Wednesday, May 1, 2019

035 Cinta Pembawa Maut


CINTA PEMBAWA MAUT
Oleh Firman Raharja

1
Di halaman sebuah rumah besar yang mi- rip dengan bangunan padepokan, sore itu tampak ramai sekali. Rumah besar milik seorang sauda- gar kaya raya bernama Bronto Widura itu memili- ki halaman yang sangat luas berupa tanah berpa- sir. Di sekelilingnya tampak terpancang bendera dan umbul-umbul berwarna-warni sebagai peng- hias. Sehingga suasana di bawah sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat itu tampak semarak sekali.
Saat itu rupanya sedang ada pertandingan silat untuk mencoba ilmu serta kepandaian mu- rid-murid Bronto Widura. Saudagar kaya yang ju- ga seorang guru silat itu kedatangan tamu dari Pulau Dewata, yaitu I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Pada saat itu mereka sedang menyaksikan kehebatan I Gusti Kastasudra yang sedang meng- hadapi lima orang murid pilihan dari Perguruan Kumbang Merah.
Nampak I Gusti Kastasudra yang bertubuh agak pendek dan gemuk melenting menghindari serangan lima murid pilihan Perguruan Kumbang Merah. I Gusti Kastasudra yang memiliki ilmu le- bih tinggi tampaknya terlalu tangguh untuk diha- dapi kelima lawannya. Padahal kelima orang ber- seragam merah itu sudah termasuk murid tingkat atas dalam perguruan mereka.

Pimpinan Perguruan Kumbang Merah, Ba- rong Porwa nampak cemas dan geram melihat ke- lima murid pilihannya tak mampu menaklukkan I Gusti Kastasudra yang bertubuh pendek itu.
Beberapa kali terdengar Barong Porwa mendengus kesal sambil memukul-mukul telapak tangannya sendiri. Sementara I Gusti Kumala yang duduk di sisi kirinya tampak tenang tanpa memberi tanggapan apa pun. I Gusti Kumala memang lebih gagah dan tenang daripada I Gusti Kastasudra yang bermuka beringas dan mcnye- ramkan. Pertarungan tampak semakin seru. Bebe- rapa kali gebrakan pada murid dari Perguruan Kumbang Merah dapat diatasi dengan baik oleh pendekar dari Pulau Dewata itu. Bahkan kemu- dian, ketika secara mendadak I Gusti Kastasudra melancarkan serangan cepat kelima lawannya berpentalan dan jatuh ke tanah.
Begitu kelima orang itu roboh, mendadak sesosok bayangan melompat dan bersalto di uda- ra lalu langsung menyerang I Gusti Kastasudra. Lelaki pendek gemuk itu cepat mengelak dengan hanya meliukkan tubuhnya dengan lentur bagai karet, sambil melancarkan serangan balik yang dahsyat. Terjadi lagi pertarungan yang lebih seru. Karena lawan I Gusti Kastasudra sekarang, Ba- rong Porwa sendiri. Pimpinan Perguruan Kum- bang Merah.
"Heaaa...! Kusobek perutmu...!" seru Ba- rong Porwa dengan menghantamkan telapak tangannya yang nampak bergetar dan berasap. Seba- tas pergelangan tangannya menyala bagai bara api. I Gusti Kastasudra dengan tenang terus men- gelak dari serangan Barong Porwa yang ganas dan berbahaya itu. Dia kembali berkelit seperti belut, bahkan terkadang dengan cepat melancarkan se- rangan tiba-tiba. Hal itu membuat Barong Porwa yang memiliki ajian 'Tapak Geni' itu tampak pe- nasaran bukan main.
"Hem! Mampus kau Sudra. Heaaa...!" Kembali Barong Porwa menghantarkan se- rangan cepat. Kini kedua telapak tangannya telah menyala dan mengeluarkan hawa panas. Pada kesempatan berikutnya, hampir saja dada I Gusti Kastasudra remuk dan terbakar oleh sambaran tangan Barong Porwa, kalau tidak cepat bergerak ke samping kiri.
I Gusti Kastasudra lalu melenting ke udara dengan tubuh lurus dan kedua kakinya ditekuk, menghindari serangan susulan lawan yang mele- sat begitu cepat. Lalu dia mendarat di atas tiang umbul-umbul yang terpajang di halaman itu. Ba- rong Porwa yang melihat itu segera melejit mem- buru sambil melancarkan serangan cepat. Saling tangkis dan pukul ketika keduanya berada di udara. Lalu sama-sama meluncur turun sambil mengeluarkan teriakan-teriakan nyaring.
"Benar-benar luar biasa...!" gumam Bronto Widura sambil bergeleng kepala berulang kali. Begitupun semua yang menyaksikan pertarungan hebat itu. Semua penonton berdecak kagum dengan mata tak berkedip. Seolah mereka tak ingin kehilangan barang satu jurus pun dari tontonan menakjubkan itu.
Kaki-kaki keduanya mendarat di tanah hanya sekejap, lalu melompat lagi dan kembali bertarung di udara.
Wuuut! Buk!" Barong Porwa memekik, sambil memegangi dadanya. Lalu berbalik. Sementara itu I Gusti Kastasudra tetap nampak tenang menatap tajam lawannya yang terluka di bagian dada. Sementara I Gusti Kastasudra pun tak luput dari serangan lawan. Bahu kirinya tadi sempat terserempet tan- gan Barong Porwa, hingga terasa bagai terbakar, karena tampak hangus. Namun dengan tiga kali usap saja, luka hangus itu pun hilang. Barong Porwa kaget.
"Edan...! Ajian pamungkasku bisa dile- nyapkan!" gumam Barong Porwa dengan mata membelalak seakan tak percaya.
Tiba-tiba saja Barong Porwa kembali me- nyerang dengan melompat bagai harimau hendak menerkam mangsa. Itulah jurus 'Harimau Be- lang'. Namun I Gusti Kastasudra rupanya sudah mengetahui jurus yang dipakai Barong Porwa. Maka dengan kecepatan yang sulit dilihat semua orang yang ada di situ. Tiba-tiba tubuh Barong Porwa terpelanting. Dan sebelum lelaki berjubah merah itu terhempas di tanah, I Gusti Kastasudra menarik kain putih yang melilit di tubuhnya. Kemudian dengan cepat dia menghentakkan kain itu sehingga terhampar. Tubuh Barong Porwa pun terhempas di atasnya, membuat kain putih itu sesaat menggelombang.
I Gusti Kastasudra sempat membuat para penonton berdecak kagum. Dengan cepat dihen- takkan lalu diputarnya kain putih itu, sehingga menggulung tubuh lawan. Kemudian mendadak kain yang telah menggulung tubuh Barong Porwa itu terangkat ke atas ketika dengan cepat I Gusti Kastasudra menghentakkannya kembali. Dan yang membuat para penonton lebih tercengang ketika melihat kain itu ditancapkan ke tanah, ba- gaikan kayu saja. Tampaklah Barong Porwa yang telah terbalut kain putih itu tergantung di udara. Tubuhnya menggeliat-geliat, membuat sebagian penonton ada yang tertawa.
"Edan...! Edan! Benar-benar edan!" gumam Bronto Widura terkagum-kagum untuk kesekian kalinya. Lalu tertawa-tawa pada I Gusti Kumala yang duduk di sisi kanannya. Namun I Gusti Ku- mala tenang-tenang saja, memperlihatkan se- nyumnya yang dingin kepada tuan rumah itu.
I Gusti Kastasudra menyalurkan aji 'Angin Topan Sejati'! Tangannya menghentak, dan angin topan pun bertiup sangat kencang menerbangkan debu dan dedaunan kering. Kain yang memben- tuk seperti tiang itu berputar terkena tiupan an- gin kencang yang berputar bagai gangsingan.
Terdengar Barong Porwa menjerit-jerit te- rus, dalam keadaan tubuhnya berputar kencang.
Tiba-tiba sekali lagi I Gusti Kastasudra menyentakkan tangannya. Namun kali ini diarah- kan ke pedang salah seorang murid Bronto Widu- ra. Seketika sebilah pedang melesat lepas dari sa- rungnya dan terbang ke udara. Secepat kilat I Gusti Kastasudra melenting memburu pedang yang masih melayang di udara, dengan sigap tan- gannya menyambar pedang itu. Lalu dengan pe- dang tergenggam di tangannya, I Gusti Kastasu- dra langsung membabat tubuh Barong Porwa yang terbelit kain putih dan masih berputar kare- na tiupan angin topan sejati. Dengan gerakan yang tak bisa diikuti mata, pedang itu menyabet ke tubuh Barong Porwa yang masih terbungkus kain. Namun dengan ketinggian ilmu dan kecer- matan yang luar biasa, pedang hanya mengenai kain putih yang membelit Barong Porwa. Tanpa menggores sedikit pun kulit Pimpinan Perguruan Kumbang Merah itu. Dengan sekali hentak, pe- dang yang ada di tangan I Gusti Kastasudra mele- sat kembali masuk ke sarung kerangka yang ter- sampir di punggung pemiliknya.
Para penonton bertepuk tangan dengan riuh, memberikan pujian pada kehebatan I Gusti Kastasudra. Beberapa kali terdengar siutan dari beberapa orang penonton yang bergerombol di sudut barat. Sementara I Gusti Kumala tampak hanya tersenyum-senyum getir. Sebab, sebenar- nya dia tak suka melihat saudara seperguruannya memamerkan kebolehannya di depan umum. Se- sungguhnya kedatangan kedua tokoh dari Pulau
Dewata itu ke tanah Jawa Dwipa karena ingin menemui Pendekar Gila. Keduanya ingin menguji ilmu dengan pendekar kesohor itu, sekaligus me- nyelidiki sampai di mana kemajuan perguruan- perguruan silat di Jawa Dwipa. Karena terutama I Gusti Kumala yang berasal dari bagian utara Pu- lau Dewata itu berhasrat sekali untuk mempelaja- ri ilmu silat di Jawa Dwipa.
Sementara itu di tengah halaman nampak Barong Porwa dengan muka sinis menatap ke arah I Gusti Kastasudra. Lalu dengan langkah le- bar dia meninggalkan tempat itu seraya memerin- tahkan pada murid-murid andalannya agar segera pergi, tanpa berpamitan dengan tuan rumah yang mempunyai hajat. Bronto Widura nampak terke- jut dengan sikap Barong Porwa, tapi akhirnya bi- sa mengerti. Pemimpin Perguruan Kumbang Me- rah itu merasa malu atas kekalahannya. Padahal sebelumnya Barong Porwa merasa sangat yakin, kalau dia akan bisa mengalahkan I Gusti Kasta- sudra dari Pulau Dewata itu.
Tiba-tiba I Gusti Kastasudra berteriak sambil melompat ke udara. Setelah bersalto tiga kali mendaratkan kakinya dengan ringan sekali, tepat di hadapan I Gusti Kumala yang kelihatan sangat tenang tetapi penuh wibawa.
Sementara itu suara riuh tepuk tangan da- ri para penonton masih terdengar, mengeluelukan I Gusti Kastasudra. Namun di antara mereka ada pula yang kurang suka terhadap keme- nangan I Gusti Kastasudra. Terutama mereka yang menganggap tokoh dari Pulau Dewata itu memamerkan ilmu dan melecehkan tokoh-tokoh dari tanah Jawa Dwipa.
Tanpa terasa hari pun mulai gelap dan se- bentar lagi akan datang malam. Para pengunjung dari berbagai perguruan yang diundang masih be- rada di tempat. Mereka kini menikmati makanan dan minuman sambil menyaksikan tarian yang disuguhkan oleh para penari ledek.
***

Bronto Widura mengajak para tamu yang terdiri dari para pemimpin perguruan, menuju ruang pertemuan di dalam rumahnya. Sebuah ruangan besar yang terkesan indah, diterangi ca- haya dari lampu-lampu minyak yang berpendar dengan lembutnya. Semua itu disediakan untuk menghormati I Gusti Kumala dan I Gusti Kasta- sudra yang datang dari jauh dan menyempatkan singgah di padepokannya. Bronto Widura belum tahu persis maksud kedatangan kedua tokoh yang berilmu tinggi itu.
Di antara mereka juga terlihat beberapa murid pilihan Bronto Widura. Sementara itu sau- dagar kaya yang juga seorang guru itu tampak duduk dengan tenang di sebuah kursi tersendiri. Suasana saat itu terkesan hikmat
"Sungguh luar biasa! Aku kagum setelah dapat menyaksikan sendiri ketinggian ilmu Gusti. Ilmu yang tak ada duanya...," puji Bronto Widura pada I Gusti Kastasudra yang tampak hanya ter- senyum-senyum.
"Ah...! Itu belum seberapa, Sobat. Ilmuku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan ilmu saudara seperguruan Kumala. Apalagi ilmu 'Salju Sejati' yang dia miliki...," ujar I Gusti Kastasudra sambil menoleh ke arah I Gusti Kumala yang nampak kurang senang mendengar ucapan I Gus- ti Kastasudra. Namun I Gusti Kumala berusaha untuk tersenyum, agar tidak membuat suasana menjadi berubah.
Bronto Widura langsung menoleh ke arah I Gusti Kumala yang duduk dengan tenang di sisi kanannya.
"Aku belum pernah mendengar ilmu 'Salju Sejati'. Sudilah kiranya I Gusti Kumala memperli- hatkannya pada kami...!" kata Bronto Widura pe- nuh harapan.
I Gusti Kumala tak langsung menjawab, matanya yang tajam dan bening sejenak menatap I Gusti Kastasudra yang tersenyum-senyum sam- bil mengangkat kedua bahunya. Tingkahnya san- gat berbeda sekali dengan I Gusti Kumala yang tenang dan berwibawa.
"Ah, jangan percaya omongan Kakak I Gus- ti Kastasudra. Hm.... tapi apakah ada manfaat- nya?" kilah I Gusti Kumala kemudian dengan su- aranya yang berwibawa agak berat.
"Tentu saja. Terutama bagi murid-muridku, karena akan memupus rasa sombong dan puas diri mereka. Selain itu dapat menyadarkan hati
mereka, bahwa di muka bumi ini ilmu tak terba- tas sifatnya," tutur Bronto Widura menjelaskan pada I Gusti Kumala.
Nampak I Gusti Kastasudra manggut- manggut saja. Sedangkan I Gusti Kumala hanya bisa menghela napas panjang, dan kembali meli- rik ke arah I Gusti Kastasudra dengan kesal.
Suasana kemudian jadi hening. Seluruh yang hadir di ruangan pertemuan itu penuh ha- rap, menunggu ilmu 'Salju Sejati'. Dengan sikap yang sangat tenang, I Gusti Kumala meletakkan tangan kirinya di atas cawan berisi air minum. Sesaat kemudian udara di sekitar tempat itu be- rubah dingin dengan munculnya butir-butir air.
"Hah...?!" gumam Bronto Widura kaget dengan mengerutkan kening. Demikian juga den- gan yang lain. Namun mereka tak berani berbica- ra. Hanya bisa menunggu dan diam. Ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Kini nampak dari sela-sela jari I Gusti Ku- mala mengepul kabut dingin yang tipis. Tangan- nya yang lain menarik cawan. Air di dalam cawan itu langsung berubah menjadi pedang es kristal. Suatu ilmu yang membuat semua orang di situ terkagum-kagum.
"Edan...! Edan! Ini baru benar-benar me- nakjubkan dan hebat," gumam Dursa Kumbara, tokoh aliran hitam yang terkenal licik dan penuh tipu muslihat "Aku akan membuat rencana, agar bisa memperdaya orang ini...." Matanya yang ter- lihat jahat melirik, memperhatikan peragaan ilmu
'Salju Sejati' itu.
Kembali pada I Gusti Kumala yang kini nampak melemparkan pedang es itu. Pedang es melesat dan menancap di sebuah tiang kayu ruangan menimbulkan suara berdentang yang menggema. Terlihat lelehan air menetes-netes dari pedang es yang menancap itu.
Semua yang hadir terpana oleh ketinggian ilmu I Gusti Kumala. Bahkan Bronto Widura mendesis tanpa sadar melihat pedang es yang menancap di tiang.
"Luar biasa...!" gumamnya dengan mata membelalak penuh takjub.
Pada saat itulah muncul Murti, diiringi oleh beberapa wanita tua yang membawa aneka hi- dangan. Semua mata lalu menoleh ke arah Murti yang berparas cantik, namun matanya agak galak dan nakal. Semua yang hadir terpesona dengan kemolekan bentuk tubuh Murti yang padat. Da- danya yang indah tersembul ke depan, menan- tang siapa saja yang memandangnya. Bibirnya yang merah delima membuat para hadirin terke- sima sambil menelan ludah. Apalagi jika melihat pinggulnya yang padat dan indah.
I Gusti Kastasudra yang agak bringas tak habis-habisnya tersenyum-senyum penuh arti, ketika Murti berada di depannya mengantarkan beberapa hidangan. Hanya I Gusti Kumala yang nampak acuh dan kelihatan kurang senang meli- hat I Gusti Kastasudra. Menurutnya sikap I Gusti
Kastasudra tidak sopan, mengingat mereka me- rupakan tamu di tempat itu.
"Oooh..., kenalkan istriku, Murti...!" kata Bronto Widura setelah sadar kalau Murti ada di hadapannya. Lalu memperkenalkan pada I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Bersamaan dengan kata-kata Bronto Widu- ra, Murti memberikan penghormatan dan terse- nyum ramah, lalu melirik ke arah I Gusti Kasta- sudra, sambil mengulum bibirnya. Bronto Widura terus tersenyum-senyum, sambil mempersilakan pada tamu lainnya.
Sementara itu wanita dayang-dayang menghidangkan berbagai hidangan kepada para tamu.
"Sungguh tak terduga, kami dapat kunjun- gan sepasang pendekar dari Pulau Dewata. Sela- ma ini kami hanya bisa dengar saja nama I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra...," ujar Bronto Widura lagi.
"Jangan terlalu berlebih-lebihan, Saudara Bronto. Justru sekarang kami mengembara dalam rangka terus mencari ilmu dari setiap kepulauan dan daerah yang kami singgahi," sahut I Gusti Kumala dengan kalem.
"Tetapi di tanah Jawa Dwipa ini, hanya seorang yang mungkin bisa disejajarkan dengan Kisanak berdua. Seorang pendekar muda yang di- juluki...," belum sempat Bronto Widura mene- ruskan kata-katanya, I Gusti Kumala cepat me- nyambar.
"Pendekar Gila, maksud Saudara Bron- to...?!" Terkejut Bronto Widura dan semua yang ada di situ. Terutama Murti yang memberikan sa- tu gerakan, meskipun hanya kecil, tapi menge- jutkan. Bagaikan tersengat kalajengking, matanya terbelalak lebar. Jantungnya mendadak berdebar tenang. Murti masih mempunyai rasa cinta ber- campur dendam pada Pendekar Gila. Selain cin- tanya tak pernah ditanggapi oleh Pendekar Gila, Murti juga sangat benci dan cemburu pada Mei Lie. Gadis yang kini menjadi kekasih Sena Mang- gala atau Pendekar Gila. Murti mendadak me- langkah masuk ke ruangan tadi, tempat dia tadi keluar bersama dayang-dayangnya.
I Gusti Kumala melihat raut muka Murti yang menunjukkan kurang senang mendengar nama Pendekar Gila. Sedangkan I Gusti Kastasu- dra hanya tersenyum-senyum sambil menikmati hidangan lezat yang dihidangkan para dayang ta- di.
Bronto Widura yang nampak tak acuh den- gan istrinya itu, terus nampak ramah, menyilakan para tamu agar segera menyantap hidangan yang masih hangat
"Mari... mari...! Silakan, ayo Kisanak san- tap saja, mari...!" kata Bronto Widura sambil mengangkat tangannya menyilakan para tamu.
Di luar suara gamelan masih terus menga- lun. Para sinden terus mendendangkan lagu yang merdu. Malam semakin larut, di ruangan perjamuan itu suasana masih ramai. Mereka bergem- bira sambil menikmati hidangan.
Sementara itu Murti sudah berada di ka- marnya. Berdiri di dekat jendela, memandang jauh keluar rumah. Rupanya Murti sedang mela- munkan wajah Pendekar Gila yang tampan dan pernah dikenalnya. Mulailah terbayang kejadian yang pernah dialaminya waktu itu....
***

Siang itu baru saja pulang dari menuntut ilmu. Murti berjalan dengan langkah lebar, kare- na ingin segera menemui bibinya, Nyi Gendis Awit. (Tentang Nyi Gendis Awit, silakan baca seri- al Pendekar Gila dalam episode : "Mawar Maut Pe- rawan Tua").
Pesan dari gurunya, Murti harus segera mencari Nyi Gendis Awit. Namun ketika menda- patkan berita bahwa Nyi Gendis Awit mati dibu- nuh oleh Pendekar Gila, terbakarlah hati Murti. Dia lalu mencari Pendekar Gila dengan cara se- perti Nyi Gendis Awit. Murti memakai cadar me- rah seperti yang dikenakan Nyi Gendis Awit dalam sepak terjangnya membalas dendam.
Siang itu di sebuah lembah, Sena Manggala atau Pendekar Gila berjalan bersama Mei Lie, hendak kembali ke pondoknya. Di tengah jalan keduanya bertemu dengan seorang wanita muda yang memakai cadar.
Pendekar Gila berhenti melihat kemunculan wanita bercadar itu, lalu menoleh ke arah ke- kasihnya. Melihat wanita bercadar merah meng- hunus pedangnya, Mei Lie segera melangkah se- tindak. "Hei, kau mau cari gara-gara atau meram- pok...?!" bentak Mei Lie sambil menuding wanita di depannya. Namun wanita bercadar itu tak menjawab, malah dia menggerakkan pedangnya, mulai membuka jurus silat
"Huh...! Rupanya orang ini mau cari gara- gara, Kakang Sena. Biarlah aku yang menghadapi orang aneh ini!" seru Mei Lie seraya mencabut Pe- dang Bidadari-nya.
Wanita bercadar langsung melesat cepat menyerang Mei Lie dengan ganas. Sabetan pe- dangnya begitu cepat
Trang! Dentangan keras terdengar dari benturan dua pedang yang berbenturan. Jurus-jurus yang mereka keluarkan nampaknya bukan jurus biasa. Jurus tingkat tinggi yang mengandalkan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Sehingga tubuh keduanya bagai menghilang.
Sena yang mengamati jalannya pertarun- gan Mei Lie dengan wanita bercadar itu hanya menggaruk-garuk kepala. Pemuda berambut pan- jang dan berpakaian dari kulit ular itu sepertinya tengah mengingat-ingat sesuatu.
"Aha..., aku ingat sekarang! Itu jurus yang dimiliki Nyi Gendis Awit! Siapa wanita ini sebe- narnya...? Mungkin dia akan membalas dendam!" gumam Sena sambil menggeleng-geleng kepala.
Nampak Mei Lie merangsek dengan tusu- kan Pedang Bidadari-nya yang terkenal sangat berbahaya. Sedangkan lawan tampak tak ingin kalah. Pedangnya dengan cepat berkelebat mem- babat dan menusuk ke arah tubuh Mei Lie.
Wuttt! Trang! Keduanya terus bergerak cepat saling me- nyerang dan menangkis. Kini bukan hanya senja- ta mereka yang bertemu, tapi kaki mereka pun saling berusaha menyapu dan menendang lawan.
Entah sudah berapa jurus yang mereka ke- luarkan. Kelihatannya kedua wanita itu sama- sama kuat. Mereka terus bertarung bagai keseta- nan.
"Mampus kau...!" bentak wanita bercadar merah sambil membabatkan pedangnya dengan cepat kedua arah.
Namun Mei Lie dengan cepat pula menang- kis dan melenting ke udara. Sambil bersalto bebe- rapa kali dia langsung menendang dengan keras ke arah lawannya yang masih menunduk.
Degkh! Wanita bercadar memekik, ketika tendan- gan Mei Lie mendarat di pundaknya. Tubuhnya terhuyung-huyung, tapi kemudian mampu men- guasai keseimbangan. Dengan cepat dia berbalik, siap menghadapi Mei Lie lagi.
Pedang di tangan wanita misterius itu ber- gerak cepat ke arah tubuh lawan. Melihat serangan lawan, Mei Lie yang juga mendapat julukan sebagai Bidadari Pencabut Nyawa itu mengegos ke samping, lalu menghantamkan gagang pedangnya ke dada lawan yang terbuka.
Dukh! "Hukh!" Tubuh wanita bercadar itu terhuyung- huyung ke belakang. Darah tampak meleleh membasahi kain penutup wajahnya. Melihat itu, Pendekar Gila segera melompat menahan Mei Lie yang hendak kembali menghajar lawannya.
"Mei Lie...! Tunggu...!" seru Sena sambil menahan tangan Mei Lie. Gadis itu tampak cem- berut dan kesal.
Sena lalu berjongkok untuk menolong wa- nita itu. Dibukanya cadar merah itu, lalu terlihat wajah seorang wanita muda yang cukup cantik, tapi bermata galak dan bengis. Napasnya teren- gah-engah.
"Bunuh saja aku..., bunuh...!" kata wanita itu.
Melihat keadaan wanita cantik yang belum dikenalnya itu, Sena segera berusaha menyem- buhkan luka dalamnya yang parah. Pendekar Gila memberikan obat berbentuk bulat warna hitam pada wanita itu agar dimakan.
"Cepat makan obat itu! Mudah-mudahan lukamu akan segera sembuh...," ujarnya sambil menyodorkan obat itu.
Sementara itu Mei Lie melengos dan me- langkah menjauhi mereka. Hatinya mungkin merasa cemburu dan kesal pada Pendekar Gila.
"Dasar lelaki...!" gumam Mei Lie dengan wajah cemberut.
"Ter... terima kasih...!" Terdengar suara wanita itu serak dan lemah. Namun wajahnya mulai nampak segar. Tidak sepucat tadi.
"Sudahlah...! Siapa kau sebenarnya...?" tanya Sena kemudian.
"Aaaku..., Murti.... Kau tentunya masih in- gat perawan tua yang bernama Nyi Gendis Awit..., bukan...?" kata Murti dengan nada lemah.
"Hah...?! Sudah kuduga sejak melihat ge- rakan silat wanita ini. Ada kemiripan dengan Nyi Gendis Awit...," gumam Sena di hatinya.
"Dia..., bibiku.... Tadinya aku bermaksud untuk menuntut balas atas kematiannya. Dan menurut kabar, kaulah yang membunuh bibiku itu... Tapi..., kini aku sadar. Balas dendam tak membawa keberuntungan pada diriku yang sudah yatim piatu ini." Suaranya terdengar memelas.
Saat itu Mei Lie melangkah mendekati me- reka. Ditatapnya Murti dengan tajam. Murti pun menengok ke arah Mei Lie yang berdiri di sisi Pendekar Gila.
"Maafkan aku Nisanak, aku bersalah. Aku tadi terdorong rasa dendamku untuk menuntut balas atas kematian bibiku Nyi Gendis Awit.... Se- kali lagi maafkan aku...!" kata Murti pada Mei Lie.
Mendengar dan menyaksikan keadaan Murti yang masih lemah dan memelas itu, hati Mei Lie tersentuh. Dia mulai iba melihat keadaan
Murti. Kemudian berjongkok di sisi Sena.
"Aku pun minta maaf. Kita sama-sama ter- dorong nafsu dan amarah tadi.... Tapi sudahlah, aku dapat mengerti," kata Mei Lie dengan ramah.
Melihat Murti tersenyum, Mei Lie mengu- lurkan tangan yang disambut oleh Murti. Kedua- nya berjabat tangan, mengungkapkan rasa persa- habatan mereka.
Setelah mereka tinggal bersama, di pondok Sena yang jauh dari keramaian, timbul rasa cinta Murti pada Pendekar Gila itu. Namun dengan ha- lus Sena selalu menghindar.
Murti ternyata tergolong wanita yang memi- liki gairah tinggi terhadap lelaki. Tanpa mempe- dulikan Sena yang rikuh dan serba salah, dia te- rus mengejar pemuda itu.
Pada suatu sore, ketika Mei Lie sedang per- gi ke desa, Murti mengambil kesempatan. Saat itu Sena sedang berbaring untuk beristirahat. Tiba- tiba.... "Aaakh... tolooong...!"
Terdengar teriakan Murti di luar pondok. Sena yang mendengar teriakan itu segera melom- pat dari balai-balai dan mencari Murti. Namun tak nampak.
"Murtiii...!" seru Sena. "Aaa...! Tolooong...!" Sena segera melompat cepat ke tempat asal suara Murti.
"Murti...!" seru Sena yang melihat Murti tengah tergeletak di tanah dekat danau, tak jauh dari pondok tempat mereka tinggal.
"Aduh...! Akh...!" Sena segera berjongkok. Dan pada saat itu- lah tiba-tiba Murti memeluk erat Sena. Sena ter- kejut dan berusaha melepas pelukan Murti den- gan halus. "Murti.... Murti... jangan... tidak baik, Murti!" Sena coba melepas rangkulan Murti. Na- mun Murti semakin berani. Dia tiba-tiba men- gangkat kainnya ke atas, sampai ke pangkal pa- ha. Sena yang melihat itu segera membuang mu- ka dan hendak meninggalkan Murti. Namun wa- nita muda yang sudah kerasukan nafsu birahi itu semakin gila. Ditariknya lengan Sena kuat-kuat sambil tertawa-tawa genit.
Pada saat itu Mei Lie sedang menyusuri pinggiran danau. Ketika dia mendengar suara ta- wa di balik pepohonan rindang tak jauh dari tem- patnya, segera Mei Lie melompat menghampiri. Dan... bukan main terkejut dan marahnya Mei Lie melihat Murti dengan berani membuka pakaian- nya.
"Murti..., jangan! Kau ini manusia atau ib- lis...!" bentak Sena mulai marah.
Namun Murti malah tertawa-tawa dan kini Murti tinggal memakai kutang saja. Dadanya yang memang sekal dan membusung, padat itu nam- pak tersembul. Kulitnya putih dan mulus.
Dengan perasaan tidak enak, Sena meng- hentakkannya, lalu pergi. Pada saat itu Mei Lie yang sudah tak tahan melompat dan langsung menghajar Murti dengan tendangan serta tamparan tangan kanan kirinya.
Murti tak menduga akan kehadiran Mei Lie yang begitu cepat, tapi segera berusaha menang- kis. Kemudian buru-buru mengenakan kembali pakaiannya.
"Kau perempuan jalang...! Pergi... pergi kau dari sini...! Dikasih hati malah kurang ajar.... Per- gi...!" teriak Mei Lie dengan keras.
"Mei Lie...! Sabar, Mei Lie...!" Sena berusa- ha menenangkan kekasihnya yang sudah kalap itu. Mei Lie berontak ketika Sena memeganginya bahkan menampar muka pemuda itu. Lalu sambil menangis dia berlari ke pondok. Saat itu Murti sudah tak kelihatan lagi, entah pergi ke mana.
***

"Murti...!" Murti sadar dari lamunannya, ketika ter- dengar suara teguran dari seseorang. Murti kaget, dan menoleh.
"Oh, kau...?! Ada apa...?" tanya Murti den- gan gagap, ketika melihat Dursa Kumbara yang berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Ssst...!" Dursa Kumbara langsung mendekati Murti yang malam itu nampak cantik dan menggiurkan, dengan pakaian yang seperti wanita India. Dursa Kumbara yang memang sudah sering tidur den- gan Murti, memeluk erat tubuh lalu menciumi tubuh wanita itu dengan rakus. Murti yang memang tidak pernah puas dengan satu lelaki saja, tampak diam, tidak menolak sama sekali. Terden- gar suara lirih dari mulut wanita cantik itu.
"Murti.... I Gusti Kastasudra kulihat ada hati denganmu. Permainkan dia. Ambil kitab ilmu silat orang seberang itu agar kekuatan dan ilmu kita bertambah. Baru kita singkirkan kedua orang itu...," kata Dursa Kumbara dengan suara berge- tar, karena menahan nafsu birahinya.
Dursa Kumbara lalu menutup pintu kamar itu dengan tendangan kakinya. Kemudian mem- bopong tubuh Murti ke ranjang dan merebahkan- nya dalam keadaan telentang.
"Murti..., aku mendengar kedua tokoh dari Pulau Dewata itu hendak menemui Pendekar Gi- la...!" Suara Dursa Kumbara mendesah dan sedi- kit bergetar. Murti tidak segera menjawab ucapan lelaki bertubuh gagah itu, hanya terdengar desa- han perlahan dari mulutnya.
"Untuk apa mereka ingin menemui Pende- kar Gila...?!" tanya Murti dengan suara sedikit tertahan, karena tertindih tubuh Dursa Kumbara yang besar itu.
"Mereka ingin saling tukar ilmu dan mem- berikan kitab ilmu silat milik mereka pada Pende- kar Gila...," tutur Dursa Kumbara, lalu kembali menciumi leher dan dada Murti.
Murti nampak tertegun sejenak. Pandan- gannya menatap langit-langit kamar.
"Kita harus mencegahnya, Murti. Kalau ti- dak, orang-orang aliran putih semakin sukar ditaklukkan. Apalagi Pendekar Gila itu...! Aku kua- tir kita akan sulit menguasai tanah Jawa Dwipa ini."
Kembali Dursa Kumbara berkata dengan suara mendesah. Napasnya naik turun dengan cepat. Keringat mulai membasahi tubuhnya yang kekar dan berotot. Lelaki itu dengan buas meng- geluti tubuh Murti yang sudah polos. Murti pun mulai mendesah dan merintih merasakan kenik- matan yang selalu didambakan. Namun tiba- tiba.... "Huh...!"
Bug! Brak! Dursa Kumbara terpental jatuh dari tempat tidur. Kemudian buru-buru dia mengenakan celana dan pakaiannya. Dursa Kumbara telah hafal akan sifat Murti yang memang suka aneh. Lelaki berwajah lebar itu tahu, kalau Murti sedang gu- sar, pikirannya tak tenang. Maka hatinya tidak marah meskipun Murti telah menendangnya den- gan keras.
"Aku tahu kau sedang memikirkan Pende- kar Gila dan kekasihnya itu, bukan...?" kata Dur- sa Kumbara langsung dapat menebaknya. "Ini saatnya kau dapat membalas sakit hatimu, Murti. Dan... mungkin kau malah bisa merebut pende- kar sakti itu menjadi pendampingmu. Karenanya kita harus punya rencana, untuk mencapai se- mua itu...! Aku yakin kau telah memikirkannya." Dursa Kumbara yang memang pintar membaca hati dan pikiran seseorang, mulai memanas-manasi Murti.
"Mei Lie...!" Terdengar suara Murti bergetar. Giginya gemeretak, seolah-olah menahan geram dan rasa dendam pada Mei Lie. "Kau benar, Dur- sa Kumbara..., aku akan membuat perhitungan dengan gadis itu...! Aku punya cara sendiri untuk itu!"
Murti lalu kembali merebahkan diri sambil berucap. "Kemarilah Dursa Kumbara, puaskan aku malam ini...!"
Kontan saja Dursa Kumbara kembali membuka pakaiannya dan cepat naik ke ranjang. Namun, tiba-tiba saja Dursa Kumbara terpekik kaget dengan mata melotot. Darah segar memba- sahi perutnya, ketika tubuhnya perlahan jatuh di- tendang oleh Murti. Murti si Wanita yang selalu haus terhadap lelaki itu tersenyum sinis. Tangan kanannya sudah penuh dengan darah. Rupanya Dursa Kumbara dibunuh dengan ilmu 'Tangan Ib- lis'-nya yang dapat membelah dan menembus pe- rut manusia.
Dipandanginya mayat Dursa Kumbara yang terkapar di lantai kamar. Perut lelaki itu berlubang dengan usus terburai, sedang matanya melotot "Huh...! Orang macam kau harus kubunuh, Kumbara! Kalau tidak, rencanaku akan gag- al. Aku bukan orang bodoh, Kumbara...! Kini aku bisa bebas melakukan rencanaku...," ujar Murti seperti bicara pada diri sendiri. Wanita cantik itu segera memakai kain. Kemudian sambil berteriak- teriak dia lari keluar.
"Kurang ajar...! Biadab...! Kakang Bron- to....!"
Teriakan Murti begitu keras. Hal itu dila- kukan dengan sengaja agar terdengar ke ruang perjamuan.
Bronto Widura terkejut, demikian juga para tamu, termasuk I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra serta beberapa tokoh aliran hitam lain- nya. Mereka segera berdiri dan melangkah menu- ju ruangan dalam. Sampai di ruangan itu tampak Murti tengah marah-marah menghampiri mereka.
"Dursa Kumbara mau berbuat kurang ajar terhadapku, Kakang Bronto. Aku... aku terpaksa membunuhnya...!"
Murti menunjukkan tangan kanannya yang berlumuran darah. Mereka yang melihatnya san- gat terkejut dan merasa ngeri juga pada wanita satu ini. I Gusti Kastasudra yang memang mena- ruh hati pada Murti, segera maju menghampiri wanita itu, lalu coba menenangkannya. Namun I Gusti Kumala yang berpembawaan tenang, mera- sakan sesuatu yang tidak beres pada diri Murti. Matanya terus menatap tajam istri juragan Bronto Widura. Seakan tatapan mata pendekar dari Pu- lau Dewata itu menusuk ke dalam pikiran dan ji- wa Murti. I Gusti Kumala mengerutkan kening, kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.
Sementara para tamu lain tampak saling bisik dan menyalahkan Dursa Kumbara yang su- dah jadi mayat.
"Koneng, Mitro...! Cepat kubur mayat Dur- sa Kumbara malam ini juga...!" perintah Bronto Widura pada anak buahnya.
Kedua pemuda itu segera melangkah me- nuju kamar untuk membawa mayat Dursa Kum- bara.
I Gusti Kastasudra tampak berdiri di samp- ing Murti.
"Sudahlah, tenangkan hati dan pikiranmu! Orang macam dia memang harus mendapatkan ganjaran. Kau tidak salah,..," tutur I Gusti Kasta- sudra. Lalu Murti yang berpura-pura sedih den- gan air mata sudah membasahi pipinya berlari ke arah Bronto Widura dan memeluknya dan me- nangis tersedu-sedu.
Namun Bronto Widura seperti sudah men- gerti akan kebohongan istrinya. Karena selama ini dia sebenarnya sudah tahu akan penyakit dan kebiasaan Murti. Namun karena juragan kaya raya itu sangat mencintai dan menyayangi Murti, maka semua yang diketahui dipendamnya. Dia tak ingin kebiasaan buruk istrinya dapat tercium orang lain. Sehingga terpaksa lelaki bijak itu sela- lu menutupi keburukan Murti.
Dahulu, Bronto Widura pernah bersum- pah, bahwa jika Murti bersedia menjadi istrinya, sebagai pengganti istri pertama yang telah mati, ia ingin hidup sepanjang masa bersama wanita itu. Murti yang cerdik menerima maksud baik juragan yang kaya raya itu. Namun, Murti memberikan syarat tertentu. Yang utama, Bronto Widura harus memberikannya kebebasan dan berjanji tidak marah kalau dia berhubungan dengan lelaki lain. Karena Murti berterus terang bahwa dirinya tak pernah puas dengan satu lelaki.
"Sudahlah... jangan kau menangis terus, Murti...! Semuanya sudah berlalu...," bujuk Bron- to Widura.
Dengan sabar dan tenang dia membawa Murti ke ruangan lain. Sementara orang-orang mulai kembali ke ruangan perjamuan. Begitu juga I Gusti Kastasudra. Sejenak lelaki gemuk itu me- mandangi mereka. Pada kesempatan itu, Murti sempat menoleh ke belakang, matanya tertuju ke arah I Gusti Kastasudra dengan pandangan aneh dan nakal.
I Gusti Kastasudra membalas dengan se- nyuman penuh arti pula, lalu dia membalikkan badan dan pergi.
***


2
Malam kian larut. Suasana di depan rumah juragan Bronto Widura masih terdengar sayup- sayup gamelan ledek. Sementara itu di kamarnya, Bronto Widura tengah duduk di tepi ranjang ber- sama Murti. Keduanya terpekur diam, larut dalam pikiran masing-masing, setelah melihat dalam pembicaraan.
Cahaya bulan setengah lingkaran menyu- sup lewat jendela kamar yang terhalang kain warna putih. Angin yang bertiup membuat gor- dennya bergoyang-goyang. Suami istri itu seakan tidak memperhatikan suasana di luar.
"Aku selalu berharap, kau menemukan ke- bahagiaan bersamaku, Murti. Sejak kutemukan kau terapung di laut dengan luka parah, aku te- lah bertekad untuk membahagiakanmu...," tutur Bronto Widura memecah kesenyapan dengan sua- ranya yang berat. Penuh perasaan.
"Aku mengerti, Kakang. Hatiku berbahagia tinggal di rumah ini, punya suami sebaik Ka- kang.... Maafkan aku. Aku harus melakukan se- suatu, Kakang. Dengan adanya kedua tokoh dari Pulau Dewata yang berilmu tinggi itu aku akan memanfaatkan mereka untuk mengalahkan Pen- dekar Gila, sekaligus mencincang gadis yang sombong itu...!" tutur Murti dengan nada penuh dendam.
"Hah...?! Kau...." Bronto Widura sangat ter- kejut mendengar tutur kata Murti. "Murti...? Apa- kah aku tidak salah dengar...?" tanyanya kemu- dian dengan mata terbelalak.
"Tidak, Kakang.... Inilah saat yang sudah lama kunantikan. Kakang tidak sudah khawatir- kan diriku. Aku harus ikut dengan kedua tokoh itu," ujar Murti dengan tegas seraya menatap ta- jam suaminya.
Bronto Widura menundukkan kepala. Le- laki itu tampak cemas dan benar-benar tak bisa berpikir lebih jernih lagi. Dirinya tidak ingin Murti kecewa dan terluka jika dia melarang maksudnya. Mungkin ini sudah nasibku. Aku tak bisa melarang atau memberikan pendapat. Aku sudah bersumpah tak akan melukai hatinya. Aku sangat menyayangi dan mengasihinya, selain itu aku ju- ga tak ingin kehilangan Murti.... Semoga Tuhan memberikan keselamatan untuknya, jika niatnya tak bisa dirubah lagi. Aku pasrah.
Bronto Widura hanya bisa menggumam da- lam hati. Diangkat kepalanya, menatap Murti agak lama, lelaki setengah baya itu mendekat dan memeluknya.
"Aku tak bisa melarangmu, Murti.... Tapi, pesanku jika itu telah menjadi tekadmu, berhati- hatilah...," kata Bronto Widura dengan suara le- mah. Lalu mendesah.
"Kakang Bronto Widura, aku hargai ketu- lusan hatimu. Tapi, aku tak bisa menunda lagi sudah bulat tekadku. Aku akan kembali untuk- mu, Kakang," ujar Murti lemah lembut. Lalu mendorong tubuh suaminya hingga rebah di ran- jang. Murti pun merebahkan tubuhnya di sisi Bronto Widura.
Di luar gamelan ledek masih terdengar. Malam kian larut suasana semakin hangat. Rem- bulan masih bersinar terang. Ketika Bronto Widu- ra tertidur lelap, Murti segera mengenakan pa- kaiannya. Sehelai kain lebar dilibatkan di tubuh- nya, diikat dengan selendang merah jambu. Se- dangkan pakaian atasnya warna hitam seperti layaknya pendekar-pendekar wanita tanah Jawa Dwipa. Murti segera keluar lewat jendela kamar- nya. Wanita ini memang tidak pernah tinggal di rumahnya bila malam hari. Dia selalu bermalam di padepokannya, setelah memberikan hubungan batin pada Bronto Widura. Itu sudah perjanjian mereka. Dalam kegelapan malam Murti melesat ce- pat meninggalkan rumah juragan Bronto Widura.
Pada saat itu I Gusti Kumala sedang berja- lan bersama I Gusti Kastasudra. Kedua orang be- rilmu tinggi itu sibuk membicarakan sesuatu sambil terus melangkah ke arah sebuah hutan. Karena rembulan bersinar terang suasana seki- tarnya tak begitu gelap.
"Kau harus percaya apa yang dapat ku- tangkap dari raut wajah dan tingkah istri Bronto Widura itu, Kastasudra. Kau harus berhati-hati. Sepertinya ada yang tidak beres dalam perguruan itu."
"Ah...! Itu hanya perasaanmu saja Kumala. Kau selalu bicara begitu padaku. Aku bisa menja- ga diriku sendiri. Murti bukan wanita buruk se- perti dugaanmu, Saudaraku!" jawab I Gusti Kas- tasudra dengan nada agak tinggi.
"Terserah kamu. Aku sebagai saudara se- perguruan, hanya mengingatkan. Kau terima baik, tak kau terima aku juga tidak apa-apa. Tapi, sekali lagi, kuingatkan, jangan dekati Murti...!"
Kalimat terakhir itulah yang membuat I
Gusti Kastasudra malah salah duga. Lelaki ge- muk ini berpikiran bahwa I Gusti Kumala merasa iri, karena Murti nampak lebih dekat dengannya. Walaupun pertemuannya dengan wanita bertu- buh sintal dan memiliki bibir indah itu baru seha- ri.
Tanpa terasa keduanya telah memasuki sebuah hutan. Keduanya terus menyusuri hutan itu di bawah cahaya bulan yang terhalang pepo- honan. "Aku bukan kau, Saudara Kumala. Aku adalah aku. Jadi sebaiknya mulai saat ini kau tak usah menasihatiku lagi!" kata I Gusti Kastasudra yang mulai sedikit marah, karena terdorong du- gaan dan perasaannya yang keliru itu. Hal itu- membuat I Gusti Kumala mengerutkan kening.
"Jangan kau salah duga, apalagi berpra- sangka buruk terhadapku, Kastasudra!" sahut I Gusti Kumala dengan nada tinggi. Dia rupanya tak suka dengan ucapan I Gusti Kastasudra yang dianggapnya tak tepat dan kurang sopan.
I Gusti Kastasudra tak menghiraukan. Bahkan mendadak dengan bersungut-sungut dia berbalik, hendak kembali ke arah semula. Namun baru saja selangkah lelaki gemuk itu mengayun- kan kakinya, tiba-tiba saja terdengar suara ber- desingan, seperti luncuran senjata tajam menuju ke arahnya. Dengan gerakan yang sulit ditangkap oleh mata I Gusti Kumala melenting ke udara sambil menjulurkan kedua tangannya. I Gusti Kastasudra hanya bisa tersentak. Baru bisa melenting ketika serangan kedua muncul kembali ke arahnya. Wut! Wut!
I Gusti Kastasudra bahkan mampu melan- carkan serangan balasan dalam keadaan tubuh melenting di udara. Pertempuran jarak jauh terja- di di malam yang diterangi oleh cahaya bulan. Suatu pukulan dahsyat jarak jauh dilancarkan oleh sesosok tubuh bercaping lebar, dengan muka tertutup cadar hitam. Sehingga sulit dikenali.
Wut! Wut! Jglarrr! Akibat pukulan dahsyat orang bercaping itu beberapa pohon di sekitar tempat itu roboh.
I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra me- lompat dan hinggap di batang pohon yang roboh ke arahnya. Namun dalam waktu bersamaan orang bercaping lebar dan bercadar itu telah me- lontarkan beberapa lembar daun. Anehnya, daun- daun itu melesat begitu cepat bagaikan pisau- pisau terbang, meluncur ke arah I Gusti Kastasu- dra dan I Gusti Kumala. Serangan itu melesat su- sul-menyusul bagaikan hujan daun. Sebagian be- sar menancap di batang pepohonan.
Kedua pendekar dari Pulau Dewata dengan cepat melompat dan melenting ke sana kemari menghindarkan serangan aneh itu. Keduanya be- berapa kali mengibaskan tangan menangkis se- rangan dedaunan itu. Sebagian dari dedaunan berpentalan balik ke arah sesosok bercaping le- bar.
Pertarungan baru berlangsung beberapa saat, tapi orang bercaping sudah terdesak, tanpa daya menghadapi daun-daun yang melesat balik ke arahnya. Menyadari keadaannya yang mengkhawatirkan orang bercaping itu mencelat mundur dan langsung meninggalkan tempat per- tarungan. Ilmu meringankan tubuhnya yang san- gat tinggi membuat orang bercaping itu seakan terbang di udara. Saat terbang, cadarnya tertiup angin, sehingga tampaklah wajahnya karena ter- kena bias cahaya rembulan. Sosok bercaping itu ter-nyata seorang wanita berwajah cantik.
I Gusti Kastasudra berniat mengejar, tapi ditahan oleh I Gusti Kumala. Sehingga mereka membiarkan wanita itu menghilang.
"Siapa orang bercaping itu...?!" gumam. I Gusti Kastasudra seperti bertanya pada diri sen- diri.
I Gusti Kumala menghela napas sejenak. Pandangannya terarah ke tempat menghilangnya sosok bercaping. Lalu menoleh pada I Gusti Kas- tasudra yang nampak kesal.
"Nanti kita akan tahu siapa orang bercap- ing itu, Kastasudra," kata I Gusti Kumala dengan suara menggumam.
***

Murti telah sampai di padepokannya yang letaknya tersembunyi, jauh dari rumah Bronto Widura. Hanya Bronto Widura yang tahu padepokan itu selain beberapa orang kepercayaan Murti.
Murti langsung masuk ke padepokan, dis- ambut oleh dua orang wanita muda berpakaian silat ringkas seperti dirinya. Namun keduanya ti- dak memakai celana panjang, hanya kain dili- batkan di tubuhnya, diikat dengan selendang yang warnanya sama hijau.
Begitu masuk, di dalam nampak beberapa anak buahnya. Semua wanita. Sebagian meme- gang tombak, yang lainnya bersenjata golok.
Pada dinding-dinding ruangan yang terbuat dari pohon, nampak tergantung senjata-senjata serta sehelai kain berlambang perguruan silat Murti. Berupa Mawar Merah. Lampu-lampu mi- nyak yang menempel di dinding menerangi ruan- gan itu. Murti langsung membuka caping lebar yang menutup kepalanya. Kemudian duduk di se- buah batu besar yang merupakan singgasananya. Sejenak dia menghela napas dalam-dalam.
Kedua wanita yang menyambutnya saling pandang sebentar.
"Bagaimana Nyi Mawar...? Nampaknya Nyi Mawar tak berhasil...." Suara wanita berwajah lonjong itu terdengar datar. Nyi Mawar ternyata panggilan Murti yang akrab dari anak buahnya. Itu adalah panggilan murid terhadap gurunya.
"Ilmu mereka terlalu tinggi, Rukmini. Tak bisa dianggap remeh," jawab Murti geram.
"Jika kita bergabung, kurasa kita bisa mengatasinya, Nyi Mawar...," sahut wanita yang satu lagi, penuh semangat.
"Aku sependapat dengan Lastri. Kekuatan kita toh sangat tangguh kalau sekadar untuk me- nahan dua tokoh dari Pulau Dewata itu...!" Kem- bali Rukmini berkata dengan semangat pula.
"Tidak. Kalian tidak akan mampu melawan seorang saja dari mereka. Sekalipun mata mereka ditutup rapat..!" sambar Murti tegas.
"Sedemikian tinggikah ilmu mereka...?" tanya Lastri ingin tahu.
"Jika demikian, kita taklukkan dengan cara kita!" sambung Rukmini yang bertubuh lebih tinggi dari Lastri. Dadanya pun lebih menonjol dan lebih besar.
"Maksudmu...?" tanya Lastri sambil menge- rutkan kening.
"Jangan lupa, mereka laki-laki, sedang kita wanita.... Persoalannya cukup sederhana, kan?" jawab Rukmini, lalu tersenyum genit dan menger- lingkan mata.
"Itu bisa dicoba. Tapi aku ragu. Soalnya mereka menurut Nyi Mawar seperti pendeta...!" kata Lastri dengan nada mengejek, lalu tertawa- tawa genit
"Aku justru penasaran, ingin tahu bagai- mana seorang pendeta atau resi memperlakukan perempuan. Ha ha ha... hi hi hi...!" sahut Rukmini diiringi tawa genit
"Cukup! Kita harus mengambil langkah terbaik. Menyebarlah kalian! Carilah jago-jago pi- lihan, manfaatkan untuk menahan keduanya. Kalaupun mereka tidak berhasil membunuh kedua resi itu, setidaknya akan membuat keduanya menguras tenaga, sehingga melemahkan daya ta- han. Kalian tentu sudah lihai cara merayu para jago bayaran itu.... Ingat jika tertangkap, jangan kalian sekali-sekali menyebut namaku. Nyawa ka- lian gantinya...!" perintah Murti dengan tegas dan penuh wibawa.
Habis berkata begitu, Murti mengambil kantong uang dan dilemparkannya. Kantong uang itu jatuh di hadapan murid-muridnya. Segera Rukmini dan Lastri mengambilnya. Keduanya ter- senyum-senyum memandang kantong berisi uang itu.
***

3
Matahari baru saja terbit di ufuk timur. Cahayanya yang kemerahan menembus kabut pagi. Sepagi itu kesibukan telah terlihat di hala- man rumah Bronto Widura. Para murid dan anak buah juragan kaya raya yang juga seorang guru silat itu tengah berkumpul di halaman rumah. Sebagian yang lain tampak sibuk dengan kegiatan keseharian mereka.
Bronto Widura dan Murti berdiri di beran- da, melepas kepergian tamunya, dua orang pen- dekar dari Pulau Dewata. Tampak I Gusti Kastasudra sudah berjalan lebih dulu meninggalkan halaman, berpapasan dengan beberapa murid Bronto Widura yang membawa air.
"Saya sendiri belum pernah bertemu Pen- dekar Gila itu. Namun hati-hatilah, Saudara Ku- mala. Ketinggian ilmu Pendekar Gila telah jadi pembicaraan di mana-mana," tutur Bronto Widu- ra pada I Gusti Kumala sambil berjalan beriringan ke halaman rumah.
"Terima kasih. Tapi kedatangan kami bu- kan untuk mencari musuh. Kami berdua hanya ingin menjalin persahabatan," ujar I Gusti Kuma- la dengan ramah. Sekilas lelaki bertubuh besar itu melirik ke arah, Murti yang berdiri di sisi Bronto Widura. Murti coba tersenyum pada I Gus- ti Kumala. Namun senyumnya nampak hambar dan seperti dipaksakan.
"Kalau memang itu maksud I Gusti Kuma- la, saya sangat senang," ucap Bronto-Widura, lalu menoleh kepada istrinya. "Benar begitu kan Mur- ti...?"
"Ya...," sahut Murti singkat diiringi senyum hambar.
I Gusti Kumala menyambutnya dengan anggukan kepala, lalu mohon diri. Lelaki berju- bah putih itu melangkah menyusul I Gusti Kasta- sudra yang tadi sudah berjalan sampai di pintu pagar halaman.
Bronto Widura dan Murti menatap keper- gian kedua tamunya. Pandangan Murti menera- wang penuh arti. Ada sesuatu yang begitu mengganggu pikirannya. Sambil masih menatap lang- kah-langkah I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasu- dra, wanita muda itu berucap.
"Beberapa hari lagi mereka akan sampai ke Jawa Dwipa...." Suara Murti terdengar datar men- gandung arti.
"Ya. Dan Pendekar Gila akan kedatangan lawan yang sebanding. Tapi, kenapa kau urung- kan niatmu untuk ikut dengan mereka, Murti?" tanya Bronto Widura dengan mengerutkan ken- ing, sepertinya menyelidik.
Murti tak langsung menjawab. Dia sejenak hanya menatap Bronto Widura dan tersenyum. Lalu kembali memandang ke depan.
"Entahlah.... Tiba-tiba aku punya rencana yang lebih baik dari rencana semula," jawab Mur- ti, kemudian melangkah pergi dari beranda itu.
Bronto Widura hanya dapat memandangi istrinya yang lebih berkuasa itu dengan perasaan pedih. Nampak tersirat di wajah lelaki setengah baya adanya sejuta rasa penyesalan. Namun se- muanya sudah terambat dan dia sendiri telah te- rikat perjanjian.
***

I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra su- dah berada di Desa Banjaran, Keduanya nampak senang melihat keramaian desa itu. Apalagi pagi itu, seperti biasa di Desa Banjaran selalu ada per- tunjukan.
I Gusti Kastasudra yang sedikit bersifat ugal-ugalan dengan langkah lebar segera menuju tempat pertunjukan debus. Semacam tarian yang menggunakan ilmu hitam. Melihat saudara seper- guruannya itu I Gusti Kumala hanya bisa meng- geleng-gelengkan kepala, lalu melangkah ke arah lain.
Sementara itu, di antara penonton yang berjubel nampak seorang wanita cantik bertubuh sintal. Matanya yang tajam memperhatikan orang-orang di tempat itu. Dilihat dari wanita itu tentu berasal dari kalangan persilatan. Sesaat kemudian tampak dia berbisik-bisik pada seorang lelaki bertampang bengis yang tadi berdiri di sampingnya. Lelaki gagah dengan wajah dipenuhi cambang bauk itu tersenyum. Sambil mengang- guk-angguk kepala, ketika wanita cantik yang ternyata Rukmini, memberikan sekantong uang keping. Lelaki codet itu lalu melangkah pergi.
Rukmini yang berpakaian sangat menyolok dan nampak sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya, sesaat kelihatan agak gelisah. Sesekali menengok ke kiri dan kanan, seperti sedang ada yang ditunggu. Lalu orang kepercayaan Murti itu beranjak pergi. Dia menuju sebuah rumah makan yang ada di dekat tempat pertunjukan. Rukmini duduk di sebuah kursi menghadap ke arah per- tunjukan yang berada di depan rumah makan. Karena bangunan rumah makan itu lebih tinggi dari tempat pertunjukan, Rukmini bisa menyak- sikan dengan lebih jelas.
Seorang pelayan lelaki datang menawarkan makanan.
"Beri aku tuak dua mangkok...!" pinta Rukmini pada pelayan itu. Namun matanya terus tertuju pada arena pertunjukan.
Mendengar itu, pelayan kaget karena mera- sa heran. Sepagi ini seorang wanita-minta minu- man tuak. Dua mangkok lagi.
"Pesan apa tadi...?" tanyanya ragu sambil membungkukkan badan.
"Kamu tuli...?! Tuak dua mangkok...! Ce- pat...! Bodoh...!" bentak Rukmini, kesal. Lalu pandangannya kembali ke tempat pertunjukan.
Sementara itu, I Gusti Kastasudra sudah berada di antara penonton yang berjubel meling- kari arena pertunjukan.
Para penari tengah memperlihatkan se- buah tarian secara bersama. Penabuh gamelan dengan semangat mengiringi para penarinya. Se- mentara para penonton, tampak mulai merasa te- gang menyaksikan tarian yang menggunakan il- mu hitam itu. Seorang penari lelaki bertelanjang dada tengah menusuk-nusuk keris tajam ke da- danya. Rupanya lelaki itu kepala dari penari lain- nya, yang juga melakukan hal serupa. Kemudian lelaki itu menusukkan keris ke perutnya. Setelah itu menjulurkan lidah dan mengirisnya dengan keris di tangan kanannya.
Para penonton bertepuk tangan dan mera- sa kagum akan pertunjukan itu. I Gusti Kastasu- dra hanya tersenyum-senyum, sambil mengusapusap dagunya. Pakaiannya yang kuning berlengan panjang, berselempang kain putih di dadanya. Penampilannya yang cukup menyolok, dengan kepala botak plontos dan alis tebal serta hidung mancung membuat para penonton di dekatnya sebentar-sebentar melirik. Mereka mcmandan- ginya sambil berbisik-bisik, karena merasa aneh melihat penampilan I Gusti Kastasudra.
Sementara itu Rukmini yang sejak tadi ge- lisah, kini mulai tersenyum ketika matanya meli- hat I Gusti Kastasudra ada di antara para penon- ton. Wanita cantik namun berwajah agak keras itu mulai mabok karena dua mangkok arak tadi. Matanya yang tadi jalang dan liar mulai berubah sayu.
Tanpa sengaja I Gusti Kastasudra sempat melihat Rukmini yang juga tengah menatap ke arahnya. Wanita bertubuh menggairahkan itu ter- senyum genit, lalu memalingkan kepalanya. Pada saat itulah I Gusti Kastasudra langsung menyeli- nap dan menghilang di antara kerumunan penon- ton. Rukmini kaget ketika berpaling lagi ke arah semula. Dengan kening berkernyit dia mencari- cari I Gusti Kastasudra, tapi tidak menemukan- nya. Rukmini dengan kesal bangkit, lalu menyi- bak orang-orang yang berdiri di bawah tangga rumah makan itu.
"Sial...! Ke mana perginya pendekar botak itu...?!" sungut Rukmini sambil setengah berlari keluar dari rumah makan. Matanya jelalatan mencari-cari I Gusti Kastasudra. Hatinya meras heran kenapa tiba-tiba pendekar botak itu meng- hilang entah ke mana.
Gamelan semakin keras dan menghentak- hentak. Para penari pun semakin bersemangat mempertujukkan kebolehan mereka. Menusuk perut, leher, atau mengiris kuping serta lidah me- reka. Sebuah tontonan yang menegangkan dan menggiriskan hati para penontonnya. Mereka ter- paku keheranan menyaksikan lidah atau kuping para penari yang dapat menyatu kembali setelah terputus karena diiris.
Kalau waktu itu Rukmini sedang kesal ka- rena kehilangan orang yang dinantikannya. Di lain tempat murid Murti yang satu lagi, Lastri se- dang asyik bercumbu dengan seorang lelaki be- rumur tiga puluhan di sebuah kamar belakang rumah makan itu.
Rupanya sejak tadi dari balik jendela ada sepasang mata yang mengintip mereka. Dan be- nar, ternyata seorang wanita berumur kira-kira dua puluh delapan tahun. Dengan geram wanita itu mendobrak pintu kamar yang mirip gudang itu.
Brak! Wanita berbadan agak gemuk itu pun me- langkah masuk
"Kurang ajar...! Suami bejad...! Biadab...! Kubunuh kalian!" teriakan wanita itu. Matanya melihat ke sana kemari mencari sesuatu. Dan, begitu melihat sebuah golok yang tersangkut di dinding kamar, dengan cepat wanita itu mencabutnya. Tanpa basa-basi diserangnya Lastri dan lelaki yang masih kaget dan duduk di atas balai- balai bambu tua. Lastri yang sudah tak berpa- kaian secuil pun, dengan cepat bergerak meng- hindar lalu mengenakan pakaian sambil terse- nyum-senyum, melihat lelaki itu sedang mencoba menenangkan istrinya.
Lastri lalu menyelinap pergi sambil terta- wa-tawa. Sementara lelaki itu masih saja sibuk menenangkan istrinya yang memegang golok.
"Sabar... sabar... tenang Jinten...! Aku akan jelaskan...," kata lelaki tampan itu sambil mengelak dari sabetan golok istrinya.
Dengan cepat dia menangkap tangan Jin- ten yang memegang golok. Namun ketika hendak mengambil golok yang jatuh di lantai, Jinten yang sudah naik pitam segera menendang kepala sua- minya keras sekali. Lelaki itu memekik kesakitan. Tak sampai di situ. Jinten yang merasa telah dis- akiti, dengan geram menendang rusuk suaminya secara bertubi-tubi.
Lelaki itu terkapar di atas lantai kamar itu. Jinten menyeringai dengan kedua mata terbelalak lebar.
Sementara itu, di depan rumah makan per- tunjukan bertambah semarak. Gamelan terdengar semakin keras dan cepat. Penari pun semakin menggila dan berani, membuat orang-orang ka- gum dan bertepuk tangan sambil berteriak mem- beri pujian.
Rukmini yang kehilangan jejak I Gusti Kastasudra nampak sudah duduk kembali di tempat semula di rumah makan itu. Wajahnya nampak penuh kekecewaan.
Tiba-tiba Lastri muncul dari belakang. Dengan tersenyum-senyum dia duduk di samping Rukmini yang tengah memandang keluar, ke arah tempat pertunjukan.
"Masih sempat-sempatnya kau main gila! Kita saat ini bukan untuk bersenang-senang, La- stri. Kalau Nyi Mawar tahu, kau bisa celaka...!" ucap Rukmini ketus pada Lastri. Sejenak ma- tanya melirik ke arah Lastri yang mendadak wa- jahnya berubah merah.
Rukmini kembali memandang ke depan, kedua matanya terus menyapu seluruh tempat itu.
"Maafkan aku! Dan, kuminta kau tak perlu menyampaikan hal ini pada Nyi Mawar. Aku ber- janji tak akan mengulangi lagi...," kata Lastri coba menghilangkan kekesalan Rukmini padanya.
Belum sempat Rukrnini memberikan jawa- ban, tiba-tiba saja suasana tontonan yang semula semarak menjadi kacau. Hal itu karena Jinten yang sudah mata gelap dengan golok di tangan kanannya berjalan bergegas ke arah Lastri. Orang-orang yang berada di situ tampak bingung. Perhatian mereka pun beralih kepada Jinten yang tanpa peduli melabrak Lastri.
"Kubunuh kau perempuan kotor...!" teriak Jinten sambil mengacungkan goloknya dan terus melangkah lebar.
Namun para penari tampak masih terus menari dengan gamelan yang terus mengalun.
Sementara Lastri nampak tenang-tenang saja, bahkan pura-pura tak peduli. Rumini yang duduk di sebelahnya tersentak dan menoleh ke arah Lastri. "Huh, Perempuan Sial, membuat ma- lu saja!" umpat Rukmini dalam hati. Wajahnya sinis menatap Lastri.
Pada saat itu Jinten sudah berada di dekat Lastri. Tanpa basa-basi lagi, wanita gemuk itu langsung mengayunkan goloknya ke arah Lastri yang masih duduk dengan tenang. Namun den- gan gerak cepat Lastri melompat menghindar, se- hingga ayunan golok Jinten menggebrak meja. Suasana berubah menjadi semakin kacau-balau Perhatian beralih pada Jinten yang mengamuk. Dan penari-penari pun mcnghentikan tariannya.
"Kubunuh kau, Perempuan Sundal...! Heh...!" bentak Jinten sambil terus menebas dan menusuk ke arah Lastri.
Namun, karena Jinten sama sekali tidak memiliki ilmu silat, serangannya tak berarti apa- apa bagi Lastri yang memiliki ilmu silat cukup handal itu. Suasana menjadi riuh.
Sementara itu I Gusti Kumala yang berada jauh dari kejadian itu, nampak tenang-tenang sa- ja. Dia duduk di sebuah kedai kecil. Menikmati minumannya. Lelaki gagah berjubah putih itu memang tak ingin ikut campur dengan urusan orang lain, kalau tak terpaksa.
Lastri nampak terus melompat-lompat menghindari serangan Jinten. Wanita itu keliha- tan tak begitu melayani amukan lawan. Hal ini menyebabkan Jinten membabibuta, tapi justru membuat Lastri kian tenang.
Lastri mempermainkan Jinten. Karena ke- marahan yang telah meluap dan mata gelap, ayu- nan dan tusukan golok Jinten kain ngawur, tak karuan. Sementara Rukmini nampak masih te- nang di tempatnya. Dia tak ingin ikut campur. Apalagi dia tadi sempat kesal dengan Lastri yang dianggapnya ceroboh. Rukmini memperhatikan kejadian itu dengan mata tak berkedip.
Jinten semakin tak karuan. Mengamuk tak menentu, tanpa ada seorang pun yang mau menghentikannya. Semua orang malah menonton sambil tertawa-tawa. Jinten kian kalut, memba- bat ke sana kemari tak menentu. Tiba-tiba ter- dengar suara erangan kesakitan, ketika seseorang terkena sasaran golok Jinten hingga berdarah.
Penonton pun ribut karena Jinten sudah seperti kemasukan setan, kalap. Seorang penari yang paling kebal maju, bermaksud ingin meng- hentikan Jinten yang semakin kalap itu. Namun belum sempat dia mencegahnya, tahu-tahu golok Jinten sudah menggores lengan kanannya. Ter- nyata berdarah! Penari kebal itu kaget. Cepat- cepat dia menutupi lengannya yang terluka akibat goresan golok Jinten. Takut kalau ada yang meli- hatnya, dia pasti dicemooh dan dipermalukan.
Penari kebal itu memekik pendek, lalu se- gera pergi karena malu.
Sesaat kemudian tampak tubuh Jinten mulai lelah. Perempuan gemuk itu sempoyongan, lalu jatuh tersungkur ke tanah. Dia menangis ter- sedu-sedu memilukan. Lastri tertawa-tawa se- nang sambil memandang Jinten yang menangis. Sungguh memuakkan lagak Lastri saat itu.
Tepat pada saat itulah, I Gusti Kastasudra tiba-tiba muncul dan melemparkan sebutir buah ceri. Buah itu melesat dan mengenai betis Lastri. Perempuan itu terhempas ke belakang, terjatuh ke tanah.
"Hah...?!" Rukmini kaget melihat I Gusti Kastasudra dari tempatnya yang tak begitu jauh. Namun dia tak ingin bertindak. Dibiarkannya Lastri mengha- dapi I Gusti Kastasudra.
Ketika mengetahui bahwa yang menye- rangnya adalah I Gusti Kastasudra, Lastri justru pura-pura kesakitan dan melirik penuh arti pada lelaki botak berjubah kuning itu. I Gusti Kastasu- dra berjalan tenang mendekat, lalu menolong La- stri dengan mengurut-urut paha dan betis wanita itu. Lastri menikmati urutan telapak tangan pen- dekar dari Pulau Dewata itu. Namun hanya se- bentar, karena di luar dugaan, I Gusti Kastasudra menyentakkan kaki Lastri, hingga tubuhnya ter- lontar ke udara. Untunglah ia masih bisa mem- pertahankan keseimbangan.
Lastri melayang lalu secepat itu pula lang- sung kembali mendarat dan berdiri tegak keadaan siap siaga. Kejadian ini mengejutkan Lastri. Sementara I Gusti Kastasudra tenang-tenang saja, berdiri acuh tak acuh sambil makan buah ceri.
Lastri langsung menghentak dan melesat melakukan serangan-serangan terhadap pendekar dari Pulau Dewata itu.
Kaki dan tangan Lastri menghajar I Gusti Kastasudra silih berganti. Namun dengan mu- dahnya lelaki gemuk berpakaian kuning itu men- gelak dengan lompatan cepat ke kanan dan kiri. Lastri jadi geram menyaksikan lawan dengan mu- dah menggagalkan serangan yang dilancarkan- nya. Namun usahanya tetap sia-sia ketika dia me- lakukan serangan susulan yang tak kalah dah- syatnya. I Gusti Kastasudra sambil tertawa-tawa mengejek terus mengelakkan serangan Lastri.
"Ha ha ha...! Kau masih perlu belajar ilmu sialat yang benar, Perempuan Genit...!" seru I Gusti Kastasudra.
Suasana kian ricuh. Lastri merasa seolah- olah tindakan I Gusti Kastasudra merupakan ba- lasan dari perlakuan Lastri terhadap Jinten. Pa- dahal, serangan-serangan Lastri disertai pengera- han tenaga dalam. Sehingga akibat-akibatnya pun sering mencengangkan. Gebrakan-gebrakannya memecahkan meja dan kursi di kedai itu. Kadang ia melenting tinggi. Tapi semuanya itu tak berarti bagi I Gusti Kastasudra, yang dengan ilmunya yang di atas Lastri terus dapat mementahkan se- rangan Lastri.
"Yeaaa...! Kali ini mampus kau...!" seru La- stri.
Tangan mereka beradu. Dengan cepat La- stri melontarkan senjata rahasia khas perguruan Murti! Bunga Mawar Merah. Bunga itu melesat begitu cepat dari tangannya.
Blast! Serangan ini tentunya tak diduga sama se- kali oleh I Gusti Kastasudra, yang langsung me- nepiskan dengan jubahnya. Belum lagi habis ke- terkejutannya, setangkai Mawar Merah yang lain melesat lagi dengan cepat ke arah pendekar dari Pulau Dewata itu.
"Hop...!" I Gusti Kastasudra meloncat menghindar. Namun anehnya, tiba-tiba Lastri memekik keras menyayat hati. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tercengang kaget. Tubuh Lastri ter- hempas ke belakang dan terbanting ke tanah lalu tak berkutik lagi. Mati!
Rupanya, ketika melenting menghindar se- rangan, I Gusti Kastasudra dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa, berhasil menepiskan Ma- war Merah itu hingga berbalik ke pemiliknya.
Pada saat itu muncul I Gusti Kumala di an- tara orang-orang yang panik dan ribut. Lelaki ga- gah itu menatap Lastri yang telah menjadi mayat.
Rukmini mulai memberikan isyarat pada orang-orang bayarannya. Seketika suasana sema- kin kacau dan ramai, ketika delapan orang baya- ran yang memiliki ilmu cukup tinggi serentak menyerbu I Gusti Kastasudra. Sementara Rukmi- ni menyerang I Gusti Kumala.
Pertempuran pecah. Sebagian bergerak ke- luar dari rumah makan itu. Suasana ruangan rumah makan porak poranda. Para penari ber- hamburan menghindar. Para penonton pun tak ingin ikut terkena sasaran pertarungan keroyokan itu. Mereka hiruk pikuk dan berlarian.
Rupanya delapan orang bayaran itu tak bertahan lama menghadapi I Gusti Kastasudra, yang berilmu jauh di atas mereka. Dalam waktu singkat dua kali gebrakan mereka berjatuhan dan tak berkutik lagi. Hanya ada seorang yang masih bertahan. Seorang lelaki berbadan besar yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tampangnya yang bengis dihiasi brewok hitam dan lebat. Matanya picek sebelah dengan alis yang juga hanya satu. Lelaki mata satu itu dengan geram dan ganas mengayunkan goloknya membabat I Gusti Kasta- sudra sambil menggerang keras.
Wut! Wut! Angin dari tebasan goloknya menderu ke- ras di atas kepala I Gusti Kastasudra. Dan sece- pat kilat pendekar dari Pulau Dewata itu melan- carkan serangan balik yang dahsyat dengan pu- kulan tangan kanannya. Kontan lelaki mata satu itu menjerit. Mulutnya memuntahkan darah se- gar, ketika pukulan menggeledek I Gusti Kasta- sudra mendarat telak di rusuk kanannya. Tubuh- nya yang besar ambruk dan tak berkutik lagi.
Sementara itu Rukmini yang menghadapi I Gusti Kumala melenting menghindar dari seran- gan tusukan kedua jari lelaki berpakaian pendkar itu. Wajah Rukmini nampak pucat. Lengan ki- rinya sudah terluka, akibat terkena tepukan tan- gan kanan I Gusti Kumala yang mengandung ra- cun.
Siapa pun musuh I Gusti Kumala akan ter- luka atau hangus, bila kena tepuk atau cengke- raman telapak tangannya. Itulah ajian 'Tapak Dewa' yang sangat berbahaya. Ajian itu tak dimi- liki deh I Gusti Kastasudra. Sebuah ajian dahsyat yang hanya dapat digunakan atau bisa hadir, jika pemiliknya telah mencapai amarah yang memun- cak.
Rukmini tiba-tiba melancarkan serangan cepat dengan melontarkan senjata rahasianya be- rupa Mawar Merah ke arah I Gusti Kumala. Na- mun dengan sigap pendekar berjubah putih itu menangkap Mawar Merah yang meluncur ke arahnya menggunakan jari tangan. Lalu dengan cepat melontarkan kembali ke arah Rukmini. Wa- nita itu terbeliak kaget melihat serangan kilat la- wannya. Slats!
Rukmini menjerit keras. Tubuhnya melintir lalu ambruk. Mawar Merah menancap tepat di dadanya. Wajah Rukmini mendadak membiru dengan mata mendelik. Mati!
I Gusti Kumala menarik napas panjang. Matanya yang bersih dan tajam menatap Rukmi- ni. Nampak di wajah I Gusti Kumala ada sedikit penyesalan.
"Hyang Widhi..., maafkan aku...! Aku ter- paksa membunuhnya," gumam I Gusti Kumala. Dia memang merasa menyesal begitu tahu Ruk- mini telah mati.
I Gusti Kastasudra melompat ke arah I Gusti Kumala yang masih termenung, menatap mayat Rukmini
"Kenapa kau menyesali semua ini, Sauda- raku? Mereka pantas mendapatkan itu. Hyang Widhi juga tahu. Mereka orang-orang tak beri- man!" ujar I Gusti Kastasudra.
"Ya. Tapi, siapa orang-orang ini...? Apa maksud mereka menyerang kita, Kastasudra?" tanya I Gusti Kumala.
"Entahlah.... Mungkin mereka orang-orang bayaran," jawab I Gusti Kastasudra sambil me- nunjuk delapan tubuh yang berserakan mati ter- geletak di tanah. "Dan, kedua wanita itu mungkin kaki tangan orang bercaping yang menyerang kita semalam di hutan...."
I Gusti Kumala hanya manggut-manggut perlahan. Lalu matanya menyapu orang-orang yang masih berkerumun di sekitar tempat perta- rungan. Di salah satu sudut, sepasang mata men- gamati I Gusti Kastasudra dan I Gusti Kumala. Sepasang mata yang mengintip dari balik sebuah kedai yang tak jauh dari tempat kedua pendekar Pulau Dewata itu lalu menghilang.

4
Murti yang nama lengkapnya Murti Dewi marah ketika mengetahui kedua murid andalan- nya tewas dibunuh oleh kedua orang pendekar dari Pulau Dewata, I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Saat itu Murti tengah melesat bagai ter- bang di antara pepohonan di hutan jati.
"Bangsat...! Aku harus membalas. Kedua orang asing itu harus kutaklukan!" Tak henti- hentinya wanita itu bersungut marah. "Aku harus mendapatkan kitab yang ada di tangan mereka, sebelum jatuh ke tangan Pendekar Gila!"
Tak berapa lama, karena menggunakan il- mu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi, Murti sampai di pondok kecil di pinggiran sebuah telaga. Tempat itu sunyi dan jauh dari desa atau kota karena terlalu di tengah hutan. Murti langsung mengetuk pintu pondok yang dindingnya terbuat dari tataan kayu dan be- ratap dedaunan kering.
"Hhh... tak ada orang!" gumam Murti sete- lah kembali mengetuk lebih keras. Wajahnya mu- lai muram ketika tak didengarnya sahutan dari dalam. Sementara itu langit mulai memerah ka- rena sang Surya sudah merasuk ke ufuk barat.
"Huh...! Ke mana orang itu...!" keluh Murti kesal.
Tiba-tiba pundak Murti ada yang meme- gang dari belakang. Karena kaget, Murti langsung menepis tangan itu lalu dengan cepat membalik dan menyerang orang itu. Namun orang yang mengejutkan Murti itu dapat menangkis serangan dengan baik. Dan bahkan dapat menepuk pipi Murti dengan ujung kipasnya.
Murti yang telah mengenai sosok itu cepat menghentikan serangannya. Sesosok lelaki ber- pakaian serba putih dengan lengan panjang. Rambutnya yang panjang agak berombak diki- baskan lepas begitu saja. Namun tetap tampan.
"Ha ha ha...!" Lelaki muda itu tertawa-tawa sambil mempermainkan kipas yang ada di tangan kanan, dipukul-pukulkan di telapak tangan ki- rinya.
"Kau masih saja suka menggoda, Anjasma- ra...!" kata Murti Dewi, tanpa memperlihatkan kemarahan, bahkan terdengar manja.
Anjasmara, termasuk salah satu lelaki yang paling akrab dengan Murti. Kerap kali di- rinya bercumbu memberikan kepuasan lahir ba- tin pada Murti yang haus kehangatan pelukan le- laki.
"Kau hanya datang padaku, jika memerlu- kan bantuan. Dan selain itu aku tahu kau butuh itu, kan...?" goda Anjasmara dengan senyum- senyum nakal. Matanya memandangi Murti den- gan tajam. Sambil membalas senyuman. Murti melangkah mendekati lelaki muda itu.
"Kali ini aku benar-benar mendapat lawan tangguh. Kuharap kau bisa membantuku. Berapa pun kau minta, akan kuberi...!" kata Murti sambil mengeluarkan kantong berisi uang, lalu menyo- dorkannya pada Anjasmara.
"He he he...! Kau ini seperti orang yang bam kenal aku saja, Murti. Kau tahu aku, kan? Bukan ini saja yang kuinginkan... Dan kau pasti setuju...!"
Lalu Anjasmara membisikkan sesuatu di telinga Murti. Wanita itu tersenyum genit. Belum sempat dia menjawab, Anjasmara sudah memeluk dan menciumi lehernya dengan lembut.
"Huh...!" keluh manja Murti, sambil men- dorong pelan tubuh Anjasmara. "Kau gila...! Nanti dilihat orang Anjasmara."
"Kau ini mimpi...?! Tak ada orang di sini. Selain kita berdua," sahut Anjasmara kalem di- iringi senyumnya. Lalu ditariknya dengan lembut lengan Murti dan diajak masuk ke pondoknya.
"Jangan sekarang, Anjasmara...!" sentak Murti sambil melepaskan genggaman tangan An- jasmara.
"Aneh...?! Biasanya kau begitu berseman- gat menerima ajakan ku, Murti. Ada apa ki- ranya...?!" tanya Anjasmara, merasa heran den- gan sikap Murti yang tidak seperti biasanya.
"Kali ini aku benar-benar mendapat kesuli- tan untuk melawan kedua pendekar dari Pulau Dewata itu. Selain berilmu tinggi, mereka tidak mudah tergoda dengan rayuan perempuan.... Rukmini dan Lastri yang lebih muda dan cantik dariku, tak sanggup meluluhkan hati kedua orang itu," tutur Murti dengan muka murung. Lalu mendengus keras.
"He he he.... Apakah kau sudah mencoba untuk merayu salah satu dari mereka?!" tanya Anjasmara dengan tertawa terkekeh. Kemudian melangkah mendekati Murti, sambil memper- mainkan kipasnya.
"Belum. Tapi rasanya...." "Jangan kalah sebelum perang, Murti! Aku heran, kenapa kau kali ini nampak cemas dan khawatir menghadapi kedua pendekar dari Pulau Dewata itu," kata Anjasmara mencoba membang- kitkan semangat Murti yang biasanya tak pernah secemas dan setegang ini
"Aku bukan takut menghadapi keduanya. Tapi, ada sesuatu yang membuatku cemas," ucap Murti, lalu membalikkan badan.
"Apa? Kau jatuh cinta pada salah satu dari mereka?!" tanya Anjasmara menyelidik. Kemudian membalikkan tubuh Murti dengan perlahan.
Murti tak langsung menjawab. Ditatapnya mata Anjasmara tajam. Lalu kembali dia memba- likkan tubuh sambil melangkah dua tindak.
"Aku tak pernah jatuh cinta pada lelaki se- lain pada Kakang Sena Manggala...! Tapi, aku ju- ga membencinya! Hhh... aku ingin membalas sa- kit hatiku...," tutur Murti dengan suara penuh penekanan pada setiap kata.
Anjasmara mengangguk-angguk kepala tanda mengerti. Sementara itu Murti membalikkan badan dan menatap tajam wajahnya yang tampan. "Aku mulai mengerti sekarang. Lantas, ke- napa kau mau menghentikan langkah kedua pen- dekar dari Pulau Dewata itu?" tanya Anjasmara ingin tahu.
"Mereka membawa kitab ajaran ilmu ke- saktian yang luar biasa. Kitab itu akan diberikan pada Pendekar Gila atau Kakang Sena. Ini yang sangat mencemaskanku. Aku inginkan kitab itu jatuh ke tangan kita, dengan cara apa pun.... Dengan kitab itu aku akan dapat menambah ilmu dan kekuatanku. Hhh... dengan begitu aku akan terkabul untuk menghabisi gadis kekasih Kakang Sena itu...," tutur Murti panjang lebar.
"He he he...! Kau memang wanita ulet dan banyak akal. Namun, kurasa tanpa ajaran kitab itu, kau pun bisa melawan gadis itu," kata An- jasmara meyakinkan Murti.
"Mungkin apa yang kau katakan benar! Aku bisa mengalahkan Mei Lie. Tapi, bagaimana dengan kitab itu. Apakah kau punya akal, Anjas- mara?" Anjasmara berpikir sejenak sambil meme- gangi janggutnya, lalu manggut-manggut. Sambil tersenyum dia melangkah mendekati Murti.
"Rencanaku pasti berhasil! Tapi, kau harus membantuku," kata Anjasmara.
"Apa rencanamu itu, Anjasmara...?" tanya Murti lembut setelah melepas kecupan Anjasma- ra.
"Bagaimana kalau aku menyamar sebagai Pendekar Gila...?" usul Anjasmara setengah ber- bisik.
Murti mengerutkan kening, ditatapnya wa- jah Anjasmara lapat-lapat
"Apakah aku tak salah dengar?" gumam Murti.
"Tidak. Bagaimana, setuju...?!" "Ternyata kau lebih pintar dan banyak akal dariku. Rencanamu itu membuatku lega. Aku se- tuju...!" kata Murti, lalu memeluk Anjasmara dan memberikan ciuman mesra.
***

Pada saat ini ternyata Sena atau Pendekar Gila dan Mei Lie, ditemani Dogol sedang berada di dalam sebuah pondok. Di sana nampak seorang bocah lelaki berkulit sisik ular naga. Rambutnya panjang kusut masai tak karuan. Anak itu hanya memakai cawat
Bocah itu duduk di pangkuan Pendekar Gi- la. Di sisi kiri-kanan Pendekar Gila duduk Mei Lie dan Dogol. Sedangkan di depan mereka nampak seorang lelaki tua berjenggot panjang sebatas da- da, duduk di atas sebuah altar besar. Tangan ki- rinya ditumpangkan di lutut kiri, sedangkan tan- gan kanan mengusap-usap jenggotnya yang ber- warna putih itu.
"Aku merasa senang melihat kalian bisa berkumpul. Saat seperti ini sudah lama kita nantikan...," tutur lelaki tua berambut digelung ke atas. Matanya yang tua, tapi masih nampak tajam memandang ke arah Sena dan Supit Songong. (Tentang Supit Songong, silakan baca serial Pen- dekar Gila dalam episode : "Perjalanan Ke Akhe- rat").
"He he he...!" Sena tertawa sambil mengga- ruk-garuk kepala dengan tangan kanan, sedang- kan tangan kirinya memeluk Supit Songong yang duduk di pangkuannya, "Saya juga sudah lama tak bertemu dengan adik Supit Songong dan Eyang.... Naga Brahma," kata Sena dengan suara penuh kegembiraan.
"Ya, ya... aku senang kalau kalian bisa se- lalu berkumpul. Apalagi aku mendengar berita, bahwa ada dua pendekar dari Pulau Dewata yang sedang dalam perjalanan kemari. Kini mereka masih di tanah Pasundan...," tutur Naga Brahma yang berpakaian seperti resi, berwarna ungu. Ku- litnya bersisik, seperti Supit Songong. Kakek ber- jenggot putih itu adalah ayah angkat Supit Son- gong. Sudah tiga bulan lamanya Supit Songong meninggalkan tempat asalnya, Pulau Ka-rang Api. Karena dia mendapat firasat, bahwa Pendekar Gi- la akan datang berkunjung ke Perguruan Naga Wulung. "Aku sangat senang bisa bertemu dengan Kakang Sena. Dan kuharap kita bisa terus ber- sama menumpas orang-orang jahat...," kata Supit Songong.
Kemudian Supit Songong bergeser, duduk di sisi Sena, sedangkan Dogol bergeser ke kiri.
"Tadi, Eyang berkata ada dua pendekar Pu- lau Dewata sedang menuju kemari... Maksud Eyang...?" tanya Mei Lie yang tiba-tiba membuka suara, ingin kejelasan.
Kakek bernama Naga Brahma itu menoleh, lalu menatap Mei Lie sesaat. Kemudian lelaki ber- badan penuh sisik seperti naga itu tersenyum sambil manggut-manggut.
"Pertanyaanmu itu membuatku senang, Mei Lie. Begini, dua pendekar dari Pulau Dewata itu bermaksud baik, ada sesuatu yang akan dis- ampaikan pada Sena. Tapi, ada orang ketiga yang ingin menghalangi langkahnya di tanah Jawa Dwipa ini. Dan kalau memang wangsit yang ku- dapat semalam benar, petaka akan terjadi di Ja- wa Dwipa ini," tutur Naga Brahma bernada ce- mas.
Pendekar Gila dan Mei Lie saling pandang. Supit Songong dan Dogol pun nampak terkejut. Anak bertubuh penuh sisik itu menggaruk-garuk lengannya, seperti merasa gatal. Supit Songong memang mempunyai kebiasaan, jika hatinya ce- mas atau kaget, secara tiba-tiba menggaruk- garuk lengannya. Ciri khas yang mirip Pendekar Gila. Hanya saja Supit Songong tidak cengenge- san. Dia nampak lebih tenang dan diam.
"Apa hubungannya denganku, Eyang...?!" tanya Sena masih bingung sambil menggaruk- garuk kepala.
"Hem...! Aku belum tahu dengan pasti, Sena. Tapi, kalian semua harus waspada terhadap orang-orang yang mencoba menghalangi maksud baik kedua pendekar dari Pulau Dewata itu," ja- wab Naga Brahma penuh wibawa.
"Orang-orang jahat memang sepertinya in- duk akar yang tidak bisa dihabisi. Selalu tumbuh, dan tumbuh lagi...!" sungut Supit Songong den- gan geram. "Biar aku yang menghabisi mereka, ji- ka nanti kita dapat menemukan biang keladinya," lanjutnya. Bocah laki-laki bertubuh penuh sisik ular itu menggereng dan mendengus seperti see- kor ular naga.
"Sabar Adik Supit..., tapi kau benar. Kita harus mencari biang keladi yang ingin mencela- kan kedua pendekar itu," sahut Sena sambil me- nepuk-nepuk bahu Supit Songong.
"Licik benar orang itu.... Siapa mereka kira- kira, Eyang...?" tanya Mei Lie ingin tahu. Gadis cantik ini nampak seperti merasakan sesuatu bakal terjadi terhadap Pendekar Gila dan dirinya. Perasaan itu timbul begitu Naga Brahma menga- takan bahwa ada orang ketiga ingin menghambat perjalanan kedua pendekar dari Pulau Dewata, yang akan memberikan sesuatu yang sangat ber- harga untuk kekasihnya.
"Indra keenamku belum dapat melihat dengan jelas. Tapi, kalian mulai saat ini harus waspada...," jawab Naga Brahma tegas.
"Apakah kita perlu menjemput kedua pen- dekar itu, Eyang?" tanya Supit Songong penuh samangat.
"Ya. Paling tidak kita harus menyelidiki dan membela kedua pendekar itu...," sahut Mei Lie tak kalah semangat.
Naga Brahma tidak langsung menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap-usap jenggotnya.
"Aku lupa mengatakan pada kalian. Kedua pendekar itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mungkin sejajar dengan Sena. Dan yang kutahu mereka bergelar Mata Dewa. Karena kedua mata dan hati mereka mengandung kesaktian luar bi- asa. Tapi mereka tak sembarangan menggunakan ilmu itu, kecuali jika terluka atau disakiti hatinya. Dan masih banyak ilmu tingkat tinggi lainnya yang mereka miliki," tutur Naga Brahma menje- laskan pada mereka.
Mei Lie dan Sena menghela napas panjang, demikian juga Supit Songong. Sedangkan Dogol mengantuk sejak tadi. Air liurnya tampak mele- leh. Perutnya yang gendut bergerak-gerak naik turun. Tampangnya lucu dengan bibir tebal dan pipi tembem.
"Lantas, apa yang harus kita perbuat...?" Sena mendadak bertanya dengan nada seperti acuh dan nampak tenang-tenang saja. Lain den- gan Mei Lie yang duduk di sebelah kanannya. Gadis yang cantik bermata indah itu nampak ce- mas dan tak tenang.
"Sebaiknya kalian untuk sementara tunggu di sini. Bersabarlah untuk beberapa hari ini!" sa- ran Naga Brahma.
Setelah bicara begitu lelaki tua itu perla- han-lahan berubah wujud. Naga Brahma berubah menjadi seekor naga berwarna keemasan dengan mahkota di kepalanya yang juga berwarna emas.
"Ingat pesanku, jangan kalian mengikuti hawa nafsu dan amarah...!"
"Baik, Eyang...," sahut mereka berbaren- gan.
Sementara itu Dogol baru saja bangun dari tidurnya, terkejut melihat wujud Naga Brahma yang telah berubah menjadi seekor naga besar keemasan. Dogol langsung menutup wajah den- gan kedua telapak tangannya. Tubuhnya yang gemetaran merapat ke badan Supit Songong. Anak nada itu hanya tersenyum-senyum melihat Dogol yang ketakutan.
Tiba-tiba Naga Brahma menghilang dari pandangan mata. Sena, Mei Lie, dan Supit Son- gong nampak agak lega. Sebab, kini mereka me- rasa lebih bebas untuk merunding dan berbicara secara gamblang.
"Aku sudah tidak sabar lagi untuk mene- mukan orang yang menghalangi maksud baik ke- dua pendekar dari Pulau Dewata itu!" kata Mei Lie memperlihatkan kegeramannya.
"Benar. Aku pun bermaksud sama dengan Nini Mei Lie. Tapi, Eyang Naga Brahma melarang kita untuk meninggalkan tempat ini," sahut Supit Songong dengan nada agak kecewa.
"Sabarlah...! Nanti juga ada jalan untuk menyelesaikan persoalan ini. Jangan langgar nasihat Eyang Naga Brahma...!" kata Sena kalem, lalu cengengesan. Mei Lie nampak cemberut meli- hat sikap Sena yang tenang-tenang saja itu.
Sementara itu, Dogol nampak sudah terti- dur lagi. Kini pemuda gendut itu sudah telentang di tanah. Sena dan Mei Lie hanya bisa mengge- leng-geleng kepala. Sedangkan Supit Songong ter- tawa-tawa geli.
***

I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra kini telah memasuki Jawa Dwipa bagian tengah, sete- lah melalui lembah dan pegunungan di perbata- san timur daerah Pasundan.
Di bawah matahari yang tidak terlalu pa- nas, kedua sosok lelaki berjubah itu tampak me- nyusuri padang ilalang yang sangat luas. Di ka- nan dan kiri jalan setapak yang mereka lalui ba- tang-batang ilalang tumbuh tinggi sampai sedada. Namun tanpa diduga, dari balik ilalang yang rapat dan tebal, tiba-tiba bermunculan lima sosok lelaki berpakaian putih semua. Keenam so- sok lelaki itu masing-masing memegang sebuah kipas besar.
"Hah...?! Rupanya ada lagi manusia- manusia bodoh di sini...," gumam I Gusti Kasta- sudra dengan kalem. Kedua pendekar Pulau De- wata itu nampak tenang menghadapi keenam orang yang dalam sekejap telah mengurung mere- ka.
Tanpa basa-basi keenam lelaki berambut panjang digelung ke atas itu langsung berpencar menjadi dua bagian. Masing-masing telah melan- carkan serangan secara cepat. Tiga orang menye- rang I Gusti Kumala dan tiga lagi menyerang I Gusti Kastasudra.
Terjadilah pertarungan yang cukup seru. Gerakan-gerakan kedua pendekar yang berjuluk Mata Dewa itu tampak tenang dan teratur, meskipun menghadapi keroyokan. Keduanya me- lompat dan melenting ke sana kemari di tengah rumput ilalang itu.
Teriakan-teriakan keras terdengar, seakan hendak memecah keheningan siang di padang ila- lang itu. Seketika rerumputan dan ilalang yang sedang berbunga itu tampak morat-marit diter- jang pertarungan.
Dengan gerakan yang cepat dan indah ki- pas-kipas berwarna putih itu berkelebatan di atas dedaunan ilalang yang serba hijau, melancarkan serangan. Sepintas terlihat bagaikan gerakan- gerakan tarian. Apalagi ketika kipas-kipas ter- kembang lebar dan dikibaskan dengan cepat, di- iringi liukan tubuh pemiliknya.
Terpaksa I Gusti Kumala melenting ke uda- ra dengan gerakan yang indah dan cepat. Lelaki gagah berjubah putih itu kemudian menggunakan senjatanya untuk menangkis dan menyerang.
"Modar kau orang asing! Heaaa...!" seru sa- lah seorang yang menyerang I Gusti Kumala den- gan sebuah tendangan, lalu disusul sabetan ki- pasnya yang meliuk-liuk cepat.
Namun, I Gusti Kumala rupanya sudah tanggap akan hal itu, hingga dengan mudah mampu mengelak. Kemudian dengan gerakan ce- pat, sambil melompat dia menghantarkan seran- gan balik yang mematikan.
Salah seorang dari mereka menjerit keras menyayat hati. Keningnya retak dan terdapat tan- da dua jari tangan. Seketika lelaki gagah yang masih memegang kipas itu ambruk dan tak ber- nyawa lagi.
"Kurang ajar...!" seru yang lain ketika meli- hat temannya begitu cepat tewas di tangan lawan. Keduanya langsung menyerang berbaren- gan. Sebuah gempuran dahsyat yang sulit diatasi oleh I Gusti Kumala. Hingga....
Wuuut! Bret! "Ukh!" I Gusti Kumala terpekik kaget, ketika kipas lawan berhasil menggores lengan kirinya. Keja- dian ini membuatnya semakin waspada dan me- ningkatkan serangan. Gerakannya semakin cepat dan ganas. Kainnya berkelebatan, menyerang dan melakukan tangkisan terhadap kibasan senjata lawan. Sementara itu I Gusti Kastasudra pun ma- sih sibuk menghadapi lawan-lawannya. Lelaki gemuk itu melompat sambil melepaskan selen- dang ikat pinggangnya. Digunakannya selendang itu sebagai senjata, ketika ketiga lawannya me- nyerang berbarengan dari tiga arah.
I Gusti Kastasudra rupanya lebih ganas ka- rena ingin menyelesaikan pertarungan lebih cepat. Maka dengan serangan-serangan mautnya I Gusti Kastasudra langsung menjulurkan selen- dangnya. Selendang itu begitu cepat meluncur memburu ketiga lawan yang masih melayang di udara karena hendak melakukan serangan. Ba- gaikan ular, selendang putih itu membelit ketiga lelaki bersenjata kipas. I Gusti Kastasudra kembali menarik selendangnya. Ketiga orang yang ter- lilit itu tentu saja terbawa. Dan setelah dekat I Gusti Kastasudra langsung menghantam dengan tangan kirinya. Sebuah pukulan yang dilancarkan dengan tenaga dalam.
Ketiga orang yang terlilit menjerit keras memilukan. Kemudian tak terdengar lagi sua- ranya. Secepat itu pula I Gusti Kastasudra meng- hentakkan lagi selendangnya ke udara. Seketika selendang yang melilit ketiga orang tadi terbuka.
Brak...! Ketiga lelaki bersenjata kipas itu jatuh ke tanah setelah lebih dulu terlontar di udara.
"Aku terpaksa membunuh kalian! Itulah ganjaran orang-orang licik macam kalian!" gu- mam I Gusti Kastasudra sambil memakai selen- dangnya. Sesaat kemudian telah rapi.
Sementara itu, I Gusti Kumala baru saja menyelesaikan pertarungan.
"Oh, Hyang Widhi..., aku terpaksa membu- nuh orang-orang ini...," gumam I Gusti Kumala dengan wajah sedih penuh penyesalan.
Namun lain dengan I Gusti Kastasudra. Dia nampak tersenyum puas. Lalu mendekati I Gusti Kumala yang masih menatapi mayat-mayat yang tergeletak di hadapannya.
"Sudahlah, Saudaraku. Tak usah disesalkan lagi! Semuanya sudah terjadi. Dan orang- orang itu memang harus mendapat ganjaran...," kata I Gusti Kastasudra, setelah berada di sebelah I Gusti Kumala.
"Aku mengerti. Tapi, kenapa kita harus membunuh orang di tanah Jawa Dwipa ini...? Kita harus segera dapat menemukan biang keladi se- mua ini...!"
I Gusti Kastasudra hanya menganggukkan kepala, lalu menghela napas dalam-dalam.
Tanpa diketahui tak jauh dari tempat me- reka di balik alang-alang yang tinggi dan rimbun, ada dua sosok tengah mengintip. Kedua sosok yang mengintip itu berjongkok di dalam ilalang, sehingga tak jelas keadaan wajah maupun tu- buhnya. "Aku mempunyai firasat mereka pasti men- ginginkan kitab pusaka yang kita bawa ini," ujar I Gusti Kumala tiba-tiba. Kedua matanya yang ta- jam mengawasi ke sekeliling tempat itu, meyakin- kan bahwa tak ada yang melihat mereka.
"Kurang ajar, ini pasti orang-orang Pergu- ruan Kumbang Emas! Yang kukalahkan dalam pertarungan persahabatan tempo hari...," sahut I Gusti Kastasudra dengan kesal.
"Mungkin juga, tapi bagaimana mereka bisa tahu? Sedangkan kita hanya bicara empat ma- ta pada Bronto Widura...," kata I Gusti Kumala sambil menggeleng kepala perlahan.
"Pasti ada yang mendengar percakapan kita itu, Saudaraku...! Tapi, siapa orang itu...?!" I Gus- ti Kastasudra nampak berpikir keras.
"Sudahlah! Yang penting kita harus lebih waspada. Harus kita hadapi, apa pun rintangan- nya," tandas I Gusti Kumala.
Lalu keduanya melangkah pergi dari tem- pat itu. Mereka sengaja mengerahkan ilmu merin- gankan tubuh yang sangat tinggi. Sehingga gera- kan mereka yang begitu cepat bagai terbang. Da- lam sekejap tubuh mereka telah lenyap. Namun baru beberapa lama kedua pendekar dari Pulau Dewata itu menghilang, muncul dua sosok bayangan melesat menuju tempat pertarungan itu. Setelah dekat, jelaslah kalau kedua sosok itu ternyata seorang wanita muda berwajah cantik dengan lelaki bertubuh tegap dan tampan. Wanita itu mengenakan pakaian silat yang ringkas den- gan kain diikatkan begitu saja tanpa celana pan- jang. Hingga betis dan sebagian pahanya tampak menantang.
"Huh!" dengus si Wanita kesal. "Kau harus segera bertindak!" perintahnya kemudian pada le- laki muda di sampingnya.
"Sabar, Murti...! Aku bisa mengatasi kedua orang asing itu," jawab lelaki muda berpakaian putih yang memegang sebuah kipas lebar.
"Anjasmara, kau harus segera memulai penyamaranmu. Aku pun akan bertindak dengan caraku sendiri. Aku tak ingin kau gagal. Kitab itu harus bisa kita kuasai...!" kata Murti dengan nada tinggi.
"Percayalah, jangan kau terburu nafsu! Yang penting kita akan bertindak sesuai rencana kita. Dan aku mohon kau jangan merubah renca- na yang telah kita sepakati, Murti...," kata Anjas- mara tegas.
"Pokoknya aku minta, kedua orang itu ha- rus dapat kau tahan. Kalau sampai keduanya le- bih dulu bertemu Pendekar Gila, kita akan cela- ka!"
Selesai berbicara begitu, Murti tanpa ba- nyak bicara lagi melesat pergi meninggalkan An- jasmara. Lelaki muda itu hanya bergeleng kepala melihat kepergian Murti.
"Dasar perempuan keras kepala!" gumam Anjasmara.
***

5
Keadaan rimba persilatan semakin kacau ketika muncul tokoh-tokoh aliran hitam mencari kedua pendekar dari Pulau Dewata itu. Karena seseorang telah menyebarkan berita bahwa kedua pendekar yang berjuluk Mata Dewa itu membawa kitab sakti mandraguna.
Seperti pada sore itu, terjadi sebuah perta- rungan sengit di sebuah hutan. I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra harus berhadapan dengan beberapa tokoh golongan hitam yang mencegat mereka. Kedua pendekar dari Pulau Dewata itu bertarung sekuat tenaga guna mempertahankan diri.
Mereka bertarung dengan ilmu-ilmu ting- kat tinggi. Namun lima orang tokoh sesat berilmu tinggi yang mengeroyok tak mampu mengalahkan kedua pendekar itu. Hanya dalam waktu singkat, kelima tokoh sesat itu terkapar, mati di tangan sepasang Mada Dewa. Crasss...! Plak! "Aaakh...!" Jeritan yang panjang terdengar bersahutan dari lima tokoh sesat yang di antaranya Barong Porwa. Pimpinan Perguruan Kumbang Merah yang pernah dipecundangi I Gusti Kastasudra da- lam pertarungan persahabatan di perguruan Bronto Widura.
"Aku merasa ada sesuatu yang tak beres. Entah apa sebenarnya yang telah terjadi. Sejak kedatangan kita ke Jawa Dwipa, sepertinya ada yang ingin menghalang-halangi perjalanan kita," tutur I Gusti Kumala, setelah menghela napas.
"Sepertinya ada sesuatu yang salah. Sulit dipercaya, kita diserang tanpa alasan," sahut I Gusti Kastasudra. Kemudian membersihkan pa- kaiannya yang kotor.
"Tidak setiap tindakan punya alasan...," ujar I Gusti Kumala.
Sementara itu Murti atau si Mawar Merah mulai menjalankan siasatnya. Murti mulai mem- bunuh orang-orang Perguruan Karang Jati se- buah perguruan silat yang dipimpin oleh Ki Wa- napati. Setelah itu dengan cara menyamar Murti bersama beberapa orang bayarannya menyebar- kan berita, bahwa semua pembantaian terhadap Perguruan Karang Jati adalah perbuatan kedua pendekar dari Pulau Dewata bersama orang- orangnya.
"Hi hi hi...! Jika Sena atau pengikutnya mendengar berita ini, pasti akan marah. Dan... aku akan melihat pertarungan orang-orang sakti itu. Aku dapat ambil kesempatan untuk membu- nuh kedua tokoh dari Pulau Dewata itu. Hi hi hi...!"
Murti sangat gembira, karena merasa akan berhasil mengadu domba antara Pendekar Gila dan kedua pendekar dari Pulau Dewata itu.
Pada saat itu Sena dan Mei Lie, yang bera- da di kediaman Naga Brahma. Tiba-tiba dike- jutkan oleh datangnya Supit Songong bersama Dogol. "Ada apa? Dari mana kalian? Kalau Eyang Naga Brahma tahu, beliau akan marah... Bukan- kah Eyang sudah pesan bahwa kita harus me- nunggunya?" ujar Sena pada Supit Songong dan Dogol.
"Maafkan aku, Kakang," jawab Supit Son- gong. Sedangkan Dogol hanya bisa melongo den- gan napas engos-engosan, seperti orang habis berlari jauh.
"Kenapa kalian nampak murung...?" tanya Mei Lie kemudian.
"Tadi kami bermaksud ingin membeli ma- kanan di desa. Sampai di kedai mendengar pem- bicaraan orang-orang, bahwa Perguruan Karang Jati dihancurkan deh kedua pendekar dari Pulau Dewata bersama pengikutnya.... Dan malah menurut kabar keduanya juga menantang Kakang Sena," tutur Supit Songong dengan tegas. Wajah- nya nampak masih murung.
"Apa...?!" teriak Mei Lie yang tersentak mendengar keterangan itu. "Kurang ajar...! Kena- pa mereka bisa begitu. Bukankah menurut Eyang Naga Brahma, mereka datang untuk bersahabat dan akan saling menimba ilmu, bahkan ingin memberikan sebuah kitab suci pada Kakang Se- na...?!" tambah Mei Lie dengan nada agak tinggi karena kesal.
Sena sendiri nampak bergeleng kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya cengenge- san seakan tak ada rasa cemas dan kaget.
"Aneh...! Hi hi hi..., sungguh lucu memang dunia ini. Kenapa orang selalu berubah pikiran," gumam Sena seakan bicara pada dirinya sendiri.
"Bagaimana tindakanmu, Kakang? Bukan- kah Perguruan Karang Jati milik Ki Wanapati?" tanya Mei Lie dengan wajah nampak mulai geram.
"Ya. Ki Wanapati orang yang bijak. Dia saudara seperguruan paling muda Eyang Guru Singo Edan!" jawab Sena dengan mengangguk- anggukkan kepala.
"Lantas, bagaimana? Apakah Kakang hanya akan diam saja?" Kembali Mei Lie mende- sak Pendekar Gila.
"Kita sebaiknya menyelidikinya, Kakang Sena. Menurut firasatku, bukan kedua pendekar berjuluk Mata Dewa itu yang memporak- porandakan Perguruan Karang Jati," kata Supit Songong mengutarakan perasaannya.
Sena menoleh ke arah Supit Songong. Pada saat itu tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang didahului dengan asap putih, disusul dengan su- ara desisan. Sinar dan asap itu pun sekejap be- rubah menjadi seekor naga bersisik emas.
Sena, Mei Lie, Supit Songong langsung menjura. Begitu juga Dogol. Dogol menjura, tapi kakinya gemetaran. Bibirnya pun bergetar, takut melihat sosok naga besar di hadapannya.
"Zzzt...!" Naga bersisik keemasan itu men- desis. Lidahnya menjulur menjilati Sena, Mei Lie, Supit Songong dan terakhir Dogol.
Dogol semakin gemetar ketakutan. Tubuh- nya yang gendut dan bundar basah keringat, menggigil seperti orang kedinginan. Namun hanya berlangsung sekejap, karena perlahan-lahan wu- jud naga besar itu berubah menjadi lelaki tua ber- jenggot panjang.
"Sembah kami, Eyang...." Terdengar suara mereka berempat
"Hm...!" gumam lelaki itu pendek. "Eyang, kami mendapat persoalan yang sangat rumit... Perguruan Karang Jati milik Pa- man Wanapati, menurut orang-orang dihancur- kan oleh kedua pendekar dari Pulau Dewata itu. Bukankah itu sama saja menginjak-injak kita se- mua, Eyang.... Karena perguruan itu masih ada hubungan dengan kita, menurut Kakang Sena," kata Mei Lie tiba-tiba dengan wajah menampak- kan kekesalan.
"Hm. He he he...! Jangan terbawa amarah- mu, Mei Lie. Tapi, aku tidak menyalahkanmu. Sudah kuketahui semua itu. Rupanya memang ada orang ketiga yang ingin mengacaukan semua maksud baik kedua pendekar itu." Sejenak Naga Brahma menghentikan ucapan, lalu mengelus- elus jenggotnya yang putih bersih itu. "Seorang wanita yang pernah kau kenal, ingin membalas dendamnya pada kalian berdua...!" lanjutnya sambil menunjuk Pendekar Gila dan Mei Lie.
Kontan saja Sena dan Mei Lie tersentak ka- get. Terutama Mei Lie. Namun kemudian Pende- kar Gila tampak cengengesan dan menggaruk- garuk kepala.
"Siapa perempuan licik itu, Eyang...?! Ra- sanya kami tak pernah berbuat jahat pada seseo- rang," kata Mei Lie dengan nada cemas.
"Memang. Tapi, aku tak bisa menjelaskan lebih dari itu. Nanti kalian sendiri yang akan mengetahui siapa wanita itu...," tutur Naga
Brahma dengan suara penuh wibawa dan besar.
Mei Lie menghela napas panjang, lalu meli- rik ke arah Pendekar Gila yang tampak tenang- tenang saja.
"Lantas, apa yang harus kami lakukan, Eyang?" tanya Sena dengan kalem.
"Aku serahkan pada kalian semua. Asalkan kalian memang yakin dapat membuka tabir yang masih terselubung dalam peristiwa pelik ini. Doa- ku bersama kalian. Sekarang kuijinkan kalian pergi. Agar tempat ini tidak menjadi ajang perta- rungan orang-orang yang ingin merusak kesucian tempat ini...," tutur Naga Brahma.
"Terima kasih, Eyang. Kami mohon doa restu Eyang...," sahut Sena sambil menjura, di- ikuti yang lain.
Naga Brahma hanya menganggukkan kepa- la perlahan.
Sena, Mei Lie, Supit Songong, dan Dogol segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Naga Brahma. Lelaki tua bertubuh penuh sisik seperti layaknya ular naga itu kemudian meli- patkan kedua tangan di dadanya. Matanya terpe- jam rapat, melakukan semadi.
***

"Ke mana kita harus mencari pengacau itu, Kakang?" tanya Mei Lie dengan nada yang terdengar sudah tak sabar lagi.
Gadis itu berjalan di sisi kiri Sena, sedangkan Supit Songong berada di depan bersama Dogol. Terkadang anak bersisik naga itu melompat ke pundak Dogol dan tertawa-tawa menggoda. Tangannya yang hitam memegang pentil Dogol yang gemuk. Pemuda bertubuh bulat itu tertawa- tawa kegelian.
"Siapa kira-kira perempuan yang mengin- ginkan kematian kita itu, Kakang Sena...?" tanya Mei Lie dengan wajah cemberut
"Entahlah, aku belum bisa berpikir. Aneh! Ada saja manusia macam itu! Memangnya nyawa orang kaya ayam!" kata Sena berseloroh. Lalu menggaruk-garuk kepala dan tertawa kecil sambil menatap ke arah Mei Lie. Gadis itu juga bertam- bah kesal.
"Jangan bercanda, Kakang! Ini bukan se- pele. Kita bisa celaka nanti...!" kata Mei Lie den- gan nada kesal. Namun Sena tetap nampak cen- gengesan.
Tiba-tiba Pendekar Gila menghentikan langkahnya. Mei Lie pun mengikutinya.
"Supit..!" Supit Songong yang sudah berjalan di sisi Dogol pun berhenti sambil menoleh ke belakang. Diikuti Dogol, yang memegangi perutnya. Supit Songong segera menghampiri Sena dan Mei Lie.
"Ada apa, Kakang Sena?" tanya Supit "Kita nampaknya harus bersiasat. Kita ha- rus berpencar. Kau dan Dogol mencari dan me- nyelidiki keadaan tempat-tempat yang mencuri- gakan. Biar aku dan Mei Lie menyelidiki di tempat lain. Sebelum malam tiba, kalau bisa kita harus sudah berkumpul kembali di Perguruan Kera Pu- tih, tempat Paman Wanara Sakti...!" usul Sena pada bocah bersisik naga itu.
"Baik, Kakang Sena. Kami segera pergi...," sambut Supit Songong sambil menjura lalu pergi.
Dogol nampak ragu. Namun Pendekar Gila mengisyaratkan dengan anggukan kepala. Lelaki gemuk itu pun melangkah setelah mengangguk- kan kepala pada Sena dan Mei Lie.
"Sebenarnya aku mengkhawatirkan Dogol dan Supit Songong. Tapi mereka harus dilatih un- tuk berani. Seperti Eyang Guru Singo Edan mela- tihku sejak masih kecil seumur Supit Songong. Ternyata manfaatnya sangat banyak dan berarti sekali bagiku," kata Sena seakan bicara pada diri sendiri. Mei Lie hanya menganggukkan kepala perlahan tanda mengerti.
Sejenak Sena menghela napas panjang, la- lu menoleh ke arah Mei Lie yang sedang meman- danginya. Pandangan mata kedua muda mudi itu beradu, Mei Lie tersenyum, mukanya agak merah. "Lantas kita bagaimana, Kakang Sena...?" tanya Mei Lie untuk sekadar menghilangkan rasa malu.
"Sebaiknya kita cepat melakukan penyeli- dikan...," jawab Sena, lalu melangkah diikuti Mei Lie
***

No comments:

Post a Comment