SYAIR
MAUT LELAKI BUNTUNG
Oleh Firman Raharja
1
Pagi nampak cerah dengan langit
biru bening, tanpa sedikit mega. Angin berhembus perlahan, membawa kesejukan
yang alami. Namun keheningan pagi itu dirobek oleh suara gelak tawa dari tiga
sosok yang tengah menelusuri jalan terjal di Bukit Jatira. Ketiga sosok itu
tampaknya tengah dilanda kegirangan. Suara tawa mereka bergema, bagai
dikerahkan dengan kekuatan tenaga dalam.
Satu di antara ketiga sosok lelaki
itu memiliki wajah angker dan bengis. Matanya tampak kemerahan, dengan sepasang
alis tebal yang saling bertautan. Bajunya yang hitam legam dibiarkan terbuka di
bagian dada. Ikat kepalanya yang hitam bergaris putih melingkar mengikat
rambut- nya yang panjang.
Lelaki berusia setengah baya itu
terus me- langkah sambil tertawa-tawa, diikuti dua kawan- nya yang berpakaian
rompi abu-abu.
"Ha ha ha...! Sepuluh tahun
terakhir ini aku merasa bebas. Bebas berbuat sesuka hatiku. Karena Perguruan
Gunung Talang yang kita bu- mihanguskan itu sudah terkubur, bersama si Tua
Bangka, Damar Kiwangi," ucap lelaki berpakaian serba hitam itu seraya
terus mengumbar ta- wanya. Kakinya terus melangkah tanpa menghi- raukan keadaan
sekitarnya.
"Benar, Kakang Kala Hitam....
Kini kita bisa memiliki penghasilan yang tak akan ada habis- habisnya. Hasil
bumi dan berbagai upeti dari penduduk terus mengalir, Tak seorang pun berani
menentang kita. Orang-orang Kadipaten Galih Putih pun tampaknya segan terhadap
kita. Ha ha ha...!" timpal Kebo Kluwuk salah seorang teman lelaki
berpakaian hitam yang ternyata bernama Kala Hitam.
"Benar! Orang-orang kadipaten
diam setelah kita sumpel mulut dan perut mereka dengan sebagian penghasilan
kita. Dan tampaknya mereka akan tetap membiarkan kita selama kita tetap
menyediakan perempuan-perempuan untuk me- reka. Ha ha ha...!" tambah
Rodoprana, juga sam- bil memperdengarkan tawanya.
Ketiga lelaki itu memiliki ilmu
meringankan tubuh yang tinggi. Begitu cepat ketiganya berlari hingga dalam
waktu singkat mereka sudah me- nempuh jarak ratusan tombak. Suara gelak tawa
mereka terus terdengar di sepanjang perjalanan.
Namun dari kejauhan tiba-tiba
muncul se- sosok bayangan melesat memburu ketiga lelaki berwajah beringas itu.
Sosok bayangan itu pun tampaknya mengerahkan ilmu meringankan tu- buh yang
sudah mencapai tingkat tinggi.
Kala Hitam yang mempunyai
pendengaran tajam bagai serigala, cepat menghentikan larinya. Hal itu membuat
kedua temannya keheranan dengan mengerutkan kening, lalu menghentikan lari dan
berhenti. Kebo Kluwuk dan Rodoprana saling pandang.
"Hmmm! Rupanya ada yang
mengikuti ki- ta," gumam Kala Hitam. Matanya menyelidik sekeliling Lembah
Bulak Rawa, "Ha ha ha....! Pagi ini kita akan bermain-main kawan...!"
Kebo Kluwuk dan Rodoprana tampaknya
belum mengerti. Namun kemudian kedua lelaki bertubuh gagah itu cepat menangkap
ucapan Kala Hitam. Maka keduanya langsung tertawa terbahak-bahak sambil
menggeser keris yang terselip di pinggang mereka.
"Kala Hitam! Pagi ini kau
kelihatan sangat gembira. Begitu bebas dengan sepak terjangmu. Kau lupa bahwa
di balik tawamu yang memecah kesunyian pagi indah ini, akan berubah menjadi
malapetaka bagi dirimu, juga kedua temanmu itu!"
Terdengar suara yang tanpa terlihat
siapa pemiliknya. Kala Hitam mengerutkan kening. Dengan perasaan geram, matanya
jelakitan men- cari dari mana asal suara itu. Namun tetap tak diketemukannya
pemilik suara yang terdengar je- las itu. Kebo Kluwuk dan Rodoprana pun mela-
kukan hal yang sama. Tak satu pun yang dapat melihat sosok seseorang yang
menyapa Kala Hi- tam.
"Bangsat! Setan alas! Dedemit
apa kau? Ke- luar...!" sera Kala Hitam marah. "Tunjukkan wujudmu,
kalau memang kau ingin mencoba ilmu- ku! Ayo, keluar...! Keluar...!"
Tantang Kala Hitam penuh amarah
sambil mondar-mandir. Dikerahkan penglihatannya untuk mengawasi sekitar tempat
itu. Namun tetap saja tak menemukan apa yang dicarinya.
"Hhh...! Bedebah!"
"Ha ha ha...! Kala Hitam! Kau
memang ma- nusia berhati iblis! Memfitnah dan merampas harta, serta membunuh
orang yang tak bersalah. Ta- pi kau lupa, salah seorang dari keluarga yang kau
bunuh, masih hidup! Dan kini akan menuntut balas padamu Kala Hitam. Bersiaplah
untuk mati!"
Terdengar lagi suara bergema. Kali
ini lebih keras hingga membuat Kala Hitam tersentak kaget. Mendadak dirinya
merasa tegang dan cemas.
Belum sempat Kala Hitam mengingat,
siapa yang dimaksud suara itu. Tiba-tiba terdengar lantunan sebuah syair....
Kidung Kehidupan Pertama Kali Dia
Hadir Tetesan Darah Akan Tiba Hutang Budi Dibayar Budi Hutang Nyawa Dibayar
Nyawa Hutang Pati Dibayar Pati....
Kala Hitam semakin tegang. Seketika
ke- ringat dingin membasahi kening dan wajahnya yang angker itu. Namun kali ini
kegarangannya sedikit berkurang. Tak ada lagi gelak tawa seperti semula. Yang
ada ketegangan dan kecemasan bersampur jadi satu di benak lelaki itu.
"Siapa kau sebenarnya! Aku tak
ada urusan denganmu. Keluar...!" seru Kala Hitam keras sambil mencabut kerisnya.
"Ayo, lawan aku, Setan Belang...! Tunjukkan keberanianmu, ayo! Ayo, hadapi
Kala Hitam...!"
Begitu suara Kala Hitam berhenti,
tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat menyerang mereka bertiga. Seketika Kebo
Kluwuk dan Rodoprana menjerit setinggi langit. Tangan mereka yang me- megang
keris, menutupi wajah yang mengucur- kan darah. Sesaat kemudian keduanya yang
mengenakan rompi hitam ambruk tanpa nyawa.
"Kurang ajar.'" maki Kala
Hitam geram, "Siapa kau, manusia atau setan?!"
Belum habis Kala Hitam menenangkan
hati dari ketegangan muncul sesosok tubuh lelaki tanpa kaki, alias buntung.
Wajah lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu tak begitu jelas, ka- rena
tertutup rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai tak karuan. Acak-acakan!
Lelaki itu berdiri dengan lututnya, yang terbungkus kain hitam. Meskipun tanpa
kaki tubuhnya dapat berdiri tegak. Wajahnya sinis menatap Kala Hitam yang masih
bertanya-tanya dalam hati.
Sejauh itu Kala Hitam bisa
mengenali siapa sebenarnya lelaki buntung itu. Matanya tak berkedip, terus
mengawasi sosok berpakaian merah di depannya.
"Kala Hitam, kau belum terlalu
tua untuk mengenali siapa aku adanya," tukas lelaki berkaki buntung itu.
Senyum sinis terus mengembang di bibirnya. Kemudian lelaki itu kembali bersyair
se- perti tadi.
"Hentikan syair bututmu, Tua
Bangka Ke- parat!" maki Kala Hitam sengit. Namun lelaki buntung itu
bagaikan tak peduli mulutnya terus menyuarakan syair, membuat Kala Hitam yang mendengarkan
tampak kian marah.
"Hhh...! Kau nampak lebih muda
dari usiamu, Kala Hitam. Aku salut padamu! Tapi aku benci kelicikanmu,
tindakanmu membunuh orang yang tak bersalah, bersama keempat temanmu. Hasratmu
terlalu besar ingin menguasai rimba persilatan di Kadipaten Galih Putih yang
saat itu sedang goyah. Para senapati dan orang-orang ka- dipaten telah rusak.
Moral mereka telah bejat ka- rena hasutan dan kelicikanmu. Kau memang pin- tar
Kala Hitam!" lelaki berkaki buntung itu lalu menggeser kecapinya ke depan
dada. "Dan kau tentunya masih ingat dengan adik dari Ki Damar Kiwangi yang
kau buntungi kakinya, lalu kau buang ke Jurang Mager Wadas. Aku percaya kau
ingat ini! Sebab, kau murka, ketika aku mengha- langimu memperkosa
istriku!"
Kala Hitam tersentak kaget.
Tiba-tiba diin- gatnya peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Namun cepat-cepat dia
coba menyembunyikan rasa ka- getnya sambil berkata,
"Ahhh! Kau jangan mengada-ada!
Kau hanya hantu! Tak mungkin kau bisa hidup lagi! Semua orang tahu, Mager Wadas
merupakan ju- rang iblis...! Pergi! Atau aku mengusir arwahmu dengan keris
pusakaku ini...?!"
Kala Hitam segera mengibaskan
kerisnya dengan gerakan yang aneh dan cepat
Lelaki buntung hanya diam. Wajahnya
yang tertutup rambut tetap tenang menghadapi Kala Hitam yang nampak gusar dan
tegang itu. Lelaki buntung itu mulai memetik dawai-dawai kecapinya. Seketika
terdengar suara irama petikan kecapi itu yang melengking tinggi. Ketika Kala
Hitam melesat cepat melancarkan serangan, secepat itu pula lelaki buntung itu
menghentak- kan kecapinya ke depan.
"Heaaa...!" Wrt! Cras!
Cras! Cras! Begitu cepat lelaki buntung itu mendahului gerakan Kala Hitam.
Sekali gebrak, wajah Kala Hitam dan kedua kawannya berantakan, terkena sentakan
senar kecapi yang seperti sengaja dipu- tuskan dari tempatnya. Senar-senar itu
bagaikan hidup, menyabet wajah Kala Hitam hingga mengalami luka parah. Darah
meleleh dari kulit wajah dan sepasang matanya yang tertusuk senar kecapi.
"Aaauuuwww...! Waaaa...!"
Kala Hitam menjerit-jerit dengan tubuh berputar-putar sempoyongan. Kedua
tangannya tetap menutup wajah yang berdarah ketika tubuh Kala Hitam ambruk ke
tanah. Sesaat kemudian sekujur kulit tubuhnya membiru, lalu tewas.
Lelaki buntung itu tersenyum.
Matanya yang tajam menatap tubuh Kala Hitam sudah tak bernyawa lagi "Aku
puas...! Satu dari lima anggota Partai Panca Siwara sudah kubunuh. Ha ha
ha...!"
***
Tak lama setelah kepergian si
Penyair
Maut, dari arah barat muncul dua
sosok lelaki. Dari kejauhan tampak pakaian yang mereka ke- nakan adalah seragam
prajurit kerajaan. Kedua- nya terus melangkah ke timur semakin dekat dengan
Lembah Bulak Rawa. Tiba-tiba lelaki ga- gah yang mengenakan pakaian kuning
kemera- han menghentikan langkahnya. Matanya yang ta- jam menatap lurus ke
depan. Seperti ada sesuatu yang tengah diperhatikan.
"Kebo Jampe! Aku melihat
sesosok mayat..," ujar lelaki berkumis tipis itu seraya mengernyitkan
keningnya.
"Ah, Kakang Wiryapaksi salah
lihat ba- rangkali," sahut lelaki berpakaian lengan panjang warna abu-abu,
yang dipanggil Kebo Jampe.
"Hmh..., percuma aku seorang
senapati ka- lau melihat hal yang mencurigakan tidak awas!" tukas lelaki
berpakaian kuning kemerahan yang ternyata Senapati Wiryapaksi. Seorang panglima
perang yang paling disegani di Kadipaten Galih Putih.
Tanpa menanggapi ucapan Senapati
Wi- ryapaksi, Kebo Jampe langsung berlari mendahu- lui, karena hatinya
membenarkan apa yang telah dilihat di depan mereka. Adipati Wiryapaksi pun
langsung melesat
"Hah?! Tak mungkin!"
sentak Senapati Wiryapaksi dengan mata terbelalak. "Tak mungkin dia mati!
Pasti orang yang membunuhnya memiliki ilmu sangat tinggi," ujar Senapati
Wiryapaksi tak percaya.
"Ya! Kita tahu siapa Kala
Hitam. Dia memiliki ilmu yang cukup tinggi. Apalagi dengan Keris Pencabut Nyawa
yang ampuh itu," sahut Kebo Jampe dengan mata menatap mayat Kala Hitam.
"Hanya Pendekar Gila yang bisa
mengalah- kannya. Tapi mungkinkah Pendekar Gila murid Singo Edan yang
melakukan...?!"
Senapati Wiryapaksi lalu
mengedarkan pandangan ke sekeliling Lembah Bulak Rawa yang sunyi dan sepi. Tak
ada tanda-tanda adanya orang lain, selain dirinya dan Kebo Jampe. Angin kencang
berhembus menerpa wajah Senapati Wiryapaksi yang dihiasi kumis tipis di atas
bibirnya. Hidung yang mancung mirip paruh burung betet tampak kembang-kempis.
Dan matanya yang besar menatap tajam ke sekelilingnya, terus mengawasi dengan
sikap waspada.
"Nampaknya belum berapa lama
kematian Kala Hitam. Aku merasa orang yang membunuh Kala Hitam belum jauh dari
tempat ini," ujar Pan- glima Perang Kadipaten Galih Putin yang memang
berkomplot dengan kelompok yang dipimpin Kala Hitam. "Hm...," gumam
Kebo Jampe yang juga nampak tegang. Karena merasakan suasana di Lembah Bulak
Rawa yang luas itu mulai terasa mencekam. Matanya terus menyapu sekeliling
tempat itu.
"Sebaiknya kita pergi ke
timur. Orang itu pasti belum jauh...," usul Senapati Wiryapaksi, lalu
melesat ke timur diikuti Kebo Jampe. Dengan memakai ilmu meringankan tubuh yang
cukup tinggi, keduanya meninggalkan tempat mayat Kala Hitam dan temannya
tergeletak
Langkah kedua prajurit kadipaten
ini tampak seperti terbang. Cepat, hingga terlihat hanya bayangan kekuningan
melesat bagai angin.
Tak lama kemudian Senapati
Wiryapaksi dan Kebo Jampe menghentikan larinya, setelah lepas dari Lembah Bulak
Rawa. Cukup jauh ke- duanya meninggalkan tempat semula.
Senapati Wiryapaksi menghela napas
pan- jang, matanya menyapu tempat itu. Ternyata me- reka berdua berada di suatu
tempat yang belum pernah diinjak. Keduanya tampak keheranan dan merasa asing.
"Kau tahu apa nama tempat ini
Kebo Jampe?" tanya Senapati Wiryapaksi dengan suara berat. Matanya terus
menyelidik sekeliling tempat yang masih asing baginya. Sunyi, sepi, dan berkesan
angker. Tempat itu mirip sebuah hutan kecil. Namun pepohonannya tampak kering
dan meranggas. Kebo Jampe tampak agak tertegun ketika matanya melihat sebuah
kuburan tua di sebelah kanan tempat keduanya berdiri. Anehnya pula ada asap
putih mengepul.
"Aku pun belum pernah tahu
tempat ini. Mungkin kita salah arah," jawab Kebo Jampe, se- telah beberapa
saat berpikir. Matanya jelakitan memandangi tempat yang nampak angker itu.
Ketika Kebo Jampe menoleh ke
sebelah kanan. "Hah!" gumamnya keras. Matanya terbela- lak lebar
memandang ke satu arah.
"Ada apa Kebo Jampe...?"
tanya Senapati Wiryapaksi dengan kening berkerut
Kebo Jampe tak menjawab, dia hanya
menunjuk ke sebelah kanannya. Senapati Wiryapaksi pun tersentak kaget dengan
mata membelalak lebar.
Ternyata di dekat sebuah batu nisan
kubu- ran tua itu samar-samar terlihat bayangan keme- rahan berbentuk manusia.
Asap putih yang me- nyelimuti tempat itu membuat mata Senapati Wiryapaksi dan
Kebo Jampe tak dapat memperjelas pandangan mereka.
Kedua prajurit kadipaten itu saling
pan- dang. Lalu kembali menoleh ke sosok yang berdiri dekat batu nisan kuburan
tua tadi.
Tiba-tiba terdengar bunyi petikan
kecapi mengiringi alunan syair. Alunan itu ternyata ke- luar dari mulut sesosok
manusia berukuran pen- dek yang berdiri di dekat nisan kuburan tua itu.
Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe
tersentak kaget serta merasa tegang, mendengar alunan syair itu. Disertai
petikan kecapinya.
Kidung Kehidupan Pertama Kali Dia
Hadir Tetesan Darah Akan Tiba Hutang Budi Dibayar Budi Hutang Nyawa Dibayar
Nyawa Hutang Pati Harus Dibayar Pati....
Dalam suasana hati diliputi
ketegangan kedua prajurit kadipaten itu mencabut keris yang terselip di
pinggang masing-masing
"Hei! Siapa kau?! Manusia atau
hantu...?!" seru Senapati Wiryapaksi dengan menghunuskan kerisnya.
"Mendekatlah, kalau kau memang ma- nusia!" Namun sosok bertubuh
pendek berpakaian hitam itu tetap saja bungkam. Dan terus me- mainkan
kecapinya. Bunyi kecapi semakin lama semakin keras dan melengking nyaring
tinggi. Memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu an- gin menderu begitu
kencang.
Wesss...! "Ha ha ha...! Hai,
Senapati pembawa ke- maksiatan, kekejaman, kemurkaan! Hari ini akan kucabut
nyawamu.... Bersiaplah!"
Suara itu terdengar keras
menggelegar. Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe semakin tak mengerti dan
tegang.
"Setan alas...! Siapa kau
sebenarnya...! Bagaimana kau bisa mengenaliku?!" teriak Senapati
Wiryapaksi dengan geram.
"Hei, Manusia Durhaka! Rupanya
kau lupa peristiwa sepuluh tahun silam di Padepokan Gu- nung Talang! Kurasa kau
belum terlalu tua untuk mengingatnya, Senapati Wiryapaksi...."
"Hah, Padepokan Gunung
Talang...?!" Se- napati Wiryapaksi bergumam lirih sambil menge- rutkan
kening. Belum sempat dia dapat mengin- gat sesuatu. Tiba-tiba.... Wut! Wut!
Wut...! Wrt! Cras! Cras!
Begitu cepat bayangan itu
berkelebat me- nyerang, hingga Senapati Wiryapaksi dari Kebo Jampe tak dapat
mengelak. Seketika itu pula ke- duanya menjerit setinggi langit. Senapati
Wirya- paksi yang masih bisa menangkis serangan sebi- sanya juga terluka di tangan
kiri. Sedangkan Ke- bo Jampe yang sangat terkejut terkena sambaran di wajahnya.
Sambil meraung-raung kesakitan le- laki berpakaian abu-abu itu menutupi
wajahnya dengan telapak tangan.
Senapati Wiryapaksi mengerang
kesakitan dan menjerit-jerit, sambil memegangi tangan ki- rinya yang ternyata
putus.
Belum sempat laki-laki gagah itu
memulihkan tenaga dalamnya, sosok laki-laki buntung yang ternyata si Penyair
Maut itu melesat cepat melancarkan serangan susulan, sambil bergerak cepat
tangannya menyentakkan senar-senar kecapi yang seperti sengaja diputuskan dari
tem- patnya. Senar-senar itu bagaikan hidup, meng- hantam wajah Senapati
Wiryapaksi tercabik-cabik tak karuan. Seperti halnya wajah Kebo Jampe yang kini
sudah tewas dengan tubuh berubah membiru.
"Aaawww...!" Senapati
Wiryapaksi menjerit-jerit sambil menutupi wajahnya yang rusak. Matanya pun ter-
tancap senar kecapi, hingga berlubang. Darah bercucuran keluar dari lubang
mata. Begitu pun dari wajahnya yang tercabik-cabik senar maut itu. Tubuh Panglima
Perang Kadipaten Galih Putih itu kelojotan lalu ambruk dengan keras ke tanah.
Si Penyair Maut tampak belum puas
meli- hat Senapati Wiryapaksi belum mati. Dengan me- lompat dan mengangkat
kecapinya, lelaki bun- tung itu kembali melakukan serangan.
"Hieaaa...!" Jlep! Jlep!
"Aaakh...!" Senapati Wiryapaksi kembali menjerit pan- jang. Tubuhnya
tertancap ujung kecapi hingga tembus. Lalu lelaki buntung itu mencabut kemba-
li kecapinya seraya tersenyum puas. Wajahnya yang tak nampak jelas, karena
selain tempat itu diliputi asap, juga tertutup rambut panjang seba- tas bahu.
Pakaiannya yang serba merah dan kumal itu menandakan, kalau lelaki buntung itu
seakan tak pernah membersihkan badan.
"Ha ha ha...! Tinggal tiga
lagi. Cepat atau lambat aku harus bunuh mereka," lelaki buntung itu
tertawa terbahak-bahak. Lalu dibersihkannya ujung kecapi yang penuh darah
dengan ujung bajunya. Kemudian, lelaki buntung itu melesat pergi meninggalkan kedua
mayat. Dan menghilang begitu cepat. Hal itu menandakan kalau ilmu yang dimiliki
lelaki si Penyair Maut itu sangat tinggi. Hanya suara tawanya yang menggelegar
bagai memecah bumi terdengar di kejauhan, hingga perlahan-lahan menghilang.
Saat itu mendung menyelimuti bumi.
Angin bertiup sangat kencang, seakan hendak merobohkan pepohonan atau apa saja
yang ada di tempat itu. Petir mulai menyambar-nyambar. Dan bunyi guntur menggelegar,
menjadikan suasana mencekam dan keruh. Hujan pun turun dengan deras. Tempat
yang semula angker dan menakutkan, kini semakin mengerikan. Bagai suasana alam
gaib, tempat segala hantu dan dedemit. Tempat itu ternyata tempat semadi lelaki
buntung itu. Karena di situlah kuburan Ki Damar Ki- wangi, kakak kandung si
Penyair Maut berada.
Tak seorang pun tahu di tempat itu
terletak makam Ki Damar Kiwangi. Tokoh aliran putih itu dibunuh secara keji
oleh kawanan Gerombolan Partai Panca Siwara. Kelompok tokoh golongan hi- tam
yang anggotanya, Kala Hitam, Senapati Wi- ryapaksi, Kidang Pangarsura, Warik
Kala, dan Be- ruk Singgala.
Kelima tokoh itu sama memiliki ilmu
tinggi. Namun mereka kejam dan durjana. Beruk Singga- la seorang tokoh aliran
hitam dari Pulau Andalas. Dia memiliki ilmu sesat, yaitu ilmu sihir yang sangat
menakutkan. Pangeran Sasanadipa tak luput dari ilmu sihirnya. Hingga lupa
ingatan. Minuman yang diramu Beruk Singgala dengan jampi-jampinya sempat
membuat pangeran dari Kadipaten Galih Putih itu mudah dipengaruhi oleh kelompok
sesat yang dipimpin Kala Hitam.
Begitu pula yang dilakukan terhadap
para pejabat di Kadipaten Galih Putih. Gerombolan yang dipimpin Kala Hitam
telah banyak mempen- garuhi orang-orang dalam pemerintahan dengan berbagai
macam hasutan. Lebih parah lagi, ketika para pembesar pemerintah kadipaten itu
berhasil dicekoki dengan perawan-perawan cantik yang di- culik dari desa-desa.
Siasat sepak terjang yang keji
dilakukan oleh Kala Hitam dan para anak buahnya. Yang menjadi korban keganasan
mereka tak lain rakyat jelata. Mereka memeras rakyat dengan berbagai macam
pajak dan upeti. Hasil bumi yang dikerjakan rakyat pun tak luput dari gangguan
orang- orang Partai Panca Siwara.
Namun sayang, sejauh itu tak satu
pun pa- ra pendekar dan prajurit kadipaten yang berhasil membekuk Kala Hitam
dan para begundalnya. Apalagi keadaan di dalam kadipaten sendiri se- makin
dikacaukan oleh hasutan tokoh-tokoh se- sat itu. Hanya si Penyair Maut yang
telah memulai! Sepak terjangnya berkitar belakang dendam ke- sumat Lelaki
buntung itu terus berlari mening- galkan tempatnya bersemadi. Hujan deras meng-
guyur tubuhnya yang pendek tanpa kaki.
2
Para pejabat di Kadipaten Galih
Putih sangat terkejut ketika mendengar senapati yang paling ditakuti dan
berilmu tinggi terbunuh secara mengenaskan. Para senapati lain merasa cemas.
Sementara itu Pangeran Sasanadipa justru sedang asyik berpesta pora dengan para
selirnya, sambil menonton tarian dibawakan gadis-gadis penari istana. Suasana
meriah pesta yang diselenggarakan oleh Pangeran Sasanadipa sangat bertolak
belakang dengan perasaan duka dan cemas yang melanda para prajurit. Seolah-olah
tak pernah terjadi peristiwa mengenaskan itu. Bagai terlupakan sama sekali
kematian seorang pangli- ma yang sangat ditakuti itu di benak sang Pange- ran.
Namun itulah yang sangat diinginkan
sang Pangeran yang moralnya telah dibuat bejat oleh ilmu sihir Beruk Singgala.
Salah seorang dari Partai Panca Siwara yang berniat dapat menguasai kadipaten
dan seluruh desa untuk dijadikan alat menimbun kekayaan dan kekuasaan.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala
yang saat itu berada di kadipaten sangat terkejut mendengar berita, Kala Hitam
dan Senapati Wiryapaksi terbunuh secara tiba-tiba dalam hari yang sama.
"Aku belum percaya kalau belum
melihat mayat Kala Hitam dan Senapati Wiryapaksi...!" ujar Kidang
Pangarsura dengan geram sambil mengancam seorang senapati kadipaten yang hendak
melapor pada Pangeran Sasanadipa.
"Apa kau sudah lupa, bahwa
pangeran pun tak akan menanggapi laporanmu. Dia saat ini se- dang bersenang-senang.
Kau ini seperti orang baru saja di kadipaten ini?!" bentak Warik Kala pada
senapati yang bernama Bantlik Sampit, "Apa kau juga lupa bahwa di kadipaten
ini yang berkuasa Partai Panca Siwara. Sana pergi...!"
Warik Kala mendorong tubuh Senapati
Bantlik Sampit. Lelaki tua berpakaian lurik itu sudah mabuk karena terlalu
banyak minum tuak dan sihir Beruk Singgala.
"Sebaiknya kematian Kala Hitam
dan Se- napati Wiryapaksi kita selidiki. Aku tak yakin Ka- la Hitam yang
memiliki ilmu setaraf dengan kita, bahkan lebih tinggi bisa mati segampang
itu!" bantah Kidang Pangarsuara masih belum per- caya. Dipukul-pukulkan
kepalan tangan kanan- nya ke telapak tangan kiri. Lalu mulutnya men- dengus
sambil menggertakkan gigi, seakan-akan ada kegeraman yang ditahan dalam
hatinya.
"Kalau memang benar, orang
yang mem- bunuh kedua kawan kita itu pasti bukan tokoh sembarangan," tukas
Warik Kala cemas sambil mengerutkan kening. Sepertinya dia sedang berpikir
keras, mencari jawaban siapa yang membunuh kedua sahabatnya itu.
Sementara itu di ruang pesta,
nampak su- asana semakin bertambah gila. Mata sang Pange- ran yang terpengaruh
sihir Beruk Singgala tam- pak membelalak lebar. Lalu disuruhnya salah seorang
penari paling depan dan cantik datang ke tempatnya.
Tanpa lama-lama lagi penari yang
ditunjuk Pangeran Sasanadipa itu mendekat sambil tersenyum-senyum manja.
Begitu berada di hadapannya sang
Pange- ran langsung memeluknya. Tangannya menggeluti penari cantik bertubuh
sintal itu. Para selirnya hanya tersenyum-senyum dan bahkan nampak senang.
Akhirnya sang Pangeran membawa penari ini ke kamarnya, sambil terus menciumi
seluruh tubuhnya. Dan keempat wanita selirnya mengiku- ti sang Pangeran yang
menggandeng penari itu ke dalam kamarnya.
Begitu Pangeran Sasanadipa
menghilang masuk ke kamarnya, para pengawal, senapati, dan orang-orang penting
kadipaten, langsung mengambil pesanan para penari lainnya. Para pe- nari yang
masih muda-muda itu tak menolak, ju- stru nampak bergembira. Tubuh mereka
diciumi dan dirangkul oleh para pengawal dan senapati. Kemudian mereka bergumul
di ruangan pesta itu sesuka hati, tanpa ada rasa malu satu sama lain- nya.
Kadipaten Galih Putih yang dulu
terkenal dan disegani, telah berubah menjadi tempat mak- siat. Setelah dikuasai
Partai Panca Siwara yang sengaja membuat hancur kekuatan kadipaten itu.
"Kita harus cepat memberi tahu Danur Sa- ka dan Beruk Singgala, sebelum
menyelidiki, sia- pa pembunuh Kala Hitam dan Senapati Wirya- paksi!" ujar
Warik Kala mendesak Kidang Pangar- sura.
"Benar. Tapi di mana mereka
sekarang be- rada? Terutama Beruk Singgala. Aku khawatir dia pulang ke Pulau
Andalas!" tukas Kidang Pangar- sura cemas. Lelaki yang bertubuh besar dan
ber- kumis tebal, memperlihatkan perasaan tak te- nang. Matanya yang merah
menatap ke sana ke- mari karena gelisah.
"Kita cari saja. Atau kita
temukan Danur Saka dulu. Siapa tahu Danur Saka menerima pesan dari Beruk
Singgala, di mana harus mencarinya," ujar Warik Kala memutuskan.
Kidang Pangarsura manggut-manggut,
membenarkan usul Warik Kala.
"Benar. Ayo, kita berangkat!
Biar saja pangeran edan itu sibuk dengan perempuan-perempuan gundiknya!"
jawab Kidang Pangarsura. Yang kemudian mengajak Warik Kala pergi dari Kadipaten
Galih Putih.
Kedua anggota Partai Panca Siwara
tak mempedulikan Pangeran Sasanadipa yang tengah bercumbu dengan seorang penari
ditemani keem- pat selirnya.
Tak lama kemudian Kidang Pangarsura
dan Warik Kala sudah sampai di luar lingkungan kadipaten. Keduanya menggebah
kuda tunggan- gan mereka meninggalkan Kadipaten Galih Putih.
"Aku penasaran! Siapa yang
berani mem- bunuh Kala Hitam...!" sungut Kidang Pangarsura sambil terus
melangkah cepat
"Aku juga ingin tahu bagaimana
muka orang yang mampu menghabisi nyawa Kala Hi- tam. Benar-benar berilmu tinggi
orang itu...," sa- hut Warik Kala bernada geram
"Kalau begitu kita harus
mempercepat langkah, agar segera sampai di tempat Danur Saka. Ayo,
heps...!" "Heaaa...!"
***
Siang itu cuaca begitu terik. Sang
Surya memancarkan sinarnya bagai membakar kulit sepasang muda-mudi yang tengah
berjalan mema- suki Lembah Bulak Rawa. Angin berhembus ken- cang menerpa keduanya.
Namun hawa tetap terasa sangat panas.
"Kakang Sena, sebaiknya kita
cepat mencari desa terdekat. Aku haus," ujar gadis cantik ber- pakaian
putih dengan pedang tersampir di punggungnya. "Heran, panas sekali udara
siang ini."
Gadis itu mengeluh sambil menyeka
keringat di keningnya.
Pemuda tampan berpakaian rompi dari
kulit ular yang dipanggil Sena cengengesan. Tangan kanannya menggaruk-garuk
kepala sambil men- gedarkan pandangan ke sekitar tempat itu.
"Hah?!" pemuda berambut
gondrong yang ternyata Sena Manggala terkejut ketika tiba-tiba pandangannya
membentur sesuatu.
"Ada apa, Kakang?" tanya
gadis cantik itu sambil mengerutkan kening.
"Lihat sana, Mei..,!"
sahut Sena sambil me- nunjuk ke satu arah. Lalu kembali menggaruk- garuk kepala
sambil mulutnya cengengesan, mirip orang tidak waras.
"Hah?! Mayat...?" Mei Lie
memandang ke tempat yang ditunjuk Sena.
Lalu tanpa banyak bicara Sena
melangkah menghampiri sosok mayat yang tergeletak sekitar sepuluh tombak di
depannya. Diikuti oleh Mei Lie. Dengan tangan menggaruk-garuk kepala dan mulut
cengengesan Sena memperhatikan so- sok mayat berpakaian hitam di hadapannya.
Ke- mudian dua tombak jaraknya dari tempat Sena,
Mei Lie melihat dua, sosok mayat
terbalut pa- kaian rompi abu-abu.
"Wajah ketiga mayat itu
hancur. Lihat mata mereka seperti diculik! Hhh..., benar-benar tinda- kan
keji!" gumam Mei Lie seraya menggeleng- gelengkan kepala.
Sena pun menggeleng-geleng, lalu
cen- gengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Aku tak mengenal mayat-mayat
itu. Tapi kalau dilihat dari pakaian mayat yang di sebelah sana," Sena
menunjuk mayat di sebelah kirinya yang mengenakan pakaian prajurit warna abu-
abu. "Kalau aku tak salah, orang-orang yang mati ini dari Kadipaten Galih
Putih."
"Lalu siapa yang membunuh
mereka ini?" tanya Mei lie.
"Ah ah ah..., mana aku tahu.
Tapi rasanya keadaan Kadipaten Galih Putih sedang menghadapi
kehancuran..,," ujar Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Bagaimana Kakang Sena
tahu?" "Pernah kudengar dari seorang saudagar yang biasa mengantarkan
pesanan pakaian ke kadipaten. Kau ingat, ketika bermalam di penginapan di Desa
Watu Congot kemarin?" tutur Sena dengan mulut cengengesan persis orang
gila. Namun Mei Lie tetap menanggapi dengan sungguh. Dirinya telah memahami
benar bagaimana kebia- saan kekasihnya.
"Kakang yakin dengan berita
itu...?" Sena hanya cengar-cengir dana menggaruk-garuk kepala.
"Sebaiknya kita kubur
mayat-mayat ini. Kasihan...!" kata Sena.
Lalu segera Sena dan Mei Lie
melakukan penguburan ketiga mayat itu
"Semoga arwah mereka lebih
tenang di da- lam kubur...!" gumam Sena setelah selesai men- gubur mayat
Kala Hitam, Kebo Kluwuk dan Rodo- prana
Terik matahari masih saja menyengat
kulit kedua muda-mudi itu. Keduanya meneruskan perjalanan ke sekitar.
"Mudah-mudahan ada desa di
sebelah sekitar lembah ini...,'' gumam Sena.
Pada saat yang bersamaan, Kidang
Pangar- sura dan Watik Kala sedang dalam perjalanan mencari Danur Saka. Tanpa
menghiraukan jala- nan terjal berbatu mereka terus menggebah kuda masing-masing
agar segera sampai ke tempat tu- juan. Seakan tak ingin kehilangan waktu
sedikit pun.
Derap kaki kuda begitu keras
menapaki ja- lan yang berkelok dan naik turun itu. Dan ketika kuda-kuda mereka
melewati Lembah Bulak Rawa. Kidang Pangarsura dan Warik Kala segera meng- hela
tali kendali. Kuda pun berhenti.
"Heaaah! Herrr...!"
"Mungkin itu mayat Kala Hitam dikubur- kan di sana!" ujar Kidang
Pangarsura sambil me- nunjuk gundukan tanah, menyerupai kuburan yang masih
baru.
"Mungkin," sahut Warik
Kala. Lalu mereka menjalankan kuda menuju tempat mayat Kala Hitam dan kedua
temannya dikuburkan.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala
segera melompat turun dari kudanya. Langsung meme- riksa kuburan baru itu.
"Perasaanku mengatakan benar
ini pasti kuburan Kala Hitam! Ayo, kita bongkar!!" kata Ki- dang
Pangarsura.
"Tunggu dulu! Ini ada tiga
kuburan. Yang mana kira-kira mayat Kala Hitam...?" cegah Warik Kala.
"Ahhh! Bongkar saja semuanya!
Kita kan ingin kenyataan. Apakah benar kawan kita itu benar telah mati!"
sergah Kidang Pangarsura.
Lalu dengan menggunakan tenaga
dalam mereka, tak memakan waktu lama, kuburan- kuburan itu telah terbongkar.
"Aneh! Rasanya tak mungkin.
Kala Hitam yang memiliki ilmu cukup tinggi benar-benar man!" gumam Warik
Kala. Setelah melihat mayat Kala Hitam yang mukanya rusak. Mengerikan.
"Kurang ajar! Siapa pun yang
melakukan- nya, akan kubalas!" dengus Kidang Pangarsura dengan geram.
Matanya membelalak lebar. Gi- ginya beradu, menimbulkan gemeretak.
Matanya liar menyapu sekeliling
tempat itu. Lalu pandangannya terhenti pada satu arah.
"Warik Kala, kau lihat bekas
telapak kaki yang menuju ke sekitan. Mungkin orang itu yang membunuh kawan
kita. Ayo kita kejar...!" kata Kidang Pangarsura dengan nada geram.
Segera keduanya melompat ke atas
pung- gung kuda. Dan mereka memacu kudanya dengan cepat ke sekitan.
"Hea! Hea...!"
***
Sena dan Mei Lie baru saja keluar
dari se- buah kedai, habis istirahat dan sekadar mengisi perut. Tiba-tiba para
penduduk Desa Serangan dikejutkan oleh dua orang berkuda yang tak lain Kidang
Pangarsura dan Warik Kala. Derap kaki kuda yang keras dan kencang membuat
orang- orang yang sedang berlalu lalang di jalan utama desa itu panik dan
berlarian menghindar.
Apalagi mereka yang mengenali kedua
orang-orang itu nampak mencibir dengan hati di- liputi rasa cemas. Karena
mereka tahu bahwa orang berkuda itu dari aliran hitam yang mengu- asai
Kadipaten Galih Putih dengan cara licik dan kotor.
"Herrr, herrr...!" Kidang
Pangarsura menarik tali kekang kudanya agar berhenti. Begitupun yang dilakukan
Warik Kala. Sambil memandang sekeliling desa yang dilewati, mereka membiarkan
kuda berjalan pelan. Mata Kidang Pangarsura dan Warik Kala terus menyapu ke
kiri dan kanan dengan pan- dangan tajam dan bengis. Para penduduk desa nampak
acuh dan menghindar.
Mei Lie yang melihat situasi
demikian, hanya tersenyum sinis. Sena menggaruk-garuk kepala sambil
cengai-cengir memandangi Kidang Pangarsura dan Warik Kala.
"Hei...! Siapa yang merasa
menguburkan mayat sahabatku yang mati di Lembah Bulak Ra- wa?!" seru
Kidang Pangarsura dengan suara pe- nuh geram. Matanya jelakitan ke sana kemari.
Para penduduk desa yang mendengar
me- rasa heran dan aneh dengan pertanyaan Kidang Pangarsura itu. Mereka saling
pandang dan men- gangkat bahu. Ada pula yang menggeleng kepala. Sebagian lagi
tampak tak peduli dengan ocehan Kidang Pangarsura.
"Hei! Kau berhenti!"
bentak Kidang Pangar- suara yang melihat seorang lelaki setengah baya dengan
tak peduli ngeloyor pergi.
Lelaki setengah baya yang ternyata
Ki Suko Kusumo, Kepala Desa Serangan, menghentikan langkahnya. Lalu membalik
perlahan seraya me- natap Kidang Pangarsura dan Warik Kala, dengan menyipitkan
kedua matanya.
"Ada apa, Kisanak...?"
tanya Ki Lurah Suko Kusumo.
"Bangsat! Ditanya malah kau
bertanya!" Kidang Pangarsura marah. Kemudian bergerak hendak menghajar Ki
Lurah Suko Kusumo dengan cambuknya. Namun cambuk itu belum sem- pat menyentuh
tubuh Ki Lurah Suko Kusumo. Karena mendadak sesosok wanita muda melom- pat,
dan....
"Yeaaa...!" Prattts!
"Hah?!" Kidang Pangarsura tersentak kaget, meli- hat cambuknya
terlepas.
Belum sempat Kidang Pangarsura dan
Wa- rik Kala mengenali siapa penyerangnya, wanita berambut panjang itu sudah
membentaknya.
"Hei! Jangan sembarangan main
cambuk orang yang tak tahu apa-apa tentang mayat sa- habatmu itu! Akulah yang
menguburkan mayat sahabatmu itu. Sekarang kau mau apa...?!"
Gadis itu bahkan berani menantang
Kidang Pangarsura dan Warik Kala. Matanya yang bening dan lembut menatap wajah
kedua lelaki yang du- duk di punggung kuda itu.
"Bedebah! Siapa kau, Wanita
Bawel...! Kaukah yang membunuh Kala Hitam?!" bentak Kidang Pangarsura
dengan geram. Lalu melompat dari atas punggung kudanya, disusul oleh Warik
Kala. Keduanya berdiri tegap di hadapan Mei Lie
"Ha ha ha...! Rupanya kalian
orang-orang picik dan rendah!" maki Mei Lie sambil mencabut pedang yang
tersampir di punggungnya.
"Hah?!" Kidang Pangarsura
dan Warik Kala tersentak kaget ketika melihat Pedang Bidadari yang digenggam
tangan kanan Mei Lie. Mereka tahu kalau pedang yang memancarkan sinar kun- ing
kemerah-merahan itu Pedang Bidadari. Dan hanya si Bidadari Pencabut Nyawa
kekasih Pen- dekar Gila yang memiliki
"Pedang Bidadari...?!"
desis Kidang Pangarsura dan Warik Kala lagi dengan mata terbelalak seakan tak
percaya pada apa yang dilihatnya. Ki Lurah Suko Kusumo dan para warga Desa
Serangan yang berada di tempat itu tampak kaget me- nyaksikan pedang Mei Lie
yang bersinar kuning kemerahan-merahan.
"Hi hi hi...! Lucu, kalian
berdua ini lucu. Hi hi hi... mau apa kalian, Badut?!" celetuk Sena yang
melangkah maju sambil menggaruk-garuk kepala mengejek Kidang Pangarsura dan
Warik Kala. Kedua orang itu semakin terkejut
Wajah mereka saling tatap diliputi
ketegan- gan ketika mengenali siapa pemuda yang berting- kah laku seperti orang
gila itu. Sementara itu Ki Lurah Suko Kusumo yang rupanya juga telah mengenali
pemuda berompi dari kulit ular itu, tampak tersenyum lega.
"Pendekar Gila...?!"
pekik Kidang Pangarsu- ra. Wajahnya yang semula garang dan bengis be- rubah
seketika. Tersungging senyum kecut di bi- birnya. "Hei! Sekarang kau sudah
berhadapan dengan orang yang menguburkan mayat saha- batmu. Jawab, apa maumu...!"
ujar Mei Lie ketus, sambil menuding Kidang Pangarsura dengan Pe- dang
Bidadari-nya.
"Hm..., mak..., maksud kami
hanya ingin tahu siapa yang membunuh sahabatku itu...," ja- wab Kidang
Pangarsura bimbang.
"Hi hi hi... Lucu! Kalau hanya
itu, kenapa kau berbuat kasar sama orang yang tak tahu- menahu soal mayat
sahabatmu itu? Aku kurang suka dengan tindakanmu itu, Kisanak.... Terus terang
aku tersinggung...," ucap Sena dengan cengengesan dan menggaruk-garuk
kepala.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala
saling pandang. Mukanya memerah. Marah. Namun Warik Kala yang lebih memakai
otak, dari pada otot segera menjawab.
"Maaf...! Kami tak ingin
bentrok dengan, Kisanak. Kami berdua hanya ingin mencari pem- bunuh sahabat
kami. Terima kasih atas kerelaan pendekar mau mengubur mayat Kala Hitam sa-
habat kami itu...."
"Hm...! Baiklah, kalau memang
kalian ber- dua mengerti bahwa aku dan Kang Sena bukan pembunuh yang kau cari.
Sekarang cepat kalian tinggalkan desa ini! Aku paling tak suka melihat
orang-orang Desa Sarangan ini ketakutan dan cemas!" kata Mei Lie ketus.
Kidang Pangarsura menahan marah.
Gi- ginya gemeretak beradu. Warik Kala menenang- kan, seraya berkata lirih,
"Tenang, Kawan. Pendekar Gila
dan Bida- dari Pencabut Nyawa bukan pembunuh Kala Hi- tam. Sebaiknya kita cepat
pergi dari desa ini. Tu- juan kita mencari pembunuh itu. Urusan sakit hati pada
Pendekar Gila dan wanita itu kita atur selanjutnya...."
Kidang Pangarsura memaksakan diri
untuk tersenyum mengangguk.
"Maafkan kami...! Ayo
pergi!" kata Kidang Pangarsura dengan mengajak Warik Kala untuk segera
pergi dari tempat itu.
"Her, her...!" "Hea!
Heaaa...!" Kedua kuda yang ditunggangi Kidang Pangarsura dan Warik Kala
dengan cepat meninggal- kan Desa Sarangan. Pendekar Gila dan Mei Lie memandangi
dari belakang. Pendekar muda itu terus tertawa-tawa cekikikan sambil mengorek
kupingnya dengan bulu burung yang selalu dis- impan di dalam ikat pinggangnya.
"Terima kasih, Tuan
Pendekar.... Juga Ni- ni...," ucap Ki Lurah Sumo Kusumo sambil men- jura.
Begitu juga para penduduk desa yang mera- sa senang dengan kehadiran sepasang
pendekar muda itu di desa mereka.
"Sama-sama, Ki. Sudah
kewajiban kami berdua untuk menolong orang-orang lemah," ja- wab Sena
seraya tersenyum. "Tapi siapa sebenar- nya kedua orang tadi, Ki?"
tanya Sena kemudian.
"Mungkin Ki Lurah bisa
menjelaskan...," tambah Mei Lie menyela ucapan Pendekar Gila.
Ki Lurah Sumo Kusumo
manggut-manggut seraya menatap dengan senyum pada Sena dan Mei Lie.
"Hm..., sebaiknya Tuan berdua singgah du- lu ke rumah kami! Nanti saya
ceritakan sedikit tentang kedua orang tadi...," kata Ki Lurah Sumo Kusumo
kalem.
Pendekar Gila melirik wajah Mei
Lie, sambil terus mengorek telinganya dengan bulu burung. Seakan dirinya
meminta pertimbangan pada Mei Lie. Ternyata gadis itu menganggukkan kepala,
tanda setuju.
"Baiklah...," jawab Sena
dengan mulut cen- gengesan.
"Kalau begitu mari,
silakan...!" kata Ki Lu- rah Sumo Kusumo memberi jalan pada Sena dan Mei
Lie dengan ramah. Begitu juga dengan penduduk desa. Tampaknya mereka telah
mengeta- hui tentang keberadaan Pendekar Gila dan keka- sihnya, si Bidadari
Pencabut Nyawa. Hal itu tak mengherankan, karena sepak terjang Pendekar Gila
sebagai pendekar penegak keadilan telah di- kenal tidak hanya oleh kalangan
rimba persilatan.
***
Ki Lurah Sumo Kusumo menceritakan
se- cara singkat pada Pendekar Gila dan Mei Lie. Bahwa kedua orang berkuda itu
anggota Partai Panca Siwara yang kini menguasai Kadipaten Ga- lih Putih.
"Aha! Lalu siapa pembunuh
kawan orang- orang sesat itu, Ki?" tanya Sena sambil mengga- ruk-garuk
kepala. Mulut masih juga cengengesan. "Ya!" sela Mei Lie, sebelum Ki
Lurah Sumo Kusumo menjawab. "Tadi Ki Lurah bilang bahwa Ki Damar Kiwangi
punya adik kandung. Apa dia juga mati dibunuh Partai Panca Siwara...?!"
"Saya belum tahu pasti karena
cerita yang tersiar simpang siur. Ada yang menceritakan bahwa adik Ki Damar
Kiwangi yang bernama An- jang Kawiwangi mati setelah dilempar ke jurang. Tapi
ada pula yang mengatakan bahwa Anjang menghilang begitu saja...," kata Ki
Lurah Sumo Kusumo menjelaskan. Kepala lelaki setengah baya itu
menggeleng-geleng seakan tidak yakin pada apa yang diceritakannya sendiri.
Pendekar Gila manggut-manggut,
kemu- dian menggaruk-garuk kepalanya. Mei Lie mengerutkan kening. Ditatapnya
wajah Ki Lurah Sumo Kusumo sejenak lalu tanyanya,
"Kalau saya boleh tahu apa Ki
Lurah tahu, siapa kira-kira pembunuh tokoh Partai Panca Si- wara itu?"
"Hm...!" gumam Kepala
Desa Sarangan itu sambil mengerutkan kening. Sejenak lelaki seten- gah baya itu
mengingat-ingat sesuatu. "Ya. Kami dengar dari orang-orang yang pernah
melihat, bahwa ada seorang lelaki berkaki buntung yang tiba-tiba muncul di
wilayah ini. Diduga keras le- laki buntung itulah pelaku pembunuhan terhadap Senapati
Wiryapaksi dan Kala Hitam..."
"Lelaki buntung...?!"
gumam Mei Lie den- gan kening berkerut, kaget Sementara Pendekar Gila seakan
tak peduli dengan lelaki buntung yang disebut Ki Lurah Sumo Kusumo. Dia tetap
dengan tingkahnya yang lucu. Cengengesan sam- bil menggaruk-garuk kepala.
Sena kemudian melirik sebentar pada
Mei- Lie. Dan Mei Lie mengerti maksud lirikan Sena itu.
"Mungkinkah lelaki buntung itu
ada hu- bungannya dengan adik Ki Damar Kiwangi, yang belum jelas mati atau...
masih hidup?" gumam Mei Lie pelan sekali seperti bicara pada diri sendi-
ri.
Ki Lurah Sumo Kusumo tampaknya men-
dengar gumaman Mei Lie.
"Mungkin juga adik Ki Damar
Kiwangi ma- sih hidup. Ah, tapi tak mungkin! Kelima tokoh se- sat itu telah
melemparkannya ke jurang Mager
Wadas setelah dihajar sampai
setengah mati.... Dan nyatanya hingga sekarang tak pernah ter- dengar lagi nama
Anjang Kawiwangi"
Mei Lie menyipitkan kedua matanya,
seo- lah-olah tengah berusaha memecah dan mema- hami penjelasan Kepala Desa
Sarangan itu.
"Apa Ki Lurah menyaksikan
kejadian itu...?" tanya Sena tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Sena itu, Ki
Lurah Sumo Kusumo mengerutkan kening. Sejenak dia menghela napas panjang.
"Ya, sepuluh tahun yang lalu.
Sebab saya sendiri termasuk murid dari Padepokan Gunung Talang. Bahkan hampir
semua penduduk Desa Sarangan ini mengabdi pada Ki Damar Kiwangi yang bijaksana
dan pembela kaum lemah. Seperti Tuan Pendekar saat ini," Ki Lurah Sumo
Kusumo menghentikan ucapannya sebentar dan menghela napas. "Namun sejak
Padepokan Gunung Talang dihancurkan Partai Panca Siwara keadaan kian memburuk.
Penduduk desa yang sebelumnya hi- dup aman dan sentosa, kini selalu merasa
dice- kam ketakutan. Pemerasan, pemaksaan, pembu- nuhan, bahkan penculikan
terjadi di mana-mana. Tidak hanya di Desa Sarangan ini. Hampir semua desa yang
masih dalam lingkungan Kadipaten Galih Putih menjadi cengkeraman Partai Panca
Siwara."
Mendengar cerita Ki Lurah Suko
Kusumo Pendekar Gila dan Mei Lie mengangguk- anggukkan kepala. Sena kemudian
menggaruk- garuk kepala lagi.
"Ki Lurah, kalau saya boleh
tahu, di mana- kah letak Padepokan Gunung Talang?" tanya Mei Lie kemudian.
Mendengar itu Sena menoleh ke- pada Mei Lie.
"Tak Jauh dari Lembah Bulak
Rawa. Te- patnya di sebelah utara lembah itu. Tempatnya dulu cukup nyaman, tapi
sekarang menjadi serem dan angker. Orang-orang Desa Sarangan tak per- nah
datang ke sana...," kata Ki Lurah Sumo Ku- sumo dengan wajah keruh.
Sena dan Mei Lie saling pandang.
Lalu berucap terima kasih pada kepala desa itu. Mereka tak lagi bicara. Suasana
seketika berubah hening. Sementara di luar matahari semakin condong ke barat.
Sinarnya pun mulai keemasan.
3
Dalam perjalanan menuju kediaman
Danur Saka, Kidang Pangarsura dan Warik Kala terus di- landa rasa cemas.
Kegalauan tergambar jelas di wajah kedua lelaki bertampang bringas itu.
Kuda-kuda itu dipacu kencang
menelusuri tepian sungai yang airnya cukup deras. Kuda- kuda itu terus dipacu
untuk menyeberangi sungai yang ternyata dangkal. Bebatuan tampak tersem- bul di
sana-sini, memecah arus menjadi beriak- riak.
Sampai di seberang, tiba-tiba
Kidang Pangarsura berkata agak kesal pada Warik Kala.
"Seharusnya kemarin kita coba
ilmu Pendekar Gila dan gadis Cina itu! Aku merasa dire- mehkan...!" Kidang
Pangarsura tak menyembu- nyikan wajahnya yang bersungut-sungut karena kesal.
"Sebenarnya aku pun merasa
ingin menjaj- al kesaktian Pendekar Gila. Tapi tujuan kita yang pertama harus
dituntaskan terlebih dahulu. Kita harus bersiasat. Orang seperti Pendekar Gila
ha- rus dilawan dengan tipu muslihat!" tukas Warik Kala coba meredakan
dengan kata-katanya.
"Pintar juga kau, Warik! Ha ha
ha...! Herrr! Heaaa...!" Kidang Pangarsura langsung mengge- bah kudanya,
disusul Warik Kala.
Tanpa diketahui oleh mereka sesosok
bayangan berkelebat menguntit dari belakang. Ke- tika memasuki Hutan Roban.
Sosok bayangan itu bagai seekor kera, melompat-lompat dari pohon satu ke pohon
lain. Begitu cepat gerakannya, se- hingga yang tampak hanya bayang-bayang kehi-
jauan seperti melayang terbawa angin.
"Ho...!" Kidang
Pangarsura mendadak menghenti- kan lari kudanya. Hal itu membuat Warik Kala
agak kaget dan cepat menarik tali kekang ku- danya. Hingga kuda itu meringkik.
"Hiiieee...!" "Ho,
hop! Ada apa...?!" tanya Warik Kala tak mampu menutupi keheranannya.
"Apa telingamu tak mendengar
suara aneh? Kita diikuti orang!" jawab Kidang Pangarsura setengah
berbisik.
Warik Kala menelengkan kepala
seakan berusaha mendengar. Matanya liar menyapu sekeliling Hutan Roban yang
terkenal angker. Dan me- nurut kabar, banyak makhluk halus menghuni hutan itu.
"Aku menduga rasanya dia bukan
manu- sia. Mungkin hantu atau makhluk halus..!" gumam Warik Kala dengan
suara agak tertahan.
"Hi hi hi...! Hi hi hi...! Kau
manusia- manusia buruk mau ke mana?! Hi hi hi...!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang
wanita tertawa nyaring. Suaranya seperti tawa kuntila- nak. "Hah?!"
sentak Kidang Pangarsura. Belum sempat kedua lelaki bermuka bringas itu dapat
menguasai keadaan. Tiba-tiba...
Swing! Swing! Swing...! Beberapa
senjata rahasia berupa tusuk kode beracun meluncur bagai anak panah ke arah
kedua lelaki itu. Kidang Pangarsura dan Wa- rik Kala cepat mengelak dengan
menjatuhkan diri ke tanah, lalu bergulingan. Secepat itu pula me- reka mencabut
senjata masing-masing. Kidang Pangarsura dengan senjata pedang, sedangkan Warik
Kala dengan golok.
Keduanya menangkis tusukan konde
bera- cun itu. Trang! Trang! Trang...!
Dar! Darrr...! Tusukan konde yang
tertangkis dan meng- hantam pohon-pohon yang ada di hutan itu me- nimbulkan
ledakan dahsyat. Beberapa pohon tumbang setelah terbakar.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala
tersentak kaget, melihat keampuhan tusukan konde itu. "Hi hi hi...! Ini
baru permainan kecil. Baru pembukaan, Manusia-manusia Kotor...! Ha ha ha...! Hi
hi hi...!" kembali suara tanpa wujud itu menggelegar keras bagai memecah
kesunyian Hu- tan Roban.
"Benar! Bukan manusia yang
kita hadapi, Warik! Mungkin dedemit Hutan Roban ini...!" gu- mam Kidang
Pangarsura. Wajahnya kini tampak berkeringat. Karena satu tusukan konde, hampir
saja menjebol perutnya yang besar. Kalau saja ta- di dia tidak cepat menangkis
sambil bergulingan, remuk redamlah tubuhnya meledak seperti po- hon-pohon itu.
"Si... siapa kau? Manusia atau
hantu...?" tanya Warik Kala dengan suara sedikit tertahan.
"Hei...! Kalau kau manusia,
Perempuan Se- jati, keluarlah! Hadapi aku...!" seru Kidang Pangarsura yang
cepat emosi dan tak bisa menguasai diri itu. Baru saja Kidang Pangarsura
selesai berseru, tiba-tiba.....
Srakkk...! Seorang wanita berparas
cantik muncul di hadapan mereka.
"Kau memanggilku...?!"
tanya wanita itu dengan senyum genit. Matanya bening dan memi- liki daya tarik.
Bibirnya yang merah tampak tipis dan indah. Ditambah lagi tubuhnya yang padat,
sintal, terbalut kulit berwarna kuning langsat
Kedua lelaki beringas hanya bisa
melongo memandangi wanita itu. Tubuh wanita itu hanya ditutupi kain warna hijau sampai di dada,
seperti kemben. Sedang bagian bawah memakai kain hi- tam, sedikit di atas
lutut. Sehingga jika wanita itu sedikit saja mengangkat kaki akan terlihat
jelas pahanya yang mulus.
"Hei! Kenapa kau diam seperti
orang bi- su...?!" tanya wanita itu dengan diiringi senyum genit.
"Si... siapa kau? Manusia atau
hantu...?" tanya Warik Kala dengan suara sedikit tertahan.
"Kalian ini memang manusia-manusia
bu- ta! Kalau aku hantu, lantas kalian mau apa? Dan kalau aku manusia seperti
kalian...?" jawab wani- ta itu dengan suara nyaring.
Kidang Pangarsura yang sejak tadi
terke- sima menyaksikan kemolekan tubuh dan paras cantik wanita itu, menyelak,
"Kalau kau manusia biasa, aku
ingin men- gawinimu...!"
"Apa kau tak salah? Dan aku
ingin tahu apa ucapanmu itu bisa dipercaya...?" tukas wani- ta aneh itu
dengan genit. Tangannya yang kiri perlahan dengan sengaja mengangkat ke atas
kainnya. Hingga hampir pangkal paha. Mendadak mata kedua lelaki itu
berbinar-binar. Dan mene- lan ludah.
Kidang Pangarsura yang buas dengan
wa- nita, tak pikir panjang lagi, segera ia menubruk dan memeluk wanita itu
dengan penuh nafsu.
Anehnya wanita itu tak berusaha
menolak. Bahkan mendesah dan tertawa cekikikan. Warik Kala yang melihat
keanehan dari tawa wanita itu mulai merasakan bulu kuduknya berdiri. Merind-
ing. Ingin dia memberi tahu Kidang Pangarsura, tapi mulutnya terasa kelu, tak
dapat dibuka. Pa- dahal telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya. Aneh sekali.
Entah ilmu apa yang dipakai wanita cantik itu.
Pada saat Kidang Pangarsura semakin
lupa daratan, perlahan-lahan wajah wanita yang ta- dinya cantik itu, berubah
sangat menyeramkan. Keriput dan pucat. Warik Kala terbelalak kaget Mulutnya
ternganga lebar seperti hendak berte- riak, tapi sulit.
"Hah?! Hantu...?"
pekiknya lirih. Lalu sege- ra berlari sekuat tenaga meninggalkan Kidang
Pangarsura yang masih mendekap tubuh wanita itu sambil menciumi buah dadanya.
Warik Kala melompat ke punggung
kuda dan cepat melarikannya. Tanpa menoleh lagi Wa- rik Kala meninggalkan Hutan
Roban.
Sementara itu, Kidang Pangarsura
mulai merasakan keanehan. Tubuh wanita itu tiba-tiba terasa dingin sekali. Dan
menyusul segera Kidang Pangarsura mengangkat mukanya yang sejak tadi menyusup
di dada wanita itu.
"Hah...?! Aaa...! Han...
hantuuu...!" Kidang Pangarsura terkejut bukan main. Dia berusaha lari.
Namun aneh ada kekuatan membelenggu hingga tak bisa mengangkat kakinya.
"Hi hi hi...! Jawab
pertanyaanku, sebelum ajalmu tiba! Apa kau dari Partai Panca Siwara?!"
tanya wanita yang wajahnya sudah berubah me- nyeramkan itu.
Kidang Pangarsura tak berani
berbohong. Sekujur tubuhnya yang sudah bermandi keringat gemetaran. Dan mukanya
pucat pasi.
"Kau memang manusia rendah dan
licik! Ternyata ilmumu tak kuasa menandingiku. Hi hi hi...! Dan kini terimalah
ajalmu! Grrr...!"
"Aaauwww...!" Kidang
Pangarsura menjerit-jerit dan men- dadak suaranya berhenti. Jiwa Kidang
Pangarsura melayang.
Rupanya wanita itu mencekik dengan
ku- ku-kukunya yang tiba-tiba memanjang dan runc- ing. Lalu mencucup ubun-ubun
Kidang Pangar- sura.
"Hi hi hi...! Kakang
Brajasukmana, aku telah membalaskan dendammu. Hi hi hi....!"
Wanita itu kemudian nampak puas,
darah menetes dan membasahi tangannya. Perlahan-lahan wajahnya kembali berubah
seperti semula. Cantik dan sensual. Itulah ilmu ‘Perubah Raga’, milik wanita
yang dikenal dengan nama Dewi Sukmalelana.
"Sebaiknya mayat ini kukirim
ke kadipaten sekarang juga," gumamnya lirih. Setelah berpikir, Dewi
Sukmalelana melesat bagai terbang, sambil membopong mayat Kidang Pangarsura.
***
Ketika Dewi Sukmalelana sedang
berlari kencang sambil membopong mayat Kidang Pangarsura, tiba-tiba berpapasan
dengan sepasang muda-mudi yang sedang menuju arah berlawanan. Mereka tak lain
Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Berhenti...!" seru Mei
Lie sambil mengang- kat tangan kirinya ke depan. Sedang Pendekar Gi- la hanya
cengengesan menatap Dewi Sukmalelana yang nampak tenang-tenang saja. Tak ada
rasa kesal atau marah.
"Hi hi hi...! Ada perlu apa
kalian menghen- tikanku...?" tanya Dewi Sukmalelana dengan se- nyum genit.
Matanya melirik wajah Sena, mem- buat Mei Lie melebarkan mata, cemburu.
"Hei...! Aku yang bicara,
bukan dia!" seru Mei Lie ketus.
"Hi hi hi...! Oooh rupanya
pemuda tampan dan gagah itu kekasihmu. Maafkan aku! Bukan maksudku membuatmu
cemburu. Tapi jujur saja, pemuda pendampingmu itu membuatku terpeso-
na...," ujar Dewi Sukmalelana tanpa rasa malu sedikit pun.
"Huh! Mulutmu terlalu bawel.
Perlu dikasih pelajaran...!"
Selesai berkata begitu, Mei Lie
segera ber- gerak hendak menyerang. Namun Dewi Sukmale- lana segera berkata,
memohon maaf.
"Tunggu, sabar! Sekali lagi
maafkan aku. Bukankah kalian berdua Pendekar Gila dan Bida- dari Pencabut
Nyawa? Sepasang pendekar yang sangat kesohor di bumi Jawa Dwipa ini...?"
kata Dewi Sukmalelana dengan nada bersahabat. Mu- lutnya tersenyum manis.
Mei Lie dan Sena saling pandang.
"Ah ah ah...! Jangan sebut kami pendekar!
Kita berdua hanya manusia biasa.
Seperti kamu. Tapi bagaimana kau bisa mengenal kami...?" tanya Pendekar
Gila dengan mulut cengengesan dan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Hhh..., tak terlalu sulit
untuk mengenali- mu, Pendekar. Pertama, tingkahmu yang aneh. Kedua, aku melihat
suling berkepala naga terselip di ikat pinggangmu...," jawab Dewi
Sukmalelana bangga. Lalu matanya berkerling pada Sena. Membuat Mei Lie
bertambah kesal dan cemberut
"Sungguh jeli matamu...,"
puji Sena sambil menggaruk-garuk kepala. "Tentunya kau bukan perempuan
sembarangan. Dan kalau aku boleh tahu, untuk apa kau membawa orang
itu...?"
"Ya. Tentu kau telah melakukan
kejahatan. Telah membunuh orang itu...," tukas Mei Lie langsung dengan
nada ketus.
"Benar. Aku telah membunuh
orang itu...," jawab Dewi Sukmalelana dengan tegas dan man- tap.
Mei Lie mengerutkan kening.
"Kalau begitu kau yang membunuh par- tai...."
Belum sempat Mei Lie meneruskan
kata- katanya, Dewi Sukmalelana cepat menyelak. "Partai Panca Siwara,
maksudmu...?!" "Ya!" jawab Mei Lie singkat "Lantas, kenapa
kau bunuh orang itu...?" tanya Sena sambil cengengesan dan menggaruk-
garuk kepala.
"Maaf! Mungkin lain kali aku
dapat menja- wab pertanyaanmu. Aku harus segera pergi...!" ujar Dewi
Sukmalelana, "Kumohon jangan ganggu aku! Aku tak ingin bentrok dengan
kalian. Permi- si!"
Selesai berkata begitu, Dewi
Sukmalelana melesat cepat bagai terbang, meninggalkan Pen- dekar Gila dan
kekasihnya. Mei Lie yang sejak ta- di merasa kesal dan sedikit cemburu dengan
tingkah laku, serta ucapan Dewi Sukmalelana, ingin mengejarnya. Namun Sena
mencegah.
"Sabar, Mei! Jangan turuti
perasaanmu! Rencana kita untuk menyelidiki siapa si buntung itu bisa gagal.
Kalau kau tak dapat menguasai di- ri...," cegah Sena dengan lemah lembut,
sambil memanggul kekasihnya.
"Aku sebel mendengar suaranya.
Apalagi matanya selalu tertuju padamu. Perempuan ge- nit!" sungut Mei Lie
dengan wajah cemberut.
"Kau semakin cantik dan
memikat, kalau cemberut, Mei...."
Sena coba menyenangkan hati
kekasihnya. Mei Lie yang dipuji jadi memerah mukanya. Ke- mudian tangannya
mencubit pinggang sang Ke- kasih. Sena melepas rangkulannya, lalu mengga-
ruk-garuk kepala sambil cengengesan.
Pasangan pendekar muda itu kemudian
meneruskan perjalanan. Namun baru beberapa langkah, Mei Lie berhenti.
"Kakang...," tegur Mei
Lie. "Hm...?" "Mungkinkah perempuan genit tadi ada hubungan
dengan lelaki buntung itu? Dan mayat siapa yang dibawa tadi...?" tanya Mei
Lie.
"Dugaanmu mungkin saja benar.
Tapi kita belum bisa menuduhnya. Selama dia tak menya- kiti kita, aku rasa tak
perlu terlalu ikut campur urusan orang."
"Tapi Kakang, perempuan itu
telah mem- bunuh. Apa itu dibenarkan?! Semestinya tadi aku cepat
menghajarnya!" ujar Mei Lie dengan kesal dan cemberut.
"Sabar, sabarlah sedikit, Mei!
Percayalah, kesabaran dan ketenangan mampu mendukung usaha kita...," kata
Sena kembali mengingatkan Mei Lie yang mulai gampang marah.
Mei Lie tampaknya bisa mengerti.
Gadis cantik itu menghela napas panjang, lalu melang- kah meninggalkan Sena
yang masih menggaruk- garuk kepala memandangi kekasihnya yang se- dang kesal.
Lalu memburu Mei Lie, dan berjalan di samping Mei Le.
***
Sementara itu Dewi Sukmalelana
telah sampai di depan Kadipaten Galih Putih. Namun ketika langkahnya baru
memasuki pintu gerbang, tiba-tiba....
Zing! Zing! Zing...! Berpuluh-puluh
anak panah dan tombak meluncur memburu Dewi Sukmalelana. Perem- puan cantik itu
dengan cepat memindahkan mayat Kidang Pangarsura ke dada, untuk tameng.
Beberapa anak panah dan tombak menancap di tubuh Kidang Pangarsura yang telah
jadi mayat itu.
"Hi hi hi...! Manusia-manusia
bodoh! Rasa- kan ini, heaaa...!"
Dewi Sukmalelana menghentakkan
kedua telapak tangannya ke depan. Seketika dari tela- pak tangannya keluar semburan
api melesat ke arah para prajurit kadipaten yang dipimpin Warik Kala dan para
pengawal kadipaten.
Wurrrs...! "Aaa...!"
"Wuaaakh...!" Para prajurit menjerit ketika tubuh mereka tersambar
semburan api yang keluar dari telapak tangan Dewi Sukmalelana. Belasan prajurit
tewas seketika, terlalap semburan api ganas itu. Mereka yang masih hidup
berlarian tunggang-langgang menginjak mayat-mayat prajurit yang telah mati
terbakar.
"Kurung perempuan iblis
itu...!" seru Warik Kala memerintahkan para prajurit dan pengawal
kadipaten.
Serentak para prajurit dan pengawal
kadi- paten mengurung Dewi Sukmalelana dengan ber- senjata tombak, golok, dan
pedang.
"Hi hi hi...! Aku senang
dengan permainan ini. Hi hi hi...!" Dewi Sukmalelana dengan cepat
menggerakkan kedua tangannya ke depan dada. Disusul dengan kaki kirinya
terangkat ke atas la- lu ditekuk, kemudian dengan keras dihentakkan ke tanah.
Akibatnya tanah yang diinjak bergun- cang, seperti dilanda gempa. Para prajurit
dan pengawal kadipaten tersentak kaget dan hanya bisa melongo, ketika tiba-tiba
bumi berguncang hebat
"Hi hi hi...!" Dewi
Sukmalelana tertawa ter- kekeh-kekeh. Suara tawanya berubah menjadi
menyeramkan. Seperti tawa makhluk gaib. Keras, melengking, dan memekakkan
telinga.
"Ilmu apa yang dia gunakan...?!"
gumam Warik Kala yang mulai kecut dan ciut nyalinya. Namun dia segera mencabut
goloknya.
Belum habis rasa ketakutan dan
kehera- nan para prajurit dan pengawal, Dewi Sukmalela- na tiba-tiba
mengibaskan rambutnya, sambil memutar kepala. Dan rambut yang tadi panjang- nya
hanya melewati bahu, kini berubah meman- jang. Memanjang terus bagaikan hidup,
memburu dan menghantami orang-orang yang mengurung- nya.
Wrrrt! Prats! Prats!
"Aaakh...!" Bagai kena tamparan yang keras dan pa- nas, para prajurit
dan pengawal menjerit panjang. Lalu roboh ke tanah, tak bernyawa lagi. Kepala
ataupun tubuh mereka hancur tersambar rambut Dewi Sukmalelana yang menjadi
panjang bagai ular raksasa.
"Hah!" Warik Kala memekik
tertahan. Matanya terbelalak lebar seperti hendak keluar dari kelopaknya.
Sekujur tubuhnya mendadak geme- taran, sedangkan pandangannya buram tak jelas.
Entah kenapa.
"Oh mataku...!" keluh
Warik Kala.
Rupanya Dewi Sukmalelana menyemburkan
serbuk beracun dari mulutnya.
"Aaakh..., mataku...!"
teriak Warik Kala sambil mengucek matanya.
"Hi hi hi...! Itu hadiah orang
yang lari dari- ku...! Kini, tak lama lagi kau akan menyusul temanmu ke
akherat! Heh...!"
Dewi Sukmalelana melompat bagai
macan kumbang, menerkam Warik Kala. Meskipun da- lam keadaan tak karuan, Warik
Kala masih sem- pat mengelak dengan menjatuhkan diri ke tanah. Mengetahui hal
itu, dengan cepat Dewi Sukmale- lana menginjakkan kaki kanannya ke tubuh Wa-
rik Kala yang masih berada di tanah.
Krakkk! "Aaakh...!" Warik
Kala menjerit, ketika dirasakan da- danya remuk. Sesaat kemudian lelaki
berwajah beringas itu tewas dengan mata membelalak.
Para prajurit kadipaten, segera
berlarian tunggang-langgang. Mereka tampaknya tak ada yang berani menghadapi
Dewi Sukmalelana. Wa- nita dan anak-anak yang tinggal di lingkungan kadipaten
pun ketakutan. Mereka kalang kabut berusaha bersembunyi.
"Hi hi hi...!" Dewi
Sukmalelana terus tertawa-tawa nyaring. Suaranya sampai di telinga Pangeran Sa-
sanadipa yang sedang asyik bercumbu dengan para selirnya di kamar pribadi.
Namun hatinya yang telah tertutup nafsu birahi membuat suara kacau dan hiruk-pikuk
di luar bagai tak terdengar. Sang Pangeran tak mempedulikannya.
"Gusti Pangeran...! Gusti
Pangeran...!" te- riak seorang pengawal dari luar kamar. Namun karena tak
ada sahutan dari dalam, pengawal ka- dipaten itu terpaksa mendobrak pintu
kamar.
Brakkk..! "Aaa...!" para
selir yang sedang melayani sang Pangeran menjerit. Sambil menutupi tubuh mereka
yang tanpa pakaian, mereka berlarian ka- rena terkejut "Ooo..., pengawal!
Ada apa? Kenapa kau berani merusak pintu kamarku?!" kata Pan- geran
Sasandipa dengan mata masih layu dan wajahnya berkeringat
"Ampun, Gusti Pangeran...!
Ada, ada hantu perempuan ngamuk...! Semua orang dibunuhnya. Juga Warik
Kala!" lapor pengawal itu.
"Warik Kala mati?!" tanya
sang Pangeran lemah. "Benar, Gusti...!" pengawal itu menjura hormat
"Ayo, antar aku! Bagaimana rupa perem- puan itu...!" ajak sang
Pangeran yang pikirannya sudah setengah tak waras itu. Setelah turun dari
ranjangnya, para selir segera memakaikan pa- kaian Pangeran Sasanadipa. Juga
pusakanya, sebuah keris.
Pangeran Sasanadipa yang nampak
seperti orang mabuk itu melangkah gontai keluar dari kamar, diikuti pengawal
tadi.
Sementara di luar, orang-orang
kadipaten masih panik dan berlarian menyelamatkan diri.
"Orang-orang bodoh! Mengapa
takut pada-
ku...?! Aku tak akan menyakiti
kalian! Aku hanya bunuh manusia-manusia yang kuinginkan. Kalian semua telah
kena ilmu sihir Beruk Singgala. Termasuk pangeran kalian itu...!" seru
Dewi Sukmalelana.
Pada saat itu, muncul Pangeran
Sasanadi- pa dengan langkah gontai menuju pekitaran ka- dipaten. Melihat
pangeran muncul dan mendeka- tinya, Dewi Sukmalelana tersenyum pahit
"Hei, Wanita Cantik. Ada
urusan apa kau membunuh orang-orangku...?!" tegur Pangeran Sasanadipa.
Matanya yang merah dan sayu me- natap wajah Dewi Sukmalelana.
"Hi hi hi...! Panjang
ceritanya, Pangeran. Tapi aku tak ingin bermusuhan denganmu. Maaf, aku telah
membuatmu gusar!" tutur Dewi Sukma- lelana mantap.
"Wajahmu cantik dan
menggiurkan.... Sia- pa namamu? Aku pikir kau lebih baik jadi selirku, Cah
Ayu...," kata Pangeran Sasanadipa sudah berpikiran kurang waras itu.
"Kasihan pangeran ini! Dia
dulu orang yang bijaksana, gagah berani, dan pengasih. Kini jadi seperti orang
lupa ingatan.... Ini semua gara-gara Partai Panca Siwara itu! Beruk Singgala
penyihir itu...!" gumam Dewi Sukmalelana pelan. Seperti bicara pada diri
sendiri.
"Kenapa kau diam dan tak
menyerangku atau membunuhku, Cah Ayu?" seru Pangeran Sasanadipa sambil
mendekati Dewi Sukmalelana yang masih menatapnya dengan pandangan sayu dan iba.
Dewi Sukmalelana tiba-tiba
tertegun. Pikirannya menerawang jauh ke masa silam. Masa sepuluh tahun lalu,
ketika dirinya ikut menjadi korban keganasan Partai Panca Siwara. Setelah
diperkosa dan diperdaya dirinya yang bernama asli Saraswati itu dicampakkan
begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun Yang Maha Kuasa ternyata masih memberi
kehidupan kepadanya. Seo- rang perempuan tua, nenek sakti, menolong jiwanya
dari renggutan maut yang mengerikan. Nenek sakti mengganti namanya menjadi Dewi
Sukmalelana, setelah digembleng dan dididik ilmu kesaktian. Bahkan menurut
nenek sakti, Saras- wati yang telah meninggal diselamatkan dengan menggunakan
'Bunga Bangkai'. Sehingga Saras- wati dapat bertahan sampai saat ini Saraswati
dapat hidup kembali. Bahkan memiliki kekuatan dan kemampuan yang sakti.
"Oooh...?!" pekik Dewi
Sukmalelana tersen- tak dari lamunannya. Matanya menatap Pangeran Sasanadipa yang
sudah satu tombak di depan- nya. "Maaf Pangeran, aku harus pergi...!"
Selesai berkata demikian, cepat
Dewi Sukmalelana yang sebenarnya bernama Saraswati melesat dan menghilang dari
pandangan sang Pangeran.
"Aneh, perempuan secantik itu
jadi pem- bunuh! Tapi, kenapa dia tak melukaiku sedikit pun...?!" gumam
Pangeran Sasanadipa keheranan. Matanya yang layu memandang ke depan. Para
pengawal dan orang-orang kadipaten yang masih selamat pun merasa heran, melihat
sang
Pangeran ternyata selamat. Tak diusik
sedikit pun oleh perempuan yang mereka anggap perempuan iblis itu.
4
Angin senja bertiup sejuk. Udara
sangat cerah dengan langit tembaga di sebelah barat. Sebentar lagi sang Raja
Siang akan tenggelam, kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam.
Tampak para petani pulang dari sawah dengan perakitan terpanggul di pundak me-
reka.
Burung-burung beterbangan pulang ke
sarang dengan suara yang bersahut-sahutan.
Dua sosok tubuh manusia tampak melangkah
dalam keremangan senja. Kedua sosok yang ternyata sepasang muda-mudi itu
tiba-tiba berhenti. Si gadis yang berkulit kuning langsat dan bermata agak
sipit itu, mengenakan pakaian putih panjang. Rambut digelung satu di atas, dan
sisanya dibiarkan tergerai lurus. Sedang di sam- pingnya, pemuda tampan
mengenakan rompi dari kulit ular. Siapa lagi mereka kalau bukan Pende- kar Gila
dan Mei Lie.
"Nampaknya desa ini sedang
tertimpa ben- cana, Kakang," ujar Mei Lie seraya mengedarkan pandangan ke
sekeliling tempat itu.
Seakan-akan tak mendengar ucapan
kekasihnya, Pendekar Gila hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala
seolah-olah merasa gatal. Namun kemudian keningnya bekernyit. Seperti halnya
yang dilakukan Mei Lie, Sena menghela napas beberapa kali. Ternyata keduanya
menang- kap bau anyir, yang tak sedap.
"Bau ini busuk sekali, Kakang.
Seperti bau mayat." gumam Mei Lie sambil menutup hidung dengan jari tangan
kiri.
Benar. Di sana sini, di jalan
memasuki Desa Lindung Rawa bergelimpangan mayat-mayat penduduk desa. Tua-muda,
wanita dan anak- anak. Dengan leher tersobek dan wajah pucat membiru.
"Ya Hyang Batara...! Siapa
yang melakukan perbuatan keji ini?!" gumam Pendekar Gila sambil
menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya tampak cengengesan sambil memandangi
mayat-mayat itu.
"Biadab...! Tak salah lagi ini
pasti perbua- tan perempuan genit itu! Atau mungkin lelaki buntung yang kita
cari, Kakang," tukas Mei Lie yang telah mencabut Pedang Bidadarinya.
"Mungkin...," jawab Sena
pelan. Kepalanya manggut-manggut. Lucu!
Baru saja kedua pasang pendekar itu
me- neruskan langkah pendek memasuki Desa Lindung Rawa, tiba-tiba....
"Aaakh...! Tolooong...!
Manusia iblis...! To- looong!" Seorang wanita muda tampak berlari keta-
kutan sambil menjerit-jerit minta tolong. Pakaiannya sudah tak karuan. Sebagian
tubuhnya sudah tak tertutup kain. Hingga buah dadanya yang masih ranum dan
mulus itu terlihat jelas di balik pakaiannya yang tercabik-cabik. Di bagian
pipi dan leher ada goresan, seperti cakaran kuku.
Melihat itu Mei Lie segera melompat
den- gan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuh si Bidadari Pencabut
Nyawa itu melayang bagai seekor burung elang. Kemudian kakinya mendarat mulus.
Dengan cepat tangan Mei Lie menyambar tangan wanita muda yang ketakutan itu.
Lalu membawanya bersembunyi di balik pepohonan.
"Ssst..!" Tuk! Tuk!
Ketika wanita muda itu hendak berteriak karena ketakutan, dengan cepat Mei Lie
menotok tubuhnya.
"Ukh...!" Seketika wanita
muda itu melenguh lalu jatuh terkulai bagai mati. Dan Mei Lie segera mem-
baringkan di tanah yang berumput itu.
Sementara itu, Pendekar Gila hanya
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, me- mandangi tingkah laku
kekasihnya.
Tak berapa lama kemudian, muncul
seso- sok tubuh melayang dan disertai kepulan asap. Ternyata sesosok manusia
bertubuh tinggi besar dengan bertelanjang dada. Di kanan dan kiri len- gannya melingkar
gelang dari kulit ular. Alisnya menyatu tanpa batas menghiasi matanya yang
besar, tajam dan galak. Wajahnya yang persegi tampak bengis. Badannya hampir
rata ditumbuhi bulu-bulu lebat. Mirip manusia purba.
"Makhluk apa ini? Manusia apa
jin!" gumam Mei Lie, begitu melihat sosok makhluk yang menyeramkan itu.
"Grrr..., grrr...!"
makhluk mirip manusia purba itu mengerang. Seperti harimau, giginya nampak
besar-besar dan runcing. Mengerikan.
Pendekar Gila yang melihat manusia
tinggi besar bagai raksasa itu mengerutkan kening, sambil menggaruk-garuk
kepalanya kembali.
"Ah ah ah...! Aku harus
berbuat sesuatu. Aku tak ingin Mei Lie mendapat bahaya...," gu- mam Sena.
"Heaaa...!" Tiba-tiba
Pendekar Gila melesat sambil bersalto beberapa kali di udara. Lalu kakinya ber-
gerak cepat melancarkan tendangan.
Wut! Blugk! Blugk! Namun tendangan
Pendekar Gila seperti tak dirasa oleh manusia raksasa itu. Bahkan hanya dengan
ayunan tangan kirinya yang sebe- sar paha, mampu menghantam Pendekar Gila.
"Ukh..!" Sena terpekik.
Tubuhnya terlempar lima tombak dan membentur dinding rumah pen- duduk desa.
Dinding dari bilik itu pun roboh. Ka- lau saja bukan Pendekar Gila, tentunya
sudah pasti tewas.
Melihat kekasihnya tak berhasil,
tak tang- gung-tanggung Mei Lie melesat melakukan seran- gan dengan membabatkan
Pedang Bidadari dalam jurus 'Pedang Tebasan Batin'.
"Yeaaa...!"
Cras! Cras! Cras!
"Grrr...!" Manusia raksasa itu mengerang. Kulitnya hanya terkupas.
Namun anehnya, tak mengelua- rkan darah. Dan ketika angin meniupnya, tak ada
tanda-tanda bahwa manusia raksasa berbulu itu akan roboh lalu jadi tepung.
Seperti lawan-lawan Mei Lie yang tersambar jurus maut itu.
"Aneh...?! Manusia atau
jin!" gumam Mei Lie keheranan. Keningnya berkerut tajam. Namun kemudian
kembali mempersiapkan serangan susulan.
Sementara itu Pendekar Gila tampak
telah berdiri dan mengerahkan tenaga dalamnya. Kedua telapaknya tampak saling
bertempelan dan ditarik ke depan dada.
"Mei, kita tak boleh main-main
dengan makhluk ini! Jangan gegabah...!" saran Sena sambil menoleh ke arah
Mei Lie.
Kali ini rupanya Pendekar Gila tak
ingin sembarangan bertindak. Dan tingkahnya yang bi- asanya konyol dan seperti
orang gila agak berku- rang. Walaupun mulutnya masih tetap cengenge- san dan
tertawa-tawa sendiri dengan tangan menggaruk kepala.
Pendekar Gila lalu mengeluarkan
jurus 'Si Gila Melebur Gunung Karang'. Tangannya dipersatukan di depan dada.
Kemudian setelah mena- rik napas dalam-dalam, perlahan tangannya di- buka ke
samping. Ditarik ke belakang membentuk siku. Lalu dengan telapak tangan
terbuka, melakukan pukulan jarak jauh secara cepat dan beruntun.
"Heaaa...!" Wut..! Dari
pukulannya, keluar kekuatan yang luar biasa melesat ke tubuh manusia raksasa
itu.
Glar! Glar! "Aung...!
Grrr...!" Manusia raksasa itu mengerang dan tu- buhnya terhuyung.
Kepalanya yang besar retak. Melihat itu, Mei Lie tak tinggal diam. Gadis itu
melompat sambil bersalto dan membabatkan Pe- dang Bidadari-nya ke tubuh manusia
raksasa itu.
Cras! Cras! Cras...!
"Aaaung.... Grrr...!" Kembali manusia raksasa itu mengerang. Sesaat
kemudian tubuhnya roboh dengan kepala terpisah. Namun anehnya, tubuh itu
tiba-tiba menyatu kembali. Seperti semula.
"Ilmu Panca Sona...!"
pekik Pendekar Gila dan Mei Lie terkejut. Lalu saling pandang. Ilmu 'Panca
Sona' memang ampuh. Bila salah satu ra- ga, kepala, kaki, atau bagian badan tak
segera di- pisahkan jauh dari bagian tubuhnya yang lain mereka dapat menyatu
kembali.
"Aneh! Pedang Bidadari-ku tak
mampu menghancurkan manusia raksasa itu...!" keluh Mei Lie cemas.
Pendekar Gila segera mengeluarkan
jurus 'Tamparan Sukma'. Sebuah ilmu yang mengguna- kan sukma atau jiwa. Sangat
dahsyat dan mampu membinasakan makhluk siluman.
"Grrr...!"
Jgarrr! Sinar keperakan menghantam
makhluk aneh itu. Seketika sosok manusia raksasa itu terbakar. Kemudian menjadi
asap, lalu hilang. Bersamaan dengan lenyapnya manusia aneh itu, suasana di
sekitarnya pun berubah sama sekali. Bukan lagi sebuah desa melainkan suatu
tempat yang asing bagi Sena dan Mei Lie. Angker dan menyeramkan! Wanita yang
tadi ditolong Mei Lie pun lenyap.
"Kita rupanya telah masuk ke
alam gaib, Kakang.... Kita telah terjebak!" ujar Mei Lie. Matanya menyapu
ke sekeliling dengan tajam.
"Hi hi hi...! Mungkin kau
benar, Mei," sahut Sena dengan cekikikan. Pemuda itu nampak te- nang, tak
sedikit pun merasa tegang atau takut. Matanya menatap tajam sekeliling.
Pendengaran- nya yang sangat peka dipasang untuk menangkap suara-suara aneh dan
gaib.
Mei Lie memutar tubuhnya
membelakangi Pendekar Gila dengan Pedang Bidadari masih ter- genggam di tangan.
Matanya tiba-tiba menangkap sesosok manusia nampak seperti duduk di tempat agak
jauh memandangi mereka.
"Kakang...," panggil Mei
Lie perlahan Sena membalik, lalu menghadap ke arah sama dengan Mei Lie. Mata
Sena yang mampu menembus segala cuaca, tampak terbelalak lebar.
Asap putih tampak mengepul di
sekitar tempat itu. Dan suara-suara aneh mulai bermunculan, menambah suasana
kian mencekam. Ka- lau saja yang datang di tempat itu bukan Pendekar Gila dan
Mei Lie, mungkin sudah mati kaku ketakutan.
"Pendekar Gila! Dan kau,
Bidadari Penca- but Nyawa...! Jangan ikut campur urusanku! Aku tak ingin ada
orang ikut campur dengan urusan- ku. Akan kutantang siapa pun yang mau tahu
urusanku. Kuharap kalian berdua tak lagi menye- lidiki lelaki buntung
itu...!"
Setelah suara itu hilang, tiba-tiba
muncul lelaki buntung. Berdiri dengan kakinya yang bun- tung, enam tombak di
hadapan Sena dan Mei Lie.
"Kau...?!" gumam Mei Lie
tersentak kaget. Setelah jelas bahwa yang di hadapannya tak lain lelaki buntung
yang dicari.
"Hi hi hi...! Kisanak, aku tak
bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi kenapa kau membunuh orang-orang itu? Apa
ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa Ki Damar Kiwangi...?" tanya
Sena ingin tahu.
"Grrr...!" Pertanyaan
Pendekar Gila rupanya membuat lelaki buntung itu marah.
"Kau terlalu ingin tahu
Pendekar Gila! Aku tak suka. Dan kuperingatkan sekali lagi, jangan ikut campur!
Dan sekarang sebaiknya kalian ce- pat meninggalkan tempat ini..., sebelum aku
be- rubah pikiran...," perintah lelaki buntung dengan geram. "Kau,
rupanya orang yang keras kepala. Aku tahu dendam membara memang tak dapat dibendung.
Tapi dengan terjadinya pertumpahan darah di mana-mana, rakyat selalu ketakutan menjadi
korban orang-orang yang hanya memi- kirkan diri sendiri. Seperti
Kisanak..," tukas Sena sambil cengengesan menyindir lelaki buntung itu.
"Bicaramu seperti tahu segalanya
tentang aku, Pendekar Gila! Dan membuatku muak mendengar ocehanmu itu. Terpaksa
aku harus mela- wanmu...!"
Selesai berkata begitu, si Penyair
Maut itu melesat menyerang Pendekar Gila dan Mei Lie. Dengan melompat, seperti
macan kumbang kedua tangan lelaki buntung mencakar dan memburu wajah Mei Lie
dan Pendekar Gila.
Kuku-kuku yang panjang serta
runcing, bagai mengandung hawa panas dan berbahaya. Pendekar Gila dan Mei Lie
mengelak dengan me- rundukkan kepala, sambil sesekali menangkis.
Jurus-jurus aneh dikeluarkan oleh
si Pe- nyair Maut itu.
"Mei, mundur! Biar aku hadapi
dia...!" seru Sena pada Mei Lie yang akan mengeluarkan jurus Pedang
Bidadari Pencabut Nyawa. Mei Lie menu- rut.
Bagi seorang pendekar bertarung
secara keroyokan dianggap kurang terpuji dan tidak jujur. Itulah sebabnya Mei
Lie mundur, namun te- tap berwaspada, menjaga segala kemungkinan.
"Heaaa...!"
"Grrr...!" Pertarungan Pendekar Gila dengan lelaki buntung tak
terelakkan. Tangan mereka beradu saling pukul dan tangkis. Lelaki buntung itu
ru- panya memiliki ilmu yang cukup tinggi. Selama sepuluh jurus pertama tokoh
itu masih memper- lihatkan kecepatan geraknya. Bahkan kini mam- pu mendesak
pendekar Gila, dengan jurus-jurus anehnya.
Si Penyair Maut itu kemudian
menggeser kecapinya yang tersampir di punggungnya. Ke- mudian setelah membuat
gerakan aneh, sambil memutar kecapi maut-nya, dengan cepat menye- rang Pendekar
Gila.
Wut! Wut! "Aits!
Heaaa...!" Namun Pendekar Gila dengan cepat dapat mengelak. Tubuhnya
melenting ke atas dan balik menyerang dengan tendangan kaki kanan ke dada
lawan. Namun lelaki buntung itu begitu cepat tanggap terhadap serangan Pendekar
Gila.
Prak! Lelaki buntung menangkis
dengan keca- pinya. Hingga tendangan Pendekar Gila hanya menghantam kecapi. Namun
kecapi itu ternyata sangat kuat. Sedikit pun tak tampak kerusakan, apalagi
pecah. Padahal jelas, tak mungkin Pende- kar Gila meremehkan serangan itu.
Pendekar Gila agak heran, dia
menda- ratkan kakinya di tanah dan cepat membuka ju- rus 'Si Gila Mencengkeram
Mangsa'. Tubuhnya agak membungkuk ke bawah, meliuk-liuk sambil tangannya
mencengkeram ke tubuh lawan. Ka- kinya menyapu kaki lelaki buntung itu. Namun
si Penyair Maut itu cepat melompat dan balik me- nyerang dengan menghantam
kecapinya ke kepa- la Pendekar Gila yang masih merunduk. Untung
Pendekar Gila segera menangkis
dengan tangan kanannya.
"Hiaaa!" Prak! Prak!
Tangan Pendekar Gila beradu dengan ke- capi. Menimbulkan suara keras seperti
beradunya dua kayu! Kemudian lelaki buntung itu nampak penasaran, digeser
kembali kecapi mautnya ke belakang. Lalu secepat kilat bergerak dengan lin-
cah, melancarkan serangan susulan pada Pendekar Gila dengan jurus 'Angin
Manik'. Kedua tangannya bergerak mencengkeram. Kuku-kukunya yang panjang bagai
kuku serigala, mengeluarkan asap beracun.
Melihat hal itu, Pendekar Gila
segera men- cabut Suling Naga Sakti-nya. Dan dengan cepat pula dia memutar
suling itu, hingga mengelua- rkan sinar hijau yang bergulung laksana banteng
untuk menangkal asap beracun yang keluar dari kuku-kuku si Penyair Maut itu.
"Hah?!" lelaki buntung
terkejut Matanya terbelalak melihat Suling Naga Sakti yang telah tergenggam di
tangan kanan Pendekar Gila.
Lelaki buntung itu kemudian
melompat mundur empat tombak. Lalu mengumpulkan tenaga dalamnya, disusul dengan
menepukkan te- lapak tangannya dua kali.
Plak! Plak! "Heaaa...!"
Si Penyair Maut melesat menyerang dengan menghantarkan pukulan tangan kanan,
yang mengeluarkan api....
Wesss! Glarrr! Pukulan itu tak
mengenai sasaran, tapi menghantam batang pohon. Suara ledakan keras terdengar
mengiringi robohnya pohon besar itu. Begitu dahsyat pukulan si Penyair Maut.
Kalau yang terhantam tubuh manusia, niscaya hancur berkeping-keping. Melihat
serangannya gagal, lelaki berpakaian serba merah itu tak tinggal diam, justru
semakin ganas melakukan serangan. Seakan tak ingin memberikan kesempatan pada
la- wan untuk sedikit pun mengeluarkan jurus anda- lannya. Kini kedua tokoh
berilmu tinggi itu sudah berubah jadi bayangan yang menggulung-gulung, karena
kecepatan gerak yang mereka lakukan. Keduanya langsung menangkis dan menghantam
dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa.
"Heaaa...!"
"Glarrr...!" Suara menggelegar terdengar, karena bera- dunya dua
kekuatan tenaga dalam. Baik tubuh Pendekar Gila maupun si Penyair Maut
terlempar ke belakang. Namun sama-sama mendarat ke ta- nah dengan mulus dan
siap dengan kuda-kuda masing-masing.
Pendekar Gila nyengir, sambil
menyelipkan kembali suling Naga Saktinya, namun tetap was- pada. Dirinya tak
ingin cepat-cepat menaklukkan lelaki buntung itu dengan senjata andalannya.
Ternyata Sena memang tak ingin melukai lelaki berambut panjang tanpa kaki itu.
Si Penyair Maut tampaknya merasa
penasaran. Dengan cepat tubuhnya melompat bagai macan kumbang menerkam mangsa,
menyerang pemuda tampan di depannya.
Namun Pendekar Gila telah siap.
Dengan jurus ‘Inti Bayu’, pendekar muda itu menghen- takkan tangan kanannya
yang mengeluarkan de- ru angin kencang laksana badai. Suatu kekuatan yang mampu
menerbangkan batu sebesar gajah sekali pun. Maka ketika angin itu melesat dan
menerjang ke arah lawan, lelaki buntung itu ter- lontar deras ke belakang dua
puluh tombak, lalu jatuh membentur batang-batang pepohonan yang tampak
meranggas tanpa daun.
Brakkk! "Ukh...!" lelaki
buntung memekik tertahan, "Kalau aku teruskan akan membawa bencana ba- gi
diriku sendiri. Aku tak ingin mati, sebelum berhasil membunuh Beruk
Singgala...," gumam- nya sambil merasakan sakit di dadanya.
Pendekar Gila cepat bergerak
mendekati. Namun begitu sampai, lelaki buntung telah hi- lang, entah sejak
kapan. Pendekar Gila, cen- gengesan dan menggaruk-garuk kepala. Mei Lie yang
sejak tadi terpesona melihat pertarungan kekasihnya melawan lelaki buntung itu,
segera menghampiri Sena yang masih tak mengerti. Ke mana lelaki buntung itu
tadi.
"Aneh! Begitu cepat dia
pergi,..," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ke mana dia, Kakang?"
tanya Mei Lie sambil matanya menyapu sekeliling tempat ang- ker itu. Tak terlihat
tanda-tanda adanya lelaki buntung tadi.
"Kenapa dia tak mau meneruskan
perta- rungan...? Aneh!" kata Sena lagi tak mengerti. Ke- palanya
menggeleng-geleng dengan mulut cengar- cengir. "Mungkin dia merasa tak
mampu mengha- dapi Kakang. Sebaiknya kita pergi dari tempat terkutuk dan menyeramkan
ini, Kakang!" ajak Mei Lie. Gadis cantik itu membalikkan tubuh, tangannya
menggapai lengan Sena. Dan kedua- nya melangkah meninggalkan tempat yang bagai
alam gaib itu.
***
Pendekar Gila dan Mei Lie terus
melakukan perjalanan menyelidiki, siapa sesungguhnya lelaki buntung itu. Dan
apa hubungannya dengan Dewi Sukmalelana yang pernah mereka temui. Dari desa
satu ke desa lainnya, pasangan muda-mudi itu mencari tahu.
"Kakang, apakah tak sebaiknya
kita menu- ju bekas Padepokan Gunung Talang saja?" usul Mei Lie tiba-tiba.
"Hm?" gumam Sena sambil
menggaruk- garuk kepala, "Boleh juga gagasanmu. Tapi lebih baik kita
melihat dulu keadaan Kadipaten Galih Putih. Aku sudah bosan ke tempat-tempat
yang belum jelas dan angker...," jawab Sena seenak- nya. Mulutnya
cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
Mei Lie hanya bisa mengangkat kedua
bahunya, lalu menghela napas panjang. Keduanya terus melangkah melewati jalan
setapak di tepi sebuah sungai yang cukup besar dan panjang serta berliku-liku.
Ternyata di halaman Kadipaten Galih
Putih sedang diadakan pergelaran Tayub, semacam ta- rian ronggeng. Pangeran
Sasanadipa dan para prajurit menyaksikan, dengan melingkari hala- man
kadipaten. Suasana tampak meriah sekali. Seorang penari Tayub yang cantik dan
bertubuh menggairahkan sedang menari mengikuti alunan gamelan yang dimainkan
para penabuhnya.
Di antara beberapa wanita penari
Tayub, nampak satu yang tampil berbeda. Wajahnya yang cantik dengan tubuh
sintal dan menggai- rahkan, membuat para penonton lebih tertarik pada wanita
itu. Tak terkecuali sang Pangeran yang tampak kagum menyaksikan lenggak-
lenggok penari berkebaya merah jambu itu.
Gamelan terus mengalun, gendang pun
bersahutan dan menghentak-hentak keras men- gimbangi bunyi gamelan lain. Penari
semakin se- mangat bergoyang pinggul. Membuat Pangeran Sasanadipa
tersenyum-senyum dan bertepuk tan- gan. Para pengawal dan prajurit tak tahan
untuk turun ikut menari. Gaya mereka beraneka ragam dan lucu.
"Baru kali ini aku melihat
penari Tayub secantik itu...!" gumam Pangeran Sasanadipa sam- bil
menggeleng kepala. Para selir yang mengapitnya mencibir dan cemberut, mendengar
gumam sang Pangeran.
Malam semakin larut, tayuban terus
berlangsung. Sebagian prajurit dan pengawal sudah mulai mabuk, karena arak.
Demikian pula dengan sang Pangeran.
Pada saat itu Pendekar Gila dan Mei
Lie telah sampai. Keduanya pun berbaur dengan para prajurit dan penduduk
kadipaten. Sena dan Mei Lie mengamati orang-orang yang menari dengan penari
Tayub. Pendekar Gila nampak tertawa- tawa sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu
ber- decak kagum.
"Ck, ck, ck...!"
"Huuu...!" Mei Lie yang melihat kekasihnya merasa kagum dan berdecak,
jadi cemberut dan kesal. Namun, kemudian matanya menatap tajam salah seorang
penari Tayub yang sepertinya dia kenal.
"Hah?! Perempuan itu...?"
gumam Mei Lie, begitu melihat penari Tayub paling cantik. "Kakang...!
Coba, apa kau masih ingat. Lihat penari yang memakai baju merah jambu itu!"
ujar Mei Lie pada Sena.
Pendekar Gila yang masih menggaruk-
garuk kepala dan cengengesan segera memalingkan pandangan ke penari yang
berkebaya merah jambu. Wanita itu sedang berlenggak-lenggok di depan Pangeran
Sasanadipa yang terpesona.
"Hi hi hi...!" Sena hanya
tertawa-tawa. Lalu menoleh ke wajah Mei Lie sambil mengangguk. Menandakan bahwa
dia masih mengenali wanita itu.
"Perempuan yang kita pergoki
beberapa hari lalu. Siapa dia sebenarnya...?" tanya Mei Lie pelan. Matanya
terus mengawasi penari berkebaya merah jambu itu. Wajahnya menyiratkan rasa
mendendam terhadap wanita itu. Karena wanita itu pernah dibiarkan pergi oleh
Sena.
Sementara itu para penabuh gamelan
se- makin bersemangat, ketika Pangeran Sasanadipa turun menari bersama penari
berkebaya merah jambu itu, yang ternyata Dewi Sukmalelana. Pangeran Sasanadipa
yang sudah setengah mabuk, menari dengan sedikit sempoyongan dan selalu ingin
memeluk penari Tayub itu. Gaya sang Pangeran membuat semua orang tertawa geli,
melihat pangerannya yang terkadang hampir jatuh. Namun, si penari segera
menahan sambil memeluk- nya. Pangeran nampak senang. Para selir yang melihat
itu mencibir cemburu.
Pada saat suasana penuh tawa riang
itu berlangsung, tiba-tiba berubah menjadi ketegan- gan yang luar biasa, ketika
dua orang lelaki mun- cul di tengah-tengah arena. Kedatangan mereka yang bagai
makhluk halus muncul secara tiba- tiba. Hal itu menunjukkan bawah kedua lelaki
itu memiliki ilmu yang sangat tinggi
"Ha ha ha...! Pangeran edan!
Dia malah se- nang-senang berpesta pora. Padahal ketiga te- manku
mati...!" seru lelaki bertubuh tinggi agak kurus dan berhidung mancung ke
bawah, seperti paruh betet. Pakaiannya yang berbentuk jubah panjang berwarna
hitam legam. Rambutnya yang hitam dibiarkan terurai panjang. Dengan tatapan
mata tajam yang merah memandang setiap orang yang ada di tempat itu. Dialah
Beruk Singgala!
Seketika gamelan berhenti. Para
penari pun ketakutan lari bersembunyi di antara penon- ton.
Hanya satu penari berbaju merah
jambu yang nampak tak merasa takut. Bahkan matanya menatap tajam kedua tokoh
sesat itu.
Sedangkan sang Pangeran yang sudah
se- tengah mabuk, hanya bisa diam dan tak berani berucap sepatah kata pun.
"Pangeran yang gila perempuan
ini sebaik- nya kita bereskan saja, Kakang Beruk. Sudah tak ada gunanya lagi.
Bukankah rencana kita me- mang untuk menguasai kadipaten dan seluruh
kekuasaannya?" seru Danur Saka dengan suara lantang sambil memegang leher
Pangeran Sasa- nadipa. "Edan! Benar-benar edan! Seorang pange- ran bisa dipermainkan
orang-orang macam itu...!" gumam Mei Lie dengan geram, "Siapa mereka
itu, Kakang...?" tanya Mei Lie kemudian.
"Hi hi hi... lucu! Dunia
memang sudah ter- balik. Seorang pangeran bisa dipermainkan!' Sena tak menjawab
pertanyaan Mei Lie. Mulutnya ber- gumam sendiri sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kakang, sebaiknya kita turun
tangan! Aku muak melihat ada orang yang sok jago!" tukas Mei Lie geram.
"Tenang, Mei! Kedua lelaki itu
aku rasa kawanan Partai Panca Siwara. Kita harus hati- hati! Sebab kita tak
punya urusan atau pertikaian dengan mereka...!" cegah Sena.
Sementara itu, Danur Saka mendekati
pe- nari berkebaya merah jambu yang tak lain Dewi Sukmalelana. Lelaki setengah
baya bertelanjang dada itu dengan seenaknya memeluk dan mera- ba-raba dada Dewi
Sukmalelana sambil tertawa- tawa. Semua orang tak berani berbuat sesuatu.
Mereka semua diam terpaku bagai patung.
"Ha ha ha...! Kau penari Tayub
tercantik dan menarik yang pernah kutemui, Cah Ayu. Ha ha ha...! Aku ingin kau
layani aku, Manis. Ayo, main gamelan dan gendang!" perintah Danur Sa- ka.
Sementara Beruk Singgala telah
duduk di kursi sang Pangeran, bersama para selir pangeran. Sedangkan pangeran
sendiri sudah tak kua- sa menahan pusing di kepalanya. Karena terlalu banyak
menenggak arak.
Gamelan mulai mengalun lagi. Danur
Saka dengan penuh bersemangat menari bersama Dewi Sukmalelana. Tarian yang
dilakukan Danur Saka tampak konyol dan kurang ajar. Namun Dewi Sukmalelana yang
sebenarnya telah menahan dendam tampak masih sempat tersenyum-senyum manis. Dan
bahkan dengan berani, men- gimbangi Danur Saka yang bertingkah konyol dan kotor
itu. Danur Saka semakin menggila. Hatinya larut dalam keasyikan.
"Aneh! Kenapa perempuan itu
malah mela- deninya...?" gumam Mei Lie lirih.
"Ssst.., tenang! Perhatikan
gerakan perem- puan itu! Bukan lagi gerakan tari Tayub, melain- kan gerakan
silat yang terselubung! Sukar dilihat dengan mata biasa..." ujar Sena
sambil mengga- ruk-garuk kepala cengengesan.
Mei Lie mengerutkan kening. Lalu
men- gangguk karena telah mengerti.
Benar, gerakan tari Dewi
Sukmalelana se- sekali telah berubah dengan gerakan silat yang begitu halus.
Hingga tak dirasakan oleh Danur Saka yang sudah tergiur kecantikan dan kemole-
kan tubuh Dewi Sukmalelana.
Plak! Plak! Dua tamparan tangan
kanan Dewi Sukma- lelana mendarat tepat ke wajah Danur Saka. Ti- dak terlalu
keras.
"Eits! He he he... ooo... ha
ha ha! Kau nak- al, Cah Ayu...!" gumam Danur Saka masih belum mengerti
gelagat Dewi Sukmalelana. Lelaki berpe- rut buncit bertelanjang dada itu malah
mende- katkan wajah serta menempelkan badan ke pe- rempuan itu.
Gamelan terus terdengar semakin
seman- gat Danur Saka benar-benar lupa diri, hingga tak menyadari kalau penari
pasangannya tengah me- nunggu waktu tepat untuk membunuhnya. Dan tiba-tiba....
"Ukh...!" Danur Saka
terpekik sambil me- megangi dada. Tubuhnya terhuyung ke belakang lima tombak.
Rupanya Dewi Sukmalelana yang sudah
tak tahan menahan dendamnya, telah bertindak dengan gerakan yang tak tertangkap
mata siapa pun.
Beruk Singgala yang sedang asyik
menggantikan kedudukan pangeran yang bercumbu dengan para selir, kaget melihat
Danur Saka ter- huyung. Lelaki berjubah hitam itu serta-merta bangkit berdiri.
Matanya menyipit memandangi Dewi Sukmalelana.
Perempuan cantik yang pandai
menyamar itu dengan cepat menghajar Danur Saka yang belum pulih dari rasa sakit
di dadanya. Dengan ge- rakan seperti menari, Dewi Sukmalelana meliuk-liuk lalu
melompat dan menendang dengan kaki kanannya ke kepala Danur Saka.
"Heaaat..!"
"Aaaukh...!" Danur Saka menjerit keras. Tubuhnya melintir, kena
tendangan kaki Dewi Sukmalelana. Beruk Singgala yang melihat itu segera
melenting ke udara untuk menghadang serangan Dewi Sukmalelana yang akan
disarangkan ke tubuh kawannya.
"Heaaa...!"
"Heaaa...!" Glar! Pukulan jarak jauh Dewi Sukmalelana be- radu dengan
telapak tangan Beruk Singgala, me- nimbulkan percikan sinar perak dan
kemerahan.
Baik Beruk Singgala maupun Dewi
Sukma- lelana terpental ke belakang. Namun sama-sama tak tergoyahkan keduanya
berdiri tegap. Semen- tara itu Danur Saka yang sudah mulai pulih den- gan geram
ingin menyerang Dewi Sukmalelana. Namun Beruk Singgala menahannya.
"Sabar! Kita harus tahu siapa
perempuan itu sebenarnya. Dan kenapa ingin membunuhmu," ujar Beruk
Singgalang.
"Hi hi hi...! Kalian
manusia-manusia terku- tuk...!" maki Dewi Sukmalelana sinis sambil menuding
Beruk Singgala dan Danur Saka.
Sementara itu para prajurit serta
penonton mulai ketakutan dan menyebar. Ada pula yang lari, menjauhi tempat itu.
Sedangkan Pangeran Sa- sanadipa pingsan karena mabuk. Para selir pun
berhamburan pergi masuk ke kadipaten. Hanya sebagian prajurit dan pengawal
kadipaten yang masih berada di halaman itu.
"Hm...! Perempuan cantik ini
ternyata sangat cerdik. Menyamar sebagai penari Tayub. Lalu ingin membunuh.
Siapa kau sebenarnya, Perem- puan Jalang?!" seru Beruk Singgala geram.
"Tak perlu kau tahu siapa aku!
Yang pasti aku ingin melenyapkan kalian berdua sekarang juga!"
Selesai berkata demikian, Dewi
Sukmalelana segera mengeluarkan jurus pembuka. Namun Beruk Singgala dengan
cepat pula mengerahkan ilmu sihirnya. Setelah ditepukkan tiga kali, tela- pak tangannya
dihentakkan dengan keras ke depan. Seketika muncullah makhluk-makhluk kecil
seperti tuyul dari tubuhnya. Makhluk kecil yang berjumlah puluhan itu mempunyai
taring dan bertelinga panjang.
Dewi Sukmalelana tampak kaget
melihat hal itu. Namun dengan cepat dia mengeluarkan ilmu perubah raga.
Seketika wajahnya berubah menyeramkan dan tubuhnya tiba-tiba berubah membesar.
Bagai raksasa perempuan.
Pendekar Gila dan Mei Lie yang
menyaksikan hal itu hanya geleng-geleng kepala. Makhluk- makhluk kecil seperti
tuyul dan bertaring itu menyerang Dewi Sukmalelana yang bertubuh raksasa.
Seperti haus darah makhluk-makhluk kecil berkepala botak itu menggigit tubuh
mangsanya. Namun Dewi Sukmalelana masih dapat menahannya. Dan bahkan satu
persatu tuyul-tuyul berkuping panjang itu dapat dibunuhnya. Walaupun tubuhnya
sebagian sudah kena gigitan hing- ga tampak tercabik-cabik.
Namun karena jumlahnya puluhan dan
se- perti tak pernah habis tubuh Dewi Sukmalelana mulai terseret, seperti tak
mampu mempertahankan diri. Apalagi sudah banyak darah yang terhi- sap serta
berceceran dari luka-luka di tubuhnya.
Tanah di pekitaran kadipaten itu
seketika dipenuhi bercak-bercak darah yang terus menetes dari tubuh Dewi
Sukmalelana. Orang-orang yang menyaksikan kejadian aneh itu tampak merinding
dan ketakutan. Ada yang berlari. Ada pula yang bertahan sambil menutupi kedua
mata.
"Ayo anak-anakku, serap dia,
lemahkan il- munya! Habisi dia...!" seru Beruk Singgala sambil terus
membaca mantera sihirnya. Kedua tangan- nya dihentakkan ke depan.
"Kik kik kik...!" Suara
makhluk-makhluk aneh itu terden- gar menyebalkan Dewi Sukmalelana. Semakin lama
suara mengikik itu semakin ramai. Orang- orang menutup telinga sambil
memejamkan mata, tak tahan menyaksikan kejadian menggiriskan itu.
"Kurang ajar ilmu sihir apa
ini! Begitu tangguh. Oooh..., Kakang, tolonglah aku, Kakang
Brajasukmana...!" keluh Dewi Sukmalelana sam- bil terus bertahan.
Membanting dan menendang tuyul-tuyul penghisap darah yang terus menye- rangnya.
Kini makhluk-makhluk itu seperti tak kunjung habis. Terus mengurung Dewi
Sukmale- lana. Lalu tiba-tiba secara bersama-sama, pulu- han makhluk-makhluk
botak itu melompat me- nyerang Dewi Sukmalelana. "Kik kik kik..."
"Ooo...! Aaauuuwww...!" Gigitan dan cakaran mereka terus merusak
tubuh Dewi Sukmalelana. Hingga tubuh raksasa wanita itu mulai goyah karena
tenaganya terus terkuras. Darah mengucur hampir dari seluruh tubuhnya. Namun
anehnya, darah itu berwarna kuning. Hal itu tentu saja membuat Beruk Sing- gala
mengerutkan kening keheranan.
"Hah?! Edan! Perempuan itu
bukan manu- sia.... Apa mataku tak salah lihat? Darah itu... kuning...!"
gumam Beruk Singgala dengan mata terbelalak.
Tiba-tiba Dewi Sukmalelana seperti
men- dapat tenaga dari luar. Dia berteriak keras, sam- bil menghentakkan kedua
tangannya. Dan pulu- han makhluk yang menyerangnya terlempar dan kemudian
diinjak-injaknya satu persatu.
Melihat itu Beruk Singgala semakin
kaget Dengan cepat dia mengeluarkan ilmu sihirnya yang lebih dahsyat. Dari
kukunya keluar serbuk beracun. Namun Dewi Sukmalelana sudah siap. Wanita
bertubuh raksasa itu segera melawan dengan rambutnya yang menjulur panjang tak
terbatas. Rambut itu memapaki serbuk yang mengandung racun kematian. Ketika
rambutnya yang memanjang dikibaskan serbuk itu terhem- pas. Namun kemudian
bergulung-gulung seakan-akan tengah bertarung melawan rambut Dewi Sukmalelana
yang menyambar ke sana kemari
Brets! Brets! "Aaakh...!"
Wut! Wut! Wut...! Rambut Dewi Sukmalelana kini menghan- tam kedua tokoh sesat
itu. Teriakan dan jeritan terdengar dari Beruk Singgala dan Danur Saka yang
terhantam rambut wanita itu. Namun hal itu tampaknya tak membahayakan kedua
anggota Partai Panca Siwara. Dalam sekejap, Beruk Sing- gala balik menyerang
dengan mengeluarkan kembali makhluk aneh dengan ilmu sihirnya.
Dimulai dengan datangnya angin
kencang, terdengar suara tawa aneh dan mendesis-desis. Disusul kepulan asap
hitam bercampur ungu, bergulung-gulung, lalu menjelma menjadi sesosok makhluk
aneh, dari kepala sampai batas ping- gang berwujud perempuan, dengan mata
menyala merah dan mulut bertaring. Sedangkan dari ping- gang ke bawah berwujud
badan ular naga. Mu- lutnya terdengar mendesis-desis.
Dewi Sukmalelana nampak mulai
menge- rahkan seluruh kekuatan. Sama-sama menggunakan ilmu gaib.
Namun, rupanya ada orang yang tak
ingin pertarungan ilmu sihir itu berlanjut. Tiba-tiba dua sosok manusia
melenting ke udara dan den- gan cepat mendarat di antara kedua makhluk itu.
Mereka ternyata Pendekar Gila dan Mei Lie. Sete- lah mendarat Pendekar Gila
segera mengeluarkan aji ‘Tamparan Sukma’. Sebuah ilmu yang mampu menghancurkan
ilmu sihir dan bangsa siluman.
"Heaaa...!" Wut! Glarrr!
Glarrr...! Pukulan Pendekar Gila ke arah kedua si- luman itu menimbulkan
ledakan dan bias cahaya keperakan. Seketika dua makhluk aneh jelmaan Dewi
Sukmalelana dan makhluk ciptaan ilmu sihir Beruk Singgala, hancur lalu lenyap
bersama ledakan itu.
Sedangkan Mei Lie siap dengan
Pedang Bi- dadari-nya untuk menyambut serangan Beruk Singgala atau Danur Saka.
Keadaan semakin kacau balau. Para
praju- rit yang melihat kejadian itu ketakutan dan lari untuk menyelamatkan
diri masing-masing.
Dugaan Mei Lie benar. Beruk
Singgala dan Danur Saka yang kurang senang dengan ikut campurnya Pendekar Gila
menjadi marah. Sementara itu Dewi Sukmalelana cepat menghilang, ketika tahu
kalau Pendekar Gila dan Bidadari Pen- cabut Nyawa datang membelanya. Sebab Dewi
Sukmalelana tak ingin kedua pendekar mengeta- hui siapa dia sebenarnya.
"Kau rupanya Pendekar Gila dan
Bidadari Pencabut Nyawa! Kalian telah menghalangi usahaku untuk membunuh
perempuan iblis itu! Heaaa...!"
Beruk Singgala langsung menyerang
Mei lie dengan serbuk beracun yang dikeluarkan dari kuku-kuku runcingnya. Namun
gadis cantik itu cepat mengelak dengan melenting ke atas dan bersalto beberapa
kali. Setelah melewati kepala Beruk Singgala, dengan mulus Mei Lie mendarat di
tanah. Kemudian langsung membuka jurus pamungkas ‘Pedang Tebasan Batin’. Sebuah
jurus sakti yang sangat dahsyat. Orang yang terkena babatan pedangnya akan
mengalami keanehan. Tubuhnya tak menampakkan luka. Namun jika tertiup angin, maka
langsung hancur menjadi debu.
Beruk Singgala dan Danur Saka
tersentak menyaksikan jurus yang aneh dan terkenal itu. Keduanya tampak tegang
menyaksikan jurus yang diperagakan Bidadari Pancabut Nyawa. Namun karena yakin
ilmu sihirnya. Beruk Singgala kembali memejamkan mata untuk memusatkan diri dan
membaca mantera, mencipta sihir.
Pendekar Gila yang sejak tadi hanya
mem- perhatikan kekasihnya, bergerak mulai ikut cam- pur. Dengan cepat dirinya
mengeluarkan ilmu ‘Tamparan Sukma’ Tamparan itu mengerahkan kekuatan sukma atau
jiwa. Gerakannya nampak lambat, namun hasilnya sangat dahsyat.
"Heaaa...!" Jlgarrr...!
"Aaa...!" Beruk Singgala
yang belum sempat berha- sil mengeluarkan sihirnya, menjerit keras. Tubuhnya
melintir bagai terbakar. Dan Danur Saka, yang melihat itu, tersentak kaget.
Wajahnya yang beringas berubah pucat. Kemudian tanpa meng- hiraukan kawannya,
segera lari meninggalkan pertempuran.
"Tak mungkin aku mampu
menghadapi Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa...," gumam Danur Saka
sambil terus melesat karena ketakutan.
Sementara Beruk Singgala masih
menjerit- jerit. Ketika Mei Lie akan membabatkan Pedang Bidadari-nya, lelaki
tua berjubah hitam itu tiba- tiba menghilang.
"Hah...?!" Mei Lie
mendengus kesal. Namun tetap waspada dengan pedang saktinya. "Aneh! Ke
mana manusia itu?!"
"Hi hi hi..!" Sena hanya
tertawa cekikikan dan menggaruk-garuk kepala.
"Kenapa Kakang
tertawa...?" kata Mei Lie kesal.
"Biarlah dia pergi! Cepat atau
lambat dia akan menemui ajalnya," kata Sena memberi tahu Mei Lie. Mei Lie
hanya cemberut. Hatinya benar- benar kesal karena tak berhasil membunuh to-
koh-tokoh sesat itu.
"Sudahlah, sebaiknya kita
pulihkan pikiran dan tubuh Kanjeng Pangeran. Setuju?"
No comments:
Post a Comment