PENUNGGANG
KUDA IBLIS
Oleh Firman Raharja
1
Udara siang itu cukup panas. Angin
bertiup san- gat kencang, karena wilayah Kadipaten Krasaan, terle- tak di
daerah Pesisir Pantai Laut Selatan. Akhir-akhir ini penduduk kadipaten itu
tengah dilanda keresahan oleh munculnya orang aneh berpakaian gembel dan
memakai caping lebar serta menunggang kuda hitam.
Kedatangan seorang gembel berkuda
hitam itu menjadi buah bibir para tokoh persilatan, baik dari aliran putih
maupun hitam. Orang aneh itu membunuh siapa saja tokoh persilatan yang
menantang Pendekar Gila dan Mei Lie.
Di mana-mana orang semua
membicarakan se- pak terjang orang berpakaian gembel itu.
"Aku heran kenapa pembunuhan
menggiriskan itu terjadi di mana-mana. Orang-orang yang dibunuh, kebanyakan
para tokoh silat tersohor dan ditakuti. Dan anehnya mereka yang menantang
Pendekar Gila dan gadis Cina itu," ujar seorang lelaki bertubuh kurus yang
tengah menikmati santapan di sebuah kedai. Orang itu duduk sambil mengangkat
kaki kanan ke kursi tempat duduknya.
"Biar saja. Kita tak perlu
ikut campur. Lagi pula mereka yang dibunuh itu tokoh aliran hitam yang suka
memeras orang...!" sahut lelaki berumur sekitar tiga puluh lima tahun,
bernama Jaroto. Wajahnya menoleh pada lelaki bermuka lonjong tadi yang
sebenarnya bernama Ki Sarpan.
"Aneh! Siapa orang yang
membunuh tokoh-tokoh itu...?! Apa betul, pembunuh itu suruhan Pendekar Gi-
la?" tambah Baseta, lelaki muda yang duduk satu meja, dengan Ki Sarpan dan
Jaroto. Tampak mulutnya sibuk mengunyah makanan.
"Mungkin juga.... Ah, sudah
jangan pikirkan orang lain! Makanlah yang kenyang. Kita harus be- rangkat ke
laut...," sahut Ki Sarpan sambil mengelap tangannya dengan kain serbet
Ki Sarpan dan Jaroto merupakan
nelayan- nelayan yang cukup dikenal. Setiap kali akan turun ke laut atau
sehabis menangkap ikan. Ki Sarpan dan Ja- roto seperti kawan-kawan lain, selalu
mampir ke kedai itu. Mereka beristirahat sambil mengisi perut.
"Pagi tadi aku benar-benar
sial. Ikan sepertinya tak ada yang mau mendekati jalaku. Aneh! Mudah- mudahan
nanti akan lebih baik....'" ujar Jaroto.
Di dalam kedai suasana, nampak
cukup ramai. Hampir semua meja yang ada di ruangan kedai penuh. Di salah satu
sudut agak tersembunyi duduk seorang berpakaian gembel, memakai caping lebar,
menghada- pi makanannya. Orang-orang tak banyak yang menghi- raukan orang
berpakaian gembel dan bercaping lebar itu.
Bahkan ada yang mencibirkan bibir sambil
me- nutup hidung, menghinanya. Namun, orang berpakaian compang-camping seperti
gembel itu tak meng- hiraukan. Dirinya tetap duduk tenang dan menundukkan
kepala. Wajahnya tertutup oleh capingnya. Se- hingga tak dapat terlihat dengan
jelas, seorang lelaki atau wanita.
"Hei...! Kapan si gembel itu
masuk? Tahu-tahu sudah ada di sana...," seru seorang lelaki bermuka
persegi, berhidung besar, dan kumis tebal. Tubuhnya yang tegap terbalut pakaian
rompi hitam. Kepalanya terikat kain warna hitam. Sebilah golok besar terselip
di pinggangnya.
"Aaah...! Jangan usil pada
orang lain! Teruskan makanmu! Paling-paling orang gembel yang baru dapat
rejeki...," sahut temannya sambil menggigit ikan panggang. "Ha ha
ha...!"
Keduanya tertawa-tawa sambil
memandangi orang yang berpakaian compang-camping dan bertu- dung caping lebar
itu.
Suara tawa dan riuhnya di dalam
kedai, tiba-tiba berhenti, ketika mereka melihat tiga sosok lelaki ber- tubuh
tegap dan berwajah garang memasuki pintu ke- dai. Tak satu pun di antara para
pengunjung kedai membuka mulut Tampaknya mereka semua tahu siapa yang datang.
Ya, ketiga sosok berwajah garang itu tak lain Tiga Setan Laut Kidul.
Orang-orang yang tadi tertawa dan
mondar- mandir seenaknya, kini nampak diam bagai patung. Hanya dada mereka yang
terlihat naik turun tak tera- tur, menandakan kecemasan dan ketegangan yang
tengah melanda hati masing-masing.
Mereka sudah mengenal siapa Tiga
Setan Laut Kidul. Ketiga lelaki berwajah bengis itu merupakan to- koh aliran
hitam yang dikenal sangat kejam dan bi- adab. Mereka tak segan-segan membunuh
atau me- nyiksa siapa pun yang berani menentangnya.
"He he he..., silakan! Tuan...
silakan...! He he he...," sambut Ki Galingga dengan membungkuk- bungkuk
memberi hormat, serta menyilakan tamunya.
"Hm...!" desis orang yang
berdiri paling depan. Dirinya dikenal dengan nama Jurig Sepuh. Tubuhnya tinggi
dengan dada berbulu, tak tertutup pakaian. Matanya besar tampak bengis, apalagi
ditambah dengan kumis tebal melintang menghias bibirnya. Pandangannya
mengelilingi ruangan kedai ini.
Jurig Sepuh segera duduk. Kedua
saudaranya, Jurig Penengah dan Jurig Kaletik pun turut duduk di sampingnya.
Ketiganya sama-sama berambut panjang melewati bahu, terikat kain merah di
kepala masing- masing. Sedangkan di pergelangan tangan kanan me- reka tampak
melingkar gelang bahar hitam kecoklatan. "Pesan apa, Tuan..?" tanya
Ki Galingga dengan sopan sambil membungkuk.
"Apa saja yang ada, bawa
kemari!" jawab Jurig Sepuh tanpa menoleh sedikit pun pada Ki Kalingga.
"Hei, tunggu! Apa kau lihat pemuda gila berpakaian rompi kulit ular datang
kemari?!" tambah Jurig Sepuh sambil menahan Ki Galingga yang hendak
melangkah pergi. "Dari pagi tak ada lelaki atau pemuda yang seper- ti Tuan
maksudkan. Si... siapa dia, Tuan?" jawab Ki Kalingga. Lelaki berusia lima
puluh tahunan dan ber- jenggot putih itu membungkuk-bungkuk. Tergambar jelas
rasa cemas di wajahnya yang sudah agak keriput.
"Yang kami maksud si Pendekar
Gila yang kon- dang itu!" jawab Jurig Penengah dengan kasar. Matanya melotot.
Kemudian menoleh pandangannya me- nyapu ke seluruh ruangan kedai ini.
Para pengunjung kedai tak satu pun
yang berani menanggapi ucapan orang kedua dari Tiga Setan Laut Kidul itu. Semua
terdiam dengan hati menahan rasa takut. Hanya sosok berpakaian gembel yang
duduk di sudut ruangan kedai itu tampak mengangkat kepala. Dari balik caping
orang itu seakan memandang ke arah Tiga Setan Laut Kidul.
Ki Kalingga tersentak mendengar
nama Pendekar Gila yang dicari Tiga Setan Laut Kidul itu. Dadanya se- ketika
naik turun dengan cepat, karena tegang dan ta- kut
"Hei! Sudah, cepat sana bawakan
makanan un- tuk kami!" bentak Jurig Kelerik.
"Ya, ya, Tuan...." Ki
Galingga segera berlalu dengan perasaan te- gang. Tubuhnya tampak
membungkuk-bungkuk.
"Hei..., kalian semua! Siapa
yang melihat atau bertemu dengan Pendekar Gila dan gadis Cina itu, beri tahu
mereka! Bahwa Tiga Setan Laut Kidul akan mem- bunuhnya...! Mengerti!" seru
Jurig Penengah dengan sombong sambil menggebrak meja. Matanya yang ta- jam dan
bengis menyapu ke sekeliling ruang kedai.
Namun, para pengunjung kedai itu
tak ada yang menjawab. Hal itu jelas membuat Jurig Penengah marah.
"Hm...! Hei! Kalian semua
tuli...?! Jawab, apa ka- taku tadi! Kalau tidak, akan kuhajar kalian sampai
mampus!" seru Jurig Penengah sambil menendang sa- lah satu meja. Meja di
tempat Ki Sarpan dan kedua temannya duduk. Tentu saja Ki Sarpan yang punya
harga diri, merasa tersinggung oleh perbuatan lelaki bengis itu.
"Kisanak...! Jangan kau anggap
kami diam kare- na takut pada kalian! Sopan sedikit!" ujar Ki Sarpan
dengan nada marah. Dirinya telah berdiri menghadap Jurig Penengah.
"Ha ha ha...! Orang ini sudah
bosan hidup ru- panya, Kakang! Ha ha ha...!" Jurig Penengah tertawa
terbahak-bahak, dengan sikap pongah. Lelaki bengis itu mendekati Ki Sarpan dan
kedua temannya, "Hei! Kalian boleh mengadu ilmu denganku, kalau memang
sudah tak mempan dibacok!"
Selesai berkata begitu, Jurig
Penengah lalu men- dorong keras tubuh Ki Sarpan dengan tangan kirinya. Dengan
cepat Ki Sarpan mencabut goloknya, lalu di- babatkan ke dada Jurig Penengah.
Hanya dengan menundukkan kepala
Jurig Pe- nengah mengelakkan tebasan golok lawan. Kemudian menyerang balik
dengan pukulan tangan kanannya ke dada lawan. Ki Sarpan tampak mati langkah tak
mam- pu bergerak untuk menghindar. Hal itu karena serangan balik Jurig Penengah
datang begitu cepat
Degkh! "Aaakh...!" Ki
Sarpan memekik keras, ketika pukulan Jurig Penengah mendarat di dadanya.
Tubuhnya terhuyung ke belakang empat tombak lalu menabrak meja dan kursi lain.
Brakkk! Para pengunjung kedai
berlarian ketakutan. Ja- roto dan Baseta yang melihat temannya terluka segera
menyerang bersamaan ke tubuh Jurig Penengah yang tertawa-tawa mengejek.
Tampaknya Ki Sarpan bukan tandingan bagi Jurig Penengah yang berilmu tinggi.
"Heaaa...!"
"Yeaaat..!" Plak! Plak! "Aaakh...!" Jaroto dan Baseta memekik,
ketika wajah mereka kena tamparan tangan kanan lawan. Jurig Penengah yang
melihat lawan masih menahan sakit, tak memberi ampun lagi. Tubuhnya melompat
kembali menghajar Jaroto dan Baseta.
"Heaaa...!" Degkh! Degkh!
"Aaakh...!" Jurig Penengah melancarkan tendangan sambil melompat dan
berputar. Kaki kanannya beruntun mendarat di dada Jaroto dan Baseta. Tubuh
kedua la- wan tampak bergelimpangan di antara meja dan kursi kedai. Keduanya
langsung tak berkutik lagi.
"Bangsat..!" seru Ki
Sarpan yang sudah kembali pulih dari sakitnya.
Orang-orang di kedai semakin
ketakutan, mereka berlarian keluar dari kedai, ketika melihat Jaroto dan Baseta
pingsan. Hanya tinggal orang berpakaian gembel yang tenang masih duduk di kursi
tempat duduk- nya, di sudut ruangan. Wajahnya tersembunyi di balik caping.
Sikapnya seakan tak menghiraukan keadaan di kedai ini.
"Heaaa...!" Ki Sarpan
menyerang Jurig Penengah dengan sa- betan goloknya ke kepala. Namun dengan
mudah Jurig Penengah mengelak dari serangan Ki Sarpan yang ma- sih dua tingkat
di bawah Jurig Penengah.
Jurig Sepuh dan Jurig Kaletik yang
duduk den- gan mengangkat sebelah kaki di kursi, hanya tersenyum-senyum
memperhatikan saudaranya menghajar lawan-lawannya.
"Mampus kau, Kunyuk....'"
dengus Jurig Penen- gah. Jari tangan kirinya mencengkeram tangan kanan Ki
Sarpan yang memegang golok. Sedang tangan ka- nannya cepat menghantam dada Ki
Sarpan keras.
Degkh! Degkh! "Aaakh...!"
Ki Sarpan memekik panjang. Seketika dari mu- lutnya keluar darah segar.
Sedangkan tangan kanan- nya yang dicengkeram Jurig Penengah patah.
Jurig Penengah masih tertawa-tawa
kesenangan melihat lawannya kesakitan. Sementara Ki Sarpan masih
mengerang-erang kesakitan. Tubuhnya terjatuh di lantai, kemudian tak mampu
bergerak lagi. Rupanya pukulan lawan yang mendarat di dada menimbulkan luka
dalam yang hebat
"Ha ha ha...! Siapa lagi yang
mau melawanku...?! Kau?!" seal Jurig Penengah sambil menunjuk orang yang
duduk di sudut
Orang berpakaian compang-camping
mirip gem- bel itu tak memberi tanggapan sama sekali. Bahkan, tak bergerak
sedikit pun dari tempat tidurnya. Kepa- lanya masih tetap menunduk, hingga
wajahnya sukar sekali dilihat
Jurig Penengah yang merasa
disepelekan, naik pitam. Ditendangnya meja dan kursi yang ada di hadapannya.
Dengan langkah tegap kakinya melangkah mendekati orang berpakaian
compang-camping itu.
"Hei! Monyet..! Kau tuli atau
bisu?! Bangun...!" bentak Jurig Penengah marah.
Wajah Ki Galingga, pemilik kedai
itu berubah pu- cat, ketakutan. Dengan tubuh gemetaran lelaki berwa- jah
keriput itu bersembunyi di balik meja.
Jurig Penengah semakin marah,
ketika orang berpakaian compang-camping dan bercaping lebar itu tetap tak
menghiraukannya. Bahkan gembel itu nge- loyor pergi, tanpa menoleh sedikit pun
pada Jurig Penengah.
"Hei, Tuli! Rasakan
ini...!" seru Jurig Penengah, lalu menyerang orang berpakaian
compang-camping dengan pukulan jarak jauh. "Heaaa...!"
Wuttt! Brakkk! Seketika angin keras
menderu keluar dari telapak tangan Jurig Penengah. Beberapa meja dan kursi ter-
pental terhantam pukulan yang dilancarkan orang ke- dua dari Tiga Setan Laut
Kidul itu.
Namun rupanya orang berpakaian
compang- camping itu memiliki ilmu yang cukup tinggi pula. Da- lam kedudukan
membelakangi Jurig Penengah dengan gerakan cepat sekali gembel itu melakukan
serangan. Hal itu dilakukan sebelum serangan Jurig Penengah mencapai sasaran.
Werrr! Caping lebar yang terbuat
dari bambu kuning itu, menyambar telak di leher Jurig Penengah.
Jreb! "Aaa...!"
Jurig Penengah memekik panjang,
dengan mata melotot. Lalu tubuhnya roboh. Dan caping dari bambu kuning itu
terbang kembali ke pemiliknya, setelah memakan korban. Jurig Penengah pun mati
dengan mengerikan. Lehernya hampir putus.
"Hah...!" Jurig Sepuh dan
Jurig Kaletik terbelalak matanya, melihat saudaranya dengan mudah ambruk di
tangan orang berpakaian compang-camping itu.
"Bangsat..! Kau berani
membunuh saudaraku...! Heaaa...!"
Jurig Sepuh dan Jurig Kaletik
melesat cepat, me- nyerang orang berpakaian compang-camping. Kedua- nya
langsung mengerahkan pukulan ‘Api Neraka’.
Srats! Srats! Dari kedua telapak
tangan Jurig Sepuh dan Jurig Kaletik, keluar semburan api melesat ke tubuh
lawan. Namun orang berpakaian compang-camping itu den- gan tenang melenting ke
atas, mengelakkan serangan. Api itu terus melesat hingga menabrak dinding kedai
yang terbuat dari bambu. Kebakaran pun tak dapat di- elakkan.
Jeritan dan pekikan ketakutan
terdengar dari orang-orang yang belum sempat keluar dari kedai. Ki Galingga si
pemilik kedai, pun segera lari keluar sambil teriak minta tolong. Namun tak
seorang pun mau me- nolong, karena semua ketakutan melihat kejadian itu.
Orang berpakaian compang-camping
yang masih di udara, bersalto sambil melemparkan capingnya ke arah Jurig Sepuh
dan Jurig Kaletik.
Werrr! Caping lebar dari bambu
kuning itu pun melun- cur cepat memburu kepala Jurig Sepuh dan Jurig Ka- letik.
"Hah!" Jurig Sepuh membelalakkan
mata melihat caping ajaib itu melayang ke kepalanya. Lelaki gagah beram- but
panjang itu dengan cepat meliukkan tubuh, lalu berguling di lantai kedai yang
sempit itu. Demikian pu- la Jurig Kaletik berusaha bersalto ke belakang. Namun
gerakannya terlambat hingga caping besar itu berhasil menyambar lehernya.
Jreb! "Aaakh...!" Jurig
Kaletik mengerang kesakitan sambil meme- gangi lehernya yang hampir putus.
Matanya melotot. Lalu ambruk, mati!
Caping itu pun kembali ke
pemiliknya, setelah memakan korban.
Jurig Sepuh melihat saudaranya yang
paling ke- cil mati dengan cara sama dengan Jurig Penengah, langsung merasa
ciut nyalinya. Wajahnya pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi keningnya.
"Edan...!" gumam Jurig
Sepuh pelan, lalu melom- pat kabur, keluar dari kedai itu.
Orang yang berpakaian compang-camping
itu pun tak membiarkan Jurig Sepuh begitu saja. Tubuh- nya melesat bagai
terbang melewati kepala Jurig Se- puh yang berlari ketakutan.
Tubuh orang berpakaian
compang-camping itu mendarat dengan ringan di depan Jurig Sepuh.
"Hah...?!" Jurig Sepuh
tak menduga orang berpakaian compang-camping itu dapat mengejarnya. Matanya
terbelalak terkejut, ketika melihat orang itu sudah ber- diri di hadapannya.
"Ooo...! Baiklah aku menyerah,
kalah. Ampuni aku! Biarkan aku pergi...! Aku, tak bermaksud berta- rung atau
menentangmu, Kisanak. Aku hanya menan- tang Pendekar Gila," ujar Jurig
Sepuh yang bermuka garang itu dengan suara menggeragap karena ketakutan.
"Hm...! Hi hi hi...! Siapa
yang akan menentang Pendekar Gila, harus berhadapan denganku dulu. Langkahi
dulu mayatku, sebelum berhadapan dengan Pendekar Gila...," sahut orang
berpakaian compang- camping itu dengan suara mantap. Wajahnya masih tersembunyi
di balik capingnya yang lebar. Sehingga belum jelas lelaki atau wanita. Namun
dilihat dari tu- buh dan suaranya, jelas dia seorang wanita. "Mungkin dia
seorang wanita?!" tanya Jurig Sepuh dalam hati.
"Tidak..., tidak. Aku
menyerah..., ampuni aku, Nisanak!" pinta Jurig Sepuh sambil menjura.
Orang berpakaian compang-camping
yang berdiri di hadapannya, tak menjawab. Sejenak menghela na- pas panjang,
lalu berbalik melangkah pergi.
Baru dua tombak orang itu
melangkah, tiba-tiba Jurig Sepuh yang menyangka bahwa lawan lengah, melesat
melakukan serangan dengan mengayunkan golok. "Heaaa...!"
Wuttt! Golok itu belum sampai ke
tubuh lawan, tiba-tiba orang berpakaian compang-camping berbalik, tahu- tahu
tubuh Jurig Sepuh terpental sejauh lima tombak ke belakang.
"Aaa...!" Rupanya tanpa
sepengetahuan Jurig Sepuh, wa- nita berpakaian gembel itu telah mendahului.
Tubuh- nya dengan cepat dimiringkan ke kiri. Kemudian sambil membalik, dengan
cepat pula sosok berpakaian gembel itu melancarkan sebuah pukulan ke tubuh lawan
dengan jurus 'Tamparan Tangan Iblis'.
Jurig Sepuh tak bergerak lagi,
tewas dengan mata melotot. Dadanya hangus bagai terbakar dan berbe- kas telapak
tangan. Rupanya sosok berpakaian compang-camping itu mengerahkan jurus
'Tamparan Tan- gan Iblis'.
Semua orang di tempat itu terkejut,
bercampur kagum dengan kehebatan ilmu yang dimiliki orang berpakaian
compang-camping itu.
Selesai membunuh Jurig Sepuh, sosok
berpa- kaian compang-camping itu menepukkan telapak tan- gannya tiga kali. Tak
lama kemudian muncullah kuda hitam jantan bertubuh kekar, menghampirinya.
Orang berpakaian compang-camping
itu segera melompat ke atas kuda. Lalu tanpa berkata apa-apa, manusia aneh itu
menggebah kudanya, melesat me- ninggalkan Desa Parangan dan orang-orang di
kedai yang masih keheranan dan kagum.
***
Setelah orang aneh berpakaian
compang-camping itu pergi, para penduduk desa berhamburan menge- rumuni mayat
Jurig Sepuh dan kedua temannya.
Kemunculan orang berpakaian
compang- camping, yang menunggang kuda hitam, seketika men- jadi bahan
pembicaraan setiap orang di Desa Paran- gan. Mereka pada umumnya bertanya-tanya
siapa se- benarnya tokoh aneh itu. Lawan atau kawan Pendekar Gila?
"Aneh! Sungguh aneh orang
penunggang kuda itu. Ada hubungannya apa dia dengan Pendekar Gi- la...?"
tanya lelaki yang bernama Ki Lamting, sambil menggeleng kepala.
"Tadi aku mendengar, bahwa
siapa saja yang menantang Pendekar Gila, harus berhadapan dulu dengannya. Apa
maksudnya?!" tambah pemuda ber- nama Warsita, berdiri di sebelah Ki
Lamting.
Sementara itu Ki Galingga tampak
sedih dan menyesal. Kedainya sebagian terbakar terhantam Jurig Penengah yang
mengerahkan pukulan ‘Api Neraka’.
Tak lama kemudian kerumunan
orang-orang itu bergerak, memberi jalan pada Ki Lurah Patiasa, yang datang
bersama dua pengawalnya.
"Siapa yang mengenal pembunuh
ketiga orang ini?" tanya Ki Lurah Patiasa, seraya memandangi orang-orang
yang berkumpul di depan kedai.
"Kami tak jelas, Ki Lurah.
Orang berkuda hitam itu seperti iblis. Datang dan pergi begitu saja,"
jawab Ki Lamting menjelaskan.
"Benar, Ki Lurah. Orang
berkuda hitam itu san- gat aneh dan sangat tinggi ilmunya...," tambah
Warsita.
"Bagaimana awalnya bisa sampai
terjadi perta- rungan itu?" tanya Ki Lurah Patiasa lagi.
Sejenak mereka diam. Mata mereka
saling me- mandang seperti ragu untuk menjelaskan kepada ke- pala desa itu.
"Hm..., begini. Ki
Lurah...." Ki Galingga, pemilik kedai menjelaskan dari awal sampai akhir
pada Ki Lurah Patiasa. Semua terdiam mendengar penuturan Ki Galingga.
"Memang aneh. Akhir-akhir ini
sering terjadi pembunuhan. Mayat para tokoh bergelimpangan di mana-mana. Ini
pertanda malapetaka di dunia persila- tan. Siapa sebenarnya orang berkuda hitam
itu? Ka- wan atau lawan Pendekar Gila...?!" gumam Ki Lurah Patiasa sambil
memegangi keningnya.
"Kalau menurut saya, tak
mungkin Pendekar Gila memerintah seseorang dengan kejam membantai siapa saja
yang menantangnya. Pasti ada sesuatu di balik peristiwa ini," tukas
Santika, pengawal Ki Lurah Patia- sa yang berdiri di sebelah kanan kepala desa
itu.
"Benar, Ki Lurah. Saya
sependapat dengan Kakang Santika," tambah Lohdaya.
"Hm...," gumam Ki Lurah
Patiasa, sambil men- gangguk-anggukkan kepala. Seakan hatinya membe- narkan
ucapan kedua pengawalnya. "Sekarang kalian kuburkan mayat-mayat itu. Ayo
laksanakan!" perintah Ki Lurah Patiasa pada warga penduduk desa yang ma-
sih di depan kedai Ki Galingga.
Para penduduk desa bergegas
bersama-sama menguburkan mayat-mayat itu.
"Aku merasa menyesal,
meninggalkan desa ini tadi pagi. Seharusnya kutunda kepergianku...," keluh
Ki Lurah Patiasa, sambil memandangi para warganya yang sibuk membereskan
mayat-mayat itu dari kedai Ki Galingga.
"Tapi kepergian kita kan bukan
untuk senang- senang, Ki Lurah Patiasa. Tugas melapor ke Kadipaten Krasaan tak
dapat ditunda," ujar Santika ingin mengu- rangi rasa sesal kepala desanya.
"Ya. Kau benar. Kita harus
melaporkan keadaan Desa Parangan. Ah, rupanya kita harus lebih waspada,"
kata Ki Lurah Patiasa kemudian. Matanya me- mandang jauh ke depan.
***
2
Sore telah datang, mentari
tergelincir di ufuk ba- rat. Sebentar lagi raja siang akan tenggelam, kemudian
hadir kegelapan yang membawa suasana mencekam. Tampak para nelayan sedang
berangkat ke laut dengan jala terpanggul di pundak.
Sekawanan burung beterbangan pulang
ke sa- rang masing-masing dengan suara yang bersahut-sahutan. Cahaya merah
tembaga membias di kaki lan- git sebelah barat, menandakan mentari telah masuk
ke peraduannya. Dan angin darat cukup kencang tertiup ke laut, yang
menghempaskan perahu para nelayan yang sedang berlayar ke tengah.
Dua sosok manusia tampak melangkah
dalam keremangan senja. Kedua muda-mudi itu bersenda gu- rau dengan riang,
menikmati suasana senja yang in- dah.
"Desa apa ini, Kang?"
tanya gadis cantik berpa- kaian putih dengan rambut digelung di atas. Kulitnya
kuning langsat. Hidungnya tak terlalu mancung. Se- dang mata yang sipit tampak
indah bila mengerling.
"Ah ah ah.... Kalau aku tak
salah ini Desa Paran- gan," jawab pemuda tampan berpakaian rompi kulit
ular. Rambutnya yang gondrong, terikat pula oleh kulit ular.
Serasi sekali kedua anak muda itu.
Yang lelaki tampan dan gagah, sedangkan yang wanita cantik dan anggun. Di
pundak gadis cantik berpakaian silat Cina itu tersandang sebatang pedang.
Sedangkan di ping- gang pemuda tampan itu terselip sebuah suling berke- pala
naga
Kedua sejoli itu tak lain Sena
Manggala atau Pendekar Gila dengan kekasihnya Mei Lie, si Bidadari Pencabut
Nyawa.
Sena nampak cengengesan dengan
tangan meng- garuk-garuk kepala. Matanya menyapu sekeliling yang nampak sepi
"Nampaknya ada sesuatu yang
baru terjadi di de- sa ini, Kang...," kata Mei Lie, lirih. Matanya yang
ben- ing juga memandangi sekelilingnya.
"Hm," gumam Sena sambil
menggaruk-garuk ke- pala dan cengengesan.
Mei Lie menghela napas panjang,
matanya masih tetap mengamati sekeliling tempat itu.
"Aha, ayolah kita cepat pergi!
Sebentar lagi ma- lam. Kita harus segera mencari tempat untuk mengi- nap,"
ajak Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie. Namun, gadis Cina itu menolak,
dengan memegang lengan Pendekar Gila.
"Ssst..! Tunggu, Kakang!
Firasatku mengatakan, telah terjadi sesuatu di desa ini."
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala sambil tertawa cekikikan mendengar ucapan kekasihnya. Hal itu membuat
Mei Lie cemberut. Kesal. Karena Sena seakan tak mempercayai firasatnya.
Pendekar Gila langsung mengubah
tingkahnya yang persis orang gila itu, setelah melihat wajah Mei Lie
memberengut. Namun sebentar kemudian tangan- nya telah kembali menggaruk-garuk
kepala sambil cengengesan.
"Hi hi hi...! Kau kalau
cemberut begitu tambah je- lek. Eee..., maksudku, tambah cantik," ujar
Sena ber- seloroh sambil cengengesan dan menggaruk-garuk ke- pala. Mei Lie
tersenyum manis, mendengar pujian Pen- dekar Gila.
Kemudian Sena kembali mengajak Mei
Lie segera meninggalkan tempat itu. Mei Lie pun menurut. Keduanya melangkah
meninggalkan Desa Parangan. Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba mereka
dikejutkan bentakan seseorang.
"Hei...! Berhenti!"
Pendekar Gila dan Mei Lie berhenti. Keduanya membalikkan tubuh melihat siapa
yang telah menyu- ruh mereka berhenti. Tampak lelaki berbadan sedang berumur
sekitar empat puluh lima tahun, dengan ku- mis tipis menghiasi di atas
bibirnya. Matanya meman- dang penuh rasa curiga pada kedua muda-mudi itu. Di
belakang lelaki yang tak lain Ki Lurah Patiasa, berdiri beberapa orang warga,
termasuk Santika dan Lohdaya. Pendekar Gila tertawa-tawa, tingkah lakunya yang
aneh kembali muncul. Kemudian tangannya me- nepuk-nepuk pantat
Menyaksikan tingkah aneh dan konyol
pemuda berpakaian rompi kulit ular di hadapannya, Ki Lurah Patiasa seketika
mengerutkan kening, sambil meme- gangi dagunya.
"Rasanya aku pernah mengenal
tingkah laku pe- muda ini. Ah, benarkah dia Pendekar Gila yang dika- gumi
itu?" tanya Ki Lurah Patiasa dalam hati. Alisnya bertaut saat memandang
penuh selidik pada Pendekar Gila dan Mei Lie. "Dan kalau tak salah, gadis
Cina ini yang bergelar Bidadari Pencabut Nyawa. Benarkah me- reka?"
"Hi hi hi...! Kalian ini aneh. Mengapa bengong? Hi hi hi...!" Sena
tetap bertingkah seperti orang gila, mengga- ruk-garuk kepala dan cengengesan.
Sedangkan Mei Lie tampak bersiap-siap, waspada kalau para pengha- dangnya
hendak bermaksud jahat.
"Siapa kalian sebenarnya,
Kisanak?" tanya Ki Lurah Patiasa kepada Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Aku...?! Hi hi
hi...! Lucu sekali kau, Kisanak!" Sena semakin cengengesan sambil mengga-
ruk-garuk kepala. "Aha, kalian ingin tahu siapa kami? Baiklah, kami
hanyalah orang kecil yang sedang berpe- tualang mengikuti kehendak hati. Nah,
cukup jelas bukan?"
Ki Lurah Patiasa dan orang-orangnya
saling pan- dang. Lalu menghela napas. Ki Lurah Patiasa mencoba bersikap ramah.
"Hm... maaf! Apa benar kalian
Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa?" tanya Ki Lurah Patiasa be-
rusaha memastikan dugaannya.
Sena tak langsung menjawab.
Mulutnya cen- gengesan dan menepuk-nepuk pantat, lalu menggaruk-garuk kepala.
Namun Mei Lie yang merasa tak sa- bar, langsung menjawab dengan nada ketus.
"Ya! Mengapa kalian menghadang
kami?" Ki Lurah Patiasa, kembali saling pandang dengan orang-orangnya.
Wajahnya kini nampak agak lega. Tersungging senyum kegembiraan di bibirnya.
Begitu juga dengan Santika dan
Lohdaya, yang berdiri di sebelah kiri dan kanan Ki Lurah Patiasa. Keduanya
nampak tersenyum saling berbisik.
Mei Lie yang cepat marah tampak
kesal dan curi- ga terhadap mereka.
"Hei! Kalian mau menentang
kami...?! Ada apa sebenarnya dengan kalian!" sungut Mei Lie sambil melangkah
setindak ke depan. Tangan kanannya sudah menggenggam gagang pedangnya.
"O, maafkan tindakan kami yang
lancang! Kami tak bermaksud jahat. Malah, kalau benar kalian Pen- dekar Gila
dan Bidadari Pencabut Nyawa, kami sangat lega dan gembira sekali. Kami
mengharap kalian sudi singgah ke rumah kami," ujar Ki Lurah Patiasa, den-
gan sopan.
Mei Lie mengerutkan kening,
menyelidik. Lalu menoleh ke Sena yang tampak cengengesan. Kemudian kembali
memandang Ki Lurah Patiasa dan orang- orangnya.
"Untuk apa?!" tanya Mei
Lie tegas. "Aha, sabar Mei Lie! Rupanya mereka memang tak bermaksud jahat.
Tenanglah!" ujar Sena mencoba menenangkan kekasihnya. Tangannya memegang
bahu Mei lie. "Bagaimana kalau kita terima undangan mere- ka? Bukankah
kita perlu tempat menginap?" tanya Pendekar Gila kemudian pada Mei Lie.
Tampaknya Mei Lie masih merasa curiga pada Ki Lurah Patiasa dan orang-orangnya.
Mei Lie mengerutkan kening,
sepertinya berpikir dan menimbang ajakan Pendekar Gila.
"Baiklah! Tapi jangan
sekali-kali bermaksud ja- hat! Aku tak akan segan-segan membunuh kalian!"
ancam Mei Lie.
'Terima kasih, Tuan Pendekar. Kami
merasa se- nang sekali," sahut Ki Lurah Patiasa penuh hormat
"Aha, Mei lie, ayolah!"
ajak Sena sambil mengga- ruk-garuk kepala dan cengengesan. Kemudian mengedipkan
sebelah matanya kepada Mei Lie. Gadis cantik berparas Cina itu mencibir,
matanya melotot
Mereka pun kemudian melangkah
mengikuti Ki Lurah Patiasa dan warganya. Sementara kegelapan mulai menyelimuti
desa itu. Kesunyian mulai meram- bat di Desa Parangan yang baru dilanda
kejadian mengerikan di siang hari tadi.
***
Lampu di rumah Ki Lurah Patiasa
yang biasanya dipadamkan di malam hari, saat itu nampak masih terang benderang.
Suasana dalam rumah tampak terang benderang. Terutama di beranda depan.
Tiga orang terlihat tengah duduk di
kursi kayu, sementara yang lainnya bersila di bawah. Tampaknya mereka tengah
berkumpul, sehubungan dengan kema- tian beberapa warga Desa Parangan. Mereka
pun membicarakan munculnya orang berpakaian compang- camping, menunggang kuda
hitam, yang mereka sebut dengan Penunggang Kuda Iblis. Karena kuda yang di-
tunggangi hitam pekat, dengan mata menyala merah, seperti bara api.
Pendekar Gila, Mei Lie, dan Ki
Lurah Patiasa du- duk di kursi. Ketiganya tengah membicarakan kejadian yang
melanda Desa Parangan.
"Siang tadi desa ini didatangi
Tiga Setan Laut Ki- dul. Mereka, membunuh warga kami. Namun, kejadian semakin
kacau, setelah orang berpakaian compang- camping dan memakai caping lebar
membunuh Tiga Setan Laut Kidul," tutur Ki Lurah Patiasa, lalu menarik
napas sejenak. "Menurut warga desa ini, orang aneh berpakaian
compang-camping itu juga menyebut nama Tuan Pendekar Gila dan Mei Lie...,"
lanjut Ki Lurah Pa- tiasa kemudian.
Mei Lie tersentak kaget, wajahnya
menoleh kepa- da Pendekar Gila. Namun Sena malah menggaruk- garuk kepala dan
cengengesan. Seakan tak peduli. Ti- dak ada rasa kaget sedikit pun. Hal itu
membuat Mei Lie kesal dan mencubit lengan Sena.
"Aha, ada apa rupanya orang
berpakaian com- pang-camping, menyebut namaku dan Mei Lie, Ki Lu- rah...?"
tanya Sena ingin tahu juga.
"Ya. Ada urusan apa dengan
kami. Rasanya-kami berdua tak pernah punya teman seperti itu," tambah Mei
Lie dengan nada ketus, sebelum Ki Lurah Patiasa menjawab.
"Begini...," menurut
penduduk di desa ini, mu- lanya Tiga Setan Laut Kidul bermaksud mencari Tuan
Pendekar Gila. Dengan maksud menantang Tuan. Na- mun orang berpakaian
compang-camping itu membu- nuhnya. Dan berkata, kalau mau menantang Pendekar
Gila, harus mengalahkannya lebih dulu," tutur Ki Lu- rah Patiasa
menjelaskan.
Mei Lie makin terkejut. Matanya
terpicing dan keningnya berkerut Kemudian mendengus.
"Siapa kira-kira orang itu,
Kakang Sena...?" tanya Mei Lie dengan ketus. Wajahnya kelihatan geram men-
dengar tutur kata Ki Lurah Patiasa. "Kurasa ada orang ketiga yang
mendalanginya."
"Saya kurang tahu. Tapi
tindakannya harus sege- ra dicegah. Kalau tidak, akan lebih banyak korban. Dan
semula kami mengira orang berpakaian compang- camping itu teman Tuan Pendekar.
Aneh! Lantas un- tuk apa dia lakukan semua itu? Dan untuk apa men- cari Tuan
Pendekar...?!" ujar Ki Lurah Patiasa dengan mengerutkan kening.
"Hm," Pendekar Gila
bergumam tak jelas. Mulut- nya nyengir dan tangannya menggaruk-garuk kepala.
Diliriknya wajah Mei Lie yang tampak memerah.
"Orang itu laki-laki atau
wanita, Ki Lurah...?" tanya Mei Lie tiba-tiba.
"Wah, semua orang tak jelas
melihatnya. Karena hampir seluruh wajahnya tertutup oleh caping lebar. Benar
begitu, Lamting...?" tanya Ki Lurah Patiasa sam- bil menoleh ke arah Ki
Lamting yang duduk di bawah sebelah kanan.
"Benar. Capingnya lebar. Tapi
rambutnya pan- jang melewati bahu," jawab Ki Lamting menjelaskan.
Mei Lie mengangguk-anggukkan
kepala, sambil menggigit bibirnya sendiri. Sedangkan Sena masih dengan
tingkahnya, menggaruk-garuk kepala dan cen- gengesan. Semua orang yang hadir
tersenyum-senyum. "Jadi apa pendapat, Tuan Pendekar? Kami sangat
membutuhkan pertolongan. Kami tak ingin orang itu datang ke desa ini lagi, dan
membunuh warga Desa Parangan...," kata Ki Lurah Patiasa.
"Aha, kukira dia tak akan
kembali kemari lagi, Ki Lurah. Orang itu hanya mencari aku dan Mei Lie. Tapi
aku pun tak tahu, apa urusannya denganku. Tenan- glah! Desa ini tak akan
dijamahnya lagi," kata Sena mencoba menenangkan Ki Lurah Patiasa dan war-
ganya. Ki Lurah Patiasa mengangguk-anggukkan kepala sambil memegangi dagunya.
Namun, keningnya tampak berkerut.
"Apa yang dikatakan Tuan
Pendekar, mungkin benar, Ki Lurah. Sebab orang berpakaian compang- camping itu
juga bertanya pada Ki Galingga, di mana Pendekar Gila berada...," sela Ki
Lamting, yang saat ke- jadian berada di kedai Ki Galingga.
"Benar, Ki
Galingga...?.'" tanya Ki Lurah Patiasa. "Benar, Ki Lurah," jawab
Ki Galingga sambil menjura.
Untuk beberapa saat mereka diam. Di
luar malam semakin larut. Angin malam berhembus memasuki ruangan itu.
Ki Lurah Patiasa menghela napas
sejenak, kemudian memandang wajah Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Kami semua sangat berterima
kasih pada Tuan Pendekar berdua. Untuk itu, jika Tuan Pendekar ber- sedia, kami
berharap agar bermalam di rumah kami. Apalagi hari sudah larut malam, Tuan
Pendekar dan Nini perlu istirahat..."
"Terima kasih, Ki Lurah,"
jawab Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kalian sebaiknya
berjaga-jaga...," kata Ki Lurah Patiasa pada beberapa orang warga.
"Dan kau Santika bersama Lohdaya, pimpin mereka agar menjalankan
ronda!" "Baik, Ki Lurah...," jawab Santika sambil men- gangguk,
lalu pergi.
***
Suasana di Desa Parangan malam ini
tampak se- pi. Angin yang berhembus membawa hawa dingin. Padahal biasanya
malam-malam seperti ini masih ada beberapa orang hilir mudik di desa yang
menjadi persinggahan para pedagang dan nelayan dari desa lain.
Begitu pula kedai milik Ki Galingga
yang terletak di ujung desa, dekat pantai. Tampaknya semua pendu- duk telah
terlelap dalam tidur. Atau mungkin karena tak berani keluar malam.
Semenjak kehadiran orang berpakaian
compang- camping mirip gembel, Desa Parangan dan sekitarnya benar-benar dicekam
rasa khawatir. Para penduduk tak berani keluar malam.
Sementara itu ada pula pihak-pihak
lain yang tu- rut memanfaatkan keadaan itu. Seperti yang dilakukan Gerombolan
Gagak Merah. Mereka melakukan peram- pokan, pencurian, bahkan menculik dan
memperkosa wanita desa.
Geger tentang pembunuh gelap
berpakaian gem- bel itu bahkan telah menyebar ke luar wilayah Kadipa- ten
Krasaan. Para tokoh persilatan baik dari golongan hitam maupun putih.
Ketika kesunyian malam tengah
mencekam war- ga Desa Parangan, di salah sebuah rumah penduduk tengah didatangi
gerombolan perampok. Anehnya, para petugas ronda tak satu pun yang mengetahui.
Para peronda, termasuk Santika dan Lohdaya pengawal Ki Lu- rah Patiasa,
terlelap dalam tidur. Rupanya mereka telah terkena ilmu 'Sirep' yang digunakan
oleh para pe- rampok.
Rumah yang tengah disatroni
perampok itu ter- nyata milik tuan tanah dan seorang saudagar ikan bernama
Bakarekso. Rupanya Bakarekso pun terkena ilmu ‘Sirep’.
"Ssst! Habisi semua barang
yang ada di rumah ini! Aku akan masuk kamar sebelah ujung sana," kata
Dongkala sambil menunjuk kamar yang letaknya dekat dapur. Dongkala segera
melangkah maju mendekati pin- tu kamar itu. Rupanya pintu kamar tak terkunci.
Dibukanya pelahan lalu Dongkala masuk. Ternyata di dalam kamar itu ada seorang
gadis cantik anak tuan tanah Bakarekso, gadis itu tertidur pulas, dengan se-
belah kakinya ditekuk, memeluk guling. Hingga pa- hanya yang putih mulus
terkuak.
Melihat keadaan yang menggiurkan,
Dongkala menelan air liur. Segera kakinya melangkah mendekati ranjang.
Menyaksikan tubuh sintal putri Tuan Baka- rekso itu, Dongkala bagaikan tak
mampu menahan gejolak nafsu kejantanannya.
Perlahan-lahan Dongkala membalikkan
tubuh Jumirah putri Tuan Bakarekso. Setelah itu diangkatnya kaki kanan gadis
itu. Sementara dirinya sudah tak sabar ingin segera merasakan keperawanan putri
tuan tanah itu. Namun ketika lelaki bertubuh besar itu mu- lai menindihnya,
putri Tuan Bakarekso itu berteriak kaget. Menyadari keadaan yang tak
menguntungkan. Dongkala langsung menotok tubuh Jumirah. Kemu- dian dengan penuh
nafsu dinikmatinya tubuh molek putri Tuan Bukarekso yang telah dalam keadaan
terto- tok itu. Sementara itu di kamar lain, Tuan Bakarekso terbangun. Dirinya
bermaksud keluar, karena melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Selain itu
hatinya curiga mendengar rintihan di kamar sebelah. Namun ketika Tuan Bakarekso
sampai di ambang pintu tiba-tiba muncul lelaki berbadan besar dengan dada
berbulu. Kumisnya tebal melintang menambah kebengisan wa- jahnya. Tanpa banyak
bicara lelaki berbadan besar yang bernama Pandesa, langsung mengayunkan go-
loknya. Crasss!
"Aaakh...!" Seketika Tuan
Bakarekso tewas dengan kepala hampir putus. Jeritan itu membangunkan istri tuan
tanah. Wanita itu tersentak, ketika melihat ke arah pintu. Matanya semakin
terbelalak lebar melihat lelaki bertubuh besar masih memegang golok berlumuran
darah. "Aaakh...!"
Istri tuan tanah Bakarekso
menjerit. Pandesa segera melompat lalu menampar perempuan itu.
Plak! Plak! "Ukh...!"
Pandesa menatap nanar, ketika perempuan itu telentang di ranjang dengan kedua
kakinya mengang- kang. Sebagian kainnya terangkat ke atas. Hingga pa- hanya
terkuak di depan mata Pandesa.
"Hi hi hi..! Sudah lama aku
tidak menikmati ke- hangatan tubuh wanita, he he he...!"
Pandesa langsung menindih tubuh
istri tuan ta- nah, dan merobek baju serta kainnya. Wanita itu me- ronta-ronta
sambil mencakar muka Pandesa. Namun lelaki bertubuh besar itu tak peduli.
Bahkan dengan gemas ia menciumi leher, dan dada perempuan yang masih montok
itu.
"Lepaskan..., oh....!
Jangan... ukh!" Terjadilah pergumulan yang penuh nafsu. Pande- sa yang
sudah berada di atas tubuh perempuan itu te- rus melakukan tekanan-tekanan yang
buas.
Sementara di luar, sesosok bayangan
berkelebat, di antara rumah penduduk. Lalu melompat ke atap sebuah rumah.
"Hah...?! Aneh, ke mana para
petugas ronda...? Pasti ada yang tak beres," gumam sosok bayangan yang
belum jelas, karena malam begitu gelap. Kemu- dian sosok bayangan itu
melompat-lompat bagai tupai di atas atap rumah penduduk. Sampai akhirnya ber-
henti di sebuah rumah besar, yang tak lain rumah tuan tanah Bakarekso. Lampu
rumah itu sebagian ma- sih menyala. Namun tiba-tiba lampu salah satu ruan- gan
padam. Bersamaan dengan matinya lampu, ter- dengar jeritan suara perempuan.
Sosok bayangan nampak tersentak dan segera melesat, melompat tu- run. Tubuhnya
melesat menuju rumah Bakarekso.
Tiba-tiba, dari pintu keluar dua
orang bertelan- jang dada, yang tak lain Gerombolan Gagak Merah. Kedua lelaki
bertampang bengis itu tengah menggotong barang-barang hasil rampokannya.
Sosok bayangan segera bersembunyi
di balik pilar rumah. Sementara itu suara jeritan terhenti, hanya terdengar
samar-samar tangis dan rintihan dari seo- rang wanita.
"Perampokan,
perkosaan...?!" gumam sosok bayangan itu lirih.
Ketika dua orang yang menggotong
barang ram- pokan itu melewati pagar rumah, tiba-tiba terdengar suara pekikan
keras dari mulut keduanya. Kedua tu- buh bertelanjang dada itu roboh dengan
mulut me- muntahkan darah segar. Ternyata sosok bayangan itu dengan begitu
cepat melancarkan tendangan dan pu- kulan ke dada mereka berdua.
Sosok bayangan itu kemudian melesat
ke rumah dan menyelinap masuk.
Brak! "Hah...?!" Pandesa
kaget. la segera melompat da- lam keadaan bugil, hendak menggapai celana dan
go- loknya. Namun sosok bayangan yang tak lain adalah Mei Lie. Melesat cepat
sambil mengangkat Pedang Bidadarinya.
"Heaaat..!" Pandesa tak
sempat mengelak, karena pikiran dan keseimbangan belum pulih. Maka tak pelak
lagi, Pedang Bidadari membabat tubuh Pandesa.
Cras! Cras! "Aaa...!"
Tubuh Pandesa seketika roboh. Sesaat kemudian terpotong dua. Membiru, lalu
hancur jadi debu.
Perempuan yang masih terkulai
telanjang di ran- jang segera ditutupinya dengan kain. Sementara di kamar
belakang, Dongkala yang tertidur lemas, habis melahap keperawanan Jumirah,
tiba-tiba terbangun. Dilihatnya di ambang pintu berdiri Mei Lie dengan memegang
pedang di tangannya. Dongkala membelalakkan matanya, lalu melompat turun.
"Siapa kau...?!" tegur
Dongkala dengan mata membelalak. Tangannya mencoba menggapai golok yang ditaruh
di atas meja kecil bersama ikat pinggang- nya. Namun Mei Lie yang sudah tak
bisa menahan amarahnya langsung melompat. Dan....
"Heaaat..!" Cras! Cras!
"Aaa...!" Dongkala menjerit. Suaranya melengking pan- jang. Seketika
tubuhnya terbelah dua, lalu roboh. Se- saat kemudian membiru. Jumirah, tersadar
setelah Mei Lie membebaskan totokan tubuhnya.
"Ohhh...," Jumirah
mengeluh, lalu menangis sambil menutupi tubuhnya yang polos. Mei Lie me- mandangi
dengan sedih dan iba.
"Kau kini sudah aman, Dik.
Namun maafkan, aku terlambat datang. Hingga orang-orang biadab itu...,"
Mei Lie tak melanjutkan ucapannya karena tiba- tiba dari luar berdatangan Ki
Lurah Patiasa, Santika, Lohdaya, dan Pendekar Gila yang tampak cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala. Sambil mendekati Mei Lie pemuda berpakaian rompi
dari kulit ular itu mencabut bulu burung dari ikat pinggang lalu mengi-
lik-ngilik kupingnya.
"Kenapa bisa
terjadi...?!." gumam Ki Lurah Patia- sa sambil menggelengkan kepala.
Wajahnya nampak murung.
"Mereka memakai ilmu 'Sirep'
yang ampuh, Ki Lurah. Tapi aku masih beruntung bisa melawan ilmu itu,"
kata Mei Lie, lalu melirik Sena yang cengar-cengir sambil mengilik-ngilik
telinganya dengan bulu burung. "Ki Lurah mengenal para perampok
ini...?" tanyanya kemudian.
"Ya. Mereka adalah Gerombolan
Gagak Merah. Kalau tak salah ini Dongkala, pimpinannya...," jawab Ki Lurah
Patiasa sambil menunjuk mayat Dongkala yang seluruh tubuhnya telah membiru,
lalu perlahan- lahan mulai hancur menjadi debu. Ki Lurah Patiasa tersentak
kaget. Begitu pula para pengikutnya semua membelalakkan mata keheranan. Mereka
ngeri ber- campur bingung.
"Hm.... Ilmu apa yang
digunakan gadis Cina itu...?" tanya Ki Lurah dalam hati. Tak satu pun yang
membuka mulut
"Ah ah ah...! Rupanya sepak
terjang si Penung- gang Kuda Iblis, dimanfaatkan oleh orang-orang kerdil ini.
Hi hi hi..., lucu!" celetuk Sena sambil terus mengi- lik-ngilik telinganya
dengan bulu burung, lalu mengga- ruk-garuk kepala.
Melihat Pendekar Gila yang hanya
cengengesan, seperti tak menghiraukan, Mei Lie tampak cemberut. Lalu kakinya
melangkah mendekatinya.
"Kenapa Kakang diam
saja...?" tanya Mei Lie den- gan wajah cemberut
Pendekar Gila yang mengerti maksud
kekasih- nya, yang terkadang suka manja. Langsung menga- cungkan jempol seraya
berkata.
"Hi hi hi..., aku kagum
padamu, Mei. Kau telah bertindak cepat. Belum sempat aku bertindak, kau sudah
lebih dulu. Aku senang."
Mendapat pujian dari Pendekar Gila,
bibir Mei Lie tampak tersenyum-senyum bangga.
"Kami juga sangat kagum atas
kesigapan Nini Mei Lie. Kami merasa malu...," tambah Ki Lurah Patiasa
dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Ini sudah kewajiban Ki Lurah.
Hm, sebaiknya ki- ta amankan kedua wanita itu!" ujar Mei Lie kemudian
seraya menghampiri Jumirah. Gadis itu masih menan- gis tersedu-sedu memikirkan
nasibnya dan sang Ibu yang telah menjadi korban kebiadaban Dongkala dan
kawan-kawannya.
Ki Lurah Patiasa segera
memerintahkan pada Santika dan Lohdaya untuk mengurus Jumirah dan ibunya.
Setelah ikut mengurus mayat saudagar Baka- rekso kepala desa itu memperingatkan
para warga agar meningkatkan kewaspadaan dan turut menjaga kea- manan desa.
Malam semakin larut dan mencekam.
Desa Pa- rangan loan sunyi dan sepi. Kejadian di rumah Tuan Bakarekso membuat
para penduduk cemas dan keta- kutan. Apalagi yang mempunyai anak gadis.
Namun Pendekar Gila dan Mei Lie
yang masih be- rada di desa itu, agak membuat warga Desa Parangan sedikit lega.
Di antara para penduduk telah banyak mendengar nama pendekar muda itu jauh
sebelum melihat orangnya. Nama Pendekar Gila bukan nama asing lagi di dunia
persilatan. Sepak terjangnya dalam menumpas kedurjanaan dan menegakkan keadilan
te- lah membuat nama Pendekar Gila tersohor. Tidak hanya di kalangan dunia
persilatan, nama pendekar muda yang bertingkah laku seperti orang gila itu
telah mengagumkan banyak orang.
***
3
Matahari mulai condong ke barat.
Seekor kuda hitam berlari kencang memasuki hutan di kaki Bukit Palasari. Kuda
bertubuh besar dan kekar itu membawa seorang yang berpakaian compang-camping
mirip gembel yang tak lain Lara Kanti. Ternyata wanita inilah yang akhir-akhir
ini tengah ramai dibicarakan para to- koh di Kadipaten Krasaan.
Lara Kanti terus menggebah kudanya
agar berlari lebih kencang, Derap kaki kuda hitam itu seakan hendak memecah
keheningan senja di perbukitan itu. Mata kuda itu tampak merah membara, seperti
mata iblis, memancar tajam dan menggiriskan. Demikian juga mata gadis berjuluk
si Penunggang Kuda Iblis itu tam- pak jelalatan, mengawasi di sekitar tempat
yang dilaluinya. Hal itu karena tiba-tiba telinganya yang tajam menangkap
adanya suara derap kaki kuda.
"Hm..., ada yang
mengikutiku?!" gumamnya se- raya memperlambat lari kuda.
Suara kaki kuda semakin jelas
terdengar. Lara Kanti semakin memperlambat lari kudanya sambil mengerutkan
kening. Telinganya hanya mendengar satu ekor kuda.
Tiba-tiba ditariknya tali kekang
kuda, lalu seketi- ka tubuhnya melompat tinggi. Kakinya dengan sigap hinggap
pada sebatang cabang pohon yang tinggi. Matanya dengan liar mengawasi
sekeliling tempat di bawah sana. Tiba-tiba pandangannya melihat seorang
penunggang kuda berwarna coklat. Dari pakaian dan pedang yang bertengger jelas
orang itu berasal dari ka- langan rimba persilatan.
"Hm...! Siapa monyet itu? Mau
mencari perka- ra...!" gumam Lara Kanti, setelah meyakinkan penglihatannya.
Lara Kanti memperhatikan
gerak-gerik penung- gang kuda di bawah sana. Ketika kuda itu sampai di
bawahnya, dengan cepat tubuhnya melompat turun dengan bersalto, lalu
mengirimkan sebuah pukulan yang mengarah ke kepala penunggang kuda itu. Na- mun
rupanya si penunggang kuda telah merasakan adanya serangan gelap. Dengan cepat
pula tubuhnya melompat dari punggung kuda.
"Yeaaa...!" "Heit..!
Heaaa...!" Lara Kanti mencoba menyambar kepala lawan dengan tangan kiri
dan kanan, ketika tubuhnya masih melayang di udara. Namun lelaki penunggang
kuda itu dengan cepat bergerak meliuk seraya melancarkan se- buah serangan
balik. "Heaaa...!" Plak! Namun tangan kanan Lara Kanti terjulur cepat
memapaki serangan balasan itu.
"Hm...!" gumam lelaki
penunggang kuda itu se- raya manggut-manggut.
Lara Kanti tak menduga kalau orang
itu memiliki ilmu yang cukup handal. Begitu kakinya mendarat di tanah, dengan
sigap Lara Kanti mengatur kedudukan- nya. Matanya yang tajam mengawasi penuh
selidik lelaki muda berkumis tipis itu. Rambutnya yang panjang sebahu diikat
kain merah tua, sama dengan warna pakaiannya. Di pinggangnya melilit sabuk dari
kulit ber- warna hitam, menambah angker penampilannya.
"Ha ha ha...! Ini rupanya
orang yang dijuluki Pe- nunggang Kuda Iblis itu! Ternyata hanya gembel kotor
dan kudisan. He he he...!" ejek pemuda itu sambil mengelus-elus cambangnya
yang hitam dan lebat.
Pemuda berambut gondrong itu segera
mencabut pedang dari warangkanya.
Srats! "Ada urusan apa kau
mengikutiku...?" tanya Lara Kanti ketus.
"Ha ha ha...! Kau mau tahu,
Gembel?! Ketahui- lah! Aku Sasaka Purwa ingin mencari Pendekar Gila, untuk
membunuhnya. Aku ingin jadi orang terkenal dan disegani. Tapi ketika aku
mendengar nama Pe- nunggang Kuda Iblis yang ramai dibicarakan orang- orang
persilatan, niatku berubah. Aku rasa lebih baik membunuhmu lebih dulu, sebelum
menghabisi Pende- kar Gila...! Ha ha ha...!" tutur pemuda bernama Sasaka
Purwa dengan sombong sambil mempermainkan pe- dang diputar-putar di atas
kepala. Seolah dirinya yakin benar akan mampu mengalahkan, bahkan membunuh Lara
Kanti.
Mendengar ucapan Sasaka Purwa, Lara
Kanti hanya diam. Sepertinya tak terlalu menggubrisnya. Wanita muda berpakaian
gembel itu bahkan memba- likkan tubuh hendak pergi. Hal itu tentu saja membuat
Sasaka Purwa jengkel dan marah, karena merasa di- remehkan.
"Hei! Pengecut!
Heaaat..!" Sasaka Purwa tiba-tiba menyerang Lara Kanti. Namun wanita
bercaping lebar sudah menduganya. Sehingga dengan cepat tubuhnya melenting ke
udara untuk menghindar, sambil mengibaskan tangan kanan.
"Hih...!"
"Heh?!" Swing! Swing...! Mata Sasaka Purwa terbelalak, karena bersa-
maan dengan gerakan perempuan gembel itu meluncur belasan senjata rahasia
menyerupai paku. Tentu saja hal itu membuat pemuda itu terkejut, sebab tak menduga
sama sekali lawan akan melakukannya. Maka dengan cepat tubuhnya bergerak untuk
mengelak sete- lah terlebih dahulu menarik pulang serangannya. Tu- buhnya kini
berguling cepat di tanah berbatu-batu.
"Heit! Heaaa...!" Tubuh
Sasaka Purwa melenting ke udara dan bersalto. Namun Lara Kanti tak memberi
kesempatan pada lawan untuk berbalik menyerangnya. Pukulan dan tendangannya
terus mencecar tubuh pemuda be- rambut gondrong itu. Menyadari tak mampu
memberi serangan balasan, Sasaka Purwa langsung melompat ke atas sebuah pohon.
Kemudian dengan mengguna- kan ilmu 'Tupai Melompat' tubuhnya melompat ke sa- na
kemari, berpindah dari satu cabang ke cabang lain- nya menghindari serangan
lawan.
Melihat lawannya berada jauh di
atas pohon, La- ra Kanti tidak mau kalah. Tubuhnya segera melompat memburu
Sasaka Purwa, dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat sempurna. Bagaikan
melayang Lara Kanti mengejar Sasaka Purwa yang melompat-lompat bagai tupai,
dari pohon satu ke pohon lainnya. Terka- dang pemuda itu merayap bagai cecak di
batang dan cabang pohon.
Sementara Lara Kanti yang telah
memindahkan tudung capingnya ke punggung terus melesat. Tubuh- nya tampak
melayang ke sana kemari, mencoba men- gejar lawannya. Sebentar kemudian kakinya
hinggap pada sebatang cabang pohon.
Kini keduanya berdiri di cabang
pohon besar, siap melancarkan serangan. Mereka nampak membuka jurus andalan
masing-masing Lara Kanti mengerahkan jurus ‘Pedang Malaikat Maut’
Sasaka Purwa mempermainkan
pedangnya di atas kepala dan ke samping. Sedangkan Lara Kanti lebih tenang.
Hanya dua tiga kali mempermainkan pedang mautnya. Kemudian....
"Heaaa...!"
"Heaaat...!" Sasaka Purwa melompat ke depan lebih dulu. Sambil
melenting lalu bersalto perempuan berpakaian gembel itu pun menyusul serangan
lawan. Tangannya dengan cepat menebaskan pedang. Begitu pula yang dilakukan
Sasaka Purwa. Hingga....
Srak! Trang! Trang!
"Hah...!" Percikan api akibat beradunya kedua pedang pusaka itu tampak
dari sela-sela rimbun dedaunan. Lalu keduanya sama-sama terpental ke belakang,
dan kembali hinggap pada cabang pohon. Sesaat kemudian keduanya kembali membuka
jurus dan kuda-kuda.
Rupanya Sasaka Purwa bukan lawan
sembaran- gan, sehingga Lara Kanti nampak lebih hati-hati dalam melancarkan
serangan.
Teriakan nyaring kembali terdengar
memecah keheningan senja di perbukitan itu. Keduanya kini tampak sama-sama
mengerahkan jurus-jurus andalan. Dari sela-sela rimbun dedaunan dan batang
pohon tampak saling berkelebatan cahaya pedang mereka. Suara dentangan nyaring,
disusul teriakan keras, lalu ditingkahi pula gemeresak dedaunan dan batang-
batang kayu patah terus terdengar.
Masing-masing ingin segera
menjatuhkan. Na- mun kini sudah lima belas jurus belum menampakkan pihak yang
bakat kalah. Memasuki jurus selanjutnya masih sama-sama bertahan. Beberapa kali
ujung pe- dang mereka hampir menemui sasaran. Namun den- gan gerak cepat
disertai tingkat kewaspadaan tinggi keduanya mampu menghindarinya.
"Heaaa...!"
Pekikan keras mengiringi lesatan
tubuh Lara
Kanti melancarkan serangan dahsyat
Srak! Trang! "Hah...?!"
Sebuah gerakan menebas yang cepat dan begitu kuat dilakukan Lara Kanti. Tebasan
yang dikerahkan dengan tenaga dalam itu membentur pedang lawan. Seketika Sasaka
Purwa merasakan ada hawa panas menjalar ke tangannya, hingga pedangnya terlepas
dan jatuh. Sasaka Purwa tersentak kaget, matanya membe- lalak. Segera dia
melompat turun bermaksud men- gambil pedangnya. Namun Lara Kanti mengerti.
Segera dimasukkan pedang ke dalam sarungnya. Lalu mem- buru Sasaka Purwa,
turun.
Kini keduanya sama-sama bertangan
kosong. Sa- saka Purwa membuka jurus ‘Telapak Sakti’ Dari kiba- san kedua
tangannya mendatangkan angin.
Wuttt! Wuttt! Melihat lawannya
mengerahkan ilmu andalan, Lara Kanti hanya tersenyum sinis. Namun hatinya te-
tap tak mau kalah. Dengan gerakan yang indah, Lara Kanti mengeluarkan jurus
‘Tamparan Tangan Iblis’ Da- ri telapak tangan Lara Kanti tiba-tiba keluar asap
me- rah.
Kini keduanya siap menyerang dengan
kesaktian masing-masing. "Heaaa...!" Wut! Wut! "Yeaaa...!"
Keduanya melompat bersamaan. Di udara tela- pak tangan mereka yang telah
dialiri kekuatan tenaga dalam tinggi saling beradu.
Glarrr...! Ledakan keras terdengar,
disusul dengan terpen- talnya kedua tubuh. Sasaka Purwa jatuh bergulingan di
tanah berumput, beberapa tombak dari tempat tu- buh Lara Kanti yang jatuh
terduduk.
"Ukh...!" Sasaka Purwa
memuntahkan darah me- rah kehitaman. Lalu mulutnya mengerang menahan sakit di
dadanya. Perlahan-lahan tubuhnya bangkit hendak berdiri.
"Hm...! Kau harus mati, Monyet
Busuk.... Tak akan kubiarkan kau membunuh Pendekar Gila, sebe- lum melangkahi
mayatku!" gumam Lara Kanti sambil tersenyum sinis. Matanya yang tajam
menatap wajah Sasaka Purwa.
Sasaka Purwa tak menghiraukan
ucapan Lara Kanti. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, ia melom- pat menyerang
perempuan berpakaian compang- camping yang telah berdiri tegak tiga tombak di
de- pannya. Namun dengan sigap Lara Kanti telah mem- persiapkan diri untuk
menangkisnya.
"Hiaaa...!" Wret! Prats!
"Aaa...!" lengkingan keras terdengar dari mulut Sasaka Purwa. Pukulan
jurus 'Tamparan Tangan Iblis' yang dilancarkan Lara Kanti mendarat telak di da-
danya. Tak ampun lagi, tubuh lelaki muda berpakaian merah itu melintir, sempoyongan
dengan dada hangus bagai terbakar dan membekas telapak tangan Lara Kanti.
Sesaat kemudian Sasaka Purwa ambruk, tewas. Kedua matanya melotot Sementara
dari mulutnya ma- sih keluar darah segar!
Lara Kanti menghela napas lega.
"Rupanya ba- nyak tokoh persilatan yang menginginkan Pendekar Gila mati!
Hm...! Cepat atau lambat, aku harus mene- mukan pendekar itu."
Selesai berkata begitu, Lara Kanti
mendekati mayat Sasaka Purwa. Dibalikkan mayat itu dengan kaki kanannya dan dilangkahinya.
Lalu segera meninggalkan tempat pertarungan itu.
Sesampai di tempat yang lebih luas,
Lara Kanti menepukkan telapak tangannya. Tak lama kemudian kuda hitam yang
matanya bersinar kemerahan bagai mata iblis, meringkik mendekati perempuan
bercaping lebar itu. Kuda itu mengangkat kedua kaki depannya sambil
meringkik-ringkik. Setelah mengusap-usap ke- pala kuda itu, Lara Kanti segera
melompat dan meng- gebahnya.
Kuda hitam itu pun langsung berlari
kencang menuju ke timur. Sementara itu mentari semakin condong ke barat. Sinarnya
tampak kemerah-merahan. Lara Kanti terus memacu kudanya makin jauh, dan hilang
di balik pepohonan hutan di sebelah timur Bukit Palasari.
***
Ketika terik matahari siang
menyengat persada bumi ini, seekor kuda hitam pekat berlari kencang menerobos
debu berterbangan di Lembah Cadas Pange- ran. Di punggung kuda itu, tampak
seorang perem- puan bercaping lebar, dengan pakaian compang- camping. Wajah
gadis itu cukup ayu, tapi pandangan matanya galak dan tajam, tersembunyi di
balik caping lebar. Rambutnya dibiarkan tergerai ditiup angin kencang.
"Heah...!"
Derap kaki kuda melaju, bagai tak
menghiraukan terik matahari yang tak bersahabat Namun mendadak si Penunggang
Kuda Iblis itu menghentikan lari ku- danya. "Ck ck ck...! Tenang, tenang
Ireng!" Lara Kanti menenangkan kudanya yang bernama Ireng. Kuda itu seakan
merasa ada sesuatu yang mencurigakan, dan akan membahayakan juragannya.
Sehingga terdengar suara ringkikannya.
"Hm...!" Lara Kanti
menggumam tak jelas. Matanya masih menyapu ke sekeliling lembah, seakan
memahami arti ringkikan kuda kesayangannya.
"Kau memang sahabatku yang
baik, Ireng...," ujar Lara Kanti sambil menepuk-nepuk dan mengusap lembut
leher kuda itu.
Kuda mengangguk-angguk, seakan
merasa se- nang. Dan kembali meringkik. Lara Kanti tersenyum- senyum. Namun
matanya tetap menyapu ke sekeliling tempat itu.
Kresek! Lara Kanti menoleh ke arah
suara dari semak- semak. Kemudian tubuhnya melompat dari punggung kuda. Baru
saja perempuan itu mendaratkan kaki di tanah, dari balik semak bermunculan
sepuluh sosok tubuh berpakaian serba hijau. Sebagian muka mereka tertutup kain
yang berwarna sama, hijau. Hanya mata mereka yang terlihat. Kesepuluh sosok itu
menggeng- gam sebilah golok tajam. Tampaknya mereka para pe- nyamun yang
membegal setiap orang yang melintasi tempat itu.
"Hm....'" gumam Lara
Kanti perlahan. "Rupanya ada tikus-tikus can santapan...!"
"Kurang ajar! Berani mengejek
kami. Siapa kau?.'" bentak orang yang berdiri paling depan sambil
menudingkan goloknya. Dan suaranya jelas orang itu lelaki. "Siapa pun aku,
kalian tak perlu tahu! Yang pas- ti, aku tak suka ada orang menghalangi
perjalananku," jawab Lara Kanti sambil menggeser tudung capingnya.
Seakan-akan ingin memperjelas pandangannya.
"Ha ha ha...! Omonganmu
seperti orang yang tak mempan dibacok golok pusakaku ini," ujar lelaki
yang paling depan. Dengan angkuh ditudingkan lagi golok- nya ke arah Lara
Kanti. Lelaki inilah tampaknya pe- mimpin Laskar Hijau itu. Brajakala, begitu
panggilan- nya. Seorang tokoh dari aliran hitam yang selalu mela- kukan
perampokan, menculik gadis-gadis desa dijadi- kan gundik, serta menjadi
pembunuh bayaran yang disegani.
Lara Kanti mengangkat pelahan
kepalanya, yang tadi sedikit menunduk, lalu menatap tajam wajah lelaki di
depannya. Brajakala yang memiliki mata jalang seketika tahu, kalau di balik
caping lebar itu tersem- bunyi seraut wajah cantik seorang wanita. Segera saja
kakinya melangkah mendekati Lara Kanti. Lalu ber- henti dua tombak di hadapan
Lara Kanti.
"He he he...! Kawan-kawan,
rupanya hari ini aku mendapatkan daging yang benar-benar kenyal dan sedap...!"
seru Brajakala pada teman-temannya, sambil menoleh ke kin dan kanannya.
"Hei siapa pun namamu dan dari
mana asalmu, aku tak peduli..., asal kau mau ikut aku... he he he...! Aku tahu
kau wanita yang masih muda dan ayu. He he he...! Kemarilah, Cah Ayuuu...! He he
he...."
Lara Kanti hanya menghela napas
dalam-dalam. Sementara itu Brajakala semakin mendekatinya. Tangannya tiba-tiba
mencoba mau membuka caping Lara Kanti. Lara Kanti tak mengelak sedikit pun.
Namun, baru saja Brajakala melihat
sekilas wajah wanita itu. Tiba-tiba mulutnya memekik dengan tubuh terhuyung dua
tombak ke belakang. Entah ka- pan Lara Kanti melakukan serangan itu, sukar
ditang- kap pandangan mata biasa. Rupanya Lara Kanti telah melancarkan pukulan
'Tanpa Wujud', dengan tenaga dalamnya.
"Adauuu...!"
Para anak buah Brajakala tersentak
kaget, kare- na mereka tak menduga. Sebelumnya mulut mereka cengar-cengir
menyaksikan ulah pimpinannya. Seketi- ka kesembilan lelaki berpakaian serba
hijau itu men- gangkat golok hendak menyerang Lara Kanti.
Rupanya, Lara Kanti tadi dengan
cepat menggu- nakan ilmu 'Pukulan Tanpa Wujud'. Kini wanita muda yang dijuluki
Penunggang Kuda Iblis itu telah meng- genggam Pedang Maut-nya. Ditaruh di depan
dada, siap menanti serangan lawan-lawannya.
Sementara itu Brajakala yang dibuat
malu di de- pan anak buahnya tampak marah sekali.
"Serang...! Tangkap...!"
seru Brajakala pada anak buahnya. Maka segera sembilan anak buahnya lang- sung
merangsek dan mengepung Lara Kanti.
"Heaaa...!" Wut! Wut!
Golok kesembilan lelaki berpakaian serba hijau mendesing dan menderu membabat
ke tubuh si Penunggang Kuda Iblis. Namun wanita gembel tapi cukup cantik itu
dengan tenang mengelak dari semua serangan yang dilancarkan kesembilan Laskar
Hijau. Dengan cepat direbahkan tubuhnya ke belakang, ke samping atau terkadang
melenting ke atas sambil bersalto, melewati para pengeroyok, lalu dengan ringan
mendarat di luar kepungan mereka. Brajakala yang mengamatinya merasa sedikit
kecut. Sembilan anak buahnya, yang memiliki ilmu 'golok' yang cukup handal, tak
satu pun berhasil mendaratkan serangan mereka ke tubuh wanita bercaping itu.
Lara Kanti yang sudah tak mau
lama-lama beru- rusan dengan sembilan anak buah Brajakala, segera melancarkan
serangan balik. Dengan cepat dan tak terduga, caping dari bambu kuning yang
menutupi kepalanya dilemparkan untuk menerjang lawan yang tampak kian beringas.
Srat Werrr! Jrab! Crak! "Aaa...!" "Waduuuh...!" Pekikan
beruntun terdengar melengking panjang, ketika caping Lara Kanti menyambar
kepala, leher, dan dada Laskar Hijau. Suara erangan dan rintihan kesaki- tan
terdengar dari mulut mereka. Yang tertutup kain hijau. Tubuh kesembilan anak
buah Brajakala tampak saling berkelojotan di tanah. Pakaian hijau mereka te-
lah berubah merah, basah berlumuran darah. Dan tak lama kemudian mereka tewas.
Brajakala yang melihat kejadian
itu, semakin ke- takutan. Matanya terbelalak seperti tak percaya melihat
sembilan anak buahnya tewas dalam keadaan mengerikan. Caping lebar itu membuat
leher empat orang anak buahnya hampir putus. Sedang yang lain, wajah, dan
dadanya hancur berantakan. Namun, bukan Pemimpin Laskar Hijau yang terkenal
bengis dan buas itu, kalau harus bertekuk lutut hanya dengan seorang perempuan
gembel.
"Heaaa...!" Brajakala melompat
sambil menghunuskan Golok Setannya. Suara tebasan dan babatan golok itu men-
deru keras.
Wut! Wut! "Heaaa...! Mampus
kau!" dengus, Brajakala geram.
Namun, Lara Kanti cepat mengelak
dengan menggeser kaki kanan ke samping sambil merebahkan tubuhnya, sedangkan
tangannya menangkis, lalu me- lancarkan serangan balasan.
Brajakala yang melihat tubuh Lara
Kanti masih miring ke samping, cepat merubah bacokan. Lelaki berpakaian hijau
itu membabatkan goloknya dari atas ke bawah.
"Heaaat..! Mampus kau,
Gembel!" seru Brajakala merasa yakin.
Lara Kanti sudah mengetahui gerakan
cepat itu. Sehingga sebelum golok di tangan Brajakala menyen- tuh tubuhnya,
Lara Kanti dapat berguling ke samping. Lalu dengan gerakan secepat kilat, dia
berdiri dan membabatkan pedangnya ke lengan kiri Pemimpin Laskar Hijau itu.
"Hih...!" Cras!
"Aaakh...!" Lengan Brajakala putus. Darah bercucuran. Tu- buhnya
melintir sambil menjerit-jerit kesakitan. Wa- jahnya yang garang tertutupi kain
hijau nampak berge- tar. Sementara Lara Kanti cepat melompat dan lang- sung
membuka tutup muka lawannya.
Bret! "Hah...?!
Ampuuun...!" ratap Brajakala gemetaran sambil menjura perempuan gembel
bercaping lebar di hadapannya.
Lara Kanti melempar capingnya. Kini
wajahnya yang ayu itu nampak lebih jelas. Namun Brajakala tak berani mengangkat
muka.
"Hei, Tikus! Kau tadi ingin
menikmati tubuhku. Ayo, sekarang lakukan keinginamu! Ayo...!" ujar Lara
Kanti dengan suara dibuat manja. Sambil tangan kirinya mengangkat celana
panjangnya sampai pangkal paha. Kemudian mendekatkan ke muka Brajakala.
Brajakala masih tertunduk
gemetaran. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Seperti mandi.
"Ayo...! Pedang pahaku! Atau kau
lebih suka dengan ini....'" kata Lara Kanti sambil membuka bagian atas
pakaiannya. Hingga dua gunung yang masih padat dan mulus tersembul keluar.
Brajakala, memberanikan diri untuk
mengangkat wajah. Dan setelah melihat kedua buah dada Lara Kanti yang memang
masih montok itu tiba-tiba....
Jreb! "Aaakh...!" Lara,
Kanti dengan cepat menusukkan pedang- nya ke jantung Brajakala. Seketika lelaki
berpakaian serba hijau itu tewas, menyusul kesembilan anak buahnya.
"Kau telah puas, dapat melihat
milikku, bukan? Nah kini selamat sampai di neraka, Tikus Busuk...!" kata
Lara Kanti dengan geram.
Setelah itu Lara Kanti segera
meninggalkan kese- puluh mayat Laskar Hijau. Digebahnya si Ireng yang bermata
merah menyala seperti mata iblis itu. Kuda hi- tam itu pun langsung melesat
meninggalkan Lembah Cadas Pangeran.
***
4
Pendekar Gila dan Mei Lie yang
berada di Desa Parangan tengah bingung karena terus mendengar sepak terjang
perempuan gembel Penunggang Kuda Iblis itu. Bersama Ki Lurah Patiasa dan
orang-orangnya, Pendekar Gila mengatur siasat, agar dapat berhadapan dengan
pembunuh bengis itu.
Di ruang tengah rumah Kepala Desa
Parangan malam itu tampak berkumpul Pendekar Gila, Mei Lie, Ki Lurah Patiasa,
Santika, dan Lohdaya. Sedangkan beberapa orang warga berjaga-jaga di sekitar
rumah Ki Lurah Patiasa. Kegiatan ronda malam pun tetap dilaksanakan di beberapa
tempat di Desa Parangan.
Malam sunyi dan mencekam. Angin
bertiup kencang menghembuskan hawa dingin menusuk tulang sumsum. Suara binatang
terdengar bersahutan di kejauhan.
"Bagaimana rencana Tuan
Pendekar?" tanya Ki Lurah Patiasa memulai percakapan.
"Ah ah ah...! Janganlah kau
panggil aku dengan sebutan itu, Ki Lurah. Panggil saja namaku: Hi hi hi...! Aku
lebih senang dipanggil Sena!" sahut Pendekar Gila dengan mulut
cengengesan. Tangannya menggaruk- garuk kepala seperti merasa gatal.
"Aha...! Aku me- mang sudah punya rencana, tapi terus terang aku ti- dak
membeberkan kepada kalian. Maaf, Ki Lurah, juga Kisanak sekalian! Hi hi
hi...!"
Santika dan Lohdaya mengerutkan
kening, tidak hanya karena heran melihat sikap konyol Pendekar Gi- la,
melainkan juga tersinggung. Namun Pendekar Gila tampaknya memahami tanggapan
kedua orang anda- lan Ki Lurah Patiasa.
"Sekali lagi maaf! Aku mohon
pengertian Kisanak. Sebab, kalau saya sampaikan, rencana ini bisa saja gagal.
Dan terus terang, bukan saya tak mempercayai orang-orang di desa ini, tapi
semata-mata demi kelan- caran semuanya. Agar kita dapat menangkap orang yang
kita cari...," tutur Sena dengan tegas, walaupun sesekali masih
menggaruk-garuk kepala.
Ki Lurah Patiasa manggut-manggut,
tampaknya memahami maksud rencana Pendekar Gila.
"Jangan mempunyai prasangka
buruk terhadap kami, Kisanak...!" tambah Mei Lie, menoleh kepada Santika
dan Lohdaya. "Percayalah! Ini semua kami la- kukan demi kita
semua...."
Ki Lurah Patiasa kemudian mencoba
memberikan pengertian pada Santika dan Lohdaya.
"Kami percaya pada Sena dan
Mei Lie. Lalu apa yang harus kami lakukan?" tanya Ki Lurah Patiasa
kemudian, dengan mengangguk-anggukkan kepala.
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala dan cen- gengesan. Sedangkan Mei Lie tersenyum membalas anggukan kepala
Ki Lurah Patiasa.
"Tapi untuk malam ini saya
berharap, kita tetap berjaga. Siapa tahu orang yang kita cari saat ini mam- pir
di Desa Parangan ini...," pinta Sena seenaknya sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Baik...," jawab Ki Lurah
Patiasa. "Santika, Loh- daya! Apakah semua warga sudah kau beri
tahu...?"
"Sudah Ki Lurah. Ki Lamting
yang saya perintahkan untuk memimpin ronda malam ini," jawab Santika
sambil memberi hormat.
"Hm...," gumam Ki Lurah
Patiasa sambil mengangguk.
Sementara di luar udara semakin
dingin. Para warga Desa Parangan tampak berjaga-jaga di semua sudut desa. Tentu
saja mereka membawa senjata.
"Mudah-mudahan malam ini tak
terjadi apa-apa di desa kita ini," kata seorang peronda bernama Karto.
"Tapi kenapa malam ini sangat
dingin hawanya. Hih...!" sahut Samsu sambil mendekap dada dengan kedua
tangannya.
"Kamu saja yang bengek,"
tukas Jamin, "Orang hawanya panas begini, kok!"
"Sudah, jangan ribut soal dingin,
panas! Kita ha- rus waspada. Nanti, tahu-tahu ada orang tak diundang masuk desa
kita, mati kuwe...!" tukas Gondo berusaha mengingatkan teman-temannya agar
tak mengurangi kewaspadaan.
Kebisuan kemudian menyelimuti para
peronda yang sedang berkumpul di gardu sebelah utara. Terlebih malam itu angin
berhembus membawa hawa dingin, membuat suasana di sekitar tempat itu semakin
mencekam.
Krak! Tiba-tiba terdengar suara
seperti ranting kayu yang patah, dari arah semak-semak belukar. Hal itu tentu
saja mengejutkan para peronda yang hanya berjarak sekitar sepuluh tombak dari
semak-semak itu.
"Hah...?! Ada tamu tak
diundang...!" kata Jamin pada teman-temannya.
"Ssst...!" Gondo memberi
isyarat pada temannya agar tidak ribut.
Seketika mereka memasang mata tajam
menga- wasi sekeliling tempat itu. Rasa tegang dan takut mulai menyelimuti para
peronda.
Belum juga rasa tegang dan takut
itu hilang, ti- ba-tiba berlompatan lima sosok tubuh berpakaian ser- ba hitam,
dengan memakai kedok. Rambut kelima ta- mu tak diundang itu dibiarkan terurai,
panjang mele- wati bahu. Mata golok mereka bergerigi tajam mirip gergaji
berukuran panjang.
Kedok yang dipakai lima sosok itu
menyeramkan. Bagi orang yang takut mungkin akan mengira kelima sosok berpakaian
hitam itu sebagai hantu.
"Hantu...?!" gumam Karto.
Matanya membelalak dengan bibir gemetaran.
"Tolong...! Tolooong...!"
jerit Gondo yang berbadan kurus sambil berlari ketakutan, melemparkan golok-
nya. Hal itu membuat para peronda yang lainnya tam- pak panik. Pada saat itu
lima sosok berkedok seram itu langsung melancarkan serangan.
"Heaaa...!" Cras! Cras!
"Aaa...!" "Aaakh...!" Lima orang berkedok setan itu seakan
tak memiliki rasa iba sedikit pun. Ki Lamting pun yang menjadi pemimpin para
peronda turut turun tangan. Pertarungan para peronda yang dipimpin Ki Lamting
dan lima orang berkedok itu tak dapat dihindarkan.
Trang! Trang! "Heaaa...!"
Seketika suara benturan senjata terdengar, seakan-akan hendak memecah suasana
malam. Pekikan dan jerit kesakitan pun mulai terdengar.
Wut! "Ukh...!"
"Aaa...!" Para peronda tampaknya bukan tandingan kelima sosok
berkedok itu. Hanya dalam beberapa gebrakan saja para peronda bergelimpangan
tewas berlumuran darah. Kenyataan itu membuat Ki Lamting marah. Tanpa pikir
panjang lagi, karena telah terpancing perasaan marah, lelaki setengah baya itu
langsung membuka jurus andalannya dengan senjata golok.
"Heaaa...!" Ki Lamting
melompat dan menyerang salah satu dari lima sosok berkedok. Namun dengan mudah
se- rangan itu dielakkan. Hanya dengan menggeser ke samping, serangan itu
lolos. Bahkan sosok berpakaian hitam itu langsung balas menyerang.
"Heaaa...!" Dugkh!
"Aaakh...!" Serangan dari sosok berkedok seram itu mendarat telak di
dada Ki Lamting. Seketika tubuh pemimpin ronda itu terjungkal di tanah. Dari
mulutnya mengalir darah segar. Tampaknya pukulan lawan membuat luka dalam di
dadanya.
Keributan itu sempat menimbulkan
kepanikan para peronda lain. Bahkan akhirnya terdengar pula oleh Pendekar Gila,
Mei Lie, Ki Lurah Patiasa, serta Santika dan Lohdaya.
"Tolooong...! Ada setan...!
Hantuuu...!" Orang-orang berlarian ke arah rumah kepala de- sa sambil
berteriak gaduh. Sementara itu di ujung se- belah barat Desa Parangan, terlihat
sebuah rumah ter- bakar. Santika dan Lohdaya segera berlari menuju tem- pat
pertarungan. Sementara Sena tampak masih cen- gengesan sambil menggaruk-garuk
kepala. Namun kemudian segera keluar dan melesat diikuti Mei Lie dan Ki Lurah
Patiasa.
Pertarungan semakin seru, ketika
Santika dan Lohdaya turun tangan untuk meringkus kelima sosok berpakaian serba
hitam itu.
"Hei! Tunggu...! Mengapa
kalian mengacau dan membunuh warga desa ini...?! Siapa kalian sebenarnya!"
bentak Santika marah sambil menuding ke arah dua orang berkedok seram yang
berdiri dua tombak di depannya. Yang satu tampaknya pemimpin kelima lelaki
berkedok itu. Hal itu dapat dilihat dari bentuk dan penampilannya yang berbeda.
Pakaiannya yang longgar panjang terhias sabuk ikat pinggang warna kuning.
"Untuk apa kau tahu diriku? Hhh..., tapi baiklah agar tidak penasaran. Aku
Rasaka. Aku ingin mering- kus Pendekar Gila yang kalian sembunyikan itu...! Sebaiknya
minggir, kalau sayang dengan nyawamu...!" sahut lelaki berambut panjang
dan berkedok seram yang mengaku bernama Rasaka. "Sombong! Heaaa...!"
Santika langsung melompat menyerang Rasaka. Namun dengan cepat lelaki berkedok
itu melompat sambil menangkis serangan lawan.
"Heaaa...! Mampus
kau...!" seru Santika. Santika rupanya lupa kalau yang dihadapi dua orang.
Salah seorang teman Rasaka yang sedan tadi hanya melihat dan menunggu
kesempatan baik untuk menyerang, tiba-tiba dari belakang menyerang Santika yang
sedang bertarung dengan Rasaka. Namun belum sempat golok bergerigi milik orang
berkedok menyen- tuh tubuh Santika, tiba-tiba sebuah tendangan keras mendarat
telak di tengkuk orang berkedok itu.
"Aaa...!" Teman Rasaka
terjungkal jatuh ke tanah dan bergulingan. Santika merasa kaget dan ketika
wajah- nya menoleh sekilas, ternyata Pendekar Gila telah ber- diri di
sampingnya. Santika semakin semangat. Kem- bali ia merangsek lawan dengan
serangan cepat Na- mun Rasaka yang memiliki ilmu cukup tinggi, dengan mudah
mematahkan serangan lawan. Bahkan terbalik, Santika terdesak dan cukup gawat.
Melihat itu Pendekar Gila, segera
mengambil alih pertarungan.
"Heaaa...!" Pendekar Gila
melompat sambil ber- salto, dan mendarat di antara Rasaka dan Santika.
"Hah?!" Rasaka menatap
tajam wajah Pendekar Gila yang sudah berdiri di hadapannya. "Ha ha ha...!
Kau rupanya Pendekar Gila. Kebetulan sekali. Malam ini dunia persilatan akan
mendengar, bahwa kau mati di tanganku....'" ucap Rasaka dengan sombong.
Lalu mundur tiga tombak dari hadapan Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Santika,
sebaiknya kau bantu yang lain. Biar monyet ini aku yang hadapi!" ujar
Pendekar Gila sambil cekikikan dan menggaruk-garuk kepala. "Rupanya ada
monyet malam-malam datang mencari makanan. Hi hi hi...! Lucu sekali! Hai,
Monyet...! Ayo, hadapi aku...!"
"Kurang ajar! Kau boleh
mengenalku Pendekar Gila," dengus Rasaka, lalu membuka kedok setannya.
Kini terlihat wajah aslinya, yang garang dan berhidung besar. Mata sebelah
kirinya rusak, seperti bekas kena senjata. Bibirnya lebar, dengan kumis
melintang tebal. "Aku si Mata Iblis dari Sungai Darah, malam ini akan
menantangmu! Ayo...! Heaaa...!"
Rasaka melesat dan langsung
melancarkan se- rangan. Pendekar Gila yang sudah siap dengan segala
kemungkinan, mengelak dengan hanya memiringkan tubuhnya ke samping kiri dan
kanan. Lalu melenting ke atas sambil bersalto. Nampak ringan sekali gerakan
Pendekar Gila. Begitu pula saat mendaratkan kaki di tanah. Bahkan pemuda
berompi kulit ular itu sambil cengengesan dan garuk-garuk kepala seperti
mengejek lawannya.
Rasaka yang menghadapi serangannya
begitu mudah dapat dielakkan tampak marah. Apalagi ketika Pendekar Gila
mengejek seperti meremehkan. "Heaaa...! Hiaaa...!"
Si Mata Iblis dari Sungai Darah
kembali menye- rang dengan garang. Tubuhnya melenting sambil ber- putaran dan
memburu Pendekar Gila dengan golok bergeriginya.
"Jurus apa nih? Hi hi hi,
lucu...!" gumam Sena sambil melenting ke udara sambil bersalto, melewati
lawannya. Kedua tangannya menjulur berusaha me- nyambar tangan Rasaka.
Pertarungan di udara tak te- relakkan. Dari kejauhan, mata bisa pasti tidak
mampu menangkap gerakan mereka. Apalagi suasana malam itu gelap gulita. Padahal
kedua tokoh itu dengan dah- syat saling melancarkan serangan untuk menjatuhkan
lawan. Pendekar Gila yang telah memiliki segudang pengalaman bertarung dalam
petualangan di rimba persilatan tampaknya mampu mengimbangi kemam- puan lawan.
Ketika keduanya sama-sama mendarat Pendekar Gila tampak hanya cengengesan.
Sementara itu si Mata Iblis dari
Sungai Darah yang telah terkuras tenaganya dalam pertarungan cepat di udara,
segera memasang kuda-kuda. Dirinya bermaksud mengerahkan salah satu jurus yang
bernama jurus 'Golok Setan Darah'.
Pendekar Gila justru tertawa-tawa.
Tingkah la- kunya persis orang gila. Tangan kanannya mencabut bulu burung yang
disimpan di ikat pinggang. Dan den- gan seenaknya mengorek telinga dengan bulu
burung itu.
Melihat kekonyolan tingkah laku
Pendekar Gila, Rasaka merasa diremehkan, kemarahannya kian memuncak.
"Kurang ajar! Bersiaplah untuk
mampus! Heaaa...!"
Dengan jurus 'Golok Setan Darah',
Rasaka meng- gebrak dengan serangan semakin dahsyat. Goloknya yang mengeluarkan
racun ganas bergerak membabat dan menusuk bagian tubuh Pendekar Gila.
"Eit! Hi hi hi...!" Sena
segera meliukkan tubuhnya dengan meng- gunakan jurus 'Si Gila Menari Menepuk
Lalat'. Lalu dengan cepat menepuk kepala lawan yang agak me- runduk ketika
menusukkan goloknya.
"Ini bagianmu, Kunyuk...!
Hih...!" "Ukh...!" Si Mata Iblis dari Sungai Darah memekik
kesaki- tan, ketika telapak tangan Pendekar Gila mendarat di kepalanya. Tubuh
lelaki berambut gondrong itu me- lompat ke belakang sambil memegangi kepalanya
yang dirasakan pening seperti mau pecah. Hatinya merasa heran dan hampir tak
percaya. Gerakan lawan yang di- lihatnya tanpa tenaga dan tampak sangat lamban,
ter- nyata mengandung kekuatan dahsyat
Rasaka tampak mulai mengatur
keseimbangan tubuh dan kembali menghimpun tenaga dalam. Kini si Mata Iblis dari
Sungai Darah itu membuka jurus den- gan gerakan yang sangat cepat dan keras.
Seiring den- gan putaran senjata dalam jurus 'Golok Setan Bera- cun', mulut
Rasaka terdengar mengeluarkan dengu- san-dengusan aneh.
Melihat lawan mulai mengerahkan
jurus dahsyat andalannya, Pendekar Gila bukan merasa takut. Mu- lutnya tampak
cengengesan sambil tangannya mene- puk-nepuk pantat. Namun tiba-tiba saja tubuhnya
berputar cepat ke arah kiri.
Wusss! "Hah?!" Si Mata
Iblis dari Sungai Darah tersentak kaget melihat tubuh lawan mampu berputar
cepat seperti gasing. Sejenak dirinya kebingungan untuk melancarkan serangan.
Namun ketika sekejap saja Pendekar Gi- la berhenti, tiba-tiba....
"Yiaaa...!" Wut! Wut!
"It.., he he he....! Hebat juga kunyuk ini...!" Pendekar Gila cepat
mencabut Suling Naga Sakti- nya, diputarnya dan digerakkan lurus ke atas.
Didahului pekikan menggelegar,
keduanya kembali melakukan serangan. Golok beracun di tangan Rasaka bergerak cepat,
menusuk ke depan dan membabat ke samping. Diteruskan dengan tebasan dari atas
ke bawah, kemudian disambung babatan dari kiri dan kanan. Saking cepatnya
gerakan golok itu, golok bergigi dan beracun itu seperti menghilang. Yang tam-
pak hanya bayangan putih mengkilat, yang berkelebat- kelebat melindungi tubuh
Rasaka.
Wut! Wut! Melihat jurus lawan yang
cepat dan sangat sulit ditembus dengan jurus biasa, Pendekar Gila segera
mengerahkan jurus, ‘Si Gila Menembus Badai’
"Heaaa...!" Tangan
Pendekar Gila yang memegang Suling Naga Sakti menjulur lurus ke depan.
Sedangkan tan- gan kirinya memukul, dengan kedudukan tubuh agak merunduk. Kaki
kirinya diangkat ke atas sedang kaki kanannya setengah ditekuk. Dengan cepat disodokkan
Suling Naga Sakti-nya ke arah gulungan cahaya pe- dang yang berputar di sekitar
tubuh lawan.
"Heaaa...!" Wut! Wut!
Trang! Dua senjata beradu. Pijaran api keluar dari benturan itu. Asap putih
bercampur ungu yang beracun tiba-tiba bergulung-gulung menyerang Pendekar Gila.
Kalau saja pendekar muda itu tak pernah meminum darah ular putih, mungkin
Pendekar Gila akan tewas. Namun kini tubuhnya kebal dari segala macam racun
(Untuk jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode "Titisan
Dewi Kuan Im").
Si Mata Iblis dari Sungai Darah
terkejut bukan main mengetahui lawan ternyata tak mempan racun yang keluar dari
Golok Setan-nya yang bergerigi. Gerakan goloknya semakin dipercepat, berusaha
menghan- curkan Suling Naga Sakti di tangan Pendekar Gila.
Wut! Wut..! Trang! Trang!
Benturan-benturan keras semakin tak terelakkan. Masing-masing berusaha
mengalahkan. Jurus demi jurus telah dikerahkan. Namun keduanya tam- pak masih
memperlihatkan ketangguhan masing- masing. Si Mata Iblis dari Sungai Darah
rupanya bukan tokoh sembarangan. Tokoh kaum hitam yang memiliki ilmu hitam
cukup tinggi ini telah malang-melintang di dunia persilatan. Banyak tokoh
persilatan yang telah ditaklukkan.
Pendekar Gila pun tampaknya tak
ingin men- ganggap remeh kemampuan lawan. Dengan gerak cepat Suling Naga
Sakti-nya terus dibabatkan dan ditu- sukkan dengan jurus 'Si Gila Menembus
Badai'.
Wuttt! Wuttt! "Heaaa...!"
Rasaka cepat-cepat membuang tubuhnya ke samping. Lalu dengan cepat membabatkan
goloknya memapak Suling Naga Sakti dengan jurus 'Tebasan Golok Setan Darah'.
Melihat golok lawan menderu ke
arahnya, dengan cepat Pendekar Gila menarik serangan. Lalu diputar sulingnya
guna memapaki tebasan golok.
Trang! "Hah...!" Keduanya
melompat ke belakang. Lalu berdiri saling berhadapan. Kemudian kembali
sama-sama menyerang dengan didahului pekikan menggelegar. Keduanya melenting di
udara.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Tubuh keduanya melesat cepat dengan senjata di tangan.
Dalam suasana remang-remang di udara me- reka saling melancarkan serangan.
Suling Naga Sakti menyodok ke wajah Rasaka. Sedangkan golok bergerigi menebas
kepala Pendekar Gila.
"Hup!" Wut! Pendekar Gila
bersalto menghindari tebasan Go- lok Setan. Kemudian dengan cepat, disodokkan
su- lingnya ke wajah lawan.
"Heaaa...!" Rasaka
tersentak kaget mendapatkan serangan cepat itu. Dirinya berusaha menangkis
dengan mengebutkan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya membabatkan golok
ke tubuh lawan.
"Hop! Yeaaa...!" Melihat
babatan golok Rasaka, Pendekar Gila me- liukkan tubuh lalu bergerak ke samping.
Setelah golok itu lewat, kakinya menendang dengan jurus ‘Si Gila Menyapu Bumi’.
Plakkk! "Heaaa...!" Tubuh
si Mata Iblis dari Sungai Darah terlontar terhantam tendangan Pendekar Gila
yang dikerahkan dengan tenaga dalam. Sementara Pendekar Gila yang menyaksikan
Rasaka masih terhuyung, segera memburu sambil memukulkan sulingnya ke dada
lawan yang tak mampu mengelak lagi.
Dugkh! "Hukh...!" Tubuh
Rasaka terdorong ke belakang, lalu jatuh ke tanah. Namun dengan cepat lelaki
berpakaian serba hitam itu bangkit berdiri.
"Kurang ajar! Kupertaruhkan
nyawaku, Pendekar Gila!" dengus Rasaka.
"Hi hi hi...! Hai, monyet apa
maumu, silakan!" sahut Sena seraya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Kali ini kau mampus, Pendekar Gila...! 'Mata Iblis Pencabut Nyawa',
hiaaa...!"
Rasaka melesat cepat sambil
mengayunkan go- loknya memburu tubuh Pendekar Gila. Bersamaan itu dari mata
Rasaka keluar sinar merah, melesat memburu lawan. Melihat serangan berbahaya
itu, dengan ce- pat Pendekar Gila melenting ke udara sambil bersalto. Sinar
merah itu berhasil dielakkan.
Slats! Glarrr...!
Brakkk! Sebuah pohon besar
terhantam sinar 'Mata Iblis Pencabut Nyawa'. Ledakan keras menggelegar terden-
gar disusul tumbangnya pohon itu.
"Hi hi hi...! Hebat juga, Monyet!
Ah ah ah...! Apimu membakar pohon!" seru Pendekar Gila setelah mendarat di
atap sebuah rumah penduduk sambil cengengesan tangannya menggaruk-garuk kepala.
Dirinya terus berusaha memancing kemarahan lawan.
Melihat lawannya terus mengejek dan
tertawa- tawa, si Mata Iblis dari Sungai Darah geram dan mur- ka. Dengan penuh amarah
tubuhnya melesat, memburu Pendekar Gila. Sambil melayang di udara goloknya
terus diputar-putar cepat
Pendekar Gila mengelak dengan
melenting ke atas, melewati kepala Rasaka sambil melakukan se- rangan balik
yang cepat.
"Hiaaa...!" "Aits!
Heaaa!" Rasaka merundukkan kepala sambil menangkis pukulan lawan. Namun
Pendekar Gila dengan cepat membuat gerakan memutar tubuh dengan cepat sam- bil
melompat Rasaka yang tak menduga, kecepatan tanggapan pemuda bertingkah laku
gila itu tersentak. Tubuhnya meluncur dengan cepat menghindari seran- gan aneh
Pendekar Gila.
"Hih!" Kaki si Mata Iblis
dari Sungai Darah mendarat ringan di tanah. Namun tampak napasnya agak ter-
sengal-sengal dengan dada turun naik Matanya mena- tap nanar pada Pendekar Gila
yang telah mendarat pula lima tombak di depannya.
"Hhh...!" Rasaka
mendengus, lalu dengan gerakan cepat kembali melancarkan serangan. Pendekar
Gila tak berdiam diri, tubuhnya melesat ke depan memapaki se- rangan lawan.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Trang! Trang...! Pekikan keras memekakkan telinga dan
dentan- gan senjata semakin kerap terdengar. Baik si Mata Ib- lis dari Sungai
Darah maupun Pendekar Gila tampak- nya tak ingin menganggap enteng kekuatan
lawan. Ke- duanya kini sama-sama mengerahkan jurus-jurus tingkat tinggi yang
mempertunjukkan gerakan cepat. Sehingga tubuh keduanya bagaikan menghilang.
"Hi hi hi...! Hei, Mata
Monyet, apa sebenarnya yang kau inginkan...?" tanya Pendekar Gila sambil
ce- kikikan. Tubuhnya terus melayang menghindari seran- gan Golok Setan yang
mengandung racun ganas itu.
"Heaaa...!" Wut!
"Aits...!" Trang! Tanpa menghiraukan pertanyaan Pendekar Gila, Rasaka
berteriak keras sambil mengayunkan goloknya. Tentu saja hal itu membuat
Pendekar Gila agak terke- jut. Namun dengan cepat pula menebaskan sulingnya
memapak golok lawan.
Entah sudah berapa jurus yang
mereka kelua- rkan, tapi keduanya masing memperlihatkan ketang- guhan
masing-masing. Meskipun semula tampak ka- lau Rasaka agak tersengal-sengal,
ternyata kini mem- perlihatkan kemampuan yang tak boleh dianggap re- meh.
"Heaaa...!" Golok
bergerigi di tangan Rasaka bergerak cepat ke perut lawan. Melihat serangan
cepat dan keras itu, Pendekar Gila segera mengegos ke samping. Kemudian menghantamkan
kepala Suling Naga Sakti-nya.
"Heaaa...!" Dugkh!
"Hukh...!" Rasaka terpekik ketika kepala Suling Naga Sakti itu
seperti mematuk, menghantam bagian kepalanya. Seketika tubuhnya terpelanting
dan terhuyung-huyung di tanah. Darah mengucur membasahi pakaian dan wajahnya.
Melihat hal itu Pendekar Gila tak
sampai hati un- tuk menghabisi lawannya. Walaupun tahu, manusia seperti si Mata
Iblis dari Sungai Darah ini harus dile- nyapkan dari bumi. Perbuatannya yang
sudah sering membunuh, memperkosa, merampok, dan membina- sakan tokoh-tokoh
persilatan aliran putih, harus segera dihentikan.
"Aku tak mungkin membunuh
orang yang sudah terluka. Tapi, kuminta kau memerintahkan anak buahmu yang
sedang bertarung di sana, agar menyerah. Dan cepat pergi dari sini...!"
perintah Sena sambil menunjuk ke tempat Mei Lie sedang bertarung dengan seorang
anak buah Rasaka, dan Santika yang juga menghadapi orang berkedok setan yang
lain. Sementara itu kobaran api yang membakar rumah pun masih menyala-nyala.
Rasaka tak menjawab. Matanya yang
bagai iblis tiba-tiba menyala bagai api membara. Sekejap kemu- dian, sebentuk
sinar melesat dan memburu Pendekar Gila, berasal dari mata si Mata Iblis dari
Sungai Darah. Karena tak menduga lawan akan mengeluarkan serangan itu, Pendekar
Gila sempat tersentak. Namun den- gan secepat kilat melenting ke atas....
Slats...! "Aits...! Kurang
ajar juga monyet ini," gumam Pendekar Gila sambil bersalto di udara.
Glarrr...! Brak! Sinar merah dari
mata si Mata Iblis dari Sungai Darah menerjang rumah penduduk, hingga menimbulkan
ledakan keras. Rumah itu seketika terbakar.
"Aaakh...!"
"Tolong...! Kebakaran, kebakaran! Tolooong..,!" Seketika
jeritan-jeritan penduduk bertambah ra- mai. Anak-anak dan para wanita panik,
berlarian kian kemari. Sementara itu pertarungan antara Mei lie, Lohdaya, dan
Santika menghadapi anak buah si Mata Iblis dari Sungai Darah tetap berlangsung.
"Hua ha ha...! Tak mudah
menghabisi nyawaku, Anak Muda!" teriak Rasaka dengan suara terbahak-
bahak. Lelaki berambut panjang dan berpakaian serba hitam ini tampaknya tak
menghiraukan sama sekali keadaan wajahnya yang telah berlumuran darah. Bah- kan
matanya tampak kian beringas dan menggiriskan.
"Ah ah ah...! Monyet jelek,
rupanya kau tak bisa dikasih hati. Hai, Mata Borok! Kalau kau tak menurut
saranku, rasakan ini! Hiaaa...!"
Pendekar Gila yang sudah kehabisan
kesabaran dengan cepat menghantamkan pukulan sakti 'Inti Brahma'. Dari telapak
tangannya melesat larikan api menyala-nyala memburu tubuh Rasaka. Tanpa ampun
lagi api pun menerjang tubuh lelaki berkedok seram itu.
Srat! Prat! "Wuakh...!"
Rasaka menjerit-jerit kesakitan. Tubuhnya yang terbungkus pakaian hitam itu
berguling-gulingan, berusaha memadamkan api yang melahapnya. Namun api itu
sulit dipadamkan. Rasaka yang mulanya merasa yakin dapat mengalahkan Pendekar
Gila dengan melakukan pembunuhan dan kekacauan di Desa Parangan, untuk
memancing pemuda gila itu, ternyata nasib buruk justru menimpa dirinya sendiri.
Bukan- nya Pendekar Gila yang mati, melainkan Rasaka sendiri yang menemui
ajalnya, dengan sangat mengerikan. Tubuhnya hangus bagai arang
Sena atau Pendekar Gila menghela
napas dalam- dalam, lalu menyelipkan kembali Suling Naga Saktinya di pinggang.
"Ah ah ah...! Sayang, kau
lebih menginginkan mati daripada bertobat..," gumam Sena perlahan, seakan
bicara pada dirinya sendiri. Matanya menatap te- rus mayat Rasaka yang berada
lima tombak di hadapannya. Mulutnya cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
***
Sementara itu Mei Lie dan Santika
masih menghadapi anak buah Rasaka. Begitu pula Lohdaya. Mereka bertarung
habis-habisan. Tangan kiri Lohdaya tampak sudah terluka. Melihat itu Ki Lurah
Patiasa yang sejak tadi memimpin para penduduk memadamkan api cepat bertindak
membantu Lohdaya, yang ilmunya memang tak seberapa.
Sedangkan Mei Lie nampak lebih
santai mengha- dapi lawannya. Tak banyak kerepotan. Tubuhnya nampak ringan
sekali meliuk dan melenting ke atas, sambil melancarkan serangan balik.
"Hiaaa...!" Plak! Plak!
Bugkh! "Aaakh...!" Lawan Mei Lie memekik, lalu tubuhnya terhuyung-huyung
ke belakang, sambil memegangi da- danya. Tendangan kaki kanan Mei Lie sebelum
mendarat ke tanah sempat bersarang di dadanya.
"Kau juga ingin mampus seperti
pimpinanmu itu?!" ujar Mei Lie dengan kalem. Matanya menatap ta- jam ke
wajah lawannya sambil menunjuk mayat Rasa- ka yang terkapar hangus, sekitar
sepuluh tombak di sebelah kirinya.
Lelaki berambut panjang dan
berkedok menye- ramkan itu tersentak kaget. Matanya terbelalak meli- hat sang
Pemimpin telah tewas dengan keadaan tubuh sangat mengerikan. Serta merta anak
buah Rasaka itu menjura sambil menyembah.
"Ampunilah aku...! Biarkah aku
hidup...!" "Enak saja kau! Minta ampun? Kenapa kalian menyerang desa
ini, merampok, serta menculik gadis- gadis desa...?!" tanya Mei Lie dengan
ketus.
"Aku hanya mengikuti perintah
Rasaka.... Ampuni aku...! Biarlah aku pergi...!" pinta orang yang mu-
kanya masih tertutup kedok itu. Mei Lie segera membuka kedok orang itu dengan
ujung pedangnya. Dan kini terlihat wajah orang itu. Ternyata berparas lumayan,
tak ada gambaran kebengisan di wajah pemuda itu. Mei Lie merasa heran ketika
melihat wajah yang seperti tak berdosa itu.
"Hei..! Menyerahlah kalian!
Pimpinan kalian telah mati..!" seru Pendekar Gila tiba-tiba. Orang-orang
yang bertarung menoleh ke arah Pendekar Gila dan meng- hentikan pertarungan.
Tiga orang berkedok yang sedang
bertarung me- lawan Santika, Lohdaya, dan Ki Lurah Patiasa, segera menghentikan
serangannya. Dan ketika melihat mayat Rasaka, ketiganya berlarian meninggalkan
Desa Parangan dengan ketakutan.
Sedangkan seorang yang minta ampun
pada Mei Lie, menyusul kemudian. Setelah berterima kasih pada Mei Lie.
Ki Lurah Patiasa dan anak buahnya
merasa ka- gum dengan tindakan Sena dan Mei Lie, yang tak mau membunuh lawan,
dalam keadaan menyerah dan mengaku kalah. Itulah sifat seorang pendekar yang
budiman. Penuh cinta kasih sesamanya, walaupun itu lawan. Ki Lurah Patiasa
segera mendekati kedua pende- kar muda itu, diikuti Santika dan Lohdaya.
"Kami kagum dengan tindakan
kalian berdua. Suatu tindakan yang jarang dimiliki pendekar mana pun. Kami
ucapkan terima kasih pada kalian berdua," kata Ki Lurah Patiasa setelah
sampai di dekat Sena dan Mei Lie.
"Aha, itu sudah biasa kami
lakukan. Dan sudah tugas kami untuk menolong yang lemah dan mele- nyapkan yang
jahat. Tapi aku merasa ikut sedih den- gan terbakarnya beberapa rumah penduduk.
Kurasa, hal ini karena orang-orang itu tahu, kalau aku ada di sini. Maafkan
aku...!" kata Sena dengan menggaruk- garuk kepala. Wajahnya terpancar
kesedihan ketika memandangi rumah-rumah penduduk yang terbakar. Kemudian sambil
menghela napas dalam-dalam wa- jahnya menoleh Ki Lurah Patiasa.
"Kalian tidak bersalah.
Kejadian ini membuat kami harus lebih waspada dan melatih diri untuk
memperdalam ilmu silat. Kalau kalian berdua tak ke- beratan, sudilah kiranya
menjadi guru kami...?" kata Ki Lurah Patiasa kemudian.
"Ya, Tuan Pendekar...,"
tambah Santika dan Loh- daya seraya menganggukkan kepala. Pendekar Gila menoleh
kepada Mei Lie yang berdiri di sisi kirinya. Keduanya saling pandang. Kemudian
Sena tersenyum- senyum dan menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi... lucu, lucu
sekali! Kami tak keberatan, tapi tugas kami belum selesai. Masih banyak yang harus
kami selesaikan. Maka dengan berat hati, saat ini kami belum bisa mengabulkan
permintaan Ki Lurah dan kalian semua. Maaf, sekali lagi maaf! Mungkin lain
waktu, kami bisa," ucap Sena dengan kalem sambil menggaruk-garuk kepala
dan cekikikan.
Melihat sikap Sena yang mirip orang
gila, orang- orang yang ada di tempat itu tampak keheranan. Namun bagi mereka
yang telah tahu ciri khas pendekar muda itu segera maklum. Mereka hanya
tersenyum- senyum.
"Ya, apa kata Kang Sena benar.
Mungkin lain waktu, kami akan luangkan waktu untuk lebih lama tinggal di Desa
Parangan ini," tambah Mei Lie dengan senyum manis.
Ki Lurah Patiasa dan kedua
pengawalnya mang- gut-manggut, mereka bisa memaklumi. Karena mereka tahu, bahwa
Pendekar Gila dan Mei Lie yang dijuluki ‘Bidadari Pencabut Nyawa’, masih harus
menumpas Penunggang Kuda Iblis. Yang telah menggemparkan dan membuat kekacauan
rimba persilatan.
***
5
Di halaman sebuah pondok yang
terletak di se- buah bukit, tampak sesosok tubuh tengah mempera- gakan ilmu
pedang. Karena pondok yang terbuat dari kayu-kayu dan beratap dedaunan itu
dikelilingi pepo- honan besar, gerakan-gerakan cepat yang dilakukan sosok itu
tampak berkelebatan di sela-sela pepohonan. Meski begitu, dilihat dari
bentuk-bentuk gerakan serta suara teriakan dari mulutnya, jelas kalau sosok itu
seorang wanita. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai sampai di pinggang.
Gaun longgar serta putih membalut tubuhnya yang kuning langsat Gerakan- gerakan
jurusnya cepat membuat pakaian dan ram- butnya nampak diterbangkan angin pagi
itu. Matahari di sebelah timur yang menimpa dedaunan bagaikan memberi semangat
dan kehangatan wanita cantik jelita yang ternyata Lara Kanti, atau lebih
dikenal dengan ju- lukan si Penunggang Kuda Iblis.
Di depan Lara Kanti tampak, seorang
kakek tua renta duduk bersila di atas sebuah baru. Mata tuanya yang cekung
memandang lurus ke tubuh Lara Kanti yang tengah berlatih itu. Kakek berusia
sekitar delapan puluh tahun itu bernama Ki Rawantula. Alisnya yang tebal dan
berwarna putih, serta guratan-guratan pada kulit wajah menggambarkan pengalaman
kehidupan- nya. Ki Rawantula juga merupakan kakak kandung Tempurung Sakti.
Lara Kanti ternyata anak dari
Tempurung Sakti, yang berarti merupakan kemenakan Ki Rawantula. (Untuk lebih
jelasnya mengenai Tempurung Sakti, sila- kan baca serial Pendekar Gila dalam
episode: "Titisan Dewi Kuan Im").
Saat itu Lara Kanti sedang berlatih
jurus pa- mungkas 'Penyempurna Raga dan Jiwa' dari sepuluh jurus 'Pedang Mata
Iblis'.
Larakanti tampak terdiam beberapa
saat dengan mata terpejam. Mata pedang ditempelkan pada ke- ningnya. Setelah
cukup lama dirinya mengheningkan cipta, dibarengi pekikan nyaring, digerakkan
pedang- nya dengan pengerahan kekuatan tenaga dalam. Seke- tika pedang itu pun
memancarkan sinar merah.
"Yeaaat..!" Wut! Wut!
Pedang diarahkan pada sebuah batu besar di sampingnya dengan gerakan menusuk.
"Hih...!" Crak! Suara
keras terdengar memekakkan telinga. Pe- dang itu mampu menusuk batu besar
hingga tembus. Dapat kita bayangkan, bagaimana kalau pedang itu di- gunakan
untuk menusuk tubuh manusia.
Plok! Plok! Plok! Terdengar tepukan
tiga kali dari Ki Rawantula yang masih bersila di atas sebuah batu besar di
hala- man pondok itu.
"Hebat..!" seru kakek yang
bertelanjang dada itu seraya mengancungkan kedua ibu jarinya.
"Terima kasih! Terima kasih,
Paman!" sahut Lara Kanti seraya menjura hormat kepada Ki Rawantula.
Kemudian dimasukkan pedangnya ke dalam warangka yang tersandang di punggungnya.
Ki Rawantula tersenyum bangga
seraya men- gangguk-anggukkan kepala. Tangan kirinya mengeluselus jenggotnya
yang telah memutih. Kemudian ka- kinya membuka lipatan dari duduk bersilanya,
lalu melangkah mendekati Lara Kanti, murid tunggalnya itu.
"Kini ilmumu telah mencapai
tingkat hampir sempurna, Anakku. Kurasa sulit bagimu menemukan lawan tanding
bagi ilmumu yang saat sekarang ini. Ya, kecuali dua orang itu, Kanti...,"
ujar Ki Rawantula den- gan tatapan tajam pada wajah Lara Kanti yang hanya duduk
diam, menundukkan kepala. "Namun, Paman yakin, kau akan dapat
mengatasinya," lanjutnya den- gan suara lirih.
Kakek tua itu masih nampak segar,
berdirinya pun masih tegap, wajahnya terus tersenyum bangga. Memandangi Lara
Kanti.
"Paman bangga sekali denganmu,
Kanti. Ayo bangun, ikut aku!" ajak Ki Rawantula.
Keduanya segera melesat
meninggalkan pondok itu. Tak lama kemudian, mereka sudah berada dekat air
terjun. Lara Kanti dan Ki Rawantula duduk di atas batu besar saling berhadapan,
hanya sekitar tiga tom- bak dari tempat jatuhnya air terjun. Sehingga tubuh
keduanya tampak mulai basah kuyup.
Ki Rawantula, tampak memejamkan
mata. Kedua tangannya bersidekap di dada, dengan kepala menen- gadah ke langit.
Seakan-akan ingin membuang suara deras air terjun itu dari telinganya.
Sementara itu Lara Kanti yang duduk
bersila pun tertunduk. Kedua tangannya ditumpangkan di kedua lutut. Rawantula
kemudian membuka matanya perla- han. Ditatapnya wajah jelita gadis di depannya
dengan mata sayu. Lalu tersenyum.
"Kini, tiba saatnya, kau harus
menemukan Pen- dekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa. Bunuhlah keduanya! Kau
harus membalas dendam atas kema- tian ayahmu, yang juga adik kandung yang
kusayangi, Si Tempurung Sakti. Mengerti...?"
Lara Kanti mengangguk. "Aku
akan mencari Pen- dekar Gila, di mana pun dia berada. Hhh..., tapi kena- pa
sampai saat ini aku belum juga menemukannya, Paman...?!" gumam Lara Kanti
dengan wajah murung.
"Hm.... Bersabarlah! Kali ini
kau pasti bertemu dengannya. Hanya Paman mengkhawatirkan mu, jika berhadapan
dengan Bidadari Pencabut Nyawa itu...," ujar Rawantula dengan mengerutkan
kening. Sekilas di wajahnya terlihat cemas dan kebimbangan.
"Kenapa, Paman? Apa ilmu
pedang yang kau ajarkan padaku tak mampu mengalahkan mereka...?!" tanya Lara
Kanti dengan gusar. "Aku akan membunuh Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut
Nyawa itu. Hhh..., setelah itu, aku akan jadi jago dan pendekar yang disegani.
Sekaligus membalas dendam atas ke- matian ayahku," lanjutnya penuh
kesombongan.
Mendengar ucapan Lara Kanti,
sebenarnya Ra- wantula kurang suka. Namun karena dirinya takut ka- lau Lara
Kanti akan patah semangat jika ditegur, maka kakek tua berambut putih itu hanya
bisa menyimpan kekurangsenangan itu di dalam hatinya.
"Kau harus memiliki keyakinan.
Jangan ceroboh jika menghadapi Pendekar Gila. Ia memiliki ilmu yang sangat
tinggi. Namun Paman percaya kau akan bisa mengalahkannya, Kanti...," kata
Rawantula memberi- kan semangat pada Lara Kanti.
Lara Kanti menjura seraya berkata.
"Terima ka- sih, Paman. Pesan Paman akan kuingat"
"Tapi...," Rawantula tak
meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Lara Kanti mengerutkan kening. Ma- tanya
memandang wajah sang Paman. "Paman...?!" "Oh... he he he....
Tidak apa-apa, Kanti." "Paman meragukan kemampuanku untuk meng-
hadapi Pendekar Gila yang telah membunuh ayah...?!" tanya Lara Kanti
dengan mengerutkan kening. Nampak ada kekesalan di hatinya.
Rawantula tak menjawab. Lelaki tua
itu sesaat terdiam. Di helanya napas dalam-dalam. Matanya me- natap wajah Lara
Kanti yang nampak kecewa dan kes- al. Gadis cantik berpakaian putih itu tampak
telah be- nar-benar yakin, sehingga merasa kecewa, jika ada il- mu pedang yang
lebih tinggi dari yang telah dipelaja- rinya. Selama lebih dari dua belas
purnama dirinya memperdalam ilmu pedang di bawah gemblengan sang Paman.
"Maafkan, Paman, Kanti! Tadi
Paman hanya te- ringat akan ayahmu. Karena dia adik kandungku satu-
satunya...," kata Ki Rawantula mencoba mengalihkan perhatian Lara Kanti.
Sebenarnya Ki Rawantula memang sedikit meragukan ilmu pedang yang diberikan
pada Lara Kanti akan bisa mengatasi ilmu pedang yang dimiliki Mei Lie, atau
Suling Naga Sakti milik Pendekar Gila. Namun lelaki tua itu tak ingin me-
nyampaikan rasa kekhawatirannya pada sang Murid. Hal itu bisa membuat Lara
Kanti marah.
Mendengar penjelasan Ki Rawantula,
Lara Kanti bisa menerima. Namun wanita muda itu nampaknya tetap belum puas
dengan penjelasan sang Paman yang juga gurunya itu.
Sesaat keduanya diam. Lara Kanti
menundukkan kepala memandangi batu yang didudukinya. Angin yang berhembus
kencang, membuat percikan air ter- jun semakin mengenai wajah dan seluruh tubuh
me- reka. Namun keduanya tak menghiraukan. Tetap du- duk dengan tenang.
Rawantula nampak baru saja memejamkan mata. Tak lama kemudian membuka kembali
matanya dengan perlahan, lalu menghela na- pas panjang.
"Besok pagi-pagi, kau boleh
pergi mencari pem- bunuh ayahmu itu. Doa Paman menyertaimu, Kanti.... Sekarang
beristirahatlah! Si Ireng kudamu itu beri ma- kan secukupnya. Agar perjalananmu
nanti lancar," ujar Ki Rawantula menyarankan dengan suara mantap penuh
wibawa.
"Baik, Paman. Akan aku
laksanakan perintah Paman," jawab Lara Kanti sambil menjura.
"Hm...," gumam Rawantula
pendek.
***
Ketika matahari pagi baru saja
beranjak dari ufuk timur, tampak seekor kuda hitam berlari kencang melintasi
jalan terjal agak berbatu-batu di sekitar Bu- kit Palasari. Di punggung kuda
itu nampak seorang bercaping lebar, dengan pakaian compang-camping. Sedang di
punggungnya tersandang sebilah pedang.
Penunggang kuda itu tak lain Lara
Kanti. Kuda hitam itu terus dipacunya dengan kencang. Derap kaki kuda terus
melaju, bagai tak menghiraukan jalan naik turun yang hams dilaluinya. Bukit dan
lembah terus ditelusurinya dalam kecepatan tinggi. Seakan-akan di- rinya harus segera
mencapai suatu tempat tujuan. Ma- tahari pun sudah agak meninggi menghantarkan
hawa panas di tubuh.
"Herrr...! Hop...!" Kuda
hitam itu berhenti. Lara Kanti menyapu keadaan sekeliling tempatnya. Sepi,
tiada tanda-tanda seorang manusia yang tinggal di tempat gersang itu. Perlahan
kudanya kembali dijalankan. Mata dan telin- ga wanita bercaping lebar itu terus
dipasang dengan kewaspadaan. Wajahnya menoleh ke sana kemari mencoba mengawasi
sekitar tempat itu. "Hm...."
Lara Kanti menggumam tak jelas.
Lalu tersenyum sinis. Seolah-olah hatinya tahu kalau ada suara tak jauh dari
tempatnya.
Namun Lara Kanti seakan tak
menghiraukan. Bahkan tiba-tiba tangannya menghentakkan tali kendali, hingga
melesatlah kuda hitam dan besar itu meninggalkan tempat gersang. Namun ketika
sampai di dataran luas dan berbatu-batu, tiba-tiba bermunculan sepuluh sosok
lelaki berpakaian rompi hitam dan bersenjatakan golok di tangan. Kesepuluh
lelaki yang mengenakan ikat kepala dan celana juga berwarna hitam itu langsung
bergerak mengepung Lara Kanti. Kuda yang ditunggangi seperti terkejut, dan meringkik
seraya mengangkat kedua kaki depannya. Kesepuluh lelaki gagah berpakaian rompi
itu berlompatan mundur sambil mengibas-ngibaskan golok mereka, untuk
menghindari terjangan kaki kuda. Lalu kembali mengepung Lara Kanti yang masih
duduk di punggung kudanya. Namun tiba-tiba melesat sesosok bayangan dari atas
sebuah pohon besar tak jauh dari tempat Lara Kanti dan kesepuluh lelaki yang
menghadangnya. Sosok bayangan itu mendarat lima tombak dari tempat Lara Kanti
masih memegangi tali kendali kudanya. Ternyata sesosok lelaki bertubuh tinggi
dan besar. Da- danya yang tanpa tertutup pakaian memperlihatkan bulu-bulu
tebal. Tangan kanannya berkacak pinggang, sedangkan tangan kiri memilinmilin
kumisnya yang tebal melintang.
"Ha ha ha...! Rupanya ada yang
mau mengantar nyawa di siang hari bolong ini. Hei, siapa kau berani memasuki
daerahku...?!" bentak orang yang dikenal dengan nama Gaek Weling, sesuai
dengan ikat kepa- lanya dari kulit ular weling atau ular belang. Wajahnya
nampak memerah seperti tengah mabuk oleh arak. Matanya yang bengis terhias alis
tebal hampir menya- tu. Serta rambutnya yang dibiarkan tergerai, menam- bah
seram penampilan lelaki berusia empat puluh ta- hunan itu.
Melihat dan mendengar suara lelaki
yang ada di hadapannya, Lara Kanti hanya tersenyum sinis. Tubuhnya melompat
dari punggung kudanya, lalu me- langkah dua tindak berhadapan dengan Gaek
Weling.
"Siapa diriku adanya, kau tak
perlu tahu. Dan apa urusanmu melarang orang yang memasuki daerah ini...?!"
Suara Lara Kanti terdengar ketus. Matanya me- natap tajam pada Gaek Weling.
"Weleh, weleh...! Edan
perempuan ini berani me- natapku demikian. Ha ha ha...! Rupanya kau ingin
mencari mampus!" kata Gaek Weling sambil menuding wajah Lara Kanti.
"Kau belum kenal dengan Gerombolan Serigala Merah! Tangkap dia...!"
seru Gaek Weling kemudian.
"Habisi perempuan
itu...!" "Heaaa...!" Segera sepuluh anak buah Gaek Weling
melesat dengan teriakan nyaring, menyerang Lara Kanti atau si Penunggang Kuda
Iblis.
Namun Lara Kanti nampak begitu
tenang. Hanya matanya yang tajam terus mengawasi para penyerangnya. Dan ketika
lima orang yang berada di depan su- dah berada pada jangkauan pedangnya, Lara
Kanti tiba-tiba mencabut pedangnya. Dengan sekali gebrakan, babatan dalam jurus
'Pedang Mata Iblis'nya telah membuat kelima anak buah Gaek Weling bergelimpan-
gan. Perut mereka terbabat hingga terburai ususnya. Namun tak hanya sampai di
situ. Wanita berpakaian compang-camping mirip gembel itu terus memutar dan
menebaskan pedangnya. Hingga sesaat kemudian lima orang lainnya telah menyusul
dengan tubuh berlumu- ran darah dari perut dan dada karena tersambar pedang.
Gaek Weling tersentak dan membelalakkan mata. Lelaki yang tadinya merasa di
atas angin, seketika wa- jahnya yang seram dengan kumis melintang tebal, be-
rubah tegang dan pucat.
"Hah...?!" gumamnya tak
jelas, "Aku pernah den- gar dan lihat jurus pedang itu...!" Gaek
Weling seperti bicara pada diri sendiri. Pikirannya yang diliputi rasa takut
berusaha mengingat-ingat jurus yang baru saja dikeluarkan Lara Kanti.
"Ayo, cepat maju! Kukirim kau
ke neraka! Kenapa kau diam?! Bukankah tadi akan mengirimku ke nera-
ka...?" ejek Lara Kanti, lalu melangkah mendekati Gaek Weling yang masih
terkesima dengan jurus Lara Kanti yang pernah ia kenal.
"Hm,.., tunggu! Sebelum kita
bertarung, jelaskan dari mana asalmu dan bagaimana kau bisa mempela- jari jurus
'Pedang Mata Iblis' itu?" tanya Gaek Weling dengan suara agak gemetaran.
Lara Kanti mengerutkan kening
dengan per- tanyaan yang diajukan oleh Gaek Weling. Orang yang tadinya bernafsu
menantang dan ingin membunuhnya. "Untuk apa kau tanyakan hal itu? Hm...,
tapi bagaimana kau tahu jurus 'Pedang Mata Iblis' yang ku- miliki...?"
Lara Kanti balik bertanya pada Gaek Weling.
"Itulah sebabnya. Kukira kita
satu guru dan me- miliki satu niat yang sama...," kata Gaek Weling kemudian.
"Satu guru...? Apa maksudmu,
Kisanak?" tanya Lara Kanti masih belum mengerti. Keningnya tampak berkerut
sedangkan matanya menatap tajam Gaek Weling, sepertinya ingin menyelidik dan
menimbang ucapan lelaki bertubuh besar itu.
"Jurus 'Pedang Mata Iblis',
hanya dimiliki Ki Guru Rawantula, kakak dari Tempurung Sakti...," kata
Gaek Weling mencoba memberi keterangan pada Lara Kanti. Mendengar nama paman
dan ayahnya disebut Lara Kanti, kembali mengerutkan kening dan bertanya lagi.
"Sebenarnya siapa dan apa
maksudmu tadi ingin membunuh? Lalu di mana Kisanak mengenal Paman Guru serta
Tempurung Sakti..?"
Gaek Weling tak langsung menjawab.
Dihelanya napas dalam-dalam, baru kemudian kembali berkata. "Panjang
ceritanya. Dan yang paling penting, ketika kudengar saudara seperguruanku,
Tempurung Sakti mati di tangan Pendekar Gila. Saat itu aku merasa sangat
terpukul hingga ingin menuntut balas...."
Lara Kanti kini semakin mengerutkan
kening sambil terus menatapi wajah Gaek Weling, seakan menyelidik akan kebenaran
ucapan Gaek Weling.
"Kenapa ketika Tempurung Sakti
terbunuh, Ki- sanak tidak segera datang menurut balas...?" tanya Lara
Kanti.
"Itulah yang kusesalkan. Saat
itu sifat buruk ma- sih kuat menguasai diriku. Aku merampok dan mem- bunuh,
serta menodai gadis-gadis desa. Aku tertang- kap prajurit Kadipaten Palasari,
dan dimasukkan ke penjara bawah tanah selama lima tahun! Aku tak da- pat
berbuat apa-apa," tutur Gaek Weling menjelaskan. "Aku hanya menyimpan
surat dari Tempurung Sakti yang dititipkan seseorang anak buahnya. Dalam su-
ratnya, aku diminta menemukan anak gadis satu- satunya yang bernama...."
Belum sempat Gaek Weling meneruskan
ucapan- nya, Lara Kanti dengan cepat mengambil surat yang berada di tangan Gaek
Weling, dengan ujung pedang- nya. Lalu segera mengamati dan membacanya.
Seketika wajah Lara Kanti yang ada
di balik cap- ing lebar itu nampak berubah sedih. Perlahan gadis itu membuka
caping. Sementara itu, Gaek Weling masih merasa heran dan bingung. Keningnya
berkerut men- gamati Lara Kanti, ketika melihat bahwa yang ada di hadapannya
ternyata seorang wanita muda yang cu- kup cantik. Matanya yang tajam dan bening
menyi- ratkan kekerasan jiwanya. Meskipun pakaian yang di- kenakan
compang-camping dan kumal, mampu men- gingatkan Gaek Weling pada Tempurung
Sakti, saha- batnya.
"Kau...?!" Gaek Weling
tersentak kaget "Akulah Suriah...! Tapi kini paman guru membe- riku nama
Lara Kanti," ujar gadis cantik itu dengan suara mantap, namun agak lemah.
Wajahnya yang se- dih sudah mulai hilang. Tatapan matanya tetap tertuju pada
Gaek Weling, yang ternyata sahabat ayahnya.
"Oh.... Jagad Dewa Batara...!
Kau telah memper- temukan aku dengan orang yang kucari! He he he.... Jadi kau
putri sahabatku itu?" tanya Gaek Weling den- gan wajah gembira. Seakan-akan
tak mempermasalah- kan kematian kesepuluh anak buahnya.
Gaek Weling lalu mengulurkan tangan
dan Lara Kanti menjabatnya.
"Maafkan, aku telah membunuh
anak buah- mu...!" ujar Lara Kanti bernada sesal.
"Tak apalah. Sebaiknya kita
segera pergi dari tempat terkutuk ini. Mari, sama-sama mencari Pende- kar
Gila...!" ajak Gaek Weling.
"Kalau begitu, marilah
sama-sama naik kudaku, biar lebih cepat...," kata Lara Kanti sambil menuju
ku- danya. "Tak usah, aku juga membawa kuda...," jawab Gaek Weling.
Lalu menepukkan telapak tangannya tiga kali, maka seekor kuda berwarna coklat
dan belang putih di kepalanya muncul mendekati Gaek Weling
Lara Kanti yang melihat itu
tersenyum, lalu sege- ra menghentakkan tali kekang kudanya. Gaek Weling pun
melakukan hal yang sama. Kedua kuda itu berja- lan berdampingan menuju ke
timur.
"Lara..., sebaiknya kita
berpisah, agar sepak ter- jangku bisa leluasa. Jika terus bersamamu, orang akan
tahu bahwa aku ada di pihakmu. Tapi aku tak akan jauh darimu. Berpura-puralah
seakan kita tak saling mengenal! Aku akan mengikutimu dari jarak ter- tentu.
Bagaimana, setuju...?" usul Gaek Weling tiba- tiba.
Lara Kanti melirik wajah Gaek
Weling. Lalu kem- bali memandang ke depan.
"Usul yang bagus..,"
jawab Lara Kanti singkat. Kemudian segera menggebah kudanya lebih kencang.
Kini kuda Gaek Weling berada
belasan tombak di belakang Lara Kanti.
6
Kabar tentang si Penunggang Kuda
Iblis semakin tersebar di seluruh pelosok Kadipaten Krasaan. Kemunculannya
membuat para tokoh persilatan semakin cemas. Karena ingin menentang dan
membunuh Pendekar Gila.
Sementara itu, Pendekar Gila dan
Mei Lie yang telah tanggap, juga sudah mengatur sebuah rencana guna memancing
si Penunggang Kuda Iblis itu.
Angin pagi bertiup semilir, bersama
sinar mentari yang bergerak lamban di kaki langit sebelah timur. De- sau angin
lembut, senandung burung dan kokok ayam jantan, menyatu dalam satu irama
tertentu.
Di kejauhan nampak seorang pemuda
tampan berpakaian rompi dari kulit ular tengah duduk ber- tengger di sebuah
cabang pohon besar Pemuda beram- but gondrong yang tak lain Sena tampak tengah
me- nyenandungkan sebuah nyanyian dengan tiupan Sul- ing Naga Sakti-nya. Namun
tiba-tiba suara merdu sul- ing itu terhenti.
"Ah ah ah...! Kenapa tiba-tiba
aku mengkhawa- tirkan keadaan Mei Lie? Semoga tugas yang dilakukan berjalan
lancar...!" gumam Sena lirih, seperti bicara pada diri sendiri. Mulutnya
tampak cengengesan, sam- bil menggaruk-garuk kepala.
Pendekar Gila terus menggaruk-garuk
kepala sambil cengengesan. Tubuhnya sudah melompat dari atas pohon. Kini tampak
tengah melompat-lompat dari batu satu ke batu lainnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti.
Matanya beredar ke sekeliling tempat yang di- tumbuhi pepohonan hijau menggapai
cakrawala. "Hi hi hi...!" Sena tiba-tiba tertawa, sambil terus
menggaruk- garuk kepala, ketika telinganya menangkap suara kaki menginjak daun
kering. Dengan acuh sambil terus cengengesan, pemuda tampan bertingkah laku
seperti orang gila itu justru duduk bersila di atas tanah be- rumput. Tangannya
menggaruk-garuk ketiaknya, se- perti monyet. Lalu diam seperti merenung.
Matanya memandangi kejauhan dengan
mulut masih terus cengengesan.
"Aha! Rupanya ada yang tidak
senang aku beris- tirahat di alam yang bebas ini.... Lucu, hi hi hi,..!"
ucap Sena sambil terus menggaruk-garuk kepala.
Swing! Swing! Tiba-tiba belasan
senjata rahasia melesat memburu Pendekar Gila yang masih duduk bersila itu.
"Aha, benar juga dugaanku! Ada
orang yang ingin mengajak bermain-main denganku," seru Sena sambil
melenting dan berjumpalitan di udara. Bersamaan dengan itu, segera dihantamkan
pukulan ‘Inti Bayu’ ke arah belasan benda yang meluncur ke tubuhnya.
"Hi hi hi...! Ini mainan
kalian kukembalikan! Heaaa...!"
Wusss! Srats! Seketika serangkum
angin menderu kencang, menghantam senjata rahasia itu.
Swing! Swing...! Crab! Crab...!
"Aaakh...!" Dari balik semak-semak yang jaraknya sekitar lima belas
tombak, terdengar jeritan kematian. Kemu- dian tampak empat orang dengan wajah
ditutupi kain ungu mengerang. Leher mereka tertancap senjata ra- hasia yang
tentunya milik mereka sendiri. Kemudian tubuh mereka ambruk dan mati.
"Hi hi hi...! Orang-orang ini
lucu sekali. Hi hi hi..!" kata Sena sambil cengengesan dan menggaruk-
garuk kepala.
"Tangkap dia...!" Dari
balik semak-semak belukar, terdengar teriakan seseorang memerintah pada anak
buahnya. Sekejap kemudian telah bermunculan lima belas orang berpakaian ungu
dengan wajah tertutup kain ungu pula. Mereka langsung mengurung Pendekar Gila
yang masih tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi! Ha ha ha...! Dari
mana kunyuk-kunyuk ini...!" seru Sena kemudian.
"Kurang ajar! Cepat tangkap
dan bunuh dia...!" seru pemimpin orang-orang berpakaian serba ungu.
"Hiaaa...!"
"Heaaa...!" "Haits...! He he he...!" sentak Sena sambil
meme- gangi kepalanya. Tubuhnya bergerak meliuk-liuk, mengelakkan serangan
lawan.
"Mampus kau, Pemuda
Edan...!" teriak pemimpin para penyerang sambil menebaskan goloknya ke
kepa- la Sena. "Hancur kepalamu, Gila...!"
Dengan jurus 'Si Gila Menari
Menepuk Lalat' Sena menghindari setiap serangan yang datang. Tubuhnya
meliuk-liuk laksana menari, sambil sesekali tangannya bergerak seperti menepuk
ke dada lawan.
"Heaaa...!" "Eits!
Hih...!" Degkh! "Aaa...!" Orang yang terkena tepukan Pendekar
Gila. seketika memekik. Tubuhnya terlontar ke belakang, me- layang laksana
terbang. Tubuh orang itu baru berhen- ti, ketika menabrak sebatang pohon besar.
Srak!
"Aaakh...!" Bluk! Kontan
saja orang itu menjerit-jerit. Tubuhnya mengejang. Kain penutup wajahnya
bersimbah darah segar, karena kepala orang itu pecah akibat benturan keras
dengan batang pohon besar tadi.
Hutan yang semula sunyi dan sepi,
seketika ter- pecah oleh suara pekikan dan jerit kematian. Banyak pohon yang
tumbang terhantam pukulan mereka. Rumput-rumput yang mulanya segar menghijau,
ber- serakan terinjak-injak. Binatang-binatang penghuni hutan itu pun seketika
berlarian ketakutan.
Pendekar Gila cengengesan sambil
menggaruk- garuk kepala. Lalu tertawa-tawa.
"Hi hi hi...! Aha! Siapa yang
ingin hadiah dari- ku...?" tanya Sena sambil cengengesan dan bertingkah
seperti orang gila.
Pemimpin orang-orang bertutup muka
itu berte- riak keras memerintahkan anak buahnya agar menye- rang Pendekar
Gila.
"Ayo kurung...! Bunuh...
pemuda gila itu! Cincang dia...!"
Pendekar Gila masih cengengesan
dari mengga- ruk-garuk kepala, ketika melihat belasan lawan me- nyerang dengan
membabatkan golok masing-masing. Namun, dengan cepat Sena kembali bergerak
menge- lak. Kedua kakinya digeser dengan cepat. Tubuhnya dibungkukkan ke bawah.
Tetap dengan mulut cen- gengesan.
"Eits! He he he...,"
Pendekar Gila tertawa terke- keh-kekeh sambil menggaruk-garuk kepala. Pantatnya
sengaja ditunggingkan ke arah orang-orang itu, mem- buat mereka geram dan
marah.
"Kurang ajar...!" Dua
orang membabatkan goloknya ke pantat
No comments:
Post a Comment