DEWI
RATU MAKSIAT
Oleh Firman Raharja
1
Malam itu angin berhembus kencang
dan menderu-deru, seolah suatu pertanda bakal datang badai besar. Hawa dingin
terasa semakin menusuk tulang sum-sum. Dan mendung tebal yang sejak sore
bergayut di langit telah berubah menjadi hujan, menambah suasana kian mencekam.
Desa Tumpang nampak sepi. Tak satu
pun orang yang berada di luar rumah, kecuali tiga lelaki yang sedang
menjalankan tugas ronda. Kare- na hujan kian deras, ketiganya hanya duduk ngobrol
di gardu sambil mengisap rokok kawung.
"Huh..., tidak biasanya malam
seperti ini," gumam Bondan mengeluh. Matanya sesekali me- mandang ke luar
gardu yang tampak gelap gulita. Tak ada suara apa pun kecuali deru angin yang
bercampur rintik hujan.
"Iya, aneh. Padahal saat ini
musim kemarau," sambut Busran. "Mestinya belum ada hu- jan."
"Namanya alam. Siapa yang bisa
memastikan.... Tapi, kurasa hujan ini memang aneh," tukas Pardi.
"Terus terang, sejak tadi aku merinding. Jangan-jangan...."
Pardi tak meneruskan kata-katanya.
Matanya memandang dengan tegang ke sekeliling gardu yang nampak sepi dan gelap,
semakin membuat bulu kuduknya berdiri.
"Jangan-jangan kenapa,
Di?" tanya Busran penasaran karena temannya tidak meneruskan kata-katanya.
"Ah, tidak. Tidak
apa-apa," jawab Pardi. "Setan maksudmu?" terka Bondan. Pardi
hanya mengangguk kecil. Matanya masih membelalak tegang, memandang ke sekeliling
yang dirasakan kian mencekam. Apalagi angin semakin kencang menderu. Bulu
kuduknya se- makin meremang.
Bondan tertawa kecil. Suaranya
terdengar sumbang dan bergetar, karena diliputi perasaan tercekam. Dia pun
merasakan bulu kuduknya meremang, namun tetap berusaha menekan rasa takutnya.
"Di.... Pardi. Kamu ini kayak
anak kecil saja," gumam Bondan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,
"Sudah tua kok masih takut dengan setan." "Bukan begitu. Sejak
tadi hatiku memang tak enak rasanya. Dan..., heh... bau kemenyan, Bon!"
tubuh Pardi bergidik ketika hidungnya mencium bau kemenyan yang menyengat.
Seper- tinya ada orang yang membakar dupa.
Bondan dan Pardi mengendus-endus,
be- rusaha mencium bau kemenyan. Seketika keduanya merinding di sekujur tubuh,
ketika hidung mereka pun mencium bau kemenyan yang menyengat. Bahkan kemudian
bercampur aroma wangi bunga kenanga, yang mengingatkan mere- ka pada kematian.
"Benar, Di. Bau kemenyan dan
bunga ke- nanga...," kata Busran dengan mata membelalak.
"Hiii...!" Bondan semakin
bergidik, wajahnya me- mucat. Rasa takut itu tak hanya melanda hati lelaki muda
itu. Kedua temannya pun semakin me- rasa tercekam deh suasana gelap, sunyi, dan
hawa dingin yang dihembuskan angin. Ketiga peronda itu sebenarnya ingin sekali
meninggalkan gardu. Namun keadaan di luar membuat mereka takut
Sesaat tak satu pun yang
mengeluarkan suara. Kini yang terdengar hanya rintik hujan dan deru angin
kencang.
Wuss! Krak! Ketiga peronda
tersentak kaget ketika dari luar terdengar suara hembusan hawa aneh diser- tai
retaknya tanah. Mereka terpaku di tempat du- duk masing-masing, seakan tak
mampu berbuat sesuatu. Wuss!
Krak! Suara itu kembali terdengar.
Tiba-tiba dari dalam tanah di depan gardu, keluar asap tebal. Tidak hanya satu
kepulan. Ada delapan tempat yang tanahnya merekah dan mengepulkan asap putih.
Sementara itu getaran-getaran pun mulai terasa di sekitar gardu ronda.
Mata ketiga peronda itu terbelalak,
mena- tap penuh ketegangan kepulan asap yang keluar dari retakan tanah. Tubuh
mereka menggigil ke- takutan. Asap putih kehijau-hijauan itu perlahan-lahan
berubah warna. Semakin lama, kepulan- kepulan asap itu membentuk warna merah
darah. Lalu membentuk sosok makhluk yang mengeri- kan. Sosok manusia berwajah
tengkorak dengan memakai jubah warna merah darah hingga menu- tup kepala.
Sosok-sosok manusia berjubah dan tudung merah itu seperti mayat hidup. Mata me-
reka tampak menyorot merah. Dan mulut mereka bergigi taring.
"Mayat hidup!" sentak
Pardi yang telah gu- gup. Matanya semakin membelalak tegang, menyaksikan
makhluk-makhluk aneh itu.
"Se... se... setan...!"
pekik Busran dengan suara menggeragap.
"Ma... ma... mayat
hidup...!" jerit Bondan. Ketiga peronda itu kini saling merapat ketakutan.
Tak ada yang berani berlari, karena makhluk-makhluk itu berada di depan mereka.
Bahkan kini makhluk-makhluk aneh itu bergerak mendekat. Sepertinya mereka
hendak melakukan sesuatu terhadap ketiga peronda itu, yang sema- kin ketakutan.
Delapan mayat hidup itu
mengelilingi gardu ronda, membuat ketiga peronda itu bertambah ketakutan.
Terlebih jika memandang ke wajah manusia-manusia bermuka tengkorak yang ber-
lumuran darah.
"Tolong...! Tolooong...!"
"To... tolong...!" ketiga peronda mulai berte- riak-teriak. Mereka
saling rapat satu sama lain, dengan mata membelalak ketakutan memandang
kedelapan manusia bermuka tengkorak yang menyeringai dengan suara-suara yang
aneh pula.
Makhluk-makhluk itu tampaknya
berbica- ra dalam bahasa mereka. Kemudian salah satu dari mereka menunjuk ke
arah Busran yang pal- ing tampan di antara ketiga peronda itu. Sedangkan yang
di sampingnya mengangguk-anggukkan kepala, seakan menyetujui apa yang dikatakan
kawannya. Makhluk bermuka tengkorak yang mengangguk-anggukkan kepala
memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Busran.
"Tidak! Jangan...!" pekik
Busran berusaha menolak, ketika dua mayat hidup maju mendekatinya dan siap
menangkap.
Kedua makhluk aneh itu seperti tak
peduli dengan teriakan Busran. Mereka terus memegang tangan Busran dan
menyeretnya agar ikut
"Jangan...!" teriak
Busran meronta-ronta ketakutan. "Tolong...!"
Bondan dan Pardi hanya kebingungan.
Keduanya tak tahu harus berbuat apa untuk menolong Busran. Mereka merasa tak
tahan melihat wajah makhluk-makhluk aneh yang berlumuran darah itu. Tubuh kedua
peronda itu menggigil. Tak ada yang berani melangkah untuk menolong Busran,
karena manusia-manusia bermuka tengkorak itu masih menjaga mereka.
Saking takutnya, Bondan dan Pardi
tak sadar terkencing di celana. Wajah mereka pucat pa- si. Tubuh mereka sudah
lemas dan basah oleh keringat dingin yang keluar karena rasa takut yang tak
terkira.
Wass!
Mendadak makhluk-makhluk aneh itu
le- nyap seketika, kembali menjadi asap. Lalu terdengar suara gemuruh pecahnya
tanah di sekelil- ing gardu. Bersamaan dengan itu, kepulan asap jelmaan
makhluk-makhluk aneh itu lenyap.
"Hah?!" kedua peronda
yang ketakutan itu membelalakkan matanya semakin tegang menyaksikan kejadian
yang aneh itu. Mereka tak ta- hu Busran dibawa ke mana oleh makhluk- makhluk
aneh itu.
"Tolong...! Setan-setan!"
Keduanya lari terbirit-birit sambil berteriak-teriak.
"Tolong! Tolong ada mayat
hidup...!" Warga Desa Tumpang yang mendengar suara teriakan para petugas
ronda langsung keluar, ingin tahu apa yang terjadi. Bahkan Kepala Desa Tumpang
turut keluar.
"Ada apa, Pardi, Bondan?
Seperti orang di- kejar setan saja kalian. Jejeritan di malam begini?"
tanya Ki Kuswara, lelaki kurus tinggi dengan pakaian warna abu-abu tua lengan
panjang. Berwajah angker dengan kumis tebal melintang. Lelaki berusia sekitar
lima puluh lima tahun ini, merupakan Kepala Desa Tumpang.
"Setan, Ki. Setan-setan itu
membawa Busran," jawab Bondan.
Mendengar laporan Bondan, para
warga yang ada di tempat itu terbelalak kaget. Namun Kepala Desa Tumpang seakan
tak percaya dengan cerita itu.
"Jangan main-main kau, Bondan?!"
bentak
Ki Kuswara dengan mata melotot.
"Benar, Ki," timpal
Pardi, "Lihat, kami benar-benar ketakutan! Bahkan aku... aku sampai
kencing di celana."
Pardi menunjuk ke selangkangannya.
Celana kolor panjangnya yang berwarna kuning te- rang basah kuyup dan bau
pesing. Bondan pun berusaha meyakinkan Ki Kuswara dengan me- renggangkan
selangkangan yang basah.
Semua warga yang melihat kedua
peronda itu ngompol, seketika tertawa terbahak-bahak Ke- sunyian malam yang
semula tegang, seketika be- rubah menjadi riuh oleh gelak tawa mereka. Na- mun
tiba-tiba....
"Tolong! Tolong...!"
Suara jeritan itu ternyata dari rumah Ki Kuswara. Para warga desa yang
mendengar jeri- tan menantu Ki Kuswara seketika berlarian me- nuju rumah kepala
desa itu.
"Hantu..., hantu...!"
"Setan! Mayat hidup...!" Para warga yang telah sampai di rumah Ki
Lurah Kuswara langsung berteriak-teriak ketaku- tan. Mereka melihat
makhluk-makhluk aneh ber- gigi taring dan berlumuran darah tengah berusa- ha
menyeret anak lelaki Ki Lurah Kuswara.
Menyaksikan hal itu, Ki Kuswara
yang ti- dak ingin putranya dibawa kabur oleh makhluk- makhluk aneh itu segera
bertindak. Lelaki seten- gah baya itu melompat dan menghadang mayat- mayat
hidup itu.
"Berhenti! Lepaskan
anakku!" bentak Ki
Kuswara dengan keras, seperti tak
takut sama sekali terhadap makhluk-makhluk aneh yang menatapnya dengan wajah
mengerikan.
Salah satu dari mayat hidup itu
menggerakkan tangan, seperti memerintah pada anak buahnya untuk membereskan Ki
Kuswara.
"Hng...!" Tiga mayat
bermuka pucat dan bergigi tar- ing maju menghadapi Ki Kuswara yang masih
berdiri dengan mata menatap tajam. Sepertinya Ki Kuswara belum yakin, kalau
sosok-sosok mak- hluk aneh yang menyeramkan itu setan.
"Jangan kira aku takut
menghadapi ka- lian!" dengus Ki Kuswara pada tiga mayat hidup yang
menghampirinya. Tapi ketiganya tak juga mau membuka kedoknya, justru terdengar
suara menggereng dari mulut mereka.
"Hnghh...!" Ketiga mayat
hidup dengan berang menye- rang Ki Kuswara. Tangan mereka yang hanya tu-
lang-belulang berkuku panjang dan runcing, me- nyambar dengan cakaran ke tubuh
kepala desa itu. Seketika itu pula Ki Kuswara tersentak kaget melihat bahwa
manusia-manusia itu ternyata tengkorak.
"Mayat hidup...?!" tanya
Ki Kuswara, seraya mengelakkan serangan ketiga lawannya. Matanya masih
membelalak tegang, ngeri menyaksikan kenyataan yang ada.
Warga Desa Tumpang yang melihat
tangan manusia-manusia yang menyeramkan itu hanya tulang-belulang, seketika
menjerit ketakutan. Serentak mereka pun lari terbirit-birit. Terlebih- lebih
kedua peronda yang telah melihat sebelum- nya, langsung lari tunggang-langgang.
'Tolong! Mayat hidup! Tolong...!" Hiruk-pikuk jeritan warga seketika meng-
gema, memecahkan kesunyian malam. Tak seo- rang pun warga yang berani membantu
kepala desanya, setelah tahu kalau makhluk itu bukan manusia.
Ki Kuswara terpaksa harus bertarung
me- lawan ketiga mayat hidup seorang diri. Dia telah telanjur menghadapi ketiga
makhluk aneh yang tentunya siluman itu. Dicabutnya keris yang se- jak tadi
terselip di pinggang. Segera dikerahkan jurus 'Sambar Nyawa' dengan Keris Lekuk
Pitu yang mengeluarkan sinar hijau.
"Hea!" Keris Lekuk Pitu
di tangan Ki Kuswara ber- gerak cepat, menusuk ke dada salah satu mak- hluk
siluman. Kilatan cahaya keris itu, terus me- nyeruak masuk berusaha menekan
ketiga lawan- nya.
Sementara itu, makhluk aneh yang
tadi membawa anak Ki Kuswara kini telah raib entah ke mana. Ki Kuswara hanya
sempat menyaksikan ketika makhluk itu berubah menjadi asap di tanah retak. Hal
itu semakin membuat mata kepala desa itu membelalak tegang dan merasa kebin-
gungan. Kejadian itu rasanya tak masuk akal ba- ginya yang hanya tahu ilmu olah
kanuragan se- mata, tanpa mengerti ilmu gaib.
Tusukan keras dan cepat Keris Lekuk
Pitu di tangan Ki Kuswara tak dihiraukan oleh lawan nya.
Jlep! Keris Lekuk Pitu menghunjam
ke dada manusia bermuka tengkorak darah. Keris itu terus menancap ke dalam,
seperti disedot suatu ke- kuatan gaib. Ki Kuswara kembali tersentak kaget
merasakan kejadian yang sangat aneh itu.
"Akh! Kerisku tertarik ke
dalam?!" pekik Ki Kuswara kaget. Dia berusaha mencabut kembali kerisnya
dari dada mayat hidup. Namun justru tubuhnya sendiri tertarik oleh kekuatan
tubuh makhluk aneh itu. Keadaan ini membuat Ki Kus- wara semakin tegang.
Apalagi ketika sekujur tubuhnya tiba-tiba tersengat hawa panas, bagaikan ada
api yang menjalar begitu cepat
"Akh!" jerit Ki Kuswara.
"Hngh...!" Mayat-mayat hidup itu menggeram keras. Pada saat itu,
tubuh manusia siluman yang ter- tusuk Keris Lekuk Pitu milik Ki Kuswara
tiba-tiba bersinar hijau. Sinar itu terus membesar, menye- limuti sekujur
makhluk itu. Kemudian menjalar ke tangan Ki Kuswara.
"Wua...!" Ki Kuswara
menjerit setinggi langit, ketika tubuhnya tersengat sinar hijau yang keluar dari
tubuh manusia siluman. Bagaikan arus listrik yang kuat, menyambar tubuhnya.
Ki Kuswara berusaha melepaskan
cekalannya pada keris yang menancap dada lawan. Namun tangannya dirasakan telah
melekat kuat pada keris itu. Sehingga sangat sulit baginya untuk dapat
melepaskan tangannya. Bahkan semakin kuat berontak, semakin lengket tangannya
pada gagang keris. Semakin kuat pula tenaga tarikan makhluk aneh itu.
"Hng!"
"Heik-heik!" "Wuk wek-wek!" Ketiga mayat hidup itu
berbicara dengan bahasa mereka yang tak dimengerti Ki Kuswara. Kepala desa itu
terus berusaha melepaskan pegangan tangannya pada gagang keris. Dia berusaha
mengerahkan tenaga dalamnya, namun tetap tak mampu melepaskan tangan yang
melekat pada gagang keris.
"Ukh!" Ki Kuswara
melenguh lirih. Wajah- nya semakin pucat pasi, setelah tenaga dalam terkuras
habis. Matanya membelalak tegang sekarat "Wua...!"
Diiringi jeritan tertahan. Ki
Kuswara akhir- nya terkulai lemas. Nyawanya melayang dengan keadaan tubuh
mengerikan. Sekujur wajah dan tubuhnya pucat pasi bagaikan tak berdarah. Matanya
melotot.
"Zzsst! Zzsst!" Kedua
mayat hidup lainnya mengangguk- anggukkan kepala. "Hng!"
Usai melepaskan tubuh Ki Kuswara,
ketiga mayat hidup menjatuhkan sesuatu dari tangannya tepat di muka kepala desa
itu. Ternyata se- buah benda berupa gambar makhluk aneh bermata merah darah!
Ketiga makhluk aneh menghilang,
bersama asap yang menyelimuti mereka. Mereka masuk ke tanah, setelah berubah
menjadi asap tebal kemerahan.
2
Sore telah datang, mentari
menggelincir di ufuk barat. Sebentar lagi raja siang itu akan teng- gelam,
kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Para petani pulang dari
sa- wah dengan peralatan terpanggul di pundak.
Burung-burung pun berterbangan
pulang ke sarang masing-masing dengan suara bersahut- sahutan. Cahaya merah
tembaga membias di kaki langit sebelah barat, seakan ingin menyongsong malam
yang hampir tiba. Desir angin senja hari menghembuskan hawa dingin, seperti
datang ber- sama kegelisahan.
Dua sosok bayangan nampak melangkah
perlahan di keremangan senja. Kedua muda-mudi itu saling bersenda-gurau dengan
riangnya, me- nikmati suasana senja yang indah.
"Kakang, nampaknya desa ini
tengah ber- duka," kata gadis cantik berpakaian putih dengan rambut
digelung dua di atas. Kulit gadis itu kun- ing langsat, hidungnya tidak terlalu
mancung. Matanya agak sipit, dihiasi bulu-bulu lentik.
"Hm," gumam pemuda
berpakaian rompi kulit ular, berambut gondrong agak berombak. Kulit pemuda itu
bersih, wajahnya tampan.
Sangat serasi pasangan muda-mudi
itu.
Yang lelaki tampan dan gagah,
sedangkan yang perempuan cantik dan elok. Di pundak gadis can- tik yang
berpakaian Cina, tersandang sebilah pe- dang. Sedangkan pemuda itu, nampak di
ping- gangnya terselip sebuah suling berkepala naga.
Dilihat dari senjata dan pakaian
yang dis- andang, kedua sejoli itu tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila
dengan kekasihnya, Mei Lie atau Bidadari Pencabut Nyawa. Pedang di pun- daknya
tentu Pedang Bidadari.
Pendekar Gila meringis sambil
tangannya menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang ke sekeliling yang nampak
sunyi dan sepi. Ada panji-panji atau benda berwarna hitam terpan- cang di pintu
masuk desa, yang menandakan bahwa desa tengah berkabung. "Aha, mungkin
kematian biasa, Mei Lie."
"Tapi, Kakang...," potong
Mei Lie. "Aha, kau begitu nakal, Mei Lie! Ayolah, kita cepat pergi! Se-
bentar lagi malam tiba. Kita harus segera mencari tempat untuk menginap,"
ajak Sena sambil meng- gandeng tangan kekasihnya. Namun gadis cantik itu
menolak.
"Tunggu, Kakang! Firasatku
mengatakan, pasti telah terjadi sesuatu di sini."
Sena tertawa-tawa mendengar
penuturan Mei Lie. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Hal itu
membuat Mei Lie merengut.
Pendekar Gila langsung menghentikan
tingkahnya yang persis orang gila itu, setelah me- lihat sang Kekasihnya
cemberut. Dengan masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala,
Sena menghela napas panjang.
"Hih hi hi! Nakalmu semakin
jadi, Mei Lie. Ah ah ah, tentunya di desa ini memang telah ter- jadi sesuatu.
Kematian, bukan?" goda Sena, se- makin membuat Mei Lie bertambah merengut.
Matanya mendelik ke arah Pendekar Gila yang masih cengengesan.
"Uuh, Kakang!" keluh Mei
Lie cemberut "Aku bersungguh-sungguh, Kakang."
"Aha, apa aku tidak, Mei
Lie?" sahut Sena masih saja menggoda, semakin membuat Mei Lie bertambah
mendelik kesal. "Ah ah ah, gawat ka- lau begini. Sudahlah, Mei Lie!
Sebentar lagi ma- lam, kita harus segera mencari penginapan."
Sena kembali mengajak Mei Lie
meninggal- kan tempat itu. Akhirnya gadis itu pun menurut Keduanya melangkah
meninggalkan mulut desa itu. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba....
"Berhenti!" Sena dan Mei
Lie terkejut. Namun kedua- nya segera membalikkan tubuh, melihat siapa yang
telah menyuruh mereka berhenti. Nampak seorang lelaki berbadan kurus dengan
kumis pan- jang melintang, berdiri dengan pandangan penuh rasa curiga kepada
mereka. Di belakang lelaki itu berdiri beberapa orang warga desa. Wajah mereka
pun menyiratkan kecurigaan terhadap kedua orang yang itu.
Tiba-tiba Sena tertawa
terbahak-bahak. Tingkah lakunya yang konyol muncul. Dia cen- gengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. Ke- mudian tangannya menepuk-nepuk pantat
Menyaksikan tingkah laku pemuda
berpa- kaian rompi kulit ular, seketika lelaki yang berdiri paling depan
mengerutkan kening keheranan.
"Rasa-rasanya aku pernah
mendengar ten- tang pemuda ini. Ah, benarkah dia Pendekar Gi- la?" tanya
lelaki itu dalam hati. Keningnya menge- rut, memperhatikan penuh selidik pada
Pendekar Gila dan Mei Lie. "Dan kalau tak salah, gadis ini yang bergelar
Bidadari Pencabut Nyawa. Benar- kah mereka...?"
"Hi hi hi...! Kalian ini aneh.
Tiba-tiba menghentikan langkah kami? Hi hi hi...!" Sena masih konyol,
menepuk-nepuk pantat sambil ber- jingkrak-jingkrak. Sedangkan Mei Lie nampak
waspada, khawatir kalau orang-orang yang menghadangnya hendak bermaksud jahat
"Siapa kalian?!" tanya
lelaki bernama Ra- puji itu ingin membuktikan dugaannya.
"Hi hi hi...! Lucu, lucu
sekali kau, Kawan." Pendekar Gila semakin cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. "Aha, kalian ingin tahu siapa kami. Baiklah, kami
sepasang muda-mudi yang sedang bertualang mengikuti langkah kaki. Nah, apakah
belum jelas?"
"Apa kalian Pendekar Gila dan
Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Rapuji berusaha memastikan.
"Ya!" sahut Mei Lie
menyela. "Ada apa ka- lian menghadang kami?"
"O, maafkanlah tindakan kami
yang lancang! Kalau benar kalian Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa,
kami mengharap sudilah kalian mampir dan singgah ke rumah kami," pin- ta
Rapuji.
"Hm, untuk apa?!" tanya
Mei Lie tegas. "Aha, jangan galak begitu, Mei Lie! Bagai- mana kalau kita
ikuti saja permintaannya? Bu- kankah kita di sini merupakan tamu?" tanya
Pen- dekar Gila berusaha menenangkan kekasihnya yang garang. Nampaknya Mei Lie
masih ingat ke- jadian di Lembah Lamur, di mana orang-orang yang dekat
dengannya kedapatan mati. Itu se- babnya dia tak mudah percaya dengan orang
lain. (Mengenai trauma Mei Lie, silakan baca serial Pendekar Gila dalam
episode: "Titisan Dewi Kwan Im").
"Baiklah! Tapi jangan
sekali-kali bermak- sud jahat! Aku tak segan-segan membunuh ka- lian! Bahkan
seluruh penduduk desa ini akan kumusnahkan!" ancam Mei Lie.
"Baiklah, Nini Pendekar,"
sahut Rapuji pe- nuh hormat.
"Aha, ayolah!" ajak
Pendekar Gila. Keduanya melangkah mengikuti Rapuji dan warga desa. Sementara
langit di sebelah barat su- dah tak menampakkan bias cahaya matahari. Dan malam
pun telah turun.
***
Rumah Rapuji nampak
terang-benderang. Lampu pelita besar dan lampu gantung yang bi- asanya tidak
dipasang, malam itu dinyalakan se- mua. Sehingga suasana di dalam rumah itu,
khususnya di beranda, terang-benderang. Tiga orang tampak duduk di kursi rotan,
sementara yang lain duduk bersila di lantai. Nampaknya para warga tengah
berkumpul, setelah kematian lurah mereka. Yang duduk di atas bangku, Sena, Mei
Lie, dan Rapuji. Ketiganya tengah membicarakan pe- rihal yang melanda Desa
Tumpang yang baru saja dilanda malapetaka.
Kepada Pendekar Gila dan Mei Lie,
Rapuji menceritakan peristiwa aneh yang terjadi kemarin di Desa Tumpang. Dengan
tenang Mei Lie men- dengarkan cerita itu. Sementara, Pendekar Gila tak
henti-henti cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala selama Rapuji bercerita.
Tentu saja sikapnya yang aneh dan lucu itu membuat para warga yang melihat
tersenyum-senyum keheranan.
"Hm," Pendekar Gila
bergumam. Sedangkan Mei Lie nampak terus memperhatikan dengan seksama setiap
cerita yang dipaparkan Rapuji. "Aneh, mayat-mayat dari mana?"
"Itulah yang kami pikirkan.
Keris sakti milik Ki Lurah Kuswara yang bernama Lekuk Pitu hilang entah ke
mana. Menurut orang yang meli- hat, keris itu masuk ke dada salah satu mayat
hi- dup itu...."
"Heh?!" Sena tersentak
dengan mata membelalak kaget.
"Hhh," desah Mei Lie.
Wajahnya kelihatan geram mendengar cerita yang dituturkan Rapuji. "Kurasa
ada yang mendalanginya!"
"Entahlah. Ada atau tidak,
kami rasa hal ini harus dicegah...," tandas Rapuji dengan suara geram.
"Hm," lagi-lagi Pendekar Gila bergumam tak jelas. Sambil cengengesan
tangannya mengga- ruk-garuk kepala.
"Apa mereka kalau keluar
selalu malam hari?" tanya Mei Lie.
"Baru kali ini terjadi, Nini.
Jadi...," "Hm, ada yang tahu persis? Bagaimana mula mereka
keluar?" tanya Mei Lie.
"Saya, Nini Pendekar,"
sahut seorang lelaki setengah baya yang ternyata Pardi.
"Bisa, Bapak
menjelaskan?" pinta Mei Lie yang disambut anggukan oleh Pardi.
Secara singkat dan jelas, Pardi pun
menceritakan apa yang telah dialami bersama kedua peronda lainnya, yang salah
satunya menjadi kor- ban mayat-mayat hidup.
Selama Pardi bercerita Mei Lie
memperhatikan dengan seksama. Sesekali mulutnya menggumam. Sedangkan Pendekar
Gila tampak cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, rupanya ada juga bangsa
siluman yang ingin turut campur dengan urusan manusia. Hi hi hi...! Lucu
sekali," Sena tertawa cekikikan. Tingkah lakunya semakin konyol, membuat
se- mua orang yang ada di situ tersenyum-senyum melihatnya.
"Siluman...?" tanya
Rapuji dengan mata membelalak.
"He he he...! Begitulah
menurut dugaanku," jawab Sena sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Semua terdiam. Mereka merasakan
kete- gangan setelah mendengar penuturan Pendekar Gila. Hati mereka
bertanya-tanya, dari mana si- luman-siluman itu datang? Lalu hendak bermak- sud
apa mereka datang ke alam manusia?
"Hm, kalau benar mereka bangsa
siluman, bagaimana kita harus menghadapi makhluk itu...?" tanya Rapuji
nampak kebingungan. Jelas akan sulit sekali manusia biasa sepertinya dan warga
desa untuk menghadapi makhluk-makhluk siluman. Hanya orang-orang yang menguasai
il- mu gaib mampu menghadapi makhluk-makhluk dari alam gaib seperti itu.
Pendekar Gila nyengir. Tangannya
kembali menggaruk-garuk kepalanya. Dia pun belum bisa memutuskan untuk berbuat
sesuatu atau men- gambil kesimpulan. Sebab dia sendiri belum tahu seperti apa
makhluk-makhluk siluman itu.
"Aha, sulit juga
rasanya," gumam Sena ti- ba-tiba, menyentakkan semua orang yang ada di
situ. Tak terkecuali Mei Lie yang seketika membe- lalakkan matanya. Hal itu
membuat Pendekar Gi- la nyengir, lalu sambil garuk-garuk kepala melan- jutkan,
"Hi hi hi...! Kurasa, ada baiknya kita membicarakan masalah ini."
"Justru karena itulah, kami
mengundang, Tuan Pendekar singgah di rumahku," sahut Rapuji.
"Bagaimana, Mei?" tanya
Sena. Mei Lie tak menyahut, hanya mengangguk- angguk kepala tanda setuju.
"Baiklah kalau begitu. Hm,
hari hampir larut, kurasa kita harus secepatnya menyelesaikan pembicaraan.
Bagaimana kalau kita berpencar- pencar?" tanya Sena.
"Maksudmu?" tanya Mei Lie
belum mengerti.
"Mungkin makhluk-makhluk
siluman itu malam ini akan kembali datang. Dan..., kurasa ada sesuatu di desa
ini. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" usul Pendekar Gila.
"Hm, aku setuju. Apa yang
sekiranya me- nurut Tuan Pendekar baik, aku setuju saja," ja- wab Rapuji.
Mei Lie kembali hanya mengangguk-
anggukkan kepala, menanggapi usul kekasihnya.
"Bagaimana dengan yang
lain?" tanya Sena.
"Kami setuju," sahut
warga yang berada di rumah Rapuji.
"Aha, bagus! Kuminta beberapa
orang un- tuk meronda. Kalau kalian melihat makhluk itu datang lagi, segera
bunyikan kentongan sebanyak lima kali. Dengan begitu, aku dan Mei Lie akan
segera datang," ujar Sena memberi saran. "Gagasan yang bagus,"
puji Rapuji. "Sementara yang lainnya, tolong ikuti Ki Rapuji untuk
memeriksa desa ini. Aku dan Mei Lie akan berada di sebelah barat desa. Kita
akan bertemu jika kita mendengar salah seorang mem- bunyikan kentongan!"
papar Sena menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu malam
ini juga kita mulai," kata Rapuji.
Setelah mengatur rencana sebaik
mungkin, mereka pun segera menjalankan keputusan itu. Pendekar Gila dan Mei Lie
melesat ke arah barat. Sedangkan Rapuji dan warga desa berjalan ke ti- mur.
Lima orang warga nampak masih berada di rumah Rapuji berjaga-jaga dengan
kentongan siap di tangan.
"Tolong...!" Baru saja
mereka berpencar, tiba-tiba ter- dengar suara jeritan.
"Tolong! Gendruwo!
Setan...!" Seorang wanita muda menjerit-jerit sambil berlari ketakutan.
Mungkin karena takutnya, wa- nita cantik itu tak sadar kalau tubuhnya dalam
keadaan setengah telanjang. Hanya kain yang menutup bagian bawah tubuhnya.
Mendengar suara jeritan itu, Rapuji yang belum begitu jauh dari rumahnya
langsung berbalik arah, diikuti beberapa warga yang menyertainya. Begitu pula
yang dilakukan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Ada apa, Sukarti?" tanya
Rapuji mendapa- ti anaknya nampak ketakutan.
"Ada setan, Ayah! Setan itu
membawa pergi Kangmas Anggoro!" ujar Roro Sukarti sambil menangis
ketakutan.
"Hah! Anggoro, menantuku
diculik?!" Rapuji tersentak, matanya membelalak tegang mendengar penuturan
anaknya.
Anggoro dan Roro Sukarti baru saja
menikah seminggu yang lalu. Kini tiba-tiba muncul mayat-mayat hidup menculik
Anggoro.
Semua belum hilang dari kekagetan,
tiba-tiba.... "Setan...!"
"Gendruwo...!" Terdengar
teriakan-teriakan para pendu- duk sambil berlarian ketakutan.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak me- lihat para penduduk berteriak-teriak ketakutan. Tingkahnya
yang konyol, membuat Mei Lie melo- tot. Hal itu menjadikan Sena langsung diam.
Meski begitu Pendekar Gila tetap cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ada apa?! Ada apa ini?"
tanya Rapuji ke- pada para warga.
"Rumah kami dirampok!"
"Anak kami yang masih perjaka diculik!" "Suami saya dibawa. Padahal
kami baru menikah bareng dengan Den Sukaiti," seorang gadis muda berkulit
kuning langsat dan manis menangis tersedu-sedu.
Rapuji semakin melongo bengong. Dia
ti- dak tahu harus berbuat apa menghadapi para warga beramai-ramai melaporkan
kejadian di ru- mah mereka. Lelaki setengah baya yang menjabat sebagai Ketua
Desa Tumpang setelah tewasnya Ki Lurah Kuswara itu tampak kebingungan. Dirinya
tak habis pikir untuk apa para lelaki muda dicu- lik oleh makhluk-makhluk aneh
itu.
***
Belum tuntas Rapuji dan Pendekar
Gila mendengar keterangan dari para warga yang telah dilanda malapetaka itu,
tiba-tiba datang pula be- berapa orang dari arah selatan. Mereka melapor- kan
baru saja mendengar kejadian serupa di Desa Kaliwalang. Mendengar laporan itu,
Rapuji diser- tai Pendekar Gila, Mei Lie, dan para warga lang- sung berlari
menuju Desa Kaliwalang yang meru- pakan desa terdekat dengan Desa Tumpang.
"Ada apa, Ki Rapuji...?"
tanya Ki Lurah Re- jasa menyambut Rapuji dan beberapa warga Desa Tumpang.
Rapuji menceritakan semua yang
terjadi. Hal itu menjadikan mata Ki Lurah Rejasa membelalak.
"Sama dengan kejadian
kemarin," gumam Ki Lurah Rejasa. "Aku heran, untuk apa lelaki- lelaki
muda dan tampan dibawa pergi? Kemudian keesokan harinya mereka telah menjadi
mayat dengan keadaan mengerikan sekali. Bukankah warga desa sini juga
melihatnya?"
Para warga semua terdiam, tak ada
yang berkata. Semua tengah berpikir, bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya
yang terjadi di desa mereka ini. Dan apa yang dikehendaki manusia- manusia
siluman itu.
Hanya Pendekar Gila yang masih
terse- nyum-senyum. Malah bersiul-siul. Wajahnya memandang ke langit yang
gemerlapan.
"Em... kalau aku boleh tahu,
apakah orang-orang yang diculik pernah melakukan sesuatu pelanggaran. Berbuat
jahat misalnya?" Mei Lie menyelidik. Gadis itu masih memegangi Pedang
Bidadarinya yang mampu mengeluarkan sinar kuning kemerah-merahan.
Kedua pimpinan desa itu terdiam,
berusa- ha mengingat-ingat apa yang pernah dilakukan warganya yang hilang
diculik.
"Kami rasa tidak," sahut
Rapuji. "Tapi anehnya, mayat-mayat hidup itu memilih para lelaki muda yang
gagah dan berwa- jah tampan...," sambut Ki Lurah Rejasa.
"Hm, aneh. Untuk apa
lelaki-lelaki itu?" gumam Mei Lie sambil memasukkan pedang ke dalam
warangkanya. Seketika suasana di sekitar tempat itu menjadi gelap gulita.
Warga desa baru tersentak kaget.
Mereka semua baru sadar kalau yang membuat suasana di tempat itu terang,
ternyata berasal dari pedang Mei Lie. Dengan mata terbelalak, mereka berde- cak
kagum. Tak henti-hentinya mereka meman- dang wajah Mei Lie, lalu beralih ke
Pendekar Gila yang masih acuh dan cengengesan.
"Kalau boleh kami tahu, apakah
kalian?" tanya Ki Lurah Rejasa pada Sena dan Mei Lie, dengan menyipitkan
kedua matanya.
Melihat Ki Lurah Rejasa dan para
warga Desa Kaliwalang tertegun keheranan terhadap Pendekar Gila dan Mei Lie,
Rapuji tampak terse- nyum. Lalu menoleh ke arah kedua pendekar muda itu.
"Mereka adalah Pendekar Gila
dan Bidadari Pencabut Nyawa," ujar Rapuji memberitahukan.
Seketika Ki Lurah Kaliwalang dan
warganya tersentak kaget. Mereka memang sering mendengar nama keduanya, tapi
baru kali ini melihat orangnya.
"O, terimalah salam hormat
kami!" Ki Lurah Rejasa langsung menjura hormat di hadapan Pendekar Gila
dan Mei Lie. Begitu pun para warga Desa Kaliwalang, mereka membungkuk memberi
hormat tanpa diperintah.
"Aha, sudahlah! Tak perlu
kalian berlaku begitu! Yang penting sekarang bagaimana kita berusaha mencari
kesepuluh penduduk yang hilang," kata Sena mengalihkan pada masalah pokok
Semua terdiam, tak seorang pun yang
da- pat menjawab pertanyaan itu. Mereka tak tahu dari mana manusia-manusia
siluman itu muncul. Apalagi untuk mengetahui di mana markas mere- ka berada.
"Bagaimana kalau kita
mencarinya di seke- liling desa?" tanya Mei Lie menyarankan.
"Setuju saja! Tapi, apakah
mungkin berada di sekitar desa ini?" tanya Ki Lurah Rejasa.
"Mengenai itu aku tak tahu.
Yang pasti, ki- ta harus berusaha mencarinya," tukas Mei Lie.
"Aha, benar juga pendapatmu,
Mei Lie. Nah, bagaimana?" sambung Pendekar Gila.
""Kalau begitu, sebaiknya
memang segera bertindak," tambah Rapuji.
"Aha, tidakkah kita harus
memakai obor? Siapkanlah obor," kata Pendekar Gila.
Para penduduk bergegas mencari
obor. Kemudian setelah semuanya selesai, mereka pun dipecah menjadi empat
bagian. Masing-masing bergerak ke utara, timur, selatan, dan barat. Suasana di
dua desa itu seketika menjadi ramai. Di sana-sini obor menyala, menerangi
suasana ge- lapnya malam. Suara kentongan pun sahut- menyahut, semakin membuat
suasana kedua de- sa bertambah riuh.
Namun setelah seluruh pelosok desa
dikeli- lingi, tidak juga mereka menemukan tanda-tanda adanya tempat yang
mencurigakan. Hal itu men- jadikan semuanya terheran-heran dan bingung, harus
bagaimana lagi untuk dapat menemukan beberapa warga desa yang hilang.
"Hhh..., bagaikan mencari
jejak di dalam air. Tak mudah bagi orang-orang macam kita memburu makhluk
siluman yang tak meninggal- kan jejak," gumam salah seorang warga Desa
Tumpang.
"Hi hi hi...! Lucu sekali.
Kita seperti main petak umpet dengan para siluman," gumam Sena sambil
menggaruk-garuk kepala.
Mei Lie menyapukan pandangannya ke
se- keliling tempat mereka berada. Namun sama seperti para warga, tak menemukan
tanda-tanda kalau di tempat itu ada yang mencurigakan. Se- mentara malam kian
larut. Namun di sana-sini masih terdengar suara kentongan dipukul oleh para
warga yang masih bersemangat mencari. Dan tiba-tiba....
"Ingat Pendekar Gila dan kau
Bidadari Pe- nyabut Nyawa! Kalian telah ikut campur dalam urusan ini! Kalian
akan menyesal...!"
Terdengar suara keras dan
berkumandang mengancam Pendekar Gila dan Mei Lie. Suara itu seolah-olah berasal
dari langit. Dan dari jenis su- aranya, ancaman itu sepertinya diucapkan oleh
seorang wanita.
Orang-orang tersentak kaget
mendengar suara tanpa wujud pemiliknya. Mereka kebingun- gan mencari-cari suara
itu dengan mendongak- kan kepala ke langit yang hanya tampak gelap gu- lita.
Sementara itu, Pendekar Gila justru
terta- wa terbahak-bahak, sepertinya tak takut sama sekali dengan ancaman yang
baru saja didengar- nya. Bahkan dengan suara lantang Sena balas, "Ha ha
ha...! Siluman jelek! Jangan kira aku takut menghadapimu! Ayo, keluarlah! Biar
kujitak pan- tatmu! Hua ha ha...!" tubuh Sena turut bergetar, karena
tawanya yang terpingkal-pingkal. Kemu- dian dengan konyol Pendekar Gila menung-
gingkan pantat ke atas sambil berseru, "Nih, ken- tut busukku!
Bruut..!"
Pendekar Gila kembali tertawa-tawa
sambil berjingkrakan tak ubahnya seperti monyet. Hal itu menjadikan semua
penduduk yang ada di tempat itu terbengong-bengong. Heran bercampur kagum atas
keberanian Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Tunggulah
saatnya nanti, Bocah Gila!" suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih
kuat dan menggelegar, seakan diucapkan dengan pengerahan tenaga dalam yang
kuat.
"Hua ha ha! Lucu sekali kau,
Siluman! Se- harusnya akulah yang mengancammu. Karena kau telah berani
melanggar ketentuan Hyang Widhi. Kau telah berani melanggar garis alam!" dengus
Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu setelah berjingkrak-jingkrak kembali,
ditunggin- gan pantatnya, "Nih kentutku. Brutt...!"
Suasana tegang yang menyelimuti
warga desa, seketika berubah oleh tingkah laku Pende- kar Gila yang konyol dan
lucu.
Wuuss...! Tiba-tiba angin bertiup
kencang laksana badai, menjadikan semua warga desa tersentak kaget. Angin besar
itu datang dari arah selatan.
"Aha, rupanya kau mau bercanda
dengan- ku, Siluman Jelek?! Baik. Ayo, kita main-main pe- tak umpet!" Sena
melangkah mundur, tangannya bergerak memerintahkan pada semua warga agar
bertiarap. "Kalian mundur semua! Mei Lie, jaga mereka!"
"Baiklah, Kakang...."
Setelah para penduduk mundur, Sena segera menyatukan telapak tangan di depan
dada, kemudian diangkatnya lurus ke atas kepala. Lalu digerakkan melebar ke
samping. Dan setelah menarik napas dalam-dalam...
"’Inti Bayu’. Hea...!"
diiringi teriakan keras, dihempaskan tenaga dalamnya lewat kedua tela- pak
tangan. Seketika itu pula serangkum angin dahsyat laksana prahara menderu
kencang. Angin 'Inti Bayu' bergerak kencang, menerjang angin badai yang entah
dari mana datangnya.
Wss! Jlegar! Ledakan dahsyat pun
terdengar, ketika dua angin besar laksana badai saling bertabrakan di udara.
Akibat dari ledakan menggelegar itu, tanah di bawahnya hancur berhamburan,
hingga mem- bentuk sebuah lubang besar dan dalam.
Sesaat kemudian suasana kembali
sepi, tak terdengar suara angin maupun ancaman.
"Hm," gumam Sena tak
jelas. Kepalanya mendongak melihat ke atas, tempat suara anca- man tadi
terdengar. "Malam ini, kurasa dia agak sedikit kapok"
Namun tiba-tiba Sena sangat
terkejut, ke- tika dilihatnya di antara kerumunan penduduk tak tampak Mei Lie.
Sena menggaruk-garuk kepa- la.
"Mei Lie?! Kau lihat Mei Lie,
Ki Rapuji...?!" tanya Sena pada Rapuji. Matanya terus mencari- cari Mei
Lie. Srak! Wess! Sesosok bayangan merah berkelebat cepat membopong sosok tubuh
berpakaian putih. "Mei Lie?!"
Sena tersentak kaget melihat sosok
bayan- gan itu membawa kekasihnya.
Pendekar Gila cepat mengejarnya.
Namun sosok yang membawa Mei Lie sudah menghilang. Pemuda itu nampak cemas dan
menggaruk-garuk kepala. "Bodoh sekali aku ini!" gumam Pendekar Gila
kesal.
3
Sesosok bayangan kemerahan melesat
be- gitu cepat menembus kegelapan malam. Bagaikan tak menghiraukan dinginnya
hawa yang menusuk ke tulang sumsum, sosok bayangan yang ternyata seorang lelaki
tua itu terus berkelebat. Di pun- daknya tampak sesosok tubuh wanita berpakaian
putih, terkulai lemas seperti mati. Lesatan cepat yang dilakukan lelaki tua
berjubah merah itu me- nandakan bahwa ilmunya tak dapat dianggap remeh.
Gerakannya yang secepat kilat tak dapat di- lihat mata biasa.
Lelaki tua bercambang panjang dan lebat
itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menatap liar ke
sekeliling tempat itu. Kini jelas, sosok berpakaian putih yang dipang- gulnya
tak lain Mei Lie. Kekasih Pendekar Gila.
Rupanya sewaktu Pendekar Gila
tengah mengerahkan ajian 'Inti Bayu', menggempur se- rangan angin badai, lelaki
tua berjubah merah itu mendapatkan saat yang tepat untuk menotok Mei Lie. Mei
lie pun lengah dan tak menduga kalau ada orang yang tengah mengintainya.
"Ha ha ha...! Aku akan
berkuasa! Aku akan dapat menguasai Jawa Dwipa ini. Ha ha ha...!" le- laki
tua itu tertawa terbahak-bahak. "Ternyata Pendekar Gila hanya seorang
pendekar bodoh...!" kemudian tubuhnya melesat kembali meninggal- kan
tempat itu.
Lelaki itu berharap impiannya untuk
menguasai semua tokoh persilatan di Jawa Dwipa akan menjadi kenyataan. Ia masih
teringat wang- sit yang diturunkan untuk dirinya. Wangsit itu mengatakan:
"Siapa yang dapat memperistri
seorang ga- dis bergelar Bidadari Pencabut Nyawa atau Titisan Dewi Kwan Im,
maka kelak akan menjadi tokoh sakti. Selain itu akan menguasai tanah Jawa Dwipa
dan Andalas, serta menurunkan raja-raja di Pulau Andalas".
Lelaki tua itu terus berlari
semakin cepat, seakan tak ingin ada orang lain melihatnya. Namun ketika
melintasi sebuah hutan kecil yang tak seberapa luas, tiba-tiba....
"Datuk Tambureh,
tunggu...!" Lelaki berjubah merah darah tak menghiraukan seruan itu.
Hatinya sudah menduga siapa orang yang memanggilnya. Lelaki tua yang di-
panggil Datuk Tambureh itu terus berlari. Hal itu karena hatinya telah menaruh
rasa curiga terha- dap tokoh-tokoh persilatan di Tanah Jawa.
Ternyata lelaki berjubah merah yang
bernama Datuk Tambureh inilah tokoh sesat yang akhir-akhir ini sering membuat
keonaran. Lelaki tua itu mampu membangunkan mayat-mayat orang jahat dari dalam
kubur. Demi tujuan dan cita-cita yang telah lama didambakannya.
Suatu wangsit telah turun atas
dirinya melalui Dewi Ratu Maksiat, yang juga ibu angkatnya. Datuk Tambureh
melakukan penculikan terhadap para lelaki muda dan tampan untuk dipersembahkan
kepada ibunya yang menganut ilmu pembuat awet muda. Dengan bersetubuh dan memi-
num darah para pemuda tampan Dewi Ratu Mak- siat bisa terus awet muda.
"Datuk...! Datuk Tambureh,
tunggu...!" Orang itu kembali berseru sambil berlari mengejar lelaki tua
berjubah merah. Dalam sekejap saja, tubuh orang itu berkelebat cepat menyu- sul
Datuk Tambureh, bahkan tiba-tiba telah menghadangnya. "Berhenti!"
"Apa urusanmu, Orang Usil!" bentak Datuk Tambureh geram.
Lelaki bercadar biru itu tersenyum
mengejek. "Datuk, rupanya kau pun menghendaki gadis itu. Hem, aku pun jadi
ingin merebutnya dari tanganmu."
"Bedebah! Jangan,
bermimpi!" "Kenapa tidak, Datuk...!" tiba-tiba terdengar suara
orang lain membentaknya, menjadikan sang Datuk tersentak kaget dan memalingkan
wa- jah ke arah suara bentakan itu.
"Hm...! Rupanya kalian
bersekongkol hen- dak merebut gadis itu. Heh..., jangan kira kalian akan mampu
merebutnya. Langkahi dulu mayatku!"
"Begitu?" tanya orang
yang baru datang dengan sinis. Lelaki berpakaian serba hitam itu ternyata Bulus
Wulung yang telah mengejar Datuk Tambureh setelah mendengarkan keterangan dari
ketiga pengusung. Seperti Datuk Tambureh, kedua orang yang mengejarnya pun
telah mengira siapa adanya Putri Kumala Dewi yang menurut wangsit kelak akan
menurunkan raja-raja di Pu- lau Andalas. Karena berpegang pada wangsit itu-
lah, ketiga orang tersebut segera memburunya. Kini putri tersebut berada di
tangan Datuk Tam- bureh, sehingga kedua orang pengejar itu pun mau tak mau
harus menghadang lelaki berjubah merah. "Ya, begitu, tak ada jalan
lain," jawab Da- tuk Tambureh sinis.
"Hem, kita bertiga,"
gumam Bulus Wulung yang mengenakan pakaian serba hitam dengan kedok hitam.
"Tak apa. Yang penting salah
seorang di antara kita harus dapat menjadi pemenangnya," orang bercadar
biru menyarankan, "Bagaimana kalau kita langsung saling menyerang?"
"Tak mungkin. Pasti ada
kecurangannya," sela Datuk Tambureh.
"Kau rupanya takut,
Datuk!" "Bedebah! Jangan kira aku takut mengha- dapi kalian berdua.
Ayo, kalian maju bareng men- geroyokku! Datuk Tambureh tak akan mundur
menghadapi orang macam kalian," habis berkata begitu, serta-merta Datuk
Tambureh mengi- baskan tangannya. Dari kibasan tangan, keluar ratusan jarum
berwarna ungu, melesat ke arah kedua orang tersebut.
"Awas serangan!" pekik
Bulus Wulung memperingatkan pada rekannya yang dengan segera berkelebat sambil
mengibaskan lengan bajunya. "Datuk edan! Rupanya kau memang ingin segera
mampus!" bentak orang bercadar biru. Napasnya mendengus bagaikan memendam
kekesalan yang hendak ditumpahkan pada Datuk Tambureh. "Terimalah
pembalasan dariku! Hiat...!" orang bercadar biru itu menghantamkan tangan
kanannya ke arah Datuk Tambureh. Sang Datuk terkesiap kaget, melihat larikan
sinar putih mele- sat dari telapak tangan lawan.
"Hah...! Kaukah Barong
Culla?" Datuk Tambureh terkejut setelah tahu siapa adanya orang bercadar
biru itu. "Kenapa kau ikut campur dalam urusan ini, Barong Culla!"
"Hua ha ha...! Ternyata matamu
belum be- gitu rabun, Datuk? Nah, bila sudah tahu siapa aku, mestinya kau
menyembah dan rela membe- rikan gadis itu, padaku...," kata lelaki
bercadar biru yang ternyata bernama Barong Culla.
"Enak saja kau ngomong! Aku
bersusah- payah menculiknya, tiba-tiba kau menginginkan hasil jerih
payahku?" bentak Datuk Tambureh. "Walaupun namamu sudah setinggi
langit, Datuk Tambureh tak gentar sedikit pun menghadapimu. Apalagi menghadapi
Bulus Wulung kere macam temanmu itu!"
"Setan! Rupanya kau memang
harus kuha- jar!" bentak Bulus Wulung marah, karena ucapan Datuk Tambureh
dirasakan sangat menganggap remeh dirinya. Betapapun Bulus Wulung merupakan
anggota Panca Leluhur Sakti yang tidak dapat dipandang remeh. Mendengar ucapan
Datuk Tambureh, darahnya seketika mendidih. "Jangan sombong, Datuk! Kalau
kau memang jan- tan, hadapilah aku!"
Sang Datuk yang telah siap-siap
akan menghadapi dua orang sekaligus, tak mau kalah berkata lantang.
"Majulah kalian berdua sekali- gus, jangan tanggung-tanggung! Biar lebih
cepat selesai!" Tak dapat lagi dibayangkan kemarahan dua orang tokoh dari
Pulau Jawa dengan ejekan lawan. Serta-merta keduanya berkelebat menye- rang
Datuk Tambureh. Serangan kedua tokoh persilatan yang berbeda perguruan itu
tampak begitu kompak. Keduanya berganti-ganti melan- carkan serangan cepat.
Namun begitu, sang Datuk bagaikan tak merasa sedikit pun. Meskipun lelaki tua
itu memanggul tubuh Mei Lie, gerakan- nya tetap lincah.
Jurus demi jurus berlangsung cepat.
Ketiganya seperti tak mengenai lelah, saling gempur dengan jurus-jurus yang
mereka miliki. Entah berapa puluh jurus yang dikeluarkan. Karena begitu cepat
pertarungan yang mereka lakukan, keti- ganya telah terlibat dalam pertarungan
sengit dengan jurus andalan masing-masing.
"Celaka!" Datuk Tambureh
tersentak kaget, ketika menyadari dirinya kini telah sampai di tepi jurang,
terdesak oleh kedua lawan yang nampak makin beringas. "Kalau begini
terus-menerus, akulah yang akan kalah. Aku harus mencari ak- al."
Bulus Wulung dan Barong Culla
kurang waspada memperhatikan gerak-gerik sang Datuk. Keduanya terjebak oleh
serangan-serangan yang mereka lancarkan.
Melihat musuhnya mendesak ke
pinggir ju- rang, serta-merta Datuk Tambureh memekik keras. Lalu setelah
berbuat begitu, tiba-tiba tubuh- nya melenting bersamaan dengan serangan yang
dilancarkan Bulus Wulung dan Barong Culla. Tanpa dapat dihindari, kedua orang
bertutup muka itu meluncur deras ke jurang.
"Akh...!" "Hua ha
ha...! Terjunlah kalian! Selamat berpisah, dan bahagialah kalian di akherat
sana!"
Setelah sesaat memandang ke dasar
ju- rang, Datuk Tambureh dengan masih tertawa- tawa berkelebat meninggalkan
tempat itu dengan memanggul tubuh Mei Lie.
Walau dalam keadaan tertotok, saat
itu ternyata Mei Lie telah siuman dari pingsannya. Sehingga ia pun dapat
menyaksikan betapa kedua orang bercadar itu menemui ajalnya dengan tragis.
"Siapa sebenarnya orang ini?
Sangat licik dan berilmu tinggi," tanya Mei Lie dalam hati. Gadis itu
merasa cemas, karena lelaki berjubah me- rah itu merupakan orang bam dalam
pengliha- tannya. "Anak manis, kau akan kubawa ke pulau tempatku tinggal.
Di sana tak seperti di Jawa ini yang serba keras. He he he...!"
Setelah berkata kepada Mei Lie yang
masih dalam keadaan tertotok, Datuk Tambureh melesat meninggalkan tempat itu.
***
Tak lama setelah Datuk Tambureh
pergi, nampak Pendekar Gila di dekat Jurang Wadas Pa- rang. Wajahnya nampak
murung, kakinya terus melangkah menuju ke tepi jurang itu. Sesaat Se- na
berhenti. Berdiri sambil memandang sekeliling tempat itu. Mulutnya
cengar-cengir sendirian. Se- dangkan tangannya terus menggaruk-garuk kepa- la.
Mata Pendekar Gila tiba-tiba
membelalak, ketika melihat beberapa tapak kaki yang masih jelas membekas di
tanah agak basah.
"Ah, rupanya baru saja ada
pertarungan di sini," gumam Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala.
Sena segera menyelusuri jejak-jejak
kaki itu. Hatinya merasa heran ketika mengetahui bahwa telapak-telapak kaki itu
ternyata memba- wanya ke tepi jurang. Seketika mata Pendekar Gi- la semakin
menyipit, tatkala dilihatnya jejak-jejak kaki itu hilang tepat di bibir jurang.
"Tak salah!" gumam Sena
sambil meman- dang ke dasar jurang yang nampak gelap gulita.
"Heh, benar!" Sena
memekik setelah mena- jamkan pendengarnya.
Tiba-tiba terdengar suara orang
dari dalam jurang. Namun belum nampak orangnya. "Hai, Kisanak yang berada
di atas, dapatkah menolong kami?"
"Hi hi hi...! Ternyata di
bawah sana bukan hanya seorang," gumam Pendekar Gila sedikit ka- get
Sejenak Pendekar Gila berpikir,
akan dito- long atau tidak kedua orang itu. Sebab dia belum tahu yang di dalam
jurang itu orang jahat atau baik. Tampak tangannya mulai menggaruk-garuk kepala
sambil cengengesan.
"Hai...! Kawan yang di atas,
apakah kau tak mendengar seruan kami ini?!" terdengar kembali seruan
seorang yang berada di bawah. Pendekar Gila kembali berpikir sambil
menggaruk-garuk kepala. "Aku harus menolong kedua orang di ba- wah sana.
Siapa tahu mereka bisa memberi kete- rangan padaku. Mungkin mereka melihat
orang yang membawa Mei Lie," kata Sena dalam hati.
Sesaat lamanya suasana kembali
sunyi, tak terdengar lagi teriakan orang dari dalam jurang.
"Hai...! Aku akan menolongmu.
Tap kalian harus mau menjawab pertanyaanku dengan jujur...."
Kedua orang di bawah jurang, Bulus
Wu- lung dan Barong Culla nampak saling pandang. Keduanya terluka di bagian
kepala dan punggung. "Apa yang akan kau tanyakan, Kawan..?!" seru
Barong Culla sambil mendongak ke atas.
"Apa kalian tadi melihat
seseorang lewat di sini memanggul seorang wanita...?!" Pendekar Gila
menengok ke bawah seakan-akan ingin melihat kedua orang itu. Namun suasana
gelap gulita dan kedalaman jurang membuatnya tak mampu melihat
"Hah?!" gumam Bulus Wulung
mengerutkan kening, "Yang dimaksud mungkin datuk keparat itu...!"
"Ya. Sebaiknya kita beritahu
saja, siapa ta- hu kita peralat orang itu. Untuk menangkap Datuk Tambureh.
Bagaimana?!" usul Barong Culla pada Bulus Wulung.
"Hai kalian yang di bawah, kenapa
diam? Maukah kalian? Atau ragu terhadapku..., baiklah aku pergi...!" seru
Pendekar Gila sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Tunggu...! Kami setuju,
sekarang cepat to- long kami!" seru Barong Culla.
"Hi hi hi...! Lucu orang-orang
itu," gumam Pendekar Gila, "Baiklah, sebelum aku menolong kalian,
cepat jawab pertanyaanku tadi! Nanti aku akan menolong kalian!" serunya
kemudian.
"Hah?!" gumam Bulus
Wulung sambil men- gerutkan kening. Lalu menatap wajah Barong Culla,
"Bagaimana...?"
"Apakah mulutmu bisa kami
percaya?!" tanya Barong Culla.
"Ah ah ah! Kalian ternyata
orang-orang yang terlalu banyak mulut Aku sudah tak ada waktu lagi, selamat
tinggal...!"
Selesai bicara begitu Pendekar Gila
segera melesat pergi meninggalkan jurang itu.
"Hai! Kawan, tunggu!"
seru Bulus Wulung dengan kesal dan cemas.
"Siapa orang di atas tadi...?!
Kurang ajar...!" dengus Barong Culla sambil memukul telapak tangannya.
Barong Culla dan Bulus Wulung
orang- orang yang memiliki ilmu tinggi. Dengan tenaga dalam atau ilmu merusak
tubuh, mereka dapat keluar dari jurang itu. Hanya saja keduanya mempunyai
maksud jahat pada Pendekar Gila. Dan itu diketahui oleh Sena yang mempunyai perasaan
sangat peka.
4
Di kediaman Dewi Ratu Maksiat malah
se- dang diadakan suatu pesta untuk menyambut keberhasilan Datuk Tambureh, anak
angkatnya Dewi Ratu Maksiat yang bernama Asri Srintil Arum.
Ruangan cukup luas di sebuah goa
yang terletak di kaki Gunung Kelud, suasana tampak semarak. Dewi Ratu Maksiat
dikelilingi empat le- laki muda yang telah menjadi abdinya sebagai pemuas
nafsu. Pelampiasan nafsu kepada para le- laki muda itu merupakan syarat utama
untuk menciptakan ilmu kekebalan dan awet muda yang dimiliki Dewi Ratu Maksiat
"Hi hi hi...! Putraku
Tambureh, kau telah melaksanakan tugas dengan baik, untuk ibu- mu...,"
kata Dewi Ratu Maksiat seraya tersenyum bangga. Mata wanita cantik itu menatap
lembut Datuk Tambureh. Pakaiannya yang tipis terbuat dari sutera merah, hanya
menutupi bagian dada dan bagian bawah sampai perut.
"Terima kasih, Bu...,"
sambut Datuk Tambureh sambil menundukkan kepalanya.
"Dan kau telah berhasil
menculik si Bidadari Pencabut Nyawa. Aku bangga mempunyai putra seperti kau. He
he he...! Aku akan menguasai dunia ini. Dan putra angkatku, Datuk Tambureh akan
menjadi orang yang paling sakti dan di- takuti oleh tokoh-tokoh persilatan di
Jawa Dwipa ini. Hi hi hi...!" ujar Dewi Ratu Maksiat diiringi tawanya yang
cekikikan. "Tapi ingat, kau harus segera pergi dari tanah Jawa Dwipa ini!
Dan bawa gadis Cina itu ke Pulau Andalas!" lanjutnya.
"Baik, Bu...," jawab
Datuk Tambureh pa- tuh. "Tapi, bagaimana kalau Pendekar Gila mengetahui
hal ini...?!" lelaki berjubah merah itu tak mampu menyembunyikan rasa
cemasnya.
Sejenak Dewi Ratu Maksiat
mengerutkan kening, tak langsung menjawab pertanyaan Datuk Tambureh. Kemudian
ditariknya seorang lela- ki yang ada di sisi kirinya, lalu memerintahkan agar
menciumi dada dan seluruh tubuhnya. Lela- ki yang telah menjadi budak nafsu
wanita itu menyanggupi.
"Jangan pikirkan itu,
Tambureh! Aku bisa mengatasi Pendekar Gila dengan caraku! Apa kau lupa, aku
memiliki seribu cara dan tipu musli- hat?! Percayalah pada ilmu ini,
Tambureh...! He he he.... Aaahhh!"
Dewi Ratu Maksiat lalu mendesah
merasakan raba dan ciuman lelaki yang menjadi budak nafsunya.
Datuk Tambureh hanya menghela napas
dan menggeleng kepala, melihat tingkah laku ibu angkatnya itu. Namun dia bisa
memaklumi, lalu tersenyum-senyum.
"Besok, pagi-pagi buta kau
harus segera berangkat, Tambureh. Mengerti?!" kata Dewi Ratu Maksiat
sambil membuka penutup dadanya. Lalu didekapnya kepala lelaki yang menjadi
budak naf- sunya ke dalam dadanya yang bagus dan agak besar itu.
Dewi Ratu Maksiat mendesah dan
merintih merasakan nikmatnya permainan itu.
Datuk Tambureh lalu melangkah pergi
me- ninggalkan ruangan itu dengan menggeleng- gelengkan kepala.
Ketika sampai di satu ruangan lain.
Datuk Tambureh nampak seperti memikirkan sesuatu. Dia mondar-mandir di ruangan
yang nampak sepi dan gelap itu.
"Kenapa aku mesti pergi ke
Pulau Anda- las?! Tidak! Aku tak mau dikatakan oleh Pendekar Gila sebagai
pengecut, karena telah melarikan ke- kasihnya. Tidak!" sentak Datuk
Tambureh lirih, seolah bicara pada diri sendiri.
Kembali Datuk Tambureh berpikir
sambil memegangi keningnya. Sejenak dia memandang ke sebuah pintu ruangan yang
ada di sebelah ki- rinya.
"Tapi, kalau ibuku tahu aku
tak berangkat, dia akan murka...! Aku harus mencari akal. Aku tak ingin kembali
ke Pulau Andalas, sebelum bisa menuntaskan urusanku dengan Pendekar Gila.
Aku akan berterus terang pada
Pendekar Gila, bahwa aku mencintai kekasihnya dan akan men- gawininya,"
kata Datuk Tambureh dalam hati.
Setelah berkata begitu, Datuk Tambureh
melangkah menuju kamar itu dan masuk. Lalu buru-buru ditutup pintunya.
Di dalam kamar itu ternyata ada
seorang gadis berpakaian silat warna putih dengan ram- but panjang. Matanya
yang bening dan bulu mata lentik. Wajahnya yang pucat, menatap sinis Da- tuk
Tambureh yang memandangnya.
"Kenapa kau memandangku
demikian ru- pa...? Kau benci padaku, Nini Mei Lie?" tanya Da- tuk
Tambureh dengan suara berat
"Huh...!" gumam Mei Lie,
lalu melengos. "Heh he he...! Kau tambah cantik kalau cemberut Nini Mei Lie.
Aku suka...," kata Datuk Tambureh sambil melangkah mendekati Mei Lie yang
membelakanginya. Lalu Datuk Tambureh memegangi bahu kanan gadis itu. Namun
dengan cepat Mei Lie menepiskan tangan Datuk Tambu- reh, lalu disusul dengan
tamparan tangan kanan- nya.
Plak! Plak! Datuk Tambureh hanya
senyum. Matanya menatap tajam wajah Mei Lie. Tatapannya seperti mengandung
hipnotis. Seketika Mei Lie terdiam, lalu kembali melengos, membuang muka. Si Bidadari
Pencabut Nyawa itu takut jika menatap terus mata lelaki tua itu, dia akan
terkena ilmu si- hirnya. "Kalau kau memang merasa paling jago, kembalikan
pedangku! Dan kita adu ilmu...!" kata Mei Lie dengan nada penuh emosi.
"Ha ha ha.... Hebat! Aku
paling suka den- gan wanita seperti kamu ini. Tak salah kalau Pendekar Gila
memilihmu, Anak Manis. Ha ha ha...! Asal kau tahu saja, keinginanmu tak akan
pernah terpenuhi. Dan perlu kau ingat, Pendekar Gila umurnya tak akan lama. Aku
akan meng- hancurkannya...! Ha ha ha...!" kata Datuk Tam- bureh
memanas-manasi Mei Lie.
Lalu Datuk Tambureh berbalik dan
me- langkah pergi sambil tertawa-tawa. Mei Lie yang merasa diremehkan, menjadi
marah. Tanpa pikir panjang, kekasih Pendekar Gila itu, segera berba- lik
lalu....
"Yeaaa...." Sambil
memekik keras Mei Lie melancar- kan serangan. Namun Datuk Tambureh bukan orang
biasa. Serangan dengan menggunakan pu- kulan jarak jauh itu dapat dimentahkan,
karena Datuk Tambureh dengan cepat mengibaskan tan- gan kanan dan menghentakkan
ke arah Mei Lie, tanpa menoleh sedikit pun. Kibasan tangan ka- nan Datuk
Tambureh mengeluarkan angin ken- cang dan mengeluarkan hawa panas. Mei Lie ter-
sentak kaget. Dan seketika tubuh gadis itu ter- dorong ke belakang dan jatuh
membentur dind- ing.
"Ukh...!" Mei Lie memekik
tertahan. "Kuperingatkan, jangan kau ulangi tindakanmu ini! Aku bisa
membunuhmu. Tapi itu tak akan aku lakukan. Karena sebentar lagi kau akan menjadi
istriku...!" tutur Datuk Tambureh bang- ga. Lalu kembali tertawa
terbahak-bahak dan ke- luar dari kamar itu.
***
Kembali kepada Dewi Ratu Maksiat
yang sedang bercumbu dengan para budak pemuas nafsunya di atas pembaringan. Desah
dan rintihan terus terdengar. Dewi Ratu Maksiat yang mempunyai kekuatan iblis
sanggup melayani tiga sampai lima lelaki sekaligus. Semua itu dilakukan demi
umurnya yang mampu mempertahankan usia mudanya.
"Oooh.... Aaah... benar-benar
nikmat..," de- sah Dewi Ratu Maksiat Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup
bagai disiram dengan air.
Lalu, Dewi Ratu Maksiat beranjak
bangun, seraya menggapai kain sutera warna kuning un- tuk menutupi tubuhnya
yang tanpa pakaian. Be- gitu indah dan menggairahkan tubuh wanita yang
sebenarnya sudah berumur hampir sembilan pu- luh tahun itu.
Dewi Ratu Maksiat kemudian bertepuk
tangan. Sesaat kemudian muncul seorang wanita muda berambut panjang terurai.
Dengan pakaian bagian atas hanya berupa kemben, kain penutup bagian dada. Dan
kain sarung lurik pula warna coklat. Wajah wanita itu cukup cantik
"Ada tugas apa untuk hamba,
Tuan Pu- tri..?" tanya wanita muda itu sambil menjura.
"Aku kali ini memberi tugas
untuk melenyapkan Pendekar Gila. Untuk itu aku perlu merubah wajahmu. Agar
Pendekar Gila kebingungan. Ingat, bila kau merasa sukar untuk melakukannya,
pakai cara yang biasa kita lakukan. Lelaki tak akan kuat jiwanya, jika kita
terus mende- sak dan membangkitkan kelakiannya. Tak terkecuali dengan Pendekar
Gila. Sama saja! Ha ha ha... hi hi hi...! Sekarang ikut aku ke ruang semadi.
Ayo, cepat!" kata Dewi Ratu Maksiat
"Baiklah, Tuan Putri...,"
jawab wanita itu sambil menjura. Lalu melangkah mengikuti Dewi Ratu Maksiat
menuju sebuah ruangan. Keduanya sampai di sebuah pintu yang terbuat dari batu
gunung. Dewi Ratu Maksiat menempelkan telapak tangannya ke batu itu, seketika
pintu itu terbuka sendiri. Wanita cantik itu melangkah masuk di- ikuti anak
buahnya tadi. Pintu tertutup kembali.
Di dalam ruangan yang penuh dengan
asap dupa dan kemenyan nampak menyeramkan. Hanya diterangi dua obor yang tergantung
di dinding batu itu. Di tengah ruangan ada sebuah batu besar, berbentuk bundar
dan datar. Di de- pannya ada sebuah cawan berukuran besar, beri- si
tulang-tulang manusia dan darah. Air dalam cawan raksasa itu mendidih.
Dewi Ratu Maksiat kemudian membaca
mantera, setelah duduk bersila di atas batu itu. Kedua tangannya diangkat ke
atas kepalanya sambil menengadah.
Sedangkan wanita muda tadi duduk di
seberang cawan raksasa itu. Juga bersila sambil menatap Dewi Ratu Maksiat.
Beberapa saat ke- mudian, Dewi Ratu Maksiat berdiri mendekati wanita muda itu.
Lalu telapak tangannya ditaruh di atas kepala wanita itu. Seketika tubuh wanita
itu berasap. Kemudian Dewi Ratu Maksiat melepas telapak tangannya dari atas
kepala wanita itu. Seperti kena hipnotis, wanita muda itu berdiri, lalu membuka
seluruh pakaiannya, hingga polos. Lalu melangkah dan menceburkan diri ke da-
lam cawan besar. Tubuhnya terus direndam di dalam cawan raksasa itu. Aneh, tak
sedikit pun kulitnya terkupas oleh air yang mendidih itu. Malah perlahan-lahan
wajahnya berubah, menjadi Mei Lie. Kemudian, wanita yang kini berubah men- jadi
Mei Lie, melompat turun dari cawan raksasa itu.
"Ha ha ha...! Kali ini akan
kupermainkan Pendekar Gila. Ha ha ha...! Hi hi hi...! Jika Pendekar Gila mampus,
datuk putraku akan menjadi orang yang paling disegani di rimba
persilatan!"
***
"Ha ha ha... hi hi hi...! Kali
ini Pendekar Gila tak akan bisa menaklukkanku. Aku akan permainkan pendekar
tampan itu. Dan sudah lama aku menginginkan keperkasaannya, untuk memuaskanku
sepanjang malam. Hi hi hi...!"
Dewi Ratu Maksiat terus
tertawa-tawa. Wanita yang deh kalangan tokoh persilatan juga dijuluki Wanita Iblis
dari Andalas itu tampaknya benar-benar yakin akan mampu memperdaya Pendekar
Gila.
Lalu Dewi Ratu Maksiat, menarik
lengan wanita jelmaan itu merapat ke tubuhnya. Dipeluknya erat-erat, hingga
menyatu benar dengan tubuh Dewi Ratu Maksiat. Hal itu dimaksudkan untuk memberi
kekuatan tenaga dalam pada wanita yang menjadi abdinya. Mendadak tubuh Mei Lie
samaran itu berasap, ketika Dewi Ratu Maksiat mendekapnya rapat-rapat
"Kau akan kuat dan memiliki
ilmu silat yang sama sepertiku, Cah Ayu. Hi hi hi....! Jangan sampai gagal,
jangan ceroboh! Kalau gagal, nya- wamu sebagai pengganti darah Pendekar Gila!"
suara Dewi Ratu Maksiat terdengar mendesis, bagai suara roh halus. Kemudian
perlahan-lahan wanita iblis itu melepaskan pelukannya. Lalu mengusap-usap
lembut buah dada wanita mirip Mei Lie itu.
"Kau memiliki dada yang bagus,
seperti aku pula, Cah Ayu..., hi hi hi.... Aku berhasil mengubah dirimu dengan
sempurna...," gumam Dewi Ratu Maksiat lirih.
Kemudian si Wanita Iblis dari
Andalas itu melangkah ke satu sudut. Dia mendekati sebuah peti besar berukiran
indah. Dibukanya kotak ku- no terbuat dari kayu jati itu. Di dalamnya ada sepasang
pakaian silat warna kuning, dengan penu- tup wajah juga kuning. Dewi Ratu
Maksiat segera mengambilnya, dan membawa ke tempat wanita mirip Mei Lie yang
masih dalam keadaan tanpa pakaian.
"Pakai ini! Pakaian ini pernah
kupakai se- waktu aku seumurmu. Ketika aku masih tinggal di Pulau
Andalas," ujar Dewi Ratu Maksiat, sam- bil memberikan pakaian itu pada Mei
Lie sama- ran. Wanita itu menerimanya, "Cepat kau pa- kai...!" Lalu
Dewi Ratu Maksiat melangkah ke tempat batu besar, tempat duduknya. Dia duduk
dengan bersila. Lalu menarik napas panjang sambil mengawasi wanita abdinya yang
sedang memakai pakaian keramat tadi.
"Aku akan puas dan baru ingin
mati te- nang, jika semua rencanaku berhasil. Jauh-jauh aku datang dari Pulau Andalas
kemari, demi cita- cita anak angkatku, Datuk Tambureh untuk mempersunting si
Bidadari Pencabut Nyawa itu. Dia akan dapat menjadi orang yang berilmu ting-
gi, menurut wangsit yang kuterima dari arwah guruku," kata Dewi Ratu
Maksiat dalam hati. Ma- tanya terus memandangi wanita abdinya yang te- lah
selesai memakai pakaian serba kuning itu.
"Kematian suamiku karena Singo
Edan. Dan orang tua gila itu kini telah pergi entah ke mana. Jadi aku harus
membalas dendam pada muridnya. Ha ha ha...!"
Sementara itu Pendekar Gila yang
sudah dua hari mencari belum juga menemukan Mei Lie. Pemuda tampan itu tampak
sangat cemas dan kesal. Dia terus menggaruk-garuk kepala sambil
sebentar-sebentar menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan keras, menumpahkan
rasa ke- kesalannya.
Pendekar Gila terus menyelusuri
jalan se- tapak di pinggiran sungai. "Bodoh...! Benar-benar orang goblok
aku ini!" gerutunya terus sambil memukuli keningnya. "Aku yakin orang
yang menculik Mei Lie itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi," gumam Sena
yang nampak murung itu.
Langkahnya dipercepat, terkadang
pelan. Nampak sekali pikirannya sedang kacau. Namun dia masih dapat menguasai
diri.
Tiba-tiba dia menghentikan
langkahnya. Memandangi sekeliling tempat itu. Sejenak dia berpikir sambil
memegangi keningnya.
"Sebaiknya aku mampir di
Kadipaten Galih Marta. Siapa tahu orang-orang kadipaten bisa memberikan
keterangan padaku tentang Mei Lie," kata Sena dalam hati.
Selesai berkata begitu, Sena segera
menye- berangi sungai dengan menggunakan ilmu merin- gankan tubuhnya yang sudah
mencapai tingkat tinggi. Hingga dia bisa menotol-notol di atas per- mukaan air
dengan tenang. Benar-benar ilmu yang sangat luar biasa hebatnya.
Dalam sekejap Sena sudah sampai di
sebe- rang. Pemuda itu menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir. Lalu dia
melongok ke atas. Dilihat- nya matahari sudah mulai condong ke barat Ma- ka
Sena menggunakan ilmu lari 'Sapta Bayu', me- lesat bagaikan anak panas lepas
dari busurnya. Begitu cepat, hingga yang nampak hanya bayan- gan hitam
berkelebat cepat bagaikan angin.
Namun larinya tiba-tiba terhenti,
ketika terdengar suara orang menegur dengan kasar.
Sena cengengesan ketika melihat di
depan telah berdiri dua orang lelaki menghadangnya. Kedua- nya bertolak
pinggang dengan sikap angkuh.
"Aha, ada apa kiranya kalian
menghentikan aku...?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala. Tingkah
lakunya yang seperti orang gila, membuat orang yang ada di depannya bertanya-
tanya siapa pemuda tampan berbaju rompi kulit ular itu. "Hm.... Mungkinkah
pemuda gila ini yang berjuluk Pendekar Gila dari Goa Setan...?" tanya
orang yang bermuka bulat dengan hidung besar.
"Ya. Dari tingkah lakunya
mungkin dia si Pendekar Gila itu, Kakang Barong Culla," bisik Bulus
Wulung.
"Hai...?! Kenapa kalian berdua
diam?!" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk
pantatnya.
"Mungkinkah dia Pendekar
Gila?" tanya Barong Culla dalam hati mencoba menebak. Dirinya memang
sering mendengar nama Pendekar Gila. Tapi melihatnya belum pernah.
"Kalian berdua rupanya
orang-orang bisu... Kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan.
Permisi...!" kata Sena sambil cengar-cengir lalu mulai melangkah.
"Hei...! Tunggu, Kawan...!
Kalau tidak sa- lah, kau Pendekar Gila yang kesohor itu...?" panc- ing
Barong Culla dengan menatap tajam ke arah Sena yang terpaksa menghentikan
langkahnya. Lalu berbalik badan sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi... lucu sekali!
Kalian ini mau apa?! Kalau memang aku orang yang kau sebut, lantas kalian mau
apa?" tanya Sena cengengesan.
Barong Culla dan Bulus Wulung
saling pandang, lalu saling menganggukkan kepala, kemudian tertawa-tawa.
"Begini, Kawan. Tiga hari lalu
kami berdua bentrok dengan seorang lelaki tua berjubah merah. Kami kalah dan
terperosok ke dalam ju- rang...," tutur Barong Culla menerangkan.
"Hah?!" gumam Sena sambil
menggaruk- garuk kepala, "Jadi kalian ini yang ada di dalam Jurang Wadas
Parang itu...?!" tanya Sena.
"Bagaimana kau bisa
tahu?" tanya Bulus Wulung mengerutkan kening.
"Hi hi hi...! Akulah orang
yang tak jadi menolong kalian. Karena aku yakin dan tahu, bahwa kalian
orang-orang yang berilmu tinggi. Sebab ka- lau tidak, kalian sudah mati
terperosok ke jurang seperti itu. Apalagi orang yang berjubah merah itu pasti
ilmunya lebih tinggi dari kalian berdua," ka- ta Sena sambil cengengesan.
"Oooh! Jadi kaulah yang
meninggalkan kami kemarin itu. Bagus sekarang aku mau tanya, kenapa kau juga
mencari orang berjubah merah itu...?" selidik Barong Culla dengan menyipitkan
sebelah matanya. Kemudian melirik ke Bu- lus Wulung sejenak, lalu kembali
menatap Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Mungkin tak jauh
berbeda dengan kalian berdua. Hanya saja, aku lebih berduka dari kalian,"
sahut Sena kalem, kemudian kembali menggaruk-garuk kepala.
"Apakah ada hubungannya dengan
gadis yang dibawanya itu?" pancing Barong Culla lagi. Makin yakin kalau
orang yang dihadapi adalah Pendekar Gila, murid Singo Edan.
"Ah, sudahlah. Aku tak ada
urusan dengan kalian. Aku mau pergi," ucap Sena lalu berbalik badan hendak
pergi.
"Hai! Tunggu...! Aku mungkin
bisa bekerja sama untuk menangkap orang yang membawa gadismu itu...!" seru
Barong Culla.
Sena mengerutkan kening, berpikir
sejenak. Lalu berbalik dan mendekati kedua lelaki itu.
"Hi hi hi... bagus! Hm... tapi
aku masih belum perlu bantuanmu, Kawan. Maaf aku tak ada lagi waktu untuk
bicara pada kalian!"
Sena melesat meninggalkan Barong
Culla dan Bulus Wulung. Kedua orang itu hanya bisa ternganga, merasa kagum
melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh Pendekar Gila yang melesat bagaikan
angin. Sehingga dalam sekejap saja te- lah hilang dari pandangan.
"Edan...! Benar-benar pemuda
gila! Kenapa kita tidak langsung menantangnya tadi...?!" tukas Barong
Culla kesal dan geram.
"Bagaimana mungkin...? Dia
bukan pende- kar sembarangan. Dia dapat membaca pikiran ki- ta. Jadi apa yang
kita ingin lakukan, dia sudah tahu terlebih dahulu," sahut Bulus Wulung
men- gingatkan Barong Culla.
"Benar. Tapi kalau tadi
berhasil membujuk
Pendekar Gila itu, kita akan bisa
lebih cepat me- naklukkan Datuk Tambureh. Dan setelah itu, kita bawa pergi
gadis Cina itu...!" ujar Barong Culla mengkhayal.
"Ah, sudahlah! Kau jangan
berkhayal. Se- baiknya kita Cepat pergi dari tempat ini. Kita cari datuk
keparat itu...!" ajak Bulus Wulung.
Keduanya lalu segera pergi ke
barat, arah yang dituju Pendekar Gila. 5
Datuk Tambureh yang telah menguasai
Mei Lie, nampak merasa gembira dan puas. Lelaki tua itu terus berusaha merayu
Mei Lie agar mau men- jadi istrinya. Karena sesuai dengan wangsit, bahwa siapa
saja yang dapat memperistri Bidadari Pencabut Nyawa kelak keturunannya akan
men- jadi raja penguasa tanah Andalas. Sudah beberapa kali sang Datuk berusaha
mempengaruhi Mei lie. Berbagai macam cara, atau ilmu hitam yang ia miliki
digunakan, tapi ternyata tak ada yang mempan sedikit pun. Karena telah berusaha
sekian lama tak mendapatkan hasil, sang Datuk hampir putus asa, kalau pembantu
setianya yang bernama Datuk Balino, tidak terus memberi se- mangat "Jangan
Tuan putus asa dulu, sebab bu- kan tak mungkin nantinya Tuanlah yang akan
mendapatkan anugerah tersebut," kata Datuk Ba- lino memberi saran,
manakala didengarnya keluhan Datuk Tambureh, yang seperti putus asa.
"Tapi aku sudah berusaha,
Balino. Dan nyatanya, ah.... Semuanya hanya impian," keluh Datuk Tambureh.
"Bukan hanya sekali aku men- coba mempengaruhi dia, tap semuanya tak ada
yang dapat menggoyahkan tekadnya. Apakah tak lebih baik aku perkosa saja?"
Tersentak kaget Datuk Balino
mendengar ucapan tuannya. Dia tak menyangka kalau tuannya yang sangat kokoh dan
ulet akan cepat putus asa. Memperkosa, berarti hubungan yang tak selaras. Hal
itu bukan tak mungkin justru akan menimbulkan sebuah tekanan jiwa, yang nan-
tinya berkait dengan dendam.
"Ah, mengapa Tuan begitu cepat
putus asa?" tanya Datuk Balino tercenung. "Memperkosa itu tidak baik,
Tuan."
"Alasannya...?"
"Maaf, hamba mungkin dalam hal ini terlalu lancang. Sekiranya hamba yang
bodoh ini di- anggap sok pintar, terlebih dahulu hamba kembali minta
maaf."
"Hem, katakanlah! Bagiku kau
sama saja dengan diriku. Kau adalah pembantuku yang setia, yang selalu
memberikan saran-saran yang baik. Kejayaanku sebagai datuk, tak luput dari
saran yang kau berikan. Nah, katakanlah jangan kau ragu, Balino!"
Datuk Balino sesaat terdiam.
Kepalanya tertunduk sambil menarik napas panjang. Sesaat kemudian ditengadahkan
wajahnya, memandang pada tuannya yang menyiratkan rasa ketidakmengertian.
Setelah kembali menunduk Datuk Balino pun akhirnya membuka suara, berkata.
"Menurut hamba yang telah tua,
perkosaan itu tindakan tercela bagi diri kita. Pertama, kita akan menanggung
beban mental yang berlarut- larut, kalau sampai orang yang diperkosa nanti
membalas dendam. Kedua, hubungan kita dengan yang diperkosa dapat menimbulkan
suatu per- tumpahan darah."
"Ah, apa mungkin nanti
keturunan ku be- rani melawanku?" Datuk Tambureh mengelak seakan tak yakin
akan segala ucapan Datuk Bali- no. "Tak akan berani anak dengan orang
tua!"
"Itu pendapat Tuan. Tapi perlu
Tuan ingat, bukankah anak akan lebih dekat dengan sang Ibu?"
Terangguk-angguk kepala Datuk
Tambureh mendengar keterangan pembantunya. Dirasakan- nya segala petuah Datuk
Balino memang benar adanya. Tapi dirinya juga telah berusaha untuk dapat
menggugah hati si Bidadari Pencabut Nya- wa, dan ternyata segalanya tak membawa
hasil. Kalau niatnya untuk memperkosa gadis Cina itu dilakukan, ia juga takut
kalau-kalau segala uca- pan Datuk Balino akan menjadi kenyataan.
Lama Datuk Tambureh terdiam
membisu, angannya melayang pada khayalan untuk dapat menjadikan dirinya orang
yang terhormat. Orang yang bakal menurunkan raja-raja di Pulau Andalas. Hatinya
bimbang, takut kalau lama-kelamaan ada orang lain yang berilmu tinggi lebih
tinggi da- rinya dapat merebut Mei Lie. Apakah itu tidak mungkin terjadi?
"Hem, sungguh aku penakut.
Biarlah aku mati nantinya, asalkan margakulah yang bakal menjadikan namaku
terhormat. Bukankah mar- gaku kelak yang menjadi raja? Hh..., persetan dengan
segala balas dendam! Bagiku yang utama, aku berhasil mendapatkan wanita yang
kelak bakal menurunkan raja-raja," gumam hati Datuk Tambureh.
"Baiklah, aku pura-pura menuruti apa yang dikatakan pembantuku."
"Memang benar apa yang kau
katakan, Ba- lino. Kini aku sadar, bahwa semestinya aku tak boleh melakukan
itu. Apakah kau dapat memban- tuku mencarikan seorang dukun yang dapat me-
mikat si Bidadari Pencabut Nyawa itu, Balino?" tanyanya kemudian.
Datuk Balino kembali terdiam,
pikirannya kini agak tenang. Sebenarnya di hati Datuk Bali- no ada rasa kasihan
melihat Mei Lie. Mei Lie itu begitu mengibakan hatinya. Gadis itu setiap hari
hanya melamun dan menangis. Makanan yang dihidangkan tak pernah disentuh,
sehingga badannya kurus kering. Pernah Datuk Balino men- coba bertanya
bagaimana dengan diri Mei Lie tersebut. Jawabannya sungguh mengejutkan, gadis
Cina itu memilih lebih baik mati daripada harus menjadi istri Datuk Tambureh
yang jahat dan keji.
"Kenapa, Balino? Kenapa kau
terdiam melamun?" Tersentak Datuk Balino dari lamunannya, mendengar
pertanyaan Datuk Tambureh yang secara tiba-tiba itu.
"Am... ampun, hamba tengah
berpikir, bagaimana supaya segalanya dapat segera terselesaikan. Baiklah, hari
ini juga hamba akan berusaha mencarikan seorang dukun pemikat"
"Hua ha ha...! Bagus, bagus.
Kalau kelak aku mendapatkan gadis Cina itu, maka kau akan aku beri hadiah yang
cukup menarik. Kau akan kuberi setengah dari kekuasaanku. Dan akan ku- jadikan
Raja Datuk Balino, bagaimana?"
"Terima kasih atas segala yang
bakal Tuan berikan. Tapi untuk sekarang-sekarang ini, ham- ba lebih senang
mengabdi pada Tuan Datuk Tam- bureh yang terkenal sakti. Jiwa hamba tenang bi-
la bersama Tuan, sebab hamba tahu kesaktian Tuan tak dapat dianggap
remeh...," berkata Datuk Balino dengan nada menyanjung, menjadikan Da- tuk
Tambureh kembali tertawa bangga.
Saking senangnya Datuk Tambureh
sam-pai-sampai melupakan apa yang sebenarnya ha- rus ia lakukan. Hari itu
adalah hari yang sudah ditetapkan, seperti biasa Datuk Tambureh harus melakukan
semadi. Kalau semadi itu sampai di- tinggalkan akan mengakibatkan berkurangnya
ilmu yang dimiliki. Bila sering melakukan kela- laian, tidak melaksanakan nyepi
seperti itu, bukan saja ilmu mempermuda usianya hilang, wa- jahnya pun akan
berubah kembali ke asalnya. Tersentak Datuk Tambureh ketika mengingat itu.
Serta merta ia berlari meninggalkan pemban- tunya yang hanya terbengong-bengong
tak men- gerti. Dengan napas memburu dan keringat dingin bercucuran, Datuk
Tambureh segera memu- satkan hati dan pikiran. Setelah sesaat hal itu di-
lakukan, dan keadaan menjadi hening tiba-tiba....
"Auuummm...." Terdengar
suara auman seperti lolongan anjing hutan.
"Guru, ampunilah kelalaian
murid!" geme- tar Datuk Tambureh seperti ketakutan. Wajahnya yang biasa
tampak sadis, kini berubah pucat ba- gaikan tak berdarah setetes pun.
"Ampunilah ke- lalaian murid. Guru!" kata-kata itu diulang, dan
diulangnya sampai beberapa kali.
Tak lama kemudian tampak sesosok
bayangan keluar dari balik dupa. Sosok bayangan itu ternyata tubuh harimau
besar dan tinggi. Ha- rimau itu hampir sebesar kerbau, dengan mata lebar dan
gigi-giginya yang menyeringai mena- kutkan. "Kenapa kau teledor! Aku
lapar, aku la- par...!" terdengar seruan dari mulut harimau itu. Matanya
yang besar menyorot merah. Liurnya yang berbau terasa menusuk hidung. "Kau
harus mencarikan darah untukku, darah perawan!"
"Apakah tidak bisa ditunda.
Guru?" tanya Datuk Tambureh.
"Tidak! Sekarang
lakukan!" "Tapi hari masih siang, Guru?" keluh Datuk Tambureh.
Namun bagaikan tidak peduli,
harimau ib- lis itu menggeram, mengeluarkan aumannya yang bergemuruh dan
menggetarkan. "Jangan kau ingkar, Bureh! Ingat perjanjian kita yang telah
kita lakukan! Bukankah kau akan memberikan padaku sebaskom darah pada siang
hari menjelang purnama seperti ini...? Kenapa kau lupa? Apa darahmu yang harus
kuminum, hah!"
"Ampun, Guru! Baiklah, murid
akan mencarikannya. Murid minta. Guru bersabar sesaat!" jawab Datuk
Tambureh menggeragap.
"Aku tunggu sebelum matahari
tenggelam!" ucap harimau itu, sebelum menghilang mening- galkan datuk yang
kembali tersadar.
Dengan mengatur napasnya sesaat dan
mengucapkan mantera, Datuk Tambureh melakukan perubahan wujud, seketika wujud
sang Datuk berubah menjadi harimau hitam legam. Tanpa menungg-nunggu lagi
harimau hitam itu mengaum lalu berkelebat tinggalkan ruang sema- di lewat
lubang di belakang.
***
Harimau siluman itu terus menyusup
ke pekarangan sebuah rumah di Desa Ngantap. Hi- dungnya digerak-gerakkan,
sepertinya harimau siluman itu tengah mencari-cari bau darah pera- wan.
Kemudian melompat dengan tak mengelua- rkan suara sedikit pun.
Di dalam sebuah rumah bilik tampak
lam- punya belum dimatikan, meskipun hari sudah la- rut malam dan sepi.
Terdengar dari dalam rumah itu suara tawa genit dari seorang gadis dan suara
seorang pemuda.
"Ayolah Srini, kakang sudah
tak tahan untuk menunggu lebih lama lagi...!" ucap seorang pemuda yang
nampak menahan birahinya. Na- pasnya terdengar mendesah-desah.
"Hi hi hi...! Sabar dulu, Kang
Pujo. Kan tinggal lima hari lagi," sahut Srini dengan manja lalu menggigit
bibirnya sendiri.
"Kakang tahu, Sri. Tapi kakang
tak tahan lagi. Ayolah sekali saja, ya...!" rayu Pujo. Lalu pemuda itu
mencium pipi Srini. Dan tangan kanan- nya mengusap-usap paha gadis yang masih
pera- wan itu. Sedangkan tangan kirinya merangkul dengan erat
"Kang.... Jangan, Kang! Nanti
ketahuan bapak. Sabar, Kang!" pinta Srini tersendat-sendat. Karena Pujo
yang sudah dirasuki nafsu birahinya terus menyusupkan kepalanya ke dada Srini
yang montok, mulus, dan putih itu. Tak dipedulikan ucapan Srini.
Sampai akhirnya gadis itu pun
terangsang. Hingga dia pun membalas memeluk dan mencium Pujo dengan desah napas
mulai memburu.
Pujo, cepat merebahkan tubuh Srini
yang calon istrinya di ranjang beralaskan tikar. Ditin- dihnya tubuh gadis itu
sambil terus mencium le- hernya. "Hooh.... Aaih... sss...!"
Srini merintih dan mendesah. Pujo
mulai melepas pakaian kekasihnya.
Kini Srini yang masih perawan itu
sudah tanpa pakaian. Tak sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya yang mulus
dan padat itu. Buah dadanya yang sebesar mangga, keras, dan menantang. Membuat
Pujo tak bisa lagi menahan lama-lama. Namun baru saja Pujo selesai membuka
celananya, tiba-tiba...
"Grrr...!" Terdengar
suara menggereng menggetarkan. Pujo terkejut kaget menoleh ke sana kemari
mencari datangnya suara. Belum sempat pemuda itu mengetahui, seekor harimau
kumbang mene- robos masuk, langsung menerkam tubuhnya dan menggigit sampai
mati.
Srini menjerit, namun suaranya tak
ada. Mata harimau siluman itu mengeluarkan sinar hijau menatap mata Srini.
Seketika gadis itu terkulai pingsan. Sesaat kemudian harimau siluman berubah
menjadi sosok manusia. Kemudian cepat membawa Srini keluar dengan menembus
dinding rumah itu.
Ayah dan ibu Srini yang terbangun
dan da- tang ke kamar anaknya sempat melihat sosok manusia membawa Srini pergi.
Kedua orang tua itu kaget dan makin kaget ketika melihat calon menantunya
dengan mengerikan.
"Tolong...! Ada rampok!"
"Tolong...!" teriak ibu Srini sambil lari ke- luar.
Ki Rambi, ayah Srini masih berdiri
kaku menatap mayat Pujo yang lehernya hampir putus.
Tak lama kemudian para penduduk
Desa Ngantap berdatangan ke rumah Ki Rambi, karena mendengar jeritan ibu Srini
yang histeris tadi.
"Bagaimana kejadiannya, Ki
Rambi?!" tanya Ki Lurah Kirjo Mulyo.
Ki Rambi hanya menggelengkan kepala
perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Wa- jahnya nampak sedih karena
memikirkan nasib anak gadisnya yang lima hari lagi akan dinikah- kan. Kini
telah hilang diculik manusia aneh.
"Ini pasti perbuatan
mayat-mayat hidup yang pernah melanda Desa Tumpang beberapa hari yang lalu, Ki
Lurah...!" kata seorang lelaki berbadan tinggi besar dan berkumis tebal
geram.
"Aku rasa bukan, sebab hal ini
yang diba- wa lari Srini, gadis yang masih perawan. Sedangkan kejadian di Desa
Tumpang, para perjaka yang dibawa oleh mayat-mayat hidup itu," tutur Ki Lurah
menjelaskan pada lelaki berbadan tinggi besar yang bernama Diman.
"Jadi, kalau begitu siapa
pelakunya, Ki?!" tanya seorang lelaki berambut putih dengan ikat kepala
hitam.
Ki Kirjo Mulyo tak langsung
menjawab. Dia nampak berpikir sejenak. Sementara itu Nyi Rambi masih menangis
ditemani para ibu-ibu lain yang merasa iba.
"Kita sebaiknya cepat
menguburkan mayat Pujo. Nanti kita bicarakan lagi soal ini," kata Ki Lurah
Kirjo Mulyo kemudian.
Lalu orang-orang cepat menggotong
mayat Pujo untuk dikuburkan. 6
Malam datang menyelimuti bumi,
membuat suasana gelap dan dingin mencekam. Suara angin yang menerpa dedaunan,
serta suara binatang malam, seperti mengalunkan tembang-tembang aneh yang
membuat tubuh merinding. Mereka seakan membawakan syair-syair bagi jiwa-jiwa
yang tengah dilanda ketakutan. Bulan sabit pun mengintip di balik awan,
seolah-olah enggan me- nampakkan wujudnya.
Malam itu, Perguruan Bajing Ireng
nampak sunyi. Di luar perguruan itu nampak empat orang murid perguruan sedang
berjaga-jaga. Karena mereka sudah mendengar adanya sepak terjang Datuk Tambureh
dan Dewi Ratu Maksiat yang in- gin menculik dan membunuh semua tokoh persi-
latan baik aliran putih maupun hitam. Dan tiba- tiba.... Swing...!
Jlep! "Aaa...!" Seorang
murid Perguruan Bajing Ireng yang sedang berjaga di pintu gerbang memekik
keras. Sebuah senjata rahasia berupa tusuk konde beracun menghunjam di dada pemuda
itu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba senjata ra- hasia itu melesat dan
menghunjam tubuhnya.
Mendengar temannya menjerit, tiga
orang murid lainnya yang juga tengah berjaga-jaga tersentak. Betapa terkejut
mereka melihat temannya terkapar tewas.
"Pembunuhan! Tusuk konde
beracun...!" seru ketiga murid itu berusaha mengundang perhatian
orang-orang perguruan agar terbangun dari tidurnya. Namun tiba-tiba...,
"Akh...!" Belum juga
habis ucapannya, orang itu su- dah memekik keras. Dadanya tertancap sekun- tum
tusuk konde beracun yang menembus ke da- lam. Tubuhnya seketika mengejang lalu
ambruk tanpa nyawa, kemudian membiru.
Jlep! Jlep! "Aaakh...!"
Dua orang lainnya kontan memekik keras, ketika beberapa tusuk konde menghunjam
dada. Mata mereka melotot menyaksikan sebuah bayangan berkelebat cepat keluar
dari kegelapan. Bayangan kuning itu laksana angin yang berhem- bus. Sesaat
keduanya kelojotan kemudian tewas.
Bayangan kuning itu terus melesat
menuju kamar Ketua Perguruan Bajing Ireng, yang bernama Ki Galingga. Brak!
"Heh?!" Ki Galingga tersentak Swing! Swing! Dua tusuk konde beracun
melesat cepat ke arah tubuh Ki Galingga. Beruntung lelaki tua itu cepat
membuang tubuhnya dan berguling ke samping. Namun tak urung, istri mudanya men-
jadi sasarannya tusuk konde beracun.
Jlep! Jlep! Tanpa mampu berteriak,
wanita muda yang usianya berbeda jauh dengan Ki Galingga itu tewas. Dada den
wajahnya tertancap tusuk konde beracun. Ki Galingga geram menyaksikan istrinya mati
di tangan seorang wanita berbaju serba kun- ing. Lelaki berparas seperti bajing
berpakaian abu-abu dengan rambut tergerai kaku serta ikat kepala berwarna biru
itu mendengus. Tangannya dengan cepat menyambar senjata dari logam yang
berbentuk jari bajing.
"Siapa kau?" tanya Ki
Galingga dengan su- ara membentak sambil menuding senjatanya.
"Hm.... Kau lupa padaku,
Ki?" sahut wanita yang sekujur tubuhnya ditutupi kain kurung. Termasuk
wajahnya.
"Bangsat! Ditanya malah balik
bertanya! Katakan, siapa kau sebenarnya?!" bentak Ki Galingga gusar.
"Siapa aku, kau tak perlu
tahu. Yang pasti, kau dan kelima temanmu termasuk adipati keparat itu harus
mampus di tanganku! Hiaa!"
Ki Galingga tersentak kaget
diserang begitu cepat dan tiba-tiba. Segera kakinya melompat ke belakang,
kemudian berkelit ke samping.
"Hop! Heaaa...!" Ki
Galingga berusaha merangsek maju dengan cakaran kedua tangannya yang menggunakan
jurus 'Bajing Mengambil Buah'. Namun ge-rakan lawan begitu cepat Ki Galingga
hampir terkena sambaran tangan lawan. Tapi, orang tua berwajah seperti bajing
dengan pakaian abu-abu ini memiliki ketajaman tinggi. Kalau tidak, tu- buhnya
sudah menjadi sasaran empuk pukulan lawan. "Hari ini bagianmu, Bajing
Busuk! Yeaat..!" Wanita berpakaian serba kuning itu terus merangsek maju
menyerang Ki Galingga. Serangan- serangannya sungguh dahsyat dan mengarah pada
bagian tubuh yang mematikan.
Ki Galingga yang tak mau menjadi
korban wanita misterius itu segera berkelit ke samping. Lalu dengan gerakan
cepat, balas menyerang la- wan. Kali ini menggunakan jurus 'Bajing Mener- kam
Mangsa'. Tangannya bergerak cepat merang- sek ke tubuh lawan.
Wanita yang sekujur tubuhnya
terbungkus kain kuning itu terus menyerang dengan gabun- gan jurus 'Sembilan
Tapak Tangan Darah' dan ju- rus 'Tusuk Konde Pencari Sukma'. Sesekali tan-
gannya melemparkan sebuah tusuk konde bera- cun. Meskipun nampaknya tak
berarti, tangan wanita itu sangat berbahaya. Tusuk konde bera- cun itu mampu
membunuh lawan dalam sekejap.
Swing! Swing! "Aits! Tusuk
Setan!" maki Ki Galingga se- raya mengelakkan tusuk konde yang telah mem-
bunuh istrinya. Tubuh Ki Galingga bergerak ke sana kemari, terkadang berputar
di udara untuk mengelakkan serangan yang berbahaya itu.
"Hiaaa!" "Hop!
Hats!" Lawan benar-benar tak memberi kesempa- tan pada Ketua Perguruan
Bajing Ireng itu untuk balas menyerang. Serangan-serangannya begitu cepat,
disusul lemparan-lemparan tusuk konde beracun yang tak kalah berbahaya.
Mendengar suara ribut-ribut di
dalam ka- mar gurunya, murid-murid Perguruan Bajing
Ireng berdatangan hendak membantu
sang Guru. Namun baru saja mereka sampai di pintu, tiba- tiba...
"Awas...!" seru Ki
Galingga mengingatkan. "Hih...!" Namun seruan itu terlambat. Secepat
kilat wanita berpakaian kuning itu melemparkan tusuk konde beracun ke arah
murid-murid Ki Galingga.
Swing! Swing...! Jlep! Jlep...!
"Aaakh...!" Tiga orang murid yang berada di depan langsung roboh.
Dada mereka tertancap tusuk konde beracun. Darah seketika muncrat dari da- da
membasahi pakaian.
"Bedebah! Sebelum kukirim ke
neraka, ka- takan siapa dirimu!" bentak Ki Galingga semakin marah
menyaksikan murid-muridnya menjadi korban keganasan tusuk konde beracun.
"Jangan banyak bicara, Bajing
Keparat! Pi- kirkanlah nanti di alam sana, siapa aku! Hiaaa...!" Tanpa
banyak kata lagi, wanita misterius itu langsung melemparkan tusuk konde beracun
ke arah Ki Galingga yang tersentak kaget
Swing! Swing...! "Hop!
Heaa...!" Tubuh Ki Galingga melenting ke atas, ke- mudian melesat ke
samping kanan untuk menge- lakkan serangan lawan, dengan jurus 'Lompatan Bajing
Menerkam Mangsa'.
"Hiaaa...!" Wanita berpakaian
kuning itu tak membiarkan lawannya bergerak lebih jauh. Dengan cepat pedangnya
yang bersinar keperakan dica- but. Mata Ki Galingga silau oleh sinar yang
keluar dari pedang lawan.
"Pedang Perak! Hei! Ada hubungan
apa kau dengan Dewi Ratu Maksiat?! Siapa kau...?!"
"Hm.... Tak perlu tahu siapa
aku, Bajing Busuk! Kini terimalah ajalmu! Hiaat..!"
Wanita bertopeng kain kuning yang
memi- liki Pedang Perak milik Dewi Ratu Maksiat itu tak mau membuang waktu
lagi. Segera diserangnya Ki Galingga dengan tebasan dan babatan Pedang Perak
yang mengandung racun ganas. Kali ini, di- keluarkannya jurus 'Sambar Nyawa'.
Wut! Wuutt! "Uhh...!" Ki
Galingga terpekik kaget Napas- nya terasa sesak oleh racun yang ditebarkan pe-
dang di tangan lawan. Dalam keadaan terdesak hebat, Ki Galingga masih
bertanya-tanya siapa wanita misterius itu. Kalau dia Dewi Ratu Mak- siat,
rasanya tak mungkin.
Karena Wanita Iblis dari Andalas
itu telah tiada sejak puluhan tahun alam.
Ki Galingga benar-benar kaget
melihat pedang di tangan lawannya. Hatinya belum yakin kalau wanita muda itu
Dewi Ratu Maksiat. Namun jurus-jurus pedangnya, sama dengan yang dimiliki Dewi
Ratu Maksiat. Begitu pula dengan senjata-senjata rahasia tadi.
Dewi Ratu Maksiat merupakan tokoh
sesat di Kadipaten Galih Marta. Selama hidupnya pernah membuat heboh kalangan
persilatan, terutama di kadipaten itu. Dewi Ratu Maksiat banyak membunuh
pendekar golongan putih karena me- rasa dendam pada para pendekar yang telah
membunuh ayah dan ibunya, atas perintah Adi- pati Seragon. Namun sepak terjang
Dewi Ratu Maksiat dapat dihentikan. Dia dikalahkan oleh Adipati Seragon, Ki
Durpala, Ki Galingga, Ki Kapusala. Mungkin dia Dewi Ratu Maksiat? Tapi..., Dewi
Ratu Maksiat mengenakan pakaian berwarna merah serta senjata berupa bunga
Anggrek Hitam. Sedangkan wanita ini mengenakan pakaian kuning seperti senjata
yang dipergunakannya. Ki Galingga terus bertanya dalam hati sambil mengelakkan
sabetan-sabetan senjata lawan. Dadanya semakin terasa sesak oleh racun pedang
lawan.
"Heaaa!" Wut! Wut! Wut..!
Pedang di tangan wanita misterius itu terus bergerak, menyambar-nyambar dengan
tebasan dan babatan ke tubuh lawan. Sinar putih kepera- kan yang keluar dari
Pedang Perak itu membuat napas Ki Galingga laksana tersumbat
"Uhuk... uhuk...!" Ki
Galingga terbatuk-batuk. Tangan kirinya memegangi dada yang terasa sakit karena
terlalu banyak mengisap racun yang ditebarkan wanita bertutup muka kuning itu.
"Tamatlah riwayatmu, Bajing
Busuk! Hiaaa...!" Wanita misterius itu mengayunkan pe- dangnya. Kemudian
dengan cepat, menebaskan ke leher Ki Galingga yang tak mampu lagi menge- lakkan
serangan lawan. Maka...,
Cras! Bruk! Kepala Ki Galingga
menggelinding ke tanah. Tubuhnya yang berlumuran darah menge- jang sesaat,
kemudian ambruk tanpa nyawa.
Wanita misterius yang tubuhnya
tertutup kain kuning segera melesat meninggalkan tempat itu. Gerakannya begitu
cepat, hingga dalam sekejap telah hilang di kegelapan malam.
Seketika suasana di rumah Ki
Galingga ramai. Murid-muridnya hanya mampu mencaci-maki pembunuh keji yang
telah membunuh guru mereka. Malam itu Perguruan Bajing Ireng berka- bung atas
kematian Ki Galingga.
***
Dua orang prajurit Kadipaten Galih
Marta tampak memacu kudanya menuju Perguruan Baj- ing Ireng untuk menyampaikan
undangan dari Adipati Seragon. Namun seketika mereka mem- perlambat lari
kudanya karena melihat bendera hitam terpasang di kanan kiri jalan masuk tak
jauh dari perguruan.
"Galu, kau lihat bendera
itu?" tanya praju- rit yang memegang sebuah gulungan daun lontar.
"Ya," sahut prajurit yang
dipanggil Galu. "Sepertinya ada kematian."
"Hei, lihat! Ada keramaian di
Perguruan Bajing Ireng," ujar prajurit pertama yang bernama
Warigi "Benar. Ada apa di
sana? Nampaknya ba- nyak sekali orang berdatangan," desis Galu.
"Ayo, kita percepat..!"
Kedua prajurit Kadipaten Galuh Marta itu segera mendekat Perguruan Bajing Ireng
tampak dipenuhi orang-orang peralatan dan rakyat biasa.
"Kisanak, ada apakah?!"
tanya Galu pada pemuda berbaju rompi kulit ular yang tengah menggaruk-garuk
kepala.
Pemuda berambut gondrong yang baru
saja keluar dari bangunan perguruan itu mendongak- kan kepala, memandang kedua
prajurit yang me- negurnya.
"Ah, dunia ini semakin tua
semakin ber- tambah saja kejahatannya," gumam pemuda itu.
Mendengar gumaman pemuda tampan be-
rambut gondrong itu, Galu dan Warigi menge- rutkan kening dan saling pandang.
Kemudian ma- ta keduanya memandang lekat wajah pemuda itu, yang tampak
cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
"Anak Muda. Kami bertanya
padamu, men- gapa engkau bergumam sendiri?" tanya Galu hampir tertawa
menyaksikan tingkah laku pemu- da yang konyol dan lucu itu. Mirip orang gila.
Terkadang raut wajahnya sedih, kemudian beru- bah riang dengan senyum lucu.
Bahkan yang le- bih konyol, pemuda itu suka menggaruk-garuk kepala dengan
tangan kiri. Sedangkan tangan ka- nannya asyik mengorek telinga dengan bulu bu-
rung.
"Hi hi hi...!" pemuda
tampan yang Sena Manggala atau Pendekar Gila itu tertawa geli. Hingga kedua
prajurit kadipaten itu tak mampu membendung tawa mereka.
"Pemuda Gila...," gumam
Galu. "Ayo kita ke sana!"
"Hi hi hi...! Eh,
tunggu!" Sena menghenti- kan mereka. Kedua prajurit kadipaten berhenti dan
menengok ke arahnya.
"Ada apa kau menghentikan
kami?" tanya Galu.
"Tentu kalian prajurit
kadipaten, bukan?" tanya Sena seraya menggaruk-garuk kepala.
"Ya!" sahut keduanya.
"Aha! Kebetulan sekali kalau begitu," seru Sena sambil mengorek
telinganya dengan bulu burung. "Kebetulan aku hendak ke kadipaten. To-
long Kisanak beritahu, ke arah mana aku harus pergi?" Kedua prajurit
kadipaten mengerutkan kening, mendengar pertanyaan pemuda berting- kah laku
aneh itu.
"Hm.... Untuk apa kau ke
kadipaten, Pe- muda Edan?" tanya Warigi.
"Bukankah di kadipaten ada
pesta? Tentu banyak makanan di sana. Itu sebabnya aku hen- dak ke sana. Aku
diundang kanjeng adipati," tu- tur Pendekar Gila.
Galu tersenyum sambil menggeleng-
gelengkan kepala. Menurutnya, pemuda berting- kah laku gila itu hanya bercanda.
"Mana mungkin Adipati Seragon mengundang pemuda gila seperti ini?"
pikir Galu seraya tersenyum.
"Pemuda Gila.... Ah, kanjeng
adipati tidak mengundang pemuda gila sepertimu. Sebenarnya kanjeng adipati
mengundang para pendekar. Tak ada pesta di sana," tutur Galu.
"Sudahlah, Galu. Mengapa kita
harus meladeni pemuda gila ini?" rungut Warigi mengajak temannya
meneruskan perjalanan.
"Tunggu!" kembali Sena
memanggil mere- ka.
Warigi menghela napas. Kesal juga
hatinya melihat tingkat laku pemuda itu.
"Pemuda gila! Apa sebenarnya
yang kau inginkan, heh?!"
Sena tersenyum mendengar bentakan
itu. "Aha! Kalian ini tolol. Bukankah sudah kukatakan, bahwa aku hanya
ingin tahu arah jalan menuju kadipaten?!" Sena tak kalah keras membentaknya.
"Untuk apa kau ke sana?"
dengus Warigi. Pendekar Gila tersenyum. Diambilnya gu- lungan daun lontar yang
diberikan dua prajurit kadipaten padanya. Galu segera menerima dan cepat
membuka gulungan itu. Seketika mata ke- duanya membelalak setelah membaca tulisan
daun lontar itu.
"Pendekar Gila...!" seru
mereka bersamaan. "Oh... ampuni kebodohan kami, Tuan Pen- dekar! Sungguh
kami tak tahu kalau Tuan adalah Pendekar Gila," ujar Galu sambil turun
dari ku- danya dan menjura memberi hormat
"Benar, Tuan Pendekar. Jika
Tuan menghendaki, hukumlah kelancangan kami ini," tambah Warigi.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak me- nyaksikan kedua prajurit itu menyembahnya.
"Sudahlah. Kalian tidak perlu
minta maaf. Sekarang katakan, ke arah mana aku harus berjalan?" tanya
Sena, masih dengan tangan meng- garuk-garuk kepala.
"Ampun, Tuan Pendekar! Kalau
diperke- nankan, biarlah kami nanti bersama Tuan," pinta Galu.
"Oho! Sangat menyesal, aku
harus segera sampai di sana. Bahaya akan mengancam kadipa- ten ini. Ki Galingga
telah tewas di tangan seorang yang bersenjatakan tusuk konde beracun,"
tutur Pendekar Gila.
Untuk kedua kalinya, Galu dan
Warigi membelalakkan mata. Kaget mendengar Ki Ga- lingga yang hendak didatangi
telah tewas. Tapi, yang membuat mereka sangat kaget adalah cara kematian Ki
Galingga sama dengan kematian istri Adipati Seragon dan empat orang teman
mereka. "Kenapa kalian kaget?" tanya Sena. "Oh! Bencana apakah
yang tengah melanda Kadipaten Galih Marta?" keluh Galu.
"Hm..., apa maksudmu?"
tanya Sena masih belum mengerti.
"Lima korban telah
dibantainya. Pertama, istri kanjeng adipati dan empat orang teman kami yang
tengah berjaga. Kini Ki Galingga sama den- gan kematian istrinya kanjeng
adipati," gumam Galu setengah mengeluh. "Semuanya sama, mati oleh tusuk
konde beracun."
"Hm...," Sena bergumam
tak jelas. Kedua prajurit kadipaten itu tercengang di- am. Mata mereka
memandang ke arah Perguruan Bajing Ireng yang tengah berkabung.
"Siapakah pelakunya?"
tanya Galu, seolah- olah bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayolah, kita harus segera ke
sana, menuju ke kadipaten," ajak Sena yang dituruti kedua pra- jurit
kadipaten. Ketiganya menempuh perjalanan menuju Kadipaten Galih Marta.
Sementara itu di Perguruan Bajing
Ireng masih banyak orang yang berdatangan untuk me- lihat Ki Galingga dan anak
buahnya serta istri mudanya yang tewas secara mengerikan oleh wa- nita
misterius.
Sena dan kedua prajurit kadipaten
telah jauh meninggalkan tempat Perguruan Bajing Ireng yang sedang dilanda duka
itu.
7
Pendekar Gila dan kedua prajurit
Kadipa- ten Galih Marta menyusuri jalan setapak di tengah hutan belantara.
Malam telah larut. Udara dingin terasa menggigit. Namun ketiganya tetap terus
melangkah. Kegelapan di hutan dan suara- suara binatang menambah suasana kian
mencekam.
"Aha! Kurasa kita harus
beristirahat di da- lam hutan ini, Kisanak," kata Sena sambil menghentikan
langkahnya.
"Kami terserah pada Tuan
Pendekar saja," jawab kedua prajurit hampir bersamaan.
"Baiklah kalau begitu. Kita
harus membuat api dulu."
Pendekar Gila melompat ke atas
pohon mencari ranting-ranting kering. Gerakannya yang cepat tak terlihat oleh
kedua prajurit Terdengar suara ranting-ranting patah. Tidak lama berse- lang,
Pendekar Gila turun dengan membawa rant- ing-ranting kering.
"Buatlah api!" pinta
Sena. Kedua prajurit itu kebingungan. Mereka tak tahu harus bagaimana membuat
api. Biasanya mereka menggunakan batu api. Namun, bagaimana mungkin mere- ka
mencari batu api dalam keadaan gelap gulita. Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala. Rupanya mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua prajurit itu. Sejenak
matanya menyapu ke segenap arah, kemudian berkelebat pergi. Tak lama berselang,
telah kembali dengan membawa dua buah batu api.
"Ini batu api yang kalian
butuhkan." Kemudian, batu api itu disodorkan pada kedua prajurit. Dengan
menggosok-gosokkan kedua batu itu, tak lama kemudian api menyala- nyala.
Ketiganya segera mengelilingi api unggun yang cukup memberikan kehangatan.
"Tentu kalian lapar. Hm....
Sebentar, akan kucarikan ayam hutan di daerah ini. Tunggulah di sini,"
ujar Sena, lalu dengan cepat berkelebat menembus kerimbunan pepohonan.
Dua prajurit kadipaten menunggu
keda- tangan Pendekar Gila dengan perasaan tercekam. Mereka takut berada di
tengah hutan lebat dan gelap seperti itu. Selama ini keduanya tidak per- nah
berada di dalam hutan, bertugas di kadipaten yang ramai dan terang.
"Galu, kita harus
waspada," kata Warigi mengingatkan.
"Ya! Kuharap Pendekar Gila
tidak lama." Kedua prajurit itu menarik pedang, siap menghadapi apa pun
yang akan terjadi selama Pendekar Gila pergi. Mata mereka mengawasi ke
sekeliling tempat itu dengan tajam. Baru saja ke- duanya mempersiapkan diri,
tiba-tiba terdengar suara mendering senjata rahasia.
"Awas, ada yang menyerang!''
seru Galu, mengingatkan temannya sekaligus mengundang Pendekar Gila agar segera
datang ke tempat itu.
Swing! Swing...! Entah dari mana
datangnya dua benda me- lesat ke arah dua orang prajurit itu. Senjata raha- sia
itu bergerak begitu cepat
"Celaka! Tusuk konde!"
pekik Warigi kaget Hidungnya mencium bau wangi bunga. Mata lela- ki itu
membelalak tegang dan bulu kuduknya me- remang. Saat itu, sebuah tusuk konde
melesat ke arahnya. Tanpa dapat dielakkan, senjata beracun itu menghunjam
dadanya.
Jlep! "Ukh!" Warigi
terpekik. Tubuhnya sesaat mengejang dengan mata melotot, lalu ambruk tanpa
nyawa.
No comments:
Post a Comment