Tuesday, April 23, 2019

027 Ular Kobra Dari Utara


ULAR KOBRA DARI UTARA
Oleh Firman Raharja

1
Pagi itu keadaan sangat cerah. Langit biru bening, tanpa setitik mega.
Dari kejauhan nampak seorang lelaki menunggang kuda putih, dengan pakaian seperti orang dari India. Kepalanya diikat dengan sorban warna merah hati, layaknya orang-orang India. Lelaki itu memacu kudanya memasuki Desa Kanginan. Desa itu biasa sebagai persinggahan orang-orang dari luar daerah. Atau orang jauh. Karena desa itu cukup ramai dan makmur, subur.
Matanya menatap lurus ke arah desa yang nampak mulai ramai oleh kesibukan para penduduk maupun pendatang. Setelah puas mengawasi keadaan, lelaki dari India yang dikenal dengan Sankher atau 'Ular Kobra dari Utara' kembali menggerakkan kudanya yang besar dan kekar itu memasuki Desa Kanginan.
Di sepanjang jalan utama, Sankher terus memasang matanya memandangi sekeliling keadaan desa dengan tajam. Tampaknya ada sesuatu yang dicari. Kemudian dihentikan kudanya di depan sebuah kedai. Lelaki berjubah hitam itu segera melompat turun lalu melangkah menghampiri salah seorang yang baru saja keluar dari kedai itu.
Lelaki berpakaian lurik dan mengenakan blangkon itu berhenti ketika Sankher mencegat langkahnya.

“Tentunya Tuan dari jauh. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya lelaki berusia sekitar empat puluh tahunan, dan bertubuh agak gemuk itu. Bibirnya tersenyum dengan mata masih memperhatikan wajah Sankher.
“Hm...,” Sankher yang berikat kepala sorban merah menggumam. Matanya yang tajam, memandangi lelaki di hadapannya. Kemudian dengan suara kaku bertanya, “Di mana Perguruan Bintang Mas? Ke arah mana aku harus pergi?”
Lelaki berpakaian lurik coklat tua itu mengerutkan kening, mendengar pertanyaan lelaki India itu. Ditatapnya wajah lelaki gagah di hadapannya, berusaha mengetahui apa maksud lelaki dari India itu. Kemudian tampak lelaki berblangkon itu menghela napas.
“Tak begitu jauh lagi dari sini, Tuan. Di balik lembah itu,” ujar lelaki Jawa itu sambil menunjuk, “Tapi kalau boleh aku tahu, untuk apa Tuan menanyakan Perguruan Bintang Mas?”
“Itu bukan urusanmu! Kuminta jangan banyak tanya lagi!” sahut Sankher seraya menatap tajam wajah lelaki berpakaian lurik itu.
“Aku hanya tanya, apa salahnya?!” ujar lelaki Jawa itu dengan nada rendah dan tersenyum ramah.
Srrrttt! Tiba-tiba dengan geram, Sankher menarik tongkat berkepala ular kobra dan mengarahkan pada lelaki Jawa itu.
Lelaki berpakaian lurik itu tersentak kaget, karena tak menduga orang yang semula bertanya itu hendak menyerangnya. Dengan cepat lelaki Jawa itu menghindarkan serangan Sankher. Namun tongkat itu bergerak lebih cepat. Hingga...,
Pletakkk! “Akh...!” lelaki berpakaian lurik coklat itu memekik keras, ketika tongkat berkepala ular kobra menghantam keningnya. Sesaat matanya melotot kemudian ambruk tanpa nyawa.
Seketika ramailah suasana di depan kedai itu. Para pengunjung yang tengah bersantap, ber- hamburan keluar. Dengan penuh amarah para warga desa yang mengetahui bahwa Ki Sarepan tewas langsung menyerbu lelaki India itu. Namun tampak- nya lelaki berjubah hitam itu bukan orang sembarangan. Dalam beberapa gebrakan saja para warga dan anak buah Ki Sarepan telah tewas dengan kepala retak oleh pukulan tongkat berkepala ular.
“Hhh...,” Sankher mendengus. Matanya menatap tajam ke sekeliling. Tampak orang-orang Desa Kanginan telah berkumpul menatap dirinya penuh kebencian. Namun nampaknya tak seorang pun dari mereka yang berani melawan, atau maju. Mereka tak ingin mati sia-sia seperti Ki Sarepan, kepala ronda Desa Kanginan itu.
Dengan tenang Sankher melangkah meninggal- kan orang-orang itu. Tanpa menghiraukan sama sekali tatapan kebencian warga desa, lelaki berjubah hitam itu langsung melompat ke punggung kuda, lalu menggebahnya. Kuda besar dan kekar itu pun melesat meninggalkan kerumunan orang di depan kedai. Seketika warga Desa Kanginan gempar, setelah mendengar kematian Ki Sarepan dan delapan anak buahnya di depan kedai.
“Hm..., ilmu orang itu cukup hebat!” gumam salah seorang penduduk desa.
“Benar! Tongkatnya kurasa bukan sembarangan tongkat. Tongkat sakti.”
“Kita tak bisa berdiam saja. Kita harus segera memberitahu pada Kanjeng Adipati.”
Dengan masih membicarakan tentang lelaki misterius itu, mereka mengurusi mayat-mayat yang bergelimpangan di depan kedai.
***

Seluruh penduduk desa ramai membicarakan kematian Ki Sarepan dan delapan anak buahnya di tangan lelaki dari India. Dari arah timur tampak sesosok tubuh berjalan memasuki batas Desa Kanginan.
“Sepertinya ada kejadian di sana. Ah, aku ingin melihatnya,” ujar pemuda berpakaian terbuat dari rompi kulit ular, yang tak lain Sena Manggala. Sambil menggaruk-garuk kepala kakinya melangkah dengan cepat menuju tempat para warga tengah sibuk mengangkati mayat-mayat itu.
Sena Manggala yang juga dikenal dengan julukan Pendekar Gila mengerutkan kening sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya memandangi orang- orang di depan kedai itu. Kepalanya tampak menggeleng-geleng sambil cengengesan.
“Ah ah ah...! Kisanak, apa yang telah terjadi?” tanya Sena dengan kening masih mengerut. Matanya memandangi sembilan mayat yang sama keadaannya, retak di bagian kening.
“Baru saja terjadi malapetaka mengerikan. Seorang lelaki aneh berjubah hitam membunuh mereka,” sahut salah seorang penduduk desa.
“Lelaki dari India itu seperti orang gila!” sambung yang lainnya.
“Orang gila...?” tanya Sena mengerutkan kening. Tangannya menggaruk-garuk kepala, “Mengapa
Kisanak mengatakan seperti orang gila?”
“Bagaimana tidak?” tukas lelaki yang berkumis tebal dan bertubuh kekar sambil melangkah maju, “Orang asing itu, tiba-tiba menghantamkan tongkat saktinya ke kepala Ki Sarepan dan kedelapan anak buahnya! Hingga mereka tewas seperti itu...”
Pendekar Gila semakin mengerutkan kening mendengar penuturan orang-orang desa, yang men- ceritakan tentang lelaki berjubah hitam.
“Lelaki dari India?” gumam Sena. Tangannya menggaruk-garuk kepala sedangkan matanya tak henti memandangi para penduduk yang mengangkati mayat-mayat itu.
“Ah ah ah...! Mengapa lelaki aneh dari India itu membunuh Ki Sarepan?” tanya Sena seraya menggaruk-garuk kepala, “Apakah antara keduanya telah terjadi keributan?”
Lelaki berbadan agak kekar berkumis tebal itu menggelengkan kepala, lalu menghela napas panjang seraya memandangi wajah Sena.
“Yang kulihat Ki Sarepan menegur lelaki asing itu dengan ramah,” sahut lelaki berbadan tegap dan berkumis tebal itu.
“Mungkin Kisanak mendengar, apa yang ditanyakan orang asing itu?”
Lelaki berbadan tegap itu menatap Sena lagi, sepertinya menyelidik, siapa Sena sebenarnya. Lelaki itu mula-mula ragu menjelaskan duduk persoalannya. Namun setelah Sena mendesak, lelaki berbadan tegap itu mulai menceritakan semua, dari saat kedatangan lelaki berkuda putih, berpakaian khas orang India, sampai Ki Sarepan menanyakan tujuan- nya. Hingga akhirnya, lelaki aneh dari India itu bertanya tentang Perguruan Bintang Mas.
“Aha...! Perguruan Bintang Mas...?!” Sena cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Sikapnya itu tentu saja membuat orang-orang heran.
“Ya. Itulah yang aku dengar.” Mendengar keterangan itu Sena hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Keningnya berkerut
“Ah ah ah..., ada maksud apa lelaki itu menanya- kan Perguruan Bintang Mas. Dan mengapa ia seenaknya membunuh orang-orang tak bersalah...!” gumam Sena pelahan. Dihelanya napas panjang, lalu wajahnya memandang jauh ke depan.
“Aku harus segera mencegahnya. Tak boleh dibiarkan ia bertindak sesukanya. Dilihat dari caranya membunuh, nampaknya dia bukan orang sem- barangan,” gumam Sena lagi.
Tangan Sena menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandang ke depan. Lalu cengengesan. Membuat orang-orang di dekatnya mengerutkan kening dan saling pandang. Mereka heran melihat tingkah Sena yang seperti orang gila itu. Namun mereka tak berani berucap apa-apa.
“Baiklah, Kisanak. Terima kasih!” ucap Sena sambil menjura. Lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu, diiringi pandangan mata orang-orang desa, yang penuh tanda tanya melihat tingkah laku Sena yang seperti orang gila itu.
“Apakah pemuda itu yang disebut Pendekar Gila dari Goa Setan?” gumam salah seorang warga desa.
“Mungkin juga,” sahut lelaki bertubuh tegap. “Kalau memang pemuda itu Pendekar Gila, aku merasa senang. Karena aku yakin, pendekar itu akan mencari dan melenyapkan lelaki asing yang tak mengenal perikemanusiaan itu!”
“Ya Mudah-mudahan lelaki asing itu mati oleh Pendekar Gila!” sambung salah seorang lelaki berkumis tipis, yang berada di sisi kiri lelaki berbadan tegap. Semua orang mengutuk lelaki asing dan India itu.
Lalu mereka bubar, kembali ke tempatnya.
***

2
Siang itu di Perguruan Bintang Mas tampak lima orang pemuda sedang berlatih tanding. Mereka rupanya para penerus Perguruan Bintang Mas, yang dulu dipimpin Dewi Pandagu. (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gila dalam episode “Singa Jantan dari Cina”).
Seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan memperhatikan kelima pemuda itu berlatih tanding. Wajahnya yang agak kurus dihiasi jenggot hitam lebat, serta kumis tipis. Dilihat dari bentuk tubuh dan ketenangannya, lelaki itu memiliki ilmu silat yang tak dapat diremehkan. Pancaran matanya tajam dan penuh wibawa.
Lelaki itu mengangguk-anggukkan kepala seraya tersenyum. Hatinya merasa puas melihat kelima murid andalannya yang mulai matang. Lelaki yang dikenal dengan nama Guntala itu terus mengangguk- anggukkan kepala. Tak lama kemudian dirinya segera memberi isyarat dengan bertepuk tiga kali.
Plok! Plok! Plok! Kelima muridnya seketika menghentikan latih tanding mereka. Keringat membasahi seluruh tubuh kelima pemuda gagah itu. Mereka berlatih selama setengah hari penuh, sejak hari masih pagi. Namun di wajah kelima pemuda yang bertelanjang dada, dengan ikat kepala warna hitam itu tak mem- perlihatkan keletihan. Kelima pemuda itu lalu menjura bersama di depan Guntala.
“Bagus. Aku bangga dan puas melihat kalian semakin hari bertambah semangat. Tapi masih perlu waktu lama kalian melatih diri. Sebab dengan hanya beberapa bulan, tak cukup ilmu kalian untuk melawan Pendekar Gila. Aku memang berniat melawannya. Tapi aku butuh kalian.”
Guntala sejenak menghentikan kata-katanya. Dipandanginya dengan tajam kelima murid itu. Kemudian menghela napas dalam-dalam.
“Memang kematian Dewi Pandagu bukan Pendekar Gila yang membunuhnya. Namun karena dialah Dewi Pandagu, yang kemenakanku sendiri mati di tangan orang-orang licik seperti Kerto Songo dan Kebo Pengawon!” Guntala nampak geram. Giginya gemeretak, menahan marah. “Sayang, sampai saat ini aku merasa belum mampu menghadapi Pendekar Gila. Aku perlu orang berilmu setaraf dengan Pendekar Gila...! untuk membuat perhitungan dengannya....”
Baru saja Guntala selesai bicara, tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda menuju tempat Perguruan Bintang Mas. Guntala segera menoleh ke pintu gerbang. Demikian juga kelima muridnya. Guntala segera menoleh ke pintu gerbang. Demikian juga kelima muridnya. Guntala membelalak kaget, ketika dilihat ada seorang lelaki berpakaian jubah hitam menghentikan kudanya empat tombak di hadapannya.
Lelaki asing yang tak lain Sankher itu menatap tajam Guntala dan kelima muridnya, yang telah siap siaga. Mereka langsung mengepung lelaki yang duduk di punggung kuda itu. Sankher tersenyum sinis. Lalu dengan gerakan yang sangat ringan, tubuhnya melompat turun dari punggung kuda. Kemudian melangkah mantap menghampiri Guntara yang masih terkesima, memandangi tamu tak diundang itu. Mata keduanya saling pandang, ketika Sankher meng- hentikan langkahnya, dan berhenti di depan Guntala.
“Kau...?!” gumam Guntala setelah melihat lebih jelas. Dan mulai mengenali wajah tamunya itu, “Sankher...?!”
Sankher hanya tersenyum sinis. Matanya masih menatap tajam wajah Guntala yang kemudian meng- hambur ke tubuhnya. Guntala memegang erat bahu Sankher.
“Tak kusangka kau datang ke negeri Jawadwipa ini...!” seru Guntala dengan sangat gembira. Namun Sankher tampak tersenyum hambar. Hal itu membuat Guntala mengerutkan kening, tak mengerti.
Sejenak suasana hening. Hanya mata kedua lelaki itu kini yang bicara. Kelima murid Guntala telah siap siaga, kalau-kalau akan terjadi perkelahian. Karena mereka tidak mengenal, siapa lelaki ber- pakaian jubah seperti orang India itu.
“Sankher, sebaiknya kita bicara di dalam. Mari, silakan...!” ajak Guntala sambil bergerak ke samping memberikan jalan pada Sankher. Lelaki berjubah hitam itu diam saja, tapi lalu melangkah menuju bangunan utama Perguruan Bintang Mas. Sementara Guntala memberi isyarat pada salah seorang muridnya untuk mengurus kuda Sankher.
***
“Kematian Dewi Pandagu, membuat aku sedih dan sakit,” ujar Guntala dengan wajah sedih. Duduk berhadapan dengan Sankher yang sejak tadi hanya diam mendengar cerita Gundala. “Semua ini salahku. Karena aku terlalu percaya akan kekuatan ilmu kemenakanku itu. Dan kebetulan beberapa bulan sebelum kejadian, aku bertengkar mulut dengan Dewi Pandagu. Karena aku tak setuju, Dewi Pandagu dekat dengan Pendekar Gila...!”
Mendengar nama Pendekar Gila, Sankher ter- sentak. Matanya membelalak lebar.
“Siapa Pendekar Gila itu?” tanya Sankher dengan suara berat.
“Pendekar yang sangat disegani dan berilmu tinggi. Tak ada pendekar lain, baik dari aliran putih maupun hitam, yang mampu menandingi ilmunya,” jawab Guntala tegas.
“Huh...!” dengus Sankher dengan geram. Telapak tangannya mengepal kuat-kuat. Giginya beradu, gemeretak, menandakan hatinya sangat marah.
“Aku sudah lama menunggu saat yang baik untuk melawan Pendekar Gila dari Goa Setan itu. Namun sampai saat ini aku merasa belum mampu melawan- nya,” kata Guntala dengan suara penuh kesal.
“Paman Guntala bisa membantu aku mencari orang gila itu?”
Suara Sankher berat dan sedikit bergetar, menandakan kemarahan dan dendam di hatinya. Cerita Guntala sengaja memanasi hati Sankher yang tak lain tunangan Dewi Pandagu. Dan ternyata berhasil.
Guntala mengatakan, bahwa kematian Dewi Pandagu tak lain gara-gara Pendekar Gila yang ber- usaha mendekati Dewi Pandagu. Guntala sengaja agar Sankher yang diketahui memiliki ilmu tinggi, dan mempunyai senjata sakti bernama 'Tongkat Berkepala Kobra' akan binasa mengalahkan Pendekar Gila. Dan niat Guntala sebenarnya, jika Pendekar Gila bisa dimusnahkan, dirinya akan membuat siasat lagi untuk membunuh Sankher. Karena Guntala mempunyai cita-cita akan menguasai dunia persilatan di Jawadwipa ini.
“Aku sangat senang dan berterima kasih pada Hyang Widhi. Kau benar-benar akan membantu membalas dendamku yang sudah lama pada Pendekar Gila...,” ucap Guntala sambil menepuk- nepuk bahu Sankher, “Kapan kita akan mulai?”
“Lebih cepat lebih baik,” jawab Sankher singkat dan tegas.
Guntala mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa puas dan memegangi jenggotnya.
“Aku setuju dengan caramu. Kalau begitu nanti kita atur semuanya. Aku punya rencana yang tepat untuk memancing Pendekar Gila agar memburu kita...,” ujar Guntala kemudian.
“Akan kucari Pendekar Gila itu dengan caraku. Paman jangan ikut campur! Kematian Dewi Pandagu menjadi tanggung jawabku. Dan aku datang kemari memang untuk membalas dendam atas kematian kekasihku itu,” kata Sankher dengan suara agak serak dan berat.
Mendengar ucapan Sankher, Guntala mengerut- kan kening. Dirinya nampak kurang senang men- dengarnya. Namun tak berani berucap, ia hanya bisa menghela napas panjang. Nampak kekecewaan ter- gambar di wajahnya yang sudah mulai berkerut. Menunduk lesu. Karena sebenarnya Guntala kurang senang dengan kehadiran Sankher. Takut rencana buruknya, untuk menguasai Perguruan Bintang Mas akan diketahui Sankher.
Sankher melihat itu. Lelaki bertubuh tinggi itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi dari padepokan itu. Guntala hanya bisa memandangi kepergian Sankher yang bekas kekasih Dewi Pandagu, Sankher tetap mencintai wanita itu. Hal itu bisa dibuktikan pada sikapnya yang selalu marah jika ada lelaki yang melukai hatinya. Apalagi ketika mendengar berita tentang kematian Pemimpin Perguruan Bintang Mas itu dari Guntala.
Sankher meninggalkan Perguruan Bintang Mas dengan hati penuh dendam. Si Ular Kobra dari Utara itu melarikan kudanya dengan cepat ke selatan. Sepeninggal Sankher, Guntala tampak melangkah ke serambi rumahnya. Matanya memandang jauh ke depan. “Sankher..., ternyata keangkuhanmu belum juga berubah. Hhh...! Masih sama seperti yang dulu.”
***

Sankher terus menggebah kudanya, seakan ada sesuatu yang dikejar. Sampai di sebuah perbukitan lelaki berjubah hitam itu menghentikan lari kudanya. Dari atas bukit matanya dengan liar memandang ke bawah. Di kejauhan nampak Desa Babakan. Sankher atau Ular Kobra dari Utara tersenyum sinis. Lalu kembali memacu kudanya menuruni bukit menuju desa itu. Kuda putih yang ditunggangi nampak begitu lincah dan cekatan menyusuri jalan terjal berbatu.
Sore itu Desa Babakan nampak seperti biasa. Para penduduknya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ketika kuda putih yang ditunggangi lelaki berpakaian seperti orang India memasuki mulut desa para warga tak begitu menghiraukan. Hanya beberapa lelaki yang bergerombol di sebuah rumah memandangi sambil berbisik-bisik.
Langkah kaki kuda semakin pelahan menyusuri jalan utama Desa Babakan. Langkah-langkah kaki kuda itu seakan berirama. Apalagi penunggangnya yang berbadan tinggi, gagah dengan hidung mancung, menatap lurus ke depan, seperti tak menghiraukan keadaan. Sesekali matanya menyapu ke sekeliling- nya. Lelaki berjubah hitam bersenjata tongkat ber- kepala ular kobra itu menghentikan kudanya di depan sebuah kedai. Siang itu dikedai milik Ki Lambang ramai oleh pengunjung. Si Ular Kobra dari Utara itu sejenak mengamati keadaan di dalam kedai. Bau asap rokok kaung sampai keluar, dan sampai pula ke hidung lelaki berjubah hitam itu.
“Huh...!” dengus Sankher. Sankher melompat turun dengan ringannya. Di tangan kanannya memegang sebuah tongkat berkepala ular kobra. Dengan langkah mantap lelaki gagah bercambang tipis itu memasuki kedai Ki Lambang.
Sankher mengambil tempat duduk yang di tengah ruangan. Dengan kasar tangannya menarik kursi, membuat orang di sekelilingnya terkejut. Seketika mata para pengunjung kedai menoleh.
Ki Lambang mengerutkan kening. Lelaki setengah baya itu melangkah mendekati tamunya yang baru datang.
“Tuan mau pesan apa?” tanya Ki Lambang, berusaha tersenyum ramah.
Sankher tak menjawab. Hanya matanya yang melirik Ki Lambang. Kedua tangannya ditaruh di atas meja. Dan napasnya ditarik dalam-dalam.
“Cepat buatkan aku makanan yang paling enak!” pinta Sankher, dengan ucapan yang terdengar kaku. Wajahnya tanpa menoleh sedikit pun pada Ki Lambang.
“Baik, Tuan.”
Namun ketika Ki Lambang hendak melangkah untuk mengambil makanan, pundaknya ditahan oleh Sankher.
“Tunggu...!” “Ada apa, Tuan...?” tanya Ki Lambang agak gugup.
“Di mana tempat Pendekar Gila? Aku harap kau mau menjawab dengan benar!”
Ki Lambang mengerutkan kening. Pertanyaan itu tak segera dijawabnya. Hatinya malah bertanya heran. Ada hubungan apa antara lelaki asing yang misterius ini dengan Pendekar Gila? Teman atau lawan? Bermaksud jahat, atau baik?”
“Hei...! Apa kau tuli?! Jawab pertanyaanku!” bentak Sankher dengan mata melotot. Nadanya sangat marah, karena merasa pertanyaannya tak digubris.
“Maaf, maaf, Tuan! Ada keperluan apa Tuan mencari Pendekar Gila?”
Ki Lambang balik bertanya. Keningnya masih berkerut, tak mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki lelaki asing itu. Sankher tampak makin kesal, matanya melotot lebar.
“Huh! Jangan banyak tanya!” bentak Sankher, bengis. Tangannya yang kekar mencengkeram lengan Ki Lambang. “Jangan banyak mulut, jawab per- tanyaanku!”
Namun Ki Lambang tetap tak mampu menjawab. Mulutnya seakan terkunci. Lelaki setengah baya itu masih ketakutan dan heran dengan pertanyaan- pertanyaan tamunya. Dirinya memang tidak tahu di mana Pendekar Gila berada. Sebab dia sendiri hanya dengar nama Pendekar Gila yang sangat kesohor dan disegani itu. Namun belum pemah ketemu sekali pun dengan pendekar muda yang sepak terjangnya sangat dikagumi baik oleh kalangan rimba persilatan maupun rakyat biasa.
“Heh...! Kau sengaja memancing kamarahanku, Orang Tua!” bentak Sankher dengan kasar. Tangan- nya mendorong tubuh Ki Lambang dengan keras, hingga terjatuh ke lantai. Kepalanya mem-bentur kaki kursi yang ada di belakangnya.
Brakkk! “Aduh...!” pekik Ki Lambang. Orang-orang yang tengah makan di sampingnya tersentak dengan mata melotot. Mereka marah karena makanannya berantakan, dan merasa terganggu.
“Bangsat! Siapa yang berani berbuat kasar pada Ki Lambang?!” maki lelaki berbadan tegap dan kumis melintang dengan pakaian biru tua lengan panjang. Di pinggangnya terselip sebatang golok.
Lelaki yang berambut panjang sebatas bahu, dengan blangkon batik warna coklat bangkit dari duduknya. Tangan kanannya menarik golok yang terselip di pinggangnya.
Srattt! “Sontoloyo ini perlu dikasih pelajaran! Yeaaa...!” Lelaki berbadan tegap berkumis melintang yang bernama Subadra membabatkan goloknya ke tubuh Sankher. Namun dengan gerak cepat yang sulit diikuti mata, lelaki dari India itu tahu-tahu telah meng- hantamkan tongkatnya.
Wuttt! Bukkk! “Aaakh...!” Subadra memekik, ketika punggungnya terpukul tongkat Sankher. Subadra mundur satu tombak ke belakang, kemudian dengan cepat kembali menyerang lawan yang masih duduk dengan tenang di tempatnya.
“Heaaa...!” Wuttt! Krakkk! “Aaakh...!” Subadra memekik. Matanya mem- belalak lebar. Sesaat tubuhnya mengejang, lalu ambruk dengan keadaan mengerikan. Keningnya pecah kena pukulan tongkat sakti berkepala kobra itu. Darah segar bercampur lendir kuning mengalir dari kepalanya.
Menyaksikan kejadian itu, para pengunjung kedai seketika bertambah benci pada Sankher, orang asing dari India itu. Mereka memandang penuh kemarahan. “Kurang ajar! Hei orang asing...! Biadab! Jangan kau pikir bisa bertindak sesukamu!” bentak Parta, lelaki berumur tiga puluh lima tahunan yang telah mencabut goloknya, diikuti lima orang lelaki lain.
Srattt! Srattt! “Serang...!” seru Parta yang berpakaian seperti pesilat warna hitam lengan panjang. Dadanya yang tak tertutup tampak bidang.
“Heaaa...!” “Habisi orang keparat itu! Bunuh!” Lima orang temannya melesat maju. Mereka berbadan tegap dan berkumis tipis. Tiga di antara mereka berjenggot lebat.
Dengan golok yang berkilat seperti meminta guyuran darah, mereka membabat lelaki asing itu. Namun belum juga bisa menyarangkan serangan, Sankher bergerak secepat kilat. Tongkat di tangannya berkelebat tanpa dapat diikuti mata.
Wuttt! Prak! Prak! Prakkk! “Aaa...!”' Dalam sekali gebrak jeritan kematian memecah suasana siang itu. Tiga orang dengan kening dibasahi darah, kini meregang nyawa. Mata mereka melotot, menahan rasa sakit yang tiada terkira. Gigi-gigi mereka saling beradu. Kemudian tubuh ketiga lelaki itu ambruk bersamaan. Kepala mereka retak. Mengerikan!
Melihat kenyataan tersebut wajah Parta seketika memucat. Kumisnya yang tebal, kini tiada artinya lagi. Matanya membelalak tegang. Tubuhnya gemetaran diguncang rasa takut. Begitu pun dua temannya yang masih hidup. Mereka gemetaran tak mampu menyembunyikan rasa takut.
Sementara pengunjung lain yang masih duduk di kursi masing-masing bergegas meninggalkan kedai, setelah meninggalkan uang bayaran di meja. Mereka merasa ngeri menyaksikan tindakan lelaki misterius itu. Hanya dengan sekali gebrak, orang-orang persilatan itu tak mampu berkutik. Padahal keempat korbannya merupakan orang-orang yang ditakuti di Kadipaten Bantulan.
Sankher tersenyum sinis. Tangan kanannya masih memegang tongkat saktinya yang berlumuran darah. Disekanya darah itu dengan tangan kiri. Kemudian didekati ketiga lawannya yang ketakutan.
“Katakan, di mana Pendekar Gila berada?!” bentaknya garang.
“Kami... kami tak tahu di mana Pendekar Gila kini berada, Tuan. Betul, Tuan...! Ampuni kami!” jawab Parta dengan suara gemetaran, sambil menundukkan kepala.
“Kau rupanya juga ingin bernasib seperti temanmu itu, ya?!” bentak Sankher lebih keras. “Sekali lagi aku tanya, di mana Pendekar Gila itu berada?!”
“Tuan...!” salah seorang lelaki kurus dengan hidung mancung betet berseru sambil mendekat ke depan. Sankher menoleh dan memandang tajam wajah lelaki mengenakan blangkon hitam, tanpa memakai baju.
“Tuan..., kalau Tuan mau cari Pendekar Gila, sebaiknya Tuan bisa datang ke Perguruan Elang Sakti.”
“Hm! Di mana tempat perguruan itu?” tanya Sankher mengangguk sinis.
“Di balik lembah sana, Tuan,” jawab lelaki yang bernama Widura sambil menunjuk arah barat.
“Kalau kau membohongiku, nyawamu melayang!” ancam Sankher sambil menjulurkan tongkat saktinya ke leher Widura.
Sankher tak banyak bicara. Kakinya melangkah meninggalkan kedai itu. Langkahnya mantap dan nampak tenang, seakan tak pernah berbuat kesalahan, atau melakukan sesuatu.
Parta dan kedua temannya hanya memandangi kepergian lelaki itu, dengan perasaan kesal dan malu. “Kenapa kau beri tahu pada orang asing itu? Apakah kau tahu kalau Pendekar Gila berada di Perguruan Elang Sakti?” tanya Parta dengan mata melotot.
“Aku, aku hanya.... Hm, aku hanya bermaksud agar lelaki asing itu cepat pergi dari sini,” jawab Widura dengan gemetaran.
“Gila kamu! Nanti kalau kebohonganmu itu terbukti, desa ini akan dibumihanguskan! Ia akan murka! Bodoh...!” bentak Parta dengan geram lalu menggeleng-gelengkan kepala.
Widura hanya menunduk dengan mata lembab. Lelaki kurus dengan kumis tipis dan mata cekung itu masih gemetaran. Seakan-akan hatinya menyesal dengan kebohongannya pada Sankher.
“Kalau Desa Babakan ini diobrak-abrik lelaki asing itu, kau harus menanggung akibatnya!” kata Parta lagi dengan marah.
Selesai berkata begitu, Parta dan kedua temannya keluar dari kedai itu.
***

3
Sore itu juga Sankher telah sampai di Perguruan Elang Sakti. Ki Putih Maesaireng terkejut, ketika beberapa anak buahnya berlarian di halaman perguruan dengan wajah ketakutan, disertai teriakan.
Lelaki berusia enam puluh tahunan itu melompat ke luar dari dalam padepokannya, diikuti dua orang kepercayaannya, Kanta dan Satya.
Belum sempat Ki Putih Maesaireng dan kedua murid utamanya mencapai halaman padepokan, telah terdengar jeritan kematian.
“Aaakh...!” Wuttt! Prak! Prakkk! Beberapa orang murid Perguruan Elang Sakti tergeletak berlumuran darah. Tongkat sakti berkepala ular kobra milik Sankher menghantam mereka yang berusaha menghalanginya. Jerit kesakitan dan kematian ada di sana sini.
“Hei orang asing! Apa urusanmu menyakiti murid- muridku...?!” teriak Ki Putih Maesaireng marah. Lelaki tua itu telah menghadang kuda putih yang ditunggangi Sankher. Ketika memasuki halaman Perguruan Elang Sakti.
Si Ular Kobra dari Utara hanya mendengus sinis. Matanya menatap tajam Ki Putih Maesaireng dan kedua pengawalnya. “Aku datang untuk mencari Pendekar Gila dan akan mencincangnya...!”
Ki Putih Maesaireng mengerutkan kening, sambil menoleh ke Kanta. Kemudian kembali menatap
Sankher dengan tajam.
“Apa urusanmu ingin bertemu dengan Pendekar Gila?” tanya Ki Putih Maesaireng penuh selidik.
“Jangan banyak tanya! Serahkan Pendekar Gila padaku...!” bentak Sankher.
Mendengar bentakan itu Ki Putih Maesaireng marah. Begitu pula Kanta dan Satya. Kedua orang andalan Perguruan Elang Sakti itu segera mengeluar- kan keris berukuran panjang.
Si Ular Kobra dari Utara melihat itu hanya tersenyum sinis. Dengan tongkat saktinya lelaki berjubah hitam itu menuding Ki Putih Maesaireng. “Kau lebih baik serahkan Pendekar Gila itu, atau nyawamu kucabik-cabik dengan tongkatku ini!”
“Kurang ajar! Kalau saja Pendekar Gila ada di sini, kau akan menerima nasib yang sama dengan orang-orang yang kau bunuh itu!” kata Ki Putih Maesaireng geram. “Serang...!”
“Heaaa...!” Secepat angin Kanta dan Satya melesat terbang bagai burung elang. Kemudian menukik ke tubuh Sankher yang masih duduk di punggung kudanya.
Melihat dua lelaki berpakaian serba kuning dengan ikat pinggang hitam itu menyerang, Sankher tidak tinggal diam. Lelaki berjubah seperti orang India itu dengan tenang menyambut serangan Kanta dan Satya.
“Heaaa...!” Wuttt! Trak! Trakkk! Tongkat berkepala ular kobra di tangan Sankher memapak keris kedua murid utama Ki Putih Maesaireng.
“Heaaa...!”
Dugk! Dugk! “Aaah...!” Terdengar pekikan Kanta dan Satya. Rupanya ketika kedua orang andalan Ki Putih Maesaireng itu menusukkan keris ke arah kepala lawan, dengan gerakan cepat, yang sukar dilihat dengan mata biasa Sankher telah mendahului dengan serangan balik. Tak pelak lagi pinggang Kanta dan Satya terkena pukulan tongkat sakti lelaki asing itu.
Tubuh Kanta dan Satya terguling di tanah. Namun kedua lelaki andalan Ki Putih Maesaireng itu kembali bangkit, walaupun sambil memegangi pinggang masing-masing.
Kemudian keduanya langsung mempersiapkan jurus andalannya, 'Elang Mengejar Mangsa'. Sankher melompat dari atas kudanya, lalu dengan tenang menghadapi kedua lawannya.
“Heaaa...!” Kanta dan Satya serentak melakukan serangan dengan jurus andalannya. Namun lelaki dari daratan India itu dengan gesit mengelakkan, semua serangan yang dilancarkan kedua lawan.
Tongkat di tangan Sankher bergerak cepat, memburu kepala lawan.
“Heaaa...!” Wuttt! Plak! Plakkk! “Aaakh...!” “Aaakh...!” Pekikan kematian terdengar dari kedua orang andalan Ki Putih Maesaireng. Kedua lelaki ber- pakaian kuning itu ambruk dan tertelungkup ke tanah. Darah segar mengalir keluar dari kepala mereka.
“Hah...?!” Ki Putih Maesaireng marah melihat kedua orang andalannya dikalahkan oleh lelaki berkuda putih itu dalam beberapa gebrakan. Padahal ilmu silat yang dimiliki Kanta dan Satya cukup handal. Dengan diliputi kemarahan, pimpinan Perguruan Elang Sakti itu melesat melakukan serangan.
“Heaaa...!” Lelaki tua berjenggot putih itu merentangkan kedua tangan, membentuk sebuah sayap lebar. Kemudian dengan cepat tangan kanannya meng- hantam ke dada lawan. Disusul pula sambaran tangan kiri ke kepala lawan. Sedangkan sepasang kakinya bergerak cepat secara bergantian, mencecar kaki lawan.
Melihat serangan lawan yang begitu cepat, Sankher tak mau menganggap enteng. “Hm..., lumayan juga ilmu silat lelaki tua ini,” gumamnya dalam hati.
Tongkat di tangannya diputar cepat, membentuk baling-baling. Begitu cepatnya putaran itu hingga yang nampak hanyalah warna hitam yang membungkus tubuh Ki Putih Maesaireng.
Melihat Ki Putih Maesaireng tampak kesulitan menghadapi orang asing itu, maka tanpa diperintah, tujuh belas murid Perguruan Elang Sakti langsung bergerak maju. Dengan golok terhunus, mereka mengepung kedua orang yang masih bertarung itu.
Sankher dan Ki Putih Maesaireng terus bertarung. Keduanya saling menunjukkan ilmu silat yang mereka miliki. Tak percuma Ki Putih Maesaireng mendapat kepercayaan memangku jabatan sebagai Pemimpin perguruan Elang Sakti. Terbukti lebih dari sepuluh jurus lelaki berjubah hijau itu masih mampu menghadapi Ular Kobra dari Utara. Sejauh itu pun pertarungan masih tampak seimbang. Baik Ki Putih Maesaireng maupun lelaki berjubah hitam ini masih memperlihatkan ketangguhan masing-masing.
Namun belakangan Ki Putih Maesaireng semakin kesal, setelah mendapati serangannya selalu dapat dikandaskan oleh Ular Kobra dari Utara. Tangannya kembali merentang, kemudian diangkat lurus, dilanjutkan dengan menekuknya di samping dada. Itulah jurus 'Elang Sakti', salah satu jurus andalan Ki Putih Maesaireng.
Tangan kirinya dihentakkan ke depan, sedangkan tangan kanan bergerak menyapu. Kedua kakinya tak tinggal diam. Kaki kanan menendang ke arah pinggang lawan, disusul kaki kiri bergerak menyapu kaki lawan. Itulah jurus 'Elang Sakti Menyambar Mangsa', yang terkenal ganas dan mematikan.
“Hiaaat...!” Sankher tersentak melihat jurus yang dilancarkan Ki Putih Maesaireng. Gerakan lelaki tua berjenggot dan berambut putih itu sangat cepat. Rasanya sulit baginya untuk mengelak. Namun si Ular Kobra dari Utara itu bukanlah tokoh sembarangan. Percuma jauh-jauh dari negeri asalnya datang ke Jawadwipa, kalau dengan mudah dapat dipencundangi Pemimpin Perguruan Elang Sakti.
Sankher menggeser kakinya dua langkah ke samping. Kemudian dengan cepat tongkat berkepala ular di tangannya dikebutkan ke tubuh Ki Putih Maesaireng. Sementara itu tangan kirinya menepuk keras ke tulang rusuk lawan. Namun Ki Putih Maesaireng masih bisa mengelak ke samping kiri. Sankher memburu dengan menyapu kaki lawannya. Ki Putih Maesaireng melompat dan bersalto ke udara.
Sankher dengan cepat menebaskan tongkatnya, ketika tubuh lawan kembali mendarat. Hingga....
“Heyaaa!..!” Prakkk! “Aaakh...!” Pekik panjang keluar dari mulut Ki Putih Maesaireng, ketika pukulan senjata lawan mendarat telak di tubuhnya. Sambil kesakitan tubuhnya yang terbalut pakaian hijau melintir lalu ambruk dengan keadaan mengerikan. Tubuh lelaki tua itu terbelah dua. Darah segar seketika bercucuran membasahi tanah di halaman Perguruan Elang Sakti.
“Seraaang...!” teriak beberapa murid yang merasa tak tega melihat sang Guru terkapar berlumur darah.
“Heaaa...!” “Serang...!” Tujuh belas murid Perguruan Elang Sakti menyerbu dan mengurung si Ular Kobra dari Utara. Namun dengan cepat dan gesit lelaki berjubah hitam itu bergerak memapaki serangan. Dalam beberapa gebrakan saja lima pengeroyoknya tewas dengan kepala pecah. Bagai kesetanan si Ular Kobra dari Utara menghabisi murid-murid Perguruan Elang Sakti. Sampai akhirnya, tinggal tiga orang yang masih hidup. Sankher sengaja tak membunuh mereka.
“Katakan pada Pendekar Gila dan semua pendekar di Jawadwipa ini, bahwa aku Ular Kobra dari Utara menantang dan ingin membunuh mereka...!” seru Sankher dengan suara bergema, mantap.
Selesai berkata begitu, kakinya melangkah meninggalkan Perguruan Elang Sakti. Dengan tenang ia memacu kuda putihnya menginjak-injak mayat yang berserakan di halaman perguruan itu.
Setelah kepergian 'tamu' berpakaian ala India itu, ketiga orang yang masih hidup mendekati mayat Ki Putih Maesaireng. Mereka bermaksud membawa mayat sang Pemimpin ke dalam. Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan munculnya seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular. Ketiga murid Perguruan Bang Sakti saling mengerutkan kening, melihat sikap pemuda tampan berambut gondrong itu.
Pemuda tampan berpakaian rompi dari kulit ular yang tak lain Sena Manggala tampak cengegesan sambil tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Ada malapetaka apa gerangan, Kisanak...?” tanya Sena begitu dekat dengan ketiga orang yang berjongkok di dekat mayat Ki Putih Maesaireng.
“Seorang lelaki aneh telah membunuh Ki Putih Maesaireng dan kedua orang pengawalnya, serta lima belas teman kami,” ujar lelaki muda yang bernama Kasnan.
“Betul, Tuan. Lelaki yang mengaku sebagai si Ular Kobra dari Utara itu dengan ganas membunuh orang- orang perguruan kami. Tanpa mengenal belas kasihan!” tambah pemuda yang ada di samping kiri Kasnan. Lelaki ini sama dengan teman-temannya yang lain mengenakan pakaian hijau.
“Ah ah ah...! Apa urusannya..., eh... apa dia orang gila?” tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kami kurang begitu jelas. Tapi kami dengar, lelaki yang bersenjata tongkat ular itu menentang pendekar-pendekar tanah Jawadwipa ini. Bahkan juga bersumpah ingin membunuh Pendekar Gila...,” ujar Kasnan menegaskan.
Mendengar namanya disebut, Sena mengerutkan kening dan makin menggaruk-garuk kepala. Kemudian tertawa-tawa sendiri, seperti orang kurang waras.
“Aneh?! Salah apa aku pada orang aneh itu? Bertemu pun belum pernah...?! Kenapa dia ingin menantangku...?!” Sena bertanya-tanya dalam hati.
“Apakah Kisanak mengenal lelaki aneh itu?” tanya Kasnan lagi.
Sena hanya menggelengkan kepala, dan terus cengegesan.
“Setelah Desa Kanginan dan Babakan. Kini Perguruan Elang Sakti. Aku harus cepat memburu manusia gila itu!” gumam Sena lirih.
Sena lalu berjongkok, membalikkan tubuh Ki Putih Maesaireng. Diusapnya wajah lelaki tua itu yang penuh dengan darah. Pemuda berambut gondrong yang lebih kesohor dengan julukan si Pendekar Gila itu tampak menyesali dirinya. Sena tahu bahwa Ki Putih Maesaireng merupakan tokoh lurus beraliran putih. “Sebaiknya kita cepat menguburkan Ki Putih Maesaireng dan yang lainnya!” saran Sena pada Kasnan dan kedua temannya.
Sena dengan ketiga orang itu mulai mengumpulkan mayat-mayat itu, untuk dikuburkan.
***

Sena pagi itu masih berada di Perguruan Elang Sakti, karena malam tadi menginap di perguruan itu. Maksudnya ingin menunggu kedatangan si Ular Kobra dari Utara. Karena Sena memperkirakan pembunuh berdarah dingin itu akan kembali. Namun ternyata tidak. “Aha! Sebaiknya kalian bertiga jaga perguruan ini. Jangan ditinggalkan! Mungkin sewaktu-waktu aku datang, untuk melihat keadaan di sini,” ujar Sena sebelum pergi.
“Tapi, siapakah Tuan sebenarnya?” tanya Kasnan ingin tahu.
“Ah ah ah... Tak perlu tahu. Yang jelas aku akan mencari lelaki pembunuh keji itu sampai dapat. Aku hanya orang biasa seperti kalian,” tutur Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala dan cengegesan.
“Terima kasih, Tuan...,” kata Kasnan sambil menjura, diikuti kedua temannya. Ketiga murid Perguruan Elang Sakti itu tampaknya dapat membaca penampilan Sena sebagai seorang pendekar.
Sena tertawa-tawa sambil menggaruk-garuk kepalanya. Lalu melangkah pergi meninggalkan Perguruan Elang Sakti.
Kasnan dan kedua temannya memandangi kepergian Sena dengan berbagai perasaan.
“Pemuda gagah itu tingkahnya seperti orang gila. Apakah dia yang bernama Pendekar Gila dari Goa Setan itu...?” gumam Kasnan.
Hembusan angin pagi bertiup sejuk, diwarnai nyanyian riang burung menyambut kehadiran matahari menyinari bumi mayapada. Embun-embun belum semuanya pupus dari rerumputan dan daun pohon. Namun tiba-tiba....
“Heaaat...!” “Ceaaat...!” Tampak sepasang muda-mudi tengah terlibat pertarungan. Yang seorang lelaki berusia dua puluh lima tahunan. Rambutnya yang panjang melewati bahu diikat Tubuhnya yang kekar dan berisi terbungkus pakaian silat warna putih dengan ikat pinggang merah. Sedang yang satu lagi seorang gadis yang usianya tak jauh berpaut. Pakaiannya yang merah delima sangat serasi dengan kulitnya yang kuning langsat.
Kedua muda-mudi itu tampak melesat dengan ringan ke atas. Kemudian tubuh keduanya saling bersalto. Sesekali menyerang dan menangkis serangan lawan, diiringi teriakan-teriakan melengking memecah suasana pagi di sekitar air terjun itu.
Wuttt, wuttt! Trangngng! “Hiaaa...!” “Yeaaat..!” Setelah saling menyerang, dengan cepat mereka melontarkan tubuh ke belakang. Tubuh keduanya berjumpalitan di udara beberapa kali, sebelum akhirnya mendarat di atas sebuah batu licin.
Trap! Keduanya saling pandang. Pedang di tangan mereka disilangkan di depan dada. Secara bersamaan tangan kiri mereka digerakkan ke depan, membuka suatu jurus. Sedangkan kaki yang meng- injak batu, digeser sedikit ke samping. Menjadikan tubuh mereka kini dalam posisi miring.
“Kau sudah semakin cepat menggunakan pedangmu, Sundari...,” seru sang Pemuda memuji gadis cantik berpakaian merah delima yang ternyata bernama Sundari.
“Tapi aku masih belum puas, Kakang. Aku ingin teruskan latihan ini sampai aku betul-betul puas...!” sahut Sundari sambil memandangi Sawung Rana, kekasihnya.
“Heaaat..!” Sundari menebaskan pedangnya ke arah Sawung Rana. Pemuda itu cepat melompat dan bersalto dua kali, kemudian mendaratkan kaki jauh di hadapan Sundari. Di tepi air terjun. Sundari melompat memburu Sawung Rana. Keduanya kini kembali saling serang dan tangkis.
Tubuh Sundari melesat sambil bersalto di udara laksana seekor burung elang kelaparan. Tangan kirinya bergerak lincah melakukan pukulan dan tangkisan. Sedangkan tangan kanan menebaskan pedang dengan cepat.
“Hiaaat...!” Wuttt! Wuttt! Srat! Srattt! Pedang di tangan Sundari menebas air terjun di sampingnya. Namun air itu masih saja terpercik, pertanda gerakannya belum sempurna.
“Heaaat...!” Sawung Rana pun melesat, lalu bersalto di udara dengan tangan kiri memukul ke depan. Kemudian disusul dengan tebasan pedang ke air terjun itu.
Wuttt..! Prattt! Air terjun masih terpercik, menandakan gerakan- nya pun belum sempurna. Namun Sawung Rana tak puas begitu saja. Setelah bersalto mundur di udara, tubuhnya kembali mencelat dan membabatkan pedang ke air terjun.
“Heaaa...!” Wuttt! Kali ini air terjun itu tidak terpercik sedikit pun, membuat mata Sundari membelalak. Mulutnya menganga tanpa sadar, menyaksikan hasil yang telah diperoleh sang Kekasih.
Tubuh Sawung Rana bersalto ke belakang sambil memukulkan tangan kirinya ke depan. Kemudian kakinya kembali hinggap di atas batu di kolam air terjun itu. Dengan tersenyum pedangnya kembali dimasukkan ke dalam sarung.
“Kau telah berhasil, Kakang...!” seru Sundari ikut gembira.
“Ya. Kau pun sudah mulai berhasil, Dimas,” sahut Sawung Rana dengan napas sedikit terengah-engah. “Bagaimana? Apakah Dimas mau melanjutkan...?”
Sundari menggelengkan kepala. Lalu melompat mendekati Sawung Rana.
“Kalau begitu kita kembali ke pondok. Kau nampak kelelahan,” ujar Sawung Rana kemudian. Ia mengajak Sundari pergi dari tempat itu.
Tiba-tiba wajah Sundari nampak berubah sedih. Sawung Rana heran. Melihat kekasihnya tiba-tiba saja menampakkan kesedihan.
“Ada apa kiranya, Dimas? Apa yang sedang Dimas risaukan...?” tanya Sawung Rana ingin tahu.
“Entahlah, Kakang. Tiba-tiba aku teringat pamanku Ki Putih Maesaireng,” jawab Sundari lemah. “Mungkin pamanmu juga sedang teringat padamu, Dimas,” sahut Sawung Rana coba menyenangkan hati kekasihnya. “Kalau perlu besok kita bisa menjenguk pamanmu. Bagaimana...?”
Sundari menatap Sawung Rana, hatinya merasa lega dengan ajakan sang Kekasih.
“Apa kau benar-benar akan mengajakku, Kang?” tanya Sundari dengan senyum manis.
Sawung Rana merangkul kekasihnya dengan lembut. Keduanya kemudian meneruskan langkah menuju pondok mereka, yang ada di atas bukit dekat air terjun itu.
Baru saja kedua muda-mudi itu sampai di pelataran pondok yang terbuat dari daun pandan kering, tiba-tiba terdengar teriakan orang minta tolong.
“Tolooong...!”
Seketika Sawung Rana dan Sundari menoleh ke belakang dan memandang ke asal suara teriakan itu.
Seorang lelaki berpakaian rompi hijau berlari menyongsong mereka, tapi jatuh tersandung batu. Sawung Rana cepat menghampiri lelaki itu. Ternyata Kasnan, murid Perguruan Elang Sakti.
“Kang Kasnan...?!” pekik Sundari setelah mengenali lelaki itu.
“Ada apa, Kang?” tanya Sawung Rana sambil memegangi Kasnan.
“Orang itu membakar Perguruan Elang Sakti.... la kembali membunuh orang-orang perguruan lainnya...!” tutur Kasnan dengan napas tersengal- sengal.
“Siapa orang yang kau maksud itu, Kang...?” tanya Sawung Rana, penuh harap.
“Siapa? Apa yang telah terjadi dengan Paman Putih Maesaireng...?!” tambah Sundari cemas sekali.
“Ampun...! Saya terlambat memberitahukan berita ini,” kata Kasnan dengan tersendat-sendat.
“Berita apa?” tanya Sundari makin cemas. “Ki Putih mati. Dibunuh lelaki aneh itu...,” kata Kasnan menjelaskan.
“Hah?! Oh...! Paman...!” Sundari sangat terpukul hatinya mendengar berita itu. Dirinya semakin sedih dan menangis.
“Ternyata firasatku benar, Kakang,” ucap Sundari sambul menangis. Lalu Sundari bergerak ingin pergi. Sawung Rana cepat mencegahnya.
“Dimas.... Sabarlah! Mari kita rundingkan bersama. Aku yakin orang aneh itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi,” ujar Sawung Rana coba meredakan amarah kekasihnya.
“Bagaimana mungkin aku harus bersabar,
Kakang? Belum sempat aku membalas jasa-jasa paman yang telah merawatku, sejak kedua orang tuaku meninggal. Aku merasa berdosa...,” ucap Sundari denga nada sedih.
“Aku mengerti, Dimas. Tapi kita harus berpikir panjang. Sebab yang akan kita hadapi tentunya bukan orang sembarangan. Buktinya, pamanmu yang memiliki ilmu silat yang di atas kita, dapat ditaklukkan,” Sawung Rana coba mengingatkan Sundari.
“Benar,” sambung Kasnan, “Lelaki aneh itu juga menantang semua pendekar yang ada di Jawadwipa ini. Termasuk Pendekar Gila dari Goa Setan.”
“Hah?!” Sawung Rana tersentak. Mengerutkan kening. Demikian pula dengan Sundari. Keduanya saling pandang.
“Setelah kematian Ki Putih Maesaireng, datang seorang pendekar muda, yang tingkahnya seperti orang gila. Pemuda itu menolong kami menguburkan mayat-mayat, termasuk jasad Ki Putih Maesaireng...,” jelas Kasnan kemudian. “Apakah Tuan mengenal pemuda yang bertingkah seperti orang gila itu?” tanyanya penasaran.
“Ya.... Dialah Pendekar Gila dari Goa Setan,” jawab Sawung Rana sambil menganggukkan kepala.
“Sudah aku duga...,” gumam Kasnan lirih. Sawung Rana berpikir sejenak sambil memegangi kening. Ia lalu menoleh ke wajah Sundari yang masih bersedih.
“Dimas, sebaiknya kita cari Pendekar Gila, untuk melawan laki-laki aneh itu. Kita berdua tak mungkin dapat mengalahkannya. Tapi kalau memang kita bertemu dengan lelaki itu. Apa boleh buat,” ucap Sawung Kana.
“Terserah Kakang,” jawab Sundari lemah. “O, ya. Tadi Kang Kasnan tampak ketakutan. Apa lelaki itu mengejarmu, Kang?” tanya Sawung Rana kemudian.
“Betul, Tuan. Tapi sempat dihadang oleh orang- orang Desa Babakan yang marah. Karena terbunuhnya orang-orang desa itu,” tutur Kasnan. “Kalau tidak mungkin saya sudah mati....”
“Hmmm!” Sawung Rana menghela napas panjang, lalu berpaling ke arah Sundari yang ada di sebelah kirinya. “Dimas, sebaiknya kita cepat pergi. Sebelum orang itu menemukan kita di sini.”
Lalu Sawung Rana mengajak Sundari pergi dari pondok itu.
“Kang Kasnan sebaiknya tinggal saja di pondok kami!” kata Sawung Rana sebelum pergi.
“Baik, Tuan.” Sawung Rana dan Sundari melesat pergi meninggalkan pondok itu. Keduanya seperti sepasang elang melesat bagai terbang menuju perbukitan.
***

4
Semilir angin pagi menerpa dedaunan di Bukit Lawa. Tampak sepasang muda-mudi yang tak lain Sawung Rana dan Sundari tengah melesat melintasi jalan tanah di antara perbukitan hijau. Dilihat dari gerakan mereka yang cepat dan gesit, jelas keduanya sama- sama mengerahkan ilmu meringankan tubuh.
Mereka bagai dua ekor kijang melompat-lompat di atas batu dan tanah keras. Tak lama kemudian keduanya berhenti di puncak bukit Mata mereka memandang ke perbukitan itu. Seakan merasa khawatir kalau-kalau ada orang yang mengikuti mereka.
Sawung Rana dan Sundari hendak menuju Perguruan Elang Sakti untuk melihat keadaan perguruan yang telah diporak-porandakan si Ular Kobra dari Utara.
“Kita tak jauh lagi dari Perguruan Elang Sakti, Dimas. Waspadalah!” kata Sawung Rana sambil terus melangkah di samping Sundari.
Sundari hanya menganggukkan kepala pelahan. Matanya memandangi sekeliling tempat itu dengan tajam. Pendengarannya pun dipasang untuk menangkap suara apa saja di sekitar tempat itu.
“Kakang, aku merasakan sesuatu di belakang kita,” bisik Sundari sambil menoleh ke wajah Sawung Rana. “Hm...!” Sawung Rana hanya bergumam pendek. Suasana di perbukitan itu memang sunyi dan sepi.
Yang terdengar hanya suara desah angin dan kicau burung. Pasangan muda-mudi itu terus melangkah menuruni jalan terjal berbatu-batu. Dan ketika sampai di sebuah tempat datar tiba-tiba....
“Kisanak, tunggu...!” Tiba-tiba terdengar seruan yang membuat langkah Sawung Rana dan Sundari terhenti. Kemudian perlahan tubuh mereka berbalik, menghadap ke orang yang menegurnya.
Empat orang lelaki telah berdiri di belakang pasangan muda-mudi yang berpakaian putih dan merah delima itu.
Satu dari keempat lelaki itu tak lain Guntala, Pemimpin Perguruan Bintang Mas yang diam-diam mengikuti sepak terjang Sankher. Dengan sinis Guntala memandang tajam wajah Sawung Rana dan Sundari.
“Ada keperluan apa, Kisanak menghentikan langkah kami?” tanya Sawung Rana. Tangan kanan- nya tampak memegang pedang.
“Ha ha ha...!” Guntala tertawa, “Kalian tentu ingin mencari orang asing yang aneh itu, bukan?”
Sawung Rana dan Sundari mengerutkan kening, keduanya lalu saling pandang. Keduanya heran, karena lelaki yang tak dikenalnya mengetahui tujuan mereka.
“Bagaimana Kisanak bisa tahu?” tanya Sawung Rana menyeledik.
“Ha ha ha...! Aku orang serba tahu. Mungkin aku bisa membantu kalian berdua, untuk menemukan orang asing itu. Ha ha ha...!” Guntala tertawa sambil mengelus-elus jenggotnya yang hitam lebat. Matanya melirik nakal ke arah buah dada Sundari yang nampak menonjol di balik pakaian silatnya.
Sundari membelalakkan mata, ketika tahu dadanya sedikit terbuka. Gadis itu cepat merapikan pakaiannya, “Bajingan! Lelaki tua tak tahu diri, huh!” rungut Sundari dalam hati.
“Tapi kami belum pernah mengenalmu, Kisanak. Bagaimana kami mempercayaimu?” sahut Sawung Rana tegas. “Lagi pula aku tak membutuhkan bantuanmu. Maaf...!”
“He he he! Kalian akan menyesal. Kau berdua akan mati seperti pendekar-pendekar lainnya. Sayang kalau kalian yang masih muda-muda ini harus mati begitu cepat,” ujar Guntala mencoba membujuk Sawung Rana dan Sundari.
Sawung Rana mengerutkan kening, lalu saling pandang dengan Sundari. Keduanya nampak berpikir dan menimbang kebenaran ucapan Guntala.
“Kenapa Kisanak mau membantuku?” tanya Sawung Rana agak mendesak.
“Hm.... Bukankah kita hidup harus saling menolong? Dan kau harus tahu, bahwa aku juga ingin melenyapkan lelaki aneh itu,” kata Guntala mencoba meyakinkan Sawung Rana.
Sawung Rana mengangguk-anggukkan kepala. Seakan hatinya membenarkan ucapan Guntala. Namun, Sundari merasakan ketidakberesan lelaki tua di hadapannya itu. Perasaan kewanitaannya lebih tajam.
“Kakang...!” seru Sundari. “Ada apa, Dimas?” “Sebaiknya Kakang tidak menerima bantuan lelaki itu. Aku...”
Ucapan Sundari yang pelan, seperti berbisik itu tak berlanjut, karena Sawung Rana cepat menukas.
“Kisanak, aku sangat berterima kasih atas maksud baikmu. Namun, aku belum bisa mempercayaimu.”
Sundari merasa lega mendengar ucapan kekasihnya. Gadis itu menghela napas panjang.
“He he he...! Aku tak dapat memaksa kalian. Tapi, ingat! Kalian akan menyesal. Lelaki si Ular Kobra itu akan menghabisi kalian!” ujar Guntala dengan suara ditekan berat. “Dan, kalau kalian bertemu dengan Pendekar Gila, tolong sampaikan pesanku. Paman Dewi Pandagu kirim salam!”
Mendengar ucapan Guntala yang seakan menjadi sahabat Pendekar Gila, membuat Sawung Rana dan Sundari jadi mengerutkan kening. Keduanya saling pandang.
“Hm, maaf Kisanak! Apa Pendekar Gila pernah menemuimu...?” tanya Sawung Rana, yang mulai termakan tipu muslihat Guntala. Dan pemuda yang masih hijau dalam dunia persilatan itu, memang masih labil dan mudah percaya. Apalagi dirinya belum paham benar tentang hubungan Pendekar Gila dan Dewi Pandaku. Hanya Sundari yang sedikit pernah mendengar berita tentang bekas Pemimpin Perguruan Bintang Mas itu dari pamannya, Ki Putih Maesaireng. Itu pun hanya sedikit.
“Terus terang saja, sebenarnya aku ingin bertemu Pendekar Gila dari Goa Setan, untuk menangkap dan segera melenyapkan si Ular Kobra dari Utara!” tambah Guntala dengan wajah menggambarkan kecemasan.
Sawung Rana dan Sundari makin termakan tipu muslihat Guntala. Sundari yang semula mencurigai maksud buruk Guntala, kini justru meminta maaf.
“Kisanak, maafkan kalau tadi kami kurang ramah, pada Kisanak...,” ucap Sundari kemudian. Tentu saja dengan senyum tersungging di wajahnya.
“Tak apa-apa. Wajar kalau wanita seperti kau mempunyai kecurigaan demikian terhadap orang seperti aku ini,” jawab Guntala diiringi senyum yang dibuat-buat.
Sejenak mereka diam. Hanya perasaan masing- masing yang sedang bergolak.
“Kisanak, sebaiknya kita tak perlu lama-lama lagi. Kalau Kisanak berdua tak keberatan, bagaimana kalau kita rundingkan rencana melenyapkan si Ular Kobra dari Utara itu di pondok kami,” ajak Guntala tiba-tiba memecah keheningan.
“Baiklah...,” wajab Sawung Rana setelah minta persetujuan Sundari.
Maka mereka segera pergi meninggalkan Bukit Lawa yang angker itu. Sawung Rana dan Sundari berjalan paling depan. Di samping Sundari tampak Guntala yang sejak tadi tergiur kemontokan tubuh gadis itu. Sedangkan tiga orang anak buah Guntala mengiringi di belakang. Ketiganya mengenakan pakaian serba hitam dengan dada terbuka. Ikat kepala mereka pun sama, hitam. Wajah mereka tidak menampakkan kebengisan. Biasa-biasa saja. Hanya kumis tebal melintang di atas bibir mereka.
“Tak jauh lagi. Di balik lembah itu pondok kami...,” ujar Guntala dengan suara agak serak. Matanya terus melirik ke dada Sundari yang montok.
Pimpinan Perguruan Bintang Mas itu sengaja tidak membawa Sawung Rana dan Sundari ke tempat perguruannya, karena takut diketahui siapa dia sebenarnya. Karena itu Guntala membawa Sundari dan Sawung Rana ke pondok yang biasa digunakannya sebagai persembunyian, bila menghadapi sesuatu masalah. Seperti ketika dirinya meninggalkan Dewi Pandagu, setelah bertengkar pendapat dengan keponakannya itu.
Guntala memang mempunyai sifat buruk. Senang mempermainkan wanita, bahkan pernah bermaksud menguasai Perguruan Bintang Mas, yang dipimpin Dewi Pandagu.
“Masih jauh, Kisanak...?” tanya Sundari mulai cemas.
“Tidak, tidak jauh lagi. Setelah kita menuruni lembah, sudah tak jauh,” jawab Guntala diiringi senyum hambar. Matanya tak henti-henti melirik buah dada Sundari. Tampaknya gadis itu belum merasakan kalau dirinya sedang diperhatikan.
Jalanan yang dilalui semakin sunyi dan terasa angker. Jauh dari pemukiman penduduk. Batu-batu cadas tampak di sana-sini. Hati Sundari semakin cemas. Sejenak gadis berpakaian merah delima itu menghentikan langkah.
“Ada apa, Dimas?” tanya Sawung Rana heran. Sundari tak menjawab. Gadis cantik itu hanya menghela napas panjang.
“Ada sesuatu Kisanak...?” tanya Guntala berpura- pura merasa khawatir.
“Tidak. Hanya...,” Sundari tak meneruskan ucapannya. Kemudian kembali melangkahkan kakinya.
Ketika sampai di suatu dataran yang sekelilingnya ditumbuhi pepohonan rindang dan besar, tiba-tiba....
“Heaaa...!” “Aist...! Heh?!” Salah seorang anak buah Guntala menyerang Sawung Rana secara membokong. Namun pemuda tampan itu tampaknya telah merasakan ketidak- beresan itu. Hingga dengan cepat menjatuhkan diri lalu bergulingan di tanah.
“He he he...!” Sementara Sundari pun mendapat perlakuan kurang sopan dari Guntala. Lelaki setengah tua itu, dengan gerakan cepat menarik lengan Sundari disusul dengan remasan tangan kanannya ke buah dada gadis cantik itu.
“Akh...!” pekik Sundari sambil menepiskan tangan Guntala. Lalu cepat menjauhi lelaki tua keladi itu, sambil memasang kuda-kuda.
“He he he...! Ck ck ck...! Kau membuat kelelakianku tergoda, Cah Ayu. He he he...!” Guntala dengan mata liar memandangi keindahan tubuh Sundari yang sintal dan sangat menggairahkan itu. Lidahnya menjulur keluar, membasahi bibirnya sendiri.
“Tua bangka tak tahu diri...!” sungut Sundari dengan muka merah. Mata Sundari menatap tajam Guntala yang melangkah mendekatinya. Sementara tangan dan kakinya sudah mengatur kedudukan, memasang kuda-kuda.
“He he he...! Cah Ayu, kau tak usah marah! Menurutlah, sebelum kau menyesal...,” bujuk Guntala, sambil mengusap-usapkan dadanya. Matanya terus menatap dengan nakal tubuh Sundari.
“Dasar laki-laki cabul...! Heaaat...!” Sundari yang sudah tak sabar lagi, langsung menyerang Guntala. Dibabatkan pedangnya ke ulu hati lelaki setengah baya itu. Namun Pemimpin Perguruan Bintang Mas itu berilmu silat yang cukup tinggi. Terbukti dengan mudah mengelakkan serangan lawan. Dimiringkan tubuhnya ke samping kiri dan kanan. Lalu melompat mundur.
“He he he..., eits! Sabar, Cah Ayu! Kau tampak cantik dan membuatku semakin bernafsu, jika marah begitu.... Ayolah!”
Guntala terus meledek, bahkan sekan tak peduli dengan pedang Sundari yang terus mencecarnya. Dengan merebahkan tubuh dan berguling ke tanah, Guntala mengelakkan serangan gadis berpakaian merah delima itu.
“Heaaattt...!” “Eit...! Heaaa...!” Guntala mulai beraksi. Dengan lincah lelaki tua itu menangkis dan melancarkan serangan balik ke tubuh lawan. Sundari tersentak melihat serangan balik Guntala yang cepat. Membuat ia menarik pedangnya ke depan dada. Kemudian menarik napas sejenak dan kembali membuka serangan.
“Heaaat...!” “Heits! Hih...!” Degk! Degk! “Aaakh...!” Sundari memekik kesakitan, ketika pukulan Guntala bersarang telak di tengkuk dan punggungnya. Tubuhnya terhuyung-huyung sambil memegangi tengkuknya. Wajah gadis cantik itu memerah karena marah.
“He he he...! Menyerah sajalah kau, Cah Ayu. He he he...!” ejek Guntala sambil mendekati Sundari yang masih kesakitan. Namun ketika lelaki setengah baya itu berada satu tombak di depannya, tanpa diduga Sundari dengan cepat membabatkan pedang- nya. Lelaki tua yang memiliki ilmu silat dua tingkat dari lawannya, dengan cepat merebahkan badan ke belakang. Sedangkan tangannya coba menangkis serangan Sundari.
“Heaaat...!” Wuttt! “Aits! Hea...!”
Guntala berjumpalitan ke belakang, ketika Sundari mencecarnya. Lalu kakinya hinggap pada sebuah batu besar. Dan selamatlah lelaki tua keladi itu.
“Hi hi hi...! Percuma kau melawanku, Manis. Hi hi hi...!” Guntala mengejek Sundari sambil mengusap- usap jenggotnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya bertolak pinggang.
Sundari yang kini berada di bawah, memandang lelaki itu dengan penuh kebencian.
Sementara itu Sawung Rana masih bertarung sengit melawan tiga anak buah Guntala.
“Kurung dia...!” seru salah seorang dari ketiga anak buah Guntala.
“Heaaa...!” “Yeaaat...!” Trang! Trang! Pedang Sawung Rana dan golok ketiga lawannya beradu. Mengeluarkan percikan sinar api. Dengan gesit dan cepat, Sawung Rana menyerang dan menangkis serangan lawan. Ketiga lawannya sempat tersentak, ketika babatan pedang pemuda ber- pakaian putih itu sempat melukai lengan salah seorang dari mereka.
“Heaaa...!” Wuttt! Crasss! “Aaakh...!” Pekik Barkala, satu dari ketiga anak buah Guntala.
“Hah...?! Boleh juga ilmu pedang pemuda itu...,” gumam Wiraksa yang berbadan paling besar. Matanya membelalak lebar.
“Serang...!” seru Darkapala, orang yang paling tua di antara ketiga anak buah Guntala. Kumisnya yang tebal menyatu dengan cambang bawuk di pipi.
Melihat lawannya berkelebat menyerang, Sawung Kana pun tak mau tinggal diam. Secepat itu pula pemuda tampan itu melompat sambil menjulurkan pedang ke depan, memapaki serangan lawan. Tak terhindarkan, pertarungan semakin seru dan sengit. Ketiga anak buah Guntala nampak penuh semangat ingin segera menjatuhkan Sawung Rana. Apalagi Barkala sudah terluka.
“Heaaa...! Mampus kau Anak Muda...!” seru Darkapala sambil membabatkan golok ke kepala lawan yang sempat lengah. Namun, Sawung Rana masih bisa menangkis dengan pedang, sebisanya sambil berguling ke samping, menjauhi lawan- lawannya.
Mata Darkapala membelalak, ketika serangannya dapat ditangkis. Hatinya semakin kesal dan marah. Mukanya merah. Lalu dengan cepat kembali menyerang Sawung Rana yang sudah kembali siap menghadapi mereka.
Kini Darkapala dan Wiraksa menyerang ber- samaan dari dua arah. Keduanya melompat sambil berteriak. Sawung Rana pun melompat memapaki serangan itu.
“Heaaa...!” “Yeaaat...!” Trang! Trang! Wuttt! Wuttt! Pekikan keras dan denting senjata saling beradu terus terdengar semakin riuh. Dengan sekuat kemampuannya Sawung Rana terus berusaha bertahan dari gempuran serangan kedua lawannya yang menyerang secara serentak. Namun Sawung
Rana yang memang ilmu pedangnya belum sempurna, dan masih satu tingkat di bawah anak buah Guntala tetap menunjukkan kekerasan hati untuk bertahan. Namun, tiba-tiba....
Swing! Swing! “Hah?! Aaakh...!” Tanpa diduga sama sekali, Durkapala dan Wiraksa mengeluarkan senjata rahasia. Beberapa pisau kecil melesat memburu tubuh Sawung Rana. Bahkan satu di antaranya mengenai tangan kanan Sawung Rana. Pemuda itu memekik keras. Tubuhnya jatuh bersamaan dengan pedangnya yang terlepas.
Melihat Sawung Rana jatuh dan mulai melemah fisiknya, Darkapala, Wiraksa, dan Barkala serentak hendak menghabisi nyawanya. Namun tiba-tiba....
“Aaakh...!” Sesosok bayangan melesat begitu cepat. Bagai seekor elang menyambar mangsa, melancarkan serangan kilat. Kontan ketiga anak buah Guntala terpekik. Tubuh mereka terpental lima tombak dari tempatnya, karena terkena serangan cepat dari sosok bayangan tadi.
“Aha, rupanya ada manusia-manusia kotor di sini. Hi hi hi...!” ejek seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular, yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan.
“Hukh! Huekh...!” Ketiga anak buah Guntala muntah darah dan tak mampu bangkit lagi. Dada mereka membekas telapak tangan kebiruan.
Tak jauh dari situ, Sundari telah berada di tangan Guntala. Tampaknya tubuh gadis berpakaian merah delima itu tertotok jalan darahnya, hingga terkulai lemas. Guntala tak membuang kesempatan baik itu. Segera lelaki tua yang mata keranjang itu menggeluti tubuh Sundari yang sudah tak berdaya kena totokannya.
Guntala baru saja hendak melepaskan pakaiannya untuk menggeluti Sundari ketika ter- dengar suara gelak tawa menggelegar yang seakan hendak menggetar bumi.
“Hua ha ha...! Hi hi hi...! Rupanya masih ada lagi tikus tua mau melalap laun muda... Lucu, lucu sekali tua bangka ini...!” ejek Pendekar Gila sambil bertingkah seperti orang gila.
“Hah...?! Kurang ajar...! Siapa kau, Pemuda Sinting!” bentak Guntala sambil memberesi celana- nya. Matanya terbelalak kaget melihat kedatangan pemuda bertingkah laku gila yang begitu tiba-tiba.
“Ah ah ah! Untuk apa mengetahui siapa aku. Yang jelas aku bukan hantu, atau seperti kau, Tua Bangka...!” sahut Sena dengan nada mengejek sambil menggaruk-garuk kepala.
Pendekar Gila cepat melesat mendekati Sundari lalu cepat membawanya menjauh dari Guntala yang masih nampak gugup. Dan setelah berada cukup jauh dari Guntala segera ditotoknya tubuh gadis itu agar terbebas aliran darahnya.
Tuk! Tuk! “O..., hah?! Siapa kau?” tanya Sundari setelah sadar, melihat Sena yang cengengesan. Lalu menoleh ke arah Guntala yang siap mau menyerang Sena.
“Cepat, selamatkan kawanmu di sana!” kata Sena, “Nanti baru kita bicara. Akan kubereskan tua bangka ini.”
Seperti tanpa sengaja Sundari menganggukkan kepala, lalu melesat menuju tempat Sawung Rana yang kesakitan. Tangannya mengucurkan darah.
“Kau...?! Rupanya kau Pendekar Gila! Kebetulan, aku sedang mencari-carimu, Pemuda Gila...!” dengus Guntala marah melihat Pendekar Gila yang telah menghalangi niatnya.
“Aha, hi hi hi..., lucu sekali kau ini, Tua Bangka! Otak kotormu itu perlu dicuci. Ah..., untuk apa kau mencariku...?!” tanya Pendekar Gila sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
“Aku mencarimu hanya akan memberi tahu, bahwa kau tak lama lagi akan mampus oleh tokoh yang berjuluk Ular Kobra dari Utara itu! Ha ha ha...! Dan aku telah mengatakan, bahwa kaulah yang membunuh keponakanku, Dewi Pandagu. Ha ha ha...!” Guntala tertawa terbahak-bahak. Hatinya merasa yakin kalau Pendekar Gila pasti akan mati di tangan Sankher. Namun Sena yang mendengar itu justru bertingkah seperti monyet, melompat-lompat, sambil menepuk-nepuk pantatnya. Lalu menggaruk-garuk kepala sambil tertawa-tawa.
“Hi hi hi...! Lucu, lucu sekali! Kau memang tua bangka yang sudah pikun dan bosan hidup...!” tukas Sena dengan cekikikan.
“Kurang ajar! Heaaattt...!” Guntala yang sudah tak tahan mendengar ejekan Sena, langsung menyerang. Namun sebelum Sena bertindak. Tiba-tiba....
“Yeaaattt...!” Sundari yang benar-benar tak mampu menahan amarah mendahului, menyerang Guntala.
Melihat serangan cepat yang dilakukan gadis berpakaian merah delima itu Guntala nampak tersentak kaget. Namun dengan gerak cepat lelaki setengah baya itu mengelakkan serangan pedang Sundari.
Namun serangan cepat Sundari yang disertai amarah dan nafsu itu hanya sia-sia belaka. Tampak- nya Guntala yang berilmu lebih tinggi beberapa tingkat mampu membaca kemampuan lawan.
“Heaaa...!” Wuttt! Wuttt! “Aits! Hea...!” Beberapa kali serangan Sundari dapat dielakkan oleh Guntala dengan melompat ke kanan dan kiri. Atau sesekali melenting ke atas.
“Heaaa...!” Wuttt! “Heh?! Hea...!” Dugk! “Aaakh...!” Pekikan tertahan terdengar dari mulut gadis cantik berambut panjang itu ketika pukulan tangan kanan Guntala mendarat di tengkuknya. Tubuhnya tersungkur ke depan lalu jatuh mencium tanah.
Melihat Sundari jatuh, Pendekar Gila langsung melenting melakukan serangan. Dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' tubuhnya meliuk-liuk laksana menari dengan tangan sesekali menepuk ke tubuh lawan. Gerakannya kelihatan lamban dan lemah gemulai, bagaikan tak mengandung tenaga sama sekali.
Hal itu membuat Guntala menganggap remeh lawan. Lelaki setengah baya itu segera melancarkan serangan dengan membabatkan pedangnya. Dirinya menyangka gerakan Pendekar Gila yang lamban dan lemah itu tak akan mampu mengelakkan sabetan pedangnya. Namun betapa terkejut hatinya ketika menyaksikan apa yang terjadi.
Dugaan Guntala meleset. Pemuda berambut gondrong dan bertingkah laku seperti orang gila itu sangat mengagumkan. Meski gerakan Pendekar Gila kelihatan lamban dan lemah, ternyata justru dengan mudahnya mengelak. Hanya dengan menggeser kaki ke samping dan melenturkan tubuh dengan mem- bungkuk dan mendongak, semua serangan lawan dapat dielakkannya. Bahkan tiba-tiba....
“Hih...!” Wuttt! Hampir saja pukulan telapak tangan Pendekar Gila menghantam dada Guntala, kalau tak segera melompat ke belakang. Betapa terkejutnya Guntala ketika tiba-tiba tangan Pendekar Gila yang seperti menari itu telah dekat ke tubuhnya. Padahal dirinya telah menguras ilmu meringankan tubuh, namun tetap saja pendekar muda itu mampu mengejarnya.
“Hah?! Jurus gila...!” pekik Guntala, kaget. Wajahnya mendadak pucat. Menyaksikan jurus aneh yang dikeluarkan Sena. Namun sebagai orang yang telah banyak pengalaman, Guntala tak ingin mengalah begitu saja. Tubuhnya segera melenting untuk mengelakkan serangan lawan, kemudian dengan cepat dibukanya jurus andalan yang dinama- kan 'Cakar Naga Merah'.
Karena gerakan yang sangat cepat, tangan Guntala berubah menjadi banyak. Kuku-kukunya yang panjang dan runcing membentuk cakar naga, bergerak cepat mengcengkeram dan mencabik ke tubuh Pendekar Gila. Ke mana Sena bergerak, tangan Guntala terus mengejarnya dengan cakaran-cakaran maut. “Heaaattt...!”
Wrertt! Wrettt! Masih dalam jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' Pendekar Gila meliuk-liuk ke sana kemari meng- elakkan serangan 'Cakar Naga Merah' Guntala. Mulutnya kadang-kadang cekikikan, atau cengengesan mengejek lawan.
Melihat tingkah laku konyol pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu Guntala tampak ternganga. Karena marah dan kesal, serangannya tak terarah, mulai ngawur. Mengetahui keadaan lawan itu Pendekar Gila cepat melancarkan serangan.
Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari sambil melontarkan pukulan dengan telapak tangan.
“Heaaa...!” Plak! Plakkk! “Aaakh...!” Guntala memekik keras, ketika tepukan tangan Pendekar Gila yang tampak lemah dan tak bertenaga mendarat telak di dadanya. Mata- nya terbelalak heran, hampir tak percaya dengan apa yang barusan dialami. Tubuhnya terlontar deras ke belakang lalu jatuh bergulingan.
“Huekh...!” Dari mulut Guntala keluar darah segar. Tampak- nya pukulan Pendekar Gila telah menimbulkan luka dalam.
“Hi hi hi...! Kenapa kau, Ki? Ah, itu imbalan bagi orang tua usil...!” mulutnya cengengesan lalu tertawa cekikikan.
“Kenapa tak kau bunuh, Tuan Pendekar...?” tanya Sundari yang telah berdiri di samping kanan Sena.
“Aha, aku tak bisa membunuh lawan yang sudah terluka,” jawab Sena masih menggaruk-garuk kepala dan mulut cengengesan.
Sundari semakin heran melihat tingkah Sena.
Gadis itu, tanpa sengaja melihat Suling Naga Sakti yang terselip di pinggang Sena.
“Heh?!” desis Sundari dengan membelalak, “Kisanak..., apakah kau Pendekar Gila itu...?”
Belum sempat Sena memberikan jawaban terdengar suara seperti mengerang dari mulut Guntala.
“Pendekar Gila, bunuh saja aku! Bunuhlah... huk, huk, huk!”
“O..., jadi kaulah Pendekar Gila yang kucari itu. Alangkah bahagia aku dan Kakang Sawung Rana...!” ujar Sundari dengan tersenyum, penuh rasa gembira, “Kakang Sawung Rana...!”
Sundari berlari menuju kekasihnya yang masih duduk menahan sakit yang mulai reda. Sementara Sena tampak menggeleng-gelengkan kepala sambil cengengesan.
Sundari memberi tahu Sawung Rana, kalau yang menyelamatkan mereka, tak lain Pendekar Gila. Sawung Rana tampak nampak gembira.
“Pemuda Gila bunuh saja aku...,” rintih Guntala lagi. “Hi hi hi...! Tidak, aku malah akan menyembuh- kanmu. Tapi dengan syarat, cepat pergi dari tempat ini bersama anak buahmu. Dan jangan coba-coba ganggu atau ikut campur urusanku dengan lelaki aneh itu!” ujar Sena sambil mengangkat tubuh Guntala yang mengalami luka dalam akibat pukulan- nya. Guntala yang mendengar dan melihat Pendekar Gila berlaku begitu pada dirinya, merasa malu. Karena kejahatannya dibalas dengan rasa belas kasih.
“Cepat perintahkan anak buahmu pergi. Juga
kau!” kata Sena lagi, sambil menggaruk-garuk kepala. “Baik, baik,” jawab Guntala sambil membungkuk ketakutan! “Hei! Darkapala, Wiraksa, dan Kau Barkala! Ayo pergi!” perintahnya pada ketiga anak buahnya.
Sambil menahan rasa sakit ketiga anak buah Guntala mengikuti pimpinannya meninggalkan tempat itu.
“Tuan Pendekar..., kami berdua mengucapkan terima kasih. Kalau Tuan Pendekar tidak menolong kami, entah bagaimana nasib kami,” ucap Sawung Rana dengan lemah. Matanya menatap wajah Pendekar Gila.
“Benar. Mungkin lelaki tua itu akan dapat merenggut kegadisanku...,” tambah Sundari dengan nada sedih dan cemas.
“Aha, sudahlah, jangan kalian pikirkan! Aku memang wajib menolong orang yang lemah,” jawab Sena sambil menggaruk-garuk kepala. “O, ya... bagai- mana ceritanya sampai kalian diperdaya mereka?” tanyanya kemudian.
Sawung Rana kemudian menceritakan semuanya dari awal. Dari mulai seorang murid Perguruan Elang Sakti memberi tahu kalau Ki Putih Maesaireng, paman Sundari dibunuh lelaki yang mengaku sebagai Ular Kobra dari Utara. Sampai akhirnya mereka ingin mencari Pendekar Gila untuk minta bantuan. Namun di tengah jalan mereka bertemu dengan Guntala dan anak buahnya yang mengaku juga mencari Pendekar Gila, guna menangkap penjahat bersenjata tongkat berkepala ular.
“Aha, lucu sekali! Tapi kalian tak usah memanggilku dengan sebutan Tuan Pendekar. Aku orang biasa seperti kalian. Panggil saja aku Sena!” kata Sena menggaruk-garuk kepala.
Sawung Rana dan Sundari tersenyum. Lalu saling pandang.
“Sekarang kami berdua makin lega dan tak merasa cemas. Tapi kenapa lelaki itu kau lepas begitu saja?”
“Bagaimana kalau mereka kembali melakukan perbuatan buruk? Atau mungkin mereka mempunyai siasat untuk menjebak kita...?” tambah Sundari kemudian.
“Hi hi hi...! Aku tak peduli. Itu terserah mereka,” jawab Sena dengan acuh. Kemudian menggaruk- garuk kepala dan cengengesan.
Sawung Rana dan Sundari bergeleng kepala, kemudian menghela napas panjang. Keduanya merasa heran melihat ketenangan Pendekar Gila. Tak ada rasa khawatir atau takut.
“Sekarang cepat kita pergi, mencari lelaki aneh itu!” ajak Sena pada Sundari dan Sawung Rana.
“Hm... Sena! Bagaimana kalau kita melihat keadaan perguruan pamanku dulu? Siapa tahu di sana kita mendapatkan petunjuk,” ucap Sundari dengan nada memohon.
Sena menggaruk-garuk kepala. Ia berpikir sejenak, lalu dipandanginya Sundari dan Sawung Rana. “Sebenarnya aku sudah datang ke tempat Perguruan Elang Sakti. Aku telah menguburkan Ki Putih Maesaireng. Maafkan, aku datang terlambat, ketika si Ular Kobra telah membunuhnya,” kata Sena menjelaskan pada Sundari.
Sundari mengerutkan kening dan menghela napas panjang.
“Terima kasih, kau telah mengurus dan mengubur pamanku. Tapi aku tetap ingin melihatnya. Rasanya aku merasa berdosa, jika tak melihat makamnya.... Kini aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Paman Putih Maesaireng adalah satu-satunya harapanku...,” tutur Sundari dengan nada sedih. Tanpa terasa, air mata menetes membasahi pipinya yang halus.
Sena menggaruk-garuk kepala, lalu mengangguk- angguk memahami perasaan gadis itu. Sawung Rana memegangi bahu kekasihnya yang masih terisak dengan tangisnya.
“Baiklah, aku akan mengantar kalian...,” kata Sena kemudian.
Sundari merasa lega dan senang. Pergilah mereka meninggalkan tempat itu, menuju Perguruan Elang Sakti.
***

5
Banyak tokoh dari kalangan persilatan yang marah dan bersumpah akan membunuh Sankher si Ular Kobra dari Utara, karena telah banyak memakan korban. Selain itu tokoh dari India itu menantang dan menghina para pendekar di Jawadwipa.
Pendekar Gila merupakan tokoh yang menjadi incaran utama si Ular Kobra dari Utara. Siang itu Sena dan dua kawan barunya, Sawung Rana dan Sundari hendak meninggalkan Perguruan Elang Sakti, setelah mengunjungi kuburan Ki Putih Maesaireng. Namun ketika ketiganya sampai di pintu keluar perguruan, dari jauh terlihat empat orang lelaki berjalan menuju mereka, keempat orang itu nampak terburu-buru.
Sena, Sundari, dan Sawung Rana saling pandang. Mereka merasa cemas melihat kedatangan tiga lelaki yang tampaknya para pendekar. Hal itu terlihat dari pakaian mereka.
“Sena..., kami beruntung dapat menemukan kau di sini!” seru lelaki berjubah putih, dengan pakaian dalam warna kuning. Rambutnya ditutupi blangkon warna putih pula. Ki Rahsewu dari Perguruan Cempaka Ungu.
“Dan kami juga punya tujuan akan melihat keadaan Ki Putih Maesaireng, yang dikabarkan telah mati dibunuh si Ular Kobra dari Utara itu...,” kata Suryawijaya kemudian. Lelaki berambut putih panjang, dengan kain pengikat yang menutupi kepalanya.
“Sebaiknya kita merundingkan maksud kita secepatnya...,” sela Ki Kuncara, orang yang paling tua di antara keempat pendekar aliran putih itu. “Apa Kisanak tak keberatan, kami meminjam tempat ini, untuk kami...?” tanya Ki Kuncara pada Sundari.
“Tidak, Ki. Saya malah merasa senang. Mari, silakan..., mari...!” jawab Sundari dengan ramah.
Mereka kembali melangkah menuju teras Perguruan Elang Sakti. Tampaknya ada sesuatu hal yang penting harus dibicarakan. Yang jelas mereka ingin membicarakan soal Sankher atau si Ular Kobra dari Utara yang membabi buta, membunuh orang- orang tak berdosa, serta menantang semua pendekar yang ada di Jawadwipa ini.
Mereka duduk di lantai beralaskan tikar, di teras rumah Ki Putih Maesaireng. Sundari dan Sawung Rana pun ikut berkumpul mendengarkan perundingan itu.
Ki Kuncara, mulai membuka permasalahannya. Lelaki tua itu memberikan pendapat dan rencana, serta kehebatan ilmu silat si Ular Kobra dari Utara. Sena yang mendengar cerita Ki Kuncara hanya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengar-cengir.
“Tokoh aneh itu kalau lama-lama kita biarkan, akan semakin ganas. Menurut hemat saya, kita harus menangkap dan bila perlu membunuhnya. Setimpal dengan perbuatan kejinya. Dia telah menginjak-injak wibawa dan harga diri para pendekar di tanah Jawadwipa ini. Termasuk, kau, Sena...,” kata Ki Kuncara menegaskan. Wajahnya yang sedikit keriput memperlihatkan perasaan bencinya terhadap Sankher.
Semua terdiam, tapi mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya mereka setuju dengan pendapat Ki Kuncara.
Sena sendiri masih menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
“Ah ah ah..., tak ada masalah bagiku, Ki. Hi hi... akan kuhadapi orang itu. Hanya kuharap kalian berhati-hati jangan gegabah menghadapinya,” ujar Sena kemudian. Mulutnya cengengesan sambil memandangi wajah keempat pendekar itu.
“Kenapa, Sena...?” “Aku dengar ia membunuh lawan dengan tongkatnya. Kurasa tongkat itu tidak sembarangan. Senjata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Mungkin juga tongkat itu bisa berubah menjadi senjata yang lebih hebat...,” tutur Sena menjelaskan.
“Bagaimana kau tahu...?” “Ah..., itu hanya firasatku saja. Terserah pada kalian, percaya atau tidak...,” jawab Sena. Kemudian menggaruk-garuk kepala, sambil cengar-cengir.
“Aku sependapat dengan apa yang dikatakan Sena. Kita memang harus menyusun kekuatan, merencanakan dengan tepat, untuk menaklukkan dan menangkap orang itu,” usul Rahsewu dengan penuh semangat.
“Ya! Kita semua bertanggung jawab atas semua ini. Maka dari itu, saya harap kita bisa bersatu,” tambah Ki Kuncara.
“Biarlah aku sendiri yang melaksanakan tugas ini. Karena si Ular Kobra dari Utara itu mencari dan menantangku secara pribadi,” sela Sena dengan tegas. Kemudian menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
Semua nampak lega mendengar jawaban Sena. Kemudian mereka semua saling berjabat tangan. Tangan-tangan mereka menjadi satu, saling jabat dengan erat. Melambangkan kesatuan dan kebersamaan.
“Kalau kalian tidak keberatan, kami berdua juga ingin bergabung untuk menangkap lelaki itu...,” kata Sawung Rana tiba-tiba, setelah mereka selesai berjabat tangan.
“Hm...,” Ki Kuncara manggut-manggut sambil mengusap-usap jenggotnya. “Kami sangat senang mendengarnya. Tapi ingat, jangan ceroboh. Sebaiknya kalian berdua bergabung dengan aku dan lainnya!”
“Terima kasih, Ki...,” jawab Sawung Rana sambil menjura. Ia nampak senang. “Kami berdua rela mati. Dan kami mengakuinya, bahwa ilmu silat yang kami miliki masih belum sempurna...”
Dengan jujur Sawung Rana mengutarakan keadaan dirinya. Mereka yang mendengar merasa haru. Namun juga bangga mendengar kejujuran pemuda seperti Sawung Rana itu.
***

Di siang yang panas dengan matahari menyinari daerah perbukitan tampak seorang lelaki bertubuh gagah berjubah hitam dengan kepala tertutup kain sorban wama merah hati. Lelaki yang tak lain Sankher atau si Ular Kobra dari Utara melangkah ringan di atas jalan terjal berbatu-batu.
Sankher terus menyusuri jalan terjal perbukitan itu. Tongkat di tangan kanannya yang telah banyak memakan korban terlihat angker. Sebuah tongkat sakti yang mempunyai keampuhan yang luar biasa. Siapa pun yang terkena, dalam sesaat akan mengalami kematian secara mengerikan. Kepala pecah dan seketika membiru sekujur tubuhnya.
Matanya dengan tajam mengawasi sekeliling daerah yang dilewati. Langkahnya mantap dan pasti. Tangan kanannya yang menggenggam tongkat terayu mantap, mengiringi langkah kakinya.
“Hei, kau. Tunggu...!” Tiba-tiba terdengar seruan yang membuat langkah Sankher terhenti. Kemudian perlahan tubuh- nya berbalik, menghadap ke pemilik suara.
Mata Sankher menatap tajam dan galak pada pemilik suara yang ternyata seorang lelaki berambut putih, panjang. Tubuhnya yang tinggi dan agak kurus terbalut pakaian longgar wama hijau muda. Dan di kepalanya terikat kain hitam.
Lelaki itu tak lain Suryawijaya. Lelaki berusia empat puluh tahunan ini tidak sendirian. Dari arah lain muncul dua orang murid utamanya, yang ber- pakaian serba merah. Keduanya merupakan Kembar Juling. Karena mata mereka juling.
“Hm...!” Sankher mendengus sinis menatap ketiga orang yang menghadangnya. “Siapa kalian?! Berani menghentikan langkahku?!” tanya Sankher kemudian dengan suara berat
“Ha ha ha...! Orang sinting, kaukah Ular Kobra dari Utara...?!” tanya Suryawijaya dengan nada sinis.
Sankher tak langsung menjawab. Hanya matanya yang bicara. Menatap tajam wajah Suryawijaya dan kedua Kembar Juling. Tangannya masih bersedekap di depan dada.
“Hei...! Apakah kau bisu?! Jawab...!” bentak Suryawijaya yang sudah tak tahan menahan marah. Karena ia yakin benar, lelaki yang saat ini berhadapan dengannya, adalah orang yang dicari.
“Kalau benar, kalian mau apa...?!” Sankher balas bertanya, “Aku tak ada urusan dengan kalian.”
“Benar. Tapi aku ditugaskan untuk menghentikan sepak terjangmu yang tak terpuji itu. Membunuh seenaknya orang-orang dan para pendekar tanah Jawadwipa ini.”
“Hm...! Kau bicara seenaknya. Kalau aku tak mau, kalian mau apa?” sahut Sankher lalu tertawa.
Mata Suryawijaya membelalak mendengar ucapan Sankher yang mengejek dan meremeh- kannya. Begitu pun kedua Kembar Juling, ikut marah. Mata mereka menatap tajam lelaki asing di hadapannya.
“Kau sungguh sombong Kisanak. Aku minta sekali lagi, kau mau meninggalkan tanah Jawadwipa ini. Sebelum kami menangkapmu...!” kata Suryawijaya dengan geram.
“Sebelum aku mencincang Pendekar Gila aku tak akan pergi...!” jawab Sankher tegas.
Usai berkata begitu, Sankher membalikkan tubuh tanpa menghiraukan Suryawijaya dan kedua muridnya. Kemudian dengan seenaknya melangkah meninggalkan tempat itu, sambil tertawa-tawa mengejek.
Bukan main geram dan marahnya Suryawijaya dan Kembar Juling, melihat tindakan Sankher yang sama sekali tidak menggubris mereka.
“Kurang ajar! Berhenti kau, Pembunuh...!” bentak Suryawijaya.
Sankher tak mau berhenti. Kakinya terus melangkah dengan mantap. Seakan benar-benar tak menghiraukan kemarahan ketiga orang tadi.
“Orang ini perlu dikasih pelajaran! Hei...! Kau kira kami takut denganmu?! Heaaa...!”
Suryawijaya melesat cepat untuk mengejar Sankher, diikuti kedua murid utamanya.
“Heaaa...!”
“Yeaaa...!” Tubuh ketiganya langsung menghadang ke depan si Ular Kobra dari Utara, yang masih tenang. Matanya yang bagai mata elang saat itu memandang tajam wajah Suryawijaya dan kedua anak buahnya.
“Ha ha ha...! Kalian orang-orang bodoh!” dengus Sankher dengan geram.
“Hei, Orang Asing! Berhenti...!” bentak Suryawijaya. Matanya menatap semakin tajam, penuh kebencian pada lelaki aneh yang ada di hadapannya.
“Kalian mau menghalangiku...?! Lebih baik minggir. Percuma kalian menentangku. Tak usah kalian ikut campur urusanku. Sebaiknya, kalian ikut membantuku untuk menemukan Pendekar Gila,” ujar Sankher setengah mengejek dan sinis.
“Bangsat kau!” maki Suryawijaya marah. Gigi- giginya saling beradu, mengeluarkan suara ber- gemeretak.
Sankher hanya tersenyum sinis. Matanya yang tajam memandangi ketiga lelaki di depannya. Tangan kanannya yang menggenggam tongkat maut diturunkan pelahan, ke samping. Rupanya Sankher menanggapi tantangan Suryawijaya.
“Hm..., bagus! Kita adu kekuatan,” gumam Suryawijaya geram, “Juling, kalian menyingkirlah dulu! Biar aku hajar lelaki sombong ini! Yeaaat...!”
Suryawijaya langsung melakukan serangan. Kipas pusaka yang menjadi senjata andalannya diputar hingga menimbulkan deru angin deras.
Wut! Wut! Swing! Swing! “Heit...!” Senjata sebesar jarum keluar dari kipas pusaka Suryawijaya. Menghunjam ke tubuh Sankher. Lelaki yang dijuluki Ular Kobra dari Utara itu segera melompat ke atas, sambil bersalto mengelakkan senjata rahasia sebesar jarum yang jumlahnya ada sepuluh biji itu. Hanya dengan tangan sebelah kiri, Sankher menangkis senjata-senjata itu.
“Heaaa...! Ayo lawan aku orang sombong...! Mana senjata andalanmu! Heaaa...!”
Serangan Suryawijaya semakin gencar. Bahkan lelaki asing itu ditantang agar menggunakan tongkat- nya. Kipas pusaka di tangan kanannya kembali menderu keras ke arah lawan.
Wuttt! Wuttt! Swing! Swing! “Hea...!” Sankher mengelak dari serangan lawan. Kali ini ditangkis dengan tongkat saktinya. Dan jarum-jarum beracun itu mental kembali ke arah Suryawijaya. Lelaki itu membelalak lebar...
“Hah?!” Suryawijaya tersentak. Tubuhnya melenting ke atas sambil menangkis jarum beracun yang berbalik ke arahnya. Sankher tertawa terbahak-bahak. Melihat Suryawijaya kerepotan sendiri, mengelakkan senjata rahasianya sendiri. Yang tadi dibalikkan oleh Sankher, dengan tongkat saktinya.
“Ha ha ha...!” Hal itu membuat Suryawijaya bertambah marah. Hatinya malu, karena merasa dilecehkan dan dihina oleh Sankher.
“Bangsat...! Heaaa...!” Dengan marah Suryawijaya kembali menggebrak dengan kibasan-kibasan kipasnya. Dia berusaha menekan lawannya agar tidak dapat balas menyerang. Namun Sankher dengan mudah meng- elakkan serangannya.
“Huh...!” gerakan Sankher sangat gesit, meski tak menggunakan senjata. Serangan yang dilancarkan Suryawijaya yang keras dan cepat, bagai tak ada artinya, selalu menemui tempat kosong.
Serangan Suryawijaya kian sengit. Kibasan kipas pusakanya menderu, menyapu, dan menghantam Sankher.
Wuttt! Wuttt! Swing! Swing! Kembali jarum-jarum beracun melesat cepat, bagai anak panah yang terlepas dari busurnya. Menghujami tubuh Sankher. Namun si Ular Kobra dari Utara itu dengan cepat tubuhnya melenting ke atas, berjumpalitan. Kemudian tangan dan kakinya balas menyerang. Gerakan ilmu silatnya begitu cepat dan keras, seakan memiliki kelincahan yang sulit diterka.
“Kau benar-benar ingin mampus!” Sankher atau Ular Kobra dari Utara itu menggerakkan tangan kanan yang menggenggam tongkat saktinya. Dan....
Wrettt! Wrettt! Bukan main terkejutnya Suryawijaya menyaksikan lelaki asing itu memainkan tongkatnya. Baru saja lawan mempermainkan tongkatnya, seperti ada kekuatan yang menyebar. Apalagi jika lawan telah melakukan serangan dengan tongkatnya.
“Hah?! Gawat! Celaka...! Biar aku yang menghadapinya, Guru...!” seru salah satu dari Kembar Juling.
“Ha ha ha...! Kenapa tak sekalian, kalian bertiga melawanku...?” tantang Sankher dengan nada sombong. Tongkat sakti berkepala ular kobra telah diletakkan di depan dadanya.
“Kurang ajar! Yeaaa...!”
Suryawijaya cepat menyerang. Kini keduanya kembali bertarung. Ia melancarkan kibasan kipasnya ke tubuh lawan. Suara menggelegar seketika terdengar dari kibasan itu.
Wrettt! Gletarrr! “Heit...!” Tubuh Sankher melenting dan bersalto beberapa kali di udara mengelakkan serangan senjata lawan. Seketika itu pula tongkat saktinya dengan cepat dibabatkan, menyapu ke tubuh lawan. Gerakan tongkat itu sangat cepat, sulit sekali diikuti mata biasa. Suryawijaya tersentak kaget Sama sekali ia tidak menduga, kalau gerakan yang dilancarkan lawan begitu cepat. Namun dengan cepat kipasnya dikibaskan untuk memapaki serangan lawan.
“Haits! Heaa....!” Wrets! Jglarrr! “Heh?!” Kipas Suryawijaya hancur berantakan, ketika beradu dengan tongkat Sankher. Kejadian itu membuat mata Suryawijaya membelalak tegang. Terlebih ketika tongkat lawan semakin cepat memburu dirinya.
Wuttt! “Heaaa...?!” Suryawijaya berusaha mengelakkan serangan tongkat lawan, namun terlambat. Hantaman tongkat Sankher yang mengarah ke wajahnya jauh lebih cepat. Hingga...,
Wut! Plaakk! “Aaakh...!”
Suryawijaya memekik keras dengan mata melotot lebar. Tubuhya terhuyung-huyung berlumuran darah dari kepalanya yang pecah. Mulutnya terdengar mengerang-erang kesakitan. Namun kemudian lelaki berambut putih itu ambruk dan tewas.
“Heh?!” “Guru...!” seru Kembar Juling bersamaan. Lalu kedua lelaki bermata juling itu, menatap dengan penuh dendam dan kebencian pada Sankher.
Namun Sankher yang dipandang demikian dengan tenang menyeka darah di kepala tongkatnya. Matanya melirik kedua anak buah Suryawijaya yan tampak begitu marah.
“Babi, Kau...! Heaaat...!” Kembar Juling dengan cepat melancarkan seran- an. Keduanya serentak merangsek lawan, berusaha membalas kematian sang Guru.
“Heaaa...!” “Kalian rupanya sudah bosan hidup! Heaaa...!”
“Kau tak akan lolos dari kami, Manusia Iblis! Heaaa...!”
Kembar Juling terus melancarkan serangan dengan senjata tombak. Keduanya sudah kalap dan menyerang dengan membabi buta.
Si Ular Kobra dari Utara melompat memutar tongkatnya.
“Heaaa...!” Wuttt! Plak! “Aaakh...!” Juling Bawuk memekik keras, dengan mata melolot lebar. Tubuhnya terpental dengan keadaan yang mengerikan. Kepalanya pecah dan berlumuran darah. Sesaat lelaki berpakaian serba merah itu berkelojotan di tanah, kemudian diam tak bergerak. Mati! Menyaksikan saudaranya tewas, Juling Wulung semakin kalap. Dengan mata gelap tombaknya kembali disodorkan ke dada lawan. Lalu secepat kilat tombaknya dipukulkan ke berbagai bagian tubuh Sankher.
“Mampus kau! Hea...! Heaaa...!” Wuttt! Wuttt! “Aits...! Heaaat...!” Sankher kembali mencelat ke udara, kemudian tongkat di tangannya cepat digerakkan. Ketika tubuhnya melayang ke bawah, Juling Wulung dengan cepat menyodokkan tombak ke tubuhnya.
“Heaaa...! Jebol perutmu!” Wuttt! Dugaan Juling Wulung ternyata meleset. Lelaki tinggi berjubah hitam itu dengan cepat kembali melompat ke atas. Sebelum Juling Wulung sempat melakukan serangan lagi, tongkat berkepala ular kobra itu telah melesat memukul kepala lawan.
Wut! Takkk! “Ukh!” Juling Wulung terpekik pendek. Tangannya memegang luka pukulan di kening. Beberapa saat matanya melotot. Tubuhnya menegang, kemudian ambruk. Mati!
Sankher menghela napas panjang. Lalu menyeka darah di ujung tongkatnya. Tongkat hitam itu dicium- nya tiga kali, lalu diangkat tinggi-tinggi di atas kepala. Diturunkan kembali dengan perlahan. Kembali menghela napas panjang, sambil memandangi mayat ketiga lawannya. Sesaat kemudian dengan tenang kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.
Bersamaan dengan itu angin bertiup kencang sekali. Ular Kobra dari Utara itu terus melangkah makin jauh, meneruskan petualangannya mencari Pendekar Gila.
***

Angin sore yang berhembus kencang menerobos belukar, pucuk pepohonan, dan rerumputan. Semak alang-alang merunduk-runduk tanpa daya, ditam derasnya angin.
Di saat suasana sore seperti itu, tampak seorang pemuda berwajah tampan berpakaian rompi kulit ular tengah menyusuri jalan yang sepi. Kakinya melangkah ke barat dengan tenang, seakan tak menghiraukan kencangnya angin sore itu. Pemuda tampan berambut godrong yang tak lain si Pendekar Gila itu cengengesan sendirian. Sesekali tangannya tampak menggaruk garuk kepala.
Dengan langkah mantap Pendekar Gila menyusuri jalan di perbukitan, terus menuju sebuah hutan. Sejenak dihentikan langkahnya sambil mengamati sekeliling tempat itu. Mulutnya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala dengan tangan kanan. Kemudian kembali mengayunkan kaki dengan seenaknya meninggalkan bukit itu.
Ketika Sena menuruni Bukit Krakas, di kejauhan terlihat tiga mayat tergeletak. Pemuda berambut gondrong itu langsung melesat menggunakan ilmu 'Sapta Kayu'-nya.
“Aha?! Suryawijaya...!” gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu menggeleng-geleng. Wajahnya nampak bingung dan menyesal. “Aku terlambat lagi!”
Mata Sena mengawasi ke sekeliling. Kemudian dihadapkan wajahnya ke barat sambil memusatkan pikiran. Indra keenamnya coba digunakan. Telinganya bergerak-gerak, seakan mendengar suara-suara kaki yang melangkah, ke tempatnya. Kedua tangannya perlahan bersedekap di dada. Matanya dipejamkan. Beberapa saat kemudian wajahnya tampak terkejut. Lalu matanya kembali memandang jauh, seakan telah melihat suatu kejadian di tempat lain.
“Celaka!” gumam Sena. Lalu tubuhnya melesat dengan ilmu lari 'Sapta Bayu'-nya. Dalam sekejap saja tubuhnya telah berada puluhan tombak meninggal- kan Bukit Krakas.
Benar, ternyata di Perguruan Elang Sakti telah terjadi pertarungan. Bekas rumah Ki Putih Maesaireng hancur, porak-poranda. Sena yang baru saja tiba di depan Perguruan Elang Sakti, tampak tercengang menyaksikan pamandangan itu. Namun kemudian mulutnya cengengesan sambil tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Heh, seperti habis terjadi pertarungan. Ah... benar...! Mengapa aku begitu tolol?” gumam Sena berulang-ulang, menyesali diri, telah meninggalkan begitu saja Sundari dan Sawung Rana.
Sena melangkah ke samping pendopo perguruan yang telah hancur. Sesampainya di situ, ditemu- kannya beberapa sosok tubuh tergeletak tanpa nyawa dan salah satunya dia kenal, yaitu Sugalingga.
“Ah ah ah... apa yang telah terjadi, Kisanak?” tanya Sena sambil memegangi kepala Sugalingga yang sudah sekarat. Lelaki itu tak bisa berkata apa- apa hanya dengan berat ia mengangkat tangan, menunjuk ke barat. Lalu setelah itu matanya terpejam dan menghembuskan napas terakhir.
Sena menghela napas dalam-dalam. Perlahan ditaruhnya kepala Sugalingga di tanah. Lalu Sena segera melesat pergi ke arah barat.
“Auuu..., tolong!” “He he he...! Kau mau lari ke mana, Anak manis?” Brettt! “Aaakh...!” Sundari berteriak tertahan, ketika tangan Darkapala melesat cepat di dadanya. Gadis itu tak sempat mengelitkan serangan, sehingga dadanya berhasil dijamah.
“Kurang ajar...!” Belum habis rasa ketakutannya, tiba-tiba seorang lelaki menghadangnya.
“He he he...! Kini kau tak akan lolos lagi dariku, Cah Ayu...,” kata lelaki setengah baya yang tak lain Guntala.
“Kau...?!” pekik Sundari ketakutan. “Hmmm...! Ayolah, kau akan merasakan nikmatnya surga dunia, Cah Ayu. He he he...!”
Selesai berkata begitu, Guntala mengisyaratkan pada Darkapala, dengan mengedipkan mata. Darkapala segera menangkap Sundari yang bersandar di batang pohon. Dipeganginya tangan gadis itu. Sundari pun tampaknya tak mampu berbuat banyak.
“Aaakh...! Jangan! Tolong...! Aaa...!” teriak Sundari sejadi-jadinya.
“Diam...!” bentak Guntala dengan geram. Bret! Brettt! Guntala merobek pakaian Sundari lebih lebar. Kemudian tangannya segera memeluk tubuh gadis cantik yang tampak meronta-ronta itu. Namun karena kedua tangan Sundari dipegangi oleh Darkapala, jelas sulit baginya untuk mampu menolak perlakuan keji Guntala.
Darkapala terus memegangi tangan Sundari. Tubuh gadis berpakaian merah delima kini telah tergeletak dengan tangan direntang secara paksa.
“Terus pegang yang kuat, jangan sampai lepas...!” ujar Guntala dengan suara hampir tak terdengar, karena menahan nafsu yang menggebu-gebu. Dengan cepat tangannya memaksa Sundari agar merenggang- kan kedua pahanya. Namun ketika Guntala hendak melaksanakan perbuatan kejinya, tiba-tiba....
“Heaaa...!” Plakkk! Bugk! “Aaa...!” Sesosok bayangan melesat dan langsung melancarkan serangan cepat. Tubuh Guntala dan Darkapala seketika terjungkal dengan mulut meringis menahan rasa sakit.
“Ah ah ah..., kau memang babi tua yang tak tahu diri! Rupanya kau mencari mampus...,” suara tawa itu ternyata keluar dari mulut seorang pemuda berompi dari kulit ular. Siapa lagi kalau bukan Sena Manggala, Pendekar Gila.
“Hah...?! Kau...?” Guntala kaget, dengan cepat dibetulkan celananya yang sudah terlepas sebagian. Sena memandanginya dengan tajam. Tampaknya kali ini Pendekar Gila benar-benar kesal. Meskipun wajahnya sesekali cengengesan seraya menggaruk-garuk kepala, ucapannya tak bisa dianggap bergurau atau main-main.
“Kau memang Iblis berkedok manusia...! Tua bangka Keparat...!” ujar Pendekar Gila geram, sambil nencabut Suling Naga Sakti. “Terimalah ganjaran ini, babi Tua...!”
Wajah Guntala semakin pucat. Keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Namun lelaki selengah baya itu berusaha membuka jurus. Namun Pendekar Gila lebih cepat bergerak, melesat sambil bersalto dan menghantamkan Suling Naga Sakti-nya ke kepala Guntala. “Heaaa...!” Krakkk! “Aaakh...!” Guntala tak sempat mengelak. Mulutnya terpekik keras ketika suling Pendekar Gila menghantam tubuhnya. Tubuh pimpinan Perguruan Elang Emas itu terpental dan jatuh ke tanah dengan keadaan mengerikan. Dan tewas seketika.
Darkapala yang melihat Guntala mati secara mengerikan, hendak lari. Namun Pendekar Gila lebih cepat melesat, menghadangnya.
“Hi hi hi..., hendak lari ke mana kau, Cecurut Kudisan?!”
Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil menimang-nimang Suling Naga Sakti di tangan kirinya.
“Heaaa...!” Wuttt! Wuttt! Dengan cepat Darkapala melesat menyerang dengan golok panjangnya.
“Aits! He he he...! Kau rupanya senang bermain- main juga, Cecurut!” ejek Sena sambil meliukkan tubuh menghindari babatan golok Darkapala.
“Ah ah ah...! Kau masih harus banyak berlatih, Kisanak!”
“Huh! Jangan kau kira aku takut, Pendekar Gila.
Heaaa...!”
Darkapala tampaknya tak menyadari siapa yang dihadapi saat itu. Mungkin karena merasa malu untuk menyerah begitu saja, atau karena sangat marah melihat gurunya tewas. Tubuhnya melesat melakukan serangan dengan goloknya.
“Ah ah ah...! Sombong juga kau ini, Kisanak. Terimalah ini! Heaaa...!”
Sambil meliukkan tubuhnya, dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat', Pendekar Gila melancar pukulan telapak tangan.
Wuttt! “Aaakh...!” Darkapala terpekik keras ketika tepukan telapak tangan Pendekar Gila mendarat di dadanya. Tubuhnya tidak terhuyung-huyung melainkan terlontar deras ke belakang, kemudian jatuh dan bergulingan di tanah. Sesaat Darkapala menggeliat kemudian diam tak berkutik. Tewas.
Sena menghela napas puas. Lalu ia menolong Sundari yang pingsan. Karena ketakutan dan lemah. Dibopongnya tubuh gadis itu setelah dirapikan pakaiannya. Sena mencari tempat yang agak bersih dan teduh. Dibaringkan tubuh gadis yang malang itu di atas rerumputan. Kemudian, perlahan tangannya ditempelkan di punggung Sundari yang masih pingsan. Matanya terpejam sambil menyalurkan hawa murni. Tak lama setelah itu Sundari tampak menggeliat.
“Uh...! Hah...?!” suaranya masih lemah. Dengan malu Sundari menutupi bagian dada dengan kedua telapak tangannya.
Sena membalikkan badan, membelakangi Sundari.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Di mana Sawung Rana...?” tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Dirinya tetap membelakangi Sundari.
“Kejadiannya begitu cepat. Sehingga tak ada kesempatan bagiku untuk melawan. Si Ular Kobra dari Utara tiba-tiba datang. Dia membunuh Sugalingga dan tiga murid Perguruan Elang Sakti. Kemudian....”
Sundari tak meneruskan ucapannya, karena terus nenangis. “Hm...! Lalu bagaimana Guntala bisa sampai di sini...?” tanya Sena ingin tahu.
“Aku tak dapat mengingatnya lagi. Mungkin Guntala di balik semua ini..:. Oh...,” tutur Sundari di sela suara tangisnya.
Sena diam. Kepalanya tampak menggeleng- geleng lalu menghela napas dalam-dalam sambil cengengesan.
“Aha, kalau begitu ikut aku mencari Sawung Rana, Ki Kuncara, dan Ki Rah Sewu! Mudah-mudahan mereka masih hidup. Dan aku harus segera mencari si Ular Kobra itu...!” ajak Sena dengan mulut cengengesan.
“Terima kasih. Kau telah menolong, menyelamat- kanku untuk kedua kalinya...”
Suara Sundari serak, disertai isak tangisnya. Sena hanya menggaruk-garuk kepala, “Sudahlah, ayo rapikan pakaianmu!”
Selesai berkata begitu, Sena lalu melangkah. Sundari sambil menutupi dadanya dengan kedua tangannya, mengikuti di belakang.
***

6
Dunia persilatan benar-benar kacau-balau, dengan kehadiran Sankher atau si Ular Kobra dari Utara itu. Di mana-mana terjadi pembantaian. Sementara itu banyak tokoh dari aliran hitam yang memanfaatkan keadaan itu. Sehingga banyak tokoh putih yang bingung dan serba salah.
Kian hari sepak-terjang yang dilakukan si Ular Kobra dari Utara itu kian merejalela. Tak satu pun tokoh persilatan golongan putih yang mampu meng- hadapinya. Siapa pun akan tewas dengan keadaan mengerikan kalau berani menghalangi atau menantang lelaki yang berasal dari India itu.
Seperti siang itu, ketika angin kencang menerbangkan debu-debu dan dedaunan di Lembah Merawan, tampak Sankher tengah menghadapi Ki Kuncara, Pimpinan Perguruan Panca Purba.
“Kisanak..., sebaiknya perbuatanmu itu dihentikan. Kalau kau pendekar sejati, tak akan membunuh dengan keji. Dan kalau kau tak mau mendengar saranku, baiklah,” ujar Ki Kuncara. Matanya mengawasi dengan tajam setiap gerakan si Ular Kobra dari Utara.
Namun Sankher tak menjawab. Hanya matanya yang terus menatap tajam lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun di hadapannya.
“Kenapa kau diam? Apakah kau tuli? Bisu...?!” bentak Ki Kuncara mulai geram.
“Aku tak punya urusan denganmu. Aku akan pergi, jika kau mau menunjukkan di mana Pendekar
Gila berada!” jawab Sankher tenang sambil meng- gerakkan tangan kanannya yang memegang tongkat.
“Hm..., lalu untuk apa kau mencarinya? Dia sahabatku,” kata Ki Kuncara menjawab dengan tegas.
“Bagus! Sampaikan, aku ingin membunuhnya! Dia harus mati di tanganku!”
Membelalak mata Ki Kuncara mendengar ucapan sombong Sankher. Hatinya seketika bertambah marah terhadap si Ular Kobra dari Utara itu.
“Kau memang tak tahu sopan santun! Hei orang asing, kau tak akan dapat melawannya, sebelum melangkahi mayatku. Ayo, keluarkan seluruh ilmumu...!” tantang Ki Kuncara sengit.
Usai berkata begitu, Ki Kuncara segera menarik kaki kirinya dua langkah ke belakang. Toya panjang di tangan kanannya diputar dengan cepat. Sedangkan tangan kirinya, dengan jari-jari menyatu menghentak ke depan. Telapak tangannya memukul ke tubuh Sankher.
Sementara itu, Sankher seperti tak menghiraukan gerakan yang dilakukan Ki Kuncara. Dirinya tetap tenang memandangi Ki Kuncara yang siap menyerang.
“Hm...!” dengus Sankher. Kemudian tangannya yang memegang tongkat direntangkan ke samping kanan, lalu ditekuknya ke dada.
Wuttt! Wuttt! Tongkat yang telah merenggut banyak korban itu digerakkannya. Dari ujungnya yang berbentuk kepala ular memancar sinar kemerahan menyala. Setelah digerakkan ke samping tongkat sakti itu diputar-putar dengan kecepatan tinggi. Itulah jurus 'Tongkat Iblis', sebuah jurus yang sangat berbahaya dan mematikan!
Ki Kuncara yang sudah mengetahui sepak terjang Sankher, tak mau gegabah. Gerakannya yang cepat mengubah toya itu menjadi baling-baling yang membentengi tubuhnya. Kemudian dengan pekikan menggelegar, lelaki tua itu menyerang dengan jurus yang tak kalah hebat, bernama 'Toya Sakti Pelebur Jiwa'. Wuttt! Wuttt! “Hiaaa...!” Sankher segera menggerakkan tongkatnya dengan cepat, menghantam ke depan dan ke samping. Sementara tangan kirinya diletakkan di depan dada.
“Hiaaa...!” Wrettt! Ki Kuncara mulai melabrak. Toya yang kedua ujungnya runcing berdesing memburu tubuh lawan.
Wrettt! Trakkk! Dengan cepat Sankher menyabetkan tongkat memapak serangan lawan. Kemudian segera balas menyerang dengan sabetan dari atas ke bawah.
“Heaaa...!” Wuttt! Wuttt! Ki Kuncara segera melompat cepat ke belakang. Kemudian meliukkan tubuh dengan cepat, sambil menyapukan toyanya ke tubuh Sankher dengan jurus 'Sapuan Toya Membelah Karang'.
Wuttt! Trakkk! Deru angin yang ditimbulkan kedua senjata berbentuk tongkat itu terdengar ditingkahi oleh suara benturan keras. Suasana sunyi di Lembah Merawan seketika berubah riuh.

No comments:

Post a Comment