PETI
MATI UNTUK PENDEKAR GILA
Oleh Firman Raharja
1
Pagi nampak cerah dengan langit
biru ben- ing tanpa setitik mega. Angin berhembus perlahan, membawa kesejukan
yang alami.
Suasana Desa Singo Prajan yang
terletak di pesisir Pantai Laut Selatan tampak begitu damai. Ombak beriak-riak
di lautan menambah peman- dangan desa itu.
Dari kejauhan nampak serombangan
orang tengah melangkah perlahan pada jalan setapak di sisi gunung. Sebelah
kanan yang mereka lewati terbentang jurang menganga lebar. Sedangkan di sebelah
kiri, bukit-bukit batu cadas menjulang dengan angkuhnya. Dilihat dari pakaian
yang dikenakan, jelas mereka adalah orang-orang kadipaten. Paling depan berjalan
seorang lelaki tinggi besar dengan cambang bawuk yang menutupi wajah. Di
sisinya berjalan dua orang lelaki lain. Seperti orang yang di tengah, dua
lelaki yang berjalan di kanan kiri orang tersebut juga mempunyai wajah beringas
dengan kumis melintang.
Sedang di belakang mereka tampak
berjalan beriringan empat lelaki kekar bertelanjang dada. Mereka memanggul
sebuah tandu dengan bangunan berbentuk rumah. Di belakang mereka ada lima
puluh orang lelaki lain berpakaian prajurit ber- senjata tombak dan pedang.
Ketika mereka melewati jalan agak
menurun, tiba-tiba orang yang berjalan paling depan berseru, "Para prajurit!
Kalian bersiaplah! Sebentar lagi kita akan memasuki perbatasan Ragajampi!"
"Hm, Kakang. Ada apa kiranya
di perbata- san Ragajampi?" tanya seorang prajurit kepada kawannya.
"Apakah kau belum tahu,
Prakaspati?" pra- jurit bernama Haryo Sasongko balik bertanya.
"Sungguh aku belum tahu,
Kakang Haryo Sasongko...," jawab Prakaspati dengan mata me- nyipit.
Haryo Sasongko sesaat terdiam,
matanya memandang lurus ke depan. Lalu dengan setengah berbisik Haryo Sasongko
berkata, "Di perbatasan Ragajampi, banyak sekali perampok yang ganas dan
liar. Para prajurit tampak diam, hanya mata me- reka yang menatap tajam ke
sekeliling tempat itu.
"Apakah mereka umumnya
memiliki ilmu yang tinggi, Kakang?"
"Biasanya mereka berilmu
tinggi," jawab Haryo Sasongko. "Kabarnya, mereka orang-orang bekas
prajurit Candra Mulia. Wajar kalau mereka mahir dalam segala siasat
perang."
Perlahan-lahan mereka melangkah
sambil bersikap waspada. Wajah para prajurit seketika tegang, bagaikan melihat
hantu di siang bolong.
"Apakah kalian telah
siap?!" Kembali terdengar seruan Haryo Sasongko memberi perintah.
"Siap...!" jawab seluruh
prajurit. "Ada apa, Haryo Sasongko...?" tiba-tiba terdengar suara
seorang wanita. Suara itu berasal dari dalam tandu yang berada di alas pundak
keempat orang yang bertelanjang dada.
"Ampun, Tuan Putri! Hamba
hanya mempe- ringatkan pada para prajurit agar bersiap-siap," jawab Haryo Sasongko
sambil menyatukan tangannya ke dada, dan membungkukkan tubuhnya.
"Kenapa mesti begitu?" "Sekadar
untuk berjaga-jaga...." "Ya, sudahlah. Kita berdoa saja agar semuanya
selamat. Usahakan agar jangan mencari-cari perselisihan dahulu. Kalau kita
diserang, apa boleh buat. Sudahlah, kita lanjutkan!"
"Ayo, jalan...!"
Mendengar seruan Haryo Sasongko, lima puluh prajurit itu segera melanjutkan
perjalanan. Langkah demi langkah mereka berjalan, tak ada gangguan. Mereka
merasa tenang ketika telah memasuki Alas Mentaok. Namun mereka tetap te- rus
siap siaga untuk menghadapi hal-hal yang ti- dak diinginkan. Namun ketika para
prajurit me- langkah di tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara raungan keras
dan rintihan menyayat. Membuat bulu kuduk para prajurit berdiri. Haryo Sasongko
dan dua orang wakilnya nampak siap, menghunus pedang yang tersampir di pundak.
Srt! Srt! "Siaplah kalian,
nampaknya mereka mulai datang!" seru Haryo Sasongko memperingatkan semua
prajurit. "Adi Prakaspati, rupanya kita akan menghadapi para perampok itu.
Bersiaplah...!"
"Aku telah siap, walaupun
nyawaku untuk taruhannya," jawab Prakaspati dengan penuh kewaspadaan.
"Percuma aku menjadi murid Kaliwangsa, kalau harus takut menghadapi bekas
kroco-kroco Candra Mulia."
"Aku mengerti," gumam
Haryo Sasongko da- tar. "Bagaimana denganmu, Adi Bratamurti?"
"He he he... dengan pedang
pusaka Naga Krida, pantang bagiku takut pada siapa pun. Apa- lah artinya
kroco-kroco tentara Candra Mulia," ja- wab Bratamurti dengan angkuhnya.
Pendekar dari Kerajaan Kawilangit itu seakan menyepelekan ke- mampuan bekas
prajurit-prajurit Candra Mulia.
"Aku percaya pada kalian. Aku
yakin, ba- ginda raja mengambil kalian sebagai pengawal khusus tentu ada
sebabnya. Bukan begitu Adi Prakaspati, Bratamurti?"
Prakaspati dan Bratamurti tersenyum
lalu mengangguk.
Kedua pengawal itu diutus raja
mereka, Balawisesa, untuk mengiringi keberangkatan putrinya, Palupi, menemui
seorang raja di wilayah Candra Mulia. Raja muda yang bergelar Raden Sasakajiwo,
adalah orang yang menjadi sahabat Palupi. Persahabatan mereka telah terjalin
sejak Raden Sasakajiwo bertandang ke Negeri Kawilangit tiga tahun yang lalu.
Sejak pertemuan itu Palupi seakan
tak da- pat melupakan Raden Sasakajiwo yang rupawan. Minum terasa api, makan
terasa sekam, jika pera- saan rindu menyergap hatinya. Hanya bayangan wajah
raja muda itu yang selalu melekat di kelo- pak matanya. Perasaan rindu seperti
itulah yang menjadikan Raja Balawisesa akhirnya memutusan ke Kerajaan Candra
Mulia, khususnya pada Raden
Sasakajiwo sebagai rajanya.
Dahulu sebelum menduduki tahta
kerajaan, Raden Sasakajiwo menjadi buronan di Kerajaan Candra Mulia yang
dipimpin Raja Rakai Pikatan. Dan ketika sang Raja mangkat, maka Raden Sasa-
kajiwo yang segera menduduki singgasana kera- jaan. Dia menobatkan dirinya
sebagai penguasa Kerajaan Candra Mulia.
Ternyata utusan yang dikirim
Balawisesa mendapat tanggapan baik dari Raden Sasakajiwo. Waktu itu Raden
Sasakajiwo memang mengha- rapkan bantuan dari Kerajaan Kawilangit dalam
usahanya meraih kedudukan sebagai penguasa kerajaan. Ketika mendengar laporan
dari para utu- san bahwa Raden Sasakajiwo menerima pinangannya. Raja Balawisesa
merasa gembira. Dia segera mengutus putrinya dengan dikawal lima puluh orang
prajurit pilihan dan tiga orang pendekar menuju ke pulau itu.
Para prajurit pengawal putri Palupi
terus melangkah setapak demi setapak. Walau nampak tenang, di hati mereka
terbersit rasa was-was. Ti- dak seperti dua orang pimpinan mereka yang sombong,
mereka telah mendengar persis siapa-siapa adanya prajurit-prajurit Candra Mulia
yang terkenal ganas dan beringas tak pernah kenal pera- saan takut mati.
Sudah banyak contoh yang
menguatkan. Banyak prajurit Kerajaan Marta Pura yang binasa ketika hendak
melakukan penyerangan ke Pulau Jawa. Mereka juga mengenal nama-nama yang sering
menjadi momok dan merupakan tokoh-tokoh pemberontak di Kerajaan Candra Mulia.
Sebenarnya, Raden Sasakajiwo telah
bebe- rapa kali memperingatkan pada rekan-rekannya yang tergabung dalam Panca
Leluhur Sakti untuk menghentikan sepak terjang mereka, dan meminta mereka agar
terus membantu kedudukannya se- bagai raja. Namun mereka seperti tak
menggubris- nya, bahkan dengan berani para mantan prajurit itu menentang. Hanya
karena memandang Eyang Seta Kumikis, mereka enggan untuk memusuhi Raden
Sasakajiwo. Ditambah lagi karena mereka telah terikat janji untuk tidak saling
menjatuhkan.
***
Para prajurit tengah melangkah di
tengah Alas Mentaok ketika dari balik semak-semak dan dari atas pohon
berloncatan orang-orang bertopeng menghadang langkah mereka. Seketika mereka
tersentak mundur, mata mereka segera mengawasi gerak-gerik gerombolan bertopeng
merah itu.
"Siapa kalian!" bentak
Haryo Sasongko. "Huh. Rupanya monyet-monyet macam ini yang sering membuat
kerusuhan," dengus Bratamurti seraya menghunuskan pedangnya. "Mau apa
kalian, hah?!"
"Ha ha ha...! Kaliankah yang
hendak meng- hadap Raja Raden Sasakajiwo?" tanya seorang berkedok yang
berdiri paling depan. Tampaknya dialah pimpinan gerombolan itu. "Serahkan
pada kami apa yang kalian bawa! Dan minggatlah kalian dari sini! Biar kami yang
akan menyampaikan pa-da Baginda Sasakajiwo!"
Terbelalak mata Haryo Sasongko,
Prakaspa- ti, juga yang lainnya, mendengar permintaan ketua gerombolan berkedok
itu. Apalagi Putri Palupi yang berada di dalam tandu, hatinya seketika dag dig
dug tak karuan. Gadis itu nampak gelisah, takut kalau-kalau para prajuritnya
akan mengalami ke- kalahan.
"Oh, Hyang Widi! Apakah para
prajuritku akan dapat mengatasi semua ini?" desis Palupi cemas.
"Bagaimana kalau para prajuritku menga- lami kekalahan? Bagaimana dengan
nasibku...?"
"Apakah kalian tak tahu
aturan! Atau ba- rangkali kalian memang sengaja mencari gara- gara, hah!"
bentak Haryo Sasongko.
Bentakan Haryo tidak menjadikan
ketua orang-orang berkedok itu takut. Bahkan setelah saling pandang dengan anak
buahnya ia tertawa keras dan terbahak-bahak.
"Kalianlah yang tak tahu sopan
santun! Ka- lian datang dari jauh, namun tak menghiraukan kami yang menguasai
daerah ini. Perlu kalian ke- tahui, siapa saja yang memasuki daerahku harus meninggalkan
apa saja yang dibawa, termasuk nyawa! Tapi kali ini kuberi keringanan, kalian
cukup meninggalkan apa saja yang kalian bawa. Ka- mi memberikan kebebasan pada
kalian untuk hidup?"
"Bedebah! Kalian sangat
meremehkan kami!" bentak Haryo marah, karena merasa diremehkan. Haryo yang
telah kondang namanya di Negeri Kawilangit, seakan tak dapat membendung amarahnya.
"Dengar oleh kalian. Lebih baik kami me- ninggalkan nyawa daripada harus
menyerahkan permintaan kalian...."
"Ha ha ha...! Kalian
orang-orang Kawilangit berani lancang di daerah kekuasaan kami. Hm, jangan
harap kalian akan mampu mempertahan- kan segalanya. Kami telah memberikan
keringanan, namun kalian menolak. Jangan harap kalian akan kami ampuni
lagi!"
"Sudahlah, Kakang! Percuma
kita berbantah dengan orang yang tak mempunyai pengetahuan. Mereka orang-orang
dungu, yang biasa hidup di hutan," kata Bratamurti.
"Setan! Rupanya anjing-anjing
Kawilangit memang banyak bacot!" bentak ketua gerombolan berkedok marah,
mendengar ucapan Bratamurti yang menghinanya. "Anak-anak, serbu dan habisi
mereka...!"
Seketika kedua puluh orang berkedok
itu serentak berlompatan mengepung para prajurit. Senjata golok dan tombak siap
di tangan masing- masing. Para prajurit Kawilangit pun tak tinggal diam.
Serentak mereka mencabut senjata masing-masing. "Bagaimana? Apakah kalian
masih bersitegang mempertahankan apa yang kalian bawa?"
"Hm, sudah aku katakan, lebih
baik kami meninggalkan nyawa daripada kami harus memberikan apa yang kalian
minta!" bentak Haryo marah.
"Bagus kalau itu yang kalian
ingini! Se- rang...!"
Serentak gerombolan berkedok
merangsek menyerang para prajurit Kawilangit. Serta-merta Haryo pun segera
berseru.
"Prajurit, seraaang...!"
Pertarungan antara dua kelompok itu pun tak dapat dihindari. Kedua kelompok
itu, bagaikan singa-singa kelaparan menyerang membabi buta. Jumlah prajurit
Kerajaan Kawilangit lebih banyak ketimbang penyamun. Namun karena di hati me-
reka tertekan keragu-raguan para prajurit bertempur dengan beban.
Serangan-serangan mereka tampak kurang mantap dan sering meleset. Bahkan para
begal itu makin mengganas. Melihat mu- suh ketakutan, para begal makin
meningkatkan serangan.
Keempat orang yang memandu Putri
Palupi segera membawanya pergi menyelamatkan diri. Mereka merasa khawatir
kalau-kalau sang Putri akan mengalami cedera. Keempat prajurit peman- du itu,
merupakan prajurit-prajurit yang setia pa- da Putri Palupi, yang sengaja dibawa
untuk me- nemaninya.
Melihat keempat pengusung itu melarikan
diri dengan tandunya serta-merta ketua penyamun berkedok berkelebat mengejar.
Namun belum juga lelaki bertubuh kekar itu jauh Haryo telah pula mengejarnya.
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh Haryo secepat kilat berlari. Sehingga
tahu-tahu telah menghadang pimpinan gerombolan berkedok.
"Bedebah! Rupanya kau ingin
mati!" bentak pimpinan begal itu merasa jengkel karena niatnya terhalang.
Haryo tersenyum. "Aku tak mencari
mati, karena aku ingin hidup. Kaulah yang mencari mati. Apa perlumu menghadang
kami? Apakah kau tak takut bila perbuatanmu diketahui Baginda Sasakajiwo?"
dengus Haryo.
Pimpinan gerombolan berkedok
tersenyum sinis mendengar Haryo menyebut nama Sasakajiwo. Sepertinya nama Raden
Sasakajiwo bagi lelaki berkedok itu tak ada artinya. Lalu dengan suara lantang
dia kembali berkata setengah membentak.
"Kalau kau memang ingin
memanggil Raden Sasakajiwo. Pergilah! Aku tak akan mundur menghadapinya. Hua ha
ha...! Sasakajiwo tak lebih dari aku, si Ronggo Dewa...! Kalau Sasakajiwo melihat
hal ini, pasti dia akan membantuku."
"Sombong!" dengus Haryo
Sasongko. "Hua ha ha...! Kau tak percaya?" lelaki yang mengaku
bernama Ronggo Dewa tersenyum men- gejek. "Kalau kau mendengar siapa kami,
niscaya kau dan para prajuritmu akan lari terkencing- kencing."
"Hm, mungkin hanya orang-orang
bodoh yang mau digertak berandal macammu. Tapi aku tidak!" jawab Haryo
sengit. "Aku tak akan peduli siapa pun kalian, karena aku merasa benar.
Kebe- naran selalu dalam lindungan Hyang Jagad Beta- ra...!"
"Bedebah, jangan menyesal
nantinya," ger- tak Ronggo Dewa, marah. "Jangan lengah,
hiat...!"
Melihat musuhnya melakukan
serangan, dengan cepat Haryo pun tak mau tinggal diam. Seketika mulutnya
menggerang bagaikan seekor ha- rimau, lalu melompat untuk memapaki serangan.
Tak pelak lagi pertarungan kedua pimpinan itu pun seketika berlangsung seru.
Keduanya nampak penuh semangat untuk saling menjatuhkan. Se- hingga tanpa segan-segan
kedua pimpinan itu segera mengeluarkan jurus-jurus yang sangat dian- dalkan. Jurus
demi jurus berlalu, kedua pimpinan seperti tak mengenal lelah. Dari jurus yang
ringan, sampai jurus-jurus berat, yang menentukan mati hidupnya mereka. Namun
begitu keduanya sama- sama tangguh.
Di pihak lain para prajurit
Kerajaan Kawi- langit yang kini dipimpin oleh dua tokoh utama yaitu Prakaspati
dan Bratamurti masih terus beru- saha membendung serangan-serangan gerombolan
berkedok yang nampak semakin mengganas. Se- pertinya para begal itu tak kenal
takut, walau menghadapi dua tokoh yang sudah terkenal di Ke- rajaan Kawilangit.
Perampok berkedok merah makin lama
ma- kin mengganas sehingga para prajurit Kawilangit tampak mulai terdesak.
Meskipun jumlah prajurit lebih banyak, kenekatan gerombolan itu ternyata mampu
mendesak pertahanan lawan.
Korban berjatuhan dari pihak
prajurit Kawi- langit. Semangat para prajurit lain kian bertambah susut. Tanpa
ampun lagi, mereka menjadi bulan-bulanan para begal. Maka dalam waktu singkat
mayat bergelimpangan dari pihak prajurit. Sebaliknya dari para begal, makin
merajalela dan membabi buta. Mereka bagaikan makhluk haus darah membantai lawan
tanpa rasa kasihan.
Di pihak lainnya pertarungan antara
dua orang pimpinan itu masih berjalan. Keduanya kini benar-benar menguras
segala ilmu yang mereka miliki. Namun demikian, pertarungan itu seper- tinya
tak akan terhenti. Kelebatan-kelebatan tubuh keduanya begitu cepat, menjadikan
tubuh mereka bagaikan menghilang tertutup oleh warna- warni pakaian yang mereka
kenakan.
Namun seperti pepatah, siapa yang
lengah dialah yang akan binasa. Rupanya pepatah itu pula yang telah menentukan
pertarungan mereka. Manakala Haryo lengah, dengan cepat Ronggo Dewa mengerahkan
ajiannya.
Tak ampun lagi, Haryo menjerit
keras ketika ajian lawan menghantam telak tubuhnya. Sekujur tubuhnya langsung
membiru dan kaku. Seketika tubuh pimpinan prajurit itu membeku bagai terendam
salju. Ya, Haryo memang mati beku, terhantam ajian 'Topan Salju' yang
dilontarkan Ronggo Dewa. Melihat musuhnya mati, Ronggo Dewa ber- kelebat pergi
setelah terlebih dahulu menendang tubuh Haryo hingga melayang bagaikan terbang
dan jatuh ke dasar jurang.
Dengan meninggalkan gelak tawa,
pimpinan begal itu melesat untuk mengejar keempat prajurit Kawilangit yang
membawa lari Putri Palupi.
2
Keempat prajurit yang menandu Putri
Palu- pi nampak masih berlari dengan terengah-engah. Wajah mereka nampak begitu
tegang, ada pera- saan takut dan cemas menggayuti hati keempat- nya. Mereka
memang ketakutan setengah mati. Bukannya takut mati, namun lebih dari itu yang
mereka takuti. Ketakutan mereka karena yang me- reka pertahankan kali ini
adalah putri raja.
"Kenapa kalian tidak menuju ke
kerajaan?" tanya Palupi pada keempat pengusungnya.
"Ke manakah arah tujuan yang
harus kita tempuh, Tuan Putri?" tanya seorang pemandu di depan.
"Teruslah ke selatan, di sanalah Kerajaan Candra Mulia!"
"Ah, tidak mungkin, Tuan
Putri," keluh me- reka serentak, menjadikan Palupi seketika mem- buka
tirai penutup tandunya. Mata Palupi yang lentik memandang lepas ke muka. Yang
tampak hamparan rumput-rumput ilalang menghijau. Me- lihat hal itu, seketika
hatinya bergumam.
"Memang patut keempat
pengawalku takut. Mereka rupanya sungkan menerobos ilalang yang tinggi. Mereka
mungkin menduga-duga kalau ila- lang itu juga akan ada bahaya."
"Tak ada jalan lain..!?"
tanya Putri Palupi seperti pada diri sendiri, sementara matanya masih terus
memandang ke muka.
"Tak ada, Tuan Putri,"
jawab penandu di muka sebelah kanan.
"Kami rasa, memang tak
ada," tambah yang sebelah kiri. "Jalan lain satu-satunya, sekarang
telah dijadikan pertempuran antara para prajurit dengan gerombolan begal
itu."
"Jadi tak ada jalan
lain?" "Benar, Tuan Putri," sahutnya. "Kalau begitu, tak
apalah menempuh jalan lewat ilalang itu."
"Ah...," kembali keempat orang
itu mendesah.
"Kenapa? Apakah kalian
takut...?" "Bukannya kami takut mati, Tuan Putri," jawab orang
yang di depan sebelah kiri. "Bagi ka- mi, keselamatan Tuan Putri lebih
utama daripada nyawa kami yang tiada guna."
Semuanya salahnya sendiri, mengapa
ingin menemui Raden Sasakajiwo yang harus menem- puh berbagai rintangan? Bila
ingat itu semua, se- ketika hati Palupi kesal, marah pada Raden Sasa- kajiwo.
Bagaimana mungkin tidak marah, mereka datang jauh-jauh tapi nyatanya dari pihak
Kera- jaan Candra Mulia tak ada seorang pun yang men- jemput mereka.
Seakan-akan segala kejadian itu memang disengaja.
"Ah, Raden Sasakajiwo....
Kenapa ia tidak menjemput kedatanganku?" keluh hati Palupi. "Apakah
memang sengaja dia hendak mencelakai diriku?" Tengah Putri Palupi melamun,
tiba-tiba pe- mandu yang ada di belakang berteriak.
"Awas! Orang berkedok itu
mengejar kita!
Ayo, lari...!"
Dengan cepat mereka pun berlari.
Mereka tak menghiraukan lagi ilalang yang terhampar tinggi di depannya. Dengan
segala kenekatan mereka menerobos rumput ilalang. Namun mereka tersentak kaget,
ketika tiba-tiba seseorang berke- lebat menerobos masuk ke tandu. Belum juga
keempat pemandu itu hilang dari rasa kagetnya, orang itu telah kembali
berkelebat keluar dengan membopong tubuh Putri Palupi yang terkulai. Ru- panya
Putri Palupi telah tertotok. Empat orang penandu itu bermaksud mengejar, ketika
tiba-tiba orang berkedok itu mengibaskan tangannya. Dari kibasan tangan
berhamburan ratusan jarum men- desing-desing mengarah ke tubuh mereka.
"Awas...!" pekik dari
salah seorang di antara mereka. Seketika mereka berhamburan, bersalto berusaha
mengelakkan serangan jarum-jarum bera- cun itu. Namun tak urung salah seorang
dari mereka terkena.
Orang itu menjerit. Tubuhnya
berguling- guling di tengah ilalang dan akhirnya terkulai.
Ketiga prajurit itu tersentak,
melihat apa yang dialami rekannya. Tubuh temannya membiru, lalu bekas tusukan
jarum-jarum itu makin la- ma makin membesar.
Dari sebesar jagung, membentuk
sebesar kepalan tangan. Setelah benjolan-benjolan itu sebesar kepalan tangan,
akhirnya pecah.
Kembali ketiga orang prajurit
terbelalak ka- get, ketika dilihatnya apa yang keluar dari pecahan benjolan
tersebut. Ketiganya kembali kaget, bah- kan melompat bagaikan terpental. Mereka
melihat binatang-binatang yang menjijikkan keluar dari benjolan-benjolan yang
pecah. Binatang-binatang tersebut, tak lain kelabang yang berwarna merah.
Jelmaan racun kelabang merah.
"Awas...! Kalian jangan
mendekatinya!" tiba- tiba terdengar seruan dari kejauhan, ketika ketiga
prajurit tengah dilanda kekagetan. "Kalau kalian mendekat, tubuh kalian
pun akan terkena! Kela- bang itu sangat ganas bila mencium bau manusia!"
Ketika ketiga orang itu menengok,
mereka tersentak kaget. Ternyata orang yang memperin- gatkan mereka, tak lain
pimpinan perampok yang tadi mengejar. Wajah ketiga orang itu berubah pu- cat
ketakutan. Mereka kini hanya pasrah terhadap apa yang akan dilakukan pimpinan
begal itu.
"Heh, rupanya kalian,"
pimpinan begal ter- belalak, kaget ketika makin mendekati ketiganya. "Di
mana barang yang kau bawa itu?"
"Kami membawa putri kerajaan
yang ingin menemui Raden Sasakajiwo."
"Di mana sekarang?"
Ketiga orang itu seketika terdiam ditanya begitu. Mata mereka memandang pada
pimpinan begal dengan pandangan mata tak percaya, lalu salah seorang dari
ketiganya kembali berkata,
"Apakah penculik putri kami
bukan anggo- tamu?" "Hei, kau ngomong apa?" tanya Ronggo De- wa
kaget.
"Putri Palupi telah diculik
oleh seseorang," Jawab orang itu sembari menengok ke belakang. Namun
ternyata orang yang tadi melemparkan ja- rum-jarum berbisa telah hilang dari
pandangan- nya. "Heh, cepat benar orang itu menghilang."
"Siapa yang kau maksud?"
tanya pimpinan begal itu heran.
"Orang yang telah membunuh
temanku ini dengan senjata yang kau sebut racun kelabang merah," jawab
yang ditanya, menjadikan pimpinan begal seketika mengerutkan kening. Setelah memandang
pada ketiga orang itu, Ronggo Dewa segera berkelebat meninggalkan ketiganya
yang terbengong-bengong tak mengerti.
***
Pertarungan antara
prajurit-prajurit Kera- jaan Kawilangit yang dipimpin Prakaspati dan Bratamurti
masih terus berlanjut, walau korban telah banyak berjatuhan. Bratamurti dengan
Pedang Naga Krida-nya terus mengamuk. Setiap kelebatan pedang di tangan
Bratamurti selalu membawa korban bagi pihak musuh.
Kini pihak begal yang semula
berjumlah dua puluh tinggal lima orang. Sementara dari pihak prajurit kerajaan
tinggal empat orang ditam- bah dua pimpinannya.
"Menyerahlah kalian...!"
bentak Bratamurti. Kelima orang begal itu sepertinya tak mendengar. Bahkan kelimanya
makin nekat melancarkan serangan. Hal itu membuat Bratamurti dan
Prakaspati kian marah. Pedang di
tangan kedua pendekar itu terus berkelebat memburu nyawa. Tak ayal lagi, dalam
sekejap saja kelima orang pe- nyamun habis terbabat pedang mereka. Namun
perjuangan mereka tak luput dari pengorbanan dengan tewasnya para prajurit.
Seluruh prajurit binasa tanpa sisa.
Tertegun Bratamurti dan Prakaspati
melihat prajurit-prajuritnya mati. Tak terasa kelopak mata mereka berkaca-kaca.
Mereka terharu menyaksikan para prajurit yang gugur membela kerajaan. Setelah
sesaat hening membisu, kedua pendekar dari Kerajaan Kawilangit itu pun segera
berlalu meninggalkan anak buahnya yang telah gugur.
"Apakah kita akan kembali ke
kerajaan?" tanya Bratamurti setelah keduanya jauh meninggalkan medan
pertempuran.
"Tidak! Kita harus mencari
Tuan Putri du- lu."
"Ke mana...?" "Bukankah
kita punya kaki?" Bratamurti balik bertanya.
Prakaspati terdiam, merasakan
ucapan Bratamurti memang ada benarnya. Bukankah kita punya kaki? Ya, lebih baik
berjalan terus mencari tuan putrinya daripada pulang dengan tangan hampa.
Mereka malu pada Raja Balawisesa, yang telah mempercayai mereka untuk mengawal
pu- trinya. Mau ditaruh di mana muka mereka? Ba- gaimana harus
mempertanggung-jawabkan pada sang Raja?
"Baiklah, kita mencari tuan
putri," jawab
Bratamurti menyetujui apa yang
dikatakan Pra- kaspati. "Oh ya, di manakah Kakang Haryo?"
"Entahlah. Maka itu, marilah
kita mencari semuanya."
Tanpa banyak berkata lagi, dua
pendekar itu pun segera melangkahkan kaki. Tak lama kemudian setelah keduanya
berjalan, tiba-tiba mata mereka melihat sosok tubuh terkapar kaku. Segera kedua
pendekar itu berlari menghampiri. Mata ke- duanya seketika membeliak.
"Kakang Haryo...!"
Keduanya segera mengangkat tubuh Haryo yang telah mati. Hati kedua pendekar itu
kembali terasa hancur dan sedih.
"Kakang Haryo, kenapa
meninggalkan ka- mi?" suara Bratamurti terdengar parau.
"Siapakah yang telah berbuat
semuanya ini, Kakang?" Prakaspati pun ikut bertanya pada mayat Haryo.
"Jawab, Kakang! Biar kami yang akan menuntut balas...!"
Haryo yang telah mati tak dapat
menjawab. Tubuh itu telah kaku beku. Kedua pendekar itu pun segera menggali
liang yang akan dijadikan tempat terakhir bagi Haryo. Setelah dirasa cukup,
kedua pendekar itu segera menyemayamkan mayat Haryo. Keduanya kembali hening
tanpa ka- ta, menundukkan kepala memberikan penghorma- tan terakhir pada
pimpinan mereka.
"Kita cari orang yang telah
membunuhnya," ajak Prakaspati setelah sekian lama terdiam dalam hening
memberikan penghormatan terakhir. "Aku rasa, orang tersebut tak lain
pimpinan begal keparat itu." "Memang benar! Ayo, kita cari! Lebih
baik kita mati, daripada hidup terlunta-lunta di daerah orang."
"Jangan putus asa, Saudara Bratamurti! Ki- ta tak boleh berkata begitu,
kita harus tegar menghadapi segala cobaan."
Bratamurti kembali terdiam,
kemudian ke- duanya berkelebat pergi meninggalkan gundukan tanah merah baru
tempat Haryo Sasongko beristi- rahat untuk yang terakhir. 3
Desa Negodipuro yang letaknya di
pesisir pantai selatan, seperti biasa nampak ramai dengan para nelayan. Mereka
tidak hanya berdatangan da- ri desa-desa sekitar, melainkan juga dari pulau
lain yang ada di seberang lautan.
Perahu nelayan dan perahu penumpang
yang membawa mereka menuju Desa Negodipuro datang dan pergi setiap hari.
Orang-orang lebih suka menggunakan perahu datang ke desa yang rupanya menjadi
pusat perniagaan itu. Padahal lewat jalan darat dengan berkuda atau berjalan
kaki juga bisa.
Di dalam sebuah perahu yang datang,
nampak seorang pemuda tampan berpakaian rompi kulit ular, dengan rambut
gondrong agak ikal. Tubuhnya gagah dan tegap, namun tingkahnya konyol dan lucu.
Berdiri di atas perahu yang membawanya ke Desa Negodipuro. Tangan kanannya
sebentar-sebentar menggaruk kepala sambil cen- gar-cengir memandangi luasnya
lautan. Angin laut menerpa wajah dan rambutnya yang gondrong. Di pinggangnya
terselip sebuah suling berkepala na- ga.
"Heh?! Ramai juga desa ini.
Nampaknya aman dan damai penduduk di sini," gumam pemuda tampan berpakaian
rompi kulit ular itu sambil tersenyum-senyum sendirian.
Begitu perahu yang membawanya
merapat ke darat, pemuda itu segera melompat turun setelah membayar ongkos pada
pemilik perahu.
Pemuda tampan dengan ikat kepala
kulit ular itu terus melangkah. Sambil cengengesan matanya memandang ke kiri
karena melihat para ne- layan yang menjual ikan pada pembeli.
Tiba-tiba langkahnya berhenti
ketika matanya tertuju pada seorang lelaki gendut dengan wajah persegi,
berhidung pesek dan mata besar. Ikat kepalanya kain berkotak-kotak hitam putih.
Orang itu tampak sedang sibuk menghitung uang.
Di depannya, lelaki tua kurus
sedang men- jura berulang kali seperti memohon belas kasihan.
"Tolonglah, Juragan! Jangan
ambil semua uang itu. Saya sangat memerlukannya. Ambillah sebagian," pinta
lelaki tua dengan suara tersendat- sendat. "Ha ha ha...! Enak saja kau
bicara begitu, Tua Bangka! Hei Rasito, hutangmu sampai sekarang belum juga
lunas! Sudah sana, jangan ba- nyak bicara...!" hardik lelaki gendut
berpakaian warna hitam. Karena pakaiannya terbuka, maka perut gendut serta dadanya
yang kotor dan berbu- lu tampak menjijikkan. Lelaki gendut yang disebut juragan
itu mendorong tubuh Ki Rasito. Sehingga tubuh kurus Ki Rasito terjatuh ke
belakang.
"Ukh...!" pekik Ki Rasito
pendek. Tak bisa bangun lagi karena dirinya saat itu sedang sakit. Dadanya
dirasakan sesak sukar bernapas.
"Ha ha ha...!" Lelaki
gendut tertawa-tawa. Lalu berseru pada anak buahnya.
"Barkah! Bawa pergi tua bangka
ini! Aku sebal...!" Barkah yang berbadan besar, berwajah ditumbuhi brewok
lebat dan kumis tebal. Dengan seenaknya dia mengangkat tubuh Ki Rasito yang
kurus kering seperti menenteng seekor kucing saja.
Pemuda tampan berpakaian kulit ular
yang sejak tadi memperhatikan, segera melompat ke arah Barkah dan
menghadangnya.
"Tunggu! Kenapa orang tua
renta kau perla- kukan seperti binatang? Mungkin kau ini turunan binatang,
ya...?! He he he!" ejek pemuda berpa- kaian kulit ular sambil cengengesan
dan menggaruk-garuk kepala. Tingkahnya konyol, seperti orang gila.
"Kurang ajar kau! Kupatahkan
lehermu!" bentak Barkah lalu melepas tubuh Ki Rasito hingga terjatuh ke
tanah. Barkah langsung menyerang pemuda berpakaian rompi kulit ular itu.
"Heaaat...!"
Pemuda berpakaian rompi kulit ular
itu tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila. Hanya dengan memiringkan tubuh
ke samping kiri dan kanan, dia mampu mengelakkan sabetan golok Barkah sambil
tertawa-tawa mengejek.
"Hi hi hi...! Lucu juga orang
turunan bina- tang ini. Sudah tua masih mau main-main. He he he...!" ejek
Sena Manggala sambil mengelak dari babatan golok lelaki gagah berkumis
melintang itu. "Pemuda gila! Mampus kau!" teriak Barkah sambil
membabat kepala Sena.
Sena cepat menunduk mengelakkan
sabe- tan golok, sambil melancarkan serangan balik yang tak diduga oleh Barkah.
Karena serangan Sena Manggala begitu cepat, tahu-tahu sudah mendarat tepat di
ulu hati lawan.
Degh! Degkh! "Huukh...!"
Berkah memekik tertahan. Dadanya seketi- ka terasa sesak. Goloknya terlepas
dari gengga- man. Tubuhnya terhuyung ke belakang lima tombak dan muntah darah.
Wajahnya seketika pucat, lalu roboh pingsan.
Mata si gendut membelalak. Demikian
pula orang-orang yang ada di tempat pelelangan ikan itu merasa kagum dengan
Sena.
"Edan! Hebat pemuda yang
tingkahnya seperti orang gila itu!" kata laki-laki yang menyaksikannya
kagum.
"Benar-benar mengagumkan
pemuda itu. Baru kali ini aku melihatnya!" tambah seorang laki-laki yang
memanggul keranjang sambil bergeleng-geleng kepala.
"Padahal di desa ini orang
takut dengan si Barkah sombong itu!" kata seorang lelaki setengah baya.
Si gendut mencabut goloknya, lalu
mem- buat jurus pembukaan.
"Kau berani betul mencederai
kawanku! Se- karang rasakan golok ini! Heaaattt...!"
Wutt! Wuttt! "Heat...!"
Pendekar Gila mengelak dari sabetan golok si gendut dengan melompat ke atas. Tubuhnya
bersalto ke belakang dua kali. Namun lelaki gen- dut bernama Ki Benen itu terus
menyerang dengan sengitnya. Sabetan dan tusukan goloknya dengan cepat memburu
tubuh Pendekar Gila.
Mau tak mau Sena harus terus
bersalto dan melenting ke atas atau merebahkan tubuhnya ke belakang.
"Aha, boleh juga si gendut
jelak dan bau amis ini!" kata Sena sambil terus mengelakkan se- rangan Ki
Benen, yang memang memiliki ilmu silat cukup tinggi dan tangguh. Permainan
goloknya sangat cepat dan lincah. Walaupun berbadan gen- dut, gerakannya sangat
ringan ke sana kemari sambil menyabetkan goloknya memburu Pendekar Gila.
"Mampus kau, Anak Edan!"
seru Ki Benen geram. "Heaaatt...!
"Eit...!" "Kau tak
akan bisa lolos, Bocah Edan!" bentak Ki Benen seraya terus menyerang Sena
dengan sabetan goloknya yang semakin mengganas penuh kemarahan.
Karena emosi yang tak
terkendalikan, se- rangannya pun mulai tak terarah. Pendekar Gila dengan mudah
berkelebat menghindari serangan Ki Benen sambil cengengesan.
"Benar-benar mabok orang
ini!" gumam Sena.
Dan begitu melihat lawannya lengah,
sece- pat kilat Pendekar Gila melancarkan serangan beruntun. Sambil memutar
tubuh dia melompat dan menendang.
Degk! Bugh! "Aaaakh...!"
Brukkk! Ki Benen kontan memekik panjang, tubuh- nya yang gemuk terpental ke
belakang dan jatuh terlentang. Tepat menindih tubuh Barkah yang masih pingsan.
Ki Benen mengerang kesakitan dan
menco- ba bangun, namun tak kuat, badannya kembali roboh. "Ha ha
ha...!" Orang-orang tertawa geli me- lihat Ki Benen yang biasanya sok jago
dan kejam kini bagai tikus tak bernyali.
"Itu imbalan orang jahat!
Lintah darat...!" umpat salah seorang lelaki, sambil menunjuk- nunjuk ke
arah Ki Benen.
"Waduh! Tapi kita bisa gawat,
kalau pemu- da itu sudah pergi dari sini! Ki Benen akan murka dan kita jadi
korban...!" ucap seorang lelaki setengah tua dengan nada cemas.
Sementara itu sambil cengengesan
Pende- kar Gila mendekati Ki Rasito yang badannya nam- pak masih lemah. Sena
segera merangkul lelaki tua berambut putih itu.
"Terima kasih, Anak
Muda," suaranya serak dan tersendat-sendat.
"Ah, Bapak tak usah berterima
kasih," jawab Sena ramah. "Kalau saya boleh tahu, kenapa kedua orang
itu berlaku kasar dan kejam?" tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Panjang ceritanya, Anak
Muda...!" kata Ki Rasito.
***
Sena cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala, menatap Ki Rasito dengan mengerutkan kening. "Aneh
orang tua ini, nampaknya dia tidak merasakan sakit atau terluka. Aneh?!"
batin Sena keheranan.
"Ceritakan apa sebenarnya yang
terjadi dengan desa ini? Di sini rasanya tenteram, tapi kenapa ada orang-orang
macam binatang yang tak berperikemanusiaan!" tanya Sena sambil menud- ing
ke arah Ki Benen yang masih belum sadarkan diri, tergeletak menindih tubuh
Barkah.
"Sudahlah, Anak Muda, tak usah
diurus! Kau telah melakukan hal yang baik," kata Ki Rasito, dengan suara
serak. "Kalau kau tidak kebera- tan, mari ikut Bapak...!" ajaknya
kemudian. Kakinya telah melangkah meninggalkan Pendekar Gi- la.
Sena mengerutkan kening memandangi
Ki Rasito yang aneh. Sementara itu orang-orang terus bergerombol memandangi Ki
Benen dan Barkah yang masih pingsan karena luka dalam.
Sena masih tak mengerti dan
menggaruk- garuk kepala.
"Ada apa dan siapa orang tua itu...?"
gu- mam Sena dalam hati, lalu segera menyusul Ki Rasito yang sudah agak jauh.
"Kenapa Bapak mengajakku? Apa
ada hal penting?" tanya Sena ketika sudah berjalan di samping Ki Rasito,
yang kini tubuhnya tidak membungkuk lagi, melainkan tegak. Hatinya se- makin
merasa aneh dengan lelaki tua itu.
"Hem...!" Ki Rasito
menghentikan langkah- nya. Begitu juga Sena. Sambil menggaruk-garuk kepala dia
menatap Ki Rasito yang tersenyum pa- danya. "Cepat katakan ada apa
sebenarnya, Pak...?" tanya Sena agak mendesak.
"Anak Muda, sejak tadi aku
tahu siapa kau sebenarnya. Aku sudah lama menunggu kedatan- ganmu, Sena!"
ujar Ki Rasito malah memojokkan Sena.
"Hah?! Siapa sebenarnya kau
ini, Pak Tua?!" tanya Sena heran sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sudahlah, yang jelas aku mengenalmu. Be- gini, aku utusan dari Kerajaan
Kawilangit untuk mencari pendekar yang berilmu tinggi, guna men- cari dan membebaskan
putri raja yang diculik orang-orang jahat," tutur Ki Rasito pada Sena.
"Lho...?! Kenapa mesti aku,
Ki? Kan ada Senapati kerajaan?! Aku sendiri banyak urusan," kata Sena
seenaknya sambil cengengesan.
"Raja Balawisesa orang
bijaksana dan der- mawan. Senapatinya tak sanggup menemukan Putri Palupi....
Saat ini raja menderita sakit, semen- jak putrinya hilang. Apakah kau sebagai
pendekar sejati tak akan menolong orang yang sedang menderita jiwa dan batin
itu?! Apalagi beliau seorang raja, pemimpin rakyat dari Negeri
Kawilangit...!"
Ucapan Ki Rasito menusuk hati Sena.
Pemuda itu berpikir sejenak, sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aku tidak memaksa. Terserah
kamu." Selesai bicara begitu Ki Rasito segera me- langkah pergi tanpa
bicara apa-apa lagi. Sena ter- sentak cepat memburunya.
"Tunggu, Pak...!" seru
Sena sambil mengejar Ki Rasito. "Maaf, kalau begitu baiklah. Sekarang
katakan di mana Kerajaan Kawilangit itu?"
"Hm.... Ikut aku!" jawab
Ki Rasito. Lalu keduanya cepat meninggalkan tempat itu, menuju arah utara.
Ternyata Ki Rasito memili- ki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi. Sena
menggeleng-gelengkan kepala merasa kagum, sambil mengikuti lari Ki Rasito.
"Orang tua ini rupanya hebat
juga ilmunya. Edan! Aku harus hati-hati. Siapa tahu dia turunan jin atau setan
belang," batin Sena lalu, tertawa- tawa.
4
Lelaki berkedok yang membopong
Putri Pa- lupi, masih terus berlari diikuti temannya yang ju- ga berkedok.
Mereka melompati tebing dan jurang dengan mudahnya. Hingga dalam waktu singkat
keduanya sudah berada di suatu tempat yang aman, jauh dari tempat tadi.
"He he he...! Kita akan
dapatkan hadiah be- sar...!" kata lelaki yang memakai baju dari kulit
macan loreng dan celana hitam. Lalu membuka kedoknya. Kini terlihat burik tutul
hitam dikulit wajahnya yang merah. Rambutnya dibiarkan teru- rai panjang
melewati bahu. Dengan ikat kepala ku- lit macan pula.
"Benar, Kakang Amangjalu!
Tapi, apakah Kakang akan menyerahkan putri ayu ini, sekarang juga pada
pemiliknya?!" Toh Jenar bertanya.
Amangjalu menghentikan larinya dan
berpikir sejenak.
Toh Jenar pun menghentikan
langkahnya. Kemudian membuka kedoknya. Terlihat kini wajahnya yang lonjong
dengan dagu lancip. Hidung- nya mancung ke bawah pula, persis Jengkis Khan!
Matanya tajam dan serba hitam. Ikat kepalanya pun hitam.
"Kita yang mengadu nyawa
kenapa orang lain yang akan mendapatkan buahnya?" tukas Toh Jenar lagi.
"Apalagi tangkapan kita kali ini bukan gadis sembarangan, Kakang! Putri
raja! Kita bisa mendapatkan keuntungan ganda kalau Kakang mau!"
"Benar. Kau terkadang punya
otak encer. Ha ha ha...!" ujar Amangjalu sambil menepuk-nepuk bahu Toh
Jenar dengan tangan kanannya. Kemudian ditepuknya pantat Putri Palupi yang tak
berdaya, karena telah ditotoknya. Setelah itu sege- ra melesat, diikuti Toh
Jenar.
Udara siang yang panas menyengat
tak membuat Amangjalu dan Toh Jenar merasa lelah atau kepanasan, walaupun
keduanya sudah berlari cukup jauh.
Suara tawa Amangjalu terus menggema
di antara tebing-tebing yang curam yang mereka le- wati.
Dalam waktu singkat Amangjalu dan
Toh Jenar sudah sampai di markasnya yang terletak di dekat sebuah telaga.
Tempat itu sangat angker. Tak sembarang orang dapat melewati sekitar telaga
tersebut. Jika tak memiliki ilmu tinggi akan teng- gelam, tersedot air telaga
yang nampak jernih dan tenang. Bagaikan terbang, Toh Jenar dan Amangja- lu yang
membopong tubuh Putri Palupi melesat di atas air telaga.
Sampai di seberang Amangjalu cepat
me- masuki sebuah goa yang mulutnya ditutupi akar- akar pohon. Hingga sekilas
tak terlihat ada goa di tempat itu.
***
Sementara itu di Kerajaan
Kawilangit suasana berkabung masih menyelimuti orang-orang di istana. Tak ada
tawa atau suara. Prakaspati dan Bratamurti nampak murung, sedih menyaksikan
rajanya yang terbaring di atas ranjang dalam kea- daan sakit.
Kedua senapati kerajaan itu merasa
bersa- lah karena tak dapat menyelamatkan Putri Palupi. Bahkan sampai saat ini
belum juga dapat mene- mukan di mana Putri Palupi berada. Apalagi mengetahui
penculiknya.
Di sana nampak pula Raden
Sasakajiwo yang juga nampak cemas dan sedih.
"Bagaimana ini bisa terjadi?
Aku menyesal kenapa tak menjemput kalian, ini semua salahku," ujar Raden
Sasakajiwo menyalahkan diri sendiri.
"Tidak, kami berdua yang
bersalah, Raden. Maafkan kami! Maka dari itu saya segera memberitahukan Raden
karena Paduka Raja ingin bertemu Raden," sahut Prakaspati lalu menjura.
"Sasaka....
Kemarilah...!" terdengar suara serak Raja Balawisesa memanggil Raden
Sasakajiwo.
Segera Raden Sasakajiwo mendekati
raja yang terbaring itu, lalu menjura.
"Kau harus mencari putriku
sampai dapat. Karena dia calon istrimu, Sasaka," pinta Raja Balawisesa
lemah.
"Hamba berjanji akan mencari
Palupi. Akan hamba bunuh dan cincang penculik itu!" jawab Raden Sasakajiwo
geram.
Raja Balawisesa tersenyum pahit
menatap calon menantunya itu. Sepertinya merasa tak yakin dengan ucapan Raden
Sasakajiwo. Entah ke- napa.
"Semoga janjimu itu kau jalani
dengan be- nar," ujar Raja Balawsesa lemah.
Raden Sasakajiwo tersentak ketika
menden- gar ucapan Raja Balawisesa. Wajahnya seketika berubah dan agak gugup.
"Hamba berjanji...! Sekarang,
izinkan ham- ba kembali ke Candra Mulia...!" pinta Raden Sasa- kajiwo
sambil menjura.
Raja Balawisesa hanya mengangguk.
Raden Sasakajiwo lalu melangkah pergi diikuti oleh Prakaspati. Pada saat itu
muncul Ki Rasito diikuti Sena yang nampak santai dan cengar-cengir persis orang
gila.
Raden Sasakajiwo menghentikan
langkah- nya, sejenak menatap Sena dengan pandangan sinis. Sena tak acuh dan
menggaruk-garuk kepala.
Raden Sasakajiwo masih memandangi
Sena yang cengar-cengir dan menggaruk-garuk kepala. Raja muda itu mengerutkan
kening.
Pada saat itu Ki Rasito memberi
salam sambil menjura.
"Apa kabar, Raden...?"
sapa Ki Rasito penuh hormat. "Baik, Ki...," sahut Raden Sasakajiwo
terdengar hambar.
Pendekar Gila kemudian menatap
Raden Sasakajiwo sambil cengengesan. Matanya beradu tatap dengan mata Raden
Sasakajiwo. Rupanya pandangan mata Sena seakan menusuk tajam, hingga Raden
Sasakajiwo cepat berpaling, lalu kembali melangkah pergi.
"Siapa pemuda itu? Rasanya aku
pernah mengenalnya.... Tingkahnya aneh...."
"Semua tokoh-tokoh rimba
persilatan men- genalnya, Raden...," sahut Prakaspati dengan suara mantap.
"Ya, siapa dia?!" tanya
Raden Sasakajiwo mendesak
Belum sempat Prakaspati menjawab,
tiba- tiba terdengar panggilan dari dalam.
"Prakaspati, Raja
memanggil." "Maaf, Raden! Saya hanya bisa mengantar sampai di
sini," kata Prakaspati sambil menjura la- lu segera kembali ke istana.
Raden Sasakajiwo mengerutkan
kening, lalu cepat keluar dari situ.
"Tingkahnya aneh, seperti
orang gila! Ya. Aku ingat, mungkin pemuda itu yang disebut Pen- dekar
Gila...!" gumam Raden Sasakajiwo. "Lantas untuk apa dia datang
kemari...?!" tanyanya dalam hati.
Pengawal Raden Sasakajiwo membawa
ku- danya mendekati sang Raja Muda yang sudah be- rada di halaman istana
Kerajaan Kawilangit.
Raden Sasakajiwo segera melompat ke
atas kudanya dan memacunya meninggalkan halaman Kerajaan Kawilangit diikuti
lima pengawalnya.
Kembali ke ruangan Raja Balawisesa.
Raja itu masih terbaring di tempat tidurnya. Kini Sena dan Ki Rasito sudah
berada di dekat ranjang raja. Keduanya duduk bersila ditemani Bratamurti dan
Prakaspati yang baru saja duduk di
sisi Pendekar Gila.
"Berkat doa Paduka, hamba
dapat bertemu dengan pendekar yang Paduka inginkan. Sena Manggala atau Pendekar
Gila," tutur Ki Rasito pe- nuh hormat lalu menjura.
Raja Balawisesa berusaha bergerak
bangun, lalu bersandar dibantu dua dayang. Matanya me- natap ke arah Sena
sambil tersenyum. Wajahnya nampak sedikit cerah, tak seperti tadi.
"Aku sangat berterima kasih,
kau bersedia datang. Suatu kehormatan yang besar bagiku, ka- rena seorang
pendekar sejati yang sangat tersohor bersedia menjumpaiku. Raja yang lemah
ini...," ujar sang Raja Balawisesa.
"He he he.... Jangan memuji
seperti itu. Saya hanya manusia biasa, sama seperti yang lain...," sahut
Sena polos dan lugu. Tangannya menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan.
Semua yang berada di situ merasa
kagum dengan keberadaan Pendekar Gila yang apa adanya, polos dan lugu. Tak
tinggi hati.
"Kau benar-benar pendekar
sejati. Aku se- nang dengan jawabanmu yang polos itu." Kembali Raja
Balawisesa memuji Sena.
Beberapa saat tak ada kata-kata
lagi, hening. Baru kemudian Raja Balawisesa menjelaskan maksudnya, bahwa dia
mengharapkan Sena membantu, menyelidiki siapa penculik putrinya. Bahkan kalau
dapat membawa kembali putrinya den- gan selamat. Dan raja berjanji akan
memberikan hadiah yang berharga pada Sena. Namun Sena menolaknya.
"Saya tak mengharapkan hadiah
atau apa saja dari Paduka. Itu tak pernah ada dalam pikiran saya. Kalau memang
Raja menginginkan pertolongan, akan saya laksanakan tanpa pamrih. Hanya doa
restu Raja yang saya harapkan," jawab Sena masih dengan cengengesan.
Raja Balawisesa mengangguk-angguk
dan tersenyum. Dia merasa kagum dengan pribadi pendekar muda itu.
"Dia benar-benar pendekar
berhati mulia dan bijaksana. Kalau saja aku mempunyai putra seperti dia.
Alangkah bahagianya hidup ini," kata Raja Balawisesa dalam hati. Matanya
terus mena- tap ke arah Sena.
"Kalau begitu kami secepatnya
akan me- rundingkan rencana penyelidikan dengan Sena," ujar Ki Rasito
kemudian.
"Baiklah. Kuserahkan semuanya
padamu, Ki," jawab Raja Balawisesa.
"Kami mohon diri,"
kembali Ki Rasito men- jura lalu pergi diikuti Sena, Prakaspati, dan Bra-
tamurti menuju ruangan lain.
Raja Balawisesa memandang mereka
den- gan hati lega dan yakin akan keberhasilan Sena untuk menemukan putri
tunggalnya yang ingin di- tunangkan dengan Raden Sasakajiwo itu.
***
Di sebuah ruang tertutup, Ki
Rasito, Sena, Prakaspati, dan Bratamurti membicarakan hilangnya Putri Palupi.
"Memang aneh kalau kita terka.
Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres!" tutur Ki Rasito.
"Benar. Kami merasa Raden
Sasakajiwo se- pertinya tak begitu terkejut ketika mendengar beri- ta tentang
diculiknya Putri Palupi....'' tambah Pra- kaspati yang duduk di antara Ki
Rasito dan Bra- tamurti. "Anehnya lagi, kenapa Raden Sasakajiwo yang
seharusnya mengirim prajuritnya untuk mengamankan daerah tidak dilaksanakan.
Ini yang sangat ganjil menurut saya, Ki...," ujar Bra- tamurti
mengungkapkan pendapatnya. "Sampai ki- ta kehilangan Kakang Haryo Sasongko
dalam per- tempuran itu...!" tambah Bratamurti.
Ki Rasito manggut-manggut sambil
menge- lus-elus janggutnya. Sementara Pendekar Gila nampak menggaruk-garuk
kepala. Namun tiba- tiba Sena menukas.
"Apakah Raden Sasakajiwo itu,
lelaki yang tadi ketemu di ruangan raja?" tanya Sena.
"Betul!" jawab Ki Rasito.
"Hi hi hi...! Lucu, dunia ini memang serba aneh, penuh dengan kejadian
menyedihkan dari orang-orang licik. Benar-benar edan!" gumam Sena sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Apa maksud Tuan
Pendekar...?!" tanya Prakaspati ingin tahu.
"Apakah kau mencurigai Raden
Sasakajiwo?!" tanya Ki Rasito tanpa ragu-ragu. Sebab, orang tua itu
sebelumnya juga menaruh curiga terhadap Raden Sasakajiwo yang merencanakan penculikan
atas Putri Palupi.
Sena hanya cengar-cengir dan
bertingkah seperti orang gila. Membuat ketiga orang yang di situ senyum-senyum
dan merasa aneh melihat tingkah pendekar itu.
"Apa yang kau ucapkan itu
sepertinya benar, Ki," jawab Sena, sambil cengar-cengir. "Kalau kita
sepakat menduga seperti itu, aku akan menyelidikinya. Aku ingin seorang
teman," tambah Sena lalu menoleh ke arah Prakaspati.
"Saya akan mendampingi Tuan
Pendekar!" sahut Prakaspati dengan penuh semangat.
"Aku pun ikut, jika Tuan
Pendekar menginginkan. Siapa pun penculik dan yang merencanakan penculikan itu,
aku bersumpah ingin memba- las kematian Kakang Haryo. Aku rela mati...!"
ucap Bratamurti dengan geram.
Pendekar Gila hanya tertawa-tawa
dan menggaruk-garuk kepala menoleh ke Ki Rasito.
"Terserah pada Ki Rasito saja.
Aku senang juga ditemani."
Ki Rasito berpikir sejenak kemudian
meno- leh ke arah Prakaspati dan Bratamurti. Lalu manggut-manggut.
"Kalau kalian berdua ingin
membantu Pendekar Gila, aku tidak keberatan. Tapi ingat, jangan ceroboh! Bisa
menggagalkan semua rencana Sena. Terutama kau, Bratamurti, jangan turuti
amarah- mu!" saran Ki Rasito penuh wibawa.
"Saya akan patuhi pesan itu,
Ki," jawab Bratamurti tegas.
"Baiklah. Kalau begitu
pagi-pagi sekali kalian harus berangkat ke Kerajaan Candra Mulia...!" ucap
Ki Rasito kemudian. 5
Pendekar Gila yang ditemani
Prakaspati dan Bratamurti sudah memasuki wilayah Kerajaan Candra Mulia.
Ketiganya menyamar sebagai rakyat biasa. Dengan pakaian orang-orang desa.
Suasana di sekitar Kerajaan Candra
Mulia nampak biasa-biasa saja. Tak ada kejanggalan, hanya saja pengamanan
terasa lebih ketat. Tak sembarangan orang masuk. Hampir semua sudut istana
kerajaan dijaga dua atau tiga prajurit, den- gan senjata lengkap.
"Nampaknya tak ada keganjilan
di Candra Mulia, Tuan Pendekar," kata Prakaspati lirih pada Sena. Mereka
terus melangkah melewati pintu ger- bang kerajaan, di antara orang-orang desa
yang berlalu lalang di situ.
"Hi hi hi...! Kelihatannya
memang begitu. Kita tunggu saja!" ucap Sena seenaknya.
"Aku sudah tak tahan ingin
segera menge- tahui siapa penculik Putri Palupi. Akan kucincang dia!"
sahut Bratamurti.
"Sabar, jangan gegabah! Ingat
pesan Ki Ra- sito," tukas Prakaspati.
Mereka berhenti bicara ketika telah
berada di bawah pohon rindang tak jauh dari pintu gerbang Istana Kerajaan
Candra Mulia.
Dari pintu gerbang keluar dua orang
penunggang kuda berwajah garang. Mereka memacu kuda dengan kencang melewati
tempat Sena, Pra- kaspati, dan Bratamurti berteduh. Derap kaki ku- da yang
kencang itu menimbulkan debu beterban- gan. Hampir saja seorang wanita dan
anaknya ke- na terjang salah satu kuda yang ditunggangi orang berwajah garang
itu. Untung saja Sena cepat me- lompat dan menyambar wanita setengah baya dan
anaknya yang masih kecil.
Gerakan Sena yang cepat dan tak
diduga sama sekali oleh Prakaspati dan Bratamurti, membuat kedua senapati itu
ternganga dan ka- gum.
Penunggang kuda tak menghiraukan
dan terus saja memacu kudanya lebih kencang!
"Terima kasih, Anak Muda.
Terima kasih...," kata wanita setengah baya itu.
"Hati-hati, Ni...!" kata
Sena ramah. Wanita itu mengangguk lalu pergi. "Apakah kalian men- genal
siapa penunggang kuda tadi...?! Nampaknya bukan orang sini," tanya Sena
kepada kedua kawannya. "Ya. Aku tadi masih sempat melihat jelas. Bahwa
kedua orang penunggang kuda ternyata tokoh aliran hitam dari Goa Lawa!"
jawab Prakaspati. "Siapa nama mereka?!" tanya Sena sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Amangjalu dan Toh
Jenar," jawab Prakas- pati lagi "Hah?!" Bratamurti tersentak
kaget men- dengar nama itu. "Ada apa tokoh-tokoh sesat itu datang
kemari?!"
"Kini dugaan Tuan Pendekar
mendekati ke- benaran. Mungkin Raden Sasakajiwo bersekongkol dengan kedua tokoh
sesat itu untuk menculik Pu- tri Palupi!" tutur Prakaspati.
"Untuk apa Raden Sasakajiwo
berbuat begi- tu?! Bukankah Putri Palupi calon permaisurinya!" sahut
Bratamurti dengan suara sumbang.
"Aneh memang! Aku rasa Raden
Sasakajiwo punya maksud jahat terhadap Kerajaan Kawilan- git," tukas
Prakaspati menerka-nerka.
Sena hanya cengar-cengir mendengar
ucapan kedua Senapati Kerajaan Kawilangit itu.
"Kita tak usah menerka-nerka,
yang pasti firasatku mengatakan ada ketidakberesan pada diri Raden
Sasakajiwo!" tukas Sena.
"Mungkin! Sekarang apa yang
harus kita lakukan?" tanya Bratamurti. "Kita berpencar menca- ri
tahu. Bagaimana?!"
"Tunggu!" seru Sena
sambil menunjuk ke arah pintu gerbang istana Kerajaan Candra Mulia, Prakaspati
dan Bratamurti menoleh.
Ternyata Raden Sasakajiwo dengan
me- nunggang kuda putih bersama lima orang pengawalnya keluar dari istana
kerajaan. Mereka mema- cu kuda-kuda ke arah yang sama dengan dua tokoh sesat
tadi.
"Mari, kita ikuti!" seru
Sena, lalu melesat pergi disusul Prakaspati dan Bratamurti. Ketiganya
menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna. Hingga ketiganya bagai
terbang, terus melesat mengejar rombongan Raden Sasakajiwo.
***
Kuda yang ditunggangi Raden
Sasakajiwo berlari kencang diikuti kelima kuda para pengawalnya. Mereka menyusuri
jalan tanah yang kering. Debu terus beterbangan karena kaki-kaki kuda itu.
Sementara itu Sena dan kedua Senapati Kawilangit masih terus melesat berlari
kencang menelusuri jalan lain, mereka memotong jalan.
Mereka sampai di suatu tempat yang
cukup terlindung jauh dari kerjaan. Suatu tempat yang dikelilingi batu-batu
cadas pepohonan. Tempatnya di dekat hutan. Kuda Raden Sasakajiwo tiba-tiba
berhenti demikian juga dengan kelima pengawal- nya.
Tak berapa lama kemudian muncullah
dua orang dari arah hutan menunggang kuda.
"Kenapa kalian berdua datang
ke kerajaan?! Orang-orang pasti curiga. Bagaimana kalau ada orang dari Kerajaan
Kawilangit melihat kalian ber- dua?!" kata Raden Sasakajiwo dengan nada
kesal.
"Ha ha ha...! Jangan khawatir,
kalaupun ada yang mengetahui hal itu, tak jadi soal. Yang penting putri itu
sudah di tangan kita...!" jawab Amangjalu.
"Diam...! Kau bicara terlalu
berani!" sambar Raden Sasakajiwo dengan mengacungkan tangan kananya.
Sementara itu Sena dan kedua
temannya sudah bersembunyi di balik batu-batu cadas. Mereka mendengarkan
pembicaraan itu. Bratamurti yang bersifat keras dan pemarah jadi geram.
"Bangsat! Rupanya Raden
Sasakajiwo ber- sekongkol dengan orang-orang sesat itu! Kita tak bisa lama-lama
membiarkan mereka begitu saja. Kita harus cepat bertindak!" ucap
Bratamurti den- gan marah.
"Sabar! Kita dengarkan
pembicaraan mere- ka lebih lengkap...." tahan Prakaspati.
"Ssst...!" Sena
mengisyaratkan agar kedua temannya diam.
"Kenapa kalian tidak serahkan
Putri Palupi secepatnya padaku?!" tanya Raden Sasakajiwo yang tampak marah
kepada Amangjalu dan Toh Jenar. "Kau sendiri yang berkata, bahwa sebelum
ada perintahmu, putri itu tetap di markas kami," jawab Amangjalu sambil
memilin-milin kumisnya yang tebal.
"Tapi keadaan saat ini
berubah. Aku khawa- tir rencanaku diketahui orang-orang Kawilangit!" tutur
Raden Sasakajiwo.
"Kalau begitu biar untuk
selamanya putri ayu itu tetap bersama kami!" sahut Amangjalu ce- pat.
"Kurang ajar! Jaga mulutmu,
Amangjalu! Aku bisa berbuat apa saja untuk meringkusmu, kalau kau
macam-macam!" bentak Raden Sasaka- jiwo marah.
"Jangan marah dulu, Raden.
Kami hanya berkelakar. Tapi kalau Raden takut semua ini akan ketahuan,
sebaiknya biar putri itu jadi per- maisuri saya saja. Ha ha ha!" sambung
Toh Jenar sambil tertawa-tawa.
"Tutup mulutmu! Kurang ajar!
Kalian rupanya hendak melawanku?!" seru Raden Sasakajiwo marah.
"Terserah, apa kata Raden!
Yang jelas kami telah mempertaruhkan nyawa untuk menculik putri ayu itu! Sepantasnya
akulah yang memiliki putri itu," jawab Amangjalu tegas.
"Keterlaluan! Tangkap
dia!" perintah Raden Sasakajiwo pada kelima pengawalnya.
Dengan cepat kelima pengawal itu
berlom- patan menyerang kedua tokoh sakti yang masih duduk di atas punggung
kuda.
"Heaaat...!" Wat! Wut!
Golok dan pedang membabat ke arah Amangjalu dan Toh Jenar. Namun kedua orang
itu hanya tertawa-tawa sambil mengelak dengan meli- ukkan tubuh, lalu melompat
turun sambil bergul- ing.
Dan dalam beberapa gebrakan saja
kelima pengawal itu sudah roboh di tangan Amangjalu dan Toh Jenar.
Melihat kenyataan itu Raden
Sasakajiwo tambah marah. Dia melompat turun dan menantang kedua tokoh sesat
itu.
"Rupanya kalian berdua
menyebalkan! Te- rimalah ini! Heat...!" Raden Sasakajiwo melesat cepat
menyerang Amangjalu dan Toh Jenar dengan keris pusakanya.
Tusukan dan sabetan Raden
Sasakajiwo ke arah Amangjalu dan Toh Jenar dapat dielakkan dengan mudah.
Keduanya dengan cepat menang- kis serta menghindar ke samping serta meliukkan
tubuh. Raden Sasakajiwo yang merasa dikhianati sepertinya ingin segera
menghabisi kedua musuhnya.
Jurus demi jurus mereka lewati,
kedua tokoh sesat itu tampak tenang. Padahal Raden Sasakajiwo berusaha keras
untuk dapat mengalahkan mereka.
Plak! Plak! "Heaaat...!"
Srett! Srettt! "Hah...?!" Akhirnya baju Amangjalu tersobek oleh ke-
ris Raden Sasakajiwo. Begitu juga Toh Jenar. Ke- duanya membelalak marah, lalu
dengan serentak menyerang Raden Sasakajiwo dengan jurus-jurus aneh.
"Terimalah ini!
Heaaattt...!" seru Amangjalu. "Hah...?!" mata Raden Sasakajiwo
membelalak me- lihat senjata rahasia yang meluncur ke arahnya. Raja muda itu
bersalto ke samping dan berguling ke tanah sambil menangkis dengan kerisnya.
Tring! Tring! "Mampus kau,
Raden Bodoh!" seru Toh Jenar.
Amangjalu rupanya tak ingin memberi
ke- sempatan pada Raden Sasakajiwo. Dia terus men- cecar dengan senjata
rahasianya.
Raden Sasakajiwo mulai terdesak dan
kewa- lahan. Satu senjata lawan hampir saja mengenai kepalanya, kalau saja
terlambat menghindar. Nampak raja muda berwajah tampan itu mulai kecut. Pada
saat yang gawat, tiba-tiba...,
"Heaat...!" Muncul
seseorang dengan bersalto di udara langsung menendang Amangjalu dan Toh Jenar.
Plak! Bukk! "Aaaa...!" Amangjalu
dan Toh Jenar yang tak mendu- ga datangnya serangan dari orang yang berpakaian
lurik coklat itu, tak sempat mengelak. Tubuh me- reka seketika terpental ke
belakang.
Namun kemudian cepat berdiri dan
memasang kuda-kuda.
"Bangsat! Siapa kau?! Ikut
campur urusanku. Mau mengantar nyawa juga rupanya!" bentak Amangjalu.
Sementara itu Raden Sasakajiwo yang
ma- sih terkesima dengan munculnya lelaki berompi hanya bisa ternganga.
Pada saat itu Prakaspati melompat
dan me- notok tubuh Raden Sasakajiwo. Dan cepat mem- bawanya pergi, diikuti
oleh Bratamurti.
Melihat itu Amangjalu dan Toh Jenar
kaget. "Hahhh." Keduanya hendak mengejar Prakaspati yang membawa
Raden Sasakajiwo. Mereka melompat ke udara. Namun lelaki berompi yang tadi
mengha- jarnya menghadang kedua tokoh sesat itu, dengan pukulan beruntun.
"Hiaaa...!" Plak! Plakk!
"Heaaattt...!" Namun
Amangjalu dan Toh Jenar dapat menangkis. Ketiganya sejenak bertarung di udara.
Lalu sama-sama turun ke tanah.
Lelaki berompi kulit ular itu
ternyata seo- rang pemuda tampan. Rambut ikal dengan ikat kepala kulit ular. Di
pinggangnya terselip sebuah suling kepala naga. Dengan cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala, menatap ke arah Amangjalu dan Toh Jenar. Kedua orang
itu menge- rutkan kening dan kemudian saling pandang.
"Hei! Kenapa kalian tidak
menyerangku la- gi!" seru pemuda itu sambil cengengesan.
"Tingkah pemuda itu
mengingatkan aku pa- da Pendekar Gila! Mungkinkah dia orangnya?!" gumam
Amangjalu dalam hati.
"Kau telah berani ikut campur
urusanku. Kaukah Pendekar Gila, murid Singo Edan?!" seru Amangjalu dengan
suara berat.
"Hi hi hi...! Siapa pun aku
terserah kau, Penculik-penculik Busuk!" sahut pemuda tampan yang tak lain
Sena Manggala yang menyamar den- gan pakaian orang desa. Tingkahnya seperti
orang gila.
"Kurang ajar! Kau ingin
mampus, Anak Mu- da! Heaaa...!"
Amangjalu melancarkan pukulan jarak
jauh yang mengeluarkan secarik sinar api.
Sena melompat ke samping bersalto.
Hingga serangan itu menghantam batu-batu menimbul- kan ledakan dahsyat!
Glegarrr!
Batu-batu itu hancur berantakan.
"Hi hi hi... hebat juga! Kini terimalah ini! Haaat...!" Pendekar Gila
dengan gerakan cepat melancarkan serangan balik menggunakan 'Ajian Inti Bayu'.
Tangannya dengan cepat disatukan, lalu di- rentangkan ke atas sambil
menggerakkan tenaga dalam alirkan 'Inti Bayu' ke seluruh persendian. Kemudian
ditarik ke bawah dan dihentakkan hingga mengeluarkan deru angin keras ke arah
Amangjalu dan Toh Jenar. Kedua orang itu tak sempat mengatasi pukulan itu.
Sehingga tubuh keduanya terlempar ke belakang dan jatuh mem- bentur batu-batu
cadas.
"Aaaa...!" pekik panjang
keduanya terdengar memecah suasana di lembah itu.
"He he he...! Kalian istirahat
di situ. Aku masih banyak urusan!"
Selesai berkata begitu Sena melesat
me- ninggalkan lawannya yang kelenger.
Namun, Amangjalu dan Toh Jenar
ternyata memiliki kekebalan yang luar biasa. Tak ada luka di tubuh mereka,
meski terbentur keras batu ca- das.
"Bangsat! Aku bersumpah akan
membalas- nya," ucap Amangalu geram.
"Hanya Pendekar Gila yang
memiliki ilmu ajian itu," sahut Toh Jenar kemudian.
"Benar, pemuda itu Pendekar
Gila! Kurang ajar! Raden Sasakajiwo menjebak kita! Akan ku- bunuh dia, sebelum
membuat perhitungan dengan Pendekar Gila! Akan kusiapkan peti mati untuk
Pendekar Gila!" kata Amangjalu
penuh dendam, la- lu tangan kanannya menghantam batu di depan- nya, sebagai
pelampiasan amarah.
Prak! Batu itu terbelah dua.
6
Sementara itu Prakaspati dan
Bratamurti yang bersumpah akan menghajar dalang penculik, hingga mengakibatkan
tewasnya Haryo Sasongko, kini benar-benar melampiaskan kekesalannya. Atas
perintah Raja Balawisesa yang merasa dik- hianati, Prakaspati dan Bratamurti
menyiksa Ra- den Sasakajiwo di ruang tahanan.
"Kau manusia tak tahu budi dan
tak tahu diri! Karena kau, Kakang Haryo harus gugur di tangan para begal
keparat itu! Kini kau rasakan akibatnya...!" seru Bratamurti yang penuh
dendam. Menghajar Raden Sasakajiwo.
Bluk! Plak! Plak! "Ukh....
Aaakh... Ampun...! Aku memang bersalah, tapi berilah aku kesempatan untuk bica-
ra...!" pinta Raden Sasakajiwo dengan suara lemah. Wajahnya sudah penuh
dengan darah dan benjol-benjol.
Prakaspati yang lebih memiliki kesabaran
menahan Bratamurti yang berwatak keras dan cepat marah.
"Tahan!" perintah
Prakaspati pada Bratamurti, "Biarkan dia bicara. Apa maunya. Mungkin dia
bisa memberikan petunjuk untuk kita di mana sarang Amangjalu dan Toh
Jenar...."
"Ayo bicara! Kenapa kau
sendiri yang mem- punyai rencana busuk itu...?! Jawab dengan be- nar! Kalau
tidak aku dapat membunuhmu kapan saja!" seru Bratamurti sambil
mencengkeram pipi Raden Sasakajiwo. Lalu melepasnya dengan kasar. "Aku
bersalah..., maafkan aku...!" kata Ra- den Sasakajiwo dengan suara serak
dan lemah.
"Aku tidak butuh minta maafmu!
Aku inginkan jawaban. Kenapa kau punya rencana bu- ruk itu...!" bentak
Bratamurti sambil menampar keras pipi Raden Sasakajiwo. Ketika Bratamurti ingin
menampar lagi, Prakaspati cepat menahan- nya.
"Beri dia kesempatan berpikir
dan bicara la- gi!" kata Prakaspati pada Bratamurti.
Sesaat hening. Bratamurti nampak
benar- benar benci dengan Raden Sasakajiwo yang mengkhianati Raja Balawisesa.
"Sebenarnya rencana itu memang
usulku. Tapi kemudian niat itu kuurungkan. Namun Amangjalu yang sudah kuundang
untuk bekerja sama, mengancam akan memberitakan rencana- ku, jika rencana itu
kubatalkan. Maka... akhirnya rencana itu berlanjut...," tutur Raden
Sasakajiwo memberi penjelasan.
"Kenapa kau tega mengkhianati
Raja Bala- wisesa yang telah mempercayaimu? Apa sebenarnya yang terkandung di
otakmu...?!" tanya Brata- murti dengan geram sambil menuding muka Raden
Sasakajiwo yang sudah babak belur itu.
"Kau sendiri yang mencari
penyakit, Raden!" tambah Prakaspati, "Aku heran seorang Raden
berpikiran picik seperti itu. Tak pantas gelar Raden itu kau sandang.
Memalukan...! Sekarang cepat katakan, apa tujuanmu menculik Putri Palupi yang
akan menjadi permaisurimu...!"
Raden Sasakajiwo perlahan
mengangkat kepalanya dengan napas terengah-engah. Mulut- nya meringis menahan
rasa perih dan sakit pada wajahnya yang luka, karena hantaman Bratamurti tadi.
"Sekali lagi, maafkan aku...!
Aku memang orang gila! Menculik calon permaisuriku. Itu semata-mata hanya
karena aku ingin mengacaukan keadaan Kerajaan Kawilangit. Karena aku meren-
canakan untuk menguasai Kerajaan Kawilangit ini, jika semua senapati mati di
tangan Amangjalu dan Toh Jenar. Terus terang, aku mempunyai perjan- jian pada
kedua orang itu.... Kini kalau kalian mau membunuhku, cepatlah. Bunuh!"
ucap Raden Sa- sakajiwo lemah. Lalu kepalanya menunduk lagi. Kedua tangannya
yang terikat nampak di perge- langannya mulai terluka oleh besi pengikat.
Prakaspati menghela napas
dalam-dalam. Lalu berjalan mondar-mandir. Sedangkan Brata- murti memandang
geram pada Raden Sasakajiwo.
"Aku harus membunuh manusia
licik ini! Demi membalas dendam untuk kematian Kakang Haryo Sasongko...,"
gumam Bratamurti dalam hati. Perlahan dia mencabut keris di pinggangnya.
Srettt!
Prakaspati tersentak kaget melihat
Brata- murti yang sudah mengangkat keris, akan ditu- sukkan ke kepala Raden
Sasakajiwo. Cepat Pra- kaspati menendang tangan Bratamurti yang hen- dak
mengayunkan kerisnya.
Plakk! Keris Bratamurti terjatuh. Bratamurti
kaget dan marah pada Prakaspati.
"Kenapa kau halangi aku
membunuh pengkhianat ini...?! Apa kau berpihak padanya...!" suara
Bratamurti keras. Wajahnya merah padam menahan amarah.
Pada saat itu muncul Pendekar Gila
diantar oleh Ki Rasito. Sena menggaruk-garuk kepala dan cengar-cengir melihat
keadaan Raden Sasakajiwo. Lalu memandangi Bratamurti dan Prakaspati.
Ki Rasito mengerutkan kening begitu
meli- hat keris di lantai ruangan itu. Dipungutnya keris itu. Diperhatikan
sejenak. Lalu memberikan pada Bratamurti. Orang tua itu sudah hafal milik siapa
keris tadi.
"Aku sudah berpesan, hilangkan
rasa den- dam dan amarahmu, Bratamurti. Dengan kesabaran mungkin kita akan
mendapat sesuatu yang le- bih berharga...," ucap Ki Rasito kalem.
"Benar kata Ki Rasito. Dan
kita tak boleh berbuat sekehendak hati pada orang ini. Aku tahu dia bersalah.
Apa pun alasannya dia tetap bersa- lah," tambah Sena sambil
menggaruk-garuk kepa- la. Matanya menatap Raden Sasakajiwo yang me- nunduk
lemah.
"Apa dia sudah mengatakan
untuk apa berbuat itu...?" tanya Ki Rasito dan Prakaspati.
Prakaspati tak langsung menjawab.
Dia memandang Bratamurti yang nampak menyesal dengan amarahnya itu. Lalu
menarik napas da- lam-dalam. Baru berkata, "Menurut pengakuan- nya, hanya
ingin menguasai Kerajaan Kawilangit. Dan mendapat ancaman Amangjalu dan Toh Je-
nar...." "Huh! Edan!" gumam Ki Rasito, sambil ber- balik
membelakangi mereka, "Bukan itu saja. Dia ingin menguasai Kitab Sapu
Jagad, yang langka dan sangat diinginkan tokoh-tokoh persilatan. Pa- dahal
kitab itu sudah hilang sekian tahun la- manya. Entah siapa yang
mencurinya...," tutur Ki Rasito melanjutkan ucapannya.
Prakaspati dan Bratamurti merasa
kaget dan saling pandang. Namun Sena hanya cengengesan sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Ki Rasito membalikkan badannya lagi
menghadap mereka, dengan kedua tangan dilipat ke belakang. Dipandanginya Raden
Sasakajiwo.
"Bagaimana pendapatmu,
Sena?" tanya Ki Rasito pada Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Kita harus
bergerak cepat. Sebelum orang-orang jahat itu menyerang kemari. Yang kita
perlukan jalan menuju markas Amangjalu dan Toh Jenar!" jawab Sena dengan
tenang. "Maka kita perlu petunjuk. Dan yang tahu seluk-beluk kea- daan
markas tokoh sesat itu, dia...," katanya lagi sambil menunjuk Raden
Sasakajiwo.
Prakaspati dan Bratamurti tersentak
dan saling pandang. Sementara Ki Rasito mengangguk-anggukkan kepala.
"Jadi maksud Tuan Pendekar,
orang ini kita lepas...?" tanya Bratamurti ingin tahu maksud Sena.
"Ya! Sebab aku dengar jalan
menuju markas Amangjalu banyak jebakan yang sangat berbahaya bagi kita...,"
jawab Sena dengan santai sambil menggaruk-garuk kepala, lalu cengengesan.
"Tapi, bagaimana kalau orang
ini melarikan diri...?" sahut Prakaspati. "Atau menipu dan men- jebak
kita lagi...?"
"Itu urusan nanti. Yang jelas,
kalau dia macam-macam, aku pun tak akan memberinya am- pun," sahut Sena
mantap. Lalu kembali cengengesan.
"Sebaiknya kita buat
perjanjian dengan dia...," Ki Rasito memberi saran, "Tanya dia baik-baik,
mau membantu, atau mati!"
Prakaspati memberikan isyarat pada
Bra- tamurti, agar bicara dengan Raden Sasakajiwo, yang nampak sudah makin
lemah, karena darah terus mengucur dari luka-lukanya.
"Kami masih memberikan
pengampunan, ji- ka kau bersedia membantu kami, menjadi petunjuk jalan ke
markas Amangjalu...," kata Bratamurti sambil mendongakkan muka Raden
Sasakajiwo. Dengan tangan kirinya.
Wajah Raden Sasakajiwo yang tampan,
kini nampak masak. Mata kirinya bengkak, akibat pukulan Bratamurti. Raja muda
itu tak mau menjawab.
Melihat itu Sena segera mendekati
dan bicara dengan nada kalem, agak lembut
"Kami sangat membutuhkan
bantuanmu. Dengan bantuanmu, kami dapat menyelamatkan Putri Palupi. Tentunya
kau juga ingin Putri Palupi selamat, bukan...?" bujuk Sena.
Mendengar nama Palupi,
perlahan-lahan mata Raden Sasakajiwo melirik ke arah Sena. Lalu pada Ki Rasito.
Kemudian kembali ia menundukkan kepala. Nampaknya dia sudah tak kuat lama-lama
menegakkan kepalanya.
"Lepaskan ikatannya.
Cepat!" perintah Ki Rasito pada Prakaspati dan Bratamurti.
Segera kedua orang senapati itu melepaskan
ikatan tangan Raden Sasakajiwo. Keduanya kemudian membantu Raden Sasakajiwo duduk
di lantai. Lelaki itu masih lemas dan terkulai. Sena segera menotok
bagian-bagian tertentu, untuk memulihkan keadaan tubuhnya. Tak beberapa lama
Raden Sasakajiwo mulai nampak agak sehat, wajahnya mulai kelihatan tak pucat
lagi.
Dipandanginya mereka semua, lalu
terhenti pada Bratamurti yang tadi menghajarnya. Namun tak nampak rasa dendam
di wajah Raden Sasakajiwo. Hatinya mulai sadar. Selama ini perbuatan- nya
salah. Dan dia rupanya ingin menebus segala kecurangan dan kebusukan hatinya.
"Kukira aku sudah mati. Siapa
yang menyelamatkanku...?" tanya Raden Sasakajiwo kemudian dengan memandang
keempat orang yang ada di depannya.
Ki Rasito menoleh pada Sena yang
nampak tenang dan menggaruk-garuk kepala sambil cen-gengesan.
"Dialah yang menyelamatkanmu,
Raden," jawab Ki Rasito penuh wibawa.
Raden Sasakajiwo, mengerutkan
kening, menatap Sena. Lalu manggut-manggut lemah.
"Ya..., aku ingat. Pemuda itu
yang datang bersamamu beberapa hari yang lalu, Ki...," ujar Raden
Sasakajiwo pada Ki Rasito.
"Ya. Dialah Sena Manggala atau
Pendekar Gila, yang pernah Raden tanyakan dulu, ketika Raden menginginkan
bantuan. Karena Kerajaan Candra Mulia itu diserang tokoh-tokoh sesat, ter-
masuk Amangjalu," tutur Ki Rasito menjelaskan.
"Hah?!" tersentak Raden
Sasakajiwo men- dengar penjelasan Ki Rasito itu," Oh... aku malu, Ki.
Terima kasih, Tuan Pendekar, kau telah me- nyelamatkanku. Aku..., aku berjanji
akan mem- bantu kalian pergi ke markas Amangjalu. Dan akan kupertaruhkan jiwa
ragaku, untuk membawa Putri Palupi, calon permaisuriku itu...," tekad Ra-
den Sasakajiwo dengan nada tegas.
"Mudah-mudahan janjimu tak kau
ingkari, Raden. Saat inilah kesempatan untuk membersih- kan namamu yang sudah
kotor. Karena hasutan Amangjalu itu...," ucap Ki Rasito kemudian, den- gan
nada menyindir.
"Aku berjanji, bersumpah akan
membunuh Amangjalu yang berbuat curang, khianat pada- ku...!" terdengar
nada penuh dendam dari mulut Sasakajiwo.
"Kalau begitu, sebaiknya
kalian cepat be- rangkat. Tak perlu menangguhkan lebih lama lagi.
Biar nanti aku yang memberitahu
raja...," kata Ki Rasito penuh wibawa. "Ingat, kalian harus patuh
terhadap Pendekar Gila. Jangan ceroboh!"
"Baik, Ki," jawab
Prakaspati dan Bratamurti berbarengan.
"Raden, maafkan atas kekasaran
saya...," kata Bratamurti pada Raden Sasakajiwo.
"Saat ini tak ada yang perlu
dimaafkan. Aku menerima semua itu. Karena aku bersalah," jawab Raden
Sasakajiwo polos. Lalu keduanya bersala- man.
***
Tak lama kemudian Pendekar Gila dan
ketiga temannya sudah berada di dekat Hutan Galase- tra. Sejenak mereka
berhenti. Mata ketiganya, me- nyapu sekeliling tempat itu. Sena yang berada
pal- ing depan di antara Raden Sasakajiwo dan Prakas- pati, nampak
cengar-cengir. Kemudian mengga- ruk-garuk kepala.
"Apakah kita harus memasuki
hutan itu, agar lebih cepat pada tujuan...?" tanya Sena pada Raden
Sasakajiwo.
"Tidak, sebaiknya kita lewat
pinggir hutan, terus menyeberangi sungai. Itu jalan yang paling cepat dan jauh
dari bahaya," jawab Raden Sasaka- jiwo. Sambil menunjuk ke arah selatan
hutan.
Prakaspati saling pandang dengan
Sena. Lalu Sena menganggukkan kepala. Kemudian mere- ka melanjutkan perjalanan.
Sena berlari dengan cepat, diikuti
Raden
Sasakajiwo yang berlari di sisinya,
kemudian Pra- kaspati dan Bratamurti.
Kini mereka sudah sampai di tepi
sungai di pinggiran Hutan Galasetra. Sungai itu cukup besar, arusnya deras,
berkelok-kelok bagai seekor ular raksasa. Tak ada perahu atau rakit di situ.
Sena menggaruk-garuk kepala dengan
mu- lut cengengesan
"Rupanya kita harus
menyeberangi sungai ini. Tapi tak mungkin. Arusnya terlalu deras, dan mungkin
dalam...," kata Prakaspati menyeletuk. Matanya terus menyapu sekeliling
tempat itu.
"Tidak. Sungai ini tak begitu
dalam, hanya sebatas pinggang. Ayolah, hari sudah sore...!" ajak Raden
Sasakajiwo, lalu dia segera memasukkan kakinya ke air. Diikuti Prakaspati dan
Bratamurti. Sedangkan Sena masih menggaruk-garuk kepala memandangi sekeliling
sungai. Kalau saja Pende- kar Gila mau dengan mudah dia berjalan di atas air
sungai itu dengan menggunakan ilmu merin- gankan tubuh yang tinggi. Namun
rupanya Pende- kar Gila mempunyai firasat. Dia merasakan adanya sesuatu yang
membahayakan di tempat itu.
Benar juga dugaan Sena. Baru saja
ketiga temannya setombak dari daratan, tiba-tiba muncul manusia-manusia dari
dalam air sungai yang tak begitu jernih. Mereka menghadang ketiga teman- nya.
Delapan orang berkepala botak dan bermuka hitam, tanpa baju, hanya memakai
cawat dari kulit binatang, telah mengurung Raden Sasakajiwo, Prakaspati, dan Bratamurti.
Dan dengan cepat mereka melancarkan serangan. Terjadi pertarungan di sungai.
Melihat itu Sena sengaja tak bereaksi. Dia seakan ingin melihat sampai di mana
keheba- tan dua Senapati Kawilangit dan Raden Sasakajiwo.
Prakaspati dengan gerakan cepat
memba- batkan kerisnya ke tubuh lawan. Begitu juga Bra- tamurti dan Raden
Sasakajiwo. Pertarungan mula- mula cukup seimbang. Delapan lawan tiga. Namun
rupanya kedelapan orang botak bermuka hitam itu lebih menguasai medan air yang
arusnya deras. Hingga pada kesempatan yang kurang mengun- tungkan, Raden
Sasakajiwo terdesak dan dike- royok dua orang.
Wut! wut! Blukk!
"Aaaa...!" Raden Sasakajiwo terpekik kesaki- tan.
Melihat itu Prakaspati bermaksud
meno- longnya. Namun tiba-tiba seorang dari lawannya telah mengetahui dan
seketika menghajar Prakas- pati.
Dengan gerakan yang sukar dilihat
mata, Pendekar Gila melompat. Bagai berjalan di tanah, dengan tendangan dan
pukulan dia menghajar sa- tu persatu kedelapan orang botak, penghuni sun- gai
itu. Wesss! Wasss! Plakk! Bukkk! "Aaaakh...!" "Aaaauuu...!"
Pekik dan jerit kedelapan orang botak itu
terdengar bersahutan, disusul tubuh
mereka am- bruk ke air. Tak bergerak lagi.
Air sungai yang tadinya keruh
kecoklatan kini berubah kemerahan. Darah mengalir bercam- pur air sungai. Entah
dengan senjata apa Pende- kar Gila menghajar mereka. Hingga kedelapan le- laki
botak terluka dan mati. Tubuh mereka tera- pung di air sungai itu. Terbawa
arus.
Raden Sasakajiwo dan Prakaspati
serta Bra- tamurti terbengong-bengong melihat kehebatan il- mu yang dimiliki
Pendekar Gila. Ketiganya meng- geleng-gelengkan kepala, kagum.
"Gila! Benar-benar aku baru
menyaksikan kehebatan pendekar kondang yang disegani kawan maupun lawan
itu...," gumam Prakaspati.
"Terima kasih, kau telah
menyelematkan kami bertiga...," kata Raden Sasakajiwo, setelah sampai di
seberang sungai.
Sena hanya cengengesan dan
menggaruk- garuk kepala.
"Kita tak boleh lama-lama di
sini. Ayo, cepat kita tinggalkan tempat ini!" ajak Sena tegas, "Seka-
rang arah kita ke mana...?" tanyanya pada Raden Sasakajiwo.
"Kita ke arah sana...,"
jawab Raden Sasaka- jiwo, "Biar aku yang berada di depan. Mari...!"
Keempatnya segera beranjak dari
tempat itu. Di sungai mayat-mayat kedelapan lelaki botak sebagian masih
terlihat mengapung terbawa arus.
***
Setelah sampai di suatu tempat
dekat dae- rah kekuasaan Amangjalu dan Toh Jenar, Raden Sasakajiwo memberikan
isyarat dengan tangan- nya. Seketika mereka berhenti.
"Sebaiknya kita berpencar.
Markas mereka di kaki bukit itu," ujar Raden Sasakajiwo, sambil menunjuk
ke satu arah. "Tapi ingat, jika nanti me- nemukan telaga. Jangan
menyeberangi. Ambil ja- lan lewat pinggir telaga di sebelah selatan! Ada ja-
lan di lereng bukit sana. Memang cukup terjal, tapi hanya itulah satu-satunya
jalan yang paling aman untuk menghindari ranjau atau jebakan."
Sena hanya menggaruk-garuk kepala
dan tertawa-tawa kecil. Namun mata dan pendenga- rannya yang sangat tajam
selalu dipasang.
Zing! Zing! Zing! Tiba-tiba puluhan
anak panah meluncur ke arah mereka.
"Awas...!" seru Sena
sambil melompat dan bersalto mengelakkan panah-panah yang meluncur deras ke
arahnya. Begitu juga ketiga rekannya.
"Aaaa...!" Bratamurti
terpekik kesakitan, lalu roboh. Rupanya dia terlambat bergerak mengelak. Pahanya
tertancap satu anak panah. Darah tampak mengucur deras dari paha kananya.
Sementara itu Prakaspati dan Raden
Sasa- kajiwo terus berjumpalitan menghindari anak panah itu. Pendekar Gila,
melesat ke arah semak-semak belukar, di situ ternyata orang-orang Amangjalu bersembunyi.
Dan tanpa membuang-buang waktu, Sena menghajar pemanah-pemanah liar itu dengan
pukulan saktinya, menggunakan ajian 'Inti Brahma'. Dari telapak tangannya
menge- luarkan api yang sulit dipadamkan membentuk bola api. Api itu langsung
membakar orang-orang yang masih memegangi busur panah. Jerit dan teriakan
terdengar dari mereka. Tubuh mereka terbakar oleh api 'Inti Brahma' Pendekar
Gila. Kelima pemanah itu bergulingan dan ada yang berlari mencari air untuk
memadamkan api yang terus melalap membakar tubuh. Namun tak ada sungai atau air
di situ. Akhirnya kelima orang yang ternyata anak buah Amangjalu itu mati
dengan tubuh hangus.
Raden Sasakajiwo dan Prakaspati
kembali terbengong dan kagum. Pendekar Gila kemudian cepat menghampiri
Bratamurti yang terkena sasaran anak panah.
"Cepat rebahkan
tubuhmu...!" perintah Sena pada Bratamurti. "Bantu aku...!" kata
Sena pa- da Prakaspati dan Raden Sasakajiwo.
Sena segera membaca mantera dengan
sikap seperti sedang sembahyang. Sesaat kemudian dari kedua telapak tangannya
keluar asap. Sambil terus merapal mantera, Pendekar Gila mengusapkan kedua
telapak tangan pada paha Brata- murti yang terluka.
"Cabut anak panah itu, cepat!"
perintah Sena kemudian. Raden Sasakajiwo segera mencabut anak panah dengan
ragu.
Crap!
"Aaaakh...!" Bratamurti
menjerit. Lalu lemas dan pingsan.
"Setelah dia sadar, semua akan
beres. Kita tunggu saja!" kata Sena yang kini seluruh tubuhnya dibasahi
keringat. Sebab, tadi dia mengum- pulkan seluruh tenaga dalamnya, untuk
menyela- matkan nyawa Bratamurti.
"Anak panah itu
beracun...," ucap Sena sambil mengambil anak panah dari tangan Raden
Sasakajiwo, dan cepat Pendekar Gila melemparkan ke arah batang pohon.
Jlep! Beberapa saat kemudian batang
pohon itu tampak mengering. Aneh memang. Tapi itulah kenyataannya. Prakaspati
dan Raden Sasakajiwo terheran-heran dan ngeri. Keduanya menghela napas panjang.
Lalu memandang ke arah Bratamurti yang masih pingsan.
"Apakah dia akan
selamat...?" tanya Prakaspati mengkhawatirkan saudara seperguruannya yang
masih belum sadar itu.
Sena hanya menganggukkan kepala.
Lalu menggaruk-garuk kepala. 7
Pagi kembali hadir, sinar mentari
yang cerah menyinari bumi. Sena dan ketiga temannya sudah kembali bergerak
menuju markas Amangjalu.
Raden Sasakajiwo berada di depan
bersama Sena, sedangkan Prakaspati dan Bratamurti di belakang mereka.
"Di balik hutan itu kita sudah
sampai telaga. Biarlah aku menyelidiki dulu keadaan, kalian tunggu di
sini...!" kata Raden Sasakajiwo tiba-tiba sambil menghentikan langkah.
Sena dan kedua temannya mengerutkan
kening, sedikit curiga pada rencana Raden Sasakajiwo. Prakaspati dan Bratamurti
saling pandang.
"Sebaiknya kita bersama-sama
menyelidiki. Kami khawatir akan keselamatan Raden," kata Prakaspati.
"Betul. Apakah kau yakin di
depan sana keadaan aman...?" tanya Sena cengengesan. Lalu menggaruk-garuk
kepala dan bertingkah konyol.
Ketiga orang temannya merasa heran
dan geli melihat tingkah Pendekar Gila yang persis orang gila. Namun ketiganya
mengerti dan tak be- rani tertawa.
"Jangan khawatirkan aku! Aku
telah berjan- ji, jiwa raga kupertaruhkan untuk menyelamatkan Palupi. Aku sudah
pasrah," kata Raden Sasakajiwo sambil terus hendak melangkah pergi.
"Tunggu...!" seru
Bratamurti. Raden Sasakajiwo menghentikan langkah- nya dan menoleh ke belakang.
"Biar aku menemanimu, Raden!
Aku pun sudah lama menanam dendam pada manusia keparat itu!" ujar
Bratamurti kemudian. Lalu me- langkah ke arah Raden Sasakajiwo.
Prakaspati sebenarnya hendak
melarangnya, tapi Sena cepat berkata,
"Biarlah Bratamurti
menemaninya! Kita amati dari jauh...."
Bratamurti dan Raden Sasakajiwo
segera melesat pergi ketika Sena memberi isyarat dengan menganggukkan kepala.
"Hati-hati! Jangan cero- boh, Bratamurti...!" seru Sena
memperingatkan Bratamurti yang memiliki sifat pemarah.
Pendekar Gila pun segera pergi
mengikuti kedua temannya secara diam-diam diikuti Prakas- pati. Sena memberi
isyarat agar Prakaspati segera memanjat pohon, untuk melihat keadaan dari atas.
Agar lebih jelas. Prakaspati dengan cepat memanjat pohon, gerakannya cepat
bagai seekor kera. Sena tersenyum melihat kemampuan Pra- kaspati. Pendekar Gila
kemudian melesat cepat ke satu arah. Menerobos semak belukar di antara pe-
pohonan hutan itu begitu mudahnya, bagaikan berlari di jalan lapang saja.
Swing! Swing! Swing! Suatu benda
segitiga warna hitam meluncur deras ke arah Sena. Namun Sena yang memiliki
indera keenam sangat peka, segera tanggap. Tu- buhnya langsung bersalto dan
melompat zikzak, bagai seekor tupai, dari pohon satu ke pohon lain.
Dan pada saat yang tepat, secepat
kilat Pendekar Gila melancarkan serangan balik dengan menggunakan pukulan jarak
jauh yang dahsyat. Dari pukulan itu secarik sinar mengandung hawa panas
menghantam ke arah lawan yang bersem- bunyi di balik pepohonan rindang.
Crats! Glarrr! Glarrr!
"Aaaaww...!" Seketika terdengar jeritan panjang dari orang-orang yang
bersembunyi di balik pohon itu. Tampak berjatuhan empat sosok tubuh berpakaian
serba putih dengan ikat kepala hitam. Se- muanya seketika tewas.
Sena menghela napas panjang dan
menggeleng-geleng kepala. Matanya memandangi keempat mayat orang tak dikenal
itu.
"Ha ha ha...! Hebat kau Pendekar
Gila! Sama seperti gurumu si Singo Edan itu. Beberapa tahun lalu aku pernah
bentrok dengan gurumu, Anak Muda...! He he he...!" seru seseorang yang tiba-tiba
melompat dari atas pohon dan mendarat dengan mantap di hadapan Pendekar Gila.
"Aha, kau rupanya yang bernama
Toh Je- nar. Aku pasti tidak salah terka...!" ujar Sena dengan cengengesan
dan bertingkah seperti orang sinting. "Kau memang pandai menerka. Memang
akulah Toh Jenar, penguasa daerah yang penuh warisan nenek moyang ini. Dan, kau
perlu tahu, kakangku sudah menyiapkan peti mati untukmu Pendekar Gila...! Ha ha
ha...," ujar Toh Jenar bangga, lalu memberi perintah pada kelima anak
buahnya yang bersembunyi di atas pohon.
Berloncatan kelima orang bertubuh
cebol dan bermuka seram. Mereka seperti anak yang baru berumur tiga tahunan.
Kelimanya menurunkan peti mati, terbuat dari kayu jati. Ujung-ujung peti mati
itu diikat tali. Dengan tali itu kelima orang cebol menurunkan peti mati dari
atas pohon. Tentunya kelima orang cebol itu juga memiliki ilmu yang cukup
tangguh. Tak boleh di-anggap remeh.
Pendekar Gila mengerutkan kening.
Kemu- dian tertawa-tawa sendiri sambil menggaruk-garuk kepala dan bertingkah
laku aneh, seperti orang gi- la.
"Hi hi hi... lucu! Lucu sekali
kau ini, Manu- sia Buruk...!" ejek Sena seenaknya. Lalu menepuk- nepuk
pantatnya.
"Kurang ajar, dasar pemuda
gila...! Kau bo- leh tertawa untuk sesaat, Pendekar Gila. Tapi sebentar lagi
kau akan mampus! Serang! Cincang dia...!" perintah Toh Jenar pada kelima
orang cebol bermuka seram itu.
Seketika kelima orang cebol itu
berlompatan bagai seekor kucing menerkam mangsanya.
Serangan itu begitu cepat dan
ganas. Secara bersamaan kelima orang cebol itu bergerak dengan cakar-cakar
tangannya yang ternyata mengandung racun. "Hah?! Jurus Cakar
Tengkorak...!" gumam Sena sambil mengelak dengan berjumpalitan ke udara
beberapa kali. Karena kelima orang cebol itu terus mencecarnya, tak memberikan
kesempatan. Sementara itu Toh Jenar, mengawasi dengan tajam setiap gerak-gerik
Pendekar Gila.
Pendekar Gila kemudian menggunakan
ju- rus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk menari dengan
sesekali tangannya mene- puk. Tepukan tangannya yang kelihatan lamban dan
lemah, kalau mendarat di dada lawan dapat meninggalkan bekas.
"Heaaa...!"
"Auugg...!" suara kelima orang cebol itu mengaung panjang seperti
kucing. Menyakitkan te- linga. Mereka terus mencecar Pendekar Gila secara
bergantian. Serangan mereka terkadang mengarah ke kaki, lalu berobah cepat ke
bagian kepala atau dada. Membuat Sena agak kewalahan. Tubuhnya terus
meliuk-liuk sambil sesekali tangannya me- nepuk dada lawan. Dan pada kesempatan
yang bagus, Sena berhasil melancarkan serangannya. Tepukan tangan kanannya
tepat mengenai dada salah satu cebol.
Plak! "Eeaaa...!" cebol
yang terkena tepukan Sena menjerit aneh. Lalu tubuhnya terpental jauh membentur
pohon. Dadanya hangus.
Melihat kawannya terluka, keempat
cebol lain semakin ganas menyerang Sena. Kali ini se- rangan mereka semakin
cepat, sambil berputar mengelilingi Pendekar Gila, bagai kumbang akan menyengat
mangsanya. Keempatnya melejit ke udara dan melancarkan serangan. Dari telapak
tangan mereka mengeluarkan jala terbuat dari kulit pohon berduri. Pendekar Gila
seketika terku- rung dalam jala itu.
"Kali ini kau akan mampus,
Pendekar Gi- la...!" seru Toh Jenar dengan tertawa-tawa gembira, melihat
Sena terkurung dalam jala si cebol. "Habisi dia...!" perintahnya
kemudian dengan suara keras.
Namun baru saja keempat cebol akan
me- nyerang dengan senjata berupa kapak, sesosok bayangan berkelebat. Cepat
menghantam keempat cebol, dengan sabetan kerisnya.
Cras! Cras! Cras!
"Waaa...!" jeritan keras terdengar seketika dari keempat orang cebol
itu.
Pada saat itu Pendekar Gila
berusaha ke- luar dari jala berduri, sambil mengerahkan ajian ’Inti Brahma’.
Seketika jala-jala itu terbakar dan Sena cepat melompat keluar.
"Terima kasih
Prakaspati...," ucap Sena, lalu melesat ke arah Toh Jenar yang terkesima
menyaksikan keempat cebol terjungkal dan terkapar tewas.
Tak ayal lagi, tendangan kaki kanan
Pende- kar Gila mendarat tepat di kepala Toh Jenar. Seketika tubuh Toh Jenar
melintir dan terhuyung ke belakang.
Sementara itu Prakaspati mengamati
keempat cebol yang terbabat kerisnya. Aneh, seorang dari keempat cebol itu
ternyata masih hidup. Den- gan cepat bangkit menyerang Prakaspati yang tak
menyangka sama sekali.
"Auungg...!" si manusia
cebol mengaung ke- ras dan melompat bagai kucing hutan, menerkam kepala
Prakaspati. Untung Prakaspati cepat me- rundukkan kepala ketika mendengar
teriakan aneh. Hingga manusia cebol berwajah seram dan kepala besar itu
tersuruk ke tanah. Dengan cepat Prakaspati melompat dan menghujamkan keris ke
dada cebol yang masih telentang di tanah. Seketika nyawa manusia cebol melayang
setelah mengaung lirih
Sementara itu Pendekar Gila kini
saling adu ilmu dengan Toh Jenar yang ternyata memiliki il- mu tinggi. Kalau
saja bukan Toh Jenar yang ter- kena tendangan maut Sena, tentunya sudah tewas
sejak tadi.
"Kau boleh bangga dapat
mengalahkan orang-orangku. Tapi kalian berdua tak akan bisa menangkapku,
apalagi membunuhku. Ha ha ha...! Heaaa...!"
Sambil tertawa terbahak Toh Jenar
melom- pat mundur. Kakinya ditekuk berlutut, dengan tangan menyilang di dada.
Mulut lelaki berwajah buruk itu tampak berkomat-kamit merapal suatu mantera,
sementara matanya terpejam rapat. Tak berapa lama mengepul asap hitam
bergulung- gulung mengangkasa. Perlahan-lahan tampak pe- rubahan di tubuh Toh
Jenar. Bersamaan dengan hilangnya tubuh Toh Jenar, seketika dari asap tebal itu
menjelma sesosok tubuh yang mengerikan. Tinggi besar, dan hampir seluruh
tubuhnya tertutup bulu lebat seperti manusia kera. Rambutnya yang tak
beraturan, panjang melewati pung- gung. Gigi-giginya panjang dan runcing.
"Ilmu Iblis!" gumam Sena,
"Rupanya ia menganut ilmu Siluman Kera Iblis. Hingga dapat mengubah
wujudnya, menjadi manusia berkepala kera iblis."
Prakaspati tersentak kaget dan
mundur be- berapa langkah sambil memasang kuda-kuda. Keris di tangan kanannya
menghunus ke depan.
"Haaaung...!" Suara jelmaan
Toh Jenar itu terdengar keras, menggema. Tubuhnya melesat menyerang Pendekar
Gila. Namun bersamaan dengan itu Pen- dekar Gila sudah siap memapaki, dengan
ajian 'Tamparan Sukma'. Sebuah ilmu yang mampu me- leburkan segala macam
siluman atau jin dan setan belang. "Heaaa...!"
Jgarrr! Terdengar ledakan dahsyat,
tatkala kedua orang itu bertemu di udara mengadu tenaga. Ke- duanya terpental
mundur ke belakang dengan keadaan yang sama. Toh Jenar yang merubah wu- judnya
menjadi manusia bermuka mirip kera ter- pelanting roboh dengan keras. Sementara
Pende- kar Gila tampak berusaha mengegoskan tubuhnya mencari keseimbangan dan
berdiri dengan kuda- kuda yang agak goyah.
Sekejap wujud Toh Jenar yang tadi
berupa manusia mirip kera, kembali ke aslinya. Mulutnya meringis dengan mata
merah menatap tajam Pendekar Gila.
Prakaspati menggeleng-gelengkan
kepala dan terus merasa kagum. Namun dia tetap waspada. Sementara itu Toh
Jenar, kembali menyerang Pendekar Gila dengan senjata rahasia. Dari kedua
telapak tangannya tiba-tiba melesat senjata berupa benda segitiga berujung
runcing dan beracun. Sena mengelak dengan melenting ke udara sambil
berjumpalitan. Sehingga senjata-senjata itu me- luncur deras tak mengenai
sasaran.
Jlep! "Aaaakh...!" Prakaspati
menjerit panjang, tubuhnya roboh ke tanah kelojotan. Sena yang melihat itu
segera mendekati Prakaspati. Kemudian cepat membawanya pergi, dengan melesat
cepat mengerahkan ilmu lari 'Sapta Bayu'.
"Aku harus menyelamatkan
Prakaspati du- lu...," gumam Sena dalam hati.
"Bangsat...! Kau ternyata
pengecut juga Pendekar Gila! Tapi lain waktu kau akan masuk dalam peti mati
ini...," sungut Toh Jenar. Lalu me- nendang peti mati yang ada di
depannya.
"Hihhh!" Brakk! Peti mati
itu terbang ke udara lalu memben- tur pohon dan anehnya peti mati itu tak
hancur. Hanya tutupnya yang terbuka. Dan di dalamnya terlihat sebuah patung,
mirip dengan Pendekar Gi- la!
***
Pendekar Gila terus berlari bagai
anak pa- nah yang meluncur deras. Dalam sekejap dia sudah berada di luar daerah
markas Amangjalu. Di tepi sebuah sungai yang sepi dan aman. Di situlah Sena
mulai mengeluarkan benda segitiga yang be- racun dengan kekuatan tenaga
dalamnya. Tanpa memegang, hanya dengan pandangan matanya, benda itu keluar. Dan
bersamaan dengan itu, luka di dada Prakaspati mengeluarkan benjolan. Kemu- dian
pecah dan muncullah binatang-binatang kelabang warna merah. Sena yang melihat
itu men- gerutkan kening. Lalu segera berusaha melakukan penyelamatan untuk
jiwa Prakaspati. Namun sayang, rupanya Hyang Widi berkehendak lain. Prakaspati
tak dapat tertolong lagi.
Dengan sangat kecewa Sena
menundukkan kepala karena kesal dan merasa bersalah. Sena menghantami dadanya
sendiri. Lalu menghela napas dalam-dalam. Dipandanginya tubuh Prakaspati yang
membiru, kena racun kelabang merah yang sangat ganas. Racun itu memang cepat
bekerja. Padahal Sena sudah berusaha. Namun Yang Kuasa telah menentukan nasib
manusia.
"Sebaiknya aku bawa mayat
Prakaspati ke Kerajaan Kawilangit. Jasadnya patut dihargai...," ucap Sena
dalam hati. Diangkatnya mayat Prakas- pati dan segera melesat meninggalkan
tempat itu dengan menggunakan 'Sapta Bayu' agar cepat sampai di istana Kerajaan
Kawilangit.
Sementara itu, Raden Sasakajiwo dan
Bra- tamurti sudah kembali ke tempat Pendekar Gila tadi berada. Keduanya
bermaksud memberikan ke- terangan. Namun ternyata Sena dan Prakaspati sudah tak
ada.
"Ke mana perginya mereka?!
Apakah terjadi sesuatu di tempat ini?" gumam Raden Sasakajiwo, seakan
bicara pada diri sendiri. Matanya menyapu sekeliling tempat itu.
"Mungkin mereka menuju telaga,
tapi...," suara Bratamurti terhenti, ketika matanya memandang sesuatu di
depannya, di dekat pohon. "Darah...!" gumam Bratamurti dengan mata
terbelalak kaget.
Bratamurti segera mendekati darah
yang tercecer. Raden Sasakajiwo pun meneliti.
"Benar, darah! Apakah Pendekar
Gila terlu- ka? Tak mungkin Bratamurti...?!" gumam Raden Sasakajiwo.
"Celaka! Mungkin Prakaspati
terluka! Tapi ke mana mereka...?" terdengar suara Bratamurti cemas dan
geram.
"Mungkin kembali ke Kerajaan
Kawilangit..," sahut Raden Sasakajiwo.
"Tidak mungkin...," gumam
Bratamurti, "Tapi mungkin juga," katanya kemudian. Lalu se- gera
melesat pergi, tanpa bicara lagi pada Raden Sasakajiwo. Namun raja muda itu
langsung me- nyusulnya, dengan melesat cepat.
Keduanya berlari dan melompati
batu-batu di jalanan yang berbelok-belok. Bratamurti yang nampak tegang terus
berlari di depan Raden Sasa- kajiwo. "Tunggu...!" seru Raden
Sasakajiwo, "Bagaimana rencana kita?"
"Kita kembali setelah tahu
bagaimana kea- daan Prakaspati dan Pendekar Gila...!" jawab Bratamurti
sambil terus berlari. Wajahnya tetap te- gang diluputi rasa cemas. Raden
Sasakajiwo hanya bergeleng kepala, mengikuti Bratamurti.
Sementara itu, Pendekar Gila telah
sampai di luar Hutan Galasetra yang terletak dipertengahan antara Kerajaan
Kawilangit dan markas Amangjalu.
Namun tiba-tiba bermunculan tiga
orang berjubah serba merah menghadang Sena yang memanggul mayat Prakaspati.
Sena menghentikan larinya. Dengan cepat ketiga orang berjubah telah mengurung
Sena.
"Hi hi hi... lucu! Mengapa
kalian mengha- dangku? Aku tak punya urusan dengan kalian. Minggir...!"
bentak Pendekar Gila yang sudah kes- al.
"He he he...! Anak Muda,
jangan sombong! Hari ini saat kematianmu!" seru salah seorang di antara
mereka.
"Ya! Peti mati ini kami
siapkan untukmu...!" sahut yang lain, seraya menghentakkan tangannya ke
depan.
Srakkk! Wes! Wesss! Sebuah peti
mati melayang di udara, lalu ja- tuh ke belakang Sena. Pendekar Gila melirik
seje- nak ke belakang. Hatinya sempat heran dan ka- gum dengan ilmu yang
dimiliki orang itu. Lalu cengar-cengir.
"Menyerahlah kau, Pendekar
Gila! Peti mati itu khusus untuk tempat tidurmu selamanya. Ha ha ha...!"
tambah yang satu lagi sambil memegangi jenggotnya yang lebat kemerahan.
"Siapa kalian ini?! Aku tak
pernah bermu- suhan dengan kalian. Cepat beri aku jalan! Te- manku ini perlu
penguburan...," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ha ha ha...! Tepat. Biar kau
dan temanmu itu masuk dalam peti mati itu.... Lebih bagus. Ha ha ha...!
Pendekar Gila, kau tak akan bisa lolos da- ri tangan Tiga Iblis Merah dari
Sungai Darah!"
Sena mengerutkan kening, "Tiga
Iblis Merah dari Sungai Darah?! Edan...! Mereka orang-orang sakti dari aliran
sesat. Pasti mereka bersekutu dengan Amangjalu," Sena berkata dalam hati.
Tiba-tiba...,
"Heaaaa...!" Ketiga Iblis Merah Sungai Darah langsung meluncurkan
serangan. Pendekar Gila yang masih memanggul tubuh Prakaspati tampak kurang
lin- cah dalam bergerak. Namun dia tetap masih mam- pu mengelakkan serangan
ganas Ketiga Iblis Me- rah Sungai Darah. Pukulan dan tendangan mereka begitu
cepat dan tak berhenti sekejap pun.
"Edan!" gumam Sena sambil
melompat mundur, lalu menaruh tubuh Prakaspati sebentar di tempat aman. Setelah
itu Sena menghadapi ke- tiga lawannya dengan gagah berani. Gerakannya kini
sangat cepat dan lincah. Saling pukul dan tangkis, dengan ketiga Iblis Merah
Sungai Darah.
"Celaka! Ketiga orang ini tak
bisa dianggap remeh!" batin Sena kesal. Karena itu dia segera membuka
jurus 'Si Gila Menyambar Ayam'. Tu- buhnya tiba-tiba melenting ke udara dengan
teria- kan panjang dan menggema. Lalu dengan cepat menukik bagai burung elang
mencengkeram kepa- la lawan. Cak! Cak! Cak! "Uts...!" Salah seorang
Iblis Merah memekik pelan. Lalu mundur beberapa langkah dengan tubuh terhuyung.
Kepalanya dirasakan pening. Namun tak menjadikan orang itu jera karena kemudian
kembali menyerang Pendekar Gila.
"Mampus kau, Bocah
Gendeng...!" seru yang lain sambil melancarkan serangan dengan tombak
bermata tiga. Setiap ujungnya mengeluarkan bara api. Menusuk ke arah dada dan
kepala Sena dengan cepat dan ganas. Disusul dengan tendangan kaki kiri dan
kanannya sambil melompat. Hampir saja tusukan iblis mengenai iga Sena, kalau
saja tidak segera ditepis dengan tangan kanannya. Tu- buhnya bergerak ke
samping, dilanjutkan dengan melompat ke udara lalu mendarat di cabang po- hon.
Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah
memburu ke atas. Pendekar Gila segera memapak dengan ajian 'Inti Brahma' dari
telapak tangannya seketika keluar bola api. Menghantam ketiga orang yang
melenting ke arahnya.
"Heaaa...!" Wurrrs...!
Jlegarrr...! Ledakan terjadi ketika pukulan 'Inti Brah- ma' Pendekar Gila
beradu dengan tombak Tiga Ib- lis Merah dari Sungai Darah. Seketika ketiga
lelaki tua berjubah merah berpentalan kembali ke ba- wah. Pendekar Gila segera
meluncur mengejar. Dan begitu sampai bawah, tanpa diduga oleh Pen- dekar Gila,
satu pukulan dari arah belakang, menghantam keras tengkuk Pendekar Gila. Dis-
usul dengan tendangan keras. Sehingga tubuhnya terpental beberapa tombak, lalu
bergulingan.
"Aaaa...!" Sena menjerit.
Lalu tak bergerak lagi. Pada saat itu Tiga Iblis Merah dari Sungai Darah segera
melompat bersamaan hendak menghu- jamkan tombak mereka ke dada Sena. Namun...
"Tunggu...!" tiba-tiba
terdengar suara keras menggema.
Ketiga Iblis Merah serentak
membalik. Sua- ra keras menggema tadi ternyata berasal dari mulut seorang
lelaki berambut panjang dan berwajah angker. Orang berpakaian serba kuning
itulah yang telah menjatuhkan Pendekar Gila.
"Bukankah kita akan
membunuhnya, Amangjalu...!" tanya salah satu Iblis Merah dari Sungai Darah
dengan kening berkerut.
"Kita masukkan ke dalam peti
mati itu pun nanti dia mampus! Apalagi saat ini Pendekar Gila sudah sekarat.,.!
Sebentar lagi juga mampus...!" jawab Amangjalu bangga.
Ketiga lelaki tua berjubah merah
saling pandang, lalu segera menggotong tubuh Sena yang tak bergerak lagi.
Dengan kasar Sena masukkan ke peti
mati yang sudah disiapkan oleh mereka. Baru saja mereka menutup peti mati itu.
Muncul sosok bayan- gan putih berkelebat cepat bagai burung elang, menghajar
Amangjalu dan ketiga Iblis Merah. Amangjalu terhuyung dan roboh dengan memuntahkan
darah dari mulutnya.
"Bangsat! Siapa kau...!"
seru Amangjalu. Sedangkan ketiga Iblis Merah seketika tak berkutik lagi. Karena
kepala ketiga lelaki berjubah merah itu pecah. Kena hantaman sosok bayangan
putih.
Bayangan putih itu dengan cepat
membawa peti mati yang berisi Pendekar Gila. Dengan mu- dahnya peti itu
diangkat bagaikan barang ringan. Larinya begitu cepat, laksana terbang.
Sehingga dalam sekejap saja telah lenyap dari pandangan.
Amangjalu marah bukan main. Matanya
membara penuh dendam.
"Aku bersumpah akan
membunuhmu, Pen- dekar Gila! Tunggu saja saatnya...!" gumam Amangjalu
geram karena telah gagal membunuh dan menguasai Pendekar Gila.
Seperginya lelaki berjubah putih
yang membawa peti mati berisi Pendekar Gila, tiba-tiba muncul Bratamurti dan
Raden Sasakajiwo yang mencari Pendekar Gila dan Prakaspati. Alangkah kagetnya
Bratamurti ketika melihat Amangjalu be- rada di tempat itu. Begitu juga Raden
Sasakajiwo.
"Kau rupanya, Raden Bodoh...!
Ha ha ha...! Rupanya kalian mau mengantar nyawa, hah?!" ejek Amangjalu,
begitu melihat Raden Sasakajiwo.
"Bangsat Licik! Kau memang
manusia licik dan busuk, Amangjalu. Ayo, kita adu ilmu...!" tan- tang
Raden Sasakajiwo geram.
"Biar aku saja yang
menghadapi, Raden! Manusia keparat ini harus kita cincang!" seru Bra-
tamurti yang sudah berjanji akan membuat perhi- tungan dengan Amangjalu.
"Ha ha ha...! Kau orang
Kawilangit mau me- nentangku?! Lihat temanmu di sana!" kata Amang- jalu
sambil menunjuk ke satu arah.
Bratamurti berpaling ke arah yang
ditunjuk Amangjalu. Ditajamkan pandangannya. "Hah?! Kakang
Prakaspati...?!" gumam Bratamurti kaget.
No comments:
Post a Comment