BALADA
DI KARANG SEWU
Oleh Firman Raharja
1
Sinar matahari saat ini mulai
kemerahan, menandakan senja mulai datang. Di tepian Hutan Wonocolo yang cukup
sepi, nampak seorang wani- ta muda berpakaian sudah tak karuan, tengah
berlari-lari ketakutan sambil berteriak dengan na- pas tersengal.
"Tolooong...!
Tolooong...!" Wanita itu terus berlari. Terkadang tubuh- nya terjerembab
ke tanah, karena tersandung batu atau ranting pohon yang melintang di jalan.
"Auwww...!" pekik wanita
muda berparas cukup cantik ini. Hanya saja mukanya saat itu ko- tor dan berkeringat
Wanita itu kembali berdiri, dan
berlari. Se- bentar-sebentar kepalanya menoleh ke belakang. Bibirnya gemetar
dan matanya lembab karena te- rus menangis. Akhirnya, dia masuk ke dalam Hu-
tan Wonocolo yang terkenal angker. Namun karena sudah kepalang basah dan tak
mau menjadi kor- ban manusia-manusia biadab, dia tak mempeduli- kan lagi
keangkeran hutan ini.
"Oooh... Gusti... lindungi
aku, Gusti...," ke- luh wanita itu diiringi isak tangisnya.
Dia lantas mengusap wajahnya yang
kotor dan berkeringat dengan ujung pakaiannya yang sudah acak-acakan. Lalu
kedua matanya yang bu- lat bening menyapu sekeliling tempat ini.
"Hah...?!" wanita itu
tersentak kaget dan bertambah gemetaran.
Rupanya dia baru sadar kalau kini
berada dalam hutan yang sepi dan angker. Maka rasa ta- kutnya semakin
bertambah. Wajahnya bertambah pucat. Tubuhnya nampak semakin lemas. Akhir- nya
dia bersandar di batang pohon yang tumbang, lalu tertidur lelap. Tubuhnya
memang sangat letih dan lemas.
Udara di dalam hutan ini bertambah
lem- bab. Angin berhembus kencang, menggoncang pe- pohonan hutan. Suaranya
bagai hujan menyiram bumi. Wanita yang sebenarnya bernama Sumarni masih lelap
tertidur, dengan tubuh terkulai lemas.
Di tengah lelapnya Sumarni,
tiba-tiba mun- cul tiga laki-laki dari tiga arah. Mereka berlompa- tan dari
balik rerimbunan pepohonan dan semak yang ada di sekitarnya.
Kini ketiganya dengan pongah
berdiri men- gelilingi Sumarni yang masih tidur lelap. Sebagian pakaian bagian
atas gadis itu tersingkap lebar, membuat mata ketiga lelaki berpakaian kotor
ini berbinar-binar. Dada Sumarni yang membusung nampak masih kencang dan kuning
langsat, mem- buat liur nafsu seperti akan menetes.
"He heeehhh.... Ini baru
enaaakkk!" seru le- laki yang bermata juling sambil menjulurkan lidah.
Tangan kanannya mengusap-usap perutnya yang agak buncit.
"Weh weh weh...! Ini yang
namanya meng- kel. He he he...," sahut orang laki-laki berkepala panjul.
Bibirnya tebal, namun gigi ompong. Ma- tanya yang sebelah kiri agaknya tak
melihat, hanya ditutupi rompi kumal.
Sementara Sumarni masih tetap tidur
pu- las. Hingga, ketiga lelaki itu cukup lama meman- dangi keindahan tubuhnya.
"Kalian berdua pegang kedua
tangannya. Sebagai orang yang paling tua, aku dulu yang me- nikmati santapan
ini. Baru setelah aku puas, gili- ran kalian. Ayo, cepat sana...!"
perintah orang yang berkumis tebal. Mukanya lonjong, dengan tubuh telanjang
dada.
Segera kedua orang yang juling dan
buta sebelah dengan kasar memegangi kedua tangan Sumarni. Seketika gadis itu
terbangun dan menje- rit-jerit ketakutan. Sementara itu, laki-laki bermu- ka
lonjong sudah menindih dan memaksa Sumarni untuk diam.
Brettt! "Diam...! Atau kubunuh
kau...! Heh!" bentak si muka lonjong dengan keras, setelah merobek pakaian
atas gadis itu. Lalu dengan kasar dan pe- nuh nafsu, laki-laki bermuka lonjong
mencoba mau mencium dada Sumarni yang membusung indah menantang.
"Aaaww...! Jangaaan...!
Toloong... Jan- gaaann.... Kasihani aku. Oohh...!"
Sumarni terus menjerit dan
berteriak minta tolong, sambil meronta-ronta. Dan....
Plak! Plak! Karena rasa kesal,
laki-laki bermuka lon- jong langsung menampar wajah gadis itu.
"Aahk...," Sumarni
memekik, lalu pingsan. Maka laki-laki bermuka lonjong dengan leluasa mengumbar
nafsunya. Namun baru saja la- ki-laki bermuka lonjong itu akan menggeluti Sumarni
yang sudah pingsan...
Desk, desk! Diawali dengan
berkelebatan sosok bayangan, terdengar suara seperti benda terhantam sesuatu.
"Aaaa...!"
Tiba-tiba saja, ketiga orang
bermuka rusak itu menjerit panjang, dengan tubuh terpental jauh. Lalu tubuh
mereka membentur pohon, dan ada yang masuk semak-semak.
Dan tahu-tahu, di dekat Sumarni
telah ber- diri seorang lelaki muda berpakaian rompi kulit ular. Rambutnya
gondrong sedikit ikal, bertingkah aneh seperti orang gila. Rupanya, dialah yang
me- nolong gadis malang itu.
"Ha ha ha...! Tikus-tikus
Hutan Yang Ra- kus. Ayo bangun...!" seru pemuda berpakaian rompi kulit
ular, sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
Satu persatu, ketiga orang muka
rusak itu, bangkit. Dan mereka langsung mengurung pemu- da itu. "Kurang
ajar, Pemuda Edan...! Kau belum tahu, siapa kami ini, hah!" bentak
laki-laki berwa- jah lonjong sambil menghunus goloknya.
"Rupanya pemuda ini mau
mengirim nyawa pada kita, Sobat," tambah laki-laki juling sambil
menyeringai. Dia pun segera mengeluarkan rantai berbandul bola berduri.
"Kita habisi saja anak edan
ini! Jangan tunggu lama-lama," sahut laki-laki bermata sebe- lah dengan
geram sambil mempermainkan tombak berukuran sejengkal.
Sementara itu, Sumarni mulai sadar.
Gadis ini seketika kaget melihat keadaan sekelilingnya. Disertai rasa
ketakutan, dia berusaha mencari persembunyian.
"Kalian ini manusia-manusia
rendah dan tak tahu diri...!" kata pemuda berpakaian rompi kulit ular yang
tak lain Sena Manggala alias Pen- dekar Gila.
"Kurang ajar...! Rasakan
golokku ini!" ben- tak laki-laki muka lonjong sambil menyerang.
Dia langsung menyabet dan
menusukkan goloknya ke arah perut dan kepala Sena. Namun Pendekar Gila yang
hanya meliuk-liukkan tubuh- nya dengan lentur, berhasil mengelak serangan.
Melihat hal ini laki-laki yang
bermata juling, dan bermata buta sebelah meluruk berbarengan dari dua arah,
dari sisi kiri dan kanan Sena.
"Heaaa...!"
"Heit..!" Tombak dan rantai berkepala besi bulat berduri itu
mendesing di atas kepala dan pinggang Sena.
Wesss! Zing, zing! Lagi-lagi Sena
dengan mudahnya meliukkan tubuhnya, mengelakkan serangan. Nyatanya me- mang,
ketiga orang itu tak memiliki kepandaian ilmu silat yang berarti. Mereka hanya
mengandal- kan otot, muka se-ram, dan keberanian saja.
"Heaaa...!" Kali ini
ketiga laki-laki telengas ini menye- rang berbarengan dari tiga arah. Terpaksa
Pendekar Gila melenting ke udara, lalu bersalto beberapa kali. Kemudian,
tubuhnya meluruk melakukan serangan balik yang cepat berupa tendangan berun-
tun. Dan....
Bugk, bugk, bugk! "Aaaw
Aww...!" Ketiga orang itu menjerit terkena tendangan beruntun Sena yang
keras. Kembali ketiganya ber- gulingan di tanah berumput dan berbatu. Semen-
tara Pendekar Gila sudah mendarat di tanah sam- bil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
"Orang-orang ini harus
cepat-cepat diberi pelajaran...," gumam Sena, seperti bicara pada diri
sendiri. Baru saja ketiga laki-laki berangasan ini bangun dan hendak kembali
menyerang, Pendekar Gila sudah lebih dulu menyerang dengan pukulan dan
tendangan mautnya. Desk, desk. Bugk, bugk! "Aaawww...!" Kembali
ketiganya menjerit kesakitan den- gan tubuh terpental. Luncuran tubuh mereka
baru berhenti, setelah membentur batang pohon besar.
Lalu dengan gerakan cepat, Sena
melompat mendekati mereka. Tanpa banyak bicara lagi, dile- pasnya ikat pinggang
kain milik laki-laki bermata juling. Dan dengan gerak cepat pula, diikatnya ke-
tiga orang itu dengan kain ikat pinggang tadi kuat- kuat.
"Hi hi hi... he he...! Inilah
ganjaran bagi orang-orang macam kalian. Sebentar lagi malam datang. Dan...,
tentunya binatang buas akan me- nelan kalian hidup-hidup...! Tapi mudah-
mudahan, itu tidak terjadi. Sebab, orang macam kalian susah dicari. Tak ada
duanya! He he he...!" ejek Sena sambil cengengesan.
Sumarni yang bersembunyi di balik
sebuah pohon dengan berjongkok, masih merasa ketaku- tan. Tubuhnya tampak terus
gemetaran. Apalagi, ketika Senat mendekatinya.
"Jangan takut. Aku bukan orang
jahat... Ayo, keluarlah. Orang-orang itu tak lagi meng- ganggumu," ujar
Sena, kalem dan polos.
Gadis itu langsung keluar atau
beranjak da- ri tempatnya. Kedua tangannya yang menggeng- gam di depan dada
tampak masih gemetar. Melihat itu, Sena tersenyum. Lalu tangannya terulur begi-
tu berada dalam jarak dua langkah dari tempat Sumarni.
"Ayo..., kemarilah. Aku akan
membawamu pulang.... Di mana rumahmu?" Sena coba meya- kinkan Sumarni.
"Ayo.... Hari sebentar lagi gelap. Apakah kau mau tetap tinggal di sini
bersama orang-orang itu...?" Sena kemudian menunjuk ke arah tiga orang
yang sudah terikat.
Sumarni menggeleng perlahan.
Matanya lantas melirik ke arah ketiga orang yang tadi hen- dak memperkosanya.
Wajar kalau gadis ini tak be- gitu saja mempercayai Sena, karena masih diliputi
rasa ketakutan oleh perbuatan orang-orang tadi.
Merasa tak ditanggapi, Pendekar
Gila berba- lik. Lalu kakinya melangkah pura-pura hendak meninggalkannya....
"Jangan tinggalkan
aku...!" seru Sumarni agak ragu, lalu berdiri.
Gadis itu memandang Sena.
Sementara, Pendekar Gila pun berbalik dan tersenyum lebar. Sumarni mulai bisa
tersenyum, membalas senyu- man pendekar muda ini. Walaupun, senyumnya nampak
hambar. Sena kembali mengulurkan tan- gan kanannya pada Sumarni.
"Kau masih belum percaya kalau
aku orang baik-baik...?" tanya Pendekar Gila sambil mengga- ruk-garuk
kepala dan cengengesan.
Sumarni menatap Sena agak lama,
lalu ka- kinya melangkah perlahan dan hati-hati. Sebentar gadis itu melihat ke
arah tiga orang yang tadi mau memperkosanya. Kini matanya kembali meman- dangi
Sena dengan sendu.
"Terima kasih..., Kisanak
telah menolong- ku...," ucap Sumarni lemah lembut dan agak ter-
sendat-sendat
"Jangan berterima kasih
padaku. Berterima kasihlah pada Hyang Widhi. Ini semua karena Dia, sehingga aku
yang biasa berpetualang, menjadi melewati hutan ini. Padahal, aku tak suka
lewat hutan semacam ini. Itulah kuasa Hyang Widhi yang penuh kasih pada
hamba-Nya yang lemah seperti kau ini...," tutur Sena sedikit ceramah.
Sumarni jadi agak tenang. Dia
menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Seakan, dia telah
melepas semua rasa takutnya yang luar biasa tadi.
Sementara itu, langit semakin
memerah. Sang surya sudah mulai tenggelam di balik bukit. Sena dan Sumarni
sudah meninggalkan Hutan Wonocolo yang angker.
* * *
"Di mana rumahmu? Atau, tempat
tinggal- mu...?" tanya Pendekar Gila pada Sumarni.
"Aku..., aku tak punya tempat
tinggal...," jawab Sumarni, bernada sedih, sambil terus me- langkah
perlahan di sisi kiri Pendekar Gila.
"Kenapa kau berkata begitu?
Apa yang telah terjadi pada dirimu?" tanya Sena alias Pendekar Gila ingin
tahu.
Sementara itu, langit mulai gelap.
Dan bayangan tubuh mereka tampak memanjang.
"Panjang ceritanya...,"
jawab Sumarni, sam- bil terisak.
Sena tak bertanya lagi. Dan dia
melihat ga- dis yang berjalan bersamanya masih dalam kese- dihan. "Hari
mulai gelap.... Apakah di dekat sini ada desa atau perkampungan...?" tanya
Sena.
"Ada.... Tapi, desa itu telah
hancur." "Hancur...? Apa maksudmu?" tanya Sena. "Sengkala
Sekti dan orang-orangnya mem- bakar dan membunuh semua penduduk Desa
Purwantoro. Mereka memiliki gadis-gadis atau pe- rawan sebayaku, untuk
dijadikan tumbal dalam menuntut ilmu awet muda dan ilmu sesat...," tutur
Sumarni dengan sedih.
Sena menggeleng kepala berulang
kali, menandakan sangat tak suka mendengar tindakan orang yang bernama Sengkala
Sakti.
"Kalau begitu kita harus
mempercepat perjalanan, agar tidak terlalu malam sampai di Desa Purwantoro. Aku
ingin, kau menceritakan semua kejadian yang menimpamu. Itu kalau kau tak ke-
beratan," ujar Sena sambil menuntun Sumarni un- tuk mempercepat langkah
kakinya.
* * *
Angin semilir berhembus di malam
yang di- terangi bulan purnama. Sehingga, membuat jalan yang dilalui Sena dan
Sumarni menjadi sedikit te- rang. Sehingga keduanya dapat berjalan cepat. Dan
tanpa dirasa Sumarni, Sena sebenarnya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang
telah tinggi sambil menuntun gadis ini.
Dalam tempo singkat, Pendekar Gila
dan Sumarni telah tiba di Desa Purwantoro yang sudah porak poranda, rata dengan
tanah. Di sana-sini tergeletak mayat-mayat tua muda dan anak-anak. Sementara
Sumarni berlari ke satu arah. Sedang- kan Sena hanya memandangi dengan perasaan
haru.
"Sungguh kejam dan biadab
Sengkala Sekti. Kenapa manusia seperti itu masih saja ada...!" gumam Sena
perlahan. Kedua matanya menatap Sumarni yang mencari-cari mayat kedua orangtua
dan adiknya, di antara puing-puing rumahnya.
Sena mendekati Sumarni yang nampak
bin- gung dan terus menangis.
"Ooh...! Di mana mayat
orangtuaku. Ooh Gusti...," terdengar suara Sumarni begitu meme- las. Gadis
itu kemudian berlutut sambil menangis tersedu. Sena menghela napas dalam-dalam.
Ha- tinya sangat trenyuh melihat nasib gadis itu. Pen- dekar Gila hanya menatap
Sumarni dengan pera- saan haru, dan sedih.
"Jangan terus menangis,
Nisanak..... Tan- gismu tak akan bisa mengembalikan orangtuamu. Hmm. Jika
memang mereka terbunuh oleh Seng- kala Sekti dan antek-anteknya, mungkin aku
bisa membantumu. Yang penting kau harus ceritakan semuanya padaku. Aku berjanji
akan mencari Sengkala Sekti untuk menumpas kekejaman- nya...," tegas
Pendekar Gila.
Sumarni perlahan menoleh ke arah
Sena sambil menghapus air mata. Dipandanginya Pen- dekar Gila agak lama. Baru
gadis berparas ayu dan lugu ini berdiri perlahan. Sementara isaknya masih
tersisa. Kedua tangannya tak henti-hentinya mempermainkan ujung kain bajunya
yang sudah kotor dan acak-acakan.
Sena yang melihatnya cepat
menghampiri dan memegang kedua bahunya dengan lembut. Sumarni lalu kembali
menangis dan merebahkan kepala di dada bidang Pendekar Gila. Dan pemuda itu pun
mendekapnya lembut dengan perasaan haru. Murid Singo Edan itu memang sangat
terha- ru melihat keberadaan Sumarni.
"Sebaiknya kita istirahat di
sana.... Kau ten- tunya sangat lelah...," ujar Sena, sambil menunjuk ke
salah satu rumah yang masih utuh. Hanya saja, bagian atapnya sudah sebagian
terbakar.
Sumarni mengangguk perlahan. Sena
pun segera membawa Sumarni ke rumah yang sebagian hancur itu.
* * *
Sumarni yang sudah berada bersama
Sena di rumah bilik yang sebagian terbakar duduk tercenung di pinggir bale-bale
yang usang dan reyot. Sedangkan Sena berdiri tak jauh dari Sumarni memandang
keluar.
Dan malam semakin larut. Angin
semilir berhembus perlahan, menerpa wajah Sena yang tampan. Murid Singo Edan
ini menoleh ke arah Sumarni. Ditatapnya gadis berparas ayu dan lugu itu.
"Maafkan aku, Tuan Pendekar-...
Aku telah merepotkanmu," terdengar suara Sumarni perla- han agak serak.
"Jangan panggil aku Tuan
Pendekar. Panggil saja Sena. Dan, kalau boleh tahu, siapa namamu...?"
tanya Sena kemudian.
"Namaku Sumarni...,"
jawab Sumarni lirih, seraya menundukkan kepala.
"Marni, bisakah menceritakan
padaku se- mua yang kau tahu. Dan, apa sebenarnya yang membuat orang-orang
jahat itu sampai membumi- hanguskan desa ini, serta membunuh penduduknya?"
tanya Sena seraya bersedakep.
Sumarni perlahan mengangkat kepala,
ke- sedihan masih belum hilang pada wanita muda itu. Wajahnya masih terlihat
sendu. Kedua ma- tanya masih sembab, akibat terus menangis, me- ratapi
nasibnya. Sejenak diusapnya sisa air mata yang membasahi kedua pipi. Dihelanya
napas da- lam-dalam, dan dihembuskannya kuat-kuat
"Hari yang tak dapat kulupakan
sampai ajalku tiba nanti. Kejadiannya begitu mendadak dan menakutkan...,"
tutur Sumarni lirih.
Sejenak gadis itu menghela napas
panjang. "Menurut orang-orang, Sengkala Sekti dan antek-anteknya menyusup
ke keluarga besar Ra- den Panji, lalu bersengkongkol dengan Nyi Ageng."
Mendengar itu Sena mengerutkan
kening. Pendekar Gila nampak terkejut ketika Sumarni menyebut nama Raden Panji
dan Nyi Ageng.
"Siapa Raden Panji itu?"
tanya Sena ingin tahu sambil menggaruk-garuk kepala.
"Pewaris tunggal keluarga kaya
raya yang memiliki perkebunan peninggalan orangtuanya yang bernama Raden
Pryogito, orang baik dan bi- jaksana," jawab Sumarni serak.
"Lebih baik cepat kau
ceritakan padaku, Marni...," pinta Sena. "Mungkin aku bisa meno-
long. Paling tidak, bisa mengerti...."
Sumarni menghela napas dalam-dalam.
Pandangannya ke depan, seakan mengenang kem- bali peristiwa yang menimpa
keluarga dan pendu- duk Desa Purwantoro.
"Saat-saat yang mengerikan itu
tiba-tiba saja terjadi. Hari itu...." Sumarni mulai bercerita.
2
Sebuah pondok dari kayu jati,
terletak ter- pencil di sebuah lembah Cadas Kalangraja. Suasa- na cukup sunyi,
dikelilingi bukit-bukit cadas yang menjulang. Di sana hanya ada beberapa rumah
yang jaraknya terpisah-pisah, agak jauh. Hingga bila ada kejadian apa-apa,
rasanya sukar mencari bantuan. Siang ini serombongan penunggang kuda berjumlah
delapan orang datang ke pondok kayu jati itu. Sedangkan lelaki setengah baya
pemilik pondok, sedang mengampak kayu-kayu di hala- man. Tubuhnya agak kurus
dan berkumis tipis. Matanya cekung. Keringat tampak membasahi se- luruh
tubuhnya yang bertelanjang dada.
"Hah...?!" gumam lelaki
setengah tua pemi- lik pondok ketika melihat delapan orang berkuda menuju ke
arahnya. Kuda-kuda itu kemudian ber- henti di hadapannya. Dua diantaranya
adalah orang laki-laki berambut jagung, dengan seragam kompeni.
"Haei, kau...!" bentak
salah seorang yang bermuka persegi. Matanya besar. Hidungnya pe- sek, ditumbuhi
kumis lebat.
"Oh! Selamat siang, Tuan-tuan.
Ada sesuatu yang tuan-tuan perlukan dariku?" tanya lelaki se- tengah baya
itu dengan sopan sambil menyeka ke- ringat di keningnya.
"Ya! Kau tentunya melihat
lelaki berpakaian gembel lewat di sini. Atau, dia kau sembunyi- kan...?!"
"Laki-laki...?! Aku sejak tadi tak melihat seorang pun lewat di sini,
Tuan," jawab lelaki se- tengah baya yang sebenarnya bernama Ki Kobar.
Dari dalam gubuk, muncul seorang
perem- puan. Dia adalah istri Ki Kobar. Wajahnya tampak ketakutan, berdiri di
dekat pintu sambil meman- dang keluar.
Sementara itu di balik bebatuan
cadas, nampak seorang gadis berlari-larian dengan wajah ceria. Namun ketika
melihat ke depan pondok ada serombongan orang berkuda, mendadak wajahnya
berubah tegang. Lalu cepat-cepat dia bersembunyi di balik batu cadas, memandang
ke arah pondok.
"Siapa mereka...? Hah...?! Ada
Walanda (Be- landa)?!" gumam gadis itu lirih, nampak wajahnya makin tegang
dan cemas.
Gadis itu melihat Ki Kobar kini
semakin cemas menghadapi pertanyaan orang-orang berke- lakuan keras dan kasar.
"Kowe jangan bohong, ya! Nanti
bisa digan- tung kowe orang...!" hardik Letnan Yansen dengan mata melotot.
"Ya! Jejaknya jelas, menuju ke
sini! Letnan! Geledah saja seluruh gubuk ini...!" perintah seo- rang
lelaki berpakaian seragam dan berpangkat kapten. Itulah Kapten Simon.
Segera mereka berlompatan turun
dari atas kuda masing-masing. Dan dengan gerakan cepat pula, mereka terus
memeriksa ke dalam pondok.
"Minggir...!" bentak
salah seorang sambil mendorong istri Ki Kobar dengan kasar.
Seketika wanita setengah baya itu
ter- huyung hampir jatuh. Tubuhnya semakin gemeta- ran, dengan wajah pucat.
Sedangkan Ki Kobar hanya bisa menahan diri, sambil memandang pa- srah.
Mereka mengobrak-abrik apa saja
yang ada di dalam gubuk itu. Bahkan juga memeriksa kan- dang kambing dan ayam,
hingga piaraan Ki Kobar lari berhamburan.
"Bajingan itu tak ada,
Kapten...!" seru Len- tan Yansen begitu kembali ke halaman depan gu- buk
Ki Kobar.
Kapten Simon tersenyum dingin.
Matanya lalu mengamati sekelilingnya. Tiba-tiba pandan- gannya terhenti pada
suatu gubuk lain, yang lebih mirip sebuah gudang. Sebuah gubuk berdinding kayu,
yang letaknya tak jauh dari gubuk Ki Kobar.
"He he he! Benar kamu tidak
bohong, Pak Tua...?!" desak Kapten Simon, sinis. "Sengkala Sekti!
Coba periksa gubuk yang di sebelah sana...!" Tanpa banyak bicara lagi
laki-laki berhi- dung pesek dan berkumis tebal yang bernama Sengkala Sekti
segera melangkah ke arah gubuk yang menyerupai gudang, diikuti lima anak buah-
nya.
Sementara di balik batuan, gadis
ayu yang tadi mengintip dengan perasaan cemas, kini sema- kin tegang. Keningnya
tampak mulai berkeringat, karena menahan rasa takut dan khawatir akan
keselamatan Ki Kobar dan istrinya.
Sementara itu Sengkala Sekti dan
kelima anak buahnya sudah mendobrak pintu gubuk.
Brakkk! Dengan isyarat tangan kanan
Sengkala Sek- ti memerintahkan anak buahnya segera memerik- sa dan menyebar.
Langsung saja kelima anak buahnya memeriksa sambil menusuk-nusuk ujung golok
pada jerami yang di gudang itu.
Srakk! Srakkk! Ujung golok terus
menusuk-nusuk apa saja yang dianggap mencurigakan. Dan pada saat itu- lah salah
satu ujung golok sempat menyerempet sesuatu....
"Ehk...!" Terdengar suara
pekikan tertahan, mem- buat Sengkala Sekti yang memiliki pendengaran peka, jadi
tersenyum cerah.
"Hei! Gembel...! Jangan
bersembunyi seperti Tikus Busuk di situ! Keluar! Kau tak akan bisa lari
lagi.... Cepat keluar atau, aku sendiri yang mengu- liti tubuhmu...!" seru
Sengkala Sekti, lantang menggelegar.
Selesai bicara begitu, Sengkala
Sekti segera memerintahkan anak buahnya untuk segera menghabisi sosok yang bersembunyi
itu.
"Heaaa...!" Serempak
kelima orang itu menyerbu sam- bil menusukkan golok ke arah tempat yang dicuri-
gai
Jlep, jlep, jlep! Srakkk! Tiba-tiba
sesosok tubuh melenting ke atas.
Setelah berputaran beberapa kali,
kakinya menda- rat di atas sebuah peti. Dan Sengkala Sekti yang sudah menunggu,
cepat melepaskan senjata raha- sia ke arah sosok lelaki berpakaian compang-
camping berusia sekitar tiga puluh enam tahun yang baru menjejakkan kakinya.
"Huh...!" Zettt, zeettt!
Seketika benda-benda tajam berbentuk segi tiga, muncul deras ke arah lelaki
berpakaian gem- bel itu. Namun dengan gerakan cepat dia melom- pat ke samping,
menjebol dinding gudang.
Brakkk! Serentak kelima buah anak
buah Sengkala Sekti berhamburan keluar. Dan dengan cepat me- reka mengurung
lelaki gembel itu.
Tak jauh dari situ Kapten Simon dan
Letnan Yansen menyaksikan sambil tertawa-tawa.
"He he he.... Pak Tua! Kau
ternyata bohong, sheg! Kamu orang digantung! Penjahat gembel itu telah membunuh
banyak anak buahku...! Dan, te- lah merampok harta kami!" seru Kapten
Simon, seraya berpaling ke arah Letnan Yansen. "Tangkap orang ini,
Letnan!"
Segera Letnan Yansen meringkus Ki
Kobar. Laki-laki tua itu coba melawan. Namun tanpa mengenal perikemanusiaan,
Letnan Yansen yang bermuka lonjong berkumis tebal dan hidung man- cung, segera
memukul kepala Ki Kobar dengan ga- gang pedangnya.
Desk! "Aaakh...!" Ki
Kobar memekik kesakitan, lalu roboh dengan kepala berdarah.
"Kakang...!" Istri Ki
Kobar menjerit Langsung dia meng- hambur ke arah suaminya yang terkapar di
tanah sambil memegangi kepala.
"Kakang...! Ooh! Kalian
jahat..! Jangan siksa suamiku...!" Istri Ki Kobar yang bernama Nyi Kanti
menangis dan memohon pada Letnan Yansen agar tidak memukuli suaminya.
"Hah ha ha...! Kau perempuan
tua, juga tu- kang bohong, yaa!" bentak Letnan Yansen. Lang- sung
ditendangnya Nyi Kanti, hingga memekik ke- sakitan dan terus menangis.
Sementara itu, gadis yang
bersembunyi di balik batuan cadas, tak berani membantu atau berbuat sesuatu.
Namun ada juga rasa ingin ber- tindak. Hanya saja, belum bisa dilakukannya saat
ini. Dia hanya bisa menahan sedih dan menangis.
"Ooh, Gusti lindungi
mereka...," gumam ga- dis itu lirih, memohon pada Hyang Widhi, agar
memberi perlindungan pada Ki Kobar dan Nyi Kan- ti.
Di lain tempat, nampak lelaki
gembel itu terdesak oleh kelima anak buah Sengkala Sekti yang dengan ganas
ingin menyudahi. Namun ru- panya lelaki berpakaian compang-camping itu memiliki
ilmu silat cukup lumayan.
"Heaaatt..!"
"Heaaa.... Huop!" Pukulan dan sabetan golok kelima anak buah Sengkala
Sekti mendesing, membabat ke arah kepala dan kaki lelaki gembel itu. Namun gesit
sekali lelaki itu mengelak, dengan melenting. Terkadang dia melakukan serangan
balik yang cu- kup dahsyat, membuat kelima lawannya sempat tersentak kaget.
Bahkan dua diantaranya terkena tendangan dan hantaman tongkatnya.
Bug! Bug! "Aaakh...!"
terdengar jeritan kedua anak buah Sengkala Sekti.
Sengkala Sekti yang sudah tak sabar
lagi, segera turun tangan. Dengan tenang lelaki bertu- buh tegap dan garang itu
melangkah ke depan sambil memberi isyarat agar anak buahnya ming- gir. Dan
tanpa banyak bicara lagi, segera dilancar- kannya serangan cepat ke arah lelaki
gembel itu.
"Heaaa...!"
"Hop...!" Lelaki itu melompat dan berputaran di uda- ra. Melihat itu,
Sengkala Sekti tak membuang wak- tu lagi. Sebelum lelaki gembel itu mendaratkan
kakinya di tanah, dengan cepat dipapakinya se- rangan dengan melontarkan
senjata rahasia.
Jlep, jlep, jlep! Jeritan panjang
keluar dari lelaki gembel itu. Ketika jeritan itu hilang, yang terdengar hanya
suara ambruknya tubuh lelaki gembel di tanah. Tanpa bernyawa lagi.
Tampak Sengkala Sekti menyeringai
puas. "Bawa mayat gembel itu, cepat," perintah Sengkala Sekti pada
anak buahnya.
Segera dua anak buah laki-laki
berhidung pesek ini menyeret mayat lelaki gembel itu.
Sementara itu gadis yang tengah
bersembunyi seperti mendapat keberanian. Dan menda- dak, dia keluar dari tempat
persembunyiannya, la- lu berlari sambil berteriak nyaring. Gadis yang tak lain
Sumarni bagaikan kesetanan. Dan sekejap sa- ja dia sudah berada di dekat Kapten
Simon. Dan tanpa diduga sama sekali, tiba-tiba dihajarnya ke- pala Kapten Simon
dengan kayu.
Prakkk! "Aaakh...!"
Kapten Simon menjerit dan jatuh dari atas kuda. Sedangkan Letnan Yansen yang
sedang mengikat Ki Kobar dan Nyai Kanti, kaget bukan main melihat kejadian itu.
Tampak tubuh Kapten Simon tak bergerak, dengan kepala mengeluarkan darah. Pada
saat itu pula, Sumarni yang sudah se- perti kemasukan roh, makin kalap. Dia
menyerang Letnan Yansen yang masih terbengong melihat kemunculan gadis itu yang
tiba-tiba.
"Kau harus menerima ini,
Belanda Kepa- rat...!"
Sumarni dengan geram mengambil kapak
yang menancap di batang kayu. Lalu cepat diham- pirinya Letnan Yansen yang
berusaha mencabut senjata api. Namun Sumarni lebih cepat men- gayunkan kapak ke
arah kepala letnan bermuka bengis itu.
Crasss! "Aaaakh...!"
Letnan Yansen memekik pen- dek. Kepalanya kontan terbelah dua dihantam kapak.
Tubuhnya langsung ambruk dan tewas seke- tika. Sedangkan Sumarni segera
tertawa-tawa puas.
Sumarni kini, berusaha melepas
ikatan Ki Kobar dan Nyi Kanti.
Keadaan Ki Kobar memang sudah
parah. Darah tampak terus mengucur dari kepalanya. Wajahnya makin pucat.
Sedangkan napas Nyi Kanti pun sudah kelihatan sesak, akibat tendan- gan keras
Letnan Yansen yang mengenai dadanya tadi.
"Kurang ajar...!
Biadab...!" rutuk Sumarni, geram. "Paman, Bibi.... Jangan tinggalkan aku....
Ooh, Gusti... Tolonglah mereka. Jangan ambil nyawa mereka...."
Sumarni yang sudah kembali seperti
sedia- kala, menangis sambil tertelungkup memeluk tu- buh paman dan bibinya.
"Ha ha ha...!" Tiba-tiba
terdengar suara tawa Sengkala Sekti yang mengejutkan Sumarni. Tahu-tahu saja,
Sengkala Sekti sudah berada di belakang gadis itu. Sumarni cepat berbalik.
Tangannya cepat meraih kapak yang ada di dekatnya.
"Bajingan...! Kau rupanya
antek Belanda...!" dengus Sumarni sambil berdiri dan mengancam Sengkala
Sekti dengan kapak.
Sengkala Sekti hanya tersenyum
nakal sambil mengusap-usap jenggotnya.
"Hei, Gadis Ayu! Lebih baik
kau menurut, dan tidak berbuat macam-macam. Hidupmu akan enak. Biarlah si Tua
Bangka itu mampus. Kau sebaiknya ikut aku.... Kebetulan, aku belum punya istri.
He he he...! Bagaimana?!" kata Sengkala Sekti dengan pandangan mata
seperti kelaparan, meli- hat wajah cantik bertubuh menggiurkan itu.
"Phuih...!" Sumarni
meludah. Lalu dia cepat men- gayunkan kapak ke arah Sengkala Sekti. Namun
dengan mudahnya laki-laki itu memiringkan kepa- lanya ke samping kiri dan
kanan. Dan dengan ge- rakan cepat pula dipegangnya tangan kanan Su- marni yang
menggenggam kapak. Lalu secepat itu pula direbut dan dibuangnya. Belum sempat
gadis itu menyadari apa yang terjadi, Sengkala Sekti te- lah cepat merangkul
Sumarni kuat-kuat. Sehingga membuat gadis itu tak bergerak lagi.
"Lepaskan aku! Lepaskan...!
Bangsat! Ooh...," teriak Sumarni. Namun Sengkala Sekti tak
mempedulikannya. Dan rangkulannya makin di- perketat, hingga Sumarni tak bisa
bergerak lagi.
"Habisi Tua Bangka itu,
cepat...!" perintah Sengkala Sekti kemudian.
Pada saat itu, Sengkala Sekti
merasa Su- marni yang tiba-tiba diam akan menurut dan tak bertenaga lagi. Namun
tiba-tiba, gadis itu beron- tak. Digigitnya lengan Sengkala Sekti. Lalu diha-
jarnya kemaluan laki-laki yang sempat lengah itu.
"Aaawww...!" Sengkala
Sekti menjerit kesakitan. Rangku- lannya mengendor, sehingga Sumarni lolos.
Gadis itu langsung berlari kencang bagai kemasukan se- tan.
Kelima anak buahnya yang hendak
meng- habisi Ki Kobar dan Nyi Kanti kaget. Dan mereka lalu mengejar Sumarni.
Namun, gadis itu sudah tak kelihatan.
Sengkala Sekti yang masih
kesakitan, men- jadi marah-marah pada anak buahnya.
"Bodoh...! Mengejar gadis
seperti itu saja, tak becus! Lebih baik potong burung kalian...!"
Sementara itu, Kapten Simon yang
sudah siuman, berusaha bangun. Tangan kirinya terang- kat ke atas meminta
tolong pada Sengkala Sekti yang berada tak jauh dari itu.
"Akh...! Tolong aku...,"
ujar Kapten Simon, serak. Wajahnya tampak pucat
Sengkala Sekti mendekat seakan
ingin me- nolong Kapten Simon. Namun begitu sudah dekat, kapten itu malah
dicekik. Langsung dipatahkan leher kapten Belanda ini.
Krettt! Seketika kapten bengis ini
mati. "Ha ha ha...! Ternyata Belanda ini bodoh ju- ga! Masih bisa
kuperdaya. Ha ha ha...! Kini aku le- bih leluasa melakukan apa saja. Dan
tujuanku.... Masuk dalam keluarga Raden Panji. Ha ha ha!"
Lalu Sengkala Sekti melangkah pergi
diikuti oleh anak buahnya. Mencari Sumarni.
* * *
"Berhari-hari aku keluar masuk
hutan. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah desa kecil. Di situlah aku bertemu
dengan satu keluarga yang menolongku...."
Sumarni menghentikan ceritanya.
Dihe- lanya napas panjang. Sementara Sena alias Pendekar Gila sangat terharu
mendengar cerita wanita ayu itu. "Lantas, bagaimana kelanjutannya? Sebe-
narnya, di mana dan siapa orangtuamu?" tanya Pendekar Gila kemudian dengan
suara kalem.
"Sejak umur dua tahun, aku
tinggal bersa- ma paman dan bibiku, Ki Kobar dan Nyai Kanti. Aku sangat
kehilangan setelah mereka dibunuh Sengkala Sekti. Ke mana lagi aku berteduh.
Sam- pai sekarang, aku belum tahu siapa sebenarnya orangtuaku...," keluh
Sumarni sedih. Kembali air matanya menetes membasahi kedua pipinya yang halus.
Sena memandangi dengan perasaan
haru. Lalu ditariknya napas dalam-dalam dan dihem- buskannya pelan-pelan.
"Lalu, bagaimana kau tahu
kalau Sengkala Sekti saat ini sedang menyusup dan bersekongkol dengan Nyi
Ageng. Dan, mengapa dia menghan- curkan Desa Purwantoro...?"
Sumarni tak menjawab cepat. Gadis
ini ma- sih terisak-isak dalam tangisnya. Perlahan kepa- lanya diangkat dan
ditatapnya Sena.
"Orangtua angkatku yang bekas
abdi ke- luarga Raden Panji, pernah bermaksud mengga- galkan maksud jahat
Sengkala Sekti. Tapi, karena kepandaian ayah angkatku tak setinggi Sengkala
Sekti, maka usahanya sia-sia. Apalagi, Nyi Ageng mengaku kalau Sengkala Sekti
masih pamannya. Makanya Sengkala Sekti yang tak mau kebusukan dan rencana busuknya
tercium, tanpa sepengeta- huan siapa-siapa menghabisi penduduk Desa
Purwantoro serta para penentangnya.
Dan aku yang sempat tertangkap lagi, akan diperkosanya. Kembali aku dapat
lolos, dengan bantuan seorang lelaki setengah baya yang memiliki ilmu silat lu-
mayan. Namun itu tak lama, lelaki itu mati di tan- gan Sengkala Sekti dan anak
buahnya."
Sumarni menghentikan ceritanya
seraya menarik napas sejenak.
Sementara Sena mengangguk-angguk
per- lahan, lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Asyik juga mendengar cerita
wanita ayu ini...," gumam Sena perlahan. "Lantas, bagaima-
na...?"
"Ya..., aku akhirnya berlari
tak tentu arah. Sampai akhirnya..., kau menyelamatkanku."
Sejenak Sumarni menghentikan
ceritanya. Dipandanginya Sena yang berwajah tampan agak lama.
"Sebenarnya aku masih
mempunyai sauda- ra kem...."
Belum sempat Sumarni melanjutkan
uca- pannya, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang menuju ke arah gubuk.
Segera mereka berdiri dan memandang ke arah datangnya suara.
"Cepat kita sembunyi,"
ujar Sena seraya menarik lengan Sumarni.
Pendekar Gila dengan gerakan cepat
dan lincah membawa gadis itu bersembunyi di balik semak-semak yang ada di
sekitar tempat itu.
Tampak serombongan orang berkuda
melintas di hadapan gubuk yang mereka tinggali. Lalu rombongan itu berhenti di
ujung desa yang sudah hancur lebur ini. Namun kemudian, mereka kembali pergi
melanjutkan perjalanan.
"Kau mengenal mereka...?"
tanya Sena pada Sumarni.
"Aku belum pernah mengenal
mereka. Tapi kalau melihat pakaiannya, kalau tak salah adalah orang-orang
Sengkala Sekti," jawab Sumarni den- gan suara perlahan seperti berbisik.
Sena menghela napas lega. Segera
diajak Sumarni bangkit. Namun wajah gadis itu tiba-tiba berkeringat. Pucat.
"Kenapa kau, Marni...?
Sakit...?" tanya Sena kaget
Segera Pendekar Gila menggotong
Sumarni yang tiba-tiba lemas. Lalu merebahkan gadis itu di tanah dalam rumah
gubuk yang sebagian sudah terbakar. Sena segera mengeluarkan obat dari sebuah
kantong kecil di pinggangnya.
"Makan ini, mudah-mudahan kau
bisa ce- pat pulih dan sembuh," ujar Pendekar Gila.
Sena memberikan obat berbentuk
bulat pa- da Sumarni. Gadis itu segera menelannya, sambil memejamkan kedua
matanya.
Dan Pendekar Gila hanya tersenyum
me- mandangi Sumarni yang sedang mengunyah obat pemberiannya.
"Kau tentunya lapar. Tunggulah
di sini. Aku akan mencari buah-buahan untukmu. Jangan ke mana-mana...,"
ujar Sena ketika menyadari kalau Sumarni pasti sedang lapar.
Sena segera bangkit berdiri. Dan
hanya sekali melesat saja, dia sudah meninggalkan Sumar- ni. Sedangkan gadis
itu memandangi dengan senyum manis.
Beberapa saat setelah kepergian
Pendekar Gila, kesehatan Sumarni mulai pulih. Dia mulai duduk, lalu berdiri.
Wajahnya nampak sedang berpikir, menimbang sesuatu.
"Aku tak ingin menyusahkan
orang lain. Aku harus pergi.... Tapi, pemuda itu tampan dan berbudi luhur.
Tegakah aku harus meninggalkan- nya?" kata Sumarni dalam hati.
Gadis ayu itu nampak mulai gelisah
dan cemas. Pikiran dan perasaannya jadi bercabang dua. Di satu sisi dia akan
membalas dendam den- gan caranya sendiri, sekaligus mencari tahu ten- tang
saudara perempuannya. Dan di sisi lain, ha- tinya sangat berat meninggalkan
Sena yang telah menolong jiwanya.
"Dosakah aku kalau meninggalkan
orang yang telah menolong jiwaku? Tapi, aku tak suka bila orang lain harus ikut
menanggung urusan pribadiku. Aku harus pergi. Ya, pergi mencari il- mu, mencari
seorang guru yang sakti. Agar, cita- citaku terwujud. Dan aku harus dapat
membunuh Sengkala Sekti!" tekad Sumarni dalam hati.
* * *
Sementara itu Sena sedang dalam
perjala- nan ke gubuk. Pendekar Gila kini sudah membawa buah-buahan yang
diambil dari kebun agak jauh dari tempat itu. Dengan wajah ceria dan cengengesan,
kakinya terus melangkah cepat disertai ilmu meringankan tubuh. Sebentar saja,
dia sudah tiba di depan gubuk.
Namun alangkah terkejutnya Sena,
ketika memasuki gubuk ini.
"Marni...?! Sumarni...?!” seru
Sena sambil mencari-cari gadis ayu itu ke sekeliling tempat. "Waouw...!
Mati aku. Hilang...! Mungkinkah orang- orang berkuda tadi kembali dan menemukan
Su- marni, lalu mereka membawanya...?! Aah... tak mungkin."
Dengan kesal Pendekar Gila memakan
buah-buahan itu sendiri sampai habis. Sementara hari semakin sore. Sena yang
putus asa mencari Sumarni, kembali berpikir.
"Aha...! Kalau aku diam di
sini terus, tak mungkin bisa menemukan Sumarni. Aku harus mencari sampai dapat.
Kalau tidak, aku berdosa," kata Sena bicara pada diri sendiri.
Maka pemuda tampan murid Singo Edan
itu segera meninggalkan tempat ini.
3
Di pagi buta ini, Sena Manggala
alias Pen- dekar Gila sudah menyusuri bukit dan lembah. Tak lupa, dimainkannya
Suling Naga Sakti, men- galunkan lagu merdu yang enak didengar. Paling tidak
dengan demikian rasa kesalnya sedikit ber- kurang karena tak menemukan Sumarni.
Alunan suara suling Sena terdengar
sangat merdu, seakan mengiringi pagi yang indah dan ce- rah ini. Perlahan-lahan
mentari yang sinarnya ma- sih kemerahan muncul dari balik gunung, me- nambah
suasana sangat menyejukkan. Angin yang berhembus dingin, membawa alunan suara
suling hingga terdengar sayup-sayup merdu.
Merasa telah lelah berjalan,
Pendekar Gila menghentikan langkahnya. Dan dia segera duduk di atas sebuah batu
besar, sambil terus meniup suling penuh perasaan. Burung-burung dan bina- tang
lain yang mendengar tiupan sulingnya seakan ikut berdendang dan bersuka ria.
Begitu juga orang yang mendengarnya. Mereka seperti menca- ri-cari suara suling
yang mengalun merdu itu.
Tak lama, tiba-tiba murid Singo
Edan ini kembali berdiri. Perlahan-lahan, tiupan suling mu- lai berhenti. Dan
tahu-tahu, tubuhnya melesat pergi setelah memandang sekelilingnya itu.
Sementara mentari semakin tinggi.
Dan si- narnya yang keemasan, mulai berubah menjadi keperakan.
"Uh...! Ke mana aku harus
mencari Marni? Wanita aneh! Tapi mungkinkah Marni diculik? Atau.... Aah! Kenapa
aku mesti bertanya-tanya pa- da diriku. Lebih baik ikuti saja langkah kakiku.
Siapa tahu, menemukan jejak...," gumam Sena sambil terus mengayunkan
kakinya, dengan ting- kahnya yang kocak seperti orang gila.
* * *
Sementara itu, di Hutan Rawanca dua
orang lelaki berpakaian rompi warna hitam dan berikat kepala batik tampak
tengah menggotong sebuah tandu yang dikawal seorang lelaki berumur sekitar
empat puluh tahun. Laki-laki setengah baya itu masih tegap. Pandangan matanya
sangat tajam, menunjukkan kecerdasannya. Langkahnya mantap, bagai seorang
pendekar menyusuri jalan setapak Hutan Jati yang sunyi dan berkabut ini.
Di dalam tandu, duduk seorang
wanita mu- da yang cantik dan sedang hamil tua. Wajahnya yang pucat berkerinyut
karena menahan sakit pa- da perutnya yang membusung, tampak dibasahi keringat
yang terus mengucur. Perempuan itu ter- kadang merintih.
Sementara lelaki yang mengawal di
samping tandu, wajahnya pun menjadi cemas. Kumis tipis yang menghiasi wajahnya
juga mulai berkeringat. Namun kedua matanya masih tetap tajam, me- mandang ke
sekitar hutan yang kelihatan sangat angker dan rawan.
"Mang...! Mang Jarot! Berhenti
dulu, Mang...!" ujar perempuan yang ada dalam tandu. Suaranya terdengar
lemah dan agak serak.
Laki-laki setengah baya yang dipanggil
Mang Jarot, tentu saja mendengar suara wanita itu. Segera diberinya tanda
kepada dua pengusung tandu untuk berhenti dengan mengangkat tangan kirinya ke
atas. Lalu Mang Jarot mendekati tandu.
"Ada apa, Nyi Ranti?"
tanya Mang Jarot pe- nuh hormat
"Perutku, Mang.... Sakit
sekali. Rasanya aku tak kuat lagi.... Sudah dekat rasanya, Mang...," keluh
wanita di dalam tandu yang dipanggil Nyi Ran- ti dengan wajah penuh keringat
menahan mulas di perutnya. Memelas sekali!
"Kuatkan, Nyi. Kita akan
berhenti di rumah penduduk nanti," ujar Mang Jarot, sedikit cemas. Lelaki
kepercayaan Raden Panji itu nampak sangat khawatir terhadap keadaan istri
juragannya.
Tandu mulai bergerak jalan lagi,
setelah Mang Jarot memberi aba-aba.
Rombongan ini telah sampai di perbukitan
yang suasananya sunyi. Dan ini membuat Mang Jarot nampak waspada. Di lereng
bukit yang dile- wati, semakin terasa mencekam. Mata laki-laki se- tengah baya
itu menatap tajam sekeliling. Seper- tinya dia memberi aba-aba agar petandu
memper- lambat langkahnya.
Baru mereka menuruti aba-aba Mang
Jarot, tiba-tiba saja dari atas bukit bergelindingan batu- batu. Mang Jarot
yang sudah menyadari apa yang terjadi segera memberi aba-aba lagi, untuk
berhen- ti. Dan seketika itu pula sepasang trisulanya yang terselip di pinggang
dicabut. Matanya tajam me- nyapu ke atas lereng bukit, siap menghadapi sega- la
kemungkinan.
"Perampok?!" gumam Mang
Jarot geram. Memang, dari atas bukit dan lereng sudah berlompatan enam orang
sambil berteriak bersen- jatakan golok dan kelewang. Demikian pula dari balik
pohon. Tampak empat orang langsung me- nyerang ke arah Mang Jarot.
"Heaaat..!"
"Perampok-perampok Keparat...!" gumam
Mang Jarot geram sambil mengelak
bacokan dan tusukan para perampok.
Pertarungan tak dapat dihindari. Dan
kini mulai terdengar jeritan dan teriakan. Dua jeritan menyayat terdengar dari
mulut dua pengusung tandu yang tewas tersambar golok dan kelewang para begal.
Sementara Mang Jarot dengan berani berkelebat di antara sambaran senjata lawan-
lawannya. Tubuhnya terkadang melenting ke uda- ra, kemudian cepat melakukan
serangan balik.
"Aaaa...!" Dua orang
perampok menjerit dan roboh dengan dada dan leher sobek, terkena sabetan dan
hantaman trisula laki-laki setengah baya ini.
Melihat dua temannya roboh dan tak
berku- tik lagi, delapan begal lainnya semakin ganas men- geroyok Mang Jarot
"Heaaa...!"
"Hiaaa...!" "Kepung...!" seru salah seorang begal. Den- gan
gerakan cepat, mereka mengepung Mang Ja- rot, dan langsung menyerang dan
membabatkan golok serta kelewang.
Mang Jarot dengan cepat memutar
trisu- lanya menangkis gesit setiap serangan lawan. Kea- daan laki-laki
setengah baya ini agaknya mulai terdesak. Memang walaupun kepandaian Mang Ja-
rot lebih tinggi, tapi karena dikeroyok begitu, mau tak mau dia menjadi
kewalahan juga. Malah pada satu kesempatan, "Aakh...!" Mang Jarot
memekik pendek. Beberapa bacokan sempat mengenai tubuh
Mang Jarot yang benar-benar gagah
berani, teru- tama dalam melindungi istri juragannya di dalam tandu. Namun
laki-laki setengah baya itu tak mampu berbuat apa-apa ketika tiba-tiba sebatang
tombak meluncur menembus tandu.
"Aaaakh...!" Terdengar
jeritan Nyi Ranti, membuat Mang Jarot jadi kaget dan gugup. Namun lelaki
berilmu silat cukup lumayan ini masih sempat menghajar dua begal sekaligus
dengan trisulanya.
"Aaakh...!" Kembali
terdengar jeritan dua begal. Tubuh mereka roboh dengan darah muncrat dari leher
dan perut
Namun pada saat perhatian Mang
Jarot ter- bagi dua, karena khawatir keadaan Nyi Ranti, tan- pa dapat dielakkan
sebuah golok menusuk ke arah pinggang.
"Aaakh...!" Masih untung,
dia hanya tergores tak begitu dalam. Tubuh Mang Jarot terhuyung ke belakang
beberapa tombak, sambil memegangi pinggangnya yang terluka.
Sementara, pimpinan pembegal yang
wa- jahnya tertutup kain hitam menjadi geram melihat keadaan Mang Jarot. Dan
tanpa sabar lagi, kemba- li dia menyerang sambil membabatkan goloknya ke bahu
Mang Jarot
Wesss! Namun Mang Jarot cepat
mengelebatkan trisulanya, menangkis. Malah laki-laki setengah baya itu cepat
berusaha menyerang balik.
Wutt, wuttt! "Heaaat..!"
Mendadak saja Mang Jarot melenting ke atas. Dan dengan gerakan cepat trisula di
tangan- nya dikelebatkan ke wajah laki-laki bertopeng itu.
"Aakh...!" orang
bertopeng itu memekik ka- get. Ujung trisula Mang Jarot berhasil merobek to-
pengnya. Sekaligus, menyayat wajah pemimpin ini. "Kau, Gondam!" seru
Mang Jarot kaget keti- ka mengenali wajah orang yang ternyata antek Nyi Ageng
dan Sengkala Sekti.
Namun Gondam tak menjawab. Malah
tanpa basa-basi lagi goloknya dibabatkan ke arah Mang Jarot yang baru saja
mendarat di tanah. Akibatnya, Mang Jarot tersentak mundur dan jatuh tersandar
ke tandu.
"Heaaat... Kau harus mampus,
Jarot!" seru Gondam sambil cepat membabatkan goloknya.
Karena lukanya sangat parah,
membuat daya tahan Mang Jarot melemah. Apalagi perha- tiannya semakin
terganggu, ketika mengetahui dua orang yang mengusung tandu telah tewas. Satu
bacokan Gondam cepat menghajar tubuh Mang Jarot
"Aaakh...!" Mang Jarot
menjerit panjang. Tubuhnya langsung terkulai tak bernyawa lagi.
Gondam terus membacokkan goloknya
ke tubuh Mang Jarot yang sudah mati. Rupanya kemarahannya ingin dilampiaskan
sampai tuntas.
Cras, cras! "He he he...! Aku
puas! Kau telah benar-benar mampus, Jarot!" ujar Gondam sambil me-
mandangi mayat Mang Jarot
Kemudian lelaki yang bermuka kalem,
tapi berhati iblis dan kejam itu melangkah mendekati tandu dengan golok
berlumuran darah terhu- nuskan. Kasar sekali tandu itu dibuka. Dan tam- pak Nyi
Ranti sudah terkulai di dalam tandu.
Gondam yang melihat itu bukannya
merasa kasihan, tapi malah mengangkat goloknya untuk menghabisi Nyi Ranti.
Tepat pada detik itu, mendadak
sebutir ba- tu melayang dan menghantam tangan Gondam dengan keras. Golok
laki-laki itu langsung terle- pas, terbang ke udara. Gondam terkejut. Sambil
memegangi tangannya yang terasa kesemutan ke- palanya berpaling ke a-rah
penyerangnya.
"Setan Belang! Siapa yang
melakukan ini?!" dengus Gondam dengan wajah nyengir kesakitan.
Tak jauh dari situ, tampak seorang
pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular tengah berdiri tegak sambil
menggaruk-garuk kepala dan cen- gengesan. Tingkahnya bagai orang sinting,
menge- jek Gondam.
"Aha! Ada Tikus-tikus Busuk
rupanya di si- ni...!" seru pemuda itu, sambil menggaruk-garuk kepala.
Gondam dan empat anak buahnya yang ter- sisa, kaget. Mereka segera mengepung
pemuda berbadan gagah dan tampan, yang tak lain Sena Manggala alias Pendekar
Gila.
"Setan Alas! Juring dari mana,
tiba-tiba muncul dan mencoba menghalangiku?!" seru Gondam geram. Wajahnya
masih nampak nyengir ke- sakitan, dengan gigi gemeretak menahan amarah.
"Hi hi hi.... Lucu, lucu
sekali orang bau ini...! Lebih baik kau mandi dulu dan cepat pergi!" ledek
Sena dengan tingkah yang membuat Gon- dam dan anak buahnya semakin geram
bercampur heran. "Bangsat! Tangkap dan cincang pemuda sinting dan gila
ini!" perintah Gondam pada anak buahnya.
Sekejap empat anak buah Gondam
menye- rang Pendekar Gila berbarengan. Namun, Sena nampak tenang-tenang saja
sambil cengengesan. Seperti tak mempedulikan serangan lawannya. Namun belum
sempat keempat anak buah Gondam menyentuh tubuh Sena, tiba-tiba saja mereka
terpental jauh ke belakang. Memang dengan gerakan sukar ditangkap mata Pendekar
Gila berkele- bat cepat sambil melepaskan kibasan tangannya.
"Aaakh...!" Keempat orang
itu kontan roboh setelah membentur bebatuan. Tak ada gerakan sedikit pun di
tubuh mereka. Pingsan.
"Hah?!" Gondam kaget
melihat kejadian ini. Matanya tampak terbelalak lebar, karena kaget dan heran.
Gondam cepat memungut goloknya.
Lang- sung diserangnya Sena yang nampak tetap tenang- tenang saja. Malah Gondam
dibiarkan sibuk sendi- ri dengan serangannya. "Heaaa...!"
"Hop...!"
Pendekar Gila mudah sekali mengelak
se- rangan Gondam dengan meliuk-liukkan tubuhnya yang lentur. Sehingga, golok
Gondam hanya me- nembus angin kosong saja.
Dan dengan gerakan kilat, Sena
menepuk kepala Gondam yang merunduk menusukkan go- lok ke arah pinggang.
Plak! "Aaaakh...!" Gondam
memekik sambil me- megangi kepalanya. Tubuhnya kontan berputar dan terhuyung ke
belakang, lalu roboh. Wajahnya merah kebiruan karena merasakan kepalanya ba-
gai pecah, terkena tepukan tangan kiri Sena.
"Ha ha ha.... Kenapa kau
culik...?!" ejek Se- na, sambil tertawa-tawa sendiri.
Gondam merasakan kepalanya semakin
se- perti membesar. Dan tiba-tiba saja, hidung dan te- linganya mengeluarkan
darah segar.
Sementara itu, keempat anak buah
Gondam yang mulai sadar kaget melihat keadaan pemim- pinnya. Mereka segera
menghampiri laki-laki itu, kemudian menggotongnya. Segera Gondam dibawa pergi
dari tempat ini cepat-cepat.
"Ha ha hi hi.... Memang
sebaiknya kalian pergi. Sebelum aku muak melihat kalian!" seru Sena
diiringi tawa lebar.
Pendekar Gila segera melompat
mendekati tandu. Dan telinganya mendengar suara rintihan dari dalam tandu.
Lalu, didekatinya pintu tandu.
"Hah...?!" Sena kaget
ketika melihat keadaan Nyi Ran- ti yang hamil tua itu.
"Tenang, tenang. Jangan cemas.
Mereka sudah pergi," kata Sena iba.
"Oooh.... Tolong, Kisanak....
Ba..., bayi da- lam kandungan ini harus tetap hidup...," terdengar suara
Nyi Ranti lemah dan bergetar.
"Itu sudah pasti, Nyi. Kita
harus mencari rumah penduduk yang terdekat dari sini...."
* * *
"Hm.... Untung ada rumah di
depan sa- na...," gumam Sena. "Mudah-mudahan berhasil. Hyang Widhi,
berilah kekuatan perempuan ini..."
Pendekar Gila yang telah melesat
sambil membopong Nyi Ranti, akhirnya menemukan se- buah rumah. Di samping
rumah, tampak seorang wanita tua berpakaian lurik coklat tua. Perempuan tua
yang sedang menumbuk padi itu, menoleh ke- tika melihat Sena yang membopong Nyi
Ranti me- nuju ke arahnya.
"Nyi... tolong wanita
ini...," kata Sena begitu sampai di dekat perempuan tua itu.
"Kenapa ini? Aduh, Gusti! Ayo,
bawa ma- suk. Kang...! Kang Oji! Cepat bantu sini...!" seru perempuan tua
itu, begitu melihat keadaan Nyi Ranti yang ternyata dalam keadaan hamil tua dan
dalam keadaan lemah.
Seorang lelaki tua yang bernama Ki
Oji muncul menyambut mereka. Ki Oji cepat memban- tu Sena masuk ke dalam pondok
dengan merun- dukkan kepala karena pintunya pendek.
Begitu berada di dalam, perempuan
pemilik pondok cepat-cepat merapikan balai-balai untuk meletakkan tubuh Nyi
Ranti yang terus merintih dan menggeliat-geliat.
"Lekas masak air, Kang!"
ujar wanita yang sering dipanggil dengan sebutan Nyi Oji.
Ki Oji tanpa banyak bicara lagi
segera me- masak air. Dengan tergopoh-gopoh dia masuk ke dapur. Sementara
istrinya sibuk mengambil kain dan sepihan lainnya untuk menutup luka di dada
Nyi Ranti yang terkena ujung tombak.
Sedangkan Pendekar Gila melangkah
ke- luar. Begitu berada diluar pondok, Sena duduk di sebuah batang kayu.
Rintihan dan erangan Nyi Ranti mulai terdengar. Semakin lama, semakin menjadi
jeritan. Di dalam, Nyi Oji terus berusaha menenangkan wanita itu.
Sena ikut cemas. Sungguh tersiksa
dan mengadu nyawa, bila seorang wanita akan mela- hirkan bayi. Wajah pemuda ini
nampak begitu se- dih. Dia teringat pada dirinya sendiri yang tak sempat mengenyam
kasih sayang lebih lama dari kedua orangtuanya. Semuanya akibat perbuatan
Segoro Wedi yang biadab dan kejam beberapa pu- luh tahun lalu.
"Hyang Widhi selamatkan ibu
dan jabang bayi itu.... Biarkan jabang bayi itu nanti akan mendapat kasih
sayang dari ibunya," gumam Sena lirih seakan bicara pada dirinya sendiri.
Wajah pemuda tampan ini kali ini
begitu sedih. Selain memikirkan keselamatan Nyi Ranti dan jabang bayinya, juga
terkenang pada kedua orangtuanya yang dibunuh Segoro Wedi dan antek-anteknya.
Sena menoleh ke arah pondok yang
masih terdengar rintihan menyayat dari Nyi Ranti.
* * *
Hari mulai menjelang malam.
Matahari sudah terbenam di ufuk bagian barat. Langit yang tadi kemerahan, kini
berubah menjadi kelam. Suasana di tempat' itu menjadi semakin sunyi dan se- pi.
Angin berhembus kencang menggoyang pepo- honan dan merontokkan daun-daun
kering.
Sementara di dalam pondok Ki Oji,
nampak Sena atau Pendekar Gila duduk di samping Nyi Ranti yang terbaring lemah
dengan wajah pucat pasi. Bayinya yang terbungkus kain lusuh sedang digendong
Nyi Oji.
"Kasihan sekali nasib
perempuan cantik ini. Begitu tega orang yang ingin membunuhnya. Bi- adab! Siapa
pun orangnya, akan kucari," kata hati Sena sambil memandangi wajah Nyi
Ranti yang pucat pasi.
"Tuan apa pun yang terjadi,
tolonglah an- tarkan bayiku pada ayahnya...."
Tiba-tiba Nyi Ranti mulai membuka
suara lemah perlahan. Namun jelas didengar Sena.
"Ya.... Aku akan berusaha
mencari ayah anak ini. Tapi, siapa ayah bayi ini, Nyi Ranti...?" tanya
Sena, kalem sambil menggaruk-garuk kepala sejenak. Nyi Ranti memandang wajah
Sena yang tampan sejenak. Lalu dihelanya napas panjang. Air matanya perlahan
menetes di pipinya yang halus. Sena semakin iba melihatnya.
"Carilah Raden Panji di
Rajamandala...," ka- ta Nyi Ranti agak tersendat-sendat, sambil meng-
hapus air matanya.
"Aku pasti mencari suamimu,
Nyi Ranti. Percayalah. Aku mohon Nyi Ranti tetap tabah menghadapi semua cobaan
ini," kata Sena membe- ri semangat.
"Panggil saja aku
Ranti...," pinta Nyi Ranti kemudian dengan suara lemah.
Sena mengangguk dan tersenyum. Nyi
Ranti pun seakan puas melihat senyum dan anggukan kepala Sena. Lalu wanita ini
berpaling pada Nyi Oji yang masih menggendong bayinya. Seraya menyo- dorkan
tangannya. Nyi Oji segera meletakkan bayi itu di sisi Nyi Ranti. Dan air mata
ibu muda ini kembali berlinang.
"Nasibmu sangat buruk, Nak....
Kau tidak bersalah. Tapi, manusia-manusia berhati iblis itu tidak rela kau
lahir di bumi ini.... Oh, Gusti. Lin- dungilah anakku ini!"
Nyi Ranti menangis lebih
tersedu-sedu sambil mengusap-usap perlahan bayinya, mem- buat Sena dan Nyi Oji
yang berada di dalam pon- dok menjadi sangat iba.
Sena sendiri mencoba menghilangkan
kese- dihan hatinya, agar tak terlalu terbawa oleh sua- sana yang sangat
mengharukan itu. Hatinya harus tetap tegar. Walaupun merasakan kesedihan yang
dialami Nyi Ranti dan si bayi itu.
"Jangan mengeluh, Ranti....
Tabahkan hatimu. Kau harus tetap tegar menghadapi semua cobaan," ujar Sena
memberi semangat.
Sejenak suasana menjadi hening
seketika. Mereka diam tak berkata-kata lagi, seakan bicara dalam hati
masing-masing.
Nyi Ranti yang sarat dengan kasih,
menci- umi bayinya dengan mata berlinang. Wanita itu seakan sudah merasakan
kalau umurnya tak akan lama lagi.
"Jangan berpikir yang
tidak-tidak, Nisanak. Semua nasib dan umur, Gusti yang menentukan. Sudahlah,
jangan terus menangis. Kasihan bayi- mu. Dia jadi ikut sedih...," tutur
Nyi Oji sambil mengusap rambut Nyi Ranti.
"Kalau boleh aku tahu,
sebenarnya apa yang terjadi pada dirimu, Ranti?" tanya Sena tiba- tiba.
Nyi Ranti perlahan berpaling ke
arah Sena. Ditatapnya wajah pemuda tampan ini beberapa saat. Lalu kembali
dipandanginya si bayi dengan senyum pahit
Saat itu, muncul Ki Oji yang
membawa bungkusan ramuan obat. Lalu segera diberikannya kepada istrinya.
"Nyi Oji segera masuk ke dapur
untuk me- nyiapkan ramuan obat. Sedangkan Ki Oji setelah melihat sebentar ke
arah Nyi Ranti, lalu melang- kah keluar lagi
"Rasanya... waktuku sudah
dekat.... Meski hanya selintas, aku bahagia masih sempat melihat dan membelai
bayiku.... Betapa senang hati Ka- kang Panji...! Kerinduannya mempunyai seorang
putra sebagai pewaris dan penyambung keturu- nannya, telah terwujud...,"
tutur Nyi Ranti mem- buka suara.
Sena mendengar penuh perhatian
kata-kata Ny Ranti yang penuh haru. Pemuda itu sejenak te- ringat pada ibunya.
Sesaat dihelanya napas dalam- dalam, Murid Singo Edan itu sangat terharu men-
dengar ucapan wanita muda yang baru melahirkan ini.
"Alangkah bahagianya saat
awal-awal ber- sama Kakang Panji.... Tapi, kebahagiaan itu secara tiba-tiba
lenyap begitu saja," tutur Nyi Ranti le- mah, sambil menatap Sena. Sejenak
dia menghela napas. "Siang Nyi Ranti mulai bercerita pada Se- na....
4
Siang itu, sebuah kereta yang
ditarik empat ekor kuda putih, membawa seorang gadis ayu ke sebuah bangunan
yang cukup megah dengan pela- taran luas dan bertembok tinggi, bagai kerajaan.
Itulah kediaman Raden Panji, orang terkaya di daerah itu. Perangainya tidak sombong
dan pemu- rah, penuh kasih. Tindakannya bijaksana, seperti almarhum ayahnya.
Seorang pengawal yang berumur
sekitar empat puluhan dengan gagah mengawal kereta itu. Dia adalah Mang Jarot
Kereta kuda itu kini memasuki pintu
ger- bang, dan berhenti di halaman bangunan yang luas dan megah itu.
Di teras, penumpang kereta kuda itu
dis- ambut Nyi Ageng, istri pertama Raden Panji dan para emban. Di sisi Nyi
Ageng, berdiri seorang le- laki berumur lima puluh tahun. Pandangan ma- tanya
tajam, sedikit sinis. Kelihatannya lelaki ini memiliki ilmu silat yang cukup
tinggi. Dia tak lain Sengkala Sekti, yang diakui Nyi Ageng sebagai pa- mannya.
"Mulai sekarang, hidupmu akan
tersingkir. Apalagi kalau madumu telah memberi keturunan bagi Panji. Berarti,
kiamat bagimu! Aku sangat prihatin atas nasibmu!" bisik Sengkala Sekti
pada Nyi Ageng.
Nyi Ageng berpaling ke arah
Sengkala Sekti dengan pandangan dingin.
"Lihat saja! Dia, atau aku
yang kiamat!" tandas Nyi Ageng, juga berbisik.
Sengkala Sekti tersenyum sinis
sambil men- gusap-usap jenggotnya, mengerti akan maksud ucapan Nyi Ageng tadi.
Dan tiba-tiba wajahnya be- rubah berseri-seri, ketika Raden Panji muncul. Penumpang
kereta kuda yang memang Nyi Ranti se- gera menghaturkan sembah.
"Terimalah adikmu ini, Nyi.
Namanya Nyi Ranti...," kata Raden Panji, memperkenalkan istri mudanya pada
istri tuanya.
"Dengan segala hati dan
jiwaku, Kang," ja- wab Nyi Ageng diiringi tawa renyah, untuk menutupi
sakit hatinya.
Nyi Ageng tampak begitu sangat
ramah dan langsung akrab dengan Nyi Ranti. Malah dengan keramahannya yang
dibuat-buat, Nyi Ageng me- nuntun madunya ke dalam bangunan bagai istana ini.
Sementara Raden Panji tersenyum senang, menyaksikan keakraban kedua orang
istrinya.
"Semoga keakraban keduanya
terus berlan- jut sampai tua," Sengkala Sekti yang memakai nama Raden
Kowara pura-pura ikut bangga.
"Ya. Itu yang aku harapkan,
Paman Kowara. Nampak Dinda Nyi Ageng dapat memaklumi dan mengerti akan
kebutuhanku. Sungguh bahagia ha- tiku saat ini," jawab Raden Panji polos.
"Aku pun ikut senang dan
bangga melihat sikap keponakanku, Ageng...," tutur Raden Kowa- ra, atau si
Sengkala Sekti dalam kepura- puraannya.
Raden Panji bertambah gembira
menden- garnya. Dipeluknya Raden Kowara erat-erat. Seng- kala Sekti membalas
pelukan Raden Panji. Nam- paknya keduanya begitu akrab. Tapi sebenarnya hanya
nampak luarnya saja. Dan Raden Panji yang benar-benar polos tidak merasakan
apa-apa. Apa- lagi untuk mengetahui dalam hati Sengkala Sekti. Malah sebenarnya
keadaan Raden Panji sangat gawat. Kedudukannya sewaktu-waktu bisa diram- pas
oleh Raden Kowara atau si Sengkala Sekti dan Nyi Ageng.
* * *
Sudah empat bulan lewat Nyi Ranti
istri kedua Raden Panji satu atap dengan Nyi Ageng. Keadaan masih biasa-biasa
saja. Nampaknya seperti rukun dan damai. Tapi tanpa sepengetahuan Ra- den Panji
atau Nyi Ranti sendiri, sebenarnya Nyi Ageng sudah mulai cemas dan merasa mulai
ku- rang bebas.
Apalagi, Raden Kowara mulai
menggosok atau memanas-manasi hati Nyi Ageng. Dan Nyi Ageng mulai termakan oleh
kata-kata Raden Ko- wara. Apalagi kini, dia melihat kehamilan Nyi Ranti sudah
bertambah tua.
Siang itu di taman rumah, Raden
Panji se- dang duduk bermesraan dengan Nyi Ranti di ta- man. Dengan penuh kasih
sayang, dibelainya pe- rut istri mudanya yang sudah makin besar, hampir
bulannya.
"Aku berharap, anak dalam
kandunganmu nanti laki-laki, Dinda Ranti...," kata Raden Panji, lembut.
Hatinya begitu bahagia.
"Mudah-mudahan harapan Kakang
Panji terkabul. Semoga Hyang Widhi mendengar permin- taan Kakang...," ucap
Nyi Ranti, dengan suara lembut dan merdu. Nampak begitu manja dan lu- gu
sekali.
Nyi Ranti lalu merebahkan kepala
perlahan di dada bidang Raden Panji. Dan dengan penuh kasih sayang, laki-laki
itu terus mengusap-usap lembut rambut Nyi Ranti. Begitu mesra.
Tanpa diketahui keduanya, sejak
tadi Nyi Ageng dan Raden Kowara mengintai, mengamati dari balik pepohonan.
Wajah Nyi Ageng, tampak penuh kecemburuan yang berat dan dendam.
"Jangan tunggu sampai jabang
bayi itu la- hir. Bakal lebih repot! Aku dengar, besok Raden
Panji akan pergi untuk beberapa
hari. Itulah ke- sempatan paling baik bagimu untuk merencanakan sesuatu. Dan
aku akan membantumu, Nyi Ageng," bisik Raden Kowara pada Nyi Ageng.
Tak jauh dari tempat Nyi Ageng dan
Raden Kowara yang mengintip, di belakang nampak Mang Jarot mendengar rencana
busuk dua orang itu. Baru setelah itu, Mang Jarot segera cepat berlalu pergi
dari tempat ini.
* * *
Malam itu suasana di kediaman Raden
Pan- ji nampak tenang-tenang saja. Keadaan seperti bi- asanya, tak ada
keganjilan terlihat di malam yang diterangi bulan purnama ini.
Sikap Nyi Ageng yang malam ini
menemani Nyi Ranti yang sedang beristirahat di kamarnya, nampak seperti biasa.
Tetap nampak ramah. Me- reka berdua kelihatan penuh tawa. Sepertinya ke- dua
wanita itu, sedang membicarakan hal lucu da- ri pengalaman masing-masing. Siapa
pun yang melihat, tak akan menyangka bila salah satu mempunyai maksud jahat
Sementara, di tempat yang agak
jauh, di rumah ayahnya Nyi Ranti sedang terjadi pemak- saan. Gondam bersama
anak buahnya dengan ka- sar memaksa ayahnya Nyi Ranti. Orangtua itu di- paksa
menandatangani surat yang seolah-olah dia sendiri yang menulis-nya. Isinya tak
lain, me- manggil putrinya yaitu Nyi Ranti agar segera pu- lang dengan alasan
sakit keras.
"Jangan paksa aku....
Tolong... aku tak in- gin mendustai putriku..., tolong...," pinta ayahnya
Nyi Ranti yang bernama Ki Rangun sambil me- nyembah.
"Aaahh! Orang tua! Jangan
banyak bacot! Tanda tangani saja. Atau, kau tidak akan pernah lagi melihat
putrimu dan calon cucumu! Huh...!" bentak Gondam. Seketika ditendangnya Ki
Rangun dengan keras.
"Aaakh...!" pekik Ki
Rangun kesakitan. "Apa maksudnya ini? Panji tidak mungkin menyuruh kalian
melakukan ini...."
Gondam yang mendengar ucapan Ki
Ran- gun semakin geram dan marah. Dengan garang kembali dihajarnya lelaki tua
itu hingga roboh ber- kali-kali. Maka di bawah ancaman golok di leher, akhirnya
Ki Rangun terpaksa menandatangani su- rat palsu itu.
"Ha ha ha... Kau ternyata
lelaki tua yang bi- jaksana. Aku senang. Ha ha ha. Untuk itu, terima- lah
hadiah ini agar kau tetap bungkam...!"
Selesai dengan kalimatnya, Gondam
cepat membacokkan goloknya ke tubuh Ki Rangun tanpa ada rasa kasihan sedikit
pun.
Crass, crasss!
"Aaakh...!" Ki Rangun ayahnya Nyi Ranti tewas seketi- ka. Darah pun
membasahi lantai rumah orang tua itu. Sementara Gondam dan anak buahnya terta-
wa-tawa puas sambil melangkah pergi, melangkahi mayat Ki Rangun.
Lolong anjing hutan tiba-tiba
terdengar melengking, menyibak suasana malam yang sepi dan mencekam. Sehingga
menambah keadaan di seki- tar rumah ayahnya Nyi Ranti nampak mencekam.
* * *
Esok harinya, Nyi Ageng dengan
wajah ra- mah memberi surat palsu pada Nyi Ranti yang sedang berada di kamarnya.
"Adik Ranti, ada surat
untukmu. Nampaknya seperti dari ayahmu...," kata Nyi Ageng, lembut Dan Nyi
Ranti menerimanya dengan agak ragu. Dipandanginya surat itu sejenak, lalu dibu-
kanya perlahan.
Nyi Ranti segera membaca isi surat
palsu itu. Dan wajahnya pun mendadak berubah tegang. Seketika matanya
berkaca-kaca.
"Ada berita apa, Dik
Ranti...?" tanya Nyi Ageng, pura-pura ikut kaget dan cemas sambil memegang
bahu Nyi Ranti.
"Ayahku sakit keras. Dan aku
disuruh sege- ra pulang...," jelas Nyi Ranti, dengan suara lemah. Air
matanya mulai berlinang.
"Lantas... apakah adik akan
pulang juga...?" Tanya Nyi Ageng. Wajahnya dibuat sedemikian ru- pa, agar
nampak benar-benar sedih.
Nyi Ranti yang lugu tak mengerti
kalau se- mua itu adalah rencana Nyi Ageng dan antek- anteknya. Wanita itu
malah terus menangis sambil memeluk Nyi Ageng. Dan Nyi Ageng sendiri terse-
nyum puas, merasa menang. Karena, rencananya sebentar lagi akan berhasil!
"Sudahlah jangan terus
menangis, kakak bersedih. Biar kakak yang mengantarmu, Ranti...," kata Nyi
Ageng berpura-pura berbaik hati.
"Tak usah, Kak.... Nanti
Kakang Panji akan marah kalau di rumah tidak ada siapa-siapa," ujar Nyi
Ranti dengan isak tangisnya. Lalu dilepasnya pelukan pada Nyi Ageng.
Nyi Ageng merasa lega. Ditariknya
napas panjang. Sebab kalau saja Nyi Ranti menyetujui, tentunya Nyi Ageng
sendiri yang jadi repot. Bisa- bisa rencananya gagal.
"Baiklah, kalau itu maumu. Kau
harus se- gera pulang. Nampaknya sakit ayahmu cukup be- rat, Ranti. Nanti kalau
Kakang Panji pulang, kakak akan sampaikan berita duka ini."
Pada saat itu, muncul Raden Kowara
atau Sengkala Sekti. Lelaki itu pura-pura kaget melihat Nyi Ranti menangis.
"Ada apa rupanya ini...?
Ranti, Ageng...?!" tanya Raden Kowara sambil mengerutkan kening.
"Tidak ada apa-apa, Paman.
Ayahnya Nyi Ranti sakit keras. Dan dia harus segera pulang," tutur Nyi
Ageng.
"Ya, Gusti.... Kasihan. Jadi,
kau akan pu- lang hari ini juga, Ranti...?" tanya Raden Kowara kalem.
"Ya, Paman Kowara...," jawab Nyi Ranti le- mah, diiringi isak
tangisnya.
"Baiklah. Kalau begitu, aku
perintahkan Mang Jarot mengawalmu nanti," kata Raden Ko- wara.
Raden Kowara lalu menyuruh seorang
punakawan yang ada di ruangan untuk memanggil Mang Jarot.
Tak beberapa lama, punakawan tadi
kemba- li bersama Mang Jarot. "Raden memanggilku?" tanya Mang Jarot,
setelah memberi hormat pada Nyi Ageng dan Raden Kowara.
"Mang Jarot, tolong kawal adik
maduku pu- lang. Ayahnya sakit keras," ujar Nyi Ageng.
Wajah Mang Jarot yang mendengar itu
nampak berubah. Dia kaget dan ada rasa tidak percaya mendengar ucapan Nyi
Ageng. Karena be- lum beberapa lama, Mang Jarot menemui ayahnya Nyi Ranti. Dan
ternyata keadaan Ki Rangun sehat- sehat saja.
"Aneh...?! Rasanya...,"
gumam Mang Jarot lirih seperti bicara pada diri sendiri.
"Ada apa, Mang? Kelihatannya
kau..." "Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut men- dengar berita ini.
Tapi, apa sebaiknya menunggu Raden Panji dulu, Nyi...?" potong Mang Jarot
men- gusulkan.
"Tidak usah, Mang. Kakang Mbok
akan me- nyampaikan pada Kakang Panji, nanti. Dan aku tak ingin ayah menunggu
lebih lama.... Aku kha- watir...," Nyi Ranti tak meneruskan ucapannya. Air
matanya kembali membasahi pipi. Tangannya mengusap-usap lembut perutnya yang
sudah be- sar.
Nyi Ageng segera memeluknya sambil
ber- pura-pura ikut menangis.
Mang Jarot hanya bisa menuruti apa
yang telah diucapkan Nyi Ranti. Apalagi kecurigaannya juga tak ingin
ditampakkan di mata Raden Kowara dan Nyi Ageng.
Namun tiba-tiba, Raden Kowara yang
mera- sakan gerak-gerik dan perubahan wajah Mang Ja- rot, tahu. Bibirnya lantas
tersenyum.
"Oh, ya. Aku lupa... Panji
berpesan padaku, bahwa Mang Jarot harus ada di rumah dan tidak boleh pergi ke
mana-mana, sebelum dia datang...."
Kening Nyi Ageng berkerut pura-pura
kaget. Sementara kecurigaan Mang Jarot semakin besar. Namun lelaki ini tak
berani berkata apa-apa, hanya dapat menahan kesal dan kasihan pada Nyi Ranti
yang dalam keadaan hamil tua itu.
"Apakah Paman Kowara tidak
salah?! Nyi Ranti adik maduku ini harus ada yang mengawal. Kalau Mang Jarot
tidak boleh mengantar, lalu sia- pa?" kata Nyi Ageng dengan nada agak
tinggi, sea- kan menentang Raden Kowara.
"Ada pengganti Mang Jarot, si
Jawara Bako- ra. Aku bisa menyuruhnya...," jawab Raden Kowa- ra tegas. Nyi
Ageng pura-pura berpikir keras. Lalu kepalanya mengangguk tanda setuju.
"Baik kalau begitu. Dan aku
hanya minta Paman Kowara memberi wejangan pada Bakora, agar selalu waspada. Aku
tidak ingin ada apa-apa terhadap Ranti...," kata Nyi Ageng tegas.
"Itu sudah tentu,
Ageng...," jawab Raden Kowara tegas. "Mang Jarot, kalau begitu tolong
panggilkan Bakora. Dan tolong siapkan segala sesuatunya."
Sementara itu, Nyi Ranti melangkah
ke ruangan lain. Dan Mang Jarot disertai rasa berat dan kasihan terhadap Nyi
Ranti, meninggalkan ruangan itu dengan bimbang.
Sedangkan Nyi Ageng dan Raden
Kowara saling melirik dan senyum penuh arti.
* * *
Tandu yang membawa Nyi Ranti
bergegas melalui jalan di pinggir hutan sepi. Bakora, jawara bertampang angker,
dan berbadan tinggi besar, dengan gagahnya berjalan di sisi tandu. Tangan
kanannya tampak menggenggam kelewang besar.
Dua orang terus menggotong tandu
dengan hati-hati, menelusuri jalan di pinggir hutan itu.
Udara siang itu, tak begitu panas. Angin
semilir bertiup menerpa wajah-wajah mereka, hingga sedikit sejuk. Namun
keringat para tukang tandu tetap bercucuran. Sementara Nyi Ranti yang ada di
dalam tandu nampak cemas. Matanya tam- pak masih berkaca-kaca. Dan kedua
tangannya memegangi perutnya yang hamil.
Ketika sampai di dataran yang agak
luas di dalam hutan, tiba-tiba terlihat sesosok tubuh tegap berkelebat gesit di
antara pepohonan, mengi- kuti iringan tandu itu. Gerakannya begitu cepat terus
membayangi perjalanan tandu. Tak seorang pun yang mengetahuinya.
"Hm...?!" gumam jawara
yang bernama Ba- kora. "Nampaknya angker juga hutan ini. Bulu kudukku
tiba-tiba berdiri...!" Kedua mata Bakora yang besar dan garang, menyapu
sekeliling tempat.
Dan tiba-tiba pula, Bakora
memerintahkan untuk berhenti. "Berhenti dulu...!"
Bakora lalu mencabut kelewangnya.
Di- hampirinya tandu, dan dibuka tutupnya.
Nyi Ranti jadi kaget bukan main
ketika me- lihat Bakora yang tampak menyeringai. Mata Ba- kora yang nakal
menyapu tubuh Nyi Ranti penuh nafsu.
"Ohh...?!" pekik Nyi
Ranti ketakutan, sambil memegangi perutnya dan beringsut ke belakang.
"Heh heh heh... cantiknya
seperti bidadari. Tapi sayang, sedang hamil tua! He he he...! Sepu- luh ringgit
buat kepala yang begitu molek, rasanya terlalu murah! Nyi Ageng betul-betul
keterlaluan pelitnya! Ya, apa boleh buat? Rejeki tidak boleh di-
tolak...!" ucap Bakora sambil terus matanya me- mandang penuh nafsu ke
arah Nyi Ranti.
Namun kemudian, Bakora mengangkat
ke- lewangnya. Dan ini membuat Nyi Ranti semakin ketakutan.
"Aaakh...!"
Saat yang mendebarkan dan gawat,
tiba- tiba.... Crasss!
"Aaawww...!" Sebuah
sabetan golok sosok yang berpa- kaian biru tua nyaris membuat bahu Bakora pu-
tus. Dan sosok yang tadi terus mengikuti tandu langsung berkelebat, kembali,
menyerang Bakora.
Bakora berteriak kesakitan dan
terus me- lompati mundur. Sosok lelaki yang bagian mukanya tertutup topeng kain
biru itu tak memberi kesempatan pada Bakora. Langsung dilancarkannya sebuah
tendangan berantai, membuat Bakora tak dapat mengelak.
"Heaaat...!"
"Aaaa...!" Bakora kembali menjerit. Tubuhnya terpental beberapa
tombak ke belakang, langsung mem- bentur pohon besar.
Brakkk! Bakora setengah kelenger.
Sedangkan orang berkedok kain biru kemudian menghampiri jawara yang masih
terduduk dengan wajah pucat dan berkeringat. Sebentar saja, kedoknya dibuka.
Ba- kora kontan kaget, dengan mata terbelalak.
"Hah...?! Mang Jarot?! Am...
ampuuun, Mang...!" ratap Bakora yang berbadan seperti rak- sasa itu sambil
menyembah Mang Jarot
Sementara itu, para pengusung tandu
yang memang tak memiliki ilmu silat hanya mampu berdiri terlongong. Mereka
seperti terpaku, tak ta- hu harus berbuat apa.
Mang Jarot rupanya sudah tak bisa
lagi memberi ampun pada manusia macam Bakora. Hanya karena uang sepuluh ringgit
dia sampai tega akan membunuh Nyi Ranti. Maka dengan wajah geram, goloknya
diangkat ke atas. Dan....
Crasss! "Aaaa...!" Maka
putuslah kepala Bakora tertebas go- lok Mang Jarot. Kepalanya langsung
menggelind- ing di tanah berumput dan berbatu yang kini di- banjiri darah. Mang
Jarot lalu dengan tenang mengelap goloknya dengan dedaunan. Lalu cepat melangkah
mendekati tandu.
"Nyi Ranti... ?!" tegur
Mang Jarot sambil menghormat
"Ooh... Gusti.... Kau, Mang
Jarot.... Terima kasih, Gusti.... Kau telah mengirim penolong un-
tukku...," desah Nyi Ranti dengan sangat lega. Namun dia masih nampak agak
gugup dan geme- tar.
"Tenang, Nyi. Tenang, Iblis
itu telah kule- nyapkan...," kata Mang Jarot sambil berusaha me- nenangkan
Nyi Ranti.
Perlahan-lahan Nyi Ranti mulai bisa
tenang. Sementara itu, para pengusung tandu juga nam- pak lega. Mereka berdiri
di samping tandu.
"Mang.... Bagaimana Mang Jarot
bisa tahu apa yang akan dilakukan mereka terhadapku?" tanya Nyi Ranti
setelah hatinya tenang.
"Aku sudah tahu rencana busuk
Nyi Ageng dan Raden Kowara," jelas Mang Jarot.
Nyi Ranti jadi kaget mendengar
penjelasan Mang Jarot. Kepalanya menggeleng perlahan. Dan air matanya mulai
mengembang di kelopak ma- tanya. Wanita muda yang cantik itu nampak begi- tu
pedih dan memelas.
Mang Jarot jadi iba melihatnya.
Dihelanya napas panjang. Sesaat keduanya tak berkata apa- apa.
"Mang.... Lalu, bagaimana
keadaan ayahku sebenarnya? Mungkin Mang Jarot tahu...?" tanya Nyi Ranti,
seakan mempunyai firasat tak enak.
Mang Jarot tidak langsung
menjawabnya. Lelaki setengah baya itu nampak agak kebingungan ditanya seperti
itu. Karena jika dikatakan yang sebenarnya, pasti hati Nyi Ranti semakin
terpukul. Apalagi saat ini Nyi Ranti sedang hamil tua. Na- mun jika tidak, akan
bertambah buruk akibatnya. Akhirnya....
"Aku mohon Nyi Ranti tabah
menerima beri- ta ini...," sejenak Mang Jarot menatap wajah Nyi Ranti yang
memelas itu. "Ayahnya Nyi Ranti tewas setelah dipaksa untuk menandatangani
surat pal- su itu...."
"Oooh!" pekik Nyi Ranti
kaget bukan main mendengar berita dari Mang Jarot
Wanita itu menangis tersedu-sedu.
Jari-jari tangannya meremas kuat-kuat kain tandu.
Mang Jarot yang melihat itu,
mendekat dan berusaha memegangi Nyi Ranti. Dia takut kalau- kalau Nyi Ranti tak
sadarkan diri. "Maafkan aku, Nyi." Nyi Ranti masih terus menangis
tersedu- sedu. Begitu pilu hatinya saat ini.
"Aku telah mengorek keterangan
dari salah seorang anak buah Gondam, kepala garong yang diupah Nyi Ageng dan
Raden Kowara. Sekarang, sebaiknya kau kuantar ke Raden Panji di Raja- mandala.
Beliau masih beberapa hari di sana," ka- ta Mang Jarot setelah menenangkan
Nyi Ranti.
Nyi Ranti tak menjawab. Wajahnya
lesu. Air matanya tak bisa dibendung, dan terus membasa- hi pipinya yang halus
dan mulus. Wanita muda ini hanya menganggukkan kepala perlahan.
"Ayah.... Mengapa begitu
malang nasibmu. Semua ini gara-gara anakmu ini. Aku yang bersalah dan berdosa,
Ayah. Maafkan aku.... Oh, Gusti. Beri aku kekuatan. Juga, lindungi bayi dalam
kandunganku ini," desah Nyi Ranti.
Sementara itu hari mulai menjelang
senja. Para pengusung tandu mulai melanjutkan perjalanan membawa Nyi Ranti agar
sampai tujuan sebe- lum hari gelap. Mereka dikawal Mang Jarot
5
"Kasihan Mang Jarot, dia
begitu setia. Gara- gara melindungi aku dan bayi ini, dia harus men- gorbankan
nyawanya!" kata Nyi Ranti, mengakhiri ceritanya.
"Kebanggaan seorang pendekar
sejati, ada- lah rela berkorban demi menolong orang lemah. Itulah suatu kehormatan
yang tidak bisa dijual," tandas Pendekar Gila, terbawa suasana haru men-
dengar cerita Nyi Ranti.
Sementara itu di luar, beberapa
sosok bayangan tampak mengendap-endap mendekati pondok Ki Oji yang ditinggali
Nyi Ranti dan Pende- kar Gila. Dan pendengaran Sena yang sangat peka,
mengetahui kalau ada bahaya. Pendekar Gila sege- ra waspada. Sementara sang
bayi yang sejak tadi diam, tiba-tiba menangis. Nyi Ranti berusaha mendiamkan.
Diusap-usapnya bayi itu. Namun bayi itu tidak langsung diam.
Sena merasakan detak jantung Nyi
Ranti semakin lemah, ketika bayinya mulai diam. Pendekar Gila mendekati,
menatap wajah wanita mu- da yang cantik itu agak lama. Dan perasaannya pun agak
tak tenang.
Tiba-tiba Nyi Ranti memegang lengan
Sena. "Tolong selamatkan bayiku dari tangan ja- hat..," pinta Nyi
Ranti. Suaranya terdengar lemah sekali. Matanya sudah mulai semakin sayu,
seperti orang ngantuk.
Tiba-tiba saja kepala Nyi Ranti
tergolek ke sisi. Dan napasnya pun terhenti. Sena langsung tertunduk sedih....
"Nyi... Ranti...?! Oh, Hyang
Widhi...! Tolong jangan ambil dia...," gumam Sena lirih. Perlahan- lahan
tangan Nyi Ranti diletakkan bersilang di da- danya yang terluka.
"Tenangkanlah jiwamu, Nyi
Ranti. Aku ber- janji akan melindungi bayimu ini, sampai ke tan- gan
ayahnya."
Sementara itu, muncul Ki Oji yang
baru ke- luar dari kamarnya, karena mencium bau asap yang membuatnya mual.
Laki-laki setengah baya itu lalu berlari ke dapur. Langsung dia sadar akan
penyebabnya. Maka segera diangkatnya kuali beri- si obat ramuan itu.
Tepat pada saat itu, sesosok
bayangan se- dang mengintai melalui celah-celah jendela dapur. Dan seketika
kepalanya merunduk ke bawah, keti- ka jendela dibuka Ki Oji. Dan seketika air
obat ra- muan itu dibuang Ki Oji, dan tepat menyiram mu- ka pengintai, yang
justru sedang mendongak.
Byurrr...! Karena pada saat yang
sama mulut orang itu sedang menganga, maka tertelanlah air ramuan obat itu.
Sesaat dia terbengong, namun tiba-tiba tersentak dan melintir-lintir di tanah.
Dan sebelum dia mampu berteriak, seseorang telah cepat men- dekap mulutnya.
Sementara itu, Sena atau Pendekar
Gila masih menunggui Nyi Ranti yang sudah meninggal dunia. Namun telinga
pendekar muda itu tetap waspada, siap menghadapi apa yang akan terjadi. Dan
Pendekar Gila nampak seperti acuh akan ke- jadian di dapur. Sena mendengar
suara-suara ke- matian di sana. Dia yakin, Nyi Oji yang menjadi korbannya.
Demikian pula Ki Oji.
Sena mulai tak sabar. Dia merasakan
kalau dirinya bersalah membiarkan Ki Oji dan Nyi Oji ja- di korban. Tiba-tiba
saja, Pendekar Gila bergerak ke dekat dinding. Dan dengan gerakan cepat pula,
tangan kanannya menghantam dinding bilik. Maka seketika itu pula, terdengar
pekik kematian. Dan darah segar muncrat ke dinding.
"Aaa...!" Sesosok tubuh
itu roboh terjengkang. Di luar sosok bertubuh kekar yang menden- gar jeritan,
menjadi kaget. Segera diisyaratkan anak buahnya mengepung pondok.
"Bakar...!" perintah
sosok yang ternyata Gondam dengan mata melotot lebar.
Segera beberapa anak buah Gondam
lang- sung menyulut obor dari bambu. Kemudian dilem- parkannya ke arah pondok.
Sekejap api berkobar, membakar pondok Nyi Oji.
Sementara di dalam pondok itu,
Pendekar
Gila segera meraih bayi yang
terbungkus kain.
"Maafkan, Ranti.... Aku
terpaksa mening- galkanmu...," gumam Sena, penuh kesedihan. Tapi itu harus
dilakukan, demi menyelamatkan bayi itu. Dengan hati berat, Sena meninggalkan
mayat Nyi Ranti, Ki Oji, dan Nyi Oji menerobos kepungan api sambil menggendong
bayi.
"Aku harus menerobos kepungan
setan- setan laknat itu, sebelum aku jadi ikan bakar di sini!" gumam Sena.
Gondam dan kawan-kawannya terus
men- gepung pondok itu dengan ketat. Dan tiba-tiba sa- ja dari atap yang
terbakar melesat satu sosok, membuat para bajingan jadi tertegun. Setelah ber-
putaran beberapa kali, sosok yang keluar dari pondok itu turun di tengah
pelataran. Lengan ki- rinya tampak mendekap bayi yang terbungkus ra- pat-rapat.
Sedangkan tangan kanan sosok yang tak lain Pendekar Gila ini menggenggam Suling
Naga Sakti yang mempunyai keampuhan luar bi- asa.
Empat anak buah Gondam menyerang
Sena dengan senjatanya. Namun dalam sekejap saja, keempat orang itu ambruk
dengan kepala retak. Sungguh cepat gerakan Pendekar Gila. Sehingga sebelum ada
yang menyadari, dia telah melancar- kan serangan. Dan Godam yang melihat itu
kaget.
"Setan Alas! Manusia atau jin,
pemuda itu...?!" gumam Gondam sambil menghunuskan goloknya. "Kalau
bayi itu masih hidup, kepala kita semua yang akan jadi tumbal. Ayo, habisi
setan itu...!"
"Seribu batok kepala macam
kalian, tak ada harganya dibanding sehelai rambut di kepala bayi ini!"
seru Sena dengan nada mengejek!
Gondam dan anak buahnya langsung
me- nyerbu Pendekar Gila dengan ganas. Namun gesit dan tangkas sekali pemuda
itu dapat mengelakkan semua serangan. Dan tubuhnya kini melenting ke udara, dan
secepat itu pula melancarkan serangan balik yang cepat lewat tendangan dan
hantaman Suling Naga Saktinya.
Desk! Desk! Prakk! Prakkk!
"Aaakh...!" Jeritan terdengar susul-menyusul dari anak buah Gondam.
Mereka kontan roboh dan tak ber- gerak lagi. Kedua mata Gondam jadi terbelalak
le- bar. Dia kaget dan mulai ngeri.
"Edan! Pemuda ini
jangan-jangan turunan hantu!" gumam Gondam dengan wajah terben- gong.
Mendadak pada saat itu sebuah
tendangan kilat meluncur ke arah dada Gondam. Begitu cepat gerakan Pendekar
Gila, sehingga laki-laki itu tak sempat menghindarinya. Dan....
Desss...! "Aaakh...!"
Telak sekali tendangan Pendekar Gila menghantam dada Gondam, hingga terjengkang
ke belakang Gondam mengerang kesakitan. Dia tak lagi melawan Pendekar Gila,
karena sudah merasa ngeri. Maka setelah memberi aba-aba pada anak buahnya, dia
segera kabur.
Sena tak mengejar, membiarkan
mereka kabur. Ditariknya napas dalam-dalam. Kemudian kepalanya menoleh ke arah
pondok yang terbakar nyaris musnah.
"Sungguh menyedihkan nasibmu,
Ranti. Maafkan aku.... Hyang Widhi, terimalah arwah Ranti di sisi-Mu...,"
gumam Sena. Pendekar Gila lalu menunduk, memandangi bayi dalam gendon- gannya.
Bayi itu seakan mengerti, diam tak me- nangis lagi. Malah sudah tertidur dalam
gendon- gan Sena. Sepertinya, bayi itu merasa aman ber- sama Pendekar Gila.
Sena tersenyum, jari tangan kirinya
mengu- sap perlahan pipi bayi itu, lalu meninggalkan tem- pat dengan langkah
perlahan. Api masih berkobar bagai berada di neraka.
Malam semakin sunyi. Pendekar Gila
sudah jauh meninggalkan pondok yang kini semakin ha- bis terbakar.
* * *
Pagi itu tampak cerah. Nampak di
bawah pohon rindang, seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular duduk bersila
sambil bersandar. Di pangkuannya, tampak bayi terbungkus kain lu- suh, sedang
menangis. Pemuda tampan berpa- kaian kulit ular itu mencoba mendiamkan, namun
si jabang bayi tetap saja menangis.
"Cup, cup, cup.... Kau lapar,
ya...?" tanya pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain
Sena Manggala atau Pendekar Gila.
Sena nampak kebingungan. Kedua
matanya segera menyapu ke sekitarnya.
"Nah, di sana kelihatannya ada
desa. Yuk, kita ke sana...," kata Sena bicara pada bayi dalam pangkuannya.
Bayi itu tiba-tiba berhenti
menangis, mem- buat Sena mulai lega. Segera Pendekar Gila beran- jak dari
tempatnya, dan dengan cepat berlari me- nuju arah barat, ke arah sebuah
perkampungan kecil yang sudah kelihatan.
Berkat ilmu meringankan tubuh yang
su- dah sangat tinggi, dalam sekejap Pendekar Gila sudah sampai di sebuah
perkampungan yang nampaknya penuh kedamaian. Sena menyusuri ja- lan setapak
mencari-cari kedai di kampung ini.
"Mudah-mudahan ada kedai minum
di sa- na...,' gumam Sena, sambil melangkah.
Tiba-tiba bayi itu menangis lagi,
membuat Sena kaget. Dicobanya mendiamkan dengan segala cara namun bayi yang
rupanya sudah haus dan lapar itu terus saja menangis. Sena terus berusaha
menidurkannya sambil terus mencari kedai.
"Celaka! Rupanya kau mulai
lapar, ya? Sayang aku tidak punya susu. Tak sabar, ya Adik Manis...! Kau pasti
minta susu...," ujar Sena sam- bil tertawa-tawa sendiri mirip orang gila.
Pendekar Gila berusaha
menghilangkan ra- sa ketegangannya dengan berdendang-dendang. Dan pada saat
itu, tiga orang gadis desa dari arah berlawanan muncul menuju ke Sena yang
sedang berdendang sambil menimang bayi.
Ketiga gadis yang nampaknya baru
pulang dari sungai, jadi geli melihat Pendekar Gila. Dan pemuda itu lantas
berhenti, ketika ketiga gadis de- sa ini sampai di dekatnya. Sena langsung
mengha- dang ketiga gadis itu.
"Dik. Dik... maaf. Boleh aku
minta tolong?" tanya Sena sambil menggoyang-goyang bayi itu perlahan.
Ketiga gadis itu tak langsung
menjawab. Mereka malah tertawa-tawa sambil memandangi Sena.
"Lho, kok malah tertawa?
Memangnya lu- cu...?" tanya Sena sedikit kesal.
"Hm.... Bayi siapa itu?"
tanya salah seorang gadis diiringi tawa lebar.
"Ke mana ibunya! Dia tentu
lapar," sahut gadis yang berbadan langsing dan berparas lu- mayan.
Rambutnya panjang hampir sampai pan- tatnya, dengan kulit hitam manis.
"Barangkali sakit.
Kasihan," tambah gadis yang bertubuh agak gemuk, sekal sambil senyum-
senyum. "Hm.... Tolong kalian susui dia!" kata Sena seenaknya, asal
nyeplos. Sehingga membuat ketiga gadis itu kaget, dan kembali tertawa-tawa
geli.
"Lho...?! Kenapa kalian
tertawa? Bukankah kalian bisa menyusui bayi ini. Dan kalian tadi bi- lang
kasihan, bukan...?" kata Sena lugu.
"Mana mungkin? Kami ini masih
perawan, kok. Hi hi hihi...," kata gadis berambut panjang dan bertubuh
langsing.
Sementara itu, orang lain yang
lewat begitu saja, terus memandangi Sena dan ketiga gadis itu.
"Oh, ya. Mbak Tarsih kan juga
punya bayi? Dia tentu mau...," sahut gadis berbadan agak ge- muk sambil
mencolek bahu gadis yang bertubuh langsing.
"Ya. Sebaiknya kita antar ke
rumah Mbak Tarsih saja. Mungkin dia mau menyusui bayi ini. Kasihan...,"
sambar gadis yang bermata bulat
"Oh! Jadi, kalian mau antar
aku ke tempat orang yang bisa menyusui...?" tanya Sena, dengan wajah
cerah.
Ketiga gadis itu mengangguk
berbarengan sambil tertawa geli, melihat tingkah Sena. Kemu- dian kakinya
melangkah mendahului Sena. Dan Pendekar Gila pun segera mengikuti.
"Kau akan dapat susu banyak
nanti, Adik Manis. Cup cup cup... bah...."
Sena menghibur si bayi. Dan bayi
itu ter- nyata mendadak diam, tak nangis lagi, sehingga membuat pemuda itu
senang.
Setelah berada di luar perkampungan,
Pen- dekar Gila melihat sebuah rumah agak terpencil dari penduduk lainnya. Di
beranda rumah yang nampak bersih, duduk seorang wanita berusia se- kitar dua
enam tahun. Dia sedang menyusui anaknya yang usia dua tahun.
Dan ketiga gadis tadi segera
mendekati wa- nita itu "Mbak Tarsih, tolonglah. Kasihan bayi itu tidak ada
ibunya...," pinta gadis berambut pan- jang.
"Ya, Mbak. Bayi itu tadi terus
menangis... mau kan Mbak?" tambah wanita berbadan agak gemuk sambil
memegang bahu Tarsih.
"Tentu saja. Apa salahnya kita
menolong- nya.... Suruh pemuda itu kemari...," kata Tarsih, senang hati.
Lalu anaknya yang sudah tertidur di- letakkan di atas sebuah tikar usang, namun
ber- sih.
Salah seorang gadis lalu memanggil
Sena dengan lambaian tangan. Dan Pendekar Gila nam- pak lega dan gembira.
Wajahnya yang tampan, membuat ketiga gadis itu saling bisik dan terse-
nyum-senyum penuh arti. "Mari, bawa sini...," ujar Tarsih pada Sena.
"Oh... terima kasih, terima ka- sih, Nyi...," kata Sena segera
memberikan bayi pa- da Tarsih.
Kemudian Tarsih segera menyusui
bayi itu. Sementara Pendekar Gila segera berpaling dan me- langkah mendekati
ketiga gadis yang hendak pergi. "Aku sangat berterima kasih pada
kalian.... Semoga cepat dapat jodoh, dan bisa menyusui. He he he...," ucap
Sena bernada canda dan bertingkah seperti orang gila.
"Ha ha ha hi hi...."
Ketiga gadis itu jadi tertawa-tawa geli. Ru- panya mereka senang dengan ucapan
Sena. Dan mereka segera berlalu sambil terus tertawa-tawa genit.
Sementara itu Tarsih memandangi
sampai mereka hilang ditikungan. Kepalanya menggeleng- geleng sambil tertawa.
Sena melirik ke belakang sejenak.
Tampak Tarsih masih menyusui bayi. Dan Pendekar Gila cepat berpaling lagi ke
arah semula, lalu duduk di sebuah lesung. Dia menunggu sampai Tarsih selesai
menyusui bayi itu.
"Masih merah begitu sudah
ditinggal ibunya. Cerai?" tanya Tarsih pada Sena.
Sena yang mendengar pertanyaan
Tarsih jadi gugup dan kebingungan. Kepalanya digaruk- garuk sambil cengengesan.
"Suami istri cekcok itu lumrah!
Biasa...," tambah Tarah lagi, polos dan gamblang, sebelum Sena dapat
menjawab.
Sena semakin bingung. Tapi....
"Ibunya, ibunya baru saja... meninggal, Nyi...," jawab Sena, dengan
suara agak tertahan.
"Hah...?! Kasihan. Ya, Gusti.
Laki-laki tak bisa mengurus bayi. Sudah berikan padaku saja, ya...?" kata
Tarsih semangat
"Dia keponakanku, Nyi. Akan
kubawa kepa- da ayahnya," kata Sena.
Tarsih manggut-manggut, tanda mulai
mengerti. Sambil memandangi Sena dengan me- nyipitkan kedua mata, Tarsih
berusaha menyelidik kebenaran ucapan Sena.
"Oh, iya. Apakah Rajamandala
jauh dari Nyi...?" tanya Sena tiba-tiba.
Pada saat itu, Tarsih sudah selesai
menyu- sui. Dan bayi itu kini tidur.
"Lumayan jauh! Lewat bukit
sebelah sa- na...," jawab Tarsih sambil menunjuk ke satu arah, di mana
kejauhan terbentang bukit yang nampak angker. Lalu diberikannya bayi itu pada
Sena.
"Terima kasih, Nyi. Ini
sekadar tanda terima kasihku padamu...," ucap Sena sambil menerima bayi
itu dan memberikan kepingan uang pada Tar- sih.
"Tak usah. Air susuku tak
diperjualbelikan. Simpanlah uang itu, Kisanak. Aku dengan tulus memberikan
susuku pada bayi itu," tolak Tarsih, polos.
"Sungguh mulia hatimu. Semoga
Hyang Wi- di memberi rejeki berlimpah padamu," kata Sena. "Kalau
begitu terima kasih, Nyi. Permisi...."
Tarsih menganggukkan kepala
disertai se- nyum lebar. Wajahnya nampak menunjukkan ke- sabaran yang besar.
Sena mengangguk memberi hormat,
lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Dan Tarsih pun memandangi kepergian
Se- na dengan senyum penuh arti.
"Jarang ada pemuda seperti
dia. Dan baru kali ini aku menemukan pemuda gagah, tampan mau membawa-bawa bayi
ke tujuan yang jauh," gumam Tarsih.
Sementara itu Sena sudah jauh
berjalan. Langit kembali mulai memerah, pertanda akan da- tang senja.
* * *
Di dalam sebuah pondok yang
terletak di atas bukit, nampak seorang kakek tua berpakaian serba putih
berlengan panjang lebar duduk bersila di atas batu besar berbentuk bulat telur.
Di depannya, tampak seorang gadis
berpakaian serba hijau. Kepalanya memakai ikat warna hijau pula. Dan gadis itu
sedang berlatih silat. Ge- rakannya agak kaku, sehingga sering mengulang- ulang
gerakan pertamanya. Keringat membasahi muka dan bagian tubuhnya yang lain.
"Kau tak akan bisa secepat itu
melakukan ilmu silat, Marni. Paling tidak, orang macam kau harus tiga atau lima
tahun, baru bisa menyerap ilmu yang kuberikan," kata kakek berambut pan-
jang sebahu, berwarna putih bagai kipas. Kedua matanya masih tajam menatap ke
arah gadis yang ternyata Sumarni.
Sementara Sumarni nampak jadi kesal
dan putus asa mendengar kata-kata itu. Dan memang, Sumarni baru empat bulan
berlatih, sejak lari dari Sena yang ketika itu menolongnya dari maut. Dan
laki-laki yang dikenal bernama Ki Ramulan adalah kakeknya sendiri.
"Kau termasuk cucuku yang
paling malas belajar ilmu silat. Lain dengan Retno saudara se- pupumu, yang
ikut aku sejak berumur lima tahun. Kini, dia sudah menguasai ilmu-ilmu silat
yang cukup tinggi," kata Ki Ramulan.
Dan pada saat itu, dari pintu
pondok yang semuanya terbuat dari kayu-kayu hutan dan bera- tapkan daun kelapa,
muncul seorang wanita yang masih muda. Parasnya yang cukup cantik, bertu- buh
padat. Sorot matanya sedikit tajam. Dia me- makai pakaian silat ringkas
berwarna ungu. Ram- butnya yang panjang melewati bahu diikat kain warna ungu
pula.
Perempuan muda itu memberi hormat
pada
Ki Ramulan.
"Maaf aku terlambat,"
ucap wanita muda itu dengan suara lembut
"Hm.... Duduk, Retno,"
terdengar suara Ki Ramulan berat berwibawa.
Sementara itu, Sumarni menyusut
keringat dengan kainnya.
"Bagaimana? Nampaknya Kakak
begitu se- mangat. Aku senang sekali kalau Kakak terus tinggal bersamaku di
sini," kata Retno dengan pe- nuh manja.
"Tentu, Retno. Tapi aku
rasanya masih ha- rus menunggu lama, agar cita-citaku untuk mem- balas dendam
pada Sengkala Sekti yang telah membunuh kedua orangtuaku...," kata Sumarni
serak.
"Dendam bukan jalan yang
terbaik, Marni. Jangan mendendam pada seseorang walau dia pernah menyakiti
hatimu. Yang penting sekarang kau harus sering berlatih. Lupakan dulu dendam-
mu," ujar Ki Ramulan penuh wibawa
"Biar aku yang membalas, Kak.
Aku pun memiliki sakit dan dendam sepertimu. Tentunya kau lebih tahu. Untuk
itu, ijinkanlah aku pergi, kakek guru," kata Retno dengan suara sedikit
lan- tang.
"He he he.... Cucuku yang satu
ini juga ce- pat naik darah. Sifat seperti itu harus dikurangi Retno. Tapi
persoalanmu memang sama dengan Marni," tutur Ki Ramulan.
Sejenak kakek tua itu menarik napas
da- lam-dalam dan menatap kedua cucunya.
"Khususnya untuk kau Retno.
Aku mengi- zinkanmu untuk menuntut kebenaran dan menye- lidiki atas kematian
saudara kembarmu," tambah Ki Ramulan lagi.
"Tapi aku harus cari orang
itu, Kakek. Me- nurut Mang Jarot ada yang tidak beres dalam ke- luarga Raden
Panji. Mang Jarot banyak cerita pula tentang Nyi Ageng," tegas Retno.
"Betul. Aku pun mendengar dari
Mang Ja- rot, sebelum kejadian mengerikan menimpa kedua orangtuaku. Kita harus
cepat bertindak, agar orang-orang berkedok Raden Kowara bisa dibas- mi,"
tutur Sumarni kemudian dengan nada ketus.
"He he he.... Aku mengerti
perasaanmu, Marni. Tapi aku tak mengijinkanmu untuk bertin- dak saat ini.
Biarlah Retno yang mengatasi persoa- lan ini dengan rencananya. Aku hanya
melindungi dari jauh. Kau harus berlatih lebih giat, Marni," sanggah Ki
Ramulan.
Sumarni menghela napas panjang.
Nampak wajahnya diwarnai kekecewaan yang dalam. Na- mun dia tak berani melawan
nasihat kakeknya. Air matanya mulai mengembang di pelupuk mata.
"Aku dapat mengerti, Kek
Ramulan. Maaf- kan aku...," ucap Sumarni lemah.
6
Setelah naik turun bukit batu,
Pendekar Gila sampai di sebuah daerah yang asing. Daerah itu nampak gersang, bagai
tak berpenduduk. Di sana-sini pepohonan tampak meranggas. Tanah yang dipijaknya
retak-retak.
"Huh...?! Daerah gersang
rupanya! Celaka! Bisa kelaparan dan kehausan bayi ini," kata Sena bicara
pada diri sendiri sambil menggaruk-garuk kepala. "Hoa hoa hoaaaa....!"
Bayi itu mulai menangis. "Cup
cup cup. Diam, Adik Manis.... Panas, ya?" kata Sena coba menenangkan,
namun bayi itu terus menangis bertambah keras.
Tanpa disadari oleh Sena, sepasang
mata tengah mengintai dari balik pepohonan yang ber- daun kering. Sosok
sepasang mata itu terus berge- rak.
Sementara Sena masih nampak
kebingun- gan. Sebisanya mencoba mendiamkan si bayi.
"Wah, bisa kacau!" keluh
Sena sambil menggoyang-goyang dan mengipasi bayi dengan daun pisang yang sudah
mengering.
Saat itu sosok bayangan yang tadi
berkele- bat, cepat terus membuntuti Sena, yang melang- kah menuruni jalan
tanah gersang.
"Oh, ya. Aku masih menyimpan
makanan. Tapi, mana mungkin makanan ketela yang keras kuberikan bayi ini....
Celaka...!" keluh Sena lagi.
Sementara itu, langit yang semula
terang mulai gelap. Dan angin pun bertiup kencang seka- li. Hawa dingin sekejap
menyelimuti daerah ini. Sena yang melihat keadaan kurang menyenang- kan, segera
menggunakan lari 'Sapta Bayu' untuk mempercepat waktu.
Namun pada saat itu, hujan pun
mulai tu- run, membuat Pendekar Gila jadi basah kuyup. Sedangkan sosok bayangan
yang mengikuti Sena, kini menjadi banyak, kira-kira sebelas orang lelaki
berpakaian serba hitam. Sedangkan sepuluh lain- nya berpakaian macam-macam.
Petir dan guntur saling bersautan,
menjadi- kan hari semakin mencekam. Pendekar Gila terus melesat cepat, dan
akhirnya sampai di suatu dae- rah yang agak subur. Namun, dia belum menemu- kan
satu orang pun yang lewat
Dalam hujan, Sena terus melanjutkan
per- jalanan. Dan dia berharap akan cepat menemukan rumah atau gubuk.
"Wah...! Kalau di depan sana
juga tidak ada rumah atau gubuk, matilah aku...!" rutuk Sena.
Dalam jarak agak jauh, sebelas
orang terus mengikuti Pendekar Gila.
Sena dan bayi kini berteduh di bawah
po- hon rindang.
"Lumayan berlindung di
sini," gumam Sena. Pendekar Gila melindungi bayi agar tidak terkena hujan,
dengan kain pembungkus ditutupkan di atas bayi.
Petir menyambar, menimbulkan cahaya
ki- lat terang dalam sekejap. Dan pada saat itu, pan- dangan Sena yang tajam
melihat sebuah bangu- nan tak jauh dari tempatnya berteduh.
"Hah? Ada rumah di
sana...!" seru Sena. Lalu tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Gi- la lesat
pergi menuju arah bangunan yang nampak seperti rumah.
Tapi setelah sampai, ternyata
sebuah kan- dang. Mungkin bekas kandang kambing atau sapi.
"Ah, masa bodoh. Yang penting,
tidak kehu- janan ya, Adik Manis...!" seru Sena bicara pada si bayi.
Pendekar Gila pun segera masuk setelah mendorong pintu dengan kaki kanannya.
Kandang itu lebih mirip gudang.
Namun, dinding-dindingnya yang hanya separo, sudah ba- nyak yang usang. Atapnya
dari sirap kayu.
"Lumayan, Adik Manis. Kita
beristirahat di sini saja, ya?" kata Sena sambil mendekap si bayi dengan
kain. Anehnya si bayi tetap tenang, tak menangis lagi
Sena nampak lega. Dia duduk
bersandar di dinding kayu kandang, dan mulai menutup mata.
Sementara di luar, sosok bayangan
mulai mengepung kandang itu. Dengan berbagai macam senjata di tangan, mereka
siap bertindak.
Pendekar Gila sepertinya tak
mengetahui keadaan di luar kandang. Sikapnya tenang-tenang saja, masih nampak
seperti orang tidur sambil mendekap bayi
Hujan semakin deras jatuh ke bumi.
Gun- tur kembali menggelegar. Angin pun bertiup makin kencang, hingga atap
kandang itu sebagian ter- bang terbawa angin.
Orang-orang di luar kandang mulai
mera- pat. Kemudian salah seorang mendekati kandang, melangkah di tanah becek
sangat hati-hati. Orang yang mendekat itu tiba-tiba melemparkan tom- baknya ke
arah bayi yang ada dalam tangan Pendekar Gila.
Sena yang sebenarnya sudah tahu
sejak ta- di, dengan gerakan kilat merebahkan tubuhnya ke samping. Lalu kaki
kanannya menendang tombak yang melayang di atasnya. Maka, tombak itu ma- lah
berbalik me-luncur ke arah pemiliknya.
Jlep! "Aaaakh...!"
Terdengar teriakan seseorang, dibarengi ambruknya sosok tubuh dengan dada
tertancap tombak. Orang itu kontan menggelepar, lalu tewas seketika itu juga.
Beberapa orang sekaligus menerjang
masuk dengan babatan-babatan golok. Namun Pendekar Gila bergerak lebih cepat.
Tubuhnya berkelebat sambil membabatkan Suling Naga Sakti.
"Heaaa...!" Begitu cepat
gerakan Pendekar Gila, sehing- ga para pengeroyoknya tak ada yang bisa meng-
hindar. "Aaakh...!" "Aaaww...!" "Orang-orang
Keparat..!" seru Sena, lang- sung melompat ke samping, siap menghadapi se-
rangan berikutnya.
Pendekar Gila terus menggendong
bayi, sambil terus bergerak amat cepat Murid Singo Edan itu tak nampak tegang,
tapi malah cengenge- san.
Sementara itu hujan masih terus
turun mengguyur tempat itu.
"Heaaatt...!"
"Kepung pemuda gila
itu...!" seru orang yang berpakaian serba hitam.
Beberapa orang kembali menerjang
Sena. Namun Pendekar Gila cepat berkelit dan menang- kis dengan Suling Naga
Sakti. Bahkan senjata- senjata pengeroyoknya sampai patah jadi dua. Dan dengan
gerakan tak terduga, Sena menghajar em- pat orang sekaligus. Kakinya terus
bergerak sambil berputar mencari sasaran. Tanpa ampun lagi, keempat orang itu
terjengkang dan tak berkutik lagi.
"Hah...?!" Laki-laki
berbaju hitam yang sejak tadi hanya melihat dari luar kandang, mulai kecut ha-
tinya.
"Edan...! Celaka. Lebih baik
aku lari saja!" kata orang itu.
Namun baru saja orang berpakaian
serba hitam itu akan lari, Sena sudah melenting cepat. Dan setelah berputaran
beberapa kali, Pendekar Gila sudah menghadang laki-laki berbaju hitam ini.
"He he he.... Lucu sekali
orang ini. Mau bu- ru-buru ke mana, Sobat...?!" ledek Sena sambil
cengengesan. Segera Suling Naga Saktinya dis- elipkan di pinggang.
"Orang edan! Minggir, sebelum
tubuhmu kucincang!" seru orang berpakaian hitam yang se- bagian wajahnya
tertutup kain hitam.
"Aha! Rupanya kau tukang
jagal. Kebetulan, silakan cincang aku, Sobat. Ha ha ha...!" ejek Sena
dengan tingkah aneh.
No comments:
Post a Comment