KERIS NAGA SAKTI
Oleh
Firman Raharja
1
Seorang pemuda berpakaian serba
putih sedikit kotor melompat-lompat dengan ringan di atas batu-batu cadas pada
sebuah perbukitan. Ge- rakannya yang gesit dan ringan menunjukkan kalau pemuda
itu memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Terkadang dengan gerakan
silat dia menendang dan memukul ke depan dan ke samp- ing. Kemudian tubuhnya melenting
sambil bersalto dua atau tiga kali di udara. Lalu mendarat dengan kedua kakinya
di atas tanah atau bebatuan dengan sempurna.
Keringat tampak membasahi sekujur
tubuhnya. Rambutnya yang panjang sebatas bahu diikat dengan kain warna hitam,
menambah kegagahan pemuda bertubuh tegap itu.
Rupanya pemuda itu sudah cukup lama
berlari sambil melakukan latihan jurus-jurus silat. Sejenak kemudian tampak dia
menghentikan ge- rakannya. Dihelanya napas beberapa saat, lalu kembali
melakukan gerakan silat dengan menen- dang batu yang ada di hadapannya, untuk
menguji kebolehan ilmunya. Glarrr! Ledakan keras terdengar memecah kesunyian
seiring dengan hancurnya bebatuan, karena terkena tendangan dahsyat pemuda itu.
Hal yang sama juga dilakukan terhadap batang pohon yang ada di sekitar
perbukitan itu.
"Aku telah dapat melakukannya.
Tentunya
Kakek Guru senang
melihatku...," gumam pemuda itu dengan wajah cerah. Mulutnya tampak tersenyum
puas.
Kemudian si pemuda gagah berpakaian
ser- ba putih melesat melompati bebatuan yang ada di perbukitan itu.
"Aku harus cepat kembali,
karena Guru pasti telah menantiku.... Waktu yang diberikan, sebelum matahari
tenggelam aku sudah harus ada di hadapan Kakek Guru. Sekarang aku harus per-
gi...!"
Pemuda gagah berpakaian serba putih
itu terus melesat cepat dengan ilmu meringankan tu- buhnya yang cukup tinggi.
Namun waktu lebih ce- pat berlalu. Sehingga pada saat matahari tengge- lam dan
mulai gelap, dirinya baru sampai di pun- cak bukit.
"Waduh...! Kakek Guru bisa
marah besar, aku tak dapat menepati waktu yang ditentukan- nya...,"
gumamnya dengan wajah cemas dan tam- pak ketakutan.
Pemuda itu menduga pasti akan
mendapat ganjaran berupa hukuman dari gurunya. Dalam keremangan dia berlari
menuju arah barat, hingga akhirnya sampai di sebuah bangunan batu yang pintunya
tertutup oleh sejenis pohon merambat. Dia tidak berani menyibakkan daun-daun
pepohonan itu, apalagi masuk ke dalam.
Wajahnya nampak semakin cemas dan
tegang. Namun kemudian dia tersenyum pahit. Kedua matanya memandangi pintu yang
tertutup pepohonan merambat. Sementara itu langit tampak semakin gelap. Setelah
menarik napas panjang, pemuda itu berseru,
"Kakek...! Kakek
Guru...!" Tak ada sahutan. Suasana tetap hening dan sepi. Pemuda itu
menggelengkan kepala perlahan.
"Kek...! Kakek Guru, aku
Purwadhika. Maafkan aku, Kakek...! Aku terlambat... Aku siap menerima hukuman!"
seru pemuda yang ternyata bernama Purwadhika itu.
Namun tetap tak ada sahutan. Yang
terden- gar hanya suara binatang malam, meramaikan su- asana menjelang malam
itu.
"Apakah Kakek Guru pergi?
Atau...," pikir Purwadhika sambil melangkahkan kaki perlahan mendekati
pintu bangunan batu yang tertutup po- hon menjalar. Dia terus berjalan dengan
langkah tegap. Sepertinya pemuda itu telah siap menerima hukuman apa saja atas
keterlambatannya. Namun belum sempat pemuda itu masuk, tiba-tiba...
Wusss! Ada deru angin yang sangat
kencang. Dan daun-daun bergelantungan menutupi pintu ban- gunan batu itu rontok
semuanya.
"Kau cucuku, Purwadhika.
Masuklah...!" terdengar suara serak dari seorang lelaki tua.
Purwadhika tampak terkesima dan
masih berdiri di tempatnya. Pemuda itu semakin kaget ketika deru angin kembali
datang dengan sangat kencangnya. Tempat itu terasa berguncang kuat, hingga
bebatuan berjatuhan menutupi pintu ma- suk.
"Hah...?!" Purwadhika
kaget. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah cem- berut. Namun
mendadak pemuda itu menggerak- kan kedua tangannya, berusaha mengumpulkan
tenaga dalam. Tampak otot-otot tubuhnya menge- ras dan bersembulan keluar. Lalu
segera diangkat kedua tangannya ke atas, disusul dengan meren- tang ke samping.
Dan diakhiri dengan lompatan sambil menghantamkan telapak tangan kanannya ke
arah batu-batu yang menutupi pintu itu.
Jlegarrr...! Ledakan keras terjadi.
Seketika batu-batu yang menutupi pintu mirip sebuah goa itu hancur dan
berhamburan. Pemuda itu ternyata menge- rahkan ajian ‘Tapak Sakti’ yang ampuh
dan dapat menghancurkan batu sekeras apa pun.
Tiba-tiba dari dalam bangunan mirip
goa itu terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.
"Maafkan aku, Guru! Aku siap
menerima hukuman, karena keterlambatanku...," kata Pur- wadhika sambil
menjura di hadapan gurunya.
Seorang lelaki tua berambut putih
dengan janggut panjang tampak tersenyum-senyum men- dengar ucapan muridnya.
Tangan kirinya mengu- sap-usap janggut yang sudah putih itu. Pakaian- nya yang
serba putih diselempangkan begitu saja. Seperti Resi. Matanya yang tua tapi
tajam, mena- tap tak berkedip pada Purwadhika.
Lelaki tua itu duduk di atas tanah
beralaskan tikar yang sudah agak usang. Tangan ka- nannya memegang sebilah
keris yang memancarkan sinar keperakan. Dialah tokoh tua yang dulu dikenal
dengan julukan Pendekar Bijaksana. Pada masa mudanya dulu lelaki yang bernama
asli Tunggul Segara ini merupakan seorang pendekar yang punya nama besar di
kalangan rimba persila- tan. Karena kebijaksanaannya dalam setiap meng- hadapi
persoalan serta setia membela kaum lemah dari gangguan para durjana, maka Ki
Tunggul Se- gara dijuluki Pendekar Bijaksana.
"Purwadhika," tegur Ki
Tunggul Segara. Su- aranya terdengar berat, mengandung kewibawaan.
"Ya, Kakek Guru...."
"Jangan kau merasa cemas dan takut, sebe- lum kenyataan itu datang. Kau
sudah cukup me- nepati batas waktu yang kuberikan. Sebenarnya, waktu yang
kuberikan masih panjang. Hanya saja aku ingin mengujimu. Apakah kau bisa lebih
cepat dengan waktu yang kuberikan. Kau telah menja- lankan dengan baik. Aku
bangga sekali pada- mu...," tutur Ki Tunggul Segara. Segurat senyum
tersungging di bibirnya yang dihiasi kumis tebal berwarna putih.
"Terima kasih, Kakek
Guru...." jawab Pur- wadhika seraya menjura. Pemuda itu tampak me- naruh
hormat sekali pada gurunya.
"Purwadhika, kau telah
menjalani ujian yang terakhir itu dengan baik. Dari pagi-pagi buta sampai
matahari tenggelam telah kau laksanakan sesuai dengan keinginanku. Ternyata aku
tidak sia-sia melatih dan memberimu ilmu-ilmu silat, serta budi pekerti. Semua
itu merupakan bekal bagi langkahmu dalam mengarungi kehidupan rimba persilatan
yang penuh rintangan. Apalagi tokoh-tokoh sesat golongan hitam akhir-akhir ini lebih
sering membuat ulah lagi." Sejenak Ki Tung- gul Segara menghela napas.
"Dan tokoh-tokoh se- sat yang kejam dan berilmu cukup tinggi itu, tiga di
antaranya sudah aku kenal. Merekalah orang- orang yang...."
Ki Tunggul Segara tak meneruskan
uca- pannya. Hal itu membuat Purwadhika menge- rutkan kening keheranan serta
bertanya-tanya da- lam hati. Kenapa gurunya tiba-tiba nampak sedih dan
bergeleng kepala perlahan.
"Kakek Guru, ada apa...?
Apakah ada sesu- atu yang membuat hatimu sedih? Atau...," tanya Purwadhika
dengan suara lemah.
"Sebenarnya aku ingin menceritakan
keja- dian lima belas tahun silam, seperti yang pernah kujanjikan padamu. Ya.
Karena saat ini kau telah menguasai semua ilmu yang kuberikan, Cucu-
ku...," tutur lelaki tua berjuluk Pendekar Bijaksana itu.
"Maksud Kakek Guru tentang
orangtua ku...?" tanya Purwadhika dengan suara sedikit bergetar, karena
rasa ingin tahunya yang besar. Cerita gurunya itu telah ditunggu-tunggu. Kini
saatnya dia akan mendengar cerita itu. Seketika hatinya merasa cemas dan
tegang.
Dengan wajah menyiratkan keharuan,
Ki Tunggul Segara akhirnya memulai cerita itu....
***
Di tepi sebuah danau. Langit saat
itu nam- pak mendung sejak pagi. Matahari tampak remang-remang tertutup awan
mendung. Suasana saat itu seolah menjelang malam hari. Di pinggir danau nampak
seorang wanita muda sedang men- cuci pakaian di air danau yang jernih. Dari
sikap- nya nampak wanita itu tengah gelisah. Sebentar- sebentar mendongak ke
atas melihat langit yang berselimut mendung. Lalu segera wanita itu mem- beresi
pakaian yang habis dicuci, memasukkannya ke keranjang.
Ketika perempuan muda itu baru
melang- kah tiga tindak ke atas tanah yang lebih tinggi dari danau mendadak
muncul tiga orang lelaki meng- hadangnya.
Salah seorang berwajah pucat. Namun
tam- pangnya tidak garang, kalem dan dingin. Hanya sinar matanya yang seolah
mengandung kekuatan gaib. Pakaian yang dikenakannya serba kuning. Dua temannya
pun berpakaian sama dengan lelaki bermuka pucat itu.
"Oooh...?!" pekik
perempuan itu pendek. Mendadak wajahnya tegang. "Mandra, Cilung, Sa-
diro...! Ada apa kalian menghadangku? Minggir!" ujarnya dengan suara
lantang.
Rupanya ketiga lelaki itu tak
menjawab. Malah mata mereka nakal memandang dada pe- rempuan yang pakaian
atasnya sedikit terbuka. Bentuk tubuhnya yang indah membangkitkan se- lera
setiap lelaki yang memandangnya. Apalagi bi- birnya yang sensual, membuat
ketiga lelaki itu semakin tertarik dan mendekatinya.
"Minggir kataku! Aku akan
teriak dan kalian akan mendapatkan ganjaran...! Minggir, jangan sentuh
aku...!" perempuan muda itu kian gusar dan marah.
Ketika ketiga lelaki itu semakin
dekat, tiba- tiba perempuan itu bergerak cepat. Sebagai istri bekas seorang
tumenggung dia ternyata mengua- sai ilmu bela diri, meskipun tidak bisa
dikatakan tinggi tingkatannya.
Bug! Bug...! "Aaaa...!"
Ketiga lelaki memekik keras. Tendangan pe- rempuan itu ternyata mengenai telak
selangkan- gan mereka. Perempuan itu lalu cepat kabur me- ninggalkan ketiganya.
Ketiga lelaki itu meringis
kesakitan sambil memegangi selangkangan mereka.
"Sundal...! Awas, aku akan
buat perhitun- gan...!" gerutu Cilung.
"Dasar perempuan...! Yang
diarah selang- kangan!" sungut Mandra yang masih memegangi selangkangannya.
"Urusan kita bukan perempuan
itu, Sobat. Urusan kita pada Ramapati, suaminya! Kita harus segera menentukan
rencana kita. Bekal kita sudah cukup kuat untuk melawan Ramapati. Ayo...!"
ujar Sadiro yang berwajah pucat.
Seketika ketiganya melesat cepat mening-
galkan tempat itu.
Sementara perempuan tadi sudah
sampai di rumahnya yang besar dan berlantai tinggi. Karena suaminya bekas
tumenggung. Kekayaan Ramapati cukup untuk menghidupi sanak keluarga tujuh
turunan.
Itulah yang membuat saingan dan
bahkan bekas bawahannya seperti Sadiro, Cilung, dan Mandra merasa iri. Mereka
ingin merebut sebuah senjata pusaka bernama Keris Naga Sakti. Yang menurut
mereka ada pada Ramapati.
"Kakang...! Kakang
Ramapati...!" teriak pe- rempuan yang berlari-lari memasuki ruangan ten-
gah rumahnya.
"Diajeng Laras...?!" seru
Ramapati begitu melihat istrinya berlarian dengan wajah gusar dan tegang,
bercampur marah. Pakaian Laras pun tampak tak karuan. Pikiran Ramapati langsung
menduga yang tidak-tidak. Seketika hatinya mera- sa panas.
"Ada apa, Diajeng? Apa yang
telah terja- di...?!" tanya Ramapati dengan perasaan cemas.
"Mereka mengejarku, kurang
ajar...!" kata Laras mengadu pada suaminya.
"Mereka siapa...?! Siapa yang
berani meng- ganggumu? Kita kan tak punya musuh. Dan tidak pernah menyakiti
orang lain, Diajeng...."
"Tapi mereka sepertinya kini
telah berubah, berani kurang ajar terhadapku...!" tutur Laras dengan nada
kesal, matanya berkaca-kaca. "Un- tung aku bisa lolos dari mereka, kalau
tidak...," lanjut Laras lemah
"Kurang ajar...! Lalu siapa
yang kau maksud itu, Diajeng? Katakan, tentunya mereka orang- orang dari aliran
sesat...," kata Ramapati menduga.
Baru selesai Ramapati mengakhiri
kalimat terakhirnya, tiba-tiba muncul tiga lelaki tadi.
"Ha ha ha...! Rupanya penjaga
rumah ini orang-orang tak memiliki ilmu yang diandalkan. Pasti pemilik rumah
ini orang yang bernyali tikus. Ha ha ha...!" ujar Sadiro yang bermuka
pucat. Di- ikuti tawa kedua temannya, Mandra dan Cilung.
"Kurang ajar! Mengapa kalian
berani ber- buat kurang ajar pada istriku...?!" bentak Ramapa- ti begitu
melihat Sadiro, Mandra, dan Cilung.
"Ha ha ha...! Aku tidak
berniat kurang ajar terhadap Nyi Laras. Tapi, aku ada urusan penting dengan
kau, Ramapati...!" jawab Sadiro si Muka Pucat dengan nada dingin.
"Ya, ada urusan penting yang
ingin kita bi- carakan. Tapi, sebaiknya Ki Ramapati ikut bersa- ma kami. Karena
ini sangat rahasia," tambah Ci- lung dengan suara penuh penekanan pada
setiap katanya.
"Betul, karena tak boleh orang
lain tahu. Cukup kita saja yang mengetahui...," sambung Mandra yang
berkumis tipis dan mata agak kero, menyipit sebelah.
Ramapati nampak berpikir sejenak.
"Kakang, jangan percayai mereka! Aku punya firasat buruk terhadap mereka.
Walaupun mereka bekas orang kepercayaanmu...," bisik La- ras dengan hati
dan perasaan yang sangat cemas.
Ramapati hanya manggut-manggut.
Dipe- gangnya bahu istrinya.
"Aku mengerti,
Diajeng...," terdengar suara Ramapati lembut.
"Rahasia apa yang ingin kau
sampaikan...? Apa tidak sebaiknya dibicarakan di sini saja...?" tanya
Ramapati kemudian.
"Rupanya kau tidak mempercayai
kami lagi. Kami tidak punya maksud buruk...," jawab Sadiro si Muka Pucat
dengan kalem dan dingin.
Sementara itu Laras coba mengisyaratkan
pada suaminya agar tidak menuruti keinginan ke- tiga orang itu. Namun Ramapati
yang bekas tu- menggung itu tak mau dianggap pengecut. Maka kembali Ramapati
berkata,
"Sadiro, kau Mandra, dan
Cilung. Mintalah maaf pada istriku dulu! Jika tidak, aku tak berse- dia
menuruti kemauan kalian. Karena kalian telah membuatnya ketakutan dan marah.
Semestinya kalian kuberi ganjaran...," ujar Ramapati tegas.
Sadiro, Cilung, dan Mandra saling
pandang sejenak, lalu mereka menghadap Laras dan menju- ra seraya sama-sama
minta maaf. Laras hanya di- am dengan wajah sinis.
Ramapati mendekati sang Istri lalu
dipe- gangnya pundak Laras.
"Diajeng, biar ku turuti
kemauan mereka. Mungkin dengan caraku ini mereka bisa sadar. Dan tidak lagi
berbuat seperti itu lagi. Biar bagai- manapun mereka bekas anak buahku, orang
ke- percayaanku!" tutur Ramapati dengan sabar. Laras tak dapat lagi
mencegah suaminya. Wanita itu hanya bisa menyimpan rasa cemas dan khawatir di
hatinya.
"Ayo, kita berangkat...!"
ajak Ramapati pada Sadiro dan teman-temannya.
Segeralah mereka pergi. Dan ketika
berada di luar rumah, tiba-tiba Sadiro berkata pada Ramapati. "Lebih baik
kita bicara di rumah kami, ka- rena ada seseorang yang menunggu dan ingin ber-
temu dengan Ki Ramapati...,"
"Siapa orang itu?" tanya
Ramapati sambil mengerutkan kening agak curiga.
"Nanti Ki Ramapati akan tahu
sendiri. Mari, jangan sampai dia keburu pergi...!" sahut Cilung.
Ramapati berpikir sejenak, lalu dia
men- gangguk dan melangkah diikuti oleh Cilung dan Mandra. Mereka akhirnya
memasuki sebuah hutan.
"Sebenarnya apa yang akan
dibicarakan, Sadiro?" tanya Ramapati kembali.
"Tentang keris pusaka
itu," jawab Sadiro te- gas.
Tersentak kaget Ramapati
mendengarnya. Langkahnya terhenti, dengan mata memandang ta- jam ke arah Sadiro
dan kedua kawannya.
"Apa,..? Aku tak pernah
menyimpan keris itu. Kenapa kau tanyakan padaku?!" kata Ramapa- ti dengan
hati cemas dan mulai tak tenang.
"Ayo...! Jangan banyak bicara!
Kami sudah muak dengan semua kebohonganmu!" tiba-tiba Ci- lung membentak.
"Kurang ajar kau, berani
membentakku! Apa sebenarnya maksud kalian...?!"
Ramapati mulai kesal dan kembali
meng- hentikan langkah kakinya.
"Tenang saja Ki Ramapati, tak
jauh lagi, su- dah dekat Sebentar lagi kau akan tahu, apa mak- sud kami. Ha ha
ha...!" sambar Mandra lalu tertawa-tawa. Mereka semakin jauh memasuki
hutan. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka. Terutama Ramapati
yang sudah merasakan keti- dakberesan bekas orang-orang kepercayaannya. Namun,
karena dia memiliki sifat tak mau mundur sebelum melihat kenyataan, maka dengan
langkah lebar Ramapati mengikuti Sadiro dan kawan- kawannya.
***
Di tengah hutan, karena tidak
menduga sama sekali kalau ketiga bekas anak buahnya bermaksud jahat, Ramapati
sempat lengah dan kurang waspada. Dengan tanpa basa-basi lagi Sa- diro, Cilung,
dan Mandra secara bersama-sama membunuh bekas tumenggung itu. Mereka mem- babat
dan menusukkan golok ke tubuh Ramapati.
Crass! Crass! Jlep! Jlep!
"Aaaa...!" Tubuh Ramapati ambruk dengan usus ter- burai dari
perutnya. Kepalanya hampir putus kena tebasan golok Sadiro si Muka Pucat yang
ternyata pembunuh darah dingin.
"Kini semuanya telah dapat
kita selesaikan dengan baik, Sobat. Ayo, kembali ke rumah Rama- pati, kita
ancam istri dan semua penghuni rumah itu. Jika membangkang, kita bunuh
saja...!" kata Sadiro dengan wajah dingin, lalu melesat pergi.
Pada saat itu, tanpa diketahui
Sadiro dan kedua kawannya, ternyata ada sepasang mata yang menyaksikan
perbuatan keji mereka. Dengan diam-diam sosok itu pergi meninggalkan semak-
semak tempatnya bersembunyi.
Sementara di rumahnya, Laras dan
para penjaga serta adik ipar yang bernama Abisona, merasa tegang menanti
kedatangan Ramapati.
"Kenapa kau tadi tidak
menyertai kakakmu, Abisona? Aku khawatir Sadiro, Cilung, dan Man- dra mempunyai
maksud jahat. Hatiku merasakan itu...," keluh Laras dengan wajah cemas.
Matanya berkaca-kaca, nampak bingung dan gelisah sekali.
"Maafkan saya, Kak! Saya pun
menyesal...," jawab Abisona sambil menunduk. Lalu kembali mengangkat
mukanya. "Tapi saya akan menuntut balas jika sampai terjadi apa-apa
terhadap Kakang Ramapati...," lanjut Abisona dengan nada geram. Wajahnya
keras penuh amarah.
Pada saat itu seorang perempuan
setengah baya muncul menggendong anak laki-laki berumur tiga tahun yang sedang
tidur pulas.
"Laras, jangan kau mempunyai
perasaan yang bukan-bukan! Sebaiknya kau berdoa, agar Ramapati suamimu tak
mendapatkan musibah atau celaka...," ujar wanita setengah baya yang
menggendong anak Laras.
"Tapi firasatku ini rasanya
benar, Nyi Ningrum," sahut Laras dengan suara tegas. Lalu mendekati Nyi
Ningrum, dan menciumi anaknya.
Ketika Laras dan semuanya yang ada
di situ dicekam ketegangan, tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Sehingga
tiga orang punggawa terpental jatuh dengan luka parah akibat sabetan golok.
Muncul Sadiro si Muka Pucat dengan
tatapan mata dingin, diikuti Cilung, dan Mandra yang berdiri di sisi kiri dan
kanan Sadiro.
"Ha ha ha...! Kalian terkejut
melihat keda- tangan kami bertiga tanpa Ramapati, bukan...?! Ha ha ha...!"
seru Mandra yang bermulut besar dan bibir tebal.
"Bedebah! Kalian manusia tak
tahu sopan santun dan kejam!" bentak Laras lantang dengan mata melotot marah
sekali.
"Ha ha ha...! Aku senang
melihat wanita se- cantik kau marah. Membuat kelelakianku makin terusik. Ha ha
ha, hi hi hi ha ha...!" goda Cilung sambil tertawa cekikikan.
"Hei, Manusia Laknat! Mana
kakakku...?! Jawab!" bentak Abisona yang mulai tak sabar.
"Kalau kau menanyakan kakakmu,
terus te- rang kukatakan, dia kini mungkin sudah berada di surga atau
neraka...!" jawab Sadiro si Muka Pucat dengan tenang. Raut wajahnya yang
dingin seakan tak pernah melakukan kejahatan atau dosa.
"Biadab...!" teriak Laras
histeris. Lalu den- gan penuh amarah dia menyerang Sadiro. Namun lelaki itu
dengan tenang menangkis tangan kiri dan menangkap tangan kanan Laras yang men-
gayun ke arahnya.
"Hem...! Huh!" gumam
Sadiro, lalu mende- kap Laras. Dipelintirnya tangan Laras kemudian ditarik ke
belakang, hingga wanita itu tak bisa ber- gerak lagi. Tubuhnya hanya bisa
meronta-ronta dan berteriak minta tolong.
Sementara itu Mandra dan Cilung
berta- rung melawan Abisona. Adik kandung Ramapati itu masih bisa meladeni kedua
lawannya. Pada saat itu pula Nyi Ningrum berlari ke dalam, ber- maksud
menyelamatkan anak Laras yang digen- dongnya. Anak itu anehnya tetap tidur
pulas.
"Lepaskan! Lepaskan Biadab...!
Kau tak ta- hu balas budi. Bajingan!" teriak Laras sambil me- mukuli dan
mencakar Sadiro dengan tangan ki- rinya. Sebab tangan kanannya telah dicekal
erat oleh lelaki berwajah pucat itu.
Sadiro tampak mulai murka. Dengan
sekali hajar, seketika Laras memekik panjang, lalu tak bernyawa lagi Lelaki
berwajah sadis dan dingin itu kini telah menjadi salah satu murid seorang tokoh
sesat berilmu iblis.
Lalu Sadiro yang mengetahui Nyi
Ningrum menghilang, segera mencarinya ke semua ruan- gan. Pada saat itu
terlihat sesosok lelaki berpa- kaian jubah putih berkelebat, diikuti seorang
pem- bantu yang bekerja di rumah Ramapati. Lelaki tua berjubah putih itu
ternyata Ki Tunggul Segara. Ke- datangannya ke rumah Ramapati karena diberita-
hu oleh Ki Suro, salah seorang pembantu di rumah bekas tumenggung itu. Ternyata
Ki Suro-lah yang tadi sempat menyaksikan pembunuhan terhadap tuannya di dalam
hutan.
Namun kedatangan Ki Tunggul Segara
ter- lambat. Laras telah terbunuh, begitu pula Abisona, adik iparnya. Lelaki
tua itu hanya sempat mene- mukan Sadiro yang baru saja membunuh Nyi Nin- grum.
Ki Tunggul Segara yang juga
berjuluk Pen- dekar Bijaksana menghajar Sadiro dengan puku- lan beruntun.
Sehingga lelaki pucat dan berdarah dingin itu tak sempat melakukan serangan
balik. Ki Tunggul Segara yang lebih memusatkan untuk menyelamatkan anak Ramapati
yang masih beru- mur tiga tahun, hanya sempat melukai Sadiro. Kemudian dia
berusaha menyelamatkan anak kecil itu yang terus menangis tak henti-hentinya.
Lalu tubuhnya menghilang dari rumah itu.
Mandra dan Cilung yang baru datang
terke- jut melihat Sadiro pingsan. Tampak dada Sadiro luka bertanda telapak
tangan berwarna biru kehi- taman. "Hah...?! Tapak Sakti!" seru Mandra
kaget "Gawat, sebaiknya kita cepat bawa Sadiro pergi da- ri sini. Kita
harus mencari obat untuknya, kalau tidak dia akan mati. Dan kita juga akan
mampus jika orang yang memiliki ilmu ini kembali...," tutur Cilung dengan
tegang.
Mereka dengan cepat menggotong
tubuh Sadiro yang pingsan karena luka yang sangat membahayakan jiwanya.
"Sial! Kita belum sempat
menanyakan di mana keris itu. Sadiro terlalu mengikuti nafsu membunuhnya.
Tunggu di sini, biar aku kembali mencari keris itu...!" kata Cilung begitu
teringat akan Keris Naga Sakti. Orang yang dapat memiliki keris pusaka itu akan
menjadi sakti luar biasa. Begitulah berita yang tersebar di kalangan rimba
persilatan. Oleh karena itulah keris itu dipere- butkan para tokoh persilatan,
baik dari golongan beraliran lurus maupun hitam.
Cilung sudah berada di dalam rumah
Ra- mapati yang sudah kosong. Hanya mayat-mayat yang tampak tergeletak di
lantai rumah itu. Dia langsung mengobrak-abrik perabotan rumah dan apa saja
yang dianggap tempat menyimpan benda pusaka itu.
Namun Cilung tak menemukan apa-apa.
Malah dirinya menjadi seperti orang gila berteriak- teriak sambil menendang dan
menghancurkan apa saja.
Brakkk! Prang...! Prang! "Huh!
Sial! Rupanya sudah ada orang lain yang mendahului. Atau memang keris itu tak
ada di rumah ini...!" sungut Cilung marah, lalu melesat pergi dengan hati
dongkol. 2
Purwadhika masih termangu mendengar
penuturan gurunya, Ki Tunggul Segara.
"Itulah awal dari kesedihanku.
Ayahmu ada- lah putra tunggalku. Tapi kuharap, kau tidak me- naruh dendam
terhadap mereka, Cucuku. Kalau bisa sadarkan mereka, itulah tujuan kita. Ajaran
kita sejak dulu.... Namun jika mereka tidak dapat mengerti, terserah padamu....
Hanya usahakan jangan kau bunuh mereka, jika mereka sudah minta ampun dan
bertobat!" pesan Ki Tunggul Se- gara dengan suara penuh wibawa.
Purwadhika mengangkat kepalanya
perlahan, menatap sang Guru yang juga kakeknya sen- diri. Dihelanya napas
dalam-dalam, seakan tengah mencoba menenangkan perasaannya.
"Cucuku, apa yang ada dalam
benakmu se- karang, hah...?" tanya Ki Tunggul Segara.
"Saya dapat mengerti, Kek. Apa
yang telah Kakek katakan, akan saya patuhi. Tapi, bagaima- na arwah Ayah, jika
aku tidak membalaskan ke- matian Ayah dan Ibu...?" kata Purwadhika, lalu
menundukkan kepala.
"Hemm.... Aku mengerti. Ayahmu
juga tak ingin kau membunuh atau menuntut balas, Cucu- ku. Mereka hanya
inginkan keris pusaka ini. Keris Pusaka Naga Sakti. Karena para tokoh
persilatan, baik aliran putih maupun hitam sampai kini masih terus mencari
keris pusaka ini...," tutur Ki Tunggul Segara. "Apakah keris itu
benar-benar memiliki ke- saktian, Kek...?" tanya Purwadhika kemudian den-
gan mengerutkan kening sambil memandangi keris di tangan kakeknya.
Ki Tunggul Segara menganggukkan
kepala. Dia mengangkat keris itu dengan kedua tangan ke atas kepalanya,
kemudian perlahan diturunkan- nya sampai di dada. Dipandanginya keris itu den-
gan seksama.
"Keris ini sebenarnya titipan
dari saudara seperguruanku, Aji Sena. Keris ini tak sempat di- berikan pada
menantunya yang bernama Citra Yudha. Yang telah mati di tangan manusia iblis,
Segoro Wedi." (Tentang Citra Yudha dan Segoro Wedi, silakan baca serial
Pendekar Gila pada episode; 'Suling Naga Sakti').
"Lantas untuk apa Kakek Guru
terus me- nyimpannya, hingga mengakibatkan petaka ke- luarga kita...?"
tanya Purwadhika dengan suara agak tinggi.
"Kau belum mengerti, Cucuku.
Keris ini ku- simpan di sini agar tokoh-tokoh persilatan tak da- pat menemukan.
Dan mereka tak akan percaya kalau aku masih hidup. Para tokoh aliran hitam
umumnya menyangka aku telah mati, karena luka dalamku, akibat pertarunganku
dengan orang- orang berilmu tinggi yang memiliki ilmu iblis. Na- mun berkat
bantuan Aji Sena-lah aku bisa sem- buh...," tutur Ki Tunggul Segara.
Sejenak Ki Tunggul Segara menghela
napas panjang. Keris pusaka itu kini dipegang dalam genggaman tangan kanannya.
"...dan aku dapat hidup sampai sekarang. Keris ini menjadi milikku. Dan
sejak itu aku telah berjanji, tak akan muncul lagi di rimba persilatan yang
penuh amarah dan pertentangan. Maka aku berjanji keris ini akan kuwariskan pada
cucu pertamaku, tak peduli laki- laki atau perempuan. Aku memang merasa bersa-
lah, menyesal. Putra tunggalku sendiri, ayahmu itu serta ibumu mati karena
keris pusaka ini. Tapi semua itu kulakukan bukan bermaksud untuk mencelakakan
kedua orangtuamu, Purwadhika. Hanya sayang, rahasia keris ini tercium oleh to-
koh-tokoh aliran hitam yang selalu ingin mencari masalah di dunia
persilatan...."
Purwadhika menghela napas
dalam-dalam. Dia menatap wajah sang Kakek yang juga guru tunggalnya. Purwadhika
bisa memaklumi apa yang telah diperbuat kakek gurunya.
"Maafkan saya, Kakek..!"
ucap Purwadhika lemah dengan tetap menundukkan kepala.
"Sudahlah, yang lalu biar
berlalu. Kini kau telah mewarisi ilmuku. Enam belas tahun lamanya kau tinggal
bersamaku. Kini sudah waktunya kau turun. Keluarlah, cari pengalaman hidup!
Setialah pada kebenaran dan membela kaum lemah yang membutuhkan.... Aku tak
melarangmu, apa pun yang kau kehendaki. Ketiga orang pembunuh kedua orangtuamu,
pamanmu, dan bibimu memang perlu kau cari. Dan seperti yang telah kusampaikan
tadi, semua kuserahkan padamu, Purwadhi- ka. Jangan membunuh, jika orang itu
sudah menyerah. Kecuali jika mereka bertindak kejam dan kasar serta ingin
membunuhmu...."
Panjang lebar wejangan yang
disampaikan Ki Tunggul Segara pada cucu tersayang yang juga murid tunggalnya.
Kemudian Pendekar Bijaksana itu
menye- rahkan Keris Naga Saki pada sang Cucu. Purwad- hika menerimanya dengan
kedua tangan lalu men- cium keris pusaka itu.
"Kuserahkan keris pusaka itu
padamu. Ja- galah baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat. Mereka
akan lebih jahat dan kejam, karena Keris Pusaka Naga Sakti itu mengandung
kesaktian yang luar biasa...," tutur Ki Tunggul Se- gara lagi.
"Saya mengerti Kakek Guru...,"
jawab Pur- wadhika sambil menundukkan kepala.
"Sekarang pergilah, tapi
pakailah bekas pa- kaianku! Agar kau nampak lebih gagah dan bersih. Gantilah
dulu...!" kata Ki Tunggul Segara sambil menyerahkan sepasang pakaian silat
berlengan panjang berwarna coklat muda.
Segera Purwadhika bangkit dari
duduknya, lalu menuju ke salah satu sudut. Sementara itu, Ki Tunggul Segara
masih duduk bersila di tempatnya, dengan kedua tangan ditopangkan pada kedua
pahanya.
Purwadhika sudah selesai memakai
pakaian pemberian Ki Tunggul Segara. Nampak pemuda itu bertambah gagah dan
berwibawa. Wajahnya sea- kan memancarkan cahaya terang. Sorot matanya tajam.
Mungkin pengaruh pakaian bersejarah dari Pendekar Bijaksana itu. Sebab, di masa
mudanya Ki Tunggul Segara sangat disegani dan ditakuti ka- rena kesaktiannya.
Apalagi setelah dia mendapat warisan Keris Pusaka Naga Sakti, dari saudara se-
perguruannya Aji Sena.
"Kau nampak bertambah gagah,
Cucuku. Sudah lama aku ingin melihat kau memakai pa- kaian kebesaranku
itu," kata Ki Tunggul Segara dengan wajah cerah. Dia merasa bangga melihat
cucunya yang gagah dan tampan itu.
"Apakah saya pantas memakai
pakaian ini, Kakek Guru...?" tanya Purwadhika, sambil mem- perhatikan
pakaiannya.
"He he he... kenapa tidak?
Tapi, ingat. Jika ada yang mengenali pakaian yang kau pakai itu, dan mendesakmu
untuk menjelaskan, katakan sa- ja kau muridku! Karena, aku yakin tokoh-tokoh persilatan
seangkatanku sampai generasi sekarang mengenali pakaian warna coklat muda
dengan sa- rung batik bergambar jatayu itu...," kata Ki Tung- gul Segara.
"Tapi, Kakek tadi bercerita
bahwa Kakek in- gin tenang dan tak ingin lagi berurusan dengan dunia
persilatan. Jika nanti mereka tahu kalau Kakek Guru masih hidup, apakah tidak
berbahaya bagi Kakek Guru...?" nada suara Purwadhika begi- tu khawatir
terhadap keberadaan kakeknya.
"He he he... Aku sudah siap
kini, Cucuku. Jangan kau khawatirkan aku. Pergilah, doaku me- nyertaimu. Dan
satu hal lagi yang harus kau ingat. Jika nanti kau bertemu seorang pendekar
muda berpakaian rompi kulit ular, dengan tingkah laku yang konyol seperti orang
gila. Katakan bahwa kau cucuku...!" kata Ki Tunggul Segara.
"Siapa pendekar muda itu,
Kek...?" tanya Purwadhika ingin tahu.
"Sena. Sena Manggala. Dia
putra tunggal Ci- tra Yudha, cucu Kakang Aji Sena. Pemilik keris pusaka
pertama, yang kini kau sandang itu. Sena pendekar yang sangat ditakuti dan
disegani, kare- na ilmunya yang tinggi dan aneh. Karena tingkah lakunya itu dia
disebut Pendekar Gila...," tutur Ki Tunggul Segara.
"Pendekar Gila...?" gumam
Purwadhika. "Jika kau bertemu dengan dia, katakan bahwa keris pusaka itu
sudah kau sandang. Kare- na dia pasti akan menanyakan hal itu padamu, untuk
meyakinkan dirinya, bahwa kau benar cu- cuku dan satu aliran."
"Lantas apa lagi yang akan
saya katakan, Kek...?" "Jika dia ingin menemuiku, ajaklah
kemari!" jawab Ki Tunggul Segara tegas. "Sudah, kini pergi- lah...!
Hati-hati dan ingat semua pesanku...," tam- bah Ki Tunggul Segara.
Purwadhika segera menjura beberapa
kali, lalu mencium tangan Ki Tunggul Segara dengan penuh perasaan kasih.
"Pergilah!" suara lelaki
tua itu terdengar perlahan.
***
Tokoh-tokoh rimba persilatan
ternyata ma- sih saja membicarakan Keris Naga Sakti yang sampai kini belum juga
diketemukan. Terutama, tokoh-tokoh sesat yang sangat ingin memiliki keris itu,
kini membentuk kelompok dalam usahanya mencari pusaka yang kini berada di
tangan Pur- wadhika. Seperti pada suatu sore di sebuah bangunan yang bentuknya
seperti kuil Cina. Sudah tua sekali, dinding-dindingnya sebagian berlumut dan
berwarna kelabu.
Di dalam kuil itu ada delapan orang
tokoh aliran hitam. Di antaranya, Sadiro dan Cilung yang sudah tua. Rambut
mereka sebagian sudah putih. Mereka duduk melingkar. Salah satu dari kedela-
pan tokoh itu dikenal dengan nama Sindang Manik, namun nama aslinya sebenarnya
Wongso Gu- no. Lelaki tua itu sengaja merubah nama dan dandanan dengan yang
menyeramkan, untuk lebih le- luasa menjalankan rencananya yang jahat. Dia in-
gin memiliki keris itu dengan cara lain. Wongso Guno mempunyai seribu akal
bulus. Dia tak se- gan-segan membunuh dan berbuat curang terha- dap kawan
sendiri.
Sore itu mereka berkumpul, karena
men- dengar bahwa keris itu ada di tangan seorang lela- ki tua yang sakti. Saat
itu mereka sedang berdebat mengenai Keris Pusaka Naga Sakti. Sebenarnya di
antara mereka saling tidak percaya, saling mencu- rigai. Seperti pada saat ini,
antara empat saudara yang dikenal dengan julukan 'Empat Jin Botak da- ri
Selatan' bertengkar mulut dengan Wesi Geni yang berilmu tinggi.
"Sobat Sindang Manik, kau
sebagai pimpi- nan pertemuan itu tak usah ragu akan keteguhan imanku. Tampaknya
kau masih belum percaya akan ucapanku, bukan?" sergah Wesi Geni dengan
bangga, kedua matanya melirik sinis ke arah Em- pat Jin Botak yang ada di
sebelah kiri Wesi Geni.
"Tetapi selama sepuluh tahun
terakhir ini, aku belum pernah meninggalkan pertapaanku. Ka- rena persoalan
Keris Pusaka Naga Sakti yang akan kita perebutkan itu, aku sengaja menghentikan
pertapaan. Aku tak mau setan-setan rakus yang sudah berada di sini menjadi
kelompok kita...!"
Kembali mata Wesi Geni melirik
sinis ke arah Empat Jin Botak dari Selatan.
"Hm, sombong!" ujar Jin
Kobra yang dikenal mempunyai ludah beracun.
"Kami Empat Jin Botak dari
Selatan memang tergolong manusia-manusia yang tak beri- man," sela Jin
Soka yang berjuluk Topan Bergu- lung. "Tapi kelicikan Wesi Geni pun sudah
sangat terkenal," sambungnya menyindir.
"Semua orang tahu bagaimana
kotornya ha- timu, Wesi Geni," tuding Jin Sudra atau si Racun Lima Naga.
"Siasatmu tentu hendak
menggunakan ma- tamu yang kotor, untuk membutakan mata para jago yang bening,
bukan? Sungguh menggelikan," ejek Jin Kala atau si Mata Merah sambil
tertawa- tawa.
Mendengar Empat Jin Botak dari
Selatan itu memakinya secara bergantian, menyindir, dan mengejek dirinya, hati
Wesi Geni menjadi gusar bukan main. Dengan sorot mata yang tajam dan berapiapi,
dia memandangi keempat orang ber- saudara itu secara bergantian.
"Nama kalian berempat pun sudah
demi- kian jeleknya di rimba persilatan. Dosa kalian sudah menggunung setinggi
langit. Karena itu sudah sepantasnya kalian dilenyapkan dari permukaan bumi
ini," kata Wesi Geni dengan kasar dan sua- ranya yang bergetar.
Dan selesai kalimat terakhir, Wesi
Geni dengan cepat menggerakkan kedua tangan bagai membuat jurus. Lalu
ditepukkan kedua telapak tangannya dengan keras disusul dengan menepukkan
telapak tangan kanannya ke dada yang sebelah kiri. Dan bersamaan dengan itu,
terlihatlah seekor kumbang berwarna keperakan berteng- ger di ujung gagang
pedang yang tersandang di punggungnya. Kumbang Perak itu melebarkan sayapnya,
lalu terbang cepat menyerang Jin Mata Merah. Kian lama kecepatan terbang
Kumbang Pe- rak kian cepat. Luar biasa sekali. Menyambar- nyambar tubuh Jin
Mata Merah.
Semua yang ada di situ tercengang,
terma- suk Sindang Manik dan Sadiro, lelaki bermuka pucat yang kini bersekutu
dengan Sindang Manik. Mereka terpaksa berdiri dan mundur ke belakang.
Jin Mata Merah belum sempat
meloloskan pedang ketika Kumbang Perak itu telah beberapa kali berhasil
menggigit tubuhnya.
Begitu pedang tergenggam di
tangannya, Jin Mata Merah dengan cepat menggerakkannya un- tuk membentuk
ratusan bunga-bunga pedang yang berwarna merah menyala bagai api membara.
Maksudnya untuk melindungi dirinya dari seran- gan Kumbang Perak yang sangat berbahaya
itu.
Trakkk! Dengan keras pedang Jin
Mata Merah menghantam Kumbang Perak yang sedang me- nyambar-nyambar itu.
Akibatnya, Kumbang Perak terpental dan terjatuh ke atas lantai, setelah terle-
bih dahulu membentur keras ke dinding.
Melihat serangannya berhasil, Jin
Mata Me- rah langsung tersenyum dingin.
"Aku tak yakin seekor kumbang
mampu mencabut nyawaku," katanya bernada meremehkan.
Akan tetapi, rasa penasaran Jin
Mata Merah belum selesai. Matanya seketika terbelalak, karena melihat Kumbang
Perak ternyata sudah kembali berkelebat menyambar dengan amat cepat, bagai- kan
anak panah.
Menjadi gugup juga Jin Mata Merah,
karena kewalahan dibuatnya.
Kini Kumbang Perak sudah semakin
cepat terbang berputaran di atas Empat Jin Botak dari Selatan itu. Terbangnya
kian lama kian cepat, se- hingga yang terlihat kini cuma rentetan sinar ke-
perakan dan menyilaukan. Disertai suara siulan panjang melengking dan semakin
meninggi dari mulut Wesi Geni. Ruangan rumah tua yang lebih mirip kuil Cina itu
kini hanya dipenuhi ekor sinar keperakan sehingga mengaburkan penglihatan.
Tiba-tiba, dari ekor sinar
keperakan itu, ter- sebarlah asap hitam yang tidak terlalu tebal. Na- mun
baunya sangat amis dan menusuk hidung. Di samping bau, asap itu pun membuat
mata terasa perih dan pedas.
Sadiro yang berwatak keras dan
gampang marah, segera menyerang Wesi Geni, bermaksud agar menghentikan serangan
Kumbang Peraknya. Namun baru saja Sadiro hendak mencengkeram tangan Wesi Geni,
dalam sekejap saja lelaki ber- muka pucat itu terpental, karena sinar keperakan
itu ternyata dapat pula menghajar tubuhnya.
Plarrr! "Aaaa...!" pekik
Sadiro lalu roboh. Cilung kaget dan hendak menolongnya, tapi ragu. Sedangkan
Sindang Manik nampak tenang-tenang saja. Dia sebenarnya lebih suka mereka
saling bunuh. Dengan begitu dia nanti akan dapat menguasai Keris Pusaka Naga
Sakti seorang diri. Meskipun sampai sekarang belum dapat diketahui siapa yang
menyimpan keris itu.
Tiba-tiba Cilung dan satu tokoh
lagi yaitu Burisrawa, lelaki bermuka lebar rambut keriting panjang diikat
dengan kain warna merah, sama- sama memegangi kepala.
"Waduh...! Kepalaku...,
pusiiing...!" pekik Burisrawa dan Cilung.
Sindang Manik dan Sadiro merasakan
hal yang sama. Sedangkan Empat Jin Botak dari Sela- tan tampak masih bisa bertahan.
Kini, Jin Soka dan Jin Kala secara
serentak melakukan perlawanan, dengan membentuk suatu barisan pedang untuk
menghalangi sambaran Kumbang Perak milik Wesi Geni.
Pada saat bersamaan Jin Kobra
memba- batkan pedang ke depan ketika melihat Kumbang Perak hendak menyambar Jin
Sudra.
Trakkk! Kuat sekali hantaman pedang
Jin Kobra dan tepat mengenai Kumbang Perak. Sehingga Kumbang Perak terpental
sejauh sepuluh depa di depan pintu rumah tua itu.
Akan tetapi, Kumbang Perak kembali
mem- buat kejutan. Binatang itu tiba-tiba telah mampu merentangkan sayapnya dan
terbang melakukan serangan susulan yang dahsyat.
"Hah...?!" Empat Jin
Botak dari Selatan ka- get. Sambaran kumbang yang begitu cepat mem- buat mereka
hanya bisa menundukkan kepala sambil menebas sebisanya. Sial bagi Jin Soka....
"Aaakh...!" Jin Soka
memekik, ketika melihat jari telun- juk tangan kanannya sudah menghitam dan
mem- bengkak.
"Aa... aku kena racun itu!
Racun Kumbang Perak!" seru Jin Soka gugup sambil mundur ter- seok-seok.
"Ha ha ha..., itu sudah
pasti!" sahut Wesi Geni tertawa-tawa.
Jin Sudra, yang melihat hal itu
segera membabat jari tangan Jin Soka, sehingga terputus. Darah segar berceceran
di atas lantai.
"Terima kasih, Sudra!"
seru Jin Soka. Kare- na dia menyadari maksud baik saudaranya. Sebab bila tak
dilakukan, tentulah racun itu akan me- rambat ke sekujur tubuhnya. Dan itu
sangat ber- bahaya karena bisa membuatnya mati!
Baru saja Jin Sudra menyahut,
Kumbang Perak ternyata sudah berhasil menerobos masuk ke dalam pagar bayangan
pedang yang dibentuk oleh Jin Sudra, Jin Kala, dan Jin Kobra. Dengan cepat Jin
Sudra menebaskan pedangnya untuk menghajar ke samping sambil mundur selangkah.
Jin Kobra, yang melihat situasi
gawat, sege- ra menghalau Jin Soka yang jari tangannya putus itu.
"Cepat balut lukamu itu!"
teriak Jin Kobra sambil membuat pagar di depan Jin Soka.
Kini, tiga bilah pedang terus
berkelebat me- nyambar-nyambar membentuk suatu pagar pertahanan yang amat
rapat, guna melindungi diri me- reka, serta mencari kesempatan melakukan serangan.
Melihat serunya pertarungan itu,
para tokoh lainnya menjadi sama-sama tegang, sekaligus ka- gum. Sindang Manik
alias Wongso Guno dan Sadi- ro yang berdampingan sama-sama menatap tanpa
berkedip.
"Kita harus selalu waspada.
Terutama pada Wesi Geni. Dia memiliki ilmu yang sukar ditandin- gi...!"
bisik Sadiro yang memang dekat dengan Sin- dang Manik. Karena mereka berdualah
yang mem- punyai rencana jahat pada kelompoknya sendiri, bila kelak sudah menemukan
orang yang menyim- pan Keris Naga Sakti itu.
"Hm...," gumam Sindang
Manik pendek, "Tapi kecerdikan dan kelicikanku lebih unggul dari ilmu Wesi
Geni dan Empat Jin Botak dari Selatan itu...," tambah Sindang Manik.
"Jangan kau terlalu khawatir..., Sadiro!"
Sadiro tersenyum mendengar ucapan
saha- batnya itu. Matanya kembali memperhatikan per- tarungan.
Namun pertarungan akhirnya
terhenti, keti- ka Mandra muncul sambil berteriak.
"Berhenti...!" seru
Mandra dengan napas ngos-ngosan.
Seketika semuanya menoleh ke arah
Man- dra. Sindang Manik dan Sadiro segera mengham- pirinya. "Bagaimana?
Apakah penyelidikanmu membawa berita baik...?" tanya Sadiro dengan dingin.
"Mandra tak pernah gagal. Sebaiknya sabar dulu, aku akan memberi kabar
baik pada sobat sekalian...," jawab Mandra membanggakan dirinya.
"Cepat katakan, apa yang kau dapat..!" ujar Sindang Manik dengan nada
berat
"Baiklah.... Kita rupanya
harus menempuh perjalanan jauh. Memerlukan waktu lima hari un- tuk mencapai
tempat itu. Di lereng Gunung Maja- laya," kata Mandra menjelaskan.
"Apakah kau tahu siapa orang
yang me- nyimpan keris itu...?" tanya Sadiro perlahan.
"Ya. Seorang kakek yang
dikenal dengan nama Pendekar Bijaksana...!" jawab Mandra tegas, sambil
merentangkan kedua tangannya dan terse- nyum lebar.
"Hanya seorang kakek...? Ha ha
ha...!" sa- hut Wesi Geni sombong.
"Jangan kau bersenang hati,
Wesi Geni! Apakah kau lupa atau kurang dengar bahwa ka- kek itu adalah Pendekar
Bijaksana yang memiliki ilmu cukup tinggi. Apalagi kini keris itu ada di
tangannya...," tukas Sindang Manik dengan nada berat
Wesi Geni mengerutkan kening
sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tahu, tapi dengan Kumbang
Perak, tak mungkin kakek itu akan mampu melawanku. Tapi keris itu...?"
Wesi Geni tak melanjutkan ucapannya. Dia kemudian nampak berpikir. Karena
kesaktian Keris Naga Sakti akan bisa menghancurkan Kumbang Perak- nya. Maka itu
seketika Wesi Geni diam membisu.
Empat Jin Botak dari Selatan
tersenyum- senyum mengejek Wesi Geni.
"Sudahlah, sebaiknya kita
membuat renca- na yang matang, agar kelak tak ada hambatan. Hanya kelompok kita
yang mengetahui rencana itu. Jangan sampai tercium orang luar...!" kata
Sindang Manik. Lalu melirik ke arah Sadiro den- gan penuh arti. Sadiro
mengedipkan sebelah ma- tanya.
"Ayo, sebaiknya kita
berkumpul...!" kata Sa- diro tiba-tiba.
Mereka segera berkumpul kembali,
merun- dingkan rencana besar mereka. Sampai jauh ma- lam.
3
Kutareja merupakan sebuah kota
kecil yang cukup ramai didatangi para pendatang dari semua penjuru Jawadwipa.
Siang itu sinar matahari tera- sa terik dan menyengat. Namun tak membuat para
pendatang merasa terganggu. Mereka asyik dengan kesibukan masing-masing. Ada
yang berbelanja, nonton tukang obat, atau menikmati makanan di kedai-kedai di
kota itu.
Dari kejauhan, tepatnya di ujung
Kutareja, nampak seorang pemuda berambut gondrong, dengan ikat kepala dan
pakaian rompi kulit ular. Pemuda tampan itu tampak cengar-cengir sambil
menggaruk-garuk kepala, melangkah dengan santai di antara orang-orang yang simpang-siur
di ja- lanan Kutareja itu.
Rumah-rumah di Kutareja itu
memiliki kemiripan bentuknya dengan bangunan Cina kuno. Sebagian memang ada
yang dari bilik, tapi banyak pula yang berdinding tembok.
"Aha, ramai juga Kutareja ini.
Baru kali ini aku datang kemari," gumam pemuda berpakaian rompi kulit
ular. Matanya terus memandang ke ki- ri dan ke kanan sambil
menggeleng-gelengkan ke- pala yang berambut ikal.
Orang-orang yang kebetulan
berpapasan dengan pemuda itu, pasti merasa heran dan berge- leng-geleng kepala.
Karena melihat tingkah pemu- da tampan yang terkadang tertawa-tawa sendiri,
cengengesan, dan menggaruk-garuk kepala.
"Ah, lebih baik aku istirahat
sejenak. Teng- gorokan haus...," gumam pemuda bertingkah laku seperti
orang tidak waras yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila.
Sena langsung memasuki rumah makan.
Bangunan cukup besar itu dipadati pengunjung, yang kebanyakan orang dari luar
daerah, bukan warga Kutareja. Mereka kebanyakan pedagang. Ada juga beberapa
pedagang dari Cina, duduk di salah satu sudut menikmati hidangan pesanan- nya.
Di antara para pengunjung, ada dua
lelaki yang nampak sinis ketika Sena memasuki rumah makan itu. Tampaknya mereka
curiga akan keda- tangan Sena.
"Hei! Kau lihat pemuda yang
baru masuk itu. Rasanya aku pernah ingat. Tingkahnya kaya bocah edan...!"
ucap lelaki yang bermata jalang, berhidung betet, dengan pakaian serba hijau.
Kumisnya tipis melintang di atas bibir.
"Hmmm...," kawannya hanya
bergumam sambil menoleh ke arah Sena yang sudah duduk tak jauh dari tempat
duduk mereka, "Kayaknya pemuda itu bukan pemuda sembarangan.... Tapi, kita
harus selidiki dia, Burisrawa..."
"Ya. Heh, Cilung. Rasanya aku
pernah den- gar ciri-ciri seorang pendekar sakti yang sedang kondang di rimba
persilatan. Apakah pemuda itu...," Burisrawa tak meneruskan ucapannya, ka-
rena kawannya menyelak.
"Aah, sudahlah! Jangan
hiraukan pemuda itu. Makan dulu, nanti makananmu keburu din- gin. Kau terlalu
terbawa oleh pikiranmu saja. Yang lebih penting keris pusaka itu...!" kata
Cilung lalu menggigit daging ayamnya dengan rakus. Mulut- nya penuh dengan nasi
dan lauk. Nampak jorok, cara kedua orang itu makan.
Sena yang duduk terpaut dua meja di
sebe- lah kiri mereka, dengan ilmu 'Sapta Pangringu' yang dapat mendengar
percakapan orang dalam jarak jauh, mengetahui percakapan dua orang itu. Dia
mengerutkan kening dan menggaruk-garuk kepala, kemudian melirik sejenak ke arah
Cilung dan Burisrawa.
Pada saat itu datang pelayan
membawa hi- dangan yang dipesan Sena. Dia segera tersenyum pada pelayan lalu
mulai menyantap makanannya.
"Aku penasaran.... Perasaanku
mengatakan bahwa pemuda itu seorang pendekar. Aku yakin itu," gumam
Burisrawa yang nampak masih curiga pada Sena.
Dia sebenarnya mengenal siapa
sebenarnya pemuda itu. Namun lelaki bermuka lebar dan ber- kumis tebal yang
wajahnya selalu memerah itu agak mabuk, karena terlalu banyak minum arak yang
selalu dibawanya dalam guci berukuran kecil. Hal itu membuat ingatannya agak
kabur.
"Terserah kau sajalah! Masa'
kau tidak ma- lu cari perkara dengan pemuda yang kayak begi- tu...?!" kata
Cilung yang baru selesai meneguk mi- numannya. Kemudian melirik ke Sena.
Sena nampak tenang, seakan tidak
men- dengar ucapan mereka. Dia baru saja selesai menghabiskan makanannya. Lalu
meneguk air minum. Setelah mengelap mulut dan tangannya, Pendekar Gila menghela
napas panjang.
Ketika Sena hendak meneguk minuman
la- gi, tiba-tiba sebuah benda sebesar kelereng meng- hantam tempat minum yang
terbuat dari bambu itu.
Trakkk! Sena sebenarnya sudah
memperhitungkan dan tahu kalau Burisrawa akan berbuat sesuatu padanya. Maka
Pendekar Gila pura-pura kaget dan seperti orang ketakutan. Dia menoleh ke arah
Bu- risrawa dan Cilung yang tertawa-tawa mengejek. Sena nyengir dan
menggaruk-garuk kepala.
Semua orang yang ada di situ hampir
se- muanya menoleh ke arah Sena. Ada yang mener- tawainya, tapi ada pula yang
merasa kurang se- nang dengan tingkah laku Burisrawa dan Cilung yang sok dan
tak sopan sejak mereka masuk ke rumah makan itu.
"Apa kubilang, pemuda itu tak
punya nyali. Mungkin dia anak gunung yang baru masuk ke Kutareja ini. Ha ha
ha...!" ejek Cilung yang juga mulai mabuk.
Burisrawa hanya mendengus. Rupanya
dia masih penasaran, karena merasa mengenal pemu- da yang tingkahnya nampak
aneh dan seperti orang sinting itu.
"Dugaanku pasti tak salah.
Dia, pemuda itu tak lain...," kata-kata Burisrawa terhenti, ketika melihat
seorang pemuda berpakaian serba coklat, rambut panjang dengan ikat kepala
coklat muda pula, memakai kain batik bergambar jatayu atau garuda. Di
pinggangnya terselip sebilah keris. Pe- muda itu dengan tenang melangkah masuk
mele- wati tempat Burisrawa dan Cilung.
"Hah...?!" gumam Cilung
memandang pe- muda berpakaian coklat muda itu dengan mata mendelik, "Hei!
Kau lihat pemuda berpakaian cok- lat itu. Perhatikan apa yang terselip di
pinggang- nya...!" bisiknya kemudian.
Sementara pemuda berpakaian coklat
muda sudah duduk di kursi yang ada di depan Sena. Ja- di pemuda itu
membelakangi Sena yang masih pu- ra-pura ketakutan. Namun mata Sena terus men-
gamati gerak-gerik kedua orang jahat itu sambil pula memperhatikan pemuda yang
baru datang.
"Hm, siapa pemuda ini.
Sepertinya dari go- longan lurus, mungkin seorang pendekar...," gu- mam
Sena dalam hati.
Pelayan datang menghampiri pemuda
ber- pakaian coklat muda, bermaksud untuk menawarkan makanan. Namun, tiba-tiba
saja Cilung datang mendekati dan mendorong dengan kasar dada pelayan. Tubuh
pelayan terhuyung ke bela- kang dengan muka kaget.
"Tidak tahu adat...!"
kata pelayan marah. Cilung yang mendengar jadi naik pitam. Dia berba- lik dan
langsung menghajar pelayan dengan tam- paran tangan kanannya.
"Kau sudah bosan hidup,
ya...!" bentak Ci- lung dengan mata melotot. Ketika Cilung hendak kembali
menampar pelayan yang tak berani mela- wan itu, tiba-tiba tangannya dicengkeram
oleh tangan seseorang dengan keras dan kuat. Cilung cepat berbalik sambil
menghantarkan pukulan ke arah wajah dan disusul sabetan kaki kanan ke arah
orang yang menghalanginya.
Namun dengan gerakan cepat orang
itu membalas melancarkan pukulan ke arah Cilung.
Plak! Bukkk! Dua pukulan balasan
tepat mendarat di da- da Cilung. Membuat Cilung yang menganggap re- meh
lawannya terhuyung dan menabrak beberapa orang yang ada di belakangnya. Hingga
orang- orang itu kabur. Keadaan seketika menjadi kacau. Para pengunjung mulai
panik. Sebagian kabur ke- luar dan sebagian lagi malah ingin melihat perke-
lahian itu.
"Kurang ajar...! Siapa
kau...?!" bentak Cilung sambil mendelik dan segera mendekati pe- muda
berpakaian coklat muda yang tak lain Purwadhika. Pemuda itu tahu-tahu sudah
duduk kembali di tempatnya dengan tenang dan menatap tajam pada Cilung.
Sementara itu Sena hanya
cengar-cengir dan menggaruk-garuk kepala. Burisrawa yang se- jak tadi hanya
menyaksikan Cilung dihajar Pur- wadhika, masih nampak penasaran terhadap Se-
na. Matanya terus mengamati gerak-gerik pemuda bertingkah aneh itu. Sementara
Sena sendiri su- dah merasakan kalau lelaki berwajah lebar dan be- rambut
keriting itu memperhatikannya. Sena terus berlagak seperti orang ketakutan,
lalu menjauh ke belakang dan duduk di kursi lain.
"Hai, jawab! Siapa kau Anak
Muda? Apakah kau mau mengantar nyawa padaku...?! Kurasa kau belum mengenalku,
hah?!" bentak Cilung ka- sar sambil menendang meja. "Kau tahu, tak
ada seorang pun di sini yang berani kurang ajar den- gan Cilung...! Penguasa
daerah Kutareja, Cilung atau si Setan Golok Maut!"
Mendengar nama yang disebut Cilung,
seke- tika Purwadhika teringat akan cerita kakeknya. Bahwa Cilung satu di
antara orang yang ikut membunuh ibu-ayahnya. Darah Purwadhika seke- tika itu
mendidih. Dengan perlahan dia berdiri menatap tajam Cilung yang membusungkan
dada. Namun pemuda tampan itu kemudian menghela napas panjang, kembali duduk.
Sebab, tiba-tiba dia teringat pesan kakeknya, Ki Tunggal Segara. Bahwa dia tak
boleh dendam, atau membalas den- gan membunuh orang yang telah menghabisi ke-
dua orangtuanya. Di sini hati dan jiwa Purwadhika bertarung, melawan rasa
dendam dan pesan gurunya. Lalu terngiang-ngiang di telinganya suara sang Kakek,
"Hadapi lawanmu dengan tenang, jangan menaruh dendam berlebihan. Tapi jika
orang itu ingin melukai atau membunuhmu, itu urusanmu. Kuserahkan padamu untuk
bertin- dak...." Purwadhika tersentak, ketika Cilung kem- bali membentak
sambil menendang kursi dan meja lain yang ada di kanan dan kirinya.
"Hai! Kau ini mau melawanku
atau menye- rah.... Bengong kaya ayam sakit...!" kata Cilung pongah dan
membusungkan dadanya.
"Maafkan, aku tidak bermaksud
melawan, Sobat," sahut Purwadhika tegas.
"Ha ha ha...! Kalian dengar!
Pemuda gunung ini minta maaf padaku. Ha ha ha...! Baru kali ini aku mendengar
seorang yang gagah dan tadi sem- pat menghajarku minta maaf. Ha ha ha...!"
kata Cilung sambil tertawa terbahak-bahak. Sejenak dia menghela napas kemudian
berkata lagi, "Hei! Pera- turan di sini tak ada istilah minta maaf. Ganjaran
orang yang sudah melukaiku. Mati!"
Cilung segera mencabut golok
pusaka, yang dikenal dengan Golok Maut Pencabut Nyawa.
Namun Purwadhika masih nampak
tenang. Hanya matanya menatap tajam Cilung yang sudah menggenggam golok.
Sementara itu Burisrawa masih duduk
den- gan menghadap ke arah mereka yang akan berta- rung. Sebentar-sebentar
matanya melirik ke arah Sena yang terus cengengesan sendiri sambil meng-
garuk-garuk kepala.
"Sekarang jantungmu akan
kukeluarkan,
Anak Muda! Heaaat..!" dengan
gerakan cepat Ci- lung yang tampak beringas langsung memba- batkan goloknya ke
arah kepala Purwadhika. Na- mun dengan gerakan cepat pula Purwadhika me-
nundukkan kepala, lalu disusul dengan melompat ke samping sambil membawa kursi
yang didudu- kinya. Kemudian dengan gerakan secepat kilat dan sukar ditangkap
mata biasa, pemuda itu meng- hantamkan kursi yang dipegangnya ke punggung
Cilung. Prakkk!
"Ukh...!" Cilung memekik,
lalu cepat berba- lik.
Purwadhika sudah berdiri tegak
menunggu serangan Cilung.
"Orang inilah salah satu dari
tiga orang yang membunuh kedua orangtua ku! Ingin ra- sanya aku cepat
menghabisinya. Tapi pesan Kakek Guru membuatku bimbang. Tapi...."
Belum lagi Purwadhika habis bicara
dalam hati, tiba-tiba serangan gencar dilakukan oleh Ci- lung yang semakin naik
darah. Lelaki yang sudah mulai menua itu mendesak Purwadhika. Dan pada
kesempatan yang baik, Cilung sempat merobek lengan baju Purwadhika sebelah
kiri. Ketika pe- muda itu agak lengah. Karena dia sebenarnya tak ingin ribut
atau membuat masalah dengan Cilung.
Brettt! "Huh...!"
Purwadhika hanya mendengus sambil meli- hat lengan bajunya yang sobek. Lalu
tersenyum. Dan dengan gerakan cepat yang tak bisa dilihat dengan mata biasa,
tahu-tahu Purwadhika sudah menendang tangan Cilung yang memegang golok- nya. Sehingga
golok itu terlepas. Dengan gerakan cepat sekali Purwadhika menangkap golok
Cilung sebelum menyentuh tanah. Dalam sekejap pemuda itu tahu-tahu sudah
menempelkan golok ke leher lawan. "Heh...?!"
Cilung terbelalak kaget. Wajahnya
seketika pucat pasi. Keringat membasahi wajahnya yang je- lek itu. "Aku
tak ingin membunuhmu, walaupun aku bisa. Sebaiknya kalian pergi saja....
Sebelum pikiranku berubah!" kata Purwadhika yang masih menempelkan golok
ke leher Cilung.
Para pengunjung rumah makan itu
merasa kagum dan berbisik-bisik satu sama lainnya.
"Edan! Pemuda itu ternyata
memiliki ilmu yang luar biasa!" kata seorang lelaki setengah tua sambil
bergeleng kepala.
"Ya, biar si Manusia Sombong
dan pengacau seperti Cilung cepat mati di tangan pemuda itu! Biar penduduk
tenang!" sahut temannya dengan muka sinis memandangi Cilung.
Purwadhika melempar golok Cilung ke
lan- tai, kemudian dengan tenang melangkah ke arah tempat duduknya tadi. Untuk
sesaat Cilung hanya bisa memandang Purwadhika, seakan merasa ter- kesima.
Namun, kemudian dia cepat mengambil goloknya, ketika melihat Burisrawa
melangkah sambil menggeser letak goloknya.
"Bangsat! Mulutmu keterlaluan,
Anak Muda! Perlu disobek dengan ini!" bentak Burisrawa sambil mencabut
goloknya, kemudian tanpa basa- basi lagi menyerang Purwadhika diikuti oleh Ci-
lung.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Cilung dan Burisrawa menyerang secara bersamaan dari sisi
kiri dan kanan. Purwadhika dengan ketenangannya dapat mengelak dan me- nangkis
pukulan dan sabetan golok kedua lawan- nya.
Pada kesempatan yang baik,
Purwadhika sempat mendaratkan pukulan ke dada Burisrawa dengan keras, hingga
lelaki berambut keriting itu memekik dan terhuyung. Cilung dengan cepat me-
nyerang Purwadhika yang sedikit membelakan- ginya.
"Heaaattt...! Mampus kau,
Bocah Ingusan!" teriak Cilung menderu keras di atas kepala Pur- wadhika.
Kalau saja pemuda itu terlambat sekejap, kepalanya mungkin tertebas golok
Cilung.
Purwadhika melompat ke belakang dan
mendarat di atas meja. Burisrawa yang semakin marah, menggeram dan melompat
diikuti oleh Ci- lung. Keduanya memutar-mutar golok dengan ce- pat sebelum
membabatkan dan menusuk ke arah Purwadhika.
Ketika keduanya membabat dan
menusuk- kan golok masing-masing ke arah kepala dan perut lawan, Purwadhika
memapaki dengan pukulan te- lapak tangan kanan, menggunakan 'Ajian Tapak
Sakti'.
Glarrr! Terjadi ledakan akibat
pukulan 'Tapak Sak- ti' Purwadhika yang mengandung hawa panas ba- gai api,
menghantam lawannya. Burisrawa dan Ci- lung terpental empat tombak ke belakang,
lalu ja- tuh membentur meja dan kursi.
Brakk! Sementara Pendekar Gila
menyaksikan dengan tersenyum-senyum di antara orang-orang yang masih ada di
rumah makan itu. Purwadhika yang sebenarnya ingin membunuh Cilung, kembali
mengurungkan niatnya, karena teringat pesan sang Guru. Maka dengan melangkah
tegap dan tanpa bicara apa-apa lagi, pemuda itu keluar sete- lah membayar
dengan kepingan uang pada pemilik rumah makan.
Sena segera melesat keluar pula
dari rumah makan itu. Sementara Cilung dan Burisrawa su- dah kembali berdiri.
Dan ketika melihat Purwadhi- ka tidak ada di ruangan itu, keduanya segera me-
lesat ke luar. Muka keduanya tampak mengelua- rkan darah. Sedangkan di dada
mereka membekas telapak tangan berwarna merah kehitaman.
Purwadhika belum jauh dari rumah
makan itu. Sementara Pendekar Gila sengaja menguntit- nya dari jarak agak jauh
dengan sesekali merapat ke rumah penduduk.
"Hei Anak Muda,
berhenti...!" bentak Cilung dengan marah.
Purwadhika menghentikan langkahnya
dan membalik badan. Matanya menatap tajam ke arah Cilung dan Burisrawa yang
mulai nampak pucat akibat pukulan 'Tapak Sakti' Purwadhika.
"Ada apa lagi, Sobat..?"
tanya Purwadhika kalem. "Kau harus menerima kematian hari ini...! Kau
telah mencoreng mukaku di depan orang ba- nyak. Rasakan ini!"
Selesai berkata begitu, Cilung dan
Burisra- wa melompat ke udara dan bersalto dua kali, ke- mudian ketika sampai
di atas Purwadhika, kedua- nya membabatkan golok ke kepala pemuda itu.
Wuttt, wuttt! Namun Purwadhika yang
sudah dapat membaca serangan lawan, dengan mudah dapat mengelakkan. Purwadhika
menjatuhkan tubuh bergulingan di tanah, lalu berdiri kembali dengan cepat
Begitu Cilung dan Burisrawa
mendarat, Purwadhika melakukan gerakan membuka jurus 'Tapak Sakti'.
Cilung dan Burisrawa tak peduli,
keduanya menyerang kembali dengan serentak. Cilung me- lompat-lompat seperti
rusa sambil mempermain- kan goloknya, sedangkan Burisrawa memutar tu- buhnya
cepat bagai gangsing. Itulah ilmu ‘Angin Puyuh Pembawa Kematian’ dan 'Rusa
Iblis'.
"Hah...?!" gumam
Purwadhika yang sempat kaget menyaksikan ilmu kedua lawannya.
Melihat begitu cepatnya serangan
kedua to- koh hitam itu Purwadhika sempat terganggu piki- rannya, karena merasa
terkesima. Belum sempat pemuda itu mengerahkan 'Ajian Tapak Sakti'-nya
tiba-tiba saja....
"Akh...!" Purwadhika
menjerit keras. Rupanya golok Cilung dan Burisrawa sempat menggores kaki ki-
rinya dan dadanya. Untung pemuda itu masih sempat mengelak, kalau tidak
perutnya sudah ter- tusuk golok Burisrawa. Dengan secepat kilat Pur- wadhika
melenting ke atas melewati kepala kedua orang lawannya.
Burisrawa dan Cilung membalikkan
badan dan kembali menyerang lawan yang kaki kirinya sudah terluka. Namun
Purwadhika seperti tak me- rasakan rasa sakit sedikit pun.
"Heaaa...!"
"Kucincang kau, Bocah...!" bentak Cilung dengan membabatkan goloknya
dibarengi tusukan golok Burisrawa. Kini mereka tidak hanya meng- gunakan
senjata, tapi kedua kaki yang terkadang menendang ke arah muka dan menyabet
kaki Purwadhika.
Namun Purwadhika dengan lincah
meliuk- liuk mengelakkan serangan dahsyat kedua lawan- nya. Hingga pada suatu
kesempatan, Purwadhika yang sudah tak sabar lagi, kembali menghantar- kan
pukulan telak ke arah rusuk Cilung. Sedang- kan kaki kirinya menendang keras ke
punggung Burisrawa.
Bug! Bluk! "Aaakh...!"
Burisrawa dan Cilung memekik keras. Tu- buh mereka terhuyung-huyung dan jatuh
ke ta- nah. Namun keduanya segera bangkit berdiri dan kembali melancarkan
penyerangan. Sementara itu, entah kenapa tiba-tiba Purwadhika berdiri dalam
keadaan goyah dan gemetaran. Ternyata goresan golok Cilung yang sempat melukai
kaki kirinya mengandung racun bisa ular kobra. Pemuda itu mulai limbung dengan
tangan memegangi kepala seperti merasa pusing.
Melihat keadaan itu Sena terkejut.
Semen- tara Burisrawa dan Cilung sudah mulai bergerak hendak menghabisi
Purwadhika yang tengah sem- poyongan. Namun, ketika keduanya melompat sambil
berteriak hendak mengayunkan golok, se- cepat kilat Pendekar Gila melesat
menghajar Ci- lung dan Burisrawa dengan tamparan serta ten- dangan kaki
kanannya yang keras.
Plakkk! Bug! Bug!
"Aaaakh...!" Kontan Cilung dan Burisrawa terpental dan ambruk di
tanah. Secepat itu pula Pendekar Gila menyambar tubuh Purwadhika, lalu
membawanya kabur. Sekejap Sena sudah tak kelihatan.
Sementara itu, Cilung dan Burisrawa
baru bergerak bangun.
"Bangsat...! Siapa yang menolong
pemuda itu...?!" sungut Cilung dengan geram, lalu memba- cokkan goloknya
ke tanah.
"Edan, pinggangku hampir
patah! Pasti pe- nolong pemuda itu, orang yang kucurigai sejak ta- di...!"
Sejenak Burisrawa menyapukan
pandangan matanya ke sekitar tempat itu. Diperhatikannya rumah-rumah penduduk,
barangkali pemuda itu masih berada tak jauh. Ternyata tidak ada. Hanya
orang-orang yang tampak menyaksikan dengan ra- sa takut dari kejauhan.
"Ada apa kau,
Burisrawa...?!" tanya Cilung. "Sudah kuduga, dia pasti Pendekar
Gila...!" seru Burisrawa penuh keyakinan.
"Hah...?!" Cilung nampak
terkejut. "Apa kau tidak mabuk...?!" tanya Cilung masih dalam keter-
kejutannya mendengar Burisrawa menyebut nama Pendekar Gila.
"Aku yakin. Hanya dialah yang
bisa berbuat seperti tadi.... Dan pakaian rompi kulit ular, serta tingkahnya
itu yang kuingat," jawab Burisrawa dengan bergetar suaranya.
"Celaka! Kita akan mendapat
kesulitan...! Sebaiknya kita cepat pergi dari sini!" ujar Cilung, lalu
segera dia melangkah sambil memegangi ru- suknya. Orang-orang yang menyaksikan
dari depan rumah makan tersenyum-senyum sinis melihat kedua orang itu ngeluyur
pergi.
4
Sena baru saja menyembuhkan luka
dan mengeluarkan racun yang menjalar di tubuh Purwadhika. Murid Ki Tunggul
Segara itu tampak lemas. Wajahnya yang pucat, basah oleh keringat dingin.
"Makanlah ini! Mudah-mudahan kau akan kembali sehat dan sembuh," kata
Sena sambil mengulurkan tangan memberi obat pada Purwad- hika.
Purwadhika mengambil obat dari
tangan Sena dan segera memakannya. Mata pemuda itu sedikit tertutup, kepalanya
bersandar di batang pohon yang rindang.
Sena berdiri meninggalkan
Purwadhika yang tertidur lemas di bawah pohon. Dia ingin membiarkan pemuda itu,
agar pulih kesehatannya. Tak beberapa lama kemudian, Purwadhika sudah mulai
nampak segar. Wajahnya mulai me- rah dialiri darah. Perlahan dia membuka kedua
matanya. Pemuda itu tampak kaget dan segera berdiri. Lalu memeriksa keris
pusakanya. Dia me- rasa lega, ketika melihat keris itu masih terselip di
pinggangnya.
"Mengapa diriku ada di
sini...? Siapa tadi yang membawaku ke tempat sunyi ini. Bukankah tadi
aku...," belum sempat Purwadhika melan- jutkan kata-katanya, tiba-tiba....
Kresekkk! Terdengar langkah
seseorang dari balik se- mak-semak.
Purwadhika segera bersiap untuk
mengha- dapi segala kemungkinan. Dari arah suara tadi muncul Sena. Sambil
tersenyum cengengesan dan menggaruk-garuk kepala, dia melangkah dengan tenang
menatap Purwadhika.
Purwadhika mengerutkan kening,
meman- dangi Sena dari atas ke bawah. Pandangannya terhenti pada sebuah benda
yang terselip di pinggang Sena. Kening pemuda itu semakin berkerut, seakan
tengah mengingat-ingat pesan gurunya yang pernah menyebut nama seorang
pendekar.
"Aha, rupanya kau sudah segar
kembali, Sobat. Aku senang melihatmu sehat kembali.... Ternyata Hyang Widhi
masih memberikan mukji- zat pada obat itu...," kata Sena dengan cengar-
cengir dan menggaruk-garuk kepala, bertingkah konyol seperti orang gila.
Purwadhika terus mengingat-ingat
dan me- mandangi tingkah Sena.
"Ah ah ah..., kenapa kau
menatapku begi- tu? Apa ada yang aneh...?" tanya Sena sambil ter- tawa dan
menepuk-nepuk pantatnya sendiri.
"Ya, ya... aku ingat... kau...
kau kalau tak salah, Sena...," Purwadhika mengingat-ingat sam- bil
memegang keningnya. "Se... Sena Manggala... atau Pendekar Gila...!"
lanjut Purwadhika dengan wajah berseri lalu menjura.
"Aha...?! Kau ini ngaco,
Sobat. Apa orang sepertiku ini pantas jadi pendekar.... Siapa kau
sebenarnya?" Sena balik bertanya.
Sesaat kedua pemuda gagah itu
saling pan- dang. Sena tersenyum cengengesan sambil meng- garuk-garuk kepala.
Purwadhika kembali menjura. Lalu
berkata dengan tegas.
"Aku Purwadhika, cucu Ki
Tunggul Sega- ra...."
Mendengar nama Ki Tunggul Segara,
Sena mengerutkan kening. Matanya menatap tajam Purwadhika, seperti menyelidik.
Namun kemudian tertawa-tawa kecil.
"Cucu Ki Tunggul
Segara...?" ulang Sena perlahan, "He he he..., benarkah Ki Tunggul
Segara mempunyai cucu sepertimu.... Tapi, sudahlah aku mau pergi...."
"Tunggu Sobat...!" cegah
Purwadhika, lalu mencabut Keris Pusaka Naga Sakti dari pinggang- nya.
"Inilah tanda kebenaran bahwa aku cucu Ka- kek Guru Ki Tunggul Segara yang
berjuluk Pende- kar Bijaksana itu...."
Purwadhika mengulurkan kedua
tangannya yang memegang keris pusaka itu ke arah Sena.
Sena mengerutkan kening, seketika
wajah- nya berubah tegang. Sebab, mendadak dia teringat pada kedua orangtuanya
yang mati terbunuh, oleh Segoro Wedi. (Tentang Segoro Wedi, silakan baca serial
Pendekar Gila pada episode: "Suling Naga Sakti"). Karena jika Keris
Pusaka Naga Sakti sem- pat diterima ayahnya dari Ki Aji Sena, Kakek Sena,
kemungkinan Citra Yudha ayah Sena tak akan ka- lah atau mati ditangan Segoro
Wedi.
Sejenak Sena menghela napas dalam-
dalam. Matanya masih menatap keris itu. Purwad- hika tahu kalau Sena sedang
melamun, mengingat nasib kedua orangtuanya.
"Maafkan aku, Sobat. Tentunya
kau telah yakin bahwa aku tidak mendustaimu...," ucap Purwadhika pelan.
"Bagaimana kabar kakekmu?"
tanya Sena tiba-tiba.
"Beliau baik-baik saja. Kakek
Guru telah menceritakan semuanya padaku tentang keris ini, juga tentang dirimu,
Sobat. Aku sangat bersyukur pada Hyang Widhi, bisa bertemu denganmu. Aku juga
sangat berterima kasih, kau telah menyela- matkanku dari orang-orang serakah
dan murka itu...," kata Purwadhika polos.
"Simpanlah keris itu
baik-baik! Kau ten- tunya tahu, bahwa keris itu sedang dicari dan di-
perebutkan para tokoh hitam. Termasuk kedua orang yang bertarung denganmu tadi.
Tujuanku datang kemari memang untuk menyelamatkan ke- ris itu. Dan kini hatiku
pun merasa lega, karena keris itu ada di tanganmu. Tapi kita harus tetap
waspada. Karena saat ini mereka sedang mencari di mana keris itu
berada...," kata Sena menje- laskan pada Purwadhika.
"Aku pun telah mengetahui dari
kakekku. Lantas apa upaya kita agar keris ini aman?" tanya Purwadhika.
Sena menghela napas sejenak, lalu
mengga- ruk-garuk kepala sebentar.
"Tentu kau dan aku sudah
dikenal oleh to- koh-tokoh yang ingin merebut Keris Pusaka Naga Sakti itu. Dan
tentunya, kedua orang yang hendak membunuhmu di Kutareja itu kelompok mere-
ka...," tutur Sena kemudian.
"Benar. Karena salah satu dari
orang yang bentrok denganku itu adalah pembunuh ayah ibu- ku," jawab
Purwadhika menjelaskan.
Sena tersentak mendengar penuturan
Pur- wadhika. Ditatapnya wajah Purwadhika yang mendadak berubah sedih dengan
kepala mendon- gak ke atas. Sena merasa iba mendengarnya.
Sejenak mereka sama-sama diam tak
berka- ta sepatah kata pun. Pendekar Gila mondar- mandir sambil menundukkan
kepala, mencari ja- lan agar bisa leluasa bergerak untuk menyelidiki
orang-orang yang memperebutkan keris pusaka itu.
"Aha, aku mendapat akal!"
seru Sena tiba- tiba.
"Bagaimana?" tanya
Purwadhika tak sabar. "Kita harus menyamar sebagai peminta- minta. Aku
berpura-pura buta dan sakit-sakitan. Dan kau menuntunku ke mana tempat yang
kita curigai," kata Sena diiringi senyum.
"Boleh juga, tapi bagaimana
kita bisa seperti orang susah...?" tanya Purwadhika mulai tertarik.
"Tenang saja. Kita hidup harus
pandai ber- sandiwara dan berpura-pura. Kalau tidak, bisa te- rinjak-injak oleh
mereka-mereka yang berkuasa serta rakus akan harta dan kekuasaan," tutur
Se- na pada Purwadhika.
"Aku sependapat denganmu Kak
Sena. Aku banyak dengar dari Kakek Guru, bahwa rimba persilatan pun tak luput
dengan adanya orang- orang serakah dan durjana. Tak terkecuali tokoh- tokoh
aliran lurus dan yang beriman lemah, bisa bersekutu dengan mereka yang
beraliran sesat. Ya demi kepentingan diri sendiri...."
Sejenak Purwadhika menghela napas
pela- han. "...seperti orang-orang kepercayaan ayahku, yang akhirnya
berkhianat bahkan tega membu- nuhnya dengan keji. Hanya karena ingin mengua-
sai keris pusaka ini.... Padahal ayahku waktu itu tidak menyimpannya.
Kakekkulah sebenarnya yang menyimpan keris ini, hingga beliau juga me- rasa
bersalah dan bertanggung jawab atas kema- tian kedua orangtua ku. Kakek pun
rela mati jika memang orang-orang itu mengetahui bahwa kakek yang menyimpan
keris pusaka ini, sebelum dis- erahkan padaku...," tutur Purwadhika lebih
lanjut.
"Tapi, keris itu kini kan
sudah berada di tanganmu...," sahut Sena.
"Ya, tapi aku khawatir dan
merasakan orang-orang itu telah tahu kalau Keris Naga Sakti ada di
kakekku," kata Purwadhika.
"Bagaimana kau bisa mempunyai
perasaan itu...?" tanya Sena coba memancing emosi Pur- wadhika. Sebenarnya
Pendekar Gila pun sudah merasakan hal yang sama dengan Purwadhika.
"Karena Cilung, salah satu
pembunuh ke- dua orangtua ku itu. Orang yang bentrok dengan- ku di rumah makan
tadi nampaknya akan mencari atau dalam perjalanan ke tempat kakekku...,"
ja- wab Purwadhika tegas.
Pendekar Gila tersenyum cengengesan
dan menggaruk-garuk kepala. Lalu berkata,
"Kau benar. Aku pun tadi
mendengar oce- han mereka di rumah makan tadi. Dia memang sedang mencari keris
yang kau sandang itu. Nah, sekarang kita harus atur siasat..."
"Siasat!" ulang Purwadhika
sambil menge- rutkan kening.
"Ya. Aku akan menyamar dan
tetap dengan seperti ini...," ucap Sena, lalu membisikkan sesua- tu pada
Purwadhika,
Purwadhika mengerutkan kening,
kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda setuju. Kedua pemuda gagah
dan tampan itu berja- bat tangan erat, menandakan persahabatan yang kuat dan
sehati mulai terpadu.
"Benar, kata Kakek Guru, bahwa
kau pen- dekar sejati dan berbudi luhur, Kak Sena...," suara Purwadhika
yang polos dan tegas itu hanya mem- buat Sena cengar-cengir dan berkata,
"Kau jangan terlalu berlebihan
memujiku. Aku sama denganmu. Kau juga akan menjadi pen- dekar yang disegani,
asalkan mau menjalankan ajaran kakekmu dengan benar...," kata Sena lalu
menepuk pundak Purwadhika.
Setelah itu Pendekar Gila melesat
pergi, se- raya berkata lagi, "Jalankan pesanku dengan baik! Kita harus
menjebak mereka...!"
Sekejap Sena menghilang dari
pandangan. Purwadhika menghela napas lega. Wajahnya nam- pak cerah.
***
Sementara itu Cilung dan Burisrawa
men- jadi semakin buas dan ngawur, karena kegagalan- nya mencari Purwadhika dan
Sena. Keduanya jadi tak terkendali, membunuh dan merusak rumah- rumah orang
yang dilewati. Mereka keluar masuk hutan dan naik turun bukit, hanya untuk
mencari Purwadhika dan orang yang menolongnya.
"Kita sebaiknya kembali pada
rencana kita. Menuju tempat persembunyian si Kakek Tua
Tunggul Segara.... Kalau tidak kita
akan mendapat marah Sadiro dan Sindang Manik," kata Burisrawa kesal.
"Aaah, persetan! Aku belum
puas, sebelum dapat membunuh pemuda itu dan Pendekar Gila!" jawab Cilung
geram.
"Kau jangan gegabah, Cilung!
Kau pikir Pendekar Gila dapat mudah ditemukan dan kau kalahkan?! Kau bisa
celaka sendiri." Sindang Ma- nik, Empat Jin Botak dari Selatan, Sadiro,
atau Wesi Geni pun tak akan mampu menandingi Pen- dekar Gila seorang
diri!" sahut Burisrawa semakin kesal dan mulai muak dengan kawannya itu.
Maka terjadilah perdebatan sengit
antara mereka. Dan semakin keras ucapan-ucapan yang dilontarkan. Bahkan
akhirnya terjadilah bentrokan fisik antara mereka.
"Hhh... kau memang manusia
pengecut, Burisrawa! Heaaatt!"
Cilung yang sudah tak bisa menahan
emosi langsung menyabetkan goloknya ke tubuh Buri- srawa. Namun Burisrawa
menangkis dengan go- loknya pula.
Trang, trang, trang!
"Heaaa...!" Burisrawa mencecar dengan permainan go- loknya yang
cepat, tak memberikan kesempatan pada Cilung untuk melakukan serangan balik.
"Kau Manusia Bodoh, Cilung!
Aku tak mau mati konyol...!" seru Burisrawa sambil memba- batkan goloknya
ke kepala Cilung. Golok itu mele- sat begitu cepat hingga membuat rambut Cilung
rontok. "Hah...!"
Cilung tersentak kaget. Sementara
Burisra- wa agak terhuyung karena keseimbangan kakinya tak sempurna. Maka
dengan cepat Cilung menen- dang Burisrawa. Bug, bug! "Akh...!"
Burisrawa memekik keras ketika tubuhnya tersuruk ke tanah. Cilung tertawa puas,
lalu me- lompat hendak menghabisi Burisrawa yang menu- rutnya tak bisa
dipercaya lagi.
"Kau harus dihabisi!"
gumam Cilung geram sambil melangkah mendekati Burisrawa yang ma- sih tengkurap.
Cilung mengangkat tangan kanan- nya yang menggenggam golok, mau menebas tu- buh
Burisrawa. Namun tiba-tiba....
"Tunggu...!" Terdengar
suara seseorang berseru, mem- buat Cilung kaget dan cepat membalikkan badan.
Sementara itu Burisrawa mulai bangun.
"Kau...!" bentak Cilung
dengan mata mem- belalak lebar
"Kenapa kau? Kaget
melihatku...?!" sahut seorang pemuda yang ternyata Purwadhika. "Bu-
kankah kau mencariku?"
"Bukan hanya mencari. Aku
ingin membu- nuhmu...!" sahut Cilung geram, lalu membuka ju- rus.
"Kau memang pembunuh licik,
Cilung...!" tukas Purwadhika dengan tegas, sambil menyi- pitkan kedua mata,
seakan menahan dendam di dalam hatinya.
"Hah?!" gumam Cilung
lirih. Wajahnya be- rubah kaget, begitu mendengar namanya disebut Purwadhika.
"Dari mana kau tahu namaku...?!"
Sementara itu Burisrawa tersenyum
sinis pada Cilung. Kemudian berkata sambil mendekati lawannya itu yang mulai
gusar.
"Kenapa kau gugup, Sobat?
Pemuda itu mengenalimu. Tentunya... pemuda itu sudah lama mengenalmu...,"
ujar Burisrawa menyindir.
"Mengenali orang semacam kau
tak sulit, Cilung! Walaupun kini kau mulai menua," pancing Purwadhika yang
sebenarnya belum pernah ber- temu dengan Cilung. Purwadhika hanya ingin
mendapat kepastian bahwa Cilung memang salah satu pembunuh kedua orangtuanya.
"Siapa kau
sebenarnya...?!" bentak Cilung. Purwadhika tak langsung menjawab. Dia
tampak berpikir sejenak, mencari siasat.
"Apakah namaku sangat berarti
buatmu? Sebaiknya kau tanyakan pada sahabatmu Mandra dan Sadiro!"
Suara Purwadhika penuh penekanan
pada waktu menyebut nama Mandra dan Sadiro. Mem- buat Cilung bukan main
kagetnya. Kegugupannya semakin nampak jelas. Sejenak dia menoleh ke arah
Burisrawa yang tersenyum mengejek. Lalu kembali menatap Purwadhika dengan
perasaan cemas, tegang bercampur heran.
"Kau... kau kenal juga dengan
Sadiro dan Mandra.... Di mana, kapan kau mengenai kedua sahabatku itu?!"
tanya Cilung coba membentak Purwadhika.
Purwadhika semakin yakin, bahwa
Cilung merupakan salah satu pembunuh kedua orangtu- anya. Matanya menatap tajam
Cilung. Sementara dadanya berdetak cepat, menahan rasa dendam yang mulai
membara. Namun dicobanya untuk melawan perasaan itu, karena tiba-tiba kembali
te- ringat akan pesan kakeknya.
"Mestikah aku biarkan manusia
licik ini te- tap hidup? Apakah aku bisa membiarkan orang seperti Cilung bebas
berbuat semaunya terhadap orang lain, seperti yang dia lakukan pada ayah dan
ibuku?" begitu pertanyaan di dalam benak Pur- wadhika.
"Tak perlu aku menjawab
pertanyaanmu, yang jelas kaulah orang yang kucari. Dan kau per- lu sadar.
Tinggalkan sifat murka dan serakahmu, jika kau ingin hidup damai di hari
tuamu...," kata Purwadhika setelah dapat menguasai diri dan me- nekan
perasaan dendam kesumatnya terhadap Ci- lung.
"Ha ha ha...! Pemuda ini lucu.
Rupanya kau ini seorang pendeta yang suka berkotbah! Hei, Anak Muda, sebaiknya
kau jadi pendeta saja atau kyai. Sebelum ajalmu tiba. Aku muak dengan oce-
hanmu. Heaaa...!"
Cilung langsung menyerang
Purwadhika dengan beringas dan penuh amarah. Sedangkan Burisrawa hanya menonton
saja pertarungan itu. Dengan pandangan sinis pada Cilung.
Sebentar saja Cilung mulai terkuras
tena- ganya, karena Purwadhika yang masih muda terus sengaja melakukan hal itu.
"Sebaiknya kau panggil Sadiro
dan Mandra untuk membantumu...!" seru Purwadhika menge- jek, menggugah
kemarahan Cilung.
"Bangsat! Kurang ajar...!
Mampus kau! Huh!"
Cilung membabatkan goloknya ke arah
kaki lawan. Namun sambil melompat Purwadhika me- lakukan tendangan berputar,
tepat mengenai mu- ka Cilung.
Hingga tubuh Cilung melintir dan
ter- huyung ke samping. Nampak lelaki setengah tua itu merasakan tendangan
Purwadhika yang keras, membuat kepalanya pening.
"Hem...! Anak muda ini tidak
boleh diang- gap remeh," gumam Cilung dalam hati.
Lalu Cilung membuka jurus
pamungkas- nya, 'Golok Maut Pencabut Nyawa'. Diputar den- gan cepat goloknya,
hingga nampak seperti baling- baling, menimbulkan suara menderu keras. Angin
kencang pun seketika bertiup. Cilung melompat- lompat seperti rusa, disusul
dengan lompatan salto di udara, kemudian menukik sambil memba- batkan goloknya
ke kepala lawan.
Purwadhika tersentak kaget, melihat
begitu cepat serangan Cilung, tahu-tahu sudah berada di atas kepalanya. Maka
dengan cepat Purwadhika mencabut Keris Pusaka Naga Sakti.
Mendadak Cilung terpekik dan
mengurung- kan serangan susulan. Hawa panas bagai api men- jalar begitu Keris
Naga Sakti keluar dari warang- kanya.
Burisrawa pun tersentak kaget bukan
main. Segera dia bersiap dan mencabut golok, kemudian bersatu dengan Cilung
untuk merampas Keris Na- ga Sakti yang ada di genggaman tangan kanan
Purwadhika.
"Ha ha ha...! Kenapa kalian
berdua melon- go...?! Bukankah keris ini yang ingin kalian cari!
Ambillah...!" kata Purwadhika dengan suara meng- gelegar. Dari keris itu
memancar cahaya yang me- nyilaukan Cilung dan Burisrawa. Membuat kedua orang
aliran hitam itu bagai buta tak bisa melihat apa-apa.
"Aaakh... aku tak dapat
melihat... Oooh jan- gan arahkan keris itu padaku! Aaakh...!" pinta Ci-
lung sambil menutup mata dengan tangannya.
"Kenapa kau?! Inilah keris
yang membuat kau membunuh kedua suami-istri bekas atasan- mu delapan belas
tahun yang silam...!" suara Pur- wadhika terdengar tegas dan menggelegar.
Cilung jadi semakin kaget. Dadanya
naik turun dengan cepat karena menahan rasa cemas dan takut
"Siapakah pemuda itu?
Mungkinkah dia anak Ramapati?! Celaka!" gumam Cilung lirih.
Burisrawa yang melihat temannya
cemas dan ketakutan, jadi keheranan. Mulai timbullah pikiran jahatnya. Karena
ujung keris itu diarahkan ke Cilung, maka sinar perak yang menyilaukan dan
mengandung hawa panas itu tidak terasa pa- nas bagi tubuh Burisrawa. Maka niat
untuk men- guasai keris itu menjadikan Burisrawa tak segan-segan membunuh
Cilung yang masih dalam kea- daan menutup kedua mata dengan lengannya.
"Kesempatan ini tak akan
kusia-siakan. Ka- lau dia mati, hanya akulah yang mengetahui di mana keris itu
berada.... Dan aku akan melapor bahwa Cilung mati oleh Pendekar Gila...!"
gumam Burisrawa dalam hati.
Maka dengan gerakan cepat Burisrawa
membabatkan goloknya, menebas kepala Cilung.
Crasss! Seketika Cilung mati tak
mengeluarkan su- ara lagi. Kepala Cilung putus menggelinding di tanah.
Burisrawa nampak senang dan kemudian ka- bur. Meninggalkan Purwadhika.
Purwadhika yang tak menduga sama
sekali akan hal itu hanya bisa terkesiap. Setelah beberapa saat baru dia
melesat coba mengejar Burisrawa, namun lelaki berambut keriting itu sudah tak
kelihatan. "Edan! Kenapa jadi begini. Celaka! Pasti Bu- risrawa
memberitahu Sadiro dan kelompoknya...!" gumam Purwadhika sedikit gusar.
Didekatinya mayat Cilung, wajahnya
nampak penuh penyesalan.
"Guru, bukan aku yang membunuh
orang ini.... Hyang Widhi ampuni orang ini...!" gumam Purwadhika dengan
tulus. Lalu dia meninggalkan tempat itu.
5
Purwadhika berusaha mencari
Pendekar Gi- la untuk memberitahu, bahwa rencana harus be- rubah. Karena Cilung
mati di tangan Burisrawa yang telah mengetahui Keris Naga Sakti ada pa- danya.
"Aku harus cepat menemui Kak Sena. Kalau tidak, rencana itu bisa berantakan...,"
gumamnya sambil terus berlari menuruni perbukitan.
Ketika Purwadhika sampai di suatu
dataran berbatu yang dikelilingi pepohonan tiba-tiba ter- dengar langkah derap
kaki kuda dari arah utara. Pemuda itu segera melompat dan bersembunyi di balik batu
besar.
Derap kaki kuda semakin dekat.
Purwadhi- ka coba mengintip dari balik batu itu, ketika empat orang berkuda
melintas di depannya.
Empat orang berkepala botak dengan
pakaian serba kuning kemerahan berlengan pendek. Baju mereka yang panjang dibiarkan
terbuka begitu saja. Hingga dadanya yang berbulu nampak jelas. Wajah mereka
seperti kembar.
"Siapakah mereka?! Mungkin
mereka kelompok Sadiro?" bertanya-tanya Purwadhika dalam benaknya.
Purwadhika tak segera beranjak dari
tempatnya, dia nampak berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba melesat ke arah yang
sama, ke selatan, seperti arah keempat lelaki botak tadi.
Sementara itu tanpa sepengetahuan
Purwadhika, muncul lelaki bertutup muka hitam. Ke- palanya juga tertutup rapat
kain hitam, sehingga hanya matanya yang tersisa. Pakaian yang dikena- kan pan
serba hitam
Sebuah benda terselip di
pinggangnya, tak begitu jelas, karena tergenggam telapak tangan. Rambutnya yang
panjang agak ikal dibiarkan lepas begitu saja, hingga nampak angker. Tubuhnya yang
tegap berdiri di atas sebuah batu. Meman- dangi Purwadhika yang berlari
mengikuti keempat lelaki botak berkuda tadi.
"Huh?!" dengus lelaki
dengan tutup muka hitam itu. Lalu lelaki misterius itu melesat pula ke arah
Purwadhika pergi. Begitu ringannya gerakan yang dilakukan lelaki berpakaian
serba hitam. Lin- cah dan gesit, menandakan bahwa dirinya, memi- liki ilmu
peringan tubuh yang tinggi. Bagai terbang lelaki misterius berpakaian serba
hitam itu. Dalam sekejap sudah melesat jauh sekali.
Dari balik lembah, muncul keempat
lelaki botak berkuda, lalu menuruni lembah itu. Mereka memacu kuda dengan
cepat, walaupun jalan yang dilalui sangat terjal, berbatu-batu dan menurun.
Tak lama kemudian mereka telah
memasuki sebuah kawasan hutan jati. Dalam jarak yang agak jauh, sesosok
bayangan berkelebat mengikuti mereka, berlari ke arah yang dituju kuda-kuda
itu. Rupanya Purwadhika. Pada saat yang bersamaan, sosok berpakaian dan
berkedok serba hitam itu melompat-lompat di atas pohon, dari pohon yang satu ke
pohon yang lain. Begitu seterusnya, bagai seekor kera melompat dengan gerakan
ringan dan cepat. Bahkan kini telah meninggalkan Purwadhi- ka.
Sampai di suatu tempat, keempat
kuda yang ditumpangi empat lelaki botak dari selatan itu tiba-tiba berhenti dan
berbalik arah. Keempat- nya terjajar seperti menghadang seseorang. Ru- panya
mereka merasa bahwa ada yang mengiku- tinya. Keempat lelaki berkuda itu tak
lain Empat Jin Botak dari Selatan.
"Hemm...!" salah seorang
mendengus. Ma- tanya menatap ke depan. Begitu juga yang lain.
"Ke mana tikus itu...?!"
gumam Jin Sudra dengan suara berat
"Aneh, begitu cepat dia
menghilang," sahut Jin Soka. Kemudian matanya melihat ke atas po-
hon-pohon jati yang ditumbuhi ranting dan de- daunan cukup subur dan lebat. Tak
terlihat tanda- tanda kalau ada orang. Juga di sekeliling hutan itu.
Kemudian keempatnya membalikkan
lagi arah kuda mereka menuju selatan. Namun kali ini mereka berpencar, terbagi
dua dengan jarak lima belas tombak dua di kiri dan dua di kanan.
Ketika mereka baru keluar dari
hutan jati, sesosok bayangan melayang di udara. Setelah ber- salto beberapa
kali sosok itu mendarat dengan rin- gan di atas sebuah gundukan tanah yang
seperti bukit berbatu.
Empat Jin Botak dari Selatan
seketika menghentikan kuda mereka. Keempatnya saling pandang dengan sikap
waspada.
"Hei, Kisanak...! Siapa kau
dan untuk apa mengikuti kami?" tanya Jin Sudra pada sosok ber- pakaian
serba hitam dengan muka tertutup rapat itu.
"Aha...! Kau salah menduga,
Sobat. Aku tak pernah menguntit orang. Sebelum kalian ada di sini, aku telah
seharian di sini," jawab orang tertu- tup wajah kain hitam itu coba
berbohong.
Pada saat itu di belakang Empat Jin
Botak dari Selatan yang masih duduk di atas kuda mas- ing-masing, kejauhan
nampak seorang sedang mengendap-endap. Kemudian melompat bersem- bunyi di balik
batu.
"Kisanak, sekali lagi jawab
yang jujur siapa kau...!" kembali Jin Sudra bertanya, kali ini nada
suaranya mulai keras.
"Aha, rupanya kau cepat naik
darah, Sobat. Baiklah, panggil saja aku Manusia Bayangan! Puas...?!" dari
suaranya, jelas orang berpakaian serba hitam itu adalah laki-laki.
"Manusia Bayangan...?! Huh!
Tepat sekali. Tapi apa maksudmu menghalangi kami? Cepat jawab, sebelum
kesabaranku hilang!" bentak Jin Ko- bra yang paling galak, dengan mata
mendelik.
Pada saat itu orang yang
bersembunyi di balik batu besar berjarak sepuluh tombak dari me- reka, muncul
dan ternyata Purwadhika. Pemuda itu menyandarkan kepala di batu sambil mengerutkan
kening.
"Mungkinkah orang berpakaian
serba hitam itu Kakang...."
Purwadhika tak meneruskan
kata-katanya. Dia hanya tersenyum lebar dan kembali menghadap ke arah keempat
lelaki botak yang sedang berhadapan dengan Manusia Bayangan.
"Kalian ini mau ke mana, memasuki
daerah ku! Sebaiknya kalian kembali saja. Kalau kalian ingin selamat...,"
kata Manusia Bayangan dengan nada mengejek.
"Kurang ajar! Kau kira kami
ini anak kecil kau gertak begitu! Kau memang perlu diberi pela- jaran Manusia
Bayangan...!" bentak Jin Kobra yang paling cepat marah itu, seraya menghu-
nuskan pedangnya.
"Aha... sabar, Sobat. Kalian
tentunya se- dang mencari sesuatu yang sangat berharga. Dan aku yakin kalian
juga seperti para tokoh-tokoh persilatan lain, ingin menguasai sebuah benda pu-
saka yang saat itu sedang diperebutkan mereka...!" tutur orang yang
menamakan dirinya Manusia Bayangan dengan nada menyindir.
Empat Jin Botak dari Selatan saling
pan- dang dan mendengus.
"Hei, Manusia Bayangan! Cepat
kau bicara jujur! Apa kau tahu di mana sebenarnya pusaka itu saat
ini...?!" tanya Jin Soka sambil mende- katkan kudanya ke arah Manusia
Bayangan yang tetap tenang dan berdiri tegap di atas gundukan tanah berbatu
itu.
"Ha ha ha...! Apakah kalian
ini sejak tadi ti- dak merasakannya? Bukankah kalian orang-orang yang berilmu
tinggi?" ejek orang yang mengaku di- rinya Manusia Bayangan.
"Hei, jangan bertele-tele,
cepat katakan apa maksudmu mengejek kami...!" bentak Jin Kobra lagi.
Sementara itu Purwadhika terus
menge- rutkan kening, mendengar ucapan sosok berpa- kaian serba hitam itu.
"Apa maksud ucapan Ma- nusia Bayangan itu? Jangan-jangan aku yang di-
maksud...?!" pikir Purwadhika cemas.
"Weleh, weleh! Ternyata kalian
ini tak bisa merasakan bahwa kalian sedang dikuntit seorang pemuda yang juga bermaksud
sama dengan ka- lian...!" tutur Manusia Bayangan.
Seketika Empat Jin Botak dari
Selatan ter- kejut. Serentak mereka menoleh ke belakang, lalu membalikkan kuda
masing-masing. Sementara itu pada saat yang bersamaan, Purwadhika juga ter-
kejut mendengar ucapan Manusia Bayangan tadi.
"Edan! Siapakah Manusia
Bayangan itu?! Kak Sena atau bukan...?!" gumam Purwadhika cemas dan kesal.
"Celaka...! Apa boleh buat aku harus menghadapi mereka. Mudah-mudahan Kak
Sena muncul...," gumamnya lagi.
Lalu Purwadhika muncul dengan
terse- nyum-senyum memandang Empat Jin Botak dari Selatan yang sudah siap
dengan pedang terhunus.
"Ha... ha... ha...! Kalian
mencariku...?!" tanya Purwadhika dengan tegas, sambil menga- cungkan
tangan kirinya ke arah Empat Jin Botak dari Selatan.
Sementara itu Manusia Bayangan
sudah menghilang entah ke mana.
"Rupanya kau yang menguntit
kami sejak tadi. Apa maksudmu...?" tanya Jin Kala dengan suara berat.
"Bukan aku saja yang
menguntitmu. Orang yang berpakaian serba hitam tadi juga menguntit-
mu...!" jawab Purwadhika tegas.
Empat Jin Botak dari Selatan jadi
bingung dan menoleh ke arah tadi Manusia Bayangan ber- diri. Namun tokoh itu
sudah tak ada.
"Setan Belang! Kau dan Manusia
Bayangan tentu sudah sekongkol! Tangkap dia...!" perintah Jin Sudra yang
sudah tak bisa menahan kesaba- rannya. Serentak tiga orang dari Empat Jin Botak
dari Selatan menyerang Purwadhika.
"Heaaaat...!" Wut, wuttt!
Pedang ketiga orang dari Empat Jin Botak dari Selatan menderu di atas kepala
Purwadhika bergantian dan saling susul. Purwadhika merasa- kan tebasan pedang
itu sangat berbahaya dan hampir saja menebas putus kepalanya.
Sementara itu Jin Sudra masih
berada di atas kuda menyaksikan saudara-saudaranya men- geroyok Purwadhika.
"Hm.... Pemuda ini bukan orang
sembaran- gan.... Siapa dia itu?" gumam Jin Sudra yang terus mengamati
gerakan Purwadhika.
"Heaaa...!"
"Hop...!" Purwadhika melompat sambil bersalto di udara ketika babatan
pedang ketiga lawannya ber- kelebatan begitu cepat dan ganas. Setelah menda-
rat dengan ringan di tanah, dengan cepat dia menghantarkan pukulan jarak jauh
ke arah ketiga lawannya.
Jeglarrr! Terjadi ledakan dahsyat.
Pukulan jarak jauh Purwadhika yang sudah diketahui oleh ketiga jin botak itu
dipapaki dengan menyilangkan pedang.
Purwadhika terkejut juga, karena
pukulan- nya dapat ditangkis. Bahkan hampir saja dirinya terkena serangan balik
yang cepat dari ketiga orang jin botak, kalau saja Purwadhika tidak ber-
gulingan dan melompat mundur menghindari me- reka.
"Edan...! Hampir saja aku
modar...!" gumam Purwadhika.
Pada saat itu tiga jin botak sudah
berlompa- tan mengurung Purwadhika yang berdiri di atas tanah lebih tinggi dari
tempat tadi.
Ketiga orang dari Empat Jin Botak
dari Se- latan bergerak ke samping berbarengan dari pelan lalu bertambah cepat
memutari Purwadhika. Pe- muda itu terasa mulai pening kepalanya, karena melihat
ketiga lawan mengurung dengan berputar cepat, hingga hanya bayang-bayang samar
yang terlihat. Maka dengan berteriak keras, Purwadhika mencabut Keris Pusaka
Naga Sakti. Diangkatnya tinggi-tinggi keris itu. Dan kemudian dengan cepat
diarahkan ke ketiga lawan yang sedang mengita- rinya. Seketika sinar keperakan
yang menyilaukan itu menghantam Ketiga Jin Botak dari Selatan.
"Aaakh...!" terpekik
keras ketiganya sambil menutupi mata masing-masing. Jin Sudra membelalak kaget
melihat keris pusaka yang mereka cari. Namun seketika langsung tersadar dari
keterkejutannya. Maka dengan cepat dia melompat ke arah Purwadhika yang agak
membelakanginya, bermak- sud ingin merebut Keris Pusaka Naga Sakti itu.
"Hiaaa...!" Namun
berbarengan dengan melompatnya Jin Sudra, sesosok bayangan hitam telah melom-
pat pula. Gerakannya lebih cepat dari Jin Sudra. Sosok bayangan hitam itu
dengan cepat menen- dang Purwadhika. Bersamaan dengan itu kaki yang lain
menendang Jin Sudra hingga lelaki botak itu terpental jatuh. Dalam sekejap saja
Keris Pusa- ka Naga Sakti sudah berpindah ke tangan orang berpakaian serba
hitam yang ternyata si Manusia Bayangan.
Purwadhika terpental pula, tapi
dengan ce- pat bangkit berdiri. Dia kaget ketika tahu keris pu- sakanya sudah
pindah tangan.
"Hah...?! Bangsat! Kembalikan
keris itu, atau kubunuh kau...!" bentak Purwadhika marah.
Sementara itu Empat Jin Botak dari
Selatan masih dalam keadaan terkesiap. Dan seperti ter- kena pengaruh gaib,
keempatnya hanya bisa me- mandangi orang berpakaian serba hitam yang ber- diri
tegap sambil tertawa-tawa mengejek.
"Ha ha ha...! Anak Muda, kau
boleh mere- but keris ini jika bisa menangkapku. Dan keris ini akan membuatku
lebih sakti dan akan menguasai rimba persilatan. Ha ha ha...! Aha, kalian Empat
Jin Botak dari Selatan, bilang pada pimpinanmu, kalau mau keris ini cari aku!
Ha ha ha...!"
Purwadhika mengerutkan kening,
"Suara itu...?! Aku kenal suara itu. Hah...?!" selesai bicara begitu,
Purwadhika melompat menyerang lelaki bertutup kain hitam itu.
"Heaaa...!" Terjadi pertarungan antara Purwadhika dan Manusia
Bayangan. itu. Mereka saling pukul dan tendang, penuh nafsu untuk saling
mengalahkan. Semangat itu lebih jelas terlihat pada usaha Pur- wadhika, karena
kekhawatirannya terhadap Keris Pusaka Naga Sakti yang sudah berada di tangan
musuh. "Biarkan mereka bertarung, kita ambil ke- sempatan yang baik untuk
menyerang mereka dan merebut keris itu...!" kata Jin Sudra pada ketiga
saudaranya.
Pertarungan nampak seimbang, namun
pa- da kesempatan pertama, Manusia Bayangan ber- hasil menghantam dada
Purwadhika, hingga ter- huyung. Tak cuma sampai di situ, dia mengejar ke arah
lawan yang masih sempoyongan, lalu men- cengkeram tubuh Purwadhika kemudian
melem- parnya kuat-kuat. Tubuh Purwadhika melayang jauh dan jatuh. Pada saat
itu pula Manusia Bayangan melesat dan menghilang ke arah Pur- wadhika jatuh.
Empat Jin Botak dari Selatan tampak
kaget, melihat Manusia Bayangan begitu cepat menghilang.
"Hah?! Ke mana dia? Ayo, cari!
Bodoh sekali kita ini...!" sungut Jin Sudra kesal lalu mereka berlompatan
ke arah tempat Purwadhika jatuh.
Namun mereka tak menemukan siapa-
siapa. Kemudian keempatnya kembali ke tempat semula sambil marah-marah.
"Bodoh! Bodoh...! Seharusnya
kita tadi ce- pat bertindak. Aku yang salah! Tapi yang penting kita mencari
Manusia Bayangan itu. Karena keris pusaka itu dia yang kuasai. Dan pemuda itu
biar- kan saja mampus!" tutur Jin Sudra dengan geram.
Lalu keempatnya segera melompat ke
pung- gung kuda dan cepat melarikannya ke arah Manu- sia Bayangan tadi
menghilang.
***
Orang yang mengaku Manusia Bayangan
ternyata membawa Purwadhika ke suatu tempat yang sepi dan sunyi. Di situlah pemuda
itu digele- takkan. Orang berpakaian serba hitam dengan muka tertutup itu
segera menotok bagian tubuh Purwadhika untuk menyadarkannya.
"Ukh...!" Purwadhika
mulai mengeluh. Perlahan- lahan dia membuka kedua matanya. Pemuda itu kaget
melihat sosok hitam berdiri di hadapannya dengan memegang Keris Pusaka Naga
Sakti. Pur- wadhika segera berdiri dan ingin merebut keris itu. Namun orang
yang mengaku Manusia Bayangan menangkap tangan Purwadhika, pemuda itu sege- ra
berkelit dan dengan cepat pula tangannya ingin menyambar penutup muka lawan.
Namun orang itu menangkis dan dengan cepat mendorong tubuh Purwadhika. Hingga
terhuyung ke belakang. Dan ketika Purwadhika hendak melakukan serangan ulang
dengan menggunakan jurus dan ajian
'Tapak Sakti', tiba-tiba orang misterius
itu berseru. "Tunggu...! Aha, rupanya kau masih belum mengerti Purwadhika.
Kau lupa akan rencana ki- ta...!"
"Hah...?! Kak Sena....
Kau...?!" sentak Pur- wadhika dengan wajah kaget.
Orang itu tak menjawab, tapi segera
mem- buka kain penutup wajahnya. Dan ternyata Sena atau Pendekar Gila.
Purwadhika tertawa-tawa, lalu
menjura. "Maafkan aku yang bodoh ini, Kak Sena! Aku lupa akan rencana
kita. Tapi Kak Sena tidak mengatakan kalau akan berpakaian begini. Jadi aku
terus terang ragu...," tutur Purwadhika.
"Tak apa, yang penting mereka
sudah dapat kita kelabui. Dan aku yakin, Empat Jin Botak dari Selatan akan
menceritakan pada pimpinan mere- ka. Kita tetap dengan rencana kita. Agar
mereka menuju tempat Ki Tunggul Segara. Dan di situ nanti kita jebak dan
tangkap mereka," ujar Sena penuh semangat
"Tapi, kalau mereka batalkan
untuk ke tempat kakekku, bagaimana?" tanya Purwadhika.
"Itu bisa kita atur nanti.
Yang penting kau kini lebih leluasa menyelidiki dan mencari tahu rencana
mereka. Dan jika kau bertemu mereka jangan terbawa oleh rasa dendammu. Mungkin
sa- ja di antara mereka ada orang yang membunuh orangtuamu...."
"Aku akan selalu ingat, Kak
Sena," jawab Purwadhika. "Kalau aku boleh tahu, siapa pimpi- nan
mereka...?" tanya Purwadhika ingin tahu.
"Aku kurang tahu. Tapi aku
mendapat ka- bar dan mendengar orang-orang di Kutareja, bah- wa mereka tak
punya pimpinan. Hanya saja lelaki yang bernama Sindang Manik merupakan orang
yang disegani, di antara mereka...."
"Siapa Sindang Manik itu...?
Apakah Kak Sena tahu...."
"Menurut berita yang kudapat
dari orang- orang yang juga membenci kelompok mereka, Sin- dang Manik adalah
orang buronan. Prajurit Kadi- paten Pasuruan masih mencarinya. Dan lagi, ka-
barnya nama yang disandangnya adalah nama palsu," tutur Sena.
Purwadhika manggut-manggut, lalu
mena- tap Sena kembali.
"Ini semakin mempermudah kita
untuk me- nangkap mereka, bukan begitu Kak Sena?" tanya Purwadhika.
"Mungkin. Tapi ingat
orang-orang macam Sindang Manik selalu bersifat licik. Aku malah in- gin
menangkap Sindang Manik lebih dulu. Untuk itu kita perlu seorang yang mengenali
wajah Sin- dang Manik," usul Sena. Lalu menutup mukanya kembali dengan
kain hitam tadi. Hanya tinggal ma- tanya saja yang terlihat.
"Ada apa, Kak Sena...?!"
tanya Purwadhika sambil menoleh ke kanan kiri.
"Sssttt..!" Sena segera
mengiyaratkan agar Purwadhi- ka tidak berbicara lagi. Lalu tubuhnya melompat ke
arah semak-semak.
"Hop...!"
"Heaaa...!" Tiba-tiba
dari balik semak-semak melompat seorang yang juga bercadar warna merah dan ber-
pakaian silat warna merah pula. Rambutnya tertu- tup kain hitam. Kemudian Sena
mengejar orang bercadar merah itu.
Pertarungan Sena dan orang bercadar
tak berjalan lama, karena hanya tiga jurus pembuka, Pendekar Gila telah dapat
membuat orang berca- dar itu kewalahan dan tersungkur di tanah. Pur- wadhika
menghampiri bermaksud ingin membantu orang bercadar merah itu untuk berdiri.
Namun orang bercadar itu menendang pantat Purwadhika, lalu dengan cepat bangkit
hendak melancarkan se- rangan. Namun Pendekar Gila telah menghadang- nya dan
dengan sekali gebrak orang bercadar itu terhuyung-huyung ke belakang. Secepat
kilat Sena membuka cadar orang itu.
"Hah...?!" Sena bergumam
pendek, kaget ketika tahu bahwa lawannya seorang wanita. Terlihat dari si- nar
matanya Pendekar Gila tampak menyesali tin- dakannya barusan.
"Maafkan aku! Tapi, kenapa kau
menden- garkan pembicaraan kami? Dan bagaimana kau bisa ada di sini..?"
tanya Sena sedikit mendesak.
Wanita muda itu tak langsung
menjawab. Matanya memandang Purwadhika dengan tak ber- kedip. Pada saat itu
pula, Purwadhika tengah me- natap wajahnya yang cantik. Pandangan pertama
mereka membuat saling jatuh hati.
"Hem em...!" Sena
mendehem.
Purwadhika tampak tersipu malu
dengan wajah merah. Lalu tersenyum-senyum pada Sena dan juga pada wanita muda
itu.
"Namaku Lilasari, dari
Kadipaten Pasuruan. Aku putri tunggal Adipati Aji Sampurno," kata wa- nita
muda memperkenalkan dirinya pada Sena dan Purwadhika.
"Jadi... jadi kau dari
Kadipaten Pasu- ruan...?!" ulang Purwadhika, lalu menoleh ke arah Sena
yang terus menatap Lilasari seperti tengah menyelidik kebenaran ucapan wanita
itu.
"Bagaimana kau bisa sampai di
sini dan un- tuk apa tadi mendengarkan pembicaraan kami. Berkatalah secara
jujur!" desak Sena sambil terus menatapnya.
Kembali Lilasari menatap Purwadhika
yang tampan itu sambil tersenyum manis. Sena jadi menarik napas panjang, lalu
membisikkan sesuatu pada Purwadhika. Pemuda itu tersenyum malu. Sena lalu
melangkah dan membalik badan, mem- biarkan Purwadhika berdua dengan Lilasari.
Kare- na Sena tahu kalau wanita itu menaruh hati pada Purwadhika.
Purwadhika mendekati Lilasari.
Lilasari nampak senang.
"Sebenarnya ada apa denganmu?
Apakah kau sengaja kabur dari kadipaten, atau...!" tanya Purwadhika dengan
lembut.
"Terus terang saja, aku ingin
membalas dendamku atas kematian ayahku Adipati Aji Sam- purno," ucap
Lilasari dengan mata berkaca-kaca. Mendadak wajahnya yang tadi nampak manis,
kini menjadi murung.
"Siapa yang membunuh
ayahmu?" tanya Purwadhika yang mulai tersentuh hatinya, karena Lilasari
mempunyai persoalan yang hampir serupa dengannya.
"Wongso Guno...!" jawab
Lilasari dengan le- mah, tapi jelas di telinga Purwadhika.
"Siapa Wongso Guno itu?"
tanya Purwadhi- ka ingin tahu.
"Wongso Guno adalah bekas
Senapati Pasu- ruan. Tapi ketika dia tertangkap basah sedang berbuat mesum
dengan ibu tiriku, Wongso Guno dengan licik membunuh ayahku dan juga ibu tiri-
ku. Lalu dia menghilang sampai sekarang," tutur Lilasari dengan penuh
perasaan.
Purwadhika merasa haru mendengar
cerita Lilasari dihelanya napas dalam-dalam. Dipandan- ginya lekat-lekat wajah
cantik wanita itu.
"Aku bersumpah, jika bertemu
dengan Wongso Guno dan dapat membunuhnya, aku akan menggundul kepalaku. Karena
itu aku terus me- rantau dengan cadar ini. Agar jika bertemu dengan Wongso
Guno, dia tak mengenali diriku...."
Sementara itu Sena mulai mengerti
dan se- dikit mulai yakin bahwa Lilasari bukan bicara bo- hong. Sena bisa
melihat dari raut wajah Lilasari yang polos. Walaupun Sena belum sepenuhnya
percaya pada penuturan wanita itu.
"Apakah kau masih ingin
mencari Wongso Guno...?" tanya Purwadhika memancing Lilasari.
"Jelas, kan tadi aku sudah
katakan, semu- anya padamu.
No comments:
Post a Comment