Sunday, April 21, 2019

020 Tragedi Berdarah Di Ponogoro


TRAGEDI BERDARAH DI PONOROGO
Oleh Firman Raharja

1
Pertunjukan Reog Ponorogo itu nampak meriah sekali. Sore itu, Desa Ponorogo kelihatan temaram indah. Mentari telah menyusup di balik rimbun pepohonan, dan tak lama lagi akan segera tenggelam di ufuk barat. Di depan rumah Warok Gandu Pala, suasana nampak ramai. Hal itu karena di pelataran luas rumah besar itu tengah berlangsung pagelaran reog, di bawah asuhan Warok Gandu Pala sendiri.
Warok Gandu Pala sengaja menggelar hiburan, dengan maksud menarik perhatian seluruh warga, berhubungan dengan pencalonan dirinya sebagai kepa- la desa. Sejak tiga bulan yang lalu Desa Ponorogo memang kosong kekuasaan, setelah kepala desa yang la- ma diketemukan mati terbunuh.
Penonton berjubel-jubel menyaksikan pagela- ran itu. Macan Barong, yang menjadi tokoh utama dalam reog, tampak meliuk-liuk mengepakkan bulu-bulu merak yang lebar dan indah. Anak-anak kecil berlari menyingkir karena ketakutan, ketika Macan Barong menggerakkan kepalanya ke bawah. Diiringi suara gemelan yang menghentak-hentak dan bersemangat mengiringi para pemain reog terus menari, bagaikan tak menghiraukan senja yang semakin merayap.

Seorang lelaki berbadan tinggi tegap dengan wajah ditumbuhi kumis tebal, melangkah ke tengah arena mendekati Macan Barong yang tengah meliuk- liuk. Di tangan lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun itu, tergenggam sebuah cambuk besar berwarna hitam.
Cletar! Tiba-tiba suara lecutan cambuk terdengar ke- ras menggelegar dan memekakkan telinga, ketika lelaki berpakaian serba hitam itu melecutkan cambuknya. Sebuah lecutan yang luar biasa. Tampaknya lelaki be- rikat kepala kain hitam itu begitu mahir memainkan cambuk yang digenggamnya.
"Ayo Macan Barong, tunjukkan kebolehan mu!" seru lelaki bermuka garang itu sambil melecutkan kembali cambuk di dekat kaki-kaki penari yang men- genakan topeng.
Cletar! Cletar...! Macan Barong kembali meliukkan kepala den- gan kuat dan berirama. Sehingga bulu-bulu merah di atas kepala meriap memantulkan cahaya matahari senja. Begitu indah gemulai tarian Macan Barong yang disertai jurus-jurus silat. Penari Macan Barong yang memikul topeng kepala macan dan rangkaian bulu- bulu merak itu seakan-akan tak merasakan beban se- dikit pun.
"Bagus! Tunjukkan lagi kebolehan mu!" lelaki berkumis yang memegang cambuk hitam kembali memerintahkan Macan Barong agar terus menari. Cam- buk hitam besar dan panjang di tangannya, sesekali dilecutkan ke sekitar kaki penari Macan Barong.
Cletar! Lecutan keras itu seakan-akan membelah alunan gamelan. Tiupan terompet dan pukulan gendang yang menghentak-hentak penuh semangat terus ter- dengar, mengiringi tarian Macan Barong.
Sementara itu di antara para penonton, nam- pak seorang pemuda berambut gondrong dengan pakaian rompi kulit ular, turut menyaksikan reog itu. Pemuda tampan itu tak lain Sena Manggala atau yang lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila. Sena nampak cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Sesekali tangan dan kakinya turut bergerak, mengikuti alunan gamelan yang menghentak dan bersemangat.
Sesaat kemudian terdengar suara tawa cekikikan dari mulutnya yang mengundang perhatian penonton lain.
"Hi hi hi...! Lucu...! Ha ha ha...!" Sena tertawa- tawa sambil tangan dan kakinya terus bergerak-gerak, mengikuti gerakan Macan Barong.
Cletar! Cletarrr...! Terdengar kembali suara lecutan cambuk, sea- kan memecah suasana senja temaram, di antara alu- nan gamelan. Namun, perhatian para penonton, kini tidak semua tertuju pada pagelaran reog. Mereka tiba- tiba saja beralih pada Pendekar Gila yang bertingkah laku seperti orang gila, tertawa-tawa sendiri sambil mengikuti gerak-gerik silat Macan Barong.
"Aha, ternyata kau menggerakkan jurus silat!" gumam Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepa- la. Mulutnya cengengesan, lalu tertawa dan mengge- leng-gelengkan kepala. Tingkah lakunya yang konyol itu menyebabkan perhatian sebagian besar penonton dan kebanyakan anak kecil tertuju pada dirinya.
"Hai, orang gila! Sana pergi...!" bentak lelaki pemegang cambuk besar hitam dengan mata melotot menatap Pendekar Gila. Lelaki yang ternyata Warok Gandu Pala merasa jengkel atas tingkah laku Pendekar Gila, karena menyebabkan perhatian sebagian penon- ton beralih dari pertunjukan reog.
"Hi hi hi...! Kenapa kau marah, Ki? Apakah tak boleh aku menonton...?" tanya Pendekar Gila sambil tertawa cekikikan dan menggaruk-garuk kepalanya.
"Kukatakan pergi! Cepat..!" bentak Warok Gan- du Pala semakin garang dengan mata melotot
"Hi hi hi...! Ah ah ah, galak sekali kau, Ki! Bu- kankah kau mengadakan pertunjukan untuk diton- ton?" tanya Pendekar Gila dengan mulut cengengesan.
"Kurang ajar! Sudah kukatakan, cepat pergi! Hiburan ini bukan untuk orang gila sepertimu!" bentak
Warok Gandu Pala semakin marah, karena Pendekar Gila tak segera beranjak dari tempat itu. Malah kini tertawa terbahak-bahak.
"Ah ah ah, galak sekali kau, Ki! Aneh..., kau menggelar hiburan tapi tak boleh ditonton," gumam Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Sinting...! Hi hi hi...! Gila kau, Ki."
"Bedebah! Masih juga kau membandel, Pemuda Gila! Cepat pergi, sebelum hilang kesabaranku!" ben- tak Warok Gandu Pala sengit.
"Aha, baiklah. Kurasa, kau menyimpan sesua- tu, Ki...," tukas Pendekar Gila seraya mengeloyor me- ninggalkan tempat itu. Namun tiba-tiba terdengar sua- ra seorang wanita memanggilnya.
"Hai, tunggu...!" Karena merasa ada yang memanggil, Pendekar Gila seketika menghentikan langkah. Sambil mengga- ruk-garuk kepala, dibalikkan tubuhnya. Mulutnya ter- senyum dengan cengengesan, ketika dilihatnya seo- rang gadis cantik berambut terurai panjang dengan ikat kepala kain merah melangkah menghampiri.
"Aha, kau memanggilku, Ni Sanak?" tanya Pen- dekar Gila dengan mulut cengengesan dan tangan ka- nannya menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap tajam wajah gadis dua puluh dua tahunan itu. Kemu- dian Sena mengerutkan kening, ketika melihat cara ja- lan gadis itu. Kaki agak terbuka, sehingga langkahnya agak menegang.
"Ya," jawab gadis cantik bermuka bulat telur dan berhidung mancung. Mata gadis berpakaian kun- ing itu menatap wajah Pendekar Gila, kemudian me- rayap turun sampai ke kaki. Gadis itu sepertinya hen- dak menilai Pendekar Gila.
Melihat sikap gadis di hadapannya, Sena nyen- gir. Keningnya semakin berkerut, tak mengerti apa yang dicari gadis itu pada dirinya.
"Aha, ada apa kau memandangi ku begitu, Ni Sanak?" tanya Sena seolah merasa risi. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Dengan kening ber- kerut karena heran, Pendekar Gila menatap wajah ga- dis cantik itu yang juga tengah menatap dirinya.
Gadis cantik berambut panjang itu tersenyum manis, membuat Pendekar Gila semakin tak mengerti apa arti senyum sang Gadis. Senyum itu seperti me- nyimpan misteri, yang terasa sulit untuk dibuka.
"Tak ada apa-apa," sahut gadis cantik itu, yang membuat Sena bertambah heran, tak mengerti mak- sud sebenarnya gadis itu. "Aku hanya ingin tahu, be- narkah kau yang bernama Sena Manggala atau Pende- kar Gila?"
Pendekar Gila tersenyum cengengesan sambil kembali menggaruk-garuk kepala, semakin heran dengan tingkah laku gadis itu.
"Aha, memang namaku Sena Manggala. Ada apa gerangan?" tanya Sena ingin tahu.
"Ah, tidak. Terima kasih," usai berkata begitu gadis cantik berpakaian kuning muda itu melangkah meninggalkan Pendekar Gila yang semakin bertambah heran. Dirinya benar-benar tak tahu, mengapa gadis cantik itu hanya ingin tahu namanya, lalu pergi lagi.
"Ah ah ah, dunia ini semakin aneh...!" gumam Pendekar Gila sambil masih cengengesan. Kemudian digeleng-gelengkan kepalanya, merasa heran melihat tingkah laku gadis tadi. Dengan masih cengengesan, Sena kembali melanjutkan langkahnya.
Mentari semakin condong ke barat, tapi pagela- ran Reog Ponorogo masih berlanjut Penonton bahkan bertambah banyak berdatangan memadati pelataran depan rumah Warok Gandu Pala. Pagelaran reog tampak semakin bertambah seru. Warok Gandu Pala ber-
teriak-teriak, memerintahkan Macan Barong untuk menari dan meliuk-liukkan bulu merah yang dipang- gulnya. Seirama dengan suara gamelan yang terus mengalun. Para penabuh gamelan pun nampak begitu bersemangat sambil bertepuk tangan menimbulkan irama khas reog ditingkahi teriakan-teriakan mulut mereka. Cletar!
"Oe...a! Oe...a! Oe...a! Cambuk hitam besar di tangan Warok Gandu Pala terus menggelegar, memecahkan suasana senja. Diikuti liukan-liukan tubuh Macan Barong dan teria- kan-teriakan para penabuh gamelan yang disebut pan- jak
"Ayo, Barong! Tunjukkan kebolehan mu!" seru Warok Gandu Pala sambil memutar cambuk dan menghentak-hentakkan kaki ikut menari. Sementara itu terdengar pula sorak-sorai dan tepuk tangan para penonton memberi semangat para pemain reog. Sua- sana senja benar-benar hanyut dalam kegembiraan.
Sementara itu pula, gadis berpakaian kuning yang tadi memanggil Pendekar Gila, tampak meng- hampiri Warok Gandu Pala. Kemudian dengan perla- han gadis itu membisikkan sesuatu pada Warok Gan- du Pala. "Jadi dia Pendekar Gila...?" tanya Warok Gandu Pala dengan suara setengah berbisik. Di wajahnya ada gambaran rasa terkejut
"Benar, Paman," sahut gadis cantik itu. "Hm, celaka! Bisa berantakan rencana kita, Se- kati."
"Apa yang harus kita lakukan, Paman?" tanya gadis yang ternyata bernama Sekati. Matanya menatap tajam pada Warok Gandu Pala yang dipanggilnya den- gan sebutan paman.
Warok Gandu Pala terdiam sejenak, seolah-olah tengah memikirkan, apa yang hendak dilakukan agar bisa berhasil rencananya.
"Kita singkirkan Pendekar Gila itu," ujar Warok Gandu Pala setengah mendengus. "Dia akan memper- sulit kita."
"Tapi dia bukan orang sembarangan, Paman," tukas Sekati
"Aku tahu. Maksudku, kita tidak menghada- pinya secara terang-terangan, Kati."
"Lalu...?" tanya Sekati ingin tahu. "Lihat saja, nanti malam!" sahut Warok Gandu Pala.
Sekati hanya diam, ketika pamannya kembali masuk ke arena untuk melanjutkan pagelaran itu. Gadis cantik itu menghela napas panjang-panjang. Ke- mudian berlalu meninggalkan tempat itu.
***

Malam telah datang, membawa kegelapan yang mencekam. Suasana Desa Ponorogo dan sekitarnya nampak sunyi dan sepi. Rumah-rumah penduduk te- lah tertutup rapat, mungkin penghuninya telah terle- lap dalam tidurnya.
Dari arah selatan Desa Ponorogo, muncul sepu- luh sosok lelaki yang semuanya bertubuh tinggi tegap dan berwajah garang. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan berikat kepala kain hitam pula. Mata mereka menatap garang dan begitu liar mengawasi ke sekeliling desa yang sunyi dan sepi.
"Kita harus hati-hati. Ingat baik-baik, jika ke- pergok tak ada pilihan lain kecuali membunuh!" ujar seorang lelaki bermuka persegi dengan rambut gon- drong, memperingatkan rekan-rekannya.
"Baik!" "Kita juga harus ingat apa yang diperintahkan kepada kita. Juga tentang tulisan itu!" tambah lelaki berkumis tebal bernama Sumogiri. Dialah pimpinan kesembilan lelaki berpakaian serba hitam itu.
Kesembilan anak buahnya menanggapi dengan anggukan kepala. Mereka terus melangkah menembus gelap malam.
"Kita harus tetap pada kesepakatan bersama. Bahwa kita harus memilih orang itu sebagai pimpinan di Ponorogo ini. Jika dia berhasil menjadi lurah, kita akan jaya," sambung Sumogiri sambil mengurai se- nyum.
"Benar! Kalau dia berhasil menjadi lurah, kita akan bebas berkeliaran. Kita akan jaya dan disegani seluruh warga Desa Ponorogo," tambah Sumogara, adik dari Sumogiri. Keduanya menamakan diri dengan julukan 'Sepasang Walet Merah'.
"Ayo kita mulai! Ingat, malam ini kita menya- troni Ki Renu Jalna!" ujar Sumogiri sambil menggerak- kan tangan, memerintahkan rekan-rekannya agar se- gera bergerak.
Kesepuluh lelaki berpakaian hitam terus me- langkah memasuki Desa Ponorogo. Mata mereka yang tajam, memandang ke sekelilingnya. Tak lama kemu- dian kawanan berpakaian hitam itu telah sampai di depan rumah Ki Renu Jalna.
"Mungkin ini rumahnya," ujar Sumogiri seraya memperhatikan sebuah rumah besar menghadap sela- tan. Sumogara dan rekan-rekannya mengangguk. Ke- mudian melangkah mendekati pintu depan rumah Ki Renu Jalna, salah seorang yang juga mencalonkan diri sebagai Lurah Desa Ponorogo.
Sumogiri berdiri paling depan. Matanya men- gawasi ke sekeliling rumah yang nampak sepi itu.
Sudah merupakan kebiasaan orang-orang za- man dulu, kalau mau menjadi lurah pasti akan mem- bawa jawara atau centeng untuk menjaga rumahnya. Namun, Ki Renu Jalna nampaknya tak melakukan hal itu. Rumah besar itu tampak sepi tanpa penjagaan. Sepertinya Ki Renu Jalna merasa tenang-tenang saja, tak takut terhadap bahaya yang setiap saat dapat mengancam jiwa atau kedudukannya sebagai seorang calon lurah.
Mungkin karena Ki Renu Jalna menganggap pemilihan lurah masih cukup lama. Sehingga baginya terlalu dini untuk mengadakan penjagaan di rumah. Apalagi dirinya sangat disenangi warga Desa Ponorogo. Tak ada masalah baginya. Bahkan mungkin Ki Renu Jalna merasa yakin, dialah yang bakal memenangkan pemilihan lurah. Hal itu karena hampir semua warga mendukung dirinya sebagai calon lurah. Sementara para saingannya, seperti Ki Randu Paksa, Ki Banjar Guling, dan Warok Gandu Pala hanya mendapat pen- dukung sedikit. Nampaknya mereka tak banyak memi- liki harapan untuk menang dalam pemilihan lurah kali ini.
Di samping mendapat dukungan yang besar dari warga Desa Ponorogo, Ki Renu Jalna juga dido- rong terus oleh para sesepuh Desa Ponorogo. Di antara sesepuh desa, terdapat tiga warok sakti, yang cukup ditakuti dan disegani penduduk Ponorogo. Ketiga wa- rok itu adalah Warok Singa Lodra, Warok Sura Pati, dan Warok Sito Kuta.
Tok, tok, tok! Sumogiri mengetuk pintu rumah Ki Renu Jalna. Kemudian memerintahkan rekan-rekannya agar segera menutupi wajah mereka dengan kain hitam yang telah disiapkan.
"Siapa?!" dari dalam terdengar suara Ki Renu
Jalna. Kemudian disusul suara langkah-langkah kaki mendekati pintu depan.
"Aku, Ki," sahut Sumogiri. "Aku siapa?" tanya Ki Renu Jalna. "Aku warga Desa Ponorogo." "Ada apa, malam-malam begini datang?" tanya Ki Renu Jalna masih di dalam, belum membukakan pintu. Tampaknya lelaki tua itu sudah agak curiga, se- hingga merasa bimbang untuk membuka pintu ru- mahnya. "Perlu penting, Ki. Bukalah pintunya...!" pinta Sumogiri, berusaha mempengaruhi Ki Renu Jalna agar membukakan pintu.
Kreeek! Pintu terbuka. Saat itu juga, muncul lelaki se- tengah baya bertubuh kurus dengan wajah menggam- barkan kesabaran dan ketenangan. Dialah Ki Renu Jalna, calon Lurah Desa Ponorogo.
"Siapa kalian?!" bentak Ki Renu Jalna dengan mata membelalak, ketika melihat sosok-sosok berpa- kaian hitam dengan wajah setengah tertutup. Dilihat dari sorot mata, kesepuluh lelaki itu jelas tidak ber- maksud baik. Hal itu terbaca jelas dalam batin Ki Renu Jalna.
"Siapa pun kami, yang jelas harus menyingkir- kan mu," dengus Sumogiri sambil mencabut golok lalu mengarahkannya ke depan Ki Renu Jalna.
"He, apa alasannya?!" sentak Ki Renu Jalna sambil mundur dua langkah. Matanya menatap tajam pada sepuluh lelaki bermata garang yang kini telah masuk ke rumahnya dengan tangan memegang golok
"Kau tak pantas menjadi lurah di Ponorogo," sahut Sumogiri.
Terbelalak mata Ki Renu Jalna, mendengar ucapan Sumogiri. Sambil menatap tajam wajah lelaki bersenjata golok di depannya Ki Renu Jalna menden- gus, karena tiba-tiba menyadari, bahwa ada di antara para saingan yang tidak senang kalau dirinya menjadi lurah.
"Cuih! Lancang sekali mulut kalian! Semua warga Desa Ponorogo menghendaki aku menjadi lu- rah!" bentak Ki Renu Jalna sengit dengan mata sema- kin tajam, menatap penuh kemarahan kepada kesepu- luh lelaki berpakaian hitam yang telah berada di ru- mahnya. "Hua ha ha...! Mereka boleh saja memper- cayaimu untuk menjadi Kepala Desa Ponorogo. Tapi bagi kami, kau tak ada artinya dan harus disingkir- kan," sahut Sumogiri dengan suara tawanya yang si- nis. Matanya semakin tajam, menatap wajah Ki Renu Jalna.
Dari dalam muncul Nyi Tumirah, istri Ki Renu Jalna. Wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun itu kaget mendengar suara ribut di ruang depan. Nyi Tumirah membeliak, melihat suaminya dalam anca- man orang-orang bercadar hitam. Apalagi ketika meli- hat golok-golok tajam di tangan mereka.
"Ki, siapa mereka...?" tanya Nyi Tumirah den- gan kening mengerut karena rasa takut, melihat para lelaki berwajah garang itu. Dihampirinya sang Suami yang tengah menyurut mundur dengan mata menatap tajam pada kesepuluh lelaki bersenjata golok yang juga menatapnya.
"Entah, Nyi. Mereka bermaksud jahat terhadap kita," bisik Ki Renu Jalna.
"Jangan banyak omong, Ki! Tangkap dia...!" pe- rintah Sumogiri sambil memberi isyarat dengan tan- gan. Kesepuluh anak buahnya langsung melangkah maju, bermaksud menangkap.
"Cuh! Jangan seenaknya kalian bertingkah di rumahku, Bajingan!" bentak Ki Renu Jalna geram. Di- cabutnya keris yang terselip di pinggang belakang, ke- mudian dengan mata garang menghadang kesepuluh lelaki garang yang hendak menangkapnya.
"Ki Renu, Jangan ladeni mereka! Biar kita men- galah, daripada mati, Ki!" saran Nyi Tumirah yang se- makin ketakutan, menyaksikan suaminya dalam an- caman maut
"Hm, begitu memang baik, Ki. Turutilah apa ka- ta istrimu! Menyerahlah, jangan sampai kami menu- runkan tangan jahat padamu!" dengus Sumogiri seten- gah mengancam. Tangan kirinya diangkat, memberi isyarat pada rekan-rekannya agar berhenti.
Sumogiri kemudian melangkah maju, mendeka- ti Ki Renu Jalna yang masih menatap tajam wajahnya. Mata lelaki garang itu pun menghujam ke wajah Ki Renu Jalna.
"Kuharap kau menurut, Ki! Di belakang kami, Pendekar Gila. Siapa yang berani dengannya?!" ancam Sumogiri. Mendengar ucapan Sumogiri Ki Renu Jalna ter- sentak kaget. Hatinya hampir tak percaya nama Pendekar Gila disebut sebagai dalang dari tindakan seka- wanan berpakaian hitam itu.
"Bohong! Aku tahu siapa Pendekar Gila. Dia tak mungkin berteman dengan kalian, Bangsa Bajingan!" dengus Ki Renu Jalna seraya membelalakkan mata ga- rang. Keris di tangannya ditudingkan ke muka Sumo- giri, yang semakin dekat.
"Terserah padamu! Mau percaya atau tidak, yang pasti kami diperintah Pendekar Gila untuk me- nangkapmu," tegas Sumogiri.
Ki Renu Jalna tercengang. Hatinya benar-benar tak percaya, kalau semua ini tindakan yang dilakukan Pendekar Gila. Baginya tak masuk akal kalau pendekar yang namanya begitu tersohor dan sangat disegani itu akan berbuat sekeji ini.
"Kuharap kau jangan melawan, Ki! Kalau kau melawan kematianlah yang akan kau dapatkan," an- cam Sumogiri.
"Ya! Ikutlah kami!" sambung Sumogara. Ki Renu Jalna nampak masih bimbang. Hatinya antara percaya dan tidak. Bagaimanapun, setahunya Pendekar Gila tak pernah melakukan hal-hal yang keji. Jangankan menangkap orang semena-mena, berlaku tak senonoh terhadap orang yang tak salah pun, Pen- dekar Gila tak pernah. Namun kini, tiba-tiba ada orang yang mengaku utusan Pendekar Gila untuk meringkus dirinya. "Benarkah pendekar yang berbudi luhur dan pembela kebenaran serta keadilan memerintah mere- ka?" tanya Ki Renu Jalna dalam hati. "Apa salahku? Hm, kurasa aku tak melakukan kesalahan. Atau mungkin ini gurauan pendekar itu. Biasanya dia me- mang suka bercanda."
"Bagaimana, Ki? Apakah kau akan menuruti kata-kata kami?" tanya Sumogiri mendesak. Ki Renu Jalna tersentak bimbang. Dirinya belum mengerti, mengapa Pendekar Gila berbuat aneh-aneh, tidak se- suai dengan kebiasaannya.
"Jangan terlalu lama berpikir, Ki! Pendekar Gila sudah tak sabar menunggumu!" sentak Sumagara.
"Kang, ikuti saja!" saran istrinya. "Baiklah, aku ikut kalian," akhirnya Ki Renu Jalna menurut. Dirinya ingin tahu, apakah benar Pen- dekar Gila yang memerintahkan mereka untuk me- nangkapnya? "Lalu kalau memang benar, ada maksud apa Pendekar Gila berbuat begitu?" pikir Ki Renu Jalna masih diliputi kebimbangan.
"Hua ha ha...! Bagus! Memang itulah yang baik.
Bawa dia...!" perintah Sumogiri pada rekan-rekannya yang segera maju menangkap Ki Renu Jalna.
"Aku ikut!" Nyi Tumirah memegangi tangan Ki Renu Jalna.
"Tak perlu, Nyi! Tak lama aku akan kembali," ujar Ki Renu Jalna.
"Tidak, Ki. Aku ikut!" ujar Nyi Tumirah memak- sa.
"Bawa dia sekalian!" perintah Sumogiri. Para anak buah menurut dan langsung menarik kedua su- ami-istri itu. Setelah mengikat tangan serta menutup mata dan mulut Ki Renu Jalna dan istrinya, mereka segera membawa suami-istri itu meninggalkan rumah.
***

2
Kawanan berpakaian serba hitam di bawah pimpinan Sumogiri terus membawa Ki Renu Jalna dari istrinya. Mulut kedua suami-istri itu masih disumbat. Tampak kedua suami-istri itu terus berusaha beron- tak, karena merasa diperlakukan sewenang-wenang. Namun mereka tak dapat berbuat banyak, karena di samping tangan terikat, mata, dan mulut keduanya di- tutup rapat
Entah akan dibawa ke mana, Ki Renu Jalna dan istrinya tak tahu jalan yang ditempuh. Yang jelas kawanan yang mengaku diutus Pendekar Gila berjalan ke selatan, menjauh dari Desa Ponorogo. Setelah cu- kup lama berjalan mereka sampai di tengah Hutan Pa- lapiring. Kemudian, tampak gerombolan berpakaian serba hitam itu berjalan menuju sebuah rumah di ten- gah hutan. Rumah itu terbuat dari bilik. Letaknya yang sangat tersembunyi mempersulit orang biasa mene- mukan rumah tersebut.
"Masuk!" terdengar suara dari dalam rumah. Orang yang berada di dalam rumah bilik itu sepertinya tahu kalau di luar ada orang.
Gret! Pintu terbuka. Ki Renu Jalna dan istrinya be- lum sempat melihat orang yang berada di dalam, keti- ka tubuh mereka telah didorong dari belakang. Kedua- nya jatuh terjerembab di lantai tanah. Di hadapan me- reka tampak berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap. Pakaiannya serba hitam, dengan ikat kepala mi- rip blangkon dari kain hitam. Tampak bibirnya terse- nyum sambil mencibir penuh kebencian.
"Buka tutup mata mereka!" perintah lelaki itu pada Sumogiri. Pimpinan gerombolan itu pun segera membuka dengan kasar penyumbat mulut dan mata Ki Renu Jalna.
"Hah...! Kau?!" desis Ki Renu Jalna, begitu ter- kejut ketika melihat lelaki yang di depannya ternyata Warok Gandu Pala.
"Hua ha ha...! Ya, aku. Selamat datang di tem- patku, Renu Jalna...!" sapa Warok Gandu Pala sambil tertawa terbahak-bahak penuh kemenangan. Senyum sinis di bibir menyempurnakan gambaran keangkuhan di wajahnya.
"Kau...!? Apa maksudmu...?!" tanya Ki Renu Jalna dengan mata terbelalak marah dan heran. Di- rinya merasa telah dibohongi dan diperdaya kesepuluh lelaki yang ternyata utusan Warok Gandu Pala. Me- nyaksikan kebingungan Ki Renu Jalna, kesepuluh le- laki itu tertawa terbahak-bahak.
"Hua ha ha...! Mengapa kau tanyakan hal itu, Ki?" Warok Gandu Pala balik bertanya dengan senyum sinis. "Seharusnya tak perlu kau tanyakan hal itu, karena kau tahu siapa aku bukan?!"
"Cuih! Iblis keparat! Licik...!" maki Ki Renu Jalna dengan sengit, menyadari kenapa dirinya diculik.
"Hua ha ha...! Memakilah sepuasmu, Ki! Kau boleh mengutukku dengan sesuka hatimu, sebelum masuk ke penjara bawah tanah. Dengan hilangnya kau dari Ponorogo, maka tak akan ada lagi yang bisa menghalangiku menjadi lurah. Hua ha ha...!" Warok Gandu Pala tertawa terbahak-bahak bagaikan telah memenangkan pertandingan yang menggembirakan. Satu saingan berat telah dapat disingkirkan. Dirinya menganggap Ki Renu Jalna sebagai saingan terberat dan selalu menjadi penghalang untuk menduduki kur- si lurah. "Iblis pengecut! Terkutuklah kau!" dengus Ki Renu Jalna sambil mencabut kerisnya. Karena telah terbebas dari ikatan tangan dan mulut serta mata, di- rinya berusaha melawan. Namun belum sempat tu- buhnya bangun, Sumogara telah menendangnya,
Duggg...! "Ukh!" Ki Renu Jalna memekik, tubuhnya kem- bali jatuh tersungkur mencium tanah.
"Iblis! Jangan siksa suamiku!" bentak Nyi Tu- mirah. Wanita setengah baya itu menatap penuh ke- bencian pada Sumogara.
"Kau tak perlu galak seperti itu, Nyai! Jangan sampai tanganku menampar mulutmu!" bentak Sumogara.
"Huh, apa dikira aku takut, Bajingan!" bentak Nyi Tumirah kesal dan marah. Matanya terbelalak me- natap tajam wajah Sumogara.
"Wanita lancang! Kurobek mulutmu!" Sumogara hendak memukul mulut Nyi Tumirah ketika Warok Gandu Pala mencegah dengan mengangkat tangan ka- nannya, yang membuat Sumogara menghentikan niatnya. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun, bermuka ga- rang itu menyurut mundur. Lalu Warok Gandu Pala melangkah mendekati Ki Renu Jalna dan istrinya.
"Kini kalian ada dalam kekuasaanku. Sekali kuperintahkan, anak buahku akan menghabisi nyawa kalian!" tutur Warok Gandu Pala sambil mencibirkan bibir mengejek Ki Renu Jalna. "Pikirkan baik-baik! Ka- lian kuberi kesempatan hidup, asal bersedia mendu- kungku menjadi lurah."
"Cuih! Lebih baik bunuh saja aku, Warok Kepa- rat!" bentak Ki Renu Jalna bagaikan tak takut sedikit pun menghadapi ancaman Warok Gandu Pala.
"Hm, begitu...?" tanya Warok Gandu Pala. "Huh! Jangan kira kami takut mati, Warok Se- sat! Kalau sampai Paman Warok Singo Lodra tahu, kau tak akan mendapat ampun!" dengus Nyi Tumirah sen- git. Matanya menatap tajam dan garang pada wajah Warok Gandu Pala yang tertawa terbahak-bahak
"Hua ha ha...! Ki Singo Lodra, tak akan pernah menyangka akulah pelakunya, Nyai. Ki Singo Lodra, akan menuduh Pendekar Gila pelaku semua ini...," ujar Warok Gandu Pala sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Pengecut! Fitnah keji...!" dengus Ki Renu Jal- na. Matanya kian membara, menatap tajam. Warok Gandu Pala yang tengah terbahak-bahak
"Hua ha ha...! Memakilah sesukamu, karena sebentar lagi kau tak akan dapat memaki lagi!" ejek Warok Gandu Pala. Lelaki gagah itu kemudian meng- gerakkan kepala memberi perintah kepada anak buah- nya, membawa Ki Renu Jalna pergi dari tempat itu.
"Lepaskan...!" sentak Ki Renu Jalna sengit sambil memberontak. Namun kesepuluh anak buah Warok Gandu Pala tak peduli. Mereka semakin ken- cang men-cengkeram kedua suami-istri itu, meskipun terus meronta-ronta.
"Lepaskan aku...!" "Jangan melawan!" bentak Sumogiri dengan mendengus. Sikutnya dihentakkan ke tubuh Ki Renu Jalna, yang membuat lelaki setengah baya itu tersen- tak lalu sempoyongan dan jatuh berlutut di tanah.
"Bangsat! Mengapa kau menyiksa suamiku!" dengus Nyi Tumirah dengan mata melotot sengit. Wa- nita setengah baya ini pun nampaknya tak merasa ta- kut. "Bunuhlah kami sekalian!"
"He he he...! Sabar, Nyai! Sabar sedikit! Kalian memang akan mati," sahut Warok Gandu Pala dengan senyum mencibir sinis.
Mendengar ucapan Warok Gandu Pala, mata Ki Renu Jalna memerah karena marah. Nafasnya tersengal-sengal menahan perasaan yang menggelegak di rongga dada.
"Pengecut! Kita bertarung satu lawan satu!" tantang Ki Renu Jalna dengan garang. Dicabutnya keris yang terselip di pinggang belakang. Matanya garang menatap tajam wajah Warok Gandu Pala.
Kesepuluh anak buah hendak meringkus Ki Renu Jalna, tapi Warok Gandu Pala mengisyaratkan agar mereka membiarkan saja.
"Tampaknya kau tak sabar untuk mati, Ki!" ujar Warok Gandu Pala dengan senyum mengejek. Dengan tenang, kakinya melangkah mendekati Ki Re- nu Jalna. Matanya yang lebar dan merah menatap tajam wajah Ki Renu Jalna yang juga membalasnya den- gan tajam pula.
"Huh! Kau kira aku takut padamu, Warok Ke- parat!" bentak Ki Renu Jalna geram. Keris di tangan- nya telah diacungkan ke muka Warok Gandu Pala. Ma- tanya semakin garang, menatap penuh kebengisan dan marah terhadap Warok Gandu Pala.
"Hm, begitu? Lakukanlah jika kau berani!" tan- tang Warok Gandu Pala.
"Kurang ajar! Hea...!" Ki Renu Jalna langsung menyerang Warok Gandu Pala dengan tusukan keris- nya ke dada lawan. Namun hanya dengan menggeser kaki kiri sambil menarik tubuh, Warok Gandu Pala berhasil mengelakkan serangan.
Sementara itu pula dengan cepat tangannya menghantam punggung Ki Renu Jalna.
"Hih!" Degk! "Ukh!" Ki Renu Jalna terpekik. Tubuhnya sem- poyongan, kemudian ambruk mencium tanah. Hal itu membuat Nyi Tumirah menggeram marah. Dicabut tu- suk kondenya, kemudian sambil mendengus wanita itu bergerak menyerang. "Hea!" Nyi Tumirah menyambar dengan tusuk konde ke tubuh lawan, tetapi dengan cepat Warok Gandu Pa- la berkelit. Lalu dengan cepat tangannya menampar wajah wanita itu.
Plak! "Akh...!" pekik Nyi Tumirah dengan tubuh sem- poyongan. Tangannya memegangi pipi yang terkena tamparan. Wanita itu terjatuh ke samping, "Ki..., ke- napa kita harus begini?"
Ki Renu Jalna mendengus marah. Matanya se- makin garang menatap tajam wajah Warok Gandu Pala yang masih tertawa penuh ejekan.
"Bagaimana, Ki? Kau masih ingin mene- ruskan?" tanya Warok Gandu Pala sambil mencibir pe- nuh kesombongan. Matanya tak memandang sebelah mata pun kepada Ki Renu Jalna.
"Cuh! Aku belum kalah!" bentak Ki Renu Jalna. "Hea...!"
Bagaikan macan marah kelaparan, Ki Renu Jalna langsung bangkit berdiri. Tangannya yang meng- genggam keris, digerakkan menyabet dan menusuk ke tubuh Warok Gandu Pala. Namun Warok Gandu Pala dengan tenang sambil tertawa-tawa bergerak meng- elakkan serangan itu. Kemudian tangannya bergerak menangkap tangan Ki Renu Jalna. Lalu dengan cepat pula ditekuknya ke arah perut lawan.
"Hih!" Trep! Crab! "Akh...!" jerit kematian terdengar, ketika keris Ki Renu Jalna menghujam ke perutnya sendiri. Mata lelaki setengah baya berpakaian adat Jawa warna pu- tih itu membelalak. Tampak darah segar menyembur.
"Ki...!" pekik Nyi Tumirah sambil memburu tu- buh suaminya yang sekarat. Kemudian tangannya ber- gerak menusukkan tusuk konde ke tubuh Warok Gan- du Pala. "Iblis! Kubunuh kau...!"
Wrt! "Eit!" Warok Gandu Pala berkelit Kemudian dengan cepat kaki kanannya menendang ke punggung Nyi Tumirah. Degk! "Ukh!" Nyi Tumirah terpekik. Tubuhnya ter- huyung-huyung beberapa langkah, kemudian ambruk mencium tanah. Namun wanita separo baya itu bagai- kan seekor macan betina, dengan cepat bangun dari jatuhnya. Lalu dengan menggeram marah, tubuhnya melesat bergerak menyerang. "Kubunuh kau, Warok Iblis! Hea...!"
Wrt! Wrt! Tusuk konde di tangan Nyi Tumirah bergerak cepat menusuk dan menyabet ke tubuh Warok Gandu Pala. Namun dengan cepat dan enteng lelaki berpakaian serba hitam itu berkelit sambil melancarkan pukulan keras ke tubuh wanita itu.
"Hih!" Prak! "Akh,..!" Nyi Tumirah menjerit keras. Tulang punggungnya dirasakan remuk terhantam pukulan Warok Gandu Pala. "Kau...?! Kau..., Akh...!"
Nyi Tumirah pun tergeletak mati dengan mulut melelehkan darah. Matanya melotot.
"Seret mayat mereka! Kembalikan ke rumahnya lagi. Ingat, beri tulisan kalau yang melakukan Pende- kar Gila!" perintah Warok Gandu Pala.
"Baik, Ki," sahut Sumogiri. Dengan menggerakkan tangan, Sumogiri me- merintahkan pada rekan-rekannya agar menyeret tu- buh Ki Renu Jalna dan istrinya menuju Desa Ponorogo.
***

Keesokan harinya, semua warga Desa Ponorogo gempar. Ki Renu Jalna dan istrinya ditemukan tewas di rumahnya dalam keadaan mengenaskan. Namun yang lebih membuat semua warga terkejut, adanya tulisan di samping kedua mayat yang berbunyi:
Siapa pun yang berani ikut campur dengan ke- matian kedua orang ini. Maka akan berurusan dengan Pendekar Gila.
"Kurang ajar! Jelas, ini penghinaan bagi kita!" dengus Warok Sura Pati geram. Nafasnya turun naik, karena didesak kemarahan yang menggelegak. Matanya yang tajam menatap nanar pada kedua mayat Ki Renu Jalna dan istrinya. "Jelas, ini sebuah tantangan bagi kita, Ki."
Ki Warok Singo Lodra dan Ki Warok Sito Kuta menarik napas dalam-dalam. Sesaat keduanya saling pandang, kemudian menatap kembali ke wajah Warok Sura Pati. Sepertinya kedua warok itu belum yakin, kalau kejahatan itu dilakukan Pendekar Gila.
"Kita tak boleh gegabah, Sura. Aku tahu, siapa Pendekar Gila. Mungkin ini bukan perbuatannya. Ada orang yang hendak mengadu domba kita dengan Pen- dekar Gila," tutur Warok Singo Lodra.
"Benar. Kita harus menyelidiki lebih dahulu," sambung Warok Sito Kuta. Kedua orang tua berwajah tenang dengan cambang bawuk menghias pipi itu den- gan sabar berusaha menyabarkan Warok Sura Pati.
"Tapi, Ki...," ujar Warok Sura Pati terputus. "Aku tahu maksudmu. Tapi kau tentu melihat tulisan itu, bukan?" sela Warok Singo Lodra.
"Benar, Ki," sahut Warok Sura Pati. Lelaki ku- rus, berpakaian abu-abu ini mengangguk-angguk. Matanya yang cekung menatap Warok Singo Lodra.
Warok Singo Lodra tersenyum menggeleng- gelengkan kepala, seakan-akan hendak berusaha menyadarkan rekannya agar tidak sembarangan berpra- sangka buruk.
"Kau harus ingat, Sura! Sebagai warok, kita merupakan orang-orang yang terhormat. Kita telah di- kenal sebagai orang bijak. Janganlah sembarangan menuduh," tuturnya dengan penuh wibawa.
"Maafkan aku! Bukan aku bermaksud menu- duh. Tetapi kejadian ini sungguh di luar pikiran kita," gumam Warok Sura Pati sambil membelai-belai jeng- got.
Lelaki berusia sekitar enam puluh tahun ini, memang masih ada hubungan kerabat dengan Nyi
Tumirah. Sudah sepantasnya kalau dirinya begitu ma- rah, mengetahui saudaranya terbunuh.
"Apa tidak mungkin ada orang telah mempera- lat Pendekar Gila?" tanya Warok Sura Pati kembali. Pikirannya masih diliputi kegelisahan dan berprasangka terhadap Pendekar Gila.
Warok Singo Lodra dan Warok Sito Kuta men- gerutkan kening, mendengar pertanyaan itu. Keduanya seakan berusaha memikirkan hal itu. Sambil menge- lus-elus jenggot, keduanya memandang ke arah lain.
"Mungkin juga," gumam Warok Sito Kuta den- gan kepala manggut-manggut. Matanya yang bulat dan lebar itu memperhatikan kedua mayat yang di sam- pingnya tergeletak selembar daun lontar tertera nama Pendekar Gila.
"Kurasa, kita tidak boleh asal menuduh," tukas Warok Singo Lodra sambil menggeleng-gelengkan ke- pala. "Aku tahu persis siapa Pendekar Gila. Dia akan bertindak, jika orang sudah tak dapat disadarkan dari perbuatan dosanya."
"Tapi dia juga manusia, Ki," sela Warok Sura Pati.
"Ya," sambung Warok Sito Kuto. Warok Singo Lodra tersenyum. "Memang, dia manusia seperti kita. Namun se- lama ini, kita belum pernah mendengar kalau Pende- kar Gila melakukan perbuatan keji seperti sekarang ini," ujar Warok Singo Lodra tenang. "Bukannya kita takut menghadapinya. Tetapi yang perlu kita pikirkan, benarkah dia pelakunya?"
Kedua warok rekannya terdiam. Hati mereka pun sebenarnya masih ragu menjatuhkan tuduhan bahwa Pendekar Gila adalah pelaku kejahatan ini. Hati mereka masih bertanya-tanya. Untuk apa Pendekar Gi- la membunuh Renu Jalna dan istrinya? Mungkinkah
Ki Renu Jalna mempunyai kesalahan yang tak dapat diampuni, sehingga Pendekar Gila membunuhnya?
Sulit bagi ketiga warok menjawab pertanyaan itu. Mereka tahu siapa sebenarnya Pendekar Gila Se- mua orang pun tahu Pendekar Gila berhaluan lurus. Bah-kan telah mendapat sebutan Pendekar Penegak Kebenaran dan Keadilan. Namun di lain sisi, kenya- taan membukakan siapa pelaku pembantaian calon lu- rah itu. Di samping mayat Ki Renu Jalna dan istrinya, ter-dapat tulisan yang tertera nama Pendekar Gila. Hal itu sebagai bukti, kalau Pendekar Gila pelaku atau yang mengutus orang membunuh Ki Renu Jalna.
"Kurasa tak mungkin Pendekar Gila berbuat sepengecut itu. Menyuruh orang untuk membunuh," gumam Warok Singo Lodra dalam hati, merasa tak ya- kin kalau Pendekar Gila pelaku pembunuhan keji yang menimpa Ki Renu Jalna.
"Aku tak percaya, kalau pendekar yang berbudi luhur itu melakukan kekejian ini!" gumam hati Warok Sito Kuta dengan kepala mengangguk-angguk. "Mung- kin ada orang yang hendak menghancurkan nama baik Pendekar Gila."
"Kalau benar Pendekar Gila yang melakukan- nya, untuk apa? Kurasa Ki Renu Jalna tak pernah ber- sengketa dengan Pendekar Gila," gumam Warok Sura Pati dalam hati. Tampaknya lelaki tua ini mulai me- nyadari. Matanya masih memperhatikan dengan teliti kedua mayat kemenakannya. Keris Ki Renu Jalna, menghujam di perutnya sendiri. Sedangkan Nyi Tumi- rah tulang punggungnya remuk, seperti bekas terkena hantaman.
"Jelas Ki Renu Jalna dan Nyi Tumirah mengha- dapi lawan yang bukan orang sembarangan. Hm...! Siapa sebenarnya dalang kejahatan ini?"
Ketiga warok ini masih terdiam membisu belum mengerti apa penyebab malapetaka yang menimpa Ki Renu Jalna. Calon kepala desa yang sudah dipastikan akan menduduki jabatan lurah Ponorogo itu dikete- mukan mati persis sepekan menjelang pemilihan lu- rah.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Ki?" tanya Warok Sito Kuta pada Warok Singo Lodra, yang dianggap tertua dan sangat dihormati penduduk dan warok-warok di Desa Ponorogo.
Warok Singo Lodra menghela napas dalam- dalam, merasa bimbang dengan apa yang mesti dila- kukan. Dirinya belum tahu cara apa yang harus diper- buat untuk menanggulangi agar kejadian ini tak teru- lang pada calon lurah yang lain.
"Sebaiknya kita selidiki, apakah benar semua ini dilakukan Pendekar Gila...?" usul Warok Singo Lo- dra dengan diikuti desahan nafasnya yang gelisah. Di- rinya tak habis pikir, mengapa calon kepala desa yang menurutnya baik, diketemukan mati. Sepertinya ada semacam tindakan yang sengaja merintangi cita-cita Ki Renu Jalna menjadi kepala desa di Desa Ponorogo.
"Baiklah kalau itu cara yang baik, Ki. Tetapi ki- ta mesti ingat, kalau pemilihan kepala desa hanya ada waktu tujuh hari lagi," sambut Warok Sura Pati.
"Benar. Kurasa, kita mulai dari sini," tukas Wa- rok Sito Kuta menambahkan, "Jago kita telah mati. Sebaiknya, untuk mengetahui pelaku yang membunuh Ki Renu Jalna, kita harus menjagokan satu orang lagi." Warok Singo Lodra sesaat terdiam. Kemudian diangguk-anggukkan kepalanya, tanda menyetujui apa yang direncanakan kedua rekannya.
"Bagaimana, Ki...?" tanya Warok Sito Kuta. "Pendapat yang bagus," gumam Warok Singo Lodra seraya membelai-belai jenggotnya yang panjang. Kepalanya diangguk-anggukkan dengan bibir mengurai senyum. "Kita akan menjebak pelaku dengan cara mengangkat calon yang bakal menang. Aku yakin, tentunya si pelaku akan menyingkirkan jago kita."
Kedua warok lainnya manggut-manggut dengan senyum mengembang di, bibir mereka.
***

3
Pagi itu Pendekar Gila tengah menyelusuri pe- sisir pantai, sekaligus menikmati udara pagi yang terasa sangat sejuk. Sejak kemarin, ketika bertemu dengan gadis cantik di tempat pagelaran Reog Ponorogo, di- rinya masih diliputi rasa ketidak mengertian. Perta- nyaan gadis itu sangat aneh. Karena tampaknya hanya ingin meyakinkan kalau dialah Pendekar Gila.
"Ah, aneh! Dunia semakin lama menjadi sema- kin aneh...," gumam Pendekar Gila sambil menggaruk- garuk kepala, merasa tak mengerti dengan semua yang dialami kemarin. Bukan gadis cantik bergaun kuning saja yang aneh. Baginya Pimpinan Reog Ponorogo pun aneh. Sang Pimpinan Reog tampak tak suka akan kehadirannya menonton.
Pendekar Gila terus melangkah sambil cen- gengesan. Matanya memandang ke langit, seakan ada sesuatu yang dicari di atas sana. Dia terus melangkah, menyelusuri tepian pesisir selatan.
Saat itu Pendekar Gila tengah berada di Desa Wanacaya, berjalan menuju Desa Ngadireja dalam usahanya menuju tempat Mei Lie berada. Hatinya su- dah kangen, ingin bertemu dengan gadis itu, setelah sekian lama mereka berpisah.
"Ah, Mei Lie. Sedang apa kau di sana?" gumam
Pendekar Gila dengan menghela napas dalam-dalam, ketika kembali teringat Mei Lie. Gadis yang senantiasa berada di dalam hati, meski kini jauh di mata.
Sebuah pohon kelapa yang telah tumbang, me- lintang di hadapan Pendekar Gila. Nampaknya pohon itu rapuh dimakan usia, atau mungkin karena dihem- paskan angin kencang. Tampak akar-akarnya turut ter-cabut ke atas.
Sena seketika berkeinginan untuk duduk di atas pohon yang tumbang itu. Kakinya segera mempercepat langkah kemudian duduk di batang pohon itu. Kemudian diambilnya Suling Naga Sakti dan ditiupnya dengan lembut, mengalunkan suara yang merdu. Pendekar Gila terus meniup Suling Naga Saktinya, seolah-olah hendak mencurahkan perasaan rindu pada sang Gadis yang jauh di mata. Suara suling yang mendayu, seakan-akan membuat alam sekelilingnya seketika berubah sendu. Burung-burung yang semula bernyanyi riang, tiba-tiba diam. Seakan-akan turut merasakan kerinduan yang dialami Pendekar Gila.
Angin pagi bertiap lembut, turut mengiringi alunan suling. Debur ombak laut selatan yang bi- asanya besar, seketika mereda. Yang ada hanya riak- riak kecil, menghempaskan busa putih ke tepi pantai.
Pendekar Gila masih menikmati tiupan suling- nya, ketika matanya melihat dua sosok bayangan ber- kelebat melintas di hadapannya. Kedua sosok bayan- gan itu ternyata sepasang muda-mudi yang tengah bercanda ria sambil berkejaran. Sebenarnya bukan ka- rena keduanya tengah asyik memadu kasih yang membuat mata Pendekar Gila terbelalak, melainkan karena melihat gadis itu. Dirinya hampir tak percaya dengan yang dilihat. Seketika dihentikan tiupan sulingnya. "Hai, bukankah itu gadis yang kemarin mene- gurku?" gumam Sena dengan kening berkerut, berusa- ha mengingat-ingat gadis cantik berpakaian kuning itu.
Gadis cantik bertubuh semampai yang tiada lain Sekati tampak semakin menunjukkan kemesraan- nya ketika melihat Pendekar Gila memandang mereka. Sekati seakan-akan bermaksud menggoda, agar pemu- da tampan bertingkah laku seperti orang gila itu mem- perhatikan dirinya yang sedang bermesraan dengan pemudanya.
"Hi hi hi...! Ah ah ah, mengapa kalian berpaca- ran di tempat seperti ini?" tanya Pendekar Gila sambil memain-mainkan sulingnya sebelum dimasukkan ke balik ikat pinggang. Kemudian dengan menggeleng- gelengkan kepala, dirinya turun dari batang kelapa.
"Hi hi hi...! Kau ingin, Pendekar Gila?" tanya Sekati sambil mempererat pelukannya di pinggang pe- muda berkumis tipis di hadapannya. Wajah pemuda bertubuh tegap itu tersenyum memandang wajah Pen- dekar Gila, seakan hendak mengejek.
Melihat tingkah kedua sejoli itu Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk ke- pala. Kemudian digeleng-gelengkan kepala, seolah-olah merasa lucu dengan apa yang dilihatnya.
"Ah ah ah, mengapa aku harus ingin? Hi hi hi...! Lucu sekali kalian!" gumam Pendekar Gila seraya melangkah, hendak meninggalkan tempat itu. Tetapi Sekati segera mengejarnya.
"Pendekar Gila, tunggu...!" "Ahe, mengapa kau memanggilku, Nisanak? Bukankah kau akan bermesraan? Ah ah ah, kurasa tak enak orang berpacaran harus diganggu, bukan...?" tanya Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang konyol. Mulutnya cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala.
"Kau tak ingin berduaan denganku...?" rayu Sekati sambil melangkah mendekati Pendekar Gila. Kemudian dengan nakal tangannya membelai janggut Pendekar Gila. Matanya yang lentik, menatap tajam wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, kurasa kau salah, Nisanak. Aku tak se- perti pemudamu itu," tukas Pendekar Gila sambil me- nepis tangan Sekati yang hendak menggayut di leher- nya. "Aha, aku pamit, karena harus pergi. Kurasa ka- lau aku di sini terus, kenikmatan kalian akan tergang- gu."
Dengan cengengesan sambil menggeleng- gelengkan kepala Pendekar Gila melangkah mening- galkan tempat itu. Namun, tiba-tiba sesosok tubuh berkelebat menghadang langkahnya. Ternyata pemuda tampan berkumis tipis kekasih Sekati. Pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu, tersenyum sinis. Dan matanya menatap tajam wajah Pendekar Gila.
"Jangan seenaknya saja kau pergi, Pendekar Gila...!" bentak Caraka Wanda dengan tatapan tajam, sepertinya hendak menghunjam dada Pendekar Gila.
"Aha, bukankah tadi aku pamit?" Sena balik bertanya. Tingkah lakunya masih seperti orang gila. Mulutnya cengengesan, tapi matanya memandang ke langit yang biru. Seakan-akan tak peduli dengan pe- muda di hadapannya.
"Aku tak peduli dengan pamitmu. Kalau aku tak mengizinkan yang jelas kau tak akan bisa pergi!" ancam Caraka Wanda tegas.
"Hua ha ha...! Lucu sekali kau, Ki Sanak! Kau bukan penguasa di sini. Mengapa kau berlagak seperti penguasa? Ah ah ah, tingkahmu malah seperti seekor tikus sawah, Ki Sanak. Hi hi hi...!" Pendekar Gila ter- tawa cekikikan sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan tangan kanan menutupi mulutnya yang terta- wa-tawa. Hal itu membuat Caraka Wanda mendengus sengit. Matanya menatap tajam wajah Pendekar Gila penuh api amarah.
"Pendekar Gila, rupanya kau belum tahu siapa aku?!" bentak Caraka Wanda sengit.
"Hi hi hi...! Bukankah kau tikus sawah itu, Ki Sanak? Masih kau bertanya. Hi hi hi...! Lucu sekali kau," ejek Pendekar Gila dengan cengengesan. Tan- gannya menggaruk-garuk kepala, kemudian mulutnya dimonyongkan mengejek Caraka Wanda.
"Kurang ajar! Sombong kau, Pendekar Gila!" bentak Caraka Wanda sengit. Matanya semakin tajam menatap penuh kebencian pada Pendekar Gila yang masih cengar-cengir seperti kera. "Meski namamu ter- sohor. Tetapi Caraka Wanda, anak Warok Sito Kuta tak akan takut padamu!"
Mendengar nama Warok Sito Kuta disebut, Pendekar Gila bukannya takut. Tetapi justru terbahak- bahak tawanya sambil berjingkrakan seperti kera. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Mulutnya nyen- gir, matanya memandang ke atas. Seolah ada yang menarik perhatian di atas sana.
"Hua ha ha...! Sungguh tak pantas. Tak pantas sekali. Anak seorang warok, bertingkah seperti cecurut bau. Ah..., bahkan seperti tikus sawah!" ujar Pendekar Gila dengan kepala menggeleng-geleng.
Semakin geram Caraka Wanda mendengar uca- pan Pendekar Gila. Nafasnya mendengus keras. Ma- tanya memandang tajam tak berkedip, seakan hendak menusuk jantung Pendekar Gila. Sementara itu Sekati hanya tersenyum-senyum, menyaksikan dua pemuda tampan saling bertengkar. Gadis cantik itu merasa senang menyaksikan pertengkaran keduanya. Dirinya merasa jadi rebutan kedua pemuda itu.
"Kurang ajar! Kau berani menghina ayahku, Pendekar Gila!" dengus Caraka Wanda.
Pendekar Gila semakin tertawa terbahak-bahak dengan kepala menggeleng-geleng mendengar ucapan Caraka Wanda. Sambil cengengesan tangannya meng- garuk-garuk kepala. Dihelanya napas dalam-dalam, seakan-akan berusaha menenangkan perasaan.
"Ah ah ah...! Pintar sekali kau berkata, Ki Sa- nak. Kaulah yang menghina persatuan warok, karena kau anak warok, tetapi tingkah lakumu tak mencer- minkan sifat ksatria...," tutur Pendekar Gila masih dengan cengengesan dan kepala menggeleng-geleng. Sepertinya dirinya tak habis pikir, kenapa anak seo- rang warok yang disegani dan dihormati bertingkah la- ku seperti Caraka Wanda.
"Cuih! Jangan banyak omong, Pendekar Gila!" bentak Caraka Wanda sambil membuang ludah ke tanah. Matanya masih menatap garang ke wajah Pende- kar Gila. "Jangan bawa-bawa ayahku!"
Pendekar Gila kembali tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala, mendengar ucapan Caraka Wanda.
"Hua ha ha...! Lucu sekali kau, Ki Sanak! Bu- kankah yang membawa-bawa ayahmu kau sendiri? Ah, dasar tikus pikun," gumam Pendekar Gila sambil cen- gengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk ke- pala. Mendengar ucapan itu tentu saja Caraka Wanda bertambah marah.
"Kurang ajar! Kau harus dihajar, Pendekar Gi- la!"
"Sudahlah, mengapa kalian mesti berteng- kar...?" Sekati dengan bibir mengurai senyum, berusa- ha mencegah keduanya agar tidak bertengkar.
"Tapi dia perlu dihajar, Sekati," sahut Caraka Wanda. Matanya masih menatap garang pada Pende- kar Gila yang masih cengengesan sambil mendongak ke atas. Tingkahnya sangat konyol dan lucu. Namun, bagi Caraka Wanda yang sudah marah, tingkah laku Pendekar Gila justru membuatnya bertambah marah.
"Sudahlah, Caraka! Toh dia tak bermaksud ja- hat terhadap kita," ujar Sekati dengan bibir mengurai senyum pada Pendekar Gila yang masih cengengesan. Namun pandangan Pendekar Gila tetap mengarah ke langit, dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Caraka Wanda hanya mendengus, kemudian dengan sinis meninggalkan tempat itu diikuti Sekati. Pendekar Gila hanya mampu menggeleng-gelengkan kepala, merasa heran melihat tingkah laku Caraka Wanda yang aneh. Tak ada angin dan tak ada hujan, pemuda berkumis tipis itu tiba-tiba memusuhinya.
"Ah ah ah... dunia ini semakin lucu! Manusia kian aneh. Tak ada sebab pasti tiba-tiba memusuhi orang lain. Hanya masalah cemburu. Hi hi hi...!"
Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepala sambil cengengesan. Kemudian dilangkahkan kakinya, berlalu meninggalkan pesisir itu ke arah timur.
Sepeninggal Pendekar Gila, Sekati nampak ma- sih memperhatikan ke mana pendekar itu pergi.
"Ingat, kita harus terus mengikutinya," ujar Se- kati pada Caraka Wanda.
"Ya! Kita memang harus mengikutinya," sahut Caraka Wanda.
"Ayo!" ajak Sekati. Keduanya segera berlalu meninggalkan pesisir, untuk mengikuti Pendekar Gila. Tujuan mereka hen- dak membuktikan kalau Pendekar Gila benar-benar ti- dak ke Ponorogo lagi.
***
Pendekar Gila masih melangkah, menyusuri ja- lanan di Desa Gemeng, yang terletak di sebelah utara Desa Ngadirejo. Siang yang panas, cahaya matahari memanggang bumi, sehingga beberapa kali Pendekar Gila harus meniup nafasnya untuk menghilangkan ra- sa panasnya. Mulutnya masih cengengesan, dengan tangan mengorek kuping yang sebelah kanan.
"Ah, panas sekali siang ini!" gumam Pendekar Gila sambil mengorek telinga dengan bulu burung yang memang senantiasa dia selipkan di ikat pinggang sebe- lah kanan. Karena di ikat pinggang sebelah kiri, terse- lip Suling Naga Sakti.
Pendekar Gila terus melangkah, untuk mencari sebuah kedai. Siang itu perutnya terasa sangat lapar, minta diisi. Akhirnya sampai di sebuah kedai yang saat itu nampak masih sepi. Padahal biasanya di siang hari kedai banyak pengunjungnya. Seorang lelaki tua ter- bungkuk-bungkuk sedang menata meja dan kursi- kursinya. Nampak susah-payah sekali orang tua itu menata meja kursinya. Hal itu membuat Pendekar Gila merasa iba melihatnya.
"Aha, bolehkah saya bantu, Pak?" tanya Pende- kar Gila menawarkan jasa. Suara itu mengejutkan lelaki tua itu, sehingga segera berhenti dari pekerjaan- nya. Matanya menatap tajam wajah Pendekar Gila. Perlahan mata tua itu menyipit seakan hendak mem- pertegas pandangannya yang sudah agak kabur.
"Siapakah engkau, Anak Muda?" tanya Pak Tua itu dengan suaranya yang berat. Lelaki berusia tujuh puluh tahunan itu, nampak masih memperhatikan Pendekar Gila dengan seksama.
"Aha, siapa diriku, itu tak penting, Ki. Yang je- las aku ingin sekali menolongmu, kalau boleh," kata Pendekar Gila sambil mengorek telinganya dengan bu- lu burung. Mulutnya masih cengengesan, dengan mata memandang ke langit
"Benarkah kau mau menolongku, Anak Muda?" "Aha, kau nampak masih ragu, Ki. Lucu seka- li...! Tapi, aku memang ingin menolongmu," ujar Pen- dekar Gila sambil menyelipkan bulu burung ke ikat pinggangnya. Kemudian dengan cengengesan, kakinya melangkah masuk, mendekati orang tua pemilik kedai.
"Kau ingin kubayar, Anak Muda?" "Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Ki. Ah ah ah, mana mungkin aku tega meminta bayaran padamu? Kedai- mu saja masih sepi. Sudahlah, aku ingin menata kur- si-kursi ini. Setelah itu, tolong ambilkan sapu."
Tanpa menunggu Pak Tua itu berkata, Pende- kar Gila langsung bekerja dengan cepat. Tubuhnya berkelebat dengan tangan bergerak cepat bekerja. Da- lam beberapa saat saja semua kursi panjang dan meja- meja telah tertata rapi.
Pak Tua pemilik kedai membeliakkan mata, menyaksikan bagaimana pemuda bertingkah laku se- perti orang gila itu bekerja. Hatinya hampir tak per- caya, menyaksikan Pendekar Gila bekerja dengan ce- pat. Seakan tubuhnya terdiri dari puluhan orang, yang seketika bergerak bersama menata ruangan kedai. Se- hingga dalam sekejap saja ruangan kedai sudah rapi.
"Ck ck ck...! Benarkah apa yang kulihat?" ter- dengar decak kagum dari mulut pemilik kedai, me- nyaksikan cara kerja Pendekar Gila yang sangat cepat itu. "Siapa sebenarnya pemuda ini? Silumankah...?"
"Aha, mengapa masih diam, Ki? Cepat ambilkan sapu, biar kusapu tempat ini. Ah, pantas kalau kedai ini tak ada yang mengunjungi. Hi hi hi... kotor sekali! Seperti pasar saja, Ki," gumam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan bibir tersenyum-senyum, menyaksikan keadaan kedai yang kotor seka- li. Sampah berserakan di sana-sini.
"Eh, tunggu sebentar!" dengan tertatih-tatih dan terbungkuk-bungkuk Pak Tua segera meninggal- kan ruangan kedai, untuk mencari sapu lidi. Tidak be- gitu lama kemudian, Pak Tua telah kembali membawa sapu lidi yang diminta Pendekar Gila. "Aha, terima kasih, Ki." Sena kembali tak banyak kata. Sambil ber- nyanyi-nyanyi sesuka hati, tangannya langsung beker- ja membersihkan seluruh ruangan kedai. Bahkan sampai ke balai-balai dan sisi kanan kiri kedai yang juga kotor. Dikumpulkan sampah itu di belakang ke- dai, kemudian dibakarnya.
"Ck ck ck...! Kalau begitu, dia bukan pemuda gila sembarangan. Sayang sekali dia gila!" gumam Pak Tua itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, menyak- sikan cara kerja Pendekar Gila.
"Hi hi hi...! Bagaimana, Ki! Bukankah kalau bersih seperti ini sangat enak dipandang? Aha, kurasa nanti banyak orang yang datang," ujar Pendekar Gila sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Di- taruhnya sapu di sudut ruangan kedai, kemudian den- gan masih cengengesan segera duduk di sebuah bang- ku. Tingkah lakunya yang persis orang gila, membuat Pak Tua pemilik kedai menggeleng-gelengkan kepala merasa heran.
Pak Tua pemilik kedai melangkah menghampiri Sena. Matanya yang tertutup alis mata putih panjang, memperhatikan Pendekar Gila yang cengengesan du- duk tenang sambil menggaruk-garuk kepala.
"Kau tentu lapar, Anak Muda?" tanya Pak Tua. "Aha, kau benar, Ki. Apakah kau sudah mema- sak..?" tanya Pendekar Gila.
Wajah Pak Tua itu seketika berubah sedih, mendengar pertanyaan tamunya. Ada penderitaan yang menggurat di wajah tuanya. Hal itu membuat Pendekar Gila mengerutkan kening. Lalu, tangannya kembali menggaruk-garuk kepala.
"Ah ah ah, maafkan kelancanganku, Ki! Tak kusangka, kalau pertanyaanku akan membuatmu se- dih," ujar Pendekar Gila sambil menarik napas dalam- dalam. Matanya menatap tajam wajah Pak Tua yang kini nampak mengibakan.
"Oh, tidak apa-apa. Hanya...," Pak Tua pemilik kedai tak meneruskan ucapannya. Sepertinya ada ke- raguan yang menekan jiwanya. Wajahnya pun tampak bertambah muram, dan semakin menunjukkan kese- dihan.
Pendekar Gila merasa tambah heran, menyak- sikan wajah Pak Tua yang semakin murung. Diperha- tikannya dengan seksama wajah pemilik kedai seakan ingin menyelami jiwanya. Ingin tahu, apa yang menyebabkan lelaki tua itu ragu untuk menuturkan sesuatu padanya. "Aha, kau sepertinya menyimpan sesuatu, Ki? Katakanlah, tak usah kau ragu! Mungkin aku bisa menolongmu," pinta Sena sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan mulut nyengir kuda.
Pak Tua itu terdiam. Dihelanya napas dalam- dalam. Sepertinya ada yang masih mengganjal dalam batin. Matanya menatap ke sekeliling kedai. Seakan- akan ada yang dikhawatirkan kalau ada yang menden- garnya. Hal itu membuat Pendekar Gila semakin men- gerutkan kening, tak tahu apa yang membuat Pak Tua itu ketakutan.
"Hi hi hi...! Kau seperti ketakutan, Ki. Ah ah ah, ada apa gerangan, Ki?" tanya Sena semakin penasa- ran, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga, pemilik kedai itu tampak begitu ketakutan untuk menceritakan.
Diam-diam Pendekar Gila mengedarkan pan- dangan matanya ke sekeliling tempat itu. Namun tak dilihatnya seorang manusia pun yang patut dicurigai. Memang banyak orang yang lalu-lalang di depan kedai, tetapi tak ada orang yang perlu dicurigai.
"Aneh Pak Tua ini. Dia seperti ketakutan. Siapa yang ditakutkan olehnya?" tanya Pendekar Gila dalam hati. Dirinya belum mengerti mengapa pemilik kedai itu tampak ketakutan. Kembali matanya mengawasi ke sekeliling kedai, tapi tetap tak melihat hal yang mencu- rigakan. "Aha, tak ada yang perlu kau takutkan. Menga- pa kau mesti cemas, Ki...?" tanya Pendekar Gila den- gan mulut nyengir sambil menggaruk-garuk kepala.
"Bukan hanya aku yang takut, Anak Muda. Hampir semua penduduk Desa Ngadireja ini, setiap purnama dicekam rasa takut. Itu pula yang membua- tku tak memasak untuk jualan," tutur pemilik kedai.
Mendengar penuturan itu Pendekar Gila mengerutkan kening.
"Kenapa begitu, Ki?" tanya Pendekar Gila. "Panggil saja namaku yang tua renta ini, Lam- pit," sela lelaki tua yang ternyata bernama Lampit den- gan menghela napas dalam-dalam. Matanya masih mengawasi dengan cemas ke sekelilingnya. Seolah-olah masih ada yang ditakutkan. Entah apa yang membuat Ki Lampit ketakutan, bagaikan ada mata-mata yang mengintainya.
"Ah, baiklah Ki Lampit. Sebenarnya ada apa di desa ini?" tanya Sena semakin ingin tahu.
Ki Lampit tak langsung menjawab. Kembali dia menghela napas dalam-dalam. Seakan orang tua itu tengah memikul beban penderitaan yang sangat berat. Kemudian dengan lirih dan suara berat, Ki Lampit menceritakan apa yang sebenarnya menimpa Desa Ngadireja ini.
"Kejadian ini, terjadi tiga purnama yang lalu...," tutur Ki Lampit membuka cerita. Sementara Sena mendengarkan dengan cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala. "Bermula dengan gegernya kabar akan diadakan pemilihan Kepala Desa Ponorogo."
Pendekar Gila mengerutkan kening menggaruk- garuk kepala. Namun pikirannya nampak mulai memperhatikan dengan seksama apa yang bakal dicerita- kan Ki Lampit.
"Ki Lurah Ponorogo suatu hari diketemukan mati. Di dadanya, tertembus sebatang tombak. Entah siapa yang membunuh Ki Lurah Pandarsuna. Menurut kabar, Pendekar Gila yang membunuhnya. Hal itu membuat warok di Desa Ponorogo berusaha menyelidi- kinya. Antara para warok itu terjadi pertengkaran sen- git. Sebagian berpendapat kalau Pendekar Gila yang melakukannya. Sebagian lagi menentangnya."
Pendekar Gila tersentak kaget mendengar cerita Ki Lampit.
"Aneh... lucu sekali! Semua orang sudah gila. Mengapa aku menjadi sasaran fitnah keji itu?" gumam Pendekar Gila dalam hati sambil menggeleng- gelengkan kepala.
"Lalu apa yang kemudian terjadi, Ki?" tanya Pendekar Gila semakin ingin tahu.
"Akhirnya berkat kecerdikan Warok Singo Lo- dra, pelaku dapat ditangkap. Tetapi pelaku mengaku kalau dia diutus Pendekar Gila untuk membunuh Ki Lurah." "Atas dasar apa...?" tanya Pendekar Gila dengan kening berkerut.
"Entahlah. Yang jelas, masalahnya kabur lalu tak terdengar lagi. Tetapi akhir-akhir ini, gerombolan anak buah Pendekar Gila menjarah di desa ini," tutur Ki Lampit.
"Gerombolan Pendekar Gila?!" tanya Pendekar Gila kaget dengan mata membeliak.
"Ya!" sahut Ki Lampit, "Kau kenal, Anak Muda?" Dengan cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala, Pendekar Gila menggelengkan kepala. Hatinya benar-benar marah, merasa nama baiknya telah dicemar. "Kurang ajar! Hm, siapakah yang telah berani memfitnahku?" gumam Pendekar Gila dalam hati. Dirinya tak habis pikir, mengapa julukannya dijadikan alat penakut bagi warga desa. "Hi hi hi...! Dunia ini semakin gila. Nama gelar seseorang dijadikan alat pe- nakut. Lucu sekali...!"
Lelaki tua pemilik kedai diam. Matanya mena- tap tajam Pendekar Gila yang tampak cengengesan dan cekikikan sendiri.
"Aha, jadi kau takut dengan gerombolan tengik yang mengaku anak buah Pendekar Gila, Ki?" tanya Pendekar Gila. Hatinya masih penasaran ingin tahu apa alasan warga Desa Ngadireja menakuti gerombolan itu.
"Anak Muda, sebenarnya kami tak takut terha- dap gerombolan itu. Yang kami takutkan, kalau-kalau pemimpin mereka, Pendekar Gila datang. Tentunya kau pun yang sama-sama gila tahu, siapa Pendekar Gila sebenarnya. Pendekar yang cukup disegani kawan maupun lawan."
Pendekar Gila tertawa cekikikan, mendengar penuturan Ki Lampit. Tangannya menggaruk-garuk kepala. "Ah ah ah, aku semakin tertarik, ingin tahu se- perti apa tampang anak buah Pendekar Gila," gumam Pendekar Gila sambil masih menunjukkan tingkahnya yang seperti orang gila, "Bolehkah aku ikut menginap di kedaimu, Ki?"
"Kau seperti bukan pemuda sembarangan. Dan kau seperti orang gila yang juga bukan sembarangan. Siapa kau sebenarnya, Anak Muda?" tanya Ki Lampit dengan kening berkerut, serta mata menyipit meman- dang wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan.
"Hi hi hi...! Bukankah sudah kukatakan, siapa diriku tidak penting. Yang jelas, aku ingin melihat se- perti apa kecoa-kecoa busuk yang mengaku anak buah Pendekar Gila," kata Pendekar Gila dengan tangan ma- sih menggaruk-garuk kepala.
"Baiklah, Anak Muda. Aku pun tak menolak. Kau boleh istirahat di kedaiku," jawab Ki Lampit
"Aha, terima kasih, Ki! Berapa satu malam ha- rus kubayar?"
"Tidak usah, Anak Muda. Aku senang, kalau kau mau menginap di kedai buruk ini," kata Ki Lampit
"Aha, terima kasih! Kalau begitu, biarlah aku akan memasak nasi untuk kau jual. Kebetulan sekali, aku pun bisa memasak."
Ki Lampit tersenyum senang, mendengar uca- pan pemuda yang mirip orang gila itu. Pendekar Gila, langsung memasak nasi dan lauk-pauknya! Begitu ce- pat tangannya bekerja. Dalam sekejap saja, semua te- lah selesai.
***

4
Malam datang menggantikan siang. Sinar ma- tahari yang semula menyinari bumi, telah menghilang di ufuk barat Kegelapan pun datang menyelimuti bumi, membuat suasana Desa Ponorogo nampak sepi.
Namun di antara kesepian itu. Ada empat ru- mah yang masih nampak ramai dan terang-benderang. Mereka masih banyak menerima tamu sehubungan dengan pemilihan lurah pekan depan. Keempat rumah itu tak lain rumah Warok Gandu Pala, Ki Renda Paksa, Ki Banjar Guling, dan Ki Jali. Nama terakhir ini yang menggantikan Ki Renu Jalna sebagai calon lurah. Di- rinya merupakan calon yang dijagokan oleh Tiga Warok Bercambuk Sakti, sesepuh Desa Ponorogo. Hal itu di- lakukan, untuk menjebak pelaku pembunuhan terhadap Ki Renu Jalna.
Rumah Ki Jali dijaga ketat beberapa jawara, hal itu dimaksudkan agar kejadian yang dialami Ki Renu Jalna tidak terulang lagi. Para tamu yang berkunjung ke rumah calon kepala desa ini pun nampak banyak, melebihi calon lurah lain.
Sementara itu di rumah Warok Gandu Pala, ju- ga diselenggarakan suatu jamuan untuk mengundang orang-orang yang mendukung dirinya. Banyak juga orang yang datang. Namun kebanyakan hanya berpu- ra-pura, karena sebenarnya mereka sebenarnya para kepeng, dari Ki Jali.
Warok Gandu Pala malam itu kedatangan Tiga Warok Bercambuk Sakti. Mereka tak lain Warok Singo Lodra, Warok Sura Pati, dan Warok Sito Kuta. Sebagai sesama warok, mereka memang masih ada ikatan. Se- hingga tak akan berusaha memecahkan satu sama lain. Juga tak mau saling menyingkirkan, walaupun sebenarnya mereka bertiga tak suka dengan Warok Gandu Pala.
"O, sungguh suatu penghormatan besar, kalian sudi datang ke rumahku!" ujar Warok Gandu Pala, ke- tika menyambut ketiga rekannya sesama warok. Di bi- birnya mengurai senyum, meski di dalam hati terpen- dam kebencian.
"Ah, rupanya Kakang Warok yang datang," Nyai Rukimah, istri Warok Gandu Pala turut menyambut kedatangan ketiga tamu, yang dianggap sebagai sauda- ra tua dari suaminya. Di situlah letak ikatan para wa- rok. Mereka menganggap satu sama lain masih ada ikatan kekerabatan.
"Ah, bisa saja Dimas dan Diajeng. Bukankah setiap saat kita sering bertemu?" sela Warok Singo Lodra dengan bibir tersenyum ramah, setelah memberi penghormatan pada tuan rumah.
"Benar apa dikatakan Ki Singo. Bukankah se- tiap saat kita memang sering bertemu?" sambung Warok Sura Pati juga dengan tersenyum, berusaha me- nunjukkan rasa gembira, karena bisa memberikan se- dikit arti bagi sesama warok.
Semua tertawa lepas, seperti tak memikul be- ban pikiran. Keakraban tergambar saat itu, meski da- lam hati Warok Gandu Pala, warok yang paling muda di antara mereka, tersimpan dendam dan perasaan benci terhadap ketiga warok lainnya.
Warok Gandu Pala tahu kalau, ketiga warok itu sebenarnya tidak menjagokan diri. Bahkan mereka berusaha menghalangi niatnya untuk menjadi Kepala Desa Ponorogo. Padahal mereka bertiga merupakan tokoh yang banyak pengikutnya. Mereka dihormati dan disegani sebagai sesepuh Desa Ponorogo. Berbeda den- gannya yang hanya pimpinan perkumpulan Reog Pono- rogo.
Perasaan rendah diri itulah yang membuat Wa- rok Gandu Pala semakin berambisi menjadi kepala desa. Padahal ketiga warok yang juga dianggap sesepuh desa itu tidak pernah menaruh curiga seperti itu. Ketiganya menganggap Warok Gandu Pala sama dengan mereka. Tak ada rasa saling merendahkan satu sama lain.
"Silakan duduk, Kakang Warok!" ajak Warok Gandu Pala mempersilakan ketiga tamunya untuk mengambil tempat duduk yang telah disiapkan.
"Ah, terima kasih," sahut ketiganya. Kemudian mereka duduk, ditemani tuan rumah, Warok Gandu Pala.
"Sungguhkah engkau ingin menjadi kepala de- sa, Adi Gandu Pala?" tanya Warok Singo Lodra setelah duduk. Matanya menatap dengan tersenyum pada Wa- rok Gandu Pala, yang juga tersenyum-senyum.
"Begitulah, Kakang Singo." "Hm," gumam Warok Singo Lodra tak jelas. Ke- mudian dihelanya napas dalam-dalam, seakan hendak membuang kegelisahan.
"Apakah ini menyalahi aturan, Kakang?" tanya Warok Gandu Pala dengan mata menatap tajam pada Warok Singo Lodra yang tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Tidak, Adi Gandu. Tetapi, apakah tidak ada niat yang lain? Misalnya mendirikan padepokan...?" tanya Warok Singo Lodra.
"Benar, Adi Gandu. Mungkin dengan mendiri- kan padepokan, bisa membuatmu akan merasa te- nang," tambah Warok Sito Kuta.
"Apakah Kakang-Kakang Warok melihat, sela- ma ini aku tak tenang...?" tanya Warok Gandu Pala dengan kening mengerut, mendengar ucapan Warok Sito Kuta. "Kurasa selama ini aku pun tenang, Kakang Sito. Hanya saja, ingin sekali aku bisa memberikan arti bagi Desa Ponorogo. Aku ingin Ponorogo yang kita cin- tai ini, maju dan bisa terpandang. Bahkan kalau mungkin, bisa menjadi sebuah ketemanggungan"
Ketiga warok itu saling pandang, mendengar ci- ta-cita Warok Gandu Pala yang terlalu tinggi bagi mereka. Belum juga dirinya jadi kepala desa di Ponorogo, sudah berkhayal setinggi langit
"Gandu Pala, janganlah suka menjadi pungguk yang merindukan bulan! Kalau memang tercapai cita- citamu, kami akan merasa senang. Tetapi jika gagal, kami takut kau akan kecewa," tutur Warok Singo Lo- dra dengan bijaksana. "Kalau hanya kecewa dan dapat kau kendalikan, itu tak menjadi masalah. Yang kuta- kutkan, kau akan melampiaskan kekecewaanmu da- lam kesesatan. Itu yang tidak kami harapkan. Kau ta- hu kita sebagai warok. Orang yang menjadi panutan bagi warga. Kau harus ingat itu, Gandu Pala."
"Aku akan selalu ingat, Kakang Singo. Tadi aku hanya berkhayal," ujar Warok Gandu Pala disertai se- nyum. "Ah, silakan dicicipi makanannya."
"Terima kasih." Ketiga warok itu pun segera mencicipi makanan yang dihidangkan Nyi Rakimah.
"Hm, lezat sekali, Gandu. Siapa yang mem- buat..?" tanya Warok Singo Lodra sambil mengangguk- anggukkan kepala, merasa nikmatnya makanan yang dihidangkan Warok Gandu Pala.
"Adikmu Rakimah, Kakang," jawab Warok Gan- du Pala. "Diajeng Rakimah pintar juga memasak," selo- roh Warok Sito Kuta yang membuat Nyi Rakimah ter- senyum-senyum. Matanya memandang wajah sua- minya yang juga tersenyum.
"Bukan aku saja yang membuat, Kakang Sito. Tetapi anak Kakang Singo Lodra pun turut serta," kata Nyi Rakimah.
"Sekati di sini...?" tanya Warok Singo Lodra dengan kening mengerut.
"Benar, Kakang," jawab Warok Gandu Pala, "Juga Caraka Wanda, dan Surotama, turut membantu di sini."
Ketiga warok itu saling pandang mendengar anak-anak mereka berada di rumah Warok Gandu Pa- la. Kening ketiganya mengerut, sepertinya merasa he- ran kalau anak-anak mereka justru mendukung Warok Gandu Pala untuk menjadi kepala desa.
"Syukurlah kalau memang mereka turut mem- bantu. Ah, semoga jalinan antar warok semakin erat. Sehingga Ponorogo tak akan dapat diremehkan!" ujar Warok Singo Lodra sambil tersenyum. "Kami titip a- nak-anak kami padamu, Gandu."
"Akan kami perhatikan, Kakang," jawab Warok Gandu Pala. "Oh ya, Kakang Singo. Saya mengharap dukunganmu, agar saya bisa menjadi kepala desa di Ponorogo ini."
"Aku dan kedua saudara warok mendukungmu, Adi Gandu. Tetapi, jadi atau tidaknya seseorang men- jadi kepala desa, semua terserah warga desa. Mereka- lah yang memilihnya, Gandu," jawab Warok Singo Lo- dra berpura-pura mendukung Warok Gandu Pala, meskipun dirinya telah memiliki jago sendiri, Ki Jali.
Karena menurut pandangan ketiga warok itu Ki Jali lebih pantas menjadi kepala desa. Hal itu didasar- kan pada tindak-tanduknya yang ramah, baik, dan mudah bergaul dengan siapa saja!
"Aku tahu, Kang. Tetapi paling tidak, jika Ka- kang Warok bertiga mendukungku, niscaya aku akan menang. Karena hampir semua penduduk Desa Pono- rogo menghormati kalian," ujar Warok Gandu Pala.
Ketiga warok itu sesaat terdiam. Mereka saling menarik napas dalam-dalam mendengar ucapan Warok Gandu Pala. Bagaimanapun, apa yang baru saja dika- takan Warok Gandu Pala merupakan suatu beban. Ke- tiganya tak mau menekan warga, agar mau memilih Warok Gandu Pala. Mereka bukan raja yang dalam se- tiap sabdanya akan ditaati warga, melainkan warga biasa. Hanya saja, warga Ponorogo, menaruh hormat dan segan terhadap mereka, terutama Warok Singo Lodra.
"Maafkan aku! Kalau aku disuruh memaksakan kehendak, aku tak bisa Gandu. Hak seseorang, tak mungkin dapat ditekan. Karena itu hak mendasar ma- nusia, yang diberikan Hyang Widhi," kata Warok Singo Lodra berusaha memberi pengertian pada Warok Gan- du Pala. "Dengan kata lain, Kakang Warok tak mau mendukungku?" tanya Warok Gandu Pala.
"Jangan salah sangka, Adi Gandu Pala!" Warok Sura Pati yang dari tadi diam angkat bicara, melihat Warok Gandu Pala nampak agak kecewa. "Kami men- dukungmu. Tetapi, apa yang dikatakan Warok Singo Lodra benar. Hak hidup manusia, tak mungkin kita paksa. Karena, itu menyalahi aturan Hyang Widhi. Bi- arlah para warga memilih dengan kemauan mereka. Jika kau dipercaya warga tentu mereka akan memi- lihmu sebagai kepala desa!"
Warok Gandu Pala terdiam. Begitu pula dengan istrinya. Dalam hatinya memaki sengit pada ketiga wa- rok tamunya. Tampaknya Warok Gandu Pala tahu ka- lau mereka bertiga tidak menghendaki dirinya menja- bat kepala desa. Padahal dirinya telah berusaha mena- rik perhatian warga, dengan cara membuat nama Pen- dekar Gila sebagai pelaku pembunuhan terhadap calon lurah yang dijagokan warga Desa Ponorogo.
Hal itu dilakukan, karena semua warga Ponoro- go tahu, kalau Pendekar Gila penegak kebenaran dan keadilan. Dengan membunuh Ki Renu Jalna, Warok Gandu Pala berharap warga akan berbalik mendu- kungnya. Karena warga menyangka Ki Renu Jalna orang tak baik, hingga Pendekar Gila membunuhnya.
"Gandu Pala, jangan kau berkecil hati! Kami akan mendukungmu. Kuharap, kau akan senantiasa tenang dalam menghadapi hal ini," ujar Warok Singo Lodra berusaha menasihati.
"Benar, Dimas. Dalam keadaan seperti ini, ba- nyak orang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan...," sambut Warok Sura Pati. "Pandai- pandailah menjaga diri dan waspada! Jangan sampai seperti Ki Renu Jalna."
"Ya. Ki Renu Jalna kurang waspada, sehingga orang yang tak suka padanya, dapat dengan mudah membunuhnya," tambah Warok Sito Kuta.
"Bukankah Pendekar Gila yang melakukan- nya?" tanya Warok Gandu Pala pura-pura kaget. Ke- ningnya mengerut dengan mata menyipit. Sepertinya dia merasa kaget, mendengar kabar akan kematian Ki Renu Jalna.
"Entahlah. Memang kami menemukan surat yang tertera Pendekar Gila. Tetapi kami belum yakin. Tentunya kau masih ingat dengan kejadian yang me- nimpa Ki Lurah Pandarsuna. Ternyata yang membu- nuh bukan Pendekar Gila, tetapi Maling Kalabendana," desah Warok Sito Kuta seraya menarik napas dalam- dalam. Seakan ingin membuang perasaan pahit, yang terjadi tiga purnama silam, ketika Ki Lurah Pandarsuna ditemukan mati di dalam kamarnya bersama sang Istri. Juga kedua pengawalnya.
Warok Gandu Pala terdiam dengan wajah nam- pak sedih mendengar berita yang telah lama terjadi. Seakan dirinya merasa berduka, atas kematian Ki Lu- rah Pandarsuna.
"Baiklah, Gandu Pala. Kami mohon pamit, ka- rena malam sudah larut," ujar Warok Singo Lodra me- wakili kedua rekannya minta diri.
Dengan diantar Warok Gandu Pala dan istrinya ketiga warok meninggalkan rumah besar itu. Warok Gandu Pala tersenyum sambil menarik napas dalam-dalam. Kemudian dengan menggeleng-gelengkan kepala, kakinya melangkah masuk bersama istrinya.
***

Malam semakin gelap, seakan hendak mena- burkan mimpi-mimpi bagi mereka yang telah tidur.
Dari arah selatan tampak segerombolan lelaki berpakaian serba hitam bergerak memasuki Desa Po- norogo. Mereka tampak tergesa-gesa melangkah, seper- tinya tidak sabar untuk segera sampai ke tempat tu- juan. Sesekali gerombolan serba hitam itu bergerak ce- pat menyelinap di balik pepohonan ketika terlihat dua orang petugas ronda malam melangkah mendekat ke arah mereka.
"Pala Ageng dan kau, Asta Dawa, bereskan pe- tugas ronda itu!" perintah pimpinan, yang ternyata Sumogiri pada kedua rekannya.
"Baik," sahut kedua lelaki bertubuh tegap dan tinggi. Keduanya langsung melesat menuju ke tempat ke dua peronda yang masih melangkah semakin dekat.
"Kau yang gemuk, Pala Ageng." "Beres. Kau yang ceking. Ingat, jangan sampai mengeluarkan suara!" ujar Pala Ageng mengingatkan Asta Dawa.
"Beres." "Mereka semakin dekat." "Ya." "Kita mulai!" Pala Ageng dan Asta Dawa berkelebat bagaikan seekor burung hantu menyambar mangsa. Kedua petugas ronda tersentak kaget. Mereka bermaksud men- jerit, tetapi dengan cepat mulut keduanya telah disekap. Belum sempat peronda itu menyadari apa yang terjadi tiba-tiba...
Jlep! Jlep! Dua bilah belati telah menghunjam dada kedu- anya tepat di hati dan jantung.
"Ukh!" "Akh!" Kedua petugas ronda yang malang itu, dalam sekejap menggeliat sekarat. Mereka tak dapat berteriak atau berontak. Hanya mata mereka yang melotot, un- tuk selanjutnya terkulai tewas.
"Bagus! Kalian telah menjalankan tugas dengan baik," ujar Sumogiri tersenyum. "Kita harus berpencar! Ingat, kita harus bisa menyingkirkan Ki Renda Peksa tanpa mengeluarkan suara!"
"Baik," sahut para anak buah. "Ayo kita jalan!" perintah Sumogiri. Kesepuluh lelaki bertampang garang yang mengenakan pakaian rompi hitam dan rata-rata tubuh ke- kar itu kembali meneruskan perjalanan. Tujuan mere- ka hanya satu, menyingkirkan Ki Renda Peksa.
Gerombolan itu kini berpencar menjadi dua ba- gian. Satu dari arah barat, sedangkan yang lain dari arah timur. Mereka sama-sama menuju rumah Ki Renda Peksa.
Rumah Ki Renda Peksa ternyata tidak seperti rumah Ki Renu Jalna. Setelah kematian Ki Renu Jalna, Ki Renda Peksa pun membayar jawara untuk berjaga- jaga di rumahnya. Hal itu karena untuk menjaga kemungkinan bakal terjadinya petaka seperti yang di- alami Ki Renu Jalna.
Empat orang lelaki berbadan tegar dengan ku- mis melintang berusia tiga puluh tahunan nampak mondar-mandir di sekitar rumah Ki Renda Peksa. Keempat lelaki berpakaian hijau lengan panjang den- gan ikat kepala terbuat dari kain batik membentuk blangkon itu, di pinggangnya terselip golok. Tangan mereka memakai gelang terbuat dari akar bahar.
Bagai burung hantu, para jawara itu mengawa- si dengan waspada penuh, ke sekelilingnya. Mereka memeriksa sekeliling rumah secara bergantian. Dua orang bertugas di depan. Sedangkan yang lain di bela- kang rumah.
Tanpa sepengetahuan mereka, sepuluh pasang mata tengah mengawasi mereka dari balik semak- semak. Gerombolan serba hitam itu menatap garang dan penuh nafsu membunuh.
"Cakala dan Cikili, bereskan dua orang di de- pan! Sedangkan Julaga dan Juligi, bereskan yang di belakang!" perintah Sumogiri sambil menggerakkan tangan kanannya, memberi isyarat keempat anak buah segera bertindak.
"Baik!" sahut mereka. Kemudian dengan cepat, keempatnya meraba sesuatu dari balik rompi. Empat buah pisau kecil, kini telah berada di tangan mereka. Dan...,
Swing! Swing...! Empat pisau maut itu melesat begitu cepat, laksana anak panah yang dilepas dari busurnya.
"Heh?!" "Hah?!" Kedua orang yang berjaga di depan rumah ter- sentak kaget. Mereka hendak berkelit, tetapi pisau- pisau beracun itu lebih cepat. Sehingga....
Jlep! Jlep! "Hekkk...!" "Ukh...!" Kedua orang jawara memekik tertahan. Tenggo- rokan mereka terhunjam pisau-pisau kecil. Dengan mata melotot, tubuh keduanya mengejang, kemudian ambruk dan tewas.
Mendengar suara berisik. Kedua jawara yang sedang memeriksa ke belakang rumah tersentak kaget. Keduanya hendak membalikkan tubuh bermaksud lari ke depan. Tetapi...,
Swing! Swing! Jlep! Crab! "Ukh!" "Akh!" Kedua jawara itu memekik tertahan, karena tenggorokan mereka terhunjam pisau. Dengan mata mendelik, mereka menatap penuh amarah pada dua orang yang menyerangnya.
Srt! Srt! Kedua jawara itu mencabut golok mereka. Na- mun dengan cepat Julaga dan Juligi telah mendahului. Dengan pedang tajam, keduanya membabat kedua ja- wara yang telah dalam keadaan sekarat itu.
Wrt! Bret! Cras! "Ukh! Keduanya kembali memekik tertahan dengan perut koyak akibat babatan pedang. Kemudian ambruk bergelimpangan berlumuran darah.
Melihat keempat jawara itu ambruk, Sumogiri segera memerintahkan semua anak buah agar keluar dari persembunyian. Mereka langsung mendekat ke pintu rumah Ki Renda Peksa. Tok! Tok! Tok! Sumogiri mengetuk pintu rumah Ki Renda Pek- sa. Matanya mengawasi ke sekelilingnya, berusaha meyakinkan kalau keadaan memang telah sepi. Kemu- dian Sumogiri mengisyaratkan pada semua anak buah agar segera menutup wajah mereka.
"Siapa...?" dari dalam terdengar suara berat orang lelaki.
"Saya, Ki," sahut Sumogiri. "Ada apa, Gunta? Mengganggu orang tidur sa- ja!" omel Ki Renda Peksa. Lelaki itu menyangka kalau yang mengetuk pintu Gunta, salah seorang jawara yang disewanya.
"Ada tamu, Ki," sahut Sumogiri. "Sebentar." Terdengar suara kaki melangkah menuju pin- tunya rumah. Sumogiri segera memberi isyarat pada para anak buah agar siap.
Grrrettt..! Pintu terbuka, seketika itu dari dalam muncul seraut wajah lelaki berusia lima puluh tahunan. Mata lelaki setengah baya itu membelalak, ketika melihat orang-orang bercadar kain hitam telah mengepung di depan pintu.
"Siapa kalian?!" "Kami anak buah Pendekar Gila! Kami diutus untuk membunuhmu!" sahut Sumogiri. "Bersiaplah!"
Crab! "Akh...!" Ki Renda Peksa memekik keras, ketika pedang Sumogiri membabat dadanya. Lelaki setengah baya itu terhuyung ke belakang dengan darah ber- hamburan. Secepat itu pula, Sumogiri melemparkan selembar daun lontar ke samping kiri tubuh Ki Renda Peksa yang masih sekarat.
"Kita pergi!" ajak Sumogiri pada anak buahnya. Kesepuluh lelaki bermuka garang itu pun berla- lu meninggalkan rumah Ki Renda Peksa, menembus kegelapan malam. Sedangkan Ki Renda Peksa nampak masih sekarat Tangannya berusaha mengapai-gapai mencari pegangan, hingga akhirnya mampu meraih kaki kursi.
Brak! Kursi itu jatuh terguling. Suara itu membuat istri Ki Renda Peksa terbangun. Wanita berusia sekitar empat puluh tahun yang masih kelihatan cantik itu, bergegas lari menuju ruang depan. Seketika Nyi Sela- sih menjerit, saat melihat tubuh suaminya tergeletak berlumuran darah.
"Kakang...!" Nyi Selasih langsung memeluk tu- buh Ki Renda Peksa yang sudah tak bernyawa. Wanita itu menangis sejadi-jadinya, seakan tak rela sang Su- ami harus mati.
Mendengar jeritan Nyi Selasih, para tetangga yang tengah tidur langsung terbangun. Mereka seren- tak berdatangan ingin tahu, apa yang terjadi. Mata me- reka membelalak, setelah tahu kejadian yang menimpa Ki Renda Peksa.
***

5
"Ini tidak bisa dibiarkan, Kakang!" dengus Wa- rok Sito Kuta yang ditujukan pada kedua warok lain- nya, yang saat itu telah berada di rumah Ki Renda Peksa, calon lurah yang juga menjadi korban pembu- nuhan. Sama dengan yang terjadi pada Ki Renu Jalna, Ki Renda Peksa pun di sampingnya terdapat tulisan se- larik kalimat yang cukup membuat ketiga warok itu menarik napas dalam-dalam. Tulisan setengah men- gancam itu atas nama Pendekar Gila. Tokoh muda yang akhir-akhir ini namanya sangat kesohor dan menjadi buah bibir setiap orang. Pendekar yang dis- egani dan ditakuti lawan maupun kawan.
Tulisan itu berbunyi :
Jangan sekali-kali berani menentangku!
Pendekar Gila.
Warok Singo Lodra dan Warok Sura Pati mena- rik napas dalam-dalam. Tampaknya kedua warok itu, berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi. Dua calon lurah telah jadi korban. Keduanya mati di tangan Pendekar Gila.
"Benarkah semua ini Pendekar Gila yang mela- kukan?" desis Warok Singo Lodra dalam hati. Dirinya tetap merasa belum yakin kalau semua kejadian itu Pendekar Gila yang melakukan.
"Kita harus mencari dia, Kakang," kembali Wa- rok Sito Kuta berkata. Dari suaranya, hatinya nampak tak sabar untuk mencari Pendekar Gila. Ingin rasanya dia bisa bertarung dengan Pendekar Gila yang kini ti- dak mencerminkan sikap kependekarannya. Pendekar yang telah membuat keonaran, dengan membunuh pa- ra calon kepala desa.
"Sabar dulu, Adi Sito! Bagaimanapun, kita be- lum ada bukti untuk menangkapnya," ujar Warok Singo Lodra berusaha menyabarkan rekannya. Kembali dihelanya napas dalam-dalam. Lalu tangannya memungut daun lontar yang tergeletak di tanah. Kembali dibacanya. Tulisan itu setengah menantang pada semua warga Ponorogo dan mengancam, agar warga De- sa Ponorogo tidak ikut campur dalam urusan ini.
"Bukankah surat itu buktinya, Kakang?" tanya Warok Sura Pati dengan kening berkerut. Hatinya pun sudah tak sabar. Ingin secepatnya dapat menghajar Pendekar Gila yang lancang dan telah menyimpang dari alirannya yang lurus.
"Kalian jangan terpengaruh dengan surat ini, Adi Sura. Kita mesti ingat kejadian tiga bulan lalu, ketika Ki Lurah Pandarsuna mati. Di samping tubuh Ki
Lurah, juga terdapat tulisan yang mengatakan Pende- kar Gila pelakunya. Tetapi kenyataannya, bukan Pen- dekar Gila," ujar Warok Singo Lodra, berusaha menya- barkan kedua rekannya agar tidak diburu nafsu. Kare- na, jika asal bertindak tanpa disadari bukti nyata, bi- sa-bisa mereka sendiri yang akan disalahkan kaum rimba persilatan. Karena Pendekar Gila merupakan to- koh yang sangat dihormati dan disegani siapa pun.
"Tapi kalau kita biarkan terus menerus, si pe- laku akan semakin menginjak kita, Kang," kata Warok Sito Kuta tak sabar melihat kematian demi kematian dilakukan orang yang sama. Sebagai seorang warok di Ponorogo, dirinya merasa telah ditantang.
"Kau benar," ujar Warok Singo Lodra, "Tetapi kita tak boleh asal menuduh. Harus mampu membuk- tikan dengan mata kepala kita, kalau pelakunya benar Pendekar Gila."
Mendengar penjelasan Warok Singo Lodra, ke- dua rekannya terdiam. Bagaimanapun, mereka meng- hargai semua yang menjadi buah pikir orang tua beru- sia tujuh puluh tahun yang memang pimpinan para warok di Ponorogo.
Mereka masih bercakap-cakap, ketika dari arah timur nampak seorang lelaki bertubuh tinggi tegap dengan cambang bawuk lebat. Lelaki itu memegang cambuk hitam besar di tangannya. Lelaki itu tak lain Warok Gandu Pala.
"Ada apa, Kakang Warok?" tanya Warok Gandu Pala, melihat ketiganya berkumpul di rumah Ki Renda Peksa. Matanya menyipit, ketika melihat mayat-mayat bergelimpangan di rumah Ki Renda Peksa. "Sepertinya telah terjadi sesuatu di sini, Kakang Warok?"
"Benar. Ki Renda Peksa dan empat jawaranya mati," jawab Warok Singo Lodra.
"Siapa pelakunya, Kakang?" tanya Warok Gandu Pala ingin tahu.
Warok Singo Lodra menyodorkan selembar daun lontar yang tergeletak di samping mayat Ki Renda Peksa. Warok Gandu Pala segera membacanya.
"Kurang ajar! Berani benar dia mengancam ki- ta, Kakang!" dengus Warok Gandu Pala marah. Matanya menatap tajam mayat-mayat yang bergelimpan- gan. "Jelas ini tak bisa dibiarkan, Kakang. Aku akan mencari dia."
"Tunggu Gandu! Jangan gegabah terhadapnya!" cegah Warok Singo Lodra. Warok Gandu Pala yang hendak pergi meninggalkan rumah Ki Renda Peksa segera menghentikan langkahnya.
"Ada apa, Kakang Warok?" "Sabar dulu, Gandu Pala! Kita tak boleh bertin- dak sembarangan. Kita sebagai warok, harus dapat menunjukkan jiwa kewarokan kita yang menjadi panu- tan warga," tutur Warok Singo Lodra.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kakang? Jelas sudah Pendekar Gila yang melakukan semuanya. Hm, rupanya seminggu yang lalu dia di sini, ada mak- sud tertentu...," gumam Warok Gandu Pala.
Warok Singo Lodra mengeleng-gelengkan kepa- la, sepertinya tidak setuju dengan tuduhan yang dilon- tarkan Warok Gandu Pala. Bibirnya menyungging se- nyum. Kemudian dihelanya napas dalam-dalam, sea- kan hendak membuang perasaan gundahnya yang bergayut di dalam hati. Pikirannya masih diliputi keti- dakmengertian, siapa sebenarnya pelaku pembunuhan dua calon lurah itu.
"Nanti malam kita bagi tugas. Kau, Gandu Pala, berjaga di sebelah timur Ponorogo. Sito, berjaga dan awasi di sebelah selatan. Suro, awasi daerah barat desa. Sedangkan aku, akan mengawasi di sebelah utara desa," kata Warok Singo Lodra membagi tugas pada ketiga warok lainnya.
"Baik!" sahut ketiganya bersamaan. "Tangkap orang yang mencurigakan." "Baik, Kakang!" sahut ketiganya. "Kakang, apakah tidak sebaiknya kita juga me- nanyakan pada Pendekar Gila...?" tanya Warok Sito Kuta. Dirinya tetap belum yakin kalau Pendekar Gila tidak melakukan semuanya. Bagaimanapun pendekar itu gila. Dan orang gila biasanya bertingkah yang sulit diterima akal sehat
"Benar, Kakang. Kita harus ingat, kalau pende- kar muda itu orang gila. Dan biasanya, orang gila akan berbuat di luar perhitungan manusia waras," sambung Warok Gandu Pala.
"Kita tunggu saja! Jika nanti malam tidak terja- di apa-apa, kita akan mencari Pendekar Gila. Aku akan mengutus Bari dan Sentir untuk mencari pendekar itu," ujar Warok Singo Lodra, yang membuat mata Wa- rok Gandu Pala membelalak kaget. Sungguh tak me- nyangka kalau Warok Singo Lodra hanya mengutus dua orang tangan kanannya. Sekaligus di dalam benak Warok Gandu Pala bersyukur, karena dengan mudah dia akan dapat menyingkirkan kedua utusan itu.
Warok Singo Lodra yang melihat perubahan roman muka Warok Gandu Pala mengerutkan kening. Diperhatikan dengan seksama wajah Warok Gandu Pa- la seakan ingin mengorek isi hatinya.
"Ada apa, Gandu Pala?" tanyanya kemudian. "Ah, tidak apa-apa, Kakang. Tetapi, mengapa hanya mengutus dua orang? Bukankah dengan begitu Pendekar Gila akan mudah membunuh mereka?" tanya Warok Gandu Pala sepertinya tak setuju dengan rencana yang akan dilakukan Warok Singo Lodra.
Warok Singo Lodra tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala. Tangan kanannya membelai-belai jenggot yang panjang sudah memutih. Kemudian dihelanya napas dalam-dalam, seakan hendak mene- nangkan jiwanya.
"Kalau hal itu memang terjadi, aku dan kedua dimas warok akan mencarinya. Karena jika kedua utu- sanku dibunuhnya juga, berarti dia benar-benar me- nantangku. Walau dirinya seorang pendekar yang telah kesohor kedigdayaannya, Warok Singo Lodra tak akan gentar!" ujar Warok Singo Lodra setengah bergumam. Matanya yang tua, memandang ke atas, seakan meng- harapkan kesaksian langit biru pada janji dan tekad- nya.
Ketiga warok lainnya terdiam mendengar uca- pan Warok Singo Lodra. Bagaimanapun ilmu mereka masih di bawah Warok Singo Lodra. Mereka juga men- ganggap kalau pimpinan para warok itu yang harus di- tuakan karena memang dirinya orang pertama dan paling tua di kalangan warok Ponorogo.
"Kini tak ada persoalan lagi. Kita harus mengu- burkan mayat-mayat itu!" ujar Warok Singo Lodra. "Ki- ta sebagai orang-orang tua dan dihormati yang menjadi panutan harus memberi contoh baik. Ayo bantu war- ga!"
Tanpa membantah, ketiga warok lain segera mengikuti Warok Singo Lodra mengurusi mayat-mayat di rumah Ki Renda Peksa.
***

Malam kembali bergayut menyelimuti bumi. Desa Ngadireja pun sepi, bagaikan desa yang mati. Warga Desa Ngadireja tengah dilanda perasaan berka- bung, duka yang dalam. Selama tiga purnama bela- kangan ini, desa mereka dijarah gerombolan pengacau yang mengaku diperintah Pendekar Gila.
Sementara itu, Pendekar Gila nampak sedang terbaring di atas dipan. Matanya belum terpejam. Se- jak kemarin dirinya berada di Desa Ngadireja, mengi- nap di kedai Ki Lampit. Malam kemarin dilalui dengan tenang, tak ada tanda-tanda kemunculan gerombolan yang mengaku anak buahnya. Seakan mereka tahu, kalau Pendekar Gila berada di desa itu.
Di samping Pendekar Gila di sebuah dipan lain tampak Ki Lampit tengah berbaring pula. Orang tua itu pun belum tidur. Malam itu Ki Lampit masih bertanya- tanya dalam hati. Siapa sebenarnya pemuda berting- kah laku gila yang kerjanya cepat dan tengah mem- bantunya dalam pekerjaan di kedainya. Semua peker- jaan diambil alih pemuda bertingkah laku gila itu.
Kadang kala Ki Lampit ingin tertawa, jika meli- hat tingkah laku Pendekar Gila yang konyol dan lucu. Namun dirinya selalu menahannya, takut kalau-kalau pemuda bertingkah laku gila itu akan tersinggung. Ji- ka hal itu terjadi, dia akan kerepotan seperti kemarin lusa. Padahal semenjak Pendekar Gila bersamanya, pekerjaan menjadi ringan.
"Dua hari kita bersama, tetapi selama ini aku belum tahu siapa kau sebenarnya," gumam Ki Lampit dengan tarikan nafasnya yang berat. "Semenjak kau berada di sini, aku merasa aneh."
"Aha, apa yang kau anggap aneh, Ki?" tanya Sena seraya bangun dari pembaringan. Mulutnya cen- gengesan. Lalu tangannya mengambil bulu burung di ikat pinggangnya. Kemudian dikorek telinga kanannya dengan bulu burung itu. Mulut nyengir merasa kenik- matan. "Gerombolan itu, biasanya datang tujuh hari sekali. Tetapi semenjak kau datang, mereka tidak da- tang. Sepertinya, kehadiranmu membuat mereka takut"
Pendekar Gila tertawa mendengar penuturan Ki Lampit yang dianggapnya terlalu mengada-ada. Ba- gaimana mungkin orang tahu dirinya di Desa Ngadire- ja. Lagi pula, mengapa gerombolan itu harus takut ter- hadapnya. Pendekar Gila menggeleng-gelengkan kepa- la, dengan tangan kiri menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Lucu sekali kau, Ki. Bagaimana mungkin mereka takut pada orang gila sepertiku? Ah ah ah, aneh sekali! Lagi pula, apa yang harus dita- kutkan atas diriku?" tanya Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ki Lampit terdiam. Mata tuanya yang tertutup alis mata panjang, menatap dalam keremangan cahaya lampu pelita ke arah Pendekar Gila yang kembali men- gorek telinga dengan bulu burung.
"Mungkinkah kau Pendekar Gila itu, Anak Mu- da?" tanya Ki Lampit setengah menerka. Dari suara tampak keragu-raguan pertanyaan itu diucapkan. Ma- tanya tetap memperhatikan pemuda di sampingnya yang tengah cengengesan.
"Aha, terlalu tinggi sebutan itu untukku, Ki. Aku hanyalah pemuda gila yang hidup sebatang kara. Kerjaku mengembara tak tentu arah. Hanya orang- orang saja yang menganggapku begitu," sahut Pende- kar Gila. Mendengar jawaban itu Ki Lampit tersentak kaget. Matanya terbelalak, menggambarkan rasa takut yang mendadak muncul.
"Jadi?!" "Kau tak perlu takut, Ki! Memang orang menye- butku Pendekar Gila. Tetapi aku bukanlah pimpinan kecoa-kecoa busuk yang kau ceritakan," tutur Sena berusaha meyakinkan Ki Lampit
"Jadi benar kau yang bergelar Pendekar Gila, Anak Muda?"
"Aha, begitulah. Sekali lagi, kau tak usah takut
Ki! Aku memang sengaja menginap di tempatmu, kare- na ingin tahu macam apa kecoa-kecoa yang telah membuat namaku cemar," ujar Pendekar Gila dengan setengah mendengus. Dirinya merasa marah atas tin- dakan para begundal yang telah mengaku-aku sebagai anak buahnya.
"Jadi kau tak punya anak buah, Pendekar?" "Aha, Untuk apa, Ki? Aku bukanlah pimpinan. Dan kurasa, aku tak pantas jadi seorang pemimpin. Lucu sekali..., dunia ini semakin lucu dan aneh," gu- mam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan ke- pala. Di bibirnya terurai senyum dan cengengesan. Se- dangkan tangan kirinya menggaruk-garuk kepala.
Ki Lampit turut menghela napas, mendengar penuturan Pendekar Gila. Hatinya merasa kagum atas budi pekerti luhur Pendekar Gila.
"Benar juga apa yang dikatakan. Aneh! Tingkah lakunya seperti orang gila, tetapi tutur katanya seperti orang yang berpendidikan," gumam Ki Lampit dalam hati. Diperhatikan lagi dengan seksama pemuda ber- tingkah laku aneh di hadapannya. Tetap saja tak terli- hat adanya kekejaman di wajah pemuda gila itu.
"Pendekar Gila, apa kau belum mendengar ka- bar tadi pagi?"
"Aha, tentang apa gerangan, Ki?" "Desa Ponorogo, kini dilanda bencana," tutur Ki Lampit. "Bencana? Ah ah ah...! Bencana macam apa, Ki?" tanya Pendekar Gila ingin tahu. Wajahnya yang semula cengengesan nampak berubah serius memper- hatikan wajah Ki Lampit.
Ki Lampit menarik napas dalam-dalam, sebe- lum menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di Ponorogo. Matanya masih menatap ke wajah Pendekar Gila, yang kini nampak bersungguh-sungguh memperhatikannya. Sepertinya Pendekar Gila ingin tahu, apa yang akan diceritakan.
"Calon-calon kepala desa, satu persatu dikete- mukan mati. Dan yang membuat semua warga desa Ponorogo membuka mata, karena di samping mayat terdapat tulisan pada selembar daun lontar yang men- gatasnamakan Pendekar Gila," tutur Ki Lampit
Pendekar Gila tersentak mendengar cerita Ki Lampit Bahwa namanya dijadikan sebagai biang keladi pembunuhan itu. Kemudian sambil cengengesan, dita- riknya napas dalam-dalam. Ada perasaan marah dan jengkel dalam hatinya.
"Hi hi hi..., lucu sekali! Mengapa orang-orang semakin suka melakukan hal-hal aneh? Lucu sekali...!" gumam Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dirinya merasa tak habis pikir mengapa penja- hat lebih suka menggunakan gelarnya untuk melaku- kan aksi kejahatannya.
"Kau tak takut, Pendekar?" tanya Ki Lampit. "Hi hi hi..., takut? Mengapa harus takut? Hyang Widhi akan senantiasa melindungi orang yang benar, Ki. Kalau kita tak salah, mengapa harus takut?" Sena balik bertanya dengan masih cengengesan.
"Ah, kau memang sangat bijaksana, Pendekar. Sungguh jahat orang-orang yang telah mencemarkan nama baikmu. Mereka tidak ubahnya iblis!" dengus Ki Lampit, sepertinya turut jengkel mendengar berita Pendekar Gila dijadikan kedok kejahatan.
Pendekar Gila tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala, seakan-akan melihat kelu- cuan. Namun dilihat dari sinar matanya, jelas hatinya benar-benar marah. Merasa telah dipermainkan see- naknya oleh para durjana.
"Ini tidak bisa didiamkan. Para warok pun tentu menuduh aku pelakunya," gumam Pendekar Gila dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Ah, sudahlah, Ki! Malam telah larut. Tidurlah dahulu, nanti kau sakit!" ujar Sena kepada Ki Lampit agar segera tidur. Dirinya tak ingin orang tua sebatang kara itu akan mengalami sakit.
"Kau...?" "Hi hi hi..., nanti aku pun tidur," sahut Pende- kar Gila. Ki Lampit pun segera merebahkan tubuh. Per- lahan-lahan dipejamkan matanya. Dan tidak lama ke- mudian, lelaki tua itu telah pulas dalam tertidur. Se- dangkan Pendekar Gila nampak masih duduk sambil menyandarkan tubuh pada dinding. Mulutnya masih cengengesan, dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Benaknya masih memikirkan tentang semua kejadian yang mengaitkan julukannya.
Pendekar Gila menengadahkan wajah ke atas, seakan hendak mencari sesuatu. Dihelanya napas da- lam-dalam, berusaha menenangkan perasaannya.
"Hyang Jagat Dewa Batara, semoga Engkau memberi kekuatan pada hambamu ini!" desahnya lirih, sambil memejamkan mata perlahan.
Malam semakin larut suasana pun bertambah sepi. Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara jeritan memecah keheningan malam. Disusul suara gelak ta- wa.
"Tolong...! Rampok...!" "Hua ha ha...! Jangan melawan! Kami anak buah Pendekar Gila. Percuma kalian melawan...!"
Sena yang mendengar gelarnya disebut tersen- tak kaget. Dengan bibir tersenyum, tubuhnya melesat cepat meninggalkan kamar bilik di kedai Ki Lampit
"Hi hi hi...! Pucuk dicinta ulam tiba. Rupanya apa yang dikatakan Ki Lampit benar. Aha, malam ini aku akan berburu kecoa-kecoa busuk!" dengus Pendekar Gila sambil terus melesat menuju tempat asal jeritan.
***

6
Segerombolan lelaki dengan wajah separo tertu- tup kain merah nampak sedang melakukan gerakan- nya, membuat keonaran di rumah penduduk Desa Ngadireja. Hiruk-pikuk memecah kesunyian malam. Jeritan ketakutan terus terdengar kian jelas, disusul pekik kematian yang menyayat hati.
"Aaakh...!" "Tolong...! Tolong...!" Seorang wanita muda dengan hanya memakai angkin penutup dada nampak berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan dua lelaki berpakaian serba hitam. Wanita muda dan cantik itu, terus beru- saha meronta-ronta. Namun, kedua lelaki bermata ga- rang itu tak menghiraukannya. Keduanya terus me- nyeret wanita berusia sekitar dua puluh dua tahun itu.
"Lepaskan! Tolong...!" "Percuma saja kau menjerit, Ayu Wuni! Ayahmu yang lurah pun takkan mampu menolongmu. Salah seorang dari keduanya yang berambut pendek dengan ikat kepala warna jingga membentak. Matanya yang ta- jam dan beringas, menatap penuh nafsu pada gadis cantik yang memakai angkin hijau pupus itu.
"Lepaskan, Bajingan! Lepaskan aku...!" gadis cantik yang ternyata bernama Ayu Wuni itu terus ber- teriak dan memberontak. Kedua lelaki itu terus mem- bawanya ke tempat semak-semak di bawah pohon bambu yang sepi.
"He he he...! Di sini kita akan berpesta, Manis. Ayolah! Jabil, pegangi dia!" perintah lelaki berambut panjang terurai. Kepalanya diikat dengan kain batik yang membentuk segi tiga ke bawah di kening.
"Beres. He he he...!" Jabil segera memegangi tangan gadis cantik yang terus meronta-ronta dari pe- gangan keduanya.
Lelaki berpakaian hitam dan berambut panjang terurai itu segera membuka kain yang menutup wa- jahnya. Kini nampaklah seraut wajah tampan dengan kumis tipis menghias di wajahnya. Namun, matanya yang menyimpan bara nafsu, menatap beringas gadis cantik itu.
"Lepaskan! Tidak...! Tolong...!" "He he he...! Jangan harap ada yang berani menghalangi anak buah Pendekar Gila, Anak Manis! Ayolah...!" pemuda tampan berkumis tipis yang ternya- ta Caraka Wanda terus mendekatkan tubuhnya. Kemudian dengan disertai nafsu birahi yang menggebu- gebu, direnggutnya pakaian yang menutupi tubuh gadis malang itu.
Bret! "Auh! Tidak...! Tolong...!" anak Kepala Desa Ngadireja itu terus berteriak-teriak. Sementara di per- kampungan, terdengar hiruk-pikuk orang-orang berla- rian ketakutan. Sementara gerombolan manusia dur- jana yang mengaku anak buah Pendekar Gila, dengan ganas terus membantai penduduk desa yang melawan.
Crab! "Akh...!" "Jangan kalian berani menentang kami! Kalian tak akan mampu menghadapi Pendekar Gila!" terden- gar ancaman seseorang dari anggota-gerombolan. Nampaknya masih ada warga desa yang berani menen- tang, sehingga kembali terdengar suara tebasan pedang yang disusul dengan jerit kematian.
"Heaaa!" Crab! "Akh...!" Sementara warga desa masih hiruk-pikuk keta- kutan ditingkahi dengan suara jerit kematian, di tem- pat yang sepi Caraka Wanda nampak semakin berin- gas. Matanya menyala-nyala menatap tubuh gadis can- tik yang kini setengah telanjang.
"Lepaskan aku! Tolooong...!" "He he he...! Jangan takut, Manis! Kita akan menikmati indahnya malam ini," ujar Caraka Wanda sambil berusaha menggeluti tubuh gadis cantik kem- bang Desa Ngadireja. Namun tiba-tiba...,
"Hua ha ha...! Begitukah tingkah anak buah Pendekar Gila? Ah ah ah, lucu sekali. Kecoa-kecoa bu- suk mengaku anak buah Pendekar Gila...!" dari kege- lapan, terdengar suara tawa susul menyusul, Pendekar Gila.
Caraka Wanda dan Jabil tersentak kaget. Ke- duanya langsung menoleh ke tempat datangnya suara pemuda itu. Mata mereka membelalak tegang. Apalagi Caraka Wanda yang telah kenal siapa pemilik suara itu.
"Pendekar Gila...?!" desis Caraka Wanda dengan mata membelalak tegang.
"Dia ada di sini?!" tanya Jabil tak kalah kaget dan tegang, setelah tahu siapa yang tertawa itu.
"Aha, apa kabar, Ki Sanak...?" tahu-tahu Pen- dekar Gila telah berdiri berjarak satu tombak di samp- ing mereka. Hal itu semakin membuat keduanya ter- lonjak kaget karena tak tahu kapan dan dari mana da- tangnya. Gadis yang hendak diperkosa bangkit dan langsung berlari ke belakang Pendekar Gila. Tetapi Ayu Wuni pun kelihatannya masih takut, setelah tahu siapa pemuda bertingkah laku gila itu.
"Kau...? Kau Pendekar Gila...?!" tanyanya den- gan mata terbelalak ketakutan.
"Hua ha ha...! Jangan takut, Ni Sanak! Aku memang Pendekar Gila, tetapi bukan pimpinan para kecoa busuk itu! Hi hi hi...! Lucu sekali. Rupanya ke- coa-kecoa busuk kini pada bertingkah," gumam Pen- dekar Gila sambil cengengesan dengan tangan meng- garuk-garuk kepala.
Ditatapnya kedua lelaki bermata jalang itu den- gan tajam. Kemudian dengan cengengesan, tangannya menggaruk-garuk kepala. Lalu dipandangi gadis cantik yang berpakaian telah compang-camping akibat reng- gutan tangan Caraka Wanda.
"Aha, tak kusangka, kalau anak seorang warok berbuat sekeji ini. Hi hi hi... lucu sekali. Dunia ini memang semakin lama semakin bertambah gila," gu- mam Pendekar Gila dengan mulut masih cengengesan. Sedangkan tangannya tetap menggaruk-garuk kepala. Lalu diambil Suling Naga Sakti. Ditiupkan dengan merdu, mendendangkan nyanyian tentang seekor anak domba yang berusaha menjadi serigala. Anak domba itu terus berusaha agar bisa jadi serigala. Sampai ak- hirnya, anak si domba membabi buta.
"Cuih! Lancang sekali kau, Pendekar Gila!" ben- tak Cakra Wanda dengan napas mendengus, "Jangan kira aku tak mengerti nyanyian sulingmu!"
"Hi hi hi...! Ah, baguslah kalau kau mengerti. Rupanya kau anak warok yang pintar. Sayang..., sayang sekali perbuatanmu tak sesuai dengan pribadi orang-tuamu," ujar Pendekar Gila sambil tertawa ceki- kikan dengan kepala menggeleng-geleng, seakan san- gat menyesalkan atas perbuatan Caraka Wanda.
"Cuih!" Caraka Wanda membuang ludah jeng- kel.
Kemudian matanya menatap tajam wajah Pen- dekar Gila yang masih cengengesan sambil mengga- ruk-garuk kepala. Sesekali Pendekar Gila menengok ke belakang, tempat gadis cantik itu berada. "Jangan kau gurui aku, Pendekar Gila! Ayahku adalah ayahku, se- dangkan aku tetap saja aku!"
Pendekar Gila kembali tertawa terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala. Ditimang-timangnya Suling Naga Sakti lalu dipukul-pukulkan ke telapak tangan kirinya. Kemudian masih dengan cengengesan, diselipkan kembali Suling Naga Sakti ke ikat ping- gangnya. "Ah ah ah, hebat! Hebat sekali...!" gumamnya li- rih dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. "Sayang, kepribadianmu tak lebih dari seekor domba buta. Sehingga membuat dirimu melangkah di jalan yang salah."
"Bedebah! Sudah kukatakan, jangan menggurui aku!" bentak Caraka Wanda semakin marah dan sen- git, merasa Pendekar Gila telah banyak berbicara hing- ga membuatnya marah. Matanya yang tajam dan ma- rah menatap wajah Pendekar Gila yang hanya cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, aku tidak mengguruimu, Domba Malang. Aku hanya ingin mengingatkanmu, kalau kau telah salah jalan," sahut Pendekar Gila diikuti suara tawanya, yang membuat Caraka Wanda semakin marah.
"Kurang ajar...! Kubunuh kau Pendekar Gila! Serang dia...!" perintah Caraka Wanda dengan sengit. Dengan cepat tangannya mencabut pedang di pung- gungnya. Srt!
"Hea...!" disertai pekikan menggelegar, Caraka Wanda dan Jabil melesat menyerang Pendekar Gila. Pedang di tangan mereka berkelebat cepat, membabat dan menusuk ke tubuh Pendekar Gila.
Wrt! "Yea...!" "Hi hi hi...!" sambil tertawa cekikikan Pendekar Gila segera bergerak cepat menarik tubuh untuk men- gelakkan serangan kedua lawannya yang gencar den- gan babatan pedang. Kemudian dengan memonyong- kan mulut, dirinya mengejek setelah berhasil menge- lakkan serangan kedua lawan.
"He he he...! We...!" "Kurang ajar! Kubunuh kau..., Gila! Serang...!" Caraka Wanda kembali berteriak memerintah teman- nya untuk terus menyerang. Kemudian dengan jurus 'Satuan Pedang Memanggang' mereka bergerak cepat menyerang dari dua arah. Caraka Wanda menyerang dari kanan, sedangkan Jabil dari kiri.
"Hea!" "Yea!" "Hi hi hi...!" Pendekar Gila masih cekikikan sambil mengga- ruk-garuk kepala, seakan tak takut menghadapi se- rangan yang gencar dan cepat itu. Dengan membuka jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat' tubuhnya meliuk- liuk laksana penari, dengan sesekali menepuk ke arah lawan.
Setelah mengetahui gerakan yang dilakukan Pendekar Gila, Ayu Wuni sedikit merasa agak tenang. Hatinya mengatakan kalau pemuda bertingkah gila itu ternyata bukan pemuda jahat dan sembarangan. Ha- tinya mengharap, semoga Pendekar Gila dapat meme- nangkan pertarungan itu. Bahkan Ayu Wuni mengha- rap, Pendekar Gila mau menumpas para penjahat itu, agar Desa Ngadireja aman.
Mata Ayu Wuni terus memperhatikan pertarun- gan itu dengan harap-harap cemas. Takut kalau-kalau pemuda tampan bertingkah gila kalah.
"Heaaa...!" Wret! Wret! Pedang di tangan Caraka Wanda dan Jabil menderu dengan cepat ke tubuh Pendekar Gila. Tetapi dengan cepat pula, Pendekar Gila mundurkan kaki kanan. Kemudian menggeser kaki kiri agak merentang sambil meliukkan tubuh.
"Celaka...!" pekik kedua lawannya kaget, karena pedang mereka tetap belum berhasil bersarang di tubuh lawan. Bahkan pedang itu kini melesat ke tubuh temannya. Mata keduanya terbelalak tegang, menyadari gerakan masing-masing yang kacau.
Melihat kedua lawannya dalam keadaan mati langkah, sambil menggaruk-garuk kepala Pendekar Gi- la menendangkan kaki kanan ke tubuh Jabil. Semen- tara tangan kiri, menghantam tubuh Caraka Wanda.
"Hi hi hi...! Hea...!" Caraka Wanda dan Jabil yang mati langkah, tersentak kaget. Keduanya kebingungan. Kalau mene- ruskan membabatkan pedang dapat membahayakan kawannya. Sedang kalau berhenti jelas gerakan Pen- dekar Gila akan lebih leluasa menyerang.
"Hea!" Dalam kebingungan dan kagetnya, Caraka Wanda melentingkan tubuh ke belakang untuk menge- lak. Sehingga Jabil yang terlambat, tak ampun lagi menjadi sasaran tendangan kaki Pendekar Gila.
Begk! "Akh...!" Jabil memekik keras. Tubuhnya terlon- tar deras ke belakang, bagaikan didorong sebuah ke- kuatan yang dahsyat. Tubuh itu baru berhenti, ketika menghantam pepohonan bambu.
Gosrak! "Akh!"
Tanpa ampun lagi, Jabil terjepit batang-batang bambu. Sesaat Jabil meregang, kemudian terkulai mati.
Menyaksikan temannya tewas, Caraka Wanda bertambah beringas. Dengan napas mendengus keras, lelaki muda itu kembali bergerak menyerang. Jurus, 'Semilir Angin Meniup Daun Kering' segera dikelua- rkan. Nampaknya Caraka Wanda sudah tak sabar lagi untuk membinasakan Pendekar Gila.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt...! Pedang di tangan Caraka Wanda bergerak lak- sana angin yang bertiup semilir. Kelebatannya sangat halus dan pelan. Hal itu karena Caraka Wanda meng- gunakan tenaga dalam yang cukup tinggi, juga penge- rahan batin yang sempurna. Kakinya melangkah seca- ra beraturan, seperti memakai hitungan-hitungan ter- tentu.
Melihat jurus yang dilakukan Caraka Wanda, seketika Pendekar Gila mengerutkan kening. Dengan memandang lewat sudut mata sambil nyengir, pikiran- nya berusaha mengingat-ingat gerakan yang dilakukan Caraka Wanda.
"Hm, bukankah itu gerakan Macan Barong yang kulihat di Ponorogo?" tanya Pendekar Gila dalam hati berusaha mengingat-ingat gerakan-gerakan yang dilakukan Caraka Wanda. "Aha, benar! Itu gerakan yang dilakukan Macan Barong. Hm, kalau begitu yang menjadi Macan Barong tentunya pemuda ini."
"Pendekar Gila, kau harus mampus! Bersiap- lah!" dengus Caraka Wanda.
"Hua ha ha...! Hi hi hi...! Lucu sekali. Bukan- kah itu tarian Macan Barong! Lucu sekali...!" ejek Pen- dekar Gila dengan tertawa terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kurang ajar! Hea...! Kau harus mati dengan ju- rus 'Semilir Angin Meniup Daun Kering'.
Tubuh Caraka Wanda bergerak cepat. Pedang di tangannya pun semakin lama bergerak semakin ce- pat. Sehingga pedang di tangan Caraka Wanda lenyap bentuk aslinya. Kini yang tampak hanya sebuah bayangan putih, berkelebat begitu cepat memburu tu- buh Pendekar Gila.
Melihat lawan telah mengeluarkan jurus pe- mungkas yang sangat berbahaya jika dihadapi dengan tangan kosong, Pendekar Gila segera mencabut Suling Naga Saktinya.
Srttt! "Heaaa!"
***

Dengan memegang Suling Naga Sakti, Pendekar Gila melesat memapaki serangan lawan. Jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat' segera dikeluarkan, untuk mengelakkan serangan lawan. Sedangkan tepukan tangannya, diganti dengan Suling Naga Saktinya.
"Yea!" "Heaaa...!" Keduanya berkelebat laksana terbang. Caraka Wanda membabatkan pedangnya ke leher lawan. Na- mun dengan cepat Pendekar Gila merundukkan tubuh diikuti dengan sabetan Suling Naga Saktinya ke atas.
Trang! Auh...!" Caraka Wanda tersentak kaget, pe- dangnya beradu dengan Suling Naga Sakti di tangan Pendekar Gila. Tangannya terasa gemetar kesemutan. Tubuhnya melayang dan bersalto di udara, kemudian meluncur ke bawah. Bibirnya tampak menyungging senyum sinis.
Dari arah perumahan penduduk segerombolan lelaki berpakaian merah seperti yang dipakai Caraka Wanda memburu-tempat pertempuran itu.
"Caraka, kau terluka...?" tanya seorang pemuda berwajah agak pucat dan berambut panjang terurai di- ikat kain batik
"Dia Pendekar Gila, Dimas Surotama," tutur Caraka Wanda sambil meringis menahan sakit di tan- gan. Sementara Pendekar Gila tampak tengah cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Suling Naga Sakti dipukul-pukulkan ke telapak tangan kiri, lalu mulutnya menyeringai seperti seekor kera.
"Jadi pemuda edan ini yang dijuluki Pendekar Gila?" tanya pemuda yang dipanggil Surotama. Ma- tanya menatap tajam pada Pendekar Gila yang masih bertingkah laku persis orang gila. Wajahnya menggam- bar-kan kesadisan.
"Benar, Dimas. Hati-hati...!" "Hm, bunuh dia...!" perintah Surotama tiba- tiba, dengan menggerakkan tangan kanan. Seketika itu pula, gerombolan berpakaian rompi merah menyerang Pendekar Gib. Pedang dan golok tampak berkilatan di- acungkan ke atas siap merejam lawan.
"Hea!" "Hi he he...! Rupanya kalian kecoa-kecoa busuk yang bodoh! Lucu sekali...!" gumam Pendekar Gib. Ke- mudian dengan masih cengengesan, ditunggingkan pantatnya ke arah kesembilan lawannya yang menye- rang.
"Bocah Edan! Kubunuh kau! Hea...!" seorang anak buah Surotama membabatkan golok ke tubuh lawan yang sedang menungging. Namun dengan jurus 'Gila Mabuk Mencabut Rumput' Pendekar Gila segera bergerak mengelit. Tubuhnya seperti orang gila yang sedang mabuk. Jempalitan ke sana kemari, dengan tangan bergerak mencengkeram dan memukul. Se- dangkan kedua kakinya bergerak melakukan serangan dengan lutut dan tendangan.
"Hi hi hi! Heaaa...!" Dugk! "Ukh...!" orang yang berada di belakang ter- jengkang, karena terkena tendangan kaki kiri Pendekar Gila. Mulutnya meringis kesakitan dan tampak darah mengalir dari sela bibir. Tangannya memegangi dada yang terasa nyeri hebat. Bahkan dirasakan pukulan keras tadi meremukkan tulang rusuknya.
Pertarungan semakin seru. Gerombolan itu langsung mengeroyok Pendekar Gila.
"Hea!" Wuttt! "Uts! He he he...!" Pendekar Gila tertawa terke- keh sambil terus bergerak dengan jurus 'Gila Mabuk Mencabut Rumput' digabung dengan jurus 'Gila Mena- ri Menepuk Lalat'. Suling Naga Sakti di tangannya, bergerak dengan cepat menangkis serangan lawan. Di- lanjutkan dengan memukul ke dada, dan punggung lawan yang terdekat.
"Mampus kau, Pendekar Gila! Hea...!" Wuttt! "Uts! He he he...! Ini bagianmu, Kecoa Tolol!" Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan dengan meliuk ke samping. Kemudian bergerak ke belakang tubuh lawan dengan cepat sambil memukulkan Suling Naga Sakti ke punggung lawan.
Begk! "Akh...!" pekikan tertahan terdengar ketika seo- rang lawan terpukul Suling Naga Sakti. Tulang pung- gungnya dirasakan remuk. Mulutnya meringis. Dari sela bibirnya meleleh darah. Kemudian tubuh orang itu ambruk ke tanah.
Pertarungan semakin seru. Sepertinya gerom- bolan Caraka Wanda dan Surotama tak takut sedikit pun. Mereka terus menyerang dengan sabetan dan tu- sukan pedang serta golok
"Hea!" Wuttt! Wuttt! "Haiiit..!" Dengan cepat Pendekar Gila mengelit dengan merundukkan tubuh. Kemudian dengan cepat pula di- pukulkan Suling Naga Saktinya ke tubuh lawan.
Wuttt! "Heh?!" orang itu tersentak kaget dengan mata membeliak. Dirinya berusaha menghindar tetapi gerak yang dilancarkan Pendekar Gila sangat cepat. Sehing- ga,
Begk! "Wua...!" Korban kembali jatuh dengan tulang iga remuk akibat gebukan Suling Naga Sakti. Kenyataan itu membuat Caraka Wanda dan Surotama bertambah marah dan beringas.
"Kubunuh kau, Pendekar Gila...!" Surotama me- lompat ke depan. Dengan jurus ‘Serimpi Kipasan Maut’ Surotama membabatkan pedangnya ke tubuh Pende- kar Gila. Wuttt! Wuttt!
"Uts! He he he...!" sambil tertawa, Pendekar Gila mengelakkan serangan lawan. Tubuhnya meliuk ke samping dengan gemulai. Kemudian tangan kirinya dengan jari-jari terbuka menyambar rusuk kanan la- wan. Sedangkan Suling Naga Sakti di tangan kanan- nya, memukul ke punggung Surotama.
"Heh?!" Surotama tersentak kaget Lalu segera bergerak membalikkan tubuh disertai tendangan ke tubuh Pendekar Gila. Namun dengan cepat Pendekar
Gila menarik pukulan tangan kirinya, sedangkan Sul- ing Naga Sakti terus disabetkan ke tubuh lawan.
Wrt! Trakkk! Krakkk! "Ukh...!" Surotama terpekik. Tubuhnya ter- huyung beberapa langkah ke belakang. Tangan dan kakinya yang terpukul Suling Naga Sakti dirasakan remuk. Di pergelangan tangan dan di tulang kering ka- ki kanannya, melembung dan terasa berdenyut-denyut
"Dimas Surotama!" seru Caraka Wanda dengan mata terbelalak, menyaksikan Surotama nampak ke- sakitan dengan wajah yang semakin pucat. "Pendekar Gila Keparat! Kubunuh kau! Hea...!"
Caraka Wanda yang sudah marah, dengan be- ringas kembali mengeluarkan jurus pemungkasnya 'Semilir Angin Meniup Daun Kering'. Bagaikan tak meng-hiraukan kalau dirinya dalam keadaan terluka, Caraka Wanda menyerang membabi buta. Hal itu membuat Pendekar Gila semakin enak saja bergerak dengan jurus ‘Gila Menari Menepuk Lalat’. Tubuhnya meliuk-liuk lemah gemulai, kemudian dengan cepat di- tepukkan tangan kiri ke dada lawan
"Hih!" Degk! "Akh...!" tubuh Caraka Wanda terpental deras ke belakang, ketika pukulan telapak tangan kiri Pen- dekar Gila mendarat di dadanya. Tubuhnya terus me- layang, dan baru berhenti ketika menghantam seba- tang pohon.
Brak! "Akh!" Caraka Wanda terbanting ke tanah den- gan kepala hancur terbentur pohon. Dari mulutnya menyembur darah segar. Sesaat tubuhnya menggele- par-gelepar lalu diam tak berkutik.
"Kurang ajar! Kupertaruhkan nyawaku untuk membunuhmu, Gila! Hea...!"
Dengan kemarahan yang memuncak, Surotama melakukan serangan. Hatinya yang telah terbakar kini kalap. Menyaksikan Caraka Wanda tewas. Pedangnya diayun-ayunkan cepat membabat ke tubuh lawan. Tampak keenam kawannya turut membantu menge- royok Pendekar Gila.
Wrt! "Hea!" "Hi hi hi...!" sambil tertawa cekikikan Pendekar Gila bergerak ke sana kemari mengelakkan serangan lawan-lawannya. Sedangkan tangan kanan yang me- megang Suling Naga Sakti berkelebat menangkis senja- ta lawan yang menyerang.
Trang! "Hih!" "Ukh...!" Pertarungan semakin seru. Semak belukar di sebelah barat Desa Ngadireja tampak hancur beranta- kan. Beberapa batang pohon bambu pun tumbang ter- hantam oleh babatan pedang. Malam yang dingin dan sepi, terpecah hiruk-pikuk pertarungan dan jeritan- jeritan kematian.
Warga Desa Ngadireja yang semula merasa ta- kut, akhirnya mendatangi tempat pertarungan menyer- tai kepala desa. Mereka langsung membantu Pendekar Gila yang dianggap telah menyelamatkan desa mereka.
Gerombolan penjahat yang menjarah Desa Ngadireja akhirnya terjepit. Bahkan kini, Pendekar Gila dengan cepat menggebukkan Suling Naga Sakti ke punggung Surotama. Bukkk! "Akh...! Ukh...!" Tubuh Surotama menggeliat-geliat karena punggungnya remuk terhantam Suling Naga Sakti. Da- ri mulutnya muncrat darah segar. Sesaat lamanya mu- lut lelaki muda itu mengerang-erang sebelum akhirnya mati.
Melihat pimpinan mereka mati, keenam anggota gerombolan yang masih hidup, semakin panik. Dalam sekejap mata, mereka dapat didesak para warga Desa Ngadireja.
"Mampuslah kalian! Hea...!" Jrab! Jrabs! "Akh...!" lengkingan kematian, seketika terden- gar susul-menyusul. Dengan ganas karena marah para warga Desa Ngadireja membantai habis anggota ge- rombolan yang mengatasnamakan Pendekar Gila seba- gai pimpinan.
Ki Lampit tertatih-tatih mendekati Pendekar Gi- la. Di bibirnya tersungging senyuman. Orang tua yang sebenarnya Kepala Desa Ngadireja itu merasa senang atas kemenangan mereka.
"Kau, Ki?" Pendekar Gila terkejut melihat Ki Lampit yang semula tua renta kini tampak wajah as- linya, setelah membuka kedok. Ki Lampit ternyata seo- rang lelaki bertubuh tegap, berusia sekitar lima puluh tahun. Wajahnya cukup tampan terhias jenggot dan kumis tipis.
"Terima kasih atas pertolonganmu, Tuan Pen- dekar!" "Aku tak mengerti, siapa kau sebenarnya, Ki?" tanya Pendekar Gila dengan mulut nyengir serta tan- gan menggaruk-garuk kepala.
Ki Lampit memegang pundak Pendekar Gila, la- lu sambil melangkah lelaki setengah baya itu menceri- takan siapa dirinya. Diceritakan, mengapa harus me- nyamar, karena dirinya takut kepergok Pendekar Gila.

No comments:

Post a Comment