Wednesday, April 24, 2019

031 Peti Mati Untuk Pendekar Gila


PETI MATI UNTUK PENDEKAR GILA
Oleh Firman Raharja

1
Pagi nampak cerah dengan langit biru ben- ing tanpa setitik mega. Angin berhembus perlahan, membawa kesejukan yang alami.
Suasana Desa Singo Prajan yang terletak di pesisir Pantai Laut Selatan tampak begitu damai. Ombak beriak-riak di lautan menambah peman- dangan desa itu.
Dari kejauhan nampak serombangan orang tengah melangkah perlahan pada jalan setapak di sisi gunung. Sebelah kanan yang mereka lewati terbentang jurang menganga lebar. Sedangkan di sebelah kiri, bukit-bukit batu cadas menjulang dengan angkuhnya. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, jelas mereka adalah orang-orang kadipaten. Paling depan berjalan seorang lelaki tinggi besar dengan cambang bawuk yang menutupi wajah. Di sisinya berjalan dua orang lelaki lain. Seperti orang yang di tengah, dua lelaki yang berjalan di kanan kiri orang tersebut juga mempunyai wajah beringas dengan kumis melintang.
Sedang di belakang mereka tampak berjalan beriringan empat lelaki kekar bertelanjang dada. Mereka memanggul sebuah tandu dengan bangunan berbentuk rumah. Di belakang mereka ada lima puluh orang lelaki lain berpakaian prajurit ber- senjata tombak dan pedang.

Ketika mereka melewati jalan agak menurun, tiba-tiba orang yang berjalan paling depan berseru, "Para prajurit! Kalian bersiaplah! Sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan Ragajampi!"
"Hm, Kakang. Ada apa kiranya di perbata- san Ragajampi?" tanya seorang prajurit kepada kawannya.
"Apakah kau belum tahu, Prakaspati?" pra- jurit bernama Haryo Sasongko balik bertanya.
"Sungguh aku belum tahu, Kakang Haryo Sasongko...," jawab Prakaspati dengan mata me- nyipit.
Haryo Sasongko sesaat terdiam, matanya memandang lurus ke depan. Lalu dengan setengah berbisik Haryo Sasongko berkata, "Di perbatasan Ragajampi, banyak sekali perampok yang ganas dan liar. Para prajurit tampak diam, hanya mata me- reka yang menatap tajam ke sekeliling tempat itu.
"Apakah mereka umumnya memiliki ilmu yang tinggi, Kakang?"
"Biasanya mereka berilmu tinggi," jawab Haryo Sasongko. "Kabarnya, mereka orang-orang bekas prajurit Candra Mulia. Wajar kalau mereka mahir dalam segala siasat perang."
Perlahan-lahan mereka melangkah sambil bersikap waspada. Wajah para prajurit seketika tegang, bagaikan melihat hantu di siang bolong.
"Apakah kalian telah siap?!" Kembali terdengar seruan Haryo Sasongko memberi perintah.
"Siap...!" jawab seluruh prajurit. "Ada apa, Haryo Sasongko...?" tiba-tiba terdengar suara seorang wanita. Suara itu berasal dari dalam tandu yang berada di alas pundak keempat orang yang bertelanjang dada.
"Ampun, Tuan Putri! Hamba hanya mempe- ringatkan pada para prajurit agar bersiap-siap," jawab Haryo Sasongko sambil menyatukan tangannya ke dada, dan membungkukkan tubuhnya.
"Kenapa mesti begitu?" "Sekadar untuk berjaga-jaga...." "Ya, sudahlah. Kita berdoa saja agar semuanya selamat. Usahakan agar jangan mencari-cari perselisihan dahulu. Kalau kita diserang, apa boleh buat. Sudahlah, kita lanjutkan!"
"Ayo, jalan...!" Mendengar seruan Haryo Sasongko, lima puluh prajurit itu segera melanjutkan perjalanan. Langkah demi langkah mereka berjalan, tak ada gangguan. Mereka merasa tenang ketika telah memasuki Alas Mentaok. Namun mereka tetap te- rus siap siaga untuk menghadapi hal-hal yang ti- dak diinginkan. Namun ketika para prajurit me- langkah di tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara raungan keras dan rintihan menyayat. Membuat bulu kuduk para prajurit berdiri. Haryo Sasongko dan dua orang wakilnya nampak siap, menghunus pedang yang tersampir di pundak.
Srt! Srt! "Siaplah kalian, nampaknya mereka mulai datang!" seru Haryo Sasongko memperingatkan semua prajurit. "Adi Prakaspati, rupanya kita akan menghadapi para perampok itu. Bersiaplah...!"
"Aku telah siap, walaupun nyawaku untuk taruhannya," jawab Prakaspati dengan penuh kewaspadaan. "Percuma aku menjadi murid Kaliwangsa, kalau harus takut menghadapi bekas kroco-kroco Candra Mulia."
"Aku mengerti," gumam Haryo Sasongko da- tar. "Bagaimana denganmu, Adi Bratamurti?"
"He he he... dengan pedang pusaka Naga Krida, pantang bagiku takut pada siapa pun. Apa- lah artinya kroco-kroco tentara Candra Mulia," ja- wab Bratamurti dengan angkuhnya. Pendekar dari Kerajaan Kawilangit itu seakan menyepelekan ke- mampuan bekas prajurit-prajurit Candra Mulia.
"Aku percaya pada kalian. Aku yakin, ba- ginda raja mengambil kalian sebagai pengawal khusus tentu ada sebabnya. Bukan begitu Adi Prakaspati, Bratamurti?"
Prakaspati dan Bratamurti tersenyum lalu mengangguk.
Kedua pengawal itu diutus raja mereka, Balawisesa, untuk mengiringi keberangkatan putrinya, Palupi, menemui seorang raja di wilayah Candra Mulia. Raja muda yang bergelar Raden Sasakajiwo, adalah orang yang menjadi sahabat Palupi. Persahabatan mereka telah terjalin sejak Raden Sasakajiwo bertandang ke Negeri Kawilangit tiga tahun yang lalu.
Sejak pertemuan itu Palupi seakan tak da- pat melupakan Raden Sasakajiwo yang rupawan. Minum terasa api, makan terasa sekam, jika pera- saan rindu menyergap hatinya. Hanya bayangan wajah raja muda itu yang selalu melekat di kelo- pak matanya. Perasaan rindu seperti itulah yang menjadikan Raja Balawisesa akhirnya memutusan ke Kerajaan Candra Mulia, khususnya pada Raden
Sasakajiwo sebagai rajanya.
Dahulu sebelum menduduki tahta kerajaan, Raden Sasakajiwo menjadi buronan di Kerajaan Candra Mulia yang dipimpin Raja Rakai Pikatan. Dan ketika sang Raja mangkat, maka Raden Sasa- kajiwo yang segera menduduki singgasana kera- jaan. Dia menobatkan dirinya sebagai penguasa Kerajaan Candra Mulia.
Ternyata utusan yang dikirim Balawisesa mendapat tanggapan baik dari Raden Sasakajiwo. Waktu itu Raden Sasakajiwo memang mengha- rapkan bantuan dari Kerajaan Kawilangit dalam usahanya meraih kedudukan sebagai penguasa kerajaan. Ketika mendengar laporan dari para utu- san bahwa Raden Sasakajiwo menerima pinangannya. Raja Balawisesa merasa gembira. Dia segera mengutus putrinya dengan dikawal lima puluh orang prajurit pilihan dan tiga orang pendekar menuju ke pulau itu.
Para prajurit pengawal putri Palupi terus melangkah setapak demi setapak. Walau nampak tenang, di hati mereka terbersit rasa was-was. Ti- dak seperti dua orang pimpinan mereka yang sombong, mereka telah mendengar persis siapa-siapa adanya prajurit-prajurit Candra Mulia yang terkenal ganas dan beringas tak pernah kenal pera- saan takut mati.
Sudah banyak contoh yang menguatkan. Banyak prajurit Kerajaan Marta Pura yang binasa ketika hendak melakukan penyerangan ke Pulau Jawa. Mereka juga mengenal nama-nama yang sering menjadi momok dan merupakan tokoh-tokoh pemberontak di Kerajaan Candra Mulia.
Sebenarnya, Raden Sasakajiwo telah bebe- rapa kali memperingatkan pada rekan-rekannya yang tergabung dalam Panca Leluhur Sakti untuk menghentikan sepak terjang mereka, dan meminta mereka agar terus membantu kedudukannya se- bagai raja. Namun mereka seperti tak menggubris- nya, bahkan dengan berani para mantan prajurit itu menentang. Hanya karena memandang Eyang Seta Kumikis, mereka enggan untuk memusuhi Raden Sasakajiwo. Ditambah lagi karena mereka telah terikat janji untuk tidak saling menjatuhkan.
***

Para prajurit tengah melangkah di tengah Alas Mentaok ketika dari balik semak-semak dan dari atas pohon berloncatan orang-orang bertopeng menghadang langkah mereka. Seketika mereka tersentak mundur, mata mereka segera mengawasi gerak-gerik gerombolan bertopeng merah itu.
"Siapa kalian!" bentak Haryo Sasongko. "Huh. Rupanya monyet-monyet macam ini yang sering membuat kerusuhan," dengus Bratamurti seraya menghunuskan pedangnya. "Mau apa kalian, hah?!"
"Ha ha ha...! Kaliankah yang hendak meng- hadap Raja Raden Sasakajiwo?" tanya seorang berkedok yang berdiri paling depan. Tampaknya dialah pimpinan gerombolan itu. "Serahkan pada kami apa yang kalian bawa! Dan minggatlah kalian dari sini! Biar kami yang akan menyampaikan pa-da Baginda Sasakajiwo!"
Terbelalak mata Haryo Sasongko, Prakaspa- ti, juga yang lainnya, mendengar permintaan ketua gerombolan berkedok itu. Apalagi Putri Palupi yang berada di dalam tandu, hatinya seketika dag dig dug tak karuan. Gadis itu nampak gelisah, takut kalau-kalau para prajuritnya akan mengalami ke- kalahan.
"Oh, Hyang Widi! Apakah para prajuritku akan dapat mengatasi semua ini?" desis Palupi cemas. "Bagaimana kalau para prajuritku menga- lami kekalahan? Bagaimana dengan nasibku...?"
"Apakah kalian tak tahu aturan! Atau ba- rangkali kalian memang sengaja mencari gara- gara, hah!" bentak Haryo Sasongko.
Bentakan Haryo tidak menjadikan ketua orang-orang berkedok itu takut. Bahkan setelah saling pandang dengan anak buahnya ia tertawa keras dan terbahak-bahak.
"Kalianlah yang tak tahu sopan santun! Ka- lian datang dari jauh, namun tak menghiraukan kami yang menguasai daerah ini. Perlu kalian ke- tahui, siapa saja yang memasuki daerahku harus meninggalkan apa saja yang dibawa, termasuk nyawa! Tapi kali ini kuberi keringanan, kalian cukup meninggalkan apa saja yang kalian bawa. Ka- mi memberikan kebebasan pada kalian untuk hidup?"
"Bedebah! Kalian sangat meremehkan kami!" bentak Haryo marah, karena merasa diremehkan. Haryo yang telah kondang namanya di Negeri Kawilangit, seakan tak dapat membendung amarahnya. "Dengar oleh kalian. Lebih baik kami me- ninggalkan nyawa daripada harus menyerahkan permintaan kalian...."
"Ha ha ha...! Kalian orang-orang Kawilangit berani lancang di daerah kekuasaan kami. Hm, jangan harap kalian akan mampu mempertahan- kan segalanya. Kami telah memberikan keringanan, namun kalian menolak. Jangan harap kalian akan kami ampuni lagi!"
"Sudahlah, Kakang! Percuma kita berbantah dengan orang yang tak mempunyai pengetahuan. Mereka orang-orang dungu, yang biasa hidup di hutan," kata Bratamurti.
"Setan! Rupanya anjing-anjing Kawilangit memang banyak bacot!" bentak ketua gerombolan berkedok marah, mendengar ucapan Bratamurti yang menghinanya. "Anak-anak, serbu dan habisi mereka...!"
Seketika kedua puluh orang berkedok itu serentak berlompatan mengepung para prajurit. Senjata golok dan tombak siap di tangan masing- masing. Para prajurit Kawilangit pun tak tinggal diam. Serentak mereka mencabut senjata masing-masing. "Bagaimana? Apakah kalian masih bersitegang mempertahankan apa yang kalian bawa?"
"Hm, sudah aku katakan, lebih baik kami meninggalkan nyawa daripada kami harus memberikan apa yang kalian minta!" bentak Haryo marah.
"Bagus kalau itu yang kalian ingini! Se- rang...!"
Serentak gerombolan berkedok merangsek menyerang para prajurit Kawilangit. Serta-merta Haryo pun segera berseru.
"Prajurit, seraaang...!" Pertarungan antara dua kelompok itu pun tak dapat dihindari. Kedua kelompok itu, bagaikan singa-singa kelaparan menyerang membabi buta. Jumlah prajurit Kerajaan Kawilangit lebih banyak ketimbang penyamun. Namun karena di hati me- reka tertekan keragu-raguan para prajurit bertempur dengan beban. Serangan-serangan mereka tampak kurang mantap dan sering meleset. Bahkan para begal itu makin mengganas. Melihat mu- suh ketakutan, para begal makin meningkatkan serangan.
Keempat orang yang memandu Putri Palupi segera membawanya pergi menyelamatkan diri. Mereka merasa khawatir kalau-kalau sang Putri akan mengalami cedera. Keempat prajurit peman- du itu, merupakan prajurit-prajurit yang setia pa- da Putri Palupi, yang sengaja dibawa untuk me- nemaninya.
Melihat keempat pengusung itu melarikan diri dengan tandunya serta-merta ketua penyamun berkedok berkelebat mengejar. Namun belum juga lelaki bertubuh kekar itu jauh Haryo telah pula mengejarnya. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh Haryo secepat kilat berlari. Sehingga tahu-tahu telah menghadang pimpinan gerombolan berkedok.
"Bedebah! Rupanya kau ingin mati!" bentak pimpinan begal itu merasa jengkel karena niatnya terhalang.
Haryo tersenyum. "Aku tak mencari mati, karena aku ingin hidup. Kaulah yang mencari mati. Apa perlumu menghadang kami? Apakah kau tak takut bila perbuatanmu diketahui Baginda Sasakajiwo?" dengus Haryo.
Pimpinan gerombolan berkedok tersenyum sinis mendengar Haryo menyebut nama Sasakajiwo. Sepertinya nama Raden Sasakajiwo bagi lelaki berkedok itu tak ada artinya. Lalu dengan suara lantang dia kembali berkata setengah membentak.
"Kalau kau memang ingin memanggil Raden Sasakajiwo. Pergilah! Aku tak akan mundur menghadapinya. Hua ha ha...! Sasakajiwo tak lebih dari aku, si Ronggo Dewa...! Kalau Sasakajiwo melihat hal ini, pasti dia akan membantuku."
"Sombong!" dengus Haryo Sasongko. "Hua ha ha...! Kau tak percaya?" lelaki yang mengaku bernama Ronggo Dewa tersenyum men- gejek. "Kalau kau mendengar siapa kami, niscaya kau dan para prajuritmu akan lari terkencing- kencing."
"Hm, mungkin hanya orang-orang bodoh yang mau digertak berandal macammu. Tapi aku tidak!" jawab Haryo sengit. "Aku tak akan peduli siapa pun kalian, karena aku merasa benar. Kebe- naran selalu dalam lindungan Hyang Jagad Beta- ra...!"
"Bedebah, jangan menyesal nantinya," ger- tak Ronggo Dewa, marah. "Jangan lengah, hiat...!"
Melihat musuhnya melakukan serangan, dengan cepat Haryo pun tak mau tinggal diam. Seketika mulutnya menggerang bagaikan seekor ha- rimau, lalu melompat untuk memapaki serangan. Tak pelak lagi pertarungan kedua pimpinan itu pun seketika berlangsung seru. Keduanya nampak penuh semangat untuk saling menjatuhkan. Se- hingga tanpa segan-segan kedua pimpinan itu segera mengeluarkan jurus-jurus yang sangat dian- dalkan. Jurus demi jurus berlalu, kedua pimpinan seperti tak mengenal lelah. Dari jurus yang ringan, sampai jurus-jurus berat, yang menentukan mati hidupnya mereka. Namun begitu keduanya sama- sama tangguh.
Di pihak lain para prajurit Kerajaan Kawi- langit yang kini dipimpin oleh dua tokoh utama yaitu Prakaspati dan Bratamurti masih terus beru- saha membendung serangan-serangan gerombolan berkedok yang nampak semakin mengganas. Se- pertinya para begal itu tak kenal takut, walau menghadapi dua tokoh yang sudah terkenal di Ke- rajaan Kawilangit.
Perampok berkedok merah makin lama ma- kin mengganas sehingga para prajurit Kawilangit tampak mulai terdesak. Meskipun jumlah prajurit lebih banyak, kenekatan gerombolan itu ternyata mampu mendesak pertahanan lawan.
Korban berjatuhan dari pihak prajurit Kawi- langit. Semangat para prajurit lain kian bertambah susut. Tanpa ampun lagi, mereka menjadi bulan-bulanan para begal. Maka dalam waktu singkat mayat bergelimpangan dari pihak prajurit. Sebaliknya dari para begal, makin merajalela dan membabi buta. Mereka bagaikan makhluk haus darah membantai lawan tanpa rasa kasihan.
Di pihak lainnya pertarungan antara dua orang pimpinan itu masih berjalan. Keduanya kini benar-benar menguras segala ilmu yang mereka miliki. Namun demikian, pertarungan itu seper- tinya tak akan terhenti. Kelebatan-kelebatan tubuh keduanya begitu cepat, menjadikan tubuh mereka bagaikan menghilang tertutup oleh warna- warni pakaian yang mereka kenakan.
Namun seperti pepatah, siapa yang lengah dialah yang akan binasa. Rupanya pepatah itu pula yang telah menentukan pertarungan mereka. Manakala Haryo lengah, dengan cepat Ronggo Dewa mengerahkan ajiannya.
Tak ampun lagi, Haryo menjerit keras ketika ajian lawan menghantam telak tubuhnya. Sekujur tubuhnya langsung membiru dan kaku. Seketika tubuh pimpinan prajurit itu membeku bagai terendam salju. Ya, Haryo memang mati beku, terhantam ajian 'Topan Salju' yang dilontarkan Ronggo Dewa. Melihat musuhnya mati, Ronggo Dewa ber- kelebat pergi setelah terlebih dahulu menendang tubuh Haryo hingga melayang bagaikan terbang dan jatuh ke dasar jurang.
Dengan meninggalkan gelak tawa, pimpinan begal itu melesat untuk mengejar keempat prajurit Kawilangit yang membawa lari Putri Palupi.

2
Keempat prajurit yang menandu Putri Palu- pi nampak masih berlari dengan terengah-engah. Wajah mereka nampak begitu tegang, ada pera- saan takut dan cemas menggayuti hati keempat- nya. Mereka memang ketakutan setengah mati. Bukannya takut mati, namun lebih dari itu yang mereka takuti. Ketakutan mereka karena yang me- reka pertahankan kali ini adalah putri raja.
"Kenapa kalian tidak menuju ke kerajaan?" tanya Palupi pada keempat pengusungnya.
"Ke manakah arah tujuan yang harus kita tempuh, Tuan Putri?" tanya seorang pemandu di depan. "Teruslah ke selatan, di sanalah Kerajaan Candra Mulia!"
"Ah, tidak mungkin, Tuan Putri," keluh me- reka serentak, menjadikan Palupi seketika mem- buka tirai penutup tandunya. Mata Palupi yang lentik memandang lepas ke muka. Yang tampak hamparan rumput-rumput ilalang menghijau. Me- lihat hal itu, seketika hatinya bergumam.
"Memang patut keempat pengawalku takut. Mereka rupanya sungkan menerobos ilalang yang tinggi. Mereka mungkin menduga-duga kalau ila- lang itu juga akan ada bahaya."
"Tak ada jalan lain..!?" tanya Putri Palupi seperti pada diri sendiri, sementara matanya masih terus memandang ke muka.
"Tak ada, Tuan Putri," jawab penandu di muka sebelah kanan.
"Kami rasa, memang tak ada," tambah yang sebelah kiri. "Jalan lain satu-satunya, sekarang telah dijadikan pertempuran antara para prajurit dengan gerombolan begal itu."
"Jadi tak ada jalan lain?" "Benar, Tuan Putri," sahutnya. "Kalau begitu, tak apalah menempuh jalan lewat ilalang itu."
"Ah...," kembali keempat orang itu mendesah.
"Kenapa? Apakah kalian takut...?" "Bukannya kami takut mati, Tuan Putri," jawab orang yang di depan sebelah kiri. "Bagi ka- mi, keselamatan Tuan Putri lebih utama daripada nyawa kami yang tiada guna."
Semuanya salahnya sendiri, mengapa ingin menemui Raden Sasakajiwo yang harus menem- puh berbagai rintangan? Bila ingat itu semua, se- ketika hati Palupi kesal, marah pada Raden Sasa- kajiwo. Bagaimana mungkin tidak marah, mereka datang jauh-jauh tapi nyatanya dari pihak Kera- jaan Candra Mulia tak ada seorang pun yang men- jemput mereka. Seakan-akan segala kejadian itu memang disengaja.
"Ah, Raden Sasakajiwo.... Kenapa ia tidak menjemput kedatanganku?" keluh hati Palupi. "Apakah memang sengaja dia hendak mencelakai diriku?" Tengah Putri Palupi melamun, tiba-tiba pe- mandu yang ada di belakang berteriak.
"Awas! Orang berkedok itu mengejar kita!
Ayo, lari...!"
Dengan cepat mereka pun berlari. Mereka tak menghiraukan lagi ilalang yang terhampar tinggi di depannya. Dengan segala kenekatan mereka menerobos rumput ilalang. Namun mereka tersentak kaget, ketika tiba-tiba seseorang berke- lebat menerobos masuk ke tandu. Belum juga keempat pemandu itu hilang dari rasa kagetnya, orang itu telah kembali berkelebat keluar dengan membopong tubuh Putri Palupi yang terkulai. Ru- panya Putri Palupi telah tertotok. Empat orang penandu itu bermaksud mengejar, ketika tiba-tiba orang berkedok itu mengibaskan tangannya. Dari kibasan tangan berhamburan ratusan jarum men- desing-desing mengarah ke tubuh mereka.
"Awas...!" pekik dari salah seorang di antara mereka. Seketika mereka berhamburan, bersalto berusaha mengelakkan serangan jarum-jarum bera- cun itu. Namun tak urung salah seorang dari mereka terkena.
Orang itu menjerit. Tubuhnya berguling- guling di tengah ilalang dan akhirnya terkulai.
Ketiga prajurit itu tersentak, melihat apa yang dialami rekannya. Tubuh temannya membiru, lalu bekas tusukan jarum-jarum itu makin la- ma makin membesar.
Dari sebesar jagung, membentuk sebesar kepalan tangan. Setelah benjolan-benjolan itu sebesar kepalan tangan, akhirnya pecah.
Kembali ketiga orang prajurit terbelalak ka- get, ketika dilihatnya apa yang keluar dari pecahan benjolan tersebut. Ketiganya kembali kaget, bah- kan melompat bagaikan terpental. Mereka melihat binatang-binatang yang menjijikkan keluar dari benjolan-benjolan yang pecah. Binatang-binatang tersebut, tak lain kelabang yang berwarna merah. Jelmaan racun kelabang merah.
"Awas...! Kalian jangan mendekatinya!" tiba- tiba terdengar seruan dari kejauhan, ketika ketiga prajurit tengah dilanda kekagetan. "Kalau kalian mendekat, tubuh kalian pun akan terkena! Kela- bang itu sangat ganas bila mencium bau manusia!"
Ketika ketiga orang itu menengok, mereka tersentak kaget. Ternyata orang yang memperin- gatkan mereka, tak lain pimpinan perampok yang tadi mengejar. Wajah ketiga orang itu berubah pu- cat ketakutan. Mereka kini hanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan pimpinan begal itu.
"Heh, rupanya kalian," pimpinan begal ter- belalak, kaget ketika makin mendekati ketiganya. "Di mana barang yang kau bawa itu?"
"Kami membawa putri kerajaan yang ingin menemui Raden Sasakajiwo."
"Di mana sekarang?" Ketiga orang itu seketika terdiam ditanya begitu. Mata mereka memandang pada pimpinan begal dengan pandangan mata tak percaya, lalu salah seorang dari ketiganya kembali berkata,
"Apakah penculik putri kami bukan anggo- tamu?" "Hei, kau ngomong apa?" tanya Ronggo De- wa kaget.
"Putri Palupi telah diculik oleh seseorang," Jawab orang itu sembari menengok ke belakang. Namun ternyata orang yang tadi melemparkan ja- rum-jarum berbisa telah hilang dari pandangan- nya. "Heh, cepat benar orang itu menghilang."
"Siapa yang kau maksud?" tanya pimpinan begal itu heran.
"Orang yang telah membunuh temanku ini dengan senjata yang kau sebut racun kelabang merah," jawab yang ditanya, menjadikan pimpinan begal seketika mengerutkan kening. Setelah memandang pada ketiga orang itu, Ronggo Dewa segera berkelebat meninggalkan ketiganya yang terbengong-bengong tak mengerti.
***

Pertarungan antara prajurit-prajurit Kera- jaan Kawilangit yang dipimpin Prakaspati dan Bratamurti masih terus berlanjut, walau korban telah banyak berjatuhan. Bratamurti dengan Pedang Naga Krida-nya terus mengamuk. Setiap kelebatan pedang di tangan Bratamurti selalu membawa korban bagi pihak musuh.
Kini pihak begal yang semula berjumlah dua puluh tinggal lima orang. Sementara dari pihak prajurit kerajaan tinggal empat orang ditam- bah dua pimpinannya.
"Menyerahlah kalian...!" bentak Bratamurti. Kelima orang begal itu sepertinya tak mendengar. Bahkan kelimanya makin nekat melancarkan serangan. Hal itu membuat Bratamurti dan
Prakaspati kian marah. Pedang di tangan kedua pendekar itu terus berkelebat memburu nyawa. Tak ayal lagi, dalam sekejap saja kelima orang pe- nyamun habis terbabat pedang mereka. Namun perjuangan mereka tak luput dari pengorbanan dengan tewasnya para prajurit. Seluruh prajurit binasa tanpa sisa.
Tertegun Bratamurti dan Prakaspati melihat prajurit-prajuritnya mati. Tak terasa kelopak mata mereka berkaca-kaca. Mereka terharu menyaksikan para prajurit yang gugur membela kerajaan. Setelah sesaat hening membisu, kedua pendekar dari Kerajaan Kawilangit itu pun segera berlalu meninggalkan anak buahnya yang telah gugur.
"Apakah kita akan kembali ke kerajaan?" tanya Bratamurti setelah keduanya jauh meninggalkan medan pertempuran.
"Tidak! Kita harus mencari Tuan Putri du- lu."
"Ke mana...?" "Bukankah kita punya kaki?" Bratamurti balik bertanya.
Prakaspati terdiam, merasakan ucapan Bratamurti memang ada benarnya. Bukankah kita punya kaki? Ya, lebih baik berjalan terus mencari tuan putrinya daripada pulang dengan tangan hampa. Mereka malu pada Raja Balawisesa, yang telah mempercayai mereka untuk mengawal pu- trinya. Mau ditaruh di mana muka mereka? Ba- gaimana harus mempertanggung-jawabkan pada sang Raja?
"Baiklah, kita mencari tuan putri," jawab
Bratamurti menyetujui apa yang dikatakan Pra- kaspati. "Oh ya, di manakah Kakang Haryo?"
"Entahlah. Maka itu, marilah kita mencari semuanya."
Tanpa banyak berkata lagi, dua pendekar itu pun segera melangkahkan kaki. Tak lama kemudian setelah keduanya berjalan, tiba-tiba mata mereka melihat sosok tubuh terkapar kaku. Segera kedua pendekar itu berlari menghampiri. Mata ke- duanya seketika membeliak.
"Kakang Haryo...!" Keduanya segera mengangkat tubuh Haryo yang telah mati. Hati kedua pendekar itu kembali terasa hancur dan sedih.
"Kakang Haryo, kenapa meninggalkan ka- mi?" suara Bratamurti terdengar parau.
"Siapakah yang telah berbuat semuanya ini, Kakang?" Prakaspati pun ikut bertanya pada mayat Haryo. "Jawab, Kakang! Biar kami yang akan menuntut balas...!"
Haryo yang telah mati tak dapat menjawab. Tubuh itu telah kaku beku. Kedua pendekar itu pun segera menggali liang yang akan dijadikan tempat terakhir bagi Haryo. Setelah dirasa cukup, kedua pendekar itu segera menyemayamkan mayat Haryo. Keduanya kembali hening tanpa ka- ta, menundukkan kepala memberikan penghorma- tan terakhir pada pimpinan mereka.
"Kita cari orang yang telah membunuhnya," ajak Prakaspati setelah sekian lama terdiam dalam hening memberikan penghormatan terakhir. "Aku rasa, orang tersebut tak lain pimpinan begal keparat itu." "Memang benar! Ayo, kita cari! Lebih baik kita mati, daripada hidup terlunta-lunta di daerah orang." "Jangan putus asa, Saudara Bratamurti! Ki- ta tak boleh berkata begitu, kita harus tegar menghadapi segala cobaan."
Bratamurti kembali terdiam, kemudian ke- duanya berkelebat pergi meninggalkan gundukan tanah merah baru tempat Haryo Sasongko beristi- rahat untuk yang terakhir. 3
Desa Negodipuro yang letaknya di pesisir pantai selatan, seperti biasa nampak ramai dengan para nelayan. Mereka tidak hanya berdatangan da- ri desa-desa sekitar, melainkan juga dari pulau lain yang ada di seberang lautan.
Perahu nelayan dan perahu penumpang yang membawa mereka menuju Desa Negodipuro datang dan pergi setiap hari. Orang-orang lebih suka menggunakan perahu datang ke desa yang rupanya menjadi pusat perniagaan itu. Padahal lewat jalan darat dengan berkuda atau berjalan kaki juga bisa.
Di dalam sebuah perahu yang datang, nampak seorang pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular, dengan rambut gondrong agak ikal. Tubuhnya gagah dan tegap, namun tingkahnya konyol dan lucu. Berdiri di atas perahu yang membawanya ke Desa Negodipuro. Tangan kanannya sebentar-sebentar menggaruk kepala sambil cen- gar-cengir memandangi luasnya lautan. Angin laut menerpa wajah dan rambutnya yang gondrong. Di pinggangnya terselip sebuah suling berkepala na- ga.
"Heh?! Ramai juga desa ini. Nampaknya aman dan damai penduduk di sini," gumam pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular itu sambil tersenyum-senyum sendirian.
Begitu perahu yang membawanya merapat ke darat, pemuda itu segera melompat turun setelah membayar ongkos pada pemilik perahu.
Pemuda tampan dengan ikat kepala kulit ular itu terus melangkah. Sambil cengengesan matanya memandang ke kiri karena melihat para ne- layan yang menjual ikan pada pembeli.
Tiba-tiba langkahnya berhenti ketika matanya tertuju pada seorang lelaki gendut dengan wajah persegi, berhidung pesek dan mata besar. Ikat kepalanya kain berkotak-kotak hitam putih. Orang itu tampak sedang sibuk menghitung uang.
Di depannya, lelaki tua kurus sedang men- jura berulang kali seperti memohon belas kasihan.
"Tolonglah, Juragan! Jangan ambil semua uang itu. Saya sangat memerlukannya. Ambillah sebagian," pinta lelaki tua dengan suara tersendat- sendat. "Ha ha ha...! Enak saja kau bicara begitu, Tua Bangka! Hei Rasito, hutangmu sampai sekarang belum juga lunas! Sudah sana, jangan ba- nyak bicara...!" hardik lelaki gendut berpakaian warna hitam. Karena pakaiannya terbuka, maka perut gendut serta dadanya yang kotor dan berbu- lu tampak menjijikkan. Lelaki gendut yang disebut juragan itu mendorong tubuh Ki Rasito. Sehingga tubuh kurus Ki Rasito terjatuh ke belakang.
"Ukh...!" pekik Ki Rasito pendek. Tak bisa bangun lagi karena dirinya saat itu sedang sakit. Dadanya dirasakan sesak sukar bernapas.
"Ha ha ha...!" Lelaki gendut tertawa-tawa. Lalu berseru pada anak buahnya.
"Barkah! Bawa pergi tua bangka ini! Aku sebal...!" Barkah yang berbadan besar, berwajah ditumbuhi brewok lebat dan kumis tebal. Dengan seenaknya dia mengangkat tubuh Ki Rasito yang kurus kering seperti menenteng seekor kucing saja.
Pemuda tampan berpakaian kulit ular yang sejak tadi memperhatikan, segera melompat ke arah Barkah dan menghadangnya.
"Tunggu! Kenapa orang tua renta kau perla- kukan seperti binatang? Mungkin kau ini turunan binatang, ya...?! He he he!" ejek pemuda berpa- kaian kulit ular sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya konyol, seperti orang gila.
"Kurang ajar kau! Kupatahkan lehermu!" bentak Barkah lalu melepas tubuh Ki Rasito hingga terjatuh ke tanah. Barkah langsung menyerang pemuda berpakaian rompi kulit ular itu. "Heaaat...!"
Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila. Hanya dengan memiringkan tubuh ke samping kiri dan kanan, dia mampu mengelakkan sabetan golok Barkah sambil tertawa-tawa mengejek.
"Hi hi hi...! Lucu juga orang turunan bina- tang ini. Sudah tua masih mau main-main. He he he...!" ejek Sena Manggala sambil mengelak dari babatan golok lelaki gagah berkumis melintang itu. "Pemuda gila! Mampus kau!" teriak Barkah sambil membabat kepala Sena.
Sena cepat menunduk mengelakkan sabe- tan golok, sambil melancarkan serangan balik yang tak diduga oleh Barkah. Karena serangan Sena Manggala begitu cepat, tahu-tahu sudah mendarat tepat di ulu hati lawan.
Degh! Degkh! "Huukh...!" Berkah memekik tertahan. Dadanya seketi- ka terasa sesak. Goloknya terlepas dari gengga- man. Tubuhnya terhuyung ke belakang lima tombak dan muntah darah. Wajahnya seketika pucat, lalu roboh pingsan.
Mata si gendut membelalak. Demikian pula orang-orang yang ada di tempat pelelangan ikan itu merasa kagum dengan Sena.
"Edan! Hebat pemuda yang tingkahnya seperti orang gila itu!" kata laki-laki yang menyaksikannya kagum.
"Benar-benar mengagumkan pemuda itu. Baru kali ini aku melihatnya!" tambah seorang laki-laki yang memanggul keranjang sambil bergeleng-geleng kepala.
"Padahal di desa ini orang takut dengan si Barkah sombong itu!" kata seorang lelaki setengah baya.
Si gendut mencabut goloknya, lalu mem- buat jurus pembukaan.
"Kau berani betul mencederai kawanku! Se- karang rasakan golok ini! Heaaattt...!"
Wutt! Wuttt! "Heat...!" Pendekar Gila mengelak dari sabetan golok si gendut dengan melompat ke atas. Tubuhnya bersalto ke belakang dua kali. Namun lelaki gen- dut bernama Ki Benen itu terus menyerang dengan sengitnya. Sabetan dan tusukan goloknya dengan cepat memburu tubuh Pendekar Gila.
Mau tak mau Sena harus terus bersalto dan melenting ke atas atau merebahkan tubuhnya ke belakang.
"Aha, boleh juga si gendut jelak dan bau amis ini!" kata Sena sambil terus mengelakkan se- rangan Ki Benen, yang memang memiliki ilmu silat cukup tinggi dan tangguh. Permainan goloknya sangat cepat dan lincah. Walaupun berbadan gen- dut, gerakannya sangat ringan ke sana kemari sambil menyabetkan goloknya memburu Pendekar Gila.
"Mampus kau, Anak Edan!" seru Ki Benen geram. "Heaaatt...!
"Eit...!" "Kau tak akan bisa lolos, Bocah Edan!" bentak Ki Benen seraya terus menyerang Sena dengan sabetan goloknya yang semakin mengganas penuh kemarahan.
Karena emosi yang tak terkendalikan, se- rangannya pun mulai tak terarah. Pendekar Gila dengan mudah berkelebat menghindari serangan Ki Benen sambil cengengesan.
"Benar-benar mabok orang ini!" gumam Sena.
Dan begitu melihat lawannya lengah, sece- pat kilat Pendekar Gila melancarkan serangan beruntun. Sambil memutar tubuh dia melompat dan menendang.
Degk! Bugh! "Aaaakh...!" Brukkk! Ki Benen kontan memekik panjang, tubuh- nya yang gemuk terpental ke belakang dan jatuh terlentang. Tepat menindih tubuh Barkah yang masih pingsan.
Ki Benen mengerang kesakitan dan menco- ba bangun, namun tak kuat, badannya kembali roboh. "Ha ha ha...!" Orang-orang tertawa geli me- lihat Ki Benen yang biasanya sok jago dan kejam kini bagai tikus tak bernyali.
"Itu imbalan orang jahat! Lintah darat...!" umpat salah seorang lelaki, sambil menunjuk- nunjuk ke arah Ki Benen.
"Waduh! Tapi kita bisa gawat, kalau pemu- da itu sudah pergi dari sini! Ki Benen akan murka dan kita jadi korban...!" ucap seorang lelaki setengah tua dengan nada cemas.
Sementara itu sambil cengengesan Pende- kar Gila mendekati Ki Rasito yang badannya nam- pak masih lemah. Sena segera merangkul lelaki tua berambut putih itu.
"Terima kasih, Anak Muda," suaranya serak dan tersendat-sendat.
"Ah, Bapak tak usah berterima kasih," jawab Sena ramah. "Kalau saya boleh tahu, kenapa kedua orang itu berlaku kasar dan kejam?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Panjang ceritanya, Anak Muda...!" kata Ki Rasito.
***

Sena cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, menatap Ki Rasito dengan mengerutkan kening. "Aneh orang tua ini, nampaknya dia tidak merasakan sakit atau terluka. Aneh?!" batin Sena keheranan.
"Ceritakan apa sebenarnya yang terjadi dengan desa ini? Di sini rasanya tenteram, tapi kenapa ada orang-orang macam binatang yang tak berperikemanusiaan!" tanya Sena sambil menud- ing ke arah Ki Benen yang masih belum sadarkan diri, tergeletak menindih tubuh Barkah.
"Sudahlah, Anak Muda, tak usah diurus! Kau telah melakukan hal yang baik," kata Ki Rasito, dengan suara serak. "Kalau kau tidak kebera- tan, mari ikut Bapak...!" ajaknya kemudian. Kakinya telah melangkah meninggalkan Pendekar Gi- la.
Sena mengerutkan kening memandangi Ki Rasito yang aneh. Sementara itu orang-orang terus bergerombol memandangi Ki Benen dan Barkah yang masih pingsan karena luka dalam.
Sena masih tak mengerti dan menggaruk- garuk kepala.
"Ada apa dan siapa orang tua itu...?" gu- mam Sena dalam hati, lalu segera menyusul Ki Rasito yang sudah agak jauh.
"Kenapa Bapak mengajakku? Apa ada hal penting?" tanya Sena ketika sudah berjalan di samping Ki Rasito, yang kini tubuhnya tidak membungkuk lagi, melainkan tegak. Hatinya se- makin merasa aneh dengan lelaki tua itu.
"Hem...!" Ki Rasito menghentikan langkah- nya. Begitu juga Sena. Sambil menggaruk-garuk kepala dia menatap Ki Rasito yang tersenyum pa- danya. "Cepat katakan ada apa sebenarnya, Pak...?" tanya Sena agak mendesak.
"Anak Muda, sejak tadi aku tahu siapa kau sebenarnya. Aku sudah lama menunggu kedatan- ganmu, Sena!" ujar Ki Rasito malah memojokkan Sena.
"Hah?! Siapa sebenarnya kau ini, Pak Tua?!" tanya Sena heran sambil menggaruk-garuk kepala. "Sudahlah, yang jelas aku mengenalmu. Be- gini, aku utusan dari Kerajaan Kawilangit untuk mencari pendekar yang berilmu tinggi, guna men- cari dan membebaskan putri raja yang diculik orang-orang jahat," tutur Ki Rasito pada Sena.
"Lho...?! Kenapa mesti aku, Ki? Kan ada Senapati kerajaan?! Aku sendiri banyak urusan," kata Sena seenaknya sambil cengengesan.
"Raja Balawisesa orang bijaksana dan der- mawan. Senapatinya tak sanggup menemukan Putri Palupi.... Saat ini raja menderita sakit, semen- jak putrinya hilang. Apakah kau sebagai pendekar sejati tak akan menolong orang yang sedang menderita jiwa dan batin itu?! Apalagi beliau seorang raja, pemimpin rakyat dari Negeri Kawilangit...!"
Ucapan Ki Rasito menusuk hati Sena. Pemuda itu berpikir sejenak, sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aku tidak memaksa. Terserah kamu." Selesai bicara begitu Ki Rasito segera me- langkah pergi tanpa bicara apa-apa lagi. Sena ter- sentak cepat memburunya.
"Tunggu, Pak...!" seru Sena sambil mengejar Ki Rasito. "Maaf, kalau begitu baiklah. Sekarang katakan di mana Kerajaan Kawilangit itu?"
"Hm.... Ikut aku!" jawab Ki Rasito. Lalu keduanya cepat meninggalkan tempat itu, menuju arah utara. Ternyata Ki Rasito memili- ki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Sena menggeleng-gelengkan kepala merasa kagum, sambil mengikuti lari Ki Rasito.
"Orang tua ini rupanya hebat juga ilmunya. Edan! Aku harus hati-hati. Siapa tahu dia turunan jin atau setan belang," batin Sena lalu, tertawa- tawa.

4
Lelaki berkedok yang membopong Putri Pa- lupi, masih terus berlari diikuti temannya yang ju- ga berkedok. Mereka melompati tebing dan jurang dengan mudahnya. Hingga dalam waktu singkat keduanya sudah berada di suatu tempat yang aman, jauh dari tempat tadi.
"He he he...! Kita akan dapatkan hadiah be- sar...!" kata lelaki yang memakai baju dari kulit macan loreng dan celana hitam. Lalu membuka kedoknya. Kini terlihat burik tutul hitam dikulit wajahnya yang merah. Rambutnya dibiarkan teru- rai panjang melewati bahu. Dengan ikat kepala ku- lit macan pula.
"Benar, Kakang Amangjalu! Tapi, apakah Kakang akan menyerahkan putri ayu ini, sekarang juga pada pemiliknya?!" Toh Jenar bertanya.
Amangjalu menghentikan larinya dan berpikir sejenak.
Toh Jenar pun menghentikan langkahnya. Kemudian membuka kedoknya. Terlihat kini wajahnya yang lonjong dengan dagu lancip. Hidung- nya mancung ke bawah pula, persis Jengkis Khan! Matanya tajam dan serba hitam. Ikat kepalanya pun hitam.
"Kita yang mengadu nyawa kenapa orang lain yang akan mendapatkan buahnya?" tukas Toh Jenar lagi. "Apalagi tangkapan kita kali ini bukan gadis sembarangan, Kakang! Putri raja! Kita bisa mendapatkan keuntungan ganda kalau Kakang mau!"
"Benar. Kau terkadang punya otak encer. Ha ha ha...!" ujar Amangjalu sambil menepuk-nepuk bahu Toh Jenar dengan tangan kanannya. Kemudian ditepuknya pantat Putri Palupi yang tak berdaya, karena telah ditotoknya. Setelah itu sege- ra melesat, diikuti Toh Jenar.
Udara siang yang panas menyengat tak membuat Amangjalu dan Toh Jenar merasa lelah atau kepanasan, walaupun keduanya sudah berlari cukup jauh.
Suara tawa Amangjalu terus menggema di antara tebing-tebing yang curam yang mereka le- wati.
Dalam waktu singkat Amangjalu dan Toh Jenar sudah sampai di markasnya yang terletak di dekat sebuah telaga. Tempat itu sangat angker. Tak sembarang orang dapat melewati sekitar telaga tersebut. Jika tak memiliki ilmu tinggi akan teng- gelam, tersedot air telaga yang nampak jernih dan tenang. Bagaikan terbang, Toh Jenar dan Amangja- lu yang membopong tubuh Putri Palupi melesat di atas air telaga.
Sampai di seberang Amangjalu cepat me- masuki sebuah goa yang mulutnya ditutupi akar- akar pohon. Hingga sekilas tak terlihat ada goa di tempat itu.
***

Sementara itu di Kerajaan Kawilangit suasana berkabung masih menyelimuti orang-orang di istana. Tak ada tawa atau suara. Prakaspati dan Bratamurti nampak murung, sedih menyaksikan rajanya yang terbaring di atas ranjang dalam kea- daan sakit.
Kedua senapati kerajaan itu merasa bersa- lah karena tak dapat menyelamatkan Putri Palupi. Bahkan sampai saat ini belum juga dapat mene- mukan di mana Putri Palupi berada. Apalagi mengetahui penculiknya.
Di sana nampak pula Raden Sasakajiwo yang juga nampak cemas dan sedih.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Aku menyesal kenapa tak menjemput kalian, ini semua salahku," ujar Raden Sasakajiwo menyalahkan diri sendiri.
"Tidak, kami berdua yang bersalah, Raden. Maafkan kami! Maka dari itu saya segera memberitahukan Raden karena Paduka Raja ingin bertemu Raden," sahut Prakaspati lalu menjura.
"Sasaka.... Kemarilah...!" terdengar suara serak Raja Balawisesa memanggil Raden Sasakajiwo.
Segera Raden Sasakajiwo mendekati raja yang terbaring itu, lalu menjura.
"Kau harus mencari putriku sampai dapat. Karena dia calon istrimu, Sasaka," pinta Raja Balawisesa lemah.
"Hamba berjanji akan mencari Palupi. Akan hamba bunuh dan cincang penculik itu!" jawab Raden Sasakajiwo geram.
Raja Balawisesa tersenyum pahit menatap calon menantunya itu. Sepertinya merasa tak yakin dengan ucapan Raden Sasakajiwo. Entah ke- napa.
"Semoga janjimu itu kau jalani dengan be- nar," ujar Raja Balawsesa lemah.
Raden Sasakajiwo tersentak ketika menden- gar ucapan Raja Balawisesa. Wajahnya seketika berubah dan agak gugup.
"Hamba berjanji...! Sekarang, izinkan ham- ba kembali ke Candra Mulia...!" pinta Raden Sasa- kajiwo sambil menjura.
Raja Balawisesa hanya mengangguk. Raden Sasakajiwo lalu melangkah pergi diikuti oleh Prakaspati. Pada saat itu muncul Ki Rasito diikuti Sena yang nampak santai dan cengar-cengir persis orang gila.
Raden Sasakajiwo menghentikan langkah- nya, sejenak menatap Sena dengan pandangan sinis. Sena tak acuh dan menggaruk-garuk kepala.
Raden Sasakajiwo masih memandangi Sena yang cengar-cengir dan menggaruk-garuk kepala. Raja muda itu mengerutkan kening.
Pada saat itu Ki Rasito memberi salam sambil menjura.
"Apa kabar, Raden...?" sapa Ki Rasito penuh hormat. "Baik, Ki...," sahut Raden Sasakajiwo terdengar hambar.
Pendekar Gila kemudian menatap Raden Sasakajiwo sambil cengengesan. Matanya beradu tatap dengan mata Raden Sasakajiwo. Rupanya pandangan mata Sena seakan menusuk tajam, hingga Raden Sasakajiwo cepat berpaling, lalu kembali melangkah pergi.
"Siapa pemuda itu? Rasanya aku pernah mengenalnya.... Tingkahnya aneh...."
"Semua tokoh-tokoh rimba persilatan men- genalnya, Raden...," sahut Prakaspati dengan suara mantap.
"Ya, siapa dia?!" tanya Raden Sasakajiwo mendesak
Belum sempat Prakaspati menjawab, tiba- tiba terdengar panggilan dari dalam.
"Prakaspati, Raja memanggil." "Maaf, Raden! Saya hanya bisa mengantar sampai di sini," kata Prakaspati sambil menjura la- lu segera kembali ke istana.
Raden Sasakajiwo mengerutkan kening, lalu cepat keluar dari situ.
"Tingkahnya aneh, seperti orang gila! Ya. Aku ingat, mungkin pemuda itu yang disebut Pen- dekar Gila...!" gumam Raden Sasakajiwo. "Lantas untuk apa dia datang kemari...?!" tanyanya dalam hati.
Pengawal Raden Sasakajiwo membawa ku- danya mendekati sang Raja Muda yang sudah be- rada di halaman istana Kerajaan Kawilangit.
Raden Sasakajiwo segera melompat ke atas kudanya dan memacunya meninggalkan halaman Kerajaan Kawilangit diikuti lima pengawalnya.
Kembali ke ruangan Raja Balawisesa. Raja itu masih terbaring di tempat tidurnya. Kini Sena dan Ki Rasito sudah berada di dekat ranjang raja. Keduanya duduk bersila ditemani Bratamurti dan
Prakaspati yang baru saja duduk di sisi Pendekar Gila.
"Berkat doa Paduka, hamba dapat bertemu dengan pendekar yang Paduka inginkan. Sena Manggala atau Pendekar Gila," tutur Ki Rasito pe- nuh hormat lalu menjura.
Raja Balawisesa berusaha bergerak bangun, lalu bersandar dibantu dua dayang. Matanya me- natap ke arah Sena sambil tersenyum. Wajahnya nampak sedikit cerah, tak seperti tadi.
"Aku sangat berterima kasih, kau bersedia datang. Suatu kehormatan yang besar bagiku, ka- rena seorang pendekar sejati yang sangat tersohor bersedia menjumpaiku. Raja yang lemah ini...," ujar sang Raja Balawisesa.
"He he he.... Jangan memuji seperti itu. Saya hanya manusia biasa, sama seperti yang lain...," sahut Sena polos dan lugu. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan.
Semua yang berada di situ merasa kagum dengan keberadaan Pendekar Gila yang apa adanya, polos dan lugu. Tak tinggi hati.
"Kau benar-benar pendekar sejati. Aku se- nang dengan jawabanmu yang polos itu." Kembali Raja Balawisesa memuji Sena.
Beberapa saat tak ada kata-kata lagi, hening. Baru kemudian Raja Balawisesa menjelaskan maksudnya, bahwa dia mengharapkan Sena membantu, menyelidiki siapa penculik putrinya. Bahkan kalau dapat membawa kembali putrinya den- gan selamat. Dan raja berjanji akan memberikan hadiah yang berharga pada Sena. Namun Sena menolaknya.
"Saya tak mengharapkan hadiah atau apa saja dari Paduka. Itu tak pernah ada dalam pikiran saya. Kalau memang Raja menginginkan pertolongan, akan saya laksanakan tanpa pamrih. Hanya doa restu Raja yang saya harapkan," jawab Sena masih dengan cengengesan.
Raja Balawisesa mengangguk-angguk dan tersenyum. Dia merasa kagum dengan pribadi pendekar muda itu.
"Dia benar-benar pendekar berhati mulia dan bijaksana. Kalau saja aku mempunyai putra seperti dia. Alangkah bahagianya hidup ini," kata Raja Balawisesa dalam hati. Matanya terus mena- tap ke arah Sena.
"Kalau begitu kami secepatnya akan me- rundingkan rencana penyelidikan dengan Sena," ujar Ki Rasito kemudian.
"Baiklah. Kuserahkan semuanya padamu, Ki," jawab Raja Balawisesa.
"Kami mohon diri," kembali Ki Rasito men- jura lalu pergi diikuti Sena, Prakaspati, dan Bra- tamurti menuju ruangan lain.
Raja Balawisesa memandang mereka den- gan hati lega dan yakin akan keberhasilan Sena untuk menemukan putri tunggalnya yang ingin di- tunangkan dengan Raden Sasakajiwo itu.
***

Di sebuah ruang tertutup, Ki Rasito, Sena, Prakaspati, dan Bratamurti membicarakan hilangnya Putri Palupi.
"Memang aneh kalau kita terka. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres!" tutur Ki Rasito.
"Benar. Kami merasa Raden Sasakajiwo se- pertinya tak begitu terkejut ketika mendengar beri- ta tentang diculiknya Putri Palupi....'' tambah Pra- kaspati yang duduk di antara Ki Rasito dan Bra- tamurti. "Anehnya lagi, kenapa Raden Sasakajiwo yang seharusnya mengirim prajuritnya untuk mengamankan daerah tidak dilaksanakan. Ini yang sangat ganjil menurut saya, Ki...," ujar Bra- tamurti mengungkapkan pendapatnya. "Sampai ki- ta kehilangan Kakang Haryo Sasongko dalam per- tempuran itu...!" tambah Bratamurti.
Ki Rasito manggut-manggut sambil menge- lus-elus janggutnya. Sementara Pendekar Gila nampak menggaruk-garuk kepala. Namun tiba- tiba Sena menukas.
"Apakah Raden Sasakajiwo itu, lelaki yang tadi ketemu di ruangan raja?" tanya Sena.
"Betul!" jawab Ki Rasito. "Hi hi hi...! Lucu, dunia ini memang serba aneh, penuh dengan kejadian menyedihkan dari orang-orang licik. Benar-benar edan!" gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Apa maksud Tuan Pendekar...?!" tanya Prakaspati ingin tahu.
"Apakah kau mencurigai Raden Sasakajiwo?!" tanya Ki Rasito tanpa ragu-ragu. Sebab, orang tua itu sebelumnya juga menaruh curiga terhadap Raden Sasakajiwo yang merencanakan penculikan atas Putri Palupi.
Sena hanya cengar-cengir dan bertingkah seperti orang gila. Membuat ketiga orang yang di situ senyum-senyum dan merasa aneh melihat tingkah pendekar itu.
"Apa yang kau ucapkan itu sepertinya benar, Ki," jawab Sena, sambil cengar-cengir. "Kalau kita sepakat menduga seperti itu, aku akan menyelidikinya. Aku ingin seorang teman," tambah Sena lalu menoleh ke arah Prakaspati.
"Saya akan mendampingi Tuan Pendekar!" sahut Prakaspati dengan penuh semangat.
"Aku pun ikut, jika Tuan Pendekar menginginkan. Siapa pun penculik dan yang merencanakan penculikan itu, aku bersumpah ingin memba- las kematian Kakang Haryo. Aku rela mati...!" ucap Bratamurti dengan geram.
Pendekar Gila hanya tertawa-tawa dan menggaruk-garuk kepala menoleh ke Ki Rasito.
"Terserah pada Ki Rasito saja. Aku senang juga ditemani."
Ki Rasito berpikir sejenak kemudian meno- leh ke arah Prakaspati dan Bratamurti. Lalu manggut-manggut.
"Kalau kalian berdua ingin membantu Pendekar Gila, aku tidak keberatan. Tapi ingat, jangan ceroboh! Bisa menggagalkan semua rencana Sena. Terutama kau, Bratamurti, jangan turuti amarah- mu!" saran Ki Rasito penuh wibawa.
"Saya akan patuhi pesan itu, Ki," jawab Bratamurti tegas.
"Baiklah. Kalau begitu pagi-pagi sekali kalian harus berangkat ke Kerajaan Candra Mulia...!" ucap Ki Rasito kemudian. 5
Pendekar Gila yang ditemani Prakaspati dan Bratamurti sudah memasuki wilayah Kerajaan Candra Mulia. Ketiganya menyamar sebagai rakyat biasa. Dengan pakaian orang-orang desa.
Suasana di sekitar Kerajaan Candra Mulia nampak biasa-biasa saja. Tak ada kejanggalan, hanya saja pengamanan terasa lebih ketat. Tak sembarangan orang masuk. Hampir semua sudut istana kerajaan dijaga dua atau tiga prajurit, den- gan senjata lengkap.
"Nampaknya tak ada keganjilan di Candra Mulia, Tuan Pendekar," kata Prakaspati lirih pada Sena. Mereka terus melangkah melewati pintu ger- bang kerajaan, di antara orang-orang desa yang berlalu lalang di situ.
"Hi hi hi...! Kelihatannya memang begitu. Kita tunggu saja!" ucap Sena seenaknya.
"Aku sudah tak tahan ingin segera menge- tahui siapa penculik Putri Palupi. Akan kucincang dia!" sahut Bratamurti.
"Sabar, jangan gegabah! Ingat pesan Ki Ra- sito," tukas Prakaspati.
Mereka berhenti bicara ketika telah berada di bawah pohon rindang tak jauh dari pintu gerbang Istana Kerajaan Candra Mulia.
Dari pintu gerbang keluar dua orang penunggang kuda berwajah garang. Mereka memacu kuda dengan kencang melewati tempat Sena, Pra- kaspati, dan Bratamurti berteduh. Derap kaki ku- da yang kencang itu menimbulkan debu beterban- gan. Hampir saja seorang wanita dan anaknya ke- na terjang salah satu kuda yang ditunggangi orang berwajah garang itu. Untung saja Sena cepat me- lompat dan menyambar wanita setengah baya dan anaknya yang masih kecil.
Gerakan Sena yang cepat dan tak diduga sama sekali oleh Prakaspati dan Bratamurti, membuat kedua senapati itu ternganga dan ka- gum.
Penunggang kuda tak menghiraukan dan terus saja memacu kudanya lebih kencang!
"Terima kasih, Anak Muda. Terima kasih...," kata wanita setengah baya itu.
"Hati-hati, Ni...!" kata Sena ramah. Wanita itu mengangguk lalu pergi. "Apakah kalian men- genal siapa penunggang kuda tadi...?! Nampaknya bukan orang sini," tanya Sena kepada kedua kawannya. "Ya. Aku tadi masih sempat melihat jelas. Bahwa kedua orang penunggang kuda ternyata tokoh aliran hitam dari Goa Lawa!" jawab Prakaspati. "Siapa nama mereka?!" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Amangjalu dan Toh Jenar," jawab Prakas- pati lagi "Hah?!" Bratamurti tersentak kaget men- dengar nama itu. "Ada apa tokoh-tokoh sesat itu datang kemari?!"
"Kini dugaan Tuan Pendekar mendekati ke- benaran. Mungkin Raden Sasakajiwo bersekongkol dengan kedua tokoh sesat itu untuk menculik Pu- tri Palupi!" tutur Prakaspati.
"Untuk apa Raden Sasakajiwo berbuat begi- tu?! Bukankah Putri Palupi calon permaisurinya!" sahut Bratamurti dengan suara sumbang.
"Aneh memang! Aku rasa Raden Sasakajiwo punya maksud jahat terhadap Kerajaan Kawilan- git," tukas Prakaspati menerka-nerka.
Sena hanya cengar-cengir mendengar ucapan kedua Senapati Kerajaan Kawilangit itu.
"Kita tak usah menerka-nerka, yang pasti firasatku mengatakan ada ketidakberesan pada diri Raden Sasakajiwo!" tukas Sena.
"Mungkin! Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Bratamurti. "Kita berpencar menca- ri tahu. Bagaimana?!"
"Tunggu!" seru Sena sambil menunjuk ke arah pintu gerbang istana Kerajaan Candra Mulia, Prakaspati dan Bratamurti menoleh.
Ternyata Raden Sasakajiwo dengan me- nunggang kuda putih bersama lima orang pengawalnya keluar dari istana kerajaan. Mereka mema- cu kuda-kuda ke arah yang sama dengan dua tokoh sesat tadi.
"Mari, kita ikuti!" seru Sena, lalu melesat pergi disusul Prakaspati dan Bratamurti. Ketiganya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Hingga ketiganya bagai terbang, terus melesat mengejar rombongan Raden Sasakajiwo.
***

Kuda yang ditunggangi Raden Sasakajiwo berlari kencang diikuti kelima kuda para pengawalnya. Mereka menyusuri jalan tanah yang kering. Debu terus beterbangan karena kaki-kaki kuda itu. Sementara itu Sena dan kedua Senapati Kawilangit masih terus melesat berlari kencang menelusuri jalan lain, mereka memotong jalan.
Mereka sampai di suatu tempat yang cukup terlindung jauh dari kerjaan. Suatu tempat yang dikelilingi batu-batu cadas pepohonan. Tempatnya di dekat hutan. Kuda Raden Sasakajiwo tiba-tiba berhenti demikian juga dengan kelima pengawal- nya.
Tak berapa lama kemudian muncullah dua orang dari arah hutan menunggang kuda.
"Kenapa kalian berdua datang ke kerajaan?! Orang-orang pasti curiga. Bagaimana kalau ada orang dari Kerajaan Kawilangit melihat kalian ber- dua?!" kata Raden Sasakajiwo dengan nada kesal.
"Ha ha ha...! Jangan khawatir, kalaupun ada yang mengetahui hal itu, tak jadi soal. Yang penting putri itu sudah di tangan kita...!" jawab Amangjalu.
"Diam...! Kau bicara terlalu berani!" sambar Raden Sasakajiwo dengan mengacungkan tangan kananya.
Sementara itu Sena dan kedua temannya sudah bersembunyi di balik batu-batu cadas. Mereka mendengarkan pembicaraan itu. Bratamurti yang bersifat keras dan pemarah jadi geram.
"Bangsat! Rupanya Raden Sasakajiwo ber- sekongkol dengan orang-orang sesat itu! Kita tak bisa lama-lama membiarkan mereka begitu saja. Kita harus cepat bertindak!" ucap Bratamurti den- gan marah.
"Sabar! Kita dengarkan pembicaraan mere- ka lebih lengkap...." tahan Prakaspati.
"Ssst...!" Sena mengisyaratkan agar kedua temannya diam.
"Kenapa kalian tidak serahkan Putri Palupi secepatnya padaku?!" tanya Raden Sasakajiwo yang tampak marah kepada Amangjalu dan Toh Jenar. "Kau sendiri yang berkata, bahwa sebelum ada perintahmu, putri itu tetap di markas kami," jawab Amangjalu sambil memilin-milin kumisnya yang tebal.
"Tapi keadaan saat ini berubah. Aku khawa- tir rencanaku diketahui orang-orang Kawilangit!" tutur Raden Sasakajiwo.
"Kalau begitu biar untuk selamanya putri ayu itu tetap bersama kami!" sahut Amangjalu ce- pat.
"Kurang ajar! Jaga mulutmu, Amangjalu! Aku bisa berbuat apa saja untuk meringkusmu, kalau kau macam-macam!" bentak Raden Sasaka- jiwo marah.
"Jangan marah dulu, Raden. Kami hanya berkelakar. Tapi kalau Raden takut semua ini akan ketahuan, sebaiknya biar putri itu jadi per- maisuri saya saja. Ha ha ha!" sambung Toh Jenar sambil tertawa-tawa.
"Tutup mulutmu! Kurang ajar! Kalian rupanya hendak melawanku?!" seru Raden Sasakajiwo marah.
"Terserah, apa kata Raden! Yang jelas kami telah mempertaruhkan nyawa untuk menculik putri ayu itu! Sepantasnya akulah yang memiliki putri itu," jawab Amangjalu tegas.
"Keterlaluan! Tangkap dia!" perintah Raden Sasakajiwo pada kelima pengawalnya.
Dengan cepat kelima pengawal itu berlom- patan menyerang kedua tokoh sakti yang masih duduk di atas punggung kuda.
"Heaaat...!" Wat! Wut! Golok dan pedang membabat ke arah Amangjalu dan Toh Jenar. Namun kedua orang itu hanya tertawa-tawa sambil mengelak dengan meli- ukkan tubuh, lalu melompat turun sambil bergul- ing.
Dan dalam beberapa gebrakan saja kelima pengawal itu sudah roboh di tangan Amangjalu dan Toh Jenar.
Melihat kenyataan itu Raden Sasakajiwo tambah marah. Dia melompat turun dan menantang kedua tokoh sesat itu.
"Rupanya kalian berdua menyebalkan! Te- rimalah ini! Heat...!" Raden Sasakajiwo melesat cepat menyerang Amangjalu dan Toh Jenar dengan keris pusakanya.
Tusukan dan sabetan Raden Sasakajiwo ke arah Amangjalu dan Toh Jenar dapat dielakkan dengan mudah. Keduanya dengan cepat menang- kis serta menghindar ke samping serta meliukkan tubuh. Raden Sasakajiwo yang merasa dikhianati sepertinya ingin segera menghabisi kedua musuhnya.
Jurus demi jurus mereka lewati, kedua tokoh sesat itu tampak tenang. Padahal Raden Sasakajiwo berusaha keras untuk dapat mengalahkan mereka.
Plak! Plak! "Heaaat...!" Srett! Srettt! "Hah...?!" Akhirnya baju Amangjalu tersobek oleh ke- ris Raden Sasakajiwo. Begitu juga Toh Jenar. Ke- duanya membelalak marah, lalu dengan serentak menyerang Raden Sasakajiwo dengan jurus-jurus aneh.
"Terimalah ini! Heaaattt...!" seru Amangjalu. "Hah...?!" mata Raden Sasakajiwo membelalak me- lihat senjata rahasia yang meluncur ke arahnya. Raja muda itu bersalto ke samping dan berguling ke tanah sambil menangkis dengan kerisnya.
Tring! Tring! "Mampus kau, Raden Bodoh!" seru Toh Jenar.
Amangjalu rupanya tak ingin memberi ke- sempatan pada Raden Sasakajiwo. Dia terus men- cecar dengan senjata rahasianya.
Raden Sasakajiwo mulai terdesak dan kewa- lahan. Satu senjata lawan hampir saja mengenai kepalanya, kalau saja terlambat menghindar. Nampak raja muda berwajah tampan itu mulai kecut. Pada saat yang gawat, tiba-tiba...,
"Heaat...!" Muncul seseorang dengan bersalto di udara langsung menendang Amangjalu dan Toh Jenar.
Plak! Bukk! "Aaaa...!" Amangjalu dan Toh Jenar yang tak mendu- ga datangnya serangan dari orang yang berpakaian lurik coklat itu, tak sempat mengelak. Tubuh me- reka seketika terpental ke belakang.
Namun kemudian cepat berdiri dan memasang kuda-kuda.
"Bangsat! Siapa kau?! Ikut campur urusanku. Mau mengantar nyawa juga rupanya!" bentak Amangjalu.
Sementara itu Raden Sasakajiwo yang ma- sih terkesima dengan munculnya lelaki berompi hanya bisa ternganga.
Pada saat itu Prakaspati melompat dan me- notok tubuh Raden Sasakajiwo. Dan cepat mem- bawanya pergi, diikuti oleh Bratamurti.
Melihat itu Amangjalu dan Toh Jenar kaget. "Hahhh." Keduanya hendak mengejar Prakaspati yang membawa Raden Sasakajiwo. Mereka melompat ke udara. Namun lelaki berompi yang tadi mengha- jarnya menghadang kedua tokoh sesat itu, dengan pukulan beruntun.
"Hiaaa...!" Plak! Plakk!
"Heaaattt...!" Namun Amangjalu dan Toh Jenar dapat menangkis. Ketiganya sejenak bertarung di udara. Lalu sama-sama turun ke tanah.
Lelaki berompi kulit ular itu ternyata seo- rang pemuda tampan. Rambut ikal dengan ikat kepala kulit ular. Di pinggangnya terselip sebuah suling kepala naga. Dengan cengengesan dan menggaruk-garuk kepala, menatap ke arah Amangjalu dan Toh Jenar. Kedua orang itu menge- rutkan kening dan kemudian saling pandang.
"Hei! Kenapa kalian tidak menyerangku la- gi!" seru pemuda itu sambil cengengesan.
"Tingkah pemuda itu mengingatkan aku pa- da Pendekar Gila! Mungkinkah dia orangnya?!" gumam Amangjalu dalam hati.
"Kau telah berani ikut campur urusanku. Kaukah Pendekar Gila, murid Singo Edan?!" seru Amangjalu dengan suara berat.
"Hi hi hi...! Siapa pun aku terserah kau, Penculik-penculik Busuk!" sahut pemuda tampan yang tak lain Sena Manggala yang menyamar den- gan pakaian orang desa. Tingkahnya seperti orang gila.
"Kurang ajar! Kau ingin mampus, Anak Mu- da! Heaaa...!"
Amangjalu melancarkan pukulan jarak jauh yang mengeluarkan secarik sinar api.
Sena melompat ke samping bersalto. Hingga serangan itu menghantam batu-batu menimbul- kan ledakan dahsyat!
Glegarrr!
Batu-batu itu hancur berantakan. "Hi hi hi... hebat juga! Kini terimalah ini! Haaat...!" Pendekar Gila dengan gerakan cepat melancarkan serangan balik menggunakan 'Ajian Inti Bayu'. Tangannya dengan cepat disatukan, lalu di- rentangkan ke atas sambil menggerakkan tenaga dalam alirkan 'Inti Bayu' ke seluruh persendian. Kemudian ditarik ke bawah dan dihentakkan hingga mengeluarkan deru angin keras ke arah Amangjalu dan Toh Jenar. Kedua orang itu tak sempat mengatasi pukulan itu. Sehingga tubuh keduanya terlempar ke belakang dan jatuh mem- bentur batu-batu cadas.
"Aaaa...!" pekik panjang keduanya terdengar memecah suasana di lembah itu.
"He he he...! Kalian istirahat di situ. Aku masih banyak urusan!"
Selesai berkata begitu Sena melesat me- ninggalkan lawannya yang kelenger.
Namun, Amangjalu dan Toh Jenar ternyata memiliki kekebalan yang luar biasa. Tak ada luka di tubuh mereka, meski terbentur keras batu ca- das.
"Bangsat! Aku bersumpah akan membalas- nya," ucap Amangalu geram.
"Hanya Pendekar Gila yang memiliki ilmu ajian itu," sahut Toh Jenar kemudian.
"Benar, pemuda itu Pendekar Gila! Kurang ajar! Raden Sasakajiwo menjebak kita! Akan ku- bunuh dia, sebelum membuat perhitungan dengan Pendekar Gila! Akan kusiapkan peti mati untuk
Pendekar Gila!" kata Amangjalu penuh dendam, la- lu tangan kanannya menghantam batu di depan- nya, sebagai pelampiasan amarah.
Prak! Batu itu terbelah dua.

6
Sementara itu Prakaspati dan Bratamurti yang bersumpah akan menghajar dalang penculik, hingga mengakibatkan tewasnya Haryo Sasongko, kini benar-benar melampiaskan kekesalannya. Atas perintah Raja Balawisesa yang merasa dik- hianati, Prakaspati dan Bratamurti menyiksa Ra- den Sasakajiwo di ruang tahanan.
"Kau manusia tak tahu budi dan tak tahu diri! Karena kau, Kakang Haryo harus gugur di tangan para begal keparat itu! Kini kau rasakan akibatnya...!" seru Bratamurti yang penuh dendam. Menghajar Raden Sasakajiwo.
Bluk! Plak! Plak! "Ukh.... Aaakh... Ampun...! Aku memang bersalah, tapi berilah aku kesempatan untuk bica- ra...!" pinta Raden Sasakajiwo dengan suara lemah. Wajahnya sudah penuh dengan darah dan benjol-benjol.
Prakaspati yang lebih memiliki kesabaran menahan Bratamurti yang berwatak keras dan cepat marah.
"Tahan!" perintah Prakaspati pada Bratamurti, "Biarkan dia bicara. Apa maunya. Mungkin dia bisa memberikan petunjuk untuk kita di mana sarang Amangjalu dan Toh Jenar...."
"Ayo bicara! Kenapa kau sendiri yang mem- punyai rencana busuk itu...?! Jawab dengan be- nar! Kalau tidak aku dapat membunuhmu kapan saja!" seru Bratamurti sambil mencengkeram pipi Raden Sasakajiwo. Lalu melepasnya dengan kasar. "Aku bersalah..., maafkan aku...!" kata Ra- den Sasakajiwo dengan suara serak dan lemah.
"Aku tidak butuh minta maafmu! Aku inginkan jawaban. Kenapa kau punya rencana bu- ruk itu...!" bentak Bratamurti sambil menampar keras pipi Raden Sasakajiwo. Ketika Bratamurti ingin menampar lagi, Prakaspati cepat menahan- nya.
"Beri dia kesempatan berpikir dan bicara la- gi!" kata Prakaspati pada Bratamurti.
Sesaat hening. Bratamurti nampak benar- benar benci dengan Raden Sasakajiwo yang mengkhianati Raja Balawisesa.
"Sebenarnya rencana itu memang usulku. Tapi kemudian niat itu kuurungkan. Namun Amangjalu yang sudah kuundang untuk bekerja sama, mengancam akan memberitakan rencana- ku, jika rencana itu kubatalkan. Maka... akhirnya rencana itu berlanjut...," tutur Raden Sasakajiwo memberi penjelasan.
"Kenapa kau tega mengkhianati Raja Bala- wisesa yang telah mempercayaimu? Apa sebenarnya yang terkandung di otakmu...?!" tanya Brata- murti dengan geram sambil menuding muka Raden Sasakajiwo yang sudah babak belur itu.
"Kau sendiri yang mencari penyakit, Raden!" tambah Prakaspati, "Aku heran seorang Raden berpikiran picik seperti itu. Tak pantas gelar Raden itu kau sandang. Memalukan...! Sekarang cepat katakan, apa tujuanmu menculik Putri Palupi yang akan menjadi permaisurimu...!"
Raden Sasakajiwo perlahan mengangkat kepalanya dengan napas terengah-engah. Mulut- nya meringis menahan rasa perih dan sakit pada wajahnya yang luka, karena hantaman Bratamurti tadi.
"Sekali lagi, maafkan aku...! Aku memang orang gila! Menculik calon permaisuriku. Itu semata-mata hanya karena aku ingin mengacaukan keadaan Kerajaan Kawilangit. Karena aku meren- canakan untuk menguasai Kerajaan Kawilangit ini, jika semua senapati mati di tangan Amangjalu dan Toh Jenar. Terus terang, aku mempunyai perjan- jian pada kedua orang itu.... Kini kalau kalian mau membunuhku, cepatlah. Bunuh!" ucap Raden Sa- sakajiwo lemah. Lalu kepalanya menunduk lagi. Kedua tangannya yang terikat nampak di perge- langannya mulai terluka oleh besi pengikat.
Prakaspati menghela napas dalam-dalam. Lalu berjalan mondar-mandir. Sedangkan Brata- murti memandang geram pada Raden Sasakajiwo.
"Aku harus membunuh manusia licik ini! Demi membalas dendam untuk kematian Kakang Haryo Sasongko...," gumam Bratamurti dalam hati. Perlahan dia mencabut keris di pinggangnya.
Srettt!
Prakaspati tersentak kaget melihat Brata- murti yang sudah mengangkat keris, akan ditu- sukkan ke kepala Raden Sasakajiwo. Cepat Pra- kaspati menendang tangan Bratamurti yang hen- dak mengayunkan kerisnya.
Plakk! Keris Bratamurti terjatuh. Bratamurti kaget dan marah pada Prakaspati.
"Kenapa kau halangi aku membunuh pengkhianat ini...?! Apa kau berpihak padanya...!" suara Bratamurti keras. Wajahnya merah padam menahan amarah.
Pada saat itu muncul Pendekar Gila diantar oleh Ki Rasito. Sena menggaruk-garuk kepala dan cengar-cengir melihat keadaan Raden Sasakajiwo. Lalu memandangi Bratamurti dan Prakaspati.
Ki Rasito mengerutkan kening begitu meli- hat keris di lantai ruangan itu. Dipungutnya keris itu. Diperhatikan sejenak. Lalu memberikan pada Bratamurti. Orang tua itu sudah hafal milik siapa keris tadi.
"Aku sudah berpesan, hilangkan rasa den- dam dan amarahmu, Bratamurti. Dengan kesabaran mungkin kita akan mendapat sesuatu yang le- bih berharga...," ucap Ki Rasito kalem.
"Benar kata Ki Rasito. Dan kita tak boleh berbuat sekehendak hati pada orang ini. Aku tahu dia bersalah. Apa pun alasannya dia tetap bersa- lah," tambah Sena sambil menggaruk-garuk kepa- la. Matanya menatap Raden Sasakajiwo yang me- nunduk lemah.
"Apa dia sudah mengatakan untuk apa berbuat itu...?" tanya Ki Rasito dan Prakaspati.
Prakaspati tak langsung menjawab. Dia memandang Bratamurti yang nampak menyesal dengan amarahnya itu. Lalu menarik napas da- lam-dalam. Baru berkata, "Menurut pengakuan- nya, hanya ingin menguasai Kerajaan Kawilangit. Dan mendapat ancaman Amangjalu dan Toh Je- nar...." "Huh! Edan!" gumam Ki Rasito, sambil ber- balik membelakangi mereka, "Bukan itu saja. Dia ingin menguasai Kitab Sapu Jagad, yang langka dan sangat diinginkan tokoh-tokoh persilatan. Pa- dahal kitab itu sudah hilang sekian tahun la- manya. Entah siapa yang mencurinya...," tutur Ki Rasito melanjutkan ucapannya.
Prakaspati dan Bratamurti merasa kaget dan saling pandang. Namun Sena hanya cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ki Rasito membalikkan badannya lagi menghadap mereka, dengan kedua tangan dilipat ke belakang. Dipandanginya Raden Sasakajiwo.
"Bagaimana pendapatmu, Sena?" tanya Ki Rasito pada Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Kita harus bergerak cepat. Sebelum orang-orang jahat itu menyerang kemari. Yang kita perlukan jalan menuju markas Amangjalu dan Toh Jenar!" jawab Sena dengan tenang. "Maka kita perlu petunjuk. Dan yang tahu seluk-beluk kea- daan markas tokoh sesat itu, dia...," katanya lagi sambil menunjuk Raden Sasakajiwo.
Prakaspati dan Bratamurti tersentak dan saling pandang. Sementara Ki Rasito mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi maksud Tuan Pendekar, orang ini kita lepas...?" tanya Bratamurti ingin tahu maksud Sena.
"Ya! Sebab aku dengar jalan menuju markas Amangjalu banyak jebakan yang sangat berbahaya bagi kita...," jawab Sena dengan santai sambil menggaruk-garuk kepala, lalu cengengesan.
"Tapi, bagaimana kalau orang ini melarikan diri...?" sahut Prakaspati. "Atau menipu dan men- jebak kita lagi...?"
"Itu urusan nanti. Yang jelas, kalau dia macam-macam, aku pun tak akan memberinya am- pun," sahut Sena mantap. Lalu kembali cengengesan.
"Sebaiknya kita buat perjanjian dengan dia...," Ki Rasito memberi saran, "Tanya dia baik-baik, mau membantu, atau mati!"
Prakaspati memberikan isyarat pada Bra- tamurti, agar bicara dengan Raden Sasakajiwo, yang nampak sudah makin lemah, karena darah terus mengucur dari luka-lukanya.
"Kami masih memberikan pengampunan, ji- ka kau bersedia membantu kami, menjadi petunjuk jalan ke markas Amangjalu...," kata Bratamurti sambil mendongakkan muka Raden Sasakajiwo. Dengan tangan kirinya.
Wajah Raden Sasakajiwo yang tampan, kini nampak masak. Mata kirinya bengkak, akibat pukulan Bratamurti. Raja muda itu tak mau menjawab.
Melihat itu Sena segera mendekati dan bicara dengan nada kalem, agak lembut
"Kami sangat membutuhkan bantuanmu. Dengan bantuanmu, kami dapat menyelamatkan Putri Palupi. Tentunya kau juga ingin Putri Palupi selamat, bukan...?" bujuk Sena.
Mendengar nama Palupi, perlahan-lahan mata Raden Sasakajiwo melirik ke arah Sena. Lalu pada Ki Rasito. Kemudian kembali ia menundukkan kepala. Nampaknya dia sudah tak kuat lama-lama menegakkan kepalanya.
"Lepaskan ikatannya. Cepat!" perintah Ki Rasito pada Prakaspati dan Bratamurti.
Segera kedua orang senapati itu melepaskan ikatan tangan Raden Sasakajiwo. Keduanya kemudian membantu Raden Sasakajiwo duduk di lantai. Lelaki itu masih lemas dan terkulai. Sena segera menotok bagian-bagian tertentu, untuk memulihkan keadaan tubuhnya. Tak beberapa lama Raden Sasakajiwo mulai nampak agak sehat, wajahnya mulai kelihatan tak pucat lagi.
Dipandanginya mereka semua, lalu terhenti pada Bratamurti yang tadi menghajarnya. Namun tak nampak rasa dendam di wajah Raden Sasakajiwo. Hatinya mulai sadar. Selama ini perbuatan- nya salah. Dan dia rupanya ingin menebus segala kecurangan dan kebusukan hatinya.
"Kukira aku sudah mati. Siapa yang menyelamatkanku...?" tanya Raden Sasakajiwo kemudian dengan memandang keempat orang yang ada di depannya.
Ki Rasito menoleh pada Sena yang nampak tenang dan menggaruk-garuk kepala sambil cen-gengesan.
"Dialah yang menyelamatkanmu, Raden," jawab Ki Rasito penuh wibawa.
Raden Sasakajiwo, mengerutkan kening, menatap Sena. Lalu manggut-manggut lemah.
"Ya..., aku ingat. Pemuda itu yang datang bersamamu beberapa hari yang lalu, Ki...," ujar Raden Sasakajiwo pada Ki Rasito.
"Ya. Dialah Sena Manggala atau Pendekar Gila, yang pernah Raden tanyakan dulu, ketika Raden menginginkan bantuan. Karena Kerajaan Candra Mulia itu diserang tokoh-tokoh sesat, ter- masuk Amangjalu," tutur Ki Rasito menjelaskan.
"Hah?!" tersentak Raden Sasakajiwo men- dengar penjelasan Ki Rasito itu," Oh... aku malu, Ki. Terima kasih, Tuan Pendekar, kau telah me- nyelamatkanku. Aku..., aku berjanji akan mem- bantu kalian pergi ke markas Amangjalu. Dan akan kupertaruhkan jiwa ragaku, untuk membawa Putri Palupi, calon permaisuriku itu...," tekad Ra- den Sasakajiwo dengan nada tegas.
"Mudah-mudahan janjimu tak kau ingkari, Raden. Saat inilah kesempatan untuk membersih- kan namamu yang sudah kotor. Karena hasutan Amangjalu itu...," ucap Ki Rasito kemudian, den- gan nada menyindir.
"Aku berjanji, bersumpah akan membunuh Amangjalu yang berbuat curang, khianat pada- ku...!" terdengar nada penuh dendam dari mulut Sasakajiwo.
"Kalau begitu, sebaiknya kalian cepat be- rangkat. Tak perlu menangguhkan lebih lama lagi.
Biar nanti aku yang memberitahu raja...," kata Ki Rasito penuh wibawa. "Ingat, kalian harus patuh terhadap Pendekar Gila. Jangan ceroboh!"
"Baik, Ki," jawab Prakaspati dan Bratamurti berbarengan.
"Raden, maafkan atas kekasaran saya...," kata Bratamurti pada Raden Sasakajiwo.
"Saat ini tak ada yang perlu dimaafkan. Aku menerima semua itu. Karena aku bersalah," jawab Raden Sasakajiwo polos. Lalu keduanya bersala- man.
***

Tak lama kemudian Pendekar Gila dan ketiga temannya sudah berada di dekat Hutan Galase- tra. Sejenak mereka berhenti. Mata ketiganya, me- nyapu sekeliling tempat itu. Sena yang berada pal- ing depan di antara Raden Sasakajiwo dan Prakas- pati, nampak cengar-cengir. Kemudian mengga- ruk-garuk kepala.
"Apakah kita harus memasuki hutan itu, agar lebih cepat pada tujuan...?" tanya Sena pada Raden Sasakajiwo.
"Tidak, sebaiknya kita lewat pinggir hutan, terus menyeberangi sungai. Itu jalan yang paling cepat dan jauh dari bahaya," jawab Raden Sasaka- jiwo. Sambil menunjuk ke arah selatan hutan.
Prakaspati saling pandang dengan Sena. Lalu Sena menganggukkan kepala. Kemudian mere- ka melanjutkan perjalanan.
Sena berlari dengan cepat, diikuti Raden
Sasakajiwo yang berlari di sisinya, kemudian Pra- kaspati dan Bratamurti.
Kini mereka sudah sampai di tepi sungai di pinggiran Hutan Galasetra. Sungai itu cukup besar, arusnya deras, berkelok-kelok bagai seekor ular raksasa. Tak ada perahu atau rakit di situ.
Sena menggaruk-garuk kepala dengan mu- lut cengengesan
"Rupanya kita harus menyeberangi sungai ini. Tapi tak mungkin. Arusnya terlalu deras, dan mungkin dalam...," kata Prakaspati menyeletuk. Matanya terus menyapu sekeliling tempat itu.
"Tidak. Sungai ini tak begitu dalam, hanya sebatas pinggang. Ayolah, hari sudah sore...!" ajak Raden Sasakajiwo, lalu dia segera memasukkan kakinya ke air. Diikuti Prakaspati dan Bratamurti. Sedangkan Sena masih menggaruk-garuk kepala memandangi sekeliling sungai. Kalau saja Pende- kar Gila mau dengan mudah dia berjalan di atas air sungai itu dengan menggunakan ilmu merin- gankan tubuh yang tinggi. Namun rupanya Pende- kar Gila mempunyai firasat. Dia merasakan adanya sesuatu yang membahayakan di tempat itu.
Benar juga dugaan Sena. Baru saja ketiga temannya setombak dari daratan, tiba-tiba muncul manusia-manusia dari dalam air sungai yang tak begitu jernih. Mereka menghadang ketiga teman- nya. Delapan orang berkepala botak dan bermuka hitam, tanpa baju, hanya memakai cawat dari kulit binatang, telah mengurung Raden Sasakajiwo, Prakaspati, dan Bratamurti. Dan dengan cepat mereka melancarkan serangan. Terjadi pertarungan di sungai. Melihat itu Sena sengaja tak bereaksi. Dia seakan ingin melihat sampai di mana keheba- tan dua Senapati Kawilangit dan Raden Sasakajiwo.
Prakaspati dengan gerakan cepat memba- batkan kerisnya ke tubuh lawan. Begitu juga Bra- tamurti dan Raden Sasakajiwo. Pertarungan mula- mula cukup seimbang. Delapan lawan tiga. Namun rupanya kedelapan orang botak bermuka hitam itu lebih menguasai medan air yang arusnya deras. Hingga pada kesempatan yang kurang mengun- tungkan, Raden Sasakajiwo terdesak dan dike- royok dua orang.
Wut! wut! Blukk! "Aaaa...!" Raden Sasakajiwo terpekik kesaki- tan.
Melihat itu Prakaspati bermaksud meno- longnya. Namun tiba-tiba seorang dari lawannya telah mengetahui dan seketika menghajar Prakas- pati.
Dengan gerakan yang sukar dilihat mata, Pendekar Gila melompat. Bagai berjalan di tanah, dengan tendangan dan pukulan dia menghajar sa- tu persatu kedelapan orang botak, penghuni sun- gai itu. Wesss! Wasss! Plakk! Bukkk! "Aaaakh...!" "Aaaauuu...!" Pekik dan jerit kedelapan orang botak itu
terdengar bersahutan, disusul tubuh mereka am- bruk ke air. Tak bergerak lagi.
Air sungai yang tadinya keruh kecoklatan kini berubah kemerahan. Darah mengalir bercam- pur air sungai. Entah dengan senjata apa Pende- kar Gila menghajar mereka. Hingga kedelapan le- laki botak terluka dan mati. Tubuh mereka tera- pung di air sungai itu. Terbawa arus.
Raden Sasakajiwo dan Prakaspati serta Bra- tamurti terbengong-bengong melihat kehebatan il- mu yang dimiliki Pendekar Gila. Ketiganya meng- geleng-gelengkan kepala, kagum.
"Gila! Benar-benar aku baru menyaksikan kehebatan pendekar kondang yang disegani kawan maupun lawan itu...," gumam Prakaspati.
"Terima kasih, kau telah menyelematkan kami bertiga...," kata Raden Sasakajiwo, setelah sampai di seberang sungai.
Sena hanya cengengesan dan menggaruk- garuk kepala.
"Kita tak boleh lama-lama di sini. Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini!" ajak Sena tegas, "Seka- rang arah kita ke mana...?" tanyanya pada Raden Sasakajiwo.
"Kita ke arah sana...," jawab Raden Sasaka- jiwo, "Biar aku yang berada di depan. Mari...!"
Keempatnya segera beranjak dari tempat itu. Di sungai mayat-mayat kedelapan lelaki botak sebagian masih terlihat mengapung terbawa arus.
***

Setelah sampai di suatu tempat dekat dae- rah kekuasaan Amangjalu dan Toh Jenar, Raden Sasakajiwo memberikan isyarat dengan tangan- nya. Seketika mereka berhenti.
"Sebaiknya kita berpencar. Markas mereka di kaki bukit itu," ujar Raden Sasakajiwo, sambil menunjuk ke satu arah. "Tapi ingat, jika nanti me- nemukan telaga. Jangan menyeberangi. Ambil ja- lan lewat pinggir telaga di sebelah selatan! Ada ja- lan di lereng bukit sana. Memang cukup terjal, tapi hanya itulah satu-satunya jalan yang paling aman untuk menghindari ranjau atau jebakan."
Sena hanya menggaruk-garuk kepala dan tertawa-tawa kecil. Namun mata dan pendenga- rannya yang sangat tajam selalu dipasang.
Zing! Zing! Zing! Tiba-tiba puluhan anak panah meluncur ke arah mereka.
"Awas...!" seru Sena sambil melompat dan bersalto mengelakkan panah-panah yang meluncur deras ke arahnya. Begitu juga ketiga rekannya.
"Aaaa...!" Bratamurti terpekik kesakitan, lalu roboh. Rupanya dia terlambat bergerak mengelak. Pahanya tertancap satu anak panah. Darah tampak mengucur deras dari paha kananya.
Sementara itu Prakaspati dan Raden Sasa- kajiwo terus berjumpalitan menghindari anak panah itu. Pendekar Gila, melesat ke arah semak-semak belukar, di situ ternyata orang-orang Amangjalu bersembunyi. Dan tanpa membuang-buang waktu, Sena menghajar pemanah-pemanah liar itu dengan pukulan saktinya, menggunakan ajian 'Inti Brahma'. Dari telapak tangannya menge- luarkan api yang sulit dipadamkan membentuk bola api. Api itu langsung membakar orang-orang yang masih memegangi busur panah. Jerit dan teriakan terdengar dari mereka. Tubuh mereka terbakar oleh api 'Inti Brahma' Pendekar Gila. Kelima pemanah itu bergulingan dan ada yang berlari mencari air untuk memadamkan api yang terus melalap membakar tubuh. Namun tak ada sungai atau air di situ. Akhirnya kelima orang yang ternyata anak buah Amangjalu itu mati dengan tubuh hangus.
Raden Sasakajiwo dan Prakaspati kembali terbengong dan kagum. Pendekar Gila kemudian cepat menghampiri Bratamurti yang terkena sasaran anak panah.
"Cepat rebahkan tubuhmu...!" perintah Sena pada Bratamurti. "Bantu aku...!" kata Sena pa- da Prakaspati dan Raden Sasakajiwo.
Sena segera membaca mantera dengan sikap seperti sedang sembahyang. Sesaat kemudian dari kedua telapak tangannya keluar asap. Sambil terus merapal mantera, Pendekar Gila mengusapkan kedua telapak tangan pada paha Brata- murti yang terluka.
"Cabut anak panah itu, cepat!" perintah Sena kemudian. Raden Sasakajiwo segera mencabut anak panah dengan ragu.
Crap!
"Aaaakh...!" Bratamurti menjerit. Lalu lemas dan pingsan.
"Setelah dia sadar, semua akan beres. Kita tunggu saja!" kata Sena yang kini seluruh tubuhnya dibasahi keringat. Sebab, tadi dia mengum- pulkan seluruh tenaga dalamnya, untuk menyela- matkan nyawa Bratamurti.
"Anak panah itu beracun...," ucap Sena sambil mengambil anak panah dari tangan Raden Sasakajiwo, dan cepat Pendekar Gila melemparkan ke arah batang pohon.
Jlep! Beberapa saat kemudian batang pohon itu tampak mengering. Aneh memang. Tapi itulah kenyataannya. Prakaspati dan Raden Sasakajiwo terheran-heran dan ngeri. Keduanya menghela napas panjang. Lalu memandang ke arah Bratamurti yang masih pingsan.
"Apakah dia akan selamat...?" tanya Prakaspati mengkhawatirkan saudara seperguruannya yang masih belum sadar itu.
Sena hanya menganggukkan kepala. Lalu menggaruk-garuk kepala. 7
Pagi kembali hadir, sinar mentari yang cerah menyinari bumi. Sena dan ketiga temannya sudah kembali bergerak menuju markas Amangjalu.
Raden Sasakajiwo berada di depan bersama Sena, sedangkan Prakaspati dan Bratamurti di belakang mereka.
"Di balik hutan itu kita sudah sampai telaga. Biarlah aku menyelidiki dulu keadaan, kalian tunggu di sini...!" kata Raden Sasakajiwo tiba-tiba sambil menghentikan langkah.
Sena dan kedua temannya mengerutkan kening, sedikit curiga pada rencana Raden Sasakajiwo. Prakaspati dan Bratamurti saling pandang.
"Sebaiknya kita bersama-sama menyelidiki. Kami khawatir akan keselamatan Raden," kata Prakaspati.
"Betul. Apakah kau yakin di depan sana keadaan aman...?" tanya Sena cengengesan. Lalu menggaruk-garuk kepala dan bertingkah konyol.
Ketiga orang temannya merasa heran dan geli melihat tingkah Pendekar Gila yang persis orang gila. Namun ketiganya mengerti dan tak be- rani tertawa.
"Jangan khawatirkan aku! Aku telah berjan- ji, jiwa raga kupertaruhkan untuk menyelamatkan Palupi. Aku sudah pasrah," kata Raden Sasakajiwo sambil terus hendak melangkah pergi.
"Tunggu...!" seru Bratamurti. Raden Sasakajiwo menghentikan langkah- nya dan menoleh ke belakang.
"Biar aku menemanimu, Raden! Aku pun sudah lama menanam dendam pada manusia keparat itu!" ujar Bratamurti kemudian. Lalu me- langkah ke arah Raden Sasakajiwo.
Prakaspati sebenarnya hendak melarangnya, tapi Sena cepat berkata,
"Biarlah Bratamurti menemaninya! Kita amati dari jauh...."
Bratamurti dan Raden Sasakajiwo segera melesat pergi ketika Sena memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. "Hati-hati! Jangan cero- boh, Bratamurti...!" seru Sena memperingatkan Bratamurti yang memiliki sifat pemarah.
Pendekar Gila pun segera pergi mengikuti kedua temannya secara diam-diam diikuti Prakas- pati. Sena memberi isyarat agar Prakaspati segera memanjat pohon, untuk melihat keadaan dari atas. Agar lebih jelas. Prakaspati dengan cepat memanjat pohon, gerakannya cepat bagai seekor kera. Sena tersenyum melihat kemampuan Pra- kaspati. Pendekar Gila kemudian melesat cepat ke satu arah. Menerobos semak belukar di antara pe- pohonan hutan itu begitu mudahnya, bagaikan berlari di jalan lapang saja.
Swing! Swing! Swing! Suatu benda segitiga warna hitam meluncur deras ke arah Sena. Namun Sena yang memiliki indera keenam sangat peka, segera tanggap. Tu- buhnya langsung bersalto dan melompat zikzak, bagai seekor tupai, dari pohon satu ke pohon lain.
Dan pada saat yang tepat, secepat kilat Pendekar Gila melancarkan serangan balik dengan menggunakan pukulan jarak jauh yang dahsyat. Dari pukulan itu secarik sinar mengandung hawa panas menghantam ke arah lawan yang bersem- bunyi di balik pepohonan rindang.
Crats! Glarrr! Glarrr! "Aaaaww...!" Seketika terdengar jeritan panjang dari orang-orang yang bersembunyi di balik pohon itu. Tampak berjatuhan empat sosok tubuh berpakaian serba putih dengan ikat kepala hitam. Se- muanya seketika tewas.
Sena menghela napas panjang dan menggeleng-geleng kepala. Matanya memandangi keempat mayat orang tak dikenal itu.
"Ha ha ha...! Hebat kau Pendekar Gila! Sama seperti gurumu si Singo Edan itu. Beberapa tahun lalu aku pernah bentrok dengan gurumu, Anak Muda...! He he he...!" seru seseorang yang tiba-tiba melompat dari atas pohon dan mendarat dengan mantap di hadapan Pendekar Gila.
"Aha, kau rupanya yang bernama Toh Je- nar. Aku pasti tidak salah terka...!" ujar Sena dengan cengengesan dan bertingkah seperti orang sinting. "Kau memang pandai menerka. Memang akulah Toh Jenar, penguasa daerah yang penuh warisan nenek moyang ini. Dan, kau perlu tahu, kakangku sudah menyiapkan peti mati untukmu Pendekar Gila...! Ha ha ha...," ujar Toh Jenar bangga, lalu memberi perintah pada kelima anak buahnya yang bersembunyi di atas pohon.
Berloncatan kelima orang bertubuh cebol dan bermuka seram. Mereka seperti anak yang baru berumur tiga tahunan. Kelimanya menurunkan peti mati, terbuat dari kayu jati. Ujung-ujung peti mati itu diikat tali. Dengan tali itu kelima orang cebol menurunkan peti mati dari atas pohon. Tentunya kelima orang cebol itu juga memiliki ilmu yang cukup tangguh. Tak boleh di-anggap remeh.
Pendekar Gila mengerutkan kening. Kemu- dian tertawa-tawa sendiri sambil menggaruk-garuk kepala dan bertingkah laku aneh, seperti orang gi- la.
"Hi hi hi... lucu! Lucu sekali kau ini, Manu- sia Buruk...!" ejek Sena seenaknya. Lalu menepuk- nepuk pantatnya.
"Kurang ajar, dasar pemuda gila...! Kau bo- leh tertawa untuk sesaat, Pendekar Gila. Tapi sebentar lagi kau akan mampus! Serang! Cincang dia...!" perintah Toh Jenar pada kelima orang cebol bermuka seram itu.
Seketika kelima orang cebol itu berlompatan bagai seekor kucing menerkam mangsanya.
Serangan itu begitu cepat dan ganas. Secara bersamaan kelima orang cebol itu bergerak dengan cakar-cakar tangannya yang ternyata mengandung racun. "Hah?! Jurus Cakar Tengkorak...!" gumam Sena sambil mengelak dengan berjumpalitan ke udara beberapa kali. Karena kelima orang cebol itu terus mencecarnya, tak memberikan kesempatan. Sementara itu Toh Jenar, mengawasi dengan tajam setiap gerak-gerik Pendekar Gila.
Pendekar Gila kemudian menggunakan ju- rus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk menari dengan sesekali tangannya mene- puk. Tepukan tangannya yang kelihatan lamban dan lemah, kalau mendarat di dada lawan dapat meninggalkan bekas.
"Heaaa...!" "Auugg...!" suara kelima orang cebol itu mengaung panjang seperti kucing. Menyakitkan te- linga. Mereka terus mencecar Pendekar Gila secara bergantian. Serangan mereka terkadang mengarah ke kaki, lalu berobah cepat ke bagian kepala atau dada. Membuat Sena agak kewalahan. Tubuhnya terus meliuk-liuk sambil sesekali tangannya me- nepuk dada lawan. Dan pada kesempatan yang bagus, Sena berhasil melancarkan serangannya. Tepukan tangan kanannya tepat mengenai dada salah satu cebol.
Plak! "Eeaaa...!" cebol yang terkena tepukan Sena menjerit aneh. Lalu tubuhnya terpental jauh membentur pohon. Dadanya hangus.
Melihat kawannya terluka, keempat cebol lain semakin ganas menyerang Sena. Kali ini se- rangan mereka semakin cepat, sambil berputar mengelilingi Pendekar Gila, bagai kumbang akan menyengat mangsanya. Keempatnya melejit ke udara dan melancarkan serangan. Dari telapak tangan mereka mengeluarkan jala terbuat dari kulit pohon berduri. Pendekar Gila seketika terku- rung dalam jala itu.
"Kali ini kau akan mampus, Pendekar Gi- la...!" seru Toh Jenar dengan tertawa-tawa gembira, melihat Sena terkurung dalam jala si cebol. "Habisi dia...!" perintahnya kemudian dengan suara keras.
Namun baru saja keempat cebol akan me- nyerang dengan senjata berupa kapak, sesosok bayangan berkelebat. Cepat menghantam keempat cebol, dengan sabetan kerisnya.
Cras! Cras! Cras! "Waaa...!" jeritan keras terdengar seketika dari keempat orang cebol itu.
Pada saat itu Pendekar Gila berusaha ke- luar dari jala berduri, sambil mengerahkan ajian ’Inti Brahma’. Seketika jala-jala itu terbakar dan Sena cepat melompat keluar.
"Terima kasih Prakaspati...," ucap Sena, lalu melesat ke arah Toh Jenar yang terkesima menyaksikan keempat cebol terjungkal dan terkapar tewas.
Tak ayal lagi, tendangan kaki kanan Pende- kar Gila mendarat tepat di kepala Toh Jenar. Seketika tubuh Toh Jenar melintir dan terhuyung ke belakang.
Sementara itu Prakaspati mengamati keempat cebol yang terbabat kerisnya. Aneh, seorang dari keempat cebol itu ternyata masih hidup. Den- gan cepat bangkit menyerang Prakaspati yang tak menyangka sama sekali.
"Auungg...!" si manusia cebol mengaung ke- ras dan melompat bagai kucing hutan, menerkam kepala Prakaspati. Untung Prakaspati cepat me- rundukkan kepala ketika mendengar teriakan aneh. Hingga manusia cebol berwajah seram dan kepala besar itu tersuruk ke tanah. Dengan cepat Prakaspati melompat dan menghujamkan keris ke dada cebol yang masih telentang di tanah. Seketika nyawa manusia cebol melayang setelah mengaung lirih
Sementara itu Pendekar Gila kini saling adu ilmu dengan Toh Jenar yang ternyata memiliki il- mu tinggi. Kalau saja bukan Toh Jenar yang ter- kena tendangan maut Sena, tentunya sudah tewas sejak tadi.
"Kau boleh bangga dapat mengalahkan orang-orangku. Tapi kalian berdua tak akan bisa menangkapku, apalagi membunuhku. Ha ha ha...! Heaaa...!"
Sambil tertawa terbahak Toh Jenar melom- pat mundur. Kakinya ditekuk berlutut, dengan tangan menyilang di dada. Mulut lelaki berwajah buruk itu tampak berkomat-kamit merapal suatu mantera, sementara matanya terpejam rapat. Tak berapa lama mengepul asap hitam bergulung- gulung mengangkasa. Perlahan-lahan tampak pe- rubahan di tubuh Toh Jenar. Bersamaan dengan hilangnya tubuh Toh Jenar, seketika dari asap tebal itu menjelma sesosok tubuh yang mengerikan. Tinggi besar, dan hampir seluruh tubuhnya tertutup bulu lebat seperti manusia kera. Rambutnya yang tak beraturan, panjang melewati pung- gung. Gigi-giginya panjang dan runcing.
"Ilmu Iblis!" gumam Sena, "Rupanya ia menganut ilmu Siluman Kera Iblis. Hingga dapat mengubah wujudnya, menjadi manusia berkepala kera iblis."
Prakaspati tersentak kaget dan mundur be- berapa langkah sambil memasang kuda-kuda. Keris di tangan kanannya menghunus ke depan.
"Haaaung...!" Suara jelmaan Toh Jenar itu terdengar keras, menggema. Tubuhnya melesat menyerang Pendekar Gila. Namun bersamaan dengan itu Pen- dekar Gila sudah siap memapaki, dengan ajian 'Tamparan Sukma'. Sebuah ilmu yang mampu me- leburkan segala macam siluman atau jin dan setan belang. "Heaaa...!"
Jgarrr! Terdengar ledakan dahsyat, tatkala kedua orang itu bertemu di udara mengadu tenaga. Ke- duanya terpental mundur ke belakang dengan keadaan yang sama. Toh Jenar yang merubah wu- judnya menjadi manusia bermuka mirip kera ter- pelanting roboh dengan keras. Sementara Pende- kar Gila tampak berusaha mengegoskan tubuhnya mencari keseimbangan dan berdiri dengan kuda- kuda yang agak goyah.
Sekejap wujud Toh Jenar yang tadi berupa manusia mirip kera, kembali ke aslinya. Mulutnya meringis dengan mata merah menatap tajam Pendekar Gila.
Prakaspati menggeleng-gelengkan kepala dan terus merasa kagum. Namun dia tetap waspada. Sementara itu Toh Jenar, kembali menyerang Pendekar Gila dengan senjata rahasia. Dari kedua telapak tangannya tiba-tiba melesat senjata berupa benda segitiga berujung runcing dan beracun. Sena mengelak dengan melenting ke udara sambil berjumpalitan. Sehingga senjata-senjata itu me- luncur deras tak mengenai sasaran.
Jlep! "Aaaakh...!" Prakaspati menjerit panjang, tubuhnya roboh ke tanah kelojotan. Sena yang melihat itu segera mendekati Prakaspati. Kemudian cepat membawanya pergi, dengan melesat cepat mengerahkan ilmu lari 'Sapta Bayu'.
"Aku harus menyelamatkan Prakaspati du- lu...," gumam Sena dalam hati.
"Bangsat...! Kau ternyata pengecut juga Pendekar Gila! Tapi lain waktu kau akan masuk dalam peti mati ini...," sungut Toh Jenar. Lalu me- nendang peti mati yang ada di depannya.
"Hihhh!" Brakk! Peti mati itu terbang ke udara lalu memben- tur pohon dan anehnya peti mati itu tak hancur. Hanya tutupnya yang terbuka. Dan di dalamnya terlihat sebuah patung, mirip dengan Pendekar Gi- la!
***

Pendekar Gila terus berlari bagai anak pa- nah yang meluncur deras. Dalam sekejap dia sudah berada di luar daerah markas Amangjalu. Di tepi sebuah sungai yang sepi dan aman. Di situlah Sena mulai mengeluarkan benda segitiga yang be- racun dengan kekuatan tenaga dalamnya. Tanpa memegang, hanya dengan pandangan matanya, benda itu keluar. Dan bersamaan dengan itu, luka di dada Prakaspati mengeluarkan benjolan. Kemu- dian pecah dan muncullah binatang-binatang kelabang warna merah. Sena yang melihat itu men- gerutkan kening. Lalu segera berusaha melakukan penyelamatan untuk jiwa Prakaspati. Namun sayang, rupanya Hyang Widi berkehendak lain. Prakaspati tak dapat tertolong lagi.
Dengan sangat kecewa Sena menundukkan kepala karena kesal dan merasa bersalah. Sena menghantami dadanya sendiri. Lalu menghela napas dalam-dalam. Dipandanginya tubuh Prakaspati yang membiru, kena racun kelabang merah yang sangat ganas. Racun itu memang cepat bekerja. Padahal Sena sudah berusaha. Namun Yang Kuasa telah menentukan nasib manusia.
"Sebaiknya aku bawa mayat Prakaspati ke Kerajaan Kawilangit. Jasadnya patut dihargai...," ucap Sena dalam hati. Diangkatnya mayat Prakas- pati dan segera melesat meninggalkan tempat itu dengan menggunakan 'Sapta Bayu' agar cepat sampai di istana Kerajaan Kawilangit.
Sementara itu, Raden Sasakajiwo dan Bra- tamurti sudah kembali ke tempat Pendekar Gila tadi berada. Keduanya bermaksud memberikan ke- terangan. Namun ternyata Sena dan Prakaspati sudah tak ada.
"Ke mana perginya mereka?! Apakah terjadi sesuatu di tempat ini?" gumam Raden Sasakajiwo, seakan bicara pada diri sendiri. Matanya menyapu sekeliling tempat itu.
"Mungkin mereka menuju telaga, tapi...," suara Bratamurti terhenti, ketika matanya memandang sesuatu di depannya, di dekat pohon. "Darah...!" gumam Bratamurti dengan mata terbelalak kaget.
Bratamurti segera mendekati darah yang tercecer. Raden Sasakajiwo pun meneliti.
"Benar, darah! Apakah Pendekar Gila terlu- ka? Tak mungkin Bratamurti...?!" gumam Raden Sasakajiwo.
"Celaka! Mungkin Prakaspati terluka! Tapi ke mana mereka...?" terdengar suara Bratamurti cemas dan geram.
"Mungkin kembali ke Kerajaan Kawilangit..," sahut Raden Sasakajiwo.
"Tidak mungkin...," gumam Bratamurti, "Tapi mungkin juga," katanya kemudian. Lalu se- gera melesat pergi, tanpa bicara lagi pada Raden Sasakajiwo. Namun raja muda itu langsung me- nyusulnya, dengan melesat cepat.
Keduanya berlari dan melompati batu-batu di jalanan yang berbelok-belok. Bratamurti yang nampak tegang terus berlari di depan Raden Sasa- kajiwo. "Tunggu...!" seru Raden Sasakajiwo, "Bagaimana rencana kita?"
"Kita kembali setelah tahu bagaimana kea- daan Prakaspati dan Pendekar Gila...!" jawab Bratamurti sambil terus berlari. Wajahnya tetap te- gang diluputi rasa cemas. Raden Sasakajiwo hanya bergeleng kepala, mengikuti Bratamurti.
Sementara itu, Pendekar Gila telah sampai di luar Hutan Galasetra yang terletak dipertengahan antara Kerajaan Kawilangit dan markas Amangjalu.
Namun tiba-tiba bermunculan tiga orang berjubah serba merah menghadang Sena yang memanggul mayat Prakaspati. Sena menghentikan larinya. Dengan cepat ketiga orang berjubah telah mengurung Sena.
"Hi hi hi... lucu! Mengapa kalian mengha- dangku? Aku tak punya urusan dengan kalian. Minggir...!" bentak Pendekar Gila yang sudah kes- al.
"He he he...! Anak Muda, jangan sombong! Hari ini saat kematianmu!" seru salah seorang di antara mereka.
"Ya! Peti mati ini kami siapkan untukmu...!" sahut yang lain, seraya menghentakkan tangannya ke depan.
Srakkk! Wes! Wesss! Sebuah peti mati melayang di udara, lalu ja- tuh ke belakang Sena. Pendekar Gila melirik seje- nak ke belakang. Hatinya sempat heran dan ka- gum dengan ilmu yang dimiliki orang itu. Lalu cengar-cengir.
"Menyerahlah kau, Pendekar Gila! Peti mati itu khusus untuk tempat tidurmu selamanya. Ha ha ha...!" tambah yang satu lagi sambil memegangi jenggotnya yang lebat kemerahan.
"Siapa kalian ini?! Aku tak pernah bermu- suhan dengan kalian. Cepat beri aku jalan! Te- manku ini perlu penguburan...," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ha ha ha...! Tepat. Biar kau dan temanmu itu masuk dalam peti mati itu.... Lebih bagus. Ha ha ha...! Pendekar Gila, kau tak akan bisa lolos da- ri tangan Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah!"
Sena mengerutkan kening, "Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah?! Edan...! Mereka orang-orang sakti dari aliran sesat. Pasti mereka bersekutu dengan Amangjalu," Sena berkata dalam hati.
Tiba-tiba..., "Heaaaa...!" Ketiga Iblis Merah Sungai Darah langsung meluncurkan serangan. Pendekar Gila yang masih memanggul tubuh Prakaspati tampak kurang lin- cah dalam bergerak. Namun dia tetap masih mam- pu mengelakkan serangan ganas Ketiga Iblis Me- rah Sungai Darah. Pukulan dan tendangan mereka begitu cepat dan tak berhenti sekejap pun.
"Edan!" gumam Sena sambil melompat mundur, lalu menaruh tubuh Prakaspati sebentar di tempat aman. Setelah itu Sena menghadapi ke- tiga lawannya dengan gagah berani. Gerakannya kini sangat cepat dan lincah. Saling pukul dan tangkis, dengan ketiga Iblis Merah Sungai Darah.
"Celaka! Ketiga orang ini tak bisa dianggap remeh!" batin Sena kesal. Karena itu dia segera membuka jurus 'Si Gila Menyambar Ayam'. Tu- buhnya tiba-tiba melenting ke udara dengan teria- kan panjang dan menggema. Lalu dengan cepat menukik bagai burung elang mencengkeram kepa- la lawan. Cak! Cak! Cak! "Uts...!" Salah seorang Iblis Merah memekik pelan. Lalu mundur beberapa langkah dengan tubuh terhuyung. Kepalanya dirasakan pening. Namun tak menjadikan orang itu jera karena kemudian kembali menyerang Pendekar Gila.
"Mampus kau, Bocah Gendeng...!" seru yang lain sambil melancarkan serangan dengan tombak bermata tiga. Setiap ujungnya mengeluarkan bara api. Menusuk ke arah dada dan kepala Sena dengan cepat dan ganas. Disusul dengan tendangan kaki kiri dan kanannya sambil melompat. Hampir saja tusukan iblis mengenai iga Sena, kalau saja tidak segera ditepis dengan tangan kanannya. Tu- buhnya bergerak ke samping, dilanjutkan dengan melompat ke udara lalu mendarat di cabang po- hon.
Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah memburu ke atas. Pendekar Gila segera memapak dengan ajian 'Inti Brahma' dari telapak tangannya seketika keluar bola api. Menghantam ketiga orang yang melenting ke arahnya.
"Heaaa...!" Wurrrs...! Jlegarrr...! Ledakan terjadi ketika pukulan 'Inti Brah- ma' Pendekar Gila beradu dengan tombak Tiga Ib- lis Merah dari Sungai Darah. Seketika ketiga lelaki tua berjubah merah berpentalan kembali ke ba- wah. Pendekar Gila segera meluncur mengejar. Dan begitu sampai bawah, tanpa diduga oleh Pen- dekar Gila, satu pukulan dari arah belakang, menghantam keras tengkuk Pendekar Gila. Dis- usul dengan tendangan keras. Sehingga tubuhnya terpental beberapa tombak, lalu bergulingan.
"Aaaa...!" Sena menjerit. Lalu tak bergerak lagi. Pada saat itu Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah segera melompat bersamaan hendak menghu- jamkan tombak mereka ke dada Sena. Namun...
"Tunggu...!" tiba-tiba terdengar suara keras menggema.
Ketiga Iblis Merah serentak membalik. Sua- ra keras menggema tadi ternyata berasal dari mulut seorang lelaki berambut panjang dan berwajah angker. Orang berpakaian serba kuning itulah yang telah menjatuhkan Pendekar Gila.
"Bukankah kita akan membunuhnya, Amangjalu...!" tanya salah satu Iblis Merah dari Sungai Darah dengan kening berkerut.
"Kita masukkan ke dalam peti mati itu pun nanti dia mampus! Apalagi saat ini Pendekar Gila sudah sekarat.,.! Sebentar lagi juga mampus...!" jawab Amangjalu bangga.
Ketiga lelaki tua berjubah merah saling pandang, lalu segera menggotong tubuh Sena yang tak bergerak lagi.
Dengan kasar Sena masukkan ke peti mati yang sudah disiapkan oleh mereka. Baru saja mereka menutup peti mati itu. Muncul sosok bayan- gan putih berkelebat cepat bagai burung elang, menghajar Amangjalu dan ketiga Iblis Merah. Amangjalu terhuyung dan roboh dengan memuntahkan darah dari mulutnya.
"Bangsat! Siapa kau...!" seru Amangjalu. Sedangkan ketiga Iblis Merah seketika tak berkutik lagi. Karena kepala ketiga lelaki berjubah merah itu pecah. Kena hantaman sosok bayangan putih.
Bayangan putih itu dengan cepat membawa peti mati yang berisi Pendekar Gila. Dengan mu- dahnya peti itu diangkat bagaikan barang ringan. Larinya begitu cepat, laksana terbang. Sehingga dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Amangjalu marah bukan main. Matanya membara penuh dendam.
"Aku bersumpah akan membunuhmu, Pen- dekar Gila! Tunggu saja saatnya...!" gumam Amangjalu geram karena telah gagal membunuh dan menguasai Pendekar Gila.
Seperginya lelaki berjubah putih yang membawa peti mati berisi Pendekar Gila, tiba-tiba muncul Bratamurti dan Raden Sasakajiwo yang mencari Pendekar Gila dan Prakaspati. Alangkah kagetnya Bratamurti ketika melihat Amangjalu be- rada di tempat itu. Begitu juga Raden Sasakajiwo.
"Kau rupanya, Raden Bodoh...! Ha ha ha...! Rupanya kalian mau mengantar nyawa, hah?!" ejek Amangjalu, begitu melihat Raden Sasakajiwo.
"Bangsat Licik! Kau memang manusia licik dan busuk, Amangjalu. Ayo, kita adu ilmu...!" tan- tang Raden Sasakajiwo geram.
"Biar aku saja yang menghadapi, Raden! Manusia keparat ini harus kita cincang!" seru Bra- tamurti yang sudah berjanji akan membuat perhi- tungan dengan Amangjalu.
"Ha ha ha...! Kau orang Kawilangit mau me- nentangku?! Lihat temanmu di sana!" kata Amang- jalu sambil menunjuk ke satu arah.
Bratamurti berpaling ke arah yang ditunjuk Amangjalu. Ditajamkan pandangannya. "Hah?! Kakang Prakaspati...?!" gumam Bratamurti kaget.

No comments:

Post a Comment