SEPASANG
MALING BUDIMAN
Oleh Firman Raharja
1
Pagi dengan sinar mentarinya yang
hangat menerangi alam persada. Mentari baru saja naik dari peraduannya. Namun para
kuli yang bekerja pada pembuatan jalan tampak telah mulai bekerja. Di antara
puluhan kuli berdiri belasan lelaki bertampang beringas tengah mengawasi. Dari
tampang mereka tampak ke tidak relaan jika para kuli itu bekerja lamban, apa-
lagi beristirahat sebelum waktunya.
Tidak jauh dari tempat itu, tampak
seorang le- laki tua tengah tertatih-tatih membawa bongkahan batu yang tak
seimbang dengan keadaan tubuhnya. Meskipun suasana masih pagi, tubuh kurus
lelaki tua itu bercucuran keringat. Sesekali langkahnya terhenti. Napas tuanya
tersengal-sengal. Lalu setelah meletakkan batu yang dibawa ke tanah, tangannya
menyeka keringat yang hampir mengalir ke mata. Ditelan air ludahnya guna
membasahi kerongkongan yang basah kehausan. Kepalanya menggelengeleng, seolah
hendak mengatakan bahwa dirinya tak mampu.
Namun orang-orang berpakaian rompi
hitam yang bertugas sebagai pengawas itu tampaknya tak peduli. Mereka bagaikan
iblis-iblis kejam. Tak ada be- las kasihan sama sekali terhadap para pekerja
yang sudah dibayar oleh juragan yang menangani pembua- tan jalan. Siapa yang
berani membangkang, akan mendapat siksa yang berat
"Uhhh...!" lelaki tua
bertubuh kurus itu melen- guh lirih dengan mulut meringis. Tubuhnya tampak
gemetaran, seakan menggambarkan betapa berat be- ban yang tengah dijalani.
Begitupun guratan-guratan di wajah lelaki tua itu menyiratkan derita hidup yang
telah menghimpit jiwanya.
"Hyang Widhi! Oh..., sampai
kapan penderitaan ini berakhir? Sampai kapan derita yang harus ditanggung warga
Desa Kaliamba ini...?" keluh lelaki tua hampir tak berdaya. Wajahnya yang
berpeluh menengadah, memandang ke langit. Seakan-akan tengah mengadukan
nasibnya kepada Yang Maha Kuasa.
Baru beberapa kali tarikan napas
lelaki itu ter- menung, tiba-tiba dari belakang seorang lelaki berusia sekitar
tiga puluh tahun bermuka beringas mengham- piri. Tanpa banyak bicara, lelaki
beringas yang ternyata penjaga para pekerja menendang tubuh lelaki tua itu.
Dugkh! "Tua bangka tak tahu
diri! Sudah dibayar ma- sih malas-malasan kau?!" hardiknya dengan mata melotot.
Lelaki tua renta yang ditendang,
terjungkal. Beruntung batu yang dibawa terlontar agak jauh, tak mengenai
tubuhnya. Dengan tertatih-tatih, lelaki tua renta itu berusaha bangun. Wajahnya
memandang mengiba, berusaha meminta belas kasihan.
"Saya..., saya sakit,
Den," ujar lelaki tua itu dengan suara gemetar.
"Ah..., alasan lagi! Cepat
bangun dan kerja! Jangan sampai hilang kesabaranku!" hardik si penjaga
dengan muka semakin menampakkan kegarangan. Kakinya dengan enteng, kembali
menendang pantat le- laki tua itu.
Dugkh! "Aduh! Ampun,
Den!" Lelaki tua renta itu terjungkal dengan muka mencium tanah. Namun,
sepertinya si penjaga tak me- rasa kasihan sedikit pun. Bahkan dengan angkuhnya,
lelaki muda bermuka garang itu tersenyum sinis. Orang-orang yang sedang
bekerja, hendak membantu lelaki tua malang itu. Namun tiba-tiba....
"Jangan turut campur! Atau
kalian akan mendapatkan hal serupa dengan orang tua yang hampir mampus
itu?!" terdengar suara keras membentak. Se- hingga pekerja paksa itu
mengurungkan niat mereka. Namun mata para pekerja paksa itu memandang pe- nuh
kebencian pada lelaki berpakaian hijau sepanjang lutut yang dirangkapi pakaian
dalam warna kuning.
Lelaki berperut buncit dan bermuka
bengis itu, tak lain juragan yang menangani pekerjaan pembuatan jalan. Dia
bernama Durka Pela, warga desa yang ter- kenal pelit dan kikir. Namun karena
pintar mengambil hati para pembesar, dirinya dipercaya untuk menan- gani
masalah pembebasan tanah dan pengerjaan pem- buatan jalan.
Pertentangan antara Juragan Durka
Pela den- gan warga Desa Kaliamba mengenai pembebasan ta- nah dan upah yang
sangat kecil, sudah sering terjadi. Namun selama ini, warga selalu kalah. Hal
itu karena Juragan Durka Pela beserta para centengnya melakukan penekanan dan
penyiksaan, yang membuat warga semakin menderita.
"Kalian telah tahu, apa yang
akan kalian da- patkan, jika berani menentangku!" bentak Juragan Durka
Pela dengan tingkah sombong. Kedua tangan- nya bertolak pinggang. Matanya
memandang penuh kebengisan pada para pekerja yang seketika mengu- rungkan niat
mereka untuk melakukan pemberontakan.
Juragan Durka Pela tersenyum sinis.
Keangku- hannya semakin menjadi-jadi. Matanya disapukan ke sekeliling tempat
pembuatan jalan dengan tajam, yang membuat semua pekerja semakin ketakutan.
"Ayo, kalian kerja lagi!"
seru Juragan Durka Pe- la pada para pekerja paksa yang masih diam, memandang
penuh kebencian kepadanya. Namun Juragan Durka Pela tak peduli. Dengan angkuh,
juragan kikir ini bertolak pinggang. Kepalanya digerakkan, memberi perintah
pada anak buah agar menangani para pekerja. Kemudian dengan tanpa mempedulikan
para pekerja. Juragan Durka Pela beranjak meninggalkan tempat itu diikuti dua
orang pengawalnya.
Para penjaga yang bertugas
mengawasi para pekerja, kembali berlaku kasar. Siapa saja yang malas- malas
mereka siksa dengan tendangan dan pukulan. Sehingga para pekerja tak ada yang
berani membang- kang. Meski merasa tertekan dan tersiksa, mereka ter- paksa
bekerja. Meski keringat bercucuran membasahi tubuh, mereka tetap bekerja.
Mentari terus merangkak naik dengan
sinarnya yang semakin panas. Para pekerja tetap bekerja, tanpa ada waktu
beristirahat. Apalagi para penjaga tampak semakin beringas dan kejam setiap
menghadapi pekerja yang mencoba melawan. Para penjaga tak meman- dang bulu pada
siapa saja. Tak peduli pada orang tua, ataupun anak muda. Sekali saja kedapatan
beristira- hat atau malas, siksa hukuman akan menimpa di- rinya.
***
Kereta yang ditarik dua ekor kuda
nampak me- laju meninggalkan tempat pembuatan jalan. Di dalam kereta itu, duduk
seorang lelaki gemuk berperut bun- cit. Di kanan kirinya, dua orang centeng
dengan mata tajam mengawasi sekelilingnya. Lagak mereka seperti seorang pendekar
sakti, yang setiap saat siap menye- lamatkan sang Juragan dari ancaman
orang-orang yang merasa tidak suka.
"He he he...! Semakin lama
pekerjaan itu, akan semakin banyak uang yang masuk ke kantongku," gumam
Juragan Durka Pela sambil tertawa terkekeh.
Kedua orang centeng turut tertawa
senang, karena mereka juga akan mendapatkan cipratan uang dari juragannya.
Ketika mereka melintasi jalanan berbukit, tiba-tiba dari arah yang berlawanan
berkelebat sesosok bayangan biru di depan kuda-kuda itu.
"Hiiieeeh...!
Hiiieeehhh...!" Kedua kuda penarik kereta langsung mering- kik, dengan
kaki-kaki terangkat ke atas. Hal itu mem- buat orang-orang yang berada di dalam
kereta terkejut
"Ada apa, Kusir?!" sentak
Juragan Durka Pela bertanya.
"Ampun Juragan! Ada orang
menghadang kita!" sahut sang Kusir.
"Huh! Cecunguk macam apa lagi
yang berani menghadang perjalanan kita?!" dengus Juragan Durka Pela.
"Barda dan kau Gopal, bereskan dia! Mengganggu saja!"
"Beres, Gan," jawab kedua
centeng yang lang- sung melompat keluar untuk melihat orang yang berani
menghadang perjalanan juragannya.
Seorang lelaki berpakaian biru tua
nampak berdiri tegap. Matanya menatap tajam dua orang cen- teng Juragan Durka
Pela. Lelaki bercadar biru itu sea- kan mengejek kedua centeng yang telah
banyak mem- buat penderitaan warga Desa Kaliamba.
"Siapa kau?! Untuk apa kau
menghadang perja- lanan kami?!" bentak centeng yang berkepala botak.
Matanya yang juling menatap wajah lelaki yang terha- lang kain biru itu. Dari
sikapnya seperti dibuat-buat, centeng yang bernama Barda itu jelas
memperlihatkan sifat penjilat. Lagaknya seperti seorang jagoan yang tak
tertandingi siapa pun.
"Siapa diriku, kalian tak
perlu tahu! Aku ingin bertemu dengan juragan kalian," sahut lelaki
bercadar biru tegas. Matanya menentang tatapan kedua centeng yang garang.
Sepertinya lelaki berpakaian biru panjang sampai selutut itu tak merasa takut
sedikit pun.
"Untuk apa kau ingin bertemu
juragan kami?!" bentak Gopal. Hidungnya yang besar tampak berkembang
kempis.
"Aku tak butuh kalian! Mana
juragan kalian?!" bentak lelaki bercadar biru tak kalah kerasnya. Hal itu
membuat kedua centeng Juragan Durka Pela tersentak kaget. Barda dan Gopal tak
menyangka kalau lelaki bercadar biru akan berani membalas bentakan mere- ka.
"Cepat suruh juragan kalian keluar!"
"Kurang ajar! Lancang sekali
kau! Nih..., hadapi dulu kedua centengnya!" bentak Barda. Kepalanya yang
botak manggut-manggut
"Hua ha ha...! Untuk
menghadapi kalian, kura- sa tak ada artinya!" tiba-tiba lelaki bercadar
biru ter- tawa keras terbahak-bahak, mengejek kedua centeng yang semakin
bertambah geram.
"Kurang ajar! Sombong kau!
Heaaa...!" "Kuremukan kepalamu!" Barda dan Gopal segera mencabut
golok mere- ka.
Kemudian dengan pekikan
menggelepar, kedua centeng itu langsung merangsek lawan yang tampak masih
berdiri tegap di depan kereta kuda Juragan Durka Pela.
"Hea!" "Yea!"
Golok di tangan kedua centeng itu membabat cepat. Namun dengan ringan lelaki
bercadar biru sege- ra bergerak mengelak. Kaki kanannya ditarik ke bela- kang,
sedang kaki kiri ditekuk membentuk kuda-kuda. Lalu dengan gerak cepat, kedua
tangannya menghantam pundak kanan dan kiri kedua lawannya setelah serangan mereka
lepas.
Degkh! Degkh! "Ukh!"
"Akh!" Kedua centeng itu seketika terhuyung-huyung ke belakang,
terkena hantaman tangan lelaki bercadar. Mata keduanya membelalak sedangkan
dari mulut me- reka melelehkan darah. Barda dan Gopal merasakan sesak dan nyeri
di dada mereka.
"Hua ha ha...!" lelaki
bercadar biru tertawa ter- bahak-bahak, sehingga tubuhnya tampak terguncang.
Kemudian setelah mendengus, lelaki yang belum di- kenal itu berkata,
"Kalau aku mau tak sulit mengirim nyawa kalian ke neraka!"
Ucapan lelaki bercadar biru tidak
menyadarkan kedua centeng Juragan Durka Pela. Mereka justru ber- tambah marah
karena merasa diremehkan.
"Cuih...!" Barda membuang
ludah ke tanah. Kemudian disekanya dengan telapak tangan, darah yang meleleh di
bibirnya. Matanya menatap penuh ke- bengisan, "Kau kira mudah menakuti
kami? Huh, jan- gan kira kami akan takluk di tanganmu!"
"Hm, begitu? Rupanya kalian
memang hams kusingkirkan dari dunia ini! Bersiaplah...! Heaaa...!" dengan
lompatan cepat, seperti terbang, lelaki bercadar biru membuka serangan. Kedua
tangannya telah siap menghajar kedua centeng Juragan Durka Pela.
Kedua centeng Juragan Durka Pela
tersentak, menyaksikan jurus silat yang sangat cepat dan seperti mengandung
tenaga dalam yang kuat. Sesaat lagi, se- rangan lelaki bercadar biru itu akan
menghantam tu- buh kedua centeng itu. Namun tiba-tiba....
"Hentikan!" dari dalam
kereta muncul Juragan Durka Pela. Sehingga lelaki bercadar biru seketika menghentikan
gerakannya.
"Bagus! Rupanya kau tahu diri,
Durka Pela! Ka- lau saja kau tak segera keluar, kedua kunyuk jelekmu ini sudah
kukirim ke neraka!" dengus lelaki bercadar sengit
"Apa maumu? Kau telah kenal
namaku, tetapi aku tak mengenalmu," ujar Juragan Durka Kepala dengan mata
terus menyelidik, siapa adanya lelaki ga- gah yang sebagian wajahnya ditutup
cadar. Sekilas Ju- ragan Durka Pela mengenal sosok tubuh lelaki itu. Namun hatinya
ragu, karena tak melihat jelas wajah lelaki itu "Hm, tak banyak,"
sahut lelaki bercadar biru.
"Katakan, apa?" Lelaki
bercadar biru tak langsung menjawab. Matanya menatap tajam wajah Juragan Durka
Pela. Seolah-olah hendak menyelidik, apakah Juragan Dur- ka Pela benar-benar
akan memenuhi permintaannya. Atau sebaliknya, dengan kelicikan akan menipu di-
rinya.
"Baik, aku minta kau bersedia
menyerahkan potongan gaji kuli-kuli itu!"
Membelalak mata Juragan Durka Pela,
men- dengar permintaan lelaki bercadar. Kedua centengnya pun tersentak kaget,
sekaligus marah karena lelaki bercadar biru dianggap telah berani turut campur
da- lam urusan mereka.
"Huh?! Lancang sekali
mulutmu!" dengus Barda geram. Centeng botak itu hendak maju, tetapi
Juragan Durka Pela melarangnya.
"Tenang!" "Dia
terlalu kurang ajar, Juragan," ujar Barda sengit
"Tenang..., tenang saja!
Jangan kira aku akan menuruti permintaan itu!" bisik Juragan Durka Pela pada
kedua centengnya dengan bibir tersenyum sinis.
"Bagaimana, Durka Pela?!"
tanya lelaki berca- dar biru. "Mereka telah kubayar sesuai dengan perjan-
jian," jawab Juragan Durka Pela.
"Hm, jangan kira aku tak tahu,
kalau kau telah memaksa mereka agar mau menerima tiga kali! Bukan itu saja, kau
juga telah menekan pemilik tanah yang terkena jalur pembuatan jalan dengan
harga semurah mungkin!" ujar lelaki bercadar biru. Hal itu membuat muka
Durka Pela seketika merah membara.
"Kurang ajar! Lancang sekali
mulutmu, hai... Lelaki Bercadar!" dengus Barda geram. Tubuhnya se- ketika
melesat seraya mengayunkan golok menyerang. "Mampus kau! Hih...!"
Wrt! "Uts! Kurasa kaulah yang
harus mampus! Hea...!" usai berkelit lelaki bercadar biru segera meng-
hantamkan telapak tangan kanannya ke dada Barda.
Barda yang tubuhnya doyong ke depan
setelah gagal menyerang, tersentak kaget. Dirinya berusaha berkelit sambil
membabatkan golok ke tubuh lelaki bercadar.
"Heaaa!" Wrt! Lelaki
bercadar menarik mundur serangannya, kemudian sambil memutar tubuh, kaki
kanannya me- nendang punggung Barda dengan keras.
Degkh! "Akh...!" Tubuh
Barda terhuyung-huyung ke depan. Dari mulutnya memuncratkan darah segar.
Matanya melo- tot lebar. Sesaat tubuhnya meregang, berbalik me- mandang lelaki
bercadar.
"Kau...."
Belum habis ucapan Barda, seketika
tubuhnya ambruk dengan mata masih membelalak. Nyawanya melayang. Hal itu
semakin membuat Gopal dan Jura- gan Durka Pela membelalakkan mata marah.
"Kurang ajar! Kau telah berani
membunuh te- manku! Kau harus mampus! Heaaa...!" Gopal seketika melesat
dengan goloknya, membabat dan memburu lawan. Namun dengan cepat lelaki bercadar
biru me- ngelitkan serangan-serangan gencar dan keras yang di- lancarkan Gopal.
"Hea!" Dengan melompat ke
sana kemari lelaki berca- dar biru terus mengelitkan serangan gencar yang di-
lancarkan Gopal. Sesekali lelaki bercadar biru itu balik menyerang dengan
pukulan dan tendangan. Namun ternyata serangan balasan itu tak bisa dianggap
re- meh.
Buktinya Gopal tampak kelabakan
dibuatnya. Gopal harus berjuang mati-matian agar bisa lepas dari serangan
lawan.
"Yea!" Lelaki bercadar
berkelit dengan tubuh memutar ke belakang. Kemudian dengan cepat dan beruntun
tangan dan kakinya menghantam punggung dan kepa- la Gopal. "Hea!"
Degkh! Degkh! "Ukh!
Akh...!" Tubuh Gopal terhuyung-huyung cepat ke de- pan. Dari mulutnya muncrat
darah segar. Kemudian, diiringi serangan keras tubuhnya ambruk ke tanah. Dan
tewas seketika.
Melihat kedua centengnya mati,
Juragan Durka Pela hendak lari ke kereta. Namun dengan cepat, lelaki bercadar
biru telah melesat menghadangnya.
"Mau lari ke mana, Durka
Pela?!" bentak lelaki bercadar biru dengan suara geram. Mendengar anca-
man yang tampak dari sikap lelaki itu Juragan Durka Pela gemetar ketakutan.
Keringat dingin mengucur de- ras mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Ampun, jangan bunuh
aku!" pinta Juragan Durka Pela sambil menyembah-nyembah.
"Aku akan mengampunimu,
asalkan kau men- gembalikan uang potongan gaji pekerja. Kembalikan pula uang
pembebasan tanah yang juga telah kau po- tong!" perintah lelaki bercadar
biru mengancam.
"Tapi... tapi...."
"Tapi apa?!" bentak lelaki bercadar keras, "Kau akan mengatakan
uangmu habis untuk mengumpul- kan gundik dan membeli rumah-rumah mewah. Begi-
tu, kan?!"
Juragan Durka Pela menundukkan
kepala sambil mengangguk, membenarkan apa yang dituduh- kan lelaki bercadar
biru. Lelaki berperut gendut itu tak mampu menahan rasa takutnya, sehingga
sampai ter- kencing-kencing.
"Baiklah kalau memang hari ini
tak ada. Ku- tunggu sampai tiga hari. Kuminta kau menyerahkan- nya di Bukit
Kucing!" perintah lelaki bercadar. Kemu- dian tanpa menghiraukan Juragan
Durka Pela, lelaki bercadar biru melesat meninggalkan tempat ini.
Dengan sempoyongan dan gemetaran
Juragan Durka Pela melangkah menghampiri keretanya. Wa- jahnya menggambarkan
kepanikan dan bingung. Lela- ki bercadar biru, bukanlah orang sembarangan. Ter-
bukti dua orang centengnya dalam sekali gebrak saja dapat dibinasakan.
"Bagaimana aku akan memberi
permintaan- nya," keluh Juragan Durka Pela sambil melangkah ke keretanya.
Kemudian tanpa bicara, lelaki gemuk berperut buncit itu naik ke keretanya,
"Jalan!"
Sang Kusir menurut, menjalankan
keretanya.
***
2
Waktu yang dijanjikan lelaki
bercadar biru hampir tiba. Besok, Juragan Durka Pela harus menye- rahkan uang
sisa pemotongan gaji dan pembebasan tanah warga. Namun uang yang diminta,
benar-benar tak ada. Keadaan ini membuat Juragan Durka Pela nampak kebingungan.
Melaporkan kepada para peja- bat kerajaan, rasanya tak mungkin. Kalau hal itu
dila- kukan, hanya akan mempermalukan dirinya karena para pembesar istana telah
menyerahkan pembuatan jalan itu kepadanya. Apapun yang terjadi, semua tang-
gung jawabnya.
Di samping itu, pembesar istana
sebenarnya te- lah membayar semua pembiayaan. Ada pun pembaya- ran terhadap
para kuli dan pembebasan tanah, semua di tangan Juragan Durka Pela. Dirinya
pula yang me- motong bayaran setengah lebih dari jumlah yang harus dibayarkan.
Malam ini, Juragan Durka Pela
merasa bin- gung. Matanya tak dapat diajak tidur. Benaknya terus gelisah,
memikirkan lelaki bercadar biru yang telah membunuh dua orang centengnya hanya
dengan sekali gebrak. Juga mengingat tuntutan lelaki bercadar biru, yang menyuruhnya
membawakan uang pemotongan pembayaran pembebasan tanah serta uang kuli.
"Dari mana aku mendapatkan
uang sebanyak itu?" gumam Juragan Durka Pela masih kebingungan. Kakinya
melangkah hilir mudik. Otaknya terus bekerja, diperas untuk mendapatkan jawaban
dari perta- nyaan-pertanyaan dalam hatinya.
Kebingungan masih melanda pikiran
Juragan Durka Pela, ketika delapan orang wanita cantik yang menjadi
gundik-gundiknya masuk. Kedelapan gadis cantik berpakaian seronok mendekati
Juragan Durka Pela. Ada yang melenggak-lenggokkan tubuhnya. Ada yang langsung
membuka pakaiannya sehingga telan- jang bulat. Juga ada yang langsung memberi
ciuman dan rangsangan pada juragan berperut gendut itu.
"Kenapa Kakang nampak
kebingungan?" seo- rang gadis berpakaian merah jambu yang masih muda
sekali, berusia sekitar delapan belas tahun, mencoba bertanya.
"Ah, tidak apa-apa,"
jawab Juragan Durka Pela sambil membalas semua yang dilakukan kedelapan wanita
cantik yang dijadikan gundiknya.
Meski pikirannya sedang kusut oleh
masalah yang sedang dihadapinya, Juragan Durka Pela berusa- ha
menghilangkannya. Direngkuhnya kedelapan wani- ta cantik itu. Kemudian dengan
tertawa-tawa, mereka meladeni Juragan Durka Pela.
Ada yang ditindih, ada yang memijit
dan segala macam tingkah laku yang menjijikkan. Semua mereka lakukan dengan
keadaan tubuh tak tertutup sehelai benang pun. Juragan Durka Pela tidak ubahnya
buaya darat yang sangat rakus. Meski usianya sudah seten- gah abad, lelaki
gendut itu nampak masih sanggup meladeni kedelapan gundiknya. Dengan penuh
nafsu, Juragan Durka Pela terus menggumuli kedelapan gun- diknya secara
bergantian.
Hilang sudah pikirannya yang
pusing, memi- kirkan lelaki bercadar biru yang menuntut uang pemotongan gaji
dan pembebasan tanah. Seakan Juragan Durka Pela melupakan apa yang akan
terjadi, jika besok dia tidak dapat memenuhi permintaan lelaki ber- cadar biru
itu.
"Persetan dengan lelaki
bercadar itu!" maki Ju- ragan Durka Pela dalam hati sambil terus
menggeluti kedelapan gundiknya bergantian, yang tertawa-tawa senang. Kedelapan
gundik Juragan Durka Pela, merasa senang dengan perbuatannya.
Tengah Juragan Durka Pela
melampiaskan naf- sunya pada kedelapan gundik, tiba-tiba....
Brak! Dinding papan rumahnya
dijebol dua sosok le- laki yang mengenakan cadar biru dan ungu. Mata ke- dua
lelaki berpakaian seperti cadar, memandang tajam wajah Juragan Durka Pela dan
kedelapan gundiknya yang terkejut. Sehingga mereka langsung berlarian sambil
mengenakan kain masing-masing.
"Siapa kalian?! Lancang sekali
masuk tanpa izinku!" bentak juragan Durka Pela sengit seraya membetulkan
pakaiannya.
"Hhh..., tak jadi soal siapa
kami berdua! Seka- rang juga, kuminta serahkan hartamu! Cepat..!" ben- tak
lelaki bercadar ungu. Matanya menatap tajam pada Juragan Durka Pela. Sebilah
pedang telah ditudingkan ke muka Juragan Durka Pela yang masih tampak ter-
kejut tak mampu berbicara.
"Kami harap jangan
melawan!" sambung lelaki bercadar biru.
"Kau?!" kaget Juragan
Durka Pela, mengenali suara lelaki bercadar biru yang dikenalnya. Ya. Orang itu
tak lain lelaki yang telah menghadangnya kemarin.
"Ya! Sengaja aku datang ke
rumahmu, karena kurasa kau tak akan memberikan apa yang kuminta. Manusia licik
sepertimu, tak dapat dipercaya," sahut lelaki bercadar biru sambil
menghunus pedangnya.
"Bu..., bukankah kau minta
besok?" tanya Juragan Durka Pela dengan tubuh gemetaran. "Besok aku
akan menyerahkan padamu."
"Hm, begitu?"
"Ya." "Kau kira aku percaya pada bualanmu, Durka Pela?!"
bentak lelaki bercadar biru, "Aku tak sebodoh itu! Sekarang serahkan sisa
uang yang kau potong dari gaji para kuli dan pembebasan tanah!"
"Tapi.., tapi..."
"Jangan membantah, Durka Pela!" bentak lelaki bercadar ungu seraya
mendekatkan ujung pedangnya ke leher Juragan Durka Pela, yang menjadikan lelaki
berperut gendut itu semakin ketakutan. Namun pada saat itu pula, dari luar
masuk anak buah Juragan Durka Pela berjumlah sepuluh orang.
"Ada apa, Juragan?!"
"Bunuh mereka!" teriak Juragan Durka Pela. Seketika terbangkit
keberaniannya, setelah melihat ke- datangan sepuluh anak buahnya.
Mendengar perintah juragannya,
sepuluh lelaki berpakaian rompi hitam dan berwajah bengis itu lang- sung menjalankan
perintah. Mereka langsung mengu- rung kedua lelaki gagah yang mengenakan cadar.
"Heaaa...!" "Kalian
mencari mampus!" dengus lelaki berca- dar biru. Kemudian dengan cepat
tangan kanannya bergerak, membabat dan menusukkan pedang mema- pak serangan
lawan-lawannya.
"Huh! Jangan banyak bicara!
Pergi saja kalian dengan tenang, atau terpaksa kami tak segan-segan
membinasakan kalian berdua!" bentak lelaki berbadan tinggi besar dengan
kumis tebal. Tampaknya orang ini pimpinan dari kesepuluh orang berompi hitam,
yang merupakan centeng bayaran Juragan Durka Pela.
"Hm, kalian juga penghisap
darah rakyat kecil!
Kalian bersuka ria di atas
penderitaan orang miskin! Jangan harap kami membiarkan kalian hidup!
Heaaa...!" lelaki bercadar ungu mendengus marah sambil memutar pedang
dengan cepat memapaki se- rangan lima orang lawannya.
Trang! Trang...! "Heaaa!"
Dentangan nyaring pun terdengar ketika bebe- rapa pedang saling bentur. Lelaki
bercadar ungu terus membabatkan pedang, tak ingin serangan lawan men- dahului.
Hingga....
Bret! Crab! "Aaakh...!"
dua orang lawan menjerit, ketika dadanya terbabat pedang lelaki bercadar ungu.
Tubuh kedua centeng Juragan Durka Pela itu meregang men- dongak dengan dada
mengucurkan darah. Kemudian keduanya ambruk dan tewas.
Melihat kedua temannya mati, tiga
orang lain- nya bukan takut. Mereka justru bertambah beringas dan marah. Dengan
ganas ketiganya langsung mela- kukan serangan secara serentak. Berkelebatan
pedang mereka menusuk dan membabat tubuh lelaki bercadar ungu.
"Heaaa...! Mampuslah kau,
Pengacau!" dengus salah seorang dari ketiganya sambil membabatkan pe-
dang. Namun babatan pedang lelaki bercambang lebat itu dengan mudah dapat
dielakkan lelaki bercadar un- gu, yang kemudian melakukan serangan balasan ke
tubuh lelaki brewok itu. "Yeaaa...!" Wrt! Cras! "Akh...!"
lelaki bercambang bauk itu menjerit. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan
perut robek akibat babatan pedang lelaki bercadar ungu. Sesaat tubuhnya masih
mampu bertahan. Namun kemudian ambruk dan tewas dengan darah membanjir memba-
sahi sekujur tubuh.
Di sisi lain, lelaki bercadar biru
pun tak kalah hebat dalam menghadapi lawan-lawannya. Pedang di tangannya
bergerak sangat cepat. Sehingga yang tampak hanya kelebatan-kelebatan cahaya
putih, disertai suara berdecit terus memapak dan menyerang lima orang lawannya.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt!
Pedang di tangan lelaki bercadar biru itu laksa- na sebuah baling-baling yang
kuat dan cepat. Kelima lawannya membelalakkan mata kaget tak menyangka kalau
ilmu pedang lawan begitu tinggi. Namun mereka tetap berusaha menghalau serangan
lelaki bercadar bi- ru dengan sambutan pedang mereka.
"Heaaa...!" Serentak
kelima lelaki berpakaian rompi hitam membabatkan pedang ke tubuh lelaki
bercadar biru, sehingga pedang mereka saling bertemu dan beradu.
Trang! Trang! Trang...! Prak! Prak!
Prak...! Suara berdentang dan gemeretak keras terden- gar.
Seperti ada benda-benda keras patah
oleh teba- san pedang.
"Heh?!" "Hah?!"
Kelima centeng Juragan Durka Pela langsung melompat ke belakang dengan mulut
ternganga lebar. Lima lelaki berompi hitam itu terkejut ketika melihat pedang
mereka patah terbabat pedang lawan. Mata mereka saling berpandangan, penuh
keheranan. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka menjerit
"Awaaas...!"
"Heaaa...!" Lelaki bercadar biru rupanya telah kembali me- nyerang
dengan babatan pedangnya yang cepat dan mematikan. Hal itu membuat kelima
lawannya yang masih diliputi rasa kaget tersentak kaget. Cepat-cepat mereka
berusaha mengelak. Akan tetapi....
Crab! Crab...! "Aaakh...!"
"Aaakh...!" Bagaikan baling-baling yang tajam, pedang di tangan
lelaki bercadar biru membabatkan perut lawan- lawannya dengan cepat. Sehingga
kelima lelaki berom- pi hitam itu tak berhasil mengelakkan tubuh mereka dari
sambaran pedang lawan. Seketika tubuh mereka sempoyongan sambil memegangi perut
yang terkoyak lebar.
Darah mengucur dari sobekan perut
kelima centeng Juragan Durka Pela. Tubuh mereka gemetar, dengan mulut meringis
menahan sakit. Karena darah terlalu banyak keluar, mereka tak mampu bertahan
lama. Kelima lelaki berompi hitam ambruk mencium tanah.
Sementara itu, lelaki bercadar ungu
masih be- rusaha keras menghadapi lawan-lawannya. Di lain tempat dua orang
lawannya terpental dengan keadaan tak kalah mengerikannya. Leher dan dada
mereka ter- koyak mengucurkan darah.
"Kau..., kkk...,
Aaakh...!" kedua orang lawannya seketika ambruk dan tak mampu bangun lagi.
"Hm, mana bajingan itu?!"
tanya lelaki bercadar biru pada temannya.
"Nampaknya dia lari, Kanjeng
Pangeran," sahut lelaki bercadar ungu.
"Ssst! Jangan kau panggil
itu," bisik lelaki ber- cadar biru
"Baik, Cadar Biru."
"Kita harus mencari hartanya," ujar lelaki ber- cadar biru yang
ternyata Pangeran Prapanca. "Ayo, kita harus segera membagikan harta
Juragan Durka Pela pada rakyat yang menderita."
"Mari!" Pangeran Prapanca
dan rekannya Pranala sege- ra melesat meninggalkan kamar itu. Keduanya lang-
sung mengobrak-abrik rumah Juragan Durka Pela mencari harta milik juragan kejam
itu. Tidak lama ke- mudian keduanya telah melesat keluar dari rumah Ju- ragan
Durka Pela membawa dua karung barang ber- harga.
Malam terus merangkak perlahan,
membawa hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Kedua pendekar bercadar itu
terus melesat menembus kege- lapan malam.
***
Malam semakin terasa mencekam,
merambat perlahan menutupi bumi dengan kegelapannya. Angin bertiup
menghembuskan hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Langit kelabu. Tak ada
bintang mau- pun rembulan. Padahal mestinya bulan hampir pur- nama. Keadaan Desa
Kaliamba pun nampak sunyi dan sepi, bagaikan tak ada tanda-tanda kehidupan.
Semua warga telah terlelap dalam tidurnya.
"Ayo, kita harus cepat,
Pranala!" ajak Pangeran Prapanca.
Pranala segera mempercepat larinya,
agar dapat mengimbangi kecepatan lari Pangeran Prapanca. Kemudian keduanya saling
berpencar. Pangeran Prapanca menuju arah timur, sedangkan Pranala ke arah barat.
Keduanya membagi-bagikan barang
berharga yang mereka bawa, dengan cara melemparkan dari atas. Sehingga orang di
dalam rumah mengira kalau barang berharga itu diturunkan Hyang Widhi dari lan-
git.
Tidak begitu lama, keduanya telah
menyelesaikan pekerjaannya itu. Mereka tersenyum puas sambil melangkah dengan tenang
meninggalkan Desa Kaliamba yang seketika heboh karena para penduduk kejatu- han
rejeki dari langit
Warga Desa Kaliamba
berbondong-bondong keluar dari rumah mereka. Kemudian semua warga ber- kumpul
di tengah lapangan. Dipimpin oleh seorang tetua kampung, warga desa memanjatkan
doa syukuran atas pemberian rejeki pada mereka.
"Hyang Jagad Dewa Batara,
terimalah sembah kami...! Kau telah mengutus malaikat-malaikat-Mu, untuk
memberi rejeki pada kami," seru tetua kampung sambil menengadahkan wajah
ke langit. Sedang kedua tangannya kini terbuka. Begitu pun yang dilakukan para
warga desa lain, yang rupanya juga menerima anugerah yang sama malam itu.
Warga Desa Kaliamba benar-benar
mengira ka- lau yang memberi rejeki itu malaikat-malaikat utusan Hyang Widhi.
Itu sebabnya mereka melakukan upaca- ra pemanjatan doa syukuran, karena merasa
telah terbebas dari penderitaan dan kemiskinan yang selama ini mereka terima. Semenjak
Juragan Durka Pela berkuasa dan mendapat kepercayaan dalam pembuatan jalan dari
para pembesar istana, kehidupan warga Desa Kaliamba semakin buruk.
Warga desa dipaksa pindah dari
tanah peka- rangan yang mereka tempati. Mereka juga dipaksa bekerja dengan upah
kecil, serta tindakan penindasan lainnya yang membuat warga desa semakin
sengsara. Sementara para kepala desa di sekitar Desa Kaliamba pun tak berdaya
menghadapi tindakan itu. Karena pa- da umumnya mereka dihukum dan terus
ditakuti- takuti oleh para anak buah Juragan Durka Pela.
Malam semakin dingin, ketika warga
Desa Ka- liamba satu persatu meninggalkan tanah lapang di tengah-tengah desa.
Sampai akhirnya lapangan di ten- gah desa itu sepi. Hanya asap bekas perapian
untuk memanjatkan doa yang masih mengepul. Asap itu membubung tinggi ke
angkasa.
Cahaya rembulan yang redup, semakin
mere- dup. Rembulan perlahan-lahan bergerak ke barat, pertanda kalau hari
menjelang pagi.
***
Pagi baru saja datang, ketika
seorang lelaki berperut buncit nampak berlari-lari di jalan terjal per- bukitan
di sebelah selatan Desa Kaliamba. Lelaki ber- pakaian hijau dan panjang sampai
ke lutut itu tak lain Juragan Durka Pela. Nampaknya lelaki setengah baya ini
berlari terburu-buru, setelah semalam mengalami kejadian menakutkan yang hampir
saja merenggut nyawanya.
"Hhh...! Biadab! Mereka
benar-benar biadab!" gerutu Juragan Durka Pela dengan napas terengah-
engah. Masih terbayang dalam ingatan, bagaimana semalam rumahnya disatroni, dua
lelaki bercadar yang merampok dan membunuh para centeng, "Tunggulah
pembalasanku, Manusia-manusia Keparat!"
Juragan Durka Pela berlari bagaikan
tidak mengenal lelah, meski keringat bercucuran dan nafas- nya tersengal-sengal.
Dendamnya pada kedua lelaki bercadar yang telah memporak-porandakan rumahnya,
serta mengambil harta benda miliknya membuat lelaki gemuk berperut gendut ini
marah. Semangatnya terpa- cu untuk segera sampai di tempat kediaman orang bi-
asa dimintai pertolongan. Orang tua itu tak lain Ki Jalna Wangga atau si
Pukulan Petir.
Antara Juragan Durka Pela dan Ki
Jalna Wang- ga memang tak ada hubungan apapun. Namun telah terikat dalam
kesepakatan yang dibuat oleh guru dari Ki Jalna Wangga dan orangtua Juragan
Durka Pela. Sebelum meninggal, guru Ki Jalna Wangga pernah berpesan pada ayah
Juragan Durka Pela bahwa antara Juragan Durka Pela dengan si Pukulan Petir akan
sela- lu memiliki kaitan erat. Ki Jalna Wangga harus mau menolong Juragan Durka
Pela, jika Juragan Durka Pe- la membutuhkan pertolongan. Itu sebabnya guru Ki
Jalna Wangga memberi batu mustika biru pada ayah Juragan Durka Pela, agar
setiap waktu jika anaknya membutuhkan, bisa diminta tolong pada Ki Jalna
Wangga. Matahari belum tinggi ketika Juragan Durka Pela sampai di sebuah
bangunan tua yang terletak di puncak Bukit Pawean. Bangunan itulah tempat
tinggal Ki Jalna Wangga setelah beberapa tahun lalu mening- galkan dunia
persilatan. Lelaki berjuluk si Pukulan Pe- tir itu sengaja mengasingkan diri
dari keramaian rimba persilatan yang telah lama digelutinya.
"Siapa di luar?!"
terdengar suara serak dan be- rat bertanya dari dalam bangunan menyerupai pura.
Ditilik dari suaranya, tentu pemiliknya lelaki berusia enam puluh tahunan.
"Aku, Durka Pela!" sahut
Juragan Durka Pela dengan napas tersengal-sengal.
"Masuk!" terdengar
perintah Ki Jalna Wangga. Juragan Durka Pela menurut. Kakinya perlahan
melangkah menaiki tangga kayu yang menuju se- rambi rumah panggung itu.
Berulang kali Juragan Durka Pela menarik napas dalam-dalam, berusaha mengatur
agar tidak tersengal-sengal. Kakinya terus melangkah ke pintu yang telah
terbuka.
"Masuklah!" Juragan Durka
Pela menapakkan kakinya me- langkahi pintu. Tampaklah seorang lelaki bertubuh tinggi
tegar berdiri membelakanginya. Dialah Ki Jalna Wangga atau si Pukulan Petir.
Rambutnya yang pan- jang terurai diikat kain hijau.
"Ada apa kau datang ke
tempatku?" tanya lelaki berpakaian mirip jubah warna coklat itu masih
dengan tubuh membelakangi. Seakan lelaki ini enggan untuk membalikkan tubuh.
Belum juga Juragan Durka Pela menjawab, Ki Jalna Wangga kembali memerintah,
"Duduklah!"
Juragan Durka Pela cukup tergetar
juga meng- hadapi lelaki aneh ini. Jantungnya dirasakan berdebar keras. Dengan
perlahan-lahan, Juragan Durka Pela menurut duduk. Juragan Durka Pela terdiam
dengan muka menunduk. Lidahnya terasa sangat kelu untuk memulai berkata.
"Mengapa kau diam?" tanya
Ki Jalna Wangga. Kemudian perlahan-lahan lelaki tinggi besar berambut terurai
panjang itu membalikkan tubuhnya. Dan kini nampak sesosok lelaki bermuka garang
namun tenang. "Aku mendapatkan kesulitan, Saudaraku," kata Juragan
Durka Pela setelah lama terdiam.
"Hm, kesulitan apa...?"
"Rumahku diobrak-abrik lelaki bercadar biru." "Lalu apa maumu?"
"Aku ingin kau membunuhnya, Jalna." "Apakah kau kira mudah
membunuh?" tanya Ki Jalna Wangga sinis.
"Aku yakin, kau mampu."
"Hm," Ki Jalna Wangga menggumam tak jelas. Matanya menatap tajam
Juragan Durka Pela. Yang di- pandang hanya menundukkan kepala. Ki Jalna Wang-
ga menarik napas dalam. "Kalau saja antara guruku dan orangtuamu tak ada
hubungan baik, sudah dari tadi kusingkirkan kau, Durka! Bukankah sudah kupe-
ringatkan padamu, jangan serakah. Tetapi kau tak pernah menghiraukan
peringatanku. Dan kini, kau da- tang memintaku untuk membunuh orang yang mela-
kukan tindak kebajikan itu. Hm, permainan macam apa ini?" "Dari mana
kau tahu mereka baik, Jalna?" tanya Juragan Durka Pela agak terkejut.
"Hhh..., aku telah mendengar
tentang sepak terjang mereka. Mereka memang pencuri. Tetapi, bu- kan untuk
mereka sendiri. Mereka mencuri untuk ra- kyat yang kau tindas!" tukas Ki
Jalna Wangga, yang membuat Juragan Durka Pela terdiam. "Bagaimana,
Durka?" "Itu terserahmu, Jalna. Kau boleh menolak, namun batu mustika
biru akan tetap kupegang," an- cam Juragan Durka Pela.
Mendengar ucapan Juragan Durka Pela
mata Ki Jalna Wangga membeliak. Selama mustika biru ada di tangan Juragan Durka
Pela, maka dirinya tak akan bisa lepas dari ikatan timbal balik yang telah
dirintis ke- dua orangtua mereka. Itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya ke
lembah sesat
"Bagaimana, Jalna?" tanya
Juragan Durka Pela mulai berani menatap wajah, Ki Jalna Wangga.
"Hm, licik sekali kau, Durka.
Tapi baiklah, ka- lau benar setelah kupenuhi permintaanmu kau kembalikan
mustika itu, aku akan melakukan tugas ini! Ingat, jika kau berbohong, tak segan-segan
aku membunuhmu!" ancam Ki Jalna Wangga. Wajahnya meme- rah merasa terpaksa
terhadap permintaan Juragan Durka Pela.
"Jangan khawatir! Selama ini,
aku tak pernah menyusahkanmu, bukan?" jawab Juragan Durka Pela dengan
senyum mengembang di bibir. Sepertinya jura- gan berperut gendut itu merasa
yakin, kalau Ki Jalna Wangga akan dapat menyingkirkan lelaki bercadar bi- ru
"Pulanglah! Jika aku telah
menjalankan tugas, maka aku akan ke rumahmu," ujar Ki Jalna Wangga.
"Baik! Kutunggu."
Juragan Durka Pela tersenyum puas,
kemudian bangkit dari duduknya. Setelah menjura, lelaki berpe- rut gendut itu
melangkah keluar meninggalkan tempat peristirahatan si Pukulan Petir.
Ki Jalna Wangga terpaku berdiri
dengan mata memandang kosong. Nafasnya mendesah, seakan ada sesuatu yang
menjadi beban pikirannya. Kemudian dengan menarik napas lagi, lelaki berambut
panjang itu melangkah masuk. Ditutupnya pintu pesanggra- hannya. "Aku tak
tahu, sampai kapan manusia licik itu akan mengadu domba diriku dengan para pendekar,"
gumamnya sambil melangkah masuk.
***
3
Pagi cerah dengan langit biru
membentang, me- lingkupi Desa Kaliamba. Burung-burung berlompatan dan berkicau
riang di pepohonan. Suasana Desa Ka- liamba yang biasanya sepi, kini ramai.
Penduduk bersuka ria dan ramai membicarakan rejeki yang datang dari langit
Pembicaraan masalah harta benda
yang datang sekonyong-konyong dari langit menyebar, tak hanya di wilayah Desa
Kaliamba. Hampir semua penduduk membicarakan masalah rejeki itu. Sampai-sampai,
penduduk Desa Kaliamba tak ada yang mau bekerja. Mereka masih diliputi
kebahagiaan.
Di pagi yang cerah itu, dari arah
timur nampak seorang remaja melangkah memasuki mulut Desa Kaliamba. Yang satu
pemuda berpakaian rompi kulit ular. Tingkah lakunya lucu. Mulutnya tampak cen-
gengesan sambil menggaruk-garuk kepala dengan tan- gan kanan. Pemuda tampan
berambut gondrong itu tak lain Sena Manggala atau lebih dikenal dengan ju-
lukan Pendekar Gila. Tingkah lakunya yang konyol membuat setiap orang yang
melihat tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Berjalan di sampingnya dengan
senyum mena- wan, seorang gadis berparas elok laksana Dewi Kwan Im. Pakaiannya
yang hijau berlengan panjang tampak mencolok dengan warna kulitnya yang putih.
Dipun- daknya tersandang sebilah pedang. Gadis cantik ber- paras Cina itu,
tiada lain Bidadari Pencabut Nyawa, atau Mei Lei.
Keduanya tengah melanjutkan
perjalanan me- nuju tempat kediaman guru Sena, di Goa Setan.
"Kakang, sepertinya ada
pembuatan jalan baru di desa ini," ujar Mei Lie sambil memandangi tempat
yang kelihatan banyak bebatuan menumpuk. Sebagian lagi, sudah menjadi hamparan
yang rata.
"Eh, benar juga. Tapi, mengapa
sepi?" tanya Sena dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Ah ah ah,
padahal belum selesai. Ah, kurasa ada sesuatu yang menjadikan pembuatan jalan
jadi terhenti."
"Sesuatu apa, Kakang?"
tanya Mei Lie dengan kening berkerut, ingin tahu apa yang dimaksudkan Pendekar
Gila. Matanya memandang lekat wajah Pen- dekar Gila yang menggaruk-garuk kepala
sambil cen- gengesan.
Pendekar Gila tak langsung
menjawab. Sambil cengengesan, tangannya kembali menggaruk-garuk kepala.
Dipandanginya bebatuan menumpuk di kanan kiri tanah yang akan dibuat jalan.
Sebagian jalanan sudah tertutup bebatuan sebesar kepalan. Pepohonan pun banyak
yang ditebangi, potongan-potongan kayu tertumpuk di pinggir tanah yang telah
terbuka untuk jalan.
"Entahlah, Mei. Tapi.... Ah,
apakah kau tak ingat, Mei? Bukankah di perjalanan kita mendengar kalau Baginda
Awangga sedang membuat jalan yang akan menghubungkan antara Kerajaan Surya
Langit dengan Kerajaan Bayu Bumi?" tutur Sena menje- laskan. "Untuk
apa, Kakang? Bukankah menurut ka- bar, dua kerajaan itu selama ini saling
bermusuhan? Keduanya saling memperebutkan Desa Kaliamba ini...?" tanya Mei
Lie semakin ingin tahu. "Tapi, mengapa kini kedua kerajaan itu bisa rukun.
Bahkan tam- paknya berusaha saling mempererat hubungan. Buktinya mereka membuat
jalan di sekitar perbatasan ke- dua kerajaan. Ah..., mungkin ada sebab-sebab
terten- tu, Kakang," lanjut Mei Lie sambil memandangi jalan yang tampak
masih berserakan itu.
"Entahlah, Mei. Kau kira aku
ini dewa, yang ta- hu semua kehidupan di Mayapada ini? Hi hi hi...!"
Sena tertawa cekikikan dengan
tangan mengga- ruk-garuk kepala. Hal itu membuat Mei Lie melototkan mata. Gadis
itu gemas sekali melihat tingkah laku ke- kasihnya. Kemudian dengan pelan
dicubitnya pinggang
Sena.
"Nakal!" "Aduh...!
Bisa sobek kulit pinggangku," rungut Sena sambil cengengesan.
"Kakang sih, nakal,"
gerutu Mei Lie manja. Matanya nampak meredup, membuat Pendekar Gila se- makin
merasa senang. Semakin cemberut, kecantikan gadis itu semakin tampak jelas.
"Hua ha ha...!" Pendekar
Gila tertawa terbahak-bahak, Mei Lie pun kembali melotot. Namun kemudian turut
terse- nyum. Tangannya dengan manja menggelayut di pun- dak kekasihnya. Kedua
pendekar itu kembali melang- kah beriringan meneruskan perjalanan. Keduanya saling
bercanda ria.
***
Dari arah barat, nampak seorang
lelaki bertu- buh tinggi tegap melangkah menuju ke arah Bukit Yuyu. Wajah
lelaki ini kelihatan keras. Namun dilihat dari sorot matanya lelaki berusia
sekitar enam puluh tahun berpakaian jubah coklat itu tampaknya orang berbudi
baik. Lelaki ini yang tiada lain Jalna Wangga, nampaknya sedang mencari lelaki
bercadar biru, yang diceritakan Juragan Durka Pela.
Jalna Wangga sebenarnya tak ingin
menjalankan perintah itu, karena sudah tak mau turut campur dalam urusan rimba
persilatan. Namun karena ikatan persaudaraan yang dibina gurunya dengan ayah
Jalna Wangga, menyebabkan dirinya terpaksa harus melak- sanakannya. Hal yang
kedua, karena Juragan Durka Pela telah berjanji akan menyerahkan batu mustika
bi- ru, jika Jalna Wangga menjalankan permintaan tersebut
"Hm, ke mana aku harus mencari
lelaki berca- dar biru?" tanya Jalna Wangga bergumam sendiri. Di rimba
persilatan banyak manusia memakai cadar un- tuk menyembunyikan wajahnya. Sulit
bagi si Pukulan Petir itu mencari orang yang dimaksudkan Juragan Durka Pela.
Jalna Wangga terus melangkah,
menelusuri Bukit Yuyu yang membentang panjang dari barat sam- pai ke timur.
Tiba-tiba dari kejauhan matanya melihat sepasang muda-mudi tengah melangkah
berlawanan arah dengannya. Tak lama kemudian kedua muda- mudi itu telah sampai
di depannya.
"Kisanak dan Nisanak, dilihat
dari pakaian dan senjata yang disandang Nisanak, tentunya kalian dari rimba
persilatan, bukan?" sapa Jalna Wangga atau si Pukulan Petir.
Mei Lie mengerutkan kening, lalu menoleh
ke wajah kekasihnya. Kemudian Pendekar Gila tersenyum-senyum sambil
menggaruk-garuk kepala. Mata Jalna Wangga terbelalak, merasa heran menyaksikan
tingkah laku pemuda di hadapannya.
Tingkah laku pemuda di hadapannya
yang se- perti orang gila, mengingatkan Jalna Wangga pada se- seorang yang
sangat dikaguminya. Orang gila yang ke- saktiannya belum tertandingi hingga
saat ini. Namun Jalna Wangga sepertinya belum yakin, karena pernah didengarnya
kalau Pendekar Gila dari Goa Setan san- gat aneh. Dia tak pernah mengambil
murid.
"Siapa pemuda gila ini?"
gumam Jalna Wangga dalam hati, "Dilihat dari gerak-geriknya, sama persis
dengan Pendekar Gila dari Goa Setan. Tapi, apa benar dia muridnya?"
"Kisanak, kau memang benar.
Kami memang dari persilatan. Ada apa gerangan...?" tanya Mei Lie
mendahului Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, rupanya penglihatanku
masih waras," gu- mam Jalna Wangga. Kemudian dengan mata masih memandang
Pendekar Gila, lelaki berjubah coklat itu bertanya, "Kalau memang mataku
yang tua ini benar- benar belum rabun, apakah benar Kisanak ada hu- bungan
dengan Pendekar Gila dari Goa Setan?"
Mei Lie menoleh ke wajah Pendekar
Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, dari mana kau tahu,
Ki?" tanya Sena me- mandang dengan mata terpicing.
"Dari tingkah lakumu, Anak
Muda." "Aha...! Bagaimana mungkin kau yakin aku seorang pendekar? Ah,
aku hanya pemuda gila," jawab Sena, "Bagaimana mungkin aku dapat
dihubungkan dengan Pendekar Gila dari Goa Setan?"
Jalna Wangga tersenyum. Hatinya
merasa tak ragu, kalau pemuda ini bukan pemuda gila sembaran- gan. Atau memang
ada hubungannya dengan Pendekar Gila dari Goa Setan yang pernah menggemparkan
rim- ba persilatan puluhan tahun yang silam. Apalagi keti- ka Jalna Wangga
melihat suling yang terselip di ikat pinggang pemuda gila itu. Matanya seketika
membela- lak, hampir tak percaya pada penglihatannya.
"Suling Naga Sakti! Kau...?
Kau Pendekar Gila dari Goa Setan?!" tanya Jalna Wangga dengan mata masih
membelalak. Hatinya hampir tak percaya, kalau kini sedang berhadapan dengan
pendekar yang sangat kesohor itu. Namun Jalna Wangga tiba-tiba kembali ragu,
karena menurutnya, tentu Pendekar Gila sudah berusia lebih dari tujuh puluh
tahun. Sedangkan pen- dekar yang memegang Suling Naga Sakti ini, baru dua puluh
empat tahunan.
"Ah ah ah...! Kau mungkin
salah, Ki. Sudah kukatakan, aku hanya pemuda gila biasa yang tiada arti.
Bagaimana mungkin kau mengatakan aku Pende- kar Gila dari Goa Setan? Lucu
sekali...!" gumam Sena sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya cen-
gengesan, sementara tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Tapi aku tak dapat kau
bohongi, Pendekar. Suling Naga Sakti ada di tanganmu. Namun, benarkah kau Singo
Edan? Seharusnya pendekar sakti itu sudah berusia tujuh puluh tahun
lebih," ujar Jalna Wangga masih belum yakin dengan penglihatannya.
"Hi hi hi...! Kau kira ada
orang seperti Dewa, yang bisa mengubah usia? Lucu sekali kau, Ki," gu- mam
Sena masih cengengesan dengan kepala mengge- leng-geleng.
"Kisanak, sebenarnya temanku
bukanlah Pen- dekar Gila dari Goa Setan. Namun dia adalah murid
tunggalnya," tutur Mei Lie menjelaskan.
Semakin membelalak kaget mata Jalna
Wangga mendengar penuturan Mei Lie. Hatinya tak menyang- ka, kalau Singo Edan ternyata
memiliki seorang murid. Kalau gurunya saja selama ini belum ada yang me-
nandingi, muridnya tentu memiliki ilmu-ilmu gila yang lebih dahsyat. Pikir
Jalna Wangga.
"Oh, terimalah salah hormatku,
Tuan Pende- kar!" ujar Jalna Wangga sambil menjura hormat.
"Aha, kurasa tak semestinya
kau berlaku begi- tu, Ki. Seharusnya kami yang muda, melakukan hal itu. Ah,
sudahlah, kami tak punya waktu banyak. Maaf, kami harus segera meneruskan
perjalanan un- tuk menemui guru," kata Sena mohon diri.
"Jadi Tuan Pendekar hendak
menemui guru Tuan?" tanya Jalna Wangga.
"Begitulah. Ada apa?"
tanya Sena. "Sampaikan salam hormatku pada guru Tuan," pinta Jalna
Wangga. "Sampaikan pada guru Tuan, Jalna Wangga menghaturkan hormat!"
"Baik, Ki. Akan kusampaikan.
Kami mohon di- ri," ujar Sena sambil menjura. Begitu pula yang dila- kukan
Mei Lie. Namun ketika mereka hendak melang- kah, tiba-tiba Jalna Wangga
berseru. "Tuan Pendekar, tunggu!" "Aha, ada apa lagi, Ki?"
tanya Sena dengan ken- ing mengerut
Mei Lie menghela napas. Sepertinya
gadis itu tak suka dengan Jalna Wangga, yang menghentikan langkah mereka
kembali. Seakan-akan Mei Lie melihat kalau orang tua ini tak mempercayai
mereka. Bahkan tampaknya hendak menyelidiki Pendekar Gila dan di- rinya.
"Maaf, saya kembali
mengganggu!" "Cepat katakan! Kami tak ada waktu lagi," de- sak
Mei Lie tak sabar.
"Kalau boleh ku tahu, apakah
Tuan berdua me- lihat lelaki bercadar biru?" tanya Jalna Wangga.
"Tidak!" sahut Mei Lie
cepat, "Sudah tak ada la- gi?"
"Terima kasih," jawab
Jalna Wangga. Kemudian setelah menjura hormat Si Pukulan Petir meninggalkan
kedua pendekar yang kembali melanjutkan perjalanan ke barat "Orang tua
aneh. Untuk apa dia mencari lelaki bercadar biru?" tanya Sena sambil cengengesan
den- gan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Sudahlah, Kakang! Mengapa
kita memikirkan orang tua itu? Ayo kita teruskan!" ajak Mei Lie sambil
menggandeng tangan Pendekar Gila untuk mene- ruskan perjalanan.
"Tapi, Mei. Kurasa ada sesuatu
yang menarik di desa itu," kata Sena dengan mata menyapu ke sekelil- ing
Bukit Yuyu. Kemudian ditolehkan kembali wajahnya ke Desa Kaliamba. Ada sesuatu
yang menarik per- hatiannya. Apalagi setelah bertemu Jalna Wangga yang bertanya
tentang lelaki bercadar biru.
"Ah, kau ini ada-ada saja,
Kakang. Sudahlah, kita pergi!" ajak Mei Lie.
"Tunggu, Mei! Aku yakin, orang
tua itu ada hu- bungannya dengan kemacetan pembuatan jalan. Ah, kurasa ada yang
kurang beres di Desa Kaliamba itu. Apakah tak sebaiknya kita singgah dulu di
desa ini?" ajak Sena sambil nyengir dengan mata memandang penuh harap pada
Mei Lie. Sedangkan tangannya menggaruk-garuk kepala, yang menjadikan tingkahnya
nampak semakin bertambah lucu.
"Hhh...!" Mei Lie
menghela napas pelan. "Baik- lah, aku setuju."
"Hua ha ha...!" Pendekar
Gila tertawa terbahak-bahak. Semen- tara Mei Lie justru cemberut. Kemudian
dengan nakal, Mei Lie mencubit pinggang Sena. Lalu keduanya berla- ri-lari
menuruni Bukit Yuyu, menuju Desa Kaliamba. Desa yang juga dituju Jalna Wangga
***
Jalna Wangga kini melangkah
memasuki se- buah kedai yang nampaknya baru dibuka, setelah se- kian lama
tertutup. Semenjak Juragan Durka Pela di- percaya pihak kerajaan menangani
pembuatan jalan dan pembebasan tanah kedai itu pun tutup. Karena para warga
diwajibkan ikut bekerja dalam pembuatan jalan baru.
Namun semenjak peristiwa yang
terjadi di ru- mah Juragan Durka Pela beberapa hari lalu, warga desa mulai
merasa agak bebas. Para centeng bayaran ju- ragan itu telah dibunuh habis oleh
dua lelaki bercadar yang belum dikenal. Kedai di ujung desa itu pun mulai buka
kembali.
Para pengunjung kedai, nampak
sedang mem- bicarakan masalah dua orang bercadar yang telah merampok rumah
Juragan Durka Pela dan membagikan harta rampokannya kepada penduduk.
"Wah, kalau begitu, berarti
mereka yang mem- beri pada kita," kata lelaki bertubuh kurus dengan
jenggot panjang.
"Ya! Baik sekali mereka. Baru
kali ini, ada mal- ing yang membagi-bagikan barang colongannya pada warga
desa," sambung yang lainnya.
Jalna Wangga yang mendengar pembicaraan
orang-orang di kedai seketika tergetar hatinya. Kalau benar apa yang
diceritakan orang-orang tentang dua maling budiman itu, berarti mereka berbuat
demi ke- manusiaan.
"Hm, pantaskah aku mengabulkan
permintaan Durka? Kalau sebenarnya kedua lelaki bercadar itu bertujuan
baik?" gumam Jalna Wangga. Hatinya mas- gul, setelah mendengar cerita
warga Desa Kaliamba di kedai ini. Ketika semua orang membicarakan tentang dua
orang lelaki bercadar yang membagi-bagikan rejeki, da- ri luar masuk dua orang
lelaki yang sedang mereka bi- carakan. Sepontan semua yang ada di kedai mem-
bungkuk memberi hormat. Hal itu menjadikan kedua orang bercadar biru dan ungu
mengerutkan kening- nya.
"Hai, mengapa kalian memberi
hormat pada- ku?" tanya lelaki bercadar biru, "Aku bukan siapa-
siapa. Aku manusia seperti kalian. Kedatangan kami kemari, semata-mata ingin
meminta makan."
Mendengar permintaan manusia
bercadar biru, dengan tergopoh-gopoh pemilik kedai segera menghampiri. Kemudian
segera menjura hormat
"Silakan, Tuan-tuan...!"
sambutnya penuh ra- mah.
"Terima kasih, Ki. Kami lapar,
ingin makan," pinta lelaki bercadar ungu.
Pemilik kedai segera memerintah
pelayannya agar membawakan makanan yang lezat-lezat. Tidak lama kemudian,
makanan pun datang. Hal itu mem- buat kedua manusia bercadar terkejut, tak
menyangka akan dihidangkan makanan yang lezat-lezat dan tentu sangat mahal
harganya.
"Ki, tentunya makanan selezat
ini sangat mahal harganya. Bagaimana aku akan membayarnya?" tanya lelaki
bercadar biru, tak mengerti mengapa pemilik ke- dai memberi mereka makanan yang
lezat-lezat. Padahal mereka belum memesan makanan apapun.
"Ah, untuk Tuan berdua, kami
tak meminta bayar. Kami telah tahu, siapa Tuan berdua," jawab pemilik
kedai sambil membungkuk hormat. Di bibir le- laki berusia sekitar enam puluh
lima tahun dan bertu- buh kurus itu menyunggingkan senyum ramah. Se- nyum yang
tulus, tanpa dibuat-buat
"Tapi, Ki" Lelaki
bercadar ungu hendak menolak, namun pemilik kedai telah mendahului.
"Ah, sudahlah! Betapa kami
warga Desa Ka- liamba sangat berterima kasih atas pertolongan Tuan- tuan,"
sahut pemilik kedai, yang semakin membuat kedua lelaki bercadar saling pandang.
"Aku tak mengerti, Ki,"
kata manusia bercadar ungu.
"Sudahlah, Tuan! Jika memang
harus bayar, biar kami yang membayarnya," salah seorang warga Desa
Kaliamba yang ada di kedai menyahuti. "Tuan berdua telah menolong kami.
Sudah sepantasnya kami membalas Tuan berdua."
Kedua lelaki bercadar itu tak
berkata lagi. Se- saat keduanya saling pandang. Kemudian lelaki bercadar biru
memandangi pemilik kedai yang masih terse- nyum penuh hormat
"Baiklah kalau begitu. Tolong
kau bung- kuskan!" "Dengan senang hati, Tuan. Pelayan tolong
bungkus!" perintah pemilik kedai dengan gembira, ka- rena pemberiannya
tidak ditolak kedua manusia ber- cadar itu. Setelah mendapat dua bungkusan,
kedua ma- nusia bercadar itu segera melesat keluar meninggalkan kedai. Namun
tanpa mereka ketahui, seorang lelaki be- rusia sekitar enam puluh tahun dengan
jubah coklat mengikuti mereka dari belakang.
Pendekar Gila dan Mei Lie sejak
tadi mengawasi gerak-gerik kedua manusia bercadar yang kini dikejar Jalna
Wangga. Kedua pendekar muda-mudi itu kemu- dian menguntit ketiganya.
"Kita harus tahu, Mei. Ah,
jelas ini suatu ke- ganjilan," ujar Pendekar Gila sambil terus berlari ke
se- latan membuntuti Jalna Wangga.
"Kalau begitu, kedua manusia
bercadar itu orang baik, Kakang?" tukas Mei Lie.
"Mungkin, Mei," sahut
Sena. "Kita tak tahu apa maksud mereka sesungguhnya."
"Ya, kuharap mereka
benar-benar bermaksud baik," gumam Mei Lie sambil terus mengikuti Pendekar
Gila mengikuti Jalna Wangga yang tengah mengejar kedua manusia bercadar.
Sampai di Hutan Jabara, pada sebuah
tanah lapang yang sepi Jalna Wangga berhasil mengejar kedua manusia bercadar.
Sementara itu, Pendekar Gila dan Mei Lie segera menyelinap bersembunyi di balik
semak belukar yang lebat, mengintai apa yang akan terjadi. "Kisanak,
sedari tadi kami perhatikan kau menguntit kami, ada apa?" tanya lelaki
bercadar biru setelah menghentikan langkahnya.
"Kalian kenal dengan Durka
Pela, bukan?" tanya Jalna Wangga.
"Ya! Ada apa?" tanya
lelaki bercadar ungu. "Kutunggu kalian di Bukit Yuyu nanti malam, untuk
menyelesaikan apa yang berhubungan antara kalian dan saudaraku!" usai
berkata begitu, tanpa menghiraukan kedua manusia bercadar lelaki tua ber- juluk
si Pukulan Petir itu melesat pergi.
"Manusia aneh," gumam
lelaki bercadar ungu, "Apakah Kanjeng Pangeran akan melayaninya?"
"Ya! Bagaimanapun, aku harus
bertanggung jawab, Pranala. Meski nyawaku sebagai taruhannya. Demi rakyat yang
menderita aku siap berkorban," ja- wab Pangeran Prapanca.
"Kalau begitu, aku harus ikut,
Kanjeng." "Baiklah, kita hilangkan pikiran itu. Ayo...!" ajak
Pangeran Prapanca. Keduanya pun seketika mele- sat meninggalkan Hutan Jabara,
tanpa tahu dua orang yang sejak tadi mengawasi mereka. Ya, Pendekar Gila dan
Mei Lie yang tampak kebingungan karena belum mengerti.
"Aku semakin tertarik, Mei.
Kurasa, lebih baik kita melihat apa yang terjadi nanti malam," ujar Sena
sambil cengengesan dengan kepala menggeleng-geleng.
"Terserah kau saja,
Kakang," sahut Mei Lie. "Ayo kita ke kedai! Perutku sudah lapar. Hi
hi hi...!"
Dengan tertawa cekikikan, Pendekar
Gila me- langkah meninggalkan Hutan Jabara.
4
Malam perlahan-lahan turun. Di
sebelah timur, bulan kelihatan merambat naik perlahan. Sinarnya yang redup,
memancar menerangi bumi walau remang- remang. Dua sosok bayangan yang tak lain
Pendekar Gila dan Mei Lie, berkelebat cepat menuju Bukit Yuyu. Sampai sejauh
itu kedua pendekar muda itu belum mengerti penyelesaian macam apa yang
diinginkan Ki Jalna Wangga.
Setelah sampai di Bukit Yuyu yang
masih sepi, Pendekar Gila segera mengajak Mei Lie bersembunyi di balik
semak-semak yang cukup rimbun. Hal itu di- maksudkan agar kehadiran mereka tak
diketahui Ki Jalna Wangga maupun kedua lelaki bercadar.
"Ingat, Kakang. Kau jangan
cekikikan!" ujar Mei Lie mengingatkan Pendekar Gila. Sebab kebiasaan ko-
nyol kekasihnya akan menyebabkan persembunyian mereka diketahui.
"Aha, tenanglah, Mei! aku akan
berusaha," sa- hut Sena sambil cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk
kepala.
"Lihat, dua lelaki bercadar
itu datang," bisik Mei Lie. "Aha, kau benar. Kurasa, malam ini akan
terja- di pertarungan yang seru, Mei," kata Sena masih den- gan mulut
cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala.
Dari arah barat, melesat dua sosok
tubuh me- nuju tanah lapang yang ada di Bukit Yuyu. Tidak lama kemudian, dari
arah selatan melesat pula sesosok tu- buh tinggi besar. Ketiganya pun bertemu,
saling pan- dang satu sama lain.
Pendekar Gila dan Mei Lie ingin
tahu apa sebenarnya yang akan terjadi. Keduanya berusaha tenang di
persembunyian. Mata mereka memandang tajam ke tanah lapang tempat tiga orang
lelaki saling berhada- pan.
"Kau telah siap, Cadar
Biru?" tanya Ki Jalna Wangga. "Aku siap. Apapun yang hendak kau
lakukan, aku telah siap menghadapinya," jawab Pangeran Pra- panca tegas.
"Bagus! Tapi terlebih dahulu
kukatakan, bahwa aku hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Durka
Pela," tutur Ki Jalna Wangga.
"Aku tahu," jawab
Pangeran Prapanca yang mengenakan cadar biru.
"Baik, bersiaplah!
Heaaa...!" Ki Jalna Wangga melesat dengan serangan per- tamanya yang
bernama 'Pukulan Gempa'. Kedua tan- gannya direntangkan dengan jari-jari
mengepal. Tan- gan kiri ditaruh di bawah siku tangan kanan. Sedang- kan tangan
kanan digerakkan ke samping, yang dite- ruskan ke depan lurus.
"Mundurlah, Cadar Ungu!"
perintah Cadar Biru tak menyebut nama rekannya. Setelah Pranala mun- dur,
Pangeran Prapanca pun segera membuka jurus- nya. Kaki kanannya digeser agak ke
depan setengah ditekuk. Kedua tangannya menyatu di depan dada. La- lu tangan
kanan membuka dan ditarik ke atas, diikuti dengan tangan kiri diangkat ke atas
kepala. Itulah ju- rus pembuka 'Bangau Merentang Sayap' diteruskan dengan jurus
'Kepakan Sayap Bangau'.
"Hea!" "Yea!"
Tubuh keduanya melesat ke depan. Tidak hanya tangan yang bergerak menyerang,
kedua kaki mereka pun turut menendang dan menyapu. Dalam sekejap saja, keduanya
telah terlibat pertarungan yang seru.
"Jaga igamu, Cadar Biru!"
seru Ki Jalna Wang- ga. Kemudian dihantamkan pukulan tangan kanannya ke dada
sebelah kiri lawan. Namun dengan cepat Pan- geran Prapanca berkelit, sehingga
pukulan lawan hanya mendesir beberapa jari di samping tubuhnya.
Setelah lepas dari serangan lawan,
dengan ce- pat Pangeran Prapanca memutar tubuhnya setengah lingkaran. Kemudian
dengan gerakan ringan, lelaki bercadar biru itu mengibaskan telapak tangan
kirinya ke tulang rusuk sebelah kanan lawan.
"Rusukmu, Ki! Hea...!"
Wrt! "Hait!" Dengan berguling, Ki Jalna Wangga menge- litkan serangan
lawan. Sambil berguling pula, lelaki tua itu melancarkan tendangan dengan jurus
'Kaki Jengkrik Menjentik'.
"Hea...!" Pangeran
Prapanca mencelat ke belakang, mengelakkan tendangan kaki lawan. Melihat lawan
melompat, dengan cepat Ki Jalna Wangga melakukan salto. Kemudian dilentingkan
tubuhnya ke atas, sam- bil bergerak melakukan serangan. Kaki kanan menen- dang
tubuh lawan dalam keadaan masih melayang.
"Heaaa!" Melihat lawan
menyerang dengan tendangan, Pangeran Prapanca segera memiringkan tubuh ke
samping kanan lalu merunduk. Kemudian dengan jari- jari terbuka tangan kanannya
dikibaskan ke tubuh Ki Jalna Wangga.
"Yea!" Wrt!
"Heh?!" Ki Jalna Wangga kaget bukan kepalang karena tak menyangka
lawan akan menyerang begitu cepat. Dengan cepat lelaki berambut panjang itu me-
narik serangan. Tubuhnya dilontarkan ke atas. Setelah berjumpalitan di udara
dengan ringan kakinya menda- rat sambil tertawa-tawa.
"Hua ha ha...! Hebat! Kau
benar-benar hebat Cadar Biru. Tapi itu baru pemula, bukan? Kini kau yang
menyerang!" seru Ki Jalna Wangga.
"Baik! Bersiaplah!"
"Aku telah siap," jawab Ki Jalna Wangga. Pangeran Prapanca segera
menarik kaki kanan ke belakang. Kaki kiri agak ditekuk. Tangannya menyi- lang
ke bawah, kemudian digerakkan ke atas. Itulah jurus 'Bangau Menyibak Air'.
Sebuah jurus pembuka yang cukup berbahaya. Sasarannya dada dan jantung lawan.
"Yea!" "Hea!"
Kedua tubuh melesat ke udara. Pangeran Pra- panca mengembangkan kedua tangan ke
samping. Kemudian dengan cepat tangan kanannya memburu ke depan. Disusul dengan
tangan kiri untuk menang- kis.
"Hea!" Ki Jalna Wangga
pun nampaknya tak mau ka- lah. Tangannya dijotoskan ke muka, disusul dengan
tangkisan tangan kirinya. Mereka terus bertarung di udara laksana burung
terbang.
Pendekar Gila dan Mei Lie yang
menyaksikan pertarungan itu terkesiap kaget Mata keduanya mem- belakak, takut
kalau-kalau salah seorang di antara ke- duanya akan menjadi korban. Namun untuk
ikut cam- pur dalam urusan itu, Sena tak mau. Dirinya belum tahu apa sebenarnya
yang terjadi.
"Kakang, apa kita akan tinggal
diam?" tanya Mei Lie berbisik lirih, sepertinya khawatir menyaksikan
pertarungan itu.
"Aha, rupanya kau yang
cerewet, Mei. Bukan- kah kau tadi melarangku berbicara?" sahut Pendekar
Gila dengan mulut cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
"Tapi, aku khawatir salah satu
mati percuma, Kakang." "Aha, kau semakin cerewet saja seperti seorang
nenek, Mei."
"Tapi, Kakang...."
"Aha, sudahlah. Rimba persilatan memang begi- tu, Mei. Kita lihat saja.
Bukankah kita tak tahu apa- apa?" ujar Sena berusaha mengingatkan
kekasihnya yang kelihatan tak sabar.
"Tapi kelihatannya mereka
orang baik-baik. Ra- sanya tak pantas sealiran harus bertarung," tukas Mei
Lie masih berusaha mengajak Pendekar Gila agar me- lerai pertarungan itu.
Tampak kini keduanya bertarung
sambil bergu- lingan ke bawah. Mereka masih saling pukul dan tendang.
"Kau harus ingat, Mei. Ini
pelajaran untukmu. Dalam urusan pribadi, kita tak bisa ikut campur," ujar
Sena berusaha menjelaskan pada kekasihnya. "Aha, bukankah lebih baik kita
melihat?"
Mei Lie pun menurut diam. Dengan
cemas ga- dis itu menyaksikan pertarungan yang semakin seru. Kini tubuh
keduanya masih bergulingan di tanah. Na- mun begitu, keduanya bagaikan dua ekor
kucing. Meski dengan tubuh menggelinding dari atas bukit itu, keduanya tetap
berusaha saling menyerang.
"Hea!" "Yea!"
Tangan mereka terus bergerak, memukul dan menangkis. Begitu pula dengan kedua
kaki mereka, saling kait dan tendang. Sebuah perkelahian yang san- gat seru.
Tampaknya kedua orang itu memiliki ilmu se- taraf.
Trak! "Heaaa...!" Trep!
Tangan Pangeran Prapanca menyerang. Namun dengan cepat tangan kiri Ki Jalna
Wangga menangkis dan menangkapnya. Lelaki bercadar biru itu berusaha menarik
tangannya. Disodokkan sikunya menyerang, tetapi kembali Ki Jalna Wangga
menangkis dengan si- ku tangan kiri.
"Hea!" Trak! Keduanya
saling dorong dan tarik. Sampai ak- hirnya, mereka berada di bawah. Keduanya
masih saja saling dorong dan tarik, kemudian tiba-tiba telapak tangan dan
jotosan mereka beradu.
Plakkk! "Hea!"
"Yea!" Pangeran Prapanca melenting ke atas, dengan tubuh jumpalitan.
Kemudian dengan ringan menda- ratkan kaki di atas bukit. Begitu juga dengan Ki
Jalna Wangga. Lelaki tua itu pun melakukan hal yang seru- pa. Setelah
berjumpalitan mencelat ke atas, dengan ringan kedua kakinya mendarat di atas
bukit. Seketika pertarungan mereka berlanjut. Mata mereka saling pandang seakan
berusaha mengukur ilmu masing- masing. "Bagaimana, Cadar Biru? Apakah akan
dite- ruskan?" tanya Ki Jalna Wangga, "Sengaja aku tidak mengeluarkan
jurus andalanku yang bernama jurus 'Pukulan Petir'. Karena jika aku keluarkan
jurus itu, maka kau akan mengalami kematian."
Diam-diam di hati Cadar Biru
tersirat rasa ka- gum pada lelaki setengah baya itu. Dia pun menyadari, kalau
lelaki bermuka garang itu mau, maka dalam be- berapa gebrakan saja dia akan
kalah. Tetapi rupanya lelaki berjubah coklat itu hanya menjajal sampai sebe-
rapa ilmunya.
"Hm, kita teruskan,"
sahut Cadar Biru yang ju- ga ingin melihat sampai sejauh mana kepandaian lelaki
bermuka garang namun matanya mencerminkan ke- tenangan dan persahabatan ini.
"Cadar Biru, biar aku yang
meneruskan, karena aku pun terlibat di dalamnya," tiba-tiba Cadar Ungu
yang tak lain Pranala berseru.
"Hm, dua-duanya pun
boleh!" sela Ki Jalna Wangga, yang membuat kedua lelaki bercadar saling
pandang sesaat. Napas keduanya memburu, terlebih- lebih Pangeran Prapanca yang
merasa diremehkan. Mata di balik cadar biru itu menyorot tajam ke wajah Ki
Jalna Wangga. Seakan tak mampu lagi ditahan ke- marahannya yang bergayut dalam
hati. Hal itu karena dirinya merasa lelaki tua itu telah ikut campur urusan-
nya terhadap Juragan Durka Pela.
"Kita teruskan! Biar aku yang
menghadapimu!" tantang Pangeran Prapanca, "Mari kita gunakan senja-
ta kita!" "Hm, begitu? Baiklah." Ki Jalna Wangga terse- nyum
sinis seraya memicingkan mata memandang wa- jah Cadar Biru.
Sret! Pangeran Prapanca menarik
pedang dari wa- rangkanya. Begitupula yang dilakukan Ki Jalna Wang- ga. Lelaki
tua itu mencabut golok panjangnya dari wa- rangka. Keduanya mundur dua tindak
dengan mata saling menatap tajam.
"Hai... Mereka benar-benar
hendak saling membunuh, Kakang," kata Mei Lie berbisik.
"Aha, biarkan saja! Inilah
rimba persilatan, Mei. Kadang kala, manusia tak lebihnya seperti hewan. Tak
mengenal belas kasihan terhadap sesamanya," gumam Sena sambil
menggaruk-garuk kepala. "Kita lihat saja, Mei!"
Mei Lie kembali diam sambil
memperhatikan kedua orang yang siap melakukan pertarungan maut. Keduanya
sama-sama telah mengeluarkan senjata. Sa- tu bersenjata pedang, sedangkan yang
satunya bersen- jatakan golok panjang bergerigi.
***
Pangeran Prapanca dengan mata tajam
mena- tap wajah Ki Jalna Wangga. Diletakkan pedangnya ke depan wajah. Sementara
tangan kirinya, kini diletak- kan di pinggang dengan jari-jari terbuka. Kakinya
ber- gerak teratur, melangkah membentuk siku.
"Yea!" Dengan jurus
'Bangau Terbang', Pangeran Pra- panca membuka serangan. Pedang di tangan
kanannya digerakkan dengan cepat. Mulanya ke bawah, kemu- dian dengan cepat
diangkat dan dibabatkan sambil melesat ke depan. Sedang tangan kirinya tak mau
ke- tinggalan, bergerak memukul dengan telapak terbuka.
"Hea!" Menyaksikan lawan
telah membuka serangan, Ki Jalna Wangga pun dengan cepat membuka jurus 'Simpul
Golok Maut'. Golok di tangannya digerakkan naik turun, lalu dilanjutkan dengan
babatan menda- tar. Disertai pekikan menggelegar, membuat suasana sepi di Bukit
Yuyu berubah riuh, Ki Jalna Wangga me- lesat menyerang.
"Yeaaa...!" Wrt! Dua
tubuh berkelebat cepat dengan senjata siap membantai satu sama lain. Pedang dan
golok tampak berkelebat begitu cepat. Sehingga kedua senja- ta itu bagaikan
menghilang. Yang kelihatan hanya si- nar yang berkeredep, keluar dari gerakan
kedua senja- ta.
Wrt! Trang! Golok dan pedang tajam
itu beradu, mengelua- rkan pijaran api. Ki Jalna Wangga dan Pangeran Pra- panca
tampak saling melompat ke belakang. Namun sebentar kemudian, dengan pekikan
menggelegar, ke- duanya kembali melesat maju.
"Hea!" Wut! Wut!
"Yeaaa...!" Keduanya kembali menyerang, menggerakkan senjata
masing-masing untuk membabat dan menusuk ke tubuh lawan. Namun kedua-duanya
sama-sama lincah dan gesit Tubuh mereka berkelebat-kelebat da- lam mengelitkan
dan menangkis serangan lawan.
Wrt! Trang! Dengan memutar cepat
pedangnya, Pangeran Prapanca berusaha mendesak lawan. Pedangnya mem- babat dan
menusuk ke bagian atas tubuh Ki Jalna Wangga. Namun orang tua berambut panjang
itu nam- pak tak mengalami kesulitan menghadapi serangan- serangan lawan.
Dengan melompat ke sana kemari Ki Jalna Wangga menangkis dan mengelak.
"Hea!" Trang!
"Hih!"
Pangeran Prapanca menarik
pedangnya, lalu melancarkan pukulan ke dada. Namun dengan cepat Ki Jalna Wangga
merundukkan tubuh. Digeser kaki ki- ri ke samping, diikuti dengan tubuhnya yang
doyong. Sehingga serangan Pangeran Prapanca hanya menge- nai tempat kosong. Ki
Jalna Wangga segera membalas serangan dengan tubuh masih agak membungkuk. Di
tusukkan goloknya ke perut lawan.
"Jaga perutmu, Cadar Biru!
Heaaa...!" Wrt! "Aits! Hebat...!" teriak Pangeran Prapanca tak
sadar, karena kaget mendapatkan serangan yang tiba- tiba itu. Dengan cepat
lelaki bercadar biru itu melom- pat ke belakang. Kemudian bersamaan dengan itu
di- putarnya pedang ke bawah menangkis serangan la- wan.
"Hea!" Trang! Mei Lie
yang ahli bermain pedang menggeleng- gelengkan kepala, menyaksikan pertarungan
lelaki bercadar biru melawan Ki Jalna Wangga. Sebenarnya menurut pandangan Mei
Lie, Ki Jalna Wangga dapat dengan mudah mengalahkan lawannya. Mei Lie meli- hat
titik lemah lelaki bercadar biru itu. Namun nam- paknya Ki Jalna Wangga masih
berusaha menjajaki sampai seberapa ilmu pedang lelaki bercadar biru itu,
sehingga orang tua bermuka garang itu nampaknya tak bermaksud menyudahi
pertarungan dengan cepat.
"Kakang, kulihat orang tua itu
bertarung tak sungguh-sungguh," bisik Mei Lie pada Pendekar Gila.
"Aha, kau benar, Mei.
Nampaknya Ki Jalna Wangga memang sedang mendalami sampai seberapa ilmu lelaki
bercadar biru," sahut Sena dengan wajah meringis sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Tak kusangka, orang tua
bermuka garang itu, ternyata memiliki hati yang baik juga," gumam Mei Lie
sambil terus memperhatikan jalannya pertarungan yang masih berlangsung seru.
Kini nampak dengan gerakan cepat
mereka sal- ing menyerang. Tubuh keduanya berkelebat saling menghindar dan
menangkis. Golok dan pedang pun terdengar terus berbenturan. Suaranya memecah
ke- heningan malam.
Trang! "Heaaa...!"
Pangeran Prapanca dan Ki Jalna Wangga terus bergerak melangkah ke samping
sambil saling me- nangkis serangan. Sungguh sebuah gerakan silat yang sangat
indah ditonton.
Pranala yang ilmunya memang berada
di bawah ilmu Pangeran Prapanca, hanya terbengong kagum. Hatinya hampir tak
percaya, kalau Pangeran Prapanca akan dapat mengeluarkan jurus silat yang indah
dan cepat Selama ini, keduanya memang bersama-sama. Namun Pranala belum pernah
melihat Pangeran Pra- panca mengeluarkan jurus ‘Angin Meniup Daun’.
Tubuh keduanya terus bergerak ke
samping dengan masih diiringi benturan senjata saling serang. Kaki-kaki mereka
bergerak dengan teratur, kadang menyilang dan kadang merentang. Sedangkan
tangan kiri keduanya, bergerak mengepak-ngepak atau terka- dang menekan ke
belakang dan samping. Sepertinya tangan kiri itu sengaja digunakan untuk
menjaga ke- seimbangan tubuh mereka dalam menyerang.
Trang! Trang! Senjata mereka terus
beradu. Namun pada sua- tu kesempatan, Pangeran Prapanca berhasil menarik golok
di tangan Ki Jalna Wangga.
"Hea!" Wrt! Trakkk!
"Akh...!" Ki Jalna Wangga
tersentak kaget den- gan mata terbelalak. Dirinya tak menyangka kalau lawan
akan dapat membuang senjatanya. Kini Ki Jalna Wangga nampak pasrah, ketika
Pangeran Prapanca menempelkan ujung pedangnya ke leher. "Kalau kau mau
membunuhku, bunuhlah!"
"Hm, membunuhmu mudah saja.
Tapi aku tak pernah sembarang membunuh orang. Dan untuk itu sebaiknya kau cepat
tinggalkan tempat ini, sebelum pikiranku berubah!" perintah Pangeran
Prapanca.
Ki Jalna Wangga hanya diam saja tak
berkata apa-apa. Dirinya hanya bergumam dalam hati. "Kalau saja aku tak
tahu siapa kau sebenarnya, hhh..., tak segan aku membunuhmu. Tapi aku tahu
siapa kau se- benarnya. Aku bersalah jika membunuh atau menang- kapmu...."
Kemudian Ki Jalna Wangga cepat
pergi mening- galkan tempat itu, Pangeran Prapanca mengikutinya dengan
pandangan tajam. Pranala yang melihat Pange- ran Prapanca cemas segera
menghampiri.
"Kenapa orang itu dilepas
begitu saja, Pange- ran?" tanya Pranala agak gusar.
"Biarlah. Kita tak perlu
membunuh orang se- perti dia. Tujuan kita bukan itu," jawab Pangeran Pra-
panca. "Ah, sudahlah! Mari kita pergi!"
Keduanya pun melesat pergi
meninggalkan Bu- kit Yuyu yang kembali sepi.
Sementara itu Pendekar Gila dan Mei
Lie pun keluar dari tempat sembunyi.
"Orang tua aneh," gumam
Mei Lie. "Hi hi hi.... Kau benar, Mei. Tapi yang ku he- rankan, siapa
sebenarnya lelaki bercadar biru? Rekan- nya tadi memanggil dengan sebutan
'pangeran'. Ah ah ah... aneh sekali!" gumam Sena dengan cekikikan sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Hm, memang aneh, Kakang.
Kalau dia seorang pangeran, dari kerajaan mana? Lalu untuk apa dia memakai
cadar dan merampok?" tanya Mei Lie turut heran.
"Aha, kurasa kita akan
tertunda di sini, Mei. Ini benar-benar keanehan. Hi hi hi...!" kata Sena
sambil cekikikan, membuat mata Mei Lie melotot gemas. Na- mun gadis itu tak
mencubit pinggang, kekasihnya bahkan kini merapatkan diri ke tubuh Pendekar
Gila.
Pendekar Gila dan Mei Lie pun
segera mening- galkan Bukit Yuyu yang kembali sepi. Bulan kelabu mengiringi
perjalanan kedua pendekar muda itu.
***
5
Malam yang disinari bulan kelabu
terus menye- limuti bumi. Membawa para penghuni bumi terlelap dalam tidur.
Begitu pula dengan keadaan lingkungan Kadipaten Wungkalan yang masih termasuk
dalam wi- layah Kerajaan Surya Langit, nampak sepi. Hanya ada empat orang
prajurit yang belum tertidur. Mereka se- dang melakukan tugas, menjaga keamanan
lingkungan kadipaten Malam semakin larut, ketika dari luar benteng kadipaten
melesat dua sosok bayangan melompati tembok tinggi yang mengelilingi lingkungan
kadipaten.
"Hop!" Kedua sosok itu
kini berdiri di atas tembok. Mata mereka yang sebagian wajahnya tertutup cadar
biru dan ungu mengawasi sekeliling bangunan kadipa- ten itu. "Hati-hati,
kita harus bergerak cepat!" ujar Pangeran Prapanca mengingatkan pada
Pranala.
"Apa tak sebaiknya kita
lumpuhkan keempat penjaga ini, Pangeran?" ucap Pranala.
"Kurasa tak perlu. Kalau
kepergok apa boleh buat," jawab Pangeran Prapanca. "Ayo, kita
beraksi!"
Kedua lelaki bercadar itu melesat
turun. Den- gan ringan tanpa menimbulkan suara, keduanya men- darat di
pekarangan sebelah barat kadipaten.
"Hop!" "Ya! Hm, kita
harus cepat beraksi," ujar Pange- ran Prapanca dengan mata memanjang tajam
ke seke- lilingnya.
"Pangeran, lihat!" bisik
Pranala sambil menun- juk ke salah sebuah kamar yang nampak masih te- rang.
Dari bayangan di dalam kamar itu, menunjukkan masih banyak orang yang belum
tidur. "Nampaknya mereka belum tidur, Pangeran."
"Hm, benar. Tapi...,"
Pangeran Prapanca mena- jamkan pandangannya. Nampak bukan bayangan lela- ki
melainkan ada lima orang wanita di dalam kamar itu. "Kurasa mereka
perempuan, Pranala. Hanya satu lelaki.
"Mungkinkah wanita simpanan
adipati cabul itu, Pangeran?" tanya Pranala.
"Bisa jadi. Dasar adipati
keparat! Tak memper- hatikan rakyatnya yang menderita, malah enak- enakan
bersama wanita-wanita simpanannya," dengus Pangeran Prapanca geram.
Matanya membelalak se- makin lebar, "Ayo...!"
Kedua sosok itu melesat cepat
menuju kamar tempat bercengkerama itu. Keduanya mendekat, ke- mudian
perlahan-lahan mengintip apa yang terjadi di dalam kamar itu lewat celah
jendela.
Membelalak mata Pangeran Prapanca
dan Pra- nala melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Keduanya terkejut.
Di dalam kamar itu, Adipati Jata Sura sedang asyik bercumbu bersama kelima
gundiknya yang masih muda-muda.
"Adipati keparat!" dengus
Pangeran Prapanca dalam hati. Kemudian segera menggerakkan kepala memberi
isyarat kepada Pranala agar masuk.
Brak! Suara berderak keras
terdengar. Adipati Jata Sura dan kelima gundiknya yang masih dalam kea- daan
telanjang tersentak kaget. Serentak mereka men- jerit melihat jendela kamar
telah jebol. Mereka hendak lari, namun Pranala telah menghadang di pintu kamar.
Srang! "Jangan lari! Serahkan
hartamu, Adipati! Atau nyawamu yang akan melayang!" ancam Pangeran Pra-
panca sambil mengacungkan pedang ke arah leher Kanjeng Adipati Jata Sura yang
ketakutan. Sehingga wajahnya kelihatan sangat pucat. Tubuh gemetaran. Begitu
pula dengan kelima wanita cantik yang masih dalam keadaan telanjang bulat
mereka menggigil keta- kutan. "Cepat katakan, di mana hartamu?!"
"Ampun..., jangan bunuh
kami!" ratap Adipati Jata Sura mengiba dengan keringat dingin bercucuran,
"Ambillah semua hartaku! Asal jangan kalian apa-apakan aku!"
"Baik! Cepat katakan!"
bentak Pangeran Prapanca semakin menempelkan pedangnya ke leher sang Adipati.
"Ayo, tunjukkan di mana kau menyimpannya." Dengan ketakutan, Adipati
Jata Sura pun menurut Kakinya melangkah di bawah ancaman pedang Pangeran
Prapanca. Sedangkan Pranala menahan kelima wanita gundik yang semakin
ketakutan. Mereka berdiri mengumpul di sudut kamar itu, sambil menutupi tubuh
mereka.
Adipati Jata Sura terus melangkah
menuju kamar lain Sedangkan Pangeran Prapanca terus me- nodongkan pedangnya di
leher sang Adipati. Namun tak terduga, tiba-tiba Adipati Jata Sura memberontak
sampai lepas. Kemudian lari keluar.
"Prajurit! Maliiing...!"
teriak Adipati Jata Sura membuat para prajuritnya yang tidur seketika terbangun.
Mereka serentak lari menghampiri.
"Ada apa, Kanjeng
Adipati?" "Tolol! Mengapa kalian tak tahu kalau ada dua orang maling
masuk?!" bentak Adipati Jata Sura, "Tangkap mereka!"
Prajurit-prajurit kadipaten yang
berjumlah se- puluh orang langsung menyerbu ke dalam.
"Tangkap maling!"
"Celaka, Pangeran, kita tak bisa apa-apa lagi," bisik Pranala.
"Apa boleh buat. Kita
layani!" Dua lelaki bercadar itu segera melesat mema- paki serangan
kesepuluh prajurit kadipaten yang memburu ke tempat mereka. Pedang di tangan
Pange- ran Prapanca dan Pranala bergerak cepat memapaki serangan pedang dan
tombak lawan.
"Hea!" Wrt! Wrt! Trang!
Trang! Pangeran Prapanca dan Pranala nampaknya tak ingin berlama-lama
menghadapi kesepuluh prajurit kadipaten. Keduanya langsung mengeluarkan jurus
si- lat andalan. Pedang mereka bergerak semakin cepat, berputar laksana
baling-baling. Dari putaran pedang itu keluar deru angin yang menyentak.
"Kita tak ada waktu, Cadar
Ungu! Tumpas sa- ja!" perintah Pangeran Prapanca.
"Baik, Cadar Biru!
Heaaa...!" "Yea!"
Suara riuh rendah, teriakan dan
dentang senja- ta seketika memecah kesunyian malam di lingkungan kadipaten itu.
"Tangkap mereka...!" seru
Adipati Jata Sura merasa berani karena para prajuritnya kini mengha- dang kedua
maling itu.
Para prajurit berusaha merangsek
kedua la- wannya. Namun dengan cepat keduanya memutar pe- dang. Lalu tubuh
keduanya turut berputar, mengikuti gerakan pedang. Kejadian itu sangat cepat,
dan....
Wrt! Wrt! Cras! Cras! "Akh...!"
Tiga orang prajurit menjerit. Perut mereka ter- babat pedang Pranala. Begitu
juga dengan yang dila- kukan Pangeran Prapanca. Tiga orang yang menge-
royoknya, harus rela melepaskan nyawa mereka. Dada dan muka mereka terbabat
pedang. Darah pun seketi- ka berceceran di tempat pertarungan itu.
Melihat teman-temannya mati,
keempat prajurit yang masih hidup seketika merasa kecut. Mereka me- nyurut
mundur dengan tubuh gemetaran. Namun ter- dengar Adipati Jata Sura berteriak,
memerintah mere- ka agar menyerang....
"Seraaang! Bunuh saja kedua
maling itu...!" Mau tak mau, keempat prajurit kadipaten itu kembali
bergerak menyerang. Namun dengan keadaan tekanan jiwa, menjadikan keempat
prajurit itu kaku dan kewalahan menghadapi serangan lawan. Tanpa kesulitan
Pangeran Prapanca dan Pranala memba- batkan pedang mereka menghalau para
prajurit itu.
Wrt! Cras! Cras!
"Akh..,!" Keempat prajurit kadipaten langsung mendongak sekarat,
dengan tangan memegangi perut yang terbabat pedang. Kemudian dengan mendelik,
mereka ambruk ke tanah dan tewas. Kejadian itu tentu saja membuat Adipati Jata
Sura kembali membelalakkan mata. Tubuhnya gemetaran. Terlebih lagi ketika
Pange- ran Prapanca mendekati dirinya dengan pedang ber- lumuran darah.
"Kau mau seperti mereka,
Adipati?!" ancam Pangeran Prapanca sambil mengajukan pedangnya.
"Ampun..., tidak. Ambillah
semua hartaku, asal jangan kalian bunuh aku!" ratap Adipati Jata Sura
dengan tubuh semakin gemetaran.
"Cadar Ungu," Pangeran
Prapanca memberi isyarat pada Pranala agar mengikat tangan dan kaki Kanjeng
Adipati Jata Sura.
Setelah menyumbat mulut Adipati
Jata Sura, Pranala segera membantu Pangeran Prapanca mengu- ras habis harta
milik Adipati Jata Sura.
Dua karung harta berharga mereka
bawa, ke- mudian dengan cepat meninggalkan kadipaten.
"Ayo, kita harus cepat! Waktu
tak ada lagi," ajak Pangeran Prapanca sambil melompati pagar tem- bok
kadipaten, diikuti Pranala.
"Hop!" Dengan ringan
kedua lelaki bercadar itu me- lompat dan hinggap di pagar tembok. Kemudian
lang- sung melompat keluar dari lingkungan kadipaten. Ke- duanya berlari
meninggalkan lingkungan Kadipaten Wungkalan, menembus gelapnya malam.
Tidak lama kemudian, kelima gundik
Adipati Jata Sura ribut. Hal itu mengundang perhatian warga yang dekat dengan
kadipaten, juga orang-orang yang bekerja pada kadipaten. Malam itu juga,
gempar. Kadi- paten telah didatangi maling.
Sementara Pangeran Prapanca dan
Pranala seperti biasanya, langsung membagikan hasil curian ke- pada orang-orang
miskin yang membutuhkan.
Kini mereka berada di Desa Kuniran
yang ma- sih termasuk wilayah Kadipaten Wungkalan. Keduanya langsung meletakkan
barang-barang berharga di depan pintu rumah mereka. Setelah selesai
membagi-bagikan hasil curian, mereka kembali melesat pergi menuju ke barat,
tempat Hutan Aseman berada. Mereka pun menghilang di dalam hutan itu.
***
Kejadian yang menimpa Adipati Jata
Sura bukan hanya mengejutkan para pembesar kerajaan. Juragan Durka Pela yang
menyangka kedua lelaki bercadar itu sudah mati di tangan Ki Jalna Wangga pun
ka- get. Bagaimana mungkin orang-orang yang sudah mati bisa melakukan kejahatan
lagi? Juragan Durka Pela tak habis pikir, mendengar berita tentang dua lelaki
bercadar menjarah Kadipaten Wungkalan.
Satu pihak, mengutuk perbuatan
kedua maling budiman. Pihak ini tentunya berasal dari kalangan orang-orang
besar, para pejabat kerajaan. Namun di pihak lain, terutama rakyat yang
menderita merasa bersyukur dengan kehadiran kedua maling budiman yang banyak
menolong mereka.
Pagi itu, di ruang pertemuan Istana
Kerajaan Surya Langit nampak hadir seluruh pembesar istana. Perdana Menteri
Giri Gantra, Panglima Utama Rawa Sekti, sesepuh kerajaan yang terdiri dari lima
orang dan Baginda Raja sendiri, Prabu Awangga telah hadir di balai pertemuan.
Sementara dari luar istana, telah
datang para adipati. Di situ juga hadir Juragan Durka Pela, serta beberapa
tokoh rimba persilatan yang sengaja diundang baginda raja. Di antara tokoh
rimba persilatan, nampak Tirta Kayonan atau yang lebih terkenal dengan sebutan
Pisau Maut. Buto Gege, seorang tokoh persilatan aliran sesat yang tubuhnya
tinggi bagaikan raksasa. Bermuka menyeramkan dan telanjang dada. Senjata yang
digunakan sebuah martil besar bernama Martil Dewa.
Selain kedua tokoh itu, hadir pula
lima orang tokoh rimba persilatan lainnya. Di antara mereka terdapat Ki Naga
Wilis, Nyi Rara Cenil serta sepasang pendekar muda bergelar Sepasang Jalak
Sakti dari Desa Kumbar. Sedangkan seorang lagi, tak lain seorang resi gemuk
berkepala botak dengan senjata tasbih besar dari Perguruan Kuil Perak.
"Saudara-saudara sekalian,
tentunya kalian saya undang kemari telah mengerti apa yang akan kita
bicarakan," ujar Baginda Prabu Awangga, membuka pertemuan itu.
Semua menganggukkan kepala.
"Akhir-akhir ini, wilayah kita dihebohkan adanya dua orang maling yang
oleh rakyat dianggap maling budiman. Padahal, sebulan lagi putriku akan
me-langsungkan pernikahan dengan pangeran dari Ke- rajaan Bayu Bumi. Kalau
sampai masanya suasana be- lum juga tenang, bagaimana tanggapan Kerajaan Bayu
Bumi terhadap kita? Untuk itulah, kuharap secepatnya bereskan kedua maling
itu," perintah Baginda Awangga menekankan.
"Daulat, Baginda...!"
jawab semua para undan- gan.
"Saya tak tahu, apa kedua
maling itu dari kera- jaan kita, atau dari kerajaan lain yang sengaja dis-
usupkan kemari," kembali baginda berkata, setelah menarik napas
dalam-dalam. "Selama ini, kerajaan ki- ta aman. Namun entah mengapa,
tiba-tiba kini ketika putriku hendak melangsungkan perkawinan, muncul kekacauan.
Bagaimana menurutmu, Paman Perdana Menteri?" Perdana Menteri Giri Gantra
menjura dengan menganggukkan kepala. Wajah lelaki berusia sekitar lima puluh
lima tahun ini, nampak menggambarkan kelicikan dan keserakahan.
"Ampun, Baginda! Apa yang
Baginda titahkan memang sudah sepantasnya. Karena kalau dibiarkan kerajaan kita
bisa buruk di mata kerajaan lain," ujar Perdana Menteri Giri Gantra,
nadanya menjilat.
"Lalu, bagaimana rencanamu,
Paman?" tanya Baginda Raja ingin tahu, apa rencana yang ada dalam pemikiran
Perdana Menteri Giri Gantra.
"Menurut hamba, kita sebar
sayembara. Barang siapa bisa mendapatkan kedua maling itu, maka pa- danya akan
kita berikan kedudukan di istana sekali- gus harta," tutur lelaki penjilat
ini sambil mengang- gukkan kepala. Matanya yang mengandung kelicikan, melirik
pada Buto Gege yang menyeringai.
"Aku setuju. Bahkan bila
perlu, aku rela mem- beri putriku yang kedua untuk istrinya, jika dia me- mang
lelaki. Tapi jika wanita, maka akan kujadikan permaisuriku."
Baginda Awangga bagaikan tanpa
sadar men- gucapkan perintah itu.
"Ampun, Baginda! Apakah
Baginda sadar ber- sabda begitu?" tanya Ki Samaika, salah seorang sese-
puh istana yang dianggap paling tua serta sangat di- hormati. "Memangnya
kenapa, Ki Resi? Apakah salah ji- ka aku bersabda begitu?" tanya Baginda
Awangga be- lum menyadari.
"Ampun, Baginda! Memang sabda
seorang raja tak salah. Tetapi, mungkin ada kekeliruan yang harus dibenahi atau
dipertimbangkan kembali," ujar Ki Sa- maika berusaha mengingatkan.
"Tidak bisa, Ki! Kau jangan
menentang Bagin- da!" hardik Perdana Menteri Giri Gantra, "Sabda Ba-
ginda berarti hukum! Dan sabda seorang raja, disaksi- kan serta diperintahkan
para dewata. Adalah hal yang tidak benar, jika seorang raja menarik sabda yang
te- lah diucapkan."
Ki Samaika terdiam. Nampaknya orang
tua be- rusia sekitar tujuh puluh lima tahun ini, tak mau berdebat dengan
perdana menteri kerajaan. Itu pula yang membuat Ki Samaika hanya mengalah diam.
"Ampun Baginda Yang Mulia!
Bukan maksud hamba melancangi titah Baginda," kata Perdana Menteri Giri
Gantra sambil menyembah.
"Tidak apa, Paman. Memang apa
yang kau ka- takan benar adanya. Sabda seorang raja, tidak boleh ditarik
kembali. Maka itu, besok perintahkan sebar sayembara itu. Siapa pun orangnya,
berhak mengikuti sayembara ini!" titah Baginda Prabu Awangga. Semua
terdiam, tak ada yang dapat lagi berkata-kata, termasuk Ki Samaika. Walau dalam
hati orang tua itu me- nyesalkan sabda Baginda Raja, tetapi sebagai seorang
penasihat dirinya tak mungkin menentang keputusan saja. Keputusan seorang raja,
merupakan hukum kuat yang harus dijalankan semua orang yang menjadi ra- kyat
kerajaan.
"Daulat, Baginda! Segala titah
Baginda, akan segera hamba laksanakan," jawab Perdana Menteri Giri Gantra
sambil menyembah. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Kurasa tak ada masalah lagi.
Maka itu, perte- muan saya tutup!" kata Baginda Raja, kemudian berlalu
meninggalkan ruang pertemuan.
Satu persatu semuanya pergi, kini
di dalam ruang pertemuan tinggal lima orang sesepuh kerajaan yang masih
termenung. Mereka nampaknya masih memikirkan tentang keputusan baginda. Mulut
mereka bungkam. Hanya mata mereka yang dihias alis putih tampak saling
berpandangan satu sama lain.
***
6
Empat orang prajurit Kerajaan Surya
Langit nampak memacu kuda mereka yang berlari ke arah barat, menuju Desa
Kaliamba. Di tangan salah seorang prajurit yang paling depan, tergenggam
selembar gu- lungan kain. Keempatnya berhenti tepat di depan se- buah kedai.
Setelah menambatkan kuda, mereka lang- sung memasang gulungan kain yang
bertuliskan pen- gumuman pada pohon mangga di depan kedai itu
Setelah memasang pengumuman itu,
keempat prajurit kerajaan segera meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang ada
di kedai, termasuk Pendekar Gi- la dan Mei Lie, keluar ingin tahu apa isi
pengumuman itu.
"Kakang, nampaknya pihak
kerajaan tak suka dengan kedua lelaki bercadar itu," kata Mei Lie setelah
membaca isi pengumuman sayembara itu.
"Aha, kau benar. Nampaknya
kedua orang itu kini menjadi perhatian pihak kerajaan," gumam Sena sambil
cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Lalu, apa yang harus
kita lakukan, Kakang?" tanya Mei Lie.
"Kita?" gumam Sena sambil
mengerutkan ken- ing. Kemudian terdengar tawanya yang lepas sambil menggaruk-garuk
kepala. Hal itu menjadikan Mei Lie cemberut "Lucu sekali...! Hi hi hi...!
Untuk apa kita mesti pusing-pusing? Kita belum jelas masalahnya, Mei Lie."
"Tapi, pihak kerajaan nampaknya sangat mem- butuhkan pertolongan
kita," tukas Mei Lie.
Pendekar Gila tak langsung
menjawab. Sesaat wajahnya nampak tercenung. Namun, kemudian kem- bali terdengar
suara tawanya yang nyaring. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat
semua orang yang melihat tingkah lakunya, memandang he- ran pada Pendekar Gila.
Namun Sena tak menghirau- kannya. Mulutnya masih cengengesan sambil mengga-
ruk-garuk kepala.
"Ah, dunia ini memang
sulit...," gumamnya se- tengah mengeluh. "Kadang kala, orang benar
disalah- kan. Tetapi, orang salah dibenarkan. Seperti hukum rimba. Kalau yang
kuat akan semakin di atas. Sedang- kan yang lemah, akan semakin di bawah bahkan
terin- jak."
"Apa maksudmu, Kakang?"
tanya Mei Lie belum memahami ungkapan yang baru saja dikatakan Sena. Mata gadis
Cina yang cantik itu, memandang lekat wa- jah kekasihnya yang masih cengengesan
sambil meng- garuk-garuk kepala
"Ah ah ah..., kadang aku
bingung, atau me- mang aku yang sudah gila? Hi hi hi...! Lucu sekali!"
gumam Sena lagi sambil tertawa cekikikan, "Gila...? Ah, memang aku ini
gila! Namun kurasa masih banyak orang yang melebihi aku gilanya."
"Aku tak mengerti,
Kakang," keluh Mei Lie den- gan kening masih mengerut, menyaksikan tingkah
laku Pendekar Gila. Tingkah laku dan ucapannya. Se- makin aneh bagi Mei Lie.
Kadang kala, mimik muka Pendekar Gila tercenung. Tetapi sebentar kemudian tersenyum
cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala.
"Inikah kehidupan yang
beradab...?" tanya Se- na, seperti bertanya pada diri sendiri. "Ah ah
ah, sangat lucu sekali! Kadang orang menutupi kejahatan dengan kebaikan.
Lucu...! Hi hi hi...!"
Mei Lie semakin tak mengerti dengan
kata-kata yang diucapkan Pendekar Gila. Dirinya memang belum begitu dalam
menghayati kehidupan. Tidak seperti Se- na, yang telah lama menghayati
kehidupan dengan berkelana. Perasaan mereka pun berbeda. Mei Lie se- nantiasa
cepat emosi dan tersinggung. Sebaliknya Se- na nampak tenang dan selalu
berusaha memahami ke- jadian di sekitarnya dengan pikiran tenang. Bahkan
sekilas seperti bercanda. Cekikikan, cengengesan, ter- tawa terbahak-bahak atau
tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Mei Lie, kau baca sekali lagi
isi pengumuman itu! Lalu resapilah maksudnya," ujar Sena seraya menunjuk
pengumuman sayembara itu.
Mei Lie menurut, dengan lafal
terputus-putus bahasanya dia membaca isi pengumuman itu.
Barang siapa yang dapat menangkap
hidup atau mati, penjahat-penjahat kerajaan yang telah mem- buat keonaran
dengan mencuri dan merampok bebera- pa orang pembesar kerajaan, maka akan
mendapat ganjaran dari Baginda Raja. Jika yang berhasil me- nangkap kedua maling
lelaki, akan dinikahkan dengan putri baginda yang kedua, Putri Dyah Ayu
Pitasari, adik Putri Dyah Sari Sekar Arum.
Kedua penjahat itu sangat berbahaya
jika di- biarkan. Terbukti sejak kemunculannya, telah meng- hambat pembangunan
jalan. Hal itu karena adanya ke- jadian yang menimpa Ki Durka Pela dan Adipati
Jata Sura yang bertanggung jawab dalam pembuatan jalan tersebut.
Baginda Raja Sutya Langit. Prabu
Awangga.
"Aha, bagaimana menurutmu,
Mei?" tanya Sena setelah melihat Mei Lie selesai membaca.
Mei Lie menggeleng-gelengkan
kepala. Pendekar Gila tersenyum cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk
kepala.
"Aku tak mengerti, Kakang.
Kurasa, pihak kera- jaan benar," sahut Mei Lie, yang membuat Pendekar Gila
tertawa. Sepertinya ucapan Mei Lie lucu sekali.
"Hua ha ha...!" Mei Lie
yang merasa ditertawakan merengut, Pendekar Gila menghentikan tawanya. Kemudian
den- gan masih cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala, Sena berujar.
"Ah ah ah..., kurasa kau tak
bisa menyalahkan dan membenarkan salah satu pihak, tanpa lebih dahu- lu
mengetahui masalah yang sebenarnya, Mei."
"Lalu, apa yang harus kita
lakukan, Kakang?" tanya Mei Lie meminta saran, "Kalau kita hanya diam
kurasa pihak kerajaan akan menuduh kita bersekong- kol dengan mereka."
Pendekar Gila tidak langsung
menjawab. Tan- gannya mencabut bulu burung yang terselip di ikat pinggangnya.
Kemudian dikoreknya telinga dengan bu- lu burung itu. Mulutnya cengengesan,
sedang matanya memandang ke atas.
"Ah ah ah, sulit..., sulit
memang! Tapi kita ha- rus bisa bertemu dengan kedua maling itu," ujar
Sena. "Untuk apa, Kakang?"
"Aha, kurasa mereka melakukan
pencurian dan membagi-bagikan harta hasil curian pada penduduk, karena ada
alasan tertentu, Mei," ujar Sena berusaha menjelaskan. "Ah, lebih
baik kita masuk ke kedai, da- ripada di sini terkena terik matahari."
Mei Lie pun menurut, melangkah
seiring ber- sama kekasihnya kembali ke dalam kedai. Keduanya baru saja hendak
masuk, ketika dari arah timur nam- pak dua orang lelaki satu menunggang kuda
dan sa- tunya lagi berjalan menuju kedai.
Pendekar Gila dan Mei Lie tak
peduli dengan kedatangan kedua orang berwajah garang itu. Orang yang berjalan,
bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Dadanya berbulu lebat. Matanya garang.
Orang ini tak lain Buto Gege. Sedangkan orang yang naik kuda, meski badannya
besar, tetap tak sebesar dan setinggi manusia raksasa itu.
Penunggang kuda itu kalau dilihat
dari pa- kaiannya terbentuk jubah tentu seorang resi. Kepa- lanya botak
plontos. Di lehernya tergantung sebuah kalung tasbih besar. Dialah Resi
Wisangkara, dari Kuil Perak. Kuda yang ditungganginya terus melangkah ringan,
seakan tak membawa beban sama sekali.
Kedua tokoh hitam itu terus menuju
kedai di ujung Desa Kaliamba. Pendekar Gila dan Mei Lie nampak telah berada di
dalam kedai, seakan tak mempe- dulikan kedatangan dua lelaki bertubuh besar
itu. Namun baru saja Pendekar Gila dan Mei Lie hendak duduk, tiba-tiba keduanya
disentakkan oleh suara keras dan menggelegar laksana guruh.
"Di mana maling pengecut itu?!
Hai..., katakan! Di mana maling-maling tolol itu?! Atau Buto Gege akan memangsa
kalian?!" bentak Buto Gege sambil menye- ringai, menunjukkan gigi-giginya
yang coklat menyeramkan. Matanya yang lebar, melotot menatap ke kedai.
Pendekar Gila karena terkejut,
mengurungkan niatnya untuk duduk. Matanya memandang keluar. Terdengar suara
tawa nyaring dari mulutnya ketika melihat dua manusia besar itu
membentak-bentak orang-orang di kedai.
"Hua ha ha...! Kau lihat
sendiri, Mei? Lucu se- kali mereka itu. Mereka tak ubahnya cecurut besar yang
suka menjilat kotoran. Hua ha ha...!" seru Sena sambil tertawa
terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat kedua manusia besar di luar
tersentak kaget. Seketika mata keduanya memperhatikan ke dalam ke- dai, seakan
ingin membuktikan orang yang berani mentertawai mereka.
"Bocah gila! Sinting...!
Lancang sekali mulut- mu!! Rupanya kau teman kedua maling tolol itu?!"
ben- tak Resi Wisangkara dengan suara keras dan parau. Hatinya marah mendengar
ejekan Pendekar Gila.
Sementara itu orang-orang yang
berada di da- lam kedai tampak bingung dan serba salah. Mereka ketakutan dan
cemas menyaksikan kedua manusia bertubuh besar yang masih berada di luar kedai.
Na- mun untuk turut campur jelas tak ada yang berani. Mata mereka silih berganti
memperhatikan pemuda gi- la yang berada di dalam kedai, lalu menoleh pada ke-
dua lelaki yang sedang marah-marah itu.
Para pengunjung kedai itu merasa
heran pula melihat keberanian pemuda gila mengejek Buto Gege dan Resi
Wisangkara. Namun semua hanya diam membisu, ketakutan. Tak ada yang menyahuti
kata- kata kedua orang besar itu.
"Hua ha ha...! Lihat Mei Lie,
kurasa merekalah yang tolol! Karena mereka menjilati kotoran. Hi hi
hi...!" teriak Sena sambil tertawa-tawa dengan tangan menggaruk-garuk
kepala. Sikapnya yang konyol mem- buat Buto Gege dan Resi Wisangkara terbelalak
karena begitu marah. Hati mereka benar-benar tersinggung mendengar ucapan
seenaknya dari mulut pemuda ber- tingkah laku mirip orang gila itu.
"Grrr! Keluarlah kau, Bocah
Sinting?!" geram Buto Gege sambil mengayunkan martilnya yang besar hingga
menimbulkan angin. Lalu dengan kuat dihan- tamkan martil raksasa itu ke kedai.
Wuttt! Brakkk! Kedai itu
porak-poranda terhantam Martil Dewa di tangan Buto Gege. Orang-orang di dalam
kedai ber- teriak-teriak ketakutan. Ada di antara mereka yang ter- luka,
tertimpa kayu bangunan. Bagi mereka yang telah lebih dulu lari menghindar tentu
saja selamat dari ke- jatuhan dinding kayu kedai itu. Sementara Pendekar Gila
dan Mei Lie yang telah melompat keluar tak terke- na hantaman Martil Dewa itu.
"Hua ha ha...! Dasar raksasa
tolol!" seru Sena sambil cengengesan. Kini tubuhnya telah berada sepuluh
tombak dari kedai yang hancur. "Ah ah ah, kurasa binatang hutan ini harus
dijinakkan, Mei?"
"Kakang, apakah Kakang akan
diam dan me- nimbang-nimbang lagi jika sudah begini?" tanya Mei Lie nampak
sudah tak sabar. Matanya menatap tajam ke arah dua manusia besar yang kini
melangkah me- nuju ke arah mereka.
"Aha, kurasa tidak, Mei. Jelas
mereka mengajak kita main-main," jawab Sena sambil cengengesan dengan
tangan menggaruk-garuk kepala.
"Aku juga muak melihat kedua
manusia som- bong itu," rungut Mei Lie dengan pandangan penuh kebencian
terhadap dua manusia besar yang kelihatan angkuh. Seakan, keduanya hendak
menyombongkan diri, sehingga melangkah pun dengan cara membusungkan dada.
"Aha, kurasa mereka memang tikus-tikus
sombong. Badan mereka saja yang besar, tetapi berotak kerbau!" ujar
Pendekar Gila sambil tertawa-tawa. Hal itu sengaja untuk memancing kemarahan
kedua ma- nusia besar itu.
"Kurang ajar! Bocah gila, jika
kau ingin sela- mat, cepat katakan, di mana kedua maling itu bera- da?!"
bentak Resi Wisangkara dengan menggeram ma- rah. Tasbih besar yang tadi
dikalungkan di leher, kini telah berada di tangan kanannya. Setelah melompat
dari kuda, kakinya perlahan-lahan melangkah mende- kati Pendekar Gila dan Mei
Lie yang berada di sebelah barat sepuluh tombak dari kedua lelaki besar itu.
"Hm...! Grrr! Rupanya tulang
tubuhmu minta kuremukkan, Bocah Edan!" bentak Buto Gege marah merasa
dihina sebagai kerbau dungu. Martil Dewa di tangannya diputar dengan cepat
hingga mengeluarkan suara menderu-deru disertai angin.
Werrr! Werrr!
***
Buto Gege terus memutar Martil Dewa
semakin kencang. Angin yang keluar laksana topan. Orang- orang yang terkena
sambaran angin dari Martil Dewa di tangan Buto Gege, seketika terpental seperti
dihem- paskan suatu kekuatan dahsyat. Kedai yang ambruk, turut tersapu angin
besar itu.
Werrr! Werrr! Srakkk! Srakkk!
"Hua ha ha....!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak seperti merasa
ada sesuatu yang lucu. Tangannya terus menggaruk-garuk kepala. Buto Gege yang
merasa di- tertawakan seperti itu meledaklah kemarahannya. Ser- ta merta dipercepat
gerakan tangannya memutar Martil Dewa. Werrr! Werrr!
Angin pun menderu bertambah
kencang. Para pengunjung kedai sudah tak berani berada di dekat kedai. Namun
Pendekar Gila masih berdiri dengan su- ara tawanya yang semakin keras.
Seakan-akan angin besar itu tak berarti sama sekali baginya. Sementara itu, Mei
Lie tampak telah menggenggam erat-erat Pe- dang Bidadarinya, berusaha menahan
serangan keku- atan dahsyat dari Martil Dewa.
"Hua ha ha! Lucu sekali kau,
Buto Tolol?!" ejek Sena sambil terus tertawa terbahak-bahak dengan tangan
menggaruk-garuk kepala. Bahkan sesekali mu- lutnya terdengar bernyanyi-nyanyi.
Matanya meme- jam-mejam seperti hendak tidur. "Ah, segar sekali! Mengapa
tak dari kemarin kau mengipas tubuhku ini? Hua ha ha...! Hua ha ha...! Terus,
putar terus kipas- mu...!"
Buto Gege dan Resi Wisangkara
tersentak kaget menyaksikan Pendekar Gila tak terpengaruh sama se- kali. Mata
mereka membelalak seakan tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Bagi
kedua manu- sia besar itu sungguh tak masuk akal. Tubuh pemuda berompi kulit
ular itu ternyata mampu bertahan terha- dap serangan angin besar yang keluar
dari putaran Martil Dewa di tangan Buto Gege. Bahkan pemuda gila itu tertawa
semakin keras sambil memejam-mejamkan mata.
"Bocah sombong! Rupanya kau
mencari mam- pus, berani menghina Buto Gege!" dengus Buto Gege sambil
menghantamkan martil raksasanya ke tubuh Pendekar Gila. "Remuk tubuhmu!
Heaaa...!"
"Mei Lie, awaaas!" teriak
Sena mengingatkan kekasihnya yang langsung melompat ke samping. Se- mentara dia
sendiri langsung melenting ke atas.
Wuttt! Glarrr...! Ledakan dahsyat
menggelegar terdengar, ketika Martil Dewa menghantam tanah. Tanah yang terkena
hantaman martil itu, hancur berhamburan menganga dan cukup dalam.
"Hua ha ha...! Kau benar-benar
tolol, Buto?! Kenapa tanah kosong kau hantam?" ejek Sena yang te- lah
bertengger di atas sebatang cabang pohon sambil masih terdengar pula suara
tawanya. Tingkah lakunya mirip seekor kera. Tangannya menggaruk-garuk kepa- la.
Sedangkan tubuhnya berjingkrak-jingkrakan. Se- hingga dedaunan pohon itu tampak
bergetar.
"Kurang ajar!" "Kau
hadapi dia, Buto! Biar aku meringkus ga- dis cantik itu," seru Resi
Wisangkara sambil menatap Mei Lie. "Baik! Tapi kalau berhasil, akulah yang
lebih dahulu!" sahut Buto Gege sambil menolehkan kepala kepada Mei Lie
yang masih menggenggam erat pe- dangnya. "Baik," sahut Resi
Wisangkara sambil terse- nyum, kemudian dia segera melangkah ke arah Mei Lie
yang nampaknya sudah siap dengan sambutannya.
Mei Lie segera menggerakkan Pedang
Bidada- rinya dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tubuhnya me- liuk-liuk laksana
menari.
"Hea!" "He he he...!
Nisanak lebih baik menyerah! Kau akan kujadikan istriku yang ketiga kalau kau
mau menyerah," ujar Resi Wisangkara sambil terkekeh, me- rendahkan siapa
gadis yang hendak dihadapinya. Bahkan resi dari Kuil Perak itu nampak tenang,
men- ganggap Mei Lie bukan lawan yang perlu ditakuti
"Huh, kalau memang aku kalah,
aku rela mati di tanganmu!" dengus Mei Lie dengan sengit. Kemudian dengan
masih bergerak menari, gadis itu mulai melakukan serangan pada Resi Wisangkara.
"Heaaa...!" Wut! Wuttt!
Pedang Bidadari yang mengeluarkan sinar kuning kemerah-merahan semakin mendekat
ke tubuh la- wan. Lelaki tua berkepala botak itu tiba-tiba tersentak kaget.
"Heh?!" Dengan mata
terbelalak kaget, Resi Wisangkara melompat ke belakang. Matanya memandang
tajam, hampir tak percaya pada apa yang dialaminya barusan. Dirinya tak menyangka,
kalau gadis Cina di hadapannya ternyata bukan gadis sembarangan. Terbukti
dengan serangan yang hampir saja merenggut nyawanya. Kalau saja kakinya tak
segera melompat ke belakang, pedang Mei Lei yang mampu menghancurkan tubuh
lawan itu pasti membabatnya.
"Hm, rupanya kau bukan gadis
sembarangan, Nisanak?! Baik, aku pun tak segan-segan meladenimu," kata
Resi Wisangkara sambil memutar tasbih be- sarnya yang berwarna hijau. Wrt!
Srakkk...! "Hm, memang itulah yang kuinginkan, Resi Ca- bul!
Heaaa...!"
"Yea!" Mei Lie segera
melesat dengan jurus 'Bidadari Menyentak Selendang'. Tangannya bergerak
merentang dan kaki kanannya diajukan. Kemudian dengan cepat, kedua tangannya
yang merentang bergerak menye- rang. Pedang Bidadari di tangan kanannya terus
ber- kelebat memburu sasaran. Dari gerakan pedang itu ke- luar hawa panas.
Wuttt! Wuttt!
"Aits!" Dengan cepat Resi
Wisangkara merundukkan tubuh sambil menggeser kedudukan kakinya tiga langkah ke
kanan. Lalu dengan jurus 'Musang Menye- limut Tubuh', lelaki tua berkepala
botak itu membalas serangan. Dikibaskan dan diputar-putar tasbihnya menyerang
Mei Lie.
Wert! Crakkk...! Cletarrr...!
"Haits...! Hea...!" Dengan memiringkan tubuh, Mei Lie mengelak- kan
sambaran tasbih hijau itu. Lalu setelah berhasil lolos dari serangan lawan,
dengan cepat Mei Lie melan- carkan tendangan kaki kiri ke dada lawan.
Melihat lawan menendang, Resi
Wisangkara se- gera memapakinya dengan pukulan tangan kiri. Na- mun, ternyata
tendangan yang dilakukan Mei Lie hanya se-bagai gerak tipu. Ketika lawan
menangkis, dengan cepat Mei Lie menarik serangan. Lalu tanpa di- duga gadis
cantik berpakaian hijau itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Hea!" Wuttt!
"Heh?!" Resi Wisangkara yang tak menduga akan dis- erang begitu
cepat, berusaha mengelak. Namun gera- kan tangan Mei Lie yang disertai
pengerahan tenaga dalam, datang lebih cepat. Tak ada kesempatan bagi lelaki
berkepala botak itu untuk mengelak. Yang dapat dilakukan hanya balas menyerang
dengan tasbih be- sarnya. Tanpa sungkan lagi, Resi Wisangkara segera
mengibaskan tasbihnya ke tangan Mei Lie.
"Hea!" Melihat lawan
hendak menyerang dengan tas- bihnya, Mei Lie segera menarik pukulan tangannya.
Kemudian sambil mengelit ke samping
dengan cepat dibabatkan Pedang Bidadari, memapak tasbih yang menderu di atas
kepalanya.
Jletarrr! Prakkk! Ledakan keras
memekakkan telinga terdengar ketika pedang Mei Lie berhasil menyambar tasbih
la- wan.
Prelll! "Hah...!" Mata
Resi Wisangkara terbelalak kaget. Lelaki besar berkepala botak dan bermuka
bengis itu, me- lompat ke belakang. Matanya memandangi tasbihnya yang hancur
berantakan, terbabat pedang Mei Lie.
"Celaka! Dia bukan gadis
biasa!" gumam Resi Wisangkara dengan wajah menampakkan ketegangan. Dia
benar-benar tak menyangka kalau tasbihnya yang merupakan senjata sakti dan
terbuat dari batu-batu pualam rontok terbabat pedang lawan.
Merasa tak unggulan menghadapi
gadis Cina itu, tanpa membuang waktu lagi Resi Wisangkara me- lesat kabur.
Wajahnya begitu pucat, setelah menyadari kalau lawan menghendaki biasa saja
menghabisi nya- wanya. "Mungkinkah dia yang bernama Bidadari Pen- cabut
Nyawa?" gumam Resi Wisangkara sambil terus berlari, meninggalkan Mei Lie
yang tampak tersenyum. "Celakalah aku kalau dia benar-benar Bidadari Pencabut
Nyawa!"
Sementara, Pendekar Gila yang
menghadapi Buto Gege masih bergerak ke sana kemari, mengelak- kan
hantaman-hantaman Martil Dewa. Buto Gege tampaknya tak ingin lawan dapat
melakukan serangan balasan. Diserangnya terus Pendekar Gila tanpa henti.
Wrt! Wrt!
Glarrr...! Brakkk! Martil Dewa
kembali menghantam pohon, hing- ga hancur berantakan. Sedangkan Pendekar Gila
ter- tawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Aku di sini,
Buto Tolol!" seru Sena sambil tertawa-tawa.
"Grrr! Kurang ajar! Remuk
tubuhmu!" Buto Gege kembali menghantamkan Martil Dewa ke pohon tempat
Pendekar Gila bertengger. Namun dengan cepat pemuda itu melompat berpindah ke
pohon lain.
Wrt! Brakkk! "Hua ha ha...!
Matamu buta, Raksasa Tolol. Mengapa pohon kau hantam?" ejek Sena sambil
tertawa. Tanpa diketahui tiba-tiba tubuhnya telah berteng- ger di cabang pohon
yang lain. "Ah ah ah...! Tempatmu di hutan. Tetapi, mengapa kau merusak
pepohonan?"
"Kurang ajar! Kali ini tak
akan luput dari Martil Dewaku, Bocah Gila! Hm...! Hiaaa...!"
Buto Gege yang marah karena sejak
tadi dile- dek oleh Pendekar Gila, segera memutar Martil Dewa- nya. Angin
menderu-deru keras dan menggetarkan disertai hawa panas yang menyengat. Semakin
cepat Martil Dewa diputar, nampak martil itu mengalami pe- rubahan. Dari Martil
itu, keluar lidah api.
"Heaaa!" Wusss...!
Melihat Buto Gege mengarahkan lidah api yang keluar dari kepala martil dengan
cepat Pendekar Gila mengeluarkan ajian 'Inti Bayu'nya.
"Heaaa!" Wusss! Wusss...!
Besss...! Dua kekuatan sakti saling bertemu. Api yang semula hendak menyerang
ke tubuh Pendekar Gila, seketika padam terhempas hawa dingin dari angin yang
keluar dari ajian 'Inti Bayu'.
Disertai amarah meledak-ledak Buto
Gege me- mutar Martil Dewa dengan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Dari
putaran senjata itu muncul angin dahsyat yang menghembuskan hawa dingin. Orang-
orang yang berada di sekitar tempat pertarungan me- rasa menggigil kedinginan.
"Hi hi hi...! Enak sekali
kipasmu," kata Sena sambil tertawa cekikikan "Ah, membuatku mengantuk
sekali." Dengan mata memejam-mejam seperti orang mengantuk, Pendekar Gila
mengerahkan tenaga in- tinya ke seluruh tubuh. Sehingga tubuhnya tidak me- rasa
dingin. Yang dirasakan hanya hawa sejuk.
"Kurang ajar! Kuremukkan
tubuhmu, Bocah Gila!"
Buto Gege kini mengangkat martilnya
tinggi- tinggi. Kemudian dengan kuat dihantamkan martil besar itu ke tubuh lawan.
Namun sebelum senjata lawan sempat menerjang, dengan cepat Pendekar Gila men-
cabut Suling Naga Saktinya. Dan secepat kilat pula disabetkan suling itu untuk
menangkis Martil Dewa.
Wrt! Srt! Trakkk! "Heh?!"
Membelalak mata Buto Gege, melihat suling di tangan Pendekar Gila. Mulutnya
menganga dan tu- buhnya seketika menggigil bagai kedinginan, "Kau?! Kau
Pendekar Gila...?"
"Aha, kenapa tubuhmu Buto
Gege?" tanya Sena dengan mulut cengengesan Sedangkan tangannya ma- sih
menangkiskan Suling Naga Sakti ke senjata lawan yang semakin lama semakin
melemah.
"Tidak! Ampuuun...!"
teriak Buto Gege sambil menarik senjatanya. Kemudian manusia raksasa itu
berlutut, sambil melakukan sembah. Keadaan itu membuat Pendekar Gila dan Mei
Lie mengerutkan ke- ning, tak mengerti mengapa manusia raksasa itu ber- buat
begitu.
"Aha, kenapa kau seperti
dikejar setan, Raksa- sa?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya
menatap keheranan pada Buto Gege yang masih bersujud sambil meraung-raung
bagaikan ketakutan.
"Ampun, Tuan...! Ampun...!
Hukumlah ham- bamu yang bodoh dan dungu ini!" Buto Gege terus me-
raung-raung minta ampun sambil bersujud di depan Pendekar Gila. Seolah akan
diterimanya apapun hu- kuman dari Pendekar Gila.
Namun Pendekar Gila dan Mei Lie
masih tak mengerti, mengapa Buto Gege berlaku begitu.
"Ah ah ah, kau aneh sekali,
Raksasa? Aku..., aku tak mengerti dengan tingkahmu. Hi hi hi...!" Sena
cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kenapa dia, Kakang?"
tanya Mei Lie yang juga heran melihat keganasan Buto Gege yang tiba-tiba hi-
lang.
"Aha, mana aku tahu?"
sahut Sena sambil cen- gengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk ke- pala.
"Aha, bangunlah, dan ceritakan mengapa kau ini!"
Dengan perlahan Buto Gege bangun.
Kepalanya tertunduk, tak berani memandang Pendekar Gila. Hal itu membuat Sena
semakin tak mengerti. Mulutnya semakin cengengesan.
"Aha, kenapa kau,
Raksasa?" tanya Sena. Buto Gege sejenak melakukan sembah sambil berdiri,
kemudian dengan suara berat dan besar Buto
Gege pun menceritakan siapa dia
sebenarnya. Dikata- kan, bahwa dirinya saudara dari Kemuning Wangi. Kemuning
Wangi adalah kekasih dari Pendekar Gila. Puluhan tahun yang silam, keduanya
menjalin cinta. Keduanya saling menyayangi. Namun cinta mereka kandas, setelah
kehadiran Buto Gege.
"Aha, mengapa kau salah,
Raksasa. Aku bukan Pendekar Gila yang kau maksudkan. Aku hanyalah
muridnya," ujar Sena menjelaskan.
"Jadi, kau murid Kakang Singo
Edan?" tanya Buto Gege.
"Aha, benar!" jawab Sena.
"Oh, syukurlah kalau begitu! Walau kau mu- ridnya, aku tetap mau meminta
maaf padanya lewat kau. Aku merasa bersalah. Karena semenjak kehadi- ranku,
mengakibatkan kakakku menderita. Sampai- sampai kakakku tak mau melihat dunia
lagi," tutur Buto Gege.
"Maksudmu?" tanya Mei Lie
menyala. "Siapa dia, Pendekar...?" tanya Buto Gege, se- raya menoleh
pada Mei Lie.
"Dia temanku, namanya Mei Lie.
Dan aku Sena Manggala," jawab Pendekar Gila memperkenalkan diri.
Buto Gege yang semula ganas, kini
menjura hormat pada Mei Lie dengan cara menganggukkan ke- pala. Kedua telapak
tangannya menyembah di depan dada.
"Terimalah hormatku,
Nisanak!" "Terima kasih," jawab Mei Lie. Buto Gege pun
menceritakan peristiwa yang di- alami puluhan tahun silam. Kejadian yang
menyebab- kan hubungan Kemuning Wangi dengan Singo Edan putus. Ketika Buto Gege
datang menemui Kemuning Wangi, sang Kakak merasa malu memiliki adik seorang
raksasa. Namun Singo Edan berusaha meyakinkan
Kemuning Wangi, agar mau menerima
adiknya.
Kemuning Wangi mulanya hendak
menerima, namun kekerasan hatinya menolak. Apalagi setelah tahu adiknya
berhaluan sesat. Pertentangan antara Singo Edan dan Kemuning Wangi terjadi.
Sampai ak- hirnya Buto Gege menyangka kalau Singo Edan yang tak suka padanya.
Raksasa itu menantang Singo Edan bertarung.
Mulanya Singo Edan menolak. Namun
setelah diejek dan dituduh menyakiti hati Kemuning Wangi, akhirnya Singo Edan
menerima tantangan Buto Gege. Mereka pun bertarung. Rupanya ilmu Singo Edan
jauh lebih tinggi daripada ilmu Buto Gege. Sehingga Buto Gege dapat dikalahkan.
Buto Gege dilemparkan ke Gunung Gelangan.
Sejak kejadian itu, Kemuning Wangi
justru me- nuduh Singo Edan tak punya perasaan dan tega melemparkan adiknya.
Kemuning Wangi pun akhirnya meninggalkan Singo Edan, untuk mencari sang Adik.
"Kami benar-benar menyesal,
karena merasa benar sendiri. Penyesalan kami, benar-benar tak dapat tuntas
sebelum meminta ampun pada Kakang Singo Edan. Walau kakakku telah membutakan
matanya. untuk tidak melihat dunia lagi," kata Buto Gege men- gakhiri
ceritanya. Wajahnya nampak sedih. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam.
"Aha, kurasa guru pun akan
mengampuni ka- lian," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Terima kasih. Ku mohon
padamu, jika sampai di tempat gurumu, sampaikan permintaan maaf kami!"
pinta Buto Gege penuh harap, "Kami benar-benar me- rasa tak akan pernah
tenang, sebelum Kakang Singo Edan memaafkan tindakan kami."
Mei Lie yang mendengar cerita Buto
Gege, ma- tanya tampak membasah. Hatinya turut iba, setelah
tahu bagaimana nasib manusia
raksasa itu. Sementara Pendekar Gila kini nampak mengulum bibir dengan tangan
menggaruk-garuk kepala. Sepertinya Pendekar Gila pun turut merasa prihatin
dengan nasib Buto Gege dan kekasih gurunya, Kemuning Wangi.
"Itukah sebabnya Eyang Guru
tak menikah...?" tanya Sena dalam hati.
"Sena, aku harus segera pergi.
Hati-hatilah!" ujar Buto Gege.
Setelah menjura, manusia raksasa
itu pun me- langkah meninggalkan Pendekar Gila dan Mei Lie yang masih terpaku
memperhatikan sosok raksasa itu. Langkah kaki Buto Gege, lima kali langkah
mereka. Namun di balik tubuhnya yang besar, tersembunyi du- ka dan kesedihan
serta keburukan nasibnya.
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan
kepala sambil tersenyum cengengesan. Dimasukkan Suling Naga Sakti ke ikat
pinggangnya. Lalu dipandang wajah Mei Lie yang tersenyum, sepertinya merasa
tenang ada bersama sang Kekasih.
Keduanya saling pandang. Di bibir
mereka, mengurai senyum.
***
No comments:
Post a Comment