TRAGEDI
BERDARAH DI PONOROGO
Oleh Firman Raharja
1
Pertunjukan Reog Ponorogo itu
nampak meriah sekali. Sore itu, Desa Ponorogo kelihatan temaram indah. Mentari
telah menyusup di balik rimbun pepohonan, dan tak lama lagi akan segera
tenggelam di ufuk barat. Di depan rumah Warok Gandu Pala, suasana nampak ramai.
Hal itu karena di pelataran luas rumah besar itu tengah berlangsung pagelaran
reog, di bawah asuhan Warok Gandu Pala sendiri.
Warok Gandu Pala sengaja menggelar
hiburan, dengan maksud menarik perhatian seluruh warga, berhubungan dengan
pencalonan dirinya sebagai kepa- la desa. Sejak tiga bulan yang lalu Desa
Ponorogo memang kosong kekuasaan, setelah kepala desa yang la- ma diketemukan
mati terbunuh.
Penonton berjubel-jubel menyaksikan
pagela- ran itu. Macan Barong, yang menjadi tokoh utama dalam reog, tampak
meliuk-liuk mengepakkan bulu-bulu merak yang lebar dan indah. Anak-anak kecil
berlari menyingkir karena ketakutan, ketika Macan Barong menggerakkan kepalanya
ke bawah. Diiringi suara gemelan yang menghentak-hentak dan bersemangat
mengiringi para pemain reog terus menari, bagaikan tak menghiraukan senja yang
semakin merayap.
Seorang lelaki berbadan tinggi
tegap dengan wajah ditumbuhi kumis tebal, melangkah ke tengah arena mendekati
Macan Barong yang tengah meliuk- liuk. Di tangan lelaki berusia sekitar lima
puluh lima tahun itu, tergenggam sebuah cambuk besar berwarna hitam.
Cletar! Tiba-tiba suara lecutan
cambuk terdengar ke- ras menggelegar dan memekakkan telinga, ketika lelaki berpakaian
serba hitam itu melecutkan cambuknya. Sebuah lecutan yang luar biasa. Tampaknya
lelaki be- rikat kepala kain hitam itu begitu mahir memainkan cambuk yang
digenggamnya.
"Ayo Macan Barong, tunjukkan
kebolehan mu!" seru lelaki bermuka garang itu sambil melecutkan kembali
cambuk di dekat kaki-kaki penari yang men- genakan topeng.
Cletar! Cletar...! Macan Barong
kembali meliukkan kepala den- gan kuat dan berirama. Sehingga bulu-bulu merah
di atas kepala meriap memantulkan cahaya matahari senja. Begitu indah gemulai
tarian Macan Barong yang disertai jurus-jurus silat. Penari Macan Barong yang
memikul topeng kepala macan dan rangkaian bulu- bulu merak itu seakan-akan tak
merasakan beban se- dikit pun.
"Bagus! Tunjukkan lagi kebolehan
mu!" lelaki berkumis yang memegang cambuk hitam kembali memerintahkan
Macan Barong agar terus menari. Cam- buk hitam besar dan panjang di tangannya,
sesekali dilecutkan ke sekitar kaki penari Macan Barong.
Cletar! Lecutan keras itu
seakan-akan membelah alunan gamelan. Tiupan terompet dan pukulan gendang yang
menghentak-hentak penuh semangat terus ter- dengar, mengiringi tarian Macan
Barong.
Sementara itu di antara para
penonton, nam- pak seorang pemuda berambut gondrong dengan pakaian rompi kulit
ular, turut menyaksikan reog itu. Pemuda tampan itu tak lain Sena Manggala atau
yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila. Sena nampak cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. Sesekali tangan dan kakinya turut bergerak, mengikuti
alunan gamelan yang menghentak dan bersemangat.
Sesaat kemudian terdengar suara
tawa cekikikan dari mulutnya yang mengundang perhatian penonton lain.
"Hi hi hi...! Lucu...! Ha ha
ha...!" Sena tertawa- tawa sambil tangan dan kakinya terus bergerak-gerak,
mengikuti gerakan Macan Barong.
Cletar! Cletarrr...! Terdengar
kembali suara lecutan cambuk, sea- kan memecah suasana senja temaram, di antara
alu- nan gamelan. Namun, perhatian para penonton, kini tidak semua tertuju pada
pagelaran reog. Mereka tiba- tiba saja beralih pada Pendekar Gila yang
bertingkah laku seperti orang gila, tertawa-tawa sendiri sambil mengikuti
gerak-gerik silat Macan Barong.
"Aha, ternyata kau
menggerakkan jurus silat!" gumam Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk
kepa- la. Mulutnya cengengesan, lalu tertawa dan mengge- leng-gelengkan kepala.
Tingkah lakunya yang konyol itu menyebabkan perhatian sebagian besar penonton
dan kebanyakan anak kecil tertuju pada dirinya.
"Hai, orang gila! Sana
pergi...!" bentak lelaki pemegang cambuk besar hitam dengan mata melotot
menatap Pendekar Gila. Lelaki yang ternyata Warok Gandu Pala merasa jengkel
atas tingkah laku Pendekar Gila, karena menyebabkan perhatian sebagian penon-
ton beralih dari pertunjukan reog.
"Hi hi hi...! Kenapa kau
marah, Ki? Apakah tak boleh aku menonton...?" tanya Pendekar Gila sambil
tertawa cekikikan dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kukatakan pergi!
Cepat..!" bentak Warok Gan- du Pala semakin garang dengan mata melotot
"Hi hi hi...! Ah ah ah, galak
sekali kau, Ki! Bu- kankah kau mengadakan pertunjukan untuk diton- ton?"
tanya Pendekar Gila dengan mulut cengengesan.
"Kurang ajar! Sudah kukatakan,
cepat pergi! Hiburan ini bukan untuk orang gila sepertimu!" bentak
Warok Gandu Pala semakin marah,
karena Pendekar Gila tak segera beranjak dari tempat itu. Malah kini tertawa
terbahak-bahak.
"Ah ah ah, galak sekali kau,
Ki! Aneh..., kau menggelar hiburan tapi tak boleh ditonton," gumam
Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Sinting...! Hi hi hi...!
Gila kau, Ki."
"Bedebah! Masih juga kau
membandel, Pemuda Gila! Cepat pergi, sebelum hilang kesabaranku!" ben- tak
Warok Gandu Pala sengit.
"Aha, baiklah. Kurasa, kau
menyimpan sesua- tu, Ki...," tukas Pendekar Gila seraya mengeloyor me-
ninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba terdengar sua- ra seorang wanita
memanggilnya.
"Hai, tunggu...!" Karena
merasa ada yang memanggil, Pendekar Gila seketika menghentikan langkah. Sambil
mengga- ruk-garuk kepala, dibalikkan tubuhnya. Mulutnya ter- senyum dengan
cengengesan, ketika dilihatnya seo- rang gadis cantik berambut terurai panjang
dengan ikat kepala kain merah melangkah menghampiri.
"Aha, kau memanggilku, Ni
Sanak?" tanya Pen- dekar Gila dengan mulut cengengesan dan tangan ka-
nannya menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap tajam wajah gadis dua puluh dua
tahunan itu. Kemu- dian Sena mengerutkan kening, ketika melihat cara ja- lan
gadis itu. Kaki agak terbuka, sehingga langkahnya agak menegang.
"Ya," jawab gadis cantik
bermuka bulat telur dan berhidung mancung. Mata gadis berpakaian kun- ing itu
menatap wajah Pendekar Gila, kemudian me- rayap turun sampai ke kaki. Gadis itu
sepertinya hen- dak menilai Pendekar Gila.
Melihat sikap gadis di hadapannya,
Sena nyen- gir. Keningnya semakin berkerut, tak mengerti apa yang dicari gadis
itu pada dirinya.
"Aha, ada apa kau memandangi
ku begitu, Ni Sanak?" tanya Sena seolah merasa risi. Tangannya kembali
menggaruk-garuk kepala. Dengan kening ber- kerut karena heran, Pendekar Gila
menatap wajah ga- dis cantik itu yang juga tengah menatap dirinya.
Gadis cantik berambut panjang itu
tersenyum manis, membuat Pendekar Gila semakin tak mengerti apa arti senyum
sang Gadis. Senyum itu seperti me- nyimpan misteri, yang terasa sulit untuk
dibuka.
"Tak ada apa-apa," sahut
gadis cantik itu, yang membuat Sena bertambah heran, tak mengerti mak- sud
sebenarnya gadis itu. "Aku hanya ingin tahu, be- narkah kau yang bernama
Sena Manggala atau Pende- kar Gila?"
Pendekar Gila tersenyum cengengesan
sambil kembali menggaruk-garuk kepala, semakin heran dengan tingkah laku gadis
itu.
"Aha, memang namaku Sena
Manggala. Ada apa gerangan?" tanya Sena ingin tahu.
"Ah, tidak. Terima
kasih," usai berkata begitu gadis cantik berpakaian kuning muda itu
melangkah meninggalkan Pendekar Gila yang semakin bertambah heran. Dirinya
benar-benar tak tahu, mengapa gadis cantik itu hanya ingin tahu namanya, lalu
pergi lagi.
"Ah ah ah, dunia ini semakin
aneh...!" gumam Pendekar Gila sambil masih cengengesan. Kemudian
digeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran melihat tingkah laku gadis tadi.
Dengan masih cengengesan, Sena kembali melanjutkan langkahnya.
Mentari semakin condong ke barat,
tapi pagela- ran Reog Ponorogo masih berlanjut Penonton bahkan bertambah banyak
berdatangan memadati pelataran depan rumah Warok Gandu Pala. Pagelaran reog tampak
semakin bertambah seru. Warok Gandu Pala ber-
teriak-teriak, memerintahkan Macan
Barong untuk menari dan meliuk-liukkan bulu merah yang dipang- gulnya. Seirama
dengan suara gamelan yang terus mengalun. Para penabuh gamelan pun nampak
begitu bersemangat sambil bertepuk tangan menimbulkan irama khas reog
ditingkahi teriakan-teriakan mulut mereka. Cletar!
"Oe...a! Oe...a! Oe...a!
Cambuk hitam besar di tangan Warok Gandu Pala terus menggelegar, memecahkan
suasana senja. Diikuti liukan-liukan tubuh Macan Barong dan teria- kan-teriakan
para penabuh gamelan yang disebut pan- jak
"Ayo, Barong! Tunjukkan
kebolehan mu!" seru Warok Gandu Pala sambil memutar cambuk dan
menghentak-hentakkan kaki ikut menari. Sementara itu terdengar pula sorak-sorai
dan tepuk tangan para penonton memberi semangat para pemain reog. Sua- sana
senja benar-benar hanyut dalam kegembiraan.
Sementara itu pula, gadis
berpakaian kuning yang tadi memanggil Pendekar Gila, tampak meng- hampiri Warok
Gandu Pala. Kemudian dengan perla- han gadis itu membisikkan sesuatu pada Warok
Gan- du Pala. "Jadi dia Pendekar Gila...?" tanya Warok Gandu Pala
dengan suara setengah berbisik. Di wajahnya ada gambaran rasa terkejut
"Benar, Paman," sahut
gadis cantik itu. "Hm, celaka! Bisa berantakan rencana kita, Se-
kati."
"Apa yang harus kita lakukan,
Paman?" tanya gadis yang ternyata bernama Sekati. Matanya menatap tajam
pada Warok Gandu Pala yang dipanggilnya den- gan sebutan paman.
Warok Gandu Pala terdiam sejenak,
seolah-olah tengah memikirkan, apa yang hendak dilakukan agar bisa berhasil
rencananya.
"Kita singkirkan Pendekar Gila
itu," ujar Warok Gandu Pala setengah mendengus. "Dia akan memper-
sulit kita."
"Tapi dia bukan orang
sembarangan, Paman," tukas Sekati
"Aku tahu. Maksudku, kita
tidak menghada- pinya secara terang-terangan, Kati."
"Lalu...?" tanya Sekati
ingin tahu. "Lihat saja, nanti malam!" sahut Warok Gandu Pala.
Sekati hanya diam, ketika pamannya
kembali masuk ke arena untuk melanjutkan pagelaran itu. Gadis cantik itu
menghela napas panjang-panjang. Ke- mudian berlalu meninggalkan tempat itu.
***
Malam telah datang, membawa kegelapan
yang mencekam. Suasana Desa Ponorogo dan sekitarnya nampak sunyi dan sepi.
Rumah-rumah penduduk te- lah tertutup rapat, mungkin penghuninya telah terle-
lap dalam tidurnya.
Dari arah selatan Desa Ponorogo,
muncul sepu- luh sosok lelaki yang semuanya bertubuh tinggi tegap dan berwajah
garang. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan berikat kepala kain hitam
pula. Mata mereka menatap garang dan begitu liar mengawasi ke sekeliling desa
yang sunyi dan sepi.
"Kita harus hati-hati. Ingat
baik-baik, jika ke- pergok tak ada pilihan lain kecuali membunuh!" ujar
seorang lelaki bermuka persegi dengan rambut gon- drong, memperingatkan
rekan-rekannya.
"Baik!" "Kita juga
harus ingat apa yang diperintahkan kepada kita. Juga tentang tulisan itu!"
tambah lelaki berkumis tebal bernama Sumogiri. Dialah pimpinan kesembilan
lelaki berpakaian serba hitam itu.
Kesembilan anak buahnya menanggapi
dengan anggukan kepala. Mereka terus melangkah menembus gelap malam.
"Kita harus tetap pada
kesepakatan bersama. Bahwa kita harus memilih orang itu sebagai pimpinan di
Ponorogo ini. Jika dia berhasil menjadi lurah, kita akan jaya," sambung
Sumogiri sambil mengurai se- nyum.
"Benar! Kalau dia berhasil
menjadi lurah, kita akan bebas berkeliaran. Kita akan jaya dan disegani seluruh
warga Desa Ponorogo," tambah Sumogara, adik dari Sumogiri. Keduanya
menamakan diri dengan julukan 'Sepasang Walet Merah'.
"Ayo kita mulai! Ingat, malam
ini kita menya- troni Ki Renu Jalna!" ujar Sumogiri sambil menggerak- kan
tangan, memerintahkan rekan-rekannya agar se- gera bergerak.
Kesepuluh lelaki berpakaian hitam
terus me- langkah memasuki Desa Ponorogo. Mata mereka yang tajam, memandang ke
sekelilingnya. Tak lama kemu- dian kawanan berpakaian hitam itu telah sampai di
depan rumah Ki Renu Jalna.
"Mungkin ini rumahnya,"
ujar Sumogiri seraya memperhatikan sebuah rumah besar menghadap sela- tan.
Sumogara dan rekan-rekannya mengangguk. Ke- mudian melangkah mendekati pintu
depan rumah Ki Renu Jalna, salah seorang yang juga mencalonkan diri sebagai
Lurah Desa Ponorogo.
Sumogiri berdiri paling depan.
Matanya men- gawasi ke sekeliling rumah yang nampak sepi itu.
Sudah merupakan kebiasaan
orang-orang za- man dulu, kalau mau menjadi lurah pasti akan mem- bawa jawara
atau centeng untuk menjaga rumahnya. Namun, Ki Renu Jalna nampaknya tak
melakukan hal itu. Rumah besar itu tampak sepi tanpa penjagaan. Sepertinya Ki
Renu Jalna merasa tenang-tenang saja, tak takut terhadap bahaya yang setiap
saat dapat mengancam jiwa atau kedudukannya sebagai seorang calon lurah.
Mungkin karena Ki Renu Jalna
menganggap pemilihan lurah masih cukup lama. Sehingga baginya terlalu dini
untuk mengadakan penjagaan di rumah. Apalagi dirinya sangat disenangi warga
Desa Ponorogo. Tak ada masalah baginya. Bahkan mungkin Ki Renu Jalna merasa
yakin, dialah yang bakal memenangkan pemilihan lurah. Hal itu karena hampir
semua warga mendukung dirinya sebagai calon lurah. Sementara para saingannya,
seperti Ki Randu Paksa, Ki Banjar Guling, dan Warok Gandu Pala hanya mendapat
pen- dukung sedikit. Nampaknya mereka tak banyak memi- liki harapan untuk
menang dalam pemilihan lurah kali ini.
Di samping mendapat dukungan yang
besar dari warga Desa Ponorogo, Ki Renu Jalna juga dido- rong terus oleh para
sesepuh Desa Ponorogo. Di antara sesepuh desa, terdapat tiga warok sakti, yang
cukup ditakuti dan disegani penduduk Ponorogo. Ketiga wa- rok itu adalah Warok
Singa Lodra, Warok Sura Pati, dan Warok Sito Kuta.
Tok, tok, tok! Sumogiri mengetuk
pintu rumah Ki Renu Jalna. Kemudian memerintahkan rekan-rekannya agar segera
menutupi wajah mereka dengan kain hitam yang telah disiapkan.
"Siapa?!" dari dalam
terdengar suara Ki Renu
Jalna. Kemudian disusul suara
langkah-langkah kaki mendekati pintu depan.
"Aku, Ki," sahut
Sumogiri. "Aku siapa?" tanya Ki Renu Jalna. "Aku warga Desa
Ponorogo." "Ada apa, malam-malam begini datang?" tanya Ki Renu
Jalna masih di dalam, belum membukakan pintu. Tampaknya lelaki tua itu sudah
agak curiga, se- hingga merasa bimbang untuk membuka pintu ru- mahnya.
"Perlu penting, Ki. Bukalah pintunya...!" pinta Sumogiri, berusaha
mempengaruhi Ki Renu Jalna agar membukakan pintu.
Kreeek! Pintu terbuka. Saat itu
juga, muncul lelaki se- tengah baya bertubuh kurus dengan wajah menggam- barkan
kesabaran dan ketenangan. Dialah Ki Renu Jalna, calon Lurah Desa Ponorogo.
"Siapa kalian?!" bentak
Ki Renu Jalna dengan mata membelalak, ketika melihat sosok-sosok berpa- kaian
hitam dengan wajah setengah tertutup. Dilihat dari sorot mata, kesepuluh lelaki
itu jelas tidak ber- maksud baik. Hal itu terbaca jelas dalam batin Ki Renu
Jalna.
"Siapa pun kami, yang jelas
harus menyingkir- kan mu," dengus Sumogiri sambil mencabut golok lalu
mengarahkannya ke depan Ki Renu Jalna.
"He, apa alasannya?!"
sentak Ki Renu Jalna sambil mundur dua langkah. Matanya menatap tajam pada
sepuluh lelaki bermata garang yang kini telah masuk ke rumahnya dengan tangan
memegang golok
"Kau tak pantas menjadi lurah
di Ponorogo," sahut Sumogiri.
Terbelalak mata Ki Renu Jalna,
mendengar ucapan Sumogiri. Sambil menatap tajam wajah lelaki bersenjata golok
di depannya Ki Renu Jalna menden- gus, karena tiba-tiba menyadari, bahwa ada di
antara para saingan yang tidak senang kalau dirinya menjadi lurah.
"Cuih! Lancang sekali mulut kalian!
Semua warga Desa Ponorogo menghendaki aku menjadi lu- rah!" bentak Ki Renu
Jalna sengit dengan mata sema- kin tajam, menatap penuh kemarahan kepada
kesepu- luh lelaki berpakaian hitam yang telah berada di ru- mahnya. "Hua
ha ha...! Mereka boleh saja memper- cayaimu untuk menjadi Kepala Desa Ponorogo.
Tapi bagi kami, kau tak ada artinya dan harus disingkir- kan," sahut
Sumogiri dengan suara tawanya yang si- nis. Matanya semakin tajam, menatap
wajah Ki Renu Jalna.
Dari dalam muncul Nyi Tumirah,
istri Ki Renu Jalna. Wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun itu kaget
mendengar suara ribut di ruang depan. Nyi Tumirah membeliak, melihat suaminya
dalam anca- man orang-orang bercadar hitam. Apalagi ketika meli- hat
golok-golok tajam di tangan mereka.
"Ki, siapa mereka...?"
tanya Nyi Tumirah den- gan kening mengerut karena rasa takut, melihat para
lelaki berwajah garang itu. Dihampirinya sang Suami yang tengah menyurut mundur
dengan mata menatap tajam pada kesepuluh lelaki bersenjata golok yang juga menatapnya.
"Entah, Nyi. Mereka bermaksud
jahat terhadap kita," bisik Ki Renu Jalna.
"Jangan banyak omong, Ki!
Tangkap dia...!" pe- rintah Sumogiri sambil memberi isyarat dengan tan-
gan. Kesepuluh anak buahnya langsung melangkah maju, bermaksud menangkap.
"Cuh! Jangan seenaknya kalian
bertingkah di rumahku, Bajingan!" bentak Ki Renu Jalna geram. Di- cabutnya
keris yang terselip di pinggang belakang, ke- mudian dengan mata garang
menghadang kesepuluh lelaki garang yang hendak menangkapnya.
"Ki Renu, Jangan ladeni
mereka! Biar kita men- galah, daripada mati, Ki!" saran Nyi Tumirah yang
se- makin ketakutan, menyaksikan suaminya dalam an- caman maut
"Hm, begitu memang baik, Ki.
Turutilah apa ka- ta istrimu! Menyerahlah, jangan sampai kami menu- runkan
tangan jahat padamu!" dengus Sumogiri seten- gah mengancam. Tangan kirinya
diangkat, memberi isyarat pada rekan-rekannya agar berhenti.
Sumogiri kemudian melangkah maju,
mendeka- ti Ki Renu Jalna yang masih menatap tajam wajahnya. Mata lelaki garang
itu pun menghujam ke wajah Ki Renu Jalna.
"Kuharap kau menurut, Ki! Di
belakang kami, Pendekar Gila. Siapa yang berani dengannya?!" ancam
Sumogiri. Mendengar ucapan Sumogiri Ki Renu Jalna ter- sentak kaget. Hatinya
hampir tak percaya nama Pendekar Gila disebut sebagai dalang dari tindakan
seka- wanan berpakaian hitam itu.
"Bohong! Aku tahu siapa
Pendekar Gila. Dia tak mungkin berteman dengan kalian, Bangsa Bajingan!"
dengus Ki Renu Jalna seraya membelalakkan mata ga- rang. Keris di tangannya
ditudingkan ke muka Sumo- giri, yang semakin dekat.
"Terserah padamu! Mau percaya
atau tidak, yang pasti kami diperintah Pendekar Gila untuk me- nangkapmu,"
tegas Sumogiri.
Ki Renu Jalna tercengang. Hatinya
benar-benar tak percaya, kalau semua ini tindakan yang dilakukan Pendekar Gila.
Baginya tak masuk akal kalau pendekar yang namanya begitu tersohor dan sangat
disegani itu akan berbuat sekeji ini.
"Kuharap kau jangan melawan,
Ki! Kalau kau melawan kematianlah yang akan kau dapatkan," an- cam
Sumogiri.
"Ya! Ikutlah kami!"
sambung Sumogara. Ki Renu Jalna nampak masih bimbang. Hatinya antara percaya
dan tidak. Bagaimanapun, setahunya Pendekar Gila tak pernah melakukan hal-hal
yang keji. Jangankan menangkap orang semena-mena, berlaku tak senonoh terhadap
orang yang tak salah pun, Pen- dekar Gila tak pernah. Namun kini, tiba-tiba ada
orang yang mengaku utusan Pendekar Gila untuk meringkus dirinya. "Benarkah
pendekar yang berbudi luhur dan pembela kebenaran serta keadilan memerintah
mere- ka?" tanya Ki Renu Jalna dalam hati. "Apa salahku? Hm, kurasa
aku tak melakukan kesalahan. Atau mungkin ini gurauan pendekar itu. Biasanya
dia me- mang suka bercanda."
"Bagaimana, Ki? Apakah kau
akan menuruti kata-kata kami?" tanya Sumogiri mendesak. Ki Renu Jalna
tersentak bimbang. Dirinya belum mengerti, mengapa Pendekar Gila berbuat
aneh-aneh, tidak se- suai dengan kebiasaannya.
"Jangan terlalu lama berpikir,
Ki! Pendekar Gila sudah tak sabar menunggumu!" sentak Sumagara.
"Kang, ikuti saja!" saran
istrinya. "Baiklah, aku ikut kalian," akhirnya Ki Renu Jalna menurut.
Dirinya ingin tahu, apakah benar Pen- dekar Gila yang memerintahkan mereka
untuk me- nangkapnya? "Lalu kalau memang benar, ada maksud apa Pendekar
Gila berbuat begitu?" pikir Ki Renu Jalna masih diliputi kebimbangan.
"Hua ha ha...! Bagus! Memang
itulah yang baik.
Bawa dia...!" perintah
Sumogiri pada rekan-rekannya yang segera maju menangkap Ki Renu Jalna.
"Aku ikut!" Nyi Tumirah
memegangi tangan Ki Renu Jalna.
"Tak perlu, Nyi! Tak lama aku
akan kembali," ujar Ki Renu Jalna.
"Tidak, Ki. Aku ikut!"
ujar Nyi Tumirah memak- sa.
"Bawa dia sekalian!"
perintah Sumogiri. Para anak buah menurut dan langsung menarik kedua su- ami-istri
itu. Setelah mengikat tangan serta menutup mata dan mulut Ki Renu Jalna dan
istrinya, mereka segera membawa suami-istri itu meninggalkan rumah.
***
2
Kawanan berpakaian serba hitam di
bawah pimpinan Sumogiri terus membawa Ki Renu Jalna dari istrinya. Mulut kedua
suami-istri itu masih disumbat. Tampak kedua suami-istri itu terus berusaha
beron- tak, karena merasa diperlakukan sewenang-wenang. Namun mereka tak dapat
berbuat banyak, karena di samping tangan terikat, mata, dan mulut keduanya di-
tutup rapat
Entah akan dibawa ke mana, Ki Renu
Jalna dan istrinya tak tahu jalan yang ditempuh. Yang jelas kawanan yang
mengaku diutus Pendekar Gila berjalan ke selatan, menjauh dari Desa Ponorogo.
Setelah cu- kup lama berjalan mereka sampai di tengah Hutan Pa- lapiring.
Kemudian, tampak gerombolan berpakaian serba hitam itu berjalan menuju sebuah
rumah di ten- gah hutan. Rumah itu terbuat dari bilik. Letaknya yang sangat
tersembunyi mempersulit orang biasa mene- mukan rumah tersebut.
"Masuk!" terdengar suara
dari dalam rumah. Orang yang berada di dalam rumah bilik itu sepertinya tahu
kalau di luar ada orang.
Gret! Pintu terbuka. Ki Renu Jalna
dan istrinya be- lum sempat melihat orang yang berada di dalam, keti- ka tubuh
mereka telah didorong dari belakang. Kedua- nya jatuh terjerembab di lantai
tanah. Di hadapan me- reka tampak berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dan
tegap. Pakaiannya serba hitam, dengan ikat kepala mi- rip blangkon dari kain
hitam. Tampak bibirnya terse- nyum sambil mencibir penuh kebencian.
"Buka tutup mata mereka!"
perintah lelaki itu pada Sumogiri. Pimpinan gerombolan itu pun segera membuka
dengan kasar penyumbat mulut dan mata Ki Renu Jalna.
"Hah...! Kau?!" desis Ki
Renu Jalna, begitu ter- kejut ketika melihat lelaki yang di depannya ternyata
Warok Gandu Pala.
"Hua ha ha...! Ya, aku.
Selamat datang di tem- patku, Renu Jalna...!" sapa Warok Gandu Pala sambil
tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Senyum sinis di bibir menyempurnakan
gambaran keangkuhan di wajahnya.
"Kau...!? Apa maksudmu...?!"
tanya Ki Renu Jalna dengan mata terbelalak marah dan heran. Di- rinya merasa
telah dibohongi dan diperdaya kesepuluh lelaki yang ternyata utusan Warok Gandu
Pala. Me- nyaksikan kebingungan Ki Renu Jalna, kesepuluh le- laki itu tertawa
terbahak-bahak.
"Hua ha ha...! Mengapa kau
tanyakan hal itu, Ki?" Warok Gandu Pala balik bertanya dengan senyum
sinis. "Seharusnya tak perlu kau tanyakan hal itu, karena kau tahu siapa
aku bukan?!"
"Cuih! Iblis keparat!
Licik...!" maki Ki Renu Jalna dengan sengit, menyadari kenapa dirinya
diculik.
"Hua ha ha...! Memakilah
sepuasmu, Ki! Kau boleh mengutukku dengan sesuka hatimu, sebelum masuk ke
penjara bawah tanah. Dengan hilangnya kau dari Ponorogo, maka tak akan ada lagi
yang bisa menghalangiku menjadi lurah. Hua ha ha...!" Warok Gandu Pala
tertawa terbahak-bahak bagaikan telah memenangkan pertandingan yang
menggembirakan. Satu saingan berat telah dapat disingkirkan. Dirinya menganggap
Ki Renu Jalna sebagai saingan terberat dan selalu menjadi penghalang untuk
menduduki kur- si lurah. "Iblis pengecut! Terkutuklah kau!" dengus Ki
Renu Jalna sambil mencabut kerisnya. Karena telah terbebas dari ikatan tangan
dan mulut serta mata, di- rinya berusaha melawan. Namun belum sempat tu- buhnya
bangun, Sumogara telah menendangnya,
Duggg...! "Ukh!" Ki Renu
Jalna memekik, tubuhnya kem- bali jatuh tersungkur mencium tanah.
"Iblis! Jangan siksa
suamiku!" bentak Nyi Tu- mirah. Wanita setengah baya itu menatap penuh ke-
bencian pada Sumogara.
"Kau tak perlu galak seperti
itu, Nyai! Jangan sampai tanganku menampar mulutmu!" bentak Sumogara.
"Huh, apa dikira aku takut,
Bajingan!" bentak Nyi Tumirah kesal dan marah. Matanya terbelalak me-
natap tajam wajah Sumogara.
"Wanita lancang! Kurobek
mulutmu!" Sumogara hendak memukul mulut Nyi Tumirah ketika Warok Gandu
Pala mencegah dengan mengangkat tangan ka- nannya, yang membuat Sumogara
menghentikan niatnya. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun, bermuka ga- rang
itu menyurut mundur. Lalu Warok Gandu Pala melangkah mendekati Ki Renu Jalna
dan istrinya.
"Kini kalian ada dalam
kekuasaanku. Sekali kuperintahkan, anak buahku akan menghabisi nyawa
kalian!" tutur Warok Gandu Pala sambil mencibirkan bibir mengejek Ki Renu
Jalna. "Pikirkan baik-baik! Ka- lian kuberi kesempatan hidup, asal
bersedia mendu- kungku menjadi lurah."
"Cuih! Lebih baik bunuh saja
aku, Warok Kepa- rat!" bentak Ki Renu Jalna bagaikan tak takut sedikit pun
menghadapi ancaman Warok Gandu Pala.
"Hm, begitu...?" tanya
Warok Gandu Pala. "Huh! Jangan kira kami takut mati, Warok Se- sat! Kalau
sampai Paman Warok Singo Lodra tahu, kau tak akan mendapat ampun!" dengus
Nyi Tumirah sen- git. Matanya menatap tajam dan garang pada wajah Warok Gandu
Pala yang tertawa terbahak-bahak
"Hua ha ha...! Ki Singo Lodra,
tak akan pernah menyangka akulah pelakunya, Nyai. Ki Singo Lodra, akan menuduh
Pendekar Gila pelaku semua ini...," ujar Warok Gandu Pala sambil tersenyum
penuh kemenangan.
"Pengecut! Fitnah
keji...!" dengus Ki Renu Jal- na. Matanya kian membara, menatap tajam.
Warok Gandu Pala yang tengah terbahak-bahak
"Hua ha ha...! Memakilah
sesukamu, karena sebentar lagi kau tak akan dapat memaki lagi!" ejek Warok
Gandu Pala. Lelaki gagah itu kemudian meng- gerakkan kepala memberi perintah
kepada anak buah- nya, membawa Ki Renu Jalna pergi dari tempat itu.
"Lepaskan...!" sentak Ki
Renu Jalna sengit sambil memberontak. Namun kesepuluh anak buah Warok Gandu
Pala tak peduli. Mereka semakin ken- cang men-cengkeram kedua suami-istri itu,
meskipun terus meronta-ronta.
"Lepaskan aku...!"
"Jangan melawan!" bentak Sumogiri dengan mendengus. Sikutnya
dihentakkan ke tubuh Ki Renu Jalna, yang membuat lelaki setengah baya itu
tersen- tak lalu sempoyongan dan jatuh berlutut di tanah.
"Bangsat! Mengapa kau menyiksa
suamiku!" dengus Nyi Tumirah dengan mata melotot sengit. Wa- nita setengah
baya ini pun nampaknya tak merasa ta- kut. "Bunuhlah kami sekalian!"
"He he he...! Sabar, Nyai!
Sabar sedikit! Kalian memang akan mati," sahut Warok Gandu Pala dengan
senyum mencibir sinis.
Mendengar ucapan Warok Gandu Pala,
mata Ki Renu Jalna memerah karena marah. Nafasnya tersengal-sengal menahan
perasaan yang menggelegak di rongga dada.
"Pengecut! Kita bertarung satu
lawan satu!" tantang Ki Renu Jalna dengan garang. Dicabutnya keris yang
terselip di pinggang belakang. Matanya garang menatap tajam wajah Warok Gandu
Pala.
Kesepuluh anak buah hendak
meringkus Ki Renu Jalna, tapi Warok Gandu Pala mengisyaratkan agar mereka
membiarkan saja.
"Tampaknya kau tak sabar untuk
mati, Ki!" ujar Warok Gandu Pala dengan senyum mengejek. Dengan tenang,
kakinya melangkah mendekati Ki Re- nu Jalna. Matanya yang lebar dan merah
menatap tajam wajah Ki Renu Jalna yang juga membalasnya den- gan tajam pula.
"Huh! Kau kira aku takut
padamu, Warok Ke- parat!" bentak Ki Renu Jalna geram. Keris di tangan- nya
telah diacungkan ke muka Warok Gandu Pala. Ma- tanya semakin garang, menatap
penuh kebengisan dan marah terhadap Warok Gandu Pala.
"Hm, begitu? Lakukanlah jika
kau berani!" tan- tang Warok Gandu Pala.
"Kurang ajar! Hea...!" Ki
Renu Jalna langsung menyerang Warok Gandu Pala dengan tusukan keris- nya ke
dada lawan. Namun hanya dengan menggeser kaki kiri sambil menarik tubuh, Warok
Gandu Pala berhasil mengelakkan serangan.
Sementara itu pula dengan cepat
tangannya menghantam punggung Ki Renu Jalna.
"Hih!" Degk!
"Ukh!" Ki Renu Jalna terpekik. Tubuhnya sem- poyongan, kemudian
ambruk mencium tanah. Hal itu membuat Nyi Tumirah menggeram marah. Dicabut tu-
suk kondenya, kemudian sambil mendengus wanita itu bergerak menyerang.
"Hea!" Nyi Tumirah menyambar dengan tusuk konde ke tubuh lawan,
tetapi dengan cepat Warok Gandu Pa- la berkelit. Lalu dengan cepat tangannya
menampar wajah wanita itu.
Plak! "Akh...!" pekik Nyi
Tumirah dengan tubuh sem- poyongan. Tangannya memegangi pipi yang terkena
tamparan. Wanita itu terjatuh ke samping, "Ki..., ke- napa kita harus
begini?"
Ki Renu Jalna mendengus marah.
Matanya se- makin garang menatap tajam wajah Warok Gandu Pala yang masih
tertawa penuh ejekan.
"Bagaimana, Ki? Kau masih
ingin mene- ruskan?" tanya Warok Gandu Pala sambil mencibir pe- nuh
kesombongan. Matanya tak memandang sebelah mata pun kepada Ki Renu Jalna.
"Cuh! Aku belum kalah!"
bentak Ki Renu Jalna. "Hea...!"
Bagaikan macan marah kelaparan, Ki
Renu Jalna langsung bangkit berdiri. Tangannya yang meng- genggam keris,
digerakkan menyabet dan menusuk ke tubuh Warok Gandu Pala. Namun Warok Gandu
Pala dengan tenang sambil tertawa-tawa bergerak meng- elakkan serangan itu.
Kemudian tangannya bergerak menangkap tangan Ki Renu Jalna. Lalu dengan cepat
pula ditekuknya ke arah perut lawan.
"Hih!" Trep! Crab!
"Akh...!" jerit kematian terdengar, ketika keris Ki Renu Jalna
menghujam ke perutnya sendiri. Mata lelaki setengah baya berpakaian adat Jawa
warna pu- tih itu membelalak. Tampak darah segar menyembur.
"Ki...!" pekik Nyi
Tumirah sambil memburu tu- buh suaminya yang sekarat. Kemudian tangannya ber-
gerak menusukkan tusuk konde ke tubuh Warok Gan- du Pala. "Iblis! Kubunuh
kau...!"
Wrt! "Eit!" Warok Gandu
Pala berkelit Kemudian dengan cepat kaki kanannya menendang ke punggung Nyi
Tumirah. Degk! "Ukh!" Nyi Tumirah terpekik. Tubuhnya ter-
huyung-huyung beberapa langkah, kemudian ambruk mencium tanah. Namun wanita
separo baya itu bagai- kan seekor macan betina, dengan cepat bangun dari
jatuhnya. Lalu dengan menggeram marah, tubuhnya melesat bergerak menyerang.
"Kubunuh kau, Warok Iblis! Hea...!"
Wrt! Wrt! Tusuk konde di tangan Nyi
Tumirah bergerak cepat menusuk dan menyabet ke tubuh Warok Gandu Pala. Namun
dengan cepat dan enteng lelaki berpakaian serba hitam itu berkelit sambil
melancarkan pukulan keras ke tubuh wanita itu.
"Hih!" Prak!
"Akh,..!" Nyi Tumirah menjerit keras. Tulang punggungnya dirasakan
remuk terhantam pukulan Warok Gandu Pala. "Kau...?! Kau..., Akh...!"
Nyi Tumirah pun tergeletak mati
dengan mulut melelehkan darah. Matanya melotot.
"Seret mayat mereka!
Kembalikan ke rumahnya lagi. Ingat, beri tulisan kalau yang melakukan Pende-
kar Gila!" perintah Warok Gandu Pala.
"Baik, Ki," sahut
Sumogiri. Dengan menggerakkan tangan, Sumogiri me- merintahkan pada
rekan-rekannya agar menyeret tu- buh Ki Renu Jalna dan istrinya menuju Desa
Ponorogo.
***
Keesokan harinya, semua warga Desa
Ponorogo gempar. Ki Renu Jalna dan istrinya ditemukan tewas di rumahnya dalam
keadaan mengenaskan. Namun yang lebih membuat semua warga terkejut, adanya tulisan
di samping kedua mayat yang berbunyi:
Siapa pun yang berani ikut campur
dengan ke- matian kedua orang ini. Maka akan berurusan dengan Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Jelas, ini
penghinaan bagi kita!" dengus Warok Sura Pati geram. Nafasnya turun naik,
karena didesak kemarahan yang menggelegak. Matanya yang tajam menatap nanar
pada kedua mayat Ki Renu Jalna dan istrinya. "Jelas, ini sebuah tantangan
bagi kita, Ki."
Ki Warok Singo Lodra dan Ki Warok
Sito Kuta menarik napas dalam-dalam. Sesaat keduanya saling pandang, kemudian
menatap kembali ke wajah Warok Sura Pati. Sepertinya kedua warok itu belum
yakin, kalau kejahatan itu dilakukan Pendekar Gila.
"Kita tak boleh gegabah, Sura.
Aku tahu, siapa Pendekar Gila. Mungkin ini bukan perbuatannya. Ada orang yang
hendak mengadu domba kita dengan Pen- dekar Gila," tutur Warok Singo
Lodra.
"Benar. Kita harus menyelidiki
lebih dahulu," sambung Warok Sito Kuta. Kedua orang tua berwajah tenang
dengan cambang bawuk menghias pipi itu den- gan sabar berusaha menyabarkan
Warok Sura Pati.
"Tapi, Ki...," ujar Warok
Sura Pati terputus. "Aku tahu maksudmu. Tapi kau tentu melihat tulisan
itu, bukan?" sela Warok Singo Lodra.
"Benar, Ki," sahut Warok
Sura Pati. Lelaki ku- rus, berpakaian abu-abu ini mengangguk-angguk. Matanya
yang cekung menatap Warok Singo Lodra.
Warok Singo Lodra tersenyum
menggeleng- gelengkan kepala, seakan-akan hendak berusaha menyadarkan rekannya
agar tidak sembarangan berpra- sangka buruk.
"Kau harus ingat, Sura!
Sebagai warok, kita merupakan orang-orang yang terhormat. Kita telah di- kenal
sebagai orang bijak. Janganlah sembarangan menuduh," tuturnya dengan penuh
wibawa.
"Maafkan aku! Bukan aku
bermaksud menu- duh. Tetapi kejadian ini sungguh di luar pikiran kita,"
gumam Warok Sura Pati sambil membelai-belai jeng- got.
Lelaki berusia sekitar enam puluh
tahun ini, memang masih ada hubungan kerabat dengan Nyi
Tumirah. Sudah sepantasnya kalau
dirinya begitu ma- rah, mengetahui saudaranya terbunuh.
"Apa tidak mungkin ada orang
telah mempera- lat Pendekar Gila?" tanya Warok Sura Pati kembali. Pikirannya
masih diliputi kegelisahan dan berprasangka terhadap Pendekar Gila.
Warok Singo Lodra dan Warok Sito
Kuta men- gerutkan kening, mendengar pertanyaan itu. Keduanya seakan berusaha
memikirkan hal itu. Sambil menge- lus-elus jenggot, keduanya memandang ke arah
lain.
"Mungkin juga," gumam
Warok Sito Kuta den- gan kepala manggut-manggut. Matanya yang bulat dan lebar
itu memperhatikan kedua mayat yang di sam- pingnya tergeletak selembar daun
lontar tertera nama Pendekar Gila.
"Kurasa, kita tidak boleh asal
menuduh," tukas Warok Singo Lodra sambil menggeleng-gelengkan ke- pala.
"Aku tahu persis siapa Pendekar Gila. Dia akan bertindak, jika orang sudah
tak dapat disadarkan dari perbuatan dosanya."
"Tapi dia juga manusia,
Ki," sela Warok Sura Pati.
"Ya," sambung Warok Sito
Kuto. Warok Singo Lodra tersenyum. "Memang, dia manusia seperti kita.
Namun se- lama ini, kita belum pernah mendengar kalau Pende- kar Gila melakukan
perbuatan keji seperti sekarang ini," ujar Warok Singo Lodra tenang.
"Bukannya kita takut menghadapinya. Tetapi yang perlu kita pikirkan,
benarkah dia pelakunya?"
Kedua warok rekannya terdiam. Hati
mereka pun sebenarnya masih ragu menjatuhkan tuduhan bahwa Pendekar Gila adalah
pelaku kejahatan ini. Hati mereka masih bertanya-tanya. Untuk apa Pendekar Gi-
la membunuh Renu Jalna dan istrinya? Mungkinkah
Ki Renu Jalna mempunyai kesalahan
yang tak dapat diampuni, sehingga Pendekar Gila membunuhnya?
Sulit bagi ketiga warok menjawab
pertanyaan itu. Mereka tahu siapa sebenarnya Pendekar Gila Se- mua orang pun
tahu Pendekar Gila berhaluan lurus. Bah-kan telah mendapat sebutan Pendekar
Penegak Kebenaran dan Keadilan. Namun di lain sisi, kenya- taan membukakan
siapa pelaku pembantaian calon lu- rah itu. Di samping mayat Ki Renu Jalna dan
istrinya, ter-dapat tulisan yang tertera nama Pendekar Gila. Hal itu sebagai
bukti, kalau Pendekar Gila pelaku atau yang mengutus orang membunuh Ki Renu
Jalna.
"Kurasa tak mungkin Pendekar
Gila berbuat sepengecut itu. Menyuruh orang untuk membunuh," gumam Warok
Singo Lodra dalam hati, merasa tak ya- kin kalau Pendekar Gila pelaku
pembunuhan keji yang menimpa Ki Renu Jalna.
"Aku tak percaya, kalau
pendekar yang berbudi luhur itu melakukan kekejian ini!" gumam hati Warok
Sito Kuta dengan kepala mengangguk-angguk. "Mung- kin ada orang yang
hendak menghancurkan nama baik Pendekar Gila."
"Kalau benar Pendekar Gila
yang melakukan- nya, untuk apa? Kurasa Ki Renu Jalna tak pernah ber- sengketa
dengan Pendekar Gila," gumam Warok Sura Pati dalam hati. Tampaknya lelaki
tua ini mulai me- nyadari. Matanya masih memperhatikan dengan teliti kedua
mayat kemenakannya. Keris Ki Renu Jalna, menghujam di perutnya sendiri.
Sedangkan Nyi Tumi- rah tulang punggungnya remuk, seperti bekas terkena
hantaman.
"Jelas Ki Renu Jalna dan Nyi
Tumirah mengha- dapi lawan yang bukan orang sembarangan. Hm...! Siapa
sebenarnya dalang kejahatan ini?"
Ketiga warok ini masih terdiam
membisu belum mengerti apa penyebab malapetaka yang menimpa Ki Renu Jalna.
Calon kepala desa yang sudah dipastikan akan menduduki jabatan lurah Ponorogo
itu dikete- mukan mati persis sepekan menjelang pemilihan lu- rah.
"Lalu apa yang harus kita
lakukan sekarang, Ki?" tanya Warok Sito Kuta pada Warok Singo Lodra, yang
dianggap tertua dan sangat dihormati penduduk dan warok-warok di Desa Ponorogo.
Warok Singo Lodra menghela napas
dalam- dalam, merasa bimbang dengan apa yang mesti dila- kukan. Dirinya belum
tahu cara apa yang harus diper- buat untuk menanggulangi agar kejadian ini tak
teru- lang pada calon lurah yang lain.
"Sebaiknya kita selidiki,
apakah benar semua ini dilakukan Pendekar Gila...?" usul Warok Singo Lo-
dra dengan diikuti desahan nafasnya yang gelisah. Di- rinya tak habis pikir,
mengapa calon kepala desa yang menurutnya baik, diketemukan mati. Sepertinya
ada semacam tindakan yang sengaja merintangi cita-cita Ki Renu Jalna menjadi
kepala desa di Desa Ponorogo.
"Baiklah kalau itu cara yang
baik, Ki. Tetapi ki- ta mesti ingat, kalau pemilihan kepala desa hanya ada
waktu tujuh hari lagi," sambut Warok Sura Pati.
"Benar. Kurasa, kita mulai
dari sini," tukas Wa- rok Sito Kuta menambahkan, "Jago kita telah
mati. Sebaiknya, untuk mengetahui pelaku yang membunuh Ki Renu Jalna, kita
harus menjagokan satu orang lagi." Warok Singo Lodra sesaat terdiam.
Kemudian diangguk-anggukkan kepalanya, tanda menyetujui apa yang direncanakan
kedua rekannya.
"Bagaimana, Ki...?" tanya
Warok Sito Kuta. "Pendapat yang bagus," gumam Warok Singo Lodra
seraya membelai-belai jenggotnya yang panjang. Kepalanya diangguk-anggukkan
dengan bibir mengurai senyum. "Kita akan menjebak pelaku dengan cara
mengangkat calon yang bakal menang. Aku yakin, tentunya si pelaku akan
menyingkirkan jago kita."
Kedua warok lainnya manggut-manggut
dengan senyum mengembang di, bibir mereka.
***
3
Pagi itu Pendekar Gila tengah
menyelusuri pe- sisir pantai, sekaligus menikmati udara pagi yang terasa sangat
sejuk. Sejak kemarin, ketika bertemu dengan gadis cantik di tempat pagelaran
Reog Ponorogo, di- rinya masih diliputi rasa ketidak mengertian. Perta- nyaan
gadis itu sangat aneh. Karena tampaknya hanya ingin meyakinkan kalau dialah
Pendekar Gila.
"Ah, aneh! Dunia semakin lama
menjadi sema- kin aneh...," gumam Pendekar Gila sambil menggaruk- garuk
kepala, merasa tak mengerti dengan semua yang dialami kemarin. Bukan gadis
cantik bergaun kuning saja yang aneh. Baginya Pimpinan Reog Ponorogo pun aneh.
Sang Pimpinan Reog tampak tak suka akan kehadirannya menonton.
Pendekar Gila terus melangkah
sambil cen- gengesan. Matanya memandang ke langit, seakan ada sesuatu yang
dicari di atas sana. Dia terus melangkah, menyelusuri tepian pesisir selatan.
Saat itu Pendekar Gila tengah
berada di Desa Wanacaya, berjalan menuju Desa Ngadireja dalam usahanya menuju
tempat Mei Lie berada. Hatinya su- dah kangen, ingin bertemu dengan gadis itu,
setelah sekian lama mereka berpisah.
"Ah, Mei Lie. Sedang apa kau
di sana?" gumam
Pendekar Gila dengan menghela napas
dalam-dalam, ketika kembali teringat Mei Lie. Gadis yang senantiasa berada di
dalam hati, meski kini jauh di mata.
Sebuah pohon kelapa yang telah
tumbang, me- lintang di hadapan Pendekar Gila. Nampaknya pohon itu rapuh dimakan
usia, atau mungkin karena dihem- paskan angin kencang. Tampak akar-akarnya
turut ter-cabut ke atas.
Sena seketika berkeinginan untuk
duduk di atas pohon yang tumbang itu. Kakinya segera mempercepat langkah
kemudian duduk di batang pohon itu. Kemudian diambilnya Suling Naga Sakti dan
ditiupnya dengan lembut, mengalunkan suara yang merdu. Pendekar Gila terus
meniup Suling Naga Saktinya, seolah-olah hendak mencurahkan perasaan rindu pada
sang Gadis yang jauh di mata. Suara suling yang mendayu, seakan-akan membuat
alam sekelilingnya seketika berubah sendu. Burung-burung yang semula bernyanyi
riang, tiba-tiba diam. Seakan-akan turut merasakan kerinduan yang dialami
Pendekar Gila.
Angin pagi bertiap lembut, turut
mengiringi alunan suling. Debur ombak laut selatan yang bi- asanya besar,
seketika mereda. Yang ada hanya riak- riak kecil, menghempaskan busa putih ke
tepi pantai.
Pendekar Gila masih menikmati
tiupan suling- nya, ketika matanya melihat dua sosok bayangan ber- kelebat
melintas di hadapannya. Kedua sosok bayan- gan itu ternyata sepasang muda-mudi
yang tengah bercanda ria sambil berkejaran. Sebenarnya bukan ka- rena keduanya
tengah asyik memadu kasih yang membuat mata Pendekar Gila terbelalak, melainkan
karena melihat gadis itu. Dirinya hampir tak percaya dengan yang dilihat. Seketika
dihentikan tiupan sulingnya. "Hai, bukankah itu gadis yang kemarin mene-
gurku?" gumam Sena dengan kening berkerut, berusa- ha mengingat-ingat
gadis cantik berpakaian kuning itu.
Gadis cantik bertubuh semampai yang
tiada lain Sekati tampak semakin menunjukkan kemesraan- nya ketika melihat
Pendekar Gila memandang mereka. Sekati seakan-akan bermaksud menggoda, agar
pemu- da tampan bertingkah laku seperti orang gila itu mem- perhatikan dirinya
yang sedang bermesraan dengan pemudanya.
"Hi hi hi...! Ah ah ah,
mengapa kalian berpaca- ran di tempat seperti ini?" tanya Pendekar Gila
sambil memain-mainkan sulingnya sebelum dimasukkan ke balik ikat pinggang.
Kemudian dengan menggeleng- gelengkan kepala, dirinya turun dari batang kelapa.
"Hi hi hi...! Kau ingin,
Pendekar Gila?" tanya Sekati sambil mempererat pelukannya di pinggang pe-
muda berkumis tipis di hadapannya. Wajah pemuda bertubuh tegap itu tersenyum
memandang wajah Pen- dekar Gila, seakan hendak mengejek.
Melihat tingkah kedua sejoli itu
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk ke- pala. Kemudian
digeleng-gelengkan kepala, seolah-olah merasa lucu dengan apa yang dilihatnya.
"Ah ah ah, mengapa aku harus
ingin? Hi hi hi...! Lucu sekali kalian!" gumam Pendekar Gila seraya
melangkah, hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Sekati segera mengejarnya.
"Pendekar Gila,
tunggu...!" "Ahe, mengapa kau memanggilku, Nisanak? Bukankah kau akan
bermesraan? Ah ah ah, kurasa tak enak orang berpacaran harus diganggu,
bukan...?" tanya Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang konyol.
Mulutnya cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala.
"Kau tak ingin berduaan
denganku...?" rayu Sekati sambil melangkah mendekati Pendekar Gila.
Kemudian dengan nakal tangannya membelai janggut Pendekar Gila. Matanya yang
lentik, menatap tajam wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Aha, kurasa kau salah,
Nisanak. Aku tak se- perti pemudamu itu," tukas Pendekar Gila sambil me- nepis
tangan Sekati yang hendak menggayut di leher- nya. "Aha, aku pamit, karena
harus pergi. Kurasa ka- lau aku di sini terus, kenikmatan kalian akan tergang-
gu."
Dengan cengengesan sambil
menggeleng- gelengkan kepala Pendekar Gila melangkah mening- galkan tempat itu.
Namun, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat menghadang langkahnya. Ternyata
pemuda tampan berkumis tipis kekasih Sekati. Pemuda berusia sekitar dua puluh
lima tahun itu, tersenyum sinis. Dan matanya menatap tajam wajah Pendekar Gila.
"Jangan seenaknya saja kau
pergi, Pendekar Gila...!" bentak Caraka Wanda dengan tatapan tajam,
sepertinya hendak menghunjam dada Pendekar Gila.
"Aha, bukankah tadi aku
pamit?" Sena balik bertanya. Tingkah lakunya masih seperti orang gila.
Mulutnya cengengesan, tapi matanya memandang ke langit yang biru. Seakan-akan
tak peduli dengan pe- muda di hadapannya.
"Aku tak peduli dengan
pamitmu. Kalau aku tak mengizinkan yang jelas kau tak akan bisa pergi!"
ancam Caraka Wanda tegas.
"Hua ha ha...! Lucu sekali
kau, Ki Sanak! Kau bukan penguasa di sini. Mengapa kau berlagak seperti
penguasa? Ah ah ah, tingkahmu malah seperti seekor tikus sawah, Ki Sanak. Hi hi
hi...!" Pendekar Gila ter- tawa cekikikan sambil menggeleng-gelengkan
kepala dengan tangan kanan menutupi mulutnya yang terta- wa-tawa. Hal itu
membuat Caraka Wanda mendengus sengit. Matanya menatap tajam wajah Pendekar
Gila penuh api amarah.
"Pendekar Gila, rupanya kau
belum tahu siapa aku?!" bentak Caraka Wanda sengit.
"Hi hi hi...! Bukankah kau
tikus sawah itu, Ki Sanak? Masih kau bertanya. Hi hi hi...! Lucu sekali
kau," ejek Pendekar Gila dengan cengengesan. Tan- gannya menggaruk-garuk
kepala, kemudian mulutnya dimonyongkan mengejek Caraka Wanda.
"Kurang ajar! Sombong kau,
Pendekar Gila!" bentak Caraka Wanda sengit. Matanya semakin tajam menatap
penuh kebencian pada Pendekar Gila yang masih cengar-cengir seperti kera.
"Meski namamu ter- sohor. Tetapi Caraka Wanda, anak Warok Sito Kuta tak
akan takut padamu!"
Mendengar nama Warok Sito Kuta
disebut, Pendekar Gila bukannya takut. Tetapi justru terbahak- bahak tawanya
sambil berjingkrakan seperti kera. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya
nyen- gir, matanya memandang ke atas. Seolah ada yang menarik perhatian di atas
sana.
"Hua ha ha...! Sungguh tak
pantas. Tak pantas sekali. Anak seorang warok, bertingkah seperti cecurut bau.
Ah..., bahkan seperti tikus sawah!" ujar Pendekar Gila dengan kepala
menggeleng-geleng.
Semakin geram Caraka Wanda
mendengar uca- pan Pendekar Gila. Nafasnya mendengus keras. Ma- tanya memandang
tajam tak berkedip, seakan hendak menusuk jantung Pendekar Gila. Sementara itu
Sekati hanya tersenyum-senyum, menyaksikan dua pemuda tampan saling bertengkar.
Gadis cantik itu merasa senang menyaksikan pertengkaran keduanya. Dirinya
merasa jadi rebutan kedua pemuda itu.
"Kurang ajar! Kau berani
menghina ayahku, Pendekar Gila!" dengus Caraka Wanda.
Pendekar Gila semakin tertawa
terbahak-bahak dengan kepala menggeleng-geleng mendengar ucapan Caraka Wanda.
Sambil cengengesan tangannya meng- garuk-garuk kepala. Dihelanya napas
dalam-dalam, seakan-akan berusaha menenangkan perasaan.
"Ah ah ah...! Pintar sekali
kau berkata, Ki Sa- nak. Kaulah yang menghina persatuan warok, karena kau anak
warok, tetapi tingkah lakumu tak mencer- minkan sifat ksatria...," tutur
Pendekar Gila masih dengan cengengesan dan kepala menggeleng-geleng. Sepertinya
dirinya tak habis pikir, kenapa anak seo- rang warok yang disegani dan
dihormati bertingkah la- ku seperti Caraka Wanda.
"Cuih! Jangan banyak omong,
Pendekar Gila!" bentak Caraka Wanda sambil membuang ludah ke tanah.
Matanya masih menatap garang ke wajah Pende- kar Gila. "Jangan bawa-bawa
ayahku!"
Pendekar Gila kembali tertawa
terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala, mendengar ucapan Caraka
Wanda.
"Hua ha ha...! Lucu sekali
kau, Ki Sanak! Bu- kankah yang membawa-bawa ayahmu kau sendiri? Ah, dasar tikus
pikun," gumam Pendekar Gila sambil cen- gengesan dengan tangan masih
menggaruk-garuk ke- pala. Mendengar ucapan itu tentu saja Caraka Wanda
bertambah marah.
"Kurang ajar! Kau harus
dihajar, Pendekar Gi- la!"
"Sudahlah, mengapa kalian
mesti berteng- kar...?" Sekati dengan bibir mengurai senyum, berusa- ha
mencegah keduanya agar tidak bertengkar.
"Tapi dia perlu dihajar,
Sekati," sahut Caraka Wanda. Matanya masih menatap garang pada Pende- kar
Gila yang masih cengengesan sambil mendongak ke atas. Tingkahnya sangat konyol
dan lucu. Namun, bagi Caraka Wanda yang sudah marah, tingkah laku Pendekar Gila
justru membuatnya bertambah marah.
"Sudahlah, Caraka! Toh dia tak
bermaksud ja- hat terhadap kita," ujar Sekati dengan bibir mengurai senyum
pada Pendekar Gila yang masih cengengesan. Namun pandangan Pendekar Gila tetap
mengarah ke langit, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Caraka Wanda hanya mendengus,
kemudian dengan sinis meninggalkan tempat itu diikuti Sekati. Pendekar Gila
hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran melihat tingkah laku
Caraka Wanda yang aneh. Tak ada angin dan tak ada hujan, pemuda berkumis tipis
itu tiba-tiba memusuhinya.
"Ah ah ah... dunia ini semakin
lucu! Manusia kian aneh. Tak ada sebab pasti tiba-tiba memusuhi orang lain. Hanya
masalah cemburu. Hi hi hi...!"
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan
kepala sambil cengengesan. Kemudian dilangkahkan kakinya, berlalu meninggalkan
pesisir itu ke arah timur.
Sepeninggal Pendekar Gila, Sekati
nampak ma- sih memperhatikan ke mana pendekar itu pergi.
"Ingat, kita harus terus
mengikutinya," ujar Se- kati pada Caraka Wanda.
"Ya! Kita memang harus
mengikutinya," sahut Caraka Wanda.
"Ayo!" ajak Sekati.
Keduanya segera berlalu meninggalkan pesisir, untuk mengikuti Pendekar Gila.
Tujuan mereka hen- dak membuktikan kalau Pendekar Gila benar-benar ti- dak ke
Ponorogo lagi.
***
Pendekar Gila masih melangkah,
menyusuri ja- lanan di Desa Gemeng, yang terletak di sebelah utara Desa
Ngadirejo. Siang yang panas, cahaya matahari memanggang bumi, sehingga beberapa
kali Pendekar Gila harus meniup nafasnya untuk menghilangkan ra- sa panasnya.
Mulutnya masih cengengesan, dengan tangan mengorek kuping yang sebelah kanan.
"Ah, panas sekali siang
ini!" gumam Pendekar Gila sambil mengorek telinga dengan bulu burung yang
memang senantiasa dia selipkan di ikat pinggang sebe- lah kanan. Karena di ikat
pinggang sebelah kiri, terse- lip Suling Naga Sakti.
Pendekar Gila terus melangkah,
untuk mencari sebuah kedai. Siang itu perutnya terasa sangat lapar, minta diisi.
Akhirnya sampai di sebuah kedai yang saat itu nampak masih sepi. Padahal
biasanya di siang hari kedai banyak pengunjungnya. Seorang lelaki tua ter-
bungkuk-bungkuk sedang menata meja dan kursi- kursinya. Nampak susah-payah
sekali orang tua itu menata meja kursinya. Hal itu membuat Pendekar Gila merasa
iba melihatnya.
"Aha, bolehkah saya bantu,
Pak?" tanya Pende- kar Gila menawarkan jasa. Suara itu mengejutkan lelaki
tua itu, sehingga segera berhenti dari pekerjaan- nya. Matanya menatap tajam
wajah Pendekar Gila. Perlahan mata tua itu menyipit seakan hendak mem- pertegas
pandangannya yang sudah agak kabur.
"Siapakah engkau, Anak
Muda?" tanya Pak Tua itu dengan suaranya yang berat. Lelaki berusia tujuh
puluh tahunan itu, nampak masih memperhatikan Pendekar Gila dengan seksama.
"Aha, siapa diriku, itu tak
penting, Ki. Yang je- las aku ingin sekali menolongmu, kalau boleh," kata Pendekar
Gila sambil mengorek telinganya dengan bu- lu burung. Mulutnya masih
cengengesan, dengan mata memandang ke langit
"Benarkah kau mau menolongku,
Anak Muda?" "Aha, kau nampak masih ragu, Ki. Lucu seka- li...! Tapi,
aku memang ingin menolongmu," ujar Pen- dekar Gila sambil menyelipkan bulu
burung ke ikat pinggangnya. Kemudian dengan cengengesan, kakinya melangkah
masuk, mendekati orang tua pemilik kedai.
"Kau ingin kubayar, Anak
Muda?" "Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Ki. Ah ah ah, mana mungkin aku
tega meminta bayaran padamu? Kedai- mu saja masih sepi. Sudahlah, aku ingin
menata kur- si-kursi ini. Setelah itu, tolong ambilkan sapu."
Tanpa menunggu Pak Tua itu berkata,
Pende- kar Gila langsung bekerja dengan cepat. Tubuhnya berkelebat dengan
tangan bergerak cepat bekerja. Da- lam beberapa saat saja semua kursi panjang
dan meja- meja telah tertata rapi.
Pak Tua pemilik kedai membeliakkan
mata, menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah laku se- perti orang gila itu
bekerja. Hatinya hampir tak per- caya, menyaksikan Pendekar Gila bekerja dengan
ce- pat. Seakan tubuhnya terdiri dari puluhan orang, yang seketika bergerak
bersama menata ruangan kedai. Se- hingga dalam sekejap saja ruangan kedai sudah
rapi.
"Ck ck ck...! Benarkah apa
yang kulihat?" ter- dengar decak kagum dari mulut pemilik kedai, me-
nyaksikan cara kerja Pendekar Gila yang sangat cepat itu. "Siapa
sebenarnya pemuda ini? Silumankah...?"
"Aha, mengapa masih diam, Ki?
Cepat ambilkan sapu, biar kusapu tempat ini. Ah, pantas kalau kedai ini tak ada
yang mengunjungi. Hi hi hi... kotor sekali! Seperti pasar saja, Ki," gumam
Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir tersenyum-senyum,
menyaksikan keadaan kedai yang kotor seka- li. Sampah berserakan di sana-sini.
"Eh, tunggu sebentar!"
dengan tertatih-tatih dan terbungkuk-bungkuk Pak Tua segera meninggal- kan
ruangan kedai, untuk mencari sapu lidi. Tidak be- gitu lama kemudian, Pak Tua
telah kembali membawa sapu lidi yang diminta Pendekar Gila. "Aha, terima
kasih, Ki." Sena kembali tak banyak kata. Sambil ber- nyanyi-nyanyi sesuka
hati, tangannya langsung beker- ja membersihkan seluruh ruangan kedai. Bahkan
sampai ke balai-balai dan sisi kanan kiri kedai yang juga kotor. Dikumpulkan
sampah itu di belakang ke- dai, kemudian dibakarnya.
"Ck ck ck...! Kalau begitu,
dia bukan pemuda gila sembarangan. Sayang sekali dia gila!" gumam Pak Tua
itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, menyak- sikan cara kerja Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Bagaimana, Ki!
Bukankah kalau bersih seperti ini sangat enak dipandang? Aha, kurasa nanti
banyak orang yang datang," ujar Pendekar Gila sambil cengengesan dan
menggaruk-garuk kepala. Di- taruhnya sapu di sudut ruangan kedai, kemudian den-
gan masih cengengesan segera duduk di sebuah bang- ku. Tingkah lakunya yang
persis orang gila, membuat Pak Tua pemilik kedai menggeleng-gelengkan kepala
merasa heran.
Pak Tua pemilik kedai melangkah
menghampiri Sena. Matanya yang tertutup alis mata putih panjang, memperhatikan
Pendekar Gila yang cengengesan du- duk tenang sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kau tentu lapar, Anak
Muda?" tanya Pak Tua. "Aha, kau benar, Ki. Apakah kau sudah mema-
sak..?" tanya Pendekar Gila.
Wajah Pak Tua itu seketika berubah
sedih, mendengar pertanyaan tamunya. Ada penderitaan yang menggurat di wajah
tuanya. Hal itu membuat Pendekar Gila mengerutkan kening. Lalu, tangannya
kembali menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, maafkan
kelancanganku, Ki! Tak kusangka, kalau pertanyaanku akan membuatmu se- dih,"
ujar Pendekar Gila sambil menarik napas dalam- dalam. Matanya menatap tajam
wajah Pak Tua yang kini nampak mengibakan.
"Oh, tidak apa-apa.
Hanya...," Pak Tua pemilik kedai tak meneruskan ucapannya. Sepertinya ada
ke- raguan yang menekan jiwanya. Wajahnya pun tampak bertambah muram, dan
semakin menunjukkan kese- dihan.
Pendekar Gila merasa tambah heran,
menyak- sikan wajah Pak Tua yang semakin murung. Diperha- tikannya dengan
seksama wajah pemilik kedai seakan ingin menyelami jiwanya. Ingin tahu, apa yang
menyebabkan lelaki tua itu ragu untuk menuturkan sesuatu padanya. "Aha,
kau sepertinya menyimpan sesuatu, Ki? Katakanlah, tak usah kau ragu! Mungkin
aku bisa menolongmu," pinta Sena sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan
mulut nyengir kuda.
Pak Tua itu terdiam. Dihelanya
napas dalam- dalam. Sepertinya ada yang masih mengganjal dalam batin. Matanya
menatap ke sekeliling kedai. Seakan- akan ada yang dikhawatirkan kalau ada yang
menden- garnya. Hal itu membuat Pendekar Gila semakin men- gerutkan kening, tak
tahu apa yang membuat Pak Tua itu ketakutan.
"Hi hi hi...! Kau seperti
ketakutan, Ki. Ah ah ah, ada apa gerangan, Ki?" tanya Sena semakin penasa-
ran, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, pemilik kedai itu tampak
begitu ketakutan untuk menceritakan.
Diam-diam Pendekar Gila mengedarkan
pan- dangan matanya ke sekeliling tempat itu. Namun tak dilihatnya seorang
manusia pun yang patut dicurigai. Memang banyak orang yang lalu-lalang di depan
kedai, tetapi tak ada orang yang perlu dicurigai.
"Aneh Pak Tua ini. Dia seperti
ketakutan. Siapa yang ditakutkan olehnya?" tanya Pendekar Gila dalam hati.
Dirinya belum mengerti mengapa pemilik kedai itu tampak ketakutan. Kembali
matanya mengawasi ke sekeliling kedai, tapi tetap tak melihat hal yang mencu-
rigakan. "Aha, tak ada yang perlu kau takutkan. Menga- pa kau mesti cemas,
Ki...?" tanya Pendekar Gila den- gan mulut nyengir sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Bukan hanya aku yang takut,
Anak Muda. Hampir semua penduduk Desa Ngadireja ini, setiap purnama dicekam
rasa takut. Itu pula yang membua- tku tak memasak untuk jualan," tutur
pemilik kedai.
Mendengar penuturan itu Pendekar
Gila mengerutkan kening.
"Kenapa begitu, Ki?"
tanya Pendekar Gila. "Panggil saja namaku yang tua renta ini, Lam-
pit," sela lelaki tua yang ternyata bernama Lampit den- gan menghela napas
dalam-dalam. Matanya masih mengawasi dengan cemas ke sekelilingnya. Seolah-olah
masih ada yang ditakutkan. Entah apa yang membuat Ki Lampit ketakutan, bagaikan
ada mata-mata yang mengintainya.
"Ah, baiklah Ki Lampit.
Sebenarnya ada apa di desa ini?" tanya Sena semakin ingin tahu.
Ki Lampit tak langsung menjawab.
Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Seakan orang tua itu tengah memikul
beban penderitaan yang sangat berat. Kemudian dengan lirih dan suara berat, Ki
Lampit menceritakan apa yang sebenarnya menimpa Desa Ngadireja ini.
"Kejadian ini, terjadi tiga
purnama yang lalu...," tutur Ki Lampit membuka cerita. Sementara Sena
mendengarkan dengan cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala. "Bermula
dengan gegernya kabar akan diadakan pemilihan Kepala Desa Ponorogo."
Pendekar Gila mengerutkan kening
menggaruk- garuk kepala. Namun pikirannya nampak mulai memperhatikan dengan
seksama apa yang bakal dicerita- kan Ki Lampit.
"Ki Lurah Ponorogo suatu hari
diketemukan mati. Di dadanya, tertembus sebatang tombak. Entah siapa yang
membunuh Ki Lurah Pandarsuna. Menurut kabar, Pendekar Gila yang membunuhnya.
Hal itu membuat warok di Desa Ponorogo berusaha menyelidi- kinya. Antara para
warok itu terjadi pertengkaran sen- git. Sebagian berpendapat kalau Pendekar
Gila yang melakukannya. Sebagian lagi menentangnya."
Pendekar Gila tersentak kaget
mendengar cerita Ki Lampit.
"Aneh... lucu sekali! Semua
orang sudah gila. Mengapa aku menjadi sasaran fitnah keji itu?" gumam
Pendekar Gila dalam hati sambil menggeleng- gelengkan kepala.
"Lalu apa yang kemudian
terjadi, Ki?" tanya Pendekar Gila semakin ingin tahu.
"Akhirnya berkat kecerdikan
Warok Singo Lo- dra, pelaku dapat ditangkap. Tetapi pelaku mengaku kalau dia
diutus Pendekar Gila untuk membunuh Ki Lurah." "Atas dasar
apa...?" tanya Pendekar Gila dengan kening berkerut.
"Entahlah. Yang jelas,
masalahnya kabur lalu tak terdengar lagi. Tetapi akhir-akhir ini, gerombolan anak
buah Pendekar Gila menjarah di desa ini," tutur Ki Lampit.
"Gerombolan Pendekar
Gila?!" tanya Pendekar Gila kaget dengan mata membeliak.
"Ya!" sahut Ki Lampit,
"Kau kenal, Anak Muda?" Dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk
kepala, Pendekar Gila menggelengkan kepala. Hatinya benar-benar marah, merasa
nama baiknya telah dicemar. "Kurang ajar! Hm, siapakah yang telah berani
memfitnahku?" gumam Pendekar Gila dalam hati. Dirinya tak habis pikir,
mengapa julukannya dijadikan alat penakut bagi warga desa. "Hi hi hi...!
Dunia ini semakin gila. Nama gelar seseorang dijadikan alat pe- nakut. Lucu
sekali...!"
Lelaki tua pemilik kedai diam.
Matanya mena- tap tajam Pendekar Gila yang tampak cengengesan dan cekikikan
sendiri.
"Aha, jadi kau takut dengan
gerombolan tengik yang mengaku anak buah Pendekar Gila, Ki?" tanya
Pendekar Gila. Hatinya masih penasaran ingin tahu apa alasan warga Desa
Ngadireja menakuti gerombolan itu.
"Anak Muda, sebenarnya kami
tak takut terha- dap gerombolan itu. Yang kami takutkan, kalau-kalau pemimpin
mereka, Pendekar Gila datang. Tentunya kau pun yang sama-sama gila tahu, siapa
Pendekar Gila sebenarnya. Pendekar yang cukup disegani kawan maupun
lawan."
Pendekar Gila tertawa cekikikan,
mendengar penuturan Ki Lampit. Tangannya menggaruk-garuk kepala. "Ah ah
ah, aku semakin tertarik, ingin tahu se- perti apa tampang anak buah Pendekar
Gila," gumam Pendekar Gila sambil masih menunjukkan tingkahnya yang
seperti orang gila, "Bolehkah aku ikut menginap di kedaimu, Ki?"
"Kau seperti bukan pemuda
sembarangan. Dan kau seperti orang gila yang juga bukan sembarangan. Siapa kau
sebenarnya, Anak Muda?" tanya Ki Lampit dengan kening berkerut, serta mata
menyipit meman- dang wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan.
"Hi hi hi...! Bukankah sudah
kukatakan, siapa diriku tidak penting. Yang jelas, aku ingin melihat se- perti
apa kecoa-kecoa busuk yang mengaku anak buah Pendekar Gila," kata Pendekar
Gila dengan tangan ma- sih menggaruk-garuk kepala.
"Baiklah, Anak Muda. Aku pun
tak menolak. Kau boleh istirahat di kedaiku," jawab Ki Lampit
"Aha, terima kasih, Ki! Berapa
satu malam ha- rus kubayar?"
"Tidak usah, Anak Muda. Aku
senang, kalau kau mau menginap di kedai buruk ini," kata Ki Lampit
"Aha, terima kasih! Kalau
begitu, biarlah aku akan memasak nasi untuk kau jual. Kebetulan sekali, aku pun
bisa memasak."
Ki Lampit tersenyum senang,
mendengar uca- pan pemuda yang mirip orang gila itu. Pendekar Gila, langsung
memasak nasi dan lauk-pauknya! Begitu ce- pat tangannya bekerja. Dalam sekejap
saja, semua te- lah selesai.
***
4
Malam datang menggantikan siang.
Sinar ma- tahari yang semula menyinari bumi, telah menghilang di ufuk barat
Kegelapan pun datang menyelimuti bumi, membuat suasana Desa Ponorogo nampak
sepi.
Namun di antara kesepian itu. Ada
empat ru- mah yang masih nampak ramai dan terang-benderang. Mereka masih banyak
menerima tamu sehubungan dengan pemilihan lurah pekan depan. Keempat rumah itu
tak lain rumah Warok Gandu Pala, Ki Renda Paksa, Ki Banjar Guling, dan Ki Jali.
Nama terakhir ini yang menggantikan Ki Renu Jalna sebagai calon lurah. Di-
rinya merupakan calon yang dijagokan oleh Tiga Warok Bercambuk Sakti, sesepuh
Desa Ponorogo. Hal itu di- lakukan, untuk menjebak pelaku pembunuhan terhadap
Ki Renu Jalna.
Rumah Ki Jali dijaga ketat beberapa
jawara, hal itu dimaksudkan agar kejadian yang dialami Ki Renu Jalna tidak
terulang lagi. Para tamu yang berkunjung ke rumah calon kepala desa ini pun
nampak banyak, melebihi calon lurah lain.
Sementara itu di rumah Warok Gandu
Pala, ju- ga diselenggarakan suatu jamuan untuk mengundang orang-orang yang
mendukung dirinya. Banyak juga orang yang datang. Namun kebanyakan hanya berpu-
ra-pura, karena sebenarnya mereka sebenarnya para kepeng, dari Ki Jali.
Warok Gandu Pala malam itu
kedatangan Tiga Warok Bercambuk Sakti. Mereka tak lain Warok Singo Lodra, Warok
Sura Pati, dan Warok Sito Kuta. Sebagai sesama warok, mereka memang masih ada
ikatan. Se- hingga tak akan berusaha memecahkan satu sama lain. Juga tak mau
saling menyingkirkan, walaupun sebenarnya mereka bertiga tak suka dengan Warok
Gandu Pala.
"O, sungguh suatu penghormatan
besar, kalian sudi datang ke rumahku!" ujar Warok Gandu Pala, ke- tika
menyambut ketiga rekannya sesama warok. Di bi- birnya mengurai senyum, meski di
dalam hati terpen- dam kebencian.
"Ah, rupanya Kakang Warok yang
datang," Nyai Rukimah, istri Warok Gandu Pala turut menyambut kedatangan
ketiga tamu, yang dianggap sebagai sauda- ra tua dari suaminya. Di situlah
letak ikatan para wa- rok. Mereka menganggap satu sama lain masih ada ikatan
kekerabatan.
"Ah, bisa saja Dimas dan
Diajeng. Bukankah setiap saat kita sering bertemu?" sela Warok Singo Lodra
dengan bibir tersenyum ramah, setelah memberi penghormatan pada tuan rumah.
"Benar apa dikatakan Ki Singo.
Bukankah se- tiap saat kita memang sering bertemu?" sambung Warok Sura
Pati juga dengan tersenyum, berusaha me- nunjukkan rasa gembira, karena bisa
memberikan se- dikit arti bagi sesama warok.
Semua tertawa lepas, seperti tak
memikul be- ban pikiran. Keakraban tergambar saat itu, meski da- lam hati Warok
Gandu Pala, warok yang paling muda di antara mereka, tersimpan dendam dan
perasaan benci terhadap ketiga warok lainnya.
Warok Gandu Pala tahu kalau, ketiga
warok itu sebenarnya tidak menjagokan diri. Bahkan mereka berusaha menghalangi
niatnya untuk menjadi Kepala Desa Ponorogo. Padahal mereka bertiga merupakan tokoh
yang banyak pengikutnya. Mereka dihormati dan disegani sebagai sesepuh Desa
Ponorogo. Berbeda den- gannya yang hanya pimpinan perkumpulan Reog Pono- rogo.
Perasaan rendah diri itulah yang
membuat Wa- rok Gandu Pala semakin berambisi menjadi kepala desa. Padahal
ketiga warok yang juga dianggap sesepuh desa itu tidak pernah menaruh curiga
seperti itu. Ketiganya menganggap Warok Gandu Pala sama dengan mereka. Tak ada
rasa saling merendahkan satu sama lain.
"Silakan duduk, Kakang
Warok!" ajak Warok Gandu Pala mempersilakan ketiga tamunya untuk mengambil
tempat duduk yang telah disiapkan.
"Ah, terima kasih," sahut
ketiganya. Kemudian mereka duduk, ditemani tuan rumah, Warok Gandu Pala.
"Sungguhkah engkau ingin
menjadi kepala de- sa, Adi Gandu Pala?" tanya Warok Singo Lodra setelah
duduk. Matanya menatap dengan tersenyum pada Wa- rok Gandu Pala, yang juga
tersenyum-senyum.
"Begitulah, Kakang
Singo." "Hm," gumam Warok Singo Lodra tak jelas. Ke- mudian
dihelanya napas dalam-dalam, seakan hendak membuang kegelisahan.
"Apakah ini menyalahi aturan,
Kakang?" tanya Warok Gandu Pala dengan mata menatap tajam pada Warok Singo
Lodra yang tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Tidak, Adi Gandu. Tetapi,
apakah tidak ada niat yang lain? Misalnya mendirikan padepokan...?" tanya
Warok Singo Lodra.
"Benar, Adi Gandu. Mungkin
dengan mendiri- kan padepokan, bisa membuatmu akan merasa te- nang,"
tambah Warok Sito Kuta.
"Apakah Kakang-Kakang Warok
melihat, sela- ma ini aku tak tenang...?" tanya Warok Gandu Pala dengan
kening mengerut, mendengar ucapan Warok Sito Kuta. "Kurasa selama ini aku
pun tenang, Kakang Sito. Hanya saja, ingin sekali aku bisa memberikan arti bagi
Desa Ponorogo. Aku ingin Ponorogo yang kita cin- tai ini, maju dan bisa
terpandang. Bahkan kalau mungkin, bisa menjadi sebuah ketemanggungan"
Ketiga warok itu saling pandang,
mendengar ci- ta-cita Warok Gandu Pala yang terlalu tinggi bagi mereka. Belum
juga dirinya jadi kepala desa di Ponorogo, sudah berkhayal setinggi langit
"Gandu Pala, janganlah suka
menjadi pungguk yang merindukan bulan! Kalau memang tercapai cita- citamu, kami
akan merasa senang. Tetapi jika gagal, kami takut kau akan kecewa," tutur
Warok Singo Lo- dra dengan bijaksana. "Kalau hanya kecewa dan dapat kau
kendalikan, itu tak menjadi masalah. Yang kuta- kutkan, kau akan melampiaskan
kekecewaanmu da- lam kesesatan. Itu yang tidak kami harapkan. Kau ta- hu kita
sebagai warok. Orang yang menjadi panutan bagi warga. Kau harus ingat itu,
Gandu Pala."
"Aku akan selalu ingat, Kakang
Singo. Tadi aku hanya berkhayal," ujar Warok Gandu Pala disertai se- nyum.
"Ah, silakan dicicipi makanannya."
"Terima kasih." Ketiga
warok itu pun segera mencicipi makanan yang dihidangkan Nyi Rakimah.
"Hm, lezat sekali, Gandu.
Siapa yang mem- buat..?" tanya Warok Singo Lodra sambil mengangguk-
anggukkan kepala, merasa nikmatnya makanan yang dihidangkan Warok Gandu Pala.
"Adikmu Rakimah, Kakang,"
jawab Warok Gan- du Pala. "Diajeng Rakimah pintar juga memasak,"
selo- roh Warok Sito Kuta yang membuat Nyi Rakimah ter- senyum-senyum. Matanya
memandang wajah sua- minya yang juga tersenyum.
"Bukan aku saja yang membuat,
Kakang Sito. Tetapi anak Kakang Singo Lodra pun turut serta," kata Nyi
Rakimah.
"Sekati di sini...?"
tanya Warok Singo Lodra dengan kening mengerut.
"Benar, Kakang," jawab
Warok Gandu Pala, "Juga Caraka Wanda, dan Surotama, turut membantu di
sini."
Ketiga warok itu saling pandang
mendengar anak-anak mereka berada di rumah Warok Gandu Pa- la. Kening ketiganya
mengerut, sepertinya merasa he- ran kalau anak-anak mereka justru mendukung
Warok Gandu Pala untuk menjadi kepala desa.
"Syukurlah kalau memang mereka
turut mem- bantu. Ah, semoga jalinan antar warok semakin erat. Sehingga
Ponorogo tak akan dapat diremehkan!" ujar Warok Singo Lodra sambil
tersenyum. "Kami titip a- nak-anak kami padamu, Gandu."
"Akan kami perhatikan,
Kakang," jawab Warok Gandu Pala. "Oh ya, Kakang Singo. Saya mengharap
dukunganmu, agar saya bisa menjadi kepala desa di Ponorogo ini."
"Aku dan kedua saudara warok
mendukungmu, Adi Gandu. Tetapi, jadi atau tidaknya seseorang men- jadi kepala
desa, semua terserah warga desa. Mereka- lah yang memilihnya, Gandu,"
jawab Warok Singo Lo- dra berpura-pura mendukung Warok Gandu Pala, meskipun
dirinya telah memiliki jago sendiri, Ki Jali.
Karena menurut pandangan ketiga
warok itu Ki Jali lebih pantas menjadi kepala desa. Hal itu didasar- kan pada
tindak-tanduknya yang ramah, baik, dan mudah bergaul dengan siapa saja!
"Aku tahu, Kang. Tetapi paling
tidak, jika Ka- kang Warok bertiga mendukungku, niscaya aku akan menang. Karena
hampir semua penduduk Desa Pono- rogo menghormati kalian," ujar Warok
Gandu Pala.
Ketiga warok itu sesaat terdiam.
Mereka saling menarik napas dalam-dalam mendengar ucapan Warok Gandu Pala.
Bagaimanapun, apa yang baru saja dika- takan Warok Gandu Pala merupakan suatu beban.
Ke- tiganya tak mau menekan warga, agar mau memilih Warok Gandu Pala. Mereka
bukan raja yang dalam se- tiap sabdanya akan ditaati warga, melainkan warga biasa.
Hanya saja, warga Ponorogo, menaruh hormat dan segan terhadap mereka, terutama
Warok Singo Lodra.
"Maafkan aku! Kalau aku
disuruh memaksakan kehendak, aku tak bisa Gandu. Hak seseorang, tak mungkin
dapat ditekan. Karena itu hak mendasar ma- nusia, yang diberikan Hyang
Widhi," kata Warok Singo Lodra berusaha memberi pengertian pada Warok Gan-
du Pala. "Dengan kata lain, Kakang Warok tak mau mendukungku?" tanya
Warok Gandu Pala.
"Jangan salah sangka, Adi
Gandu Pala!" Warok Sura Pati yang dari tadi diam angkat bicara, melihat
Warok Gandu Pala nampak agak kecewa. "Kami men- dukungmu. Tetapi, apa yang
dikatakan Warok Singo Lodra benar. Hak hidup manusia, tak mungkin kita paksa.
Karena, itu menyalahi aturan Hyang Widhi. Bi- arlah para warga memilih dengan
kemauan mereka. Jika kau dipercaya warga tentu mereka akan memi- lihmu sebagai
kepala desa!"
Warok Gandu Pala terdiam. Begitu
pula dengan istrinya. Dalam hatinya memaki sengit pada ketiga wa- rok tamunya.
Tampaknya Warok Gandu Pala tahu ka- lau mereka bertiga tidak menghendaki
dirinya menja- bat kepala desa. Padahal dirinya telah berusaha mena- rik
perhatian warga, dengan cara membuat nama Pen- dekar Gila sebagai pelaku
pembunuhan terhadap calon lurah yang dijagokan warga Desa Ponorogo.
Hal itu dilakukan, karena semua
warga Ponoro- go tahu, kalau Pendekar Gila penegak kebenaran dan keadilan.
Dengan membunuh Ki Renu Jalna, Warok Gandu Pala berharap warga akan berbalik
mendu- kungnya. Karena warga menyangka Ki Renu Jalna orang tak baik, hingga
Pendekar Gila membunuhnya.
"Gandu Pala, jangan kau
berkecil hati! Kami akan mendukungmu. Kuharap, kau akan senantiasa tenang dalam
menghadapi hal ini," ujar Warok Singo Lodra berusaha menasihati.
"Benar, Dimas. Dalam keadaan
seperti ini, ba- nyak orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan...,"
sambut Warok Sura Pati. "Pandai- pandailah menjaga diri dan waspada!
Jangan sampai seperti Ki Renu Jalna."
"Ya. Ki Renu Jalna kurang
waspada, sehingga orang yang tak suka padanya, dapat dengan mudah
membunuhnya," tambah Warok Sito Kuta.
"Bukankah Pendekar Gila yang
melakukan- nya?" tanya Warok Gandu Pala pura-pura kaget. Ke- ningnya
mengerut dengan mata menyipit. Sepertinya dia merasa kaget, mendengar kabar
akan kematian Ki Renu Jalna.
"Entahlah. Memang kami
menemukan surat yang tertera Pendekar Gila. Tetapi kami belum yakin. Tentunya
kau masih ingat dengan kejadian yang me- nimpa Ki Lurah Pandarsuna. Ternyata
yang membu- nuh bukan Pendekar Gila, tetapi Maling Kalabendana," desah
Warok Sito Kuta seraya menarik napas dalam- dalam. Seakan ingin membuang
perasaan pahit, yang terjadi tiga purnama silam, ketika Ki Lurah Pandarsuna
ditemukan mati di dalam kamarnya bersama sang Istri. Juga kedua pengawalnya.
Warok Gandu Pala terdiam dengan
wajah nam- pak sedih mendengar berita yang telah lama terjadi. Seakan dirinya
merasa berduka, atas kematian Ki Lu- rah Pandarsuna.
"Baiklah, Gandu Pala. Kami
mohon pamit, ka- rena malam sudah larut," ujar Warok Singo Lodra me-
wakili kedua rekannya minta diri.
Dengan diantar Warok Gandu Pala dan
istrinya ketiga warok meninggalkan rumah besar itu. Warok Gandu Pala tersenyum
sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian dengan menggeleng-gelengkan kepala,
kakinya melangkah masuk bersama istrinya.
***
Malam semakin gelap, seakan hendak
mena- burkan mimpi-mimpi bagi mereka yang telah tidur.
Dari arah selatan tampak
segerombolan lelaki berpakaian serba hitam bergerak memasuki Desa Po- norogo.
Mereka tampak tergesa-gesa melangkah, seper- tinya tidak sabar untuk segera
sampai ke tempat tu- juan. Sesekali gerombolan serba hitam itu bergerak ce- pat
menyelinap di balik pepohonan ketika terlihat dua orang petugas ronda malam
melangkah mendekat ke arah mereka.
"Pala Ageng dan kau, Asta
Dawa, bereskan pe- tugas ronda itu!" perintah pimpinan, yang ternyata
Sumogiri pada kedua rekannya.
"Baik," sahut kedua
lelaki bertubuh tegap dan tinggi. Keduanya langsung melesat menuju ke tempat ke
dua peronda yang masih melangkah semakin dekat.
"Kau yang gemuk, Pala
Ageng." "Beres. Kau yang ceking. Ingat, jangan sampai mengeluarkan
suara!" ujar Pala Ageng mengingatkan Asta Dawa.
"Beres." "Mereka
semakin dekat." "Ya." "Kita mulai!" Pala Ageng dan
Asta Dawa berkelebat bagaikan seekor burung hantu menyambar mangsa. Kedua petugas
ronda tersentak kaget. Mereka bermaksud men- jerit, tetapi dengan cepat mulut
keduanya telah disekap. Belum sempat peronda itu menyadari apa yang terjadi
tiba-tiba...
Jlep! Jlep! Dua bilah belati telah
menghunjam dada kedu- anya tepat di hati dan jantung.
"Ukh!" "Akh!"
Kedua petugas ronda yang malang itu, dalam sekejap menggeliat sekarat. Mereka
tak dapat berteriak atau berontak. Hanya mata mereka yang melotot, un- tuk
selanjutnya terkulai tewas.
"Bagus! Kalian telah
menjalankan tugas dengan baik," ujar Sumogiri tersenyum. "Kita harus
berpencar! Ingat, kita harus bisa menyingkirkan Ki Renda Peksa tanpa
mengeluarkan suara!"
"Baik," sahut para anak
buah. "Ayo kita jalan!" perintah Sumogiri. Kesepuluh lelaki bertampang
garang yang mengenakan pakaian rompi hitam dan rata-rata tubuh ke- kar itu
kembali meneruskan perjalanan. Tujuan mere- ka hanya satu, menyingkirkan Ki
Renda Peksa.
Gerombolan itu kini berpencar
menjadi dua ba- gian. Satu dari arah barat, sedangkan yang lain dari arah
timur. Mereka sama-sama menuju rumah Ki Renda Peksa.
Rumah Ki Renda Peksa ternyata tidak
seperti rumah Ki Renu Jalna. Setelah kematian Ki Renu Jalna, Ki Renda Peksa pun
membayar jawara untuk berjaga- jaga di rumahnya. Hal itu karena untuk menjaga
kemungkinan bakal terjadinya petaka seperti yang di- alami Ki Renu Jalna.
Empat orang lelaki berbadan tegar
dengan ku- mis melintang berusia tiga puluh tahunan nampak mondar-mandir di
sekitar rumah Ki Renda Peksa. Keempat lelaki berpakaian hijau lengan panjang
den- gan ikat kepala terbuat dari kain batik membentuk blangkon itu, di
pinggangnya terselip golok. Tangan mereka memakai gelang terbuat dari akar
bahar.
Bagai burung hantu, para jawara itu
mengawa- si dengan waspada penuh, ke sekelilingnya. Mereka memeriksa sekeliling
rumah secara bergantian. Dua orang bertugas di depan. Sedangkan yang lain di
bela- kang rumah.
Tanpa sepengetahuan mereka, sepuluh
pasang mata tengah mengawasi mereka dari balik semak- semak. Gerombolan serba
hitam itu menatap garang dan penuh nafsu membunuh.
"Cakala dan Cikili, bereskan
dua orang di de- pan! Sedangkan Julaga dan Juligi, bereskan yang di
belakang!" perintah Sumogiri sambil menggerakkan tangan kanannya, memberi
isyarat keempat anak buah segera bertindak.
"Baik!" sahut mereka.
Kemudian dengan cepat, keempatnya meraba sesuatu dari balik rompi. Empat buah
pisau kecil, kini telah berada di tangan mereka. Dan...,
Swing! Swing...! Empat pisau maut
itu melesat begitu cepat, laksana anak panah yang dilepas dari busurnya.
"Heh?!" "Hah?!"
Kedua orang yang berjaga di depan rumah ter- sentak kaget. Mereka hendak
berkelit, tetapi pisau- pisau beracun itu lebih cepat. Sehingga....
Jlep! Jlep! "Hekkk...!"
"Ukh...!" Kedua orang jawara memekik tertahan. Tenggo- rokan mereka
terhunjam pisau-pisau kecil. Dengan mata melotot, tubuh keduanya mengejang,
kemudian ambruk dan tewas.
Mendengar suara berisik. Kedua
jawara yang sedang memeriksa ke belakang rumah tersentak kaget. Keduanya hendak
membalikkan tubuh bermaksud lari ke depan. Tetapi...,
Swing! Swing! Jlep! Crab!
"Ukh!" "Akh!" Kedua jawara itu memekik tertahan, karena
tenggorokan mereka terhunjam pisau. Dengan mata mendelik, mereka menatap penuh
amarah pada dua orang yang menyerangnya.
Srt! Srt! Kedua jawara itu mencabut
golok mereka. Na- mun dengan cepat Julaga dan Juligi telah mendahului. Dengan
pedang tajam, keduanya membabat kedua ja- wara yang telah dalam keadaan sekarat
itu.
Wrt! Bret! Cras! "Ukh!
Keduanya kembali memekik tertahan dengan perut koyak akibat babatan pedang.
Kemudian ambruk bergelimpangan berlumuran darah.
Melihat keempat jawara itu ambruk,
Sumogiri segera memerintahkan semua anak buah agar keluar dari persembunyian.
Mereka langsung mendekat ke pintu rumah Ki Renda Peksa. Tok! Tok! Tok! Sumogiri
mengetuk pintu rumah Ki Renda Pek- sa. Matanya mengawasi ke sekelilingnya,
berusaha meyakinkan kalau keadaan memang telah sepi. Kemu- dian Sumogiri
mengisyaratkan pada semua anak buah agar segera menutup wajah mereka.
"Siapa...?" dari dalam
terdengar suara berat orang lelaki.
"Saya, Ki," sahut
Sumogiri. "Ada apa, Gunta? Mengganggu orang tidur sa- ja!" omel Ki
Renda Peksa. Lelaki itu menyangka kalau yang mengetuk pintu Gunta, salah
seorang jawara yang disewanya.
"Ada tamu, Ki," sahut
Sumogiri. "Sebentar." Terdengar suara kaki melangkah menuju pin-
tunya rumah. Sumogiri segera memberi isyarat pada para anak buah agar siap.
Grrrettt..! Pintu terbuka, seketika
itu dari dalam muncul seraut wajah lelaki berusia lima puluh tahunan. Mata
lelaki setengah baya itu membelalak, ketika melihat orang-orang bercadar kain
hitam telah mengepung di depan pintu.
"Siapa kalian?!"
"Kami anak buah Pendekar Gila! Kami diutus untuk membunuhmu!" sahut
Sumogiri. "Bersiaplah!"
Crab! "Akh...!" Ki Renda
Peksa memekik keras, ketika pedang Sumogiri membabat dadanya. Lelaki setengah
baya itu terhuyung ke belakang dengan darah ber- hamburan. Secepat itu pula,
Sumogiri melemparkan selembar daun lontar ke samping kiri tubuh Ki Renda Peksa
yang masih sekarat.
"Kita pergi!" ajak
Sumogiri pada anak buahnya. Kesepuluh lelaki bermuka garang itu pun berla- lu
meninggalkan rumah Ki Renda Peksa, menembus kegelapan malam. Sedangkan Ki Renda
Peksa nampak masih sekarat Tangannya berusaha mengapai-gapai mencari pegangan,
hingga akhirnya mampu meraih kaki kursi.
Brak! Kursi itu jatuh terguling.
Suara itu membuat istri Ki Renda Peksa terbangun. Wanita berusia sekitar empat
puluh tahun yang masih kelihatan cantik itu, bergegas lari menuju ruang depan.
Seketika Nyi Sela- sih menjerit, saat melihat tubuh suaminya tergeletak
berlumuran darah.
"Kakang...!" Nyi Selasih
langsung memeluk tu- buh Ki Renda Peksa yang sudah tak bernyawa. Wanita itu
menangis sejadi-jadinya, seakan tak rela sang Su- ami harus mati.
Mendengar jeritan Nyi Selasih, para
tetangga yang tengah tidur langsung terbangun. Mereka seren- tak berdatangan
ingin tahu, apa yang terjadi. Mata me- reka membelalak, setelah tahu kejadian
yang menimpa Ki Renda Peksa.
***
5
"Ini tidak bisa dibiarkan,
Kakang!" dengus Wa- rok Sito Kuta yang ditujukan pada kedua warok lain-
nya, yang saat itu telah berada di rumah Ki Renda Peksa, calon lurah yang juga
menjadi korban pembu- nuhan. Sama dengan yang terjadi pada Ki Renu Jalna, Ki
Renda Peksa pun di sampingnya terdapat tulisan se- larik kalimat yang cukup
membuat ketiga warok itu menarik napas dalam-dalam. Tulisan setengah men-
gancam itu atas nama Pendekar Gila. Tokoh muda yang akhir-akhir ini namanya
sangat kesohor dan menjadi buah bibir setiap orang. Pendekar yang dis- egani
dan ditakuti lawan maupun kawan.
Tulisan itu berbunyi :
Jangan sekali-kali berani
menentangku!
Pendekar Gila.
Warok Singo Lodra dan Warok Sura
Pati mena- rik napas dalam-dalam. Tampaknya kedua warok itu, berusaha memahami
apa yang sebenarnya terjadi. Dua calon lurah telah jadi korban. Keduanya mati
di tangan Pendekar Gila.
"Benarkah semua ini Pendekar
Gila yang mela- kukan?" desis Warok Singo Lodra dalam hati. Dirinya tetap
merasa belum yakin kalau semua kejadian itu Pendekar Gila yang melakukan.
"Kita harus mencari dia,
Kakang," kembali Wa- rok Sito Kuta berkata. Dari suaranya, hatinya nampak
tak sabar untuk mencari Pendekar Gila. Ingin rasanya dia bisa bertarung dengan
Pendekar Gila yang kini ti- dak mencerminkan sikap kependekarannya. Pendekar yang
telah membuat keonaran, dengan membunuh pa- ra calon kepala desa.
"Sabar dulu, Adi Sito!
Bagaimanapun, kita be- lum ada bukti untuk menangkapnya," ujar Warok Singo
Lodra berusaha menyabarkan rekannya. Kembali dihelanya napas dalam-dalam. Lalu
tangannya memungut daun lontar yang tergeletak di tanah. Kembali dibacanya.
Tulisan itu setengah menantang pada semua warga Ponorogo dan mengancam, agar
warga De- sa Ponorogo tidak ikut campur dalam urusan ini.
"Bukankah surat itu buktinya,
Kakang?" tanya Warok Sura Pati dengan kening berkerut. Hatinya pun sudah
tak sabar. Ingin secepatnya dapat menghajar Pendekar Gila yang lancang dan
telah menyimpang dari alirannya yang lurus.
"Kalian jangan terpengaruh
dengan surat ini, Adi Sura. Kita mesti ingat kejadian tiga bulan lalu, ketika
Ki Lurah Pandarsuna mati. Di samping tubuh Ki
Lurah, juga terdapat tulisan yang
mengatakan Pende- kar Gila pelakunya. Tetapi kenyataannya, bukan Pen- dekar
Gila," ujar Warok Singo Lodra, berusaha menya- barkan kedua rekannya agar
tidak diburu nafsu. Kare- na, jika asal bertindak tanpa disadari bukti nyata,
bi- sa-bisa mereka sendiri yang akan disalahkan kaum rimba persilatan. Karena
Pendekar Gila merupakan to- koh yang sangat dihormati dan disegani siapa pun.
"Tapi kalau kita biarkan terus
menerus, si pe- laku akan semakin menginjak kita, Kang," kata Warok Sito
Kuta tak sabar melihat kematian demi kematian dilakukan orang yang sama.
Sebagai seorang warok di Ponorogo, dirinya merasa telah ditantang.
"Kau benar," ujar Warok
Singo Lodra, "Tetapi kita tak boleh asal menuduh. Harus mampu membuk-
tikan dengan mata kepala kita, kalau pelakunya benar Pendekar Gila."
Mendengar penjelasan Warok Singo
Lodra, ke- dua rekannya terdiam. Bagaimanapun, mereka meng- hargai semua yang
menjadi buah pikir orang tua beru- sia tujuh puluh tahun yang memang pimpinan
para warok di Ponorogo.
Mereka masih bercakap-cakap, ketika
dari arah timur nampak seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan cambang
bawuk lebat. Lelaki itu memegang cambuk hitam besar di tangannya. Lelaki itu
tak lain Warok Gandu Pala.
"Ada apa, Kakang Warok?"
tanya Warok Gandu Pala, melihat ketiganya berkumpul di rumah Ki Renda Peksa.
Matanya menyipit, ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di rumah Ki Renda
Peksa. "Sepertinya telah terjadi sesuatu di sini, Kakang Warok?"
"Benar. Ki Renda Peksa dan
empat jawaranya mati," jawab Warok Singo Lodra.
"Siapa pelakunya,
Kakang?" tanya Warok Gandu Pala ingin tahu.
Warok Singo Lodra menyodorkan
selembar daun lontar yang tergeletak di samping mayat Ki Renda Peksa. Warok
Gandu Pala segera membacanya.
"Kurang ajar! Berani benar dia
mengancam ki- ta, Kakang!" dengus Warok Gandu Pala marah. Matanya menatap
tajam mayat-mayat yang bergelimpan- gan. "Jelas ini tak bisa dibiarkan,
Kakang. Aku akan mencari dia."
"Tunggu Gandu! Jangan gegabah
terhadapnya!" cegah Warok Singo Lodra. Warok Gandu Pala yang hendak pergi
meninggalkan rumah Ki Renda Peksa segera menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kakang Warok?"
"Sabar dulu, Gandu Pala! Kita tak boleh bertin- dak sembarangan. Kita
sebagai warok, harus dapat menunjukkan jiwa kewarokan kita yang menjadi panu-
tan warga," tutur Warok Singo Lodra.
"Lalu apa yang harus kita
lakukan, Kakang? Jelas sudah Pendekar Gila yang melakukan semuanya. Hm, rupanya
seminggu yang lalu dia di sini, ada mak- sud tertentu...," gumam Warok
Gandu Pala.
Warok Singo Lodra
mengeleng-gelengkan kepa- la, sepertinya tidak setuju dengan tuduhan yang
dilon- tarkan Warok Gandu Pala. Bibirnya menyungging se- nyum. Kemudian dihelanya
napas dalam-dalam, sea- kan hendak membuang perasaan gundahnya yang bergayut di
dalam hati. Pikirannya masih diliputi keti- dakmengertian, siapa sebenarnya
pelaku pembunuhan dua calon lurah itu.
"Nanti malam kita bagi tugas.
Kau, Gandu Pala, berjaga di sebelah timur Ponorogo. Sito, berjaga dan awasi di
sebelah selatan. Suro, awasi daerah barat desa. Sedangkan aku, akan mengawasi
di sebelah utara desa," kata Warok Singo Lodra membagi tugas pada ketiga
warok lainnya.
"Baik!" sahut ketiganya
bersamaan. "Tangkap orang yang mencurigakan." "Baik,
Kakang!" sahut ketiganya. "Kakang, apakah tidak sebaiknya kita juga
me- nanyakan pada Pendekar Gila...?" tanya Warok Sito Kuta. Dirinya tetap
belum yakin kalau Pendekar Gila tidak melakukan semuanya. Bagaimanapun pendekar
itu gila. Dan orang gila biasanya bertingkah yang sulit diterima akal sehat
"Benar, Kakang. Kita harus
ingat, kalau pende- kar muda itu orang gila. Dan biasanya, orang gila akan
berbuat di luar perhitungan manusia waras," sambung Warok Gandu Pala.
"Kita tunggu saja! Jika nanti
malam tidak terja- di apa-apa, kita akan mencari Pendekar Gila. Aku akan
mengutus Bari dan Sentir untuk mencari pendekar itu," ujar Warok Singo
Lodra, yang membuat mata Wa- rok Gandu Pala membelalak kaget. Sungguh tak me- nyangka
kalau Warok Singo Lodra hanya mengutus dua orang tangan kanannya. Sekaligus di
dalam benak Warok Gandu Pala bersyukur, karena dengan mudah dia akan dapat
menyingkirkan kedua utusan itu.
Warok Singo Lodra yang melihat
perubahan roman muka Warok Gandu Pala mengerutkan kening. Diperhatikan dengan
seksama wajah Warok Gandu Pa- la seakan ingin mengorek isi hatinya.
"Ada apa, Gandu Pala?"
tanyanya kemudian. "Ah, tidak apa-apa, Kakang. Tetapi, mengapa hanya
mengutus dua orang? Bukankah dengan begitu Pendekar Gila akan mudah membunuh
mereka?" tanya Warok Gandu Pala sepertinya tak setuju dengan rencana yang
akan dilakukan Warok Singo Lodra.
Warok Singo Lodra tersenyum sambil
mengge- leng-gelengkan kepala. Tangan kanannya membelai-belai jenggot yang
panjang sudah memutih. Kemudian dihelanya napas dalam-dalam, seakan hendak
mene- nangkan jiwanya.
"Kalau hal itu memang terjadi,
aku dan kedua dimas warok akan mencarinya. Karena jika kedua utu- sanku
dibunuhnya juga, berarti dia benar-benar me- nantangku. Walau dirinya seorang
pendekar yang telah kesohor kedigdayaannya, Warok Singo Lodra tak akan
gentar!" ujar Warok Singo Lodra setengah bergumam. Matanya yang tua,
memandang ke atas, seakan meng- harapkan kesaksian langit biru pada janji dan
tekad- nya.
Ketiga warok lainnya terdiam
mendengar uca- pan Warok Singo Lodra. Bagaimanapun ilmu mereka masih di bawah
Warok Singo Lodra. Mereka juga men- ganggap kalau pimpinan para warok itu yang
harus di- tuakan karena memang dirinya orang pertama dan paling tua di kalangan
warok Ponorogo.
"Kini tak ada persoalan lagi.
Kita harus mengu- burkan mayat-mayat itu!" ujar Warok Singo Lodra.
"Ki- ta sebagai orang-orang tua dan dihormati yang menjadi panutan harus
memberi contoh baik. Ayo bantu war- ga!"
Tanpa membantah, ketiga warok lain
segera mengikuti Warok Singo Lodra mengurusi mayat-mayat di rumah Ki Renda
Peksa.
***
Malam kembali bergayut menyelimuti
bumi. Desa Ngadireja pun sepi, bagaikan desa yang mati. Warga Desa Ngadireja
tengah dilanda perasaan berka- bung, duka yang dalam. Selama tiga purnama bela-
kangan ini, desa mereka dijarah gerombolan pengacau yang mengaku diperintah
Pendekar Gila.
Sementara itu, Pendekar Gila nampak
sedang terbaring di atas dipan. Matanya belum terpejam. Se- jak kemarin dirinya
berada di Desa Ngadireja, mengi- nap di kedai Ki Lampit. Malam kemarin dilalui
dengan tenang, tak ada tanda-tanda kemunculan gerombolan yang mengaku anak
buahnya. Seakan mereka tahu, kalau Pendekar Gila berada di desa itu.
Di samping Pendekar Gila di sebuah
dipan lain tampak Ki Lampit tengah berbaring pula. Orang tua itu pun belum
tidur. Malam itu Ki Lampit masih bertanya- tanya dalam hati. Siapa sebenarnya
pemuda berting- kah laku gila yang kerjanya cepat dan tengah mem- bantunya
dalam pekerjaan di kedainya. Semua peker- jaan diambil alih pemuda bertingkah
laku gila itu.
Kadang kala Ki Lampit ingin
tertawa, jika meli- hat tingkah laku Pendekar Gila yang konyol dan lucu. Namun
dirinya selalu menahannya, takut kalau-kalau pemuda bertingkah laku gila itu
akan tersinggung. Ji- ka hal itu terjadi, dia akan kerepotan seperti kemarin
lusa. Padahal semenjak Pendekar Gila bersamanya, pekerjaan menjadi ringan.
"Dua hari kita bersama, tetapi
selama ini aku belum tahu siapa kau sebenarnya," gumam Ki Lampit dengan
tarikan nafasnya yang berat. "Semenjak kau berada di sini, aku merasa
aneh."
"Aha, apa yang kau anggap
aneh, Ki?" tanya Sena seraya bangun dari pembaringan. Mulutnya cen-
gengesan. Lalu tangannya mengambil bulu burung di ikat pinggangnya. Kemudian
dikorek telinga kanannya dengan bulu burung itu. Mulut nyengir merasa kenik-
matan. "Gerombolan itu, biasanya datang tujuh hari sekali. Tetapi semenjak
kau datang, mereka tidak da- tang. Sepertinya, kehadiranmu membuat mereka takut"
Pendekar Gila tertawa mendengar
penuturan Ki Lampit yang dianggapnya terlalu mengada-ada. Ba- gaimana mungkin
orang tahu dirinya di Desa Ngadire- ja. Lagi pula, mengapa gerombolan itu harus
takut ter- hadapnya. Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepa- la, dengan tangan
kiri menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Lucu sekali kau,
Ki. Bagaimana mungkin mereka takut pada orang gila sepertiku? Ah ah ah, aneh
sekali! Lagi pula, apa yang harus dita- kutkan atas diriku?" tanya
Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ki Lampit terdiam. Mata tuanya yang
tertutup alis mata panjang, menatap dalam keremangan cahaya lampu pelita ke
arah Pendekar Gila yang kembali men- gorek telinga dengan bulu burung.
"Mungkinkah kau Pendekar Gila
itu, Anak Mu- da?" tanya Ki Lampit setengah menerka. Dari suara tampak
keragu-raguan pertanyaan itu diucapkan. Ma- tanya tetap memperhatikan pemuda di
sampingnya yang tengah cengengesan.
"Aha, terlalu tinggi sebutan
itu untukku, Ki. Aku hanyalah pemuda gila yang hidup sebatang kara. Kerjaku
mengembara tak tentu arah. Hanya orang- orang saja yang menganggapku
begitu," sahut Pende- kar Gila. Mendengar jawaban itu Ki Lampit tersentak
kaget. Matanya terbelalak, menggambarkan rasa takut yang mendadak muncul.
"Jadi?!" "Kau tak
perlu takut, Ki! Memang orang menye- butku Pendekar Gila. Tetapi aku bukanlah
pimpinan kecoa-kecoa busuk yang kau ceritakan," tutur Sena berusaha
meyakinkan Ki Lampit
"Jadi benar kau yang bergelar
Pendekar Gila, Anak Muda?"
"Aha, begitulah. Sekali lagi,
kau tak usah takut
Ki! Aku memang sengaja menginap di
tempatmu, kare- na ingin tahu macam apa kecoa-kecoa yang telah membuat namaku
cemar," ujar Pendekar Gila dengan setengah mendengus. Dirinya merasa marah
atas tin- dakan para begundal yang telah mengaku-aku sebagai anak buahnya.
"Jadi kau tak punya anak buah,
Pendekar?" "Aha, Untuk apa, Ki? Aku bukanlah pimpinan. Dan kurasa,
aku tak pantas jadi seorang pemimpin. Lucu sekali..., dunia ini semakin lucu
dan aneh," gu- mam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan ke- pala. Di
bibirnya terurai senyum dan cengengesan. Se- dangkan tangan kirinya
menggaruk-garuk kepala.
Ki Lampit turut menghela napas,
mendengar penuturan Pendekar Gila. Hatinya merasa kagum atas budi pekerti luhur
Pendekar Gila.
"Benar juga apa yang
dikatakan. Aneh! Tingkah lakunya seperti orang gila, tetapi tutur katanya
seperti orang yang berpendidikan," gumam Ki Lampit dalam hati.
Diperhatikan lagi dengan seksama pemuda ber- tingkah laku aneh di hadapannya.
Tetap saja tak terli- hat adanya kekejaman di wajah pemuda gila itu.
"Pendekar Gila, apa kau belum
mendengar ka- bar tadi pagi?"
"Aha, tentang apa gerangan,
Ki?" "Desa Ponorogo, kini dilanda bencana," tutur Ki Lampit.
"Bencana? Ah ah ah...! Bencana macam apa, Ki?" tanya Pendekar Gila
ingin tahu. Wajahnya yang semula cengengesan nampak berubah serius memper-
hatikan wajah Ki Lampit.
Ki Lampit menarik napas
dalam-dalam, sebe- lum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Ponorogo.
Matanya masih menatap ke wajah Pendekar Gila, yang kini nampak
bersungguh-sungguh memperhatikannya. Sepertinya Pendekar Gila ingin tahu, apa
yang akan diceritakan.
"Calon-calon kepala desa, satu
persatu dikete- mukan mati. Dan yang membuat semua warga desa Ponorogo membuka
mata, karena di samping mayat terdapat tulisan pada selembar daun lontar yang
men- gatasnamakan Pendekar Gila," tutur Ki Lampit
Pendekar Gila tersentak mendengar
cerita Ki Lampit Bahwa namanya dijadikan sebagai biang keladi pembunuhan itu.
Kemudian sambil cengengesan, dita- riknya napas dalam-dalam. Ada perasaan marah
dan jengkel dalam hatinya.
"Hi hi hi..., lucu sekali!
Mengapa orang-orang semakin suka melakukan hal-hal aneh? Lucu sekali...!"
gumam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya merasa tak
habis pikir mengapa penja- hat lebih suka menggunakan gelarnya untuk melaku-
kan aksi kejahatannya.
"Kau tak takut,
Pendekar?" tanya Ki Lampit. "Hi hi hi..., takut? Mengapa harus takut?
Hyang Widhi akan senantiasa melindungi orang yang benar, Ki. Kalau kita tak
salah, mengapa harus takut?" Sena balik bertanya dengan masih cengengesan.
"Ah, kau memang sangat
bijaksana, Pendekar. Sungguh jahat orang-orang yang telah mencemarkan nama
baikmu. Mereka tidak ubahnya iblis!" dengus Ki Lampit, sepertinya turut
jengkel mendengar berita Pendekar Gila dijadikan kedok kejahatan.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala, seakan-akan melihat kelu- cuan.
Namun dilihat dari sinar matanya, jelas hatinya benar-benar marah. Merasa telah
dipermainkan see- naknya oleh para durjana.
"Ini tidak bisa didiamkan.
Para warok pun tentu menuduh aku pelakunya," gumam Pendekar Gila dalam
hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah, sudahlah, Ki! Malam telah
larut. Tidurlah dahulu, nanti kau sakit!" ujar Sena kepada Ki Lampit agar
segera tidur. Dirinya tak ingin orang tua sebatang kara itu akan mengalami sakit.
"Kau...?" "Hi hi
hi..., nanti aku pun tidur," sahut Pende- kar Gila. Ki Lampit pun segera
merebahkan tubuh. Per- lahan-lahan dipejamkan matanya. Dan tidak lama ke-
mudian, lelaki tua itu telah pulas dalam tertidur. Se- dangkan Pendekar Gila
nampak masih duduk sambil menyandarkan tubuh pada dinding. Mulutnya masih
cengengesan, dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Benaknya masih memikirkan
tentang semua kejadian yang mengaitkan julukannya.
Pendekar Gila menengadahkan wajah
ke atas, seakan hendak mencari sesuatu. Dihelanya napas da- lam-dalam, berusaha
menenangkan perasaannya.
"Hyang Jagat Dewa Batara,
semoga Engkau memberi kekuatan pada hambamu ini!" desahnya lirih, sambil
memejamkan mata perlahan.
Malam semakin larut suasana pun
bertambah sepi. Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara jeritan memecah
keheningan malam. Disusul suara gelak ta- wa.
"Tolong...! Rampok...!"
"Hua ha ha...! Jangan melawan! Kami anak buah Pendekar Gila. Percuma
kalian melawan...!"
Sena yang mendengar gelarnya
disebut tersen- tak kaget. Dengan bibir tersenyum, tubuhnya melesat cepat
meninggalkan kamar bilik di kedai Ki Lampit
"Hi hi hi...! Pucuk dicinta
ulam tiba. Rupanya apa yang dikatakan Ki Lampit benar. Aha, malam ini aku akan
berburu kecoa-kecoa busuk!" dengus Pendekar Gila sambil terus melesat
menuju tempat asal jeritan.
***
6
Segerombolan lelaki dengan wajah
separo tertu- tup kain merah nampak sedang melakukan gerakan- nya, membuat
keonaran di rumah penduduk Desa Ngadireja. Hiruk-pikuk memecah kesunyian malam.
Jeritan ketakutan terus terdengar kian jelas, disusul pekik kematian yang
menyayat hati.
"Aaakh...!"
"Tolong...! Tolong...!" Seorang wanita muda dengan hanya memakai
angkin penutup dada nampak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua
lelaki berpakaian serba hitam. Wanita muda dan cantik itu, terus beru- saha
meronta-ronta. Namun, kedua lelaki bermata ga- rang itu tak menghiraukannya.
Keduanya terus me- nyeret wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun itu.
"Lepaskan! Tolong...!"
"Percuma saja kau menjerit, Ayu Wuni! Ayahmu yang lurah pun takkan mampu
menolongmu. Salah seorang dari keduanya yang berambut pendek dengan ikat kepala
warna jingga membentak. Matanya yang ta- jam dan beringas, menatap penuh nafsu
pada gadis cantik yang memakai angkin hijau pupus itu.
"Lepaskan, Bajingan! Lepaskan
aku...!" gadis cantik yang ternyata bernama Ayu Wuni itu terus ber- teriak
dan memberontak. Kedua lelaki itu terus mem- bawanya ke tempat semak-semak di
bawah pohon bambu yang sepi.
"He he he...! Di sini kita
akan berpesta, Manis. Ayolah! Jabil, pegangi dia!" perintah lelaki
berambut panjang terurai. Kepalanya diikat dengan kain batik yang membentuk
segi tiga ke bawah di kening.
"Beres. He he he...!"
Jabil segera memegangi tangan gadis cantik yang terus meronta-ronta dari pe-
gangan keduanya.
Lelaki berpakaian hitam dan
berambut panjang terurai itu segera membuka kain yang menutup wa- jahnya. Kini
nampaklah seraut wajah tampan dengan kumis tipis menghias di wajahnya. Namun,
matanya yang menyimpan bara nafsu, menatap beringas gadis cantik itu.
"Lepaskan! Tidak...!
Tolong...!" "He he he...! Jangan harap ada yang berani menghalangi
anak buah Pendekar Gila, Anak Manis! Ayolah...!" pemuda tampan berkumis
tipis yang ternya- ta Caraka Wanda terus mendekatkan tubuhnya. Kemudian dengan
disertai nafsu birahi yang menggebu- gebu, direnggutnya pakaian yang menutupi
tubuh gadis malang itu.
Bret! "Auh! Tidak...!
Tolong...!" anak Kepala Desa Ngadireja itu terus berteriak-teriak.
Sementara di per- kampungan, terdengar hiruk-pikuk orang-orang berla- rian
ketakutan. Sementara gerombolan manusia dur- jana yang mengaku anak buah
Pendekar Gila, dengan ganas terus membantai penduduk desa yang melawan.
Crab! "Akh...!"
"Jangan kalian berani menentang kami! Kalian tak akan mampu menghadapi
Pendekar Gila!" terden- gar ancaman seseorang dari anggota-gerombolan.
Nampaknya masih ada warga desa yang berani menen- tang, sehingga kembali
terdengar suara tebasan pedang yang disusul dengan jerit kematian.
"Heaaa!" Crab!
"Akh...!" Sementara warga desa masih hiruk-pikuk keta- kutan
ditingkahi dengan suara jerit kematian, di tem- pat yang sepi Caraka Wanda
nampak semakin berin- gas. Matanya menyala-nyala menatap tubuh gadis can- tik
yang kini setengah telanjang.
"Lepaskan aku! Tolooong...!"
"He he he...! Jangan takut, Manis! Kita akan menikmati indahnya malam
ini," ujar Caraka Wanda sambil berusaha menggeluti tubuh gadis cantik kem-
bang Desa Ngadireja. Namun tiba-tiba...,
"Hua ha ha...! Begitukah
tingkah anak buah Pendekar Gila? Ah ah ah, lucu sekali. Kecoa-kecoa bu- suk
mengaku anak buah Pendekar Gila...!" dari kege- lapan, terdengar suara
tawa susul menyusul, Pendekar Gila.
Caraka Wanda dan Jabil tersentak
kaget. Ke- duanya langsung menoleh ke tempat datangnya suara pemuda itu. Mata
mereka membelalak tegang. Apalagi Caraka Wanda yang telah kenal siapa pemilik
suara itu.
"Pendekar Gila...?!"
desis Caraka Wanda dengan mata membelalak tegang.
"Dia ada di sini?!" tanya
Jabil tak kalah kaget dan tegang, setelah tahu siapa yang tertawa itu.
"Aha, apa kabar, Ki
Sanak...?" tahu-tahu Pen- dekar Gila telah berdiri berjarak satu tombak di
samp- ing mereka. Hal itu semakin membuat keduanya ter- lonjak kaget karena tak
tahu kapan dan dari mana da- tangnya. Gadis yang hendak diperkosa bangkit dan
langsung berlari ke belakang Pendekar Gila. Tetapi Ayu Wuni pun kelihatannya masih
takut, setelah tahu siapa pemuda bertingkah laku gila itu.
"Kau...? Kau Pendekar
Gila...?!" tanyanya den- gan mata terbelalak ketakutan.
"Hua ha ha...! Jangan takut,
Ni Sanak! Aku memang Pendekar Gila, tetapi bukan pimpinan para kecoa busuk itu!
Hi hi hi...! Lucu sekali. Rupanya ke- coa-kecoa busuk kini pada bertingkah,"
gumam Pen- dekar Gila sambil cengengesan dengan tangan meng- garuk-garuk
kepala.
Ditatapnya kedua lelaki bermata
jalang itu den- gan tajam. Kemudian dengan cengengesan, tangannya
menggaruk-garuk kepala. Lalu dipandangi gadis cantik yang berpakaian telah
compang-camping akibat reng- gutan tangan Caraka Wanda.
"Aha, tak kusangka, kalau anak
seorang warok berbuat sekeji ini. Hi hi hi... lucu sekali. Dunia ini memang
semakin lama semakin bertambah gila," gu- mam Pendekar Gila dengan mulut
masih cengengesan. Sedangkan tangannya tetap menggaruk-garuk kepala. Lalu
diambil Suling Naga Sakti. Ditiupkan dengan merdu, mendendangkan nyanyian
tentang seekor anak domba yang berusaha menjadi serigala. Anak domba itu terus
berusaha agar bisa jadi serigala. Sampai ak- hirnya, anak si domba membabi
buta.
"Cuih! Lancang sekali kau,
Pendekar Gila!" ben- tak Cakra Wanda dengan napas mendengus, "Jangan
kira aku tak mengerti nyanyian sulingmu!"
"Hi hi hi...! Ah, baguslah
kalau kau mengerti. Rupanya kau anak warok yang pintar. Sayang..., sayang
sekali perbuatanmu tak sesuai dengan pribadi orang-tuamu," ujar Pendekar
Gila sambil tertawa ceki- kikan dengan kepala menggeleng-geleng, seakan san-
gat menyesalkan atas perbuatan Caraka Wanda.
"Cuih!" Caraka Wanda
membuang ludah jeng- kel.
Kemudian matanya menatap tajam
wajah Pen- dekar Gila yang masih cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala.
Sesekali Pendekar Gila menengok ke belakang, tempat gadis cantik itu berada.
"Jangan kau gurui aku, Pendekar Gila! Ayahku adalah ayahku, se- dangkan
aku tetap saja aku!"
Pendekar Gila kembali tertawa
terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala. Ditimang-timangnya Suling Naga
Sakti lalu dipukul-pukulkan ke telapak tangan kirinya. Kemudian masih dengan
cengengesan, diselipkan kembali Suling Naga Sakti ke ikat ping- gangnya.
"Ah ah ah, hebat! Hebat sekali...!" gumamnya li- rih dengan tangan
masih menggaruk-garuk kepala. "Sayang, kepribadianmu tak lebih dari seekor
domba buta. Sehingga membuat dirimu melangkah di jalan yang salah."
"Bedebah! Sudah kukatakan,
jangan menggurui aku!" bentak Caraka Wanda semakin marah dan sen- git,
merasa Pendekar Gila telah banyak berbicara hing- ga membuatnya marah. Matanya
yang tajam dan ma- rah menatap wajah Pendekar Gila yang hanya cen- gengesan sambil
menggaruk-garuk kepala.
"Aha, aku tidak mengguruimu,
Domba Malang. Aku hanya ingin mengingatkanmu, kalau kau telah salah
jalan," sahut Pendekar Gila diikuti suara tawanya, yang membuat Caraka
Wanda semakin marah.
"Kurang ajar...! Kubunuh kau
Pendekar Gila! Serang dia...!" perintah Caraka Wanda dengan sengit. Dengan
cepat tangannya mencabut pedang di pung- gungnya. Srt!
"Hea...!" disertai
pekikan menggelegar, Caraka Wanda dan Jabil melesat menyerang Pendekar Gila.
Pedang di tangan mereka berkelebat cepat, membabat dan menusuk ke tubuh
Pendekar Gila.
Wrt! "Yea...!" "Hi
hi hi...!" sambil tertawa cekikikan Pendekar Gila segera bergerak cepat
menarik tubuh untuk men- gelakkan serangan kedua lawannya yang gencar den- gan
babatan pedang. Kemudian dengan memonyong- kan mulut, dirinya mengejek setelah
berhasil menge- lakkan serangan kedua lawan.
"He he he...! We...!"
"Kurang ajar! Kubunuh kau..., Gila! Serang...!" Caraka Wanda kembali
berteriak memerintah teman- nya untuk terus menyerang. Kemudian dengan jurus
'Satuan Pedang Memanggang' mereka bergerak cepat menyerang dari dua arah.
Caraka Wanda menyerang dari kanan, sedangkan Jabil dari kiri.
"Hea!" "Yea!"
"Hi hi hi...!" Pendekar Gila masih cekikikan sambil mengga- ruk-garuk
kepala, seakan tak takut menghadapi se- rangan yang gencar dan cepat itu.
Dengan membuka jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' tubuhnya meliuk- liuk
laksana penari, dengan sesekali menepuk ke arah lawan.
Setelah mengetahui gerakan yang
dilakukan Pendekar Gila, Ayu Wuni sedikit merasa agak tenang. Hatinya
mengatakan kalau pemuda bertingkah gila itu ternyata bukan pemuda jahat dan
sembarangan. Ha- tinya mengharap, semoga Pendekar Gila dapat meme- nangkan
pertarungan itu. Bahkan Ayu Wuni mengha- rap, Pendekar Gila mau menumpas para
penjahat itu, agar Desa Ngadireja aman.
Mata Ayu Wuni terus memperhatikan
pertarun- gan itu dengan harap-harap cemas. Takut kalau-kalau pemuda tampan
bertingkah gila kalah.
"Heaaa...!" Wret! Wret!
Pedang di tangan Caraka Wanda dan Jabil menderu dengan cepat ke tubuh Pendekar
Gila. Tetapi dengan cepat pula, Pendekar Gila mundurkan kaki kanan. Kemudian
menggeser kaki kiri agak merentang sambil meliukkan tubuh.
"Celaka...!" pekik kedua
lawannya kaget, karena pedang mereka tetap belum berhasil bersarang di tubuh
lawan. Bahkan pedang itu kini melesat ke tubuh temannya. Mata keduanya
terbelalak tegang, menyadari gerakan masing-masing yang kacau.
Melihat kedua lawannya dalam
keadaan mati langkah, sambil menggaruk-garuk kepala Pendekar Gi- la
menendangkan kaki kanan ke tubuh Jabil. Semen- tara tangan kiri, menghantam
tubuh Caraka Wanda.
"Hi hi hi...! Hea...!"
Caraka Wanda dan Jabil yang mati langkah, tersentak kaget. Keduanya
kebingungan. Kalau mene- ruskan membabatkan pedang dapat membahayakan kawannya.
Sedang kalau berhenti jelas gerakan Pen- dekar Gila akan lebih leluasa
menyerang.
"Hea!" Dalam kebingungan
dan kagetnya, Caraka Wanda melentingkan tubuh ke belakang untuk menge- lak.
Sehingga Jabil yang terlambat, tak ampun lagi menjadi sasaran tendangan kaki
Pendekar Gila.
Begk! "Akh...!" Jabil
memekik keras. Tubuhnya terlon- tar deras ke belakang, bagaikan didorong sebuah
ke- kuatan yang dahsyat. Tubuh itu baru berhenti, ketika menghantam pepohonan
bambu.
Gosrak! "Akh!"
Tanpa ampun lagi, Jabil terjepit
batang-batang bambu. Sesaat Jabil meregang, kemudian terkulai mati.
Menyaksikan temannya tewas, Caraka
Wanda bertambah beringas. Dengan napas mendengus keras, lelaki muda itu kembali
bergerak menyerang. Jurus, 'Semilir Angin Meniup Daun Kering' segera dikelua-
rkan. Nampaknya Caraka Wanda sudah tak sabar lagi untuk membinasakan Pendekar
Gila.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt...!
Pedang di tangan Caraka Wanda bergerak lak- sana angin yang bertiup semilir.
Kelebatannya sangat halus dan pelan. Hal itu karena Caraka Wanda meng- gunakan
tenaga dalam yang cukup tinggi, juga penge- rahan batin yang sempurna. Kakinya
melangkah seca- ra beraturan, seperti memakai hitungan-hitungan ter- tentu.
Melihat jurus yang dilakukan Caraka
Wanda, seketika Pendekar Gila mengerutkan kening. Dengan memandang lewat sudut
mata sambil nyengir, pikiran- nya berusaha mengingat-ingat gerakan yang
dilakukan Caraka Wanda.
"Hm, bukankah itu gerakan
Macan Barong yang kulihat di Ponorogo?" tanya Pendekar Gila dalam hati
berusaha mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukan Caraka Wanda.
"Aha, benar! Itu gerakan yang dilakukan Macan Barong. Hm, kalau begitu
yang menjadi Macan Barong tentunya pemuda ini."
"Pendekar Gila, kau harus
mampus! Bersiap- lah!" dengus Caraka Wanda.
"Hua ha ha...! Hi hi hi...!
Lucu sekali. Bukan- kah itu tarian Macan Barong! Lucu sekali...!" ejek
Pen- dekar Gila dengan tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
"Kurang ajar! Hea...! Kau
harus mati dengan ju- rus 'Semilir Angin Meniup Daun Kering'.
Tubuh Caraka Wanda bergerak cepat.
Pedang di tangannya pun semakin lama bergerak semakin ce- pat. Sehingga pedang
di tangan Caraka Wanda lenyap bentuk aslinya. Kini yang tampak hanya sebuah
bayangan putih, berkelebat begitu cepat memburu tu- buh Pendekar Gila.
Melihat lawan telah mengeluarkan
jurus pe- mungkas yang sangat berbahaya jika dihadapi dengan tangan kosong,
Pendekar Gila segera mencabut Suling Naga Saktinya.
Srttt! "Heaaa!"
***
Dengan memegang Suling Naga Sakti,
Pendekar Gila melesat memapaki serangan lawan. Jurus 'Gila Menari Menepuk
Lalat' segera dikeluarkan, untuk mengelakkan serangan lawan. Sedangkan tepukan
tangannya, diganti dengan Suling Naga Saktinya.
"Yea!"
"Heaaa...!" Keduanya berkelebat laksana terbang. Caraka Wanda
membabatkan pedangnya ke leher lawan. Na- mun dengan cepat Pendekar Gila
merundukkan tubuh diikuti dengan sabetan Suling Naga Saktinya ke atas.
Trang! Auh...!" Caraka Wanda
tersentak kaget, pe- dangnya beradu dengan Suling Naga Sakti di tangan Pendekar
Gila. Tangannya terasa gemetar kesemutan. Tubuhnya melayang dan bersalto di
udara, kemudian meluncur ke bawah. Bibirnya tampak menyungging senyum sinis.
Dari arah perumahan penduduk
segerombolan lelaki berpakaian merah seperti yang dipakai Caraka Wanda
memburu-tempat pertempuran itu.
"Caraka, kau terluka...?"
tanya seorang pemuda berwajah agak pucat dan berambut panjang terurai di- ikat
kain batik
"Dia Pendekar Gila, Dimas
Surotama," tutur Caraka Wanda sambil meringis menahan sakit di tan- gan.
Sementara Pendekar Gila tampak tengah cen- gengesan sambil menggaruk-garuk
kepala. Suling Naga Sakti dipukul-pukulkan ke telapak tangan kiri, lalu
mulutnya menyeringai seperti seekor kera.
"Jadi pemuda edan ini yang
dijuluki Pendekar Gila?" tanya pemuda yang dipanggil Surotama. Ma- tanya
menatap tajam pada Pendekar Gila yang masih bertingkah laku persis orang gila.
Wajahnya menggam- bar-kan kesadisan.
"Benar, Dimas.
Hati-hati...!" "Hm, bunuh dia...!" perintah Surotama tiba- tiba,
dengan menggerakkan tangan kanan. Seketika itu pula, gerombolan berpakaian
rompi merah menyerang Pendekar Gib. Pedang dan golok tampak berkilatan di-
acungkan ke atas siap merejam lawan.
"Hea!" "Hi he he...!
Rupanya kalian kecoa-kecoa busuk yang bodoh! Lucu sekali...!" gumam
Pendekar Gib. Ke- mudian dengan masih cengengesan, ditunggingkan pantatnya ke
arah kesembilan lawannya yang menye- rang.
"Bocah Edan! Kubunuh kau!
Hea...!" seorang anak buah Surotama membabatkan golok ke tubuh lawan yang
sedang menungging. Namun dengan jurus 'Gila Mabuk Mencabut Rumput' Pendekar
Gila segera bergerak mengelit. Tubuhnya seperti orang gila yang sedang mabuk. Jempalitan
ke sana kemari, dengan tangan bergerak mencengkeram dan memukul. Se- dangkan
kedua kakinya bergerak melakukan serangan dengan lutut dan tendangan.
"Hi hi hi! Heaaa...!"
Dugk! "Ukh...!" orang yang berada di belakang ter- jengkang, karena
terkena tendangan kaki kiri Pendekar Gila. Mulutnya meringis kesakitan dan
tampak darah mengalir dari sela bibir. Tangannya memegangi dada yang terasa
nyeri hebat. Bahkan dirasakan pukulan keras tadi meremukkan tulang rusuknya.
Pertarungan semakin seru. Gerombolan
itu langsung mengeroyok Pendekar Gila.
"Hea!" Wuttt! "Uts!
He he he...!" Pendekar Gila tertawa terke- keh sambil terus bergerak
dengan jurus 'Gila Mabuk Mencabut Rumput' digabung dengan jurus 'Gila Mena- ri
Menepuk Lalat'. Suling Naga Sakti di tangannya, bergerak dengan cepat menangkis
serangan lawan. Di- lanjutkan dengan memukul ke dada, dan punggung lawan yang
terdekat.
"Mampus kau, Pendekar Gila!
Hea...!" Wuttt! "Uts! He he he...! Ini bagianmu, Kecoa Tolol!"
Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan dengan meliuk ke samping. Kemudian
bergerak ke belakang tubuh lawan dengan cepat sambil memukulkan Suling Naga
Sakti ke punggung lawan.
Begk! "Akh...!" pekikan
tertahan terdengar ketika seo- rang lawan terpukul Suling Naga Sakti. Tulang
pung- gungnya dirasakan remuk. Mulutnya meringis. Dari sela bibirnya meleleh
darah. Kemudian tubuh orang itu ambruk ke tanah.
Pertarungan semakin seru.
Sepertinya gerom- bolan Caraka Wanda dan Surotama tak takut sedikit pun. Mereka
terus menyerang dengan sabetan dan tu- sukan pedang serta golok
"Hea!" Wuttt! Wuttt!
"Haiiit..!" Dengan cepat Pendekar Gila mengelit dengan merundukkan
tubuh. Kemudian dengan cepat pula di- pukulkan Suling Naga Saktinya ke tubuh
lawan.
Wuttt! "Heh?!" orang itu
tersentak kaget dengan mata membeliak. Dirinya berusaha menghindar tetapi gerak
yang dilancarkan Pendekar Gila sangat cepat. Sehing- ga,
Begk! "Wua...!" Korban
kembali jatuh dengan tulang iga remuk akibat gebukan Suling Naga Sakti.
Kenyataan itu membuat Caraka Wanda dan Surotama bertambah marah dan beringas.
"Kubunuh kau, Pendekar
Gila...!" Surotama me- lompat ke depan. Dengan jurus ‘Serimpi Kipasan
Maut’ Surotama membabatkan pedangnya ke tubuh Pende- kar Gila. Wuttt! Wuttt!
"Uts! He he he...!"
sambil tertawa, Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan. Tubuhnya meliuk ke
samping dengan gemulai. Kemudian tangan kirinya dengan jari-jari terbuka
menyambar rusuk kanan la- wan. Sedangkan Suling Naga Sakti di tangan kanan-
nya, memukul ke punggung Surotama.
"Heh?!" Surotama
tersentak kaget Lalu segera bergerak membalikkan tubuh disertai tendangan ke
tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat Pendekar
Gila menarik pukulan tangan
kirinya, sedangkan Sul- ing Naga Sakti terus disabetkan ke tubuh lawan.
Wrt! Trakkk! Krakkk!
"Ukh...!" Surotama terpekik. Tubuhnya ter- huyung beberapa langkah ke
belakang. Tangan dan kakinya yang terpukul Suling Naga Sakti dirasakan remuk.
Di pergelangan tangan dan di tulang kering ka- ki kanannya, melembung dan
terasa berdenyut-denyut
"Dimas Surotama!" seru
Caraka Wanda dengan mata terbelalak, menyaksikan Surotama nampak ke- sakitan
dengan wajah yang semakin pucat. "Pendekar Gila Keparat! Kubunuh kau!
Hea...!"
Caraka Wanda yang sudah marah,
dengan be- ringas kembali mengeluarkan jurus pemungkasnya 'Semilir Angin Meniup
Daun Kering'. Bagaikan tak meng-hiraukan kalau dirinya dalam keadaan terluka,
Caraka Wanda menyerang membabi buta. Hal itu membuat Pendekar Gila semakin enak
saja bergerak dengan jurus ‘Gila Menari Menepuk Lalat’. Tubuhnya meliuk-liuk
lemah gemulai, kemudian dengan cepat di- tepukkan tangan kiri ke dada lawan
"Hih!" Degk!
"Akh...!" tubuh Caraka Wanda terpental deras ke belakang, ketika
pukulan telapak tangan kiri Pen- dekar Gila mendarat di dadanya. Tubuhnya terus
me- layang, dan baru berhenti ketika menghantam seba- tang pohon.
Brak! "Akh!" Caraka Wanda
terbanting ke tanah den- gan kepala hancur terbentur pohon. Dari mulutnya menyembur
darah segar. Sesaat tubuhnya menggele- par-gelepar lalu diam tak berkutik.
"Kurang ajar! Kupertaruhkan
nyawaku untuk membunuhmu, Gila! Hea...!"
Dengan kemarahan yang memuncak,
Surotama melakukan serangan. Hatinya yang telah terbakar kini kalap.
Menyaksikan Caraka Wanda tewas. Pedangnya diayun-ayunkan cepat membabat ke
tubuh lawan. Tampak keenam kawannya turut membantu menge- royok Pendekar Gila.
Wrt! "Hea!" "Hi hi
hi...!" sambil tertawa cekikikan Pendekar Gila bergerak ke sana kemari
mengelakkan serangan lawan-lawannya. Sedangkan tangan kanan yang me- megang
Suling Naga Sakti berkelebat menangkis senja- ta lawan yang menyerang.
Trang! "Hih!"
"Ukh...!" Pertarungan semakin seru. Semak belukar di sebelah barat
Desa Ngadireja tampak hancur beranta- kan. Beberapa batang pohon bambu pun
tumbang ter- hantam oleh babatan pedang. Malam yang dingin dan sepi, terpecah
hiruk-pikuk pertarungan dan jeritan- jeritan kematian.
Warga Desa Ngadireja yang semula
merasa ta- kut, akhirnya mendatangi tempat pertarungan menyer- tai kepala desa.
Mereka langsung membantu Pendekar Gila yang dianggap telah menyelamatkan desa
mereka.
Gerombolan penjahat yang menjarah
Desa Ngadireja akhirnya terjepit. Bahkan kini, Pendekar Gila dengan cepat
menggebukkan Suling Naga Sakti ke punggung Surotama. Bukkk! "Akh...!
Ukh...!" Tubuh Surotama menggeliat-geliat karena punggungnya remuk
terhantam Suling Naga Sakti. Da- ri mulutnya muncrat darah segar. Sesaat
lamanya mu- lut lelaki muda itu mengerang-erang sebelum akhirnya mati.
Melihat pimpinan mereka mati,
keenam anggota gerombolan yang masih hidup, semakin panik. Dalam sekejap mata,
mereka dapat didesak para warga Desa Ngadireja.
"Mampuslah kalian!
Hea...!" Jrab! Jrabs! "Akh...!" lengkingan kematian, seketika
terden- gar susul-menyusul. Dengan ganas karena marah para warga Desa Ngadireja
membantai habis anggota ge- rombolan yang mengatasnamakan Pendekar Gila seba-
gai pimpinan.
Ki Lampit tertatih-tatih mendekati
Pendekar Gi- la. Di bibirnya tersungging senyuman. Orang tua yang sebenarnya
Kepala Desa Ngadireja itu merasa senang atas kemenangan mereka.
"Kau, Ki?" Pendekar Gila
terkejut melihat Ki Lampit yang semula tua renta kini tampak wajah as- linya,
setelah membuka kedok. Ki Lampit ternyata seo- rang lelaki bertubuh tegap,
berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya cukup tampan terhias jenggot dan
kumis tipis.
"Terima kasih atas
pertolonganmu, Tuan Pen- dekar!" "Aku tak mengerti, siapa kau
sebenarnya, Ki?" tanya Pendekar Gila dengan mulut nyengir serta tan- gan
menggaruk-garuk kepala.
Ki Lampit memegang pundak Pendekar
Gila, la- lu sambil melangkah lelaki setengah baya itu menceri- takan siapa
dirinya. Diceritakan, mengapa harus me- nyamar, karena dirinya takut kepergok
Pendekar Gila.
No comments:
Post a Comment