Sunday, April 21, 2019

021 Kitab Ajian Dewa


KITAB AJIAN DEWA
Oleh Firman Raharja

1
Di pagi buta yang dingin suasana tampak remang- remang. Kabut merayap menyelimuti bumi. Dari kejauhan terdengar beberapa kali ayam jantan berkokok. Sementara itu pula, samar-samar ter- dengar derap langkah kaki-kaki kuda menembus keheningan pagi.
“Hea...! Hea...! Heaaa...!” Dari suara teriakan sang Pengendali, kuda-kuda itu tampaknya terus dipacu agar berlari lebih kencang.
Gemuruh kaki-kaki kuda itu semakin jelas ter- dengar. Ternyata dari arah timur tampak samar- samar sebuah kereta tengah melintas di jalan ber- batu, menuju Pegunungan Sasakan.
“Hea..., hea...!” Kusir kereta itu terus menggebah kuda-kudanya agar berlari semakin kencang. Lelaki berusia sakitar empat puluh lima tahun dengan wajah nampak lugu itu, sesekali menoleh ke belakang. Seakan ada sesuatu yang ditakutkan.
Kuda-kuda penarik kereta yang sedang merangkak di jalan menanjak itu sambil terus berlari, nampak kepayahan. Sesekali terdengar ringkikannya yang keras sambil terus berlari perlahan-lahan.

“Hea, hea, hea...!” Sang Kusir terus berteriak sambil menghentak- hentakkan tali kekang di tangannya. Kereta beroda empat itu ternyata mengangkut seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun yang memangku putranya. Wajah wanita cantik berpakaian merah jingga itu menggambarkan kedukaan yang bercampur dengan rasa takut. Seolah-olah ada sesuatu yang tengah dicemaskan dalam hatinya.
“Hhh...! Aku tak habis pikir, kenapa ketiga lelaki itu menghabisi nyawa suamiku secara kejam,” gumam wanita itu dalam hati. “Tapi, kalau aku tak salah dengar, tadi mereka menanyakan tentang sebuah kitab. Kitab...? Kita apa yang mereka ributkan itu...? Setahuku Kakang Karto Pari tak pernah berbuat jahat. Suamiku lelaki yang baik...”
Wanita itu terus bergelut dengan pikirannya sendiri. Semetara itu kereta berkuda yang tengah melintas di jalan terjal dan berbatu-batu, tampak terguncang ke kanan dan kiri.
“Nyi...! Nyi Ambar...!” terdengar suara sang Kusir memanggil wanita di dalam kereta itu.
“Ada apa, Kakang Trenggana...?” sahut wanita yang dipanggil Nyi Ambar. Wanita itu masih memeluk bocah berusia lima tahunan di pangkuannya. “Ya, ya..., aku tahu! Aku masih mengawasi terus ke belakang,” ujarnya.
Ambar Sari memang tetap terus mengawasi ke belakang. Hatinya khawatir kalau para lelaki yang telah membunuh suaminya akan mengejar kereta itu.
“Ibu, hendak ke manakah kita?” tanya bocah kecil itu sambil menatap wajah ibunya penuh perhatian.
“Entahlah, Purbaya... Mungkin Trenggana akan membawa kita ke rumah pamanmu,” jawab sang Ibu lirih dengan tatapan penuh kasih.
“Masih jauhkah rumah paman dari sini, Bu...?” tanya bocah kecil yang ternyata bernama Purbaya itu. Wajahnya yang mungil tampak cemas, seperti juga sang Ibu yang terus memeluknya penuh kasih.
“Masih, Anakku! Mungkin setengah hari perjalanan lagi,” sahut Ambar Sari.
Ambar Sari masih memeluk anaknya sambil sesekali menoleh ke belakang dengan pandangan cemas. Hatinya takut kalau ketiga orang yang mengejarnya akan terus mengikuti.
Di depan, kusir kereta bernama Trenggana itu terus beruaha menjalankan kereta melalui jalan yang menanjak.
Kini kereta itu melaju, menelusuri jalanan yang tidak rata. Jalanan berbatuan yang sangat sulit untuk dilintasi. Tetapi Trenggana terus berusaha mengen- dalikan kuda-kuda itu dengan sebaik mungkin. Di wajahnya masih tergambar perasaan takut, kalau ketiga orang yang mengejarnya akan dapat menyusul kereta mereka.
“Hea, hea, heaaa...!” “Kakang Trenggana, tak dapatkah kau percepat sedikit lagi lari keretanya?” tanya Ambar Sari sambil membelai-belai rambut Purbaya, ketika tiba-tiba matanya melihat tiga lelaki penungang kuda tengah mengejar kereta itu. Seketika hatinya tersetak kaget
“Kakang Trenggana..., lihatlah di belakang! Mereka mengejar kita, Kang.”
Tanpa banyak kata, Trenggana segera menghentak tali kekang kuda. Setelah dicambuk dua kali binatang-binatang itu langsung berlari lebih kencang.
“Hea, hea, heaaa...!” Trak! Trak...! Ketika sampai di jalan yang agak rata, kuda-kuda penarik kereta itu berlari kian kencang. Sementara itu ketiga lelaki berwajah beringas yang memburunya, terus menggebah kuda-kuda tunggangan mereka.
“Hea, hea...!”
Suara teriakan mereka terdengar ditingkahi gemuruh dan bunyi gemeretak bebatuan kecil, tersepak kaki-kaki kuda. Kabut tipis yang menyelimuti jalan berbatu di Pegunungan Sasakan serta hawa dingin yang menusuk tulang sumsum tak mereka hiraukan. Ketiga lelaki berwajah beringas itu terus menggebah kuda mereka, mengejar kereta yang sudah mulai tampak di depan.
Kereta yang ditarik dua ekor kuda itu terus melaju dengan cepat. Kini kereta itu tampak semakin bertambah cepat, karena jalanan mulai menurun.
“Hea, hea...!” Namun kenyataan pahit tetap harus dialami keluarga Kerto Pati. Betapapun kuda-kuda penarik kereta itu dapat berlari kencang, tetap tak mampu menandingi kecepatan ketiga kuda di belakang. Sehingga, pada sebuah tikungan jalan yang cukup tajam ketiga lelaki yang mengejar berhasil menyusul. Bahkan akhirnya mereka menghadang di depan kereta itu.
“Hop...!” “Ha ha ha...!” “Kenapa kalian menghadang kami?!” tanya Ambar Sari dengan suara membentak. Matanya melotot menatap ketiga lelaki bermuka garang yang masih duduk di punggung kuda.
“He he he...! Kau tampak semakin cantik jika marah begitu, Ambar. Hm...! Menyenangkan sekali. Mungkin di atas ranjang pun kau akan segalak itu. He he he...!” gumam lelaki berkepala botak dan ber- hidung mancung. Alis matanya yang tebal bergerak- gerak ke atas. Dengan senyum nakal lelaki bernama Watu Gunung itu menatap penuh nafsu pada Ambar Sari.
“Ambar! Katakan, di mana kau simpan Kitab Ajian Dewa?” tanya lelaki bertubuh gempal.
“Orang-orang tua tak tahu malu!” suara bentakan terdengar dari mulut Purbaya yang masih dalam pelukan sang Ibu. Bocah kecil itu sepertinya tak merasa takut sama sekali. Bahkan matanya yang indah tampak menatap penuh kebencian pada ketiga lelaki garang di depan keretanya. “Telah kalian bunuh ayah. Kini, kalian menghadang kami! Apa sebenarnya yang kalian inginkan dari kami?!”
Ketiga lelaki berwajah garang itu tersentak kaget mendengar bentakan Purbaya. Mereka tak menyangka, kalau bocah sekecil itu akan berani. Bahkan sedikit pun tak tampak rasa takut di wajah mungil bocah itu.
“He he he...! Kau terlalu berani, Bocah?” sentak lelaki bermata sipit dan berkumis melintang. Lelaki berpakaian seperti kulit harimau itu melotot tajam pada Purbaya.
“Ambar! Katakan, di mana kitab itu kau simpan! Atau anakmu akan kulempar ke dasar jurang itu!” ancam lelaki berkepala botak yang ternyata bernama Sodra.
Mendengar pertanyaan Sodra, seketika Ambar Sari terdiam. Dia berusaha mengingat-ingat kitab macam apa. Dia memang pernah mendengar dari Kerto Pati, suaminya tentang sebuah kitab yang dititipkan oleh Pendekar Gila, yang katanya kitab itu harus diberikan pada murid dari Pendekar Gila itu. Sejak saat itulah, Pendekar Gila menghilang.
“Mungkinkah kitab itu yang ditanyakan mereka?” tanya Ambar Sari dalam hati.
“Aku tak tahu!” sentak Ambar Sari sengit “He he he...! Kami tak percaya. Bagaimanapun, kau istri Kerto Pati. Kau tentu tahu di mana suamimu menyimpan kitab itu!” tukas Lombang lelaki berusia empat puluhan yang mengenakan pakaian ungu.
“Terserah kalian! Yang pasti, aku tak tahu tentang kitab yang kalian kehendaki itu!” bentak Ambar Sari tanpa rasa takut sedikit pun. Tangannya mendekap tubuh Purbaya, berusaha melindungi sang Anak dari ancaman ketiga lelaki bertampang beringas itu.
“Ha ha ha...!” Ketiga lelaki bermuka garang itu tertawa terbahak- bahak. Kemudian melompat dan segera mendekati kereta.
Melihat gelagat yang tidak menguntungkan. Trenggana yang tak ingin majikannya celaka tampak geram dan marah. Dengan berani, kusir kereta itu melompat lalu menatap wajah Sodra.
“Hea!” Sodra yang tak menduga akan mendapat serangan mendadak itu tersetak kaget Dia berusaha mengelakkan serangan dengan memiringkan tubuh ke samping kiri. Namun tak urung dagunya terkena tendangan Trenggana.
Begkh! “Ukh! Setan! Kau mencari mati, Kusir Keparat!” dengus Sodra dengan tubuh terhuyung-huyung ke belakang. Mulutnya meringis kesakitan.
Melihat temannya diserang dengan dahyat, Lombang dan Watu Gunung menggeram sengit. Keduanya segera berlari mengejar Trenggana yang telah siap berdiri tegak.
“Kusir keparat! Rupanya kau mencari mampus!” dengus Lombang geram. Mata lelaki berpakaian seperti kulit macan itu melotot marah.
“Kupecahkan batok kepalamu, Kusir Keparat!” bentak Watu Gunung sambil melesat melancarkan pukulan tangan kanan ke tubuh Trenggana.
“Hih?! Uts...!” dengan cepat Trenggana menggeser kaki kanan ke samping. Kemudian diikuti dengan me- miringkan tubuh. Namun hampir bersamaan dengan gerakan itu Trenggana melancarkan sebuah ten- dangan kaki kiri.
Wut! “Uts!” dengan cepat Watu Gunung mengelit. Sementara itu kaki kirinya melancarkan sebuah tendangan keras, dilanjutkan dengan jotosan tangan kanan ke dada Trenggana.
“Hih! Heaaa...!” Pertarungan Trenggana melawan ketiga orang yang mengeroyoknya bertambah seru. Ternyata kusir kereta itu bukan orang sembarangan. Badannya yang kurus, dengan gesit berkelebat ke sana kemari mengelakkan serangan ketiga lawannya.
Melihat Trenggana memberi isyarat agar Ambar Sari dan anaknya pergi. Wanita itu tak menyia- nyiakan waktu. Diajaknya Purbaya pergi meninggal- kan tempat itu.
“Ayo Purbaya, kita harus secepatnya meninggalkan tempat ini!” ajak Ambar Sari sambil menggandeng tangan anaknya pergi meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana dengan Paman Trenggana, Bu? Kasihan dia sendirian. Nanti dibunuh ketiga orang jahat itu,” ujar Purbaya berusaha berhenti. Tetapi Ambar Sari terus menarik tangannya. Bocah itu terus menoleh ke belakang, meyakinkan pertarungan antara Trenggana dengan ketiga lelaki bermuka bengis itu sampai di mana.
“Biarlah, Purbaya! Paman Trenggana telah menyuruh kita segera pergi,” kata Ambar Sari sambil terus menggandeng tangan anaknya agar mengikuti langkahnya.
“Tapi, Bu. Kita harus menolongnya!” “Tidak mungkin, Anakku. Kita tak memiliki kekuatan untuk melawan mereka. Ayo cepat...!” ajak Ambar Sari sambil menarik tangan Purbaya yang hendak berhenti.
Dengan masih menoleh ke tempat pertarungan antara Trenggana dan ketiga orang bermuka bengis itu, Purbaya pun mengikuti langkah kaki ibunya. Kedua ibu dan anak itu dengan tergesa-gesa berlari. Kaki Purbaya tampak terseret-seret mengikut langkah sang Ibu. Mereka terus berlari ke selatan menuju hutan belantara Gandracupa yang membentang seperti menutupi Pegunungan Sasakan.
***

Pertarungan antara Trenggana melawan ketiga orang pengeroyoknya masih berjalan seru. Sang Kusir yang nampak lugu dan bodoh, ternyata mampu bertahan dari gempuran ketiga lelaki bengis itu. Malah terkadang dia mampu balas menyerang dengan tak kalah cepat. Tangannya bergerak memukul ke sana kemari. Disusul dengan tendangan- tendangan keras kedua kakinya.
Ketiga lawannya yang tidak menyangka akan menemukan lawan cukup tangguh itu, tersentak kaget. Mereka tak menduga sama sekali kalau kusir kereta itu memiliki ilmu silat yang cukup tinggi.
“Kurang ajar! Punya isi juga kau, Kusir Keparat!” dengus Sodra sengit. Kemudian dengan cepat, direntangkan kedua tangannya ke atas dengan jari- jari membentuk paruh menghadap ke bawah. Itulah jurus 'Paruh Gagak Mematuk'. Sesaat kemudian kedua tangan yang masih membentuk paruh itu bergerak begitu cepat menyerang ke seluruh bagian tubuh Trenggana.
Namun, Trenggana yang mendapat serangan ganas itu tak tampak gugup. Dengan cepat diegoskan kakinya dan memiringkan tubuh ke kanan dan kiri menghindari serangan yang dilancarkan Sodra.
Wrt! “Hait! Hih...?!” dengan cepat Trenggana melancar- kan tendangan keras yang menjadikan lawan ter- sentak kaget. Sodra berusaha mengelit, tetapi dengan cepat Trenggana kembali melancarkan serangan dengan kaki kirinya. Begitu cepat tendangan susulan itu, membuat Sodra tersentak kaget. Lelaki berpakaian merah tua hendak bergerak menghindar tetapi terlambat. Tendangan kaki kiri Trenggana yang tak terduga, menghantam telak di janggutnya.
Degkh! “Ukh!” Sodra terpekik. Kepalanya terdongak ke belakang dengan darah meleleh dari sela bibirnya. Tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang dengan mulut meringis-ringis menahan sakit.
“Kurang ajar! Kubunuh kau, Kusir Keparat!” dengus Watu Gunung seraya melesat maju menyerang dengan pukulan telapak tangan kanan yang disebut 'Telapak Naga'.
“Heaaa...!” Tangan kanan Watu Gunung bergerak cepat, menyerang ke dada Trenggana. Namun, dengan cepat Trenggana memiringkan tubuh ke samping kiri. Lalu dengan cepat pula, menangkis dengan tangan kanan. Bersamaan dengan itu kaki kanannya melancarkan tendangan keras.
“Hea!” Trak! Wrt! Tendangan kaki kanan Trenggana melesat ke dada lawan. Namun dengan cepat Watu Gunung segera mundur selangkah. Kemudian digerakkan tangan kirinya memapak serangan, disusul sebuah pukulan keras tangan kanan ke dada lawan.
Prak! “Hea!” “Hih!” Melihat lawan bergerak cepat memapak serangan- nya, Trenggana tak tinggal diam. Tangannya segera menangkap serangan balasan yang dilakukan Sodra.
Wrt! Trep! Tangan keduanya saling pegang, berusaha menarik tubuh lawan. Namun kekuatan keduanya tampak berimbang. Keduanya segera melanjutkan serangan dengan kedua kaki. Sementara tangan mereka masih saling berpegangan, lalu men- cengkeram pergelangan tangan lawan masing- masing.
“Hea!” Trenggana berusaha membetot tangannya yang berada dalam cengkeraman Watu Gunung. Sedangkan kaki kanannya bergerak menendang. Namun dengan kuat, Watu Gunung tetap men- cengkeram tangan lawan. Sementara itu kaki kirinya bergerak memapaki tendangan kaki Trenggana.
“Hea!” Trak! Dua kaki saling beradu, namun keduanya masih terus mencengkeram tangan. Trenggana berusaha menghentakkan sikunya ke muka Watu Gunung. Namun Watu Gunung segera balas menyikut ke wajah Trenggana.
Melihat keduanya masih terus bertarung dengan cara seperti itu. Sodra dan Lombang yang sudah tak sabar segera mencabut pedang dari warangkanya. Mata mereka menatap penuh kebengisan pada Trenggana.
Srt! Srt! “Mampuslah kau, Kusir Keparat! Heaaa...!” Sodra melesat dengan pedang siap menusuk ke punggung Trenggana. Sedangkan Lombang kini bergerak dari arah samping. Pedang di tangan kanannya, menebas ke leher Trenggana.
Melihat kedua lawannya melakukan serangan dari belakang, Trenggana sekali lagi berusaha melepaskan cengkeraman tangan Watu Gunung. Kaki-kakinya terus bergerak menendang kaki Watu Gunung. Namun nampaknya Watu Gunung tak mau melepas- kan cengkeramannya pada tangan Trenggana. Sementara kakinya juga terus menangkis tendangan Trenggana. Trak! “Hih! Heaaa...!” sambil berteriak keras Trenggana berusaha membanting tubuh lawan sambil mem- bungkuk. Namun pertahanan lelaki berpakaian ungu itu, tampak begitu kuat. Sehingga meskipun telah mengerahkan seluruh kemampuannya Trenggana tak berhasil membanting tubuh Watu Gunung. Tubuhnya mulai basah karena keringat yang bercucuran. Sementara kedua lawannya yang lain telah berada semakin dekat untuk melakukan serangan.
“Yeaaa...!” “Heaaa...!”
Sodra dan Lombang telah siap melakukan serangan dengan pedang di tangan masing-masing.
“Celaka...!” pekik Trenggana semakin tegang, menyaksikan kedua lawannya semakin bertambah cepat memburu dirinya. Pedang di tangan mereka yang berkilat tajam, bagaikan siap memenggal kepala serta tubuhnya. Dikerahkan seluruh tenaga dalam- nya, tetapi cengkeraman Watu Gunung benar-benar kuat.
“Heaaa...!” Wrt! Sodra dan Lombang melancarkan serangan cepat dengan membabatkan pedang.
Cras! Jrab! “Akh...!” tanpa ampun lagi, leher dan punggung Trenggana tertebas dan tertusuk pedang kedua lawannya. Kusir yang malang itu, limbung dengan darah mengucur membasahi tubuhnya. Sesaat kemudian tubuhnya ambruk dan tak berkutik lagi.
“Hm, akhirnya mampus juga kusir tolol ini,” dengus Watu Gunung sambil menendang tubuh Trenggana yang terkulai berlumuran darah.
Ketiga lelaki berwajah beringas itu tertawa ter- bahak-bahak, menunjukkan kesombongan. Mereka seperti melupakan Ambar Sari dan Purbaya yang lari dari tempat itu. Dengan kuat Watu Gunung me- nendang mayat Trenggana ke jurang.
“Hua ha ha...! Kini tak ada lagi yang menghalangi kita untuk menanyai Ambar,” ujar Lombang. Namun seketika matanya membelalak, ketika mengawasi ke dalam kereta yang telah kosong. “Hai, ke mana Ambar?!”
“Hah?! Dia telah pergi. Kurang ajar...! Kita harus cari dia!” dengus Sodra seraya melesat pergi ke timur diikuti kedua tangannya. Mereka hendak mengejar Ambar Sari dan anaknya. ***

2
Ambar Sari yang menggandeng Purbaya terus berlari berusaha menyelamatkan diri dari kejaran orang- orang jahat yang telah membunuh Kerto Pati. Wanita cantik berpakaian merah jingga itu seperti tak kenal lelah, terus menggandeng tangan anaknya. Padahal napasnya telah tersengal-sengal setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
“Ayo Purbaya! Kita harus cepat agar mereka tak dapat mengejar kita,” ajak Ambar Sari terus menyeret tangan anaknya. Sementara Purbaya yang masih kecil itu tampak terengah-engah dan kelelahan mengikuti lari sang Ibu yang terus menyeretnya, karena ketakutan.
“Bu, kenapa sih mereka mengejar kita dan mem- bunuh ayah?” tanya Purbaya dengan suara tersengal- sengal sambil terus berlari. Wajah bocahnya tampak penasaran. Hatinya bingung kenapa para penjahat itu membunuh sang Ayah lalu mengejar ibunya.
“Mereka memang orang jahat, Anakku. Cepatlah, jangan banyak tanya dulu tentang hal itu yang penting kita harus segera sampai di rumah pamanmu,” ajak Ambar Sari sambil terus menggandeng tangan Purbaya. Kedua ibu dan anak itu kini tengah melintasi semak-semak di hutan yang membentang di kaki Pegunungan Sasakan.
“Mengapa mereka jahat terhadap kita, Bu? Bukan- kah kita tak pernah bersalah pada mereka?” tanya bocah berpakaian rompi biru tua itu sambil terus melangkah. Bocah kecil itu menatap wajah sang Ibu yang tampak diliputi rasa cemas. Kening Purbaya mengerut, karena belum juga mengerti, mengapa ibunya tampak ketakutan. Dalam hatinya terbersit sebuah pertanyaan. Mengapa orang-orang itu mem- bunuh ayahnya dan kini mengejar mereka?
“Kau belum mengerti, Anakku. Mereka memang orang jahat yang sangat kejam. Sudahlah, ayo kita teruskan!” ajak Ambar Sari sambil terus meng- gandeng tangan anaknya.
“Tapi, Bu. Kakiku sakit sekali. Aku ingin istirahat dulu di sini,” pinta Purbaya sambil meringis menahan rasa sakit. Ternyata telapak kakinya tertusuk onak dan duri. Tampak darah menetes dari telapak kaki bocah itu.
Ambar Sari semakin bingung. Bagaimanapun diri- nya harus segera meninggalkan tempat itu. Namun, anaknya nampak sangat letih, setelah berjalan hampir setengah hari.
Mata Ambar Sari menatap ke sekelilingnya, takut kalau ketiga orang penjahat itu mengejarnya.
“Hhh...! Haruskah aku memberi tahu, di mana Kitab Ajian Dewa berada?” gumam Ambar Sari dalam hati. “Tetapi Kangmas Kerto Pati menyuruhku agar tidak memberitahukannya. Namun jika aku tidak memberi tahu, aku takut mereka akan terus mengejarku.”
“Bu, mengapa Ibu termenung? Ibu memikirkan ayah...?” tanya Purbaya dengan mata menatap tajam wajah ibunya. Bocah kecil itu seakan merasa kasihan melihat kesedihan dan ketakutan sang Ibu karena kematian ayahnya.
“Ah, tidak..., Ibu tidak apa-apa. Kita lanjutkan ya, Sayang?” ajak sang Ibu sambil menggandeng tangan Purbaya untuk meneruskan perjalanan.
“Bagaimana dengan Paman Trenggana, Bu?” “Entahlah. Kita harus memikirkan nasib kita, Anakku.”
“Apakah paman juga dibunuh seperti ayah, Bu?” “Entahlah, Anakku. Ibu tak tahu yang penting harus selamat. Itu yang ibu pikirkan. Ayo...!” ajak Ambar Sari sambil terus menggandeng tangan anak- nya. Bocah kecil itu menurut. Meski kakinya sakit lertusuk onak dan duri, Purbaya tetap saja me- langkah. Sepertinya anak itu mengerti keadaan. Namun baru beberapa langkah keduanya berjalan, tiba-tiba....
“He he he...! Mau lari ke mana kau, Ambar?!” di hadapan mereka, telah berdiri tiga lelaki bermuka garang.
“Orang jahat! Mengapa kalian mengejar kami?!” bentak Purbaya lantang. Bocah kecil itu sepertinya tak takut sama sekali pada ketiga orang yang meng- hadangnya. Matanya menatap tajam wajah ketiga lelaki di hadapannya.
“Bocah sontoloyo! Lancang mulutmu. Kalau saja kau sudah besar. Hhh...! Kurobek mulutmu!” bentak Watu Gunung garang. Gigi-giginya bergemerutuk menahan marah, mendengar bentakan bocah kecil itu. “Sabar, Watu Gunung! Kita tidak perlu mereka. Yang kita perlukan hanya Kitab Ajian Dewa,” tukas Lombang berusaha menenangkan Watu Gunung. Kemudian dengan bibir mengurai senyum yang dibuat-buat. Lelaki berpakaian kulit harimau itu melangkah mendekati Ambar Sari.
“Ambar, katakan-lah di mana suamimu menyim- pan Kitab Ajian Dewa!” ujarnya perlahan.
“Sudah kukatakan, aku tak peduli dengan kitab yang kau maksudkan. Aku tak tahu!” jawab Ambar Sari sambil memegangi tangan Purbaya, agar anak itu tak jauh-jauh dari dirinya.
Ketiganya tertawa terkekeh-kekeh. Mata mereka yang garang, menatap tajam kedua ibu dan anak yang masih berdiri sekitar tiga tombak di hadapannya. Sementara Ambar Sari dan Purbaya menatap penuh kebencian pada ketiga lelaki beringas itu yang telah membuat mereka menderita.
“He he he...! Masihkah kau tak mau mengatakan di mana kitab itu disimpan, Ambar?” tanya Sodra dengan senyum sinis mengembang di bibirnya. Lelaki itu kemudian memerintahkan dengan isyarat kepala pada kedua temannya agar menangkap Purbaya.
Purbaya yang melihat kedua orang jahat itu hendak menangkap dirinya, segera melepaskan diri dari genggaman ibunya. Kemudian dia mendahului memburu kedua orang yang hendak menangkap. Ingatan Purbaya kembali melayang pada sang Ayah yang pernah mengajarinya ilmu silat. Sehingga bocah kecil yang cerdas itu, berusaha melakukan apa yang pernah diajarkan Kerto Pati. Apalagi saat ini, dirinya dalam keadaan terancam bahaya. Nalurinya sebagai seorang bocah, seakan menuntunnya untuk nekat melakukan sesuatu.
“Bocah setan!” maki Watu Gunung geram, ketika secara tak terduga Purbaya menyeruduk ke tubuhnya. Hampir saja dirinya terjengkang, kalau tidak dengan segera mengelit ke samping kiri. Kemudian dengan penuh kegeraman, Watu Gunung dan Lombang segera memburu bocah kecil itu.
“Hea!” Purbaya dengan cepat menubruk kedua lelaki yang hendak menangkap tubuhnya. Sehingga Watu Gunung dan Lombang saling bertubrukan satu sama lain. Brukkk! “Aduh!” “Akh...!” Tubuh kedua lelaki itu terjengkang dengan mulut meringis kesakitan. Melihat Purbaya yang tampak tersenyum dan cengengesan Watu Gunung dan Lombang semakin geram dan marah.
“Bocah setan! Kuhancurkan kepalamu!” dengus Lombang seraya bangkit dari duduknya. Lalu dengan menggeram. Lombang dan Watu Gunung kembali memburu Purbaya. Kedua lelaki bertampang seram itu tampak sangat bemafsu untuk menangkap bocah kecil yang berani mengejek mereka.
Sementara itu, Sodra tampak mendekati Ambar Sari. Matanya yang beringas, menatap tajam wajah Ambar Sari yang semakin ketakutan. Mata lelaki berpakaian ungu itu tak hanya menggambarkan keberingasan semata, tetapi juga diliputi nafsu yang membara terhadap kecantikan Ambar Sari.
“He he he...! Sebentar lagi anakmu akan mati di tangan kedua temanku. Dan kau..., he he he...! Kau akan bersenang-senang denganku, Ambar. Tetapi jika kau mau mengatakan di mana Kerto Pati menyimpan Kitab Ajian Dewa, maka kau dan anakmu akan selamat,” ujar Sodra seraya tertawa terkekeh-kekeh. Kakinya melangkah mendekati Ambar Sari. Wanita cantik itu melangkah mundur dengan mata menatap penuh kebencian pada Sodra.
“Jangan...! Jangan lakukan itu!” pinta Ambar Sari sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya yang sayu tampak membelalak ketakutan. Apalagi ketika melihat Purbaya yang masih diburu kedua lelaki yang tampak begitu marah dan bernafsu meringkusnya.
“He he he...! Kau dan anakmu akan kami lepas- kan, asalkan kau mau mengatakan di mana Kitab Ajian Dewa itu disembunyikan suamimu,” Sodra dengan mulut masih menyeringai, tersenyum sinis dan memandang dengan tatapan garang.
“Sungguh, aku tak tahu.” “Bohong!” bentak Sodra sambil terus melangkah mendekati Ambar Sari yang kian mundur ketakutan.
Matanya terpicing memandang wajah wanita cantik yang kian merasa tegang itu. “Kau istrinya, kau tentu tahu di mana Kerto Pati menyimpan kitab itu!”
“Kitab itu bukan milik kalian! Kitab itu memiliki si Gila yang dititipkan pada suamiku yang akan disampaikan pada murid atau cucu murid si Gila dari Goa Setan,” tukas Ambar Sari berusaha menjelaskan, bahwa Sodra dan kedua temannya tak berhak atas kitab pusaka itu.
“He he he...! Kau tahu kalau kitab itu milik si Gila. Bukankah Kerto Pati yang memberi tahu? Suamimu pun tentu memberi tahu, di mana kitab itu dia sembunyikan, bukan...?” tanya Sodra sambil terus melangkah mendekati Ambar Sari. Wanita itu semakin melangkah mundur ketakutan. Matanya membelalak tegang, ketika menyadari dirinya telah berada di tepi jurang yang sangat dalam.
Melihat Ambar Sari dalam keadaan tegang, Sodra semakin terkekeh. Dia tahu kalau wanita itu kini dalam keadaan panik, karena kakinya telah berada di tepi jurang.
“He he he...! Mau ke mana kau, Manis? Sebaiknya kau katakan di mana kitab sakti itu,” pinta Sodra dengan senyum sinis masih menghias di bibirnya. Matanya melotot menatap dengan menelengkan kepala meledek Ambar Sari yang tampak semakin ketakutan.
“Tidak! Aku tidak tahu...!” seru Ambar Sari sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rasa tegang dan panik, tergambar jelas di wajahnya yang kuning langsat dan bersih. Kepalanya sesekali menoleh ke belakang. Tampaklah jurang dalam dan terjal mem- bentang. Lalu kembali menatap wajah Sodra yang masih berdiri lima tombak di hadapannya.
Namun sepertinya Sodra merasa khawatir, kalau Ambar Sari akan nekat terjun ke jurang. Kalau hal itu terjadi, tak ada lagi kesempatan baginya untuk menikmati tubuh bahenol wanita itu. Dan yang jelas dia akan kehilangan jejak untuk mencari Kitab Ajian Dewa yang disembunyikan Kerto Pati.
Sementara itu, Purbaya masih terus berusaha melepaskan diri dari kejaran kedua orang yang terus berusaha menangkapnya. Anak itu semakin ber- tambah jauh dari Ambar Sari, sang Ibu yang bagaikan telor di ujung tanduk. Berdiri membelakangi jurang terjal yang dalam. Sementara di hadapannya Sodra, bagaikan harimau lapar yang siap menerkam mangsa.
Lombang dan Watu Gunung terus berlari mengejar Purbaya yang lari ke selatan, jauh dari Hutan Gandracupa.
“Mau lari ke mana, Bocah Setan!” dengus Watu Gunung sambil terus mengejar Purbaya yang terus berlari berusaha menyelamatkan diri. Kini ketiganya sampai ke Lembah Karangkati. Lembah yang sangat angker dan terkenal sebagai lembah maut. Banyak tulang-belulang tampak berserakan di sana-sini, menambah suasana Lembah Karangkati semakin menyeramkan.
Dengan sekuat tenaga Purbaya terus berlari. Dirinya tak peduli dengan pemandangan yang tampak di depan mata. Baginya yang penting dapat menyelamatkan diri dari pengejaran kedua lelaki jahat itu. Bocah kecil itu bagaikan tak merasa takut sedikit pun. Hanya sesekali kakinya tampak ber- jingkat, setiap kakinya menendang atau menginjak tulang-belulang yang berserakan. Kemudian dengan telapak tangan, Purbaya menutup hidungnya dari bau busuk yang menyengat sambil terus menelusuri Lembah Karangkati.
“Heh?! Bocah itu lari ke Lembah Karangkati!” pekik Lombang dengan mata membelalak.
“Bocah setan! Berani sekali dia lari ke lembah itu. Huh, mampuslah kau di situ, Bocah!” dengus Watu Gunung dengan mata tak kalah membelalaknya. Dirinya tahu kalau lembah itu merupakan tempat yang angker. Lembah yang dihuni entah makhuk seperti apa. Yang jelas selama ini belum ada orang yang bisa selamat di lembah itu.
“Apakah tidak kita kejar saja bocah itu, Kakang?” tanya Lombang bimbang. Matanya tak lepas mengawasi Lembah Karangkati yang terbentang di bawahnya. Sedangkan si bocah kecil Purbaya terus berlari ke tengah-tengah lembah.
“Huh, mau mencari mampus! Biarkan saja bocah setan itu mampus di sana! Ayo kita temui Sodra!” ajak Watu Gunung sambil melangkah meninggalkan Bukit Katesan yang memisahkan Hutan Gandracupa dengan Lembah Karangkati di bawahnya!
***

“He he he...! Anakmu sudah mati, Ambar Sari. Menyerahlah! Lebih baik kau mau jadi istri ketua kami. Ketua kami tentu akan merasa senang jika kau menjadi istrinya,” ujar Sodra berusaha membujuk Ambar Sari. Maksudnya agar wanita itu tak nekat bunuh diri terjun ke jurang.
“Tidak! Tidak mungkin...! Oh, Purbayaaa..., hu hu hu...! Kalian jahat! Kalian bajingan! Bunuh aku sekalian! Bunuuuh...!” Ambar Sari berteriak sejadi- jadinya, setelah mendengar anaknya mati. Seketika tubuhnya lemas. Gairah untuk hidup kini hilang. Baginya tak ada lagi artinya hidup, kalau sudah tak punya siapa-siapa lagi. Tak punya suami. Tak punya anak yang sangat dicintai dan menjadi tumpuan hidup setelah sang Suami tewas terbunuh.
Ambar Sari merasakan dunia tiba-tiba berubah gelap. Tanah yang dipijaknya serasa bergoyang cepat. Tubuhnya limbung. Namun, sebelum tubuhnya jatuh, dengan cepat Sodra melompat menangkapnya. Maka Ambar Sari pun jatuh pingsan dalam pelukan lelaki berpakaian merah itu.
“Bagaimana anak itu?” tanya Sodra. “Dia lari ke Lembah Karangkati,” sahut Watu Gunung.
“Hm... Mencari mati,” gumam Sodra. “Apakah tidak kita buktikan lagi?” tanya Lombang. “Untuk apa? Kita tak perlu bocah itu. Yang kita perlukan Kitab Ajian Dewa. Dan yang tahu hanya Ambar Sari. Lagi pula, Wanara pasti akan senang jika kita beri Ambar Sari sebagai istrinya,” tutur Sodra sambil tersenyum. Matanya memperhatikan seluruh lekuk tubuh wanita cantik itu dengan penuh nafsu. Apalagi ketika menatap bibir ranum milik Ambar Sari. Jantungnya terasa berdebar keras. Hasrat kelelakiannya bergejolak hebat bagaikan air mendidih.
“Sebelum diserahkan pada Wanara, sebaiknya kita dulu yang mencicipinya, Sodra!” usul Watu Gunung sambil meleletkan lidahnya. Dirinya pun merasakan gejolak birahi yang menggelegar di dalam liwanya.
“Benar! Lebih baik kita dulu yang mencicipinya!” sambung Lombang.
Ketiganya tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian mereka pun menggarap tubuh Ambar Sari di tempat yanga sepi dan tidak memungkinkan untuk dilalui orang. Mereka bergantian melakukannya dengan kepuasan.
Ambar Sari yang diperkosa ketiga lelaki itu, hanya dapat mengeluh dan merintih kesakitan. Sampai akhirnya, tubuhnya kembali terkulai pingsan.
Setelah puas memperkosa tubuh Ambar Sari dengan gelak tawa Sodra, Watu Gunung, dan Lombang segera menggebah kuda meninggalkan Pegunungan Sasakan. Mereka membawa Ambar Sari untuk diserahkan kepada Wanara.
Sementara itu, Purbaya yang berada di Lembah Karangkati nampak kebingungan. Dari empat penjuru angin, muncul kabut hitam yang pekat. Kemunculan kabut-kabut hitam itu diikuti hembusan angin kencang dan dingin serta suara-suara yang sangat aneh. Hal itu membuat bocah itu ketakutan. Matanya terbelalak menatap ke sekelilingnya yang kini semakin menyeramkan.
“Oh, apa yang akan terjadi di sini? Semuanya gelap. O, Jalan yang tadi kulalui, kini tertutup kabut. O, ibu, apa yang terjadi padamu?” keluh Purbaya kebingungan. Matanya semakin membeliak tegang, menatap kabut hitam yang seperti mengepung tubuhnya.
“Hua ha ha...! Nyem nyem nyem...!” dari dalam kabut-kabut hitam itu, keluar suara tawa keras menggelegar. Suara tawa yang membuat bulu kuduk Purbaya meremang berdiri. Tengkuknya terasa dingin, kaku karena takut.
Mata Purbaya terus mengawasi dengan rasa takut ke sekitarnya tampak sunyi mencekam. Hanya kabut hitam saja yang terus mendekat dan mengepung dirinya. Seakan kabut-kabut hitam yang tadi mengeluarkan suara itu, hendak mencengkeram tubuhnya yang kecil.
“Makhluk yang ada di dalam kabut, kalau kau mau memangsaku, mangsalah! Mangsalah aku...!” tantang Purbaya. Dirinya nekat memberanikan diri karena merasa telah terjepit. Matanya yang semula nampak redup dan tegang, kini menatap beringas. “Aku sudah tak punya ayah dan ibu. Kalau kau mau, mangsalah aku! Ayo..., makanlah tubuhku!”
“Hua ha ha...! Nyem nyem nyem...!” kembali suara menyeramkan itu terdengar bergema. Seolah-olah berasal dari semua arah. Namun Purbaya seperti tak merasa takut sedikit pun. Bocah kecil itu menatap tajam ke sekelilingnya. Kabut hitam itu terus mengepung dirinya.
“Hoi...! Makhluk yang ada di dalam kabut, keluar- lah! Makanlah aku, kalau kau ingin memangsaku! Ayo...!” tantang Purbaya dengan lantang. Matanya terus menatap tajam ke sekeliling. Kabut hitam itu tampak semakin tebal dan berarak-arak bergerak mengepung tubuh bocah itu.
“Hua ha ha...! Kau berani menginjakkan kaki di lembah ini, Bocah! Maka kau memang akan menjadi mangsaku!” suara bergema yang berasal dari balik kabut-kabut hitam kembali terdengar.
“Mangsalah! Aku tak takut...!” tantang Purbaya dengan berani. Matanya kini mengawasi kabut hitam yang datangnya dari arah selatan. Hatinya yakin, suara itu berasal dari selatan.
“Bocah bandel! Kau benar-benar minta mati...!” dengus suara berat bergema menyeramkan itu.
“Ya! Kalau kau memang mau memangsaku, mangsalah! Aku kini hanya sebatang kara. Ayah dan ibuku mati dibunuh orang-orang jahat! Untuk apa lagi aku hidup...?! Tak ada gunanya aku hidup!” seru Purbaya dengan lantang.
“Hm...! Nyem nyem nyem...!” kabut-kabut itu ber- gerak semakin mendekat. Dari dalam kabut hitam yang kini mengapung mendadak muncul sebuah tangan hitam legam dan besar. Tangan itu menjulur keluar hendak menangkap tubuh bocah itu. Namun Purbaya tampak tetap tenang. Tak ada rasa gentar menghadapi ancaman maut itu.
Tangan hitam legam berkuku panjang dan runcing itu, semakin dekat dengan tubuh Purbaya. Hampir saja, tangan-tangan hitam besar berkuku tajam menyeramkan itu mencengkeram dan mungkin akan mencabik-cabik tubuh Purbaya. Namun tiba-tiba sebuah bayangan putih berkelebat menerobos kabut hitam sambil melontarkan pukulan beruntun ke arah kedua tangan hitam legam yang keluar dari kabut itu.
Wrt! Glar! Glarrr...! Wrt! Suara ledakan menggelegar terdengar, ketika sosok bayangan putih itu berkelebat sambil meng- hantamkan serangan cepat. Seketika itu pula bayangan putih yang ternyata seorang lelaki bertubuh bungkuk dan berjubah putih menyambar tubuh
Purbaya. Secepat kilat lelaki itu melesat ke barat meninggalkan Lembah Karangkati.
***

Sudra, Watu Gunung, dan Lombang telah sampai di Hutan Selapetir, tempat kediaman pimpinan mereka. Di hutan itu Wanara tengah menunggu hasil pekerjaan anak buahnya mencari Kitab Ajian Dewa.
Dari luar terdengar suara derap langkah kaki kuda menuju markas tempat Wanara menunggu ketiga anak buahnya. Dengan cepat Wanara melangkah keluar, untuk menemui ketiga anak buahnya. “Siapa yang kalian bawa?!” tanya Wanara. Wanara ternyata manusia bermuka kera. Tubuh- nya yang besar mengenakan jubah hitam. Matanya tampak berwama merah, dengan hidung agak pesek.
“Istri Kerto Pati!” sahut Watu Gulung. “Benar, Ketua. Kami membawanya, dengan harapan ketua sudi menerimanya,” sambung Sodra.
“Bodoh! Tolol...! Yang kubutuhkan bukan wanita, tetapi Kitab Ajian Dewa!” bentak Wanara sengit dengan mata membara merah. Mulutnya yang menyeringai, menunjukkan gigi-giginya yang kuning- kekuningan. Di kanan dan kiri mulutnya tampak sepasang taring.
Ketiga anak buahnya terdiam. Tak seorang pun yang berani menjawab bentakan Wanara. Bahkan beradu pandang pun mereka tak berani. Ketiganya menundukkan kepala, seperti ketakutan.
Wanara memperhatikan wanita cantik di punggung kuda yang ditunggangi Watu Gunung. Matanya bersinar-sinar, ketika melihat bagian pakaian Ambar Sari tersingkap. Kejantanannya seketika menyeruak.
Napasnya mendengus, bergolak penuh nafsu.
“Bawa dia ke kamar!” perintahnya. Ketiga anak buah Wanara segera melompat. Watu Gunung meng- angkat tubuh Ambar Sari melangkah masuk ke kamar tempat tidur Wanara. Tak lama kemudian, Watu Gunung telah kembali keluar.
“Sudah, Ketua,” ujar Watu Gunung. “Bagaimana hasil kalian?!” tanya Wanara. “Tak berhasil, Ketua. Wanita itu lebih baik memilih mati, daripada mengatakan tempat penyimpanan kitab tersebut. Itu sebabnya kami membawanya kemari. Bukankah jika Ketua yang menangani siapa tahu dia akan membuka mulut?” ujar Lombang sambil tersenyum-senyum.
“Diam! Bodoh...! Menghadapi seorang wanita saja kalian tak becus!” maki Wanara. “Lalu bagaimana anaknya?”
“Mungkin mati, Ketua,” jawab Sodra dengan kepala masih menunduk.
“Hm, dari mana kalian tahu?!” “Bocah itu lari ke Lembah Karangkati, Ketua,” sahut Sodra.
Wanara mengangguk-anggukkan kepala. Kemudi- an dengan mengegoskan kepala, Wanara memerin- tahkan pada ketiga anak buahnya untuk me- ninggalkan tempat itu. Setelah ketiga anak buahnya berlalu, Wanara segera masuk ke kamar di mana tubuh Ambar Sari dibaringkan.
Setelah menutup pintu kamar Wanara menatap tubuh Ambar Sari. Lelaki berwajah mirip kera itu tampaknya terpukau kecantikan Ambar Sari. Mulut Wanara menyeringai. Matanya semakin bersinar-sinar penuh nafsu melihat paha Ambar Sari yang tersingkap. Paha mulus itu sangat menggairahkan dan menantangnya.
“Hm, benar-benar menggiurkan!” gumam Wanara sambil melangkah mendekati tempat tidur di mana tubuh Ambar Sari masih terbaring diam. Dipandangi sekujur tubuh Ambar Sari, kemudian dengan buas tangannya yang berkuku panjang merenggut pakaian Ambar Sari. Bret! “Auh!” Ambar Sari tersentak kaget. Matanya mem- belalak, melihat manusia bermuka kera dengan mata penuh nafsu menatap tubuhnya. Wanita itu menyurut mundur ketakutan.
“Tiga orang anak buah manusia bermuka kera itu telah memperkosaku. Kini manusia bermuka kera ini pun hendak memperkosaku,” pikir Ambar Sari sambil menyurut mundur ketakutan.
“He he he...! Tak kuduga, kalau tubuhmu sangat menggiurkan, Manis...,” ujar Wanara sambil mem- buka pakaiannya sendiri, yang menjadikan Ambar Sari semakin ketakutan.
“Jangan! Tidaaak...!” teriak Ambar Sari sambil terus menyurut mundur.
“He he he...! Suamimu sudah mati. Sebaiknya kau menjadi istriku!” ujar Wanara sambil melangkah, mendekati Ambar Sari yang semakin ketakutan.
“Tidak! Jangaaan...!” pekik Ambar Sari berusaha menolak, ketika Wanara dengan buas menubruknya. Namun karena Ambar Sari lemas, Wanara dengan mudah dapat menubruknya. Kemudian dengan buas lelaki berwajah kera itu menggeluti tubuhnya dengan diselingi bisikan merayu.
“Cah Ayu, kalau kau mau menjadi istriku. Kau akan enak. Katakanlah, di mana Kerto Pati menyimpan Kitab Ajian Dewa itu,” bisik Wanara sambil terus menggeluti tubuh Ambar Sari yang terus berusaha berontak dan meronta.
“Tidak! Lepaskan...! Aku tak tahu! Aku tak mau...!” teriak Ambar Sari sambil terus berusaha melepaskan diri dari dekapan Wanara. Namun karena tubuhnya lemas dan kehabisan tenaga tak mampu melawan.
“He he he...! Baiklah, Cah Ayu. Mungkin kali ini kau tak mau mengatakan di mana kitab itu berada. Tapi suatu saat, kau harus mengatakannya,” kata Wanara semakin buas menggeluti tubuh Ambar Sari yang telah telanjang.
Ambar Sari masih berusaha memberontak, tetapi tetap tak mampu. Akhirnya Ambar Sari hanya bisa merintih dan menangis, menyesali nasibnya yang malang. Suami mati, anak entah bagaimana nasib- nya. Dirinya pun harus menjadi budak pemuas nafsu manusia-manusia keji itu.
Ambar Sari masih menangis, ketika Wanara dengan tertawa senang berlalu meninggalkan kamar dan menutup pintunya setelah terlebih dahulu berkata kalau sejak saat itu Ambar Sari dijadikan istrinya.
Ingin Ambar Sari berontak, tetapi tak kuasa. Dia hanya seorang wanita yang lemah, yang tak dapat berbuat apa-apa untuk melepaskan cengkeraman tangan para penjahat itu.
***

3
Waktu berjalan terus. Musim demi musim terlewati. Dua puluh tahun telah berlalu sejak terbunuhnya Kerto Pati. Sampai saat ini Wanara dan ketiga rekannya masih terus berusaha mencari Kitab Ajian Dewa yang belum juga dapat ditemukan. Bahkan kini mereka telah membentuk sebuah perkumpulan besar dengan nama Partai Kera Hitam, yang diketuai Wanara.
Partai Kera Hitam tidak hanya berusaha mencari Kitab Ajian Dewa semata. Kumpulan itu pun me- lakukan aksi yang biadab dan keji. Merampok, menculik para gadis, membunuh dan macam-macam tindakan sesat. Tak tanggung-tanggung, hampir seluruh wilayah Desa Kranggan dan sekitarnya di- kuasai Partai Kera Hitam. Nama gerombolan itu, menjadi momok yang menyeramkan bagi warga Desa Kranggan dan sekitarnya.
Di Hutan Selapetir, tempat markas Partai Kera Hitam berada, saat itu Wanara tengah duduk di atas singgasana, didampingi gadis-gadis cantik. Di hadapannya, duduk bersila para anak buahnya. Mereka duduk berderet. Di depan, tiga orang lelaki bermuka garang dengan pakaian merah, biru, dan loreng harimau. Mereka tiada lain Sodra, Lombang, dan Watu Gunung.
Ketiga lelaki beringas itu, kini bukan lagi orang dua puluh tahun silam. Ilmu mereka telah banyak mengalami perkembangan. Sejalan dengan per- tambahan usia, ilmu mereka semakin tinggi dan sempurna. Ketiganya menjadi tangan kanan Wanara sejak lebih dari dua puluh tahun Silam. Hal itu juga dialami Wanara. Manusia berwajah mirip kera itu dalam usianya yang telah mencapai enam puluh lima tahu merupakan tokoh tua yang sakti. Ilmu kedig- dayaannya sulit dicari tandingan. Tak mengherankan kalau kedudukannya sebagai Pimpinan Partai Kera Hitam semakin kuat.
Sore itu, nampaknya mereka tengah mengadakan pertemuan membahas masalah lama, mengenai Kitab Ajian Dewa yang sampai saat ini belum juga diketemukan. Ambar Sari yang telah menjadi istri resmi bahkan sebagai permaisuri Wanara, masih tetap bungkam. Dia selalu menolak jika ditanya tentang kitab tersebut.
“Sodra, Lombang, dan kau, Watu Gunung. Sebarkan pengumuman ke segenap penjuru wilayah Kadipaten Banureja. Siapa yang tahu rumah Rupaksi, harus melapor ke sini! Juga kuperingatkan pada kalian semua, cari orang yang bernama Rupaksi...!”
“Untuk apa, Ketua...?” tanya Sodra dengan kening mengerut.
“Bodoh! Kudengar, dialah yang dititipi Kerto Pati, Kitab Ajian Dewa,” sentak Wanara dengan suara keras. Sodra seketika menundukkan kepala. “Bawa beberapa orang anak buah! Sementara kau, Lombang. Tanyakan pada Ki Lurah Janur Biru, apakah dia sudah bosan hidup! Kalau dia masih ingin hidup, perintahkan agar segera membayar upeti dari pertanian!”
“Baik, Ketua. Akan saya laksanakan,” sahut Lombang sambil menganggukkan kepala.
“Bawa sepuluh orang untuk mengobrak-abrik Desa Kecipir, jika Ki Lurah Janur Biru masih saja membandel!” perintah Wanara dengan tegas.
“Akan saya laksanakan dengan baik,” jawab Lombang.
“Bagus...! Watu Gunung, kau kuperintahkan untuk mengundang tokoh-tokoh hitam rimba persilatan. Sekaligus menyebar udangan dan pemberitahuan mengenai Kitab Ajian Dewa. Tulis dalam pengumuman itu, kalau kitab tersebut milik kita!”
“Baik, Ketua! Akan segera saya laksanakan,” jawab Watu Gunung. Tubuh lelaki berkepala botak itu tampak semakin gempal. Kumis dan jenggot tebal, membuat tampangnya semakin seram dan garang.
“Yang lainnya, kuperintahkan tetap bekerja seperti biasa! Kumpulkan harta sebanyak mungkin, untuk mendirikan sebuah partai besar! Selama Wanara masih menjadi pimpinan kalian, Partai Kera Hitam tak akan dapat tertandingi perguruan maupun partai lainnya. Tundukkan semua perguruan dan partai yang ada di wilayah Kadipaten Banureja!”
“Hidup Ketua...!” “Hidup Kera Hitam...!” “Hidup Ketua Wanara...!” Anak buah Partai Kera Hitam yang berjumlah puluhan, seketika berteriak-teriak menyerukan sanjungan. Hal itu membuat Wanara semakin tertawa bangga. Dipeluknya gadis-gadis cantik di samping kanan dan kirinya. Gadis-gadis itu menurut, seperti- nya malah senang diciumi lelaki bermuka kera itu.
Mereka semua merupakan gadis-gadis culikan. Sebenarnya mereka benci pada Wanara dan anak buahnya. Namun mereka tak mampu berbuat banyak, karena lemah. Jangankan mereka yang hanya wanita, orang lelaki saja banyak yang menjadi korban keganasan Wanara dan anak buahnya. Itu sebabnya gadis-gadis itu hanya pasrah, membiarkan tubuh mereka menjadi pemuas nafsu Wanara. Hanya ada satu harapan bagi mereka, yang penting tidak disingkirkan atau dengan kata lain dibunuh.
Dari luar, seorang gadis muda berusia sekitar dua puluh tahun melangkah masuk. Gadis berambut panjang diikat ekor kuda yang di punggungnya tersandang golok, melangkah dengan mantap. Matanya yang tajam menatap tajam para anak buah Partai Kera Hitam. Mendadak mereka semua terdiam. Seluruh anak buah Partai Kera Hitam tak ada yang berani untuk beradu pandang dengan gadis itu.
“Ada apa, Seruni?” tanya Wanara pada gadis berpakaian merah jingga yang melangkah mantap sambil menatap tajam ke sekeliling ruangan itu.
“Ayah, ada dua orang lelaki yang mau menghadang Ayah,” ujar Seruni, “Mereka katanya ingin bergabung dengan partai kita.”
“Hm, begitu. Di mana mereka?” tanya Wanara. “Mereka ada di luar.” “Suruh mereka masuk.” “Baik, Ayah.” Gadis cantik serta muda belia namun ilmu goloknya yang tinggi itu menjura hormat, yang dibalas dengan anggukan kepala serta senyum di bibir Wanara. Kemudian Seruni melangkah keluar, untuk menemui kedua tamunya.
Di pintu gerbang Partai Kera Hitam, nampak dua orang berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri dengan sabar menunggu. Satu lagi seorang lelaki bermuka bulat dengan badan agak pendek dan gemuk. Satunya lagi berbadan tegap, dengan wajah tampan namun sinis. Yang bertubuh gemuk, rambutnya diikat ekor kuda. Di punggungnya tersandang caping lebar.
Dia bernama Sungo Karu. Sementara yang tampan namun sinis, yang di punggungnya terdapat sebuah tongkat terbuat dari kayu cendana, bernama Ketawang
Seruni nampak kelaur dari bangunan utama markas Partai Kera Hitam. Gadis itu langsung menemui kedua lelaki muda berusia sekitar tiga puluh tahunan yang tersenyum melihat kedatangan- nya. “Bagaimana, Ni?” tanya Sungo Karu.
“Ayahku menerima kalian. Kalian dipersilakan masuk,” jawab Seruni dengan wajah acuh.
“Terima kasih,” sahut keduanya sambil melangkah masuk, setelah kedua penjaga pintu gerbang mem- buka tombak yang semula disilangkan. Mata kedua- nya menatap ke sekeliling bangunan utama yang nampak megah. Seakan ada sesuatu yang menjadi perhatian mereka.
“Mampukah aku melakukan tugas ini?” tanya Ketawang dalam hati. Matanya masih mengawasi sekeliling bangunan markas Partai Kera Hitam yang dijaga ketat. “Semua penjuru dijaga ketat. Hm, tapi ini semua tugas dari guru. Aku harus menyelidiki, apakah Nyi Ambar Sari masih hidup.”
Sambil terus melangkah, Ketawang yang sebenar- nya murid Resi Rupaksi terus berusaha mempelajari tempat itu. Matanya mengawasi dan mencari-cari jalan yang digunakan untuk lari kalau saat kepergok. Namun tampaknya lingkungan ini tertutup rapat. Semua jalan dijaga ketat empat orang prajurit.
Seperti halnya Ketawang, Sungo Karu pun tengah berpikir unguk mencari jalan keluarnya jika penyusupan yang mereka lakukan ini terbongkar.
“Celaka! Semua tempat di sini dijaga ketat. Hm, apakah aku dan Ketawang mampu menambus benteng Partai Kera Hitam yang kokoh ini? Guru, kami mengharap doa darimu, agar kami berhasil menunaikan tugas,” gumam Sungo Karu dalam hati. Dia merasa kecut juga menyaksikan pertahanan dan penjagaan di lingkungan markas Partai Kera Hitam.
Tak lama kemudian keduanya sampai di pelataran markas Partai Kera Hitam. Tiba-tiba dari dalam muncul para anak buah Wanara yang bermuka berangasan membuat lingkaran besar. Sepertinya mereka telah diperintahkan untuk mengurung kedua orang tamu itu.
“Hm, apa-apaan ini, Nisanak?” tanya Ketawang tak mengerti, melihat puluhan anak buah Partai Kera Hitam telah mengurung mereka. Mata Ketawang mengawasi orang-orang berpakaian rompi merah yang di tangan mereka telah siap senjata berupa golok dan pedang.
Seruni tersenyum, sepertinya tak peduli dengan kekagetan Ketawang dan Sungo Karu.
“Untuk menjadi anggota Partai Kera Hitam, kalian harus mendapatkan ujian dulu,” ujar Seruni tenang. Bibirnya yang merah mengurai senyum dingin. “Apa kalian siap?”
Ketawang dan Sungo Karu saling pandang, kemudian keduanya beralih menatap wajah Seruni yang masih tersenyum dingin.
“Kalau memang ini caranya kami siap!” sahut Ketawang.
“Bagus!” dari dalam terdengar seruan keras, diikuti kemunculan seorang lelaki berusia sekitar enam puluh lima yang berwajah mirip kera. Di belakang lelaki berjubah hitam yang tak lain Wanara itu melangkah. Tiga lelaki yang berusia sebaya dengan
Pimpinan Partai Kera Hitam itu tak lain, Sodra, Watu Gunung, dan Lombang.
Wanara dan ketiga anak buahnya terbahak-bahak. Mereka menatapi dua lelaki muda berpakaian kembar hijau lumut panjang sampai lutut yang telah dikepung anak buah Partai Kera Hitam. Keempatnya kemudian mendekati Ketawang dan Sungo Karu yang berusaha tenang.
“Sebutkan nama kalian!” perintah Wanara. “Namaku Ketawang. Orang sering menyebutku si Toya Sakti,” sahut Ketawang memperkenalkan diri sambil menjura hormat.
“Tentunya manusia bermuka kera inilah yang ber- nama Wanara,” gumam Ketawang dalam hati. “Dia berilmu tinggi. Menurut guru, ilmu silumannya mampu menjelmakan diri menjadi seekor kera raksasa.”
“Hua ha ha...! Nama yang bagus, dan tentunya ilmumu pun tidak mengecewakan,” gumam Wanara sambil tertawa terbahak-bahak, hingga tampaklah gigi-giginya yang dihiasi sepasang taring tajam. “Sekarang namamu, Bogel?!”
“Namaku, Sungo Karu. Orang biasa menyebutku si Caping Maut,” jawab Sungo Karu sambil menjura hormat.
“Hua ha ha...! Seharusnya namamu bukan Sungo Karu, tetapi Bulus...!” ejek Wanara sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti ketiga tangan kanannya.
“Kurang ajar!” maki Sungo Karu dalam hati. “Sayang, guru memesanku harus hati-hati terhadap keempat orang ini. Tentunya ketiga orang itu tangan kanan Wanara. Yang tinggi itu, tentunya Sodra. Yang berkepala botak di tangan, pasti Watu Gunung, dan yang bertubuh kekar pasti yang bernama Lombang. Hm, mereka bukanlah tokoh sembarangan. Sayang
Kitab Ajian Dewa tak dapat kami pelajari. Kalau saja Kitab Ajian Dewa dapat kami pelajari, sudah kuhancurkan partai tekutuk ini!”
Meski di dalam hati mencaci maki pada keempat tokoh tua itu Sungo Karu tak dapat berbuat apa-apa. Di samping sedang menyamar, dirinya juga menyadari kalau ilmunya belum tentu bisa menandingi keempat lelaki kejam dan sadis itu. Itu sebabnya Sungo Karu hanya menundukkan kepala, membiarkan Wanara dan ketiga tangan kanannya mengejek.
“Jadi kalian telah siap untuk diuji..?” tanya Wanara.
“Kami siap!” sahut kedua kakak beradik seper- guruan dengan mantap sambil menganggukkan kepala. Kemudian mata mereka mengedarkan pandangan memperhatikan puluhan lelaki berwajah beringas, yang telah siap menunggu perintah.
“Bagus..., bagus!” seru Wanara sambil meng- anggukkan kepala. “Untuk ujian pertama, kalian harus mampu menghadapi lawan sebanyak lima orang!”
“Kami siap!” sahut keduanya hampir bersamaan. “Bagus!” Wanara segera menggerakkan kepala, memerintah pada sepuluh orang anak buahnya untuk maju. “Terserah kalian mau memakai cara apa. Kalau perlu gunakan senjata kalian.”
“Terima kasih. Kami coba menggunakan tangan kosong,” jawab Ketawang, yang membuat Wanara dan ketiga tangan kanannya membelalak. Mereka tak menyangka, kalau kedua lelaki muda itu berani menghadapi lima anak buah Partai Kera Hitam yang terkenal beringas dan kejam hanya dengan meng- andalkan tangan kosong.
“Hua ha ha...! Hebat! Apakah kalian telah berpikir masak-masak? Ingat, nyawa bagi Partai Kera Hitam tak ada artinya sama sekali!” ujar Wanara mencoba mengingatkan pada calon anggota barunya. “Jika kalian kalah, nyawa sebagai taruhan dalam uji coba ini. Untuk itu, pikirkan sekali lagi.”
“Kami sudah siap dengan tangan kosong,” tegas Sungo Karu.
“Hua ha ha! Baiklah kalau begitu.” Setelah memberi isyarat pada kesepuluh anak buahnya, Wanara segera mundur bersama ketiga tangan kanannya serta anaknya.
***

Sepuluh orang anak buah Partai Kera Hitam telah mencabut golok dan pedang mereka. Kini kesepuluh orang itu terbagi dua kelompok. Lima orang mengepung Ketawang, sedang lima orang lagi mengepung Sungo Karu. Namun Ketawang dan Sungo Karu tampak masih tenang. Dengan tajam mata keduanya mengawasi setiap gerak-gerik kelima lawannya.
“Heaaa!” Wrt! Kesepuluh anak buah Partai Kera Hitam memulai menyerang dengan senjata. Golok dan pedang di tangan mereka, membabat dan menusuk tubuh lawan. Namun Ketawang dan Sungo Karu dengan gesit bergerak mengelit. Tubuh keduanya melesat cepat, disusul dengan tendangan dan pukulan tangan.
“Hea!” “Yea!” Ketawang dan Sungo Karu sengaja tak mengeluarkan jurus 'Elang Sakti', karena jurus itu tentunya sudah dikenal keempat tokoh utama Partai Kera Hitam. Karena mereka pernah bentrok dengan paman seperguruan mereka, Kerto Pati.
Ketawang dan Sungo Kartu kini bergerak meng- atasi serangan lawan dengan jurus 'Walang Keket'. Sebuah jurus ciptaan sang Guru yang dipersiapkan untuk keduanya, sebelum ditugaskan menyusup ke markas Partai Kera Hitam.
Tangan dan kaki kedua lelaki berpakaian hijau itu bagaikan kaki-kaki dan sayap belalang. Gerakan mereka gesit dan lincah. Sebentar melesat menyerang dengan cakaran dan hantaman, kemudian melejit mengelak.
Wanara dan ketiga tangan kanannya dibuat kagum dengan jurus yang dipakai Ketawang dan Sungo Karu. Meski tubuh Sungo Karu seperti kura-kura besar gemuk dan pendek, namun dengan jurus 'Walang Keket', Sungo Karu ternyata mampu bergerak cepat. Tubuhnya melompat ke sana kemari, dengan sesekali menendang dan mencakar ke dada lawan-lawannya
Degkh! Crat! “Akh...!” jeritan keras terdengar susul-menyusul dari kelima anak buah Partai Kera Hitam. Muka mereka tergores cakaran tangan Ketawang dan Sungo Karu. Sementara lawan yang terhantam tendangan kaki terpental ke belakang dengan mulut meringis kesakitan.
Plok! Plok! Plok...! Wanara bertepuk tangan, diikuti seluruh anak buahnya. Lelaki bermuka kera itu menyeringai senang, melihat kehebatan ilmu kedua lelaki muda itu. Hanya dalam beberapa gebrakan, keduanya mampu menjatuhkan ke lima anak buah Partai Kera Hitam.
“Hebat...! Hebat! Kalian memang bukan orang sembarangan. Hm, tapi itu ujian pertama. Ada dua ujian yang akan kalian hadapi. Bagaimana, apa kalian telah siap dengan ujian terakhir?” tanya Wanara seraya tersenyum menatap kedua tamunya itu.
“Kami siap!” sahut Ketawang yakin. “Ayah, biar aku yang menguji mereka!” usul Seruni. Matanya menatap tajam wajah kedua lelaki di hadapannya. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum meremehkan.
“Nah, dengar! Kalian akan berhadapan dengan anakku. Apakah kalian siap...?” tanya Wanara sambil tersenyum.
“Siap!” sahut Sungo Karu. “Baik! Seruni...!” seru Wanara seraya meng- gelengkan kepala memerintahkan putrinya itu.
“Baik, Ayah.” Seruni maju dua tindak, berhadap-hadapan dengan kedua lawannya. Ketawang dan Sungo Karu masih belum tahu, siapa gadis cantik muda belia di hadapannya. Menurut cerita guru mereka, Ambar Sari hanya memiliki seorang anak lelaki yang entah hidup atau mati. Tetapi kini keduanya berhadapan dengan seorang gadis yang menyebut ayah terhadap Wanara. Padahal Wanara hanya kawin dengan Ambar Sari. Gadis-gadis lain, hanya sebagai pemuas nafsu belaka.
“Kalian telah siap?” tanya Seruni. “Ya!” sahut Ketawang. “Apa yang kalian inginkan? Tangan kosong, atau senjata?” tantang Seruni.
“Tangan kosong!” jawab Sungo Karu.
“Baik. Sebagai tamu dan akan menjadi anggota baru, kalian boleh menyerang lebih dahulu sekaligus berdua!”
Ketawang dan Sungo Karu tersentak kaget men- dengar tantangan itu. Mereka tak menduga, kalau Seruni akan berani menantang mereka langsung berdua.
“Benar-benar nekat dan sombong gadis ini,” gumam Ketawang dalam hati. Matanya menatap tajam wajah Seruni, seolah-olah tak percaya kalau gadis belia itu akan berlaku gegabah terhadap mereka berdua.
“Kenapa kalian diam? Ayo, lakukanlah!” tantang Seruni dengan angkuhnya. Gadis itu seakan meng- anggap kedua lelaki di hadapannya tak berarti sama ekali. Bahkan sikapnya tampak sangat meremehkan Ketawang dan Sungo Karu.
“Baiklah. Jangan menyesal jika tubuhmu yang mulus tersentuh tangan kami!” jawab Ketawang sambil bergerak maju menyerang Seruni dengan jurus 'Walang Keket Mencolek Daun'. Tangannya bergerak laksana kaki belalang yang menyibak dedaunan, menyerang dada gadis cantik itu.
“Cabul!” maki Seruni seraya berkelit ke samping, kemudian dengan cepat gadis itu mengeluarkan jurus 'Tarian Bius Seribu'. Tubuhnya bergerak gemulai tapi cepat. Tangannya meliuk-liuk seperti melakukan gerakan tari Bali. Matanya melotot dan bergerak- gerak dengan lincah.
Dari jurus-jurus mirip tarian itu, menimbulkan rangkaian gerakan yang menantang dan merangsang. Hal itu membuat Ketawang dan Sungo Karu tersentak kaget. Mata mereka melotot, dengan jakun turun naik.
Melihat kedua lawannya terpengaruh gerakannya, Seruni tersenyum. Memang hal itulah yang di- kehendaki. Karena dengan begitu, dirinya akan mudah menjatuhkan kedua lawannya.
Ketawang tersentak kaget, ketika sebuah hentakan keras dilakukan Seruni. Dengan cepat Ketawang melompat mundur. Matanya membelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja dialami.
Sementara Sungo Karu yang masih terpengaruh gerakan tubuh gemulai itu, tak mampu lagi meng- elakkan tamparan tangan kiri Seruni. Tanpa ampun lagi, tangan mulus milik Seruni yiang disaluri tenaga dalam menghantam pipi kanan.
Prat! “Akh!” Sungo Karu terpekik. Tubuhnya yang gemuk dan bulat seperti kura-kura, terhuyung ke belakang dengan mata melotot kaget. Dari sela bibirnya, meleleh darah segar.
“Hi hi hi...!” Seruni tertawa cekikikan. Hatinya puas telah dapat mempecundangi salah seorang dari kedua lawannya. Gadis itu kini berdiri dengan sikap angkuh. Senyum sinis menghias di bibirnya, seakan menantang kedua lawan untuk kembali maju.
“Hati-hati, Sungo! Ternyata jurusnya mengandung bius yang akan membuat kita terpengaruh. Kita harus membuat pandangan ke tempat lain. Mari kita serang lagi! Heaaa...!” Ketawang kembali bergerak dengan jurus 'Walang Keket Merentang Sayap'. Kedua tangannya direntangkan, kemudian secara bergantian menyerang tubuh Seruni dengan cepat dan beruntun.
Sungo Karu yang sudah terkena tamparan Seruni, tak mau tinggal diam. Dengan jurus 'Walang Keket Menggigit Daun' dirinya bergerak menyerang. Kedua tangannya bagaikan mulut seekor belalang yang hendak menggigit daun.
Mendapat serangan beruntun dari kedua lawan, Seruni kembali melakukan gerakan jurus 'Tarian Bius Seribu'. Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari. Namun Ketawang dan Sungo Karu yang sudah tahu kehebatan jurus itu, tak mau menatap tubuh Seruni. Sambil membuang pandangan ke tempat lain, keduanya terus menyerang.
Seruni tersentak kaget karena tak menyangka, kalau lawan telah tahu kelemahan jurusnya. Dengan cepat Seruni melentingkan tubuh ke atas. Setelah bersalto beberapa kali akhirnya mendarat dengan ringan di tanah.
“Cukup!” seru Wanara, “Kalian telah lulus! Kini kalian resmi menjadi anggota Partai Kera Hitam.''
“Terima kasih,” jawab keduanya sambil menjura hormat
“Sebagaimana biasanya, maka hari ini kita akan merayakan penerimaan anggota baru! Mari...!”
Hari itu, Partai Kera Hitam pun mengadakan pesta untuk merayakan masuknya anggota baru. Semua anggota Partai Kera Hitam bergembira.
Hanya seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun yang tampak termenung seorang diri. Wanita tengah baya yang masih menampakkan kecantikan- nya itu, tiada lain Ambar Sari.
Dari kedua mata wanita setengah baya itu, mengalir mata. Hatinya sedih jika melihat anaknya, Seruni yang adat dan kesombongannya menyerupai sang ayah, Wanara. Ingatannya kembali melayang pada anak lelakinya, Purbaya. Yang entah hidup atau mati.
***

4
Goa Kalong yang terletak di Pegunungan Kapur pagi itu terasa dingin. Namun seorang pemuda berambut putih keperakan nampak masih menggelantung di dinding goa dengan kaki di atas, tak ubahnya seperti seekor kelelawar. Tubuh pemuda itu sangat kekar. Wajahnya tampan dan bersih. Dari tubuhnya yang menggelantung dengan tangan bersidekap, menetes air bening turun lewat kaki ke rambutnya yang putih perak.
Ketika itu dari dalam goa, muncul seorang lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh lima tahun. Lelaki berjubah seperti pakaian resi warna putih sesaat berdiri memperhatikan pemuda yang menggelantung di atasnya. Lelaki tua berambut putih itu, tak lain Resi Turangga Weni. Salah seorang resi sakti yang puluhan tahun silam namanya sejajar dengan Pendekar Gila dari Goa Setan, guru dari Sena.
“Purbaya, sudah cukup kau melakukan semadi. Empat puluh hari lamanya kau melakukan hal seperti itu. Sekarang bangunlah, Anakku!” perintah Resi Turangga Weni.
Perlahan-lahan mata pemuda berambut keperakan yang dipanggil Purbaya membuka, kemudian memandang Resi Turangga Weni.
Resi Turangga Weni tersenyum. “Turunlah, Cucuku! Hari ini, semuanya telah selesai. Dua puluh tahun sudah kau berada di Goa Kalong ini.”
“Eyang menyuruhku?” tanya Purbaya.
“Benar. Turunlah!” Purbaya berjumpalitan sesaat di udara, kemudian dengan ringan mendarat di depan gurunya sambil melakukan sembah. Hal itu membuat Resi Turangga Weni tersenyum semakin senang melihat tingkah laku muridnya yang sopan.
“Ada gerangan apa Eyang Guru membangunkan semadiku?” tanya Purbaya setelah melakukan sembah.
Resi Turangga Weni memegang pundak Purbaya yang bertelanjang dada. Di bibirnya masih mengurai senyum kekagumam pada sang Murid. Dielus-elusnya pundak Purbaya yang masih berlutut di hadapan sang guru. Ada gambaran rasa cinta kasih di wajah lelaki tua itu.
“Cucuku, dua puluh tahun sudah kau berada di Goa Kalong. Semua ilmu yang kuajarkan, telah kau serap semua. Bahkan ajian 'Rambut Api' yang selama ini belum pernah kuperdalami. Tetapi syukurlah, akhirnya kau yang berjodoh dengan ajian itu!” tutur Resi Turangga Weni sambil terus membelai-belai pundak Purbaya. Wajahnya ditengadahkan, me- mandang ke langit-langit goa yang meneteskan air bening dan menebarkan hawa dingin. “Kini saatnya bagimu turun gunung, mengamalkan semua yang telah kau peroleh di sini!” ujarnya dengan suara pelan.
“Tapi, Eyang...?” Purbaya hendak menolak apa yang disarankan eyang gurunya. Sepertinya pemuda itu tidak ingin berpisah dengan Resi Turangga Weni, juga Goa Kalong yang telah dua puluh tahun menjadi tempat tinggalnya.
Resi Turangga Weni tersenyum sambil meng- geleng-gelengkan kepala. Tangannya masih membelai-belai rambut pemuda tampan yang ber- warna putih keperakan itu.
“Kau tidak bisa begitu, Cucuku. Ada pertemuan, tentu ada perpisahan. Ada kehidupan, pasti ada kematian. Cepat atau lambat, usia manusia akan terus bertambah. Jangan sia-siakan usiamu! Gunakanlah kesempatan hidup yang hanya sebentar ini. Untuk mengabdi pada kebenaran dan keadilan,” tutur Resi Turangga Weni menasihatkan.
“Saya mengerti, Eyang.” “Syukurlah kalau begitu!” ujar Resi Turangg Weni dengan mengangguk-anggukkan kepala, “Sekarang mandilah dulu di telaga. Aku telah mempersiapkan pakaian untukmu.” “Baik, Eyang.” Purbaya pun segera melangkah keluar dari Goa Kalong untuk mandi di telaga yang tak jauh dari goa itu. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Purbaya yang sudah empat puluh hari tak mandi, langsung menceburkan diri ke telaga. Dia mandi sepuas- puasnya.
Dari dalam goa, Resi Turangga Weni keluar mem- bawa setumpuk pakaian warna putih dengan ikat pinggang merah menyala.
“Ini pakaianmu, Purbaya. Setelah mandi, pakailah! Kemudian temui aku di dalam!” perintah Resi Turangga Weni. Ditaruhnya pakaian itu di tepi telaga kemudian lelaki itu kembali melangkah meninggalkan telaga, menuju goa.
Resi Turangga Weni duduk di atas sebuah batu besar dan rata dalam Goa Kalong itu. Tidak lama kemudian, dari luar muncul Purbaya yang telah mengenakan jubah putih terbuat dari serat benang sutera. Ikat pinggangnya yang merah menyala, semakin menambah kegagahan pemuda tampan itu.
“Duduklah!” “Terima kasih, Eyang.” Purbaya pun segera duduk bersila di hadapan Resi Turangga Weni. Rambutnya yang putih keperakan dibiarkan terurai panjang. Udara di dalam Goa Kalong seketika terasa segar. Ada sesuatu yang keluar dari rambut keperakan pemuda tampan itu. Sehingga membuat suasana di dalam Goa Kalong terasa segar, seakan dari rambut Purbaya, menghembuskan hawa hangat yang mampu menekan hawa dingin.
“Purbaya, Cucuku. Kurasa tak banyak yang akan kusampaikan padamu, sebagai bekal perjalananmu. Hanya satu pesanku. Janganlah dirimu menjadi sombong dan takabur. Kesombongan dan ketakaburan akan membuat kita celaka. Menurut kabar yang kudengar, ibumu masih hidup. Tapi entah di mana...,” tutur Resi Turangga Weni.
Mendengar ucapan sang Guru, Purbaya seketika tersentak kaget. Matanya terbelalak seakan-akan tak percaya pada apa yang baru didengarnya. “Ibu masih hidup?”
“Benar, Anakku. Itu yang pernah kudengar.” “O, syukurlah! Ingin sekali aku bertemu dengan- nya. Apakah mungkin ibu juga tahu kalau aku masih hidup, Eyang?” tanya Purbaya ingin tahu.
“Entahlah, Cucuku. Tapi kau memiliki kalung ini. Tentunya jika ibumu melihat, dia akan ingat. Kini, berangkatlah! Tegakkan kebenaran dan keadilan. Tak ada yang dapat Eyang berikan padamu untuk bekal. Hanya doa Eyang yang akan menyertaimu...,” tutur Resi Turangga Weni.
''Terima kasih, Eyang. Aku mohon pamit!” pinta Purbaya sambil melakukan sembah. Sedangkan Resi
Turangga Weni dengan penuh kasih membelai rambutnya.
“Hati-hatilah, Cucuku!” Dengan menahan perasaan sedih Purbaya melangkah meninggalkan Resi Turangga Weni dan Goa Kalong. Dalam hatinya berjanji, akan menegak- kan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini. Namun, kini tujuan utama akan mencari sang Ibu yang menurut berita masih hidup.
“Di manakah ibu?” gumam Purbaya, sambil terus melangkah keluar dari dalam goa. Sesaat pemuda itu berdiri mematung di depan mulut goa, menatap ke langit yang biru dan bening. Kemudian setelah menoleh ke belakang memandang Goa Kalong. Purbaya kembali meneruskan langkah menuruni Pegunungan Kapur.
Dengan langkah mantap dan pasti, pemuda berambut panjang putih keperakan itu terus melangkah menelusuri lereng Pegunungan Kapur. Dirinya tak tahu harus ke mana, hanya mengikuti ke mana kaki melangkah. Rasa rindu ingin bertemu ibunya, membuat langkah Purbaya semakin mantap. Dengan berlari-lari kecil, pemuda itu terus menuruni lereng Pegunungan Kapur yang tampak putih dan kering tertimpa terik matahari.
Pegunungan Kapur memang tandus. Di sana sini yang tampak hanya bebatuan kapur dan granit. Hanya di sekitar Goa Kalong tumbuh pepohonan yang tak begitu rimbun, karena tanah di situ memang agak subur. Maka jika dilihat dari kejauhan, Pegunungan Kapur hanya sebagian puncaknya yang ditumbuhi pepohonan rimbun, sedangkan lainnya hanya bebatuan kapur dan gramit.
Sesampainya di bawah lereng Pegunungan Kapur,
Purbaya sesaat berhenti. Dirinya nampak bingung harus melangkah ke mana, karena belum pernah tahu di mana Desa Kranggan, tempat kelahirannya. Desa yang akan senantiasa diingat. Di mana dirinya dan kedua orangtuanya tinggal, hidup aman sejahtera dan berbahagia sampai akhirnya para penjahat itu datang mengacau dan membunuh ayahnya, Kerto Pati. Empat orang lelaki, yang salah satunya bermuka kera datang ke rumahnya. Mereka mengeroyok ayahnya, setelah menanyakan Kitab Ajian Dewa. Sang Ayah, akhirnya mati, di tangan keempat lelaki jahat itu. Ingatan Purbaya kembali melayang. Semua kejadian semasa dirinya berusia lima tahun, kembali terlintas dalam benaknya. Dari kematian sang Ayah, sampai kematian kusir kereta yang bernama Trenggana dan entah bagaimana nasib ibunya.
“Ibu, mungkin kau menyangka aku telah mati. O, ingin sekali aku bertemu denganmu, Bu. Kerinduan selama dua puluh tahun kupendam, karena aku tak tahu harus berbuat apa,” desah Purbaya lirih sambil menghela napas dalam-dalam. Ditatapnya sinar mentari pagi yang terasa hangat. Kemudian mata pemuda tampan berambut putih keperakan itu menatap ke sekeliling.
Di kejauhan tampak desa-desa kecil terhampar di bawah. Pepohonan tumbuh subur menutup desa- desa yang tampak di sebelah utara, barat, dan timur. Seketika itu pula pikiran Purbaya kembali teringat Desa Kranggan yang dua puluh tahun lalu ditinggal- kan. Entah seperti apa desa itu kini.
Setelah menghela napas dalam-dalam, kini Purbaya kembali meneruskan langkahnya untuk mengembara dan mencari ibunya yang menurut Eyang Resi Turangga Weni masih hidup. Sekaligus mencari pembunuh sang Ayah yang dianggapnya telah membuat kehancuran keluarganya.
***

Siang itu suasana terasa aneh, matahari sangat panas, menyengat dan seakan hendak memanggang seluruh makhluk bumi. Tampak para peladang mulai berteduh di bawah pepohonan di sekitar ladang mereka. Terik matahari siang itu, juga dirasakan penduduk Desa Kranggan. Mereka mulai menghenti- kan pekerjaan dan pulang ke rumah masing-masing. Berkumpul kembali dengan anak istri mereka, dan berlindung dari terik matahari yang begitu panas.
Di tengah suasana panas itu nampak seorang pemuda berambut panjang keperakan tengah melangkah dengan tenang. Pemuda berjubah putih itu seakan-akan tak merasa kepanasan sedikit pun. Tak ada keringat yang keluar dari tubuhnya. Matahari yang begitu terik sepertinya tak berarti baginya.
Pemuda yanga tiada lain Purbaya itu, terus melangkah menelusuri jalan tanah yang membelah Desa Kranggan untuk mencari kedai. Perutnya yang empat puluh hari melakukan tapa, terasa begitu lapar. Tadi ketika dia hendak meninggalkan Goa Kalong, dirinya lupa untuk mengisi perut.
Purbaya masih melangkah, tak menghiraukan panas terik yang menyengat. Ternyata seluruh tubuh- nya memang tak merasakan hawa panas sedikit pun. Hal itu dikarenakan pengaruh dari rambutnya yang seperti mengandung air serta mengeluarkan hawa sejuk dan segar.
Tak jauh dari tempat Purbaya berada, tampak sebuah kedai yang ramai pengunjungnya. Semua orang yang melihat pemuda itu melangkah bagaikan terkesima. Mata mereka kini tertuju pada pemuda berambut keperakan tampak segar. Tanpa keringat bercucuran, tanpa rasa lelah dan kepanasan. Padahal, terik matahari bagaikan hendak memanggang.
Di antara para penduduk Desa Kranggan yang tengah berteduh di dalam kedai itu, tampak seorang pemuda berambut gondrong memakai rompi kulit ular. Pemuda bertingkah laku aneh itu tak lain Sena Manggala atau yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila. Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik berpakaian hijau daun. Pendekar Gila tampak mengerutkan kening sambil cengengesan menatap Purbaya.
Gadis di samping Pendekar Gila yang ternyata Mei Lie tampak heran. Orang-orang di kedai itu semakin heran, tak terkecuali Pendekar Gila dan Mei Lie ketika Purbaya berada semakin dekat dengan mereka. Hal itu karena tiba-tiba ada hawa sejuk berhembus dari rambut keperakan milik pemuda itu.
“Aha, kau merasakan sesuatu keanehan, Mei Lie?” tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala dengan mulut cengengesan sambil menoleh pada wajah Mei Lie. “Ya, aku merasakan hawa yang sejuk. Kurasa pemuda itulah sumbernya. Lihat, Kakang! Rambutnya seperti berair,” gumam Mei Lie.
''Ya ya ya, kurasa memang dialah yang penyebab- nya. Aha, baru kali ini kulihat orang yang mampu mengeluarkan hawa sejuk,” gumam Sena dengan tangan tetap menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan, dengan mata menatap Purbaya yang kini semakin bertambah dekat dengan kedai.
“Kurasa dia bukan orang sembarangan, Kakang,” tukas Mei Lie sambil terus memperhatikan Purbaya yang tampak mulai dikerumuni orang-orang desa. Pemuda berambut keperakan itu kini berada di depan kedai lalu duduk di dipan bambu.
Melihat orang-orang bertambah banyak mengerumuni Purbaya, Pendekar Gila bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati kerumunan itu.
“Aha, bubarlah semua...! Bubar...!” perintah Sena pada orang-orang yang mengerumuni Purbaya. Mereka menganggap pemuda berambut keperakan itu orang aneh yang patut ditonton.
Para warga desa dan anak-anak yang berkumpul mengelilingi Purbaya seketika bubar meninggalkan kedai. Mereka bersorak-sorai, mengolok-olok Purbaya. Namun pemuda berambut keperakan itu sepertinya tak marah. Justru tampak tersenyum- senyum.
“Hush! Pergi-pergi...!” bentak Mei Lie dengan mata melotot, membuat anak-anak kecil yang tadi masih berolok-olok langsung bubar meninggalkan tempat itu. “Aha, kurasa lebih baik kita ke dalam, Kisanak!” ajak Sena dengan tingkah lakunya yang persis orang gila. “Kulihat kau pun lapar. Ayolah...! Ah ah ah...!”
“Terima kasih. Kau baik sekali, Kisanak. Namaku Purbaya,” ujar Purbaya memperkenalkan diri. Kening- nya mengerut menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila yang aneh itu.
“Aha, namaku Sena Manggala. Dan temanku ini bernama Mei Lie,” Pendekar Gila memperkenalkan diri dan nama kekasihnya.
“Hm, sudah kuduga, kalau Nini Mei Lie orang Cina,” tukas Purbaya berseloroh.
“Aha, tepat sekali. Dia memang dari Cina. Tetapi sekarang hidup di dusun. Hi hi hi...!” Sena menimpali seloroh Purbaya yang membuat Mei Lie melotot sengit.
Ketiganya tersenyum. “Aha, mari masuk!” ajak Sena sambil membimbing Purbaya melangkah masuk ke kedai. Kemudian pemuda itu diajak duduk di sampingnya. “Pelayan, beri Kisanak ini makanan yang enak!”
“Baik, Tuan.” Pelayan kedai segera mengambil makanan yang dipesan Pendekar Gila. Tidak lama kemudian, pelayan itu telah kembali dengan membawakan makanan.
“Ini pesanan, Tuan.” “'Terima kasih. Taruhlah di sini!” perinta Sena yang segera dilaksanakan pelayan kedai itu. “Silakan, Kisanak!”
“Kalian...?” tanya Purbaya. “Kami baru saja,” jawab Mei Lie sambil tersenyum menganggukkan kepala. “Bersantaplah yang enak!”
“Terima kasih.” Purbaya pun menyantap makanan itu dengan lahap. Sehingga dalam waktu sebentar saja makanan telah habis tak tersisa.
“Mau tambah, Kisanak?” tanya Sena. “Ah tidak, terima kasih,” sahut Purbaya sambil tersenyum.
“Aha, kalau kau memang masih lapar, nambahlah! Biar aku yang membayar semuanya,” ujar Sena ramah.
''Terima kasih. Cukup! Kalau nambah, kurasa perutku tak akan sanggup menampungnya,” jawab Purbaya sambil tersenyum, membuat Sena dan Mei Lie turut tersenyum.
“Maaf, ng..., Purbaya. Kalau boleh kami tahu, hendak ke manakah tujuanmu?” tanya Mei Lie.
Purbaya terdiam sesaat. Ditariknya napas dalam- dalam. Kemudian diedarkan matanya ke sekeliling kedai, seperti tengah mencari sesuatu. Kemudian dengan helaan napas panjang, pemuda itu men- ceritakan tujuannya.
“Aku ingin mencari kampung halamanku, sekaligus mencari ibuku yang kabarnya masih hidup. Lalu yang kedua, aku bermaksud mencari Kitab Ajian Dewa yang dahulu dititipkan Pendekar Gila pada ayahku. Entah di mana kitab itu berada sekarang. Aku khawatir orang-orang jahat yang membunuh ayahku berhasil mendapatkannya,” tutur Purbaya. Wajah pemuda itu menyiratkan kepedihan dalam hatinya.
“Pendekar Gila...?” tanya Mei Lie dengan kening mengerut, sepertinya hendak meyakinkan pen- dengarannya.
''Ya!” sahut Purbaya. “Dulu, ketika ayahku masih hidup, ayahku pernah bercerita tentang seorang pendekar yang tingkah lakunya persis orang gila. Itu sebabnya dia dikenal dengan sebutan Pendekar Gila. Antara ayahku, dengan Pendekar Gila saling ber- sahabat. Pada masa hendak menghilang dari rimba persilatan, Pendekar Gila menitipkan Kitab Ajian Dewa pada ayahku. Dia berpesan agar ayah mem- beritahukan kitab itu kepada murid atau keturunan- nya kelak.”
Mei Lie semakin mengernyitkan kening, men- dengar penuturan Purbaya. Kemudian matanya menatap wajah Pendekar Gila yang tampak cengengesan, sepertinya tak peduli penuturan pemuda berambut keperakan di hadapannya.
“Apakah Nini Mei Lie kenal dengan pendekar sakti itu?” tanya Purbaya seraya menatap wajah gadis cantik itu. “Ya.” “O, syukurlah! Aku ingin meminta maaf atas nama ayahku, yang tidak bisa menjaga barang titipannya. Tetapi mungkin juga masih disimpan ayahku. Hanya ibuku yang tahu, di mana kitab itu disimpan,” ujar Purbaya. “Kalau boleh saya tahu, di mana pendekar itu?” “Bukankah ada di sampingmu?” tanya Mei Lie sambil menoleh dan tersenyum pada Pendekar Gila yang hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Seketika Purbaya membelalakkan mata kaget. Hatinya hampir tak percaya kalau orang yang di sampingnya ternyata Pendekar Gila. Pemuda itu segera menoleh dan menatap wajah Sena yang tampak tersenyum-senyum.
“O, maafkanlah kebutaanku, Tuan Pendekar! Sungguh tak pernah kusangka, kalau aku bisa bertemu dengan Pendekar Gila,” ujar Purbaya sambil menjura
“Aha, kau salah, Kisanak. Mungkin yang dimaksud ayahmu adalah guruku. Memang semua pendekar yang keluar dari Goa Setan, akan dijuluki orang sebagai Pendekar Gila. Eyang guru, guruku, dan aku...,” tutur Sena menjelaskan. “Semua mendapat julukan Pendekar Gila.”
Purbaya mengangguk-anggukkan kepala, men- dengar penuturan Sena tentang gelar Pendekar Gila. Namun meski dulu yang menjadi sahabat ayahnya adalah guru Sena. Purbaya tetap merasa, tak salah jika minta maaf pada Sena. Karena dirinya merasa Kitab Ajian Dewa yang hingga kini belum di- ketemukan, merupakan hak Sena sebagai murid Pendekar Gila.
“Meskipun kau muridnya, aku merasa sepantas- nya minta maaf, karena kitab itu belum bisa kuberikan padamu,” ujar Purbaya.
“Aha tak menjadi masalah, Kisanak. Bukankah kita bisa mencarinya bersama-sama?” sahut Sena ber- usaha meyakinkah Purbaya, agar pemuda berambut keperakan itu tenang dan tidak merasa bersalah. “Terima kasih atas kebaikanmu, Pendekar.” “Aha, mengapa kau sebut pendekar? Namaku Sena?” ujar Sena dengan cengengesan sambil tangannya menggaruk-garuk kepala. Hal itu membuat Mei Lie melotot gemas dan mencubit pinggang kekasihnya. Pendekar Gila terpekik karena kesakitan. Sementara Purbaya tampak tersenyum-senyum melihat tingkah keduanya.
“Dasar gila!” sungut Mei Lie. “Hi hi hi...! Bukankah aku gila karenamu?” goda Sena yang semakin membuat Mei Lie melotot gemas.
Ketika mereka tengah bercanda, tiba-tiba.... “Tolong...! Tolooong...!” Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dari arah barat. “Heh?!” “Aha, ada apa gerangan?” gumam Sena. “Pasti gerombolan Partai Kera Hitam!” sahut pemilik kedai. Mendengar hal itu Sena, Mei Lie, dan Purbaya mengerutkan kening.
“Gerombolan Partai Kera Hitam? Apa maksudmu, Ki?” tanya Mei Lie ingin tahu.
“Gerombolan kejam yang selalu berusaha ingin berkuasa dan mencari seseorang di desa ini,” tutur pemilik kedai menjelaskan. Baik Pendekar Gila, Mei Lie, maupun Purbaya sama-sama tercengang men- dengar penjelasan pemilik kedai itu.
“Tolong...! Tolooong...!” suara teriakan itu pun ter- dengar lagi, bahkan semakin dekat dari kedai. Hal itu membuat Purbaya, Pendekar Gila, dan Mei Lie langsung melesat keluar ingin tahu apa yang terjadi.
***




5
Dari arah barat, nampak segerombolan lelaki berwajah garang berpakaian rompi merah menyala. Mereka tengah mengejar seorang gadis cantik jelita berpakaian biru laut. Gadis itu berlari terbirit-birit ketakutan, karena sepuluh lelaki beringas terus mem- burunya, tanpa menghiraukan jeritan ketakutan.
“'Tolong...! Tolooong...!” Semua warga Desa Kranggan yang semula berada di jalanan atau di sawah, seketika langsung ber- sembunyi. Mereka tidak berusaha menolong gadis yang tengah dicekam rasa takut itu, melainkan bersembunyi. Hal itu karena para penduduk tahu gerombolan itu adalah Partai Kera Hitam.
Gadis cantik berambut panjang itu terus berlari semakin ketakutan, karena tak seorang pun warga desa yang menolongnya. Sambil menjerit-jerit ketakutan dia terus berlari, berusaha meninggalkan pengejarnya.
“Tolong...! Tuan, tolong...!” seru gadis itu ketika melihat tiga orang di depan kedai. Hatinya benar- benar berharap pertolongan dari ketiga orang yang tidak bersembunyi seperti warga desa lainnya.
“Aha, ada tikus-tikus yang sedang memburu mangsa! Hi hi hi...! Lucu sekali!” gumam Sena dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Tolong Tuan! Mereka mau menangkapku,” ratap gadis cantik itu pada Pendekar Gila.
Ingatan Mei Lie seketika melayang pada suatu peristiwa ketika dia baru tiba di Tanah Jawa Dwipa.
Saat itu dirinya dikejar-kejar gerombolan Segara Wedi.
Kemarahannya seketika meledak. Harga dirinya sebagai seorang wanita, bagaikan memberontak. Matanya menatap garang pada kesepuluh lelaki yang berlari-lari menuju kedai.
“Nisanak, siapa mereka?” tanya Mie Lie. “Mereka gerombolan Partai Kera Hitam. Tolonglah saya...! Saya tak mau dijadikan budak nafsunya. Tolonglah saya, Ni Pendekar,” ratap gadis cantik itu pada Mie Lie.
“Mundurlah, biar aku yang menghadapi mereka!” ujar Mei Lie geram.
Sementara Pendekar Gila dan Purbaya masih tenang. Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala. Sepertinya merasa tenang, melihat kekasihnya kini melangkah maju. Hatinya tak merasa khawatir terhadap Mei Lie, karena paham benar gadis cantik yang mempunyai julukan angker 'Bidadari Pencabut Nyawa Iblis' itu.
“Tuan Pendekar..., mengapa kita berdiam diri? Kita harus membantu Nini Mei Lie,” ujar Purbaya, merasa heran melihat Pendekar Gila cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Aha, biarkan saja, Kisanak! Kita lihat saja dulu,” sahut Pendekar Gila sambil tersenyum-senyum, melihat Mei Lie melangkah mantap menghadang kesepuluh lelaki bermuka beringas.
“He he he...! Kawan-kawan, rupanya kita melepas- kan burung merpati, kini dapat burung merak indah,” teriak pimpinan gerombolan dari Partai Kera Hitam pada rekan-rekannya yang terbahak-bahak melihat gadis cantik berada di depan mereka.
“Hm, kau menginginkan aku?” tanya Mei Lie sambil tersenyum dan mengerlingkan mata.
“Bukan hanya kami. Pimpinan kami pun tentu senang, jika kami dapat membawamu ke markas,” sahut lelaki bertubuh tinggi tegap dengan wajah ditumbuhi cambang bawuk lebat itu.
“Baik, tangkaplah aku kalau kalian sanggup!” tantang Mei Lie sambil tersenyum mengejek. Namun matanya menatap garang anak buah Partai Kera Hitam.
“He he he..., apa susahnya menangkap burung merak seindah dirimu, Nini?” sahut Kuncupala, pimpinan gerombolan itu sambil terkekeh. Lelaki bercambang bauk itu meremehkan Mei Lie. Kalau saja dirinya tahu siapa gadis Cina itu, tentunya akan berpikir seribu kali untuk menghadapinya.
“Hm, begitu? Tangkaplah kalau bisa!” tantang Mei Lie dengan senyum sinis di bibirnya.
“He he he...! Tangkap burung merak itu!” perintah Kuncupala pada anak buahnya.
“Hea!” Lima orang segera mengepung Mei Lie. Kemudian dengan beringas, langsung menubruk Mie Lie. Namun, dengan cepat Mie Lie melompat ke atas, sehingga kelimanya saling berbenturan satu sama lain. Brukkk! “Aaa...!” “Ha ha ha...!” Mei Lie tertawa terbahak-bahak melihat kelima lelaki yang hendak menangkapnya saling bertabrakan. Tampak tiga orang mengusap- usap kepala karena benjol. “Kalian seperti menangkap kodok. Ha ha ha...!”
“Hi hi hi...! Lucu..., lucu sekali!” gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala, melihat kejadian itu.
Purbaya pun yang semula diam dan tegang, takut kalau-kalau Mie Lie tertangkap kini tertawa terbahak- bahak.
“Ah, rupanya aku yang belum berpengalaman ini, mesti belajar banyak dari kalian, Tuan Pendekar,” gumam Purbaya sambil menggeleng-geleng kepala kagum pada Mei Lie. Matanya yang tajam me- mandang sambil menertawakan kelima anak buah Partai Kera Hitam yang meringis-ringis kesakitan.
Merasa ditertawakan oleh Pendekar Gila, Purbaya, dan Mei Lie. Kuncupala sang Pimpinan gerombolan tampak semakin marah.
“Kurang ajar! Kubunuh kalian! Ayo..., habisi mereka!” perintahnya sambil menggerakkan tangan. Para anak buahnya segera merangsek dan menyerang Pendekar Gila dan Purbaya.
“Aha, kita akan main-main Mei Lie, minggirlah dulu! Atau masuklah ke dalam kedai, biar kami main- main dengan cecurut-cecurut ini!” seru Sena sambil tersenyum cengengesan dengan tangan menggaruk- garuk kepala.
“Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Pemuda Gila! Bunuh mereka...!” teriak Kuncupala sambil melesat. Para anak buahnya segera mencabut pedang masing-masing.
Srt! Srt! “Hi hi hi...!” Sena tertawa cekikikan, melihat tiga orang dari anak buah Partai Kera Hitam menghunus pedang dan mengurung Pendekar Gila.
“Hea!” Wrt! Wrt! Ketiga anak buah Partai Kera Hitam langsung menggebrak dengan sabetan dan babatan pedang mereka ke tubuh lawan. Namun dengan masih cengengesan Pendekar Gila segera bergerak meng- elak. Tubuhnya dirundukkan, lalu meliuk. Bersamaan dengan gerakan itu kaki kirinya menyapu ke kaki lawan.
Wrt! Ketiga orang yang menyerang melompat ke belakang, mengelakkan tendangan Pendekar Gila. Mereka saling pandang sesaat, lalu melesat melancarkan serangan lagi. Ketiga pedang tampak berkelebatan dan berputar serta membabat tubuh Pendekar Gila.
“Hea!” “Putus lehermu, Pemuda Gila! Hih...!” Wrt! “Uts! Aha, kurang tepat, Tikus Busuk! Hih...!” Sena langsung bergerak dengan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat'. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari sambil cengengesan, kemudian disusul dengan tepukan tangannya ke dada lawan. Sedangkan kaki kirinya menyerang dengan gerakan menebas dada lawan yang menyerang.
Ketiga lawannya yang menyerang terkesima melihat gerakan ilmu silat pemuda bertingkah laku gila. Mereka menyangka gerakan lambat dan lemah yang dilancarkan Pendekar Gila akan mudah mereka tembus. Dengan cepat mereka merangsek masuk, membabatkan pedang ke tubuh Pendekar Gila.
“Yea!” Wrt! Wrt! “Uts! Hi hi hi...! Ini untukmu, Kecoa!” Pendekar Gila kembali meliuk, kemudian tangan kanan dan kirinya dihentakkan ke samping melakukan tepukan.
Dua orang yang menyerangnya tersentak kaget. Mereka tak menyangka kalau gerakan yang kelihatan pelan dan lemah, ternyata memiliki kekuatan dan kecepatan luar biasa.
“Celaka!” “Heits...!” Ketiga orang anggota Partai Kera Hitam yang menyerang Sena tersentak kaget dengan mata membelalak tegang. Mereka berusaha mengelakkan tepukan dan sapuan kaki lawan. Namun ternyata gerakan yang dilancarkan Pendekar Gila datang begitu cepat. Sehingga....
“Akh...!” Dua orang terpekik. Tubuh mereka terpental deras ke belakang, bagaikan terdorong suatu kekuatan dahsyat. Tubuh keduanya terus melayang ke belakang, sampai akhirnya menerjang pohon pinang.
Brak! “Ukh...!” terdengar erangan dari mulut mereka yang tampak mengeluarkan darah. Sementara seorang lagi, kini terpelanting akibat kakinya ter- sambar tendangan keras Pendekar Gila. Orang ini pun meringis-ringis. Tulang pantatnya bagaikan remuk, karena tubuhnya bagaikan dibanting dengan keras.
“Hi hi hi...! Kenapa kau meringis, Kisanak? Aha, sakit...?” tanya Sena meledek. Kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala. Lelaki berwajah beringas itu membelalakkan mata melihat tingkah Pendekar Gila.
“Pendekar Gila...!” pekiknya kaget. “Hi hi hi...! Gila? Aha, kau gila rupanya, Kisanak. Pantas..., pantas, kau meringis-ringis kesenangan. Padahal kau tentu sakit. Tetapi kau tampak girang,” gumam Pendekar Gila sambil masih cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Melihat sikap Sena, lelaki berwajah beringas itu tampak tegang, takut kalau Pendekar Gila akan membunuhnya.
Melihat Pendekar Gila semakin mendekati dirinya orang itu kian tegang. Sehingga dengan cepat kakinya melangkah mundur tapi terasa sakit. Matanya melotot karena tegang dan panik.
“Jangan...! Jangan...!” teriak lelaki bertubuh tinggi dengan hidung besar dan berambut kumal. Dirinya terus beringsut menggeser pantat yang kesakitan. Matanya masih menatap nanar pada Sena yang hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, melangkah mendekat lelaki berhidung besar itu.
“Aha, kau seperti kesenangan, Kisanak. Hi hi hi..., lucu sekali! Lucu...!” tukas Pendekar Gila sambil terus melangkah maju, membuat lawannya bertambah tegang. Perasaan takut yang terus mendera jiwanya, membuat lelaki tinggi kurus dengan hidung besar itu nekat.
“Heaaa...!” Diiringi teriakan keras, lelaki itu melompat menyerang dengan mengayunkan pedang. Namun dengan cepat, Pendekar Gila merundukkan tubuh dengan kepala dan sebagian badan condong ke muka. Hal itu mengakibatkan serangan lawan meleset. Kemudian, dengan cepat ditangkapnya kaki lawan yang tengah melayang di atasnya.
Trap! “Heaaa...!” dengan pengerahan tenaga dalam dilemparkan tubuh lawan ke angkasa.
Wrt! “Akh...! Tolong...!” teriak lelaki berhidung besar itu ketakutan. Tubuhnya melenting tinggi sekali. Kemudian menukik ke bawah dengan deras. Sampai akhirnya, jatuh dengan kepala menancap di tanah persawahan yang basah dan berair.
Jrot! “Hi hi hi...! Ha ha ha...!” Pendekar Gila tertawa- tawa sambil menggaruk-garuk kepala, melihat kejadian yang dianggapnya sangat lucu. Kemudian dengan tenang melangkah ke bangku di depan kedai, lalu duduk dengan santai sambil meniup Suling Naga Sakti. Dialunkan lagu sendu dan mendayu biru.
Sementara pertarungan antara Mei Lie dan Purbaya melawan ketujuh anak buah Partai Kera Hitam masih berjalan seru. Mei Lie dan Purbaya masih mengandalkan tangan kosong, membiarkan lawan menyerang dengan senjata. Sejauh itu mereka tampak hanya mengelak sambil sesekali balas menyerang dengan tangan kosong
“Hea!” Wrt! Sebuah babatan pedang menderu ke kepala Purbaya. Hal itu membuat pemuda itu segera memutar kepala untuk mengelak. Namun sungguh di luar dugaan, tiba-tiba rambut panjang keperakan di kepala Purbaya mengeluarkan sinar putih keperakan. Sinar itu langsung melesat menerjang orang yang hendak menyerang dari belakang.
Sudah barang tentu orang-orang tersentak kaget melihat kejadian itu. Bahkan Pendekar Gila yang sedang santai dengan meniup Suling Naga Saktinya terlonjak dengan mata melotot. Seakan-akan dirinya tak percaya, kalau rambut Purbaya yang keperakan itu dapat mengeluarkan sinar keperakan.
Srattt...! Bret! “Akh...!” pekikan keras terdengar dari orang-orang yang terhantam sinar itu. Betapa dahsyat kekuatan sinar keperakan dari rambut Purbaya. Kulit tubuh yang terkena serangan itu langsung terkelupas dan gosong seperti terbakar. Mulut mereka mengerang- erang menahan panas dan rasa sakit yang hebat.
Melihat kejadian itu, lima orang anak buah Partai Kera Hitam yang masih hidup berusaha kabur dari tempat pertempuran karena ketakutan. Melihat gelagat lawan-lawannya dengan cepat Purbaya segera bergerak mencegat mereka.
“Mau lari ke mana kalian?!” bentak Purbaya geram.
“Ampun! Jangan bunuh kami...!” ratap pimpinan mereka sambil bersujud ketakutan, mengharap ampunan Purbaya.
“Hm, manusia macam kalian tak ada ampunan! Terimalah kematian kalian! Heaaa...!”
Dengan cepat Purbaya menggerakkan kepala ke arah lima lelaki yang masih memegang pedang dan golok. Seketika itu juga rambut panjangnya berkelebat memancarkan cahaya berkilauan. Dan dari kilatan cahaya menyilaukan itu melesat sinar putih keperakan. Itulah ajian 'Rambut Api' Purbaya.
“Heaaa...!” Wuttt! Slats! Slats! “Akh...!” Lima orang terpekik bersamaan ketika sinar yang melesat dari ajian 'Rambut Api' Purbaya menghantam telak tubuh mereka. Seketika tubuh kelima lelaki beringas itu meleleh hingga ber- sembulan tulang-belulang dengan cairan merah kehitaman. Seketika suasana berubah hening, tak ada lagi suara erangan atas atau jeritan kesakitan. Karena kelima anak buah Partai Kera Hitam langsung mati saat sinar keperakan menghantam tubuh mereka.
Pendekar Gila dan Mei Lie terlonjak kaget. Keduanya tidak menduga kalau Purbaya akan berbuat seperti itu. Pendekar Gila hanya mampu menarik napas, sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya sebenarnya tak setuju jika Purbaya menghabisi nyawa mereka. Karena orang-orang itu tadi telah meratap minta ampun.
“Ah ah ah...! Kawan, mengapa kau lakukan itu? Bukankah mereka sudah minta ampun?” tanya Sena dengan meringis sambil menggaruk-garuk kepala.
“Maafkan aku, Kawan. Hatiku telah terbawa perasaan, ketika tiba-tiba teringat kejadian dua puluh tahun silam. Manakala orang-orang jahat yang mungkin pimpinan mereka membunuh ayah, serta membuat keluargaku berantakan,” tutur Purbaya seakan menyesali tindakannya.
Pendekar Gila menghela napas dalam-dalam. Kemudian dengan cengengesan sambil tangan kanan menggaruk-garuk kepala, diliriknya Mei Lie yang hanya diam membisu, seakan tak berniat meng- ucapkan kata-kata.
“Adi Purbaya, mungkin jalan hidupmu masih lumayan dibandingkan nasibku. Ayah dan ibuku mati dibantai. Sedangkan kau masih punya ibu. Bersyukurlah, karena kau masih punya kesempatan untuk dapat bertemu dengan ibumu,” tutur Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. “Sedangkan aku, tak punya siapa-siapa. Memang menurut cerita paman dan bibiku masih hidup. Tapi..., entah di mana.”
Purbaya terdiam mendengar cerita yang dituturkan Pendekar Gila. Hatinya merasa tutur kata pendekar itu sangat bijaksana dan menunjukkan ketabahan serta kesabaran. Dirinya sendiri baru saja terpancing amarah. Padahal penderitaannya, belum seberapa dibandingkan yang dialami Pendekar Gila (Untuk lebih jelasnya, silakan ikuti serial Pendekar Gila dalam episode pertamanya yang berjudul 'Suling Naga Sakti').
“Ah ah ah, sudahlah! Semua telah terjadi. Tak perlu kita sesalkan dan permasalahkan. Oh, aku lupa untuk membayar makanan yang tadi kita makan. Ayo...!” ajak Sena sambil melangkah menuju ke kedai. Setelah membayar makanan yang telah mereka makan, Pendekar Gila kembali keluar menemui Purbaya yang tengah duduk di serambi depan kedai. Mei Lie mengikuti di belakangnya.
“Sekarang, hendak ke mana kau pergi?” “Hm..., sebenarnya aku akan pergi ke Desa Kranggan untuk mencari kuburan ayahku.”
“Desa Kranggan? Bukankah ini Desa Kranggan?” balik Mei Lie bertanya, nadanya menjelaskan pada Purbaya kalau desa di mana mereka kini berada adalah desa yang tengah dicari oleh Purbaya.
“O, jadi ini Desa Kranggan?” tanya Purbaya. “Benar, Adi Purbaya...,” sahut Mei Lie tersenyum pada Purbaya.
“Ke arah manakah kalian hendak melangkah?” tanya Purbaya seraya menatap wajah Mei Lie dan Pendekar Gila bergantian.
“Aha, entahlah. Kami berdua hanyalah pengembara. Kami pergi tanpa tujuan yang pasti,” jawab Sena tersenyum cengengesan sambil menoleh ke wajah Mei Lie. Gadis itu tersenyum dan mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu. Aku hendak tinggal beberapa saat di desa ini. Kalau ada umur panjang, mungkin kita akan bertemu lagi. Bukan begitu, Tuan Pendekar?” tanya Purbaya.
“Aha, benar juga katamu, Adi Purbaya. Baiklah, aku dan Mei Lie memohon pamit,” ujar Sena.
“Sampai jumpa lagi, Purbaya,” sahut Mei Lie sambil melangkah seiring dengan Sena, meninggal- kan Purbaya. Pemuda itu berdiri mematung, menatap langkah sepasang pendekar meninggalkan tempat itu. “Sungguh seorang pendekar yang berbudi luhur. Meski tingkah lakunya seperti orang gila, jiwanya sangat agung. Semoga kita bisa bertemu lagi, Tuan Pendekar! Dan semoga aku akan segera men- dapatkan kitab milikmu,” gumam Purbaya sambil melangkah meninggalkan pelataran kedai.
Orang-orang yang ada di kedai itu tampak memperhatikan sambil menggeleng-geleng kepala. Mereka semua merasa kagum terhadap kehebatan pemuda berambut keperakan itu.
“'Tuan Pendekar, Tunggu...!” seru gadis cantik yang tadi ditolongnya. Gadis itu berlari mengejar Purbaya yang seketika berhenti, lalu menoleh ke belakang.
“Ada apa, Nisanak?” tanya Purbaya. “Tadi ku-dengar kau mengatakan dari Desa Kranggan ini. Siapakah, kakang...?”
“Namaku Purbaya.” “Hah?! Kau Purbaya...? Purbaya anak Paman Kerto Pati?” tanya gadis cantik itu berusaha menegaskan. Matanya terbelalak, seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengar.
“Benar. Siapakah kau, Nisanak?” tanya Purbaya ingin tahu.
“Aku Suheni, anak Ki Marno. Kepala Desa Kranggan ini,” jawab gadis berpakaian biru laut itu.
“O, jadi kau Suheni? Tak kusangka, kita bisa bertemu lagi!” gumam Purbaya sambil menggeleng- geleng kepala. “Bagaimana kabar Paman Marno dan Bibi Sami?”
“Ayah dan ibu, mati dibantai mereka. Ayah menolak memberi upeti pada Partai Kera Hitam yang dipimpin Wanara. Orang itu juga yang dulu mem- bunuh Paman Kerto Pati,” tutur Suheni. Mendengar penuturan gadis cantik itu Purbaya tersentak kaget dengan mata terbelalak. Orang yang menghabisi nyawa ayahnya ternyata masih hidup. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan-akan berusaha mereda- kan amarahnya.
“Sudah kuduga, kalau kesepuluh orang tadi anak buah si manusia kera itu,” gumam Purbaya, “Beruntung Sena menasihatiku. Kalau tidak mungkin aku tak dapat menahan amarah.”
Purbaya menunduk sedih, ketika teringat pada peristiwa yang pernah terjadi dua puluh tahun silam. Suheni pun terdiam, seakan mulutnya terasa kelu tak dapat berkata lagi.
“Apakah kau tahu, di mana ibuku?” “Entahlah, Purbaya! Aku tak tahu. Tapi, mungkin Paman Gendo mengetahuinya,” ujar Suheni. “Sebaik- nya kau menginap di sini dulu, Purbaya.”
“Baiklah. Aku akan ke kuburan ayah dulu,” ujar Purbaya sambil melangkah diiringi Suheni menuju ke arah barat, tempat dulu rumahnya berada.
Semua orang yang sejak tadi memperhatikan Purbaya bercakap-cakap dengan Suheni seketika mengikuti langkah pemuda itu. Mereka seketika merasa memiliki gairah hidup lagi, setelah tahu siapa pemuda berambut putih keperakan itu.
“Hidup Purbaya...”
“Hidup Malaikat Berambut Perak...!” Para warga mengelu-elukan kedatangan Purbaya ke Desa Kranggan. Kini semua harapan warga tertumpu pada Purbaya. Mereka mengharap pemuda itu akan mampu membela Desa Kranggan dari ancaman Partai Kera Hitam.
“Hidup Purbaya...!” “Hidup Malaikat Berambut Perak...!” “Hidup anak Kerto Pati...!” Warga Desa Kranggan terus mengikuti ke mana langkah Purbaya pergi. Orang-orang yang berada di dalam rumah pun bermunculan keluar, ingin melihat anak Kerto Pati yang telah kembali. Suasana Desa Kranggan seketika menjadi riuh. Para penduduk seakan-akan merasa baru saja terjaga dari mimpi buruk, setelah dua puluh tahun lebih dicekam ketakutan.
***

6
Pendekar Gila dan Mei Lie masih melangkah menelusuri jalanan di tepi Sungai Blongkeng yang membelah Hutan Kenjer Kuning. Kedua muda-mudi itu sekali-sekali bercanda ria sambil menikmati indahnya suasana senja yang sejuk. Di atas pepohonan di sepanjang tepian sungai terdengar suara kicau burung-burung yang hendak pulang ke sarangnya.
Betapa gembiranya Mei Lie saat itu setelah lama berpisah dengan Pendekar Gila. Rasa rindu yang selama ini dipendamnya, dicurahkan pada pemuda tampan namun tingkah lakunya seperti orang gila itu.
“Ayo kejar, Kakang...!” seru Mei Lie sambil lari, setelah mencubit pinggang kekasihnya. Sena tampak meringis-ringis kesakitan, akibat cubitan itu.
“Hi hi hi...! Akan kukejar ke mana pun kau pergi, Mei Lie Sayang...!” seru Sena sambil berlari mengejar Mei Lie yang berlari sambil tertawa-tawa.
Kedua sejoli itu terus berkejaran dengan diselingi canda ria. Suasana sore itu dirasakan bertambah indah. Alam sekelilingnya seakan turut bergembira menyaksikan kebahagiaan keduanya.
“Ayo Kakang, kejar aku...!” Mei Lie kembali berseru sambil terus berlari dengan tawanya yang merdu.
“Aha, akan kukejar!” seru Sena sambil kembali berlari mengejar. Keduanya terus berkejar-kejaran. Tak terasa keduanya sampai di tengah Hutan Kenjer Kuning. Namun tiba-tiba Mei Lie berhenti. Keningnya berkerut karena mendadak kupingnya mendengar suara kaki-kaki menginjak dedaunan.
Kresek! Krak! “Hm!” gumam Mei Lie sambil memasang telinga tajam-tajam, berusaha meyakinkan pendengarannya. Matanya yang lembut dan sayu menatap tajam ke sekelilingnya. Kepalanya meneleng seakan-akan ingin memastikan dari mana asal suara-suara itu.
“Aha, ada apa, Mei Lie...?” tanya Sena yang melihat Mei Lie nampak diam dengan mata terpicing dan dahi berkernyit.
“Ssst!” Mei Lie memberi isyarat pada Pendekar Gila agar diam.
Sena nyengir sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian dia pun memasang telinganya dengan tajam, untuk mendengar apa yang diisyaratkan kekasihnya.
Kresek! Krek! Pendekar Gila cengengesan, mendengar suara langkah kaki menginjak dedaunan kering.
“Hi hi hi...! Rupanya ada babi hutannya juga, Mei Lie!” tukas Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Mei Lie melototkan mata gemas. Dicubitnya pinggang Sena, yang membuat Sena meringis.
“Cerewet! Diam dulu...!” sungut Mei Lie dengan wajah cemberut. Pendekar Gila semakin cengengesan. Tetapi gadis cantik itu, tidak cemberut lagi. Bahkan diam sambil tersenyum. “Diam! Nanti mereka lari!”
“Aha, keluarlah kalian jika tidak ingin kulempar dengan tanah!” seru Sena yang membuat Mei Lie mendengus kesal bercampur geram.
Seketika dari balik semak-semak muncul lima lelaki berpakaian coklat tua lengan panjang. Rambut mereka panjang, diikat dengan kain membentuk segitiga. Namun wajah kelima lelaki berwajah bersih itu tak menggambarkan kebengisan sebagaimana layaknya para penjahat. Ada perasaan sabar tergambar di wajah mereka.
“Siapa kalian?!” tanya salah seorang yang berkumis tipis.
“Aha, kami hanya petualang biasa. Kami tak membawa apa-apa,” jawab Sena sambil tersenyum- senyum dan menggaruk-garuk kepala. Kelima lelaki muda itu mengerutkan kening, menyaksikan tingkah laku Pendekar Gila.
Sejenak Pendekar Gila dan Mei Lie saling tatap dengan kelima lelaki berambut panjang itu.
“Kami adalah Lima Jelanga dari Sawo Jajar. Apakah kalian utusan gerombolan Partai Kera Hitam yang ditugaskan untuk mengejar kami?” tanya Jelanga Patra, yang merupakan orang tertua dari kelimanya.
“Hi hi hi...! Apakah pantas kami sebagai anak buah Partai Kera Hitam?” tanya Sena sambil tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. Lalu matanya memandang Mei Lie yang juga tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Kisanak, kami sendiri tak kenal dengan gerombolan Partai Kera Hitam itu. Ah, mengapa kalian mesti takut pada gerombolan itu?” tanya Mei Lie semakin tertarik ingin tahu.
“Hm, semua orang sepertinya merasa takut pada gerombolan Partai Kera Hitam. Apa sebenarnya yang terjadi?” tanya Mei Lie dalam hati. Dirinya merasa heran karena sudah dua kali ini mendengar Partai Kera Hitam disebut. Pertama di Desa Kranggan, ketika seorang gadis lari ketakutan hendak diculik gerombolan dari Partai Kera Hitam. Dan sekarang, kelima orang itu pun sepertinya takut dengan Partai Kera Hitam.
Kelima Jelanga dari Sawo Jajar nampak belum percaya. Kelimanya memperhatikan dengan seksama, kedua muda-mudi berada lima tombak di hadapannya. Mereka merasa pemuda itu mirip orang gila. Sedang yang satu lagi seorang wanita yang tampaknya bukan bangsa pribumi.
“Benarkah kalian bukan orang-orang Partai Kera Hitam?” tanya Jelanga Patri, seakan-akan ingin memastikan, kalau kedua orang itu benar-benar bukan anggota Partai Kera Hitam yang terkenal ganas dan kejam.
“Aha, kalian lucu sekali! Kalian tampaknya tak percaya pada kami. Kalau begitu, lebih baik kami pergi. Ayo Mei Lie!” ajak Sena dengan cengengesan.
Mendengar nama Mei Lie disebut, kelima Jelanga dari Sawo Jajar membelalakkan mata. Kening mereka mengerut. Sepertinya mereka sedang mengingat- ingat sesuatu. Ketika Mei Lie bersama Pendekar Gila hendak melangkah pergi, Jelanga Kantra berseru.
“Bidadari Pencabut Nyawa Iblis, tunggu...!” Pendekar Gila dan Mei Lie seketika tersentak kaget lalu menghentikan langkah. Keduanya mengerutkan kening, mendengar seruan dari Jelanga Kantra, yang menyebut gelar Mei Lie.
Kelima Jelanga dari Sawo Jajar segera memburu Mei Lie dan Pendekar Gila. Mereka segera menjura hormat bersama. Melihat sikap kelima lelaki yang belum dikenalnya itu Pendekar Gila mengernyitkan kening. Namun mulutnya kembali cengengesan.
“Aha, kenapa kalian ini?” tanya Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
“Maafkan kami! Terimalah hormat kami! Sungguh hal yang bodoh dan tolol tak tahu kalau di hadapan kami telah berdiri dua pendekar sakti,” ujar Jelanga Patra, sambil memimpin keempat saudara seperguruannya memberi hormat.
“Aha, sudahlah! Tak perlu kalian berlaku begitu. Kami manusia biasa seperti kalian,” ujar Sena tersenyum.
“Benar Kisanak sekalian. Tak perlu Kisanak berlaku merendah seperti itu. Oh ya, kalau boleh kami tahu, siapa Kisanak sekalian? Dan mengapa ada di dalam hutan?” tanya Mei Lie ingin tahu.
Jelanga Patra menghela napas dalam-dalam seraya memejamkan mata, seakan-akan hendak menekan perasaannya. Kemudian mulai menuturkan kenapa mereka berada di dalam Hutan Kenjer Kuning.
“Kami berlima sedang menjaga Ki Rupaksi, guru kami yang terluka parah akibat bentrok dengan gerombolan dari Partai Kera Hitam. Wanara ketua Partai Kera Hitam terus menginginkan para anak buahnya mencari Kitab Ajian Dewa yang berada di tangan Ki Rupaksi...”
Pendekar Gila dan Mei Lie serta keempat adik seperguruan Jelanga Patra terdiam. Di wajah kelima Jelanga dari Sawo Jajar tampak kedukaan yang dalam.
“Akhirnya guru kami harus mengalami luka dalam yang parah...,” lanjut Jelanga Patra. “Sedangkan Kitab Ajian Dewa kini telah berpindah ke tangan Wanara...
Mei Lie tampak mengangguk-anggukkan kepala, seakan memahami penuturan murid Ki Rupaksi itu. Sementara itu Pendekar Gila hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
“Dengan luka dalam yang berat, guru kami bawa ke tempat ini. Kami berusaha menolong guru, menyembuhkan luka dalam, tetapi tak mampu. Lukanya terlalu berat. Kalau saja guru sudah bertemu dengan Tuan, mungkin kematiannya akan tenang. Karena guru pernah berkata, akan sangat menyesal jika mati belum bertemu dengan Pendekar Gila. Karena Ki Rupaksi merasa berhutang budi, serta harus bertanggung jawab pada Pendekar Gila atas kitab itu,” ujar Jelanga Patra mengakhiri ceritanya.
''Aha, kalau begitu Ki Rupaksi ada di sini?” tanya Sena.
“Benar, Tuan Pendekar.” “Boleh kami bertemu?” tanya Mei Lie. “Tentu saja, mari!” ajak Jelanga Patra. Mei Lei dan Sena diantar kelima Jelanga dari Sawo Jajar memasuki Hutan Kenjer Kuning, tempat Ki Rupaksi berada. Keduanya dibawa ke sebuah gubuk yang sangat tersembunyi letaknya hingga sulit diketemukan orang Iain.
Di depan gubuk, terdapat empat orang yang berpakaian merah muda lengan panjang dengan ikat kepala sama seperti yang dipakai Lima Jelanga dari Sawo Jajar. Mereka langsung menjura dan memberi jalan, ketika Pendekar Gila dan Mei Lei da tang.
Di sebuah pembaringan kayu seorang lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun tampak terkulai lemas, itulah Ki Rupaksi. Di dadanya yang tak tertutup nampak terdapat goresan-goresan hitam seperti terbakar, karena terpukul ketika bertarung melawan anak buah Wanara.
Pendekar Gila dan Mei Lie mendekati Ki Rupaksi yang tampak lemah sekali.
“Guru..., guru, kami datang,” bisik Jelanga Patra.
Mata tua Ki Rupaksi perlahan-lahan membuka. Kemudian memandang dengan tatapan kosong pada sang Murid yang berjongkok di sampingnya.
“Ada... apa, Patra...?” tanya Ki Rupaksi dengan uara berat dan lemah sekali. “Kau...! Oh..., apakah gerombolan... itu datang...?”
“'Tidak, Guru. Kami membawa Pendekar Gila,” bisik Jelanga Patra lirih.
“Pen..., dekar Gila?” tanya Ki Rupaksi lirih. “Huk! Huk...!”
“Benar, Guru. Lihatlah...!” Jelanga Patra pun menoleh pada kedua tamunya yang berdiri dua tombak dari pembaringan sang Guru. Pendekar Gila yang mengerti maksud Jelanga Patra segera melangkah mendekati Ki Rupaksi diikuti Mei Lie. Sesaat keduanya terdiam, menatapi wajah lelaki tua itu. “Ki Rupaksi, apa yang terjadi?” tanya Sena.
“Pendekar... Gila..., huk...! Benar..., kah kau Pendekar Gi..., la...?” tanya Ki Rupaksi dengan suara terputus-putus. Tangannya memegangi dadanya yang terasa sakit.
“Aku muridnya, Ki,” jawab Pendekar Gila pelan sambil mengerahkan tenaga dalam yang disalurkan lewat kerongkongannya. Hal itu dimaksudkan untuk memberi pendengaran Ki Rupaksi agar jelas. Itulah ilmu 'Penyusup Suara'.
“O..., syukurlah kau akhirnya datang...! Tetapi..., aku tak mampu menjaga kitab itu...,” keluh Ki Rupaksi lirih, hampir tak terdengar, “Mereka..., mereka telah mengambilnya. Aku... minta maaf, Pendekar Gila!”


No comments:

Post a Comment