Wednesday, April 24, 2019

030 Dewi Ratu Maksiat


DEWI RATU MAKSIAT
Oleh Firman Raharja

1
Malam itu angin berhembus kencang dan menderu-deru, seolah suatu pertanda bakal datang badai besar. Hawa dingin terasa semakin menusuk tulang sum-sum. Dan mendung tebal yang sejak sore bergayut di langit telah berubah menjadi hujan, menambah suasana kian mencekam.
Desa Tumpang nampak sepi. Tak satu pun orang yang berada di luar rumah, kecuali tiga lelaki yang sedang menjalankan tugas ronda. Kare- na hujan kian deras, ketiganya hanya duduk ngobrol di gardu sambil mengisap rokok kawung.
"Huh..., tidak biasanya malam seperti ini," gumam Bondan mengeluh. Matanya sesekali me- mandang ke luar gardu yang tampak gelap gulita. Tak ada suara apa pun kecuali deru angin yang bercampur rintik hujan.
"Iya, aneh. Padahal saat ini musim kemarau," sambut Busran. "Mestinya belum ada hu- jan."
"Namanya alam. Siapa yang bisa memastikan.... Tapi, kurasa hujan ini memang aneh," tukas Pardi. "Terus terang, sejak tadi aku merinding. Jangan-jangan...."
Pardi tak meneruskan kata-katanya. Matanya memandang dengan tegang ke sekeliling gardu yang nampak sepi dan gelap, semakin membuat bulu kuduknya berdiri.

"Jangan-jangan kenapa, Di?" tanya Busran penasaran karena temannya tidak meneruskan kata-katanya.
"Ah, tidak. Tidak apa-apa," jawab Pardi. "Setan maksudmu?" terka Bondan. Pardi hanya mengangguk kecil. Matanya masih membelalak tegang, memandang ke sekeliling yang dirasakan kian mencekam. Apalagi angin semakin kencang menderu. Bulu kuduknya se- makin meremang.
Bondan tertawa kecil. Suaranya terdengar sumbang dan bergetar, karena diliputi perasaan tercekam. Dia pun merasakan bulu kuduknya meremang, namun tetap berusaha menekan rasa takutnya.
"Di.... Pardi. Kamu ini kayak anak kecil saja," gumam Bondan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "Sudah tua kok masih takut dengan setan." "Bukan begitu. Sejak tadi hatiku memang tak enak rasanya. Dan..., heh... bau kemenyan, Bon!" tubuh Pardi bergidik ketika hidungnya mencium bau kemenyan yang menyengat. Seper- tinya ada orang yang membakar dupa.
Bondan dan Pardi mengendus-endus, be- rusaha mencium bau kemenyan. Seketika keduanya merinding di sekujur tubuh, ketika hidung mereka pun mencium bau kemenyan yang menyengat. Bahkan kemudian bercampur aroma wangi bunga kenanga, yang mengingatkan mere- ka pada kematian.
"Benar, Di. Bau kemenyan dan bunga ke- nanga...," kata Busran dengan mata membelalak.
"Hiii...!" Bondan semakin bergidik, wajahnya me- mucat. Rasa takut itu tak hanya melanda hati lelaki muda itu. Kedua temannya pun semakin me- rasa tercekam deh suasana gelap, sunyi, dan hawa dingin yang dihembuskan angin. Ketiga peronda itu sebenarnya ingin sekali meninggalkan gardu. Namun keadaan di luar membuat mereka takut
Sesaat tak satu pun yang mengeluarkan suara. Kini yang terdengar hanya rintik hujan dan deru angin kencang.
Wuss! Krak! Ketiga peronda tersentak kaget ketika dari luar terdengar suara hembusan hawa aneh diser- tai retaknya tanah. Mereka terpaku di tempat du- duk masing-masing, seakan tak mampu berbuat sesuatu. Wuss!
Krak! Suara itu kembali terdengar. Tiba-tiba dari dalam tanah di depan gardu, keluar asap tebal. Tidak hanya satu kepulan. Ada delapan tempat yang tanahnya merekah dan mengepulkan asap putih. Sementara itu getaran-getaran pun mulai terasa di sekitar gardu ronda.
Mata ketiga peronda itu terbelalak, mena- tap penuh ketegangan kepulan asap yang keluar dari retakan tanah. Tubuh mereka menggigil ke- takutan. Asap putih kehijau-hijauan itu perlahan-lahan berubah warna. Semakin lama, kepulan- kepulan asap itu membentuk warna merah darah. Lalu membentuk sosok makhluk yang mengeri- kan. Sosok manusia berwajah tengkorak dengan memakai jubah warna merah darah hingga menu- tup kepala. Sosok-sosok manusia berjubah dan tudung merah itu seperti mayat hidup. Mata me- reka tampak menyorot merah. Dan mulut mereka bergigi taring.
"Mayat hidup!" sentak Pardi yang telah gu- gup. Matanya semakin membelalak tegang, menyaksikan makhluk-makhluk aneh itu.
"Se... se... setan...!" pekik Busran dengan suara menggeragap.
"Ma... ma... mayat hidup...!" jerit Bondan. Ketiga peronda itu kini saling merapat ketakutan. Tak ada yang berani berlari, karena makhluk-makhluk itu berada di depan mereka. Bahkan kini makhluk-makhluk aneh itu bergerak mendekat. Sepertinya mereka hendak melakukan sesuatu terhadap ketiga peronda itu, yang sema- kin ketakutan.
Delapan mayat hidup itu mengelilingi gardu ronda, membuat ketiga peronda itu bertambah ketakutan. Terlebih jika memandang ke wajah manusia-manusia bermuka tengkorak yang ber- lumuran darah.
"Tolong...! Tolooong...!" "To... tolong...!" ketiga peronda mulai berte- riak-teriak. Mereka saling rapat satu sama lain, dengan mata membelalak ketakutan memandang kedelapan manusia bermuka tengkorak yang menyeringai dengan suara-suara yang aneh pula.
Makhluk-makhluk itu tampaknya berbica- ra dalam bahasa mereka. Kemudian salah satu dari mereka menunjuk ke arah Busran yang pal- ing tampan di antara ketiga peronda itu. Sedangkan yang di sampingnya mengangguk-anggukkan kepala, seakan menyetujui apa yang dikatakan kawannya. Makhluk bermuka tengkorak yang mengangguk-anggukkan kepala memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Busran.
"Tidak! Jangan...!" pekik Busran berusaha menolak, ketika dua mayat hidup maju mendekatinya dan siap menangkap.
Kedua makhluk aneh itu seperti tak peduli dengan teriakan Busran. Mereka terus memegang tangan Busran dan menyeretnya agar ikut
"Jangan...!" teriak Busran meronta-ronta ketakutan. "Tolong...!"
Bondan dan Pardi hanya kebingungan. Keduanya tak tahu harus berbuat apa untuk menolong Busran. Mereka merasa tak tahan melihat wajah makhluk-makhluk aneh yang berlumuran darah itu. Tubuh kedua peronda itu menggigil. Tak ada yang berani melangkah untuk menolong Busran, karena manusia-manusia bermuka tengkorak itu masih menjaga mereka.
Saking takutnya, Bondan dan Pardi tak sadar terkencing di celana. Wajah mereka pucat pa- si. Tubuh mereka sudah lemas dan basah oleh keringat dingin yang keluar karena rasa takut yang tak terkira.
Wass!
Mendadak makhluk-makhluk aneh itu le- nyap seketika, kembali menjadi asap. Lalu terdengar suara gemuruh pecahnya tanah di sekelil- ing gardu. Bersamaan dengan itu, kepulan asap jelmaan makhluk-makhluk aneh itu lenyap.
"Hah?!" kedua peronda yang ketakutan itu membelalakkan matanya semakin tegang menyaksikan kejadian yang aneh itu. Mereka tak ta- hu Busran dibawa ke mana oleh makhluk- makhluk aneh itu.
"Tolong...! Setan-setan!" Keduanya lari terbirit-birit sambil berteriak-teriak.
"Tolong! Tolong ada mayat hidup...!" Warga Desa Tumpang yang mendengar suara teriakan para petugas ronda langsung keluar, ingin tahu apa yang terjadi. Bahkan Kepala Desa Tumpang turut keluar.
"Ada apa, Pardi, Bondan? Seperti orang di- kejar setan saja kalian. Jejeritan di malam begini?" tanya Ki Kuswara, lelaki kurus tinggi dengan pakaian warna abu-abu tua lengan panjang. Berwajah angker dengan kumis tebal melintang. Lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun ini, merupakan Kepala Desa Tumpang.
"Setan, Ki. Setan-setan itu membawa Busran," jawab Bondan.
Mendengar laporan Bondan, para warga yang ada di tempat itu terbelalak kaget. Namun Kepala Desa Tumpang seakan tak percaya dengan cerita itu.
"Jangan main-main kau, Bondan?!" bentak
Ki Kuswara dengan mata melotot.
"Benar, Ki," timpal Pardi, "Lihat, kami benar-benar ketakutan! Bahkan aku... aku sampai kencing di celana."
Pardi menunjuk ke selangkangannya. Celana kolor panjangnya yang berwarna kuning te- rang basah kuyup dan bau pesing. Bondan pun berusaha meyakinkan Ki Kuswara dengan me- renggangkan selangkangan yang basah.
Semua warga yang melihat kedua peronda itu ngompol, seketika tertawa terbahak-bahak Ke- sunyian malam yang semula tegang, seketika be- rubah menjadi riuh oleh gelak tawa mereka. Na- mun tiba-tiba....
"Tolong! Tolong...!" Suara jeritan itu ternyata dari rumah Ki Kuswara. Para warga desa yang mendengar jeri- tan menantu Ki Kuswara seketika berlarian me- nuju rumah kepala desa itu.
"Hantu..., hantu...!" "Setan! Mayat hidup...!" Para warga yang telah sampai di rumah Ki Lurah Kuswara langsung berteriak-teriak ketaku- tan. Mereka melihat makhluk-makhluk aneh ber- gigi taring dan berlumuran darah tengah berusa- ha menyeret anak lelaki Ki Lurah Kuswara.
Menyaksikan hal itu, Ki Kuswara yang ti- dak ingin putranya dibawa kabur oleh makhluk- makhluk aneh itu segera bertindak. Lelaki seten- gah baya itu melompat dan menghadang mayat- mayat hidup itu.
"Berhenti! Lepaskan anakku!" bentak Ki
Kuswara dengan keras, seperti tak takut sama sekali terhadap makhluk-makhluk aneh yang menatapnya dengan wajah mengerikan.
Salah satu dari mayat hidup itu menggerakkan tangan, seperti memerintah pada anak buahnya untuk membereskan Ki Kuswara.
"Hng...!" Tiga mayat bermuka pucat dan bergigi tar- ing maju menghadapi Ki Kuswara yang masih berdiri dengan mata menatap tajam. Sepertinya Ki Kuswara belum yakin, kalau sosok-sosok mak- hluk aneh yang menyeramkan itu setan.
"Jangan kira aku takut menghadapi ka- lian!" dengus Ki Kuswara pada tiga mayat hidup yang menghampirinya. Tapi ketiganya tak juga mau membuka kedoknya, justru terdengar suara menggereng dari mulut mereka.
"Hnghh...!" Ketiga mayat hidup dengan berang menye- rang Ki Kuswara. Tangan mereka yang hanya tu- lang-belulang berkuku panjang dan runcing, me- nyambar dengan cakaran ke tubuh kepala desa itu. Seketika itu pula Ki Kuswara tersentak kaget melihat bahwa manusia-manusia itu ternyata tengkorak.
"Mayat hidup...?!" tanya Ki Kuswara, seraya mengelakkan serangan ketiga lawannya. Matanya masih membelalak tegang, ngeri menyaksikan kenyataan yang ada.
Warga Desa Tumpang yang melihat tangan manusia-manusia yang menyeramkan itu hanya tulang-belulang, seketika menjerit ketakutan. Serentak mereka pun lari terbirit-birit. Terlebih- lebih kedua peronda yang telah melihat sebelum- nya, langsung lari tunggang-langgang. 'Tolong! Mayat hidup! Tolong...!" Hiruk-pikuk jeritan warga seketika meng- gema, memecahkan kesunyian malam. Tak seo- rang pun warga yang berani membantu kepala desanya, setelah tahu kalau makhluk itu bukan manusia.
Ki Kuswara terpaksa harus bertarung me- lawan ketiga mayat hidup seorang diri. Dia telah telanjur menghadapi ketiga makhluk aneh yang tentunya siluman itu. Dicabutnya keris yang se- jak tadi terselip di pinggang. Segera dikerahkan jurus 'Sambar Nyawa' dengan Keris Lekuk Pitu yang mengeluarkan sinar hijau.
"Hea!" Keris Lekuk Pitu di tangan Ki Kuswara ber- gerak cepat, menusuk ke dada salah satu mak- hluk siluman. Kilatan cahaya keris itu, terus me- nyeruak masuk berusaha menekan ketiga lawan- nya.
Sementara itu, makhluk aneh yang tadi membawa anak Ki Kuswara kini telah raib entah ke mana. Ki Kuswara hanya sempat menyaksikan ketika makhluk itu berubah menjadi asap di tanah retak. Hal itu semakin membuat mata kepala desa itu membelalak tegang dan merasa kebin- gungan. Kejadian itu rasanya tak masuk akal ba- ginya yang hanya tahu ilmu olah kanuragan se- mata, tanpa mengerti ilmu gaib.
Tusukan keras dan cepat Keris Lekuk Pitu di tangan Ki Kuswara tak dihiraukan oleh lawan                                           nya.
Jlep! Keris Lekuk Pitu menghunjam ke dada manusia bermuka tengkorak darah. Keris itu terus menancap ke dalam, seperti disedot suatu ke- kuatan gaib. Ki Kuswara kembali tersentak kaget merasakan kejadian yang sangat aneh itu.
"Akh! Kerisku tertarik ke dalam?!" pekik Ki Kuswara kaget. Dia berusaha mencabut kembali kerisnya dari dada mayat hidup. Namun justru tubuhnya sendiri tertarik oleh kekuatan tubuh makhluk aneh itu. Keadaan ini membuat Ki Kus- wara semakin tegang. Apalagi ketika sekujur tubuhnya tiba-tiba tersengat hawa panas, bagaikan ada api yang menjalar begitu cepat
"Akh!" jerit Ki Kuswara. "Hngh...!" Mayat-mayat hidup itu menggeram keras. Pada saat itu, tubuh manusia siluman yang ter- tusuk Keris Lekuk Pitu milik Ki Kuswara tiba-tiba bersinar hijau. Sinar itu terus membesar, menye- limuti sekujur makhluk itu. Kemudian menjalar ke tangan Ki Kuswara.
"Wua...!" Ki Kuswara menjerit setinggi langit, ketika tubuhnya tersengat sinar hijau yang keluar dari tubuh manusia siluman. Bagaikan arus listrik yang kuat, menyambar tubuhnya.
Ki Kuswara berusaha melepaskan cekalannya pada keris yang menancap dada lawan. Namun tangannya dirasakan telah melekat kuat pada keris itu. Sehingga sangat sulit baginya untuk dapat melepaskan tangannya. Bahkan semakin kuat berontak, semakin lengket tangannya pada gagang keris. Semakin kuat pula tenaga tarikan makhluk aneh itu.
"Hng!" "Heik-heik!" "Wuk wek-wek!" Ketiga mayat hidup itu berbicara dengan bahasa mereka yang tak dimengerti Ki Kuswara. Kepala desa itu terus berusaha melepaskan pegangan tangannya pada gagang keris. Dia berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, namun tetap tak mampu melepaskan tangan yang melekat pada gagang keris.
"Ukh!" Ki Kuswara melenguh lirih. Wajah- nya semakin pucat pasi, setelah tenaga dalam terkuras habis. Matanya membelalak tegang sekarat "Wua...!"
Diiringi jeritan tertahan. Ki Kuswara akhir- nya terkulai lemas. Nyawanya melayang dengan keadaan tubuh mengerikan. Sekujur wajah dan tubuhnya pucat pasi bagaikan tak berdarah. Matanya melotot.
"Zzsst! Zzsst!" Kedua mayat hidup lainnya mengangguk- anggukkan kepala. "Hng!"
Usai melepaskan tubuh Ki Kuswara, ketiga mayat hidup menjatuhkan sesuatu dari tangannya tepat di muka kepala desa itu. Ternyata se- buah benda berupa gambar makhluk aneh bermata merah darah!
Ketiga makhluk aneh menghilang, bersama asap yang menyelimuti mereka. Mereka masuk ke tanah, setelah berubah menjadi asap tebal kemerahan.

2
Sore telah datang, mentari menggelincir di ufuk barat. Sebentar lagi raja siang itu akan teng- gelam, kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Para petani pulang dari sa- wah dengan peralatan terpanggul di pundak.
Burung-burung pun berterbangan pulang ke sarang masing-masing dengan suara bersahut- sahutan. Cahaya merah tembaga membias di kaki langit sebelah barat, seakan ingin menyongsong malam yang hampir tiba. Desir angin senja hari menghembuskan hawa dingin, seperti datang ber- sama kegelisahan.
Dua sosok bayangan nampak melangkah perlahan di keremangan senja. Kedua muda-mudi itu saling bersenda-gurau dengan riangnya, me- nikmati suasana senja yang indah.
"Kakang, nampaknya desa ini tengah ber- duka," kata gadis cantik berpakaian putih dengan rambut digelung dua di atas. Kulit gadis itu kun- ing langsat, hidungnya tidak terlalu mancung. Matanya agak sipit, dihiasi bulu-bulu lentik.
"Hm," gumam pemuda berpakaian rompi kulit ular, berambut gondrong agak berombak. Kulit pemuda itu bersih, wajahnya tampan.
Sangat serasi pasangan muda-mudi itu.
Yang lelaki tampan dan gagah, sedangkan yang perempuan cantik dan elok. Di pundak gadis can- tik yang berpakaian Cina, tersandang sebilah pe- dang. Sedangkan pemuda itu, nampak di ping- gangnya terselip sebuah suling berkepala naga.
Dilihat dari senjata dan pakaian yang dis- andang, kedua sejoli itu tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila dengan kekasihnya, Mei Lie atau Bidadari Pencabut Nyawa. Pedang di pun- daknya tentu Pedang Bidadari.
Pendekar Gila meringis sambil tangannya menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang ke sekeliling yang nampak sunyi dan sepi. Ada panji-panji atau benda berwarna hitam terpan- cang di pintu masuk desa, yang menandakan bahwa desa tengah berkabung. "Aha, mungkin kematian biasa, Mei Lie."
"Tapi, Kakang...," potong Mei Lie. "Aha, kau begitu nakal, Mei Lie! Ayolah, kita cepat pergi! Se- bentar lagi malam tiba. Kita harus segera mencari tempat untuk menginap," ajak Sena sambil meng- gandeng tangan kekasihnya. Namun gadis cantik itu menolak.
"Tunggu, Kakang! Firasatku mengatakan, pasti telah terjadi sesuatu di sini."
Sena tertawa-tawa mendengar penuturan Mei Lie. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak seperti monyet. Hal itu membuat Mei Lie merengut.
Pendekar Gila langsung menghentikan tingkahnya yang persis orang gila itu, setelah me- lihat sang Kekasihnya cemberut. Dengan masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala,
Sena menghela napas panjang.
"Hih hi hi! Nakalmu semakin jadi, Mei Lie. Ah ah ah, tentunya di desa ini memang telah ter- jadi sesuatu. Kematian, bukan?" goda Sena, se- makin membuat Mei Lie bertambah merengut. Matanya mendelik ke arah Pendekar Gila yang masih cengengesan.
"Uuh, Kakang!" keluh Mei Lie cemberut "Aku bersungguh-sungguh, Kakang."
"Aha, apa aku tidak, Mei Lie?" sahut Sena masih saja menggoda, semakin membuat Mei Lie bertambah mendelik kesal. "Ah ah ah, gawat ka- lau begini. Sudahlah, Mei Lie! Sebentar lagi ma- lam, kita harus segera mencari penginapan."
Sena kembali mengajak Mei Lie meninggal- kan tempat itu. Akhirnya gadis itu pun menurut Keduanya melangkah meninggalkan mulut desa itu. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba....
"Berhenti!" Sena dan Mei Lie terkejut. Namun kedua- nya segera membalikkan tubuh, melihat siapa yang telah menyuruh mereka berhenti. Nampak seorang lelaki berbadan kurus dengan kumis pan- jang melintang, berdiri dengan pandangan penuh rasa curiga kepada mereka. Di belakang lelaki itu berdiri beberapa orang warga desa. Wajah mereka pun menyiratkan kecurigaan terhadap kedua orang yang itu.
Tiba-tiba Sena tertawa terbahak-bahak. Tingkah lakunya yang konyol muncul. Dia cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Ke- mudian tangannya menepuk-nepuk pantat
Menyaksikan tingkah laku pemuda berpa- kaian rompi kulit ular, seketika lelaki yang berdiri paling depan mengerutkan kening keheranan.
"Rasa-rasanya aku pernah mendengar ten- tang pemuda ini. Ah, benarkah dia Pendekar Gi- la?" tanya lelaki itu dalam hati. Keningnya menge- rut, memperhatikan penuh selidik pada Pendekar Gila dan Mei Lie. "Dan kalau tak salah, gadis ini yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Benar- kah mereka...?"
"Hi hi hi...! Kalian ini aneh. Tiba-tiba menghentikan langkah kami? Hi hi hi...!" Sena masih konyol, menepuk-nepuk pantat sambil ber- jingkrak-jingkrak. Sedangkan Mei Lie nampak waspada, khawatir kalau orang-orang yang menghadangnya hendak bermaksud jahat
"Siapa kalian?!" tanya lelaki bernama Ra- puji itu ingin membuktikan dugaannya.
"Hi hi hi...! Lucu, lucu sekali kau, Kawan." Pendekar Gila semakin cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. "Aha, kalian ingin tahu siapa kami. Baiklah, kami sepasang muda-mudi yang sedang bertualang mengikuti langkah kaki. Nah, apakah belum jelas?"
"Apa kalian Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Rapuji berusaha memastikan.
"Ya!" sahut Mei Lie menyela. "Ada apa ka- lian menghadang kami?"
"O, maafkanlah tindakan kami yang lancang! Kalau benar kalian Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa, kami mengharap sudilah kalian mampir dan singgah ke rumah kami," pin- ta Rapuji.
"Hm, untuk apa?!" tanya Mei Lie tegas. "Aha, jangan galak begitu, Mei Lie! Bagai- mana kalau kita ikuti saja permintaannya? Bu- kankah kita di sini merupakan tamu?" tanya Pen- dekar Gila berusaha menenangkan kekasihnya yang garang. Nampaknya Mei Lie masih ingat ke- jadian di Lembah Lamur, di mana orang-orang yang dekat dengannya kedapatan mati. Itu se- babnya dia tak mudah percaya dengan orang lain. (Mengenai trauma Mei Lie, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode: "Titisan Dewi Kwan Im").
"Baiklah! Tapi jangan sekali-kali bermak- sud jahat! Aku tak segan-segan membunuh ka- lian! Bahkan seluruh penduduk desa ini akan kumusnahkan!" ancam Mei Lie.
"Baiklah, Nini Pendekar," sahut Rapuji pe- nuh hormat.
"Aha, ayolah!" ajak Pendekar Gila. Keduanya melangkah mengikuti Rapuji dan warga desa. Sementara langit di sebelah barat su- dah tak menampakkan bias cahaya matahari. Dan malam pun telah turun.
***

Rumah Rapuji nampak terang-benderang. Lampu pelita besar dan lampu gantung yang bi- asanya tidak dipasang, malam itu dinyalakan se- mua. Sehingga suasana di dalam rumah itu, khususnya di beranda, terang-benderang. Tiga orang tampak duduk di kursi rotan, sementara yang lain duduk bersila di lantai. Nampaknya para warga tengah berkumpul, setelah kematian lurah mereka. Yang duduk di atas bangku, Sena, Mei Lie, dan Rapuji. Ketiganya tengah membicarakan pe- rihal yang melanda Desa Tumpang yang baru saja dilanda malapetaka.
Kepada Pendekar Gila dan Mei Lie, Rapuji menceritakan peristiwa aneh yang terjadi kemarin di Desa Tumpang. Dengan tenang Mei Lie men- dengarkan cerita itu. Sementara, Pendekar Gila tak henti-henti cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala selama Rapuji bercerita. Tentu saja sikapnya yang aneh dan lucu itu membuat para warga yang melihat tersenyum-senyum keheranan.
"Hm," Pendekar Gila bergumam. Sedangkan Mei Lie nampak terus memperhatikan dengan seksama setiap cerita yang dipaparkan Rapuji. "Aneh, mayat-mayat dari mana?"
"Itulah yang kami pikirkan. Keris sakti milik Ki Lurah Kuswara yang bernama Lekuk Pitu hilang entah ke mana. Menurut orang yang meli- hat, keris itu masuk ke dada salah satu mayat hi- dup itu...."
"Heh?!" Sena tersentak dengan mata membelalak kaget.
"Hhh," desah Mei Lie. Wajahnya kelihatan geram mendengar cerita yang dituturkan Rapuji. "Kurasa ada yang mendalanginya!"
"Entahlah. Ada atau tidak, kami rasa hal ini harus dicegah...," tandas Rapuji dengan suara geram. "Hm," lagi-lagi Pendekar Gila bergumam tak jelas. Sambil cengengesan tangannya mengga- ruk-garuk kepala.
"Apa mereka kalau keluar selalu malam hari?" tanya Mei Lie.
"Baru kali ini terjadi, Nini. Jadi...," "Hm, ada yang tahu persis? Bagaimana mula mereka keluar?" tanya Mei Lie.
"Saya, Nini Pendekar," sahut seorang lelaki setengah baya yang ternyata Pardi.
"Bisa, Bapak menjelaskan?" pinta Mei Lie yang disambut anggukan oleh Pardi.
Secara singkat dan jelas, Pardi pun menceritakan apa yang telah dialami bersama kedua peronda lainnya, yang salah satunya menjadi kor- ban mayat-mayat hidup.
Selama Pardi bercerita Mei Lie memperhatikan dengan seksama. Sesekali mulutnya menggumam. Sedangkan Pendekar Gila tampak cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, rupanya ada juga bangsa siluman yang ingin turut campur dengan urusan manusia. Hi hi hi...! Lucu sekali," Sena tertawa cekikikan. Tingkah lakunya semakin konyol, membuat se- mua orang yang ada di situ tersenyum-senyum melihatnya.
"Siluman...?" tanya Rapuji dengan mata membelalak.
"He he he...! Begitulah menurut dugaanku," jawab Sena sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Semua terdiam. Mereka merasakan kete- gangan setelah mendengar penuturan Pendekar Gila. Hati mereka bertanya-tanya, dari mana si- luman-siluman itu datang? Lalu hendak bermak- sud apa mereka datang ke alam manusia?
"Hm, kalau benar mereka bangsa siluman, bagaimana kita harus menghadapi makhluk itu...?" tanya Rapuji nampak kebingungan. Jelas akan sulit sekali manusia biasa sepertinya dan warga desa untuk menghadapi makhluk-makhluk siluman. Hanya orang-orang yang menguasai il- mu gaib mampu menghadapi makhluk-makhluk dari alam gaib seperti itu.
Pendekar Gila nyengir. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepalanya. Dia pun belum bisa memutuskan untuk berbuat sesuatu atau men- gambil kesimpulan. Sebab dia sendiri belum tahu seperti apa makhluk-makhluk siluman itu.
"Aha, sulit juga rasanya," gumam Sena ti- ba-tiba, menyentakkan semua orang yang ada di situ. Tak terkecuali Mei Lie yang seketika membe- lalakkan matanya. Hal itu membuat Pendekar Gi- la nyengir, lalu sambil garuk-garuk kepala melan- jutkan, "Hi hi hi...! Kurasa, ada baiknya kita membicarakan masalah ini."
"Justru karena itulah, kami mengundang, Tuan Pendekar singgah di rumahku," sahut Rapuji.
"Bagaimana, Mei?" tanya Sena. Mei Lie tak menyahut, hanya mengangguk- angguk kepala tanda setuju.
"Baiklah kalau begitu. Hm, hari hampir larut, kurasa kita harus secepatnya menyelesaikan pembicaraan. Bagaimana kalau kita berpencar- pencar?" tanya Sena.
"Maksudmu?" tanya Mei Lie belum mengerti.
"Mungkin makhluk-makhluk siluman itu malam ini akan kembali datang. Dan..., kurasa ada sesuatu di desa ini. Bagaimana kalau kita menyelidikinya?" usul Pendekar Gila.
"Hm, aku setuju. Apa yang sekiranya me- nurut Tuan Pendekar baik, aku setuju saja," ja- wab Rapuji.
Mei Lie kembali hanya mengangguk- anggukkan kepala, menanggapi usul kekasihnya.
"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Sena.
"Kami setuju," sahut warga yang berada di rumah Rapuji.
"Aha, bagus! Kuminta beberapa orang un- tuk meronda. Kalau kalian melihat makhluk itu datang lagi, segera bunyikan kentongan sebanyak lima kali. Dengan begitu, aku dan Mei Lie akan segera datang," ujar Sena memberi saran. "Gagasan yang bagus," puji Rapuji. "Sementara yang lainnya, tolong ikuti Ki Rapuji untuk memeriksa desa ini. Aku dan Mei Lie akan berada di sebelah barat desa. Kita akan bertemu jika kita mendengar salah seorang mem- bunyikan kentongan!" papar Sena menjelaskan.
"Baiklah, kalau begitu malam ini juga kita mulai," kata Rapuji.
Setelah mengatur rencana sebaik mungkin, mereka pun segera menjalankan keputusan itu. Pendekar Gila dan Mei Lie melesat ke arah barat. Sedangkan Rapuji dan warga desa berjalan ke ti- mur. Lima orang warga nampak masih berada di rumah Rapuji berjaga-jaga dengan kentongan siap di tangan.
"Tolong...!" Baru saja mereka berpencar, tiba-tiba ter- dengar suara jeritan.
"Tolong! Gendruwo! Setan...!" Seorang wanita muda menjerit-jerit sambil berlari ketakutan. Mungkin karena takutnya, wa- nita cantik itu tak sadar kalau tubuhnya dalam keadaan setengah telanjang. Hanya kain yang menutup bagian bawah tubuhnya. Mendengar suara jeritan itu, Rapuji yang belum begitu jauh dari rumahnya langsung berbalik arah, diikuti beberapa warga yang menyertainya. Begitu pula yang dilakukan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Ada apa, Sukarti?" tanya Rapuji mendapa- ti anaknya nampak ketakutan.
"Ada setan, Ayah! Setan itu membawa pergi Kangmas Anggoro!" ujar Roro Sukarti sambil menangis ketakutan.
"Hah! Anggoro, menantuku diculik?!" Rapuji tersentak, matanya membelalak tegang mendengar penuturan anaknya.
Anggoro dan Roro Sukarti baru saja menikah seminggu yang lalu. Kini tiba-tiba muncul mayat-mayat hidup menculik Anggoro.
Semua belum hilang dari kekagetan, tiba-tiba.... "Setan...!"
"Gendruwo...!" Terdengar teriakan-teriakan para pendu- duk sambil berlarian ketakutan.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak me- lihat para penduduk berteriak-teriak ketakutan. Tingkahnya yang konyol, membuat Mei Lie melo- tot. Hal itu menjadikan Sena langsung diam. Meski begitu Pendekar Gila tetap cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ada apa?! Ada apa ini?" tanya Rapuji ke- pada para warga.
"Rumah kami dirampok!" "Anak kami yang masih perjaka diculik!" "Suami saya dibawa. Padahal kami baru menikah bareng dengan Den Sukaiti," seorang gadis muda berkulit kuning langsat dan manis menangis tersedu-sedu.
Rapuji semakin melongo bengong. Dia ti- dak tahu harus berbuat apa menghadapi para warga beramai-ramai melaporkan kejadian di ru- mah mereka. Lelaki setengah baya yang menjabat sebagai Ketua Desa Tumpang setelah tewasnya Ki Lurah Kuswara itu tampak kebingungan. Dirinya tak habis pikir untuk apa para lelaki muda dicu- lik oleh makhluk-makhluk aneh itu.
***

Belum tuntas Rapuji dan Pendekar Gila mendengar keterangan dari para warga yang telah dilanda malapetaka itu, tiba-tiba datang pula be- berapa orang dari arah selatan. Mereka melapor- kan baru saja mendengar kejadian serupa di Desa Kaliwalang. Mendengar laporan itu, Rapuji diser- tai Pendekar Gila, Mei Lie, dan para warga lang- sung berlari menuju Desa Kaliwalang yang meru- pakan desa terdekat dengan Desa Tumpang.
"Ada apa, Ki Rapuji...?" tanya Ki Lurah Re- jasa menyambut Rapuji dan beberapa warga Desa Tumpang.
Rapuji menceritakan semua yang terjadi. Hal itu menjadikan mata Ki Lurah Rejasa membelalak.
"Sama dengan kejadian kemarin," gumam Ki Lurah Rejasa. "Aku heran, untuk apa lelaki- lelaki muda dan tampan dibawa pergi? Kemudian keesokan harinya mereka telah menjadi mayat dengan keadaan mengerikan sekali. Bukankah warga desa sini juga melihatnya?"
Para warga semua terdiam, tak ada yang berkata. Semua tengah berpikir, bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang terjadi di desa mereka ini. Dan apa yang dikehendaki manusia- manusia siluman itu.
Hanya Pendekar Gila yang masih terse- nyum-senyum. Malah bersiul-siul. Wajahnya memandang ke langit yang gemerlapan.
"Em... kalau aku boleh tahu, apakah orang-orang yang diculik pernah melakukan sesuatu pelanggaran. Berbuat jahat misalnya?" Mei Lie menyelidik. Gadis itu masih memegangi Pedang Bidadarinya yang mampu mengeluarkan sinar kuning kemerah-merahan.
Kedua pimpinan desa itu terdiam, berusa- ha mengingat-ingat apa yang pernah dilakukan warganya yang hilang diculik.
"Kami rasa tidak," sahut Rapuji. "Tapi anehnya, mayat-mayat hidup itu memilih para lelaki muda yang gagah dan berwa- jah tampan...," sambut Ki Lurah Rejasa.
"Hm, aneh. Untuk apa lelaki-lelaki itu?" gumam Mei Lie sambil memasukkan pedang ke dalam warangkanya. Seketika suasana di sekitar tempat itu menjadi gelap gulita.
Warga desa baru tersentak kaget. Mereka semua baru sadar kalau yang membuat suasana di tempat itu terang, ternyata berasal dari pedang Mei Lie. Dengan mata terbelalak, mereka berde- cak kagum. Tak henti-hentinya mereka meman- dang wajah Mei Lie, lalu beralih ke Pendekar Gila yang masih acuh dan cengengesan.
"Kalau boleh kami tahu, apakah kalian?" tanya Ki Lurah Rejasa pada Sena dan Mei Lie, dengan menyipitkan kedua matanya.
Melihat Ki Lurah Rejasa dan para warga Desa Kaliwalang tertegun keheranan terhadap Pendekar Gila dan Mei Lie, Rapuji tampak terse- nyum. Lalu menoleh ke arah kedua pendekar muda itu.
"Mereka adalah Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa," ujar Rapuji memberitahukan.
Seketika Ki Lurah Kaliwalang dan warganya tersentak kaget. Mereka memang sering mendengar nama keduanya, tapi baru kali ini melihat orangnya.
"O, terimalah salam hormat kami!" Ki Lurah Rejasa langsung menjura hormat di hadapan Pendekar Gila dan Mei Lie. Begitu pun para warga Desa Kaliwalang, mereka membungkuk memberi hormat tanpa diperintah.
"Aha, sudahlah! Tak perlu kalian berlaku begitu! Yang penting sekarang bagaimana kita berusaha mencari kesepuluh penduduk yang hilang," kata Sena mengalihkan pada masalah pokok
Semua terdiam, tak seorang pun yang da- pat menjawab pertanyaan itu. Mereka tak tahu dari mana manusia-manusia siluman itu muncul. Apalagi untuk mengetahui di mana markas mere- ka berada.
"Bagaimana kalau kita mencarinya di seke- liling desa?" tanya Mei Lie menyarankan.
"Setuju saja! Tapi, apakah mungkin berada di sekitar desa ini?" tanya Ki Lurah Rejasa.
"Mengenai itu aku tak tahu. Yang pasti, ki- ta harus berusaha mencarinya," tukas Mei Lie.
"Aha, benar juga pendapatmu, Mei Lie. Nah, bagaimana?" sambung Pendekar Gila.
""Kalau begitu, sebaiknya memang segera bertindak," tambah Rapuji.
"Aha, tidakkah kita harus memakai obor? Siapkanlah obor," kata Pendekar Gila.
Para penduduk bergegas mencari obor. Kemudian setelah semuanya selesai, mereka pun dipecah menjadi empat bagian. Masing-masing bergerak ke utara, timur, selatan, dan barat. Suasana di dua desa itu seketika menjadi ramai. Di sana-sini obor menyala, menerangi suasana ge- lapnya malam. Suara kentongan pun sahut- menyahut, semakin membuat suasana kedua de- sa bertambah riuh.
Namun setelah seluruh pelosok desa dikeli- lingi, tidak juga mereka menemukan tanda-tanda adanya tempat yang mencurigakan. Hal itu men- jadikan semuanya terheran-heran dan bingung, harus bagaimana lagi untuk dapat menemukan beberapa warga desa yang hilang.
"Hhh..., bagaikan mencari jejak di dalam air. Tak mudah bagi orang-orang macam kita memburu makhluk siluman yang tak meninggal- kan jejak," gumam salah seorang warga Desa Tumpang.
"Hi hi hi...! Lucu sekali. Kita seperti main petak umpet dengan para siluman," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
Mei Lie menyapukan pandangannya ke se- keliling tempat mereka berada. Namun sama seperti para warga, tak menemukan tanda-tanda kalau di tempat itu ada yang mencurigakan. Se- mentara malam kian larut. Namun di sana-sini masih terdengar suara kentongan dipukul oleh para warga yang masih bersemangat mencari. Dan tiba-tiba....
"Ingat Pendekar Gila dan kau Bidadari Pe- nyabut Nyawa! Kalian telah ikut campur dalam urusan ini! Kalian akan menyesal...!"
Terdengar suara keras dan berkumandang mengancam Pendekar Gila dan Mei Lie. Suara itu seolah-olah berasal dari langit. Dan dari jenis su- aranya, ancaman itu sepertinya diucapkan oleh seorang wanita.
Orang-orang tersentak kaget mendengar suara tanpa wujud pemiliknya. Mereka kebingun- gan mencari-cari suara itu dengan mendongak- kan kepala ke langit yang hanya tampak gelap gu- lita.
Sementara itu, Pendekar Gila justru terta- wa terbahak-bahak, sepertinya tak takut sama sekali dengan ancaman yang baru saja didengar- nya. Bahkan dengan suara lantang Sena balas, "Ha ha ha...! Siluman jelek! Jangan kira aku takut menghadapimu! Ayo, keluarlah! Biar kujitak pan- tatmu! Hua ha ha...!" tubuh Sena turut bergetar, karena tawanya yang terpingkal-pingkal. Kemu- dian dengan konyol Pendekar Gila menung- gingkan pantat ke atas sambil berseru, "Nih, ken- tut busukku! Bruut..!"
Pendekar Gila kembali tertawa-tawa sambil berjingkrakan tak ubahnya seperti monyet. Hal itu menjadikan semua penduduk yang ada di tempat itu terbengong-bengong. Heran bercampur kagum atas keberanian Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Tunggulah saatnya nanti, Bocah Gila!" suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih kuat dan menggelegar, seakan diucapkan dengan pengerahan tenaga dalam yang kuat.
"Hua ha ha! Lucu sekali kau, Siluman! Se- harusnya akulah yang mengancammu. Karena kau telah berani melanggar ketentuan Hyang Widhi. Kau telah berani melanggar garis alam!" dengus Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Lalu setelah berjingkrak-jingkrak kembali, ditunggin- gan pantatnya, "Nih kentutku. Brutt...!"
Suasana tegang yang menyelimuti warga desa, seketika berubah oleh tingkah laku Pende- kar Gila yang konyol dan lucu.
Wuuss...! Tiba-tiba angin bertiup kencang laksana badai, menjadikan semua warga desa tersentak kaget. Angin besar itu datang dari arah selatan.
"Aha, rupanya kau mau bercanda dengan- ku, Siluman Jelek?! Baik. Ayo, kita main-main pe- tak umpet!" Sena melangkah mundur, tangannya bergerak memerintahkan pada semua warga agar bertiarap. "Kalian mundur semua! Mei Lie, jaga mereka!"
"Baiklah, Kakang...." Setelah para penduduk mundur, Sena segera menyatukan telapak tangan di depan dada, kemudian diangkatnya lurus ke atas kepala. Lalu digerakkan melebar ke samping. Dan setelah menarik napas dalam-dalam...
"’Inti Bayu’. Hea...!" diiringi teriakan keras, dihempaskan tenaga dalamnya lewat kedua tela- pak tangan. Seketika itu pula serangkum angin dahsyat laksana prahara menderu kencang. Angin 'Inti Bayu' bergerak kencang, menerjang angin badai yang entah dari mana datangnya.
Wss! Jlegar! Ledakan dahsyat pun terdengar, ketika dua angin besar laksana badai saling bertabrakan di udara. Akibat dari ledakan menggelegar itu, tanah di bawahnya hancur berhamburan, hingga mem- bentuk sebuah lubang besar dan dalam.
Sesaat kemudian suasana kembali sepi, tak terdengar suara angin maupun ancaman.
"Hm," gumam Sena tak jelas. Kepalanya mendongak melihat ke atas, tempat suara anca- man tadi terdengar. "Malam ini, kurasa dia agak sedikit kapok"
Namun tiba-tiba Sena sangat terkejut, ke- tika dilihatnya di antara kerumunan penduduk tak tampak Mei Lie. Sena menggaruk-garuk kepa- la.
"Mei Lie?! Kau lihat Mei Lie, Ki Rapuji...?!" tanya Sena pada Rapuji. Matanya terus mencari- cari Mei Lie. Srak! Wess! Sesosok bayangan merah berkelebat cepat membopong sosok tubuh berpakaian putih. "Mei Lie?!"
Sena tersentak kaget melihat sosok bayan- gan itu membawa kekasihnya.
Pendekar Gila cepat mengejarnya. Namun sosok yang membawa Mei Lie sudah menghilang. Pemuda itu nampak cemas dan menggaruk-garuk kepala. "Bodoh sekali aku ini!" gumam Pendekar Gila kesal.

3
Sesosok bayangan kemerahan melesat be- gitu cepat menembus kegelapan malam. Bagaikan tak menghiraukan dinginnya hawa yang menusuk ke tulang sumsum, sosok bayangan yang ternyata seorang lelaki tua itu terus berkelebat. Di pun- daknya tampak sesosok tubuh wanita berpakaian putih, terkulai lemas seperti mati. Lesatan cepat yang dilakukan lelaki tua berjubah merah itu me- nandakan bahwa ilmunya tak dapat dianggap remeh. Gerakannya yang secepat kilat tak dapat di- lihat mata biasa.
Lelaki tua bercambang panjang dan lebat itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam menatap liar ke sekeliling tempat itu. Kini jelas, sosok berpakaian putih yang dipang- gulnya tak lain Mei Lie. Kekasih Pendekar Gila.
Rupanya sewaktu Pendekar Gila tengah mengerahkan ajian 'Inti Bayu', menggempur se- rangan angin badai, lelaki tua berjubah merah itu mendapatkan saat yang tepat untuk menotok Mei Lie. Mei lie pun lengah dan tak menduga kalau ada orang yang tengah mengintainya.
"Ha ha ha...! Aku akan berkuasa! Aku akan dapat menguasai Jawa Dwipa ini. Ha ha ha...!" le- laki tua itu tertawa terbahak-bahak. "Ternyata Pendekar Gila hanya seorang pendekar bodoh...!" kemudian tubuhnya melesat kembali meninggal- kan tempat itu.
Lelaki itu berharap impiannya untuk menguasai semua tokoh persilatan di Jawa Dwipa akan menjadi kenyataan. Ia masih teringat wang- sit yang diturunkan untuk dirinya. Wangsit itu mengatakan:
"Siapa yang dapat memperistri seorang ga- dis bergelar Bidadari Pencabut Nyawa atau Titisan Dewi Kwan Im, maka kelak akan menjadi tokoh sakti. Selain itu akan menguasai tanah Jawa Dwipa dan Andalas, serta menurunkan raja-raja di Pulau Andalas".
Lelaki tua itu terus berlari semakin cepat, seakan tak ingin ada orang lain melihatnya. Namun ketika melintasi sebuah hutan kecil yang tak seberapa luas, tiba-tiba....
"Datuk Tambureh, tunggu...!" Lelaki berjubah merah darah tak menghiraukan seruan itu. Hatinya sudah menduga siapa orang yang memanggilnya. Lelaki tua yang di- panggil Datuk Tambureh itu terus berlari. Hal itu karena hatinya telah menaruh rasa curiga terha- dap tokoh-tokoh persilatan di Tanah Jawa.
Ternyata lelaki berjubah merah yang bernama Datuk Tambureh inilah tokoh sesat yang akhir-akhir ini sering membuat keonaran. Lelaki tua itu mampu membangunkan mayat-mayat orang jahat dari dalam kubur. Demi tujuan dan cita-cita yang telah lama didambakannya.
Suatu wangsit telah turun atas dirinya melalui Dewi Ratu Maksiat, yang juga ibu angkatnya. Datuk Tambureh melakukan penculikan terhadap para lelaki muda dan tampan untuk dipersembahkan kepada ibunya yang menganut ilmu pembuat awet muda. Dengan bersetubuh dan memi- num darah para pemuda tampan Dewi Ratu Mak- siat bisa terus awet muda.
"Datuk...! Datuk Tambureh, tunggu...!" Orang itu kembali berseru sambil berlari mengejar lelaki tua berjubah merah. Dalam sekejap saja, tubuh orang itu berkelebat cepat menyu- sul Datuk Tambureh, bahkan tiba-tiba telah menghadangnya. "Berhenti!" "Apa urusanmu, Orang Usil!" bentak Datuk Tambureh geram.
Lelaki bercadar biru itu tersenyum mengejek. "Datuk, rupanya kau pun menghendaki gadis itu. Hem, aku pun jadi ingin merebutnya dari tanganmu."
"Bedebah! Jangan, bermimpi!" "Kenapa tidak, Datuk...!" tiba-tiba terdengar suara orang lain membentaknya, menjadikan sang Datuk tersentak kaget dan memalingkan wa- jah ke arah suara bentakan itu.
"Hm...! Rupanya kalian bersekongkol hen- dak merebut gadis itu. Heh..., jangan kira kalian akan mampu merebutnya. Langkahi dulu mayatku!"
"Begitu?" tanya orang yang baru datang dengan sinis. Lelaki berpakaian serba hitam itu ternyata Bulus Wulung yang telah mengejar Datuk Tambureh setelah mendengarkan keterangan dari ketiga pengusung. Seperti Datuk Tambureh, kedua orang yang mengejarnya pun telah mengira siapa adanya Putri Kumala Dewi yang menurut wangsit kelak akan menurunkan raja-raja di Pu- lau Andalas. Karena berpegang pada wangsit itu- lah, ketiga orang tersebut segera memburunya. Kini putri tersebut berada di tangan Datuk Tam- bureh, sehingga kedua orang pengejar itu pun mau tak mau harus menghadang lelaki berjubah merah. "Ya, begitu, tak ada jalan lain," jawab Da- tuk Tambureh sinis.
"Hem, kita bertiga," gumam Bulus Wulung yang mengenakan pakaian serba hitam dengan kedok hitam.
"Tak apa. Yang penting salah seorang di antara kita harus dapat menjadi pemenangnya," orang bercadar biru menyarankan, "Bagaimana kalau kita langsung saling menyerang?"
"Tak mungkin. Pasti ada kecurangannya," sela Datuk Tambureh.
"Kau rupanya takut, Datuk!" "Bedebah! Jangan kira aku takut mengha- dapi kalian berdua. Ayo, kalian maju bareng men- geroyokku! Datuk Tambureh tak akan mundur menghadapi orang macam kalian," habis berkata begitu, serta-merta Datuk Tambureh mengi- baskan tangannya. Dari kibasan tangan, keluar ratusan jarum berwarna ungu, melesat ke arah kedua orang tersebut.
"Awas serangan!" pekik Bulus Wulung memperingatkan pada rekannya yang dengan segera berkelebat sambil mengibaskan lengan bajunya. "Datuk edan! Rupanya kau memang ingin segera mampus!" bentak orang bercadar biru. Napasnya mendengus bagaikan memendam kekesalan yang hendak ditumpahkan pada Datuk Tambureh. "Terimalah pembalasan dariku! Hiat...!" orang bercadar biru itu menghantamkan tangan kanannya ke arah Datuk Tambureh. Sang Datuk terkesiap kaget, melihat larikan sinar putih mele- sat dari telapak tangan lawan.
"Hah...! Kaukah Barong Culla?" Datuk Tambureh terkejut setelah tahu siapa adanya orang bercadar biru itu. "Kenapa kau ikut campur dalam urusan ini, Barong Culla!"
"Hua ha ha...! Ternyata matamu belum be- gitu rabun, Datuk? Nah, bila sudah tahu siapa aku, mestinya kau menyembah dan rela membe- rikan gadis itu, padaku...," kata lelaki bercadar biru yang ternyata bernama Barong Culla.
"Enak saja kau ngomong! Aku bersusah- payah menculiknya, tiba-tiba kau menginginkan hasil jerih payahku?" bentak Datuk Tambureh. "Walaupun namamu sudah setinggi langit, Datuk Tambureh tak gentar sedikit pun menghadapimu. Apalagi menghadapi Bulus Wulung kere macam temanmu itu!"
"Setan! Rupanya kau memang harus kuha- jar!" bentak Bulus Wulung marah, karena ucapan Datuk Tambureh dirasakan sangat menganggap remeh dirinya. Betapapun Bulus Wulung merupakan anggota Panca Leluhur Sakti yang tidak dapat dipandang remeh. Mendengar ucapan Datuk Tambureh, darahnya seketika mendidih. "Jangan sombong, Datuk! Kalau kau memang jan- tan, hadapilah aku!"
Sang Datuk yang telah siap-siap akan menghadapi dua orang sekaligus, tak mau kalah berkata lantang. "Majulah kalian berdua sekali- gus, jangan tanggung-tanggung! Biar lebih cepat selesai!" Tak dapat lagi dibayangkan kemarahan dua orang tokoh dari Pulau Jawa dengan ejekan lawan. Serta-merta keduanya berkelebat menye- rang Datuk Tambureh. Serangan kedua tokoh persilatan yang berbeda perguruan itu tampak begitu kompak. Keduanya berganti-ganti melan- carkan serangan cepat. Namun begitu, sang Datuk bagaikan tak merasa sedikit pun. Meskipun lelaki tua itu memanggul tubuh Mei Lie, gerakan- nya tetap lincah.
Jurus demi jurus berlangsung cepat. Ketiganya seperti tak mengenai lelah, saling gempur dengan jurus-jurus yang mereka miliki. Entah berapa puluh jurus yang dikeluarkan. Karena begitu cepat pertarungan yang mereka lakukan, keti- ganya telah terlibat dalam pertarungan sengit dengan jurus andalan masing-masing.
"Celaka!" Datuk Tambureh tersentak kaget, ketika menyadari dirinya kini telah sampai di tepi jurang, terdesak oleh kedua lawan yang nampak makin beringas. "Kalau begini terus-menerus, akulah yang akan kalah. Aku harus mencari ak- al."
Bulus Wulung dan Barong Culla kurang waspada memperhatikan gerak-gerik sang Datuk. Keduanya terjebak oleh serangan-serangan yang mereka lancarkan.
Melihat musuhnya mendesak ke pinggir ju- rang, serta-merta Datuk Tambureh memekik keras. Lalu setelah berbuat begitu, tiba-tiba tubuh- nya melenting bersamaan dengan serangan yang dilancarkan Bulus Wulung dan Barong Culla. Tanpa dapat dihindari, kedua orang bertutup muka itu meluncur deras ke jurang.
"Akh...!" "Hua ha ha...! Terjunlah kalian! Selamat berpisah, dan bahagialah kalian di akherat sana!"
Setelah sesaat memandang ke dasar ju- rang, Datuk Tambureh dengan masih tertawa- tawa berkelebat meninggalkan tempat itu dengan memanggul tubuh Mei Lie.
Walau dalam keadaan tertotok, saat itu ternyata Mei Lie telah siuman dari pingsannya. Sehingga ia pun dapat menyaksikan betapa kedua orang bercadar itu menemui ajalnya dengan tragis.
"Siapa sebenarnya orang ini? Sangat licik dan berilmu tinggi," tanya Mei Lie dalam hati. Gadis itu merasa cemas, karena lelaki berjubah me- rah itu merupakan orang bam dalam pengliha- tannya. "Anak manis, kau akan kubawa ke pulau tempatku tinggal. Di sana tak seperti di Jawa ini yang serba keras. He he he...!"
Setelah berkata kepada Mei Lie yang masih dalam keadaan tertotok, Datuk Tambureh melesat meninggalkan tempat itu.
***

Tak lama setelah Datuk Tambureh pergi, nampak Pendekar Gila di dekat Jurang Wadas Pa- rang. Wajahnya nampak murung, kakinya terus melangkah menuju ke tepi jurang itu. Sesaat Se- na berhenti. Berdiri sambil memandang sekeliling tempat itu. Mulutnya cengar-cengir sendirian. Se- dangkan tangannya terus menggaruk-garuk kepa- la.
Mata Pendekar Gila tiba-tiba membelalak, ketika melihat beberapa tapak kaki yang masih jelas membekas di tanah agak basah.
"Ah, rupanya baru saja ada pertarungan di sini," gumam Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala.
Sena segera menyelusuri jejak-jejak kaki itu. Hatinya merasa heran ketika mengetahui bahwa telapak-telapak kaki itu ternyata memba- wanya ke tepi jurang. Seketika mata Pendekar Gi- la semakin menyipit, tatkala dilihatnya jejak-jejak kaki itu hilang tepat di bibir jurang.
"Tak salah!" gumam Sena sambil meman- dang ke dasar jurang yang nampak gelap gulita.
"Heh, benar!" Sena memekik setelah mena- jamkan pendengarnya.
Tiba-tiba terdengar suara orang dari dalam jurang. Namun belum nampak orangnya. "Hai, Kisanak yang berada di atas, dapatkah menolong kami?"
"Hi hi hi...! Ternyata di bawah sana bukan hanya seorang," gumam Pendekar Gila sedikit ka- get
Sejenak Pendekar Gila berpikir, akan dito- long atau tidak kedua orang itu. Sebab dia belum tahu yang di dalam jurang itu orang jahat atau baik. Tampak tangannya mulai menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan.
"Hai...! Kawan yang di atas, apakah kau tak mendengar seruan kami ini?!" terdengar kembali seruan seorang yang berada di bawah. Pendekar Gila kembali berpikir sambil menggaruk-garuk kepala. "Aku harus menolong kedua orang di ba- wah sana. Siapa tahu mereka bisa memberi kete- rangan padaku. Mungkin mereka melihat orang yang membawa Mei Lie," kata Sena dalam hati.
Sesaat lamanya suasana kembali sunyi, tak terdengar lagi teriakan orang dari dalam jurang.
"Hai...! Aku akan menolongmu. Tap kalian harus mau menjawab pertanyaanku dengan jujur...."
Kedua orang di bawah jurang, Bulus Wu- lung dan Barong Culla nampak saling pandang. Keduanya terluka di bagian kepala dan punggung. "Apa yang akan kau tanyakan, Kawan..?!" seru Barong Culla sambil mendongak ke atas.
"Apa kalian tadi melihat seseorang lewat di sini memanggul seorang wanita...?!" Pendekar Gila menengok ke bawah seakan-akan ingin melihat kedua orang itu. Namun suasana gelap gulita dan kedalaman jurang membuatnya tak mampu melihat
"Hah?!" gumam Bulus Wulung mengerutkan kening, "Yang dimaksud mungkin datuk keparat itu...!"
"Ya. Sebaiknya kita beritahu saja, siapa ta- hu kita peralat orang itu. Untuk menangkap Datuk Tambureh. Bagaimana?!" usul Barong Culla pada Bulus Wulung.
"Hai kalian yang di bawah, kenapa diam? Maukah kalian? Atau ragu terhadapku..., baiklah aku pergi...!" seru Pendekar Gila sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Tunggu...! Kami setuju, sekarang cepat to- long kami!" seru Barong Culla.
"Hi hi hi...! Lucu orang-orang itu," gumam Pendekar Gila, "Baiklah, sebelum aku menolong kalian, cepat jawab pertanyaanku tadi! Nanti aku akan menolong kalian!" serunya kemudian.
"Hah?!" gumam Bulus Wulung sambil men- gerutkan kening. Lalu menatap wajah Barong Culla, "Bagaimana...?"
"Apakah mulutmu bisa kami percaya?!" tanya Barong Culla.
"Ah ah ah! Kalian ternyata orang-orang yang terlalu banyak mulut Aku sudah tak ada waktu lagi, selamat tinggal...!"
Selesai bicara begitu Pendekar Gila segera melesat pergi meninggalkan jurang itu.
"Hai! Kawan, tunggu!" seru Bulus Wulung dengan kesal dan cemas.
"Siapa orang di atas tadi...?! Kurang ajar...!" dengus Barong Culla sambil memukul telapak tangannya.
Barong Culla dan Bulus Wulung orang- orang yang memiliki ilmu tinggi. Dengan tenaga dalam atau ilmu merusak tubuh, mereka dapat keluar dari jurang itu. Hanya saja keduanya mempunyai maksud jahat pada Pendekar Gila. Dan itu diketahui oleh Sena yang mempunyai perasaan sangat peka.

4
Di kediaman Dewi Ratu Maksiat malah se- dang diadakan suatu pesta untuk menyambut keberhasilan Datuk Tambureh, anak angkatnya Dewi Ratu Maksiat yang bernama Asri Srintil Arum.
Ruangan cukup luas di sebuah goa yang terletak di kaki Gunung Kelud, suasana tampak semarak. Dewi Ratu Maksiat dikelilingi empat le- laki muda yang telah menjadi abdinya sebagai pemuas nafsu. Pelampiasan nafsu kepada para le- laki muda itu merupakan syarat utama untuk menciptakan ilmu kekebalan dan awet muda yang dimiliki Dewi Ratu Maksiat
"Hi hi hi...! Putraku Tambureh, kau telah melaksanakan tugas dengan baik, untuk ibu- mu...," kata Dewi Ratu Maksiat seraya tersenyum bangga. Mata wanita cantik itu menatap lembut Datuk Tambureh. Pakaiannya yang tipis terbuat dari sutera merah, hanya menutupi bagian dada dan bagian bawah sampai perut.
"Terima kasih, Bu...," sambut Datuk Tambureh sambil menundukkan kepalanya.
"Dan kau telah berhasil menculik si Bidadari Pencabut Nyawa. Aku bangga mempunyai putra seperti kau. He he he...! Aku akan menguasai dunia ini. Dan putra angkatku, Datuk Tambureh akan menjadi orang yang paling sakti dan di- takuti oleh tokoh-tokoh persilatan di Jawa Dwipa ini. Hi hi hi...!" ujar Dewi Ratu Maksiat diiringi tawanya yang cekikikan. "Tapi ingat, kau harus segera pergi dari tanah Jawa Dwipa ini! Dan bawa gadis Cina itu ke Pulau Andalas!" lanjutnya.
"Baik, Bu...," jawab Datuk Tambureh pa- tuh. "Tapi, bagaimana kalau Pendekar Gila mengetahui hal ini...?!" lelaki berjubah merah itu tak mampu menyembunyikan rasa cemasnya.
Sejenak Dewi Ratu Maksiat mengerutkan kening, tak langsung menjawab pertanyaan Datuk Tambureh. Kemudian ditariknya seorang lela- ki yang ada di sisi kirinya, lalu memerintahkan agar menciumi dada dan seluruh tubuhnya. Lela- ki yang telah menjadi budak nafsu wanita itu menyanggupi.
"Jangan pikirkan itu, Tambureh! Aku bisa mengatasi Pendekar Gila dengan caraku! Apa kau lupa, aku memiliki seribu cara dan tipu musli- hat?! Percayalah pada ilmu ini, Tambureh...! He he he.... Aaahhh!"
Dewi Ratu Maksiat lalu mendesah merasakan raba dan ciuman lelaki yang menjadi budak nafsunya.
Datuk Tambureh hanya menghela napas dan menggeleng kepala, melihat tingkah laku ibu angkatnya itu. Namun dia bisa memaklumi, lalu tersenyum-senyum.
"Besok, pagi-pagi buta kau harus segera berangkat, Tambureh. Mengerti?!" kata Dewi Ratu Maksiat sambil membuka penutup dadanya. Lalu didekapnya kepala lelaki yang menjadi budak naf- sunya ke dalam dadanya yang bagus dan agak besar itu.
Dewi Ratu Maksiat mendesah dan merintih merasakan nikmatnya permainan itu.
Datuk Tambureh lalu melangkah pergi me- ninggalkan ruangan itu dengan menggeleng- gelengkan kepala.
Ketika sampai di satu ruangan lain. Datuk Tambureh nampak seperti memikirkan sesuatu. Dia mondar-mandir di ruangan yang nampak sepi dan gelap itu.
"Kenapa aku mesti pergi ke Pulau Anda- las?! Tidak! Aku tak mau dikatakan oleh Pendekar Gila sebagai pengecut, karena telah melarikan ke- kasihnya. Tidak!" sentak Datuk Tambureh lirih, seolah bicara pada diri sendiri.
Kembali Datuk Tambureh berpikir sambil memegangi keningnya. Sejenak dia memandang ke sebuah pintu ruangan yang ada di sebelah ki- rinya.
"Tapi, kalau ibuku tahu aku tak berangkat, dia akan murka...! Aku harus mencari akal. Aku tak ingin kembali ke Pulau Andalas, sebelum bisa menuntaskan urusanku dengan Pendekar Gila.
Aku akan berterus terang pada Pendekar Gila, bahwa aku mencintai kekasihnya dan akan men- gawininya," kata Datuk Tambureh dalam hati.
Setelah berkata begitu, Datuk Tambureh melangkah menuju kamar itu dan masuk. Lalu buru-buru ditutup pintunya.
Di dalam kamar itu ternyata ada seorang gadis berpakaian silat warna putih dengan ram- but panjang. Matanya yang bening dan bulu mata lentik. Wajahnya yang pucat, menatap sinis Da- tuk Tambureh yang memandangnya.
"Kenapa kau memandangku demikian ru- pa...? Kau benci padaku, Nini Mei Lie?" tanya Da- tuk Tambureh dengan suara berat
"Huh...!" gumam Mei Lie, lalu melengos. "Heh he he...! Kau tambah cantik kalau cemberut Nini Mei Lie. Aku suka...," kata Datuk Tambureh sambil melangkah mendekati Mei Lie yang membelakanginya. Lalu Datuk Tambureh memegangi bahu kanan gadis itu. Namun dengan cepat Mei Lie menepiskan tangan Datuk Tambu- reh, lalu disusul dengan tamparan tangan kanan- nya.
Plak! Plak! Datuk Tambureh hanya senyum. Matanya menatap tajam wajah Mei Lie. Tatapannya seperti mengandung hipnotis. Seketika Mei Lie terdiam, lalu kembali melengos, membuang muka. Si Bidadari Pencabut Nyawa itu takut jika menatap terus mata lelaki tua itu, dia akan terkena ilmu si- hirnya. "Kalau kau memang merasa paling jago, kembalikan pedangku! Dan kita adu ilmu...!" kata Mei Lie dengan nada penuh emosi.
"Ha ha ha.... Hebat! Aku paling suka den- gan wanita seperti kamu ini. Tak salah kalau Pendekar Gila memilihmu, Anak Manis. Ha ha ha...! Asal kau tahu saja, keinginanmu tak akan pernah terpenuhi. Dan perlu kau ingat, Pendekar Gila umurnya tak akan lama. Aku akan meng- hancurkannya...! Ha ha ha...!" kata Datuk Tam- bureh memanas-manasi Mei Lie.
Lalu Datuk Tambureh berbalik dan me- langkah pergi sambil tertawa-tawa. Mei Lie yang merasa diremehkan, menjadi marah. Tanpa pikir panjang, kekasih Pendekar Gila itu, segera berba- lik lalu....
"Yeaaa...." Sambil memekik keras Mei Lie melancar- kan serangan. Namun Datuk Tambureh bukan orang biasa. Serangan dengan menggunakan pu- kulan jarak jauh itu dapat dimentahkan, karena Datuk Tambureh dengan cepat mengibaskan tan- gan kanan dan menghentakkan ke arah Mei Lie, tanpa menoleh sedikit pun. Kibasan tangan ka- nan Datuk Tambureh mengeluarkan angin ken- cang dan mengeluarkan hawa panas. Mei Lie ter- sentak kaget. Dan seketika tubuh gadis itu ter- dorong ke belakang dan jatuh membentur dind- ing.
"Ukh...!" Mei Lie memekik tertahan. "Kuperingatkan, jangan kau ulangi tindakanmu ini! Aku bisa membunuhmu. Tapi itu tak akan aku lakukan. Karena sebentar lagi kau akan menjadi istriku...!" tutur Datuk Tambureh bang- ga. Lalu kembali tertawa terbahak-bahak dan ke- luar dari kamar itu.
***

Kembali kepada Dewi Ratu Maksiat yang sedang bercumbu dengan para budak pemuas nafsunya di atas pembaringan. Desah dan rintihan terus terdengar. Dewi Ratu Maksiat yang mempunyai kekuatan iblis sanggup melayani tiga sampai lima lelaki sekaligus. Semua itu dilakukan demi umurnya yang mampu mempertahankan usia mudanya.
"Oooh.... Aaah... benar-benar nikmat..," de- sah Dewi Ratu Maksiat Seluruh tubuhnya sudah basah kuyup bagai disiram dengan air.
Lalu, Dewi Ratu Maksiat beranjak bangun, seraya menggapai kain sutera warna kuning un- tuk menutupi tubuhnya yang tanpa pakaian. Be- gitu indah dan menggairahkan tubuh wanita yang sebenarnya sudah berumur hampir sembilan pu- luh tahun itu.
Dewi Ratu Maksiat kemudian bertepuk tangan. Sesaat kemudian muncul seorang wanita muda berambut panjang terurai. Dengan pakaian bagian atas hanya berupa kemben, kain penutup bagian dada. Dan kain sarung lurik pula warna coklat. Wajah wanita itu cukup cantik
"Ada tugas apa untuk hamba, Tuan Pu- tri..?" tanya wanita muda itu sambil menjura.
"Aku kali ini memberi tugas untuk melenyapkan Pendekar Gila. Untuk itu aku perlu merubah wajahmu. Agar Pendekar Gila kebingungan. Ingat, bila kau merasa sukar untuk melakukannya, pakai cara yang biasa kita lakukan. Lelaki tak akan kuat jiwanya, jika kita terus mende- sak dan membangkitkan kelakiannya. Tak terkecuali dengan Pendekar Gila. Sama saja! Ha ha ha... hi hi hi...! Sekarang ikut aku ke ruang semadi. Ayo, cepat!" kata Dewi Ratu Maksiat
"Baiklah, Tuan Putri...," jawab wanita itu sambil menjura. Lalu melangkah mengikuti Dewi Ratu Maksiat menuju sebuah ruangan. Keduanya sampai di sebuah pintu yang terbuat dari batu gunung. Dewi Ratu Maksiat menempelkan telapak tangannya ke batu itu, seketika pintu itu terbuka sendiri. Wanita cantik itu melangkah masuk di- ikuti anak buahnya tadi. Pintu tertutup kembali.
Di dalam ruangan yang penuh dengan asap dupa dan kemenyan nampak menyeramkan. Hanya diterangi dua obor yang tergantung di dinding batu itu. Di tengah ruangan ada sebuah batu besar, berbentuk bundar dan datar. Di de- pannya ada sebuah cawan berukuran besar, beri- si tulang-tulang manusia dan darah. Air dalam cawan raksasa itu mendidih.
Dewi Ratu Maksiat kemudian membaca mantera, setelah duduk bersila di atas batu itu. Kedua tangannya diangkat ke atas kepalanya sambil menengadah.
Sedangkan wanita muda tadi duduk di seberang cawan raksasa itu. Juga bersila sambil menatap Dewi Ratu Maksiat. Beberapa saat ke- mudian, Dewi Ratu Maksiat berdiri mendekati wanita muda itu. Lalu telapak tangannya ditaruh di atas kepala wanita itu. Seketika tubuh wanita itu berasap. Kemudian Dewi Ratu Maksiat melepas telapak tangannya dari atas kepala wanita itu. Seperti kena hipnotis, wanita muda itu berdiri, lalu membuka seluruh pakaiannya, hingga polos. Lalu melangkah dan menceburkan diri ke da- lam cawan besar. Tubuhnya terus direndam di dalam cawan raksasa itu. Aneh, tak sedikit pun kulitnya terkupas oleh air yang mendidih itu. Malah perlahan-lahan wajahnya berubah, menjadi Mei Lie. Kemudian, wanita yang kini berubah men- jadi Mei Lie, melompat turun dari cawan raksasa itu.
"Ha ha ha...! Kali ini akan kupermainkan Pendekar Gila. Ha ha ha...! Hi hi hi...! Jika Pendekar Gila mampus, datuk putraku akan menjadi orang yang paling disegani di rimba persilatan!"
***

"Ha ha ha... hi hi hi...! Kali ini Pendekar Gila tak akan bisa menaklukkanku. Aku akan permainkan pendekar tampan itu. Dan sudah lama aku menginginkan keperkasaannya, untuk memuaskanku sepanjang malam. Hi hi hi...!"
Dewi Ratu Maksiat terus tertawa-tawa. Wanita yang deh kalangan tokoh persilatan juga dijuluki Wanita Iblis dari Andalas itu tampaknya benar-benar yakin akan mampu memperdaya Pendekar Gila.
Lalu Dewi Ratu Maksiat, menarik lengan wanita jelmaan itu merapat ke tubuhnya. Dipeluknya erat-erat, hingga menyatu benar dengan tubuh Dewi Ratu Maksiat. Hal itu dimaksudkan untuk memberi kekuatan tenaga dalam pada wanita yang menjadi abdinya. Mendadak tubuh Mei Lie samaran itu berasap, ketika Dewi Ratu Maksiat mendekapnya rapat-rapat
"Kau akan kuat dan memiliki ilmu silat yang sama sepertiku, Cah Ayu. Hi hi hi....! Jangan sampai gagal, jangan ceroboh! Kalau gagal, nya- wamu sebagai pengganti darah Pendekar Gila!" suara Dewi Ratu Maksiat terdengar mendesis, bagai suara roh halus. Kemudian perlahan-lahan wanita iblis itu melepaskan pelukannya. Lalu mengusap-usap lembut buah dada wanita mirip Mei Lie itu.
"Kau memiliki dada yang bagus, seperti aku pula, Cah Ayu..., hi hi hi.... Aku berhasil mengubah dirimu dengan sempurna...," gumam Dewi Ratu Maksiat lirih.
Kemudian si Wanita Iblis dari Andalas itu melangkah ke satu sudut. Dia mendekati sebuah peti besar berukiran indah. Dibukanya kotak ku- no terbuat dari kayu jati itu. Di dalamnya ada sepasang pakaian silat warna kuning, dengan penu- tup wajah juga kuning. Dewi Ratu Maksiat segera mengambilnya, dan membawa ke tempat wanita mirip Mei Lie yang masih dalam keadaan tanpa pakaian.
"Pakai ini! Pakaian ini pernah kupakai se- waktu aku seumurmu. Ketika aku masih tinggal di Pulau Andalas," ujar Dewi Ratu Maksiat, sam- bil memberikan pakaian itu pada Mei Lie sama- ran. Wanita itu menerimanya, "Cepat kau pa- kai...!" Lalu Dewi Ratu Maksiat melangkah ke tempat batu besar, tempat duduknya. Dia duduk dengan bersila. Lalu menarik napas panjang sambil mengawasi wanita abdinya yang sedang memakai pakaian keramat tadi.
"Aku akan puas dan baru ingin mati te- nang, jika semua rencanaku berhasil. Jauh-jauh aku datang dari Pulau Andalas kemari, demi cita- cita anak angkatku, Datuk Tambureh untuk mempersunting si Bidadari Pencabut Nyawa itu. Dia akan dapat menjadi orang yang berilmu ting- gi, menurut wangsit yang kuterima dari arwah guruku," kata Dewi Ratu Maksiat dalam hati. Ma- tanya terus memandangi wanita abdinya yang te- lah selesai memakai pakaian serba kuning itu.
"Kematian suamiku karena Singo Edan. Dan orang tua gila itu kini telah pergi entah ke mana. Jadi aku harus membalas dendam pada muridnya. Ha ha ha...!"
Sementara itu Pendekar Gila yang sudah dua hari mencari belum juga menemukan Mei Lie. Pemuda tampan itu tampak sangat cemas dan kesal. Dia terus menggaruk-garuk kepala sambil sebentar-sebentar menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan keras, menumpahkan rasa ke- kesalannya.
Pendekar Gila terus menyelusuri jalan se- tapak di pinggiran sungai. "Bodoh...! Benar-benar orang goblok aku ini!" gerutunya terus sambil memukuli keningnya. "Aku yakin orang yang menculik Mei Lie itu mempunyai ilmu yang cukup tinggi," gumam Sena yang nampak murung itu.
Langkahnya dipercepat, terkadang pelan. Nampak sekali pikirannya sedang kacau. Namun dia masih dapat menguasai diri.
Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya. Memandangi sekeliling tempat itu. Sejenak dia berpikir sambil memegangi keningnya.
"Sebaiknya aku mampir di Kadipaten Galih Marta. Siapa tahu orang-orang kadipaten bisa memberikan keterangan padaku tentang Mei Lie," kata Sena dalam hati.
Selesai berkata begitu, Sena segera menye- berangi sungai dengan menggunakan ilmu merin- gankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi. Hingga dia bisa menotol-notol di atas per- mukaan air dengan tenang. Benar-benar ilmu yang sangat luar biasa hebatnya.
Dalam sekejap Sena sudah sampai di sebe- rang. Pemuda itu menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir. Lalu dia melongok ke atas. Dilihat- nya matahari sudah mulai condong ke barat Ma- ka Sena menggunakan ilmu lari 'Sapta Bayu', me- lesat bagaikan anak panas lepas dari busurnya. Begitu cepat, hingga yang nampak hanya bayan- gan hitam berkelebat cepat bagaikan angin.
Namun larinya tiba-tiba terhenti, ketika terdengar suara orang menegur dengan kasar.
Sena cengengesan ketika melihat di depan telah berdiri dua orang lelaki menghadangnya. Kedua- nya bertolak pinggang dengan sikap angkuh.
"Aha, ada apa kiranya kalian menghentikan aku...?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala. Tingkah lakunya yang seperti orang gila, membuat orang yang ada di depannya bertanya- tanya siapa pemuda tampan berbaju rompi kulit ular itu. "Hm.... Mungkinkah pemuda gila ini yang berjuluk Pendekar Gila dari Goa Setan...?" tanya orang yang bermuka bulat dengan hidung besar.
"Ya. Dari tingkah lakunya mungkin dia si Pendekar Gila itu, Kakang Barong Culla," bisik Bulus Wulung.
"Hai...?! Kenapa kalian berdua diam?!" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk pantatnya.
"Mungkinkah dia Pendekar Gila?" tanya Barong Culla dalam hati mencoba menebak. Dirinya memang sering mendengar nama Pendekar Gila. Tapi melihatnya belum pernah.
"Kalian berdua rupanya orang-orang bisu... Kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan. Permisi...!" kata Sena sambil cengar-cengir lalu mulai melangkah.
"Hei...! Tunggu, Kawan...! Kalau tidak sa- lah, kau Pendekar Gila yang kesohor itu...?" panc- ing Barong Culla dengan menatap tajam ke arah Sena yang terpaksa menghentikan langkahnya. Lalu berbalik badan sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi... lucu sekali! Kalian ini mau apa?! Kalau memang aku orang yang kau sebut, lantas kalian mau apa?" tanya Sena cengengesan.
Barong Culla dan Bulus Wulung saling pandang, lalu saling menganggukkan kepala, kemudian tertawa-tawa.
"Begini, Kawan. Tiga hari lalu kami berdua bentrok dengan seorang lelaki tua berjubah merah. Kami kalah dan terperosok ke dalam ju- rang...," tutur Barong Culla menerangkan.
"Hah?!" gumam Sena sambil menggaruk- garuk kepala, "Jadi kalian ini yang ada di dalam Jurang Wadas Parang itu...?!" tanya Sena.
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Bulus Wulung mengerutkan kening.
"Hi hi hi...! Akulah orang yang tak jadi menolong kalian. Karena aku yakin dan tahu, bahwa kalian orang-orang yang berilmu tinggi. Sebab ka- lau tidak, kalian sudah mati terperosok ke jurang seperti itu. Apalagi orang yang berjubah merah itu pasti ilmunya lebih tinggi dari kalian berdua," ka- ta Sena sambil cengengesan.
"Oooh! Jadi kaulah yang meninggalkan kami kemarin itu. Bagus sekarang aku mau tanya, kenapa kau juga mencari orang berjubah merah itu...?" selidik Barong Culla dengan menyipitkan sebelah matanya. Kemudian melirik ke Bu- lus Wulung sejenak, lalu kembali menatap Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Mungkin tak jauh berbeda dengan kalian berdua. Hanya saja, aku lebih berduka dari kalian," sahut Sena kalem, kemudian kembali menggaruk-garuk kepala.
"Apakah ada hubungannya dengan gadis yang dibawanya itu?" pancing Barong Culla lagi. Makin yakin kalau orang yang dihadapi adalah Pendekar Gila, murid Singo Edan.
"Ah, sudahlah. Aku tak ada urusan dengan kalian. Aku mau pergi," ucap Sena lalu berbalik badan hendak pergi.
"Hai! Tunggu...! Aku mungkin bisa bekerja sama untuk menangkap orang yang membawa gadismu itu...!" seru Barong Culla.
Sena mengerutkan kening, berpikir sejenak. Lalu berbalik dan mendekati kedua lelaki itu.
"Hi hi hi... bagus! Hm... tapi aku masih belum perlu bantuanmu, Kawan. Maaf aku tak ada lagi waktu untuk bicara pada kalian!"
Sena melesat meninggalkan Barong Culla dan Bulus Wulung. Kedua orang itu hanya bisa ternganga, merasa kagum melihat kehebatan ilmu meringankan tubuh Pendekar Gila yang melesat bagaikan angin. Sehingga dalam sekejap saja te- lah hilang dari pandangan.
"Edan...! Benar-benar pemuda gila! Kenapa kita tidak langsung menantangnya tadi...?!" tukas Barong Culla kesal dan geram.
"Bagaimana mungkin...? Dia bukan pende- kar sembarangan. Dia dapat membaca pikiran ki- ta. Jadi apa yang kita ingin lakukan, dia sudah tahu terlebih dahulu," sahut Bulus Wulung men- gingatkan Barong Culla.
"Benar. Tapi kalau tadi berhasil membujuk
Pendekar Gila itu, kita akan bisa lebih cepat me- naklukkan Datuk Tambureh. Dan setelah itu, kita bawa pergi gadis Cina itu...!" ujar Barong Culla mengkhayal.
"Ah, sudahlah! Kau jangan berkhayal. Se- baiknya kita Cepat pergi dari tempat ini. Kita cari datuk keparat itu...!" ajak Bulus Wulung.
Keduanya lalu segera pergi ke barat, arah yang dituju Pendekar Gila. 5
Datuk Tambureh yang telah menguasai Mei Lie, nampak merasa gembira dan puas. Lelaki tua itu terus berusaha merayu Mei Lie agar mau men- jadi istrinya. Karena sesuai dengan wangsit, bahwa siapa saja yang dapat memperistri Bidadari Pencabut Nyawa kelak keturunannya akan men- jadi raja penguasa tanah Andalas. Sudah beberapa kali sang Datuk berusaha mempengaruhi Mei lie. Berbagai macam cara, atau ilmu hitam yang ia miliki digunakan, tapi ternyata tak ada yang mempan sedikit pun. Karena telah berusaha sekian lama tak mendapatkan hasil, sang Datuk hampir putus asa, kalau pembantu setianya yang bernama Datuk Balino, tidak terus memberi se- mangat "Jangan Tuan putus asa dulu, sebab bu- kan tak mungkin nantinya Tuanlah yang akan mendapatkan anugerah tersebut," kata Datuk Ba- lino memberi saran, manakala didengarnya keluhan Datuk Tambureh, yang seperti putus asa.
"Tapi aku sudah berusaha, Balino. Dan nyatanya, ah.... Semuanya hanya impian," keluh Datuk Tambureh. "Bukan hanya sekali aku men- coba mempengaruhi dia, tap semuanya tak ada yang dapat menggoyahkan tekadnya. Apakah tak lebih baik aku perkosa saja?"
Tersentak kaget Datuk Balino mendengar ucapan tuannya. Dia tak menyangka kalau tuannya yang sangat kokoh dan ulet akan cepat putus asa. Memperkosa, berarti hubungan yang tak selaras. Hal itu bukan tak mungkin justru akan menimbulkan sebuah tekanan jiwa, yang nan- tinya berkait dengan dendam.
"Ah, mengapa Tuan begitu cepat putus asa?" tanya Datuk Balino tercenung. "Memperkosa itu tidak baik, Tuan."
"Alasannya...?" "Maaf, hamba mungkin dalam hal ini terlalu lancang. Sekiranya hamba yang bodoh ini di- anggap sok pintar, terlebih dahulu hamba kembali minta maaf."
"Hem, katakanlah! Bagiku kau sama saja dengan diriku. Kau adalah pembantuku yang setia, yang selalu memberikan saran-saran yang baik. Kejayaanku sebagai datuk, tak luput dari saran yang kau berikan. Nah, katakanlah jangan kau ragu, Balino!"
Datuk Balino sesaat terdiam. Kepalanya tertunduk sambil menarik napas panjang. Sesaat kemudian ditengadahkan wajahnya, memandang pada tuannya yang menyiratkan rasa ketidakmengertian. Setelah kembali menunduk Datuk Balino pun akhirnya membuka suara, berkata.
"Menurut hamba yang telah tua, perkosaan itu tindakan tercela bagi diri kita. Pertama, kita akan menanggung beban mental yang berlarut- larut, kalau sampai orang yang diperkosa nanti membalas dendam. Kedua, hubungan kita dengan yang diperkosa dapat menimbulkan suatu per- tumpahan darah."
"Ah, apa mungkin nanti keturunan ku be- rani melawanku?" Datuk Tambureh mengelak seakan tak yakin akan segala ucapan Datuk Bali- no. "Tak akan berani anak dengan orang tua!"
"Itu pendapat Tuan. Tapi perlu Tuan ingat, bukankah anak akan lebih dekat dengan sang Ibu?"
Terangguk-angguk kepala Datuk Tambureh mendengar keterangan pembantunya. Dirasakan- nya segala petuah Datuk Balino memang benar adanya. Tapi dirinya juga telah berusaha untuk dapat menggugah hati si Bidadari Pencabut Nya- wa, dan ternyata segalanya tak membawa hasil. Kalau niatnya untuk memperkosa gadis Cina itu dilakukan, ia juga takut kalau-kalau segala uca- pan Datuk Balino akan menjadi kenyataan.
Lama Datuk Tambureh terdiam membisu, angannya melayang pada khayalan untuk dapat menjadikan dirinya orang yang terhormat. Orang yang bakal menurunkan raja-raja di Pulau Andalas. Hatinya bimbang, takut kalau lama-kelamaan ada orang lain yang berilmu tinggi lebih tinggi da- rinya dapat merebut Mei Lie. Apakah itu tidak mungkin terjadi?
"Hem, sungguh aku penakut. Biarlah aku mati nantinya, asalkan margakulah yang bakal menjadikan namaku terhormat. Bukankah mar- gaku kelak yang menjadi raja? Hh..., persetan dengan segala balas dendam! Bagiku yang utama, aku berhasil mendapatkan wanita yang kelak bakal menurunkan raja-raja," gumam hati Datuk Tambureh. "Baiklah, aku pura-pura menuruti apa yang dikatakan pembantuku."
"Memang benar apa yang kau katakan, Ba- lino. Kini aku sadar, bahwa semestinya aku tak boleh melakukan itu. Apakah kau dapat memban- tuku mencarikan seorang dukun yang dapat me- mikat si Bidadari Pencabut Nyawa itu, Balino?" tanyanya kemudian.
Datuk Balino kembali terdiam, pikirannya kini agak tenang. Sebenarnya di hati Datuk Bali- no ada rasa kasihan melihat Mei Lie. Mei Lie itu begitu mengibakan hatinya. Gadis itu setiap hari hanya melamun dan menangis. Makanan yang dihidangkan tak pernah disentuh, sehingga badannya kurus kering. Pernah Datuk Balino men- coba bertanya bagaimana dengan diri Mei Lie tersebut. Jawabannya sungguh mengejutkan, gadis Cina itu memilih lebih baik mati daripada harus menjadi istri Datuk Tambureh yang jahat dan keji.
"Kenapa, Balino? Kenapa kau terdiam melamun?" Tersentak Datuk Balino dari lamunannya, mendengar pertanyaan Datuk Tambureh yang secara tiba-tiba itu.
"Am... ampun, hamba tengah berpikir, bagaimana supaya segalanya dapat segera terselesaikan. Baiklah, hari ini juga hamba akan berusaha mencarikan seorang dukun pemikat"
"Hua ha ha...! Bagus, bagus. Kalau kelak aku mendapatkan gadis Cina itu, maka kau akan aku beri hadiah yang cukup menarik. Kau akan kuberi setengah dari kekuasaanku. Dan akan ku- jadikan Raja Datuk Balino, bagaimana?"
"Terima kasih atas segala yang bakal Tuan berikan. Tapi untuk sekarang-sekarang ini, ham- ba lebih senang mengabdi pada Tuan Datuk Tam- bureh yang terkenal sakti. Jiwa hamba tenang bi- la bersama Tuan, sebab hamba tahu kesaktian Tuan tak dapat dianggap remeh...," berkata Datuk Balino dengan nada menyanjung, menjadikan Da- tuk Tambureh kembali tertawa bangga.
Saking senangnya Datuk Tambureh sam-pai-sampai melupakan apa yang sebenarnya ha- rus ia lakukan. Hari itu adalah hari yang sudah ditetapkan, seperti biasa Datuk Tambureh harus melakukan semadi. Kalau semadi itu sampai di- tinggalkan akan mengakibatkan berkurangnya ilmu yang dimiliki. Bila sering melakukan kela- laian, tidak melaksanakan nyepi seperti itu, bukan saja ilmu mempermuda usianya hilang, wa- jahnya pun akan berubah kembali ke asalnya. Tersentak Datuk Tambureh ketika mengingat itu. Serta merta ia berlari meninggalkan pemban- tunya yang hanya terbengong-bengong tak men- gerti. Dengan napas memburu dan keringat dingin bercucuran, Datuk Tambureh segera memu- satkan hati dan pikiran. Setelah sesaat hal itu di- lakukan, dan keadaan menjadi hening tiba-tiba....
"Auuummm...." Terdengar suara auman seperti lolongan anjing hutan.
"Guru, ampunilah kelalaian murid!" geme- tar Datuk Tambureh seperti ketakutan. Wajahnya yang biasa tampak sadis, kini berubah pucat ba- gaikan tak berdarah setetes pun. "Ampunilah ke- lalaian murid. Guru!" kata-kata itu diulang, dan diulangnya sampai beberapa kali.
Tak lama kemudian tampak sesosok bayangan keluar dari balik dupa. Sosok bayangan itu ternyata tubuh harimau besar dan tinggi. Ha- rimau itu hampir sebesar kerbau, dengan mata lebar dan gigi-giginya yang menyeringai mena- kutkan. "Kenapa kau teledor! Aku lapar, aku la- par...!" terdengar seruan dari mulut harimau itu. Matanya yang besar menyorot merah. Liurnya yang berbau terasa menusuk hidung. "Kau harus mencarikan darah untukku, darah perawan!"
"Apakah tidak bisa ditunda. Guru?" tanya Datuk Tambureh.
"Tidak! Sekarang lakukan!" "Tapi hari masih siang, Guru?" keluh Datuk Tambureh.
Namun bagaikan tidak peduli, harimau ib- lis itu menggeram, mengeluarkan aumannya yang bergemuruh dan menggetarkan. "Jangan kau ingkar, Bureh! Ingat perjanjian kita yang telah kita lakukan! Bukankah kau akan memberikan padaku sebaskom darah pada siang hari menjelang purnama seperti ini...? Kenapa kau lupa? Apa darahmu yang harus kuminum, hah!"
"Ampun, Guru! Baiklah, murid akan mencarikannya. Murid minta. Guru bersabar sesaat!" jawab Datuk Tambureh menggeragap.
"Aku tunggu sebelum matahari tenggelam!" ucap harimau itu, sebelum menghilang mening- galkan datuk yang kembali tersadar.
Dengan mengatur napasnya sesaat dan mengucapkan mantera, Datuk Tambureh melakukan perubahan wujud, seketika wujud sang Datuk berubah menjadi harimau hitam legam. Tanpa menungg-nunggu lagi harimau hitam itu mengaum lalu berkelebat tinggalkan ruang sema- di lewat lubang di belakang.
***

Harimau siluman itu terus menyusup ke pekarangan sebuah rumah di Desa Ngantap. Hi- dungnya digerak-gerakkan, sepertinya harimau siluman itu tengah mencari-cari bau darah pera- wan. Kemudian melompat dengan tak mengelua- rkan suara sedikit pun.
Di dalam sebuah rumah bilik tampak lam- punya belum dimatikan, meskipun hari sudah la- rut malam dan sepi. Terdengar dari dalam rumah itu suara tawa genit dari seorang gadis dan suara seorang pemuda.
"Ayolah Srini, kakang sudah tak tahan untuk menunggu lebih lama lagi...!" ucap seorang pemuda yang nampak menahan birahinya. Na- pasnya terdengar mendesah-desah.
"Hi hi hi...! Sabar dulu, Kang Pujo. Kan tinggal lima hari lagi," sahut Srini dengan manja lalu menggigit bibirnya sendiri.
"Kakang tahu, Sri. Tapi kakang tak tahan lagi. Ayolah sekali saja, ya...!" rayu Pujo. Lalu pemuda itu mencium pipi Srini. Dan tangan kanan- nya mengusap-usap paha gadis yang masih pera- wan itu. Sedangkan tangan kirinya merangkul dengan erat
"Kang.... Jangan, Kang! Nanti ketahuan bapak. Sabar, Kang!" pinta Srini tersendat-sendat. Karena Pujo yang sudah dirasuki nafsu birahinya terus menyusupkan kepalanya ke dada Srini yang montok, mulus, dan putih itu. Tak dipedulikan ucapan Srini.
Sampai akhirnya gadis itu pun terangsang. Hingga dia pun membalas memeluk dan mencium Pujo dengan desah napas mulai memburu.
Pujo, cepat merebahkan tubuh Srini yang calon istrinya di ranjang beralaskan tikar. Ditin- dihnya tubuh gadis itu sambil terus mencium le- hernya. "Hooh.... Aaih... sss...!"
Srini merintih dan mendesah. Pujo mulai melepas pakaian kekasihnya.
Kini Srini yang masih perawan itu sudah tanpa pakaian. Tak sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya yang mulus dan padat itu. Buah dadanya yang sebesar mangga, keras, dan menantang. Membuat Pujo tak bisa lagi menahan lama-lama. Namun baru saja Pujo selesai membuka celananya, tiba-tiba...
"Grrr...!" Terdengar suara menggereng menggetarkan. Pujo terkejut kaget menoleh ke sana kemari mencari datangnya suara. Belum sempat pemuda itu mengetahui, seekor harimau kumbang mene- robos masuk, langsung menerkam tubuhnya dan menggigit sampai mati.
Srini menjerit, namun suaranya tak ada. Mata harimau siluman itu mengeluarkan sinar hijau menatap mata Srini. Seketika gadis itu terkulai pingsan. Sesaat kemudian harimau siluman berubah menjadi sosok manusia. Kemudian cepat membawa Srini keluar dengan menembus dinding rumah itu.
Ayah dan ibu Srini yang terbangun dan da- tang ke kamar anaknya sempat melihat sosok manusia membawa Srini pergi. Kedua orang tua itu kaget dan makin kaget ketika melihat calon menantunya dengan mengerikan.
"Tolong...! Ada rampok!" "Tolong...!" teriak ibu Srini sambil lari ke- luar.
Ki Rambi, ayah Srini masih berdiri kaku menatap mayat Pujo yang lehernya hampir putus.
Tak lama kemudian para penduduk Desa Ngantap berdatangan ke rumah Ki Rambi, karena mendengar jeritan ibu Srini yang histeris tadi.
"Bagaimana kejadiannya, Ki Rambi?!" tanya Ki Lurah Kirjo Mulyo.
Ki Rambi hanya menggelengkan kepala perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Wa- jahnya nampak sedih karena memikirkan nasib anak gadisnya yang lima hari lagi akan dinikah- kan. Kini telah hilang diculik manusia aneh.
"Ini pasti perbuatan mayat-mayat hidup yang pernah melanda Desa Tumpang beberapa hari yang lalu, Ki Lurah...!" kata seorang lelaki berbadan tinggi besar dan berkumis tebal geram.
"Aku rasa bukan, sebab hal ini yang diba- wa lari Srini, gadis yang masih perawan. Sedangkan kejadian di Desa Tumpang, para perjaka yang dibawa oleh mayat-mayat hidup itu," tutur Ki Lurah menjelaskan pada lelaki berbadan tinggi besar yang bernama Diman.
"Jadi, kalau begitu siapa pelakunya, Ki?!" tanya seorang lelaki berambut putih dengan ikat kepala hitam.
Ki Kirjo Mulyo tak langsung menjawab. Dia nampak berpikir sejenak. Sementara itu Nyi Rambi masih menangis ditemani para ibu-ibu lain yang merasa iba.
"Kita sebaiknya cepat menguburkan mayat Pujo. Nanti kita bicarakan lagi soal ini," kata Ki Lurah Kirjo Mulyo kemudian.
Lalu orang-orang cepat menggotong mayat Pujo untuk dikuburkan. 6
Malam datang menyelimuti bumi, membuat suasana gelap dan dingin mencekam. Suara angin yang menerpa dedaunan, serta suara binatang malam, seperti mengalunkan tembang-tembang aneh yang membuat tubuh merinding. Mereka seakan membawakan syair-syair bagi jiwa-jiwa yang tengah dilanda ketakutan. Bulan sabit pun mengintip di balik awan, seolah-olah enggan me- nampakkan wujudnya.
Malam itu, Perguruan Bajing Ireng nampak sunyi. Di luar perguruan itu nampak empat orang murid perguruan sedang berjaga-jaga. Karena mereka sudah mendengar adanya sepak terjang Datuk Tambureh dan Dewi Ratu Maksiat yang in- gin menculik dan membunuh semua tokoh persi- latan baik aliran putih maupun hitam. Dan tiba- tiba.... Swing...!
Jlep! "Aaa...!" Seorang murid Perguruan Bajing Ireng yang sedang berjaga di pintu gerbang memekik keras. Sebuah senjata rahasia berupa tusuk konde beracun menghunjam di dada pemuda itu. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba senjata ra- hasia itu melesat dan menghunjam tubuhnya.
Mendengar temannya menjerit, tiga orang murid lainnya yang juga tengah berjaga-jaga tersentak. Betapa terkejut mereka melihat temannya terkapar tewas.
"Pembunuhan! Tusuk konde beracun...!" seru ketiga murid itu berusaha mengundang perhatian orang-orang perguruan agar terbangun dari tidurnya. Namun tiba-tiba...,
"Akh...!" Belum juga habis ucapannya, orang itu su- dah memekik keras. Dadanya tertancap sekun- tum tusuk konde beracun yang menembus ke da- lam. Tubuhnya seketika mengejang lalu ambruk tanpa nyawa, kemudian membiru.
Jlep! Jlep! "Aaakh...!" Dua orang lainnya kontan memekik keras, ketika beberapa tusuk konde menghunjam dada. Mata mereka melotot menyaksikan sebuah bayangan berkelebat cepat keluar dari kegelapan. Bayangan kuning itu laksana angin yang berhem- bus. Sesaat keduanya kelojotan kemudian tewas.
Bayangan kuning itu terus melesat menuju kamar Ketua Perguruan Bajing Ireng, yang bernama Ki Galingga. Brak! "Heh?!" Ki Galingga tersentak Swing! Swing! Dua tusuk konde beracun melesat cepat ke arah tubuh Ki Galingga. Beruntung lelaki tua itu cepat membuang tubuhnya dan berguling ke samping. Namun tak urung, istri mudanya men- jadi sasarannya tusuk konde beracun.
Jlep! Jlep! Tanpa mampu berteriak, wanita muda yang usianya berbeda jauh dengan Ki Galingga itu tewas. Dada den wajahnya tertancap tusuk konde beracun. Ki Galingga geram menyaksikan istrinya mati di tangan seorang wanita berbaju serba kun- ing. Lelaki berparas seperti bajing berpakaian abu-abu dengan rambut tergerai kaku serta ikat kepala berwarna biru itu mendengus. Tangannya dengan cepat menyambar senjata dari logam yang berbentuk jari bajing.
"Siapa kau?" tanya Ki Galingga dengan su- ara membentak sambil menuding senjatanya.
"Hm.... Kau lupa padaku, Ki?" sahut wanita yang sekujur tubuhnya ditutupi kain kurung. Termasuk wajahnya.
"Bangsat! Ditanya malah balik bertanya! Katakan, siapa kau sebenarnya?!" bentak Ki Galingga gusar.
"Siapa aku, kau tak perlu tahu. Yang pasti, kau dan kelima temanmu termasuk adipati keparat itu harus mampus di tanganku! Hiaa!"
Ki Galingga tersentak kaget diserang begitu cepat dan tiba-tiba. Segera kakinya melompat ke belakang, kemudian berkelit ke samping.
"Hop! Heaaa...!" Ki Galingga berusaha merangsek maju dengan cakaran kedua tangannya yang menggunakan jurus 'Bajing Mengambil Buah'. Namun ge-rakan lawan begitu cepat Ki Galingga hampir terkena sambaran tangan lawan. Tapi, orang tua berwajah seperti bajing dengan pakaian abu-abu ini memiliki ketajaman tinggi. Kalau tidak, tu- buhnya sudah menjadi sasaran empuk pukulan lawan. "Hari ini bagianmu, Bajing Busuk! Yeaat..!" Wanita berpakaian serba kuning itu terus merangsek maju menyerang Ki Galingga. Serangan- serangannya sungguh dahsyat dan mengarah pada bagian tubuh yang mematikan.
Ki Galingga yang tak mau menjadi korban wanita misterius itu segera berkelit ke samping. Lalu dengan gerakan cepat, balas menyerang la- wan. Kali ini menggunakan jurus 'Bajing Mener- kam Mangsa'. Tangannya bergerak cepat merang- sek ke tubuh lawan.
Wanita yang sekujur tubuhnya terbungkus kain kuning itu terus menyerang dengan gabun- gan jurus 'Sembilan Tapak Tangan Darah' dan ju- rus 'Tusuk Konde Pencari Sukma'. Sesekali tan- gannya melemparkan sebuah tusuk konde bera- cun. Meskipun nampaknya tak berarti, tangan wanita itu sangat berbahaya. Tusuk konde bera- cun itu mampu membunuh lawan dalam sekejap.
Swing! Swing! "Aits! Tusuk Setan!" maki Ki Galingga se- raya mengelakkan tusuk konde yang telah mem- bunuh istrinya. Tubuh Ki Galingga bergerak ke sana kemari, terkadang berputar di udara untuk mengelakkan serangan yang berbahaya itu.
"Hiaaa!" "Hop! Hats!" Lawan benar-benar tak memberi kesempa- tan pada Ketua Perguruan Bajing Ireng itu untuk balas menyerang. Serangan-serangannya begitu cepat, disusul lemparan-lemparan tusuk konde beracun yang tak kalah berbahaya.
Mendengar suara ribut-ribut di dalam ka- mar gurunya, murid-murid Perguruan Bajing
Ireng berdatangan hendak membantu sang Guru. Namun baru saja mereka sampai di pintu, tiba- tiba...
"Awas...!" seru Ki Galingga mengingatkan. "Hih...!" Namun seruan itu terlambat. Secepat kilat wanita berpakaian kuning itu melemparkan tusuk konde beracun ke arah murid-murid Ki Galingga.
Swing! Swing...! Jlep! Jlep...! "Aaakh...!" Tiga orang murid yang berada di depan langsung roboh. Dada mereka tertancap tusuk konde beracun. Darah seketika muncrat dari da- da membasahi pakaian.
"Bedebah! Sebelum kukirim ke neraka, ka- takan siapa dirimu!" bentak Ki Galingga semakin marah menyaksikan murid-muridnya menjadi korban keganasan tusuk konde beracun.
"Jangan banyak bicara, Bajing Keparat! Pi- kirkanlah nanti di alam sana, siapa aku! Hiaaa...!" Tanpa banyak kata lagi, wanita misterius itu langsung melemparkan tusuk konde beracun ke arah Ki Galingga yang tersentak kaget
Swing! Swing...! "Hop! Heaa...!" Tubuh Ki Galingga melenting ke atas, ke- mudian melesat ke samping kanan untuk menge- lakkan serangan lawan, dengan jurus 'Lompatan Bajing Menerkam Mangsa'.
"Hiaaa...!" Wanita berpakaian kuning itu tak membiarkan lawannya bergerak lebih jauh. Dengan cepat pedangnya yang bersinar keperakan dica- but. Mata Ki Galingga silau oleh sinar yang keluar dari pedang lawan.
"Pedang Perak! Hei! Ada hubungan apa kau dengan Dewi Ratu Maksiat?! Siapa kau...?!"
"Hm.... Tak perlu tahu siapa aku, Bajing Busuk! Kini terimalah ajalmu! Hiaat..!"
Wanita bertopeng kain kuning yang memi- liki Pedang Perak milik Dewi Ratu Maksiat itu tak mau membuang waktu lagi. Segera diserangnya Ki Galingga dengan tebasan dan babatan Pedang Perak yang mengandung racun ganas. Kali ini, di- keluarkannya jurus 'Sambar Nyawa'.
Wut! Wuutt! "Uhh...!" Ki Galingga terpekik kaget Napas- nya terasa sesak oleh racun yang ditebarkan pe- dang di tangan lawan. Dalam keadaan terdesak hebat, Ki Galingga masih bertanya-tanya siapa wanita misterius itu. Kalau dia Dewi Ratu Mak- siat, rasanya tak mungkin.
Karena Wanita Iblis dari Andalas itu telah tiada sejak puluhan tahun alam.
Ki Galingga benar-benar kaget melihat pedang di tangan lawannya. Hatinya belum yakin kalau wanita muda itu Dewi Ratu Maksiat. Namun jurus-jurus pedangnya, sama dengan yang dimiliki Dewi Ratu Maksiat. Begitu pula dengan senjata-senjata rahasia tadi.
Dewi Ratu Maksiat merupakan tokoh sesat di Kadipaten Galih Marta. Selama hidupnya pernah membuat heboh kalangan persilatan, terutama di kadipaten itu. Dewi Ratu Maksiat banyak membunuh pendekar golongan putih karena me- rasa dendam pada para pendekar yang telah membunuh ayah dan ibunya, atas perintah Adi- pati Seragon. Namun sepak terjang Dewi Ratu Maksiat dapat dihentikan. Dia dikalahkan oleh Adipati Seragon, Ki Durpala, Ki Galingga, Ki Kapusala. Mungkin dia Dewi Ratu Maksiat? Tapi..., Dewi Ratu Maksiat mengenakan pakaian berwarna merah serta senjata berupa bunga Anggrek Hitam. Sedangkan wanita ini mengenakan pakaian kuning seperti senjata yang dipergunakannya. Ki Galingga terus bertanya dalam hati sambil mengelakkan sabetan-sabetan senjata lawan. Dadanya semakin terasa sesak oleh racun pedang lawan.
"Heaaa!" Wut! Wut! Wut..! Pedang di tangan wanita misterius itu terus bergerak, menyambar-nyambar dengan tebasan dan babatan ke tubuh lawan. Sinar putih kepera- kan yang keluar dari Pedang Perak itu membuat napas Ki Galingga laksana tersumbat
"Uhuk... uhuk...!" Ki Galingga terbatuk-batuk. Tangan kirinya memegangi dada yang terasa sakit karena terlalu banyak mengisap racun yang ditebarkan wanita bertutup muka kuning itu.
"Tamatlah riwayatmu, Bajing Busuk! Hiaaa...!" Wanita misterius itu mengayunkan pe- dangnya. Kemudian dengan cepat, menebaskan ke leher Ki Galingga yang tak mampu lagi menge- lakkan serangan lawan. Maka...,
Cras! Bruk! Kepala Ki Galingga menggelinding ke tanah. Tubuhnya yang berlumuran darah menge- jang sesaat, kemudian ambruk tanpa nyawa.
Wanita misterius yang tubuhnya tertutup kain kuning segera melesat meninggalkan tempat itu. Gerakannya begitu cepat, hingga dalam sekejap telah hilang di kegelapan malam.
Seketika suasana di rumah Ki Galingga ramai. Murid-muridnya hanya mampu mencaci-maki pembunuh keji yang telah membunuh guru mereka. Malam itu Perguruan Bajing Ireng berka- bung atas kematian Ki Galingga.
***

Dua orang prajurit Kadipaten Galih Marta tampak memacu kudanya menuju Perguruan Baj- ing Ireng untuk menyampaikan undangan dari Adipati Seragon. Namun seketika mereka mem- perlambat lari kudanya karena melihat bendera hitam terpasang di kanan kiri jalan masuk tak jauh dari perguruan.
"Galu, kau lihat bendera itu?" tanya praju- rit yang memegang sebuah gulungan daun lontar.
"Ya," sahut prajurit yang dipanggil Galu. "Sepertinya ada kematian."
"Hei, lihat! Ada keramaian di Perguruan Bajing Ireng," ujar prajurit pertama yang bernama
Warigi "Benar. Ada apa di sana? Nampaknya ba- nyak sekali orang berdatangan," desis Galu.
"Ayo, kita percepat..!" Kedua prajurit Kadipaten Galuh Marta itu segera mendekat Perguruan Bajing Ireng tampak dipenuhi orang-orang peralatan dan rakyat biasa.
"Kisanak, ada apakah?!" tanya Galu pada pemuda berbaju rompi kulit ular yang tengah menggaruk-garuk kepala.
Pemuda berambut gondrong yang baru saja keluar dari bangunan perguruan itu mendongak- kan kepala, memandang kedua prajurit yang me- negurnya.
"Ah, dunia ini semakin tua semakin ber- tambah saja kejahatannya," gumam pemuda itu.
Mendengar gumaman pemuda tampan be- rambut gondrong itu, Galu dan Warigi menge- rutkan kening dan saling pandang. Kemudian ma- ta keduanya memandang lekat wajah pemuda itu, yang tampak cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
"Anak Muda. Kami bertanya padamu, men- gapa engkau bergumam sendiri?" tanya Galu hampir tertawa menyaksikan tingkah laku pemu- da yang konyol dan lucu itu. Mirip orang gila. Terkadang raut wajahnya sedih, kemudian beru- bah riang dengan senyum lucu. Bahkan yang le- bih konyol, pemuda itu suka menggaruk-garuk kepala dengan tangan kiri. Sedangkan tangan ka- nannya asyik mengorek telinga dengan bulu bu- rung.
"Hi hi hi...!" pemuda tampan yang Sena Manggala atau Pendekar Gila itu tertawa geli. Hingga kedua prajurit kadipaten itu tak mampu membendung tawa mereka.
"Pemuda Gila...," gumam Galu. "Ayo kita ke sana!"
"Hi hi hi...! Eh, tunggu!" Sena menghenti- kan mereka. Kedua prajurit kadipaten berhenti dan menengok ke arahnya.
"Ada apa kau menghentikan kami?" tanya Galu.
"Tentu kalian prajurit kadipaten, bukan?" tanya Sena seraya menggaruk-garuk kepala.
"Ya!" sahut keduanya. "Aha! Kebetulan sekali kalau begitu," seru Sena sambil mengorek telinganya dengan bulu burung. "Kebetulan aku hendak ke kadipaten. To- long Kisanak beritahu, ke arah mana aku harus pergi?" Kedua prajurit kadipaten mengerutkan kening, mendengar pertanyaan pemuda berting- kah laku aneh itu.
"Hm.... Untuk apa kau ke kadipaten, Pe- muda Edan?" tanya Warigi.
"Bukankah di kadipaten ada pesta? Tentu banyak makanan di sana. Itu sebabnya aku hen- dak ke sana. Aku diundang kanjeng adipati," tu- tur Pendekar Gila.
Galu tersenyum sambil menggeleng- gelengkan kepala. Menurutnya, pemuda berting- kah laku gila itu hanya bercanda. "Mana mungkin Adipati Seragon mengundang pemuda gila seperti ini?" pikir Galu seraya tersenyum.
"Pemuda Gila.... Ah, kanjeng adipati tidak mengundang pemuda gila sepertimu. Sebenarnya kanjeng adipati mengundang para pendekar. Tak ada pesta di sana," tutur Galu.
"Sudahlah, Galu. Mengapa kita harus meladeni pemuda gila ini?" rungut Warigi mengajak temannya meneruskan perjalanan.
"Tunggu!" kembali Sena memanggil mere- ka.
Warigi menghela napas. Kesal juga hatinya melihat tingkat laku pemuda itu.
"Pemuda gila! Apa sebenarnya yang kau inginkan, heh?!"
Sena tersenyum mendengar bentakan itu. "Aha! Kalian ini tolol. Bukankah sudah kukatakan, bahwa aku hanya ingin tahu arah jalan menuju kadipaten?!" Sena tak kalah keras membentaknya.
"Untuk apa kau ke sana?" dengus Warigi. Pendekar Gila tersenyum. Diambilnya gu- lungan daun lontar yang diberikan dua prajurit kadipaten padanya. Galu segera menerima dan cepat membuka gulungan itu. Seketika mata ke- duanya membelalak setelah membaca tulisan daun lontar itu.
"Pendekar Gila...!" seru mereka bersamaan. "Oh... ampuni kebodohan kami, Tuan Pen- dekar! Sungguh kami tak tahu kalau Tuan adalah Pendekar Gila," ujar Galu sambil turun dari ku- danya dan menjura memberi hormat
"Benar, Tuan Pendekar. Jika Tuan menghendaki, hukumlah kelancangan kami ini," tambah Warigi.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak me- nyaksikan kedua prajurit itu menyembahnya.
"Sudahlah. Kalian tidak perlu minta maaf. Sekarang katakan, ke arah mana aku harus berjalan?" tanya Sena, masih dengan tangan meng- garuk-garuk kepala.
"Ampun, Tuan Pendekar! Kalau diperke- nankan, biarlah kami nanti bersama Tuan," pinta Galu.
"Oho! Sangat menyesal, aku harus segera sampai di sana. Bahaya akan mengancam kadipa- ten ini. Ki Galingga telah tewas di tangan seorang yang bersenjatakan tusuk konde beracun," tutur Pendekar Gila.
Untuk kedua kalinya, Galu dan Warigi membelalakkan mata. Kaget mendengar Ki Ga- lingga yang hendak didatangi telah tewas. Tapi, yang membuat mereka sangat kaget adalah cara kematian Ki Galingga sama dengan kematian istri Adipati Seragon dan empat orang teman mereka. "Kenapa kalian kaget?" tanya Sena. "Oh! Bencana apakah yang tengah melanda Kadipaten Galih Marta?" keluh Galu.
"Hm..., apa maksudmu?" tanya Sena masih belum mengerti.
"Lima korban telah dibantainya. Pertama, istri kanjeng adipati dan empat orang teman kami yang tengah berjaga. Kini Ki Galingga sama den- gan kematian istrinya kanjeng adipati," gumam Galu setengah mengeluh. "Semuanya sama, mati oleh tusuk konde beracun."
"Hm...," Sena bergumam tak jelas. Kedua prajurit kadipaten itu tercengang di- am. Mata mereka memandang ke arah Perguruan Bajing Ireng yang tengah berkabung.
"Siapakah pelakunya?" tanya Galu, seolah- olah bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayolah, kita harus segera ke sana, menuju ke kadipaten," ajak Sena yang dituruti kedua pra- jurit kadipaten. Ketiganya menempuh perjalanan menuju Kadipaten Galih Marta.
Sementara itu di Perguruan Bajing Ireng masih banyak orang yang berdatangan untuk me- lihat Ki Galingga dan anak buahnya serta istri mudanya yang tewas secara mengerikan oleh wa- nita misterius.
Sena dan kedua prajurit kadipaten telah jauh meninggalkan tempat Perguruan Bajing Ireng yang sedang dilanda duka itu.



7
Pendekar Gila dan kedua prajurit Kadipa- ten Galih Marta menyusuri jalan setapak di tengah hutan belantara. Malam telah larut. Udara dingin terasa menggigit. Namun ketiganya tetap terus melangkah. Kegelapan di hutan dan suara- suara binatang menambah suasana kian mencekam.
"Aha! Kurasa kita harus beristirahat di da- lam hutan ini, Kisanak," kata Sena sambil menghentikan langkahnya.
"Kami terserah pada Tuan Pendekar saja," jawab kedua prajurit hampir bersamaan.
"Baiklah kalau begitu. Kita harus membuat api dulu."
Pendekar Gila melompat ke atas pohon mencari ranting-ranting kering. Gerakannya yang cepat tak terlihat oleh kedua prajurit Terdengar suara ranting-ranting patah. Tidak lama berse- lang, Pendekar Gila turun dengan membawa rant- ing-ranting kering.
"Buatlah api!" pinta Sena. Kedua prajurit itu kebingungan. Mereka tak tahu harus bagaimana membuat api. Biasanya mereka menggunakan batu api. Namun, bagaimana mungkin mere- ka mencari batu api dalam keadaan gelap gulita. Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala. Rupanya mengerti apa yang sedang dipikirkan kedua prajurit itu. Sejenak matanya menyapu ke segenap arah, kemudian berkelebat pergi. Tak lama berselang, telah kembali dengan membawa dua buah batu api.
"Ini batu api yang kalian butuhkan." Kemudian, batu api itu disodorkan pada kedua prajurit. Dengan menggosok-gosokkan kedua batu itu, tak lama kemudian api menyala- nyala. Ketiganya segera mengelilingi api unggun yang cukup memberikan kehangatan.
"Tentu kalian lapar. Hm.... Sebentar, akan kucarikan ayam hutan di daerah ini. Tunggulah di sini," ujar Sena, lalu dengan cepat berkelebat menembus kerimbunan pepohonan.
Dua prajurit kadipaten menunggu keda- tangan Pendekar Gila dengan perasaan tercekam. Mereka takut berada di tengah hutan lebat dan gelap seperti itu. Selama ini keduanya tidak per- nah berada di dalam hutan, bertugas di kadipaten yang ramai dan terang.
"Galu, kita harus waspada," kata Warigi mengingatkan.
"Ya! Kuharap Pendekar Gila tidak lama." Kedua prajurit itu menarik pedang, siap menghadapi apa pun yang akan terjadi selama Pendekar Gila pergi. Mata mereka mengawasi ke sekeliling tempat itu dengan tajam. Baru saja ke- duanya mempersiapkan diri, tiba-tiba terdengar suara mendering senjata rahasia.
"Awas, ada yang menyerang!'' seru Galu, mengingatkan temannya sekaligus mengundang Pendekar Gila agar segera datang ke tempat itu.
Swing! Swing...! Entah dari mana datangnya dua benda me- lesat ke arah dua orang prajurit itu. Senjata raha- sia itu bergerak begitu cepat
"Celaka! Tusuk konde!" pekik Warigi kaget Hidungnya mencium bau wangi bunga. Mata lela- ki itu membelalak tegang dan bulu kuduknya me- remang. Saat itu, sebuah tusuk konde melesat ke arahnya. Tanpa dapat dielakkan, senjata beracun itu menghunjam dadanya.
Jlep! "Ukh!" Warigi terpekik. Tubuhnya sesaat mengejang dengan mata melotot, lalu ambruk tanpa nyawa.

No comments:

Post a Comment