Pedang
Bintang
1
Hari masih pagi, ketika di kaki
lereng Gunung Waru berkelebat beberapa bayangan yang bergerak cepat menuju ke
puncak. Menilik dari gerakan yang rata-rata ringan dan gesit, dapat diketahui
kalau bayangan - bayangan itu
adalah orang – orang persilatan yang berkepandaian cukup tinggi
Tentu saja berkelebatnya
bayangan-bayangan itu segera diketahui para murid Perguruan Tangan Sakti yang
bermarkas di sana. Maka murid-murid itupun segera memberitahukan hal tersebut
kepada kakak seperguruan mereka.
Ketika berita itu sampai di
telinga tiga orang kakak seperguruan mereka yang bernama Seta, Satria dan Mega,
tokoh-tokoh yang berdatangan itu sudah tiba di depan pintu gerbang Perguruan
Tangan Sakti yang cukup luas. Sedangkan para murid Perguruan Tangan Sakti yang
ber-tugas jaga di sana hanya mengawasi dengan sikap waspada.
“Wanayasa, keluar kau! Serahkan
Pedang Bintang itu!” teriak salah seorang yang datang itu.
“Benar, serahkanlah pedang
itu…..!” sambung yang lain.
“Cepat, Wanayasa! Kalau tidak,
jangan salahkan kalau aku terpaksa menerobos masuk menggunakan ke-kerasan!”
ancam seorang yang bertubuh tinggi besar, ber-teriak tak sabar. Tangannya yang
besar dan kekar berotot nampak menggenggam sebatang tongkat yang terbuat dari
baja putih.
Tokoh itu berjuluk si Kerbau
Gila. Seorang tokoh sesat yang terkenal memiliki ilmu kepandaian tinggi dan
ber-tenaga kuat. Apalagi ilmu tongkatnya juga dahsyat. Entah berapa banyak
tokoh golongan putih yang mencegah sepak terjang si Kerbau Gila, tewas di
tangannya.
Kemenangan demi kemenangan yang diraihnya
membuat si Kerbau Gila ini manjadi sombong dan jumawa. Pikirnya, selain
datuk-datuk dunia persilatan, tidak ada lagi tokoh yang bisa menandinginya!
Karena keyakinannya yang besar,
si Kerbau Gila segera memisahkan diri dari orang-orang yang bersamanya. Dengan
langkah lebar sambil menggenggam tongkat, dihampirinya pintu gerbang Perguruan
Tangan Sakti.
Tentu saja melihat tindakan si
Kerbau Gila itu, tokoh-tokoh persilatan lainnya menjadi kawatir. Sebab mereka
takut kalau-kalau keduluan laki-laki tinggi besar itu. Maka, begitu si Kerbau
Gila ini menghampiri pintu gerbang, mereka segera berbondong-bondong ikut
melangkah maju.
Tapi baru beberapa tindak saja,
terdengar suara ber-derak keras disusul bergeraknya pintu gerbang itu. Si
Kerbau Gila beserta para tokoh persilatan yang mengikuti di belakangnya,
serentak menghentikan langkah. Mereka semua sama-sama memandang ke arah pintu
gerbang itu sambil memasang sikap waspada.
Perlahan-lahan pintu gerbang itu
terbuka. Dari balik pintunya, muncul belasang sosok yang kemudian dengan
gagahnya melangkah ke luar.
Laki-laki tingi besar yang
berjuluk si Kerbau Gila itu menatap satu persatu belasan wajah yang berdiri
beberapa tombak di hadapannya. Ia mencoba menduga-duga, mana di antara mereka
yang bernama Ki Wanayasa.
“Siapa di antara kalian yang
bernama Wanayasa?! Majulah! Dan berikan Pedang Bintang itu padaku!” ucap si Kerbau
Gila keras dan kasar.
Belum sempat salah satu dari
belasan orang itu menyahut, terdengar suara tawa bergelak. Tak lama kemudian,
salah seorang dari belasan orang yang berdiri di belakang si Kerbau Gila
melesat maju ke depan.
“Ha..ha…ha….! kau jangan mau
menang sendiri, Kerbau Gila! Dikira hanya kau saja yang berniat memiliki
Pedang Bintang? Aku dan semua
orang yang berada di belakangmupun mempunyai niat yang sama.”
Si Kerbau Gila menoleh ke arah
orang yang baru saja bicara lantang yang kini telah berada setengah tombak di
samping kanannya. Untuk sesaat dia agak terkejut melihat seseorang yang
bertubuh kecil kurus. Wajahnya mirip tikus dan berwarna merah. Rupanya dia
adalah si Tikus Muka Merah yang tak mau ketinggalan. Tokoh sesat yang
pengaruhnya merajalela di beberapa desa, dan sampai saat ini tak ada yang
berani menentangnya!
Hanya untuk sesaat si Kerbau Gila
ini agak terkejut, dan kini sudah kembali pada sikapnya semula. Sombong dan
memandang rendah orang lain.
“Apa peduliku dengan segala
urusanmu, tikus got?” ejek Kerbau Gila bernada kasar.
Wajah si Tikus Muka Merah berubah
semakin merah mendengar ejekan kasar itu. Seumur hidupnya, baru kali ini
dirinya dihina orang. Kemarahan yang hebat, kini membakar hatinya. Pada saat
dia sangat ditakuti sampai di beberapa desa, tapi kini dihina si Kerbau Gila
begitu saja. Memang nama besar si Kerbau Gila telah didengarnya, maka tentu
saja hatinya menjadi gentar juga. Walaupun belum dibuktikan kebenarannya.
“Kerbau Gila,” ucap si Tikus Muka
Merah mencoba bersikap tenang, sungguhpun nada suaranya tetap terdengar gemetar
dan penuh tekanan. “Kalau tidak mengingat urusan yang sangat penting ini, saat
ini juga aku sudah turun tangan untuk menghancurkan mulutmu yang telah begitu
lancang menghinaku. Tapi biarlah. Kalau tidak sekarang, nantipun jangan harap
kau bisa lolos dari tanganku!” sambungnya, berusaha memberanikan diri, karena
di hadapan orang banyak.
“Keparat!” Kerbau Gila berteriak
memaki. Ia marah bukan main mendengar ucapan Tikus Muka Merah yang begitu
merendahkan dirinya. Hampir-hampir saja diterjang laki-laki kurus berwajah
merah itu. Untung saja segera teringat akan tujuannya datang ke Gunung Waru
ini. Maka segera diredam amarahnya. Tapi sempat juga dikeluarkan sebuah ancaman
yang berbau maut.
“Berhati-hatilah kau, tikus got.
Sehabis mengambil Pedang Bintang, aku akan mencarimu ke manapun. Dan…..kukuliti
dagingmu!”
Setelah puas mengancam, Kerbau Gila kini mengalihkan
perhatiannya kepada belasan orang yang keluar dari pintu gerbang Perguruan
Tangan Sakti.
“Jawab pertanyaanku sebelum
kesabaranku hilang. Siapa di antara kalian yang bernama Wanayasa?!” bentak
Kerbau Gila.
“Apa urusanmu mencari guru kami?”
tanya Seta, salah seorang dari tiga orang yang berdiri paling depan.
“O, jadi kalian ini murid-murid
Wanayasa?’ tanya Kerbau Gila lagi, bernada kurang ajar sambil
memperhatikan Seta yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tipis. Kulitnya
coklat sawo matang.
Seta hanya mengangguk. Masih
dicobanya untuk bersabar, walaupun kemarahannya sejak tadi telah ber-golak
melihat kekurangajaran orang yang berdiri di hadapannya ini. beginya kemarahan
hanya akan men-datangkan kerugian.
“Aku tidak mempunyai urusan
dengan kalian!” bentak si Kerbau Gila keras. “Aku hanya mempunyai urusan dengan Wanayasa! Ayo, panggil dia dan cepat
menemuiku!”
Sret! Sret!
Bagai dikomando, belasan murid
Perguruan Tangan Sakti yang berdiri di belakang Seta, bersama-sama menghunus
pedangnya. Para murid Perguruan Tangan Sakti itu sudah tidak sanggup lagi
menahan amarah melihat sikap si Kerbau Gila yang telah keterlaluan menghina
guru mereka. Bahkan Satria dan Megapun sudah bersiap-siap menyerang. Kalau saja
tidak meng-hormati kakak seperguruan, mungkin sudah sejak tadi mereka menerjang
si Kerbau Gila yang keterlaluan itu. “Tahan….!” Teriak Seta mencegah tindak
lanjut adik - adik seperguruannya.
Kemudian dengan sikap masih
tenang, dihadapinya si Kerbau Gila.
“Kerbau Gila! Perlu kau ketahui.
Bahwa setiap per-soalan apapun yang menyangkut guru kami, juga menjadi
wewenangku untuk mengurusnya. Apapun bentuk per-soalan itu. Apalagi hanya
persoalan denganmu, yang sangat sepele ini. Jangankan guruku. Akupun mampu
mengatasinya!” ujar Seta tandas.
“Keparat! Kau tidak akan mampu
mengurus masalah ini. Panggil Wanayasa. Cepat, sebelum kesabaranku hilang!”
“Sudah kukatakan tadi. Semua
urusan yan menyangkut guruku, apapun bentuk urusan itu, telah diserahkan padaku
untuk mengurusnya.”
“Baiklah!” si Kerbau Gila itu
terpaksa mengalah. “Karena kau telah mengaku wakil Wanayasa, maka cepat
serahkan Pedang Bintang itu padaku!” desak Kerbau Gila.
“Pedang Bintang?’ Seta
mengerutkan keningnya, dan untuk sesaat lamanya tercenung. Tentu saja berita
mengenai pedang itu telah didengarnya. Sebilah pedang yang telah membuat dunia
persilatan gempar. Kabarnya Pedang Bintang itu dapat menurunkan ilmu-ilmu
pe-ninggalan Ki Gering Langit, tokoh persilatan yang pernah mengalahkan
datuk-datuk dunia persilatan di empat penjuru angin! Itulah sebabnya semua
tokoh persilatan ter-giur untuk mencari dan mendapatkan pedang itu.
“Ya!” ulang Kerbau Gila keras,
karena melihat pemuda di hadapannya terbengong.
“Hah!” Seta sedikit terkejut.
“Luar biasa! Kau meminta Pedang Bintang pada kami? Apa aku tidak salah dengar,
Kerbau Gila? Sepanjang yang kuketahui, guruku tidak memiliki Pedang Bintang. Ki
Gering Langitlah yang me-milikinya. Minta padanya, bukan pada kami.”
“Tidak usah banyak alasan! Kau
tinggal pilih. Berikan, atau mampus?!” gertak si Kerbau Gila.
“Tidak!” jawab Seta tegas.
“Kalau begitu, mampuslah!” si
Kerbau Gila segera menerjang Seta. Dalam kemarahannya yang memuncak, laki-laki
tinggi besar itu langsung menyerang dengan tongkatnya. Angin menderu-deru hebat mengawali
serangannya.
“Menyingkir kalian semua!”
perintah Seta pada adik-adik seperguruannya.
Tanpa diperintah dua kali,
Satria, Mega dan para murid Perguruan Tangan Sakti lainnya segera menghindar
dari situ.
Bagai dikomando, begitu si Kerbau Gila telah menyerang Seta, Tikus Muka
Merah dan tokoh-tokoh persilatan lainnyapun meluruk menyerang murid Perguruan
Tangan Sakti lainnya.
Tikus Muka Merah segera menerjang
Satria, yang paling dekat dengannya. Terpaksa Satria melayaninya. Begitu juga
para murid Perguruan Tangan Sakti. Mereka semuapun diserbu puluhan orang yang
sejak tadi ber-gerombol di belakang si Kerbau Gila.
Tentu saja hal ini amat
mengejutkan Seta dan adik-adik seperguruannya. Mereka tidak punya pilihan lain
lagi kecuali mempertahankan diri. Bahkan kalau mungkin, melawan sekuat tenaga
dan balas menyerang. Para murid Perguruan Tangan Sakti yang masih berada di dalam,
segera berbondong-bondong keluar, membantu kakak-kakak seperguruannya. Memang,
para murid yang keluar sejak tadi adalah yang memiliki tingkat kepandaian
paling tinggi. Mereka terdiri dari tiga orang murid kepala, Seta, Satria dan
Mega. Dan tiga belas orang murid yang se-tingkat di bawah mereka.
Sudah dapat diduga, maka
terjadilah pertarungan semrawut di lapangan yang luas itu, antara para murid
Perguruan Tangan Sakti melawan para pemburu pedang pusaka milik Ki Gering
Langit.
Di antara semua pertarungan itu
yang paling dahsyat adalah pertarungan antara Seta melawan si Kerbau Gila.
Laki-laki tinggi besar ini adalah seorang tokoh sesat yang memiliki kepandaian
tinggi. Terutama ilmu tongkatnya yang bernama ‘Ilmu Tongkat Angin Badai’. Boleh
dibilang, sekali tongkatnya digunakan sudah dapat dipastikan kalau nyawa lawan
melayang. ‘Ilmu Tongkat Angin Badai’ itu memang luar biasa. Dan itu dirasakan
Seta secara langsung yang menghadapi si Kerbau Gila.
Sejak awal, si Kerbau Gila itu
menyerang lewat sapuan tongkatnya ke arah kaki. Dan hembusan angin dahsyat
dirasakan betul oleh Seta. Angin akibat sapuan tongkat itu bisa membuat orang
yang kurang kuat tenaga dalamnya akan terlempar. Suara menderu-deru mengiringi
serangan tongkat itu. Sehingga kalau saja Seta tidak memiliki tenaga dalam
tinggi, tentu sudah terjengkang sebelum serangan tongkat itu mengenai sasaran.
Akan tetapi, Seta adalah salah
satu murid andalan Per-guruan Tangan Sakti. Maka saat melihat sambaran tongkat
yang menyapu kakinya, sikapnya begitu tenang. Hanya dengan lompatan sederhana,
Seta telah membuat sapuan tongkat Kerbau Gila itu menyambar tempat kosong,
lewat di bawah kakinya. Dengan cepat, murid andalan Perguruan Tangan Sakti itu
segera membalas dengan serangan-serangan yang tak kalah dahsyatnya. Sebentar
saja keduanya sudah terlibat dalam pertarungan sengit.
Seperti halnya Seta, Satriapun
menghadapi lawan yang amat tangguh, yakni Tikus Muka Merah. Laki-laki kurus ini
adalah tokoh sesat yang memiliki kepandaian tinggi. Tak terhitung tokoh
golongan putih yang tewas di tangannya. Malah sebagian besar dari mereka tewas,
di saat Tikus Muka Merah belum mengeluarkan senjata andalannya berupa sepasang
tombak pendek berwarna hitam meng-kilat!
Akan tetapi, lawannya kali ini
adalah Satria, salah seorang murid kepala Perguruan Tangan Sakti. Bahkan juga
murid kesayangan Ki Wanayasa! Jadi, walaupun Tikus Muka Merah telah berusaha
sekuat tenaga untuk me-rubuhkan Satria, tetap saja tidak mampu melakukannya.
Jangankan untuk merubuhkan, mendesakpun tidak
mampu. Padahal, segenap kemampuan yang dimilikinya telah dikerahkan. Bahkan
pelahan namun pasti, Satria mulai mendesaknya.
Tikus Muka Merah akhirnya sadar
kalau Satria terlalu tangguh jika dihadapi dengan tangan kosong. Jelas dia
kalah segala-galanya. Baik tenaga, kelincahan, maupun ilmu silat. Kalau hal ini
dipaksakan, sudah dapat dipasikan dia akan rubuh di tangan Satria. Maka
pantaslah kalau Ki Wanayasa menamakan perguruan silatnya, Perguruan Tangan
Sakti. Memang, ilmu silat tangan kosong perguruan ini luar biasa. Pertahanannya
sulit ditembus. Sedangkan penyerangannya begitu dahsyat dan bertubi-tubi
laksana gelombang.
Maka, tanpa ragu-ragu lagi Tikus
Muka Merah langsung mengeluarkan senjata andalannya yang berupa sepasang tombak
pendek berwarna hitam mengkilat. Kini dengan senjata andalannya, laki-laki
kurus bermuka merah itu berusaha mendesak Satria.
Satria terperanjat ketika
merasakan desakan lawan yang menggunakan sepasang
tombak pendek itu. Kemampuan Tikus
Muka Merah menjadi berlipat ganda! Maka Satria tidak mau mengambil resiko. Cepat-cepat
dicabut pedangnya dan langsung dikerahkan ilmu andalannya
‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’.
Dengan ‘Ilmu Pedang Pembunuh
Naga’, memang gerakan-gerakan Satria menjadi luar biasa. Belum lagi ilmu pedang
itu sendiri yang memang dahsyat. Tidak heran dalam bebrapa gebrakan saja, Tikus
Muka Merah mulai terdesak hebat. Dan pada jurus yang kedelapan, sebuah sabetan
pedang Satria berhasil membacok leher laki-laki kurus itu.
Crakkk!
Tanpa dapat berteriak lagi, tubuh
Tikus Muka Merah rubuh ke tanah dengan leher hampir putus. Darah langsung
muncrat dari luka sayatan di lehernya. Tokoh sesat itupun tewas seketika,
setelah meregang nyawa sesaat.
Sementara itu pertarungan yang
berlangsung antara Seta melawan Kerbau Gila masih berlangsung sengit. Walaupun
laki-laki tinggi besar itu telah menggunakan senjata andalannya, dan Seta hanya
bertangan kosong, tapi tetap saja Kerbau Gila tidak mampu berbuat banyak. Jurus
‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’ yang diguna-kan Seta terlalu tangguh buat si
Kerbau Gila. Pertahanan Seta begitu kokoh, membuat setiap serangan Kerbau Gila
kandas di tengah jalan. Sementara serangan balasan dari pemuda murid Perguruan
Tangan Sakti itu semakin lama semakin bertambah saja kekuatannya. Sehingga
dalam be-berapa puluh jurus saja Kerbau Gila sudah terdesak hebat. Sampai
akhirnya pada jurus kelima puluh delapan, sebuah totokan ujung kaki kanan Seta
dengan keras menghantam lutut kiri laki-laki tinggi besar itu.
Tukkk!
Si Kerbau Gila meringis. Totokan
ujung kaki Seta yang ditunjang tenaga dalam tinggi itu membuat sambungan tulang
lututnya terlepas. Rasa sakit yang hebatpun seketika menyerang lututnya. Akan
tetapi, tidak sedikitpun terdengar keluhan dari mulut Kerbau Gila. Sifat
sombong melarangnya bersikap cengeng di hadapan lawan. Dan saat Kerbau Gila
sempoyongan, tiba-tiba Seta menyerang dahsyat.
Pemuda murid Perguruan Tangan
Sakti itu mengibas-kan kaki kirinya sambil berputar. Inilah salah satu gerakan
‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’.
Desss!
“Aaaakh….!”
Diiringi suara berdebum keras,
tubuh si Kerbau Gila itu ambruk ke tanah. Tidak bangun-bangun lagi.
***
2
Sementara itu di arena lain,
pertarungan antara murid-murid Perguruan Tangan Sakti dengan para pemburu
pusaka Ki Gering Langit kian menghebat. Murid - murid tingkat rendahan
perguruan itu sudah banyak yang berguguran. Begitu pula dari pihak para pemburu
pusaka Ki Gering Langit.
Baru saja Seta hendak terjun lagi
dalam kancah pertarungan itu, tiba-tiba terdengar suara tawa tergelak. Sesaat
kemudian muncul sesosok tubuh tinggi besar dan berkulit hitam legam. Dua
tangannya yang kekar itu langsung diputar-putarkan di depan dada dari luar ke
dalam. Dan akibatnya sungguh dahsyat. Seketika bertiup angin keras yang mampu
membuat mereka yang sedang bertarung bagai dilanda angin ribut. Padahal jarak
orang bertubuh tinggi besar itu dengan arena pertempuran tak kurang dari lima
tombak.
Pertarungan seketika berhenti.
Seluruh pasang mata kini tertuju pada manusia tinggi besar yang masih berdiri
sambil terkekeh. Tak terkecuali Seta. Murid terpandai Ki Wanayasa ini kaget
bukan main melihat peragaan tenaga dalam yang dipertunjukkan manusia tinggi
besar itu. Dia sadar kalau orang yang baru datang itu memiliki kekuatan tenaga
dalam yang berada jauh di atasnya.
Terdengar gumaman kaget dari
kerumunan para pemburu pusaka Ki Gering Langit. Rupanya banyak di antara mereka
yang mengenal laki-laki tinggi besar itu. Dia adalah Bargola, yang merupakan
datuk bagi kaum sesat. Bagai kucing ditakut-takuti sapu lidi, kerumunan para
pemburu pusaka Ki Gering Langit kontan buyar. Mereka semua saling mendahului
melangkah mundur, karena takut menjadi korban Bargola.
Jantung Seta berdebar keras
ketika mengetahui manusia tinggi besar ini adalah Bargola. Sungguh di luar
dugaan kalau dia saat ini berhadapan dengan tokoh yang belum pernah
terkalahkan, kecuali oleh Ki Gering Langit! Tanpa bertempur lagi, Setapun sudah
tahu kalau Bargola tak mungkin dapat dikalahkannya. Bahkan gurunya sendiri yang
bernama Ki Wanayasa, belum tentu mampu menandingi Bargola. Akan tetapi walau
demikian Seta merasa bertanggung jawab sebagai wakil penuh dari gurunya. Maka
tanpa sungkan-sungkan lagi ia maju menghampiri laki-laki tinggi besar itu.
Melihat hal ini Satria dan Mega
tidak mau berdiam diri saja. Mereka memang telah mendengar kedahsyatan ilmu
Bargola. Merekapun tahu kalau Seta bukanlah tandingan tokoh sesat itu. Namun demikian mereka segera
melangkah mengikuti di belakang Seta. Satria dan Mega benar-benar tidak sampai
hati jika harus membiarkan kakak seperguruan mereka menentang maut sendirian.
“Merupakan kehormatan besar,
seorang tokoh besar sepertimu sudi mengunjungi tempat kami, Bargola,” ucap Seta
dengan suara yang terdengar tenang. Tapi ke-tegangan yang luar biasa masih juga
menyelimuti hatinya.
“Siapa kau? Menyingkirlah sebelum
kesabaranku hilang!” bentak Bargola tanpa memperdulikan ucapan Seta.
“Namaku Seta, murid Ki Wanayasa,”
jawab Seta tegas. “O, jadi kau murid Wanayasa? Bagus. Kalau begitu
cepat panggil Wanayasa! Katakan
padanya aku meminta Pedang Bintang!” tegas Bargola dengan suara keras.
“Sayang sekali Bargola. Guruku
saat ini tidak ingin diganggu. Jadi menyesal sekali kalau aku tidak dapat
menyampaikan pesanmu!”
“He…he…he…. Kau beruntung Anak
Muda. Sekarang ini hatiku tengah gembira. Kalau tidak, sudah sejak tadi kau
telah jadi mayat! Tapi biarlah. Kalau kau tak mau memanggil Wanayasa, aku sendiri yang akan
memanggilnya.”
Setelah berkata demikian, Bargola
melangkah tenang menuju pintu gerbang Perguruan Tangan Sakti.
“Langkahi dulu mayatku!” teriak
Seta tegas. Dengan berani dihadangnya tokoh sesat itu. dan…..
Srattt!
Cepat sekali Seta mencabut
pedangnya. Ia tahu betul kalau lawannya kali ini memiliki tingkat kepandaian
yang sulit diukur. Maka tanpa ragu-ragu lagi segera dicabut sebjata. Sebab,
Bargola tidak bisa disamakan dengan Kerbau Gila! Kapandaian Bargola jauh di
atas Kerbau Gila.
“Ha…ha…ha…!” Bargola tertawa
terbahak-bahak. “Maju dan seranglah aku, kunyuk! Ingin kulihat sampai di mana
kelihaian ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’ milik gurumu itu!”
“Hiyaaaa….!” Teriak Seta keras.
Tubuhnya melesat menerjang Bargola dengan satu tusukan lurus ke arah perut. Cepat
sekali seangan yang dilakukan Seta itu.
“Hm…..” dengus Bargola.
Dengan gerakan yang seperti
malas-malasan, Bargola memutar-mutarkan kedua tangannya di depan dada dari luar
ke dalam. Angin keras seketika timbul dari kedua tangan yang berputaran itu.
begitu kerasnya angin itu sehingga membuat tubuh Seta tertahan, tak dapat maju.
Tubuhnya bagai menembus dinding yang tidak nampak.
Seta menggertakkan giginya.
Dikerahkan seluruh tenaganya, mencoba meneruskan serangannya yang kandas
sebelum mencapai sasaran. Sekujur tubuhnya terutama tangannya yang terjulur
menusukkan pedang ber-getar keras. Sementara Bargola tenang-tenang saja sambil
memuta-mutarkan kedua tangannya di depan dada.
Sementara Satria dan Mega yang
kawatir melihat keadaan kakak seperguruan mereka yang kritis, segera mencabut
pedangnya hampir bersamaan.
Srattt! Srattt!
Dengan gerakan lincah dan indah,
Satria dan Mega segera meloncat ke depan dan bersalto di udara melewati kepala
Bargola. Dalam keadaan masih di atas, mereka menukik menyerang bagian atas
tubuh Bargola dengan tusukan pedang.
Hebat juga serangan kedua orang
murid Perguruan Tangan Sakti itu. semua yang ada di situ dan menyaksikan
pertempuran mereka sampai menahan nafas melihat kedahsyatan serangan itu.
Mereka semua merasa tegang menantikan bagaimana caranya datuk kaum sesat itu menghadapi
serangan gabungan dalam keadaan yang tidak menguntungkan.
Rupanya menghadapi keadaan yang
sulit itu, Bargola hanya mendengus. Putaran tangannya mendadak ber-tambah cepat
dan berakibat dahsyat. Seta yang sejak tadi asih memaksa maju tanpa ampun lagi
terlempar ke belakang. Tampak dari sudut bibirnya menetes darah segar.
Setelah merubuhkan Seta dengan kecepatan
mengagumkan, Bargola mengibaskan kedua tangannya ke atas. Hasilnya tusukan
pedang Satria dan Mega tersampok tangna telanjang datuk kaum sesat itu.
Trak! Trak!
Satria dan Mega merasakan seluruh
tubuh mereka ber-getar hebat. Terutama sekali tangan yang meng-genggam pedang
yang bagaikan lumpuh. Tubuh kedua murid Per-guruan Tangan Sakti itu berputar di
udara, lalu hinggap be-berapa depa di belakang Bargola seraya terhuyung-huyung.
Wajah keduanya nampak agak pucat karena sampokan tangan Bargola memang dahsyat
sekali.
Bargola balikkan tubuhnya
menghadap Satria dan Mega. Kedua murid kepala itu merasakan jantungnya
ber-debar hebat. Datuk kaum sesat itu memang memiliki sorot mata yang
menggiriskan.
Dengan menggertakkan gigi, Satria
dan Mega ber-usaha menghilangkan debaran jantung mereka. Kini kedua murid
kepala itu bersama-sama mulai memasang jurus pembukaan ‘Ilmu Pedang Pembunuh
Naga’. Walaupun keduanya sadar kalau ilmu yang diandalkan itu tidak berarti
apa-apa bagi Bargola, tapi tetap saja meraka ber-siap-siap menyerang kembali.
“Manusia-manusia tak tahu diri!”
teriak Bargola dengan suara mengguntur. “Sebenarnya aku tidak berniat
bermain-main pada kalian. Tapi karena terlalu kurang ajar, maka aku tidak
sungkan-sungkan lagi memberi pelajaran pada kalian!”
“Hiyaaat….!” Teriak Satria sambil
melompat menerjang Bargola, begitu datuk sesat tiu menyelesaikan kata-katanya.
“Hiyaaa….!” Mega menyusul
menerjang pula.
Hebat sekali serangan kedua kakak beradik seperguruan ini. apalagi dilakukan
secara bersamaan. Tapi kini yang diserang adalah sosok yang telah terkenal
kehebatannya. Bahkan boleh dibilang sebagai pentolan kaum sesat. Tokoh yang
menggiriskan ini seolah-olah hanya diam saja menantikan serangan itu. Dan
ketika serangan itu dekat, kedua tangannya bergerak cepat bukan main.
Satria dan Mega tidak tahu lagi
apa yang terjadi! Yang jelas, tangan mereka yang menggenggam pedang terasa
lumpuh. Dan di lain saat pedang mereka sudah berpindah tangan! Rupanya saat
serangan Satria dan Mega telah dekat, Bargola cepat menotok pangkal lengan
mereka dengan mengandalkan kecepatan geraknya. Di saat tanagn mereka lumpuh,
datuk kaum sesat itu merampas pedang-pedang itu.
Wajah Satria dan Mega seketika
berurbah pucat. Sekilas mereka melirik Seta yang masih terbungkuk-bungkuk
menahan luka dalamnya, lalu beralih memandang Bargola yang telah merampas
pedang begitu mudahnya.
“Ha..ha…ha…!” Bargola tertawa
bergelak. Kemudain dengan sedikit menggerakkan jari-jari tangannya,
dipatah-patahkannya pedang-pedang itu.
Tiba-tiba terdengar tepuk tangan
yang nyaring sekali, begitu Bargola menyelesaikan aksinya. Dan begitu suara
Aji Saka ( created ebook by fujidenkikagawa 5
DEWA ARAK Pedang Bintang
tepukan berhenti terdengar sebuah
suara pujian yang mengandung ejekan.
“Luar biasa! Ternyata nama besar
Bargola bukan omong kosong belaka. Kini telah kulihat sendiri kebenaran berita
itu. Buktinya tiga orang pemuda yang sama sekali tidak terkenal bisa
dikalahkan.”
Merah padam wajah Bargola. Bahkan
kedua telinganya seperti terasa sakit. Disertai kemarahan menggelegak,
ditolehkan kepalanya ke belakang kearah sumber suara tadi.
Di sebelah Seta ternyata telah
berdiri seorang kakek yang berusia sekitar enam puluh tahun. Tubuhnya tinggi
kurus, agak bongkok dan berjenggot putih panjang hingga mencapai dada. Begitu
melihat kakek ini, Satria dan Mega segera maju menghampiri dan memberi hormat.
“Guru….” Satria dan Mega menyebut
berbarengan. Kakek bongkok udang yang ternyata Ki Wanayasa hanya mengibaskan
tangannya perlahan. “Menyingkirlah. Bargola bukan lawan kalian.”
Tanpa diperintah dua kali, Satria
dan Mega segera menyingkir ke balik punggung gurunya disebelah Seta. Kini
mereka menyadari kelihaian Bargola yang luar biasa itu.
Bargola mendengus sebentar.
“Jadi kau rupanya yang bernama
Wanayasa, Ketua Perguruan Tangan Sakti itu?! Kebetulan sekali kau keluar, jadi
aku tak perlu repot-repot lagi mencarimu ke dalam!” kata Bargola.
Ki Wanayasa menatap tajam dan
masih tetap bersikap tenang.
“Setahuku aku tidak pernah
mempunyai urusan denganmu Bargola. Lalu mengapa tiba-tiba mencariku?! Apa ada
hubungannya dengan Pedang Bintang milik Ki Gering Langit itu?” ujar Ki Wanayasa
seperti minta pen-jelasan.
“Tentu saja ada. Justru
kedatanganku ke mari hanya untuk mengambil Pedang Bintang itu!” tegas Bargola cepat.
“Sayang sekali…. Kau salah alamat
Bargola! Aku sama sekali tidak tahu tentang pedang yang kau cari itu,” ujar Ki
Wanayasa.
“Maksudmu….?” Bargola terperangah
kaget.
“Ya…..” Ki Wanayasa menganggukkan
kepalanya. “Pedang Bintang itu tidak ada padaku!”
“Keparat!” teriak Bargola geram.
Datuk sesat iu memang percaya akan ucapan itu. Ia tahu, seorang pemimpin
perguruan besar seperti Ki Wanayasa tidak mungkin akan berbohong. Entah
kemarahan Bargola ditujukan kepada siapa.
“Bagaimana Bargola?”
“Kalau begitu menyingkirlah
Wanayasa. Aku akan memberi pelajaran pada orang-orang yang tidak tahu adat
padaku!” dengus Bargola.
Setelah berkata demikian Bargola
menatap tajam ketiga orang murid kepala Perguruan Tangan Sakti yang berada di
belakang Ki Wanayasa. Sementara Ki Wanayasa tahu kalau Bargola ingin
melampiaskan kekecewaan pada tiga orang muridnya itu. Tentu saja hal itu akan
berkibat fatal. Maka sambil tetap tersenyum, ditatapnya mata Bargola
tajam-tajam. Tapi laki-laki tua itu tidak memungkiri kalau hatinya tegang juga.
“Kalau aku tidak mau?” tanya Ki Wanayasa
memancing.
“Terpaksa kau yang akan
kusingkirkan lebih dulu!” tegas Bargola. “Kau tinggal memilih Wanayasa.
Menyingkir atau berhadapan denganku!”
“Aku pilih yang kedua!” tegas Ki
Wanayasa. Bargola tertawa terbahak-bahak.
“Kalau begitu bersiaplah
Wanayasa!” tantang Bargola. “Menyingkirlah kalian!” perintah Ki Wanayasa pada ketiga
orang muris kepalanya.
Tanpa diperintah dua kali Seta,
Satria dan Mega segera menyingkir dari tempat itu. Hingga kini di situ tinggal
Ki
Wanayasa dan Bargola yang sudah
saling tatap sejarak empat tombak.
“Silahkan Bargola,” ucap Ki
Wanayasa dengan suara tenang. Namun demikian sebenarnya jantungnya berdegup
keras dalam ketegangan yang memuncak. Ki Wanayasa tahu betul siapa itu Bargola.
Sesungguhnya dia ragu, apakah mampu menghadapinya atau tidak. Itulah sebabnya mengapa tanpa ragu-ragu lagi
Ki Wanayasa sudah menyiapkan ilmu andalannya ‘Delapan Cara Menaklukkan
Harimau’.
Ilmu andalan Ki Wanayasa itu
adalah ilmu yang diciptakan langsung olehnya.
Dia mengambil dan menggabung-gabungkan inti beberapa ilmu. Di antaranya adalah
jurus ‘Kelabang’, ‘Naga’, ‘Belalang’ dan ‘Kalajengking’. Sesuai dengan namanya
jurus ini menitik beratkan pada bagian-bagian penyerangan. Memang pada dasarnya
setiap ilmu selalu mempunyai jurus untuk bertahan dan jurus untuk menyerang. Hanya
saja ilmu ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’. Yang lebih ditonjolkan adalah
penyerangan.
“Hm….!” Dengus Bargola.
Selesai mendengus yang menjadi
ciri khasnya, Bargola meluruk menerjang Ki Wanayasa. Kedua tangannya yang
berbentuk cakar siap menggedor dada Ketua Perguruan Tangan Sakti ini.
Angin yang berciutan keras dan
tajam mengiringi serangan laki-laki tinggi besar itu. Ki Wanayasa yang sudha
dapat memperkirakan kedahsyatan serangan itu tidak berani bersikap gegabah.
Kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal. Maka untuk sementara dia tidak
berani sembarangan menangkis, tapi segera menggeser tubuhnya ke kanan.
Akan tetapi Bargola sudah
memperhitungkan hal itu. maka begitu dilihat Ki Wanayasa menggeser ke kanan,
iapun segera menyampok ke kiri tetap mengarah ke dada Ketua Perguruan Tangan
Sakti itu.
Kali ini Ki Wanayasa tidak
mempunyai pilihan lain lagi. Terpaksa ditangkis serangan itu dengan jari-jari
tangan terbuka disertai pengerahan seluruh tenaga dalamnya.
Prattt….!
Tubuh kedua tokoh sakti itu
sama-sama bergetar hebat ketika dua pasang tangan beradu. Hanya saja tubuh Ki
Wanayasa nampak terhuyung. Jelas, kalau adu tenaga dalam Bargola masih sedikit
unggul darinya.
Bargola cukup terkejut juga.
Walaupun kepandaian Ki Wanayasa memang sudah diduganya, namun sungguh di luar
dugaan kalau tenaga dalam Ketua Perguruan Tangan Sakti ini tinggi juga. Bahkan
mungkin hampir menyamai tenaga dalamnya sendiri! Hal ini membuat Bargola yang
memang beringas ini menjadi semakin murka.
“Hm…..” Bargola segera
mengeluarkan ilmu ‘Tapak Bara’ andalannya.
Diiringi dengusan keras, datuk
itu membuka serangan dengan tapak tangan kanan terbuka ke arah dada Ki
Wanayasa. Sementara tangan kiri yang jari-jarinya terbuka bersilang di depan
dada.
Ki Wanayasa terperanjat bukan
main. Kekagetannya itu bukan karena serangan melainkan akibat angin panas yang mendahului menyergapnya sebelum serangan
Bargola tiba. Sebagai orang yang telah kenyang pengalaman, laki-laki tua ini
tidak mau bertindak gegabah. Cepat-cepat dielakkan serangan itu dengan
melentingkan tubuh ke samping sambil berputar di udara menjauh. Hawa panas itu
membuat dadanya terasa sesak.
Tentu saja Bargola tidak tinggal
diam. Datuk beringas yang tengah murka ini segera memburunya dengan
serangan-serangan yang dahsyat. Sebentar saja Ki
Wanayasa telah terdesak. Ia hanya mengelak setiap serangan Bargola, tanpa
berani menangkis. Sesekali memang balas menyerang tapi segera ditariknya
kembali begitu dilihatnya Bargola akan memapak.
Keadaan Ki Wanayasa ini tentu
saja diketahui Satria,
Seta dan Mega. Mereka ingin
segera membantu tapi bagaimana caranya? Jangankan ikut bertarung, untuk
mendekat dalam jarak tiga tombak saja tidak sanggup. Hawa panas begitu terasa
menyengat!
Ki Wanayasa sadar jika keadaan
ini terus berlangsung lambat laun akan rubuh di tanan Bargola yang dahsyat itu.
hawa panas yang ditimbulkan ilmu ‘Tapak Bara’ Bargola benar-benar membuatnya
tersiksa. Sekujur wajah dan tubuhnya sduah dibasahi keringat. Bahkan wajahnya
nampak memerah bagai kepiting rebus. Dadanyapun terasa sesak.
Dan pada jurus ketiga belas, Ki
Wanayasa tidak mampu lagi mengelak. Bargola telah memojokkannya sedemikian
rupa. Akibatnya dia tidak menemukan jalan keluar kecuali menangkis untuk
menyelamatkan selebar nyawanya. Dengan terpaksa disambutnya tapak kanan Bargola
yang merah membara dengan tapak tangannya.
Plak!
Tubuh Ki Wanayasa
terhuyung-huyung. Kakek ini merasakan hawa panas yang amat sangat menjalar di
sekujur tubuhnya. Tapak tangannya yang dipakai untuk menangkis nampak hangus.
Ada bau sangit daging terbakar menyeruak dari tapak tangan itu. Sementara
Bargola hanya bergetar saja tubuhnya.
Ki Wanayasa menahan napas.
Dikerahkannya seluruh hawa murni yang dimiliki untuk mengusir hawa panas yang
menjalari sekujru tubuhnya. Untuk sesaat pertarungan ter-henti.
“Ha..ha…ha…!” Bargola tertawa tergelak penuh
kemenangan! Dengan langkah lambat-lambat dihampirinya Ki Wanayasa yang masih
berusaha mengusir hawa panas yang menjalari sekujur tubuhnya.
“Bersiaplah untuk mati Wanayasa!
Pantang bagiku membiarkan hidup seorang lawan yang berani menentang-ku!” tegas
Bargola. Suaranya begitu mengguntur.
Kakek bongkok udang itu masih
berusaha mengusir hawa panas yang menyengat ketika datuk itu meng-hampirinya.
Kini semua pandangan mata tertuju pada Bargola yang tengah melangkah lambat
menghampiri Ki Wanayasa. Sedangkan Ki Wanayasa hanya bersikap pasrah menanti
ajal.
Sebelum niat Bargola itu
terlaksana, terdengar suara mendesing nyaring.
Tak lama kemudian disusul melayangnya beberapa buah benda berkilatan ke arah
Bargola.
“Hm….” Dengus Bargola.
Seketika kedua tangan laki-laki
beringas itu bergerak menyampok benda berkilatan yang melesat cepat ke arahnya!
Dari suara mendesing yang sangat nyaring, datuk kaum sesat itu dapat mengetahui
betapa kuatnya tenaga dalam orang yang melemparkannya. Namun tanpa ragu-ragu
lagi Bargola menyampok dengan tangan telanjang. Dia benar-benar tidak merasa
kawatir kalau benda-benda berkilatan itu akan melukai tangannya. Memang, pada
saat mengerahkan ilmu ‘Tapak Bara’ kedua tangannya menjadi kebal terhadap
segala macam senjata tajam.
Trak, trak, trak! Tap!
Tiga dari empat benda berkilatan
yang mengarah ke tubuhnya terpental
rubuh ketika ditangkis Bargola. Sedangkan sebuah lagi ditangkap tangannya.
Mulanya Bargola kaget bukan main
ketika merasakan tangan yang dipergunakan untuk menyampok bergetar hebat. Dan
ketika melihat benda berkilat yang ada di tangannya, wajahnya seketika berubah!
Benda berkilat itu ternyata adalah sebuah pisau berwarna putih. Bargola tahu
betul siapa pemilik pisau itu.
“Raja Pisau Terbang….” Gumam Bargola
menyebut suatu nama.
Belum habis ucapan itu, tahu-tahu
di depan Bargola telah muncul sesosok tubuh berperawakan sedang. Wajahnya gagah
dan menyorotkan kesabaran. Usianya sekitar lima puluh tahun. Memang dialah
tokoh yang telah melemparkan pisau-pisau yang berwarna putih mengkilat itu. Dia
memang berjuluk Raja Pisau Terbang, seorang tokoh beraliran putih yang disegani
lawan maupun kawan.
“Sungguh tidak kusangka kalau kau
bisa tersesat jauh ke sini, Bargola….” Sindir Raja Pisau Terbang pelan.
Bargola hanya mendengus. Raut
ketidak senangan tersirat jalas pada wajahnya.
“Sayang sekali, Raja Pisau
Terbang. Kali ini aku tidak berminat untuk berdebat atau bertarung denganmu.
Saat ini aku tengah ada urusan lain yang lebih penting. Kalau tidak,
sekarangpun bisa ditentukan siapa yang lebih kuat di antara kita. Jangan
berharap kau akan semujur dulu!” tegas datuk sesat itu. Suaranya kasar dan
terdengar berat.
“Sampai kapanpun aku akan selalu
siap sedia, Bargola,” ujar Raja Pisau Terbang sambil tersenyum.
Bargola tidak menjawab. Datuk
sesat itu lagi-lagi hanya mendengus. Suatu kebiasaan buruk yang telah menjadi
ciri khasnya. Kemudian tanpa berkata-kata lagi digerakkan tubuhnya. Tampaknya
hanya seperti menggeliat, tapi tahu-tahu tubuhnya telah bergeser sejauh lima
tombak. Raja Pisau Terbang hanya memandangi hingga tubuh Bargola lenyap di
kajauhan.
Melihat kepergian Bargola,
apalagi setelah mendengar bahwa Pedang Bintang tidak ada di situ, maka para
tokoh rimba persilatan pemburu Pusaka Ki Gering Langit itu satu persatu
meninggalkan tempat. Dan tak lama kemudian yang tertinggal di situ hanya Ki
Wanayasa dan murid-muridnya serta si Raja Pisau Terbang.
Ki Wanayasa yang telah pulih dari
serangan hawa panas pada sekujur tubuhnya bergegas mengahampiri Raja Pisau
Terbang.
“Terima kasih atas pertolonganmu,
Adi Kirin. Kalau tidak……, hhh! Bargola memang hebat. Ilmu ‘Tapak Bara’nya
benar-benar dahsyat! Bahkan ilmu meringankan tubuhnyapun luar biasa sekali….”
Ucap Ki Wanayasa.
“Lupakanlah Kakang Wanayasa. Di
antara kita rasanya tidak perlu berbasa basi seperti itu. Kedatanganku ke sini
hanya secara kebetulan. Katika kulihat Bargola di Desa Ketapang di Kaki Gunung
Waru ini, aku curiga. Maka akupun mengikutinya. Jelas ini sangat mengherankan
sekaligus mencurigakan kalau Bargola yang berada jauh di Barat, tiba-tiba
berkeliaran sampai ke Timur sini. Setelah kuikuti, ternyata dia memang ingin ke
sini. Sayang, aku agak terlambat….” Sesal Raja Pisau Terbang yang bernama Kirin
ini sambil tersenyum kecil. “Ilmu ‘Tapak Bara’nya memang hebat. Tapi mengenai
ilmu meringankan tubuh, rasanya masih bisa kusaingi. Kecuali terhadap tokoh
yang satu itu…. Terus terang aku takluk pada ilmu meringankan tubuh dan
kecepatan geraknya…..”
“Ki Gering Langit?” tebak Ki
Wanayasa.
“Bukan. Beliau tidak masuk
hitungan,” Raja Pisau Terbang menggelengkan kepalanya perlahan.
“Lalu siapa?” tanya Ki Wanayasa.
Pikirannya berputar keras. Dan tiba-tiba mendapatkan satu nama.
“Maksudmu…… si Ular Hitam?”
“Benar,” Raja Pisau Terbang
mengangguk. Ia sudah dapat menduga ketajaman berpikir Ketua Perguruan Tangan
Sakti itu.
“Ahhh….!” Ki Wanayasa mendesah
pelan.
“Dialah si pemilik ilmu
meringankan tubuh yang luar biasa. Bahkan kecepatan gerak tangannya tidak bisa
kusaingi. Kalau saja aku tidak memiliki pisau terbang, mungkin sudah tewas di
tangannya dulu….”
Ki Wanayasa mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Ya, pernah kudengar berita itu.
kalau tidak salah ilmu meringankan tubuh dan kecepatan geraknya yang luar biasa
itu adalah ilmu ‘Ular Terbang’ dan terkenal sebagai ilmu andalannya.”
Raja Pisau Terbang hanya
mengangguk.
“Kudengar selama beberapa tahun
ini nama Ular Hitam tidak pernah terdengar lagi. Apa betul begitu, Adi Kirin?”
tanya Ki Wanayasa lebih jauh.
“Benar. Aku sendiri juga heran kakang
Wanayasa. Mendadak saja ia lenyap tanpa berita bagai ditelan bumi. Kabar yang
tersiar di dunia persilatan simpang siur. Ada yang mengatakan menyembunyikan diri untuk
menciptakan ilmu-ilmu baru yang akan digunakan untuk membalas kekalahannya
terhadap Ki Gering Langit. Berita yang pasti tidak ada yang tahu. Mendadak saja
ia lenyap tanpa jejak…”
Ki Wanayasa termenung sejenak
mendengar cerita Raja Pisau Terbang itu, tapi tiba-tiba saja teringat sesuatu.
Ditepuknya keningnya sebentar.
“Tuan rumah macam apa aku ini.
Ada tamu agung bukannya disambut, diajak masuk dan disediakan minum. Tapi malah
dibiarkan berdiri berpanas-panas di luar! Ahhh…. Mari masuk dulu Adi Kirin.
Kita rayakan pertemuan yang istimewa ini di dalam.”
Raja Pisau Terbang hanya
tersenyum.
“Usul yang baik sekali,” ucap
laki-laki setengah baya ini gembira sambil mengikuti langkah kaki Ki Wanayasa
yang telah lebih dulu berjalan menuju ke dalam bangunan Perguruan Tangan Sakti.
Sementara itu Satria segera
menolong Seta yang terluka cukup parah. Sedangkan Mega sibuk mengatur adik-adik
seperguruannya untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat itu.
Beberapa murid lainnya menolong saudara seperguruannya yang terluka.
Malam itu langit kelihatan kelam.
Bulan yang hanya sepotong di langit
terlihat tidak berdaya menembus awan hitam dan tebal yang bergumpal - gumpal
menutupinya. Angin dingin yang berhembus dan terkadang sesekali keras itu kian
menambah seramnya suasana malam. Dan dalam suasana seperti itu orang - orang
merasa lebih suka tinggal di dalam rumah. Mereka lebih suka dibuai mimpi di
peraduannya daripada berkeliaran di luar.
Tetapi kenikmatan seperti itu
tidak diperoleh murid-murid Perguruan Tangan Sakti yang tengah mendapat tugas
berjaga. Walaupun keadaan alam yang tidak bersahabat, mereka harus tetap
berjaga-jaga bersikap waspada. Apalagi mengingat kejadian tadi pagi. Bukan
tidak mungkin kalau malam ini ada tokoh-tokoh persilatan yang masih penasaran
ingin menyatroni perguruan mereka untuk mencari Pedang Bintang.
Empat orang murid nampak
berjaga-jaga dekat pintu gerbang memandang ke sekeliling. Sikap mereka
benar-benar waspada dalam keremangan cahaya sinar obor yang nampak lemah tak
berdaya. Beberapa murid lain menunggu di pos. Sementara dua orang lainnya
berkeliling ke sekeliling perguruan.
Keadaan benar-benar gelap.
Walaupun sepasang mata dibelelakkan sebesar-besarnya tetap saja tidak akan
ter-lihat apa-apa selain kegelapan pekat. Tapi empat orang murid yang bertugas jaga
itu tetap memperhatikan se-kelilingnya dengan mata nyalang.
Dan tiba-tiba salah seorang dari
mereka melihat sesuatu dalam kegelapan malam yang pekat itu. Beberapa saat
lamanya murid itu menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengucek-ucek mata
untuk meyakini penglihatannya. Tetapi tetap saja dia melihat sosok bayangan
putih yang begitu enaknya bersila di atas sebatang ranting. Padahal ranting
pohon itu hanya sebesar ibu jari!
“Ha…hantu….” Keluar jua ucapan
itu dari mulut salah seorang murid walaupun dengan bibir gemetar.
Sebenarnya ucapan yang keluar
dari mulut murid yang sial itu tidak keras bahkan hanya perlahan saja. Tapi
karena keadaan yang begitu hening, suara yang perlahan itu jadi terdengar
keras. Dan tentu saja terdengar oleh teman-temannya yang berada tidak jauh dari
situ.
“Ada apa, Parja?” tanya salah
seorang temannya sambil bergerak mendekat.
Parja, murid yang melihat sosok
tubuh putih itu mencoba untuk menyahut. Tapi ternyata tidak mampu. Yang keluar
dari mulutnya hanyala suara gumaman tidak jelas.
Tentu saja yang lain tidak
mengerti maksudnya. Untungnya Parja juga menuding-nudingkan jari telunjuk ke
arah tempat ia melihat sosok tubuh serba putih itu tadi.
Serentak kepala teman-temannya
menoleh ke arah yang ditunjuk Parja. Dan betapa terkesiapnya hati mereka ketika
melihat sesuatu yang ditunjuk Parja.
“Han…hantu….” Desis mereka dengan
suara bergetar. Walaupun mereka telah digembleng untuk tidak takut menghadapi
maut, akan tetapi pada mahluk halus tetap saja gentar!
Tapi rupanya salah seorang
penjaga yang beranama Wiji tidak percaya dengan adanya hantu.
“Aku tidak percaya kalau hantu
atau siluman itu ada. Buktinya dari dulu aku tidak pernah bertemu segala mahluk
tetek bengek itu! aku yakin ini hanyalah satu siasat orang-orang yang ingin
mengambil keuntungan dari suasana malam yang tidak seperti biasanya ini!” tegas
Wiji dengan sikap tenang.
Ucapan dan sikap dari Wiji
membuat Parja dan teman-temannya menjadi agak lebih berani. Kini mereka menatap
sosok bayangan putih itu penuh perhatian.
Mendadak saja sosok bayangan
putih itu bangkit dari bersilanya. Dan secepat itu pula tubuhnya melompat dari
ranting pohon yang tadi didudukinya kearah Wiji, Parja dan seorang rekannya
yang tengah memperhatikan. Sosok bayangan putih itu begitu ringan hinggap
sekitar empat tombak di depan para murid Perguruan Tangan Sakti.
Dengan bantuan sinar obor apalagi
pakaian orang itu serba putih, Wiji dan tiga murid lainnya dapat melihat lebih
jelas sosok bayangan putih itu lagi. Sedangkan Parja bergerak menjauh karena
rasa takut yang menyerangnya. Dia hanya memperhatikan tanpa berkedip.
Sosok bayangan putih itu bertubuh
tinggi kurus. Wajahnya tertutup selubung putih yang memiliki dua buah lobang
kecil untuk mata. Pakaiannya juga serba putih. Di bagian dada terdapat sebuah
gambar tengkorak kepala manusia.
Wiji dan teman-temannya memperhatikan sosok bayangan putih itu dengan bulu tengkuk meremang.
Apalagi ketika menatap sepasang mata yang mencorong kehijauan di balik selubung
itu! Sepasang mata itu lebih mirip mata harimau dalam gelap! Manusiakah sosok
yang berdiri di hadapan mereka ini?
Dan belum lagi sadar dari
keterpakuannya, sosok serba putih itu tiba-tiba mengebutkan tangannya.
Kelihatannya pelan saja tapi akibatnya hebat sekali! Tubuh Wiji dan kedua orang
temannya terlempar ke belakang sejauh lima tombak lebih. Bagai diterjang angin
ribut saja layaknya.
Tubuh mereka masih terguling-guling di tanah
beberapa tombak jauhnya. Dan begitu daya lontar serangan sosok serba putih itu
habis, tubuh merekapun berhenti. Mereka kini tidak bergeak lagi dengan sekujur
tubuh berwarna kebiruan. Tewas!
Parja dari kajauhan menatap mayat
ketiga temannya dengan perasaan campur aduk. Marah, kaget dan juga ngeri! Jelas
sekali dilihatnya kalau sosok serba putih itu hanya menggerakkan tangannya
perlahan saja. Dan akibatnya begitu hebat dan mengerikan! Parja sadar kalau
sosok serba putih ini memiliki kepandaian amat tinggi dan jelas bukan
tandingannya. Maka cepat-cepat dia memukul kentongan tanda bahaya.
“Tidak ada ampun bagi orang yang
berani meremehkan Siluman Tengkorak Putih!” ucap sosok serba putih itu.
Tok! Tok! Tok!
Dalam sekejapan saja suara
kentongan itu telah memecah keheningan malam kelam. Sosok serba putih yang ternyata berjuluk Siluman Tengkorak Putih membiarkan saja apa yang dilakukan Parja. Parja memang
sengaja tidak di bunuh agar
memberitahukan kedatangannya. Keonaran ini memang sengaja dibuat untuk
membuat Ki Wanayasa keluar dari tempatnya.
Apa yang diharapkan Siluman
Tengkorak Putih ternyata memang tidak salah. Suara kentongan yang dipukul Parja
itu segera saja menimbulkan kegemparan di bangunan besar Perguruan Tangan
Sakti. Berbondong-bondong para murid perguruan bergerak menuju
arah kentongan berbunyi. Di antara
mereka nampak pula murid utama Perguruan Tangan Sakti.
Seta yang memiliki ilmu
meringankan tubuh paling tinggi di antara murid-murid lainnya adalah orang
pertama yang paling dulu tiba di tempat Parja memukul kentongan. Ia telah sembuh
kembali seperti sediakala setelah diobati gurunya siang tadi.
Yang pertama dilihat Seta adalah
sosok serba putih yang tengah berdiri tenang sambil menatap parja yang masih
sibuk memukul kentongan.
“Ada apa Parja?” tanya Seta
begitu tiba di samping Parja.
“Siluman itu membunuh rekan-rekan
kita Kang,” jawab Parja dengan suara tersendat.
Untuk beberapa saatnya lamanya
Seta celingukan. Sepasang matanya nyalang mengawasi sekitarnya. Yang dicari
adalah mayat adik-adik seperguruannya yang menurut laporan Parja telah dubunuh
sosok putih di depannya. Tapi sampai sakit matanya dia tidak melihat apa-apa. Suasana malam yang gelap menghalangi pandangannya.
Beberapa saat kemudian ketika
para murid perguruan lainnya yang membawa obor tiba, Seta akhirnya dapat
melihat mayat adik-adik seperguruannya. Obor-obor yang dibawa cukup menerangi
keadaan sekitar tempat itu. Melihat hal ini amarah Seta meluap. Dengan sinar
mata merah ditatapnya sosok bayangan putih di depannya.
“Hai, Siluman! Apa persoalannya
dengan kami sehingga kau begitu kejam membunuh murid-murid Perguruan Tangan
Sakti?!”
Siluman Tengkorak Putih hanya
tertawa. Tawanya begitu aneh. Pelan, berat dan bergaung. Sepertinya bukan
keluar dari mulut manusia!
Semula tidak ada yang aneh pada
awa itu selain bunyinya yang tidak seperti tawa manusia pada umumnya. Tapi
beberapa saat kemudian suara tawa itu mulai menampakkan akibatnya. Seta
merasakan suara tawa pelahan namun pasti, mulai menyakiti telinga dan membuat
sesak dadanya. Otak Seta yang cerdas segera saja menduga ada ketidak wajaran
pada suara tawa itu. Sekilas diliriknya Parja.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya
hati Seta melihat Parja tengah duduk bersila. Kedua tangannya menutupi kedua
telinga untuk menghalangi serangan suara tawa itu.
Ternyata bukan hanya Praja saja.
Terlihat semua adik seperguruannya duduk bersila dan menutup kedua telinganya.
Tak terkecuali Satria dan Mega! Bahkan ada beberapa orang adik seperguruannya
yang telah menggigil sekujur tubuhnya. Seta yang telah berpengalaman, tahu
kalau adik seperguruannya itu tidak akan dapat bertahan lama. Sebenarnya dia
juga mengalami hal yang sama. Tapi karena tenaga dalamnya lebih kuat, dia lebih
dapat bertahan. “Hiyaaaat…..!”
Sambil berteriak keras Seta
melompat menerjang Siluman Tengkorak Putih yang masih tertawa. Disadari kalau
lawannya ini mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Maka tanpa ragu-ragu lagi
dicabut pedangnya dan langsung dikeluarkan ilmu andalan ‘Ilmu Pedang Pembunuh Naga’!
Suara berdesing nyaring mengawali serangan. Walaupun Siluman Tengkorak Putih
sudah dapat memperkirakan kedahsyatan serangan lawan, tetapi dia hanya
mendengus saja.
“Manusia tidak tahu diri! Kalau
mau aku telah membunuhmu dengan suara tawaku itu!”
Setelah berkata demikian
tangannya yang telanjang bergerak cepat
menangkis serangan pedang Seta.
Kecepatan gerak tangannya mengingatkan orang pada serangan seekor ular pada
mangsanya. Begitu cepat dan tiba-tiba.
Trak! “Akh….!”
Seta menyeringai. Tangannya yang
menggenggam pedang mendadak lumpuh sesaat begitu tangan Siluman Tengkorak Putih
menangkis pedangnya. Tanpa dapat dicegah lagi pedangnya terlepas dari pegangan.
Belum lagi Seta sempat berbuat
sesuatu, serangan belasan Siluman Tengkorak Putih telah mengancam. Murid utama
Perguruan Tangan Sakti itu hanya melihat kelebatan sinar putih menyambar ke
arahnya. Dirasakannya juga hembusan angin dingin menuju ke arahnya.
Seta kaget bukan main.
Sebisa-bisanya dilempar tubuhnya ke belakang dan bergulingan di tanah beberapa
kali. Tapi tetap saja ekor matanya melihat ada sekelabatan sinar putih
mendekati ubun-ubunnya. Seta terus ber-gulingan. Sementara itu kelebatan sinar
putih itu tetap mencecar ubun-ubunnya.
Satria, Mega dan beberapa adik
seperguruannya melihat semua itu disertai rasa cemas yang mendalam. Berbeda
dengan Seta mereka yang kini sudah bebas dari serangan tawa itu dapat melihat
jelas semua yang terjadi. Memang kakak seperguruan mereka berusaha mati-matian
mengelak dari ancaman tangan Siluman Tengkorak Putih yang mencecar
ubun-ubunnya.
Satria dan Mega yang bergegas
melompat hendak membantu ternyata terlambat! Tangan manusia siluman itu telak sekali menghantam ubun-ubun murid utama Perguruan Tangan Sakti itu.
Crokkk….! “Akh!”
Seta memekik tertahan, sebelum
tubuhnya rubuh dengan ubun-ubun kepala pecah.
“Kang Seta…..!” teriak Satria dan
Mega hampir bersamaan. Dua orang murid utama Perguruan Tangan Sakti itu
tercenung. Pandangan mata mereka seolah-olah tidak percaya dengan apa yang
dilihatnya. Untuk beberapa saat lamanya keduanya terbengong-bengong.
“Tidak ada ampun bagi orang yang
berani menyerang Siluman Tengkorak Putih!” ancam sosok bayangan putih itu
dengan suara yang khas. Pelan, berat dan bergaung.
Kontan Satria dan Mega tersadar
dari termenungnya. Ketika kesadaran mereka timbul maka timbul pula kemarahan di
dada.
Srat! Srat!
Bagai dikomando kedunya mencabut pedangnya
masing-masing secara bersamaan. Akan tetapi…..
“Tahan…..!”
Tiba-tiba suatu bentakan nyaring
menahan gerak Satria dan Mega yang akan menerjang Siluman Tengkorak Putih.
Serentak keduanya mengurungkan niatnya. Dikenali betul pemilik suara itu. Siapa
lagi kalau bukan guru mereka, Ki Wanayasa.
Keduanya serentak menoleh ke arah
asal suara.
Tampaklah Ki Wanayasa berjalan
bersama tamunya Raja Pisau Terbang.
“Aku telah dapat memastikan,
Kakang Wanayasa. Siluman Tengkorak Putih ini ada hubungannya dengan si Ular
Hitam! Aku tahu betul gerakannya waktu menewaskan Seta adalah ilmu ‘Ular
Terbang’!” bisik Raja Pisau Terbang pada Ki Wanayasa.
“Tapi…. bukankah Ular Hitam telah
lama lenyap dari dunia persilatan? Lagi pula, sepanjang yang kuketahui si Ular
Hitam tidak pernah punya murid!” bantah Ki Wanayasa. Sepasang matanya menatap
marah ke arah Siluman Tengkorak Putih yang telah membunuh murid kesayangannya.
“Ah, Kakang. Siapa yang
mengetahuinya? Di antara seluruh datuk persilatan dialah satu-satunya datuk
yang paling misterius. Siapa yang tahu dia punya murid atau tidak?”
“Hey…..! Siapa di antara kalian
yang bernama Wanayasa? Mengakulah sebelum terlambat!” bentak Siluman Tengkorak
Putih. Nadanya tidak sabar begitu melihat keduanya telah mendekat.
Raja Pisau Terbang dan Ki
Wanayasa hanya tersenyum. Apalagi si Raja Pisau Terbang. Padahal si Raja Pisau
Terbang adalah salah seorang datuk persilatan yang ditakuti lawan dan disegani kawan.
Dan kini diancam seroang tokoh yang baru dikenal dan berjuluk Siluman Tengkorak
Putih! Siapa yang tidak geli?
“Kisanak,” ucap Raja Pisau
Terbang dengan sabar. “Sungguh tidak kusangka kalau kau begitu sombong. Melihat
gerakanmu aku yakin kau mempunyai hubungan dengan si Ular Hitam. Entah sebagai
murid atau adik seperguruannya. Atau kau adalah pencuri kitab-kitab ilmu
silatnya? Hanya yang perlu kau ketahui Kisanak. Jangankan dirimu. Ular Hitam saja
tidak berani berkata seperti itu kepadaku!”
Ha…ha…ha…!
Tiba-tiba terdengar suara tawa
terbahak-bahak begitu Raja Pisau Terbang mengakhiri ucapannya. Belum lagi gema
suara itu lenyap, muncul sesosok tubuh pendek kekar. Rambutnya awut-awutan dan
bermata merah. Dan kini orang itu telah berada di sebelah kanan Siluman
Tengkorak Putih.
“Raja Racun Pencabut Nyawa….”
Desis Raja Pisau Terbang begitu melihat sosok tubuh yang berdiri di sebelah
kanan Siluman Tengkorak Putih.
Ki Wanayasa tersentak kaget juga.
Telah didengar banyak tentak tokoh ini dari adik seperguruannya. Raja Racun
Pencabut Nyawa tinggal di Barat dan pernah dikalahkan si Ular Hitam dalam
pertarungan merebutkan kedudukan datuk di Barat. Karena kekalahannya itu dia
menyingkir ke Selatan. Ternyata dia di situ membuat kekacauan sehinnga membuat
adik seperguruan Ki Wanayasa turun tangan menantangnya. Kali inipun Raja Racun
Pencabut Nyawa harus menelan pil pahit. Adik seperguruan Ki Wanayasa tidak
mampu dikalahkannya. Kepandaian keduanya berimbang. Sehingga dalam per-tarungan
mati-matian itu mereka sama-sama mendapat luka. Itulah berita yang didengar Ki
Wanayasa dari adik se-perguruannya. Sungguh tidak diduga kalau malam ini dia
akan bertemu tokoh itu.
“Gerda, orang yang berbicara tadi
itu adalah Raja Pisau Terbang,” ujar Raja Racun Pencabut Nyawa memberitahu.
“Oh, pantas. Dia begitu sombong.
Jadi kalau bagitu orang yang disebelahnya adalah Ki Wanayasa, Paman?” tanya
Siluman Tengkorak Putih meminta ketegasan.
“Betul.”
Kini dengan sorot mata garang,
Siluman Tengkorak Putih menatap Ki Wanayasa penuh selidik.
Diperhatikannya kakek bongkok udang itu lekat-lekat.
“Ki Wanayasa! Kau tentu sudah
tahu maksud kedatanganku ke sini bukan?” tanya Siluman Tengkorak Putih tenang.
Ki Wanayasa hanya tersenyum.
“Sudah bisa kutebak maksud
kedatanganmu, Siluman Tengkorak Putih. Apalagi kalau bukan masalah Pedang
Bintang?! Bukankah demikian?”
“He…he….he…” Siluman Tengkorak Putih hanya
terkekeh.
“Ahhhh….sayang sekali!” ujar Ki
Wanayasa sambil menghela napas.
“Mengapa?”
“Pedang itu sama sekalu tidak ada
padaku.” “Bohong!” bentak Siluman Tengkorak Putih keras.
“Jaga mulutmu Kisanak!!” bentak
Ki Wanayasa tak kalah garangnya. “Jangan dikira aku takut padamu!”
“Keparat!” Siluman Tengkorak
Putih menggeram hebat. Sudah dapat diduga kalau akhirnya laki-laki berjubah ini
akan menyerang Ki Wanayasa.
“Gerda, sabar dulu….”
Siluman Tengkorak Putih yang
bernama Gerda itu mengurungkan niatnya. Ditatapnya wajah Raja Racun Pencabut
Nyawa lekat-lekat.
“Dia telah menghinaku, paman” protes
Siluman Tengkorak Putih.
“Hal itu bisa diurus nanti.
Sekarang yang penting adalah persoalan Pedang Bintang. Sabarlah sebentar……”
jelas Raja Racun Pencabut Nyawa sambil memegang bahu Siluman Tengkorak Putih.
Beberapa saat lamanya Siluman
Tengkorak Putih ter-menung. Tapi akhirnya menganggukkan kepalanya juga. Kini
Raja Racun Pencabut Nyawa mengalihkan pandangan-nya pada Ki Wanayasa.
“Ki Wanayasa….” Sapa Raja Racun
Pencabut Nyawa pelan. Seulas senyum licik tersungging di bibirnya.
“Tidak usah banyak peradatan,
Raja Racun!” selak Ki Wanayasa keras. “Katakan saja apa maumu dan jangan
bertele-tele!”
Seketika wajah Raja Racun
Pencabut Nyawa berubah setelah mendengar teguran kasar itu. Sesaat sepasang
matanya berkilat penuh kemarahan. Tapi itu hanya sebentar saja karena sekejap
kemudian sudah kembali biasa.
“Baiklah Wanayasa. Sungguh tidak
kusangka sama sekali kalau orang terhormat seperti dirimu yang juga Ketua Perguruan
Tangan Sakti ternyata hanya seorang pengecut! Bahkan tidak segan-segan berdusta
untuk menyelamatkan nyawanya!”
“Keparat kau, Raja Racun!” bentak
Ki Wanayasa marah. “Jelaskan apa maksudmu, sebelum aku terpaksa bersikap yang
tidak sepantasnya terhadapmu!” kakek bongkok udang ini memang paling pantang di
katakan pengecut. Maka kemarahannyapun langsung bergolak mendengar ucapan Raja
Racun Pencabut Nyawa.
Raja Racun Pencabut Nyawa hanya
terkekeh saja men-dengar ancaman itu.
“Wanayasa. Hampir semua orang persilatan
tahu kalau Pedang Bintang itu ada padamu. Tapi kini kau
menyangkalnya! Bukankah orang seperti itu pengecut namanya?”
“Raja Racun Pencabut Nyawa….. dan
kau juga Siluman Tengkorak Putih!” ucap Ki Wanayasa seraya memandang Siluman
Tengkorak Putih sekilas. “Dengarlah baik-baik. Demi kehormatanku selaku Ketua
Perguruan Tangan Sakti, kukatakan pada kalian bahwa Pedang Bintang itu tidak
ada di sini!”
“Kau berdusta, Wanayasa!” teriak
Siluman Tengkorak Putih kalap seraya melangkah maju.
“Tenang Gerda,” Raja Racun Pencabut Nyawa menyentuh tangan Siluman Tengkorak Putih.
“Dia berdusta, Paman….”
“Dia berkata benar.” Raja Racun
Pencabut Nyawa menggelengkan kepalanya. Dia tahu pasti kalau Ki Wanayasa tidak
berdusta. Seorang seperti dia lebih meng-hargai kehormatan dari pada nyawa. Dan
diketahui betul hal itu.
“Tapi, Paman…..” Siluman
Tengkorak Putih masih penasaran.
“Biar aku yang mengurusnya,
Gerda. Percayalah. Masalah ini pasti akan tuntas!” mendengar jaminan Raja Racun
Pencabut Nyawa, Siluman Tengkorak Putih kembali mundur ke tempatnya. Dia
percaya penuh akan kemampuan orang yang dipanggil-nya paman ini. Dia juga tahu
kalau pamannya itu mem-punyai berbagai macam tipu muslihat.
“Wanayasa….. aku mempercayai
keterangan yang kau berikan itu. Aku juga percaya kalau Pedang Bintang itu
memang tidak ada padamu. Tapi itu bukan berarti kalau kau tidak tahu menahu di
mana adanya pedang itu. Bukan begitu Wanayasa?” pancing Raja Racun Pencabut
Nyawa.
Wajah Ki Wanayasa beubah hebat.
Sungguh di luar dugaan kalau Raja Racun Pencabut Nyawa itu sedemikian
cerdiknya. Dan ini membuatnya cemas bukan main.
“Apa urusannya hal itu
denganku?!”
“Katakan saja di mana adanya
Pedang Bintang itu. Maka, kami akan segera pergi dari sini!” desak Raja Racun
Pencabut Nyawa tidak sabar.
“Kalau aku tidak
memberitahukannya?” “Aku akan memaksamu!”
“Silahkan, Raja Racun,” tantang
Ki Wanayasa sambil tersenyum.
“Keparat!” Raja Racun Pencabut
Nyawa memaki. “Tunggu, Paman!” Siluman Tengkorak Putih segera mencekal lengan
Raja Racun Pencabut Nyawa yang hendak menerjang Ki Wanayasa. Raja Racun
Pencabut Nyawa menoleh. “Serahkan dia padaku,” ucapnya lagi.
Raja Racun Pencabut Nyawa
menangkap adanya tekanan pada nada suara itu. Dan ia tahu kalau kali ini
Siluman Tengkorak Putih itu tidak ingin dibantah lagi. Maka dengan berat
kakinya melangkah mundur.
Siluman Tengkorak Putih maju
beberapa tindak.
“Wanayasa, sekali lagi kau kuberi kesempatan.
Katakan di mana Pedang Bintang itu!”
“Jangan harap aku mengatakannya,
bocah!” tegas Ki Wanayasa tajam.
“Keparat! Kalau begitu mampuslah
kau!”
Setelah berkata demikian, Siluman
Tengkorak Putih menerjang Ki Wanayasa. Gerakannya cepat bukan main. Kedua
tangannya yang terbuka lurus dan mengejang kaku menyerang bertubi-tubi pada pusar, ulu hati dan tenggorokan Ketua Perguruan
Tangan Sakti itu. Deru angin nyaring mengawali tibanya serangan Siluman
Tengkorak Putih.
Ki Wanayasa yang sudah mengetahui
kecepatan gerak lawannya yang luar biasa ini, memang sudah sejak tadi bersikap
waspada. Maka ketika melihat serangan yang bertubi-tubi mengancam beberapa
bagian yang berbahaya di tubuhnya, dia tidak menjadi gugup. Cepat-cepat ditarik
mundur kaki kirinya ke kanan belakang. Sehingga serangan-serangan Siluman
Tengkorak Putih itu lewat beberapa rambut di depan tubuhnya.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Ki Wanayasa. Saat ditarik mundur kaki kirinya, kedua tangannya yang
disertai pengerahan ilmu ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’, mencengkeram ke
arah pelipis dan lambung lawan.
Hebat dan berbahaya bukan main
serangan yang dilakukan Ki Wanayasa itu! Apalagi dilakukan dalam jarak yang
demikian dekat. Maka serangan itu menjadi tambah berbahaya saja. Dan
rasa-rasanya tidak ada kesempatan lagi bagi Siluman Tengkorak Putih itu untuk
menangkis atau mengelakkan serangan itu. Begitu tiba-tiba dan mendadak!
“Ah…..” desah Raja Racun Pencabut
Nyawa pelan, ketika melihat keadaan berbahaya yang mengancam Siluman Tengkorak
Putih. Bahkan Raja Pisau Terbang diam-diam menarik nafas karena terlalu tegang.
Hati Siluman Tengkorak Putihpun
sempat terkesiap, melihat serangan yang begitu tiba-tiba itu. Akan tetapi
dengan kecepatan gerak yang luar biasa segera ditarik pulang serangannya dan
cepat-cepat ditangkis serangan Ki Wanayasa. Tangan kiri melindungi pelipis,
sedangkan tangan kanannya menjegal serangan yang menuju ke lambung.
Plak! Plak!
Ki Wanayasa terhuyung tiga
langkah ke belakang akibat benturan dua pasang tangan yang sama-sama mengandung
tenaga dalam tinggi itu. Sedangkan Siluman Tengkorak Putih hanya terhuyung satu
langkah. Ki Wanayasa kaget bukan main melihat kenyataan ini. Sungguh tidak
disangka kalau dirinya akan terhuyung sampai tiga langkah. Bahkan sekujur
tangannyapun dirasakan sakit akibat benturan itu. Dan herannya lawan hanya
terhuyung satu langkah ke belakang! Tidak adakah yang salah dalam hal ini?
Bukankah tadi telah dikerahkan segenap tenaga dalam penyerangannya tadi?
Bukankah dia menang posisi bila dibandingkan dengan Siluman Tengkorak Putih
dalam benturan tadi? Mungkinkah tenaga dalam lawannya ini lebih kuat dari Bargola?
Mustahil!
Akan tetapi Ki Wanayasa tidak
dapat berpikir lebih lama lagi. Serangan susulan dari Siluman Tengkorak Putih
menghentikan kesibukan berpikirnya. Cepat-cepat dielakkan serangan itu dan kemudian dibalasnya
dengan ilmu ‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’. Maka kini keduanya sudah
terlibat dalam sebuah pertarungan yang luar biasa.
Akan tetapi tidak sampai lima
belas jurus kemudian terbuktilah Ki Wanayasa bukan tandingan Siluman
Tengkorak Putih. Kakek bongkok udang itu perlahan namun pasti mulai terdesak.
Hal inilah tidaklah aneh karena memang Ketua Perguruan Tangan Sakti ini kalah
segala-galanya dibanding lawannya. Dapat dipastikan kalau tak lama lagi Ki
Wanayasa akan rubuh di tangan lawannya yang luar biasa itu.
Tiba-tiba terdengar teriakan dari
mulut Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Gerda! Hentikan!” teriaknya
keras.
“Tidak, Paman. Aku tidak akan
berhenti sebelum membunuh tua bangka keparat ini!” bentak Siluman Tengkorak
Putih yang memang bernama asli Gerda dengan suara keras pula. Bahkan dia terus
menhujani lawan dengan serangan-serangan yang mematikan.
Raja Pisau Terbang segera bersiap
melihat sikap Raja Racun Pencabut Nyawa yang aneh ini. Akan tetapi tidak
terlihat tanda-tanda kalau tokoh itu akan bertindak curang.
“Hentikan, Gerda! Cepat! Aku
sudah tahu di mana Pedang Bintang itu!” teriak Raja Racun Pencabut Nyawa lagi.
Mendengar ucapan itu lagsung
Siluman Tengkorak Putih menghentikan desakannya pada Ki Wanayasa. Tubuhnya
melenting cepat ke belakang meninggalkan lawannya. Akan tetapi Ki Wanayasa yang
sudah mencium adanya bahaya yang mengancam tempat Pedang Bintang berada tidak
membiarkan lawannya. Cepat-cepat dia melompat mengejar.
“Adi Kirin tolong cegah Raja
Racun itu pergi!” teriak Ki Wanayasa sambil terus mengejar.
Raja Pisau Terbang yang telah
melihat Ki Wanayasa tengah berusaha menghalangi kepergian Siluman
Tengkorak Putih, segera bergerak ke arah Raja Racun Pencabut Nyawa begitu
mendengar teriakan rekannya itu.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang
juga mendengar teriakan tadi juga tahu kalau sampai berhadapan si Raja Pisau
Terbang, kemungkinan untuk dapat lolos sangat kecil. Buru-buru dirogoh balik
bajunya untuk mengambil sebuah benda bulat sebesar telur bebek. Tanpa ragu-ragu
lagi benda itu dilemparkan ke arah Raja Pisau Terbang yang tengah bergerak
mengejar.
Tentu saja Raja Pisau Terbang
yang telah tahu betapa telengasnya Raja Racun itu dengan permainan racunnya, tidak
berani bertindak ceroboh. Segera dilempar tubuhnya ke belakang dan bersalto
beberapa kali di udara menjauhi benda bulat itu.
Blarrr….!
Terdengar ledakan keras begitu benda
bulat itu menyentuh tanah. Asap yang
berwarna hitampun menyebar mengahalangi pandangan.
Sedangkan Siluman Tengkorak Putih
yang tengah dikejar Ki Wanayasa rupanya menjadi tidak sabar juga. Sambil terus
bersalto ke belakang dikirimkan serangan jarak jauh. Seketika angin keras yang
berabu amis keluar dari tangan Siluman Tengkorak Putih.
Ki Wanayasa segera tahu kalau
pukulan jarak jauh itu di samping mengandung tenaga dalam kuat, juga mengandung
racun amat jahat. Maka dia tidak bertindak gegabah lalu buru-buru melompat ke
samping. Tubuhnya langsung bergulingan di tanah menghindari pukulan itu.
Kesempatan itupun digunakan Gerda
atau Siluman Tengkorak Putih untuk meloloskan diri dari kejaran Ki Wanayasa.
4
Setelah sama-sama gagal dalam
mengejar Raja Racun Pencabut Nyawa dan Siluman Tengkorak Putih, Ki
Wanayasa hanya menatap
kepergian Siluman Tengkorak
Putih diiringi sinar mata cemas. Ia tahu kalau Raja Racun Pencabut Nyawa tidak
main-main dengan ucapannya yang mengatakan telah mengetahui tempat
Pedang Bintang itu berada.
“Betulkah apa yang dikatakan Raja
Racun itu, Kakang?” tanya Raja Pisau Terbang yang tahu-tahu sudah berada di
sampingnya.
Ki Wanayasa menghela napas berat
sebelum men-jawab pertanyaan itu. “Kemungkinan besar memang begitu, Adi”
ucapnya pelan.
“Aku jadi tidak mengerti
Kakang….”
“Begini, Adi. Beberapa tahun yang
lalu Ki Gering Langit berkunjung ke tempat ini menemuiku. Kami
berbincang-bincang beberapa lama, sampai akhirnya dia mengajakku bermain
sintir. Padahal telah lama aku berjanji dalam hatiku untuk tidak memainkan
permainan itu. Tapi Ki Gering Langit terus memaksa. Aku menolak, tapi dia terus
mendesak. Bahkan sampai-sampai mempertaruhkan kitab-kitab ilmu silatnya.
Akhirnya aku tidak tega, lalu mengalah. Dan akhirnya kami bermain. Melalui
sebuah permainan yang lama dan menegangkan akhirnya aku dapat mengalahkannya.
Maka iapun memenuhi janjinya
menyerahkan kitab-kitab ilmu silatnya padaku. Tentu saja hal itu kutolak.
Kukatakan padanya kalau aku terpaksa menerima ajakan itu bukan karena ingin
taruhan. Tapi ia tetap memaksa. Katanya janji adalah hutang. Dan ia tak ingin
berhutang. Tapi aku berkeras menolak. Sampai akhirnya kami menemukan jalan
tengah yang disepakati bersama. Kitab-kitab
itu dibawa olehnya tapi dia
meninggalkan sebilah pedang yang di dalamnya terdapat petunjuk mengenai tempat
kitab-kitab peninggalannya. Pedang itu bernama Pedang Bintang.”
“Lalu mengapa tadi Kakang
bersikeras mengatakan tidak menyimpannya? Bahkan sampai membawa-bawa kedudukan
untuk menguatkan pernyataan Kakang itu,” selak Raja Pisau Terbang.
“Sabar, Adi Kirin,” ucap Ki
Wanayasa sambil tersenyum. “Aku belum selesai dengan ceritaku.”
Wajah Raja Pisau Terbang memerah
mendengar teguran halus itu.
“Mulanya aku berniat menyerahkan
Pedang Bintang itu pada salah satu seorang murdku. Tapi sayangnya tidak ada
satupun murid-muridku yang memiliki bakat luar biasa. Sampai akhirnya suatu
hari adik seperguruanku yang berjuluk Pendekar Ruyung Maut datang mengunjungiku
bersama anak lelakinya. Anak itu ternyata memiliki bakat yang luar biasa dalam
ilmu silat. Jadi kuberikan saja Pedang Bintang itu padanya.”
“Tapi kenapa Raja Racun Pencabut
Nyawa itu mengatakan bahwa ia tahu di mana adanya Pedang Bintang itu, Kakang?
Apakah itu hanya tipu muslihat saja?”
“Kemungkinan besar yang
dikatakannya benar,” ujar Ki Wanayasa. Kecemasan nampak tergambar di wajahnya.
“Karena dia pernah bertarung mati-matina melawan adik seperguruanku. Dalam
pertarungan itu tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Kedua-duanya
sama-sama terluka.”
“Aku mengerti sekarang, Kakang.”
Tandas Raja Pisau Terbang mulai paham. “Karena pernah bertarung dengan adik
seperguruanmu sampai sekian lamanya, setidak-tidaknya ia mengenali ilmu-ilmu
andalan dan mengenal gerakan-gerakannya. Pantaslah, tadi begitu melihat pertaruganmu dengan Siluman Tengkorak
Putih, ia tampak kaget.”
“Benar. Rupanya ia melihat adanya persamaan
jurus yang kugunakan dengan lawannya dulu, Pendekar Ruyung Maut….” Desah Ki
Wanayasa pelan. “Tapi mudah-mudahan saja dia salah duga….”
“Menurutku kemungkinan itu sangat
kecil, Kakang. Raja Racun Pencabut Nyawa itu sudah terkenal ke-cerdikannya di
samping kelicikannya. Kakang toh telah lihat sendiri kenyataannya sewaktu dia
menyudutkan Kakang dengan pertanyaan yang membuat Kakang tidak mampu berkelit
lagi,” tebak Raja Pisau Terbang seraya menggelengkan kepalanya.
“Ya,” ucap Ketua Perguruan Tangan
Sakti itu singkat. “Hhh…. Entah siapa tokoh yang tersembunyi di balik selubung
itu….” Raja Pisau Terbang mengerutkan alisnya. Ki Wanayasa menghela napas.
“Akupun tidak habis pikir, Adi Kirin. Kepandaian siluman itu malah lebih hebat
dari Bargola….!”
“Aku tahu itu. sebetulnya jika
menuruti keinginan hati rasanya ingin kujajal kelihaiannya. Sayangnya aku sudah
jenuh berkelahi terus, Kakang. Aku ke sinipun sebenarnya sekalian ingin
mengucapkan selamat tinggal karena ingin pergi ke tempat yang sepi. Mendidik
Ningrum putri tunggal-ku.”
Ki Wanayasa termenung. Nampak
jelas kalau kakek ini dilanda kebingungan.
“Memang sudah seharusnya kalau
kita yang sudah tua-tua ini menyepi. Biarlah sekarang giliran yang muda-muda
untuk turun tangan. Ah, mudah-mudahan saja adik seperguruanku itu telah
menunaikan amanatku. Kalau tidak….”
“Benar. Kita memang hanya bisa
berharap, Kakang. Sekarang aku pamit, Kang.”
“Silahkan Adi. Terima kasih atas
kunjunganmu.” Setelah memberi hormat sebentar, tubuh Raja Pisau
Terbang langsung berkelebat.
Dalam sekejap saja yang nampak hanya titik hitam yang semakin lama semakin mengecil
untuk kemudian lenyap sama sekali. “Haaat….! Hup,,,,! Hiyaaaa….!”
Terdengar teriakan-teriakan
nyaring dari balik sebuah tembok yang mengelilingi sebuah bangunan besar dan
megah.
Teriakan-teriakan itu ternyata
berasal dari mulut seorang pemuda tampan yang tengah berlatih silat. Usia-nya
sekitar lima belas tahun. Bertubuh tegap dan kekar. Bentuk wajahnya persegi dan
terlihat jantan. Alis matanya tebal dan berbentuk golok menampakkan kekerasan
wajahnya.
“Hiyaaat….!”
Untuk kesekian kalinya pemuda itu
berteriak keras. Belum lagi gema suaranya itu lenyap, tubuhnya sudah me-lompat
ke atas. Dan selagi tubuhnya berada di udara, dia melakukan tendangan sambil
memutar tubuhnya.
Wut….!
Angin keras berhembus mengiringi
tendangan itu. Suatu tanda kalau tendangan itu mengandung tenaga dalam tinggi.
“Hup!”
Dengan ringan dan indah kedua
kaki pemuda itu men-jejak tanah. Tapi baru saja hendak melanjutkan gerakan-nya,
tiba-tiba….
“Cukup Arya….!”
Suara itu membuat pemuda yang
ternyata bernama Arya Buana menghentikan gerakannya. Dengan ragu-ragu
dipalingkan wajahnya ke arah asal suara itu. Dikenali betul siapa pemilik suara
itu. Sedangkan si pemilik suara itu rupanya mengentahui juga keragu-raguan Arya
Buana.
“Ayah ingin bicara sebentar…”
Kali ini Arya Buana tidak
ragu-ragu lagi dan segera menghentikan latihannya. Disekanya peluh yang
mem-basahi leher, dahi dan wajahnya. Tak lama kemudian kaki-nya melangkah
menghampiri ayahnya.
“Ada apa Ayah?” tanya Arya Buana
sambil menatap wajah laki-laki setengah tua yang masih kelihatan gagah.
Tubuhnya tinggi tegap. Ada sebaris kumis tipis menghiasi bagian atas bibirnya.
Dia adalah Pendekar Ruyung Maut.
“Kita bicara di dalam saja,” ucap
Pendekar Ruyung Maut sambil beranjak ke dalam.
Tanpa banyak cakap, Arya Buana
ikut melangkah masuk menguntit di belakang ayahnya.
“Arya….” Ucap Pendekar Ruyung
Maut itu ketika mereka telah berada di dalam beranda rumah besar itu. Mereka
duduk berhadapan di kursi berukir indah dari kayu jati. “Rasanya ini adalah
hari terakhir pertemuan kita….”
“Maksud Ayah?” tanya Arya Buana
kaget. Sepasang matanya terbelalak.
Pendekar Ruyung Maut menarik
napas dalam-dalam. Nampak jelas kalau ia merasa berat untuk mengatakan apa yang
terkandung dalam benaknya.
“Terpaksa, Arya. Ini terpaksa
harus kulakukan kalau aku masih ingin melihatmu hidup….”
“Jadi maksud Ayah…. Kalau kita
tidak berpisah aku akan mati? Mati oleh siapa, Ayah?” tanya Arya Buana
penasaran.
“Ceritanya cukup panjang Arya”
Pendekar Ruyung Maut menghela napas dalam-dalam seolah-olah ingin melonggarkan dadanya yang
terasa sesak.
“Tak mengapa, Ayah. Aku akan
sabar mendengar-kannya….”
“Baiklah kalau begitu,” Pendekar
Ruyung Maut menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya. “Masih ingatkah
kau waktu aku membawamu ke tempat paman gurumu di Gunung Waru?”
“Masih Ayah,” Arya Buana
mengangguk.
“Nah! Sewaktu aku akan pulang,
Paman Gurumu itu memberi Pedang Bintang kepadaku.”
“Pedang Bintang?!” tanya Arya
Buana terkejut.
Memang pemuda itu juga mendengar
akan kerusuhan yang terjadi di dunia persilatan akibat berita mengenai pedang
itu. Di mana-mana selalu terjadi keributan dan pembunuhan. Semuanya itu
berpokok pangkal dari Pedang Bintang.
“Ya,” Pendekar Ruyung Maut
mengangguk membenar-kan. “Pesannya pedang itu harus kuserahkan padamu….”
“Untukku, Ayah?” lagi-lagi Arya
Buana menyelak cerita ayahnya.
“Benar. Paman gurumu juga
mengatakan kepadaku apa yang tersembunyi di balik pedang itu. Dan semua itu
ternyata sesuai dengan berita yang tersebar di dunia per-silatan. Akupun telah
menyelidiki rahasia yang tersembunyi dalam pedang itu….”
“Dan Ayah berhasil?” tanya Arya
Buana penuh rasa ingin tahu.
Pendekar Ruyung Maut tercenung
sebentar sebelum mengangguk ragu-ragu.
“Bisa dikatakan begitu.”
“Maksud ayah?” Arya Buana
mengerutkan keningnya bingung.
“Semua tempat dan petunjuk yang
diberikan telah ku-temukan. Tapi tempat terakhir yang menunjukkan di mana
kitab-kitab itu berada belum kudatangi…. Maksudku biar kau sendiri yang
mencarinya.”
Arya Buana mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Lalu, mengapa tadi ayah
mengatakan kalau ini adalah hari terakhir kita bertemu? Dan kalau kita tetap
bersama-sama aku akan tewas?”
“Arya, kau tentu telah mendengar
akibat yang ditimbul-kan berita mengenai Pedang Bintang ini. Pada mulanya aku
masih tidak ambil pusing. Tapi perkembangan terakhir yang kudengar membuatku
kawatir. Entah bagaimana caranya orang-orang persilatan itu akhirnya mengetahui
kalau Pedang Bintang itu berada di Perguruan Tangan Sakti. Lambat laun
merekapun tahu di mana pedang itu kini. Apabila itu terjadi pasti mereka
berbondong-bondong datang ke sini. Dan tidak berani kupastikan apakah aku akan
dapat mengahadapi mereka atau tidak. Apalagi jika yang datang itu datuk-datuk
persilatan. Jangankan aku, walau paman gurumu membantupun tetap tidak akan
dapat membendung mereka.”
“Kalau begitu kenapa kita tidak
pergi saja dari sini, Ayah?” usul Arya Buana.
Pendekar Ruyung Maut menatap Arya
Buana tajam. Wajahnya nampak agak memerah.
“Ucapan apa itu, Arya?! Apakah
kau ingin melihat aku ditertawakan orang-orang persilatan? Mereka pasti bilang,
lihat! Pendekar Ruyung Maut melarikan diri seperti seekor anjing! Tidak, Arya!
Apapun yang terjadi aku tidak akan pergi dari sini! Aku bukan seorang
pengecut!”
“Akupun bukan seorang pengecut,
Ayah! Aku tidak akan meninggalkan Ayah dan akan tetap di sini, untuk mem-bantu
Ayah menghadapi mereka.”
“Jangan salah mengerti, Arya,”
potong Pendekar Ruyung Maut cepat. “Musuh yang akan kita hadapi tidak sedikit.
Tidak ada gunanya kalau kau berniat menentang mereka. Hanya membuang nyawa
sia-sia saja.”
“Tapi, Ayah….” Arya Buana coba
membantah.
“Kalau aku lain, Arya. Lagi pula
kalau kau ikut tewas bersamaku di sini, siapa yang akan menyelamatkan Pedang
Bintang? Apakah kau tidak merasa sayang kalau pedang ini nanti akan terjatuh ke
tangan orang yang jahat? Bagaimana nanti harus kupertanggung jawabkan semua ini
pada paman gurumu? Apakah kau senang bila nanti paman gurumu menuding di
kuburku sebagai orang yang menyia-nyiakan amanat?”
Arya Buana terdiam. Pertanyaan ayahnya
bertubi-tubi itu membuatnya bingung dan tidak tahu harus berkata apa.
“Dan lagi…. Tidak rindukan kau
apda ibumu, Arya? Tidak inginkah kau bertemu dengannya?” tanya Pendekar Ruyung
Maut lagi. Tapi kali ini suaranya bergetar tidak meledak-ledak seperti tadi.
Kontan Arya Buana tersentak.
Ibunya? Dia tidak rindu kepada ibunya? Dia tidak ingin bertemu ibunya? Ingin
rasanya dia berteriak untuk mengatakan betapa rindunya pada ibunya.
Bertahun-tahun rasa rindunya ini dipendam sejak ibunya pergi meninggalkan dirinya
dan ayahnya. Waktu itu Arya Buana berusia lima tahun sehingga tidak pernah tahu
ibunya pergi meninggalkan mereka.
“Ibu…Ibu… Ayah?’ tanya Arya Buana
ragu-ragu sambil menatap ayahnya. Nampak dilihatnya wajah laki-laki setengah
baya itu berubah muram.
“Benar. Rasanya perlu
kuberitahukan padamu per-soalan yang sebenarnya. Aku takut nanti kau menduga
jelek pada Ibu ataupun Ayah.”
Pemuda remaja itu hanya
menundukkan kepalanya diam tanpa berkata-kata.
“Enam belas tahun yang lalu aku
menikahi seorang gadis yang kemudian menjadi ibumu. Namun sama sekali tidak
kuketahui asal-usul ibumu. Sewaktu kutanyakan dia mengatakan kalau kedua orang
tuanya telah tiada. Yang tinggal hanya kakak laki-lakinya yang saat itu berada
entah di mana. Setelah kau berumur empat tahun baru kuketahui siapa kakak
kandung ibumu. Dan hal ini membuat aku kaget bukan kepalang. Ternyata kakak
ibumu si Raja Racun Pencabut Nyawa, seorang tokoh sesat yang terkenal kejam dan
telengas! Si Raja Racun ini pernah bertarung denganku yang berkesudahan tanpa
pemenang. Rupanya dia masih dendam padaku. Sewaktu kau berumur lima hampir lima
tahun, ia datang lagi hendak menantangku dan hendak membunuhmu. Ibumu tentu
saja menjadi bingung ketika menyadari kalau pertarungan di antara kami tidak
dapat dielakkan lagi. Ia tidak ingin salah satu di antara kami terluka atau
tewas. Akhirnya si Raja Racun mengalah. Ia bersedia membatalkan pertarungan
asal ibumu pergi meninggalkan aku dan dirimu. Ibumu tidak punya pilihan lain,
Arya. Jadi, yahhh…. Itulah yang terjadi.”
Arya Buana tercenung begitu
ayahnya menyelesaikan ceritanya. Pemuda remaja itu masih tetap menundukkan kepalanya.
“Arya….”
Perlahan-lahan Arya mengangkat
kapalanya.
“Ini amanat dari paman gurumu,”
ujar Pendekar Ruyung Maut sambil mengulurkan tangannya menyerahkan Pedang
Bintang.
Dengan tangan gemetar, Arya Buana
menerima pedang itu.
“Di dalam gagang pedang itu ada
petunjuk. Pergilah, Arya. Mudah-mudahan kelak kita dapat berjumpa dan ber-kumpul
lagi bersama. Kau, aku dan….ibumu.”
Arya Buana memperhatikan pedang
yang kini berada di tangannya itu sejenak. Pada kedua ujung sisi gagang pedang
masing-masing melekar sebuah bintang bersegi lima berwarna keemasan. Segera
dicabutnya gagang pedang itu. memang tepat perkataan ayahnya. Di dalam gagang
itu terdapat segulung kain yang berisikan coretan-coretan. Arya
memperhatikannya beberapa saat lalu disimpannya gulungan kain itu. Selanjutnya
dimasuk-kannya kembali pedang itu ke dalam warangkanya.
“Aku rasa sudah tiba waktunya kau
harus pergi, Arya” kata ayahnya lagi.
Arya Buana hanya mengangguk.
“Kalau begitu cepatlah!” setelah
berkata begitu Pendekar Ruyung Maut itu bergegas melangkah ke belakang, diikuti
oleh Arya Buana di belakangnya.
Laki-laki setengah baya itu
menghentikan langkahnya di dekat sebuah sumur. Arya yang telah memperhatikan
coretan-coretan pada gulungann kain
itu segera mengetahui kalau
sumur ini adalah pintu pertama menuju tempat kitab-kitab peninggalan Ki Gering
Langit.
“Inilah pintu pertama itu, Arya.
Di atas permukaan sumur ini kira-kira setengah tombak di atasnya terdapat
sebuah lobang. Dari situlah awal perjalananmu. Cepatlah! Jangan membuang-buang
waktu lagi.”
Arya hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan tanpa ragu-ragu pemuda ini melompat ke dalam sumur itu.
Dikerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk menjaga hal-hal yang tidak
diinginkan yang mungkin terjadi di bawah sana.
Pendekar Ruyung Maut
memperhatikan sejenak, sampai tubuh Arya Buana menyentuh permukaan air sumur.
Baru setelah Arya Buana melambaikan tangan tanda siap, ia berjalan meninggalkan
sumur itu menuju ruangan dalam bangunan besar rumahnya.
***
Malam itu langit kelihatan cerah.
Tidak ada awan yang mengantung di langit. Bulan penuh yang tampak di langit
menambah terangnya suasana.
Tetapi rupanya suasan cerah tidak
menjamin bahwa suasana akan aman. Terbukti di malam ini nampak dua sosok tubuh
berkelebat cepat melompati pagar tembok bangunan milik Pendekar Ruyung Maut,
yang dulunya adalah milik Ki Gering Langit. Gerakan mereka cepat bukan main.
Suatu tanda kalau dua sosok tubuh itu bukanlah orang sembarangan! Dan hal itu
memang tidak salah. Ternyata dua sosok itu adalah Gerda, si Siluman Tengkorak
Putih dan si Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Tribuana! Keluar kau!” teriak
Raja Racun Pencabut Nyawa memanggil nama asli Pendekar Ruyung Maut. Begitu ia
dan Siluman Tengkorak Putih berada di depan pintu bangunan besar itu. Suara
yang dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat itu, bergema ke
sekitar bangunan besar milik Tribuana alias Pendekar Ruyung Maut.
Karuan saja suara penggilan dari
luar itu mengagetkan Pendekar Ruyung Maut yang berada di dalam. Apalagi suara penggilan
itu menyebut nama aslinya. Nama yang jarang diketahui orang. Sepengetahuannya
hanya dua orang saja yang tahu nama aslinya. Mereka adalah kakak seperguruannya,
Ki Wanayasa dan istrinya sendiri. Tetapi menilik dari suara panggilan itu,
Tribuana berani bertaruh kalau suara itu bukan salah satu dari kedua orang yang
dimaksudkan. Lalu siapa?
Pendekar Ruyung Maut melangkah ke
luar. Tidak lupa diselipkan ruyungnya di pinggang. Memang dari nada suaranya
orang yang memanggil itu tidak bermaksud baik.
Begitu pintu dibuka, nampak
sekitar tiga tombak di depannya berdiri dua sosok tubuh. Suasana yang cukup
terang membuat Pendekar Ruyung Maut ini dapat melihat jelas dua sosok tubuh
itu. salah satunya langsung dapat dikenali sebagai si Raja Racun Pencabut
Nyawa. Telah dua kali dia bertemu tokoh ini. iblis itu adalah kakak kandung
istrinya. Dan hal ini membuatnya serba salah. Sulit baginya untuk bertempur
melawan si Raja Racun Pencabut Nyawa ini!
Perhatian Tribuana kini beralih
pada sosok serba putih yang berdiri di samping Raja Racun Pencabut Nyawa.
Dicobanya untuk mengingat-ingat barangkali saja pernah kenal atau setidaknya
mendengar tokoh ini. Tapi sampai lelah mengingat-ingat, tidak juga dikenali
orang itu. meskipun demikian Pendekar Ruyung Maut ini harus bersikap waspada. Sepasang matanya yang tajam mencorong dan bersinar kehijauan
seperti maka kucing dalam gelap itu benar-benar membuatnya terkejut. Sebagai
seorang yang telah kenyang dengan pengalaman, Tribuana tahu kalau sorot mata
seperti itu hanya akan muncul pada mata orang yang telah memiliki tenaga dalam
tinggi.
“Apa keperluanmu sehingga Kakang
Lindu menemuiku?” tanya Pendekar Ruyung Maut pelan.
Si Raja Racun Pencabut Nyawa yang
ternyata bernama Lindu, mendengus. “Tidak perlu berbasa-basi, Tribuana! Cepat
serahkan Pedang Bintang padaku!”
“Pedang Bintang?!” sahut Pendekar
Ruyung Maut pura-pura.
“Tidak usah pura-pura, Tribuana!
Atau kini kau telah menjadi seorang pengecut sehingga tidak berani mengakui
benda yang ada di tanganmu?!”
Pendekar Ruyung Maut menghela
napas panjang. Ucapan Raja Racun Pencabut Nyawa membuatnya mati kutu.
“Kuakui, kalau pedang itu semula
ada padaku, Kang Lindu. Tapi sekarang, tidak lagi….”
“Keparat! Lalu, sekarang di mana
pedang itu?!” desak si Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Sayang sekali, Kang Lindu. Tidak
mungkin kuberitahu-kan padamu!” tegas sekali kata-kata Pendekar Ruyung Maut
itu.
“Menyingkirlah, Paman” selak
Siluman Tengkorak Putih sambil melangkah maju menghampiri Tribuana.
“Jangan gegabah dulu, Gerda. Akan
kuperiksa dulu bangunan ini. Seingatku ia mempunya seorang anak lelaki yang
kini pasti sudah remaja. Aku akan mencari anak itu dulu!”
“Cepatlah, Paman” sahut Siluman
Tengkorak Putih tak sabar.
Raja Racun Pencabut Nyawa segera
melesat ke dalam rumah besar itu, Pendekar Ruyung Maut berusaha meng-hadang,
tetapi terjangan Siluman Tengkorak Putih mem-buat niatnya terhenti.
Kagetlah pendekar ini melihat
kehebatan serangan dan kekuatan tenaga yang tekandung dalam serangan Siluman
Tengkorak Putih. Tanpa ragu-ragu lagi, pem langsung mengerahkan ilmu andalan
‘Delapan Cara Menaklukkan Harimau’.
Tetapi dalam beberapa jurus saja
Pendekar Ruyung Maut sudah terdesak. Pendekar ini memang kalah segala-segalanya
jika dibandingkan lawannya. Baik kecepatan gerak maupun kekuatan tenaga dalam.
Sehingga tidak aneh jika hanya sebentar saja ia sudah dibuat pontang-panting.
“Hiyaaa….!”
Pendekar Ruyung Maut berteriak
keras sambil men-cabut senjatanya. Langsung diayunkan ruyungnya itu ke kepala
lawan.
Siluman Tengkorak Putih hanya
mendengus. Tangan kanannya cepat-cepat diangkat melindungi kepalanya.
Takkk….!
Pendekar Ruyung Maut terhuyung.
Mulutnya me-nyeringai. Sekujur tangannya seolah-olah terasa lumpuh tatkala
tangna sosok serba putih itu menangkis ruyungnya. Di saat yang tidak
menguntungkan bagi pendekar itu, totokan ujung kaki Siluman Tengkorak Putih
menyambar cepat ke arah lututnya.
Tukkk….! “Akh….!”
Pendekar Ruyung Maut mangeluh.
Sambungan tulang lututnya kontan terlepas. Akibatnya tubuhnyapun sempoyongan.
Dan kini lagi-lagi serangan susulan dari Siluman Tengkorak Putih kembali
menyambar.
“Hugh….!”
Kembali Tribuana mengeluh ketika
sebuah tepakan laki-laki berjubah putih itu telak menghantam dadanya. Ketika
pendekar ini terbatuk ada segumpal darah kental keluar dari mulutnya. Tanpa
ampun lagi tubuhnya ter-banting ke tanah. Serangan itu memang dahsyat sekali.
Dan saat itulah si Raja Racun
Pencabut Nyawa keluar dari dalam rumah besar itu.
“Bagaimana, Paman?” tanya Siluman
Tengkorak Putih. Si Raja Racun Pencabut Nyawa hanya menggeleng. “Bagaimana
Tribuana?” Siluman Tengkorak Putih menoleh ke arah Pendekar Ruyung Maut yang
masih ter-golek di tanah dengan napas tersenggal-senggal. “Kau ingin
menunjukkan ke mana perginya putramu itu dengan Pedang Bintangnya?”
“Lebih baik aku mati!” tandas
Tribuana.
“Baik, kalau itu yang diinginkan!
Tapi jangan harap akan kubunuh begitu saja! Kau akan kusiksa pelan-pelan!” ancamnya.
“Jangan harap dapat membuatku
takut, iblis! Cuhhh…!” “Bangsat!” maki Siluman Tengkorak Putih.
Seketika kaki Siluman Tengkorak
Putih bergerak meng-injak. Kemarahan membuatnya lupa pada ancamannya. Kakinya
dijejakkan pada dada Tribuana sambil menekan kuat-kuat. Terdengar suara
gemeretaknya tulang-tulang yang berpatahan. Darah segar memancur deras dari
mulut, hidung, telinga dan bahkan mata Pendekar Ruyung Maut.
Sejak malam itu maka gemparlah
dunia persilatan. Siluman Tengkorak Putih benar-benar mengamuk. Setiap
perguruan silat yang beraliran putih dihancurkan, tak terkecuali Perguruan
Tangan Sakti. Bahkan Ki Wanayasa telah ditewaskannya! Sementara para tokoh kaum
hitam mulai bersorak gembira. Kini mereka berani melakukan kejahatan dengan
lebih leluasa. Hanya saja si Raja Pisau Terbang dan Bargola belum terdengar
lagi beritanya.
***
Byurrr…!
Setelah beberapa saat lamanya
melayang di udara tubuh Arya Buana langsung jatuh di permukaan air sumur itu.
Berkat ilmu meringankan tubuhnya yang sudah cukup tinggi, pemuda itu tidak
menemukan halangan berarti. Beberapa saat tubuh Arya Buana mengapung di permukaan air. Sepasang matanya nyalang
mengamati bagian dinding sumur mencari-cari lubang yang dikatakan ayahnya.
Berkat kegigihannya akhirnya lubang itu berhasil ditemukan. Persis seperti yang
dikatakan ayahnya. Lubang itu terletak hanya sekitar setengah tombak dari
pemukaan air sumur.
Arya Buana menimbang-nimbang
sejenak. Rasanya tidak mungkin dapat mencapai lubang itu dengan melompat. Kalau
di darat jarak seperti itu memang bukan-lah apa-apa. Tapi kalau di air
bagaimana hal itu dapat dilakukannya? Kakinya tidak mempunyai landasan yang
cukup mantap untuk tempat menjejak. Kalau ayahnya memang sudah dapat dipastikan
akan melakukan hal itu.
Setelah beerpikir beberapa saat
lamanya, Arya Buana segera berenang ke dinding sumur mendekati lubang itu.
segera diambilnya sebilah pisau kemudian pelan saja ditancapkannya di dinding
sumur. Sesaat kemudian dikeluarkan pula Pedang Bintang dari warangkanya. Baru
setelah itu tubuhnya melenting dan hinggap di atas pisau yang tadi
ditancapkannya di dinding. Pisau itu nampak agak goyah karena Arya Buana hanya
menghujamkan per-lahan saja.
“Hup!”
Sambil menekankan pada landasan,
Arya Buana melompat ke atas. Dan ketika tubuhnya berada tepat di depan lubang yang hanya kecil saja itu. Segera ditancapkan pedangnya sekuat
tenaga.
Crap!
Pedang itu amblas ke dinding
sumur hingga setengah-nya lebih. Karuan saja hal ini membuat tubuh Arya Buana
tergantung di depan lubang itu. Sekilas Arya melirik ke bawah, ke tempat ia
menancapkan pisaunya. Mulutnya menyunggingkan senyum lega ketika pisau itu
sudah tidak ada lagi di tempatnya. Memang agar tidak meninggalkan jejak yang
dapat diketahui para pemburu pusaka Ki Gering Langit.
Kini Arya mengalihkan perhatian
pada lubang kecil yang tepat berada di depannya. Lubang itu kelihatan kecil dan
gelap. Garis tengahnya tidak lebih dari setengah tombak. Dengan hanya
mengayunkan tubuhnya sedikit, pemuda remaja itu telah berada di dalam.
Arya Buana memasukkan Pedang Bintang ke warangkanya kembali. Tubuhnya
terpakda merangkak karena sempitnya lubang untuk masuk lebih ke dalam. Dan
ternyata lubang itu tidak datar saja. Arya Buana merasa kalau arah lubang ini
menanjak. Dan ternyata semakin ke dalam, lubang itu semakin membesar. Sampai
akhirnya pemuda remaja itu tidak merangkak lagi bahkan bisa berjalan biasa.
Setelah beberapa lama akhirnya
sampailah Arya Buana pada sebuah ruangan yang cukup luas dan terang seperti ada
cahaya yang menyinarinya. Entah dari mana asal sinar itu dan pemuda itu tidak
mengetahuinya. Apalagi untuk memikirkannya. Tubuh dan pikirannya lelah sekali.
Di sini Arya Buana menjatuhkan tubuhnya kemudian bersandar pada dinding. Untuk
beberapa saat lamanya tubuhnya tetap bersandar tapi sebentar kemudian telah
duduk ber-sila. Ditegakkannya tubuhnya dan dirapatkan kedua tangannya di depan
dada. Dan kini Arya Buana sudah tenggelam dalam semadinya. Suasana sekitar
tempat itu yang semula hening, kini dipecahkan suara napas yang keluar masuk
dari mulut dan hidung Arya Buana. Suara napas yang berirama tetap.
Setelah dirasakan tenaganya
kembali pulih, Arya Buana menghentikan semadinya. Sebentar diperhatikan ruangan
di sekitarnya. Ruangan ini ternyata mempunyai beberapa buha lorong. Segera
pemuda ini mengeluarkan gulungan kain yang disimpan. Dibuka dan diperhatikannya
petunjuk dan coretan yang ada. Setelah hatinya mantap barulan di-pilihnya
lorong sebelah kanan.
Berbeda dengan lorong gua di atas
permukaan sumur, lorong ini lebih nyaman dan enak untuk dijalani. Arya Buana
melewatinya sambil mengerahkan ilmu meringan-kan tubuh.
Entah berapa lama Arya Buana menempuh
lorong itu sehingga tidak tahu siang atau malam. Yang dilakukannya hanya terus
berlari sampai lelah dan lapar. Baru setelah di-rasakan letih dia beristirahat
dan makan. Kini dia harus melanjutkan perjalanan lagi hingga akhirnya ia
melihat berkas sinar di ujung lorong yang tengah dilalui.
Dengan perasaan gembira yang
meluap-luap, Arya Buana segera mempercepat langkah menuju asal sinar itu.
Sekali lihat saja dari jarak
jauh, Arya telah mengetahui kalau sinar itu berasal dari cahaya matahari. Dan
itu berarti di ujung yang berhubungan dengan dunia bebas!
Tak berapa lama kemudian, Arya
Buana telah berada tidak jauh dari sinar itu. setibanya di sini, dugaannya
memang benar. Ujung lorong ini memang berhubungan dengan dunia luar. Hanya saja
lubangnya ditutupi rerimbunan semak belukar sehingga tak terlihat oleh
pandangan orang luar. Dan sinar yang dilihatnya itu memang berasal dari sinar
matahari yang menerobos rerimbunan semak belukar itu.
***
5
Dengan tangan agak gemetar, Arya
menyibakkan semak belukar itu. untuk sesaat lamanya pemuda itu menundukkan
kepala sambil menutupi kedua matanya dengan tangan kanan. Silau rasanya diterpa
sinar yang telah sekian lama tidak dilihatnya.
Setelah agak terbiasa, barulah
Arya menurunkan tangannya. Dilangkahkan kakinya keluar dari lorong itu setelah
terlebih dahulu merapikan kembali semak belukar yang tadi disibaknya. Kemudian
sepasang matanya memandang berkeliling mengamati sekitarnya.
Untuk beberapa saat lamanya
pemuda itu masih mengamati sekitarnya. Sepasang alisnya yang tebal dan
berbentuk golok nampak berkerut. Rupanya ada yang tengah dipikirkan. Tak lama
kemudian dikeluarkan kembali gulungan kain yang diselipkannya di balik baju di
pinggang. Dibukanya kembali dan diamat-amati lagi coretan-coretan dan
garis-garis yang tertera di situ.
“Hm….pantas saja tidak kutemukan.
Rupanya ada sesuatu yang kulupakan….” Gumam pemuda itu seperti untuk dirinya
sendiri. “Dari mulut lorong melangkah ke kanan sejauh dua puluh langkah. Lalu
ke kiri sepuluh langkah dan ke depan tiga langkah….”
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, Arya menyelipkan kembali gulungan kain itu di
pinggang. Maka kakinya mulai melangkah sesuai petunjuk yang tertera di gulungan
kain itu. dan kini tubuh Arya telah berada di depan sebuah pohon berbatang
besar dan berongga. Tanpa ragu-ragu lagi dimasukinya rongga pohon itu.
Baru sekitar lima langkah
melangkahkan kaki di depannya telah terbentang sebuah tangga menuju ke bawah
yang terdapat jalan lurus sekitar sepuluh tombak.
Tak lama ditemukan tangga lagi
yang menuju ke atas. Arya segera menaikinya. Di situ ditemukan lagi jalan yang
berakhir pada sebuah ruangan yang pintunya tertutup rapat dan Arya segera
melangkahkan kakinya. Sampai di sini Arya bimbang. Haruskan dibukanya pintu
itu? Tidakkah perbuatan itu sangat tidak sopan. Karena bagaimanapun juga
diyakini kalau tempat ini mempunyai pemilik.
Selagi Arya dicekam
keragu-raguan, tiba-tiba terdengar bentakan keras dari dalam ruangan
itu.”Mengapa ragu-ragu murid murtad! Ayo masuk! Dan bunuhlah aku! Mengapa hanya
termenung di depan pintu?”
Karuan saja bentakan itu membuat
Arya kebingungan. Siapakah yang dimaksud oleh orang yang membentak di dalam
itu. Diakah? Lalu, kalau betul kenapa dia dimaki sebagai murid murtad? Bukankah
Arya hanya mempunyai seorang guru yakni ayahnya sendiri? Jangan-jangan yang
dimaksudkan orang yang di dalam itu adalah dirinya. Kalau bukan lalu siapa?
Berbagai macam pertanyaan dan dugaan berkecamuk di benak Arya.
Beberapa saat lamanya Arya
termenung di depan pintu ruangan itu. Dipertimbangkan apakah lebih baik masuk
atau menunggu saja. Jelas bila melihat coretan dan garis yang tertera di
gulungan kain itu, di ruang itulah tersimpan kitab-kitab Ki Gering Langit. Tapi
apakah sepantasnya jika langsung masuk? Tidakkah sebaiknya meminta ijin dulu
pada pemiliknya? Benar! Ia harus meminta ijin dulu. Dan pemiliknya pasti berada
di dalam.
Kini Arya tidak ragu-ragu lagi.
Segera digerakkan tangannya hendak mengetuk pintu itu. Tapi mendadak gerakan
tangannya terhenti di udara. Ternyata dia menemukan adanya kejanggalan pada
pintu ini! Pintu itu ternyata dikunci dari luar. Berkerut kening Arya melihat
hal ini. Otaknya yang cerdas segera dapat menduga kalau orang yang melakukan ini
bermaksud mengurung sesuatu. Dan suara makian tadi berasal dari dalam. Jadi itu
adalah suara orang yang terkurung!
Kembali hati Arya dilanda
kebimbangan. Haruskah dibuka paksa pintu itu? tidakkah itu berarti telah
bertindak lancang? Siapa tahu kalau seseorang yang terkurung itu adalah tokoh
yang berbahaya. Bukankah itu berarti dia telah berbuat suatu kesalahan? Pemuda
ini memutar otaknya. Diingat-ingatnya lagi ucapan yang tadi keluar dari dalam.
Masih jelas terngiang di telinganya bunyi makian tadi.
Dari bunyi makian itu Arya segera
saja dapat menduga kalau yang terkurung itu adalah seorang guru. Sementara
orang yang mengurungnnya adalah muridnya yang murtad. Lenyaplah kini keragu-raguan
Arya. Ditatapnya pintu itu sejenak. Walau kelihatannya pintu itu begitu tebal
dan kuat, tapi pemuda itu yakin
kalau akan mampu menghancurkannya dengan sekali pukul saja! Hal ini diam-diam
membuat Arya agak heran. Ia tahu seorang tokoh rendahpun akan mampu
menghancurkan pintu itu. Tapi kenapa orang yang berkedudukan sebagai guru itu
tidak mampu melakukannya?
Brakkk….!
Dengan mengeluarkan suara agak
ribut, pintu itu hancur berkeping-keping. Sejenak Arya mengawasi keadaan di dalamnya.
Segera dilangkahkan kakinya masuk disertai sikap waspada. Begitu melangkah
masuk, Arya sudah menyiapkan ilmu andalannya, ‘Delapan Cara Menaklukkan
Harimau’.
Tapi kewaspadaannya seketika
pupus. Ternyata dia melihat pemandangan yang mengenaskan di hadapannya kini.
Tampak sesosok tubuh kurus tua yang tengah duduk bersila di atas tanah lembab.
Kedua tangannya nampak dililit gelang baja yang masing-masing dihubungkan
dengan rantai. Begitu pula pada sepasang kakinya.
Kakek itu mengangkat wajahnya
menatap Arya. Seketika meremang bulu kuduk pemuda itu. sepasang mata kakek itu
begitu tajam mencorong dan bersinar kehijauan mirip mata seekor kucing dalam
gelap. Sekali pandang saja Arya sadar kalau kakek itu pasti memiliki tenaga
dalam yang sangat tinggi. Hanya orang yang memiliki tenaga dalam tinggilah yang
memiliki sinar mata seperti itu. hanya saja yang masih menjadi teka-teki bagi
Arya mengapa kakek ini tidak membebaskan diri dari kurungan dan belenggu rantai
itu? Dengan tenaga dalam yang dimiliki semua belenggu bagaikan permainan
anak-anak saja!
“Siapa kau, Anak Muda?” tanya
kakek itu pelan. Sepasang mata itupun kembali meredup. “Dan apa hubunganmu
dengan Boma?”
“Boma? Maaf, Kek. Aku tidak
mengenal nama itu,” jawab Arya hati-hati.
“Tidak mengenalnya? Jangan bohong
kau, Anak Muda. Kalau bukan teman atau suruhannya, mana mungkin kau bisa tiba
di sini. Tidak ada seorangpun yang tahu tempat ini kecuali Boma. Bomantara si
murid murtad!” tegas kakek itu.
“Sungguh, Kek. Aku tidak mengenal
orang yang Kakek sebut itu. aku tahu tempat ini secara kebetulan saja,” bantah
Arya.
“Kebetulan?!” kakek itu tersenyum
pahit. Sepasang matanya kini kembali mencorong menatap Arya penuh selidik. Tapi
tiba-tiba saja sepasang mata itu terbelalak.
Arya tentu saja dapat melihat
keterkejutan sorot mata dan wajah kakek itu. segera diikuti arah pandangan
kakek itu. Dan hatinya tersentak ketika ia menyadari kalau yang membuat kakek
itu terkejut adalah benda yang tergantung di punggungnya. Pedang Bintang!
Cepat-cepat Arya berusaha
menyembunyikannya dari pandangan kakek itu, tapi terlambat. Kakek itu rupanya
sudah mengetahui.
“Pedang Bintang….” Desak kakek
itu pelan. “Kakang Gering. Setelah sekian tahun, akhirnya muncul juga pewaris
yang kau sebut-sebut itu…. Ah, rupanya Gusti Allah masih berkenan mengabulkan
permohonanku. Anak Muda, kemarilah….!” Ajak kakek itu
sambil melambaikan tangannya. Dengan agak ragu, Arya melangkah mendekat.
Kakek itu rupanya tahu kalau
pemuda remaja di hadapannya ini masih curiga padanya.
“Tak perlu takut padaku, Anak
Muda. Aku tidak akan mungkin bisa mencelakaimu. Dulu, memang hampir setiap
orang menyebut namaku dengan perasaan gentar. Tapi sekarang tidak lebih dari
seorang anak bayi!”
Tercekat Arya mendengar ucapan
kakek itu. Dirasakan ada nada kesungguhan dan kegetiran di dalam hatinya.
Keadaan kakek inipun lebih mempertegas ucapannya.
“Bomantara, si murid murtad
itulah yang telah membuatku lemah seperti kakek-kakek jompo,” tutur kakek itu lagi. “Ahhh…. Aku berdosa! Aku telah menciptakan seorang iblis di dunia
persilatan. Iblis jahat yang tidak akan ada yang sanggup menandinginya….”
“Kek….” Tegur Arya pelan.
Kakek itu menatap Arya
lekat-lekat. “Anak Muda jawab secara jujur pertanyaanku. Dari mana kau dapatkan
Pedang Bintang itu?’
Tanpa ragu-ragu lagi Aryapun
menceritakan semuanya. Dari awal mula kedatangan dia bersama ayahnya ke Gunung
Waru sampai akhirnya terpaksa harus berpisah dengan ayahnya.
“Ah! rupanya kau bukan orang
sembarangan, Arya. Aku kenal siapa itu Ki Wanayasa, paman gurumu maupun
Pendekar Ruyung Maut ayahmu. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa membela
kebenaran. Pedang Bintang benar-benar jatuh ke tangan yang tepat.”
“Kalau boleh kutahum siapakah
Kakek sebenarnya?’ tanya Arya.
Semula pemuda ini menduga kakek
ini adalah Ki Gering Langit. Tapi setelah kakek ini menyebut Kakang Gering,
barulah dia tahu kalau kakek ini bukanlah tokoh yang dimaksud.
Kakek itu terkekeh pelan. “Aku?
Perlukan itu Arya?”
“Perlu, Kek.”
“Baiklah. Akan kuperkenalkan
diriku. Dulu, dunia persilatan menjuluki diriku Ular Hitam. Tapi sekarang
julukan yang pantas buatku adalah Ular Sakit!”
“Hugh!”
Arya merasakan betapa perutnya
mendadak sakit. Sungguh di luar dugaannya kalau dirinya sampai bertemu datuk
golongan hitam ini.
“Kau tidak usah takut, Arya. Seperti
yang telah kukatkan tadi, sekarang aku telah menjadi seorang yang lemah seperti
bayi.” Tegas kakek yang mengaku berjuluk Ular Hitam, ketika melihat Arya yang
wajahnya mendadak pucat.
Penegasan kakek itu membuat
keberanian Arya timbul. Ya, mengapa harus takut? Kakek ini entah karena
mengapa, kini telah menjadi orang lemah. Dan telah dilihatnya sendiri
kenyataannya. Lagi pula nampaknya kakek itu tidak bermaksud jahat padanya.
Apalagi yang harus dikawatirkan? Maka iapun melangkah maju
menghampiri.
“Mengapa bisa begitu, Kek?” tanya
Arya ingin tahu. “Ceritanya cukup panjang, Arya. Kau akan bosan mendengarkannya.”
“Tidak, Kek.”
“Baiklah.” Ujar Ular Hitam
mengalah.
Sejenak suasana hening, sementara
kakek itu memulai ceritanya.
“Sekitar tujuh belas tahun yang
lalu, aku memungut murid yang bernama Bomantara. Karena kulihat dia memiliki
bakat yang amat baik untuk mempelajari ilmu silat. Kugembleng dia dengan
sungguh-sungguh dan kuwariskan seluruh ilmu yang kumiliki,” sejenak Ular Hitam
terdiam. Sepertinya tengah mencari napas untuk menguat-kan perasaannya.
Sementara itu Arya Buana hanya diam penuh perhatian.
“Pada suatu ketika, kakak
kandungku, Ki Gering Langit singgah menjumpaiku. Dia menitipkan kitab-kitab
ilmu silatnya di sini dengan pesan agar diberikan kepada orang yang nanti
membawa Pedang Bintang,” kembali kakek yang berjuluk Ular Hitam ini
menghentikan ceritanya. Ditatapnya wajah Arya Buana dalam-dalam. Sedangkan Arya
Buana tak kuasa untuk membalas tatapan itu.
“Aku meminta pada Ki Gering Langit untuk
menurunkan sebagian dari ilmu-ilmunya
kepada Bomantara. Pada mulanya dia berkeberatan. Tapi karena terus
kudesak, akhirnya iapun memberikan sebuah kitab padaku untuk diberikan pada
Bomantara. Sehabis itu iapun pergi. Tapi sungguh di luar dugaan kalau Bomantara
itu ternyata mengkhianatiku. Bersama-sama Raja Racun Pencabut Nyawa yang sangat membenciku, ia mencelakaiku.” Sebenta Ular Hitam menghentikan ceritanya, lalu menarik napas
panjang dalam-dalam. Matanya sedikit berkaca-kaca, seperti menahan perasaan
yang amat dalam.
“Dengan keji mereka menjebakku
untuk meminum racun yang membuatku jadi orang lemah selamanya. Racun itu akan
menyerangku apabila mengerahkan sedikit saja tenaga dalam. Serangan yang begitu
menyiksa. Itulah sebabnya mengapa aku tidak mampu membuka rantai ini dan pintu
yang terkunci dari luar iu. Karena begitu kumulai menyalurkan tenaga dalam,
racun itupun langsung menyerangku.”
Arya tercenung begitu kakek itu
telah menyelesaikan ceritanya. Sungguh tidak diduga begitu pahitnya kenyataan
yang dihadapi si Ular Hitam. Dikhianati muridnya sendiri!
“Dengan tingkat kepandaiannya
yang sekarang, dapat kupastikan tidak ada satupun tokoh yang sanggup
menghadapinya. Tak terkecuali para datuk persilatan. Kecuali kakak kandungku,
Ki Gering Langit! Tapi mana mau ia turun tangan menghadapi seorang anak ingusan
macam Bomantara! Maka jelas sudah murid murtad itu akan mengacau dunia persilatan tanpa ada yang bisa
menghalangi. Ia telah mewarisi seluruh kepandaianku dengan sempurna. Demikian
pula seluruh ilmu Raja Racun Pencabut Nyawa. Dan yang lebih gila lagi, diapun
telah menerima ilmu-ilmu Ki Gering Langit yang membuatnya memiliki tenaga dalam
luar biasa. Lengkaplah sudah kepandaian yang dimilikinya. Kecepatan gerak
diwarisi dariku. Kekuatan tenaga dalam dari Ki Gering Langit. Dan pengetahuan
racun dari Raja Racun Pencabut Nyawa!” Ular Hitam berhenti sebentar, seperti
ingin mengambil napas. Dadanya memang terasa sesak jika mengingat-ingat
pengkhianatan bekas muridnya, Bomantara.
“Bomantara akan menjelma jadi
iblis yang tidak ter-lawan! Dan semua ini akibat salahku yang tidak bisa
menangkap hati orang. Hhh….! Bertahun-tahun aku mohon pada Gusti Allah agar
segera mengirimkan orang yang menurut kakakku akan membawa Pedang Bintang.
Waktu itu aku sudah hampir putus asa menunggunya. Sungguh tidak kusangka kalau
Gusti Allah akhirnya mengabulkan permohonanku dengan mengutusmu ke sini, Arya”
jelas Ular Hitam lagi.
“Maafkan saya, Kek.”
Setelah berkata demikian, Arya
membungkuk memberi hormat. Kemudian dijulurkan tangannya untuk meraih belenggu
di tangan Ular Hitam. Sekali Arya mengerahkan tenaganya, maka seketika
gelang-gelang baja dan rantai-rantai yang membelenggu tangan dan kaki Ular
Hitam patah-patah.
“Ah! Terima kasih, Arya.” Ucap
Ular Hitam pelan sambil bangkit berdiri. Kemudian dia melangkah menuju ke sudut
ruangan, sementara Arya hanya memperhatikannya saja.
“Hm. Ada apa, Arya?” tanya Ular
Hitam tanpa mengehentikan langkahnya.
“Apakah racun yang mengeram di
tubuh Kakek tidak bisa dikeluarkan?”
Langkah Ular Hitam terhenti.
Perlahan-lahan kepalanya menoleh ke belakang, menatap Arya lekat-lekat.
“Tidak. Tapi memang dapat disembuhkan. Kakang
Gering Langit pernah mengajarkan padaku sebuah semadi untuk mengusir racun yang
mengeram dalam tubuh. Memang dibutuhkan waktu yang panjang untuk dapat sembuh
total. Tapi hanya itulah jalan satu-satunya. Racun yang dimasukkan dalam
tubuhku memang racun ganas Arya.”
Kembali Kakek itu melangkahkan
kakinya kembali. Dan sesampai di sudut ruangan itu dia memanggil Arya. Pemuda
itu bergegas menghampirinya.
“Bongkar lantai ini!”
Tanpa banyak tanya, Arya
mengayunkan tangannya ke arah lantai yang ditunjuk Ular Hitam.
Brakkk…!
Seketika lantai itu ambrol.
Tampak di balik lantai itu ter-dapat sebuah lubang berbentuk persegi. Dalamnya
tak lebih dari satu hasta. Dan di dasar lubang itu terlihat sebuah peti kecil
berwarna hitam mengkilat.
“Ambil peti itu, Arya.” Perintah
kakek yang berjuluk Ular Hitam itu lagi.
Aryapun segera mengulurkan
tangannya dan meng-ambil peti itu lalu memberikannya pada Ular Hitam. Sebentar
kemudian kakek itu segera membukanya. Nampak dua buah kitab yang berwarna
kekuningan di dalamnya. Ular Hitam mengambil kitab itu lalu melihat-lihatnya
sejenak. Baru setelah itu diberikan pada Arya.
“Milikmu, Arya.” Ucap Ular Hitam
pelan.
Arya segera menerimanya. Pada
bagian muka kitab yang pertama nampak tertera huruf-huruf berbunyi TENAGA DALAM
INTI MATAHARI. Sedangkan pada buku yang kedua tertulis kalimat yang berbunyi
ILMU BELALANG SAKTI.
Mulai saat itulah Arya berlatih
mempelajari kedua ilmu yang diwariskan Ki Gering Langit, di bawah bimbingan
Ular Hitam. Sementara kakek itupun tak kalah sibuknya. Hampir pada setiap kesempatan
waktu yang senggang, ia bersemadi untuk mengusir racun yang mengeram ditubuhnya.
Dengan semangat meluap-luap, Arya
mulai membuka halaman pertama Kitab Tenaga Dalam Inti Matahari. Memang Ular
Hitam menyuruhnya mempelajari kitab itu dulu. Baru setelah memiliki Tenaga Inti
Matahari yang cukup kuat, ia boleh mempelajari ‘Ilmu Belalang Sakti’.
Muridku……
Untuk memiliki tenaga dalam, yang
tidak boleh dilupakan adalah tekanan gambaran dari pikiranmu pada batinmu. Saat
bersemadi, tariklah napas dalam-dalam disertai penekanan alam bawah sadarmu.
Bayangkan bahwa tengah menarik kekuatan matahari yang masuk melalui lubang
hidungmu dan terus turun hingga ke pusar. Sesampainya di sana putarkan
‘kekuatan’ yang kau tarik itu mengelilingi pusar, lalu naik ke atas dan buang
kembali. Itulah yang harus kau camkan muridku……
Dengan tekun dan sungguh-sungguh, Aryapun mengikuti petunjuk itu. tidak hanya pelajaran semadi
saja yang terdapat di kitab itu.
Sikap kuda-kuda dan pernapasan
juga diajarkan.
Pada minggu-minggu pertama, tidak
ada hal-hal aneh dirasakan Arya, selain hawa hangat yang senantiasa berputar di
pusarnya. Tapi pada minggu-minggu selanjut-nya. Arya mulai merasakan hal lain
yang diterimanya. Setiap pagi sehabis bangun tidur, sekujur tubunya terasa
panas sekali. Bukan hanya itu saja. Rasa haus yang amat sangat selalu
menderanya. Bahkan kulitnyapun mulai mengering.
Ular Hitampun mengetahui apa yang
dialami Arya. Dan dia tahu betul kalau hal itu karena pemuda itu belum bisa
mengendalikan tenaga itu. Dia juga tahu kalau hal itu paling lama hanya
berlangsung sebulan. Jika Arya mengalami demikian itu hanyalah suatu proses.
Maka Ular Hitampun membiarkannya saja. Dan memang, kejadian yang dialami Arya
itu hanya berlangsung tiga minggu. Dan setelah itu semuanya kembali seperti
biasa.
Setahun kemudian. Arya baru
diperkenankan mem-pelajari kitab ‘Ilmu Belalang Sakti’. Ilmu itu ternyata
terdiri dari dua jurus, jurus ‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus ‘Belalang
Mabuk’.
Setelah sampai pada kitab
pelajaran ilmu ini, Arya mulai menjumpai kesultian. Dan sebelumnya hal iu sudah
dikatakan Ular Hitam yang telah mempunyai banyak pengalaman. Setelah
memperhatikan kedua jurus iu, dia segera tahu kalau Arya tidak akan dapat
menguasainya dengan baik. Jurus itu harus dilakukan dalam keadaan tidak sadar!
Terutama sekali jurus ‘Belalang Mabuk’! Bila ingin menguasai dengan baik dan
memainkannya dengan sempurna, Arya harus mabuk!
“Arya….” Sapa Ular Hitam pada
suatu pagi ketika Arya tengah berlatih kedua ilmu itu. di tangan kakek itu
tergenggam sebuah guci dari perak.
“Ya, Kek.” Pemuda itu langsung menghentikan latihannya.
“Aku sungguh tidak habis pikir,
kenapa Kakang Gering memberikan ilmu itu padamu. Dan bila ingin me-mainkannya
dengan baik kau harus mau tidak mau ber-gantung pada arak. Tapi yang jelas dia
telah matang memikirkan semua itu. buktinya sebelum pergi dia telah menitipkan
guci arak ini padaku untuk diberikan pada orang yang membawa Pedang Bintang.”
Setelah berkata demikian kakek
itu lalu memberikan guci arak tersebut pada Arya.
Pemuda itu lalu mengulurkan
tangannya menerima guci itu. Diperhatikannya sejenak kemudian
ditimang-timangnya.
“Coba mainkalah kedua ilmu itu
dengan guci ini Arya,” perintah Ular Hitam.
“Baik, Kek.” Arya menganggukkan
kepalanya kemudian bergerak menjahui Ular Hitam. Dan mulailah dimainkan kedua
ilmu yang telah cukup dikuasainya dengan meng-gunakan guci.
Diam-diam Arya merasa kaget.
Dengan adanya guci di tangan, gerakannya jadi lebih hidup. Sesekali kedua tangannya
memeluk guci itu. Sedangkan tubuhnya meliuk-liuk aneh. Di lain saat ia menyerang
dengan menggunakan guci itu.
Ular Hitam mengangguk-angguk
puas. “Cukup, Arya!”
Pemuda itu menghentikan
latihannya. Disusut peluh yang membasahi leher dan dahinya sebelum menghampiri
kakek itu.
“Satu hal yang luar biasa pada
guci ini, Arya.” Ucap kakek itu lagi. “Guci ini bukanlah guci sembarangan dan
merupakan guci pusaka. Ia tidak akan hancur oleh apapun. Baik oleh senjata
maupun oleh pukulan yang mengandung tenaga dalam.”
“Oh! Benarkah itu, Kek?’ tanya
Arya setengah tidak percaya.
Kakek itu menganggukkan
kepalanya.
“Ya. Aku sendiri telah
membuktikannya. Dulu guci ini pernah kupukul dengan pengerahan seluruh tenaga
dalamku. Hasilnya, nol besar! Jangankan pecah, retakpun tidak!”
“Hebat….!” Desah pemuda itu
takjub.
“Dan yang lebih hebat lagi, guci
ini mampu membuat arak yang masuk ke dalamnya menjadi arak keras. Dan ini
menguntungkanmu, Arya. Karena apabila telah menguasai ‘Tenaga Dalam Inti
Matahari’ dan ilmu ‘Belalang Sakti’, berguci-guci arakpun tidak akan mampu
membuatmu mabuk, kecuali arak keras. Tapi dengan keisimewaan guci ini, arak
yang paling ringanpun akan menjadi arak keras. Dan tentu saja langsung akan
membuatmu mabuk.” Urai Ular Hitam panjang lebar. Arya hanya mengangguk-anggukkan
kepalanya.
***
6
Waktu berlalu tak terasa. Kadang
seperti merayap lambat bagai langkah seekor siput. Tapi kadang pula seperti
melesat laksana kelebatan anak panah. Tak terasa sudah lima tahun Arya berada
di tempat si Ular Hitam berada, untuk berlatih ilmu-ilmu yang diwariskan Ki
Gering Langit. Kini Arya telah menjelma menjadi seorang pemuda yang tegap dan
berdada bidang.bentuk wajahnya yang memang sudah terlihat jantan semakin
bertambah jantan karena rahangnya yang kokoh. Rambutnya yang dulu berwarna
hitam, sekarang berubah menjadi putih keperakan. Mungkin karena pengaruh
‘Tenaga Dalam Inti Matahari’ dan ilmu ‘Belalang Sakti’. Usia Arya kini dua
puluh tahun.
“Arya,” tegur Ular Hitam pagi
itu. Wajah kakek ini yang dulu agak gelap, sudah bersih lagi. Suatu tanda kalau
racun yang berada di tubuhnya sudha lenyap.
“Ya, Kek.” Jawab Arya yang tetap
memanggil Ular Hitam seperti itu karena memang kakek itu tidak mau dipanggil
guru.
“Kakek rasa sudah cukup rasanya
kau menggembleng diri. Sudah tiba saatnya bagimu untuk mengamalkan apa yang
dipelajari di sini untuk kepentingan orang banyak. Kakek kini telah lega
melepasmu pergi. Besok kau boleh meninggalkan tempat ini....”
“Tapi, Kek....” Arya mencoba
membantah.
“Tidak ada tapi-tapian lagi,
Arya!” tegas Ular Hitam. “Ingat, kau banyak mempunyai tugas yang harus diselesaikan. Mencari Bomantara,
ibumu juga ayahmu. Dan juga kalau aku tidak salah, Kakang Gering memberimu
tugas pula, bukan?”
“Benar, Kek” Arya mengangguk.
“Nah! Kalau begitu, apalagi yang memberatkanmu
meninggalkan tempat ini?”
“Aku tidak tega meninggalkan
Kakek….” Lirih suara Arya.
“Ha..ha..ha…!” Ular Hitam tertawa
terbahak-bahak. “Kau ini aneh, Arya. Sekarang kekuatanku telah pulih seperti
Ular Hitam yang dulu. Apa yang dikawatirkan? Sudahlah Arya. Pokoknya besok kau
harus meninggalkan tempat ini. Seorang pendekar tidak akan mementingkan diri sendiri,
Arya. Tapi orang banyak!”
Setelah berkata demikian, Ular
Hitam melangkah pergi meninggalkan Arya yang hanya termenung memandangi
punggung kakek itu hingga lenyap di kajauhan. Sama sekali pemuda itu tidak
mengetahui kalau pipi kakek itu basah!
Pagi-pagi sekali Arya telah
berangkat meninggalkan tempat itu. Di punggung pemuda itu bertengger guci arak
terbuat dari perak pemberian Ki Gering Langit. Sedangkan Pedang Bintang sengaja
ditinggalkan di tempat kediaman Ular Hitam. Senjata itu memang tidak diperlukan
lagi. Pemuda berambut putih keperakan itu melangkahkan kakinya penuh semangat.
Tujuannya yang pertama kali adalah mencari ayahnya. Dia juga ingin tahu apa
yang terjadi terhadap ayahnya sejak ia meninggalkannya lima tahun lalu. Apakah
yang dikawatikrna oleh ayahnya itu akan terjadi?
Beberapa hari kemudian sampailah
pemuda itu di mulut sebuah desa. Maka dipercepat langkah kakinya. Perutnya kini
terasa lapar bukan main. Hanya satu yang diinginkan. Makan!
Akan tetapi, Arya mengerutkan
keningnya melihat suasana desa itu yang lenggang. Semua pintu dan jendela
nempak tertutup rapat.
“Ada apa ini?” tanya Arya dalam
hati sambil mengamat-amati sekelilingnya.
Singggg….!
Arya terkejut mendengar desingan
benda tajam yang menuju ke arahnya. Dari suaranya pemuda ini sudah bisa
memperkirakan benda tajam yang terlontar itu adalah pisau. Maka dibiarkan saja
senjata gelap itu mengenainya. Pemuda ini tahu dengan tingkat tenaga dalam yang
dimilikinya sekarang ini, serangan itu sama sekali tidak berarti apa-apa.
Takkk!
Dengan telak senjata gelap itu
menghantam tubuhnya, dan langsung runtuh ke tanah! Seolah-olah yang
dihantamnya bukanlah tubuh manusia, melainkan
gumpalan baja!
Begitu serangan pisau itu kandas,
tiba-tiba terdengar suara langkah-langkah kaki berlarian menuju ke arah Arya.
Pemuda ini kontan menoleh. Tampak puluhan orang menyerbu ke arahnya. Di tangan
mereka tergenggam berbagai macam senjata seperti pisau, golok, kapak, pacul dan
sekop!
Melihat pakaian dan senjata yang
digunakan, Arya segera saja dapat menduga kalau mereka itu adalah penduduk desa
ini. hanya saja yang masih menjadi tanda tanya besar mengapa para penduduk itu
tiba-tiba menyerangnya?
“Tahan….!” Teriak Arya keras.
Akan tetapi para penduduk yang
tengah marah itu tidak memperdulikan teriakan Arya. Mereka terus saja maju
menerjang.
Arya segera menyadari kalau saat
ini terjadi kesalah pahaman antara dirinya dengan mereka. Maka ia tidak akan
bersikap keras. Setiap serangan yang datang, pemuda itu hanya berusaha
menghindar saja. Apalagi setelah melihat serangan mereka. Pemuda ini tahu kalau
penyerangnya kebanyakan tidak menguasai ilmu silat.
Arya hanya menggunakan jurus
‘Delapan Langakah Belalang’ saja yang mempunyai
kegunaan untuk mengelakkan serangan lawan. Dengan langkah sempoyongan dan gerak
tubuh meliuk-liuk, dielakkan semua serangan itu sekaligus dirampasnya senjata
para pengeroyoknya.
Hanya sekejap saja Arya telah
membuat senjata para pengeroyoknya berpindah tangan. Sebagian di pegang
sebagian lagi berserakan di tanah.
Karuan saja hal itu membuat para
pengeroyoknya terbengong-bengong. Tapi hanya sebentar saja, karena di lain saat
mereka sudah menyerbu kembali dengan tangan kosong. Itu setelah terdengar
perintah dari orang yang paling depan yang berusia setengah baya dan berkumis
tebal.
Kini Arya tahu. Maka mau tidak
mau mereka harus segera dirubuhkan. Namun demikian tetap saja pemuda itu tidak ingin melukainya. Digerak-gerakkan tangannya perlahan saja dan dikerahkan sebagian kecil dari
tenaganya.
Akibatnya hebat sekali! Dari
keduda tangan Arya keluar angin keras berhawa hangat. Sehingga para pengeroyok
itu terlempar ke belakang dan jatuh bergulingan di tanah kecuali si kumis tebal
itu. Dia hanya terhuyung-huyung ke belakang.
“Tahan….!” Bentak Arya keras
begitu dilihat para pengeroyoknya itu masih ingin bangkit dan menyerang lagi.
Sengaja Arya mengerahkan tenaga dalam waktu berteriak sehingga membuat mereka
tertegun.
“Mengapa kisanak semua
menyerangku? Apa salah-ku?” tanya Arya penasaran.
Si kumis tebal tersenyum
mengejek. Diperhatikan sebentar pemuda berpakaian ungu di hadapannya.
“Tidak usah pura-pura, Anak Muda.
Bukankah kau utusan si Harimau Mata Satu untuk mematai-matai kami?”
“Ah! Kisanak salah paham. Aku
bukanlah utusan si Harimau Mata Satu. Aku Arya yang kebetulan lewat sini.”
Si kumis tebal meragu sejenak.
“Bisa kupercaya kata-katamu, Anak
Muda?’
“Kalau aku utusan si Harimau Mata Satu, apakah
kisanak semua masih selamat?” kilah Arya sambil tersenyum.
“Hm…. Benar juga ya?” si kumis
tebal mengangguk. Pertanyaan itu seperti ditujukan untuk dirinya sendiri. “Aku
juga tidak percaya kalau utusan si keparat itu bisa sehebat ini.”
“Syukurlah kalau kisanak
percaya….” Desah Arya lega. “Oh ya…. Kalau boleh tahu siapakah si Harimau Mata
Satu itu?’
“Jadi, Nak….”
“Arya” potong pemuda itu
memperkenalkan namanya. “Arya Buana. Panggil saja Arya. Dan kalau boleh tahu
kisanak siapa?”
“Aku kepala desa di sini. Panggil
saja Ki Pandu. Jadi, kau benar-benar tidak mengenal Harimau Mata Satu?” tanya
laki-laki setengah baya yang ternyata bernama Ki Pandu tidak percaya.
“Tidak. Mendengar namanya saja
baru kali ini, Ki” jawab pemuda itu polos.
“Ah, rasanya mustahil! Orang
sesakti Nak Arya ini tidak pernah mendengar namanya. Si Harimau Mata Satu
ter-kenal sekali. Dia adalah pemimpin gerombolan perampok yang amat kejam.
Biasanya hanya beroperasi di hutan. Dia waktu itu tidak berani menyerbu
desa-desa karena masih banyak perguruan silat yang beraliran lurus dan
pendekar-pendekar pembela kebenaran. Tapi kini sejak Siluman Tengkorak Putih
muncul untuk menghancurkan perguruan-perguruan silat dan membunuh para
pendekar, si Harimau Mata Satu berani
meninggalkan sarangnya. Desa demi desa mereka datangi. Bagi desa yang tidak
bersedia tunduk tidak segan-segan untuk dibumihanguskannya. Kemarin desa kami
kedatangan utusan mereka yang me-minta agar takluk. Setiap musim panen, kami
diwajibkan membayar upeti. Bahkan setiap minggu minta disediakan dua orang
gadis cantik. Pokoknya banyak lagi permintaan yang tidak masuk akal. Dengan
tegas semua itu kutolak mentah-mentah. Kami lebih suka mati terhormat
ketimbang hidup tapi terhina! Jadi itu sebabnya mengapa kami tadi menyerangmu,
Arya. Kami pikir kau adalah mata-mata mereka yang ingin mengetahui kekuatan
kami.”
Arya mengangguk-angguk maklum.
“Ki Pandu…..! Ki Pandu….!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang yang tergopoh-gopoh. Seketika
kepala desa yang berkumis tebal itu menoleh ke arah asal suara. Nampak seorang
laki-laki berlari-lari menghampiri.
“Ada apa, Surya?” tanya Ki Pandu.
“Mereka telah datang, Ki….” Ucap
orang yang dipanggil Surya terengah-engah.
“Gerombolan Harimau Mata Satu ?”
tegas Ki Pandu. “Benar!” jawab Surya singkat.
“Kalau begitu, mari kita sambut
kedatangan mereka!” sahut Ki Pandu.
“Tunggu, Ki!” cegah Arya begitu
melihat Ki Pandu dan para penduduk hendak meninggalkan tempat itu.
“Ada apa, Arya?’ tanya Ki Pandu
sambil menghentikan langkahnya.
“Biarlah aku yang akan menghadapi
mereka….” “Tapi….” kepala desa itu masih coba membantah. “Tegakah, Aki
mengorbankan para penduduk itu?”
desak Arya.
“Memang aku tidak tega. Tapi….”
“Sudahlah, Ki. Nanti kalau aku
tidak mampu meng-hadapi mereka, baru Ki Pandu dan para penduduk bisa
membantuku!”
Setelah berkata demikian, Arya
segera menginggalkan tempat itu menuju mulut desa. Ki Pandu dan para pen-duduk
memandangi pemuda berambut putih keperak-perakan yang hanya melangkah perlahan
saja. Namun anehnya tubuh pemuda itu sudah berada lebih dari sepuluh tombak di
depan.
“Luar biasa….!” Puji Ki Pandu
sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Rasanya kali ini si Harimau Mata Satu
ini harus menghadapi rintangan yang amat berat!”
Ilmu meringankan tubuh yang
dimiliki Arya sudah mencapai taraf kesempurnaan. Sehingga dalam waktu sebentar
saja pemuda itu telah berada di mulut desa. Agak jauh di depan, terlihat debu
mengepul tinggi ke udara. Dari suara berderap yang menggetarkan bumi pemuda ini
tahu gerombolam si Harimau Mata Satu ini berkendaraan kuda. Jumlah mereka tidak
kurang dari tiga puluh orang.
Dalam waktu yang tidak berapa
lama, rombongan orang berkuda itu telah berada dekat mulut desa.
“Hooop…!”
Orang yang berada paling depan bertubuh
tinggi besar berwajah kasar dan bermata picak sebelah berteriak keras sambil
mengangkat tangannya. Maka serentak rombongan itu hentikan lari kudanya.
“Siapa kau, Anak Muda?! Dan
mengapa menghadang kami?! Menyingkirlah cepat!” bentak si mata picak yang
berjuluk Harimau Mata Satu itu. Dipandangnya Arya yang berdiri menghalangi
jalan dengan mata merah menyala.
“Siapa diriku tidak perlu kau
tahu! Yang jelas aku berdiri di sini untuk membasmi orang-orang semacam kau dan
gerombolanmu itu!” sahut Arya tegas. Kemudian di-angkatnya guci arak yang sejak
tadi dipegangnya. Kemudian guci itu dibawanya ke atas mulut lalu di-teguknya.
Arya memang berniat mencoba kehebatan ilmu yang selama ini dipelajarinya.
Gluk….gluk….gluk….!
“Keparat! Bentak si Harimau Mata
Satu. “Bunuh tikus kecil ini!” perintah orang bermata picak itu pada anak
buahnya.
Bergegas dua orang anak buanya
melompat turun dari kuda sambil menghunus goloknya. Tanpa bicara apa-apa kedua
orang perampok itu segera menerjang Arya.
Singggg….! Singgg…!
Dua bilah golok itu melayang
deras menyambar leher dan dada Arya. Tapi Arya yang memang telah memutuskan
untuk tidak memberi ampun pada gerombolan perampok itu membiarkan saja serangan
dua batang golok yang datang ke arahnya.
Takkk! Takkk!
Kedua batang golok itu patah-patah ketika menghantam sasaran. Dan belum lagi
kedua orang perampok itu sadar dari keterkejutannya, kedua tangan Arya yang
diiringi jurus ‘Belalang Mabuk’ telah menghajar mereka.
Bukkkk! Bukkkk!
Tubuh kedua orang perampok itu
terpental jauh seperti diseruduk banteng. Tanpa sempat mengeluh lagi dua orang
itu tewas dengan tulang dada hancur berantakan! Darah langsung mengalir deras
dari mulut, hidung dan matanya. Sekujur tubuh merekapun hangus bagai terbakar!
Mata si Harimau Mata Satu
terbelalak. Untuk sesaat dipandangnya tubuh kedua anak buahnya yang terkapar di
tanah, kemudian beralih pada Arya yang masih meliuk-liuk sempoyongan. Itulah
jurus ‘Belalang Mabuk’!
“Serbu….!” Teriak Harimau Mata
Satu keras.
Disadari kalau kepandaian pemuda
berpakaian ungu itu tidak mungkin dapat dihadapi sendiri maka si Harimau Mata
Satu tidak main-main lagi. Rasanya
pemuda itu memang harus dihadapi bersama-sama.
Puluhan orang perampok itu
bergegas melompat turun dari kuda masing-masing dan meluruk menyerbu Arya
dengan senjata terhunus. Puluhan senjata yang beraneka ragam segera
berkelebatan mengancam pemuda itu.
Arya sama sekali tidak bergerak
atau menangkis. Dibiarkan saja hujan bermacam-macam senjata yang mengancam
tubuhnya. Hanya yang mengancam bagian-bagian yang berbahaya saja yang ditangkis
atau dielakkan dengan langkah sempoyongan.
Takkk! Takkk!
Senjata-senjata itu terpental
balik ketika mengahantam tubuh maupun tangkisan tangan Arya. Dan sekali pemuda
itu membalas dengan menggerakkan tangannya, nampak sesosok tubuh terlempar
keluar dari gelanggang per-tempuran dalam keadaan tewas mengerikan.
Harimau Mata Satu menggeram murka
melihat betapa anak buahnya seperti semut menerjang api. Satu persatu mereka
berguguran di tangan pemuda berambut putih keperak-perakan itu. Dengan perasaan
geram dikeluarkan senjata andalannya, sebuah rantai baja panjang yang di
ujungnya terdapat bola berduri.
“Hiyaaa…!” sambil berteriak
nyaring, Harimau Mata Satu melompat
turun dari kudanya. Diputar-putarnya rantai berujung bola berduri itu sebentar
sebelum diarahkan pada Arya.
Wuuut…!
Angin yang keras menderu
mengiringi tibanya serangan boal berduri itu.
Arya yang tengah dikeroyok
puluhan orang perampok itu tidak menjadi gugup melihat sambaran bola berduri
yang menuju ke arah kepalanya. Dengan hanya menundukkan kepalanya sedikit,
maka serangan bola berduri itu hanya mengenai tempat kosong di atas kepalanya.
Betapa kuat tenaga yang terkandung dalam lontaran itu sehingga rambut Arya yang
panjang keperakan dibuat berkibar.
Tidak hanya sampai di situ saa
yang dilakukan Arya. Pemuda itu segera mengulurkan tangan menangkap rantai itu,
lalu menyentakknnya. Harimau Mata Satu kaget bukan main. Sungguh tidak disangka
kalau lawannya ini mampu bergerak secepat itu. sekuat tenaga dicobanya untuk
bertahan dari sentakan itu tapi kalah kuat. Tenaga dalam yang dimiliki Arya
jauh di atasnya. Maka tanpa ampun lagi tubuhnyapun tersentak melayang ke arah
pemuda itu.
Begitu tubuh Harimau Mata Satu
itu berada di udara, Arya langsung menggerakkan rantai yang berhasil
ditangkapnya. Dan dengan sekali sentak bola berduri itu melayang deras
menyambut kedatangan tuannya.
Untuk kesekian kalinya Harimau
Mata Satu terperanjat dan tidak punya pilihan lain lagi. Segea dilepaskan
pegangannya pada rantai, setelah sebelumnya menggunakan rantai itu sebagai
tempat berpijak untuk melenting ke udara.
Tetapi hal itu sudah
diperhitungkan Arya. Cepat pemuda ini menyusulinya dengan menyampok beberapa
batang golok yang mengancam bagian-bagian berbahaya di tubuhnya.
Trakkk! Trakkk! Singgg…! Singgg…!
Beberapa batang golok menyambar
deras ke arah Harimau Mata Satu. Kali ini Harimau Mata Satu tidak mampu lagi mengelak. Hanya tinggal satu
jalan baginya untuk menyelamatkan diri yaitu menangkap golok-golok itu. Dan
Harimau Mata Satu terpaksa melakukannya.
Tappp! Cappp! Cappp! “Akh….!”
Harimau Mata Satu menjerit keras. Telapak tangan kanannya yang
digunakan untuk menangkap seketika berlumuran darah. Sedangkan di perutnya
tertancap tiga batang golok yang menembus hingga ke punggung. Harimau Mata
Satu gagal menyelamatkan selembar
nyawanya. Lontaran golok-golok itu terlampau deras. Sehingga walau golok
pertama yang menyambar ke arahnya dapat ditangkap, tapi tenaga pendorong
golokitu terlalu kuat. Akibatnya golok itu terus meluncur deras dan menancap di
prut, setelah melukai tangannya. Dan belum lagi sempat berbuat sesuatu dua
batang golok lainnya menyusul tiba.
Tubuh Harimau Mata Satu langsung
ambruk ke tanah. Sesaat lamanya ia menggeliat-geliat sebelum akhirnya diam
tidak bergerak-gerak lagi untuk selama-lamanya.
Tentu saja kematian pemimpin
membuat gerombolan perampok itu menjadi semakin gentar. Sejak tadi hati mereka memang sudah ciut bukan main melihat
kehebatan pemuda itu. Sudah lebih separuh dari mereka yang tewas di tangan
pemuda yang rupanya pemabukan ini. Berkali-kali sambil menangkis, mengelak
ataupun menyerang, pemuda itu meminum araknya. Sesekali terdengar suara
dengikan keluar dari mulut pemuda itu.
Dalam sekejapan saja beberapa
orang perampok itu sudah menyusul temannya ke akhirat. Yang tinggal kini hanya
beberapa gelintir saja. Dan merekapun rupanya sadar kalau terus-terusan melawan
tidak akan ada gunanya. Maka bergegas mereka semua melemparkan senjata masing-masing kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Arya.
“Ampun…. Ampunkan kami, Tuan
Pendekar…. Kami berjanji tidak akan berbuat jahat lagi,” ujar salah seorang
dari mereka dengan suara gemetar. Ucapan itu disambut anggukan kepala
teman-temannya.
“Orang semacam kalian sudah
selayaknya dilenyapkan dari muka bumi….!” Arya dengan posisi tidak tetap sambil
sesekali meneguk araknya.
“Benar, Arya!” sambut satu suara.
Disusul munculnya Ki Pandu dan pada penduduk desa itu. Mereka sudah sejak tadi
berada di situ dan melihat semua sepak terjang Arya.
“Ampun, Tuan Pendekar! Jangan
bunuh kami. Kami benar-benar tobat dan berjanji tidak akan berbuat jahat lagi.
Kami akan menjadi orang baik-baik….”
“Masih berlakukah janji-janji
bagi orang semacam kalian?”
“Kami berjanji, Tuan Pendekar….”
“Baiklah. Tapi bila kudengar
kalian berbuat jahat lagi. Aku tak akan mengampuni kalian lagi. Mengerti?!”
“Mengerti, Tuan Pendekar.”
“Kalau begitu, pergilah! Sebelum
aku mengubah keputusanku.” Usir Arya.
“Terima kasih, Tuan Pendekar”
ucap mereka hampir bersamaan. Saking gembiranya dibentur-benturkan dahi mereka
ke tanah.
“Tapi, Arya….” Ki Pandu mencoba
membantah. Dan para penduduk sudah bergerak menghadang para perampok yang akan meninggalkan tempat itu.
Arya menggoyang-goyangkan tangannya. “Biarkan mereka pergi.”
Para penduduk itu merasa
ragu-ragu dan langsung menatap Ki Pandu. Ketika kepala desa itupun menganggukkan kepalanya, maka para
penduduk itupun menyingkir membiarkan para permpok itu pergi. Debu kembali
mengepul tinggi ketika beberapa gelintir permpok itu pergi dari situ sambil
membawa kawan-kawan mereka yang tewas.
Selagi semua pandangan mata
tertuju pada para permpok yang kian menjauh, Arya telah melesat cepat
meninggalkan tempat itu.
“Arya…. Arya….!” Ki Pandu
celingukan mencari-cari begitu teringat pada pemuda itu. “Ah, dia sudah pergi….
Pendekar aneh. Gerakan-gerakannyapun aneh. Baru kali ini kulihat orang mabuk
bermain silat begitu hebatnya. Hhh…. Kepandaian yang dimilikinya tak lumrah
bagi manusia. Atau jangan-jangan dia adalah Dewa yang menyamar menjadi
manusia?”
“Benar, Ki. Aku juga yakin kalau
pemuda itu bukan manusia biasa, melainkan Dewa.” Sambut salah seorang penduduk.
“Tapi mana ada Dewa yang begitu
doyan arak?” bantah yang lainnya.
“Lho?! Siapa tahu dia… Dewa
Arak,” sahut penduduk yang lainnya membantu yang pertama.
“Ah, tepat sekali…. Tepat sekali
julukan itu. Yahhh…. Dewa Arak. Julukan yang amat cocok buat pemuda yang
berkepandaian luar biasa itu. Dewa Arak. Ya….!” Tegas Ki Pandu sambil merenung.
Tak lama kemudian mereka meninggalkan
tempat itu. sepanjang perjalanan yang dipercakapkan hanya tentang Arya, yang hanya seorang diri telah mampu
menghancurkan gerombolan si Harimau Mata Satu yang selama ini merajalela.
Beberapa hari kemudian, nama Arya
alias si Dewa Arak telah mulai terkenal ke desa-desa sekitar. Seorang pemuda
yang bertubuh kekar berwajah jantan dengan rahang kokoh dan alis tebal.
Tambutnya berwarna putih keperakan dan pakaiannya ungun. Itulah Dewa Arak!
Seorang pendekar yang siap menumpas keangkaramurkaan!
***
7
Dalam waktu yang tak lama,
kehadiran pemuda yang dijuluki orang
sebagai Dewa Arak telah menggegerkan rimba persilatan. Kata orang ciri-ciri dia
adalah berambut putih keperakan dan berpakaian ungu. Sedangkan ciri yang
menonjol adalah sebuah guci yang selalu tersampir di punggung!
Pagi ini udara nampak cerah.
Hanya sedikit awan menggantung di langit. Walaupun udara begitu bersih tak ada
tanda akan hujan namun seorang pemuda bergegas melangkah kakinya. Apalagi
setelah melihat perbatasan Desa Kecipir. Dia adalah Arya Buana yang ingin
segera mengetahui keadaan ayahnya. Pemuda ini kawatir terjadi sesuatu pada
ayahnya. Ucapan Ki Pandu waktu itu telah mengganggu pikirannya. Katanya Siluman
Tengkorak Putih telah mengganas, membunuhi pada pendekar dan meng-hancurkan
perguruan-perguruan silat yang beraliran putih. Kata-kata itu kembali terngiang
di telinga Arya Buana.
Tetapi sebelum kakinya mencapai
perbatasan desa, sebuah bisikan halus membuat dia harus menghentikan
langkahnya.
“Dik Arya….”
Arya Buana menoleh ke arah asal
suara. Dan dari balik kerimbunan semak-semak
terlihat sebuah kepala tersembul. Untuk sesaat lamanya alis pemuda
berbaju ungu ini berkerut. Rasanya pernah melihat wajah ini tapi kapan dan di
mana, ia lupa.
“Aku Satria…..”
“Ah, Ka….” Kini Arya teringat di
mana pernah bertemu pemuda itu. di mana lagi kalau bukan di Perguruan Tangan
Sakti yang bermarkas di Gunung Waru.
“Dik Arya, seudah demikian
besarnya dirimu. Hampir- hampir saja aku lupa.”
“Kang Satria bagaimana kabarmu?”
tanya Arya gembira sehingga bersuara agak keras.
“Ssst….!” Si pemilik suara yang
ternyata adalah Satria itu menempelkan jari telunjuknya di bibir mencegah Arya
bicara keras-keras. Dilambaikan tangannya pada pemuda itu.
Arya menoleh ke kanan dan ke
kiri. Setelah dilihatnya suasana sekitar situ sepi, bergegas dihampirinya
Satria yang hanya berjarak dua tombak darinya.
“Ada apa Kakang Satria?” tanya
Arya dengan suara perlahan.
“Nanti saja kuceritakan. Sekarang
kau ikut aku saja…..” ajak Satria.
Arya meragu sejenak. “Sayang
sekali, Kang. Kalau sekarang aku tidak bisa ikut…..aku masih ada urusan.”
Wajah Satria mendadak murung.
“Aku tahu Arya. Kau ingin
menjumpai ayahmu, kan?” “Syukurlah kalau Kakang sudah tahu,” desah Arya
pelan. Dia memang merasa tidak
enak melihat wajah Satria yang murung begitu menolak ajakannya.
“Lebih baik kau urungkan niatmu,
Arya.” “Mengapa, Kang?’ Arya tersentak.
“Karena….karena ayahmu….sudah
tidak ada lagi, Arya….” Desah Satria pelan.
“Maksud, Kakang….. ayah….
tewas….?” tanya Arya dengan wajah pucat pasi.
Satria tidak mampu menjawab dan
hanya mengangguk sambil menundukkan kepalanya. Tapi anggukkan itu sudah cukup
buat Arya. Tiba-tiba saja pemuda ini berteriak keras. Satria kontan jatuh terduduk karena dengkulnya mendadak lemas. Cepat
dikerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir pengaruh teriakan yang masih tersisa
itu.
Dengan mata terbelalak tampaklah
sebatang pohon besar tumbang. Daun-daunnya layu mengering. Pohon itu rubuh
dengan diiringi suara bergemuruh begitu Arya mendorongkan kedua tangannya ke
depan.
“Kubunuh kalian….! Kubunuh….!
Ku... bunuuuuh….!” Teriak pemuda berambut putih keperak-perakan itu keras.
Sepasang matanya mencorong kehijauan.
Satria memandang pemuda itu
dengan hati bedebar. Apa yang dlihat benar-benar mengejutkan hatinya. Sebuah
pertunjukan yang menggirikan hati!
“Katakan, Kakang… Katakan siapa
yang telah mem-bunuh ayahku?” tanya Arya dengan naas terengah-engah.
“Sabar Arya. Tenangkan dulu
pikiranmu. Aku tidak akan memberitahukan siapa pembunuh ayahmu jika kau masih
diliputi amarah. Biarpun untuk itu aku harus mati di tanganmu!” tegas Satria.
Ucapan itu menyadarkan Arya dari
amarahnya. Pemuda itu mengeluh pelan. Ditutupi mukanya dengan kedua tangannya.
Baru setelah itu ditariknya napas dalam-dalam dan dihembuskannya kuat-kuat.
Beberapa saat lamanya ia melakukan hal itu. Setelah dirasakan amarahnya telah
mereda ditatapnya Satria dalam-dalam.
Satria tersenyum. “Hebat kau
Arya. Jadi kau telah mendapatkan kitab-kitab peninggalan Ki Gering Langit itu?’
Arya hanya mengangguk.
“Jadi rupanya kaulah yang
dijuluki Dewa Arak itu, Arya?” tanya Satria lebih lanjut.
“Dewa Arak? Aku? Ah, tidak
salahkah apa yang kau ucapkan itu, Kang?” tanya Arya heran. Dia memang tidak
tahu julukan itu. Sebab itu memang pemberian dari orang-orang yang pernah
ditolongnya.
“Ciri-ciri yang kau miliki memang
menunjukkan kalau kaulah tokoh yang menggemparkan itu. Tokoh yang berani
menentang kejahatan secara terang-terangan setelah Siluman Tengkorak Putih
merajalela.”
“Ciri-ciri? Apakah ciri-ciri yang
menunjukkan kalau aku adalah Dewa Arak itu, Kakang?”
“Yahhh…. Semua yang ada padamu
itu adalah ciri-cirinya. Dewa Arak itu masih muda. Wajahnya tampan dan jantan,
rahangnya kokoh rambutnya putih keperak-perakan berpakaian ungu. Selalu membawa
guci arak. Dan kepandaiannya seperti Dewa yang tidak mempan senjata!”
“Ah, belum tentu aku yang
dimaksud sebagai tokoh itu, Kakang. Aku yakin bukan aku yang dimaksud,” Arya
masih mencoba berkelit.
“Baiklah. Ada satu bukti lagi
yang paling penting. Dan bukti inilah yang dapat menunjukkan benar tidaknya
kalau kau adalah Dewa Arak yang telah menggemparkan itu.”
“Apa bukti itu, Kakang?” tanya
Arya penuh gairah. “Kenalkah kau dengan Harimau Mata Satu ?”
“Kenal sih tidak. Tapi memang
akulah yang mem-binasakan ketika ia hendak membumi hanguskan Desa Jati Alas.”
Satria tertawa penuh kemenangan.
“Kau tahu Arya. Berita yang menyebar itupun menyebutkan demikian. Harimau Mata
Satu dan gerombolannya telah dihancurkan secara mudah oleh seorang pemuda yang
bernama Arya buana dan berjuluk Dewa Arak!”
“Jadi….jadi….”
“Kau adalah Dewa Arak itu!” tegas
Satria.
Arya termenung. Julukan yang
aneh, pikirnya. Tapi kalau dipikir-pikir ada benarnya juga julukan itu.
“Sudahlah, Kang. Aku tidak
memperdulikan hal itu. Ter-serah orang akan menjuluki apa. Yang kuinginkan
sekarang adalah jawaban darimu, Kakang. Siapa sebenar-nya orang yang membunuh
ayahku. Hanya itu!”
Satria menghela napas seperti
ingin mencari kata-kata yang tepat.
“Baiklah Arya. Semula aku ingin
mengajakmu ke tempat kami. Aku dan tokoh-tokoh persilatan golongan putih
diam-diam telah menyusun kekuatan. Di antara kami ada pula putir si Raja Pisau
Terbang. Tapi karena tidak mempunyai orang yang dapat diandalkan untuk
meng-hadapi Siluman Tengkorak Putih, kami terpaksa menahan diri. Putri Raja
Pisau Terbang telah meminta ayahnya untuk membantu usaha kami. Mula-mula beliau
menolak karena sudah terlalu tua dan tidak ingin mengotori tangannya dengan
darah lagi. Tapi berkat usaha Ningrum yang tidak kenal putus asa, Raja Pisau
Terbang mengalah juga. Beliau berjanji akan datang hari ini. Dan rencananya
kami akan menyerang markas mereka nanti malam.”
“Mereka?” alir Arya berkerut.
“Ya,” jawab Satria singkat. “Siapa mereka?’ tanya Arya lagi.
“Siluman Tengkorak Putih dan anak
buahnya.” “Lalu siapa yang membunuh ayahku, Kakang?” “Siluman Tengkorak Putih”
“Hm…. Dia rupanya! Tunggulah pembalasanku keparat!” desis Arya yang berjuluk Dewa Arak
dengan perasaan geram.
“Arya….” Panggil Satria
ragu-ragu. “Ada apa, Kakang.”
“Kau tidak ingin bergabung
bersama kami? Kita menyerang mereka nanti malam dan sekarang hanya tinggal
menunggu Raja Pisau Terbang.”
“Maafkan aku, Kakang. Aku sudah
tidak sabar lagi menunggu. Ingin selekasnya aku membuat perhitungan dengan
siluman itu!” tandas Arya.
“Terserah, kalau itu sudah
menjadi keputusanmu,” ujar Satria sambil mengangkat bahu. “Aku tidak akan
meng-halangi. Hanya saja pesanku, berhati-hatilah Arya. Siluman Tengkorak Putih
hebat sekali. Bahkan paman gurumu telah tewas di tangannya….”
“Apa….?!” Sepasang mata Arya
terbelalak. Terbayang di benaknya sesosok tubuh tua yang bertubuh bongkok udang yang amat menyayanginya. “Paman guru….
tewas….?!”
“Ya….bukan hanya itu saja. Si
keparat itu telah membantai semua murid Perguruan Tangan Sakti.
Beruntung aku, Mega dan beberapa orang berhasil menyelamatkan diri. Kalau tidak
berpikir untuk membalas dendam mungkin kami labih suka mati bersama-sama
mereka….” Jelas Satria lebih lanjut.
“Siluman Tengkorak Putih….”
Desisi Arya dengan suara ditekan. “Dosamu sudah terlampau banyak. Kau atau aku
yang harus mati!”
“Arya redakan kemarahanmu supaya
kau tak celaka di tangannya. Sebelum guru tewas, Raja Pisau Terbang mengatakan
kalau Siluman Tengkorak Putih itu memiliki ilmu ‘Ular Terbang’. Dan itu sempat
kudengar.”
“Ilmu ‘Ular Terbang’? bukankah
ilmu itu milik Ular Hitam?”
“Benar. Begitu pula yang
diucapkan Raja Pisau Terbang….”
“Bomantara. Pasti! Ya, siluman
itu pasti Bomantara. Tak ada lagi orang yang memiliki ilmu ‘Ular Terbang’,
milik Ular Hitam kecuali dia….”
“Bomantara?” Satria mengerutkan
alisnya. “Bukan, Arya. Bukan Bomantara nama siluman itu. aku ingat betul karena
Raja Racun Pencabut Nyawa berkali-kali memanggil namanya. Dan bukan Bomantara
nama yang dipanggil. Tapi, Gerda! Ya, Gerda.”
Beberapa saat lamanya, Arya buana
termenung. Mana yang benar, Gerda atau Bomantara. Pusing memikirkan-nya!
Apalagi ketika mendengar nama Raja Racun Pencabut Nyawa disebut-sebut. Ayahnya
mengatakan kalau iblis itu adalah pamannya karena dia adalah kakak kandung
ibu-nya. Tapi kini dia harus bertentangan dengan pamannya itu. Memang terpaksa.
Bisakah ia bertarung dengan pamannya sendiri?
“Lalu di manakah markas mereka,
Kang?” tanya Arya tak ingin memikirkan masalah itu.
“Di rumahmu yang dulu….” Sahut
Satria mengalah. “Kalau begitu aku pergi dulu, Kang.”
Setelah berkata demikian tanpa menunggu
jawaban Satria tubuh Arya melesat. Sebentar saja yang terlihat hanyalah titik
hitam yang akhirnya lenyap di kejauhan.
8
Beberapa saat lamanya, Arya buana
memperhatikan keadaan rumah tempat tinggalnya dari atas cabag sebuah pohon.
Tampak halaman depan bangunan besar itu sepi. Hanya ada beberapa orang yang
nampak berjaga-jaga. Itupun kelihatannya tidak sungguh-sungguh.
“Ah, hari sudah hampir gelap,”
desah Arya dengan perasaan tidak sabar. Matahari memang sudah condong ke barat.
Bercak-bercak kemerahan nampak menyemburat di ujung barat sana.
Pemuda berambut putih keperakan
ini tidak sabar lagi. Cepat dia melompat turun dadri pohon itu dan bergerak
mendekati tembok. Hanya dengan sebuah totolan ujung kaki yang ringan di tanah,
tembok batu itu telah terlompati.
“Hup….!”
Ringan seperti jatuhnya seekor
kucing, didaratkan kedua kakinya di tanah.
“Siluman Tengkorak Putih! Keluar
kau!” teriak Arya dengan suara keras.
Karuan saja teriakan itu
mengejutkan para penjaga. Langusng saja mereka datang mengurung pemuda berbaju
ungu itu. sementara yang dikurung tenang-tenang saja sambil menenggak araknya.
Gluk….gluk….gluk….!
“Dia pasti Dewa Arak….” Desah
salah seorang dari penjaga itu.
“Yang membasmi gerombolan Harimau
Mata Satu itu?” tanya yang lainnya.
“Benar!” jawab orang itu lagi.
“Hm….!” Terdengar suara mendengus
dari mulut Arya buana. Suara dengusan itu menyadarkan para penjaga
Aji Saka ( created ebook by fujidenkikagawa 20
DEWA ARAK Pedang Bintang
akan tujuan Dewa Arak datang ke
situ. Apalagi kalau bukan membalas dendam? Bukankah Dewa Arak itu adalah Arya
Buana, anak dari Tribuana alias Pendekar Ruyung Maut?
Dan kini serempak para penjaga
itu menyerbu Dewa Arak dengan senjata di tangan.
Arya buana yang tahu kalau nanti
akan berhadapan dengan banyak lawan tidak mau bersikap main-main lagi. Langsung saja dikeluarkan ilmu andalannya. Jurus ‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus
‘Belalang Mabuk’. Guci, tangan dan semburan araknya semua ikut ambil bagian.
Sesekali di tengah hujan serangan lawannya, Arya tenang-tenang saja meminum
araknya.
Prakkk! Tukkk! Prattt! “Akh….!
Akh….! Akh….!
Dalam segebrakan saja tiga orang
penjaga kembali menjadi korban amukan Arya. Yang seorang tewas dengan kepala
pecah terhantam guci arak. Seorang lagi pecah ubun-ubunnya terkena totokan jari
pemuda berambut putih keperakan itu. Sedangkan yang lain lagi tewas dengan
leher berlubang terkena semburan araknya.
Jerit kematian saling susul. Ke
mana Arya bergerak di situ pasti ada lawan yang tewas.
Tak lama kemudian habislah para
pengeroyoknya. Sebuah tawa yang pelan, berat dan bergaung segera menyambutnya
begitu lawannya yang terakhir rubuh.
“Ha…ha….ha….!”
Arya cepat menoleh ke arah asal
suara tawa itu. Di depannya dalam jarak sekitar tiga tombak berdiri dua sosok
tubuh. Sosok pertama bertubuh pendek tapi kekar, berambut awut-awutan dan
bermata merah. Menilik ciri-cirinya Arya dapat menduga kalau si pendek kekar
ini adalah kakak ibunya. Dialah Raja Racun Pencabut Nyawa.
Sosok kedua bertubuh tinggi
kurus. Berselubung putih dan berpakaian juga serba putih. Inilah rupanya
Siluman Tengkorak Putih yang menggemparkan itu. dipandanginya tokoh yang
menggemparkan ini penuh perhatian. Dan betapa kagetnya Arya ketika melihat
sorot mata Siluman Tengkorak Putih itu. Sorot mata itu begitu tajam mencorong
dan berdinar kehijauan. Persis mata seekor kucing dalam gelap!
“Inikah putra Pendekar Ruyung
Maut itu, Paman? Pemuda yang dulu membawa lari Pedang Bintang?” tanya Siluman
Tengkorak Putih pada Raja Racun Pencabut Nyawa.
“Betul, Gerda,” jawab Raja Racun
itu.
“Kakang Satria benar,” gumam Arya
pelan. nama iblis itu bukan Bomantara melainkan Gerda. Tapi kalau bukan
Bomantara mengapa menguasai ilmu ‘Ular Terbang’?
“Ha…ha…ha…! hanya sekian sajakah
ilmu yang diterimanya dari Ki Gering Langit? Huh! Kalau dulu kutahu, tidak akan sudi aku bersusah payah untuk
mendapatkannya.”
“Siluman Tengkorak Putih!” bentak
Arya geram. “Kau harus bayar nyawa ayahku!”
Setelah berkata demikian, Arya
segera melompat menerjang Siluman Tengkorak Putih. Menyadari kelihaian lawan,
sekali menyerang Arya sudah menggunakan ilmu andalannya. Guci di tangannya
menyambar deras ke arah kepala lawannya.
Melihat Arya telah menerjang
Siluman Tengkorak Putih, Raja Racun Pencabut Nyawa segera menghindar dari situ.
Sedangkan Siluman Tengkorak Putih yang begitu melihat sambaran guci itu segera
menundukkan kepalanya. Untunglah sambaran guci itu lewat bebrapa rambut di atas
kepalanya. Malah pakaian dan selubung yang dikenakan siluman itu sampai
berkibar, begitu sambaran guci itu menyambar tempat kosong. Suatu tanda kalau
tenaga yang mengayunkan guci itu sangat kuat.
Tidak hanya itu saja yang
dilakukan Siluman Tengkorak Putih alias gerda ini. secepat ia mengelak secepat
itu pula balas menyerang dengan sodokan tangan bertubi-tubi pada ulu hati dan
leher Arya.
Arya Buana alias Dewa Arak
buru-buru memiringkan kepalanya, maka serangan yang menuju lehernya me-ngenai
tempat kosong. Sedangkan serangan yang menuju ulu hati ditangkisnya dengan
tangan kiri disertai pe-ngerahan seluruh tenaga.
Plakkk!
Sebuah benturan keras terdengar.
Akibatnya tubuh Siluman Tengkorak Putih terhuyung mundur dua langkah. Sedangkan
tubuh Arya yang berada di udara terlempar ke udara. Namun dengan manis tubuhnya
melenting di udara kemudian laksana seekor kucing kedua kakinya hinggap di
tanah.
“Jurus ‘Ular Terbang’?!” teriak
Dewa Arak kaget. Walau Siluman Tengkorak Putih itu baru mengeluarkan beberapa
gerakan, Arya langsung mengenalinya.
“Hm. Pandangan matamu awas juga,
tikus kecil!” ejek Siluman Tengkorak Putih. Baru kali ini dalam adu tenaga ia
sampai terdorong dua langkah. Hal ini membuatnya pe-nasaran bukan main. “Tapi
ingin kutahu apakah kaupun mampu mengenali yang ini!”
Setelah berkata demikian, Siluman
Tengkorak Putih kembali menyerang Dewa Arak dengan sebuah tendangan lurus ke
arah pusar. Kemudian langsung dilanjutkan tendangan menyamping ke arah leher
begitu Arya menarik tubuhnya ke belakang. Tidak berhenti di situ lalu disusul
tendangan yang dilakukannya sambil memutar tubuh.
“Ah….! ‘Tendangan Kilat’….?!”
Desah Arya kaget.
Itulah ilmu milik Ki Gering
Langit yang diwariskan ke-pada Bomantara. Cepat-cepat dielakkan tendangan itu
de-ngan jurus ‘Delapan Langkah Belalang’.
“Tidak salah lagi, pasti kau
Bomantara!”
Mendadak Siluman Tengkorak Putih
menghentikan gerakannya.
“Jahanam! Dari mana kau tahu nama
itu, heh?!” “Memang sudah lama aku mencari-carimu manusia keparat! Murid
murtad!” pemuda berpakaian ungu ini balas membentak. “Keparat!”
Setelah berkata demikian diterjangnya
dewa arak. Tetapi pemuda itu tak menjadi gugup. Cepat-cepat dielakkan serangan
itu dan dibalasnya dengan serangan-serangan yang tak kalah dahsyat.
Siluman Tengkorak Putih
benar-benar telah mengamuk. Dikeluarkannya seluruh kemampuan yang dimiliki.
Ilmu ‘Ular Terbang’ warisan Ular Hitam, ilmu ‘Tendangan Kilat’ warisan Ki
Gering Langit dan ilmu-ilmu racun yang diterima dari Raja Racun Pencabut Nyawa.
Dan ini baru untuk pertama kalinya dilakukannya.
Tapi lawan yang dihadapi adalah
Arya buana. Pewaris tunggal dari seluruh ilmu ciptaan Ki Gering Langit yang
terbaru. Maka, walaupun Siluman Tengkorak Putih telah mengeluarkan segenap
kemampuan tetap saja pemuda ini mampu menghadapi. Bahkan membalas dengan
serangan-serangan yang tak kalah dahsyatnya. Kini Arya yang mengetahui
kesaktian lawannya segera mengerahkan ‘Tenaga Inti Matahari’ yang disusul
dengan jurus ‘Belalang Mabuk’ dan akhirnya jurus ‘Delapan Langkah Belalang’
sehingga tubuhnya meliuk-liuk.
Raja Racun Pencabut Nyawa
menonton pertarungan antara dua orang sakti itu tanpa berkedip. Baru kali ini
disaksikan pertarungan yang begitu dahsyatnya. Debu mengepul tinggi ke udara.
Batu-batu besar dan kecil beterbangan tak tentu arah. Pohon-pohon besar dan
kecil yang terlanda angin pukulan nyasar bertumbangan diiringi suara gaduh.
Bukan hanya itu saja. Decit angin
tajam yang berhembus dan diiringi bau amis yang memualkan perut, keluar dari
setiap serangan Siluman Tengkorak Putih. Tentu saja gerombolan penjahat
terpaksa menjauhi tempat itu. Belum lagi akibat setiap gerakan Arya yang
berjuluk Dewa Arak itu menyebarkan hawa panas menyengat. Bahkan bisa
menghanguskan kulit!
Siluman Tengkorak Putih penasaran
bukan main. Apalagi ketika menyadari serangan pukulan beracunnya tidak berarti
sama sekali bagi pemuda itu. dan memang tanpa diketahui Arya sendiri, pasangan
ilmu ‘Belalang Sakti’ dan ‘Tenaga Dalam Inti Matahari’ membuatnya tidak
terpengaruh segala macam racun. Hawa beracun sudah terusir sebelum mendekati
tubuh Arya. Hawa panas yang keluar dari tubuh pemuda itu telah menangkal hawa
beracun yang datang menyerbu ke arahnya.
Lima puluh jurus telah cepat
terlewat. Tapi tidak nampak ada tanda-tanda siapa yang akan terdesak dan siapa
yang akan mendesak. Kepandaian mereka berdua sepertinya berimbang.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang menonton pertarungan itu menjadi tidak
sabar, sehingga segera mendekati pertarungan. Sudah bulat tekadnya untuk
membantu Gerda alias Siluman Tengkorak Putih meng-hadapi Dewa Arak yang sakti
itu.
Tetapi baru juga bergerak
mendekati terdengar suara bentakan keras disusul berkelebatnya tiga sosok tubuh
yang kemudian menghadang di depannya. Dua orang laki-laki yang berumur tiga
puluhan dan seorang gadis yang berusia sekitar sembilan belas tahun dan
berpakaian serba hijau. Wajahnya cantik manis. Apalagi dihiasi tahi lalat di
pipinya. Inilah Ningrum putri Raja Pisau Terbang. Sedang-kan dua laki-laki itu
adalah Satria dan Mega.
Raja Racun Pencabut Nyawa menatap
tiga sosok tubuh di depannya dengan pandagan mata meremehkan. Ia hanya melihat
dengan ekor mata, walaupun dua laki-laki itu sudah bersiap-siap sambil menghunus pedang.
Sedangkan gadis itu juga nampak sudah menggenggam sebilah pisau berwarna putih
mengkilat pada kedua tangannya.
“Raja Racun! Kini saatnya
kekejianmu harus ditebus dengan nyawamu!” teriak Satria keras. Bersamaan dengan
itu pedang di tangannya cepat meluncur lurus ke arah pusar Raja Racun Pencabut
Nyawa.
“Hiyaaa….!” Mega yang tahu pasti
betapa lihaynya si Raja Racun ini dan sadar kalau kakak seperguruannya ini
bukanlah lawan iblis itu segera membantu Satria. Pedang di tangannya melesat
cepat membabat leher!
Ningrum pun tidak mau
ketinggalan. Gadis perkasa ini segera ikut ambil bagian. Sepasang pisau terbang
di tangannya berkelebat mencari sasaran di berbagai bagian tubuh lawan.
Kini Raja Racun Pencabut Nyawa
tidak bisa main-main lagi. Apalagi setelah terbukti kalau tiga lawannya ini
mampu saling membantu. Ia lalu mengerahkan seluruh kemampuannya.
Baru beberapa jurus bertarung
tiba-tiba terdengar suara riuh disusul munculnya puluhan orang rimba
per-silatan golongan putih. Inilah orang-orang yang berhasil dikumpulkan Satria
dan Mega.
Karuan saja melihat serbuan ini
anak buah Siluman Tengkorak Putih yang sejak tadi menonton pertarungan dahsyat
itu bubar. Mereka segera menyambut serbuan tamu-tamu yang tak diundang itu.
Maka kini terjadilah tiga kelompok pertempuran.
Di antara pertarungan itu yang
paling ramai dan menegangkan adalah pertarungan antara Arya buana alias Dewa
Arak melawan Siluman Tengkorak Putih. Mereka ber-dualah yang menjadi penentu
kemenangan dua golongan yang saling bertarung itu.
Berbeda dengan pertarungan
Siluman Tengkorak Putih yang berimbang, pertarungan Raja Racun Pencabut Nyawa
melawan Satria, Mega dan Ningrum berjalan berat sebelah. Memang bila
diperhitungkan kepandaian Satria dan Mega masih terlalu jauh untuk menghadapi
Raja Racun itu. di antara mereka bertiga Ningrumlah yang memiliki kepandai-an
paling tinggi. Maka gadis itulah yang mendapat tekanan dari Lindu alias Raja
Racun Pencabut Nyawa. Raja Racun yang cerdik tahu kalau gadis putri si Raja
Pisau Terbang ini bisa dirubuhkan maka rubuh pulalah semuanya.
Tentu saja akibatnya terasa
sekali bagi Ningrum. Memang gadis ini masih kalah segala-galanya dibanding
lawannya. Kalah tenaga, kelincahan dan juga pengalaman. Gadis putri Raja Pisau
Terbang inipun segera terdesak. Sepasang pisau terbang di tangannya kini hanya
dapat di-gunakan untuk melindungi dirinya.
Raja Racun Pencabut Nyawa yang
tidakingin berlama-lama dalam pertarungan ini apalagi setelah sekian lama
lawannya tidak juga dapat dirubuhkan segera mengeluar-kan pukulan beracun.
Sudah dapat dipastikan kalau tak lama kemudian ketiga orang muda itu akan rubuh
di tangan raja racun ini. Kalau saja……
“Keji sekali kau Raja Racun!
Menghadapi anak-anak muda pun masih bermain racun!”
Berbareng dengan suara teguran
itu muncullah sesosok tubuh tinggi kurus dan berkulit hitam. Kumis dan jenggot
yang telah memutih menghias wajahnya. Yang luar biasa adalah sepasang matanya.
Begitu tajam mencorong dan bersinar kehijauan seperti mata seekor kucing dalam
gelap.
Begitu datang kakek ini segera
menggerakkan kedua tangannya menghalau serangan-serangan beracun Raja Racun iu.
Gerakan tangannya begitu cepat dan tiba-tiba seperti gerak seekor ular yang
menyambar mangsa.
“Ah! Kau…. Kau….!” Teriak Raja
Racun Pencabut Nyawa tertahan. Kegugupan tergambar jelas pada wajahnya. Untuk beberapa saat kewaspadaannya mengendur. Kesempatan ini tak
disia-siakan Satria. Dengan kecepatan kilat pedangnya menyambar ke arah perut
Raja Racun ini.
“Akh…!” Raja Racun Pencabut Nyawa
memekik ter-tahan. Darah langsung muncrat dari perut yang tertembus pedang
hingga ke punggung itu.
Raja Racun Pencabut Nyawa meraung keras. Tangannya pun bergerak
mengancam Satria sehingga pemuda itu kelihatan gugup. Untungnya ‘kakek
penolong’ itu bertindak cepat dan menangkis serangan itu. Plakkk!
Tubuh Raja Racun Pencabut Nyawa
terhuyung ke belakang. Dan saat itu hampir berbarengan Ningrum dan Mega
melancarkan serangan.
Cappp! Cappp! Cappp!
Dua pisau terbang dan satu pedang
itu telak sekali menghunjam tubuh Raja Racun. Laki-laki yang bernama asli Lindu
itu berteriak ngeri. Tanpa ampun lagi tubuhnya ambruk ke tanah. Napasnya
megap-megap.
“Arya….. Arya….” Lirih terdengar
suara iblis itu.
Satria yang melihat iblis itu
belum tewas segera menyusuli dengan seuah tusukan ke arah jantung. Tetapi
sebelum pedang itu mengenai sasaran segundukan angin keras mendorongnya hingga
terjengkang. Cepat pemuda ini bersalto di udara beberapa kali untuk mematahkan
daya dorong itu lalu hinggap ringan di tanah.
“Tahan dulu pedangmu, Anak Muda.
Nampaknya ia ingin mengatakan sesuatu….” Kata kakek yang telah menolongnya
tadi. Tahulah pemuda itu kini. Rupanya angin keras tadi berasal dari kakek ini.
Setelah berkata demikian kakek
itu menghampiri Raja Racun Pencabut Nyawa yang tergolek tak berdaya.
“Ada yang ingin kau katakan untuk
Arya, Raja Racun? Cepatlah katakan biar aku yang akan menyampaikannya,” ujar
kakek itu ramah.
Bibir Raja Racun Pencabut Nyawa
bergerak-gerak pelan. terpaksa kakek itu mendekatkan telinganya ke mulut Raja
Racun beberapa saat lamanya. Kakek itu baru menjauhkan kepalanya setelah tidak
terdengar lagi suara dari mulut Raja Racun Pencabut Nyawa. Dia kini telah
tewas.
Sementara itu pertarungan antara
Arya buana melawan Siluman Tengkorak Putih telah berlangsung hampir seratus
lima puluh jurus! Perlahan namun pasti Dewa Arak yang mengerahkan jurus
‘Delapan Langkah Belalang’ dan jurus
‘Belalang Mabuk’ yang dialiri pengerahan
‘Tenaga Dalam Inti Matahari’, mulai dapat menguasai keadaan. Sampai pada suatu
saat….
“Hiyaaa….!” Siluman Tengkorak
Putih yang sudah putus asa langsung menyerang Dewa Arak tanpa memperdulikan
pertahanan lagi. Jari-jari kedua tangannya yang
membentuk patuk ular bertubi-tubi menyerang pelipis danubun-ubun Arya.
Arya Buana kaget sekali. Disadari
kalau lawannya ini berniat menadu nyawa. Rasanya tidak mungkin lagi mengelakkan
serangan itu kalau masih ingin selamat. Dewa Arak itu tahu kalau mengelakkan
serangan sepasang kaki Siluman Tengkorak Putih akan bertubi-tubi meng-ancamnya
dengan juru ‘Tendangan Kilat’. Dan hal ini akan lebih membahayakan dirinya.
Maka pemuda ini memutus-kan untuk menangkis walaupun posisinya saat itu tidak
memungkinkan.
Arya mengangkat tangan kirinya
menejgal kedua serangan yang mengancam ubun-ubun dan pelipisnya itu.
Berbarengan dengan itu guci di tangan kanannya menggedor dada Siluman Tengkorak
Putih yang terbuka lebar.
Plakkk! Tukkk! Buggg!
Arya terhuyung satu langkah.
Mulutnya menyeringai menahan rasa sakit yang mendera tangan kiri. Serangan yang
menuju ubun-ubunnya memang dapat ditangkis dengan jari-jari tangan. Akan tetapi
serangan yang mengancam pelipis terpaksa dihadang dengan pangkal lengan. Dan
akibatnya sesaat lamanya dirasakan tangan itu bagaikan lumpuh.
Tetapi meskipun demikian keadaan
yang diterima Arya masih lebih ringan ketimbang yang diterima Siluman Tengkorak
Putih. Tubuh siluman itu terjengkang ketika guci Dewa Arak menghantam keras
dadanya. Bagian bawah selubungnya yang berwarna putih nampak kini memerah.
Siluman itu telah menyemburkan darah dari mulutnya!
Arya yang tahu betapa berbahayanya Siluman Tengkorak Putih itu, tidak lagi
memberi kesempatan. Cepat tubuhnya melesat menyusul tubuh siluman itu.
“Haaat…!”
Arya melempar gucinya ke udara.
Dan kini dengan tangan kosong dihajarnya dada siluman itu.
Bukkk…! “Hugh!”
Siluman Tengkorak Putih mengeluh
tertahan. Jelas terdengar suara gemeretak dari tulang-tulang dada yang
berpatahan. Tetapi Arya tidak berhenti sampai di situ saja. Cepat-cepat tangan
kanannya menangkap guci yang kini meluncur turun. Dan secepat guci itu
tertangkap secepat itu pula diayunkan ke arah kepala Siluman Tengkorak Putih.
Wuuut…! Prakkk…!
Terdengar suara berderak keras
ketika guci itu menghantam sasaran. Kontan tubuh siluman itu rubuh ke tanah.
Tanpa dapat bersambat lagi dia tergeletak tak bergerak-gerak. Mati.
Arya segera menghampiri tubuh
siluman itu. dicopotnya selubung yang selama ini menutupi wajah aslinya. Nampak
seraut wajah kurus berkumis jarang-jarang. Usianya sekitar tiga puluh lima
tahun. Ada sebuah tompel pada pipi sebelah kiri.
“Bomantara….” Desis Dewa Arak
begitu melihat ciri-ciri siluman itu.
“Benar, dia Bomantara alias
Gerda,” sambut sebuah suara.
Arya menoleh ke sebelahnya dengan
perasaan kaget. Suara itu amat dikenalnya! Nampak olehnya seorang kakek
bertubuh tinggi kurus, berkulit hitam berkumis dan berjenggot putih. Sorot
matanya nampak mencorong kehijauan.
Beberapa saat lamanya Arya
terdiam. Diamat-amati
kakek ini penuh perhatian.
Rasa-rasanya dikenali betul suara dan potongan kakek ini. Tapi….
“Ha…ha…ha… Tidak mengenaliku lagi
Arya?” setelah berkata demikian kakek itu mencopot kumis dan jenggotnya. Kini yakinlah Arya siapa
kakek ini.
“Kakek Ular Hitam….!” Serunya
gembira.
Si kakek yang ternyata memang Ular
Hitam itu tertawa bergelak. Dipeluknya Arya penuh rasa kasih sayang.
“Bagaimana Kakek bisa sampai di
sini?” tanya Arya gembira.
“Nanti kuceritakan. Sekarang supaya kau tidak bingung, perlu kujelaskan mengenai
Siluman Tengkorak Putih ini. dia oleh orang-orang persilatan dikenal bernama
asli Gerda. Aku sendiri baru mengetahuinya sewaktu melihat kau bertarung
dengannya. Nama aslinya memang Gerda. Dia murid Raja Racun Pencabut Nyawa.
Padaku dia memakai nama palsu sebagai Bomantara. Jadi murid murtad itu telah
sekaligus menjadi tiga tokoh. Gerda, Bomantara dan Siluman Tengkorak Putih.
Untung saja waktu Bomantara masih jadi muridku aku tak pernah menceritakan
kalau kitab-kitab ilmu milik Ki Gering Langit seluruhnya ada padaku. Kalau
tidak….!” Desah Ular Hitam seperti untuk dirinya sendiri.
Arya manggut-manggut “Lalu kenapa
Kakek sampai berada di sini? Dan mengapa pula harus menyamar?”
Ular Hitam tersenyum.
“Sewaktu kau pergi aku mendengar
kekacauan di dunia persilatan dengan munculnya Siluman Tengkorak Putih. Kudengar
juga dia telah langsung merajai kaum sesat. Dugaanku siluman itu pasti
Bomantara. Dan jika benar…. Kau akan berhadapan dengan banyak lawan. Bomantara,
Raja Racun Pencabut Nyawa dan juga Bargola. Maka kuputuskan untuk menyusulmu.
Yah…..siapa tahu kau butuh bantuan. Hm, paling tidak aku dapat mencegah Bargola
membantu Bomantara. Dalam perjalanan aku bertemu Raja Pisau Terbang. Dan ketika
melihatku dia langsung saja memohon agar aku mewakilinya membantu putrinya yang
ingin menyerbu markas Siluman Tengkorak Putih. Karena telah menduga bahwa
siluman itu adalah Bomantara aku terpaksa menyamar agar tidak mem-buatnya
terkejut.”
Arya mengangguk-anggukkan kepalanya
tanda telah mengerti. Tak lama kemudian, Ular Hitam memberitahukan pesan
mendiang Raja Racun Pencabut Nyawa kepada pemuda itu.
“Ah….!” Dewa Arak tersentak
kaget. Baru pemuda itu teringat pada pamannya. Bergegas ia berlari menghampiri
mayat Raja Racun. Ada tersirat penyesalan yang mendalam pada wajah pemuda itu.
biar bagaimanapun juga orang itu adalah pamannya sendiri.
Arya berjongkok di depan mayat
Raja Racun itu. Dipandanginya sosok yang telah kaku itu dengan perasaan sedih.
Bagaimanapun jahatnya pamannya itu tapi di saat - saat terakhir telah tumbuh kasih sayang kepada keponakannya.
Ya, di saat menjelang ajal Raja Racun Pencabut Nyawa telah memberitahukan bahwa
ibu Arya buana berada di Perguruan Mawar Merah.
Tanpa ragu-ragu lagi Arya
punmengulurkan tangan dan memondong tubuh pamannya itu. Perlahan-lahan ia
bergerak bangkit dan berjalan meninggalkan tempat itu.
Seiring tewasnya Siluman
Tengkorak Putih pertarugnan langsung berhenti. Para anak buah siluman itu
sadar, bahwa tidak ada gunanya melawan lagi. Maka mereka segera melarikan diri.
Yang tidak sempat melarikan diri segera menyerah untuk mencari selamat.
Sejak Arya berhasil merubuhkan
Siluman Tengkorak Putih, pandang mata Ningrum tidak lepas-lepasnya menatap
wajah pemuda berambut putih keperakan itu. jantungnya berdetak aneh.
Berkali-kali ia mencuri-curi pandang. Ia baru mengalihkan perhatian ketika
Satria memanggilnya. Dan sewaktu menoleh lagi ke arah Dewa Arak dan Ular Hitam
berada, keduanya telah lenyap.
Betapapun Ningrum mengedarkan
pandangannya tetap saja tidak terlihat pemuda berpakaian ungu itu lagi.
“Mencari siapa, Ningrung?” tanya
Satria heran melihat gadis itu celingukan ke sana ke mari.
“Eh…..anu… orang yang mengalahkan Siluman
Tengkorak Putih….” Sahut gadis itu gugup.
“Oh! Arya Buana, si Dewa Arak
yang kuceritakan padamu. Ingat?”
“Oh…..” Ningrum manggut-manggut.
“Lalu ke mana dia sekarang?”
Satria celingukan sebentar. “Dia
sudah pergi, Ningrum.”
“Pergi?” tanya Ningrum. Ada nada
kekecewaan dalam suaranya. Dengan lunglai dilangkahkan kakinya meninggal-kan
tempat itu. Terasa seperti ada sesuatu yang hilang dari hatinya, seiring
perginya pemuda gagah bernama Arya buana yang dijuluki Dewa Arak.
Sementara itu di sebuah tempat yang
jauh dari keramaian, seorang pemuda berwajah jantan dan berambut putih
keperakan perlahan-lahan meninggalkan sebuah gundukan tanah merah yang masih
baru.
Jelas, pemuda itu adalah si Dewa
Arak. Kini dengan langkah pasti pemuda berpakaian ungu itu melanjutkan
perjalanannya. Banyak tugas yang menantinya sebagai seorang pendekar. Terlebih
dia masi harus mencari ibunya di Perguruan Mawar Merah.
Nah, bagi para pembaca ang ingin
mengikuti petualangan Arya buana selanjutnya, silahkan tunggu serial Dewa Arak
dalam episode “Dewi Penyebar Maut.”
SELESAI
No comments:
Post a Comment