana mestinya. Sikapnya yang konyol seperti orang gilapun tak bisa dihilangkannya selama du- duk di tengah pesta itu.
Hingga pesta pernikahan agung itu usai, para tamu meninggalkan istana dengan berbagai pertanyaan yang mengusik hati.
Beberapa hari kemudian sebagai lanjutan dari rangkaian upacara pernikahan, kedua mem- pelai mengadakan perjalanan menuju suatu pulau. Mereka akan menyeberang lautan dalam rangka berbulan madu.
Tanpa suatu upacara, Putri Sekar Arum dan Pendekar Gila dilepas oleh Raja Galih Kertare- jasa dan Permaisuri Ayu Mustika di pelabuhan. Belasan perahu layar besar dan kecil telah siap mengantarkan keberangkatan mereka.
Ketika matahari baru sepenggalah ting- ginya, rombongan itu pun berangkat. Putri Sekar Arum duduk berdampingan dengan suaminya, Pendekar Gila, di sebuah perahu layar khusus. Di dalam perahu itu turut pula para dayang penga- suh Putri Sekar Arum dan beberapa pengawal pili- han.
Di belakang perahu mereka tampak belasan perahu layar yang membawa para prajurit pen- gawal. Mereka siap menjaga dan mengamankan kalau terjadi sesuatu hal yang tak diharapkan,
Tak lama kemudian rombongan itu telah sampai di tengah lautan. Angin yang bertiup ken- cang dan ombak yang tidak terlalu besar membuat perahu-perahu terus melaju mendekati pulau.
Pendekar Gila tampak bahagia sekali. Wa- jahnya cerah ceria dan selalu memperlihatkan se- nyumnya yang lucu.
"Aha, Diajeng Sekar. Apa yang akan kita la- kukan sesampainya di pulau itu?" tanya Sena dengan tersenyum-senyum memandangi pulau yang sudah tampak di hadapannya.
"Kita akan bersenang-senang di sana," ja- wab Putri Sekar Arum dengan tersenyum menggo- da. "Kau akan melihat sesuatu yang belum pernah kau jumpai di dunia ini, Kakang Sena Manggala. Kita akan merasakan kebahagiaan surga dunia...."
"Hi hi hi...! Benarkah begitu, Diajeng?" tanya Sena tertawa.
"Ceburkan aku ke laut, dan biarkan aku di- telan ombak kalau aku berdusta, Kakang Sena! Pulau itu adalah milik kerajaan yang berarti milik ayahku. Di sana akan kita nikmati pemandangan yang sangat indah dan menakjubkan. Istana indah dan megah dengan sebuah taman sebagai tempat bercengkerama keluarga istana."
Namun belum selesai Putri Sekar Arum menggambarkan pulau impian itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan. Sebuah perahu layar tanpa penumpang mendadak muncul di depan pe- rahu yang ditumpangi Putri Sekar Arum dan Pen- dekar Gila. Perahu itu seolah keluar dari dalam air.
Belum sempat Pendekar Gila menyadari apa yang terjadi, perahu tanpa penumpang itu melun- cur ke arah perahunya.
Snaattts! Braakkk! Pendekar Gila melesat ke udara dan tak sempat menolong Putri Sekar Arum. Dengan cepat dia hinggap di atas perahu aneh yang menabrak- nya. Sedangkan perahu yang tadi ditumpanginya hancur berkeping-keping. Para dayang dan prajurit pengawal kerajaan tewas tercebur ke laut yang ti- ba-tiba berombak besar.
Suasana kacau tak terelakkan. Para prajurit yang berada di perahu-perahu layar ke belakang berteriak-teriak ketakutan. Mereka segera menga- rahkan perahu mendekati tempat kejadian. Na- mun sia-sia. Putri Sekar Arum telah lenyap ditelan air laut. Pendekar Gila berdiri termangu penuh ke- heranan menyaksikan kejadian yang tak terduga itu. Dia masih berpegangan erat pada tiang layar perahu aneh yang menabrak perahunya.
* * *

"Kang Sena...! Kakang Sena...!" Terdengar suara lembut seorang wanita memanggil Pendekar Gila. Wanita itu menepuk- nepuk pundak Sena yang tengah terbaring di tem- pat tidur.
"Heh?! Mana Putri Sekar Arum? Sekar Arum!" teriak Sena sambil melompat bangkit dari tidurnya.
"Hei..., ini aku! Aku Mei Lie, Kakang Sena! Hi hi hi...! Kau pasti bermimpi," ujar Mei Lie den- gan cekikikan. Dipandanginya Sena yang kebin- gungan. "Astaga...! Aku bermimpi buruk, Mei."
Sena membelalakkan mata dan menggaruk- garuk kepalanya.
"Enak sekali rupanya tidurmu, Kakang," ujar Mei Lie. "Lihat matahari di sebelah timur! Mentang-mentang tidur di dalam istana kerajaan sampai tak ingat pagi...."
Sena tak memperhatikan ucapan kekasih- nya. Matanya tak berkedip memandang ke luar kamar. Hatinya merasa bingung dan aneh. Piki- rannya masih diliputi oleh kejadian yang baru saja dialami dalam mimpinya.
"Mei, firasatku mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi," ujar Sena bersungguh- sungguh. "Bahkan, mungkin akan menyangkut keselamatan diriku..."
"Ada apa sebenarnya? Apa yang kau lihat dalam mimpimu, Kang Sena?" Mei Lie langsung menanggapi ketika melihat kesungguhan kekasih- nya. Tidak biasanya Sena bersikap seperti itu.
"Tidak hanya melihat, Mei. Aku mengalami sendiri dalam mimpiku tadi," jawab Sena masih dengan wajah bersungguh-sungguh. Tak tampak senyum konyol seperti biasanya jika berhadapan dengan Mei Lie.
Sena pun menceritakan semua kejadian da- lam mimpinya. Dari mulai pesta perkawinan yang aneh sampai hilangnya Putri Sekar Arum yang tak diketahui di mana rimbanya. Padahal, semua dayang dan prajurit yang berada satu perahu den- gan Sena ada dan terapung di air.
"Alaah..., itu kan hanya kembang tidurmu saja, Kakang!" sahut Mei Lie tidak percaya. "Kita baru saja menghadiri pesta pertunangan Pangeran Danuwirya dengan Putri Sekar Arum. Kau tentu kesengsem lalu terbawa sampai ke dalam tidurmu. Lagi pula, mana ada mimpi di pagi hari seperti itu membawa suatu firasat!"
Mei Lie ternyata tetap tak percaya. Diang- gapnya Sena hanya ingin menggodanya. Mereka kemarin memang bersenda gurau menyinggung masalah perkawinan yang akan berlangsung anta- ra kedua putra mahkota itu.
"Sudahlah! Mari kita segera pergi ke Balai Paseban! Rombongan Pangeran Danuwirya akan kembali ke Tanjung Anom siang ini juga. Bukan- kah kita telah sepakat untuk mengikuti mereka sampai Tanjung Anom?" ujar Mei Lie mengin- gatkan. Tanpa menjawab Sena bergegas mengikuti langkah Mei Lie menuju Balai Paseban. Sesam- painya di sana Mei Lie dan Pendekar Gila bertemu dengan Dogol yang rupanya telah sampai lebih du- lu.
"Kang Sena," sapa Dogol dengan menggaruk-garuk perutnya yang buncit.
"Dogol, kita akan menyertai rombongan Pangeran Danuwirya kembali ke Tanjung Anom," ujar Mei Lie mendahului Sena. Sebab, dilihatnya Sena tampak masih memikirkan mimpinya.
Melihat wajah Pendekar Gila yang muram, Dogol mengerutkan kening. Ingin hatinya ber- tanya, tapi rasa takut mencegahnya. Akhirnya ia hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Tak lama kemudian kereta yang membawa Pangeran Danuwirya dan Prabu Wirabuana serta permaisurinya berangkat meninggalkan istana Ke- rajaan Bumi Segara. Para anggota rombongan ber- jalan beriringan ke belakang. Mei Lie, Sena, dan Dogol pun melangkah mengikuti mereka
Beberapa prajurit Kerajaan Bumi Segara mengantarkan mereka sampai ke tapal batas kota. Sebelum mereka kembali ke istana, Patih Abiyasa yang memimpin para prajurit itu sempat menyapa Pendekar Gila.
"Sudilah kiranya Tuan Pendekar menghadiri pernikahan mereka...!"
"Terima kasih, Kanjeng Patih. Semoga tidak ada aral melintang hingga kami dapat datang nan- ti," sahut Sena seraya memandangi lelaki bertubuh gagah yang duduk di punggung kuda putih itu.
Patih Abiyasa tersenyum mendengar jawa- ban Sena. Lalu, segera digebahnya kudanya me- ninggalkan tapal batas kota dan kembali ke istana. Sementara rombongan Pangeran Danuwirya telah jauh meninggalkan kotaraja.
* * *

Setelah melakukan perjalanan selama seha- ri semalam, Pangeran Danuwirya dan rombongan sampai di Istana Kerajaan Tanjung Anom. Begitu pula Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol yang senga- ja menyertai mereka.
Setelah beristirahat beberapa saat, Pende- kar Gila mohon diri untuk meninggalkan Kerajaan Tanjung Anom. Mereka bertiga akan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tujuan mereka sebenar- nya adalah menuju kediaman Singo Edan, guru Pendekar Gila. Sudah lama Sena tidak berjumpa dengan gurunya. Mungkin sejak kejadian menge- naskan yang hampir merenggut jiwa Sena, yaitu peristiwa peti mati itu. (Untuk lebih jelasnya sila- kan baca serial Pendekar Gila dalam episode: "Peti Mati Untuk Pendekar Gila").
"Wah, kenapa terburu-buru sekali, Tuan Pendekar?" sambung Pangeran Danuwirya men- dengar permohonan Sena. "Kenapa tidak berma- lam dulu di sini. Bukankah perjalanan kita cukup melelahkan...?"
"Aha, perjalanan seperti ini sudah menjadi pekerjaan kami, Kanjeng Pangeran," ujar Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepa- lanya.
"Benar, Tuan Pendekar. Tapi, adakah sesua- tu yang sangat penting sehingga kalian tergesa- gesa seperti ini?" ujar Prabu Wirabuana yang du- duk di samping putranya. Wajahnya tersenyum penuh kewibawaan memandangi Sena, Mei Lie, dan Dogol.
"Ah ah ah...! Apalah yang bisa dianggap penting bagi para pengembara seperti kami ini, Kanjeng Prabu, " sahut Sena ringan. Meskipun saat itu berhadapan dengan seorang penguasa ter- tinggi di Kerajaan Tanjung Anom, sikap pemuda itu tak bisa lepas dari kelucuannya.
"Baiklah, kalau begitu," Prabu Wirabuana manggut-manggut. "Selamat jalan! Sekali lagi kami atas nama seluruh rakyat dan negeri Tanjung Anom mengucapkan ribuan terima kasih atas ban- tuan Tuan, menumpas para pemberontak tempo hari," ujarnya dengan sikap penuh wibawa dan hormat kepada Pendekar Gila.
"Aha, sekali lagi, Kanjeng Prabu. Pekerjaan seperti itu sudah menjadi kewajiban kami. Tolong- menolong seperti itu adalah tugas kita sebagai manusia," ujar Sena berdalih.
"Ya, ya. Tapi kami masih mempunyai per- mintaan kepada kalian. Sudilah Tuan Pendekar datang dalam upacara pernikahan putra kami nanti!" pinta Prabu Wirabuana.
"Tentu. Tentu saja. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang. Kami akan berusaha datang pada pernikahan Kanjeng Pangeran Danuwirya...."
Pangeran Danuwirya tersenyum gembira. Begitu pula ibu dan ayahandanya yang duduk mendampinginya.
"Sekarang kami mohon diri, Kanjeng." "Selamat jalan, Tuan Pendekar!" Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol mening- galkan Istana Kerajaan Tanjung Anom. Prabu Wirabuana, permaisuri, dan Pangeran Danuwirya serta beberapa orang panglima tinggi turut me- nyertai mereka sampai di pintu gerbang istana. Dengan wajah menggambarkan kekaguman mere- ka memandangi Mei Lie, Pendekar Gila, dan Dogol sampai ketiganya lenyap di belokan jalan utama kotaraja.

3
Bulan muda merangkak perlahan di angka- sa, seolah hendak menghindari awan kelabu yang berarak-arak mengejarnya. Cahayanya yang redup tak sampai ke pemukaan bumi sehingga menim- bulkan suasana gelap. Angin bertiup keras meng- hempaskan dedaunan. Terdengar suara gemeri- siknya yang ditingkahi bebunyian binatang- binatang malam.
Namun, mendadak bunyi belalang dan jangkrik itu terhenti ketika sesosok bayangan ber- kelebat. Sosok bayangan yang tidak jelas itu mele- sat melintasi tapal batas kotaraja Kerajaan Bumi Segara. Malam telah larut. Suasana di kota kerajaan tampak sepi dan lengang. Tak seorang pun terlihat berada di luar rumah kecuali di sebuah kedai ma- kan yang memang buka sampai pagi. Namun tak seorang pun yang melihat ketika sosok bayangan itu melesat di jalan utama kota yang menuju ista- na. Padahal, kedai makan itu terletak di tepi jalan utama tak jauh dari tapal batas.
Sosok bayangan itu berhenti tak jauh dari pintu gerbang istana.
"Hh.... Aku harus berhasil menyelinap di is- tana tanpa menimbulkan keributan. Tapi penja- gaan tampaknya sangat ketat," gumam sosok bayangan itu. Ia ternyata seorang pemuda beram- but ikal sampai ke pundak. Ikat kepalanya terbuat dari kulit ular. Sama dengan pakaian rompi yang dikenakannya. Sebuah suling berwarna kuning keemasan dan berkepala naga terselip di ikat ping- gangnya. Agak lama pemuda itu mengawasi pintu gerbang yang dijaga enam prajurit bersenjata leng- kap. Mereka tengah mengobrol di gardu yang terle- tak di samping kanan pintu gerbang.
"Sampai di mana kira-kira rombongan Kan- jeng Pangeran Danuwirya, Kang Marjan?" tanya salah seorang prajurit yang terdengar di telinga pemuda berompi kulit ular.
"Kalau mereka tak mendapat hambatan, tentu sekarang tadi sudah sampai di Kerajaan Tanjung Anom. Apalagi mereka semua menung- gang kuda," jawab prajurit bernama Marjan.
"Eh, tapi bagaimana dengan Pendekar Gila dan kedua kawannya itu? Mereka akan jalan ka- ki?" timpal prajurit lain yang berdiri di depan gar- du.
"Tanpa kendaraan pun Pendekar Gila dan kawannya dapat mengikuti mereka. Hanya, entah- lah kalau si gendut yang berperut buncit itu," sa- hut yang lain.
Seketika mereka tertawa teringat lelaki gendut kawan Pendekar Gila. Yang dimaksud mereka tentu si Dogol. Mereka pasti tak mengira kalau si Dogol yang selalu tampak lucu dan seperti orang bloon itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh. Selama mengikuti pengembaraan Pendekar Gila, Dogol sempat belajar ilmu meringankan tubuh ke- pada tuannya, Sena Manggala. Memang itulah yang diharap-harapkan selama perjalanannya dengan Pendekar Gila, semenjak peristiwa di Kuta- reja dulu. (Untuk lebih jelasnya baca serial Pende- kar Gila dalam episode: "Serikat Serigala Me-rah").
Ketika para prajurit jaga tertawa-tawa, pe- muda berpakaian rompi kulit ular melenting ke udara dan hinggap di atas tembok benteng istana. Kemudian, melompat turun dengan ringan dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Dilihat dari gerakannya yang begitu ringan dan cekatan pemuda ini jelas memiliki ilmu tinggi. Setidak-tidaknya dalam hal ilmu meringankan tu- buh. Tak satu pun prajurit jaga yang mendengar langkahnya apalagi melihatnya.
Pemuda itu terus menyelinap dengan cepat menuju bangunan utama istana. Ketika sampai di depan serambi istana langkahnya membelok ke kanan. Melewati depan bangsal tempat tinggal pa- ra prajurit kerajaan, pemuda itu terus melesat ke arah belakang istana. Yang dituju adalah bangu- nan indah yang terletak di sebelah kanan belakang istana. Rumah ini merupakan tempat tinggal putri raja.
Sampai di depan bangunan keputren ka- kinya berhenti melangkah. Sebentar kedua tangannya bergerak ke atas kepala. Lalu, kedua tela- pak tangannya ditarik sampai ke depan dada. Se- raya menghembuskan napas dari mulutnya kedua telapak tangannya dihentakkan perlahan ke de- pan.
Krettt! Tiba-tiba saja pintu rumah itu terbuka se- cara perlahan. Pemuda itu pun melangkah masuk tanpa ragu-ragu. Seakan telah paham benar kea- daan setiap ruangan yang ada di rumah itu. Ka- kinya langsung menuju kamar tidur Putri Sekar Arum. Hanya dengan meniupkan hawa dari mu- lutnya dia berhasil kembali membuka pintu kamar yang semula terkunci.
Sebuah tempat tidur berukir dan bertilam kain halus berwarna putih tampak di depan mata. Di atasnya sesosok tubuh wanita cantik jelita ten- gah tertidur lelap dengan tubuh telentang. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu sempat membela- lakkan mata dan menelan ludah ketika melihat tubuh mulus Putri Sekar Arum. Apalagi ketika ma- tanya menatap paha sang putri yang sedikit ter- singkap dari pakaian tidurnya.
Pemuda itu mendengus seolah hendak membuang perasaan yang mengganggunya ketika teringat tujuannya memasuki kamar Putri Sekar Arum. Tanpa membuang-buang waktu, dia cepat- cepat menotok tubuh Putri Sekar Arum. Setelah itu diangkatnya tubuh molek itu dan segera diba- wa melesat keluar.
Namun, belum sempat langkahnya sampai di pintu depan muncul seorang dayang wanita.
"Hah?! Aaaa...!" Wanita setengah tua itu kontan berteriak sejadi-jadinya melihat tuannya terkulai di atas pundak seorang pemuda yang be- lum dikenalnya. "Tolong! Tolong...!"
Sebelum melanjutkan larinya, pemuda itu berbalik dan menotok tubuh dayang wanita hingga terkulai jatuh ke lantai.
Namun, teriakan dayang itu sempat terden- gar oleh para prajurit jaga. Baik yang berada di pintu gerbang maupun mereka yang berjaga di se- putar istana. Bahkan prajurit yang berada di bangsal-bangsal berlarian menuju rumah Putri Sekar Arum. Mereka langsung mengeroyok pemu- da berpakaian rompi yang masih memanggul tu- buh putri junjungannya. Pertempuran satu lawan puluhan prajurit itu pun terjadi.
Hiruk-pikuk jeritan para prajurit yang ter- kena serangan pemuda itu memecah keheningan malam. Pemuda itu ternyata memiliki kepandaian tinggi. Setiap pukulan atau babatan pedang penge- royoknya dapat ditangkis hanya dengan tangan kosong. Dalam sekejap saja beberapa orang praju- rit telah berjatuhan.
Sementara itu seorang prajurit berlari me- nuju bangunan tempat kediaman Patih Abiyasa yang tidak begitu jauh dari bangunan utama ista- na. Orang nomor dua di Kerajaan Bumi Segara yang merupakan wakil raja itu rupanya belum mendengar keributan di depan istana.
Tok, tok, tok! "Kanjeng Patih, Kanjeng Patih!" teriak praju- rit itu.
Patih Abiyasa keluar dengan tergesa-gesa. Lelaki gagah berpakaian hitam ketat itu menatap heran wajah prajurit di depannya.
"Hmm. Ada apa malam-malam begini kau membangunkan aku, Prajurit?" tanya Patih Abiya- sa.
"Ampun, Kanjeng Patih! Putri Sekar Arum diculik seseorang!"
"Heh?!" Patih Abiyasa langsung melesat mendahului prajurit itu menuju depan istana. Sementara pe- muda berpakaian rompi kulit ular yang menculik Putri Sekar Arum tengah menghadapi Senapati Saka Bawana dan Panglima Ganjar Seta. Mereka adalah prajurit-prajurit gagah yang merupakan panglima tinggi kerajaan.
Dua pukulan jarak jauh yang dilancarkan Senapati Saka Bawana dan Panglima Ganjar Seta berhasil dielakkan dengan baik oleh penculik itu. Bahkan, ketika melenting di udara ia dapat meng- hantamkan serangan jarak jauhnya. Serangkum angin kencang melesat dan mengenai tubuh kedua panglima itu.
Kedua prajurit gagah itu pun menjerit ke- ras. Tubuhnya terpental sampai beberapa tombak ke belakang. Setelah berhasil menjatuhkan kedua lawannya pemuda itu melesat cepat. Gerakannya yang ringan tak terkejar lagi oleh para prajurit lain. Dalam sekejap tubuhnya telah melompat keluar dari benteng istana kerajaan. Kemudian, lenyap di telan kegelapan malam.
Beberapa orang prajurit yang mencoba mengejar penculik itu tidak berhasil. Kecepatan la- ri mereka tak mampu menandinginya.
Mereka pun segera kembali untuk mengu- rusi kawan-kawan mereka yang tewas dan terluka parah. Korban-korban itu dibawa ke bangsal pra- jurit untuk mendapat perawatan.
Kejadian yang begitu cepat itu tak sempat disaksikan Raja Galih Kertarejasa. Meskipun sebe- lum pemuda penculik itu melesat kabur sang raja telah keluar dari istana.
Sementara Patih Abiyasa yang menyaksikan pertarungan antara Panglima Ganjar Seta dan Se- napati Saka Bawana melawan si penculik, hanya berdiri termangu-mangu. * * *
Beberapa saat kemudian, Patih Abiyasa dan Senapati Saka Bawana menghadap Raja Galih Ker- tarejasa. "Ampun, Kanjeng Gusti! Kami tak dapat menangkap penculik itu. Kejadian ini begitu cepat dan sungguh tak terduga sama sekali," lapor Patih Abiyasa. "Tapi, menurut penglihatan hamba juga laporan beberapa prajurit yang bertarung, penculik itu ternyata Pendekar Gila...."
"Hehhh?!" Raja Galih Kertarejasa terkejut bukan main mendengar laporan patihnya. Hampir tak percaya hatinya mendengar penculik putrinya ternyata Pendekar Gila. "Mana mungkin Pendekar Gila melakukan semua ini?!"
"Tapi begitulah kenyataannya, Kanjeng Gusti," sahut Senapati Saka Bawana. Ia yakin benar penculik yang tadi dihadapinya adalah Pendekar Gila. "Hamba tidak salah lihat, Kanjeng Gusti. Ke- marin kami sempat berbincang-bincang dengan pendekar itu. Jadi, hamba jelas dapat membeda- kan Pendekar Gila atau bukan. Dan, penculik itu memang Pendekar Gila. Kami semua yakin benar, Kanjeng." Dengan penuh keyakinan Senapati Saka Bawana menuturkan kesaksiannya.
Wajah Raja Galih Kertarejasa langsung me- merah. Matanya membelalak lebar. Ia belum per- caya benar dengan laporan kedua bawahannya. Namun apa yang bisa diungkapkan untuk mem- bantah kenyataan itu. Semua prajurit yakin bahwa si penculik itu tak lain Pendekar Gila.
"Apa yang diinginkan pendekar itu? Hh... mungkin benar laporan mereka, sebab kemarin pendekar itu telah mengetahui banyak seluk-beluk istana. Bahkan mungkin keikutsertaannya kemari dalam rangka usahanya untuk menculik putriku. Hhh... aku tak mengerti kejadian ini...."
Begitulah yang terlintas di benak Raja Galih Kertarejasa. Semakin kalut pikirannya memikirkan kejadian itu. Beberapa saat lamanya dia tak mam- pu mengambil keputusan. Sehingga, para pangli- ma yang menghadap hanya terdiam dengan bin- gung.
Namun, tiba-tiba.... "Senapati Saka Bawana, malam ini juga kumpulkan semua bala tentara. Adakan pengeja- ran! Mungkin dia belum jauh meninggalkan kera- jaan," perintah Raja Galih Kertarejasa dengan suara bergetar, menahan amarah yang tiba-tiba mun- cul dalam hatinya.
"Daulat, Kanjeng Gusti. Hamba laksanakan perintah Kanjeng Gusti sekarang juga...."
Setelah memberi hormat, Senapati Saka Bawana segera beranjak dari depan Raja Galih Kertarejasa. Lelaki setengah baya bertubuh gagah itu sebenarnya masih merasakan sakit di tubuh- nya akibat pukulan jarak jauh Pendekar Gila. Na- mun, tugas tetap harus dilaksanakan.
Malam itu juga seluruh prajurit berkumpul di halaman pendopo agung. Setelah mendapat pe- rintah dari Senapati Saka Bawana, mereka segera berangkat meninggalkan istana untuk melakukan pengejaran. Mereka terbagi menjadi delapan ke- lompok yang masing-masing dipimpin oleh seorang panglima. Mereka menyebar menuju tempat yang telah ditentukan.
Hingga fajar menyingsing para prajurit yang mengejar penculik Putri Sekar Arum tetap tak mendapat hasil. Mereka semua akhirnya kembali dengan tangan kosong.

4
"Kurang ajar! Pendekar Gila ternyata pen- dekar keparat! Apa yang diinginkannya dengan menculik putriku?!"
Raja Galih Kertarejasa yang sudah kalut dan diliputi rasa cemas tak mampu lagi menahan kemarahannya. Dua hari sudah para prajurit kerajaan melacak jejak penculik itu. Namun usaha me- reka sia-sia.
Sementara Permaisuri Ayu Mustika, ibun- danya Putri Sekar Arum, telah mengurung diri. Kecemasan dan ketakutannya membuat wanita itu putus asa. Ia tak ingin ditemui siapa pun. Segenap keluarga istana merasa bersedih. Mereka tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa Putri Sekar Arum. Betapa tidak? Putri mahkota itu telah men- dapat pinangan dari Pangeran Danuwirya. Bah- kan, rencana pernikahan mereka telah disepakati dan akan dilangsungkan dua purnama menda- tang.
"Senapati, aku setuju dengan usulmu ke- marin. Sekarang segera sebarkan pariwara itu ke segenap kadipaten sampai ke desa-desa!" perintah Raja Galih Kertarejasa kepada Senapati Saka Ba- wana yang saat itu datang menghadap bersama Patih Abiyasa dan beberapa panglima tinggi kera- jaan.
"Ampun, Kanjeng Gusti! Tapi bukankah hal itu dapat membawa pengaruh buruk terhadap ki- ta? Kita akan dituduh memusuhi pendekar keso- hor itu. Para tokoh persilatan golongan putih yang merasa memiliki Pendekar Gila akan turun tangan. Mereka pasti melindungi pemuda itu dari orang- orang yang memburunya...."
"Memang itulah yang kumaksudkan, Patih Abiyasa. Kalau memang dialah pelakunya, aku in- gin para tokoh persilatan turut campur tangan menyelesaikan masalah ini," sahut Raja Galih Ker- tarejasa.
Mendengar ucapan Raja Galih Kertarejasa, Patih Abiyasa mengerutkan kening. Ada perasaan khawatir tergambar di wajahnya. Sementara Sena- pati Saka Bawana segera menjura hormat dan me- ninggalkan Raja Galih Kertarejasa, diikuti bebera- pa anak buahnya.
Sesampainya di luar istana, Senapati Saka Bawana memberi perintah kepada Panglima Gan- jar Seta dan yang lain-lainnya agar segera menye- barkan utusan untuk menyampaikan berita itu.
Pagi itu juga puluhan prajurit kerajaan be- rangkat dengan membawa gulungan kulit yang bertuliskan pengumuman.
* * *

"Sebenarnya aku kurang yakin dengan beri- ta itu, Kakang Kebo Kluwuk," ujar seorang lelaki berpakaian ungu yang duduk berdampingan den- gan kawannya di dalam sebuah kedai makan.
"Aku pun begitu, Sambar Wulung," sambut lelaki berpakaian longgar berwarna abu-abu yang dipanggil Kebo Kluwuk. "Tapi, nyatanya kabar dari para prajurit kerajaan yang bertarung dengan pen- culik itu mengatakan kalau pelakunya Pendekar Gila."
Hampir semua pengunjung kedai ternyata tengah membicarakan peristiwa penculikan Putri Sekar Arum. Bahkan, dari kemarin sore orang- orang yang berdatangan dan singgah di sana telah membicarakannya. Padahal penyebaran pengu- muman yang akan dilakukan oleh para prajurit belum sampai di sana. Mereka mendengar desas- desus itu dari para prajurit yang ditugaskan men- cari jejak selama dua hari terakhir ini.
"Kalau benar penculik putri Raja Galih Ker- tarejasa ternyata Pendekar Gila, ini merupakan sebuah aib besar bagi kalangan tokoh-tokoh persi- latan golongan putih. Rimba persilatan akan gem- par. Bukan tak mungkin ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang golongan hitam untuk menga- caukan keadaan."
Ketika mereka tengah asyik membicarakan masalah itu, tiba-tiba datang dua orang penung- gang kuda menuju kedai. Kedua penunggang kuda itu prajurit Kerajaan Bumi Segara. Mereka turun dari punggung kuda lalu menempelkan selembar kulit pada sebuah pepohonan.
Orang-orang segera menghampiri pengu- muman itu. Tak terkecuali Kebo Kluwuk dan Sam- bar Wulung. Salah seorang pengunjung kedai membaca pengumuman yang mengatasnamakan Raja Galih Kertarejasa itu. Yang lain hanya men- dengarkannya penuh perhatian.
Atas kejadian yang menimpa putri kami, pi- hak Istana Kerajaan Bumi Segara menyelenggara- kan sebuah sayembara. Barang siapa mengetahui atau dapat menangkap Pendekar Gila akan men- dapat anugerah dan diangkat menjadi pamong pra- ja, atau jabatan tinggi lain di istana.
Raja Galih Kertarejasa
Satu-persatu orang-orang yang berkerumun itu pun kembali ke kedai. Ada pula yang langsung meninggalkan tempat itu.
"Apalagi yang kau ragukan, Sambar Wu- lung? Berita itu dibuat oleh Raja Galih Kertarejasa. Mereka telah yakin benar Pendekar Gila yang me- lakukan penculikan itu. Sebentar lagi dunia persi- latan akan gempar...."
Sambar Wulung dan Kebo Kluwuk bergegas melesat meninggalkan kedai makan.

5
Matahari baru saja masuk ke peraduannya. Cahaya kemerahan masih membias di kaki langit sebelah barat. Suasana di sekitar Pegunungan Menoreh mulai gelap.
Tiga sosok tubuh tampak berjalan agak ter- gesa-gesa memasuki mulut Desa Japuan.
"Hh.... Rupanya kita harus bermalam di De- sa Japuan, Mei," ujar sosok pemuda berpakaian rompi dari kulit ular yang tak lain Pendekar Gila. Matanya sejenak memandangi tulisan yang tertera pada gapura di mulut desa.
"Berapa jauh lagi kita sampai di Alas Men- taok, Kakang Sena?" tanya gadis cantik berpakaian longgar putih yang dipundaknya tersampir sebilah pedang besar.
Wanita berambut panjang yang juga berju- luk Bidadari Pencabut Nyawa itu terus melangkah ke samping Sena Manggala. Sementara Dogol mengikuti mereka di belakang. Perutnya yang buncit bergoyang-goyang ke kanan ke kiri seperti hendak lepas dari tubuhnya. Pemuda berpipi tem- bem dan bertubuh tambun itu sejak tadi hanya berdiam diri. Sesekali dia mengusap-usap pusar- nya yang tak tertutup karena pakaiannya kekeci- lan.
"Ah, masih cukup jauh," jawab Sena sambil menoleh kepada Dogol di belakangnya. "Kalau tak salah desa ini letaknya di ujung tenggara Kerajaan Bumi Segara. Jadi, baru besok malam kita sampai di sana. Mudah-mudahan Ki Ageng Mantingan ju- ga berada di Alas Mentaok. Dia turut mengawasi para prajurit dan penduduk Kerajaan Pajang yang tengah membabat Hutan Alas Mentaok untuk di- jadikan desa."
Ketiga orang itu terus melangkah menyusu- ri jalan utama desa yang sepi. Hari semakin gelap. Tak seorang pun yang tampak berada di luar. Pin- tu-pintu rumah penduduk tertutup rapat. Hanya lampu-lampu pelita yang terlihat menyala di depan rumah di tepi jalan tanah berdebu itu.
Tak lama kemudian ketiganya sampai di depan sebuah kedai makan yang cukup besar. Di sebelah kanan kedai berdiri rumah penginapan. Beberapa orang lelaki tampak tengah duduk me- nikmati hidangan. Mungkin mereka orang-orang yang menginap di rumah penginapan.
Seorang lelaki tua yang bertubuh agak bongkok keluar menyambut Mei Lie yang telah sampai di depan pintu kedai.
"Selamat malam, silakan Tuan-tuan!" ujar lelaki tua itu dengan ramah.
Mei Lie mengangguk dan tersenyum ramah. Gadis itu melangkah masuk diikuti Sena dan Do- gol. Ketiganya menuju meja dan kursi yang masih kosong. Mei Lie dan Sena duduk berdampingan sa- tu bangku. Sedangkan Dogol sendirian bersebe- rangan meja dengan mereka.
Orang-orang yang tengah menikmati maka- nan tampak memandangi mereka bertiga. Teruta- ma pada Sena yang sejak memasuki kedai tertawa- tawa sendirian sambil menggaruk-garuk kepa- lanya. Tentu saja orang-orang yang berada di kedai merasa heran. Tingkah laku Sena persis orang yang kurang waras.
Di sudut sebelah kanan dua orang lelaki se- tengah baya memandangi Sena dengan tatapan ta- jam. Salah satu dari mereka, yang mengenakan pakaian hitam, sampai berhenti dari makannya. Sesaat kemudian, dia berdiri dari tempat duduk- nya, dan memberi isyarat kepada kawannya.
"Ki Marta!" Sosok berpakaian hitam itu me- manggil pemilik kedai.
Dengan tergopoh-gopoh lelaki bongkok ber- nama Ki Marta bergegas menghampirinya. Lelaki berpakaian hitam memberikan beberapa keping uang logam dan segera pergi keluar kedai.
"Lho, kenapa tidak dihabiskan makannya?" tanya Ki Marta. Tapi tidak dijawab oleh kedua lela- ki itu. Mereka segera melangkah pergi tanpa meno- leh-noleh lagi
"Maaf, Tuan!" ujar pemilik kedai setelah mendekati meja Sena dan Mei Lie. "Kami tidak bisa mengabaikan permintaan mereka. Mereka harus selalu didahulukan...."
"Aha... tak apalah, Ki. Sekarang bawakan kami makanan," pinta Sena sambil tertawa.
"Baik, baik, Tuan." Pemilik kedai itu, me- manggil seorang pelayan dan mengatakan apa yang dipesan Sena.
Tak lama pelayan itu kembali dengan mem- bawa beberapa macam makanan dan minuman. Hidangan itu diletakkan di meja Sena dan Mei Lie. Dogol yang tampaknya tak mampu menahan rasa lapar menyantapnya dengan lahap.
"Maaf, Kang Sena, Nini Mei. Aku tak tahan. Sudah lapar benar nih perutku," ujar Dogol di se- la-sela mengunyah makanan.
"Ya, ya. Aku tahu. Aku juga sudah lapar se- kali...," sahut Mei Lie. Diambilnya sepotong daging ayam panggang dan menyantapnya. Sena pun su- dah mulai makan.
Belum selesai mereka bertiga makan, lelaki bongkok pemilik kedai datang menghampiri. "Tambah lagi, Tuan?"
"Ah, cukup-cukup. Kamu Dogol, tambah?" Tanya Sena kepada Dogol yang baru saja menyele- saikan makannya.
Pemuda berperut gendut itu manggut- manggut seraya menatap pemilik kedai. Ki Marta pun segera memberi isyarat kepada pelayannya. Sesaat kemudian, seorang pelayan datang mem- bawakan makanan untuk Dogol.
"Ngm... Ki Marta, apakah kau juga menye- diakan tempat untuk menginap?" tanya Mei Lie,
"Ada. Ada, Nona Ah, kebetulan sekali ada
beberapa kamar yang kosong." Dengan gembira pemilik kedai itu menjawab pertanyaan Mei Lie. "Ee, ke mana sebenarnya tujuan Kisanak sekalian hingga kemalaman di sini?" tanyanya kemudian.
Mei Lie sekilas menoleh kepada kekasihnya. "Kami hendak ke Alas Mentaok," jawabnya.
"Wah, wah... jauh sekali rupanya perjalanan Tuan-tuan. Bukankah sekarang tengah ada peker- jaan besar di sana? Kabarnya hutan itu dihadiah- kan kepada Ki Ageng Pamanahan, seorang penasi- hat Kerajaan Pajang," ujar Ki Marta yang tampak- nya senang sekali berbicara. "Kalau begitu, silakan Tuan-tuan diantar pelayan kami!"
Pendekar Gila bangkit berdiri dari tempat duduknya. Seorang pelayan datang untuk men- gantarkan mereka menuju kamar penginapan. Se- telah membayar ongkos penginapan dan makanan, ketiga orang muda itu mengikuti si pelayan menu- ju rumah penginapan yang letaknya di sebelah ka- nan kedai.
Rumah itu memiliki beberapa kamar. Mei Lie mendapat kamar di depan. Sedang Sena dan Dogol satu kamar bersebelahan dengan kamar Mei Lie.
Baru saja Sena dan Dogol merebahkan tu- buh di pembaringan terdengar pintu kamar dike- tuk.
"Dogol, buka pintu!" perintah Sena sambil bangkit dari tidurnya.
Ternyata seorang wanita pelayan kedai yang mengetuknya. Wanita itu mengangguk ramah ke- pada Sena lalu melangkah masuk. Ia membawa minuman dan beberapa makanan kecil di atas nampan.
"Ki Marta menyuruhku mengantarkan ini untuk Tuan," ujar wanita itu sambil meletakkan poci teh di meja dekat tempat tidur Sena.
"Aha terima kasih. Bukankah kami sudah makan dan minum tadi di kedai?" sahut Dogol ter- tawa. Gayanya mengikuti Sena, menggaruk-garuk kepalanya yang agak botak. Padahal, biasanya pe- rutnya yang digaruk-garuk.
"Sudah menjadi kebiasaan setiap tamu yang menginap di sini mendapat jatah minum dan ma- kanan kecil seperti ini. Semua tamu yang lain pun begitu." Wanita itu tersenyum genit kepada Dogol yang berdiri di sampingnya.
Setelah wanita cantik itu keluar, Dogol sege- ra saja menuangkan air dari poci ke cangkir kecil. Lalu, meminumnya. "Kakang Sena mau minum?" tanyanya.
"Nanti saja. Biar kutuang sendiri kalau aku mau minum."
Namun tiba-tiba, ketika Dogol hendak me- langkah ke tempat tidurnya.....
"Aduuh..., kepalaku! Mataku, mataku ge- lap!"
Sena kaget mendengar rintihan Dogol. Serta merta dia melompat bangkit dari tidurnya. Tetapi terlambat. Dogol telah terjatuh ke lantai.
"Dogol! Dogol!" Sena berjongkok memegangi kepala Dogol yang terkulai lemas. "Hh... racun!" gumamnya.
Sena segera melesat keluar teringat kekasihnya yang berada di kamar-sebelah. Ketika dia berusaha membuka kamar Mei Lie ternyata pin- tunya dikunci dari dalam.
"Mei Lie! Mei Lie...!" Sena mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan keras.
Brrakk! Karena tak sabar dan tak mendengar jawa- ban Mei Lie, Sena mendobrak pintu kamar hingga terbuka. Dilihatnya Mei Lie terkulai di lantai. Gadis itu tampaknya juga telah meminum racun.
Tanpa pikir panjang lagi, Sena mengangkat tubuh Mei Lie dan dibawa ke kamarnya. Gadis itu dibaringkan di atas pembaringan. Lalu, diangkat- nya pula si Dogol dan dibaringkan ke tempat tidur yang lain.
"Hh.... tikus busuk mana malam-malam be- gini mengganggu orang tidur?" gumam Sena den- gan hati dongkol. Dia mengerahkan tenaga dalam untuk menyalurkan hawa murni. Sena ingin membebaskan kekasihnya dari pengaruh racun ganas. Namun, niat itu segera diurungkan ketika muncul rasa khawatir di hatinya. "Tak mungkin aku menyembuhkan mereka di tempat ini...," gu- mamnya lirih.
Segera diangkatnya tubuh Mei Lie dan Do- gol. Mei Lie diletakkan di pundak kanan sedang- kan Dogol dikepit di lengan kiri.
Namun baru saja Sena melangkah dua tin- dak dari pintu....
Singng! Singng! "Hih, hups!" Terdengar desingan nyaring dari pintu belakang rumah penginapan. Dengan cepat Sena Manggala menjatuhkan diri ke lantai. Sehingga, Dogol terlepas dari tangannya. Setelah itu tubuh- nya bergulingan kembali masuk ke kamar. Sena meletakkan tubuh Mei Lie di lantai. Kemudian, menarik kaki Dogol yang masih berada di luar ka- mar. Matanya yang tajam melihat dua buah pisau kecil menancap di tembok rumah.
Brrakk! Belum sempat Sena menutup pintu kamar- nya, sebuah serangan jarak jauh menghantam pin- tu depan penginapan hingga terbuka.
* * *

"Aaa.... Tolong...!" "Perampok...!" Orang-orang yang menginap di rumah itu berlarian sambil berteriak-teriak ketakutan. Se- mentara kedai baru saja tutup karena malam telah larut
Dari balik pepohonan yang ada di kanan- kiri rumah penginapan berkelebatan beberapa so- sok bayangan. Mereka mengepung rumah dan ke- dai milik Ki Marta.
"Ha ha ha,..! Mana hidungnya si Pendekar Gila yang telah menculik Putri Sekar Arum dari Kerajaan Bumi Segara?! Ayo, keluar kau, murid Singo Edan!"
Sosok lelaki setengah baya bertubuh gagah dan besar serta mengenakan pakaian coklat tua berteriak memanggil Pendekar Gila. Di belakang lelaki berkumis tebal ini berdiri sekitar lima belas le- laki dengan senjata terhunus.
Ki Marta yang baru saja keluar dari kedai tampak kaget menyaksikan kejadian di rumahnya.
"Kau tua bangka pemilik kedai dan pengi- napan?" tanya lelaki berpakaian coklat seraya me- natap wajah Ki Marta yang seketika berubah pu- cat.
"I... i... iya. Ada apa ini?" Dengan gugup Ki Marta balik bertanya.
"Kenapa kau izinkan penculik putri Raja Galih menginap di rumahmu? Tidakkah kau mem- baca pengumuman kerajaan tentang Pendekar Gila yang telah menculik Putri Sekar Arum?" tanya le- laki berpakaian coklat dengan mata tajam, mena- tap Ki Marta yang didampingi dua orang pelayan- nya.
"A... a... aku mendengar kabar itu. Tapi aku tidak tahu yang mana Pendekar Gila. Terus terang aku belum pernah melihatnya."
"Ha ha ha...! Kau berpura-pura atau me- mang tidak tahu, Pak Tua? Atas nama kerajaan aku harus menghukummu!"
Belum sempat pemilik kedai mengucapkan sesuatu untuk menanggapi, beberapa lelaki den- gan senjata terhunus telah menangkapnya. Lelaki tua bongkok itu tak mampu melawan. Kedua tan- gannya dipegang erat oleh dua orang berpakaian serba hitam.
"Ah ah ah...! Buruk benar nasibmu, Ki Mar- ta...." Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dari rumah penginapan. Disusul dengan melesatnya sesosok bayangan menuju halaman kedai. Semua terkejut melihat gerakan yang begitu ringan itu. Tak terkecuali lelaki berpakaian coklat. Apalagi ke- tika sosok bayangan itu mendarat dua tombak di depannya.
"Pendekar Gila!" "Hi hi hi...! Dari mana kau bisa menuduhku menculik Putri Sekar Arum?" tanya Sena yang tampak penasaran mendengar tuduhan itu.
"Jangan banyak bacot! Tangkap dia...!" te- riak sosok lelaki gagah itu kepada anak buahnya.
Tanpa mendengar perintah untuk kedua ka- linya, lima belas lelaki berpakaian hitam langsung merangsek Pendekar Gila.
"Hi hi hi...!" Sambil melompat menghindari serangan musuh-musuhnya, Sena tertawa cekiki- kan. "Untuk apa aku menculik Putri Sekar Arum?" tanyanya.
Tiba-tiba.... Plakkk! Bukkk! Dua orang lelaki berpakaian hitam terpental ke belakang dengan mulut memuntahkan darah segar. Keduanya mengerang-erang kesakitan sam- bil memegangi dadanya yang terkena pukulan te- lapak tangan Pendekar Gila.
Melihat dua orang kawannya terluka, yang lain bukannya merasa takut. Mereka dengan ge- ram melancarkan serangan secara serentak. Hal itu cukup membuat Sena sedikit kelabakan. "Bunuh penculik keparat itu!" "Pendekar apaan kau, Bocah Edan?!"
"Tak seharum namamu yang ditakuti orang banyak. Huh! Mampus kau! Heaaa...!"
Sambil berusaha mengelakkan setiap se- rangan lawan yang kian ganas dan membabi buta, Sena merasa heran. Berdasarkan apa mereka menjatuhkan tuduhan kepadanya? Dirinya saja sampai saat ini belum mendengar kabar tentang diculiknya Putri Sekar Arum.
Wuttt! "Haiiitt!" Sebuah babatan pedang hampir saja me- nyambar tubuh Sena. Dengan cepat Sena melen- tingkan tubuhnya hingga pedang itu menyambar tempat kosong. Ketika berhasil mendarat, sebuah tendangan lawan meluncur datang. Cepat tubuh- nya didoyongkan ke belakang seraya mengibaskan tangan kanan. Hingga....
Plakkk! Pekikan kaget keluar dari mulut. Dengan langkah pincang lelaki itu mengerang kesakitan. Tangkisan keras Pendekar Gila tampaknya dike- rahkan dengan tenaga dalam. Itu terlihat jelas ke- tika lelaki berpakaian hitam yang menendangnya tak mampu bangkit berdiri.
Sementara itu tiga pengeroyok lainnya membabatkan pedang secara bersamaan. Satu mengarah ke kepala, dua lagi mengancam perut dan dada Sena. Namun kali ini pemuda berpa- kaian rompi dari kulit ular itu tak ingin mem- buang-buang waktu. Ia teringat Mei Lie dan Dogol yang masih pingsan akibat racun ganas yang di- minumnya.
Ketika berhasil berkelit dari sabetan pedang yang menuju perutnya, Sena langsung melancar- kan sebuah pukulan keras. Satu orang lawannya terjengkang ke belakang. Mulutnya mengeluarkan darah segar. Bahkan, lelaki berpakaian hitam itu langsung tak berkutik.
Tepat ketika Sena hendak melancarkan pu- kulan 'Si Gila Melempar Batu' lelaki berpakaian coklat yang merupakan pimpinan pengeroyok me- lancarkan serangan. Hal itu tak sempat diketahui oleh Sena. Namun ketika sambaran angin keras pukulannya terasa, pemuda berpakaian rompi ku- lit ular itu melempar tubuhnya ke belakang. Sete- lah bergulingan beberapa kali di atas tanah, ia bergegas melompat bangkit. Seketika itu pula di- lancarkan sebuah pukulan jarak jauh.
Wusss! Dengan gerakan mirip seekor monyet me- lempar batu, dari tangan Pendekar Gila melesat serangkum angin keras. Seketika terdengar teria- kan keras dari mulut beberapa lawannya. Tubuh mereka berpentalan deras ke belakang terhantam pukulan dahsyat itu. Dua orang mengerang kesa- kitan setelah menabrak dinding kedai. Tiga orang lagi menghantam pepohonan di samping rumah penginapan.
"Kurang ajar!" dengus lelaki berpakaian cok- lat. Cepat pedang panjang di tangan kanannya di- putar.
Wukk! Wukkk! Dengan wajah diliputi kemarahan lelaki berpakaian coklat merangsek maju. Namun, hanya dengan menghentakkan kedua tangannya Sena berhasil membuat lawannya terjengkang ke bela- kang. Ketika tubuhnya hendak bangkit berdiri, Sena telah lebih dahulu melompat dan melancar- kan totokan. Seketika tubuh lelaki besar itu terku- lai lemas di tanah.
Beberapa orang anak buahnya yang masih hidup melesat kabur bersamaan dengan jatuhnya lelaki berpakaian coklat.
"Aha, kuharap kau bisa memberitahukan kepadaku. Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Sena dengan cengengesan.
"Huh! Pendekar tidak waras sepertimu se- bentar lagi akan mendapat hukuman sesuai den- gan perbuatanmu, Pendekar Gila!" dengus lelaki berpakaian coklat
"Hi hi hi...! Kudengar kalian menyebut- nyebut penculik putri raja. Siapa yang menculik- nya, heh?!"
"Hampir semua orang di Kerajaan Bumi Se- gara ini tahu. Kaulah yang telah menculik Putri Sekar Arum. Bahkan, berita itu telah tersebar sampai di kerajaan. Kini semua tokoh persilatan sedang mencarimu untuk memperebutkan hadiah dari Kanjeng Gusti Galih."
Terkejut Sena mendengar penjelasan lelaki berpakaian coklat. Tanpa melanjutkan perta- nyaannya Sena segera berlari masuk ke rumah penginapan.
Beberapa orang yang menginap di tempat itu heran melihat Pendekar Gila. Bagi mereka ten- tu nama pendekar muda itu sudah tak asing lagi.
Namun baru kali ini mereka melihatnya.
Sementara itu Ki Marta, pemilik kedai dan penginapan, buru-buru mengikuti Sena. Sampai di depan pintu dia bertemu Sena yang tengah me- manggul Mei Lie dan Dogol. Lelaki tua itu keliha- tan terkejut.
"Tuan..." Dengan mata terbelalak Ki Marta memandang Sena.
"Ada berapa orang pelayanmu, Ki," tanya Sena.
"Kenapa, Tuan? Kami punya tiga orang pe- layan. Lelaki semua."
Sena mengangguk-angguk. Sejak kedatan- gannya itu ia memang hanya melihat tiga orang pelayan lelaki. Maka, tadi ia sedikit merasa heran ketika seorang wanita mengantarkan makanan ke kamarnya dan mengaku sebagai pelayan Ki Marta. "Terima kasih atas pelayananmu, Ki." Pendekar Gila segera melesat meninggalkan kedai Ki Marta. Sekejap saja tubuhnya yang me- manggul Dogol dan Mei Lie telah lenyap ditelan ke- gelapan malam.

6
Lima sosok bayangan berkelebat di jalan kecil sebelah barat Desa Nariban. Mereka melesat menuju arah timur dan terus menyusuri jalan utama desa yang tampak sepi. Malam telah larut. Mestinya bulan yang belum begitu bundar bersinar terang. Namun karena langit diselimuti mendung tebal, malam itu menjadi kelam.
Kelima sosok bayangan itu bergerak menuju rumah Kepala Desa Nariban. Sesampainya di de- pan rumah besar dan megah milik Ki Lurah Saro- ga, mereka berhenti.
"Kau Badri dan Sulung, jaga di luar. Aku, Sarjan, dan Sudra akan masuk ke rumah," ujar salah seorang dari mereka yang mengenakan ikat kepala kain lurik. Sebagian wajahnya tertutup kain hitam. Hanya matanya saja yang terlihat.
Keempat kawannya yang juga mengenakan penutup wajah menganggukkan kepala menyetu- jui.
"Hei, Kang Talib, ingat rencana kita se- mua...!" ujar Sulung memperingatkan. "Seperti yang kemarin, Kang."
Lelaki berkumis dan bercambang bauk yang dipanggil Talib hanya menggumam dan mengang- gukkan kepala. Tubuhnya segera bergerak menuju pintu pagar halaman rumah itu. Keempat kawan- nya segera mengikuti. Dua orang di antara mereka terus menyertai Talib masuk ke serambi rumah. Sedangkan yang lain tinggal untuk berjaga-jaga di halaman.
Namun baru saja Talib hendak mengetuk pintu rumah....
"Hei... siapa di situ?!" Terdengar bentakan dari bangunan kecil yang berada di samping kanan rumah Ki Lurah.
Mendengar suara bentakan yang cukup ke- ras, Sulung dan Badri langsung melesat menuju rumah kecil itu. Seketika terdengar suara sambaran golok di tangan Sulung yang sudah melayang lebih dulu.
Jrabbb! Terdengarlah keluhan pendek. Disusul den- gan jatuhnya tubuh lelaki setengah baya yang ter- nyata penjaga keamanan rumah kepala desa.
Terkena kilatan cahaya pelita dari dalam rumah kecil, golok di tangan Sulung tampak ber- lumuran darah. Lelaki setengah baya itu berkelojo- tan sebentar kemudian tewas dengan dada men- gucurkan darah. Lelaki bernasib sial ini tampak- nya tak sempat berbuat sesuatu ketika Sulung dengan cepat menebaskan goloknya.
Dok! Dok! Dok! Talib mengetuk pintu rumah Ki Lurah Saro- ga. Beberapa kali dilakukan, tapi tak terdengar ja- waban dari dalam.
Brakk! Sarjan yang merasa tidak sabar segera me- nendang keras pintu itu. Sekali tendang daun pin- tu pun jebol. Terdengar jeritan keras seorang pe- rempuan berusia tiga puluh tahunan. Matanya membelalak kaget bercampur takut. Wanita itu bersandar di dinding rumah.
"Siapa kalian...?!" Ki Lurah Saroga yang baru saja keluar dari kamar tidur menatap tajam Sarjan dan Talib yang telah masuk ke rumahnya. Tanpa memberikan ja- waban atas pertanyaan Ki Lurah Saroga, Sarjan langsung melompat sambil menusukkan golok be- sarnya. "Hei, Keparat!" bentak Ki Lurah Saroga.
Bergegas ia melompat mengelakkan serangan go- lok Sarjan. Lelaki berusia lima puluhan itu ternya- ta memiliki gerakan yang gesit dan cepat. Tangan kanannya mencabut keris yang terselip di samping pintu kamar.
Melihat kepala desa itu telah menggenggam senjata, Talib tak mau tinggal diam. Tubuhnya ikut melompat hendak membantu Sarjan. Dengan golok terhunus dia memburu Ki Lurah Saroga yang bergerak mundur ke ruang belakang.
Sementara itu Nyi Saroga yang ketakutan terus berteriak-teriak. Ia khawatir suaminya akan terluka. Atau, bahkan terbunuh di tangan ketiga orang yang belum dikenalnya itu.
"He he he...! Kau bagianku, Nyi," ujar Sudra terkekeh. Dia mendekati wanita tiga puluh tahun yang tampak masih segar dan cantik.
Dengan kasar dan bengis ditariknya tangan perempuan itu hampir terjatuh. Seketika tubuh Nyi Saroga berada dalam pelukan Sudra yang ber- tubuh besar dari kekar. Perempuan itu meronta- ronta hendak melepaskan diri. Apalah dayanya seorang perempuan seperti dirinya. Semakin kuat Nyi Saroga meronta semakin kuat pelukan tangan Sudra. "He he he...! Masih segar dan sintal tubuh- mu, Nyi. Ayolah. Jangan bersikap seperti ini pada- ku. He he he...!"
Tanpa mempedulikan betapa marah dan sewotnya Nyi Lurah, Sudra mendesak-desakkan mulutnya ke dada dan leher wanita itu. Tentu saja wanita berwajah cantik dan berkulit kuning langsat itu tak tinggal diam. Ditamparnya dengan ke- ras pipi Sudra.
Merasa jengkel atas sikap Nyi Saroga, Sudra langsung melancarkan totokan ke tubuh wanita itu. Seketika perempuan cantik itu melenguh den- gan tubuh melorot. Namun dengan sigap Sudra menahannya. Diangkatnya tubuh wanita itu dan dibawanya masuk ke sebuah kamar.
Istri muda kepala desa itu tak mampu ber- buat apa-apa kecuali menjerit-jerit tertahan. Tu- buhnya yang sintal dan padat dibaringkan di ran- jang. Ia tak mampu menolak atau memberontak lagi ketika Sudra menciumi pipi dan lehernya. La- lu, turun ke dadanya yang putih dan mulus.
Perlahan-lahan, tanpa dengan sikap kasar, Sudra membuka kebaya yang dikenakan wanita cantik itu. Kainnya ditarik lepas hingga tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh mulus Nyi Saroga.
Melihat betapa segar dan sintalnya tubuh istri muda kepala desa, Sudra tak mampu mena- han nafsunya. Napasnya tersengal-sengal ketika tubuhnya menindih tubuh Nyi Lurah Saroga.
Sementara itu Sarjan dan Talib masih den- gan bengis hendak membunuh Ki Lurah Saroga. Keduanya mendapat perlawanan cukup berarti da- ri lelaki setengah baya itu.
Beberapa kali Ki Lurah Saroga berhasil me- nangkis dan mengelakkan serangan kedua lawan- nya. Padahal, tubuhnya yang terbalut pakaian abu-abu telah dibasahi darah dari luka sabetan golok lawan. Hingga pada satu ketika, sebuah babatan golok Sarjan melesat ke arah perutnya.
Bett! Sabetan itu berhasil dielakkan dengan lom- patan tinggi. Kedua kaki Ki Lurah Saroga menda- rat di atas balai bambu dekat pintu dapur. Namun ketika kedudukannya belum begitu seimbang, Ta- lib yang tengah menunggu-nunggu kesempatan, cepat menyapu kaki Ki Lurah Saroga dengan ten- dangan keras kaki kanan. Hingga....
Brrakkk! "Hukh!" Tubuh Ki Lurah Saroga terbanting di atas balai bambu. Kepalanya terkulai hampir menyen- tuh lantai. Sarjan pun melompat sambil mene- baskan goloknya ke perut. Darah segar muncrat ke balai-balai bambu.
Setelah berkelojotan sebentar tubuh Ki Lu- rah Saroga menggelinding ke lantai. Mulutnya mengerang lirih menahan rasa sakit. Di saat-saat terakhir hidupnya Kepala Desa Nariban masih mendengar tawa Talib.
"He he he...! Ki Saroga, aku dan kawan- kawan hanya menjalankan perintah Pendekar Gila. Kami harus menguras harta bendamu...."
Usai berkata demikian, Talib memberi isya- rat kepada Sarjan. Keduanya segera membuka le- mari dan peti tempat menyimpan uang dan per- hiasan. Tentu saja mereka mendapat banyak hasil rampokan. Korbannya selain seorang lurah juga saudagar kaya raya.
Tiga buntalan kain berisi harta benda beru- pa perhiasan emas dan kepingan uang berhasil dikumpulkan dari dua lemari dan sebuah peti di da- lam kamar Ki Lurah Saroga.
"Heh, ke mana si Sudra?" tanya Sarjan se- raya mengangkat dua buntalan besar.
"Biarkan saja dia menikmati tubuh Nyi Sa- roga yang cantik itu...," ujar Talib. Kepalanya dige- rakkan ke arah kamar yang tadi dimasuki Sudra.
Saat itu memang terdengar dengusan- dengusan napas dari kamar sebelah.
"Sudra!" teriak Sarjan. Ditendangnya pintu kamar itu. "Ikut pulang atau mau tidur di sini kau...?!" Sementara Sulung dan Badri telah masuk dan mengambil alih barang yang dibawa Talib.
"He he he.... Maaf. Aku mendapat bagian membereskan istri lurah itu...," ujar Sudra me- langkah keluar kamar. Tubuhnya tampak basah bersimbah peluh. "Hehh.... Hangat sekali tubuh- nya Nyi Saroga, Kang Talib," lanjutnya sambil membenahi celana.
"Kau ini tak pernah puas-puasnya dengan perempuan! Nih, bawa!" dengus Sarjan yang tam- pak kesal. Tapi, tak sedikit pun ada kebencian di wajahnya terhadap Sudra.
Sambil masih tertawa cengengesan Sudra menangkap buntalan kain berisi emas dan perhia- san.
Kelima perampok itu segera melesat pergi meninggalkan rumah Ki Lurah Saroga.

7
Fajar menyingsing. Cahaya kemerahan membias di ufuk timur. Di sebuah hutan lebat yang masih tersaput kabut terdengar sayup-sayup alunan suara suling. Iramanya yang merdu men- dayu-dayu memecah keheningan pagi. Bunyi itu seolah menyiratkan lagu kesedihan, atau mungkin perasaan kecewa.
Sesosok pemuda berpakaian rompi dari ku- lit ular tengah duduk di atas sebatang pohon besar yang tumbang. Ternyata dari sinilah suara suling itu berasal.
Di depan pemuda berambut gondrong yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila tampak Dogol dan Mei Lie terkulai lemas di atas rerumpu- tan.
Semalam aku terbaring di sini terbungkus kegelapan dan dinginnya malam.
Kurenungi kembali nasib hidup manusia. Ke- ras. Penuh kedurjanaan dan keangkaramurkaan.
Jemariku meregang keras. Aku hendak ber- lari. Berlari atau menerjang.
Kenapa hatiku memilih untuk bernyanyi? Melepas segala rasa dendam....
Begitulah gumaman yang keluar dari mulut Pendekar Gila setelah menyelipkan kembali su- lingnya ke pinggang. Dia teringat mimpinya bebe- rapa hari yang lalu ketika bermalam di istana Kerajaan Bumi Segara. Hatinya mulai yakin bahwa mimpi itu bukan kembang tidur semata. Ada pera- saan aneh yang terus menyelubungi hatinya. Di- tambah lagi dengan keadaan semalam. Sekelom- pok orang yang mengatasnamakan Kerajaan Bumi Segara hendak menangkapnya.
"Uuuhh...!" Terdengar lenguhan panjang dari mulut Dogol. Pemuda bertubuh tambun dan berperut bun- cit itu menggeliat.
"Aha, jangan terburu-buru bangun, Dogol!" ujar Sena seraya turun dari batang kayu besar itu. "Keadaan tubuhmu masih lemah."
"Huekhh...!" Dogol rupanya tak mendengarkan larangan Sena. Ketika tubuhnya bangkit dari terbaring, tiba- tiba dia muntah. Keluarlah cairan merah kehita- man.
"Bagus! Bagus! Biarkan racun itu keluar sampai tuntas! Sebentar lagi tubuhmu akan pulih, Gol." Pendekar Gila tersenyum menyaksikan ka- wan baiknya tampak ketakutan. "Ha.... Sebentar lagi kau akan pulih. Semalam kau sulit sekali me- muntahkan cairan itu, Gol," ujarnya seraya mene- puk-nepuk tengkuk Dogol.
Dogol tidak bisa menjawab. Ia hanya men- gangguk-angguk memegangi perutnya yang buncit
Mei Lie pun menggeliat dan bangkit dari ti- durnya. Gadis cantik berambut panjang itu duduk dengan wajah pucat. Tubuhnya masih lemas. Ra- cun ganas telah membuat wanita berjuluk Bidada- ri Pencabut Nyawa itu seperti kehabisan tenaga.
"Baiklah. Kalian boleh perlahan-lahan men- gatur pernapasan untuk mengembalikan tenaga. Sebentar lagi matahari memancarkan sinarnya. Kalian akan pulih kembali." Sena tersenyum- senyum memandangi kedua kawannya.
Mei Lie dan Dogol pun segera melaksanakan saran Pendekar Gila. Keduanya duduk bersila me- nunggu terbitnya sang surya.
"Aha, perut kalian tentu merasa lapar. Tapi jangan khawatir. Aku telah sediakan sarapan pagi untuk kalian berdua."
Pendekar Gila melompati batang pohon tumbang yang tadi didudukinya. Ternyata di balik pohon itu dia telah membakar tiga ekor ayam hu- tan. Diangkatnya ketiga daging ayam yang sudah matang itu.
Dogol membelalak heran bercampur gembi- ra. Sebentar lagi perut gendutnya akan segera mendapatkan santapan lezat.
"Di tengah hutan belantara seperti ini, asal kita mau, tak mungkin akan kelaparan, Gol," ujar Sena melangkah mendekati Mei Lie dan Dogol.
Ketiganya segera menyantap daging ayam panggang. Dengan lahap Dogol menggigiti daging ayam hutan itu.
Ketika mereka selesai makan, sebenarnya matahari telah sepenggalah tingginya. Namun ka- rena pepohonan di hutan itu sangat lebat serta kabut tebal menyelimutinya, cahaya sang surya tak mampu menerobos tempat itu. Saat mereka te- lah keluar dari dalam hutan Dogol tampak agak terkejut. Suasana telah terang dengan cahaya ma- tahari yang hangat. Bagi Mei Lie dan Pendekar Gila hal itu tidaklah terlalu aneh. Bukan baru kali ini keduanya mendapati kejadian seperti itu. Berma- lam di tengah hutan sudah merupakan hal biasa bagi mereka.
* * *

Senapati Saka Bawana turun dari kudanya. Di belakangnya, Ki Lurah Brajanala yang menaiki kuda hitam ikut turun. keduanya melangkah me- masuki istana.
Raja Galih Kertarejasa dan permaisurinya tengah menunggu kedatangan lelaki tua itu. Begi- tu melihat mertuanya datang, Raja Galih Kertare- jasa langsung berdiri menyambutnya.
"Ayah, sengaja kami utus Senapati Saka Bawana menjemputmu." Raja Galih Kertarejasa menjabat tangan Ki Lurah Brajanala. Dipersila- kannya ayah mertuanya duduk.
Setelah Permaisuri Ayu Mustika, anaknya, menyalaminya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Ki Lurah Brajanala segera duduk di kursi. Bersamaan dengan itu muncul Patih Abiyasa. Ia duduk bersila di samping kanan Senapati Saka Bawana setelah menjura hormat kepada Raja Ga- lih Kertarejasa dan Ki Lurah Brajanala
"Sebagai orangtua yang pernah lama berki- prah di rimba persilatan mungkin Ayah bisa mem- beri petunjuk untuk mencari Pendekar Gila."
Semua terdiam ketika sang raja mengucapkan kata-kata itu. Ki Lurah Brajanala yang mengenakan jubah coklat muda menatap lurus ke depan. Mata tuanya terhias alis tebal berwarna pu- tih. Mata itu memancarkan sinar penuh kewiba- waan. Meskipun hanya sebagai seorang lurah, wi- bawanya tidak kalah dengan para adipati atau tu- menggung. Tidak perlu memandang dirinya yang merupakan ayah mertua Raja Galih Kertarejasa. Lelaki tua itu pada zamannya memang pernah menyandang nama besar.
Hanya ketika putri tunggalnya terpilih men- jadi permaisuri, Ki Lurah Brajanala segera memu- tuskan untuk mengundurkan diri dari dunia persi- latan. Apalagi saat itu dirinya dipercaya oleh warga Desa Tingal untuk menjadi lurah.
"Hhh.... Sebenarnya sudah agak terlambat," gumam Ki Lurah Brajanala tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela istana yang mengha- dap ke taman belakang. "Sudah lama murid Singo Edan itu menculik Sekar Arum. Kalau saja saat itu aku berada di sini, mungkin tidak akan sampai begini kejadiannya. Saat ini jelas sulit untuk men- galahkannya, kecuali Singo Edan sendiri...."
"Tapi, bagaimana kita bisa menghubungi gurunya itu?" tanya Raja Galih Kertarejasa dengan nada mengeluh. Rasa kecewa dan khawatir terha- dap keselamatan putrinya telah membuat jiwanya berubah. Wajahnya dalam beberapa hari saja be- rubah tua dan lusuh. Kemarahan yang terpendam membuat semangatnya seakan terbang.
"Kudengar saat ini para tokoh tua dari go- longan putih tengah mengadakan pertemuan. Aku yakin mereka pasti marah mendengar perbuatan pendekar itu. Kuharap mereka dapat berbuat ba- nyak untuk kita. Setidak-tidaknya mereka dapat menghubungi Singo Edan untuk memberitahukan perbuatan muridnya," jelas Ki Lurah Brajanala.
"Yang benar-benar mengherankan dan tak masuk di akalku, apa sebenarnya yang diinginkan Pendekar Gila dengan menculik Kanjeng Putri," ungkap Senapati Saka Bawana. Kepalanya dige- leng-gelengkan. Kegeraman tergambar jelas di wa- jah panglima tertinggi kerajaan itu.
"Hhh.... Semua bisa terjadi dalam kehidu- pan di dunia ini," sela Patih Abiyasa yang sejak ta- di berdiam diri. "Hal-hal aneh dan tak masuk akal semacam ini menjadi wajar bagi orang-orang ka- langan persilatan. Hanya mudah-mudahan keikut- sertaan para tokoh dari golongan putih akan membantu upaya kita menemukan kembali tuan putri."
Senapati Saka Bawana membisu. Raja Galih Kertarejasa manggut-manggut. Sementara Ki Lu- rah Brajanala tetap diam.
"Apa belum ada kabar dari orang-orang kita yang ditugaskan mencari jejak, Senapati Bawana?" tanya Ki Lurah Brajanala tiba-tiba.
"Sampai saat ini belum ada, Ki. Namun, kemarin ada utusan dari Kadipaten Kulonprogo yang mengatakan Pendekar Gila menewaskan se- belas prajurit setelah berhasil mencuri Tombak Payung Jagad milik Adipati Sureng Jawata," lapor Senapati Saka Bawana.
"Berarti Pendekar Gila memang menentang mati! Ini benar-benar sudah keterlaluan. Dia men- coba membuat malu dan ingin menjatuhkan kewi- bawaan para penguasa," ujar Patih Abiyasa geram.
"Namun saat ini sulit baginya untuk berge- rak lebih leluasa. Hampir semua kerajaan di seki- tar Jawadipa ini telah mengerahkan para prajurit untuk bersiaga penuh. Pariwara yang kita sebarlu- askan beberapa waktu lalu telah menarik perha- tian para jawara dan tokoh-tokoh persilatan. Kalau benar tokoh-tokoh golongan putih tengah menga- dakan pertemuan sehubungan dengan tindakan Pendekar Gila, dunia persilatan pasti akan ramai." Senapati Saka Bawana memang banyak menden- gar laporan dari berbagai daerah tentang sepak terjang Pendekar Gila.
Tiba-tiba masuklah seorang prajurit ke da- lam ruangan pertemuan dengan langkah agak ter- gesa.
"Ampun, Kanjeng Gusti!" Prajurit itu menju- ra hormat kepada Raja Galih Kertarejasa.
"Hm. Ada apa, Prajurit?" "Seorang penduduk Desa Japuan hendak datang menghadap Kanjeng Gusti."
"Bawa masuk!" titah Raja Galih Kertarejasa setelah berpikir sejenak.
Dua orang prajurit mengantarkan lelaki muda berpakaian serba hitam. Setelah menjura memberi hormat, mereka duduk bersila di depan Raja Galih Kertarejasa.
"Ampun, Kanjeng Gusti. Tadi malam kami menemukan Pendekar Gila menginap di rumah penginapan Ki Marta. Kami sempat bertarung dengannya. Namun, banyak anak buah Sukarpala ro- boh di tangan Pendekar Gila. "
"Bagaimana dengan Pendekar Gila?!" tanya Raja Galih Kertarejasa tak tahan menahan pera- saan geramnya.
"Ki Marta, pemilik kedai dan penginapan itu, telah memberi racun pada minuman yang dis- uguhkan seorang pelayannya. Tapi sayang, hanya kedua kawan Pendekar Gila yang meminumnya. Saya tidak tahu bagaimana nasib kawan-kawan kami selanjutnya. Ketika Kakang Sukarpala berha- sil dirobohkan oleh Pendekar Gila, saya langsung berlari menuju istana."
"Hmmm." Ki Lurah Brajanaja menggumam tak jelas. Lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepala. "Berarti murid Singo Edan itu kini telah kembali ke wilayah kita, Anakku."
"Bagaimana sebaiknya sekarang. Ayah?" tanya Raja Galih Kertarejasa, menoleh ke arah mertuanya.
"Siapkan para prajurit agar berangkat me- nuju Desa Japuan. Sertakan semua jawara yang telah kita pilih untuk meringkus bajingan itu!" ja- wab Ki Lurah Brajanala tegas.
"Senapati Saka Bawana, kerahkan semua prajurit! Kirimkan ke daerah sekitar Desa Japuan!" "Daulat, Gusti! Saya laksanakan sekarang." Senapati Saka Bawana mengangguk dan bergegas bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan.
Pagi itu juga Senapati Saka Bawana dan beberapa panglima tinggi kerajaan memimpin para anak buahnya berangkat menuju Desa Japuan.
Empat rombongan terdiri dari delapan puluh pra- jurit berkuda diberangkatkan lengkap dengan per- senjataan perang.
Sementara beberapa prajurit diutus untuk menyusul kawan-kawannya yang kini berada di wilayah selatan dan barat. Kalau tak ada halangan di jalan, mereka akan sampai di wilayah tenggara, tepatnya Desa Japuan, pada sore hari.
Setelah keberangkatan para prajurit, Ki Lu- rah Brajanala meninggalkan istana dengan diantar Patih Abiyasa dan dua orang pengawal.

8
"Berhenti...!" Bentakan keras itu mengejutkan Mei Lie dan Dogol. Keduanya langsung berbalik ke bela- kang. Hanya Pendekar Gila yang tetap menghadap ke arah semula. Meskipun sebenarnya kaget juga, tapi Sena tak terlalu khawatir. Pengalamannya di dunia persilatan telah menumbuhkan ketajaman nalurinya sebagai seorang pendekar. Bentakan se- perti itu jelas dilakukan oleh orang golongan putih. Mereka tidak akan bertindak culas dengan mem- bokong lawan dari belakang.
"Benarkah penglihatanku ini? Kaukah Pen- dekar Gila murid Singo Edan itu...?"
Pertanyaan itu dilontarkan lelaki muda be- rusia sekitar tiga puluh tahun yang berdiri di ba- wah sebatang pohon besar. Matanya menatap tajam pada Sena yang bam saja membalikkan tubuh menghadapinya.
"Begitulah orang-orang menjuluki diriku," jawab Sena polos. Mulutnya cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Apa kau juga mendapat perintah dari raja untuk menangkapnya, Sobat?" Mei Lie menatap tak kalah tajamnya kepada lelaki berpakaian kun- ing yang di pundaknya tersampir sebilah pedang itu.
"Semula memang begitu. Tapi, saran dari guruku telah membuat diriku mengurungkan niat itu."
Seno membisu mendengar ucapan lelaki berwajah tampan itu. Ada kesungguhan tersirat di wajahnya. Kecurigaan Sena sedikit berkurang.
"Pertemuan yang dilakukan para tokoh go- longan putih dua hari yang lalu menghasilkan ke- putusan, mereka akan mencari penculik Putri Se- kar Arum. Namun, hampir semua yang datang me- ragukan kalau Pendekar Gila yang telah melaku- kannya," tutur lelaki muda itu.
Mei Lie dan Dogol tercenung. Keduanya tak mengerti arah pembicaraan lelaki itu. Sena belum menceritakan tentang penculikan itu kepada me- reka. Sena hanya mengatakan ada sekelompok orang yang berusaha membinasakan dirinya atas nama kerajaan.
"O ya. Aku Danuwilapa...." Namun, belum selesai lelaki itu mengu- capkan kata perkenalannya, tiba-tiba....
Slatts! Slasts!
"Awas...!" Sambil berteriak memperingatkan, Pende- kar Gila melentingkan tubuhnya ke atas. Secepat kilat dicabutnya Suling Naga Sakti dan dikibaskan memapaki dua larik sinar merah yang meluncur deras ke arah mereka. Glarrr...! Dua buah ledakan keras yang diiringi bi- asan sinar kemerahan terdengar ketika suling pu- saka itu menghantam dua larik sinar. Pendekar Gila mendarat dengan sempoyongan akibat bentu- ran keras itu.
Belum sempat pemuda berambut gondrong dan berpakaian rompi kulit ular itu berdiri tegap, terdengar lagi desingan nyaring meluncur ke arah mereka. Beberapa pisau terbang siap merenggut nyawa mereka. Lesatannya yang begitu cepat membuat Sena tak mampu melakukan tangkisan.
Meskipun dia sempat menghentakkan ke- dua tangannya hingga mengeluarkan serangkum angin keras, tak urung beberapa pisau lepas dari tangkisannya. Hingga...
"Aaakh!" Sebuah pisau menyambar tangan Dogol hingga sobek. Pemuda bertubuh tambun itu men- gerang kesakitan seraya mendekap lengannya yang mengucurkan darah.
Melihat keadaan Dogol, bangkitlah kemara- han Pendekar Gila. Sementara dari balik pepoho- nan dan semak-semak berlompatan beberapa so- sok tubuh berpakaian serba merah. Wajah-wajah bengis dan kejam menatap tajam, menyiratkan nafsu membunuh. Dalam sekejap saja Pendekar Gila, Mei Lie, dan pemuda berpakaian kuning serta Dogol yang tengah kesakitan ter-kepung rapat. Li- ma belas orang bersenjata golok, pedang, kampak, dan trisula mengitari mereka berempat.
"Ha ha ha...! Kali ini kau tak akan dapat lo- los lagi, Bocah Edan!" Terdengar suara tawa meng- gelegar keras. Namun, tak tampak pemiliknya.
"Hua ha ha...!" Sena menyambuti dengan tak kalah kerasnya. "Cecurut busuk mana yang berani mengganggu perjalanan orang, heh?! Keluar kau pengecut...! Biar kukentuti mulutmu yang bau itu!" teriaknya seraya menggeleng-geleng lucu.
"Serbuuu!" "Bunuh pendekar keparat itu!" "Heaaa...!" Tanpa menunggu perintah dari pimpinan- nya yang tidak menampakkan diri, para penge- pung itu segera melancarkan serangan. Mereka merangsek maju menyerang keempat orang la- wannya dengan sabetan dan tusukan senjata.
Mei Lie yang tak sabar melihat keadaan itu dengan cepat mencabut Pedang Bidadari di pun- daknya. Secepat itu pula tubuhnya melompat me- mapaki serangan orang-orang berpakaian serba merah. Wuttt! Trang! Lelaki muda yang tadi mengaku bernama Danuwilapa pun tak mau ketinggalan. Pedangnya yang tersampir di pundak segera diloloskan dan langsung menghadapi para pengeroyok.
Sementara itu, Pendekar Gila yang masih memegang Suling Naga Sakti-nya tidak beranjak dari tempatnya. Dia menunggu datangnya seran- gan lawan sambil melindungi Dogol yang tengah terluka. Namun, karena orang-orang berpakaian merah mengancam Pendekar Gila serangan mere- ka pun terus tertuju kepada Sena.
Sekejap saja pertempuran seru terjadi. Te- riakan-teriakan keras ditingkahi suara dentang senjata yang saling berbenturan memecah kehe- ningan siang di tepi hutan itu.
Mei Lie dengan penuh semangat menghada- pi serangan lawan yang datang bertubi-tubi. Pe- dangnya dikibaskan ke sana kemari menangkis sabetan dan tusukan senjata lawan. Ketika dua orang lawan menyabetkan pedang ke arahnya se- cara bersamaan, gadis cantik berjuluk Bidadari Pencabut Nyawa itu memutar pedangnya dengan pengerahan tenaga dalam tinggi
Benturan keras pun terdengar seiring den- gan pekikan menyayat dari mulut kedua lawannya. Kedua lelaki berpakaian merah terjengkang ke be- lakang. Namun, dengan cepat mereka bangkit ber- diri dan kembali melancarkan serangan. Belum sempat keduanya menebaskan pedang, Mei Lie te- lah lebih dulu membabat perut salah seorang di antara mereka.
Darah segar muncrat. Tubuh lelaki berpa- kaian merah itu terjungkal ke tanah. Sebentar tu- buhnya berkelojotan, tapi kemudian tewas.
"Kurang ajar!" dengus kawannya. Lalu, melompat menerjang Mei Lie.
Mei Lie melompat ke samping seraya mene- baskan pedangnya. Dan....
Crasss! Pekikan keras kembali terdengar. Darah se- gar mengalir dari leher yang tersambar pedang Mei Lie.
Sementara itu, Danuwilapa telah berhasil membabat tiga orang lawannya. Lelaki muda ber- wajah tampan ini rupanya memiliki ilmu yang cu- kup handal. Terbukti, tiga orang lawannya telah terkapar berlumuran darah di atas rerumputan.
Sedangkan Sena yang menghadapi empat orang lawan tampaknya tak banyak menemui ke- sulitan. Dengan meliuk-liukkan tubuhnya dan se- sekali melompat ke sana kemari dia memutar su- lingnya. "Hi hi hi...! Percuma kalian hendak me- nangkapku, Cecurut-cecurut Kudisan! Dengan se- batang suling saja kalian kewalahan. Ha ha ha...!" Sena tertawa di sela-sela kesibukannya mengha- dapi lawan.
Mendengar ejekan itu lawan-lawannya se- makin geram. Dua orang membabat dan menu- sukkan senjatanya ke tubuh Sena. Namun Sena cepat melompat ke atas. Sulingnya diayunkan, hingga... Trang!
Blukkk! Lenguhan pendek terdengar dari mulut la- wannya yang bersenjatakan kapak. Tubuhnya ter- jajar mundur beberapa langkah setelah kapaknya berbenturan dengan suling milik Pendekar Gila. Sementara dua orang kawannya telah merangsek maju melancarkan serangan susulan.
Sena dengan cepat melompat. "Ha ha ha.... Meleset, Kawan. Nih, terima sulingku! Hih...!"
Pletakk! Seorang lawannya mengerang-erang kesaki- tan. Tubuhnya berputar-putar dengan tangan kiri memegangi kepalanya yang benjol terkena pukulan Suling Naga Sakti di tangan Sena.
"Ha ha ha...! Bukan mereka yang kroco- kroco itu yang menjadi lawanmu, Bocah Edan. Bragaspati yang akan menangkap dan menyerah- kanmu ke Istana Kerajaan Bumi Segara!"
Sesosok lelaki bertubuh tinggi besar dan bercambang bauk lebat mendarat di tengah per- tempuran. Tanpa memberi kesempatan kepada Sena, lelaki berjubah merah tua itu langsung me- lancarkan serangan dahsyat.
Wusss! "Haits! He he he...!" Sena tertawa mengejek. "Kurang sedikit saja, Bragaspati!"
Namun ketika tubuh Pendekar Gila melent- ing dan bersalto di udara, Bragaspati melontarkan serangan susulan yang tak kalah dahsyat. Bebera- pa larik sinar kemerahan melesat memburu tubuh Sena.
Slatss! Slatss! Glarrr...! Ledakan keras terdengar. Suling Naga Sakti di tangan Pendekar Gila berhasil menangkis se- rangan itu. Baik Sena maupun Bragaspati terdorong ke belakang. Bahkan, ketika mendarat tubuh Sena agak sempoyongan.
Melihat lawannya telah siap melancarkan serangan susulan, Pendekar Gila dengan cepat menghentakkan telapak tangan kanannya. Se- rangkum api melesat dan menghantam tubuh la- wannya. Pekikan keras menyayat hati pun terdengar mengiringi tubuh Bragaspati yang terlontar deras ke belakang. Tubuh besar berjubah merah itu baru berhenti meluncur ketika menabrak pepohonan.
Tubuh Bragaspati yang hangus terbakar ajian 'Inti Brahma' Pendekar Gila terkapar kaku di bawah pohon.
Mei Lie dan Danuwilapa yang telah menye- lesaikan pertarungan dengan lawan-lawannya se- gera menghampiri Sena Manggala.
"Mereka gerombolan perampok Hutan Srumbung, Tuan Pendekar," ujar Danuwilapa memberitahu. "Hh.... Mereka hanya sedikit dari orang-orang persilatan yang saat ini tengah ber- lomba mencari Tuan Pendekar. Mereka tergiur oleh imbalan besar yang dijanjikan kerajaan bagi orang yang dapat menangkap Pendekar Gila...."
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepala dan berjalan menghampiri Dogol yang terluka. Pi- sau yang menyambar lengan Dogol ternyata men- gandung racun ganas. Pemuda berperut gendut itu terkulai pingsan. Diangkatnya tubuh Dogol dan dibawa ke tempat yang teduh. Mei Lie dan Danu- wilapa mengikuti dari belakang.
"Kasihan Dogol. Dua kali dia menjadi korban keganasan orang-orang serakah yang tak be- rakal...," gumam Pendekar Gila sambil berjongkok.
Sena memejamkan mata seraya menyatu- kan kedua telapak tangannya di depan dada. Ke- mudian, ditempelkannya telapak tangannya di da- da Dogol. Sena berusaha mengeluarkan racun ga- nas dari tubuh lawannya. Hal seperti itu telah pula dilakukannya semalam setelah Dogol meminum racun di dalam penginapan.
"Huh. Bodoh sekali aku ini. Sampai lupa menotok lengan Dogol ketika baru saja terluka ta- di. Mestinya racun ini tak sampai menjalar ke se- luruh tubuhnya," Sena terus mengerahkan tenaga dalamnya.
Dari luka bekas goresan pisau di lengan Dogol kembali mengalir cairan merah kehitaman. Darah yang telah tercampur racun itu merembes keluar. Sesaat kemudian, tubuh tambun Dogol menggeliat seperti berusaha untuk bangun.
"Ngmhhh...," Dogol melenguh lirih. Sena segera menahan dada Dogol agar tetap terbaring. Tiba-tiba saja Dogol memuntahkan da- rah kehitaman.
"Biarlah dia tidur sebentar. Tubuhnya terla- lu lemah. Sebenarnya tadi dia belum pulih benar dari racun semalam, Kakang Sena," ujar Mei Lie yang berjongkok di samping Pendekar Gila.
Sementara itu, Danuwilapa berdiri mema- tung memandangi mereka bertiga.
"Em... Kalau aku boleh tahu, hendak ke mana sebenarnya tujuanmu, Sobat?" tanya Mei Lie menoleh kepada Danuwilapa.
"Ya. Aku sampai belum sempat menjelaskan kepada Tuan Pendekar."
"Jangan panggil begitu kepadaku. Sebut sa- ja aku Sena!" sahut Pendekar Gila seraya mengu- lapkan tangan kanannya.
"Aku sebenarnya termasuk pasukan pilihan yang ditugaskan oleh Kadipaten Kulonprogo untuk mencari penculik Putri Sekar Arum. Meskipun te- lah dilarang oleh orang kadipaten. Tapi aku nekat ikut bertugas...."
Mei Lie mengerutkan kening. Begitu pula Sena Manggala.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi di Kadi- paten Kulonprogo?" tanya Mei Lie penasaran.
Danuwilapa menarik napas panjang. "Ayah- ku, Adipati Sureng Jawata, tewas di tangan seo- rang pencuri yang berhasil membawa pergi tombak pusaka milik Ayah. Kejadian itu hanya berselang satu malam dengan peristiwa penculikan Putri Se- kar Arum. Yang mengejutkan kami pelaku pencu- rian itu ternyata persis dengan dirimu, Sena. Bah- kan seluruh pembesar kadipaten telah menjatuh- kan tuduhan kepadamu. Mereka didukung oleh peristiwa di Kerajaan Bumi Segara yang pelakunya juga Pendekar Gila."
Mei Lie mengerutkan keningnya. Ditatapnya dalam-dalam wajah Danuwilapa yang ternyata pu- tra seorang adipati.
"Beruntung aku mendapat saran dari guru- ku. Sehingga, dapat kuredam dendam kesumatku kepada Pendekar Gila setelah mengikuti perte- muan para tokoh persilatan di Borobudur dua hari
lalu. Kini aku jadi lebih yakin setelah bertemu denganmu, Sena. Ternyata kau sendiri belum mengetahui perkara yang menyangkut nama baikmu," lanjut Danuwilapa. "Tapi, bagaimana mungkin kau tidak mengetahui hal itu?" tanya Danuwilapa.
"Dua hari dua malam perjalanan dari Kera- jaan Tanjung Anom kami lalui lewat utara. Baru tadi malam kami menemui kabar itu," jawab Sena.
"Itulah sebabnya guruku memerintahkan aku untuk membantu tokoh-tokoh lurus yang be- rusaha mencarimu, Sena. Bukan untuk menang- kap atau membunuhmu, tapi hanya ingin mene- mui. Jika memang benar ada tokoh yang telah menyamar sebagai Pendekar Gila, seperti dugaan para tokoh tua, hanya kau yang dapat menyelesai- kan masalah ini. Wajah dan tingkah laku penculik itu sama persis denganmu. Ini yang membuat orang-orang bingung."
'Ya, ya. Lalu, bagaimana sebaiknya?" tanya Sena pada kekasihnya, Mei Lie. "Aha, mungkin ki- ta mesti menghadap ke Istana Kerajaan Bumi Se- gara."
Sementara itu Dogol telah siuman. Pemuda gendut itu duduk bersandar di sebatang pohon be- sar.
"Gol, kita harus berangkat sekarang!" ujar Mei Lie memandangi Dogol.
Dengan senyum yang dipaksakan Dogol bangkit dari duduknya. Kakinya melangkah perla- han menghampiri Pendekar Gila dan Mei Lie. "Kua- tkan dirimu, Gol!" ujar Sena. "Kita akan mampir dulu di Istana Kerajaan Bumi Segara. Ada urusan penting. Ayo!" perintah Sena.
Keempat orang muda itu segera melesat ke arah barat menuju Istana Kerajaan Bumi Segara.

9
Mei Lie, Dogol, dan Danuwilapa menger- nyitkan kening keheranan ketika melihat langkah Sena terhenti. Apalagi ketika Pendekar Gila mene- lengkan telinganya seperti tengah berusaha men- dengar sesuatu.
"Ada apa, Kakang Sena?" tanya Mei Lie mendekati Pendekar Gila.
"Ah. Aku mendengar derap langkah kaki kuda. Ada puluhan kuda berlari ke arah sini," ujar Sena.
"Mungkinkah mereka pasukan kerajaan, Sena?" tanya Danuwilapa yang tampaknya mulai akrab dengan pendekar berpakaian rompi kulit ular itu. "Mungkin juga...," gumam Sena dengan ta- tapan lurus ke depan. Keningnya tiba-tiba berker- nyit tajam. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan dirinya. Ketajaman nalu- rinya sebagai seorang pendekar mengatakan hal itu.
Ternyata benar. Baru saja mereka hendak melanjutkan langkah, dari arah barat tampak pu- luhan pasukan berkuda berlari ke arah timur. Tak lama kemudian rombongan berkuda yang adalah tentara kerajaan itu telah sampai di depan Pende- kar Gila.
"Berhenti...!" Teriakan keras terdengar dari mulut seo- rang lelaki bertubuh gagah perkasa yang menge- nakan pakaian senapati. Seketika delapan puluh pasukan berkuda itu berhenti.
Dengan tatapan tajam lelaki gagah di atas kuda putih yang tak lain Senapati Saka Bawana memandangi Sena Manggala.
Rasa heran hampir saja menyeruak di hati Pendekar Gila. Namun ketika dia teringat kabar buruk tentang dirinya, perasaan itu berubah men- jadi rasa khawatir. Meskipun ia seorang pendekar yang tak diragukan lagi kemampuannya, baik da- lam ilmu maupun kedigdayaan, perasaan seperti itu tetap ada. Bukan karena Pendekar Gila tak mampu mengatasi sekian banyak tentara yang akan menangkapnya. Melainkan saat ini yang di- hadapinya bukanlah orang-orang durjana.
Kalaupun harus terjadi bentrokan untuk membela diri, Pendekar Gila tetap merasa serba salah. Ia tengah dihadapkan pada persoalan yang sulit. Suatu salah paham akibat fitnah keji.
"Pendekar Gila..., atas nama kerajaan kami akan menangkapmu!" teriak Senapati Saka Bawa- na lantang.
Belum sempat Sena memberikan jawaban atas seruan Senapati Saka Bawana, Mei Lie telah menyahuti.
"Hei.... Senapati! Tidakkah kau tahu berhadapan dengan siapa dirimu saat ini?!" teriak Mei Lie tak kalah lantang. Sambil mengucapkan kata- kata itu, tangannya meraba gagang pedang yang tersampir di pundaknya.
"Pendekar Gila murid Singo Edan, dan kau Bidadari Pencabut Nyawa!" jawab Senapati Saka Bawana yang menjadi pemimpin pasukan.
"Mei Lie, tahan ucapanmu!" tegur Sena se- raya memegang lengan kanan gadis itu.
"Pendekar Gila, kau sembunyikan di mana Kanjeng Putri Sekar Arum?!" bentak Senapati Saka Bawana mulai tak sabar. "Apa maksudmu mem- bawa lari Kanjeng Putri Sekar Arum yang telah di- persunting Pangeran Danuwirya? Bukankah kau sendiri tahu mereka akan melangsungkan perni- kahan bulan depan?"
"Tulikah telinga kalian? Butakah mata ka- lian, sehingga tak pernah mendengar dan melihat perjuangan Pendekar Gila dalam melawan kedur- janaan? Mana mungkin seorang pendekar berlaku durjana...?"
Mei Lie yang tak mampu menahan amarah- nya terus saja bicara menanggapi tuduhan Sena- pati Saka Bawana.
"Kehidupan di dunia ini serba mungkin. Seorang pendekar bisa berlaku durjana. Seorang resi atau pendeta bisa berbuat mesum. Seorang guru bisa bertindak culas. Seorang raja tak mam- pu menahan angkara murka hatinya. Seorang ibu bisa tega membunuh anaknya. Seorang ayah bisa menggagahi anak perempuannya.
Seorang hakim bisa saja tidak adil. Apa yang tak mungkin di dunia ini, Nona Pendekar...? Ya.... Kecuali kalau kau ingin memakan kepalamu sendiri. Itu baru tindakan yang tak mungkin...."
"Bedebah!" Mei Lie semakin marah. Wajah- nya merah padam.
"Semua prajurit kerajaan termasuk diriku menyaksikan kawanmu menculik Putri Sekar Arum, Nona Mei Lie! Tak ada lagi kata untuk me- nyanggah atau memungkiri tindakan Pendekar Gi- la!" ujar Senapati Saka Bawana dingin. "Para pra- jurit, tangkap dia...."
Mendengar seruan sang pemimpin, para prajurit pun segera berlompatan turun dari pung- gung kuda masing-masing. Mereka mengepung Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol serta Danuwila- pa dengan senjata terhunus.
Aneh. Tidak seperti biasanya Pendekar Gila dilanda rasa bingung dan serba salah seperti saat ini. Dia seolah tak mampu menggerakkan tubuh- nya untuk berbuat sesuatu. Sena hanya terpaku dengan pandangan nanar. Padahal, dengan penuh semangat para prajurit berlarian hendak mering- kusnya. Mei Lie mencabut pedangnya dan langsung menghadapi serangan belasan prajurit yang beru- saha menangkap kekasihnya. Sementara Danuwi- lapa tampak kebingungan. Dogol pun demikian.
Meskipun para prajurit hanya mengarahkan perhatian kepada Pendekar Gila, Mei Lie, dan Do- gol tetap merasakan gentar. Dia tak mau menjadi korban amukan pasukan kerajaan. Pemuda bertu- buh tambun dan berperut gendut itu segera lari menyingkir. Tak mungkin ia mampu mengatasi amukan para prajurit itu.
* * *

Pekikan-pekikan nyaring yang ditingkahi bunyi dentang senjata memecah keheningan siang di tepi hutan itu. Mei Lie yang telah lebih dulu mencabut pedang menghadapi setiap prajurit yang berusaha mendekatinya. Begitu pula dengan Da- nuwilapa yang tadi sempat bimbang. Ia berusaha membantu gadis berpakaian putih itu.
Namun sejauh itu tindakan Bidadari Penca- but Nyawa hanya menangkis dan menghindarkan setiap serangan lawan. Betapapun hatinya marah mendengar tuduhan Senapati Saka Bawana, jiwa kependekarannya tetap mencegah dirinya untuk berbuat kejam. Sehingga, perlawanan yang dilaku- kannya hanya setengah-setengah.
Hal serupa pun dialami Pendekar Gila. Meski rasa jengkel dan marah menyelimuti ha- tinya, pemuda berpakaian rompi kulit ular ini tak berani menjatuhkan tangan kejam. Walau para prajurit tampak penuh semangat ingin menjatuh- kannya, Sena hanya melompat ke sana kemari sambil sesekali melancarkan serangan. Serangan itu pun hanya untuk menjatuhkan mereka bukan membunuhnya.
Sena menyadari benar pertempuran ini se- benarnya tidak harus terjadi. Karena kebimbangan itulah lama-kelamaan Pendekar Gila mulai terde- sak. Semahir apa pun kemampuannya akhirnya
Sena kewalahan juga.
Sementara Mei Lie yang juga berusaha un- tuk tidak membunuh lawan terdesak hebat. Tiga orang prajurit tampak bergelimpangan dengan punggung berlumur darah. Dalam keadaan ter- paksa sekali Bidadari Pencabut Nyawa telah me- nyarangkan pedangnya ke tubuh lawan.
Melihat kekasihnya dalam keadaan terdesak hebat, Pendekar Gila berteriak mengingatkan. "Mei Lie, lari...!"
Wuttt! "Haits!"' Sebuah babatan pedang lawan hampir saja menyambar kepala Sena. Beruntung dengan gera- kan yang gemulai dia sempat meliukkan tubuh- nya. Lalu....
Plakkk! Bukkk! Dua orang prajurit terpental beberapa lang- kah ke belakang. Keduanya meringis-ringis kesaki- tan dan tak mampu bangkit lagi.
Ketika melihat Mei Lie sudah lari dari tem- pat pertarungan, Pendekar Gila pun berusaha me- larikan diri. Namun ia segera teringat pada Danu- wilapa yang tengah sibuk menghadapi lawan- lawannya. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu melesat ke arah pertempuran Danuwilapa.
Tukkk! Tukkk! Tiga orang prajurit terkulai lemas terkena totokan Sena. Setelah itu, Pendekar Gila menge- rahkan ilmu 'Sapta Bayu' dan melesat meninggalkan tempat pertempuran. Danuwilapa tak mau ke- tinggalan. Ia segera mengikuti arah yang dituju Sena. Namun kecepatan lari Pendekar Gila tak mampu ditandinginya. Dalam sekejap saja Sena telah melesat begitu jauh. Ketika sampai di tepi sebuah hutan, Danuwilapa baru berhenti. Ada se- seorang yang memanggilnya.
"Dogol." Danuwilapa menghampiri Dogol yang tadi memanggilnya. "Di mana Sena...?"
"Heh?! Aku tak melihatnya," sahut Dogol yang tampak kaget.
"Kalau begitu, ayo kita segera mengejar Se- na. Aku dan dia terpaksa meninggalkan tempat pertempuran. Kulihat tadi Sena tidak sepenuh hati menghadapi para prajurit itu...."
Tanpa banyak bicara lagi keduanya kemu- dian melesat ke arah utara mencari Pendekar Gila yang tengah mengejar Mei Lie.
Sementara itu Mei Lie ternyata mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Begitu dapat lolos dari pertempuran, gadis itu dihadang oleh pa- ra prajurit lain yang datang belakangan. Dalam pertarungan sengit Mei Lie mendapat totokan di- punggung sebelah kanan. Pedang Bidadari anda- lannya terlepas dari genggaman, lalu disambar sa- lah seorang prajurit. Tak lama kemudian, gadis itu dapat diringkus.
* * *

Pendekar Gila terus melesat ke utara mem- bawa kekalutan yang melanda hatinya.
"Ah ah.... Kenapa bodoh sekali aku?!" Sena seraya menghentikan langkahnya di tepi sebuah hutan. "Hmh.... Bagaimana nasib Mei Lie dan Do- gol?"
Dengan tangan menggaruk-garuk kepala, Sena melangkah memasuki hutan. Begitu dia sampai di dalam hutan, tiba-tiba...
"Hua ha ha...!" Suara tawa keras menggelegar mengejutkan Sena. Cepat tubuhnya dibalikkan. Suara tawa itu ternyata berasal dari seorang lelaki tinggi besar yang mengenakan jubah biru. Mulutnya yang lebar terhias cambang bauk lebat. Tangan kanannya memegang sebatang tongkat berwarna merah. Ujung tongkat itu berbentuk tengkorak kepala manusia.
"Hua ha ha.... Ternyata begitu kecil nyali- mu, Bocah Edan Murid Singo Gendeng!"
"Hua ha ha...!" Pendekar Gila menyambut- nya dengan tawa keras dan menggelegar pula. La- lu, cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. "Hei, Orang Tua Bergigi Ompong!" bentak Sena. Padahal, lelaki tinggi besar itu tidak bergigi om- pong. Mulut Sena asal bicara saja karena hatinya sedang kalut. "Siapa kau sebenarnya?"
"He he he...! Nanti kau akan tahu kalau aku sudah membawa mayatmu ke Istana Kerajaan Bumi Segara, Bocah Gendeng."
"He he he...! Kau juga ingin mendapat imba- lan dari raja rupanya, Ompong," sahut Sena den- gan terkekeh. "Aku merasa lebih berharga kini. Orang-orang memperebutkan diriku."
"Jangan banyak bacot! Heaatt...!" Wuttt! Seraya membentak nyaring lelaki berjubah biru menghantamkan tongkatnya dengan keras.
Melihat orang itu melancarkan serangan, Sena melentingkan tubuhnya ke atas. Namun se- cepat kilat lelaki brewok memutar tongkatnya hingga menimbulkan deruan angin kencang. Angin yang berputar cepat itu membuat tubuh Sena agak sempoyongan ketika mendarat di tanah. Ketika kedudukan Sena belum sempurna, lelaki brewok itu kembali meluruk deras dan menusukkan tong- katnya. Hingga....
Trakkk! Benturan keras terjadi saat Pendekar Gila menebaskan sulingnya memapaki serangan mu- suh.
Keduanya terdorong mundur beberapa langkah. Hal itu menunjukkan betapa kuat bentu- ran tersebut. Namun belum juga kedudukan tu- buhnya seimbang, lelaki berjubah biru menghen- takkan kedua belah tangannya. Meluncurlah se- rangkum api yang melesat memburu tubuh Sena.
Pendekar Gila terkesiap melihat serangan susulan yang dahsyat itu. Namun, dengan cepat dia menghentakkan kedua tangannya hingga ber- hembus serangkum angin dingin.
Wusss! Bresss! Terjadi tabrakan antara angin dingin milik Sena dengan api yang tercipta dari tangan lawan. '"Inti Brahma'! Heaaa...!"
Begitu berhasil meredam serangan api yang dilancarkan lawan, Pendekar Gila menyusuli se- rangannya dengan ajian 'Inti Brahma'. Serangkum api melesat cepat dari kedua belah telapak tan- gannya. Wusss! Jrraats! Tubuh lelaki tinggi besar berjubah biru ter- lontar deras ke belakang. Teriakan menyayat hati pun terdengar dari mulutnya. Jubah dan kulit tu- buhnya hangus terbakar. Ketika tubuh hangus itu terbanting setelah menabrak pohon besar, nya- wanya pun lenyap dari raga.
Sena Manggala baru hendak beranjak me- ninggalkan tempat itu ketika sesosok bayangan putih berkelebat tak jauh darinya.
"Ah ah ah...! Petaka apalagi yang akan ter- jadi di sini, Sena?"
Sesosok lelaki tua berjubah putih tahu-tahu telah berdiri dua tombak di hadapan Sena.
"Guru!" Pendekar Gila terkejut bukan main. Lelaki berambut putih itu ternyata Singo Edan. "Kau berada di sini. Guru...?"
"Hi hi hi...!" Singo Edan tertawa cekikikan. Tangan kanannya menggaruk-garuk kepala. Se- mentara mulutnya nyengir dengan sebelah mata dipicingkan. Sikap lucu dan konyol itu persis den- gan kebiasaan yang dilakukan Pendekar Gila. "Aha! Tidakkah kau mendengar keadaan wilayah barat dan selatan, Sena? Para tokoh persilatan tengah memburu dirimu."
"Aku sudah mendengar, Guru...."

No comments:

Post a Comment