Wednesday, April 24, 2019

029 Syair Maut Lelaki Buntung


SYAIR MAUT LELAKI BUNTUNG
Oleh Firman Raharja

1
Pagi nampak cerah dengan langit biru bening, tanpa sedikit mega. Angin berhembus perlahan, membawa kesejukan yang alami. Namun keheningan pagi itu dirobek oleh suara gelak tawa dari tiga sosok yang tengah menelusuri jalan terjal di Bukit Jatira. Ketiga sosok itu tampaknya tengah dilanda kegirangan. Suara tawa mereka bergema, bagai dikerahkan dengan kekuatan tenaga dalam.
Satu di antara ketiga sosok lelaki itu memiliki wajah angker dan bengis. Matanya tampak kemerahan, dengan sepasang alis tebal yang saling bertautan. Bajunya yang hitam legam dibiarkan terbuka di bagian dada. Ikat kepalanya yang hitam bergaris putih melingkar mengikat rambut- nya yang panjang.
Lelaki berusia setengah baya itu terus me- langkah sambil tertawa-tawa, diikuti dua kawan- nya yang berpakaian rompi abu-abu.
"Ha ha ha...! Sepuluh tahun terakhir ini aku merasa bebas. Bebas berbuat sesuka hatiku. Karena Perguruan Gunung Talang yang kita bu- mihanguskan itu sudah terkubur, bersama si Tua Bangka, Damar Kiwangi," ucap lelaki berpakaian serba hitam itu seraya terus mengumbar ta- wanya. Kakinya terus melangkah tanpa menghi- raukan keadaan sekitarnya.

"Benar, Kakang Kala Hitam.... Kini kita bisa memiliki penghasilan yang tak akan ada habis- habisnya. Hasil bumi dan berbagai upeti dari penduduk terus mengalir, Tak seorang pun berani menentang kita. Orang-orang Kadipaten Galih Putih pun tampaknya segan terhadap kita. Ha ha ha...!" timpal Kebo Kluwuk salah seorang teman lelaki berpakaian hitam yang ternyata bernama Kala Hitam.
"Benar! Orang-orang kadipaten diam setelah kita sumpel mulut dan perut mereka dengan sebagian penghasilan kita. Dan tampaknya mereka akan tetap membiarkan kita selama kita tetap menyediakan perempuan-perempuan untuk me- reka. Ha ha ha...!" tambah Rodoprana, juga sam- bil memperdengarkan tawanya.
Ketiga lelaki itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Begitu cepat ketiganya berlari hingga dalam waktu singkat mereka sudah me- nempuh jarak ratusan tombak. Suara gelak tawa mereka terus terdengar di sepanjang perjalanan.
Namun dari kejauhan tiba-tiba muncul se- sosok bayangan melesat memburu ketiga lelaki berwajah beringas itu. Sosok bayangan itu pun tampaknya mengerahkan ilmu meringankan tu- buh yang sudah mencapai tingkat tinggi.
Kala Hitam yang mempunyai pendengaran tajam bagai serigala, cepat menghentikan larinya. Hal itu membuat kedua temannya keheranan dengan mengerutkan kening, lalu menghentikan lari dan berhenti. Kebo Kluwuk dan Rodoprana saling pandang.
"Hmmm! Rupanya ada yang mengikuti ki- ta," gumam Kala Hitam. Matanya menyelidik sekeliling Lembah Bulak Rawa, "Ha ha ha....! Pagi ini kita akan bermain-main kawan...!"
Kebo Kluwuk dan Rodoprana tampaknya belum mengerti. Namun kemudian kedua lelaki bertubuh gagah itu cepat menangkap ucapan Kala Hitam. Maka keduanya langsung tertawa terbahak-bahak sambil menggeser keris yang terselip di pinggang mereka.
"Kala Hitam! Pagi ini kau kelihatan sangat gembira. Begitu bebas dengan sepak terjangmu. Kau lupa bahwa di balik tawamu yang memecah kesunyian pagi indah ini, akan berubah menjadi malapetaka bagi dirimu, juga kedua temanmu itu!"
Terdengar suara yang tanpa terlihat siapa pemiliknya. Kala Hitam mengerutkan kening. Dengan perasaan geram, matanya jelakitan men- cari dari mana asal suara itu. Namun tetap tak diketemukannya pemilik suara yang terdengar je- las itu. Kebo Kluwuk dan Rodoprana pun mela- kukan hal yang sama. Tak satu pun yang dapat melihat sosok seseorang yang menyapa Kala Hi- tam.
"Bangsat! Setan alas! Dedemit apa kau? Ke- luar...!" sera Kala Hitam marah. "Tunjukkan wujudmu, kalau memang kau ingin mencoba ilmu- ku! Ayo, keluar...! Keluar...!"
Tantang Kala Hitam penuh amarah sambil mondar-mandir. Dikerahkan penglihatannya untuk mengawasi sekitar tempat itu. Namun tetap saja tak menemukan apa yang dicarinya.
"Hhh...! Bedebah!"
"Ha ha ha...! Kala Hitam! Kau memang ma- nusia berhati iblis! Memfitnah dan merampas harta, serta membunuh orang yang tak bersalah. Ta- pi kau lupa, salah seorang dari keluarga yang kau bunuh, masih hidup! Dan kini akan menuntut balas padamu Kala Hitam. Bersiaplah untuk mati!"
Terdengar lagi suara bergema. Kali ini lebih keras hingga membuat Kala Hitam tersentak kaget. Mendadak dirinya merasa tegang dan cemas.
Belum sempat Kala Hitam mengingat, siapa yang dimaksud suara itu. Tiba-tiba terdengar lantunan sebuah syair....
Kidung Kehidupan Pertama Kali Dia Hadir Tetesan Darah Akan Tiba Hutang Budi Dibayar Budi Hutang Nyawa Dibayar Nyawa Hutang Pati Dibayar Pati....
Kala Hitam semakin tegang. Seketika ke- ringat dingin membasahi kening dan wajahnya yang angker itu. Namun kali ini kegarangannya sedikit berkurang. Tak ada lagi gelak tawa seperti semula. Yang ada ketegangan dan kecemasan bersampur jadi satu di benak lelaki itu.
"Siapa kau sebenarnya! Aku tak ada urusan denganmu. Keluar...!" seru Kala Hitam keras sambil mencabut kerisnya. "Ayo, lawan aku, Setan Belang...! Tunjukkan keberanianmu, ayo! Ayo, hadapi Kala Hitam...!"
Begitu suara Kala Hitam berhenti, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat menyerang mereka bertiga. Seketika Kebo Kluwuk dan Rodoprana menjerit setinggi langit. Tangan mereka yang me- megang keris, menutupi wajah yang mengucur- kan darah. Sesaat kemudian keduanya yang mengenakan rompi hitam ambruk tanpa nyawa.
"Kurang ajar.'" maki Kala Hitam geram, "Siapa kau, manusia atau setan?!"
Belum habis Kala Hitam menenangkan hati dari ketegangan muncul sesosok tubuh lelaki tanpa kaki, alias buntung. Wajah lelaki berusia sekitar lima puluh tahun itu tak begitu jelas, ka- rena tertutup rambut panjangnya yang dibiarkan tergerai tak karuan. Acak-acakan! Lelaki itu berdiri dengan lututnya, yang terbungkus kain hitam. Meskipun tanpa kaki tubuhnya dapat berdiri tegak. Wajahnya sinis menatap Kala Hitam yang masih bertanya-tanya dalam hati.
Sejauh itu Kala Hitam bisa mengenali siapa sebenarnya lelaki buntung itu. Matanya tak berkedip, terus mengawasi sosok berpakaian merah di depannya.
"Kala Hitam, kau belum terlalu tua untuk mengenali siapa aku adanya," tukas lelaki berkaki buntung itu. Senyum sinis terus mengembang di bibirnya. Kemudian lelaki itu kembali bersyair se- perti tadi.
"Hentikan syair bututmu, Tua Bangka Ke- parat!" maki Kala Hitam sengit. Namun lelaki buntung itu bagaikan tak peduli mulutnya terus menyuarakan syair, membuat Kala Hitam yang mendengarkan tampak kian marah.
"Hhh...! Kau nampak lebih muda dari usiamu, Kala Hitam. Aku salut padamu! Tapi aku benci kelicikanmu, tindakanmu membunuh orang yang tak bersalah, bersama keempat temanmu. Hasratmu terlalu besar ingin menguasai rimba persilatan di Kadipaten Galih Putih yang saat itu sedang goyah. Para senapati dan orang-orang ka- dipaten telah rusak. Moral mereka telah bejat ka- rena hasutan dan kelicikanmu. Kau memang pin- tar Kala Hitam!" lelaki berkaki buntung itu lalu menggeser kecapinya ke depan dada. "Dan kau tentunya masih ingat dengan adik dari Ki Damar Kiwangi yang kau buntungi kakinya, lalu kau buang ke Jurang Mager Wadas. Aku percaya kau ingat ini! Sebab, kau murka, ketika aku mengha- langimu memperkosa istriku!"
Kala Hitam tersentak kaget. Tiba-tiba diin- gatnya peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Namun cepat-cepat dia coba menyembunyikan rasa ka- getnya sambil berkata,
"Ahhh! Kau jangan mengada-ada! Kau hanya hantu! Tak mungkin kau bisa hidup lagi! Semua orang tahu, Mager Wadas merupakan ju- rang iblis...! Pergi! Atau aku mengusir arwahmu dengan keris pusakaku ini...?!"
Kala Hitam segera mengibaskan kerisnya dengan gerakan yang aneh dan cepat
Lelaki buntung hanya diam. Wajahnya yang tertutup rambut tetap tenang menghadapi Kala Hitam yang nampak gusar dan tegang itu. Lelaki buntung itu mulai memetik dawai-dawai kecapinya. Seketika terdengar suara irama petikan kecapi itu yang melengking tinggi. Ketika Kala Hitam melesat cepat melancarkan serangan, secepat itu pula lelaki buntung itu menghentak- kan kecapinya ke depan.
"Heaaa...!" Wrt! Cras! Cras! Cras! Begitu cepat lelaki buntung itu mendahului gerakan Kala Hitam. Sekali gebrak, wajah Kala Hitam dan kedua kawannya berantakan, terkena sentakan senar kecapi yang seperti sengaja dipu- tuskan dari tempatnya. Senar-senar itu bagaikan hidup, menyabet wajah Kala Hitam hingga mengalami luka parah. Darah meleleh dari kulit wajah dan sepasang matanya yang tertusuk senar kecapi.
"Aaauuuwww...! Waaaa...!" Kala Hitam menjerit-jerit dengan tubuh berputar-putar sempoyongan. Kedua tangannya tetap menutup wajah yang berdarah ketika tubuh Kala Hitam ambruk ke tanah. Sesaat kemudian sekujur kulit tubuhnya membiru, lalu tewas.
Lelaki buntung itu tersenyum. Matanya yang tajam menatap tubuh Kala Hitam sudah tak bernyawa lagi "Aku puas...! Satu dari lima anggota Partai Panca Siwara sudah kubunuh. Ha ha ha...!"
***
Tak lama setelah kepergian si Penyair
Maut, dari arah barat muncul dua sosok lelaki. Dari kejauhan tampak pakaian yang mereka ke- nakan adalah seragam prajurit kerajaan. Kedua- nya terus melangkah ke timur semakin dekat dengan Lembah Bulak Rawa. Tiba-tiba lelaki ga- gah yang mengenakan pakaian kuning kemera- han menghentikan langkahnya. Matanya yang ta- jam menatap lurus ke depan. Seperti ada sesuatu yang tengah diperhatikan.
"Kebo Jampe! Aku melihat sesosok mayat..," ujar lelaki berkumis tipis itu seraya mengernyitkan keningnya.
"Ah, Kakang Wiryapaksi salah lihat ba- rangkali," sahut lelaki berpakaian lengan panjang warna abu-abu, yang dipanggil Kebo Jampe.
"Hmh..., percuma aku seorang senapati ka- lau melihat hal yang mencurigakan tidak awas!" tukas lelaki berpakaian kuning kemerahan yang ternyata Senapati Wiryapaksi. Seorang panglima perang yang paling disegani di Kadipaten Galih Putih.
Tanpa menanggapi ucapan Senapati Wi- ryapaksi, Kebo Jampe langsung berlari mendahu- lui, karena hatinya membenarkan apa yang telah dilihat di depan mereka. Adipati Wiryapaksi pun langsung melesat
"Hah?! Tak mungkin!" sentak Senapati Wiryapaksi dengan mata terbelalak. "Tak mungkin dia mati! Pasti orang yang membunuhnya memiliki ilmu sangat tinggi," ujar Senapati Wiryapaksi tak percaya.
"Ya! Kita tahu siapa Kala Hitam. Dia memiliki ilmu yang cukup tinggi. Apalagi dengan Keris Pencabut Nyawa yang ampuh itu," sahut Kebo Jampe dengan mata menatap mayat Kala Hitam.
"Hanya Pendekar Gila yang bisa mengalah- kannya. Tapi mungkinkah Pendekar Gila murid Singo Edan yang melakukan...?!"
Senapati Wiryapaksi lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling Lembah Bulak Rawa yang sunyi dan sepi. Tak ada tanda-tanda adanya orang lain, selain dirinya dan Kebo Jampe. Angin kencang berhembus menerpa wajah Senapati Wiryapaksi yang dihiasi kumis tipis di atas bibirnya. Hidung yang mancung mirip paruh burung betet tampak kembang-kempis. Dan matanya yang besar menatap tajam ke sekelilingnya, terus mengawasi dengan sikap waspada.
"Nampaknya belum berapa lama kematian Kala Hitam. Aku merasa orang yang membunuh Kala Hitam belum jauh dari tempat ini," ujar Pan- glima Perang Kadipaten Galih Putin yang memang berkomplot dengan kelompok yang dipimpin Kala Hitam. "Hm...," gumam Kebo Jampe yang juga nampak tegang. Karena merasakan suasana di Lembah Bulak Rawa yang luas itu mulai terasa mencekam. Matanya terus menyapu sekeliling tempat itu.
"Sebaiknya kita pergi ke timur. Orang itu pasti belum jauh...," usul Senapati Wiryapaksi, lalu melesat ke timur diikuti Kebo Jampe. Dengan memakai ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, keduanya meninggalkan tempat mayat Kala Hitam dan temannya tergeletak
Langkah kedua prajurit kadipaten ini tampak seperti terbang. Cepat, hingga terlihat hanya bayangan kekuningan melesat bagai angin.
Tak lama kemudian Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe menghentikan larinya, setelah lepas dari Lembah Bulak Rawa. Cukup jauh ke- duanya meninggalkan tempat semula.
Senapati Wiryapaksi menghela napas pan- jang, matanya menyapu tempat itu. Ternyata me- reka berdua berada di suatu tempat yang belum pernah diinjak. Keduanya tampak keheranan dan merasa asing.
"Kau tahu apa nama tempat ini Kebo Jampe?" tanya Senapati Wiryapaksi dengan suara berat. Matanya terus menyelidik sekeliling tempat yang masih asing baginya. Sunyi, sepi, dan berkesan angker. Tempat itu mirip sebuah hutan kecil. Namun pepohonannya tampak kering dan meranggas. Kebo Jampe tampak agak tertegun ketika matanya melihat sebuah kuburan tua di sebelah kanan tempat keduanya berdiri. Anehnya pula ada asap putih mengepul.
"Aku pun belum pernah tahu tempat ini. Mungkin kita salah arah," jawab Kebo Jampe, se- telah beberapa saat berpikir. Matanya jelakitan memandangi tempat yang nampak angker itu.
Ketika Kebo Jampe menoleh ke sebelah kanan. "Hah!" gumamnya keras. Matanya terbela- lak lebar memandang ke satu arah.
"Ada apa Kebo Jampe...?" tanya Senapati Wiryapaksi dengan kening berkerut
Kebo Jampe tak menjawab, dia hanya menunjuk ke sebelah kanannya. Senapati Wiryapaksi pun tersentak kaget dengan mata membelalak lebar.
Ternyata di dekat sebuah batu nisan kubu- ran tua itu samar-samar terlihat bayangan keme- rahan berbentuk manusia. Asap putih yang me- nyelimuti tempat itu membuat mata Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe tak dapat memperjelas pandangan mereka.
Kedua prajurit kadipaten itu saling pan- dang. Lalu kembali menoleh ke sosok yang berdiri dekat batu nisan kuburan tua tadi.
Tiba-tiba terdengar bunyi petikan kecapi mengiringi alunan syair. Alunan itu ternyata ke- luar dari mulut sesosok manusia berukuran pen- dek yang berdiri di dekat nisan kuburan tua itu.
Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe tersentak kaget serta merasa tegang, mendengar alunan syair itu. Disertai petikan kecapinya.
Kidung Kehidupan Pertama Kali Dia Hadir Tetesan Darah Akan Tiba Hutang Budi Dibayar Budi Hutang Nyawa Dibayar Nyawa Hutang Pati Harus Dibayar Pati....
Dalam suasana hati diliputi ketegangan kedua prajurit kadipaten itu mencabut keris yang terselip di pinggang masing-masing
"Hei! Siapa kau?! Manusia atau hantu...?!" seru Senapati Wiryapaksi dengan menghunuskan kerisnya. "Mendekatlah, kalau kau memang ma- nusia!" Namun sosok bertubuh pendek berpakaian hitam itu tetap saja bungkam. Dan terus me- mainkan kecapinya. Bunyi kecapi semakin lama semakin keras dan melengking nyaring tinggi. Memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu an- gin menderu begitu kencang.
Wesss...! "Ha ha ha...! Hai, Senapati pembawa ke- maksiatan, kekejaman, kemurkaan! Hari ini akan kucabut nyawamu.... Bersiaplah!"
Suara itu terdengar keras menggelegar. Senapati Wiryapaksi dan Kebo Jampe semakin tak mengerti dan tegang.
"Setan alas...! Siapa kau sebenarnya...! Bagaimana kau bisa mengenaliku?!" teriak Senapati Wiryapaksi dengan geram.
"Hei, Manusia Durhaka! Rupanya kau lupa peristiwa sepuluh tahun silam di Padepokan Gu- nung Talang! Kurasa kau belum terlalu tua untuk mengingatnya, Senapati Wiryapaksi...."
"Hah, Padepokan Gunung Talang...?!" Se- napati Wiryapaksi bergumam lirih sambil menge- rutkan kening. Belum sempat dia dapat mengin- gat sesuatu. Tiba-tiba.... Wut! Wut! Wut...! Wrt! Cras! Cras!
Begitu cepat bayangan itu berkelebat me- nyerang, hingga Senapati Wiryapaksi dari Kebo Jampe tak dapat mengelak. Seketika itu pula ke- duanya menjerit setinggi langit. Senapati Wirya- paksi yang masih bisa menangkis serangan sebi- sanya juga terluka di tangan kiri. Sedangkan Ke- bo Jampe yang sangat terkejut terkena sambaran di wajahnya. Sambil meraung-raung kesakitan le- laki berpakaian abu-abu itu menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
Senapati Wiryapaksi mengerang kesakitan dan menjerit-jerit, sambil memegangi tangan ki- rinya yang ternyata putus.
Belum sempat laki-laki gagah itu memulihkan tenaga dalamnya, sosok laki-laki buntung yang ternyata si Penyair Maut itu melesat cepat melancarkan serangan susulan, sambil bergerak cepat tangannya menyentakkan senar-senar kecapi yang seperti sengaja diputuskan dari tem- patnya. Senar-senar itu bagaikan hidup, meng- hantam wajah Senapati Wiryapaksi tercabik-cabik tak karuan. Seperti halnya wajah Kebo Jampe yang kini sudah tewas dengan tubuh berubah membiru.
"Aaawww...!" Senapati Wiryapaksi menjerit-jerit sambil menutupi wajahnya yang rusak. Matanya pun ter- tancap senar kecapi, hingga berlubang. Darah bercucuran keluar dari lubang mata. Begitu pun dari wajahnya yang tercabik-cabik senar maut itu. Tubuh Panglima Perang Kadipaten Galih Putih itu kelojotan lalu ambruk dengan keras ke tanah.
Si Penyair Maut tampak belum puas meli- hat Senapati Wiryapaksi belum mati. Dengan me- lompat dan mengangkat kecapinya, lelaki bun- tung itu kembali melakukan serangan.
"Hieaaa...!" Jlep! Jlep! "Aaakh...!" Senapati Wiryapaksi kembali menjerit pan- jang. Tubuhnya tertancap ujung kecapi hingga tembus. Lalu lelaki buntung itu mencabut kemba- li kecapinya seraya tersenyum puas. Wajahnya yang tak nampak jelas, karena selain tempat itu diliputi asap, juga tertutup rambut panjang seba- tas bahu. Pakaiannya yang serba merah dan kumal itu menandakan, kalau lelaki buntung itu seakan tak pernah membersihkan badan.
"Ha ha ha...! Tinggal tiga lagi. Cepat atau lambat aku harus bunuh mereka," lelaki buntung itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dibersihkannya ujung kecapi yang penuh darah dengan ujung bajunya. Kemudian, lelaki buntung itu melesat pergi meninggalkan kedua mayat. Dan menghilang begitu cepat. Hal itu menandakan kalau ilmu yang dimiliki lelaki si Penyair Maut itu sangat tinggi. Hanya suara tawanya yang menggelegar bagai memecah bumi terdengar di kejauhan, hingga perlahan-lahan menghilang.
Saat itu mendung menyelimuti bumi. Angin bertiup sangat kencang, seakan hendak merobohkan pepohonan atau apa saja yang ada di tempat itu. Petir mulai menyambar-nyambar. Dan bunyi guntur menggelegar, menjadikan suasana mencekam dan keruh. Hujan pun turun dengan deras. Tempat yang semula angker dan menakutkan, kini semakin mengerikan. Bagai suasana alam gaib, tempat segala hantu dan dedemit. Tempat itu ternyata tempat semadi lelaki buntung itu. Karena di situlah kuburan Ki Damar Ki- wangi, kakak kandung si Penyair Maut berada.
Tak seorang pun tahu di tempat itu terletak makam Ki Damar Kiwangi. Tokoh aliran putih itu dibunuh secara keji oleh kawanan Gerombolan Partai Panca Siwara. Kelompok tokoh golongan hi- tam yang anggotanya, Kala Hitam, Senapati Wi- ryapaksi, Kidang Pangarsura, Warik Kala, dan Be- ruk Singgala.
Kelima tokoh itu sama memiliki ilmu tinggi. Namun mereka kejam dan durjana. Beruk Singga- la seorang tokoh aliran hitam dari Pulau Andalas. Dia memiliki ilmu sesat, yaitu ilmu sihir yang sangat menakutkan. Pangeran Sasanadipa tak luput dari ilmu sihirnya. Hingga lupa ingatan. Minuman yang diramu Beruk Singgala dengan jampi-jampinya sempat membuat pangeran dari Kadipaten Galih Putih itu mudah dipengaruhi oleh kelompok sesat yang dipimpin Kala Hitam.
Begitu pula yang dilakukan terhadap para pejabat di Kadipaten Galih Putih. Gerombolan yang dipimpin Kala Hitam telah banyak mempen- garuhi orang-orang dalam pemerintahan dengan berbagai macam hasutan. Lebih parah lagi, ketika para pembesar pemerintah kadipaten itu berhasil dicekoki dengan perawan-perawan cantik yang di- culik dari desa-desa.
Siasat sepak terjang yang keji dilakukan oleh Kala Hitam dan para anak buahnya. Yang menjadi korban keganasan mereka tak lain rakyat jelata. Mereka memeras rakyat dengan berbagai macam pajak dan upeti. Hasil bumi yang dikerjakan rakyat pun tak luput dari gangguan orang- orang Partai Panca Siwara.
Namun sayang, sejauh itu tak satu pun pa- ra pendekar dan prajurit kadipaten yang berhasil membekuk Kala Hitam dan para begundalnya. Apalagi keadaan di dalam kadipaten sendiri se- makin dikacaukan oleh hasutan tokoh-tokoh se- sat itu. Hanya si Penyair Maut yang telah memulai! Sepak terjangnya berkitar belakang dendam ke- sumat Lelaki buntung itu terus berlari mening- galkan tempatnya bersemadi. Hujan deras meng- guyur tubuhnya yang pendek tanpa kaki.

2
Para pejabat di Kadipaten Galih Putih sangat terkejut ketika mendengar senapati yang paling ditakuti dan berilmu tinggi terbunuh secara mengenaskan. Para senapati lain merasa cemas. Sementara itu Pangeran Sasanadipa justru sedang asyik berpesta pora dengan para selirnya, sambil menonton tarian dibawakan gadis-gadis penari istana. Suasana meriah pesta yang diselenggarakan oleh Pangeran Sasanadipa sangat bertolak belakang dengan perasaan duka dan cemas yang melanda para prajurit. Seolah-olah tak pernah terjadi peristiwa mengenaskan itu. Bagai terlupakan sama sekali kematian seorang pangli- ma yang sangat ditakuti itu di benak sang Pange- ran.
Namun itulah yang sangat diinginkan sang Pangeran yang moralnya telah dibuat bejat oleh ilmu sihir Beruk Singgala. Salah seorang dari Partai Panca Siwara yang berniat dapat menguasai kadipaten dan seluruh desa untuk dijadikan alat menimbun kekayaan dan kekuasaan.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala yang saat itu berada di kadipaten sangat terkejut mendengar berita, Kala Hitam dan Senapati Wiryapaksi terbunuh secara tiba-tiba dalam hari yang sama.
"Aku belum percaya kalau belum melihat mayat Kala Hitam dan Senapati Wiryapaksi...!" ujar Kidang Pangarsura dengan geram sambil mengancam seorang senapati kadipaten yang hendak melapor pada Pangeran Sasanadipa.
"Apa kau sudah lupa, bahwa pangeran pun tak akan menanggapi laporanmu. Dia saat ini se- dang bersenang-senang. Kau ini seperti orang baru saja di kadipaten ini?!" bentak Warik Kala pada senapati yang bernama Bantlik Sampit, "Apa kau juga lupa bahwa di kadipaten ini yang berkuasa Partai Panca Siwara. Sana pergi...!"
Warik Kala mendorong tubuh Senapati Bantlik Sampit. Lelaki tua berpakaian lurik itu sudah mabuk karena terlalu banyak minum tuak dan sihir Beruk Singgala.
"Sebaiknya kematian Kala Hitam dan Se- napati Wiryapaksi kita selidiki. Aku tak yakin Ka- la Hitam yang memiliki ilmu setaraf dengan kita, bahkan lebih tinggi bisa mati segampang itu!" bantah Kidang Pangarsuara masih belum per- caya. Dipukul-pukulkan kepalan tangan kanan- nya ke telapak tangan kiri. Lalu mulutnya men- dengus sambil menggertakkan gigi, seakan-akan ada kegeraman yang ditahan dalam hatinya.
"Kalau memang benar, orang yang mem- bunuh kedua kawan kita itu pasti bukan tokoh sembarangan," tukas Warik Kala cemas sambil mengerutkan kening. Sepertinya dia sedang berpikir keras, mencari jawaban siapa yang membunuh kedua sahabatnya itu.
Sementara itu di ruang pesta, nampak su- asana semakin bertambah gila. Mata sang Pange- ran yang terpengaruh sihir Beruk Singgala tam- pak membelalak lebar. Lalu disuruhnya salah seorang penari paling depan dan cantik datang ke tempatnya.
Tanpa lama-lama lagi penari yang ditunjuk Pangeran Sasanadipa itu mendekat sambil tersenyum-senyum manja.
Begitu berada di hadapannya sang Pange- ran langsung memeluknya. Tangannya menggeluti penari cantik bertubuh sintal itu. Para selirnya hanya tersenyum-senyum dan bahkan nampak senang. Akhirnya sang Pangeran membawa penari ini ke kamarnya, sambil terus menciumi seluruh tubuhnya. Dan keempat wanita selirnya mengiku- ti sang Pangeran yang menggandeng penari itu ke dalam kamarnya.
Begitu Pangeran Sasanadipa menghilang masuk ke kamarnya, para pengawal, senapati, dan orang-orang penting kadipaten, langsung mengambil pesanan para penari lainnya. Para pe- nari yang masih muda-muda itu tak menolak, ju- stru nampak bergembira. Tubuh mereka diciumi dan dirangkul oleh para pengawal dan senapati. Kemudian mereka bergumul di ruangan pesta itu sesuka hati, tanpa ada rasa malu satu sama lain- nya.
Kadipaten Galih Putih yang dulu terkenal dan disegani, telah berubah menjadi tempat mak- siat. Setelah dikuasai Partai Panca Siwara yang sengaja membuat hancur kekuatan kadipaten itu. "Kita harus cepat memberi tahu Danur Sa- ka dan Beruk Singgala, sebelum menyelidiki, sia- pa pembunuh Kala Hitam dan Senapati Wirya- paksi!" ujar Warik Kala mendesak Kidang Pangar- sura.
"Benar. Tapi di mana mereka sekarang be- rada? Terutama Beruk Singgala. Aku khawatir dia pulang ke Pulau Andalas!" tukas Kidang Pangar- sura cemas. Lelaki yang bertubuh besar dan ber- kumis tebal, memperlihatkan perasaan tak te- nang. Matanya yang merah menatap ke sana ke- mari karena gelisah.
"Kita cari saja. Atau kita temukan Danur Saka dulu. Siapa tahu Danur Saka menerima pesan dari Beruk Singgala, di mana harus mencarinya," ujar Warik Kala memutuskan.
Kidang Pangarsura manggut-manggut, membenarkan usul Warik Kala.
"Benar. Ayo, kita berangkat! Biar saja pangeran edan itu sibuk dengan perempuan-perempuan gundiknya!" jawab Kidang Pangarsura. Yang kemudian mengajak Warik Kala pergi dari Kadipaten Galih Putih.
Kedua anggota Partai Panca Siwara tak mempedulikan Pangeran Sasanadipa yang tengah bercumbu dengan seorang penari ditemani keem- pat selirnya.
Tak lama kemudian Kidang Pangarsura dan Warik Kala sudah sampai di luar lingkungan kadipaten. Keduanya menggebah kuda tunggan- gan mereka meninggalkan Kadipaten Galih Putih.
"Aku penasaran! Siapa yang berani mem- bunuh Kala Hitam...!" sungut Kidang Pangarsura sambil terus melangkah cepat
"Aku juga ingin tahu bagaimana muka orang yang mampu menghabisi nyawa Kala Hi- tam. Benar-benar berilmu tinggi orang itu...," sa- hut Warik Kala bernada geram
"Kalau begitu kita harus mempercepat langkah, agar segera sampai di tempat Danur Saka. Ayo, heps...!" "Heaaa...!"
***

Siang itu cuaca begitu terik. Sang Surya memancarkan sinarnya bagai membakar kulit sepasang muda-mudi yang tengah berjalan mema- suki Lembah Bulak Rawa. Angin berhembus ken- cang menerpa keduanya. Namun hawa tetap terasa sangat panas.
"Kakang Sena, sebaiknya kita cepat mencari desa terdekat. Aku haus," ujar gadis cantik ber- pakaian putih dengan pedang tersampir di punggungnya. "Heran, panas sekali udara siang ini."
Gadis itu mengeluh sambil menyeka keringat di keningnya.
Pemuda tampan berpakaian rompi dari kulit ular yang dipanggil Sena cengengesan. Tangan kanannya menggaruk-garuk kepala sambil men- gedarkan pandangan ke sekitar tempat itu.
"Hah?!" pemuda berambut gondrong yang ternyata Sena Manggala terkejut ketika tiba-tiba pandangannya membentur sesuatu.
"Ada apa, Kakang?" tanya gadis cantik itu sambil mengerutkan kening.
"Lihat sana, Mei..,!" sahut Sena sambil me- nunjuk ke satu arah. Lalu kembali menggaruk- garuk kepala sambil mulutnya cengengesan, mirip orang tidak waras.
"Hah?! Mayat...?" Mei Lie memandang ke tempat yang ditunjuk Sena.
Lalu tanpa banyak bicara Sena melangkah menghampiri sosok mayat yang tergeletak sekitar sepuluh tombak di depannya. Diikuti oleh Mei Lie. Dengan tangan menggaruk-garuk kepala dan mulut cengengesan Sena memperhatikan so- sok mayat berpakaian hitam di hadapannya. Ke- mudian dua tombak jaraknya dari tempat Sena,
Mei Lie melihat dua, sosok mayat terbalut pa- kaian rompi abu-abu.
"Wajah ketiga mayat itu hancur. Lihat mata mereka seperti diculik! Hhh..., benar-benar tinda- kan keji!" gumam Mei Lie seraya menggeleng- gelengkan kepala.
Sena pun menggeleng-geleng, lalu cen- gengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Aku tak mengenal mayat-mayat itu. Tapi kalau dilihat dari pakaian mayat yang di sebelah sana," Sena menunjuk mayat di sebelah kirinya yang mengenakan pakaian prajurit warna abu- abu. "Kalau aku tak salah, orang-orang yang mati ini dari Kadipaten Galih Putih."
"Lalu siapa yang membunuh mereka ini?" tanya Mei lie.
"Ah ah ah..., mana aku tahu. Tapi rasanya keadaan Kadipaten Galih Putih sedang menghadapi kehancuran..,," ujar Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Bagaimana Kakang Sena tahu?" "Pernah kudengar dari seorang saudagar yang biasa mengantarkan pesanan pakaian ke kadipaten. Kau ingat, ketika bermalam di penginapan di Desa Watu Congot kemarin?" tutur Sena dengan mulut cengengesan persis orang gila. Namun Mei Lie tetap menanggapi dengan sungguh. Dirinya telah memahami benar bagaimana kebia- saan kekasihnya.
"Kakang yakin dengan berita itu...?" Sena hanya cengar-cengir dana menggaruk-garuk kepala.
"Sebaiknya kita kubur mayat-mayat ini. Kasihan...!" kata Sena.
Lalu segera Sena dan Mei Lie melakukan penguburan ketiga mayat itu
"Semoga arwah mereka lebih tenang di da- lam kubur...!" gumam Sena setelah selesai men- gubur mayat Kala Hitam, Kebo Kluwuk dan Rodo- prana
Terik matahari masih saja menyengat kulit kedua muda-mudi itu. Keduanya meneruskan perjalanan ke sekitar.
"Mudah-mudahan ada desa di sebelah sekitar lembah ini...,'' gumam Sena.
Pada saat yang bersamaan, Kidang Pangar- sura dan Watik Kala sedang dalam perjalanan mencari Danur Saka. Tanpa menghiraukan jala- nan terjal berbatu mereka terus menggebah kuda masing-masing agar segera sampai ke tempat tu- juan. Seakan tak ingin kehilangan waktu sedikit pun.
Derap kaki kuda begitu keras menapaki ja- lan yang berkelok dan naik turun itu. Dan ketika kuda-kuda mereka melewati Lembah Bulak Rawa. Kidang Pangarsura dan Warik Kala segera meng- hela tali kendali. Kuda pun berhenti.
"Heaaah! Herrr...!" "Mungkin itu mayat Kala Hitam dikubur- kan di sana!" ujar Kidang Pangarsura sambil me- nunjuk gundukan tanah, menyerupai kuburan yang masih baru.
"Mungkin," sahut Warik Kala. Lalu mereka menjalankan kuda menuju tempat mayat Kala Hitam dan kedua temannya dikuburkan.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala segera melompat turun dari kudanya. Langsung meme- riksa kuburan baru itu.
"Perasaanku mengatakan benar ini pasti kuburan Kala Hitam! Ayo, kita bongkar!!" kata Ki- dang Pangarsura.
"Tunggu dulu! Ini ada tiga kuburan. Yang mana kira-kira mayat Kala Hitam...?" cegah Warik Kala.
"Ahhh! Bongkar saja semuanya! Kita kan ingin kenyataan. Apakah benar kawan kita itu benar telah mati!" sergah Kidang Pangarsura.
Lalu dengan menggunakan tenaga dalam mereka, tak memakan waktu lama, kuburan- kuburan itu telah terbongkar.
"Aneh! Rasanya tak mungkin. Kala Hitam yang memiliki ilmu cukup tinggi benar-benar man!" gumam Warik Kala. Setelah melihat mayat Kala Hitam yang mukanya rusak. Mengerikan.
"Kurang ajar! Siapa pun yang melakukan- nya, akan kubalas!" dengus Kidang Pangarsura dengan geram. Matanya membelalak lebar. Gi- ginya beradu, menimbulkan gemeretak.
Matanya liar menyapu sekeliling tempat itu. Lalu pandangannya terhenti pada satu arah.
"Warik Kala, kau lihat bekas telapak kaki yang menuju ke sekitan. Mungkin orang itu yang membunuh kawan kita. Ayo kita kejar...!" kata Kidang Pangarsura dengan nada geram.
Segera keduanya melompat ke atas pung- gung kuda. Dan mereka memacu kudanya dengan cepat ke sekitan.
"Hea! Hea...!"
***

Sena dan Mei Lie baru saja keluar dari se- buah kedai, habis istirahat dan sekadar mengisi perut. Tiba-tiba para penduduk Desa Serangan dikejutkan oleh dua orang berkuda yang tak lain Kidang Pangarsura dan Warik Kala. Derap kaki kuda yang keras dan kencang membuat orang- orang yang sedang berlalu lalang di jalan utama desa itu panik dan berlarian menghindar.
Apalagi mereka yang mengenali kedua orang-orang itu nampak mencibir dengan hati di- liputi rasa cemas. Karena mereka tahu bahwa orang berkuda itu dari aliran hitam yang mengu- asai Kadipaten Galih Putih dengan cara licik dan kotor.
"Herrr, herrr...!" Kidang Pangarsura menarik tali kekang kudanya agar berhenti. Begitupun yang dilakukan Warik Kala. Sambil memandang sekeliling desa yang dilewati, mereka membiarkan kuda berjalan pelan. Mata Kidang Pangarsura dan Warik Kala terus menyapu ke kiri dan kanan dengan pan- dangan tajam dan bengis. Para penduduk desa nampak acuh dan menghindar.
Mei Lie yang melihat situasi demikian, hanya tersenyum sinis. Sena menggaruk-garuk kepala sambil cengai-cengir memandangi Kidang Pangarsura dan Warik Kala.
"Hei...! Siapa yang merasa menguburkan mayat sahabatku yang mati di Lembah Bulak Ra- wa?!" seru Kidang Pangarsura dengan suara pe- nuh geram. Matanya jelakitan ke sana kemari.
Para penduduk desa yang mendengar me- rasa heran dan aneh dengan pertanyaan Kidang Pangarsura itu. Mereka saling pandang dan men- gangkat bahu. Ada pula yang menggeleng kepala. Sebagian lagi tampak tak peduli dengan ocehan Kidang Pangarsura.
"Hei! Kau berhenti!" bentak Kidang Pangar- suara yang melihat seorang lelaki setengah baya dengan tak peduli ngeloyor pergi.
Lelaki setengah baya yang ternyata Ki Suko Kusumo, Kepala Desa Serangan, menghentikan langkahnya. Lalu membalik perlahan seraya me- natap Kidang Pangarsura dan Warik Kala, dengan menyipitkan kedua matanya.
"Ada apa, Kisanak...?" tanya Ki Lurah Suko Kusumo.
"Bangsat! Ditanya malah kau bertanya!" Kidang Pangarsura marah. Kemudian bergerak hendak menghajar Ki Lurah Suko Kusumo dengan cambuknya. Namun cambuk itu belum sem- pat menyentuh tubuh Ki Lurah Suko Kusumo. Karena mendadak sesosok wanita muda melom- pat, dan....
"Yeaaa...!" Prattts! "Hah?!" Kidang Pangarsura tersentak kaget, meli- hat cambuknya terlepas.
Belum sempat Kidang Pangarsura dan Wa- rik Kala mengenali siapa penyerangnya, wanita berambut panjang itu sudah membentaknya.
"Hei! Jangan sembarangan main cambuk orang yang tak tahu apa-apa tentang mayat sa- habatmu itu! Akulah yang menguburkan mayat sahabatmu itu. Sekarang kau mau apa...?!"
Gadis itu bahkan berani menantang Kidang Pangarsura dan Warik Kala. Matanya yang bening dan lembut menatap wajah kedua lelaki yang du- duk di punggung kuda itu.
"Bedebah! Siapa kau, Wanita Bawel...! Kaukah yang membunuh Kala Hitam?!" bentak Kidang Pangarsura dengan geram. Lalu melompat dari atas punggung kudanya, disusul oleh Warik Kala. Keduanya berdiri tegap di hadapan Mei Lie
"Ha ha ha...! Rupanya kalian orang-orang picik dan rendah!" maki Mei Lie sambil mencabut pedang yang tersampir di punggungnya.
"Hah?!" Kidang Pangarsura dan Warik Kala tersentak kaget ketika melihat Pedang Bidadari yang digenggam tangan kanan Mei Lie. Mereka tahu kalau pedang yang memancarkan sinar kun- ing kemerah-merahan itu Pedang Bidadari. Dan hanya si Bidadari Pencabut Nyawa kekasih Pen- dekar Gila yang memiliki
"Pedang Bidadari...?!" desis Kidang Pangarsura dan Warik Kala lagi dengan mata terbelalak seakan tak percaya pada apa yang dilihatnya. Ki Lurah Suko Kusumo dan para warga Desa Serangan yang berada di tempat itu tampak kaget me- nyaksikan pedang Mei Lie yang bersinar kuning kemerahan-merahan.
"Hi hi hi...! Lucu, kalian berdua ini lucu. Hi hi hi... mau apa kalian, Badut?!" celetuk Sena yang melangkah maju sambil menggaruk-garuk kepala mengejek Kidang Pangarsura dan Warik Kala. Kedua orang itu semakin terkejut
Wajah mereka saling tatap diliputi ketegan- gan ketika mengenali siapa pemuda yang berting- kah laku seperti orang gila itu. Sementara itu Ki Lurah Suko Kusumo yang rupanya juga telah mengenali pemuda berompi dari kulit ular itu, tampak tersenyum lega.
"Pendekar Gila...?!" pekik Kidang Pangarsu- ra. Wajahnya yang semula garang dan bengis be- rubah seketika. Tersungging senyum kecut di bi- birnya. "Hei! Sekarang kau sudah berhadapan dengan orang yang menguburkan mayat saha- batmu. Jawab, apa maumu...!" ujar Mei Lie ketus, sambil menuding Kidang Pangarsura dengan Pe- dang Bidadari-nya.
"Hm..., mak..., maksud kami hanya ingin tahu siapa yang membunuh sahabatku itu...," ja- wab Kidang Pangarsura bimbang.
"Hi hi hi... Lucu! Kalau hanya itu, kenapa kau berbuat kasar sama orang yang tak tahu- menahu soal mayat sahabatmu itu? Aku kurang suka dengan tindakanmu itu, Kisanak.... Terus terang aku tersinggung...," ucap Sena dengan cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala saling pandang. Mukanya memerah. Marah. Namun Warik Kala yang lebih memakai otak, dari pada otot segera menjawab.
"Maaf...! Kami tak ingin bentrok dengan, Kisanak. Kami berdua hanya ingin mencari pem- bunuh sahabat kami. Terima kasih atas kerelaan pendekar mau mengubur mayat Kala Hitam sa- habat kami itu...."
"Hm...! Baiklah, kalau memang kalian ber- dua mengerti bahwa aku dan Kang Sena bukan pembunuh yang kau cari. Sekarang cepat kalian tinggalkan desa ini! Aku paling tak suka melihat orang-orang Desa Sarangan ini ketakutan dan cemas!" kata Mei Lie ketus.
Kidang Pangarsura menahan marah. Gi- ginya gemeretak beradu. Warik Kala menenang- kan, seraya berkata lirih,
"Tenang, Kawan. Pendekar Gila dan Bida- dari Pencabut Nyawa bukan pembunuh Kala Hi- tam. Sebaiknya kita cepat pergi dari desa ini. Tu- juan kita mencari pembunuh itu. Urusan sakit hati pada Pendekar Gila dan wanita itu kita atur selanjutnya...."
Kidang Pangarsura memaksakan diri untuk tersenyum mengangguk.
"Maafkan kami...! Ayo pergi!" kata Kidang Pangarsura dengan mengajak Warik Kala untuk segera pergi dari tempat itu.
"Her, her...!" "Hea! Heaaa...!" Kedua kuda yang ditunggangi Kidang Pangarsura dan Warik Kala dengan cepat meninggal- kan Desa Sarangan. Pendekar Gila dan Mei Lie memandangi dari belakang. Pendekar muda itu terus tertawa-tawa cekikikan sambil mengorek kupingnya dengan bulu burung yang selalu dis- impan di dalam ikat pinggangnya.
"Terima kasih, Tuan Pendekar.... Juga Ni- ni...," ucap Ki Lurah Sumo Kusumo sambil men- jura. Begitu juga para penduduk desa yang mera- sa senang dengan kehadiran sepasang pendekar muda itu di desa mereka.
"Sama-sama, Ki. Sudah kewajiban kami berdua untuk menolong orang-orang lemah," ja- wab Sena seraya tersenyum. "Tapi siapa sebenar- nya kedua orang tadi, Ki?" tanya Sena kemudian.
"Mungkin Ki Lurah bisa menjelaskan...," tambah Mei Lie menyela ucapan Pendekar Gila.
Ki Lurah Sumo Kusumo manggut-manggut seraya menatap dengan senyum pada Sena dan Mei Lie. "Hm..., sebaiknya Tuan berdua singgah du- lu ke rumah kami! Nanti saya ceritakan sedikit tentang kedua orang tadi...," kata Ki Lurah Sumo Kusumo kalem.
Pendekar Gila melirik wajah Mei Lie, sambil terus mengorek telinganya dengan bulu burung. Seakan dirinya meminta pertimbangan pada Mei Lie. Ternyata gadis itu menganggukkan kepala, tanda setuju.
"Baiklah...," jawab Sena dengan mulut cen- gengesan.
"Kalau begitu mari, silakan...!" kata Ki Lu- rah Sumo Kusumo memberi jalan pada Sena dan Mei Lie dengan ramah. Begitu juga dengan penduduk desa. Tampaknya mereka telah mengeta- hui tentang keberadaan Pendekar Gila dan keka- sihnya, si Bidadari Pencabut Nyawa. Hal itu tak mengherankan, karena sepak terjang Pendekar Gila sebagai pendekar penegak keadilan telah di- kenal tidak hanya oleh kalangan rimba persilatan.
***

Ki Lurah Sumo Kusumo menceritakan se- cara singkat pada Pendekar Gila dan Mei Lie. Bahwa kedua orang berkuda itu anggota Partai Panca Siwara yang kini menguasai Kadipaten Ga- lih Putih.
"Aha! Lalu siapa pembunuh kawan orang- orang sesat itu, Ki?" tanya Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala. Mulut masih juga cengengesan. "Ya!" sela Mei Lie, sebelum Ki Lurah Sumo Kusumo menjawab. "Tadi Ki Lurah bilang bahwa Ki Damar Kiwangi punya adik kandung. Apa dia juga mati dibunuh Partai Panca Siwara...?!"
"Saya belum tahu pasti karena cerita yang tersiar simpang siur. Ada yang menceritakan bahwa adik Ki Damar Kiwangi yang bernama An- jang Kawiwangi mati setelah dilempar ke jurang. Tapi ada pula yang mengatakan bahwa Anjang menghilang begitu saja...," kata Ki Lurah Sumo Kusumo menjelaskan. Kepala lelaki setengah baya itu menggeleng-geleng seakan tidak yakin pada apa yang diceritakannya sendiri.
Pendekar Gila manggut-manggut, kemu- dian menggaruk-garuk kepalanya. Mei Lie mengerutkan kening. Ditatapnya wajah Ki Lurah Sumo Kusumo sejenak lalu tanyanya,
"Kalau saya boleh tahu apa Ki Lurah tahu, siapa kira-kira pembunuh tokoh Partai Panca Si- wara itu?"
"Hm...!" gumam Kepala Desa Sarangan itu sambil mengerutkan kening. Sejenak lelaki seten- gah baya itu mengingat-ingat sesuatu. "Ya. Kami dengar dari orang-orang yang pernah melihat, bahwa ada seorang lelaki berkaki buntung yang tiba-tiba muncul di wilayah ini. Diduga keras le- laki buntung itulah pelaku pembunuhan terhadap Senapati Wiryapaksi dan Kala Hitam..."
"Lelaki buntung...?!" gumam Mei Lie den- gan kening berkerut, kaget Sementara Pendekar Gila seakan tak peduli dengan lelaki buntung yang disebut Ki Lurah Sumo Kusumo. Dia tetap dengan tingkahnya yang lucu. Cengengesan sam- bil menggaruk-garuk kepala.
Sena kemudian melirik sebentar pada Mei- Lie. Dan Mei Lie mengerti maksud lirikan Sena itu.
"Mungkinkah lelaki buntung itu ada hu- bungannya dengan adik Ki Damar Kiwangi, yang belum jelas mati atau... masih hidup?" gumam Mei Lie pelan sekali seperti bicara pada diri sendi- ri.
Ki Lurah Sumo Kusumo tampaknya men- dengar gumaman Mei Lie.
"Mungkin juga adik Ki Damar Kiwangi ma- sih hidup. Ah, tapi tak mungkin! Kelima tokoh se- sat itu telah melemparkannya ke jurang Mager
Wadas setelah dihajar sampai setengah mati.... Dan nyatanya hingga sekarang tak pernah ter- dengar lagi nama Anjang Kawiwangi"
Mei Lie menyipitkan kedua matanya, seo- lah-olah tengah berusaha memecah dan mema- hami penjelasan Kepala Desa Sarangan itu.
"Apa Ki Lurah menyaksikan kejadian itu...?" tanya Sena tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Sena itu, Ki Lurah Sumo Kusumo mengerutkan kening. Sejenak dia menghela napas panjang.
"Ya, sepuluh tahun yang lalu. Sebab saya sendiri termasuk murid dari Padepokan Gunung Talang. Bahkan hampir semua penduduk Desa Sarangan ini mengabdi pada Ki Damar Kiwangi yang bijaksana dan pembela kaum lemah. Seperti Tuan Pendekar saat ini," Ki Lurah Sumo Kusumo menghentikan ucapannya sebentar dan menghela napas. "Namun sejak Padepokan Gunung Talang dihancurkan Partai Panca Siwara keadaan kian memburuk. Penduduk desa yang sebelumnya hi- dup aman dan sentosa, kini selalu merasa dice- kam ketakutan. Pemerasan, pemaksaan, pembu- nuhan, bahkan penculikan terjadi di mana-mana. Tidak hanya di Desa Sarangan ini. Hampir semua desa yang masih dalam lingkungan Kadipaten Galih Putih menjadi cengkeraman Partai Panca Siwara."
Mendengar cerita Ki Lurah Suko Kusumo Pendekar Gila dan Mei Lie mengangguk- anggukkan kepala. Sena kemudian menggaruk- garuk kepala lagi.
"Ki Lurah, kalau saya boleh tahu, di mana- kah letak Padepokan Gunung Talang?" tanya Mei Lie kemudian. Mendengar itu Sena menoleh ke- pada Mei Lie.
"Tak Jauh dari Lembah Bulak Rawa. Te- patnya di sebelah utara lembah itu. Tempatnya dulu cukup nyaman, tapi sekarang menjadi serem dan angker. Orang-orang Desa Sarangan tak per- nah datang ke sana...," kata Ki Lurah Sumo Ku- sumo dengan wajah keruh.
Sena dan Mei Lie saling pandang. Lalu berucap terima kasih pada kepala desa itu. Mereka tak lagi bicara. Suasana seketika berubah hening. Sementara di luar matahari semakin condong ke barat. Sinarnya pun mulai keemasan.

3
Dalam perjalanan menuju kediaman Danur Saka, Kidang Pangarsura dan Warik Kala terus di- landa rasa cemas. Kegalauan tergambar jelas di wajah kedua lelaki bertampang bringas itu.
Kuda-kuda itu dipacu kencang menelusuri tepian sungai yang airnya cukup deras. Kuda- kuda itu terus dipacu untuk menyeberangi sungai yang ternyata dangkal. Bebatuan tampak tersem- bul di sana-sini, memecah arus menjadi beriak- riak.
Sampai di seberang, tiba-tiba Kidang Pangarsura berkata agak kesal pada Warik Kala.
"Seharusnya kemarin kita coba ilmu Pendekar Gila dan gadis Cina itu! Aku merasa dire- mehkan...!" Kidang Pangarsura tak menyembu- nyikan wajahnya yang bersungut-sungut karena kesal.
"Sebenarnya aku pun merasa ingin menjaj- al kesaktian Pendekar Gila. Tapi tujuan kita yang pertama harus dituntaskan terlebih dahulu. Kita harus bersiasat. Orang seperti Pendekar Gila ha- rus dilawan dengan tipu muslihat!" tukas Warik Kala coba meredakan dengan kata-katanya.
"Pintar juga kau, Warik! Ha ha ha...! Herrr! Heaaa...!" Kidang Pangarsura langsung mengge- bah kudanya, disusul Warik Kala.
Tanpa diketahui oleh mereka sesosok bayangan berkelebat menguntit dari belakang. Ke- tika memasuki Hutan Roban. Sosok bayangan itu bagai seekor kera, melompat-lompat dari pohon satu ke pohon lain. Begitu cepat gerakannya, se- hingga yang tampak hanya bayang-bayang kehi- jauan seperti melayang terbawa angin.
"Ho...!" Kidang Pangarsura mendadak menghenti- kan lari kudanya. Hal itu membuat Warik Kala agak kaget dan cepat menarik tali kekang ku- danya. Hingga kuda itu meringkik.
"Hiiieee...!" "Ho, hop! Ada apa...?!" tanya Warik Kala tak mampu menutupi keheranannya.
"Apa telingamu tak mendengar suara aneh? Kita diikuti orang!" jawab Kidang Pangarsura setengah berbisik.
Warik Kala menelengkan kepala seakan berusaha mendengar. Matanya liar menyapu sekeliling Hutan Roban yang terkenal angker. Dan me- nurut kabar, banyak makhluk halus menghuni hutan itu.
"Aku menduga rasanya dia bukan manu- sia. Mungkin hantu atau makhluk halus..!" gumam Warik Kala dengan suara agak tertahan.
"Hi hi hi...! Hi hi hi...! Kau manusia- manusia buruk mau ke mana?! Hi hi hi...!"
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita tertawa nyaring. Suaranya seperti tawa kuntila- nak. "Hah?!" sentak Kidang Pangarsura. Belum sempat kedua lelaki bermuka bringas itu dapat menguasai keadaan. Tiba-tiba...
Swing! Swing! Swing...! Beberapa senjata rahasia berupa tusuk kode beracun meluncur bagai anak panah ke arah kedua lelaki itu. Kidang Pangarsura dan Wa- rik Kala cepat mengelak dengan menjatuhkan diri ke tanah, lalu bergulingan. Secepat itu pula me- reka mencabut senjata masing-masing. Kidang Pangarsura dengan senjata pedang, sedangkan Warik Kala dengan golok.
Keduanya menangkis tusukan konde bera- cun itu. Trang! Trang! Trang...!
Dar! Darrr...! Tusukan konde yang tertangkis dan meng- hantam pohon-pohon yang ada di hutan itu me- nimbulkan ledakan dahsyat. Beberapa pohon tumbang setelah terbakar.
Kidang Pangarsura dan Warik Kala tersentak kaget, melihat keampuhan tusukan konde itu. "Hi hi hi...! Ini baru permainan kecil. Baru pembukaan, Manusia-manusia Kotor...! Ha ha ha...! Hi hi hi...!" kembali suara tanpa wujud itu menggelegar keras bagai memecah kesunyian Hu- tan Roban.
"Benar! Bukan manusia yang kita hadapi, Warik! Mungkin dedemit Hutan Roban ini...!" gu- mam Kidang Pangarsura. Wajahnya kini tampak berkeringat. Karena satu tusukan konde, hampir saja menjebol perutnya yang besar. Kalau saja ta- di dia tidak cepat menangkis sambil bergulingan, remuk redamlah tubuhnya meledak seperti po- hon-pohon itu.
"Si... siapa kau? Manusia atau hantu...?" tanya Warik Kala dengan suara sedikit tertahan.
"Hei...! Kalau kau manusia, Perempuan Se- jati, keluarlah! Hadapi aku...!" seru Kidang Pangarsura yang cepat emosi dan tak bisa menguasai diri itu. Baru saja Kidang Pangarsura selesai berseru, tiba-tiba.....
Srakkk...! Seorang wanita berparas cantik muncul di hadapan mereka.
"Kau memanggilku...?!" tanya wanita itu dengan senyum genit. Matanya bening dan memi- liki daya tarik. Bibirnya yang merah tampak tipis dan indah. Ditambah lagi tubuhnya yang padat, sintal, terbalut kulit berwarna kuning langsat
Kedua lelaki beringas hanya bisa melongo memandangi wanita itu. Tubuh wanita itu hanya   ditutupi kain warna hijau sampai di dada, seperti kemben. Sedang bagian bawah memakai kain hi- tam, sedikit di atas lutut. Sehingga jika wanita itu sedikit saja mengangkat kaki akan terlihat jelas pahanya yang mulus.
"Hei! Kenapa kau diam seperti orang bi- su...?!" tanya wanita itu dengan diiringi senyum genit.
"Si... siapa kau? Manusia atau hantu...?" tanya Warik Kala dengan suara sedikit tertahan.
"Kalian ini memang manusia-manusia bu- ta! Kalau aku hantu, lantas kalian mau apa? Dan kalau aku manusia seperti kalian...?" jawab wani- ta itu dengan suara nyaring.
Kidang Pangarsura yang sejak tadi terke- sima menyaksikan kemolekan tubuh dan paras cantik wanita itu, menyelak,
"Kalau kau manusia biasa, aku ingin men- gawinimu...!"
"Apa kau tak salah? Dan aku ingin tahu apa ucapanmu itu bisa dipercaya...?" tukas wani- ta aneh itu dengan genit. Tangannya yang kiri perlahan dengan sengaja mengangkat ke atas kainnya. Hingga hampir pangkal paha. Mendadak mata kedua lelaki itu berbinar-binar. Dan mene- lan ludah.
Kidang Pangarsura yang buas dengan wa- nita, tak pikir panjang lagi, segera ia menubruk dan memeluk wanita itu dengan penuh nafsu.
Anehnya wanita itu tak berusaha menolak. Bahkan mendesah dan tertawa cekikikan. Warik Kala yang melihat keanehan dari tawa wanita itu mulai merasakan bulu kuduknya berdiri. Merind- ing. Ingin dia memberi tahu Kidang Pangarsura, tapi mulutnya terasa kelu, tak dapat dibuka. Pa- dahal telah dikerahkan seluruh tenaga dalamnya. Aneh sekali. Entah ilmu apa yang dipakai wanita cantik itu.
Pada saat Kidang Pangarsura semakin lupa daratan, perlahan-lahan wajah wanita yang ta- dinya cantik itu, berubah sangat menyeramkan. Keriput dan pucat. Warik Kala terbelalak kaget Mulutnya ternganga lebar seperti hendak berte- riak, tapi sulit.
"Hah?! Hantu...?" pekiknya lirih. Lalu sege- ra berlari sekuat tenaga meninggalkan Kidang Pangarsura yang masih mendekap tubuh wanita itu sambil menciumi buah dadanya.
Warik Kala melompat ke punggung kuda dan cepat melarikannya. Tanpa menoleh lagi Wa- rik Kala meninggalkan Hutan Roban.
Sementara itu, Kidang Pangarsura mulai merasakan keanehan. Tubuh wanita itu tiba-tiba terasa dingin sekali. Dan menyusul segera Kidang Pangarsura mengangkat mukanya yang sejak tadi menyusup di dada wanita itu.
"Hah...?! Aaa...! Han... hantuuu...!" Kidang Pangarsura terkejut bukan main. Dia berusaha lari. Namun aneh ada kekuatan membelenggu hingga tak bisa mengangkat kakinya.
"Hi hi hi...! Jawab pertanyaanku, sebelum ajalmu tiba! Apa kau dari Partai Panca Siwara?!" tanya wanita yang wajahnya sudah berubah me- nyeramkan itu.
Kidang Pangarsura tak berani berbohong. Sekujur tubuhnya yang sudah bermandi keringat gemetaran. Dan mukanya pucat pasi.
"Kau memang manusia rendah dan licik! Ternyata ilmumu tak kuasa menandingiku. Hi hi hi...! Dan kini terimalah ajalmu! Grrr...!"
"Aaauwww...!" Kidang Pangarsura menjerit-jerit dan men- dadak suaranya berhenti. Jiwa Kidang Pangarsura melayang.
Rupanya wanita itu mencekik dengan ku- ku-kukunya yang tiba-tiba memanjang dan runc- ing. Lalu mencucup ubun-ubun Kidang Pangar- sura.
"Hi hi hi...! Kakang Brajasukmana, aku telah membalaskan dendammu. Hi hi hi....!"
Wanita itu kemudian nampak puas, darah menetes dan membasahi tangannya. Perlahan-lahan wajahnya kembali berubah seperti semula. Cantik dan sensual. Itulah ilmu ‘Perubah Raga’, milik wanita yang dikenal dengan nama Dewi Sukmalelana.
"Sebaiknya mayat ini kukirim ke kadipaten sekarang juga," gumamnya lirih. Setelah berpikir, Dewi Sukmalelana melesat bagai terbang, sambil membopong mayat Kidang Pangarsura.
***

Ketika Dewi Sukmalelana sedang berlari kencang sambil membopong mayat Kidang Pangarsura, tiba-tiba berpapasan dengan sepasang muda-mudi yang sedang menuju arah berlawanan. Mereka tak lain Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Berhenti...!" seru Mei Lie sambil mengang- kat tangan kirinya ke depan. Sedang Pendekar Gi- la hanya cengengesan menatap Dewi Sukmalelana yang nampak tenang-tenang saja. Tak ada rasa kesal atau marah.
"Hi hi hi...! Ada perlu apa kalian menghen- tikanku...?" tanya Dewi Sukmalelana dengan se- nyum genit. Matanya melirik wajah Sena, mem- buat Mei Lie melebarkan mata, cemburu.
"Hei...! Aku yang bicara, bukan dia!" seru Mei Lie ketus.
"Hi hi hi...! Oooh rupanya pemuda tampan dan gagah itu kekasihmu. Maafkan aku! Bukan maksudku membuatmu cemburu. Tapi jujur saja, pemuda pendampingmu itu membuatku terpeso- na...," ujar Dewi Sukmalelana tanpa rasa malu sedikit pun.
"Huh! Mulutmu terlalu bawel. Perlu dikasih pelajaran...!"
Selesai berkata begitu, Mei Lie segera ber- gerak hendak menyerang. Namun Dewi Sukmale- lana segera berkata, memohon maaf.
"Tunggu, sabar! Sekali lagi maafkan aku. Bukankah kalian berdua Pendekar Gila dan Bida- dari Pencabut Nyawa? Sepasang pendekar yang sangat kesohor di bumi Jawa Dwipa ini...?" kata Dewi Sukmalelana dengan nada bersahabat. Mu- lutnya tersenyum manis.
Mei Lie dan Sena saling pandang. "Ah ah ah...! Jangan sebut kami pendekar!
Kita berdua hanya manusia biasa. Seperti kamu. Tapi bagaimana kau bisa mengenal kami...?" tanya Pendekar Gila dengan mulut cengengesan dan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Hhh..., tak terlalu sulit untuk mengenali- mu, Pendekar. Pertama, tingkahmu yang aneh. Kedua, aku melihat suling berkepala naga terselip di ikat pinggangmu...," jawab Dewi Sukmalelana bangga. Lalu matanya berkerling pada Sena. Membuat Mei Lie bertambah kesal dan cemberut
"Sungguh jeli matamu...," puji Sena sambil menggaruk-garuk kepala. "Tentunya kau bukan perempuan sembarangan. Dan kalau aku boleh tahu, untuk apa kau membawa orang itu...?"
"Ya. Tentu kau telah melakukan kejahatan. Telah membunuh orang itu...," tukas Mei Lie langsung dengan nada ketus.
"Benar. Aku telah membunuh orang itu...," jawab Dewi Sukmalelana dengan tegas dan man- tap.
Mei Lie mengerutkan kening. "Kalau begitu kau yang membunuh par- tai...."
Belum sempat Mei Lie meneruskan kata- katanya, Dewi Sukmalelana cepat menyelak. "Partai Panca Siwara, maksudmu...?!" "Ya!" jawab Mei Lie singkat "Lantas, kenapa kau bunuh orang itu...?" tanya Sena sambil cengengesan dan menggaruk- garuk kepala.
"Maaf! Mungkin lain kali aku dapat menja- wab pertanyaanmu. Aku harus segera pergi...!" ujar Dewi Sukmalelana, "Kumohon jangan ganggu aku! Aku tak ingin bentrok dengan kalian. Permi- si!"
Selesai berkata begitu, Dewi Sukmalelana melesat cepat bagai terbang, meninggalkan Pen- dekar Gila dan kekasihnya. Mei Lie yang sejak ta- di merasa kesal dan sedikit cemburu dengan tingkah laku, serta ucapan Dewi Sukmalelana, ingin mengejarnya. Namun Sena mencegah.
"Sabar, Mei! Jangan turuti perasaanmu! Rencana kita untuk menyelidiki siapa si buntung itu bisa gagal. Kalau kau tak dapat menguasai di- ri...," cegah Sena dengan lemah lembut, sambil memanggul kekasihnya.
"Aku sebel mendengar suaranya. Apalagi matanya selalu tertuju padamu. Perempuan ge- nit!" sungut Mei Lie dengan wajah cemberut.
"Kau semakin cantik dan memikat, kalau cemberut, Mei...."
Sena coba menyenangkan hati kekasihnya. Mei Lie yang dipuji jadi memerah mukanya. Ke- mudian tangannya mencubit pinggang sang Ke- kasih. Sena melepas rangkulannya, lalu mengga- ruk-garuk kepala sambil cengengesan.
Pasangan pendekar muda itu kemudian meneruskan perjalanan. Namun baru beberapa langkah, Mei Lie berhenti.
"Kakang...," tegur Mei Lie. "Hm...?" "Mungkinkah perempuan genit tadi ada hubungan dengan lelaki buntung itu? Dan mayat siapa yang dibawa tadi...?" tanya Mei Lie.
"Dugaanmu mungkin saja benar. Tapi kita belum bisa menuduhnya. Selama dia tak menya- kiti kita, aku rasa tak perlu terlalu ikut campur urusan orang."
"Tapi Kakang, perempuan itu telah mem- bunuh. Apa itu dibenarkan?! Semestinya tadi aku cepat menghajarnya!" ujar Mei Lie dengan kesal dan cemberut.
"Sabar, sabarlah sedikit, Mei! Percayalah, kesabaran dan ketenangan mampu mendukung usaha kita...," kata Sena kembali mengingatkan Mei Lie yang mulai gampang marah.
Mei Lie tampaknya bisa mengerti. Gadis cantik itu menghela napas panjang, lalu melang- kah meninggalkan Sena yang masih menggaruk- garuk kepala memandangi kekasihnya yang se- dang kesal. Lalu memburu Mei Lie, dan berjalan di samping Mei Le.
***

Sementara itu Dewi Sukmalelana telah sampai di depan Kadipaten Galih Putih. Namun ketika langkahnya baru memasuki pintu gerbang, tiba-tiba....
Zing! Zing! Zing...! Berpuluh-puluh anak panah dan tombak meluncur memburu Dewi Sukmalelana. Perem- puan cantik itu dengan cepat memindahkan mayat Kidang Pangarsura ke dada, untuk tameng. Beberapa anak panah dan tombak menancap di tubuh Kidang Pangarsura yang telah jadi mayat itu.
"Hi hi hi...! Manusia-manusia bodoh! Rasa- kan ini, heaaa...!"
Dewi Sukmalelana menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan. Seketika dari tela- pak tangannya keluar semburan api melesat ke arah para prajurit kadipaten yang dipimpin Warik Kala dan para pengawal kadipaten.
Wurrrs...! "Aaa...!" "Wuaaakh...!" Para prajurit menjerit ketika tubuh mereka tersambar semburan api yang keluar dari telapak tangan Dewi Sukmalelana. Belasan prajurit tewas seketika, terlalap semburan api ganas itu. Mereka yang masih hidup berlarian tunggang-langgang menginjak mayat-mayat prajurit yang telah mati terbakar.
"Kurung perempuan iblis itu...!" seru Warik Kala memerintahkan para prajurit dan pengawal kadipaten.
Serentak para prajurit dan pengawal kadi- paten mengurung Dewi Sukmalelana dengan ber- senjata tombak, golok, dan pedang.
"Hi hi hi...! Aku senang dengan permainan ini. Hi hi hi...!" Dewi Sukmalelana dengan cepat menggerakkan kedua tangannya ke depan dada. Disusul dengan kaki kirinya terangkat ke atas la- lu ditekuk, kemudian dengan keras dihentakkan ke tanah. Akibatnya tanah yang diinjak bergun- cang, seperti dilanda gempa. Para prajurit dan pengawal kadipaten tersentak kaget dan hanya bisa melongo, ketika tiba-tiba bumi berguncang hebat
"Hi hi hi...!" Dewi Sukmalelana tertawa ter- kekeh-kekeh. Suara tawanya berubah menjadi menyeramkan. Seperti tawa makhluk gaib. Keras, melengking, dan memekakkan telinga.
"Ilmu apa yang dia gunakan...?!" gumam Warik Kala yang mulai kecut dan ciut nyalinya. Namun dia segera mencabut goloknya.
Belum habis rasa ketakutan dan kehera- nan para prajurit dan pengawal, Dewi Sukmalela- na tiba-tiba mengibaskan rambutnya, sambil memutar kepala. Dan rambut yang tadi panjang- nya hanya melewati bahu, kini berubah meman- jang. Memanjang terus bagaikan hidup, memburu dan menghantami orang-orang yang mengurung- nya.
Wrrrt! Prats! Prats! "Aaakh...!" Bagai kena tamparan yang keras dan pa- nas, para prajurit dan pengawal menjerit panjang. Lalu roboh ke tanah, tak bernyawa lagi. Kepala ataupun tubuh mereka hancur tersambar rambut Dewi Sukmalelana yang menjadi panjang bagai ular raksasa.
"Hah!" Warik Kala memekik tertahan. Matanya terbelalak lebar seperti hendak keluar dari kelopaknya. Sekujur tubuhnya mendadak geme- taran, sedangkan pandangannya buram tak jelas. Entah kenapa.
"Oh mataku...!" keluh Warik Kala.
Rupanya Dewi Sukmalelana menyemburkan serbuk beracun dari mulutnya.
"Aaakh..., mataku...!" teriak Warik Kala sambil mengucek matanya.
"Hi hi hi...! Itu hadiah orang yang lari dari- ku...! Kini, tak lama lagi kau akan menyusul temanmu ke akherat! Heh...!"
Dewi Sukmalelana melompat bagai macan kumbang, menerkam Warik Kala. Meskipun da- lam keadaan tak karuan, Warik Kala masih sem- pat mengelak dengan menjatuhkan diri ke tanah. Mengetahui hal itu, dengan cepat Dewi Sukmale- lana menginjakkan kaki kanannya ke tubuh Wa- rik Kala yang masih berada di tanah.
Krakkk! "Aaakh...!" Warik Kala menjerit, ketika dirasakan da- danya remuk. Sesaat kemudian lelaki berwajah beringas itu tewas dengan mata membelalak.
Para prajurit kadipaten, segera berlarian tunggang-langgang. Mereka tampaknya tak ada yang berani menghadapi Dewi Sukmalelana. Wa- nita dan anak-anak yang tinggal di lingkungan kadipaten pun ketakutan. Mereka kalang kabut berusaha bersembunyi.
"Hi hi hi...!" Dewi Sukmalelana terus tertawa-tawa nyaring. Suaranya sampai di telinga Pangeran Sa- sanadipa yang sedang asyik bercumbu dengan para selirnya di kamar pribadi. Namun hatinya yang telah tertutup nafsu birahi membuat suara kacau dan hiruk-pikuk di luar bagai tak terdengar. Sang Pangeran tak mempedulikannya.
"Gusti Pangeran...! Gusti Pangeran...!" te- riak seorang pengawal dari luar kamar. Namun karena tak ada sahutan dari dalam, pengawal ka- dipaten itu terpaksa mendobrak pintu kamar.
Brakkk..! "Aaa...!" para selir yang sedang melayani sang Pangeran menjerit. Sambil menutupi tubuh mereka yang tanpa pakaian, mereka berlarian ka- rena terkejut "Ooo..., pengawal! Ada apa? Kenapa kau berani merusak pintu kamarku?!" kata Pan- geran Sasandipa dengan mata masih layu dan wajahnya berkeringat
"Ampun, Gusti Pangeran...! Ada, ada hantu perempuan ngamuk...! Semua orang dibunuhnya. Juga Warik Kala!" lapor pengawal itu.
"Warik Kala mati?!" tanya sang Pangeran lemah. "Benar, Gusti...!" pengawal itu menjura hormat "Ayo, antar aku! Bagaimana rupa perem- puan itu...!" ajak sang Pangeran yang pikirannya sudah setengah tak waras itu. Setelah turun dari ranjangnya, para selir segera memakaikan pa- kaian Pangeran Sasanadipa. Juga pusakanya, sebuah keris.
Pangeran Sasanadipa yang nampak seperti orang mabuk itu melangkah gontai keluar dari kamar, diikuti pengawal tadi.
Sementara di luar, orang-orang kadipaten masih panik dan berlarian menyelamatkan diri.
"Orang-orang bodoh! Mengapa takut pada-
ku...?! Aku tak akan menyakiti kalian! Aku hanya bunuh manusia-manusia yang kuinginkan. Kalian semua telah kena ilmu sihir Beruk Singgala. Termasuk pangeran kalian itu...!" seru Dewi Sukmalelana.
Pada saat itu, muncul Pangeran Sasanadi- pa dengan langkah gontai menuju pekitaran ka- dipaten. Melihat pangeran muncul dan mendeka- tinya, Dewi Sukmalelana tersenyum pahit
"Hei, Wanita Cantik. Ada urusan apa kau membunuh orang-orangku...?!" tegur Pangeran Sasanadipa. Matanya yang merah dan sayu me- natap wajah Dewi Sukmalelana.
"Hi hi hi...! Panjang ceritanya, Pangeran. Tapi aku tak ingin bermusuhan denganmu. Maaf, aku telah membuatmu gusar!" tutur Dewi Sukma- lelana mantap.
"Wajahmu cantik dan menggiurkan.... Sia- pa namamu? Aku pikir kau lebih baik jadi selirku, Cah Ayu...," kata Pangeran Sasanadipa sudah berpikiran kurang waras itu.
"Kasihan pangeran ini! Dia dulu orang yang bijaksana, gagah berani, dan pengasih. Kini jadi seperti orang lupa ingatan.... Ini semua gara-gara Partai Panca Siwara itu! Beruk Singgala penyihir itu...!" gumam Dewi Sukmalelana pelan. Seperti bicara pada diri sendiri.
"Kenapa kau diam dan tak menyerangku atau membunuhku, Cah Ayu?" seru Pangeran Sasanadipa sambil mendekati Dewi Sukmalelana yang masih menatapnya dengan pandangan sayu dan iba.
Dewi Sukmalelana tiba-tiba tertegun. Pikirannya menerawang jauh ke masa silam. Masa sepuluh tahun lalu, ketika dirinya ikut menjadi korban keganasan Partai Panca Siwara. Setelah diperkosa dan diperdaya dirinya yang bernama asli Saraswati itu dicampakkan begitu saja dalam keadaan sekarat. Namun Yang Maha Kuasa ternyata masih memberi kehidupan kepadanya. Seo- rang perempuan tua, nenek sakti, menolong jiwanya dari renggutan maut yang mengerikan. Nenek sakti mengganti namanya menjadi Dewi Sukmalelana, setelah digembleng dan dididik ilmu kesaktian. Bahkan menurut nenek sakti, Saras- wati yang telah meninggal diselamatkan dengan menggunakan 'Bunga Bangkai'. Sehingga Saras- wati dapat bertahan sampai saat ini Saraswati dapat hidup kembali. Bahkan memiliki kekuatan dan kemampuan yang sakti.
"Oooh...?!" pekik Dewi Sukmalelana tersen- tak dari lamunannya. Matanya menatap Pangeran Sasanadipa yang sudah satu tombak di depan- nya. "Maaf Pangeran, aku harus pergi...!"
Selesai berkata demikian, cepat Dewi Sukmalelana yang sebenarnya bernama Saraswati melesat dan menghilang dari pandangan sang Pangeran.
"Aneh, perempuan secantik itu jadi pem- bunuh! Tapi, kenapa dia tak melukaiku sedikit pun...?!" gumam Pangeran Sasanadipa keheranan. Matanya yang layu memandang ke depan. Para pengawal dan orang-orang kadipaten yang masih selamat pun merasa heran, melihat sang
Pangeran ternyata selamat. Tak diusik sedikit pun oleh perempuan yang mereka anggap perempuan iblis itu.

4
Angin senja bertiup sejuk. Udara sangat cerah dengan langit tembaga di sebelah barat. Sebentar lagi sang Raja Siang akan tenggelam, kemudian hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Tampak para petani pulang dari sawah dengan perakitan terpanggul di pundak me- reka.
Burung-burung beterbangan pulang ke sarang dengan suara yang bersahut-sahutan.
Dua sosok tubuh manusia tampak melangkah dalam keremangan senja. Kedua sosok yang ternyata sepasang muda-mudi itu tiba-tiba berhenti. Si gadis yang berkulit kuning langsat dan bermata agak sipit itu, mengenakan pakaian putih panjang. Rambut digelung satu di atas, dan sisanya dibiarkan tergerai lurus. Sedang di sam- pingnya, pemuda tampan mengenakan rompi dari kulit ular. Siapa lagi mereka kalau bukan Pende- kar Gila dan Mei Lie.
"Nampaknya desa ini sedang tertimpa ben- cana, Kakang," ujar Mei Lie seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu.
Seakan-akan tak mendengar ucapan kekasihnya, Pendekar Gila hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala seolah-olah merasa gatal. Namun kemudian keningnya bekernyit. Seperti halnya yang dilakukan Mei Lie, Sena menghela napas beberapa kali. Ternyata keduanya menang- kap bau anyir, yang tak sedap.
"Bau ini busuk sekali, Kakang. Seperti bau mayat." gumam Mei Lie sambil menutup hidung dengan jari tangan kiri.
Benar. Di sana sini, di jalan memasuki Desa Lindung Rawa bergelimpangan mayat-mayat penduduk desa. Tua-muda, wanita dan anak- anak. Dengan leher tersobek dan wajah pucat membiru.
"Ya Hyang Batara...! Siapa yang melakukan perbuatan keji ini?!" gumam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya tampak cengengesan sambil memandangi mayat-mayat itu.
"Biadab...! Tak salah lagi ini pasti perbua- tan perempuan genit itu! Atau mungkin lelaki buntung yang kita cari, Kakang," tukas Mei Lie yang telah mencabut Pedang Bidadarinya.
"Mungkin...," jawab Sena pelan. Kepalanya manggut-manggut. Lucu!
Baru saja kedua pasang pendekar itu me- neruskan langkah pendek memasuki Desa Lindung Rawa, tiba-tiba....
"Aaakh...! Tolooong...! Manusia iblis...! To- looong!" Seorang wanita muda tampak berlari keta- kutan sambil menjerit-jerit minta tolong. Pakaiannya sudah tak karuan. Sebagian tubuhnya sudah tak tertutup kain. Hingga buah dadanya yang masih ranum dan mulus itu terlihat jelas di balik pakaiannya yang tercabik-cabik. Di bagian pipi dan leher ada goresan, seperti cakaran kuku.
Melihat itu Mei Lie segera melompat den- gan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya. Tubuh si Bidadari Pencabut Nyawa itu melayang bagai seekor burung elang. Kemudian kakinya mendarat mulus. Dengan cepat tangan Mei Lie menyambar tangan wanita muda yang ketakutan itu. Lalu membawanya bersembunyi di balik pepohonan.
"Ssst..!" Tuk! Tuk! Ketika wanita muda itu hendak berteriak karena ketakutan, dengan cepat Mei Lie menotok tubuhnya.
"Ukh...!" Seketika wanita muda itu melenguh lalu jatuh terkulai bagai mati. Dan Mei Lie segera mem- baringkan di tanah yang berumput itu.
Sementara itu, Pendekar Gila hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, me- mandangi tingkah laku kekasihnya.
Tak berapa lama kemudian, muncul seso- sok tubuh melayang dan disertai kepulan asap. Ternyata sesosok manusia bertubuh tinggi besar dengan bertelanjang dada. Di kanan dan kiri len- gannya melingkar gelang dari kulit ular. Alisnya menyatu tanpa batas menghiasi matanya yang besar, tajam dan galak. Wajahnya yang persegi tampak bengis. Badannya hampir rata ditumbuhi bulu-bulu lebat. Mirip manusia purba.
"Makhluk apa ini? Manusia apa jin!" gumam Mei Lie, begitu melihat sosok makhluk yang menyeramkan itu.
"Grrr..., grrr...!" makhluk mirip manusia purba itu mengerang. Seperti harimau, giginya nampak besar-besar dan runcing. Mengerikan.
Pendekar Gila yang melihat manusia tinggi besar bagai raksasa itu mengerutkan kening, sambil menggaruk-garuk kepalanya kembali.
"Ah ah ah...! Aku harus berbuat sesuatu. Aku tak ingin Mei Lie mendapat bahaya...," gu- mam Sena.
"Heaaa...!" Tiba-tiba Pendekar Gila melesat sambil bersalto beberapa kali di udara. Lalu kakinya ber- gerak cepat melancarkan tendangan.
Wut! Blugk! Blugk! Namun tendangan Pendekar Gila seperti tak dirasa oleh manusia raksasa itu. Bahkan hanya dengan ayunan tangan kirinya yang sebe- sar paha, mampu menghantam Pendekar Gila.
"Ukh..!" Sena terpekik. Tubuhnya terlempar lima tombak dan membentur dinding rumah pen- duduk desa. Dinding dari bilik itu pun roboh. Ka- lau saja bukan Pendekar Gila, tentunya sudah pasti tewas.
Melihat kekasihnya tak berhasil, tak tang- gung-tanggung Mei Lie melesat melakukan seran- gan dengan membabatkan Pedang Bidadari dalam jurus 'Pedang Tebasan Batin'.
"Yeaaa...!"
Cras! Cras! Cras! "Grrr...!" Manusia raksasa itu mengerang. Kulitnya hanya terkupas. Namun anehnya, tak mengelua- rkan darah. Dan ketika angin meniupnya, tak ada tanda-tanda bahwa manusia raksasa berbulu itu akan roboh lalu jadi tepung. Seperti lawan-lawan Mei Lie yang tersambar jurus maut itu.
"Aneh...?! Manusia atau jin!" gumam Mei Lie keheranan. Keningnya berkerut tajam. Namun kemudian kembali mempersiapkan serangan susulan.
Sementara itu Pendekar Gila tampak telah berdiri dan mengerahkan tenaga dalamnya. Kedua telapaknya tampak saling bertempelan dan ditarik ke depan dada.
"Mei, kita tak boleh main-main dengan makhluk ini! Jangan gegabah...!" saran Sena sambil menoleh ke arah Mei Lie.
Kali ini rupanya Pendekar Gila tak ingin sembarangan bertindak. Dan tingkahnya yang bi- asanya konyol dan seperti orang gila agak berku- rang. Walaupun mulutnya masih tetap cengenge- san dan tertawa-tawa sendiri dengan tangan menggaruk kepala.
Pendekar Gila lalu mengeluarkan jurus 'Si Gila Melebur Gunung Karang'. Tangannya dipersatukan di depan dada. Kemudian setelah mena- rik napas dalam-dalam, perlahan tangannya di- buka ke samping. Ditarik ke belakang membentuk siku. Lalu dengan telapak tangan terbuka, melakukan pukulan jarak jauh secara cepat dan beruntun.
"Heaaa...!" Wut..! Dari pukulannya, keluar kekuatan yang luar biasa melesat ke tubuh manusia raksasa itu.
Glar! Glar! "Aung...! Grrr...!" Manusia raksasa itu mengerang dan tu- buhnya terhuyung. Kepalanya yang besar retak. Melihat itu, Mei Lie tak tinggal diam. Gadis itu melompat sambil bersalto dan membabatkan Pe- dang Bidadari-nya ke tubuh manusia raksasa itu.
Cras! Cras! Cras...! "Aaaung.... Grrr...!" Kembali manusia raksasa itu mengerang. Sesaat kemudian tubuhnya roboh dengan kepala terpisah. Namun anehnya, tubuh itu tiba-tiba menyatu kembali. Seperti semula.
"Ilmu Panca Sona...!" pekik Pendekar Gila dan Mei Lie terkejut. Lalu saling pandang. Ilmu 'Panca Sona' memang ampuh. Bila salah satu ra- ga, kepala, kaki, atau bagian badan tak segera di- pisahkan jauh dari bagian tubuhnya yang lain mereka dapat menyatu kembali.
"Aneh! Pedang Bidadari-ku tak mampu menghancurkan manusia raksasa itu...!" keluh Mei Lie cemas.
Pendekar Gila segera mengeluarkan jurus 'Tamparan Sukma'. Sebuah ilmu yang mengguna- kan sukma atau jiwa. Sangat dahsyat dan mampu membinasakan makhluk siluman.
"Grrr...!"
Jgarrr! Sinar keperakan menghantam makhluk aneh itu. Seketika sosok manusia raksasa itu terbakar. Kemudian menjadi asap, lalu hilang. Bersamaan dengan lenyapnya manusia aneh itu, suasana di sekitarnya pun berubah sama sekali. Bukan lagi sebuah desa melainkan suatu tempat yang asing bagi Sena dan Mei Lie. Angker dan menyeramkan! Wanita yang tadi ditolong Mei Lie pun lenyap.
"Kita rupanya telah masuk ke alam gaib, Kakang.... Kita telah terjebak!" ujar Mei Lie. Matanya menyapu ke sekeliling dengan tajam.
"Hi hi hi...! Mungkin kau benar, Mei," sahut Sena dengan cekikikan. Pemuda itu nampak te- nang, tak sedikit pun merasa tegang atau takut. Matanya menatap tajam sekeliling. Pendengaran- nya yang sangat peka dipasang untuk menangkap suara-suara aneh dan gaib.
Mei Lie memutar tubuhnya membelakangi Pendekar Gila dengan Pedang Bidadari masih ter- genggam di tangan. Matanya tiba-tiba menangkap sesosok manusia nampak seperti duduk di tempat agak jauh memandangi mereka.
"Kakang...," panggil Mei Lie perlahan Sena membalik, lalu menghadap ke arah sama dengan Mei Lie. Mata Sena yang mampu menembus segala cuaca, tampak terbelalak lebar.
Asap putih tampak mengepul di sekitar tempat itu. Dan suara-suara aneh mulai bermunculan, menambah suasana kian mencekam. Ka- lau saja yang datang di tempat itu bukan Pendekar Gila dan Mei Lie, mungkin sudah mati kaku ketakutan.
"Pendekar Gila! Dan kau, Bidadari Penca- but Nyawa...! Jangan ikut campur urusanku! Aku tak ingin ada orang ikut campur dengan urusan- ku. Akan kutantang siapa pun yang mau tahu urusanku. Kuharap kalian berdua tak lagi menye- lidiki lelaki buntung itu...!"
Setelah suara itu hilang, tiba-tiba muncul lelaki buntung. Berdiri dengan kakinya yang bun- tung, enam tombak di hadapan Sena dan Mei Lie.
"Kau...?!" gumam Mei Lie tersentak kaget. Setelah jelas bahwa yang di hadapannya tak lain lelaki buntung yang dicari.
"Hi hi hi...! Kisanak, aku tak bermaksud mencampuri urusanmu. Tapi kenapa kau membunuh orang-orang itu? Apa ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpa Ki Damar Kiwangi...?" tanya Sena ingin tahu.
"Grrr...!" Pertanyaan Pendekar Gila rupanya membuat lelaki buntung itu marah.
"Kau terlalu ingin tahu Pendekar Gila! Aku tak suka. Dan kuperingatkan sekali lagi, jangan ikut campur! Dan sekarang sebaiknya kalian ce- pat meninggalkan tempat ini..., sebelum aku be- rubah pikiran...," perintah lelaki buntung dengan geram. "Kau, rupanya orang yang keras kepala. Aku tahu dendam membara memang tak dapat dibendung. Tapi dengan terjadinya pertumpahan darah di mana-mana, rakyat selalu ketakutan menjadi korban orang-orang yang hanya memi- kirkan diri sendiri. Seperti Kisanak..," tukas Sena sambil cengengesan menyindir lelaki buntung itu.
"Bicaramu seperti tahu segalanya tentang aku, Pendekar Gila! Dan membuatku muak mendengar ocehanmu itu. Terpaksa aku harus mela- wanmu...!"
Selesai berkata begitu, si Penyair Maut itu melesat menyerang Pendekar Gila dan Mei Lie. Dengan melompat, seperti macan kumbang kedua tangan lelaki buntung mencakar dan memburu wajah Mei Lie dan Pendekar Gila.
Kuku-kuku yang panjang serta runcing, bagai mengandung hawa panas dan berbahaya. Pendekar Gila dan Mei Lie mengelak dengan me- rundukkan kepala, sambil sesekali menangkis.
Jurus-jurus aneh dikeluarkan oleh si Pe- nyair Maut itu.
"Mei, mundur! Biar aku hadapi dia...!" seru Sena pada Mei Lie yang akan mengeluarkan jurus Pedang Bidadari Pencabut Nyawa. Mei Lie menu- rut.
Bagi seorang pendekar bertarung secara keroyokan dianggap kurang terpuji dan tidak jujur. Itulah sebabnya Mei Lie mundur, namun te- tap berwaspada, menjaga segala kemungkinan.
"Heaaa...!" "Grrr...!" Pertarungan Pendekar Gila dengan lelaki buntung tak terelakkan. Tangan mereka beradu saling pukul dan tangkis. Lelaki buntung itu ru- panya memiliki ilmu yang cukup tinggi. Selama sepuluh jurus pertama tokoh itu masih memper- lihatkan kecepatan geraknya. Bahkan kini mam- pu mendesak pendekar Gila, dengan jurus-jurus anehnya.
Si Penyair Maut itu kemudian menggeser kecapinya yang tersampir di punggungnya. Ke- mudian setelah membuat gerakan aneh, sambil memutar kecapi maut-nya, dengan cepat menye- rang Pendekar Gila.
Wut! Wut! "Aits! Heaaa...!" Namun Pendekar Gila dengan cepat dapat mengelak. Tubuhnya melenting ke atas dan balik menyerang dengan tendangan kaki kanan ke dada lawan. Namun lelaki buntung itu begitu cepat tanggap terhadap serangan Pendekar Gila.
Prak! Lelaki buntung menangkis dengan keca- pinya. Hingga tendangan Pendekar Gila hanya menghantam kecapi. Namun kecapi itu ternyata sangat kuat. Sedikit pun tak tampak kerusakan, apalagi pecah. Padahal jelas, tak mungkin Pende- kar Gila meremehkan serangan itu.
Pendekar Gila agak heran, dia menda- ratkan kakinya di tanah dan cepat membuka ju- rus 'Si Gila Mencengkeram Mangsa'. Tubuhnya agak membungkuk ke bawah, meliuk-liuk sambil tangannya mencengkeram ke tubuh lawan. Ka- kinya menyapu kaki lelaki buntung itu. Namun si Penyair Maut itu cepat melompat dan balik me- nyerang dengan menghantam kecapinya ke kepa- la Pendekar Gila yang masih merunduk. Untung
Pendekar Gila segera menangkis dengan tangan kanannya.
"Hiaaa!" Prak! Prak! Tangan Pendekar Gila beradu dengan ke- capi. Menimbulkan suara keras seperti beradunya dua kayu! Kemudian lelaki buntung itu nampak penasaran, digeser kembali kecapi mautnya ke belakang. Lalu secepat kilat bergerak dengan lin- cah, melancarkan serangan susulan pada Pendekar Gila dengan jurus 'Angin Manik'. Kedua tangannya bergerak mencengkeram. Kuku-kukunya yang panjang bagai kuku serigala, mengeluarkan asap beracun.
Melihat hal itu, Pendekar Gila segera men- cabut Suling Naga Sakti-nya. Dan dengan cepat pula dia memutar suling itu, hingga mengelua- rkan sinar hijau yang bergulung laksana banteng untuk menangkal asap beracun yang keluar dari kuku-kuku si Penyair Maut itu.
"Hah?!" lelaki buntung terkejut Matanya terbelalak melihat Suling Naga Sakti yang telah tergenggam di tangan kanan Pendekar Gila.
Lelaki buntung itu kemudian melompat mundur empat tombak. Lalu mengumpulkan tenaga dalamnya, disusul dengan menepukkan te- lapak tangannya dua kali.
Plak! Plak! "Heaaa...!" Si Penyair Maut melesat menyerang dengan menghantarkan pukulan tangan kanan, yang mengeluarkan api....
Wesss! Glarrr! Pukulan itu tak mengenai sasaran, tapi menghantam batang pohon. Suara ledakan keras terdengar mengiringi robohnya pohon besar itu. Begitu dahsyat pukulan si Penyair Maut. Kalau yang terhantam tubuh manusia, niscaya hancur berkeping-keping. Melihat serangannya gagal, lelaki berpakaian serba merah itu tak tinggal diam, justru semakin ganas melakukan serangan. Seakan tak ingin memberikan kesempatan pada la- wan untuk sedikit pun mengeluarkan jurus anda- lannya. Kini kedua tokoh berilmu tinggi itu sudah berubah jadi bayangan yang menggulung-gulung, karena kecepatan gerak yang mereka lakukan. Keduanya langsung menangkis dan menghantam dengan gerakan yang sulit diikuti mata biasa.
"Heaaa...!" "Glarrr...!" Suara menggelegar terdengar, karena bera- dunya dua kekuatan tenaga dalam. Baik tubuh Pendekar Gila maupun si Penyair Maut terlempar ke belakang. Namun sama-sama mendarat ke ta- nah dengan mulus dan siap dengan kuda-kuda masing-masing.
Pendekar Gila nyengir, sambil menyelipkan kembali suling Naga Saktinya, namun tetap was- pada. Dirinya tak ingin cepat-cepat menaklukkan lelaki buntung itu dengan senjata andalannya. Ternyata Sena memang tak ingin melukai lelaki berambut panjang tanpa kaki itu.
Si Penyair Maut tampaknya merasa penasaran. Dengan cepat tubuhnya melompat bagai macan kumbang menerkam mangsa, menyerang pemuda tampan di depannya.
Namun Pendekar Gila telah siap. Dengan jurus ‘Inti Bayu’, pendekar muda itu menghen- takkan tangan kanannya yang mengeluarkan de- ru angin kencang laksana badai. Suatu kekuatan yang mampu menerbangkan batu sebesar gajah sekali pun. Maka ketika angin itu melesat dan menerjang ke arah lawan, lelaki buntung itu ter- lontar deras ke belakang dua puluh tombak, lalu jatuh membentur batang-batang pepohonan yang tampak meranggas tanpa daun.
Brakkk! "Ukh...!" lelaki buntung memekik tertahan, "Kalau aku teruskan akan membawa bencana ba- gi diriku sendiri. Aku tak ingin mati, sebelum berhasil membunuh Beruk Singgala...," gumam- nya sambil merasakan sakit di dadanya.
Pendekar Gila cepat bergerak mendekati. Namun begitu sampai, lelaki buntung telah hi- lang, entah sejak kapan. Pendekar Gila, cen- gengesan dan menggaruk-garuk kepala. Mei Lie yang sejak tadi terpesona melihat pertarungan kekasihnya melawan lelaki buntung itu, segera menghampiri Sena yang masih tak mengerti. Ke mana lelaki buntung itu tadi.
"Aneh! Begitu cepat dia pergi,..," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ke mana dia, Kakang?" tanya Mei Lie sambil matanya menyapu sekeliling tempat ang- ker itu. Tak terlihat tanda-tanda adanya lelaki buntung tadi.
"Kenapa dia tak mau meneruskan perta- rungan...? Aneh!" kata Sena lagi tak mengerti. Ke- palanya menggeleng-geleng dengan mulut cengar- cengir. "Mungkin dia merasa tak mampu mengha- dapi Kakang. Sebaiknya kita pergi dari tempat terkutuk dan menyeramkan ini, Kakang!" ajak Mei Lie. Gadis cantik itu membalikkan tubuh, tangannya menggapai lengan Sena. Dan kedua- nya melangkah meninggalkan tempat yang bagai alam gaib itu.
***

Pendekar Gila dan Mei Lie terus melakukan perjalanan menyelidiki, siapa sesungguhnya lelaki buntung itu. Dan apa hubungannya dengan Dewi Sukmalelana yang pernah mereka temui. Dari desa satu ke desa lainnya, pasangan muda-mudi itu mencari tahu.
"Kakang, apakah tak sebaiknya kita menu- ju bekas Padepokan Gunung Talang saja?" usul Mei Lie tiba-tiba.
"Hm?" gumam Sena sambil menggaruk- garuk kepala, "Boleh juga gagasanmu. Tapi lebih baik kita melihat dulu keadaan Kadipaten Galih Putih. Aku sudah bosan ke tempat-tempat yang belum jelas dan angker...," jawab Sena seenak- nya. Mulutnya cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
Mei Lie hanya bisa mengangkat kedua bahunya, lalu menghela napas panjang. Keduanya terus melangkah melewati jalan setapak di tepi sebuah sungai yang cukup besar dan panjang serta berliku-liku.
Ternyata di halaman Kadipaten Galih Putih sedang diadakan pergelaran Tayub, semacam ta- rian ronggeng. Pangeran Sasanadipa dan para prajurit menyaksikan, dengan melingkari hala- man kadipaten. Suasana tampak meriah sekali. Seorang penari Tayub yang cantik dan bertubuh menggairahkan sedang menari mengikuti alunan gamelan yang dimainkan para penabuhnya.
Di antara beberapa wanita penari Tayub, nampak satu yang tampil berbeda. Wajahnya yang cantik dengan tubuh sintal dan menggai- rahkan, membuat para penonton lebih tertarik pada wanita itu. Tak terkecuali sang Pangeran yang tampak kagum menyaksikan lenggak- lenggok penari berkebaya merah jambu itu.
Gamelan terus mengalun, gendang pun bersahutan dan menghentak-hentak keras men- gimbangi bunyi gamelan lain. Penari semakin se- mangat bergoyang pinggul. Membuat Pangeran Sasanadipa tersenyum-senyum dan bertepuk tan- gan. Para pengawal dan prajurit tak tahan untuk turun ikut menari. Gaya mereka beraneka ragam dan lucu.
"Baru kali ini aku melihat penari Tayub secantik itu...!" gumam Pangeran Sasanadipa sam- bil menggeleng kepala. Para selir yang mengapitnya mencibir dan cemberut, mendengar gumam sang Pangeran.
Malam semakin larut, tayuban terus berlangsung. Sebagian prajurit dan pengawal sudah mulai mabuk, karena arak. Demikian pula dengan sang Pangeran.
Pada saat itu Pendekar Gila dan Mei Lie telah sampai. Keduanya pun berbaur dengan para prajurit dan penduduk kadipaten. Sena dan Mei Lie mengamati orang-orang yang menari dengan penari Tayub. Pendekar Gila nampak tertawa- tawa sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu ber- decak kagum.
"Ck, ck, ck...!" "Huuu...!" Mei Lie yang melihat kekasihnya merasa kagum dan berdecak, jadi cemberut dan kesal. Namun, kemudian matanya menatap tajam salah seorang penari Tayub yang sepertinya dia kenal.
"Hah?! Perempuan itu...?" gumam Mei Lie, begitu melihat penari Tayub paling cantik. "Kakang...! Coba, apa kau masih ingat. Lihat penari yang memakai baju merah jambu itu!" ujar Mei Lie pada Sena.
Pendekar Gila yang masih menggaruk- garuk kepala dan cengengesan segera memalingkan pandangan ke penari yang berkebaya merah jambu. Wanita itu sedang berlenggak-lenggok di depan Pangeran Sasanadipa yang terpesona.
"Hi hi hi...!" Sena hanya tertawa-tawa. Lalu menoleh ke wajah Mei Lie sambil mengangguk. Menandakan bahwa dia masih mengenali wanita itu.
"Perempuan yang kita pergoki beberapa hari lalu. Siapa dia sebenarnya...?" tanya Mei Lie pelan. Matanya terus mengawasi penari berkebaya merah jambu itu. Wajahnya menyiratkan rasa mendendam terhadap wanita itu. Karena wanita itu pernah dibiarkan pergi oleh Sena.
Sementara itu para penabuh gamelan se- makin bersemangat, ketika Pangeran Sasanadipa turun menari bersama penari berkebaya merah jambu itu, yang ternyata Dewi Sukmalelana. Pangeran Sasanadipa yang sudah setengah mabuk, menari dengan sedikit sempoyongan dan selalu ingin memeluk penari Tayub itu. Gaya sang Pangeran membuat semua orang tertawa geli, melihat pangerannya yang terkadang hampir jatuh. Namun, si penari segera menahan sambil memeluk- nya. Pangeran nampak senang. Para selir yang melihat itu mencibir cemburu.
Pada saat suasana penuh tawa riang itu berlangsung, tiba-tiba berubah menjadi ketegan- gan yang luar biasa, ketika dua orang lelaki mun- cul di tengah-tengah arena. Kedatangan mereka yang bagai makhluk halus muncul secara tiba- tiba. Hal itu menunjukkan bawah kedua lelaki itu memiliki ilmu yang sangat tinggi
"Ha ha ha...! Pangeran edan! Dia malah se- nang-senang berpesta pora. Padahal ketiga te- manku mati...!" seru lelaki bertubuh tinggi agak kurus dan berhidung mancung ke bawah, seperti paruh betet. Pakaiannya yang berbentuk jubah panjang berwarna hitam legam. Rambutnya yang hitam dibiarkan terurai panjang. Dengan tatapan mata tajam yang merah memandang setiap orang yang ada di tempat itu. Dialah Beruk Singgala!
Seketika gamelan berhenti. Para penari pun ketakutan lari bersembunyi di antara penon- ton.
Hanya satu penari berbaju merah jambu yang nampak tak merasa takut. Bahkan matanya menatap tajam kedua tokoh sesat itu.
Sedangkan sang Pangeran yang sudah se- tengah mabuk, hanya bisa diam dan tak berani berucap sepatah kata pun.
"Pangeran yang gila perempuan ini sebaik- nya kita bereskan saja, Kakang Beruk. Sudah tak ada gunanya lagi. Bukankah rencana kita me- mang untuk menguasai kadipaten dan seluruh kekuasaannya?" seru Danur Saka dengan suara lantang sambil memegang leher Pangeran Sasa- nadipa. "Edan! Benar-benar edan! Seorang pange- ran bisa dipermainkan orang-orang macam itu...!" gumam Mei Lie dengan geram, "Siapa mereka itu, Kakang...?" tanya Mei Lie kemudian.
"Hi hi hi... lucu! Dunia memang sudah ter- balik. Seorang pangeran bisa dipermainkan!' Sena tak menjawab pertanyaan Mei Lie. Mulutnya ber- gumam sendiri sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kakang, sebaiknya kita turun tangan! Aku muak melihat ada orang yang sok jago!" tukas Mei Lie geram.
"Tenang, Mei! Kedua lelaki itu aku rasa kawanan Partai Panca Siwara. Kita harus hati- hati! Sebab kita tak punya urusan atau pertikaian dengan mereka...!" cegah Sena.
Sementara itu, Danur Saka mendekati pe- nari berkebaya merah jambu yang tak lain Dewi Sukmalelana. Lelaki setengah baya bertelanjang dada itu dengan seenaknya memeluk dan mera- ba-raba dada Dewi Sukmalelana sambil tertawa- tawa. Semua orang tak berani berbuat sesuatu. Mereka semua diam terpaku bagai patung.
"Ha ha ha...! Kau penari Tayub tercantik dan menarik yang pernah kutemui, Cah Ayu. Ha ha ha...! Aku ingin kau layani aku, Manis. Ayo, main gamelan dan gendang!" perintah Danur Sa- ka.
Sementara Beruk Singgala telah duduk di kursi sang Pangeran, bersama para selir pangeran. Sedangkan pangeran sendiri sudah tak kua- sa menahan pusing di kepalanya. Karena terlalu banyak menenggak arak.
Gamelan mulai mengalun lagi. Danur Saka dengan penuh bersemangat menari bersama Dewi Sukmalelana. Tarian yang dilakukan Danur Saka tampak konyol dan kurang ajar. Namun Dewi Sukmalelana yang sebenarnya telah menahan dendam tampak masih sempat tersenyum-senyum manis. Dan bahkan dengan berani, men- gimbangi Danur Saka yang bertingkah konyol dan kotor itu. Danur Saka semakin menggila. Hatinya larut dalam keasyikan.
"Aneh! Kenapa perempuan itu malah mela- deninya...?" gumam Mei Lie lirih.
"Ssst.., tenang! Perhatikan gerakan perem- puan itu! Bukan lagi gerakan tari Tayub, melain- kan gerakan silat yang terselubung! Sukar dilihat dengan mata biasa..." ujar Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala cengengesan.
Mei Lie mengerutkan kening. Lalu men- gangguk karena telah mengerti.
Benar, gerakan tari Dewi Sukmalelana se- sekali telah berubah dengan gerakan silat yang begitu halus. Hingga tak dirasakan oleh Danur Saka yang sudah tergiur kecantikan dan kemole- kan tubuh Dewi Sukmalelana.
Plak! Plak! Dua tamparan tangan kanan Dewi Sukma- lelana mendarat tepat ke wajah Danur Saka. Ti- dak terlalu keras.
"Eits! He he he... ooo... ha ha ha! Kau nak- al, Cah Ayu...!" gumam Danur Saka masih belum mengerti gelagat Dewi Sukmalelana. Lelaki berpe- rut buncit bertelanjang dada itu malah mende- katkan wajah serta menempelkan badan ke pe- rempuan itu.
Gamelan terus terdengar semakin seman- gat Danur Saka benar-benar lupa diri, hingga tak menyadari kalau penari pasangannya tengah me- nunggu waktu tepat untuk membunuhnya. Dan tiba-tiba....
"Ukh...!" Danur Saka terpekik sambil me- megangi dada. Tubuhnya terhuyung ke belakang lima tombak.
Rupanya Dewi Sukmalelana yang sudah tak tahan menahan dendamnya, telah bertindak dengan gerakan yang tak tertangkap mata siapa pun.
Beruk Singgala yang sedang asyik menggantikan kedudukan pangeran yang bercumbu dengan para selir, kaget melihat Danur Saka ter- huyung. Lelaki berjubah hitam itu serta-merta bangkit berdiri. Matanya menyipit memandangi Dewi Sukmalelana.
Perempuan cantik yang pandai menyamar itu dengan cepat menghajar Danur Saka yang belum pulih dari rasa sakit di dadanya. Dengan ge- rakan seperti menari, Dewi Sukmalelana meliuk-liuk lalu melompat dan menendang dengan kaki kanannya ke kepala Danur Saka.
"Heaaat..!" "Aaaukh...!" Danur Saka menjerit keras. Tubuhnya melintir, kena tendangan kaki Dewi Sukmalelana. Beruk Singgala yang melihat itu segera melenting ke udara untuk menghadang serangan Dewi Sukmalelana yang akan disarangkan ke tubuh kawannya.
"Heaaa...!" "Heaaa...!" Glar! Pukulan jarak jauh Dewi Sukmalelana be- radu dengan telapak tangan Beruk Singgala, me- nimbulkan percikan sinar perak dan kemerahan.
Baik Beruk Singgala maupun Dewi Sukma- lelana terpental ke belakang. Namun sama-sama tak tergoyahkan keduanya berdiri tegap. Semen- tara itu Danur Saka yang sudah mulai pulih den- gan geram ingin menyerang Dewi Sukmalelana. Namun Beruk Singgala menahannya.
"Sabar! Kita harus tahu siapa perempuan itu sebenarnya. Dan kenapa ingin membunuhmu," ujar Beruk Singgalang.
"Hi hi hi...! Kalian manusia-manusia terku- tuk...!" maki Dewi Sukmalelana sinis sambil menuding Beruk Singgala dan Danur Saka.
Sementara itu para prajurit serta penonton mulai ketakutan dan menyebar. Ada pula yang lari, menjauhi tempat itu. Sedangkan Pangeran Sa- sanadipa pingsan karena mabuk. Para selir pun berhamburan pergi masuk ke kadipaten. Hanya sebagian prajurit dan pengawal kadipaten yang masih berada di halaman itu.
"Hm...! Perempuan cantik ini ternyata sangat cerdik. Menyamar sebagai penari Tayub. Lalu ingin membunuh. Siapa kau sebenarnya, Perem- puan Jalang?!" seru Beruk Singgala geram.
"Tak perlu kau tahu siapa aku! Yang pasti aku ingin melenyapkan kalian berdua sekarang juga!"
Selesai berkata demikian, Dewi Sukmalelana segera mengeluarkan jurus pembuka. Namun Beruk Singgala dengan cepat pula mengerahkan ilmu sihirnya. Setelah ditepukkan tiga kali, tela- pak tangannya dihentakkan dengan keras ke depan. Seketika muncullah makhluk-makhluk kecil seperti tuyul dari tubuhnya. Makhluk kecil yang berjumlah puluhan itu mempunyai taring dan bertelinga panjang.
Dewi Sukmalelana tampak kaget melihat hal itu. Namun dengan cepat dia mengeluarkan ilmu perubah raga. Seketika wajahnya berubah menyeramkan dan tubuhnya tiba-tiba berubah membesar. Bagai raksasa perempuan.
Pendekar Gila dan Mei Lie yang menyaksikan hal itu hanya geleng-geleng kepala. Makhluk- makhluk kecil seperti tuyul dan bertaring itu menyerang Dewi Sukmalelana yang bertubuh raksasa. Seperti haus darah makhluk-makhluk kecil berkepala botak itu menggigit tubuh mangsanya. Namun Dewi Sukmalelana masih dapat menahannya. Dan bahkan satu persatu tuyul-tuyul berkuping panjang itu dapat dibunuhnya. Walaupun tubuhnya sebagian sudah kena gigitan hing- ga tampak tercabik-cabik.
Namun karena jumlahnya puluhan dan se- perti tak pernah habis tubuh Dewi Sukmalelana mulai terseret, seperti tak mampu mempertahankan diri. Apalagi sudah banyak darah yang terhi- sap serta berceceran dari luka-luka di tubuhnya.
Tanah di pekitaran kadipaten itu seketika dipenuhi bercak-bercak darah yang terus menetes dari tubuh Dewi Sukmalelana. Orang-orang yang menyaksikan kejadian aneh itu tampak merinding dan ketakutan. Ada yang berlari. Ada pula yang bertahan sambil menutupi kedua mata.
"Ayo anak-anakku, serap dia, lemahkan il- munya! Habisi dia...!" seru Beruk Singgala sambil terus membaca mantera sihirnya. Kedua tangan- nya dihentakkan ke depan.
"Kik kik kik...!" Suara makhluk-makhluk aneh itu terden- gar menyebalkan Dewi Sukmalelana. Semakin lama suara mengikik itu semakin ramai. Orang- orang menutup telinga sambil memejamkan mata, tak tahan menyaksikan kejadian menggiriskan itu.
"Kurang ajar ilmu sihir apa ini! Begitu tangguh. Oooh..., Kakang, tolonglah aku, Kakang Brajasukmana...!" keluh Dewi Sukmalelana sam- bil terus bertahan. Membanting dan menendang tuyul-tuyul penghisap darah yang terus menye- rangnya. Kini makhluk-makhluk itu seperti tak kunjung habis. Terus mengurung Dewi Sukmale- lana. Lalu tiba-tiba secara bersama-sama, pulu- han makhluk-makhluk botak itu melompat me- nyerang Dewi Sukmalelana. "Kik kik kik..." "Ooo...! Aaauuuwww...!" Gigitan dan cakaran mereka terus merusak tubuh Dewi Sukmalelana. Hingga tubuh raksasa wanita itu mulai goyah karena tenaganya terus terkuras. Darah mengucur hampir dari seluruh tubuhnya. Namun anehnya, darah itu berwarna kuning. Hal itu tentu saja membuat Beruk Sing- gala mengerutkan kening keheranan.
"Hah?! Edan! Perempuan itu bukan manu- sia.... Apa mataku tak salah lihat? Darah itu... kuning...!" gumam Beruk Singgala dengan mata terbelalak.
Tiba-tiba Dewi Sukmalelana seperti men- dapat tenaga dari luar. Dia berteriak keras, sam- bil menghentakkan kedua tangannya. Dan pulu- han makhluk yang menyerangnya terlempar dan kemudian diinjak-injaknya satu persatu.
Melihat itu Beruk Singgala semakin kaget Dengan cepat dia mengeluarkan ilmu sihirnya yang lebih dahsyat. Dari kukunya keluar serbuk beracun. Namun Dewi Sukmalelana sudah siap. Wanita bertubuh raksasa itu segera melawan dengan rambutnya yang menjulur panjang tak terbatas. Rambut itu memapaki serbuk yang mengandung racun kematian. Ketika rambutnya yang memanjang dikibaskan serbuk itu terhem- pas. Namun kemudian bergulung-gulung seakan-akan tengah bertarung melawan rambut Dewi Sukmalelana yang menyambar ke sana kemari
Brets! Brets! "Aaakh...!" Wut! Wut! Wut...! Rambut Dewi Sukmalelana kini menghan- tam kedua tokoh sesat itu. Teriakan dan jeritan terdengar dari Beruk Singgala dan Danur Saka yang terhantam rambut wanita itu. Namun hal itu tampaknya tak membahayakan kedua anggota Partai Panca Siwara. Dalam sekejap, Beruk Sing- gala balik menyerang dengan mengeluarkan kembali makhluk aneh dengan ilmu sihirnya.
Dimulai dengan datangnya angin kencang, terdengar suara tawa aneh dan mendesis-desis. Disusul kepulan asap hitam bercampur ungu, bergulung-gulung, lalu menjelma menjadi sesosok makhluk aneh, dari kepala sampai batas ping- gang berwujud perempuan, dengan mata menyala merah dan mulut bertaring. Sedangkan dari ping- gang ke bawah berwujud badan ular naga. Mu- lutnya terdengar mendesis-desis.
Dewi Sukmalelana nampak mulai menge- rahkan seluruh kekuatan. Sama-sama menggunakan ilmu gaib.
Namun, rupanya ada orang yang tak ingin pertarungan ilmu sihir itu berlanjut. Tiba-tiba dua sosok manusia melenting ke udara dan den- gan cepat mendarat di antara kedua makhluk itu. Mereka ternyata Pendekar Gila dan Mei Lie. Sete- lah mendarat Pendekar Gila segera mengeluarkan aji ‘Tamparan Sukma’. Sebuah ilmu yang mampu menghancurkan ilmu sihir dan bangsa siluman.
"Heaaa...!" Wut! Glarrr! Glarrr...! Pukulan Pendekar Gila ke arah kedua si- luman itu menimbulkan ledakan dan bias cahaya keperakan. Seketika dua makhluk aneh jelmaan Dewi Sukmalelana dan makhluk ciptaan ilmu sihir Beruk Singgala, hancur lalu lenyap bersama ledakan itu.
Sedangkan Mei Lie siap dengan Pedang Bi- dadari-nya untuk menyambut serangan Beruk Singgala atau Danur Saka.
Keadaan semakin kacau balau. Para praju- rit yang melihat kejadian itu ketakutan dan lari untuk menyelamatkan diri masing-masing.
Dugaan Mei Lie benar. Beruk Singgala dan Danur Saka yang kurang senang dengan ikut campurnya Pendekar Gila menjadi marah. Sementara itu Dewi Sukmalelana cepat menghilang, ketika tahu kalau Pendekar Gila dan Bidadari Pen- cabut Nyawa datang membelanya. Sebab Dewi Sukmalelana tak ingin kedua pendekar mengeta- hui siapa dia sebenarnya.
"Kau rupanya Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa! Kalian telah menghalangi usahaku untuk membunuh perempuan iblis itu! Heaaa...!"
Beruk Singgala langsung menyerang Mei lie dengan serbuk beracun yang dikeluarkan dari kuku-kuku runcingnya. Namun gadis cantik itu cepat mengelak dengan melenting ke atas dan bersalto beberapa kali. Setelah melewati kepala Beruk Singgala, dengan mulus Mei Lie mendarat di tanah. Kemudian langsung membuka jurus pamungkas ‘Pedang Tebasan Batin’. Sebuah jurus sakti yang sangat dahsyat. Orang yang terkena babatan pedangnya akan mengalami keanehan. Tubuhnya tak menampakkan luka. Namun jika tertiup angin, maka langsung hancur menjadi debu.
Beruk Singgala dan Danur Saka tersentak menyaksikan jurus yang aneh dan terkenal itu. Keduanya tampak tegang menyaksikan jurus yang diperagakan Bidadari Pancabut Nyawa. Namun karena yakin ilmu sihirnya. Beruk Singgala kembali memejamkan mata untuk memusatkan diri dan membaca mantera, mencipta sihir.
Pendekar Gila yang sejak tadi hanya mem- perhatikan kekasihnya, bergerak mulai ikut cam- pur. Dengan cepat dirinya mengeluarkan ilmu ‘Tamparan Sukma’ Tamparan itu mengerahkan kekuatan sukma atau jiwa. Gerakannya nampak lambat, namun hasilnya sangat dahsyat.
"Heaaa...!" Jlgarrr...!
"Aaa...!" Beruk Singgala yang belum sempat berha- sil mengeluarkan sihirnya, menjerit keras. Tubuhnya melintir bagai terbakar. Dan Danur Saka, yang melihat itu, tersentak kaget. Wajahnya yang beringas berubah pucat. Kemudian tanpa meng- hiraukan kawannya, segera lari meninggalkan pertempuran.
"Tak mungkin aku mampu menghadapi Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa...," gumam Danur Saka sambil terus melesat karena ketakutan.
Sementara Beruk Singgala masih menjerit- jerit. Ketika Mei Lie akan membabatkan Pedang Bidadari-nya, lelaki tua berjubah hitam itu tiba- tiba menghilang.
"Hah...?!" Mei Lie mendengus kesal. Namun tetap waspada dengan pedang saktinya. "Aneh! Ke mana manusia itu?!"
"Hi hi hi..!" Sena hanya tertawa cekikikan dan menggaruk-garuk kepala.
"Kenapa Kakang tertawa...?" kata Mei Lie kesal.
"Biarlah dia pergi! Cepat atau lambat dia akan menemui ajalnya," kata Sena memberi tahu Mei Lie. Mei Lie hanya cemberut. Hatinya benar- benar kesal karena tak berhasil membunuh to- koh-tokoh sesat itu.
"Sudahlah, sebaiknya kita pulihkan pikiran dan tubuh Kanjeng Pangeran. Setuju?"


No comments:

Post a Comment