7
TUMBAL PERAWAN
oleh Pijar El
1
Sore yang indah melingkupi bumi.
Cahaya merah tembaga di kaki langit sebelah barat menandakan bahwa sang Raja
Siang belum sampai di peraduannya. Bekas perjalanannya masih jelas membias
dalam bentuk lembayung.
Sementara itu di Desa Karang Bale
pun suasana tampak cerah. Desa yang subur dan makmur itu terletak di antara
Pegunungan Sarangan dan Bukit Kundang. Sehingga wajar kalau tak jauh di sebelah
selatan desa itu terdapat telaga yang sangat bening airnya. Apalagi pada
suasana senja yang cerah seperti sekarang ini. Ketika langit membiaskan cahaya
merah lembayung, air telaga tampak begitu indah. Berkilauan karena tertiup
angin yang menimbulkan riak-riak kecil di tengahnya.
Seperti biasanya, di suasana senja
seperti itu gadis-gadis Desa Karang Bale menikmati air telaga. Mereka mandi dan
mencuci sambil bercanda ria, sesuka hati. Sore itu tampak lima orang gadis
berusia dua puluh tahunan tengah mandi sambil bersenda gurau di air telaga.
Lima gadis desa yang tengah mandi
itu, tak menduga kalau tingkah laku mereka dalam pengawasan sepasang mata
tajam. Sepasang mata milik sesosok tubuh yang bersembunyi di balik semak-semak
tak jauh dari telaga itu.
“Hm.... Rupanya di sini gadis-gadis
mandi,” gumam pemilik sepasang mata merah yang terus mengawasi tingkah laku
kelima gadis itu. Di bibir lelaki berbadan tinggi besar dan berwajah garang itu
tersungging senyuman. “Hm... Akan tercapai cita- citaku menjadi orang tersakti
di rimba persilatan! He he he...!”
Lelaki berwajah garang dengan
cambang bauk lebat itu terus bersembunyi sambil mengawasi kelima gadis yang
sedang asyik mandi di telaga. Matanya kini tertuju pada gadis yang sedang asyik
mandi di telaga. Matanya kini tertuju pada seorang gadis berkain warna hijau
daun. Gadis itu tampak cantik sekali.
“Sss...,” lelaki bertubuh kekar
berpakaian jubah abu-abu itu mendesis. Seakan-akan desakan nafsu yang
menggebu-gebu, menyaksikan kemolekan tubuh gadis berkain hijau itu. Beberapa
kali lelaki berusia sekitar enam puluh tahun yang sosoknya masih gagah itu
menelan ludah, berusaha menahan gejolak birahinya. “Sungguh menggairahkan...!”
Kelima gadis Desa Karang Bale itu
masih mandi dengan tenang, tak tahu kalau mereka dalam pengawasan sepasang mata
tajam. Apalagi gadis berkain hijau yang menjadi tatapan utama lelaki garang
itu, nampak sangat riang. Senyumnya yang indah, tersumbar lepas.
“Wirani, kau tak pulang?” tanya
gadis berkain lurik merah yang tampak sudah naik ke darat. Gadis itu segera
membuka kainnya yang basah tanpa canggung-canggung. Dia tak menduga kalau ada
sepasang mata dan balik semak-semak belukar, yang memandang dengan melotot
penuh nafsu.
“Nanti saja! Aku masih ingin
mandi...,” sahut gadis berkain hijau yang dipanggil Wirani. Dia masih berendam
di telaga bersama tiga orang temannya.
“Kalau begitu, aku pulang dulu,”
ujar gadis berkain lurik merah, lalu melangkah meninggalkan keempat temannya
yang masih mandi.
“Hati-hati, Watiri...!” seru Wirani
mengingatkan sambil tertawa riang.
“Memangnya ada apa...?” tanya gadis
yang dipanggil Watiri.
“Siapa tahu ada genderuwo yang suka
jahil...!” ambut gadis berkain biru. Kemudian keempat gadis itu tertawa lepas,
ketika melihat Watiri melotot.
Watiri terus melangkah meninggalkan
telaga. Hatinya agak cemas setelah mendengar godaan keempat temannya.
Bagaimanapun juga, dia hanya seorang diri, berjalan di senja dan harus
melintasi ladang yang penuh dengan pepohonan.
Watiri melangkah tergesa-gesa.
Hatinya tiba-tiba berubah takut atas ucapan teman-temannya. Matanya memandang
ke sekeliling yang sepi, karena sebentar lagi suasana akan gelap. Dengan
langkah- langkah cepat, Watiri terus berjalan melintasi ladang yang di
sekitarnya ditumbuhi pepohonan besar. Ucapan keempat temannya dirasakan seperti
sebuah peringatan baginya. Hatinya semakin tercekam, ketika tiba-tiba nalurinya
mengatakan ada seseorang yang menguntit di belakang.
Watiri menengok ke belakang. Namun
matanya tak melihat siapa pun. Sepi sekali. Keadaan di sekelilingnya semakin
meremang gelap, karena tertutup rimbun pepohonan. Berkali-kali matanya
mengawasi ke sekeliling dan memberanikan diri menengok ke belakang dengan
perasaan takut.
“Oh, mengapa bulu kudukku
meremang?” keluh Watiri sambil memegangi tengkuknya yang terasa sangat dingin.
Matanya masih menyapu ke sekeliling yang gelap dan sepi. Rasa takut pun semakin
mencekam.
Angin senja berhembus perlahan,
membawa hawa dingin yang menusuk ke kulit. Namun tubuh Watiri justru
mengeluarkan keringat, bercampur air telaga yang belum kering benar dari
kulitnya. Langkahnya kembali terhenti, ketika merasakan ada seseorang yang
mengikuti. Kembali dia menyapukan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Namun
tetap tak dilihatnya orang atau apa saja yang menguntit di belakang. Hanya
kesunyian dengan hembusan angin yang semakin membuat Watiri bertambah tercekam
rasa takut. Gadis itu tidak berlari. Seakan hatinya menuntut agar tetap berada
di tempat itu, untuk mengetahui siapa yang sejak tadi menguntitnya.
“Mungkinkah teman-teman yang sedang
meng- goda dan menakut-nakutiku?” tanya Watiri dalam hati menduga-duga. Matanya
kembali memandang ke sekeliling, berusaha meyakinkan diri kalau di sekitar
tempat itu memang tidak ada apa-apa.
Watiri hendak melanjutkan
langkahnya pulang. Namun tiba-tiba terdengar suara gemeresak, seperti kaki
seseorang yang menginjak daun kering.
Kresek! Watiri tersentak.
Langkahnya langsung terhenti. Kemudian kepalanya menoleh ke belakang. Lagi-lagi
tak ada siapa-siapa di belakangnya. Sepi! Tak ada seorang manusia pun di tempat
itu selain dirinya. Perasaan takut semakin mencekam jiwa gadis itu. Tanpa
berteriak atau berlari, Watiri membalikkan tubuh ke belakang, lalu berdiri
mematung sambil mengawasi tempat asal suara tadi. Dia tahu pasti, kalau kebun karet
itu tak ada apa-apanya. Hampir setiap sore selama bertahun-tahun dilewatinya
tempat itu. Tak pernah terjadi sesuatu yang aneh dan menakutkan.
“Ah, mungkin hanya angin atau
binatang,” gumam Watiri berusaha menghibur diri. Gadis itu kemudian melanjutkan
langkah kakinya. Namun tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat muncul dari balik
pohon karet besar. Watiri tersentak kaget. Dia hendak menjerit tapi sosok
bayangan besar itu telah mendahului menotok tubuh Watiri.
Tuk! Tuk! “Ukh!” Keluhan kecil
terdengar dari mulut Watiri. Kemudian tubuh gadis berkain lurik merah itu
terkulai pingsan tak sadarkan diri. Secepat itu pula, sosok tubuh besar
menyambar tubuh Watiri dan membawa pergi menuju selatan.
***
Empat gadis cantik warga Desa
Karang Bale yang masih di telaga bergerak naik, ketika suasana mulai menggelap.
Tanpa menaruh curiga, kalau ada orang yang mengintip, mereka langsung membuka
kain basahan. Kemudian segera berganti dengan gaun mereka.
“Kita pulang, yuk!” ajak gadis
bergaun jingga. “Ayo! Sebentar lagi gelap,” timpal gadis bergaun biru.
Dengan diselingi canda ria, keempat
gadis itu meninggalkan telaga untuk kembali ke rumah masing-masing. Tentu saja
mereka pun melintasi jalan di ladang Kemudian masuk ke perkebunan karet, sama
dengan yang dilewati Watiri. Karena hanya jalan itulah yang terdekat sampai di
kampung mereka.
Suasana sudah mulai gelap. Apalagi
di dalam perkebunan karet itu, cahaya lembayung di langit barat benar-benar
tertutup rimbun dedaunan karet.
“Tentunya Wati ketakutan mendengar
gurauan kita, Wirani,” ujar gadis bergaun coklat.
“Hi hi hi..., kasihan dia, ya?”
sahut Wirani, sepertinya merasa bersalah telah menakut-nakuti temannya.
“Ah, tapi kau tak ada apa-apa,”
selak gadis bergaun kuning.
“Ya. Memangnya ada apa? Setiap hari
kita lewat sini, tak ada gendaruwo seperti yang kamu katakan.”
Keempat gadis itu terus melangkah
sambil bercanda ria penuh kebahagiaan, melintasi kebun karet yang telah mulai
gelap dan sepi.
“Sebentar lagi gelap. Kita harus
segera sampai di rumah,” ajak Wirani pada ketiga temannya. Mereka pun melangkah
semakin cepat, sampai akhirnya tiba di kampung. Keempatnya saling berpisah
untuk menuju rumah masing-masing.
***
Kegelisahan seketika melanda kedua
orang tua Watiri, setelah sejak sore menanti, anaknya belum juga pulang.
Padahal biasanya Watiri telah pulang sejak sore tadi. Bahkan gadis itu biasanya
sudah tidur. “Kang, kenapa anak kita belum pulang?” tanya seorang wanita
berusia sekitar empat puluh tahun dengan wajah cemas, sambil melangkah
mendekati sang Suami yang sedang duduk di dipan ruang tamu rumahnya. Lelaki
setengah baya itu pun, nampaknya sedang menunggu anaknya. Hari telah malam.
Biasanya saat seperti ini Watiri sudah tidur di kamarnya.
“Iya, ya? Ke mana tuh anak?” gumam
lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan wajah gelisah. Nampaknya
lelaki ini sangat mencemaskan k- selamatan putrinya.
“Apa tidak sebaiknya kau tanyakan
pada Wirani atau Rumi, Kang?” saran istrinya.
Ayah Watiri diam. Ditariknya napas dalam-dalam
seakan berusaha membuang perasaan yang meng- gelisahkan jiwanya. Betapa tidak!
Malam telah semakin larut. Suasana kian sepi, tapi Watiri, anaknya belum juga
sampai di rumah.
“Baiklah. Aku akan menanyakan pada
anak Ki Lurah Sentana,” ujar ayah Watiri.
“Hati-hati di rumah, Rah! Aku pergi
dulu untuk mencari Watiri.”
“Hati-hati, Kang! Sebaiknya kau
bawa golok,” ujar Nyi Samirah menyarankan. “Meskipun Desa Karang Bale aman,
hal-hal yang tak terpikirkan, bisa saja terjadi. Bisa saja ada binatang malam
yang ganas. Bukankah dengan membawa senjata bisa jaga diri?” pikir ibu Watiri.
Itu sebabnya perempuan itu menyarankan suaminya agar membawa golok.
“Ya ya, kau benar. Tolong ambilkan
goloknya!” pinta lelaki kurus dengan tubuh jangkung itu.
Nyi Sumirah bergegas mengambilkan
golok suaminya. Tak lama kemudian telah keluar dengan membawa golok. “Ini,
Kang.”
Dimasukkan golok itu ke ikat
pinggangnya. Kemudian lelaki setengah baya berpakaian coklat itu melangkah
meninggalkan rumah untuk mencari tahu, di mana anaknya berada.
Dengan langkah tergesa-gesa, ayah
Watiri menuju rumah Ki Lurah Sentana. Saat itu di rumah Kepala
Desa Karang Bale tampak masih
terang. Sepertinya di rumah Ki Lurah Sentana sedang kedatangan tamu.
“Selamat malam...!” sapa ayah
Watiri pada kedua penjaga rumah Ki Lurah Sentana.
“Selamat malam,” sahut kedua
penjaga itu hampir bersamaan.
“Ada apa, Ki Pardi?” tanya salah
seorang dari kedua penjaga yang berbadan tegak tinggi dengan alis mata tebal.
“Sepertinya ada keperluan penting, Ki. Tak seperti biasanya malam-malam begini
kau datang.”
“Ah, tidak, Ki Barman. Aku hanya
ingin bertemu Ki Lurah,” jawab ayah Watiri yang ternyata bernama Pardi.
“Sebentar, aku sampaikan pada Ki Lurah,” jawab Ki Barman. Kemudian lelaki
berusia lima puluh tahun berpakaian loreng itu melangkah meninggalkan serambi
rumah, untuk menemui Ki Lurah Sentana.
“Suruh dia masuk, Barman!” dari
dalam terdengar suara Ki Lurah Sentana memerintah centeng itu.
Ki Barman melangkah keluar untuk
menemui tamu Ki Lurah itu. Ki Pardi mengangguk dengan mulut mengurai senyum,
karena tadi mendengar suara Ki Lurah Sentana dari dalam rumahnya.
“Ki Pardi, kau disuruh masuk,” ujar
Ki Barman. “Terima kasih,” jawab Ki Pardi. Kemudian setelah memberi hormat pada
kedua jawara penjaga rumah Ki Lurah Sentana lelaki setengah baya itu masuk.
Di dalam rumah Kepala Desa Sentana
saat itu ada seorang tamu yang tak lain adik Ki Lurah Sentana sendiri. Kedua
kakak beradik itu tengah berbincang- bincang. Seketika mereka menghentikan
obrolan, ketika Ki Pardi masuk.
“Selamat malam, Ki Lurah!” sapa Ki
Pardi sambil menjura hormat pada Ki Lurah Sentana dan adiknya, Ki Tunjung Melur
atau yang dikenal dengan sebutan Pendekar Kali Bengawan. Lelaki bertubuh tegap
itu mengurai senyum menerima kedatangan penduduk desa itu.
“Selamat malam,” jawab Ki Lurah
Sentana. “Silakan duduk, Ki!”
Ki Pardi pun menurut duduk. “Ada
apa malam-malam begini kau datang, Ki?” tanya Kepala Desa Karang Bale itu.
“Maaf, Ki Lurah! Apakah Nini Wirani
sudah pulang?” Ki Pardi balik bertanya.
Mendengar pertanyaan aneh itu Ki
Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur mengerutkan kening. Ki Lurah Sentana
langsung menatap lekat wajah Ki Pardi yang menunduk, sepertinya merasa
keheranan dan tak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.
“Sudah. Ada apa, Ki?” tanya lelaki
berusia sekitar enam puluh tahun dengan wajah nampak tenang penuh wibawa. Mata
Ki Lurah Sentana tetap menatap wajah Ki Pardi, seakan ingin menyelidik apa yang
sesungguhnya terjadi.
“Anak saya belum pulang, Ki,” ujar
Ki Pardi, menjawab pertanyaan Ki Lurah Sentana.
“Hah?! Anakmu, Watiri belum pulang?”
ulang Ki Lurah Sentana. Matanya terbelalak kaget mendengar pemberitahuan Ki
Pardi.
“Benar, Ki,” jawab Ki Pardi sambil
meng- anggukkan kepala. Tidak hanya Ki Lurah Sentana, adiknya Ki Tunjung Melur
pun membelalakkan mata karena terkejut.
“Kau tak bergurau, Ki Pardi?” tanya
Ki Lurah Sentana.
“Mana mungkin saya berani bercanda
padamu, Ki
Lurah?”
“Hm,” gumam Ki Lurah Sentana.
Wajahnya seketika berubah kelabu. “Sebentar, kupanggil Wirani dulu...,
Wirani...!”
“Saya, Ayah...!” sahut Wirani dari
dalam. “Kemari sebentar!” perintah Ki Lurah Sentana. Dari dalam, muncul Wirani
dan ibunya. Keduanya mendekat dan duduk di kursi yang masih kosong.
“Ada apa, Ayah?” tanya Wirani
dengan kening mengerut, melihat ayah Watiri ada di rumahnya. Gadis itu tak tahu
apa yang sebenarnya telah terjadi.
“Apakah kau tadi mandi bersama
Watiri?” tanya Ki Lurah Sentana seraya menatap wajah putrinya.
“Benar, Ayah.” Wirani mengangguk
seraya menoleh ke wajah Ki Pardi.
“Pulangnya...? Apa kau bersama
dia?” “Tidak, Ayah. Watiri lebih dahulu pulang,” jawab Wirani, “Memangnya ada
apa, Ayah?”
“Dia belum pulang,” sahut Ki Lurah
Sentana. “Hah?!” Wirani tersentak kaget, mendengar jawaban ayahnya. “Bagaimana
mungkin?” pikir Warani. “Bukankah Watiri pulang lebih dahulu? Bahkan hari belum
begitu petang. Masa dia tersesat?”
“Kau tahu ke mana dia, Wirani?”
“Tidak, Ayah. Kami semua tahu kalau dia telah pulang lebih dahulu. Dan kami
pikir Watiri telah sampai di rumah, ketika kami naik dari telaga,” tutur Wirani
masih dengan kening mengerut. Gadis itu seakan tak percaya dengan apa yang baru
saja didengarnya.
“Mungkinkah ucapanku yang hanya
bergurau benar terjadi?” tanya Wirani dalam hati. “Apakah benar ada. gendruwo
yang suka menculik gadis? Ah, aneh sekali...! Ke mana Watiri sebenarnya?”
Semua yang ada di dalam terdiam
dengan perasaan yang masih bergelut di hati masing-masing. Mereka heran,
mengapa Watiri yang pulang lebih awal justru belum sampai di rumah? Mungkinkah
Watiri tersesat? Rasanya aneh, kalau sampai tersesat. Karena Watiri sejak kecil
hidup di Desa Karang Bale. Seperti gadis-gadis desa atau warga yang lain, telah
belasan tahun lamanya Watiri memahami benar daerah sekitar telaga. Sejak umur
lima atau tujuh tahun mereka telah akrab dengan tempat itu. Sungguh aneh dan
tak masuk akal kalau Watiri tersesat!
“Apakah Ki Pardi telah mencari ke
rumah tetangga terdekat?” tanya Ki Tunjung Melur memecahkan kesunyian.
“Belum,” sahut Ki Pardi. “Cobalah
Ki Pardi! Kalau memang tak ada dan belum juga pulang, tabuhlah kentongan dua
kali. Kami akan segera ke rumah Ki Pardi,” saran Ki Tunjung Melur.
“Baiklah kalau begitu, saya mohon
diri!” “Silakan!” sahut Ki Lurah Sentana. “Selamat malam...!” “Selamat malam!”
sahut Ki Lurah Sentana dan keluarganya.
Ki Pardi pun segera melangkah
keluar dengan perasaan yang semakin tak menentu. Hatinya gelisah dan diliputi
kecemasan, karena tak tahu ke mana anak gadisnya hingga malam begini belum juga
pulang. Apa lagi setelah mendengar penuturan Wirani bahwa anaknya telah pulang
lebih dulu daripada teman-temannya.
“Jangan-jangan, anakku diculik,”
pikir Ki Pardi semakin gelisah. Langkah kakinya semakin cepat, seakan tak sabar
untuk segera sampai di rumah. Hatinya berharap benar sampai di rumah Watiri
telah kembali.
Malam yang gelap, semakin terasa
mencekam jiwanya yang sedang dilanda kegelisahan. Langkah- langkah kaki Ki
Pardi semakin cepat, bahkan kini mulai berlari. Hatinya berharap segera sampai
di rumah dan menemukan anaknya pulang.
Ki Pardi sampai di rumah dengan
napas terengah- engah dan tubuh basah berkeringat setelah meng- hela napas agar
tak tersengal-sengal, tangannya mengetuk pintu.
“Siapa...?” terdengar Nyi Sumirah
dari dalam bertanya.
“Aku...,” sahut Ki Pardi. Tak lama
kemudian, pintu sudah terbuka. Dari dalam muncul istrinya.
“Bagaimana, Kang?” tanya Nyi
Sumirah penuh harap.
“Hh, Nini Wirani telah pulang.
Katanya anak kita malah pulang lebih awal,” desah Ki Pardi seraya menghempaskan
napas panjang-panjang.
“Ke mana anak kita ya, Kang?”
“Itulah yang tak kumengerti. Jangan-jangan...” “Jangan-jangan kenapa, Kang?”
tanya Nyi Sumirah semakin bertambah cemas.
“Anak kita diculik, Rah.”
“Kang...,” desis Nyi Sumirah semakin cemas. Ki Pardi segera berjalan mendekati
kentongan di depan rumahnya. Segera dipukulnya kentongan itu. Terdengar bunyi
keras kentongan sebanyak dua kali.
Tong! Tong...! Tak lama kemudian,
Ki Lurah Sentana dan adiknya serta Ki Barman, salah seorang jawara penjaga
rumah Ki Lurah telah datang.
“Bagaimana, Ki, apakah sudah kau
temukan?” tanya Ki Lurah Sentana.
“Belum, Ki Lurah. Saya menduga,
anak saya diculik,” ujar Ki Pardi.
“Jangan menduga yang tak baik, Ki!
Sebaiknya kita panggil warga untuk mencari Watiri,” ujar Ki Lurah Sentana.
“Barman, kau tabuh tiga kali kentongan agar warga keluar!”
“Baik, Ki Lurah.” Tong! Tong!
Tong...! Ki Barman menabuh kentongan sebanyak tiga kali, sesaat kemudian
terdengar suara kentongan lain saling menyambut. Warga Desa Karang Bale ber-
gegas keluar dan langsung menuju rumah Ki Pardi, tempat awal kentongan pertama
terdengar. Wajah warga Desa Karang Bale diselimuti ketidak- mengertian, untuk
apa Ki Pardi memanggil mereka. “Ada apa, Ki Lurah?” tanya warga ingin tahu.
“Saudara-saudaraku, anak Ki Pardi belum pulang! Untuk itu, sebagai saudara
sedesa, kita patut membantu mencarinya!” seru Ki Lurah Sentana. “Siapkan obor,
kita akan mencari anak Ki Pardi!”
Tanpa diperintah dua kali, warga
Desa Karang Bale pun segera menjalankan perintah kepala desa. Tidak lama
kemudian, warga desa yang dipimpin langsung kepala desa berusaha mencari
Watiri. Mereka mengelilingi Desa Karang Bale dengan membawa obor. Namun setelah
seluruh penjuru desa dikelilingi, mereka tak menemukan gadis itu.
“Mungkin diculik gendruwo, Ki
Lurah!” seru salah seorang warga nyeletuk.
“Ngawur!” bentak Ki Lurah Sentana.
“Kita ketelaga! Siapa tahu dia kembali ke telaga.”
Mereka pun segera berjalan menuju
telaga tempat tadi sore Watiri dan teman-temannya mandi. Namun, sampai di sana,
mereka tak menemukan siapa-siapa.
“Tak ada siapa-siapa, Ki Lurah,” lapor
salah seorang warga.
“Hm, apa benar diculik gendruwo?”
gumam Ki Lurah Sentana setengah percaya, setengah tidak. Rasanya aneh, kalau
gendruwo menculik gadis. Lagi pula, kalau memang ada gendruwo, bukankah sejak
dulu ada kejadian seperti sekarang ini?
“Bagaimana, Ki Lurah? Apa kita akan
terus mencari?” tanya warga desa.
“Tidak! Kita pulang saja!” jawab Ki
Lurah Sentana. Dengan tanpa hasil, warga desa dan Ki Lurah Sentana kembali ke
desa. Malam semakin kelam, menjadikan suasana kian mencekam.
***
2
Watiri menggeliat. Tubuhnya
dirasakan lemas seperti tak bertulang, setelah semalaman pingsan karena keadaan
tertotok. Mata gadis itu perlahan-lahan membuka, memandang ke sekelilingnya
yang terasa sangat asing. Di sekelilingnya hanya dinding-dinding batu cadas.
Dingin dan lembab.
“Uh...!” Watiri melenguh ketika
dirasakan tangan dan kakinya tak dapat digerakkan. Ternyata tangan dan kakinya
diikat pada ujung-ujung sebuah meja batu. “Oh, di mana aku? Mengapa tangan dan
kakiku diikat?”
Watiri kembali memandang ke
sekeliling tempat itu, berusaha mengetahui di mana dirinya berada. Matanya
hanya melihat dinding-dinding batu cadas.
“Goa...? Oh, mengapa aku berada di
dalam goa?” keluh Watiri dengan perasaan cemas dan takut, karena suasana yang
sangat sunyi di goa itu. Apalagi ketika Watiri menengadahkan kepala, tubuhnya
bergidik. Di atas kepalanya, tampak sebuah golok besar dan tajam. Golok itu
terletak di atas dua buah batu, menghadap ke kepala Watiri.
“Oh, untuk apa golok itu?” pikir
Watiri, semakin dilanda kecemasan. “Mungkinkah aku akan di- sembelih? Oh,
tidak...! Aku tak mau, disembelih!”
Watiri semakin dicekam perasaan
takut, ketika terlintas dalam benaknya bahwa mungkin dirinya akan dijadikan
korban persembahan. Dia tak tahu, siapa orang yang telah membawanya ke goa itu.
Yang sempat diingatnya hanya sesosok tubuh tinggi dan besar yang melesat
mendekati tubuhnya. Namun setelah itu tak ingat apa-apa lagi karena tubuhnya
tertotok.
Tiba-tiba dari dalam goa muncul
seorang laki-laki tinggi besar berpakaian abu-abu. Matanya yang tajam memandang
penuh nafsu. Dengan bibir mengurai senyum menyeringai, lelaki bertubuh tinggi
besar itu melangkah menghampiri Watiri yang semakin ketakutan.
“Siapa kau, Ki?” tanya Watiri
dengan ketakutan, memandang tajam wajah lelaki berusia sekitar enam puluh tahun
yang tampak masih gagah.
“He he he...! Sungguh menggiurkan!
Kau memang seorang gadis yang sangat menggiurkan. Aku Datuk Raja Beracun.... He
he he!” ujar lelaki tua itu sambil tertawa terkekeh-kekeh. Matanya tak berkedip
merayapi tubuh Watiri yang dalam keadaan setengah telanjang.
Watiri kian ketakutan melihat
kebuasan yang tersirat dalam tatapan tajam lelaki bernama Datuk Raja Beracun
itu.
“Siapa kau?! Kenapa kau ikat aku
seperti ini?” bentak Watiri dengan suara bergemetar. Matanya yang bening
melotot penuh kebencian setelah dapat menduga kalau lelaki tua berpakaian
abu-abu itu tentu hendak berbuat jahat terhadapnya. “Kembali- kan aku pada
orangtuaku!”
“He he he..., nanti akan
kukembalikan, Manis. Tenanglah dahulu! Kita akan menikmati sesuatu yang belum
pernah kau alami,” ujar Datuk Raja Beracun sambil tertawa terkekeh. Kemudian
tanpa meng- hiraukan Watiri yang meronta-ronta, berusaha melepaskan diri, Datuk
Raja Beracun berlalu meninggalkan tempat itu. Sambil tertawa terbahak- bahak
lelaki tua itu terus melangkah ke ruangan dalam.
Watiri semakin tegang dan gelisah,
setelah mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Datuk Raja huracun.
Hatinya semakin benci bercampur marah dan ketakutan. Ucapan lelaki tua itu
dianggapnya sangat menjijikkan. Namun bagaimana harus menghindarinya. Dirinya
tak sudi melayani nafsu datuk tua itu. Sementara tangan dan kaki terbelenggu di
meja batu. Untuk bergerak saja sulit, apalagi melepaskan diri. Jelas tak
mungkin. Berapa besar kekuatan seorang wanita seperti dirinya. Rasa putus asa
pun mulai menjalar di hati gadis cantik itu.
“Hyang Widi, lindungilah hambamu
ini!” seru Watiri dengan suara lirih. Ditengadahkan wajahnya, memandang
langit-langit goa. Tidak terasa air matanya meleleh. Watiri merasa sedih, cemas
dan takut saat itu. Apalagi setelah mendengar ucapan lelaki tua yang sama
sekali belum pernah dikenalnya itu.
Sementara itu, di dalam goa Datuk
Raja Beracun nampak tengah duduk bersila. Di hadapannya, terdapat sebuah
perapian yang mengepulkan asap lebat. Rupanya sang Datuk tengah melakukan
upacara, memanggil arwah yang menjadi sesem- bahannya.
Matanya terpejam. Bibirnya
bergerak, mengucap- kan mantera-mantera yang sulit untuk diikuti. Sesaat
kemudian dari perapian mengepul asap yang semakin lama semakin tebal, seiring
dengan kecepatan mantera yang dirapalkan Datuk Raja Beracun. Dari kepulan asap
tebal itu samar-samar muncul sebuah bayangan. Lama kelamaan bayangan itu
semakin membesar dan membentuk sosok manusia. Namun bukan sosok manusia biasa.
Melainkan manusia berkepala serigala.
Dan anehnya lagi di kepala terdapat
tiga buah tanduk. Dua tanduk di sisi kanan dan kiri, sedangkan sebuah lagi di
atas.
“Auuu...!” “Ada apa kau
memanggilku, Raja Beracun?” suara keras bergetar dan parau terdengar dari mulut
manusia serigala itu. Kepala yang hitam dengan sorot mata tajam tampak menatap
Datuk Raja Beracun yang tengah menyembah.
“Ampun, Guru! Sengaja saya
mengundang Guru, semata-mata karena hendak melakukan penyempurnaan ajian 'Walik
Akal',” jawab Datuk Raja Beracun penuh hormat
“Hua ha ha...! Jadi kau ingin
memiliki ajian itu, Raja Beracun...? Bukankah kau telah memiliki ajian
'Serigala Hitam'? Masih belum cukupkah?” tanya manusia berkepala serigala
sambil tertawa terbahak- bahak. Suaranya bergema keras memenuhi ruangan dalam
goa itu.
Datuk Raja Beracun hanya mampu
menundukkan kepala. Sepertinya lelaki tinggi besar bermuka garang dihiasi
cambang bauk tebal itu tersindir oleh ucapan makhluk berkepala serigala.
“Itu kalau Guru berkenan,” desah
Raja Beracun lirih dengan kepala masih tertunduk.
“Hua ha ha...! Aku sebagai gurumu,
tentu saja mendukung keinginanmu...,” ujar manusia berkepala serigala. “'Tapi,
apa sebenarnya maksudmu mem- pelajari ajian 'Walik Akal'? He he he...! Apa yang
sedang kau cita-citakan, Raja Beracun?”
Datuk Raja Beracun terdiam. Namun
kepalanya tampak terangguk-angguk. “Hm, katakanlah!” “Sebenarnya, saya ingin
menjadi orang yang paling sakti di rimba persilatan, Guru,” jawab Datuk Raja
Beracun.
“Hanya itu?” tanya manusia
berkepala serigala. Sesaat Datuk Raja Beracun terdiam. Dihelanya napas
dalam-dalam, seakan ingin membuang perasaan di dalam hatinya yang bergejolak.
Ada keinginan lain yang sebenarnya tersembunyi di hati kecilnya. Dirinya ingin
menjadi pimpinan para pendekar, sekaligus orang yang ditakuti setaraf dengan
raja, baik oleh para pendekar maupun orang biasa.
“Ada lagi, Guru.” “Katakan, apa
lagi?” tanya manusia berkepala serigala.
“Saya ingin menjadi pimpinan di
rimba persilatan,” jawab Raja Beracun.
“Hua ha ha...! Sebenarnya, tanpa
ajian 'Walik Akal' pun, kau akan mampu melakukan semua yang kau inginkan,”
tutur manusia berkepala serigala.
“Belum, Guru. Karena masih banyak
pendekar aliran lurus yang memiliki ilmu tinggi. Mereka tak mudah untuk
ditaklukkan,” ujar Datuk Raja Beracun tetap dengan kepala tertunduk, tak berani
beradu pandang dengan manusia serigala di hadapannya.
“Auuu...! Jadi kau tetap bertekad
mendalami ajian itu, Raja Beracun?” tanya manusia berkepala serigala.
“Benar, Guru.” “Hm...! Apakah kau
tahu, apa yang harus dilakukan untuk menyempumakan ajianmu?” tanya manusia
serigala itu dengan suara menggeram keras.
“Tahu, Guru.” “Tujuh gadis tumbal.
Sanggupkah kau men- dapatkan gadis-gadis itu?”
Tampaknya manusia berkepala
serigala pun merasa khawatir kalau-kalau muridnya, Datuk Raja Beracun akan
mengalami kesulitan. Menculik tujuh perawan bukanlah pekerjaan mudah.
“Sanggup, Guru.” “Hm, kalau begitu,
aku tak bisa menolak permintaanmu. Siapkanlah tujuh orang perawan. Dan yang
harus kau ingat, jangan mengambil gadis yang lahir pada malam satu Sura,” ujar
manusia berkepala serigala mengingatkan, menjadikan Datuk Raja Beracun
tersentak dan mengerutkan kening.
“Kenapa, Guru?” tanya Datuk Raja
Beracun. “Ketahuilah olehmu! Kalau kau menggeluti gadis yang lahir malam satu
Sura, maka bukan ilmu 'Walik Akal' yang kau dapatkan! Malah kau akan kehilangan
segala-galanya,” kata manusia berkepala serigala menjelaskan. “Bukan itu saja.
Penguasa alam kegelapan akan murka sekali.”
“Baik, Guru. Segala petuah yang
Guru berikan, akan saya ingat selalu,” jawab Datuk Raja Beracun.
“Nanti malam, tepat Bintang Pari
berada di tengah-tengah, lakukanlah pengorbanan itu,” perintah manusia
berkepala serigala. “Sekarang aku pergi. Ingat baik-baik pesanku tadi...!”
Datuk Raja Beracun
mengangguk-angguk tanda menyetujui persyaratan yang diajukan gurunya. Manusia
berkepala serigala itu pun perlahan-lahan berubah samar-samar, kemudian menyatu
dengan asap perapian yang tebal.
Datuk Raja Beracun melakukan
sembah, kemudian bangun dan segera melangkah dari ruangan pemujaan, menuju
tempat Watiri berada. Gadis itu nampak semakin ketakutan, menyaksikan lelaki
bertubuh besar itu mendekatinya. Apalagi melihat senyum menyeringai di bibir
sang Datuk, membuat Watiri semakin gemetar tak karuan.
“Lepaskan aku! Kembalikan aku pada
orang tuaku,” pinta Watiri setengah mengiba dengan lelehan air mata membasahi
kedua pipinya. Gadis itu tampak berusaha meronta, tetapi tak mampu karena kedua
tangan dan kakinya diikat.
“He he he... Sabar, Cah Ayu! Besok,
kau akan kembali. He he he!” Datuk Raja Beracun melangkah mendekati tubuh
Watiri yang hanya terbungkus kain lurik merah sampai ke dada. Matanya merah
penuh nafsu, memandang lekat tubuh Watiri yang mulus itu. Jakunnya turun naik.
Beberapa kali lelaki tua berwajah beringas itu, menelan ludah. Tampaknya tak
mampu menahan gejolak birahi yang menggebu- gebu. Perlahan-lahan, tangan sang
Datuk menjulur ke dada Watiri yang menonjol. Kemudian dengan nakal, meraba
kedua buah dada gadis itu.
“Iblis! Lepaskan aku...!” Watiri
berteriak-teriak memaki. Namun Datuk Raja Beracun tak meng- hiraukannya. Dengan
bibir masih mengurai senyum, tangannya terus menjamah tubuh gadis itu. Diremas-
remasnya kedua buah dada Watiri. Gadis itu tampak kian marah. Wajahnya memerah.
Namun seketika itu juga, tiba-tiba dirasakan ada suatu hawa aneh menjalar di
dalam tubuhnya. Napasnya memburu. Sedangkan kepalanya terasa pening dengan
pandangan berkunang-kunang. Semakin lama tubuh- nya semakin tegang, gemetaran,
dan bergairah.
“He he he...!” Datuk Raja Beracun
yang terus meremasi buah dada Watiri, sambil terkekeh senang. Ternyata Racun
Birahi yang disalurkan melalui telapak tangannya, telah bekerja sebagaimana
yang diharapkan. Terbukti gadis montok itu kini mendesis dengan mata
mengerjap-ngerjap. Bahkan kini tak terdengar caci-maki dari mulutnya. Gadis itu
seperti dilanda nafsu birahi yang bergejolak hebat. “Aaah...! Oh,..!” Hanya
lenguhan dan desisan yang keluar dari mulut Watiri, yang membuat nafsu Datuk
Raja Beracun semakin menggebu-gebu. Bergejolak, laksana api yang membakar
tubuhnya. Tangan Datuk Raja Beracun merobek kain yang masih menutupi tubuh Watiri.
Bret! Kini tubuh Watiri polos, tak tertutup sehelai benang pun. Gadis itu
semakin mendesis keras, dengan mata terpejam.
“Oh, Ki...!” “He he he Sabar, Cah
Ayu! Belum saatnya kita melakukan apa yang kau harapkan. Tunggulah nanti
malam!” ujar Daluk Raja Beracun sambil terkekeh- kekeh. Dan tiba-tiba lelaki
tua itu melepaskan remasan tangannya, kemudian melangkah mening- galkan tempat
itu. Tinggal Watiri yang tersiksa dengan gejolak birahi yang membakar jiwanya.
***
Malam yang dinantikan oleh Datuk
Raja Beracun akhirnya datang. Berarti upacara tumbal perawan sebagai syarat
utama untuk mendapatkan ajian Walik Akal sebentar lagi akan berlangsung, saat
Bintang Pari tepat berada di atas kepala.
“Auuu...! Auuu...!” Lolongan anjing
hutan terdengar bersahut- sahutan. Seakan binatang-binatang itu merasakan
adanya sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu kejadian yang sangat mengerikan.
Anjing-anjing itu seperti tengah memberi peringatan kepada manusia. Suara-
suara lolongan itu terasa mampu membuat merinding tubuh orang yang
mendengarnya.
Begitu pula dengan Watiri yang kini
terkapar di atas altar batu. Gadis itu semakin ketakutan. Namun hatinya telah
pasrah karena tak mampu berbuat apa- apa. Watiri merasakan hawa dingin yang
menggigilkan. Bulu kuduknya semakin meremang berdiri, mendengar lolongan anjing
hutan. Apalagi suasana di dalam goa itu sangat sepi, tak ada siapa-siapa. Hanya
dirinya sendiri, dengan tangan dan kaki terbelenggu pada meja batu.
“Oh Hyang Widi, apa yang akan
terjadi pada diriku?” keluh Watiri dengan suara bergetar karena kedinginan dan
rasa takut. Sementara itu lolongan anjing terdengar semakin bersahutan.
Sepertinya binatang-binatang itu memberi tahu akan terjadi sesuatu pada
dirinya. Air mata gadis itu meleleh, sedih, dan takut beraduk menjadi satu di
dalam dadanya. Matanya yang menangis, memandang ke atas, pada langit-langit goa
yang gelap. Tangisnya semakin berderai keras, merasakan takut yang tiada
terkira.
Malam semakin larut, dengan hawa
dingin yang terasa menusuk tulang sumsum. Suasana di dalam goa tempat Watiri
berada, semakin mencekam. Gadis itu pun semakin merasakan ketakutan. Tangisnya
semakin keras, terdengar. Gemanya berputar-putar dipantulkan dinding goa.
“He he he...!” Dari dalam goa,
muncul Datuk Raja Beracun. Matanya yang merah, menatap penuh nafsu pada gadis
yang semakin bertambah ketakutan itu. Lelaki tua bertubuh tinggi itu, melangkah
mendekati Watiri yang terbaring dan terikat di atas batu.
“Tidak! Jangan dekati aku...!
Lepaskan ikatan ini!” teriak Watiri sambil berusaha membuka. Namun tangan dan
kakinya yang terikat, membuat tubuhnya tak mampu bergerak apalagi bangkit dari
ter- baringnya. Semakin keras dia meronta, semakin terasa sakit pergelangan
tangan dan kakinya yang terikat.
“He he he...! Percuma kau
meronta-ronta, Cah Ayu!” ujar Datuk Raja Beracun sambil melangkah mendekati
batu besar itu. Matanya yang merah, tak berkedip menatap tubuh Watiri yang
dalam keadaan telanjang bulat.
Perlahan-lahan Datuk Raja Beracun
membuka pakaiannya. Kemudian dengan bibir mengurai senyum, mendekati tubuh
Watiri yang telanjang.
“Tidak! Jangaaan...!” teriak Watiri
berusaha menolak apa yang akan dilakukan Datuk Raja Beracun terhadap dirinya.
Dilempar-lemparkan kepalanya, berusaha menolak perbuatan lelaki tua itu. Namun
percuma saja melakukan itu, karena Datuk Raja Beracun bagaikan tak peduli.
Lelaki berusia enam puluh tahun yang masih gagah itu, kini tampak semakin buas.
Tubuhnya yang juga telanjang, menindih tubuh Watiri.
“He he he...! Sebentar lagi, kau
akan merasa kenikmatan, Cah Ayu,” desisnya sambil terus merayap naik.
“Lepaskan...! Oh.... Ah... Sss...!”
Watiri kini benar- benar merasakan gejolak birahi yang menggebu-gebu. Rupanya
Racun Birahi yang dilancarkan Datuk Raja Beracun melalui remasan dan usapan
tangan pada buah dadanya telah bekerja. Hal itu yang membuat Watiri mulai
terseret ke dalam gelombang nafsu meluap-luap. Tak ada lagi perasaan marah yang
melekat dalam hatinya. Yang ada hanyalah perasaan nafsu yang menggebu-gebu.
Datuk Raja Beracun semakin
menjadi-jadi, merasa Racun Birahi yang dijalankan lewat usapan dan remasan
tangannya telah mempengaruhi Watiri. Kini dengan penuh kebuasan, lelaki tua
berwajah beringas itu menggumuli tubuh Watiri. Gadis itu kian menggerinjang
dengan desahan-desahan lirih.
“Ah...! Oh...! Sss...!” Datuk Raja
Beracun kian cepat bergerak. Matanya yang merah, semakin membara penuh birahi.
Sementara Watiri dalam keadaan tak sadar, menerima perbuatan Datuk Raja
Beracun. Matanya mengerjap-ngerjap, dengan desisan-desisan penuh kepuasan.
“Ukh...!” “Ahk...!” Keduanya
mengejang dengan mata membeliak, lalu terkulai penuh kepuasan.
Setelah pingsan beberapa saat,
terdengar isak tangis dari mulut Watiri. Kemudian perlahan-lahan matanya
membuka jalang. Dari mulutnya keluar pekikan keras, menyesali apa yang telah
terjadi terhadap dirinya. Kehormatannya telah direnggut lelaki berbadan tinggi
besar yang kini tersenyum menyeringai.
“Tidak...! Bajingan! Lebih baik aku
mati!” teriak
Watiri sambil berusaha bunuh diri
dengan membantingkan kepala, namun karena kaki dan tangannya terikat,
gerakannya sangat sulit Gadis itu benar-benar merasa putus asa, setelah
menyadari kalau keperawanannya telah terenggut
Sementara Datuk Raja Beracun yang
telah men- dapatkan semuanya, terkekeh senang. Perlahan bangun dari duduknya.
Dikenakan kembali pakaian- nya. “He he he...! Bagaimana, Cah Ayu?”
“Kurang ajar! Iblis...! Laknat...!”
maki Watiri di sela isak tangisnya. Namun Datuk Raja Beracun tak marah meski
dicaci maki begitu rupa. Bahkan, lelaki tinggi besar bermuka garang itu semakin
tertawa terkekeh. Kemudian, tanpa menghiraukan Watiri yang menangis penuh
penyesalan, Datuk Raja Beracun berlalu meninggalkan ruangan itu menuju keluar
goa untuk melihat Bintang Pari.
Datuk Raja Beracun berdiri di depan
pintu goa. Wajahnya menengadah ke langit yang bening. Bintang-gemintang tampak
berkerlap-kerlip. Bintang Pari yang dijadikan pedoman, nampak telah berada di
atas kepalanya. Berarti dirinya harus segera menjalankan upacara persembahan
itu.
“He he he...! Akulah yang akan
menjadi orang nomor satu di rimba persilatan,” ujar Datuk Raja Beracun sambil
tertawa terbahak-bahak. Datuk Raja Beracun melangkah ke dalam goa. Sesaat
berhenti di dekat altar batu, tempat Watiri masih menangis sambil mencaci maki.
“Iblis! Lepaskan aku! Atau bunuhlah
aku...!” teriak Watiri kalap. Dia berusaha meronta sekuat tenaga- nya, dengan
kepala dicobanya untuk dibenturkan pada alas altar. Namun tak juga sampai,
karena kaki dan tangannya terpentang.
“He he he...! Sabar, Cah Ayu!
Sebentar lagi kau akan pulang,” ujar Datuk Raja Beracun sambil melangkah menuju
dua batu tinggi, tempat sebuah golok besar tergantung. Diambilnya golok itu.
Mulutnya menyeringai seperti mengejek Watiri. Ditimang-timangnya golok besar
dan tajam itu. “He he he...!” Mata Watiri membuka lebar menyaksikan golok besar
dan tajam kini telah terangkat di tangan Datuk Kaja Beracun. Golok itu tampak
mengerikan, seakan- akan menyimpan hawa pembunuhan.
“Tidak...!” jerit Watiri dengan
mata membeliak ketakutan, menyaksikan golok besar dan tajam terayun ke
lehernya. Watiri berusaha mengelak, tapi karena tangan dan kakinya diikat dan
direntang, sulit baginya untuk mengelak. Hingga....
Wrt! “Aaa...!” Crak! Watiri hanya
sempat berteriak pendek, karena golok itu telah menebas lehernya. Seketika
kepalanya lepas dan menggelinding di lantai goa. Darah muncrat dari leher gadis
itu. Dengan mata terpicing, Datuk Raja Beracun mendekati tubuh Watiri yang
sudah tak berkepala lagi. Diraupnya darah yang tergenang di sekitar rubuh gadis
itu, lalu digunakan untuk mencuci wajahnya. Bahkan kemudian diminumnya darah
yang masih mengalir lewat leher yang buntung itu.
“Nyem nyem...! Hua ha ha...! Akulah
yang akan menjadi orang paling sakti di rimba persilatan ini!”
Datuk Raja Beracun tak puas hanya
sampai di situ. Dengan kuku-kukunya yang panjang, dibelahnya dada Watiri.
Kemudian bagaikan tak mengenal belas kasih, dicopotnya jantung Watiri, lalu
dimakan sampai habis. Bersamaan dengan habisnya jantung Watiri, tubuh Datuk
Raja Beracun nampak merah membara. Mulutnya menyeringai penuh kepuasan. Matanya
yang merah, semakin membara, menatap sosok mayat Watiri yang terkapar bersimbah
darah.
“Hua ha ha...!” Datuk Raja Beracun
tertawa terbahak-bahak bagaikan orang tak waras. Kemudian dibukanya ikatan di
tangan dan kaki mayat Watiri. Lalu diangkatnya tubuh Watiri. Setelah mengambil
kepalanya yang tadi menggelinding, Datuk Raja Beracun melesat meninggalkan goa
tempatnya berdiam diri.
Angin malam menghembuskan hawa
dingin diikuti dengan lolongan anjing hutan yang mampu membuat bulu kuduk
berdiri. Datuk Raja Beracun terus berkelebat pergi menembus kegelapan malam
sambil memanggul mayat Watiri. Sedangkan tangan kiri menenteng kepala gadis itu
yang matanya membelalak.
“Hua ha ha...!” Dengan tertawa-tawa
bagaikan orang gila, Datuk Raja Beracun terus berlari menuruni lereng Gunung
Welirang. Larinya yang begitu cepat, menunjukkan kalau Datuk Raja Beracun pun
menguasai ilmu silat yang cukup tinggi. Hal itu dapat dilihat dari betapa
ringan kakinya menuruni lereng pegunungan sambil memanggul tubuh Watiri.
Datuk Raja Racun terus berlari ke
utara, menuju Desa Karang Bale. Malam semakin mencekam, dengan hawa dingin yang
terasa menusuk tulang sum-sum.
3
Pagi-pagi sekali, warga Desa Karang
Bale tiba-tiba digegerkan dengan ditemukannya mayat Watiri di depan rumahnya.
Kepala mayat itu tergeletak di samping tubuhnya. Dan yang lebih mengerikan,
dada gadis itu berlubang dengan jantung sudah tak ada lagi. Darah kering
berserakan di tubuhnya.
Nyi Sumirah menjerit
sejadi-jadinya, ketika mendapati anaknya sudah menjadi bangkai dengan keadaan
yang sangat mengenaskan. Sedangkan Ki Pardi hanya dapat meneteskan air mata
duka.
“Benar-benar perbuatan biadab!”
pikirnya dengan hati kesal.
Ki Lurah Sentana ketika mendengar
kabar tentang peristiwa itu, langsung berangkat menuju rumah Ki Pardi. Adiknya,
Ki Tunjung Melur pun tak mau ketinggalan, segera mengikuti, berangkat ke rumah
ayah Watiri. Mereka sebagai orang-orang yang dipercaya untuk memimpin Desa
Karang Bale, merasa bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa warganya.
“Biadab!” dengus Ki Sentana dengan
mata membeliak, menyaksikan keadaan mayat Watiri. “Jelas ini bukan tindakan
dedemit atau iblis. Ini tindakan manusia yang sangat biadab!”
“Kakang, nampaknya sebelum dibunuh,
Watiri di- perkosa dahulu,” ujar Ki Tunjung Melur, ketika matanya menyaksikan
sesuatu kerusakan pada kemaluan Watiri. Napas Ki Tunjung Melur terasa berat.
Bagaimana pun sebagai adik Ki Sentana,
Kepala Desa Karang Bale, dirinya
merasa ber- kewajiban membantu dalam keamanan desa itu.
Ki Sentana mencoba membuktikan
dugaan adiknya. Dan memang benar, matanya dapat melihat ada bekas-bekas tindak
perkosaan. Hal itu membuat Ki Lurah Sentana semakin bertambah geram terhadap
pelaku yang sampai saat ini belum diketahui orangnya.
“Bedebah! Ini benar-benar
penghinaan bagi kita! Rupanya ada orang yang hendak menggunting dalam lipatan,”
ujar Ki Sentana dengan wajah memerah marah. Namun, dirinya tak dapat berbuat
apa-apa, karena tak tahu orang yang harus dicurigai. Kepala desa itu pun tak
tahu siapa sebenarnya pelaku pembunuhan secara keji itu. Peristiwa itu telah
membuat gempar warga desa. Desa Karang Bale yang selama ini tenang dan damai,
tiba-tiba saja dikejutkan dengan adanya pembunuhan keji itu.
“Apakah kita tak pantas mencurigai
seseorang, Ki?” tanya Ki Pardi. Sebagai seorang ayah, dirinya benar-benar
sedih, melihat kejadian yang menimpa anaknya.
Ki Sentana terdiam dengan mengulum
bibir. Pandangan matanya kosong sepertinya tengah berpikir dan mencoba
mereka-reka siapa yang pantas untuk dicurigai. Dihelanya napas dalam-dalam,
ber- usaha melonggarkan dada yang terasa bergemuruh.
“Sepuluh tahun sudah peristiwa
seperti ini berlalu. Ketika Ki Boleng menghilang, kejadian semacam ini pun ikut
hilang. Namun kini, tiba-tiba peristiwa yang pernah terjadi, kembali muncul,”
gumam Ki Sentana dengan suara berat.
“Mungkinkah Ki Boleng muncul
kembali, Kang?” tanya Ki Tunjung Melur.
“Entahlah,” sahut Ki Sentana.
“Menurut kabar, Ki Boleng telah mati di tangan Singo Edan, si Pendekar Gila
dari Goa Setan.”
Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi yang
mendengar Ki Boleng telah mati mengerutkan kening, “Kalau Ki Boleng penganut
ilmu setan dengan cara mengorbankan gadis telah mati, lalu siapa yang kini melakukan
pembunuhan ini?” pikir hati mereka bertanya-tanya heran.
“Mungkin muridnya, Kang?” tanya Ki
Tunjung Melur mencoba mereka-reka.
“Tidak,” sahut Ki Lurah Sentana.
“Kenapa, Kakang? Bukankah mungkin saja sang Murid mewarisi ilmu gurunya...?”
tanya Ki Tunjung Melur.
“Ki Boleng tak punya murid,” sahut
Ki Sentana. Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi terdiam mendengar ucapan Ki Sentana.
Kalau benar Ki Boleng tak memiliki murid, lalu siapa lagi yang melakukan
kekejian itu? Hati mereka diliputi ketidakmengertian. Jelas orang-orang yang
mengorbankan perawan untuk tumbal, pasti orang-orang yang menganut aliran
seperti Ki Boleng.
“Atau mungkin saudara
seperguruannya, Kang,” ujar Ki Tunjung Melur.
Ki Sentana terdiam. Keningnya
berkerut, seolah- olah, tengah mencoba berpikir. Kalau memang saudara
seperguruan Ki Boleng, jelas hal itu bisa saja terjadi. Tetapi, siapa saudara
seperguruan Ki Boleng? Selama mi, Ki Sentana tak pernah mendengar kalau Ki
Boleng memiliki saudara seperguruan.
“Kurasa Ki Boleng tak memiliki saudara
seperguruan,” desah Ki Sentana. “Ki Boleng murid tunggal Ki Persasi, seorang
resi sakti. Ki Persasi sebenarnya berhaluan lurus, itu sebabnya dirinya sangat
murka ketika mengetahui sang Murid berlaku sesat. Bahkan muridnya melebihi
iblis. Dan oleh karena itu pula, Ki Persasi akhirnya meminta tolong pada Singo
Edan, Pendekar Gila dari Goa Setan untuk menghentikan sepak terjang sang Murid.
Dan setelah muridnya binasa, Ki Persasi pun menghilang entah ke mana.”
Secara singkat dan jelas, Ki
Sentana menuturkan kisah tentang Ki Boleng, tokoh yang sepuluh tahun silam
pernah menggemparkan Desa Karang Bale dengan perbuatannya yang keji. Kini,
setelah sepuluh tahun tokoh sesat itu binasa di tangan Singo Edan, muncul lagi
kejadian yang hampir sama.
“Mungkinkah arwahnya bangkit
kembali?” tanya Ki Tunjung Melur semakin penasaran. Karena kejadian itu sama
persis dengan tindakan Ki Boleng.
“Bisa jadi,” gumam Ki Sentana.
“Tapi...” “Tapi apa, Kang?” “Apa mungkin?” tanya Ki Sentana seperti tak percaya
kalau semua kejadian yang dialami Watiri merupakan perbuatan arwah Ki Boleng.
“Mengapa Kakang berkata begitu?”
tanya Ki Tunjung Melur dengan kening mengerut. Matanya menatap wajah Ki
Sentana, seakan-akan ingin mengetahui apa yang sebenarnya tersimpan dalam benak
kakaknya.
“Kurasa arwah tak akan memperkosa,”
sahut Ki Sentana, membuat Ki Tunjung Melur dan Ki Pardi manggut-manggut. Apa
yang dikatakan kepala desa itu tidak salah. Arwah merupakan makhluk gaib tak mungkin
melakukan perkosaan. Apalagi terhadap manusia. Namun seandainya benar yang
melakukan arwah, mungkin kemaluan Watiri tak akan sampai hancur seperti itu.
Semua terdiam, tak ada yang bisa
menjawab keganjilan itu.
Sementara itu, warga Desa Karang
Bale nampak mulai berdatangan ke rumah Ki Pardi untuk melayat. Di wajah mereka
tercermin iba bercampur takut, terhadap kejadian aneh itu. Apalagi para warga
yang memiliki anak gadis, lebih merasa cemas dan ketakutan. Mereka khawatir
kalau-kalau anak perawan mereka menjadi korban selanjutnya dari perbuatan
penculik gelap itu. ***
Siang yang panas, cahaya matahari
terasa sangat menyengat. Angin yang berhembus pun meniupkan hawa yang kurang
nyaman di kulit. Dari arah utara tampak sesosok lelaki muda berambut gondrong
tengah melangkah memasuki mulut Desa Karang Bale. Pemuda tampan berpakaian
rompi terbuat dari kulit ular itu bertingkah laku seperti orang gila. Mulutnya
tampak cengengesan. Lalu terdengar bernyanyi-nyanyi sendirian sambil
berjingkrak- jingkrakan. Sebentar kemudian tangannya meng- garuk-garuk kepala
seperti kegatalan. Mulutnya terus cengar-cengir. Tingkah lakunya yang aneh itu
tentu saja membuat setiap orang yang melihat atau berpapasan merasa heran. Atau
bahkan mungkin ada pula yang menaruh rasa curiga terhadap tingkah lakunya yang
konyol itu.
“Pemuda gila...,” gumam salah
seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun dengan tubuh tinggi tegap.
“Kasihan, pemuda setampan dia harus gila! “Iya, ya? Sayang sekali, pemuda
tampan begitu jiwanya tak waras!” sambung rekannya. Lelaki berusia sekitar lima
puluh tahun berbadan tinggi kurus dengan kumis panjang. Kedua lelaki setengah
baya itu tak henti-hentinya menatap pemuda gila yang tak lain Sena Manggala
atau lebih terkenal dengan julukan Pendekar Gila.
“Ah ah ah, panas sekali!” gumam
Sena dengan mulut cengengesan.
Sejenak Pendekar Gila menghentikan
langkahnya. Memandang dengan mata menyipit dan mulut nyengir ke sekelilingnya.
Seakan-akan tengah mencari tempat untuk berteduh dari panasnya mentari.
Kedua orang lelaki setengah baya
itu masih memperhatikan tingkah laku Pendekar Gila yang lucu. Bahkan tingkah
lakunya semakin lucu dan konyol ketika hendak menghindar dari panas matahari.
“Aha, Kisanak sekalian, di manakah
ada kedai sekitar sini...?” tanya Sena setelah menyadari sejak tadi dirinya
menjadi perhatian kedua lelaki setengah baya itu. Tangannya menggaruk-garuk
kepala, mulut- nya cengengesan. Kemudian kakinya melangkah mendekati kedua
lelaki tua itu, yang tersentak kaget dan berlari terbirit-birit ketakutan.
“Orang gila itu mengejar kita!” “Cepat lari!” Kedua orang tua itu lari
tunggang-langgang, takut kalau-kalau pemuda bertingkah laku gila akan mengamuk.
Biasanya memang mereka melihat orang gila mengamuk jika diperhatikan. Itu
sebabnya mereka langsung kabur ketika Pendekar Gila meng- hampiri.
Pendekar Gila tertawa cekikikan
menyaksikan kejadian lucu itu. Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan mulut
cengengesan.
“Ah ah ah, lucu sekali! Aneh memang
dunia ini. Kadangkala, orang gila menjadi sasaran tuduhan. Hi hi hi...!”
gumamnya sambil menggeleng-geleng kepala.
Setelah memperhatikan kedua orang
tua yang lari terbirit-birit, dengan masih cengengesan sambil bernyanyi-nyanyi
Pendekar Gila meneruskan langkahnya.
***
Pendekar Gila yang sedang mencari
sebuah kedai untuk beristirahat, seketika menghentikan langkah ketika lima
orang lelaki bermuka garang berdiri menghadang di hadapannya. Kelima lelaki
ber- pakaian sama dan bersenjata golok terselip di pinggang itu, menatap tajam
wajahnya. Satu orang yang berkumis tebal dengan rambut terurai lurus, melangkah
maju.
“Desa ini sedang tak aman, siapa
kau?!” bentak lelaki berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan tegas.
Matanya yang lebar, menatap tajam pada Pendekar Gila penuh selidik.
“Hi hi hi..., lucu sekali!” gumam
Sena seperti tak menghiraukan pertanyaan lelaki ini. Mulutnya cengengesan,
dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat lelaki berpakaian biru
mengkilap seperti beludru itu semakin gusar.
“Bocah Gila, katakan siapa kau
sebenarnya?!” bentak Walang Kejer dengan gusar, karena merasa pertanyaannya tak
dihiraukan.
“Hi hi hi..a Gila...? Aha, memang
aku gila. Tetapi aku tidak segila kau, yang main bentak pada orang,” sahut Sena
disertai tawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala, yang membuat Walang
Kejer berserta keempat walang lainnya bertambah geram.
“Bocah Edan! Ditanya malah
cengengesan!” sentak Walang Kerik.
Nampaknya lelaki bertubuh kurus
dengan kumis tipis itu, tak sabar melihat tingkah laku Pendekar Gila yang
konyol. Lelaki berusia sekitar empat puluh tahun itu, melangkah maju sambil
tangannya meraba gagang golok.
“Aha, beginikah sambutan pendekar
Desa Karang Bale?” gumam Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Matanya memandang Walang Kerik yang sedang meraba gagang golok. “Ah ah ah!
Kurasa tak sepantasnya kalian berbuat seperti itu. Bukankah warga Desa Karang
Bale terkenal dengan keramahannya?”
Kelima Walang Sakti itu saling
pandang, mendengar ucapan Pendekar Gila.
“Ah, aku mendengar warga Desa
Karang Bale sangat menghormati tamunya. Mengapa kini kulihat lain?” tanya Pendekar
Gila seperti bergumam. Kemudian dengan mulut cengengesan, digeleng- gelengkan
kepalanya.
“Bocah Gila, katakan siapa kau
sebenarnya dan ada maksud apa kau datang ke desa ini?” tanya Walang Kejer.
Amarahnya agak mereda, setelah memperhatikan gerak-gerik dan penuturan Pendekar
Gila, nampaknya Walang Kejer
mengetahui suatu kekuatan yang dimiliki diri pemuda bertingkah laku gila itu.
“Aha, aku hanya seorang pemuda gila
yang tak tentu arah. Kemana pikiran gilaku mengajak, ke sana aku melangkah,”
tutur Pendekar Gila setengah berfilsafat yang menjadikan Walang Kejer semakin
mengerutkan kening. Pikirannya semakin ber- sungguh-sungguh menyelidik Pendekar
Gila yang nampak masih cengengesan.
“Kau petualang?” tanya Walang Kejer
me- mastikan.
“Hi hi hi...! Kau tahu dari mana,
Kisanak?” tanya Sena sambil cekikikan dengan tangan menggaruk- garuk kepala.
“Dasar bocah gila! Bukankah tadi
kau yang mengatakannya?!” bentak Walang Kerik dengan geram. Matanya melotot
memandang penuh kebencian pada Pendekar Gila.
“Aha, kau nampaknya pemarah,
Kisanak? Ah ah ah, sangat berbahaya! Kurasa, tak sepantasnya kau marah. Sebagai
pendekar desa kau haruslah sabar dan berjiwa besar,” ujar Pendekar Gila bernada
menggurui.
Mendengar ucapan Pendekar Gila
barusan, kelima Walang Sakti tersentak marah. Mereka sepertinya merasa
tersinggung.
“Kurang ajar! Lancang sekali kau
mengguruiku, Bocah Gila!” dengus Walang Kerik seraya melangkah maju dengan
tangan kanan siap mencabut golok. Namun dengan cepat, Walang Kejer sebagai
orang tertua di dalam Lima Walang Sakti segera mencegahnya.
“Sabar! Apa yang dikatakannya
memang benar.
Kita tak boleh sembarangan
mencurigai seseorang.”
“Tapi nampaknya dia perlu kita
curigai, Kang,” kilah Walang Kerik.
“Hm, kurasa memang begitu, karena
dia orang asing di Desa Karang Bale ini. Namun, keramah- tamahan dan sikap
sopan santun yang sudah dikenal banyak orang tak boleh kita lupakan. Sabarlah
dulu!” usai menenangkan adiknya, Walang Kejer mendekati Pendekar Gila yang
masih cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Hi hi hi...! Aneh..., aneh...!
Dunia ini memang aneh,” gumam Pendekar Gila. Kemudian tanpa menghiraukan kelima
Walang Sakti, dia bernyanyi- nyanyi sendiri. Sambil mendongak, memandang langit
biru Pendekar Gila melolos Suling Naga Sakti yang terselip diikat pinggangnya.
Lalu dengan enaknya ditiupnya suling itu, mengalunkan nyanyian yang merdu.
Lima Walang Sakti hanya bisa
bengong menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila. Walang Kerik yang paling tak
suka tampak geram dengan wajah merah. Hatinya benar-benar jengkel melihat
tingkah laku Pendekar Gila yang baginya menyebal- kan. Ditanya benar-benar
justru dengan enak-enakan bernyanyi sambil meniup sulingnya.
“Bocah Edan! Hentikan tiupan
sulingmu yang sumbang itu!” bentak Walang Kerik.
Pendekar Gila menghentikan tiupan
sulingnya. Matanya menoleh ke wajah Walang Kerik. Mulutnya cengengesan.
Kemudian setelah menyelipkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggang, tangannya
menggaruk- garuk kepala.
“Aha, rupanya kau tak suka
bernyanyi, Kisanak? Pantas..., pantas kalau kau pemarah,” sindir
Pendekar Gila dengan tingkahnya
yang konyol. Hal itu tentu saja membuat Walang Kerik semakin marah.
“Kurang ajar! Dia memang perlu
dihajar, Kakang! Biarkan aku menghajarnya!” dengus Walang Kerik sambil mencelat
maju dengan tangan menarik gagang golok.
Srt! “Kuhajar kau, Bocah Gila!
Hea...!” tangan Walang Kerik membabatkan goloknya dengan gerakan melengkung.
Wrt! Mendapat serangan begitu
cepat, Pendekar Gila segera berkelit dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk
Lalat'. Ditundukkan tubuhnya ke bawah, kemudian meliuk-liuk ke kanan dan ke
kiri dengan gerakan lemah gemulai.
Wut! Golok yang dibabatkan Walang
Kerik menderu hanya beberapa jari di sebelah kanannya. Dengan cepat, Pendekar
Gila mengibaskan kaki kanannya menendang kaki kiri Walang Kerik yang menekuk
dan berada di depan.
“Hea!” Wrt! Dengan cepat Walang
Kerik bergerak sambil membabatkan goloknya. namun....
Plak! Bugk! “Aduh!” Walang Kerik
terpekik keras. Tubuhnya yang belum mantap setelah menyerang, tanpa ampun lagi
harus terjengkang jatuh karena sambaran kaki Pendekar Gila. Walang Kerik
meringis, ketika dirasakan tulang mata kakinya sakit. Sedangkan Pendekar Gila
kini berjingkrakan sambil terkikik nyaring dengan tangan menggaruk-garuk
kepala, persis seekor kera kegirangan.
Keempat Walang Sakti lainnya yang
menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila, terperangah kagum bercampur keheranan.
Mereka tak menyangka kalau dalam satu jurus saja, pemuda bertingkah gila itu
dapat menjatuhkan Walang Kerik.
“Kurang ajar! Jangan kau girang
dulu, Bocah Gila! Aku akan mengadu nyawa denganmu!” dengus Walang Kerik semakin
marah, karena merasa diejek begitu rupa di depan keempat saudaranya. Tubuhnya
segera bangkit berdiri. Kemudian dengan cepat mengatur kedudukan kuda-kudanya.
Matanya menatap penuh amarah pada Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala.
“Tahan!” tiba-tiba dari arah barat,
terdengar suara seseorang berseru. Bentakan keras itu membuat Walang Kerik yang
hendak menyerang, seketika menghentikan geraknya. Serentak mereka semua menoleh
ke tempat asal suara tadi.
Seorang lelaki berusia sekitar enam
puluh tahun dengan pakaian warna merah bata lengan panjang melangkah
menghampiri Lima Walang Sakti yang seketika menjura memberi hormat. Di
belakangnya lelaki berwajah tenang dan berwibawa berjalan mengiringi.
“Ampun, Ki Lurah! Ada seorang
pemuda berpura- pura gila hendak membuat onar di Desa Karang Bale ini,” tutur
Walang Kerik sambil menjura pada Ki Lurah Sentana yang datang bersama adiknya
Ki Tunjung Melur. Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur seketika memperhatikan
tingkah laku Pendekar Gila. Kening keduanya mengerut, apalagi setelah melihat
Suling
Naga Sakti terselip di ikat
pinggang pemuda berompi kulit ular itu. Tanpa disadari mata Ki Lurah Sentana
terbelalak. Begitu pun Ki Tunjung Melur yang seolah telah mengenal betul jati
diri pemuda gila itu. Dengan suara lirih Kepala Desa Karang Bale itu berdesis.
“Suling Naga Sakti...!”
Kelima Walang Sakti yang belum mengetahui
siapa pemuda gila itu pun turut terperanjat mendengar nama suling milik pemuda
gila berpakaian rompi kulit ular itu.
“Kisanak, ada hubungan apa kau
dengan Singo Edan, Pendekar Gila dari Goa Setan?” tanya Ki Lurah Sentana dengan
mata memperhatikan tingkah laku Pendekar Gila yang konyol.
“Hi hi hi..., lucu sekali! Dunia
ini memang aneh. Atau memang sudah menjadi peradatan, kalau yang masih muda
akan bertingkah ugal-ugalan?” gumam Sena, seakan tak menghiraukan pertanyaan
yang dilontarkan kepala desa itu. Namun nampaknya Ki Sentana memahami tutur
kata Pendekar Gila. Hal itu terlihat dari tatapan mata lelaki tua itu pada Lima
Walang Sakti yang serentak menundukkan kepala. Mereka berlima seolah-olah
merasa bersalah.
“Maafkan atas kesalahan mereka, Kisanak!
Mereka hanya menjalankan tugas, menjaga keamanan desa ni yang baru saja
tertimpa kemalangan,” ujar Ki Sentana membuka percakapan. Suaranya begitu
tenang ian berwibawa. “Kalau boleh kami tahu, ada hubungan apa Kisanak dengan
Singo Edan sahabat kami?”
“Aha, aku murid tunggalnya, Ki,”
jawab Sena dengan tingkah laku yang masih konyol. Tangannya kembali
manggaruk-garuk kepala.
“Heh...?!”
Tersentak Ki Sentana dan Ki Tunjung
Melur setelah tahu kalau pemuda bertingkah gila itu murid Singo Edan. Pantas
kalau pemuda ini memiliki Suling Naga Sakti, senjata sakti yang sampai saat ini
belum ada tandingannya.
“Oh, maafkan kami, Tuan Pendekar!
Kalau begitu, Tuanlah yang bergelar Pendekar Gila,” ujar Ki Sentana sambil
menjura hormat pada Pendekar Gila.
“Ah ah ah, mengapa kau panggil aku
Tuan Pendekar? Lucu sekali! Sangat lucu...!” gumam Sena sambil cengengesan
dengan kepala menggeleng. “Kalau kau dan guruku bersahabat, maka tak
sepantasnya menyebut diriku Tuan Pendekar. Namaku Sena Manggala.”
Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung
Melur, serta Lima Walang Sakti terperangah mendengar jawaban Pendekar Gila.
Pemuda gila itu ternyata memiliki budi pekerti yang luhur.
“Baiklah, Sena. Kuanggap kebetulan
sekali, kau datang ke desa kami,” kata Ki Sentana sambil menarik napas
dalam-dalam. Wajahnya seketika berubah muram, membuat Pendekar Gila mengerut-
kan kening dan memandang keheranan.
“Aha, kalau boleh aku tahu, apa
sebenarnya yang telah menimpa desa ini?” tanya Pendekar GUa ingin tahu. “Kalau
kau berkenan, singgahlah dulu di rumah- ku. Nanti akan kuceritakan apa yang
telah terjadi...,” ajak Ki Lurah Sentana.
“Aha, baiklah. Aku pun sebenarnya
ingin melepas lelah,” jawab Sena sambil cengengesan dengan tangan
menggaruk-garuk kepala, yang membuat Walang Kerik tampak jengkel. Hal itu
terlihat dari tatapan mata yang sinis, penuh kebencian.
“Huh, bertingkah!” sungut Walang
Kerik dalam hati. “Siapa pun kau, aku tak suka! Hm, tunggu saja saatnya.”
Pendekar Gila pun melangkah,
mengikuti Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur meninggalkan mulut desa tempat Lima
Walang Sakti masih berdiri.
***
4
Siang itu Ki Lurah Sentana mengajak
Pendekar Gila untuk bersantap di rumahnya. Sambil menyantap makanan, kepala
desa itu pun menceritakan peristiwa yang baru saja dialami di desanya. Diceritakan
bahwa setelah hampir sepuluh tahun Ki Boleng mati di tangan guru Pendekar Gila,
peristiwa penculikan dan pembunuhan terhadap perawan- perawan desa tak ada
lagi. Namun tiba-tiba hari ini, Desa Karang Bale dikejutkan dengan kematian
Watiri secara mengerikan.
Pendekar Gila menggaruk-garuk
kepala dengan tangan kiri. Mulutnya nyengir, seakan ada sesuatu yang sedang
dipikirkan. Setelah itu kembali mengunyah makanan yang baru saja dimasukkannya
ke dalam mulut.
“Aha, aneh sekali,” gumam Sena
dengan mulut nyengir. “Apakah kau tak mencurigai seseorang, Ki?”
“Itulah yang sulit, Sena. Kami tak
pernah mencurigai seseorang, karena sejak dulu kami berusaha menunjukkan
keramahan dan itikad baik pada siapa pun yang datang ke desa ini,” sahut Ki
Sentana setengah menyesal.
Pendekar Gila sesaat terdiam.
Tangan kirinya kembali menggaruk-garuk kepala. Kemudian nampak mulutnya yang
nyengir, seperti orang tolol sedang kebingungan.
“Bagaimana menurut pendapatmu,
Sena?” tanya Ki Tunjung Melur.
Mendengar pertanyaan itu Pendekar
Gila semakin cengengesan dengan tangan kian cepat menggaruk. Dirinya pun sedang
bingung untuk mencari jejak pertama guna memperkirakan siapa sebenarnya pelaku
dari kejadian yang dialami anak Ki Pardi.
“Huh, tolol sekali aku ini!” gumam
Pendekar Gila sambil menepuk-nepuk keningnya dengan tangan kiri. “Ah, kenapa
aku bodoh? Hm..., sulit amat...!”
Ki Lurah Sentana dan adiknya tampak
tersenyum keheranan melihat tingkah laku pemuda di hadapan mereka.
“Apakah kau tak memiliki pandangan,
Sena?” tanya Ki Sentana.
Pendekar Gila tercenung diam.
Keningnya mengerut, kemudian mulutnya cengengesan.
“Pandangan? Aha, kau benar kita
memang harus memiliki pandangan,” sahut Sena. Kemudian nampak dirinya kembali
tercenung, lalu cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Ki Sentana dan Ki
Tunjung Melur hampir tertawa melihat tingkah laku Pendekar Gila. Kalau saja
mereka tak segera sadar bahwa tamunya Pendekar Gila, mungkin Ki Lurah pun sudah
meninggalkan pemuda yang bertingkah konyol itu.
Pendekar Gila tak meneruskan
kata-katanya, melainkan terus menyantap makanannya dengan lahap. Hal itu
membuat Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur tersenyum-senyum. Mereka senang
menyaksi- kan Pendekar Gila lahap menyantap hidangan yang telah disajikan.
“Aha, aku ada akal!” seru Sena tiba-tiba
dengan mulut masih mengunyah makanannya. Suara keras itu membuat Ki Sentana dan
Ki Tunjung Melur tersentak kaget.
Ki Tunjung Melur dan Ki Sentana
kembali tersenyum sambil menarik napas dalam-dalam.
“Apa itu, Sena?” tanya Ki Sentana.
“Ya, katakanlah! Kami memang sangat meng- harapkan buah pikirmu, juga
bantuanmu,” tambah Ki Tunjung Melur.
“Ah ah ah, tanpa kalian minta pun,
aku akan berusaha membantu kalian,” sahut Sena, “Kalian teman-teman guruku.
Sudah sepantasnya kalau aku turut membantu.”
“Terima kasih atas kesediaanmu,
Sena,” ujar Ki Lurah Sentana.
“Ah, sudahlah, Ki! Kini kita harus
berpikir mencari jalan, bagaimana untuk dapat mengetahui siapa sebenarnya
pelaku dari pembunuhan keji itu,” usul Pendekar Gila sambil menyantap makanan.
“Ya ya, kau benar,” sahut Ki
Tunjung Melur, “Kita memang harus secepatnya membekuk pelaku keji itu. Sebelum
ada korban lain yang jatuh ke tangannya.”
“Aha, tepat sekali. Kurasa, aku
harus menyelidiki semuanya,” kata Pendekar Gila.
“Kau akan pergi?” tanya Ki Sentana,
kaget. “Begitulah,” sahut Pendekar Gila. “Mengapa harus pergi? Bukankah lebih
baik kau tinggal di rumahku?” saran kepala desa itu berusaha mencegah agar
Pendekar Gila tak meninggalkan Desa Karang Bale.
“Ah, terlalu merepotkan, Ki,” sahut
Pendekar Gila. “Biarlah aku menyelidiki semuanya dari jauh! Maksudku agar
gerak-gerikku labih bebas.”
Ki Sentana terdiam beberapa saat,
berusaha mencerna ucapan Pendekar Gila. Memang benar apa yang dikatakan pemuda
itu. Dengan kehadiran Pendekar Gila di Desa Karang Bale, pelaku pembunuhan itu
tentu akan menahan diri, jika ada rencana untuk berbuat lagi. Sebab bukan tak mungkin
kalau pelaku itu telah mengenal siapa Pendekar Gila sebenarnya. Seorang tokoh
muda yang namanya telah kesohor di kalangan rimba persilatan.
“Benar katamu, Sena. Kurasa kalau
kau berada di sini terus, penjahat itu akan tahu,” tukas Ki Tunjung Melur.
“Ya ya, kau benar. Tetapi, kuharap
kau tidak melepaskan begitu saja, Sena,” harap Ki Sentana.
“Aha, aku akan berusaha, Ki. Ah ah
ah, kenyang sekali perutku! Wah, bisa-bisa aku ketiduran, Ki,” ujar Sena
berseloroh sambil mengelus-elus perutnya yang terasa kenyang, setelah menyantap
makannya.
“Kalau memang kau ngantuk, tidurlah
di sini, Sena!” ujar Ki Sentana menawarkan.
“Aha, terima kasih, Ki. Kau telah
berbaik hati padaku. Izinkanlah aku meneruskan perjalananku dulu,” sahut Sena.
“Kau jadi pergi juga, Sena?” tanya
Ki Sentana dengan kening mengerut, seakan tak percaya kalau Pendekar Gila akan
meneruskan perjalanannya. Padahal Desa Karang Bale sedang membutuhkan Pendekar
Gila.
“Aha, jangan khawatir, Ki! Kurasa
kalian mengerti maksudku,” ujar Pendekar Gila. Kemudian setelah bangun dan
memberi hormat pada Ki Sentana dan Ki Tunjung Melur, Pendekar Gila melangkah
keluar untuk meneruskan perjalanannya.
“Jangan lupa, Sena!” “Aha, akan
kuingat!” sahut Pendekar Gila sambil menoleh pada Ki Sentana.
“Titip salam pada gurumu,” ujar
Tunjung Melur pura-pura sambil melambaikan tangan, yang dibalas Pendekar Gila
dengan lambaian tangan pula.
Pendekar Gila terus melangkah,
seakan tak tahu ada sepasang mata mengikuti langkah kakinya dengan pandangan
penuh kebencian. Di bibir orang itu, tersungging senyum sinis dan dendam.
“Tunggulah saatnya, Pendekar Gila!”
dengus pemilik senyum bengis dengan tatapan tajam penuh dendam. Sekejap
kemudian sesosok bayangan berkelebat meninggalkan semak belukar tempat dirinya
mengintip Pendekar Gila.
Pendekar Gila yang sebenarnya tahu
hanya tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dengan tangan
menggaruk-garuk kepala, dirinya terus melangkah meninggalkan Desa Karang Bale.
“Aha, kurasa orang itu bukan orang baik-baik. Hm, kulihat saja nanti,” gumam
Pendekar Gila sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Kakinya
melangkah cepat, seakan-akan ingin segera meninggalkan Desa Karang Bale.
***
Mentari mulai condong ke barat,
menandakan bahwa hari menjelang senja. Empat orang gadis berusia sekitar dua
puluh tahunan tampak melintasi hutan karet. Sambil bercanda ria mereka berjalan
menuju telaga yang terletak di selatan Desa Karang Bale. Nampaknya mereka
hendak mandi sore. Di perbatasan desa, mereka bertemu dengan dua jawara
pengawal Ki Sentana.
“Mau ke mana, Den Putri?” sapa Ki
Barman pada Wirani, anak Ki Lurah Sentana yang berjalan bersama ketiga gadis
temannya.
“Mau ke telaga, Paman,” sahut
Wirani. “Hati-hati, Den Putri! Kalau ada apa-apa di telaga, berteriaklah agar
kami cepat mendengar!” saran Ki Sobrah.
“Memangnya kenapa, Paman?” “Tidak
apa-apa. Bukankah Den Putri melihat sendiri kejadian yang dialami anak Ki
Pardi?” tanya Ki Barman setengah mengingatkan.
“Baiklah, Paman. Saya pergi dulu!”
“Ya ya, hati-hati...,” kata Ki Sobrah kembali meng- ingatkan.
Keempat gadis itu menganggukkan
kepala, kemudian meneruskan perjalanan ke telaga. Sementara Ki Barman dan Ki
Sobrah masih memperhatikan keempatnya yang terus melangkah. Sepertinya ada
sesuatu yang dikhawatirkan kedua jawara desa itu.
Keempat gadis itu terus melangkah
sambil terus berbincang-bincang.
“Kasihan ya Watiri? Aku tak
menyangka, kalau dia akan mengalami hal semacam itu,” ujar Wirani membuka
percakapan. Wajahnya kini menggambarkan kesedihan. Antara dia dan Watiri memang
sangat akrab.
“Iya ya?” sambung gadis berkain
kuning. “Coba saja kalau waktu itu dia tak pulang dahulu, tentunya tak akan
terjadi hal seperti itu.”
“Namanya saja sudah suratan
takdir,” selak gadis berpakaian coklat. “Bagaimanapun juga, kalau yang kuasa
menghendaki, kita tak bisa lepas.”
“Tapi nampaknya itu bukan kehendak
Hyang Widi, Serani. Hyang Widi tak akan setega itu, melepaskan nyawa manusia
dengan menghancurkan raganya,” bantah Wirani tak setuju dengan pendapat
temannya yang mengatakan kematian Watiri karena sudah kehendak Hyang Widi.
“Bukankah kita diciptakan untuk berusaha?”
“Ya ya ya, kau benar, Wirani. Ah,
sudahlah! Jadi merinding bulu kudukku,” tukas Serani berusaha mengakhiri
pembicaraan mereka terhadap Watiri.
Ketiga temannya tertawa, melihat
Serani takut. Namun keempatnya menurut diam. Mereka pun terus berjalan. Kini
mereka telah semakin dekat dengan telaga.
Sambil bercanda ria, keempat gadis
itu segera menceburkan di ke telaga. Pecahlah suara tawa mereka. Bermain
siram-siraman sambil menikmati hangatnya air telaga yang bening itu.
Sementara mentari sore mengawasi
gadis-gadis cantik itu bahkan menjilati kulit tubuh-tubuh mulus itu. Mereka tak
mempedulikan keadaan di sekitar telaga yang tampak sunyi. Mereka tak tahu kalau
dari balik semak-semak di sekitar telaga ternyata ada sepasang mata durjana
tengah mengawasi. Sepasang mata merah, karena menahan nafsu yang bergejolak di
hatinya.
“Hm, sangat menggairahkan anak Ki
Lurah itu,” gumam pemilik sepasang mata merah membara sambil terus memandangi
tubuh Wirani yang mulus dan menggiurkan.
“Aha, rupanya ada buaya yang
mengintai gadis- gadis mandi!”
Tiba-tiba terdengar seruan yang
cukup mengejut- kan pemilik sepasang mata merah itu. Seketika sesosok tubuh
melesat meninggalkan semak-semak di tepian telaga. “Aaa...!” Bukan hanya lelaki
bertubuh tinggi besar yang kaget, tetapi keempat gadis yang tengah bersendau
gurau di telaga pun terperanjat. Mereka tak menyangka sejak tadi ada yang
mengawasi.
“Tolong...! Tolooong...!” teriak
keempat gadis itu. “Hai, jangan lari!” teriak Pendekar Gila sambil melesat
cepat memburu sesosok tubuh tinggi besar berpakaian abu-abu.
***
Pendekar Gila menduga orang
bertubuh tinggi besar dan berpakaian abu-abu itu pasti punya maksud jahat
terhadap gadis-gadis yang sedang mandi. Itulah sebabnya pendekar muda itu terus
mengejarnya.
“Aha, mau lari ke mana kau,
Buaya!?” teriak Pendekar Gila sambil terus mengejar sosok tinggi besar
berpakaian abu-abu yang terus melesat meninggalkan telaga.
Kejar-mengejar antara Pendekar Gila
dengan lelaki tinggi besar berpakaian abu-abu pun terus berlangsung. Sena
hampir saja mampu mencapai lelaki itu. Namun tiba-tiba lelaki berambut putin
terurai panjang itu melemparkan sesuatu dari tangannya. Wusss! Glaaar...!
Ledakan keras terdengar, disusul kepulan asap tebal berwarna hijau. Melihat
asap tebal itu mengepung dirinya, Pendekar Gila terkejut. Dengan gerakan cepat
tubuhnya melompat menghindar dari sergapan asap beracun itu. Namun ketika
terbebas dari kepungan asap, Pendekar Gila sudah tak melihat lagi lelaki
berpakaian abu-abu yang dikejarnya.
“Ah, tolol sekali aku ini!” gumam
Pendekar Gila dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya
memandang ke sekeliling tempat itu, berusaha mencari ke mana lelaki berbadan
tinggi besar lari. Namun tetap tak ditemukannya lelaki berambut putih panjang
tadi.
Dipasangnya mata dan telinga dengan
sikap was- pada penuh. Dipusatkan seluruh kemampuan untuk mengawasi tempat itu.
Namun ternyata tak ada suara apapun, kecuali desau angin menerpa dedaunan dan
beberapa kicau burung pulang ke sarangnya.
“Aha, kurasa ada baiknya aku
menyelidiki di dalam hutan ini. Siapa tahu ada yang mencurigakan,” pikir Sena.
Kakinya segera melangkah masuk ke hutan. Mata dan telinganya dipasang
tajam-tajam dan waspada.
Swing! Tiba-tiba, sebuah belati
kecil melesat kencang ke arah kepalanya.
“Aits!” dengan cepat Pendekar Gila
memiringkan tubuh ke samping kiri, mengelakkan sambaran pisau itu. Sehingga
benda itu hanya beberapa jari melesat di samping kanan kepalanya.
Jrabs! Pisau itu menancap di batang
pohon tak jauh dari tempat Pendekar Gila.
“Edan! Hi hi hi...! Rupanya kau mau
main-main, Setan Belang!” teriak Pendekar Gila seraya melesat ke tempat asal
pisau itu. Tubuhnya melesat cepat. Namun baru beberapa langkah dia berlari,
seketika langkahnya terhenti. Di hadapannya berdiri dengan garang sesosok
serigala hitam bertubuh sangat besar. Serigala itu luar biasa besarnya. Matanya
yang merah kehitaman mencorong tajam memperlihatkan kebuasan.
“Auuu...! Grrr...! Aaauuung...!”
Pendekar Gila kaget dan keheranan
melihat kehadiran serigala besar yang secara tiba-tiba. Dengan kening berkerut
dan mata terus mengawasi makhluk aneh itu, Pendekar Gila melangkah mundur
beberapa tindak. Hatinya kembali tersentak kaget ketika serigala hitam itu mengeluarkan
suara keras menggelegar dan memekakkan telinga. Tampak gigi- giginya yang
runcing ketika moncongnya terbuka.
“Aauuu...! Grrr..! Aaauuu...!” “Aha
rupanya kau hendak main-main denganku, Raja Hutan? Hi hi hi...!” Pendekar Gila
cekikikan dengan kaki masih melangkah mundur. Matanya masih menatap tajam
kepada serigala itu. Binatang buas itu terus membuka mulutnya yang mengeluar-
kan cairan bening, lidahnya menjulur-julur seolah-olah menjanjikan kematian
bagi siapa pun yang berani melawannya.
Merasa mendapat tantangan dari
Pendekar Gila, binatang itu tampak kian marah. Kepalanya yang besar
digetar-getarkan, hingga air liur dari mulutnya terciprat ke rerumputan.
Kemudian, dengan cepat tiba-tiba serigala hitam itu melompat menyerang Pendekar
Gila. Kedua kaki depan, dengan kuku- kukunya yang tajam siap menerkam kepala
pemuda itu. Dan moncongnya pun membuka lebar, mem- perlihatkan gigi-giginya
yang runcing.
“Aits! Hea...!” Dengan cepat
Pendekar Gila melompat ke samping. Dilebarkan kaki kirinya, sementara kaki
kanannya ditekuk. Lalu dengan cepat, tangan kanan- nya menghantam perut
serigala yang melompat di samping tubuhnya.
“Hih...!” Begk!
“Auuu! Grrr...!” Serigala besar itu
menggeram sengit. Tubuhnya terpental ke depan, karena terkena hantaman tangan
Pendekar Gila. Setelah bergulingan, dengan penuh amarah serigala besar itu
kembali berdiri siap menerkam. Mulutnya dibuka, menunjukkan gigi- giginya yang
runcing. Sedang sepasang matanya yang merah kehitaman menyorot tajam mangsanya.
“Auuu! Grrr...! Aauuu...!” “Aha,
rupanya kau kuat juga, Kawan! Hi hi hi...! Baiklah kalau kau mau main-main
denganku,” gumam Sena sambil cengengsan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Dengan cepat Pendekar Gila membuka jurusnya yang bernama 'Kera Gila Menari
Mencengkeram Mangsa'. Gerak-gerik tubuhnya seperti seekor kera gila,
menari-nari dengan kedua tangan bergerak mencengkeram dan mencakar.
“Auuu! Grrr..! Aaauuu...!” Dengan
penuh amarah, serigala besar itu kembali melompat. Namun dengan gerakan aneh,
Pendekar Gila segera meliukkan tubuh. Tingkah lakunya persis seperti seekor
kera.
“Hi hi hi...! Nguk.... Nguk” Sambil
menggaruk- garuk kepala dan menepuk-nepuk pantat, Pendekar Gila mengejek
lawannya. Hal itu membuat serigala besar itu bertambah marah. Dengan menggeram
keras, binatang itu melompat hendak mencengkeram Pendekar Gila.
“Auuu...! Grrr! Auuu...!” Wrrr!
“Aits! Hi hi hi...! Tak kena, Binatang Tolol!” ejek Pendekar Gila dengan
tingkah lakunya yang konyol. Mulutnya cengengesan, tangannya bergerak-gerak seperti
seekor kera yang kegirangan dengan kaki berjingkrakan.
Serigala besar itu tampaknya sangat
marah melihat tingkah laku Pendekar Gila. Sepertinya binatang buas itu, ada yang
memerintah atau dalam pengaruh sihir. Hal itu dapat dilihat dari sikap dan
gerak-geriknya yang mirip makhluk berakal. Binatang itu seakan menaruh dendam
dan rasa benci terhadap Pendekar Gila.
“Aha, kurasa ada yang menyuruh kau,
Binatang Tolol! Baiklah, aku akan meladenimu,” tantang Pendekar Gila sambil
membuka jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'.
“Grrr...! Auuu...!” Binatang besar
itu melompat dengan cakaran kuku-kukunya yang tajam. Namun dengan cepat,
Pendekar Gila melompat pula ke samping. Tangannya bergerak menepuk ke kepala
binatang besar dan ganas itu.
“Heaaa!” Plak! “Auuu...! Grrr!”
Serigala itu seketika melolong keras kesakitan. Tubuhnya terpental ke belakang.
Kepalanya hancur, terhantam telapak tangan Pendekar Gila. Binatang itu terus
melayang, dan baru berhenti ketika meng- hantam pohon, dan jaruh dengan
menimbulkan suara gedebum yang sangat keras.
Buggg! Pendekar Gila menarik napas
dalam-dalam. Kepalanya digeleng-gelengkan. Seakan dirinya merasa tak tega untuk
membunuh binatang itu. Namun jika tak dibunuh, dialah yang menjadi mangsa
binatang buas itu.
“Ah, kasihan sekali kau, Binatang
malang! Tuanmu memang jahat, menyuruhmu menghantar nyawa. Ah ah ah, tuanmu itu
pengecut sekali,” gumam Sena. Matanya menatap bangkai serigala yang tubuhnya hancur.
Kemudian dengan menggeleng kepala, Pendekar Gila segera melangkah meninggalkan
tempat itu.
Mentari telah tenggelam di bumi
sebelah barat, menjadikan keadaan di sekitar Desa Karang Bale gelap. Di telaga
yang tadi tampak beberapa gadis- gadis Desa Karang Bale, kini telah sepi. Hanya
air telaga yang masih mengerucuk dari pancuran.
***
5
Malam terus merayap dengan
kegelapan yang menyelimuti bumi. Suasana Desa Karang Bale nampak sepi. Pintu
rumah-rumah penduduk sudah tertutup. Warga Desa Karang Bale dicekam rasa takut.
Terutama mereka yang memiliki anak perawan. Mereka takut kalau anaknya diculik
seperti yang terjadi pada Watiri, anak Ki Pardi. Namun meski rumah-rumah
penduduk nampak sepi, di pos-pos ronda, beberapa warga desa nampak melakukan
penjagaan.
Setiap gardu, nampak lima orang
berjaga-jaga. Kegiatan itu memang diperintah kepala desa mereka, agar tak
terulang kembali kejadian yang menimpa keluarga Ki Pardi. Bahkan anak-anak
gadis, sejak sore telah dilarang keluar dari rumah.
Malam semakin larut, dengan hawa
dingin yang terasa menusuk tulang. Rasa kantuk pun mulai menyerang para petugas
ronda. Namun mereka tetap berusaha untuk melek, agar tidak tertidur dalam
nienjalankan ronda.
“Huah, kenapa mataku ngantuk
sekali?” keluh Walang Keket.
“Ya, aku pun merasakan hal itu,”
sambung Walang Kadut.
Kelima Walang Sakti seketika
merasakan hawa kantuk yang tak terkira. Namun salah seorang di antara mereka,
ada yang nampaknya berpura-pura mengantuk. Walang Kerik memang berpura-pura
mengantuk.
Sebenarnya lelaki itu belum
mengantuk sama sekali, nampaknya ada sesuatu yang hendak direncanakannya.
Satu persatu, keempat saudara
seperguruannya pun tertidur lelap tak tahan diserang kantuk. Walang Kerik
tampak tersenyum penuh kemenangan. Dengan tenang, dirinya melangkah
meninggalkan gardu tempat keempat saudara seperguruannya tertidur.
“Pendekar Gila, kini terimalah
pembalasanku!” dengus Walang Kerik penuh dendam. Rupanya kejadian siang tadi,
masih terus melekat di dalam dadanya. Dirinya merasa dipermalukan di depan
orang oleh Pendekar Gila.
Dengan langkah mantap, Walang Kerik
menuju sebuah rumah seorang saudagar. Matanya memandang ke sekelilingnya,
berusaha meyakinkan diri kalau malam itu tak seorang pun yang melihat
perbuatannya.
Sesaat Walang Kerik menyelinap di
semak- semak. Matanya terus memperhatikan rumah Juragan Kanca. Kemudian setelah
tak nampak tanda- tanda adanya tanggapan pemilik rumah, Walang Kerik keluar.
Kemudian dengan menggunakan golok, dicongkelnya pintu rumah Juragan Kanca.
Ternyata tadi Walang Kerik
melemparkan tanah yang telah dijampi-jampi dengan ilmu sirep 'Siti Silem' yang
membuat penghuni rumah terlelap dalam tidurnya. Dengan bebas, Walang Kerik pun
segera bergerak menggasak harta milik Juragan Kanca tanpa ada seorang pun yang
memergoki.
***
Sementara itu, sesosok bayangan
tinggi besar berkelebat cepat dengan tenangnya. Bayangan abu- abu itu,
sepertinya tak mengalami kesulitan sedikit pun untuk masuk ke Desa Karang Bale.
Bahkan sambil tertawa terbahak-bahak terus melangkah menuju sebuah rumah
penduduk.
“Hua ha ha...! Orang-orang bodoh!
Mereka kira Datuk Raja Beracun tak akan mampu masuk ke Desa Karang Bale,” ujar
sosok bayangan itu yang ternyata Datuk Raja Beracun. Langkah kakinya
lebar-lebar, menuju rumah Ki Palongan.
Desa Karang Bale bagaikan tertidur.
Tak ada seorang pun yang masih terjaga. Semua warga desa terkena ajian sirep
yang dilancarkan Datuk Raja Beracun. Bahkan Walang Kerik yang semula hendak
bermaksud jahat terhadap Pendekar Gila, kini nampak tertidur pulas di bawah
sebatang pohon asam yang tumbuh di tepi jalan.
Datuk Raja Beracun terus melangkah
menyelusuri jalanan Desa Karang Bale dengan aman. Di bibirnya tersungging
senyum, ketika melihat seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahun
dengan pakaian seorang pesilat berwarna biru mengkilap tertidur pulas. Di
sampingnya tergeletak barang-barang berharga.
“Maling tolol!” gumam Datuk Raja
Beracun. “Hm, tapi kurasa dia orang Desa Karang Bale juga. Biar lebih baik
nanti kubawa saja.”
Setelah memperhatikan Walang Kerik
sesaat, lelaki bertubuh tinggi besar itu meneruskan langkahnya. Tak lama
kemudian, Datuk Raja Beracun telah sampai di rumah yang dituju. Perlahan Datuk
Raja Beracun mengintai lewat celah bilik rumah itu. Bibirnya tersenyum,
menyaksikan seorang gadis tertidur dengan pakaian tersingkap. Sehingga pahanya
nampak terbuka, mengundang rangsang kelelakiannya.
“Hm,” gumam Datuk Raja Beracun
tersenyum. Perlahan-lahan kuku jarinya yang panjang, men- congkel daun jendela
kamar itu. Kemudian dengan tenang, Datuk Raja Beracun melangkahi jendela kamar
Serani. Sementara gadis itu masih tertidur dengan pulas. Pahanya yang terbuka,
menjadikan mata Datuk Raja Beracun yang merah melotot tak berkedip. Beberapa
kali lelaki berusia sekitar enam puluh tahun itu harus menelan ludah.
Dengan senyum terulas di bibir,
perlahan-lahan Datuk Raja Beracun mengangkat tubuh Serani. Kemudian dengan
cepat, melesat meninggalkan rumah Ki Palongan. Namun tiba-tiba....
“Aha, rupanya kau iblisnya!”
terdengar suara sapaan keras dari arah barat. Bersamaan dengan itu, muncul
seorang pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tingkah lakunya seperti orang
gila. Mulutnya cengengesan, sedangkan tangannya menggaruk- garuk kepala.
Datuk Raja Beracun tersentak kaget.
Matanya yang merah, menatap dengan tajam pada Pendekar Gila. “Bocah Gila, kau
selalu ikut campur urusanku!” bentak Datuk Raja Beracun geram. Gigi-giginya
saling bergemeratukan menahan marah. Matanya yang merah membara, tampak semakin
garang bagaikan mengandung bara api.
“Hi hi hi..., lucu sekali! Bagaimana
aku tak ikut campur, Iblis Cabul?! Tentunya kaulah yang telah membunuh salah
seorang gadis desa ini serta memperkosanya,” tukas Pendekar Gila dengan mulut cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
“Kurang ajar! Apa urusanmu!” bentak
Datuk Raja Beracun sengit.
“Aha ha ha, bukankah sudah
kukatakan, aku tak suka dengan perbuatanmu!” balas Sena tak mau kalah.
“Hm, kalau begitu kau harus mampus!
Hea...!” dengan penuh amarah, Datuk Raja Beracun segera menyerang Pendekar
Gila. Dirinya menyangka kalau Pendekar Gila, tak ubahnya orang-orang gila yang
sering dilihatnya. Itu sebabnya Datuk Raja Beracun menyerang dengan tak
sepenuhnya.
Melihat lawan melakukan serangan,
dengan cepat Pendekar Gila bergerak menghindar. Diguna- kannya jurus 'Si Gila
Menari Menepuk Lalat'. Tubuh- nya meliuk-liuk laksana menari, kemudian setelah
lepas dari serangan lawan, Pendekar Gila menepuk- kan tangannya.
“Hats! He...!” Wrt! “Heh?!” Datuk
Raja Beracun tersentak kaget dengan mata semakin melebar. Kumisnya yang tebal,
tampak naik turun karena keheranan bercampur geram menyaksikan kejadian aneh.
Gerakan liukan dan tepukan yang dilakukan pemuda gila itu, kelihatan pelan dan
lemah. Namun kalau saja Datuk Raja Beracun tak segera melompat, niscaya dadanya
akan jebol terkena tepukan itu.
“Hm, rupanya pemuda ini bukan
sembarangan gila. Dari gerak-geriknya, mengingatkan aku pada seorang pendekar
yang puluhan tahun pernah malang-melintang tak terkalahkan. Hm, ada hubungan
apa dia dengan Pendekar Gila dari Goa Setan itu?” tanya Datuk Raja Beracun
dalam hati dengan tatapan mata tajam pada Pendekar Gila yang masih cengengesan
sambil menggaruk-garuk kepala.
“Bocah Gila, siapa gurumu!” bentak
Datuk Raja Beracun.
“Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Ki.
Mengapa kau mesti bertanya tentang guruku? Hm, kalau guruku yang melihat
perbuatanmu, maka guruku tak akan mengampunimu!” balas Pendekar Gila membentak
keras. Namun tingkahnya masih tetap gila. Cengengesan sambil menggaruk-garuk
kepala.
“Sombong! Kau kira gurumu akan
berani meng- hadapiku!” dengus Datuk Raja Beracun pongah. “Tak ada yang berani
menghadapi Datuk Raja Beracun di rimba persilatan!”
“Aha, kurasa kaulah orang yang
paling sombong, Datuk Iblis! Baiklah, kukatakan padamu bahwa aku murid Singo
Edan atau cucu murid Pendekar Gila dari Goa Setan!” ujar Sena tegas. Hal itu
membuat mata Datuk Raja Beracun membelalak kaget. Perlahan kakinya melangkah
mundur beberapa tindak, setelah mendengar siapa sebenarnya pemuda gila di
hadapannya.
“Heh?! Kau...?!” “Hua ha ha...!
Kurasa kau harus segera sadar, Datuk Iblis! Lepaskan gadis itu, lalu ikut aku!”
ajak Pendekar Gila.
“Cuih! Walau kau cucu murid
Pendekar Gila dari Goa Setan, aku Datuk Raja Beracun tak akan mundur! Hea...!”
Dengan masih memanggul tubuh
Serani, Datuk Raja Beracun menyerang Pendekar Gila. Tangannya yang berkuku
panjang hitam mengandung racun, bergerak mencakar dan menusuk dada serta wajah
Pendekar Gila.
Wrt! “Uts! Aha, kau memang manusia
jorok, Datuk Iblis! Sampai kuku-kuku saja tak kau urus!” ledek Pendekar Gila
dengan harapan Datuk Raja Beracun akan marah sekali, sehingga dia akan terus
mengulur waktu sampai semua warga Desa Karang Bale terjaga.
“Cuih! Jangan banyak mulut!
Terimalah jurus 'Sengatan Kala'ku ini! Hea...!” meski dengan tangan satu, Datuk
Raja Beracun terus bergerak menyerang Pendekar Gila. Namun dengan jurus 'Si
Gila Menari Menepuk Lalat' Pendekar Gila terus bergerak meliuk ke sana ke mari
menghindari serangan kemarahan Datuk Raja Beracun.
“Cuih! Sayang aku tak ada waktu
untukmu, Bocah Gila! Terimalah ini!” bersamaan dengan habisnya kata-kata itu,
tangan Datuk Raja Beracun melempar- kan tiga buah benda ke arah Pendekar Gila.
Wrt Wrt! Wrt! “Uts!” Dengan cepat
Pendekar Gila melompat dan ber- jumpalitan beberapa kali ke belakang
menghindari serangan rahasia itu itu.
Dar! Dar! Glarrr! Ledakan dahsyat
menggelegar terdengar. Dan seketika di sekitar tempat Pendekar Gila berada
tertutup asap merah yang pekat dan mengandung racun.
“Uh! Hea...!” Pendekar Gila segera
menarik napas dalam-dalam, kemudian diangkatnya kedua tangan ke atas. Lalu
ditarik dan diletakkan di pinggang. Kemudian dengan cepat, didorongkan kedua
telapak tangan mengerahkan ajian 'Inti Bayu' ke arah kabut tebal yang
menyelimuti sekelilingnya.
Wus! Angin kencang bergulung-gulung
seketika keluar dari kedua telapak tangannya. Dalam sekejap kabut merah beracun
telah tersapu bersih. Namun kembali Pendekar Gila tak menemukan Datuk Raja
Beracun.
“Ah, setan! Dia lepas lagi!” geram
Sena. Dua kali dia mengalami kegagalan mengejar Datuk Raja Beracun. “Hi hi
hi..., tolol sekali aku ini!”
Dengan cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila melangkah meninggalkan tempat itu. Namun
baru saja dia melangkah, dia bertemu dengan Ki Tunjung Melur dan Ki Lurah
Sentana.
“Oh, kau rupanya, Sena. Tadi
kudengar ada pertarungan. Kaukah yang bertarung?” tanya Ki Sentana.
“Aha, aku memang bodoh, Ki. Aku tak
dapat menangkap pelakunya. Dia berhasil lolos,” geram Sena. Namun mulutnya
masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Hanya sorot mata yang
memperlihatkan kalau dirinya sedang kesal dan marah.
“Jadi...?” tanya Ki Tunjung Melur.
Pendekar Gila menarik napas dalam-dalam. Kemudian kembali pada tingkah lakunya
yang konyol. Bibirnya ter- senyum-senyum, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Kalian kenal Datuk Raja Beracun?”
tanya Sena. “Datuk Raja Beracun?!” desis Ki Lurah Sentana dan Ki Tunjung Melur
hampir bersamaan. Mata keduanya membelalak lebar, sepertinya kaget mendengar
sebutan itu.
“Aha, benar. Apakah kalian kenal?”
tanya Sena menegaskan.
“Tidak. Selama ini, kami tak pernah
mendengar seorang datuk berada di desa ini,” jawab Ki Lurah Sentana yang
menjadikan Pendekar Gila nyengir dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Ah ah ah, sulit. Bagaimanapun aku
harus bisa menangkapnya. Mungkin kalau tertangkap, kalian akan mengenalnya,”
ujar Sena dengan nada agak menyesal.
“Tapi kau harus hati-hati, Sena.
Datuk bukanlah orang sembarangan,” ujar Ki Tunjung Melur meng- ingatkan.
“Aha, benar. Tetapi sehebat apa pun
seorang datuk, jika melangkah di jalan sesat, Hyang Widi tak akan merestui,”
ujar Sena setengah berfilsafat
“Ya ya, kau benar,” sahut Ki
Sentana. “Oh ya, apakah dia juga membawa gadis?”
“Benar, Ki. Gadis anak pemilik
rumah itu,” jawab Sena sambil menunjuk rumah keluarga Ki Palongan.
“Hah?!” Ki Sentana dan Ki Tunjung
Melur terbelalak. “Ayo kita ke sana!” ajak Ki Sentana. Mereka pun segera
berlari ke rumah Ki Palongan. Di situ Ki Sentana menemukan bekas ledakan. Hal
itu terlihat dari semburatan tanah. Namun mereka tahu, tentunya bekas ledakan
itu dilakukan Datuk Raja Beracun untuk menghindar dari kejaran Pendekar Gila.
Malam itu pula, Desa Karang Bale gempar dengan hilangnya Serani. Warga desa
yang baru terjaga akibat ajian sirep 'Mega Mendung' yang ditebarkan Datuk Raja
Beracun, berbondong-bondong datang ke tempat kejadian.
***
Esok paginya, belum juga selesai
masalah hilangnya Serani, mereka digemparkan dengan diketemukannya Walang Kerik
mencuri di rumah Juragan Kanca. Hal itu menjadikan Ki Sentana, Ki Tunjung Melur
dan Pendekar Gila tersentak kaget. Mereka yang mendapat laporan dari warga
segera berangkat ke balai desa. Sementara Walang Kerik telah berada di sana
bersama beberapa warga yang membawanya.
Betapa gusar dan marahnya Ki Lurah
Sentana, merasa nama baiknya sebagai Kepala Desa Karang Bale dicemarkan oleh
Walang Kerik.
“Kau tahu, apa akibat dari
perbuatanmu, Walang Kerik?!” bentak Ki Lurah Sentana di balai desa.
Walang Kerik tidak menyahut.
Dirinya hanya menundukkan kepala, tak berani bertatap mata dengan Ki Lurah
Sentana dan Ki Tunjung Melur.
“Dengan tindakanmu, seorang gadis
hilang. Dan kau sudah tahu, apa yang bakal terjadi!” bentak Ki Tunjung Melur
geram. Matanya menatap tajam pada Walang Kerik yang masih menunduk, tak berani
beradu pandang.
“Memalukan!” dengus Ki Lurah
Sentana. “Maafkan saya, Ki. Sebenarnya bukan maksud saya melakukan hal tercela
itu,” ujar Walang Kerik penuh rasa sesal. Kepalanya masih menunduk dalam.
“Hm, apa sebenarnya alasanmu
melakukan tindakan tercela itu, Walang Kerik?!” bentak Ki Tunjung Melur ingin
tahu, mengapa anak buahnya tiba-tiba berlaku pengecut dan melakukan tindakan
tak terpuji.
Lama Walang Kerik tak menyahuti
pertanyaan Ki Tunjung Melur. Perlahan-lahan wajahnya ditengadah- kan, kemudian
melirik wajah Pendekar Gila yang berdiri di samping Ki Sentana.
“Saya..., saya ingin mencelakakan
Pendekar Gila. Dengan mencuri, lalu mengatakan bahwa Pendekar Gila yang
melakukannya...,” jawab Walang Kerik yang membuat Ki Sentana dan Ki Tunjung
Melur serta keempat saudara seperguruannya terbelalak kaget. Bahkan Walang
Kejer dengan mendengus, melangkah maju mendekati adik seperguruannya itu. Tangannya
meraba gagang golok.
“Daripada hidup, lebih baik kau
mati saja, Walang Kerik! Kurasa kau pun telah meracuni kami semalam, sehingga
kami tertidur!”
Srt! “Tunggu!” tiba-tiba Pendekar
Gila berseru, menghentikan apa yang hendak dilakukan Walang Kejer. “Kurasa tak
baik jika kita saling bantai. Bukankah kita sedang menghadapi masalah yang
cukup berat?”
“Tapi dia benar-benar telah membuat
muka kami tercoreng, Tuan Pendekar,” kilah Walang Kejer.
“Aha, tidak juga, Kisanak. Kalau
Hyang Widi mau mengampuni hambanya yang bersalah, mengapa kita sebagai sesama
manusia tidak?” ujar Pendekar Gila yang menjadikan semua orang yang ada di
balai desa bengong.
Mereka tak percaya kalau pemuda
gila itu mampu berpikir jernih bahkan mengandung filsafat. Seakan pemuda itu bukan
pemuda gila. Mereka semua mulai sadar, bahwa pemuda itu berilmu tinggi.
Berpikiran bijaksana dan sopan sikapnya. Meskipun kadangkala tampak
menjengkelkan.
Pendekar Gila melangkah mendekati
Walang Kerik. Dengan bibir masih cengengesan, dipegangnya pundak Walang Kerik.
“Aha, kau tak bersalah, Kisanak.
Hawa nafsu telah mempengaruhimu,” tutur Sena dengan perasaan penuh
persahabatan. Hal itu menjadikan Walang Kerik terkesima, tak percaya kalau
Pendekar Gila akan sebaik itu.
“Kau mau memaafkan aku, Tuan Pendekar?”
tanya Walang Kerik.
“Aha, mengapa tidak? Sebagai hamba
Hyang Widi, sepantasnyalah kita saling memaafkan,” sahut Sena seraya
menepuk-nepuk pundak Walang Kerik. Di bibirnya masih mengurai senyum, berusaha
meyakinkan Walang Kerik.
Dengan malu-malu, Walang Kerik
menjura hormat pada Pendekar Gila.
“Kau sungguh baik, Tuan. Betapa
kerdilnya aku ini, yang tak mau melihat kedamaian di hadapanku,” desah Walang
Kerik sambil memeluk Pendekar Gila. “Sekiranya aku harus dihukum, aku siap.”
“Aha, tak perlu itu terjadi.
Bukankah milik Juragan Kanca masih utuh?” tanya Sena.
“Masih. Memang aku tak bermaksud
mencuri,” jawab Walang Kerik.
“Aha, kalau begitu tak ada masalah.
Kini tinggal meminta maaf pada Juragan Kanca.”
Nampaknya Juragan Kanca yang berada
di balai desa, memaafkan tindakan Walang Kerik. Sehingga Walang Kerik pun
dibebaskan.
“Kita kini menghadapi masalah yang
rumit. Maka itu, kita harus menggalang persatuan dan berwaspada!” kata Ki Lurah
Sentana menegaskan. Pendekar Gila memang telah tahu siapa pelakunya, tapi di
mana tempatnya kita belum tahu.” “Kita cari saja!” seru warga desa. “Ke
mana...?” tanya Ki Tunjung Melur. Semua warga diam. Mereka tak tahu, harus dari
mana mencari Datuk Raja Beracun. Sedangkan kalau ketemu pun, mereka tak mungkin
dapat mengalah- kan Datuk Raja Beracun. Tentunya Datuk itu bergelar Raja
Beracun, karena memiliki ilmu racun yang sangat hebat
“Aha, biarlah aku yang akan
berusaha mencari- nya!” Sena mengusulkan. “Kurasa, kini tinggal bagai- mana
memperkuat keamanan Desa Karang Bale ini. “ “Baiklah kalau begitu. Memang kita
harus bisa secepatnya menghentikan sepak terjang Datuk Raja Beracun,” sambut Ki
Lurah Sentana.
“Aha, kalau begitu aku mohon
pamit.” “Hati-hati, Sena! Kami berdoa untukmu. Semoga kau selalu dalam
lindungan Hyang Widi, sehingga kita bisa bertemu lagi,” ucap Ki Tunjung Melur.
Pendekar Gila tampak menjura hormat
pada kepala desa dan seluruh warga yang ada di balai desa itu kemudian
melangkah keluar. Setelah sampai di halaman balai desa, tiba-tiba secepat kilat
Pendekar Gila melesat meninggalkan tempat itu. Mata orang-orang yang berada di
balai desa terbelalak kaget menyaksikan kepergian pemuda itu. Mereka
menggeleng-geleng kepala karena kagum. Sebagian dari mereka bahkan ada yang tak
sempat melihat gerakan Pendekar Gila.
“Hah! Gila! Manusia apa dia?” gumam
yang lain. “Wuah, dia manusia atau siluman?” tanya yang lain. “Malaikat kali
tuh,” sahut rekannya.
Semua benar-benar terperangah,
menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah gila itu melesat bagaikan angin. Sehingga
dalam sekejap saja telah menghilang. Bukan hanya para warga, tetapi Ki Lurah
Sentana dan Ki Tunjung Melur serta Lima Walang Sakti turut menggeleng-gelengkan
kepala.
“Benar-benar bukan pendekar
sembarangan,” gumam Ki Sentana dengan terkagum-kagum.
“Untung dia mau memaafkanmu, Walang
Kerik. Kalau saja dia tak mau, entah sudah menjadi apa kau,” jumam Ki Tunjung
Melur seraya menarik napas dalam-dalam.
“Saudara-saudara, seperti apa yang
dikatakan Pendekar Gila, kita harus meningkatkan keamanan desa kita!” kata Ki
Lurah Sentana. “Kita harus meningkatkan kewaspadaan!”
“Setuju...!” sahut Warga. “Kita
juga harus menyelidiki orang-orang yang pantas kita curigai,” kata Ki Tunjung
Melur menambahkan.
“Setuju...!” seru warga penuh
semangat
***
6
Pagi dengan sinar mataharinya yang
terasa hangat, menyelimuti Desa Serotan. Kicau burung yang riang, menambah
keindahan suasana pagi. Ditingkahi pula desiran angin yang meniup dedaunan,
menghembus- kan hawa sejuk.
Pagi itu, Pendekar Gila nampak
sedang me- langkah di jalan utama Desa Serotan untuk meneruskan perjalanan
dalam rangka mencari Datuk Raja Beracun. Sambil bersenandung kecil, Sena terus
melangkahkan kakinya.
“Ah, ke mana aku mencari datuk
iblis itu?” gumam Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Dua hari sudah dia berusaha mencari tempat persembunyian Datuk Raja Beracun.
Tetapi tak juga dapat menemukannya. Padahal hampir semua bukit dan pegunungan
telah didaki. Beberapa desa telah dilalui sambil bertanya pada kepala desa mengenai
Datuk Raja Beracun. Namun anehnya semua tak ada yang mengenai.
Pagi ini, dia telah sampai di Desa
Serotan, desa kelima yang menjadi persinggahannya, selama mencari Datuk Raja
Beracun. Kalau di Desa Serotan dia tak menemukan persembunyian Datuk Raja Beracun,
entah di mana lagi harus mencari.
Pendekar Gila terus melangkah
menyelusuri jalanan yang membelah Desa Serotan, ketika tiba-tiba matanya
melihat orang-orang berkerumun. Nampak- nya ada sesuatu yang menjadi perhatian
orang-orang itu.
“Heh, ada apa di sana?” gumam Sena
dengan kening mengerut. Matanya menyipit, memperhatikan kerumunan orang yang
tampaknya tengah melihat sesuatu. Hatinya tertarik untuk mengetahui apa
sebenarnya yang terjadi.
Pendekar Gila bergegas melangkah
mendekati kerumunan orang di bawah sebatang pohon ara di depan sebuah kedai.
“Aha, Kisanak. Kalau boleh kutahu,
ada apa gerangan?” tanya Sena pada seorang lelaki muda berpakaian petani yang
baru saja keluar dari kerumunan.
“Seorang gadis diketemukan mati
dengan keadaan mengerikan,” sahut lelaki muda petani dengan wajah meringis,
setelah melihat keadaan gadis yang disebutnya.
“Maksud Kisanak?” tanya Sena ingin
tahu. “Ada seseorang yang telah menculik gadis desa ini, lalu menaruh mayat
seorang gadis dari desa lain yang keadaannya sangat mengerikan,” tutur lelaki
muda berusia sekitar tiga puluh tahun itu dengan tubuh bergidik.
“Aha, terima kasih.” Setelah
mengangguk, Pendekar Gila pun segera menuju tempat kerumunan. Dengan menyeruak
di sela-sela kerumunan orang, dia berusaha membuktikan sendiri.
“Hah?!” Mata Pendekar Gila
membeliak dengan mulut ternganga lebar, setelah mengetahui siapa mayat itu.
Meskipun dadanya berantakan dan kepalanya terpisah dari leher, Pendekar Gila
masih mampu mengenalinya. Mayat itu ternyata gadis Desa Karang Bale yang tak
lain Serani.
“Ah ah ah, benar-benar biadab!
Iblis keparat..!” Sena memaki-maki sendiri. Hal itu menarik perhatian
orang-orang yang tengah ramai melihat mayatnya. Orang-orang Desa Serotan
mengerutkan kening, menyaksikan tingkah laku aneh pemuda itu.
“Pemuda gila, mau apa dia?” sungut
seorang lelaki berbadan tinggi tegap dengan muka garang. Sepertinya lelaki
berusia sekitar lima puluh tahun ini, tak suka dengan tutur kata Pendekar Gila
dan sikapnya.
“Bocah gila, pergi sana!” bentak
teman lelaki tinggi tegap itu mengusir Pendekar Gila yang justru tertawa
cekikikan. Tangannya menggaruk-garuk kepala.
“Aha, galak sekali kau, Ki,” ujar
Pendekar Gila masih cengengesan.
“Huh, kau tak ada gunanya!” Lelaki
berusia sekitar empat puluh lima tahun dengan tubuh gempal serta kepala botak
itu berusaha mendorong tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat, Sena menggeser
kakinya melebar ke samping. Sehingga dorongan tangan orang itu hanya mengenai
angin.
Lelaki berpakaian kuning itu
terhuyung hampir jatuh karena dorongannya tak mengenai sasaran. Betapa marahnya
dia karena melihat pemuda itu mampu menghindari dorongannya.
“Kurang ajar! Rupanya kau bukan
orang gila sembarangan!” bentak lelaki tinggi besar marah, melihat pemuda gila
itu mampu mempermainkan temannya. “Rupanya kau datang ke Desa Serotan mau
membuat keributan!”
“Aha, kurasa sebaliknya, Ki. Kalian
berdualah yang hendak mengail di air keruh,” tukas Sena sambil cengengesan
dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat kemarahan kedua lelaki berwajah
jarang itu semakin memuncak.
“Kurang ajar! Rupanya kau harus
berkenalan dulu dengan Sepasang Banteng Kuning!” dengus lelaki tinggi tegap
beralis tebal.
“Aha, cocok sekali nama kalian
banteng. Ah ah ah, tak tahunya kalian memang seperti banteng dungu,” ejek Sena
sengaja memancing kemarahan kedua orang yang mengaku sebagai Sepasang Banteng
Kuning. Mulutnya masih cengengesan, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Kurang ajar! Kau memang harus
dihajar, Bocah Gila!” geram lelaki berbadan gempal dan agak pendek. Matanya
membelalak marah. Sambil mendengus keras, giginya saling beradu karena menahan
amarah.
“Aha, kurasa justru kalian yang
perlu dihajar,” sahut Sena seraya tertawa cekikikan, yang membuat Sepasang
Banteng Kuning bertambah marah.
“Bedebah! Kuremukkan kepalamu,
Bocah Gila!” Lelaki tinggi besar itu melesat menyerang dengan menghantamkan
pukulan yang dinamakan 'Banteng Menanduk'.
“Remuk kepalamu! Heaaa...!” “Uts!
Hi hi hi...! Belum, Banteng Tolol!” sahut Sena sambil berkelit dengan jurus 'Si
Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, diikuti
gerakan kedua kakinya yang kadang melebar, menekuk, atau menyilang dengan tubuh
agak merendah. Sementara tangannya tak tinggal diam, melakukan tamparan dengan
telapak tangan ke dada lawan. Wrt!
“Heh?!” Lelaki bertubuh tinggi
besar itu tersentak kaget bukan kepalang menghadapi serangan aneh yang
dilakukan lawannya. Matanya terbelalak keheranan seakan tak percaya pada
gerakan lawan yang baru saja dilihatnya. Gerakan meliuk dan menepuk yang
dilakukan Pendekar Gila, nampaknya sangat pelan dan lemah. Namun
pukulan-pukulan itu ternyata mengandung kekuatan dahsyat yang berbahaya.
“Ilmu gila!” seru lelaki berbadan
gempal yang juga terkejut bukan main menyaksikan jurus-jurus yang dilakukan
Pendekar Gila. Belum pernah ditemukan- nya jurus aneh seperti yang sekarang
disaksikan.
“Celaka! Dia bukan orang
sembarangan, Wungul,” ujar lelaki tinggi besar pada temannya.
“Ya. Gerakannya nampak aneh.
Sepintas kelihatan pelan dan tak bertenaga, Pulut,” sahut Wungul. “Kita harus
berhati-hati! Siapa tahu dia yang dimaksud oleh datuk.”
“Maksudmu Pendekar Gila?” tanya
Pulut. “Ya. Kulihat dari tadi gerak-geraiknya sama dengan yang dikatakan
datuk,” jawab Wungul berbisik. Sedangkan matanya masih memperhatikan
gerak-gerik Pendekar Gila yang konyol, sepertinya hendak menyelidiki pemuda
itu.
“Kau benar, Wungul. Hm, kita harus
segera pergi. Pemuda itu menurut datuk, bukan lawan kita,” bisik Pulut
mengingatkan temannya.
“Tapi...” “Ayolah!” ajak Pulut. “Celaka
kalau kita pergi, karena pemuda gila ini tentu mengikuti kita. Bahaya, ini tak
boleh terjadi. Datuk sudah berpesan tak seorang pun boleh tahu tempat
persembunyiannya....”
“Lalu apa yang harus kita lakukan?”
tanya Pulut “Tak ada lain, menyingkirkannya atau kita yang tersingkir dari
dunia,” sahut Wungul yang membuat Pulut menghela napas berat. Dia menyadari,
menghadapi pemuda gila itu bukan hal yang mudah. Mungkin ilmu mereka masih jauh
di bawah lawan yang masih muda belia itu.
“Itu gila!” rungut Pulut. “Ilmu
kita tak sebanding dengan ilmunya!”
“Tapi tak ada jalan lain.” “Itu
sama saja kita bunuh diri,” Pulut masih bersungut-sungut, tak setuju dengan apa
yang diusulkan temannya. Bagaimanapun dia merasa kalau ilmu mereka tak berarti
jika dibandingkan dengan ilmu yang dimiliki Pendekar Gila. Jangankan mereka,
Datuk Raja Beracun pun mungkin harus berpikir tujuh kali untuk menghadapi
pemuda gila ini.
“Ya, kau memang benar. Tapi tak ada
cara lain.” “Bodoh! Pakai otakmu, Wungul! Lebih baik kita pergi ke mana saja,
asal pemuda ini tak mengejar kita. Meskipun mengejar, dia tak akan tahu di mana
datuk berada,” kata Pulut.
“Baiklah. Ayo kita pergi!” ajak
Wungul. Tanpa menghiraukan bagaimana tanggapan orang-orang yang ada di tempat
itu, Wungul dan Pulut segera melesat kabur meninggalkan Pendekar Gila.
“Aha, kedua orang itu sangat
mencurigakan,” gumam Sena. “Kudengar tadi mereka menyebut datuk. Hm, kurasa
Datuk Raja Beracun yang disebutnya.”
Pendekar Gila yang tadi menggunakan
ajian 'Penyadap Rungu', tahu apa yang mereka bisikkan. Namun mulutnya sejak
tadi hanya cengengesan, berpura-pura tak tahu apa yang mereka bicarakan.
“Aha, aku harus mengejar mereka,”
gumam Sena, kemudian secepat kilat tubuhnya melesat meninggalkan Desa Serotan
menuju selatan, arah yang dituju Sepasang Banteng Kuning.
***
Dengan ilmu lari 'Sapta Bayu',
dalam sekejap saja Pendekar Gila dapat memburu kedua orang suruhan Datuk Raja
Beracun. Bahkan mampu mendahului di depan mereka.
Sepasang Banteng Kuning terus
berlari. Namun tiba-tiba keduanya tersentak dan berhenti, ketika di hadapan
mereka telah berdiri Pendekar Gila. Pemuda berpakaian rompi dari kulit ular itu
berdiri membelakangi Sepasang Banteng Kuning.
“Heh?!” “Hah...?!” Sepasang Banteng
Kuning tersentak kaget dan saling pandang. Keduanya sungguh tak mengira, kalau
Pendekar Gila telah sampai di tempat itu. Padahal Hutan Barok telah jauh dari
Desa Serotan. Bagaimana mungkin pemuda gila ini tahu-tahu telah berada di Hutan
Barok? Pikir keduanya keheranan. Padahal mereka telah mengerahkan tenaga dalam-
nya untuk berlari secepat mungkin.
“Hua ha ha...! Selamat bertemu
kembali, Kisanak!” sapa Pendekar Gila sambil membalikkan tubuh dengan tangan
menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan, semakin membuat Sepasang Banteng
Kuning membelalakkan mata.
“Ah?!” “Uh...?!” “Aha, mengapa wajah
kalian pucat? Apa kalian sedang sakit? Ah ah ah, kasihan...!” seloroh Pendekar
Gila sambil tertawa terkekeh-kekeh.
Sepasang Banteng Kuning tampak
semakin tegang menghadapi Pendekar Gila. Keduanya tahu ilmu yang dimiliki
pemuda itu jauh lebih tinggi dari mereka. dari ilmu meringankan tubuh yang
dikerahkan untuk mengejar, kedua lelaki berpakaian serba kuning itu dapat
mengetahui kehebatan lawan. Betapa tidak! Mereka tak melihat pemuda itu
mengejar. Namun tiba-tiba saja telah menghadang di hadapan mereka.
“Bagaimana, Wungul?” tanya Pulut
berbisik. “Tak ada jalan lain,” sahut Wungul dengan suara mendesis.
“Kita lawan dia?” tanya Pulut
memasukan. “Ya! Tapi kita harus memanggil teman-teman kita. Yang jelas kita tak
akan mampu menghadapinya,” usul Wungul. Kemudian tiba-tiba Wungul mengeluarkan
suara mirip lolongan serigala. Begitu juga dengan Pulut. “Auuu..!” “Auuu...!”
Pendekar Gila tersentak kaget mendengar lolongan keras yang keluar dari mulut
Sepasang Banteng Kuning. Namun kemudian kembali ber- tingkah konyol. Mulutnya
cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
“Ah ah ah, baru kali ini kulihat
kerbau bisa melolong seperti serigala,” gumam Pendekar Gila yang tertawa-tawa,
merasa lucu melihat tingkah kedua orang itu.
No comments:
Post a Comment