UNDANGAN
MAUT
Oleh Firman Raharja
1
Hutan Bambu yang semula riuh oleh
pertarungan seru, seketika bagaikan mati. Semua terdiam den- gan mata memandang
kedua Maling Budiman yang sudah sangat mereka kenali. Para prajurit Kerajaan
Surya Langit terkejut, setelah tahu siapa sebenarnya maling budiman yang selama
ini selalu menutupi wa- jah dengan cadar. Bagaikan ada yang memerintah, pertarungan
seketika terhenti. Semua tertegun, dengan mata berusaha memperjelas penglihatan
terhadap ke- dua maling itu.
Perdana Menteri Giri Gantra masih
terpaku duduk di pelana kudanya. Matanya melotot kaget. Tanpa sadar, dari mulutnya
mendesiskan nama pemuda berpakaian biru.
"Pangeran Prapanca, kau...?!"
"Pangeran...!" seru yang lainnya turut tersentak kaget, setelah tahu
lelaki yang tadi mengenakan cadar biru penutup wajah. Serta merta para prajurit
melem- parkan pandangan keheranan pada Perdana Menteri Giri Gantra, seakan
mereka ingin bertanya, apa sebe- narnya yang terjadi.
"Perdana Menteri, bagaimana
mungkin ini ter- jadi?" tanya Resi Wisangkara yang juga diliputi rasa
heran dan tak mengerti.
"Ya, mengapa bisa
begini?" sambung Gagak Selo. "Bukankah dulu Tuan mengatakan Kanjeng
Pangeran sudah mangkat?"
Perdana Menteri Giri Gantra
kebingungan. Kini dia benar-benar merasa terpojok. Namun begitu, sifatnya yang
licik tidak begitu saja mau mengalah. Otak- nya yang licik, berpikir keras
untuk menghadapi semua. Belum juga perdana menteri membuka suara,
Pendekar Gila telah mendahului.
"Hi hi hi...! Kau sekarang
seperti kebingungan, Perdana Menteri? Ah ah ah, jelas kau menyembunyi- kan
sesuatu," tukas Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk
kepala.
"Tutup mulutmu, Bocah
Gila!" bentak Perdana Menteri Giri Gantra sengit. Matanya melotot marah ke
arah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kaulah yang harus menutup
mulut, Perdana Menteri!" sergah Pangeran Prapanca dengan bentakan.
"Kau telah membohongi semua rakyat, dengan menga- takan aku telah
mati!"
"Tidak!" teriak Perdana
Menteri Giri Gantra. "Kau bukan Pangeran Prapanca. Kau penjahat yang
menyamar sebagai Pangeran Prapanca. Putra mahkota telah meninggal dunia!"
Pangeran Prapanca tersenyum sinis,
menden- gar ucapan Perdana Menteri Giri Gantra. Mata Pange- ran Prapanca
menatap tajam wajah Perdana Menteri Giri Gantra. Kemudian mengalihkan ke wajah
Resi Wi- sangkara, Gagak Selo, dan Ki Naga Wilis, serta Pangli- ma Utama Rawa
Sekti.
"Apakah kalian akan percaya
dengan omongan- nya?!" tanya Pangeran Prapanca, yang menjadikan semua
pendekar pengikut Perdana Menteri Giri Gantra masih terdiam. Mereka sepertinya
masih bingung dengan kejadian ini. "Aku Pangeran Prapanca, Putra Mah- kota
Kerajaan Surya Langit, yang berhak untuk mendapatkan takhta kerajaan!"
"Tidak! Kau bukan
pangeran!" sahut Perdana Menteri Giri Gantra berusaha mempengaruhi orang-
orangnya, agar tak percaya dengan yang dikatakan Pangeran Prapanca. "Tidak
mungkin seorang pangeran berbuat jahat, mencuri, dan membunuh pejabat- pejabat
kerajaan!"
"Cuih...!" Pangeran
Prapanca meludah. "Sung- guh berbisa mulutmu, Perdana Menteri! Kalau saja
kau tidak melakukan kejahatan dengan menindas ra- kyat, aku tak akan melakukan
pekerjaan ini! Kau be- nar-benar iblis! Kau injak rakyat demi kepentingan
pribadimu!"
"Bohong...!" teriak
Perdana Menteri Giri Gantra. "Kau benar-benar bukan Pangeran Prapanca,
tetapi pencuri! Kau terlalu banyak berbuat salah. Kau harus dihukum! Karena
telah mengganggu keamanan rakyat Kerajaan Surya Langit. Kau harus
ditangkap!"
Pangeran Prapanca tertawa
terbahak-bahak mendengar ucapan Perdana Menteri Giri Gantra. Matanya memandang
penuh kebencian ke arah orang ke- percayaan Prabu Awangga itu.
"Perdana Menteri licik! Kau
kira dengan cara seperti itu, kau dapat lari dari tanggung jawabmu?!"
dengus Pangeran Prapanca dengan senyum sinis. Hal itu menjadikan Perdana
Menteri Giri Gantra semakin sengit
"Tangkap mereka...!"
teriak Perdana Menteri Gi- ri Gantra memerintah pada tokoh persilatan juga para
prajurit yang ikut bersamanya. Namun tak seorang pun yang mau bertindak. Mereka
masih saja terdiam dalam kebimbangan. Bahkan mereka kini memandang tajam pada
Perdana Menteri Giri Gantra yang semakin bertambah marah, menyaksikan para
prajurit tak ada yang menanggapi perintahnya. "Kurang ajar! Kalian akan
mendapatkan hukuman, jika tak mau melaksa- nakan tugas!"
"Kami tak peduli dengan
ocehanmu, Perdana Menteri!" Resi Wisangkara angkat bicara.
"Ya! Kami berpihak pada
Pangeran Prapanca," sambung Gagak Selo tegas. "Selama ini, kami telah
bohongi, Perdana Menteri!"
"Tutup mulut kalian! Prajurit,
serang mere- ka...!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra marah. "Bu-
nuh mereka semua...!"
Prajurit kerajaan yang tersisa dua
puluh orang itu, sesaat bimbang. Mereka merasa bingung harus berbuat apa,
karena lawan yang mereka hadapi kini terdiri dari pendekar-pendekar tangguh. Di
samping itu, mereka tahu bahwa di sana memang ada Pangeran Prapanca. Pangeran
yang sebenarnya berhak atas takhta kerajaan.
"Prajurit, apa kalian tuli,
heh?! Serang mere- ka...!"
Kembali Perdana Menteri Giri Gantra
berteriak, memerintah pada para prajuritnya agar menyerang.
"Jangan hiraukan dia,
Prajurit! Aku Prapanca. Kalian jangan ragu! Akulah pewaris takhta
kerajaan!" teriak Pangeran Prapanca, yang semakin membuat pa- ra prajurit
kian kebingungan. Mereka terhenti di ten- gah jalan, ragu-ragu untuk melakukan
tindakan.
"Kurang ajar! Serang mereka
dan bunuh se- mua...!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra. Namun para
prajurit tetap tak ada yang melakukan tindakan apa pun. Bahkan tiba-tiba mereka
berbalik, hendak menyerbu Perdana Menteri Giri Gantra.
"Gusti Pangeran, perintahkan
pada kami untuk menangkap perdana menteri keparat itu. Kami akan segera
menangkapnya, dan bila perlu, kami akan me- menggal kepalanya!" seru
pimpinan prajurit dengan lantang. Mendengar ucapan pimpinan prajurit, seketika
Perdana Menteri Giri Gantra tersentak kaget. Wajah- nya pucat pasi. Lalu tanpa banyak
kata, kudanya sege- ra d gebah meninggalkan Hutan Bambu.
Para prajurit hendak mengejar,
namun dengan cepat Pangeran Prapanca melarang.
"Jangan dikejar! Biarkan dia
hidup!" "Tetapi, ini sangat berbahaya, Pangeran," kata lelaki
bertelanjang dada berusia sekitar empat puluh tahun dengan kumis tebal.
"Perdana menteri itu sangat berbahaya."
"Aku tahu. Biarkan dia pergi!
Yang penting, kita kini harus menghimpun kekuatan. Menghadapi kera- jaan,
bukanlah hal yang mudah," tutur Pangeran Pra- panca pada prajurit-prajurit
kerajaan. "Kumohon, su- dilah Tuan-Tuan Pendekar mau membantu kami."
"Aha, tak usah kau pinta,
Kanjeng Pangeran! Dengan senang hati kami akan membantumu," sahut Sena
sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepa- la. Matanya melirik ke wajah Mei
Lie, yang tengah me- masukkan Pedang Bidadari ke warangkanya. Sena pun segera
memasukkan Suling Naga Sakti ke ikat ping- gang.
"Terima kasih, aku pun tentu
saja tak melupa- kanmu. Pendekar Gila." kata Pangeran Prapanca sam- bil
menjura. "Kalian berdua telah menolong kami. Nah, bagaimana dengan yang
lain? Apakah Tuan-Tuan juga sudi mendukung perjuanganku?"
Resi Wisangkara melangkah mendekati
Pange- ran Prapanca. Kemudian lelaki tua berkepala botak itu melakukan sembah,
diikuti para pendekar yang lain.
"Kami berada di belakangmu,
Kanjeng Pange- ran," kata Resi Wisangkara sambil menyembah. "Kau- lah
pewaris takhta Kerajaan Surya Langit yang sebe- narnya. Kami tunduk dan pasrah
padamu."
"Ya. Kami akan selalu di
belakangmu," sam- bung Gagak Selo.
"Benar, Pangeran. Izinkan kami
mengabdi pa- damu," tambah Ki Naga Wilis. Rupanya tokoh sesat ini
menyadari kedudukannya yang terjepit. Apalagi kini
dia tahu, kedua maling budiman
ternyata Pangeran Prapanca dan temannya, Pranala. Apalagi setelah tahu, kalau
di antara mereka terdapat Pendekar Gila dan Bi- dadari Pencabut Nyawa, sepasang
pendekar yang su- dah sangat terkenal.
"Bagaimana denganmu,
Panglima?" tanya Pan- geran Prapanca yang ditujukan pada Panglima Rawa
Sekti, karena sejak tadi lelaki bertubuh tinggi itu hanya diam. Sepertinya dia
dalam kebimbangan untuk memilih. "Saya pun turut di belakangmu, Kanjeng
Pan- geran," jawab Panglima Rawa Sekti sambil bersujud.
"Terima kasih. Bangunlah
kalian semua. Di sini, tak ada peraturan seperti di kerajaan. Aku, Pende- kar
Gila, Bidadari Pencabut Nyawa, dan kalian semua, sama saja hak dan
kewajibannya. Kita sama-sama akan menumpas keangkaramurkaan," tutur
Pangeran Prapanca.
"Benar! Lihatlah rakyat yang
sangat menderita. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita. Selama ini,
mereka sangat tertindas," kata Pranala me- nambahkan. "Apakah kita
akan menutup mata, me- nyaksikan penderitaan rakyat?!"
Semua yang berada di Hutan Bambu
itu men- gangguk-anggukkan kepala. Tampaknya mereka me- maklumi apa yang
dihasratkan Pangeran Prapanca se- bagai putra mahkota.
"Terima kasih atas perhatian
kalian semua," ka- ta Pangeran Prapanca sambil tersenyum senang.
"Pen- dekar Gila, bagaimana menurutmu yang baik untuk kami lakukan? Apakah
kami harus menyerang ke ke- rajaan?" Ditanya begitu, Pendekar Gila
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Diliriknya Mei Lie yang kini berdiri
di sampingnya. Seakan ingin meminta pendapat dari kekasihnya. Mei Lie hanya
tersenyum sambil mengangkat bahu, sepertinya menyerahkan semua persoalan dan
pendapat pada Sena.
"Hi hi hi...! Lucu sekali!
Mengapa aku yang bo- doh dan gila dimintai pendapat?" tanya Sena sambil
cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Apakah nanti pendapatku
tidak sama gilanya dengan keadaanku?"
"Ah, kau selalu merendah, Pendekar
Gila," ujar Pangeran Prapanca sambil tersenyum. Dia tahu siapa sebenarnya
Pendekar Gila. Meski tingkah lakunya aneh seperti orang gila, namun dalam hal
yang sungguh-sungguh, pendapat dan pikirannya tak kalah den- gan orang waras
yang berpendidikan tinggi.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Pangeran Prapanca. Kepalanya digeleng-gelengkan,
sambil digaruk-garuk dengan tangan kanannya. Tingkah lakunya benar-benar
konyol, men- gundang semua orang yang ada di tempat itu terse- nyum-senyum.
"Ah ah ah, bagaimana ya? Aku
orang tolol, mengapa harus dimintai pendapat?" gumam Sena ma- sih
cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Un- tuk kedua kalinya, diliriknya
Mei Lie, seakan meminta pendapat. Namun Mei Lie hanya tersenyum sambil mengangkat
bahu, yang membuat Sena semakin keras menggaruk-garuk kepalanya. "Ah,
kenapa aku jadi be- gini?"
"Ayolah, Sena! Kau adalah
penasihat kami, un- tuk itu kami mengharap nasihat darimu," desak Pangeran
Prapanca.
"Benar, Sena. Kaulah yang kami
rasa pantas memberi nasihat dan saran-saran bagi kami," sam- bung Pranala
dengan mulut tersenyum, melihat ting- kah laku Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Aneh sekali,
mengapa mesti aku? Aku sendiri sedang bingung, tak tahu harus bagaimana. Niatku
sebenarnya ingin menemui guru. Tapi ada masalah yang menghambat perjalananku.
Dan kini, kalian memintaku untuk mengeluarkan pendapat. Ah ah ah, lucu..., lucu
sekali!" Sena menggeleng- gelengkan kepala sambil menggaruk-garukkan tan-
gannya di kepala.
"Bagaimana dengan Nini Mei Lie?"
tanya Prana- la. Dia berharap Mei Lie akan bisa memberi pandangan bagi mereka.
"Kalau Nini Mei Lie ada pandangan bagi kami, kami sangat berharap
sekali."
Mei Lie hanya tersenyum mendengar
ucapan Pranala. Dia merasa kalau pendapat dan pikirannya selalu sama dengan
kekasihnya. Ke mana Pendekar Gi- la pergi, dia tentu akan mengikuti. Dengan
kata lain, Mei Lie telah menyerahkan segalanya pada Pendekar Gila.
"Aku hanya terserah pada
Kakang Sena," jawab Mei Lie. "Aha, mengapa mesti aku?" tanya
Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Wuah wuah,
bagaimana mungkin aku menjadi tum- puanmu? Kurasa, pangeranlah yang lebih
berwenang dalam masalah ini.
"Baiklah kalau begitu,"
sahut Pangeran Prapan- ca. "Kalau memang tak ada yang bermaksud memberi
saran, aku akan memberi tugas pada semuanya."
"Katakanlah, Pangeran! Tugas
apa pun, akan kami lakukan," sambut pimpinan prajurit.
"Ya. Katakanlah, kami akan
patuh menjalankan perintahmu," timpal Ki Naga Wilis.
"Baik. Aku tak ingin terjadi
pertumpahan darah. Karena perang sebenarnya akan menjadikan ra- kyat
menderita," tutur Pangeran Prapanca, yang menjadikan semuanya membelalak
kaget. Mereka hampir tak percaya, kalau Pangeran Prapanca akan berlaku begitu
baiknya. Padahal dirinya tahu sang Ayah serta keluarganya telah jatuh dalam
perebutan kekuasaan. Pangeran Prapanca pun menyadari kalau penguasa ke- rajaan
yang sekarang telah menyelewengkan kekua- saannya. "Tapi, Pangeran,"
selak Pranala. "Bukankah Pangeran yang berhak atas takhta kerajaan? Kalau
takhta kerajaan dibiarkan dipegang orang-orang dur- jana, rakyat tak akan
pernah aman."
Semua terdiam mendengar ucapan
Pranala, termasuk juga Pangeran Prapanca. Mereka benar- benar tak menduga kalau
Pranala yang pendiam men- gerti masalah kerajaan. Wawasannya pun nampak ma- ju.
"Hal yang kedua, tentunya para
penguasa akan semakin bertindak semena-mena. Mereka akan beru- saha memburu
kita, karena mereka menganggap kita takut," sambung Pranala.
"Kau memang benar, Pranala.
Namun, kurasa ada jalan lain selain dengan cara pertempuran. Ten- tunya kau
masih ingat kata-kata guru, kalau perta- rungan sesungguhnya bukan penyelesaian
yang baik," ujar Pangeran Prapanca mengingatkan saudara seper- guruannya.
"Aku masih ingat, Pangeran.
Namun, bukankah guru juga mengatakan, perjuangan membela kebena- ran dan
keadilan selalu saja membutuhkan pengorba- nan," kilah Pranala.
"Hm, kau benar. Tapi, aku tak
ingin mendahu- lui. Bagaimana kalau aku mengutus Pendekar Gila dan Mei Lie
untuk menyampaikan pesanku pada raja?" tanya Pangeran Prapanca meminta
pendapat
"Aha, aku siap,
Pangeran," jawab Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Kemu- dian diliriknya Mei Lie, sepertinya ingin mengetahui tanggapan gadis itu.
"Aku pun siap," jawab Mei
Lie tegas. "Terima kasih," ucap Pangeran Prapanca. "Baik- lah,
besok aku meminta bantuan kalian berdua, untuk menyampaikan surat pada Baginda
Raja Awangga."
"Aha, akan kami laksanakan,
Pangeran," sahut Sena.
"Mari masuk! Kita rundingkan
rencana selan- jutnya di dalam saja. Anggaplah gubuk ini sebagai istana
kita!" kata Pangeran Prapanca setengah bercanda sambil mempersilakan
rekan-rekannya agar masuk ke gubuk yang selama ini menjadi tempat persembu-
nyiannya.
Tanpa membantah, mereka pun menurut
ma- suk ke gubuk itu. Kemudian mereka duduk di atas ti- kar pandan yang
tergelar lebar di ruangan itu.
***
Sementara itu, Perdana Menteri Giri
Gantra te- lah sampai di dekat istana. Wajahnya pucat, setelah menempuh
perjalanan dalam ketakutan dan marah. Napasnya tersengal-sengal. Kuda yang
ditunggangi, di- pacu cepat. Sehingga keempat penjaga pintu gerbang istana
hampir tertabrak kudanya.
"Aku harus bisa mengambil hati
baginda," desis Perdana Menteri Giri Gantra sambil turun dari ku- danya.
Kemudian lelaki bermuka bengis dan mengenakan pakaian kebesaran istana itu
melangkah tergesa- gesa memasuki Istana Kerajaan Surya Langit. Dia langsung
menghadap Baginda Raja Awangga, yang saat itu tengah duduk di singgasananya,
dikelilingi dayang-dayang cantik.
"Ampun, Baginda! Hamba
menghadap!" "Ada apa, Paman Perdana Menteri?" tanya Ba- ginda
Raja Awangga dengan kening berkerut, menyak- sikan ketegangan tergambar di
wajah perdana mente- rinya. "Hm.... Tampaknya ada berita buruk? Apakah
kedua maling itu lagi?"
"Benar, Baginda," sahut
Perdana Menteri Giri Gantra seraya menyembah.
"Katakanlah, ada apa dengan
kedua maling itu?"
Perdana Menteri Giri Gantra sejenak
terdiam. Sepertinya dia tengah mengatur rencana, bagaimana sebaiknya menuturkan
perihal Pangeran Prapanca pa- da baginda raja. Dia harus bisa mengambil hati
Bagin- da Raja Awangga, agar memusuhi Pangeran Prapanca dan teman-temannya.
"Ampun, Baginda! Sesungguhnya,
kedua mal- ing itu tiada lain...."
Sampai di sini, Perdana Menteri
Giri Gantra tak meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Baginda Raja Awangga
merasa penasaran. Hatinya ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Ada apa, Perdana Menteri?
Siapa sebenarnya kedua maling itu?" desak Baginda Raja Awangga ingin tahu.
"Ampun, Baginda! Ternyata
kedua maling itu, tiada lain Pangeran Prapanca dan sahabatnya, Pranala,"
tutur Perdana Menteri Giri Gantra.
"Apa?!" mata Baginda Raja
Awangga membela- lak, mendengar penuturan Perdana Menteri Giri Gantra. Dia sama
sekali tak menduga kalau Pangeran Pra- panca ternyata masih hidup. "Mengapa
dia masih hidup? Bukankah telah kuutus seseorang untuk mem- bunuhnya?"
"Entahlah, Baginda. Yang
pasti, kini beberapa
pendekar berpihak kepadanya,
termasuk Pendekar Gi- la dan kekasihnya Bidadari Pencabut Nyawa," ujar
Perdana Menteri Giri Gantra. Kemudian dengan sing- kat diceritakan semua yang
terjadi di Hutan Bambu (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gi-
la dalam episode "Sepasang Maling Budiman").
"Hm...," gumam Baginda
Raja Awangga lirih. Tangannya membelai jenggotnya yang panjang. Ma- tanya
memandang lepas keluar lewat pintu istana. Ter- sirat di wajahnya suatu perasaan
kekhawatiran. Na- mun, tentu saja hal itu tak diperlihatkan jelas di depan
perdana menterinya. Pangeran Prapanca yang harus- nya telah tiada, tiba-tiba
muncul. Kalau sampai rakyat tahu, tentu mereka akan berpihak pada putra mahkota
itu. Jelas, baginya ini suatu ancaman yang tak boleh dianggap sepele. Ini
merupakan masalah besar. Masa- lah negara, bahkan hidup dan matinya.
Baginda Raja Awangga dan Perdana
Menteri Gi- ri Gantra sesaat terdiam. Nampaknya mereka sedang berpikir untuk
mencari jalan keluar guna menyingkir- kan Pangeran Prapanca dari Kerajaan Surya
Langit. Bahkan bila perlu, putra mahkota itu harus dibunuh tanpa sepengetanuan
rakyat Kerajaan Surya Langit.
"Apa yang harus kita perbuat,
Perdana Mente- ri?" tanya Baginda Raja Awangga seraya menatap den- gan
kening berkerut pada Perdana Menteri Giri Gantra. "Kita harus
menyingkirkan dia dan teman- temannya, Baginda!" "Caranya...?"
Sesaat Perdana Menteri Giri Gantra terdiam. Dia pun belum tahu, bagaimana cara
menyingkirkan Pangeran Prapanca dan Pranala serta teman-temannya tanpa harus
melibatkan rakyat kerajaan. Karena jika sampai rakyat mengetahui, tentunya
mereka tak akan tinggal diam. Rakyat pasti akan melakukan pemberontakan.
Apalagi selama ini, rakyat hidup dalam keseng- saraan, akibat penindasan yang
dilakukan para pem- besar kerajaan.
"Bagaimana kalau kita undang
mereka, Bagin- da," ujar Perdana Menteri Giri Gantra.
"Lalu...?" tanya Baginda
Awangga belum men- gerti maksud perdana menterinya.
"Jika kita mengundangnya, kita
tidak harus berhadapan langsung dengan mereka. Kita akan men- gundang jago-jago
persilatan, untuk menghadapi me- reka," kata Perdana Menteri Giri Gantra
menjelaskan. Namun, tampaknya Baginda Raja Awangga belum jelas dengan rencana
yang diterapkan perdana menterinya.
"Uraikan semua, Perdana
Menteri! Aku belum jelas, apa yang sebenarnya hendak kau lakukan," pinta
Baginda Raja Awangga.
Perdana Menteri Giri Gantra
menyembah, ke- mudian mulai menjelaskan rencana yang akan dite- rapkannya.
"Hamba akan mengundang jago-jago
dari kera- jaan lain, guna menghadapi para pendekar yang mem- bantu Pangeran
Prapanca. Kemudian ketika mereka sedang melakukan pertarungan sebagai hiburan
dalam penyambutan kerajaan atas kedatangan putra mahko- ta, yang lain akan
bergerak untuk menangkap. Kalau Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya
tertangkap, maka suasana akan kembali aman. Rakyat tidak tahu siapa sebenarnya
si Maling Budiman itu, juga tentang kejadian di istana."
Baginda Raja Awangga diam
mendengarkan ga- gasan Perdana Menteri Giri Gantra. Kepalanya tampak
mengangguk-angguk, seakan berkenan mendengar pendapat itu.
"Begitulah rencana hamba,
Baginda," kata Per- dana Menteri Giri Gantra mengakhiri penuturannya.
"Hm, bagus! Aku setuju dengan
maksudmu," ujar Baginda Raja Awangga sambil tersenyum-senyum. Jenggotnya
yang panjang dibelai-belai sambil kepa- lanya terus manggut-manggut. Matanya
bersinar- sinar, seperti merasa senang. "Tak percuma kau kua- ngkat
menjadi Perdana Menteri, Giri Gantra. Ternyata pikiranmu masih bisa kuandalkan.
Ha ha ha...!"
"Terima kasih, Baginda. Kita
harus secepatnya mengundang mereka untuk datang kemari. Karena kalau terlambat,
bisa-bisa merekalah yang akan menda- hului kita," lanjut Perdana Menteri
Giri Gantra, seakan-akan tak sabar ingin segera dapat meringkus Pan- geran
Prapanca.
"Lalu, bagaimana dengan
rencana perkawinan anakku?" tanya Baginda Raja Awangga. "Pesta perkawinan
itu, akan dilaksanakan dua minggu lagi, Perda- na Menteri."
"Serahkan pada hamba, Baginda.
Sebelum pes- ta perkawinan itu berlangsung, penjahat-penjahat pasti sudah
tertangkap...," jawab Perdana Menteri Giri Gantra tegas.
"Baiklah..., baiklah. Aku
serahkan semuanya padamu," ujar Baginda Raja Awangga. Kemudian mereka
tertawa terbahak-bahak, seperti merasa yakin akan dapat menangkap Pangeran
Prapanca dan te- mantemannya.
***
2
Pagi telah datang dengan sinar
matahari yang menghangatkan bumi, ketika sepasang pendekar melangkah di jalan
selebar tiga tombak, menuju Istana
Kerajaan Surya Langit. Sepasang
pendekar yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila dan Mei Lie itu tengah
menjalankan tugas. Mereka diutus Pangeran Prapanca untuk menyampaikan surat
pada Baginda Raja Awangga.
Dengan langkah tenang dan mantap,
keduanya mulai memasuki alun alun depan istana. Namun keti- ka hendak memasuki
pintu gerbang istana, empat pra- jurit bersenjata tombak menghadang mereka
"Berhenti!" perintah
salah seorang prajurit. Pendekar Gila dan Mei Lie menurut berhenti. Mata mereka
memandangi keempat prajurit yang me- nyilangkan tombak, menghadang langkah
mereka.
Seorang prajurit bermuka beringas
dengan tu- buh kekar melangkah mendekat
"Siapa kalian? Dan ada
kepentingan apa?!" tanya prajurit bermuka garang itu tegas.
"Hi hi hi...! Kami diutus
Pangeran Prapanca, untuk menyampaikan surat pada Baginda Raja Awangga,"
jawab Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Lalu
melirik Mei Lie yang menganggukkan kepala.
"Siapa kalian?!" sentak
prajurit bertubuh tegap itu.
"Aha, apakah perlu sebuah
nama?" sahut Sena masih cengengesan.
"Anak gila, siapa pun yang
masuk istana semua harus diketahui. Siapa namanya, dari mana, dan ke-
perluannya. Jangan berlaku kurang ajar di kerajaan, mengerti?!" bentak
prajurit itu merasa kesal dengan tingkah laku Pendekar Gila.
"Hm, baiklah. Aku Mei Lie, dan
temanku Sena Manggala. Kami diutus Pangeran Prapanca untuk me- nyampaikan surat
pada Baginda Raja Awangga. Sudah jelas?" tanya Mei Lie dengan senyum
sinis. Nampaknya
Mei Lei tak suka melihat sikap
prajurit itu, yang terlalu angkuh dan lancang. Sena sudah menjelaskan mak-
sudnya, namun prajurit itu tetap saja ngotot. Bahkan matanya memandang nakal
pada Mei Lie. Benar-benar kurang ajar! Kalau saja Pangeran Prapanca tak mela-
rang bentrok dengan prajurit-prajurit kerajaan, ingin sekali Mei Lie menyobek
mulut atau mata prajurit ini.
"Baiklah, tunggu
sebentar!" jawab prajurit itu sambil melangkah pergi meninggalkan Pendekar
Gila dan Mei Lie yang dijaga oleh tiga orang temannya.
Pendekar Gila dan Mei Lie nampak
tenang. Me- reka memang telah dipesan agar tak melakukan pertarungan. Keduanya
hanya diperintahkan untuk mem- bawa surat dari Pangeran Prapanca. Dan Pangeran
Prapanca meminta Pendekar Gila dan Mei Lie tak me- nyerang jika tidak diserang.
Tidak lama kemudian prajurit yang
menghadap raja kembali keluar. Kali ini dia bersama Perdana Menteri Giri
Gantra, yang tersenyum ramah pada Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Oh, rupanya Tuan-Tuan
Pendekar yang da- tang," sapa Perdana Menteri Giri Gantra dengan ra- mah,
seakan berusaha menunjukkan bagaimana sebe- narnya keadaan istana dan menutupi
keburukan orang-orang istana. "Silakan...! Baginda telah menung- gu
kedatangan kalian."
"Terima kasih," jawab
keduanya seraya menjura hormat. Kemudian dengan diantar Perdana Menteri Giri
Gantra, keduanya menuju ke istana untuk menemui Baginda Raja Awangga.
Baginda Raja Awangga nampaknya
sudah be- rada di singgasananya. Bibirnya mengurai senyum, se- telah melihat
kedatangan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Selamat datang di
istanaku," sambut Baginda Raja Awangga dengan ramahnya.
Pendekar Gila dan Mei Lie langsung
memberi sembah, lalu duduk bersila di hadapan Baginda Raja Awangga.
"Ampun, Baginda! Kami datang
untuk me- nyampaikan pesan dari Pangeran Prapanca," kata Sena sambil
menyodorkan gulungan daun lontar yang diba- wanya. Baginda Raja Awangga segera
menerima surat itu. Dibukanya gulungan daun lontar itu dan dibaca. Bibir sang
Baginda mengurai senyum, setelah memba- ca surat yang disampaikan kedua utusan
Pangeran Prapanca. Dipandanginya kedua pemuda dan pemudi yang duduk dan
menundukkan kepala.
"Jadi, Pangeran Prapanca
meminta agar rakyat dibebaskan dari pajak? Serta kekayaan kerajaan untuk
kepentingan rakyat?" tanya Baginda Raja Awangga dengan bibir masih
tersenyum. Namun senyum itu nampak sangat sinis.
"Kami tak tahu, Baginda. Kami
hanya menja- lankan tugas semata-mata," jawab Sena sambil cen- gengesan
dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Hm, baiklah. Aku akan
menyetujui permintaan Pangeran Prapanca. Namun aku tak ingin hanya utu- san
yang datang. Aku berharap Pangeran Prapanca da- tang sendiri ke istana.
Bukankah lebih baik orang yang bersangkutan datang menghadap sendiri?"
tanya Ba- ginda Raja Awangga. Di bibirnya masih mengurai se- nyum, seakan
berusaha menunjukkan keramahannya.
"Kami hanya utusan,
Baginda," ujar Mei Lie. "Apa yang akan disampaikan, akan kami
sampaikan."
"Bagus. Sampaikan pada
Pangeran Prapanca! Kami pihak istana sangat mengharapkan kedatangan- nya,"
kata Baginda Raja Awangga sambil memandang sejenak pada perdana menterinya yang
tersenyum. "Kami akan menjamunya, sesuai dengan kebiasaan istana.
Bagaimanapun, dia tetap seorang pangeran."
"Akan hamba sampaikan,"
jawab Sena sambil menyembah. "Hamba mohon pamit!"
"Hamba pun mohon pamit,"
sambut Mei Lie sambil mengikuti Pendekar Gila menyembah. Kemu- dian Pendekar
Gila dan Mei Lie bangun dari duduk bersila. Sambil menyembah mereka melangkah mun-
dur. Meskipun keduanya utusan Pangeran Prapanca yang dalam hal ini merupakan
musuh kerajaan, mere- ka tetap berlaku sopan santun di istana.
"Sampaikan salamku pada
Pangeran Prapanca! Usahakan agar dia segera sampai di istana secepat
mungkin!" kata Baginda Raja Awangga mengingatkan, sebelum Pendekar Gila
dan Mei Lie meninggalkan ruang balai istana.
***
Mei Lie dan Pendekar Gila telah
keluar dari is- tana kerajaan. Keduanya kini tengah menyelusuri jalanan yang
sudah jauh dari istana. Seperti biasanya, mereka senantiasa bercanda ria di
dalam perjalanan. Langit cerah pagi hari dan sinar matahari yang hangat seakan
menemani mereka dalam menempuh perjala- nan pulang, setelah menyampaikan pesan
dari Pange- ran Prapanca.
"Ah, akhirnya kita harus
terlibat juga, Mei," ka- ta Sena sambil cengengesan dengan tangan mengga-
ruk-garuk kepala. "Seharusnya, kita hampir sampai di tempat guru."
"Kenapa Kakang tadinya tak
meneruskan perja- lanan saja? Kalau saja Kakang tak ikut campur dengan urusan
Pangeran Prapanca, tentu kita hampir sampai," ujar Mei Lie sambil
melangkah di samping kekasihnya. Sesekali Mei Lie menoleh ke wajah Sena. Tidak
pernah jemu-jemunya gadis itu memandangi wajah sang Ke- kasih. Meski
cengengesan, namun wajahnya yang tampan tetap tampak. Meski Sena seperti orang
gila, Mei Lie merasa damai jika berada di sampingnya.
"Ah ah ah, semua Hyang Widi
yang mengatur, Mei Lie. Aku hanya manusia, tak kuasa menolak sega- la yang
telah digariskan," kata Sena seraya menarik napas panjang. Sesaat matanya
memandang wajah Mei Lie. "Ah, sudahlah! Sudah telanjur basah, apa salah-
nya kita sekalian menyelaminya."
"Kalau memang itu sudah
menjadi keputusan, aku pun turut bersamamu, Kakang," desah Mei Lie sambil
menyandarkan kepalanya di pundak kanan Pendekar Gila. "Terus terang
kukatakan, aku sangat tenang jika berada di sampingmu."
Sena tersenyum. Lalu dengan lembut
diusap- nya rambut Mei Lie. Keduanya terus melangkah den- gan hati berbunga.
Jalinan cinta kasih yang mereka bina, semakin terasa di saat-saat seperti ini.
Di mana mereka hanya berdua, dengan ditemani suasana alam yang tenang dan
damai.
"Mungkinkah selamanya kita
akan selalu ber- sama, Kakang?"
Pertanyaan Mei Lie yang tiba-tiba
itu menyen- takkan Sena dari lamunannya. Seketika Pendekar Gila menghentikan
langkah, matanya memandang lekat wajah Mei Lie.
"Mengapa kau bertanya begitu,
Mei Lie?" tanya Sena dengan kening mengerut, kaget mendengar per- tanyaan
yang baru saja dilontarkan kekasihnya.
"Kakang Sena, semenjak kita
bertemu, aku su- dah merasakan jatuh cinta padamu. Dalam hati kecil- ku, aku
berjanji untuk mengabdi padamu," tutur Mei Lie dengan polos. Matanya
membalas tatapan Pende- kar Gila. Gadis itu seakan ingin meminta kepastian dari
kekasihnya.
"Aku mengerti, Mei Lie. Tapi,
mengapa kau ber- tanya seperti itu? Aku pun tak ingin kita berpisah. Namun
semua tetap tergantung Hyang Widi, kita tak mungkin bisa menentangnya,"
ujar Sena sambil mem- belai rambut kekasihnya. Dia berusaha menenangkan hati
Mei Lie.
"Maafkan aku, Kakang!"
"Tak mengapa. Ayolah, perjalanan masih pan- jang! Kita tak bisa
berlama-lama di tempat seperti ini," ajak Sena, merasa kalau di tempat
sepi dan senyap se- perti itu bahaya akan senantiasa datang tiba-tiba. Apa-
lagi di kanan kiri jalan yang mereka lewati, tertutup pepohonan dan semak
belukar.
Pendekar Gila dan Mei Lie terus
melangkah ke barat, untuk meneruskan perjalanan. Namun, baru beberapa langkah
mereka meneruskan perjalanan, mendadak dari balik semak-semak bermunculan beberapa
sosok tubuh berpakaian hitam dengan muka ter- tutup. Di tangan mereka,
tergenggam senjata.
"Berhenti...!" teriak
seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan senjata berupa gada berduri. Nam-
paknya lelaki ini, merupakan pimpinan dari empat orang lelaki lainnya. Mata
lelaki tinggi besar Ini, me- mandang tajam wajah Pendekar Gila dan Mei Lie yang
saling pandang, setelah keduanya berhenti.
"Aha, mimpi apa kita semalam,
Mei? Tidak ada hujan dan angin, tahu-tahu mendapat durian jatuh," tukas
Sena sambil tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Kulihat, ada niat tak baik pada mereka, Mei Lie."
"Benar, Kakang. Buktinya
mereka menutupi muka," sahut Mei Lie sambil turut tertawa gelak. Ma- tanya
yang seperti burung elang, memandangi satu- persatu kelima lelaki berwajah
tertutup kain hitam.
Sehingga hanya sepasang mata mereka
yang nampak, beringas menunjukkan kalau kelima orang itu bukan orang baik-baik.
"Kurang ajar! Lancang sekali
mulut kalian!" bentak lelaki tinggi besar bersenjata gada berduri. Ma-
tanya semakin tajam, menatap Pendekar Gila dan Mei Lie. Seakan-akan lelaki ini
hendak menelan keduanya bulat-bulat "Jawab pertanyaanku, benarkah kalian
yang bergelar Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa...?"
"Hm, untuk apa kami menjawab
pertanyaan- mu," dengus Mei Lie sengit. "Apakah pantas orang ber-
tanya menyembunyikan wajahnya di balik topeng? Bu- kalah topeng kalian! Baru
kami akan menjawab perta- nyaanmu!"
"Sundel! Berani benar kau
berkoar di daerah kekuasaan kami, heh?! Apakah kalian tak kenal, kalau Lima
Gagak dari Lembah Bangkai tak akan pernah mengampuni orang yang telah berani
lancang?!" sen- tak lelaki bersenjata gada berduri dengan suara keras.
Nampaknya lelaki ini sangat marah mendengar ucapan Mei Lie yang seperti
meremehkannya.
"Ah ah ah, rupanya kita
bertemu dengan bina- tang pemakan bangkai, Mei Lie? Hi hi hi..., lucu sekali!
Baru kali ini, aku melihat binatang pemakan bangkai menyembunyikan
wajahnya," Pendekar Gila mengejek sambil tertawa cekikikan dengan tangan
menggaruk- garuk kepala.
"Meski mereka binatang
pemangsa bangkai, aku tak akan takut! Mereka tidak sopan, tentunya me- reka
bermaksud tidak baik, Kakang," sahut Mei Lie dengan senyum sinis. Matanya
masih memandangi Lima Gagak dari Lembah Bangkai yang tampak sema- kin marah,
mendengar tantangan dari Mei Lie. Walau mereka menduga gadis Cina ini tak lain
si Bidadari
Pencabut Nyawa, tapi tak merasa
takut sedikit pun. Apalagi mereka memang datang untuk menguji. Sam- pai di mana
ilmu Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa yang tersohor itu.
"Kurang ajar! Rupanya kalian
mencari penyakit, berani menantang Lima Gagak dari Lembah Bangkai!" dengus
pimpinan lelaki bertopeng itu. Gada berduri di tangan kanannya diangkat.
Pendekar Gila dan Mei Lie menyangka
kalau le- laki tinggi besar itu hendak menyerang. Itu sebabnya keduanya segera
menyurut mundur dua tindak, siap untuk menghadapi serangan Lima Gagak Dari
Lembah Bangkai. Namun dugaan mereka melesat, ternyata....
"Serang...!" Tiba-tiba
pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai berteriak memerintah. Saat itu pula,
dari balik semak-semak muncul puluhan anak panah melesat cepat memburu Pendekar
Gila dan Mei Lie.
Swing! Swing...! "Awas,
Mei...!" seru Sena mengingatkan sambil melompat bersalto, menghindari
puluhan anak panah yang meluncur ke arahnya. Kemudian dengan tertawa
terbahak-bahak sambil tangan kiri menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila telah
berdiri tegap. Tangan ka- nannya berhasil menangkap lima batang anak panah yang
memburunya.
Tep! Tep! Tep! "Hi hi hi...!
Kiranya mainan anak-anak. Biarlah kukembalikan pada kalian! Hih...!"
Pendekar Gila melemparkan kelima
anak panah yang berhasil ditangkapnya sambil bersalto. Seketika itu pula,
kelima anak panah itu melesat cepat ke se- mak-semak belukar.
Swing! Swing! "Awas...!"
membelalak mata pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai, karena tak menyangka
lun- curan anak panah itu melebihi kecepatan semula. Se- hingga, dari lesatan
kelima anak panah itu terdengar desingan keras diikuti deru angin.
Swer! Jlep! "Akh. .!"
Terdengar jeritan kematian dari balik semak- semak. Rupanya ada seseorang yang
terlambat menge- lak. Sehingga anak panah yang dilemparkan Pendekar Gila,
menghunjam di dadanya. Sesaat orang bertopeng hitam meregang berdiri, dengan
anak panah menancap di dada. Bahkan anak panah itu tembus sampai pung- gung.
Tubuh lelaki itu ambruk dan menggelepar- gelepar menahan rasa sakit. Sesaat
kemudian tak nampak gerakannya, karena nyawanya telah me- layang. Sementara
itu, Mei Lie yang nampak tak saba- ran itu dengan cepat mencabut Pedang
Bidadarinya. Pedang yang mengeluarkan sinar kuning kemerah- merahan itu, dengan
cepat ditebaskan ke depan me- mapak anak panah yang meluncur ke tubuhnya.
"Heaaa...!" Wrt! Trak!
Sekali kibas, belasan anak panah tersambar Pedang Bidadari. Seketika belasan
anak panah itu berpentalan dan jatuh ke tanah. Hampir semuanya pa- tah jadi
dua. Tak sebatang anak panah pun dapat me- nembus pertahanan Mei Lie yang
menggunakan jurus 'Sapuan Tameng Bidadari'. Bahkan semua mata terbe- lalak,
menyaksikan kehebatan sapuan Pedang Bidadari di tangan Mei Lie. Baru kali ini,
mereka melihat jurus pedang yang sangat hebat.
"Ayo keluarkan semua senjata
kalian!" tantang
Mei Lie, penuh kemarahan. Dirinya
benar-benar tak suka dengan cara pengecut seperti yang dilakukan la-
wan-lawannya kali ini. Kalau dulu Segoro Wedi dan anak buahnya bisa berbuat
sekehendak hati terha- dapnya, Mei Lie kini bukanlah Mei Lie yang dulu. Ga- dis
Cina itu kini telah memiliki kepandaian yang tinggi. Bahkan dirinya sebagai
pewaris jurus-jurus Pedang Bidadari yang dahsyat dan belum tertandingi hingga
saat ini. "Ah ah ah, rupanya kau benar-benar senang dengan permainan ini,
Mei," ujar Sena dengan cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Matanya dengan terpicing menatapi Lima Gagak dari Lembah Bangkai yang masih
terkesiap setelah menyaksikan gebrakan Mei Lie.
"Cuih! Meski nama kalian
setinggi langit, tapi Lima Gagak dari Lembah Bangkai, takkan mengalah!"
dengus pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai sengit. "Gagak Kuru, dan
kau Gagak Pilangan, hadapi pemuda gila itu dibantu oleh sebagian prajurit!
Semen- tara Gagak Kabungan dan Gagak Pancalan, hadapi ga- dis Cina itu. Tangkap
dia hidup-hidup!"
"Baik!" sahut keempatnya.
"Serang mereka!" pe- rintah Gagak Kuru pada dua puluh anak buahnya
yang seketika berhamburan keluar dari semak-semak. Mereka langsung menyerang
Pendekar Gila dengan senjata panah. "Hea...!"
Wrrt! Sing! Swing! Puluhan anak
panah kembali berdesingan, memburu tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat,
pemuda berpakaian rompi dari kulit ular itu bergerak. Tubuhnya melenting ke
atas dengan jurus 'Si Gila Ter- bang Menyambar Ayam'! Tubuhnya bagaikan
terbang, berjumpalitan melakukan salto. Kemudian dengan paduan jurus 'Kera Gila
Melempar Batu', Pendekar Gila menyapu puluhan anak panah yang menderu ke tu-
buhnya. "Yeaaa...!"
Wrrr! Serangkum angin kencang,
menderu ketika tangan Pendekar Gila bergerak cepat seperti melempar batu.
Tangan kanan dan kirinya, bergerak tak berhenti dan bergantian. Puluhan anak
panah yang melesat memburu tubuhnya, seketika berpentalan jatuh. Seba- gian
lagi berbalik meluncur ke tempat pemiliknya.
"Awas panah....'" teriak
Gagak Kuru mengin- gatkan anak buahnya, yang seketika serabutan keluar berusaha
menyelamatkan diri dari hujan anak panah yang berbalik memburu mereka. Meskipun
para anak buah Gagak dari Lembah Bangkai telah berusaha me- nyelamatkan diri,
tetap saja ada beberapa orang yang harus menerima senjata mereka sendiri.
Jlep! Jlep! "Wuaaa....!"
"Aduhhh...!" Tiga orang terpekik keras, ketika dada dan wa- jah
mereka tertancap anak panah. Darah mengucur deras, keluar dari tancapan anak
panah beracun. Tu- buh mereka seketika jatuh bergelimpangan ke tanah. Sesaat
kemudian ketiganya telah tewas dengan tubuh kaku.
Sementara itu, Mei Lie menghadapi
Gagak Ka- bungan dan Gagak Pancalan yang dibantu sepuluh anak buah, nampak tak
segan-segan melakukan se- rangan. Pedang Bidadari di tangannya, digerakkan
dengan jurus 'Tebasan Bidadari Memenggal Gunung'. Pedang bergerak datar dengan
kecepatan luar biasa. Sehingga membuat lawan yang hendak menyerang, tersentak
kaget. Mereka berusaha mundur, namun tak urung pedang Mei Lie harus memakan
korban. "Heaaat...!"
Wrt! Cras! Cras...!
"Akh...!" Dalam sekali gebrak empat lawan menjerit ke- sakitan.
Dengan tubuh terhuyung-huyung mereka mendekap perutnya yang tersambar Pedang
Bidadari. Seketika darah bercucuran dari perut, membasahi kaki dan tanah di
tempat pertarungan.
Mata mereka membeliak, kemudian
dari mulut keluar darah merah kehitaman. Hal itu tampak dari topeng mereka yang
merembeskan darah. Keempat orang itu pun ambruk dan tewas hampir bersamaan.
***
Dalam satu gebrakan saja delapan
orang telah menjadi korban. Namun nampaknya Lima Gagak dari Lembah Bangkai tak
gentar sama sekali. Bahkan kini kelimanya turut maju, membantu anak buah yang
tinggal dua puluh tiga orang menyerang Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Rupanya kau bukan gadis
sembarangan. Ha- dapilah aku! Heaaa...!"
Gagak Pandera, yang merupakan
pimpinan dari Lima Gagak dari Lembah Bangkai menghantamkan gada berdurinya ke
tubuh Mei Lie. Desiran angin yang keluar dari ayunan gada itu, sangat keras.
Nampaknya gada berduri itu, diayunkan dengan pengerahan tena- ga dalam yang
cukup tinggi.
Wrrrt! "Haits! Hea...!"
Dengan cepat gadis bergaun hijau itu meliuk- kan tubuh ke samping kiri.
Sehingga gada lawan tak mampu mencapai sasaran. Dan ketika gada lawan hampir
saja menyambar kakinya, dengan cepat Mei Lie menarik kaki kanannya. Lalu dengan
cepat pedangnya dibabatkan ke tubuh lawan yang lain sambil kakinya menendang ke
perut lawan yang saat itu dalam kea- daan doyong ke depan, melakukan serangan.
"Heaaa...!" Wrt! Cras!
Cras...! Tak ampun lagi Pedang Bidadari menyambar mangsa. Begk!
"Akh...!"
"Aduh...!" Dua orang menjerit dengan leher terbabat pe- dang. Leher
mereka hampir putus, mengeluarkan da- rah yang menyembur deras. Sedangkan Gagak
Pande- ra yang terkena tendangan, terpekik lalu tubuhnya terhuyung-huyung ke
belakang sambil mendekap pe- rutnya. Mata Gagak Pandera membeliak. Mulutnya me-
ringis. Perutnya yang terkena tendangan dirasakan mual dan nyeri sekali.
"Setan Betina!" Caci maki
keluar dari mulut Gagak Pandera sambil menahan marah dan sakit. "Ku- rang
ajar! Kau memang pantas untuk dibunuh, Iblis Betina!" "Hua ha ha...!
Kaulah yang iblis!" sahut Mei Lie sambil tertawa terbahak-bahak. Hal itu
membuat Pen- dekar Gila yang sedang bertarung dengan lawan- lawannya turut
tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Baru kali ini,
dirinya melihat Mei Lie tertawa lepas. Padahal, biasanya Mei Lie hanya
tersenyum. Nampaknya gadis itu benar-benar senang dapat menunjukkan
kehebatannya di hadapan sang
Kekasih. "Aha, hari ini kau
nampak senang sekali, Mei Lie," gumam Pendekar Gila sambil bergerak dengan
jurus ‘Si Gila Menari Menepuk Lalat’, mengelakkan se- rangan-serangan lawan.
Tubuhnya meliuliuk laksana orang yang sedang menari. Sesekali tangannya ber-
gerak menepuk ke dada lawan yang ada di depan dan samping kanan kirinya. Meski
gerakannya kelihatan lamban dan lemah, ternyata mampu membuat lawan-lawannya
tersentak kaget.
"Pecah kepalamu, Bocah
Edan!" dengus Gagak Kuru sambil menghantam gada berdurinya menyerang
Pendekar Gila.
Wss! "Uts! He he he...!"
Sambil tertawa terkekeh- kekeh, Pendekar Gila segera meliukkan tubuh ke
samping. Kemudian dengan gerakan aneh dan sulit di- duga, Sena menghantamkan
telapak tangan menepuk ke dada lawan yang ada di sampingnya. Gerakannya nampak
lambat, namun dalam sekali gerak, mampu menepuk empat dada lawan.
Plak! Plak! Plak...!
"Wuaaa...!" "Aaa...!" Keempat orang yang terhantam telapak
tangan Pendekar Gila menjerit keras. Tubuh mereka terpental ke belakang
bagaikan dilempar oleh kekuatan yang dahsyat. Keempat tubuh terus melayang dan
baru berhenti ketika menerjang pohon jati.
Brak! "Engkh...!" Keempat
lelaki bertopeng itu jatuh ke tanah dan langsung tak bergerak lagi.
Menyaksikan anak buahnya banyak
yang mati, Gagak Pandera dari Lembah Bangkai mulai merasa takut. Mereka
nampaknya menyadari, kalau kedua pen- dekar itu memang bukan tandingan.
"Mundur...!" teriak Gagak
Pandera memerintah pada anak buahnya yang tersisa. Dengan cepat para anak buah
lari meninggalkan tempat pertarungan. Me- reka semua menyadari kehebatan kedua
pendekar muda itu. Maka karena ketakutan, semua lari tung- gang langgang dari
tempat itu.
Semula Mei Lei hendak mengejar
mereka, na- mun dengan cepat Pendekar Gila melarangnya.
"Aha, mengapa mesti
capai-capai mengejar me- reka, Mei? Bukankah masih ada tugas yang lebih pent-
ing? Tentunya pangeran tengah menunggu-nunggu kedatangan kita," ujar Sena
mengingatkan kekasihnya. Mei Lie pun mengurungkan niat untuk menge- jar.
Dimasukkan Pedang Bidadari ke warangkanya. Kemudian kakinya melangkah di
samping Pendekar Gila, untuk meneruskan perjalanan mereka guna me- laporkan
tugas pada Pangeran Prapanca.
***
3
Mentari sore yang redup membiaskan
cahaya kuning penuh kedamaian. Sinarnya menyelusup di sela-sela daun bambu,
menerangi suasana di dalam Hu- tan Bambu. Angin sore yang bertiup lembut
membawa hawa sejuk menambah keindahan sore itu. Burung- burung berkicau riang,
berterbangan pulang ke sarangnya. Saat itu, Pendekar Gila dan Mei Lie telah
sam- pai di pinggir Hutan Bambu, tempat Pangeran Prapan- ca dan teman-temannya
berada. Agak ke dalam dari
Hutan Bambu, empat prajurit yang
kini berpihak pada Pangeran Prapanca tampak berjaga lengkap dengan senjata
mereka.
"Siapa?!" seru salah
seorang prajurit ketika Pendekar Gila dan Mei Lie melangkah memasuki Hu- tan
Bambu.
"Kami!" sahut Mei Lie.
"Pangeran sudah menunggu kedatangan ka- lian!" kembali terdengar
suara dari dalam.
Pendekar Gila tampak cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah tenang bersama kekasihnya memasuki
Hutan Bambu. Mata mereka memandang lurus ke depan. Kaki mereka melangkah dengan
ringan. Kalau orang yang belum berilmu tinggi, sulit untuk mendengar
langkah-langkah kaki Pendekar Gila dan Mei Lie. Hal itu dilakukan, sengaja
untuk menguji sampai seberapa tinggi kewaspadaan para prajurit jaga.
Tampaknya para prajurit jaga
benar-benar mengerahkan kewaspadaan mereka. Hal itu dapat di- ketahui dari
pendengaran dan naluri serta perasaan mereka yang mampu menangkap gerakan
Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Hua ha ha...! Bagus...!
Rupanya kalian benar-benar menjaga kewaspadaan," seru Sena sambil tertawa
terbahak-bahak. Suaranya menggema di sekitar Hutan Bambu, menjadi orang-orang
yang berada di dalam gubuk segera tahu kalau Pendekar Gila telah datang.
Pangeran Prapanca, Pranala, Ki Naga
Wilis, Ga- gak Selo, Tirta Kayon, Resi Wisangkara dan Panglima Rawa Sekti yang
berada di dalam gubuk segera keluar. Mereka ingin menyambut kedatangan Pendekar
Gila dan Mei Lie yang menjadi duta. Mulanya mereka mengkhawatirkan keselamatan
kedua pendekar itu.
Mereka takut kalau Pendekar Gila
dan Mei Lie ditang- kap pihak istana. Itu sebabnya setelah mendengar suara tawa
Pendekar Gila, serta merta mereka keluar un- tuk menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali!"
mereka menyambut dengan tersenyum senang, menyaksikan Pendekar Gila dan Mei Lie
datang tanpa kurang satu apa pun.
"Aha, terima kasih! Atas doa
restu kalian, kami bisa kembali tanpa kurang satu apa pun. Hi hi hi...!"
jawab Sena sambil tertawa cekikikan. Tangannya menggaruk-garuk kepala, sambil
matanya memandang wajah Mei Lie.
"Ya, kami rasa atas doa kalian
sehingga kami bisa kembali dengan tak kurang satu apa pun," sam- bung Mei
Lie dengan bibir mengurai senyum. Dibalas- nya tatapan mata Pendekar Gila.
"Hm..., dari penuturan kalian,
nampaknya ka- lian mengalami halangan," ujar Pangeran Prapanca ingin tahu,
apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau boleh kami tahu, apa
gerangan yang te- lah terjadi?" tanya Pranala menambahkan.
"Hi hi hi...! Kalian seperti
ahli nujum. Bagaima- na mungkin kalian bisa menduga begitu? Padahal kami belum
menceritakan apa pun pada kalian," jawab Pendekar Gila sambil tertawa
cekikikan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Semua yang menyaksikan tingkah laku
Pende- kar Gila tersenyum-senyum. Kalau saja mereka tak in- gat sedang
berhadapan dengan pendekar sakti yang saat ini belum ada tandingannya, mungkin
akan ter- tawa geli melihat tingkah laku Sena. Beruntung mere- ka menyadari,
kalau yang ada di hadapannya tak lain Pendekar Gila. Seorang pendekar muda yang
akhir- akhir ini tengah ramai dibicarakan di kalangan rimba persilatan.
"Ah, bisa saja kau,
Sena," sahut Pangeran Pra- panca malu, disindir begitu oleh Pendekar Gila,
"Apa- lah artinya kami, dibandingkan dengan kalian yang mempunyai nama
besar."
"Hi hi hi...! Lucu sekali,
Mei. Ada seorang pan- geran sangat merendah. Ah, sudahlah, mari kita ma- suk!
Kita ngobrol di dalam saja," ajak Sena sambil me- langkah seiring dengan
Mei Lie.
Pangeran Prapanca, Pranala dan
rekan- rekannya segera mengikuti kedua pendekar itu masuk ke gubuk. Mereka
segera duduk di atas tikar pandan yang digelar lebar di ruangan itu. Wajah
mereka berse- ri, meski belum tahu apa sebenarnya yang terjadi. Hal itu karena
tingkah laku Pendekar Gila yang konyol dan lucu, mengundang mereka untuk
tersenyum.
"Bagaimana tugas kalian?"
tanya Pangeran Pra- panca membuka percakapan, setelah semua duduk.
"Aha, kurasa beres, Pangeran.
Baginda telah menerima surat yang Pangeran kirim," jawab Sena dengan
tingkah laku yang masih konyol, cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Benar, Pangeran,"
sambung Mei Lie. "Kami te- lah bertemu langsung dengan Baginda Raja
Awangga. Dan kami telah menyerahkan surat yang Pangeran tu- lis."
"Lalu, bagaimana tanggapan
baginda?" Pangeran Prapanca ingin tahu, bagaimana tanggapan Baginda Raja
Awangga yang sebenarnya masih ada hubungan saudara dengannya. Karena Awangga
merupakan adik dari Prabu Jayawangga, ayahanda Pangeran Prapanca yang sampai
kini belum diketahui nasibnya. Meski gurunya mengatakan aya- handa dan
ibundanya meninggal ketika terjadi pembe- rontakan, namun Pangeran Prapanca tak
percaya begi- tu saja akan berita itu. Pangeran Prapanca merasa ada sesuatu
yang tidak beres di dalam istana. Namun sampai sejauh ini dirinya belum bisa
membuktikan ketidakberesan tersebut, lantaran belum mendapatkan bukti-bukti
yang kuat.
"Baginda menerima," jawab
Mei Lie. "Namun baginda meminta syarat"
"Hm...! Apa syaratnya?"
tanya Pangeran Pra- panca ingin tahu.
"Pangeran diminta datang ke
istana," jawab Mei Lie, yang menyebabkan semua yang ada di tempat itu
terdiam. Mereka seketika saling pandang, kemudian memandang dengan perasaan
cemas pada Pangeran Prapanca.
"Kanjeng Pangeran, kalau hamba
diperkenan- kan mengeluarkan pendapat," Resi Wisangkara seketi- ka angkat
bicara.
"Katakanlah, Paman Resi!"
"Sebaiknya, Pangeran jangan menuruti kata- kata Baginda Awangga"
"Kenapa begitu?" tanya
Pangeran Prapanca in- gin penjelasan, karena dia memang belum tahu apa yang
menyebabkan Resi Wisangkara melarang dirinya ke istana. "Bukankah baginda
nampaknya menyadari kekeliruannya selama ini?"
"Hamba rasa, ini hanya suatu
siasat, Pange- ran," tukas Resi Wisangkara berusaha mengingatkan Pangeran
Prapanca.
"Maksud Paman Resi?"
"Aha, kurasa Resi Wisangkara benar, Pange- ran."
Pendekar Gila menyela sebelum Resi
Wisangka- ra yang masih kebingungan sempat menjawab. Hal itu menjadikan Resi
Wisangkara menghela napas, merasa lega ada orang yang membantunya menyampaikan
maksud perkataannya.
"Tolong kau jelaskan padaku,
Sena!" pinta Pan- geran Prapanca dengan penuh persahabatan. "Kurasa,
kaulah yang bisa menerangkan letak dari semua kea- nehan undangan Paman Awangga
kepadaku."
Pendekar Gila masih cengengesan dan
dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Sesaat dihelanya napas. Kemudian melirik
Mei Lie yang duduk di sam- pingnya. Setelah memandang ke atas, menatap sirap
daun bambu sebagai penutup gubuk itu, Sena mulai menceritakan apa yang telah
terjadi.
Diceritakan, kalau secara diam-diam
dia meli- hat Baginda Raja Awangga berbisik-bisik dengan Perdana Menteri Giri
Gantra. Setelah itu, baginda nampak tersenyum sinis. Sambil membelai-belai
jenggotnya yang panjang, baginda meminta agar Sena dan Mei Lie menyampaikan
maksudnya, mengundang Pangeran Prapanca untuk datang ke istana Kerajaan Surya
Lan- git
Hal kedua, ketika mereka pulang ke
Hutan Bambu, di perjalanan mereka dicegat segerombolan lelaki berkedok kain
hitam yang dipimpin Gagak dari Lembah Bangkai. Nampaknya ada hubungan kejadian
yang tak dapat dipisahkan, antara bisik-bisik Perdana Menteri Giri Gantra
dengan pengeroyokan itu.
"Begitulah ceritanya,
Pangeran. Tetapi... Ah, kurasa semua keputusan ada di tanganmu, Pangeran,"
ujar Sena mengakhiri ceritanya.
"Benar, Pangeran. Ketika kami
pulang, kami di- hadang hampir tiga puluh orang. Entah dari mana me- reka itu.
Yang pasti, mereka nampaknya menghendaki nyawa kami," sambung Mei Lie,
yang membuat semua mengangguk-anggukkan kepala.
"Aha, aku lupa. Apakah di
antara kalian ada yang mengenali julukan Lima Gagak dari Lembah Bangkai?"
tanya Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Semua yang ada di tempat itu
mengerutkan kening. Nampaknya mereka berusaha mengingat-ingat julukan Lima
Gagak dari Lembah Bangkai. Namun nampaknya tak ada yang mengenal julukan itu.
Bah- kan kini pandangan mereka tertuju pada Gagak Selo, yang memiliki nama
hampir sama dengan julukan ge- rombolan itu.
"Bagaimana dengan Paman Gagak
Selo? Apa- kah Paman mengenal mereka...?" tanya Pangeran Pra- panca sambil
memandangi Gagak Selo.
"Apakah ada yang menyebut nama
di antara mereka?" tanya Gagak Selo dengan mata memandang Pendekar Gila
dan Mei Lie.
"Aha, aku ingat. Orang yang
tinggi besar yang merupakan pimpinan mereka, menyebut temannya Gagak Kuru. Dan
orang itu sendiri, menyebut na- manya Gagak Pandera," sahut Pendekar Gila,
"Aha, bagaimana, Ki Gagak Selo? Apakah kau kenal dengan mereka?"
"Hm, kurang ajar sekali mereka! Berani mereka memakai nama gagak. Nama
yang merupakan pembe- rian guru kami," gumam Gagak Selo sengit "Kalau
aku bertemu dengan mereka, ingin rasanya menyobek mu- lut mereka yang telah
berani lancang menyebut nama gagak." Gagak Selo benar-benar geram, karena
secara tidak langsung nama pemberian guru mereka telah dicemarkan orang-orang
yang tak bertanggung jawab.
"Jadi, Paman Gagak Selo tak
mengenal mere- ka?" tanya Pangeran Prapanca meminta kepastian.
"Memang aku pun berasal dari
Lembah Bang- kai. Namun aku sama sekali tak kenal dengan orang yang mengaku
bernama Gagak Pandera dan Gagak Kuru," jawab Gagak Selo, menegaskan.
"Kalau Pangeran mengizinkan, hamba akan mencari mereka. Akan kuantarkan
kepala mereka ke hadapan Pangeran. "
"Tidak usah, Paman! Belum
saatnya kita mela- kukan tindakan. Yang perlu kita pikirkan saat ini, bagaimana
sebaiknya menanggapi undangan baginda ra- ja," ujar Pangeran Prapanca
berusaha menyabarkan Gagak Selo yang begitu marah karena merasa na- manya
dicemarkan oleh orang-orang yang mengaku dari Perguruan Gagak Sakti.
"Hamba akan menuruti perintah
Kanjeng Pan- geran. " "Terima kasih, Paman," jawab Pangeran Pra-
panca sambil tersenyum puas, menyaksikan Gagak Se- lo kini nampak tenang.
"Kembali pada masalah semu- la. Bagaimana? Apakah ada yang bisa memberiku
sa- ran?"
"Ampunilah hamba, Kanjeng
Pangeran!" Pan- glima Rawa Sekti yang sejak tadi diam, seketika angkat
bicara. Hal itu menjadikan pandangan Pangeran Pra- panca kini tertuju ke wajah
Panglima Rawa Sekti.
"Katakanlah, Paman
Panglima!" Lelaki setengah baya bertelanjang dada itu menundukkan kepala.
Ke- mudian perlahan kepalanya didongakkan memandang ke atas, sambil menghela
napas perlahan, seakan-akan ingin membuang kegelisahan hatinya.
"Ampun, Kanjeng Pangeran!
Hamba mohon be- ribu-ribu ampun, karena selama ini hamba tidak menuturkan apa
yang sebenarnya telah terjadi," ujar Panglima Rawa Sekti dengan suara
bergetar dan agak parau.
"Tentang apa, Paman?"
"Tentang Gusti Prabu, Pangeran." "Hm, kenapa dengan
ayahanda?" "Sesungguhnya, Prabu Jayawangga masih hi- dup. Beliau kini
ditahan di dalam penjara bawah tanah oleh Baginda Awangga atas perintah
Panglima Utama Giri Gantra," tutur Panglima Rawa Sekti.
Mendengar cerita itu Pangeran
Prapanca dan semua yang ada di dalam gubuk membelalakkan mata terkejut. Mereka
tak menyangka, kalau Prabu Jaya- wangga masih hidup.
"Paman Panglima, ceritakanlah
apa sebenarnya yang telah terjadi di istana!" pinta Pangeran Prapanca
karena merasa penasaran.
***
Panglima Rawa Sekti sesaat terdiam.
Ditolehkan wajah ke Resi Wisangkara, yang sebenarnya juga tahu. Dan sepertinya
Panglima Rawa Sekti ingin me- minta pendapat dari Resi Wisangkara. Setelah
melihat Resi Wisangkara mengaggukkan kepala, Panglima Rawa Sekti mulai menceritakan
semua yang terjadi di istana.
Malam itu, Awangga yang masih
menjabat sebagai perdana menteri mengumpulkan para pembesar istana. Hadir di
situ, Giri Gantra yang waktu itu masih Panglima Utama, Resi Wisangkara,
Panglima Rawa Sekti dan para pembesar lain. Nampaknya Perdana Menteri Awangga
mengundang mereka, karena ada masalah penting.
"Apakah kalian tahu mengapa
kuundang ke ruang pertama ini?" tanya Perdana Menteri Awangga membuka
ucapan, membelah kesunyian malam yang dingin.
Semua yang datang tidak menjawab.
Mereka diam, karena memang belum mengerti maksud Perdana Menteri Awangga
mengundang malam itu.
"Dengar oleh kalian baik-baik!
Raja kini tak bi- sa berbuat apa-apa. Baginda Raja tak lebihnya bangkai yang
tiada guna. Dia sama sekali tak memperhatikan kita. Untuk apa menjadi pejabat
tinggi kerajaan, kalau kita dalam keadaan yang pas-pasan. Raja hanya mementingkan
rakyat sedangkan kita, tak pernah dipikir- kan," tutur perdana Menteri
Awangga berapi-api. Matanya yang tajam, memandangi satu-persatu wajah orang
yang datang pada pertemuan itu. Mereka semua terdiam sambil menundukkan kepala.
Hanya Panglima Utama Giri Gantra yang masih tenang, bahkan tersenyum-senyum.
Semua tak ada yang bicara, karena
tak tahu apa yang sebenarnya terencana dalam pikiran Perdana Menteri Awangga
dan Panglima Utama Giri Gantra.
"Untuk itulah, kuundang
semuanya datang ke sini. Kita harus mengganti raja, kalau kita ingin hidup
makmur dan serba kecukupan. Kita tak ingin hidup seperti ini selamanya,
bukan?" tanya Perdana Menteri Awangga.
"Benar!" sahut Panglima
Utama Giri Gantra, "Kita tak ubahnya gembel dan pengemis. Untuk apa hidup
seperti ini? Bahkan kerajaan seakan menutup semuanya bagi kita. Sehingga kita
tak dapat bertindak. Bahkan perdagangan dengan kerajaan luar pun ditu- tup.
Apakah kita akan diam terus? Membiarkan anak cucu kita menderita?"
"Lalu, apa yang hendak Perdana
Menteri laku- kan?" tanya Resi Wisangkara mencoba memberanikan diri.
"Kita harus menggulingkan
kekuasaan raja, dengan seolah-olah terjadi pemberontakan. Kemudian, dengan
pura-pura tak mengerti, kita hancurkan pem- berontakan itu. Lalu kita sebar
pengumuman, kalau baginda raja telah terbunuh dalam pemberontakan. Bukankah
dengan begitu, kita akan bebas dari tuntu- tan rakyat?" ujar Perdana
Menteri Awangga menjelaskan gagasannya.
"Kita korbankan banyak
prajurit dan rakyat, Tuan Perdana Menteri!" kata Panglima Rawa Sekti.
"Aku tak setuju!"
"Aku juga!" sambut Resi
Wisangkara. "Kalian boleh tak setuju. Tapi ingat, kalian akan mendapatkan
hukuman mati di tiang gantun- gan!" ancam Panglima Utama Giri Gantra, yang
mem- buat Panglima Rawa Sekti dan Resi Wisangkara ter- diam. Mata mereka
membelalak, mendengar ancaman itu. Mereka tahu, kedudukan mereka akan benar-
benar terpepet, kalau tak setuju dengan rencana per- dana menteri dan panglima
utama.
"Bagaimana...?" tanya
Perdana Menteri Awang- ga dengan senyum sinis,
Panglima Rawa Sekti dan Resi
Wisangkara tak dapat berkata apa-apa. Keduanya benar-benar tak se- tuju dengan
rencana yang mereka anggap gila dan sadis. Namun mereka tak dapat berbuat
apa-apa dalam ancaman perdana menteri dan panglima utama.
"Ingat oleh kalian. Jika
kalian mau membantu rencanaku, maka pangkat kalian akan kunaikkan. Di samping
itu, kalian akan menjadi orang kaya. Berlim- pah harta dan wanita. Apakah itu
tidak kalian ingin- kan?" tanya Perdana Menteri Awangga merayu dengan
janji-janjinya yang tinggi. "Selama ini, kalian tak per- nah merasakan
kenikmatan duniawi. Kalian hanya memiliki satu istri. Kalian tak bebas untuk
mencari wanita sesuka hati kalian, karena kalian dalam kekua- saan undang-undang
raja, yang sebenarnya raja sendiri tak pernah melaksanakan undang-undang
tersebut"
"Perdana Menteri...! Kau bisa
bicara begitu, apakah kau bisa membuktikannya?" tanya Resi Wi- sangkara
dengan tegas. Sebenarnya sebagai resi, Resi Wisangkara merasa undang-undang
yang dibuat oleh
Prabu Jayawangga benar. Karena
dengan undang- undang tersebut, maka para pembesar istana tidak bertindak
sewenang-wenang. Mereka akan terikat oleh hukum yang tertulis. Dan menurut
pandangan mere- ka, baginda tak pernah salah. Kalau baginda memiliki selir, itu
sudah menjadi hal yang wajar. Karena setiap raja memang berhak memiliki selir.
Perdana Menteri Awangga tersenyum
sinis. "Kau meminta bukti, Resi?" tanyanya.
"Ya!" "Baik aku akan
menguraikan bukti-bukti yang kau inginkan. Seharusnya kau ingat, aku adalah
adik- nya," kata Perdana Menteri Awangga sambil tersenyum sinis.
"Tetapi baiklah, akan kubeberkan semua kebu- rukan kakakku. Dia adalah
lelaki yang pengecut, se- hingga tak pernah berani mengambil resiko. Dia juga
suka keluyuran di tempat-tempat pelacuran. Suka mabuk dan berjudi. Raja macam
itukah yang kalian anggap baik?"
"Hentikan!" teriak Resi
Wisangkara sambil ber- diri. Matanya yang tajam menatap wajah perdana menteri.
"Tak sepantasnya kau berkata begitu, Perdana Menteri! Baginda adalah yang
mulia!"
"Duduk, Resi! Atau
prajurit-prajurit itu akan menyeretmu!" ancam Panglima Utama, yang menjadikan
Panglima Rawa Sekati seketika bangkit dari du- duknya. "Panglima, kau tak
bisa berlaku kasar pada Re- si. Kalau sampai hal itu terjadi, maka terkutuklah
kau!" dengus Panglima Madya Rawa Sekti, memprotes ucapan panglima utamanya
yang dianggap telah menghina orang-orang istana yang seharusnya dihor- mati dan
dijunjung tinggi.
"Duduk, Rawa Sekti! Kau ada di
bawahku! Aku berhak memecatmu! Jangan berlaku kurang ajar terhadapku!"
bentak Panglima Utama Giri Gantra sambil melotot. Telunjuknya menunjuk wajah
Rawa Sekti yang masih duduk di kursi.
"Kau memang pimpinanku. Namun
begitu, aku tak setuju dengan ucapanmu yang menghina orang- orang istana!"
balas Panglima Madya Rawa Sekti tak mau kalah.
"Hm, hebat! Baru kali ini aku
mendengar ada orang yang masih menghormati para pejabat istana. Baik, aku minta
maaf! Kini kuminta dengan hormat, kalian duduk!" perintah Panglima Utama
Giri Gantra tegas.
Panglima Madya Rawa Sekti dan Resi
Wisang- kara pun akhirnya menurut duduk, walau dengan pandangan sinis tak
senang, mendengar ucapan dan tindakan panglima utama.
"Dengar oleh kalian semua!
Besok malam, sebe- lum fajar menyingsing, kalian harus bisa melakukan
sandiwara. Kami telah mempersiapkan orang-orang yang akan melakukan
pemberontakan. Sedangkan pe- numpasannya, akan dipimpin olehku langsung!"
kata Perdana Menteri Awangga.
"Ingat! Jangan sekali-kali
berusaha membang- kang dan membuka rahasia, karena hal itu berarti nyawa kalian
yang menjadi taruhannya," sambung Panglima Utama Giri Gantra. "Jika
ada yang berani melakukan tindakan bodoh itu, kalian akan menda- patkan hukuman
yang menyakitkan. Kalianlah yang akan dituduh sebagai pemberontak!"
Semua tak ada yang berani membuka
mulut. Sampai pertemuan selesai tak ada yang berkata sepatah kata pun.
Nampaknya ancaman Panglima Utama Giri Gantra dan Perdana Menteri Awangga,
benar-benar membuat para undangan tak berani bertindak atau menolak, karena berarti
akan menjerumuskan diri mereka sendiri.
Keesokan harinya, tepat seperti apa
yang diatur oleh Panglima Utama Giri Gantra, pemberontakan ter- jadi.
Orang-orang yang sudah disiapkan, melakukan aksi pemberontakan. Sekilas, tak
nampak kalau se- muanya sudah diatur. Mereka bekerja dengan rapi, menculiki
para pembesar istana yang masih mengabdi pada baginda raja. Mereka membunuh
para pembesar istana. Bahkan patih dan hulubalang kerajaan diculik dan dibunuh.
Ketika pemberontakan berlangsung,
orang- orang yang juga sudah diatur oleh panglima utama dan perdana menteri
segera bergerak. Nyawa manusia bagaikan tak berarti. Mereka saling bantai,
hanya un- tuk memerankan sebuah sandiwara yang sudah dibuat oleh Giri Gantra
dan Awangga. Dan akhirnya para pemberontak yang hendak menggulingkan kekuasaan
raja dapat ditumpas.
Prabu Jawangga dan permaisuri yang
sudah mengungsi, dipaksa kembali ke istana. Lalu baginda diteror dengan
pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan- tuduhan yang menyudutkan kedudukannya.
Sampai akhirnya baginda jatuh sakit, lalu bersama sang Per- maisuri dimasukkan
ke sebuah kamar, yang sebenar- nya penjara di bawah tanah. Begitu pula dengan
para pengikut baginda yang masih setia, dijebloskan ke pen- jara bawah tanah.
"Kami benar-benar menyesali
diri sendiri, kare- na tak berdaya. Kami tak dapat berbuat apa-apa," ujar
Panglima Rawa Sekti dengan air mata berlinang. "Na- mun begitu, secara
diam-diam, kami selalu berusaha memberi makanan pada baginda. Setiap hari kami
berharap, semoga datang Dewa Penolong yang akan membebaskan Baginda Jawangga.
Sampai akhirnya, kami menemukan Kanjeng Pangeran."
"Kalau sekiranya kami salah,
kami siap untuk menerima hukuman, Kanjeng Pangeran," sambung Resi
Wisangkara dengan kepala menunduk.
Pangeran Prapanca terdiam mendengar
ucapan mereka. Hatinya terenyuh sekali, jika mengingat nasib ayahanda dan
ibundanya yang mungkin menderita. Dirinya sama sekali tak menyangka, kalau
pamannya sampai hati melakukan kekejian itu. Padahal ayahandanya, sangat sayang
pada sang Adik, Awangga. Na- mun balasan dari Awangga justru sebaliknya.
"Bedebah! Aku tak menyangka
kalau pamanku akan berbuat keji begitu!" dengus Pangeran Prapanca sambil
menggenggam tangannya kuat-kuat.
"Tapi, kami rasa otak dari
semuanya tiada lain Panglima Utama Giri Gantra, Kanjeng Pangeran," tukas
Ki Rawa Sekti.
"Dari mana Paman tahu?"
"Sesungguhnya, Panglima Utama Giri Gantra yang mempunyai ambisi menjadi
raja. Dia akan terus mempengaruhi Baginda Awangga, sambil akhirnya baginda
dapat dikendalikan. Memang di mata rakyat Ba- ginda Awangga yang menjadi raja.
Namun sesungguhnya, semua roda pemerintahan ada di tangan Giri Gan- tra yang
kemudian diangkat perdana menteri," tutur Rawa Sekti. "Hal itu bisa
kita ketahui, dari cara-cara melaksanakan roda pemerintahan. Semua menuruti apa
yang dikatakan Perdana Menteri Giri Gantra. Hm..., tentu saja hamba banyak tahu
keadaan istana, Kanjeng Pangeran."
Pangeran Prapanca
mengangguk-anggukkan kepala. Tadi mungkin dirinya lupa kalau Rawa Sekti
merupakan seorang Panglima Utama di Kerajaan Surya Langit
"Hm, gumam Pangeran Prapanca.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau aku tak memenuhi undangan
baginda, bukankah akan dikatakan penge- cut?" tanya Pangeran Prapanca
meminta pendapat dari teman-temannya.
"Jadi Kanjeng Pangeran tetap
akan memenuhi undangan Baginda Raja Awangga...?" tanya Resi Wisangkara
dengan tatapan mata cemas, karena sudah menduga kalau semua ini sebenarnya
sudah diatur.
"Tentunya semuanya sudah
diatur oleh Perda- na Menteri licik itu, Pangeran. Hamba tahu kelicikan Giri
Gantra jauh sebelum terjadi pemberontakan."
"Aku pun mengerti, Paman Resi.
Mereka boleh saja melakukan kelicikan. Namun kita tak boleh mundur hanya karena
kelicikan mereka!" kata Pangeran Prapanca. Nadanya sangat yakin kalau
dirinya akan dapat menghadapi kelicikan yang akan dilakukan Per- dana Menteri
Giri Gantra dan Baginda Awangga.
"Tapi, Kanjeng Pangeran,"
Panglima Rawa Sekti kembali angkat bicara. Wajahnya masih menggambarkan
kebimbangan dan rasa cemas, takut kalau-kalau Pangeran Prapanca akan mengalami
hal yang tidak diinginkan.
"Tapi apa, Paman?" tanya
Pangeran Prapanca. "Hamba mohon, Kanjeng Pangeran sudi mem-
pertimbangkannya lagi, agar tidak menyesal di kemu- dian hari. Karena mereka
benar-benar bukan manusia lagi," tutur Panglima Rawa Sekti mengingatkan.
"Bagaimana kalau kita datang
ke sana bareng?" "Apakah nanti tak akan mengundang kesalah-
pahaman?" tanya Pangeran Prapanca, "Lebih baik, biar aku, Pranala,
Sena dan Mei Lie yang berangkat. Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap kami,
aku mohon Pa- man dan lainnya mengumpulkan bala bantuan. Semua kuserahkan pada Paman."
"Kalau memang itu keputusan
Kanjeng Pange- ran, hamba tak bisa menentang," kata Rawa Sekti seraya
membungkuk hormat
"Besok, kami akan berangkat.
Jika dalam dua hari kami tak pulang, kuserahkan pada Paman untuk menentukan
tindakan," ujar Pangeran Prapanca me- mutuskan. Semua tak ada yang
membantah. Semua kini patuh dengan apa yang menjadi keputusan Pange- ran
Prapanca.
***
4
Jago-jago dari dua kerajaan yang
diundang oleh Perdana Menteri Giri Gantra berdatangan ke Kerajaan Surya Langit.
Nampaknya Perdana Menteri Giri Gan- tra, hendak melaksanakan apa yang telah
direncanakan, yaitu menyingkirkan Pangeran Prapanca dan para pengikutnya.
Jago-jago persilatan yang berasal
dari Kerajaan Tirta Buana dan Banyu Bumi kebanyakan tokoh-tokoh golongan hitam.
Di antara mereka tampak Sepasang Toya Setan, si Mata Tunggal, Kala Prana,
Jembel Pila- rang, Jenggot Naga, Kati Asem, dan Hiwa Krana. Dela- pan tokoh
aliran hitam ini memiliki ilmu dan kedig- dayaan tinggi. Tak mengherankan kalau
nama mereka sudah sangat dikenal dan disegani di kerajaan masing- masing.
Kedelapan tokoh aliran hitam ini, bersama to- koh-tokoh hitam lainnya nampak
tengah berkumpul di alun-alun kerajaan. Mereka menunggu Perdana Mente- ri Giri
Gantra yang akan memberikan pen jelasan ten- tang apa yang akan mereka lakukan.
Dari dalam istana, muncul Baginda
Raja Awangga dan Perdana Menteri Giri Gantra, diiringi pa-ra punggawa dan
prajurit kerajaan. Di bibir Perdana Menteri Giri Gantra, tersungging sebuah
senyuman. Nampaknya sang Perdana Menteri merasa yakin, kalau yang dia
rencanakan akan berhasil.
"Dengan tokoh-tokoh hitam ini,
tak akan mungkin Pangeran Prapanca dan teman-temannya da- pat lolos," ujar
Perdana Menteri Giri Gantra pada Ba- ginda Raja Awangga.
"Apa kau yakin?"
"Hamba yakin, Baginda." "Apa kau telah menguji mereka."
"Belum," jawab Perdana Menteri Giri Gantra dengan bibir masih
mengurai senyum. "Tetapi, mereka merupakan tokoh-tokoh yang namanya cukup
kon- dang. Selama ini, mereka berpengaruh di kerajaan me- reka
masing-masing."
"Hm," gumam Baginda Raja
Awangga turut ter- senyum. Tangan kanannya membelai-belai jenggot yang panjang
putih. Matanya memperhatikan dari ke- jauhan para tokoh hitam persilatan yang
sudah me- nunggu kedatangannya.
Baginda Raja Awangga dengan
diiringi perdana menteri, terus melangkah ke alun-alun. Kemudian Baginda Raja
Awangga naik ke panggung yang sudah dis- iapkan, diikuti Perdana Menteri Giri
Gantra.
Semua tokoh aliran hitam yang ada
di alun- alun, seketika melakukan sembah. Mereka sujud di hadapan Baginda Raja
Awangga yang telah berdiri di atas mimbar.
"Perdana Menteri, apa
rencanamu selanjutnya?" tanya Baginda Raja Awangga kepada Perdana Menteri
Giri Gantra yang berdiri di sampingnya.
"Mereka akan kita tugaskan
pada tempat- tempat yang telah ku atur. Sebagian dari mereka, akan kita adu
dengan Pangeran Prapanca dan teman- temannya. Kalau mereka ternyata mengalami
kekala- han, maka kita akan menangkap Pangeran Prapanca dan
teman-temannya," tutur Perdana Menteri Giri Gantra menjelaskan rencananya.
"Bukankah dengan begitu, kita akan mudah menangkap mereka. Kita tak perlu
menguras tenaga. Ha ha ha...!"
Sang Raja turut tertawa mendengar
penuturan perdana menterinya. Kepalanya mengangguk-angguk, menandakan setuju
dengan rencana yang akan dilakukan Perdana Menteri Giri Gantra.
Baginda Raja Awangga nampak masih
memandangi semua tokoh persilatan di hadapannya. Mereka masih tetap berdiri
tenang menunggu apa yang hendak disampaikan oleh raja. Baginda Raja Awangga
terse- nyum senang menyaksikan semuanya. Hatinya benar- benar merasa senang
atas usaha perdana menterinya. Bagaimanapun dirinya tak menghendaki kedudukan-
nya sebagai pemimpin Kerajaan Surya Langit tergu- lingkan. "Apakah kalian
sudah mengerti apa yang akan kalian lakukan?" tanya Baginda Raja Awangga.
"Belum, Baginda...!"
sahut beberapa tokoh. Se- dang lainnya hanya menggeleng-geleng kepala.
"Hm," gumam Baginda Raja
Awangga. Matanya masih memandang ke sekelilingnya. Sementara itu pa- ra tokoh
persilatan undangan itu menanti perintah yang harus mereka lakukan.
"Baiklah..., dengar baik- baik! Kalian semua kuundang, semata-mata untuk
menjalankan tugas yang berat. Kalian harus bisa me- lakukannya."
"Baginda...! Kalau hamba boleh
tahu, tugas apa yang harus kami lakukan?" tanya salah seorang tokoh
persilatan yang berdiri di depan.
Baginda Raja Awangga tak segera
menjawab. Sesaat penguasa Kerajaan Surya Langit itu terdiam lalu menolehkan
wajah pada Perdana Menteri Giri Gan- tra. Ketika perdana menteri itu
mengaggukkan kepala, Baginda Raja Awangga kembali berkata. "Kalian kutu-
gaskan untuk menangkap seseorang yang nanti akan datang ke istana ini."
"Siapa orangnya, Paduka?"
tanya yang lain, karena belum tahu yang dimaksud sang Raja.
"Pangeran Prapanca dan
teman-temannya. Di antara mereka, terdapat seorang pemuda bertingkah laku
seperti orang gila yang sering disebut sebagai Pendekar Gila. Juga seorang
gadis Cina yang dikenal dengan julukan Bidadari Pencabut Nyawa," tutur Baginda
Raja Awangga.
Semua mata membeliak, setelah tahu
siapa yang harus dihadapi. Nama Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa,
bukanlah nama yang asing bagi mereka. Keduanya telah mereka dengar sejak lama.
Tokoh muda di rimba persilatan. Namun kemampuan pemuda gila itu cukup membuat
siapa saja harus berpikir seribu kali untuk melawannya. Meskipun di antara para
tokoh yang diundang Raja Awangga belum pernah berhadapan secara langsung dengan
tokoh yang telah menggemparkan rimba persilatan itu.
"Bagaimana? Apakah kalian
siap?" tanya Baginda Raja Awangga.
Namun nampaknya tak satu pun di
antara to- koh itu yang berani menjawab. Semua diam. Kebisuan saat itu membuat
Baginda Raja Awangga mengerutkan kening dan kembali bertanya.
"Bagaimana? Apakah kalian
sanggup mengha- dapi mereka?!"
"Hei, mengapa kalian
diam?!" Kali ini Perdana Menteri Giri Gantra yang bertanya dengan suara
keras. Tokoh kedua dalam kera- jaan itu tampaknya tak sabar menyaksikan mereka yang
hanya membisu. Rencananya harus segera dilak- sanakan.
"Kalau kalian tak sanggup,
katakan terus te- rang! Biar urusannya cepat beres!"
"Sanggup, Tuan Perdana
Menteri...!" sahut se- mua tokoh persilatan serentak. "Kami
sanggup...!"
"Bagus kalau begitu! Sekarang
kalian boleh bu- bar untuk bersiap siaga di tempat yang telah kutentu-
kan!" perintah Perdana Menteri Giri Gantra Pada para tokoh persilatan.
Mereka pun langsung bubar untuk bersiap-siap di tempat yang telah ditentukan
Perdana Menteri Giri Gantra.
***
Mentari semakin condong ke sebelah
barat. Su- asana di Kerajaan Surya Langit masih terasa panas. Sementara angin
bertiup kencang, seakan-akan hen- dak menyapu orang-orang yang kini
mengelilingi tempat pertemuan. Yang sekaligus sebagai arena perta- rungan.
Wajah-wajah mereka nampak tegang, menantikan Pangeran Prapanca dan
kawan-kawannya. Bagin- da Raja Awangga dan Perdana Menteri Giri Gantra pun tak
luput dari perasaan cemas dan tegang.
"Apakah kau pasti, kalau
mereka akan meme- nuhi undanganku?" tanya Baginda Raja Awangga pada
Perdana Menteri Giri Gantra.
Perdana menteri itu tak langsung
menjawab. Dihelanya napas panjang, lalu mencoba tersenyum meskipun tampak kaku
karena dipaksakan dan ber- campur tegang.
"Sabar Baginda Raja! Mereka
pasti datang, hamba merasakan itu..."
"Hm...! Semoga perasaanmu itu
benar!" gumam
Baginda Raja Awangga sambil
memegangi dagunya.
Kemudian suasana kembali hening,
tegang. Ma- ta semua orang yang ada di situ memandang ke pintu gerbang istana.
Pintu ruangan pertemuan pun terbuka lebar. Ruang pertemuan besar itu terletak
di tengah- tengah istana kerajaan.
Kedelapan tokoh aliran hitam,
Sepasang Toya Setan, si Mata Tunggal, Jembel Pilarang, Kala Prana, Jenggot Naga
dan Kati Asem, serta Hiwa Krana pun nampak tegang dan cemas. Perasaan cemas dan
te- gang itu tentu tak begitu saja dapat dihilangkan, karena mereka semua
mendengar langsung dari Baginda Raja Awangga, bahwa Pendekar Gila dan
kekasihnya, Bidadari Pencabut Nyawa turut datang dalam acara pertemuan penting
itu. Ya, pertemuan yang akan dihadiri pewaris utama atas Kerajaan Surya Langit,
Pan- geran Prapanca.
Sementara itu Pangeran Prapanca,
Pranala, Pendekar Gila, dan Mei Lie dalam perjalanan menuju Istana Kerajaan
Surya Langit. Mereka melalui hutan dan bukit cadas.
Pangeran Prapanca dan Pranala
berjalan di de- pan, sedangkan Pendekar Gila berada di belakang me- reka. Semua
meningkatkan kewaspadaan. Hanya Pen- dekar Gila sendiri yang bersikap tenang,
bahkan tam- pak cengengesan, serta menggaruk-garuk kepala. Mei Lie menghela
napas panjang dan menggelengkan kepa- la, melihat kekasihnya itu.
Angin berhembus kencang menyapu
wajah me- reka. Namun keempatnya terus melangkah dengan mantap, menuruni dan
menaiki perbukitan.
"Hi hi hi...!" Tiba-tiba
Pendekar Gila tertawa cekikikan sen- diri. Hal itu membuat Pangeran Prapanca,
Pranala, dan juga Mei Lie merasa heran. Ketiganya mengerutkan kening.
"Ada apa Sena...?" tanya
Pangeran Prapanca, setelah menghentikan langkah. Keningnya berkerut memandangi
Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Rupanya kita
akan bermain-main sebentar, Pangeran," jawab Sena sambil menggaruk- garuk
kepala.
"Apa maksudmu?" tanya
Pangeran Prapanca, tak mengerti.
Belum sempat Pendekar Gila
menjawab, tiba- tiba muncul tiga orang bertopeng hitam. Pakaian me- reka pun
serba hitam dengan lengan panjang dan ikat pinggang putih. Salah satu dari
ketiga orang bertopeng itu memakai ikat kepala belang-belang kuning hitam,
dengan rambut yang panjang sebatas bahu dibiarkan lepas. Sedangkan dua lainnya
tanpa ikat kepala. Ram- butnya tertutup.
"Aha..., ternyata dugaanku tak
salah, Pange- ran," ucap Sena dengan cengengesan dan menggaruk- garuk
kepala. Mei Lie segera maju dengan tangan siap mencabut pedang. Demikian pula
Pranala, Pangeran Prapanca. Hanya Pendekar Gila yang nampak tenang dan terus
tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya seperti orang gila.
"Kisanak! Apa maksudmu
menghadang ka- mi...?" tegur Pangeran Prapanca pada ketiga orang ber-
topeng itu.
Orang yang berikat kepala kuning
hitam tam- pak berkacak pinggang dengan angkuh. Matanya yang tampak dari dua
lubang, menatap tajam.
"Kalau ingin selamat,
sebaiknya urungkan niat kalian meneruskan perjalanan...!" ujar orang bertopeng,
dan berambut panjang sebahu itu dengan suara ramah. Pangeran Prapanca
mengerutkan kening, tak mengerti maksud ucapan lelaki bertopeng itu. Wajah- nya
menoleh ke Pendekar Gila, seakan meminta Pen- dekar Gila agar menjawabnya.
Pendekar Gila hanya cengengesan dan
mengga- ruk-garuk kepala. Lalu tertawa-tawa sendiri.
"Hi hi hi..! Lucu! Kenapa
kalian bicara seenak- nya, menyuruh kami mengurungkan perjalanan ini? Aneh
sekali!"
"Ya! Jangan seenaknya bicara!
Sebaiknya ka- lian menyingkir, sebelum aku marah!" sambung Prana- la
dengan nada marah sambil melangkah maju. Na- mun Pangeran Prapanca menahan
dengan tangan ki- rinya.
"Sabar, Pranala!" cegah
Pangeran Prapanca. "Kisanak, kami tak ingin bertengkar dengan kalian.
Namun kami harus segera meneruskan perjalanan. Karena waktu sudah
mendesak..."
"Hm..., Pangeran rupanya tak
mengerti. Juga Pendekar Gila, yang biasanya memiliki naluri tajam. Kenapa
seakan-akan tak berguna? Bagaimanapun ju- ga, aku harus dapat mendesak mereka.
Paling tidak menghambat perjalanan mereka," gumam orang berto- peng yang
berikat kepala seperti ular weling itu. Nam- paknya orang ini pimpinan dari
kedua temannya. Tan- pa menjawab lagi, orang itu mengangkat tangan kanan
memberi perintah kedua temannya agar menyerang.
Maka terjadilah pertarungan. Tanpa
mengeta- hui masalahnya, Pangeran Prapanca dan kawan- kawannya terpaksa
menghadapi ketiga penghadang bertopeng hitam itu.
"Heaaa...!"
"Yeaaat..!" Mereka saling serang dan tangkis. Tampaknya pihak
Pangeran Prapanca tak ingin hambatan ini terlalu lama. Semua, termasuk Pendekar
Gila segera mengeluarkan kepandaian mereka.
Namun baru beberapa jurus,
tiba-tiba.... "Pangeran...! Sebaiknya biar saya yang meng- hadapi mereka
bersama Mei Lie...!" seru Sena sambil memerintah Pangeran Prapanca agar
mundur. "Kau juga Pranala. Mundur...!" "Heaaa...!" Pendekar
Gila dan Mei Lie segera menghadang ketiga orang bertopeng itu. Mei Lie
menghadapi dua orang tanpa kewalahan. Gerakan tubuhnya sangat lin- cah mengelak
dan menyerang masih dengan tangan kosong. Merasa kewalahan, kedua orang
bertopeng itu segera melakukan serangan secara serentak terhadap Mei Lie.
"Heaaa...!"
"Yeaaah...!"
"Hup!" Teriakan-teriakan keras seketika terdengar, memecah keheningan
siang menjelang senja di daerah perbukitan itu.
Degk! "Ukh...!"
"Aaakh...!" Dua pukulan beruntun Mel Lie mendarat di tengkuk dan dada
lawan. Ketika kedua orang berto- peng itu menyerang, rupanya Mei Lie sudah me-
nyiapkan jurus ampuhnya. Mei Lie melenting ke udara sambil bersalto. Dan
sebelum mendarat gadis itu me- lancarkan pukulan ke tengkuk dan dada lawan-
lawannya.
Kedua orang bertopeng yang dihadapi
Mei Lie terhuyung dan jatuh terguling. Mei Lie tersenyum mengejek menyaksikan
kedua lawannya yang terguling kesakitan.
Sejurus kemudian, kedua lelaki
bertopeng itu bangkit berdiri. Keduanya lalu membuat gerakan ju- rus-jurus
andalan. Mereka bersama-sama mengangkat kedua tangan ke atas kepala sambil
mengepal. Kemu- dian dilanjutkan dengan merentang lalu menjulurkan yang kanan
ke depan. Dengan jemari membentuk ca- kar, mereka mengeluarkan jurus 'Cakar
Harimau'.
Sementara itu Mei Lie tampak
tersenyum me- nyaksikan gerakan kedua lawannya. Namun dia tetap tak menganggap
remeh. Dengan tenang segera mem- persiapkan diri untuk memapaki serangan lawan.
"Heaaa...!"
"Yeaaat..!" Kedua lelaki bertopeng hitam itu melesat mela- kukan
serangan.
"Hiaaat..!" Dengan cepat
Mei Lie pun melompat memapaki serangan itu.
Plak! Plak! Tangan-tangan mereka
beradu dan saling pu- kul di udara. Kemudian sama-sama mendarat. Namun kedua
lawan Mei Lie dengan gerakan cepat bersama- sama melompat memburu Mei Lie bagai
gerakan hari- mau menerkam mangsa.
Melihat itu dengan cepat Mei Lie
berguling ke depan menjauhi serangan lawan, sambil mencabut pedang saktinya.
Kemudian dengan cepat pula Mei Lie membabatkan pedangnya ke tubuh kedua lawan.
"Hiaaa...!" Srat! Tampaknya
kedua lelaki bertopeng itu menge- tahui kalau Mei Lie mencabut pedang saktinya.
Den- gan cepat keduanya bergerak menjauhi Mei Lie.
"Gawat...! Pedang
Bidadari!" gumam salah seo- rang lawannya.
Sementara itu, Pendekar Gila pun
tak mau ka- lah. Lawan yang dihadapi tampaknya memiliki ilmu lebih tinggi
dibandingkan kedua kawannya. Namun Pen- dekar Gila nampak ringan menghadapi
lawannya. Ge- rakannya kelihatan lamban, tapi ternyata begitu cepat hingga
membuat lelaki berambut panjang sebahu itu tampak kewalahan.
Tampaknya lelaki berkedok kain
hitam itu tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi Pendekar Gi- la. Hal itu
dapat dirasakan oleh Pendekar Gila sendiri. Sebab ketika Pendekar Gila sengaja
membuka pertahanannya, lelaki berambut panjang itu tak segera me- nyerang.
Bahkan menarik pukulannya yang sudah me- lesat.
"Aha, aneh kenapa serangannya
tidak dilan- jutkan?!" tanya Sena dalam hati sambil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
Pendekar Gila mencoba melancarkan
serangan dengan jurus-jurusnya, bermaksud agar lawan mela- deni dengan sungguh-sungguh.
Namun tetap saja lelaki berpakaian serba hitam itu hanya menangkis dan membalas
dengan serangan yang tak berarti.
"Huh! Benar-benar aneh orang
ini. Apa mak- sudnya...?!" gumam Sena keheranan dan merasa agak kesal.
Lelaki bertopeng dan berambut
panjang dengan ikat kepala kuning itu mulai melakukan serangan. Pendekar Gila
merasa senang mendapat perlawanan itu. Maka dengan gesit dan tenang, Pendekar
Gila mengelak dan secara perlahan balik menyerang.
Pertarungan sudah menginjak jurus
kesepuluh. Namun masih tampak seimbang. Kalau saja Pendekar Gila menghadapi
dengan sungguh-sungguh, sudah se- jak tadi lawan akan dapat ditaklukkan. Namun
Pende- kar Gila merasakan, bahwa lelaki bertopeng itu tidak mau saling
menciderai, atau bentrok. Itu terlihat dari cara lawannya melancarkan serangan.
Dan akhirnya kecemasan dan dugaan
Pendekar Gila terbukti, ketika lawan semakin terdesak. Pendekar Gila yang sudah
tak sabar mengeluarkan Suling Naga Sakti. Sementara Mei Lie mulai mempermainkan
pe- dang saktinya. Ketiga orang bertopeng itu kabur, tak melanjutkan
pertarungan dengan Pendekar Gila dan Mei Lie. "Hah...?!"
Pendekar Gila mengerutkan kening,
demikian juga Mei Lie ketika melihat ketiga lelaki bertopeng hitam itu lari,
lalu menghilang dengan cepat
"Aneh! Lucu...! Hi hi
hi...!" gumam Pendekar Gi- la sambil menggaruk-garuk kepala dan
cengengesan.
"Siapa sebenarnya mereka itu,
Kakang?" tanya Mei Lie pada Sena.
Pendekar Gila hanya menggelengkan
kepala. Mulutnya cengengesan sambil terus tertawa-tawa geli sendiri. Lalu
tangannya menggaruk-garuk kepala.
Pangeran Prapanca dan Pranala
mendekati Pendekar Gila dan Mei Lie. Mereka pun belum mengerti siapa ketiga
orang bertopeng hitam itu.
"Apa kau tahu, Sena, siapa
mereka sebenar- nya? Lawan ataukah kawan...?!" tanya Pangeran Pra- panca
setelah berada di dekat Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Ah ah ah! Aku belum tahu,
Pangeran. Tapi ba- giku, tindakan mereka memang terasa aneh," jawab Sena
sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sepertinya mereka bermaksud
baik, Pange- ran...," sambung Mei Lie kemudian.
Pangeran Prapanca manggut-manggut,
sambil memegangi dagunya. Keningnya berkerut tajam, seperti tengah berpikir
keras. Siapa ketiga orang bertopeng hitam itu.
"Kita harus tetap waspada,
Pangeran. Kita se- mua tahu bahwa tempat ini termasuk wilayah Kera- jaan Surya
Langit. Mungkin ketiga orang tadi suruhan perdana menteri penjilat
itu...!" ujar Pranala dengan nada dingin.
"Mungkin juga," sahut
Pangeran Prapanca pe- lan, lalu menarik napas panjang. "Bagaimana dengan
pendapatmu, Sena?"
Sena tak langsung menjawab.
Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Matanya melirik ke wajah
Mei Lie.
"Aha! Perasaanku mengatakan kalau
mereka tak bermaksud menculik atau melukai Pangeran. Tapi betul juga kita harus
tetap waspada."
Pangeran Prapanca manggut-manggut
tanda mengerti. Kembali napasnya ditarik panjang-panjang. "Sebaiknya kita
lanjutkan perjalanan! Aku yakin Ba- ginda Raja Awangga telah menunggu
kita."
Mereka lalu segera bergerak
bersama, melan- jutkan langkah kaki menuju Kerajaan Surya Langit.
***
Sesampainya di Kerajaan Surya
Langit Pange- ran Prapanca dan kawan-kawannya disambut dengan ramah oleh
Baginda Raja Awangga. Namun Pendekar Gila dan Mei Lie merasakan suasana yang
tidak wajar. Begitu pula dengan Pranala yang lak tersenyum sedikit pun.
"Silakan, silakan...! Duduklah
di tempat yang telah kami sediakan, mari...!"
Baginda Raja Awangga dengan ramah
memper- silakan mereka. Para undangan lain nampak seperti biasa. Memberikan salam
pada Pangeran Prapanca penuh hormat. Sedangkan Pendekar Gila terus cengengesan
dan menggaruk-garuk kepala. Dia tak peduli sedang berhadapan dengan siapa.
Kebiasaan tingkah lakunya yang konyol bagaikan tak bisa dicegah.
Perdana Menteri Giri Gantra yang
licik dan pen- jilat itu pun bersikap ramah sekali. Namun Pranala tak
menggubris, bahkan matanya membelalak tajam, keti- ka Perdana Menteri Giri
Gantra menyilakan duduk
Baginda Raja Awangga bicara panjang
lebar dengan Pangeran Prapanca. Dia meminta maaf atas tindakan Perdana Menteri
Giri Gantra. Kemudian mengharap Pangeran Prapanca dapat melupakan se- mua
peristiwa yang sudah berlalu. Apapun keinginan sang Putra Mahkota itu akan dipenuhi,
asal bersedia menerima syarat Baginda Raja Awangga.
"Apa syarat yang ingin Baginda
katakan pada kami?" tanya Pangeran Prapanca dengan kening berkerut.
"Hm..., tak sulit," jawab
Baginda Raja Awangga. Lalu dia berbisik pada Perdana Menteri Giri Gantra.
"Begini. Kalau kalian sanggup mengalahkan jago-jago silat yang telah
bergabung denganku, kalian boleh am- bil alih takhta kerajaan ini...!
Bagaimana, setuju?!"
Perdana Menteri Giri Gantra dan
lainnya terta- wa-tawa mengejek. Pranala sudah nampak tak sabar. Dengan geram
pedangnya dicabut. Namun Pangeran Prapanca cepat menahannya.
"Sabar, Pranala! Kita harus
hadapi dengan hari sabar dan kepala dingin...."
Sementara itu Pendekar Gila dan Mei
Lie yang mendengar ucapan Baginda Raja Awangga agak kaget. Namun keduanya
tampak tenang. Pendekar Gila tam- pak hanya cengengesan dan menggaruk-garuk
kepala. Tingkahnya yang seperti orang gila, membuat para un- dangan merasa
heran.
"Bagaimana menurutmu,
Sena?" tanya Pangeran Prapanca seraya menoleh ke wajah Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Lucu, lucu
sekali! Tapi kita harus hadapi dan terima keinginan mereka. Kita bukan
orang-orang pengecut, Pangeran...," jawab Sena sambil menggaruk-garuk
kepala dan terus cengengesan.
"Bagaimana...?" kembali
Baginda Raja Awangga bertanya.
"Kami dengan senang hati
menerima syarat itu...!" jawab Pangeran Prapanca dengan tekad yang mantap.
"Ha ha ha...! Bagus, bagus! Itu memang jawa- ban yang kutunggu-tunggu.
Perdana Menteri Giri Gan- tra...!" seru Baginda Raja Awangga.
"Ya, Baginda,..," jawab
Perdana Menteri Giri Gantra sambil menjura.
"Segera siapkan dan laksanakan
pertarun- gan...!" "Baik, Baginda!"
Perdana Menteri Giri Gantra lalu
berdiri. Den- gan pongahnya, dia memerintahkan para tokoh persi- latan aliran
hitam yang sudah diatur olehnya.
"Hai...! Kalian para tokoh
yang kuundang! Ma- julah ke depan, dan laksanakan perintahku! Sesuai dengan
rencana kita...! Ha ha ha...!"
Maka satu persatu para tokoh yang
telah ditun- juk, muncul. Mereka bergerak maju ke arena yang su- dah
disediakan. Mereka tak lain, si Mata Tunggal, Se- pasang Toya Setan, Kala
Prana, Jembel Pilarang, Jeng- got Naga, Kati Asem dan Hiwa Krana.
Pendekar Gila yang melihat
kedelapan tokoh persilatan aliran hitam itu, hanya cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala.
"Rupanya mereka sudah
merencanakan, Ka- kang. Kita harus waspada," kata Mei Lie pada kekasihnya.
"Akan kuhabisi orang-orang penjilat itu!"
"Aha, Pangeran. Rupanya mereka
sudah me- rencanakan semua ini. Lucu! Dan aku sudah duga, ka- lau mereka minta
bantuan kunyuk-kunyuk itu...," ujar Pendekar Gila sambil menunjuk
kedelapan tokoh ali- ran hitam yang berada di tempat itu. "Pranala, Mei
Lie! Ayo kita sambut kunyuk-kunyuk ini! Hi hi hi...!"
Pendekar Gila melompat ke depan,
disusul Mei Lie dan Pranala. Sedangkan Pangeran Prapanca masih sempat berdiam
diri seperti tengah berpikir. Pendekar Gila berdekatan dengan Mei Lie,
sedangkan Pranala berdekatan dengan Pangeran Prapanca.
"Hi hi hi...! Kita bagi
dua...!" seru Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
"Mei Lie, kau bergabung dengan pangeran, biar Prana- la bersamaku!"
Dengan cepat Mei Lie bergeser ke
dekat Pange- ran Prapanca. Setelah dekat, diberikannya isyarat agar Pranala
bergabung bersama Pendekar Gila. Kini sudah terbagi dua kelompok. Pendekar Gila
bersama Pranala, untuk menghadapi empat lawan tangguh. Mereka ter- diri dari si
Mata Tunggal, Jenggot Naga, Jembel Pila- rang, dan Kala Prana. Sedangkan Mei
Lie dan Pange- ran Prapanca menghadapi Sepasang Toya Setan, Kati Asem, Hiwa
Krana.
"Hm...!" gumam Pangeran
Prapanca sambil mengerutkan kening dan menoleh ke arah Mei Lie yang berada di
samping kirinya. "Lawan kita bukan orang sembarangan, Mei Lie. Kita harus
hati-hati!"
"Tenang, Pangeran! Aku sudah
tak tahan ingin menghajar orang-orang penjilat ini!" sahut Mei Lie den-
gan suara geram. Tangannya telah memegang Pedang Bidadari dan diarahkan lurus
ke depan.
"Heaaa...!"
"Hiaaat...!"
Pertarungan terjadi. Dengan
pedangnya, Mei Lie bergerak cepat memapaki serangan Sepasang Toya Se- tan.
Trak! Trak...!
"Heaaa...!" Wut! Wut..! Percikan api mencelat ketika Pedang Bidadari
Mei Lie membentur Toya Setan. Tidak sampai di situ, Mei Lie terus merangsek
lawannya. Dia tahu kalau ke- dua lawan terkejut, ketika Pedang Bidadari menebas
dengan cepat bagai baling-baling, dalam jurus 'Tebasan Pedang Bidadari'.
"Hah,..?!" sentak
Sepasang Toya Setan. Kedua- nya tampak mengerutkan kening. Lalu segera melan-
carkan serangan berikutnya. Namun Mei Lie tiba-tiba melesat dan bersalto di
udara, laksana seekor burung seriti yang lincah. Tangan kirinya bergerak
melakukan pukulan dan tangkisan. Sedangkan tangan kanan me- nebaskan pedang
sangat cepat, sampai bentuk senjata itu tak terlihat.
"Heaaat...!" Wut! Wut..!
Pedang di tangan Mei Lie menebas tubuh kedua lawan yang ada di samping kiri dan
kanannya. Untung Sepasang Toya Setan merupakan tokoh berilmu silat yang cukup
tangguh. Kalau tidak pasti telah mati, dengan tubuh terbelah dua. Namun
keduanya tak lu- put dari cidera. Lengan kiri dan kanan kedua tokoh bersenjata
toya itu tergores pedang Mei Lie. Dari mulut mereka terdengar rintihan
kesakitan ketika saling me- lompat menghindari Mei Lie.
Sementara itu Pangeran Prapanca
dengan sigap menghadapi Kati Asem dan Hiwa Krana.
Pangeran Prapanca ternyata bukan
orang sem- barangan. Dengan gesit dan cepat Pangeran Prapanca memapaki serangan
lawannya. Baik Kati Asem mau- pun Hiwa Krana masih ingin mengandalkan kekuatan
tenaga dalam. Terbukti kedua tokoh hitam itu tak mengeluarkan senjata apapun.
Pangeran Prapanca yang nampak sudah
sangat marah, dengan jurus-jurus mautnya menyerang kedua lawan.
Wut! Wut..! Degk! Degk!
"Ukh...!" Serangkum angin melesat dari tangan Pangeran Prapanca. Hal
itu cukup membuat Kati Asem dan Hiwa Krana tersentak kaget. Keduanya melompat
cepat sal- ing menghindar untuk menyelamatkan diri.
"Hm!.., ternyata pangeran ini
memiliki ilmu yang lumayan. Hati-hati, Kawan!" ujar Kati Asem pada Hiwa
Krana.
"Hm...!" Hiwa Krana hanya
mendengus pelan. Kati Asem serta Hiwa Krana kembali menyerbu Pangeran Prapanca.
Menghadapi satu saja keduanya sudah merasa keteter. Apalagi kalau menghadapi
dua lawan sekaligus. Terpaksa mereka harus bertindak ce- pat dan hati-hati.
Sekali salah gerakan atau langkah, tak ampun lagi. Serangan putra mahkota itu
ternyata sangat berbahaya!
Sambil berkelebat mengelak,
Pangeran Prapan- ca berteriak agar Kati Asem dan Hiwa Krana menghen- tikan
perlawanan. Namun dua orang tokoh aliran hi- tam itu tak mau berhenti begitu
saja. Apalagi Baginda Raja Awangga menjanjikan kedudukan terhormat di Kerajaan
Surya Langit. Tanpa ragu-ragu mereka berte- kad mempertaruhkan nyawa.
Keduanya makin memperhebat serangan
masing-masing. Namun, tampaknya baik Kati Asem maupun Hiwa Krana semakin
terdorong oleh perasaan marah dan nafsu membunuh. Sehingga kurang menyadari
kalau hal itu justru mengurangi kewaspadaan.
Dua kali pukulan keras Pangeran
Prapanca bersarang di tubuh Kati Asem dan Hiwa Krana. Dis- usul satu jotosan
Pangeran Prapanca menghantam ru- suk Kati Asem. Dan satu tendangan keras juga
meng- hantam rusuk Hiwa Krana.
"Hiaaa...!" Blak! Plak!
"Aaakh...!" Kati Asem dan Hiwa Krana tampak terhuyung- huyung. Mulut
keduanya meringis kesakitan. Salah satu pukulan Pangeran Prapanca telah membuat
tu- buh mereka terluka dalam.
Di lain tempat, Pendekar Gila
bersama Pranala tampak tak mendapatkan kesulitan untuk menghadapi keempat lawannya.
Pendekar Gila bagai menari dan seakan tak bersungguh-sungguh menghadapi lawan-
lawannya. Si Mata Tunggal dan Jenggot Naga tambah geram dan marah. Padahal
sebenarnya sebelum ber- tanding mereka mempunyai perasaan ragu dan segan
menghadapi Pendekar Gila. Karena sudah lama mere- ka tahu kalau pendekar muda
itu sangat disegani baik oleh tokoh hitam maupun putih.
"Aha, kalian rupanya hanya
besar mulut dan bertampang seram! Tapi, tak punya nyali! Ayo maju...!"
ejek Pendekar Gila sambil cengengesan dan mengga- ruk-garuk kepala. Meskipun
dalam keadaan bertarung, pemuda berpakaian rompi kulit ular itu masih saja
sempat bertingkah laku konyol, seperti orang gila. "Hhh...!" Jenggot
Naga memutar tangan kiri ke belakang, lalu menyentakkan ke depan. Sedang tangan
kanan- nya ditarik ke belakang, kemudian diputar dengan jari- jari terbuka.
Setelah itu dihentakkan lurus ke depan.
Gerakan itu merupakan pembuka dari
jurus 'Sampar Naga'.
Menyaksikan lawan telah membuka
jurus an- dalan, Pendekar Gila justru tersenyum sambil mengga- ruk-garuk
kepala.
"Bersiaplah, Pendekar
Gila!" dengus Jenggot Naga yang semakin sewot menyaksikan tingkah konyol
Sena. Hatinya kian marah dan geram menghadapi la- wan yang ternyata mempunyai
gerakan lamban dan lemah, bagaikan tak bertenaga.
"Sejak tadi aku sudah
siap...!" jawab Sena te- nang.
Si Mata Tunggal pun tak tinggal
diam, segera membuka jurus mautnya yang dinamakan 'Mata Ma- laikat Pencabut
Nyawa'. Dari mata dan telapak tan- gannya mulai mengeluarkan asap merah.
Sementara itu, Pendekar Gila yang menyaksikan ilmu si Mata Tunggal hanya
tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. "Hi hi hi...! Ternyata ilmu
kalian cukup aneh dan hebat! Hi hi hi...!" ujar Pendekar Gila dengan nada
mengejek. "Ayo..., akan kulayani kalian dengan senang hati!"
Semua tokoh hitam yang berada di
dalam ruang pertempuran itu terbelalak. Mereka merasa ka- gum dan keheranan
menyaksikan tingkah laku Pende- kar Gila yang konyol. Pemuda tampan berambut
gon- drong dan berpakaian rompi kulit ular itu seakan tak merasa takut sama
sekali. Padahal lawan-lawannya kali ini sudah sangat dikenal sebagai tokoh
berilmu tinggi. Namun bagi yang tahu, tingkah laku konyol itu merupakan pembuka
jurus ‘Si Gila Menari Menepuk Lalat’. Jurus aneh yang sering membuat lawan
terke- sima, heran, bahkan terkejut.
Orang-orang yang menyaksikan ulah
Sena merasa yakin dan berpikiran kalau Pendekar Gila akan dapat ditaklukkan
kedua lawannya.
Tubuh Pendekar Gila tampak mulai
menyurut dua langkah ke belakang. Sambil tertawa-tawa, tu- buhnya meliuk-liuk
seperti menari. Kedua tangannya bergerak lemah gemulai. "Heaaa...!"
Jenggot Naga memekik keras untuk membuka serangan, mendahului si Mata Tunggal
yang masih berjaga-jaga. Tubuhnya melesat ke depan, memburu tubuh Pendekar
Gila. Tangan kanannya membentuk siku dengan kepalan ke atas. Sedangkan tangan
kiri diputar, lalu dihentakkan menghantam dada lawan.
Melihat lawan melakukan serangan,
dengan ce- pat Pendekar Gila menggerakkan tubuhnya. Tangan kanannya diangkat
lurus ke atas dengan telapak saling berhadapan. Kaki kanan diangkat membentuk
siku, lalu direntangkan ke kanan. Hal itu diikuti dengan gerakan membuka kedua
telapak tangannya. Selanjutnya terlihat gerakan menari. Tangan kanan masih di
atas, sedangkan tangan kiri lurus ke bawah. "Yeaaat...!"
Dengan menggunakan jurus pembuka
'Kera Gi- la Melempar Batu'. Gerakannya seperti seekor kera yang tengah
melemparkan batu ke tubuh lawan. Dari gerakan itu, keluar serangkum angin yang
mampu menahan gerak lawan.
"Yeaaat...!"
"Heaaa...!" Jenggot Naga dan si Mata Tunggal kini sama- sama melesat
untuk melakukan serangan. Tangan dan kaki mereka bergerak lincah, seirama
dengan gerakan tubuh. Secara bergantian dan cepat tangan mereka melakukan
serangan dan pertahanan. Sedangkan ke- dua kaki mereka saling menyapu ke kaki
lawan.
"Heaaat...! Mampus kau,
Pendekar Gila!
Yeaaa...!" Sambil membentak
keras, Jenggot Naga mele- sat cepat melancarkan serangan. Tangan kanannya
memukul ke dada Pendekar Gila. Sedangkan tangan kirinya membentuk pertahanan.
"Uts...! Hih!" Dengan
cepat Pendekar Gila menarik kaki ka- nan lalu melangkah ke depan disusul dengan
pukulan telapak tangan.
"Hah...?! Edan!" maki
Jenggot Naga kaget. Sege- ra serangannya ditarik dengan cepat, sementara tan-
gan kirinya memapak serangan lawan. Setelah itu, ka- kinya digerakkan
menendang.
Pendekar Gila meliukkan tubuhnya ke
bawah. Secepat kilat tangannya menyambar kaki lawan. Hal itu memaksa Jenggot
Naga menarik serangan dengan cepat. Matanya semakin membelalak menyaksikan ju-
rus Pendekar Gila yang semakin sempurna. Jurus itu membuat nyalinya makin
kecil.
Melihat Jenggot Naga mulai kecut,
si Mata Tunggal merangsek ke depan menyerang Pendekar Gila dengan geram.
Pendekar Gila dengan tenang melom- pat, mengelak dari serangan lawan. Rupanya
si Mata Tunggal melancarkan serangan dahsyatnya. Dari ma- tanya keluar sinar
merah, bagai api, meluncur cepat ke tubuh lawan. Namun Pendekar Gila dengan
cepat mengelak. Sehingga tanpa diduga, serangan sinar me- rah yang mengandung
hawa panas itu melesat dan menerjang orang-orang yang duduk di pinggir arena
pertempuran.
"Heaaa...!" Slats! Brets!
"Aaakh...!" Para tokoh aliran hitam yang menyaksikan di pinggir arena
pertarungan semua terkejut. Hampir tak percaya mereka menyaksikan kekuatan hawa
panas yang keluar dari mata si Mata Tunggal yang mampu menewaskan beberapa
orang dalam seketika. Bahkan tubuh mereka hangus bagai terbakar!
"Hi hi hi...! Boleh juga
kunyuk ini!" ular Pende- kar Gila dengan nada mengejek sambil cengengesan
dan menggaruk-garuk kepala.
Melihat serangannya gagal, si Mata
Tunggal makin kesal dan penasaran. Kini dengan membabi bu- ta lelaki bertubuh
besar dan bermata satu itu merang- sek Pendekar Gila.
"Heaaa...!" "Hi hi
hi...!" Pendekar Gila cekikikan melihat kemarahan lawannya. Dengan
meliuk-liuk bagai menari, pemuda berwajah tampan dan berompi kulit ular ini
mengelak dari serangan ganas lawan. Kemudian dengan gerakan yang tampak lemah
dan lamban, tiba-tiba tendangan keras Pendekar Gila mendarat di perut si Mata
Tung- gal.
"Hih!" Bugk!
"Aaakh...!" Si Mata Tunggal memekik keras. tubuhnya terjungkal keras
ke tanah. Pendekar Gila dengan ting- kahnya yang konyol tertawa-tawa dan
berjingkrakan bagai kera. Tangannya menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk
pantat.
Para tokoh persilatan yang berada
di ruang per- temuan besar itu terkagum-kagum. Dengan penuh keheranan mereka
memperhatikan, seakan tak ingin me- lewatkan sedikit pun pertarungan itu. Mulut
mereka ternganga dan sesekali berdecak kagum.
"Ck ck ck..!"
"Benar-benar gila dan hebat pemuda itu!" Perdana Menteri Giri Gantra
berbisik-bisik pada Baginda Raja Awangga yang nampak cemas dan tegang. Karena
jago-jagonya ternyata hampir semuanya terpecundan- gi. Padahal kedelapan tokoh
itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.
"Sebaiknya kita lekas
perintahkan prajurit dan jago lainnya untuk menangkap mereka, Baginda. Kalau
tidak, gawat!" bisik Perdana Menteri Giri Gantra pada Baginda Raja
Awangga.
Baginda menganggukkan kepala tanda
setuju, sambil menyeka keringat di keningnya. Menahan ce- mas dan ketegangan
dirinya. Sebab kalau Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya ternyata menang, tah-
ta Kerajaan Surya Langit akan jatuh pada putra mah- kota itu. Pranala pun
dengan tangan kosong terus menghadapi lawannya. Kaki tangannya memukul dan
menendang lawan yang sudah terdesak. Jembel Pila- rang nampak terhuyung-huyung
lalu jatuh tertelung- kup kena tendangan Pranala yang sangat keras. Se- dangkan
Kala Prana yang sudah lebih dulu kena puku- lan 'Braja Sakti' milik Pranala
muntah darah sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Melihat tokoh-tokoh undangan itu
mulai berja- tuhan, Perdana Menteri Giri Gantra segera memerin- tahkan para
prajurit dan orang-orang andalannya un- tuk menangkap Pangeran Prapanca dan
kawan- kawannya. Termasuk Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Hah...?! Apa-apaan ini!"
Gumam Mei Lie gusar. Sambil melompat mendekati Pendekar Gila yang ten- gah
menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. Seper- tinya tak peduli dengan keadaan
saat itu.
"Kakang Sena, bertindaklah!
Kalau tidak..."
Belum sempat Mei Lie meneruskan
kata- katanya, tiba-tiba sebatang tombak meluncur ke tu- buhnya. Dengan cepat
Mei Lie menyabetkan pedang- nya.
Wret! Trak! Tombak itu terhantam
Pedang Bidadari dan berbalik meluncur ke pemiliknya.
"Aaakh...!" Tombak menancap
ke tubuh pemiliknya yang saat itu langsung tewas!
Pertempuran masal terjadi. Pendekar
Gila, Mei Lie, Pangeran Prapanca dan Pranala menghadapi pu- luhan prajurit
kerajaan dan para tokoh silat yang san- gat tangguh. Pendekar Gila dan Mei Lie
terpusat piki- rannya untuk menyelamatkan Pangeran Prapanca, hanya berusaha
mengusir dan menghalangi orang- orang yang ingin menangkap putra mahkota itu.
Hing- ga keduanya tak sempat melancarkan serangan balik yang mematikan.
Pendekar Gila khawatir Pangeran Prapanca akan cedera.
Keadaan ini menyebabkan para
prajurit kera- jaan berhasil mendesak Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya.
Pendekar Gila yang masih nampak cengengesan dan hanya sesekali berupaya
melancarkan serangan mautnya, untuk menghalau para praju- rit dan tokoh
persilatan. Lalu kembali membentengi Pangeran Prapanca.
Tiba-tiba melesat sesosok tubuh
berambut pan- jang tak beraturan. Sosok ini merupakan tokoh hitam yang sangat
menyeramkan. Matanya mencorong ba- gaikan mata setan. Namun wajahnya mirip orang
hu- tan. Kuku-kukunya tajam dan runcing. Dialah Setan dari Rimba Merawan
Pendekar Gila tersentak dan cepat
melenting ke udara, ketika dirasakan ada serangan dari belakang.
"Heaaa...!" Wuuut! Wuuut!
"Hi hi hi...! Aha, rupanya ada tamu tak diun- dang membokongku. Hi hi
hi..., lucu sekali!" ejek Pen- dekar Gila pada Setan dari Rimba Merawan.
Makhluk berwajah seperti gorila itu marah.
"Grrr...!" "Kau
kunyuk raksasa! Beraninya menyerang dari belakang. Ayo maju! Aku ingin
main-main den- ganmu. Hi hi hi...!" Pendekar Gila kembali mengejek sambil
menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
"Grrr...! Grrr...!" Setan
dari Rimba Merawan menggeram lalu menerjang Pendekar Gila. Dengan kuku-kukunya
yang runcing dan beracun, makhluk aneh itu menyerang.
Wrets! Wrets! "Grrr...!
Grrr...!" "Hi hi hi.... Hebat juga ilmu kunyuk raksasa ini,"
gumam Pendekar Gila sambil mengelak, dengan bersalto ke belakang. Kemudian
secara tiba-tiba Pen- dekar Gila melancarkan serangan balik dengan jurus 'Kera
Gila Melempar Batu'. Seketika melesat serang- kum angin yang mampu menahan
gerak lawan.
Tubuh Setan dari Rimba Merawan
bagai terdo- rong angin dahsyat. Lalu dengan gerakan cepat Pende- kar Gila
menyambar makhluk berwajah gorila itu.
"Heaa...!" Wret!
"Aaakh...! Grrr...! Uaaak..!" Bluk...! Setan dari Rimba Merawan
mengerang kesaki- tan, ketika cengkeraman tangan Pendekar Gila menda- rat di
kepalanya. Sementara sapuan kaki Pendekar Gi- la mampu menjatuhkan tubuhnya
yang besar itu.
Namun Setan dari Rimba Merawan
masih mampu melakukan perlawanan. Kedua tangannya yang besar dan kokoh serta
berkuku tajam, menyam- bar bagian bawah tubuh Pendekar Gila.
"Grrr...! Heaaa...!"
Wret! "Aits...! Heaaa!" Pendekar Gila melenting ke atas. Lalu bagai
elang menyambar mangsa tubuhnya meliuk. Ketika mendarat dan masih dalam keadaan
meliuk tangannya menyambar cepat kaki lawan. Hal itu memaksa Setan dari Rimba
Merawan menarik serangan dengan cepat. Matanya semakin membelalak menyaksikan
jurus Pendekar Gila yang semakin membahayakan.
"Edan! Pemuda gila ini benar-benar
berilmu tinggi," gumam Setan dari Rimba Merawan dalam hati.
Pendekar Gila terus menyerang.
Gerakannya yang seperti kera, terlihat lucu dan lamban. Namun ternyata
serangannya sangat cepat. Tangannya mene- puk ke tubuh lawan secara gencar dan
susul- menyusul.
"Grrr...! Benar-benar jurus
berbahaya!" gerutu Setan dari Rimba Merawan tersentak kaget, menda- patkan
serangan yang aneh. Dilihatnya gerakan tan- gan dan kaki Pendekar Gila itu
lambat. Namun kalau dirinya tak cepat berkelit, cakaran dan tepukan tangan
Pendekar Gila tentu menghajar tubuhnya.
"Heaaa...!" Wrrrs...!
"Hah!" Setan dari Rimba Merawan lebih terkejut lagi ketika merasakan
gerakan lambat itu mampu menge- luarkan angin pukulan yang menderu keras.
Bagaikan topan besar angin itu menerpa tubuhnya yang besar.
Setan dari Rimba Merawan
cepat-cepat memu- tar tubuhnya. Kemudian dengan gerakan cepat pula, makhluk
bermuka seperti gorila itu melontarkan puku- lan ke dada Pendekar Gila.
"Yeaaa...!" Wut! Setan
dari Rimba Merawan rupanya kini tahu gelagat. Dirinya yang semula memandang
rendah Pen- dekar Gila, kini tak berani lagi meremehkannya. Se- rangannya yang
menggunakan jurus-jurus ular pun dipergencar susul-menyusul. Kedua tangannya mema-
tuk dan menampar ke dada dan muka lawan.
Pendekar Gila dengan cepat melompat
lalu me- liuk ke bawah, ketika tangan lawan mematuk ke wa- jahnya. Dimiringkan
tubuhnya ke belakang, ketika tangan lawan menampar keras ke dadanya. Kakinya
bergerak lincah, menjejak berganti-ganti. Sedangkan tangannya berusaha memapak
dan menyambar kaki lawan yang turut menyerang.
Ruangan tempat pertemuan di istana
itu telah berantakan. Meja kursi banyak yang hancur. Di sana sini terjadi
pertarungan seru. Baginda Raja Awangga segera mencari perlindungan. Dua
pengawal memben- tengi. Ditambah lima orang pengawal lainnya, berada di depan.
Sementara itu Mei Lie pun tak tinggal diam. Dengan gesit dan cepat gadis cantik
itu menggerakkan Pedang Bidadari menghalau lawan-lawannya. Dalam beberapa
gebrakan Mei Lie mampu membuat kocar- kacir prajurit kerajaan yang
menyerangnya.
"Hiaaa...!" Wut! Wut!
Kibasan pedang Mei Lie mengeluarkan angin kencang dan hawa panas. Hal itu
membuat lawan- lawannya ketakutan dan menyingkir. Namun gadis bergaun hijau itu
tetap saja memburu dengan kibasan pedangnya.
Kembali pada pertarungan Pendekar
Gila mela- wan Setan dari Rimba Merawan, yang semakin seru. Sejauh itu keduanya
masih memperlihatkan ketang- guhan.
Pendekar Gila kali ini bergerak
menyerang den- gan jurus 'Si Gila Membelah Awan'. Kedua tangannya menyapu ke
atas, kemudian menyentak bareng ke de- pan dengan telapak tangan terbuka.
Kaki-kakinya me- nyapu dan menendang bertubi-tubi ke arah lawan.
"Yeaaa...!" "Uts...!
Heaaat...! Grrr..." Setan dari Rimba Merawan segera melejit ke samping.
Kemudian dengan gerakan membentuk se- tengah putaran, tangannya mematuk ke
wajah Pende- kar Gila. Lalu, setelah melihat Pendekar Gila mengges- er kaki ke
samping, Setan dari Rimba Merawan melon- tarkan tamparan tangan kiri ke dada
Pendekar Gila.
Wuttt! Tangan kiri Setan dari Rimba
Merawan mende- ru cepat, mengarah ke dada lawan. Sedangkan Pende- kar Gila yang
tidak menyangka lawan akan kembali menyerang dengan cepat, tersentak kaget.
Matanya membelalak ketika menyadari dirinya mati langkah. Sehingga dengan cepat
Pendekar Gila menyapukan tangan kanan untuk memapak tamparan lawan. Gera- kan
tangannya seperti membelah dengan cepat
"Heaaa...!" Setan dari
Rimba Merawan menarik tamparan tangan kirinya. Lalu mengganti serangan dengan
ten- dangan kaki kanan ke selangkangan lawan. Sedangkan tangan kanannya, kini
kembali mematuk ke wajah Pendekar Gila.
Mendapat serangan cepat, Pendekar
Gila segera melompat dengan berjumpalitan ke belakang. Sementara tubuhnya di
udara, kakinya menjejak cepat ke tanah. Kemudian dengan tubuh membalik,
Pendekar Gila menyatukan pukulan tangannya, lalu menyerang ke tubuh lawan.
"Yeaaat..!" Dengan tubuh
meluncur cepat, Pendekar Gila kini balik menyerang. Tangannya mencakar Setan
dari Rimba Merawan, yang menangkis dengan cepat setiap pukulan yang dilancarkan
Pendekar Gila.
"Heaaa...!" Tangan mereka
kini bergantian memukul dan menangkis serangan lawan. Pendekar Gila terus mela-
kukan serangan dengan tubuh melayang di udara. Se- dangkan tubuh Setan dari
Rimba Merawan terus mun- dur sambil menangkis serangan lawan dan sesekali ba-
las menyerang.
Orang-orang yang tak ikut
bertarung, membela- lakkan mata. Tak ada kata-kata yang keluar dari mu- lut
mereka. Termasuk Baginda Raja Awangga, yang mengintip dari balik tubuh
pengawalnya.
Dengan tubuh melayang laksana
terbang, Pen- dekar Gila terus meluncur sambil melancarkan pukulan dan
terkadang menangkis serangan lawan.
"Heaaa...!" Mata Setan dari
Rimba Merawan terbelalak lebar, dirinya tak sempat mengelak serangan lawan.
Hingga akhirnya hanya bisa menangkis.
Plak! "Aaakh...!" Tubuh
Setan dari Rimba Merawan terpekik keras. Tubuhnya yang besar terhuyung-huyung
ke bela- kang sambil memegangi kepala.
Tapi, baru saja Pendekar Gila
hendak melaku- kan serangan susulan, segera diurungkannya. Hal itu karena
tiba-tiba Pangeran Prapanca terkurung oleh prajurit dan tokoh aliran hitam.
Pendekar Gila yang melihat itu,
segera melesat dengan bersalto ke udara untuk membantu Pangeran Prapanca.
"Heaaa...!" Dalam sekejap
saja Pendekar Gila telah berada di antara kepungan para prajurit kerajaan,
membantu Pangeran Prapanca. Secepat itu pula tangan dan ka- kinya langsung
bergerak memapak dan menyerang prajurit yang berusaha menyerbu Pangeran
Prapanca.
Melihat keadaan Pangeran Prapanca,
Mei Lie pun segera melompat meninggalkan lawan-lawannya. Dengan cepat
dibabatkan pedangnya menghalau para puluhan prajurit kerajaan yang mengepung
Pangeran Prapanca.
"Heaaat...!" Wret! Wret!
Cras! Cras! Cras! "Aaakh...! Aaa...!" Maka bergelimpanganlah lima
orang sekaligus, tertebas pedang Mei Lie. Nampak kelima orang itu sea- kan tak
mengalami luka. Namun sesaat kemudian tu- buh kelima prajurit itu roboh.
Terbelah dua.
Tiba-tiba melompat dua orang tokoh
aliran hi- tam, Pakasti dan Sangkulawa bersiap menyerang Mei Lie. Namun Mei Lie
telah siap memapaki serangan ke- dua lawannya. Ia melenting ke udara, lalu
menukik, sambil menebaskan pedangnya ke tubuh lawan.
Cras! Cras! "Aaakh...!"
"Uaaa...!" Seketika tubuh kedua tokoh hitam itu roboh dan terbelah
dua.
Namun keadaan kini berubah.
Pendekar Gila memberikan isyarat, agar lebih mementingkan kesela- matan
Pangeran Prapanca.
Sementara itu, Perdana Menteri Giri
Gantra memerintahkan anak buahnya untuk menutup semua pintu istana.
"Tutup semua gerbang...!
Kepung mereka! Tangkaaap...!" seru Perdana Menteri Giri Gantra, sam- bil
berlari menyelamatkan diri.
Pangeran Prapanca dan kawan-kawan
kini be- nar-benar terdesak dan terkepung. Puluhan prajurit kerajaan dibantu
tokoh-tokoh hitam rimba persilatan terus merangsek. Hal itu tampaknya mampu
memaksa Pendekar Gila kewalahan.
Pendekar Gila segera mencari akal
untuk ber- buat sesuatu. Namun ketika hendak mencabut Suling Naga Sakti-nya,
tiba-tiba muncul tiga lelaki bertopeng, yang langsung masuk ke arena
pertempuran. Keti- ganya membantu Pendekar Gila untuk menyelamatkan Pangeran
Prapanca. Sesaat kemudian menyusul pula sesosok lelaki bertubuh raksasa ke
tempat pertarun- gan di dalam istana itu. Sosok bertubuh raksasa itu tak lain
Buto Gege yang rupanya telah bergabung den- gan ketiga lelaki bertopeng hitam
itu.
Pertempuran semakin seru. Satu di
antara keti- ga lelaki berkedok itu dengan cepat menyambar Pange- ran Prapanca
yang tampak telah terluka lengan kirinya oleh keris salah seorang tokoh silat.
Lelaki berkedok, dengan ikat kepala belang kuning hitam itu membawa lari
Pangeran Prapanca yang terluka. Melihat itu Pen- dekar Gila cepat menyusul,
diikuti oleh Mei Lie. Se- dangkan Pranala, Buto Gege, dan dua orang berkedok
masih menghadapi lawan-lawannya. Berusaha mena- han prajurit dan orang-orang
aliran hitam yang terus dengan beringas menyerang mereka.
Tiba-tiba Buto Gege melemparkan
suatu benda ke tanah yang menimbulkan asap ungu mengandung racun. Asap itu
mengepul di seluruh tempat pertarungan. Kesempatan itu digunakan Pranala dan
kedua lelaki berkedok untuk kabur. Sementara Buto Gege me- nyusul belakangan
setelah sempat melukai Giri Gan- tra. Hingga perdana menteri licik dan penjilat
itu tak kuat lagi berdiri. Karena Buto Gege mengangkat lalu membantingnya keras
ke tanah. Mungkin kakinya pa- tah.
"Kejar mereka...! Cepat..!
Kejaaar...!" teriak Per- dana Menteri Giri Gantra sambil memegangi kaki kirinya
yang dirasakan seperti patah.
Sedangkan Baginda Raja Awangga
kalang- kabut, kebingungan dan lari ke dalam. Penguasa Kera- jaan Surya Langit
itu berusaha menyelamatkan diri, karena suasana semakin kacau-balau. Belasan
praju- rit tewas seketika terserang racun yang dilemparkan Buto Gege. Beberapa
tokoh hitam pun tak ampun lagi, seperti Hiwa Krana dan Kati Asem tak luput dari
maut Sedangkan yang lain luka-luka diamuk kemarahan manusia raksasa itu.
***
5
Mentari telah turun di ufuk barat
Sinarnya tampak kemerahan. Lelaki berkedok hitam melesat ba- gai terbang
membawa tubuh Pangeran Prapanca. Se- dangkan di belakang nampak pemuda berambut
gon- drong dan berpakaian rompi dari kulit ular mengikuti dengan cepat. Pemuda
itu tak lain Pendekar Gila. Den- gan ilmu 'Sapta Bayu' Pendekar Gila terus
mengejar.
"Tunggu...! Kisanak!"
seru Pendekar Gila sete- lah dapat menghadang orang berkedok yang membawa
Pangeran Prapanca yang telah ditotoknya.
Mei Lie pun yang tadi mengikuti dan
jarak bela- san tombak, kini telah sampai. Bahkan telah berada di samping
Pendekar Gila. Keduanya kini berhadapan dengan lelaki bertopeng yang memanggul
tubuh Pan- geran Prapanca.
"Kisanak, siapa kau
sebenarnya?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. Matanya
menatap lelaki berkedok hitam itu.
"Kenapa kau membantu
kami...?" tanya Mei Lie kemudian, karena lelaki berkedok itu tak juga
menja- wab.
"Jawabannya ada di goa sana.
Sebaiknya kalian memberi aku jalan. Waktu kita sangat sempit," jawab
lelaki berkedok hitam. Setelah itu tubuhnya melesat cepat.
Tanpa banyak pikir Pendekar Gila
dan Mei Lie langsung mengikutinya. Hati keduanya masih diliputi pertanyaan.
"Siapa lelaki itu
sebenarnya...?" gumam Pende- kar Gua sambil berlari mengejar lelaki
berkedok yang membawa Pangeran Prapanca.
Sementara itu dalam jarak beberapa
puluh tombak telah tampak Buto Gege. Pranala, dan dua le- laki berkedok tengah
melesat menuju arah yang sama. Mereka pun terus mengejar lelaki berkedok yang
membawa Pangeran Prapanca.
Sesampainya di depan sebuah goa
yang nam- pak sunyi, Pendekar Gila dan Mei Lie berhenti. Kedua- nya mengawasi
sekeliling goa yang tampak sepi dan teduh. Karena di sekitarnya tumbuh
pepohonan besar dan rindang.
"Hm..." gumam Sena, lalu
menoleh kepada Mei Lie kekasihnya.
"Kenapa kita tak langsung
masuk saja, Ka- kang?" tanya Mei Lie sudah tak sabar.
No comments:
Post a Comment