KITAB AJIAN DEWA
Oleh
Firman Raharja
1
Di pagi buta yang dingin suasana
tampak remang- remang. Kabut merayap menyelimuti bumi. Dari kejauhan terdengar
beberapa kali ayam jantan berkokok. Sementara itu pula, samar-samar ter- dengar
derap langkah kaki-kaki kuda menembus keheningan pagi.
“Hea...! Hea...! Heaaa...!” Dari
suara teriakan sang Pengendali, kuda-kuda itu tampaknya terus dipacu agar
berlari lebih kencang.
Gemuruh kaki-kaki kuda itu semakin
jelas ter- dengar. Ternyata dari arah timur tampak samar- samar sebuah kereta
tengah melintas di jalan ber- batu, menuju Pegunungan Sasakan.
“Hea..., hea...!” Kusir kereta itu
terus menggebah kuda-kudanya agar berlari semakin kencang. Lelaki berusia
sakitar empat puluh lima tahun dengan wajah nampak lugu itu, sesekali menoleh
ke belakang. Seakan ada sesuatu yang ditakutkan.
Kuda-kuda penarik kereta yang
sedang merangkak di jalan menanjak itu sambil terus berlari, nampak kepayahan.
Sesekali terdengar ringkikannya yang keras sambil terus berlari perlahan-lahan.
“Hea, hea, hea...!” Sang Kusir
terus berteriak sambil menghentak- hentakkan tali kekang di tangannya. Kereta
beroda empat itu ternyata mengangkut seorang wanita berusia sekitar tiga puluh
tahun yang memangku putranya. Wajah wanita cantik berpakaian merah jingga itu
menggambarkan kedukaan yang bercampur dengan rasa takut. Seolah-olah ada
sesuatu yang tengah dicemaskan dalam hatinya.
“Hhh...! Aku tak habis pikir,
kenapa ketiga lelaki itu menghabisi nyawa suamiku secara kejam,” gumam wanita
itu dalam hati. “Tapi, kalau aku tak salah dengar, tadi mereka menanyakan
tentang sebuah kitab. Kitab...? Kita apa yang mereka ributkan itu...? Setahuku
Kakang Karto Pari tak pernah berbuat jahat. Suamiku lelaki yang baik...”
Wanita itu terus bergelut dengan
pikirannya sendiri. Semetara itu kereta berkuda yang tengah melintas di jalan
terjal dan berbatu-batu, tampak terguncang ke kanan dan kiri.
“Nyi...! Nyi Ambar...!” terdengar
suara sang Kusir memanggil wanita di dalam kereta itu.
“Ada apa, Kakang Trenggana...?”
sahut wanita yang dipanggil Nyi Ambar. Wanita itu masih memeluk bocah berusia
lima tahunan di pangkuannya. “Ya, ya..., aku tahu! Aku masih mengawasi terus ke
belakang,” ujarnya.
Ambar Sari memang tetap terus
mengawasi ke belakang. Hatinya khawatir kalau para lelaki yang telah membunuh
suaminya akan mengejar kereta itu.
“Ibu, hendak ke manakah kita?”
tanya bocah kecil itu sambil menatap wajah ibunya penuh perhatian.
“Entahlah, Purbaya... Mungkin
Trenggana akan membawa kita ke rumah pamanmu,” jawab sang Ibu lirih dengan
tatapan penuh kasih.
“Masih jauhkah rumah paman dari
sini, Bu...?” tanya bocah kecil yang ternyata bernama Purbaya itu. Wajahnya
yang mungil tampak cemas, seperti juga sang Ibu yang terus memeluknya penuh
kasih.
“Masih, Anakku! Mungkin setengah
hari perjalanan lagi,” sahut Ambar Sari.
Ambar Sari masih memeluk anaknya
sambil sesekali menoleh ke belakang dengan pandangan cemas. Hatinya takut kalau
ketiga orang yang mengejarnya akan terus mengikuti.
Di depan, kusir kereta bernama
Trenggana itu terus beruaha menjalankan kereta melalui jalan yang menanjak.
Kini kereta itu melaju, menelusuri
jalanan yang tidak rata. Jalanan berbatuan yang sangat sulit untuk dilintasi.
Tetapi Trenggana terus berusaha mengen- dalikan kuda-kuda itu dengan sebaik
mungkin. Di wajahnya masih tergambar perasaan takut, kalau ketiga orang yang
mengejarnya akan dapat menyusul kereta mereka.
“Hea, hea, heaaa...!” “Kakang
Trenggana, tak dapatkah kau percepat sedikit lagi lari keretanya?” tanya Ambar
Sari sambil membelai-belai rambut Purbaya, ketika tiba-tiba matanya melihat
tiga lelaki penungang kuda tengah mengejar kereta itu. Seketika hatinya
tersetak kaget
“Kakang Trenggana..., lihatlah di
belakang! Mereka mengejar kita, Kang.”
Tanpa banyak kata, Trenggana segera
menghentak tali kekang kuda. Setelah dicambuk dua kali binatang-binatang itu
langsung berlari lebih kencang.
“Hea, hea, heaaa...!” Trak!
Trak...! Ketika sampai di jalan yang agak rata, kuda-kuda penarik kereta itu
berlari kian kencang. Sementara itu ketiga lelaki berwajah beringas yang
memburunya, terus menggebah kuda-kuda tunggangan mereka.
“Hea, hea...!”
Suara teriakan mereka terdengar
ditingkahi gemuruh dan bunyi gemeretak bebatuan kecil, tersepak kaki-kaki kuda.
Kabut tipis yang menyelimuti jalan berbatu di Pegunungan Sasakan serta hawa
dingin yang menusuk tulang sumsum tak mereka hiraukan. Ketiga lelaki berwajah
beringas itu terus menggebah kuda mereka, mengejar kereta yang sudah mulai
tampak di depan.
Kereta yang ditarik dua ekor kuda
itu terus melaju dengan cepat. Kini kereta itu tampak semakin bertambah cepat,
karena jalanan mulai menurun.
“Hea, hea...!” Namun kenyataan
pahit tetap harus dialami keluarga Kerto Pati. Betapapun kuda-kuda penarik
kereta itu dapat berlari kencang, tetap tak mampu menandingi kecepatan ketiga
kuda di belakang. Sehingga, pada sebuah tikungan jalan yang cukup tajam ketiga
lelaki yang mengejar berhasil menyusul. Bahkan akhirnya mereka menghadang di
depan kereta itu.
“Hop...!” “Ha ha ha...!” “Kenapa kalian
menghadang kami?!” tanya Ambar Sari dengan suara membentak. Matanya melotot
menatap ketiga lelaki bermuka garang yang masih duduk di punggung kuda.
“He he he...! Kau tampak semakin
cantik jika marah begitu, Ambar. Hm...! Menyenangkan sekali. Mungkin di atas
ranjang pun kau akan segalak itu. He he he...!” gumam lelaki berkepala botak
dan ber- hidung mancung. Alis matanya yang tebal bergerak- gerak ke atas.
Dengan senyum nakal lelaki bernama Watu Gunung itu menatap penuh nafsu pada
Ambar Sari.
“Ambar! Katakan, di mana kau simpan
Kitab Ajian Dewa?” tanya lelaki bertubuh gempal.
“Orang-orang tua tak tahu malu!”
suara bentakan terdengar dari mulut Purbaya yang masih dalam pelukan sang Ibu.
Bocah kecil itu sepertinya tak merasa takut sama sekali. Bahkan matanya yang
indah tampak menatap penuh kebencian pada ketiga lelaki garang di depan
keretanya. “Telah kalian bunuh ayah. Kini, kalian menghadang kami! Apa
sebenarnya yang kalian inginkan dari kami?!”
Ketiga lelaki berwajah garang itu
tersentak kaget mendengar bentakan Purbaya. Mereka tak menyangka, kalau bocah
sekecil itu akan berani. Bahkan sedikit pun tak tampak rasa takut di wajah
mungil bocah itu.
“He he he...! Kau terlalu berani,
Bocah?” sentak lelaki bermata sipit dan berkumis melintang. Lelaki berpakaian
seperti kulit harimau itu melotot tajam pada Purbaya.
“Ambar! Katakan, di mana kitab itu
kau simpan! Atau anakmu akan kulempar ke dasar jurang itu!” ancam lelaki
berkepala botak yang ternyata bernama Sodra.
Mendengar pertanyaan Sodra,
seketika Ambar Sari terdiam. Dia berusaha mengingat-ingat kitab macam apa. Dia
memang pernah mendengar dari Kerto Pati, suaminya tentang sebuah kitab yang
dititipkan oleh Pendekar Gila, yang katanya kitab itu harus diberikan pada
murid dari Pendekar Gila itu. Sejak saat itulah, Pendekar Gila menghilang.
“Mungkinkah kitab itu yang
ditanyakan mereka?” tanya Ambar Sari dalam hati.
“Aku tak tahu!” sentak Ambar Sari
sengit “He he he...! Kami tak percaya. Bagaimanapun, kau istri Kerto Pati. Kau
tentu tahu di mana suamimu menyimpan kitab itu!” tukas Lombang lelaki berusia
empat puluhan yang mengenakan pakaian ungu.
“Terserah kalian! Yang pasti, aku
tak tahu tentang kitab yang kalian kehendaki itu!” bentak Ambar Sari tanpa rasa
takut sedikit pun. Tangannya mendekap tubuh Purbaya, berusaha melindungi sang
Anak dari ancaman ketiga lelaki bertampang beringas itu.
“Ha ha ha...!” Ketiga lelaki
bermuka garang itu tertawa terbahak- bahak. Kemudian melompat dan segera
mendekati kereta.
Melihat gelagat yang tidak
menguntungkan. Trenggana yang tak ingin majikannya celaka tampak geram dan
marah. Dengan berani, kusir kereta itu melompat lalu menatap wajah Sodra.
“Hea!” Sodra yang tak menduga akan
mendapat serangan mendadak itu tersetak kaget Dia berusaha mengelakkan serangan
dengan memiringkan tubuh ke samping kiri. Namun tak urung dagunya terkena
tendangan Trenggana.
Begkh! “Ukh! Setan! Kau mencari
mati, Kusir Keparat!” dengus Sodra dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang.
Mulutnya meringis kesakitan.
Melihat temannya diserang dengan
dahyat, Lombang dan Watu Gunung menggeram sengit. Keduanya segera berlari
mengejar Trenggana yang telah siap berdiri tegak.
“Kusir keparat! Rupanya kau mencari
mampus!” dengus Lombang geram. Mata lelaki berpakaian seperti kulit macan itu
melotot marah.
“Kupecahkan batok kepalamu, Kusir
Keparat!” bentak Watu Gunung sambil melesat melancarkan pukulan tangan kanan ke
tubuh Trenggana.
“Hih?! Uts...!” dengan cepat
Trenggana menggeser kaki kanan ke samping. Kemudian diikuti dengan me-
miringkan tubuh. Namun hampir bersamaan dengan gerakan itu Trenggana
melancarkan sebuah ten- dangan kaki kiri.
Wut! “Uts!” dengan cepat Watu
Gunung mengelit. Sementara itu kaki kirinya melancarkan sebuah tendangan keras,
dilanjutkan dengan jotosan tangan kanan ke dada Trenggana.
“Hih! Heaaa...!” Pertarungan
Trenggana melawan ketiga orang yang mengeroyoknya bertambah seru. Ternyata
kusir kereta itu bukan orang sembarangan. Badannya yang kurus, dengan gesit berkelebat
ke sana kemari mengelakkan serangan ketiga lawannya.
Melihat Trenggana memberi isyarat
agar Ambar Sari dan anaknya pergi. Wanita itu tak menyia- nyiakan waktu.
Diajaknya Purbaya pergi meninggal- kan tempat itu.
“Ayo Purbaya, kita harus secepatnya
meninggalkan tempat ini!” ajak Ambar Sari sambil menggandeng tangan anaknya
pergi meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana dengan Paman Trenggana,
Bu? Kasihan dia sendirian. Nanti dibunuh ketiga orang jahat itu,” ujar Purbaya
berusaha berhenti. Tetapi Ambar Sari terus menarik tangannya. Bocah itu terus
menoleh ke belakang, meyakinkan pertarungan antara Trenggana dengan ketiga
lelaki bermuka bengis itu sampai di mana.
“Biarlah, Purbaya! Paman Trenggana
telah menyuruh kita segera pergi,” kata Ambar Sari sambil terus menggandeng
tangan anaknya agar mengikuti langkahnya.
“Tapi, Bu. Kita harus menolongnya!”
“Tidak mungkin, Anakku. Kita tak memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Ayo
cepat...!” ajak Ambar Sari sambil menarik tangan Purbaya yang hendak berhenti.
Dengan masih menoleh ke tempat
pertarungan antara Trenggana dan ketiga orang bermuka bengis itu, Purbaya pun
mengikuti langkah kaki ibunya. Kedua ibu dan anak itu dengan tergesa-gesa
berlari. Kaki Purbaya tampak terseret-seret mengikut langkah sang Ibu. Mereka
terus berlari ke selatan menuju hutan belantara Gandracupa yang membentang
seperti menutupi Pegunungan Sasakan.
***
Pertarungan antara Trenggana
melawan ketiga orang pengeroyoknya masih berjalan seru. Sang Kusir yang nampak
lugu dan bodoh, ternyata mampu bertahan dari gempuran ketiga lelaki bengis itu.
Malah terkadang dia mampu balas menyerang dengan tak kalah cepat. Tangannya
bergerak memukul ke sana kemari. Disusul dengan tendangan- tendangan keras
kedua kakinya.
Ketiga lawannya yang tidak
menyangka akan menemukan lawan cukup tangguh itu, tersentak kaget. Mereka tak
menduga sama sekali kalau kusir kereta itu memiliki ilmu silat yang cukup
tinggi.
“Kurang ajar! Punya isi juga kau,
Kusir Keparat!” dengus Sodra sengit. Kemudian dengan cepat, direntangkan kedua
tangannya ke atas dengan jari- jari membentuk paruh menghadap ke bawah. Itulah jurus
'Paruh Gagak Mematuk'. Sesaat kemudian kedua tangan yang masih membentuk paruh
itu bergerak begitu cepat menyerang ke seluruh bagian tubuh Trenggana.
Namun, Trenggana yang mendapat
serangan ganas itu tak tampak gugup. Dengan cepat diegoskan kakinya dan
memiringkan tubuh ke kanan dan kiri menghindari serangan yang dilancarkan
Sodra.
Wrt! “Hait! Hih...?!” dengan cepat
Trenggana melancar- kan tendangan keras yang menjadikan lawan ter- sentak
kaget. Sodra berusaha mengelit, tetapi dengan cepat Trenggana kembali
melancarkan serangan dengan kaki kirinya. Begitu cepat tendangan susulan itu,
membuat Sodra tersentak kaget. Lelaki berpakaian merah tua hendak bergerak
menghindar tetapi terlambat. Tendangan kaki kiri Trenggana yang tak terduga,
menghantam telak di janggutnya.
Degkh! “Ukh!” Sodra terpekik.
Kepalanya terdongak ke belakang dengan darah meleleh dari sela bibirnya.
Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mulut meringis-ringis menahan
sakit.
“Kurang ajar! Kubunuh kau, Kusir
Keparat!” dengus Watu Gunung seraya melesat maju menyerang dengan pukulan
telapak tangan kanan yang disebut 'Telapak Naga'.
“Heaaa...!” Tangan kanan Watu
Gunung bergerak cepat, menyerang ke dada Trenggana. Namun, dengan cepat
Trenggana memiringkan tubuh ke samping kiri. Lalu dengan cepat pula, menangkis
dengan tangan kanan. Bersamaan dengan itu kaki kanannya melancarkan tendangan
keras.
“Hea!” Trak! Wrt! Tendangan kaki
kanan Trenggana melesat ke dada lawan. Namun dengan cepat Watu Gunung segera
mundur selangkah. Kemudian digerakkan tangan kirinya memapak serangan, disusul
sebuah pukulan keras tangan kanan ke dada lawan.
Prak! “Hea!” “Hih!” Melihat lawan
bergerak cepat memapak serangan- nya, Trenggana tak tinggal diam. Tangannya
segera menangkap serangan balasan yang dilakukan Sodra.
Wrt! Trep! Tangan keduanya saling
pegang, berusaha menarik tubuh lawan. Namun kekuatan keduanya tampak berimbang.
Keduanya segera melanjutkan serangan dengan kedua kaki. Sementara tangan mereka
masih saling berpegangan, lalu men- cengkeram pergelangan tangan lawan masing-
masing.
“Hea!” Trenggana berusaha membetot
tangannya yang berada dalam cengkeraman Watu Gunung. Sedangkan kaki kanannya
bergerak menendang. Namun dengan kuat, Watu Gunung tetap men- cengkeram tangan
lawan. Sementara itu kaki kirinya bergerak memapaki tendangan kaki Trenggana.
“Hea!” Trak! Dua kaki saling
beradu, namun keduanya masih terus mencengkeram tangan. Trenggana berusaha menghentakkan
sikunya ke muka Watu Gunung. Namun Watu Gunung segera balas menyikut ke wajah
Trenggana.
Melihat keduanya masih terus
bertarung dengan cara seperti itu. Sodra dan Lombang yang sudah tak sabar
segera mencabut pedang dari warangkanya. Mata mereka menatap penuh kebengisan
pada Trenggana.
Srt! Srt! “Mampuslah kau, Kusir
Keparat! Heaaa...!” Sodra melesat dengan pedang siap menusuk ke punggung
Trenggana. Sedangkan Lombang kini bergerak dari arah samping. Pedang di tangan
kanannya, menebas ke leher Trenggana.
Melihat kedua lawannya melakukan
serangan dari belakang, Trenggana sekali lagi berusaha melepaskan cengkeraman
tangan Watu Gunung. Kaki-kakinya terus bergerak menendang kaki Watu Gunung.
Namun nampaknya Watu Gunung tak mau melepas- kan cengkeramannya pada tangan
Trenggana. Sementara kakinya juga terus menangkis tendangan Trenggana. Trak!
“Hih! Heaaa...!” sambil berteriak keras Trenggana berusaha membanting tubuh
lawan sambil mem- bungkuk. Namun pertahanan lelaki berpakaian ungu itu, tampak
begitu kuat. Sehingga meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuannya Trenggana
tak berhasil membanting tubuh Watu Gunung. Tubuhnya mulai basah karena keringat
yang bercucuran. Sementara kedua lawannya yang lain telah berada semakin dekat
untuk melakukan serangan.
“Yeaaa...!” “Heaaa...!”
Sodra dan Lombang telah siap
melakukan serangan dengan pedang di tangan masing-masing.
“Celaka...!” pekik Trenggana
semakin tegang, menyaksikan kedua lawannya semakin bertambah cepat memburu
dirinya. Pedang di tangan mereka yang berkilat tajam, bagaikan siap memenggal
kepala serta tubuhnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalam- nya, tetapi cengkeraman
Watu Gunung benar-benar kuat.
“Heaaa...!” Wrt! Sodra dan Lombang
melancarkan serangan cepat dengan membabatkan pedang.
Cras! Jrab! “Akh...!” tanpa ampun
lagi, leher dan punggung Trenggana tertebas dan tertusuk pedang kedua lawannya.
Kusir yang malang itu, limbung dengan darah mengucur membasahi tubuhnya. Sesaat
kemudian tubuhnya ambruk dan tak berkutik lagi.
“Hm, akhirnya mampus juga kusir
tolol ini,” dengus Watu Gunung sambil menendang tubuh Trenggana yang terkulai
berlumuran darah.
Ketiga lelaki berwajah beringas itu
tertawa ter- bahak-bahak, menunjukkan kesombongan. Mereka seperti melupakan
Ambar Sari dan Purbaya yang lari dari tempat itu. Dengan kuat Watu Gunung me-
nendang mayat Trenggana ke jurang.
“Hua ha ha...! Kini tak ada lagi
yang menghalangi kita untuk menanyai Ambar,” ujar Lombang. Namun seketika
matanya membelalak, ketika mengawasi ke dalam kereta yang telah kosong. “Hai,
ke mana Ambar?!”
“Hah?! Dia telah pergi. Kurang
ajar...! Kita harus cari dia!” dengus Sodra seraya melesat pergi ke timur diikuti
kedua tangannya. Mereka hendak mengejar Ambar Sari dan anaknya. ***
2
Ambar Sari yang menggandeng Purbaya
terus berlari berusaha menyelamatkan diri dari kejaran orang- orang jahat yang
telah membunuh Kerto Pati. Wanita cantik berpakaian merah jingga itu seperti
tak kenal lelah, terus menggandeng tangan anaknya. Padahal napasnya telah
tersengal-sengal setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
“Ayo Purbaya! Kita harus cepat agar
mereka tak dapat mengejar kita,” ajak Ambar Sari terus menyeret tangan anaknya.
Sementara Purbaya yang masih kecil itu tampak terengah-engah dan kelelahan
mengikuti lari sang Ibu yang terus menyeretnya, karena ketakutan.
“Bu, kenapa sih mereka mengejar
kita dan mem- bunuh ayah?” tanya Purbaya dengan suara tersengal- sengal sambil
terus berlari. Wajah bocahnya tampak penasaran. Hatinya bingung kenapa para
penjahat itu membunuh sang Ayah lalu mengejar ibunya.
“Mereka memang orang jahat, Anakku.
Cepatlah, jangan banyak tanya dulu tentang hal itu yang penting kita harus
segera sampai di rumah pamanmu,” ajak Ambar Sari sambil terus menggandeng
tangan Purbaya. Kedua ibu dan anak itu kini tengah melintasi semak-semak di
hutan yang membentang di kaki Pegunungan Sasakan.
“Mengapa mereka jahat terhadap kita,
Bu? Bukan- kah kita tak pernah bersalah pada mereka?” tanya bocah berpakaian
rompi biru tua itu sambil terus melangkah. Bocah kecil itu menatap wajah sang
Ibu yang tampak diliputi rasa cemas. Kening Purbaya mengerut, karena belum juga
mengerti, mengapa ibunya tampak ketakutan. Dalam hatinya terbersit sebuah
pertanyaan. Mengapa orang-orang itu mem- bunuh ayahnya dan kini mengejar
mereka?
“Kau belum mengerti, Anakku. Mereka
memang orang jahat yang sangat kejam. Sudahlah, ayo kita teruskan!” ajak Ambar Sari
sambil terus meng- gandeng tangan anaknya.
“Tapi, Bu. Kakiku sakit sekali. Aku
ingin istirahat dulu di sini,” pinta Purbaya sambil meringis menahan rasa
sakit. Ternyata telapak kakinya tertusuk onak dan duri. Tampak darah menetes
dari telapak kaki bocah itu.
Ambar Sari semakin bingung.
Bagaimanapun diri- nya harus segera meninggalkan tempat itu. Namun, anaknya
nampak sangat letih, setelah berjalan hampir setengah hari.
Mata Ambar Sari menatap ke
sekelilingnya, takut kalau ketiga orang penjahat itu mengejarnya.
“Hhh...! Haruskah aku memberi tahu,
di mana Kitab Ajian Dewa berada?” gumam Ambar Sari dalam hati. “Tetapi Kangmas
Kerto Pati menyuruhku agar tidak memberitahukannya. Namun jika aku tidak
memberi tahu, aku takut mereka akan terus mengejarku.”
“Bu, mengapa Ibu termenung? Ibu
memikirkan ayah...?” tanya Purbaya dengan mata menatap tajam wajah ibunya.
Bocah kecil itu seakan merasa kasihan melihat kesedihan dan ketakutan sang Ibu
karena kematian ayahnya.
“Ah, tidak..., Ibu tidak apa-apa.
Kita lanjutkan ya, Sayang?” ajak sang Ibu sambil menggandeng tangan Purbaya
untuk meneruskan perjalanan.
“Bagaimana dengan Paman Trenggana,
Bu?” “Entahlah. Kita harus memikirkan nasib kita, Anakku.”
“Apakah paman juga dibunuh seperti
ayah, Bu?” “Entahlah, Anakku. Ibu tak tahu yang penting harus selamat. Itu yang
ibu pikirkan. Ayo...!” ajak Ambar Sari sambil terus menggandeng tangan anak-
nya. Bocah kecil itu menurut. Meski kakinya sakit lertusuk onak dan duri,
Purbaya tetap saja me- langkah. Sepertinya anak itu mengerti keadaan. Namun
baru beberapa langkah keduanya berjalan, tiba-tiba....
“He he he...! Mau lari ke mana kau,
Ambar?!” di hadapan mereka, telah berdiri tiga lelaki bermuka garang.
“Orang jahat! Mengapa kalian
mengejar kami?!” bentak Purbaya lantang. Bocah kecil itu sepertinya tak takut
sama sekali pada ketiga orang yang meng- hadangnya. Matanya menatap tajam wajah
ketiga lelaki di hadapannya.
“Bocah sontoloyo! Lancang mulutmu.
Kalau saja kau sudah besar. Hhh...! Kurobek mulutmu!” bentak Watu Gunung
garang. Gigi-giginya bergemerutuk menahan marah, mendengar bentakan bocah kecil
itu. “Sabar, Watu Gunung! Kita tidak perlu mereka. Yang kita perlukan hanya
Kitab Ajian Dewa,” tukas Lombang berusaha menenangkan Watu Gunung. Kemudian
dengan bibir mengurai senyum yang dibuat-buat. Lelaki berpakaian kulit harimau
itu melangkah mendekati Ambar Sari.
“Ambar, katakan-lah di mana suamimu
menyim- pan Kitab Ajian Dewa!” ujarnya perlahan.
“Sudah kukatakan, aku tak peduli
dengan kitab yang kau maksudkan. Aku tak tahu!” jawab Ambar Sari sambil
memegangi tangan Purbaya, agar anak itu tak jauh-jauh dari dirinya.
Ketiganya tertawa terkekeh-kekeh.
Mata mereka yang garang, menatap tajam kedua ibu dan anak yang masih berdiri
sekitar tiga tombak di hadapannya. Sementara Ambar Sari dan Purbaya menatap
penuh kebencian pada ketiga lelaki beringas itu yang telah membuat mereka
menderita.
“He he he...! Masihkah kau tak mau
mengatakan di mana kitab itu disimpan, Ambar?” tanya Sodra dengan senyum sinis
mengembang di bibirnya. Lelaki itu kemudian memerintahkan dengan isyarat kepala
pada kedua temannya agar menangkap Purbaya.
Purbaya yang melihat kedua orang
jahat itu hendak menangkap dirinya, segera melepaskan diri dari genggaman
ibunya. Kemudian dia mendahului memburu kedua orang yang hendak menangkap.
Ingatan Purbaya kembali melayang pada sang Ayah yang pernah mengajarinya ilmu
silat. Sehingga bocah kecil yang cerdas itu, berusaha melakukan apa yang pernah
diajarkan Kerto Pati. Apalagi saat ini, dirinya dalam keadaan terancam bahaya.
Nalurinya sebagai seorang bocah, seakan menuntunnya untuk nekat melakukan
sesuatu.
“Bocah setan!” maki Watu Gunung
geram, ketika secara tak terduga Purbaya menyeruduk ke tubuhnya. Hampir saja
dirinya terjengkang, kalau tidak dengan segera mengelit ke samping kiri.
Kemudian dengan penuh kegeraman, Watu Gunung dan Lombang segera memburu bocah
kecil itu.
“Hea!” Purbaya dengan cepat
menubruk kedua lelaki yang hendak menangkap tubuhnya. Sehingga Watu Gunung dan
Lombang saling bertubrukan satu sama lain. Brukkk! “Aduh!” “Akh...!” Tubuh
kedua lelaki itu terjengkang dengan mulut meringis kesakitan. Melihat Purbaya
yang tampak tersenyum dan cengengesan Watu Gunung dan Lombang semakin geram dan
marah.
“Bocah setan! Kuhancurkan
kepalamu!” dengus Lombang seraya bangkit dari duduknya. Lalu dengan menggeram.
Lombang dan Watu Gunung kembali memburu Purbaya. Kedua lelaki bertampang seram
itu tampak sangat bemafsu untuk menangkap bocah kecil yang berani mengejek
mereka.
Sementara itu, Sodra tampak
mendekati Ambar Sari. Matanya yang beringas, menatap tajam wajah Ambar Sari
yang semakin ketakutan. Mata lelaki berpakaian ungu itu tak hanya menggambarkan
keberingasan semata, tetapi juga diliputi nafsu yang membara terhadap
kecantikan Ambar Sari.
“He he he...! Sebentar lagi anakmu
akan mati di tangan kedua temanku. Dan kau..., he he he...! Kau akan
bersenang-senang denganku, Ambar. Tetapi jika kau mau mengatakan di mana Kerto
Pati menyimpan Kitab Ajian Dewa, maka kau dan anakmu akan selamat,” ujar Sodra
seraya tertawa terkekeh-kekeh. Kakinya melangkah mendekati Ambar Sari. Wanita
cantik itu melangkah mundur dengan mata menatap penuh kebencian pada Sodra.
“Jangan...! Jangan lakukan itu!”
pinta Ambar Sari sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya yang sayu
tampak membelalak ketakutan. Apalagi ketika melihat Purbaya yang masih diburu
kedua lelaki yang tampak begitu marah dan bernafsu meringkusnya.
“He he he...! Kau dan anakmu akan
kami lepas- kan, asalkan kau mau mengatakan di mana Kitab Ajian Dewa itu
disembunyikan suamimu,” Sodra dengan mulut masih menyeringai, tersenyum sinis
dan memandang dengan tatapan garang.
“Sungguh, aku tak tahu.” “Bohong!”
bentak Sodra sambil terus melangkah mendekati Ambar Sari yang kian mundur
ketakutan.
Matanya terpicing memandang wajah
wanita cantik yang kian merasa tegang itu. “Kau istrinya, kau tentu tahu di
mana Kerto Pati menyimpan kitab itu!”
“Kitab itu bukan milik kalian!
Kitab itu memiliki si Gila yang dititipkan pada suamiku yang akan disampaikan
pada murid atau cucu murid si Gila dari Goa Setan,” tukas Ambar Sari berusaha
menjelaskan, bahwa Sodra dan kedua temannya tak berhak atas kitab pusaka itu.
“He he he...! Kau tahu kalau kitab
itu milik si Gila. Bukankah Kerto Pati yang memberi tahu? Suamimu pun tentu
memberi tahu, di mana kitab itu dia sembunyikan, bukan...?” tanya Sodra sambil
terus melangkah mendekati Ambar Sari. Wanita itu semakin melangkah mundur
ketakutan. Matanya membelalak tegang, ketika menyadari dirinya telah berada di
tepi jurang yang sangat dalam.
Melihat Ambar Sari dalam keadaan
tegang, Sodra semakin terkekeh. Dia tahu kalau wanita itu kini dalam keadaan
panik, karena kakinya telah berada di tepi jurang.
“He he he...! Mau ke mana kau,
Manis? Sebaiknya kau katakan di mana kitab sakti itu,” pinta Sodra dengan
senyum sinis masih menghias di bibirnya. Matanya melotot menatap dengan
menelengkan kepala meledek Ambar Sari yang tampak semakin ketakutan.
“Tidak! Aku tidak tahu...!” seru
Ambar Sari sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasa tegang dan panik, tergambar
jelas di wajahnya yang kuning langsat dan bersih. Kepalanya sesekali menoleh ke
belakang. Tampaklah jurang dalam dan terjal mem- bentang. Lalu kembali menatap
wajah Sodra yang masih berdiri lima tombak di hadapannya.
Namun sepertinya Sodra merasa
khawatir, kalau Ambar Sari akan nekat terjun ke jurang. Kalau hal itu terjadi,
tak ada lagi kesempatan baginya untuk menikmati tubuh bahenol wanita itu. Dan
yang jelas dia akan kehilangan jejak untuk mencari Kitab Ajian Dewa yang
disembunyikan Kerto Pati.
Sementara itu, Purbaya masih terus
berusaha melepaskan diri dari kejaran kedua orang yang terus berusaha
menangkapnya. Anak itu semakin ber- tambah jauh dari Ambar Sari, sang Ibu yang
bagaikan telor di ujung tanduk. Berdiri membelakangi jurang terjal yang dalam.
Sementara di hadapannya Sodra, bagaikan harimau lapar yang siap menerkam
mangsa.
Lombang dan Watu Gunung terus
berlari mengejar Purbaya yang lari ke selatan, jauh dari Hutan Gandracupa.
“Mau lari ke mana, Bocah Setan!”
dengus Watu Gunung sambil terus mengejar Purbaya yang terus berlari berusaha
menyelamatkan diri. Kini ketiganya sampai ke Lembah Karangkati. Lembah yang
sangat angker dan terkenal sebagai lembah maut. Banyak tulang-belulang tampak
berserakan di sana-sini, menambah suasana Lembah Karangkati semakin
menyeramkan.
Dengan sekuat tenaga Purbaya terus
berlari. Dirinya tak peduli dengan pemandangan yang tampak di depan mata.
Baginya yang penting dapat menyelamatkan diri dari pengejaran kedua lelaki
jahat itu. Bocah kecil itu bagaikan tak merasa takut sedikit pun. Hanya
sesekali kakinya tampak ber- jingkat, setiap kakinya menendang atau menginjak
tulang-belulang yang berserakan. Kemudian dengan telapak tangan, Purbaya
menutup hidungnya dari bau busuk yang menyengat sambil terus menelusuri Lembah
Karangkati.
“Heh?! Bocah itu lari ke Lembah
Karangkati!” pekik Lombang dengan mata membelalak.
“Bocah setan! Berani sekali dia
lari ke lembah itu. Huh, mampuslah kau di situ, Bocah!” dengus Watu Gunung
dengan mata tak kalah membelalaknya. Dirinya tahu kalau lembah itu merupakan
tempat yang angker. Lembah yang dihuni entah makhuk seperti apa. Yang jelas
selama ini belum ada orang yang bisa selamat di lembah itu.
“Apakah tidak kita kejar saja bocah
itu, Kakang?” tanya Lombang bimbang. Matanya tak lepas mengawasi Lembah
Karangkati yang terbentang di bawahnya. Sedangkan si bocah kecil Purbaya terus
berlari ke tengah-tengah lembah.
“Huh, mau mencari mampus! Biarkan
saja bocah setan itu mampus di sana! Ayo kita temui Sodra!” ajak Watu Gunung
sambil melangkah meninggalkan Bukit Katesan yang memisahkan Hutan Gandracupa
dengan Lembah Karangkati di bawahnya!
***
“He he he...! Anakmu sudah mati,
Ambar Sari. Menyerahlah! Lebih baik kau mau jadi istri ketua kami. Ketua kami
tentu akan merasa senang jika kau menjadi istrinya,” ujar Sodra berusaha
membujuk Ambar Sari. Maksudnya agar wanita itu tak nekat bunuh diri terjun ke
jurang.
“Tidak! Tidak mungkin...! Oh,
Purbayaaa..., hu hu hu...! Kalian jahat! Kalian bajingan! Bunuh aku sekalian!
Bunuuuh...!” Ambar Sari berteriak sejadi- jadinya, setelah mendengar anaknya
mati. Seketika tubuhnya lemas. Gairah untuk hidup kini hilang. Baginya tak ada
lagi artinya hidup, kalau sudah tak punya siapa-siapa lagi. Tak punya suami.
Tak punya anak yang sangat dicintai dan menjadi tumpuan hidup setelah sang
Suami tewas terbunuh.
Ambar Sari merasakan dunia
tiba-tiba berubah gelap. Tanah yang dipijaknya serasa bergoyang cepat. Tubuhnya
limbung. Namun, sebelum tubuhnya jatuh, dengan cepat Sodra melompat
menangkapnya. Maka Ambar Sari pun jatuh pingsan dalam pelukan lelaki berpakaian
merah itu.
“Bagaimana anak itu?” tanya Sodra.
“Dia lari ke Lembah Karangkati,” sahut Watu Gunung.
“Hm... Mencari mati,” gumam Sodra.
“Apakah tidak kita buktikan lagi?” tanya Lombang. “Untuk apa? Kita tak perlu
bocah itu. Yang kita perlukan Kitab Ajian Dewa. Dan yang tahu hanya Ambar Sari.
Lagi pula, Wanara pasti akan senang jika kita beri Ambar Sari sebagai
istrinya,” tutur Sodra sambil tersenyum. Matanya memperhatikan seluruh lekuk
tubuh wanita cantik itu dengan penuh nafsu. Apalagi ketika menatap bibir ranum
milik Ambar Sari. Jantungnya terasa berdebar keras. Hasrat kelelakiannya
bergejolak hebat bagaikan air mendidih.
“Sebelum diserahkan pada Wanara,
sebaiknya kita dulu yang mencicipinya, Sodra!” usul Watu Gunung sambil
meleletkan lidahnya. Dirinya pun merasakan gejolak birahi yang menggelegar di
dalam liwanya.
“Benar! Lebih baik kita dulu yang
mencicipinya!” sambung Lombang.
Ketiganya tertawa terkekeh-kekeh.
Kemudian mereka pun menggarap tubuh Ambar Sari di tempat yanga sepi dan tidak
memungkinkan untuk dilalui orang. Mereka bergantian melakukannya dengan
kepuasan.
Ambar Sari yang diperkosa ketiga
lelaki itu, hanya dapat mengeluh dan merintih kesakitan. Sampai akhirnya,
tubuhnya kembali terkulai pingsan.
Setelah puas memperkosa tubuh Ambar
Sari dengan gelak tawa Sodra, Watu Gunung, dan Lombang segera menggebah kuda
meninggalkan Pegunungan Sasakan. Mereka membawa Ambar Sari untuk diserahkan kepada
Wanara.
Sementara itu, Purbaya yang berada
di Lembah Karangkati nampak kebingungan. Dari empat penjuru angin, muncul kabut
hitam yang pekat. Kemunculan kabut-kabut hitam itu diikuti hembusan angin
kencang dan dingin serta suara-suara yang sangat aneh. Hal itu membuat bocah
itu ketakutan. Matanya terbelalak menatap ke sekelilingnya yang kini semakin
menyeramkan.
“Oh, apa yang akan terjadi di sini?
Semuanya gelap. O, Jalan yang tadi kulalui, kini tertutup kabut. O, ibu, apa
yang terjadi padamu?” keluh Purbaya kebingungan. Matanya semakin membeliak
tegang, menatap kabut hitam yang seperti mengepung tubuhnya.
“Hua ha ha...! Nyem nyem nyem...!”
dari dalam kabut-kabut hitam itu, keluar suara tawa keras menggelegar. Suara
tawa yang membuat bulu kuduk Purbaya meremang berdiri. Tengkuknya terasa
dingin, kaku karena takut.
Mata Purbaya terus mengawasi dengan
rasa takut ke sekitarnya tampak sunyi mencekam. Hanya kabut hitam saja yang
terus mendekat dan mengepung dirinya. Seakan kabut-kabut hitam yang tadi mengeluarkan
suara itu, hendak mencengkeram tubuhnya yang kecil.
“Makhluk yang ada di dalam kabut,
kalau kau mau memangsaku, mangsalah! Mangsalah aku...!” tantang Purbaya.
Dirinya nekat memberanikan diri karena merasa telah terjepit. Matanya yang
semula nampak redup dan tegang, kini menatap beringas. “Aku sudah tak punya
ayah dan ibu. Kalau kau mau, mangsalah aku! Ayo..., makanlah tubuhku!”
“Hua ha ha...! Nyem nyem nyem...!”
kembali suara menyeramkan itu terdengar bergema. Seolah-olah berasal dari semua
arah. Namun Purbaya seperti tak merasa takut sedikit pun. Bocah kecil itu
menatap tajam ke sekelilingnya. Kabut hitam itu terus mengepung dirinya.
“Hoi...! Makhluk yang ada di dalam
kabut, keluar- lah! Makanlah aku, kalau kau ingin memangsaku! Ayo...!” tantang
Purbaya dengan lantang. Matanya terus menatap tajam ke sekeliling. Kabut hitam
itu tampak semakin tebal dan berarak-arak bergerak mengepung tubuh bocah itu.
“Hua ha ha...! Kau berani
menginjakkan kaki di lembah ini, Bocah! Maka kau memang akan menjadi mangsaku!”
suara bergema yang berasal dari balik kabut-kabut hitam kembali terdengar.
“Mangsalah! Aku tak takut...!”
tantang Purbaya dengan berani. Matanya kini mengawasi kabut hitam yang
datangnya dari arah selatan. Hatinya yakin, suara itu berasal dari selatan.
“Bocah bandel! Kau benar-benar
minta mati...!” dengus suara berat bergema menyeramkan itu.
“Ya! Kalau kau memang mau
memangsaku, mangsalah! Aku kini hanya sebatang kara. Ayah dan ibuku mati
dibunuh orang-orang jahat! Untuk apa lagi aku hidup...?! Tak ada gunanya aku
hidup!” seru Purbaya dengan lantang.
“Hm...! Nyem nyem nyem...!”
kabut-kabut itu ber- gerak semakin mendekat. Dari dalam kabut hitam yang kini
mengapung mendadak muncul sebuah tangan hitam legam dan besar. Tangan itu
menjulur keluar hendak menangkap tubuh bocah itu. Namun Purbaya tampak tetap
tenang. Tak ada rasa gentar menghadapi ancaman maut itu.
Tangan hitam legam berkuku panjang
dan runcing itu, semakin dekat dengan tubuh Purbaya. Hampir saja, tangan-tangan
hitam besar berkuku tajam menyeramkan itu mencengkeram dan mungkin akan
mencabik-cabik tubuh Purbaya. Namun tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat
menerobos kabut hitam sambil melontarkan pukulan beruntun ke arah kedua tangan
hitam legam yang keluar dari kabut itu.
Wrt! Glar! Glarrr...! Wrt! Suara
ledakan menggelegar terdengar, ketika sosok bayangan putih itu berkelebat sambil
meng- hantamkan serangan cepat. Seketika itu pula bayangan putih yang ternyata
seorang lelaki bertubuh bungkuk dan berjubah putih menyambar tubuh
Purbaya. Secepat kilat lelaki itu
melesat ke barat meninggalkan Lembah Karangkati.
***
Sudra, Watu Gunung, dan Lombang
telah sampai di Hutan Selapetir, tempat kediaman pimpinan mereka. Di hutan itu
Wanara tengah menunggu hasil pekerjaan anak buahnya mencari Kitab Ajian Dewa.
Dari luar terdengar suara derap
langkah kaki kuda menuju markas tempat Wanara menunggu ketiga anak buahnya.
Dengan cepat Wanara melangkah keluar, untuk menemui ketiga anak buahnya. “Siapa
yang kalian bawa?!” tanya Wanara. Wanara ternyata manusia bermuka kera. Tubuh-
nya yang besar mengenakan jubah hitam. Matanya tampak berwama merah, dengan
hidung agak pesek.
“Istri Kerto Pati!” sahut Watu
Gulung. “Benar, Ketua. Kami membawanya, dengan harapan ketua sudi menerimanya,”
sambung Sodra.
“Bodoh! Tolol...! Yang kubutuhkan
bukan wanita, tetapi Kitab Ajian Dewa!” bentak Wanara sengit dengan mata
membara merah. Mulutnya yang menyeringai, menunjukkan gigi-giginya yang kuning-
kekuningan. Di kanan dan kiri mulutnya tampak sepasang taring.
Ketiga anak buahnya terdiam. Tak
seorang pun yang berani menjawab bentakan Wanara. Bahkan beradu pandang pun
mereka tak berani. Ketiganya menundukkan kepala, seperti ketakutan.
Wanara memperhatikan wanita cantik
di punggung kuda yang ditunggangi Watu Gunung. Matanya bersinar-sinar, ketika
melihat bagian pakaian Ambar Sari tersingkap. Kejantanannya seketika menyeruak.
Napasnya mendengus, bergolak penuh
nafsu.
“Bawa dia ke kamar!” perintahnya.
Ketiga anak buah Wanara segera melompat. Watu Gunung meng- angkat tubuh Ambar
Sari melangkah masuk ke kamar tempat tidur Wanara. Tak lama kemudian, Watu
Gunung telah kembali keluar.
“Sudah, Ketua,” ujar Watu Gunung.
“Bagaimana hasil kalian?!” tanya Wanara. “Tak berhasil, Ketua. Wanita itu lebih
baik memilih mati, daripada mengatakan tempat penyimpanan kitab tersebut. Itu
sebabnya kami membawanya kemari. Bukankah jika Ketua yang menangani siapa tahu
dia akan membuka mulut?” ujar Lombang sambil tersenyum-senyum.
“Diam! Bodoh...! Menghadapi seorang
wanita saja kalian tak becus!” maki Wanara. “Lalu bagaimana anaknya?”
“Mungkin mati, Ketua,” jawab Sodra
dengan kepala masih menunduk.
“Hm, dari mana kalian tahu?!”
“Bocah itu lari ke Lembah Karangkati, Ketua,” sahut Sodra.
Wanara mengangguk-anggukkan kepala.
Kemudi- an dengan mengegoskan kepala, Wanara memerin- tahkan pada ketiga anak
buahnya untuk me- ninggalkan tempat itu. Setelah ketiga anak buahnya berlalu,
Wanara segera masuk ke kamar di mana tubuh Ambar Sari dibaringkan.
Setelah menutup pintu kamar Wanara
menatap tubuh Ambar Sari. Lelaki berwajah mirip kera itu tampaknya terpukau
kecantikan Ambar Sari. Mulut Wanara menyeringai. Matanya semakin bersinar-sinar
penuh nafsu melihat paha Ambar Sari yang tersingkap. Paha mulus itu sangat
menggairahkan dan menantangnya.
“Hm, benar-benar menggiurkan!”
gumam Wanara sambil melangkah mendekati tempat tidur di mana tubuh Ambar Sari masih
terbaring diam. Dipandangi sekujur tubuh Ambar Sari, kemudian dengan buas
tangannya yang berkuku panjang merenggut pakaian Ambar Sari. Bret! “Auh!” Ambar
Sari tersentak kaget. Matanya mem- belalak, melihat manusia bermuka kera dengan
mata penuh nafsu menatap tubuhnya. Wanita itu menyurut mundur ketakutan.
“Tiga orang anak buah manusia
bermuka kera itu telah memperkosaku. Kini manusia bermuka kera ini pun hendak
memperkosaku,” pikir Ambar Sari sambil menyurut mundur ketakutan.
“He he he...! Tak kuduga, kalau
tubuhmu sangat menggiurkan, Manis...,” ujar Wanara sambil mem- buka pakaiannya
sendiri, yang menjadikan Ambar Sari semakin ketakutan.
“Jangan! Tidaaak...!” teriak Ambar
Sari sambil terus menyurut mundur.
“He he he...! Suamimu sudah mati.
Sebaiknya kau menjadi istriku!” ujar Wanara sambil melangkah, mendekati Ambar
Sari yang semakin ketakutan.
“Tidak! Jangaaan...!” pekik Ambar
Sari berusaha menolak, ketika Wanara dengan buas menubruknya. Namun karena
Ambar Sari lemas, Wanara dengan mudah dapat menubruknya. Kemudian dengan buas
lelaki berwajah kera itu menggeluti tubuhnya dengan diselingi bisikan merayu.
“Cah Ayu, kalau kau mau menjadi
istriku. Kau akan enak. Katakanlah, di mana Kerto Pati menyimpan Kitab Ajian
Dewa itu,” bisik Wanara sambil terus menggeluti tubuh Ambar Sari yang terus
berusaha berontak dan meronta.
“Tidak! Lepaskan...! Aku tak tahu!
Aku tak mau...!” teriak Ambar Sari sambil terus berusaha melepaskan diri dari
dekapan Wanara. Namun karena tubuhnya lemas dan kehabisan tenaga tak mampu
melawan.
“He he he...! Baiklah, Cah Ayu.
Mungkin kali ini kau tak mau mengatakan di mana kitab itu berada. Tapi suatu
saat, kau harus mengatakannya,” kata Wanara semakin buas menggeluti tubuh Ambar
Sari yang telah telanjang.
Ambar Sari masih berusaha
memberontak, tetapi tetap tak mampu. Akhirnya Ambar Sari hanya bisa merintih
dan menangis, menyesali nasibnya yang malang. Suami mati, anak entah bagaimana
nasib- nya. Dirinya pun harus menjadi budak pemuas nafsu manusia-manusia keji
itu.
Ambar Sari masih menangis, ketika
Wanara dengan tertawa senang berlalu meninggalkan kamar dan menutup pintunya
setelah terlebih dahulu berkata kalau sejak saat itu Ambar Sari dijadikan
istrinya.
Ingin Ambar Sari berontak, tetapi
tak kuasa. Dia hanya seorang wanita yang lemah, yang tak dapat berbuat apa-apa
untuk melepaskan cengkeraman tangan para penjahat itu.
***
3
Waktu berjalan terus. Musim demi
musim terlewati. Dua puluh tahun telah berlalu sejak terbunuhnya Kerto Pati.
Sampai saat ini Wanara dan ketiga rekannya masih terus berusaha mencari Kitab
Ajian Dewa yang belum juga dapat ditemukan. Bahkan kini mereka telah membentuk
sebuah perkumpulan besar dengan nama Partai Kera Hitam, yang diketuai Wanara.
Partai Kera Hitam tidak hanya
berusaha mencari Kitab Ajian Dewa semata. Kumpulan itu pun me- lakukan aksi
yang biadab dan keji. Merampok, menculik para gadis, membunuh dan macam-macam
tindakan sesat. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh wilayah Desa Kranggan dan
sekitarnya di- kuasai Partai Kera Hitam. Nama gerombolan itu, menjadi momok
yang menyeramkan bagi warga Desa Kranggan dan sekitarnya.
Di Hutan Selapetir, tempat markas
Partai Kera Hitam berada, saat itu Wanara tengah duduk di atas singgasana,
didampingi gadis-gadis cantik. Di hadapannya, duduk bersila para anak buahnya.
Mereka duduk berderet. Di depan, tiga orang lelaki bermuka garang dengan
pakaian merah, biru, dan loreng harimau. Mereka tiada lain Sodra, Lombang, dan
Watu Gunung.
Ketiga lelaki beringas itu, kini
bukan lagi orang dua puluh tahun silam. Ilmu mereka telah banyak mengalami
perkembangan. Sejalan dengan per- tambahan usia, ilmu mereka semakin tinggi dan
sempurna. Ketiganya menjadi tangan kanan Wanara sejak lebih dari dua puluh
tahun Silam. Hal itu juga dialami Wanara. Manusia berwajah mirip kera itu dalam
usianya yang telah mencapai enam puluh lima tahu merupakan tokoh tua yang
sakti. Ilmu kedig- dayaannya sulit dicari tandingan. Tak mengherankan kalau
kedudukannya sebagai Pimpinan Partai Kera Hitam semakin kuat.
Sore itu, nampaknya mereka tengah
mengadakan pertemuan membahas masalah lama, mengenai Kitab Ajian Dewa yang
sampai saat ini belum juga diketemukan. Ambar Sari yang telah menjadi istri
resmi bahkan sebagai permaisuri Wanara, masih tetap bungkam. Dia selalu menolak
jika ditanya tentang kitab tersebut.
“Sodra, Lombang, dan kau, Watu
Gunung. Sebarkan pengumuman ke segenap penjuru wilayah Kadipaten Banureja.
Siapa yang tahu rumah Rupaksi, harus melapor ke sini! Juga kuperingatkan pada
kalian semua, cari orang yang bernama Rupaksi...!”
“Untuk apa, Ketua...?” tanya Sodra
dengan kening mengerut.
“Bodoh! Kudengar, dialah yang
dititipi Kerto Pati, Kitab Ajian Dewa,” sentak Wanara dengan suara keras. Sodra
seketika menundukkan kepala. “Bawa beberapa orang anak buah! Sementara kau,
Lombang. Tanyakan pada Ki Lurah Janur Biru, apakah dia sudah bosan hidup! Kalau
dia masih ingin hidup, perintahkan agar segera membayar upeti dari pertanian!”
“Baik, Ketua. Akan saya
laksanakan,” sahut Lombang sambil menganggukkan kepala.
“Bawa sepuluh orang untuk
mengobrak-abrik Desa Kecipir, jika Ki Lurah Janur Biru masih saja membandel!” perintah
Wanara dengan tegas.
“Akan saya laksanakan dengan baik,”
jawab Lombang.
“Bagus...! Watu Gunung, kau
kuperintahkan untuk mengundang tokoh-tokoh hitam rimba persilatan. Sekaligus
menyebar udangan dan pemberitahuan mengenai Kitab Ajian Dewa. Tulis dalam
pengumuman itu, kalau kitab tersebut milik kita!”
“Baik, Ketua! Akan segera saya
laksanakan,” jawab Watu Gunung. Tubuh lelaki berkepala botak itu tampak semakin
gempal. Kumis dan jenggot tebal, membuat tampangnya semakin seram dan garang.
“Yang lainnya, kuperintahkan tetap
bekerja seperti biasa! Kumpulkan harta sebanyak mungkin, untuk mendirikan
sebuah partai besar! Selama Wanara masih menjadi pimpinan kalian, Partai Kera
Hitam tak akan dapat tertandingi perguruan maupun partai lainnya. Tundukkan semua
perguruan dan partai yang ada di wilayah Kadipaten Banureja!”
“Hidup Ketua...!” “Hidup Kera
Hitam...!” “Hidup Ketua Wanara...!” Anak buah Partai Kera Hitam yang berjumlah
puluhan, seketika berteriak-teriak menyerukan sanjungan. Hal itu membuat Wanara
semakin tertawa bangga. Dipeluknya gadis-gadis cantik di samping kanan dan
kirinya. Gadis-gadis itu menurut, seperti- nya malah senang diciumi lelaki
bermuka kera itu.
Mereka semua merupakan gadis-gadis
culikan. Sebenarnya mereka benci pada Wanara dan anak buahnya. Namun mereka tak
mampu berbuat banyak, karena lemah. Jangankan mereka yang hanya wanita, orang
lelaki saja banyak yang menjadi korban keganasan Wanara dan anak buahnya. Itu
sebabnya gadis-gadis itu hanya pasrah, membiarkan tubuh mereka menjadi pemuas
nafsu Wanara. Hanya ada satu harapan bagi mereka, yang penting tidak
disingkirkan atau dengan kata lain dibunuh.
Dari luar, seorang gadis muda
berusia sekitar dua puluh tahun melangkah masuk. Gadis berambut panjang diikat
ekor kuda yang di punggungnya tersandang golok, melangkah dengan mantap.
Matanya yang tajam menatap tajam para anak buah Partai Kera Hitam. Mendadak
mereka semua terdiam. Seluruh anak buah Partai Kera Hitam tak ada yang berani
untuk beradu pandang dengan gadis itu.
“Ada apa, Seruni?” tanya Wanara
pada gadis berpakaian merah jingga yang melangkah mantap sambil menatap tajam
ke sekeliling ruangan itu.
“Ayah, ada dua orang lelaki yang
mau menghadang Ayah,” ujar Seruni, “Mereka katanya ingin bergabung dengan
partai kita.”
“Hm, begitu. Di mana mereka?” tanya
Wanara. “Mereka ada di luar.” “Suruh mereka masuk.” “Baik, Ayah.” Gadis cantik
serta muda belia namun ilmu goloknya yang tinggi itu menjura hormat, yang
dibalas dengan anggukan kepala serta senyum di bibir Wanara. Kemudian Seruni melangkah
keluar, untuk menemui kedua tamunya.
Di pintu gerbang Partai Kera Hitam,
nampak dua orang berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri dengan sabar
menunggu. Satu lagi seorang lelaki bermuka bulat dengan badan agak pendek dan
gemuk. Satunya lagi berbadan tegap, dengan wajah tampan namun sinis. Yang
bertubuh gemuk, rambutnya diikat ekor kuda. Di punggungnya tersandang caping
lebar.
Dia bernama Sungo Karu. Sementara
yang tampan namun sinis, yang di punggungnya terdapat sebuah tongkat terbuat
dari kayu cendana, bernama Ketawang
Seruni nampak kelaur dari bangunan
utama markas Partai Kera Hitam. Gadis itu langsung menemui kedua lelaki muda
berusia sekitar tiga puluh tahunan yang tersenyum melihat kedatangan- nya.
“Bagaimana, Ni?” tanya Sungo Karu.
“Ayahku menerima kalian. Kalian
dipersilakan masuk,” jawab Seruni dengan wajah acuh.
“Terima kasih,” sahut keduanya
sambil melangkah masuk, setelah kedua penjaga pintu gerbang mem- buka tombak
yang semula disilangkan. Mata kedua- nya menatap ke sekeliling bangunan utama
yang nampak megah. Seakan ada sesuatu yang menjadi perhatian mereka.
“Mampukah aku melakukan tugas ini?”
tanya Ketawang dalam hati. Matanya masih mengawasi sekeliling bangunan markas
Partai Kera Hitam yang dijaga ketat. “Semua penjuru dijaga ketat. Hm, tapi ini
semua tugas dari guru. Aku harus menyelidiki, apakah Nyi Ambar Sari masih
hidup.”
Sambil terus melangkah, Ketawang
yang sebenar- nya murid Resi Rupaksi terus berusaha mempelajari tempat itu.
Matanya mengawasi dan mencari-cari jalan yang digunakan untuk lari kalau saat
kepergok. Namun tampaknya lingkungan ini tertutup rapat. Semua jalan dijaga
ketat empat orang prajurit.
Seperti halnya Ketawang, Sungo Karu
pun tengah berpikir unguk mencari jalan keluarnya jika penyusupan yang mereka
lakukan ini terbongkar.
“Celaka! Semua tempat di sini
dijaga ketat. Hm, apakah aku dan Ketawang mampu menambus benteng Partai Kera
Hitam yang kokoh ini? Guru, kami mengharap doa darimu, agar kami berhasil
menunaikan tugas,” gumam Sungo Karu dalam hati. Dia merasa kecut juga
menyaksikan pertahanan dan penjagaan di lingkungan markas Partai Kera Hitam.
Tak lama kemudian keduanya sampai
di pelataran markas Partai Kera Hitam. Tiba-tiba dari dalam muncul para anak
buah Wanara yang bermuka berangasan membuat lingkaran besar. Sepertinya mereka
telah diperintahkan untuk mengurung kedua orang tamu itu.
“Hm, apa-apaan ini, Nisanak?” tanya
Ketawang tak mengerti, melihat puluhan anak buah Partai Kera Hitam telah
mengurung mereka. Mata Ketawang mengawasi orang-orang berpakaian rompi merah
yang di tangan mereka telah siap senjata berupa golok dan pedang.
Seruni tersenyum, sepertinya tak
peduli dengan kekagetan Ketawang dan Sungo Karu.
“Untuk menjadi anggota Partai Kera
Hitam, kalian harus mendapatkan ujian dulu,” ujar Seruni tenang. Bibirnya yang
merah mengurai senyum dingin. “Apa kalian siap?”
Ketawang dan Sungo Karu saling
pandang, kemudian keduanya beralih menatap wajah Seruni yang masih tersenyum
dingin.
“Kalau memang ini caranya kami
siap!” sahut Ketawang.
“Bagus!” dari dalam terdengar
seruan keras, diikuti kemunculan seorang lelaki berusia sekitar enam puluh lima
yang berwajah mirip kera. Di belakang lelaki berjubah hitam yang tak lain
Wanara itu melangkah. Tiga lelaki yang berusia sebaya dengan
Pimpinan Partai Kera Hitam itu tak
lain, Sodra, Watu Gunung, dan Lombang.
Wanara dan ketiga anak buahnya
terbahak-bahak. Mereka menatapi dua lelaki muda berpakaian kembar hijau lumut
panjang sampai lutut yang telah dikepung anak buah Partai Kera Hitam.
Keempatnya kemudian mendekati Ketawang dan Sungo Karu yang berusaha tenang.
“Sebutkan nama kalian!” perintah
Wanara. “Namaku Ketawang. Orang sering menyebutku si Toya Sakti,” sahut
Ketawang memperkenalkan diri sambil menjura hormat.
“Tentunya manusia bermuka kera
inilah yang ber- nama Wanara,” gumam Ketawang dalam hati. “Dia berilmu tinggi.
Menurut guru, ilmu silumannya mampu menjelmakan diri menjadi seekor kera
raksasa.”
“Hua ha ha...! Nama yang bagus, dan
tentunya ilmumu pun tidak mengecewakan,” gumam Wanara sambil tertawa
terbahak-bahak, hingga tampaklah gigi-giginya yang dihiasi sepasang taring
tajam. “Sekarang namamu, Bogel?!”
“Namaku, Sungo Karu. Orang biasa
menyebutku si Caping Maut,” jawab Sungo Karu sambil menjura hormat.
“Hua ha ha...! Seharusnya namamu
bukan Sungo Karu, tetapi Bulus...!” ejek Wanara sambil tertawa terbahak-bahak,
diikuti ketiga tangan kanannya.
“Kurang ajar!” maki Sungo Karu
dalam hati. “Sayang, guru memesanku harus hati-hati terhadap keempat orang ini.
Tentunya ketiga orang itu tangan kanan Wanara. Yang tinggi itu, tentunya Sodra.
Yang berkepala botak di tangan, pasti Watu Gunung, dan yang bertubuh kekar
pasti yang bernama Lombang. Hm, mereka bukanlah tokoh sembarangan. Sayang
Kitab Ajian Dewa tak dapat kami
pelajari. Kalau saja Kitab Ajian Dewa dapat kami pelajari, sudah kuhancurkan
partai tekutuk ini!”
Meski di dalam hati mencaci maki
pada keempat tokoh tua itu Sungo Karu tak dapat berbuat apa-apa. Di samping
sedang menyamar, dirinya juga menyadari kalau ilmunya belum tentu bisa
menandingi keempat lelaki kejam dan sadis itu. Itu sebabnya Sungo Karu hanya
menundukkan kepala, membiarkan Wanara dan ketiga tangan kanannya mengejek.
“Jadi kalian telah siap untuk
diuji..?” tanya Wanara.
“Kami siap!” sahut kedua kakak
beradik seper- guruan dengan mantap sambil menganggukkan kepala. Kemudian mata mereka
mengedarkan pandangan memperhatikan puluhan lelaki berwajah beringas, yang
telah siap menunggu perintah.
“Bagus..., bagus!” seru Wanara
sambil meng- anggukkan kepala. “Untuk ujian pertama, kalian harus mampu
menghadapi lawan sebanyak lima orang!”
“Kami siap!” sahut keduanya hampir
bersamaan. “Bagus!” Wanara segera menggerakkan kepala, memerintah pada sepuluh
orang anak buahnya untuk maju. “Terserah kalian mau memakai cara apa. Kalau
perlu gunakan senjata kalian.”
“Terima kasih. Kami coba menggunakan
tangan kosong,” jawab Ketawang, yang membuat Wanara dan ketiga tangan kanannya
membelalak. Mereka tak menyangka, kalau kedua lelaki muda itu berani menghadapi
lima anak buah Partai Kera Hitam yang terkenal beringas dan kejam hanya dengan
meng- andalkan tangan kosong.
“Hua ha ha...! Hebat! Apakah kalian
telah berpikir masak-masak? Ingat, nyawa bagi Partai Kera Hitam tak ada artinya
sama sekali!” ujar Wanara mencoba mengingatkan pada calon anggota barunya.
“Jika kalian kalah, nyawa sebagai taruhan dalam uji coba ini. Untuk itu,
pikirkan sekali lagi.”
“Kami sudah siap dengan tangan
kosong,” tegas Sungo Karu.
“Hua ha ha! Baiklah kalau begitu.”
Setelah memberi isyarat pada kesepuluh anak buahnya, Wanara segera mundur
bersama ketiga tangan kanannya serta anaknya.
***
Sepuluh orang anak buah Partai Kera
Hitam telah mencabut golok dan pedang mereka. Kini kesepuluh orang itu terbagi
dua kelompok. Lima orang mengepung Ketawang, sedang lima orang lagi mengepung
Sungo Karu. Namun Ketawang dan Sungo Karu tampak masih tenang. Dengan tajam
mata keduanya mengawasi setiap gerak-gerik kelima lawannya.
“Heaaa!” Wrt! Kesepuluh anak buah
Partai Kera Hitam memulai menyerang dengan senjata. Golok dan pedang di tangan
mereka, membabat dan menusuk tubuh lawan. Namun Ketawang dan Sungo Karu dengan
gesit bergerak mengelit. Tubuh keduanya melesat cepat, disusul dengan tendangan
dan pukulan tangan.
“Hea!” “Yea!” Ketawang dan Sungo
Karu sengaja tak mengeluarkan jurus 'Elang Sakti', karena jurus itu tentunya
sudah dikenal keempat tokoh utama Partai Kera Hitam. Karena mereka pernah
bentrok dengan paman seperguruan mereka, Kerto Pati.
Ketawang dan Sungo Kartu kini
bergerak meng- atasi serangan lawan dengan jurus 'Walang Keket'. Sebuah jurus
ciptaan sang Guru yang dipersiapkan untuk keduanya, sebelum ditugaskan menyusup
ke markas Partai Kera Hitam.
Tangan dan kaki kedua lelaki
berpakaian hijau itu bagaikan kaki-kaki dan sayap belalang. Gerakan mereka
gesit dan lincah. Sebentar melesat menyerang dengan cakaran dan hantaman,
kemudian melejit mengelak.
Wanara dan ketiga tangan kanannya
dibuat kagum dengan jurus yang dipakai Ketawang dan Sungo Karu. Meski tubuh
Sungo Karu seperti kura-kura besar gemuk dan pendek, namun dengan jurus 'Walang
Keket', Sungo Karu ternyata mampu bergerak cepat. Tubuhnya melompat ke sana
kemari, dengan sesekali menendang dan mencakar ke dada lawan-lawannya
Degkh! Crat! “Akh...!” jeritan
keras terdengar susul-menyusul dari kelima anak buah Partai Kera Hitam. Muka
mereka tergores cakaran tangan Ketawang dan Sungo Karu. Sementara lawan yang
terhantam tendangan kaki terpental ke belakang dengan mulut meringis kesakitan.
Plok! Plok! Plok...! Wanara
bertepuk tangan, diikuti seluruh anak buahnya. Lelaki bermuka kera itu
menyeringai senang, melihat kehebatan ilmu kedua lelaki muda itu. Hanya dalam
beberapa gebrakan, keduanya mampu menjatuhkan ke lima anak buah Partai Kera
Hitam.
“Hebat...! Hebat! Kalian memang
bukan orang sembarangan. Hm, tapi itu ujian pertama. Ada dua ujian yang akan
kalian hadapi. Bagaimana, apa kalian telah siap dengan ujian terakhir?” tanya
Wanara seraya tersenyum menatap kedua tamunya itu.
“Kami siap!” sahut Ketawang yakin.
“Ayah, biar aku yang menguji mereka!” usul Seruni. Matanya menatap tajam wajah
kedua lelaki di hadapannya. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum
meremehkan.
“Nah, dengar! Kalian akan
berhadapan dengan anakku. Apakah kalian siap...?” tanya Wanara sambil
tersenyum.
“Siap!” sahut Sungo Karu. “Baik!
Seruni...!” seru Wanara seraya meng- gelengkan kepala memerintahkan putrinya
itu.
“Baik, Ayah.” Seruni maju dua
tindak, berhadap-hadapan dengan kedua lawannya. Ketawang dan Sungo Karu masih
belum tahu, siapa gadis cantik muda belia di hadapannya. Menurut cerita guru
mereka, Ambar Sari hanya memiliki seorang anak lelaki yang entah hidup atau
mati. Tetapi kini keduanya berhadapan dengan seorang gadis yang menyebut ayah
terhadap Wanara. Padahal Wanara hanya kawin dengan Ambar Sari. Gadis-gadis
lain, hanya sebagai pemuas nafsu belaka.
“Kalian telah siap?” tanya Seruni.
“Ya!” sahut Ketawang. “Apa yang kalian inginkan? Tangan kosong, atau senjata?”
tantang Seruni.
“Tangan kosong!” jawab Sungo Karu.
“Baik. Sebagai tamu dan akan
menjadi anggota baru, kalian boleh menyerang lebih dahulu sekaligus berdua!”
Ketawang dan Sungo Karu tersentak
kaget men- dengar tantangan itu. Mereka tak menduga, kalau Seruni akan berani
menantang mereka langsung berdua.
“Benar-benar nekat dan sombong
gadis ini,” gumam Ketawang dalam hati. Matanya menatap tajam wajah Seruni,
seolah-olah tak percaya kalau gadis belia itu akan berlaku gegabah terhadap
mereka berdua.
“Kenapa kalian diam? Ayo,
lakukanlah!” tantang Seruni dengan angkuhnya. Gadis itu seakan meng- anggap
kedua lelaki di hadapannya tak berarti sama ekali. Bahkan sikapnya tampak
sangat meremehkan Ketawang dan Sungo Karu.
“Baiklah. Jangan menyesal jika
tubuhmu yang mulus tersentuh tangan kami!” jawab Ketawang sambil bergerak maju
menyerang Seruni dengan jurus 'Walang Keket Mencolek Daun'. Tangannya bergerak
laksana kaki belalang yang menyibak dedaunan, menyerang dada gadis cantik itu.
“Cabul!” maki Seruni seraya
berkelit ke samping, kemudian dengan cepat gadis itu mengeluarkan jurus 'Tarian
Bius Seribu'. Tubuhnya bergerak gemulai tapi cepat. Tangannya meliuk-liuk
seperti melakukan gerakan tari Bali. Matanya melotot dan bergerak- gerak dengan
lincah.
Dari jurus-jurus mirip tarian itu,
menimbulkan rangkaian gerakan yang menantang dan merangsang. Hal itu membuat
Ketawang dan Sungo Karu tersentak kaget. Mata mereka melotot, dengan jakun
turun naik.
Melihat kedua lawannya terpengaruh
gerakannya, Seruni tersenyum. Memang hal itulah yang di- kehendaki. Karena
dengan begitu, dirinya akan mudah menjatuhkan kedua lawannya.
Ketawang tersentak kaget, ketika
sebuah hentakan keras dilakukan Seruni. Dengan cepat Ketawang melompat mundur.
Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja dialami.
Sementara Sungo Karu yang masih
terpengaruh gerakan tubuh gemulai itu, tak mampu lagi meng- elakkan tamparan
tangan kiri Seruni. Tanpa ampun lagi, tangan mulus milik Seruni yiang disaluri
tenaga dalam menghantam pipi kanan.
Prat! “Akh!” Sungo Karu terpekik.
Tubuhnya yang gemuk dan bulat seperti kura-kura, terhuyung ke belakang dengan
mata melotot kaget. Dari sela bibirnya, meleleh darah segar.
“Hi hi hi...!” Seruni tertawa
cekikikan. Hatinya puas telah dapat mempecundangi salah seorang dari kedua
lawannya. Gadis itu kini berdiri dengan sikap angkuh. Senyum sinis menghias di
bibirnya, seakan menantang kedua lawan untuk kembali maju.
“Hati-hati, Sungo! Ternyata
jurusnya mengandung bius yang akan membuat kita terpengaruh. Kita harus membuat
pandangan ke tempat lain. Mari kita serang lagi! Heaaa...!” Ketawang kembali
bergerak dengan jurus 'Walang Keket Merentang Sayap'. Kedua tangannya
direntangkan, kemudian secara bergantian menyerang tubuh Seruni dengan cepat
dan beruntun.
Sungo Karu yang sudah terkena
tamparan Seruni, tak mau tinggal diam. Dengan jurus 'Walang Keket Menggigit
Daun' dirinya bergerak menyerang. Kedua tangannya bagaikan mulut seekor
belalang yang hendak menggigit daun.
Mendapat serangan beruntun dari
kedua lawan, Seruni kembali melakukan gerakan jurus 'Tarian Bius Seribu'.
Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari. Namun Ketawang dan Sungo Karu yang sudah
tahu kehebatan jurus itu, tak mau menatap tubuh Seruni. Sambil membuang pandangan
ke tempat lain, keduanya terus menyerang.
Seruni tersentak kaget karena tak
menyangka, kalau lawan telah tahu kelemahan jurusnya. Dengan cepat Seruni
melentingkan tubuh ke atas. Setelah bersalto beberapa kali akhirnya mendarat
dengan ringan di tanah.
“Cukup!” seru Wanara, “Kalian telah
lulus! Kini kalian resmi menjadi anggota Partai Kera Hitam.''
“Terima kasih,” jawab keduanya
sambil menjura hormat
“Sebagaimana biasanya, maka hari
ini kita akan merayakan penerimaan anggota baru! Mari...!”
Hari itu, Partai Kera Hitam pun
mengadakan pesta untuk merayakan masuknya anggota baru. Semua anggota Partai
Kera Hitam bergembira.
Hanya seorang wanita berusia
sekitar lima puluh tahun yang tampak termenung seorang diri. Wanita tengah baya
yang masih menampakkan kecantikan- nya itu, tiada lain Ambar Sari.
Dari kedua mata wanita setengah
baya itu, mengalir mata. Hatinya sedih jika melihat anaknya, Seruni yang adat
dan kesombongannya menyerupai sang ayah, Wanara. Ingatannya kembali melayang
pada anak lelakinya, Purbaya. Yang entah hidup atau mati.
***
4
Goa Kalong yang terletak di
Pegunungan Kapur pagi itu terasa dingin. Namun seorang pemuda berambut putih
keperakan nampak masih menggelantung di dinding goa dengan kaki di atas, tak
ubahnya seperti seekor kelelawar. Tubuh pemuda itu sangat kekar. Wajahnya
tampan dan bersih. Dari tubuhnya yang menggelantung dengan tangan bersidekap,
menetes air bening turun lewat kaki ke rambutnya yang putih perak.
Ketika itu dari dalam goa, muncul
seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Lelaki berjubah
seperti pakaian resi warna putih sesaat berdiri memperhatikan pemuda yang
menggelantung di atasnya. Lelaki tua berambut putih itu, tak lain Resi Turangga
Weni. Salah seorang resi sakti yang puluhan tahun silam namanya sejajar dengan
Pendekar Gila dari Goa Setan, guru dari Sena.
“Purbaya, sudah cukup kau melakukan
semadi. Empat puluh hari lamanya kau melakukan hal seperti itu. Sekarang
bangunlah, Anakku!” perintah Resi Turangga Weni.
Perlahan-lahan mata pemuda berambut
keperakan yang dipanggil Purbaya membuka, kemudian memandang Resi Turangga
Weni.
Resi Turangga Weni tersenyum.
“Turunlah, Cucuku! Hari ini, semuanya telah selesai. Dua puluh tahun sudah kau
berada di Goa Kalong ini.”
“Eyang menyuruhku?” tanya Purbaya.
“Benar. Turunlah!” Purbaya
berjumpalitan sesaat di udara, kemudian dengan ringan mendarat di depan gurunya
sambil melakukan sembah. Hal itu membuat Resi Turangga Weni tersenyum semakin
senang melihat tingkah laku muridnya yang sopan.
“Ada gerangan apa Eyang Guru
membangunkan semadiku?” tanya Purbaya setelah melakukan sembah.
Resi Turangga Weni memegang pundak
Purbaya yang bertelanjang dada. Di bibirnya masih mengurai senyum kekagumam
pada sang Murid. Dielus-elusnya pundak Purbaya yang masih berlutut di hadapan
sang guru. Ada gambaran rasa cinta kasih di wajah lelaki tua itu.
“Cucuku, dua puluh tahun sudah kau
berada di Goa Kalong. Semua ilmu yang kuajarkan, telah kau serap semua. Bahkan
ajian 'Rambut Api' yang selama ini belum pernah kuperdalami. Tetapi syukurlah,
akhirnya kau yang berjodoh dengan ajian itu!” tutur Resi Turangga Weni sambil
terus membelai-belai pundak Purbaya. Wajahnya ditengadahkan, me- mandang ke
langit-langit goa yang meneteskan air bening dan menebarkan hawa dingin. “Kini
saatnya bagimu turun gunung, mengamalkan semua yang telah kau peroleh di sini!”
ujarnya dengan suara pelan.
“Tapi, Eyang...?” Purbaya hendak
menolak apa yang disarankan eyang gurunya. Sepertinya pemuda itu tidak ingin
berpisah dengan Resi Turangga Weni, juga Goa Kalong yang telah dua puluh tahun
menjadi tempat tinggalnya.
Resi Turangga Weni tersenyum sambil
meng- geleng-gelengkan kepala. Tangannya masih membelai-belai rambut pemuda
tampan yang ber- warna putih keperakan itu.
“Kau tidak bisa begitu, Cucuku. Ada
pertemuan, tentu ada perpisahan. Ada kehidupan, pasti ada kematian. Cepat atau
lambat, usia manusia akan terus bertambah. Jangan sia-siakan usiamu! Gunakanlah
kesempatan hidup yang hanya sebentar ini. Untuk mengabdi pada kebenaran dan
keadilan,” tutur Resi Turangga Weni menasihatkan.
“Saya mengerti, Eyang.” “Syukurlah
kalau begitu!” ujar Resi Turangg Weni dengan mengangguk-anggukkan kepala,
“Sekarang mandilah dulu di telaga. Aku telah mempersiapkan pakaian untukmu.”
“Baik, Eyang.” Purbaya pun segera melangkah keluar dari Goa Kalong untuk mandi
di telaga yang tak jauh dari goa itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Purbaya
yang sudah empat puluh hari tak mandi, langsung menceburkan diri ke telaga. Dia
mandi sepuas- puasnya.
Dari dalam goa, Resi Turangga Weni
keluar mem- bawa setumpuk pakaian warna putih dengan ikat pinggang merah menyala.
“Ini pakaianmu, Purbaya. Setelah
mandi, pakailah! Kemudian temui aku di dalam!” perintah Resi Turangga Weni.
Ditaruhnya pakaian itu di tepi telaga kemudian lelaki itu kembali melangkah
meninggalkan telaga, menuju goa.
Resi Turangga Weni duduk di atas
sebuah batu besar dan rata dalam Goa Kalong itu. Tidak lama kemudian, dari luar
muncul Purbaya yang telah mengenakan jubah putih terbuat dari serat benang
sutera. Ikat pinggangnya yang merah menyala, semakin menambah kegagahan pemuda
tampan itu.
“Duduklah!” “Terima kasih, Eyang.”
Purbaya pun segera duduk bersila di hadapan Resi Turangga Weni. Rambutnya yang
putih keperakan dibiarkan terurai panjang. Udara di dalam Goa Kalong seketika
terasa segar. Ada sesuatu yang keluar dari rambut keperakan pemuda tampan itu.
Sehingga membuat suasana di dalam Goa Kalong terasa segar, seakan dari rambut
Purbaya, menghembuskan hawa hangat yang mampu menekan hawa dingin.
“Purbaya, Cucuku. Kurasa tak banyak
yang akan kusampaikan padamu, sebagai bekal perjalananmu. Hanya satu pesanku.
Janganlah dirimu menjadi sombong dan takabur. Kesombongan dan ketakaburan akan
membuat kita celaka. Menurut kabar yang kudengar, ibumu masih hidup. Tapi entah
di mana...,” tutur Resi Turangga Weni.
Mendengar ucapan sang Guru, Purbaya
seketika tersentak kaget. Matanya terbelalak seakan-akan tak percaya pada apa
yang baru didengarnya. “Ibu masih hidup?”
“Benar, Anakku. Itu yang pernah
kudengar.” “O, syukurlah! Ingin sekali aku bertemu dengan- nya. Apakah mungkin
ibu juga tahu kalau aku masih hidup, Eyang?” tanya Purbaya ingin tahu.
“Entahlah, Cucuku. Tapi kau
memiliki kalung ini. Tentunya jika ibumu melihat, dia akan ingat. Kini,
berangkatlah! Tegakkan kebenaran dan keadilan. Tak ada yang dapat Eyang berikan
padamu untuk bekal. Hanya doa Eyang yang akan menyertaimu...,” tutur Resi
Turangga Weni.
''Terima kasih, Eyang. Aku mohon
pamit!” pinta Purbaya sambil melakukan sembah. Sedangkan Resi
Turangga Weni dengan penuh kasih
membelai rambutnya.
“Hati-hatilah, Cucuku!” Dengan
menahan perasaan sedih Purbaya melangkah meninggalkan Resi Turangga Weni dan
Goa Kalong. Dalam hatinya berjanji, akan menegak- kan kebenaran dan keadilan di
muka bumi ini. Namun, kini tujuan utama akan mencari sang Ibu yang menurut
berita masih hidup.
“Di manakah ibu?” gumam Purbaya,
sambil terus melangkah keluar dari dalam goa. Sesaat pemuda itu berdiri
mematung di depan mulut goa, menatap ke langit yang biru dan bening. Kemudian
setelah menoleh ke belakang memandang Goa Kalong. Purbaya kembali meneruskan
langkah menuruni Pegunungan Kapur.
Dengan langkah mantap dan pasti,
pemuda berambut panjang putih keperakan itu terus melangkah menelusuri lereng
Pegunungan Kapur. Dirinya tak tahu harus ke mana, hanya mengikuti ke mana kaki
melangkah. Rasa rindu ingin bertemu ibunya, membuat langkah Purbaya semakin
mantap. Dengan berlari-lari kecil, pemuda itu terus menuruni lereng Pegunungan
Kapur yang tampak putih dan kering tertimpa terik matahari.
Pegunungan Kapur memang tandus. Di
sana sini yang tampak hanya bebatuan kapur dan granit. Hanya di sekitar Goa
Kalong tumbuh pepohonan yang tak begitu rimbun, karena tanah di situ memang
agak subur. Maka jika dilihat dari kejauhan, Pegunungan Kapur hanya sebagian
puncaknya yang ditumbuhi pepohonan rimbun, sedangkan lainnya hanya bebatuan
kapur dan gramit.
Sesampainya di bawah lereng
Pegunungan Kapur,
Purbaya sesaat berhenti. Dirinya
nampak bingung harus melangkah ke mana, karena belum pernah tahu di mana Desa
Kranggan, tempat kelahirannya. Desa yang akan senantiasa diingat. Di mana
dirinya dan kedua orangtuanya tinggal, hidup aman sejahtera dan berbahagia
sampai akhirnya para penjahat itu datang mengacau dan membunuh ayahnya, Kerto
Pati. Empat orang lelaki, yang salah satunya bermuka kera datang ke rumahnya.
Mereka mengeroyok ayahnya, setelah menanyakan Kitab Ajian Dewa. Sang Ayah,
akhirnya mati, di tangan keempat lelaki jahat itu. Ingatan Purbaya kembali
melayang. Semua kejadian semasa dirinya berusia lima tahun, kembali terlintas
dalam benaknya. Dari kematian sang Ayah, sampai kematian kusir kereta yang
bernama Trenggana dan entah bagaimana nasib ibunya.
“Ibu, mungkin kau menyangka aku
telah mati. O, ingin sekali aku bertemu denganmu, Bu. Kerinduan selama dua
puluh tahun kupendam, karena aku tak tahu harus berbuat apa,” desah Purbaya
lirih sambil menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya sinar mentari pagi yang
terasa hangat. Kemudian mata pemuda tampan berambut putih keperakan itu menatap
ke sekeliling.
Di kejauhan tampak desa-desa kecil
terhampar di bawah. Pepohonan tumbuh subur menutup desa- desa yang tampak di
sebelah utara, barat, dan timur. Seketika itu pula pikiran Purbaya kembali
teringat Desa Kranggan yang dua puluh tahun lalu ditinggal- kan. Entah seperti
apa desa itu kini.
Setelah menghela napas dalam-dalam,
kini Purbaya kembali meneruskan langkahnya untuk mengembara dan mencari ibunya
yang menurut Eyang Resi Turangga Weni masih hidup. Sekaligus mencari pembunuh
sang Ayah yang dianggapnya telah membuat kehancuran keluarganya.
***
Siang itu suasana terasa aneh,
matahari sangat panas, menyengat dan seakan hendak memanggang seluruh makhluk
bumi. Tampak para peladang mulai berteduh di bawah pepohonan di sekitar ladang
mereka. Terik matahari siang itu, juga dirasakan penduduk Desa Kranggan. Mereka
mulai menghenti- kan pekerjaan dan pulang ke rumah masing-masing. Berkumpul
kembali dengan anak istri mereka, dan berlindung dari terik matahari yang
begitu panas.
Di tengah suasana panas itu nampak
seorang pemuda berambut panjang keperakan tengah melangkah dengan tenang.
Pemuda berjubah putih itu seakan-akan tak merasa kepanasan sedikit pun. Tak ada
keringat yang keluar dari tubuhnya. Matahari yang begitu terik sepertinya tak
berarti baginya.
Pemuda yanga tiada lain Purbaya
itu, terus melangkah menelusuri jalan tanah yang membelah Desa Kranggan untuk
mencari kedai. Perutnya yang empat puluh hari melakukan tapa, terasa begitu
lapar. Tadi ketika dia hendak meninggalkan Goa Kalong, dirinya lupa untuk
mengisi perut.
Purbaya masih melangkah, tak menghiraukan
panas terik yang menyengat. Ternyata seluruh tubuh- nya memang tak merasakan
hawa panas sedikit pun. Hal itu dikarenakan pengaruh dari rambutnya yang
seperti mengandung air serta mengeluarkan hawa sejuk dan segar.
Tak jauh dari tempat Purbaya berada,
tampak sebuah kedai yang ramai pengunjungnya. Semua orang yang melihat pemuda
itu melangkah bagaikan terkesima. Mata mereka kini tertuju pada pemuda berambut
keperakan tampak segar. Tanpa keringat bercucuran, tanpa rasa lelah dan
kepanasan. Padahal, terik matahari bagaikan hendak memanggang.
Di antara para penduduk Desa
Kranggan yang tengah berteduh di dalam kedai itu, tampak seorang pemuda
berambut gondrong memakai rompi kulit ular. Pemuda bertingkah laku aneh itu tak
lain Sena Manggala atau yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila. Di
sampingnya berdiri seorang gadis cantik berpakaian hijau daun. Pendekar Gila
tampak mengerutkan kening sambil cengengesan menatap Purbaya.
Gadis di samping Pendekar Gila yang
ternyata Mei Lie tampak heran. Orang-orang di kedai itu semakin heran, tak
terkecuali Pendekar Gila dan Mei Lie ketika Purbaya berada semakin dekat dengan
mereka. Hal itu karena tiba-tiba ada hawa sejuk berhembus dari rambut keperakan
milik pemuda itu.
“Aha, kau merasakan sesuatu keanehan,
Mei Lie?” tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dengan mulut cengengesan
sambil menoleh pada wajah Mei Lie. “Ya, aku merasakan hawa yang sejuk. Kurasa
pemuda itulah sumbernya. Lihat, Kakang! Rambutnya seperti berair,” gumam Mei
Lie.
''Ya ya ya, kurasa memang dialah
yang penyebab- nya. Aha, baru kali ini kulihat orang yang mampu mengeluarkan
hawa sejuk,” gumam Sena dengan tangan tetap menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan,
dengan mata menatap Purbaya yang kini semakin bertambah dekat dengan kedai.
“Kurasa dia bukan orang
sembarangan, Kakang,” tukas Mei Lie sambil terus memperhatikan Purbaya yang
tampak mulai dikerumuni orang-orang desa. Pemuda berambut keperakan itu kini
berada di depan kedai lalu duduk di dipan bambu.
Melihat orang-orang bertambah
banyak mengerumuni Purbaya, Pendekar Gila bangkit dari duduknya, lalu melangkah
mendekati kerumunan itu.
“Aha, bubarlah semua...! Bubar...!”
perintah Sena pada orang-orang yang mengerumuni Purbaya. Mereka menganggap
pemuda berambut keperakan itu orang aneh yang patut ditonton.
Para warga desa dan anak-anak yang
berkumpul mengelilingi Purbaya seketika bubar meninggalkan kedai. Mereka
bersorak-sorai, mengolok-olok Purbaya. Namun pemuda berambut keperakan itu
sepertinya tak marah. Justru tampak tersenyum- senyum.
“Hush! Pergi-pergi...!” bentak Mei
Lie dengan mata melotot, membuat anak-anak kecil yang tadi masih berolok-olok
langsung bubar meninggalkan tempat itu. “Aha, kurasa lebih baik kita ke dalam,
Kisanak!” ajak Sena dengan tingkah lakunya yang persis orang gila. “Kulihat kau
pun lapar. Ayolah...! Ah ah ah...!”
“Terima kasih. Kau baik sekali,
Kisanak. Namaku Purbaya,” ujar Purbaya memperkenalkan diri. Kening- nya
mengerut menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila yang aneh itu.
“Aha, namaku Sena Manggala. Dan
temanku ini bernama Mei Lie,” Pendekar Gila memperkenalkan diri dan nama
kekasihnya.
“Hm, sudah kuduga, kalau Nini Mei
Lie orang Cina,” tukas Purbaya berseloroh.
“Aha, tepat sekali. Dia memang dari
Cina. Tetapi sekarang hidup di dusun. Hi hi hi...!” Sena menimpali seloroh
Purbaya yang membuat Mei Lie melotot sengit.
Ketiganya tersenyum. “Aha, mari
masuk!” ajak Sena sambil membimbing Purbaya melangkah masuk ke kedai. Kemudian
pemuda itu diajak duduk di sampingnya. “Pelayan, beri Kisanak ini makanan yang
enak!”
“Baik, Tuan.” Pelayan kedai segera
mengambil makanan yang dipesan Pendekar Gila. Tidak lama kemudian, pelayan itu
telah kembali dengan membawakan makanan.
“Ini pesanan, Tuan.” “'Terima
kasih. Taruhlah di sini!” perinta Sena yang segera dilaksanakan pelayan kedai
itu. “Silakan, Kisanak!”
“Kalian...?” tanya Purbaya. “Kami
baru saja,” jawab Mei Lie sambil tersenyum menganggukkan kepala. “Bersantaplah
yang enak!”
“Terima kasih.” Purbaya pun
menyantap makanan itu dengan lahap. Sehingga dalam waktu sebentar saja makanan
telah habis tak tersisa.
“Mau tambah, Kisanak?” tanya Sena.
“Ah tidak, terima kasih,” sahut Purbaya sambil tersenyum.
“Aha, kalau kau memang masih lapar,
nambahlah! Biar aku yang membayar semuanya,” ujar Sena ramah.
''Terima kasih. Cukup! Kalau
nambah, kurasa perutku tak akan sanggup menampungnya,” jawab Purbaya sambil
tersenyum, membuat Sena dan Mei Lie turut tersenyum.
“Maaf, ng..., Purbaya. Kalau boleh
kami tahu, hendak ke manakah tujuanmu?” tanya Mei Lie.
Purbaya terdiam sesaat. Ditariknya
napas dalam- dalam. Kemudian diedarkan matanya ke sekeliling kedai, seperti
tengah mencari sesuatu. Kemudian dengan helaan napas panjang, pemuda itu men-
ceritakan tujuannya.
“Aku ingin mencari kampung
halamanku, sekaligus mencari ibuku yang kabarnya masih hidup. Lalu yang kedua,
aku bermaksud mencari Kitab Ajian Dewa yang dahulu dititipkan Pendekar Gila
pada ayahku. Entah di mana kitab itu berada sekarang. Aku khawatir orang-orang
jahat yang membunuh ayahku berhasil mendapatkannya,” tutur Purbaya. Wajah
pemuda itu menyiratkan kepedihan dalam hatinya.
“Pendekar Gila...?” tanya Mei Lie
dengan kening mengerut, sepertinya hendak meyakinkan pen- dengarannya.
''Ya!” sahut Purbaya. “Dulu, ketika
ayahku masih hidup, ayahku pernah bercerita tentang seorang pendekar yang
tingkah lakunya persis orang gila. Itu sebabnya dia dikenal dengan sebutan
Pendekar Gila. Antara ayahku, dengan Pendekar Gila saling ber- sahabat. Pada
masa hendak menghilang dari rimba persilatan, Pendekar Gila menitipkan Kitab
Ajian Dewa pada ayahku. Dia berpesan agar ayah mem- beritahukan kitab itu
kepada murid atau keturunan- nya kelak.”
Mei Lie semakin mengernyitkan
kening, men- dengar penuturan Purbaya. Kemudian matanya menatap wajah Pendekar
Gila yang tampak cengengesan, sepertinya tak peduli penuturan pemuda berambut
keperakan di hadapannya.
“Apakah Nini Mei Lie kenal dengan
pendekar sakti itu?” tanya Purbaya seraya menatap wajah gadis cantik itu. “Ya.”
“O, syukurlah! Aku ingin meminta maaf atas nama ayahku, yang tidak bisa menjaga
barang titipannya. Tetapi mungkin juga masih disimpan ayahku. Hanya ibuku yang
tahu, di mana kitab itu disimpan,” ujar Purbaya. “Kalau boleh saya tahu, di
mana pendekar itu?” “Bukankah ada di sampingmu?” tanya Mei Lie sambil menoleh
dan tersenyum pada Pendekar Gila yang hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk
kepala.
Seketika Purbaya membelalakkan mata
kaget. Hatinya hampir tak percaya kalau orang yang di sampingnya ternyata
Pendekar Gila. Pemuda itu segera menoleh dan menatap wajah Sena yang tampak
tersenyum-senyum.
“O, maafkanlah kebutaanku, Tuan
Pendekar! Sungguh tak pernah kusangka, kalau aku bisa bertemu dengan Pendekar
Gila,” ujar Purbaya sambil menjura
“Aha, kau salah, Kisanak. Mungkin
yang dimaksud ayahmu adalah guruku. Memang semua pendekar yang keluar dari Goa
Setan, akan dijuluki orang sebagai Pendekar Gila. Eyang guru, guruku, dan
aku...,” tutur Sena menjelaskan. “Semua mendapat julukan Pendekar Gila.”
Purbaya mengangguk-anggukkan
kepala, men- dengar penuturan Sena tentang gelar Pendekar Gila. Namun meski dulu
yang menjadi sahabat ayahnya adalah guru Sena. Purbaya tetap merasa, tak salah
jika minta maaf pada Sena. Karena dirinya merasa Kitab Ajian Dewa yang hingga
kini belum di- ketemukan, merupakan hak Sena sebagai murid Pendekar Gila.
“Meskipun kau muridnya, aku merasa
sepantas- nya minta maaf, karena kitab itu belum bisa kuberikan padamu,” ujar
Purbaya.
“Aha tak menjadi masalah, Kisanak.
Bukankah kita bisa mencarinya bersama-sama?” sahut Sena ber- usaha meyakinkah
Purbaya, agar pemuda berambut keperakan itu tenang dan tidak merasa bersalah.
“Terima kasih atas kebaikanmu, Pendekar.” “Aha, mengapa kau sebut pendekar?
Namaku Sena?” ujar Sena dengan cengengesan sambil tangannya menggaruk-garuk
kepala. Hal itu membuat Mei Lie melotot gemas dan mencubit pinggang kekasihnya.
Pendekar Gila terpekik karena kesakitan. Sementara Purbaya tampak
tersenyum-senyum melihat tingkah keduanya.
“Dasar gila!” sungut Mei Lie. “Hi
hi hi...! Bukankah aku gila karenamu?” goda Sena yang semakin membuat Mei Lie
melotot gemas.
Ketika mereka tengah bercanda,
tiba-tiba.... “Tolong...! Tolooong...!” Tiba-tiba terdengar teriakan seorang
wanita dari arah barat. “Heh?!” “Aha, ada apa gerangan?” gumam Sena. “Pasti
gerombolan Partai Kera Hitam!” sahut pemilik kedai. Mendengar hal itu Sena, Mei
Lie, dan Purbaya mengerutkan kening.
“Gerombolan Partai Kera Hitam? Apa
maksudmu, Ki?” tanya Mei Lie ingin tahu.
“Gerombolan kejam yang selalu
berusaha ingin berkuasa dan mencari seseorang di desa ini,” tutur pemilik kedai
menjelaskan. Baik Pendekar Gila, Mei Lie, maupun Purbaya sama-sama tercengang
men- dengar penjelasan pemilik kedai itu.
“Tolong...! Tolooong...!” suara
teriakan itu pun ter- dengar lagi, bahkan semakin dekat dari kedai. Hal itu
membuat Purbaya, Pendekar Gila, dan Mei Lie langsung melesat keluar ingin tahu
apa yang terjadi.
***
5
Dari arah barat, nampak
segerombolan lelaki berwajah garang berpakaian rompi merah menyala. Mereka
tengah mengejar seorang gadis cantik jelita berpakaian biru laut. Gadis itu
berlari terbirit-birit ketakutan, karena sepuluh lelaki beringas terus mem-
burunya, tanpa menghiraukan jeritan ketakutan.
“'Tolong...! Tolooong...!” Semua
warga Desa Kranggan yang semula berada di jalanan atau di sawah, seketika
langsung ber- sembunyi. Mereka tidak berusaha menolong gadis yang tengah
dicekam rasa takut itu, melainkan bersembunyi. Hal itu karena para penduduk
tahu gerombolan itu adalah Partai Kera Hitam.
Gadis cantik berambut panjang itu
terus berlari semakin ketakutan, karena tak seorang pun warga desa yang
menolongnya. Sambil menjerit-jerit ketakutan dia terus berlari, berusaha
meninggalkan pengejarnya.
“Tolong...! Tuan, tolong...!” seru
gadis itu ketika melihat tiga orang di depan kedai. Hatinya benar- benar
berharap pertolongan dari ketiga orang yang tidak bersembunyi seperti warga
desa lainnya.
“Aha, ada tikus-tikus yang sedang
memburu mangsa! Hi hi hi...! Lucu sekali!” gumam Sena dengan cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala.
“Tolong Tuan! Mereka mau
menangkapku,” ratap gadis cantik itu pada Pendekar Gila.
Ingatan Mei Lie seketika melayang
pada suatu peristiwa ketika dia baru tiba di Tanah Jawa Dwipa.
Saat itu dirinya dikejar-kejar
gerombolan Segara Wedi.
Kemarahannya seketika meledak.
Harga dirinya sebagai seorang wanita, bagaikan memberontak. Matanya menatap
garang pada kesepuluh lelaki yang berlari-lari menuju kedai.
“Nisanak, siapa mereka?” tanya Mie
Lie. “Mereka gerombolan Partai Kera Hitam. Tolonglah saya...! Saya tak mau
dijadikan budak nafsunya. Tolonglah saya, Ni Pendekar,” ratap gadis cantik itu
pada Mie Lie.
“Mundurlah, biar aku yang
menghadapi mereka!” ujar Mei Lie geram.
Sementara Pendekar Gila dan Purbaya
masih tenang. Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala.
Sepertinya merasa tenang, melihat kekasihnya kini melangkah maju. Hatinya tak
merasa khawatir terhadap Mei Lie, karena paham benar gadis cantik yang
mempunyai julukan angker 'Bidadari Pencabut Nyawa Iblis' itu.
“Tuan Pendekar..., mengapa kita
berdiam diri? Kita harus membantu Nini Mei Lie,” ujar Purbaya, merasa heran
melihat Pendekar Gila cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Aha, biarkan saja, Kisanak! Kita
lihat saja dulu,” sahut Pendekar Gila sambil tersenyum-senyum, melihat Mei Lie
melangkah mantap menghadang kesepuluh lelaki bermuka beringas.
“He he he...! Kawan-kawan, rupanya
kita melepas- kan burung merpati, kini dapat burung merak indah,” teriak
pimpinan gerombolan dari Partai Kera Hitam pada rekan-rekannya yang
terbahak-bahak melihat gadis cantik berada di depan mereka.
“Hm, kau menginginkan aku?” tanya
Mei Lie sambil tersenyum dan mengerlingkan mata.
“Bukan hanya kami. Pimpinan kami
pun tentu senang, jika kami dapat membawamu ke markas,” sahut lelaki bertubuh
tinggi tegap dengan wajah ditumbuhi cambang bawuk lebat itu.
“Baik, tangkaplah aku kalau kalian
sanggup!” tantang Mei Lie sambil tersenyum mengejek. Namun matanya menatap
garang anak buah Partai Kera Hitam.
“He he he..., apa susahnya menangkap
burung merak seindah dirimu, Nini?” sahut Kuncupala, pimpinan gerombolan itu
sambil terkekeh. Lelaki bercambang bauk itu meremehkan Mei Lie. Kalau saja
dirinya tahu siapa gadis Cina itu, tentunya akan berpikir seribu kali untuk
menghadapinya.
“Hm, begitu? Tangkaplah kalau
bisa!” tantang Mei Lie dengan senyum sinis di bibirnya.
“He he he...! Tangkap burung merak
itu!” perintah Kuncupala pada anak buahnya.
“Hea!” Lima orang segera mengepung
Mei Lie. Kemudian dengan beringas, langsung menubruk Mie Lie. Namun, dengan
cepat Mie Lie melompat ke atas, sehingga kelimanya saling berbenturan satu sama
lain. Brukkk! “Aaa...!” “Ha ha ha...!” Mei Lie tertawa terbahak-bahak melihat
kelima lelaki yang hendak menangkapnya saling bertabrakan. Tampak tiga orang
mengusap- usap kepala karena benjol. “Kalian seperti menangkap kodok. Ha ha
ha...!”
“Hi hi hi...! Lucu..., lucu
sekali!” gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala, melihat kejadian itu.
Purbaya pun yang semula diam dan
tegang, takut kalau-kalau Mie Lie tertangkap kini tertawa terbahak- bahak.
“Ah, rupanya aku yang belum
berpengalaman ini, mesti belajar banyak dari kalian, Tuan Pendekar,” gumam
Purbaya sambil menggeleng-geleng kepala kagum pada Mei Lie. Matanya yang tajam
me- mandang sambil menertawakan kelima anak buah Partai Kera Hitam yang
meringis-ringis kesakitan.
Merasa ditertawakan oleh Pendekar
Gila, Purbaya, dan Mei Lie. Kuncupala sang Pimpinan gerombolan tampak semakin
marah.
“Kurang ajar! Kubunuh kalian!
Ayo..., habisi mereka!” perintahnya sambil menggerakkan tangan. Para anak
buahnya segera merangsek dan menyerang Pendekar Gila dan Purbaya.
“Aha, kita akan main-main Mei Lie,
minggirlah dulu! Atau masuklah ke dalam kedai, biar kami main- main dengan
cecurut-cecurut ini!” seru Sena sambil tersenyum cengengesan dengan tangan
menggaruk- garuk kepala.
“Kurang ajar! Lancang sekali
mulutmu, Pemuda Gila! Bunuh mereka...!” teriak Kuncupala sambil melesat. Para
anak buahnya segera mencabut pedang masing-masing.
Srt! Srt! “Hi hi hi...!” Sena
tertawa cekikikan, melihat tiga orang dari anak buah Partai Kera Hitam
menghunus pedang dan mengurung Pendekar Gila.
“Hea!” Wrt! Wrt! Ketiga anak buah
Partai Kera Hitam langsung menggebrak dengan sabetan dan babatan pedang mereka
ke tubuh lawan. Namun dengan masih cengengesan Pendekar Gila segera bergerak
meng- elak. Tubuhnya dirundukkan, lalu meliuk. Bersamaan dengan gerakan itu
kaki kirinya menyapu ke kaki lawan.
Wrt! Ketiga orang yang menyerang
melompat ke belakang, mengelakkan tendangan Pendekar Gila. Mereka saling pandang
sesaat, lalu melesat melancarkan serangan lagi. Ketiga pedang tampak
berkelebatan dan berputar serta membabat tubuh Pendekar Gila.
“Hea!” “Putus lehermu, Pemuda Gila!
Hih...!” Wrt! “Uts! Aha, kurang tepat, Tikus Busuk! Hih...!” Sena langsung
bergerak dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana
menari sambil cengengesan, kemudian disusul dengan tepukan tangannya ke dada
lawan. Sedangkan kaki kirinya menyerang dengan gerakan menebas dada lawan yang
menyerang.
Ketiga lawannya yang menyerang
terkesima melihat gerakan ilmu silat pemuda bertingkah laku gila. Mereka
menyangka gerakan lambat dan lemah yang dilancarkan Pendekar Gila akan mudah
mereka tembus. Dengan cepat mereka merangsek masuk, membabatkan pedang ke tubuh
Pendekar Gila.
“Yea!” Wrt! Wrt! “Uts! Hi hi hi...!
Ini untukmu, Kecoa!” Pendekar Gila kembali meliuk, kemudian tangan kanan dan
kirinya dihentakkan ke samping melakukan tepukan.
Dua orang yang menyerangnya
tersentak kaget. Mereka tak menyangka kalau gerakan yang kelihatan pelan dan
lemah, ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan luar biasa.
“Celaka!” “Heits...!” Ketiga orang
anggota Partai Kera Hitam yang menyerang Sena tersentak kaget dengan mata
membelalak tegang. Mereka berusaha mengelakkan tepukan dan sapuan kaki lawan.
Namun ternyata gerakan yang dilancarkan Pendekar Gila datang begitu cepat.
Sehingga....
“Akh...!” Dua orang terpekik. Tubuh
mereka terpental deras ke belakang, bagaikan terdorong suatu kekuatan dahsyat.
Tubuh keduanya terus melayang ke belakang, sampai akhirnya menerjang pohon
pinang.
Brak! “Ukh...!” terdengar erangan
dari mulut mereka yang tampak mengeluarkan darah. Sementara seorang lagi, kini
terpelanting akibat kakinya ter- sambar tendangan keras Pendekar Gila. Orang
ini pun meringis-ringis. Tulang pantatnya bagaikan remuk, karena tubuhnya
bagaikan dibanting dengan keras.
“Hi hi hi...! Kenapa kau meringis,
Kisanak? Aha, sakit...?” tanya Sena meledek. Kemudian tertawa terbahak-bahak
sambil menggaruk-garuk kepala. Lelaki berwajah beringas itu membelalakkan mata
melihat tingkah Pendekar Gila.
“Pendekar Gila...!” pekiknya kaget.
“Hi hi hi...! Gila? Aha, kau gila rupanya, Kisanak. Pantas..., pantas, kau
meringis-ringis kesenangan. Padahal kau tentu sakit. Tetapi kau tampak girang,”
gumam Pendekar Gila sambil masih cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk
kepala.
Melihat sikap Sena, lelaki berwajah
beringas itu tampak tegang, takut kalau Pendekar Gila akan membunuhnya.
Melihat Pendekar Gila semakin
mendekati dirinya orang itu kian tegang. Sehingga dengan cepat kakinya
melangkah mundur tapi terasa sakit. Matanya melotot karena tegang dan panik.
“Jangan...! Jangan...!” teriak
lelaki bertubuh tinggi dengan hidung besar dan berambut kumal. Dirinya terus
beringsut menggeser pantat yang kesakitan. Matanya masih menatap nanar pada
Sena yang hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah mendekat
lelaki berhidung besar itu.
“Aha, kau seperti kesenangan, Kisanak.
Hi hi hi..., lucu sekali! Lucu...!” tukas Pendekar Gila sambil terus melangkah
maju, membuat lawannya bertambah tegang. Perasaan takut yang terus mendera
jiwanya, membuat lelaki tinggi kurus dengan hidung besar itu nekat.
“Heaaa...!” Diiringi teriakan
keras, lelaki itu melompat menyerang dengan mengayunkan pedang. Namun dengan
cepat, Pendekar Gila merundukkan tubuh dengan kepala dan sebagian badan condong
ke muka. Hal itu mengakibatkan serangan lawan meleset. Kemudian, dengan cepat
ditangkapnya kaki lawan yang tengah melayang di atasnya.
Trap! “Heaaa...!” dengan pengerahan
tenaga dalam dilemparkan tubuh lawan ke angkasa.
Wrt! “Akh...! Tolong...!” teriak
lelaki berhidung besar itu ketakutan. Tubuhnya melenting tinggi sekali.
Kemudian menukik ke bawah dengan deras. Sampai akhirnya, jatuh dengan kepala
menancap di tanah persawahan yang basah dan berair.
Jrot! “Hi hi hi...! Ha ha ha...!”
Pendekar Gila tertawa- tawa sambil menggaruk-garuk kepala, melihat kejadian
yang dianggapnya sangat lucu. Kemudian dengan tenang melangkah ke bangku di
depan kedai, lalu duduk dengan santai sambil meniup Suling Naga Sakti.
Dialunkan lagu sendu dan mendayu biru.
Sementara pertarungan antara Mei
Lie dan Purbaya melawan ketujuh anak buah Partai Kera Hitam masih berjalan
seru. Mei Lie dan Purbaya masih mengandalkan tangan kosong, membiarkan lawan
menyerang dengan senjata. Sejauh itu mereka tampak hanya mengelak sambil
sesekali balas menyerang dengan tangan kosong
“Hea!” Wrt! Sebuah babatan pedang
menderu ke kepala Purbaya. Hal itu membuat pemuda itu segera memutar kepala
untuk mengelak. Namun sungguh di luar dugaan, tiba-tiba rambut panjang
keperakan di kepala Purbaya mengeluarkan sinar putih keperakan. Sinar itu
langsung melesat menerjang orang yang hendak menyerang dari belakang.
Sudah barang tentu orang-orang
tersentak kaget melihat kejadian itu. Bahkan Pendekar Gila yang sedang santai
dengan meniup Suling Naga Saktinya terlonjak dengan mata melotot. Seakan-akan
dirinya tak percaya, kalau rambut Purbaya yang keperakan itu dapat mengeluarkan
sinar keperakan.
Srattt...! Bret! “Akh...!” pekikan
keras terdengar dari orang-orang yang terhantam sinar itu. Betapa dahsyat
kekuatan sinar keperakan dari rambut Purbaya. Kulit tubuh yang terkena serangan
itu langsung terkelupas dan gosong seperti terbakar. Mulut mereka mengerang-
erang menahan panas dan rasa sakit yang hebat.
Melihat kejadian itu, lima orang
anak buah Partai Kera Hitam yang masih hidup berusaha kabur dari tempat
pertempuran karena ketakutan. Melihat gelagat lawan-lawannya dengan cepat
Purbaya segera bergerak mencegat mereka.
“Mau lari ke mana kalian?!” bentak
Purbaya geram.
“Ampun! Jangan bunuh kami...!”
ratap pimpinan mereka sambil bersujud ketakutan, mengharap ampunan Purbaya.
“Hm, manusia macam kalian tak ada
ampunan! Terimalah kematian kalian! Heaaa...!”
Dengan cepat Purbaya menggerakkan
kepala ke arah lima lelaki yang masih memegang pedang dan golok. Seketika itu
juga rambut panjangnya berkelebat memancarkan cahaya berkilauan. Dan dari
kilatan cahaya menyilaukan itu melesat sinar putih keperakan. Itulah ajian
'Rambut Api' Purbaya.
“Heaaa...!” Wuttt! Slats! Slats!
“Akh...!” Lima orang terpekik bersamaan ketika sinar yang melesat dari ajian
'Rambut Api' Purbaya menghantam telak tubuh mereka. Seketika tubuh kelima
lelaki beringas itu meleleh hingga ber- sembulan tulang-belulang dengan cairan
merah kehitaman. Seketika suasana berubah hening, tak ada lagi suara erangan
atas atau jeritan kesakitan. Karena kelima anak buah Partai Kera Hitam langsung
mati saat sinar keperakan menghantam tubuh mereka.
Pendekar Gila dan Mei Lie terlonjak
kaget. Keduanya tidak menduga kalau Purbaya akan berbuat seperti itu. Pendekar
Gila hanya mampu menarik napas, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya
sebenarnya tak setuju jika Purbaya menghabisi nyawa mereka. Karena orang-orang
itu tadi telah meratap minta ampun.
“Ah ah ah...! Kawan, mengapa kau
lakukan itu? Bukankah mereka sudah minta ampun?” tanya Sena dengan meringis
sambil menggaruk-garuk kepala.
“Maafkan aku, Kawan. Hatiku telah
terbawa perasaan, ketika tiba-tiba teringat kejadian dua puluh tahun silam.
Manakala orang-orang jahat yang mungkin pimpinan mereka membunuh ayah, serta
membuat keluargaku berantakan,” tutur Purbaya seakan menyesali tindakannya.
Pendekar Gila menghela napas
dalam-dalam. Kemudian dengan cengengesan sambil tangan kanan menggaruk-garuk
kepala, diliriknya Mei Lie yang hanya diam membisu, seakan tak berniat meng-
ucapkan kata-kata.
“Adi Purbaya, mungkin jalan hidupmu
masih lumayan dibandingkan nasibku. Ayah dan ibuku mati dibantai. Sedangkan kau
masih punya ibu. Bersyukurlah, karena kau masih punya kesempatan untuk dapat
bertemu dengan ibumu,” tutur Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk
kepala. “Sedangkan aku, tak punya siapa-siapa. Memang menurut cerita paman dan
bibiku masih hidup. Tapi..., entah di mana.”
Purbaya terdiam mendengar cerita
yang dituturkan Pendekar Gila. Hatinya merasa tutur kata pendekar itu sangat
bijaksana dan menunjukkan ketabahan serta kesabaran. Dirinya sendiri baru saja
terpancing amarah. Padahal penderitaannya, belum seberapa dibandingkan yang
dialami Pendekar Gila (Untuk lebih jelasnya, silakan ikuti serial Pendekar Gila
dalam episode pertamanya yang berjudul 'Suling Naga Sakti').
“Ah ah ah, sudahlah! Semua telah
terjadi. Tak perlu kita sesalkan dan permasalahkan. Oh, aku lupa untuk membayar
makanan yang tadi kita makan. Ayo...!” ajak Sena sambil melangkah menuju ke
kedai. Setelah membayar makanan yang telah mereka makan, Pendekar Gila kembali
keluar menemui Purbaya yang tengah duduk di serambi depan kedai. Mei Lie
mengikuti di belakangnya.
“Sekarang, hendak ke mana kau
pergi?” “Hm..., sebenarnya aku akan pergi ke Desa Kranggan untuk mencari
kuburan ayahku.”
“Desa Kranggan? Bukankah ini Desa
Kranggan?” balik Mei Lie bertanya, nadanya menjelaskan pada Purbaya kalau desa
di mana mereka kini berada adalah desa yang tengah dicari oleh Purbaya.
“O, jadi ini Desa Kranggan?” tanya
Purbaya. “Benar, Adi Purbaya...,” sahut Mei Lie tersenyum pada Purbaya.
“Ke arah manakah kalian hendak
melangkah?” tanya Purbaya seraya menatap wajah Mei Lie dan Pendekar Gila
bergantian.
“Aha, entahlah. Kami berdua
hanyalah pengembara. Kami pergi tanpa tujuan yang pasti,” jawab Sena tersenyum
cengengesan sambil menoleh ke wajah Mei Lie. Gadis itu tersenyum dan
mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu. Aku hendak
tinggal beberapa saat di desa ini. Kalau ada umur panjang, mungkin kita akan
bertemu lagi. Bukan begitu, Tuan Pendekar?” tanya Purbaya.
“Aha, benar juga katamu, Adi
Purbaya. Baiklah, aku dan Mei Lie memohon pamit,” ujar Sena.
“Sampai jumpa lagi, Purbaya,” sahut
Mei Lie sambil melangkah seiring dengan Sena, meninggal- kan Purbaya. Pemuda
itu berdiri mematung, menatap langkah sepasang pendekar meninggalkan tempat
itu. “Sungguh seorang pendekar yang berbudi luhur. Meski tingkah lakunya
seperti orang gila, jiwanya sangat agung. Semoga kita bisa bertemu lagi, Tuan
Pendekar! Dan semoga aku akan segera men- dapatkan kitab milikmu,” gumam
Purbaya sambil melangkah meninggalkan pelataran kedai.
Orang-orang yang ada di kedai itu
tampak memperhatikan sambil menggeleng-geleng kepala. Mereka semua merasa kagum
terhadap kehebatan pemuda berambut keperakan itu.
“'Tuan Pendekar, Tunggu...!” seru
gadis cantik yang tadi ditolongnya. Gadis itu berlari mengejar Purbaya yang
seketika berhenti, lalu menoleh ke belakang.
“Ada apa, Nisanak?” tanya Purbaya.
“Tadi ku-dengar kau mengatakan dari Desa Kranggan ini. Siapakah, kakang...?”
“Namaku Purbaya.” “Hah?! Kau
Purbaya...? Purbaya anak Paman Kerto Pati?” tanya gadis cantik itu berusaha
menegaskan. Matanya terbelalak, seakan tak percaya pada apa yang baru saja
didengar.
“Benar. Siapakah kau, Nisanak?”
tanya Purbaya ingin tahu.
“Aku Suheni, anak Ki Marno. Kepala
Desa Kranggan ini,” jawab gadis berpakaian biru laut itu.
“O, jadi kau Suheni? Tak kusangka,
kita bisa bertemu lagi!” gumam Purbaya sambil menggeleng- geleng kepala.
“Bagaimana kabar Paman Marno dan Bibi Sami?”
“Ayah dan ibu, mati dibantai
mereka. Ayah menolak memberi upeti pada Partai Kera Hitam yang dipimpin Wanara.
Orang itu juga yang dulu mem- bunuh Paman Kerto Pati,” tutur Suheni. Mendengar
penuturan gadis cantik itu Purbaya tersentak kaget dengan mata terbelalak.
Orang yang menghabisi nyawa ayahnya ternyata masih hidup. Dihelanya napas
dalam-dalam, seakan-akan berusaha mereda- kan amarahnya.
“Sudah kuduga, kalau kesepuluh
orang tadi anak buah si manusia kera itu,” gumam Purbaya, “Beruntung Sena
menasihatiku. Kalau tidak mungkin aku tak dapat menahan amarah.”
Purbaya menunduk sedih, ketika
teringat pada peristiwa yang pernah terjadi dua puluh tahun silam. Suheni pun
terdiam, seakan mulutnya terasa kelu tak dapat berkata lagi.
“Apakah kau tahu, di mana ibuku?”
“Entahlah, Purbaya! Aku tak tahu. Tapi, mungkin Paman Gendo mengetahuinya,”
ujar Suheni. “Sebaik- nya kau menginap di sini dulu, Purbaya.”
“Baiklah. Aku akan ke kuburan ayah
dulu,” ujar Purbaya sambil melangkah diiringi Suheni menuju ke arah barat,
tempat dulu rumahnya berada.
Semua orang yang sejak tadi
memperhatikan Purbaya bercakap-cakap dengan Suheni seketika mengikuti langkah
pemuda itu. Mereka seketika merasa memiliki gairah hidup lagi, setelah tahu
siapa pemuda berambut putih keperakan itu.
“Hidup Purbaya...”
“Hidup Malaikat Berambut Perak...!”
Para warga mengelu-elukan kedatangan Purbaya ke Desa Kranggan. Kini semua
harapan warga tertumpu pada Purbaya. Mereka mengharap pemuda itu akan mampu
membela Desa Kranggan dari ancaman Partai Kera Hitam.
“Hidup Purbaya...!” “Hidup Malaikat
Berambut Perak...!” “Hidup anak Kerto Pati...!” Warga Desa Kranggan terus
mengikuti ke mana langkah Purbaya pergi. Orang-orang yang berada di dalam rumah
pun bermunculan keluar, ingin melihat anak Kerto Pati yang telah kembali.
Suasana Desa Kranggan seketika menjadi riuh. Para penduduk seakan-akan merasa
baru saja terjaga dari mimpi buruk, setelah dua puluh tahun lebih dicekam
ketakutan.
***
6
Pendekar Gila dan Mei Lie masih
melangkah menelusuri jalanan di tepi Sungai Blongkeng yang membelah Hutan
Kenjer Kuning. Kedua muda-mudi itu sekali-sekali bercanda ria sambil menikmati
indahnya suasana senja yang sejuk. Di atas pepohonan di sepanjang tepian sungai
terdengar suara kicau burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya.
Betapa gembiranya Mei Lie saat itu
setelah lama berpisah dengan Pendekar Gila. Rasa rindu yang selama ini
dipendamnya, dicurahkan pada pemuda tampan namun tingkah lakunya seperti orang
gila itu.
“Ayo kejar, Kakang...!” seru Mei
Lie sambil lari, setelah mencubit pinggang kekasihnya. Sena tampak
meringis-ringis kesakitan, akibat cubitan itu.
“Hi hi hi...! Akan kukejar ke mana
pun kau pergi, Mei Lie Sayang...!” seru Sena sambil berlari mengejar Mei Lie
yang berlari sambil tertawa-tawa.
Kedua sejoli itu terus berkejaran
dengan diselingi canda ria. Suasana sore itu dirasakan bertambah indah. Alam
sekelilingnya seakan turut bergembira menyaksikan kebahagiaan keduanya.
“Ayo Kakang, kejar aku...!” Mei Lie
kembali berseru sambil terus berlari dengan tawanya yang merdu.
“Aha, akan kukejar!” seru Sena
sambil kembali berlari mengejar. Keduanya terus berkejar-kejaran. Tak terasa
keduanya sampai di tengah Hutan Kenjer Kuning. Namun tiba-tiba Mei Lie
berhenti. Keningnya berkerut karena mendadak kupingnya mendengar suara
kaki-kaki menginjak dedaunan.
Kresek! Krak! “Hm!” gumam Mei Lie
sambil memasang telinga tajam-tajam, berusaha meyakinkan pendengarannya.
Matanya yang lembut dan sayu menatap tajam ke sekelilingnya. Kepalanya meneleng
seakan-akan ingin memastikan dari mana asal suara-suara itu.
“Aha, ada apa, Mei Lie...?” tanya
Sena yang melihat Mei Lie nampak diam dengan mata terpicing dan dahi
berkernyit.
“Ssst!” Mei Lie memberi isyarat
pada Pendekar Gila agar diam.
Sena nyengir sambil menggaruk-garuk
kepala. Kemudian dia pun memasang telinganya dengan tajam, untuk mendengar apa
yang diisyaratkan kekasihnya.
Kresek! Krek! Pendekar Gila
cengengesan, mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering.
“Hi hi hi...! Rupanya ada babi
hutannya juga, Mei Lie!” tukas Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Mei Lie
melototkan mata gemas. Dicubitnya pinggang Sena, yang membuat Sena meringis.
“Cerewet! Diam dulu...!” sungut Mei
Lie dengan wajah cemberut. Pendekar Gila semakin cengengesan. Tetapi gadis
cantik itu, tidak cemberut lagi. Bahkan diam sambil tersenyum. “Diam! Nanti
mereka lari!”
“Aha, keluarlah kalian jika tidak
ingin kulempar dengan tanah!” seru Sena yang membuat Mei Lie mendengus kesal
bercampur geram.
Seketika dari balik semak-semak
muncul lima lelaki berpakaian coklat tua lengan panjang. Rambut mereka panjang,
diikat dengan kain membentuk segitiga. Namun wajah kelima lelaki berwajah
bersih itu tak menggambarkan kebengisan sebagaimana layaknya para penjahat. Ada
perasaan sabar tergambar di wajah mereka.
“Siapa kalian?!” tanya salah
seorang yang berkumis tipis.
“Aha, kami hanya petualang biasa.
Kami tak membawa apa-apa,” jawab Sena sambil tersenyum- senyum dan
menggaruk-garuk kepala. Kelima lelaki muda itu mengerutkan kening, menyaksikan
tingkah laku Pendekar Gila.
Sejenak Pendekar Gila dan Mei Lie
saling tatap dengan kelima lelaki berambut panjang itu.
“Kami adalah Lima Jelanga dari Sawo
Jajar. Apakah kalian utusan gerombolan Partai Kera Hitam yang ditugaskan untuk
mengejar kami?” tanya Jelanga Patra, yang merupakan orang tertua dari
kelimanya.
“Hi hi hi...! Apakah pantas kami
sebagai anak buah Partai Kera Hitam?” tanya Sena sambil tersenyum dan
menggeleng-geleng kepala. Lalu matanya memandang Mei Lie yang juga tersenyum
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kisanak, kami sendiri tak kenal
dengan gerombolan Partai Kera Hitam itu. Ah, mengapa kalian mesti takut pada
gerombolan itu?” tanya Mei Lie semakin tertarik ingin tahu.
“Hm, semua orang sepertinya merasa
takut pada gerombolan Partai Kera Hitam. Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya
Mei Lie dalam hati. Dirinya merasa heran karena sudah dua kali ini mendengar
Partai Kera Hitam disebut. Pertama di Desa Kranggan, ketika seorang gadis lari
ketakutan hendak diculik gerombolan dari Partai Kera Hitam. Dan sekarang,
kelima orang itu pun sepertinya takut dengan Partai Kera Hitam.
Kelima Jelanga dari Sawo Jajar
nampak belum percaya. Kelimanya memperhatikan dengan seksama, kedua muda-mudi
berada lima tombak di hadapannya. Mereka merasa pemuda itu mirip orang gila.
Sedang yang satu lagi seorang wanita yang tampaknya bukan bangsa pribumi.
“Benarkah kalian bukan orang-orang
Partai Kera Hitam?” tanya Jelanga Patri, seakan-akan ingin memastikan, kalau
kedua orang itu benar-benar bukan anggota Partai Kera Hitam yang terkenal ganas
dan kejam.
“Aha, kalian lucu sekali! Kalian
tampaknya tak percaya pada kami. Kalau begitu, lebih baik kami pergi. Ayo Mei
Lie!” ajak Sena dengan cengengesan.
Mendengar nama Mei Lie disebut,
kelima Jelanga dari Sawo Jajar membelalakkan mata. Kening mereka mengerut.
Sepertinya mereka sedang mengingat- ingat sesuatu. Ketika Mei Lie bersama
Pendekar Gila hendak melangkah pergi, Jelanga Kantra berseru.
“Bidadari Pencabut Nyawa Iblis,
tunggu...!” Pendekar Gila dan Mei Lie seketika tersentak kaget lalu menghentikan
langkah. Keduanya mengerutkan kening, mendengar seruan dari Jelanga Kantra,
yang menyebut gelar Mei Lie.
Kelima Jelanga dari Sawo Jajar
segera memburu Mei Lie dan Pendekar Gila. Mereka segera menjura hormat bersama.
Melihat sikap kelima lelaki yang belum dikenalnya itu Pendekar Gila
mengernyitkan kening. Namun mulutnya kembali cengengesan.
“Aha, kenapa kalian ini?” tanya
Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
“Maafkan kami! Terimalah hormat
kami! Sungguh hal yang bodoh dan tolol tak tahu kalau di hadapan kami telah
berdiri dua pendekar sakti,” ujar Jelanga Patra, sambil memimpin keempat
saudara seperguruannya memberi hormat.
“Aha, sudahlah! Tak perlu kalian
berlaku begitu. Kami manusia biasa seperti kalian,” ujar Sena tersenyum.
“Benar Kisanak sekalian. Tak perlu
Kisanak berlaku merendah seperti itu. Oh ya, kalau boleh kami tahu, siapa
Kisanak sekalian? Dan mengapa ada di dalam hutan?” tanya Mei Lie ingin tahu.
Jelanga Patra menghela napas
dalam-dalam seraya memejamkan mata, seakan-akan hendak menekan perasaannya.
Kemudian mulai menuturkan kenapa mereka berada di dalam Hutan Kenjer Kuning.
“Kami berlima sedang menjaga Ki
Rupaksi, guru kami yang terluka parah akibat bentrok dengan gerombolan dari
Partai Kera Hitam. Wanara ketua Partai Kera Hitam terus menginginkan para anak
buahnya mencari Kitab Ajian Dewa yang berada di tangan Ki Rupaksi...”
Pendekar Gila dan Mei Lie serta
keempat adik seperguruan Jelanga Patra terdiam. Di wajah kelima Jelanga dari
Sawo Jajar tampak kedukaan yang dalam.
“Akhirnya guru kami harus mengalami
luka dalam yang parah...,” lanjut Jelanga Patra. “Sedangkan Kitab Ajian Dewa
kini telah berpindah ke tangan Wanara...
Mei Lie tampak mengangguk-anggukkan
kepala, seakan memahami penuturan murid Ki Rupaksi itu. Sementara itu Pendekar
Gila hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Dengan luka dalam yang berat, guru
kami bawa ke tempat ini. Kami berusaha menolong guru, menyembuhkan luka dalam,
tetapi tak mampu. Lukanya terlalu berat. Kalau saja guru sudah bertemu dengan
Tuan, mungkin kematiannya akan tenang. Karena guru pernah berkata, akan sangat
menyesal jika mati belum bertemu dengan Pendekar Gila. Karena Ki Rupaksi merasa
berhutang budi, serta harus bertanggung jawab pada Pendekar Gila atas kitab
itu,” ujar Jelanga Patra mengakhiri ceritanya.
''Aha, kalau begitu Ki Rupaksi ada
di sini?” tanya Sena.
“Benar, Tuan Pendekar.” “Boleh kami
bertemu?” tanya Mei Lie. “Tentu saja, mari!” ajak Jelanga Patra. Mei Lei dan
Sena diantar kelima Jelanga dari Sawo Jajar memasuki Hutan Kenjer Kuning,
tempat Ki Rupaksi berada. Keduanya dibawa ke sebuah gubuk yang sangat
tersembunyi letaknya hingga sulit diketemukan orang Iain.
Di depan gubuk, terdapat empat
orang yang berpakaian merah muda lengan panjang dengan ikat kepala sama seperti
yang dipakai Lima Jelanga dari Sawo Jajar. Mereka langsung menjura dan memberi
jalan, ketika Pendekar Gila dan Mei Lei da tang.
Di sebuah pembaringan kayu seorang
lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun tampak terkulai lemas, itulah Ki
Rupaksi. Di dadanya yang tak tertutup nampak terdapat goresan-goresan hitam
seperti terbakar, karena terpukul ketika bertarung melawan anak buah Wanara.
Pendekar Gila dan Mei Lie mendekati
Ki Rupaksi yang tampak lemah sekali.
“Guru..., guru, kami datang,” bisik
Jelanga Patra.
Mata tua Ki Rupaksi perlahan-lahan
membuka. Kemudian memandang dengan tatapan kosong pada sang Murid yang
berjongkok di sampingnya.
“Ada... apa, Patra...?” tanya Ki
Rupaksi dengan uara berat dan lemah sekali. “Kau...! Oh..., apakah gerombolan...
itu datang...?”
“'Tidak, Guru. Kami membawa
Pendekar Gila,” bisik Jelanga Patra lirih.
“Pen..., dekar Gila?” tanya Ki
Rupaksi lirih. “Huk! Huk...!”
“Benar, Guru. Lihatlah...!” Jelanga
Patra pun menoleh pada kedua tamunya yang berdiri dua tombak dari pembaringan
sang Guru. Pendekar Gila yang mengerti maksud Jelanga Patra segera melangkah
mendekati Ki Rupaksi diikuti Mei Lie. Sesaat keduanya terdiam, menatapi wajah
lelaki tua itu. “Ki Rupaksi, apa yang terjadi?” tanya Sena.
“Pendekar... Gila..., huk...!
Benar..., kah kau Pendekar Gi..., la...?” tanya Ki Rupaksi dengan suara
terputus-putus. Tangannya memegangi dadanya yang terasa sakit.
“Aku muridnya, Ki,” jawab Pendekar
Gila pelan sambil mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan lewat
kerongkongannya. Hal itu dimaksudkan untuk memberi pendengaran Ki Rupaksi agar
jelas. Itulah ilmu 'Penyusup Suara'.
“O..., syukurlah kau akhirnya
datang...! Tetapi..., aku tak mampu menjaga kitab itu...,” keluh Ki Rupaksi
lirih, hampir tak terdengar, “Mereka..., mereka telah mengambilnya. Aku...
minta maaf, Pendekar Gila!”
No comments:
Post a Comment