Sunday, April 21, 2019

024 7 Tumbal Perawan


7 TUMBAL PERAWAN
oleh Pijar El

1
Sore yang indah melingkupi bumi. Cahaya merah tembaga di kaki langit sebelah barat menandakan bahwa sang Raja Siang belum sampai di peraduannya. Bekas perjalanannya masih jelas membias dalam bentuk lembayung.
Sementara itu di Desa Karang Bale pun suasana tampak cerah. Desa yang subur dan makmur itu terletak di antara Pegunungan Sarangan dan Bukit Kundang. Sehingga wajar kalau tak jauh di sebelah selatan desa itu terdapat telaga yang sangat bening airnya. Apalagi pada suasana senja yang cerah seperti sekarang ini. Ketika langit membiaskan cahaya merah lembayung, air telaga tampak begitu indah. Berkilauan karena tertiup angin yang menimbulkan riak-riak kecil di tengahnya.
Seperti biasanya, di suasana senja seperti itu gadis-gadis Desa Karang Bale menikmati air telaga. Mereka mandi dan mencuci sambil bercanda ria, sesuka hati. Sore itu tampak lima orang gadis berusia dua puluh tahunan tengah mandi sambil bersenda gurau di air telaga.

Lima gadis desa yang tengah mandi itu, tak menduga kalau tingkah laku mereka dalam pengawasan sepasang mata tajam. Sepasang mata milik sesosok tubuh yang bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari telaga itu.
“Hm.... Rupanya di sini gadis-gadis mandi,” gumam pemilik sepasang mata merah yang terus mengawasi tingkah laku kelima gadis itu. Di bibir lelaki berbadan tinggi besar dan berwajah garang itu tersungging senyuman. “Hm... Akan tercapai cita- citaku menjadi orang tersakti di rimba persilatan! He he he...!”
Lelaki berwajah garang dengan cambang bauk lebat itu terus bersembunyi sambil mengawasi kelima gadis yang sedang asyik mandi di telaga. Matanya kini tertuju pada gadis yang sedang asyik mandi di telaga. Matanya kini tertuju pada seorang gadis berkain warna hijau daun. Gadis itu tampak cantik sekali.
“Sss...,” lelaki bertubuh kekar berpakaian jubah abu-abu itu mendesis. Seakan-akan desakan nafsu yang menggebu-gebu, menyaksikan kemolekan tubuh gadis berkain hijau itu. Beberapa kali lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang sosoknya masih gagah itu menelan ludah, berusaha menahan gejolak birahinya. “Sungguh menggairahkan...!”
Kelima gadis Desa Karang Bale itu masih mandi dengan tenang, tak tahu kalau mereka dalam pengawasan sepasang mata tajam. Apalagi gadis berkain hijau yang menjadi tatapan utama lelaki garang itu, nampak sangat riang. Senyumnya yang indah, tersumbar lepas.
“Wirani, kau tak pulang?” tanya gadis berkain lurik merah yang tampak sudah naik ke darat. Gadis itu segera membuka kainnya yang basah tanpa canggung-canggung. Dia tak menduga kalau ada sepasang mata dan balik semak-semak belukar, yang memandang dengan melotot penuh nafsu.
“Nanti saja! Aku masih ingin mandi...,” sahut gadis berkain hijau yang dipanggil Wirani. Dia masih berendam di telaga bersama tiga orang temannya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,” ujar gadis berkain lurik merah, lalu melangkah meninggalkan keempat temannya yang masih mandi.
“Hati-hati, Watiri...!” seru Wirani mengingatkan sambil tertawa riang.
“Memangnya ada apa...?” tanya gadis yang dipanggil Watiri.
“Siapa tahu ada genderuwo yang suka jahil...!” ambut gadis berkain biru. Kemudian keempat gadis itu tertawa lepas, ketika melihat Watiri melotot.
Watiri terus melangkah meninggalkan telaga. Hatinya agak cemas setelah mendengar godaan keempat temannya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang diri, berjalan di senja dan harus melintasi ladang yang penuh dengan pepohonan.
Watiri melangkah tergesa-gesa. Hatinya tiba-tiba berubah takut atas ucapan teman-temannya. Matanya memandang ke sekeliling yang sepi, karena sebentar lagi suasana akan gelap. Dengan langkah- langkah cepat, Watiri terus berjalan melintasi ladang yang di sekitarnya ditumbuhi pepohonan besar. Ucapan keempat temannya dirasakan seperti sebuah peringatan baginya. Hatinya semakin tercekam, ketika tiba-tiba nalurinya mengatakan ada seseorang yang menguntit di belakang.
Watiri menengok ke belakang. Namun matanya tak melihat siapa pun. Sepi sekali. Keadaan di sekelilingnya semakin meremang gelap, karena tertutup rimbun pepohonan. Berkali-kali matanya mengawasi ke sekeliling dan memberanikan diri menengok ke belakang dengan perasaan takut.
“Oh, mengapa bulu kudukku meremang?” keluh Watiri sambil memegangi tengkuknya yang terasa sangat dingin. Matanya masih menyapu ke sekeliling yang gelap dan sepi. Rasa takut pun semakin mencekam.
Angin senja berhembus perlahan, membawa hawa dingin yang menusuk ke kulit. Namun tubuh Watiri justru mengeluarkan keringat, bercampur air telaga yang belum kering benar dari kulitnya. Langkahnya kembali terhenti, ketika merasakan ada seseorang yang mengikuti. Kembali dia menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Namun tetap tak dilihatnya orang atau apa saja yang menguntit di belakang. Hanya kesunyian dengan hembusan angin yang semakin membuat Watiri bertambah tercekam rasa takut. Gadis itu tidak berlari. Seakan hatinya menuntut agar tetap berada di tempat itu, untuk mengetahui siapa yang sejak tadi menguntitnya.
“Mungkinkah teman-teman yang sedang meng- goda dan menakut-nakutiku?” tanya Watiri dalam hati menduga-duga. Matanya kembali memandang ke sekeliling, berusaha meyakinkan diri kalau di sekitar tempat itu memang tidak ada apa-apa.
Watiri hendak melanjutkan langkahnya pulang. Namun tiba-tiba terdengar suara gemeresak, seperti kaki seseorang yang menginjak daun kering.
Kresek! Watiri tersentak. Langkahnya langsung terhenti. Kemudian kepalanya menoleh ke belakang. Lagi-lagi tak ada siapa-siapa di belakangnya. Sepi! Tak ada seorang manusia pun di tempat itu selain dirinya. Perasaan takut semakin mencekam jiwa gadis itu. Tanpa berteriak atau berlari, Watiri membalikkan tubuh ke belakang, lalu berdiri mematung sambil mengawasi tempat asal suara tadi. Dia tahu pasti, kalau kebun karet itu tak ada apa-apanya. Hampir setiap sore selama bertahun-tahun dilewatinya tempat itu. Tak pernah terjadi sesuatu yang aneh dan menakutkan.
“Ah, mungkin hanya angin atau binatang,” gumam Watiri berusaha menghibur diri. Gadis itu kemudian melanjutkan langkah kakinya. Namun tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat muncul dari balik pohon karet besar. Watiri tersentak kaget. Dia hendak menjerit tapi sosok bayangan besar itu telah mendahului menotok tubuh Watiri.
Tuk! Tuk! “Ukh!” Keluhan kecil terdengar dari mulut Watiri. Kemudian tubuh gadis berkain lurik merah itu terkulai pingsan tak sadarkan diri. Secepat itu pula, sosok tubuh besar menyambar tubuh Watiri dan membawa pergi menuju selatan.
***

Empat gadis cantik warga Desa Karang Bale yang masih di telaga bergerak naik, ketika suasana mulai menggelap. Tanpa menaruh curiga, kalau ada orang yang mengintip, mereka langsung membuka kain basahan. Kemudian segera berganti dengan gaun mereka.
“Kita pulang, yuk!” ajak gadis bergaun jingga. “Ayo! Sebentar lagi gelap,” timpal gadis bergaun biru.
Dengan diselingi canda ria, keempat gadis itu meninggalkan telaga untuk kembali ke rumah masing-masing. Tentu saja mereka pun melintasi jalan di ladang Kemudian masuk ke perkebunan karet, sama dengan yang dilewati Watiri. Karena hanya jalan itulah yang terdekat sampai di kampung mereka.
Suasana sudah mulai gelap. Apalagi di dalam perkebunan karet itu, cahaya lembayung di langit barat benar-benar tertutup rimbun dedaunan karet.
“Tentunya Wati ketakutan mendengar gurauan kita, Wirani,” ujar gadis bergaun coklat.
“Hi hi hi..., kasihan dia, ya?” sahut Wirani, sepertinya merasa bersalah telah menakut-nakuti temannya.
“Ah, tapi kau tak ada apa-apa,” selak gadis bergaun kuning.
“Ya. Memangnya ada apa? Setiap hari kita lewat sini, tak ada gendaruwo seperti yang kamu katakan.”
Keempat gadis itu terus melangkah sambil bercanda ria penuh kebahagiaan, melintasi kebun karet yang telah mulai gelap dan sepi.
“Sebentar lagi gelap. Kita harus segera sampai di rumah,” ajak Wirani pada ketiga temannya. Mereka pun melangkah semakin cepat, sampai akhirnya tiba di kampung. Keempatnya saling berpisah untuk menuju rumah masing-masing.
***

Kegelisahan seketika melanda kedua orang tua Watiri, setelah sejak sore menanti, anaknya belum juga pulang. Padahal biasanya Watiri telah pulang sejak sore tadi. Bahkan gadis itu biasanya sudah tidur. “Kang, kenapa anak kita belum pulang?” tanya seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah cemas, sambil melangkah mendekati sang Suami yang sedang duduk di dipan ruang tamu rumahnya. Lelaki setengah baya itu pun, nampaknya sedang menunggu anaknya. Hari telah malam. Biasanya saat seperti ini Watiri sudah tidur di kamarnya.
“Iya, ya? Ke mana tuh anak?” gumam lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan wajah gelisah. Nampaknya lelaki ini sangat mencemaskan k- selamatan putrinya.
“Apa tidak sebaiknya kau tanyakan pada Wirani atau Rumi, Kang?” saran istrinya.
Ayah Watiri diam. Ditariknya napas dalam-dalam seakan berusaha membuang perasaan yang meng- gelisahkan jiwanya. Betapa tidak! Malam telah semakin larut. Suasana kian sepi, tapi Watiri, anaknya belum juga sampai di rumah.
“Baiklah. Aku akan menanyakan pada anak Ki Lurah Sentana,” ujar ayah Watiri.
“Hati-hati di rumah, Rah! Aku pergi dulu untuk mencari Watiri.”
“Hati-hati, Kang! Sebaiknya kau bawa golok,” ujar Nyi Samirah menyarankan. “Meskipun Desa Karang Bale aman, hal-hal yang tak terpikirkan, bisa saja terjadi. Bisa saja ada binatang malam yang ganas. Bukankah dengan membawa senjata bisa jaga diri?” pikir ibu Watiri. Itu sebabnya perempuan itu menyarankan suaminya agar membawa golok.
“Ya ya, kau benar. Tolong ambilkan goloknya!” pinta lelaki kurus dengan tubuh jangkung itu.
Nyi Sumirah bergegas mengambilkan golok suaminya. Tak lama kemudian telah keluar dengan membawa golok. “Ini, Kang.”
Dimasukkan golok itu ke ikat pinggangnya. Kemudian lelaki setengah baya berpakaian coklat itu melangkah meninggalkan rumah untuk mencari tahu, di mana anaknya berada.
Dengan langkah tergesa-gesa, ayah Watiri menuju rumah Ki Lurah Sentana. Saat itu di rumah Kepala
Desa Karang Bale tampak masih terang. Sepertinya di rumah Ki Lurah Sentana sedang kedatangan tamu.
“Selamat malam...!” sapa ayah Watiri pada kedua penjaga rumah Ki Lurah Sentana.
“Selamat malam,” sahut kedua penjaga itu hampir bersamaan.
“Ada apa, Ki Pardi?” tanya salah seorang dari kedua penjaga yang berbadan tegak tinggi dengan alis mata tebal. “Sepertinya ada keperluan penting, Ki. Tak seperti biasanya malam-malam begini kau datang.”
“Ah, tidak, Ki Barman. Aku hanya ingin bertemu Ki Lurah,” jawab ayah Watiri yang ternyata bernama Pardi. “Sebentar, aku sampaikan pada Ki Lurah,” jawab Ki Barman. Kemudian lelaki berusia lima puluh tahun berpakaian loreng itu melangkah meninggalkan serambi rumah, untuk menemui Ki Lurah Sentana.
“Suruh dia masuk, Barman!” dari dalam terdengar suara Ki Lurah Sentana memerintah centeng itu.
Ki Barman melangkah keluar untuk menemui tamu Ki Lurah itu. Ki Pardi mengangguk dengan mulut mengurai senyum, karena tadi mendengar suara Ki Lurah Sentana dari dalam rumahnya.
“Ki Pardi, kau disuruh masuk,” ujar Ki Barman. “Terima kasih,” jawab Ki Pardi. Kemudian setelah memberi hormat pada kedua jawara penjaga rumah Ki Lurah Sentana lelaki setengah baya itu masuk.
Di dalam rumah Kepala Desa Sentana saat itu ada seorang tamu yang tak lain adik Ki Lurah Sentana sendiri. Kedua kakak beradik itu tengah berbincang- bincang. Seketika mereka menghentikan obrolan, ketika Ki Pardi masuk.
“Selamat malam, Ki Lurah!” sapa Ki Pardi sambil menjura hormat pada Ki Lurah Sentana dan adiknya, Ki Tunjung Melur atau yang dikenal dengan sebutan Pendekar Kali Bengawan. Lelaki bertubuh tegap itu mengurai senyum menerima kedatangan penduduk desa itu.
“Selamat malam,” jawab Ki Lurah Sentana. “Silakan duduk, Ki!”
Ki Pardi pun menurut duduk. “Ada apa malam-malam begini kau datang, Ki?” tanya Kepala Desa Karang Bale itu.
“Maaf, Ki Lurah! Apakah Nini Wirani sudah pulang?” Ki Pardi balik bertanya.
Mendengar pertanyaan aneh itu Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur mengerutkan kening. Ki Lurah Sentana langsung menatap lekat wajah Ki Pardi yang menunduk, sepertinya merasa keheranan dan tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
“Sudah. Ada apa, Ki?” tanya lelaki berusia sekitar enam puluh tahun dengan wajah nampak tenang penuh wibawa. Mata Ki Lurah Sentana tetap menatap wajah Ki Pardi, seakan ingin menyelidik apa yang sesungguhnya terjadi.
“Anak saya belum pulang, Ki,” ujar Ki Pardi, menjawab pertanyaan Ki Lurah Sentana.
“Hah?! Anakmu, Watiri belum pulang?” ulang Ki Lurah Sentana. Matanya terbelalak kaget mendengar pemberitahuan Ki Pardi.
“Benar, Ki,” jawab Ki Pardi sambil meng- anggukkan kepala. Tidak hanya Ki Lurah Sentana, adiknya Ki Tunjung Melur pun membelalakkan mata karena terkejut.
“Kau tak bergurau, Ki Pardi?” tanya Ki Lurah Sentana.
“Mana mungkin saya berani bercanda padamu, Ki
Lurah?”
“Hm,” gumam Ki Lurah Sentana. Wajahnya seketika berubah kelabu. “Sebentar, kupanggil Wirani dulu..., Wirani...!”
“Saya, Ayah...!” sahut Wirani dari dalam. “Kemari sebentar!” perintah Ki Lurah Sentana. Dari dalam, muncul Wirani dan ibunya. Keduanya mendekat dan duduk di kursi yang masih kosong.
“Ada apa, Ayah?” tanya Wirani dengan kening mengerut, melihat ayah Watiri ada di rumahnya. Gadis itu tak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Apakah kau tadi mandi bersama Watiri?” tanya Ki Lurah Sentana seraya menatap wajah putrinya.
“Benar, Ayah.” Wirani mengangguk seraya menoleh ke wajah Ki Pardi.
“Pulangnya...? Apa kau bersama dia?” “Tidak, Ayah. Watiri lebih dahulu pulang,” jawab Wirani, “Memangnya ada apa, Ayah?”
“Dia belum pulang,” sahut Ki Lurah Sentana. “Hah?!” Wirani tersentak kaget, mendengar jawaban ayahnya. “Bagaimana mungkin?” pikir Warani. “Bukankah Watiri pulang lebih dahulu? Bahkan hari belum begitu petang. Masa dia tersesat?”
“Kau tahu ke mana dia, Wirani?” “Tidak, Ayah. Kami semua tahu kalau dia telah pulang lebih dahulu. Dan kami pikir Watiri telah sampai di rumah, ketika kami naik dari telaga,” tutur Wirani masih dengan kening mengerut. Gadis itu seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Mungkinkah ucapanku yang hanya bergurau benar terjadi?” tanya Wirani dalam hati. “Apakah benar ada. gendruwo yang suka menculik gadis? Ah, aneh sekali...! Ke mana Watiri sebenarnya?”
Semua yang ada di dalam terdiam dengan perasaan yang masih bergelut di hati masing-masing. Mereka heran, mengapa Watiri yang pulang lebih awal justru belum sampai di rumah? Mungkinkah Watiri tersesat? Rasanya aneh, kalau sampai tersesat. Karena Watiri sejak kecil hidup di Desa Karang Bale. Seperti gadis-gadis desa atau warga yang lain, telah belasan tahun lamanya Watiri memahami benar daerah sekitar telaga. Sejak umur lima atau tujuh tahun mereka telah akrab dengan tempat itu. Sungguh aneh dan tak masuk akal kalau Watiri tersesat!
“Apakah Ki Pardi telah mencari ke rumah tetangga terdekat?” tanya Ki Tunjung Melur memecahkan kesunyian.
“Belum,” sahut Ki Pardi. “Cobalah Ki Pardi! Kalau memang tak ada dan belum juga pulang, tabuhlah kentongan dua kali. Kami akan segera ke rumah Ki Pardi,” saran Ki Tunjung Melur.
“Baiklah kalau begitu, saya mohon diri!” “Silakan!” sahut Ki Lurah Sentana. “Selamat malam...!” “Selamat malam!” sahut Ki Lurah Sentana dan keluarganya.
Ki Pardi pun segera melangkah keluar dengan perasaan yang semakin tak menentu. Hatinya gelisah dan diliputi kecemasan, karena tak tahu ke mana anak gadisnya hingga malam begini belum juga pulang. Apa lagi setelah mendengar penuturan Wirani bahwa anaknya telah pulang lebih dulu daripada teman-temannya.
“Jangan-jangan, anakku diculik,” pikir Ki Pardi semakin gelisah. Langkah kakinya semakin cepat, seakan tak sabar untuk segera sampai di rumah. Hatinya berharap benar sampai di rumah Watiri telah kembali.
Malam yang gelap, semakin terasa mencekam jiwanya yang sedang dilanda kegelisahan. Langkah- langkah kaki Ki Pardi semakin cepat, bahkan kini mulai berlari. Hatinya berharap segera sampai di rumah dan menemukan anaknya pulang.
Ki Pardi sampai di rumah dengan napas terengah- engah dan tubuh basah berkeringat setelah meng- hela napas agar tak tersengal-sengal, tangannya mengetuk pintu.
“Siapa...?” terdengar Nyi Sumirah dari dalam bertanya.
“Aku...,” sahut Ki Pardi. Tak lama kemudian, pintu sudah terbuka. Dari dalam muncul istrinya.
“Bagaimana, Kang?” tanya Nyi Sumirah penuh harap.
“Hh, Nini Wirani telah pulang. Katanya anak kita malah pulang lebih awal,” desah Ki Pardi seraya menghempaskan napas panjang-panjang.
“Ke mana anak kita ya, Kang?” “Itulah yang tak kumengerti. Jangan-jangan...” “Jangan-jangan kenapa, Kang?” tanya Nyi Sumirah semakin bertambah cemas.
“Anak kita diculik, Rah.” “Kang...,” desis Nyi Sumirah semakin cemas. Ki Pardi segera berjalan mendekati kentongan di depan rumahnya. Segera dipukulnya kentongan itu. Terdengar bunyi keras kentongan sebanyak dua kali.
Tong! Tong...! Tak lama kemudian, Ki Lurah Sentana dan adiknya serta Ki Barman, salah seorang jawara penjaga rumah Ki Lurah telah datang.
“Bagaimana, Ki, apakah sudah kau temukan?” tanya Ki Lurah Sentana.
“Belum, Ki Lurah. Saya menduga, anak saya diculik,” ujar Ki Pardi.
“Jangan menduga yang tak baik, Ki! Sebaiknya kita panggil warga untuk mencari Watiri,” ujar Ki Lurah Sentana. “Barman, kau tabuh tiga kali kentongan agar warga keluar!”
“Baik, Ki Lurah.” Tong! Tong! Tong...! Ki Barman menabuh kentongan sebanyak tiga kali, sesaat kemudian terdengar suara kentongan lain saling menyambut. Warga Desa Karang Bale ber- gegas keluar dan langsung menuju rumah Ki Pardi, tempat awal kentongan pertama terdengar. Wajah warga Desa Karang Bale diselimuti ketidak- mengertian, untuk apa Ki Pardi memanggil mereka. “Ada apa, Ki Lurah?” tanya warga ingin tahu. “Saudara-saudaraku, anak Ki Pardi belum pulang! Untuk itu, sebagai saudara sedesa, kita patut membantu mencarinya!” seru Ki Lurah Sentana. “Siapkan obor, kita akan mencari anak Ki Pardi!”
Tanpa diperintah dua kali, warga Desa Karang Bale pun segera menjalankan perintah kepala desa. Tidak lama kemudian, warga desa yang dipimpin langsung kepala desa berusaha mencari Watiri. Mereka mengelilingi Desa Karang Bale dengan membawa obor. Namun setelah seluruh penjuru desa dikelilingi, mereka tak menemukan gadis itu.
“Mungkin diculik gendruwo, Ki Lurah!” seru salah seorang warga nyeletuk.
“Ngawur!” bentak Ki Lurah Sentana. “Kita ketelaga! Siapa tahu dia kembali ke telaga.”
Mereka pun segera berjalan menuju telaga tempat tadi sore Watiri dan teman-temannya mandi. Namun, sampai di sana, mereka tak menemukan siapa-siapa.
“Tak ada siapa-siapa, Ki Lurah,” lapor salah seorang warga.
“Hm, apa benar diculik gendruwo?” gumam Ki Lurah Sentana setengah percaya, setengah tidak. Rasanya aneh, kalau gendruwo menculik gadis. Lagi pula, kalau memang ada gendruwo, bukankah sejak dulu ada kejadian seperti sekarang ini?
“Bagaimana, Ki Lurah? Apa kita akan terus mencari?” tanya warga desa.
“Tidak! Kita pulang saja!” jawab Ki Lurah Sentana. Dengan tanpa hasil, warga desa dan Ki Lurah Sentana kembali ke desa. Malam semakin kelam, menjadikan suasana kian mencekam.
***


2
Watiri menggeliat. Tubuhnya dirasakan lemas seperti tak bertulang, setelah semalaman pingsan karena keadaan tertotok. Mata gadis itu perlahan-lahan membuka, memandang ke sekelilingnya yang terasa sangat asing. Di sekelilingnya hanya dinding-dinding batu cadas. Dingin dan lembab.
“Uh...!” Watiri melenguh ketika dirasakan tangan dan kakinya tak dapat digerakkan. Ternyata tangan dan kakinya diikat pada ujung-ujung sebuah meja batu. “Oh, di mana aku? Mengapa tangan dan kakiku diikat?”
Watiri kembali memandang ke sekeliling tempat itu, berusaha mengetahui di mana dirinya berada. Matanya hanya melihat dinding-dinding batu cadas.
“Goa...? Oh, mengapa aku berada di dalam goa?” keluh Watiri dengan perasaan cemas dan takut, karena suasana yang sangat sunyi di goa itu. Apalagi ketika Watiri menengadahkan kepala, tubuhnya bergidik. Di atas kepalanya, tampak sebuah golok besar dan tajam. Golok itu terletak di atas dua buah batu, menghadap ke kepala Watiri.
“Oh, untuk apa golok itu?” pikir Watiri, semakin dilanda kecemasan. “Mungkinkah aku akan di- sembelih? Oh, tidak...! Aku tak mau, disembelih!”
Watiri semakin dicekam perasaan takut, ketika terlintas dalam benaknya bahwa mungkin dirinya akan dijadikan korban persembahan. Dia tak tahu, siapa orang yang telah membawanya ke goa itu. Yang sempat diingatnya hanya sesosok tubuh tinggi dan besar yang melesat mendekati tubuhnya. Namun setelah itu tak ingat apa-apa lagi karena tubuhnya tertotok.
Tiba-tiba dari dalam goa muncul seorang laki-laki tinggi besar berpakaian abu-abu. Matanya yang tajam memandang penuh nafsu. Dengan bibir mengurai senyum menyeringai, lelaki bertubuh tinggi besar itu melangkah menghampiri Watiri yang semakin ketakutan.
“Siapa kau, Ki?” tanya Watiri dengan ketakutan, memandang tajam wajah lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang tampak masih gagah.
“He he he...! Sungguh menggiurkan! Kau memang seorang gadis yang sangat menggiurkan. Aku Datuk Raja Beracun.... He he he!” ujar lelaki tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Matanya tak berkedip merayapi tubuh Watiri yang dalam keadaan setengah telanjang.
Watiri kian ketakutan melihat kebuasan yang tersirat dalam tatapan tajam lelaki bernama Datuk Raja Beracun itu.
“Siapa kau?! Kenapa kau ikat aku seperti ini?” bentak Watiri dengan suara bergemetar. Matanya yang bening melotot penuh kebencian setelah dapat menduga kalau lelaki tua berpakaian abu-abu itu tentu hendak berbuat jahat terhadapnya. “Kembali- kan aku pada orangtuaku!”
“He he he..., nanti akan kukembalikan, Manis. Tenanglah dahulu! Kita akan menikmati sesuatu yang belum pernah kau alami,” ujar Datuk Raja Beracun sambil tertawa terkekeh. Kemudian tanpa meng- hiraukan Watiri yang meronta-ronta, berusaha melepaskan diri, Datuk Raja Beracun berlalu meninggalkan tempat itu. Sambil tertawa terbahak- bahak lelaki tua itu terus melangkah ke ruangan dalam.
Watiri semakin tegang dan gelisah, setelah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Datuk Raja huracun. Hatinya semakin benci bercampur marah dan ketakutan. Ucapan lelaki tua itu dianggapnya sangat menjijikkan. Namun bagaimana harus menghindarinya. Dirinya tak sudi melayani nafsu datuk tua itu. Sementara tangan dan kaki terbelenggu di meja batu. Untuk bergerak saja sulit, apalagi melepaskan diri. Jelas tak mungkin. Berapa besar kekuatan seorang wanita seperti dirinya. Rasa putus asa pun mulai menjalar di hati gadis cantik itu.
“Hyang Widi, lindungilah hambamu ini!” seru Watiri dengan suara lirih. Ditengadahkan wajahnya, memandang langit-langit goa. Tidak terasa air matanya meleleh. Watiri merasa sedih, cemas dan takut saat itu. Apalagi setelah mendengar ucapan lelaki tua yang sama sekali belum pernah dikenalnya itu.
Sementara itu, di dalam goa Datuk Raja Beracun nampak tengah duduk bersila. Di hadapannya, terdapat sebuah perapian yang mengepulkan asap lebat. Rupanya sang Datuk tengah melakukan upacara, memanggil arwah yang menjadi sesem- bahannya.
Matanya terpejam. Bibirnya bergerak, mengucap- kan mantera-mantera yang sulit untuk diikuti. Sesaat kemudian dari perapian mengepul asap yang semakin lama semakin tebal, seiring dengan kecepatan mantera yang dirapalkan Datuk Raja Beracun. Dari kepulan asap tebal itu samar-samar muncul sebuah bayangan. Lama kelamaan bayangan itu semakin membesar dan membentuk sosok manusia. Namun bukan sosok manusia biasa. Melainkan manusia berkepala serigala.
Dan anehnya lagi di kepala terdapat tiga buah tanduk. Dua tanduk di sisi kanan dan kiri, sedangkan sebuah lagi di atas.
“Auuu...!” “Ada apa kau memanggilku, Raja Beracun?” suara keras bergetar dan parau terdengar dari mulut manusia serigala itu. Kepala yang hitam dengan sorot mata tajam tampak menatap Datuk Raja Beracun yang tengah menyembah.
“Ampun, Guru! Sengaja saya mengundang Guru, semata-mata karena hendak melakukan penyempurnaan ajian 'Walik Akal',” jawab Datuk Raja Beracun penuh hormat
“Hua ha ha...! Jadi kau ingin memiliki ajian itu, Raja Beracun...? Bukankah kau telah memiliki ajian 'Serigala Hitam'? Masih belum cukupkah?” tanya manusia berkepala serigala sambil tertawa terbahak- bahak. Suaranya bergema keras memenuhi ruangan dalam goa itu.
Datuk Raja Beracun hanya mampu menundukkan kepala. Sepertinya lelaki tinggi besar bermuka garang dihiasi cambang bauk tebal itu tersindir oleh ucapan makhluk berkepala serigala.
“Itu kalau Guru berkenan,” desah Raja Beracun lirih dengan kepala masih tertunduk.
“Hua ha ha...! Aku sebagai gurumu, tentu saja mendukung keinginanmu...,” ujar manusia berkepala serigala. “'Tapi, apa sebenarnya maksudmu mem- pelajari ajian 'Walik Akal'? He he he...! Apa yang sedang kau cita-citakan, Raja Beracun?”
Datuk Raja Beracun terdiam. Namun kepalanya tampak terangguk-angguk. “Hm, katakanlah!” “Sebenarnya, saya ingin menjadi orang yang paling sakti di rimba persilatan, Guru,” jawab Datuk Raja Beracun.
“Hanya itu?” tanya manusia berkepala serigala. Sesaat Datuk Raja Beracun terdiam. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan ingin membuang perasaan di dalam hatinya yang bergejolak. Ada keinginan lain yang sebenarnya tersembunyi di hati kecilnya. Dirinya ingin menjadi pimpinan para pendekar, sekaligus orang yang ditakuti setaraf dengan raja, baik oleh para pendekar maupun orang biasa.
“Ada lagi, Guru.” “Katakan, apa lagi?” tanya manusia berkepala serigala.
“Saya ingin menjadi pimpinan di rimba persilatan,” jawab Raja Beracun.
“Hua ha ha...! Sebenarnya, tanpa ajian 'Walik Akal' pun, kau akan mampu melakukan semua yang kau inginkan,” tutur manusia berkepala serigala.
“Belum, Guru. Karena masih banyak pendekar aliran lurus yang memiliki ilmu tinggi. Mereka tak mudah untuk ditaklukkan,” ujar Datuk Raja Beracun tetap dengan kepala tertunduk, tak berani beradu pandang dengan manusia serigala di hadapannya.
“Auuu...! Jadi kau tetap bertekad mendalami ajian itu, Raja Beracun?” tanya manusia berkepala serigala.
“Benar, Guru.” “Hm...! Apakah kau tahu, apa yang harus dilakukan untuk menyempumakan ajianmu?” tanya manusia serigala itu dengan suara menggeram keras.
“Tahu, Guru.” “Tujuh gadis tumbal. Sanggupkah kau men- dapatkan gadis-gadis itu?”
Tampaknya manusia berkepala serigala pun merasa khawatir kalau-kalau muridnya, Datuk Raja Beracun akan mengalami kesulitan. Menculik tujuh perawan bukanlah pekerjaan mudah.
“Sanggup, Guru.” “Hm, kalau begitu, aku tak bisa menolak permintaanmu. Siapkanlah tujuh orang perawan. Dan yang harus kau ingat, jangan mengambil gadis yang lahir pada malam satu Sura,” ujar manusia berkepala serigala mengingatkan, menjadikan Datuk Raja Beracun tersentak dan mengerutkan kening.
“Kenapa, Guru?” tanya Datuk Raja Beracun. “Ketahuilah olehmu! Kalau kau menggeluti gadis yang lahir malam satu Sura, maka bukan ilmu 'Walik Akal' yang kau dapatkan! Malah kau akan kehilangan segala-galanya,” kata manusia berkepala serigala menjelaskan. “Bukan itu saja. Penguasa alam kegelapan akan murka sekali.”
“Baik, Guru. Segala petuah yang Guru berikan, akan saya ingat selalu,” jawab Datuk Raja Beracun.
“Nanti malam, tepat Bintang Pari berada di tengah-tengah, lakukanlah pengorbanan itu,” perintah manusia berkepala serigala. “Sekarang aku pergi. Ingat baik-baik pesanku tadi...!”
Datuk Raja Beracun mengangguk-angguk tanda menyetujui persyaratan yang diajukan gurunya. Manusia berkepala serigala itu pun perlahan-lahan berubah samar-samar, kemudian menyatu dengan asap perapian yang tebal.
Datuk Raja Beracun melakukan sembah, kemudian bangun dan segera melangkah dari ruangan pemujaan, menuju tempat Watiri berada. Gadis itu nampak semakin ketakutan, menyaksikan lelaki bertubuh besar itu mendekatinya. Apalagi melihat senyum menyeringai di bibir sang Datuk, membuat Watiri semakin gemetar tak karuan.
“Lepaskan aku! Kembalikan aku pada orang tuaku,” pinta Watiri setengah mengiba dengan lelehan air mata membasahi kedua pipinya. Gadis itu tampak berusaha meronta, tetapi tak mampu karena kedua tangan dan kakinya diikat.
“He he he... Sabar, Cah Ayu! Besok, kau akan kembali. He he he!” Datuk Raja Beracun melangkah mendekati tubuh Watiri yang hanya terbungkus kain lurik merah sampai ke dada. Matanya merah penuh nafsu, memandang lekat tubuh Watiri yang mulus itu. Jakunnya turun naik. Beberapa kali lelaki tua berwajah beringas itu, menelan ludah. Tampaknya tak mampu menahan gejolak birahi yang menggebu- gebu. Perlahan-lahan, tangan sang Datuk menjulur ke dada Watiri yang menonjol. Kemudian dengan nakal, meraba kedua buah dada gadis itu.
“Iblis! Lepaskan aku...!” Watiri berteriak-teriak memaki. Namun Datuk Raja Beracun tak meng- hiraukannya. Dengan bibir masih mengurai senyum, tangannya terus menjamah tubuh gadis itu. Diremas- remasnya kedua buah dada Watiri. Gadis itu tampak kian marah. Wajahnya memerah. Namun seketika itu juga, tiba-tiba dirasakan ada suatu hawa aneh menjalar di dalam tubuhnya. Napasnya memburu. Sedangkan kepalanya terasa pening dengan pandangan berkunang-kunang. Semakin lama tubuh- nya semakin tegang, gemetaran, dan bergairah.
“He he he...!” Datuk Raja Beracun yang terus meremasi buah dada Watiri, sambil terkekeh senang. Ternyata Racun Birahi yang disalurkan melalui telapak tangannya, telah bekerja sebagaimana yang diharapkan. Terbukti gadis montok itu kini mendesis dengan mata mengerjap-ngerjap. Bahkan kini tak terdengar caci-maki dari mulutnya. Gadis itu seperti dilanda nafsu birahi yang bergejolak hebat. “Aaah...! Oh,..!” Hanya lenguhan dan desisan yang keluar dari mulut Watiri, yang membuat nafsu Datuk Raja Beracun semakin menggebu-gebu. Bergejolak, laksana api yang membakar tubuhnya. Tangan Datuk Raja Beracun merobek kain yang masih menutupi tubuh Watiri. Bret! Kini tubuh Watiri polos, tak tertutup sehelai benang pun. Gadis itu semakin mendesis keras, dengan mata terpejam.
“Oh, Ki...!” “He he he Sabar, Cah Ayu! Belum saatnya kita melakukan apa yang kau harapkan. Tunggulah nanti malam!” ujar Daluk Raja Beracun sambil terkekeh- kekeh. Dan tiba-tiba lelaki tua itu melepaskan remasan tangannya, kemudian melangkah mening- galkan tempat itu. Tinggal Watiri yang tersiksa dengan gejolak birahi yang membakar jiwanya.
***

Malam yang dinantikan oleh Datuk Raja Beracun akhirnya datang. Berarti upacara tumbal perawan sebagai syarat utama untuk mendapatkan ajian Walik Akal sebentar lagi akan berlangsung, saat Bintang Pari tepat berada di atas kepala.
“Auuu...! Auuu...!” Lolongan anjing hutan terdengar bersahut- sahutan. Seakan binatang-binatang itu merasakan adanya sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu kejadian yang sangat mengerikan. Anjing-anjing itu seperti tengah memberi peringatan kepada manusia. Suara- suara lolongan itu terasa mampu membuat merinding tubuh orang yang mendengarnya.
Begitu pula dengan Watiri yang kini terkapar di atas altar batu. Gadis itu semakin ketakutan. Namun hatinya telah pasrah karena tak mampu berbuat apa- apa. Watiri merasakan hawa dingin yang menggigilkan. Bulu kuduknya semakin meremang berdiri, mendengar lolongan anjing hutan. Apalagi suasana di dalam goa itu sangat sepi, tak ada siapa-siapa. Hanya dirinya sendiri, dengan tangan dan kaki terbelenggu pada meja batu.
“Oh Hyang Widi, apa yang akan terjadi pada diriku?” keluh Watiri dengan suara bergetar karena kedinginan dan rasa takut. Sementara itu lolongan anjing terdengar semakin bersahutan. Sepertinya binatang-binatang itu memberi tahu akan terjadi sesuatu pada dirinya. Air mata gadis itu meleleh, sedih, dan takut beraduk menjadi satu di dalam dadanya. Matanya yang menangis, memandang ke atas, pada langit-langit goa yang gelap. Tangisnya semakin berderai keras, merasakan takut yang tiada terkira.
Malam semakin larut, dengan hawa dingin yang terasa menusuk tulang sumsum. Suasana di dalam goa tempat Watiri berada, semakin mencekam. Gadis itu pun semakin merasakan ketakutan. Tangisnya semakin keras, terdengar. Gemanya berputar-putar dipantulkan dinding goa.
“He he he...!” Dari dalam goa, muncul Datuk Raja Beracun. Matanya yang merah, menatap penuh nafsu pada gadis yang semakin bertambah ketakutan itu. Lelaki tua bertubuh tinggi itu, melangkah mendekati Watiri yang terbaring dan terikat di atas batu.
“Tidak! Jangan dekati aku...! Lepaskan ikatan ini!” teriak Watiri sambil berusaha membuka. Namun tangan dan kakinya yang terikat, membuat tubuhnya tak mampu bergerak apalagi bangkit dari ter- baringnya. Semakin keras dia meronta, semakin terasa sakit pergelangan tangan dan kakinya yang terikat.
“He he he...! Percuma kau meronta-ronta, Cah Ayu!” ujar Datuk Raja Beracun sambil melangkah mendekati batu besar itu. Matanya yang merah, tak berkedip menatap tubuh Watiri yang dalam keadaan telanjang bulat.
Perlahan-lahan Datuk Raja Beracun membuka pakaiannya. Kemudian dengan bibir mengurai senyum, mendekati tubuh Watiri yang telanjang.
“Tidak! Jangaaan...!” teriak Watiri berusaha menolak apa yang akan dilakukan Datuk Raja Beracun terhadap dirinya. Dilempar-lemparkan kepalanya, berusaha menolak perbuatan lelaki tua itu. Namun percuma saja melakukan itu, karena Datuk Raja Beracun bagaikan tak peduli. Lelaki berusia enam puluh tahun yang masih gagah itu, kini tampak semakin buas. Tubuhnya yang juga telanjang, menindih tubuh Watiri.
“He he he...! Sebentar lagi, kau akan merasa kenikmatan, Cah Ayu,” desisnya sambil terus merayap naik.
“Lepaskan...! Oh.... Ah... Sss...!” Watiri kini benar- benar merasakan gejolak birahi yang menggebu-gebu. Rupanya Racun Birahi yang dilancarkan Datuk Raja Beracun melalui remasan dan usapan tangan pada buah dadanya telah bekerja. Hal itu yang membuat Watiri mulai terseret ke dalam gelombang nafsu meluap-luap. Tak ada lagi perasaan marah yang melekat dalam hatinya. Yang ada hanyalah perasaan nafsu yang menggebu-gebu.
Datuk Raja Beracun semakin menjadi-jadi, merasa Racun Birahi yang dijalankan lewat usapan dan remasan tangannya telah mempengaruhi Watiri. Kini dengan penuh kebuasan, lelaki tua berwajah beringas itu menggumuli tubuh Watiri. Gadis itu kian menggerinjang dengan desahan-desahan lirih.
“Ah...! Oh...! Sss...!” Datuk Raja Beracun kian cepat bergerak. Matanya yang merah, semakin membara penuh birahi. Sementara Watiri dalam keadaan tak sadar, menerima perbuatan Datuk Raja Beracun. Matanya mengerjap-ngerjap, dengan desisan-desisan penuh kepuasan.
“Ukh...!” “Ahk...!” Keduanya mengejang dengan mata membeliak, lalu terkulai penuh kepuasan.
Setelah pingsan beberapa saat, terdengar isak tangis dari mulut Watiri. Kemudian perlahan-lahan matanya membuka jalang. Dari mulutnya keluar pekikan keras, menyesali apa yang telah terjadi terhadap dirinya. Kehormatannya telah direnggut lelaki berbadan tinggi besar yang kini tersenyum menyeringai.
“Tidak...! Bajingan! Lebih baik aku mati!” teriak
Watiri sambil berusaha bunuh diri dengan membantingkan kepala, namun karena kaki dan tangannya terikat, gerakannya sangat sulit Gadis itu benar-benar merasa putus asa, setelah menyadari kalau keperawanannya telah terenggut
Sementara Datuk Raja Beracun yang telah men- dapatkan semuanya, terkekeh senang. Perlahan bangun dari duduknya. Dikenakan kembali pakaian- nya. “He he he...! Bagaimana, Cah Ayu?”
“Kurang ajar! Iblis...! Laknat...!” maki Watiri di sela isak tangisnya. Namun Datuk Raja Beracun tak marah meski dicaci maki begitu rupa. Bahkan, lelaki tinggi besar bermuka garang itu semakin tertawa terkekeh. Kemudian, tanpa menghiraukan Watiri yang menangis penuh penyesalan, Datuk Raja Beracun berlalu meninggalkan ruangan itu menuju keluar goa untuk melihat Bintang Pari.
Datuk Raja Beracun berdiri di depan pintu goa. Wajahnya menengadah ke langit yang bening. Bintang-gemintang tampak berkerlap-kerlip. Bintang Pari yang dijadikan pedoman, nampak telah berada di atas kepalanya. Berarti dirinya harus segera menjalankan upacara persembahan itu.
“He he he...! Akulah yang akan menjadi orang nomor satu di rimba persilatan,” ujar Datuk Raja Beracun sambil tertawa terbahak-bahak. Datuk Raja Beracun melangkah ke dalam goa. Sesaat berhenti di dekat altar batu, tempat Watiri masih menangis sambil mencaci maki.
“Iblis! Lepaskan aku! Atau bunuhlah aku...!” teriak Watiri kalap. Dia berusaha meronta sekuat tenaga- nya, dengan kepala dicobanya untuk dibenturkan pada alas altar. Namun tak juga sampai, karena kaki dan tangannya terpentang.
“He he he...! Sabar, Cah Ayu! Sebentar lagi kau akan pulang,” ujar Datuk Raja Beracun sambil melangkah menuju dua batu tinggi, tempat sebuah golok besar tergantung. Diambilnya golok itu. Mulutnya menyeringai seperti mengejek Watiri. Ditimang-timangnya golok besar dan tajam itu. “He he he...!” Mata Watiri membuka lebar menyaksikan golok besar dan tajam kini telah terangkat di tangan Datuk Kaja Beracun. Golok itu tampak mengerikan, seakan- akan menyimpan hawa pembunuhan.
“Tidak...!” jerit Watiri dengan mata membeliak ketakutan, menyaksikan golok besar dan tajam terayun ke lehernya. Watiri berusaha mengelak, tapi karena tangan dan kakinya diikat dan direntang, sulit baginya untuk mengelak. Hingga....
Wrt! “Aaa...!” Crak! Watiri hanya sempat berteriak pendek, karena golok itu telah menebas lehernya. Seketika kepalanya lepas dan menggelinding di lantai goa. Darah muncrat dari leher gadis itu. Dengan mata terpicing, Datuk Raja Beracun mendekati tubuh Watiri yang sudah tak berkepala lagi. Diraupnya darah yang tergenang di sekitar rubuh gadis itu, lalu digunakan untuk mencuci wajahnya. Bahkan kemudian diminumnya darah yang masih mengalir lewat leher yang buntung itu.
“Nyem nyem...! Hua ha ha...! Akulah yang akan menjadi orang paling sakti di rimba persilatan ini!”
Datuk Raja Beracun tak puas hanya sampai di situ. Dengan kuku-kukunya yang panjang, dibelahnya dada Watiri. Kemudian bagaikan tak mengenal belas kasih, dicopotnya jantung Watiri, lalu dimakan sampai habis. Bersamaan dengan habisnya jantung Watiri, tubuh Datuk Raja Beracun nampak merah membara. Mulutnya menyeringai penuh kepuasan. Matanya yang merah, semakin membara, menatap sosok mayat Watiri yang terkapar bersimbah darah.
“Hua ha ha...!” Datuk Raja Beracun tertawa terbahak-bahak bagaikan orang tak waras. Kemudian dibukanya ikatan di tangan dan kaki mayat Watiri. Lalu diangkatnya tubuh Watiri. Setelah mengambil kepalanya yang tadi menggelinding, Datuk Raja Beracun melesat meninggalkan goa tempatnya berdiam diri.
Angin malam menghembuskan hawa dingin diikuti dengan lolongan anjing hutan yang mampu membuat bulu kuduk berdiri. Datuk Raja Beracun terus berkelebat pergi menembus kegelapan malam sambil memanggul mayat Watiri. Sedangkan tangan kiri menenteng kepala gadis itu yang matanya membelalak.
“Hua ha ha...!” Dengan tertawa-tawa bagaikan orang gila, Datuk Raja Beracun terus berlari menuruni lereng Gunung Welirang. Larinya yang begitu cepat, menunjukkan kalau Datuk Raja Beracun pun menguasai ilmu silat yang cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat dari betapa ringan kakinya menuruni lereng pegunungan sambil memanggul tubuh Watiri.
Datuk Raja Racun terus berlari ke utara, menuju Desa Karang Bale. Malam semakin mencekam, dengan hawa dingin yang terasa menusuk tulang sum-sum.

3
Pagi-pagi sekali, warga Desa Karang Bale tiba-tiba digegerkan dengan ditemukannya mayat Watiri di depan rumahnya. Kepala mayat itu tergeletak di samping tubuhnya. Dan yang lebih mengerikan, dada gadis itu berlubang dengan jantung sudah tak ada lagi. Darah kering berserakan di tubuhnya.
Nyi Sumirah menjerit sejadi-jadinya, ketika mendapati anaknya sudah menjadi bangkai dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Sedangkan Ki Pardi hanya dapat meneteskan air mata duka.
“Benar-benar perbuatan biadab!” pikirnya dengan hati kesal.
Ki Lurah Sentana ketika mendengar kabar tentang peristiwa itu, langsung berangkat menuju rumah Ki Pardi. Adiknya, Ki Tunjung Melur pun tak mau ketinggalan, segera mengikuti, berangkat ke rumah ayah Watiri. Mereka sebagai orang-orang yang dipercaya untuk memimpin Desa Karang Bale, merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa warganya.
“Biadab!” dengus Ki Sentana dengan mata membeliak, menyaksikan keadaan mayat Watiri. “Jelas ini bukan tindakan dedemit atau iblis. Ini tindakan manusia yang sangat biadab!”
“Kakang, nampaknya sebelum dibunuh, Watiri di- perkosa dahulu,” ujar Ki Tunjung Melur, ketika matanya menyaksikan sesuatu kerusakan pada kemaluan Watiri. Napas Ki Tunjung Melur terasa berat. Bagaimana pun sebagai adik Ki Sentana,
Kepala Desa Karang Bale, dirinya merasa ber- kewajiban membantu dalam keamanan desa itu.
Ki Sentana mencoba membuktikan dugaan adiknya. Dan memang benar, matanya dapat melihat ada bekas-bekas tindak perkosaan. Hal itu membuat Ki Lurah Sentana semakin bertambah geram terhadap pelaku yang sampai saat ini belum diketahui orangnya.
“Bedebah! Ini benar-benar penghinaan bagi kita! Rupanya ada orang yang hendak menggunting dalam lipatan,” ujar Ki Sentana dengan wajah memerah marah. Namun, dirinya tak dapat berbuat apa-apa, karena tak tahu orang yang harus dicurigai. Kepala desa itu pun tak tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan secara keji itu. Peristiwa itu telah membuat gempar warga desa. Desa Karang Bale yang selama ini tenang dan damai, tiba-tiba saja dikejutkan dengan adanya pembunuhan keji itu.
“Apakah kita tak pantas mencurigai seseorang, Ki?” tanya Ki Pardi. Sebagai seorang ayah, dirinya benar-benar sedih, melihat kejadian yang menimpa anaknya.
Ki Sentana terdiam dengan mengulum bibir. Pandangan matanya kosong sepertinya tengah berpikir dan mencoba mereka-reka siapa yang pantas untuk dicurigai. Dihelanya napas dalam-dalam, ber- usaha melonggarkan dada yang terasa bergemuruh.
“Sepuluh tahun sudah peristiwa seperti ini berlalu. Ketika Ki Boleng menghilang, kejadian semacam ini pun ikut hilang. Namun kini, tiba-tiba peristiwa yang pernah terjadi, kembali muncul,” gumam Ki Sentana dengan suara berat.
“Mungkinkah Ki Boleng muncul kembali, Kang?” tanya Ki Tunjung Melur.
“Entahlah,” sahut Ki Sentana. “Menurut kabar, Ki Boleng telah mati di tangan Singo Edan, si Pendekar Gila dari Goa Setan.”
Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi yang mendengar Ki Boleng telah mati mengerutkan kening, “Kalau Ki Boleng penganut ilmu setan dengan cara mengorbankan gadis telah mati, lalu siapa yang kini melakukan pembunuhan ini?” pikir hati mereka bertanya-tanya heran.
“Mungkin muridnya, Kang?” tanya Ki Tunjung Melur mencoba mereka-reka.
“Tidak,” sahut Ki Lurah Sentana. “Kenapa, Kakang? Bukankah mungkin saja sang Murid mewarisi ilmu gurunya...?” tanya Ki Tunjung Melur.
“Ki Boleng tak punya murid,” sahut Ki Sentana. Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi terdiam mendengar ucapan Ki Sentana. Kalau benar Ki Boleng tak memiliki murid, lalu siapa lagi yang melakukan kekejian itu? Hati mereka diliputi ketidakmengertian. Jelas orang-orang yang mengorbankan perawan untuk tumbal, pasti orang-orang yang menganut aliran seperti Ki Boleng.
“Atau mungkin saudara seperguruannya, Kang,” ujar Ki Tunjung Melur.
Ki Sentana terdiam. Keningnya berkerut, seolah- olah, tengah mencoba berpikir. Kalau memang saudara seperguruan Ki Boleng, jelas hal itu bisa saja terjadi. Tetapi, siapa saudara seperguruan Ki Boleng? Selama mi, Ki Sentana tak pernah mendengar kalau Ki Boleng memiliki saudara seperguruan.
“Kurasa Ki Boleng tak memiliki saudara seperguruan,” desah Ki Sentana. “Ki Boleng murid tunggal Ki Persasi, seorang resi sakti. Ki Persasi sebenarnya berhaluan lurus, itu sebabnya dirinya sangat murka ketika mengetahui sang Murid berlaku sesat. Bahkan muridnya melebihi iblis. Dan oleh karena itu pula, Ki Persasi akhirnya meminta tolong pada Singo Edan, Pendekar Gila dari Goa Setan untuk menghentikan sepak terjang sang Murid. Dan setelah muridnya binasa, Ki Persasi pun menghilang entah ke mana.”
Secara singkat dan jelas, Ki Sentana menuturkan kisah tentang Ki Boleng, tokoh yang sepuluh tahun silam pernah menggemparkan Desa Karang Bale dengan perbuatannya yang keji. Kini, setelah sepuluh tahun tokoh sesat itu binasa di tangan Singo Edan, muncul lagi kejadian yang hampir sama.
“Mungkinkah arwahnya bangkit kembali?” tanya Ki Tunjung Melur semakin penasaran. Karena kejadian itu sama persis dengan tindakan Ki Boleng.
“Bisa jadi,” gumam Ki Sentana. “Tapi...” “Tapi apa, Kang?” “Apa mungkin?” tanya Ki Sentana seperti tak percaya kalau semua kejadian yang dialami Watiri merupakan perbuatan arwah Ki Boleng.
“Mengapa Kakang berkata begitu?” tanya Ki Tunjung Melur dengan kening mengerut. Matanya menatap wajah Ki Sentana, seakan-akan ingin mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan dalam benak kakaknya.
“Kurasa arwah tak akan memperkosa,” sahut Ki Sentana, membuat Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi manggut-manggut. Apa yang dikatakan kepala desa itu tidak salah. Arwah merupakan makhluk gaib tak mungkin melakukan perkosaan. Apalagi terhadap manusia. Namun seandainya benar yang melakukan arwah, mungkin kemaluan Watiri tak akan sampai hancur seperti itu.
Semua terdiam, tak ada yang bisa menjawab keganjilan itu.
Sementara itu, warga Desa Karang Bale nampak mulai berdatangan ke rumah Ki Pardi untuk melayat. Di wajah mereka tercermin iba bercampur takut, terhadap kejadian aneh itu. Apalagi para warga yang memiliki anak gadis, lebih merasa cemas dan ketakutan. Mereka khawatir kalau-kalau anak perawan mereka menjadi korban selanjutnya dari perbuatan penculik gelap itu. ***
Siang yang panas, cahaya matahari terasa sangat menyengat. Angin yang berhembus pun meniupkan hawa yang kurang nyaman di kulit. Dari arah utara tampak sesosok lelaki muda berambut gondrong tengah melangkah memasuki mulut Desa Karang Bale. Pemuda tampan berpakaian rompi terbuat dari kulit ular itu bertingkah laku seperti orang gila. Mulutnya tampak cengengesan. Lalu terdengar bernyanyi-nyanyi sendirian sambil berjingkrak- jingkrakan. Sebentar kemudian tangannya meng- garuk-garuk kepala seperti kegatalan. Mulutnya terus cengar-cengir. Tingkah lakunya yang aneh itu tentu saja membuat setiap orang yang melihat atau berpapasan merasa heran. Atau bahkan mungkin ada pula yang menaruh rasa curiga terhadap tingkah lakunya yang konyol itu.
“Pemuda gila...,” gumam salah seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan tubuh tinggi tegap. “Kasihan, pemuda setampan dia harus gila! “Iya, ya? Sayang sekali, pemuda tampan begitu jiwanya tak waras!” sambung rekannya. Lelaki berusia sekitar lima puluh tahun berbadan tinggi kurus dengan kumis panjang. Kedua lelaki setengah baya itu tak henti-hentinya menatap pemuda gila yang tak lain Sena Manggala atau lebih terkenal dengan julukan Pendekar Gila.
“Ah ah ah, panas sekali!” gumam Sena dengan mulut cengengesan.
Sejenak Pendekar Gila menghentikan langkahnya. Memandang dengan mata menyipit dan mulut nyengir ke sekelilingnya. Seakan-akan tengah mencari tempat untuk berteduh dari panasnya mentari.
Kedua orang lelaki setengah baya itu masih memperhatikan tingkah laku Pendekar Gila yang lucu. Bahkan tingkah lakunya semakin lucu dan konyol ketika hendak menghindar dari panas matahari.
“Aha, Kisanak sekalian, di manakah ada kedai sekitar sini...?” tanya Sena setelah menyadari sejak tadi dirinya menjadi perhatian kedua lelaki setengah baya itu. Tangannya menggaruk-garuk kepala, mulut- nya cengengesan. Kemudian kakinya melangkah mendekati kedua lelaki tua itu, yang tersentak kaget dan berlari terbirit-birit ketakutan. “Orang gila itu mengejar kita!” “Cepat lari!” Kedua orang tua itu lari tunggang-langgang, takut kalau-kalau pemuda bertingkah laku gila akan mengamuk. Biasanya memang mereka melihat orang gila mengamuk jika diperhatikan. Itu sebabnya mereka langsung kabur ketika Pendekar Gila meng- hampiri.
Pendekar Gila tertawa cekikikan menyaksikan kejadian lucu itu. Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan mulut cengengesan.
“Ah ah ah, lucu sekali! Aneh memang dunia ini. Kadangkala, orang gila menjadi sasaran tuduhan. Hi hi hi...!” gumamnya sambil menggeleng-geleng kepala.
Setelah memperhatikan kedua orang tua yang lari terbirit-birit, dengan masih cengengesan sambil bernyanyi-nyanyi Pendekar Gila meneruskan langkahnya.
***
Pendekar Gila yang sedang mencari sebuah kedai untuk beristirahat, seketika menghentikan langkah ketika lima orang lelaki bermuka garang berdiri menghadang di hadapannya. Kelima lelaki ber- pakaian sama dan bersenjata golok terselip di pinggang itu, menatap tajam wajahnya. Satu orang yang berkumis tebal dengan rambut terurai lurus, melangkah maju.
“Desa ini sedang tak aman, siapa kau?!” bentak lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan tegas. Matanya yang lebar, menatap tajam pada Pendekar Gila penuh selidik.
“Hi hi hi..., lucu sekali!” gumam Sena seperti tak menghiraukan pertanyaan lelaki ini. Mulutnya cengengesan, dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat lelaki berpakaian biru mengkilap seperti beludru itu semakin gusar.
“Bocah Gila, katakan siapa kau sebenarnya?!” bentak Walang Kejer dengan gusar, karena merasa pertanyaannya tak dihiraukan.
“Hi hi hi..a Gila...? Aha, memang aku gila. Tetapi aku tidak segila kau, yang main bentak pada orang,” sahut Sena disertai tawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala, yang membuat Walang Kejer berserta keempat walang lainnya bertambah geram.
“Bocah Edan! Ditanya malah cengengesan!” sentak Walang Kerik.
Nampaknya lelaki bertubuh kurus dengan kumis tipis itu, tak sabar melihat tingkah laku Pendekar Gila yang konyol. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu, melangkah maju sambil tangannya meraba gagang golok.
“Aha, beginikah sambutan pendekar Desa Karang Bale?” gumam Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang Walang Kerik yang sedang meraba gagang golok. “Ah ah ah! Kurasa tak sepantasnya kalian berbuat seperti itu. Bukankah warga Desa Karang Bale terkenal dengan keramahannya?”
Kelima Walang Sakti itu saling pandang, mendengar ucapan Pendekar Gila.
“Ah, aku mendengar warga Desa Karang Bale sangat menghormati tamunya. Mengapa kini kulihat lain?” tanya Pendekar Gila seperti bergumam. Kemudian dengan mulut cengengesan, digeleng- gelengkan kepalanya.
“Bocah Gila, katakan siapa kau sebenarnya dan ada maksud apa kau datang ke desa ini?” tanya Walang Kejer. Amarahnya agak mereda, setelah memperhatikan gerak-gerik dan penuturan Pendekar
Gila, nampaknya Walang Kejer mengetahui suatu kekuatan yang dimiliki diri pemuda bertingkah laku gila itu.
“Aha, aku hanya seorang pemuda gila yang tak tentu arah. Kemana pikiran gilaku mengajak, ke sana aku melangkah,” tutur Pendekar Gila setengah berfilsafat yang menjadikan Walang Kejer semakin mengerutkan kening. Pikirannya semakin ber- sungguh-sungguh menyelidik Pendekar Gila yang nampak masih cengengesan.
“Kau petualang?” tanya Walang Kejer me- mastikan.
“Hi hi hi...! Kau tahu dari mana, Kisanak?” tanya Sena sambil cekikikan dengan tangan menggaruk- garuk kepala.
“Dasar bocah gila! Bukankah tadi kau yang mengatakannya?!” bentak Walang Kerik dengan geram. Matanya melotot memandang penuh kebencian pada Pendekar Gila.
“Aha, kau nampaknya pemarah, Kisanak? Ah ah ah, sangat berbahaya! Kurasa, tak sepantasnya kau marah. Sebagai pendekar desa kau haruslah sabar dan berjiwa besar,” ujar Pendekar Gila bernada menggurui.
Mendengar ucapan Pendekar Gila barusan, kelima Walang Sakti tersentak marah. Mereka sepertinya merasa tersinggung.
“Kurang ajar! Lancang sekali kau mengguruiku, Bocah Gila!” dengus Walang Kerik seraya melangkah maju dengan tangan kanan siap mencabut golok. Namun dengan cepat, Walang Kejer sebagai orang tertua di dalam Lima Walang Sakti segera mencegahnya.
“Sabar! Apa yang dikatakannya memang benar.
Kita tak boleh sembarangan mencurigai seseorang.”
“Tapi nampaknya dia perlu kita curigai, Kang,” kilah Walang Kerik.
“Hm, kurasa memang begitu, karena dia orang asing di Desa Karang Bale ini. Namun, keramah- tamahan dan sikap sopan santun yang sudah dikenal banyak orang tak boleh kita lupakan. Sabarlah dulu!” usai menenangkan adiknya, Walang Kejer mendekati Pendekar Gila yang masih cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Hi hi hi...! Aneh..., aneh...! Dunia ini memang aneh,” gumam Pendekar Gila. Kemudian tanpa menghiraukan kelima Walang Sakti, dia bernyanyi- nyanyi sendiri. Sambil mendongak, memandang langit biru Pendekar Gila melolos Suling Naga Sakti yang terselip diikat pinggangnya. Lalu dengan enaknya ditiupnya suling itu, mengalunkan nyanyian yang merdu.
Lima Walang Sakti hanya bisa bengong menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila. Walang Kerik yang paling tak suka tampak geram dengan wajah merah. Hatinya benar-benar jengkel melihat tingkah laku Pendekar Gila yang baginya menyebal- kan. Ditanya benar-benar justru dengan enak-enakan bernyanyi sambil meniup sulingnya.
“Bocah Edan! Hentikan tiupan sulingmu yang sumbang itu!” bentak Walang Kerik.
Pendekar Gila menghentikan tiupan sulingnya. Matanya menoleh ke wajah Walang Kerik. Mulutnya cengengesan. Kemudian setelah menyelipkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggang, tangannya menggaruk- garuk kepala.
“Aha, rupanya kau tak suka bernyanyi, Kisanak? Pantas..., pantas kalau kau pemarah,” sindir
Pendekar Gila dengan tingkahnya yang konyol. Hal itu tentu saja membuat Walang Kerik semakin marah.
“Kurang ajar! Dia memang perlu dihajar, Kakang! Biarkan aku menghajarnya!” dengus Walang Kerik sambil mencelat maju dengan tangan menarik gagang golok.
Srt! “Kuhajar kau, Bocah Gila! Hea...!” tangan Walang Kerik membabatkan goloknya dengan gerakan melengkung.
Wrt! Mendapat serangan begitu cepat, Pendekar Gila segera berkelit dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Ditundukkan tubuhnya ke bawah, kemudian meliuk-liuk ke kanan dan ke kiri dengan gerakan lemah gemulai.
Wut! Golok yang dibabatkan Walang Kerik menderu hanya beberapa jari di sebelah kanannya. Dengan cepat, Pendekar Gila mengibaskan kaki kanannya menendang kaki kiri Walang Kerik yang menekuk dan berada di depan.
“Hea!” Wrt! Dengan cepat Walang Kerik bergerak sambil membabatkan goloknya. namun....
Plak! Bugk! “Aduh!” Walang Kerik terpekik keras. Tubuhnya yang belum mantap setelah menyerang, tanpa ampun lagi harus terjengkang jatuh karena sambaran kaki Pendekar Gila. Walang Kerik meringis, ketika dirasakan tulang mata kakinya sakit. Sedangkan Pendekar Gila kini berjingkrakan sambil terkikik nyaring dengan tangan menggaruk-garuk kepala, persis seekor kera kegirangan.
Keempat Walang Sakti lainnya yang menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila, terperangah kagum bercampur keheranan. Mereka tak menyangka kalau dalam satu jurus saja, pemuda bertingkah gila itu dapat menjatuhkan Walang Kerik.
“Kurang ajar! Jangan kau girang dulu, Bocah Gila! Aku akan mengadu nyawa denganmu!” dengus Walang Kerik semakin marah, karena merasa diejek begitu rupa di depan keempat saudaranya. Tubuhnya segera bangkit berdiri. Kemudian dengan cepat mengatur kedudukan kuda-kudanya. Matanya menatap penuh amarah pada Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Tahan!” tiba-tiba dari arah barat, terdengar suara seseorang berseru. Bentakan keras itu membuat Walang Kerik yang hendak menyerang, seketika menghentikan geraknya. Serentak mereka semua menoleh ke tempat asal suara tadi.
Seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun dengan pakaian warna merah bata lengan panjang melangkah menghampiri Lima Walang Sakti yang seketika menjura memberi hormat. Di belakangnya lelaki berwajah tenang dan berwibawa berjalan mengiringi.
“Ampun, Ki Lurah! Ada seorang pemuda berpura- pura gila hendak membuat onar di Desa Karang Bale ini,” tutur Walang Kerik sambil menjura pada Ki Lurah Sentana yang datang bersama adiknya Ki Tunjung Melur. Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur seketika memperhatikan tingkah laku Pendekar Gila. Kening keduanya mengerut, apalagi setelah melihat Suling
Naga Sakti terselip di ikat pinggang pemuda berompi kulit ular itu. Tanpa disadari mata Ki Lurah Sentana terbelalak. Begitu pun Ki Tunjung Melur yang seolah telah mengenal betul jati diri pemuda gila itu. Dengan suara lirih Kepala Desa Karang Bale itu berdesis. “Suling Naga Sakti...!”
Kelima Walang Sakti yang belum mengetahui siapa pemuda gila itu pun turut terperanjat mendengar nama suling milik pemuda gila berpakaian rompi kulit ular itu.
“Kisanak, ada hubungan apa kau dengan Singo Edan, Pendekar Gila dari Goa Setan?” tanya Ki Lurah Sentana dengan mata memperhatikan tingkah laku Pendekar Gila yang konyol.
“Hi hi hi..., lucu sekali! Dunia ini memang aneh. Atau memang sudah menjadi peradatan, kalau yang masih muda akan bertingkah ugal-ugalan?” gumam Sena, seakan tak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan kepala desa itu. Namun nampaknya Ki Sentana memahami tutur kata Pendekar Gila. Hal itu terlihat dari tatapan mata lelaki tua itu pada Lima Walang Sakti yang serentak menundukkan kepala. Mereka berlima seolah-olah merasa bersalah.
“Maafkan atas kesalahan mereka, Kisanak! Mereka hanya menjalankan tugas, menjaga keamanan desa ni yang baru saja tertimpa kemalangan,” ujar Ki Sentana membuka percakapan. Suaranya begitu tenang ian berwibawa. “Kalau boleh kami tahu, ada hubungan apa Kisanak dengan Singo Edan sahabat kami?”
“Aha, aku murid tunggalnya, Ki,” jawab Sena dengan tingkah laku yang masih konyol. Tangannya kembali manggaruk-garuk kepala.
“Heh...?!”
Tersentak Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur setelah tahu kalau pemuda bertingkah gila itu murid Singo Edan. Pantas kalau pemuda ini memiliki Suling Naga Sakti, senjata sakti yang sampai saat ini belum ada tandingannya.
“Oh, maafkan kami, Tuan Pendekar! Kalau begitu, Tuanlah yang bergelar Pendekar Gila,” ujar Ki Sentana sambil menjura hormat pada Pendekar Gila.
“Ah ah ah, mengapa kau panggil aku Tuan Pendekar? Lucu sekali! Sangat lucu...!” gumam Sena sambil cengengesan dengan kepala menggeleng. “Kalau kau dan guruku bersahabat, maka tak sepantasnya menyebut diriku Tuan Pendekar. Namaku Sena Manggala.”
Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur, serta Lima Walang Sakti terperangah mendengar jawaban Pendekar Gila. Pemuda gila itu ternyata memiliki budi pekerti yang luhur.
“Baiklah, Sena. Kuanggap kebetulan sekali, kau datang ke desa kami,” kata Ki Sentana sambil menarik napas dalam-dalam. Wajahnya seketika berubah muram, membuat Pendekar Gila mengerut- kan kening dan memandang keheranan.
“Aha, kalau boleh aku tahu, apa sebenarnya yang telah menimpa desa ini?” tanya Pendekar GUa ingin tahu. “Kalau kau berkenan, singgahlah dulu di rumah- ku. Nanti akan kuceritakan apa yang telah terjadi...,” ajak Ki Lurah Sentana.
“Aha, baiklah. Aku pun sebenarnya ingin melepas lelah,” jawab Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala, yang membuat Walang Kerik tampak jengkel. Hal itu terlihat dari tatapan mata yang sinis, penuh kebencian.
“Huh, bertingkah!” sungut Walang Kerik dalam hati. “Siapa pun kau, aku tak suka! Hm, tunggu saja saatnya.”
Pendekar Gila pun melangkah, mengikuti Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur meninggalkan mulut desa tempat Lima Walang Sakti masih berdiri.
***

4
Siang itu Ki Lurah Sentana mengajak Pendekar Gila untuk bersantap di rumahnya. Sambil menyantap makanan, kepala desa itu pun menceritakan peristiwa yang baru saja dialami di desanya. Diceritakan bahwa setelah hampir sepuluh tahun Ki Boleng mati di tangan guru Pendekar Gila, peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap perawan- perawan desa tak ada lagi. Namun tiba-tiba hari ini, Desa Karang Bale dikejutkan dengan kematian Watiri secara mengerikan.
Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala dengan tangan kiri. Mulutnya nyengir, seakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan. Setelah itu kembali mengunyah makanan yang baru saja dimasukkannya ke dalam mulut.
“Aha, aneh sekali,” gumam Sena dengan mulut nyengir. “Apakah kau tak mencurigai seseorang, Ki?”
“Itulah yang sulit, Sena. Kami tak pernah mencurigai seseorang, karena sejak dulu kami berusaha menunjukkan keramahan dan itikad baik pada siapa pun yang datang ke desa ini,” sahut Ki Sentana setengah menyesal.
Pendekar Gila sesaat terdiam. Tangan kirinya kembali menggaruk-garuk kepala. Kemudian nampak mulutnya yang nyengir, seperti orang tolol sedang kebingungan.
“Bagaimana menurut pendapatmu, Sena?” tanya Ki Tunjung Melur.
Mendengar pertanyaan itu Pendekar Gila semakin cengengesan dengan tangan kian cepat menggaruk. Dirinya pun sedang bingung untuk mencari jejak pertama guna memperkirakan siapa sebenarnya pelaku dari kejadian yang dialami anak Ki Pardi.
“Huh, tolol sekali aku ini!” gumam Pendekar Gila sambil menepuk-nepuk keningnya dengan tangan kiri. “Ah, kenapa aku bodoh? Hm..., sulit amat...!”
Ki Lurah Sentana dan adiknya tampak tersenyum keheranan melihat tingkah laku pemuda di hadapan mereka.
“Apakah kau tak memiliki pandangan, Sena?” tanya Ki Sentana.
Pendekar Gila tercenung diam. Keningnya mengerut, kemudian mulutnya cengengesan.
“Pandangan? Aha, kau benar kita memang harus memiliki pandangan,” sahut Sena. Kemudian nampak dirinya kembali tercenung, lalu cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur hampir tertawa melihat tingkah laku Pendekar Gila. Kalau saja mereka tak segera sadar bahwa tamunya Pendekar Gila, mungkin Ki Lurah pun sudah meninggalkan pemuda yang bertingkah konyol itu.
Pendekar Gila tak meneruskan kata-katanya, melainkan terus menyantap makanannya dengan lahap. Hal itu membuat Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur tersenyum-senyum. Mereka senang menyaksi- kan Pendekar Gila lahap menyantap hidangan yang telah disajikan.
“Aha, aku ada akal!” seru Sena tiba-tiba dengan mulut masih mengunyah makanannya. Suara keras itu membuat Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur tersentak kaget.
Ki Tunjung Melur dan Ki Sentana kembali tersenyum sambil menarik napas dalam-dalam.
“Apa itu, Sena?” tanya Ki Sentana. “Ya, katakanlah! Kami memang sangat meng- harapkan buah pikirmu, juga bantuanmu,” tambah Ki Tunjung Melur.
“Ah ah ah, tanpa kalian minta pun, aku akan berusaha membantu kalian,” sahut Sena, “Kalian teman-teman guruku. Sudah sepantasnya kalau aku turut membantu.”
“Terima kasih atas kesediaanmu, Sena,” ujar Ki Lurah Sentana.
“Ah, sudahlah, Ki! Kini kita harus berpikir mencari jalan, bagaimana untuk dapat mengetahui siapa sebenarnya pelaku dari pembunuhan keji itu,” usul Pendekar Gila sambil menyantap makanan.
“Ya ya, kau benar,” sahut Ki Tunjung Melur, “Kita memang harus secepatnya membekuk pelaku keji itu. Sebelum ada korban lain yang jatuh ke tangannya.”
“Aha, tepat sekali. Kurasa, aku harus menyelidiki semuanya,” kata Pendekar Gila.
“Kau akan pergi?” tanya Ki Sentana, kaget. “Begitulah,” sahut Pendekar Gila. “Mengapa harus pergi? Bukankah lebih baik kau tinggal di rumahku?” saran kepala desa itu berusaha mencegah agar Pendekar Gila tak meninggalkan Desa Karang Bale.
“Ah, terlalu merepotkan, Ki,” sahut Pendekar Gila. “Biarlah aku menyelidiki semuanya dari jauh! Maksudku agar gerak-gerikku labih bebas.”
Ki Sentana terdiam beberapa saat, berusaha mencerna ucapan Pendekar Gila. Memang benar apa yang dikatakan pemuda itu. Dengan kehadiran Pendekar Gila di Desa Karang Bale, pelaku pembunuhan itu tentu akan menahan diri, jika ada rencana untuk berbuat lagi. Sebab bukan tak mungkin kalau pelaku itu telah mengenal siapa Pendekar Gila sebenarnya. Seorang tokoh muda yang namanya telah kesohor di kalangan rimba persilatan.
“Benar katamu, Sena. Kurasa kalau kau berada di sini terus, penjahat itu akan tahu,” tukas Ki Tunjung Melur.
“Ya ya, kau benar. Tetapi, kuharap kau tidak melepaskan begitu saja, Sena,” harap Ki Sentana.
“Aha, aku akan berusaha, Ki. Ah ah ah, kenyang sekali perutku! Wah, bisa-bisa aku ketiduran, Ki,” ujar Sena berseloroh sambil mengelus-elus perutnya yang terasa kenyang, setelah menyantap makannya.
“Kalau memang kau ngantuk, tidurlah di sini, Sena!” ujar Ki Sentana menawarkan.
“Aha, terima kasih, Ki. Kau telah berbaik hati padaku. Izinkanlah aku meneruskan perjalananku dulu,” sahut Sena.
“Kau jadi pergi juga, Sena?” tanya Ki Sentana dengan kening mengerut, seakan tak percaya kalau Pendekar Gila akan meneruskan perjalanannya. Padahal Desa Karang Bale sedang membutuhkan Pendekar Gila.
“Aha, jangan khawatir, Ki! Kurasa kalian mengerti maksudku,” ujar Pendekar Gila. Kemudian setelah bangun dan memberi hormat pada Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur, Pendekar Gila melangkah keluar untuk meneruskan perjalanannya.
“Jangan lupa, Sena!” “Aha, akan kuingat!” sahut Pendekar Gila sambil menoleh pada Ki Sentana.
“Titip salam pada gurumu,” ujar Tunjung Melur pura-pura sambil melambaikan tangan, yang dibalas Pendekar Gila dengan lambaian tangan pula.
Pendekar Gila terus melangkah, seakan tak tahu ada sepasang mata mengikuti langkah kakinya dengan pandangan penuh kebencian. Di bibir orang itu, tersungging senyum sinis dan dendam.
“Tunggulah saatnya, Pendekar Gila!” dengus pemilik senyum bengis dengan tatapan tajam penuh dendam. Sekejap kemudian sesosok bayangan berkelebat meninggalkan semak belukar tempat dirinya mengintip Pendekar Gila.
Pendekar Gila yang sebenarnya tahu hanya tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dengan tangan menggaruk-garuk kepala, dirinya terus melangkah meninggalkan Desa Karang Bale. “Aha, kurasa orang itu bukan orang baik-baik. Hm, kulihat saja nanti,” gumam Pendekar Gila sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Kakinya melangkah cepat, seakan-akan ingin segera meninggalkan Desa Karang Bale.
***

Mentari mulai condong ke barat, menandakan bahwa hari menjelang senja. Empat orang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan tampak melintasi hutan karet. Sambil bercanda ria mereka berjalan menuju telaga yang terletak di selatan Desa Karang Bale. Nampaknya mereka hendak mandi sore. Di perbatasan desa, mereka bertemu dengan dua jawara pengawal Ki Sentana.
“Mau ke mana, Den Putri?” sapa Ki Barman pada Wirani, anak Ki Lurah Sentana yang berjalan bersama ketiga gadis temannya.
“Mau ke telaga, Paman,” sahut Wirani. “Hati-hati, Den Putri! Kalau ada apa-apa di telaga, berteriaklah agar kami cepat mendengar!” saran Ki Sobrah.
“Memangnya kenapa, Paman?” “Tidak apa-apa. Bukankah Den Putri melihat sendiri kejadian yang dialami anak Ki Pardi?” tanya Ki Barman setengah mengingatkan.
“Baiklah, Paman. Saya pergi dulu!” “Ya ya, hati-hati...,” kata Ki Sobrah kembali meng- ingatkan.
Keempat gadis itu menganggukkan kepala, kemudian meneruskan perjalanan ke telaga. Sementara Ki Barman dan Ki Sobrah masih memperhatikan keempatnya yang terus melangkah. Sepertinya ada sesuatu yang dikhawatirkan kedua jawara desa itu.
Keempat gadis itu terus melangkah sambil terus berbincang-bincang.
“Kasihan ya Watiri? Aku tak menyangka, kalau dia akan mengalami hal semacam itu,” ujar Wirani membuka percakapan. Wajahnya kini menggambarkan kesedihan. Antara dia dan Watiri memang sangat akrab.
“Iya ya?” sambung gadis berkain kuning. “Coba saja kalau waktu itu dia tak pulang dahulu, tentunya tak akan terjadi hal seperti itu.”
“Namanya saja sudah suratan takdir,” selak gadis berpakaian coklat. “Bagaimanapun juga, kalau yang kuasa menghendaki, kita tak bisa lepas.”
“Tapi nampaknya itu bukan kehendak Hyang Widi, Serani. Hyang Widi tak akan setega itu, melepaskan nyawa manusia dengan menghancurkan raganya,” bantah Wirani tak setuju dengan pendapat temannya yang mengatakan kematian Watiri karena sudah kehendak Hyang Widi. “Bukankah kita diciptakan untuk berusaha?”
“Ya ya ya, kau benar, Wirani. Ah, sudahlah! Jadi merinding bulu kudukku,” tukas Serani berusaha mengakhiri pembicaraan mereka terhadap Watiri.
Ketiga temannya tertawa, melihat Serani takut. Namun keempatnya menurut diam. Mereka pun terus berjalan. Kini mereka telah semakin dekat dengan telaga.
Sambil bercanda ria, keempat gadis itu segera menceburkan di ke telaga. Pecahlah suara tawa mereka. Bermain siram-siraman sambil menikmati hangatnya air telaga yang bening itu.
Sementara mentari sore mengawasi gadis-gadis cantik itu bahkan menjilati kulit tubuh-tubuh mulus itu. Mereka tak mempedulikan keadaan di sekitar telaga yang tampak sunyi. Mereka tak tahu kalau dari balik semak-semak di sekitar telaga ternyata ada sepasang mata durjana tengah mengawasi. Sepasang mata merah, karena menahan nafsu yang bergejolak di hatinya.
“Hm, sangat menggairahkan anak Ki Lurah itu,” gumam pemilik sepasang mata merah membara sambil terus memandangi tubuh Wirani yang mulus dan menggiurkan.
“Aha, rupanya ada buaya yang mengintai gadis- gadis mandi!”
Tiba-tiba terdengar seruan yang cukup mengejut- kan pemilik sepasang mata merah itu. Seketika sesosok tubuh melesat meninggalkan semak-semak di tepian telaga. “Aaa...!” Bukan hanya lelaki bertubuh tinggi besar yang kaget, tetapi keempat gadis yang tengah bersendau gurau di telaga pun terperanjat. Mereka tak menyangka sejak tadi ada yang mengawasi.
“Tolong...! Tolooong...!” teriak keempat gadis itu. “Hai, jangan lari!” teriak Pendekar Gila sambil melesat cepat memburu sesosok tubuh tinggi besar berpakaian abu-abu.
***

Pendekar Gila menduga orang bertubuh tinggi besar dan berpakaian abu-abu itu pasti punya maksud jahat terhadap gadis-gadis yang sedang mandi. Itulah sebabnya pendekar muda itu terus mengejarnya.
“Aha, mau lari ke mana kau, Buaya!?” teriak Pendekar Gila sambil terus mengejar sosok tinggi besar berpakaian abu-abu yang terus melesat meninggalkan telaga.
Kejar-mengejar antara Pendekar Gila dengan lelaki tinggi besar berpakaian abu-abu pun terus berlangsung. Sena hampir saja mampu mencapai lelaki itu. Namun tiba-tiba lelaki berambut putin terurai panjang itu melemparkan sesuatu dari tangannya. Wusss! Glaaar...! Ledakan keras terdengar, disusul kepulan asap tebal berwarna hijau. Melihat asap tebal itu mengepung dirinya, Pendekar Gila terkejut. Dengan gerakan cepat tubuhnya melompat menghindar dari sergapan asap beracun itu. Namun ketika terbebas dari kepungan asap, Pendekar Gila sudah tak melihat lagi lelaki berpakaian abu-abu yang dikejarnya.
“Ah, tolol sekali aku ini!” gumam Pendekar Gila dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang ke sekeliling tempat itu, berusaha mencari ke mana lelaki berbadan tinggi besar lari. Namun tetap tak ditemukannya lelaki berambut putih panjang tadi.
Dipasangnya mata dan telinga dengan sikap was- pada penuh. Dipusatkan seluruh kemampuan untuk mengawasi tempat itu. Namun ternyata tak ada suara apapun, kecuali desau angin menerpa dedaunan dan beberapa kicau burung pulang ke sarangnya.
“Aha, kurasa ada baiknya aku menyelidiki di dalam hutan ini. Siapa tahu ada yang mencurigakan,” pikir Sena. Kakinya segera melangkah masuk ke hutan. Mata dan telinganya dipasang tajam-tajam dan waspada.
Swing! Tiba-tiba, sebuah belati kecil melesat kencang ke arah kepalanya.
“Aits!” dengan cepat Pendekar Gila memiringkan tubuh ke samping kiri, mengelakkan sambaran pisau itu. Sehingga benda itu hanya beberapa jari melesat di samping kanan kepalanya.
Jrabs! Pisau itu menancap di batang pohon tak jauh dari tempat Pendekar Gila.
“Edan! Hi hi hi...! Rupanya kau mau main-main, Setan Belang!” teriak Pendekar Gila seraya melesat ke tempat asal pisau itu. Tubuhnya melesat cepat. Namun baru beberapa langkah dia berlari, seketika langkahnya terhenti. Di hadapannya berdiri dengan garang sesosok serigala hitam bertubuh sangat besar. Serigala itu luar biasa besarnya. Matanya yang merah kehitaman mencorong tajam memperlihatkan kebuasan.
“Auuu...! Grrr...! Aaauuung...!”
Pendekar Gila kaget dan keheranan melihat kehadiran serigala besar yang secara tiba-tiba. Dengan kening berkerut dan mata terus mengawasi makhluk aneh itu, Pendekar Gila melangkah mundur beberapa tindak. Hatinya kembali tersentak kaget ketika serigala hitam itu mengeluarkan suara keras menggelegar dan memekakkan telinga. Tampak gigi- giginya yang runcing ketika moncongnya terbuka.
“Aauuu...! Grrr..! Aaauuu...!” “Aha rupanya kau hendak main-main denganku, Raja Hutan? Hi hi hi...!” Pendekar Gila cekikikan dengan kaki masih melangkah mundur. Matanya masih menatap tajam kepada serigala itu. Binatang buas itu terus membuka mulutnya yang mengeluar- kan cairan bening, lidahnya menjulur-julur seolah-olah menjanjikan kematian bagi siapa pun yang berani melawannya.
Merasa mendapat tantangan dari Pendekar Gila, binatang itu tampak kian marah. Kepalanya yang besar digetar-getarkan, hingga air liur dari mulutnya terciprat ke rerumputan. Kemudian, dengan cepat tiba-tiba serigala hitam itu melompat menyerang Pendekar Gila. Kedua kaki depan, dengan kuku- kukunya yang tajam siap menerkam kepala pemuda itu. Dan moncongnya pun membuka lebar, mem- perlihatkan gigi-giginya yang runcing.
“Aits! Hea...!” Dengan cepat Pendekar Gila melompat ke samping. Dilebarkan kaki kirinya, sementara kaki kanannya ditekuk. Lalu dengan cepat, tangan kanan- nya menghantam perut serigala yang melompat di samping tubuhnya.
“Hih...!” Begk!
“Auuu! Grrr...!” Serigala besar itu menggeram sengit. Tubuhnya terpental ke depan, karena terkena hantaman tangan Pendekar Gila. Setelah bergulingan, dengan penuh amarah serigala besar itu kembali berdiri siap menerkam. Mulutnya dibuka, menunjukkan gigi- giginya yang runcing. Sedang sepasang matanya yang merah kehitaman menyorot tajam mangsanya.
“Auuu! Grrr...! Aauuu...!” “Aha, rupanya kau kuat juga, Kawan! Hi hi hi...! Baiklah kalau kau mau main-main denganku,” gumam Sena sambil cengengsan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Dengan cepat Pendekar Gila membuka jurusnya yang bernama 'Kera Gila Menari Mencengkeram Mangsa'. Gerak-gerik tubuhnya seperti seekor kera gila, menari-nari dengan kedua tangan bergerak mencengkeram dan mencakar.
“Auuu! Grrr..! Aaauuu...!” Dengan penuh amarah, serigala besar itu kembali melompat. Namun dengan gerakan aneh, Pendekar Gila segera meliukkan tubuh. Tingkah lakunya persis seperti seekor kera.
“Hi hi hi...! Nguk.... Nguk” Sambil menggaruk- garuk kepala dan menepuk-nepuk pantat, Pendekar Gila mengejek lawannya. Hal itu membuat serigala besar itu bertambah marah. Dengan menggeram keras, binatang itu melompat hendak mencengkeram Pendekar Gila.
“Auuu...! Grrr! Auuu...!” Wrrr! “Aits! Hi hi hi...! Tak kena, Binatang Tolol!” ejek Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang konyol. Mulutnya cengengesan, tangannya bergerak-gerak seperti seekor kera yang kegirangan dengan kaki berjingkrakan.
Serigala besar itu tampaknya sangat marah melihat tingkah laku Pendekar Gila. Sepertinya binatang buas itu, ada yang memerintah atau dalam pengaruh sihir. Hal itu dapat dilihat dari sikap dan gerak-geriknya yang mirip makhluk berakal. Binatang itu seakan menaruh dendam dan rasa benci terhadap Pendekar Gila.
“Aha, kurasa ada yang menyuruh kau, Binatang Tolol! Baiklah, aku akan meladenimu,” tantang Pendekar Gila sambil membuka jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'.
“Grrr...! Auuu...!” Binatang besar itu melompat dengan cakaran kuku-kukunya yang tajam. Namun dengan cepat, Pendekar Gila melompat pula ke samping. Tangannya bergerak menepuk ke kepala binatang besar dan ganas itu.
“Heaaa!” Plak! “Auuu...! Grrr!” Serigala itu seketika melolong keras kesakitan. Tubuhnya terpental ke belakang. Kepalanya hancur, terhantam telapak tangan Pendekar Gila. Binatang itu terus melayang, dan baru berhenti ketika meng- hantam pohon, dan jaruh dengan menimbulkan suara gedebum yang sangat keras.
Buggg! Pendekar Gila menarik napas dalam-dalam. Kepalanya digeleng-gelengkan. Seakan dirinya merasa tak tega untuk membunuh binatang itu. Namun jika tak dibunuh, dialah yang menjadi mangsa binatang buas itu.
“Ah, kasihan sekali kau, Binatang malang! Tuanmu memang jahat, menyuruhmu menghantar nyawa. Ah ah ah, tuanmu itu pengecut sekali,” gumam Sena. Matanya menatap bangkai serigala yang tubuhnya hancur. Kemudian dengan menggeleng kepala, Pendekar Gila segera melangkah meninggalkan tempat itu.
Mentari telah tenggelam di bumi sebelah barat, menjadikan keadaan di sekitar Desa Karang Bale gelap. Di telaga yang tadi tampak beberapa gadis- gadis Desa Karang Bale, kini telah sepi. Hanya air telaga yang masih mengerucuk dari pancuran.
***

5
Malam terus merayap dengan kegelapan yang menyelimuti bumi. Suasana Desa Karang Bale nampak sepi. Pintu rumah-rumah penduduk sudah tertutup. Warga Desa Karang Bale dicekam rasa takut. Terutama mereka yang memiliki anak perawan. Mereka takut kalau anaknya diculik seperti yang terjadi pada Watiri, anak Ki Pardi. Namun meski rumah-rumah penduduk nampak sepi, di pos-pos ronda, beberapa warga desa nampak melakukan penjagaan.
Setiap gardu, nampak lima orang berjaga-jaga. Kegiatan itu memang diperintah kepala desa mereka, agar tak terulang kembali kejadian yang menimpa keluarga Ki Pardi. Bahkan anak-anak gadis, sejak sore telah dilarang keluar dari rumah.
Malam semakin larut, dengan hawa dingin yang terasa menusuk tulang. Rasa kantuk pun mulai menyerang para petugas ronda. Namun mereka tetap berusaha untuk melek, agar tidak tertidur dalam nienjalankan ronda.
“Huah, kenapa mataku ngantuk sekali?” keluh Walang Keket.
“Ya, aku pun merasakan hal itu,” sambung Walang Kadut.
Kelima Walang Sakti seketika merasakan hawa kantuk yang tak terkira. Namun salah seorang di antara mereka, ada yang nampaknya berpura-pura mengantuk. Walang Kerik memang berpura-pura mengantuk.
Sebenarnya lelaki itu belum mengantuk sama sekali, nampaknya ada sesuatu yang hendak direncanakannya.
Satu persatu, keempat saudara seperguruannya pun tertidur lelap tak tahan diserang kantuk. Walang Kerik tampak tersenyum penuh kemenangan. Dengan tenang, dirinya melangkah meninggalkan gardu tempat keempat saudara seperguruannya tertidur.
“Pendekar Gila, kini terimalah pembalasanku!” dengus Walang Kerik penuh dendam. Rupanya kejadian siang tadi, masih terus melekat di dalam dadanya. Dirinya merasa dipermalukan di depan orang oleh Pendekar Gila.
Dengan langkah mantap, Walang Kerik menuju sebuah rumah seorang saudagar. Matanya memandang ke sekelilingnya, berusaha meyakinkan diri kalau malam itu tak seorang pun yang melihat perbuatannya.
Sesaat Walang Kerik menyelinap di semak- semak. Matanya terus memperhatikan rumah Juragan Kanca. Kemudian setelah tak nampak tanda- tanda adanya tanggapan pemilik rumah, Walang Kerik keluar. Kemudian dengan menggunakan golok, dicongkelnya pintu rumah Juragan Kanca.
Ternyata tadi Walang Kerik melemparkan tanah yang telah dijampi-jampi dengan ilmu sirep 'Siti Silem' yang membuat penghuni rumah terlelap dalam tidurnya. Dengan bebas, Walang Kerik pun segera bergerak menggasak harta milik Juragan Kanca tanpa ada seorang pun yang memergoki.
***

Sementara itu, sesosok bayangan tinggi besar berkelebat cepat dengan tenangnya. Bayangan abu- abu itu, sepertinya tak mengalami kesulitan sedikit pun untuk masuk ke Desa Karang Bale. Bahkan sambil tertawa terbahak-bahak terus melangkah menuju sebuah rumah penduduk.
“Hua ha ha...! Orang-orang bodoh! Mereka kira Datuk Raja Beracun tak akan mampu masuk ke Desa Karang Bale,” ujar sosok bayangan itu yang ternyata Datuk Raja Beracun. Langkah kakinya lebar-lebar, menuju rumah Ki Palongan.
Desa Karang Bale bagaikan tertidur. Tak ada seorang pun yang masih terjaga. Semua warga desa terkena ajian sirep yang dilancarkan Datuk Raja Beracun. Bahkan Walang Kerik yang semula hendak bermaksud jahat terhadap Pendekar Gila, kini nampak tertidur pulas di bawah sebatang pohon asam yang tumbuh di tepi jalan.
Datuk Raja Beracun terus melangkah menyelusuri jalanan Desa Karang Bale dengan aman. Di bibirnya tersungging senyum, ketika melihat seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan pakaian seorang pesilat berwarna biru mengkilap tertidur pulas. Di sampingnya tergeletak barang-barang berharga.
“Maling tolol!” gumam Datuk Raja Beracun. “Hm, tapi kurasa dia orang Desa Karang Bale juga. Biar lebih baik nanti kubawa saja.”
Setelah memperhatikan Walang Kerik sesaat, lelaki bertubuh tinggi besar itu meneruskan langkahnya. Tak lama kemudian, Datuk Raja Beracun telah sampai di rumah yang dituju. Perlahan Datuk Raja Beracun mengintai lewat celah bilik rumah itu. Bibirnya tersenyum, menyaksikan seorang gadis tertidur dengan pakaian tersingkap. Sehingga pahanya nampak terbuka, mengundang rangsang kelelakiannya.
“Hm,” gumam Datuk Raja Beracun tersenyum. Perlahan-lahan kuku jarinya yang panjang, men- congkel daun jendela kamar itu. Kemudian dengan tenang, Datuk Raja Beracun melangkahi jendela kamar Serani. Sementara gadis itu masih tertidur dengan pulas. Pahanya yang terbuka, menjadikan mata Datuk Raja Beracun yang merah melotot tak berkedip. Beberapa kali lelaki berusia sekitar enam puluh tahun itu harus menelan ludah.
Dengan senyum terulas di bibir, perlahan-lahan Datuk Raja Beracun mengangkat tubuh Serani. Kemudian dengan cepat, melesat meninggalkan rumah Ki Palongan. Namun tiba-tiba....
“Aha, rupanya kau iblisnya!” terdengar suara sapaan keras dari arah barat. Bersamaan dengan itu, muncul seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tingkah lakunya seperti orang gila. Mulutnya cengengesan, sedangkan tangannya menggaruk- garuk kepala.
Datuk Raja Beracun tersentak kaget. Matanya yang merah, menatap dengan tajam pada Pendekar Gila. “Bocah Gila, kau selalu ikut campur urusanku!” bentak Datuk Raja Beracun geram. Gigi-giginya saling bergemeratukan menahan marah. Matanya yang merah membara, tampak semakin garang bagaikan mengandung bara api.
“Hi hi hi..., lucu sekali! Bagaimana aku tak ikut campur, Iblis Cabul?! Tentunya kaulah yang telah membunuh salah seorang gadis desa ini serta memperkosanya,” tukas Pendekar Gila dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kurang ajar! Apa urusanmu!” bentak Datuk Raja Beracun sengit.
“Aha ha ha, bukankah sudah kukatakan, aku tak suka dengan perbuatanmu!” balas Sena tak mau kalah.
“Hm, kalau begitu kau harus mampus! Hea...!” dengan penuh amarah, Datuk Raja Beracun segera menyerang Pendekar Gila. Dirinya menyangka kalau Pendekar Gila, tak ubahnya orang-orang gila yang sering dilihatnya. Itu sebabnya Datuk Raja Beracun menyerang dengan tak sepenuhnya.
Melihat lawan melakukan serangan, dengan cepat Pendekar Gila bergerak menghindar. Diguna- kannya jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuh- nya meliuk-liuk laksana menari, kemudian setelah lepas dari serangan lawan, Pendekar Gila menepuk- kan tangannya.
“Hats! He...!” Wrt! “Heh?!” Datuk Raja Beracun tersentak kaget dengan mata semakin melebar. Kumisnya yang tebal, tampak naik turun karena keheranan bercampur geram menyaksikan kejadian aneh. Gerakan liukan dan tepukan yang dilakukan pemuda gila itu, kelihatan pelan dan lemah. Namun kalau saja Datuk Raja Beracun tak segera melompat, niscaya dadanya akan jebol terkena tepukan itu.
“Hm, rupanya pemuda ini bukan sembarangan gila. Dari gerak-geriknya, mengingatkan aku pada seorang pendekar yang puluhan tahun pernah malang-melintang tak terkalahkan. Hm, ada hubungan apa dia dengan Pendekar Gila dari Goa Setan itu?” tanya Datuk Raja Beracun dalam hati dengan tatapan mata tajam pada Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Bocah Gila, siapa gurumu!” bentak Datuk Raja Beracun.
“Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Ki. Mengapa kau mesti bertanya tentang guruku? Hm, kalau guruku yang melihat perbuatanmu, maka guruku tak akan mengampunimu!” balas Pendekar Gila membentak keras. Namun tingkahnya masih tetap gila. Cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Sombong! Kau kira gurumu akan berani meng- hadapiku!” dengus Datuk Raja Beracun pongah. “Tak ada yang berani menghadapi Datuk Raja Beracun di rimba persilatan!”
“Aha, kurasa kaulah orang yang paling sombong, Datuk Iblis! Baiklah, kukatakan padamu bahwa aku murid Singo Edan atau cucu murid Pendekar Gila dari Goa Setan!” ujar Sena tegas. Hal itu membuat mata Datuk Raja Beracun membelalak kaget. Perlahan kakinya melangkah mundur beberapa tindak, setelah mendengar siapa sebenarnya pemuda gila di hadapannya.
“Heh?! Kau...?!” “Hua ha ha...! Kurasa kau harus segera sadar, Datuk Iblis! Lepaskan gadis itu, lalu ikut aku!” ajak Pendekar Gila.
“Cuih! Walau kau cucu murid Pendekar Gila dari Goa Setan, aku Datuk Raja Beracun tak akan mundur! Hea...!”
Dengan masih memanggul tubuh Serani, Datuk Raja Beracun menyerang Pendekar Gila. Tangannya yang berkuku panjang hitam mengandung racun, bergerak mencakar dan menusuk dada serta wajah Pendekar Gila.
Wrt! “Uts! Aha, kau memang manusia jorok, Datuk Iblis! Sampai kuku-kuku saja tak kau urus!” ledek Pendekar Gila dengan harapan Datuk Raja Beracun akan marah sekali, sehingga dia akan terus mengulur waktu sampai semua warga Desa Karang Bale terjaga.
“Cuih! Jangan banyak mulut! Terimalah jurus 'Sengatan Kala'ku ini! Hea...!” meski dengan tangan satu, Datuk Raja Beracun terus bergerak menyerang Pendekar Gila. Namun dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' Pendekar Gila terus bergerak meliuk ke sana ke mari menghindari serangan kemarahan Datuk Raja Beracun.
“Cuih! Sayang aku tak ada waktu untukmu, Bocah Gila! Terimalah ini!” bersamaan dengan habisnya kata-kata itu, tangan Datuk Raja Beracun melempar- kan tiga buah benda ke arah Pendekar Gila.
Wrt Wrt! Wrt! “Uts!” Dengan cepat Pendekar Gila melompat dan ber- jumpalitan beberapa kali ke belakang menghindari serangan rahasia itu itu.
Dar! Dar! Glarrr! Ledakan dahsyat menggelegar terdengar. Dan seketika di sekitar tempat Pendekar Gila berada tertutup asap merah yang pekat dan mengandung racun.
“Uh! Hea...!” Pendekar Gila segera menarik napas dalam-dalam, kemudian diangkatnya kedua tangan ke atas. Lalu ditarik dan diletakkan di pinggang. Kemudian dengan cepat, didorongkan kedua telapak tangan mengerahkan ajian 'Inti Bayu' ke arah kabut tebal yang menyelimuti sekelilingnya.
Wus! Angin kencang bergulung-gulung seketika keluar dari kedua telapak tangannya. Dalam sekejap kabut merah beracun telah tersapu bersih. Namun kembali Pendekar Gila tak menemukan Datuk Raja Beracun.
“Ah, setan! Dia lepas lagi!” geram Sena. Dua kali dia mengalami kegagalan mengejar Datuk Raja Beracun. “Hi hi hi..., tolol sekali aku ini!”
Dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila melangkah meninggalkan tempat itu. Namun baru saja dia melangkah, dia bertemu dengan Ki Tunjung Melur dan Ki Lurah Sentana.
“Oh, kau rupanya, Sena. Tadi kudengar ada pertarungan. Kaukah yang bertarung?” tanya Ki Sentana.
“Aha, aku memang bodoh, Ki. Aku tak dapat menangkap pelakunya. Dia berhasil lolos,” geram Sena. Namun mulutnya masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Hanya sorot mata yang memperlihatkan kalau dirinya sedang kesal dan marah.
“Jadi...?” tanya Ki Tunjung Melur. Pendekar Gila menarik napas dalam-dalam. Kemudian kembali pada tingkah lakunya yang konyol. Bibirnya ter- senyum-senyum, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Kalian kenal Datuk Raja Beracun?” tanya Sena. “Datuk Raja Beracun?!” desis Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur hampir bersamaan. Mata keduanya membelalak lebar, sepertinya kaget mendengar sebutan itu.
“Aha, benar. Apakah kalian kenal?” tanya Sena menegaskan.
“Tidak. Selama ini, kami tak pernah mendengar seorang datuk berada di desa ini,” jawab Ki Lurah Sentana yang menjadikan Pendekar Gila nyengir dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Ah ah ah, sulit. Bagaimanapun aku harus bisa menangkapnya. Mungkin kalau tertangkap, kalian akan mengenalnya,” ujar Sena dengan nada agak menyesal.
“Tapi kau harus hati-hati, Sena. Datuk bukanlah orang sembarangan,” ujar Ki Tunjung Melur meng- ingatkan.
“Aha, benar. Tetapi sehebat apa pun seorang datuk, jika melangkah di jalan sesat, Hyang Widi tak akan merestui,” ujar Sena setengah berfilsafat
“Ya ya, kau benar,” sahut Ki Sentana. “Oh ya, apakah dia juga membawa gadis?”
“Benar, Ki. Gadis anak pemilik rumah itu,” jawab Sena sambil menunjuk rumah keluarga Ki Palongan.
“Hah?!” Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur terbelalak. “Ayo kita ke sana!” ajak Ki Sentana. Mereka pun segera berlari ke rumah Ki Palongan. Di situ Ki Sentana menemukan bekas ledakan. Hal itu terlihat dari semburatan tanah. Namun mereka tahu, tentunya bekas ledakan itu dilakukan Datuk Raja Beracun untuk menghindar dari kejaran Pendekar Gila. Malam itu pula, Desa Karang Bale gempar dengan hilangnya Serani. Warga desa yang baru terjaga akibat ajian sirep 'Mega Mendung' yang ditebarkan Datuk Raja Beracun, berbondong-bondong datang ke tempat kejadian.
***

Esok paginya, belum juga selesai masalah hilangnya Serani, mereka digemparkan dengan diketemukannya Walang Kerik mencuri di rumah Juragan Kanca. Hal itu menjadikan Ki Sentana, Ki Tunjung Melur dan Pendekar Gila tersentak kaget. Mereka yang mendapat laporan dari warga segera berangkat ke balai desa. Sementara Walang Kerik telah berada di sana bersama beberapa warga yang membawanya.
Betapa gusar dan marahnya Ki Lurah Sentana, merasa nama baiknya sebagai Kepala Desa Karang Bale dicemarkan oleh Walang Kerik.
“Kau tahu, apa akibat dari perbuatanmu, Walang Kerik?!” bentak Ki Lurah Sentana di balai desa.
Walang Kerik tidak menyahut. Dirinya hanya menundukkan kepala, tak berani bertatap mata dengan Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur.
“Dengan tindakanmu, seorang gadis hilang. Dan kau sudah tahu, apa yang bakal terjadi!” bentak Ki Tunjung Melur geram. Matanya menatap tajam pada Walang Kerik yang masih menunduk, tak berani beradu pandang.
“Memalukan!” dengus Ki Lurah Sentana. “Maafkan saya, Ki. Sebenarnya bukan maksud saya melakukan hal tercela itu,” ujar Walang Kerik penuh rasa sesal. Kepalanya masih menunduk dalam.
“Hm, apa sebenarnya alasanmu melakukan tindakan tercela itu, Walang Kerik?!” bentak Ki Tunjung Melur ingin tahu, mengapa anak buahnya tiba-tiba berlaku pengecut dan melakukan tindakan tak terpuji.
Lama Walang Kerik tak menyahuti pertanyaan Ki Tunjung Melur. Perlahan-lahan wajahnya ditengadah- kan, kemudian melirik wajah Pendekar Gila yang berdiri di samping Ki Sentana.
“Saya..., saya ingin mencelakakan Pendekar Gila. Dengan mencuri, lalu mengatakan bahwa Pendekar Gila yang melakukannya...,” jawab Walang Kerik yang membuat Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur serta keempat saudara seperguruannya terbelalak kaget. Bahkan Walang Kejer dengan mendengus, melangkah maju mendekati adik seperguruannya itu. Tangannya meraba gagang golok.
“Daripada hidup, lebih baik kau mati saja, Walang Kerik! Kurasa kau pun telah meracuni kami semalam, sehingga kami tertidur!”
Srt! “Tunggu!” tiba-tiba Pendekar Gila berseru, menghentikan apa yang hendak dilakukan Walang Kejer. “Kurasa tak baik jika kita saling bantai. Bukankah kita sedang menghadapi masalah yang cukup berat?”
“Tapi dia benar-benar telah membuat muka kami tercoreng, Tuan Pendekar,” kilah Walang Kejer.
“Aha, tidak juga, Kisanak. Kalau Hyang Widi mau mengampuni hambanya yang bersalah, mengapa kita sebagai sesama manusia tidak?” ujar Pendekar Gila yang menjadikan semua orang yang ada di balai desa bengong.
Mereka tak percaya kalau pemuda gila itu mampu berpikir jernih bahkan mengandung filsafat. Seakan pemuda itu bukan pemuda gila. Mereka semua mulai sadar, bahwa pemuda itu berilmu tinggi. Berpikiran bijaksana dan sopan sikapnya. Meskipun kadangkala tampak menjengkelkan.
Pendekar Gila melangkah mendekati Walang Kerik. Dengan bibir masih cengengesan, dipegangnya pundak Walang Kerik.
“Aha, kau tak bersalah, Kisanak. Hawa nafsu telah mempengaruhimu,” tutur Sena dengan perasaan penuh persahabatan. Hal itu menjadikan Walang Kerik terkesima, tak percaya kalau Pendekar Gila akan sebaik itu.
“Kau mau memaafkan aku, Tuan Pendekar?” tanya Walang Kerik.
“Aha, mengapa tidak? Sebagai hamba Hyang Widi, sepantasnyalah kita saling memaafkan,” sahut Sena seraya menepuk-nepuk pundak Walang Kerik. Di bibirnya masih mengurai senyum, berusaha meyakinkan Walang Kerik.
Dengan malu-malu, Walang Kerik menjura hormat pada Pendekar Gila.
“Kau sungguh baik, Tuan. Betapa kerdilnya aku ini, yang tak mau melihat kedamaian di hadapanku,” desah Walang Kerik sambil memeluk Pendekar Gila. “Sekiranya aku harus dihukum, aku siap.”
“Aha, tak perlu itu terjadi. Bukankah milik Juragan Kanca masih utuh?” tanya Sena.
“Masih. Memang aku tak bermaksud mencuri,” jawab Walang Kerik.
“Aha, kalau begitu tak ada masalah. Kini tinggal meminta maaf pada Juragan Kanca.”
Nampaknya Juragan Kanca yang berada di balai desa, memaafkan tindakan Walang Kerik. Sehingga Walang Kerik pun dibebaskan.
“Kita kini menghadapi masalah yang rumit. Maka itu, kita harus menggalang persatuan dan berwaspada!” kata Ki Lurah Sentana menegaskan. Pendekar Gila memang telah tahu siapa pelakunya, tapi di mana tempatnya kita belum tahu.” “Kita cari saja!” seru warga desa. “Ke mana...?” tanya Ki Tunjung Melur. Semua warga diam. Mereka tak tahu, harus dari mana mencari Datuk Raja Beracun. Sedangkan kalau ketemu pun, mereka tak mungkin dapat mengalah- kan Datuk Raja Beracun. Tentunya Datuk itu bergelar Raja Beracun, karena memiliki ilmu racun yang sangat hebat
“Aha, biarlah aku yang akan berusaha mencari- nya!” Sena mengusulkan. “Kurasa, kini tinggal bagai- mana memperkuat keamanan Desa Karang Bale ini. “ “Baiklah kalau begitu. Memang kita harus bisa secepatnya menghentikan sepak terjang Datuk Raja Beracun,” sambut Ki Lurah Sentana.
“Aha, kalau begitu aku mohon pamit.” “Hati-hati, Sena! Kami berdoa untukmu. Semoga kau selalu dalam lindungan Hyang Widi, sehingga kita bisa bertemu lagi,” ucap Ki Tunjung Melur.
Pendekar Gila tampak menjura hormat pada kepala desa dan seluruh warga yang ada di balai desa itu kemudian melangkah keluar. Setelah sampai di halaman balai desa, tiba-tiba secepat kilat Pendekar Gila melesat meninggalkan tempat itu. Mata orang-orang yang berada di balai desa terbelalak kaget menyaksikan kepergian pemuda itu. Mereka menggeleng-geleng kepala karena kagum. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tak sempat melihat gerakan Pendekar Gila.
“Hah! Gila! Manusia apa dia?” gumam yang lain. “Wuah, dia manusia atau siluman?” tanya yang lain. “Malaikat kali tuh,” sahut rekannya.
Semua benar-benar terperangah, menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah gila itu melesat bagaikan angin. Sehingga dalam sekejap saja telah menghilang. Bukan hanya para warga, tetapi Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur serta Lima Walang Sakti turut menggeleng-gelengkan kepala.
“Benar-benar bukan pendekar sembarangan,” gumam Ki Sentana dengan terkagum-kagum.
“Untung dia mau memaafkanmu, Walang Kerik. Kalau saja dia tak mau, entah sudah menjadi apa kau,” jumam Ki Tunjung Melur seraya menarik napas dalam-dalam.
“Saudara-saudara, seperti apa yang dikatakan Pendekar Gila, kita harus meningkatkan keamanan desa kita!” kata Ki Lurah Sentana. “Kita harus meningkatkan kewaspadaan!”
“Setuju...!” sahut Warga. “Kita juga harus menyelidiki orang-orang yang pantas kita curigai,” kata Ki Tunjung Melur menambahkan.
“Setuju...!” seru warga penuh semangat
***

6
Pagi dengan sinar mataharinya yang terasa hangat, menyelimuti Desa Serotan. Kicau burung yang riang, menambah keindahan suasana pagi. Ditingkahi pula desiran angin yang meniup dedaunan, menghembus- kan hawa sejuk.
Pagi itu, Pendekar Gila nampak sedang me- langkah di jalan utama Desa Serotan untuk meneruskan perjalanan dalam rangka mencari Datuk Raja Beracun. Sambil bersenandung kecil, Sena terus melangkahkan kakinya.
“Ah, ke mana aku mencari datuk iblis itu?” gumam Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Dua hari sudah dia berusaha mencari tempat persembunyian Datuk Raja Beracun. Tetapi tak juga dapat menemukannya. Padahal hampir semua bukit dan pegunungan telah didaki. Beberapa desa telah dilalui sambil bertanya pada kepala desa mengenai Datuk Raja Beracun. Namun anehnya semua tak ada yang mengenai.
Pagi ini, dia telah sampai di Desa Serotan, desa kelima yang menjadi persinggahannya, selama mencari Datuk Raja Beracun. Kalau di Desa Serotan dia tak menemukan persembunyian Datuk Raja Beracun, entah di mana lagi harus mencari.
Pendekar Gila terus melangkah menyelusuri jalanan yang membelah Desa Serotan, ketika tiba-tiba matanya melihat orang-orang berkerumun. Nampak- nya ada sesuatu yang menjadi perhatian orang-orang itu.
“Heh, ada apa di sana?” gumam Sena dengan kening mengerut. Matanya menyipit, memperhatikan kerumunan orang yang tampaknya tengah melihat sesuatu. Hatinya tertarik untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi.
Pendekar Gila bergegas melangkah mendekati kerumunan orang di bawah sebatang pohon ara di depan sebuah kedai.
“Aha, Kisanak. Kalau boleh kutahu, ada apa gerangan?” tanya Sena pada seorang lelaki muda berpakaian petani yang baru saja keluar dari kerumunan.
“Seorang gadis diketemukan mati dengan keadaan mengerikan,” sahut lelaki muda petani dengan wajah meringis, setelah melihat keadaan gadis yang disebutnya.
“Maksud Kisanak?” tanya Sena ingin tahu. “Ada seseorang yang telah menculik gadis desa ini, lalu menaruh mayat seorang gadis dari desa lain yang keadaannya sangat mengerikan,” tutur lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahun itu dengan tubuh bergidik.
“Aha, terima kasih.” Setelah mengangguk, Pendekar Gila pun segera menuju tempat kerumunan. Dengan menyeruak di sela-sela kerumunan orang, dia berusaha membuktikan sendiri.
“Hah?!” Mata Pendekar Gila membeliak dengan mulut ternganga lebar, setelah mengetahui siapa mayat itu. Meskipun dadanya berantakan dan kepalanya terpisah dari leher, Pendekar Gila masih mampu mengenalinya. Mayat itu ternyata gadis Desa Karang Bale yang tak lain Serani.
“Ah ah ah, benar-benar biadab! Iblis keparat..!” Sena memaki-maki sendiri. Hal itu menarik perhatian orang-orang yang tengah ramai melihat mayatnya. Orang-orang Desa Serotan mengerutkan kening, menyaksikan tingkah laku aneh pemuda itu.
“Pemuda gila, mau apa dia?” sungut seorang lelaki berbadan tinggi tegap dengan muka garang. Sepertinya lelaki berusia sekitar lima puluh tahun ini, tak suka dengan tutur kata Pendekar Gila dan sikapnya.
“Bocah gila, pergi sana!” bentak teman lelaki tinggi tegap itu mengusir Pendekar Gila yang justru tertawa cekikikan. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Aha, galak sekali kau, Ki,” ujar Pendekar Gila masih cengengesan.
“Huh, kau tak ada gunanya!” Lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan tubuh gempal serta kepala botak itu berusaha mendorong tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat, Sena menggeser kakinya melebar ke samping. Sehingga dorongan tangan orang itu hanya mengenai angin.
Lelaki berpakaian kuning itu terhuyung hampir jatuh karena dorongannya tak mengenai sasaran. Betapa marahnya dia karena melihat pemuda itu mampu menghindari dorongannya.
“Kurang ajar! Rupanya kau bukan orang gila sembarangan!” bentak lelaki tinggi besar marah, melihat pemuda gila itu mampu mempermainkan temannya. “Rupanya kau datang ke Desa Serotan mau membuat keributan!”
“Aha, kurasa sebaliknya, Ki. Kalian berdualah yang hendak mengail di air keruh,” tukas Sena sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat kemarahan kedua lelaki berwajah jarang itu semakin memuncak.
“Kurang ajar! Rupanya kau harus berkenalan dulu dengan Sepasang Banteng Kuning!” dengus lelaki tinggi tegap beralis tebal.
“Aha, cocok sekali nama kalian banteng. Ah ah ah, tak tahunya kalian memang seperti banteng dungu,” ejek Sena sengaja memancing kemarahan kedua orang yang mengaku sebagai Sepasang Banteng Kuning. Mulutnya masih cengengesan, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Kurang ajar! Kau memang harus dihajar, Bocah Gila!” geram lelaki berbadan gempal dan agak pendek. Matanya membelalak marah. Sambil mendengus keras, giginya saling beradu karena menahan amarah.
“Aha, kurasa justru kalian yang perlu dihajar,” sahut Sena seraya tertawa cekikikan, yang membuat Sepasang Banteng Kuning bertambah marah.
“Bedebah! Kuremukkan kepalamu, Bocah Gila!” Lelaki tinggi besar itu melesat menyerang dengan menghantamkan pukulan yang dinamakan 'Banteng Menanduk'.
“Remuk kepalamu! Heaaa...!” “Uts! Hi hi hi...! Belum, Banteng Tolol!” sahut Sena sambil berkelit dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, diikuti gerakan kedua kakinya yang kadang melebar, menekuk, atau menyilang dengan tubuh agak merendah. Sementara tangannya tak tinggal diam, melakukan tamparan dengan telapak tangan ke dada lawan. Wrt!
“Heh?!” Lelaki bertubuh tinggi besar itu tersentak kaget bukan kepalang menghadapi serangan aneh yang dilakukan lawannya. Matanya terbelalak keheranan seakan tak percaya pada gerakan lawan yang baru saja dilihatnya. Gerakan meliuk dan menepuk yang dilakukan Pendekar Gila, nampaknya sangat pelan dan lemah. Namun pukulan-pukulan itu ternyata mengandung kekuatan dahsyat yang berbahaya.
“Ilmu gila!” seru lelaki berbadan gempal yang juga terkejut bukan main menyaksikan jurus-jurus yang dilakukan Pendekar Gila. Belum pernah ditemukan- nya jurus aneh seperti yang sekarang disaksikan.
“Celaka! Dia bukan orang sembarangan, Wungul,” ujar lelaki tinggi besar pada temannya.
“Ya. Gerakannya nampak aneh. Sepintas kelihatan pelan dan tak bertenaga, Pulut,” sahut Wungul. “Kita harus berhati-hati! Siapa tahu dia yang dimaksud oleh datuk.”
“Maksudmu Pendekar Gila?” tanya Pulut. “Ya. Kulihat dari tadi gerak-geraiknya sama dengan yang dikatakan datuk,” jawab Wungul berbisik. Sedangkan matanya masih memperhatikan gerak-gerik Pendekar Gila yang konyol, sepertinya hendak menyelidiki pemuda itu.
“Kau benar, Wungul. Hm, kita harus segera pergi. Pemuda itu menurut datuk, bukan lawan kita,” bisik Pulut mengingatkan temannya.
“Tapi...” “Ayolah!” ajak Pulut. “Celaka kalau kita pergi, karena pemuda gila ini tentu mengikuti kita. Bahaya, ini tak boleh terjadi. Datuk sudah berpesan tak seorang pun boleh tahu tempat persembunyiannya....”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Pulut “Tak ada lain, menyingkirkannya atau kita yang tersingkir dari dunia,” sahut Wungul yang membuat Pulut menghela napas berat. Dia menyadari, menghadapi pemuda gila itu bukan hal yang mudah. Mungkin ilmu mereka masih jauh di bawah lawan yang masih muda belia itu.
“Itu gila!” rungut Pulut. “Ilmu kita tak sebanding dengan ilmunya!”
“Tapi tak ada jalan lain.” “Itu sama saja kita bunuh diri,” Pulut masih bersungut-sungut, tak setuju dengan apa yang diusulkan temannya. Bagaimanapun dia merasa kalau ilmu mereka tak berarti jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki Pendekar Gila. Jangankan mereka, Datuk Raja Beracun pun mungkin harus berpikir tujuh kali untuk menghadapi pemuda gila ini.
“Ya, kau memang benar. Tapi tak ada cara lain.” “Bodoh! Pakai otakmu, Wungul! Lebih baik kita pergi ke mana saja, asal pemuda ini tak mengejar kita. Meskipun mengejar, dia tak akan tahu di mana datuk berada,” kata Pulut.
“Baiklah. Ayo kita pergi!” ajak Wungul. Tanpa menghiraukan bagaimana tanggapan orang-orang yang ada di tempat itu, Wungul dan Pulut segera melesat kabur meninggalkan Pendekar Gila.
“Aha, kedua orang itu sangat mencurigakan,” gumam Sena. “Kudengar tadi mereka menyebut datuk. Hm, kurasa Datuk Raja Beracun yang disebutnya.”
Pendekar Gila yang tadi menggunakan ajian 'Penyadap Rungu', tahu apa yang mereka bisikkan. Namun mulutnya sejak tadi hanya cengengesan, berpura-pura tak tahu apa yang mereka bicarakan.
“Aha, aku harus mengejar mereka,” gumam Sena, kemudian secepat kilat tubuhnya melesat meninggalkan Desa Serotan menuju selatan, arah yang dituju Sepasang Banteng Kuning.
***

Dengan ilmu lari 'Sapta Bayu', dalam sekejap saja Pendekar Gila dapat memburu kedua orang suruhan Datuk Raja Beracun. Bahkan mampu mendahului di depan mereka.
Sepasang Banteng Kuning terus berlari. Namun tiba-tiba keduanya tersentak dan berhenti, ketika di hadapan mereka telah berdiri Pendekar Gila. Pemuda berpakaian rompi dari kulit ular itu berdiri membelakangi Sepasang Banteng Kuning.
“Heh?!” “Hah...?!” Sepasang Banteng Kuning tersentak kaget dan saling pandang. Keduanya sungguh tak mengira, kalau Pendekar Gila telah sampai di tempat itu. Padahal Hutan Barok telah jauh dari Desa Serotan. Bagaimana mungkin pemuda gila ini tahu-tahu telah berada di Hutan Barok? Pikir keduanya keheranan. Padahal mereka telah mengerahkan tenaga dalam- nya untuk berlari secepat mungkin.
“Hua ha ha...! Selamat bertemu kembali, Kisanak!” sapa Pendekar Gila sambil membalikkan tubuh dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan, semakin membuat Sepasang Banteng Kuning membelalakkan mata.
“Ah?!” “Uh...?!” “Aha, mengapa wajah kalian pucat? Apa kalian sedang sakit? Ah ah ah, kasihan...!” seloroh Pendekar Gila sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Sepasang Banteng Kuning tampak semakin tegang menghadapi Pendekar Gila. Keduanya tahu ilmu yang dimiliki pemuda itu jauh lebih tinggi dari mereka. dari ilmu meringankan tubuh yang dikerahkan untuk mengejar, kedua lelaki berpakaian serba kuning itu dapat mengetahui kehebatan lawan. Betapa tidak! Mereka tak melihat pemuda itu mengejar. Namun tiba-tiba saja telah menghadang di hadapan mereka.
“Bagaimana, Wungul?” tanya Pulut berbisik. “Tak ada jalan lain,” sahut Wungul dengan suara mendesis.
“Kita lawan dia?” tanya Pulut memasukan. “Ya! Tapi kita harus memanggil teman-teman kita. Yang jelas kita tak akan mampu menghadapinya,” usul Wungul. Kemudian tiba-tiba Wungul mengeluarkan suara mirip lolongan serigala. Begitu juga dengan Pulut. “Auuu..!” “Auuu...!” Pendekar Gila tersentak kaget mendengar lolongan keras yang keluar dari mulut Sepasang Banteng Kuning. Namun kemudian kembali ber- tingkah konyol. Mulutnya cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Ah ah ah, baru kali ini kulihat kerbau bisa melolong seperti serigala,” gumam Pendekar Gila yang tertawa-tawa, merasa lucu melihat tingkah kedua orang itu.

No comments:

Post a Comment