CINTA
PEMBAWA MAUT
Oleh Firman Raharja
1
Di halaman sebuah rumah besar yang
mi- rip dengan bangunan padepokan, sore itu tampak ramai sekali. Rumah besar
milik seorang sauda- gar kaya raya bernama Bronto Widura itu memili- ki halaman
yang sangat luas berupa tanah berpa- sir. Di sekelilingnya tampak terpancang
bendera dan umbul-umbul berwarna-warni sebagai peng- hias. Sehingga suasana di
bawah sinar matahari yang sudah mulai condong ke barat itu tampak semarak
sekali.
Saat itu rupanya sedang ada
pertandingan silat untuk mencoba ilmu serta kepandaian mu- rid-murid Bronto
Widura. Saudagar kaya yang ju- ga seorang guru silat itu kedatangan tamu dari
Pulau Dewata, yaitu I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Pada saat itu mereka sedang
menyaksikan kehebatan I Gusti Kastasudra yang sedang meng- hadapi lima orang
murid pilihan dari Perguruan Kumbang Merah.
Nampak I Gusti Kastasudra yang
bertubuh agak pendek dan gemuk melenting menghindari serangan lima murid
pilihan Perguruan Kumbang Merah. I Gusti Kastasudra yang memiliki ilmu le- bih
tinggi tampaknya terlalu tangguh untuk diha- dapi kelima lawannya. Padahal
kelima orang ber- seragam merah itu sudah termasuk murid tingkat atas dalam
perguruan mereka.
Pimpinan Perguruan Kumbang Merah,
Ba- rong Porwa nampak cemas dan geram melihat ke- lima murid pilihannya tak
mampu menaklukkan I Gusti Kastasudra yang bertubuh pendek itu.
Beberapa kali terdengar Barong
Porwa mendengus kesal sambil memukul-mukul telapak tangannya sendiri. Sementara
I Gusti Kumala yang duduk di sisi kirinya tampak tenang tanpa memberi tanggapan
apa pun. I Gusti Kumala memang lebih gagah dan tenang daripada I Gusti
Kastasudra yang bermuka beringas dan mcnye- ramkan. Pertarungan tampak semakin
seru. Bebe- rapa kali gebrakan pada murid dari Perguruan Kumbang Merah dapat
diatasi dengan baik oleh pendekar dari Pulau Dewata itu. Bahkan kemu- dian,
ketika secara mendadak I Gusti Kastasudra melancarkan serangan cepat kelima
lawannya berpentalan dan jatuh ke tanah.
Begitu kelima orang itu roboh,
mendadak sesosok bayangan melompat dan bersalto di uda- ra lalu langsung
menyerang I Gusti Kastasudra. Lelaki pendek gemuk itu cepat mengelak dengan
hanya meliukkan tubuhnya dengan lentur bagai karet, sambil melancarkan serangan
balik yang dahsyat. Terjadi lagi pertarungan yang lebih seru. Karena lawan I
Gusti Kastasudra sekarang, Ba- rong Porwa sendiri. Pimpinan Perguruan Kum- bang
Merah.
"Heaaa...! Kusobek
perutmu...!" seru Ba- rong Porwa dengan menghantamkan telapak tangannya
yang nampak bergetar dan berasap. Seba- tas pergelangan tangannya menyala bagai
bara api. I Gusti Kastasudra dengan tenang terus men- gelak dari serangan
Barong Porwa yang ganas dan berbahaya itu. Dia kembali berkelit seperti belut,
bahkan terkadang dengan cepat melancarkan se- rangan tiba-tiba. Hal itu membuat
Barong Porwa yang memiliki ajian 'Tapak Geni' itu tampak pe- nasaran bukan
main.
"Hem! Mampus kau Sudra.
Heaaa...!" Kembali Barong Porwa menghantarkan se- rangan cepat. Kini kedua
telapak tangannya telah menyala dan mengeluarkan hawa panas. Pada kesempatan
berikutnya, hampir saja dada I Gusti Kastasudra remuk dan terbakar oleh
sambaran tangan Barong Porwa, kalau tidak cepat bergerak ke samping kiri.
I Gusti Kastasudra lalu melenting
ke udara dengan tubuh lurus dan kedua kakinya ditekuk, menghindari serangan
susulan lawan yang mele- sat begitu cepat. Lalu dia mendarat di atas tiang
umbul-umbul yang terpajang di halaman itu. Ba- rong Porwa yang melihat itu
segera melejit mem- buru sambil melancarkan serangan cepat. Saling tangkis dan
pukul ketika keduanya berada di udara. Lalu sama-sama meluncur turun sambil
mengeluarkan teriakan-teriakan nyaring.
"Benar-benar luar
biasa...!" gumam Bronto Widura sambil bergeleng kepala berulang kali.
Begitupun semua yang menyaksikan pertarungan hebat itu. Semua penonton berdecak
kagum dengan mata tak berkedip. Seolah mereka tak ingin kehilangan barang satu
jurus pun dari tontonan menakjubkan itu.
Kaki-kaki keduanya mendarat di
tanah hanya sekejap, lalu melompat lagi dan kembali bertarung di udara.
Wuuut! Buk!" Barong Porwa
memekik, sambil memegangi dadanya. Lalu berbalik. Sementara itu I Gusti
Kastasudra tetap nampak tenang menatap tajam lawannya yang terluka di bagian
dada. Sementara I Gusti Kastasudra pun tak luput dari serangan lawan. Bahu
kirinya tadi sempat terserempet tan- gan Barong Porwa, hingga terasa bagai
terbakar, karena tampak hangus. Namun dengan tiga kali usap saja, luka hangus
itu pun hilang. Barong Porwa kaget.
"Edan...! Ajian pamungkasku
bisa dile- nyapkan!" gumam Barong Porwa dengan mata membelalak seakan tak
percaya.
Tiba-tiba saja Barong Porwa kembali
me- nyerang dengan melompat bagai harimau hendak menerkam mangsa. Itulah jurus
'Harimau Be- lang'. Namun I Gusti Kastasudra rupanya sudah mengetahui jurus
yang dipakai Barong Porwa. Maka dengan kecepatan yang sulit dilihat semua orang
yang ada di situ. Tiba-tiba tubuh Barong Porwa terpelanting. Dan sebelum lelaki
berjubah merah itu terhempas di tanah, I Gusti Kastasudra menarik kain putih
yang melilit di tubuhnya. Kemudian dengan cepat dia menghentakkan kain itu
sehingga terhampar. Tubuh Barong Porwa pun terhempas di atasnya, membuat kain
putih itu sesaat menggelombang.
I Gusti Kastasudra sempat membuat
para penonton berdecak kagum. Dengan cepat dihen- takkan lalu diputarnya kain
putih itu, sehingga menggulung tubuh lawan. Kemudian mendadak kain yang telah
menggulung tubuh Barong Porwa itu terangkat ke atas ketika dengan cepat I Gusti
Kastasudra menghentakkannya kembali. Dan yang membuat para penonton lebih
tercengang ketika melihat kain itu ditancapkan ke tanah, ba- gaikan kayu saja.
Tampaklah Barong Porwa yang telah terbalut kain putih itu tergantung di udara.
Tubuhnya menggeliat-geliat, membuat sebagian penonton ada yang tertawa.
"Edan...! Edan! Benar-benar
edan!" gumam Bronto Widura terkagum-kagum untuk kesekian kalinya. Lalu
tertawa-tawa pada I Gusti Kumala yang duduk di sisi kanannya. Namun I Gusti Ku-
mala tenang-tenang saja, memperlihatkan se- nyumnya yang dingin kepada tuan
rumah itu.
I Gusti Kastasudra menyalurkan aji
'Angin Topan Sejati'! Tangannya menghentak, dan angin topan pun bertiup sangat
kencang menerbangkan debu dan dedaunan kering. Kain yang memben- tuk seperti
tiang itu berputar terkena tiupan an- gin kencang yang berputar bagai
gangsingan.
Terdengar Barong Porwa
menjerit-jerit te- rus, dalam keadaan tubuhnya berputar kencang.
Tiba-tiba sekali lagi I Gusti
Kastasudra menyentakkan tangannya. Namun kali ini diarah- kan ke pedang salah
seorang murid Bronto Widu- ra. Seketika sebilah pedang melesat lepas dari sa-
rungnya dan terbang ke udara. Secepat kilat I Gusti Kastasudra melenting
memburu pedang yang masih melayang di udara, dengan sigap tan- gannya menyambar
pedang itu. Lalu dengan pe- dang tergenggam di tangannya, I Gusti Kastasu- dra
langsung membabat tubuh Barong Porwa yang terbelit kain putih dan masih
berputar kare- na tiupan angin topan sejati. Dengan gerakan yang tak bisa
diikuti mata, pedang itu menyabet ke tubuh Barong Porwa yang masih terbungkus
kain. Namun dengan ketinggian ilmu dan kecer- matan yang luar biasa, pedang
hanya mengenai kain putih yang membelit Barong Porwa. Tanpa menggores sedikit
pun kulit Pimpinan Perguruan Kumbang Merah itu. Dengan sekali hentak, pe- dang
yang ada di tangan I Gusti Kastasudra mele- sat kembali masuk ke sarung
kerangka yang ter- sampir di punggung pemiliknya.
Para penonton bertepuk tangan
dengan riuh, memberikan pujian pada kehebatan I Gusti Kastasudra. Beberapa kali
terdengar siutan dari beberapa orang penonton yang bergerombol di sudut barat.
Sementara I Gusti Kumala tampak hanya tersenyum-senyum getir. Sebab, sebenar-
nya dia tak suka melihat saudara seperguruannya memamerkan kebolehannya di
depan umum. Se- sungguhnya kedatangan kedua tokoh dari Pulau
Dewata itu ke tanah Jawa Dwipa
karena ingin menemui Pendekar Gila. Keduanya ingin menguji ilmu dengan pendekar
kesohor itu, sekaligus me- nyelidiki sampai di mana kemajuan perguruan-
perguruan silat di Jawa Dwipa. Karena terutama I Gusti Kumala yang berasal dari
bagian utara Pu- lau Dewata itu berhasrat sekali untuk mempelaja- ri ilmu silat
di Jawa Dwipa.
Sementara itu di tengah halaman
nampak Barong Porwa dengan muka sinis menatap ke arah I Gusti Kastasudra. Lalu
dengan langkah le- bar dia meninggalkan tempat itu seraya memerin- tahkan pada
murid-murid andalannya agar segera pergi, tanpa berpamitan dengan tuan rumah
yang mempunyai hajat. Bronto Widura nampak terke- jut dengan sikap Barong
Porwa, tapi akhirnya bi- sa mengerti. Pemimpin Perguruan Kumbang Me- rah itu
merasa malu atas kekalahannya. Padahal sebelumnya Barong Porwa merasa sangat
yakin, kalau dia akan bisa mengalahkan I Gusti Kasta- sudra dari Pulau Dewata
itu.
Tiba-tiba I Gusti Kastasudra
berteriak sambil melompat ke udara. Setelah bersalto tiga kali mendaratkan
kakinya dengan ringan sekali, tepat di hadapan I Gusti Kumala yang kelihatan
sangat tenang tetapi penuh wibawa.
Sementara itu suara riuh tepuk
tangan da- ri para penonton masih terdengar, mengeluelukan I Gusti Kastasudra.
Namun di antara mereka ada pula yang kurang suka terhadap keme- nangan I Gusti
Kastasudra. Terutama mereka yang menganggap tokoh dari Pulau Dewata itu
memamerkan ilmu dan melecehkan tokoh-tokoh dari tanah Jawa Dwipa.
Tanpa terasa hari pun mulai gelap
dan se- bentar lagi akan datang malam. Para pengunjung dari berbagai perguruan
yang diundang masih be- rada di tempat. Mereka kini menikmati makanan dan
minuman sambil menyaksikan tarian yang disuguhkan oleh para penari ledek.
***
Bronto Widura mengajak para tamu
yang terdiri dari para pemimpin perguruan, menuju ruang pertemuan di dalam
rumahnya. Sebuah ruangan besar yang terkesan indah, diterangi ca- haya dari
lampu-lampu minyak yang berpendar dengan lembutnya. Semua itu disediakan untuk
menghormati I Gusti Kumala dan I Gusti Kasta- sudra yang datang dari jauh dan
menyempatkan singgah di padepokannya. Bronto Widura belum tahu persis maksud
kedatangan kedua tokoh yang berilmu tinggi itu.
Di antara mereka juga terlihat
beberapa murid pilihan Bronto Widura. Sementara itu sau- dagar kaya yang juga
seorang guru itu tampak duduk dengan tenang di sebuah kursi tersendiri. Suasana
saat itu terkesan hikmat
"Sungguh luar biasa! Aku kagum
setelah dapat menyaksikan sendiri ketinggian ilmu Gusti. Ilmu yang tak ada duanya...,"
puji Bronto Widura pada I Gusti Kastasudra yang tampak hanya ter-
senyum-senyum.
"Ah...! Itu belum seberapa,
Sobat. Ilmuku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan ilmu saudara seperguruan
Kumala. Apalagi ilmu 'Salju Sejati' yang dia miliki...," ujar I Gusti
Kastasudra sambil menoleh ke arah I Gusti Kumala yang nampak kurang senang
mendengar ucapan I Gus- ti Kastasudra. Namun I Gusti Kumala berusaha untuk
tersenyum, agar tidak membuat suasana menjadi berubah.
Bronto Widura langsung menoleh ke
arah I Gusti Kumala yang duduk dengan tenang di sisi kanannya.
"Aku belum pernah mendengar
ilmu 'Salju Sejati'. Sudilah kiranya I Gusti Kumala memperli- hatkannya pada
kami...!" kata Bronto Widura pe- nuh harapan.
I Gusti Kumala tak langsung
menjawab, matanya yang tajam dan bening sejenak menatap I Gusti Kastasudra yang
tersenyum-senyum sam- bil mengangkat kedua bahunya. Tingkahnya san- gat berbeda
sekali dengan I Gusti Kumala yang tenang dan berwibawa.
"Ah, jangan percaya omongan
Kakak I Gus- ti Kastasudra. Hm.... tapi apakah ada manfaat- nya?" kilah I
Gusti Kumala kemudian dengan su- aranya yang berwibawa agak berat.
"Tentu saja. Terutama bagi
murid-muridku, karena akan memupus rasa sombong dan puas diri mereka. Selain
itu dapat menyadarkan hati
mereka, bahwa di muka bumi ini ilmu
tak terba- tas sifatnya," tutur Bronto Widura menjelaskan pada I Gusti
Kumala.
Nampak I Gusti Kastasudra manggut-
manggut saja. Sedangkan I Gusti Kumala hanya bisa menghela napas panjang, dan
kembali meli- rik ke arah I Gusti Kastasudra dengan kesal.
Suasana kemudian jadi hening.
Seluruh yang hadir di ruangan pertemuan itu penuh ha- rap, menunggu ilmu 'Salju
Sejati'. Dengan sikap yang sangat tenang, I Gusti Kumala meletakkan tangan
kirinya di atas cawan berisi air minum. Sesaat kemudian udara di sekitar tempat
itu be- rubah dingin dengan munculnya butir-butir air.
"Hah...?!" gumam Bronto
Widura kaget dengan mengerutkan kening. Demikian juga den- gan yang lain. Namun
mereka tak berani berbica- ra. Hanya bisa menunggu dan diam. Ingin tahu apa
yang akan terjadi selanjutnya.
Kini nampak dari sela-sela jari I
Gusti Ku- mala mengepul kabut dingin yang tipis. Tangan- nya yang lain menarik
cawan. Air di dalam cawan itu langsung berubah menjadi pedang es kristal. Suatu
ilmu yang membuat semua orang di situ terkagum-kagum.
"Edan...! Edan! Ini baru
benar-benar me- nakjubkan dan hebat," gumam Dursa Kumbara, tokoh aliran
hitam yang terkenal licik dan penuh tipu muslihat "Aku akan membuat
rencana, agar bisa memperdaya orang ini...." Matanya yang ter- lihat jahat
melirik, memperhatikan peragaan ilmu
'Salju Sejati' itu.
Kembali pada I Gusti Kumala yang
kini nampak melemparkan pedang es itu. Pedang es melesat dan menancap di sebuah
tiang kayu ruangan menimbulkan suara berdentang yang menggema. Terlihat lelehan
air menetes-netes dari pedang es yang menancap itu.
Semua yang hadir terpana oleh
ketinggian ilmu I Gusti Kumala. Bahkan Bronto Widura mendesis tanpa sadar
melihat pedang es yang menancap di tiang.
"Luar biasa...!" gumamnya
dengan mata membelalak penuh takjub.
Pada saat itulah muncul Murti,
diiringi oleh beberapa wanita tua yang membawa aneka hi- dangan. Semua mata
lalu menoleh ke arah Murti yang berparas cantik, namun matanya agak galak dan
nakal. Semua yang hadir terpesona dengan kemolekan bentuk tubuh Murti yang
padat. Da- danya yang indah tersembul ke depan, menan- tang siapa saja yang
memandangnya. Bibirnya yang merah delima membuat para hadirin terke- sima
sambil menelan ludah. Apalagi jika melihat pinggulnya yang padat dan indah.
I Gusti Kastasudra yang agak
bringas tak habis-habisnya tersenyum-senyum penuh arti, ketika Murti berada di
depannya mengantarkan beberapa hidangan. Hanya I Gusti Kumala yang nampak acuh
dan kelihatan kurang senang meli- hat I Gusti Kastasudra. Menurutnya sikap I
Gusti
Kastasudra tidak sopan, mengingat
mereka me- rupakan tamu di tempat itu.
"Oooh..., kenalkan istriku,
Murti...!" kata Bronto Widura setelah sadar kalau Murti ada di hadapannya.
Lalu memperkenalkan pada I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Bersamaan dengan kata-kata Bronto
Widu- ra, Murti memberikan penghormatan dan terse- nyum ramah, lalu melirik ke
arah I Gusti Kasta- sudra, sambil mengulum bibirnya. Bronto Widura terus
tersenyum-senyum, sambil mempersilakan pada tamu lainnya.
Sementara itu wanita dayang-dayang
menghidangkan berbagai hidangan kepada para tamu.
"Sungguh tak terduga, kami
dapat kunjun- gan sepasang pendekar dari Pulau Dewata. Sela- ma ini kami hanya
bisa dengar saja nama I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra...," ujar
Bronto Widura lagi.
"Jangan terlalu
berlebih-lebihan, Saudara Bronto. Justru sekarang kami mengembara dalam rangka
terus mencari ilmu dari setiap kepulauan dan daerah yang kami singgahi,"
sahut I Gusti Kumala dengan kalem.
"Tetapi di tanah Jawa Dwipa
ini, hanya seorang yang mungkin bisa disejajarkan dengan Kisanak berdua.
Seorang pendekar muda yang di- juluki...," belum sempat Bronto Widura
mene- ruskan kata-katanya, I Gusti Kumala cepat me- nyambar.
"Pendekar Gila, maksud Saudara
Bron- to...?!" Terkejut Bronto Widura dan semua yang ada di situ. Terutama
Murti yang memberikan sa- tu gerakan, meskipun hanya kecil, tapi menge- jutkan.
Bagaikan tersengat kalajengking, matanya terbelalak lebar. Jantungnya mendadak
berdebar tenang. Murti masih mempunyai rasa cinta ber- campur dendam pada
Pendekar Gila. Selain cin- tanya tak pernah ditanggapi oleh Pendekar Gila,
Murti juga sangat benci dan cemburu pada Mei Lie. Gadis yang kini menjadi
kekasih Sena Mang- gala atau Pendekar Gila. Murti mendadak me- langkah masuk ke
ruangan tadi, tempat dia tadi keluar bersama dayang-dayangnya.
I Gusti Kumala melihat raut muka
Murti yang menunjukkan kurang senang mendengar nama Pendekar Gila. Sedangkan I
Gusti Kastasu- dra hanya tersenyum-senyum sambil menikmati hidangan lezat yang
dihidangkan para dayang ta- di.
Bronto Widura yang nampak tak acuh
den- gan istrinya itu, terus nampak ramah, menyilakan para tamu agar segera
menyantap hidangan yang masih hangat
"Mari... mari...! Silakan, ayo
Kisanak san- tap saja, mari...!" kata Bronto Widura sambil mengangkat
tangannya menyilakan para tamu.
Di luar suara gamelan masih terus
menga- lun. Para sinden terus mendendangkan lagu yang merdu. Malam semakin
larut, di ruangan perjamuan itu suasana masih ramai. Mereka bergem- bira sambil
menikmati hidangan.
Sementara itu Murti sudah berada di
ka- marnya. Berdiri di dekat jendela, memandang jauh keluar rumah. Rupanya
Murti sedang mela- munkan wajah Pendekar Gila yang tampan dan pernah
dikenalnya. Mulailah terbayang kejadian yang pernah dialaminya waktu itu....
***
Siang itu baru saja pulang dari
menuntut ilmu. Murti berjalan dengan langkah lebar, kare- na ingin segera
menemui bibinya, Nyi Gendis Awit. (Tentang Nyi Gendis Awit, silakan baca seri-
al Pendekar Gila dalam episode : "Mawar Maut Pe- rawan Tua").
Pesan dari gurunya, Murti harus
segera mencari Nyi Gendis Awit. Namun ketika menda- patkan berita bahwa Nyi
Gendis Awit mati dibu- nuh oleh Pendekar Gila, terbakarlah hati Murti. Dia lalu
mencari Pendekar Gila dengan cara se- perti Nyi Gendis Awit. Murti memakai
cadar me- rah seperti yang dikenakan Nyi Gendis Awit dalam sepak terjangnya
membalas dendam.
Siang itu di sebuah lembah, Sena
Manggala atau Pendekar Gila berjalan bersama Mei Lie, hendak kembali ke
pondoknya. Di tengah jalan keduanya bertemu dengan seorang wanita muda yang
memakai cadar.
Pendekar Gila berhenti melihat
kemunculan wanita bercadar itu, lalu menoleh ke arah ke- kasihnya. Melihat
wanita bercadar merah meng- hunus pedangnya, Mei Lie segera melangkah se-
tindak. "Hei, kau mau cari gara-gara atau meram- pok...?!" bentak Mei
Lie sambil menuding wanita di depannya. Namun wanita bercadar itu tak menjawab,
malah dia menggerakkan pedangnya, mulai membuka jurus silat
"Huh...! Rupanya orang ini mau
cari gara- gara, Kakang Sena. Biarlah aku yang menghadapi orang aneh ini!"
seru Mei Lie seraya mencabut Pe- dang Bidadari-nya.
Wanita bercadar langsung melesat
cepat menyerang Mei Lie dengan ganas. Sabetan pe- dangnya begitu cepat
Trang! Dentangan keras terdengar
dari benturan dua pedang yang berbenturan. Jurus-jurus yang mereka keluarkan
nampaknya bukan jurus biasa. Jurus tingkat tinggi yang mengandalkan tenaga
dalam dan ilmu meringankan tubuh. Sehingga tubuh keduanya bagai menghilang.
Sena yang mengamati jalannya
pertarun- gan Mei Lie dengan wanita bercadar itu hanya menggaruk-garuk kepala.
Pemuda berambut pan- jang dan berpakaian dari kulit ular itu sepertinya tengah
mengingat-ingat sesuatu.
"Aha..., aku ingat sekarang!
Itu jurus yang dimiliki Nyi Gendis Awit! Siapa wanita ini sebe- narnya...?
Mungkin dia akan membalas dendam!" gumam Sena sambil menggeleng-geleng
kepala.
Nampak Mei Lie merangsek dengan
tusu- kan Pedang Bidadari-nya yang terkenal sangat berbahaya. Sedangkan lawan
tampak tak ingin kalah. Pedangnya dengan cepat berkelebat mem- babat dan
menusuk ke arah tubuh Mei Lie.
Wuttt! Trang! Keduanya terus
bergerak cepat saling me- nyerang dan menangkis. Kini bukan hanya senja- ta
mereka yang bertemu, tapi kaki mereka pun saling berusaha menyapu dan menendang
lawan.
Entah sudah berapa jurus yang
mereka ke- luarkan. Kelihatannya kedua wanita itu sama- sama kuat. Mereka terus
bertarung bagai keseta- nan.
"Mampus kau...!" bentak
wanita bercadar merah sambil membabatkan pedangnya dengan cepat kedua arah.
Namun Mei Lie dengan cepat pula
menang- kis dan melenting ke udara. Sambil bersalto bebe- rapa kali dia
langsung menendang dengan keras ke arah lawannya yang masih menunduk.
Degkh! Wanita bercadar memekik,
ketika tendan- gan Mei Lie mendarat di pundaknya. Tubuhnya terhuyung-huyung,
tapi kemudian mampu men- guasai keseimbangan. Dengan cepat dia berbalik, siap
menghadapi Mei Lie lagi.
Pedang di tangan wanita misterius
itu ber- gerak cepat ke arah tubuh lawan. Melihat serangan lawan, Mei Lie yang
juga mendapat julukan sebagai Bidadari Pencabut Nyawa itu mengegos ke samping,
lalu menghantamkan gagang pedangnya ke dada lawan yang terbuka.
Dukh! "Hukh!" Tubuh
wanita bercadar itu terhuyung- huyung ke belakang. Darah tampak meleleh
membasahi kain penutup wajahnya. Melihat itu, Pendekar Gila segera melompat
menahan Mei Lie yang hendak kembali menghajar lawannya.
"Mei Lie...! Tunggu...!"
seru Sena sambil menahan tangan Mei Lie. Gadis itu tampak cem- berut dan kesal.
Sena lalu berjongkok untuk menolong
wa- nita itu. Dibukanya cadar merah itu, lalu terlihat wajah seorang wanita
muda yang cukup cantik, tapi bermata galak dan bengis. Napasnya teren-
gah-engah.
"Bunuh saja aku...,
bunuh...!" kata wanita itu.
Melihat keadaan wanita cantik yang
belum dikenalnya itu, Sena segera berusaha menyem- buhkan luka dalamnya yang
parah. Pendekar Gila memberikan obat berbentuk bulat warna hitam pada wanita
itu agar dimakan.
"Cepat makan obat itu!
Mudah-mudahan lukamu akan segera sembuh...," ujarnya sambil menyodorkan
obat itu.
Sementara itu Mei Lie melengos dan
me- langkah menjauhi mereka. Hatinya mungkin merasa cemburu dan kesal pada
Pendekar Gila.
"Dasar lelaki...!" gumam
Mei Lie dengan wajah cemberut.
"Ter... terima kasih...!"
Terdengar suara wanita itu serak dan lemah. Namun wajahnya mulai nampak segar.
Tidak sepucat tadi.
"Sudahlah...! Siapa kau
sebenarnya...?" tanya Sena kemudian.
"Aaaku..., Murti.... Kau
tentunya masih in- gat perawan tua yang bernama Nyi Gendis Awit...,
bukan...?" kata Murti dengan nada lemah.
"Hah...?! Sudah kuduga sejak
melihat ge- rakan silat wanita ini. Ada kemiripan dengan Nyi Gendis
Awit...," gumam Sena di hatinya.
"Dia..., bibiku.... Tadinya
aku bermaksud untuk menuntut balas atas kematiannya. Dan menurut kabar, kaulah
yang membunuh bibiku itu... Tapi..., kini aku sadar. Balas dendam tak membawa
keberuntungan pada diriku yang sudah yatim piatu ini." Suaranya terdengar
memelas.
Saat itu Mei Lie melangkah
mendekati me- reka. Ditatapnya Murti dengan tajam. Murti pun menengok ke arah
Mei Lie yang berdiri di sisi Pendekar Gila.
"Maafkan aku Nisanak, aku
bersalah. Aku tadi terdorong rasa dendamku untuk menuntut balas atas kematian
bibiku Nyi Gendis Awit.... Se- kali lagi maafkan aku...!" kata Murti pada
Mei Lie.
Mendengar dan menyaksikan keadaan
Murti yang masih lemah dan memelas itu, hati Mei Lie tersentuh. Dia mulai iba
melihat keadaan
Murti. Kemudian berjongkok di sisi
Sena.
"Aku pun minta maaf. Kita
sama-sama ter- dorong nafsu dan amarah tadi.... Tapi sudahlah, aku dapat
mengerti," kata Mei Lie dengan ramah.
Melihat Murti tersenyum, Mei Lie
mengu- lurkan tangan yang disambut oleh Murti. Kedua- nya berjabat tangan,
mengungkapkan rasa persa- habatan mereka.
Setelah mereka tinggal bersama, di
pondok Sena yang jauh dari keramaian, timbul rasa cinta Murti pada Pendekar
Gila itu. Namun dengan ha- lus Sena selalu menghindar.
Murti ternyata tergolong wanita
yang memi- liki gairah tinggi terhadap lelaki. Tanpa mempe- dulikan Sena yang
rikuh dan serba salah, dia te- rus mengejar pemuda itu.
Pada suatu sore, ketika Mei Lie
sedang per- gi ke desa, Murti mengambil kesempatan. Saat itu Sena sedang
berbaring untuk beristirahat. Tiba- tiba.... "Aaakh... tolooong...!"
Terdengar teriakan Murti di luar
pondok. Sena yang mendengar teriakan itu segera melom- pat dari balai-balai dan
mencari Murti. Namun tak nampak.
"Murtiii...!" seru Sena.
"Aaa...! Tolooong...!" Sena segera melompat cepat ke tempat asal
suara Murti.
"Murti...!" seru Sena
yang melihat Murti tengah tergeletak di tanah dekat danau, tak jauh dari pondok
tempat mereka tinggal.
"Aduh...! Akh...!" Sena
segera berjongkok. Dan pada saat itu- lah tiba-tiba Murti memeluk erat Sena.
Sena ter- kejut dan berusaha melepas pelukan Murti den- gan halus.
"Murti.... Murti... jangan... tidak baik, Murti!" Sena coba melepas
rangkulan Murti. Na- mun Murti semakin berani. Dia tiba-tiba men- gangkat
kainnya ke atas, sampai ke pangkal pa- ha. Sena yang melihat itu segera
membuang mu- ka dan hendak meninggalkan Murti. Namun wa- nita muda yang sudah
kerasukan nafsu birahi itu semakin gila. Ditariknya lengan Sena kuat-kuat
sambil tertawa-tawa genit.
Pada saat itu Mei Lie sedang
menyusuri pinggiran danau. Ketika dia mendengar suara ta- wa di balik pepohonan
rindang tak jauh dari tem- patnya, segera Mei Lie melompat menghampiri. Dan...
bukan main terkejut dan marahnya Mei Lie melihat Murti dengan berani membuka
pakaian- nya.
"Murti..., jangan! Kau ini
manusia atau ib- lis...!" bentak Sena mulai marah.
Namun Murti malah tertawa-tawa dan
kini Murti tinggal memakai kutang saja. Dadanya yang memang sekal dan
membusung, padat itu nam- pak tersembul. Kulitnya putih dan mulus.
Dengan perasaan tidak enak, Sena
meng- hentakkannya, lalu pergi. Pada saat itu Mei Lie yang sudah tak tahan
melompat dan langsung menghajar Murti dengan tendangan serta tamparan tangan
kanan kirinya.
Murti tak menduga akan kehadiran
Mei Lie yang begitu cepat, tapi segera berusaha menang- kis. Kemudian buru-buru
mengenakan kembali pakaiannya.
"Kau perempuan jalang...!
Pergi... pergi kau dari sini...! Dikasih hati malah kurang ajar.... Per-
gi...!" teriak Mei Lie dengan keras.
"Mei Lie...! Sabar, Mei
Lie...!" Sena berusa- ha menenangkan kekasihnya yang sudah kalap itu. Mei
Lie berontak ketika Sena memeganginya bahkan menampar muka pemuda itu. Lalu
sambil menangis dia berlari ke pondok. Saat itu Murti sudah tak kelihatan lagi,
entah pergi ke mana.
***
"Murti...!" Murti sadar
dari lamunannya, ketika ter- dengar suara teguran dari seseorang. Murti kaget,
dan menoleh.
"Oh, kau...?! Ada
apa...?" tanya Murti den- gan gagap, ketika melihat Dursa Kumbara yang
berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Ssst...!" Dursa Kumbara
langsung mendekati Murti yang malam itu nampak cantik dan menggiurkan, dengan
pakaian yang seperti wanita India. Dursa Kumbara yang memang sudah sering tidur
den- gan Murti, memeluk erat tubuh lalu menciumi tubuh wanita itu dengan rakus.
Murti yang memang tidak pernah puas dengan satu lelaki saja, tampak diam, tidak
menolak sama sekali. Terden- gar suara lirih dari mulut wanita cantik itu.
"Murti.... I Gusti Kastasudra
kulihat ada hati denganmu. Permainkan dia. Ambil kitab ilmu silat orang
seberang itu agar kekuatan dan ilmu kita bertambah. Baru kita singkirkan kedua
orang itu...," kata Dursa Kumbara dengan suara berge- tar, karena menahan
nafsu birahinya.
Dursa Kumbara lalu menutup pintu
kamar itu dengan tendangan kakinya. Kemudian mem- bopong tubuh Murti ke ranjang
dan merebahkan- nya dalam keadaan telentang.
"Murti..., aku mendengar kedua
tokoh dari Pulau Dewata itu hendak menemui Pendekar Gi- la...!" Suara
Dursa Kumbara mendesah dan sedi- kit bergetar. Murti tidak segera menjawab
ucapan lelaki bertubuh gagah itu, hanya terdengar desa- han perlahan dari
mulutnya.
"Untuk apa mereka ingin
menemui Pende- kar Gila...?!" tanya Murti dengan suara sedikit tertahan,
karena tertindih tubuh Dursa Kumbara yang besar itu.
"Mereka ingin saling tukar
ilmu dan mem- berikan kitab ilmu silat milik mereka pada Pende- kar
Gila...," tutur Dursa Kumbara, lalu kembali menciumi leher dan dada Murti.
Murti nampak tertegun sejenak.
Pandan- gannya menatap langit-langit kamar.
"Kita harus mencegahnya,
Murti. Kalau ti- dak, orang-orang aliran putih semakin sukar ditaklukkan.
Apalagi Pendekar Gila itu...! Aku kua- tir kita akan sulit menguasai tanah Jawa
Dwipa ini."
Kembali Dursa Kumbara berkata
dengan suara mendesah. Napasnya naik turun dengan cepat. Keringat mulai
membasahi tubuhnya yang kekar dan berotot. Lelaki itu dengan buas meng- geluti
tubuh Murti yang sudah polos. Murti pun mulai mendesah dan merintih merasakan
kenik- matan yang selalu didambakan. Namun tiba- tiba.... "Huh...!"
Bug! Brak! Dursa Kumbara terpental
jatuh dari tempat tidur. Kemudian buru-buru dia mengenakan celana dan
pakaiannya. Dursa Kumbara telah hafal akan sifat Murti yang memang suka aneh.
Lelaki berwajah lebar itu tahu, kalau Murti sedang gu- sar, pikirannya tak tenang.
Maka hatinya tidak marah meskipun Murti telah menendangnya den- gan keras.
"Aku tahu kau sedang
memikirkan Pende- kar Gila dan kekasihnya itu, bukan...?" kata Dur- sa
Kumbara langsung dapat menebaknya. "Ini saatnya kau dapat membalas sakit
hatimu, Murti. Dan... mungkin kau malah bisa merebut pende- kar sakti itu
menjadi pendampingmu. Karenanya kita harus punya rencana, untuk mencapai se-
mua itu...! Aku yakin kau telah memikirkannya." Dursa Kumbara yang memang
pintar membaca hati dan pikiran seseorang, mulai memanas-manasi Murti.
"Mei Lie...!" Terdengar
suara Murti bergetar. Giginya gemeretak, seolah-olah menahan geram dan rasa
dendam pada Mei Lie. "Kau benar, Dur- sa Kumbara..., aku akan membuat
perhitungan dengan gadis itu...! Aku punya cara sendiri untuk itu!"
Murti lalu kembali merebahkan diri
sambil berucap. "Kemarilah Dursa Kumbara, puaskan aku malam ini...!"
Kontan saja Dursa Kumbara kembali
membuka pakaiannya dan cepat naik ke ranjang. Namun, tiba-tiba saja Dursa
Kumbara terpekik kaget dengan mata melotot. Darah segar memba- sahi perutnya,
ketika tubuhnya perlahan jatuh di- tendang oleh Murti. Murti si Wanita yang
selalu haus terhadap lelaki itu tersenyum sinis. Tangan kanannya sudah penuh
dengan darah. Rupanya Dursa Kumbara dibunuh dengan ilmu 'Tangan Ib- lis'-nya
yang dapat membelah dan menembus pe- rut manusia.
Dipandanginya mayat Dursa Kumbara
yang terkapar di lantai kamar. Perut lelaki itu berlubang dengan usus terburai,
sedang matanya melotot "Huh...! Orang macam kau harus kubunuh, Kumbara!
Kalau tidak, rencanaku akan gag- al. Aku bukan orang bodoh, Kumbara...! Kini
aku bisa bebas melakukan rencanaku...," ujar Murti seperti bicara pada
diri sendiri. Wanita cantik itu segera memakai kain. Kemudian sambil berteriak-
teriak dia lari keluar.
"Kurang ajar...! Biadab...!
Kakang Bron- to....!"
Teriakan Murti begitu keras. Hal
itu dila- kukan dengan sengaja agar terdengar ke ruang perjamuan.
Bronto Widura terkejut, demikian
juga para tamu, termasuk I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra serta beberapa
tokoh aliran hitam lain- nya. Mereka segera berdiri dan melangkah menu- ju
ruangan dalam. Sampai di ruangan itu tampak Murti tengah marah-marah
menghampiri mereka.
"Dursa Kumbara mau berbuat
kurang ajar terhadapku, Kakang Bronto. Aku... aku terpaksa
membunuhnya...!"
Murti menunjukkan tangan kanannya
yang berlumuran darah. Mereka yang melihatnya san- gat terkejut dan merasa
ngeri juga pada wanita satu ini. I Gusti Kastasudra yang memang mena- ruh hati
pada Murti, segera maju menghampiri wanita itu, lalu coba menenangkannya. Namun
I Gusti Kumala yang berpembawaan tenang, mera- sakan sesuatu yang tidak beres
pada diri Murti. Matanya terus menatap tajam istri juragan Bronto Widura.
Seakan tatapan mata pendekar dari Pu- lau Dewata itu menusuk ke dalam pikiran
dan ji- wa Murti. I Gusti Kumala mengerutkan kening, kemudian melangkah
meninggalkan ruangan itu.
Sementara para tamu lain tampak
saling bisik dan menyalahkan Dursa Kumbara yang su- dah jadi mayat.
"Koneng, Mitro...! Cepat kubur
mayat Dur- sa Kumbara malam ini juga...!" perintah Bronto Widura pada anak
buahnya.
Kedua pemuda itu segera melangkah
me- nuju kamar untuk membawa mayat Dursa Kum- bara.
I Gusti Kastasudra tampak berdiri
di samp- ing Murti.
"Sudahlah, tenangkan hati dan
pikiranmu! Orang macam dia memang harus mendapatkan ganjaran. Kau tidak
salah,..," tutur I Gusti Kasta- sudra. Lalu Murti yang berpura-pura sedih
den- gan air mata sudah membasahi pipinya berlari ke arah Bronto Widura dan
memeluknya dan me- nangis tersedu-sedu.
Namun Bronto Widura seperti sudah
men- gerti akan kebohongan istrinya. Karena selama ini dia sebenarnya sudah
tahu akan penyakit dan kebiasaan Murti. Namun karena juragan kaya raya itu
sangat mencintai dan menyayangi Murti, maka semua yang diketahui dipendamnya.
Dia tak ingin kebiasaan buruk istrinya dapat tercium orang lain. Sehingga
terpaksa lelaki bijak itu sela- lu menutupi keburukan Murti.
Dahulu, Bronto Widura pernah
bersum- pah, bahwa jika Murti bersedia menjadi istrinya, sebagai pengganti
istri pertama yang telah mati, ia ingin hidup sepanjang masa bersama wanita
itu. Murti yang cerdik menerima maksud baik juragan yang kaya raya itu. Namun,
Murti memberikan syarat tertentu. Yang utama, Bronto Widura harus memberikannya
kebebasan dan berjanji tidak marah kalau dia berhubungan dengan lelaki lain.
Karena Murti berterus terang bahwa dirinya tak pernah puas dengan satu lelaki.
"Sudahlah... jangan kau
menangis terus, Murti...! Semuanya sudah berlalu...," bujuk Bron- to
Widura.
Dengan sabar dan tenang dia membawa
Murti ke ruangan lain. Sementara orang-orang mulai kembali ke ruangan
perjamuan. Begitu juga I Gusti Kastasudra. Sejenak lelaki gemuk itu me-
mandangi mereka. Pada kesempatan itu, Murti sempat menoleh ke belakang, matanya
tertuju ke arah I Gusti Kastasudra dengan pandangan aneh dan nakal.
I Gusti Kastasudra membalas dengan
se- nyuman penuh arti pula, lalu dia membalikkan badan dan pergi.
***
2
Malam kian larut. Suasana di depan
rumah juragan Bronto Widura masih terdengar sayup- sayup gamelan ledek.
Sementara itu di kamarnya, Bronto Widura tengah duduk di tepi ranjang ber- sama
Murti. Keduanya terpekur diam, larut dalam pikiran masing-masing, setelah
melihat dalam pembicaraan.
Cahaya bulan setengah lingkaran
menyu- sup lewat jendela kamar yang terhalang kain warna putih. Angin yang
bertiup membuat gor- dennya bergoyang-goyang. Suami istri itu seakan tidak
memperhatikan suasana di luar.
"Aku selalu berharap, kau
menemukan ke- bahagiaan bersamaku, Murti. Sejak kutemukan kau terapung di laut
dengan luka parah, aku te- lah bertekad untuk membahagiakanmu...," tutur
Bronto Widura memecah kesenyapan dengan sua- ranya yang berat. Penuh perasaan.
"Aku mengerti, Kakang. Hatiku
berbahagia tinggal di rumah ini, punya suami sebaik Ka- kang.... Maafkan aku.
Aku harus melakukan se- suatu, Kakang. Dengan adanya kedua tokoh dari Pulau
Dewata yang berilmu tinggi itu aku akan memanfaatkan mereka untuk mengalahkan
Pen- dekar Gila, sekaligus mencincang gadis yang sombong itu...!" tutur
Murti dengan nada penuh dendam.
"Hah...?! Kau...." Bronto
Widura sangat ter- kejut mendengar tutur kata Murti. "Murti...? Apa- kah
aku tidak salah dengar...?" tanyanya kemu- dian dengan mata terbelalak.
"Tidak, Kakang.... Inilah saat
yang sudah lama kunantikan. Kakang tidak sudah khawatir- kan diriku. Aku harus
ikut dengan kedua tokoh itu," ujar Murti dengan tegas seraya menatap ta-
jam suaminya.
Bronto Widura menundukkan kepala.
Le- laki itu tampak cemas dan benar-benar tak bisa berpikir lebih jernih lagi.
Dirinya tidak ingin Murti kecewa dan terluka jika dia melarang maksudnya.
Mungkin ini sudah nasibku. Aku tak bisa melarang atau memberikan pendapat. Aku
sudah bersumpah tak akan melukai hatinya. Aku sangat menyayangi dan
mengasihinya, selain itu aku ju- ga tak ingin kehilangan Murti.... Semoga Tuhan
memberikan keselamatan untuknya, jika niatnya tak bisa dirubah lagi. Aku
pasrah.
Bronto Widura hanya bisa menggumam
da- lam hati. Diangkat kepalanya, menatap Murti agak lama, lelaki setengah baya
itu mendekat dan memeluknya.
"Aku tak bisa melarangmu,
Murti.... Tapi, pesanku jika itu telah menjadi tekadmu, berhati-
hatilah...," kata Bronto Widura dengan suara le- mah. Lalu mendesah.
"Kakang Bronto Widura, aku
hargai ketu- lusan hatimu. Tapi, aku tak bisa menunda lagi sudah bulat tekadku.
Aku akan kembali untuk- mu, Kakang," ujar Murti lemah lembut. Lalu
mendorong tubuh suaminya hingga rebah di ran- jang. Murti pun merebahkan
tubuhnya di sisi Bronto Widura.
Di luar gamelan ledek masih
terdengar. Malam kian larut suasana semakin hangat. Rem- bulan masih bersinar
terang. Ketika Bronto Widu- ra tertidur lelap, Murti segera mengenakan pa-
kaiannya. Sehelai kain lebar dilibatkan di tubuh- nya, diikat dengan selendang
merah jambu. Se- dangkan pakaian atasnya warna hitam seperti layaknya
pendekar-pendekar wanita tanah Jawa Dwipa. Murti segera keluar lewat jendela
kamar- nya. Wanita ini memang tidak pernah tinggal di rumahnya bila malam hari.
Dia selalu bermalam di padepokannya, setelah memberikan hubungan batin pada
Bronto Widura. Itu sudah perjanjian mereka. Dalam kegelapan malam Murti melesat
ce- pat meninggalkan rumah juragan Bronto Widura.
Pada saat itu I Gusti Kumala sedang
berja- lan bersama I Gusti Kastasudra. Kedua orang be- rilmu tinggi itu sibuk
membicarakan sesuatu sambil terus melangkah ke arah sebuah hutan. Karena
rembulan bersinar terang suasana seki- tarnya tak begitu gelap.
"Kau harus percaya apa yang
dapat ku- tangkap dari raut wajah dan tingkah istri Bronto Widura itu,
Kastasudra. Kau harus berhati-hati. Sepertinya ada yang tidak beres dalam
perguruan itu."
"Ah...! Itu hanya perasaanmu
saja Kumala. Kau selalu bicara begitu padaku. Aku bisa menja- ga diriku
sendiri. Murti bukan wanita buruk se- perti dugaanmu, Saudaraku!" jawab I
Gusti Kas- tasudra dengan nada agak tinggi.
"Terserah kamu. Aku sebagai
saudara se- perguruan, hanya mengingatkan. Kau terima baik, tak kau terima aku
juga tidak apa-apa. Tapi, sekali lagi, kuingatkan, jangan dekati Murti...!"
Kalimat terakhir itulah yang
membuat I
Gusti Kastasudra malah salah duga.
Lelaki ge- muk ini berpikiran bahwa I Gusti Kumala merasa iri, karena Murti
nampak lebih dekat dengannya. Walaupun pertemuannya dengan wanita bertu- buh
sintal dan memiliki bibir indah itu baru seha- ri.
Tanpa terasa keduanya telah
memasuki sebuah hutan. Keduanya terus menyusuri hutan itu di bawah cahaya bulan
yang terhalang pepo- honan. "Aku bukan kau, Saudara Kumala. Aku adalah
aku. Jadi sebaiknya mulai saat ini kau tak usah menasihatiku lagi!" kata I
Gusti Kastasudra yang mulai sedikit marah, karena terdorong du- gaan dan
perasaannya yang keliru itu. Hal itu- membuat I Gusti Kumala mengerutkan
kening.
"Jangan kau salah duga,
apalagi berpra- sangka buruk terhadapku, Kastasudra!" sahut I Gusti Kumala
dengan nada tinggi. Dia rupanya tak suka dengan ucapan I Gusti Kastasudra yang
dianggapnya tak tepat dan kurang sopan.
I Gusti Kastasudra tak
menghiraukan. Bahkan mendadak dengan bersungut-sungut dia berbalik, hendak
kembali ke arah semula. Namun baru saja selangkah lelaki gemuk itu mengayun-
kan kakinya, tiba-tiba saja terdengar suara ber- desingan, seperti luncuran
senjata tajam menuju ke arahnya. Dengan gerakan yang sulit ditangkap oleh mata
I Gusti Kumala melenting ke udara sambil menjulurkan kedua tangannya. I Gusti
Kastasudra hanya bisa tersentak. Baru bisa melenting ketika serangan kedua
muncul kembali ke arahnya. Wut! Wut!
I Gusti Kastasudra bahkan mampu
melan- carkan serangan balasan dalam keadaan tubuh melenting di udara.
Pertempuran jarak jauh terja- di di malam yang diterangi oleh cahaya bulan.
Suatu pukulan dahsyat jarak jauh dilancarkan oleh sesosok tubuh bercaping
lebar, dengan muka tertutup cadar hitam. Sehingga sulit dikenali.
Wut! Wut! Jglarrr! Akibat pukulan dahsyat
orang bercaping itu beberapa pohon di sekitar tempat itu roboh.
I Gusti Kumala dan I Gusti
Kastasudra me- lompat dan hinggap di batang pohon yang roboh ke arahnya. Namun
dalam waktu bersamaan orang bercaping lebar dan bercadar itu telah me- lontarkan
beberapa lembar daun. Anehnya, daun- daun itu melesat begitu cepat bagaikan
pisau- pisau terbang, meluncur ke arah I Gusti Kastasu- dra dan I Gusti Kumala.
Serangan itu melesat su- sul-menyusul bagaikan hujan daun. Sebagian be- sar
menancap di batang pepohonan.
Kedua pendekar dari Pulau Dewata
dengan cepat melompat dan melenting ke sana kemari menghindarkan serangan aneh
itu. Keduanya be- berapa kali mengibaskan tangan menangkis se- rangan dedaunan
itu. Sebagian dari dedaunan berpentalan balik ke arah sesosok bercaping le-
bar.
Pertarungan baru berlangsung
beberapa saat, tapi orang bercaping sudah terdesak, tanpa daya menghadapi
daun-daun yang melesat balik ke arahnya. Menyadari keadaannya yang
mengkhawatirkan orang bercaping itu mencelat mundur dan langsung meninggalkan
tempat per- tarungan. Ilmu meringankan tubuhnya yang san- gat tinggi membuat
orang bercaping itu seakan terbang di udara. Saat terbang, cadarnya tertiup
angin, sehingga tampaklah wajahnya karena ter- kena bias cahaya rembulan. Sosok
bercaping itu ter-nyata seorang wanita berwajah cantik.
I Gusti Kastasudra berniat
mengejar, tapi ditahan oleh I Gusti Kumala. Sehingga mereka membiarkan wanita
itu menghilang.
"Siapa orang bercaping
itu...?!" gumam. I Gusti Kastasudra seperti bertanya pada diri sen- diri.
I Gusti Kumala menghela napas
sejenak. Pandangannya terarah ke tempat menghilangnya sosok bercaping. Lalu
menoleh pada I Gusti Kas- tasudra yang nampak kesal.
"Nanti kita akan tahu siapa
orang bercap- ing itu, Kastasudra," kata I Gusti Kumala dengan suara
menggumam.
***
Murti telah sampai di padepokannya
yang letaknya tersembunyi, jauh dari rumah Bronto Widura. Hanya Bronto Widura
yang tahu padepokan itu selain beberapa orang kepercayaan Murti.
Murti langsung masuk ke padepokan,
dis- ambut oleh dua orang wanita muda berpakaian silat ringkas seperti dirinya.
Namun keduanya ti- dak memakai celana panjang, hanya kain dili- batkan di
tubuhnya, diikat dengan selendang yang warnanya sama hijau.
Begitu masuk, di dalam nampak
beberapa anak buahnya. Semua wanita. Sebagian meme- gang tombak, yang lainnya
bersenjata golok.
Pada dinding-dinding ruangan yang
terbuat dari pohon, nampak tergantung senjata-senjata serta sehelai kain
berlambang perguruan silat Murti. Berupa Mawar Merah. Lampu-lampu mi- nyak yang
menempel di dinding menerangi ruan- gan itu. Murti langsung membuka caping
lebar yang menutup kepalanya. Kemudian duduk di se- buah batu besar yang
merupakan singgasananya. Sejenak dia menghela napas dalam-dalam.
Kedua wanita yang menyambutnya
saling pandang sebentar.
"Bagaimana Nyi Mawar...?
Nampaknya Nyi Mawar tak berhasil...." Suara wanita berwajah lonjong itu
terdengar datar. Nyi Mawar ternyata panggilan Murti yang akrab dari anak
buahnya. Itu adalah panggilan murid terhadap gurunya.
"Ilmu mereka terlalu tinggi,
Rukmini. Tak bisa dianggap remeh," jawab Murti geram.
"Jika kita bergabung, kurasa
kita bisa mengatasinya, Nyi Mawar...," sahut wanita yang satu lagi, penuh
semangat.
"Aku sependapat dengan Lastri.
Kekuatan kita toh sangat tangguh kalau sekadar untuk me- nahan dua tokoh dari
Pulau Dewata itu...!" Kem- bali Rukmini berkata dengan semangat pula.
"Tidak. Kalian tidak akan
mampu melawan seorang saja dari mereka. Sekalipun mata mereka ditutup
rapat..!" sambar Murti tegas.
"Sedemikian tinggikah ilmu
mereka...?" tanya Lastri ingin tahu.
"Jika demikian, kita taklukkan
dengan cara kita!" sambung Rukmini yang bertubuh lebih tinggi dari Lastri.
Dadanya pun lebih menonjol dan lebih besar.
"Maksudmu...?" tanya
Lastri sambil menge- rutkan kening.
"Jangan lupa, mereka
laki-laki, sedang kita wanita.... Persoalannya cukup sederhana, kan?"
jawab Rukmini, lalu tersenyum genit dan menger- lingkan mata.
"Itu bisa dicoba. Tapi aku
ragu. Soalnya mereka menurut Nyi Mawar seperti pendeta...!" kata Lastri
dengan nada mengejek, lalu tertawa- tawa genit
"Aku justru penasaran, ingin
tahu bagai- mana seorang pendeta atau resi memperlakukan perempuan. Ha ha ha...
hi hi hi...!" sahut Rukmini diiringi tawa genit
"Cukup! Kita harus mengambil
langkah terbaik. Menyebarlah kalian! Carilah jago-jago pi- lihan, manfaatkan
untuk menahan keduanya. Kalaupun mereka tidak berhasil membunuh kedua resi itu,
setidaknya akan membuat keduanya menguras tenaga, sehingga melemahkan daya ta-
han. Kalian tentu sudah lihai cara merayu para jago bayaran itu.... Ingat jika
tertangkap, jangan kalian sekali-sekali menyebut namaku. Nyawa ka- lian
gantinya...!" perintah Murti dengan tegas dan penuh wibawa.
Habis berkata begitu, Murti
mengambil kantong uang dan dilemparkannya. Kantong uang itu jatuh di hadapan
murid-muridnya. Segera Rukmini dan Lastri mengambilnya. Keduanya ter-
senyum-senyum memandang kantong berisi uang itu.
***
3
Matahari baru saja terbit di ufuk
timur. Cahayanya yang kemerahan menembus kabut pagi. Sepagi itu kesibukan telah
terlihat di hala- man rumah Bronto Widura. Para murid dan anak buah juragan
kaya raya yang juga seorang guru silat itu tengah berkumpul di halaman rumah.
Sebagian yang lain tampak sibuk dengan kegiatan keseharian mereka.
Bronto Widura dan Murti berdiri di
beran- da, melepas kepergian tamunya, dua orang pen- dekar dari Pulau Dewata.
Tampak I Gusti Kastasudra sudah berjalan lebih dulu meninggalkan halaman,
berpapasan dengan beberapa murid Bronto Widura yang membawa air.
"Saya sendiri belum pernah
bertemu Pen- dekar Gila itu. Namun hati-hatilah, Saudara Ku- mala. Ketinggian
ilmu Pendekar Gila telah jadi pembicaraan di mana-mana," tutur Bronto
Widu- ra pada I Gusti Kumala sambil berjalan beriringan ke halaman rumah.
"Terima kasih. Tapi kedatangan
kami bu- kan untuk mencari musuh. Kami berdua hanya ingin menjalin
persahabatan," ujar I Gusti Kuma- la dengan ramah. Sekilas lelaki bertubuh
besar itu melirik ke arah, Murti yang berdiri di sisi Bronto Widura. Murti coba
tersenyum pada I Gus- ti Kumala. Namun senyumnya nampak hambar dan seperti
dipaksakan.
"Kalau memang itu maksud I
Gusti Kuma- la, saya sangat senang," ucap Bronto-Widura, lalu menoleh
kepada istrinya. "Benar begitu kan Mur- ti...?"
"Ya...," sahut Murti
singkat diiringi senyum hambar.
I Gusti Kumala menyambutnya dengan
anggukan kepala, lalu mohon diri. Lelaki berju- bah putih itu melangkah
menyusul I Gusti Kasta- sudra yang tadi sudah berjalan sampai di pintu pagar
halaman.
Bronto Widura dan Murti menatap
keper- gian kedua tamunya. Pandangan Murti menera- wang penuh arti. Ada sesuatu
yang begitu mengganggu pikirannya. Sambil masih menatap lang- kah-langkah I
Gusti Kumala dan I Gusti Kastasu- dra, wanita muda itu berucap.
"Beberapa hari lagi mereka
akan sampai ke Jawa Dwipa...." Suara Murti terdengar datar men- gandung
arti.
"Ya. Dan Pendekar Gila akan
kedatangan lawan yang sebanding. Tapi, kenapa kau urung- kan niatmu untuk ikut
dengan mereka, Murti?" tanya Bronto Widura dengan mengerutkan ken- ing,
sepertinya menyelidik.
Murti tak langsung menjawab. Dia
sejenak hanya menatap Bronto Widura dan tersenyum. Lalu kembali memandang ke
depan.
"Entahlah.... Tiba-tiba aku
punya rencana yang lebih baik dari rencana semula," jawab Mur- ti,
kemudian melangkah pergi dari beranda itu.
Bronto Widura hanya dapat
memandangi istrinya yang lebih berkuasa itu dengan perasaan pedih. Nampak
tersirat di wajah lelaki setengah baya adanya sejuta rasa penyesalan. Namun se-
muanya sudah terambat dan dia sendiri telah te- rikat perjanjian.
***
I Gusti Kumala dan I Gusti
Kastasudra su- dah berada di Desa Banjaran, Keduanya nampak senang melihat
keramaian desa itu. Apalagi pagi itu, seperti biasa di Desa Banjaran selalu ada
per- tunjukan.
I Gusti Kastasudra yang sedikit
bersifat ugal-ugalan dengan langkah lebar segera menuju tempat pertunjukan
debus. Semacam tarian yang menggunakan ilmu hitam. Melihat saudara seper-
guruannya itu I Gusti Kumala hanya bisa meng- geleng-gelengkan kepala, lalu
melangkah ke arah lain.
Sementara itu, di antara penonton
yang berjubel nampak seorang wanita cantik bertubuh sintal. Matanya yang tajam
memperhatikan orang-orang di tempat itu. Dilihat dari wanita itu tentu berasal
dari kalangan persilatan. Sesaat kemudian tampak dia berbisik-bisik pada
seorang lelaki bertampang bengis yang tadi berdiri di sampingnya. Lelaki gagah
dengan wajah dipenuhi cambang bauk itu tersenyum. Sambil mengang- guk-angguk
kepala, ketika wanita cantik yang ternyata Rukmini, memberikan sekantong uang
keping. Lelaki codet itu lalu melangkah pergi.
Rukmini yang berpakaian sangat
menyolok dan nampak sengaja memperlihatkan keindahan tubuhnya, sesaat kelihatan
agak gelisah. Sesekali menengok ke kiri dan kanan, seperti sedang ada yang
ditunggu. Lalu orang kepercayaan Murti itu beranjak pergi. Dia menuju sebuah
rumah makan yang ada di dekat tempat pertunjukan. Rukmini duduk di sebuah kursi
menghadap ke arah per- tunjukan yang berada di depan rumah makan. Karena
bangunan rumah makan itu lebih tinggi dari tempat pertunjukan, Rukmini bisa
menyak- sikan dengan lebih jelas.
Seorang pelayan lelaki datang
menawarkan makanan.
"Beri aku tuak dua
mangkok...!" pinta Rukmini pada pelayan itu. Namun matanya terus tertuju
pada arena pertunjukan.
Mendengar itu, pelayan kaget karena
mera- sa heran. Sepagi ini seorang wanita-minta minu- man tuak. Dua mangkok
lagi.
"Pesan apa tadi...?"
tanyanya ragu sambil membungkukkan badan.
"Kamu tuli...?! Tuak dua
mangkok...! Ce- pat...! Bodoh...!" bentak Rukmini, kesal. Lalu
pandangannya kembali ke tempat pertunjukan.
Sementara itu, I Gusti Kastasudra
sudah berada di antara penonton yang berjubel meling- kari arena pertunjukan.
Para penari tengah memperlihatkan
se- buah tarian secara bersama. Penabuh gamelan dengan semangat mengiringi para
penarinya. Se- mentara para penonton, tampak mulai merasa te- gang menyaksikan
tarian yang menggunakan il- mu hitam itu. Seorang penari lelaki bertelanjang
dada tengah menusuk-nusuk keris tajam ke da- danya. Rupanya lelaki itu kepala
dari penari lain- nya, yang juga melakukan hal serupa. Kemudian lelaki itu
menusukkan keris ke perutnya. Setelah itu menjulurkan lidah dan mengirisnya
dengan keris di tangan kanannya.
Para penonton bertepuk tangan dan
mera- sa kagum akan pertunjukan itu. I Gusti Kastasu- dra hanya tersenyum-senyum,
sambil mengusapusap dagunya. Pakaiannya yang kuning berlengan panjang,
berselempang kain putih di dadanya. Penampilannya yang cukup menyolok, dengan
kepala botak plontos dan alis tebal serta hidung mancung membuat para penonton
di dekatnya sebentar-sebentar melirik. Mereka mcmandan- ginya sambil
berbisik-bisik, karena merasa aneh melihat penampilan I Gusti Kastasudra.
Sementara itu Rukmini yang sejak
tadi ge- lisah, kini mulai tersenyum ketika matanya meli- hat I Gusti
Kastasudra ada di antara para penon- ton. Wanita cantik namun berwajah agak
keras itu mulai mabok karena dua mangkok arak tadi. Matanya yang tadi jalang
dan liar mulai berubah sayu.
Tanpa sengaja I Gusti Kastasudra
sempat melihat Rukmini yang juga tengah menatap ke arahnya. Wanita bertubuh
menggairahkan itu ter- senyum genit, lalu memalingkan kepalanya. Pada saat
itulah I Gusti Kastasudra langsung menyeli- nap dan menghilang di antara
kerumunan penon- ton. Rukmini kaget ketika berpaling lagi ke arah semula.
Dengan kening berkernyit dia mencari- cari I Gusti Kastasudra, tapi tidak
menemukan- nya. Rukmini dengan kesal bangkit, lalu menyi- bak orang-orang yang
berdiri di bawah tangga rumah makan itu.
"Sial...! Ke mana perginya
pendekar botak itu...?!" sungut Rukmini sambil setengah berlari keluar
dari rumah makan. Matanya jelalatan mencari-cari I Gusti Kastasudra. Hatinya
meras heran kenapa tiba-tiba pendekar botak itu meng- hilang entah ke mana.
Gamelan semakin keras dan
menghentak- hentak. Para penari pun semakin bersemangat mempertujukkan
kebolehan mereka. Menusuk perut, leher, atau mengiris kuping serta lidah me-
reka. Sebuah tontonan yang menegangkan dan menggiriskan hati para penontonnya.
Mereka ter- paku keheranan menyaksikan lidah atau kuping para penari yang dapat
menyatu kembali setelah terputus karena diiris.
Kalau waktu itu Rukmini sedang
kesal ka- rena kehilangan orang yang dinantikannya. Di lain tempat murid Murti
yang satu lagi, Lastri se- dang asyik bercumbu dengan seorang lelaki be- rumur
tiga puluhan di sebuah kamar belakang rumah makan itu.
Rupanya sejak tadi dari balik
jendela ada sepasang mata yang mengintip mereka. Dan be- nar, ternyata seorang
wanita berumur kira-kira dua puluh delapan tahun. Dengan geram wanita itu
mendobrak pintu kamar yang mirip gudang itu.
Brak! Wanita berbadan agak gemuk
itu pun me- langkah masuk
"Kurang ajar...! Suami
bejad...! Biadab...! Kubunuh kalian!" teriakan wanita itu. Matanya melihat
ke sana kemari mencari sesuatu. Dan, begitu melihat sebuah golok yang
tersangkut di dinding kamar, dengan cepat wanita itu mencabutnya. Tanpa
basa-basi diserangnya Lastri dan lelaki yang masih kaget dan duduk di atas
balai- balai bambu tua. Lastri yang sudah tak berpa- kaian secuil pun, dengan
cepat bergerak meng- hindar lalu mengenakan pakaian sambil terse- nyum-senyum,
melihat lelaki itu sedang mencoba menenangkan istrinya.
Lastri lalu menyelinap pergi sambil
terta- wa-tawa. Sementara lelaki itu masih saja sibuk menenangkan istrinya yang
memegang golok.
"Sabar... sabar... tenang
Jinten...! Aku akan jelaskan...," kata lelaki tampan itu sambil mengelak
dari sabetan golok istrinya.
Dengan cepat dia menangkap tangan
Jin- ten yang memegang golok. Namun ketika hendak mengambil golok yang jatuh di
lantai, Jinten yang sudah naik pitam segera menendang kepala sua- minya keras
sekali. Lelaki itu memekik kesakitan. Tak sampai di situ. Jinten yang merasa
telah dis- akiti, dengan geram menendang rusuk suaminya secara bertubi-tubi.
Lelaki itu terkapar di atas lantai
kamar itu. Jinten menyeringai dengan kedua mata terbelalak lebar.
Sementara itu, di depan rumah makan
per- tunjukan bertambah semarak. Gamelan terdengar semakin keras dan cepat.
Penari pun semakin menggila dan berani, membuat orang-orang ka- gum dan
bertepuk tangan sambil berteriak mem- beri pujian.
Rukmini yang kehilangan jejak I
Gusti Kastasudra nampak sudah duduk kembali di tempat semula di rumah makan
itu. Wajahnya nampak penuh kekecewaan.
Tiba-tiba Lastri muncul dari
belakang. Dengan tersenyum-senyum dia duduk di samping Rukmini yang tengah
memandang keluar, ke arah tempat pertunjukan.
"Masih sempat-sempatnya kau
main gila! Kita saat ini bukan untuk bersenang-senang, La- stri. Kalau Nyi
Mawar tahu, kau bisa celaka...!" ucap Rukmini ketus pada Lastri. Sejenak
ma- tanya melirik ke arah Lastri yang mendadak wa- jahnya berubah merah.
Rukmini kembali memandang ke depan,
kedua matanya terus menyapu seluruh tempat itu.
"Maafkan aku! Dan, kuminta kau
tak perlu menyampaikan hal ini pada Nyi Mawar. Aku ber- janji tak akan
mengulangi lagi...," kata Lastri coba menghilangkan kekesalan Rukmini
padanya.
Belum sempat Rukrnini memberikan
jawa- ban, tiba-tiba saja suasana tontonan yang semula semarak menjadi kacau.
Hal itu karena Jinten yang sudah mata gelap dengan golok di tangan kanannya
berjalan bergegas ke arah Lastri. Orang-orang yang berada di situ tampak
bingung. Perhatian mereka pun beralih kepada Jinten yang tanpa peduli melabrak
Lastri.
"Kubunuh kau perempuan
kotor...!" teriak Jinten sambil mengacungkan goloknya dan terus melangkah
lebar.
Namun para penari tampak masih
terus menari dengan gamelan yang terus mengalun.
Sementara Lastri nampak
tenang-tenang saja, bahkan pura-pura tak peduli. Rumini yang duduk di
sebelahnya tersentak dan menoleh ke arah Lastri. "Huh, Perempuan Sial,
membuat ma- lu saja!" umpat Rukmini dalam hati. Wajahnya sinis menatap
Lastri.
Pada saat itu Jinten sudah berada
di dekat Lastri. Tanpa basa-basi lagi, wanita gemuk itu langsung mengayunkan
goloknya ke arah Lastri yang masih duduk dengan tenang. Namun den- gan gerak
cepat Lastri melompat menghindar, se- hingga ayunan golok Jinten menggebrak
meja. Suasana berubah menjadi semakin kacau-balau Perhatian beralih pada Jinten
yang mengamuk. Dan penari-penari pun mcnghentikan tariannya.
"Kubunuh kau, Perempuan
Sundal...! Heh...!" bentak Jinten sambil terus menebas dan menusuk ke arah
Lastri.
Namun, karena Jinten sama sekali
tidak memiliki ilmu silat, serangannya tak berarti apa- apa bagi Lastri yang
memiliki ilmu silat cukup handal itu. Suasana menjadi riuh.
Sementara itu I Gusti Kumala yang
berada jauh dari kejadian itu, nampak tenang-tenang sa- ja. Dia duduk di sebuah
kedai kecil. Menikmati minumannya. Lelaki gagah berjubah putih itu memang tak
ingin ikut campur dengan urusan orang lain, kalau tak terpaksa.
Lastri nampak terus melompat-lompat
menghindari serangan Jinten. Wanita itu keliha- tan tak begitu melayani amukan
lawan. Hal ini menyebabkan Jinten membabibuta, tapi justru membuat Lastri kian
tenang.
Lastri mempermainkan Jinten. Karena
ke- marahan yang telah meluap dan mata gelap, ayu- nan dan tusukan golok Jinten
kain ngawur, tak karuan. Sementara Rukmini nampak masih te- nang di tempatnya.
Dia tak ingin ikut campur. Apalagi dia tadi sempat kesal dengan Lastri yang
dianggapnya ceroboh. Rukmini memperhatikan kejadian itu dengan mata tak berkedip.
Jinten semakin tak karuan. Mengamuk
tak menentu, tanpa ada seorang pun yang mau menghentikannya. Semua orang malah
menonton sambil tertawa-tawa. Jinten kian kalut, memba- bat ke sana kemari tak
menentu. Tiba-tiba ter- dengar suara erangan kesakitan, ketika seseorang
terkena sasaran golok Jinten hingga berdarah.
Penonton pun ribut karena Jinten
sudah seperti kemasukan setan, kalap. Seorang penari yang paling kebal maju,
bermaksud ingin meng- hentikan Jinten yang semakin kalap itu. Namun belum
sempat dia mencegahnya, tahu-tahu golok Jinten sudah menggores lengan kanannya.
Ter- nyata berdarah! Penari kebal itu kaget. Cepat- cepat dia menutupi
lengannya yang terluka akibat goresan golok Jinten. Takut kalau ada yang meli-
hatnya, dia pasti dicemooh dan dipermalukan.
Penari kebal itu memekik pendek,
lalu se- gera pergi karena malu.
Sesaat kemudian tampak tubuh Jinten
mulai lelah. Perempuan gemuk itu sempoyongan, lalu jatuh tersungkur ke tanah.
Dia menangis ter- sedu-sedu memilukan. Lastri tertawa-tawa se- nang sambil
memandang Jinten yang menangis. Sungguh memuakkan lagak Lastri saat itu.
Tepat pada saat itulah, I Gusti
Kastasudra tiba-tiba muncul dan melemparkan sebutir buah ceri. Buah itu melesat
dan mengenai betis Lastri. Perempuan itu terhempas ke belakang, terjatuh ke
tanah.
"Hah...?!" Rukmini kaget
melihat I Gusti Kastasudra dari tempatnya yang tak begitu jauh. Namun dia tak
ingin bertindak. Dibiarkannya Lastri mengha- dapi I Gusti Kastasudra.
Ketika mengetahui bahwa yang menye-
rangnya adalah I Gusti Kastasudra, Lastri justru pura-pura kesakitan dan
melirik penuh arti pada lelaki botak berjubah kuning itu. I Gusti Kastasu- dra
berjalan tenang mendekat, lalu menolong La- stri dengan mengurut-urut paha dan
betis wanita itu. Lastri menikmati urutan telapak tangan pen- dekar dari Pulau
Dewata itu. Namun hanya se- bentar, karena di luar dugaan, I Gusti Kastasudra
menyentakkan kaki Lastri, hingga tubuhnya ter- lontar ke udara. Untunglah ia
masih bisa mem- pertahankan keseimbangan.
Lastri melayang lalu secepat itu
pula lang- sung kembali mendarat dan berdiri tegak keadaan siap siaga. Kejadian
ini mengejutkan Lastri. Sementara I Gusti Kastasudra tenang-tenang saja,
berdiri acuh tak acuh sambil makan buah ceri.
Lastri langsung menghentak dan
melesat melakukan serangan-serangan terhadap pendekar dari Pulau Dewata itu.
Kaki dan tangan Lastri menghajar I
Gusti Kastasudra silih berganti. Namun dengan mu- dahnya lelaki gemuk
berpakaian kuning itu men- gelak dengan lompatan cepat ke kanan dan kiri.
Lastri jadi geram menyaksikan lawan dengan mu- dah menggagalkan serangan yang
dilancarkan- nya. Namun usahanya tetap sia-sia ketika dia me- lakukan serangan
susulan yang tak kalah dah- syatnya. I Gusti Kastasudra sambil tertawa-tawa
mengejek terus mengelakkan serangan Lastri.
"Ha ha ha...! Kau masih perlu
belajar ilmu sialat yang benar, Perempuan Genit...!" seru I Gusti
Kastasudra.
Suasana kian ricuh. Lastri merasa
seolah- olah tindakan I Gusti Kastasudra merupakan ba- lasan dari perlakuan
Lastri terhadap Jinten. Pa- dahal, serangan-serangan Lastri disertai pengera-
han tenaga dalam. Sehingga akibat-akibatnya pun sering mencengangkan.
Gebrakan-gebrakannya memecahkan meja dan kursi di kedai itu. Kadang ia
melenting tinggi. Tapi semuanya itu tak berarti bagi I Gusti Kastasudra, yang
dengan ilmunya yang di atas Lastri terus dapat mementahkan se- rangan Lastri.
"Yeaaa...! Kali ini mampus
kau...!" seru La- stri.
Tangan mereka beradu. Dengan cepat
La- stri melontarkan senjata rahasia khas perguruan Murti! Bunga Mawar Merah.
Bunga itu melesat begitu cepat dari tangannya.
Blast! Serangan ini tentunya tak
diduga sama se- kali oleh I Gusti Kastasudra, yang langsung me- nepiskan dengan
jubahnya. Belum lagi habis ke- terkejutannya, setangkai Mawar Merah yang lain
melesat lagi dengan cepat ke arah pendekar dari Pulau Dewata itu.
"Hop...!" I Gusti
Kastasudra meloncat menghindar. Namun anehnya, tiba-tiba Lastri memekik keras
menyayat hati. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu tercengang kaget.
Tubuh Lastri ter- hempas ke belakang dan terbanting ke tanah lalu tak berkutik
lagi. Mati!
Rupanya, ketika melenting
menghindar se- rangan, I Gusti Kastasudra dengan gerakan yang sulit diikuti
mata biasa, berhasil menepiskan Ma- war Merah itu hingga berbalik ke
pemiliknya.
Pada saat itu muncul I Gusti Kumala
di an- tara orang-orang yang panik dan ribut. Lelaki ga- gah itu menatap Lastri
yang telah menjadi mayat.
Rukmini mulai memberikan isyarat
pada orang-orang bayarannya. Seketika suasana sema- kin kacau dan ramai, ketika
delapan orang baya- ran yang memiliki ilmu cukup tinggi serentak menyerbu I
Gusti Kastasudra. Sementara Rukmi- ni menyerang I Gusti Kumala.
Pertempuran pecah. Sebagian
bergerak ke- luar dari rumah makan itu. Suasana ruangan rumah makan porak
poranda. Para penari ber- hamburan menghindar. Para penonton pun tak ingin ikut
terkena sasaran pertarungan keroyokan itu. Mereka hiruk pikuk dan berlarian.
Rupanya delapan orang bayaran itu
tak bertahan lama menghadapi I Gusti Kastasudra, yang berilmu jauh di atas
mereka. Dalam waktu singkat dua kali gebrakan mereka berjatuhan dan tak
berkutik lagi. Hanya ada seorang yang masih bertahan. Seorang lelaki berbadan
besar yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Tampangnya yang bengis dihiasi brewok
hitam dan lebat. Matanya picek sebelah dengan alis yang juga hanya satu. Lelaki
mata satu itu dengan geram dan ganas mengayunkan goloknya membabat I Gusti
Kasta- sudra sambil menggerang keras.
Wut! Wut! Angin dari tebasan
goloknya menderu ke- ras di atas kepala I Gusti Kastasudra. Dan sece- pat kilat
pendekar dari Pulau Dewata itu melan- carkan serangan balik yang dahsyat dengan
pu- kulan tangan kanannya. Kontan lelaki mata satu itu menjerit. Mulutnya
memuntahkan darah se- gar, ketika pukulan menggeledek I Gusti Kasta- sudra
mendarat telak di rusuk kanannya. Tubuh- nya yang besar ambruk dan tak berkutik
lagi.
Sementara itu Rukmini yang
menghadapi I Gusti Kumala melenting menghindar dari seran- gan tusukan kedua
jari lelaki berpakaian pendkar itu. Wajah Rukmini nampak pucat. Lengan ki-
rinya sudah terluka, akibat terkena tepukan tan- gan kanan I Gusti Kumala yang
mengandung ra- cun.
Siapa pun musuh I Gusti Kumala akan
ter- luka atau hangus, bila kena tepuk atau cengke- raman telapak tangannya.
Itulah ajian 'Tapak Dewa' yang sangat berbahaya. Ajian itu tak dimi- liki deh I
Gusti Kastasudra. Sebuah ajian dahsyat yang hanya dapat digunakan atau bisa
hadir, jika pemiliknya telah mencapai amarah yang memun- cak.
Rukmini tiba-tiba melancarkan
serangan cepat dengan melontarkan senjata rahasianya be- rupa Mawar Merah ke
arah I Gusti Kumala. Na- mun dengan sigap pendekar berjubah putih itu menangkap
Mawar Merah yang meluncur ke arahnya menggunakan jari tangan. Lalu dengan cepat
melontarkan kembali ke arah Rukmini. Wa- nita itu terbeliak kaget melihat
serangan kilat la- wannya. Slats!
Rukmini menjerit keras. Tubuhnya
melintir lalu ambruk. Mawar Merah menancap tepat di dadanya. Wajah Rukmini
mendadak membiru dengan mata mendelik. Mati!
I Gusti Kumala menarik napas
panjang. Matanya yang bersih dan tajam menatap Rukmi- ni. Nampak di wajah I
Gusti Kumala ada sedikit penyesalan.
"Hyang Widhi..., maafkan
aku...! Aku ter- paksa membunuhnya," gumam I Gusti Kumala. Dia memang
merasa menyesal begitu tahu Ruk- mini telah mati.
I Gusti Kastasudra melompat ke arah
I Gusti Kumala yang masih termenung, menatap mayat Rukmini
"Kenapa kau menyesali semua
ini, Sauda- raku? Mereka pantas mendapatkan itu. Hyang Widhi juga tahu. Mereka
orang-orang tak beri- man!" ujar I Gusti Kastasudra.
"Ya. Tapi, siapa orang-orang
ini...? Apa maksud mereka menyerang kita, Kastasudra?" tanya I Gusti
Kumala.
"Entahlah.... Mungkin mereka
orang-orang bayaran," jawab I Gusti Kastasudra sambil me- nunjuk delapan
tubuh yang berserakan mati ter- geletak di tanah. "Dan, kedua wanita itu
mungkin kaki tangan orang bercaping yang menyerang kita semalam di
hutan...."
I Gusti Kumala hanya
manggut-manggut perlahan. Lalu matanya menyapu orang-orang yang masih
berkerumun di sekitar tempat perta- rungan. Di salah satu sudut, sepasang mata
men- gamati I Gusti Kastasudra dan I Gusti Kumala. Sepasang mata yang mengintip
dari balik sebuah kedai yang tak jauh dari tempat kedua pendekar Pulau Dewata
itu lalu menghilang.
4
Murti yang nama lengkapnya Murti
Dewi marah ketika mengetahui kedua murid andalan- nya tewas dibunuh oleh kedua
orang pendekar dari Pulau Dewata, I Gusti Kumala dan I Gusti Kastasudra.
Saat itu Murti tengah melesat bagai
ter- bang di antara pepohonan di hutan jati.
"Bangsat...! Aku harus
membalas. Kedua orang asing itu harus kutaklukan!" Tak henti- hentinya
wanita itu bersungut marah. "Aku harus mendapatkan kitab yang ada di
tangan mereka, sebelum jatuh ke tangan Pendekar Gila!"
Tak berapa lama, karena menggunakan
il- mu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi, Murti sampai di
pondok kecil di pinggiran sebuah telaga. Tempat itu sunyi dan jauh dari desa
atau kota karena terlalu di tengah hutan. Murti langsung mengetuk pintu pondok
yang dindingnya terbuat dari tataan kayu dan be- ratap dedaunan kering.
"Hhh... tak ada orang!"
gumam Murti sete- lah kembali mengetuk lebih keras. Wajahnya mu- lai muram
ketika tak didengarnya sahutan dari dalam. Sementara itu langit mulai memerah
ka- rena sang Surya sudah merasuk ke ufuk barat.
"Huh...! Ke mana orang itu...!"
keluh Murti kesal.
Tiba-tiba pundak Murti ada yang
meme- gang dari belakang. Karena kaget, Murti langsung menepis tangan itu lalu
dengan cepat membalik dan menyerang orang itu. Namun orang yang mengejutkan
Murti itu dapat menangkis serangan dengan baik. Dan bahkan dapat menepuk pipi
Murti dengan ujung kipasnya.
Murti yang telah mengenai sosok itu
cepat menghentikan serangannya. Sesosok lelaki ber- pakaian serba putih dengan
lengan panjang. Rambutnya yang panjang agak berombak diki- baskan lepas begitu saja.
Namun tetap tampan.
"Ha ha ha...!" Lelaki
muda itu tertawa-tawa sambil mempermainkan kipas yang ada di tangan kanan,
dipukul-pukulkan di telapak tangan ki- rinya.
"Kau masih saja suka menggoda,
Anjasma- ra...!" kata Murti Dewi, tanpa memperlihatkan kemarahan, bahkan
terdengar manja.
Anjasmara, termasuk salah satu
lelaki yang paling akrab dengan Murti. Kerap kali di- rinya bercumbu memberikan
kepuasan lahir ba- tin pada Murti yang haus kehangatan pelukan le- laki.
"Kau hanya datang padaku, jika
memerlu- kan bantuan. Dan selain itu aku tahu kau butuh itu, kan...?" goda
Anjasmara dengan senyum- senyum nakal. Matanya memandangi Murti den- gan tajam.
Sambil membalas senyuman. Murti melangkah mendekati lelaki muda itu.
"Kali ini aku benar-benar
mendapat lawan tangguh. Kuharap kau bisa membantuku. Berapa pun kau minta, akan
kuberi...!" kata Murti sambil mengeluarkan kantong berisi uang, lalu
menyo- dorkannya pada Anjasmara.
"He he he...! Kau ini seperti
orang yang bam kenal aku saja, Murti. Kau tahu aku, kan? Bukan ini saja yang
kuinginkan... Dan kau pasti setuju...!"
Lalu Anjasmara membisikkan sesuatu
di telinga Murti. Wanita itu tersenyum genit. Belum sempat dia menjawab,
Anjasmara sudah memeluk dan menciumi lehernya dengan lembut.
"Huh...!" keluh manja
Murti, sambil men- dorong pelan tubuh Anjasmara. "Kau gila...! Nanti
dilihat orang Anjasmara."
"Kau ini mimpi...?! Tak ada
orang di sini. Selain kita berdua," sahut Anjasmara kalem di- iringi
senyumnya. Lalu ditariknya dengan lembut lengan Murti dan diajak masuk ke
pondoknya.
"Jangan sekarang,
Anjasmara...!" sentak Murti sambil melepaskan genggaman tangan An-
jasmara.
"Aneh...?! Biasanya kau begitu
berseman- gat menerima ajakan ku, Murti. Ada apa ki- ranya...?!" tanya
Anjasmara, merasa heran den- gan sikap Murti yang tidak seperti biasanya.
"Kali ini aku benar-benar
mendapat kesuli- tan untuk melawan kedua pendekar dari Pulau Dewata itu. Selain
berilmu tinggi, mereka tidak mudah tergoda dengan rayuan perempuan.... Rukmini
dan Lastri yang lebih muda dan cantik dariku, tak sanggup meluluhkan hati kedua
orang itu," tutur Murti dengan muka murung. Lalu mendengus keras.
"He he he.... Apakah kau sudah
mencoba untuk merayu salah satu dari mereka?!" tanya Anjasmara dengan
tertawa terkekeh. Kemudian melangkah mendekati Murti, sambil memper- mainkan
kipasnya.
"Belum. Tapi rasanya...."
"Jangan kalah sebelum perang, Murti! Aku heran, kenapa kau kali ini nampak
cemas dan khawatir menghadapi kedua pendekar dari Pulau Dewata itu," kata
Anjasmara mencoba membang- kitkan semangat Murti yang biasanya tak pernah
secemas dan setegang ini
"Aku bukan takut menghadapi
keduanya. Tapi, ada sesuatu yang membuatku cemas," ucap Murti, lalu
membalikkan badan.
"Apa? Kau jatuh cinta pada
salah satu dari mereka?!" tanya Anjasmara menyelidik. Kemudian membalikkan
tubuh Murti dengan perlahan.
Murti tak langsung menjawab.
Ditatapnya mata Anjasmara tajam. Lalu kembali dia memba- likkan tubuh sambil
melangkah dua tindak.
"Aku tak pernah jatuh cinta
pada lelaki se- lain pada Kakang Sena Manggala...! Tapi, aku ju- ga
membencinya! Hhh... aku ingin membalas sa- kit hatiku...," tutur Murti
dengan suara penuh penekanan pada setiap kata.
Anjasmara mengangguk-angguk kepala
tanda mengerti. Sementara itu Murti membalikkan badan dan menatap tajam
wajahnya yang tampan. "Aku mulai mengerti sekarang. Lantas, ke- napa kau
mau menghentikan langkah kedua pen- dekar dari Pulau Dewata itu?" tanya
Anjasmara ingin tahu.
"Mereka membawa kitab ajaran
ilmu ke- saktian yang luar biasa. Kitab itu akan diberikan pada Pendekar Gila
atau Kakang Sena. Ini yang sangat mencemaskanku. Aku inginkan kitab itu jatuh
ke tangan kita, dengan cara apa pun.... Dengan kitab itu aku akan dapat
menambah ilmu dan kekuatanku. Hhh... dengan begitu aku akan terkabul untuk menghabisi
gadis kekasih Kakang Sena itu...," tutur Murti panjang lebar.
"He he he...! Kau memang
wanita ulet dan banyak akal. Namun, kurasa tanpa ajaran kitab itu, kau pun bisa
melawan gadis itu," kata An- jasmara meyakinkan Murti.
"Mungkin apa yang kau katakan
benar! Aku bisa mengalahkan Mei Lie. Tapi, bagaimana dengan kitab itu. Apakah
kau punya akal, Anjas- mara?" Anjasmara berpikir sejenak sambil meme-
gangi janggutnya, lalu manggut-manggut. Sambil tersenyum dia melangkah
mendekati Murti.
"Rencanaku pasti berhasil!
Tapi, kau harus membantuku," kata Anjasmara.
"Apa rencanamu itu,
Anjasmara...?" tanya Murti lembut setelah melepas kecupan Anjasma- ra.
"Bagaimana kalau aku menyamar
sebagai Pendekar Gila...?" usul Anjasmara setengah ber- bisik.
Murti mengerutkan kening,
ditatapnya wa- jah Anjasmara lapat-lapat
"Apakah aku tak salah
dengar?" gumam Murti.
"Tidak. Bagaimana,
setuju...?!" "Ternyata kau lebih pintar dan banyak akal dariku.
Rencanamu itu membuatku lega. Aku se- tuju...!" kata Murti, lalu memeluk
Anjasmara dan memberikan ciuman mesra.
***
Pada saat ini ternyata Sena atau
Pendekar Gila dan Mei Lie, ditemani Dogol sedang berada di dalam sebuah pondok.
Di sana nampak seorang bocah lelaki berkulit sisik ular naga. Rambutnya panjang
kusut masai tak karuan. Anak itu hanya memakai cawat
Bocah itu duduk di pangkuan
Pendekar Gi- la. Di sisi kiri-kanan Pendekar Gila duduk Mei Lie dan Dogol.
Sedangkan di depan mereka nampak seorang lelaki tua berjenggot panjang sebatas
da- da, duduk di atas sebuah altar besar. Tangan ki- rinya ditumpangkan di
lutut kiri, sedangkan tan- gan kanan mengusap-usap jenggotnya yang ber- warna
putih itu.
"Aku merasa senang melihat
kalian bisa berkumpul. Saat seperti ini sudah lama kita nantikan...,"
tutur lelaki tua berambut digelung ke atas. Matanya yang tua, tapi masih nampak
tajam memandang ke arah Sena dan Supit Songong. (Tentang Supit Songong, silakan
baca serial Pen- dekar Gila dalam episode : "Perjalanan Ke Akhe-
rat").
"He he he...!" Sena
tertawa sambil mengga- ruk-garuk kepala dengan tangan kanan, sedang- kan tangan
kirinya memeluk Supit Songong yang duduk di pangkuannya, "Saya juga sudah
lama tak bertemu dengan adik Supit Songong dan Eyang.... Naga Brahma,"
kata Sena dengan suara penuh kegembiraan.
"Ya, ya... aku senang kalau
kalian bisa se- lalu berkumpul. Apalagi aku mendengar berita, bahwa ada dua
pendekar dari Pulau Dewata yang sedang dalam perjalanan kemari. Kini mereka
masih di tanah Pasundan...," tutur Naga Brahma yang berpakaian seperti resi,
berwarna ungu. Ku- litnya bersisik, seperti Supit Songong. Kakek ber- jenggot
putih itu adalah ayah angkat Supit Son- gong. Sudah tiga bulan lamanya Supit
Songong meninggalkan tempat asalnya, Pulau Ka-rang Api. Karena dia mendapat
firasat, bahwa Pendekar Gi- la akan datang berkunjung ke Perguruan Naga Wulung.
"Aku sangat senang bisa bertemu dengan Kakang Sena. Dan kuharap kita bisa
terus ber- sama menumpas orang-orang jahat...," kata Supit Songong.
Kemudian Supit Songong bergeser,
duduk di sisi Sena, sedangkan Dogol bergeser ke kiri.
"Tadi, Eyang berkata ada dua
pendekar Pu- lau Dewata sedang menuju kemari... Maksud Eyang...?" tanya
Mei Lie yang tiba-tiba membuka suara, ingin kejelasan.
Kakek bernama Naga Brahma itu
menoleh, lalu menatap Mei Lie sesaat. Kemudian lelaki ber- badan penuh sisik
seperti naga itu tersenyum sambil manggut-manggut.
"Pertanyaanmu itu membuatku
senang, Mei Lie. Begini, dua pendekar dari Pulau Dewata itu bermaksud baik, ada
sesuatu yang akan dis- ampaikan pada Sena. Tapi, ada orang ketiga yang ingin
menghalangi langkahnya di tanah Jawa Dwipa ini. Dan kalau memang wangsit yang
ku- dapat semalam benar, petaka akan terjadi di Ja- wa Dwipa ini," tutur
Naga Brahma bernada ce- mas.
Pendekar Gila dan Mei Lie saling
pandang. Supit Songong dan Dogol pun nampak terkejut. Anak bertubuh penuh sisik
itu menggaruk-garuk lengannya, seperti merasa gatal. Supit Songong memang
mempunyai kebiasaan, jika hatinya ce- mas atau kaget, secara tiba-tiba
menggaruk- garuk lengannya. Ciri khas yang mirip Pendekar Gila. Hanya saja
Supit Songong tidak cengenge- san. Dia nampak lebih tenang dan diam.
"Apa hubungannya denganku,
Eyang...?!" tanya Sena masih bingung sambil menggaruk- garuk kepala.
"Hem...! Aku belum tahu dengan
pasti, Sena. Tapi, kalian semua harus waspada terhadap orang-orang yang mencoba
menghalangi maksud baik kedua pendekar dari Pulau Dewata itu," ja- wab
Naga Brahma penuh wibawa.
"Orang-orang jahat memang
sepertinya in- duk akar yang tidak bisa dihabisi. Selalu tumbuh, dan tumbuh
lagi...!" sungut Supit Songong den- gan geram. "Biar aku yang
menghabisi mereka, ji- ka nanti kita dapat menemukan biang keladinya,"
lanjutnya. Bocah laki-laki bertubuh penuh sisik ular itu menggereng dan
mendengus seperti see- kor ular naga.
"Sabar Adik Supit..., tapi kau
benar. Kita harus mencari biang keladi yang ingin mencela- kan kedua pendekar
itu," sahut Sena sambil me- nepuk-nepuk bahu Supit Songong.
"Licik benar orang itu....
Siapa mereka kira- kira, Eyang...?" tanya Mei Lie ingin tahu. Gadis cantik
ini nampak seperti merasakan sesuatu bakal terjadi terhadap Pendekar Gila dan
dirinya. Perasaan itu timbul begitu Naga Brahma menga- takan bahwa ada orang
ketiga ingin menghambat perjalanan kedua pendekar dari Pulau Dewata, yang akan
memberikan sesuatu yang sangat ber- harga untuk kekasihnya.
"Indra keenamku belum dapat
melihat dengan jelas. Tapi, kalian mulai saat ini harus waspada...," jawab
Naga Brahma tegas.
"Apakah kita perlu menjemput
kedua pen- dekar itu, Eyang?" tanya Supit Songong penuh samangat.
"Ya. Paling tidak kita harus
menyelidiki dan membela kedua pendekar itu...," sahut Mei Lie tak kalah
semangat.
Naga Brahma tidak langsung
menjawab. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap-usap
jenggotnya.
"Aku lupa mengatakan pada
kalian. Kedua pendekar itu memiliki ilmu yang cukup tinggi. Mungkin sejajar
dengan Sena. Dan yang kutahu mereka bergelar Mata Dewa. Karena kedua mata dan
hati mereka mengandung kesaktian luar bi- asa. Tapi mereka tak sembarangan menggunakan
ilmu itu, kecuali jika terluka atau disakiti hatinya. Dan masih banyak ilmu
tingkat tinggi lainnya yang mereka miliki," tutur Naga Brahma menje-
laskan pada mereka.
Mei Lie dan Sena menghela napas
panjang, demikian juga Supit Songong. Sedangkan Dogol mengantuk sejak tadi. Air
liurnya tampak mele- leh. Perutnya yang gendut bergerak-gerak naik turun.
Tampangnya lucu dengan bibir tebal dan pipi tembem.
"Lantas, apa yang harus kita
perbuat...?" Sena mendadak bertanya dengan nada seperti acuh dan nampak
tenang-tenang saja. Lain den- gan Mei Lie yang duduk di sebelah kanannya. Gadis
yang cantik bermata indah itu nampak ce- mas dan tak tenang.
"Sebaiknya kalian untuk
sementara tunggu di sini. Bersabarlah untuk beberapa hari ini!" sa- ran
Naga Brahma.
Setelah bicara begitu lelaki tua
itu perla- han-lahan berubah wujud. Naga Brahma berubah menjadi seekor naga
berwarna keemasan dengan mahkota di kepalanya yang juga berwarna emas.
"Ingat pesanku, jangan kalian
mengikuti hawa nafsu dan amarah...!"
"Baik, Eyang...," sahut
mereka berbaren- gan.
Sementara itu Dogol baru saja
bangun dari tidurnya, terkejut melihat wujud Naga Brahma yang telah berubah
menjadi seekor naga besar keemasan. Dogol langsung menutup wajah den- gan kedua
telapak tangannya. Tubuhnya yang gemetaran merapat ke badan Supit Songong. Anak
nada itu hanya tersenyum-senyum melihat Dogol yang ketakutan.
Tiba-tiba Naga Brahma menghilang
dari pandangan mata. Sena, Mei Lie, dan Supit Son- gong nampak agak lega.
Sebab, kini mereka me- rasa lebih bebas untuk merunding dan berbicara secara
gamblang.
"Aku sudah tidak sabar lagi
untuk mene- mukan orang yang menghalangi maksud baik ke- dua pendekar dari
Pulau Dewata itu!" kata Mei Lie memperlihatkan kegeramannya.
"Benar. Aku pun bermaksud sama
dengan Nini Mei Lie. Tapi, Eyang Naga Brahma melarang kita untuk meninggalkan
tempat ini," sahut Supit Songong dengan nada agak kecewa.
"Sabarlah...! Nanti juga ada
jalan untuk menyelesaikan persoalan ini. Jangan langgar nasihat Eyang Naga
Brahma...!" kata Sena kalem, lalu cengengesan. Mei Lie nampak cemberut
meli- hat sikap Sena yang tenang-tenang saja itu.
Sementara itu, Dogol nampak sudah
terti- dur lagi. Kini pemuda gendut itu sudah telentang di tanah. Sena dan Mei
Lie hanya bisa mengge- leng-geleng kepala. Sedangkan Supit Songong ter-
tawa-tawa geli.
***
I Gusti Kumala dan I Gusti
Kastasudra kini telah memasuki Jawa Dwipa bagian tengah, sete- lah melalui
lembah dan pegunungan di perbata- san timur daerah Pasundan.
Di bawah matahari yang tidak
terlalu pa- nas, kedua sosok lelaki berjubah itu tampak me- nyusuri padang
ilalang yang sangat luas. Di ka- nan dan kiri jalan setapak yang mereka lalui
ba- tang-batang ilalang tumbuh tinggi sampai sedada. Namun tanpa diduga, dari
balik ilalang yang rapat dan tebal, tiba-tiba bermunculan lima sosok lelaki
berpakaian putih semua. Keenam so- sok lelaki itu masing-masing memegang sebuah
kipas besar.
"Hah...?! Rupanya ada lagi
manusia- manusia bodoh di sini...," gumam I Gusti Kasta- sudra dengan
kalem. Kedua pendekar Pulau De- wata itu nampak tenang menghadapi keenam orang
yang dalam sekejap telah mengurung mere- ka.
Tanpa basa-basi keenam lelaki
berambut panjang digelung ke atas itu langsung berpencar menjadi dua bagian.
Masing-masing telah melan- carkan serangan secara cepat. Tiga orang menye- rang
I Gusti Kumala dan tiga lagi menyerang I Gusti Kastasudra.
Terjadilah pertarungan yang cukup
seru. Gerakan-gerakan kedua pendekar yang berjuluk Mata Dewa itu tampak tenang
dan teratur, meskipun menghadapi keroyokan. Keduanya me- lompat dan melenting
ke sana kemari di tengah rumput ilalang itu.
Teriakan-teriakan keras terdengar,
seakan hendak memecah keheningan siang di padang ila- lang itu. Seketika
rerumputan dan ilalang yang sedang berbunga itu tampak morat-marit diter- jang
pertarungan.
Dengan gerakan yang cepat dan indah
ki- pas-kipas berwarna putih itu berkelebatan di atas dedaunan ilalang yang
serba hijau, melancarkan serangan. Sepintas terlihat bagaikan gerakan- gerakan
tarian. Apalagi ketika kipas-kipas ter- kembang lebar dan dikibaskan dengan
cepat, di- iringi liukan tubuh pemiliknya.
Terpaksa I Gusti Kumala melenting
ke uda- ra dengan gerakan yang indah dan cepat. Lelaki gagah berjubah putih itu
kemudian menggunakan senjatanya untuk menangkis dan menyerang.
"Modar kau orang asing!
Heaaa...!" seru sa- lah seorang yang menyerang I Gusti Kumala den- gan
sebuah tendangan, lalu disusul sabetan ki- pasnya yang meliuk-liuk cepat.
Namun, I Gusti Kumala rupanya sudah
tanggap akan hal itu, hingga dengan mudah mampu mengelak. Kemudian dengan
gerakan ce- pat, sambil melompat dia menghantarkan seran- gan balik yang
mematikan.
Salah seorang dari mereka menjerit
keras menyayat hati. Keningnya retak dan terdapat tan- da dua jari tangan.
Seketika lelaki gagah yang masih memegang kipas itu ambruk dan tak ber- nyawa
lagi.
"Kurang ajar...!" seru
yang lain ketika meli- hat temannya begitu cepat tewas di tangan lawan.
Keduanya langsung menyerang berbaren- gan. Sebuah gempuran dahsyat yang sulit
diatasi oleh I Gusti Kumala. Hingga....
Wuuut! Bret! "Ukh!" I
Gusti Kumala terpekik kaget, ketika kipas lawan berhasil menggores lengan
kirinya. Keja- dian ini membuatnya semakin waspada dan me- ningkatkan serangan.
Gerakannya semakin cepat dan ganas. Kainnya berkelebatan, menyerang dan melakukan
tangkisan terhadap kibasan senjata lawan. Sementara itu I Gusti Kastasudra pun
ma- sih sibuk menghadapi lawan-lawannya. Lelaki gemuk itu melompat sambil
melepaskan selen- dang ikat pinggangnya. Digunakannya selendang itu sebagai
senjata, ketika ketiga lawannya me- nyerang berbarengan dari tiga arah.
I Gusti Kastasudra rupanya lebih
ganas ka- rena ingin menyelesaikan pertarungan lebih cepat. Maka dengan
serangan-serangan mautnya I Gusti Kastasudra langsung menjulurkan selen-
dangnya. Selendang itu begitu cepat meluncur memburu ketiga lawan yang masih melayang
di udara karena hendak melakukan serangan. Ba- gaikan ular, selendang putih itu
membelit ketiga lelaki bersenjata kipas. I Gusti Kastasudra kembali menarik
selendangnya. Ketiga orang yang ter- lilit itu tentu saja terbawa. Dan setelah
dekat I Gusti Kastasudra langsung menghantam dengan tangan kirinya. Sebuah
pukulan yang dilancarkan dengan tenaga dalam.
Ketiga orang yang terlilit menjerit
keras memilukan. Kemudian tak terdengar lagi sua- ranya. Secepat itu pula I
Gusti Kastasudra meng- hentakkan lagi selendangnya ke udara. Seketika selendang
yang melilit ketiga orang tadi terbuka.
Brak...! Ketiga lelaki bersenjata
kipas itu jatuh ke tanah setelah lebih dulu terlontar di udara.
"Aku terpaksa membunuh kalian!
Itulah ganjaran orang-orang licik macam kalian!" gu- mam I Gusti
Kastasudra sambil memakai selen- dangnya. Sesaat kemudian telah rapi.
Sementara itu, I Gusti Kumala baru
saja menyelesaikan pertarungan.
"Oh, Hyang Widhi..., aku
terpaksa membu- nuh orang-orang ini...," gumam I Gusti Kumala dengan wajah
sedih penuh penyesalan.
Namun lain dengan I Gusti
Kastasudra. Dia nampak tersenyum puas. Lalu mendekati I Gusti Kumala yang masih
menatapi mayat-mayat yang tergeletak di hadapannya.
"Sudahlah, Saudaraku. Tak usah
disesalkan lagi! Semuanya sudah terjadi. Dan orang- orang itu memang harus
mendapat ganjaran...," kata I Gusti Kastasudra, setelah berada di sebelah
I Gusti Kumala.
"Aku mengerti. Tapi, kenapa
kita harus membunuh orang di tanah Jawa Dwipa ini...? Kita harus segera dapat
menemukan biang keladi se- mua ini...!"
I Gusti Kastasudra hanya
menganggukkan kepala, lalu menghela napas dalam-dalam.
Tanpa diketahui tak jauh dari
tempat me- reka di balik alang-alang yang tinggi dan rimbun, ada dua sosok
tengah mengintip. Kedua sosok yang mengintip itu berjongkok di dalam ilalang,
sehingga tak jelas keadaan wajah maupun tu- buhnya. "Aku mempunyai firasat
mereka pasti men- ginginkan kitab pusaka yang kita bawa ini," ujar I Gusti
Kumala tiba-tiba. Kedua matanya yang ta- jam mengawasi ke sekeliling tempat
itu, meyakin- kan bahwa tak ada yang melihat mereka.
"Kurang ajar, ini pasti
orang-orang Pergu- ruan Kumbang Emas! Yang kukalahkan dalam pertarungan
persahabatan tempo hari...," sahut I Gusti Kastasudra dengan kesal.
"Mungkin juga, tapi bagaimana
mereka bisa tahu? Sedangkan kita hanya bicara empat ma- ta pada Bronto
Widura...," kata I Gusti Kumala sambil menggeleng kepala perlahan.
"Pasti ada yang mendengar
percakapan kita itu, Saudaraku...! Tapi, siapa orang itu...?!" I Gus- ti
Kastasudra nampak berpikir keras.
"Sudahlah! Yang penting kita
harus lebih waspada. Harus kita hadapi, apa pun rintangan- nya," tandas I
Gusti Kumala.
Lalu keduanya melangkah pergi dari
tem- pat itu. Mereka sengaja mengerahkan ilmu merin- gankan tubuh yang sangat
tinggi. Sehingga gera- kan mereka yang begitu cepat bagai terbang. Da- lam
sekejap tubuh mereka telah lenyap. Namun baru beberapa lama kedua pendekar dari
Pulau Dewata itu menghilang, muncul dua sosok bayangan melesat menuju tempat
pertarungan itu. Setelah dekat, jelaslah kalau kedua sosok itu ternyata seorang
wanita muda berwajah cantik dengan lelaki bertubuh tegap dan tampan. Wanita itu
mengenakan pakaian silat yang ringkas den- gan kain diikatkan begitu saja tanpa
celana pan- jang. Hingga betis dan sebagian pahanya tampak menantang.
"Huh!" dengus si Wanita
kesal. "Kau harus segera bertindak!" perintahnya kemudian pada le-
laki muda di sampingnya.
"Sabar, Murti...! Aku bisa
mengatasi kedua orang asing itu," jawab lelaki muda berpakaian putih yang
memegang sebuah kipas lebar.
"Anjasmara, kau harus segera
memulai penyamaranmu. Aku pun akan bertindak dengan caraku sendiri. Aku tak
ingin kau gagal. Kitab itu harus bisa kita kuasai...!" kata Murti dengan
nada tinggi.
"Percayalah, jangan kau
terburu nafsu! Yang penting kita akan bertindak sesuai rencana kita. Dan aku
mohon kau jangan merubah renca- na yang telah kita sepakati, Murti...,"
kata Anjas- mara tegas.
"Pokoknya aku minta, kedua
orang itu ha- rus dapat kau tahan. Kalau sampai keduanya le- bih dulu bertemu
Pendekar Gila, kita akan cela- ka!"
Selesai berbicara begitu, Murti
tanpa ba- nyak bicara lagi melesat pergi meninggalkan An- jasmara. Lelaki muda
itu hanya bergeleng kepala melihat kepergian Murti.
"Dasar perempuan keras
kepala!" gumam Anjasmara.
***
5
Keadaan rimba persilatan semakin
kacau ketika muncul tokoh-tokoh aliran hitam mencari kedua pendekar dari Pulau
Dewata itu. Karena seseorang telah menyebarkan berita bahwa kedua pendekar yang
berjuluk Mata Dewa itu membawa kitab sakti mandraguna.
Seperti pada sore itu, terjadi
sebuah perta- rungan sengit di sebuah hutan. I Gusti Kumala dan I Gusti
Kastasudra harus berhadapan dengan beberapa tokoh golongan hitam yang mencegat
mereka. Kedua pendekar dari Pulau Dewata itu bertarung sekuat tenaga guna mempertahankan
diri.
Mereka bertarung dengan ilmu-ilmu
ting- kat tinggi. Namun lima orang tokoh sesat berilmu tinggi yang mengeroyok
tak mampu mengalahkan kedua pendekar itu. Hanya dalam waktu singkat, kelima
tokoh sesat itu terkapar, mati di tangan sepasang Mada Dewa. Crasss...! Plak!
"Aaakh...!" Jeritan yang panjang terdengar bersahutan dari lima tokoh
sesat yang di antaranya Barong Porwa. Pimpinan Perguruan Kumbang Merah yang
pernah dipecundangi I Gusti Kastasudra da- lam pertarungan persahabatan di
perguruan Bronto Widura.
"Aku merasa ada sesuatu yang
tak beres. Entah apa sebenarnya yang telah terjadi. Sejak kedatangan kita ke
Jawa Dwipa, sepertinya ada yang ingin menghalang-halangi perjalanan kita,"
tutur I Gusti Kumala, setelah menghela napas.
"Sepertinya ada sesuatu yang
salah. Sulit dipercaya, kita diserang tanpa alasan," sahut I Gusti
Kastasudra. Kemudian membersihkan pa- kaiannya yang kotor.
"Tidak setiap tindakan punya
alasan...," ujar I Gusti Kumala.
Sementara itu Murti atau si Mawar
Merah mulai menjalankan siasatnya. Murti mulai mem- bunuh orang-orang Perguruan
Karang Jati se- buah perguruan silat yang dipimpin oleh Ki Wa- napati. Setelah
itu dengan cara menyamar Murti bersama beberapa orang bayarannya menyebar- kan
berita, bahwa semua pembantaian terhadap Perguruan Karang Jati adalah perbuatan
kedua pendekar dari Pulau Dewata bersama orang- orangnya.
"Hi hi hi...! Jika Sena atau
pengikutnya mendengar berita ini, pasti akan marah. Dan... aku akan melihat
pertarungan orang-orang sakti itu. Aku dapat ambil kesempatan untuk membu- nuh
kedua tokoh dari Pulau Dewata itu. Hi hi hi...!"
Murti sangat gembira, karena merasa
akan berhasil mengadu domba antara Pendekar Gila dan kedua pendekar dari Pulau
Dewata itu.
Pada saat itu Sena dan Mei Lie, yang
bera- da di kediaman Naga Brahma. Tiba-tiba dike- jutkan oleh datangnya Supit
Songong bersama Dogol. "Ada apa? Dari mana kalian? Kalau Eyang Naga Brahma
tahu, beliau akan marah... Bukan- kah Eyang sudah pesan bahwa kita harus me-
nunggunya?" ujar Sena pada Supit Songong dan Dogol.
"Maafkan aku, Kakang,"
jawab Supit Son- gong. Sedangkan Dogol hanya bisa melongo den- gan napas
engos-engosan, seperti orang habis berlari jauh.
"Kenapa kalian nampak
murung...?" tanya Mei Lie kemudian.
"Tadi kami bermaksud ingin
membeli ma- kanan di desa. Sampai di kedai mendengar pem- bicaraan orang-orang,
bahwa Perguruan Karang Jati dihancurkan deh kedua pendekar dari Pulau Dewata
bersama pengikutnya.... Dan malah menurut kabar keduanya juga menantang Kakang
Sena," tutur Supit Songong dengan tegas. Wajah- nya nampak masih murung.
"Apa...?!" teriak Mei Lie
yang tersentak mendengar keterangan itu. "Kurang ajar...! Kena- pa mereka
bisa begitu. Bukankah menurut Eyang Naga Brahma, mereka datang untuk bersahabat
dan akan saling menimba ilmu, bahkan ingin memberikan sebuah kitab suci pada
Kakang Se- na...?!" tambah Mei Lie dengan nada agak tinggi karena kesal.
Sena sendiri nampak bergeleng
kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Mulutnya cengenge- san seakan tak ada rasa
cemas dan kaget.
"Aneh...! Hi hi hi..., sungguh
lucu memang dunia ini. Kenapa orang selalu berubah pikiran," gumam Sena
seakan bicara pada dirinya sendiri.
"Bagaimana tindakanmu, Kakang?
Bukan- kah Perguruan Karang Jati milik Ki Wanapati?" tanya Mei Lie dengan
wajah nampak mulai geram.
"Ya. Ki Wanapati orang yang
bijak. Dia saudara seperguruan paling muda Eyang Guru Singo Edan!" jawab
Sena dengan mengangguk- anggukkan kepala.
"Lantas, bagaimana? Apakah
Kakang hanya akan diam saja?" Kembali Mei Lie mende- sak Pendekar Gila.
"Kita sebaiknya
menyelidikinya, Kakang Sena. Menurut firasatku, bukan kedua pendekar berjuluk
Mata Dewa itu yang memporak- porandakan Perguruan Karang Jati," kata Supit
Songong mengutarakan perasaannya.
Sena menoleh ke arah Supit Songong.
Pada saat itu tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang didahului dengan asap
putih, disusul dengan su- ara desisan. Sinar dan asap itu pun sekejap be- rubah
menjadi seekor naga bersisik emas.
Sena, Mei Lie, Supit Songong
langsung menjura. Begitu juga Dogol. Dogol menjura, tapi kakinya gemetaran.
Bibirnya pun bergetar, takut melihat sosok naga besar di hadapannya.
"Zzzt...!" Naga bersisik
keemasan itu men- desis. Lidahnya menjulur menjilati Sena, Mei Lie, Supit
Songong dan terakhir Dogol.
Dogol semakin gemetar ketakutan.
Tubuh- nya yang gendut dan bundar basah keringat, menggigil seperti orang
kedinginan. Namun hanya berlangsung sekejap, karena perlahan-lahan wu- jud naga
besar itu berubah menjadi lelaki tua ber- jenggot panjang.
"Sembah kami, Eyang...."
Terdengar suara mereka berempat
"Hm...!" gumam lelaki itu
pendek. "Eyang, kami mendapat persoalan yang sangat rumit... Perguruan
Karang Jati milik Pa- man Wanapati, menurut orang-orang dihancur- kan oleh
kedua pendekar dari Pulau Dewata itu. Bukankah itu sama saja menginjak-injak
kita se- mua, Eyang.... Karena perguruan itu masih ada hubungan dengan kita,
menurut Kakang Sena," kata Mei Lie tiba-tiba dengan wajah menampak- kan
kekesalan.
"Hm. He he he...! Jangan
terbawa amarah- mu, Mei Lie. Tapi, aku tidak menyalahkanmu. Sudah kuketahui
semua itu. Rupanya memang ada orang ketiga yang ingin mengacaukan semua maksud
baik kedua pendekar itu." Sejenak Naga Brahma menghentikan ucapan, lalu
mengelus- elus jenggotnya yang putih bersih itu. "Seorang wanita yang
pernah kau kenal, ingin membalas dendamnya pada kalian berdua...!"
lanjutnya sambil menunjuk Pendekar Gila dan Mei Lie.
Kontan saja Sena dan Mei Lie
tersentak ka- get. Terutama Mei Lie. Namun kemudian Pende- kar Gila tampak
cengengesan dan menggaruk- garuk kepala.
"Siapa perempuan licik itu,
Eyang...?! Ra- sanya kami tak pernah berbuat jahat pada seseo- rang," kata
Mei Lie dengan nada cemas.
"Memang. Tapi, aku tak bisa
menjelaskan lebih dari itu. Nanti kalian sendiri yang akan mengetahui siapa
wanita itu...," tutur Naga
Brahma dengan suara penuh wibawa
dan besar.
Mei Lie menghela napas panjang,
lalu meli- rik ke arah Pendekar Gila yang tampak tenang- tenang saja.
"Lantas, apa yang harus kami
lakukan, Eyang?" tanya Sena dengan kalem.
"Aku serahkan pada kalian
semua. Asalkan kalian memang yakin dapat membuka tabir yang masih terselubung
dalam peristiwa pelik ini. Doa- ku bersama kalian. Sekarang kuijinkan kalian
pergi. Agar tempat ini tidak menjadi ajang perta- rungan orang-orang yang ingin
merusak kesucian tempat ini...," tutur Naga Brahma.
"Terima kasih, Eyang. Kami
mohon doa restu Eyang...," sahut Sena sambil menjura, di- ikuti yang lain.
Naga Brahma hanya menganggukkan
kepa- la perlahan.
Sena, Mei Lie, Supit Songong, dan
Dogol segera beranjak dari tempat itu, meninggalkan Naga Brahma. Lelaki tua
bertubuh penuh sisik seperti layaknya ular naga itu kemudian meli- patkan kedua
tangan di dadanya. Matanya terpe- jam rapat, melakukan semadi.
***
"Ke mana kita harus mencari
pengacau itu, Kakang?" tanya Mei Lie dengan nada yang terdengar sudah tak
sabar lagi.
Gadis itu berjalan di sisi kiri
Sena, sedangkan Supit Songong berada di depan bersama Dogol. Terkadang anak
bersisik naga itu melompat ke pundak Dogol dan tertawa-tawa menggoda. Tangannya
yang hitam memegang pentil Dogol yang gemuk. Pemuda bertubuh bulat itu tertawa-
tawa kegelian.
"Siapa kira-kira perempuan
yang mengin- ginkan kematian kita itu, Kakang Sena...?" tanya Mei Lie
dengan wajah cemberut
"Entahlah, aku belum bisa berpikir.
Aneh! Ada saja manusia macam itu! Memangnya nyawa orang kaya ayam!" kata
Sena berseloroh. Lalu menggaruk-garuk kepala dan tertawa kecil sambil menatap
ke arah Mei Lie. Gadis itu juga bertam- bah kesal.
"Jangan bercanda, Kakang! Ini
bukan se- pele. Kita bisa celaka nanti...!" kata Mei Lie den- gan nada
kesal. Namun Sena tetap nampak cen- gengesan.
Tiba-tiba Pendekar Gila
menghentikan langkahnya. Mei Lie pun mengikutinya.
"Supit..!" Supit Songong
yang sudah berjalan di sisi Dogol pun berhenti sambil menoleh ke belakang.
Diikuti Dogol, yang memegangi perutnya. Supit Songong segera menghampiri Sena
dan Mei Lie.
"Ada apa, Kakang Sena?"
tanya Supit "Kita nampaknya harus bersiasat. Kita ha- rus berpencar. Kau
dan Dogol mencari dan me- nyelidiki keadaan tempat-tempat yang mencuri- gakan.
Biar aku dan Mei Lie menyelidiki di tempat lain. Sebelum malam tiba, kalau bisa
kita harus sudah berkumpul kembali di Perguruan Kera Pu- tih, tempat Paman
Wanara Sakti...!" usul Sena pada bocah bersisik naga itu.
"Baik, Kakang Sena. Kami
segera pergi...," sambut Supit Songong sambil menjura lalu pergi.
Dogol nampak ragu. Namun Pendekar
Gila mengisyaratkan dengan anggukan kepala. Lelaki gemuk itu pun melangkah
setelah mengangguk- kan kepala pada Sena dan Mei Lie.
"Sebenarnya aku
mengkhawatirkan Dogol dan Supit Songong. Tapi mereka harus dilatih un- tuk
berani. Seperti Eyang Guru Singo Edan mela- tihku sejak masih kecil seumur
Supit Songong. Ternyata manfaatnya sangat banyak dan berarti sekali
bagiku," kata Sena seakan bicara pada diri sendiri. Mei Lie hanya
menganggukkan kepala perlahan tanda mengerti.
Sejenak Sena menghela napas
panjang, la- lu menoleh ke arah Mei Lie yang sedang meman- danginya. Pandangan
mata kedua muda mudi itu beradu, Mei Lie tersenyum, mukanya agak merah.
"Lantas kita bagaimana, Kakang Sena...?" tanya Mei Lie untuk sekadar
menghilangkan rasa malu.
"Sebaiknya kita cepat
melakukan penyeli- dikan...," jawab Sena, lalu melangkah diikuti Mei Lie
***
No comments:
Post a Comment