PETAKA
SEORANG PENDEKAR
Oleh Firman Raharja
1
Suasana di Ibukota Kerajaan Bumi
Segara tampak berbeda dengan hari-hari biasanya. Di tepi sepanjang jalan utama
menuju istana kerajaan terpancang beraneka warna bendera dan umbul- umbul. Pada
setiap mulut jalan atau gang kecil di- hiasi gapura-gapura indah dari dedaunan
dan bunga-bungaan. Seolah kota itu tengah menyam- but tamu agung.
Keadaan di dalam kota tampak sepi
dari ke- giatan sehari-hari penduduknya. Ternyata, di ista- na kerajaan tengah
dilangsungkan suatu upacara adat pertunangan antara Putri Sekar Arum, anak Raja
Galih Kertarejasa, dengan Pangeran Danu- wirya putra mahkota dari Kerajaan
Tanjung Anom. Upacara itu berlangsung cukup meriah. Tidak hanya para pembesar
istana dan prajurit kerajaan yang menyaksikan upacara kebesaran yang baru kali
ini dilaksanakan selama masa pemerintahan Raja Galih Kertarejasa. Banyak warga
kota yang menyempatkan diri turut melihatnya.
Alunan suara gamelan mengiringi
tembang yang menyiratkan makna penyambutan bagi para tamu agung istana. Upacara
itu dilaksanakan di Pendopo Agung yang bernama Balai Paseban. Yai- tu, tempat
penyambutan dan perjamuan bagi ta- mu-tamu istimewa kerajaan,
Rombongan tamu yang menyertai
Pangeran Danuwirya semua duduk bersila di lantai sebelah kanan, berhadapan
dengan para undangan serta pembesar-pembesar istana. Sementara di tengah agak
ke belakang, kursi-kursi berukir indah didu- duki oleh sepasang calon pengantin
yang didam- pingi kedua orangtua masing-masing.
Setelah upacara pertunangan dan
jamuan makan bagi semua undangan, acara dilanjutkan dengan suguhan hiburan.
Empat orang gadis can- tik dengan gemulai menari di tengah para tamu. Sesekali
terdengar tepuk tangan memberi sambu- tan, meningkahi alunan gamelan yang
mengiringi para penari. Bahkan ada yang ikut menggerak- gerakkan kepala atau
pundaknya. Namun, tak ada yang berani tampil di depan untuk turut menari,
seperti layaknya hiburan ronggeng atau tayub.
Di tengah-tengah rombongan yang
menyer- tai Pangeran Danuwirya tampak seorang pemuda tampan berambut ikal dan
gondrong sampai ke pundak. Warna dan jenis pakaiannya terlihat me- nyolok.
Rombongan itu mengenakan pakaian sera- gam istana Kerajaan Tanjung Anom.
Sementara pemuda tampan yang sejak tadi tersenyum- senyum sendiri berpakaian
rompi terbuat dari ku- lit ular. "Hi hi hi...! Kalau saja tidak di dalam
istana tentu aku sudah turun menari. Hmmm. Cantiknya para penari istana
itu!" ujar pemuda berpakaian rompi dari kulit ular sambil
menggeleng-gelengkan kepala dan tertawa cekikikan. Sebentar kemudian, ia
menggaruk-garuk rambutnya yang awut- awutan. Gadis cantik berpakaian putih yang
duduk bersila di sebelah kiri pemuda itu melotot. Dengan gemas disikutnya
pinggang si pemuda.
Beberapa tamu tampak memperhatikan
tingkah laku pemuda berpakaian kulit ular. Ada yang menggeleng-geleng karena
merasa heran dan lucu. Ada pula yang tersenyum sinis dan men- ganggap pemuda
itu tidak tahu sopan santun.
Melihat sikap kawannya tidak
berubah, bahkan kelihatan semakin konyol, gadis berpa- kaian putih segera
mencubit keras-keras pinggang si pemuda.
"Aaauw...!" Pemuda
berpakaian rompi kulit ular kontan menjerit kesakitan. Orang-orang yang tengah
asyik menyaksikan tarian langsung menoleh kaget ke arah pemuda itu. Namun
seperti tak peduli, pe- muda yang di pinggangnya terselip sebuah suling
berkepala naga tetap tertawa cengengesan. Hal itu tentu saja membuat gadis
berpakaian putih sema- kin jengkel.
"Ah ah ah...! Mau ke mana kau,
Mei...?" tanya pemuda itu sambil tertawa. Lalu, dia meno- leh ke kanan
"Dogol, kau ikuti Mei Lie!" perintah- nya kepada pemuda bertubuh
gemuk di samping- nya.
"Baik, Kang Sena," jawab
pemuda gemuk itu seraya bangkit dari duduknya. Bergegas ditinggal- kannya
tempat itu mengikuti gadis berpakaian pu- tih yang bernama Mei Lie.
Sementara itu pemuda berpakaian
rompi kulit ular yang tak lain Pendekar Gila tetap me- nyaksikan para penari
melenggak-lenggok di pen- dopo. Mulutnya terus cengengesan dengan sesekali tangannya
menggaruk-garuk kepala seolah merasa gatal.
* * *
Di saat pagelaran tari itu
berlangsung, ten- gah terjadi suatu pembicaraan antara keluarga Ke- rajaan Bumi
Segara dengan keluarga dari Tanjung Anom. Mereka mengambil tempat di sebuah
ruan- gan dalam istana.
Raja Galih Kertarejasa dan
permaisurinya menerima dengan senang hati usulan Prabu Wira- buana, ayahanda
Pangeran Danuwirya. Mereka sepakat akan mengadakan pesta perkawinan Putri Sekar
Arum dengan Pangeran Danuwirya pada dua purnama mendatang.
"Baik. Kalau rencana kita
memang begitu, pekan ini juga kita harus segera menyebarkan un- dangan
itu," ujar Prabu Wirabuana dengan terse- nyum bahagia.
"Ya, ya. Paling tidak kita
mesti mengundang lima kerajaan mancanegara yang terdekat, Kakan- da
Prabu," ujar Raja Galih Kertarejasa. "Kurasa pe- ristiwa seperti ini
sangat tepat bagi kita untuk sal- ing menjalin persahabatan dan persaudaraan.
Bu- kan begitu?"
Mendengar ucapan Raja Galih
Kertarejasa, yang lain menganggukkan kepala membenarkan.
"Tapi...." Tiba-tiba
penguasa tertinggi Kera- jaan Bumi Segara itu mengeryitkan kening. "Hmm.
Kakanda Prabu, siapa pemuda berpakaian rompi kulit ular dan kedua kawannya yang
turut bersama rombonganmu itu?" tanya Raja Galih Kertare- jasa kemudian
"Wah, wah! Sampai aku terlupa,
Dinda. Aku sungguh merasa kedatangan tamu penting dalam upacara pertunangan
putraku ini. Dialah pendekar yang membantu kami menumpas para pemberon- tak dua
pekan lalu. Tanpa kehadiran Pendekar Gi- la dan kedua kawannya itu mungkin
kerajaan akan banyak kehilangan putra-putra terbaiknya, Dinda...."
"Pendekar Gila?!"
Terkejut juga Raja Galih Kertarejasa mendengar nama pemuda yang sejak tadi
menarik perhatiannya. "Hmm. Jadi dia pende- kar muda itu? Aku memang
pernah mendengar nama itu," ujarnya kemudian seraya mengangguk- angguk.
Kedua pemimpin kerajaan itu pun membi- carakan Pendekar Gila sesekali keduanya
terse- nyum ketika melihat tingkah laku Pendekar Gila yang lucu.
Tanpa mempedulikan keadaan di
sekitarnya yang semua terdiri dari para pembesar istana, Pendekar Gila
tersenyum-senyum dan tertawa ce- kikikan sendiri. Kelakuannya itu membuat Mei
Lie, kekasihnya, jengkel dan meninggalkannya.
Sementara itu tak jauh dari arena
tempat pagelaran tari tampak Senapati Saka Bawana, Panglima Ganjar Seta, dan
beberapa panglima tinggi lainnya duduk dengan tenang. Kewibawaan mereka sebagai
prajurit utama kerajaan jelas ter- pancar dari sinar mata dan garis wajah yang
te- nang dan dingin. Di antara mereka tampak seorang lelaki tua berjenggot
putih mengenakan pa- kaian lurik lengan panjang. Kepalanya yang be- rambut putih
tertutup blangkon lurik hitam.
Lelaki tua berjenggot putih yang
adalah mertua Raja Galih Kertarejasa tak henti-hentinya memperhatikan Pendekar
Gila. Sesekali mulutnya yang tipis menyunggingkan senyum, merasa geli dengan
tindakan Sena. Ayahanda Permaisuri Ayu Mustika ini sebenarnya seorang kepala
desa. Meski putrinya telah terpilih menjadi istri Raja Galih Ker- tarejasa,
dirinya tetap setia memimpin Desa Tingal. Tiba-tiba Kepala Desa Tingal itu
menge- rutkan kening ketika dilihatnya seorang prajurit menghampiri Pendekar
Gila. Prajurit itu membi- sikkan sesuatu ke telinga Sena yang masih asyik
menonton tarian. Setelah mengangguk beberapa kali, pemuda berpakaian rompi
kulit ular itu bangkit dari duduknya. Lalu, melangkah mengiku- ti prajurit yang
memanggilnya.
Ternyata Sena dibawa menuju tempat
per- temuan Raja Galih Kertarejasa dengan calon besannya, Prabu Wirabuana.
"Ah, Sena! Sengaja kau kami
undang kemari. Raja Galih ingin sekali berkenalan dengan- mu...," sambut
Prabu Wirabuana ketika Sena ma- suk ke ruangan.
"Wah, ampunkan hamba, Kanjeng
Gusti se- kalian!" ujar Sena dengan tersenyum.
"Hm. Pendekar Gila," ujar
Raja Galih Kerta- rejasa. Diperhatikannya Sena lekat-lekat. "Kami sangat
bergembira dapat berjumpa denganmu. Sudah lama sebenarnya aku mendengar namamu,
tapi baru kali ini dapat bertatap muka denganmu. Sungguh tak menduga aku dapat
berjumpa den- gan seorang pendekar sejati sepertimu, Sena."
"Ah ah ah...." Sena
tertawa. Tak ada peru- bahan pada sikapnya, meski yang dihadapinya itu seorang
raja. "Kanjeng Gusti terlalu memuji ham- ba," ujarnya sambil
tersenyum.
"Mungkin saat ini tidak ada
orang yang tak mengenal namamu, Sena," sahut Raja Galih Kerta- rejasa.
"Bahkan, di kalangan rakyat biasa namamu telah mereka kenal. Maka
kebetulan sekali kau tu- rut datang menyaksikan pertunangan kedua pu- tra-putri
kami. Secara pribadi aku mengundang- mu, sempatkan datang pula pada pesta
pernika- han mereka kelak!"
"Terima kasih. Terima kasih,
Kanjeng Gusti. Ini suatu kehormatan yang terlalu tinggi bagi hamba. Mendapat
undangan langsung dari seo- rang raja seperti Raja Galih."
Pendekar Gila mengangguk-anggukkan
ke- pala dengan tersenyum.
Matahari telah condong ke arah
barat. Si- narnya tak terasa menyengat lagi. Alunan gamelan dari istana
Kerajaan Bumi Segara masih terdengar. Namun para penarinya sudah tak ada di
pendopo. Para tamu pun sudah meninggalkan tempat itu. Rombongan yang menyertai
Pangeran Danuwirya dan Prabu Wirabuana telah diantarkan ke tempat
peristirahatan. Malam ini mereka akan menginap di istana dan esok pagi akan
kembali ke Kerajaan Tanjung Anom.
Dua hari dua malam perjalanan telah
membuat para prajurit Kerajaan tanjung Anom kelela- han. Apalagi mereka tidak
beristirahat sama seka- li. Ketika tiba di istana Kerajaan Bumi Segara, upacara
pertunangan segera dilaksanakan. Keda- tangan mereka ternyata terlambat dari
rencana. Mestinya mereka datang sehari sebelum upacara dilangsungkan.
Sehingga, ketika malam belum larut
mereka semua telah tertidur lelap. Begitu pula dengan Pendekar Gila, Mei Lie,
dan Dogol yang masing- masing mendapatkan kamar sendiri.
Semua merasa tenang dan puas.
Upacara pertunangan itu terlaksana dengan lancar tanpa mendapat hambatan apa
pun.
2
Pernikahan agung yang telah
direncanakan itu pun berlangsung dengan segala kemeriahan. Pesta besar yang
dihadiri para pembesar istana dan tamu-tamu dari kerajaan mancanegara dilak-
sanakan tepat sesuai dengan rencana. Siang hari diadakan acara perjamuan di
Pendopo Agung yang merupakan Balai Paseban. Rumah yang diguna- kan untuk
menjamu tamu-tamu agung. Malam harinya berlangsung suguhan hiburan berupa ke-
senian. Namun, ada sesuatu yang aneh dan menge- jutkan. Pernikahan itu ternyata
antara Putri Sekar Arum dengan Pendekar Gila! Seorang pendekar muda yang saat
ini tengah menjadi pembicaraan di kalangan dunia persilatan.
Tanpa meninggalkan sikap konyolnya,
meskipun tengah duduk berdampingan dengan Putri Sekar Arum sebagai sepasang
pengantin, Se- na Manggala tetap tersenyum-senyum sendirian.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Tak
seorang pun yang tahu. Semua menerima peristiwa ini se- bagai sesuatu yang
mesti terjadi. Meskipun semua tamu menggelengkan kepala penuh keheranan dan
bertanya-tanya dalam hati. Tak satu pun di antara mereka yang berani
melontarkan pertanyaan. Sua- sana aneh melingkupi ruang pesta istana.
Undangan yang tersebar sampai pada
raja- raja dan pembesar istana mancanegara adalah pernikahan antara Putri
Mahkota Sekar Arum dengan Pangeran Danuwirya, putra Prabu Wirabu- ana dari
Kerajaan Tanjung Anom. Lalu, bagaimana peristiwa yang mestinya suatu aib bagi
keluarga Istana Kerajaan Bumi Segara ini bisa terjadi? Bu- kankah Pendekar Gila
telah memiliki kekasih seo- rang pendekar wanita yang berjuluk Bidadari Pen-
cabut Nyawa? Apakah Pangeran Danuwirya dan keluarga besar Istana Kerajaan
Tanjung Anom ti- dak marah atas kejadian ini? Bukankah mereka telah meminang
Putri Sekar Arum dua purnama yang lalu?
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya
dipendam dalam benak para undangan. Mereka benar-benar tak mengerti menghadapi
kejadian aneh ini.
Pendekar Gila sendiri sebagai
mempelai la- ki-laki tampaknya tak menghiraukan keheranan para tamu. Dengan
tertawa-tawa dia terus merapatkan tubuhnya ke tubuh Putri Sekar Arum yang
cantik jelita.
Sungguh sangat menyolok pemandangan
yang terlihat di atas kursi singgasana. Seorang pu- tri raja cantik jelita
duduk berdampingan dengan seorang pemuda berambut gondrong awut-awutan.
Pakaiannya yang berupa rompi dari kulit ular tetap dikenakannya.
Tidak diganti dengan pakaian
pengantin se- bagaimana mestinya. Sikapnya yang konyol seperti orang gilapun
tak bisa dihilangkannya selama du- duk di tengah pesta itu.
Hingga pesta pernikahan agung itu
usai, para tamu meninggalkan istana dengan berbagai pertanyaan yang mengusik
hati.
Beberapa hari kemudian sebagai
lanjutan dari rangkaian upacara pernikahan, kedua mem- pelai mengadakan
perjalanan menuju suatu pulau. Mereka akan menyeberang lautan dalam rangka
berbulan madu.
Tanpa suatu upacara, Putri Sekar
Arum dan Pendekar Gila dilepas oleh Raja Galih Kertare- jasa dan Permaisuri Ayu
Mustika di pelabuhan. Belasan perahu layar besar dan kecil telah siap
mengantarkan keberangkatan mereka.
Ketika matahari baru sepenggalah
ting- ginya, rombongan itu pun berangkat. Putri Sekar Arum duduk berdampingan
dengan suaminya, Pendekar Gila, di sebuah perahu layar khusus. Di dalam perahu
itu turut pula para dayang penga- suh Putri Sekar Arum dan beberapa pengawal
pili- han.
Di belakang perahu mereka tampak
belasan perahu layar yang membawa para prajurit pen- gawal. Mereka siap menjaga
dan mengamankan kalau terjadi sesuatu hal yang tak diharapkan,
Tak lama kemudian rombongan itu
telah sampai di tengah lautan. Angin yang bertiup ken- cang dan ombak yang tidak
terlalu besar membuat perahu-perahu terus melaju mendekati pulau.
Pendekar Gila tampak bahagia
sekali. Wa- jahnya cerah ceria dan selalu memperlihatkan se- nyumnya yang lucu.
"Aha, Diajeng Sekar. Apa yang
akan kita la- kukan sesampainya di pulau itu?" tanya Sena dengan
tersenyum-senyum memandangi pulau yang sudah tampak di hadapannya.
"Kita akan bersenang-senang di
sana," ja- wab Putri Sekar Arum dengan tersenyum menggo- da. "Kau
akan melihat sesuatu yang belum pernah kau jumpai di dunia ini, Kakang Sena
Manggala. Kita akan merasakan kebahagiaan surga dunia...."
"Hi hi hi...! Benarkah begitu,
Diajeng?" tanya Sena tertawa.
"Ceburkan aku ke laut, dan
biarkan aku di- telan ombak kalau aku berdusta, Kakang Sena! Pulau itu adalah
milik kerajaan yang berarti milik ayahku. Di sana akan kita nikmati pemandangan
yang sangat indah dan menakjubkan. Istana indah dan megah dengan sebuah taman
sebagai tempat bercengkerama keluarga istana."
Namun belum selesai Putri Sekar
Arum menggambarkan pulau impian itu, tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan.
Sebuah perahu layar tanpa penumpang mendadak muncul di depan pe- rahu yang
ditumpangi Putri Sekar Arum dan Pen- dekar Gila. Perahu itu seolah keluar dari
dalam air.
Belum sempat Pendekar Gila
menyadari apa yang terjadi, perahu tanpa penumpang itu melun- cur ke arah
perahunya.
Snaattts! Braakkk! Pendekar Gila
melesat ke udara dan tak sempat menolong Putri Sekar Arum. Dengan cepat dia
hinggap di atas perahu aneh yang menabrak- nya. Sedangkan perahu yang tadi
ditumpanginya hancur berkeping-keping. Para dayang dan prajurit pengawal
kerajaan tewas tercebur ke laut yang ti- ba-tiba berombak besar.
Suasana kacau tak terelakkan. Para
prajurit yang berada di perahu-perahu layar ke belakang berteriak-teriak
ketakutan. Mereka segera menga- rahkan perahu mendekati tempat kejadian. Na-
mun sia-sia. Putri Sekar Arum telah lenyap ditelan air laut. Pendekar Gila
berdiri termangu penuh ke- heranan menyaksikan kejadian yang tak terduga itu.
Dia masih berpegangan erat pada tiang layar perahu aneh yang menabrak
perahunya.
* * *
"Kang Sena...! Kakang
Sena...!" Terdengar suara lembut seorang wanita memanggil Pendekar Gila.
Wanita itu menepuk- nepuk pundak Sena yang tengah terbaring di tem- pat tidur.
"Heh?! Mana Putri Sekar Arum?
Sekar Arum!" teriak Sena sambil melompat bangkit dari tidurnya.
"Hei..., ini aku! Aku Mei Lie,
Kakang Sena! Hi hi hi...! Kau pasti bermimpi," ujar Mei Lie den- gan
cekikikan. Dipandanginya Sena yang kebin- gungan. "Astaga...! Aku bermimpi
buruk, Mei."
Sena membelalakkan mata dan
menggaruk- garuk kepalanya.
"Enak sekali rupanya tidurmu,
Kakang," ujar Mei Lie. "Lihat matahari di sebelah timur!
Mentang-mentang tidur di dalam istana kerajaan sampai tak ingat pagi...."
Sena tak memperhatikan ucapan
kekasih- nya. Matanya tak berkedip memandang ke luar kamar. Hatinya merasa
bingung dan aneh. Piki- rannya masih diliputi oleh kejadian yang baru saja
dialami dalam mimpinya.
"Mei, firasatku mengatakan ada
sesuatu yang akan terjadi," ujar Sena bersungguh- sungguh. "Bahkan,
mungkin akan menyangkut keselamatan diriku..."
"Ada apa sebenarnya? Apa yang
kau lihat dalam mimpimu, Kang Sena?" Mei Lie langsung menanggapi ketika
melihat kesungguhan kekasih- nya. Tidak biasanya Sena bersikap seperti itu.
"Tidak hanya melihat, Mei. Aku
mengalami sendiri dalam mimpiku tadi," jawab Sena masih dengan wajah bersungguh-sungguh.
Tak tampak senyum konyol seperti biasanya jika berhadapan dengan Mei Lie.
Sena pun menceritakan semua
kejadian da- lam mimpinya. Dari mulai pesta perkawinan yang aneh sampai
hilangnya Putri Sekar Arum yang tak diketahui di mana rimbanya. Padahal, semua
dayang dan prajurit yang berada satu perahu den- gan Sena ada dan terapung di
air.
"Alaah..., itu kan hanya
kembang tidurmu saja, Kakang!" sahut Mei Lie tidak percaya. "Kita
baru saja menghadiri pesta pertunangan Pangeran Danuwirya dengan Putri Sekar
Arum. Kau tentu kesengsem lalu terbawa sampai ke dalam tidurmu. Lagi pula, mana
ada mimpi di pagi hari seperti itu membawa suatu firasat!"
Mei Lie ternyata tetap tak percaya.
Diang- gapnya Sena hanya ingin menggodanya. Mereka kemarin memang bersenda
gurau menyinggung masalah perkawinan yang akan berlangsung anta- ra kedua putra
mahkota itu.
"Sudahlah! Mari kita segera
pergi ke Balai Paseban! Rombongan Pangeran Danuwirya akan kembali ke Tanjung
Anom siang ini juga. Bukan- kah kita telah sepakat untuk mengikuti mereka
sampai Tanjung Anom?" ujar Mei Lie mengin- gatkan. Tanpa menjawab Sena
bergegas mengikuti langkah Mei Lie menuju Balai Paseban. Sesam- painya di sana
Mei Lie dan Pendekar Gila bertemu dengan Dogol yang rupanya telah sampai lebih
du- lu.
"Kang Sena," sapa Dogol
dengan menggaruk-garuk perutnya yang buncit.
"Dogol, kita akan menyertai
rombongan Pangeran Danuwirya kembali ke Tanjung Anom," ujar Mei Lie
mendahului Sena. Sebab, dilihatnya Sena tampak masih memikirkan mimpinya.
Melihat wajah Pendekar Gila yang
muram, Dogol mengerutkan kening. Ingin hatinya ber- tanya, tapi rasa takut
mencegahnya. Akhirnya ia hanya mengangguk-anggukkan kepala.
Tak lama kemudian kereta yang
membawa Pangeran Danuwirya dan Prabu Wirabuana serta permaisurinya berangkat
meninggalkan istana Ke- rajaan Bumi Segara. Para anggota rombongan ber- jalan
beriringan ke belakang. Mei Lie, Sena, dan Dogol pun melangkah mengikuti mereka
Beberapa prajurit Kerajaan Bumi
Segara mengantarkan mereka sampai ke tapal batas kota. Sebelum mereka kembali
ke istana, Patih Abiyasa yang memimpin para prajurit itu sempat menyapa
Pendekar Gila.
"Sudilah kiranya Tuan Pendekar
menghadiri pernikahan mereka...!"
"Terima kasih, Kanjeng Patih.
Semoga tidak ada aral melintang hingga kami dapat datang nan- ti," sahut
Sena seraya memandangi lelaki bertubuh gagah yang duduk di punggung kuda putih
itu.
Patih Abiyasa tersenyum mendengar
jawa- ban Sena. Lalu, segera digebahnya kudanya me- ninggalkan tapal batas kota
dan kembali ke istana. Sementara rombongan Pangeran Danuwirya telah jauh
meninggalkan kotaraja.
* * *
Setelah melakukan perjalanan selama
seha- ri semalam, Pangeran Danuwirya dan rombongan sampai di Istana Kerajaan
Tanjung Anom. Begitu pula Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol yang senga- ja
menyertai mereka.
Setelah beristirahat beberapa saat,
Pende- kar Gila mohon diri untuk meninggalkan Kerajaan Tanjung Anom. Mereka
bertiga akan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tujuan mereka sebenar- nya
adalah menuju kediaman Singo Edan, guru Pendekar Gila. Sudah lama Sena tidak
berjumpa dengan gurunya. Mungkin sejak kejadian menge- naskan yang hampir
merenggut jiwa Sena, yaitu peristiwa peti mati itu. (Untuk lebih jelasnya sila-
kan baca serial Pendekar Gila dalam episode: "Peti Mati Untuk Pendekar
Gila").
"Wah, kenapa terburu-buru
sekali, Tuan Pendekar?" sambung Pangeran Danuwirya men- dengar permohonan
Sena. "Kenapa tidak berma- lam dulu di sini. Bukankah perjalanan kita
cukup melelahkan...?"
"Aha, perjalanan seperti ini
sudah menjadi pekerjaan kami, Kanjeng Pangeran," ujar Sena sambil
cengengesan dan menggaruk-garuk kepa- lanya.
"Benar, Tuan Pendekar. Tapi,
adakah sesua- tu yang sangat penting sehingga kalian tergesa- gesa seperti
ini?" ujar Prabu Wirabuana yang du- duk di samping putranya. Wajahnya
tersenyum penuh kewibawaan memandangi Sena, Mei Lie, dan Dogol.
"Ah ah ah...! Apalah yang bisa
dianggap penting bagi para pengembara seperti kami ini, Kanjeng Prabu, "
sahut Sena ringan. Meskipun saat itu berhadapan dengan seorang penguasa ter-
tinggi di Kerajaan Tanjung Anom, sikap pemuda itu tak bisa lepas dari kelucuannya.
"Baiklah, kalau begitu,"
Prabu Wirabuana manggut-manggut. "Selamat jalan! Sekali lagi kami atas
nama seluruh rakyat dan negeri Tanjung Anom mengucapkan ribuan terima kasih
atas ban- tuan Tuan, menumpas para pemberontak tempo hari," ujarnya dengan
sikap penuh wibawa dan hormat kepada Pendekar Gila.
"Aha, sekali lagi, Kanjeng
Prabu. Pekerjaan seperti itu sudah menjadi kewajiban kami. Tolong- menolong
seperti itu adalah tugas kita sebagai manusia," ujar Sena berdalih.
"Ya, ya. Tapi kami masih
mempunyai per- mintaan kepada kalian. Sudilah Tuan Pendekar datang dalam
upacara pernikahan putra kami nanti!" pinta Prabu Wirabuana.
"Tentu. Tentu saja.
Mudah-mudahan tidak ada aral melintang. Kami akan berusaha datang pada
pernikahan Kanjeng Pangeran Danuwirya...."
Pangeran Danuwirya tersenyum
gembira. Begitu pula ibu dan ayahandanya yang duduk mendampinginya.
"Sekarang kami mohon diri,
Kanjeng." "Selamat jalan, Tuan Pendekar!" Pendekar Gila, Mei
Lie, dan Dogol mening- galkan Istana Kerajaan Tanjung Anom. Prabu Wirabuana,
permaisuri, dan Pangeran Danuwirya serta beberapa orang panglima tinggi turut
me- nyertai mereka sampai di pintu gerbang istana. Dengan wajah menggambarkan
kekaguman mere- ka memandangi Mei Lie, Pendekar Gila, dan Dogol sampai
ketiganya lenyap di belokan jalan utama kotaraja.
3
Bulan muda merangkak perlahan di
angka- sa, seolah hendak menghindari awan kelabu yang berarak-arak mengejarnya.
Cahayanya yang redup tak sampai ke pemukaan bumi sehingga menim- bulkan suasana
gelap. Angin bertiup keras meng- hempaskan dedaunan. Terdengar suara gemeri-
siknya yang ditingkahi bebunyian binatang- binatang malam.
Namun, mendadak bunyi belalang dan
jangkrik itu terhenti ketika sesosok bayangan ber- kelebat. Sosok bayangan yang
tidak jelas itu mele- sat melintasi tapal batas kotaraja Kerajaan Bumi Segara.
Malam telah larut. Suasana di kota kerajaan tampak sepi dan lengang. Tak
seorang pun terlihat berada di luar rumah kecuali di sebuah kedai ma- kan yang
memang buka sampai pagi. Namun tak seorang pun yang melihat ketika sosok
bayangan itu melesat di jalan utama kota yang menuju ista- na. Padahal, kedai
makan itu terletak di tepi jalan utama tak jauh dari tapal batas.
Sosok bayangan itu berhenti tak
jauh dari pintu gerbang istana.
"Hh.... Aku harus berhasil
menyelinap di is- tana tanpa menimbulkan keributan. Tapi penja- gaan tampaknya
sangat ketat," gumam sosok bayangan itu. Ia ternyata seorang pemuda beram-
but ikal sampai ke pundak. Ikat kepalanya terbuat dari kulit ular. Sama dengan
pakaian rompi yang dikenakannya. Sebuah suling berwarna kuning keemasan dan
berkepala naga terselip di ikat ping- gangnya. Agak lama pemuda itu mengawasi
pintu gerbang yang dijaga enam prajurit bersenjata leng- kap. Mereka tengah
mengobrol di gardu yang terle- tak di samping kanan pintu gerbang.
"Sampai di mana kira-kira
rombongan Kan- jeng Pangeran Danuwirya, Kang Marjan?" tanya salah seorang
prajurit yang terdengar di telinga pemuda berompi kulit ular.
"Kalau mereka tak mendapat
hambatan, tentu sekarang tadi sudah sampai di Kerajaan Tanjung Anom. Apalagi
mereka semua menung- gang kuda," jawab prajurit bernama Marjan.
"Eh, tapi bagaimana dengan
Pendekar Gila dan kedua kawannya itu? Mereka akan jalan ka- ki?" timpal
prajurit lain yang berdiri di depan gar- du.
"Tanpa kendaraan pun Pendekar
Gila dan kawannya dapat mengikuti mereka. Hanya, entah- lah kalau si gendut
yang berperut buncit itu," sa- hut yang lain.
Seketika mereka tertawa teringat
lelaki gendut kawan Pendekar Gila. Yang dimaksud mereka tentu si Dogol. Mereka
pasti tak mengira kalau si Dogol yang selalu tampak lucu dan seperti orang
bloon itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh. Selama mengikuti pengembaraan
Pendekar Gila, Dogol sempat belajar ilmu meringankan tubuh ke- pada tuannya,
Sena Manggala. Memang itulah yang diharap-harapkan selama perjalanannya dengan
Pendekar Gila, semenjak peristiwa di Kuta- reja dulu. (Untuk lebih jelasnya
baca serial Pende- kar Gila dalam episode: "Serikat Serigala
Me-rah").
Ketika para prajurit jaga
tertawa-tawa, pe- muda berpakaian rompi kulit ular melenting ke udara dan
hinggap di atas tembok benteng istana. Kemudian, melompat turun dengan ringan
dan tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Dilihat dari gerakannya yang begitu
ringan dan cekatan pemuda ini jelas memiliki ilmu tinggi. Setidak-tidaknya
dalam hal ilmu meringankan tu- buh. Tak satu pun prajurit jaga yang mendengar
langkahnya apalagi melihatnya.
Pemuda itu terus menyelinap dengan
cepat menuju bangunan utama istana. Ketika sampai di depan serambi istana
langkahnya membelok ke kanan. Melewati depan bangsal tempat tinggal pa- ra
prajurit kerajaan, pemuda itu terus melesat ke arah belakang istana. Yang
dituju adalah bangu- nan indah yang terletak di sebelah kanan belakang istana.
Rumah ini merupakan tempat tinggal putri raja.
Sampai di depan bangunan keputren
ka- kinya berhenti melangkah. Sebentar kedua tangannya bergerak ke atas kepala.
Lalu, kedua tela- pak tangannya ditarik sampai ke depan dada. Se- raya
menghembuskan napas dari mulutnya kedua telapak tangannya dihentakkan perlahan
ke de- pan.
Krettt! Tiba-tiba saja pintu rumah
itu terbuka se- cara perlahan. Pemuda itu pun melangkah masuk tanpa ragu-ragu.
Seakan telah paham benar kea- daan setiap ruangan yang ada di rumah itu. Ka-
kinya langsung menuju kamar tidur Putri Sekar Arum. Hanya dengan meniupkan hawa
dari mu- lutnya dia berhasil kembali membuka pintu kamar yang semula terkunci.
Sebuah tempat tidur berukir dan
bertilam kain halus berwarna putih tampak di depan mata. Di atasnya sesosok
tubuh wanita cantik jelita ten- gah tertidur lelap dengan tubuh telentang.
Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu sempat membela- lakkan mata dan menelan
ludah ketika melihat tubuh mulus Putri Sekar Arum. Apalagi ketika ma- tanya
menatap paha sang putri yang sedikit ter- singkap dari pakaian tidurnya.
Pemuda itu mendengus seolah hendak
membuang perasaan yang mengganggunya ketika teringat tujuannya memasuki kamar
Putri Sekar Arum. Tanpa membuang-buang waktu, dia cepat- cepat menotok tubuh
Putri Sekar Arum. Setelah itu diangkatnya tubuh molek itu dan segera diba- wa
melesat keluar.
Namun, belum sempat langkahnya
sampai di pintu depan muncul seorang dayang wanita.
"Hah?! Aaaa...!" Wanita
setengah tua itu kontan berteriak sejadi-jadinya melihat tuannya terkulai di
atas pundak seorang pemuda yang be- lum dikenalnya. "Tolong!
Tolong...!"
Sebelum melanjutkan larinya, pemuda
itu berbalik dan menotok tubuh dayang wanita hingga terkulai jatuh ke lantai.
Namun, teriakan dayang itu sempat
terden- gar oleh para prajurit jaga. Baik yang berada di pintu gerbang maupun
mereka yang berjaga di se- putar istana. Bahkan prajurit yang berada di
bangsal-bangsal berlarian menuju rumah Putri Sekar Arum. Mereka langsung
mengeroyok pemu- da berpakaian rompi yang masih memanggul tu- buh putri
junjungannya. Pertempuran satu lawan puluhan prajurit itu pun terjadi.
Hiruk-pikuk jeritan para prajurit
yang ter- kena serangan pemuda itu memecah keheningan malam. Pemuda itu
ternyata memiliki kepandaian tinggi. Setiap pukulan atau babatan pedang penge-
royoknya dapat ditangkis hanya dengan tangan kosong. Dalam sekejap saja
beberapa orang praju- rit telah berjatuhan.
Sementara itu seorang prajurit berlari
me- nuju bangunan tempat kediaman Patih Abiyasa yang tidak begitu jauh dari
bangunan utama ista- na. Orang nomor dua di Kerajaan Bumi Segara yang merupakan
wakil raja itu rupanya belum mendengar keributan di depan istana.
Tok, tok, tok! "Kanjeng Patih,
Kanjeng Patih!" teriak praju- rit itu.
Patih Abiyasa keluar dengan
tergesa-gesa. Lelaki gagah berpakaian hitam ketat itu menatap heran wajah
prajurit di depannya.
"Hmm. Ada apa malam-malam
begini kau membangunkan aku, Prajurit?" tanya Patih Abiya- sa.
"Ampun, Kanjeng Patih! Putri
Sekar Arum diculik seseorang!"
"Heh?!" Patih Abiyasa
langsung melesat mendahului prajurit itu menuju depan istana. Sementara pe-
muda berpakaian rompi kulit ular yang menculik Putri Sekar Arum tengah
menghadapi Senapati Saka Bawana dan Panglima Ganjar Seta. Mereka adalah
prajurit-prajurit gagah yang merupakan panglima tinggi kerajaan.
Dua pukulan jarak jauh yang
dilancarkan Senapati Saka Bawana dan Panglima Ganjar Seta berhasil dielakkan
dengan baik oleh penculik itu. Bahkan, ketika melenting di udara ia dapat meng-
hantamkan serangan jarak jauhnya. Serangkum angin kencang melesat dan mengenai
tubuh kedua panglima itu.
Kedua prajurit gagah itu pun
menjerit ke- ras. Tubuhnya terpental sampai beberapa tombak ke belakang. Setelah
berhasil menjatuhkan kedua lawannya pemuda itu melesat cepat. Gerakannya yang
ringan tak terkejar lagi oleh para prajurit lain. Dalam sekejap tubuhnya telah
melompat keluar dari benteng istana kerajaan. Kemudian, lenyap di telan
kegelapan malam.
Beberapa orang prajurit yang
mencoba mengejar penculik itu tidak berhasil. Kecepatan la- ri mereka tak mampu
menandinginya.
Mereka pun segera kembali untuk
mengu- rusi kawan-kawan mereka yang tewas dan terluka parah. Korban-korban itu
dibawa ke bangsal pra- jurit untuk mendapat perawatan.
Kejadian yang begitu cepat itu tak
sempat disaksikan Raja Galih Kertarejasa. Meskipun sebe- lum pemuda penculik
itu melesat kabur sang raja telah keluar dari istana.
Sementara Patih Abiyasa yang
menyaksikan pertarungan antara Panglima Ganjar Seta dan Se- napati Saka Bawana
melawan si penculik, hanya berdiri termangu-mangu. * * *
Beberapa saat kemudian, Patih
Abiyasa dan Senapati Saka Bawana menghadap Raja Galih Ker- tarejasa.
"Ampun, Kanjeng Gusti! Kami tak dapat menangkap penculik itu. Kejadian ini
begitu cepat dan sungguh tak terduga sama sekali," lapor Patih Abiyasa.
"Tapi, menurut penglihatan hamba juga laporan beberapa prajurit yang
bertarung, penculik itu ternyata Pendekar Gila...."
"Hehhh?!" Raja Galih
Kertarejasa terkejut bukan main mendengar laporan patihnya. Hampir tak percaya
hatinya mendengar penculik putrinya ternyata Pendekar Gila. "Mana mungkin
Pendekar Gila melakukan semua ini?!"
"Tapi begitulah kenyataannya,
Kanjeng Gusti," sahut Senapati Saka Bawana. Ia yakin benar penculik yang
tadi dihadapinya adalah Pendekar Gila. "Hamba tidak salah lihat, Kanjeng
Gusti. Ke- marin kami sempat berbincang-bincang dengan pendekar itu. Jadi,
hamba jelas dapat membeda- kan Pendekar Gila atau bukan. Dan, penculik itu memang
Pendekar Gila. Kami semua yakin benar, Kanjeng." Dengan penuh keyakinan
Senapati Saka Bawana menuturkan kesaksiannya.
Wajah Raja Galih Kertarejasa
langsung me- merah. Matanya membelalak lebar. Ia belum per- caya benar dengan
laporan kedua bawahannya. Namun apa yang bisa diungkapkan untuk mem- bantah
kenyataan itu. Semua prajurit yakin bahwa si penculik itu tak lain Pendekar
Gila.
"Apa yang diinginkan pendekar
itu? Hh... mungkin benar laporan mereka, sebab kemarin pendekar itu telah
mengetahui banyak seluk-beluk istana. Bahkan mungkin keikutsertaannya kemari
dalam rangka usahanya untuk menculik putriku. Hhh... aku tak mengerti kejadian
ini...."
Begitulah yang terlintas di benak
Raja Galih Kertarejasa. Semakin kalut pikirannya memikirkan kejadian itu. Beberapa
saat lamanya dia tak mam- pu mengambil keputusan. Sehingga, para pangli- ma
yang menghadap hanya terdiam dengan bin- gung.
Namun, tiba-tiba.... "Senapati
Saka Bawana, malam ini juga kumpulkan semua bala tentara. Adakan pengeja- ran!
Mungkin dia belum jauh meninggalkan kera- jaan," perintah Raja Galih
Kertarejasa dengan suara bergetar, menahan amarah yang tiba-tiba mun- cul dalam
hatinya.
"Daulat, Kanjeng Gusti. Hamba
laksanakan perintah Kanjeng Gusti sekarang juga...."
Setelah memberi hormat, Senapati
Saka Bawana segera beranjak dari depan Raja Galih Kertarejasa. Lelaki setengah
baya bertubuh gagah itu sebenarnya masih merasakan sakit di tubuh- nya akibat
pukulan jarak jauh Pendekar Gila. Na- mun, tugas tetap harus dilaksanakan.
Malam itu juga seluruh prajurit
berkumpul di halaman pendopo agung. Setelah mendapat pe- rintah dari Senapati
Saka Bawana, mereka segera berangkat meninggalkan istana untuk melakukan
pengejaran. Mereka terbagi menjadi delapan ke- lompok yang masing-masing
dipimpin oleh seorang panglima. Mereka menyebar menuju tempat yang telah
ditentukan.
Hingga fajar menyingsing para
prajurit yang mengejar penculik Putri Sekar Arum tetap tak mendapat hasil.
Mereka semua akhirnya kembali dengan tangan kosong.
4
"Kurang ajar! Pendekar Gila
ternyata pen- dekar keparat! Apa yang diinginkannya dengan menculik
putriku?!"
Raja Galih Kertarejasa yang sudah
kalut dan diliputi rasa cemas tak mampu lagi menahan kemarahannya. Dua hari
sudah para prajurit kerajaan melacak jejak penculik itu. Namun usaha me- reka
sia-sia.
Sementara Permaisuri Ayu Mustika,
ibun- danya Putri Sekar Arum, telah mengurung diri. Kecemasan dan ketakutannya
membuat wanita itu putus asa. Ia tak ingin ditemui siapa pun. Segenap keluarga
istana merasa bersedih. Mereka tak habis pikir dengan kejadian yang menimpa
Putri Sekar Arum. Betapa tidak? Putri mahkota itu telah men- dapat pinangan
dari Pangeran Danuwirya. Bah- kan, rencana pernikahan mereka telah disepakati
dan akan dilangsungkan dua purnama menda- tang.
"Senapati, aku setuju dengan
usulmu ke- marin. Sekarang segera sebarkan pariwara itu ke segenap kadipaten
sampai ke desa-desa!" perintah Raja Galih Kertarejasa kepada Senapati Saka
Ba- wana yang saat itu datang menghadap bersama Patih Abiyasa dan beberapa
panglima tinggi kera- jaan.
"Ampun, Kanjeng Gusti! Tapi
bukankah hal itu dapat membawa pengaruh buruk terhadap ki- ta? Kita akan
dituduh memusuhi pendekar keso- hor itu. Para tokoh persilatan golongan putih
yang merasa memiliki Pendekar Gila akan turun tangan. Mereka pasti melindungi
pemuda itu dari orang- orang yang memburunya...."
"Memang itulah yang
kumaksudkan, Patih Abiyasa. Kalau memang dialah pelakunya, aku in- gin para
tokoh persilatan turut campur tangan menyelesaikan masalah ini," sahut
Raja Galih Ker- tarejasa.
Mendengar ucapan Raja Galih
Kertarejasa, Patih Abiyasa mengerutkan kening. Ada perasaan khawatir tergambar
di wajahnya. Sementara Sena- pati Saka Bawana segera menjura hormat dan me-
ninggalkan Raja Galih Kertarejasa, diikuti bebera- pa anak buahnya.
Sesampainya di luar istana,
Senapati Saka Bawana memberi perintah kepada Panglima Gan- jar Seta dan yang
lain-lainnya agar segera menye- barkan utusan untuk menyampaikan berita itu.
Pagi itu juga puluhan prajurit
kerajaan be- rangkat dengan membawa gulungan kulit yang bertuliskan pengumuman.
* * *
"Sebenarnya aku kurang yakin
dengan beri- ta itu, Kakang Kebo Kluwuk," ujar seorang lelaki berpakaian
ungu yang duduk berdampingan den- gan kawannya di dalam sebuah kedai makan.
"Aku pun begitu, Sambar
Wulung," sambut lelaki berpakaian longgar berwarna abu-abu yang dipanggil
Kebo Kluwuk. "Tapi, nyatanya kabar dari para prajurit kerajaan yang
bertarung dengan pen- culik itu mengatakan kalau pelakunya Pendekar Gila."
Hampir semua pengunjung kedai
ternyata tengah membicarakan peristiwa penculikan Putri Sekar Arum. Bahkan,
dari kemarin sore orang- orang yang berdatangan dan singgah di sana telah
membicarakannya. Padahal penyebaran pengu- muman yang akan dilakukan oleh para
prajurit belum sampai di sana. Mereka mendengar desas- desus itu dari para
prajurit yang ditugaskan men- cari jejak selama dua hari terakhir ini.
"Kalau benar penculik putri
Raja Galih Ker- tarejasa ternyata Pendekar Gila, ini merupakan sebuah aib besar
bagi kalangan tokoh-tokoh persi- latan golongan putih. Rimba persilatan akan
gem- par. Bukan tak mungkin ini akan dimanfaatkan oleh orang-orang golongan
hitam untuk menga- caukan keadaan."
Ketika mereka tengah asyik
membicarakan masalah itu, tiba-tiba datang dua orang penung- gang kuda menuju
kedai. Kedua penunggang kuda itu prajurit Kerajaan Bumi Segara. Mereka turun
dari punggung kuda lalu menempelkan selembar kulit pada sebuah pepohonan.
Orang-orang segera menghampiri
pengu- muman itu. Tak terkecuali Kebo Kluwuk dan Sam- bar Wulung. Salah seorang
pengunjung kedai membaca pengumuman yang mengatasnamakan Raja Galih Kertarejasa
itu. Yang lain hanya men- dengarkannya penuh perhatian.
Atas kejadian yang menimpa putri
kami, pi- hak Istana Kerajaan Bumi Segara menyelenggara- kan sebuah sayembara.
Barang siapa mengetahui atau dapat menangkap Pendekar Gila akan men- dapat
anugerah dan diangkat menjadi pamong pra- ja, atau jabatan tinggi lain di
istana.
Raja Galih Kertarejasa
Satu-persatu orang-orang yang
berkerumun itu pun kembali ke kedai. Ada pula yang langsung meninggalkan tempat
itu.
"Apalagi yang kau ragukan,
Sambar Wu- lung? Berita itu dibuat oleh Raja Galih Kertarejasa. Mereka telah
yakin benar Pendekar Gila yang me- lakukan penculikan itu. Sebentar lagi dunia
persi- latan akan gempar...."
Sambar Wulung dan Kebo Kluwuk
bergegas melesat meninggalkan kedai makan.
5
Matahari baru saja masuk ke
peraduannya. Cahaya kemerahan masih membias di kaki langit sebelah barat.
Suasana di sekitar Pegunungan Menoreh mulai gelap.
Tiga sosok tubuh tampak berjalan
agak ter- gesa-gesa memasuki mulut Desa Japuan.
"Hh.... Rupanya kita harus
bermalam di De- sa Japuan, Mei," ujar sosok pemuda berpakaian rompi dari
kulit ular yang tak lain Pendekar Gila. Matanya sejenak memandangi tulisan yang
tertera pada gapura di mulut desa.
"Berapa jauh lagi kita sampai
di Alas Men- taok, Kakang Sena?" tanya gadis cantik berpakaian longgar
putih yang dipundaknya tersampir sebilah pedang besar.
Wanita berambut panjang yang juga
berju- luk Bidadari Pencabut Nyawa itu terus melangkah ke samping Sena
Manggala. Sementara Dogol mengikuti mereka di belakang. Perutnya yang buncit
bergoyang-goyang ke kanan ke kiri seperti hendak lepas dari tubuhnya. Pemuda
berpipi tem- bem dan bertubuh tambun itu sejak tadi hanya berdiam diri.
Sesekali dia mengusap-usap pusar- nya yang tak tertutup karena pakaiannya
kekeci- lan.
"Ah, masih cukup jauh,"
jawab Sena sambil menoleh kepada Dogol di belakangnya. "Kalau tak salah
desa ini letaknya di ujung tenggara Kerajaan Bumi Segara. Jadi, baru besok
malam kita sampai di sana. Mudah-mudahan Ki Ageng Mantingan ju- ga berada di
Alas Mentaok. Dia turut mengawasi para prajurit dan penduduk Kerajaan Pajang
yang tengah membabat Hutan Alas Mentaok untuk di- jadikan desa."
Ketiga orang itu terus melangkah
menyusu- ri jalan utama desa yang sepi. Hari semakin gelap. Tak seorang pun
yang tampak berada di luar. Pin- tu-pintu rumah penduduk tertutup rapat. Hanya
lampu-lampu pelita yang terlihat menyala di depan rumah di tepi jalan tanah
berdebu itu.
Tak lama kemudian ketiganya sampai
di depan sebuah kedai makan yang cukup besar. Di sebelah kanan kedai berdiri
rumah penginapan. Beberapa orang lelaki tampak tengah duduk me- nikmati
hidangan. Mungkin mereka orang-orang yang menginap di rumah penginapan.
Seorang lelaki tua yang bertubuh
agak bongkok keluar menyambut Mei Lie yang telah sampai di depan pintu kedai.
"Selamat malam, silakan
Tuan-tuan!" ujar lelaki tua itu dengan ramah.
Mei Lie mengangguk dan tersenyum
ramah. Gadis itu melangkah masuk diikuti Sena dan Do- gol. Ketiganya menuju
meja dan kursi yang masih kosong. Mei Lie dan Sena duduk berdampingan sa- tu
bangku. Sedangkan Dogol sendirian bersebe- rangan meja dengan mereka.
Orang-orang yang tengah menikmati
maka- nan tampak memandangi mereka bertiga. Teruta- ma pada Sena yang sejak
memasuki kedai tertawa- tawa sendirian sambil menggaruk-garuk kepa- lanya.
Tentu saja orang-orang yang berada di kedai merasa heran. Tingkah laku Sena
persis orang yang kurang waras.
Di sudut sebelah kanan dua orang
lelaki se- tengah baya memandangi Sena dengan tatapan ta- jam. Salah satu dari
mereka, yang mengenakan pakaian hitam, sampai berhenti dari makannya. Sesaat
kemudian, dia berdiri dari tempat duduk- nya, dan memberi isyarat kepada
kawannya.
"Ki Marta!" Sosok
berpakaian hitam itu me- manggil pemilik kedai.
Dengan tergopoh-gopoh lelaki
bongkok ber- nama Ki Marta bergegas menghampirinya. Lelaki berpakaian hitam
memberikan beberapa keping uang logam dan segera pergi keluar kedai.
"Lho, kenapa tidak dihabiskan
makannya?" tanya Ki Marta. Tapi tidak dijawab oleh kedua lela- ki itu. Mereka
segera melangkah pergi tanpa meno- leh-noleh lagi
"Maaf, Tuan!" ujar
pemilik kedai setelah mendekati meja Sena dan Mei Lie. "Kami tidak bisa
mengabaikan permintaan mereka. Mereka harus selalu didahulukan...."
"Aha... tak apalah, Ki.
Sekarang bawakan kami makanan," pinta Sena sambil tertawa.
"Baik, baik, Tuan."
Pemilik kedai itu, me- manggil seorang pelayan dan mengatakan apa yang dipesan
Sena.
Tak lama pelayan itu kembali dengan
mem- bawa beberapa macam makanan dan minuman. Hidangan itu diletakkan di meja
Sena dan Mei Lie. Dogol yang tampaknya tak mampu menahan rasa lapar
menyantapnya dengan lahap.
"Maaf, Kang Sena, Nini Mei.
Aku tak tahan. Sudah lapar benar nih perutku," ujar Dogol di se- la-sela
mengunyah makanan.
"Ya, ya. Aku tahu. Aku juga
sudah lapar se- kali...," sahut Mei Lie. Diambilnya sepotong daging ayam
panggang dan menyantapnya. Sena pun su- dah mulai makan.
Belum selesai mereka bertiga makan,
lelaki bongkok pemilik kedai datang menghampiri. "Tambah lagi, Tuan?"
"Ah, cukup-cukup. Kamu Dogol,
tambah?" Tanya Sena kepada Dogol yang baru saja menyele- saikan makannya.
Pemuda berperut gendut itu manggut-
manggut seraya menatap pemilik kedai. Ki Marta pun segera memberi isyarat
kepada pelayannya. Sesaat kemudian, seorang pelayan datang mem- bawakan makanan
untuk Dogol.
"Ngm... Ki Marta, apakah kau
juga menye- diakan tempat untuk menginap?" tanya Mei Lie,
"Ada. Ada, Nona Ah, kebetulan
sekali ada
beberapa kamar yang kosong."
Dengan gembira pemilik kedai itu menjawab pertanyaan Mei Lie. "Ee, ke mana
sebenarnya tujuan Kisanak sekalian hingga kemalaman di sini?" tanyanya
kemudian.
Mei Lie sekilas menoleh kepada
kekasihnya. "Kami hendak ke Alas Mentaok," jawabnya.
"Wah, wah... jauh sekali
rupanya perjalanan Tuan-tuan. Bukankah sekarang tengah ada peker- jaan besar di
sana? Kabarnya hutan itu dihadiah- kan kepada Ki Ageng Pamanahan, seorang
penasi- hat Kerajaan Pajang," ujar Ki Marta yang tampak- nya senang sekali
berbicara. "Kalau begitu, silakan Tuan-tuan diantar pelayan kami!"
Pendekar Gila bangkit berdiri dari
tempat duduknya. Seorang pelayan datang untuk men- gantarkan mereka menuju
kamar penginapan. Se- telah membayar ongkos penginapan dan makanan, ketiga
orang muda itu mengikuti si pelayan menu- ju rumah penginapan yang letaknya di
sebelah ka- nan kedai.
Rumah itu memiliki beberapa kamar.
Mei Lie mendapat kamar di depan. Sedang Sena dan Dogol satu kamar bersebelahan
dengan kamar Mei Lie.
Baru saja Sena dan Dogol merebahkan
tu- buh di pembaringan terdengar pintu kamar dike- tuk.
"Dogol, buka pintu!"
perintah Sena sambil bangkit dari tidurnya.
Ternyata seorang wanita pelayan
kedai yang mengetuknya. Wanita itu mengangguk ramah ke- pada Sena lalu
melangkah masuk. Ia membawa minuman dan beberapa makanan kecil di atas nampan.
"Ki Marta menyuruhku
mengantarkan ini untuk Tuan," ujar wanita itu sambil meletakkan poci teh
di meja dekat tempat tidur Sena.
"Aha terima kasih. Bukankah
kami sudah makan dan minum tadi di kedai?" sahut Dogol ter- tawa. Gayanya
mengikuti Sena, menggaruk-garuk kepalanya yang agak botak. Padahal, biasanya
pe- rutnya yang digaruk-garuk.
"Sudah menjadi kebiasaan
setiap tamu yang menginap di sini mendapat jatah minum dan ma- kanan kecil
seperti ini. Semua tamu yang lain pun begitu." Wanita itu tersenyum genit
kepada Dogol yang berdiri di sampingnya.
Setelah wanita cantik itu keluar,
Dogol sege- ra saja menuangkan air dari poci ke cangkir kecil. Lalu,
meminumnya. "Kakang Sena mau minum?" tanyanya.
"Nanti saja. Biar kutuang
sendiri kalau aku mau minum."
Namun tiba-tiba, ketika Dogol
hendak me- langkah ke tempat tidurnya.....
"Aduuh..., kepalaku! Mataku,
mataku ge- lap!"
Sena kaget mendengar rintihan
Dogol. Serta merta dia melompat bangkit dari tidurnya. Tetapi terlambat. Dogol
telah terjatuh ke lantai.
"Dogol! Dogol!" Sena
berjongkok memegangi kepala Dogol yang terkulai lemas. "Hh... racun!"
gumamnya.
Sena segera melesat keluar teringat
kekasihnya yang berada di kamar-sebelah. Ketika dia berusaha membuka kamar Mei
Lie ternyata pin- tunya dikunci dari dalam.
"Mei Lie! Mei Lie...!"
Sena mengetuk-ngetuk pintu kamar dengan keras.
Brrakk! Karena tak sabar dan tak
mendengar jawa- ban Mei Lie, Sena mendobrak pintu kamar hingga terbuka.
Dilihatnya Mei Lie terkulai di lantai. Gadis itu tampaknya juga telah meminum
racun.
Tanpa pikir panjang lagi, Sena
mengangkat tubuh Mei Lie dan dibawa ke kamarnya. Gadis itu dibaringkan di atas
pembaringan. Lalu, diangkat- nya pula si Dogol dan dibaringkan ke tempat tidur
yang lain.
"Hh.... tikus busuk mana
malam-malam be- gini mengganggu orang tidur?" gumam Sena den- gan hati
dongkol. Dia mengerahkan tenaga dalam untuk menyalurkan hawa murni. Sena ingin
membebaskan kekasihnya dari pengaruh racun ganas. Namun, niat itu segera
diurungkan ketika muncul rasa khawatir di hatinya. "Tak mungkin aku
menyembuhkan mereka di tempat ini...," gu- mamnya lirih.
Segera diangkatnya tubuh Mei Lie
dan Do- gol. Mei Lie diletakkan di pundak kanan sedang- kan Dogol dikepit di
lengan kiri.
Namun baru saja Sena melangkah dua
tin- dak dari pintu....
Singng! Singng! "Hih,
hups!" Terdengar desingan nyaring dari pintu belakang rumah penginapan.
Dengan cepat Sena Manggala menjatuhkan diri ke lantai. Sehingga, Dogol terlepas
dari tangannya. Setelah itu tubuh- nya bergulingan kembali masuk ke kamar. Sena
meletakkan tubuh Mei Lie di lantai. Kemudian, menarik kaki Dogol yang masih
berada di luar ka- mar. Matanya yang tajam melihat dua buah pisau kecil
menancap di tembok rumah.
Brrakk! Belum sempat Sena menutup
pintu kamar- nya, sebuah serangan jarak jauh menghantam pin- tu depan
penginapan hingga terbuka.
* * *
"Aaa.... Tolong...!"
"Perampok...!" Orang-orang yang menginap di rumah itu berlarian
sambil berteriak-teriak ketakutan. Se- mentara kedai baru saja tutup karena
malam telah larut
Dari balik pepohonan yang ada di
kanan- kiri rumah penginapan berkelebatan beberapa so- sok bayangan. Mereka
mengepung rumah dan ke- dai milik Ki Marta.
"Ha ha ha,..! Mana hidungnya
si Pendekar Gila yang telah menculik Putri Sekar Arum dari Kerajaan Bumi
Segara?! Ayo, keluar kau, murid Singo Edan!"
Sosok lelaki setengah baya bertubuh
gagah dan besar serta mengenakan pakaian coklat tua berteriak memanggil Pendekar
Gila. Di belakang lelaki berkumis tebal ini berdiri sekitar lima belas le- laki
dengan senjata terhunus.
Ki Marta yang baru saja keluar dari
kedai tampak kaget menyaksikan kejadian di rumahnya.
"Kau tua bangka pemilik kedai
dan pengi- napan?" tanya lelaki berpakaian coklat seraya me- natap wajah
Ki Marta yang seketika berubah pu- cat.
"I... i... iya. Ada apa
ini?" Dengan gugup Ki Marta balik bertanya.
"Kenapa kau izinkan penculik
putri Raja Galih menginap di rumahmu? Tidakkah kau mem- baca pengumuman
kerajaan tentang Pendekar Gila yang telah menculik Putri Sekar Arum?"
tanya le- laki berpakaian coklat dengan mata tajam, mena- tap Ki Marta yang
didampingi dua orang pelayan- nya.
"A... a... aku mendengar kabar
itu. Tapi aku tidak tahu yang mana Pendekar Gila. Terus terang aku belum pernah
melihatnya."
"Ha ha ha...! Kau berpura-pura
atau me- mang tidak tahu, Pak Tua? Atas nama kerajaan aku harus
menghukummu!"
Belum sempat pemilik kedai
mengucapkan sesuatu untuk menanggapi, beberapa lelaki den- gan senjata terhunus
telah menangkapnya. Lelaki tua bongkok itu tak mampu melawan. Kedua tan- gannya
dipegang erat oleh dua orang berpakaian serba hitam.
"Ah ah ah...! Buruk benar
nasibmu, Ki Mar- ta...." Tiba-tiba terdengar suara tawa bergelak dari rumah
penginapan. Disusul dengan melesatnya sesosok bayangan menuju halaman kedai.
Semua terkejut melihat gerakan yang begitu ringan itu. Tak terkecuali lelaki
berpakaian coklat. Apalagi ke- tika sosok bayangan itu mendarat dua tombak di
depannya.
"Pendekar Gila!" "Hi
hi hi...! Dari mana kau bisa menuduhku menculik Putri Sekar Arum?" tanya
Sena yang tampak penasaran mendengar tuduhan itu.
"Jangan banyak bacot! Tangkap
dia...!" te- riak sosok lelaki gagah itu kepada anak buahnya.
Tanpa mendengar perintah untuk
kedua ka- linya, lima belas lelaki berpakaian hitam langsung merangsek Pendekar
Gila.
"Hi hi hi...!" Sambil
melompat menghindari serangan musuh-musuhnya, Sena tertawa cekiki- kan.
"Untuk apa aku menculik Putri Sekar Arum?" tanyanya.
Tiba-tiba.... Plakkk! Bukkk! Dua
orang lelaki berpakaian hitam terpental ke belakang dengan mulut memuntahkan
darah segar. Keduanya mengerang-erang kesakitan sam- bil memegangi dadanya yang
terkena pukulan te- lapak tangan Pendekar Gila.
Melihat dua orang kawannya terluka,
yang lain bukannya merasa takut. Mereka dengan ge- ram melancarkan serangan
secara serentak. Hal itu cukup membuat Sena sedikit kelabakan. "Bunuh
penculik keparat itu!" "Pendekar apaan kau, Bocah Edan?!"
"Tak seharum namamu yang
ditakuti orang banyak. Huh! Mampus kau! Heaaa...!"
Sambil berusaha mengelakkan setiap
se- rangan lawan yang kian ganas dan membabi buta, Sena merasa heran.
Berdasarkan apa mereka menjatuhkan tuduhan kepadanya? Dirinya saja sampai saat
ini belum mendengar kabar tentang diculiknya Putri Sekar Arum.
Wuttt! "Haiiitt!" Sebuah
babatan pedang hampir saja me- nyambar tubuh Sena. Dengan cepat Sena melen-
tingkan tubuhnya hingga pedang itu menyambar tempat kosong. Ketika berhasil
mendarat, sebuah tendangan lawan meluncur datang. Cepat tubuh- nya didoyongkan
ke belakang seraya mengibaskan tangan kanan. Hingga....
Plakkk! Pekikan kaget keluar dari
mulut. Dengan langkah pincang lelaki itu mengerang kesakitan. Tangkisan keras
Pendekar Gila tampaknya dike- rahkan dengan tenaga dalam. Itu terlihat jelas
ke- tika lelaki berpakaian hitam yang menendangnya tak mampu bangkit berdiri.
Sementara itu tiga pengeroyok
lainnya membabatkan pedang secara bersamaan. Satu mengarah ke kepala, dua lagi
mengancam perut dan dada Sena. Namun kali ini pemuda berpa- kaian rompi dari
kulit ular itu tak ingin mem- buang-buang waktu. Ia teringat Mei Lie dan Dogol
yang masih pingsan akibat racun ganas yang di- minumnya.
Ketika berhasil berkelit dari
sabetan pedang yang menuju perutnya, Sena langsung melancar- kan sebuah pukulan
keras. Satu orang lawannya terjengkang ke belakang. Mulutnya mengeluarkan darah
segar. Bahkan, lelaki berpakaian hitam itu langsung tak berkutik.
Tepat ketika Sena hendak
melancarkan pu- kulan 'Si Gila Melempar Batu' lelaki berpakaian coklat yang
merupakan pimpinan pengeroyok me- lancarkan serangan. Hal itu tak sempat
diketahui oleh Sena. Namun ketika sambaran angin keras pukulannya terasa,
pemuda berpakaian rompi ku- lit ular itu melempar tubuhnya ke belakang. Sete-
lah bergulingan beberapa kali di atas tanah, ia bergegas melompat bangkit.
Seketika itu pula di- lancarkan sebuah pukulan jarak jauh.
Wusss! Dengan gerakan mirip seekor
monyet me- lempar batu, dari tangan Pendekar Gila melesat serangkum angin
keras. Seketika terdengar teria- kan keras dari mulut beberapa lawannya. Tubuh
mereka berpentalan deras ke belakang terhantam pukulan dahsyat itu. Dua orang
mengerang kesa- kitan setelah menabrak dinding kedai. Tiga orang lagi
menghantam pepohonan di samping rumah penginapan.
"Kurang ajar!" dengus
lelaki berpakaian cok- lat. Cepat pedang panjang di tangan kanannya di- putar.
Wukk! Wukkk! Dengan wajah diliputi
kemarahan lelaki berpakaian coklat merangsek maju. Namun, hanya dengan
menghentakkan kedua tangannya Sena berhasil membuat lawannya terjengkang ke
bela- kang. Ketika tubuhnya hendak bangkit berdiri, Sena telah lebih dahulu
melompat dan melancar- kan totokan. Seketika tubuh lelaki besar itu terku- lai
lemas di tanah.
Beberapa orang anak buahnya yang
masih hidup melesat kabur bersamaan dengan jatuhnya lelaki berpakaian coklat.
"Aha, kuharap kau bisa
memberitahukan kepadaku. Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Sena dengan
cengengesan.
"Huh! Pendekar tidak waras
sepertimu se- bentar lagi akan mendapat hukuman sesuai den- gan perbuatanmu,
Pendekar Gila!" dengus lelaki berpakaian coklat
"Hi hi hi...! Kudengar kalian
menyebut- nyebut penculik putri raja. Siapa yang menculik- nya, heh?!"
"Hampir semua orang di
Kerajaan Bumi Se- gara ini tahu. Kaulah yang telah menculik Putri Sekar Arum.
Bahkan, berita itu telah tersebar sampai di kerajaan. Kini semua tokoh
persilatan sedang mencarimu untuk memperebutkan hadiah dari Kanjeng Gusti
Galih."
Terkejut Sena mendengar penjelasan
lelaki berpakaian coklat. Tanpa melanjutkan perta- nyaannya Sena segera berlari
masuk ke rumah penginapan.
Beberapa orang yang menginap di
tempat itu heran melihat Pendekar Gila. Bagi mereka ten- tu nama pendekar muda
itu sudah tak asing lagi.
Namun baru kali ini mereka
melihatnya.
Sementara itu Ki Marta, pemilik
kedai dan penginapan, buru-buru mengikuti Sena. Sampai di depan pintu dia
bertemu Sena yang tengah me- manggul Mei Lie dan Dogol. Lelaki tua itu keliha-
tan terkejut.
"Tuan..." Dengan mata
terbelalak Ki Marta memandang Sena.
"Ada berapa orang pelayanmu,
Ki," tanya Sena.
"Kenapa, Tuan? Kami punya tiga
orang pe- layan. Lelaki semua."
Sena mengangguk-angguk. Sejak
kedatan- gannya itu ia memang hanya melihat tiga orang pelayan lelaki. Maka,
tadi ia sedikit merasa heran ketika seorang wanita mengantarkan makanan ke
kamarnya dan mengaku sebagai pelayan Ki Marta. "Terima kasih atas
pelayananmu, Ki." Pendekar Gila segera melesat meninggalkan kedai Ki
Marta. Sekejap saja tubuhnya yang me- manggul Dogol dan Mei Lie telah lenyap
ditelan ke- gelapan malam.
6
Lima sosok bayangan berkelebat di
jalan kecil sebelah barat Desa Nariban. Mereka melesat menuju arah timur dan
terus menyusuri jalan utama desa yang tampak sepi. Malam telah larut. Mestinya
bulan yang belum begitu bundar bersinar terang. Namun karena langit diselimuti
mendung tebal, malam itu menjadi kelam.
Kelima sosok bayangan itu bergerak
menuju rumah Kepala Desa Nariban. Sesampainya di de- pan rumah besar dan megah
milik Ki Lurah Saro- ga, mereka berhenti.
"Kau Badri dan Sulung, jaga di
luar. Aku, Sarjan, dan Sudra akan masuk ke rumah," ujar salah seorang dari
mereka yang mengenakan ikat kepala kain lurik. Sebagian wajahnya tertutup kain
hitam. Hanya matanya saja yang terlihat.
Keempat kawannya yang juga
mengenakan penutup wajah menganggukkan kepala menyetu- jui.
"Hei, Kang Talib, ingat
rencana kita se- mua...!" ujar Sulung memperingatkan. "Seperti yang
kemarin, Kang."
Lelaki berkumis dan bercambang bauk
yang dipanggil Talib hanya menggumam dan mengang- gukkan kepala. Tubuhnya
segera bergerak menuju pintu pagar halaman rumah itu. Keempat kawan- nya segera
mengikuti. Dua orang di antara mereka terus menyertai Talib masuk ke serambi
rumah. Sedangkan yang lain tinggal untuk berjaga-jaga di halaman.
Namun baru saja Talib hendak
mengetuk pintu rumah....
"Hei... siapa di situ?!"
Terdengar bentakan dari bangunan kecil yang berada di samping kanan rumah Ki
Lurah.
Mendengar suara bentakan yang cukup
ke- ras, Sulung dan Badri langsung melesat menuju rumah kecil itu. Seketika
terdengar suara sambaran golok di tangan Sulung yang sudah melayang lebih dulu.
Jrabbb! Terdengarlah keluhan
pendek. Disusul den- gan jatuhnya tubuh lelaki setengah baya yang ter- nyata
penjaga keamanan rumah kepala desa.
Terkena kilatan cahaya pelita dari
dalam rumah kecil, golok di tangan Sulung tampak ber- lumuran darah. Lelaki
setengah baya itu berkelojo- tan sebentar kemudian tewas dengan dada men-
gucurkan darah. Lelaki bernasib sial ini tampak- nya tak sempat berbuat sesuatu
ketika Sulung dengan cepat menebaskan goloknya.
Dok! Dok! Dok! Talib mengetuk pintu
rumah Ki Lurah Saro- ga. Beberapa kali dilakukan, tapi tak terdengar ja- waban
dari dalam.
Brakk! Sarjan yang merasa tidak
sabar segera me- nendang keras pintu itu. Sekali tendang daun pin- tu pun
jebol. Terdengar jeritan keras seorang pe- rempuan berusia tiga puluh tahunan.
Matanya membelalak kaget bercampur takut. Wanita itu bersandar di dinding
rumah.
"Siapa kalian...?!" Ki
Lurah Saroga yang baru saja keluar dari kamar tidur menatap tajam Sarjan dan
Talib yang telah masuk ke rumahnya. Tanpa memberikan ja- waban atas pertanyaan
Ki Lurah Saroga, Sarjan langsung melompat sambil menusukkan golok be- sarnya.
"Hei, Keparat!" bentak Ki Lurah Saroga.
Bergegas ia melompat mengelakkan
serangan go- lok Sarjan. Lelaki berusia lima puluhan itu ternya- ta memiliki
gerakan yang gesit dan cepat. Tangan kanannya mencabut keris yang terselip di
samping pintu kamar.
Melihat kepala desa itu telah
menggenggam senjata, Talib tak mau tinggal diam. Tubuhnya ikut melompat hendak
membantu Sarjan. Dengan golok terhunus dia memburu Ki Lurah Saroga yang
bergerak mundur ke ruang belakang.
Sementara itu Nyi Saroga yang ketakutan
terus berteriak-teriak. Ia khawatir suaminya akan terluka. Atau, bahkan
terbunuh di tangan ketiga orang yang belum dikenalnya itu.
"He he he...! Kau bagianku,
Nyi," ujar Sudra terkekeh. Dia mendekati wanita tiga puluh tahun yang
tampak masih segar dan cantik.
Dengan kasar dan bengis ditariknya
tangan perempuan itu hampir terjatuh. Seketika tubuh Nyi Saroga berada dalam
pelukan Sudra yang ber- tubuh besar dari kekar. Perempuan itu meronta- ronta
hendak melepaskan diri. Apalah dayanya seorang perempuan seperti dirinya.
Semakin kuat Nyi Saroga meronta semakin kuat pelukan tangan Sudra. "He he
he...! Masih segar dan sintal tubuh- mu, Nyi. Ayolah. Jangan bersikap seperti
ini pada- ku. He he he...!"
Tanpa mempedulikan betapa marah dan
sewotnya Nyi Lurah, Sudra mendesak-desakkan mulutnya ke dada dan leher wanita
itu. Tentu saja wanita berwajah cantik dan berkulit kuning langsat itu tak
tinggal diam. Ditamparnya dengan ke- ras pipi Sudra.
Merasa jengkel atas sikap Nyi
Saroga, Sudra langsung melancarkan totokan ke tubuh wanita itu. Seketika
perempuan cantik itu melenguh den- gan tubuh melorot. Namun dengan sigap Sudra
menahannya. Diangkatnya tubuh wanita itu dan dibawanya masuk ke sebuah kamar.
Istri muda kepala desa itu tak
mampu ber- buat apa-apa kecuali menjerit-jerit tertahan. Tu- buhnya yang sintal
dan padat dibaringkan di ran- jang. Ia tak mampu menolak atau memberontak lagi
ketika Sudra menciumi pipi dan lehernya. La- lu, turun ke dadanya yang putih
dan mulus.
Perlahan-lahan, tanpa dengan sikap
kasar, Sudra membuka kebaya yang dikenakan wanita cantik itu. Kainnya ditarik
lepas hingga tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh mulus Nyi Saroga.
Melihat betapa segar dan sintalnya
tubuh istri muda kepala desa, Sudra tak mampu mena- han nafsunya. Napasnya
tersengal-sengal ketika tubuhnya menindih tubuh Nyi Lurah Saroga.
Sementara itu Sarjan dan Talib
masih den- gan bengis hendak membunuh Ki Lurah Saroga. Keduanya mendapat
perlawanan cukup berarti da- ri lelaki setengah baya itu.
Beberapa kali Ki Lurah Saroga
berhasil me- nangkis dan mengelakkan serangan kedua lawan- nya. Padahal,
tubuhnya yang terbalut pakaian abu-abu telah dibasahi darah dari luka sabetan
golok lawan. Hingga pada satu ketika, sebuah babatan golok Sarjan melesat ke
arah perutnya.
Bett! Sabetan itu berhasil
dielakkan dengan lom- patan tinggi. Kedua kaki Ki Lurah Saroga menda- rat di
atas balai bambu dekat pintu dapur. Namun ketika kedudukannya belum begitu
seimbang, Ta- lib yang tengah menunggu-nunggu kesempatan, cepat menyapu kaki Ki
Lurah Saroga dengan ten- dangan keras kaki kanan. Hingga....
Brrakkk! "Hukh!" Tubuh Ki
Lurah Saroga terbanting di atas balai bambu. Kepalanya terkulai hampir menyen-
tuh lantai. Sarjan pun melompat sambil mene- baskan goloknya ke perut. Darah segar
muncrat ke balai-balai bambu.
Setelah berkelojotan sebentar tubuh
Ki Lu- rah Saroga menggelinding ke lantai. Mulutnya mengerang lirih menahan
rasa sakit. Di saat-saat terakhir hidupnya Kepala Desa Nariban masih mendengar
tawa Talib.
"He he he...! Ki Saroga, aku
dan kawan- kawan hanya menjalankan perintah Pendekar Gila. Kami harus menguras
harta bendamu...."
Usai berkata demikian, Talib
memberi isya- rat kepada Sarjan. Keduanya segera membuka le- mari dan peti
tempat menyimpan uang dan per- hiasan. Tentu saja mereka mendapat banyak hasil
rampokan. Korbannya selain seorang lurah juga saudagar kaya raya.
Tiga buntalan kain berisi harta
benda beru- pa perhiasan emas dan kepingan uang berhasil dikumpulkan dari dua
lemari dan sebuah peti di da- lam kamar Ki Lurah Saroga.
"Heh, ke mana si Sudra?"
tanya Sarjan se- raya mengangkat dua buntalan besar.
"Biarkan saja dia menikmati
tubuh Nyi Sa- roga yang cantik itu...," ujar Talib. Kepalanya dige- rakkan
ke arah kamar yang tadi dimasuki Sudra.
Saat itu memang terdengar dengusan-
dengusan napas dari kamar sebelah.
"Sudra!" teriak Sarjan.
Ditendangnya pintu kamar itu. "Ikut pulang atau mau tidur di sini
kau...?!" Sementara Sulung dan Badri telah masuk dan mengambil alih barang
yang dibawa Talib.
"He he he.... Maaf. Aku
mendapat bagian membereskan istri lurah itu...," ujar Sudra me- langkah
keluar kamar. Tubuhnya tampak basah bersimbah peluh. "Hehh.... Hangat
sekali tubuh- nya Nyi Saroga, Kang Talib," lanjutnya sambil membenahi
celana.
"Kau ini tak pernah puas-puasnya
dengan perempuan! Nih, bawa!" dengus Sarjan yang tam- pak kesal. Tapi, tak
sedikit pun ada kebencian di wajahnya terhadap Sudra.
Sambil masih tertawa cengengesan
Sudra menangkap buntalan kain berisi emas dan perhia- san.
Kelima perampok itu segera melesat
pergi meninggalkan rumah Ki Lurah Saroga.
7
Fajar menyingsing. Cahaya kemerahan
membias di ufuk timur. Di sebuah hutan lebat yang masih tersaput kabut
terdengar sayup-sayup alunan suara suling. Iramanya yang merdu men- dayu-dayu
memecah keheningan pagi. Bunyi itu seolah menyiratkan lagu kesedihan, atau
mungkin perasaan kecewa.
Sesosok pemuda berpakaian rompi
dari ku- lit ular tengah duduk di atas sebatang pohon besar yang tumbang.
Ternyata dari sinilah suara suling itu berasal.
Di depan pemuda berambut gondrong
yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila tampak Dogol dan Mei Lie
terkulai lemas di atas rerumpu- tan.
Semalam aku terbaring di sini
terbungkus kegelapan dan dinginnya malam.
Kurenungi kembali nasib hidup
manusia. Ke- ras. Penuh kedurjanaan dan keangkaramurkaan.
Jemariku meregang keras. Aku hendak
ber- lari. Berlari atau menerjang.
Kenapa hatiku memilih untuk
bernyanyi? Melepas segala rasa dendam....
Begitulah gumaman yang keluar dari
mulut Pendekar Gila setelah menyelipkan kembali su- lingnya ke pinggang. Dia
teringat mimpinya bebe- rapa hari yang lalu ketika bermalam di istana Kerajaan
Bumi Segara. Hatinya mulai yakin bahwa mimpi itu bukan kembang tidur semata.
Ada pera- saan aneh yang terus menyelubungi hatinya. Di- tambah lagi dengan
keadaan semalam. Sekelom- pok orang yang mengatasnamakan Kerajaan Bumi Segara
hendak menangkapnya.
"Uuuhh...!" Terdengar lenguhan
panjang dari mulut Dogol. Pemuda bertubuh tambun dan berperut bun- cit itu
menggeliat.
"Aha, jangan terburu-buru
bangun, Dogol!" ujar Sena seraya turun dari batang kayu besar itu.
"Keadaan tubuhmu masih lemah."
"Huekhh...!" Dogol
rupanya tak mendengarkan larangan Sena. Ketika tubuhnya bangkit dari terbaring,
tiba- tiba dia muntah. Keluarlah cairan merah kehita- man.
"Bagus! Bagus! Biarkan racun
itu keluar sampai tuntas! Sebentar lagi tubuhmu akan pulih, Gol." Pendekar
Gila tersenyum menyaksikan ka- wan baiknya tampak ketakutan. "Ha....
Sebentar lagi kau akan pulih. Semalam kau sulit sekali me- muntahkan cairan
itu, Gol," ujarnya seraya mene- puk-nepuk tengkuk Dogol.
Dogol tidak bisa menjawab. Ia hanya
men- gangguk-angguk memegangi perutnya yang buncit
Mei Lie pun menggeliat dan bangkit
dari ti- durnya. Gadis cantik berambut panjang itu duduk dengan wajah pucat.
Tubuhnya masih lemas. Ra- cun ganas telah membuat wanita berjuluk Bidada- ri
Pencabut Nyawa itu seperti kehabisan tenaga.
"Baiklah. Kalian boleh
perlahan-lahan men- gatur pernapasan untuk mengembalikan tenaga. Sebentar lagi
matahari memancarkan sinarnya. Kalian akan pulih kembali." Sena tersenyum-
senyum memandangi kedua kawannya.
Mei Lie dan Dogol pun segera
melaksanakan saran Pendekar Gila. Keduanya duduk bersila me- nunggu terbitnya
sang surya.
"Aha, perut kalian tentu
merasa lapar. Tapi jangan khawatir. Aku telah sediakan sarapan pagi untuk
kalian berdua."
Pendekar Gila melompati batang
pohon tumbang yang tadi didudukinya. Ternyata di balik pohon itu dia telah
membakar tiga ekor ayam hu- tan. Diangkatnya ketiga daging ayam yang sudah
matang itu.
Dogol membelalak heran bercampur
gembi- ra. Sebentar lagi perut gendutnya akan segera mendapatkan santapan
lezat.
"Di tengah hutan belantara
seperti ini, asal kita mau, tak mungkin akan kelaparan, Gol," ujar Sena
melangkah mendekati Mei Lie dan Dogol.
Ketiganya segera menyantap daging
ayam panggang. Dengan lahap Dogol menggigiti daging ayam hutan itu.
Ketika mereka selesai makan,
sebenarnya matahari telah sepenggalah tingginya. Namun ka- rena pepohonan di
hutan itu sangat lebat serta kabut tebal menyelimutinya, cahaya sang surya tak
mampu menerobos tempat itu. Saat mereka te- lah keluar dari dalam hutan Dogol
tampak agak terkejut. Suasana telah terang dengan cahaya ma- tahari yang
hangat. Bagi Mei Lie dan Pendekar Gila hal itu tidaklah terlalu aneh. Bukan
baru kali ini keduanya mendapati kejadian seperti itu. Berma- lam di tengah
hutan sudah merupakan hal biasa bagi mereka.
* * *
Senapati Saka Bawana turun dari
kudanya. Di belakangnya, Ki Lurah Brajanala yang menaiki kuda hitam ikut turun.
keduanya melangkah me- masuki istana.
Raja Galih Kertarejasa dan
permaisurinya tengah menunggu kedatangan lelaki tua itu. Begi- tu melihat
mertuanya datang, Raja Galih Kertare- jasa langsung berdiri menyambutnya.
"Ayah, sengaja kami utus
Senapati Saka Bawana menjemputmu." Raja Galih Kertarejasa menjabat tangan
Ki Lurah Brajanala. Dipersila- kannya ayah mertuanya duduk.
Setelah Permaisuri Ayu Mustika,
anaknya, menyalaminya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Ki Lurah Brajanala
segera duduk di kursi. Bersamaan dengan itu muncul Patih Abiyasa. Ia duduk
bersila di samping kanan Senapati Saka Bawana setelah menjura hormat kepada
Raja Ga- lih Kertarejasa dan Ki Lurah Brajanala
"Sebagai orangtua yang pernah
lama berki- prah di rimba persilatan mungkin Ayah bisa mem- beri petunjuk untuk
mencari Pendekar Gila."
Semua terdiam ketika sang raja
mengucapkan kata-kata itu. Ki Lurah Brajanala yang mengenakan jubah coklat muda
menatap lurus ke depan. Mata tuanya terhias alis tebal berwarna pu- tih. Mata
itu memancarkan sinar penuh kewiba- waan. Meskipun hanya sebagai seorang lurah,
wi- bawanya tidak kalah dengan para adipati atau tu- menggung. Tidak perlu
memandang dirinya yang merupakan ayah mertua Raja Galih Kertarejasa. Lelaki tua
itu pada zamannya memang pernah menyandang nama besar.
Hanya ketika putri tunggalnya
terpilih men- jadi permaisuri, Ki Lurah Brajanala segera memu- tuskan untuk
mengundurkan diri dari dunia persi- latan. Apalagi saat itu dirinya dipercaya
oleh warga Desa Tingal untuk menjadi lurah.
"Hhh.... Sebenarnya sudah agak
terlambat," gumam Ki Lurah Brajanala tanpa mengalihkan pandangannya dari
jendela istana yang mengha- dap ke taman belakang. "Sudah lama murid Singo
Edan itu menculik Sekar Arum. Kalau saja saat itu aku berada di sini, mungkin
tidak akan sampai begini kejadiannya. Saat ini jelas sulit untuk men-
galahkannya, kecuali Singo Edan sendiri...."
"Tapi, bagaimana kita bisa
menghubungi gurunya itu?" tanya Raja Galih Kertarejasa dengan nada
mengeluh. Rasa kecewa dan khawatir terha- dap keselamatan putrinya telah
membuat jiwanya berubah. Wajahnya dalam beberapa hari saja be- rubah tua dan
lusuh. Kemarahan yang terpendam membuat semangatnya seakan terbang.
"Kudengar saat ini para tokoh
tua dari go- longan putih tengah mengadakan pertemuan. Aku yakin mereka pasti
marah mendengar perbuatan pendekar itu. Kuharap mereka dapat berbuat ba- nyak
untuk kita. Setidak-tidaknya mereka dapat menghubungi Singo Edan untuk
memberitahukan perbuatan muridnya," jelas Ki Lurah Brajanala.
"Yang benar-benar mengherankan
dan tak masuk di akalku, apa sebenarnya yang diinginkan Pendekar Gila dengan
menculik Kanjeng Putri," ungkap Senapati Saka Bawana. Kepalanya dige-
leng-gelengkan. Kegeraman tergambar jelas di wa- jah panglima tertinggi
kerajaan itu.
"Hhh.... Semua bisa terjadi
dalam kehidu- pan di dunia ini," sela Patih Abiyasa yang sejak ta- di
berdiam diri. "Hal-hal aneh dan tak masuk akal semacam ini menjadi wajar
bagi orang-orang ka- langan persilatan. Hanya mudah-mudahan keikut- sertaan
para tokoh dari golongan putih akan membantu upaya kita menemukan kembali tuan
putri."
Senapati Saka Bawana membisu. Raja
Galih Kertarejasa manggut-manggut. Sementara Ki Lu- rah Brajanala tetap diam.
"Apa belum ada kabar dari
orang-orang kita yang ditugaskan mencari jejak, Senapati Bawana?" tanya Ki
Lurah Brajanala tiba-tiba.
"Sampai saat ini belum ada,
Ki. Namun, kemarin ada utusan dari Kadipaten Kulonprogo yang mengatakan
Pendekar Gila menewaskan se- belas prajurit setelah berhasil mencuri Tombak
Payung Jagad milik Adipati Sureng Jawata," lapor Senapati Saka Bawana.
"Berarti Pendekar Gila memang
menentang mati! Ini benar-benar sudah keterlaluan. Dia men- coba membuat malu
dan ingin menjatuhkan kewi- bawaan para penguasa," ujar Patih Abiyasa
geram.
"Namun saat ini sulit baginya
untuk berge- rak lebih leluasa. Hampir semua kerajaan di seki- tar Jawadipa ini
telah mengerahkan para prajurit untuk bersiaga penuh. Pariwara yang kita
sebarlu- askan beberapa waktu lalu telah menarik perha- tian para jawara dan
tokoh-tokoh persilatan. Kalau benar tokoh-tokoh golongan putih tengah menga-
dakan pertemuan sehubungan dengan tindakan Pendekar Gila, dunia persilatan
pasti akan ramai." Senapati Saka Bawana memang banyak menden- gar laporan
dari berbagai daerah tentang sepak terjang Pendekar Gila.
Tiba-tiba masuklah seorang prajurit
ke da- lam ruangan pertemuan dengan langkah agak ter- gesa.
"Ampun, Kanjeng Gusti!"
Prajurit itu menju- ra hormat kepada Raja Galih Kertarejasa.
"Hm. Ada apa, Prajurit?"
"Seorang penduduk Desa Japuan hendak datang menghadap Kanjeng Gusti."
"Bawa masuk!" titah Raja
Galih Kertarejasa setelah berpikir sejenak.
Dua orang prajurit mengantarkan
lelaki muda berpakaian serba hitam. Setelah menjura memberi hormat, mereka
duduk bersila di depan Raja Galih Kertarejasa.
"Ampun, Kanjeng Gusti. Tadi
malam kami menemukan Pendekar Gila menginap di rumah penginapan Ki Marta. Kami
sempat bertarung dengannya. Namun, banyak anak buah Sukarpala ro- boh di tangan
Pendekar Gila. "
"Bagaimana dengan Pendekar
Gila?!" tanya Raja Galih Kertarejasa tak tahan menahan pera- saan
geramnya.
"Ki Marta, pemilik kedai dan
penginapan itu, telah memberi racun pada minuman yang dis- uguhkan seorang
pelayannya. Tapi sayang, hanya kedua kawan Pendekar Gila yang meminumnya. Saya
tidak tahu bagaimana nasib kawan-kawan kami selanjutnya. Ketika Kakang
Sukarpala berha- sil dirobohkan oleh Pendekar Gila, saya langsung berlari
menuju istana."
"Hmmm." Ki Lurah
Brajanaja menggumam tak jelas. Lelaki tua itu mengangguk-anggukkan kepala.
"Berarti murid Singo Edan itu kini telah kembali ke wilayah kita,
Anakku."
"Bagaimana sebaiknya sekarang.
Ayah?" tanya Raja Galih Kertarejasa, menoleh ke arah mertuanya.
"Siapkan para prajurit agar
berangkat me- nuju Desa Japuan. Sertakan semua jawara yang telah kita pilih
untuk meringkus bajingan itu!" ja- wab Ki Lurah Brajanala tegas.
"Senapati Saka Bawana,
kerahkan semua prajurit! Kirimkan ke daerah sekitar Desa Japuan!"
"Daulat, Gusti! Saya laksanakan sekarang." Senapati Saka Bawana
mengangguk dan bergegas bangkit dari duduknya meninggalkan ruangan.
Pagi itu juga Senapati Saka Bawana
dan beberapa panglima tinggi kerajaan memimpin para anak buahnya berangkat
menuju Desa Japuan.
Empat rombongan terdiri dari
delapan puluh pra- jurit berkuda diberangkatkan lengkap dengan per- senjataan
perang.
Sementara beberapa prajurit diutus
untuk menyusul kawan-kawannya yang kini berada di wilayah selatan dan barat.
Kalau tak ada halangan di jalan, mereka akan sampai di wilayah tenggara,
tepatnya Desa Japuan, pada sore hari.
Setelah keberangkatan para
prajurit, Ki Lu- rah Brajanala meninggalkan istana dengan diantar Patih Abiyasa
dan dua orang pengawal.
8
"Berhenti...!" Bentakan
keras itu mengejutkan Mei Lie dan Dogol. Keduanya langsung berbalik ke bela-
kang. Hanya Pendekar Gila yang tetap menghadap ke arah semula. Meskipun
sebenarnya kaget juga, tapi Sena tak terlalu khawatir. Pengalamannya di dunia
persilatan telah menumbuhkan ketajaman nalurinya sebagai seorang pendekar.
Bentakan se- perti itu jelas dilakukan oleh orang golongan putih. Mereka tidak
akan bertindak culas dengan mem- bokong lawan dari belakang.
"Benarkah penglihatanku ini?
Kaukah Pen- dekar Gila murid Singo Edan itu...?"
Pertanyaan itu dilontarkan lelaki
muda be- rusia sekitar tiga puluh tahun yang berdiri di ba- wah sebatang pohon
besar. Matanya menatap tajam pada Sena yang bam saja membalikkan tubuh
menghadapinya.
"Begitulah orang-orang
menjuluki diriku," jawab Sena polos. Mulutnya cengengesan dengan tangan
menggaruk-garuk kepala.
"Apa kau juga mendapat
perintah dari raja untuk menangkapnya, Sobat?" Mei Lie menatap tak kalah
tajamnya kepada lelaki berpakaian kun- ing yang di pundaknya tersampir sebilah
pedang itu.
"Semula memang begitu. Tapi,
saran dari guruku telah membuat diriku mengurungkan niat itu."
Seno membisu mendengar ucapan
lelaki berwajah tampan itu. Ada kesungguhan tersirat di wajahnya. Kecurigaan
Sena sedikit berkurang.
"Pertemuan yang dilakukan para
tokoh go- longan putih dua hari yang lalu menghasilkan ke- putusan, mereka akan
mencari penculik Putri Se- kar Arum. Namun, hampir semua yang datang me-
ragukan kalau Pendekar Gila yang telah melaku- kannya," tutur lelaki muda
itu.
Mei Lie dan Dogol tercenung.
Keduanya tak mengerti arah pembicaraan lelaki itu. Sena belum menceritakan
tentang penculikan itu kepada me- reka. Sena hanya mengatakan ada sekelompok
orang yang berusaha membinasakan dirinya atas nama kerajaan.
"O ya. Aku
Danuwilapa...." Namun, belum selesai lelaki itu mengu- capkan kata
perkenalannya, tiba-tiba....
Slatts! Slasts!
"Awas...!" Sambil
berteriak memperingatkan, Pende- kar Gila melentingkan tubuhnya ke atas.
Secepat kilat dicabutnya Suling Naga Sakti dan dikibaskan memapaki dua larik
sinar merah yang meluncur deras ke arah mereka. Glarrr...! Dua buah ledakan
keras yang diiringi bi- asan sinar kemerahan terdengar ketika suling pu- saka
itu menghantam dua larik sinar. Pendekar Gila mendarat dengan sempoyongan
akibat bentu- ran keras itu.
Belum sempat pemuda berambut
gondrong dan berpakaian rompi kulit ular itu berdiri tegap, terdengar lagi
desingan nyaring meluncur ke arah mereka. Beberapa pisau terbang siap merenggut
nyawa mereka. Lesatannya yang begitu cepat membuat Sena tak mampu melakukan
tangkisan.
Meskipun dia sempat menghentakkan
ke- dua tangannya hingga mengeluarkan serangkum angin keras, tak urung beberapa
pisau lepas dari tangkisannya. Hingga...
"Aaakh!" Sebuah pisau
menyambar tangan Dogol hingga sobek. Pemuda bertubuh tambun itu men- gerang
kesakitan seraya mendekap lengannya yang mengucurkan darah.
Melihat keadaan Dogol, bangkitlah
kemara- han Pendekar Gila. Sementara dari balik pepoho- nan dan semak-semak
berlompatan beberapa so- sok tubuh berpakaian serba merah. Wajah-wajah bengis
dan kejam menatap tajam, menyiratkan nafsu membunuh. Dalam sekejap saja
Pendekar Gila, Mei Lie, dan pemuda berpakaian kuning serta Dogol yang tengah
kesakitan ter-kepung rapat. Li- ma belas orang bersenjata golok, pedang,
kampak, dan trisula mengitari mereka berempat.
"Ha ha ha...! Kali ini kau tak
akan dapat lo- los lagi, Bocah Edan!" Terdengar suara tawa meng- gelegar
keras. Namun, tak tampak pemiliknya.
"Hua ha ha...!" Sena
menyambuti dengan tak kalah kerasnya. "Cecurut busuk mana yang berani
mengganggu perjalanan orang, heh?! Keluar kau pengecut...! Biar kukentuti
mulutmu yang bau itu!" teriaknya seraya menggeleng-geleng lucu.
"Serbuuu!" "Bunuh
pendekar keparat itu!" "Heaaa...!" Tanpa menunggu perintah dari
pimpinan- nya yang tidak menampakkan diri, para penge- pung itu segera
melancarkan serangan. Mereka merangsek maju menyerang keempat orang la- wannya
dengan sabetan dan tusukan senjata.
Mei Lie yang tak sabar melihat
keadaan itu dengan cepat mencabut Pedang Bidadari di pun- daknya. Secepat itu
pula tubuhnya melompat me- mapaki serangan orang-orang berpakaian serba merah.
Wuttt! Trang! Lelaki muda yang tadi mengaku bernama Danuwilapa pun tak mau
ketinggalan. Pedangnya yang tersampir di pundak segera diloloskan dan langsung
menghadapi para pengeroyok.
Sementara itu, Pendekar Gila yang
masih memegang Suling Naga Sakti-nya tidak beranjak dari tempatnya. Dia
menunggu datangnya seran- gan lawan sambil melindungi Dogol yang tengah
terluka. Namun, karena orang-orang berpakaian merah mengancam Pendekar Gila
serangan mere- ka pun terus tertuju kepada Sena.
Sekejap saja pertempuran seru
terjadi. Te- riakan-teriakan keras ditingkahi suara dentang senjata yang saling
berbenturan memecah kehe- ningan siang di tepi hutan itu.
Mei Lie dengan penuh semangat
menghada- pi serangan lawan yang datang bertubi-tubi. Pe- dangnya dikibaskan ke
sana kemari menangkis sabetan dan tusukan senjata lawan. Ketika dua orang lawan
menyabetkan pedang ke arahnya se- cara bersamaan, gadis cantik berjuluk
Bidadari Pencabut Nyawa itu memutar pedangnya dengan pengerahan tenaga dalam
tinggi
Benturan keras pun terdengar
seiring den- gan pekikan menyayat dari mulut kedua lawannya. Kedua lelaki
berpakaian merah terjengkang ke be- lakang. Namun, dengan cepat mereka bangkit
ber- diri dan kembali melancarkan serangan. Belum sempat keduanya menebaskan
pedang, Mei Lie te- lah lebih dulu membabat perut salah seorang di antara
mereka.
Darah segar muncrat. Tubuh lelaki
berpa- kaian merah itu terjungkal ke tanah. Sebentar tu- buhnya berkelojotan,
tapi kemudian tewas.
"Kurang ajar!" dengus
kawannya. Lalu, melompat menerjang Mei Lie.
Mei Lie melompat ke samping seraya
mene- baskan pedangnya. Dan....
Crasss! Pekikan keras kembali
terdengar. Darah se- gar mengalir dari leher yang tersambar pedang Mei Lie.
Sementara itu, Danuwilapa telah
berhasil membabat tiga orang lawannya. Lelaki muda ber- wajah tampan ini
rupanya memiliki ilmu yang cu- kup handal. Terbukti, tiga orang lawannya telah
terkapar berlumuran darah di atas rerumputan.
Sedangkan Sena yang menghadapi
empat orang lawan tampaknya tak banyak menemui ke- sulitan. Dengan
meliuk-liukkan tubuhnya dan se- sekali melompat ke sana kemari dia memutar su-
lingnya. "Hi hi hi...! Percuma kalian hendak me- nangkapku,
Cecurut-cecurut Kudisan! Dengan se- batang suling saja kalian kewalahan. Ha ha
ha...!" Sena tertawa di sela-sela kesibukannya mengha- dapi lawan.
Mendengar ejekan itu lawan-lawannya
se- makin geram. Dua orang membabat dan menu- sukkan senjatanya ke tubuh Sena.
Namun Sena cepat melompat ke atas. Sulingnya diayunkan, hingga... Trang!
Blukkk! Lenguhan pendek terdengar
dari mulut la- wannya yang bersenjatakan kapak. Tubuhnya ter- jajar mundur beberapa
langkah setelah kapaknya berbenturan dengan suling milik Pendekar Gila.
Sementara dua orang kawannya telah merangsek maju melancarkan serangan susulan.
Sena dengan cepat melompat.
"Ha ha ha.... Meleset, Kawan. Nih, terima sulingku! Hih...!"
Pletakk! Seorang lawannya
mengerang-erang kesaki- tan. Tubuhnya berputar-putar dengan tangan kiri
memegangi kepalanya yang benjol terkena pukulan Suling Naga Sakti di tangan
Sena.
"Ha ha ha...! Bukan mereka
yang kroco- kroco itu yang menjadi lawanmu, Bocah Edan. Bragaspati yang akan
menangkap dan menyerah- kanmu ke Istana Kerajaan Bumi Segara!"
Sesosok lelaki bertubuh tinggi
besar dan bercambang bauk lebat mendarat di tengah per- tempuran. Tanpa memberi
kesempatan kepada Sena, lelaki berjubah merah tua itu langsung me- lancarkan
serangan dahsyat.
Wusss! "Haits! He he
he...!" Sena tertawa mengejek. "Kurang sedikit saja,
Bragaspati!"
Namun ketika tubuh Pendekar Gila
melent- ing dan bersalto di udara, Bragaspati melontarkan serangan susulan yang
tak kalah dahsyat. Bebera- pa larik sinar kemerahan melesat memburu tubuh Sena.
Slatss! Slatss! Glarrr...! Ledakan
keras terdengar. Suling Naga Sakti di tangan Pendekar Gila berhasil menangkis
se- rangan itu. Baik Sena maupun Bragaspati terdorong ke belakang. Bahkan,
ketika mendarat tubuh Sena agak sempoyongan.
Melihat lawannya telah siap
melancarkan serangan susulan, Pendekar Gila dengan cepat menghentakkan telapak
tangan kanannya. Se- rangkum api melesat dan menghantam tubuh la- wannya.
Pekikan keras menyayat hati pun terdengar mengiringi tubuh Bragaspati yang
terlontar deras ke belakang. Tubuh besar berjubah merah itu baru berhenti
meluncur ketika menabrak pepohonan.
Tubuh Bragaspati yang hangus
terbakar ajian 'Inti Brahma' Pendekar Gila terkapar kaku di bawah pohon.
Mei Lie dan Danuwilapa yang telah
menye- lesaikan pertarungan dengan lawan-lawannya se- gera menghampiri Sena
Manggala.
"Mereka gerombolan perampok
Hutan Srumbung, Tuan Pendekar," ujar Danuwilapa memberitahu. "Hh....
Mereka hanya sedikit dari orang-orang persilatan yang saat ini tengah ber-
lomba mencari Tuan Pendekar. Mereka tergiur oleh imbalan besar yang dijanjikan
kerajaan bagi orang yang dapat menangkap Pendekar Gila...."
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan
kepala dan berjalan menghampiri Dogol yang terluka. Pi- sau yang menyambar
lengan Dogol ternyata men- gandung racun ganas. Pemuda berperut gendut itu
terkulai pingsan. Diangkatnya tubuh Dogol dan dibawa ke tempat yang teduh. Mei
Lie dan Danu- wilapa mengikuti dari belakang.
"Kasihan Dogol. Dua kali dia
menjadi korban keganasan orang-orang serakah yang tak be- rakal...," gumam
Pendekar Gila sambil berjongkok.
Sena memejamkan mata seraya
menyatu- kan kedua telapak tangannya di depan dada. Ke- mudian, ditempelkannya
telapak tangannya di da- da Dogol. Sena berusaha mengeluarkan racun ga- nas
dari tubuh lawannya. Hal seperti itu telah pula dilakukannya semalam setelah
Dogol meminum racun di dalam penginapan.
"Huh. Bodoh sekali aku ini.
Sampai lupa menotok lengan Dogol ketika baru saja terluka ta- di. Mestinya
racun ini tak sampai menjalar ke se- luruh tubuhnya," Sena terus
mengerahkan tenaga dalamnya.
Dari luka bekas goresan pisau di
lengan Dogol kembali mengalir cairan merah kehitaman. Darah yang telah
tercampur racun itu merembes keluar. Sesaat kemudian, tubuh tambun Dogol
menggeliat seperti berusaha untuk bangun.
"Ngmhhh...," Dogol
melenguh lirih. Sena segera menahan dada Dogol agar tetap terbaring. Tiba-tiba
saja Dogol memuntahkan da- rah kehitaman.
"Biarlah dia tidur sebentar.
Tubuhnya terla- lu lemah. Sebenarnya tadi dia belum pulih benar dari racun
semalam, Kakang Sena," ujar Mei Lie yang berjongkok di samping Pendekar
Gila.
Sementara itu, Danuwilapa berdiri
mema- tung memandangi mereka bertiga.
"Em... Kalau aku boleh tahu,
hendak ke mana sebenarnya tujuanmu, Sobat?" tanya Mei Lie menoleh kepada
Danuwilapa.
"Ya. Aku sampai belum sempat
menjelaskan kepada Tuan Pendekar."
"Jangan panggil begitu
kepadaku. Sebut sa- ja aku Sena!" sahut Pendekar Gila seraya mengu- lapkan
tangan kanannya.
"Aku sebenarnya termasuk
pasukan pilihan yang ditugaskan oleh Kadipaten Kulonprogo untuk mencari
penculik Putri Sekar Arum. Meskipun te- lah dilarang oleh orang kadipaten. Tapi
aku nekat ikut bertugas...."
Mei Lie mengerutkan kening. Begitu
pula Sena Manggala.
"Apa sebenarnya yang telah
terjadi di Kadi- paten Kulonprogo?" tanya Mei Lie penasaran.
Danuwilapa menarik napas panjang.
"Ayah- ku, Adipati Sureng Jawata, tewas di tangan seo- rang pencuri yang
berhasil membawa pergi tombak pusaka milik Ayah. Kejadian itu hanya berselang
satu malam dengan peristiwa penculikan Putri Se- kar Arum. Yang mengejutkan
kami pelaku pencu- rian itu ternyata persis dengan dirimu, Sena. Bah- kan
seluruh pembesar kadipaten telah menjatuh- kan tuduhan kepadamu. Mereka
didukung oleh peristiwa di Kerajaan Bumi Segara yang pelakunya juga Pendekar
Gila."
Mei Lie mengerutkan keningnya.
Ditatapnya dalam-dalam wajah Danuwilapa yang ternyata pu- tra seorang adipati.
"Beruntung aku mendapat saran
dari guru- ku. Sehingga, dapat kuredam dendam kesumatku kepada Pendekar Gila
setelah mengikuti perte- muan para tokoh persilatan di Borobudur dua hari
lalu. Kini aku jadi lebih yakin
setelah bertemu denganmu, Sena. Ternyata kau sendiri belum mengetahui perkara
yang menyangkut nama baikmu," lanjut Danuwilapa. "Tapi, bagaimana
mungkin kau tidak mengetahui hal itu?" tanya Danuwilapa.
"Dua hari dua malam perjalanan
dari Kera- jaan Tanjung Anom kami lalui lewat utara. Baru tadi malam kami
menemui kabar itu," jawab Sena.
"Itulah sebabnya guruku
memerintahkan aku untuk membantu tokoh-tokoh lurus yang be- rusaha mencarimu,
Sena. Bukan untuk menang- kap atau membunuhmu, tapi hanya ingin mene- mui. Jika
memang benar ada tokoh yang telah menyamar sebagai Pendekar Gila, seperti
dugaan para tokoh tua, hanya kau yang dapat menyelesai- kan masalah ini. Wajah
dan tingkah laku penculik itu sama persis denganmu. Ini yang membuat orang-orang
bingung."
'Ya, ya. Lalu, bagaimana
sebaiknya?" tanya Sena pada kekasihnya, Mei Lie. "Aha, mungkin ki- ta
mesti menghadap ke Istana Kerajaan Bumi Se- gara."
Sementara itu Dogol telah siuman.
Pemuda gendut itu duduk bersandar di sebatang pohon be- sar.
"Gol, kita harus berangkat
sekarang!" ujar Mei Lie memandangi Dogol.
Dengan senyum yang dipaksakan Dogol
bangkit dari duduknya. Kakinya melangkah perla- han menghampiri Pendekar Gila
dan Mei Lie. "Kua- tkan dirimu, Gol!" ujar Sena. "Kita akan mampir
dulu di Istana Kerajaan Bumi Segara. Ada urusan penting. Ayo!" perintah
Sena.
Keempat orang muda itu segera
melesat ke arah barat menuju Istana Kerajaan Bumi Segara.
9
Mei Lie, Dogol, dan Danuwilapa
menger- nyitkan kening keheranan ketika melihat langkah Sena terhenti. Apalagi
ketika Pendekar Gila mene- lengkan telinganya seperti tengah berusaha men-
dengar sesuatu.
"Ada apa, Kakang Sena?"
tanya Mei Lie mendekati Pendekar Gila.
"Ah. Aku mendengar derap
langkah kaki kuda. Ada puluhan kuda berlari ke arah sini," ujar Sena.
"Mungkinkah mereka pasukan
kerajaan, Sena?" tanya Danuwilapa yang tampaknya mulai akrab dengan
pendekar berpakaian rompi kulit ular itu. "Mungkin juga...," gumam
Sena dengan ta- tapan lurus ke depan. Keningnya tiba-tiba berker- nyit tajam.
Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang akan terjadi dengan dirinya. Ketajaman
nalu- rinya sebagai seorang pendekar mengatakan hal itu.
Ternyata benar. Baru saja mereka
hendak melanjutkan langkah, dari arah barat tampak pu- luhan pasukan berkuda
berlari ke arah timur. Tak lama kemudian rombongan berkuda yang adalah tentara
kerajaan itu telah sampai di depan Pende- kar Gila.
"Berhenti...!" Teriakan
keras terdengar dari mulut seo- rang lelaki bertubuh gagah perkasa yang menge-
nakan pakaian senapati. Seketika delapan puluh pasukan berkuda itu berhenti.
Dengan tatapan tajam lelaki gagah
di atas kuda putih yang tak lain Senapati Saka Bawana memandangi Sena Manggala.
Rasa heran hampir saja menyeruak di
hati Pendekar Gila. Namun ketika dia teringat kabar buruk tentang dirinya,
perasaan itu berubah men- jadi rasa khawatir. Meskipun ia seorang pendekar yang
tak diragukan lagi kemampuannya, baik da- lam ilmu maupun kedigdayaan, perasaan
seperti itu tetap ada. Bukan karena Pendekar Gila tak mampu mengatasi sekian
banyak tentara yang akan menangkapnya. Melainkan saat ini yang di- hadapinya
bukanlah orang-orang durjana.
Kalaupun harus terjadi bentrokan
untuk membela diri, Pendekar Gila tetap merasa serba salah. Ia tengah
dihadapkan pada persoalan yang sulit. Suatu salah paham akibat fitnah keji.
"Pendekar Gila..., atas nama
kerajaan kami akan menangkapmu!" teriak Senapati Saka Bawa- na lantang.
Belum sempat Sena memberikan
jawaban atas seruan Senapati Saka Bawana, Mei Lie telah menyahuti.
"Hei.... Senapati! Tidakkah
kau tahu berhadapan dengan siapa dirimu saat ini?!" teriak Mei Lie tak
kalah lantang. Sambil mengucapkan kata- kata itu, tangannya meraba gagang
pedang yang tersampir di pundaknya.
"Pendekar Gila murid Singo
Edan, dan kau Bidadari Pencabut Nyawa!" jawab Senapati Saka Bawana yang
menjadi pemimpin pasukan.
"Mei Lie, tahan
ucapanmu!" tegur Sena se- raya memegang lengan kanan gadis itu.
"Pendekar Gila, kau
sembunyikan di mana Kanjeng Putri Sekar Arum?!" bentak Senapati Saka
Bawana mulai tak sabar. "Apa maksudmu mem- bawa lari Kanjeng Putri Sekar
Arum yang telah di- persunting Pangeran Danuwirya? Bukankah kau sendiri tahu
mereka akan melangsungkan perni- kahan bulan depan?"
"Tulikah telinga kalian?
Butakah mata ka- lian, sehingga tak pernah mendengar dan melihat perjuangan
Pendekar Gila dalam melawan kedur- janaan? Mana mungkin seorang pendekar
berlaku durjana...?"
Mei Lie yang tak mampu menahan
amarah- nya terus saja bicara menanggapi tuduhan Sena- pati Saka Bawana.
"Kehidupan di dunia ini serba
mungkin. Seorang pendekar bisa berlaku durjana. Seorang resi atau pendeta bisa
berbuat mesum. Seorang guru bisa bertindak culas. Seorang raja tak mam- pu
menahan angkara murka hatinya. Seorang ibu bisa tega membunuh anaknya. Seorang
ayah bisa menggagahi anak perempuannya.
Seorang hakim bisa saja tidak adil.
Apa yang tak mungkin di dunia ini, Nona Pendekar...? Ya.... Kecuali kalau kau
ingin memakan kepalamu sendiri. Itu baru tindakan yang tak mungkin...."
"Bedebah!" Mei Lie
semakin marah. Wajah- nya merah padam.
"Semua prajurit kerajaan
termasuk diriku menyaksikan kawanmu menculik Putri Sekar Arum, Nona Mei Lie!
Tak ada lagi kata untuk me- nyanggah atau memungkiri tindakan Pendekar Gi-
la!" ujar Senapati Saka Bawana dingin. "Para pra- jurit, tangkap
dia...."
Mendengar seruan sang pemimpin,
para prajurit pun segera berlompatan turun dari pung- gung kuda masing-masing.
Mereka mengepung Pendekar Gila, Mei Lie, dan Dogol serta Danuwila- pa dengan
senjata terhunus.
Aneh. Tidak seperti biasanya
Pendekar Gila dilanda rasa bingung dan serba salah seperti saat ini. Dia seolah
tak mampu menggerakkan tubuh- nya untuk berbuat sesuatu. Sena hanya terpaku
dengan pandangan nanar. Padahal, dengan penuh semangat para prajurit berlarian
hendak mering- kusnya. Mei Lie mencabut pedangnya dan langsung menghadapi
serangan belasan prajurit yang beru- saha menangkap kekasihnya. Sementara
Danuwi- lapa tampak kebingungan. Dogol pun demikian.
Meskipun para prajurit hanya
mengarahkan perhatian kepada Pendekar Gila, Mei Lie, dan Do- gol tetap
merasakan gentar. Dia tak mau menjadi korban amukan pasukan kerajaan. Pemuda
bertu- buh tambun dan berperut gendut itu segera lari menyingkir. Tak mungkin
ia mampu mengatasi amukan para prajurit itu.
* * *
Pekikan-pekikan nyaring yang
ditingkahi bunyi dentang senjata memecah keheningan siang di tepi hutan itu.
Mei Lie yang telah lebih dulu mencabut pedang menghadapi setiap prajurit yang
berusaha mendekatinya. Begitu pula dengan Da- nuwilapa yang tadi sempat
bimbang. Ia berusaha membantu gadis berpakaian putih itu.
Namun sejauh itu tindakan Bidadari
Penca- but Nyawa hanya menangkis dan menghindarkan setiap serangan lawan.
Betapapun hatinya marah mendengar tuduhan Senapati Saka Bawana, jiwa
kependekarannya tetap mencegah dirinya untuk berbuat kejam. Sehingga, perlawanan
yang dilaku- kannya hanya setengah-setengah.
Hal serupa pun dialami Pendekar
Gila. Meski rasa jengkel dan marah menyelimuti ha- tinya, pemuda berpakaian
rompi kulit ular ini tak berani menjatuhkan tangan kejam. Walau para prajurit
tampak penuh semangat ingin menjatuh- kannya, Sena hanya melompat ke sana
kemari sambil sesekali melancarkan serangan. Serangan itu pun hanya untuk
menjatuhkan mereka bukan membunuhnya.
Sena menyadari benar pertempuran
ini se- benarnya tidak harus terjadi. Karena kebimbangan itulah lama-kelamaan
Pendekar Gila mulai terde- sak. Semahir apa pun kemampuannya akhirnya
Sena kewalahan juga.
Sementara Mei Lie yang juga
berusaha un- tuk tidak membunuh lawan terdesak hebat. Tiga orang prajurit
tampak bergelimpangan dengan punggung berlumur darah. Dalam keadaan ter- paksa
sekali Bidadari Pencabut Nyawa telah me- nyarangkan pedangnya ke tubuh lawan.
Melihat kekasihnya dalam keadaan
terdesak hebat, Pendekar Gila berteriak mengingatkan. "Mei Lie,
lari...!"
Wuttt! "Haits!"' Sebuah
babatan pedang lawan hampir saja menyambar kepala Sena. Beruntung dengan gera-
kan yang gemulai dia sempat meliukkan tubuh- nya. Lalu....
Plakkk! Bukkk! Dua orang prajurit
terpental beberapa lang- kah ke belakang. Keduanya meringis-ringis kesaki- tan
dan tak mampu bangkit lagi.
Ketika melihat Mei Lie sudah lari
dari tem- pat pertarungan, Pendekar Gila pun berusaha me- larikan diri. Namun
ia segera teringat pada Danu- wilapa yang tengah sibuk menghadapi lawan-
lawannya. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu melesat ke arah pertempuran
Danuwilapa.
Tukkk! Tukkk! Tiga orang prajurit
terkulai lemas terkena totokan Sena. Setelah itu, Pendekar Gila menge- rahkan
ilmu 'Sapta Bayu' dan melesat meninggalkan tempat pertempuran. Danuwilapa tak
mau ke- tinggalan. Ia segera mengikuti arah yang dituju Sena. Namun kecepatan
lari Pendekar Gila tak mampu ditandinginya. Dalam sekejap saja Sena telah
melesat begitu jauh. Ketika sampai di tepi sebuah hutan, Danuwilapa baru
berhenti. Ada se- seorang yang memanggilnya.
"Dogol." Danuwilapa
menghampiri Dogol yang tadi memanggilnya. "Di mana Sena...?"
"Heh?! Aku tak
melihatnya," sahut Dogol yang tampak kaget.
"Kalau begitu, ayo kita segera
mengejar Se- na. Aku dan dia terpaksa meninggalkan tempat pertempuran. Kulihat
tadi Sena tidak sepenuh hati menghadapi para prajurit itu...."
Tanpa banyak bicara lagi keduanya
kemu- dian melesat ke arah utara mencari Pendekar Gila yang tengah mengejar Mei
Lie.
Sementara itu Mei Lie ternyata
mengalami nasib yang kurang menguntungkan. Begitu dapat lolos dari pertempuran,
gadis itu dihadang oleh pa- ra prajurit lain yang datang belakangan. Dalam
pertarungan sengit Mei Lie mendapat totokan di- punggung sebelah kanan. Pedang
Bidadari anda- lannya terlepas dari genggaman, lalu disambar sa- lah seorang
prajurit. Tak lama kemudian, gadis itu dapat diringkus.
* * *
Pendekar Gila terus melesat ke
utara mem- bawa kekalutan yang melanda hatinya.
"Ah ah.... Kenapa bodoh sekali
aku?!" Sena seraya menghentikan langkahnya di tepi sebuah hutan.
"Hmh.... Bagaimana nasib Mei Lie dan Do- gol?"
Dengan tangan menggaruk-garuk
kepala, Sena melangkah memasuki hutan. Begitu dia sampai di dalam hutan,
tiba-tiba...
"Hua ha ha...!" Suara
tawa keras menggelegar mengejutkan Sena. Cepat tubuhnya dibalikkan. Suara tawa
itu ternyata berasal dari seorang lelaki tinggi besar yang mengenakan jubah
biru. Mulutnya yang lebar terhias cambang bauk lebat. Tangan kanannya memegang
sebatang tongkat berwarna merah. Ujung tongkat itu berbentuk tengkorak kepala
manusia.
"Hua ha ha.... Ternyata begitu
kecil nyali- mu, Bocah Edan Murid Singo Gendeng!"
"Hua ha ha...!" Pendekar
Gila menyambut- nya dengan tawa keras dan menggelegar pula. La- lu, cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala. "Hei, Orang Tua Bergigi Ompong!"
bentak Sena. Padahal, lelaki tinggi besar itu tidak bergigi om- pong. Mulut
Sena asal bicara saja karena hatinya sedang kalut. "Siapa kau
sebenarnya?"
"He he he...! Nanti kau akan
tahu kalau aku sudah membawa mayatmu ke Istana Kerajaan Bumi Segara, Bocah
Gendeng."
"He he he...! Kau juga ingin
mendapat imba- lan dari raja rupanya, Ompong," sahut Sena den- gan
terkekeh. "Aku merasa lebih berharga kini. Orang-orang memperebutkan
diriku."
"Jangan banyak bacot!
Heaatt...!" Wuttt! Seraya membentak nyaring lelaki berjubah biru
menghantamkan tongkatnya dengan keras.
Melihat orang itu melancarkan
serangan, Sena melentingkan tubuhnya ke atas. Namun se- cepat kilat lelaki
brewok memutar tongkatnya hingga menimbulkan deruan angin kencang. Angin yang
berputar cepat itu membuat tubuh Sena agak sempoyongan ketika mendarat di
tanah. Ketika kedudukan Sena belum sempurna, lelaki brewok itu kembali meluruk
deras dan menusukkan tong- katnya. Hingga....
Trakkk! Benturan keras terjadi saat
Pendekar Gila menebaskan sulingnya memapaki serangan mu- suh.
Keduanya terdorong mundur beberapa
langkah. Hal itu menunjukkan betapa kuat bentu- ran tersebut. Namun belum juga
kedudukan tu- buhnya seimbang, lelaki berjubah biru menghen- takkan kedua belah
tangannya. Meluncurlah se- rangkum api yang melesat memburu tubuh Sena.
Pendekar Gila terkesiap melihat
serangan susulan yang dahsyat itu. Namun, dengan cepat dia menghentakkan kedua
tangannya hingga ber- hembus serangkum angin dingin.
Wusss! Bresss! Terjadi tabrakan
antara angin dingin milik Sena dengan api yang tercipta dari tangan lawan.
'"Inti Brahma'! Heaaa...!"
Begitu berhasil meredam serangan
api yang dilancarkan lawan, Pendekar Gila menyusuli se- rangannya dengan ajian
'Inti Brahma'. Serangkum api melesat cepat dari kedua belah telapak tan-
gannya. Wusss! Jrraats! Tubuh lelaki tinggi besar berjubah biru ter- lontar
deras ke belakang. Teriakan menyayat hati pun terdengar dari mulutnya. Jubah
dan kulit tu- buhnya hangus terbakar. Ketika tubuh hangus itu terbanting
setelah menabrak pohon besar, nya- wanya pun lenyap dari raga.
Sena Manggala baru hendak beranjak
me- ninggalkan tempat itu ketika sesosok bayangan putih berkelebat tak jauh
darinya.
"Ah ah ah...! Petaka apalagi
yang akan ter- jadi di sini, Sena?"
Sesosok lelaki tua berjubah putih
tahu-tahu telah berdiri dua tombak di hadapan Sena.
"Guru!" Pendekar Gila
terkejut bukan main. Lelaki berambut putih itu ternyata Singo Edan. "Kau
berada di sini. Guru...?"
"Hi hi hi...!" Singo Edan
tertawa cekikikan. Tangan kanannya menggaruk-garuk kepala. Se- mentara mulutnya
nyengir dengan sebelah mata dipicingkan. Sikap lucu dan konyol itu persis den-
gan kebiasaan yang dilakukan Pendekar Gila. "Aha! Tidakkah kau mendengar
keadaan wilayah barat dan selatan, Sena? Para tokoh persilatan tengah memburu
dirimu."
"Aku sudah mendengar,
Guru...."
No comments:
Post a Comment