Tuesday, April 23, 2019

026 Undangan Maut


UNDANGAN MAUT
Oleh Firman Raharja

1
Hutan Bambu yang semula riuh oleh pertarungan seru, seketika bagaikan mati. Semua terdiam den- gan mata memandang kedua Maling Budiman yang sudah sangat mereka kenali. Para prajurit Kerajaan Surya Langit terkejut, setelah tahu siapa sebenarnya maling budiman yang selama ini selalu menutupi wa- jah dengan cadar. Bagaikan ada yang memerintah, pertarungan seketika terhenti. Semua tertegun, dengan mata berusaha memperjelas penglihatan terhadap ke- dua maling itu.
Perdana Menteri Giri Gantra masih terpaku duduk di pelana kudanya. Matanya melotot kaget. Tanpa sadar, dari mulutnya mendesiskan nama pemuda berpakaian biru.
"Pangeran Prapanca, kau...?!" "Pangeran...!" seru yang lainnya turut tersentak kaget, setelah tahu lelaki yang tadi mengenakan cadar biru penutup wajah. Serta merta para prajurit melem- parkan pandangan keheranan pada Perdana Menteri Giri Gantra, seakan mereka ingin bertanya, apa sebe- narnya yang terjadi.
"Perdana Menteri, bagaimana mungkin ini ter- jadi?" tanya Resi Wisangkara yang juga diliputi rasa heran dan tak mengerti.

"Ya, mengapa bisa begini?" sambung Gagak Selo. "Bukankah dulu Tuan mengatakan Kanjeng Pangeran sudah mangkat?"
Perdana Menteri Giri Gantra kebingungan. Kini dia benar-benar merasa terpojok. Namun begitu, sifatnya yang licik tidak begitu saja mau mengalah. Otak- nya yang licik, berpikir keras untuk menghadapi semua. Belum juga perdana menteri membuka suara,
Pendekar Gila telah mendahului.
"Hi hi hi...! Kau sekarang seperti kebingungan, Perdana Menteri? Ah ah ah, jelas kau menyembunyi- kan sesuatu," tukas Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Tutup mulutmu, Bocah Gila!" bentak Perdana Menteri Giri Gantra sengit. Matanya melotot marah ke arah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kaulah yang harus menutup mulut, Perdana Menteri!" sergah Pangeran Prapanca dengan bentakan. "Kau telah membohongi semua rakyat, dengan menga- takan aku telah mati!"
"Tidak!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra. "Kau bukan Pangeran Prapanca. Kau penjahat yang menyamar sebagai Pangeran Prapanca. Putra mahkota telah meninggal dunia!"
Pangeran Prapanca tersenyum sinis, menden- gar ucapan Perdana Menteri Giri Gantra. Mata Pange- ran Prapanca menatap tajam wajah Perdana Menteri Giri Gantra. Kemudian mengalihkan ke wajah Resi Wi- sangkara, Gagak Selo, dan Ki Naga Wilis, serta Pangli- ma Utama Rawa Sekti.
"Apakah kalian akan percaya dengan omongan- nya?!" tanya Pangeran Prapanca, yang menjadikan semua pendekar pengikut Perdana Menteri Giri Gantra masih terdiam. Mereka sepertinya masih bingung dengan kejadian ini. "Aku Pangeran Prapanca, Putra Mah- kota Kerajaan Surya Langit, yang berhak untuk mendapatkan takhta kerajaan!"
"Tidak! Kau bukan pangeran!" sahut Perdana Menteri Giri Gantra berusaha mempengaruhi orang- orangnya, agar tak percaya dengan yang dikatakan Pangeran Prapanca. "Tidak mungkin seorang pangeran berbuat jahat, mencuri, dan membunuh pejabat- pejabat kerajaan!"
"Cuih...!" Pangeran Prapanca meludah. "Sung- guh berbisa mulutmu, Perdana Menteri! Kalau saja kau tidak melakukan kejahatan dengan menindas ra- kyat, aku tak akan melakukan pekerjaan ini! Kau be- nar-benar iblis! Kau injak rakyat demi kepentingan pribadimu!"
"Bohong...!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra. "Kau benar-benar bukan Pangeran Prapanca, tetapi pencuri! Kau terlalu banyak berbuat salah. Kau harus dihukum! Karena telah mengganggu keamanan rakyat Kerajaan Surya Langit. Kau harus ditangkap!"
Pangeran Prapanca tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Perdana Menteri Giri Gantra. Matanya memandang penuh kebencian ke arah orang ke- percayaan Prabu Awangga itu.
"Perdana Menteri licik! Kau kira dengan cara seperti itu, kau dapat lari dari tanggung jawabmu?!" dengus Pangeran Prapanca dengan senyum sinis. Hal itu menjadikan Perdana Menteri Giri Gantra semakin sengit
"Tangkap mereka...!" teriak Perdana Menteri Gi- ri Gantra memerintah pada tokoh persilatan juga para prajurit yang ikut bersamanya. Namun tak seorang pun yang mau bertindak. Mereka masih saja terdiam dalam kebimbangan. Bahkan mereka kini memandang tajam pada Perdana Menteri Giri Gantra yang semakin bertambah marah, menyaksikan para prajurit tak ada yang menanggapi perintahnya. "Kurang ajar! Kalian akan mendapatkan hukuman, jika tak mau melaksa- nakan tugas!"
"Kami tak peduli dengan ocehanmu, Perdana Menteri!" Resi Wisangkara angkat bicara.
"Ya! Kami berpihak pada Pangeran Prapanca," sambung Gagak Selo tegas. "Selama ini, kami telah bohongi, Perdana Menteri!"
"Tutup mulut kalian! Prajurit, serang mere- ka...!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra marah. "Bu- nuh mereka semua...!"
Prajurit kerajaan yang tersisa dua puluh orang itu, sesaat bimbang. Mereka merasa bingung harus berbuat apa, karena lawan yang mereka hadapi kini terdiri dari pendekar-pendekar tangguh. Di samping itu, mereka tahu bahwa di sana memang ada Pangeran Prapanca. Pangeran yang sebenarnya berhak atas takhta kerajaan.
"Prajurit, apa kalian tuli, heh?! Serang mere- ka...!"
Kembali Perdana Menteri Giri Gantra berteriak, memerintah pada para prajuritnya agar menyerang.
"Jangan hiraukan dia, Prajurit! Aku Prapanca. Kalian jangan ragu! Akulah pewaris takhta kerajaan!" teriak Pangeran Prapanca, yang semakin membuat pa- ra prajurit kian kebingungan. Mereka terhenti di ten- gah jalan, ragu-ragu untuk melakukan tindakan.
"Kurang ajar! Serang mereka dan bunuh se- mua...!" teriak Perdana Menteri Giri Gantra. Namun para prajurit tetap tak ada yang melakukan tindakan apa pun. Bahkan tiba-tiba mereka berbalik, hendak menyerbu Perdana Menteri Giri Gantra.
"Gusti Pangeran, perintahkan pada kami untuk menangkap perdana menteri keparat itu. Kami akan segera menangkapnya, dan bila perlu, kami akan me- menggal kepalanya!" seru pimpinan prajurit dengan lantang. Mendengar ucapan pimpinan prajurit, seketika Perdana Menteri Giri Gantra tersentak kaget. Wajah- nya pucat pasi. Lalu tanpa banyak kata, kudanya sege- ra d gebah meninggalkan Hutan Bambu.
Para prajurit hendak mengejar, namun dengan cepat Pangeran Prapanca melarang.
"Jangan dikejar! Biarkan dia hidup!" "Tetapi, ini sangat berbahaya, Pangeran," kata lelaki bertelanjang dada berusia sekitar empat puluh tahun dengan kumis tebal. "Perdana menteri itu sangat berbahaya."
"Aku tahu. Biarkan dia pergi! Yang penting, kita kini harus menghimpun kekuatan. Menghadapi kera- jaan, bukanlah hal yang mudah," tutur Pangeran Pra- panca pada prajurit-prajurit kerajaan. "Kumohon, su- dilah Tuan-Tuan Pendekar mau membantu kami."
"Aha, tak usah kau pinta, Kanjeng Pangeran! Dengan senang hati kami akan membantumu," sahut Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepa- la. Matanya melirik ke wajah Mei Lie, yang tengah me- masukkan Pedang Bidadari ke warangkanya. Sena pun segera memasukkan Suling Naga Sakti ke ikat ping- gang.
"Terima kasih, aku pun tentu saja tak melupa- kanmu. Pendekar Gila." kata Pangeran Prapanca sam- bil menjura. "Kalian berdua telah menolong kami. Nah, bagaimana dengan yang lain? Apakah Tuan-Tuan juga sudi mendukung perjuanganku?"
Resi Wisangkara melangkah mendekati Pange- ran Prapanca. Kemudian lelaki tua berkepala botak itu melakukan sembah, diikuti para pendekar yang lain.
"Kami berada di belakangmu, Kanjeng Pange- ran," kata Resi Wisangkara sambil menyembah. "Kau- lah pewaris takhta Kerajaan Surya Langit yang sebe- narnya. Kami tunduk dan pasrah padamu."
"Ya. Kami akan selalu di belakangmu," sam- bung Gagak Selo.
"Benar, Pangeran. Izinkan kami mengabdi pa- damu," tambah Ki Naga Wilis. Rupanya tokoh sesat ini menyadari kedudukannya yang terjepit. Apalagi kini
dia tahu, kedua maling budiman ternyata Pangeran Prapanca dan temannya, Pranala. Apalagi setelah tahu, kalau di antara mereka terdapat Pendekar Gila dan Bi- dadari Pencabut Nyawa, sepasang pendekar yang su- dah sangat terkenal.
"Bagaimana denganmu, Panglima?" tanya Pan- geran Prapanca yang ditujukan pada Panglima Rawa Sekti, karena sejak tadi lelaki bertubuh tinggi itu hanya diam. Sepertinya dia dalam kebimbangan untuk memilih. "Saya pun turut di belakangmu, Kanjeng Pan- geran," jawab Panglima Rawa Sekti sambil bersujud.
"Terima kasih. Bangunlah kalian semua. Di sini, tak ada peraturan seperti di kerajaan. Aku, Pende- kar Gila, Bidadari Pencabut Nyawa, dan kalian semua, sama saja hak dan kewajibannya. Kita sama-sama akan menumpas keangkaramurkaan," tutur Pangeran Prapanca.
"Benar! Lihatlah rakyat yang sangat menderita. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita. Selama ini, mereka sangat tertindas," kata Pranala me- nambahkan. "Apakah kita akan menutup mata, me- nyaksikan penderitaan rakyat?!"
Semua yang berada di Hutan Bambu itu men- gangguk-anggukkan kepala. Tampaknya mereka me- maklumi apa yang dihasratkan Pangeran Prapanca se- bagai putra mahkota.
"Terima kasih atas perhatian kalian semua," ka- ta Pangeran Prapanca sambil tersenyum senang. "Pen- dekar Gila, bagaimana menurutmu yang baik untuk kami lakukan? Apakah kami harus menyerang ke ke- rajaan?" Ditanya begitu, Pendekar Gila cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Diliriknya Mei Lie yang kini berdiri di sampingnya. Seakan ingin meminta pendapat dari kekasihnya. Mei Lie hanya tersenyum sambil mengangkat bahu, sepertinya menyerahkan semua persoalan dan pendapat pada Sena.
"Hi hi hi...! Lucu sekali! Mengapa aku yang bo- doh dan gila dimintai pendapat?" tanya Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Apakah nanti pendapatku tidak sama gilanya dengan keadaanku?"
"Ah, kau selalu merendah, Pendekar Gila," ujar Pangeran Prapanca sambil tersenyum. Dia tahu siapa sebenarnya Pendekar Gila. Meski tingkah lakunya aneh seperti orang gila, namun dalam hal yang sungguh-sungguh, pendapat dan pikirannya tak kalah den- gan orang waras yang berpendidikan tinggi.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Pangeran Prapanca. Kepalanya digeleng-gelengkan, sambil digaruk-garuk dengan tangan kanannya. Tingkah lakunya benar-benar konyol, men- gundang semua orang yang ada di tempat itu terse- nyum-senyum.
"Ah ah ah, bagaimana ya? Aku orang tolol, mengapa harus dimintai pendapat?" gumam Sena ma- sih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Un- tuk kedua kalinya, diliriknya Mei Lie, seakan meminta pendapat. Namun Mei Lie hanya tersenyum sambil mengangkat bahu, yang membuat Sena semakin keras menggaruk-garuk kepalanya. "Ah, kenapa aku jadi be- gini?"
"Ayolah, Sena! Kau adalah penasihat kami, un- tuk itu kami mengharap nasihat darimu," desak Pangeran Prapanca.
"Benar, Sena. Kaulah yang kami rasa pantas memberi nasihat dan saran-saran bagi kami," sam- bung Pranala dengan mulut tersenyum, melihat ting- kah laku Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Aneh sekali, mengapa mesti aku? Aku sendiri sedang bingung, tak tahu harus bagaimana. Niatku sebenarnya ingin menemui guru. Tapi ada masalah yang menghambat perjalananku. Dan kini, kalian memintaku untuk mengeluarkan pendapat. Ah ah ah, lucu..., lucu sekali!" Sena menggeleng- gelengkan kepala sambil menggaruk-garukkan tan- gannya di kepala.
"Bagaimana dengan Nini Mei Lie?" tanya Prana- la. Dia berharap Mei Lie akan bisa memberi pandangan bagi mereka. "Kalau Nini Mei Lie ada pandangan bagi kami, kami sangat berharap sekali."
Mei Lie hanya tersenyum mendengar ucapan Pranala. Dia merasa kalau pendapat dan pikirannya selalu sama dengan kekasihnya. Ke mana Pendekar Gi- la pergi, dia tentu akan mengikuti. Dengan kata lain, Mei Lie telah menyerahkan segalanya pada Pendekar Gila.
"Aku hanya terserah pada Kakang Sena," jawab Mei Lie. "Aha, mengapa mesti aku?" tanya Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Wuah wuah, bagaimana mungkin aku menjadi tum- puanmu? Kurasa, pangeranlah yang lebih berwenang dalam masalah ini.
"Baiklah kalau begitu," sahut Pangeran Prapan- ca. "Kalau memang tak ada yang bermaksud memberi saran, aku akan memberi tugas pada semuanya."
"Katakanlah, Pangeran! Tugas apa pun, akan kami lakukan," sambut pimpinan prajurit.
"Ya. Katakanlah, kami akan patuh menjalankan perintahmu," timpal Ki Naga Wilis.
"Baik. Aku tak ingin terjadi pertumpahan darah. Karena perang sebenarnya akan menjadikan ra- kyat menderita," tutur Pangeran Prapanca, yang menjadikan semuanya membelalak kaget. Mereka hampir tak percaya, kalau Pangeran Prapanca akan berlaku begitu baiknya. Padahal dirinya tahu sang Ayah serta keluarganya telah jatuh dalam perebutan kekuasaan. Pangeran Prapanca pun menyadari kalau penguasa ke- rajaan yang sekarang telah menyelewengkan kekua- saannya. "Tapi, Pangeran," selak Pranala. "Bukankah Pangeran yang berhak atas takhta kerajaan? Kalau takhta kerajaan dibiarkan dipegang orang-orang dur- jana, rakyat tak akan pernah aman."
Semua terdiam mendengar ucapan Pranala, termasuk juga Pangeran Prapanca. Mereka benar- benar tak menduga kalau Pranala yang pendiam men- gerti masalah kerajaan. Wawasannya pun nampak ma- ju.
"Hal yang kedua, tentunya para penguasa akan semakin bertindak semena-mena. Mereka akan beru- saha memburu kita, karena mereka menganggap kita takut," sambung Pranala.
"Kau memang benar, Pranala. Namun, kurasa ada jalan lain selain dengan cara pertempuran. Ten- tunya kau masih ingat kata-kata guru, kalau perta- rungan sesungguhnya bukan penyelesaian yang baik," ujar Pangeran Prapanca mengingatkan saudara seper- guruannya.
"Aku masih ingat, Pangeran. Namun, bukankah guru juga mengatakan, perjuangan membela kebena- ran dan keadilan selalu saja membutuhkan pengorba- nan," kilah Pranala.
"Hm, kau benar. Tapi, aku tak ingin mendahu- lui. Bagaimana kalau aku mengutus Pendekar Gila dan Mei Lie untuk menyampaikan pesanku pada raja?" tanya Pangeran Prapanca meminta pendapat
"Aha, aku siap, Pangeran," jawab Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Kemu- dian diliriknya Mei Lie, sepertinya ingin mengetahui tanggapan gadis itu.
"Aku pun siap," jawab Mei Lie tegas. "Terima kasih," ucap Pangeran Prapanca. "Baik- lah, besok aku meminta bantuan kalian berdua, untuk menyampaikan surat pada Baginda Raja Awangga."
"Aha, akan kami laksanakan, Pangeran," sahut Sena.
"Mari masuk! Kita rundingkan rencana selan- jutnya di dalam saja. Anggaplah gubuk ini sebagai istana kita!" kata Pangeran Prapanca setengah bercanda sambil mempersilakan rekan-rekannya agar masuk ke gubuk yang selama ini menjadi tempat persembu- nyiannya.
Tanpa membantah, mereka pun menurut ma- suk ke gubuk itu. Kemudian mereka duduk di atas ti- kar pandan yang tergelar lebar di ruangan itu.
***

Sementara itu, Perdana Menteri Giri Gantra te- lah sampai di dekat istana. Wajahnya pucat, setelah menempuh perjalanan dalam ketakutan dan marah. Napasnya tersengal-sengal. Kuda yang ditunggangi, di- pacu cepat. Sehingga keempat penjaga pintu gerbang istana hampir tertabrak kudanya.
"Aku harus bisa mengambil hati baginda," desis Perdana Menteri Giri Gantra sambil turun dari ku- danya. Kemudian lelaki bermuka bengis dan mengenakan pakaian kebesaran istana itu melangkah tergesa- gesa memasuki Istana Kerajaan Surya Langit. Dia langsung menghadap Baginda Raja Awangga, yang saat itu tengah duduk di singgasananya, dikelilingi dayang-dayang cantik.
"Ampun, Baginda! Hamba menghadap!" "Ada apa, Paman Perdana Menteri?" tanya Ba- ginda Raja Awangga dengan kening berkerut, menyak- sikan ketegangan tergambar di wajah perdana mente- rinya. "Hm.... Tampaknya ada berita buruk? Apakah kedua maling itu lagi?"
"Benar, Baginda," sahut Perdana Menteri Giri Gantra seraya menyembah.
"Katakanlah, ada apa dengan kedua maling itu?"
Perdana Menteri Giri Gantra sejenak terdiam. Sepertinya dia tengah mengatur rencana, bagaimana sebaiknya menuturkan perihal Pangeran Prapanca pa- da baginda raja. Dia harus bisa mengambil hati Bagin- da Raja Awangga, agar memusuhi Pangeran Prapanca dan teman-temannya.
"Ampun, Baginda! Sesungguhnya, kedua mal- ing itu tiada lain...."
Sampai di sini, Perdana Menteri Giri Gantra tak meneruskan ucapannya. Hal itu membuat Baginda Raja Awangga merasa penasaran. Hatinya ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.
"Ada apa, Perdana Menteri? Siapa sebenarnya kedua maling itu?" desak Baginda Raja Awangga ingin tahu.
"Ampun, Baginda! Ternyata kedua maling itu, tiada lain Pangeran Prapanca dan sahabatnya, Pranala," tutur Perdana Menteri Giri Gantra.
"Apa?!" mata Baginda Raja Awangga membela- lak, mendengar penuturan Perdana Menteri Giri Gantra. Dia sama sekali tak menduga kalau Pangeran Pra- panca ternyata masih hidup. "Mengapa dia masih hidup? Bukankah telah kuutus seseorang untuk mem- bunuhnya?"
"Entahlah, Baginda. Yang pasti, kini beberapa
pendekar berpihak kepadanya, termasuk Pendekar Gi- la dan kekasihnya Bidadari Pencabut Nyawa," ujar Perdana Menteri Giri Gantra. Kemudian dengan sing- kat diceritakan semua yang terjadi di Hutan Bambu (Untuk lebih jelasnya, silakan baca serial Pendekar Gi- la dalam episode "Sepasang Maling Budiman").
"Hm...," gumam Baginda Raja Awangga lirih. Tangannya membelai jenggotnya yang panjang. Ma- tanya memandang lepas keluar lewat pintu istana. Ter- sirat di wajahnya suatu perasaan kekhawatiran. Na- mun, tentu saja hal itu tak diperlihatkan jelas di depan perdana menterinya. Pangeran Prapanca yang harus- nya telah tiada, tiba-tiba muncul. Kalau sampai rakyat tahu, tentu mereka akan berpihak pada putra mahkota itu. Jelas, baginya ini suatu ancaman yang tak boleh dianggap sepele. Ini merupakan masalah besar. Masa- lah negara, bahkan hidup dan matinya.
Baginda Raja Awangga dan Perdana Menteri Gi- ri Gantra sesaat terdiam. Nampaknya mereka sedang berpikir untuk mencari jalan keluar guna menyingkir- kan Pangeran Prapanca dari Kerajaan Surya Langit. Bahkan bila perlu, putra mahkota itu harus dibunuh tanpa sepengetanuan rakyat Kerajaan Surya Langit.
"Apa yang harus kita perbuat, Perdana Mente- ri?" tanya Baginda Raja Awangga seraya menatap den- gan kening berkerut pada Perdana Menteri Giri Gantra. "Kita harus menyingkirkan dia dan teman- temannya, Baginda!" "Caranya...?" Sesaat Perdana Menteri Giri Gantra terdiam. Dia pun belum tahu, bagaimana cara menyingkirkan Pangeran Prapanca dan Pranala serta teman-temannya tanpa harus melibatkan rakyat kerajaan. Karena jika sampai rakyat mengetahui, tentunya mereka tak akan tinggal diam. Rakyat pasti akan melakukan pemberontakan. Apalagi selama ini, rakyat hidup dalam keseng- saraan, akibat penindasan yang dilakukan para pem- besar kerajaan.
"Bagaimana kalau kita undang mereka, Bagin- da," ujar Perdana Menteri Giri Gantra.
"Lalu...?" tanya Baginda Awangga belum men- gerti maksud perdana menterinya.
"Jika kita mengundangnya, kita tidak harus berhadapan langsung dengan mereka. Kita akan men- gundang jago-jago persilatan, untuk menghadapi me- reka," kata Perdana Menteri Giri Gantra menjelaskan. Namun, tampaknya Baginda Raja Awangga belum jelas dengan rencana yang diterapkan perdana menterinya.
"Uraikan semua, Perdana Menteri! Aku belum jelas, apa yang sebenarnya hendak kau lakukan," pinta Baginda Raja Awangga.
Perdana Menteri Giri Gantra menyembah, ke- mudian mulai menjelaskan rencana yang akan dite- rapkannya.
"Hamba akan mengundang jago-jago dari kera- jaan lain, guna menghadapi para pendekar yang mem- bantu Pangeran Prapanca. Kemudian ketika mereka sedang melakukan pertarungan sebagai hiburan dalam penyambutan kerajaan atas kedatangan putra mahko- ta, yang lain akan bergerak untuk menangkap. Kalau Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya tertangkap, maka suasana akan kembali aman. Rakyat tidak tahu siapa sebenarnya si Maling Budiman itu, juga tentang kejadian di istana."
Baginda Raja Awangga diam mendengarkan ga- gasan Perdana Menteri Giri Gantra. Kepalanya tampak mengangguk-angguk, seakan berkenan mendengar pendapat itu.
"Begitulah rencana hamba, Baginda," kata Per- dana Menteri Giri Gantra mengakhiri penuturannya.
"Hm, bagus! Aku setuju dengan maksudmu," ujar Baginda Raja Awangga sambil tersenyum-senyum. Jenggotnya yang panjang dibelai-belai sambil kepa- lanya terus manggut-manggut. Matanya bersinar- sinar, seperti merasa senang. "Tak percuma kau kua- ngkat menjadi Perdana Menteri, Giri Gantra. Ternyata pikiranmu masih bisa kuandalkan. Ha ha ha...!"
"Terima kasih, Baginda. Kita harus secepatnya mengundang mereka untuk datang kemari. Karena kalau terlambat, bisa-bisa merekalah yang akan menda- hului kita," lanjut Perdana Menteri Giri Gantra, seakan-akan tak sabar ingin segera dapat meringkus Pan- geran Prapanca.
"Lalu, bagaimana dengan rencana perkawinan anakku?" tanya Baginda Raja Awangga. "Pesta perkawinan itu, akan dilaksanakan dua minggu lagi, Perda- na Menteri."
"Serahkan pada hamba, Baginda. Sebelum pes- ta perkawinan itu berlangsung, penjahat-penjahat pasti sudah tertangkap...," jawab Perdana Menteri Giri Gantra tegas.
"Baiklah..., baiklah. Aku serahkan semuanya padamu," ujar Baginda Raja Awangga. Kemudian mereka tertawa terbahak-bahak, seperti merasa yakin akan dapat menangkap Pangeran Prapanca dan te- mantemannya.
***


2
Pagi telah datang dengan sinar matahari yang menghangatkan bumi, ketika sepasang pendekar melangkah di jalan selebar tiga tombak, menuju Istana
Kerajaan Surya Langit. Sepasang pendekar yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila dan Mei Lie itu tengah menjalankan tugas. Mereka diutus Pangeran Prapanca untuk menyampaikan surat pada Baginda Raja Awangga.
Dengan langkah tenang dan mantap, keduanya mulai memasuki alun alun depan istana. Namun keti- ka hendak memasuki pintu gerbang istana, empat pra- jurit bersenjata tombak menghadang mereka
"Berhenti!" perintah salah seorang prajurit. Pendekar Gila dan Mei Lie menurut berhenti. Mata mereka memandangi keempat prajurit yang me- nyilangkan tombak, menghadang langkah mereka.
Seorang prajurit bermuka beringas dengan tu- buh kekar melangkah mendekat
"Siapa kalian? Dan ada kepentingan apa?!" tanya prajurit bermuka garang itu tegas.
"Hi hi hi...! Kami diutus Pangeran Prapanca, untuk menyampaikan surat pada Baginda Raja Awangga," jawab Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Lalu melirik Mei Lie yang menganggukkan kepala.
"Siapa kalian?!" sentak prajurit bertubuh tegap itu.
"Aha, apakah perlu sebuah nama?" sahut Sena masih cengengesan.
"Anak gila, siapa pun yang masuk istana semua harus diketahui. Siapa namanya, dari mana, dan ke- perluannya. Jangan berlaku kurang ajar di kerajaan, mengerti?!" bentak prajurit itu merasa kesal dengan tingkah laku Pendekar Gila.
"Hm, baiklah. Aku Mei Lie, dan temanku Sena Manggala. Kami diutus Pangeran Prapanca untuk me- nyampaikan surat pada Baginda Raja Awangga. Sudah jelas?" tanya Mei Lie dengan senyum sinis. Nampaknya
Mei Lei tak suka melihat sikap prajurit itu, yang terlalu angkuh dan lancang. Sena sudah menjelaskan mak- sudnya, namun prajurit itu tetap saja ngotot. Bahkan matanya memandang nakal pada Mei Lie. Benar-benar kurang ajar! Kalau saja Pangeran Prapanca tak mela- rang bentrok dengan prajurit-prajurit kerajaan, ingin sekali Mei Lie menyobek mulut atau mata prajurit ini.
"Baiklah, tunggu sebentar!" jawab prajurit itu sambil melangkah pergi meninggalkan Pendekar Gila dan Mei Lie yang dijaga oleh tiga orang temannya.
Pendekar Gila dan Mei Lie nampak tenang. Me- reka memang telah dipesan agar tak melakukan pertarungan. Keduanya hanya diperintahkan untuk mem- bawa surat dari Pangeran Prapanca. Dan Pangeran Prapanca meminta Pendekar Gila dan Mei Lie tak me- nyerang jika tidak diserang.
Tidak lama kemudian prajurit yang menghadap raja kembali keluar. Kali ini dia bersama Perdana Menteri Giri Gantra, yang tersenyum ramah pada Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Oh, rupanya Tuan-Tuan Pendekar yang da- tang," sapa Perdana Menteri Giri Gantra dengan ra- mah, seakan berusaha menunjukkan bagaimana sebe- narnya keadaan istana dan menutupi keburukan orang-orang istana. "Silakan...! Baginda telah menung- gu kedatangan kalian."
"Terima kasih," jawab keduanya seraya menjura hormat. Kemudian dengan diantar Perdana Menteri Giri Gantra, keduanya menuju ke istana untuk menemui Baginda Raja Awangga.
Baginda Raja Awangga nampaknya sudah be- rada di singgasananya. Bibirnya mengurai senyum, se- telah melihat kedatangan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Selamat datang di istanaku," sambut Baginda Raja Awangga dengan ramahnya.
Pendekar Gila dan Mei Lie langsung memberi sembah, lalu duduk bersila di hadapan Baginda Raja Awangga.
"Ampun, Baginda! Kami datang untuk me- nyampaikan pesan dari Pangeran Prapanca," kata Sena sambil menyodorkan gulungan daun lontar yang diba- wanya. Baginda Raja Awangga segera menerima surat itu. Dibukanya gulungan daun lontar itu dan dibaca. Bibir sang Baginda mengurai senyum, setelah memba- ca surat yang disampaikan kedua utusan Pangeran Prapanca. Dipandanginya kedua pemuda dan pemudi yang duduk dan menundukkan kepala.
"Jadi, Pangeran Prapanca meminta agar rakyat dibebaskan dari pajak? Serta kekayaan kerajaan untuk kepentingan rakyat?" tanya Baginda Raja Awangga dengan bibir masih tersenyum. Namun senyum itu nampak sangat sinis.
"Kami tak tahu, Baginda. Kami hanya menja- lankan tugas semata-mata," jawab Sena sambil cen- gengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Hm, baiklah. Aku akan menyetujui permintaan Pangeran Prapanca. Namun aku tak ingin hanya utu- san yang datang. Aku berharap Pangeran Prapanca da- tang sendiri ke istana. Bukankah lebih baik orang yang bersangkutan datang menghadap sendiri?" tanya Ba- ginda Raja Awangga. Di bibirnya masih mengurai se- nyum, seakan berusaha menunjukkan keramahannya.
"Kami hanya utusan, Baginda," ujar Mei Lie. "Apa yang akan disampaikan, akan kami sampaikan."
"Bagus. Sampaikan pada Pangeran Prapanca! Kami pihak istana sangat mengharapkan kedatangan- nya," kata Baginda Raja Awangga sambil memandang sejenak pada perdana menterinya yang tersenyum. "Kami akan menjamunya, sesuai dengan kebiasaan istana. Bagaimanapun, dia tetap seorang pangeran."
"Akan hamba sampaikan," jawab Sena sambil menyembah. "Hamba mohon pamit!"
"Hamba pun mohon pamit," sambut Mei Lie sambil mengikuti Pendekar Gila menyembah. Kemu- dian Pendekar Gila dan Mei Lie bangun dari duduk bersila. Sambil menyembah mereka melangkah mun- dur. Meskipun keduanya utusan Pangeran Prapanca yang dalam hal ini merupakan musuh kerajaan, mere- ka tetap berlaku sopan santun di istana.
"Sampaikan salamku pada Pangeran Prapanca! Usahakan agar dia segera sampai di istana secepat mungkin!" kata Baginda Raja Awangga mengingatkan, sebelum Pendekar Gila dan Mei Lie meninggalkan ruang balai istana.
***

Mei Lie dan Pendekar Gila telah keluar dari is- tana kerajaan. Keduanya kini tengah menyelusuri jalanan yang sudah jauh dari istana. Seperti biasanya, mereka senantiasa bercanda ria di dalam perjalanan. Langit cerah pagi hari dan sinar matahari yang hangat seakan menemani mereka dalam menempuh perjala- nan pulang, setelah menyampaikan pesan dari Pange- ran Prapanca.
"Ah, akhirnya kita harus terlibat juga, Mei," ka- ta Sena sambil cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala. "Seharusnya, kita hampir sampai di tempat guru."
"Kenapa Kakang tadinya tak meneruskan perja- lanan saja? Kalau saja Kakang tak ikut campur dengan urusan Pangeran Prapanca, tentu kita hampir sampai," ujar Mei Lie sambil melangkah di samping kekasihnya. Sesekali Mei Lie menoleh ke wajah Sena. Tidak pernah jemu-jemunya gadis itu memandangi wajah sang Ke- kasih. Meski cengengesan, namun wajahnya yang tampan tetap tampak. Meski Sena seperti orang gila, Mei Lie merasa damai jika berada di sampingnya.
"Ah ah ah, semua Hyang Widi yang mengatur, Mei Lie. Aku hanya manusia, tak kuasa menolak sega- la yang telah digariskan," kata Sena seraya menarik napas panjang. Sesaat matanya memandang wajah Mei Lie. "Ah, sudahlah! Sudah telanjur basah, apa salah- nya kita sekalian menyelaminya."
"Kalau memang itu sudah menjadi keputusan, aku pun turut bersamamu, Kakang," desah Mei Lie sambil menyandarkan kepalanya di pundak kanan Pendekar Gila. "Terus terang kukatakan, aku sangat tenang jika berada di sampingmu."
Sena tersenyum. Lalu dengan lembut diusap- nya rambut Mei Lie. Keduanya terus melangkah den- gan hati berbunga. Jalinan cinta kasih yang mereka bina, semakin terasa di saat-saat seperti ini. Di mana mereka hanya berdua, dengan ditemani suasana alam yang tenang dan damai.
"Mungkinkah selamanya kita akan selalu ber- sama, Kakang?"
Pertanyaan Mei Lie yang tiba-tiba itu menyen- takkan Sena dari lamunannya. Seketika Pendekar Gila menghentikan langkah, matanya memandang lekat wajah Mei Lie.
"Mengapa kau bertanya begitu, Mei Lie?" tanya Sena dengan kening mengerut, kaget mendengar per- tanyaan yang baru saja dilontarkan kekasihnya.
"Kakang Sena, semenjak kita bertemu, aku su- dah merasakan jatuh cinta padamu. Dalam hati kecil- ku, aku berjanji untuk mengabdi padamu," tutur Mei Lie dengan polos. Matanya membalas tatapan Pende- kar Gila. Gadis itu seakan ingin meminta kepastian dari kekasihnya.
"Aku mengerti, Mei Lie. Tapi, mengapa kau ber- tanya seperti itu? Aku pun tak ingin kita berpisah. Namun semua tetap tergantung Hyang Widi, kita tak mungkin bisa menentangnya," ujar Sena sambil mem- belai rambut kekasihnya. Dia berusaha menenangkan hati Mei Lie.
"Maafkan aku, Kakang!" "Tak mengapa. Ayolah, perjalanan masih pan- jang! Kita tak bisa berlama-lama di tempat seperti ini," ajak Sena, merasa kalau di tempat sepi dan senyap se- perti itu bahaya akan senantiasa datang tiba-tiba. Apa- lagi di kanan kiri jalan yang mereka lewati, tertutup pepohonan dan semak belukar.
Pendekar Gila dan Mei Lie terus melangkah ke barat, untuk meneruskan perjalanan. Namun, baru beberapa langkah mereka meneruskan perjalanan, mendadak dari balik semak-semak bermunculan beberapa sosok tubuh berpakaian hitam dengan muka ter- tutup. Di tangan mereka, tergenggam senjata.
"Berhenti...!" teriak seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan senjata berupa gada berduri. Nam- paknya lelaki ini, merupakan pimpinan dari empat orang lelaki lainnya. Mata lelaki tinggi besar Ini, me- mandang tajam wajah Pendekar Gila dan Mei Lie yang saling pandang, setelah keduanya berhenti.
"Aha, mimpi apa kita semalam, Mei? Tidak ada hujan dan angin, tahu-tahu mendapat durian jatuh," tukas Sena sambil tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Kulihat, ada niat tak baik pada mereka, Mei Lie."
"Benar, Kakang. Buktinya mereka menutupi muka," sahut Mei Lie sambil turut tertawa gelak. Ma- tanya yang seperti burung elang, memandangi satu- persatu kelima lelaki berwajah tertutup kain hitam.
Sehingga hanya sepasang mata mereka yang nampak, beringas menunjukkan kalau kelima orang itu bukan orang baik-baik.
"Kurang ajar! Lancang sekali mulut kalian!" bentak lelaki tinggi besar bersenjata gada berduri. Ma- tanya semakin tajam, menatap Pendekar Gila dan Mei Lie. Seakan-akan lelaki ini hendak menelan keduanya bulat-bulat "Jawab pertanyaanku, benarkah kalian yang bergelar Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa...?"
"Hm, untuk apa kami menjawab pertanyaan- mu," dengus Mei Lie sengit. "Apakah pantas orang ber- tanya menyembunyikan wajahnya di balik topeng? Bu- kalah topeng kalian! Baru kami akan menjawab perta- nyaanmu!"
"Sundel! Berani benar kau berkoar di daerah kekuasaan kami, heh?! Apakah kalian tak kenal, kalau Lima Gagak dari Lembah Bangkai tak akan pernah mengampuni orang yang telah berani lancang?!" sen- tak lelaki bersenjata gada berduri dengan suara keras. Nampaknya lelaki ini sangat marah mendengar ucapan Mei Lie yang seperti meremehkannya.
"Ah ah ah, rupanya kita bertemu dengan bina- tang pemakan bangkai, Mei Lie? Hi hi hi..., lucu sekali! Baru kali ini, aku melihat binatang pemakan bangkai menyembunyikan wajahnya," Pendekar Gila mengejek sambil tertawa cekikikan dengan tangan menggaruk- garuk kepala.
"Meski mereka binatang pemangsa bangkai, aku tak akan takut! Mereka tidak sopan, tentunya me- reka bermaksud tidak baik, Kakang," sahut Mei Lie dengan senyum sinis. Matanya masih memandangi Lima Gagak dari Lembah Bangkai yang tampak sema- kin marah, mendengar tantangan dari Mei Lie. Walau mereka menduga gadis Cina ini tak lain si Bidadari
Pencabut Nyawa, tapi tak merasa takut sedikit pun. Apalagi mereka memang datang untuk menguji. Sam- pai di mana ilmu Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa yang tersohor itu.
"Kurang ajar! Rupanya kalian mencari penyakit, berani menantang Lima Gagak dari Lembah Bangkai!" dengus pimpinan lelaki bertopeng itu. Gada berduri di tangan kanannya diangkat.
Pendekar Gila dan Mei Lie menyangka kalau le- laki tinggi besar itu hendak menyerang. Itu sebabnya keduanya segera menyurut mundur dua tindak, siap untuk menghadapi serangan Lima Gagak Dari Lembah Bangkai. Namun dugaan mereka melesat, ternyata....
"Serang...!" Tiba-tiba pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai berteriak memerintah. Saat itu pula, dari balik semak-semak muncul puluhan anak panah melesat cepat memburu Pendekar Gila dan Mei Lie.
Swing! Swing...! "Awas, Mei...!" seru Sena mengingatkan sambil melompat bersalto, menghindari puluhan anak panah yang meluncur ke arahnya. Kemudian dengan tertawa terbahak-bahak sambil tangan kiri menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila telah berdiri tegap. Tangan ka- nannya berhasil menangkap lima batang anak panah yang memburunya.
Tep! Tep! Tep! "Hi hi hi...! Kiranya mainan anak-anak. Biarlah kukembalikan pada kalian! Hih...!"
Pendekar Gila melemparkan kelima anak panah yang berhasil ditangkapnya sambil bersalto. Seketika itu pula, kelima anak panah itu melesat cepat ke se- mak-semak belukar.
Swing! Swing! "Awas...!" membelalak mata pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai, karena tak menyangka lun- curan anak panah itu melebihi kecepatan semula. Se- hingga, dari lesatan kelima anak panah itu terdengar desingan keras diikuti deru angin.
Swer! Jlep! "Akh. .!" Terdengar jeritan kematian dari balik semak- semak. Rupanya ada seseorang yang terlambat menge- lak. Sehingga anak panah yang dilemparkan Pendekar Gila, menghunjam di dadanya. Sesaat orang bertopeng hitam meregang berdiri, dengan anak panah menancap di dada. Bahkan anak panah itu tembus sampai pung- gung. Tubuh lelaki itu ambruk dan menggelepar- gelepar menahan rasa sakit. Sesaat kemudian tak nampak gerakannya, karena nyawanya telah me- layang. Sementara itu, Mei Lie yang nampak tak saba- ran itu dengan cepat mencabut Pedang Bidadarinya. Pedang yang mengeluarkan sinar kuning kemerah- merahan itu, dengan cepat ditebaskan ke depan me- mapak anak panah yang meluncur ke tubuhnya.
"Heaaa...!" Wrt! Trak! Sekali kibas, belasan anak panah tersambar Pedang Bidadari. Seketika belasan anak panah itu berpentalan dan jatuh ke tanah. Hampir semuanya pa- tah jadi dua. Tak sebatang anak panah pun dapat me- nembus pertahanan Mei Lie yang menggunakan jurus 'Sapuan Tameng Bidadari'. Bahkan semua mata terbe- lalak, menyaksikan kehebatan sapuan Pedang Bidadari di tangan Mei Lie. Baru kali ini, mereka melihat jurus pedang yang sangat hebat.
"Ayo keluarkan semua senjata kalian!" tantang
Mei Lie, penuh kemarahan. Dirinya benar-benar tak suka dengan cara pengecut seperti yang dilakukan la- wan-lawannya kali ini. Kalau dulu Segoro Wedi dan anak buahnya bisa berbuat sekehendak hati terha- dapnya, Mei Lie kini bukanlah Mei Lie yang dulu. Ga- dis Cina itu kini telah memiliki kepandaian yang tinggi. Bahkan dirinya sebagai pewaris jurus-jurus Pedang Bidadari yang dahsyat dan belum tertandingi hingga saat ini. "Ah ah ah, rupanya kau benar-benar senang dengan permainan ini, Mei," ujar Sena dengan cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya dengan terpicing menatapi Lima Gagak dari Lembah Bangkai yang masih terkesiap setelah menyaksikan gebrakan Mei Lie.
"Cuih! Meski nama kalian setinggi langit, tapi Lima Gagak dari Lembah Bangkai, takkan mengalah!" dengus pimpinan Lima Gagak dari Lembah Bangkai sengit. "Gagak Kuru, dan kau Gagak Pilangan, hadapi pemuda gila itu dibantu oleh sebagian prajurit! Semen- tara Gagak Kabungan dan Gagak Pancalan, hadapi ga- dis Cina itu. Tangkap dia hidup-hidup!"
"Baik!" sahut keempatnya. "Serang mereka!" pe- rintah Gagak Kuru pada dua puluh anak buahnya yang seketika berhamburan keluar dari semak-semak. Mereka langsung menyerang Pendekar Gila dengan senjata panah. "Hea...!"
Wrrt! Sing! Swing! Puluhan anak panah kembali berdesingan, memburu tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat, pemuda berpakaian rompi dari kulit ular itu bergerak. Tubuhnya melenting ke atas dengan jurus 'Si Gila Ter- bang Menyambar Ayam'! Tubuhnya bagaikan terbang, berjumpalitan melakukan salto. Kemudian dengan paduan jurus 'Kera Gila Melempar Batu', Pendekar Gila menyapu puluhan anak panah yang menderu ke tu- buhnya. "Yeaaa...!"
Wrrr! Serangkum angin kencang, menderu ketika tangan Pendekar Gila bergerak cepat seperti melempar batu. Tangan kanan dan kirinya, bergerak tak berhenti dan bergantian. Puluhan anak panah yang melesat memburu tubuhnya, seketika berpentalan jatuh. Seba- gian lagi berbalik meluncur ke tempat pemiliknya.
"Awas panah....'" teriak Gagak Kuru mengin- gatkan anak buahnya, yang seketika serabutan keluar berusaha menyelamatkan diri dari hujan anak panah yang berbalik memburu mereka. Meskipun para anak buah Gagak dari Lembah Bangkai telah berusaha me- nyelamatkan diri, tetap saja ada beberapa orang yang harus menerima senjata mereka sendiri.
Jlep! Jlep! "Wuaaa....!" "Aduhhh...!" Tiga orang terpekik keras, ketika dada dan wa- jah mereka tertancap anak panah. Darah mengucur deras, keluar dari tancapan anak panah beracun. Tu- buh mereka seketika jatuh bergelimpangan ke tanah. Sesaat kemudian ketiganya telah tewas dengan tubuh kaku.
Sementara itu, Mei Lie menghadapi Gagak Ka- bungan dan Gagak Pancalan yang dibantu sepuluh anak buah, nampak tak segan-segan melakukan se- rangan. Pedang Bidadari di tangannya, digerakkan dengan jurus 'Tebasan Bidadari Memenggal Gunung'. Pedang bergerak datar dengan kecepatan luar biasa. Sehingga membuat lawan yang hendak menyerang, tersentak kaget. Mereka berusaha mundur, namun tak urung pedang Mei Lie harus memakan korban. "Heaaat...!"
Wrt! Cras! Cras...! "Akh...!" Dalam sekali gebrak empat lawan menjerit ke- sakitan. Dengan tubuh terhuyung-huyung mereka mendekap perutnya yang tersambar Pedang Bidadari. Seketika darah bercucuran dari perut, membasahi kaki dan tanah di tempat pertarungan.
Mata mereka membeliak, kemudian dari mulut keluar darah merah kehitaman. Hal itu tampak dari topeng mereka yang merembeskan darah. Keempat orang itu pun ambruk dan tewas hampir bersamaan.
***

Dalam satu gebrakan saja delapan orang telah menjadi korban. Namun nampaknya Lima Gagak dari Lembah Bangkai tak gentar sama sekali. Bahkan kini kelimanya turut maju, membantu anak buah yang tinggal dua puluh tiga orang menyerang Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Rupanya kau bukan gadis sembarangan. Ha- dapilah aku! Heaaa...!"
Gagak Pandera, yang merupakan pimpinan dari Lima Gagak dari Lembah Bangkai menghantamkan gada berdurinya ke tubuh Mei Lie. Desiran angin yang keluar dari ayunan gada itu, sangat keras. Nampaknya gada berduri itu, diayunkan dengan pengerahan tena- ga dalam yang cukup tinggi.
Wrrrt! "Haits! Hea...!" Dengan cepat gadis bergaun hijau itu meliuk- kan tubuh ke samping kiri. Sehingga gada lawan tak mampu mencapai sasaran. Dan ketika gada lawan hampir saja menyambar kakinya, dengan cepat Mei Lie menarik kaki kanannya. Lalu dengan cepat pedangnya dibabatkan ke tubuh lawan yang lain sambil kakinya menendang ke perut lawan yang saat itu dalam kea- daan doyong ke depan, melakukan serangan.
"Heaaa...!" Wrt! Cras! Cras...! Tak ampun lagi Pedang Bidadari menyambar mangsa. Begk!
"Akh...!" "Aduh...!" Dua orang menjerit dengan leher terbabat pe- dang. Leher mereka hampir putus, mengeluarkan da- rah yang menyembur deras. Sedangkan Gagak Pande- ra yang terkena tendangan, terpekik lalu tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang sambil mendekap pe- rutnya. Mata Gagak Pandera membeliak. Mulutnya me- ringis. Perutnya yang terkena tendangan dirasakan mual dan nyeri sekali.
"Setan Betina!" Caci maki keluar dari mulut Gagak Pandera sambil menahan marah dan sakit. "Ku- rang ajar! Kau memang pantas untuk dibunuh, Iblis Betina!" "Hua ha ha...! Kaulah yang iblis!" sahut Mei Lie sambil tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Pen- dekar Gila yang sedang bertarung dengan lawan- lawannya turut tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Baru kali ini, dirinya melihat Mei Lie tertawa lepas. Padahal, biasanya Mei Lie hanya tersenyum. Nampaknya gadis itu benar-benar senang dapat menunjukkan kehebatannya di hadapan sang
Kekasih. "Aha, hari ini kau nampak senang sekali, Mei Lie," gumam Pendekar Gila sambil bergerak dengan jurus ‘Si Gila Menari Menepuk Lalat’, mengelakkan se- rangan-serangan lawan. Tubuhnya meliuliuk laksana orang yang sedang menari. Sesekali tangannya ber- gerak menepuk ke dada lawan yang ada di depan dan samping kanan kirinya. Meski gerakannya kelihatan lamban dan lemah, ternyata mampu membuat lawan-lawannya tersentak kaget.
"Pecah kepalamu, Bocah Edan!" dengus Gagak Kuru sambil menghantam gada berdurinya menyerang Pendekar Gila.
Wss! "Uts! He he he...!" Sambil tertawa terkekeh- kekeh, Pendekar Gila segera meliukkan tubuh ke samping. Kemudian dengan gerakan aneh dan sulit di- duga, Sena menghantamkan telapak tangan menepuk ke dada lawan yang ada di sampingnya. Gerakannya nampak lambat, namun dalam sekali gerak, mampu menepuk empat dada lawan.
Plak! Plak! Plak...! "Wuaaa...!" "Aaa...!" Keempat orang yang terhantam telapak tangan Pendekar Gila menjerit keras. Tubuh mereka terpental ke belakang bagaikan dilempar oleh kekuatan yang dahsyat. Keempat tubuh terus melayang dan baru berhenti ketika menerjang pohon jati.
Brak! "Engkh...!" Keempat lelaki bertopeng itu jatuh ke tanah dan langsung tak bergerak lagi.
Menyaksikan anak buahnya banyak yang mati, Gagak Pandera dari Lembah Bangkai mulai merasa takut. Mereka nampaknya menyadari, kalau kedua pen- dekar itu memang bukan tandingan.
"Mundur...!" teriak Gagak Pandera memerintah pada anak buahnya yang tersisa. Dengan cepat para anak buah lari meninggalkan tempat pertarungan. Me- reka semua menyadari kehebatan kedua pendekar muda itu. Maka karena ketakutan, semua lari tung- gang langgang dari tempat itu.
Semula Mei Lei hendak mengejar mereka, na- mun dengan cepat Pendekar Gila melarangnya.
"Aha, mengapa mesti capai-capai mengejar me- reka, Mei? Bukankah masih ada tugas yang lebih pent- ing? Tentunya pangeran tengah menunggu-nunggu kedatangan kita," ujar Sena mengingatkan kekasihnya. Mei Lie pun mengurungkan niat untuk menge- jar. Dimasukkan Pedang Bidadari ke warangkanya. Kemudian kakinya melangkah di samping Pendekar Gila, untuk meneruskan perjalanan mereka guna me- laporkan tugas pada Pangeran Prapanca.
***

3
Mentari sore yang redup membiaskan cahaya kuning penuh kedamaian. Sinarnya menyelusup di sela-sela daun bambu, menerangi suasana di dalam Hu- tan Bambu. Angin sore yang bertiup lembut membawa hawa sejuk menambah keindahan sore itu. Burung- burung berkicau riang, berterbangan pulang ke sarangnya. Saat itu, Pendekar Gila dan Mei Lie telah sam- pai di pinggir Hutan Bambu, tempat Pangeran Prapan- ca dan teman-temannya berada. Agak ke dalam dari
Hutan Bambu, empat prajurit yang kini berpihak pada Pangeran Prapanca tampak berjaga lengkap dengan senjata mereka.
"Siapa?!" seru salah seorang prajurit ketika Pendekar Gila dan Mei Lie melangkah memasuki Hu- tan Bambu.
"Kami!" sahut Mei Lie. "Pangeran sudah menunggu kedatangan ka- lian!" kembali terdengar suara dari dalam.
Pendekar Gila tampak cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah tenang bersama kekasihnya memasuki Hutan Bambu. Mata mereka memandang lurus ke depan. Kaki mereka melangkah dengan ringan. Kalau orang yang belum berilmu tinggi, sulit untuk mendengar langkah-langkah kaki Pendekar Gila dan Mei Lie. Hal itu dilakukan, sengaja untuk menguji sampai seberapa tinggi kewaspadaan para prajurit jaga.
Tampaknya para prajurit jaga benar-benar mengerahkan kewaspadaan mereka. Hal itu dapat di- ketahui dari pendengaran dan naluri serta perasaan mereka yang mampu menangkap gerakan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Hua ha ha...! Bagus...! Rupanya kalian benar-benar menjaga kewaspadaan," seru Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggema di sekitar Hutan Bambu, menjadi orang-orang yang berada di dalam gubuk segera tahu kalau Pendekar Gila telah datang.
Pangeran Prapanca, Pranala, Ki Naga Wilis, Ga- gak Selo, Tirta Kayon, Resi Wisangkara dan Panglima Rawa Sekti yang berada di dalam gubuk segera keluar. Mereka ingin menyambut kedatangan Pendekar Gila dan Mei Lie yang menjadi duta. Mulanya mereka mengkhawatirkan keselamatan kedua pendekar itu.
Mereka takut kalau Pendekar Gila dan Mei Lie ditang- kap pihak istana. Itu sebabnya setelah mendengar suara tawa Pendekar Gila, serta merta mereka keluar un- tuk menyambut kedatangannya.
"Selamat datang kembali!" mereka menyambut dengan tersenyum senang, menyaksikan Pendekar Gila dan Mei Lie datang tanpa kurang satu apa pun.
"Aha, terima kasih! Atas doa restu kalian, kami bisa kembali tanpa kurang satu apa pun. Hi hi hi...!" jawab Sena sambil tertawa cekikikan. Tangannya menggaruk-garuk kepala, sambil matanya memandang wajah Mei Lie.
"Ya, kami rasa atas doa kalian sehingga kami bisa kembali dengan tak kurang satu apa pun," sam- bung Mei Lie dengan bibir mengurai senyum. Dibalas- nya tatapan mata Pendekar Gila.
"Hm..., dari penuturan kalian, nampaknya ka- lian mengalami halangan," ujar Pangeran Prapanca ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau boleh kami tahu, apa gerangan yang te- lah terjadi?" tanya Pranala menambahkan.
"Hi hi hi...! Kalian seperti ahli nujum. Bagaima- na mungkin kalian bisa menduga begitu? Padahal kami belum menceritakan apa pun pada kalian," jawab Pendekar Gila sambil tertawa cekikikan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Semua yang menyaksikan tingkah laku Pende- kar Gila tersenyum-senyum. Kalau saja mereka tak in- gat sedang berhadapan dengan pendekar sakti yang saat ini belum ada tandingannya, mungkin akan ter- tawa geli melihat tingkah laku Sena. Beruntung mere- ka menyadari, kalau yang ada di hadapannya tak lain Pendekar Gila. Seorang pendekar muda yang akhir- akhir ini tengah ramai dibicarakan di kalangan rimba persilatan.
"Ah, bisa saja kau, Sena," sahut Pangeran Pra- panca malu, disindir begitu oleh Pendekar Gila, "Apa- lah artinya kami, dibandingkan dengan kalian yang mempunyai nama besar."
"Hi hi hi...! Lucu sekali, Mei. Ada seorang pan- geran sangat merendah. Ah, sudahlah, mari kita ma- suk! Kita ngobrol di dalam saja," ajak Sena sambil me- langkah seiring dengan Mei Lie.
Pangeran Prapanca, Pranala dan rekan- rekannya segera mengikuti kedua pendekar itu masuk ke gubuk. Mereka segera duduk di atas tikar pandan yang digelar lebar di ruangan itu. Wajah mereka berse- ri, meski belum tahu apa sebenarnya yang terjadi. Hal itu karena tingkah laku Pendekar Gila yang konyol dan lucu, mengundang mereka untuk tersenyum.
"Bagaimana tugas kalian?" tanya Pangeran Pra- panca membuka percakapan, setelah semua duduk.
"Aha, kurasa beres, Pangeran. Baginda telah menerima surat yang Pangeran kirim," jawab Sena dengan tingkah laku yang masih konyol, cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Benar, Pangeran," sambung Mei Lie. "Kami te- lah bertemu langsung dengan Baginda Raja Awangga. Dan kami telah menyerahkan surat yang Pangeran tu- lis."
"Lalu, bagaimana tanggapan baginda?" Pangeran Prapanca ingin tahu, bagaimana tanggapan Baginda Raja Awangga yang sebenarnya masih ada hubungan saudara dengannya. Karena Awangga merupakan adik dari Prabu Jayawangga, ayahanda Pangeran Prapanca yang sampai kini belum diketahui nasibnya. Meski gurunya mengatakan aya- handa dan ibundanya meninggal ketika terjadi pembe- rontakan, namun Pangeran Prapanca tak percaya begi- tu saja akan berita itu. Pangeran Prapanca merasa ada sesuatu yang tidak beres di dalam istana. Namun sampai sejauh ini dirinya belum bisa membuktikan ketidakberesan tersebut, lantaran belum mendapatkan bukti-bukti yang kuat.
"Baginda menerima," jawab Mei Lie. "Namun baginda meminta syarat"
"Hm...! Apa syaratnya?" tanya Pangeran Pra- panca ingin tahu.
"Pangeran diminta datang ke istana," jawab Mei Lie, yang menyebabkan semua yang ada di tempat itu terdiam. Mereka seketika saling pandang, kemudian memandang dengan perasaan cemas pada Pangeran Prapanca.
"Kanjeng Pangeran, kalau hamba diperkenan- kan mengeluarkan pendapat," Resi Wisangkara seketi- ka angkat bicara.
"Katakanlah, Paman Resi!" "Sebaiknya, Pangeran jangan menuruti kata- kata Baginda Awangga"
"Kenapa begitu?" tanya Pangeran Prapanca in- gin penjelasan, karena dia memang belum tahu apa yang menyebabkan Resi Wisangkara melarang dirinya ke istana. "Bukankah baginda nampaknya menyadari kekeliruannya selama ini?"
"Hamba rasa, ini hanya suatu siasat, Pange- ran," tukas Resi Wisangkara berusaha mengingatkan Pangeran Prapanca.
"Maksud Paman Resi?" "Aha, kurasa Resi Wisangkara benar, Pange- ran."
Pendekar Gila menyela sebelum Resi Wisangka- ra yang masih kebingungan sempat menjawab. Hal itu menjadikan Resi Wisangkara menghela napas, merasa lega ada orang yang membantunya menyampaikan maksud perkataannya.
"Tolong kau jelaskan padaku, Sena!" pinta Pan- geran Prapanca dengan penuh persahabatan. "Kurasa, kaulah yang bisa menerangkan letak dari semua kea- nehan undangan Paman Awangga kepadaku."
Pendekar Gila masih cengengesan dan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Sesaat dihelanya napas. Kemudian melirik Mei Lie yang duduk di sam- pingnya. Setelah memandang ke atas, menatap sirap daun bambu sebagai penutup gubuk itu, Sena mulai menceritakan apa yang telah terjadi.
Diceritakan, kalau secara diam-diam dia meli- hat Baginda Raja Awangga berbisik-bisik dengan Perdana Menteri Giri Gantra. Setelah itu, baginda nampak tersenyum sinis. Sambil membelai-belai jenggotnya yang panjang, baginda meminta agar Sena dan Mei Lie menyampaikan maksudnya, mengundang Pangeran Prapanca untuk datang ke istana Kerajaan Surya Lan- git
Hal kedua, ketika mereka pulang ke Hutan Bambu, di perjalanan mereka dicegat segerombolan lelaki berkedok kain hitam yang dipimpin Gagak dari Lembah Bangkai. Nampaknya ada hubungan kejadian yang tak dapat dipisahkan, antara bisik-bisik Perdana Menteri Giri Gantra dengan pengeroyokan itu.
"Begitulah ceritanya, Pangeran. Tetapi... Ah, kurasa semua keputusan ada di tanganmu, Pangeran," ujar Sena mengakhiri ceritanya.
"Benar, Pangeran. Ketika kami pulang, kami di- hadang hampir tiga puluh orang. Entah dari mana me- reka itu. Yang pasti, mereka nampaknya menghendaki nyawa kami," sambung Mei Lie, yang membuat semua mengangguk-anggukkan kepala.
"Aha, aku lupa. Apakah di antara kalian ada yang mengenali julukan Lima Gagak dari Lembah Bangkai?" tanya Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Semua yang ada di tempat itu mengerutkan kening. Nampaknya mereka berusaha mengingat-ingat julukan Lima Gagak dari Lembah Bangkai. Namun nampaknya tak ada yang mengenal julukan itu. Bah- kan kini pandangan mereka tertuju pada Gagak Selo, yang memiliki nama hampir sama dengan julukan ge- rombolan itu.
"Bagaimana dengan Paman Gagak Selo? Apa- kah Paman mengenal mereka...?" tanya Pangeran Pra- panca sambil memandangi Gagak Selo.
"Apakah ada yang menyebut nama di antara mereka?" tanya Gagak Selo dengan mata memandang Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Aha, aku ingat. Orang yang tinggi besar yang merupakan pimpinan mereka, menyebut temannya Gagak Kuru. Dan orang itu sendiri, menyebut na- manya Gagak Pandera," sahut Pendekar Gila, "Aha, bagaimana, Ki Gagak Selo? Apakah kau kenal dengan mereka?" "Hm, kurang ajar sekali mereka! Berani mereka memakai nama gagak. Nama yang merupakan pembe- rian guru kami," gumam Gagak Selo sengit "Kalau aku bertemu dengan mereka, ingin rasanya menyobek mu- lut mereka yang telah berani lancang menyebut nama gagak." Gagak Selo benar-benar geram, karena secara tidak langsung nama pemberian guru mereka telah dicemarkan orang-orang yang tak bertanggung jawab.
"Jadi, Paman Gagak Selo tak mengenal mere- ka?" tanya Pangeran Prapanca meminta kepastian.
"Memang aku pun berasal dari Lembah Bang- kai. Namun aku sama sekali tak kenal dengan orang yang mengaku bernama Gagak Pandera dan Gagak Kuru," jawab Gagak Selo, menegaskan. "Kalau Pangeran mengizinkan, hamba akan mencari mereka. Akan kuantarkan kepala mereka ke hadapan Pangeran. "
"Tidak usah, Paman! Belum saatnya kita mela- kukan tindakan. Yang perlu kita pikirkan saat ini, bagaimana sebaiknya menanggapi undangan baginda ra- ja," ujar Pangeran Prapanca berusaha menyabarkan Gagak Selo yang begitu marah karena merasa na- manya dicemarkan oleh orang-orang yang mengaku dari Perguruan Gagak Sakti.
"Hamba akan menuruti perintah Kanjeng Pan- geran. " "Terima kasih, Paman," jawab Pangeran Pra- panca sambil tersenyum puas, menyaksikan Gagak Se- lo kini nampak tenang. "Kembali pada masalah semu- la. Bagaimana? Apakah ada yang bisa memberiku sa- ran?"
"Ampunilah hamba, Kanjeng Pangeran!" Pan- glima Rawa Sekti yang sejak tadi diam, seketika angkat bicara. Hal itu menjadikan pandangan Pangeran Pra- panca kini tertuju ke wajah Panglima Rawa Sekti.
"Katakanlah, Paman Panglima!" Lelaki setengah baya bertelanjang dada itu menundukkan kepala. Ke- mudian perlahan kepalanya didongakkan memandang ke atas, sambil menghela napas perlahan, seakan-akan ingin membuang kegelisahan hatinya.
"Ampun, Kanjeng Pangeran! Hamba mohon be- ribu-ribu ampun, karena selama ini hamba tidak menuturkan apa yang sebenarnya telah terjadi," ujar Panglima Rawa Sekti dengan suara bergetar dan agak parau.
"Tentang apa, Paman?" "Tentang Gusti Prabu, Pangeran." "Hm, kenapa dengan ayahanda?" "Sesungguhnya, Prabu Jayawangga masih hi- dup. Beliau kini ditahan di dalam penjara bawah tanah oleh Baginda Awangga atas perintah Panglima Utama Giri Gantra," tutur Panglima Rawa Sekti.
Mendengar cerita itu Pangeran Prapanca dan semua yang ada di dalam gubuk membelalakkan mata terkejut. Mereka tak menyangka, kalau Prabu Jaya- wangga masih hidup.
"Paman Panglima, ceritakanlah apa sebenarnya yang telah terjadi di istana!" pinta Pangeran Prapanca karena merasa penasaran.
***

Panglima Rawa Sekti sesaat terdiam. Ditolehkan wajah ke Resi Wisangkara, yang sebenarnya juga tahu. Dan sepertinya Panglima Rawa Sekti ingin me- minta pendapat dari Resi Wisangkara. Setelah melihat Resi Wisangkara mengaggukkan kepala, Panglima Rawa Sekti mulai menceritakan semua yang terjadi di istana.
Malam itu, Awangga yang masih menjabat sebagai perdana menteri mengumpulkan para pembesar istana. Hadir di situ, Giri Gantra yang waktu itu masih Panglima Utama, Resi Wisangkara, Panglima Rawa Sekti dan para pembesar lain. Nampaknya Perdana Menteri Awangga mengundang mereka, karena ada masalah penting.
"Apakah kalian tahu mengapa kuundang ke ruang pertama ini?" tanya Perdana Menteri Awangga membuka ucapan, membelah kesunyian malam yang dingin.
Semua yang datang tidak menjawab. Mereka diam, karena memang belum mengerti maksud Perdana Menteri Awangga mengundang malam itu.
"Dengar oleh kalian baik-baik! Raja kini tak bi- sa berbuat apa-apa. Baginda Raja tak lebihnya bangkai yang tiada guna. Dia sama sekali tak memperhatikan kita. Untuk apa menjadi pejabat tinggi kerajaan, kalau kita dalam keadaan yang pas-pasan. Raja hanya mementingkan rakyat sedangkan kita, tak pernah dipikir- kan," tutur perdana Menteri Awangga berapi-api. Matanya yang tajam, memandangi satu-persatu wajah orang yang datang pada pertemuan itu. Mereka semua terdiam sambil menundukkan kepala. Hanya Panglima Utama Giri Gantra yang masih tenang, bahkan tersenyum-senyum.
Semua tak ada yang bicara, karena tak tahu apa yang sebenarnya terencana dalam pikiran Perdana Menteri Awangga dan Panglima Utama Giri Gantra.
"Untuk itulah, kuundang semuanya datang ke sini. Kita harus mengganti raja, kalau kita ingin hidup makmur dan serba kecukupan. Kita tak ingin hidup seperti ini selamanya, bukan?" tanya Perdana Menteri Awangga.
"Benar!" sahut Panglima Utama Giri Gantra, "Kita tak ubahnya gembel dan pengemis. Untuk apa hidup seperti ini? Bahkan kerajaan seakan menutup semuanya bagi kita. Sehingga kita tak dapat bertindak. Bahkan perdagangan dengan kerajaan luar pun ditu- tup. Apakah kita akan diam terus? Membiarkan anak cucu kita menderita?"
"Lalu, apa yang hendak Perdana Menteri laku- kan?" tanya Resi Wisangkara mencoba memberanikan diri.
"Kita harus menggulingkan kekuasaan raja, dengan seolah-olah terjadi pemberontakan. Kemudian, dengan pura-pura tak mengerti, kita hancurkan pem- berontakan itu. Lalu kita sebar pengumuman, kalau baginda raja telah terbunuh dalam pemberontakan. Bukankah dengan begitu, kita akan bebas dari tuntu- tan rakyat?" ujar Perdana Menteri Awangga menjelaskan gagasannya.
"Kita korbankan banyak prajurit dan rakyat, Tuan Perdana Menteri!" kata Panglima Rawa Sekti. "Aku tak setuju!"
"Aku juga!" sambut Resi Wisangkara. "Kalian boleh tak setuju. Tapi ingat, kalian akan mendapatkan hukuman mati di tiang gantun- gan!" ancam Panglima Utama Giri Gantra, yang mem- buat Panglima Rawa Sekti dan Resi Wisangkara ter- diam. Mata mereka membelalak, mendengar ancaman itu. Mereka tahu, kedudukan mereka akan benar- benar terpepet, kalau tak setuju dengan rencana per- dana menteri dan panglima utama.
"Bagaimana...?" tanya Perdana Menteri Awang- ga dengan senyum sinis,
Panglima Rawa Sekti dan Resi Wisangkara tak dapat berkata apa-apa. Keduanya benar-benar tak se- tuju dengan rencana yang mereka anggap gila dan sadis. Namun mereka tak dapat berbuat apa-apa dalam ancaman perdana menteri dan panglima utama.
"Ingat oleh kalian. Jika kalian mau membantu rencanaku, maka pangkat kalian akan kunaikkan. Di samping itu, kalian akan menjadi orang kaya. Berlim- pah harta dan wanita. Apakah itu tidak kalian ingin- kan?" tanya Perdana Menteri Awangga merayu dengan janji-janjinya yang tinggi. "Selama ini, kalian tak per- nah merasakan kenikmatan duniawi. Kalian hanya memiliki satu istri. Kalian tak bebas untuk mencari wanita sesuka hati kalian, karena kalian dalam kekua- saan undang-undang raja, yang sebenarnya raja sendiri tak pernah melaksanakan undang-undang tersebut"
"Perdana Menteri...! Kau bisa bicara begitu, apakah kau bisa membuktikannya?" tanya Resi Wi- sangkara dengan tegas. Sebenarnya sebagai resi, Resi Wisangkara merasa undang-undang yang dibuat oleh
Prabu Jayawangga benar. Karena dengan undang- undang tersebut, maka para pembesar istana tidak bertindak sewenang-wenang. Mereka akan terikat oleh hukum yang tertulis. Dan menurut pandangan mere- ka, baginda tak pernah salah. Kalau baginda memiliki selir, itu sudah menjadi hal yang wajar. Karena setiap raja memang berhak memiliki selir.
Perdana Menteri Awangga tersenyum sinis. "Kau meminta bukti, Resi?" tanyanya.
"Ya!" "Baik aku akan menguraikan bukti-bukti yang kau inginkan. Seharusnya kau ingat, aku adalah adik- nya," kata Perdana Menteri Awangga sambil tersenyum sinis. "Tetapi baiklah, akan kubeberkan semua kebu- rukan kakakku. Dia adalah lelaki yang pengecut, se- hingga tak pernah berani mengambil resiko. Dia juga suka keluyuran di tempat-tempat pelacuran. Suka mabuk dan berjudi. Raja macam itukah yang kalian anggap baik?"
"Hentikan!" teriak Resi Wisangkara sambil ber- diri. Matanya yang tajam menatap wajah perdana menteri. "Tak sepantasnya kau berkata begitu, Perdana Menteri! Baginda adalah yang mulia!"
"Duduk, Resi! Atau prajurit-prajurit itu akan menyeretmu!" ancam Panglima Utama, yang menjadikan Panglima Rawa Sekati seketika bangkit dari du- duknya. "Panglima, kau tak bisa berlaku kasar pada Re- si. Kalau sampai hal itu terjadi, maka terkutuklah kau!" dengus Panglima Madya Rawa Sekti, memprotes ucapan panglima utamanya yang dianggap telah menghina orang-orang istana yang seharusnya dihor- mati dan dijunjung tinggi.
"Duduk, Rawa Sekti! Kau ada di bawahku! Aku berhak memecatmu! Jangan berlaku kurang ajar terhadapku!" bentak Panglima Utama Giri Gantra sambil melotot. Telunjuknya menunjuk wajah Rawa Sekti yang masih duduk di kursi.
"Kau memang pimpinanku. Namun begitu, aku tak setuju dengan ucapanmu yang menghina orang- orang istana!" balas Panglima Madya Rawa Sekti tak mau kalah.
"Hm, hebat! Baru kali ini aku mendengar ada orang yang masih menghormati para pejabat istana. Baik, aku minta maaf! Kini kuminta dengan hormat, kalian duduk!" perintah Panglima Utama Giri Gantra tegas.
Panglima Madya Rawa Sekti dan Resi Wisang- kara pun akhirnya menurut duduk, walau dengan pandangan sinis tak senang, mendengar ucapan dan tindakan panglima utama.
"Dengar oleh kalian semua! Besok malam, sebe- lum fajar menyingsing, kalian harus bisa melakukan sandiwara. Kami telah mempersiapkan orang-orang yang akan melakukan pemberontakan. Sedangkan pe- numpasannya, akan dipimpin olehku langsung!" kata Perdana Menteri Awangga.
"Ingat! Jangan sekali-kali berusaha membang- kang dan membuka rahasia, karena hal itu berarti nyawa kalian yang menjadi taruhannya," sambung Panglima Utama Giri Gantra. "Jika ada yang berani melakukan tindakan bodoh itu, kalian akan menda- patkan hukuman yang menyakitkan. Kalianlah yang akan dituduh sebagai pemberontak!"
Semua tak ada yang berani membuka mulut. Sampai pertemuan selesai tak ada yang berkata sepatah kata pun. Nampaknya ancaman Panglima Utama Giri Gantra dan Perdana Menteri Awangga, benar-benar membuat para undangan tak berani bertindak atau menolak, karena berarti akan menjerumuskan diri mereka sendiri.
Keesokan harinya, tepat seperti apa yang diatur oleh Panglima Utama Giri Gantra, pemberontakan ter- jadi. Orang-orang yang sudah disiapkan, melakukan aksi pemberontakan. Sekilas, tak nampak kalau se- muanya sudah diatur. Mereka bekerja dengan rapi, menculiki para pembesar istana yang masih mengabdi pada baginda raja. Mereka membunuh para pembesar istana. Bahkan patih dan hulubalang kerajaan diculik dan dibunuh.
Ketika pemberontakan berlangsung, orang- orang yang juga sudah diatur oleh panglima utama dan perdana menteri segera bergerak. Nyawa manusia bagaikan tak berarti. Mereka saling bantai, hanya un- tuk memerankan sebuah sandiwara yang sudah dibuat oleh Giri Gantra dan Awangga. Dan akhirnya para pemberontak yang hendak menggulingkan kekuasaan raja dapat ditumpas.
Prabu Jawangga dan permaisuri yang sudah mengungsi, dipaksa kembali ke istana. Lalu baginda diteror dengan pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan- tuduhan yang menyudutkan kedudukannya. Sampai akhirnya baginda jatuh sakit, lalu bersama sang Per- maisuri dimasukkan ke sebuah kamar, yang sebenar- nya penjara di bawah tanah. Begitu pula dengan para pengikut baginda yang masih setia, dijebloskan ke pen- jara bawah tanah.
"Kami benar-benar menyesali diri sendiri, kare- na tak berdaya. Kami tak dapat berbuat apa-apa," ujar Panglima Rawa Sekti dengan air mata berlinang. "Na- mun begitu, secara diam-diam, kami selalu berusaha memberi makanan pada baginda. Setiap hari kami berharap, semoga datang Dewa Penolong yang akan membebaskan Baginda Jawangga. Sampai akhirnya, kami menemukan Kanjeng Pangeran."
"Kalau sekiranya kami salah, kami siap untuk menerima hukuman, Kanjeng Pangeran," sambung Resi Wisangkara dengan kepala menunduk.
Pangeran Prapanca terdiam mendengar ucapan mereka. Hatinya terenyuh sekali, jika mengingat nasib ayahanda dan ibundanya yang mungkin menderita. Dirinya sama sekali tak menyangka, kalau pamannya sampai hati melakukan kekejian itu. Padahal ayahandanya, sangat sayang pada sang Adik, Awangga. Na- mun balasan dari Awangga justru sebaliknya.
"Bedebah! Aku tak menyangka kalau pamanku akan berbuat keji begitu!" dengus Pangeran Prapanca sambil menggenggam tangannya kuat-kuat.
"Tapi, kami rasa otak dari semuanya tiada lain Panglima Utama Giri Gantra, Kanjeng Pangeran," tukas Ki Rawa Sekti.
"Dari mana Paman tahu?" "Sesungguhnya, Panglima Utama Giri Gantra yang mempunyai ambisi menjadi raja. Dia akan terus mempengaruhi Baginda Awangga, sambil akhirnya baginda dapat dikendalikan. Memang di mata rakyat Ba- ginda Awangga yang menjadi raja. Namun sesungguhnya, semua roda pemerintahan ada di tangan Giri Gan- tra yang kemudian diangkat perdana menteri," tutur Rawa Sekti. "Hal itu bisa kita ketahui, dari cara-cara melaksanakan roda pemerintahan. Semua menuruti apa yang dikatakan Perdana Menteri Giri Gantra. Hm..., tentu saja hamba banyak tahu keadaan istana, Kanjeng Pangeran."
Pangeran Prapanca mengangguk-anggukkan kepala. Tadi mungkin dirinya lupa kalau Rawa Sekti merupakan seorang Panglima Utama di Kerajaan Surya Langit
"Hm, gumam Pangeran Prapanca. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Kalau aku tak memenuhi undangan baginda, bukankah akan dikatakan penge- cut?" tanya Pangeran Prapanca meminta pendapat dari teman-temannya.
"Jadi Kanjeng Pangeran tetap akan memenuhi undangan Baginda Raja Awangga...?" tanya Resi Wisangkara dengan tatapan mata cemas, karena sudah menduga kalau semua ini sebenarnya sudah diatur.
"Tentunya semuanya sudah diatur oleh Perda- na Menteri licik itu, Pangeran. Hamba tahu kelicikan Giri Gantra jauh sebelum terjadi pemberontakan."
"Aku pun mengerti, Paman Resi. Mereka boleh saja melakukan kelicikan. Namun kita tak boleh mundur hanya karena kelicikan mereka!" kata Pangeran Prapanca. Nadanya sangat yakin kalau dirinya akan dapat menghadapi kelicikan yang akan dilakukan Per- dana Menteri Giri Gantra dan Baginda Awangga.
"Tapi, Kanjeng Pangeran," Panglima Rawa Sekti kembali angkat bicara. Wajahnya masih menggambarkan kebimbangan dan rasa cemas, takut kalau-kalau Pangeran Prapanca akan mengalami hal yang tidak diinginkan.
"Tapi apa, Paman?" tanya Pangeran Prapanca. "Hamba mohon, Kanjeng Pangeran sudi mem- pertimbangkannya lagi, agar tidak menyesal di kemu- dian hari. Karena mereka benar-benar bukan manusia lagi," tutur Panglima Rawa Sekti mengingatkan.
"Bagaimana kalau kita datang ke sana bareng?" "Apakah nanti tak akan mengundang kesalah- pahaman?" tanya Pangeran Prapanca, "Lebih baik, biar aku, Pranala, Sena dan Mei Lie yang berangkat. Kalau sampai terjadi sesuatu terhadap kami, aku mohon Pa- man dan lainnya mengumpulkan bala bantuan. Semua kuserahkan pada Paman."
"Kalau memang itu keputusan Kanjeng Pange- ran, hamba tak bisa menentang," kata Rawa Sekti seraya membungkuk hormat
"Besok, kami akan berangkat. Jika dalam dua hari kami tak pulang, kuserahkan pada Paman untuk menentukan tindakan," ujar Pangeran Prapanca me- mutuskan. Semua tak ada yang membantah. Semua kini patuh dengan apa yang menjadi keputusan Pange- ran Prapanca.
***

4
Jago-jago dari dua kerajaan yang diundang oleh Perdana Menteri Giri Gantra berdatangan ke Kerajaan Surya Langit. Nampaknya Perdana Menteri Giri Gan- tra, hendak melaksanakan apa yang telah direncanakan, yaitu menyingkirkan Pangeran Prapanca dan para pengikutnya.
Jago-jago persilatan yang berasal dari Kerajaan Tirta Buana dan Banyu Bumi kebanyakan tokoh-tokoh golongan hitam. Di antara mereka tampak Sepasang Toya Setan, si Mata Tunggal, Kala Prana, Jembel Pila- rang, Jenggot Naga, Kati Asem, dan Hiwa Krana. Dela- pan tokoh aliran hitam ini memiliki ilmu dan kedig- dayaan tinggi. Tak mengherankan kalau nama mereka sudah sangat dikenal dan disegani di kerajaan masing- masing. Kedelapan tokoh aliran hitam ini, bersama to- koh-tokoh hitam lainnya nampak tengah berkumpul di alun-alun kerajaan. Mereka menunggu Perdana Mente- ri Giri Gantra yang akan memberikan pen jelasan ten- tang apa yang akan mereka lakukan.
Dari dalam istana, muncul Baginda Raja Awangga dan Perdana Menteri Giri Gantra, diiringi pa-ra punggawa dan prajurit kerajaan. Di bibir Perdana Menteri Giri Gantra, tersungging sebuah senyuman. Nampaknya sang Perdana Menteri merasa yakin, kalau yang dia rencanakan akan berhasil.
"Dengan tokoh-tokoh hitam ini, tak akan mungkin Pangeran Prapanca dan teman-temannya da- pat lolos," ujar Perdana Menteri Giri Gantra pada Ba- ginda Raja Awangga.
"Apa kau yakin?" "Hamba yakin, Baginda." "Apa kau telah menguji mereka." "Belum," jawab Perdana Menteri Giri Gantra dengan bibir masih mengurai senyum. "Tetapi, mereka merupakan tokoh-tokoh yang namanya cukup kon- dang. Selama ini, mereka berpengaruh di kerajaan me- reka masing-masing."
"Hm," gumam Baginda Raja Awangga turut ter- senyum. Tangan kanannya membelai-belai jenggot yang panjang putih. Matanya memperhatikan dari ke- jauhan para tokoh hitam persilatan yang sudah me- nunggu kedatangannya.
Baginda Raja Awangga dengan diiringi perdana menteri, terus melangkah ke alun-alun. Kemudian Baginda Raja Awangga naik ke panggung yang sudah dis- iapkan, diikuti Perdana Menteri Giri Gantra.
Semua tokoh aliran hitam yang ada di alun- alun, seketika melakukan sembah. Mereka sujud di hadapan Baginda Raja Awangga yang telah berdiri di atas mimbar.
"Perdana Menteri, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Baginda Raja Awangga kepada Perdana Menteri Giri Gantra yang berdiri di sampingnya.
"Mereka akan kita tugaskan pada tempat- tempat yang telah ku atur. Sebagian dari mereka, akan kita adu dengan Pangeran Prapanca dan teman- temannya. Kalau mereka ternyata mengalami kekala- han, maka kita akan menangkap Pangeran Prapanca dan teman-temannya," tutur Perdana Menteri Giri Gantra menjelaskan rencananya. "Bukankah dengan begitu, kita akan mudah menangkap mereka. Kita tak perlu menguras tenaga. Ha ha ha...!"
Sang Raja turut tertawa mendengar penuturan perdana menterinya. Kepalanya mengangguk-angguk, menandakan setuju dengan rencana yang akan dilakukan Perdana Menteri Giri Gantra.
Baginda Raja Awangga nampak masih memandangi semua tokoh persilatan di hadapannya. Mereka masih tetap berdiri tenang menunggu apa yang hendak disampaikan oleh raja. Baginda Raja Awangga terse- nyum senang menyaksikan semuanya. Hatinya benar- benar merasa senang atas usaha perdana menterinya. Bagaimanapun dirinya tak menghendaki kedudukan- nya sebagai pemimpin Kerajaan Surya Langit tergu- lingkan. "Apakah kalian sudah mengerti apa yang akan kalian lakukan?" tanya Baginda Raja Awangga.
"Belum, Baginda...!" sahut beberapa tokoh. Se- dang lainnya hanya menggeleng-geleng kepala.
"Hm," gumam Baginda Raja Awangga. Matanya masih memandang ke sekelilingnya. Sementara itu pa- ra tokoh persilatan undangan itu menanti perintah yang harus mereka lakukan. "Baiklah..., dengar baik- baik! Kalian semua kuundang, semata-mata untuk menjalankan tugas yang berat. Kalian harus bisa me- lakukannya."
"Baginda...! Kalau hamba boleh tahu, tugas apa yang harus kami lakukan?" tanya salah seorang tokoh persilatan yang berdiri di depan.
Baginda Raja Awangga tak segera menjawab. Sesaat penguasa Kerajaan Surya Langit itu terdiam lalu menolehkan wajah pada Perdana Menteri Giri Gan- tra. Ketika perdana menteri itu mengaggukkan kepala, Baginda Raja Awangga kembali berkata. "Kalian kutu- gaskan untuk menangkap seseorang yang nanti akan datang ke istana ini."
"Siapa orangnya, Paduka?" tanya yang lain, karena belum tahu yang dimaksud sang Raja.
"Pangeran Prapanca dan teman-temannya. Di antara mereka, terdapat seorang pemuda bertingkah laku seperti orang gila yang sering disebut sebagai Pendekar Gila. Juga seorang gadis Cina yang dikenal dengan julukan Bidadari Pencabut Nyawa," tutur Baginda Raja Awangga.
Semua mata membeliak, setelah tahu siapa yang harus dihadapi. Nama Pendekar Gila dan Bidadari Pencabut Nyawa, bukanlah nama yang asing bagi mereka. Keduanya telah mereka dengar sejak lama. Tokoh muda di rimba persilatan. Namun kemampuan pemuda gila itu cukup membuat siapa saja harus berpikir seribu kali untuk melawannya. Meskipun di antara para tokoh yang diundang Raja Awangga belum pernah berhadapan secara langsung dengan tokoh yang telah menggemparkan rimba persilatan itu.
"Bagaimana? Apakah kalian siap?" tanya Baginda Raja Awangga.
Namun nampaknya tak satu pun di antara to- koh itu yang berani menjawab. Semua diam. Kebisuan saat itu membuat Baginda Raja Awangga mengerutkan kening dan kembali bertanya.
"Bagaimana? Apakah kalian sanggup mengha- dapi mereka?!"
"Hei, mengapa kalian diam?!" Kali ini Perdana Menteri Giri Gantra yang bertanya dengan suara keras. Tokoh kedua dalam kera- jaan itu tampaknya tak sabar menyaksikan mereka yang hanya membisu. Rencananya harus segera dilak- sanakan.
"Kalau kalian tak sanggup, katakan terus te- rang! Biar urusannya cepat beres!"
"Sanggup, Tuan Perdana Menteri...!" sahut se- mua tokoh persilatan serentak. "Kami sanggup...!"
"Bagus kalau begitu! Sekarang kalian boleh bu- bar untuk bersiap siaga di tempat yang telah kutentu- kan!" perintah Perdana Menteri Giri Gantra Pada para tokoh persilatan. Mereka pun langsung bubar untuk bersiap-siap di tempat yang telah ditentukan Perdana Menteri Giri Gantra.
***

Mentari semakin condong ke sebelah barat. Su- asana di Kerajaan Surya Langit masih terasa panas. Sementara angin bertiup kencang, seakan-akan hen- dak menyapu orang-orang yang kini mengelilingi tempat pertemuan. Yang sekaligus sebagai arena perta- rungan. Wajah-wajah mereka nampak tegang, menantikan Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya. Bagin- da Raja Awangga dan Perdana Menteri Giri Gantra pun tak luput dari perasaan cemas dan tegang.
"Apakah kau pasti, kalau mereka akan meme- nuhi undanganku?" tanya Baginda Raja Awangga pada Perdana Menteri Giri Gantra.
Perdana menteri itu tak langsung menjawab. Dihelanya napas panjang, lalu mencoba tersenyum meskipun tampak kaku karena dipaksakan dan ber- campur tegang.
"Sabar Baginda Raja! Mereka pasti datang, hamba merasakan itu..."
"Hm...! Semoga perasaanmu itu benar!" gumam
Baginda Raja Awangga sambil memegangi dagunya.
Kemudian suasana kembali hening, tegang. Ma- ta semua orang yang ada di situ memandang ke pintu gerbang istana. Pintu ruangan pertemuan pun terbuka lebar. Ruang pertemuan besar itu terletak di tengah- tengah istana kerajaan.
Kedelapan tokoh aliran hitam, Sepasang Toya Setan, si Mata Tunggal, Jembel Pilarang, Kala Prana, Jenggot Naga dan Kati Asem, serta Hiwa Krana pun nampak tegang dan cemas. Perasaan cemas dan te- gang itu tentu tak begitu saja dapat dihilangkan, karena mereka semua mendengar langsung dari Baginda Raja Awangga, bahwa Pendekar Gila dan kekasihnya, Bidadari Pencabut Nyawa turut datang dalam acara pertemuan penting itu. Ya, pertemuan yang akan dihadiri pewaris utama atas Kerajaan Surya Langit, Pan- geran Prapanca.
Sementara itu Pangeran Prapanca, Pranala, Pendekar Gila, dan Mei Lie dalam perjalanan menuju Istana Kerajaan Surya Langit. Mereka melalui hutan dan bukit cadas.
Pangeran Prapanca dan Pranala berjalan di de- pan, sedangkan Pendekar Gila berada di belakang me- reka. Semua meningkatkan kewaspadaan. Hanya Pen- dekar Gila sendiri yang bersikap tenang, bahkan tam- pak cengengesan, serta menggaruk-garuk kepala. Mei Lie menghela napas panjang dan menggelengkan kepa- la, melihat kekasihnya itu.
Angin berhembus kencang menyapu wajah me- reka. Namun keempatnya terus melangkah dengan mantap, menuruni dan menaiki perbukitan.
"Hi hi hi...!" Tiba-tiba Pendekar Gila tertawa cekikikan sen- diri. Hal itu membuat Pangeran Prapanca, Pranala, dan juga Mei Lie merasa heran. Ketiganya mengerutkan kening.
"Ada apa Sena...?" tanya Pangeran Prapanca, setelah menghentikan langkah. Keningnya berkerut memandangi Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Rupanya kita akan bermain-main sebentar, Pangeran," jawab Sena sambil menggaruk- garuk kepala.
"Apa maksudmu?" tanya Pangeran Prapanca, tak mengerti.
Belum sempat Pendekar Gila menjawab, tiba- tiba muncul tiga orang bertopeng hitam. Pakaian me- reka pun serba hitam dengan lengan panjang dan ikat pinggang putih. Salah satu dari ketiga orang bertopeng itu memakai ikat kepala belang-belang kuning hitam, dengan rambut yang panjang sebatas bahu dibiarkan lepas. Sedangkan dua lainnya tanpa ikat kepala. Ram- butnya tertutup.
"Aha..., ternyata dugaanku tak salah, Pange- ran," ucap Sena dengan cengengesan dan menggaruk- garuk kepala. Mei Lie segera maju dengan tangan siap mencabut pedang. Demikian pula Pranala, Pangeran Prapanca. Hanya Pendekar Gila yang nampak tenang dan terus tertawa sambil menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya seperti orang gila.
"Kisanak! Apa maksudmu menghadang ka- mi...?" tegur Pangeran Prapanca pada ketiga orang ber- topeng itu.
Orang yang berikat kepala kuning hitam tam- pak berkacak pinggang dengan angkuh. Matanya yang tampak dari dua lubang, menatap tajam.
"Kalau ingin selamat, sebaiknya urungkan niat kalian meneruskan perjalanan...!" ujar orang bertopeng, dan berambut panjang sebahu itu dengan suara ramah. Pangeran Prapanca mengerutkan kening, tak mengerti maksud ucapan lelaki bertopeng itu. Wajah- nya menoleh ke Pendekar Gila, seakan meminta Pen- dekar Gila agar menjawabnya.
Pendekar Gila hanya cengengesan dan mengga- ruk-garuk kepala. Lalu tertawa-tawa sendiri.
"Hi hi hi..! Lucu! Kenapa kalian bicara seenak- nya, menyuruh kami mengurungkan perjalanan ini? Aneh sekali!"
"Ya! Jangan seenaknya bicara! Sebaiknya ka- lian menyingkir, sebelum aku marah!" sambung Prana- la dengan nada marah sambil melangkah maju. Na- mun Pangeran Prapanca menahan dengan tangan ki- rinya.
"Sabar, Pranala!" cegah Pangeran Prapanca. "Kisanak, kami tak ingin bertengkar dengan kalian. Namun kami harus segera meneruskan perjalanan. Karena waktu sudah mendesak..."
"Hm..., Pangeran rupanya tak mengerti. Juga Pendekar Gila, yang biasanya memiliki naluri tajam. Kenapa seakan-akan tak berguna? Bagaimanapun ju- ga, aku harus dapat mendesak mereka. Paling tidak menghambat perjalanan mereka," gumam orang berto- peng yang berikat kepala seperti ular weling itu. Nam- paknya orang ini pimpinan dari kedua temannya. Tan- pa menjawab lagi, orang itu mengangkat tangan kanan memberi perintah kedua temannya agar menyerang.
Maka terjadilah pertarungan. Tanpa mengeta- hui masalahnya, Pangeran Prapanca dan kawan- kawannya terpaksa menghadapi ketiga penghadang bertopeng hitam itu.
"Heaaa...!" "Yeaaat..!" Mereka saling serang dan tangkis. Tampaknya pihak Pangeran Prapanca tak ingin hambatan ini terlalu lama. Semua, termasuk Pendekar Gila segera mengeluarkan kepandaian mereka.
Namun baru beberapa jurus, tiba-tiba.... "Pangeran...! Sebaiknya biar saya yang meng- hadapi mereka bersama Mei Lie...!" seru Sena sambil memerintah Pangeran Prapanca agar mundur. "Kau juga Pranala. Mundur...!" "Heaaa...!" Pendekar Gila dan Mei Lie segera menghadang ketiga orang bertopeng itu. Mei Lie menghadapi dua orang tanpa kewalahan. Gerakan tubuhnya sangat lin- cah mengelak dan menyerang masih dengan tangan kosong. Merasa kewalahan, kedua orang bertopeng itu segera melakukan serangan secara serentak terhadap Mei Lie. "Heaaa...!"
"Yeaaah...!" "Hup!" Teriakan-teriakan keras seketika terdengar, memecah keheningan siang menjelang senja di daerah perbukitan itu.
Degk! "Ukh...!" "Aaakh...!" Dua pukulan beruntun Mel Lie mendarat di tengkuk dan dada lawan. Ketika kedua orang berto- peng itu menyerang, rupanya Mei Lie sudah me- nyiapkan jurus ampuhnya. Mei Lie melenting ke udara sambil bersalto. Dan sebelum mendarat gadis itu me- lancarkan pukulan ke tengkuk dan dada lawan- lawannya.
Kedua orang bertopeng yang dihadapi Mei Lie terhuyung dan jatuh terguling. Mei Lie tersenyum mengejek menyaksikan kedua lawannya yang terguling kesakitan.
Sejurus kemudian, kedua lelaki bertopeng itu bangkit berdiri. Keduanya lalu membuat gerakan ju- rus-jurus andalan. Mereka bersama-sama mengangkat kedua tangan ke atas kepala sambil mengepal. Kemu- dian dilanjutkan dengan merentang lalu menjulurkan yang kanan ke depan. Dengan jemari membentuk ca- kar, mereka mengeluarkan jurus 'Cakar Harimau'.
Sementara itu Mei Lie tampak tersenyum me- nyaksikan gerakan kedua lawannya. Namun dia tetap tak menganggap remeh. Dengan tenang segera mem- persiapkan diri untuk memapaki serangan lawan.
"Heaaa...!" "Yeaaat..!" Kedua lelaki bertopeng hitam itu melesat mela- kukan serangan.
"Hiaaat..!" Dengan cepat Mei Lie pun melompat memapaki serangan itu.
Plak! Plak! Tangan-tangan mereka beradu dan saling pu- kul di udara. Kemudian sama-sama mendarat. Namun kedua lawan Mei Lie dengan gerakan cepat bersama- sama melompat memburu Mei Lie bagai gerakan hari- mau menerkam mangsa.
Melihat itu dengan cepat Mei Lie berguling ke depan menjauhi serangan lawan, sambil mencabut pedang saktinya. Kemudian dengan cepat pula Mei Lie membabatkan pedangnya ke tubuh kedua lawan.
"Hiaaa...!" Srat! Tampaknya kedua lelaki bertopeng itu menge- tahui kalau Mei Lie mencabut pedang saktinya. Den- gan cepat keduanya bergerak menjauhi Mei Lie.
"Gawat...! Pedang Bidadari!" gumam salah seo- rang lawannya.
Sementara itu, Pendekar Gila pun tak mau ka- lah. Lawan yang dihadapi tampaknya memiliki ilmu lebih tinggi dibandingkan kedua kawannya. Namun Pen- dekar Gila nampak ringan menghadapi lawannya. Ge- rakannya kelihatan lamban, tapi ternyata begitu cepat hingga membuat lelaki berambut panjang sebahu itu tampak kewalahan.
Tampaknya lelaki berkedok kain hitam itu tidak bersungguh-sungguh dalam menghadapi Pendekar Gi- la. Hal itu dapat dirasakan oleh Pendekar Gila sendiri. Sebab ketika Pendekar Gila sengaja membuka pertahanannya, lelaki berambut panjang itu tak segera me- nyerang. Bahkan menarik pukulannya yang sudah me- lesat.
"Aha, aneh kenapa serangannya tidak dilan- jutkan?!" tanya Sena dalam hati sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Pendekar Gila mencoba melancarkan serangan dengan jurus-jurusnya, bermaksud agar lawan mela- deni dengan sungguh-sungguh. Namun tetap saja lelaki berpakaian serba hitam itu hanya menangkis dan membalas dengan serangan yang tak berarti.
"Huh! Benar-benar aneh orang ini. Apa mak- sudnya...?!" gumam Sena keheranan dan merasa agak kesal.
Lelaki bertopeng dan berambut panjang dengan ikat kepala kuning itu mulai melakukan serangan. Pendekar Gila merasa senang mendapat perlawanan itu. Maka dengan gesit dan tenang, Pendekar Gila mengelak dan secara perlahan balik menyerang.
Pertarungan sudah menginjak jurus kesepuluh. Namun masih tampak seimbang. Kalau saja Pendekar Gila menghadapi dengan sungguh-sungguh, sudah se- jak tadi lawan akan dapat ditaklukkan. Namun Pende- kar Gila merasakan, bahwa lelaki bertopeng itu tidak mau saling menciderai, atau bentrok. Itu terlihat dari cara lawannya melancarkan serangan.
Dan akhirnya kecemasan dan dugaan Pendekar Gila terbukti, ketika lawan semakin terdesak. Pendekar Gila yang sudah tak sabar mengeluarkan Suling Naga Sakti. Sementara Mei Lie mulai mempermainkan pe- dang saktinya. Ketiga orang bertopeng itu kabur, tak melanjutkan pertarungan dengan Pendekar Gila dan Mei Lie. "Hah...?!"
Pendekar Gila mengerutkan kening, demikian juga Mei Lie ketika melihat ketiga lelaki bertopeng hitam itu lari, lalu menghilang dengan cepat
"Aneh! Lucu...! Hi hi hi...!" gumam Pendekar Gi- la sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
"Siapa sebenarnya mereka itu, Kakang?" tanya Mei Lie pada Sena.
Pendekar Gila hanya menggelengkan kepala. Mulutnya cengengesan sambil terus tertawa-tawa geli sendiri. Lalu tangannya menggaruk-garuk kepala.
Pangeran Prapanca dan Pranala mendekati Pendekar Gila dan Mei Lie. Mereka pun belum mengerti siapa ketiga orang bertopeng hitam itu.
"Apa kau tahu, Sena, siapa mereka sebenar- nya? Lawan ataukah kawan...?!" tanya Pangeran Pra- panca setelah berada di dekat Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Ah ah ah! Aku belum tahu, Pangeran. Tapi ba- giku, tindakan mereka memang terasa aneh," jawab Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sepertinya mereka bermaksud baik, Pange- ran...," sambung Mei Lie kemudian.
Pangeran Prapanca manggut-manggut, sambil memegangi dagunya. Keningnya berkerut tajam, seperti tengah berpikir keras. Siapa ketiga orang bertopeng hitam itu.
"Kita harus tetap waspada, Pangeran. Kita se- mua tahu bahwa tempat ini termasuk wilayah Kera- jaan Surya Langit. Mungkin ketiga orang tadi suruhan perdana menteri penjilat itu...!" ujar Pranala dengan nada dingin.
"Mungkin juga," sahut Pangeran Prapanca pe- lan, lalu menarik napas panjang. "Bagaimana dengan pendapatmu, Sena?"
Sena tak langsung menjawab. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Matanya melirik ke wajah Mei Lie.
"Aha! Perasaanku mengatakan kalau mereka tak bermaksud menculik atau melukai Pangeran. Tapi betul juga kita harus tetap waspada."
Pangeran Prapanca manggut-manggut tanda mengerti. Kembali napasnya ditarik panjang-panjang. "Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan! Aku yakin Ba- ginda Raja Awangga telah menunggu kita."
Mereka lalu segera bergerak bersama, melan- jutkan langkah kaki menuju Kerajaan Surya Langit.
***

Sesampainya di Kerajaan Surya Langit Pange- ran Prapanca dan kawan-kawannya disambut dengan ramah oleh Baginda Raja Awangga. Namun Pendekar Gila dan Mei Lie merasakan suasana yang tidak wajar. Begitu pula dengan Pranala yang lak tersenyum sedikit pun.
"Silakan, silakan...! Duduklah di tempat yang telah kami sediakan, mari...!"
Baginda Raja Awangga dengan ramah memper- silakan mereka. Para undangan lain nampak seperti biasa. Memberikan salam pada Pangeran Prapanca penuh hormat. Sedangkan Pendekar Gila terus cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Dia tak peduli sedang berhadapan dengan siapa. Kebiasaan tingkah lakunya yang konyol bagaikan tak bisa dicegah.
Perdana Menteri Giri Gantra yang licik dan pen- jilat itu pun bersikap ramah sekali. Namun Pranala tak menggubris, bahkan matanya membelalak tajam, keti- ka Perdana Menteri Giri Gantra menyilakan duduk
Baginda Raja Awangga bicara panjang lebar dengan Pangeran Prapanca. Dia meminta maaf atas tindakan Perdana Menteri Giri Gantra. Kemudian mengharap Pangeran Prapanca dapat melupakan se- mua peristiwa yang sudah berlalu. Apapun keinginan sang Putra Mahkota itu akan dipenuhi, asal bersedia menerima syarat Baginda Raja Awangga.
"Apa syarat yang ingin Baginda katakan pada kami?" tanya Pangeran Prapanca dengan kening berkerut.
"Hm..., tak sulit," jawab Baginda Raja Awangga. Lalu dia berbisik pada Perdana Menteri Giri Gantra. "Begini. Kalau kalian sanggup mengalahkan jago-jago silat yang telah bergabung denganku, kalian boleh am- bil alih takhta kerajaan ini...! Bagaimana, setuju?!"
Perdana Menteri Giri Gantra dan lainnya terta- wa-tawa mengejek. Pranala sudah nampak tak sabar. Dengan geram pedangnya dicabut. Namun Pangeran Prapanca cepat menahannya.
"Sabar, Pranala! Kita harus hadapi dengan hari sabar dan kepala dingin...."
Sementara itu Pendekar Gila dan Mei Lie yang mendengar ucapan Baginda Raja Awangga agak kaget. Namun keduanya tampak tenang. Pendekar Gila tam- pak hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya yang seperti orang gila, membuat para un- dangan merasa heran.
"Bagaimana menurutmu, Sena?" tanya Pangeran Prapanca seraya menoleh ke wajah Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Lucu, lucu sekali! Tapi kita harus hadapi dan terima keinginan mereka. Kita bukan orang-orang pengecut, Pangeran...," jawab Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan terus cengengesan.
"Bagaimana...?" kembali Baginda Raja Awangga bertanya.
"Kami dengan senang hati menerima syarat itu...!" jawab Pangeran Prapanca dengan tekad yang mantap. "Ha ha ha...! Bagus, bagus! Itu memang jawa- ban yang kutunggu-tunggu. Perdana Menteri Giri Gan- tra...!" seru Baginda Raja Awangga.
"Ya, Baginda,..," jawab Perdana Menteri Giri Gantra sambil menjura.
"Segera siapkan dan laksanakan pertarun- gan...!" "Baik, Baginda!"
Perdana Menteri Giri Gantra lalu berdiri. Den- gan pongahnya, dia memerintahkan para tokoh persi- latan aliran hitam yang sudah diatur olehnya.
"Hai...! Kalian para tokoh yang kuundang! Ma- julah ke depan, dan laksanakan perintahku! Sesuai dengan rencana kita...! Ha ha ha...!"
Maka satu persatu para tokoh yang telah ditun- juk, muncul. Mereka bergerak maju ke arena yang su- dah disediakan. Mereka tak lain, si Mata Tunggal, Se- pasang Toya Setan, Kala Prana, Jembel Pilarang, Jeng- got Naga, Kati Asem dan Hiwa Krana.
Pendekar Gila yang melihat kedelapan tokoh persilatan aliran hitam itu, hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Rupanya mereka sudah merencanakan, Ka- kang. Kita harus waspada," kata Mei Lie pada kekasihnya. "Akan kuhabisi orang-orang penjilat itu!"
"Aha, Pangeran. Rupanya mereka sudah me- rencanakan semua ini. Lucu! Dan aku sudah duga, ka- lau mereka minta bantuan kunyuk-kunyuk itu...," ujar Pendekar Gila sambil menunjuk kedelapan tokoh ali- ran hitam yang berada di tempat itu. "Pranala, Mei Lie! Ayo kita sambut kunyuk-kunyuk ini! Hi hi hi...!"
Pendekar Gila melompat ke depan, disusul Mei Lie dan Pranala. Sedangkan Pangeran Prapanca masih sempat berdiam diri seperti tengah berpikir. Pendekar Gila berdekatan dengan Mei Lie, sedangkan Pranala berdekatan dengan Pangeran Prapanca.
"Hi hi hi...! Kita bagi dua...!" seru Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. "Mei Lie, kau bergabung dengan pangeran, biar Prana- la bersamaku!"
Dengan cepat Mei Lie bergeser ke dekat Pange- ran Prapanca. Setelah dekat, diberikannya isyarat agar Pranala bergabung bersama Pendekar Gila. Kini sudah terbagi dua kelompok. Pendekar Gila bersama Pranala, untuk menghadapi empat lawan tangguh. Mereka ter- diri dari si Mata Tunggal, Jenggot Naga, Jembel Pila- rang, dan Kala Prana. Sedangkan Mei Lie dan Pange- ran Prapanca menghadapi Sepasang Toya Setan, Kati Asem, Hiwa Krana.
"Hm...!" gumam Pangeran Prapanca sambil mengerutkan kening dan menoleh ke arah Mei Lie yang berada di samping kirinya. "Lawan kita bukan orang sembarangan, Mei Lie. Kita harus hati-hati!"
"Tenang, Pangeran! Aku sudah tak tahan ingin menghajar orang-orang penjilat ini!" sahut Mei Lie den- gan suara geram. Tangannya telah memegang Pedang Bidadari dan diarahkan lurus ke depan.
"Heaaa...!" "Hiaaat...!"
Pertarungan terjadi. Dengan pedangnya, Mei Lie bergerak cepat memapaki serangan Sepasang Toya Se- tan.
Trak! Trak...! "Heaaa...!" Wut! Wut..! Percikan api mencelat ketika Pedang Bidadari Mei Lie membentur Toya Setan. Tidak sampai di situ, Mei Lie terus merangsek lawannya. Dia tahu kalau ke- dua lawan terkejut, ketika Pedang Bidadari menebas dengan cepat bagai baling-baling, dalam jurus 'Tebasan Pedang Bidadari'.
"Hah,..?!" sentak Sepasang Toya Setan. Kedua- nya tampak mengerutkan kening. Lalu segera melan- carkan serangan berikutnya. Namun Mei Lie tiba-tiba melesat dan bersalto di udara, laksana seekor burung seriti yang lincah. Tangan kirinya bergerak melakukan pukulan dan tangkisan. Sedangkan tangan kanan me- nebaskan pedang sangat cepat, sampai bentuk senjata itu tak terlihat.
"Heaaat...!" Wut! Wut..! Pedang di tangan Mei Lie menebas tubuh kedua lawan yang ada di samping kiri dan kanannya. Untung Sepasang Toya Setan merupakan tokoh berilmu silat yang cukup tangguh. Kalau tidak pasti telah mati, dengan tubuh terbelah dua. Namun keduanya tak lu- put dari cidera. Lengan kiri dan kanan kedua tokoh bersenjata toya itu tergores pedang Mei Lie. Dari mulut mereka terdengar rintihan kesakitan ketika saling me- lompat menghindari Mei Lie.
Sementara itu Pangeran Prapanca dengan sigap menghadapi Kati Asem dan Hiwa Krana.
Pangeran Prapanca ternyata bukan orang sem- barangan. Dengan gesit dan cepat Pangeran Prapanca memapaki serangan lawannya. Baik Kati Asem mau- pun Hiwa Krana masih ingin mengandalkan kekuatan tenaga dalam. Terbukti kedua tokoh hitam itu tak mengeluarkan senjata apapun.
Pangeran Prapanca yang nampak sudah sangat marah, dengan jurus-jurus mautnya menyerang kedua lawan.
Wut! Wut..! Degk! Degk! "Ukh...!" Serangkum angin melesat dari tangan Pangeran Prapanca. Hal itu cukup membuat Kati Asem dan Hiwa Krana tersentak kaget. Keduanya melompat cepat sal- ing menghindar untuk menyelamatkan diri.
"Hm!.., ternyata pangeran ini memiliki ilmu yang lumayan. Hati-hati, Kawan!" ujar Kati Asem pada Hiwa Krana.
"Hm...!" Hiwa Krana hanya mendengus pelan. Kati Asem serta Hiwa Krana kembali menyerbu Pangeran Prapanca. Menghadapi satu saja keduanya sudah merasa keteter. Apalagi kalau menghadapi dua lawan sekaligus. Terpaksa mereka harus bertindak ce- pat dan hati-hati. Sekali salah gerakan atau langkah, tak ampun lagi. Serangan putra mahkota itu ternyata sangat berbahaya!
Sambil berkelebat mengelak, Pangeran Prapan- ca berteriak agar Kati Asem dan Hiwa Krana menghen- tikan perlawanan. Namun dua orang tokoh aliran hi- tam itu tak mau berhenti begitu saja. Apalagi Baginda Raja Awangga menjanjikan kedudukan terhormat di Kerajaan Surya Langit. Tanpa ragu-ragu mereka berte- kad mempertaruhkan nyawa.
Keduanya makin memperhebat serangan masing-masing. Namun, tampaknya baik Kati Asem maupun Hiwa Krana semakin terdorong oleh perasaan marah dan nafsu membunuh. Sehingga kurang menyadari kalau hal itu justru mengurangi kewaspadaan.
Dua kali pukulan keras Pangeran Prapanca bersarang di tubuh Kati Asem dan Hiwa Krana. Dis- usul satu jotosan Pangeran Prapanca menghantam ru- suk Kati Asem. Dan satu tendangan keras juga meng- hantam rusuk Hiwa Krana.
"Hiaaa...!" Blak! Plak! "Aaakh...!" Kati Asem dan Hiwa Krana tampak terhuyung- huyung. Mulut keduanya meringis kesakitan. Salah satu pukulan Pangeran Prapanca telah membuat tu- buh mereka terluka dalam.
Di lain tempat, Pendekar Gila bersama Pranala tampak tak mendapatkan kesulitan untuk menghadapi keempat lawannya. Pendekar Gila bagai menari dan seakan tak bersungguh-sungguh menghadapi lawan- lawannya. Si Mata Tunggal dan Jenggot Naga tambah geram dan marah. Padahal sebenarnya sebelum ber- tanding mereka mempunyai perasaan ragu dan segan menghadapi Pendekar Gila. Karena sudah lama mere- ka tahu kalau pendekar muda itu sangat disegani baik oleh tokoh hitam maupun putih.
"Aha, kalian rupanya hanya besar mulut dan bertampang seram! Tapi, tak punya nyali! Ayo maju...!" ejek Pendekar Gila sambil cengengesan dan mengga- ruk-garuk kepala. Meskipun dalam keadaan bertarung, pemuda berpakaian rompi kulit ular itu masih saja sempat bertingkah laku konyol, seperti orang gila. "Hhh...!" Jenggot Naga memutar tangan kiri ke belakang, lalu menyentakkan ke depan. Sedang tangan kanan- nya ditarik ke belakang, kemudian diputar dengan jari- jari terbuka. Setelah itu dihentakkan lurus ke depan.
Gerakan itu merupakan pembuka dari jurus 'Sampar Naga'.
Menyaksikan lawan telah membuka jurus an- dalan, Pendekar Gila justru tersenyum sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Bersiaplah, Pendekar Gila!" dengus Jenggot Naga yang semakin sewot menyaksikan tingkah konyol Sena. Hatinya kian marah dan geram menghadapi la- wan yang ternyata mempunyai gerakan lamban dan lemah, bagaikan tak bertenaga.
"Sejak tadi aku sudah siap...!" jawab Sena te- nang.
Si Mata Tunggal pun tak tinggal diam, segera membuka jurus mautnya yang dinamakan 'Mata Ma- laikat Pencabut Nyawa'. Dari mata dan telapak tan- gannya mulai mengeluarkan asap merah. Sementara itu, Pendekar Gila yang menyaksikan ilmu si Mata Tunggal hanya tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala. "Hi hi hi...! Ternyata ilmu kalian cukup aneh dan hebat! Hi hi hi...!" ujar Pendekar Gila dengan nada mengejek. "Ayo..., akan kulayani kalian dengan senang hati!"
Semua tokoh hitam yang berada di dalam ruang pertempuran itu terbelalak. Mereka merasa ka- gum dan keheranan menyaksikan tingkah laku Pende- kar Gila yang konyol. Pemuda tampan berambut gon- drong dan berpakaian rompi kulit ular itu seakan tak merasa takut sama sekali. Padahal lawan-lawannya kali ini sudah sangat dikenal sebagai tokoh berilmu tinggi. Namun bagi yang tahu, tingkah laku konyol itu merupakan pembuka jurus ‘Si Gila Menari Menepuk Lalat’. Jurus aneh yang sering membuat lawan terke- sima, heran, bahkan terkejut.
Orang-orang yang menyaksikan ulah Sena merasa yakin dan berpikiran kalau Pendekar Gila akan dapat ditaklukkan kedua lawannya.
Tubuh Pendekar Gila tampak mulai menyurut dua langkah ke belakang. Sambil tertawa-tawa, tu- buhnya meliuk-liuk seperti menari. Kedua tangannya bergerak lemah gemulai. "Heaaa...!" Jenggot Naga memekik keras untuk membuka serangan, mendahului si Mata Tunggal yang masih berjaga-jaga. Tubuhnya melesat ke depan, memburu tubuh Pendekar Gila. Tangan kanannya membentuk siku dengan kepalan ke atas. Sedangkan tangan kiri diputar, lalu dihentakkan menghantam dada lawan.
Melihat lawan melakukan serangan, dengan ce- pat Pendekar Gila menggerakkan tubuhnya. Tangan kanannya diangkat lurus ke atas dengan telapak saling berhadapan. Kaki kanan diangkat membentuk siku, lalu direntangkan ke kanan. Hal itu diikuti dengan gerakan membuka kedua telapak tangannya. Selanjutnya terlihat gerakan menari. Tangan kanan masih di atas, sedangkan tangan kiri lurus ke bawah. "Yeaaat...!"
Dengan menggunakan jurus pembuka 'Kera Gi- la Melempar Batu'. Gerakannya seperti seekor kera yang tengah melemparkan batu ke tubuh lawan. Dari gerakan itu, keluar serangkum angin yang mampu menahan gerak lawan.
"Yeaaat...!" "Heaaa...!" Jenggot Naga dan si Mata Tunggal kini sama- sama melesat untuk melakukan serangan. Tangan dan kaki mereka bergerak lincah, seirama dengan gerakan tubuh. Secara bergantian dan cepat tangan mereka melakukan serangan dan pertahanan. Sedangkan ke- dua kaki mereka saling menyapu ke kaki lawan.
"Heaaat...! Mampus kau, Pendekar Gila!
Yeaaa...!" Sambil membentak keras, Jenggot Naga mele- sat cepat melancarkan serangan. Tangan kanannya memukul ke dada Pendekar Gila. Sedangkan tangan kirinya membentuk pertahanan.
"Uts...! Hih!" Dengan cepat Pendekar Gila menarik kaki ka- nan lalu melangkah ke depan disusul dengan pukulan telapak tangan.
"Hah...?! Edan!" maki Jenggot Naga kaget. Sege- ra serangannya ditarik dengan cepat, sementara tan- gan kirinya memapak serangan lawan. Setelah itu, ka- kinya digerakkan menendang.
Pendekar Gila meliukkan tubuhnya ke bawah. Secepat kilat tangannya menyambar kaki lawan. Hal itu memaksa Jenggot Naga menarik serangan dengan cepat. Matanya semakin membelalak menyaksikan ju- rus Pendekar Gila yang semakin sempurna. Jurus itu membuat nyalinya makin kecil.
Melihat Jenggot Naga mulai kecut, si Mata Tunggal merangsek ke depan menyerang Pendekar Gila dengan geram. Pendekar Gila dengan tenang melom- pat, mengelak dari serangan lawan. Rupanya si Mata Tunggal melancarkan serangan dahsyatnya. Dari ma- tanya keluar sinar merah, bagai api, meluncur cepat ke tubuh lawan. Namun Pendekar Gila dengan cepat mengelak. Sehingga tanpa diduga, serangan sinar me- rah yang mengandung hawa panas itu melesat dan menerjang orang-orang yang duduk di pinggir arena pertempuran.
"Heaaa...!" Slats! Brets! "Aaakh...!" Para tokoh aliran hitam yang menyaksikan di pinggir arena pertarungan semua terkejut. Hampir tak percaya mereka menyaksikan kekuatan hawa panas yang keluar dari mata si Mata Tunggal yang mampu menewaskan beberapa orang dalam seketika. Bahkan tubuh mereka hangus bagai terbakar!
"Hi hi hi...! Boleh juga kunyuk ini!" ular Pende- kar Gila dengan nada mengejek sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Melihat serangannya gagal, si Mata Tunggal makin kesal dan penasaran. Kini dengan membabi bu- ta lelaki bertubuh besar dan bermata satu itu merang- sek Pendekar Gila.
"Heaaa...!" "Hi hi hi...!" Pendekar Gila cekikikan melihat kemarahan lawannya. Dengan meliuk-liuk bagai menari, pemuda berwajah tampan dan berompi kulit ular ini mengelak dari serangan ganas lawan. Kemudian dengan gerakan yang tampak lemah dan lamban, tiba-tiba tendangan keras Pendekar Gila mendarat di perut si Mata Tung- gal.
"Hih!" Bugk! "Aaakh...!" Si Mata Tunggal memekik keras. tubuhnya terjungkal keras ke tanah. Pendekar Gila dengan ting- kahnya yang konyol tertawa-tawa dan berjingkrakan bagai kera. Tangannya menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk pantat.
Para tokoh persilatan yang berada di ruang per- temuan besar itu terkagum-kagum. Dengan penuh keheranan mereka memperhatikan, seakan tak ingin me- lewatkan sedikit pun pertarungan itu. Mulut mereka ternganga dan sesekali berdecak kagum.
"Ck ck ck..!" "Benar-benar gila dan hebat pemuda itu!" Perdana Menteri Giri Gantra berbisik-bisik pada Baginda Raja Awangga yang nampak cemas dan tegang. Karena jago-jagonya ternyata hampir semuanya terpecundan- gi. Padahal kedelapan tokoh itu memiliki ilmu yang cukup tinggi.
"Sebaiknya kita lekas perintahkan prajurit dan jago lainnya untuk menangkap mereka, Baginda. Kalau tidak, gawat!" bisik Perdana Menteri Giri Gantra pada Baginda Raja Awangga.
Baginda menganggukkan kepala tanda setuju, sambil menyeka keringat di keningnya. Menahan ce- mas dan ketegangan dirinya. Sebab kalau Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya ternyata menang, tah- ta Kerajaan Surya Langit akan jatuh pada putra mah- kota itu. Pranala pun dengan tangan kosong terus menghadapi lawannya. Kaki tangannya memukul dan menendang lawan yang sudah terdesak. Jembel Pila- rang nampak terhuyung-huyung lalu jatuh tertelung- kup kena tendangan Pranala yang sangat keras. Se- dangkan Kala Prana yang sudah lebih dulu kena puku- lan 'Braja Sakti' milik Pranala muntah darah sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
Melihat tokoh-tokoh undangan itu mulai berja- tuhan, Perdana Menteri Giri Gantra segera memerin- tahkan para prajurit dan orang-orang andalannya un- tuk menangkap Pangeran Prapanca dan kawan- kawannya. Termasuk Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Hah...?! Apa-apaan ini!" Gumam Mei Lie gusar. Sambil melompat mendekati Pendekar Gila yang ten- gah menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. Seper- tinya tak peduli dengan keadaan saat itu.
"Kakang Sena, bertindaklah! Kalau tidak..."
Belum sempat Mei Lie meneruskan kata- katanya, tiba-tiba sebatang tombak meluncur ke tu- buhnya. Dengan cepat Mei Lie menyabetkan pedang- nya.
Wret! Trak! Tombak itu terhantam Pedang Bidadari dan berbalik meluncur ke pemiliknya.
"Aaakh...!" Tombak menancap ke tubuh pemiliknya yang saat itu langsung tewas!
Pertempuran masal terjadi. Pendekar Gila, Mei Lie, Pangeran Prapanca dan Pranala menghadapi pu- luhan prajurit kerajaan dan para tokoh silat yang san- gat tangguh. Pendekar Gila dan Mei Lie terpusat piki- rannya untuk menyelamatkan Pangeran Prapanca, hanya berusaha mengusir dan menghalangi orang- orang yang ingin menangkap putra mahkota itu. Hing- ga keduanya tak sempat melancarkan serangan balik yang mematikan. Pendekar Gila khawatir Pangeran Prapanca akan cedera.
Keadaan ini menyebabkan para prajurit kera- jaan berhasil mendesak Pangeran Prapanca dan kawan-kawannya. Pendekar Gila yang masih nampak cengengesan dan hanya sesekali berupaya melancarkan serangan mautnya, untuk menghalau para praju- rit dan tokoh persilatan. Lalu kembali membentengi Pangeran Prapanca.
Tiba-tiba melesat sesosok tubuh berambut pan- jang tak beraturan. Sosok ini merupakan tokoh hitam yang sangat menyeramkan. Matanya mencorong ba- gaikan mata setan. Namun wajahnya mirip orang hu- tan. Kuku-kukunya tajam dan runcing. Dialah Setan dari Rimba Merawan
Pendekar Gila tersentak dan cepat melenting ke udara, ketika dirasakan ada serangan dari belakang.
"Heaaa...!" Wuuut! Wuuut! "Hi hi hi...! Aha, rupanya ada tamu tak diun- dang membokongku. Hi hi hi..., lucu sekali!" ejek Pen- dekar Gila pada Setan dari Rimba Merawan. Makhluk berwajah seperti gorila itu marah.
"Grrr...!" "Kau kunyuk raksasa! Beraninya menyerang dari belakang. Ayo maju! Aku ingin main-main den- ganmu. Hi hi hi...!" Pendekar Gila kembali mengejek sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan.
"Grrr...! Grrr...!" Setan dari Rimba Merawan menggeram lalu menerjang Pendekar Gila. Dengan kuku-kukunya yang runcing dan beracun, makhluk aneh itu menyerang.
Wrets! Wrets! "Grrr...! Grrr...!" "Hi hi hi.... Hebat juga ilmu kunyuk raksasa ini," gumam Pendekar Gila sambil mengelak, dengan bersalto ke belakang. Kemudian secara tiba-tiba Pen- dekar Gila melancarkan serangan balik dengan jurus 'Kera Gila Melempar Batu'. Seketika melesat serang- kum angin yang mampu menahan gerak lawan.
Tubuh Setan dari Rimba Merawan bagai terdo- rong angin dahsyat. Lalu dengan gerakan cepat Pende- kar Gila menyambar makhluk berwajah gorila itu.
"Heaa...!" Wret! "Aaakh...! Grrr...! Uaaak..!" Bluk...! Setan dari Rimba Merawan mengerang kesaki- tan, ketika cengkeraman tangan Pendekar Gila menda- rat di kepalanya. Sementara sapuan kaki Pendekar Gi- la mampu menjatuhkan tubuhnya yang besar itu.
Namun Setan dari Rimba Merawan masih mampu melakukan perlawanan. Kedua tangannya yang besar dan kokoh serta berkuku tajam, menyam- bar bagian bawah tubuh Pendekar Gila.
"Grrr...! Heaaa...!" Wret! "Aits...! Heaaa!" Pendekar Gila melenting ke atas. Lalu bagai elang menyambar mangsa tubuhnya meliuk. Ketika mendarat dan masih dalam keadaan meliuk tangannya menyambar cepat kaki lawan. Hal itu memaksa Setan dari Rimba Merawan menarik serangan dengan cepat. Matanya semakin membelalak menyaksikan jurus Pendekar Gila yang semakin membahayakan.
"Edan! Pemuda gila ini benar-benar berilmu tinggi," gumam Setan dari Rimba Merawan dalam hati.
Pendekar Gila terus menyerang. Gerakannya yang seperti kera, terlihat lucu dan lamban. Namun ternyata serangannya sangat cepat. Tangannya mene- puk ke tubuh lawan secara gencar dan susul- menyusul.
"Grrr...! Benar-benar jurus berbahaya!" gerutu Setan dari Rimba Merawan tersentak kaget, menda- patkan serangan yang aneh. Dilihatnya gerakan tan- gan dan kaki Pendekar Gila itu lambat. Namun kalau dirinya tak cepat berkelit, cakaran dan tepukan tangan Pendekar Gila tentu menghajar tubuhnya.
"Heaaa...!" Wrrrs...! "Hah!" Setan dari Rimba Merawan lebih terkejut lagi ketika merasakan gerakan lambat itu mampu menge- luarkan angin pukulan yang menderu keras. Bagaikan topan besar angin itu menerpa tubuhnya yang besar.
Setan dari Rimba Merawan cepat-cepat memu- tar tubuhnya. Kemudian dengan gerakan cepat pula, makhluk bermuka seperti gorila itu melontarkan puku- lan ke dada Pendekar Gila.
"Yeaaa...!" Wut! Setan dari Rimba Merawan rupanya kini tahu gelagat. Dirinya yang semula memandang rendah Pen- dekar Gila, kini tak berani lagi meremehkannya. Se- rangannya yang menggunakan jurus-jurus ular pun dipergencar susul-menyusul. Kedua tangannya mema- tuk dan menampar ke dada dan muka lawan.
Pendekar Gila dengan cepat melompat lalu me- liuk ke bawah, ketika tangan lawan mematuk ke wa- jahnya. Dimiringkan tubuhnya ke belakang, ketika tangan lawan menampar keras ke dadanya. Kakinya bergerak lincah, menjejak berganti-ganti. Sedangkan tangannya berusaha memapak dan menyambar kaki lawan yang turut menyerang.
Ruangan tempat pertemuan di istana itu telah berantakan. Meja kursi banyak yang hancur. Di sana sini terjadi pertarungan seru. Baginda Raja Awangga segera mencari perlindungan. Dua pengawal memben- tengi. Ditambah lima orang pengawal lainnya, berada di depan. Sementara itu Mei Lie pun tak tinggal diam. Dengan gesit dan cepat gadis cantik itu menggerakkan Pedang Bidadari menghalau lawan-lawannya. Dalam beberapa gebrakan Mei Lie mampu membuat kocar- kacir prajurit kerajaan yang menyerangnya.
"Hiaaa...!" Wut! Wut! Kibasan pedang Mei Lie mengeluarkan angin kencang dan hawa panas. Hal itu membuat lawan- lawannya ketakutan dan menyingkir. Namun gadis bergaun hijau itu tetap saja memburu dengan kibasan pedangnya.
Kembali pada pertarungan Pendekar Gila mela- wan Setan dari Rimba Merawan, yang semakin seru. Sejauh itu keduanya masih memperlihatkan ketang- guhan.
Pendekar Gila kali ini bergerak menyerang den- gan jurus 'Si Gila Membelah Awan'. Kedua tangannya menyapu ke atas, kemudian menyentak bareng ke de- pan dengan telapak tangan terbuka. Kaki-kakinya me- nyapu dan menendang bertubi-tubi ke arah lawan.
"Yeaaa...!" "Uts...! Heaaat...! Grrr..." Setan dari Rimba Merawan segera melejit ke samping. Kemudian dengan gerakan membentuk se- tengah putaran, tangannya mematuk ke wajah Pende- kar Gila. Lalu, setelah melihat Pendekar Gila mengges- er kaki ke samping, Setan dari Rimba Merawan melon- tarkan tamparan tangan kiri ke dada Pendekar Gila.
Wuttt! Tangan kiri Setan dari Rimba Merawan mende- ru cepat, mengarah ke dada lawan. Sedangkan Pende- kar Gila yang tidak menyangka lawan akan kembali menyerang dengan cepat, tersentak kaget. Matanya membelalak ketika menyadari dirinya mati langkah. Sehingga dengan cepat Pendekar Gila menyapukan tangan kanan untuk memapak tamparan lawan. Gera- kan tangannya seperti membelah dengan cepat
"Heaaa...!" Setan dari Rimba Merawan menarik tamparan tangan kirinya. Lalu mengganti serangan dengan ten- dangan kaki kanan ke selangkangan lawan. Sedangkan tangan kanannya, kini kembali mematuk ke wajah Pendekar Gila.
Mendapat serangan cepat, Pendekar Gila segera melompat dengan berjumpalitan ke belakang. Sementara tubuhnya di udara, kakinya menjejak cepat ke tanah. Kemudian dengan tubuh membalik, Pendekar Gila menyatukan pukulan tangannya, lalu menyerang ke tubuh lawan.
"Yeaaat..!" Dengan tubuh meluncur cepat, Pendekar Gila kini balik menyerang. Tangannya mencakar Setan dari Rimba Merawan, yang menangkis dengan cepat setiap pukulan yang dilancarkan Pendekar Gila.
"Heaaa...!" Tangan mereka kini bergantian memukul dan menangkis serangan lawan. Pendekar Gila terus mela- kukan serangan dengan tubuh melayang di udara. Se- dangkan tubuh Setan dari Rimba Merawan terus mun- dur sambil menangkis serangan lawan dan sesekali ba- las menyerang.
Orang-orang yang tak ikut bertarung, membela- lakkan mata. Tak ada kata-kata yang keluar dari mu- lut mereka. Termasuk Baginda Raja Awangga, yang mengintip dari balik tubuh pengawalnya.
Dengan tubuh melayang laksana terbang, Pen- dekar Gila terus meluncur sambil melancarkan pukulan dan terkadang menangkis serangan lawan.
"Heaaa...!" Mata Setan dari Rimba Merawan terbelalak lebar, dirinya tak sempat mengelak serangan lawan. Hingga akhirnya hanya bisa menangkis.
Plak! "Aaakh...!" Tubuh Setan dari Rimba Merawan terpekik keras. Tubuhnya yang besar terhuyung-huyung ke bela- kang sambil memegangi kepala.
Tapi, baru saja Pendekar Gila hendak melaku- kan serangan susulan, segera diurungkannya. Hal itu karena tiba-tiba Pangeran Prapanca terkurung oleh prajurit dan tokoh aliran hitam.
Pendekar Gila yang melihat itu, segera melesat dengan bersalto ke udara untuk membantu Pangeran Prapanca.
"Heaaa...!" Dalam sekejap saja Pendekar Gila telah berada di antara kepungan para prajurit kerajaan, membantu Pangeran Prapanca. Secepat itu pula tangan dan ka- kinya langsung bergerak memapak dan menyerang prajurit yang berusaha menyerbu Pangeran Prapanca.
Melihat keadaan Pangeran Prapanca, Mei Lie pun segera melompat meninggalkan lawan-lawannya. Dengan cepat dibabatkan pedangnya menghalau para puluhan prajurit kerajaan yang mengepung Pangeran Prapanca.
"Heaaat...!" Wret! Wret! Cras! Cras! Cras! "Aaakh...! Aaa...!" Maka bergelimpanganlah lima orang sekaligus, tertebas pedang Mei Lie. Nampak kelima orang itu sea- kan tak mengalami luka. Namun sesaat kemudian tu- buh kelima prajurit itu roboh. Terbelah dua.
Tiba-tiba melompat dua orang tokoh aliran hi- tam, Pakasti dan Sangkulawa bersiap menyerang Mei Lie. Namun Mei Lie telah siap memapaki serangan ke- dua lawannya. Ia melenting ke udara, lalu menukik, sambil menebaskan pedangnya ke tubuh lawan.
Cras! Cras! "Aaakh...!" "Uaaa...!" Seketika tubuh kedua tokoh hitam itu roboh dan terbelah dua.
Namun keadaan kini berubah. Pendekar Gila memberikan isyarat, agar lebih mementingkan kesela- matan Pangeran Prapanca.
Sementara itu, Perdana Menteri Giri Gantra memerintahkan anak buahnya untuk menutup semua pintu istana.
"Tutup semua gerbang...! Kepung mereka! Tangkaaap...!" seru Perdana Menteri Giri Gantra, sam- bil berlari menyelamatkan diri.
Pangeran Prapanca dan kawan-kawan kini be- nar-benar terdesak dan terkepung. Puluhan prajurit kerajaan dibantu tokoh-tokoh hitam rimba persilatan terus merangsek. Hal itu tampaknya mampu memaksa Pendekar Gila kewalahan.
Pendekar Gila segera mencari akal untuk ber- buat sesuatu. Namun ketika hendak mencabut Suling Naga Sakti-nya, tiba-tiba muncul tiga lelaki bertopeng, yang langsung masuk ke arena pertempuran. Keti- ganya membantu Pendekar Gila untuk menyelamatkan Pangeran Prapanca. Sesaat kemudian menyusul pula sesosok lelaki bertubuh raksasa ke tempat pertarun- gan di dalam istana itu. Sosok bertubuh raksasa itu tak lain Buto Gege yang rupanya telah bergabung den- gan ketiga lelaki bertopeng hitam itu.
Pertempuran semakin seru. Satu di antara keti- ga lelaki berkedok itu dengan cepat menyambar Pange- ran Prapanca yang tampak telah terluka lengan kirinya oleh keris salah seorang tokoh silat. Lelaki berkedok, dengan ikat kepala belang kuning hitam itu membawa lari Pangeran Prapanca yang terluka. Melihat itu Pen- dekar Gila cepat menyusul, diikuti oleh Mei Lie. Se- dangkan Pranala, Buto Gege, dan dua orang berkedok masih menghadapi lawan-lawannya. Berusaha mena- han prajurit dan orang-orang aliran hitam yang terus dengan beringas menyerang mereka.
Tiba-tiba Buto Gege melemparkan suatu benda ke tanah yang menimbulkan asap ungu mengandung racun. Asap itu mengepul di seluruh tempat pertarungan. Kesempatan itu digunakan Pranala dan kedua lelaki berkedok untuk kabur. Sementara Buto Gege me- nyusul belakangan setelah sempat melukai Giri Gan- tra. Hingga perdana menteri licik dan penjilat itu tak kuat lagi berdiri. Karena Buto Gege mengangkat lalu membantingnya keras ke tanah. Mungkin kakinya pa- tah.
"Kejar mereka...! Cepat..! Kejaaar...!" teriak Per- dana Menteri Giri Gantra sambil memegangi kaki kirinya yang dirasakan seperti patah.
Sedangkan Baginda Raja Awangga kalang- kabut, kebingungan dan lari ke dalam. Penguasa Kera- jaan Surya Langit itu berusaha menyelamatkan diri, karena suasana semakin kacau-balau. Belasan praju- rit tewas seketika terserang racun yang dilemparkan Buto Gege. Beberapa tokoh hitam pun tak ampun lagi, seperti Hiwa Krana dan Kati Asem tak luput dari maut Sedangkan yang lain luka-luka diamuk kemarahan manusia raksasa itu.
***

5
Mentari telah turun di ufuk barat Sinarnya tampak kemerahan. Lelaki berkedok hitam melesat ba- gai terbang membawa tubuh Pangeran Prapanca. Se- dangkan di belakang nampak pemuda berambut gon- drong dan berpakaian rompi dari kulit ular mengikuti dengan cepat. Pemuda itu tak lain Pendekar Gila. Den- gan ilmu 'Sapta Bayu' Pendekar Gila terus mengejar.
"Tunggu...! Kisanak!" seru Pendekar Gila sete- lah dapat menghadang orang berkedok yang membawa Pangeran Prapanca yang telah ditotoknya.
Mei Lie pun yang tadi mengikuti dan jarak bela- san tombak, kini telah sampai. Bahkan telah berada di samping Pendekar Gila. Keduanya kini berhadapan dengan lelaki bertopeng yang memanggul tubuh Pan- geran Prapanca.
"Kisanak, siapa kau sebenarnya?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dan cengengesan. Matanya menatap lelaki berkedok hitam itu.
"Kenapa kau membantu kami...?" tanya Mei Lie kemudian, karena lelaki berkedok itu tak juga menja- wab.
"Jawabannya ada di goa sana. Sebaiknya kalian memberi aku jalan. Waktu kita sangat sempit," jawab lelaki berkedok hitam. Setelah itu tubuhnya melesat cepat.
Tanpa banyak pikir Pendekar Gila dan Mei Lie langsung mengikutinya. Hati keduanya masih diliputi pertanyaan.
"Siapa lelaki itu sebenarnya...?" gumam Pende- kar Gua sambil berlari mengejar lelaki berkedok yang membawa Pangeran Prapanca.
Sementara itu dalam jarak beberapa puluh tombak telah tampak Buto Gege. Pranala, dan dua le- laki berkedok tengah melesat menuju arah yang sama. Mereka pun terus mengejar lelaki berkedok yang membawa Pangeran Prapanca.
Sesampainya di depan sebuah goa yang nam- pak sunyi, Pendekar Gila dan Mei Lie berhenti. Kedua- nya mengawasi sekeliling goa yang tampak sepi dan teduh. Karena di sekitarnya tumbuh pepohonan besar dan rindang.
"Hm..." gumam Sena, lalu menoleh kepada Mei Lie kekasihnya.
"Kenapa kita tak langsung masuk saja, Ka- kang?" tanya Mei Lie sudah tak sabar.

No comments:

Post a Comment