PEMBERONTAKAN
KI REKSOGENI
Oleh Firman Raharja
1
Di sebelah timur tampak Gunung
Merapi menjulang tinggi. Asap putih yang menggantung di atas puncaknya bagai
mahkota. Dari kejauhan tampak kaki gunung memanjang ke arah barat bertemu
dengan kaki Gunung Merbabu pada se- buah lembah yang sangat luas. Di tengah
lembah yang hijau dan subur itulah berdiri ratusan rumah penduduk. Suatu tempat
pemukiman yang terlihat aneh. Di tengah-tengah desa berdiri sebuah ban- gunan
besar dan megah mirip istana kerajaan. Ju- ga terdapat pasar yang menjadi pusat
perdagangan masyarakat lembah itu.
Orang luar mengenal wilayah
tersebut seba- gai desa kerajaan. Namun umumnya mereka ser- ing menyebutkan
Kerajaan Lembah Merapi Merba- bu. Letaknya memang persis di antara kedua gu-
nung yang saling berdekatan itu. Tapi, sebenarnya wilayah tersebut masih dalam
kekuasaan Kerajaan Bumi Segara.
Dengan adanya seorang pemimpin yang
oleh warga lembah dianggap sebagai raja serta di- terapkannya hukum dan
peraturan adat sebagai- mana layaknya suatu pemerintahan negara, telah
memantapkan sebutan kerajaan bagi wilayah itu.
Seluruh penduduk di Lembah Merapi
Mer- babu mendapat hak dan kewajiban yang sama. Mereka yang sudah dewasa
menjadi bala tentara kerajaan. Tenaga mereka harus selalu siap siaga setiap
saat dibutuhkan.
Ki Reksogeni begitulah nama
penguasa ter- tinggi di lembah itu. Seorang lelaki enam puluhan tahun yang
tubuhnya masih gagah perkasa. Kewi- bawaannya sangat disegani oleh semua warga
lembah. Dia bertahta di istana kerajaan dengan didampingi seorang patih dan
empat senapati ke- percayaan yang memimpin tak kurang dari seratus prajurit.
Seperti biasanya, pagi itu suasana di sekitar istana tampak ramai. Letak pasar
yang merupakan pusat perdagangan di lembah itu memang tidak berapa jauh dari
istana. Sementara di dalam ista- na tengah berlangsung suatu pertemuan para
pembesar kerajaan.
Di sebuah ruangan besar duduk di
atas kursi berukir seorang lelaki tua bertubuh tinggi gagah. Wajahnya yang
dingin terhias cambang ti- pis, hampir merata di pipi. Rambutnya yang seba-
gian telah memutih dibiarkan terurai sampai ke bahu. Sepuluh orang pembesar
istana yang meng- hadiri pertemuan itu duduk bersila di hadapan sang raja.
"Jadi benar kabar yang sampai
kepada ka- mi?" tanya lelaki setengah baya yang duduk di samping kanan Ki
Reksogeni kepada prajurit di depannya. "Bagaimana dengan ketiga kawanmu
yang lain...?"
"Benar, Paman Patih,"
jawab prajurit itu pa- da orang nomor dua di Kerajaan Lembah Merapi Merbabu.
"Hanya kami berdua yang menyampai- kan kabar ini ke istana. Gardawaka,
Sembada, dan
Kakang Gantar masih terus menunggu.
Barangkali terjadi perkembangan lebih lanjut. Yang jelas, Raja Galih
Kertarejasa telah meninggal lima hari yang lalu. Kalau tidak ada aral
melintang, kemarin Ra- den Danuwirya telah melangsungkan pernikahan dengan
Putri Sekar Arum di Istana Kerajaan Bumi Segara...."
"Hmm.... Bukankah rencana
pernikahan mereka akan diadakan dua purnama mendatang?" Kali ini bertanya
Ki Reksogeni. Lelaki tua berjubah merah itu mengernyitkan kening. Ada sesuatu
yang kurang berkenan di hatinya.
Prajurit itu menganggukkan kepala.
"Sete- lah kejadian mengenaskan itu para sesepuh dan pembesar kerajaan
memutuskan untuk segera menikahkan mereka. Tampaknya, pihak kerajaan akan
menobatkan Raden Danuwirya sebagai peng- ganti Raja Galih Kertarejasa...,"
ujarnya menje- laskan apa yang didapatkan selama menjadi tamu di Kerajaan Bumi
Segara.
Semua yang hadir pada pertemuan itu
membisu. Ki Reksogeni yang duduk di kursi jati menggangguk-angguk dengan mata
memandang ke luar ruangan.
"Hmm.... Apa kalian juga tahu
tentang Pendekar Gila dan kekasihnya yang rupanya menda- pat sial di
sana...?" tanya Ki Reksogeni.
Prajurit itu segera menceritakan
kabar yang dibawanya dari Kerajaan Bumi Segara. Kerajaan yang terletak di
antara Gunung Merapi dan Merbabu itu baru saja mengalami peristiwa menggem-
parkan. Sehari setelah upacara pertunangan anta-ra Putri Sekar Arum dengan
Pangeran Danuwirya dari Kerajaan Tanjung Anom, Putri Sekar Arum di- culik
seseorang yang mirip sekali dengan Pendekar Gila. Dalam peristiwa yang menggemparkan
para tokoh persilatan itu Raja Galih Kertarejasa tewas terbunuh. Pendekar Gila
samaran itu akhirnya da- pat dibinasakan Singo Edan. Setelah banyak me- nelan
korban.
Sena Manggala tak mampu
menghadapinya. Bahkan, kabar yang tersiar di kalangan rimba per- silatan
mengatakan kalau Pendekar Gila diduga te- lah tewas. Penculik putri raja yang
menyamar se- bagai Pendekar Gila memiliki ilmu mirip dengan yang dipunyai Sena
Manggala. Bahkan lebih dah- syat dan tinggi tingkatannya. (Untuk lebih jelasnya
baca serial Pendekar Gila dalam episode: "Petaka Seorang Pendekar).
Tak heran kalau selama beberapa
hari te- rakhir ini dunia persilatan gempar. Di mana-mana para tokoh persilatan
membicarakan tentang nasib Pendekar Gila. Mungkinkah Pendekar Gila telah tewas?
"Hal itulah yang belum dapat kami yakini kebenarannya, Ki...," ujar
prajurit itu mengakhiri ceritanya.
Ki Reksogeni yang dipanggil dengan
sebutan Ki hanya tersenyum sambil mengangguk- anggukkan kepala. Ia tidak merasa
risih dengan panggilan itu. Di lingkungan istana meskipun di- rinya dianggap
sebagai raja, Ki Reksogeni lebih su- ka dipanggil dengan sebutan seperti itu.
"Kalau begitu, memang sudah
saatnya kita mengirimkan pasukan. Ini kesempatan baik, Pa- man Senapati. Jangan
buang-buang waktu. Kerahkan semua bala tentara. Aku tak ingin perkem- bangan
selanjutnya akan menutup jalan kita."
Semua yang berada di ruangan tak
ada yang menyahut kecuali mengangguk-anggukkan kepala menyetujui.
"Paman Sentanu, kumpulkan
semua bala tentara. Kita akan berangkat malam ini juga. Agar kita dapat tiba di
sana tengah hari besok!" perin- tah Ki Reksogeni kemudian kepada Senapati
Sentanu.
"Kalau boleh aku
mengusulkan...," ujar Pa- tih Girindratama tiba-tiba. "Sebaiknya kita
menunggu kabar selanjutnya dari Kerajaan Bumi Se- gara. Bukan aku menyangsikan
kabar yang dibawa Prajurit Banu. Kita perlu perhitungan yang ma- tang dan harus
berhati-hati untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi."
Ki Reksogeni mengangguk-angguk
menyetu- jui usul patihnya. "Bagaimana pendapatmu, Pa- man Senapati?"
tanyanya kepada Senapati Senta- nu.
Senapati Sentanu ternyata
menyetujui usul itu. Ki Reksogeni mengurungkan niatnya untuk mengirim bala
tentara ke Kerajaan Bumi Segara. Suatu rencana besar memang memerlukan perhi- tungan
yang matang. Sebab, kalau sampai gagal bukan hanya nyawa taruhannya. Juga
keselama- tan semua warga dan anak buahnya yang telah se- tia mendukung
dirinya.
Menyadari hal itu, Ki Reksogeni
segera membubarkan pertemuan dan meminta kepada semua orang kepercayaannya agar
selalu siap siaga.
2
Sebuah gubuk kecil terbuat dari
bambu hi- tam berdiri terpencil di kaki bukit. Di depannya terbentang halaman
yang merupakan tonjolan ba- tu cadas dari tebing terjal. Di tengah-tengah hala-
man gubuk yang hanya ditumbuhi lumut duduk seorang pemuda bertubuh tegap dengan
kedua te- lapak tangan dirapatkan di depan dada. Tubuhnya yang bersih dan
kuning langsat basah oleh kerin- gat dan air hujan yang sejak tadi mengguyur
tem- pat itu. Tak dipedulikannya angin dan terpaan air hujan. Pemuda itu duduk
bersila menghadap ke barat, seolah ingin melihat matahari yang tersaput
mendung.
Sesekali pemuda itu menghela napas
da- lam-dalam. Lalu, dihembuskannya perlahan den- gan tubuh tak bergeming
sedikit pun. Pemuda be- rambut tidak terlalu panjang itu tampaknya baru saja melakukan
latihan silat. Kini ia tengah mela- tih mengatur pernapasannya di bawah hujan
ge- rimis.
"Pramudya...!" Baru saja
pemuda itu menghembuskan na- pas perlahan entah yang keberapa kalinya, tiba-
tiba terdengar suara serak dan lirih memanggilnya. Pemuda berwajah tampan itu
menoleh ke belakang. Terlihat seorang kakek berjubah putih men- gangguk-angguk
seraya tersenyum.
"Istirahatlah!" Suara
lelaki berusia sekitar tujuh puluh lima tahun itu kembali terdengar. Kali ini
sambil mengelus jenggotnya yang tebal dan pu- tih. Rambutnya yang panjang dan
juga berwarna putih tergelung di atas kepala.
"Eyang Guru.. ," sambut
Pramudya dengan kening berkerut, heran dengan tindakan gurunya. Dia tahu benar
gurunya tak pernah berbuat seper- ti itu. Tak pernah sekalipun sebenarnya
Pramudya mendapat teguran untuk berhenti jika sedang ber- latih. Apalagi, ini
merupakan latihan wajib yang harus dikerjakannya setiap sore.
"Aneh, senyum Eyang tidak
seperti bi- asanya. Ada apa gerangan Guru menghentikan la- tihanku?" batin
Pramudya. Kakinya segera me- langkah menghampiri gurunya yang berdiri di am-
bang pintu gubuk.
Setelah membersihkan tubuh dan
menggan- ti pakaian, Pramudya mendekati gurunya yang te- lah duduk bersila di
balai-balai bambu dengan be- ralaskan tikar. Pemuda itu melipat kakinya duduk
bersila di depan gurunya. Hatinya bertanya-tanya melihat wajah sang guru yang
dirasakan tidak se- perti biasanya. Hal itu dirasakan benar oleh Pra- mudya.
Namun, ia tidak berani bertanya.
"Ada berita duka yang harus
kusampaikan kepadamu, Pramudya...," ujar kakek itu dengan li- rih dan
bernada dingin. Seolah ia ingin memben- dung perasaan yang tengah berkecamuk di
dalam hatinya. "Kuminta kesabaran dan ketabahan hatimu mendengar berita
ini. Dua puluh tahun su- dah lamanya kau kudidik di gubuk ini. Ilmu silat dan
olah kanuragan yang kumiliki telah kutum- pahkan semua kepadamu. Beberapa
pengetahua- nku tentang ilmu kemasyarakatan dan kenegaraan pun telah pula kau
dapatkan. Kuharap kelak jika kau kembali ke istana dapat mengamalkan semu- anya
dengan baik. Itu pesan Kanjeng Gusti Galih Kertarejasa ketika memberi
kepercayaan kepadaku untuk mendidikmu...."
Kakek berjubah putih itu menatap
dengan sinar mata penuh kewibawaan. Sementara Pramudya tertunduk menekuri
balai-balai yang didu- dukinya. Ada gemuruh di dalam hatinya karena rasa
penasaran ingin segera mendengar kabar yang ingin disampaikan gurunya.
"Kanjeng Gusti Galih
Kertarejasa telah mangkat...," lanjut kakek itu dengan suara terta- han.
Ia merasa bimbang harus mengucapkan kata- kata itu. Dengan wajah tetap
tertunduk, Pramudya terbelalak kaget. Bagai disambar petir, sekujur tu- buhnya
seketika menegang. Ketika dia mengangkat wajah, gurunya telah menyambung
ucapan- nya.
"Dua orang prajurit kerajaan
tadi pagi da- tang kemari. Mereka mengabarkan telah terjadi ke- rusuhan hebat
di kerajaan. Seorang pemuda yang mengaku sebagai Pendekar Gila menculik Kanjeng
Putri Sekar Arum, sehari setelah upacara pertu- nangannya dengan Pangeran
Danuwirya...."
"Kurang ajar...! Lalu,
bagaimana pendekar bejat itu sampai membunuh ayahanda, Eyang?" Sebagai
seorang pemuda yang telah lama mempe- lajari ilmu silat kepada tokoh tua itu,
tentu saja Pramudya banyak tahu tentang nama Pendekar Gila. Seorang pendekar
yang sulit ditandingi di ka- langan rimba persilatan.
"Dalam persoalan seperti ini
kita harus hati- hati menghadapinya, Pramudya. Orang yang men- gaku sebagai
Pendekar Gila itu ternyata bukanlah Sena Manggala murid Singo Edan. Dia tetap
seo- rang pendekar sejati yang berbudi luhur. Bahkan kudengar kabar Pendekar
Gila telah tewas setelah menghadapi si durjana yang membinasakan Kan- jeng
Gusti. Paling tidak, menurut kedua prajurit itu, Sena Manggala menderita luka
dalam yang sangat parah. Untung dia segera ditolong oleh Ka- kang Singo Edan.
Setelah saling mengadu ilmu tingkat tinggi, murid Kakang Singo Edan itu ter-
jungkal tak berdaya. Namun ada kesimpangsiuran kabar di sini. Inilah yang
membuat aku yakin ka- lau Pendekar Gila tidak tewas. Yang ditolong oleh Kakang
Singo Edan adalah seorang pemuda ber- pakaian putih. Menurut dugaanku, pemuda
itulah Pendekar Gila sejati. Sedangkan pemuda berpa- kaian rompi kulit ular
yang kemudian tewas den- gan sekujur tubuh terbakar, si Pendekar Gila pal-
su." Kakek itu berhenti sejenak menghela napas- nya dalam-dalam. "Aku
yakin ini merupakan siasat Kakang Singo Edan untuk menumpas si durjana
itu."
"Eyang, menurut Eyang apakah
ada hubun- gannya kejadian ini dengan peristiwa dua puluh tahun silam?"
Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari mulut Pramudya.
Kakek itu mengangguk-anggukkan
kepala dan menggumam tak jelas. Diam-diam hatinya mengagumi dugaan yang
disampaikan murid tunggalnya. Ternyata pemuda itu mampu berpikir jernih,
menghubungkan dengan kejadian masa si- lam yang telah membuatnya harus rela
mening- galkan istana. Menjalani hidup sebagai seorang rakyat biasa. Jauh dari
kehidupan mewah istana dan berpisah dari ayahanda yang dicintainya.
Kekaguman sang guru ternyata bukan
tan- pa alasan. Ia juga mempunyai dugaan kuat, kalau peristiwa menyedihkan ini
memang ada kaitannya dengan kejadian dua puluh tahun silam. Ketika itu ia masih
menjabat sebagai penasihat kepercayaan raja.
Suatu pemberontakan dengan kekuatan
ra- tusan orang yang dipimpin seseorang yang memili- ki pengaruh besar di
istana berhasil merongrong kewibawaan raja. Tokoh berilmu tinggi itu berna- ma
Ki Reksogeni. Dia pernah menjuluki dirinya sebagai Naga Merah Dari Merapi.
Julukan itu ter- nyata bukan hanya isapan jempol. Dia seorang to- koh tingkat
tinggi yang sulit dicarikan tandingan- nya waktu itu.
Meskipun sikapnya dingin dan
menunjuk- kan kewibawaan tinggi sebagai seorang pemimpin, Ki Reksogeni ternyata
bisa bertindak keji dan ben- gis terhadap lawan yang tak disukainya. Dia dan
pasukannya berhasil membantai puluhan tentara kerajaan. Bahkan, dua orang
senapati gugur di medan laga ketika menghadapi pemberontakan itu.
Karena siasat perang yang diberikan
oleh para penasihat kerajaan, akhirnya pemberontakan berhasil dipadamkan.
Puluhan orang pemberontak tertangkap dan diadili. Sayang, pemimpin utama dan
dalang pemberontakan itu lolos dari pengeja- ran tentara Kerajaan Bumi Segara.
Ki Reksogeni yang lebih tersohor
dengan ju- lukan Naga Merah Dari Merapi kabur entah ke mana. Dia meninggalkan
jabatannya sebagai salah seorang panglima perang kerajaan.
Namun, beberapa tahun kemudian
terden- gar kabar ada seorang tokoh yang memimpin ma- syarakat Lembah Merapi
Merbabu. Sekelompok masyarakat yang mendiami lembah antara Gu- nung Merapi dan
Merbabu. Mereka membentuk suatu kehidupan desa yang dipimpin oleh Ki Rek-
sogeni. Desa itu masih termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Bumi Segara
yang terletak di Pegunungan Menoreh. Namun, warganya yang ra- ta-rata mantan
pemberontak bersepakat memben- tuk dan menjalankan pemerintahan sendiri. Lepas
dari kerajaan pusat yang berada di selatan.
Meskipun selama hampir dua puluh
tahun terakhir ini keadaan kerajaan aman dan damai, Pramudya tetap selalu
waspada. Pelajaran yang didapat selama menuntut ilmu kepada gurunya te- lah
membuat jiwa Pramudya matang. Wawasannya bertambah luas. Baik tentang hidup
bermasyara- kat dan bernegara maupun ilmu jiwa.
Ilmu silat yang didapatnya pun
bukan ilmu sembarangan. Gurunya merupakan tokoh tua yang pernah menduduki
tempat atas di kalangan orang-orang persilatan.
"Hmm...." Kakek itu
kembali menggumam. "Itulah sebabnya tak henti-hentinya aku mengata- kan
kepadamu bahwa sebaik-baiknya pemimpin adalah yang berbakti kepada orang yang
dipimpin- nya. Rela berkorban demi rakyat dan negara. Itu pun selalu saja ada
pihak-pihak tertentu yang tak suka dan memusuhinya. Pramudya, kaulah pan- geran
putra mahkota yang berhak atas kerajaan menggantikan Kanjeng Gusti."
Terkejut Pramudya mendengar
kata-kata gurunya. Setahunya, Putri Sekar Arum yang ber- hak atas tahta
menggantikan ayahnya. "Eyang...."
"Ya, kini saatnya aku
menjelaskan siapa di- rimu sebenarnya. Kaulah sebenarnya pangeran dari Kerajaan
Bumi Segara. Kau putra Kanjeng Gusti dari permaisuri..."
"Jadi...," sela Pramudya.
Tapi, gurunya se- gera melanjutkan.
"Kanjeng Putri Sekar Arum
memang ka- kakmu. Dia lebih tua darimu. Tapi dia bukan anak permaisuri. Kanjeng
Putri Sekar Arum anak dari selir kedua Kanjeng Gusti Galih. Kanjeng Pange-
ran...," Tiba-tiba kakek itu menyebut Pramudya dengan sebutan kehormatan.
Serta-merta dia me- langkah turun dari balai-balai dan menggamit pundak
Pramudya. Ia menyuruh pemuda itu bangkit dari duduknya.
Masih dengan wajah menyiratkan
ketidak- percayaan, Pramudya turun dari balai-balai. Tiba-tiba kakek yang
selama ini menjadi guru dan men- gasuhnya itu membungkuk memberi hormat. Ten-
tu saja Pramudya merasa tidak enak melihat peru- bahan sikap gurunya.
"Eyang, aku tidak mengerti.
Apa maksudnya ini?"
"Kanjeng Pangeran memang akan
sulit un- tuk menerima kenyataan ini...."
Pemuda yang ternyata seorang
pangeran itu menatap jauh ke depan melalui pintu gubuk yang terbuka lebar.
Hujan gerimis masih menyiram tempat itu. Sementara senja telah tiba.
Pramudya membisu mendengar riwayat
hi- dupnya. Ia memang dititipkan ayahandanya kepa- da orang tua yang kini
menjadi gurunya ini untuk menuntut ilmu. Tapi, sungguh baru kali ini Pra- mudya
mendengar bahwa dirinya putra mahkota, pewaris utama tahta Kerajaan Bumi
Segara.
"Sudah saatnya Kanjeng
Pangeran kembali ke istana."
"Eyang, mengapa kau
memanggilku dengan sebutan seperti itu...?" Pramudya menatap wajah gurunya
dengan mata berkaca-kaca. Ada perasaan sedih, haru, dan gembira dalam relung
hatinya. "Aku tetap muridmu. Dan, kaulah satu-satunya orang yang telah
membentuk jiwaku. Terlalu ber- lebihan kalau kau bersikap seperti itu padaku,
Eyang." "Ini adalah adat yang berlaku bagi seorang hamba sepertiku
terhadap junjungannya. Engkau tetap putra mahkota kerajaan yang harus dihor-
mati dan dijunjung tinggi."
"Sudahlah, Eyang...!"
sambut Pramudya. Ia berusaha tersenyum meski tampak hambar dan kering.
"Besok pagi-pagi sekali aku akan berang- kat. Aku ingin Eyang ikut ke
istana menyertaiku. Kuharap Eyang tidak keberatan..."
Kakek itu hanya mengangguk-angguk
setu- ju tanpa berkata sepatah pun.
3
Empat lelaki bertubuh gagah
menggebah kuda tunggangannya. Kelihatannya mereka ingin segera sampai di tempat
tujuan. Mereka tak ingin dikalahkan oleh matahari yang hampir tenggelam di ufuk
barat. Padahal, jalanan yang mereka lewati sangat terjal dan berbatu-batu.
Pakaian dan ram- but mereka yang dibiarkan tergerai sampai ke pundak basah oleh
air hujan. Tanah merah yang licin dan becek tak dihiraukan sama sekali. Kuda-
kuda itu pun seakan mengerti dengan keinginan tuannya. Mereka terus berlari
menembus gerimis yang sejak tadi menyiram sekitar Pegunungan Me- noreh sebelah
selatan.
Keempat sosok lelaki berpakaian
serba hi- tam itu jelas menuju kaki Gunung Srandil. Salah satu gunung yang
berada di dalam rangkaian Pe- gunungan Menoreh. Sudah dapat dipastikan mereka
menuju kediaman Ki Ranujelaga, seorang to- koh tua di kalangan persilatan yang
telah dua puluh tahun mengundurkan diri dari dunia ramai. Apa tujuan keempat
penunggang kuda ini mengunjungi tokoh putih yang masa mudanya sangat dikenal
bijaksana dan berwibawa itu?
Di kalangan orang-orang persilatan,
Ki Ra- nujelaga yang pernah menjadi penasihat raja di Is- tana Kerajaan Bumi
Segara dikenal sebagai seo- rang resi yang bijaksana. Selain memiliki ilmu ke-
digdayaan tinggi, ia juga menguasai berbagai ilmu pengetahuan tentang
kemasyarakatan dan kenega- raan. Tidak aneh kalau Raja Galih Kertarejasa
mengangkatnya sebagai penasihat raja.
Namun, tak seorang pun mengetahui
men- gapa tokoh tua yang pernah dianggap penting di kalangan persilatan itu
selama dua puluh tahun terakhir ini tak pernah muncul. Beberapa tokoh dan
pendekar seangkatannya menyayangkan ke- munduran Resi Ranujelaga dari dunia
ramai. Se- mentara mereka tak tahu di mana kediamannya. Hanya beberapa teman
dekat resi itu yang menge- tahui dan menyimpan rahasia tempat tinggal Ki
Ranujelaga.
Hujan gerimis masih mewarnai senja
di Pe- gunungan Menoreh. Keempat penunggang kuda kini telah sampai di tepi
sebuah tebing. Mereka menghentikan lari kuda dan menambatkannya di pohon.
Keempat lelaki berwajah bengis dan me- nyeramkan itu memandang jauh ke lembah
di de- pan mereka.
"Hm. Tampaknya kita harus
melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki," ujar lelaki yang memiliki
kumis tebal. Sebagian rambut di kepa- lanya telah memutih. Sebuah gelang akar
bahar besar berwarna hitam melingkar di pergelangan tangannya yang ditumbuhi
bulu lebat.
"Aku tak melihat rumah atau
gubuk di ba- wah sana, Turangga Geni...," ujar kawannya, lelaki yang
dadanya penuh ditumbuhi bulu-bulu hitam. Dia terus mengedarkan pandangan
mencari-cari.
Lelaki berkumis tebal yang
mengenakan ge- lang akar bahar tidak memberi tanggapan. Mata lelaki yang
dipanggil Turangga Geni ini tetap men- gawasi sekitar lembah. Ia ingin
meyakinkan ha- tinya kalau di lembah itulah tempat tinggal orang yang
dicarinya.
"Hmm.... Jangan banyak mulut!
Percuma jauh-jauh kita datang kemari kalau tidak menda- patkan yang kita cari.
Ayo...!" Turangga Geni memberi isyarat kepada ketiga kawannya agar se-
gera menuruni tebing terjal itu.
Tanpa menjawab, ketiga kawannya
segera melangkah mengikuti Turangga Geni. Keempatnya menuruni jalan setapak
berbatu-batu. Di kanan kiri jalanan sempit itu bersembulan batu-batu se- besar
kerbau yang menempel pada dinding tebing. Rerumputan serta pepohonan merambat
menjalar hampir menutupi jalan. Namun mereka tak peduli. Sementara suasana
telah mulai gelap. Selain sinar matahari terhalang mendung, kabut tebal pun mu-
lai menuruni kaki Gunung Srandil.
Keempat lelaki berpakaian serba
hitam te- rus melangkah di dalam keremangan dan hawa dingin yang menggigit
kulit. Tiba-tiba mereka me- lihat setitik cahaya di kejauhan.
"Ha ha ha.... Aku yakin itu
api dari rumah si tua bangka itu!" seru Turangga Geni memandangi titik
cahaya yang berasal dari tebing di seberang lembah. "Hei, Gendon, kenapa
tak kau gunakan matamu yang awas itu? Ayo, kerahkan kemam- puan mu melihat
jarak jauh!"
Lelaki yang dipanggil Gendon
terkekeh dan mengangguk-anggukkan kepala. "He he he.... Ak- hirnya kita
berhasil juga menemukan persembu- nyian Ki Ranujelaga. Ayo, kita satroni tua
bangka itu!"
Keempat lelaki berwajah bengis
segera me- lompat dari batu cadas tempat mereka berdiri. Dengan langkah-langkah
penuh keyakinan mereka menyusuri jalan setapak dalam keremangan senja. Tanpa
sepengetahuan keempat lelaki berwa- jah bengis, sesosok bayangan berkelebat dua
pu- luh tombak di belakang mereka. Dari gerakannya yang tidak diketahui keempat
lelaki di depannya, agaknya sosok itu memiliki ilmu tinggi, setidaknya dalam
ilmu meringankan tubuh.
Dengan sekali hentak saja tubuhnya
mele- sat dan mendarat di batu cadas tempat keempat lelaki berpakaian serba
hitam tadi mengawasi ru- mah Ki Ranujelaga.
Sosok itu ternyata seorang pemuda
bertu- buh tegap dan gagah. Rambutnya yang gondrong dan ikal terikat tali dari
kulit ular. Sama dengan baju rompi yang membungkus tubuhnya. Pemuda itu
cengar-cengir sendirian mengawasi keempat le- laki berpakaian serba hitam yang
kini melintasi lembah. Sesekali ia menggaruk-garuk rambutnya yang basah oleh
air hujan. Pemuda itu lalu duduk menyelonjorkan kaki di atas batu cadas selebar
dua tombak.
"Hi hi hi.... Lucu para
begundal itu. Jangan harap kalian akan berhasil membuat ulah terha- dap Ki
Jelaga...," gumam pemuda itu sambil terta- wa sendirian. Tangannya
mencari-cari sesuatu da- ri balik ikat pinggangnya. Ternyata dia mengambil
sehelai bulu ayam. Lalu, digunakannya untuk mengilik-ilik telinganya. Sebentar
kemudian mu- lutnya kembali cengar-cengir dengan mata terpe- jam sebelah.
"Hiii.... Lumayan untuk mengusir dingin...." Dia menggoyang-goyangkan
kepala merasa nikmat ketika bulu ayam berputar di telinganya.
Sementara itu, keempat lelaki
berwajah bengis telah sampai di kaki bukit Mereka berhenti sekitar sepuluh
tombak di depan sebuah gubuk bambu. Ternyata benar. Cahaya yang terlihat dari
seberang lembah berasal dari dalam gubuk.
"Hai.... Ranujelaga pengecut,
keluar atau kuhanguskan bersama gubukmu...!"
Suara keras terdengar memecah
kehenin- gan senja di kaki Gunung Srandil. Pemilik suara itu tak lain Turangga
Geni. Sementara ketiga ka- wannya dengan penuh waspada mengawasi pintu gubuk
milik Ki Ranujelaga.
"Siapa gerangan berada di
luar...?" terden- gar sahutan dari dalam gubuk. Suara itu tidak ter- lalu
keras tapi terdengar jelas, seolah begitu dekat dengan telinga keempat lelaki
bengis.
"Ha ha ha...! Atas nama Naga
Merah Dari Merapi, kami Empat Iblis Merbabu menuntut ke- matian kau dan murid
tunggalmu, Ranujelaga...!"
Sambil berteriak begitu, lelaki
berperut gen- dut yang bernama Gendon langsung melompat. Sekali hentak saja
tubuhnya telah melesat melon- tarkan pukulan jarak jauh. Seketika serangkum
angin melesat dari kedua tangannya dan meng- hantam pintu gubuk. Wusss! Brakk!
Bersamaan dengan terdengarnya ledakan keras yang. menghancurkan gubuk bambu,
mele- sat ke udara sesosok bayangan putih. Sosok kakek berjubah putih melayang
cepat dan mendarat den- gan ringan beberapa tombak di samping kanan gubuk.
Sekejap saja ia terlambat menghindar, tu- buhnya akan remuk bersama gubuknya
yang kini hancur berkeping-keping. Pukulan Gendon men- gandung hawa panas dan
menyambar laksana pe- tir.
"He he he.... Rupanya kau
masih punya ke- bolehan, Ranu! Tak kusangka dua puluh tahun lamanya kau
mengasingkan diri, ternyata kemam- puanmu kian bertambah. Tapi, jangan harap
da- pat lolos dari tangan Empat Iblis Merbabu, Tua Bangka!" Gendon
terkekeh menatap wajah Ki Ra- nujelaga dengan mata menyipit.
Agaknya, dia ingin mengukur
kemampuan calon lawannya yang mantan penasihat kerajaan itu.
"Kalau kau sayang nyawamu
serahkan Pramudya Wisnutama ke tangan kami...!" Kali ini yang berbicara
Turangga Geni. Tangan kanannya telah menggenggam sebuah senjata berbentuk sapu
yang terbentuk dari bulu kuda coklat. Senjata inilah andalan tokoh berusia enam
puluhan yang julukannya memiliki arti kuda api itu.
Rupanya, keempat utusan Ki
Reksogeni ti- dak tahu kalau Pangeran Pramudya sudah tidak ada di tempat
kediaman Ki Ranujelaga. Hanya be- berapa saat sebelum kedatangan Turangga Geni
dan ketiga kawannya, empat orang prajurit kera- jaan telah menjemput Pramudya.
Mereka menga- barkan kalau istana mengharapkan segera keda- tangan pangeran
untuk menggantikan kedudukan ayahandanya.
"Iblis-iblis Merbabu, di pihak
mana sebe- narnya kalian bekerja...?" tanya Ki Ranujelaga din- gin.
Matanya yang tajam dan beralis putih mena- tap wajah Turangga Geni. Tiba-tiba
saja tersirat di hatinya perasaan penuh curiga. Ternyata ada ba- nyak pihak
yang kini saling memperebutkan pan- geran, pikirnya.
Rasa was-was dan khawatir pun
menyeruak di hati Ki Ranujelaga. Jangan-jangan empat orang prajurit yang belum
lama berangkat membawa Pangeran Pramudya Wisnutama juga bermaksud tidak baik.
Ia menyesal mengapa tidak turut me- nyertai muridnya berangkat ke istana.
Mengapa begitu percaya kepada keempat prajurit yang men- jemput Pramudya....
"Pertanyaanmu sulit untuk
dijawab, Jelaga." "Aku tahu kalian masih punya hutang kepada Ki
Reksogeni atas kegagalan menculik Pange- ran Pramudya Wisnutama dua puluh tahun
silam. Sampai kini kalian masih terus memburunya setelah berhasil membunuh
Kanjeng Gusti Galih Ker- tarejasa. Jangan harap kalian akan berhasil sela- ma
aku masih bernapas, Begundal Keparat Bu- suk!"
Mata Ki Ranujelaga menyipit.
Wajahnya yang putih bersih dan memancarkan kewibawaan tampak berubah. Ada bara
api tersimpan di ma- tanya.
"Bedebah. Heaaattt...!"
Turangga Geni melompat seraya menge- butkan sapu ekor kudanya. Seketika angin
ken- cang yang diikuti lesatan beberapa larik api me- luncur deras. Api itu
memburu ke arah Ki Ranuje- laga yang dengan gerakan tak kalah cepatnya telah
lebih dulu melompat menghindar.
Api menghantam bongkahan batu cadas
beberapa tombak di belakang Ki Ranujelaga. Suara ledakan keras menggelegar
memecah kesunyian lembah. Beberapa saat gema suara ledakan terus berkumandang.
Sementara batu cadas itu hancur berkeping-keping.
Kegagalan itu menambah murka
Turangga Geni. Namun ketika tangannya hendak menge- butkan lagi senjata
andalannya, Ki Ranujelaga te- lah bergerak cepat melontarkan serangan jarak
jauh dalam kedudukan masih berada di udara. Pukulan itu tak terlihat oleh mata
lawan. Tapi, ti- ba-tiba Turangga Geni terpekik keras dengan tu- buh terdorong
beberapa langkah ke belakang.
Melihat keadaan itu, Gendon, Gagak
Ireng, dan Luwing Sewu menjadi marah. Ketiganya sege- ra merangsek menyerbu Ki
Ranujelaga. Dengan senjata andalan, mereka memburu kakek berjubah putih yang
terus menghindar sambil melancarkan serangan jarak jauh.
Pada jurus-jurus awal Ki Ranujelaga
masih mampu mempertahankan diri dari gempuran dah- syat lawan-lawannya. Namun,
usia ternyata cukup berpengaruh terhadap kegesitan dan kekuatan te- naganya.
Perlahan tapi pasti kakek itu terus terde- sak hebat. Sementara keempat
lawannya seperti tak ingin memberi kesempatan pada Ki Ranujelaga untuk
melancarkan serangan balasan.
Satu ketika sabetan sapu ekor kuda
Tu- rangga Geni tak mampu dihindarkannya. Kakek berjubah putih itu mengerang
kesakitan. Tangan kanannya panas bagai terbakar. Saat tubuhnya limbung, Gendon
dan Gagak Ireng menyerbu ber- samaan. Namun, dalam keadaan yang sangat gawat
itu tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan mema- suki kancah pertarungan.
Secepat kilat sosok ber- pakaian rompi kulit ular itu melontarkan tendan- gan
dengan kedua kakinya. Tendangan keras itu mendarat telak di dada dan kepala
kedua lawan Ki Ranujelaga.
Gendon dan Gagak Ireng terpekik
kaget. Tubuh mereka terhuyung-huyung beberapa lang- kah.
"Pendekar Gila...!" Ki
Ranujelaga pun terke- jut melihat kedatangan pemuda berpakaian rompi kulit
ular. Sebagai tokoh tua yang lama menga- singkan diri, dia belum pernah
berjumpa dengan pendekar muda ini. Namun, ia mengenali ciri-ciri yang terdapat
pada tubuh Pendekar Gila.
"Ha ha ha...! Tentu begundal-begundal
ini terkejut melihatmu, Eyang Jelaga," ujar pemuda berompi kulit ular yang
memang Pendekar Gila. Mulutnya cengengesan dan tangannya menggaruk- garuk
kepala.
"Hei, Bocah Edan! Jangan
coba-coba men- campuri urusan kami kalau kau tak ingin mati un- tuk kedua
kalinya!" dengus Turangga Geni.
"Hi hi hi...! Lucu sekali kau
ini. Mana ada orang mati hidup kembali dan mati lagi?" sahut Sena Manggala
cekikikan. Bibirnya dimonyongkan mengejek Turangga Geni yang tampak kian geram.
Mendengar ejekan Pendekar Gila,
Gendon yang punya watak tak sabaran segera melompat dan membabatkan senjatanya.
"Heit...! He he he.... Tidak
kena, Gendut Hih..,!" Sena yang telah waspada sejak tadi dengan mudah
mengelakkan serangan itu. Kemudian, me- lancarkan serangan balasan dengan
telapak tan- gan terbuka.
Plakkk! Gendon terpekik kaget
ketika pukulan tela- pak tangan Pendekar Gila yang kelihatan lamban dan tak
bertenaga mendarat di dadanya. Tubuh- nya langsung terpental ke belakang.
Turangga Geni pun kaget bukan main
meli- hat liukan tubuh Sena yang bagaikan orang mena- ri. Dengan gerakan
selamban itu tangan Pendekar Gila mampu mendarat di dada Gendon. Mata Tu-
rangga Geni kian terbelalak ketika dilihatnya Gendon memuntahkan darah segar.
Lelaki berperut gendut itu akhirnya tewas setelah meregang nyawa sesaat.
"Kurang ajar! Serang!" Turangga Geni mem- beri perintah kepada kedua
kawannya.
Melihat ketiga Iblis Merbabu dengan
ganas melancarkan serangan, Ki Ranujelaga tidak tinggal diam. Tubuhnya segera
melompat menghadang. Kakek itu bertarung melawan Gagak Ireng. Semen- tara
Pendekar Gila menghadapi Luwing Sewu dan Turangga Geni.
Dengan gerakan-gerakan konyol dan
aneh pemuda berpakaian rompi kulit ular itu terus mengejek kedua lawannya.
"Huekkk...! Ayo, keluarkan
buntut kudamu. He he he! Jangan sampai kucabut kumismu yang tebal itu...,"
ejek Sena sambil meliuk-liukkan tu- buhnya menghindari serangan lawan yang
sema- kin ganas dan membahayakan. Sesekali kedua te- lapak tangannya berkelebat
menepuk ke arah dada lawan. Gerakannya terlihat lamban dan seperti tanpa
tenaga. Namun....
Plakkk! Luwing Sewu terpekik keras.
Tubuhnya ter- dorong beberapa langkah ke belakang. Kedua tan- gan lelaki
beralis tebal itu mendekap dadanya yang dirasakan remuk setelah terpukul
telapak tangan Pendekar Gila.
"Hi hi hi... Ternyata jurus
'Menepuk Lalat'- ku masih berguna," Sena tertawa menyaksikan la- wanya
terjatuh dan muntah darah. Luwing Sewu pun menyusul kawannya, Gendon yang telah
tewas lebih dulu.
Namun, belum juga tawanya berhenti,
Tu- rangga Geni telah menyerangnya dari samping. Di- iringi teriakan keras
penuh kegeraman lelaki ber- wajah bengis ini membabatkan sapu ekor ku- danya.
Wrttt!
Pratts! Cepat Sena melesat seraya
mengibaskan Suling Naga Sakti yang diambil dari selipan di pinggangnya untuk
memapaki serangan lawan. Benturan kedua senjata itu menimbulkan suara keras
diselingi jeritan kaget Turangga Geni yang terdorong limbung. Pendekar Gila pun
sempat ter- getar ketika mendarat di batu cadas yang agak li- cin.
Gelap telah turun mengiringi
datangnya ma- lam. Hujan gerimis pun belum reda. Pertarungan itu terus berjalan
semakin seru. Ki Ranujelaga yang menghadapi Gagak Ireng, meskipun tadi tan-
gannya telah terluka, tetap mampu memberi per- lawanan. Kakek berjubah putih
itu menunjukkan kebolehannya. Beberapa kali lawannya sempoyon- gan menghindari
jurus-jurus Ki Ranujelaga.
Namun, satu ketika Gagak Ireng yang
ter- kenal licik mengambil sesuatu dari balik bajunya. Dengan cepat sekali
tangannya yang tergenggam dikibaskan.
Srrats! Meskipun tahu gelagat lawan
tak mengun- tungkan, Ki Ranujelaga tidak sempat mengelak. Senjata rahasia yang
berupa serbuk hitam pun menerpa wajahnya, kakek itu mengerang dengan mendekap
kedua matanya. Dalam keadaan seperti itu, Gagak Ireng dengan liciknya menerjang
Ki Ra- nujelaga. Kedua tangannya yang membentuk ca- kar merejam wajah lawan.
Darah segar mengucur dari wajah
kakek berjubah putih itu. Wajahnya tercabik Jurus 'Cakar Menyambar Nyawa' milik
Gagak Ireng. Ki Ranujelaga hanya mampu merintih menahan sa- kit. Tubuhnya
terguling di atas cadas berlumut.
Pendekar Gila terkejut mendengar
rintihan lirih itu. Ketika menoleh dilihatnya Ki Ranujelaga telah terkapar
berlumuran darah. Jubahnya basah oleh air hujan bercampur darah. Pemuda berpa-
kaian rompi kulit ular ini segera melenting ke uda- ra ketika Gagak Ireng yang
baru saja merobohkan Ki Ranujelaga tiba-tiba melompat. Dia membantu kawannya
menghadapi Pendekar Gila.
Tanpa membuang-buang waktu, Sena
sege- ra mengerahkan jurus andalan. Dalam keadaan masih berada di udara dia
menyatukan kedua tan- gannya di atas kepala. Dan, begitu mendarat ke- dua
tangannya dihentakkan sambil mengeluarkan teriakan keras. Seketika sebentuk
bola api melesat cepat memburu kedua lawannya.
Wusss! Pekikan keras menyayat hati
memecah ke- sunyian malam. Kedua lelaki berpakaian serba hi- tam terpental jauh
dengan tubuh terbakar. Keduanya langsung tewas setelah membentur dinding batu
cadas di belakang mereka.
Pendekar Gila berlari menghampiri
Ki Ranujelaga yang terkapar tak berdaya.
"Kek...." Sena berjongkok
dan mengangkat kepala Ki Ranujelaga. Mulutnya meringis tak tega melihat luka
parah di wajah kakek itu.
"Pendekar Gila, tolong
selamatkan Pangeran Wisnutama. Dialah pewaris tahta kerajaan. Dia harus sampai
ke istana. Saat ini dua musuh besar kerajaan tengah saling berebut
tahta...," ujar Ki Ranujelaga lirih.
"Siapa kedua musuh besar itu,
Kek?" tanya Sena ingin tahu.
Namun sayang, belum sempat
didengarnya jawaban itu, Ki Ranujelaga telah menghembuskan napas terakhir.
Gerimis telah reda. Bulan setengah
lingka- ran menggantung di langit yang kelabu. Setelah mengubur mayat Ki
Ranujelaga dan keempat Iblis Merbabu, Pendekar Gila melesat meninggalkan kaki
Gunung Srandil.
4
Embun pagi menguap di atas
persawahan hijau yang terbentang luas. Cahaya kemerahan membias di ufuk timur
meskipun sang surya be- lum menampakkan diri. Dari mulut sebuah desa tampak dua
orang penunggang kuda berlari ke arah barat. Mereka tak menghiraukan hawa
dingin yang masih menyelimuti bumi. Kedua lelaki berse- ragam prajurit kerajaan
itu menggebah kudanya menembus kabut.
Namun, baru tiga puluh tombak
meninggal- kan mulut desa tiba-tiba mereka menarik tali ke- kang kuda hingga
berhenti. Dengan perasaan ka- get dan tak percaya kedua prajurit itu melompat
turun dari punggung kuda.
"Pendekar Gila...!" gumam
salah satu dari kedua prajurit itu. Matanya dibuka lebar-lebar. Ia ingin
meyakinkan dirinya kalau sosok yang berdiri di depannya memang Pendekar Gila.
"Aha...! Kalian jangan
bingung," ujar pemu- da berpakaian rompi kulit ular yang berdiri meng-
hadang kuda kedua prajurit itu. "Kalian tentu tak percaya aku berada di
sini," lanjutnya sambil cen- gengesan.
"Aduh. Maafkan kami, Tuan
Pendekar!" Ke- dua prajurit itu membungkukkan badan. Lalu, me- langkah
mendekati Pendekar Gila.
"Aku maklum," sahut Sena,
ia mengetahui beberapa hari terakhir ini terdengar kabar santer kalau Pendekar
Gila telah tewas. "Hendak ke mana kalian pagi-pagi seperti ini?"
"Aduh, Tuan Pendekar.
Kekacauan telah terjadi dalam istana," ujar prajurit yang bertubuh tinggi.
"Setelah kejadian yang mencelakakan Tuan Pendekar dan meninggalnya Kanjeng
Gusti Galih Kertarejasa keadaan di istana semakin mengkha- watirkan."
"Hmm,... Aku telah mendengar
sedikit ten- tang itu dari percakapan orang di dalam kedai ke- marin siang.
Keserakahan rupanya telah melanda pihak-pihak yang ingin memanfaatkan keadaan
di istana. Lalu, bagaimana kabar terakhir tentang penguasa tahta
kerajaan...?" tanya Sena dengan wajah bersungguh-sungguh.
"Itulah sebabnya pagi ini kami
ditugaskan untuk menjemput Gusti Pangeran Pramudya Wis- nutama di Gunung
Srandil. Yang mengkhawatir- kan di Istana saat ini telah terbentuk dua kubu
yang saling bermusuhan. Pertama pihak Patih Ab- iyasa yang mendukung kehendak
permaisuri un- tuk mengangkat Raden Danuwirya sebagai peng- ganti Raja Galih
Kertarejasa. Sementara pihak yang mendukung Kanjeng Senapati Saka Bawana
menolak. Mereka bersikukuh untuk menunggu kedatangan Pangeran
Pramudya...."
"Hm...." Sena menggumam
tak jelas. Ke- ningnya berkerut merasa ada sesuatu yang ganjil. "Lalu,
bagaimana sekarang...?"
"Di dalam istana tengah
terjadi kekosongan kekuasaan. Inilah yang paling mengkhawatirkan. Siapa yang
berhak memerintah kerajaan? Semen- tara banyak pihak tidak percaya lagi kepada
Patih Abiyasa sebagai orang kedua di istana."
"Bukankah Putri Sekar Arum
juga berhak atas tahta kerajaan?" tanya Sena.
"Tidak. Selama masih ada
Pangeran Pra- mudya, Putri Sekar Arum tidak punya hak atas tahta raja. Selain
dia bukan putri mahkota, adat yang berlaku di kalangan istana mengutamakan
seorang putra untuk duduk di singgasana. Memang kalau dilihat dari usia Putri
Sekar Arum le- bih tua dari Pangeran Pramudya. Tapi, dia bukan anak dari
permaisuri. Kalangan kerajaan tahu Permaisuri Ayu Mustika dulunya seorang selir.
Sedangkan permaisuri yang pertama adalah ibunda Pangeran Pramudya yang
meninggal ketika terjadi pemberontakan dua puluh tahun silam."
Sena Manggala manggut-manggut
menden- gar cerita prajurit itu. Baru diketahuinya kini ka- lau Putri Sekar
Arum ternyata anak selir. Jelaslah baginya persoalan yang kini tengah melanda
Ista- na Kerajaan Bumi Segara.
"Ketika itu Pangeran Pramudya
Wisnutama baru berusia lima bulan. Ketika ibundanya me- ninggal akibat
keganasan pemberontakan, Raja Galih Kertarejasa secara diam-diam mengirimkan
putranya untuk dididik oleh Ki Ranujelaga. Hal itu dilakukan tanpa
sepengetahuan orang-orang da- lam istana. Rupanya, ada suatu rahasia pribadi
antara Kanjeng Gusti Galih Kertarejasa dan per- maisurinya yang baru. Kami
sendiri tidak tahu se- cara pasti. Keterangan ini baru kami dapat sema- lam
dalam pertemuan rahasia di kediaman Ki Na- rotama, bekas senapati yang telah
mengundurkan diri. Pertemuan yang diikuti para pendukung yang menuntut
kembalinya Pangeran Pramudya itu memutuskan untuk segera menjemput putra
mahkota. Tiga hari yang lalu kami telah mengirim dua orang prajurit ke Gunung
Srandil. Tapi sam- pai saat ini mereka belum kembali. Kami tidak ta- hu mereka
sampai atau tidak."
Cerita prajurit berusia lima
puluhan itu se- makin memperjelas persoalan bagi Pendekar Gila. "Kedua
prajurit itu sampai di tempat kediaman Ki Ranujelaga," sambung Sena.
"Lho, dari mana Tuan Pendekar
tahu?"
"Ki Ranujelaga menyampaikan
pesan pada- ku agar melindungi Pangeran Pramudya. Kuduga Pangeran Pramudya
telah berangkat bersama pra- jurit-prajurit utusan itu. Sayang aku
terlambat..."
"Apa maksud Tuan
Pendekar?" sela prajurit itu kaget
"Ki Ranujelaga telah tewas
karena Empat Iblis Merbabu menginginkan Pangeran Pramudya."
"Hh.... Ternyata benar dugaan
kami dalam pertemuan semalam. Kejadian ini masih berhu- bungan dengan peristiwa
pemberontakan dua pu- luh tahun silam," gumam prajurit yang bertubuh lebih
pendek.
"Maksudnya, Naga Merah Dari
Merapi...," duga Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
Belum selesai Pendekar Gila
mengucapkan kata-kata itu, kepalanya ditelengkan ke kanan se- perti ingin
memperjelas pendengarannya.
"Ada suara kaki kuda,
Sobat," gumam Sena. Kedua prajurit itu saling bertatapan. Mereka belum
mendengar suara yang dikatakan Pendekar Gila. Tentu saja kemampuan mendengar
mereka tak dapat disamakan dengan murid Singo Edan itu.
Tak berapa lama kemudian barulah
mereka mengangguk-anggukkan kepala membenarkan ucapan Sena. Ternyata benar.
Dari arah barat tampak dua orang penunggang kuda menuju tem- pat mereka.
"Heh, Ganjar Seta dan
Gamadi...!" ujar ke- dua prajurit itu hampir bersamaan.
"Bagaimana tugas
kalian...?" tanya prajurit bertubuh tinggi ketika kedua penunggang kuda
itu sampai di depan mereka. "Mana Raden Pra- mudya?" Kedua penunggang
kuda itu melompat tu- run lalu memberi hormat kepada prajurit bertubuh tinggi
yang berjalan menghampiri mereka. Ru- panya, prajurit ini mempunyai pangkat
lebih tinggi di istana.
"Kami telah sampai dengan
selamat dan bertemu dengan Ki Ranujelaga. Tapi, saat itu Pan- geran Pramudya
sedang tidak ada di tempat. Mungkin sekarang mereka sedang dalam perjala- nan
ke istana. Ki Ranujelaga bersedia menyertai Raden Pramudya ke istana...,"
jawab prajurit yang bernama Ganjar Seta. Mereka adalah utusan yang bertugas
menjemput Pangeran Pramudya Wisnu- tama.
Pendekar Gila mengernyitkan kening.
Se- mentara kedua prajurit yang tadi ditemuinya tam- pak saling berpandangan.
Ada rasa penasaran dan pertanyaan besar di benak mereka.
"Ada yang tidak beres,"
ucap salah satu dari mereka. Sempat terlihat oleh Pendekar Gila wajah kedua
prajurit itu memerah. Keduanya tentu saja bingung. Pertama mendengar kalau, Ki
Ranujelaga telah tewas dan Pangeran Pramudya telah berang- kat ke istana.
Sementara kabar dari dua orang utusan itu mengatakan Ki Ranujelaga akan me-
nyertai pangeran ke istana. Tentu gurunya itu tak akan tega membiarkan Pangeran
Pramudya be- rangkat sendirian. Lalu, siapa yang telah menjemputnya jika dugaan
Pendekar Gila benar bahwa Pangeran Pramudya dijemput prajurit kerajaan?
"Hmm.... Kalau begitu kita
harus segera me- laporkan hal ini kepada Senapati Saka Bawana," ujar
prajurit bertubuh tinggi. Lalu, menoleh kepa- da Pendekar Gila. "Kami
harap Tuan Pendekar su- di singgah di kediaman Ki Narotama. Di desa itu tempat
tinggalnya." Prajurit itu menunjuk desa di sebelah timur mereka.
Tanpa membantah Pendekar Gila
mengikuti ajakan prajurit itu.
* * *
Istana Kerajaan Bumi Segara yang
berdiri megah tampak seperti biasa. Seolah tak pernah terjadi kekacauan yang
kini tengah mengancam kelangsungan hidup kerajaan ini.
Di depan pintu gerbang istana empat
orang prajurit bertugas menjaga. Sementara di luar kehi- dupan kotaraja pun
tetap sibuk. Pasar kota dan kedai-kedai tetap buka menjalankan kegiatannya.
Ternyata kekosongan kekuasaan itu
hanya anggapan pihak-pihak yang mendukung kemba- linya Pangeran Pramudya ke
istana untuk meme- gang tampuk kekuasaan. Nyatanya, meskipun ti- dak resmi,
Raden Danuwirya kini telah menduduki singgasana. Bagi kalangan istana dialah
raja baru penguasa Kerajaan Bumi Segara? Permaisuri Ayu Mustika, ibundanya
Putri Sekar Arum, karena di- anggap banyak mengetahui tentang peraturan ke-
rajaan diangkat sebagai penasihat. Sedangkan Patih Abiyasa yang berusia lima
puluhan itu tetap menjabat sebagai patih.
Namun begitu, pemerintahan tetap
belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Masalah penarikan upeti dan
penanganan pasukan kera- jaan belum dapat dijalankan. Banyak prajurit yang
membelot mengikuti gerakan Senapati Saka Ba- wana. Beberapa menteri
mengundurkan diri dari tugasnya. Bahkan, mereka memberi dukungan pada Senapati
Saka Bawana dan kawan- kawannya.
Itulah sebabnya warga di luar
istana tetap mengira kerajaan dalam keadaan kosong kekua- saan. Rakyat tetap
menaruh harapan terhadap Pangeran Pramudya sebagai pewaris tahta kera- jaan.
Meskipun mereka menyadari sebagai rakyat biasa tidak memiliki hak untuk
menentukan ja- lannya pemerintahan. Namun, rasa cinta dan pen- gabdian terhadap
Raja Galih Kertarejasa menye- babkan timbulnya rasa memiliki dan kebersamaan
untuk membina kedamaian negara.
5
"Berhenti...!" Teriakan
keras itu terdengar ketika seorang prajurit yang tengah menggebah kuda tunggan-
gannya melintasi tapal batas kota. Seketika praju- rit itu menarik tali kekang
kudanya dan berhenti.
"Kakang Ganjar Seta,"
desis prajurit itu me- natap lelaki gagah yang tengah berlari menghampirinya.
"Ada yang ingin kutanyakan padamu. Ba- gaimana keadaan di istana saat
ini?" tanya Pan- glima Ganjar Seta setelah berdiri dekat prajurit itu.
"Maafkan saya, Kakang Ganjar Seta. Saya harus segera sampai di Desa Tingal
sore ini juga."
"Hm. Ada apa rupanya kau
terburu-buru sekali, Gati?"
"Ada sesuatu yang harus
kusampaikan ke- pada Lurah Brajanala. Sebuah surat dari Patih Ab- iyasa." "Bolehkan
aku tahu isi surat itu?"
"Wah, maafkan. Sekali lagi
maaf, Kakang Ganjar Seta."
"Gati, kalau kau tetap berada
di pihak Patih Abiyasa keparat itu, berarti kau sedang berhada- pan dengan
musuh!" ujar Panglima Ganjar Seta dengan nada dingin. Matanya menatap
tajam wa- jah prajurit bawahannya yang bernama Gati. "In- gat Gati,
kebenaran selalu berada di atas kejaha- tan. Kita punya calon pengganti raja
yang lebih berhak atas tahta di istana!"
Tergetar juga hati prajurit itu
mendengar ancaman Panglima Ganjar Seta.
"Pangeran Danuwirya telah
dinobatkan se- bagai raja, Kakang Ganjar. Ini memang belum diumumkan keluar
dari istana. Kabar yang tersebar di istana, Pangeran Pramudya telah diculik
oleh anak buah Naga Merah Dari Merapi...."
"Bohong! Jangan kau mudah
terhasut ka- bar bohong itu, Gati!" dengus Panglima Ganjar Seta penuh
kegeraman.
"Kalau aku tak bertemu
denganmu tentu aku masih percaya kabar itu, Kakang. Sebenarnya kami, para
prajurit yang masih bertahan di istana, telah merasakan adanya ketidakberesan
ini."
Gati merogoh saku pakaiannya dan
menge- luarkan sebuah gulungan dari kulit binatang. La- lu, diberikannya kepada
Panglima Ganjar Seta. Namun....
Singng! Singng!
"Awas...!" Panglima Ganjar Seta berteriak sambil me- lontarkan
tubuhnya ke samping kanan dan bergu- lingan di tanah.
Jrebs! Pekikan keras menyayat pun
terdengar dari mulut Gati. Tubuh prajurit muda itu jatuh terje- rembab
berlumuran darah. Rupanya, dia tak sem- pat mengelak ketika serangan gelap
meluncur da- tang. Mungkin karena hatinya masih diluputi rasa takut bertemu
dengan Panglima Ganjar Seta yang merupakan atasannya. Prajurit itu tewas
seketika dengan pisau kecil tertancap di dadanya.
Belum sempat Panglima Ganjar Seta
berdiri tegap, tiba-tiba dari balik pepohonan berlompatan tiga orang berpakaian
merah yang langsung me- nyerangnya
Satu babatan pedang hampir saja
menghan- tam pundaknya kalau Panglima Ganjar Seta tidak segera melompat ke
belakang. Namun, serangan susulan lawan telah memburu dengan cepat. Keli-
hatannya mereka tak ingin memberi kesempatan kepada Panglima Ganjar Seta untuk
menghindari maut.
Crasss! "Akh!" Panglima
Ganjar Seta terpekik kesakitan. Pedang lawan berhasil membabat paha kanannya.
Tubuhnya limbung beberapa langkah dengan paha mengucurkan darah. Dalam
kedudukan yang ter- desak, Panglima Ganjar Seta terus berusaha me- nyelamatkan
selembar nyawanya. Ia menyadari ke- tiga lelaki yang belum dikenalnya ini jelas
memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya. Terlebih me- reka menyerang
secara bersamaan. Satu-satunya jalan terbaik baginya adalah mencari kesempatan
untuk kabur jika tak ingin nyawanya melayang percuma.
Sementara itu tanpa diketahui
Ganjar Seta dan ketiga lawannya seorang penduduk desa me- nyaksikan pertarungan
itu. Diam-diam lelaki tua itu berlari ingin melaporkan kepada prajurit di ko-
taraja. Setelah berlari cukup jauh, lelaki tua itu akhirnya sampai di sebuah
kedai makan tak jauh dari tapal batas kota. Dia langsung menyelonong masuk. Di
dalam kedai ada dua orang prajurit ke- rajaan yang tengah terlibat pembicaraan
dengan seorang gadis cantik berpakaian putih. Tanpa basa basi orang tua itu
bergegas menghampiri mereka.
"Ampun, Tuan! Saya melihat
Panglima Gan- jar Seta telah bertarung dengan tiga orang berpa- kaian serba
merah...."
Mendengar laporan orang tua itu
kedua pra- jurit kerajaan terkesiap. Mereka bangkit dari tempat duduknya. Gadis
cantik yang di pundaknya tersampir sebilah pedang itu ikut berdiri.
"Di mana kau melihatnya,
Ki?" tanya praju- rit itu tak sabar. Sementara temannya telah me- langkah
keluar kedai diikuti gadis berambut pan- jang itu. "Tak jauh dari luar
tapal batas, Tuan," ja- wab lelaki tua dengan napas terengah-engah.
Mendengar jawaban lelaki tua,
prajurit itu langsung berlari menyusul kawannya yang telah melompat ke punggung
kuda. Kedua prajurit sege- ra menggebah kuda mereka menuju tapal batas kota.
Sedangkan gadis cantik bersenjata pedang masih berdiri di depan pintu kedai.
Namun kemudian gadis cantik itu
melesat dengan kecepatan mengagumkan. Beberapa pen- gunjung kedai yang melihat
tersentak kaget. Da- lam sekejap tubuh gadis berpakaian putih telah berada jauh
meninggalkan kedai.
* * *
Sampai di tempat pertempuran gadis
itu ti- dak menemukan Panglima Ganjar Seta maupun ketiga lawannya. Setelah
memeriksa sebentar tem- pat itu, dia segera melesat kembali ke arah barat.
Belum berapa jauh meninggalkan tempat
bekas pertarungan gadis itu menghentikan larinya. Telinganya mendengar suara
pertarungan di sebe- lah selatan. Tanpa membuang waktu lagi tubuh- nya melesat
ke sana. Ternyata benar. Panglima Ganjar Seta yang sudah kepayahan terdesak
hebat menghadapi gempuran ketiga lawannya.
"Hei, Cecunguk-cecunguk Lembah
Merapi!" Teriakan keras dan melengking nyaring itu mengejutkan ketiga
lelaki berpakaian serba merah yang hampir membabatkan pedang ke tubuh Pan-
glima Ganjar Seta.
"Bedebah! Perempuan sundal
mana berani- beraninya mencampuri urusan kami?" dengus sa- lah seorang
lelaki berpakaian merah. Ketiganya menatap tajam wajah gadis itu. "Hadapi
dia, biar aku habisi pengkhianat ini!" lanjutnya memberi isyarat kepada
kedua kawannya.
Melihat kedua lelaki berpakaian
serba me- rah menerjangnya, gadis berpakaian putih itu me- lolos pedang. Dengan
gerakan cepat yang sulit di- ikuti mata biasa, dibabatnya pedang itu hingga
menimbulkan deman angin keras.
Jrrab! Crass! Pekikan keras
terdengar hampir bersamaan. Tubuh kedua lelaki berpakaian serba merah ter-
banting keras. Darah berlumuran di tubuh mere- ka. Keduanya mengerang kesakitan
dengan tubuh berkelojotan. Kemudian, dia tak bergerak-gerak la- gi.
Melihat kedua kawannya tewas,
lelaki yang menghadapi Panglima Ganjar Seta semakin mur- ka. Dengan kemarahan
yang meluap dia menye- rang Panglima Ganjar Seta yang keadaan tubuh- nya
semakin lemah, karena telah terlalu banyak mengeluarkan darah. Namun ketika
lelaki berpa- kaian merah hendak membabatkan pedang ke tubuh Panglima Ganjar
Seta, tiba-tiba....
Trangng! Benturan keras terjadi.
Tubuh lelaki berpa- kaian merah terdorong ke belakang lalu jatuh ter- duduk.
Sekujur tubuhnya dirasakan gemetaran. Bahkan, tak mampu bangkit berdiri.
Benturan senjatanya dengan pedang milik gadis cantik ter- nyata sangat keras.
Tampaknya gadis itu tak tang- gung-tanggung mengerahkan kemampuan tenaga
dalamnya.
"Bangun! Ayo, bangun...!"
bentak gadis itu dengan wajah memerah menahan geram. Kejeng- kelannya tak mampu
dibendung lagi. "Cecunguk sepertimu harus dimusnahkan dari muka bumi
ini!"
Ketika melihat lelaki berpakaian
merah menggertakkan gigi, gadis itu semakin marah. Di- angkatnya tinggi-tinggi
pedang di tangan kanan- nya, siap menghabisi nyawa lawan.
"Mei Lie...!" Gadis itu
tersentak kaget mendengar seseo- rang meneriakkan namanya. Kepalanya menoleh ke
belakang.
"Kakang Sena...!"
"Tahan amarahmu, Mei Lie. Dia tak sang- gup lagi melawanmu," ujar
pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar
Gila.
Pendekar Gila mendekati Mei Lie.
Dipeluk- nya gadis itu. Seakan dengan berbuat begitu dapat meredakan kemarahan
yang berkecamuk di dada kekasihnya.
"Tangkap dia, Senapati!"
pinta Mei Lie kepa- da Senapati Saka Bawana yang datang bersama Pendekar Gila.
Senapati Saka Bawana memandang dua
orang prajurit yang tadi bertemu Mei Lie di kedai makan. Lelaki tua bertubuh
tegap itu hendak memberi perintah, tapi ia ragu. Senapati Saka Ba- wana merasa
tidak enak karena kedua prajurit itu tidak bergabung dalam kelompoknya.
Namun, kedua prajurit itu segera
melang- kah dan menangkap lelaki berpakaian merah.
"Kami bergabung denganmu,
Senapati," ujar salah seorang prajurit itu setelah menarik tubuh lelaki
berpakaian merah.
"Kuharap yang lain pun
begitu...," jawab Senapati Saka Bawana. Kemudian, melangkah menghampiri
Panglima Ganjar Seta yang terduduk lemas dengan tubuh berlumur darah.
"Bukalah ini, Kakang
Saka!" ujar Panglima Ganjar Seta memberi gulungan kulit di tangan ka-
nannya. "Dari seorang prajurit yang ditugaskan untuk mengantarkan kepada
Kepala Desa Tingal."
Senapati Saka Bawana segera membuka
tali pengikat surat. Pendekar Gila dan Mei Lie melang- kah mendekati. Dengan
suara perlahan Senapati Saka Bawana membacanya.
Ayahanda, Lurah Brajanala,
Sampaikan kepada Gardawaka dan kawan- kawannya agar memberi tahu Ki Reksogeni.
Istana telah mengangkat Pangeran Danuwirya sebagai ra- ja. Maka, kami minta
bantuan kiriman pasukan untuk menjaga kemungkinan yang timbul dari para
pengkhianat.
Patih Abiyasa Semua yang berada di
tempat itu terdiam mendengar surat yang dibacakan Senapati Saka Bawana.
Senapati itu menggertakkan gigi mena- han amarah. Matanya menatap langit merah
tem- baga di sebelah barat.
"Ada hubungan apa lurah itu
dengan Patih Abiyasa, Kanjeng Senapati?" tanya Sena kepada Senapati Saka
Bawana.
"Kau dengar tadi dia menyebut
ayah kepada Ki Lurah Brajanala. Dia mantu kepala desa itu. Sebelum Permaisuri
Ayu Mustika dijadikan selir Kanjeng Gusti Galih, wanita itu telah diperistri
oleh Patih Abiyasa. Orang-orang di lingkungan is- tana mengetahui hal itu. Dugaanku,
ini merupa- kan siasat licik Patih Abiyasa dan Ki Lurah Braja- nala. Perlu kau
ketahui, Tuan Pendekar, Ki Lurah Brajanala sedikit banyak memiliki andil ketika
ter- jadi pemberontakan dua puluh tahun silam...." Senapati Saka Bawana
menghentikan ucapannya ketika Panglima Ganjar Seta menyela.
"Bahkan aku mempunyai dugaan
kuat Putri Sekar Arum adalah anak Patih Abiyasa...."
Orang-orang terdiam mendengar
ucapan Panglima Ganjar Seta.
"Mungkin benar dugaan Senapati
Saka Ba- wana. Beberapa hari yang lalu, sebelum aku men- guntit ketiga anak
buah Ki Reksogeni ini, aku mendapat keterangan dari seorang dayang di istana,"
ujar Mei Lie memberi keterangan. "Hubungan antara Patih Abiyasa dengan
Permaisuri Ayu Mus- tika tetap seperti suami istri. Apalagi, setelah mangkatnya
Kanjeng Gusti Galih."
"Jadi, siapa Gardawaka yang
disebutkan dalam surat itu, Mei Lie?" tanya Pendekar Gila.
"Kalau aku tak salah dialah
yang bernama Gardawaka!" tuding Mei Lie kepada lelaki berpa- kaian merah
yang terkulai di tanah. Rupanya, le- laki itu telah ditotok jalan darahnya oleh
Senapati Saka Bawana karena khawatir akan melarikan di- ri.
Lelaki yang terpekur. Pendekar Gila
me- langkah mendekati Senapati Saka Bawana dan membisikkan sesuatu. Senapati
Saka Bawana mengangguk-anggukkan kepala.
"Hei, bangun!" bentak
Senapati Saka Bawa- na setelah menotok tubuh lelaki berpakaian me- rah.
"Benarkah kau bernama Gardawaka?"
Lelaki berpakaian merah menggeliat
ban- gun. Ia mengangguk mengakui.
"Ampunkan saya, Kanjeng
Senapati." "Hm. Sekarang bawa surat ini. Sampaikan kepada Ki
Reksogeni. Pakailah kuda itu dan cepat berangkat!" perintah Senapati Saka
Bawana penuh wibawa. Lelaki berpakaian merah yang ternyata ber- nama Gardawaka
melangkah gontai mendekati kuda salah seorang prajurit. Kuda itu segera berla-
ri meninggalkan mereka dengan membawa Garda- waka.
6
Dua sosok bayangan berkelebat
melintasi mulut Desa Tingal di bawah cahaya bulan yang temaram. Setelah
melewati jalan utama desa yang lengang, kedua sosok bayangan itu membelok ke
arah barat. Yang dituju adalah rumah besar yang terletak di tengah desa. Tampaknya
kedua sosok bayangan itu memiliki ilmu tinggi. Gerakannya be- gitu ringan dan
cepat
Beberapa tombak ke belakang rumah
besar itu terdapat pohon-pohon besar yang dapat digu- nakan untuk menyelinap.
Kedua sosok itu melen- tingkan tubuh dan hinggap di atas pohon tanpa
menimbulkan suara sedikit pun.
"Aha, inikah rumah kepala desa
itu, Mei Lie?" Terdengar pertanyaan lirih dari atas pohon.
"Betul, Kakang Sena. Malam ini
mereka akan kedatangan tamu istimewa. Dua puluh orang narapidana anggota
pemberontak yang dua puluh tahun lalu dijebloskan ke penjara akan dibe- baskan.
Mereka disembunyikan di rumah Ki Lurah Brajanala sebelum bergabung dengan
pasukan Lembah Merapi Merbabu." Mei Lie menjelaskan kepada Pendekar Gila.
"Hebat, hebat! Baru beberapa
hari saja ku- tinggalkan kau dapat mengumpulkan banyak kete- rangan
penting...," puji Sena cengengesan. "Dari mana kau dapatkan berita
penting ini?"
"Tadi siang, sebelum membekuk
tiga orang begundal Ki Reksogeni, aku sempat berbincang- bincang dengan dua
orang prajurit di sebuah ke- dai."
"Ssst...!" Sena menutup
mulut Mei Lie den- gan kedua jarinya. "Kau dengar suara langkah ka- ki
kuda? Mungkin mereka datang. Mudah- mudahan dugaanmu tidak melesat."
Benar. Tak lama kemudian dari arah
timur tampak tiga puluh penunggang kuda menuju ru- mah besar itu. Gemuruh suara
kaki kuda meme- cah keheningan malam.
Sampai di depan rumah Ki Lurah
Brajanala, mereka segera turun dan masuk ke rumah. Seo- rang kakek berusia
tujuh puluh tahunan me- nyambut kedatangan mereka tanpa mengucapkan kata-kata
apa pun. Tak seorang pun yang menge- luarkan ucapan dalam pertemuan itu. Semua
langsung masuk ke rumah besar.
Pendekar Gila yang menyaksikan
kejadian itu hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.
"Rapi sekali cara kerja
mereka. Semua ren- cana dapat berjalan lancar. Semua sepakat untuk tidak
membuka mulut agar tak seorang pun men- dengar rahasia mereka," gumam Mei
Lie seraya memperhatikan ruang depan rumah besar yang di- terangi beberapa obor
dari bambu.
Pendekar Gila terlihat mengerutkan
kening sambil menelengkan kepala. Dia tengah menge- rahkan Ilmu Sapta Pangrungu
yang mampu men- dengar suara dari jarak jauh.
Sementara itu di dalam rumah Ki
Lurah Brajanala tengah berlangsung pembicaraan antara
Patih Abiyasa yang menyertai para
narapidana dengan Ki Lurah Brajanala.
"Ayah, siang tadi kami
menemukan mayat Sembada dan Gantar tak jauh dari tapal batas ko- ta. Sampai
kini kami belum dapat menduga siapa pelaku pembunuhan itu. Tapi, surat yang
sedianya kami kirimkan kepada Ayah tidak berada di tan- gan Prajurit Gati.
Herannya, Gati tewas tertusuk pisau yang kuketahui milik Gardawaka," tutur
Pa- tih Abiyasa kepada Ki Lurah Brajanala.
Ki Lurah Brajanala
mengangguk-angguk dengan kening berkerut dalam.
"Kita harus lebih waspada,
Abiyasa. Menu- rut berita yang kudengar, murid Singo Edan telah berada di
wilayah kita. Itu pasti tindakan orang- orang Saka Bawana," ujar Ki Lurah
Brajanala.
"Jadi, Pendekar Gila...?"
Patih Abiyasa ter- kejut mendengar Pendekar Gila ternyata masih hi- dup.
"Tak seorang pun yang mampu
menandingi kelihaian murid Singo Edan. Entahlah kalau Ki Reksogeni. Usahaku
mencipta Pendekar Gila sa- maran ternyata gagal. Mungkin kalau waktu itu Singo
Edan tidak turun tangan, pemuda itu akan kubantu dari jauh. Ilmu-ilmu yang
kuberikan pa- danya semua sama dengan yang dimiliki Singo Edan...," tutur
Ki Lurah Brajanala.
Pendekar Gila yang terus menyadap
pembi- caraan itu tersentak kaget. Baru sekarang dia tahu siapa yang berada di
balik si durjana yang wajah- nya mirip dengannya. Sungguh tak disangka Ki Lurah
Brajanala ternyata teman seperguruan Singo Edan, gurunya. Sena jadi teringat
cerita Singo Edan beberapa hari yang lalu. Bahwa, di daerah ini ada seorang
teman gurunya.
"Apa yang kau dengar, Kakang
Sena?" Tanya Mei Lie ketika dilihatnya Sena menggeleng- gelengkan kepala.
"Ternyata Pangeran Pramudya
Wisnutama berada di tangan mereka. Kini diamankan di suatu tempat agar tidak
berada di istana sampai perali- han kekuasaan terjadi. Ah ah ah.... Liciknya
ma- nusia itu. Memutarbalikkan keadaan dan mem- buat bingung
orang-orang...," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kita harus menyelamatkan
Pangeran Pra- mudya," sahut Mei Lie. "Kalau dia sampai tewas di
tangan mereka, suasana akan semakin kacau. Apalagi, jika kekuasaan kerajaan
jatuh ke tangan orang seperti Ki Reksogeni."
"Hi hi hi...! Ternyata kau
semakin pandai, Sayang ku," ujar Sena memuji kekasihnya. "Tak
kusangka wanita secantik dirimu memiliki ketaja- man pikiran..."
"Kau selalu memujiku jika
sedang kebetulan seperti ini, Kakang Sena," sahut Mei Lie seraya mencubit
perut Sena. Pemuda berompi kulit ular itu meringis menahan sakit. Cubitan Mei
Lie baru dilepaskan ketika Sena membalas cubitannya.
"Aahh...!" Gadis cantik
itu menjerit lirih ka- rena takut terdengar orang-orang di dalam rumah Ki Lurah
Brajanala.
Sena tertawa geli melihat
kekasihnya cem- berut. "Ah ah ah..., kau makin manis, Mei," ujarnya
seraya menjentikkan ibu jari dan jari telun- juknya di depan hidung Mei Lie.
Sempat-sempatnya kedua muda-mudi
itu bersenda gurau, meskipun tengah melakukan pengintaian yang mestinya
dijalankan dengan sungguh-sungguh dan penuh waspada. Memang begitulah yang
dilakukan Pendekar Gila dan Bida- dari Pencabut Nyawa semenjak keduanya bertemu.
Kecocokan hati mereka telah menimbulkan jalinan tali kasih. (Baca Pendekar Gila
dalam episode: "Ti- tisan Dewi Kuan Im").
Mei Lie sendiri merasa pertemuan
dengan Pendekar Gila bagai telah diatur oleh Dewata. Se- hingga, meskipun
setiap kali orang yang bertemu mereka selalu menertawakan dan mencemoohkan
tingkah laku Sena yang seperti orang gila, Mei Lie tak pernah menghiraukannya.
Teringat akan hal itu lunturlah
kejengkelan yang tadi sempat timbul di hati Mei Lie. Perlahan- lahan kepalanya
direbahkan ke kaki Sena yang menyelonjor di batang pohon. Sena tampaknya
memahami perasaan kekasihnya. Dielusnya ram- but Mei Lie perlahan.
"Kita harus berjaga sampai
pagi di pohon ini, Kakang Sena," ujar Mei Lie lirih.
"Ya, ya. Tadi sempat kudengar
besok pagi Ki Lurah Brajanala dan orang-orangnya akan pergi ke tempat
pengasingan Pangeran. Kita harus menye- lamatkannya."
Mei Lie mengangguk-anggukkan
kepala. Beberapa saat kemudian keduanya saling membi- su. Tak ada suara kecuali
desis angin malam yang menerpa dedaunan dan bunyi binatang malam.
Bulan keperakan menggantung di
langit bi- ru. Malam perlahan merayap saat dinihari terlewa- ti. Di ufuk timur
mulai tampak semburat warna kemerahan pertanda fajar menyingsing.
Tiba-tiba terdengar pintu rumah Ki
Lurah Brajanala terbuka dan beberapa orang keluar. Tak lama kemudian, empat
orang penunggang kuda melesat dari halaman rumah besar itu. Mereka adalah Ki
Lurah Brajanala dan tiga orang tangan kanannya. Keempatnya menggebah kuda yang
ber- lari ke arah barat.
"Kakang, Kakang Sena!
Bangun!" bisik Mei Lie yang melihat Pendekar Gila menyandarkan ke- pala ke
batang pohon dengan mata terpejam.
"Hup... et ets..., ehh!"
Sena geragapan seper- ti kaget. Kemudian, menubruk tubuh Mei Lie hing- ga gadis
itu terpeluk di dadanya.
"Ihh...!" Mei Lie
mendorong tubuh Sena. De- daunan pohon tampak bergoyang.
"Hi hi hi.... Kau kira aku
tidur, ya?" ejek Se- na dengan mulut cengengesan. Tangannya meng-
garuk-garuk kepala.
Mei Lie kesal sekali melihat
tingkah keka- sihnya yang konyol. "Lihat, mereka sudah berang-
kat..."
"Ya ya ya...," sahut Sena
dengan mengang- guk-anggukkan kepala dan mata dipejamkan.
"Hup!" Pemuda berpakaian
rompi kulit ular itu me- lompat turun mendahului Mei Lie. Dengan ringan sekali
kedua kakinya mendarat di tanah. Mei Lie menyusul dengan gerakan serupa.
Sepasang pendekar muda itu melesat
ke arah barat dengan mengerahkan ilmu meringan- kan tubuh. Dalam sekejap saja
keduanya telah menghilang tertutup kabut pagi yang mulai turun ke bumi.
7
Brakkk! Meja ukir kayu jati itu
hancur berkeping- keping dipukul Naga Merah Dari Merapi.
"Bedebah! Jadi, bocah edan itu
masih hi- dup, heh?!" bentaknya dengan suara bergetar dan parau. Tangan
kanannya terkepal kuat-kuat. Ma- tanya seketika merah menahan amarah yang me-
luap-luap di dadanya.
Ternyata pemimpin Lembah Merapi
Merba- bu itu pun termakan kabar angin tentang tewas- nya Pendekar Gila.
Padahal, sebenarnya yang te- was dengan tubuh terbakar dalam duel antara
Pendekar Gila dengan kembarannya adalah Pen- dekar Gila samaran. Memang tak ada
yang tahu waktu itu Sena Manggala mengenakan pakaian putih. Hingga, lawannya
yang mengenakan pa- kaian rompi kulit ular dikira Pendekar Gila. Meskipun saat
itu Sena Manggala sendiri menga- lami luka dalam yang sangat parah, tapi segera
mendapat pertolongan dari gurunya, Singo Edan yang juga menyaksikan pertarungan
itu. (Baca serial Pendekar Gila dalam episode: "Petaka Seorang
Pendekar").
Para pembesar istana Lembah Merapi
Mer- babu yang berkumpul di ruangan itu terdiam seri- bu bahasa. Tak satu pun
yang berani mengu- capkan kata-kata, baik tanggapan maupun saran. Mereka semua
tahu kalau Ki Reksogeni telah mur- ka, siapa pun tak akan mampu menghadapinya.
Kemurkaannya adalah petaka bagi orang-orang di sekitarnya.
Itulah sebabnya, malam itu bagi
para pem- besar Istana merupakan saat yang menegangkan. Entah apa yang akan
terjadi seandainya kemara- han lelaki berjuluk Naga Merah Dari Merapi ini tak
terkendali.
Tak seorang pun di antara mereka
yang be- rani menatap wajah Ki Reksogeni. Semua tertun- duk ketakutan.
"Paman Senapati...," Ki
Reksogeni memang- gil Senapati Sentanu. "Lekas baca surat itu!"
Senapati Sentanu segera
melaksanakan pe- rintah itu. Dibukanya gulungan surat yang tadi di- bawa
Gardawaka dan dibacanya keras-keras. Ki Reksogeni mengangguk-anggukkan kepala
dengan gigi geraham ditekan kuat-kuat. Pemimpin Lembah Merapi Merbabu ini tak tahan
lagi ingin segera me- laksanakan permintaan Patih Abiyasa.
"Kalau begitu, Paman Senapati,
malam ini juga siapkan bala tentara! Besok pagi-pagi sekali kita harus sudah
berangkat. Aku khawatir Pange- ran Pramudya datang lebih dulu istana. Suasana
akan bertambah kacau. Pendukungnya lebih ba- nyak. Bahkan, tampaknya seluruh
rakyat masih menanti kedatangan putra mahkota itu...," ujar Ki Reksogeni.
Tapi, Gardawaka segera menyambuti.
"Ki Reksogeni, saya hampir
lupa. Kabar yang kudengar dari Ki Lurah Brajanala, Permaisuri Ayu Mustika telah
mengutus beberapa orang pra- jurit untuk menjemput Pangeran Pramudya. Atas
saran Ki Lurah Brajanala, Pangeran Putra Mahko- ta akan dibawa di suatu tempat
untuk diamankan, agar jangan sampai di istana dalam waktu dekat ini," tutur
Gardawaka mengejutkan Ki Reksogeni.
"Heh?! Lalu, bagaimana dengan
Empat Iblis Merbabu? Ada lagi yang tak beres di sini!" gumam Ki Reksogeni
dengan mata membelalak. "Sudah hampir sepekan mereka belum kembali. Aku
kha- watir mereka menemui kegagalan. Ah, sudahlah. Tapi kalau ceritamu benar,
Pangeran Pramudya berarti sudah berada di tangan Patih Abiyasa. Ha ha ha...!
Putraku tetap akan menduduki tahta ra- ja. Tak lama lagi, Danu. Tunggulah,
ayahmu akan memberikan dukungan kuat...!"
Lelaki berjuluk Naga Merah Dari
Merapi itu tertawa gembira. Cita-cita yang telah dua puluh tahun lamanya
tersimpan di hati kini hampir men- jadi kenyataan. Dua puluh tahun ia menunggu
ke- sempatan itu. Sampai putra tunggalnya direlakan diangkat menjadi anak oleh
Prabu Wirabuana, penguasa Kerajaan Tanjung Anom yang tidak me- miliki anak.
Namun, dulu ia tak menyangka sama
sekali kalau perpisahan dengan putranya ternyata mem- buka jalan bagi
cita-citanya. Selama menjabat se- bagai senapati di Kerajaan Bumi Segara ia
telah mempunyai keinginan untuk merebut kekuasaan Raja Galih Kertarejasa.
Keinginan menjadikan ke- turunannya duduk sebagai penguasa kerajaan itu
ternyata mendapat dukungan dari Patih Abiyasa yang waktu itu masih menjabat
sebagai senapati.
Siasat dan nasihat untuk merintis
jalan ke arah sana diperoleh dari Ki Lurah Brajanala, mer- tua Patih Abiyasa.
Namun ketika pemberontakan dilaksanakan, kegagalanlah yang diperolehnya.
Pasukannya banyak yang tewas di tangan tentara kerajaan. Bahkan, ia kabur untuk
menyelamatkan diri.
"Paman Senapati, bagaimanapun
kita harus segera mempersiapkan pasukan. Besok pagi-pagi sekali kita harus
sudah berangkat menuju kotaja- ra." Ki Reksogeni mengulang kembali
perintahnya kepada Senapati Sentanu. "Perjalanan dengan pa- sukan mungkin
akan memakan waktu dua hari dua malam. Kalau kita tak segera berangkat, aku
khawatir keadaan akan berubah. Apalagi Pendekar Gila kini berada di sana. Hm...
Kenapa Pangeran Pramudya tidak dibunuh saja?" gumam Ki Rekso- geni
menyesali sikap Patih Abiyasa.
"Sulit, Ki Reksogeni. Yang
menjalankan pe- rintah penjemputan itu adalah para prajurit. Patih Abiyasa
rupanya belum yakin benar terhadap du- kungan mereka. Sehingga, tak mungkin
Patih Ab- iyasa memerintahkan untuk membunuh Pangeran Pramudya," tutur
Gardawaka yang banyak men- dapat keterangan penting selama penyelusupan- nya ke
kotaraja. "Sementara kalau yang menjem- put bukan orang-orang istana
mungkin Ki Ranujelaga, gurunya, takkan mengizinkan Pangeran Pra- mudya
pergi"
Ki Reksogeni manggut-manggut.
Diam-diam Naga Merah Dari Merapi mengagumi anak buah- nya yang memiliki
ketajaman pikiran ini.
"Baik. Kalau begitu kalian
boleh bubar sekarang. Perintahkan kepada semua pasukan agar mempersiapkan
perbekalan!" ujar Ki Reksogeni menutup pertemuan malam itu.
Para pembesar istana segera
meninggalkan tempat pertemuan. Malam itu juga para prajurit dikumpulkan untuk
mengadakan persiapan.
8
Telah lima hari lima malam Pangeran
Pra- mudya berada di suatu tempat yang belum dike- nalnya. Hingga sore ini
berarti telah sepekan ia meninggalkan Gunung Srandil berpisah dengan Resi
Ranujelaga. Semula ia tidak mengira akan mengalami kejadian seperti ini.
Apalagi Ki Ranuje- laga sendiri dengan tanpa menaruh curiga menye- rahkan
Pangeran Pramudya kepada keempat pra- jurit kerajaan yang menjemputnya.
Pangeran Pramudya baru menyadari
pencu- likan itu ketika dirinya tidak dibawa ke istana. Pa- dahal dia tahu,
menurut cerita gurunya, saat ini istana kerajaan tengah dilanda masalah besar.
Pangeran Pramudya mencoba mencari
akal untuk dapat lolos dari tempat pengasingan. Bebe- rapa kali dia tanyakan
kepada para prajurit yang menjaganya.
"Kami hanya menjalankan tugas
untuk menjaga Raden. Kami sendiri tak mengetahui maksud semua ini...,"
begitu jawaban mereka sela- lu.
"Siapa yang memerintahkan
kalian?" "Permaisuri dan Kanjeng Patih Abiyasa." "Tapi,
mungkin hari ini atau besok Raden akan segera dijemput Ki Brajanala...,"
sahut praju- rit yang lain.
"Siapa Brajanala...?"
tanya Pangeran Pra- mudya dengan kening berkerut. Ia semakin tak mengerti.
"Masa' Raden tidak
mengenalnya. Ki Lurah Brajanala bekas mertua Patih Abiyasa, ayahanda Permaisuri
Ayu Mustika," jawab prajurit itu sambil tersenyum.
Tersentak Pangeran Pramudya
mendengar nama Ki Lurah Brajanala. Pernah didengarnya ce- rita dari gurunya
kalau ayahandanya memiliki mertua seorang lurah. Namun ketika mendengar lurah
itu juga mertua Patih Abiyasa ini sungguh sangat mengejutkannya.
Inikah yang dimaksud dua musuh
besar ke- rajaan? Semula aku menduga hanya Ki Reksogeni yang menjadi musuh
utama kerajaan, pikir Pange- ran Pramudya.
"Kalau begitu, aku tak perlu
menunggu Ki Lurah Brajanala!" ujar Pangeran Pramudya dengan wajah memerah.
"Aku harus segera berangkat ke istana...!"
"Raden, keselamatan jiwa raga
Raden berada di tangan kami. Kami tak segan-segan bertin- dak kasar kalau Raden
tidak menurut!" Tiba-tiba terdengar ucapan bernada dingin dari seorang le-
laki bertubuh gagah yang berdiri di ambang pintu.
"Kurang ajar!" bentak
Pangeran Pramudya marah. "Kau anggap apa diriku?!"
Pangeran Pramudya melompat hendak
ke- luar dari bangunan tua mirip penjara. Namun le- laki berwajah bengis yang
tidak mengenakan pa- kaian prajurit itu segera menyergapnya. Tangan kanannya
melancarkan pukulan ke dada Pangeran Pramudya.
Sebagai seorang pemuda yang telah
mem- perdalam ilmu silat, Pangeran Pramudya melihat pukulan itu. Cepat tubuhnya
dilemparkan ke ka- nan. Pukulan lelaki berpakaian coklat tua itu pun tidak
mengenai sasaran. Begitu berhasil menghin- dar, Pangeran Pramudya melesat
keluar.
"Kejar! Cepat kejar!"
perintah lelaki berwa- jah bengis kepada para prajurit.
Enam orang prajurit memburu
Pangeran Pramudya. Namun gerakan mereka kalah cepat dengan lelaki berwajah
bengis yang telah melesat. Gerakannya yang gesit dan ringan menunjukkan kalau
ia memiliki ilmu yang tak dapat diremehkan. Sesaat kemudian....
"Heaaat...!" Bukkk!
Pangeran Pramudya memekik kesakitan. Sebuah pukulan mendarat di punggungnya.
Tu- buh pangeran yang mengenakan pakaian putih itu terjungkal ke depan. Namun
dengan gesit dia segera melompat bangkit. Bersamaan dengan itu puku- lan tangan
kosong lawan meluncur ke arah kepala.
Plakkk! Mulut Pangeran Pramudya
meringis kesaki- tan ketika tangan kanannya berhasil memapaki pukulan lawan.
Tampaknya, lelaki bengis itu men- gerahkan tenaga dalam.
Mengetahui lawannya tak tanggung-
tanggung dalam melancarkan pukulan, Pangeran Pramudya segera mengerahkan
kemampuan yang dimilikinya. Cepat pemuda itu melompat menghin- dari sebuah
tendangan yang hampir menyambar perutnya. Dan, menyusulinya dengan melancarkan
pukulan jarak jauh. Wuttt! "Heit!" "Rupanya kau punya kemampuan
juga, Pangeran," ujar lelaki bengis setelah berhasil men- gelakkan pukulan
jarak jauh Pangeran Pramudya.
"Sedikit. Tapi untuk
menghadapi begundal sepertimu aku tidak kewalahan!"
Pangeran Pramudya merangsek maju
den- gan pukulan-pukulan cepat dan beruntun. Na- mun, lelaki bengis itu
ternyata dengan mudah mengelakkan setiap pukulannya.
Bahkan, pada satu kesempatan lawan
me- lompat dan melancarkan dua pukulan beruntun dengan ibu jari. Gerakan itu
dilakukan dengan ce- pat sekali ketika Pangeran Pramudya berusaha mencabut
keris yang terselip di pinggang.
Pangeran Pramudya langsung
terpekik. Tu- buhnya lunglai dan jatuh ke tanah terkena totokan pada jalan
darahnya.
Baru saja para prajurit yang
berdatangan ke tempat itu hendak mengangkat tubuh sang pange- ran, empat orang
penunggang kuda menghampiri mereka. "Apa yang kalian lakukan?" tanya
penung- gang kuda yang berada paling depan.
"Ki Lurah. Pangeran kita
berusaha melari- kan diri," lapor lelaki berwajah bengis ketika meli- hat
yang datang Ki Lurah Brajanala.
"Bunuh dia!" perintah Ki
Lurah Brajanala menuding Pangeran Pramudya yang masih terkulai di tanah.
"Buang mayatnya. Kita tidak memerlu- kan pangeran ingusan itu!"
Para prajurit tampak bimbang
mendengar perintah Ki Lurah Brajanala.
"Ah ah ah...! Orang tua tak
tahu diri kau, Ki Lurah!" Tiba-tiba terdengar ucapan seseorang yang
diiringi tawa terbahak-bahak. Ki Lurah Brajanala sampai tersentak kaget. Sesaat
kemudian, sesosok bayangan berkelebat cepat dan menyambar tubuh Pangeran
Pramudya. Belum sempat para prajurit menyadari apa yang terjadi, sosok bayangan
itu te- lah melesat pergi.
Melihat kejadian itu, Ki Lurah
Brajanala melompat turun dari punggung kuda. Lelaki tua itu melesat hendak
mengejar sosok bayangan yang membawa lari Pangeran Pramudya. Ketiganya pun tak
ketinggalan menyusul Ki Lurah Brajanala.
"Hiaaat...!" Bentakan melengking
nyaring mengejutkan keempat lelaki itu. Lari mereka terhenti ketika di depan
telah berdiri menghadang seorang wanita cantik dengan pedang terhunus.
"Bidadari Pencabut
Nyawa!" desis Ki Lurah Brajanala dengan mata terbelalak kaget. "Apa
yang kau inginkan dengan mencampuri urusan kami?"
"Kejahatan besar yang kalian
perbuat harus ditumpas, Ki Lurah!" sahut Mei Lie dengan tatapan tajam
menusuk wajah Ki Lurah Brajanala.
"Bedebah!" Ki Lurah
Brajanala melompat se- telah mencabut pedang di punggungnya.
Wuttt! Trangng! Serangan lelaki itu
dipapaki pedang Mei Lie hingga menimbulkan bunyi berdentang keras. Ki Lurah
Brajanala tergetar akibat benturan hebat itu. Mei Lie sendiri meringis
merasakan getaran pada tangannya yang membuatnya seperti kese- mutan. Melihat
kenyataan itu, ketiga kawan Ki Lu- rah Brajanala meluruk maju melancarkan
seran- gan secara serentak. Mei Lie bergegas melompat mundur dengan mengayunkan
pedangnya me- nangkis babatan dan tusukan senjata lawan. Per- tarungan serupun
terjadi. Teriakan-teriakan mere- ka serta bunyi benturan pedang memecah kehe-
ningan sore di tempat itu.
Meskipun Mei Lie yang berjuluk
Bidadari Pencabut Nyawa mampu bergerak cepat dan lin- cah, keroyokan
lawan-lawannya membuat gadis itu kewalahan. Gempuran hebat Ki Lurah Brajana- la
yang memiliki ilmu pedang sangat handal membuat Mei Lie tak sempat menggunakan
ilmu anda- lannya. Bahkan, ketika memasuki jurus kedua pu- luh lima, Mei Lie
mendapat pukulan hebat dari le- laki berjubah biru, kawan Ki Lurah Brajanala.
Ga- dis itu terpekik kesakitan. Tubuhnya terlontar be- berapa tombak ke
belakang.
Blukkk! "Hukh, uhh!" Mei
Lie memuntahkan darah segar dari mu- lutnya. Pukulan lawan yang mendarat di
pung- gungnya telah mengakibatkan luka dalam. Namun begitu, Mei Lie masih
berusaha bangkit berdiri. Tubuhnya sedikit goyah. Pandangannya dirasakan
berkunang-kunang. Gadis itu bertekad untuk te- tap menghadapi lawan, meskipun
tahu sangat membahayakan jiwanya.
Dalam keadaan terluka, sedikit saja
berge- rak atau mengeluarkan tenaga bisa berakibat lebih parah. Namun diam
tanpa berupaya sama artinya menyerahkan nyawa. Orang-orang golongan hitam
seperti mereka takkan peduli biar pun musuhnya sudah tak berdaya.
Melihat Mei Lie bangkit berdiri,
ketiga ka- wan Ki Lurah Brajanala berlari menghampirinya. Mereka siap
membabatkan pedang ke tubuh Mei Lie. Namun....
"Hiaaa...!" Trang!
Trangng! Sesosok bayangan berkelebat dan menang- kis ketiga pedang yang hampir
saja mendarat di tubuh Mei Lie. Ketiga lelaki berjubah biru berpentalan jatuh.
"Ah ah ah...! Kenapa kalian
hanya berani dengan seorang perempuan?" ejek pemuda berpa- kaian rompi
kulit ular yang tak lain Pendekar Gila.
"Bocah Edan, kau bawa ke mana
Pangeran Pramudya?!" dengus Ki Lurah Brajanala menatap tajam pada Sena.
"Hi hi hi...!" Pendekar
Gila tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian kepalanya di-
geleng-gelengkan. "Untuk apa kau simpan Pange- ran Pramudya yang tengah
ditunggu rakyat ba- nyak, Ki? Akan kau jadikan dia Pendekar Gila se-
pertiku...? Hi hi hi, lucu! Ternyata kau pandai juga main sulap. Kenapa mesti
jadi lurah? Keliling saja ke kota-kota main sulap, Ki!"
Tak henti-hentinya Pendekar Gila
mengejek Ki Lurah Brajanala.
"Serang!" Ki Lurah Brajanala
yang murka bukan main mendengar ejekan Sena, segera mem- beri perintah kepada
ketiga kawannya.
Ketiga lelaki berjubah biru
langsung melesat melakukan serangan.
"Hi hi hi...! Ini tukang sulap
juga rupanya. Ha ha ha... Tukang sulap berseragam biru! Brrttt...!" Sena
memonyongkan bibirnya mengelua- rkan bunyi seperti kentut. Tubuhnya
dilentingkan ke udara. Dan, dari atas dengan cepat Suling Naga Sakti di tangan
kanannya diayunkan.
Wuttt! Pletakkk! Salah satu
lawannya memekik kesakitan ketika suling itu memukul kepalanya. Namun belum
sempat Sena mendarat ke tanah, pedang la- wan yang lain telah menyambarnya.
Wuttt! "Hait!" Trang!
Ditangkisnya sambaran pedang itu dengan Suling Naga Sakti. Kemudian,
dilanjutkan dengan babatan ke arah perut. Pekikan kaget keluar dari mulut
lelaki yang berjubah biru. Tubuhnya berge- tar lalu jatuh. Namun dia segera
bangkit berdiri. Dengan geram lelaki itu melompat melancarkan serangan lagi.
"Hi hi hi.... Kalian seperti
badut-badut tu- kang sulap. Ayo, maju, biar kukentuti mulut ka- lian...!"
Mendengar ejekan yang menyakitkan telinga itu, Ki Lurah Brajanala terpancing
amarahnya. Tubuhnya segera melesat seraya mengayunkan pedang. Sambaran pedang
itu terdengar menderu- deru seolah tak ingin memberi kesempatan kepada Sena untuk
mengeluarkan kata-kata ejekan.
Kini Pendekar Gila menghadapi
keroyokan empat orang. Dengan jurus 'Si Gila Membelah Awan' Sena memutar Suling
Naga Sakti-nya me- mapaki setiap sambaran pedang lawan. Namun, sebentar
kemudian tubuhnya tiba-tiba berputar cepat bagaikan gasing. Melalui jurus 'Si
Gila Mele- pas Lilitan' gempuran keempat lawannya pun ter- pecah. Keempat
pengeroyoknya kalang kabut menghindari tubuh Sena yang berputar kencang. Sebab,
melancarkan serangan pun tak mampu mengenai sasaran. Dalam putaran itu Sena
terus menggerakkan Suling Naga Sakti untuk menang- kis.
Setelah sekian lama Pendekar Gila
mem- permainkan keempat lawannya, dia berhenti ber- putar. Mulutnya nyengir
memandangi mereka yang terpaku dengan mata membelalak. Tapi, Ki Lurah Brajanala
segera tersadar dari rasa kaget- nya.
"Terimalah ilmu 'Pedang
Pembelah Karang' ini. Heaaa...!" Dengan teriakan keras menggelegar, Ki
Lurah Brajanala memutar pedangnya. Tiba-tiba pedang itu mengeluarkan sinar
kuning yang me- nyilaukan mata.
Melihat lawannya mengerahkan ilmu
anda- lan, Pendekar Gila dengan tenang meletakkan sul- ing di bibirnya.
Seketika terdengar bunyi melengk- ing nyaring. Sekejap kemudian, melesatlah
selarik sinar merah.
Srraatss! Glarrr...! Pekikan keras
menyayat hati terdengar dari mulut Ki Lurah Brajanala. Ketika tubuhnya me-
lompat hendak menghantamkan pedang, sinar me- rah dari suling berkepala naga
milik Sena meng- hantamnya. Tubuh lelaki tua itu terlontar jauh ke belakang dan
menghantam sebatang pohon besar. Tubuhnya membiru. Sebentar Ki Lurah Brajanala
berkelojotan, kemudian tewas!
Ketiga kawan Ki Lurah Brajanala
sempat tertegun melihat kematian pimpinannya. Tapi ke- mudian mereka melompat
bersamaan melancarkan serangan. Dengan cepat pemuda berpakaian rompi kulit ular
itu menyatukan kedua telapak tangannya. Lalu, dihantamkannya ke arah ketiga
lawan yang tengah memburu ke arahnya. Seketika angin dahsyat berhembus kencang
menerpa ketiga lelaki berpakaian biru. Pekikan kematian terdengar
susul-menyusul saat tubuh mereka menghantam pepohonan besar.
Sesaat kemudian, dari balik
pepohonan bermunculan enam orang prajurit dan melangkah menghampiri Pendekar
Gila.
"Ampunkan kami, Tuan
Pendekar!" seru mereka hampir bersamaan. Keenam prajurit itu langsung
berlutut di hadapan Sena. "Kami tidak tahu-menahu dengan persoalan yang
tengah terja- di. Kami hanya sekadar menjalankan tugas dari is- tana, Tuan
Pendekar."
"Sudahlah. Kalian jangan
berlaku seperti ini," ujar Sena dengan cengengesan. "Kalian ku-
burkan mayat-mayat itu dan segera kembali ke is- tana."
Pendekar Gila kemudian melangkah
men- dekati Mei Lie yang terduduk lemas tak jauh dari tempat itu. Diangkatnya
tubuh gadis itu, lalu me- lesat pergi.
9
"Uhh...!" Pangeran
Pramudya Wisnutama melenguh lirih. Tubuhnya menggeliat bangkit dari pembaringan
batu di sebuah ruangan bangunan tua mirip penjara. Bangunan ini digunakan untuk
menyekap dirinya selama beberapa hari, sebelum akhirnya ditolong Pendekar Gila.
Tak lama kemudian Mei Lie pun
tersadar dari pingsannya. Wajah gadis itu masih sedikit pu- cat. Luka dalam
yang dideritanya baru saja pulih setelah Pendekar Gila menyembuhkannya. Bebe-
rapa saat lamanya Sena mengalirkan hawa murni melalui kedua telapak tangan yang
ditempelkan ke dada Mei Lie.
Gadis berpakaian putih itu kini
duduk ber- sila. Beberapa kali ditariknya napas dalam-dalam dan
menghembuskannya perlahan untuk memu- lihkan tenaga dalamnya.
"Dari mana Tuan Pendekar
mengetahui tempat ini...?" tanya Pangeran Pramudya dengan suara agak
parau.
"Ah ah ah... Jangan panggil
aku dengan se- butan seperti itu, Raden!" sahut Sena cengengesan dan
menggaruk-garuk kepalanya. "Panggil saja aku Sena!"
"Baiklah. Tadi aku hampir tak
percaya me- lihat kedatanganmu, Sena."
"Apakah Raden juga tahu kabar
kematianku itu?" tanya Sena dengan mulut nyengir.
Pangeran Pramudya mengangguk.
"Dua orang prajurit yang datang lebih dulu bercerita ba- nyak kepada Eyang
Ranujelaga tentang kejadian yang melanda istana...."
"Hh..., Raden. Resi Ranujelaga
telah me- ninggal beberapa saat setelah keberangkatan Raden bersama para
prajurit itu."
Tersentak Pangeran Pramudya
mendengar ucapan Sena. "Benar firasatku," gumamnya lirih, hampir tak
terdengar. "Ketika mereka membawaku ke tempat ini, hatiku mulai merasa
curiga. Siapa yang telah membunuh Eyang Guru, Sena?"
"Empat Iblis Merbabu. Mereka
mengatas- namakan Ki Reksogeni. Tapi, mereka telah mem- bayar lunas kematian Ki
Ranujelaga," tutur Sena.
"Dari mana kau tahu tempat
kediaman ka- mi?"
"Aku membuntuti mereka setelah
menden- gar keterangan dari kawanku Dogol. Dia mempero- leh banyak keterangan
dari seorang dayang di is- tana."
"Ah, sungguh aku tak dapat
mengung- kapkan rasa terima kasihku kepada kalian!" ujar Pangeran Pramudya
dengan menggeleng-gelengkan kepala. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia terharu
teringat akan nasibnya. Seorang putra mahkota yang disingkirkan dari istana.
"Sudahlah. Yang penting kini
Raden selamat Rakyat dan negara tengah menunggu kedatangan Raden. Meski di istana
telah bertahta Pangeran Danuwirya, tapi rakyat tidak setuju. Mereka masih
mengharapkan kedatangan Raden untuk mendu- duki tahta kerajaan...," ujar
Mei Lie mengingatkan Pangeran Pramudya.
"Hmm. Berapa lama perjalanan
ke istana, Sena?" "Dengan mengendarai kuda mungkin seki- tar sehari
semalam. Tapi aku yakin kita bisa menempuhnya lebih cepat" jawab Sena
cengengesan. Tangannya menggaruk-garuk kepala, membuat Pangeran Pramudya
tersenyum melihatnya.
"Sungguh aku buta dengan
wilayah negara- ku sendiri," gumam Pangeran Pramudya menyesali diri.
"Bukankah ini masih termasuk wilayah kera- jaan, Sena?"
"Kurasa begitu, Raden,"
sahut Sena. Kemu- dian, menoleh kepada Mei Lie. "Kau bagaimana,
Mei...?" "Kurasa sebaiknya kita segera berangkat, Raden," usul
Mei Lie seraya bangkit dari duduk- nya.
Pangeran Pramudya mengangguk dan
ber- gegas bangkit berdiri. Pendekar Gila dan Mei Lie pun melesat menyertai
Pangeran Pramudya Wis- nutama meninggalkan tempat pengasingannya.
Benar apa yang dikatakan Pendekar
Gila. Mereka tak harus memakan waktu sehari semalam untuk sampai ke kotaraja.
Sena sengaja membawa Mei Lie dan Pangeran Pramudya menerobos hutan dan
semak-semak, menyimpang dari jalan yang biasa dilalui orang jika ingin ke
kotaraja.
Pendekar Gila tentu saja telah banyak
men- getahui seluk-beluk tempat yang dilaluinya. Ia pernah menempuhnya ketika
berusaha melarikan diri dari kejaran tentara kerajaan dan tokoh-tokoh
persilatan yang menuduhnya telah menculik Putri Sekar Arum.
Selama perjalanan, Sena
menceritakan ba- gaimana dirinya hampir mengalami kekalahan he- bat ketika
bertarung dengan penculik Putri Sekar
Arum. Untung saja Singo Edan turun
tangan membantunya. Baru kali itu Pendekar Gila mene- mukan tokoh yang memiliki
kemiripan ilmu den- gan dirinya.
Ketika fajar menyingsing di ufuk
timur, Pendekar Gila, Mei Lie, dan Pangeran Pramudya telah sampai dekat tapal
batas kotaraja.
Atas saran Mei Lie, Pangeran
Pramudya di- bawa ke tempat kediaman Ki Narotama. Pilihan itu diambil untuk
menjaga hal-hal yang tidak diingin- kan jika pangeran langsung dibawa ke
istana.
Namun baru saja ketiganya
menginjakkan kaki di halaman rumah Ki Narotama, terdengar de- ru kaki kuda
menuju rumah besar itu. Penung- gang kuda putih melompat turun dan melangkah
menghampiri Sena.
"Tuan Pendekar!" Prajurit
itu membung- kukkan badan. "Ada kabar penting yang harus se- gera saya
sampaikan kepada Senapati Saka Bawa- na," ujarnya mendahului Sena berlari
masuk ke dalam rumah.
Pendekar Gila, Mei Lie, dan
Pangeran Pra- mudya segera menyusul masuk.
Senapati Saka Bawana, Ki Narotama,
dan beberapa panglima tinggi kerajaan yang tengah menunggu kedatangan Pendekar
Gila terkejut me- lihat kedatangan prajurit itu.
"Kanjeng Senapati, kami
melihat serombon- gan pasukan datang dari arah utara. Mereka ber- jumlah lima
puluh orang dan semua menunggang kuda," lapor prajurit itu dengan napas
terengah.
"Hmm. Mereka telah datang,
Ki." Senapati
Saka Bawana menoleh, menatap Ki
Narotama.
"Ha ha ha...!" Pendekar
Gila masuk dengan memperdengarkan tawa terbahak, mengejutkan semua yang ada di
ruangan itu. "Kami juga da- tang, Kanjeng Senapati!"
Semua memandang dengan mata
terbelalak kepada pemuda berwajah tampan mengenakan pakaian kuning gading yang
berdiri di samping Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Tentu kalian
terkejut. Raden, merekalah para pendukung Raden," ujar Sena me- noleh
kepada Pangeran Pramudya yang meman- dangi mereka dengan tersenyum haru.
Mendengar ucapan Pendekar Gila,
semua orang di ruangan itu bangkit berdiri. Lalu, berlutut di depan Pangeran
Pramudya. Tak terkecuali pra- jurit yang baru saja menyampaikan laporan. Bah-
kan, dialah yang pertama memberi sambutan.
"Aduh. Ampunkan saya yang buta
ini, Kan- jeng Pangeran. Sungguh saya tak mengira kalau Pangeran yang datang
bersama Tuan Pendekar Gi- la...."
"Sudahlah. Jangan kalian
berlaku seperti itu. Tanpa kalian, apalah artinya diriku ini." suara
Pangeran Pramudya bergetar. Matanya yang ben- ing berkaca-kaca, tak mampu
menahan rasa haru yang tiba-tiba menyemak hatinya.
"Kalau begitu, kita tak boleh
berlama-lama berada di sini. Pasukan Lembah Merapi Merbabu telah datang,"
ujar Senapati Saka Bawana yang menjadi pemimpin gerakan itu. "Kita cegat
mereka sebelum sampai ke istana."
"Benar. Kanjeng Senapati. Saya
khawatir saat ini pasukan kita yang bermarkas di utara te- lah bertempur dengan
mereka. Sedangkan kekua- tan kita hanya sepuluh orang," sahut prajurit
yang melaporkan kedatangan pasukan Ki Reksogeni.
"Maaf, Kanjeng Pangeran.
Sudilah Raden te- tap berada di sini dengan dijaga beberapa orang prajurit.
Bukan kami meremehkan kemampuan Raden. Kami mengkhawatirkan kalau sampai ter-
jadi sesuatu yang tak diinginkan, suasana bisa bertambah kacau. Rakyat dan
negara mengha- rapkan keselamatan Raden." Senapati Saka Bawa- na
mengucapkan kata-kata itu dengan hati-hati. Takut membuat Pangeran Pramudya
tersinggung.
"Hh.... Dengan berat hati aku
menerima sa- ran mu, Senapati," ujar Pangeran Pramudya, men- gangguk.
Akhirnya Senapati Saka Bawana, Ki Naro- tama, Pendekar Gila dengan disertai
beberapa pra- jurit dan panglima tinggi segera berangkat pergi. Para prajurit
dan panglima mengendarai kuda. Se- dangkan Pendekar Gila, Senapati Saka Bawana,
dan Ki Narotama memilih mengerahkan ilmu lari mereka. Sementara Mei Lie
menerima saran Pen- dekar Gila untuk menjaga Pangeran Pramudya.
10
"Reksogeni! Kakang
Reksogeni!" Patih Ab- iyasa berteriak dari atas punggung kuda putih. Ia
memimpin sepuluh orang prajurit menyambut kedatangan pasukan Lembah Merapi
Merbabu. "Atas nama kerajaan, aku menyambut dengan gembira kedatangan
pasukanmu!"
Lelaki enam puluhan yang berpakaian
ketat warna hitam itu kemudian melompat dari pung- gung kuda. Dihampirinya Ki
Reksogeni yang telah turun dari kuda hitamnya.
"Ha ha ha.... Selamat berjumpa
lagi, Adi Ab- iyasa! Kegagahanmu ternyata masih seperti dulu," ujar Ki
Reksogeni yang mengenakan jubah merah menyala. Keduanya berjabat tangan dan
saling berpe- lukan. "Putramu menunggu di istana, Kakang Rek-
sogeni," ujar Patih Abiyasa. Dipersilakannya lelaki berjuluk Naga Merah
Dari Merapi itu naik kembali ke kudanya. Patih Atriyasa sendiri segera melang-
kah menuju kudanya.
Namun, baru saja keduanya menarik
tali kekang kuda, tiba-tiba....
"Haiii... para pengkhianat!
Manusia- manusia busuk seperti kalian harus enyah dari muka bumi ini...!"
Terdengar bentakan keras
menggelegar yang dikerahkan dengan tenaga dalam tinggi. Para pra- jurit
kelihatan sangat terkejut. Semua menoleh ke arah suara bentakan itu.
Seorang lelaki setengah baya
berpakaian lu- rik lengan panjang berdiri dengan gagahnya di be- lakang para prajurit
kerajaan. Di samping kanan- nya berdiri lelaki tua berpakaian serupa. Matanya
yang tajam menatap Ki Reksogeni dengan menyiratkan bara dendam.
"Saka Bawana, dan kau
Narotama, apa yang kalian inginkan?" dengus Patih Abiyasa menentang
pandang kedua lelaki berpakaian lurik itu.
"Huh! Keparat tak tahu malu!
Seharusnya aku yang bertanya, untuk apa para pemberontak itu didatangkan
kemari...?" bantah Senapati Saka Bawana.
"He he he...! Kalian tak
berhasil bertindak apapun pada kerajaan, Bawana," sahut Patih Ab- iyasa
terkekeh. "Tahta raja telah diduduki Pange- ran Danuwirya. Dan ketahuilah,
Pangeran Danu- wirya adalah anak Kakang Reksogeni."
Terbelalak mata Senapati Saka
Bawana dan Ki Narotama mendengar ucapan Patih Abiyasa. Se- lama ini mereka
tidak mengetahui kalau Pangeran Danuwirya anak seorang pemberontak kerajaan.
"Dan, Sekar Arum adalah
anakku, Saka Bawana. Ha ha ha...! Karena itu kukatakan, kalian tak berhak tahu
urusan kami. Dua puluh tahun lamanya kami menunggu kesempatan baik ini. Tanpa
sepengetahuan kalian, kami telah mengatur siasat ini. Kuserahkan istriku, Ayu
Mustika, ketika Raja Galih Kertarejasa menghendakinya untuk di- jadikan selir.
Inilah pembuka jalan bagiku untuk melanjutkan cita-cita. Aku ingin keturunan ku
menduduki tahta Kerajaan Bumi Segara."
Kegeraman Senapati Saka Bawana
semakin menjadi-jadi. Wajahnya yang keras terlihat merah membara dengan mata
membelalak tajam.
"Bedebah! Tak kusangka selama
ini ada musuh dalam selimut. Abiyasa, ingat kekejian kalian tak akan
mendapatkan hasil. Saat ini seluruh rakyat masih menunggu kedatangan Pangeran
Pramudya. Asal kau tahu saja, Abiyasa dan kau Reksogeni, usaha kalian untuk
melenyapkan Pan- geran Pramudya telah gagal. Ki Lurah Brajanala keparat itu
telah mampus di tangan Pendekar Gi- la!"
Dengan penuh kemarahan Senapati
Saka Bawana berkata kepada Patih Abiyasa yang kini diapit sepuluh prajurit
pengiringnya.
"Kurang ajar!" bentak
Patih Abiyasa murka. Apalagi, ketika dilihatnya dari balik pepohonan
bermunculan dua puluh orang prajurit Senapati Saka Bawana.
"Serang...!" "Serbuuu...!" "Serang...!'" Trang! Trang!
Pekikan-pekikan keras penuh kemarahan terdengar susul-menyusul memecah
keheningan pagi. Prajurit berkuda pendukung Senapati Saka Bawana berlari menuju
kancah pertempuran. Dengan penuh semangat, pasukan Lembah Merapi Merbabu yang
dipimpin Senapati Sentanu pun menyambut mereka.
Seketika pertempuran sengit pecah.
Den- tangan suara pedang, golok, serta keris terdengar di sana-sini. Ditingkahi
jerit kesakitan para praju- rit yang bergelimpangan jatuh dari kuda tunggan-
gannya. Darah segar membasahi tanah berumput di pertigaan jalan tak jauh dari
tapal batas kota itu.
Dalam sekejap belasan prajurit dari
kedua belah pihak tewas berjatuhan.
Di tempat yang agak terpisah dari
kancah pertempuran, Senapati Saka Bawana dengan gigih menghadapi Patih Abiyasa.
Sambaran-sambaran keris lelaki berpakaian lurik itu berkelebatan men- gancam.
Namun sebagai seorang patih, Abiyasa bukan lawan yang enteng. Setiap tusukan
dan sambaran senjata Senapati Saka Bawana dapat di- tangkis atau
dihindarkannya.
Keduanya bertarung dengan
mengerahkan ilmu andalan masing-masing. Keris Senapati Saka Bawana memancarkan
cahaya kemerahan setiap kali berkelebat. Tidak percuma ia diangkat sebagai
senopati kerajaan. Kalau bukan Patih Abiyasa la- wannya, mungkin sudah tewas
termakan keris pu- saka yang mampu mengeluarkan hawa panas itu.
Di tempat lain, Ki Reksogeni
bertarung den- gan Ki Narotama. Lelaki berjuluk Naga Merah Dari Merapi ini tak
ingin memberi kesempatan pada la- wannya untuk bertahan lebih lama lagi.
Ki Narotama yang mantan senapati
berusa- ha sekuat tenaga mengimbangi permainan lawan. Tapi, tampaknya sia-sia.
Ilmu lawan jauh lebih tinggi di atasnya. Belum lima belas jurus perta- rungan
mereka, Ki Narotama telah terdesak hebat. Bahkan, dalam satu kesempatan Ki
Reksogeni mengebutkan jubah merahnya.
Wrrreettt! Suatu serangan dahsyat
yang tak terduga sama sekali. Sabetan kain merah itu mengelua- rkan hawa panas
dan memiliki daya dorong yang sangat kuat. Tubuh Ki Narotama terlontar bebera-
pa tombak. Padahal, sambaran itu belum menge- nai tubuhnya.
"Tak kusangka Ki Reksogeni
memiliki ke- mampuan sehebat ini," gumam Ki Narotama den- gan mata
membelalak heran. Ki Reksogeni dulu hanya seorang senapati yang kemampuannya
ti- dak terpaut jauh dengan dirinya. Dua puluh tahun berpisah ternyata Ki
Reksogeni telah mampu men- gembangkan ilmunya secara mengagumkan.
"He he he... Kau tentu heran,
Narotama. Naga Merah yang kumiliki kini telah menyatu den- gan jiwaku.
Jangankan kau, Narotama. Bocah sinting murid Singo Edan itu pun dapat kupecun-
dangi. Sudah tak tahan aku ingin meremukkan kepalanya!" Ki Reksogeni
tertawa mengejek melihat keterkejutan Ki Narotama.
Tiba-tiba, Ki Reksogeni menoleh ke
arah ba- rat. Didengarnya gemuruh kaki kuda mendatangi tempat pertempuran. Dua
puluh orang penung- gang kuda datang. Mereka para narapidana yang beberapa hari
lalu dibebaskan oleh Patih Abiyasa.
Keterkejutan Ki Reksogeni lenyap
seketika. Kini mulutnya menyunggingkan senyum gembira. Para narapidana segera
menyerbu pasukan pen- dukung Senapati Saka Bawana. Sesaat kemudian, dari arah
selatan muncul lima belas orang pe- nunggang kuda. Mereka para panglima dan
praju- rit yang semalam berada di rumah Ki Narotama.
Pertempuran yang jauh lebih seru
berlang- sung. Pasukan Senapati Saka Bawana yang men- dukung Pangeran Pramudya
terlalu keberatan menghadapi lima puluh pasukan Ki Reksogeni. Apalagi, ketika
para narapidana yang bengis dan tak kenal ampun membabi buta membantai lawan-
lawannya.
Jerit kematian berkumandang susul-
menyusul. Prajurit Senapati Saka Bawana satu- persatu berguguran. Sementara
itu, Ki Narotama yang kewalahan menghadapi lawannya semakin terdesak hebat.
Sebuah pukulan tangan kosong Ki Reksogeni mendarat telak di punggungnya setelah
dia berhasil mengelak dari tendangan keras lawan. Lelaki berpakaian lurik
lengan panjang itu terpen- tal ke samping dan bergulingan di tanah. Darah merah
merembes dari sela-sela bibirnya.
Dengan mulut meringis menahan
sakit, Ki Narotama berusaha bangkit berdiri. Tangannya memegangi dadanya yang
terasa sesak. Pukulan lawan telah mengakibatkan luka dalam yang cu- kup parah.
Baru saja dia berdiri, Ki Reksogeni te- lah melompat sambil mengebutkan
jubahnya.
Wuttt! Brrrts! "Hah...!"
Naga Merah Dari Merapi tersentak kaget Tubuhnya terdorong mundur beberapa
langkah.
"Hi hi hi...! Ada apa,
Ki?" tanya seorang pe- muda berpakaian rompi kulit ular yang tiba-tiba
melesat dan memapaki sambaran jubah Ki Rekso- geni.
"Kaukah bocah edan berjuluk
Pendekar Gila itu...?!" Ki Reksogeni menatap penuh selidik Pen- dekar Gila
yang cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, begitulah orang
menjuluki diriku," ja- wab Sena memicingkan mata kirinya.
"Hm. Sudah lama aku ingin
bertemu den- ganmu, Bocah Edan! Kebetulan sekarang usil mengganggu
urusanku!" dengus Ki Reksogeni. Se- na hanya cengar-cengir mendengarnya.
"Ah ah ah.... Pemberontak
busuk seperti di- rimu harus dihukum gantung di depan rakyat, Reksogeni!"
"Kurang ajar! Heaaa...!"
Naga Merah Dari Merapi membentak keras. Ia melompat mengebutkan jubah merahnya.
Ter- ciptalah deman angin kencang serta hawa panas menyengat.
Wuttt! "Hait!" Pendekar
Gila yang telah menyaksikan ju- rus itu tadi, ketika Ki Reksogeni menyerang Ki
Na- rotama segera melempar tubuhnya ke belakang. Sambaran jubah yang telah
berubah kaku itu hanya menghantam tempat kosong.
Mengetahui lawannya dapat
menghindar, Naga Merah Dari Merapi segera memburunya den- gan cepat. Kedua
tangannya yang membentuk ca- kar raga berkelebatan menyambar tubuh Sena. Le-
laki berjenggot tebal itu demikian gencar melan- carkan serangan.
Pendekar Gila pun tampaknya tak
ingin ke- colongan. Menyadari lawannya bukanlah tokoh sembarangan, dia tak bisa
berbuat gegabah. Untuk melecehkan seperti yang biasa dilakukan jika menghadapi
lawan yang ringan kini tak bisa dila- kukannya. Setelah meliuk-liukkan tubuh
dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' Sena kemu- dian memutar tubuhnya
dengan cepat
Melihat jurus aneh yang digunakan
Pende- kar Gila, Ki Reksogeni sempat terkesima. Namun kemudian segera
ditepiskan perasaan itu. Dia te- rus memburu Pendekar Gila dengan jurus 'Cakar
Naga Api' yang menyebabkan jemari tangannya be- rubah merah membara. Gerakannya
yang cepat membuat Sena agak kebingungan. Ketika jubah- nya yang lebar
dikebutkan kuat-kuat, tubuh Sena tergetar menahan deru angin kencang yang
ditim- bulkannya. Sampai....
"Hih!" Wrrett!
"Aaakhh!" Pendekar Gila memekik tertahan. Sambaran jubah lawan
menyerempet punggungnya. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu
terhuyung-huyung ke belakang. Hawa panas menyengat menjalari se- kujur
tubuhnya.
Tubuh Sena belum dapat berdiri
seimbang ketika Ki Reksogeni melesat memburunya. Sepa- sang Cakar Naga Api yang
merah membara me- nyambar tubuh Sena. Namun, Pendekar Gila meli- hat serangan
ganas itu. Cepat kakinya dihentak- kan dan melenting ke udara.
"Huakhhh...!" Kegagalan
serangannya membuat Naga Me- rah Dari Merapi murka. Geraman keras dikelua- rkan
lelaki berjubah merah itu.
No comments:
Post a Comment