Tuesday, April 30, 2019

033 Keris Naga Sakti


KERIS NAGA SAKTI
Oleh Firman Raharja

1
Seorang pemuda berpakaian serba putih sedikit kotor melompat-lompat dengan ringan di atas batu-batu cadas pada sebuah perbukitan. Ge- rakannya yang gesit dan ringan menunjukkan kalau pemuda itu memiliki ilmu peringan tubuh yang cukup tinggi. Terkadang dengan gerakan silat dia menendang dan memukul ke depan dan ke samp- ing. Kemudian tubuhnya melenting sambil bersalto dua atau tiga kali di udara. Lalu mendarat dengan kedua kakinya di atas tanah atau bebatuan dengan sempurna.
Keringat tampak membasahi sekujur tubuhnya. Rambutnya yang panjang sebatas bahu diikat dengan kain warna hitam, menambah kegagahan pemuda bertubuh tegap itu.
Rupanya pemuda itu sudah cukup lama berlari sambil melakukan latihan jurus-jurus silat. Sejenak kemudian tampak dia menghentikan ge- rakannya. Dihelanya napas beberapa saat, lalu kembali melakukan gerakan silat dengan menen- dang batu yang ada di hadapannya, untuk menguji kebolehan ilmunya. Glarrr! Ledakan keras terdengar memecah kesunyian seiring dengan hancurnya bebatuan, karena terkena tendangan dahsyat pemuda itu. Hal yang sama juga dilakukan terhadap batang pohon yang ada di sekitar perbukitan itu.

"Aku telah dapat melakukannya. Tentunya
Kakek Guru senang melihatku...," gumam pemuda itu dengan wajah cerah. Mulutnya tampak tersenyum puas.
Kemudian si pemuda gagah berpakaian ser- ba putih melesat melompati bebatuan yang ada di perbukitan itu.
"Aku harus cepat kembali, karena Guru pasti telah menantiku.... Waktu yang diberikan, sebelum matahari tenggelam aku sudah harus ada di hadapan Kakek Guru. Sekarang aku harus per- gi...!"
Pemuda gagah berpakaian serba putih itu terus melesat cepat dengan ilmu meringankan tu- buhnya yang cukup tinggi. Namun waktu lebih ce- pat berlalu. Sehingga pada saat matahari tengge- lam dan mulai gelap, dirinya baru sampai di pun- cak bukit.
"Waduh...! Kakek Guru bisa marah besar, aku tak dapat menepati waktu yang ditentukan- nya...," gumamnya dengan wajah cemas dan tam- pak ketakutan.
Pemuda itu menduga pasti akan mendapat ganjaran berupa hukuman dari gurunya. Dalam keremangan dia berlari menuju arah barat, hingga akhirnya sampai di sebuah bangunan batu yang pintunya tertutup oleh sejenis pohon merambat. Dia tidak berani menyibakkan daun-daun pepohonan itu, apalagi masuk ke dalam.
Wajahnya nampak semakin cemas dan tegang. Namun kemudian dia tersenyum pahit. Kedua matanya memandangi pintu yang tertutup pepohonan merambat. Sementara itu langit tampak semakin gelap. Setelah menarik napas panjang, pemuda itu berseru,
"Kakek...! Kakek Guru...!" Tak ada sahutan. Suasana tetap hening dan sepi. Pemuda itu menggelengkan kepala perlahan.
"Kek...! Kakek Guru, aku Purwadhika. Maafkan aku, Kakek...! Aku terlambat... Aku siap menerima hukuman!" seru pemuda yang ternyata bernama Purwadhika itu.
Namun tetap tak ada sahutan. Yang terden- gar hanya suara binatang malam, meramaikan su- asana menjelang malam itu.
"Apakah Kakek Guru pergi? Atau...," pikir Purwadhika sambil melangkahkan kaki perlahan mendekati pintu bangunan batu yang tertutup po- hon menjalar. Dia terus berjalan dengan langkah tegap. Sepertinya pemuda itu telah siap menerima hukuman apa saja atas keterlambatannya. Namun belum sempat pemuda itu masuk, tiba-tiba...
Wusss! Ada deru angin yang sangat kencang. Dan daun-daun bergelantungan menutupi pintu ban- gunan batu itu rontok semuanya.
"Kau cucuku, Purwadhika. Masuklah...!" terdengar suara serak dari seorang lelaki tua.
Purwadhika tampak terkesima dan masih berdiri di tempatnya. Pemuda itu semakin kaget ketika deru angin kembali datang dengan sangat kencangnya. Tempat itu terasa berguncang kuat, hingga bebatuan berjatuhan menutupi pintu ma- suk.
"Hah...?!" Purwadhika kaget. Kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah cem- berut. Namun mendadak pemuda itu menggerak- kan kedua tangannya, berusaha mengumpulkan tenaga dalam. Tampak otot-otot tubuhnya menge- ras dan bersembulan keluar. Lalu segera diangkat kedua tangannya ke atas, disusul dengan meren- tang ke samping. Dan diakhiri dengan lompatan sambil menghantamkan telapak tangan kanannya ke arah batu-batu yang menutupi pintu itu.
Jlegarrr...! Ledakan keras terjadi. Seketika batu-batu yang menutupi pintu mirip sebuah goa itu hancur dan berhamburan. Pemuda itu ternyata menge- rahkan ajian ‘Tapak Sakti’ yang ampuh dan dapat menghancurkan batu sekeras apa pun.
Tiba-tiba dari dalam bangunan mirip goa itu terdengar suara tawa terkekeh-kekeh.
"Maafkan aku, Guru! Aku siap menerima hukuman, karena keterlambatanku...," kata Pur- wadhika sambil menjura di hadapan gurunya.
Seorang lelaki tua berambut putih dengan janggut panjang tampak tersenyum-senyum men- dengar ucapan muridnya. Tangan kirinya mengu- sap-usap janggut yang sudah putih itu. Pakaian- nya yang serba putih diselempangkan begitu saja. Seperti Resi. Matanya yang tua tapi tajam, mena- tap tak berkedip pada Purwadhika.
Lelaki tua itu duduk di atas tanah beralaskan tikar yang sudah agak usang. Tangan ka- nannya memegang sebilah keris yang memancarkan sinar keperakan. Dialah tokoh tua yang dulu dikenal dengan julukan Pendekar Bijaksana. Pada masa mudanya dulu lelaki yang bernama asli Tunggul Segara ini merupakan seorang pendekar yang punya nama besar di kalangan rimba persila- tan. Karena kebijaksanaannya dalam setiap meng- hadapi persoalan serta setia membela kaum lemah dari gangguan para durjana, maka Ki Tunggul Se- gara dijuluki Pendekar Bijaksana.
"Purwadhika," tegur Ki Tunggul Segara. Su- aranya terdengar berat, mengandung kewibawaan.
"Ya, Kakek Guru...." "Jangan kau merasa cemas dan takut, sebe- lum kenyataan itu datang. Kau sudah cukup me- nepati batas waktu yang kuberikan. Sebenarnya, waktu yang kuberikan masih panjang. Hanya saja aku ingin mengujimu. Apakah kau bisa lebih cepat dengan waktu yang kuberikan. Kau telah menja- lankan dengan baik. Aku bangga sekali pada- mu...," tutur Ki Tunggul Segara. Segurat senyum tersungging di bibirnya yang dihiasi kumis tebal berwarna putih.
"Terima kasih, Kakek Guru...." jawab Pur- wadhika seraya menjura. Pemuda itu tampak me- naruh hormat sekali pada gurunya.
"Purwadhika, kau telah menjalani ujian yang terakhir itu dengan baik. Dari pagi-pagi buta sampai matahari tenggelam telah kau laksanakan sesuai dengan keinginanku. Ternyata aku tidak sia-sia melatih dan memberimu ilmu-ilmu silat, serta budi pekerti. Semua itu merupakan bekal bagi langkahmu dalam mengarungi kehidupan rimba persilatan yang penuh rintangan. Apalagi tokoh-tokoh sesat golongan hitam akhir-akhir ini lebih sering membuat ulah lagi." Sejenak Ki Tung- gul Segara menghela napas. "Dan tokoh-tokoh se- sat yang kejam dan berilmu cukup tinggi itu, tiga di antaranya sudah aku kenal. Merekalah orang- orang yang...."
Ki Tunggul Segara tak meneruskan uca- pannya. Hal itu membuat Purwadhika menge- rutkan kening keheranan serta bertanya-tanya da- lam hati. Kenapa gurunya tiba-tiba nampak sedih dan bergeleng kepala perlahan.
"Kakek Guru, ada apa...? Apakah ada sesu- atu yang membuat hatimu sedih? Atau...," tanya Purwadhika dengan suara lemah.
"Sebenarnya aku ingin menceritakan keja- dian lima belas tahun silam, seperti yang pernah kujanjikan padamu. Ya. Karena saat ini kau telah menguasai semua ilmu yang kuberikan, Cucu- ku...," tutur lelaki tua berjuluk Pendekar Bijaksana itu.
"Maksud Kakek Guru tentang orangtua ku...?" tanya Purwadhika dengan suara sedikit bergetar, karena rasa ingin tahunya yang besar. Cerita gurunya itu telah ditunggu-tunggu. Kini saatnya dia akan mendengar cerita itu. Seketika hatinya merasa cemas dan tegang.
Dengan wajah menyiratkan keharuan, Ki Tunggul Segara akhirnya memulai cerita itu....
***

Di tepi sebuah danau. Langit saat itu nam- pak mendung sejak pagi. Matahari tampak remang-remang tertutup awan mendung. Suasana saat itu seolah menjelang malam hari. Di pinggir danau nampak seorang wanita muda sedang men- cuci pakaian di air danau yang jernih. Dari sikap- nya nampak wanita itu tengah gelisah. Sebentar- sebentar mendongak ke atas melihat langit yang berselimut mendung. Lalu segera wanita itu mem- beresi pakaian yang habis dicuci, memasukkannya ke keranjang.
Ketika perempuan muda itu baru melang- kah tiga tindak ke atas tanah yang lebih tinggi dari danau mendadak muncul tiga orang lelaki meng- hadangnya.
Salah seorang berwajah pucat. Namun tam- pangnya tidak garang, kalem dan dingin. Hanya sinar matanya yang seolah mengandung kekuatan gaib. Pakaian yang dikenakannya serba kuning. Dua temannya pun berpakaian sama dengan lelaki bermuka pucat itu.
"Oooh...?!" pekik perempuan itu pendek. Mendadak wajahnya tegang. "Mandra, Cilung, Sa- diro...! Ada apa kalian menghadangku? Minggir!" ujarnya dengan suara lantang.
Rupanya ketiga lelaki itu tak menjawab. Malah mata mereka nakal memandang dada pe- rempuan yang pakaian atasnya sedikit terbuka. Bentuk tubuhnya yang indah membangkitkan se- lera setiap lelaki yang memandangnya. Apalagi bi- birnya yang sensual, membuat ketiga lelaki itu semakin tertarik dan mendekatinya.
"Minggir kataku! Aku akan teriak dan kalian akan mendapatkan ganjaran...! Minggir, jangan sentuh aku...!" perempuan muda itu kian gusar dan marah.
Ketika ketiga lelaki itu semakin dekat, tiba- tiba perempuan itu bergerak cepat. Sebagai istri bekas seorang tumenggung dia ternyata mengua- sai ilmu bela diri, meskipun tidak bisa dikatakan tinggi tingkatannya.
Bug! Bug...! "Aaaa...!" Ketiga lelaki memekik keras. Tendangan pe- rempuan itu ternyata mengenai telak selangkan- gan mereka. Perempuan itu lalu cepat kabur me- ninggalkan ketiganya.
Ketiga lelaki itu meringis kesakitan sambil memegangi selangkangan mereka.
"Sundal...! Awas, aku akan buat perhitun- gan...!" gerutu Cilung.
"Dasar perempuan...! Yang diarah selang- kangan!" sungut Mandra yang masih memegangi selangkangannya.
"Urusan kita bukan perempuan itu, Sobat. Urusan kita pada Ramapati, suaminya! Kita harus segera menentukan rencana kita. Bekal kita sudah cukup kuat untuk melawan Ramapati. Ayo...!" ujar Sadiro yang berwajah pucat.
Seketika ketiganya melesat cepat mening- galkan tempat itu.
Sementara perempuan tadi sudah sampai di rumahnya yang besar dan berlantai tinggi. Karena suaminya bekas tumenggung. Kekayaan Ramapati cukup untuk menghidupi sanak keluarga tujuh turunan.
Itulah yang membuat saingan dan bahkan bekas bawahannya seperti Sadiro, Cilung, dan Mandra merasa iri. Mereka ingin merebut sebuah senjata pusaka bernama Keris Naga Sakti. Yang menurut mereka ada pada Ramapati.
"Kakang...! Kakang Ramapati...!" teriak pe- rempuan yang berlari-lari memasuki ruangan ten- gah rumahnya.
"Diajeng Laras...?!" seru Ramapati begitu melihat istrinya berlarian dengan wajah gusar dan tegang, bercampur marah. Pakaian Laras pun tampak tak karuan. Pikiran Ramapati langsung menduga yang tidak-tidak. Seketika hatinya mera- sa panas.
"Ada apa, Diajeng? Apa yang telah terja- di...?!" tanya Ramapati dengan perasaan cemas.
"Mereka mengejarku, kurang ajar...!" kata Laras mengadu pada suaminya.
"Mereka siapa...?! Siapa yang berani meng- ganggumu? Kita kan tak punya musuh. Dan tidak pernah menyakiti orang lain, Diajeng...."
"Tapi mereka sepertinya kini telah berubah, berani kurang ajar terhadapku...!" tutur Laras dengan nada kesal, matanya berkaca-kaca. "Un- tung aku bisa lolos dari mereka, kalau tidak...," lanjut Laras lemah
"Kurang ajar...! Lalu siapa yang kau maksud itu, Diajeng? Katakan, tentunya mereka orang- orang dari aliran sesat...," kata Ramapati menduga.
Baru selesai Ramapati mengakhiri kalimat terakhirnya, tiba-tiba muncul tiga lelaki tadi.
"Ha ha ha...! Rupanya penjaga rumah ini orang-orang tak memiliki ilmu yang diandalkan. Pasti pemilik rumah ini orang yang bernyali tikus. Ha ha ha...!" ujar Sadiro yang bermuka pucat. Di- ikuti tawa kedua temannya, Mandra dan Cilung.
"Kurang ajar! Mengapa kalian berani ber- buat kurang ajar pada istriku...?!" bentak Ramapa- ti begitu melihat Sadiro, Mandra, dan Cilung.
"Ha ha ha...! Aku tidak berniat kurang ajar terhadap Nyi Laras. Tapi, aku ada urusan penting dengan kau, Ramapati...!" jawab Sadiro si Muka Pucat dengan nada dingin.
"Ya, ada urusan penting yang ingin kita bi- carakan. Tapi, sebaiknya Ki Ramapati ikut bersa- ma kami. Karena ini sangat rahasia," tambah Ci- lung dengan suara penuh penekanan pada setiap katanya.
"Betul, karena tak boleh orang lain tahu. Cukup kita saja yang mengetahui...," sambung Mandra yang berkumis tipis dan mata agak kero, menyipit sebelah.
Ramapati nampak berpikir sejenak. "Kakang, jangan percayai mereka! Aku punya firasat buruk terhadap mereka. Walaupun mereka bekas orang kepercayaanmu...," bisik La- ras dengan hati dan perasaan yang sangat cemas.
Ramapati hanya manggut-manggut. Dipe- gangnya bahu istrinya.
"Aku mengerti, Diajeng...," terdengar suara Ramapati lembut.
"Rahasia apa yang ingin kau sampaikan...? Apa tidak sebaiknya dibicarakan di sini saja...?" tanya Ramapati kemudian.
"Rupanya kau tidak mempercayai kami lagi. Kami tidak punya maksud buruk...," jawab Sadiro si Muka Pucat dengan kalem dan dingin.
Sementara itu Laras coba mengisyaratkan pada suaminya agar tidak menuruti keinginan ke- tiga orang itu. Namun Ramapati yang bekas tu- menggung itu tak mau dianggap pengecut. Maka kembali Ramapati berkata,
"Sadiro, kau Mandra, dan Cilung. Mintalah maaf pada istriku dulu! Jika tidak, aku tak berse- dia menuruti kemauan kalian. Karena kalian telah membuatnya ketakutan dan marah. Semestinya kalian kuberi ganjaran...," ujar Ramapati tegas.
Sadiro, Cilung, dan Mandra saling pandang sejenak, lalu mereka menghadap Laras dan menju- ra seraya sama-sama minta maaf. Laras hanya di- am dengan wajah sinis.
Ramapati mendekati sang Istri lalu dipe- gangnya pundak Laras.
"Diajeng, biar ku turuti kemauan mereka. Mungkin dengan caraku ini mereka bisa sadar. Dan tidak lagi berbuat seperti itu lagi. Biar bagai- manapun mereka bekas anak buahku, orang ke- percayaanku!" tutur Ramapati dengan sabar. Laras tak dapat lagi mencegah suaminya. Wanita itu hanya bisa menyimpan rasa cemas dan khawatir di hatinya.
"Ayo, kita berangkat...!" ajak Ramapati pada Sadiro dan teman-temannya.
Segeralah mereka pergi. Dan ketika berada di luar rumah, tiba-tiba Sadiro berkata pada Ramapati. "Lebih baik kita bicara di rumah kami, ka- rena ada seseorang yang menunggu dan ingin ber- temu dengan Ki Ramapati...,"
"Siapa orang itu?" tanya Ramapati sambil mengerutkan kening agak curiga.
"Nanti Ki Ramapati akan tahu sendiri. Mari, jangan sampai dia keburu pergi...!" sahut Cilung.
Ramapati berpikir sejenak, lalu dia men- gangguk dan melangkah diikuti oleh Cilung dan Mandra. Mereka akhirnya memasuki sebuah hutan.
"Sebenarnya apa yang akan dibicarakan, Sadiro?" tanya Ramapati kembali.
"Tentang keris pusaka itu," jawab Sadiro te- gas.
Tersentak kaget Ramapati mendengarnya. Langkahnya terhenti, dengan mata memandang ta- jam ke arah Sadiro dan kedua kawannya.
"Apa,..? Aku tak pernah menyimpan keris itu. Kenapa kau tanyakan padaku?!" kata Ramapa- ti dengan hati cemas dan mulai tak tenang.
"Ayo...! Jangan banyak bicara! Kami sudah muak dengan semua kebohonganmu!" tiba-tiba Ci- lung membentak.
"Kurang ajar kau, berani membentakku! Apa sebenarnya maksud kalian...?!"
Ramapati mulai kesal dan kembali meng- hentikan langkah kakinya.
"Tenang saja Ki Ramapati, tak jauh lagi, su- dah dekat Sebentar lagi kau akan tahu, apa mak- sud kami. Ha ha ha...!" sambar Mandra lalu tertawa-tawa. Mereka semakin jauh memasuki hutan. Tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulut mereka. Terutama Ramapati yang sudah merasakan keti- dakberesan bekas orang-orang kepercayaannya. Namun, karena dia memiliki sifat tak mau mundur sebelum melihat kenyataan, maka dengan langkah lebar Ramapati mengikuti Sadiro dan kawan- kawannya.
***

Di tengah hutan, karena tidak menduga sama sekali kalau ketiga bekas anak buahnya bermaksud jahat, Ramapati sempat lengah dan kurang waspada. Dengan tanpa basa-basi lagi Sa- diro, Cilung, dan Mandra secara bersama-sama membunuh bekas tumenggung itu. Mereka mem- babat dan menusukkan golok ke tubuh Ramapati.
Crass! Crass! Jlep! Jlep! "Aaaa...!" Tubuh Ramapati ambruk dengan usus ter- burai dari perutnya. Kepalanya hampir putus kena tebasan golok Sadiro si Muka Pucat yang ternyata pembunuh darah dingin.
"Kini semuanya telah dapat kita selesaikan dengan baik, Sobat. Ayo, kembali ke rumah Rama- pati, kita ancam istri dan semua penghuni rumah itu. Jika membangkang, kita bunuh saja...!" kata Sadiro dengan wajah dingin, lalu melesat pergi.
Pada saat itu, tanpa diketahui Sadiro dan kedua kawannya, ternyata ada sepasang mata yang menyaksikan perbuatan keji mereka. Dengan diam-diam sosok itu pergi meninggalkan semak- semak tempatnya bersembunyi.
Sementara di rumahnya, Laras dan para penjaga serta adik ipar yang bernama Abisona, merasa tegang menanti kedatangan Ramapati.
"Kenapa kau tadi tidak menyertai kakakmu, Abisona? Aku khawatir Sadiro, Cilung, dan Man- dra mempunyai maksud jahat. Hatiku merasakan itu...," keluh Laras dengan wajah cemas. Matanya berkaca-kaca, nampak bingung dan gelisah sekali.
"Maafkan saya, Kak! Saya pun menyesal...," jawab Abisona sambil menunduk. Lalu kembali mengangkat mukanya. "Tapi saya akan menuntut balas jika sampai terjadi apa-apa terhadap Kakang Ramapati...," lanjut Abisona dengan nada geram. Wajahnya keras penuh amarah.
Pada saat itu seorang perempuan setengah baya muncul menggendong anak laki-laki berumur tiga tahun yang sedang tidur pulas.
"Laras, jangan kau mempunyai perasaan yang bukan-bukan! Sebaiknya kau berdoa, agar Ramapati suamimu tak mendapatkan musibah atau celaka...," ujar wanita setengah baya yang menggendong anak Laras.
"Tapi firasatku ini rasanya benar, Nyi Ningrum," sahut Laras dengan suara tegas. Lalu mendekati Nyi Ningrum, dan menciumi anaknya.
Ketika Laras dan semuanya yang ada di situ dicekam ketegangan, tiba-tiba terdengar suara pintu didobrak. Sehingga tiga orang punggawa terpental jatuh dengan luka parah akibat sabetan golok.
Muncul Sadiro si Muka Pucat dengan tatapan mata dingin, diikuti Cilung, dan Mandra yang berdiri di sisi kiri dan kanan Sadiro.
"Ha ha ha...! Kalian terkejut melihat keda- tangan kami bertiga tanpa Ramapati, bukan...?! Ha ha ha...!" seru Mandra yang bermulut besar dan bibir tebal.
"Bedebah! Kalian manusia tak tahu sopan santun dan kejam!" bentak Laras lantang dengan mata melotot marah sekali.
"Ha ha ha...! Aku senang melihat wanita se- cantik kau marah. Membuat kelelakianku makin terusik. Ha ha ha, hi hi hi ha ha...!" goda Cilung sambil tertawa cekikikan.
"Hei, Manusia Laknat! Mana kakakku...?! Jawab!" bentak Abisona yang mulai tak sabar.
"Kalau kau menanyakan kakakmu, terus te- rang kukatakan, dia kini mungkin sudah berada di surga atau neraka...!" jawab Sadiro si Muka Pucat dengan tenang. Raut wajahnya yang dingin seakan tak pernah melakukan kejahatan atau dosa.
"Biadab...!" teriak Laras histeris. Lalu den- gan penuh amarah dia menyerang Sadiro. Namun lelaki itu dengan tenang menangkis tangan kiri dan menangkap tangan kanan Laras yang men- gayun ke arahnya.
"Hem...! Huh!" gumam Sadiro, lalu mende- kap Laras. Dipelintirnya tangan Laras kemudian ditarik ke belakang, hingga wanita itu tak bisa ber- gerak lagi. Tubuhnya hanya bisa meronta-ronta dan berteriak minta tolong.
Sementara itu Mandra dan Cilung berta- rung melawan Abisona. Adik kandung Ramapati itu masih bisa meladeni kedua lawannya. Pada saat itu pula Nyi Ningrum berlari ke dalam, ber- maksud menyelamatkan anak Laras yang digen- dongnya. Anak itu anehnya tetap tidur pulas.
"Lepaskan! Lepaskan Biadab...! Kau tak ta- hu balas budi. Bajingan!" teriak Laras sambil me- mukuli dan mencakar Sadiro dengan tangan ki- rinya. Sebab tangan kanannya telah dicekal erat oleh lelaki berwajah pucat itu.
Sadiro tampak mulai murka. Dengan sekali hajar, seketika Laras memekik panjang, lalu tak bernyawa lagi Lelaki berwajah sadis dan dingin itu kini telah menjadi salah satu murid seorang tokoh sesat berilmu iblis.
Lalu Sadiro yang mengetahui Nyi Ningrum menghilang, segera mencarinya ke semua ruan- gan. Pada saat itu terlihat sesosok lelaki berpa- kaian jubah putih berkelebat, diikuti seorang pem- bantu yang bekerja di rumah Ramapati. Lelaki tua berjubah putih itu ternyata Ki Tunggul Segara. Ke- datangannya ke rumah Ramapati karena diberita- hu oleh Ki Suro, salah seorang pembantu di rumah bekas tumenggung itu. Ternyata Ki Suro-lah yang tadi sempat menyaksikan pembunuhan terhadap tuannya di dalam hutan.
Namun kedatangan Ki Tunggul Segara ter- lambat. Laras telah terbunuh, begitu pula Abisona, adik iparnya. Lelaki tua itu hanya sempat mene- mukan Sadiro yang baru saja membunuh Nyi Nin- grum.
Ki Tunggul Segara yang juga berjuluk Pen- dekar Bijaksana menghajar Sadiro dengan puku- lan beruntun. Sehingga lelaki pucat dan berdarah dingin itu tak sempat melakukan serangan balik. Ki Tunggul Segara yang lebih memusatkan untuk menyelamatkan anak Ramapati yang masih beru- mur tiga tahun, hanya sempat melukai Sadiro. Kemudian dia berusaha menyelamatkan anak kecil itu yang terus menangis tak henti-hentinya. Lalu tubuhnya menghilang dari rumah itu.
Mandra dan Cilung yang baru datang terke- jut melihat Sadiro pingsan. Tampak dada Sadiro luka bertanda telapak tangan berwarna biru kehi- taman. "Hah...?! Tapak Sakti!" seru Mandra kaget "Gawat, sebaiknya kita cepat bawa Sadiro pergi da- ri sini. Kita harus mencari obat untuknya, kalau tidak dia akan mati. Dan kita juga akan mampus jika orang yang memiliki ilmu ini kembali...," tutur Cilung dengan tegang.
Mereka dengan cepat menggotong tubuh Sadiro yang pingsan karena luka yang sangat membahayakan jiwanya.
"Sial! Kita belum sempat menanyakan di mana keris itu. Sadiro terlalu mengikuti nafsu membunuhnya. Tunggu di sini, biar aku kembali mencari keris itu...!" kata Cilung begitu teringat akan Keris Naga Sakti. Orang yang dapat memiliki keris pusaka itu akan menjadi sakti luar biasa. Begitulah berita yang tersebar di kalangan rimba persilatan. Oleh karena itulah keris itu dipere- butkan para tokoh persilatan, baik dari golongan beraliran lurus maupun hitam.
Cilung sudah berada di dalam rumah Ra- mapati yang sudah kosong. Hanya mayat-mayat yang tampak tergeletak di lantai rumah itu. Dia langsung mengobrak-abrik perabotan rumah dan apa saja yang dianggap tempat menyimpan benda pusaka itu.
Namun Cilung tak menemukan apa-apa. Malah dirinya menjadi seperti orang gila berteriak- teriak sambil menendang dan menghancurkan apa saja.
Brakkk! Prang...! Prang! "Huh! Sial! Rupanya sudah ada orang lain yang mendahului. Atau memang keris itu tak ada di rumah ini...!" sungut Cilung marah, lalu melesat pergi dengan hati dongkol. 2
Purwadhika masih termangu mendengar penuturan gurunya, Ki Tunggul Segara.
"Itulah awal dari kesedihanku. Ayahmu ada- lah putra tunggalku. Tapi kuharap, kau tidak me- naruh dendam terhadap mereka, Cucuku. Kalau bisa sadarkan mereka, itulah tujuan kita. Ajaran kita sejak dulu.... Namun jika mereka tidak dapat mengerti, terserah padamu.... Hanya usahakan jangan kau bunuh mereka, jika mereka sudah minta ampun dan bertobat!" pesan Ki Tunggul Se- gara dengan suara penuh wibawa.
Purwadhika mengangkat kepalanya perlahan, menatap sang Guru yang juga kakeknya sen- diri. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan tengah mencoba menenangkan perasaannya.
"Cucuku, apa yang ada dalam benakmu se- karang, hah...?" tanya Ki Tunggul Segara.
"Saya dapat mengerti, Kek. Apa yang telah Kakek katakan, akan saya patuhi. Tapi, bagaima- na arwah Ayah, jika aku tidak membalaskan ke- matian Ayah dan Ibu...?" kata Purwadhika, lalu menundukkan kepala.
"Hemm.... Aku mengerti. Ayahmu juga tak ingin kau membunuh atau menuntut balas, Cucu- ku. Mereka hanya inginkan keris pusaka ini. Keris Pusaka Naga Sakti. Karena para tokoh persilatan, baik aliran putih maupun hitam sampai kini masih terus mencari keris pusaka ini...," tutur Ki Tunggul Segara. "Apakah keris itu benar-benar memiliki ke- saktian, Kek...?" tanya Purwadhika kemudian den- gan mengerutkan kening sambil memandangi keris di tangan kakeknya.
Ki Tunggul Segara menganggukkan kepala. Dia mengangkat keris itu dengan kedua tangan ke atas kepalanya, kemudian perlahan diturunkan- nya sampai di dada. Dipandanginya keris itu den- gan seksama.
"Keris ini sebenarnya titipan dari saudara seperguruanku, Aji Sena. Keris ini tak sempat di- berikan pada menantunya yang bernama Citra Yudha. Yang telah mati di tangan manusia iblis, Segoro Wedi." (Tentang Citra Yudha dan Segoro Wedi, silakan baca serial Pendekar Gila pada episode; 'Suling Naga Sakti').
"Lantas untuk apa Kakek Guru terus me- nyimpannya, hingga mengakibatkan petaka ke- luarga kita...?" tanya Purwadhika dengan suara agak tinggi.
"Kau belum mengerti, Cucuku. Keris ini ku- simpan di sini agar tokoh-tokoh persilatan tak da- pat menemukan. Dan mereka tak akan percaya kalau aku masih hidup. Para tokoh aliran hitam umumnya menyangka aku telah mati, karena luka dalamku, akibat pertarunganku dengan orang- orang berilmu tinggi yang memiliki ilmu iblis. Na- mun berkat bantuan Aji Sena-lah aku bisa sem- buh...," tutur Ki Tunggul Segara.
Sejenak Ki Tunggul Segara menghela napas panjang. Keris pusaka itu kini dipegang dalam genggaman tangan kanannya. "...dan aku dapat hidup sampai sekarang. Keris ini menjadi milikku. Dan sejak itu aku telah berjanji, tak akan muncul lagi di rimba persilatan yang penuh amarah dan pertentangan. Maka aku berjanji keris ini akan kuwariskan pada cucu pertamaku, tak peduli laki- laki atau perempuan. Aku memang merasa bersa- lah, menyesal. Putra tunggalku sendiri, ayahmu itu serta ibumu mati karena keris pusaka ini. Tapi semua itu kulakukan bukan bermaksud untuk mencelakakan kedua orangtuamu, Purwadhika. Hanya sayang, rahasia keris ini tercium oleh to- koh-tokoh aliran hitam yang selalu ingin mencari masalah di dunia persilatan...."
Purwadhika menghela napas dalam-dalam. Dia menatap wajah sang Kakek yang juga guru tunggalnya. Purwadhika bisa memaklumi apa yang telah diperbuat kakek gurunya.
"Maafkan saya, Kakek..!" ucap Purwadhika lemah dengan tetap menundukkan kepala.
"Sudahlah, yang lalu biar berlalu. Kini kau telah mewarisi ilmuku. Enam belas tahun lamanya kau tinggal bersamaku. Kini sudah waktunya kau turun. Keluarlah, cari pengalaman hidup! Setialah pada kebenaran dan membela kaum lemah yang membutuhkan.... Aku tak melarangmu, apa pun yang kau kehendaki. Ketiga orang pembunuh kedua orangtuamu, pamanmu, dan bibimu memang perlu kau cari. Dan seperti yang telah kusampaikan tadi, semua kuserahkan padamu, Purwadhi- ka. Jangan membunuh, jika orang itu sudah menyerah. Kecuali jika mereka bertindak kejam dan kasar serta ingin membunuhmu...."
Panjang lebar wejangan yang disampaikan Ki Tunggul Segara pada cucu tersayang yang juga murid tunggalnya.
Kemudian Pendekar Bijaksana itu menye- rahkan Keris Naga Saki pada sang Cucu. Purwad- hika menerimanya dengan kedua tangan lalu men- cium keris pusaka itu.
"Kuserahkan keris pusaka itu padamu. Ja- galah baik-baik, jangan sampai jatuh ke tangan orang jahat. Mereka akan lebih jahat dan kejam, karena Keris Pusaka Naga Sakti itu mengandung kesaktian yang luar biasa...," tutur Ki Tunggul Se- gara lagi.
"Saya mengerti Kakek Guru...," jawab Pur- wadhika sambil menundukkan kepala.
"Sekarang pergilah, tapi pakailah bekas pa- kaianku! Agar kau nampak lebih gagah dan bersih. Gantilah dulu...!" kata Ki Tunggul Segara sambil menyerahkan sepasang pakaian silat berlengan panjang berwarna coklat muda.
Segera Purwadhika bangkit dari duduknya, lalu menuju ke salah satu sudut. Sementara itu, Ki Tunggul Segara masih duduk bersila di tempatnya, dengan kedua tangan ditopangkan pada kedua pahanya.
Purwadhika sudah selesai memakai pakaian pemberian Ki Tunggul Segara. Nampak pemuda itu bertambah gagah dan berwibawa. Wajahnya sea- kan memancarkan cahaya terang. Sorot matanya tajam. Mungkin pengaruh pakaian bersejarah dari Pendekar Bijaksana itu. Sebab, di masa mudanya Ki Tunggul Segara sangat disegani dan ditakuti ka- rena kesaktiannya. Apalagi setelah dia mendapat warisan Keris Pusaka Naga Sakti, dari saudara se- perguruannya Aji Sena.
"Kau nampak bertambah gagah, Cucuku. Sudah lama aku ingin melihat kau memakai pa- kaian kebesaranku itu," kata Ki Tunggul Segara dengan wajah cerah. Dia merasa bangga melihat cucunya yang gagah dan tampan itu.
"Apakah saya pantas memakai pakaian ini, Kakek Guru...?" tanya Purwadhika, sambil mem- perhatikan pakaiannya.
"He he he... kenapa tidak? Tapi, ingat. Jika ada yang mengenali pakaian yang kau pakai itu, dan mendesakmu untuk menjelaskan, katakan sa- ja kau muridku! Karena, aku yakin tokoh-tokoh persilatan seangkatanku sampai generasi sekarang mengenali pakaian warna coklat muda dengan sa- rung batik bergambar jatayu itu...," kata Ki Tung- gul Segara.
"Tapi, Kakek tadi bercerita bahwa Kakek in- gin tenang dan tak ingin lagi berurusan dengan dunia persilatan. Jika nanti mereka tahu kalau Kakek Guru masih hidup, apakah tidak berbahaya bagi Kakek Guru...?" nada suara Purwadhika begi- tu khawatir terhadap keberadaan kakeknya.
"He he he... Aku sudah siap kini, Cucuku. Jangan kau khawatirkan aku. Pergilah, doaku me- nyertaimu. Dan satu hal lagi yang harus kau ingat. Jika nanti kau bertemu seorang pendekar muda berpakaian rompi kulit ular, dengan tingkah laku yang konyol seperti orang gila. Katakan bahwa kau cucuku...!" kata Ki Tunggul Segara.
"Siapa pendekar muda itu, Kek...?" tanya Purwadhika ingin tahu.
"Sena. Sena Manggala. Dia putra tunggal Ci- tra Yudha, cucu Kakang Aji Sena. Pemilik keris pusaka pertama, yang kini kau sandang itu. Sena pendekar yang sangat ditakuti dan disegani, kare- na ilmunya yang tinggi dan aneh. Karena tingkah lakunya itu dia disebut Pendekar Gila...," tutur Ki Tunggul Segara.
"Pendekar Gila...?" gumam Purwadhika. "Jika kau bertemu dengan dia, katakan bahwa keris pusaka itu sudah kau sandang. Kare- na dia pasti akan menanyakan hal itu padamu, untuk meyakinkan dirinya, bahwa kau benar cu- cuku dan satu aliran."
"Lantas apa lagi yang akan saya katakan, Kek...?" "Jika dia ingin menemuiku, ajaklah kemari!" jawab Ki Tunggul Segara tegas. "Sudah, kini pergi- lah...! Hati-hati dan ingat semua pesanku...," tam- bah Ki Tunggul Segara.
Purwadhika segera menjura beberapa kali, lalu mencium tangan Ki Tunggul Segara dengan penuh perasaan kasih.
"Pergilah!" suara lelaki tua itu terdengar perlahan.
***

Tokoh-tokoh rimba persilatan ternyata ma- sih saja membicarakan Keris Naga Sakti yang sampai kini belum juga diketemukan. Terutama, tokoh-tokoh sesat yang sangat ingin memiliki keris itu, kini membentuk kelompok dalam usahanya mencari pusaka yang kini berada di tangan Pur- wadhika. Seperti pada suatu sore di sebuah bangunan yang bentuknya seperti kuil Cina. Sudah tua sekali, dinding-dindingnya sebagian berlumut dan berwarna kelabu.
Di dalam kuil itu ada delapan orang tokoh aliran hitam. Di antaranya, Sadiro dan Cilung yang sudah tua. Rambut mereka sebagian sudah putih. Mereka duduk melingkar. Salah satu dari kedela- pan tokoh itu dikenal dengan nama Sindang Manik, namun nama aslinya sebenarnya Wongso Gu- no. Lelaki tua itu sengaja merubah nama dan dandanan dengan yang menyeramkan, untuk lebih le- luasa menjalankan rencananya yang jahat. Dia in- gin memiliki keris itu dengan cara lain. Wongso Guno mempunyai seribu akal bulus. Dia tak se- gan-segan membunuh dan berbuat curang terha- dap kawan sendiri.
Sore itu mereka berkumpul, karena men- dengar bahwa keris itu ada di tangan seorang lela- ki tua yang sakti. Saat itu mereka sedang berdebat mengenai Keris Pusaka Naga Sakti. Sebenarnya di antara mereka saling tidak percaya, saling mencu- rigai. Seperti pada saat ini, antara empat saudara yang dikenal dengan julukan 'Empat Jin Botak da- ri Selatan' bertengkar mulut dengan Wesi Geni yang berilmu tinggi.
"Sobat Sindang Manik, kau sebagai pimpi- nan pertemuan itu tak usah ragu akan keteguhan imanku. Tampaknya kau masih belum percaya akan ucapanku, bukan?" sergah Wesi Geni dengan bangga, kedua matanya melirik sinis ke arah Em- pat Jin Botak yang ada di sebelah kiri Wesi Geni.
"Tetapi selama sepuluh tahun terakhir ini, aku belum pernah meninggalkan pertapaanku. Ka- rena persoalan Keris Pusaka Naga Sakti yang akan kita perebutkan itu, aku sengaja menghentikan pertapaan. Aku tak mau setan-setan rakus yang sudah berada di sini menjadi kelompok kita...!"
Kembali mata Wesi Geni melirik sinis ke arah Empat Jin Botak dari Selatan.
"Hm, sombong!" ujar Jin Kobra yang dikenal mempunyai ludah beracun.
"Kami Empat Jin Botak dari Selatan memang tergolong manusia-manusia yang tak beri- man," sela Jin Soka yang berjuluk Topan Bergu- lung. "Tapi kelicikan Wesi Geni pun sudah sangat terkenal," sambungnya menyindir.
"Semua orang tahu bagaimana kotornya ha- timu, Wesi Geni," tuding Jin Sudra atau si Racun Lima Naga.
"Siasatmu tentu hendak menggunakan ma- tamu yang kotor, untuk membutakan mata para jago yang bening, bukan? Sungguh menggelikan," ejek Jin Kala atau si Mata Merah sambil tertawa- tawa.
Mendengar Empat Jin Botak dari Selatan itu memakinya secara bergantian, menyindir, dan mengejek dirinya, hati Wesi Geni menjadi gusar bukan main. Dengan sorot mata yang tajam dan berapiapi, dia memandangi keempat orang ber- saudara itu secara bergantian.
"Nama kalian berempat pun sudah demi- kian jeleknya di rimba persilatan. Dosa kalian sudah menggunung setinggi langit. Karena itu sudah sepantasnya kalian dilenyapkan dari permukaan bumi ini," kata Wesi Geni dengan kasar dan sua- ranya yang bergetar.
Dan selesai kalimat terakhir, Wesi Geni dengan cepat menggerakkan kedua tangan bagai membuat jurus. Lalu ditepukkan kedua telapak tangannya dengan keras disusul dengan menepukkan telapak tangan kanannya ke dada yang sebelah kiri. Dan bersamaan dengan itu, terlihatlah seekor kumbang berwarna keperakan berteng- ger di ujung gagang pedang yang tersandang di punggungnya. Kumbang Perak itu melebarkan sayapnya, lalu terbang cepat menyerang Jin Mata Merah. Kian lama kecepatan terbang Kumbang Pe- rak kian cepat. Luar biasa sekali. Menyambar- nyambar tubuh Jin Mata Merah.
Semua yang ada di situ tercengang, terma- suk Sindang Manik dan Sadiro, lelaki bermuka pucat yang kini bersekutu dengan Sindang Manik. Mereka terpaksa berdiri dan mundur ke belakang.
Jin Mata Merah belum sempat meloloskan pedang ketika Kumbang Perak itu telah beberapa kali berhasil menggigit tubuhnya.
Begitu pedang tergenggam di tangannya, Jin Mata Merah dengan cepat menggerakkannya un- tuk membentuk ratusan bunga-bunga pedang yang berwarna merah menyala bagai api membara. Maksudnya untuk melindungi dirinya dari seran- gan Kumbang Perak yang sangat berbahaya itu.
Trakkk! Dengan keras pedang Jin Mata Merah menghantam Kumbang Perak yang sedang me- nyambar-nyambar itu. Akibatnya, Kumbang Perak terpental dan terjatuh ke atas lantai, setelah terle- bih dahulu membentur keras ke dinding.
Melihat serangannya berhasil, Jin Mata Me- rah langsung tersenyum dingin.
"Aku tak yakin seekor kumbang mampu mencabut nyawaku," katanya bernada meremehkan.
Akan tetapi, rasa penasaran Jin Mata Merah belum selesai. Matanya seketika terbelalak, karena melihat Kumbang Perak ternyata sudah kembali berkelebat menyambar dengan amat cepat, bagai- kan anak panah.
Menjadi gugup juga Jin Mata Merah, karena kewalahan dibuatnya.
Kini Kumbang Perak sudah semakin cepat terbang berputaran di atas Empat Jin Botak dari Selatan itu. Terbangnya kian lama kian cepat, se- hingga yang terlihat kini cuma rentetan sinar ke- perakan dan menyilaukan. Disertai suara siulan panjang melengking dan semakin meninggi dari mulut Wesi Geni. Ruangan rumah tua yang lebih mirip kuil Cina itu kini hanya dipenuhi ekor sinar keperakan sehingga mengaburkan penglihatan.
Tiba-tiba, dari ekor sinar keperakan itu, ter- sebarlah asap hitam yang tidak terlalu tebal. Na- mun baunya sangat amis dan menusuk hidung. Di samping bau, asap itu pun membuat mata terasa perih dan pedas.
Sadiro yang berwatak keras dan gampang marah, segera menyerang Wesi Geni, bermaksud agar menghentikan serangan Kumbang Peraknya. Namun baru saja Sadiro hendak mencengkeram tangan Wesi Geni, dalam sekejap saja lelaki ber- muka pucat itu terpental, karena sinar keperakan itu ternyata dapat pula menghajar tubuhnya.
Plarrr! "Aaaa...!" pekik Sadiro lalu roboh. Cilung kaget dan hendak menolongnya, tapi ragu. Sedangkan Sindang Manik nampak tenang-tenang saja. Dia sebenarnya lebih suka mereka saling bunuh. Dengan begitu dia nanti akan dapat menguasai Keris Pusaka Naga Sakti seorang diri. Meskipun sampai sekarang belum dapat diketahui siapa yang menyimpan keris itu.
Tiba-tiba Cilung dan satu tokoh lagi yaitu Burisrawa, lelaki bermuka lebar rambut keriting panjang diikat dengan kain warna merah, sama- sama memegangi kepala.
"Waduh...! Kepalaku..., pusiiing...!" pekik Burisrawa dan Cilung.
Sindang Manik dan Sadiro merasakan hal yang sama. Sedangkan Empat Jin Botak dari Sela- tan tampak masih bisa bertahan.
Kini, Jin Soka dan Jin Kala secara serentak melakukan perlawanan, dengan membentuk suatu barisan pedang untuk menghalangi sambaran Kumbang Perak milik Wesi Geni.
Pada saat bersamaan Jin Kobra memba- batkan pedang ke depan ketika melihat Kumbang Perak hendak menyambar Jin Sudra.
Trakkk! Kuat sekali hantaman pedang Jin Kobra dan tepat mengenai Kumbang Perak. Sehingga Kumbang Perak terpental sejauh sepuluh depa di depan pintu rumah tua itu.
Akan tetapi, Kumbang Perak kembali mem- buat kejutan. Binatang itu tiba-tiba telah mampu merentangkan sayapnya dan terbang melakukan serangan susulan yang dahsyat.
"Hah...?!" Empat Jin Botak dari Selatan ka- get. Sambaran kumbang yang begitu cepat mem- buat mereka hanya bisa menundukkan kepala sambil menebas sebisanya. Sial bagi Jin Soka....
"Aaakh...!" Jin Soka memekik, ketika melihat jari telun- juk tangan kanannya sudah menghitam dan mem- bengkak.
"Aa... aku kena racun itu! Racun Kumbang Perak!" seru Jin Soka gugup sambil mundur ter- seok-seok.
"Ha ha ha..., itu sudah pasti!" sahut Wesi Geni tertawa-tawa.
Jin Sudra, yang melihat hal itu segera membabat jari tangan Jin Soka, sehingga terputus. Darah segar berceceran di atas lantai.
"Terima kasih, Sudra!" seru Jin Soka. Kare- na dia menyadari maksud baik saudaranya. Sebab bila tak dilakukan, tentulah racun itu akan me- rambat ke sekujur tubuhnya. Dan itu sangat ber- bahaya karena bisa membuatnya mati!
Baru saja Jin Sudra menyahut, Kumbang Perak ternyata sudah berhasil menerobos masuk ke dalam pagar bayangan pedang yang dibentuk oleh Jin Sudra, Jin Kala, dan Jin Kobra. Dengan cepat Jin Sudra menebaskan pedangnya untuk menghajar ke samping sambil mundur selangkah.
Jin Kobra, yang melihat situasi gawat, sege- ra menghalau Jin Soka yang jari tangannya putus itu.
"Cepat balut lukamu itu!" teriak Jin Kobra sambil membuat pagar di depan Jin Soka.
Kini, tiga bilah pedang terus berkelebat me- nyambar-nyambar membentuk suatu pagar pertahanan yang amat rapat, guna melindungi diri me- reka, serta mencari kesempatan melakukan serangan.
Melihat serunya pertarungan itu, para tokoh lainnya menjadi sama-sama tegang, sekaligus ka- gum. Sindang Manik alias Wongso Guno dan Sadi- ro yang berdampingan sama-sama menatap tanpa berkedip.
"Kita harus selalu waspada. Terutama pada Wesi Geni. Dia memiliki ilmu yang sukar ditandin- gi...!" bisik Sadiro yang memang dekat dengan Sin- dang Manik. Karena mereka berdualah yang mem- punyai rencana jahat pada kelompoknya sendiri, bila kelak sudah menemukan orang yang menyim- pan Keris Naga Sakti itu.
"Hm...," gumam Sindang Manik pendek, "Tapi kecerdikan dan kelicikanku lebih unggul dari ilmu Wesi Geni dan Empat Jin Botak dari Selatan itu...," tambah Sindang Manik. "Jangan kau terlalu khawatir..., Sadiro!"
Sadiro tersenyum mendengar ucapan saha- batnya itu. Matanya kembali memperhatikan per- tarungan.
Namun pertarungan akhirnya terhenti, keti- ka Mandra muncul sambil berteriak.
"Berhenti...!" seru Mandra dengan napas ngos-ngosan.
Seketika semuanya menoleh ke arah Man- dra. Sindang Manik dan Sadiro segera mengham- pirinya. "Bagaimana? Apakah penyelidikanmu membawa berita baik...?" tanya Sadiro dengan dingin. "Mandra tak pernah gagal. Sebaiknya sabar dulu, aku akan memberi kabar baik pada sobat sekalian...," jawab Mandra membanggakan dirinya. "Cepat katakan, apa yang kau dapat..!" ujar Sindang Manik dengan nada berat
"Baiklah.... Kita rupanya harus menempuh perjalanan jauh. Memerlukan waktu lima hari un- tuk mencapai tempat itu. Di lereng Gunung Maja- laya," kata Mandra menjelaskan.
"Apakah kau tahu siapa orang yang me- nyimpan keris itu...?" tanya Sadiro perlahan.
"Ya. Seorang kakek yang dikenal dengan nama Pendekar Bijaksana...!" jawab Mandra tegas, sambil merentangkan kedua tangannya dan terse- nyum lebar.
"Hanya seorang kakek...? Ha ha ha...!" sa- hut Wesi Geni sombong.
"Jangan kau bersenang hati, Wesi Geni! Apakah kau lupa atau kurang dengar bahwa ka- kek itu adalah Pendekar Bijaksana yang memiliki ilmu cukup tinggi. Apalagi kini keris itu ada di tangannya...," tukas Sindang Manik dengan nada berat
Wesi Geni mengerutkan kening sejenak, lalu menggeleng-gelengkan kepala. "Aku tahu, tapi dengan Kumbang Perak, tak mungkin kakek itu akan mampu melawanku. Tapi keris itu...?" Wesi Geni tak melanjutkan ucapannya. Dia kemudian nampak berpikir. Karena kesaktian Keris Naga Sakti akan bisa menghancurkan Kumbang Perak- nya. Maka itu seketika Wesi Geni diam membisu.
Empat Jin Botak dari Selatan tersenyum- senyum mengejek Wesi Geni.
"Sudahlah, sebaiknya kita membuat renca- na yang matang, agar kelak tak ada hambatan. Hanya kelompok kita yang mengetahui rencana itu. Jangan sampai tercium orang luar...!" kata Sindang Manik. Lalu melirik ke arah Sadiro den- gan penuh arti. Sadiro mengedipkan sebelah ma- tanya.
"Ayo, sebaiknya kita berkumpul...!" kata Sa- diro tiba-tiba.
Mereka segera berkumpul kembali, merun- dingkan rencana besar mereka. Sampai jauh ma- lam.

3
Kutareja merupakan sebuah kota kecil yang cukup ramai didatangi para pendatang dari semua penjuru Jawadwipa. Siang itu sinar matahari tera- sa terik dan menyengat. Namun tak membuat para pendatang merasa terganggu. Mereka asyik dengan kesibukan masing-masing. Ada yang berbelanja, nonton tukang obat, atau menikmati makanan di kedai-kedai di kota itu.
Dari kejauhan, tepatnya di ujung Kutareja, nampak seorang pemuda berambut gondrong, dengan ikat kepala dan pakaian rompi kulit ular. Pemuda tampan itu tampak cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah dengan santai di antara orang-orang yang simpang-siur di ja- lanan Kutareja itu.
Rumah-rumah di Kutareja itu memiliki kemiripan bentuknya dengan bangunan Cina kuno. Sebagian memang ada yang dari bilik, tapi banyak pula yang berdinding tembok.
"Aha, ramai juga Kutareja ini. Baru kali ini aku datang kemari," gumam pemuda berpakaian rompi kulit ular. Matanya terus memandang ke ki- ri dan ke kanan sambil menggeleng-gelengkan ke- pala yang berambut ikal.
Orang-orang yang kebetulan berpapasan dengan pemuda itu, pasti merasa heran dan berge- leng-geleng kepala. Karena melihat tingkah pemu- da tampan yang terkadang tertawa-tawa sendiri, cengengesan, dan menggaruk-garuk kepala.
"Ah, lebih baik aku istirahat sejenak. Teng- gorokan haus...," gumam pemuda bertingkah laku seperti orang tidak waras yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila.
Sena langsung memasuki rumah makan. Bangunan cukup besar itu dipadati pengunjung, yang kebanyakan orang dari luar daerah, bukan warga Kutareja. Mereka kebanyakan pedagang. Ada juga beberapa pedagang dari Cina, duduk di salah satu sudut menikmati hidangan pesanan- nya.
Di antara para pengunjung, ada dua lelaki yang nampak sinis ketika Sena memasuki rumah makan itu. Tampaknya mereka curiga akan keda- tangan Sena.
"Hei! Kau lihat pemuda yang baru masuk itu. Rasanya aku pernah ingat. Tingkahnya kaya bocah edan...!" ucap lelaki yang bermata jalang, berhidung betet, dengan pakaian serba hijau. Kumisnya tipis melintang di atas bibir.
"Hmmm...," kawannya hanya bergumam sambil menoleh ke arah Sena yang sudah duduk tak jauh dari tempat duduk mereka, "Kayaknya pemuda itu bukan pemuda sembarangan.... Tapi, kita harus selidiki dia, Burisrawa..."
"Ya. Heh, Cilung. Rasanya aku pernah den- gar ciri-ciri seorang pendekar sakti yang sedang kondang di rimba persilatan. Apakah pemuda itu...," Burisrawa tak meneruskan ucapannya, ka- rena kawannya menyelak.
"Aah, sudahlah! Jangan hiraukan pemuda itu. Makan dulu, nanti makananmu keburu din- gin. Kau terlalu terbawa oleh pikiranmu saja. Yang lebih penting keris pusaka itu...!" kata Cilung lalu menggigit daging ayamnya dengan rakus. Mulut- nya penuh dengan nasi dan lauk. Nampak jorok, cara kedua orang itu makan.
Sena yang duduk terpaut dua meja di sebe- lah kiri mereka, dengan ilmu 'Sapta Pangringu' yang dapat mendengar percakapan orang dalam jarak jauh, mengetahui percakapan dua orang itu. Dia mengerutkan kening dan menggaruk-garuk kepala, kemudian melirik sejenak ke arah Cilung dan Burisrawa.
Pada saat itu datang pelayan membawa hi- dangan yang dipesan Sena. Dia segera tersenyum pada pelayan lalu mulai menyantap makanannya.
"Aku penasaran.... Perasaanku mengatakan bahwa pemuda itu seorang pendekar. Aku yakin itu," gumam Burisrawa yang nampak masih curiga pada Sena.
Dia sebenarnya mengenal siapa sebenarnya pemuda itu. Namun lelaki bermuka lebar dan ber- kumis tebal yang wajahnya selalu memerah itu agak mabuk, karena terlalu banyak minum arak yang selalu dibawanya dalam guci berukuran kecil. Hal itu membuat ingatannya agak kabur.
"Terserah kau sajalah! Masa' kau tidak ma- lu cari perkara dengan pemuda yang kayak begi- tu...?!" kata Cilung yang baru selesai meneguk mi- numannya. Kemudian melirik ke Sena.
Sena nampak tenang, seakan tidak men- dengar ucapan mereka. Dia baru saja selesai menghabiskan makanannya. Lalu meneguk air minum. Setelah mengelap mulut dan tangannya, Pendekar Gila menghela napas panjang.
Ketika Sena hendak meneguk minuman la- gi, tiba-tiba sebuah benda sebesar kelereng meng- hantam tempat minum yang terbuat dari bambu itu.
Trakkk! Sena sebenarnya sudah memperhitungkan dan tahu kalau Burisrawa akan berbuat sesuatu padanya. Maka Pendekar Gila pura-pura kaget dan seperti orang ketakutan. Dia menoleh ke arah Bu- risrawa dan Cilung yang tertawa-tawa mengejek. Sena nyengir dan menggaruk-garuk kepala.
Semua orang yang ada di situ hampir se- muanya menoleh ke arah Sena. Ada yang mener- tawainya, tapi ada pula yang merasa kurang se- nang dengan tingkah laku Burisrawa dan Cilung yang sok dan tak sopan sejak mereka masuk ke rumah makan itu.
"Apa kubilang, pemuda itu tak punya nyali. Mungkin dia anak gunung yang baru masuk ke Kutareja ini. Ha ha ha...!" ejek Cilung yang juga mulai mabuk.
Burisrawa hanya mendengus. Rupanya dia masih penasaran, karena merasa mengenal pemu- da yang tingkahnya nampak aneh dan seperti orang sinting itu.
"Dugaanku pasti tak salah. Dia, pemuda itu tak lain...," kata-kata Burisrawa terhenti, ketika melihat seorang pemuda berpakaian serba coklat, rambut panjang dengan ikat kepala coklat muda pula, memakai kain batik bergambar jatayu atau garuda. Di pinggangnya terselip sebilah keris. Pe- muda itu dengan tenang melangkah masuk mele- wati tempat Burisrawa dan Cilung.
"Hah...?!" gumam Cilung memandang pe- muda berpakaian coklat muda itu dengan mata mendelik, "Hei! Kau lihat pemuda berpakaian cok- lat itu. Perhatikan apa yang terselip di pinggang- nya...!" bisiknya kemudian.
Sementara pemuda berpakaian coklat muda sudah duduk di kursi yang ada di depan Sena. Ja- di pemuda itu membelakangi Sena yang masih pu- ra-pura ketakutan. Namun mata Sena terus men- gamati gerak-gerik kedua orang jahat itu sambil pula memperhatikan pemuda yang baru datang.
"Hm, siapa pemuda ini. Sepertinya dari go- longan lurus, mungkin seorang pendekar...," gu- mam Sena dalam hati.
Pelayan datang menghampiri pemuda ber- pakaian coklat muda, bermaksud untuk menawarkan makanan. Namun, tiba-tiba saja Cilung datang mendekati dan mendorong dengan kasar dada pelayan. Tubuh pelayan terhuyung ke bela- kang dengan muka kaget.
"Tidak tahu adat...!" kata pelayan marah. Cilung yang mendengar jadi naik pitam. Dia berba- lik dan langsung menghajar pelayan dengan tam- paran tangan kanannya.
"Kau sudah bosan hidup, ya...!" bentak Ci- lung dengan mata melotot. Ketika Cilung hendak kembali menampar pelayan yang tak berani mela- wan itu, tiba-tiba tangannya dicengkeram oleh tangan seseorang dengan keras dan kuat. Cilung cepat berbalik sambil menghantarkan pukulan ke arah wajah dan disusul sabetan kaki kanan ke arah orang yang menghalanginya.
Namun dengan gerakan cepat orang itu membalas melancarkan pukulan ke arah Cilung.
Plak! Bukkk! Dua pukulan balasan tepat mendarat di da- da Cilung. Membuat Cilung yang menganggap re- meh lawannya terhuyung dan menabrak beberapa orang yang ada di belakangnya. Hingga orang- orang itu kabur. Keadaan seketika menjadi kacau. Para pengunjung mulai panik. Sebagian kabur ke- luar dan sebagian lagi malah ingin melihat perke- lahian itu.
"Kurang ajar...! Siapa kau...?!" bentak Cilung sambil mendelik dan segera mendekati pe- muda berpakaian coklat muda yang tak lain Purwadhika. Pemuda itu tahu-tahu sudah duduk kembali di tempatnya dengan tenang dan menatap tajam pada Cilung.
Sementara itu Sena hanya cengar-cengir dan menggaruk-garuk kepala. Burisrawa yang se- jak tadi hanya menyaksikan Cilung dihajar Pur- wadhika, masih nampak penasaran terhadap Se- na. Matanya terus mengamati gerak-gerik pemuda bertingkah aneh itu. Sementara Sena sendiri su- dah merasakan kalau lelaki berwajah lebar dan be- rambut keriting itu memperhatikannya. Sena terus berlagak seperti orang ketakutan, lalu menjauh ke belakang dan duduk di kursi lain.
"Hai, jawab! Siapa kau Anak Muda? Apakah kau mau mengantar nyawa padaku...?! Kurasa kau belum mengenalku, hah?!" bentak Cilung ka- sar sambil menendang meja. "Kau tahu, tak ada seorang pun di sini yang berani kurang ajar den- gan Cilung...! Penguasa daerah Kutareja, Cilung atau si Setan Golok Maut!"
Mendengar nama yang disebut Cilung, seke- tika Purwadhika teringat akan cerita kakeknya. Bahwa Cilung satu di antara orang yang ikut membunuh ibu-ayahnya. Darah Purwadhika seke- tika itu mendidih. Dengan perlahan dia berdiri menatap tajam Cilung yang membusungkan dada. Namun pemuda tampan itu kemudian menghela napas panjang, kembali duduk. Sebab, tiba-tiba dia teringat pesan kakeknya, Ki Tunggal Segara. Bahwa dia tak boleh dendam, atau membalas den- gan membunuh orang yang telah menghabisi ke- dua orangtuanya. Di sini hati dan jiwa Purwadhika bertarung, melawan rasa dendam dan pesan gurunya. Lalu terngiang-ngiang di telinganya suara sang Kakek, "Hadapi lawanmu dengan tenang, jangan menaruh dendam berlebihan. Tapi jika orang itu ingin melukai atau membunuhmu, itu urusanmu. Kuserahkan padamu untuk bertin- dak...." Purwadhika tersentak, ketika Cilung kem- bali membentak sambil menendang kursi dan meja lain yang ada di kanan dan kirinya.
"Hai! Kau ini mau melawanku atau menye- rah.... Bengong kaya ayam sakit...!" kata Cilung pongah dan membusungkan dadanya.
"Maafkan, aku tidak bermaksud melawan, Sobat," sahut Purwadhika tegas.
"Ha ha ha...! Kalian dengar! Pemuda gunung ini minta maaf padaku. Ha ha ha...! Baru kali ini aku mendengar seorang yang gagah dan tadi sem- pat menghajarku minta maaf. Ha ha ha...!" kata Cilung sambil tertawa terbahak-bahak. Sejenak dia menghela napas kemudian berkata lagi, "Hei! Pera- turan di sini tak ada istilah minta maaf. Ganjaran orang yang sudah melukaiku. Mati!"
Cilung segera mencabut golok pusaka, yang dikenal dengan Golok Maut Pencabut Nyawa.
Namun Purwadhika masih nampak tenang. Hanya matanya menatap tajam Cilung yang sudah menggenggam golok.
Sementara itu Burisrawa masih duduk den- gan menghadap ke arah mereka yang akan berta- rung. Sebentar-sebentar matanya melirik ke arah Sena yang terus cengengesan sendiri sambil meng- garuk-garuk kepala.
"Sekarang jantungmu akan kukeluarkan,
Anak Muda! Heaaat..!" dengan gerakan cepat Ci- lung yang tampak beringas langsung memba- batkan goloknya ke arah kepala Purwadhika. Na- mun dengan gerakan cepat pula Purwadhika me- nundukkan kepala, lalu disusul dengan melompat ke samping sambil membawa kursi yang didudu- kinya. Kemudian dengan gerakan secepat kilat dan sukar ditangkap mata biasa, pemuda itu meng- hantamkan kursi yang dipegangnya ke punggung Cilung. Prakkk!
"Ukh...!" Cilung memekik, lalu cepat berba- lik.
Purwadhika sudah berdiri tegak menunggu serangan Cilung.
"Orang inilah salah satu dari tiga orang yang membunuh kedua orangtua ku! Ingin ra- sanya aku cepat menghabisinya. Tapi pesan Kakek Guru membuatku bimbang. Tapi...."
Belum lagi Purwadhika habis bicara dalam hati, tiba-tiba serangan gencar dilakukan oleh Ci- lung yang semakin naik darah. Lelaki yang sudah mulai menua itu mendesak Purwadhika. Dan pada kesempatan yang baik, Cilung sempat merobek lengan baju Purwadhika sebelah kiri. Ketika pe- muda itu agak lengah. Karena dia sebenarnya tak ingin ribut atau membuat masalah dengan Cilung.
Brettt! "Huh...!" Purwadhika hanya mendengus sambil meli- hat lengan bajunya yang sobek. Lalu tersenyum. Dan dengan gerakan cepat yang tak bisa dilihat dengan mata biasa, tahu-tahu Purwadhika sudah menendang tangan Cilung yang memegang golok- nya. Sehingga golok itu terlepas. Dengan gerakan cepat sekali Purwadhika menangkap golok Cilung sebelum menyentuh tanah. Dalam sekejap pemuda itu tahu-tahu sudah menempelkan golok ke leher lawan. "Heh...?!"
Cilung terbelalak kaget. Wajahnya seketika pucat pasi. Keringat membasahi wajahnya yang je- lek itu. "Aku tak ingin membunuhmu, walaupun aku bisa. Sebaiknya kalian pergi saja.... Sebelum pikiranku berubah!" kata Purwadhika yang masih menempelkan golok ke leher Cilung.
Para pengunjung rumah makan itu merasa kagum dan berbisik-bisik satu sama lainnya.
"Edan! Pemuda itu ternyata memiliki ilmu yang luar biasa!" kata seorang lelaki setengah tua sambil bergeleng kepala.
"Ya, biar si Manusia Sombong dan pengacau seperti Cilung cepat mati di tangan pemuda itu! Biar penduduk tenang!" sahut temannya dengan muka sinis memandangi Cilung.
Purwadhika melempar golok Cilung ke lan- tai, kemudian dengan tenang melangkah ke arah tempat duduknya tadi. Untuk sesaat Cilung hanya bisa memandang Purwadhika, seakan merasa ter- kesima. Namun, kemudian dia cepat mengambil goloknya, ketika melihat Burisrawa melangkah sambil menggeser letak goloknya.
"Bangsat! Mulutmu keterlaluan, Anak Muda! Perlu disobek dengan ini!" bentak Burisrawa sambil mencabut goloknya, kemudian tanpa basa- basi lagi menyerang Purwadhika diikuti oleh Ci- lung.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Cilung dan Burisrawa menyerang secara bersamaan dari sisi kiri dan kanan. Purwadhika dengan ketenangannya dapat mengelak dan me- nangkis pukulan dan sabetan golok kedua lawan- nya.
Pada kesempatan yang baik, Purwadhika sempat mendaratkan pukulan ke dada Burisrawa dengan keras, hingga lelaki berambut keriting itu memekik dan terhuyung. Cilung dengan cepat me- nyerang Purwadhika yang sedikit membelakan- ginya.
"Heaaattt...! Mampus kau, Bocah Ingusan!" teriak Cilung menderu keras di atas kepala Pur- wadhika. Kalau saja pemuda itu terlambat sekejap, kepalanya mungkin tertebas golok Cilung.
Purwadhika melompat ke belakang dan mendarat di atas meja. Burisrawa yang semakin marah, menggeram dan melompat diikuti oleh Ci- lung. Keduanya memutar-mutar golok dengan ce- pat sebelum membabatkan dan menusuk ke arah Purwadhika.
Ketika keduanya membabat dan menusuk- kan golok masing-masing ke arah kepala dan perut lawan, Purwadhika memapaki dengan pukulan te- lapak tangan kanan, menggunakan 'Ajian Tapak Sakti'.
Glarrr! Terjadi ledakan akibat pukulan 'Tapak Sak- ti' Purwadhika yang mengandung hawa panas ba- gai api, menghantam lawannya. Burisrawa dan Ci- lung terpental empat tombak ke belakang, lalu ja- tuh membentur meja dan kursi.
Brakk! Sementara Pendekar Gila menyaksikan dengan tersenyum-senyum di antara orang-orang yang masih ada di rumah makan itu. Purwadhika yang sebenarnya ingin membunuh Cilung, kembali mengurungkan niatnya, karena teringat pesan sang Guru. Maka dengan melangkah tegap dan tanpa bicara apa-apa lagi, pemuda itu keluar sete- lah membayar dengan kepingan uang pada pemilik rumah makan.
Sena segera melesat keluar pula dari rumah makan itu. Sementara Cilung dan Burisrawa su- dah kembali berdiri. Dan ketika melihat Purwadhi- ka tidak ada di ruangan itu, keduanya segera me- lesat ke luar. Muka keduanya tampak mengelua- rkan darah. Sedangkan di dada mereka membekas telapak tangan berwarna merah kehitaman.
Purwadhika belum jauh dari rumah makan itu. Sementara Pendekar Gila sengaja menguntit- nya dari jarak agak jauh dengan sesekali merapat ke rumah penduduk.
"Hei Anak Muda, berhenti...!" bentak Cilung dengan marah.
Purwadhika menghentikan langkahnya dan membalik badan. Matanya menatap tajam ke arah Cilung dan Burisrawa yang mulai nampak pucat akibat pukulan 'Tapak Sakti' Purwadhika.
"Ada apa lagi, Sobat..?" tanya Purwadhika kalem. "Kau harus menerima kematian hari ini...! Kau telah mencoreng mukaku di depan orang ba- nyak. Rasakan ini!"
Selesai berkata begitu, Cilung dan Burisra- wa melompat ke udara dan bersalto dua kali, ke- mudian ketika sampai di atas Purwadhika, kedua- nya membabatkan golok ke kepala pemuda itu.
Wuttt, wuttt! Namun Purwadhika yang sudah dapat membaca serangan lawan, dengan mudah dapat mengelakkan. Purwadhika menjatuhkan tubuh bergulingan di tanah, lalu berdiri kembali dengan cepat
Begitu Cilung dan Burisrawa mendarat, Purwadhika melakukan gerakan membuka jurus 'Tapak Sakti'.
Cilung dan Burisrawa tak peduli, keduanya menyerang kembali dengan serentak. Cilung me- lompat-lompat seperti rusa sambil mempermain- kan goloknya, sedangkan Burisrawa memutar tu- buhnya cepat bagai gangsing. Itulah ilmu ‘Angin Puyuh Pembawa Kematian’ dan 'Rusa Iblis'.
"Hah...?!" gumam Purwadhika yang sempat kaget menyaksikan ilmu kedua lawannya.
Melihat begitu cepatnya serangan kedua to- koh hitam itu Purwadhika sempat terganggu piki- rannya, karena merasa terkesima. Belum sempat pemuda itu mengerahkan 'Ajian Tapak Sakti'-nya tiba-tiba saja....
"Akh...!" Purwadhika menjerit keras. Rupanya golok Cilung dan Burisrawa sempat menggores kaki ki- rinya dan dadanya. Untung pemuda itu masih sempat mengelak, kalau tidak perutnya sudah ter- tusuk golok Burisrawa. Dengan secepat kilat Pur- wadhika melenting ke atas melewati kepala kedua orang lawannya.
Burisrawa dan Cilung membalikkan badan dan kembali menyerang lawan yang kaki kirinya sudah terluka. Namun Purwadhika seperti tak me- rasakan rasa sakit sedikit pun.
"Heaaa...!" "Kucincang kau, Bocah...!" bentak Cilung dengan membabatkan goloknya dibarengi tusukan golok Burisrawa. Kini mereka tidak hanya meng- gunakan senjata, tapi kedua kaki yang terkadang menendang ke arah muka dan menyabet kaki Purwadhika.
Namun Purwadhika dengan lincah meliuk- liuk mengelakkan serangan dahsyat kedua lawan- nya. Hingga pada suatu kesempatan, Purwadhika yang sudah tak sabar lagi, kembali menghantar- kan pukulan telak ke arah rusuk Cilung. Sedang- kan kaki kirinya menendang keras ke punggung Burisrawa.
Bug! Bluk! "Aaakh...!" Burisrawa dan Cilung memekik keras. Tu- buh mereka terhuyung-huyung dan jatuh ke ta- nah. Namun keduanya segera bangkit berdiri dan kembali melancarkan penyerangan. Sementara itu, entah kenapa tiba-tiba Purwadhika berdiri dalam keadaan goyah dan gemetaran. Ternyata goresan golok Cilung yang sempat melukai kaki kirinya mengandung racun bisa ular kobra. Pemuda itu mulai limbung dengan tangan memegangi kepala seperti merasa pusing.
Melihat keadaan itu Sena terkejut. Semen- tara Burisrawa dan Cilung sudah mulai bergerak hendak menghabisi Purwadhika yang tengah sem- poyongan. Namun, ketika keduanya melompat sambil berteriak hendak mengayunkan golok, se- cepat kilat Pendekar Gila melesat menghajar Ci- lung dan Burisrawa dengan tamparan serta ten- dangan kaki kanannya yang keras.
Plakkk! Bug! Bug! "Aaaakh...!" Kontan Cilung dan Burisrawa terpental dan ambruk di tanah. Secepat itu pula Pendekar Gila menyambar tubuh Purwadhika, lalu membawanya kabur. Sekejap Sena sudah tak kelihatan.
Sementara itu, Cilung dan Burisrawa baru bergerak bangun.
"Bangsat...! Siapa yang menolong pemuda itu...?!" sungut Cilung dengan geram, lalu memba- cokkan goloknya ke tanah.
"Edan, pinggangku hampir patah! Pasti pe- nolong pemuda itu, orang yang kucurigai sejak ta- di...!"
Sejenak Burisrawa menyapukan pandangan matanya ke sekitar tempat itu. Diperhatikannya rumah-rumah penduduk, barangkali pemuda itu masih berada tak jauh. Ternyata tidak ada. Hanya orang-orang yang tampak menyaksikan dengan ra- sa takut dari kejauhan.
"Ada apa kau, Burisrawa...?!" tanya Cilung. "Sudah kuduga, dia pasti Pendekar Gila...!" seru Burisrawa penuh keyakinan.
"Hah...?!" Cilung nampak terkejut. "Apa kau tidak mabuk...?!" tanya Cilung masih dalam keter- kejutannya mendengar Burisrawa menyebut nama Pendekar Gila.
"Aku yakin. Hanya dialah yang bisa berbuat seperti tadi.... Dan pakaian rompi kulit ular, serta tingkahnya itu yang kuingat," jawab Burisrawa dengan bergetar suaranya.
"Celaka! Kita akan mendapat kesulitan...! Sebaiknya kita cepat pergi dari sini!" ujar Cilung, lalu segera dia melangkah sambil memegangi ru- suknya. Orang-orang yang menyaksikan dari depan rumah makan tersenyum-senyum sinis melihat kedua orang itu ngeluyur pergi.

4
Sena baru saja menyembuhkan luka dan mengeluarkan racun yang menjalar di tubuh Purwadhika. Murid Ki Tunggul Segara itu tampak lemas. Wajahnya yang pucat, basah oleh keringat dingin. "Makanlah ini! Mudah-mudahan kau akan kembali sehat dan sembuh," kata Sena sambil mengulurkan tangan memberi obat pada Purwad- hika.
Purwadhika mengambil obat dari tangan Sena dan segera memakannya. Mata pemuda itu sedikit tertutup, kepalanya bersandar di batang pohon yang rindang.
Sena berdiri meninggalkan Purwadhika yang tertidur lemas di bawah pohon. Dia ingin membiarkan pemuda itu, agar pulih kesehatannya. Tak beberapa lama kemudian, Purwadhika sudah mulai nampak segar. Wajahnya mulai me- rah dialiri darah. Perlahan dia membuka kedua matanya. Pemuda itu tampak kaget dan segera berdiri. Lalu memeriksa keris pusakanya. Dia me- rasa lega, ketika melihat keris itu masih terselip di pinggangnya.
"Mengapa diriku ada di sini...? Siapa tadi yang membawaku ke tempat sunyi ini. Bukankah tadi aku...," belum sempat Purwadhika melan- jutkan kata-katanya, tiba-tiba....
Kresekkk! Terdengar langkah seseorang dari balik se- mak-semak.
Purwadhika segera bersiap untuk mengha- dapi segala kemungkinan. Dari arah suara tadi muncul Sena. Sambil tersenyum cengengesan dan menggaruk-garuk kepala, dia melangkah dengan tenang menatap Purwadhika.
Purwadhika mengerutkan kening, meman- dangi Sena dari atas ke bawah. Pandangannya terhenti pada sebuah benda yang terselip di pinggang Sena. Kening pemuda itu semakin berkerut, seakan tengah mengingat-ingat pesan gurunya yang pernah menyebut nama seorang pendekar.
"Aha, rupanya kau sudah segar kembali, Sobat. Aku senang melihatmu sehat kembali.... Ternyata Hyang Widhi masih memberikan mukji- zat pada obat itu...," kata Sena dengan cengar- cengir dan menggaruk-garuk kepala, bertingkah konyol seperti orang gila.
Purwadhika terus mengingat-ingat dan me- mandangi tingkah Sena.
"Ah ah ah..., kenapa kau menatapku begi- tu? Apa ada yang aneh...?" tanya Sena sambil ter- tawa dan menepuk-nepuk pantatnya sendiri.
"Ya, ya... aku ingat... kau... kau kalau tak salah, Sena...," Purwadhika mengingat-ingat sam- bil memegang keningnya. "Se... Sena Manggala... atau Pendekar Gila...!" lanjut Purwadhika dengan wajah berseri lalu menjura.
"Aha...?! Kau ini ngaco, Sobat. Apa orang sepertiku ini pantas jadi pendekar.... Siapa kau sebenarnya?" Sena balik bertanya.
Sesaat kedua pemuda gagah itu saling pan- dang. Sena tersenyum cengengesan sambil meng- garuk-garuk kepala.
Purwadhika kembali menjura. Lalu berkata dengan tegas.
"Aku Purwadhika, cucu Ki Tunggul Sega- ra...."
Mendengar nama Ki Tunggul Segara, Sena mengerutkan kening. Matanya menatap tajam Purwadhika, seperti menyelidik. Namun kemudian tertawa-tawa kecil.
"Cucu Ki Tunggul Segara...?" ulang Sena perlahan, "He he he..., benarkah Ki Tunggul Segara mempunyai cucu sepertimu.... Tapi, sudahlah aku mau pergi...."
"Tunggu Sobat...!" cegah Purwadhika, lalu mencabut Keris Pusaka Naga Sakti dari pinggang- nya. "Inilah tanda kebenaran bahwa aku cucu Ka- kek Guru Ki Tunggul Segara yang berjuluk Pende- kar Bijaksana itu...."
Purwadhika mengulurkan kedua tangannya yang memegang keris pusaka itu ke arah Sena.
Sena mengerutkan kening, seketika wajah- nya berubah tegang. Sebab, mendadak dia teringat pada kedua orangtuanya yang mati terbunuh, oleh Segoro Wedi. (Tentang Segoro Wedi, silakan baca serial Pendekar Gila pada episode: "Suling Naga Sakti"). Karena jika Keris Pusaka Naga Sakti sem- pat diterima ayahnya dari Ki Aji Sena, Kakek Sena, kemungkinan Citra Yudha ayah Sena tak akan ka- lah atau mati ditangan Segoro Wedi.
Sejenak Sena menghela napas dalam- dalam. Matanya masih menatap keris itu. Purwad- hika tahu kalau Sena sedang melamun, mengingat nasib kedua orangtuanya.
"Maafkan aku, Sobat. Tentunya kau telah yakin bahwa aku tidak mendustaimu...," ucap Purwadhika pelan.
"Bagaimana kabar kakekmu?" tanya Sena tiba-tiba.
"Beliau baik-baik saja. Kakek Guru telah menceritakan semuanya padaku tentang keris ini, juga tentang dirimu, Sobat. Aku sangat bersyukur pada Hyang Widhi, bisa bertemu denganmu. Aku juga sangat berterima kasih, kau telah menyela- matkanku dari orang-orang serakah dan murka itu...," kata Purwadhika polos.
"Simpanlah keris itu baik-baik! Kau ten- tunya tahu, bahwa keris itu sedang dicari dan di- perebutkan para tokoh hitam. Termasuk kedua orang yang bertarung denganmu tadi. Tujuanku datang kemari memang untuk menyelamatkan ke- ris itu. Dan kini hatiku pun merasa lega, karena keris itu ada di tanganmu. Tapi kita harus tetap waspada. Karena saat ini mereka sedang mencari di mana keris itu berada...," kata Sena menje- laskan pada Purwadhika.
"Aku pun telah mengetahui dari kakekku. Lantas apa upaya kita agar keris ini aman?" tanya Purwadhika.
Sena menghela napas sejenak, lalu mengga- ruk-garuk kepala sebentar.
"Tentu kau dan aku sudah dikenal oleh to- koh-tokoh yang ingin merebut Keris Pusaka Naga Sakti itu. Dan tentunya, kedua orang yang hendak membunuhmu di Kutareja itu kelompok mere- ka...," tutur Sena kemudian.
"Benar. Karena salah satu dari orang yang bentrok denganku itu adalah pembunuh ayah ibu- ku," jawab Purwadhika menjelaskan.
Sena tersentak mendengar penuturan Pur- wadhika. Ditatapnya wajah Purwadhika yang mendadak berubah sedih dengan kepala mendon- gak ke atas. Sena merasa iba mendengarnya.
Sejenak mereka sama-sama diam tak berka- ta sepatah kata pun. Pendekar Gila mondar- mandir sambil menundukkan kepala, mencari ja- lan agar bisa leluasa bergerak untuk menyelidiki orang-orang yang memperebutkan keris pusaka itu.
"Aha, aku mendapat akal!" seru Sena tiba- tiba.
"Bagaimana?" tanya Purwadhika tak sabar. "Kita harus menyamar sebagai peminta- minta. Aku berpura-pura buta dan sakit-sakitan. Dan kau menuntunku ke mana tempat yang kita curigai," kata Sena diiringi senyum.
"Boleh juga, tapi bagaimana kita bisa seperti orang susah...?" tanya Purwadhika mulai tertarik.
"Tenang saja. Kita hidup harus pandai ber- sandiwara dan berpura-pura. Kalau tidak, bisa te- rinjak-injak oleh mereka-mereka yang berkuasa serta rakus akan harta dan kekuasaan," tutur Se- na pada Purwadhika.
"Aku sependapat denganmu Kak Sena. Aku banyak dengar dari Kakek Guru, bahwa rimba persilatan pun tak luput dengan adanya orang- orang serakah dan durjana. Tak terkecuali tokoh- tokoh aliran lurus dan yang beriman lemah, bisa bersekutu dengan mereka yang beraliran sesat. Ya demi kepentingan diri sendiri...."
Sejenak Purwadhika menghela napas pela- han. "...seperti orang-orang kepercayaan ayahku, yang akhirnya berkhianat bahkan tega membu- nuhnya dengan keji. Hanya karena ingin mengua- sai keris pusaka ini.... Padahal ayahku waktu itu tidak menyimpannya. Kakekkulah sebenarnya yang menyimpan keris ini, hingga beliau juga me- rasa bersalah dan bertanggung jawab atas kema- tian kedua orangtua ku. Kakek pun rela mati jika memang orang-orang itu mengetahui bahwa kakek yang menyimpan keris pusaka ini, sebelum dis- erahkan padaku...," tutur Purwadhika lebih lanjut.
"Tapi, keris itu kini kan sudah berada di tanganmu...," sahut Sena.
"Ya, tapi aku khawatir dan merasakan orang-orang itu telah tahu kalau Keris Naga Sakti ada di kakekku," kata Purwadhika.
"Bagaimana kau bisa mempunyai perasaan itu...?" tanya Sena coba memancing emosi Pur- wadhika. Sebenarnya Pendekar Gila pun sudah merasakan hal yang sama dengan Purwadhika.
"Karena Cilung, salah satu pembunuh ke- dua orangtua ku itu. Orang yang bentrok dengan- ku di rumah makan tadi nampaknya akan mencari atau dalam perjalanan ke tempat kakekku...," ja- wab Purwadhika tegas.
Pendekar Gila tersenyum cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Lalu berkata,
"Kau benar. Aku pun tadi mendengar oce- han mereka di rumah makan tadi. Dia memang sedang mencari keris yang kau sandang itu. Nah, sekarang kita harus atur siasat..."
"Siasat!" ulang Purwadhika sambil menge- rutkan kening.
"Ya. Aku akan menyamar dan tetap dengan seperti ini...," ucap Sena, lalu membisikkan sesua- tu pada Purwadhika,
Purwadhika mengerutkan kening, kemudian tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda setuju. Kedua pemuda gagah dan tampan itu berja- bat tangan erat, menandakan persahabatan yang kuat dan sehati mulai terpadu.
"Benar, kata Kakek Guru, bahwa kau pen- dekar sejati dan berbudi luhur, Kak Sena...," suara Purwadhika yang polos dan tegas itu hanya mem- buat Sena cengar-cengir dan berkata,
"Kau jangan terlalu berlebihan memujiku. Aku sama denganmu. Kau juga akan menjadi pen- dekar yang disegani, asalkan mau menjalankan ajaran kakekmu dengan benar...," kata Sena lalu menepuk pundak Purwadhika.
Setelah itu Pendekar Gila melesat pergi, se- raya berkata lagi, "Jalankan pesanku dengan baik! Kita harus menjebak mereka...!"
Sekejap Sena menghilang dari pandangan. Purwadhika menghela napas lega. Wajahnya nam- pak cerah.
***

Sementara itu Cilung dan Burisrawa men- jadi semakin buas dan ngawur, karena kegagalan- nya mencari Purwadhika dan Sena. Keduanya jadi tak terkendali, membunuh dan merusak rumah- rumah orang yang dilewati. Mereka keluar masuk hutan dan naik turun bukit, hanya untuk mencari Purwadhika dan orang yang menolongnya.
"Kita sebaiknya kembali pada rencana kita. Menuju tempat persembunyian si Kakek Tua
Tunggul Segara.... Kalau tidak kita akan mendapat marah Sadiro dan Sindang Manik," kata Burisrawa kesal.
"Aaah, persetan! Aku belum puas, sebelum dapat membunuh pemuda itu dan Pendekar Gila!" jawab Cilung geram.
"Kau jangan gegabah, Cilung! Kau pikir Pendekar Gila dapat mudah ditemukan dan kau kalahkan?! Kau bisa celaka sendiri." Sindang Ma- nik, Empat Jin Botak dari Selatan, Sadiro, atau Wesi Geni pun tak akan mampu menandingi Pen- dekar Gila seorang diri!" sahut Burisrawa semakin kesal dan mulai muak dengan kawannya itu.
Maka terjadilah perdebatan sengit antara mereka. Dan semakin keras ucapan-ucapan yang dilontarkan. Bahkan akhirnya terjadilah bentrokan fisik antara mereka.
"Hhh... kau memang manusia pengecut, Burisrawa! Heaaatt!"
Cilung yang sudah tak bisa menahan emosi langsung menyabetkan goloknya ke tubuh Buri- srawa. Namun Burisrawa menangkis dengan go- loknya pula.
Trang, trang, trang! "Heaaa...!" Burisrawa mencecar dengan permainan go- loknya yang cepat, tak memberikan kesempatan pada Cilung untuk melakukan serangan balik.
"Kau Manusia Bodoh, Cilung! Aku tak mau mati konyol...!" seru Burisrawa sambil memba- batkan goloknya ke kepala Cilung. Golok itu mele- sat begitu cepat hingga membuat rambut Cilung rontok. "Hah...!"
Cilung tersentak kaget. Sementara Burisra- wa agak terhuyung karena keseimbangan kakinya tak sempurna. Maka dengan cepat Cilung menen- dang Burisrawa. Bug, bug! "Akh...!" Burisrawa memekik keras ketika tubuhnya tersuruk ke tanah. Cilung tertawa puas, lalu me- lompat hendak menghabisi Burisrawa yang menu- rutnya tak bisa dipercaya lagi.
"Kau harus dihabisi!" gumam Cilung geram sambil melangkah mendekati Burisrawa yang ma- sih tengkurap. Cilung mengangkat tangan kanan- nya yang menggenggam golok, mau menebas tu- buh Burisrawa. Namun tiba-tiba....
"Tunggu...!" Terdengar suara seseorang berseru, mem- buat Cilung kaget dan cepat membalikkan badan. Sementara itu Burisrawa mulai bangun.
"Kau...!" bentak Cilung dengan mata mem- belalak lebar
"Kenapa kau? Kaget melihatku...?!" sahut seorang pemuda yang ternyata Purwadhika. "Bu- kankah kau mencariku?"
"Bukan hanya mencari. Aku ingin membu- nuhmu...!" sahut Cilung geram, lalu membuka ju- rus.
"Kau memang pembunuh licik, Cilung...!" tukas Purwadhika dengan tegas, sambil menyi- pitkan kedua mata, seakan menahan dendam di dalam hatinya.
"Hah?!" gumam Cilung lirih. Wajahnya be- rubah kaget, begitu mendengar namanya disebut Purwadhika. "Dari mana kau tahu namaku...?!"
Sementara itu Burisrawa tersenyum sinis pada Cilung. Kemudian berkata sambil mendekati lawannya itu yang mulai gusar.
"Kenapa kau gugup, Sobat? Pemuda itu mengenalimu. Tentunya... pemuda itu sudah lama mengenalmu...," ujar Burisrawa menyindir.
"Mengenali orang semacam kau tak sulit, Cilung! Walaupun kini kau mulai menua," pancing Purwadhika yang sebenarnya belum pernah ber- temu dengan Cilung. Purwadhika hanya ingin mendapat kepastian bahwa Cilung memang salah satu pembunuh kedua orangtuanya.
"Siapa kau sebenarnya...?!" bentak Cilung. Purwadhika tak langsung menjawab. Dia tampak berpikir sejenak, mencari siasat.
"Apakah namaku sangat berarti buatmu? Sebaiknya kau tanyakan pada sahabatmu Mandra dan Sadiro!"
Suara Purwadhika penuh penekanan pada waktu menyebut nama Mandra dan Sadiro. Mem- buat Cilung bukan main kagetnya. Kegugupannya semakin nampak jelas. Sejenak dia menoleh ke arah Burisrawa yang tersenyum mengejek. Lalu kembali menatap Purwadhika dengan perasaan cemas, tegang bercampur heran.
"Kau... kau kenal juga dengan Sadiro dan Mandra.... Di mana, kapan kau mengenai kedua sahabatku itu?!" tanya Cilung coba membentak Purwadhika.
Purwadhika semakin yakin, bahwa Cilung merupakan salah satu pembunuh kedua orangtu- anya. Matanya menatap tajam Cilung. Sementara dadanya berdetak cepat, menahan rasa dendam yang mulai membara. Namun dicobanya untuk melawan perasaan itu, karena tiba-tiba kembali te- ringat akan pesan kakeknya.
"Mestikah aku biarkan manusia licik ini te- tap hidup? Apakah aku bisa membiarkan orang seperti Cilung bebas berbuat semaunya terhadap orang lain, seperti yang dia lakukan pada ayah dan ibuku?" begitu pertanyaan di dalam benak Pur- wadhika.
"Tak perlu aku menjawab pertanyaanmu, yang jelas kaulah orang yang kucari. Dan kau per- lu sadar. Tinggalkan sifat murka dan serakahmu, jika kau ingin hidup damai di hari tuamu...," kata Purwadhika setelah dapat menguasai diri dan me- nekan perasaan dendam kesumatnya terhadap Ci- lung.
"Ha ha ha...! Pemuda ini lucu. Rupanya kau ini seorang pendeta yang suka berkotbah! Hei, Anak Muda, sebaiknya kau jadi pendeta saja atau kyai. Sebelum ajalmu tiba. Aku muak dengan oce- hanmu. Heaaa...!"
Cilung langsung menyerang Purwadhika dengan beringas dan penuh amarah. Sedangkan Burisrawa hanya menonton saja pertarungan itu. Dengan pandangan sinis pada Cilung.
Sebentar saja Cilung mulai terkuras tena- ganya, karena Purwadhika yang masih muda terus sengaja melakukan hal itu.
"Sebaiknya kau panggil Sadiro dan Mandra untuk membantumu...!" seru Purwadhika menge- jek, menggugah kemarahan Cilung.
"Bangsat! Kurang ajar...! Mampus kau! Huh!"
Cilung membabatkan goloknya ke arah kaki lawan. Namun sambil melompat Purwadhika me- lakukan tendangan berputar, tepat mengenai mu- ka Cilung.
Hingga tubuh Cilung melintir dan ter- huyung ke samping. Nampak lelaki setengah tua itu merasakan tendangan Purwadhika yang keras, membuat kepalanya pening.
"Hem...! Anak muda ini tidak boleh diang- gap remeh," gumam Cilung dalam hati.
Lalu Cilung membuka jurus pamungkas- nya, 'Golok Maut Pencabut Nyawa'. Diputar den- gan cepat goloknya, hingga nampak seperti baling- baling, menimbulkan suara menderu keras. Angin kencang pun seketika bertiup. Cilung melompat- lompat seperti rusa, disusul dengan lompatan salto di udara, kemudian menukik sambil memba- batkan goloknya ke kepala lawan.
Purwadhika tersentak kaget, melihat begitu cepat serangan Cilung, tahu-tahu sudah berada di atas kepalanya. Maka dengan cepat Purwadhika mencabut Keris Pusaka Naga Sakti.
Mendadak Cilung terpekik dan mengurung- kan serangan susulan. Hawa panas bagai api men- jalar begitu Keris Naga Sakti keluar dari warang- kanya.
Burisrawa pun tersentak kaget bukan main. Segera dia bersiap dan mencabut golok, kemudian bersatu dengan Cilung untuk merampas Keris Na- ga Sakti yang ada di genggaman tangan kanan Purwadhika.
"Ha ha ha...! Kenapa kalian berdua melon- go...?! Bukankah keris ini yang ingin kalian cari! Ambillah...!" kata Purwadhika dengan suara meng- gelegar. Dari keris itu memancar cahaya yang me- nyilaukan Cilung dan Burisrawa. Membuat kedua orang aliran hitam itu bagai buta tak bisa melihat apa-apa.
"Aaakh... aku tak dapat melihat... Oooh jan- gan arahkan keris itu padaku! Aaakh...!" pinta Ci- lung sambil menutup mata dengan tangannya.
"Kenapa kau?! Inilah keris yang membuat kau membunuh kedua suami-istri bekas atasan- mu delapan belas tahun yang silam...!" suara Pur- wadhika terdengar tegas dan menggelegar.
Cilung jadi semakin kaget. Dadanya naik turun dengan cepat karena menahan rasa cemas dan takut
"Siapakah pemuda itu? Mungkinkah dia anak Ramapati?! Celaka!" gumam Cilung lirih.
Burisrawa yang melihat temannya cemas dan ketakutan, jadi keheranan. Mulai timbullah pikiran jahatnya. Karena ujung keris itu diarahkan ke Cilung, maka sinar perak yang menyilaukan dan mengandung hawa panas itu tidak terasa pa- nas bagi tubuh Burisrawa. Maka niat untuk men- guasai keris itu menjadikan Burisrawa tak segan-segan membunuh Cilung yang masih dalam kea- daan menutup kedua mata dengan lengannya.
"Kesempatan ini tak akan kusia-siakan. Ka- lau dia mati, hanya akulah yang mengetahui di mana keris itu berada.... Dan aku akan melapor bahwa Cilung mati oleh Pendekar Gila...!" gumam Burisrawa dalam hati.
Maka dengan gerakan cepat Burisrawa membabatkan goloknya, menebas kepala Cilung.
Crasss! Seketika Cilung mati tak mengeluarkan su- ara lagi. Kepala Cilung putus menggelinding di tanah. Burisrawa nampak senang dan kemudian ka- bur. Meninggalkan Purwadhika.
Purwadhika yang tak menduga sama sekali akan hal itu hanya bisa terkesiap. Setelah beberapa saat baru dia melesat coba mengejar Burisrawa, namun lelaki berambut keriting itu sudah tak kelihatan. "Edan! Kenapa jadi begini. Celaka! Pasti Bu- risrawa memberitahu Sadiro dan kelompoknya...!" gumam Purwadhika sedikit gusar.
Didekatinya mayat Cilung, wajahnya nampak penuh penyesalan.
"Guru, bukan aku yang membunuh orang ini.... Hyang Widhi ampuni orang ini...!" gumam Purwadhika dengan tulus. Lalu dia meninggalkan tempat itu.

5
Purwadhika berusaha mencari Pendekar Gi- la untuk memberitahu, bahwa rencana harus be- rubah. Karena Cilung mati di tangan Burisrawa yang telah mengetahui Keris Naga Sakti ada pa- danya. "Aku harus cepat menemui Kak Sena. Kalau tidak, rencana itu bisa berantakan...," gumamnya sambil terus berlari menuruni perbukitan.
Ketika Purwadhika sampai di suatu dataran berbatu yang dikelilingi pepohonan tiba-tiba ter- dengar langkah derap kaki kuda dari arah utara. Pemuda itu segera melompat dan bersembunyi di balik batu besar.
Derap kaki kuda semakin dekat. Purwadhi- ka coba mengintip dari balik batu itu, ketika empat orang berkuda melintas di depannya.
Empat orang berkepala botak dengan pakaian serba kuning kemerahan berlengan pendek. Baju mereka yang panjang dibiarkan terbuka begitu saja. Hingga dadanya yang berbulu nampak jelas. Wajah mereka seperti kembar.
"Siapakah mereka?! Mungkin mereka kelompok Sadiro?" bertanya-tanya Purwadhika dalam benaknya.
Purwadhika tak segera beranjak dari tempatnya, dia nampak berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba melesat ke arah yang sama, ke selatan, seperti arah keempat lelaki botak tadi.
Sementara itu tanpa sepengetahuan Purwadhika, muncul lelaki bertutup muka hitam. Ke- palanya juga tertutup rapat kain hitam, sehingga hanya matanya yang tersisa. Pakaian yang dikena- kan pan serba hitam
Sebuah benda terselip di pinggangnya, tak begitu jelas, karena tergenggam telapak tangan. Rambutnya yang panjang agak ikal dibiarkan lepas begitu saja, hingga nampak angker. Tubuhnya yang tegap berdiri di atas sebuah batu. Meman- dangi Purwadhika yang berlari mengikuti keempat lelaki botak berkuda tadi.
"Huh?!" dengus lelaki dengan tutup muka hitam itu. Lalu lelaki misterius itu melesat pula ke arah Purwadhika pergi. Begitu ringannya gerakan yang dilakukan lelaki berpakaian serba hitam. Lin- cah dan gesit, menandakan bahwa dirinya, memi- liki ilmu peringan tubuh yang tinggi. Bagai terbang lelaki misterius berpakaian serba hitam itu. Dalam sekejap sudah melesat jauh sekali.
Dari balik lembah, muncul keempat lelaki botak berkuda, lalu menuruni lembah itu. Mereka memacu kuda dengan cepat, walaupun jalan yang dilalui sangat terjal, berbatu-batu dan menurun.
Tak lama kemudian mereka telah memasuki sebuah kawasan hutan jati. Dalam jarak yang agak jauh, sesosok bayangan berkelebat mengikuti mereka, berlari ke arah yang dituju kuda-kuda itu. Rupanya Purwadhika. Pada saat yang bersamaan, sosok berpakaian dan berkedok serba hitam itu melompat-lompat di atas pohon, dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Begitu seterusnya, bagai seekor kera melompat dengan gerakan ringan dan cepat. Bahkan kini telah meninggalkan Purwadhi- ka.
Sampai di suatu tempat, keempat kuda yang ditumpangi empat lelaki botak dari selatan itu tiba-tiba berhenti dan berbalik arah. Keempat- nya terjajar seperti menghadang seseorang. Ru- panya mereka merasa bahwa ada yang mengiku- tinya. Keempat lelaki berkuda itu tak lain Empat Jin Botak dari Selatan.
"Hemm...!" salah seorang mendengus. Ma- tanya menatap ke depan. Begitu juga yang lain.
"Ke mana tikus itu...?!" gumam Jin Sudra dengan suara berat
"Aneh, begitu cepat dia menghilang," sahut Jin Soka. Kemudian matanya melihat ke atas po- hon-pohon jati yang ditumbuhi ranting dan de- daunan cukup subur dan lebat. Tak terlihat tanda- tanda kalau ada orang. Juga di sekeliling hutan itu.
Kemudian keempatnya membalikkan lagi arah kuda mereka menuju selatan. Namun kali ini mereka berpencar, terbagi dua dengan jarak lima belas tombak dua di kiri dan dua di kanan.
Ketika mereka baru keluar dari hutan jati, sesosok bayangan melayang di udara. Setelah ber- salto beberapa kali sosok itu mendarat dengan rin- gan di atas sebuah gundukan tanah yang seperti bukit berbatu.
Empat Jin Botak dari Selatan seketika menghentikan kuda mereka. Keempatnya saling pandang dengan sikap waspada.
"Hei, Kisanak...! Siapa kau dan untuk apa mengikuti kami?" tanya Jin Sudra pada sosok ber- pakaian serba hitam dengan muka tertutup rapat itu.
"Aha...! Kau salah menduga, Sobat. Aku tak pernah menguntit orang. Sebelum kalian ada di sini, aku telah seharian di sini," jawab orang tertu- tup wajah kain hitam itu coba berbohong.
Pada saat itu di belakang Empat Jin Botak dari Selatan yang masih duduk di atas kuda mas- ing-masing, kejauhan nampak seorang sedang mengendap-endap. Kemudian melompat bersem- bunyi di balik batu.
"Kisanak, sekali lagi jawab yang jujur siapa kau...!" kembali Jin Sudra bertanya, kali ini nada suaranya mulai keras.
"Aha, rupanya kau cepat naik darah, Sobat. Baiklah, panggil saja aku Manusia Bayangan! Puas...?!" dari suaranya, jelas orang berpakaian serba hitam itu adalah laki-laki.
"Manusia Bayangan...?! Huh! Tepat sekali. Tapi apa maksudmu menghalangi kami? Cepat jawab, sebelum kesabaranku hilang!" bentak Jin Ko- bra yang paling galak, dengan mata mendelik.
Pada saat itu orang yang bersembunyi di balik batu besar berjarak sepuluh tombak dari me- reka, muncul dan ternyata Purwadhika. Pemuda itu menyandarkan kepala di batu sambil mengerutkan kening.
"Mungkinkah orang berpakaian serba hitam itu Kakang...."
Purwadhika tak meneruskan kata-katanya. Dia hanya tersenyum lebar dan kembali menghadap ke arah keempat lelaki botak yang sedang berhadapan dengan Manusia Bayangan.
"Kalian ini mau ke mana, memasuki daerah ku! Sebaiknya kalian kembali saja. Kalau kalian ingin selamat...," kata Manusia Bayangan dengan nada mengejek.
"Kurang ajar! Kau kira kami ini anak kecil kau gertak begitu! Kau memang perlu diberi pela- jaran Manusia Bayangan...!" bentak Jin Kobra yang paling cepat marah itu, seraya menghu- nuskan pedangnya.
"Aha... sabar, Sobat. Kalian tentunya se- dang mencari sesuatu yang sangat berharga. Dan aku yakin kalian juga seperti para tokoh-tokoh persilatan lain, ingin menguasai sebuah benda pu- saka yang saat itu sedang diperebutkan mereka...!" tutur orang yang menamakan dirinya Manusia Bayangan dengan nada menyindir.
Empat Jin Botak dari Selatan saling pan- dang dan mendengus.
"Hei, Manusia Bayangan! Cepat kau bicara jujur! Apa kau tahu di mana sebenarnya pusaka itu saat ini...?!" tanya Jin Soka sambil mende- katkan kudanya ke arah Manusia Bayangan yang tetap tenang dan berdiri tegap di atas gundukan tanah berbatu itu.
"Ha ha ha...! Apakah kalian ini sejak tadi ti- dak merasakannya? Bukankah kalian orang-orang yang berilmu tinggi?" ejek orang yang mengaku di- rinya Manusia Bayangan.
"Hei, jangan bertele-tele, cepat katakan apa maksudmu mengejek kami...!" bentak Jin Kobra lagi.
Sementara itu Purwadhika terus menge- rutkan kening, mendengar ucapan sosok berpa- kaian serba hitam itu. "Apa maksud ucapan Ma- nusia Bayangan itu? Jangan-jangan aku yang di- maksud...?!" pikir Purwadhika cemas.
"Weleh, weleh! Ternyata kalian ini tak bisa merasakan bahwa kalian sedang dikuntit seorang pemuda yang juga bermaksud sama dengan ka- lian...!" tutur Manusia Bayangan.
Seketika Empat Jin Botak dari Selatan ter- kejut. Serentak mereka menoleh ke belakang, lalu membalikkan kuda masing-masing. Sementara itu pada saat yang bersamaan, Purwadhika juga ter- kejut mendengar ucapan Manusia Bayangan tadi.
"Edan! Siapakah Manusia Bayangan itu?! Kak Sena atau bukan...?!" gumam Purwadhika cemas dan kesal. "Celaka...! Apa boleh buat aku harus menghadapi mereka. Mudah-mudahan Kak Sena muncul...," gumamnya lagi.
Lalu Purwadhika muncul dengan terse- nyum-senyum memandang Empat Jin Botak dari Selatan yang sudah siap dengan pedang terhunus.
"Ha... ha... ha...! Kalian mencariku...?!" tanya Purwadhika dengan tegas, sambil menga- cungkan tangan kirinya ke arah Empat Jin Botak dari Selatan.
Sementara itu Manusia Bayangan sudah menghilang entah ke mana.
"Rupanya kau yang menguntit kami sejak tadi. Apa maksudmu...?" tanya Jin Kala dengan suara berat.
"Bukan aku saja yang menguntitmu. Orang yang berpakaian serba hitam tadi juga menguntit- mu...!" jawab Purwadhika tegas.
Empat Jin Botak dari Selatan jadi bingung dan menoleh ke arah tadi Manusia Bayangan ber- diri. Namun tokoh itu sudah tak ada.
"Setan Belang! Kau dan Manusia Bayangan tentu sudah sekongkol! Tangkap dia...!" perintah Jin Sudra yang sudah tak bisa menahan kesaba- rannya. Serentak tiga orang dari Empat Jin Botak dari Selatan menyerang Purwadhika.
"Heaaaat...!" Wut, wuttt! Pedang ketiga orang dari Empat Jin Botak dari Selatan menderu di atas kepala Purwadhika bergantian dan saling susul. Purwadhika merasa- kan tebasan pedang itu sangat berbahaya dan hampir saja menebas putus kepalanya.
Sementara itu Jin Sudra masih berada di atas kuda menyaksikan saudara-saudaranya men- geroyok Purwadhika.
"Hm.... Pemuda ini bukan orang sembaran- gan.... Siapa dia itu?" gumam Jin Sudra yang terus mengamati gerakan Purwadhika.
"Heaaa...!" "Hop...!" Purwadhika melompat sambil bersalto di udara ketika babatan pedang ketiga lawannya ber- kelebatan begitu cepat dan ganas. Setelah menda- rat dengan ringan di tanah, dengan cepat dia menghantarkan pukulan jarak jauh ke arah ketiga lawannya.
Jeglarrr! Terjadi ledakan dahsyat. Pukulan jarak jauh Purwadhika yang sudah diketahui oleh ketiga jin botak itu dipapaki dengan menyilangkan pedang.
Purwadhika terkejut juga, karena pukulan- nya dapat ditangkis. Bahkan hampir saja dirinya terkena serangan balik yang cepat dari ketiga orang jin botak, kalau saja Purwadhika tidak ber- gulingan dan melompat mundur menghindari me- reka.
"Edan...! Hampir saja aku modar...!" gumam Purwadhika.
Pada saat itu tiga jin botak sudah berlompa- tan mengurung Purwadhika yang berdiri di atas tanah lebih tinggi dari tempat tadi.
Ketiga orang dari Empat Jin Botak dari Se- latan bergerak ke samping berbarengan dari pelan lalu bertambah cepat memutari Purwadhika. Pe- muda itu terasa mulai pening kepalanya, karena melihat ketiga lawan mengurung dengan berputar cepat, hingga hanya bayang-bayang samar yang terlihat. Maka dengan berteriak keras, Purwadhika mencabut Keris Pusaka Naga Sakti. Diangkatnya tinggi-tinggi keris itu. Dan kemudian dengan cepat diarahkan ke ketiga lawan yang sedang mengita- rinya. Seketika sinar keperakan yang menyilaukan itu menghantam Ketiga Jin Botak dari Selatan.
"Aaakh...!" terpekik keras ketiganya sambil menutupi mata masing-masing. Jin Sudra membelalak kaget melihat keris pusaka yang mereka cari. Namun seketika langsung tersadar dari keterkejutannya. Maka dengan cepat dia melompat ke arah Purwadhika yang agak membelakanginya, bermak- sud ingin merebut Keris Pusaka Naga Sakti itu.
"Hiaaa...!" Namun berbarengan dengan melompatnya Jin Sudra, sesosok bayangan hitam telah melom- pat pula. Gerakannya lebih cepat dari Jin Sudra. Sosok bayangan hitam itu dengan cepat menen- dang Purwadhika. Bersamaan dengan itu kaki yang lain menendang Jin Sudra hingga lelaki botak itu terpental jatuh. Dalam sekejap saja Keris Pusa- ka Naga Sakti sudah berpindah ke tangan orang berpakaian serba hitam yang ternyata si Manusia Bayangan.
Purwadhika terpental pula, tapi dengan ce- pat bangkit berdiri. Dia kaget ketika tahu keris pu- sakanya sudah pindah tangan.
"Hah...?! Bangsat! Kembalikan keris itu, atau kubunuh kau...!" bentak Purwadhika marah.
Sementara itu Empat Jin Botak dari Selatan masih dalam keadaan terkesiap. Dan seperti ter- kena pengaruh gaib, keempatnya hanya bisa me- mandangi orang berpakaian serba hitam yang ber- diri tegap sambil tertawa-tawa mengejek.
"Ha ha ha...! Anak Muda, kau boleh mere- but keris ini jika bisa menangkapku. Dan keris ini akan membuatku lebih sakti dan akan menguasai rimba persilatan. Ha ha ha...! Aha, kalian Empat Jin Botak dari Selatan, bilang pada pimpinanmu, kalau mau keris ini cari aku! Ha ha ha...!"
Purwadhika mengerutkan kening, "Suara itu...?! Aku kenal suara itu. Hah...?!" selesai bicara begitu, Purwadhika melompat menyerang lelaki bertutup kain hitam itu. "Heaaa...!" Terjadi pertarungan antara Purwadhika dan Manusia Bayangan. itu. Mereka saling pukul dan tendang, penuh nafsu untuk saling mengalahkan. Semangat itu lebih jelas terlihat pada usaha Pur- wadhika, karena kekhawatirannya terhadap Keris Pusaka Naga Sakti yang sudah berada di tangan musuh. "Biarkan mereka bertarung, kita ambil ke- sempatan yang baik untuk menyerang mereka dan merebut keris itu...!" kata Jin Sudra pada ketiga saudaranya.
Pertarungan nampak seimbang, namun pa- da kesempatan pertama, Manusia Bayangan ber- hasil menghantam dada Purwadhika, hingga ter- huyung. Tak cuma sampai di situ, dia mengejar ke arah lawan yang masih sempoyongan, lalu men- cengkeram tubuh Purwadhika kemudian melem- parnya kuat-kuat. Tubuh Purwadhika melayang jauh dan jatuh. Pada saat itu pula Manusia Bayangan melesat dan menghilang ke arah Pur- wadhika jatuh.
Empat Jin Botak dari Selatan tampak kaget, melihat Manusia Bayangan begitu cepat menghilang.
"Hah?! Ke mana dia? Ayo, cari! Bodoh sekali kita ini...!" sungut Jin Sudra kesal lalu mereka berlompatan ke arah tempat Purwadhika jatuh.
Namun mereka tak menemukan siapa- siapa. Kemudian keempatnya kembali ke tempat semula sambil marah-marah.
"Bodoh! Bodoh...! Seharusnya kita tadi ce- pat bertindak. Aku yang salah! Tapi yang penting kita mencari Manusia Bayangan itu. Karena keris pusaka itu dia yang kuasai. Dan pemuda itu biar- kan saja mampus!" tutur Jin Sudra dengan geram.
Lalu keempatnya segera melompat ke pung- gung kuda dan cepat melarikannya ke arah Manu- sia Bayangan tadi menghilang.
***

Orang yang mengaku Manusia Bayangan ternyata membawa Purwadhika ke suatu tempat yang sepi dan sunyi. Di situlah pemuda itu digele- takkan. Orang berpakaian serba hitam dengan muka tertutup itu segera menotok bagian tubuh Purwadhika untuk menyadarkannya.
"Ukh...!" Purwadhika mulai mengeluh. Perlahan- lahan dia membuka kedua matanya. Pemuda itu kaget melihat sosok hitam berdiri di hadapannya dengan memegang Keris Pusaka Naga Sakti. Pur- wadhika segera berdiri dan ingin merebut keris itu. Namun orang yang mengaku Manusia Bayangan menangkap tangan Purwadhika, pemuda itu sege- ra berkelit dan dengan cepat pula tangannya ingin menyambar penutup muka lawan. Namun orang itu menangkis dan dengan cepat mendorong tubuh Purwadhika. Hingga terhuyung ke belakang. Dan ketika Purwadhika hendak melakukan serangan ulang dengan menggunakan jurus dan ajian
'Tapak Sakti', tiba-tiba orang misterius itu berseru. "Tunggu...! Aha, rupanya kau masih belum mengerti Purwadhika. Kau lupa akan rencana ki- ta...!"
"Hah...?! Kak Sena.... Kau...?!" sentak Pur- wadhika dengan wajah kaget.
Orang itu tak menjawab, tapi segera mem- buka kain penutup wajahnya. Dan ternyata Sena atau Pendekar Gila.
Purwadhika tertawa-tawa, lalu menjura. "Maafkan aku yang bodoh ini, Kak Sena! Aku lupa akan rencana kita. Tapi Kak Sena tidak mengatakan kalau akan berpakaian begini. Jadi aku terus terang ragu...," tutur Purwadhika.
"Tak apa, yang penting mereka sudah dapat kita kelabui. Dan aku yakin, Empat Jin Botak dari Selatan akan menceritakan pada pimpinan mere- ka. Kita tetap dengan rencana kita. Agar mereka menuju tempat Ki Tunggul Segara. Dan di situ nanti kita jebak dan tangkap mereka," ujar Sena penuh semangat
"Tapi, kalau mereka batalkan untuk ke tempat kakekku, bagaimana?" tanya Purwadhika.
"Itu bisa kita atur nanti. Yang penting kau kini lebih leluasa menyelidiki dan mencari tahu rencana mereka. Dan jika kau bertemu mereka jangan terbawa oleh rasa dendammu. Mungkin sa- ja di antara mereka ada orang yang membunuh orangtuamu...."
"Aku akan selalu ingat, Kak Sena," jawab Purwadhika. "Kalau aku boleh tahu, siapa pimpi- nan mereka...?" tanya Purwadhika ingin tahu.
"Aku kurang tahu. Tapi aku mendapat ka- bar dan mendengar orang-orang di Kutareja, bah- wa mereka tak punya pimpinan. Hanya saja lelaki yang bernama Sindang Manik merupakan orang yang disegani, di antara mereka...."
"Siapa Sindang Manik itu...? Apakah Kak Sena tahu...."
"Menurut berita yang kudapat dari orang- orang yang juga membenci kelompok mereka, Sin- dang Manik adalah orang buronan. Prajurit Kadi- paten Pasuruan masih mencarinya. Dan lagi, ka- barnya nama yang disandangnya adalah nama palsu," tutur Sena.
Purwadhika manggut-manggut, lalu mena- tap Sena kembali.
"Ini semakin mempermudah kita untuk me- nangkap mereka, bukan begitu Kak Sena?" tanya Purwadhika.
"Mungkin. Tapi ingat orang-orang macam Sindang Manik selalu bersifat licik. Aku malah in- gin menangkap Sindang Manik lebih dulu. Untuk itu kita perlu seorang yang mengenali wajah Sin- dang Manik," usul Sena. Lalu menutup mukanya kembali dengan kain hitam tadi. Hanya tinggal ma- tanya saja yang terlihat.
"Ada apa, Kak Sena...?!" tanya Purwadhika sambil menoleh ke kanan kiri.
"Sssttt..!" Sena segera mengiyaratkan agar Purwadhi- ka tidak berbicara lagi. Lalu tubuhnya melompat ke arah semak-semak.
"Hop...!"
"Heaaa...!" Tiba-tiba dari balik semak-semak melompat seorang yang juga bercadar warna merah dan ber- pakaian silat warna merah pula. Rambutnya tertu- tup kain hitam. Kemudian Sena mengejar orang bercadar merah itu.
Pertarungan Sena dan orang bercadar tak berjalan lama, karena hanya tiga jurus pembuka, Pendekar Gila telah dapat membuat orang berca- dar itu kewalahan dan tersungkur di tanah. Pur- wadhika menghampiri bermaksud ingin membantu orang bercadar merah itu untuk berdiri. Namun orang bercadar itu menendang pantat Purwadhika, lalu dengan cepat bangkit hendak melancarkan se- rangan. Namun Pendekar Gila telah menghadang- nya dan dengan sekali gebrak orang bercadar itu terhuyung-huyung ke belakang. Secepat kilat Sena membuka cadar orang itu.
"Hah...?!" Sena bergumam pendek, kaget ketika tahu bahwa lawannya seorang wanita. Terlihat dari si- nar matanya Pendekar Gila tampak menyesali tin- dakannya barusan.
"Maafkan aku! Tapi, kenapa kau menden- garkan pembicaraan kami? Dan bagaimana kau bisa ada di sini..?" tanya Sena sedikit mendesak.
Wanita muda itu tak langsung menjawab. Matanya memandang Purwadhika dengan tak ber- kedip. Pada saat itu pula, Purwadhika tengah me- natap wajahnya yang cantik. Pandangan pertama mereka membuat saling jatuh hati.
"Hem em...!" Sena mendehem.
Purwadhika tampak tersipu malu dengan wajah merah. Lalu tersenyum-senyum pada Sena dan juga pada wanita muda itu.
"Namaku Lilasari, dari Kadipaten Pasuruan. Aku putri tunggal Adipati Aji Sampurno," kata wa- nita muda memperkenalkan dirinya pada Sena dan Purwadhika.
"Jadi... jadi kau dari Kadipaten Pasu- ruan...?!" ulang Purwadhika, lalu menoleh ke arah Sena yang terus menatap Lilasari seperti tengah menyelidik kebenaran ucapan wanita itu.
"Bagaimana kau bisa sampai di sini dan un- tuk apa tadi mendengarkan pembicaraan kami. Berkatalah secara jujur!" desak Sena sambil terus menatapnya.
Kembali Lilasari menatap Purwadhika yang tampan itu sambil tersenyum manis. Sena jadi menarik napas panjang, lalu membisikkan sesuatu pada Purwadhika. Pemuda itu tersenyum malu. Sena lalu melangkah dan membalik badan, mem- biarkan Purwadhika berdua dengan Lilasari. Kare- na Sena tahu kalau wanita itu menaruh hati pada Purwadhika.
Purwadhika mendekati Lilasari. Lilasari nampak senang.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Apakah kau sengaja kabur dari kadipaten, atau...!" tanya Purwadhika dengan lembut.
"Terus terang saja, aku ingin membalas dendamku atas kematian ayahku Adipati Aji Sam- purno," ucap Lilasari dengan mata berkaca-kaca. Mendadak wajahnya yang tadi nampak manis, kini menjadi murung.
"Siapa yang membunuh ayahmu?" tanya Purwadhika yang mulai tersentuh hatinya, karena Lilasari mempunyai persoalan yang hampir serupa dengannya.
"Wongso Guno...!" jawab Lilasari dengan le- mah, tapi jelas di telinga Purwadhika.
"Siapa Wongso Guno itu?" tanya Purwadhi- ka ingin tahu.
"Wongso Guno adalah bekas Senapati Pasu- ruan. Tapi ketika dia tertangkap basah sedang berbuat mesum dengan ibu tiriku, Wongso Guno dengan licik membunuh ayahku dan juga ibu tiri- ku. Lalu dia menghilang sampai sekarang," tutur Lilasari dengan penuh perasaan.
Purwadhika merasa haru mendengar cerita Lilasari dihelanya napas dalam-dalam. Dipandan- ginya lekat-lekat wajah cantik wanita itu.
"Aku bersumpah, jika bertemu dengan Wongso Guno dan dapat membunuhnya, aku akan menggundul kepalaku. Karena itu aku terus me- rantau dengan cadar ini. Agar jika bertemu dengan Wongso Guno, dia tak mengenali diriku...."
Sementara itu Sena mulai mengerti dan se- dikit mulai yakin bahwa Lilasari bukan bicara bo- hong. Sena bisa melihat dari raut wajah Lilasari yang polos. Walaupun Sena belum sepenuhnya percaya pada penuturan wanita itu.
"Apakah kau masih ingin mencari Wongso Guno...?" tanya Purwadhika memancing Lilasari.
"Jelas, kan tadi aku sudah katakan, semu- anya padamu.

No comments:

Post a Comment