Monday, April 22, 2019

025 Sepasang Maling Budiman


SEPASANG MALING BUDIMAN
Oleh Firman Raharja

1
Pagi dengan sinar mentarinya yang hangat menerangi alam persada. Mentari baru saja naik dari peraduannya. Namun para kuli yang bekerja pada pembuatan jalan tampak telah mulai bekerja. Di antara puluhan kuli berdiri belasan lelaki bertampang beringas tengah mengawasi. Dari tampang mereka tampak ke tidak relaan jika para kuli itu bekerja lamban, apa- lagi beristirahat sebelum waktunya.
Tidak jauh dari tempat itu, tampak seorang le- laki tua tengah tertatih-tatih membawa bongkahan batu yang tak seimbang dengan keadaan tubuhnya. Meskipun suasana masih pagi, tubuh kurus lelaki tua itu bercucuran keringat. Sesekali langkahnya terhenti. Napas tuanya tersengal-sengal. Lalu setelah meletakkan batu yang dibawa ke tanah, tangannya menyeka keringat yang hampir mengalir ke mata. Ditelan air ludahnya guna membasahi kerongkongan yang basah kehausan. Kepalanya menggelengeleng, seolah hendak mengatakan bahwa dirinya tak mampu.

Namun orang-orang berpakaian rompi hitam yang bertugas sebagai pengawas itu tampaknya tak peduli. Mereka bagaikan iblis-iblis kejam. Tak ada be- las kasihan sama sekali terhadap para pekerja yang sudah dibayar oleh juragan yang menangani pembua- tan jalan. Siapa yang berani membangkang, akan mendapat siksa yang berat
"Uhhh...!" lelaki tua bertubuh kurus itu melen- guh lirih dengan mulut meringis. Tubuhnya tampak gemetaran, seakan menggambarkan betapa berat be- ban yang tengah dijalani. Begitupun guratan-guratan di wajah lelaki tua itu menyiratkan derita hidup yang telah menghimpit jiwanya.
"Hyang Widhi! Oh..., sampai kapan penderitaan ini berakhir? Sampai kapan derita yang harus ditanggung warga Desa Kaliamba ini...?" keluh lelaki tua hampir tak berdaya. Wajahnya yang berpeluh menengadah, memandang ke langit. Seakan-akan tengah mengadukan nasibnya kepada Yang Maha Kuasa.
Baru beberapa kali tarikan napas lelaki itu ter- menung, tiba-tiba dari belakang seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun bermuka beringas mengham- piri. Tanpa banyak bicara, lelaki beringas yang ternyata penjaga para pekerja menendang tubuh lelaki tua itu.
Dugkh! "Tua bangka tak tahu diri! Sudah dibayar ma- sih malas-malasan kau?!" hardiknya dengan mata melotot.
Lelaki tua renta yang ditendang, terjungkal. Beruntung batu yang dibawa terlontar agak jauh, tak mengenai tubuhnya. Dengan tertatih-tatih, lelaki tua renta itu berusaha bangun. Wajahnya memandang mengiba, berusaha meminta belas kasihan.
"Saya..., saya sakit, Den," ujar lelaki tua itu dengan suara gemetar.
"Ah..., alasan lagi! Cepat bangun dan kerja! Jangan sampai hilang kesabaranku!" hardik si penjaga dengan muka semakin menampakkan kegarangan. Kakinya dengan enteng, kembali menendang pantat le- laki tua itu.
Dugkh! "Aduh! Ampun, Den!" Lelaki tua renta itu terjungkal dengan muka mencium tanah. Namun, sepertinya si penjaga tak me- rasa kasihan sedikit pun. Bahkan dengan angkuhnya, lelaki muda bermuka garang itu tersenyum sinis. Orang-orang yang sedang bekerja, hendak membantu lelaki tua malang itu. Namun tiba-tiba....
"Jangan turut campur! Atau kalian akan mendapatkan hal serupa dengan orang tua yang hampir mampus itu?!" terdengar suara keras membentak. Se- hingga pekerja paksa itu mengurungkan niat mereka. Namun mata para pekerja paksa itu memandang pe- nuh kebencian pada lelaki berpakaian hijau sepanjang lutut yang dirangkapi pakaian dalam warna kuning.
Lelaki berperut buncit dan bermuka bengis itu, tak lain juragan yang menangani pekerjaan pembuatan jalan. Dia bernama Durka Pela, warga desa yang ter- kenal pelit dan kikir. Namun karena pintar mengambil hati para pembesar, dirinya dipercaya untuk menan- gani masalah pembebasan tanah dan pengerjaan pem- buatan jalan.
Pertentangan antara Juragan Durka Pela den- gan warga Desa Kaliamba mengenai pembebasan ta- nah dan upah yang sangat kecil, sudah sering terjadi. Namun selama ini, warga selalu kalah. Hal itu karena Juragan Durka Pela beserta para centengnya melakukan penekanan dan penyiksaan, yang membuat warga semakin menderita.
"Kalian telah tahu, apa yang akan kalian da- patkan, jika berani menentangku!" bentak Juragan Durka Pela dengan tingkah sombong. Kedua tangan- nya bertolak pinggang. Matanya memandang penuh kebengisan pada para pekerja yang seketika mengu- rungkan niat mereka untuk melakukan pemberontakan.
Juragan Durka Pela tersenyum sinis. Keangku- hannya semakin menjadi-jadi. Matanya disapukan ke sekeliling tempat pembuatan jalan dengan tajam, yang membuat semua pekerja semakin ketakutan.
"Ayo, kalian kerja lagi!" seru Juragan Durka Pe- la pada para pekerja paksa yang masih diam, memandang penuh kebencian kepadanya. Namun Juragan Durka Pela tak peduli. Dengan angkuh, juragan kikir ini bertolak pinggang. Kepalanya digerakkan, memberi perintah pada anak buah agar menangani para pekerja. Kemudian dengan tanpa mempedulikan para pekerja. Juragan Durka Pela beranjak meninggalkan tempat itu diikuti dua orang pengawalnya.
Para penjaga yang bertugas mengawasi para pekerja, kembali berlaku kasar. Siapa saja yang malas- malas mereka siksa dengan tendangan dan pukulan. Sehingga para pekerja tak ada yang berani membang- kang. Meski merasa tertekan dan tersiksa, mereka ter- paksa bekerja. Meski keringat bercucuran membasahi tubuh, mereka tetap bekerja.
Mentari terus merangkak naik dengan sinarnya yang semakin panas. Para pekerja tetap bekerja, tanpa ada waktu beristirahat. Apalagi para penjaga tampak semakin beringas dan kejam setiap menghadapi pekerja yang mencoba melawan. Para penjaga tak meman- dang bulu pada siapa saja. Tak peduli pada orang tua, ataupun anak muda. Sekali saja kedapatan beristira- hat atau malas, siksa hukuman akan menimpa di- rinya.
***

Kereta yang ditarik dua ekor kuda nampak me- laju meninggalkan tempat pembuatan jalan. Di dalam kereta itu, duduk seorang lelaki gemuk berperut bun- cit. Di kanan kirinya, dua orang centeng dengan mata tajam mengawasi sekelilingnya. Lagak mereka seperti seorang pendekar sakti, yang setiap saat siap menye- lamatkan sang Juragan dari ancaman orang-orang yang merasa tidak suka.
"He he he...! Semakin lama pekerjaan itu, akan semakin banyak uang yang masuk ke kantongku," gumam Juragan Durka Pela sambil tertawa terkekeh.
Kedua orang centeng turut tertawa senang, karena mereka juga akan mendapatkan cipratan uang dari juragannya. Ketika mereka melintasi jalanan berbukit, tiba-tiba dari arah yang berlawanan berkelebat sesosok bayangan biru di depan kuda-kuda itu.
"Hiiieeeh...! Hiiieeehhh...!" Kedua kuda penarik kereta langsung mering- kik, dengan kaki-kaki terangkat ke atas. Hal itu mem- buat orang-orang yang berada di dalam kereta terkejut
"Ada apa, Kusir?!" sentak Juragan Durka Pela bertanya.
"Ampun Juragan! Ada orang menghadang kita!" sahut sang Kusir.
"Huh! Cecunguk macam apa lagi yang berani menghadang perjalanan kita?!" dengus Juragan Durka Pela. "Barda dan kau Gopal, bereskan dia! Mengganggu saja!"
"Beres, Gan," jawab kedua centeng yang lang- sung melompat keluar untuk melihat orang yang berani menghadang perjalanan juragannya.
Seorang lelaki berpakaian biru tua nampak berdiri tegap. Matanya menatap tajam dua orang cen- teng Juragan Durka Pela. Lelaki bercadar biru itu sea- kan mengejek kedua centeng yang telah banyak mem- buat penderitaan warga Desa Kaliamba.
"Siapa kau?! Untuk apa kau menghadang perja- lanan kami?!" bentak centeng yang berkepala botak. Matanya yang juling menatap wajah lelaki yang terha- lang kain biru itu. Dari sikapnya seperti dibuat-buat, centeng yang bernama Barda itu jelas memperlihatkan sifat penjilat. Lagaknya seperti seorang jagoan yang tak tertandingi siapa pun.
"Siapa diriku, kalian tak perlu tahu! Aku ingin bertemu dengan juragan kalian," sahut lelaki bercadar biru tegas. Matanya menentang tatapan kedua centeng yang garang. Sepertinya lelaki berpakaian biru panjang sampai selutut itu tak merasa takut sedikit pun.
"Untuk apa kau ingin bertemu juragan kami?!" bentak Gopal. Hidungnya yang besar tampak berkembang kempis.
"Aku tak butuh kalian! Mana juragan kalian?!" bentak lelaki bercadar biru tak kalah kerasnya. Hal itu membuat kedua centeng Juragan Durka Pela tersentak kaget. Barda dan Gopal tak menyangka kalau lelaki bercadar biru akan berani membalas bentakan mere- ka. "Cepat suruh juragan kalian keluar!"
"Kurang ajar! Lancang sekali kau! Nih..., hadapi dulu kedua centengnya!" bentak Barda. Kepalanya yang botak manggut-manggut
"Hua ha ha...! Untuk menghadapi kalian, kura- sa tak ada artinya!" tiba-tiba lelaki bercadar biru ter- tawa keras terbahak-bahak, mengejek kedua centeng yang semakin bertambah geram.
"Kurang ajar! Sombong kau! Heaaa...!" "Kuremukan kepalamu!" Barda dan Gopal segera mencabut golok mere- ka.
Kemudian dengan pekikan menggelepar, kedua centeng itu langsung merangsek lawan yang tampak masih berdiri tegap di depan kereta kuda Juragan Durka Pela.
"Hea!" "Yea!" Golok di tangan kedua centeng itu membabat cepat. Namun dengan ringan lelaki bercadar biru sege- ra bergerak mengelak. Kaki kanannya ditarik ke bela- kang, sedang kaki kiri ditekuk membentuk kuda-kuda. Lalu dengan gerak cepat, kedua tangannya menghantam pundak kanan dan kiri kedua lawannya setelah serangan mereka lepas.
Degkh! Degkh! "Ukh!" "Akh!" Kedua centeng itu seketika terhuyung-huyung ke belakang, terkena hantaman tangan lelaki bercadar. Mata keduanya membelalak sedangkan dari mulut me- reka melelehkan darah. Barda dan Gopal merasakan sesak dan nyeri di dada mereka.
"Hua ha ha...!" lelaki bercadar biru tertawa ter- bahak-bahak, sehingga tubuhnya tampak terguncang. Kemudian setelah mendengus, lelaki yang belum di- kenal itu berkata, "Kalau aku mau tak sulit mengirim nyawa kalian ke neraka!"
Ucapan lelaki bercadar biru tidak menyadarkan kedua centeng Juragan Durka Pela. Mereka justru ber- tambah marah karena merasa diremehkan.
"Cuih...!" Barda membuang ludah ke tanah. Kemudian disekanya dengan telapak tangan, darah yang meleleh di bibirnya. Matanya menatap penuh ke- bengisan, "Kau kira mudah menakuti kami? Huh, jan- gan kira kami akan takluk di tanganmu!"
"Hm, begitu? Rupanya kalian memang hams kusingkirkan dari dunia ini! Bersiaplah...! Heaaa...!" dengan lompatan cepat, seperti terbang, lelaki bercadar biru membuka serangan. Kedua tangannya telah siap menghajar kedua centeng Juragan Durka Pela.
Kedua centeng Juragan Durka Pela tersentak, menyaksikan jurus silat yang sangat cepat dan seperti mengandung tenaga dalam yang kuat. Sesaat lagi, se- rangan lelaki bercadar biru itu akan menghantam tu- buh kedua centeng itu. Namun tiba-tiba....
"Hentikan!" dari dalam kereta muncul Juragan Durka Pela. Sehingga lelaki bercadar biru seketika menghentikan gerakannya.
"Bagus! Rupanya kau tahu diri, Durka Pela! Ka- lau saja kau tak segera keluar, kedua kunyuk jelekmu ini sudah kukirim ke neraka!" dengus lelaki bercadar sengit
"Apa maumu? Kau telah kenal namaku, tetapi aku tak mengenalmu," ujar Juragan Durka Kepala dengan mata terus menyelidik, siapa adanya lelaki ga- gah yang sebagian wajahnya ditutup cadar. Sekilas Ju- ragan Durka Pela mengenal sosok tubuh lelaki itu. Namun hatinya ragu, karena tak melihat jelas wajah lelaki itu "Hm, tak banyak," sahut lelaki bercadar biru.
"Katakan, apa?" Lelaki bercadar biru tak langsung menjawab. Matanya menatap tajam wajah Juragan Durka Pela. Seolah-olah hendak menyelidik, apakah Juragan Dur- ka Pela benar-benar akan memenuhi permintaannya. Atau sebaliknya, dengan kelicikan akan menipu di- rinya.
"Baik, aku minta kau bersedia menyerahkan potongan gaji kuli-kuli itu!"
Membelalak mata Juragan Durka Pela, men- dengar permintaan lelaki bercadar. Kedua centengnya pun tersentak kaget, sekaligus marah karena lelaki bercadar biru dianggap telah berani turut campur da- lam urusan mereka.
"Huh?! Lancang sekali mulutmu!" dengus Barda geram. Centeng botak itu hendak maju, tetapi Juragan Durka Pela melarangnya.
"Tenang!" "Dia terlalu kurang ajar, Juragan," ujar Barda sengit
"Tenang..., tenang saja! Jangan kira aku akan menuruti permintaan itu!" bisik Juragan Durka Pela pada kedua centengnya dengan bibir tersenyum sinis.
"Bagaimana, Durka Pela?!" tanya lelaki berca- dar biru. "Mereka telah kubayar sesuai dengan perjan- jian," jawab Juragan Durka Pela.
"Hm, jangan kira aku tak tahu, kalau kau telah memaksa mereka agar mau menerima tiga kali! Bukan itu saja, kau juga telah menekan pemilik tanah yang terkena jalur pembuatan jalan dengan harga semurah mungkin!" ujar lelaki bercadar biru. Hal itu membuat muka Durka Pela seketika merah membara.
"Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, hai... Lelaki Bercadar!" dengus Barda geram. Tubuhnya se- ketika melesat seraya mengayunkan golok menyerang. "Mampus kau! Hih...!"
Wrt! "Uts! Kurasa kaulah yang harus mampus! Hea...!" usai berkelit lelaki bercadar biru segera meng- hantamkan telapak tangan kanannya ke dada Barda.
Barda yang tubuhnya doyong ke depan setelah gagal menyerang, tersentak kaget. Dirinya berusaha berkelit sambil membabatkan golok ke tubuh lelaki bercadar.
"Heaaa!" Wrt! Lelaki bercadar menarik mundur serangannya, kemudian sambil memutar tubuh, kaki kanannya me- nendang punggung Barda dengan keras.
Degkh! "Akh...!" Tubuh Barda terhuyung-huyung ke depan. Dari mulutnya memuncratkan darah segar. Matanya melo- tot lebar. Sesaat tubuhnya meregang, berbalik me- mandang lelaki bercadar.
"Kau...."
Belum habis ucapan Barda, seketika tubuhnya ambruk dengan mata masih membelalak. Nyawanya melayang. Hal itu semakin membuat Gopal dan Jura- gan Durka Pela membelalakkan mata marah.
"Kurang ajar! Kau telah berani membunuh te- manku! Kau harus mampus! Heaaa...!" Gopal seketika melesat dengan goloknya, membabat dan memburu lawan. Namun dengan cepat lelaki bercadar biru me- ngelitkan serangan-serangan gencar dan keras yang di- lancarkan Gopal.
"Hea!" Dengan melompat ke sana kemari lelaki berca- dar biru terus mengelitkan serangan gencar yang di- lancarkan Gopal. Sesekali lelaki bercadar biru itu balik menyerang dengan pukulan dan tendangan. Namun ternyata serangan balasan itu tak bisa dianggap re- meh.
Buktinya Gopal tampak kelabakan dibuatnya. Gopal harus berjuang mati-matian agar bisa lepas dari serangan lawan.
"Yea!" Lelaki bercadar berkelit dengan tubuh memutar ke belakang. Kemudian dengan cepat dan beruntun tangan dan kakinya menghantam punggung dan kepa- la Gopal. "Hea!"
Degkh! Degkh! "Ukh! Akh...!" Tubuh Gopal terhuyung-huyung cepat ke de- pan. Dari mulutnya muncrat darah segar. Kemudian, diiringi serangan keras tubuhnya ambruk ke tanah. Dan tewas seketika.
Melihat kedua centengnya mati, Juragan Durka Pela hendak lari ke kereta. Namun dengan cepat, lelaki bercadar biru telah melesat menghadangnya.
"Mau lari ke mana, Durka Pela?!" bentak lelaki bercadar biru dengan suara geram. Mendengar anca- man yang tampak dari sikap lelaki itu Juragan Durka Pela gemetar ketakutan. Keringat dingin mengucur de- ras mulai membasahi sekujur tubuhnya.
"Ampun, jangan bunuh aku!" pinta Juragan Durka Pela sambil menyembah-nyembah.
"Aku akan mengampunimu, asalkan kau men- gembalikan uang potongan gaji pekerja. Kembalikan pula uang pembebasan tanah yang juga telah kau po- tong!" perintah lelaki bercadar biru mengancam.
"Tapi... tapi...." "Tapi apa?!" bentak lelaki bercadar keras, "Kau akan mengatakan uangmu habis untuk mengumpul- kan gundik dan membeli rumah-rumah mewah. Begi- tu, kan?!"
Juragan Durka Pela menundukkan kepala sambil mengangguk, membenarkan apa yang dituduh- kan lelaki bercadar biru. Lelaki berperut gendut itu tak mampu menahan rasa takutnya, sehingga sampai ter- kencing-kencing.
"Baiklah kalau memang hari ini tak ada. Ku- tunggu sampai tiga hari. Kuminta kau menyerahkan- nya di Bukit Kucing!" perintah lelaki bercadar. Kemu- dian tanpa menghiraukan Juragan Durka Pela, lelaki bercadar biru melesat meninggalkan tempat ini.
Dengan sempoyongan dan gemetaran Juragan Durka Pela melangkah menghampiri keretanya. Wa- jahnya menggambarkan kepanikan dan bingung. Lela- ki bercadar biru, bukanlah orang sembarangan. Ter- bukti dua orang centengnya dalam sekali gebrak saja dapat dibinasakan.
"Bagaimana aku akan memberi permintaan- nya," keluh Juragan Durka Pela sambil melangkah ke keretanya. Kemudian tanpa bicara, lelaki gemuk berperut buncit itu naik ke keretanya, "Jalan!"
Sang Kusir menurut, menjalankan keretanya.
***

2
Waktu yang dijanjikan lelaki bercadar biru hampir tiba. Besok, Juragan Durka Pela harus menye- rahkan uang sisa pemotongan gaji dan pembebasan tanah warga. Namun uang yang diminta, benar-benar tak ada. Keadaan ini membuat Juragan Durka Pela nampak kebingungan. Melaporkan kepada para peja- bat kerajaan, rasanya tak mungkin. Kalau hal itu dila- kukan, hanya akan mempermalukan dirinya karena para pembesar istana telah menyerahkan pembuatan jalan itu kepadanya. Apapun yang terjadi, semua tang- gung jawabnya.
Di samping itu, pembesar istana sebenarnya te- lah membayar semua pembiayaan. Ada pun pembaya- ran terhadap para kuli dan pembebasan tanah, semua di tangan Juragan Durka Pela. Dirinya pula yang me- motong bayaran setengah lebih dari jumlah yang harus dibayarkan.
Malam ini, Juragan Durka Pela merasa bin- gung. Matanya tak dapat diajak tidur. Benaknya terus gelisah, memikirkan lelaki bercadar biru yang telah membunuh dua orang centengnya hanya dengan sekali gebrak. Juga mengingat tuntutan lelaki bercadar biru, yang menyuruhnya membawakan uang pemotongan pembayaran pembebasan tanah serta uang kuli.
"Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" gumam Juragan Durka Pela masih kebingungan. Kakinya melangkah hilir mudik. Otaknya terus bekerja, diperas untuk mendapatkan jawaban dari perta- nyaan-pertanyaan dalam hatinya.
Kebingungan masih melanda pikiran Juragan Durka Pela, ketika delapan orang wanita cantik yang menjadi gundik-gundiknya masuk. Kedelapan gadis cantik berpakaian seronok mendekati Juragan Durka Pela. Ada yang melenggak-lenggokkan tubuhnya. Ada yang langsung membuka pakaiannya sehingga telan- jang bulat. Juga ada yang langsung memberi ciuman dan rangsangan pada juragan berperut gendut itu.
"Kenapa Kakang nampak kebingungan?" seo- rang gadis berpakaian merah jambu yang masih muda sekali, berusia sekitar delapan belas tahun, mencoba bertanya.
"Ah, tidak apa-apa," jawab Juragan Durka Pela sambil membalas semua yang dilakukan kedelapan wanita cantik yang dijadikan gundiknya.
Meski pikirannya sedang kusut oleh masalah yang sedang dihadapinya, Juragan Durka Pela berusa- ha menghilangkannya. Direngkuhnya kedelapan wani- ta cantik itu. Kemudian dengan tertawa-tawa, mereka meladeni Juragan Durka Pela.
Ada yang ditindih, ada yang memijit dan segala macam tingkah laku yang menjijikkan. Semua mereka lakukan dengan keadaan tubuh tak tertutup sehelai benang pun. Juragan Durka Pela tidak ubahnya buaya darat yang sangat rakus. Meski usianya sudah seten- gah abad, lelaki gendut itu nampak masih sanggup meladeni kedelapan gundiknya. Dengan penuh nafsu, Juragan Durka Pela terus menggumuli kedelapan gun- diknya secara bergantian.
Hilang sudah pikirannya yang pusing, memi- kirkan lelaki bercadar biru yang menuntut uang pemotongan gaji dan pembebasan tanah. Seakan Juragan Durka Pela melupakan apa yang akan terjadi, jika besok dia tidak dapat memenuhi permintaan lelaki ber- cadar biru itu.
"Persetan dengan lelaki bercadar itu!" maki Ju- ragan Durka Pela dalam hati sambil terus menggeluti kedelapan gundiknya bergantian, yang tertawa-tawa senang. Kedelapan gundik Juragan Durka Pela, merasa senang dengan perbuatannya.
Tengah Juragan Durka Pela melampiaskan naf- sunya pada kedelapan gundik, tiba-tiba....
Brak! Dinding papan rumahnya dijebol dua sosok le- laki yang mengenakan cadar biru dan ungu. Mata ke- dua lelaki berpakaian seperti cadar, memandang tajam wajah Juragan Durka Pela dan kedelapan gundiknya yang terkejut. Sehingga mereka langsung berlarian sambil mengenakan kain masing-masing.
"Siapa kalian?! Lancang sekali masuk tanpa izinku!" bentak juragan Durka Pela sengit seraya membetulkan pakaiannya.
"Hhh..., tak jadi soal siapa kami berdua! Seka- rang juga, kuminta serahkan hartamu! Cepat..!" ben- tak lelaki bercadar ungu. Matanya menatap tajam pada Juragan Durka Pela. Sebilah pedang telah ditudingkan ke muka Juragan Durka Pela yang masih tampak ter- kejut tak mampu berbicara.
"Kami harap jangan melawan!" sambung lelaki bercadar biru.
"Kau?!" kaget Juragan Durka Pela, mengenali suara lelaki bercadar biru yang dikenalnya. Ya. Orang itu tak lain lelaki yang telah menghadangnya kemarin.
"Ya! Sengaja aku datang ke rumahmu, karena kurasa kau tak akan memberikan apa yang kuminta. Manusia licik sepertimu, tak dapat dipercaya," sahut lelaki bercadar biru sambil menghunus pedangnya.
"Bu..., bukankah kau minta besok?" tanya Juragan Durka Pela dengan tubuh gemetaran. "Besok aku akan menyerahkan padamu."
"Hm, begitu?" "Ya." "Kau kira aku percaya pada bualanmu, Durka Pela?!" bentak lelaki bercadar biru, "Aku tak sebodoh itu! Sekarang serahkan sisa uang yang kau potong dari gaji para kuli dan pembebasan tanah!"
"Tapi.., tapi..." "Jangan membantah, Durka Pela!" bentak lelaki bercadar ungu seraya mendekatkan ujung pedangnya ke leher Juragan Durka Pela, yang menjadikan lelaki berperut gendut itu semakin ketakutan. Namun pada saat itu pula, dari luar masuk anak buah Juragan Durka Pela berjumlah sepuluh orang.
"Ada apa, Juragan?!" "Bunuh mereka!" teriak Juragan Durka Pela. Seketika terbangkit keberaniannya, setelah melihat ke- datangan sepuluh anak buahnya.
Mendengar perintah juragannya, sepuluh lelaki berpakaian rompi hitam dan berwajah bengis itu lang- sung menjalankan perintah. Mereka langsung mengu- rung kedua lelaki gagah yang mengenakan cadar.
"Heaaa...!" "Kalian mencari mampus!" dengus lelaki berca- dar biru. Kemudian dengan cepat tangan kanannya bergerak, membabat dan menusukkan pedang mema- pak serangan lawan-lawannya.
"Huh! Jangan banyak bicara! Pergi saja kalian dengan tenang, atau terpaksa kami tak segan-segan membinasakan kalian berdua!" bentak lelaki berbadan tinggi besar dengan kumis tebal. Tampaknya orang ini pimpinan dari kesepuluh orang berompi hitam, yang merupakan centeng bayaran Juragan Durka Pela.
"Hm, kalian juga penghisap darah rakyat kecil!
Kalian bersuka ria di atas penderitaan orang miskin! Jangan harap kami membiarkan kalian hidup! Heaaa...!" lelaki bercadar ungu mendengus marah sambil memutar pedang dengan cepat memapaki se- rangan lima orang lawannya.
Trang! Trang...! "Heaaa!" Dentangan nyaring pun terdengar ketika bebe- rapa pedang saling bentur. Lelaki bercadar ungu terus membabatkan pedang, tak ingin serangan lawan men- dahului. Hingga....
Bret! Crab! "Aaakh...!" dua orang lawan menjerit, ketika dadanya terbabat pedang lelaki bercadar ungu. Tubuh kedua centeng Juragan Durka Pela itu meregang men- dongak dengan dada mengucurkan darah. Kemudian keduanya ambruk dan tewas.
Melihat kedua temannya mati, tiga orang lain- nya bukan takut. Mereka justru bertambah beringas dan marah. Dengan ganas ketiganya langsung mela- kukan serangan secara serentak. Berkelebatan pedang mereka menusuk dan membabat tubuh lelaki bercadar ungu.
"Heaaa...! Mampuslah kau, Pengacau!" dengus salah seorang dari ketiganya sambil membabatkan pe- dang. Namun babatan pedang lelaki bercambang lebat itu dengan mudah dapat dielakkan lelaki bercadar un- gu, yang kemudian melakukan serangan balasan ke tubuh lelaki brewok itu. "Yeaaa...!" Wrt! Cras! "Akh...!" lelaki bercambang bauk itu menjerit. Tubuhnya terlempar ke belakang dengan perut robek akibat babatan pedang lelaki bercadar ungu. Sesaat tubuhnya masih mampu bertahan. Namun kemudian ambruk dan tewas dengan darah membanjir memba- sahi sekujur tubuh.
Di sisi lain, lelaki bercadar biru pun tak kalah hebat dalam menghadapi lawan-lawannya. Pedang di tangannya bergerak sangat cepat. Sehingga yang tampak hanya kelebatan-kelebatan cahaya putih, disertai suara berdecit terus memapak dan menyerang lima orang lawannya.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt! Pedang di tangan lelaki bercadar biru itu laksa- na sebuah baling-baling yang kuat dan cepat. Kelima lawannya membelalakkan mata kaget tak menyangka kalau ilmu pedang lawan begitu tinggi. Namun mereka tetap berusaha menghalau serangan lelaki bercadar bi- ru dengan sambutan pedang mereka.
"Heaaa...!" Serentak kelima lelaki berpakaian rompi hitam membabatkan pedang ke tubuh lelaki bercadar biru, sehingga pedang mereka saling bertemu dan beradu.
Trang! Trang! Trang...! Prak! Prak! Prak...! Suara berdentang dan gemeretak keras terden- gar.
Seperti ada benda-benda keras patah oleh teba- san pedang.
"Heh?!" "Hah?!" Kelima centeng Juragan Durka Pela langsung melompat ke belakang dengan mulut ternganga lebar. Lima lelaki berompi hitam itu terkejut ketika melihat pedang mereka patah terbabat pedang lawan. Mata mereka saling berpandangan, penuh keheranan. Namun tiba-tiba salah seorang dari mereka menjerit
"Awaaas...!" "Heaaa...!" Lelaki bercadar biru rupanya telah kembali me- nyerang dengan babatan pedangnya yang cepat dan mematikan. Hal itu membuat kelima lawannya yang masih diliputi rasa kaget tersentak kaget. Cepat-cepat mereka berusaha mengelak. Akan tetapi....
Crab! Crab...! "Aaakh...!" "Aaakh...!" Bagaikan baling-baling yang tajam, pedang di tangan lelaki bercadar biru membabatkan perut lawan- lawannya dengan cepat. Sehingga kelima lelaki berom- pi hitam itu tak berhasil mengelakkan tubuh mereka dari sambaran pedang lawan. Seketika tubuh mereka sempoyongan sambil memegangi perut yang terkoyak lebar.
Darah mengucur dari sobekan perut kelima centeng Juragan Durka Pela. Tubuh mereka gemetar, dengan mulut meringis menahan sakit. Karena darah terlalu banyak keluar, mereka tak mampu bertahan lama. Kelima lelaki berompi hitam ambruk mencium tanah.
Sementara itu, lelaki bercadar ungu masih be- rusaha keras menghadapi lawan-lawannya. Di lain tempat dua orang lawannya terpental dengan keadaan tak kalah mengerikannya. Leher dan dada mereka ter- koyak mengucurkan darah.
"Kau..., kkk..., Aaakh...!" kedua orang lawannya seketika ambruk dan tak mampu bangun lagi.
"Hm, mana bajingan itu?!" tanya lelaki bercadar biru pada temannya.
"Nampaknya dia lari, Kanjeng Pangeran," sahut lelaki bercadar ungu.
"Ssst! Jangan kau panggil itu," bisik lelaki ber- cadar biru
"Baik, Cadar Biru." "Kita harus mencari hartanya," ujar lelaki ber- cadar biru yang ternyata Pangeran Prapanca. "Ayo, kita harus segera membagikan harta Juragan Durka Pela pada rakyat yang menderita."
"Mari!" Pangeran Prapanca dan rekannya Pranala sege- ra melesat meninggalkan kamar itu. Keduanya lang- sung mengobrak-abrik rumah Juragan Durka Pela mencari harta milik juragan kejam itu. Tidak lama ke- mudian keduanya telah melesat keluar dari rumah Ju- ragan Durka Pela membawa dua karung barang ber- harga.
Malam terus merangkak perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Kedua pendekar bercadar itu terus melesat menembus kege- lapan malam.
***

Malam semakin terasa mencekam, merambat perlahan menutupi bumi dengan kegelapannya. Angin bertiup menghembuskan hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Langit kelabu. Tak ada bintang mau- pun rembulan. Padahal mestinya bulan hampir pur- nama. Keadaan Desa Kaliamba pun nampak sunyi dan sepi, bagaikan tak ada tanda-tanda kehidupan. Semua warga telah terlelap dalam tidurnya.
"Ayo, kita harus cepat, Pranala!" ajak Pangeran Prapanca.
Pranala segera mempercepat larinya, agar dapat mengimbangi kecepatan lari Pangeran Prapanca. Kemudian keduanya saling berpencar. Pangeran Prapanca menuju arah timur, sedangkan Pranala ke arah barat.
Keduanya membagi-bagikan barang berharga yang mereka bawa, dengan cara melemparkan dari atas. Sehingga orang di dalam rumah mengira kalau barang berharga itu diturunkan Hyang Widhi dari lan- git.
Tidak begitu lama, keduanya telah menyelesaikan pekerjaannya itu. Mereka tersenyum puas sambil melangkah dengan tenang meninggalkan Desa Kaliamba yang seketika heboh karena para penduduk kejatu- han rejeki dari langit
Warga Desa Kaliamba berbondong-bondong keluar dari rumah mereka. Kemudian semua warga ber- kumpul di tengah lapangan. Dipimpin oleh seorang tetua kampung, warga desa memanjatkan doa syukuran atas pemberian rejeki pada mereka.
"Hyang Jagad Dewa Batara, terimalah sembah kami...! Kau telah mengutus malaikat-malaikat-Mu, untuk memberi rejeki pada kami," seru tetua kampung sambil menengadahkan wajah ke langit. Sedang kedua tangannya kini terbuka. Begitu pun yang dilakukan para warga desa lain, yang rupanya juga menerima anugerah yang sama malam itu.
Warga Desa Kaliamba benar-benar mengira ka- lau yang memberi rejeki itu malaikat-malaikat utusan Hyang Widhi. Itu sebabnya mereka melakukan upaca- ra pemanjatan doa syukuran, karena merasa telah terbebas dari penderitaan dan kemiskinan yang selama ini mereka terima. Semenjak Juragan Durka Pela berkuasa dan mendapat kepercayaan dalam pembuatan jalan dari para pembesar istana, kehidupan warga Desa Kaliamba semakin buruk.
Warga desa dipaksa pindah dari tanah peka- rangan yang mereka tempati. Mereka juga dipaksa bekerja dengan upah kecil, serta tindakan penindasan lainnya yang membuat warga desa semakin sengsara. Sementara para kepala desa di sekitar Desa Kaliamba pun tak berdaya menghadapi tindakan itu. Karena pa- da umumnya mereka dihukum dan terus ditakuti- takuti oleh para anak buah Juragan Durka Pela.
Malam semakin dingin, ketika warga Desa Ka- liamba satu persatu meninggalkan tanah lapang di tengah-tengah desa. Sampai akhirnya lapangan di ten- gah desa itu sepi. Hanya asap bekas perapian untuk memanjatkan doa yang masih mengepul. Asap itu membubung tinggi ke angkasa.
Cahaya rembulan yang redup, semakin mere- dup. Rembulan perlahan-lahan bergerak ke barat, pertanda kalau hari menjelang pagi.
***
Pagi baru saja datang, ketika seorang lelaki berperut buncit nampak berlari-lari di jalan terjal per- bukitan di sebelah selatan Desa Kaliamba. Lelaki ber- pakaian hijau dan panjang sampai ke lutut itu tak lain Juragan Durka Pela. Nampaknya lelaki setengah baya ini berlari terburu-buru, setelah semalam mengalami kejadian menakutkan yang hampir saja merenggut nyawanya.
"Hhh...! Biadab! Mereka benar-benar biadab!" gerutu Juragan Durka Pela dengan napas terengah- engah. Masih terbayang dalam ingatan, bagaimana semalam rumahnya disatroni, dua lelaki bercadar yang merampok dan membunuh para centeng, "Tunggulah pembalasanku, Manusia-manusia Keparat!"
Juragan Durka Pela berlari bagaikan tidak mengenal lelah, meski keringat bercucuran dan nafas- nya tersengal-sengal. Dendamnya pada kedua lelaki bercadar yang telah memporak-porandakan rumahnya, serta mengambil harta benda miliknya membuat lelaki gemuk berperut gendut ini marah. Semangatnya terpa- cu untuk segera sampai di tempat kediaman orang bi- asa dimintai pertolongan. Orang tua itu tak lain Ki Jalna Wangga atau si Pukulan Petir.
Antara Juragan Durka Pela dan Ki Jalna Wang- ga memang tak ada hubungan apapun. Namun telah terikat dalam kesepakatan yang dibuat oleh guru dari Ki Jalna Wangga dan orangtua Juragan Durka Pela. Sebelum meninggal, guru Ki Jalna Wangga pernah berpesan pada ayah Juragan Durka Pela bahwa antara Juragan Durka Pela dengan si Pukulan Petir akan sela- lu memiliki kaitan erat. Ki Jalna Wangga harus mau menolong Juragan Durka Pela, jika Juragan Durka Pe- la membutuhkan pertolongan. Itu sebabnya guru Ki Jalna Wangga memberi batu mustika biru pada ayah Juragan Durka Pela, agar setiap waktu jika anaknya membutuhkan, bisa diminta tolong pada Ki Jalna Wangga. Matahari belum tinggi ketika Juragan Durka Pela sampai di sebuah bangunan tua yang terletak di puncak Bukit Pawean. Bangunan itulah tempat tinggal Ki Jalna Wangga setelah beberapa tahun lalu mening- galkan dunia persilatan. Lelaki berjuluk si Pukulan Pe- tir itu sengaja mengasingkan diri dari keramaian rimba persilatan yang telah lama digelutinya.
"Siapa di luar?!" terdengar suara serak dan be- rat bertanya dari dalam bangunan menyerupai pura. Ditilik dari suaranya, tentu pemiliknya lelaki berusia enam puluh tahunan.
"Aku, Durka Pela!" sahut Juragan Durka Pela dengan napas tersengal-sengal.
"Masuk!" terdengar perintah Ki Jalna Wangga. Juragan Durka Pela menurut. Kakinya perlahan melangkah menaiki tangga kayu yang menuju se- rambi rumah panggung itu. Berulang kali Juragan Durka Pela menarik napas dalam-dalam, berusaha mengatur agar tidak tersengal-sengal. Kakinya terus melangkah ke pintu yang telah terbuka.
"Masuklah!" Juragan Durka Pela menapakkan kakinya me- langkahi pintu. Tampaklah seorang lelaki bertubuh tinggi tegar berdiri membelakanginya. Dialah Ki Jalna Wangga atau si Pukulan Petir. Rambutnya yang pan- jang terurai diikat kain hijau.
"Ada apa kau datang ke tempatku?" tanya lelaki berpakaian mirip jubah warna coklat itu masih dengan tubuh membelakangi. Seakan lelaki ini enggan untuk membalikkan tubuh. Belum juga Juragan Durka Pela menjawab, Ki Jalna Wangga kembali memerintah, "Duduklah!"
Juragan Durka Pela cukup tergetar juga meng- hadapi lelaki aneh ini. Jantungnya dirasakan berdebar keras. Dengan perlahan-lahan, Juragan Durka Pela menurut duduk. Juragan Durka Pela terdiam dengan muka menunduk. Lidahnya terasa sangat kelu untuk memulai berkata.
"Mengapa kau diam?" tanya Ki Jalna Wangga. Kemudian perlahan-lahan lelaki tinggi besar berambut terurai panjang itu membalikkan tubuhnya. Dan kini nampak sesosok lelaki bermuka garang namun tenang. "Aku mendapatkan kesulitan, Saudaraku," kata Juragan Durka Pela setelah lama terdiam.
"Hm, kesulitan apa...?" "Rumahku diobrak-abrik lelaki bercadar biru." "Lalu apa maumu?" "Aku ingin kau membunuhnya, Jalna." "Apakah kau kira mudah membunuh?" tanya Ki Jalna Wangga sinis.
"Aku yakin, kau mampu." "Hm," Ki Jalna Wangga menggumam tak jelas. Matanya menatap tajam Juragan Durka Pela. Yang di- pandang hanya menundukkan kepala. Ki Jalna Wang- ga menarik napas dalam. "Kalau saja antara guruku dan orangtuamu tak ada hubungan baik, sudah dari tadi kusingkirkan kau, Durka! Bukankah sudah kupe- ringatkan padamu, jangan serakah. Tetapi kau tak pernah menghiraukan peringatanku. Dan kini, kau da- tang memintaku untuk membunuh orang yang mela- kukan tindak kebajikan itu. Hm, permainan macam apa ini?" "Dari mana kau tahu mereka baik, Jalna?" tanya Juragan Durka Pela agak terkejut.
"Hhh..., aku telah mendengar tentang sepak terjang mereka. Mereka memang pencuri. Tetapi, bu- kan untuk mereka sendiri. Mereka mencuri untuk ra- kyat yang kau tindas!" tukas Ki Jalna Wangga, yang membuat Juragan Durka Pela terdiam. "Bagaimana, Durka?" "Itu terserahmu, Jalna. Kau boleh menolak, namun batu mustika biru akan tetap kupegang," an- cam Juragan Durka Pela.
Mendengar ucapan Juragan Durka Pela mata Ki Jalna Wangga membeliak. Selama mustika biru ada di tangan Juragan Durka Pela, maka dirinya tak akan bisa lepas dari ikatan timbal balik yang telah dirintis ke- dua orangtua mereka. Itu sama saja dengan menjerumuskan dirinya ke lembah sesat
"Bagaimana, Jalna?" tanya Juragan Durka Pela mulai berani menatap wajah, Ki Jalna Wangga.
"Hm, licik sekali kau, Durka. Tapi baiklah, ka- lau benar setelah kupenuhi permintaanmu kau kembalikan mustika itu, aku akan melakukan tugas ini! Ingat, jika kau berbohong, tak segan-segan aku membunuhmu!" ancam Ki Jalna Wangga. Wajahnya meme- rah merasa terpaksa terhadap permintaan Juragan Durka Pela.
"Jangan khawatir! Selama ini, aku tak pernah menyusahkanmu, bukan?" jawab Juragan Durka Pela dengan senyum mengembang di bibir. Sepertinya jura- gan berperut gendut itu merasa yakin, kalau Ki Jalna Wangga akan dapat menyingkirkan lelaki bercadar bi- ru
"Pulanglah! Jika aku telah menjalankan tugas, maka aku akan ke rumahmu," ujar Ki Jalna Wangga. "Baik! Kutunggu."
Juragan Durka Pela tersenyum puas, kemudian bangkit dari duduknya. Setelah menjura, lelaki berpe- rut gendut itu melangkah keluar meninggalkan tempat peristirahatan si Pukulan Petir.
Ki Jalna Wangga terpaku berdiri dengan mata memandang kosong. Nafasnya mendesah, seakan ada sesuatu yang menjadi beban pikirannya. Kemudian dengan menarik napas lagi, lelaki berambut panjang itu melangkah masuk. Ditutupnya pintu pesanggra- hannya. "Aku tak tahu, sampai kapan manusia licik itu akan mengadu domba diriku dengan para pendekar," gumamnya sambil melangkah masuk.
***

3
Pagi cerah dengan langit biru membentang, me- lingkupi Desa Kaliamba. Burung-burung berlompatan dan berkicau riang di pepohonan. Suasana Desa Ka- liamba yang biasanya sepi, kini ramai. Penduduk bersuka ria dan ramai membicarakan rejeki yang datang dari langit
Pembicaraan masalah harta benda yang datang sekonyong-konyong dari langit menyebar, tak hanya di wilayah Desa Kaliamba. Hampir semua penduduk membicarakan masalah rejeki itu. Sampai-sampai, penduduk Desa Kaliamba tak ada yang mau bekerja. Mereka masih diliputi kebahagiaan.
Di pagi yang cerah itu, dari arah timur nampak seorang remaja melangkah memasuki mulut Desa Kaliamba. Yang satu pemuda berpakaian rompi kulit ular. Tingkah lakunya lucu. Mulutnya tampak cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala dengan tan- gan kanan. Pemuda tampan berambut gondrong itu tak lain Sena Manggala atau lebih dikenal dengan ju- lukan Pendekar Gila. Tingkah lakunya yang konyol membuat setiap orang yang melihat tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Berjalan di sampingnya dengan senyum mena- wan, seorang gadis berparas elok laksana Dewi Kwan Im. Pakaiannya yang hijau berlengan panjang tampak mencolok dengan warna kulitnya yang putih. Dipun- daknya tersandang sebilah pedang. Gadis cantik ber- paras Cina itu, tiada lain Bidadari Pencabut Nyawa, atau Mei Lei.
Keduanya tengah melanjutkan perjalanan me- nuju tempat kediaman guru Sena, di Goa Setan.
"Kakang, sepertinya ada pembuatan jalan baru di desa ini," ujar Mei Lie sambil memandangi tempat yang kelihatan banyak bebatuan menumpuk. Sebagian lagi, sudah menjadi hamparan yang rata.
"Eh, benar juga. Tapi, mengapa sepi?" tanya Sena dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Ah ah ah, padahal belum selesai. Ah, kurasa ada sesuatu yang menjadikan pembuatan jalan jadi terhenti."
"Sesuatu apa, Kakang?" tanya Mei Lie dengan kening berkerut, ingin tahu apa yang dimaksudkan Pendekar Gila. Matanya memandang lekat wajah Pen- dekar Gila yang menggaruk-garuk kepala sambil cen- gengesan.
Pendekar Gila tak langsung menjawab. Sambil cengengesan, tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Dipandanginya bebatuan menumpuk di kanan kiri tanah yang akan dibuat jalan. Sebagian jalanan sudah tertutup bebatuan sebesar kepalan. Pepohonan pun banyak yang ditebangi, potongan-potongan kayu tertumpuk di pinggir tanah yang telah terbuka untuk jalan.
"Entahlah, Mei. Tapi.... Ah, apakah kau tak ingat, Mei? Bukankah di perjalanan kita mendengar kalau Baginda Awangga sedang membuat jalan yang akan menghubungkan antara Kerajaan Surya Langit dengan Kerajaan Bayu Bumi?" tutur Sena menje- laskan. "Untuk apa, Kakang? Bukankah menurut ka- bar, dua kerajaan itu selama ini saling bermusuhan? Keduanya saling memperebutkan Desa Kaliamba ini...?" tanya Mei Lie semakin ingin tahu. "Tapi, mengapa kini kedua kerajaan itu bisa rukun. Bahkan tam- paknya berusaha saling mempererat hubungan. Buktinya mereka membuat jalan di sekitar perbatasan ke- dua kerajaan. Ah..., mungkin ada sebab-sebab terten- tu, Kakang," lanjut Mei Lie sambil memandangi jalan yang tampak masih berserakan itu.
"Entahlah, Mei. Kau kira aku ini dewa, yang ta- hu semua kehidupan di Mayapada ini? Hi hi hi...!"
Sena tertawa cekikikan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala. Hal itu membuat Mei Lie melototkan mata. Gadis itu gemas sekali melihat tingkah laku ke- kasihnya. Kemudian dengan pelan dicubitnya pinggang
Sena.
"Nakal!" "Aduh...! Bisa sobek kulit pinggangku," rungut Sena sambil cengengesan.
"Kakang sih, nakal," gerutu Mei Lie manja. Matanya nampak meredup, membuat Pendekar Gila se- makin merasa senang. Semakin cemberut, kecantikan gadis itu semakin tampak jelas.
"Hua ha ha...!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak, Mei Lie pun kembali melotot. Namun kemudian turut terse- nyum. Tangannya dengan manja menggelayut di pun- dak kekasihnya. Kedua pendekar itu kembali melang- kah beriringan meneruskan perjalanan. Keduanya saling bercanda ria.
***

Dari arah barat, nampak seorang lelaki bertu- buh tinggi tegap melangkah menuju ke arah Bukit Yuyu. Wajah lelaki ini kelihatan keras. Namun dilihat dari sorot matanya lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berpakaian jubah coklat itu tampaknya orang berbudi baik. Lelaki ini yang tiada lain Jalna Wangga, nampaknya sedang mencari lelaki bercadar biru, yang diceritakan Juragan Durka Pela.
Jalna Wangga sebenarnya tak ingin menjalankan perintah itu, karena sudah tak mau turut campur dalam urusan rimba persilatan. Namun karena ikatan persaudaraan yang dibina gurunya dengan ayah Jalna Wangga, menyebabkan dirinya terpaksa harus melak- sanakannya. Hal yang kedua, karena Juragan Durka Pela telah berjanji akan menyerahkan batu mustika bi- ru, jika Jalna Wangga menjalankan permintaan tersebut
"Hm, ke mana aku harus mencari lelaki berca- dar biru?" tanya Jalna Wangga bergumam sendiri. Di rimba persilatan banyak manusia memakai cadar un- tuk menyembunyikan wajahnya. Sulit bagi si Pukulan Petir itu mencari orang yang dimaksudkan Juragan Durka Pela.
Jalna Wangga terus melangkah, menelusuri Bukit Yuyu yang membentang panjang dari barat sam- pai ke timur. Tiba-tiba dari kejauhan matanya melihat sepasang muda-mudi tengah melangkah berlawanan arah dengannya. Tak lama kemudian kedua muda- mudi itu telah sampai di depannya.
"Kisanak dan Nisanak, dilihat dari pakaian dan senjata yang disandang Nisanak, tentunya kalian dari rimba persilatan, bukan?" sapa Jalna Wangga atau si Pukulan Petir.
Mei Lie mengerutkan kening, lalu menoleh ke wajah kekasihnya. Kemudian Pendekar Gila tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala. Mata Jalna Wangga terbelalak, merasa heran menyaksikan tingkah laku pemuda di hadapannya.
Tingkah laku pemuda di hadapannya yang se- perti orang gila, mengingatkan Jalna Wangga pada se- seorang yang sangat dikaguminya. Orang gila yang ke- saktiannya belum tertandingi hingga saat ini. Namun Jalna Wangga sepertinya belum yakin, karena pernah didengarnya kalau Pendekar Gila dari Goa Setan san- gat aneh. Dia tak pernah mengambil murid.
"Siapa pemuda gila ini?" gumam Jalna Wangga dalam hati, "Dilihat dari gerak-geriknya, sama persis dengan Pendekar Gila dari Goa Setan. Tapi, apa benar dia muridnya?"
"Kisanak, kau memang benar. Kami memang dari persilatan. Ada apa gerangan...?" tanya Mei Lie mendahului Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, rupanya penglihatanku masih waras," gu- mam Jalna Wangga. Kemudian dengan mata masih memandang Pendekar Gila, lelaki berjubah coklat itu bertanya, "Kalau memang mataku yang tua ini benar- benar belum rabun, apakah benar Kisanak ada hu- bungan dengan Pendekar Gila dari Goa Setan?"
Mei Lie menoleh ke wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ah, dari mana kau tahu, Ki?" tanya Sena me- mandang dengan mata terpicing.
"Dari tingkah lakumu, Anak Muda." "Aha...! Bagaimana mungkin kau yakin aku seorang pendekar? Ah, aku hanya pemuda gila," jawab Sena, "Bagaimana mungkin aku dapat dihubungkan dengan Pendekar Gila dari Goa Setan?"
Jalna Wangga tersenyum. Hatinya merasa tak ragu, kalau pemuda ini bukan pemuda gila sembaran- gan. Atau memang ada hubungannya dengan Pendekar Gila dari Goa Setan yang pernah menggemparkan rim- ba persilatan puluhan tahun yang silam. Apalagi keti- ka Jalna Wangga melihat suling yang terselip di ikat pinggang pemuda gila itu. Matanya seketika membela- lak, hampir tak percaya pada penglihatannya.
"Suling Naga Sakti! Kau...? Kau Pendekar Gila dari Goa Setan?!" tanya Jalna Wangga dengan mata masih membelalak. Hatinya hampir tak percaya, kalau kini sedang berhadapan dengan pendekar yang sangat kesohor itu. Namun Jalna Wangga tiba-tiba kembali ragu, karena menurutnya, tentu Pendekar Gila sudah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Sedangkan pen- dekar yang memegang Suling Naga Sakti ini, baru dua puluh empat tahunan.
"Ah ah ah...! Kau mungkin salah, Ki. Sudah kukatakan, aku hanya pemuda gila biasa yang tiada arti. Bagaimana mungkin kau mengatakan aku Pende- kar Gila dari Goa Setan? Lucu sekali...!" gumam Sena sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mulutnya cen- gengesan, sementara tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Tapi aku tak dapat kau bohongi, Pendekar. Suling Naga Sakti ada di tanganmu. Namun, benarkah kau Singo Edan? Seharusnya pendekar sakti itu sudah berusia tujuh puluh tahun lebih," ujar Jalna Wangga masih belum yakin dengan penglihatannya.
"Hi hi hi...! Kau kira ada orang seperti Dewa, yang bisa mengubah usia? Lucu sekali kau, Ki," gu- mam Sena masih cengengesan dengan kepala mengge- leng-geleng.
"Kisanak, sebenarnya temanku bukanlah Pen- dekar Gila dari Goa Setan. Namun dia adalah murid tunggalnya," tutur Mei Lie menjelaskan.
Semakin membelalak kaget mata Jalna Wangga mendengar penuturan Mei Lie. Hatinya tak menyang- ka, kalau Singo Edan ternyata memiliki seorang murid. Kalau gurunya saja selama ini belum ada yang me- nandingi, muridnya tentu memiliki ilmu-ilmu gila yang lebih dahsyat. Pikir Jalna Wangga.
"Oh, terimalah salah hormatku, Tuan Pende- kar!" ujar Jalna Wangga sambil menjura hormat.
"Aha, kurasa tak semestinya kau berlaku begi- tu, Ki. Seharusnya kami yang muda, melakukan hal itu. Ah, sudahlah, kami tak punya waktu banyak. Maaf, kami harus segera meneruskan perjalanan un- tuk menemui guru," kata Sena mohon diri.
"Jadi Tuan Pendekar hendak menemui guru Tuan?" tanya Jalna Wangga.
"Begitulah. Ada apa?" tanya Sena. "Sampaikan salam hormatku pada guru Tuan," pinta Jalna Wangga. "Sampaikan pada guru Tuan, Jalna Wangga menghaturkan hormat!"
"Baik, Ki. Akan kusampaikan. Kami mohon di- ri," ujar Sena sambil menjura. Begitu pula yang dila- kukan Mei Lie. Namun ketika mereka hendak melang- kah, tiba-tiba Jalna Wangga berseru. "Tuan Pendekar, tunggu!" "Aha, ada apa lagi, Ki?" tanya Sena dengan ken- ing mengerut
Mei Lie menghela napas. Sepertinya gadis itu tak suka dengan Jalna Wangga, yang menghentikan langkah mereka kembali. Seakan-akan Mei Lie melihat kalau orang tua ini tak mempercayai mereka. Bahkan tampaknya hendak menyelidiki Pendekar Gila dan di- rinya.
"Maaf, saya kembali mengganggu!" "Cepat katakan! Kami tak ada waktu lagi," de- sak Mei Lie tak sabar.
"Kalau boleh ku tahu, apakah Tuan berdua me- lihat lelaki bercadar biru?" tanya Jalna Wangga.
"Tidak!" sahut Mei Lie cepat, "Sudah tak ada la- gi?"
"Terima kasih," jawab Jalna Wangga. Kemudian setelah menjura hormat Si Pukulan Petir meninggalkan kedua pendekar yang kembali melanjutkan perjalanan ke barat "Orang tua aneh. Untuk apa dia mencari lelaki bercadar biru?" tanya Sena sambil cengengesan den- gan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Sudahlah, Kakang! Mengapa kita memikirkan orang tua itu? Ayo kita teruskan!" ajak Mei Lie sambil menggandeng tangan Pendekar Gila untuk mene- ruskan perjalanan.
"Tapi, Mei. Kurasa ada sesuatu yang menarik di desa itu," kata Sena dengan mata menyapu ke sekelil- ing Bukit Yuyu. Kemudian ditolehkan kembali wajahnya ke Desa Kaliamba. Ada sesuatu yang menarik per- hatiannya. Apalagi setelah bertemu Jalna Wangga yang bertanya tentang lelaki bercadar biru.
"Ah, kau ini ada-ada saja, Kakang. Sudahlah, kita pergi!" ajak Mei Lie.
"Tunggu, Mei! Aku yakin, orang tua itu ada hu- bungannya dengan kemacetan pembuatan jalan. Ah, kurasa ada yang kurang beres di Desa Kaliamba itu. Apakah tak sebaiknya kita singgah dulu di desa ini?" ajak Sena sambil nyengir dengan mata memandang penuh harap pada Mei Lie. Sedangkan tangannya menggaruk-garuk kepala, yang menjadikan tingkahnya nampak semakin bertambah lucu.
"Hhh...!" Mei Lie menghela napas pelan. "Baik- lah, aku setuju."
"Hua ha ha...!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak. Semen- tara Mei Lie justru cemberut. Kemudian dengan nakal, Mei Lie mencubit pinggang Sena. Lalu keduanya berla- ri-lari menuruni Bukit Yuyu, menuju Desa Kaliamba. Desa yang juga dituju Jalna Wangga
***

Jalna Wangga kini melangkah memasuki se- buah kedai yang nampaknya baru dibuka, setelah se- kian lama tertutup. Semenjak Juragan Durka Pela di- percaya pihak kerajaan menangani pembuatan jalan dan pembebasan tanah kedai itu pun tutup. Karena para warga diwajibkan ikut bekerja dalam pembuatan jalan baru.
Namun semenjak peristiwa yang terjadi di ru- mah Juragan Durka Pela beberapa hari lalu, warga desa mulai merasa agak bebas. Para centeng bayaran ju- ragan itu telah dibunuh habis oleh dua lelaki bercadar yang belum dikenal. Kedai di ujung desa itu pun mulai buka kembali.
Para pengunjung kedai, nampak sedang mem- bicarakan masalah dua orang bercadar yang telah merampok rumah Juragan Durka Pela dan membagikan harta rampokannya kepada penduduk.
"Wah, kalau begitu, berarti mereka yang mem- beri pada kita," kata lelaki bertubuh kurus dengan jenggot panjang.
"Ya! Baik sekali mereka. Baru kali ini, ada mal- ing yang membagi-bagikan barang colongannya pada warga desa," sambung yang lainnya.
Jalna Wangga yang mendengar pembicaraan orang-orang di kedai seketika tergetar hatinya. Kalau benar apa yang diceritakan orang-orang tentang dua maling budiman itu, berarti mereka berbuat demi ke- manusiaan.
"Hm, pantaskah aku mengabulkan permintaan Durka? Kalau sebenarnya kedua lelaki bercadar itu bertujuan baik?" gumam Jalna Wangga. Hatinya mas- gul, setelah mendengar cerita warga Desa Kaliamba di kedai ini. Ketika semua orang membicarakan tentang dua orang lelaki bercadar yang membagi-bagikan rejeki, da- ri luar masuk dua orang lelaki yang sedang mereka bi- carakan. Sepontan semua yang ada di kedai mem- bungkuk memberi hormat. Hal itu menjadikan kedua orang bercadar biru dan ungu mengerutkan kening- nya.
"Hai, mengapa kalian memberi hormat pada- ku?" tanya lelaki bercadar biru, "Aku bukan siapa- siapa. Aku manusia seperti kalian. Kedatangan kami kemari, semata-mata ingin meminta makan."
Mendengar permintaan manusia bercadar biru, dengan tergopoh-gopoh pemilik kedai segera menghampiri. Kemudian segera menjura hormat
"Silakan, Tuan-tuan...!" sambutnya penuh ra- mah.
"Terima kasih, Ki. Kami lapar, ingin makan," pinta lelaki bercadar ungu.
Pemilik kedai segera memerintah pelayannya agar membawakan makanan yang lezat-lezat. Tidak lama kemudian, makanan pun datang. Hal itu mem- buat kedua manusia bercadar terkejut, tak menyangka akan dihidangkan makanan yang lezat-lezat dan tentu sangat mahal harganya.
"Ki, tentunya makanan selezat ini sangat mahal harganya. Bagaimana aku akan membayarnya?" tanya lelaki bercadar biru, tak mengerti mengapa pemilik ke- dai memberi mereka makanan yang lezat-lezat. Padahal mereka belum memesan makanan apapun.
"Ah, untuk Tuan berdua, kami tak meminta bayar. Kami telah tahu, siapa Tuan berdua," jawab pemilik kedai sambil membungkuk hormat. Di bibir le- laki berusia sekitar enam puluh lima tahun dan bertu- buh kurus itu menyunggingkan senyum ramah. Se- nyum yang tulus, tanpa dibuat-buat
"Tapi, Ki" Lelaki bercadar ungu hendak menolak, namun pemilik kedai telah mendahului.
"Ah, sudahlah! Betapa kami warga Desa Ka- liamba sangat berterima kasih atas pertolongan Tuan- tuan," sahut pemilik kedai, yang semakin membuat kedua lelaki bercadar saling pandang.
"Aku tak mengerti, Ki," kata manusia bercadar ungu.
"Sudahlah, Tuan! Jika memang harus bayar, biar kami yang membayarnya," salah seorang warga Desa Kaliamba yang ada di kedai menyahuti. "Tuan berdua telah menolong kami. Sudah sepantasnya kami membalas Tuan berdua."
Kedua lelaki bercadar itu tak berkata lagi. Se- saat keduanya saling pandang. Kemudian lelaki bercadar biru memandangi pemilik kedai yang masih terse- nyum penuh hormat
"Baiklah kalau begitu. Tolong kau bung- kuskan!" "Dengan senang hati, Tuan. Pelayan tolong bungkus!" perintah pemilik kedai dengan gembira, ka- rena pemberiannya tidak ditolak kedua manusia ber- cadar itu. Setelah mendapat dua bungkusan, kedua ma- nusia bercadar itu segera melesat keluar meninggalkan kedai. Namun tanpa mereka ketahui, seorang lelaki be- rusia sekitar enam puluh tahun dengan jubah coklat mengikuti mereka dari belakang.
Pendekar Gila dan Mei Lie sejak tadi mengawasi gerak-gerik kedua manusia bercadar yang kini dikejar Jalna Wangga. Kedua pendekar muda-mudi itu kemu- dian menguntit ketiganya.
"Kita harus tahu, Mei. Ah, jelas ini suatu ke- ganjilan," ujar Pendekar Gila sambil terus berlari ke se- latan membuntuti Jalna Wangga.
"Kalau begitu, kedua manusia bercadar itu orang baik, Kakang?" tukas Mei Lie.
"Mungkin, Mei," sahut Sena. "Kita tak tahu apa maksud mereka sesungguhnya."
"Ya, kuharap mereka benar-benar bermaksud baik," gumam Mei Lie sambil terus mengikuti Pendekar Gila mengikuti Jalna Wangga yang tengah mengejar kedua manusia bercadar.
Sampai di Hutan Jabara, pada sebuah tanah lapang yang sepi Jalna Wangga berhasil mengejar kedua manusia bercadar. Sementara itu, Pendekar Gila dan Mei Lie segera menyelinap bersembunyi di balik semak belukar yang lebat, mengintai apa yang akan terjadi. "Kisanak, sedari tadi kami perhatikan kau menguntit kami, ada apa?" tanya lelaki bercadar biru setelah menghentikan langkahnya.
"Kalian kenal dengan Durka Pela, bukan?" tanya Jalna Wangga.
"Ya! Ada apa?" tanya lelaki bercadar ungu. "Kutunggu kalian di Bukit Yuyu nanti malam, untuk menyelesaikan apa yang berhubungan antara kalian dan saudaraku!" usai berkata begitu, tanpa menghiraukan kedua manusia bercadar lelaki tua ber- juluk si Pukulan Petir itu melesat pergi.
"Manusia aneh," gumam lelaki bercadar ungu, "Apakah Kanjeng Pangeran akan melayaninya?"
"Ya! Bagaimanapun, aku harus bertanggung jawab, Pranala. Meski nyawaku sebagai taruhannya. Demi rakyat yang menderita aku siap berkorban," ja- wab Pangeran Prapanca.
"Kalau begitu, aku harus ikut, Kanjeng." "Baiklah, kita hilangkan pikiran itu. Ayo...!" ajak Pangeran Prapanca. Keduanya pun seketika mele- sat meninggalkan Hutan Jabara, tanpa tahu dua orang yang sejak tadi mengawasi mereka. Ya, Pendekar Gila dan Mei Lie yang tampak kebingungan karena belum mengerti.
"Aku semakin tertarik, Mei. Kurasa, lebih baik kita melihat apa yang terjadi nanti malam," ujar Sena sambil cengengesan dengan kepala menggeleng-geleng.
"Terserah kau saja, Kakang," sahut Mei Lie. "Ayo kita ke kedai! Perutku sudah lapar. Hi hi hi...!"
Dengan tertawa cekikikan, Pendekar Gila me- langkah meninggalkan Hutan Jabara.

4
Malam perlahan-lahan turun. Di sebelah timur, bulan kelihatan merambat naik perlahan. Sinarnya yang redup, memancar menerangi bumi walau remang- remang. Dua sosok bayangan yang tak lain Pendekar Gila dan Mei Lie, berkelebat cepat menuju Bukit Yuyu. Sampai sejauh itu kedua pendekar muda itu belum mengerti penyelesaian macam apa yang diinginkan Ki Jalna Wangga.
Setelah sampai di Bukit Yuyu yang masih sepi, Pendekar Gila segera mengajak Mei Lie bersembunyi di balik semak-semak yang cukup rimbun. Hal itu di- maksudkan agar kehadiran mereka tak diketahui Ki Jalna Wangga maupun kedua lelaki bercadar.
"Ingat, Kakang. Kau jangan cekikikan!" ujar Mei Lie mengingatkan Pendekar Gila. Sebab kebiasaan ko- nyol kekasihnya akan menyebabkan persembunyian mereka diketahui.
"Aha, tenanglah, Mei! aku akan berusaha," sa- hut Sena sambil cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala.
"Lihat, dua lelaki bercadar itu datang," bisik Mei Lie. "Aha, kau benar. Kurasa, malam ini akan terja- di pertarungan yang seru, Mei," kata Sena masih den- gan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala.
Dari arah barat, melesat dua sosok tubuh me- nuju tanah lapang yang ada di Bukit Yuyu. Tidak lama kemudian, dari arah selatan melesat pula sesosok tu- buh tinggi besar. Ketiganya pun bertemu, saling pan- dang satu sama lain.
Pendekar Gila dan Mei Lie ingin tahu apa sebenarnya yang akan terjadi. Keduanya berusaha tenang di persembunyian. Mata mereka memandang tajam ke tanah lapang tempat tiga orang lelaki saling berhada- pan.
"Kau telah siap, Cadar Biru?" tanya Ki Jalna Wangga. "Aku siap. Apapun yang hendak kau lakukan, aku telah siap menghadapinya," jawab Pangeran Pra- panca tegas.
"Bagus! Tapi terlebih dahulu kukatakan, bahwa aku hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Durka Pela," tutur Ki Jalna Wangga.
"Aku tahu," jawab Pangeran Prapanca yang mengenakan cadar biru.
"Baik, bersiaplah! Heaaa...!" Ki Jalna Wangga melesat dengan serangan per- tamanya yang bernama 'Pukulan Gempa'. Kedua tan- gannya direntangkan dengan jari-jari mengepal. Tan- gan kiri ditaruh di bawah siku tangan kanan. Sedang- kan tangan kanan digerakkan ke samping, yang dite- ruskan ke depan lurus.
"Mundurlah, Cadar Ungu!" perintah Cadar Biru tak menyebut nama rekannya. Setelah Pranala mun- dur, Pangeran Prapanca pun segera membuka jurus- nya. Kaki kanannya digeser agak ke depan setengah ditekuk. Kedua tangannya menyatu di depan dada. La- lu tangan kanan membuka dan ditarik ke atas, diikuti dengan tangan kiri diangkat ke atas kepala. Itulah ju- rus pembuka 'Bangau Merentang Sayap' diteruskan dengan jurus 'Kepakan Sayap Bangau'.
"Hea!" "Yea!" Tubuh keduanya melesat ke depan. Tidak hanya tangan yang bergerak menyerang, kedua kaki mereka pun turut menendang dan menyapu. Dalam sekejap saja, keduanya telah terlibat pertarungan yang seru.
"Jaga igamu, Cadar Biru!" seru Ki Jalna Wang- ga. Kemudian dihantamkan pukulan tangan kanannya ke dada sebelah kiri lawan. Namun dengan cepat Pan- geran Prapanca berkelit, sehingga pukulan lawan hanya mendesir beberapa jari di samping tubuhnya.
Setelah lepas dari serangan lawan, dengan ce- pat Pangeran Prapanca memutar tubuhnya setengah lingkaran. Kemudian dengan gerakan ringan, lelaki bercadar biru itu mengibaskan telapak tangan kirinya ke tulang rusuk sebelah kanan lawan.
"Rusukmu, Ki! Hea...!" Wrt! "Hait!" Dengan berguling, Ki Jalna Wangga menge- litkan serangan lawan. Sambil berguling pula, lelaki tua itu melancarkan tendangan dengan jurus 'Kaki Jengkrik Menjentik'.
"Hea...!" Pangeran Prapanca mencelat ke belakang, mengelakkan tendangan kaki lawan. Melihat lawan melompat, dengan cepat Ki Jalna Wangga melakukan salto. Kemudian dilentingkan tubuhnya ke atas, sam- bil bergerak melakukan serangan. Kaki kanan menen- dang tubuh lawan dalam keadaan masih melayang.
"Heaaa!" Melihat lawan menyerang dengan tendangan, Pangeran Prapanca segera memiringkan tubuh ke samping kanan lalu merunduk. Kemudian dengan jari- jari terbuka tangan kanannya dikibaskan ke tubuh Ki Jalna Wangga.
"Yea!" Wrt! "Heh?!" Ki Jalna Wangga kaget bukan kepalang karena tak menyangka lawan akan menyerang begitu cepat. Dengan cepat lelaki berambut panjang itu me- narik serangan. Tubuhnya dilontarkan ke atas. Setelah berjumpalitan di udara dengan ringan kakinya menda- rat sambil tertawa-tawa.
"Hua ha ha...! Hebat! Kau benar-benar hebat Cadar Biru. Tapi itu baru pemula, bukan? Kini kau yang menyerang!" seru Ki Jalna Wangga.
"Baik! Bersiaplah!" "Aku telah siap," jawab Ki Jalna Wangga. Pangeran Prapanca segera menarik kaki kanan ke belakang. Kaki kiri agak ditekuk. Tangannya menyi- lang ke bawah, kemudian digerakkan ke atas. Itulah jurus 'Bangau Menyibak Air'. Sebuah jurus pembuka yang cukup berbahaya. Sasarannya dada dan jantung lawan.
"Yea!" "Hea!" Kedua tubuh melesat ke udara. Pangeran Pra- panca mengembangkan kedua tangan ke samping. Kemudian dengan cepat tangan kanannya memburu ke depan. Disusul dengan tangan kiri untuk menang- kis.
"Hea!" Ki Jalna Wangga pun nampaknya tak mau ka- lah. Tangannya dijotoskan ke muka, disusul dengan tangkisan tangan kirinya. Mereka terus bertarung di udara laksana burung terbang.
Pendekar Gila dan Mei Lie yang menyaksikan pertarungan itu terkesiap kaget Mata keduanya mem- belakak, takut kalau-kalau salah seorang di antara ke- duanya akan menjadi korban. Namun untuk ikut cam- pur dalam urusan itu, Sena tak mau. Dirinya belum tahu apa sebenarnya yang terjadi.
"Kakang, apa kita akan tinggal diam?" tanya Mei Lie berbisik lirih, sepertinya khawatir menyaksikan pertarungan itu.
"Aha, rupanya kau yang cerewet, Mei. Bukan- kah kau tadi melarangku berbicara?" sahut Pendekar Gila dengan mulut cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
"Tapi, aku khawatir salah satu mati percuma, Kakang." "Aha, kau semakin cerewet saja seperti seorang nenek, Mei."
"Tapi, Kakang...." "Aha, sudahlah. Rimba persilatan memang begi- tu, Mei. Kita lihat saja. Bukankah kita tak tahu apa- apa?" ujar Sena berusaha mengingatkan kekasihnya yang kelihatan tak sabar.
"Tapi kelihatannya mereka orang baik-baik. Ra- sanya tak pantas sealiran harus bertarung," tukas Mei Lie masih berusaha mengajak Pendekar Gila agar me- lerai pertarungan itu.
Tampak kini keduanya bertarung sambil bergu- lingan ke bawah. Mereka masih saling pukul dan tendang.
"Kau harus ingat, Mei. Ini pelajaran untukmu. Dalam urusan pribadi, kita tak bisa ikut campur," ujar Sena berusaha menjelaskan pada kekasihnya. "Aha, bukankah lebih baik kita melihat?"
Mei Lie pun menurut diam. Dengan cemas ga- dis itu menyaksikan pertarungan yang semakin seru. Kini tubuh keduanya masih bergulingan di tanah. Na- mun begitu, keduanya bagaikan dua ekor kucing. Meski dengan tubuh menggelinding dari atas bukit itu, keduanya tetap berusaha saling menyerang.
"Hea!" "Yea!" Tangan mereka terus bergerak, memukul dan menangkis. Begitu pula dengan kedua kaki mereka, saling kait dan tendang. Sebuah perkelahian yang san- gat seru. Tampaknya kedua orang itu memiliki ilmu se- taraf.
Trak! "Heaaa...!" Trep! Tangan Pangeran Prapanca menyerang. Namun dengan cepat tangan kiri Ki Jalna Wangga menangkis dan menangkapnya. Lelaki bercadar biru itu berusaha menarik tangannya. Disodokkan sikunya menyerang, tetapi kembali Ki Jalna Wangga menangkis dengan si- ku tangan kiri.
"Hea!" Trak! Keduanya saling dorong dan tarik. Sampai ak- hirnya, mereka berada di bawah. Keduanya masih saja saling dorong dan tarik, kemudian tiba-tiba telapak tangan dan jotosan mereka beradu.
Plakkk! "Hea!" "Yea!" Pangeran Prapanca melenting ke atas, dengan tubuh jumpalitan. Kemudian dengan ringan menda- ratkan kaki di atas bukit. Begitu juga dengan Ki Jalna Wangga. Lelaki tua itu pun melakukan hal yang seru- pa. Setelah berjumpalitan mencelat ke atas, dengan ringan kedua kakinya mendarat di atas bukit. Seketika pertarungan mereka berlanjut. Mata mereka saling pandang seakan berusaha mengukur ilmu masing- masing. "Bagaimana, Cadar Biru? Apakah akan dite- ruskan?" tanya Ki Jalna Wangga, "Sengaja aku tidak mengeluarkan jurus andalanku yang bernama jurus 'Pukulan Petir'. Karena jika aku keluarkan jurus itu, maka kau akan mengalami kematian."
Diam-diam di hati Cadar Biru tersirat rasa ka- gum pada lelaki setengah baya itu. Dia pun menyadari, kalau lelaki bermuka garang itu mau, maka dalam be- berapa gebrakan saja dia akan kalah. Tetapi rupanya lelaki berjubah coklat itu hanya menjajal sampai sebe- rapa ilmunya.
"Hm, kita teruskan," sahut Cadar Biru yang ju- ga ingin melihat sampai sejauh mana kepandaian lelaki bermuka garang namun matanya mencerminkan ke- tenangan dan persahabatan ini.
"Cadar Biru, biar aku yang meneruskan, karena aku pun terlibat di dalamnya," tiba-tiba Cadar Ungu yang tak lain Pranala berseru.
"Hm, dua-duanya pun boleh!" sela Ki Jalna Wangga, yang membuat kedua lelaki bercadar saling pandang sesaat. Napas keduanya memburu, terlebih- lebih Pangeran Prapanca yang merasa diremehkan. Mata di balik cadar biru itu menyorot tajam ke wajah Ki Jalna Wangga. Seakan tak mampu lagi ditahan ke- marahannya yang bergayut dalam hati. Hal itu karena dirinya merasa lelaki tua itu telah ikut campur urusan- nya terhadap Juragan Durka Pela.
"Kita teruskan! Biar aku yang menghadapimu!" tantang Pangeran Prapanca, "Mari kita gunakan senja- ta kita!" "Hm, begitu? Baiklah." Ki Jalna Wangga terse- nyum sinis seraya memicingkan mata memandang wa- jah Cadar Biru.
Sret! Pangeran Prapanca menarik pedang dari wa- rangkanya. Begitupula yang dilakukan Ki Jalna Wang- ga. Lelaki tua itu mencabut golok panjangnya dari wa- rangka. Keduanya mundur dua tindak dengan mata saling menatap tajam.
"Hai... Mereka benar-benar hendak saling membunuh, Kakang," kata Mei Lie berbisik.
"Aha, biarkan saja! Inilah rimba persilatan, Mei. Kadang kala, manusia tak lebihnya seperti hewan. Tak mengenal belas kasihan terhadap sesamanya," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala. "Kita lihat saja, Mei!"
Mei Lie kembali diam sambil memperhatikan kedua orang yang siap melakukan pertarungan maut. Keduanya sama-sama telah mengeluarkan senjata. Sa- tu bersenjata pedang, sedangkan yang satunya bersen- jatakan golok panjang bergerigi.
***

Pangeran Prapanca dengan mata tajam mena- tap wajah Ki Jalna Wangga. Diletakkan pedangnya ke depan wajah. Sementara tangan kirinya, kini diletak- kan di pinggang dengan jari-jari terbuka. Kakinya ber- gerak teratur, melangkah membentuk siku.
"Yea!" Dengan jurus 'Bangau Terbang', Pangeran Pra- panca membuka serangan. Pedang di tangan kanannya digerakkan dengan cepat. Mulanya ke bawah, kemu- dian dengan cepat diangkat dan dibabatkan sambil melesat ke depan. Sedang tangan kirinya tak mau ke- tinggalan, bergerak memukul dengan telapak terbuka.
"Hea!" Menyaksikan lawan telah membuka serangan, Ki Jalna Wangga pun dengan cepat membuka jurus 'Simpul Golok Maut'. Golok di tangannya digerakkan naik turun, lalu dilanjutkan dengan babatan menda- tar. Disertai pekikan menggelegar, membuat suasana sepi di Bukit Yuyu berubah riuh, Ki Jalna Wangga me- lesat menyerang.
"Yeaaa...!" Wrt! Dua tubuh berkelebat cepat dengan senjata siap membantai satu sama lain. Pedang dan golok tampak berkelebat begitu cepat. Sehingga kedua senja- ta itu bagaikan menghilang. Yang kelihatan hanya si- nar yang berkeredep, keluar dari gerakan kedua senja- ta.
Wrt! Trang! Golok dan pedang tajam itu beradu, mengelua- rkan pijaran api. Ki Jalna Wangga dan Pangeran Pra- panca tampak saling melompat ke belakang. Namun sebentar kemudian, dengan pekikan menggelegar, ke- duanya kembali melesat maju.
"Hea!" Wut! Wut! "Yeaaa...!" Keduanya kembali menyerang, menggerakkan senjata masing-masing untuk membabat dan menusuk ke tubuh lawan. Namun kedua-duanya sama-sama lincah dan gesit Tubuh mereka berkelebat-kelebat da- lam mengelitkan dan menangkis serangan lawan.
Wrt! Trang! Dengan memutar cepat pedangnya, Pangeran Prapanca berusaha mendesak lawan. Pedangnya mem- babat dan menusuk ke bagian atas tubuh Ki Jalna Wangga. Namun orang tua berambut panjang itu nam- pak tak mengalami kesulitan menghadapi serangan- serangan lawan. Dengan melompat ke sana kemari Ki Jalna Wangga menangkis dan mengelak.
"Hea!" Trang! "Hih!"
Pangeran Prapanca menarik pedangnya, lalu melancarkan pukulan ke dada. Namun dengan cepat Ki Jalna Wangga merundukkan tubuh. Digeser kaki ki- ri ke samping, diikuti dengan tubuhnya yang doyong. Sehingga serangan Pangeran Prapanca hanya menge- nai tempat kosong. Ki Jalna Wangga segera membalas serangan dengan tubuh masih agak membungkuk. Di tusukkan goloknya ke perut lawan.
"Jaga perutmu, Cadar Biru! Heaaa...!" Wrt! "Aits! Hebat...!" teriak Pangeran Prapanca tak sadar, karena kaget mendapatkan serangan yang tiba- tiba itu. Dengan cepat lelaki bercadar biru itu melom- pat ke belakang. Kemudian bersamaan dengan itu di- putarnya pedang ke bawah menangkis serangan la- wan.
"Hea!" Trang! Mei Lie yang ahli bermain pedang menggeleng- gelengkan kepala, menyaksikan pertarungan lelaki bercadar biru melawan Ki Jalna Wangga. Sebenarnya menurut pandangan Mei Lie, Ki Jalna Wangga dapat dengan mudah mengalahkan lawannya. Mei Lie meli- hat titik lemah lelaki bercadar biru itu. Namun nam- paknya Ki Jalna Wangga masih berusaha menjajaki sampai seberapa ilmu pedang lelaki bercadar biru itu, sehingga orang tua bermuka garang itu nampaknya tak bermaksud menyudahi pertarungan dengan cepat.
"Kakang, kulihat orang tua itu bertarung tak sungguh-sungguh," bisik Mei Lie pada Pendekar Gila.
"Aha, kau benar, Mei. Nampaknya Ki Jalna Wangga memang sedang mendalami sampai seberapa ilmu lelaki bercadar biru," sahut Sena dengan wajah meringis sambil menggaruk-garuk kepala.
"Tak kusangka, orang tua bermuka garang itu, ternyata memiliki hati yang baik juga," gumam Mei Lie sambil terus memperhatikan jalannya pertarungan yang masih berlangsung seru.
Kini nampak dengan gerakan cepat mereka sal- ing menyerang. Tubuh keduanya berkelebat saling menghindar dan menangkis. Golok dan pedang pun terdengar terus berbenturan. Suaranya memecah ke- heningan malam.
Trang! "Heaaa...!" Pangeran Prapanca dan Ki Jalna Wangga terus bergerak melangkah ke samping sambil saling me- nangkis serangan. Sungguh sebuah gerakan silat yang sangat indah ditonton.
Pranala yang ilmunya memang berada di bawah ilmu Pangeran Prapanca, hanya terbengong kagum. Hatinya hampir tak percaya, kalau Pangeran Prapanca akan dapat mengeluarkan jurus silat yang indah dan cepat Selama ini, keduanya memang bersama-sama. Namun Pranala belum pernah melihat Pangeran Pra- panca mengeluarkan jurus ‘Angin Meniup Daun’.
Tubuh keduanya terus bergerak ke samping dengan masih diiringi benturan senjata saling serang. Kaki-kaki mereka bergerak dengan teratur, kadang menyilang dan kadang merentang. Sedangkan tangan kiri keduanya, bergerak mengepak-ngepak atau terka- dang menekan ke belakang dan samping. Sepertinya tangan kiri itu sengaja digunakan untuk menjaga ke- seimbangan tubuh mereka dalam menyerang.
Trang! Trang! Senjata mereka terus beradu. Namun pada sua- tu kesempatan, Pangeran Prapanca berhasil menarik golok di tangan Ki Jalna Wangga.
"Hea!" Wrt! Trakkk!
"Akh...!" Ki Jalna Wangga tersentak kaget den- gan mata terbelalak. Dirinya tak menyangka kalau lawan akan dapat membuang senjatanya. Kini Ki Jalna Wangga nampak pasrah, ketika Pangeran Prapanca menempelkan ujung pedangnya ke leher. "Kalau kau mau membunuhku, bunuhlah!"
"Hm, membunuhmu mudah saja. Tapi aku tak pernah sembarang membunuh orang. Dan untuk itu sebaiknya kau cepat tinggalkan tempat ini, sebelum pikiranku berubah!" perintah Pangeran Prapanca.
Ki Jalna Wangga hanya diam saja tak berkata apa-apa. Dirinya hanya bergumam dalam hati. "Kalau saja aku tak tahu siapa kau sebenarnya, hhh..., tak segan aku membunuhmu. Tapi aku tahu siapa kau se- benarnya. Aku bersalah jika membunuh atau menang- kapmu...."
Kemudian Ki Jalna Wangga cepat pergi mening- galkan tempat itu, Pangeran Prapanca mengikutinya dengan pandangan tajam. Pranala yang melihat Pange- ran Prapanca cemas segera menghampiri.
"Kenapa orang itu dilepas begitu saja, Pange- ran?" tanya Pranala agak gusar.
"Biarlah. Kita tak perlu membunuh orang se- perti dia. Tujuan kita bukan itu," jawab Pangeran Pra- panca. "Ah, sudahlah! Mari kita pergi!"
Keduanya pun melesat pergi meninggalkan Bu- kit Yuyu yang kembali sepi.
Sementara itu Pendekar Gila dan Mei Lie pun keluar dari tempat sembunyi.
"Orang tua aneh," gumam Mei Lie. "Hi hi hi.... Kau benar, Mei. Tapi yang ku he- rankan, siapa sebenarnya lelaki bercadar biru? Rekan- nya tadi memanggil dengan sebutan 'pangeran'. Ah ah ah... aneh sekali!" gumam Sena dengan cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hm, memang aneh, Kakang. Kalau dia seorang pangeran, dari kerajaan mana? Lalu untuk apa dia memakai cadar dan merampok?" tanya Mei Lie turut heran.
"Aha, kurasa kita akan tertunda di sini, Mei. Ini benar-benar keanehan. Hi hi hi...!" kata Sena sambil cekikikan, membuat mata Mei Lie melotot gemas. Na- mun gadis itu tak mencubit pinggang, kekasihnya bahkan kini merapatkan diri ke tubuh Pendekar Gila.
Pendekar Gila dan Mei Lie pun segera mening- galkan Bukit Yuyu yang kembali sepi. Bulan kelabu mengiringi perjalanan kedua pendekar muda itu.
***

5
Malam yang disinari bulan kelabu terus menye- limuti bumi. Membawa para penghuni bumi terlelap dalam tidur. Begitu pula dengan keadaan lingkungan Kadipaten Wungkalan yang masih termasuk dalam wi- layah Kerajaan Surya Langit, nampak sepi. Hanya ada empat orang prajurit yang belum tertidur. Mereka se- dang melakukan tugas, menjaga keamanan lingkungan kadipaten Malam semakin larut, ketika dari luar benteng kadipaten melesat dua sosok bayangan melompati tembok tinggi yang mengelilingi lingkungan kadipaten.
"Hop!" Kedua sosok itu kini berdiri di atas tembok. Mata mereka yang sebagian wajahnya tertutup cadar biru dan ungu mengawasi sekeliling bangunan kadipa- ten itu. "Hati-hati, kita harus bergerak cepat!" ujar Pangeran Prapanca mengingatkan pada Pranala.
"Apa tak sebaiknya kita lumpuhkan keempat penjaga ini, Pangeran?" ucap Pranala.
"Kurasa tak perlu. Kalau kepergok apa boleh buat," jawab Pangeran Prapanca. "Ayo, kita beraksi!"
Kedua lelaki bercadar itu melesat turun. Den- gan ringan tanpa menimbulkan suara, keduanya men- darat di pekarangan sebelah barat kadipaten.
"Hop!" "Ya! Hm, kita harus cepat beraksi," ujar Pange- ran Prapanca dengan mata memanjang tajam ke seke- lilingnya.
"Pangeran, lihat!" bisik Pranala sambil menun- juk ke salah sebuah kamar yang nampak masih te- rang. Dari bayangan di dalam kamar itu, menunjukkan masih banyak orang yang belum tidur. "Nampaknya mereka belum tidur, Pangeran."
"Hm, benar. Tapi...," Pangeran Prapanca mena- jamkan pandangannya. Nampak bukan bayangan lela- ki melainkan ada lima orang wanita di dalam kamar itu. "Kurasa mereka perempuan, Pranala. Hanya satu lelaki.
"Mungkinkah wanita simpanan adipati cabul itu, Pangeran?" tanya Pranala.
"Bisa jadi. Dasar adipati keparat! Tak memper- hatikan rakyatnya yang menderita, malah enak- enakan bersama wanita-wanita simpanannya," dengus Pangeran Prapanca geram. Matanya membelalak se- makin lebar, "Ayo...!"
Kedua sosok itu melesat cepat menuju kamar tempat bercengkerama itu. Keduanya mendekat, ke- mudian perlahan-lahan mengintip apa yang terjadi di dalam kamar itu lewat celah jendela.
Membelalak mata Pangeran Prapanca dan Pra- nala melihat apa yang terjadi di dalam kamar itu. Keduanya terkejut. Di dalam kamar itu, Adipati Jata Sura sedang asyik bercumbu bersama kelima gundiknya yang masih muda-muda.
"Adipati keparat!" dengus Pangeran Prapanca dalam hati. Kemudian segera menggerakkan kepala memberi isyarat kepada Pranala agar masuk.
Brak! Suara berderak keras terdengar. Adipati Jata Sura dan kelima gundiknya yang masih dalam kea- daan telanjang tersentak kaget. Serentak mereka men- jerit melihat jendela kamar telah jebol. Mereka hendak lari, namun Pranala telah menghadang di pintu kamar.
Srang! "Jangan lari! Serahkan hartamu, Adipati! Atau nyawamu yang akan melayang!" ancam Pangeran Pra- panca sambil mengacungkan pedang ke arah leher Kanjeng Adipati Jata Sura yang ketakutan. Sehingga wajahnya kelihatan sangat pucat. Tubuh gemetaran. Begitu pula dengan kelima wanita cantik yang masih dalam keadaan telanjang bulat mereka menggigil keta- kutan. "Cepat katakan, di mana hartamu?!"
"Ampun..., jangan bunuh kami!" ratap Adipati Jata Sura mengiba dengan keringat dingin bercucuran, "Ambillah semua hartaku! Asal jangan kalian apa-apakan aku!"
"Baik! Cepat katakan!" bentak Pangeran Prapanca semakin menempelkan pedangnya ke leher sang Adipati. "Ayo, tunjukkan di mana kau menyimpannya." Dengan ketakutan, Adipati Jata Sura pun menurut Kakinya melangkah di bawah ancaman pedang Pangeran Prapanca. Sedangkan Pranala menahan kelima wanita gundik yang semakin ketakutan. Mereka berdiri mengumpul di sudut kamar itu, sambil menutupi tubuh mereka.
Adipati Jata Sura terus melangkah menuju kamar lain Sedangkan Pangeran Prapanca terus me- nodongkan pedangnya di leher sang Adipati. Namun tak terduga, tiba-tiba Adipati Jata Sura memberontak sampai lepas. Kemudian lari keluar.
"Prajurit! Maliiing...!" teriak Adipati Jata Sura membuat para prajuritnya yang tidur seketika terbangun. Mereka serentak lari menghampiri.
"Ada apa, Kanjeng Adipati?" "Tolol! Mengapa kalian tak tahu kalau ada dua orang maling masuk?!" bentak Adipati Jata Sura, "Tangkap mereka!"
Prajurit-prajurit kadipaten yang berjumlah se- puluh orang langsung menyerbu ke dalam.
"Tangkap maling!" "Celaka, Pangeran, kita tak bisa apa-apa lagi," bisik Pranala.
"Apa boleh buat. Kita layani!" Dua lelaki bercadar itu segera melesat mema- paki serangan kesepuluh prajurit kadipaten yang memburu ke tempat mereka. Pedang di tangan Pange- ran Prapanca dan Pranala bergerak cepat memapaki serangan pedang dan tombak lawan.
"Hea!" Wrt! Wrt! Trang! Trang! Pangeran Prapanca dan Pranala nampaknya tak ingin berlama-lama menghadapi kesepuluh prajurit kadipaten. Keduanya langsung mengeluarkan jurus si- lat andalan. Pedang mereka bergerak semakin cepat, berputar laksana baling-baling. Dari putaran pedang itu keluar deru angin yang menyentak.
"Kita tak ada waktu, Cadar Ungu! Tumpas sa- ja!" perintah Pangeran Prapanca.
"Baik, Cadar Biru! Heaaa...!" "Yea!"
Suara riuh rendah, teriakan dan dentang senja- ta seketika memecah kesunyian malam di lingkungan kadipaten itu.
"Tangkap mereka...!" seru Adipati Jata Sura merasa berani karena para prajuritnya kini mengha- dang kedua maling itu.
Para prajurit berusaha merangsek kedua la- wannya. Namun dengan cepat keduanya memutar pe- dang. Lalu tubuh keduanya turut berputar, mengikuti gerakan pedang. Kejadian itu sangat cepat, dan....
Wrt! Wrt! Cras! Cras! "Akh...!" Tiga orang prajurit menjerit. Perut mereka ter- babat pedang Pranala. Begitu juga dengan yang dila- kukan Pangeran Prapanca. Tiga orang yang menge- royoknya, harus rela melepaskan nyawa mereka. Dada dan muka mereka terbabat pedang. Darah pun seketi- ka berceceran di tempat pertarungan itu.
Melihat teman-temannya mati, keempat prajurit yang masih hidup seketika merasa kecut. Mereka me- nyurut mundur dengan tubuh gemetaran. Namun ter- dengar Adipati Jata Sura berteriak, memerintah mere- ka agar menyerang....
"Seraaang! Bunuh saja kedua maling itu...!" Mau tak mau, keempat prajurit kadipaten itu kembali bergerak menyerang. Namun dengan keadaan tekanan jiwa, menjadikan keempat prajurit itu kaku dan kewalahan menghadapi serangan lawan. Tanpa kesulitan Pangeran Prapanca dan Pranala memba- batkan pedang mereka menghalau para prajurit itu.
Wrt! Cras! Cras! "Akh..,!" Keempat prajurit kadipaten langsung mendongak sekarat, dengan tangan memegangi perut yang terbabat pedang. Kemudian dengan mendelik, mereka ambruk ke tanah dan tewas. Kejadian itu tentu saja membuat Adipati Jata Sura kembali membelalakkan mata. Tubuhnya gemetaran. Terlebih lagi ketika Pange- ran Prapanca mendekati dirinya dengan pedang ber- lumuran darah.
"Kau mau seperti mereka, Adipati?!" ancam Pangeran Prapanca sambil mengajukan pedangnya.
"Ampun..., tidak. Ambillah semua hartaku, asal jangan kalian bunuh aku!" ratap Adipati Jata Sura dengan tubuh semakin gemetaran.
"Cadar Ungu," Pangeran Prapanca memberi isyarat pada Pranala agar mengikat tangan dan kaki Kanjeng Adipati Jata Sura.
Setelah menyumbat mulut Adipati Jata Sura, Pranala segera membantu Pangeran Prapanca mengu- ras habis harta milik Adipati Jata Sura.
Dua karung harta berharga mereka bawa, ke- mudian dengan cepat meninggalkan kadipaten.
"Ayo, kita harus cepat! Waktu tak ada lagi," ajak Pangeran Prapanca sambil melompati pagar tem- bok kadipaten, diikuti Pranala.
"Hop!" Dengan ringan kedua lelaki bercadar itu me- lompat dan hinggap di pagar tembok. Kemudian lang- sung melompat keluar dari lingkungan kadipaten. Ke- duanya berlari meninggalkan lingkungan Kadipaten Wungkalan, menembus gelapnya malam.
Tidak lama kemudian, kelima gundik Adipati Jata Sura ribut. Hal itu mengundang perhatian warga yang dekat dengan kadipaten, juga orang-orang yang bekerja pada kadipaten. Malam itu juga, gempar. Kadi- paten telah didatangi maling.
Sementara Pangeran Prapanca dan Pranala seperti biasanya, langsung membagikan hasil curian ke- pada orang-orang miskin yang membutuhkan.
Kini mereka berada di Desa Kuniran yang ma- sih termasuk wilayah Kadipaten Wungkalan. Keduanya langsung meletakkan barang-barang berharga di depan pintu rumah mereka. Setelah selesai membagi-bagikan hasil curian, mereka kembali melesat pergi menuju ke barat, tempat Hutan Aseman berada. Mereka pun menghilang di dalam hutan itu.
***

Kejadian yang menimpa Adipati Jata Sura bukan hanya mengejutkan para pembesar kerajaan. Juragan Durka Pela yang menyangka kedua lelaki bercadar itu sudah mati di tangan Ki Jalna Wangga pun ka- get. Bagaimana mungkin orang-orang yang sudah mati bisa melakukan kejahatan lagi? Juragan Durka Pela tak habis pikir, mendengar berita tentang dua lelaki bercadar menjarah Kadipaten Wungkalan.
Satu pihak, mengutuk perbuatan kedua maling budiman. Pihak ini tentunya berasal dari kalangan orang-orang besar, para pejabat kerajaan. Namun di pihak lain, terutama rakyat yang menderita merasa bersyukur dengan kehadiran kedua maling budiman yang banyak menolong mereka.
Pagi itu, di ruang pertemuan Istana Kerajaan Surya Langit nampak hadir seluruh pembesar istana. Perdana Menteri Giri Gantra, Panglima Utama Rawa Sekti, sesepuh kerajaan yang terdiri dari lima orang dan Baginda Raja sendiri, Prabu Awangga telah hadir di balai pertemuan.
Sementara dari luar istana, telah datang para adipati. Di situ juga hadir Juragan Durka Pela, serta beberapa tokoh rimba persilatan yang sengaja diundang baginda raja. Di antara tokoh rimba persilatan, nampak Tirta Kayonan atau yang lebih terkenal dengan sebutan Pisau Maut. Buto Gege, seorang tokoh persilatan aliran sesat yang tubuhnya tinggi bagaikan raksasa. Bermuka menyeramkan dan telanjang dada. Senjata yang digunakan sebuah martil besar bernama Martil Dewa.
Selain kedua tokoh itu, hadir pula lima orang tokoh rimba persilatan lainnya. Di antara mereka terdapat Ki Naga Wilis, Nyi Rara Cenil serta sepasang pendekar muda bergelar Sepasang Jalak Sakti dari Desa Kumbar. Sedangkan seorang lagi, tak lain seorang resi gemuk berkepala botak dengan senjata tasbih besar dari Perguruan Kuil Perak.
"Saudara-saudara sekalian, tentunya kalian saya undang kemari telah mengerti apa yang akan kita bicarakan," ujar Baginda Prabu Awangga, membuka pertemuan itu.
Semua menganggukkan kepala. "Akhir-akhir ini, wilayah kita dihebohkan adanya dua orang maling yang oleh rakyat dianggap maling budiman. Padahal, sebulan lagi putriku akan me-langsungkan pernikahan dengan pangeran dari Ke- rajaan Bayu Bumi. Kalau sampai masanya suasana be- lum juga tenang, bagaimana tanggapan Kerajaan Bayu Bumi terhadap kita? Untuk itulah, kuharap secepatnya bereskan kedua maling itu," perintah Baginda Awangga menekankan.
"Daulat, Baginda...!" jawab semua para undan- gan.
"Saya tak tahu, apa kedua maling itu dari kera- jaan kita, atau dari kerajaan lain yang sengaja dis- usupkan kemari," kembali baginda berkata, setelah menarik napas dalam-dalam. "Selama ini, kerajaan ki- ta aman. Namun entah mengapa, tiba-tiba kini ketika putriku hendak melangsungkan perkawinan, muncul kekacauan. Bagaimana menurutmu, Paman Perdana Menteri?" Perdana Menteri Giri Gantra menjura dengan menganggukkan kepala. Wajah lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun ini, nampak menggambarkan kelicikan dan keserakahan.
"Ampun, Baginda! Apa yang Baginda titahkan memang sudah sepantasnya. Karena kalau dibiarkan kerajaan kita bisa buruk di mata kerajaan lain," ujar Perdana Menteri Giri Gantra, nadanya menjilat.
"Lalu, bagaimana rencanamu, Paman?" tanya Baginda Raja ingin tahu, apa rencana yang ada dalam pemikiran Perdana Menteri Giri Gantra.
"Menurut hamba, kita sebar sayembara. Barang siapa bisa mendapatkan kedua maling itu, maka pa- danya akan kita berikan kedudukan di istana sekali- gus harta," tutur lelaki penjilat ini sambil mengang- gukkan kepala. Matanya yang mengandung kelicikan, melirik pada Buto Gege yang menyeringai.
"Aku setuju. Bahkan bila perlu, aku rela mem- beri putriku yang kedua untuk istrinya, jika dia me- mang lelaki. Tapi jika wanita, maka akan kujadikan permaisuriku."
Baginda Awangga bagaikan tanpa sadar men- gucapkan perintah itu.
"Ampun, Baginda! Apakah Baginda sadar ber- sabda begitu?" tanya Ki Samaika, salah seorang sese- puh istana yang dianggap paling tua serta sangat di- hormati. "Memangnya kenapa, Ki Resi? Apakah salah ji- ka aku bersabda begitu?" tanya Baginda Awangga be- lum menyadari.
"Ampun, Baginda! Memang sabda seorang raja tak salah. Tetapi, mungkin ada kekeliruan yang harus dibenahi atau dipertimbangkan kembali," ujar Ki Sa- maika berusaha mengingatkan.
"Tidak bisa, Ki! Kau jangan menentang Bagin- da!" hardik Perdana Menteri Giri Gantra, "Sabda Ba- ginda berarti hukum! Dan sabda seorang raja, disaksi- kan serta diperintahkan para dewata. Adalah hal yang tidak benar, jika seorang raja menarik sabda yang te- lah diucapkan."
Ki Samaika terdiam. Nampaknya orang tua be- rusia sekitar tujuh puluh lima tahun ini, tak mau berdebat dengan perdana menteri kerajaan. Itu pula yang membuat Ki Samaika hanya mengalah diam.
"Ampun Baginda Yang Mulia! Bukan maksud hamba melancangi titah Baginda," kata Perdana Menteri Giri Gantra sambil menyembah.
"Tidak apa, Paman. Memang apa yang kau ka- takan benar adanya. Sabda seorang raja, tidak boleh ditarik kembali. Maka itu, besok perintahkan sebar sayembara itu. Siapa pun orangnya, berhak mengikuti sayembara ini!" titah Baginda Prabu Awangga. Semua terdiam, tak ada yang dapat lagi berkata-kata, termasuk Ki Samaika. Walau dalam hati orang tua itu me- nyesalkan sabda Baginda Raja, tetapi sebagai seorang penasihat dirinya tak mungkin menentang keputusan saja. Keputusan seorang raja, merupakan hukum kuat yang harus dijalankan semua orang yang menjadi ra- kyat kerajaan.
"Daulat, Baginda! Segala titah Baginda, akan segera hamba laksanakan," jawab Perdana Menteri Giri Gantra sambil menyembah. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Kurasa tak ada masalah lagi. Maka itu, perte- muan saya tutup!" kata Baginda Raja, kemudian berlalu meninggalkan ruang pertemuan.
Satu persatu semuanya pergi, kini di dalam ruang pertemuan tinggal lima orang sesepuh kerajaan yang masih termenung. Mereka nampaknya masih memikirkan tentang keputusan baginda. Mulut mereka bungkam. Hanya mata mereka yang dihias alis putih tampak saling berpandangan satu sama lain.
***

6
Empat orang prajurit Kerajaan Surya Langit nampak memacu kuda mereka yang berlari ke arah barat, menuju Desa Kaliamba. Di tangan salah seorang prajurit yang paling depan, tergenggam selembar gu- lungan kain. Keempatnya berhenti tepat di depan se- buah kedai. Setelah menambatkan kuda, mereka lang- sung memasang gulungan kain yang bertuliskan pen- gumuman pada pohon mangga di depan kedai itu
Setelah memasang pengumuman itu, keempat prajurit kerajaan segera meninggalkan tempat itu. Orang-orang yang ada di kedai, termasuk Pendekar Gi- la dan Mei Lie, keluar ingin tahu apa isi pengumuman itu.
"Kakang, nampaknya pihak kerajaan tak suka dengan kedua lelaki bercadar itu," kata Mei Lie setelah membaca isi pengumuman sayembara itu.
"Aha, kau benar. Nampaknya kedua orang itu kini menjadi perhatian pihak kerajaan," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. "Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kakang?" tanya Mei Lie.
"Kita?" gumam Sena sambil mengerutkan ken- ing. Kemudian terdengar tawanya yang lepas sambil menggaruk-garuk kepala. Hal itu menjadikan Mei Lie cemberut "Lucu sekali...! Hi hi hi...! Untuk apa kita mesti pusing-pusing? Kita belum jelas masalahnya, Mei Lie." "Tapi, pihak kerajaan nampaknya sangat mem- butuhkan pertolongan kita," tukas Mei Lie.
Pendekar Gila tak langsung menjawab. Sesaat wajahnya nampak tercenung. Namun, kemudian kem- bali terdengar suara tawanya yang nyaring. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat semua orang yang melihat tingkah lakunya, memandang he- ran pada Pendekar Gila. Namun Sena tak menghirau- kannya. Mulutnya masih cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala.
"Ah, dunia ini memang sulit...," gumamnya se- tengah mengeluh. "Kadang kala, orang benar disalah- kan. Tetapi, orang salah dibenarkan. Seperti hukum rimba. Kalau yang kuat akan semakin di atas. Sedang- kan yang lemah, akan semakin di bawah bahkan terin- jak."
"Apa maksudmu, Kakang?" tanya Mei Lie belum memahami ungkapan yang baru saja dikatakan Sena. Mata gadis Cina yang cantik itu, memandang lekat wa- jah kekasihnya yang masih cengengesan sambil meng- garuk-garuk kepala
"Ah ah ah..., kadang aku bingung, atau me- mang aku yang sudah gila? Hi hi hi...! Lucu sekali!" gumam Sena lagi sambil tertawa cekikikan, "Gila...? Ah, memang aku ini gila! Namun kurasa masih banyak orang yang melebihi aku gilanya."
"Aku tak mengerti, Kakang," keluh Mei Lie den- gan kening masih mengerut, menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila. Tingkah laku dan ucapannya. Se- makin aneh bagi Mei Lie. Kadang kala, mimik muka Pendekar Gila tercenung. Tetapi sebentar kemudian tersenyum cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala.
"Inikah kehidupan yang beradab...?" tanya Se- na, seperti bertanya pada diri sendiri. "Ah ah ah, sangat lucu sekali! Kadang orang menutupi kejahatan dengan kebaikan. Lucu...! Hi hi hi...!"
Mei Lie semakin tak mengerti dengan kata-kata yang diucapkan Pendekar Gila. Dirinya memang belum begitu dalam menghayati kehidupan. Tidak seperti Se- na, yang telah lama menghayati kehidupan dengan berkelana. Perasaan mereka pun berbeda. Mei Lie se- nantiasa cepat emosi dan tersinggung. Sebaliknya Se- na nampak tenang dan selalu berusaha memahami ke- jadian di sekitarnya dengan pikiran tenang. Bahkan sekilas seperti bercanda. Cekikikan, cengengesan, ter- tawa terbahak-bahak atau tersenyum-senyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Mei Lie, kau baca sekali lagi isi pengumuman itu! Lalu resapilah maksudnya," ujar Sena seraya menunjuk pengumuman sayembara itu.
Mei Lie menurut, dengan lafal terputus-putus bahasanya dia membaca isi pengumuman itu.
Barang siapa yang dapat menangkap hidup atau mati, penjahat-penjahat kerajaan yang telah mem- buat keonaran dengan mencuri dan merampok bebera- pa orang pembesar kerajaan, maka akan mendapat ganjaran dari Baginda Raja. Jika yang berhasil me- nangkap kedua maling lelaki, akan dinikahkan dengan putri baginda yang kedua, Putri Dyah Ayu Pitasari, adik Putri Dyah Sari Sekar Arum.
Kedua penjahat itu sangat berbahaya jika di- biarkan. Terbukti sejak kemunculannya, telah meng- hambat pembangunan jalan. Hal itu karena adanya ke- jadian yang menimpa Ki Durka Pela dan Adipati Jata Sura yang bertanggung jawab dalam pembuatan jalan tersebut.
Baginda Raja Sutya Langit. Prabu Awangga.
"Aha, bagaimana menurutmu, Mei?" tanya Sena setelah melihat Mei Lie selesai membaca.
Mei Lie menggeleng-gelengkan kepala. Pendekar Gila tersenyum cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala.
"Aku tak mengerti, Kakang. Kurasa, pihak kera- jaan benar," sahut Mei Lie, yang membuat Pendekar Gila tertawa. Sepertinya ucapan Mei Lie lucu sekali.
"Hua ha ha...!" Mei Lie yang merasa ditertawakan merengut, Pendekar Gila menghentikan tawanya. Kemudian den- gan masih cengengesan sambil menggaruk-garuk ke- pala, Sena berujar.
"Ah ah ah..., kurasa kau tak bisa menyalahkan dan membenarkan salah satu pihak, tanpa lebih dahu- lu mengetahui masalah yang sebenarnya, Mei."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kakang?" tanya Mei Lie meminta saran, "Kalau kita hanya diam kurasa pihak kerajaan akan menuduh kita bersekong- kol dengan mereka."
Pendekar Gila tidak langsung menjawab. Tan- gannya mencabut bulu burung yang terselip di ikat pinggangnya. Kemudian dikoreknya telinga dengan bu- lu burung itu. Mulutnya cengengesan, sedang matanya memandang ke atas.
"Ah ah ah, sulit..., sulit memang! Tapi kita ha- rus bisa bertemu dengan kedua maling itu," ujar Sena. "Untuk apa, Kakang?"
"Aha, kurasa mereka melakukan pencurian dan membagi-bagikan harta hasil curian pada penduduk, karena ada alasan tertentu, Mei," ujar Sena berusaha menjelaskan. "Ah, lebih baik kita masuk ke kedai, da- ripada di sini terkena terik matahari."
Mei Lie pun menurut, melangkah seiring ber- sama kekasihnya kembali ke dalam kedai. Keduanya baru saja hendak masuk, ketika dari arah timur nam- pak dua orang lelaki satu menunggang kuda dan sa- tunya lagi berjalan menuju kedai.
Pendekar Gila dan Mei Lie tak peduli dengan kedatangan kedua orang berwajah garang itu. Orang yang berjalan, bertubuh tinggi besar seperti raksasa. Dadanya berbulu lebat. Matanya garang. Orang ini tak lain Buto Gege. Sedangkan orang yang naik kuda, meski badannya besar, tetap tak sebesar dan setinggi manusia raksasa itu.
Penunggang kuda itu kalau dilihat dari pa- kaiannya terbentuk jubah tentu seorang resi. Kepa- lanya botak plontos. Di lehernya tergantung sebuah kalung tasbih besar. Dialah Resi Wisangkara, dari Kuil Perak. Kuda yang ditungganginya terus melangkah ringan, seakan tak membawa beban sama sekali.
Kedua tokoh hitam itu terus menuju kedai di ujung Desa Kaliamba. Pendekar Gila dan Mei Lie nampak telah berada di dalam kedai, seakan tak mempe- dulikan kedatangan dua lelaki bertubuh besar itu. Namun baru saja Pendekar Gila dan Mei Lie hendak duduk, tiba-tiba keduanya disentakkan oleh suara keras dan menggelegar laksana guruh.
"Di mana maling pengecut itu?! Hai..., katakan! Di mana maling-maling tolol itu?! Atau Buto Gege akan memangsa kalian?!" bentak Buto Gege sambil menye- ringai, menunjukkan gigi-giginya yang coklat menyeramkan. Matanya yang lebar, melotot menatap ke kedai.
Pendekar Gila karena terkejut, mengurungkan niatnya untuk duduk. Matanya memandang keluar. Terdengar suara tawa nyaring dari mulutnya ketika melihat dua manusia besar itu membentak-bentak orang-orang di kedai.
"Hua ha ha...! Kau lihat sendiri, Mei? Lucu se- kali mereka itu. Mereka tak ubahnya cecurut besar yang suka menjilat kotoran. Hua ha ha...!" seru Sena sambil tertawa terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat kedua manusia besar di luar tersentak kaget. Seketika mata keduanya memperhatikan ke dalam ke- dai, seakan ingin membuktikan orang yang berani mentertawai mereka.
"Bocah gila! Sinting...! Lancang sekali mulut- mu!! Rupanya kau teman kedua maling tolol itu?!" ben- tak Resi Wisangkara dengan suara keras dan parau. Hatinya marah mendengar ejekan Pendekar Gila.
Sementara itu orang-orang yang berada di da- lam kedai tampak bingung dan serba salah. Mereka ketakutan dan cemas menyaksikan kedua manusia bertubuh besar yang masih berada di luar kedai. Na- mun untuk turut campur jelas tak ada yang berani. Mata mereka silih berganti memperhatikan pemuda gi- la yang berada di dalam kedai, lalu menoleh pada ke- dua lelaki yang sedang marah-marah itu.
Para pengunjung kedai itu merasa heran pula melihat keberanian pemuda gila mengejek Buto Gege dan Resi Wisangkara. Namun semua hanya diam membisu, ketakutan. Tak ada yang menyahuti kata- kata kedua orang besar itu.
"Hua ha ha...! Lihat Mei Lie, kurasa merekalah yang tolol! Karena mereka menjilati kotoran. Hi hi hi...!" teriak Sena sambil tertawa-tawa dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Sikapnya yang konyol mem- buat Buto Gege dan Resi Wisangkara terbelalak karena begitu marah. Hati mereka benar-benar tersinggung mendengar ucapan seenaknya dari mulut pemuda ber- tingkah laku mirip orang gila itu.
"Grrr! Keluarlah kau, Bocah Sinting?!" geram Buto Gege sambil mengayunkan martilnya yang besar hingga menimbulkan angin. Lalu dengan kuat dihan- tamkan martil raksasa itu ke kedai.
Wuttt! Brakkk! Kedai itu porak-poranda terhantam Martil Dewa di tangan Buto Gege. Orang-orang di dalam kedai ber- teriak-teriak ketakutan. Ada di antara mereka yang ter- luka, tertimpa kayu bangunan. Bagi mereka yang telah lebih dulu lari menghindar tentu saja selamat dari ke- jatuhan dinding kayu kedai itu. Sementara Pendekar Gila dan Mei Lie yang telah melompat keluar tak terke- na hantaman Martil Dewa itu.
"Hua ha ha...! Dasar raksasa tolol!" seru Sena sambil cengengesan. Kini tubuhnya telah berada sepuluh tombak dari kedai yang hancur. "Ah ah ah, kurasa binatang hutan ini harus dijinakkan, Mei?"
"Kakang, apakah Kakang akan diam dan me- nimbang-nimbang lagi jika sudah begini?" tanya Mei Lie nampak sudah tak sabar. Matanya menatap tajam ke arah dua manusia besar yang kini melangkah me- nuju ke arah mereka.
"Aha, kurasa tidak, Mei. Jelas mereka mengajak kita main-main," jawab Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Aku juga muak melihat kedua manusia som- bong itu," rungut Mei Lie dengan pandangan penuh kebencian terhadap dua manusia besar yang kelihatan angkuh. Seakan, keduanya hendak menyombongkan diri, sehingga melangkah pun dengan cara membusungkan dada.
"Aha, kurasa mereka memang tikus-tikus sombong. Badan mereka saja yang besar, tetapi berotak kerbau!" ujar Pendekar Gila sambil tertawa-tawa. Hal itu sengaja untuk memancing kemarahan kedua ma- nusia besar itu.
"Kurang ajar! Bocah gila, jika kau ingin sela- mat, cepat katakan, di mana kedua maling itu bera- da?!" bentak Resi Wisangkara dengan menggeram ma- rah. Tasbih besar yang tadi dikalungkan di leher, kini telah berada di tangan kanannya. Setelah melompat dari kuda, kakinya perlahan-lahan melangkah mende- kati Pendekar Gila dan Mei Lie yang berada di sebelah barat sepuluh tombak dari kedua lelaki besar itu.
"Hm...! Grrr! Rupanya tulang tubuhmu minta kuremukkan, Bocah Edan!" bentak Buto Gege marah merasa dihina sebagai kerbau dungu. Martil Dewa di tangannya diputar dengan cepat hingga mengeluarkan suara menderu-deru disertai angin.
Werrr! Werrr!
***
Buto Gege terus memutar Martil Dewa semakin kencang. Angin yang keluar laksana topan. Orang- orang yang terkena sambaran angin dari Martil Dewa di tangan Buto Gege, seketika terpental seperti dihem- paskan suatu kekuatan dahsyat. Kedai yang ambruk, turut tersapu angin besar itu.
Werrr! Werrr! Srakkk! Srakkk! "Hua ha ha....!" Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak seperti merasa ada sesuatu yang lucu. Tangannya terus menggaruk-garuk kepala. Buto Gege yang merasa di- tertawakan seperti itu meledaklah kemarahannya. Ser- ta merta dipercepat gerakan tangannya memutar Martil Dewa. Werrr! Werrr!
Angin pun menderu bertambah kencang. Para pengunjung kedai sudah tak berani berada di dekat kedai. Namun Pendekar Gila masih berdiri dengan su- ara tawanya yang semakin keras. Seakan-akan angin besar itu tak berarti sama sekali baginya. Sementara itu, Mei Lie tampak telah menggenggam erat-erat Pe- dang Bidadarinya, berusaha menahan serangan keku- atan dahsyat dari Martil Dewa.
"Hua ha ha! Lucu sekali kau, Buto Tolol?!" ejek Sena sambil terus tertawa terbahak-bahak dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Bahkan sesekali mu- lutnya terdengar bernyanyi-nyanyi. Matanya meme- jam-mejam seperti hendak tidur. "Ah, segar sekali! Mengapa tak dari kemarin kau mengipas tubuhku ini? Hua ha ha...! Hua ha ha...! Terus, putar terus kipas- mu...!"
Buto Gege dan Resi Wisangkara tersentak kaget menyaksikan Pendekar Gila tak terpengaruh sama se- kali. Mata mereka membelalak seakan tak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Bagi kedua manu- sia besar itu sungguh tak masuk akal. Tubuh pemuda berompi kulit ular itu ternyata mampu bertahan terha- dap serangan angin besar yang keluar dari putaran Martil Dewa di tangan Buto Gege. Bahkan pemuda gila itu tertawa semakin keras sambil memejam-mejamkan mata.
"Bocah sombong! Rupanya kau mencari mam- pus, berani menghina Buto Gege!" dengus Buto Gege sambil menghantamkan martil raksasanya ke tubuh Pendekar Gila. "Remuk tubuhmu! Heaaa...!"
"Mei Lie, awaaas!" teriak Sena mengingatkan kekasihnya yang langsung melompat ke samping. Se- mentara dia sendiri langsung melenting ke atas.
Wuttt! Glarrr...! Ledakan dahsyat menggelegar terdengar, ketika Martil Dewa menghantam tanah. Tanah yang terkena hantaman martil itu, hancur berhamburan menganga dan cukup dalam.
"Hua ha ha...! Kau benar-benar tolol, Buto?! Kenapa tanah kosong kau hantam?" ejek Sena yang te- lah bertengger di atas sebatang cabang pohon sambil masih terdengar pula suara tawanya. Tingkah lakunya mirip seekor kera. Tangannya menggaruk-garuk kepa- la. Sedangkan tubuhnya berjingkrak-jingkrakan. Se- hingga dedaunan pohon itu tampak bergetar.
"Kurang ajar!" "Kau hadapi dia, Buto! Biar aku meringkus ga- dis cantik itu," seru Resi Wisangkara sambil menatap Mei Lie. "Baik! Tapi kalau berhasil, akulah yang lebih dahulu!" sahut Buto Gege sambil menolehkan kepala kepada Mei Lie yang masih menggenggam erat pe- dangnya. "Baik," sahut Resi Wisangkara sambil terse- nyum, kemudian dia segera melangkah ke arah Mei Lie yang nampaknya sudah siap dengan sambutannya.
Mei Lie segera menggerakkan Pedang Bidada- rinya dengan jurus 'Tarian Bidadari'. Tubuhnya me- liuk-liuk laksana menari.
"Hea!" "He he he...! Nisanak lebih baik menyerah! Kau akan kujadikan istriku yang ketiga kalau kau mau menyerah," ujar Resi Wisangkara sambil terkekeh, me- rendahkan siapa gadis yang hendak dihadapinya. Bahkan resi dari Kuil Perak itu nampak tenang, men- ganggap Mei Lie bukan lawan yang perlu ditakuti
"Huh, kalau memang aku kalah, aku rela mati di tanganmu!" dengus Mei Lie dengan sengit. Kemudian dengan masih bergerak menari, gadis itu mulai melakukan serangan pada Resi Wisangkara.
"Heaaa...!" Wut! Wuttt! Pedang Bidadari yang mengeluarkan sinar kuning kemerah-merahan semakin mendekat ke tubuh la- wan. Lelaki tua berkepala botak itu tiba-tiba tersentak kaget.
"Heh?!" Dengan mata terbelalak kaget, Resi Wisangkara melompat ke belakang. Matanya memandang tajam, hampir tak percaya pada apa yang dialaminya barusan. Dirinya tak menyangka, kalau gadis Cina di hadapannya ternyata bukan gadis sembarangan. Terbukti dengan serangan yang hampir saja merenggut nyawanya. Kalau saja kakinya tak segera melompat ke belakang, pedang Mei Lei yang mampu menghancurkan tubuh lawan itu pasti membabatnya.
"Hm, rupanya kau bukan gadis sembarangan, Nisanak?! Baik, aku pun tak segan-segan meladenimu," kata Resi Wisangkara sambil memutar tasbih be- sarnya yang berwarna hijau. Wrt! Srakkk...! "Hm, memang itulah yang kuinginkan, Resi Ca- bul! Heaaa...!"
"Yea!" Mei Lie segera melesat dengan jurus 'Bidadari Menyentak Selendang'. Tangannya bergerak merentang dan kaki kanannya diajukan. Kemudian dengan cepat, kedua tangannya yang merentang bergerak menye- rang. Pedang Bidadari di tangan kanannya terus ber- kelebat memburu sasaran. Dari gerakan pedang itu ke- luar hawa panas.
Wuttt! Wuttt!
"Aits!" Dengan cepat Resi Wisangkara merundukkan tubuh sambil menggeser kedudukan kakinya tiga langkah ke kanan. Lalu dengan jurus 'Musang Menye- limut Tubuh', lelaki tua berkepala botak itu membalas serangan. Dikibaskan dan diputar-putar tasbihnya menyerang Mei Lie.
Wert! Crakkk...! Cletarrr...! "Haits...! Hea...!" Dengan memiringkan tubuh, Mei Lie mengelak- kan sambaran tasbih hijau itu. Lalu setelah berhasil lolos dari serangan lawan, dengan cepat Mei Lie melan- carkan tendangan kaki kiri ke dada lawan.
Melihat lawan menendang, Resi Wisangkara se- gera memapakinya dengan pukulan tangan kiri. Na- mun, ternyata tendangan yang dilakukan Mei Lie hanya se-bagai gerak tipu. Ketika lawan menangkis, dengan cepat Mei Lie menarik serangan. Lalu tanpa di- duga gadis cantik berpakaian hijau itu melancarkan sebuah pukulan dahsyat.
"Hea!" Wuttt! "Heh?!" Resi Wisangkara yang tak menduga akan dis- erang begitu cepat, berusaha mengelak. Namun gera- kan tangan Mei Lie yang disertai pengerahan tenaga dalam, datang lebih cepat. Tak ada kesempatan bagi lelaki berkepala botak itu untuk mengelak. Yang dapat dilakukan hanya balas menyerang dengan tasbih be- sarnya. Tanpa sungkan lagi, Resi Wisangkara segera mengibaskan tasbihnya ke tangan Mei Lie.
"Hea!" Melihat lawan hendak menyerang dengan tas- bihnya, Mei Lie segera menarik pukulan tangannya.
Kemudian sambil mengelit ke samping dengan cepat dibabatkan Pedang Bidadari, memapak tasbih yang menderu di atas kepalanya.
Jletarrr! Prakkk! Ledakan keras memekakkan telinga terdengar ketika pedang Mei Lie berhasil menyambar tasbih la- wan.
Prelll! "Hah...!" Mata Resi Wisangkara terbelalak kaget. Lelaki besar berkepala botak dan bermuka bengis itu, me- lompat ke belakang. Matanya memandangi tasbihnya yang hancur berantakan, terbabat pedang Mei Lie.
"Celaka! Dia bukan gadis biasa!" gumam Resi Wisangkara dengan wajah menampakkan ketegangan. Dia benar-benar tak menyangka kalau tasbihnya yang merupakan senjata sakti dan terbuat dari batu-batu pualam rontok terbabat pedang lawan.
Merasa tak unggulan menghadapi gadis Cina itu, tanpa membuang waktu lagi Resi Wisangkara me- lesat kabur. Wajahnya begitu pucat, setelah menyadari kalau lawan menghendaki biasa saja menghabisi nya- wanya. "Mungkinkah dia yang bernama Bidadari Pen- cabut Nyawa?" gumam Resi Wisangkara sambil terus berlari, meninggalkan Mei Lie yang tampak tersenyum. "Celakalah aku kalau dia benar-benar Bidadari Pencabut Nyawa!"
Sementara, Pendekar Gila yang menghadapi Buto Gege masih bergerak ke sana kemari, mengelak- kan hantaman-hantaman Martil Dewa. Buto Gege tampaknya tak ingin lawan dapat melakukan serangan balasan. Diserangnya terus Pendekar Gila tanpa henti.
Wrt! Wrt!
Glarrr...! Brakkk! Martil Dewa kembali menghantam pohon, hing- ga hancur berantakan. Sedangkan Pendekar Gila ter- tawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Aku di sini, Buto Tolol!" seru Sena sambil tertawa-tawa.
"Grrr! Kurang ajar! Remuk tubuhmu!" Buto Gege kembali menghantamkan Martil Dewa ke pohon tempat Pendekar Gila bertengger. Namun dengan cepat pemuda itu melompat berpindah ke pohon lain.
Wrt! Brakkk! "Hua ha ha...! Matamu buta, Raksasa Tolol. Mengapa pohon kau hantam?" ejek Sena sambil tertawa. Tanpa diketahui tiba-tiba tubuhnya telah berteng- ger di cabang pohon yang lain. "Ah ah ah...! Tempatmu di hutan. Tetapi, mengapa kau merusak pepohonan?"
"Kurang ajar! Kali ini tak akan luput dari Martil Dewaku, Bocah Gila! Hm...! Hiaaa...!"
Buto Gege yang marah karena sejak tadi dile- dek oleh Pendekar Gila, segera memutar Martil Dewa- nya. Angin menderu-deru keras dan menggetarkan disertai hawa panas yang menyengat. Semakin cepat Martil Dewa diputar, nampak martil itu mengalami pe- rubahan. Dari Martil itu, keluar lidah api.
"Heaaa!" Wusss...! Melihat Buto Gege mengarahkan lidah api yang keluar dari kepala martil dengan cepat Pendekar Gila mengeluarkan ajian 'Inti Bayu'nya.
"Heaaa!" Wusss! Wusss...! Besss...! Dua kekuatan sakti saling bertemu. Api yang semula hendak menyerang ke tubuh Pendekar Gila, seketika padam terhempas hawa dingin dari angin yang keluar dari ajian 'Inti Bayu'.
Disertai amarah meledak-ledak Buto Gege me- mutar Martil Dewa dengan kekuatan tenaga dalam yang luar biasa. Dari putaran senjata itu muncul angin dahsyat yang menghembuskan hawa dingin. Orang- orang yang berada di sekitar tempat pertarungan me- rasa menggigil kedinginan.
"Hi hi hi...! Enak sekali kipasmu," kata Sena sambil tertawa cekikikan "Ah, membuatku mengantuk sekali." Dengan mata memejam-mejam seperti orang mengantuk, Pendekar Gila mengerahkan tenaga in- tinya ke seluruh tubuh. Sehingga tubuhnya tidak me- rasa dingin. Yang dirasakan hanya hawa sejuk.
"Kurang ajar! Kuremukkan tubuhmu, Bocah Gila!"
Buto Gege kini mengangkat martilnya tinggi- tinggi. Kemudian dengan kuat dihantamkan martil besar itu ke tubuh lawan. Namun sebelum senjata lawan sempat menerjang, dengan cepat Pendekar Gila men- cabut Suling Naga Saktinya. Dan secepat kilat pula disabetkan suling itu untuk menangkis Martil Dewa.
Wrt! Srt! Trakkk! "Heh?!" Membelalak mata Buto Gege, melihat suling di tangan Pendekar Gila. Mulutnya menganga dan tu- buhnya seketika menggigil bagai kedinginan, "Kau?! Kau Pendekar Gila...?"
"Aha, kenapa tubuhmu Buto Gege?" tanya Sena dengan mulut cengengesan Sedangkan tangannya ma- sih menangkiskan Suling Naga Sakti ke senjata lawan yang semakin lama semakin melemah.
"Tidak! Ampuuun...!" teriak Buto Gege sambil menarik senjatanya. Kemudian manusia raksasa itu berlutut, sambil melakukan sembah. Keadaan itu membuat Pendekar Gila dan Mei Lie mengerutkan ke- ning, tak mengerti mengapa manusia raksasa itu ber- buat begitu.
"Aha, kenapa kau seperti dikejar setan, Raksa- sa?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap keheranan pada Buto Gege yang masih bersujud sambil meraung-raung bagaikan ketakutan.
"Ampun, Tuan...! Ampun...! Hukumlah ham- bamu yang bodoh dan dungu ini!" Buto Gege terus me- raung-raung minta ampun sambil bersujud di depan Pendekar Gila. Seolah akan diterimanya apapun hu- kuman dari Pendekar Gila.
Namun Pendekar Gila dan Mei Lie masih tak mengerti, mengapa Buto Gege berlaku begitu.
"Ah ah ah, kau aneh sekali, Raksasa? Aku..., aku tak mengerti dengan tingkahmu. Hi hi hi...!" Sena cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kenapa dia, Kakang?" tanya Mei Lie yang juga heran melihat keganasan Buto Gege yang tiba-tiba hi- lang.
"Aha, mana aku tahu?" sahut Sena sambil cen- gengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk ke- pala. "Aha, bangunlah, dan ceritakan mengapa kau ini!"
Dengan perlahan Buto Gege bangun. Kepalanya tertunduk, tak berani memandang Pendekar Gila. Hal itu membuat Sena semakin tak mengerti. Mulutnya semakin cengengesan.
"Aha, kenapa kau, Raksasa?" tanya Sena. Buto Gege sejenak melakukan sembah sambil berdiri, kemudian dengan suara berat dan besar Buto
Gege pun menceritakan siapa dia sebenarnya. Dikata- kan, bahwa dirinya saudara dari Kemuning Wangi. Kemuning Wangi adalah kekasih dari Pendekar Gila. Puluhan tahun yang silam, keduanya menjalin cinta. Keduanya saling menyayangi. Namun cinta mereka kandas, setelah kehadiran Buto Gege.
"Aha, mengapa kau salah, Raksasa. Aku bukan Pendekar Gila yang kau maksudkan. Aku hanyalah muridnya," ujar Sena menjelaskan.
"Jadi, kau murid Kakang Singo Edan?" tanya Buto Gege.
"Aha, benar!" jawab Sena. "Oh, syukurlah kalau begitu! Walau kau mu- ridnya, aku tetap mau meminta maaf padanya lewat kau. Aku merasa bersalah. Karena semenjak kehadi- ranku, mengakibatkan kakakku menderita. Sampai- sampai kakakku tak mau melihat dunia lagi," tutur Buto Gege.
"Maksudmu?" tanya Mei Lie menyala. "Siapa dia, Pendekar...?" tanya Buto Gege, se- raya menoleh pada Mei Lie.
"Dia temanku, namanya Mei Lie. Dan aku Sena Manggala," jawab Pendekar Gila memperkenalkan diri.
Buto Gege yang semula ganas, kini menjura hormat pada Mei Lie dengan cara menganggukkan ke- pala. Kedua telapak tangannya menyembah di depan dada.
"Terimalah hormatku, Nisanak!" "Terima kasih," jawab Mei Lie. Buto Gege pun menceritakan peristiwa yang di- alami puluhan tahun silam. Kejadian yang menyebab- kan hubungan Kemuning Wangi dengan Singo Edan putus. Ketika Buto Gege datang menemui Kemuning Wangi, sang Kakak merasa malu memiliki adik seorang raksasa. Namun Singo Edan berusaha meyakinkan
Kemuning Wangi, agar mau menerima adiknya.
Kemuning Wangi mulanya hendak menerima, namun kekerasan hatinya menolak. Apalagi setelah tahu adiknya berhaluan sesat. Pertentangan antara Singo Edan dan Kemuning Wangi terjadi. Sampai ak- hirnya Buto Gege menyangka kalau Singo Edan yang tak suka padanya. Raksasa itu menantang Singo Edan bertarung.
Mulanya Singo Edan menolak. Namun setelah diejek dan dituduh menyakiti hati Kemuning Wangi, akhirnya Singo Edan menerima tantangan Buto Gege. Mereka pun bertarung. Rupanya ilmu Singo Edan jauh lebih tinggi daripada ilmu Buto Gege. Sehingga Buto Gege dapat dikalahkan. Buto Gege dilemparkan ke Gunung Gelangan.
Sejak kejadian itu, Kemuning Wangi justru me- nuduh Singo Edan tak punya perasaan dan tega melemparkan adiknya. Kemuning Wangi pun akhirnya meninggalkan Singo Edan, untuk mencari sang Adik.
"Kami benar-benar menyesal, karena merasa benar sendiri. Penyesalan kami, benar-benar tak dapat tuntas sebelum meminta ampun pada Kakang Singo Edan. Walau kakakku telah membutakan matanya. untuk tidak melihat dunia lagi," kata Buto Gege men- gakhiri ceritanya. Wajahnya nampak sedih. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam.
"Aha, kurasa guru pun akan mengampuni ka- lian," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Terima kasih. Ku mohon padamu, jika sampai di tempat gurumu, sampaikan permintaan maaf kami!" pinta Buto Gege penuh harap, "Kami benar-benar me- rasa tak akan pernah tenang, sebelum Kakang Singo Edan memaafkan tindakan kami."
Mei Lie yang mendengar cerita Buto Gege, ma- tanya tampak membasah. Hatinya turut iba, setelah
tahu bagaimana nasib manusia raksasa itu. Sementara Pendekar Gila kini nampak mengulum bibir dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Sepertinya Pendekar Gila pun turut merasa prihatin dengan nasib Buto Gege dan kekasih gurunya, Kemuning Wangi.
"Itukah sebabnya Eyang Guru tak menikah...?" tanya Sena dalam hati.
"Sena, aku harus segera pergi. Hati-hatilah!" ujar Buto Gege.
Setelah menjura, manusia raksasa itu pun me- langkah meninggalkan Pendekar Gila dan Mei Lie yang masih terpaku memperhatikan sosok raksasa itu. Langkah kaki Buto Gege, lima kali langkah mereka. Namun di balik tubuhnya yang besar, tersembunyi du- ka dan kesedihan serta keburukan nasibnya.
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum cengengesan. Dimasukkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggangnya. Lalu dipandang wajah Mei Lie yang tersenyum, sepertinya merasa tenang ada bersama sang Kekasih.
Keduanya saling pandang. Di bibir mereka, mengurai senyum.
***


No comments:

Post a Comment