Wednesday, May 1, 2019

034 Nenek Bongkok


NENEK BONGKOK
Oleh Firman Raharja

1
Sejak diusirnya Senapati Warkasa Pati empat bulan yang lalu, keadaan Kadipaten Balasutra mulai aman kembali. Begitu pula desa-desa yang berada dalam kekuasaan kadipaten itu. Kehidupan masyarakatnya kembali aman dan tenteram.
Desa Kawulan yang memiliki wilayah paling luas di antara desa-desa lainnya, cukup ramai dan subur. Apalagi di desa itu merupakan tempat tinggal senapati yang baru. Seorang yang bijaksana dan berbudi luhur. Senapati Pranggana namanya. Adipati Parisuta pun sangat mempercayai dan menyenangi Senapati Pranggana. Karena selain memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, Sena- pati Pranggana memiliki kesetiaan dan kejujuran. Dia setia membela orang desa yang tertindas oleh perampok dan tokoh-tokoh sesat yang datang setiap saat Malam ini langit nampak kelam. Bulan ter- tutup oleh awan. Suasana gelap gulita dan mencekam. Angin dingin berhembus kencang, seakan mengisyaratkan akan terjadi sesuatu.
"Aneh! Malam ini sangat dingin, tak enak...," gerutu seorang peronda yang sedang menunggu temannya di gardu, "Ke mana saja si Kerempeng Suko. Kencing kok lama sekali...!"
"Kirman!" tiba-tiba terdengar teguran dari arah semak-semak.
"Siapa...?! Kau Suko...?!" tanya Sukirman agak ragu. Matanya menyipit memandang ke arah semak-semak yang tak jauh dari gardu.
"Iya, cepat ke sini...!" terdengar seruan dengan suara serak.
"Ah...! Ada-ada saja anak tuyul itu...," geru- tu Sukirman sambil mengikatkan kain sarungnya di pinggang. Lalu dia turun dari balai-balai yang ada di gardu itu dan melangkah ke arah semak- semak. Begitu sampai di dekat semak-semak, tiba- tiba...
Crasss! "Aaa...!" Sukirman menjerit, lalu tak bersuara lagi. Mati! Keadaan sunyi senyap kembali menyelimuti tempat itu. Desa Kawulan pun sunyi, bagaikan tak ada penghuninya.
Padahal biasanya, baik siang maupun ma- lam hari, Desa Kawulan selalu ramai. Namun entah mengapa malam ini suasananya begitu men- cekam. Para penduduk sepertinya sudah terlelap tidur. Karena hawa malam memang terasa sangat dingin. Hanya suara binatang malam terdengar di antara desau angin yang menerpa dedaunan. Mereka bergembira menikmati keheningan malam yang dapat mereka manfaatkan untuk mencari makan, bermain, bersenda gurau maupun saling melepaskan hasrat birahinya. Karena siang ha- rinya mereka merasa terganggu sekali oleh hiruk-pikuk dan kesibukan manusia.
Dari semak-semak dekat gardu ronda melesat bayangan hitam memasuki desa. Lalu menghilang dalam kegelapan malam.
Langit di atas tampak muram. Bulan yang hanya sepotong masih tetap terhalang awan tebal. Dan keheningan itu semakin mencekam, semakin membuat para penduduk lebih suka menarik selimut. Daripada memikirkan yang tidak-tidak, hanya akan mengganggu tidur mereka.
Namun mendadak saja desa yang sunyi dan gelap itu tiba-tiba menjadi kacau-balau. Bermula dari terdengarnya tawa panjang yang amat mengerikan dan menggema, seakan menye- barkan hawa kematian. Disusul kemudian kobaran api di atas beberapa rumah, hingga membuat para penghuninya harus berlarian menyela- matkan diri.
Rumah Ki Lurah Kuntolo, mertua Senapati Pranggana pun tak luput dari sasaran api itu. Ki Kuntolo bersama istri dan Surti, istri Senapati Pranggana, berlarian keluar sambil menggendong anaknya yang belum berumur satu tahun.
Seketika suasana desa berubah bagaikan neraka. Jeritan-jeritan keras terdengar di sana- sini. Para penduduk panik dan ketakutan. Orang- orang lelaki berlarian mencari air untuk mema- damkan api yang terus berkobar dan semakin membesar.
"Tolooong...! Tolooong...!" "Cepat padamkan...! Ayo cepat...!" perintah
Ki Kuntolo pada para penduduk. "Edan! Dari ma- na datangnya api itu...?!" gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepala merasa tak habis pikir.
Sementara itu, Surti nampak sangat keta- kutan dan memeluk anaknya erat-erat, melin- dunginya dengan penuh kasih sayang.
"Sebaiknya kau berlindung di rumah Sap- to, cepat...!" perintah Ki Kuntolo pada Surti dan istrinya. Surti dan ibunya cepat menuju rumah Ki Sapto yang terletak di ujung desa. Ki Sapto meru- pakan orang kepercayaan Ki Kuntolo. Kedudu- kannya sebagai Wakil Lurah Desa Kawulan.
Ditemani oleh seorang lelaki bertubuh ke- kar, Surti dan ibunya terus melangkah menuju rumah Ki Sapto.
Sementara itu api semakin besar dan su- dah lima rumah terbakar. Beramai-ramai para penduduk terus berusaha, memadamkan api yang semakin berkobar. Sementara angin ber- hembus kencang.
Kerja cepat dan bantu membantu pun ter- jadi. Ki Kuntolo dan Ki Sapto mengomandoi para warga, sambil ikut juga turun tangan.
Mereka bergerak cepat berusaha membu- nuh si Jago Merah. Namun belum lagi api yang satu berhasil dipadamkan, mendadak saja api itu menyambar lagi rumah-rumah yang lain. Karena angin yang berhembus demikian kuat, memper- cepat dan memperbesar kobaran api yang terus menjilat atap-atap rumah.
Keadaan semakin kacau balau. Kepanikan semakin menjadi-jadi. Hiruk-pikuk jeritan pendu- duk yang ketakutan ditingkahi suara gemeretak kayu terbakar. Sementara di kejauhan penduduk yang lain terdengar membunyikan kentongan.
"Tolooong...! Api...!" "Air...! Air...!" "Cepat padamkan...!" Seruan-seruan ramai terus terdengar. Dan yang paling mengenaskan, ada salah seorang penduduk berlarian dari rumahnya dengan tubuh terbakar. Ternyata seorang lelaki tengah meng- gendong anaknya yang masih kecil.
"Tolooong! Tolooong...!" serunya kepanasan dan berlarian ke sana kemari sambil terus memeluk erat anaknya. Beberapa warga segera berlari menolong lelaki yang terbakar itu.
Sementara para penduduk memadamkan api di tubuh lelaki itu, Ki Kuntolo berusaha mengambil anak yang ada di pelukannya. Anaknya pun menangis-nangis keras.... Dengan berani Ki Kuntolo menembus api yang membakar lelaki itu dan cepat menarik sang Anak. Ki Lurah Kuntolo segera menjauh sambil memeluk anak kecil itu. Namun lengan Ki Kuntolo sempat termakan api, meski tak begitu parah.
"Bawa anak ini... jauh-jauh...!" kata Ki Kuntolo sambil memberikan anak kecil itu pada salah seorang warga.
Lelaki yang terbakar itu tak dapat diselamatkan. Jeritan menyayat terus terdengar seiring tubuhnya yang berlarian menyelamatkan diri.
Bau hangus dan sangit pun menusuk hidung. Para penduduk yang menyaksikan hanya bisa mendesah dengan hati pilu. Beberapa kaum wanita menjerit ngeri melihatnya. Mereka menundukkan kepala dengan terisak, ketika melihat sepasang suami istri dan seorang anaknya mati terbakar. Api terus berkobar. Hal ini membuat para penduduk menjadi cemas dan lambat laun mun- cul kecurigaan. Dari mana datangnya api itu?! Ke- jadian ini dirasakan sangat aneh.
Belum lagi keheranan mereka terjawab, mendadak saja melayang sesosok tubuh dengan gerakan yang amat ringan, menuju kerumunan para penduduk. Disusul dua sosok lain melayang dengan gerakan sama. Kemudian ketiganya memperdengarkan suara tawa yang aneh. Menggema panjang dan menggetarkan telinga yang mendengarnya. Ki Kuntolo, Ki Sapto, dan para penduduk menyebar, dengan perasaan cemas melihat ketiga orang yang masih melenting dan bersalto di udara.
Ketiga sosok itu mendarat. Namun sosok pertama mendarat dengan membelakangi Ki Kuntolo, Ki Sapto, dan para penduduk. Sedangkan dua orang yang berkepala botak dan berkumis tebal menghadang Ki Kuntolo dengan tatapan ga- rang.
"Siapa orang-orang ini...?.'" tanya Ki Kuntolo dalam hati.
Kemudian orang yang berambut panjang dengan pengikat kepala kain merah, perlahan membalikkan tubuhnya, berdiri gagah berkacak pinggang. Dia tertawa-tawa mengejek. Matanya yang liar, menatap tajam Ki Lurah Kuntolo.
"Hah?!" Ki Kuntolo tersentak kaget bukan main. Begitu juga dengan Ki Sapto dan para pen- duduk yang mengenal orang itu.
"Ha ha ha...! Jangan kaget, Manusia- manusia Bodoh. Bila kalian hendak mencari-cari siapa yang telah berbuat ini semua..., akulah orangnya!" suaranya nyaring dan terdengar cukup mengerikan.
"Senapati Warkasa Pati...??" gumam Ki Kuntolo, setelah mengenalinya. Seketika lelaki berumur sekitar lima puluh lima tahun itu merasa cemas. "Kau tentunya masih mengenali aku, bukan?! Ha ha ha... aku datang hanya menginginkan mantumu itu, Ki Kuntolo!" kata Warkasa Pati dengan pongahnya.
"Hah...?! Tapi dia tak ada di sini. Kenapa kau tidak datang saja ke Kadipaten Balasutra...?! Apa kau takut!" jawab Ki Kuntolo dengan berani.
"He he he...! Orang tua ini mulutnya perlu disobek!" kata Warkasa Pati dengan geram. Sece- pat itu pula dia mengibaskan jubahnya.
Srrrt..! "Ukh...!"
Seketika Ki Kuntolo memekik dan tahu- tahu mulutnya remuk dan berlumuran darah. Tubuhnya terpental dua tombak, menubruk bebe- rapa orang yang berdiri di belakangnya.
Warkasa Pati tertawa terbahak-bahak me- lihatnya. "Apa kalian juga ingin kusobek mulut kalian. Hah...!"
Tak seorang pun yang berani bertindak atau menjawab. Hanya Ki Sapto yang sebagai wakil kepala desa, melangkah maju mencoba menenangkan Warkasa Pati.
"Apa sebenarnya yang membuat kau membakar rumah penduduk yang tidak berdosa...?" tanya Ki Sapto dengan tegas dan mantap.
"Ha ha ha...! Aku senang mendengar pertanyaanmu. Ha ha ha...! Aku hanya inginkan Pranggana, senapati yang menggantikan aku itu. Dengan cara seperti ini dia pasti murka dan mencariku. Katakan padanya bahwa aku menung- gunya di Lembah Seribu Iblis, besok pagi-pagi se- kali...! Hanya Pranggana. Kalau ada orang lain, akan kubumihanguskan dan kubunuh semua orang yang ada di desa ini. Mengerti...?! Sampaikan tantanganku! Kalau tidak kau sendiri yang akan jadi gantinya!" kata Warkasa Pati dengan geram.
Tiba-tiba dari jauh, Surti yang menggen- dong anaknya berlari-lari diikuti ibunya, menuju tempat mereka.
"Ada apa...?! Ada apa...?!" tanya Surti pada Ki Sapto. Wanita itu belum tahu kalau di situ ada
Warkasa Pati yang telah membuat ayahnya pingsan. "Oh, Pak..?! Kenapa mulutmu, Pak...!" Tiba- tiba terdengar suara istri Ki Lurah Kuntolo. Surti pun menoleh ke belakang.
"Oh?!" pekik pendek Surti yang merasa ka- get.
"Ha ha ha...!" terdengar suara tawa Warka- sa Pati. Surti kaget dan berpaling ke arah suara. Matanya membelalak ketika tahu dan mengenali orang yang tertawa bergelak itu.
"Kurang ajar! Bajingan! Rupanya kau yang berbuat semua ini. Apa maksudmu... ?!" bentak Surti dengan geram. Matanya berkaca-kaca.
"Ha ha ha... Aku senang melihat wanita se- cantikmu marah-marah seperti ini. Kalau saja kau mau jadi istriku, aku pun tak keberatan. Wa- laupun perawanmu telah kau berikan pada Pranggana yang bodoh itu!" ejek Warkasa Pati.
"Kurang ajar! Manusia busuk pengkhianat kadipaten, pemeras...! Kubunuh kau...!" teriak Surti geram. Dan secepat itu tangan kanan Surti mencabut golok di pinggang Ki Sapto yang berdiri di sebelah kirinya. Lalu wanita muda itu bermak- sud membabatkan goloknya ke tubuh Warkasa Pati. Namun segera ditahan oleh Ki Sapto.
"Jangan berbuat bodoh, Surti...! Dia tak akan mundur. Sabarlah! Biar semuanya berjalan apa adanya...!" kata Ki Sapto yang bergerak cepat dan tepat.
Surti hanya bisa diam penuh dendam. Napasnya naik turun dengan cepat, menahan amarah yang besar. Matanya mendelik ke arah War- kasa Pati. Sedangkan bekas senapati itu hanya senyum-senyum.
"Dengar Surti...! Aku datang hanya untuk mengundang, menantang suamimu, Pranggana. Dan aku yakin dapat membunuhnya!" kata War- kasa Pati dengan sombong.
Mendengar itu hati Surti seketika cemas dan terdiam dengan bibir bergetar
Sementara itu Ki Kuntolo tengah ditolong dan diobati para penduduk tak jauh dari tempat itu.
"Dan kau harus tahu, sebagai pengganti suamimu nanti adalah aku! Karena sejak dulu sebenarnya aku mengincarmu. Tapi si Pranggana yang bodoh itu lebih beruntung. Ha ha ha...! Untuk itu bersiaplah nanti! Aku akan membawamu, begitu suamimu dapat kubunuh. Ha ha ha...!" ka- ta Warkasa Pati dengan penuh keyakinan dan menggoda. Lalu setelah memberi isyarat pada kedua anak buahnya, Warkasa Pati melesat pergi. Sebelumnya diingatkan lagi pada Ki Sapto, bahwa dia menunggu Senapati Pranggana di Lembah Seribu Iblis.
Hati Surti semakin tak karuan mendengar ucapan Warkasa Pati. Rasa khawatir dan takut tersirat di wajahnya. Karena semua orang tahu, bahwa Warkasa Pati kini telah memiliki ilmu yang cukup tinggi. Apalagi mantan senapati itu kini menjadi murid si Nenek Bongkok dari Pantai Sela- tan.
"Sudahlah, jangan kau terlalu larut pada masalah ini! Serahkan semuanya pada Hyang Widhi...," kata Ki Sapto mencoba menenangkan hati Surti.
Lalu Surti mendekati ayahnya yang sedang diobati oleh Nyi Dimah. Ki Sapto mengikuti di belakangnya. Sementara orang-orang mulai bubar.
"Sebaiknya, bawa ke rumahku saja. Hari sudah larut malam. Ayo, Surti...!" ajak Ki Sapto pada orang-orangnya. Segera dua orang laki-laki menggotong tubuh Ki Kuntolo ke rumah Ki Sapto diikuti Surti dan Ibunya. "Gono, cepat kau ke ka- dipaten, beritahu Senapati Pranggana...!" perintah Ki Sapto pada seorang pemuda desa.
"Baik, Ki...," jawab Gono. Lalu cepat dia berangkat ke Kadipaten Balasutra.
Sementara itu malam semakin larut. Suasana kembali sunyi dan mencekam. Bulan pun tetap tertutup awan menjadikan keadaan gelap gulita. Asap mengepul dari bekas rumah-rumah yang terbakar, termasuk rumah Ki Kuntolo. Semua telah menjadi arang. 2
Malam itu juga Senapati Pranggana datang disertai dua orang dari kadipaten, dengan menunggang kuda. Gono yang menyusulinya duduk di belakang Senapati Pranggana yang menunggang kuda coklat belang putih.
Kuda-kuda itu cepat memasuki Desa Kawulan, dan berhenti di depan sebuah bangunan yang tak begitu besar. Bangunan setengah tembok itu rumah Ki Sapto.
Begitu masuk, Senapati Pranggana lang- sung mencari istri dan anaknya.
"Kakang...!" seru Surti begitu melihat Se- napati Pranggana masuk. Mereka berpelukan erat Surti menangis tersedu-sedu.
"Tenang Diajeng, tenang...!" kata Senapati Pranggana coba menenangkan istirinya dengan menepuk-nepuk dan mengusap punggung Surti.
Lalu Senapati Pranggana menggendong anaknya yang tadi digendong neneknya. Senapati Pranggana menciumi berulang kali kening anaknya. Lalu diberikannya lagi pada ibu mertuanya. Senapati Pranggana mendekati Ki Kuntolo, mertuanya yang masih terbaring di balai-balai ruang tengah. Mulutnya miring dan pecah, akibat sabetan jubah Warkasa Pati. Senapati Pranggana nampak sedih melihat keadaan mertuanya itu.
"Maafkan saya...! Semua ini gara-gara saya Tapi percayalah, saya akan membalas dan membunuhnya," kata Senapati Pranggana dengan mantap. Lelaki gagah itu kembali mendekati Surti. Lalu dia bertanya pada Ki Sapto, yang juga nam- pak cemas dan sedih.
"Bagaimana awalnya, Ki...?" tanyanya. Ki Sapto menghela napas sejenak. Ditatapnya Senapati Pranggana sebentar, lalu mulai menceritakan kejadian naas itu, dari awal sampai akhir. Ki Sapto menceritakan bahwa maksud Warkasa Pati tak lain ingin membalas dendam dan menantang Senapati Pranggana. Warkasa Pa- ti merasa disingkirkan dari kadipaten oleh Sena- pati Pranggana. Karena Senapati Pranggana-lah yang berhasil mengungkap dan menangkap basah sepak terjang Warkasa Pati semasa menjadi sena- pati yang suka memeras rakyat dan mencoba menjatuhkan tahta Adipati Parisuta.
"Itulah maksud utama Warkasa Pati. Bahkan dia mengancam kami, bila kau datang bersama pasukan kadipaten," ujar Ki Sapto mengakhiri ceritanya.
"Dia juga berkata kurang ajar, Kakang. Dia hendak mengambilku jika kelak kau kalah dan mati dalam pertarungan...," ucap Surti tiba-tiba. Membuat Ki Sapto mengerutkan kening. Lelaki itu nampak menyayangkan ucapan Surti. Karena dianggapnya akan mempengaruhi ketenangan Senapati Pranggana dalam menghadapi Warkasa Pati.
Mendengar ucapan istrinya, Senapati Pranggana tersentak kaget. Lalu berpaling menatap Surti tajam dengan mengerutkan keningnya. Napasnya naik turun cepat, seakan menahan rasa amarah yang besar.
"Aku akan tetap bersamamu, Diajeng. Aku akan membunuhnya!" kata Senapati Pranggana dengan suara mantap. Lalu memeluk erat Surti.
Keduanya berpelukan agak lama, seakan mereka tak akan lagi bertemu satu sama lain.
Nampak dalam wajah Senapati Pranggana tersirat rasa penyesalan, terhadap semua peristiwa ini. "Kenapa aku biarkan Warkasa Pati dulu hidup? Kenapa aku masih bermurah hati pada orang seperti dia?! Seharusnya kubunuh saja dia sewaktu aku menang dalam pertarungan itu...? Bodoh sekali aku ini...! Kini dia menantangku, mau membunuhku. Bahkan ingin merebut istri- ku..,! Oh Hyang Widhi, beri hamba-Mu ini kekua- tan dan kepercayaan diri untuk melawan manu- sia keparat itu."
Perlahan Senapati Pranggana melepas pe- lukan sambil menatap lekat-lekat wajah sang Istri agak lama, lalu diciumnya kening istrinya lembut. "Aku akan kembali, Diajeng. Percayalah...! Sekarang Diajeng tidurlah. Sudah hampir pagi... biar aku berunding dengan Ki Sapto dan dua pengawalku...," kata Senapati Pranggana perlahan.
Surti hanya menganggukkan kepala. Se- mua yang ada di situ merasa terharu. Karena di hati dan perasaan mereka tentunya Senapati Pranggana akan berpisah selamanya dengan Surti. Mengingat Warkasa Pati kini memiliki ilmu yang cukup tinggi. Terutama Ki Sapto yang juga mendengar bahwa mantan senapati itu menjadi murid Nenek Bongkok dari Pantai Selatan, yang memiliki ilmu setan dan kejam.
Setelah Surti masuk ke kamar bersama ibunya, Senapati Pranggana segera duduk bersila di atas tikar, berembuk dengan Ki Sapto dan dua orang pengawalnya.
Mereka berunding dan bicara hingga fajar menjelang. Kemudian Senapati Pranggana mulai bersiap diri.
Ayam berkokok panjang tanda pagi telah datang. Dan sang Fajar mulai muncul di balik bukit. Sinarnya memerah menyemburat di langit timur....
* * *

Saat yang mendebarkan telah datang. Senapati Pranggana dengan menunggang kuda berwarna putih belang coklat, nampak gagah. Apalagi dengan pakaian kadipaten. Warna pakaiannya serba hitam lengan panjang dengan kain batik coklat. Dan sebilah keris terselip di pinggangnya.
Kuda terus berlari cepat menuju Lembah Seribu Iblis. Derap kaki kuda pagi-pagi buta itu seakan menggugah ketenangan hewan-hewan yang masih tidur.
Tak lama kuda itu sudah sampai di kaki Lembah Seribu Iblis. Senapati Pranggana mulai memperlambat lari kudanya. Matanya menyapu sekeliling lembah itu. Melirik ke kiri dan kanan. Lalu ditariknya lagi tali kekang kuda, melangkah perlahan ke depan. Begitulah yang dilakukan Senapati Pranggana.
Suasana sepi. Hanya angin yang berhembus kencang sekali dari arah selatan. Namun kuda yang ditunggangi Senapati Pranggana tetap bergerak tegap dan menuruni lembah yang sepi itu.
"Apakah Warkasa Pati menjebakku...?! Bisa saja dia tak muncul, tapi anak buahnya...," pikir Senapati Pranggana dalam hati.
Kaki kuda terus menuruni Lembah Seribu Iblis yang sepi dan sunyi itu. Tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat di udara dengan bersalto beberapa kali, bagai seekor kelelawar raksasa. La- lu mendarat dengan ringan di atas gundukan ta- nah berumput.
Senapati Pranggana menarik tali kekang kudanya hingga berhenti. Matanya memandang tajam sosok manusia yang berdiri dengan pon- gahnya dan berkacak pinggang. Wajahnya masih belum jelas, karena sinar sang Surya ada di bela- kangnya. Orang itu menghadap ke barat, menatap lekat pada Senapati Pranggana.
Baru saja Senapati Pranggana turun dari kudanya tiba-tiba terdengar suara gelak tawa orang itu, menggema seakan hendak memecah suasana pagi yang hening. "Ha ha ha...!" "Sombong! Akan kucincang kau, Manusia Keparat...!" kata Senapati Pranggana dalam hati dengan penuh dendam dan amarah. Lalu dia mencabut keris pusakanya.
"Hua ha ha.... Aku senang pagi ini. Karena kau menanggapi tantanganku, Orang Bodoh!" ejek orang berjubah hitam serta pakaian dalam ber- warna merah darah itu.
"Phuih!" Senapati Pranggana meludah. "Kau seharusnya sudah kubunuh, Warkasa Pati! Dan kini aku tak akan memberimu ampun lagi...!" seru Senapati Pranggana dengan suara keras, sambil menuding Warkasa Pati dengan tangan ki- rinya.
"Hua ha ha...! Kau yang akan kukirim ke akherat, Pranggana. Ha ha ha...!" jawab Warkasa Pati dengan tawa bergelak.
Lalu tanpa basa-basi lagi Senapati Prang- gana langsung melompat melakukan serangan. Terjadilah pertarungan sengit antara keduanya.
"Heaaa...! Mampus kau, Keparat!" seru Se- napati Pranggana sambil menusukkan keris pu- sakanya ke dada Warkasa Pati, disusul dengan tendangan kaki kanan.
Namun Warkasa Pati dapat mengelak den- gan cepat, serta menangkis tendangan Senapati Pranggana dengan tangan kirinya. Dengan cepat pula dia mencengkeram kaki Senapati Pranggana, lalu memutar dan melemparkannya. Senapati Pranggana tersentak kaget. Tubuhnya melayang ke belakang dan mendarat ringan di tanah.
"He he he.... Boleh juga kau, Orang Bo- doh...!" ejek Warkasa Pati diiringi tawanya.
Melihat ejekan lawannya, Senapati Prang- gana tampak geram sekali. Tubuhnya melompat lagi melakukan serangan. Dalam sekejap perta- rungan berlangsung kembali. Keduanya terkadang sama-sama melenting ke atas, bertarung di udara. Pada satu kesempatan Senapati Pranggana berhasil menusukkan kerisnya ke perut Warkasa Pati.
Jlep! "Ukh...!" pekik Warkasa Pati. Namun ke- mudian dia tertawa-tawa. Keris pusaka Senapati Pranggana ternyata tak berarti apa-apa baginya. Bahkan ketika dicabut oleh pemiliknya, keris itu patah. Senapati Pranggana yang melihat kenya- taan itu sangat kaget dan melangkah mundur dengan wajah tegang.
Sementara itu dari perut Warkasa Pati yang berbekas tusukan keris Senapati Pranggana, keluar patahan keris itu. Dengan tangan kirinya Warkasa Pati mencabut pucuk keris Senapati Pranggana sambil tertawa-tawa. Lalu membua- ngnya. Senapati Pranggana tampak ternganga. Ha- tinya seketika berubah kecut. Senjata pusaka sa- tu-satunya ternyata tak mempan di tubuh War- kasa Pati.
"Hua ha ha.... Sudah kukatakan, bahwa aku akan dengan mudah membunuhmu, Orang Bodoh! Dan sebentar lagi Surti bakal jadi istriku! Ha ha ha...!" kata Warkasa Pati sambil melangkah mendekati Senapati Pranggana yang terus mun- dur sampai ke tepian lembah.
Pada saat itu dari jauh nampak seorang pemuda berambut ikal panjang, dengan baju rompi kulit ular sedang berjalan santai menuju lembah itu. Namun langkahnya terhenti ketika terdengar suara tawa menggelegar seseorang, ba- gai ingin meruntuhkan bumi.
"Aha, suara tawa itu mengerikan. Siapa orangnya...?! Mengapa dia tertawa-tawa...?!" gumam pemuda berbaju rompi kulit ular itu sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu segera dipercepat langkahnya ke arah suara tawa.
Kembali kita pada Warkasa Pati. Lelaki berjubah hitam itu telah semakin dekat dengan Senapati Pranggana yang terus melompat menghin- dar dari serangan Warkasa Pati.
"Aku tak akan cepat-cepat membunuhmu. He he he... Akan kucincang tubuhmu, lalu kubawa ke Desa Kawulan. Sebagai bukti bahwa aku menang. Dan Surti, he he he.... Dia pasti bakal jadi istriku...," kata Warkasa Pati yang kemudian dengan cepat menghantam dada Senapati Pranggana dengan tendangan kaki kanannya yang amat keras. Gerakannya yang begitu cepat tak diduga oleh Senapati Pranggana.
Buk! Buk! "Aaa...!" Senapati Pranggana menjerit kesakitan. Tubuhnya terpental empat tombak ke bela- kang. Lalu jatuh dengan keras di atas rerumputan basah.
Belum sempat Senapati Pranggana bangkit, Warkasa Pati kembali menyerang. Tubuhnya me- lompat cepat dengan menusukkan dua jari tan- gan ke kedua mata Senapati Pranggana.
"Ha ha ha.... Kali ini kau akan kubuat buta! Terimalah sekarang, heaaa,..!" Warkasa Pati berteriaksambil mengayunkan tangan kanannya.
Namun sebelum jari-jari tangan Warkasa Rati sampai ke mata Senapati Pranggana yang sudah pasrah itu, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan. Dengan cepat sosok itu menyambar Senapati Pranggana dan membawanya pergi.
Orang yang membawa pergi Senapati Pranggana masih sempat melancarkan serangan. Dengan gerakan yang cepat sekali kaki kanannya menendang dada dan kepala Warkasa Pati.
Bug! Bug! "Aaa...!" Warkasa Pati memekik, tubuhnya sempat terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Seketika itu juga orang yang menyerang Warkasa Pati sudah menghilang.
"Huh...! Bangsat...! Dedemit atau setan, siapa yang menyelamatkan Pranggana...?! Hei! Keluar kau...! Ayo, lawan aku kalau kau ingin adu ilmu, Bangsat!" sungut Warkasa Pati dengan murka. Tubuhnya langsung melesat mencari orang yang menyelamatkan jiwa Senapati Prang- gana. Dengan ilmu meringankan tubuh, dalam sekejap saja Warkasa Pati sudah berada jauh. Namun tak menemukan orang yang dicari. War- kasa Pati nampak menyesali dirinya sendiri.
"Bodoh! Kenapa aku tidak langsung mem- bunuhnya...?! Huh! Kenapa aku bodoh sekali. Kalau saja aku tadi cepat membunuhnya, tak akan terjadi begini. Sial...!"
Warkasa Pati nampak kesal sendiri dan menendang-nendang apa saja yang ada di depan- nya. Pohon atau batu ditendangnya, hingga mo- rat-marit dan berpentalan.
Sementara itu orang yang menyelamatkan Senapati Pranggana terus berlari sambil memang- gul tubuh orang yang ditolongnya. Lalu setelah merasa aman, orang itu menghentikan larinya, Direbahkannya tubuh Senapati Pranggana di tanah yang ditumbuhi rerumputan, di bawah pohon rindang. Senapati Pranggana nampak tercenung memandangi penolongnya yang ternyata seorang pemuda tampan berpakaian kulit ular. Pemuda itu tampak cengengesan memandangi wajah Se- napati Pranggana.
"Aha, kau sudah aman, Sobat. Pulihkan tenaga dalammu! Tenangkan hatimu...," kata pemuda berambut gondrong ikal dan berparas tam- pan serta gagah itu. Lalu mulutnya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Senapati Pranggana menyipitkan kedua mata, ketika melihat tingkah pemuda itu seperti orang gila. Seakan dirinya tengah berusaha men- gingat-ingat sesuatu. Kemudian dia ingin bangun, tapi belum kuat, badannya masih lemas.
"Tenang saja, Sobat. Kau sudah aman. Aku tak akan meninggalkanmu, sebelum kau kembali sehat. Hm... lebih baik kau makan ini...," kata pemuda berpakaian rompi kulit ular, yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila. Sena Manggala mengeluarkan obat berbentuk bulat hitam dari balik ikat pinggangnya. Lalu diberikannya pada Senapati Pranggana. Senapati Pranggana menerima dengan tangan kanan, lalu memakannya.
Sambil mengunyah obat, Senapati Prang- gana tampak mengernyitkan kening. Berusaha mengingat-ingat siapa pemuda bertingkah lucu yang telah menolongnya.
Tak berapa lama kemudian Senapati Pranggana sudah mulai pulih. Wajahnya yang semula pucat tampak mulai segar. Dan dia mulai bisa bergerak bangun.
"Terima kasih...," ucap Senapati Pranggana sambil memijit-mijit lengan kirinya. "Kau telah menyelamatkan jiwaku. Aku berhutang nyawa padamu, Sobat"
"Ah ah ah, tak usah kau pikirkan. Sudah biasa aku lakukan hal seperti ini. Dan itu memang aku senang,..," jawab Sena Manggala polos sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian tersenyum Senapati Pranggana menghela napas dalam-dalam. Matanya tanpa sengaja melihat benda di pinggang Sena. Sebuah suling berkepala naga. Mulutnya tersenyum sambil manggut-manggut. Lalu berdiri perlahan. Sementara Sena nampak cengar-cengir memperhatikannya.
"Kalau aku tak salah, kau adalah Pendekar Gila, murid Singo Edan...," kata Senapati Pranggana tiba-tiba. Membuat Sena mengerutkan kening sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ha ha ha...! Kau ini lucu. Bagaimana kau bisa seenaknya menyangka begitu? Masa' tam- pang seperti aku ini seorang pendekar. Aku adalah aku, Sobat," kata Sena mengelak.
Senapati Pranggana tampak penasaran dan dengan penuh keyakinan, dia kembali berkata, "Aku tak salah, bahwa kau pasti Pendekar Gila dari Goa Setan. Suling berkepala naga itu yang pernah diceritakan Adipati Parisuta...."
Mendengar itu. Sena cengengesan. Matanya menatap Senapati Pranggana tajam, seperti menyelidik. Lalu membalikkan badan dan melangkah tiga tindak.
"Sudahlah, tak usah kau bicarakan soal aku! Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau sampai terlibat perkelahian dengan orang tadi!" tanya Sena kemudian, tanpa membalik atau me- mandang Senapati Pranggana.
"Panjang ceritanya. Bagaimana, kalau se- karang kau singgah ke rumahku dulu, nanti kuceritakan. Bahkan kalau kau berkenan nanti kita ke Kadipaten Balasutra. Bagaimana, Tuan Pendekar...?" kata Warkasa Pati dengan semangat dan penuh harap.
Sena menoleh ke belakang, lalu mengga- ruk-garuk kepala sambil tersenyum.
"Baiklah...," kata Sena pendek. Senapati Pranggana nampak lega dan gembira, segera mereka pergi dari tempat itu.

3
Sampai di Desa Kawulan. Senapati Prang- gana dikejutkan oleh meninggalnya Ki Lurah Kun- tolo. Kepala desa itu tewas dalam keadaan men- genaskan. Lidahnya terjulur keluar dengan mata melotot. Di rumah Ki Sapto telah dipenuhi pen- duduk desa yang menyampaikan rasa bela sung- kawanya terhadap kepala desa.
Tampak di sisi mayat Ki Kuntolo, Surti, dan ibunya tengah menangis tak henti-hentinya.
"Nampaknya kematian Ki Kuntolo tak wa- jar. Pasti ini perbuatan si Nenek Bongkok," ujar Ki Sapto seraya menghela napas, seakan ingin mem- buang kegusaran di hatinya.
"Siapa Nenek Bongkok itu? Dan di mana tempat tinggalnya...?.'" tanya Sena kalem.
"Katakan Ki, Kita harus segera mele- nyapkan Nenek Bongkok itu. Dan juga Warkasa Pati. Aku akan mempertaruhkan nyawaku demi ketenteraman Desa Kawulan dan Kadipaten Bala- sutra,..!" sahut Senapati Pranggana dengan mata berbinar menahan dendam.
"Nenek itu tak pernah menetap. Namun aku yakin Nenek Bongkok itu tinggal bersama Warkasa Pati...," kata Ki Sapto.
"Bagaimana Ki Sapto tahu hal itu...?" tanya Sena menyelidik kebenaran ucapan wakil kepala desa itu.
"Yah. Beberapa waktu lalu, setelah Warkasa Pati diusir dari Kadipaten Balasutra, aku meli- hat dia menuntut ilmu sesat pada Nenek Bongkok itu," tutur Ki Sapto. Lalu menghela napas panjang sebelum meneruskan keterangannya. "Dan aku pernah menguntit secara diam-diam. Ternyata mereka menuju sebuah bangunan tua penjara bawah tanah...."
"Di mana rumah tua itu, Ki...?" tanya Sena ingin tahu.
"Di Lembah Seribu Iblis. Tak satu pun orang kembali dengan selamat jika mengusik lembah itu...," tutur Ki Sapto.
"Lembah Seribu Iblis...?!" gumam Sena li- rih.
"Kalau begitu, aku harus menyampaikan pada Adipati Parisuta. Akan kuserang dengan pa- sukan kadipaten...," kata Senapati Pranggana dengan geram.
"Jangan gegabah, Nak Pranggana. Warkasa Pati dan Nenek Bongkok itu bukan orang bodoh. Mungkin mereka sudah mempunyai rencana, se- telah Warkasa Pati gagal membunuhmu...," tukas Ki Sapto menasehati. "Bagaimana pendapat Tuan Pendekar dalam hal ini...?" tanya Ki Sapto kemu- dian pada Pendekar Gila.
"Ya, begitulah. Apa yang Ki Sapto katakan kuanggap benar. Kita harus berpikir secara ma- tang. Agar semuanya tidak menyesal di kemudian hari...," kata Sena dengan tenang, lalu mengga- ruk-garuk kepala.
"Lantas, bagaimana baiknya...?" tanya Senapati Pranggana pada Sena.
Sementara itu Surti keluar dari ruang da- lam membawa minuman dan makanan singkong dan ubi rebus. Lalu menaruhnya di atas tikar. Ke- tika terdengar anaknya menangis, istri Senapati Pranggana itu segera pergi ke kamar. Sementara orang-orang yang berada di rumah itu, duduk dengan tenang.
Di luar hari sudah mulai gelap. Matahari sudah terbenam di ufuk barat. Sebentar lagi akan datang malam hari.
Sena bersama Ki Sapto dan Senapati Pranggana terus membicarakan tentang Nenek Bongkok dan Warkasa Pati, sampai jauh malam. Para penduduk yang melayat sebagian sudah pu- lang ke rumah masing-masing. Tinggal orang- orang kepercayaan Ki Sapto yang berjaga-jaga di depan rumah.
* * *

Pagi itu setelah penguburan Ki Kuntolo, Senapati Pranggana segera berangkat ke Kadipaten Balasutra dengan menunggang kuda. Sementara Pendekar Gila masih tinggal di Desa Kawu- lan. Karena dirinya merasakan ada sesuatu yang aneh pada beberapa orang lelaki yang ikut dalam penguburan Ki Kuntolo.
Sena berjalan di dekat Ki Sapto dan Surti, serta istri Ki Lurah Kuntolo yang masih nampak terisak-isak sejak penguburan suaminya tadi. Pada saat itu pula sepasang mata mengamati mere- ka. Sepasang mata tua mengintip dari balik pepo- honan. Sementara angin berhembus kencang dan awan hitam pun tiba-tiba saja bergulung di atas langit yang tadi membiru. Seketika cuaca jadi mendung. Matahari telah tertutup awan hitam yang tebal.
Suasana menjadi mencekam. Dan angin pun semakin kencang bertiup. Orang-orang yang mengantar penguburan Ki Lurah Kuntolo kembali ke rumah masing-masing. Sena mengikuti Surti dan ibunya pulang ke rumah Ki Sapto.
"Sebaiknya Ki Sapto cepat bawa masuk Surti dan Ibunya. Jaga, jangan boleh keluar ru- mah! Biar saya di luar rumah. Ada sesuatu yang akan saya kerjakan, Ki...," kata Sena lirih begitu sampai di depan rumah KI Sapto.
Ki Sapto mengerti, segera membawa masuk Surti dan ibunya.
Dugaan Sena benar. Baru saja Ki Sapto masuk ke rumahnya bersama dengan Surti dan ibunya, tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam ru- mah wakil kepala desa itu.
"Aaah...! Tolooong...!" Ternyata jeritan Surti dan ibunya. Pendekar Gila segera melesat masuk ke rumah Ki Sapto. Dan alangkah terkejutnya Sena ketika melihat Ki Sapto telah terjatuh di lantai dengan usus terburai keluar. Lelaki tua itu men- coba bangkit, namun tak kuat. Sementara ibunya Surti menangis ketakutan.
"Tolooong...! Surti anakku..., kembalikan.... Surtiii...!"
"Bagaimana kejadiannya bisa secepat ini, Ki? Siapa yang menculik Surti...?" tanya Sena Manggala, sambil berjongkok menolong Ki Sapto yang tampak lemah dan pucat. Sekujur tubuhnya telah berlumuran darah yang keluar dari perut.
"Se... sela... selamatkan Surti...! Mereka orang-orang Warkasa Pati... ukh.... Se... se... la- matkan Surti, Pen... de... kar...!" selesai berucap begitu Ki Sapto kejang-kejang dan tak bernapas lagi. Sena menghela napas dalam-dalam menyesa- li dirinya yang membiarkan Ki Sapto dan Surti masuk ke rumah tanpa dirinya.
"Bodoh sekali aku....! Kenapa jadi begi- ni...?! Bodoh! Aku kenapa jadi bodoh! Goblok..?!" Sena menggerutu menyalahkan diri sendiri. Lalu dengan cepat melesat keluar, setelah memanggil orang-orang untuk menjaga ibunya Surti dan mengurus mayat Ki Sapto.
Dengan menggunakan lari 'Sapta Bayu', Sena bagai terbang. Sekejap dia sudah berada di suatu tempat, di pinggiran hutan.
Setelah mengerahkan kemampuan penden- garan yang tajam akhirnya Pendekar Gila dapat menemukan ke mana larinya orang yang mencu- lik Surti. Dengan memotong jalan, Sena segera melihat seseorang memakai pakaian serba hitam. Wajahnya tertutup dengan kain merah darah, dengan ikat kepala menutupi seluruh rambutnya yang panjang. Tampak Surti terkulai lemas di panggulannya, "Hop...!"
Pendekar Gila tiba-tiba saja sudah berdiri di hadapan orang itu. Seketika si Penculik meng- hentikan larinya. Namun dengan cepat pula dia melompat melewati kepala Sena dan kabur.
Sena yang melihat hal itu cepat pula me- lompat ke udara dengan bersalto ke belakang be- berapa kali mengejar penculik itu. Dalam bebera- pa lesatan saja dia berhasil mendahuluinya. Dan.... Bluk! Plak! "Aaakh...!" penculik itu memekik, lalu jatuh ke tanah bergulingan. Namun anehnya Surti tak terlepas, bagai lengket di tubuhnya.
Rupanya tendangan kaki kanan Sena men- genai rusuk dan kepalanya. Namun penculik itu bukan orang sembarangan. Dia memiliki kekua- tan cukup tangguh. Dengan cepat pula lelaki ber- pakaian serba hitam dan berkedok warna merah itu melancarkan serangan balik dengan senjata- senjata rahasia. Seketika benda-benda bulat se- besar ibu jari dan bergerigi meluncur dari ta- ngannya.
Ziut! Ziut! "Heit..!" Blar...! Pendekar Gila melenting mengelakkan se- rangan itu. Hingga benda-benda bulat bergerigi itu menghantam pepohonan. Pohon-pohon yang terkena hancur dan tumbang. Dengan cepat penculik misterius itu melesat ke atas ranting pohon sambil memanggul tubuh Surti. Setelah bersalto beberapa kali penculik itu menghilang.
"Sial...!" geram Sena sambil memukul- mukul tinjunya ke batang pohon hingga berlu- bang. Padahal Sena tak begitu keras memukul batang pohon itu. Hanya untuk menghilangkan rasa kekesalannya. "Untuk kesekian kalinya aku membuat kesalahan. Aneh, begitu cepat dia menghilang," gerutunya pada diri sendiri.
"Sebaiknya aku cepat kembali ke Desa Ka- wulan. Menunggu Pranggana...," gumam Sena li- rih seakan bicara pada dirinya sendiri. Lalu dia cepat melesat dari tempat itu.
Dengan ilmu lari 'Sapta Bayu', dalam seke- jap Sena sudah sampai di Desa Kawulan. Kea- daan nampak lengang. Tak banyak penduduk yang berlalu-lalang di jalanan. Hanya dua atau ti- ga orang lelaki yang sempat dilihatnya.
Sena langsung ke rumah Ki Sapto. Di sana ada istri Ki Lurah Kuntolo yang masih bersedih duduk di kursi sambil menggendong anak Surti. Seorang perempuan tua berambut putih duduk bersimpuh di sampingnya.
"Nyi Kuntari..., jangan bersedih terus! Ber- doalah pada Yang Kuasa minta pada Hyang Whidi agar Surti tetap dilindungi...," kata perempuan tua berambut putih dengan suara agak serak dan penuh perasaan. Pendekar Gila yang berdiri di ambang pintu, mendengar ucapan perempuan tua bernama Nyi Punti itu, merasa tersentuh hatinya.
Dia melangkah keluar, tak jadi masuk ke rumah. Dan pada saat itu, Senapati Pranggana datang bersama prajurit Kadipaten Balasutra. Mereka menunggang kuda lengkap dengan persenjataan perang. Senapati Pranggana langsung mengarah- kan kudanya mendekati Pendekar Gila yang ten- gah berdiri menanti di depan rumah Ki Sapto. Tanpa mengucapkan kata-kata apa pun senapati muda itu turun dari kudanya di depan Sena yang tampak tengah menggaruk-garuk kepala.
"Apa yang telah terjadi, Tuan Pendekar...?" tanya Senapati Pranggana pada Pendekar Gila yang masih terdiam.
Sementara itu para penduduk Desa Kawulan bermunculan dari rumah masing-masing, ke- tika tahu rombongan prajurit Kadipaten Balasutra datang. Sebagian prajurit telah memeriksa dan menjaga tempat-tempat di sekitar rumah Ki Sap- to.
"Maafkan aku, Senapati.... Surti diculik orang yang berkedok. Aku sudah berusaha untuk mengejar dan menghadangnya, tapi rupanya pen- culik itu bukan orang sembarangan. Aku duga dia adalah Warkasa Pati, tapi aku pun belum pas- ti...," kata Sena menjelaskan pada Senapati Pranggana.
Senapati Pranggana mau marah tak berani, karena dia tahu kalau Pendekar Gila saja tidak mampu menghentikan penculik yang diduga Warkasa Pati, apalagi dirinya. Senapati itu hanya bisa menghela napas panjang, dengan wajah nampak murung.
"Percayalah! Aku berjanji akan dapat men- gembalikan Surti dalam keadaan selamat.... Beri aku waktu. Dan kalau benar itu Warkasa Pati, aku akan segera menyelidiki ke markas si Nenek Bongkok itu...," ucap Sena tegas.
"Terserah Tuan Pendekar. Tapi sebaiknya bersama kami. Karena Adipati Parisuta sudah memerintahkan untuk menumpas manusia kepa- rat dan Nenek Bongkok itu," pinta Senapati Pranggana.
"Tapi menurut firasatku, sebaiknya seba- gian prajuritmu berjaga-jaga Desa Kawulan ini. Warkasa Pati pasti murka karena belum mene- mukanmu...."
Senapati Pranggana berpikir sejenak den- gan memegang keningnya. Lalu manggut- manggut.
"Benar. Aku telah membuat susah dan menderita orang-orang desa ini. Sekarang aku ha- rus mengamankan mereka. Aku tak ingin pendu- duk Desa Kawulan jadi korban lagi...," kata Sena- pati Pranggana bernada menyesal. Lalu segera di- panggilnya pimpinan prajurit.
"Cepat bagi tugas anak buahmu, Rah Jati!" perintah Senapati Pranggana pada bawahannya.
"Baik, saya segera laksanakan...," jawab Rah Jati, kemudian cepat pergi mengumpulkan para prajurit yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu.
"Sebaiknya kita berpencar. Kau dan praju- ritmu melalui selatan, biar aku dari utara...," kata Sena pada Senapati Pranggana.
"Tapi, Tuan Pendekar harus bersama salah satu orang kami. Agar tidak salah jalan...," kata Senapati Pranggana mengusulkan
"Tidak. Kurasa aku sudah mulai paham daerah ini...."
Baru saja Sena selesai berkata begitu, di ujung desa terjadi keributan. Dua orang prajurit sedang menahan seorang laki-laki muda berba- dan gendut
Senapati Pranggana menghampirinya, keti- ka lelaki muda berpakaian rompi coklat itu mem- berontak dari pegangan dua prajurit yang me- nangkapnya. "Ada apa ini...?" tanya Senapati Pranggana. "Orang ini mencurigakan. Dia lari ke- tika kami tanya. Bahkan melawan kami...," jawab salah seorang prajurit pada Senapati Pranggana. Sena hanya melihat dari jarak agak jauh. Namun pandangannya agak terhalang, karena kerumu- nan para prajurit
"Benar. Mungkin dia mata-mata musuh, Senapati...," tukas seorang prajurit yang satu lagi. "Tidak! Bukan....! Aku bukan mata-mata. Aku malah ingin mencari perlindungan di desa ini. Aku hampir saja terbunuh oleh lelaki berkedok dan berpakaian serba hitam yang membo- pong seorang wanita," kata laki-laki muda bertubuh gendut menjelaskan dengan sungguh- sungguh sambil memperagakan bagaimana dia dapat lolos dari orang berkedok itu.
Mendengar cerita orang gendut itu, seketi- ka Senapati Pranggana kaget. Dia segera ingin mengorek lebih lanjut keterangannya.
"Lantas bagaimana...?" tanya Senapati Pranggada tak sabar.
Pada saat itu Sena sudah melangkah men- dekati Senopati Pranggana. Mulutnya tersenyum- senyum sambil menggaruk-garuk kepala. Dia seakan mengenali suara orang muda bertubuh gendut itu.
"Untung aku dapat lolos, karena aku pura- pura mati, dengan mencebur ke sungai.... Orang itu lantas kabur ke arah hutan...," kata lelaki gendut itu. "Hhh.... Kalau saja ada sahabatku, orang berkedok itu pasti sudah dihabisi...!" lan- jutnya sambil mencibir dan bertolak pinggang.
"Siapa sahabatmu itu, Sobat?" tanya Sena- pati Pranggana ingin tahu, karena dia masih me- rasa curiga dengan si Gendut itu. Senapati Prang- gana takut kalau orang di hadapannya ternyata mata-mata musuh yang sengaja diumpankan. Dan berpura-pura seperti orang bloon,
'Masa' kalian tak mengenalnya.... Hi hi hi.... Dialah Sena, Kakang Sena Manggala atau Pendekar Gila...!" kata si Gendut dengan tegas dan kembali mencibir.
Senapati Pranggana kaget, namun dia ma- sih tidak percaya. Lalu dia menoleh ke belakang. Tahu-tahu Sena sudah berada di belakang si Gendut.
"Dia memang sahabatku, Senapati.... Dogol namanya...," ujar Sena yang sudah berada di belakang Dogol. Kontan Dogol kaget dan menoleh ke belakang.

4
"Kakang Sena....'" teriak Dogol dengan pe- nuh kegembiraan, lalu memeluk Pendekar Gila. Kemudian bersujud sejenak memberi hormat. Se- telah itu berdiri dan memeluk Sena lagi dengan erat. Sena hanya tersenyum cengengesan memba- las pelukan sahabatnya itu.
Senapati Pranggana dan para prajurit sal- ing pandang dan lalu ikut tersenyum pula.
"Siapa tadi yang menangkapku...? Ayo, ngaku! Kalau tidak aku pelintir lehernya. Ayo, siapa...?" seru Dogol dengan gaya seperti jagoan. Perutnya yang besar bergerak-gerak seperti mau beranak. Hingga para prajurit tertawa geli meli- hatnya. "Eee..., kenapa kalian tertawa? Ayo, ngaku? Siapa yang menangkap dan menuduhku mata- mata...?!" kembali Dogol dengan berkacak ping- gang menatap satu persatu prajurit Kadipaten Ba- lasutra. Senapati Pranggana dan Sena membiar- kan saja sambil menahan geli.
"Saya, Ki...," jawab dua orang prajurit ber- barengan sambil menundukkan kepala seperti ketakutan.
"Enak saja. Kalian panggil aku, Ki. Sebut aku Tuan Pendekar...!" tukas Dogol dengan gaya yang dibuat-buat. Namun baru saja dia akan me- nunjukkan jurus, tahu-tahu kaki kirinya mengin- jak kulit pisang yang sengaja dilempar salah seo- rang prajurit. Hingga Dogol jatuh....
Hmkkk! "Wadaooow...!" Semua tertawa gelak. Sena lalu mengulur- kan tangan membantu Dogol bangun. Dogol me- ringis kesakitan sambil memegangi pantatnya.
"Makanya jadi orang jangan sombong...," kata Sena dengan tersenyum geli. "Ayo, sekarang minta maaf sama Senapati Pranggana...!"
"Maafkan saya, he he he... saya tadi hanya main-main, Tuan Senapati...," kata Dogol dengan polos diiringi tawa kecil.
"Aku tahu. Aku senang dapat berkenalan denganmu, Dogol. Hm... Masih ingin kau cerita- kan kembali tentang orang berkedok itu...," ujar Senapati Pranggana kalem sambil memegangi pundak Dogol.
Dogol menoleh ke arah Sena. Sena membe- ri isyarat dengan menganggukkan kepala.
"Hm.... Saya mula-mula bermaksud ingin mencari Kakang Sena. Tapi tiba-tiba saya ditu- bruk oleh orang berkedok itu. Sampai saya jatuh. Lalu saya melawan. Saya kaget ketika melihat orang berkedok itu memanggul seorang wanita. Ya, wanita berpakaian kain warna coklat dan baju kebaya warna, hm... warna coklat muda...," tutur
Dogol dengan jelas.
"Benar, dia Surti...," gumam Senapati Pranggana lirih, dengan mengerutkan kening. Se- ketika wajahnya berubah cemas.
Dogol yang melihat perubahan di wajah Senapati Pranggana, merasa heran dan ikut se- dih. Setelah menoleh sebentar pada Sena, dia kembali menatap Senapati Pranggana. "Kenapa senapati yang gagah itu murung? Apakah wanita itu adiknya? Istrinya?" begitulah pikir Dogol. Dia ikut merasakan kesedihan Senapati Pranggana.
"Lantas bagaimana...?" tanya Senapati Pranggana selanjutnya.
"Hm... anu.... Saya coba membuka kedok- nya, namun tak berhasil. Malah dia menghajar keras dengan telapak tangannya. Panas...," kata Dogol sambil membuka rompi, menunjukkan bekas memar di punggungnya. Sena kaget melihat itu, begitu juga Senapati Pranggana.
Sena memeriksa. Lalu berucap, "Tapak Sakti'....' Kalau begitu penculik itu bukan Warkasa Pati. Lalu siapa...?! Apakah kau tahu siapa yang memiliki ilmu ini...?" tanya Sena pada Senapati Pranggana.
"Tapak Sakti'...?.'" gumam Senapati Prang- gana sambil matanya memperhatikan luka di punggung Dogol. "Rasanya aku pernah tahu, tapi lupa siapa yang memiliki ilmu itu...," lanjut Senapati Pranggana sambil mengerutkan kening, ber- pikir keras.
"Kau harus cepat kuobati, Dogol. Aneh. Biasanya orang yang terkena pukulan 'Tapak Sakti' tak bisa bertahan lama. Orang itu akan mati. Tapi kau...," Sena tak melanjutkan ucapannya. Dia se- gera memberikan obat ramuannya sendiri yang dikeluarkan dari kantung kecil yang disimpan di ikat pinggang. Dogol langsung menelan obat yang bentuknya bulat sebesar kelereng itu.
"Aneh! Kenapa Dogol bisa bertahan lama, Aku curiga apakah dia Dogol, atau Warkasa Pati yang menyaru, menjelma jadi Dogol?! Ah tak mungkin. Warkasa Pati tak tahu siapa Dogol. Baik kubuktikan dengan caraku," gumam Sena sambil terus mengamati gerak-gerik Dogol.
Sementara itu Senapati Pranggana masih belum menemukan jawaban, siapa yang memiliki ilmu 'Tapak Sakti' itu. Pada saat mereka dalam memecahkan siapa pemilik ilmu 'Tapak Sakti' itu. Tiba-tiba bermunculan orang-orang berpakaian serba merah. Mukanya tertutup oleh kedok me- rah. Hanya bagian matanya saja yang berlubang. Mereka berjumlah sekitar dua puluh orang. Den- gan senjata terhunus, langsung mengepung para prajurit dan warga Desa Kawulan. Orang-orang berkedok merah itu tanpa basa-basi lagi langsung menyerang prajurit yang sedang berjaga-jaga.
Pertempuran seru terjadi. Senapati Prang- gana dan Sena kaget. Begitu juga Dogol yang wajahnya memerah, akibat obat yang sedang mela- wan racun 'Tapak Sakti'. Sena segera melesat ke arah pertempuran.
"Bangsat! Siapa orang-orang ini...?!" dengus Senapati Pranggana sambil menghunus pe- dangnya. Lalu mulai masuk ke arena pertarungan.
Dogol, berusaha bersembunyi di balik rumah seorang penduduk. Untuk menenangkan diri sambil menunggu kesembuhan lukanya. Dirasa- kan sekujur tubuhnya mulai berkeringat
Senapati Pranggana yang sudah tak mampu menahan murka, dengan ganas membabat setiap lawan yang mendekati, dengan jurus-jurus mautnya. Namun ternyata orang-orang berkedok merah itu cukup tangkas. Sabetan dan tusukan pedang mereka begitu cepat dan sulit diduga. Hingga pada akhirnya Senapati Pranggana terde- sak oleh salah seorang yang berbadan kekar.
Sambil terus menghadapi lawan-lawannya, Sena sempat melihat keadaan Senapati Pranggana. Ternyata tidak hanya Senapati Pranggana yang terdesak. Sebagian besar anak buahnya pun tampak kewalahan menghadapi gempuran lawan yang rata-rata memiliki kepandaian di atas para prajurit. Dalam waktu singkat tinggal lima praju- rit yang masih bertahan. Berarti sudah lima belas prajurit yang mati.
Senapati Pranggana dan Rah Jati terus be- kerja keras menghadapi keganasan lawan- lawannya. Gerombolan berkedok merah itu pun banyak yang mati pula. Sepuluh orang telah ter- kapar di tangan Sena dan Senapati Pranggana.
Senapati Pranggana yang sudah tak mam- pu menahan murka, dengan ganas mengobral jurus-jurus mautnya untuk membabat setiap lawan yang mendekati. Namun ternyata orang-orang berkedok merah itu cukup tangguh. Sabetan dan tusukan pedang mereka mampu mengimbangi ge- rakan Senapati Pranggana.
Mendadak Pendekar Gila melompat mem- buru beberapa orang berkedok yang hendak menghajar tiga prajurit kadipaten. Dengan gera- kan cepat sekali Sena melepaskan pukulan dan tendangan keras. Kelima orang berkedok itu seka- ligus berpentalan dan roboh. Seketika prajurit dengan sigap menghujamkan tombak dan golok ke tubuh lima anggota gerombolan yang belum sempat bangkit. "Heaaa...! Jlep! Jlep! Cras, cras...! Kelima orang berkedok merah terpekik. Tubuh mereka terkapar berlumuran darah. Bagai kesetanan para prajurit membantai mereka.
Sementara itu Dogol sudah mulai sembuh. Dia perlahan-lahan keluar dari persembunyian. Kepalanya clingak-clinguk, lalu berjalan menuju sebuah rumah.
Namun mendadak seorang berkedok me- lompat menghadang dan langsung menusukkan pedang ke arah Dogol. Si Gendut itu menjerit sambil mengelak lari. Orang berkedok melompat dengan bersalto di udara lalu mendarat di depan Dogol yang seketika kaget. Dengan ganas orang itu membabatkan pedang ke arah kepala Dogol.
Dogol memejamkan mala sambil merunduk cepat untuk mengelak. Namun lawan menyusul dengan tendangan kaki kanannya ke arah tubuh Dogol yang masih dalam keadaan merunduk.
Bug, bug...! "Aaa...!" Dogol menjerit dan terpental dua tombak ke belakang. Orang berkedok itu terus melompat hendak menghabisi Dogol. Namun se- belum ujung pedang menyentuh dada Dogol, se- buah tendangan maut menghantam tangannya yang menggenggam pedang.
Plak! "Aaakh...!" orang berkedok merah terpekik. Pedangnya terlepas dan terpental. Namun sebe- lum pedang itu menyentuh tanah, Sena dengan cepat menendangnya. Pedang itu kembali me- layang ke udara, lalu menukik dan jatuh menghu- jam dada pemiliknya yang roboh telentang. Lelaki berkedok merah seketika menjerit dengan tubuh menggelepar berlumuran darah. Kemudian tewas!
Dogol yang masih memejamkan mata nam- pak gemetaran. Sena segera mendekati lalu me- nepuk-nepuk pipi si Gendut yang mirip bakpao itu. Dogol bertambah ketakutan karena mengira orang berkedok yang menepuknya. Namun ketika Pendekar Gila membentak barulah Dogol mem- buka mata kanannya dan tertawa girang.
"Oh, Kakang Sena...! Apakah aku masih hidup...?" kata Dogol begitu melihat Sena ada di depannya.
Pendekar Gila hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Lalu berkata dalam hati, "Dugaanku salah. Aku tadi mencurigai kalau dia bukan Dogol. Kini aku percaya bahwa dia bukan jelmaan Warkasa Pati atau Nenek Bongkok yang konon bisa berubah seribu muka itu,"
"Ayo, cepat bangun! Jadi laki-laki jangan penakut. Katanya kamu ingin jadi pendekar...!" bentak Sena sambil menendang pantat Dogol.
Dogol tersenyum lebar. Lalu dengan gayanya yang sok jago, mulai membuka jurus- jurus seperti yang diperagakan Pendekar Gila. Sena menggeleng kepala memperhatikan tingkah si Gendut itu.
Sementara itu Senapati Pranggana telah berhasil membunuh lawan dengan tebasan pe- dangnya ke arah dada ninja. Orang berkedok itu memekik panjang. Tubuhnya roboh dan tak ber- kutik lagi.
Orang-orang berkedok merah yang masih tersisa enam orang seketika kabur menyela- matkan diri, setelah melihat kawan-kawan mere- ka banyak yang mati. Sehingga Dogol yang hen- dak membuktikan pada Sena kalau dia bukan penakut, menjadi kecewa. Nyengir kuda sambil menggaruk-garuk perutnya yang buncit
Senapati Pranggana yang penasaran ingin tahu siapa gerombolan berkedok merah itu, den- gan geram membuka tutup muka orang yang ter- geletak di hadapannya.
"Tuan Pendekar...!" seru Senapati Prangga- na mengejutkan Sena. Lalu Sena cepat melangkah menghampiri Senapati Pranggana.
"Ada apa, Senapati...?" tanya Sena pada Senapati Pranggana yang tengah mengawasi wa- jah orang berkedok merah.
"Lihat..!" kata Senapati Pranggana sambil menunjuk wajah orang itu. "Dia seorang pengawal Kadipaten Balasutra!"
"Heh...?! Benarkah begitu, Senapati...?" tanya Sena, seakan tak percaya pada apa yang dikatakan Senapati Pranggana.
"Rah Jati, dan kalian semua cepat buka penutup muka orang-orang itu...!" perintah Sena- pati Pranggana dengan suara bergetar, karena tak dapat mempercayai semua itu.
Dengan lesu dan sangat kecewa serta ber- campur murka, Senapati Pranggana terduduk le- mas di teras rumah Ki Sapto. Sena melangkah menghampirinya.
"Tenangkan hatimu. Tugas dan rencana ki- ta harus tetap dilaksanakan. Kita harus mene- mukan Surti. Aku telah berjanji. Sabarlah, jangan terbawa amarah! Mari, kita pikirkan bersama...!"
"Tapi bagaimana semua ini terjadi? Ada apa sebenarnya dengan Adipati Parisuta...? Apa- kah dia bersekongkol dengan Warkasa Pati...?! Kalau benar untuk apa...?!" keluh Senapati Pranggana dalam dugaannya.
"Jangan mau berprasangka buruk dulu terhadap Adipati Parisuta! Aku malah mempunyai firasat, bahwa kadipaten sedang dilanda malape- taka...," kata Sena tegas.
Senapati Pranggana tersentak. Keningnya berkerut dengan mata menatap lekat-lekat pada Sena. Ingin dia mendengar penjelasan lebih lan- jut, namun mulutnya tak bisa lagi bersuara. Sea- kan dia mengerti dan tahu akan jawaban Pende- kar Gila. Senapati muda itu meninju-ninju telapak tangannya sendiri, seolah ingin melepaskan keke- salan dan kekecewaannya. Saat itu keluar istri Ki Lurah Kuntolo dengan menggendong anak Surti. Dia melangkah mendekati menantunya yang se- dang berduka.
"Pranggana...," tegur Nyi Kuntari lembut. Senapati Pranggana menoleh, matanya tampak berkaca-kaca. Dilihat ibunya Surti yang menggendong anaknya. Senapati muda itu bang- kit dan cepat mengambil sang Anak dari gendon- gan ibu mertuanya. Digendongnya bayi yang baru berumur lima bulan itu, diciumi dengan penuh kasih sayang berulang kali. Didekapnya erat-erat, seakan tak ingin melepaskan.
Sena, Dogol, juga ibunya Surti merasa ter- haru melihat itu. Begitu pula orang-orang yang ada di rumah Ki Sapto.
"Ayah akan membawa ibumu pulang, Anak Manis. Doakan Ayah, ya. Sayang.... Oh, Hyang Widhi... beri aku kekuatan dan keselamatan! Lin- dungi anakku, lindungi istriku Surti...!" gumam Senapati Pranggana lirih, namun terdengar jelas oleh semua. Sena menundukkan kepala perlahan. Dogol pun tampak sedih berdiri di samping Sena.
Perutnya yang buncit bergerak-gerak seperti ada belut di dalamnya.
Sesaat suasana hening. Tak ada yang ber- suara. Perlahan Senapati Pranggana menyerah- kan bayi itu pada ibu mertuanya, setelah menci- umi berulang kali. Dan kemudian si Anak menan- gis, seolah tak mau pisah dengan ayahnya. Sena- pati Pranggana semakin sedih hatinya. Namun Pendekar Gila segera mendekati dan merangkul- nya.
"Tabahkan hatimu! Sementara lupakan du- lu semua ini, agar dirimu kembali tegar. Bukan- kah kau ingin menyelamatkan Surti dan menum- pas manusia laknat itu...?" kata Sena dengan le- mah lembut, namun penuh wibawa.
"Ya.... Tapi bagaimana dengan keadaan ka- dipaten, yang menurut Tuan Pendekar mungkin dalam petaka...?" sahut Senapati Pranggana balik bertanya.
"Ya, ya. Aku hampir lupa. Kita harus segera menyelidiki keadaan di kadipaten. Jika tidak ada kejanggalan, aku segera mencari Warkasa Pati dan Nenek Bongkok itu," kata Sena dengan tegas. Lalu dia menggaruk-garuk kepala.
"Baiklah. Mudah-mudahan tidak terjadi se- suatu pada diri Adipati Parisuta...! Ayo, kita sege- ra berangkat!" ujar Senapati Pranggana lalu me- merintahkan Rah Jati untuk berangkat bersama prajurit yang tersisa lima orang itu.
"Kau berangkat duluan. Aku menyusul...," kata Sena pada Senapati Pranggana.
"Baik. Aku berangkat, Tuan Pendekar...," kata Senapati Pranggana. Lalu segera dia melompat ke punggung kuda dan memacunya dengan cepat.
Pendekar Gila kemudian mendekati ibunya Surti yang menatap kepergian Senapati Pranggana.
"Nyi, doakan kami berhasil menemukan Surti! Kami berjanji akan membawanya kembali dalam keadaan selamat...," ujar Sena.
"Semoga kau berhasil, Nak Sena. Jaga Pranggana..., dia masih mudah marah dan mudah goyah. Tolong, bantu dia...!" pesan Nyi Kunta- ri dengan suara serak dan lemah.
"Baik, Nyi. Kami mohon diri.... Jaga anak itu baik-baik, Nyi. Dan jangan keluar rumah kalau malam hari!" kata Sena dengan penuh hor- mat. Lalu menoleh ke arah seorang lelaki kepercayaan Ki Sapto yang bernama Maruto. Lelaki se- tengah baya yang masih nampak segar. "Ki Maru- to, mohon selalu waspada, perketat penjagaan...," pesannya pada Ki Maruto.
"Baik, Den...," jawab Ki Maruto. Selesai bicara begitu, Sena segera melesat diikuti oleh Dogol. Sekali melesat Pendekar Gila telah berada jauh meninggalkan Dogol yang berlari sebisa-bisanya. Si Gendut berkepala botak itu tampak lucu sekali. Perutnya bergoyang-goyang karena guncangan. Pendekar Gila yang tak sabar lagi menunggu segera menyambar tubuh Dogol yang gendut dan dibawanya lari. Dengan menggunakan ilmu 'Sapta Bayu' pemuda berompi kulit ular itu terus melesat bagaikan terbang sambil memanggul tubuh Dogol yang gendut.

5
Suasana Kadipaten Balasutra nampak se- perti biasanya. Tak terlalu sibuk atau ramai. Senapati Pranggana telah memasuki batas kota kadipaten. Nampaknya memang tak terjadi keganjilan di sana. Hati Senapati Pranggana agak lega. Dipacu kudanya lebih cepat agar segera sampai di tempat tujuan. Di sebelahnya ada Rah Jati dan kelima prajurit yang masih tersisa.
"Hm...?! Mengapa penjaga tidak ada...?!" pikir Senapati Pranggana sambil menoleh ke ka- nan dan kiri mencari penjaga pintu gerbang ka- dipaten. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka dari da- lam. Ternyata ada dua orang penjaga yang mem- bukanya dari dalam.
"Kenapa kalian tidak berjaga di luar? Ada apa sebenarnya...?" tanya Senapati Pranggana pada kedua penjaga itu.
Penjaga tidak menjawab, hanya menun- dukkan kepala. Senapati Pranggana mulai merasa curiga. Diam-diam diamatinya gerak-gerik kedua penjaga itu. Keduanya terus menundukkan kepa- la, tak berani mendongak sedikit pun.
"Aneh...! Kenapa orang-orang ini,..?!" tanya
Senapati Pranggana lirih pada dirinya sendiri, "Rah Jati, selidiki di dalam! Biar aku langsung menghadap Kanjeng Adipati Parisuta...," kata Se- napati Pranggana pada Rah Jati.
"Baik," jawab Rah Jati, lalu melarikan ku- danya ke belakang kadipaten. Sedangkan kelima prajurit anak buahnya langsung turun dari kuda masing-masing
"Jika ada apa-apa, dan melihat sesuatu yang tidak beres, cepat teriak. Beritahu aku! Mengerti...?!" kata Senopati Pranggana pada keli- ma prajurit itu,
Lalu kelima prajurit itu mulai berpencar, Mereka berjalan dengan penuh kewaspadaan. Se- napati Pranggana segera melangkah hendak me- masuki kadipaten, namun tiba-tiba.....
Zing! Zing! Beberapa buah benda tajam segi tiga me- luncur deras ke arah Senapati Pranggana yang langsung menoleh dengan mata terbelalak kaget. Tubuhnya segera berjungkir balik, mengelakkan serangan gelap itu. Sehingga dirinya lolos dari maut. Dengan cepat dia mencabut pedangnya. Namun ketika baru saja Senapati Pranggana ber- diri, terdengar kembali luncuran dari arah yang sama. Dengan tangkas tubuhnya melompat men- gelak sambil membabatkan pedang memapas se- rangan itu.
Tring! Tring! Tring...! Benda-benda itu berpentalan dan hancur tersambar pedang Senapati Pranggana. Baru saja
Senapati Pranggana menarik napas lega, menda- dak tampak berlompatan sosok bayangan merah. Setelah bersalto beberapa kali di udara dua sosok berkedok merah itu sama-sama menyerang Sena- pati Pranggana.
Dengan hati diliputi amarah, Senapati Pranggana memapakinya dengan membabatkan pedang ke arah lawan. Sehingga terjadilah saling pukul dan tangkis. "Bangsat! Siapa kalian sebe- narnya. Buka kedok kalian....!" bentak Senapati Pranggani geram sambil menuding kedua sosok itu dengan tangan kiri.
"Hi hi hi....'" terdengar suara tawa mengikik dari arah kanan Senapati Pranggana. Senapati Pranggana menoleh sambil terus siap menghadapi segala kemungkinan.
Ternyata seorang nenek bertubuh bongkok dengan pakaian kotor dan kumal. Tangan kirinya memegang sebuah tongkat berkepala tengkorak. Nenek Bongkok itu terus terkekeh-kekeh, mengejek Senapati Pranggana.
"Kau manusia bodoh! Senapati Bodoh. Hi hi hi.... Kau kemari hanya untuk mengantar nyawa saja. Hi hi hi...!" ejek nenek berambut kumal itu sambil melangkah dengan tongkatnya.
"Kurang ajar...! Rupanya kau dalang semua peristiwa itu, Nenek Busuk! Serahkan istriku! Atau kubinasakan kau sekarang juga...!" seru Se- napati Pranggana dengan geram. Dia lalu membuka jurus mautnya, ilmu 'Pedang Sambar Nya- wa'. Tiba-tiba dari pedang Senapati Pranggana keluar sinar merah, menyilaukan mata.
Namun sosok bongkok itu malah tertawa- tawa dan memerintahkan kedua sosok berkedok itu minggir. Dan secepat itu pula Nenek Bongkok mengibaskan pakaiannya. Seketika berhembus hawa panas dan busuk menerpa Senapati Prang- gana. Senapati itu kaget, tapi dengan cepat me- lenting ke udara. Setelah bersalto beberapa kali. Senapati Pranggana hinggap di atap pendopo ka- dipaten. Nenek Bongkok mengejarnya. Kini kedu- anya bertarung di atas atap. Nenek Bongkok yang memiliki ilmu cukup tinggi mencecar Senapati Pranggana dengan tongkatnya.
"Hi hi hi.... Kau sebentar lagi akan mam- pus. Akan kukirim nyawamu ke akherat, Orang Bodoh... hi hi hi...!" seru Nenek Bongkok sambil terus melancarkan serangan cepat. Tongkat ber- kepala tengkorak itu diputarnya, hingga seperti baling-baling.
Ketika merasa terus terdesak, Senapati Pranggana terpaksa melompat turun dari atap. Namun Nenek Bongkok terus mengejar dengan meluncur bagai burung elang menyambar mang- sa.
Senapati Pranggana kaget ketika Nenek Bongkok menghantamkan tongkat ke arah kepa- lanya. Namun Senapati itu masih dapat menang- kis dengan pedangnya. Ternyata serangan lawan tak sampai di situ. Dengan serangan susulan yang cepat dan sukar diatasi, Nenek Bongkok te- rus memburu Senapati Pranggana.
"Heaaat..!" Bukkk! "Aaa...!" Senapati Pranggana memekik ke- ras. Tubuhnya melintir, karena tongkat Nenek Bongkok lepat mengenai dadanya. Seketika Sena- pati Pranggana muntah darah. Lalu tubuhnya tersungkur ke tanah.
Nenek Bongkok tidak menyia-nyiakan ke- sempatan itu. Segera kembali dia mendekati Se- napati Pranggana yang sudah tak berdaya.
"Hi hi hi.... Rupanya hanya seperti itu ke- mampuan, Senapati Bodoh...! Sekarang terimalah kematianmu...!" selesai berucap begitu, Nenek Bongkok segera memutar tongkataya.
"Heiaaa...!" Bug, bug...! "Ekgh...!" Nenek Bongkok itu tiba-tiba memekik ter- tahan. Tongkatnya terpental, ketika tiba-tiba se- sosok bayangan berkelebat sambil melancarkan tendangan keras.
"Bangsat...! Siapa yang berani berbuat ini padaku...!" maki Nenek Bongkok dengan mata merah karena marah.
Tongkat berkepala tengkorak yang masih melayang di udara, meluncur kembali ke arah pemiliknya setelah perempuan berwajah menye- ramkan itu menghentakkan tangan kiri. Tongkat itu kini sudah berada kembali di tangan kiri Ne- nek Bongkok.
Nenek Bongkok menyipitkan mata ketika di depannya berdiri seorang pemuda berambut gon- drong dengan pakaian rompi kulit ular. Pemuda itu tampak cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Nampak santai dan tak acuh dengan mu- ka nenek yang seram itu. Kemudian mulutnya cengar-cengir sambil menggeleng-geleng kepala.
"Hei! Rupanya kau murid Singo Edan! Hi hi hi.... Kau mau menantangku...?!" seru Nenek Bongkok dengan suara lantang walau sedikit se- rak.
"Hi hi hi...!" pemuda tampan yang tak lain Pendekar Gila itu tertawa cekikikan meniru suara tawa si Nenek Bongkok. "Dengar, Nenek Buruk! Aku menentang siapa saja yang berlaku durjana dan biadab, sepertimu...!" ujar Sena, lalu cengar cengir sambil menggaruk-garuk kepala.
Sementara itu Dogol membawa pergi Sena- pati Pranggana, keluar dari tempat itu.
"Kurang ajar! Mulutmu perlu kusumbat dengan ini! Heaaa...!"
Nenek Bongkok dengan cepat melancarkan serangan jarak jauh. Dari telapak tangannya ke- luar beberapa buah senjata rahasia berbentuk bintang. Zing, zing, zing...!
Namun dengan cepat Pendekar Gila me- lenting ke udara. Sehingga serangan yang gagal dari Nenek Bongkok menghantam dinding pendo- po kadipaten hingga jebol.
"Ha ha ha.... Nenek Busuk. Ayo, kenapa di- am? Keluarkan seluruh kebolehanmu. Atau ilmu setanmu...!" ejek Pendekar Gila sambil mengga- ruk-garuk kepala dan cengengesan, untuk membakar kemarahan Nenek Bongkok.
Dengan penuh kemarahan Nenek Bongkok menerjang Pendekar Gila yang terus melompat menghindar. Kini keduanya telah berada di luar pendopo kadipaten. Tepatnya di halaman samping tempat para prajurit latihan perang. Di situ ada tonggak-tonggak untuk latihan prajurit. Nenek Bongkok yang murka dengan ejekan Pendekar Gi- la, tiba-tiba melenting sambil melepas kain ikat pinggangnya. Dengan gerakan yang sangat cepat disabetkan kainnya pada sebuah tonggak, hingga melilit kemudian dengan keras disentakkan. Tonggak kayu itu tercabut dan meluncur deras ke arah Pendekar Gila. Tanpa menemui kesulitan, Pendekar Gila menyambut tonggak itu dalam be- berapa tangkisan hingga patah jadi dua.
Melihat serangannya begitu mudah dipa- tahkan lawan, Nenek Bongkok kian murka dan merasa geram.
"Hm...! Kali ini kau tak akan bisa lolos, Pemuda Gendeng...!" sungut Nenek Bongkok, Dengan gerakan cepat diputar tongkatnya, hingga menimbulkan angin yang sangat kencang bagai topan. Melihat lawan mengerahkan jurus andalan, dengan cepat Pendekar Gila mengeluarkan tenaga dalamnya untuk membendung angin topan itu, Anehnya angin itu berputar seperti pusaran hanya di sekeliling Pendekar Gila. Tak sampai di situ perempuan tua itu melompat melakukan se- rangan maut ketika melihat lawan telah terku- rung angin ciptaannya.
Namun, rupanya Pendekar Gila sengaja berpura-pura seakan tak mampu berbuat sesua- tu, Dan pada saat Nenek Bongkok hendak meng- hujamkan tongkat maut berkepala tengkorak, ti- ba-tiba Pendekar Gila berteriak keras menggele- gar. Bersamaan dengan suara yang bagai hendak memecah bumi itu, Pendekar Gila mengeluarkan ajian 'Tamparan Sukma' sebuah ilmu yang mam- pu menghancurkan segala ilmu setan dan silu- man.
Jlegarrr...! Ledakan dahsyat terdengar, disusul lolon- gan Nenek Bongkok yang kesakitan. Tubuhnya terbakar, lalu kabur dan menghilang...
Pendekar Gila mengejarnya. Namun pe- rempuan tua berilmu sesat itu telah hilang. Dan pada saat itu pula dari dalam bangunan kadipa- ten terdengar jeritan seorang wanita. "Tolooong...!" "Surti...?!" gumam Sena kaget sambil me- noleh ke arah suara itu.
Sesaat kemudian suara itu hilang. Sena melompat ke dalam kadipaten. Senapati Pranggana yang sudah segar, memburu Sena sambil ber- seru.
"Tuan Pendekar...! Biarlah aku yang membebaskan Surti.... Aku sudah bersumpah untuk berkorban demi istriku...."
"Baiklah, cepat..!" sahut Sena dengan sedikit ragu. Segera Senapati Pranggana melesat masuk. Dan pada saat itu pula kembali terdengar jeritan minta tolong
"Perasaanku tidak enak. Dogol, kau jaga di sini! Kalau ada apa-apa teriak. Hati-hati...!" kata Sena pada Dogol. Lalu melesat masuk menyusul Senapati Pranggono
"Surti,... Surti! Di mana kau, Diajeng...?!" teriak Senopati Pranggana dengan menggenggam pedang di tangan kanannya. Kakinya melangkah memasuki lorong menuju kamar tahanan.
Sampai di situ tak ada jawaban. Namun ketika melewati kamar Adipati Parisuta, Senapati Pranggana terkejut bukan main. Dilihatnya sang Adipati sudah terkapar di lantai bersama permai- surinya Nyi Lenggis. Keduanya tewas secara men- gerikan. Tampak leher Adipati Parisuta terkoyak hampir putus. Begitu pula leher permaisurinya. Tubuh keduanya tampak pucat, seperti telah ke- habisan darah.
"Ya Jagad Dewa Batara...!" keluh Senapati Pranggana dengan mata terbelalak. Hatinya ber- debar tak karuan. Ada perasaan cemas, bimbang, dan ketakutan yang hebat melihat kejadian men- genaskan itu.
"Tolong... jangan...! Tolooong...!" Tiba-tiba terdengar lagi suara Surti minta tolong. Senapati Pranggana cepat keluar dari ka- mar Adipati Parisuta. Setiap lorong dan ruangan diselidiki, tapi tak juga menemukan istrinya.
Sementara itu Pendekar Gila pun telah be- rada di dalam rumah kadipaten, Pendekar Gila dengan menggunakan ilmu cecak, merayap di dinding dan langit-langit rumah yang tinggi untuk memudahkan melihat keadaan.
Kembali pada Senapati Pranggana yang semakin tegang. Tubuhnya telah basah oleh ke- ringat karena menahan cemas.
"Surti... ke mana kau? Di mana kau, Di- ajeng. Kenapa semua petaka ini menimpaku? Hyang Widhi, temukan aku dengan istriku, Surti!" Senapati Pranggana terus melangkah. Keti- ka sampai di sebuah ruangan penyimpanan sen- jata, Senapati Pranggana melihat sobekan kain Surti. Lalu matanya menatap tajam ke arah pintu yang tampak terbuka sebagian.
"Apakah Surti ada di dalam ruangan ini...?" tanya Senapati Pranggana dalam hati.
Dengan perlahan Senapati Pranggana me- langkah ke arah pintu ruangan senjata. Dido- rongnya daun pintu dengan ujung pedangnya.
Kretekkk..! Suara pintu membuat jantung Senapati Pranggana tambah berdebar. Sekali lagi dido- rongnya daun pintu itu dengan ujung pedangnya, hingga terbuka lebar. Kemudian dengan gerakan cepat Senapati Pranggana berpindah ke sebelah kiri pintu. Ketika dengan hati-hati, dia melongok ke dalam, ternyata ruangan sangat gelap.
Pada saat itu Sena sudah berada tak jauh dari Senapati Pranggana. Dia bergantung di atap rumah, mengamati ruangan di bawahnya. Pende- kar Gila terus mengawasi Senapati Pranggana yang tidak melihatnya.
"Surti..., Diajeng Surti...?" suara Senapati Pranggana memanggil-manggil istrinya dengan perlahan.
Namun baru selangkah Senapati Prangga- na memasuki ruangan. Tiba-tiba....
Buk! Buk! "Aaa...!" Senapati Pranggana menjerit. Se- buah tendangan keras mendarat di wajah dan dadanya. Pada saat itu pula Pendekar Gila me- luncur turun ke arah pintu. Dan dengan pandan- gannya yang mampu menembus kegelapan, dia melihat sesosok manusia yang hendak kabur. Dengan gerakan cepat Pendekar Gila melancar- kan tendangan dan pukulan maut ke arah orang itu.
Wuttt! "Hiet...!" "Mampus kau, Pemuda Edan!" Terdengar suara serak dan besar dalam ke- gelapan di ruangan itu. Sementara Senapati Pranggana sudah terkapar di lantai menahan sa- kit di wajahnya.
"Kurang ajar...!" bentak Sena. Sekejap ruangan yang gelap itu menjadi te- rang, karena jendela ruangan terbuka lebar. Ca- haya matahari sore menembus ke dalam.
"Sial! Begitu cepat iblis itu lari...!" dengus Sena kesal.
Di ruangan itu ternyata tak ada Surti. Pen- dekar Gila segera keluar dan cepat membopong Senapati Pranggana yang terluka di bagian wajah dan dada. Darah terus keluar dari wajah Senapati Pranggana yang mulai lemas dan pucat.
Dogol yang tadi berjaga-jaga kaget begitu melihat Sena memanggul Senapati Pranggana.
"Gol...! Cepat, bantu Senapati Pranggana. Jaga. Aku akan mencari Surti...," perintah Sena lalu segera melesat kembali mencari Surti.
Baru saja Sena memasuki ruangan pendo- po kadipaten, tiba-tiba terdengar teriakan Surti. Kemudian istri Senapati Pranggana itu muncul sambil minta tolong dan menutupi pakaian ba- gian atas yang tampak sudah tercabik. Kainnya pun sebagian sobek, sebagian tubuhnya ada yang memar. Sena langsung menyambarnya, ketika Surti hendak lari ke arah lain.
"Jangan, jangan! Lepaskan aku... jangan sentuh aku... tolooong...!" teriak Surti sambil me- ronta-ronta.
"Surti...! Ini aku Sena...! Surti.... Diam...!" seru Sena sambil terus memeluk erat-erat tubuh Surti. Tapi aneh. Begitu kuat tenaga Surti, dira- sakan oleh Sena. "Edan! Tenaganya begitu kuat. Kemasukan setan apa ini!" pikir Sena yang mera- sa keheranan.
Akhirnya Pendekar Gila terpaksa menotok bagian-bagian tubuh Surti, hingga seketika lemas dan diam.
Pendekar Gila lalu membopong Surti dan membawanya pergi dari kadipaten. Sena dengan cepat melesat keluar. Di luar tampak Dogol masih menjaga Senapati Pranggana yang terluka akibat dihantam seseorang di dalam ruangan gelap.
Di halaman samping Rah Jati dan kelima prajurit pilihan tengah menghadapi orang-orang berkedok. Setelah menaruh Surti di dekat sua- minya, Pendekar Gila langsung melesat untuk membantu Rah Jati dan kawan-kawannya.
Sena yang sudah ingin cepat menyelesai- kan pertarungan, segera menghajar habis orang- orang berkedok merah itu. Hanya dalam beberapa gebrakan sepuluh orang berpakaian merah telah berjatuhan tewas di tangan Pendekar Gila dan Rah Jati. Sementara di pihak kadipaten, dua orang prajurit mati.
Sementara itu di kejauhan tampak belasan warga Kadipaten Balasutra berlarian menuju ha- laman kadipaten. Mereka dipimpin seorang lelaki berbadan besar dan tegap menghampiri tempat Senapati Pranggana dan istrinya. Tampaknya ke- datangan para warga itu ingin membantu, ketika mendengar ada pertarungan di kadipaten. Namun mereka semua tampak terkejut ketika melihat Senapati Pranggana yang mereka kenal sebagai seorang senapati bijaksana tergeletak berlumur darah. "Bagaimana senapati bisa mengalami ini...?" tanya lelaki bertubuh gagah yang memim- pin rakyat itu.
"Panjang ceritanya," jawab Sena. "Tapi aku ingin bertanya, kenapa kalian semua diam saja, tahu keadaan kadipaten dikuasai orang-orang se- sat itu...?" Sena balik bertanya dengan tegas dan berwibawa.
"Kami.... Kami semua mula-mula tak tahu, Tuan Pendekar. Tapi setelah mendengar ada per- tempuran di kadipaten, baru kami mengumpul- kan orang-orang untuk kemari dan ingin menye- lidiki apa sebenarnya yang terjadi...?" jawab orang berbadan tegap yang dibenarkan dengan anggu- kan kepala kawan-kawannya.
"Apakah kalian tidak merasakan ada kea- nehan di kadipaten selama beberapa hari ini...?" tanya Sena menyelidiki.
"Tidak, Tuan Pendekar...," jawab lelaki ber- badan tegap sambil menggeleng.
"Paman Sumo.... Cepat keluarkan mayat Kanjeng Adipati dan permaisuri dari kamarnya...!" tiba-tiba Senapati Pranggana berkata pada lelaki berbadan tegap itu, dengan suara terputus-putus, lemah. "Hah...?! Adipati Parisuta meninggal..,?" Ki Sumo sangat terkejut mendengar berita kematian Adipati Parisuta. Hal itu wajar karena walaupun Ki Sumo rakyat biasa, tapi pernah dekat dengan Kanjeng Adipati Parisuta. Selama ini dirinya ber- bakti menjadi mata-mata bagi Kadipaten Balasu- tra. Bahkan dahulu, sebelum mengundurkan diri, Ki Sumo merupakan salah seorang pengawal adi- pati. Namun karena ia ingin dapat hidup tenang, akhirnya Ki Sumo lebih suka memilih menjadi ra- kyat biasa.
"Dogol.... Bantu Paman Sumo untuk men- geluarkan mayat Kanjeng Adipati Parisuta...!" pe- rintah Sena pada Dogol,
"Baik, Kakang Sena. Mari Ki Sumo...!" Ki Sumo, Dogol, dan beberapa lelaki segera mema- suki pendopo kadipaten untuk mengeluarkan mayat Adipati Parisuta dan istirinya.

6
Malam itu angin bertiup kencang. Debu- debu berterbangan seiring dengan suara ranting dan daun pepohonan yang bergoyang. Suasana sunyi dan sepi. Hanya deru angin yang terdengar. Daun-daun kering yang tersapu angin gugur dari tangkainya jatuh ke tanah.
Sementara itu di tengah malam, di antara dedaunan kering yang berterbangan tampak langkah kaki yang tersaruk-saruk pelan. Langkah sepasang kaki keriput yang mengesankan kekala- han dan kegagalan. Sampai akhirnya langkah yang tersaruk-saruk itu terhenti, ketika mulai menginjak puing-puing pecahan genting dan tem- bok tua. Angin masih sesekali bertiup kencang, menghempaskan debu dan dedaunan kering, me- nerpa kaki itu.
"Hmh...!" Terdengar erangan lemah dari mulutnya.
Ternyata dia Nenek Bongkok. Wajahnya nampak berkerut tajam, hingga semakin seram dan mena- kutkan. Wajahnya yang keriput, memiliki hidung panjang melengkung ke bawah. Matanya besar selalu merah. Dan bentuk mulutnya seperti tengkorak. Menyeringai. Napasnya terengah-engah, seperti merasakan kepedihan yang dalam. Terlintas kembali kekalahannya terhadap Pendekar Gila.
Cahaya bulan yang lembut menyinari seki- tar hutan di Lembah Seribu Iblis itu. Nenek Bongkok sejenak tercenung, lalu duduk di atas gundukan tanah yang ditumbuhi rerumputan. Dia bersemadi, dengan tongkatnya ditaruh di de- pan, dipegang dengan kedua tangannya.
Setelah beberapa lama bersemadi, menda- dak Nenek Bongkok bangkit. Seolah-olah tiba-tiba tergerak kembali hatinya. Dengan galak matanya melirik ke kanan dan kiri. Lalu melesat pergi, menuju tempat persembunyiannya.
Ternyata di situ sudah menunggu Warkasa Pati. Wajahnya nampak murung pula, karena gagal membawa Surti.
"Kau murid yang bodoh Kenapa kau biarkan Surti begitu saja dibawa Pendekar Gila...!" bentak Nenek Bongkok setelah melihat Warkasa Pati memegangi lengan kirinya yang terluka oleh sabetan pedang Senapati Pranggana. Lukanya telah membiru. Rupanya racun pedang Senapati Pranggana mulai bekerja.
Walaupun hatinya diliputi kemarahan, ketika melihat luka di lengan kiri Warkasa Pati, dengan bergegas Nenek Bongkok menempelkan telapak tangan kanannya. Diusapnya luka War- kasa Pati tiga kali. Seketika luka itu hilang. Wajah Warkasa Pati pun nampak kembali segar, tidak pucat lagi. Lalu mantan senapati itu menghela napas panjang, untuk mengembalikan tenaga da- lamnya. "Terima kasih. Guru. Ampuni aku yang bo- doh ini...!" kata Warkasa Pati.
"Warkasa Pati...! Kau belum sembuh betul, racun pedang Senapati Pranggana sangat berba- haya. Cepat kau ikut aku! Ayo...!" seru Nenek Bongkok yang segera melangkah menuju tempat persembunyiannya.
Namun tiba-tiba Nenek Bongkok menghen- tikan langkahnya. Warkasa Pati kaget. Dengan gerakan cepat tongkatnya dihentakkan ke satu arah. Tongkat itu melayang lalu menancap ke su- atu benda yang ada di antara kayu-kayu dan de- daunan kering. Kemudian dengan gerakan cepat pula Nenek Bongkok menarik tangan kanannya. Seketika tongkat itu kembali melayang ke arah- nya. Namun kini di ujung tongkat itu ada sebuah tengkorak manusia yang masih memiliki sedikit rambut. Tampaknya tengkorak orang perempuan.
Sekejap tongkat itu sudah berada di tangan kirinya. Nenek Bongkok kemudian dengan cepat menyodorkan ujung tongkat pada Warkasa Pati seraya berucap dengan suara parau, "Warkasa, cepat ambil tengkorak ini! Aku punya rencana. Hi hi hi...!" Lalu segera Nenek Bongkok meneruskan langkahnya, diikuti Warkasa Pati.
* * *

Di dalam tempat persembunyiannya, yang mirip goa, Nenek Bongkok tampak duduk bersila. Warkasa Pati juga duduk bersila dengan jarak ti- ga depa di depan gurunya. Tubuh Nenek Bongkok tiba-tiba berasap. Matanya berubah semakin me- rah membara bagai api. Lalu memerintahkan Warkasa Pati agar meletakkan tengkorak tadi di depannya, Tengkorak itu kini terletak di antara Nenek Bongkok dan Warkasa Pati.
"Syahanatabah.... Syiyahhh...!" seru Nenek Bongkok dengan suara yang aneh bagai suara gaib, mengerikan. Dan mendadak halilintar di luar menyambar dari langit. Kilatannya menghu- jam ke tanah dan menyambar tempat persembu- nyiannya. Bahkan melalui pintu yang mirip goa, kilat menghantam tengkorak itu.
Warkasa Pati tersentak kaget bukan main. Hatinya keheranan dan merasa aneh. Tiba-tiba tengkorak itu bergerak-gerak. Nenek Bongkok tampak bergegas meraup darah yang ada dalam cawan besar di sebelah kanannya. Lalu mene- teskannya ke tengkorak kepala manusia itu. Mendadak, terbentuklah kerangka tubuh manu- sia dari kepala tengkorak itu.
"Darah... darah...! Darah kebangkitan roh... ayo bangkit... Syahanatabah... Syiyahhh....! Da- rah segar untukmu, untuk kehidupan...!"
Nenek Bongkok terus mengucapkan kata- kata aneh. Suaranya semakin lama semakin ber- gema, memenuhi ruangan sempit berdinding batu cadas dan berlumut itu.
Nenek Bongkok mengambil seonggok daun cemara yang sudah diikat sedemikian rupa. Ke- mudian daun cemara itu dicelupkannya ke cawan berisi darah. Diciprat-cipratkan darah dengan daun cemara ke arah kerangka yang ada di de- pannya. Warkasa Pati menyaksikan tanpa berkedip, Namun dadanya naik turun dengan cepat, mena- han ketegangan dan perasaan takjub menyaksi- kan kejadian aneh itu.
Maka sesaat kemudian terjadi keanehan, Tulang-tulang yang telah dibasahi darah itu sedi- kit demi sedikit mulai ditumbuhi daging. Timbul- nya daging pada bagian wajah tengkorak itu berkesan mengerikan. Matanya yang tadinya ber- lubang mulai berisi mata. Hidung yang semula berlubang kembali berbentuk. Demikian juga gi- ginya yang meringis, mulai terbungkus daging gu- si. Begitu seterusnya, hingga membentuk sesosok tubuh perempuan muda dan cantik. Terbujur ka- ku dan pucat di atas lantai batu yang lembab.
"Hah...?!" Warkasa Pati terbelalak kaget, seakan tak percaya menyaksikan kenyataan itu. Sosok tubuh wanita jelmaan itu mirip Surti!
"Hi hi hi! Kini tinggal kusempurnakan. Hi hi hi...!" gumam Nenek Bongkok itu sambil meng- gerak-gerakan kedua tangan berputaran di atas kepala, lalu ke sekujur tubuh sosok itu.
Telapak tangan Nenek Bongkok itu me- mancarkan sinar kehijauan. Seketika tubuh polos mirip Surti itu mulai bergerak-gerak. Sementara mulut Nenek Bongkok terus berkomat-kamit membaca mantera yang aneh bunyinya. Tubuh- nya bergetar kuat, begitu juga kedua tangannya. Lalu Nenek Bongkok itu memekik panjang. Dan bersamaan dengan itu selarik sinar kuning me- nyambar sosok mirip Surti yang masih polos tan- pa pakaian itu.
Plarrr! "Aaakh...!" sosok itu mendadak memekik panjang. Lalu bergerak bangun perlahan dan du- duk.
Bersamaan dengan itu sinar hilang. Nenek Bongkok pun tampak tersenyum puas, karena usahanya berhasil.
"Hi hi hi...! Warkasa Pati akan terkabul ci- ta-citamu untuk mendapatkan Surti yang asli.... Hi hi hi...! Tapi aku perlu mengobati dulu dan memberimu bekal untuk melawan Pendekar Gila yang sakti itu," ujar Nenek Bongkok dengan suara serak dan bergema.
Sementara sosok manusia ciptaan Nenek Bongkok itu masih tetap diam seperti patung. Menatap kosong ke depan.
Nenek Bongkok mengusap-usap seluruh tubuh sosok manusia ciptaannya itu berulang kali dengan kedua telapak tangan. Kemudian di- totoknya beberapa bagian tubuh wanita mirip Surti itu sambil membaca mantera iblisnya. Dan seketika wanita itu kini mulai bergerak lagi. Kini gerakannya lebih kuat dan normal seperti layak- nya manusia.
"Ohhh.... Tubuhku... tubuhku indah seka- li...! Aku, aku di mana. Nek...?"
Wanita mirip Surti itu mulai berbicara sambil memandangi dan mengusap-usap tubuh- nya sendiri yang masih polos.
Warkasa Pati tersenyum. Hatinya ingin mendekap wanita yang masih polos atau telan- jang bulat di hadapannya itu. Namun tak berani melakukannya. Maka diredamnya niat itu dengan menelan ludah.
"Kau berada di rumahku, Cah Ayu. Kau te- lah kuhidupkan kembali dengan wajah dan tu- buhmu yang baru. Dan kini kau harus menurut semua perintahku. Namamu sekarang Surti...," tutur Nenek Bongkok dengan suara serak dan mengandung gaib.
Surti palsu itu mengangguk sambil terse- nyum manis. Lalu menoleh ke arah Warkasa Pati yang memandang tak berkedip menyaksikan keindahan tubuhnya.
Nenek Bongkok mengerti. Maka dia biarkan saja ketika Surti ciptaan melangkah mendekati Warkasa Pati dan langsung merayu muridnya yang memang sejak tadi menahan rasa birahinya. Namun Warkasa Pati tak berani berbuat apa-apa, takut pada sang Guru.
"Warkasa Pati... Untuk kali ini kau kuizin- kan menggauli wanita ciptaanku itu. Tapi untuk selanjutnya jangan kau coba melakukannya lagi. Aku akan mengirimmu ke neraka. Mengerti...?!" ujar Nenek Bongkok dengan suara masih serak dan bergema.
Warkasa Pati hanya mengangguk sambil menjura. Wajahnya jadi ceria. Pada saat itu juga Nenek Bongkok menghilang.
Dan mulailah Warkasa Pati dengan buas melampiaskan nafsu birahinya dengan wanita ciptaan gurunya. Tubuh Surti yang mulus dan sintal semakin membuat Warkasa Pati tergiur dan terus memacu kuda betina itu dengan kencang. Napasnya memburu dan keringat telah memba- sahi sekujur tubuh yang kini sudah polos. Keduanya bergulingan di atas lantai tanah yang lem- bab itu. Sampai akhirnya keduanya memekik, pekikan puncak kenikmatan.
* * *

Senapati Pranggana sudah mulai sembuh. Dia ditemani Sena, Dogol, dan Ki Sumo. Sedangkan yang lain berjaga-jaga di luar kadipaten.
Surti yang sejak kejadian itu nampak pen- diam, keluar membawa anaknya. Lalu diberikan pada Senapati Pranggana, Surti sendiri lalu du- duk di sisi suaminya yang kini menggendong sang Bayi.
"Kalau saja tidak ada Tuan Pendekar, mungkin kita sudah tak tahu bagaimana jadinya, Diajeng...," kata Senapati Pranggana dengan lemah.
"Ya. Kami sangat berhutang budi dan nya- wa pada Tuan Pendekar...," tambah Surti lembut, diiringi senyuman.
"Ah, kalian jangan berkata begitu. Semua ini karena Hyang Widhi masih memberikan kese- lamatan pada kalian. Hingga bisa lolos dari orang- orang sesat itu...," sahut Sena merendah. Lalu menggaruk-garuk kepala.
Sesaat suasana jadi hening. Semuanya ha- nyut dalam perasaan dan pikiran masing-masing.
"Kami sangat heran. Bagaimana Kanjeng Adipati yang memiliki ilmu cukup tinggi, bisa mudah dibunuh Nenek Bongkok dan Warkasa Pa- ti...?!" ujar Ki Sumo memecah keheningan.
"Semua bisa terjadi. Semua bisa mungkin di dunia ini...," sahut Sena dengan kalem, lalu menggaruk-garuk kepala.
"Mereka bertindak begitu cepat dan rapi. Sehingga para pengawal dan senapati lain yang berjaga di kadipaten tak mengetahui...," celetuk Rah Jati kemudian.
"Kau salah, Rah Jati. Mereka itu bukan manusia biasa seperti kau, aku, dan lainnya. Me- reka, terutama Nenek Bongkok itu manusia se- tengah iblis. Yang bisa berbuat apa saja yang dia inginkan. Bisa saja dia menggunakan ilmu hitam atau yang lain, hingga Adipati Parisuta dan para pengawal, serta senapati-senapati lain seperti Sa- tika, dan Randa tak sadarkan diri. Karena penga- ruh ilmu sihir Nenek Bongkok...," tutur Senapati Pranggana dengan suara agak serak dan lemah.
"Kau benar, Pranggana. Hingga para praju- rit kadipaten dan pengawal yang telah kena ilmu sihirnya menuruti kehendak Nenek Bongkok itu. Mereka disuruh menyamar dengan kedok untuk menyerang kita. Dan mungkin penculik Surti itu satu dari dua senapati yang kau sebut tadi. Yang akhirnya mati di tangan Warkasa Pati atau Nenek Bongkok sendiri, setelah berhasil menculik Sur- ti...," sahut Sena kalem.
"Benar, Tuan Pendekar. Santikalah yang menculik Surti, Surti tadi yang menceritakan pa- daku...," jawab Senapati Pranggana sambil meno- leh ke arah Sena
"Lantas bagaimana rencana kita selanjut- nya...?" tanya Ki Sumo kemudian.
Senapati Pranggana tak berani memberi jawaban. Dia malah menoleh ke arah Sena, lalu berkata lemah, "Bagaimana rencana kita selan- jutnya, Tuan Pendekar...?"
"Ah, ah, ah! Terlalu cepat untuk berencana, Senapati.... Tenanglah, aku pun sedang memikir- kannya. Kita harus berupaya agar kali ini tidak gagal," kata Sena kalem sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Sehingga orang-orang di situ merasa heran melihat ketenangan Pendekar Gila, yang seakan tak begitu cemas. Namun semua yang ada di situ sudah mengerti akan kemampuan pendekar muda itu. Lalu Sena membi- sikkan sesuatu pada Senapati Pranggana. Sena- pati Pranggana mengerutkan kening, kaget. Na- mun akhirnya menganggukkan kepala. Walaupun di wajah senapati itu tersirat kecemasan yang da- lam.
"Itulah yang menjadi kekhawatiranku. Na- mun dengan apa yang kukatakan padamu tadi, semoga rencana kita berjalan baik," kata Sena.
Rah Jati dan Ki Sumo hanya diam, tak be- rani bertanya apa rencana Sena. Mereka hanya menunggu perintah.
"Rah Jati, kirim prajurit untuk menjaga Desa Kawulan. Dan kau tolong bawa Nyi Kuntari kemari. Hati-hati! Sebelum gelap kau harus su- dah kembali...," kata Senapati Pranggana membe- ri perintah pada Rah Jati.
"Baik... Kalau begitu saya segera pergi...," jawab Rah Jati, lalu menjura.
Rah Jati diikuti beberapa orang berangkat menuju Desa Kawulan.
Di luar dan di semua sudut kadipaten dija- ga ketat oleh para prajurit dan rakyat yang setia pada Senapati Pranggana dan Adipati Parisuta. Mereka ingin menuntut balas dan ikut memper- tahankan Kadipaten Balasutra.
"Sekarang Paman Sumo, siagakan orang- orangmu, tolong awasi mereka!" kata Senapati Pranggana pada Ki Sumo.
"Akan saya laksanakan...," jawab Ki Sumo sambil menjura.
Setelah Ki Sumo dan dua orangnya pergi. Sena mendekati Senapati Pranggana.
"Bawa istrimu ke dalam, istirahatlah! Biar aku dan Dogol yang mengurus semuanya. Tenan- glah, percayalah padaku! Mudah-mudahan kali ini kita berhasil menjebak mereka...," kata Sena lirih.
Senapati Pranggana menganggukkan kepa- la, lalu mengajak Surti memasuki ruangan dalam. Untuk sementara Senapati Pranggana me- megang pemerintahan Kadipaten Balasutra, sete- lah Adipati Parisuta dan istrinya yang belum me- miliki keturunan mati oleh Nenek Bongkok dan Warkasa Pati.
"Dogol. Seharusnya kau berlatih silat sejak dulu. Apakah kau tidak ingin membela orang yang dalam kesusahan. Yang membutuhkan per- tolongan dan perlindungan...?" kata Sena pada Dogol sambil melangkah keluar menuju halaman kadipaten.
"He he he.... Kalau Kakang Sena bersedia menjadi guruku, aku senang. Karena aku tak mau orang lain," jawab Dogol polos sambil meng- garuk-garuk perutnya yang buncit. Lalu nyengir kuda.
"Ada-ada saja kau ini. Apa aku pantas menjadi guru? Semestinya orang yang sudah tua dan penuh pengalaman yang pantas menjadi gu- rumu...," kata Sena coba memancing kepolosan apa yang diucapkan Dogol tadi.
"Tidak juga. Menurutku, tidak semua orang yang sudah tua dan berilmu tinggi pantas jadi guru. Orang muda seperti Kakang Sena sangat pantas menjadi guruku, atau guru siapa saja. Ka- lau Kakang Sena memang mau memberikan sedi- kit ilmu padaku, atau pada mereka...," jawab Do- gol dengan tegas dan ngotot, hingga mulutnya monyong-monyong. Bibirnya yang tebal jadi nam- pak lucu, seperti bibir Bagong. Membuat Sena geli melihatnya. Namun Sena mendengar jawaban Dogol yang polos.
"Kau ini memang pintar. Tapi sayang, ter- kadang pengecut! Harus kau hilangkan sifat pe- nakutmu itu!" kata Sena.
Tak terasa hari mulai menjelang sore, Sua- sana kadipaten nampak tenang, Sepertinya tak akan terjadi petaka lagi. Langit pun cerah. Sece- rah wajah Dogol dan Sena.
"Bagaimana, Kakang Sena? Apakah per- mintaanku dikabulkan...?" tanya Dogol dengan penuh semangat.
"Aku belum bisa memutuskan. Tapi kalau memang kau benar-benar, harus menanggung se- gala resiko. Karena, ujiannya sangat berat...," ka- ta Sena sambil terus melangkah. Kini mereka be- rada di halaman yang biasa digunakan sebagai tempat berlatih para prajurit. Tiba-tiba....
"Hop!" Kaki Sena menendang sebuah golok yang tergeletak di tanah ke arah Dogol. Si Gendut itu tersentak kaget, menyadari dirinya dalam bahaya. Kemudian sambil teriak, Dogol melompat dengan cepat mengelak dari golok yang meluncur ke arahnya. Tubuhnya bergulingan di tanah. Dia se- lamat. Dadanya naik turun dengan napas ngos- ngosan, karena masih merasa ketakutan. Dia ter- tawa-tawa lebar, tapi suaranya tak keluar. Sena menghampirinya sambil tersenyum-senyum.
"Itu latihan awal. Boleh juga kau, Gol. Tapi harus banyak berlari-lari pagi, agar napas dan jantungmu kuat,..," kata Sena sambil menjewer pipi Dogol, lalu pergi.
Dogol yang mendapat sedikit pujian tam- pak tersenyum bangga. Lalu cepat bangkit dan segera memperagakan jurus-jurus seperti biasa, dengan gerakan yang lucu. Terkadang karena ter- lalu tinggi mengangkat sebelah kakinya, atau ka- rena keseimbangan badan tidak benar, Dogol ter- jatuh. Sena tertawa-tawa melihatnya.

7
Rah Jati bersama lima orang prajurit sete- lah sampai di Desa Kawulan segera cepat kembali ke kadipaten, membawa Nyi Kuntari dengan ber- kuda.
Derap kaki-kaki kuda mereka menelusuri jalanan di bukit dan menyeberangi sungai. Nyi Kuntari, janda Ki Lurah Kuntolo itu duduk di be- lakang Rah Jati. Dia memegang erat pinggang Rah Jati yang memacu kudanya dengan kencang. Sebab, sebelum gelap dia harus sudah sampai di kadipaten, sesuai pesan Senapati Pranggana.
Namun baru setengah perjalanan yang di- lalui, tiba-tiba mereka dihadang tiga orang tak di- kenal. Tanpa basa-basi ketiga orang itu menye- rang mereka. Ketiga penyerang itu bermuka pucat tanpa memakai pakaian. Hanya selembar kain yang sudah usang menutup tubuh bagian bawah! Semuanya berambut keriting panjang, dengan wajah penuh luka.
Rah Jati dan kelima prajurit memperta- hankan diri dengan melawan tiga manusia aneh itu. Namun betapa terkejutnya Rah Jati dan para prajurit ketika melihat senjata mereka tak mem- pan di tubuh ketiga penghadang itu.
"Hiaaa...! Mampus kau manusia-manusia aneh...!" seru Rah Jati sambil menebaskan kem- bali pedangnya.
Cras, cras! "Ukh...!" pekik salah seorang manusia pu- cat itu. Namun tubuhnya yang kena babatan pe- dang Rah Jati sedikit pun tak terluka. Babatan pedang itu seperti lewat begitu saja. Padahal Rah Jati melihat jelas bahwa pedangnya membabat tubuh manusia pucat seperti mayat itu.
Akhirnya Rah Jati dan kelima prajurit ter- desak. Nyi Kuntari menjerit-jerit ketika jatuh dari atas kuda. Lalu dia lari, bermaksud menyela- matkan diri. Namun, begitu dia bersembunyi di balik pohon besar, tiba-tiba seseorang berkelebat menotoknya. Seketika tubuh wanita setengah baya itu terkulai lemas. Orang yang menotoknya ternyata Nenek Bongkok.
"Hi hi hi...! Kini aku tak akan gagal lagi, Pendekar Gila. Hi hi hi...!" ucap Nenek Bongkok sambil terkekeh-kekeh. Kemudian, dengan il- munya dia memasuki tubuh Nyi Kuntari yang su- dah tak berdaya itu. Sesaat kemudian Nyi Kuntari siuman, setelah tubuhnya dimasuki Nenek Bong- kok. Nyi Kuntari tertawa-tawa. Namun suaranya sudah berubah menjadi suara Nenek Bongkok.
"Hi hi hi...! Aku akan membuat sejarah ba- ru! Aku akan menghabisi murid Singo Edan itu! Aku akan berkuasa. Hi hi hi...!" seru Nyi Kuntari yang sudah dirasuki Nenek Bongkok. Namun wa- jah dan tubuhnya tetap tak berubah.
Sementara Rah Jati yang masih bertarung melawan ketiga manusia pucat tampak semakin terdesak. Begitu juga prajurit anak buahnya kini tinggal satu orang. Yang empat sudah terbunuh.
Rah Jati akhirnya dapat dilumpuhkan. Ke- tika ketiga manusia pucat itu hendak memakan daging Rah Jati yang sudah tak berdaya dan pe- nuh luka, muncul Warkasa Pati dan Nyi Kuntari.
Rah Jati yang berusaha menahan sakit, kaget melihat Nyi Kuntari bersama Warkasa Pati.
"Nyi,..?!" gumam Rah Jati pendek. Namun setelah itu dia pingsan. Pada saat itulah Nyi Kun- tari menyuruh Warkasa Pati agar memasuki tu- buh Rah Jati. Seketika Rah Jati kembali segar, begitu Warkasa Pati merasuk ke raganya. Sua- ranya pun berubah.
"Rencana kita berhasil. Guru...," ujar Warkasa Pati yang sudah memasuki tubuh Rah Jati.
"Hi hi hi...! Ya. Tapi ingat, jangan ceroboh!" ujar Nyi Kuntari dengan suara Nenek Bongkok yang serak. "Sekarang kita harus pintar bersan- diwara untuk menghadapi Pendekar Gila dan Se- napati Pranggana. Jangan sampai mereka mencu- rigai kita...!"
"Ya. Tapi aku ragu akan Pendekar Gila. Dia pendekar yang berilmu tinggi. Aku khawatir dia akan mencium kejanggalan kita. Guru...," kata Rah Jati palsu.
"Maka itu kuminta kau jangan ceroboh! Bersiaplah seperti Rah Jati sesungguhnya. Tidak banyak bicara. Ayo, berangkat! Sebelum gelap ki- ta harus sudah sampai di kadipaten. Kalau tidak Senapati Pranggana dan Pendekar Gila akan curi- ga," ujar Nyi Kuntari palsu.
"Bagaimana dengan prajurit yang masih hidup itu?" tanya Rah Jati.
"Heh...?! Hampir aku lupa...," jawab Nyi Kuntari dengan suara Nenek Bongkok.
Lalu Nenek Bongkok menyemburkan ludah ke arah prajurit yang terluka lengan kirinya. Se- ketika prajurit itu seperti orang kaget. Lalu men- jura pada Nyi Kuntari penuh hormat
"Hei, kau harus turuti perintahku! Kau ha- rus membenarkan semua ceritaku nanti kepada Senapati Pranggana atau Pendekar Gila. Menger- ti...?!"
"Mengerti, Nyi...," jawab prajurit yang telah disembur tadi. Mendadak dia seperti orang linglung.
Lalu segeralah Nyi Kuntari, Rah Jati, dan prajurit itu berangkat menuju kadipaten.
Sementara ketiga manusia aneh berwajah pucat tadi kembali masuk ke dalam tanah dengan mudahnya. Ternyata mereka makhluk-makhluk gaib yang dibangkitkan oleh Nenek Bongkok.
* * *
Hari telah senja. Langit yang tadi membiru kini tampak kemerahan. Sang Surya mulai tenggelam. Namun sampai saat itu Rah Jati dan Nyi Kuntari belum muncul juga.
Hal ini membuat Senapati Pranggana dan Surti merasa gelisah. Keduanya nampak tak tenang. Senapati Pranggana mondar-mandir di ruangan pendopo, dengan kedua tangan di bela- kang. Kepalanya menunduk, menekuri lantai pendopo kadipaten.
Sedangkan Surti duduk di sebuah kursi berukir, sambil menggendong anaknya. Wajahnya yang cantik nampak murung dan cemas.
Apa yang telah terjadi dengan Rah Jati dan para prajurit? Begitu mungkin pikiran Senapati Pranggana yang semakin cemas dan tak tenang.
"Tak usah cemas, mungkin mereka dalam perjalanan kemari...," terdengar suara Sena mencoba menenangkan hati Senapati Pranggana.


No comments:

Post a Comment