MURKA SANG IBLIS
oleh
Firman Raharja
1
Senja itu di Desa Pakis tengah
terjadi pertarungan seru antara Ki Angkara, seorang bekas penduduk desa itu,
melawan Kepala Desa Pakis, Ki Lurah Padri. Ki Angkara yang juga dikenal sebagai
seorang lintah darat itu melampiaskan dendam pada Ki Lurah Padri, karena kepala
desa itu memberikan anak gadisnya kepada Kandanu.
Kejadian itu dirasa memang aneh,
karena ketika Ki Angkara datang ke Desa Pakis, warga desa menyambut dengan
gembira. Lelaki tua itu dianggap orang baik, karena banyak membantu mereka yang
lemah, dengan memberi pinjaman. Namun, lama kelamaan warga banyak yang merasa
keberatan. Jika dalam kurun waktu yang telah ditentukan, mereka tak mampu
mengembalikan pinjaman, maka dikenakan bunga yang tinggi
Kian hari warga yang berhutang pada
Ki Angkara kian menderita dan sengsara. Bukan saja karena perekonomian warga
semakin tertekan. Jika warga tak mampu membayar utang, Ki Angkara pun tak
segan- segan menyiksa.
Apalagi ketika pembelian hasil
panen dilakukan secara ijon, penderitaan warga Desa Pakis semakin hebat. Sampai
ketika seorang pemuda bemama Kandanu kembali ke Desa Pakis. Kandanu yang tahu
orang tuanya juga korban Ki Angkara, dengan gigih berusaha menumpas kekejaman
Ki Angkara.
Kemarahan Kandanu semakin memuncak,
setelah tahu bahwa Ki Angkara yang menyebabkan kematian orang tuanya Apalagi
ketika mendengar Ki Angkara hendak memperistri Murti Dewi, kekasihnya.
Mengetahui Kandanu membenci lelaki
tua yang Juga berjuluk Iblis Berkedok Dewa itu, warga menjadi berani. Mereka
segera angkat senjata berusaha mengusir Ki Angkara.
Sore itu Ki Angkara tsngah membabi
buta, melabrak serta membunuh setiap orang yang berani melawan dan
menghalanginya.
'Heaaa..!" Bukkk! Plak!
Pukulan dan tsndangan keras Ki Angkara terus menghajar orang-orang yang berani
melawan dan menghalangi.
"Aaakh...!" Pekikan keras
terdengar menyayat, disusul tubuh- tubuh bergelimpangan berlumuran darah. Di
Sana sini yang dilewati Ki Angkara tampak mayat- mayat terkapar mengenaskan. Ki
Lurah Padri yang juga memiliki llmu silat cukup lumayan pun tak mampu
menghalangi tindakan Ki Angkara yang penuh dendam itu.
Lima orang keamanan desa yang
memiliki ilmu silat tinggi, dengan sekali gebrak saja tak berdaya menghadapi
keganasan Iblis Berkedok Dewa itu.
Darah berceceran di mana-mana,
menimbulkan bau anyir. Korban semakin banyak yang bergelimpangan, mati dalam
keadaan mengenaskan. Ada yang terbabat lehemya sampei putus, ada yang kepalanya
terbelah, dan ada pula yang dadanya hangus terbakar surtn berbakas telapak
tangan Ki Angkara. Karena lelaki bengis itu menggunakan ilmu 'Pukulan Iblis
Berbisa'.
Ki Lurah Padri hampir saja menjadi
korban, kalau tak segera melompat mundur.
"'Pukula Iblis Berbisa',"
desah Ki Lurah Padri dengan mata menatap nanar pada Ki Angkara.
Ki Lurah Padri lalu mengambil
tindakan untuk mengamankan diri Hal itu dilakukan bukan karena takut mati, tapi
karena merasa harus segera memberi kabar pada Kandanu, menantunya yang saat itu
berada di istana kerajaan.
"Karto...!" seru Ki Lurah
Padri memanggil seorang pemuda yang hendak turut mengeroyok Ki Angkara. Pemuda
itu segera menghampiri Ki Lurah Padri yang berada di belakang sebuah rumah
penduduk.
Kau segera ke istana dan beri tahu
Kandanu..., cepat'"
Karto segera berlari menjalankan
perintah kepala desanya. Ki Lurah Padri agak lega, pemuda itu telah melesat
pergi dari Desa Pakis, menuju istana untuk memberi tahu Kandanu tentang
kejadian itu.
Mendung yang sejak tadi bergayut di
langit kian menebal, membuat suasana Desa Pakis semakin tercekam. Apalagi
sebentar-sebentar suara petir terdengar seakan hendak memecahkan bumi.
Pembantaian masih terus
berlangsung. Iblis
Berkedok Dewa semakin merajalela
membunuh orang- orang desa.
"Mampus kalian...!
Heaaa...!" geram Ki Angkara dengan mata melotot memancarkan sinar
kebencian. "Kemana lurahmu yang tukang bohong itu...?!" Sambil
berkata begitu, Ki Angkara terus menghajar dan menghantam orang-orang yang
mengeroyoknya. Golok dan senjata lain dengan mudah dipatahkan, lalu dihantamkan
ke pemiliknya.
"Aaakh...!"
"Wuaaa...!" Sementara itu, Ki Lurah Padri tengah berusaha
mcnyelamatkan putrinya, Murti Dewi, yang sedang hamil muda.
"Cepat, Murti.... Kita harus
segera pergi. Cepat...! Sebelum iblis itu menangkap kita. Ayo, cepat..!"
perintah Ki Lurah Padri cemas pada anaknya. Murti Dewi dengan perasaan tegang
terus berlari mengikuti ayahnya. Ki Lurah Padri cepat memegang lengan Murti
Dewi yang nampak ketakutan. Mereka terus berlari menembus hujan lebat, berusaha
menjauhi rumah yang akan disatroni Ki Angkara.
Hujan pun turun semakin deras,
bagai disiram dari atas. Pembantaian masih berlangsung. Teriakan dan jeritan
panjang tiada henti, terdengar di sana sini. Dan kini Ki Angkara telah sampai
dekat rumah Ki Lurah Padri yang telah sepi. Beberapa wanita tua muda berlarian
sambil menangis dan menjerit mencari suami atau anak mereka yang mungkin tewas
dalam pertempuran menghadapi keberingasan Iblis Berkedok Dewa.
Iblis Berkedok Dewa memasuki rumah Ki
Lurah Padri dengan cara menghancurkan pintu rumah itu. Pada saat yang
bersamaan, tiba-tiba dari arah timur nampak beberapa lelaki penunggang kuda
memasuki Desa Pakis. Derap kaki-kaki kuda bergemuruh, seakan bersaing dengan
suara hujan lebat. Sepuluh prajurit dengan seragam kerajaan berwama kuning
menggebah terus kuda mereka. Seolah-olah mereka tak sabar untuk segera sampai
di Desa Pakis.
Kuda putih yang berada paling depan
ditunggangi seorang lelaki gagah perkasa. Dilihat dari pakaiannya, lelaki itu
adalah seorang senapati atau panglima perang kerajaan. Dialah Senapati Kandanu
yang juga berjuluk Macan Kaligis.
Ki Angkara yang mengetahui
kedatangan pasukan prajurit kerajaan, segera melesat pergi dengan hati geram
dan marah. Lelaki tua beijubah merah darah itu terus melesat menembus lebatnya
hujan. Senapati Kandanu memerintahkan anak buahnya untuk memeriksa rumah Ki
Lurah Padri. Ternyata rumah besar itu telah kosong. Beberapa peralatan rumah
tampak hancur berantakan.
Mengetahui keadaan sepi di rumah
mertuanya, Senapati Kandanu melompat dari punggung kuda. Kemudian mencoba masuk
ke rumah.
"Kau temukan istriku dan Ki
Lurah...?" tanya Senapati Kandanu pada anak buahnya yang telah memeriksa
dalam rumah.
"Tidak seorang pun di dalam
rumah ini, Senapati," jawab prajurit itu.
Mendengar jawaban itu, Senapati
Kandanu tersentak kaget dan cemas. Sejenak dia berpikir, lalu segera
memerintahkan anak buahnya untuk mencari ke seluruh penjuru desa.
"Kau beri tahu yang lain, cari
sampai ketemu...!" perintah Senapati Kandanu kepada anak buahnya agar
memberi tahu prajurit lain yang tidak ikut ke rumah Ki lurah Padri.
"Baik, Senapati!" Setelah
prajurit itu pergi, Senapati Kandanu masih memutar pikiran, ke mana istri dan
mertuanya pergi. Hatinya semakin diliputi kecemasan, karena sang Istri tengah
hamil.
"Keparat tua bangka itu!
Kubunuh kau, Iblis...!" Kemudian dengan hati diliputi amarah dan
kecemasan, Senapati Kandanu menggebah kuda, meninggalkan rumah Ki Lurah Padri,
untuk menyusul para anak buahnya yang telah menyebar mengejar Iblis Berkedok
Dewa.
Iblis Berkedok Dewa ternyata memang
sengaja membuat keonaran di Desa Pakis. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk
membuat malu Senapati Kandanu yang telah mempersunting Murti Dewi. Lelaki tua
itu pun telah lama menyimpan dendam dan amarah pada Kepala Desa Pakis. Ki Lurah
Padri dianggapnya telah berkhianat
dan berbohong padanya.
Dahulu, sebelum Murti Dewi yang
menjadi Kembang Desa Pakis dipinang Senapati Kandanu, Iblis Berkedok Dewa yang
juga lintah darat itu telah beberapa kali mempengaruh] Ki Lurah Padri agar
menyerahkan putrinya untuk dijadikan istri. Berulang kali bujukan dilakukan,
tapi Ki Lurah Padri selalu menolak dengan halus. Alasannya, putrinya belum
berminat menikah atau berumah tangga. Ki Angkara rupanya mengerti dan tetap
bersedia menunggu. Namun manakala mendengar bahwa orang yang diharapkan
ternyata dipersunting Senapati Kandanu, Ki Angkara marah bukan kepalang.
Dendamnya semakin membara setelah Murti Dewi dinikahi Senapati Kandanu. Itulah
sebabnya setelah menghilang dari Desa Pakis, Iblis Berkedok Dewa selalu membuat
keonaran di desa yang dipimpin Ki Lurah Padri itu Berulangkali lelaki tua itu
selalu lolos dari kejaran Senapati Kandanu dan prajurit kerajaan.
Belakangan diketahui kalau Ki
Angkara menjadi mata-mata Kerajaan Kelabang Sewu, sebuah kerajaan yang berada
di bawah kekuasaan Kerajaan Mandra Kulawa. Kerajaan Kelabang Sewu ingin
memisahkan diri dari kekuasaan Kerajaan Mandra Kulawa. Namun cita-cita itu
selalu terkubur, apalagi setelah panglima perang Kerajaan Mandra Kulawa
dipegang Senapati Kandanu, si Macan Kaligis!
Malam telah tiba, tapi hujan belum
reda. Seakan- akan hendak turut menyembunyikan jejak Iblis Berkedok Dewa.
Sementara itu, Senapati Kandanu atau Macan Kaligis hampir putus asa. Di
wajahnya nampak kecemasan bercampur amarah terhadap tindakan Iblis Berkedok
Dewa.
Namun, ketika Senapati Kandanu baru
saja memerintahkan para anak buahnya untuk kembali berkumpul, tiba-tiba dari
arah selatan tampak dua orang berlarian menembus hujan. Keduanya menuju para
prajurit kerajaan yang dipimpin Senapati Kandanu. Kedua orang itu ternyata Ki
Lurah Padri dan Murti Dewi, yang tampak pucat dan basah kuyup. Melihat siapa
yang datang, Senapati Kandanu segera menghambur menyambut istrinya. Dipeluknya
wanlta yang tengah hamil muda itu dengan kelegaan hati dan rasa kasih sayang.
Sementara, dua orang prajurit membimbing Ki Lurah Padri membawa ke rumahnya.
Senapati Kandanu pun segera menuntun istrinya, masuk ke rumah. "Maafkan
Kakang, Murti...," bisik Senapati Kandanu pada Murti Dewi. Lalu direbahkannya
sang istri di ranjang. Dikeringkan sekujur tubuh istrinya yang masih pucat dan
lemas. Tak lama kemudian wanita cantik itu tertidur kelelahan.
Malam terus merangkak. Di luar
hujan mulai reda. Murti Dewi pun mulai kembali sehat setelah tertidur pulas
cukup lama. Senapati Kandanu yang menunggui selama sang Istri tidur, segera
mendekat dan duduk di tepi ranjang.
"Kakang...! Kakang...!"
suara Murti Dewi terdengar lirih dan lembut memanggil suaminya.
"Ya, Diajeng. Ini
Kakang," sahut Senapati Kandanu sambil mengusap lembut kepala Murti Dewi
dengan penuh kasih sayang. Bibirnya tersenyum gembira melihat istrinya tampak
mulai segar. "Aku takut, Kakang...," desah Murti Dewi sambil meremas
tangan Senapati Kandanu.
"Tenang, Diajeng! Yang penting
kau selamat. Kakang yang salah. Maafkan Kakang...! Sekarang tak perlu kau takut
dan khawatir. Kakang akan selalu bersamamu, Diajeng...," Senapati Kandanu
mencoba menenangkan istrinya yang tampak masih diliputi kecemasan.
Murti Dewi tersenyum manis seraya
memegangi pipi sang Suami dengan jari tangannya yang halus. Senapati Kandanu
lalu mencium lembut kening Murti Dewi. Wanita cantik itu tersenyum bahagia.
"Kakang, mudah-mudahan bayi
dalam perut ini lahir dengan selamat..! Aku khawatir nanti...," Murti Dewi
tak meneruskan ucapannya karena Senapati Kandanu menutup bibirnya dengan jari
telunjuk sambil tersenyum serta menggelengkan kepala. Kemudian dipeluknya
erat-erat tubuh sang Istri dengan penuh kasih sayang.
"Jangan kau mempunyai perasaan
begitu, Diajeng. Percayalah pada Hyang Widhi, bayi itu akan lahir dengan sehat,
tanpa kekurangan apa pun...!" Senapati Kandanu menghibur istrinya.
Murti Dewi takut akan keselamatan
bayinya, karena dirinya mengalami jatuh dua kali sewaktu tadi berlari untuk
bersembunyi di luar desa. Itulah yang kecemasan dan ketakutan di hatinya, jika
sang Bayi kelak lahir.
Senapati Kandanu memeluk dan
menciumi sang Istri dengan penuh kasih, terus berusaha menenangkan hati Murti
Dewi. Sementara, di luar malam semakin larut. Kegelapan menyelimuti Desa Pakis.
Hujan rintik-rintik menambah suasana mencekam di desa yang baru saja mengalami
pembantaian oleh seorang tokoh sakti durjana.
Di tengah kegelapan malam dan rinai
gerimis, tampak para warga desa dibantu para prajurit kerajaan inulai
mengumpulkan mayat-mayat yang tewas oleh nmukan Iblis Berkedok Dewa.
Malam itu juga mereka menguburkan
para korban diiringi derai tangis dan air mata seluruh warga Desa Pakis.
Obor-obor bambu terpancang di sekitar pemakaman, seakan turut menyaksikan duka
cita warga Desa Pakis.
***
Semenjak peristiwa mengenaskan itu,
Senapati Kandanu memutuskan untuk lebih sering mengunjungi Desa Pakis,
menjenguk istrinya yang tengah hamil. Atau kadang kadang, kalau terpaksa
dirinya tak bisa datang karena urusan di istana kerajaan, terpaksa mengutus
beberapa prajurit untuk mengawasi Ki Lurah Padri dan Murti Dewi, istrinya. Tak
terasa beberapa purnama telah berlalu. Kini kandungan Murti Dewi telah sampai
waktunya untuk melahirkan. Sore itu, Senapati Kandanu pun datang ke rumah
mertuanya, Ki Lurah Padri. Setelah menemui Istrinya yang berada di kamar
ditemani Nyi Ipah, seorang dukun bayi, Senapati Kandanu berbincang- bincang
dengan Ki Lurah Padri di serambi depan rumah.
"Aku ikut bersalah, Nak
Senapati. Aku tak berte rus terang pada Ki Angkara waktu itu. Tapi apa aku juga
bersalah kalau menolak permintaan lelaki tua itu meminang Murti...?" ujar
Ki Lurah Padri membuka permasalahan yang telah lama terpendam di hati. Wajahnya
nampak muram, cemas. "Tidak, Rama. Menolak atau menerima adalah hak Rama.
Ki Angkara memang manusia berhati iblis yang periu ditumpas Aku telah berjanji
dan bersumpah untuk membunuhnya, bila tertangkap nanti. Dia telah berani
membuat onar di desa ini dengan ilmu hitamnya. Aku harus menangkapnya, cepat
atau lambat..!" ujar Senapati Kandanu sungguh-sungguh.
Ki Lurah Padri diam. Dihisapnya
rokok kawungnya, kemudian perlahan-lahan dihembuskan asapnya. Senapati Kandanu
pun diam. Keadaan sejenak hening.
Waktu berputar begjtu cepat, malam
pun datang menyelimuti bumi. Awan hitam menutupi bulan yang bersinar terang.
Bumi berubah redup, menambah sua- sana mencekam.
Malam itu Senapati Kandanu dan Ki
Lurah Padri kembali meneruskan pembicaraan mereka. Nyi Ipah yang memang masih
kerabat dekat dengan Ki Lurah Padri malam itu tetap menjaga Murti Dewi.
Perempuan tua itu mengeluarkan minuman dan makanan untuk Ki Lurah Padri dan
menantunya, Senapati Kandanu.
"Sampai di mana obrolan kita
tadl..?" tanya Ki Lurah Padri pada Senapati Kandanu.
"Ng..., soal ilmu yang
dimiliki Ki Angkara, Rama," jawab Senapati Kandanu.
"Hm..., ya. Aku tak habis
pikir, dari mana dia mendapatkan ilmu aneh itu."
"Ya, begitulah, Rama. Yang
jelas Ki Angkara telah menguasai ilmu sesat itu Namun sedikit pun aku tak takut.
Apalagi kini pihak Kerajaan Mandra Kulawa telah mendengar bahwa si Iblis
Berkedok Dewa itu merupakan mata-mata dari Kerajaan Kelabang Sewu. Berarti Ki
Angkara, jelas musuh Kerajaan Mandra Kulawa. Dan sebagai senapati yang
bertanggung jawab atas keamanan dan ketenteraman rakyat, aku harus menangkap
hidup atau mati Ki Angkara!"
Ki Lurah Padri manggut-manggut,
tanda mengerti clan membenarkan ucapan menantunya.
"Ya, ya. Tapi Nak Senapati
tetap harus waspada dan hati-hati, menghadapi manusia licik seperti Ki Angkara
itu. Manusia seperti dia itu pandai mengutamakan berbagai tipu muslihat.
Apalagi kudengar dia juga pandai menyamar," ujar Ki Lurah Padri, tampak
mencemaskan menantunya.
Senapati Kandanu nampak tak
langsung menjawab, la sedikit kaget mendengar penjelasan Ki Lurah Padri. Dia
tampak berpikir sejenak.
"Hmm... , aku justru belum
tahu tentang itu, Rama. Namum plhak kerajaan telah memutuskan untuk
membinasakan Iblis itu. Aku sendiri turut merasa berdosa terhadap penduduk Desa
Pakis yang telah banyak menjadi korban kebiadabannya. Untuk itu, aku
pertaruhkan nynwa demi menangkap Ki Angkara...!" ujar Senapati Kandanu
yang telah diliputi amarah, dan malu, akibat ulah Iblis Berkedok Dewa.
Ya.. ya.. Aku memaklumi perasaanmu,
sebagai seorang abdi Kerajaan Mandra Kulawa. Tapi sekati lagi, aku berpesan
agar kau lebih tenang menghadapi masalah iril. Dengan ketenangan jiwa kau akan
lebih inampu mencari siasat untuk menaklukkan manusia iluijana seperti Ki
Angkara. Semoga Hyang Widhi berpihak pada kita....!"
"Terima kasih, Rama! Aku akan
mencoba melaksanakan nasihat Rama...," jawab Senapati Kandanu sambil
mengangguk penuh rasa hormat terhadap mertuanya.
Sejenak keduanya kembali diam.
Suasana hening menyelimuti malam. Hanya bunyi jangkrik dan sesekali celetukan
burung hantu terdengar memecah keheningan. Ki Lurah Padri meneguk kopinya. Sementara
Senapati Kandanu nampak tengah memikirkan sesuatu.
***
2
Air hujan yang mengguyur Desa Pakis
sejak sore, membuat desa yang indah itu seketika bagaikan mati. Kesunyian terus
mencekam bersama datangnya hawa dingin yang menusuk tulang sumsum. Sesekali
hujan berhenti, tapi kemudian tercurah kembali.
Sementara itu di dalam kamamya,
Murti Dewi tengah berjuang mati-matian menghadapi kelahiran anaknya.
"Aduh, Nyi! Oh, sakit sekali...!"
keluh Murti Dewi. Wanita cantik itu terus mengeluh dan mengaduh kvwkltan.
Napasnya tersengal-sengal. Keringat membanjiri sekujur tubuhnya, meskipun hawa
dingin menyelimuti malam itu. Namun perasaan dan upayanya untuk mampu
mengeluarkan jabang bayi di dalam perut telah membuat tubuh wanita cantik itu
basah kuyup.
"Sabar, Murti...!
Sabar...!" bisik Nyi Nipah, sang dukun bayi, sambi terus berusaha membantu
Murti Dewi mengeluarkan bayi dalam kandungannya.
"Ayo, Murti...! Cepat
sedikit..., ayo...!" Nyi terus memberi semangat, agar Murti Dewi
menghempaskan napasnya karena kepala bayi itu telah mulai keluar.
"Hmh , ahhh! Ohhh...!"
Murti Dewi menurut, segera dikerahkan seluruh tenaganya untuk dapat
mengeluarkan sang bayi yanq sudah mulai keluar kepalanya.
"Terus, Mur! Ayo, terus!"
seru Nyi Nipah memberi semanyat, supaya Murti Dewi tak menghentikan hempasan
tenaganya.
Wajah wanita muda itu kini nampak
tegang dan pucat. Keringat terus membanjiri selurah tubuhnya. Meskipun tubuhnya
tampak letih, Murti Dewi terus berusaha mengeluarkan jabang bayinya.
Dihempaskan tenaganya dan....
"Oaaa...! Oaaa...!"
Terdengar suara bayi memecah keheningan malam, seakan hendak membelah kegelapan
malam dan suara hujan.
Seketika Senapati Kandanu berucap
syukur kepada Sang Hyang Widhi. Hatinya diliputi perasaan bahagia yang tak
terkira. Wajah Senapati Kerajaan Mandra Kulawa itu tampak ceria, karena sang
Anak yang ditunggunya telah lahir dengan selamat.
"Nak Senapati, ke sini! Lihat
anakmul Besar dan tampan, bukan?" tanya Nyi Nipah sambil menimang bayi
yang masih dengan ari-arinya. "Aku melihat ada kelebihan pada bayi
ini."
"Ah, Nyi Nipah ada-ada
saja...," sahut Senapati Kandanu seraya tersenyum.
"Nak Senapati ini dikasih tahu
orang tua tidak percaya. Cobalah perhatikan anakmu...."
"Benar kata Nyi Nipah, Nak
Kandanu," Ki Lurah Padri menimpali.
Senapati Kandanu hanya
menyunggingkan senyum. Bagi dirinya, mempunyai keistimewaan atau tidak, yang jelas
anaknya kelak harus dapat mewarisi watak yang baik Dalam hatinya, Senapati
Kandanu berharap anaknya kelak akan menjadi orang yang dapat diandalkan. Anak
yang berbakti kepada orang tua, negara, dan Hyang Widhi.
"Semuanya saya serahkan pada
Hyang Widhi, Rama," ujar Senapati Kandanu menanggapi ucapan mertuanya.
Ki Lurah Padri dan Nyi Nipah
mengangguk- anggukkan kepala. Dalam hati, mereka merasa bangga akan kerendahan
hati Senapati Kandanu. Meskipun seorang pendekar dan punya kedudukan tinggi di
kerajaan, lelaki muda itu tak pemah angkuh dan tinggi hati.
Senapati Kandanu memang sangat
dihormati dan dihargai penduduk Desa Pakis. Maklum, karena dialah satu-satunya
orang Desa Pakis yang mampu membuat harum nama desanya. Dan pembangunan Desa
Pakis ini kian maju semenjak Kandanu menjadi pembesar diKerajaan Mandra Kulawa.
Kini Desa Pakis bukan desa yang
terbelakang seperti satu atau dua dasawarsa silam. Desa Pakis kini merupakan
desa yang ramai, tidak sedikit saudagar kaya bertempat tinggal di desa yang
aman dan tentram itu. Ketenteraman dan keamanan Desa Pakis . dan sekitarnya itu
tak dapat dilepaskan dari jasa Senapati Kandanu yang mengirim pasukan prajurit
ke desa itu empat kali dalam satu purnama.
Senapati Kandanu menikah dengan
Murti Dewi dua tahun yang silam, tepatnya ketika Senapati Kandanu kembali ke
Desa Pakis. Mulai saat itu pula Desa pakis mengalami banyak perubahan.
Ketenangan dan ketenteraman warga
Desa Pakis kian bertambah pula semenjak menghilangnya Ki Angkara. Lintah darat
yang kejam itu kini tak hanya dimusuhi warga desa Pakis, tapi merupakan musuh
Kerajaan Mandra Kulawa. Iblis Berkedok Dewa itu kini menjadi buronan para
prajurit kerajaan.
Betapa bangga dan bahagia seluruh
warga Desa Pakis. Mereka semakin bangga dan kagum terhadap Senapati Kandanu.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan
warga Desa Pakis yang sedang dilanda kebahagiaan dan baru menyambut kelahiran
bayi pertama dari pasangan yang sangat dipuja-puja, Iblis Berkedok Dewa masih
berupaya terus mencari cara membalas dendam pada Ki Lurah Padri.
Iblis Berkedok Dewa belum puas
sebelum mampu membalas dendam terhadap Ki Lurah Padri dan Senapati Kandanu.
Lelaki tua itu terus berupaya mencari cara membuat malu Senapati Kandanu di
mata rakyat Kerajaan Mandra Kulawa. Meskipun untuk melaksanakan maksud itu Ki
Angkara harus menghadapi rintangan berat, menghadapi para prajurit kerajaan di
bawah pimpinan Senapati Kandanu.
Kemarahan Iblis Berkedok Dewa
semakin menjadi-jadi setelah salah seorang anak buahnya memberi kabar bahwa
Murti Dewi telah melahirkan anak Kandanu. Mendengar berita tidak menyenangkan
itu, Ki Angkara segera memeras otak, mencari jalan untuk membuat keonaran.
Sementara Ki Angkara sendiri mulai kesal setelah menyadari bahwa dirinya
menjadi buronan Kerajaan Mandra Kulawa.
"Mungkinkah ini tanda-tanda
kelak ia akan menjadi orang besar seperti ayahnya?" ujar Nyi Nipah.
Pertanyaan itu seperti ditujukan pada diri sendiri. "Cobalah Kakang Padri
pegang tulang belakang anak ini yang tampak begitu kokoh."
Sebagai seorang kakek, Ki Lurah
Padri pun menu rut memegang tubuh cucunya. Dielusnya perlahan bagian belakang
tubuh bayi itu.
"Benar apa katamu, Nyi!"
seru Ki Lurah Padri girang. "Sudah kuduga, bahwa bayi ini kelak akan
menjadi seorang pemuda yang bakal menyamai ayahnya."
Senapati Kandanu hanya
tersenyum-senyum mendengar ucapan kedua orang tua itu. Walau begitu dalam
hatinya memang mengharapkan bahwa anaknya kelak akan menjadi orang yang baik,
paling tidak akan dapat mampu menggantikan dirinya. "Oh, Hyang Widhi, puji
syukur hamba panjatkan ke hadiratMu," bisik Senapati Kandanu berdoa dalam
hati.
Senapati Kandanu sebenarnya ingin
sekali menimang bayinya, tapi merasa belum mampu, karena terlalu kasar dirinya
untuk ukuran tubuh seorang bayi.
'Nyi Nipah, apa boleh aku menengok
istriku?" tanya Senapati Kandanu.
"Ya, boleh. Memangnya
kenapa?" Nyi Nipah balik bertanya.
"Ah, tldak apa-apa. Aku hanya
takut kalau- kalau nanti akan membuat istriku lemah saja."
Kau ini ada-ada saja, Nak Kandanu.
Justru istrimu akan bertambah semangat bila didampingimu," tukas Nyi
Nipah.
Senapatl Kandanu tersipu-sipu
melihat Nyi Nipah menyunggingkan senyum menggoda. Kemudian dia segera
meninggalkan ruangan tengah dan masuk ke kamar Muill Dewi.
Breeet Pintu kamar terbuka.
“Kakang..” desis Murti Dewi lirih. Senapati Kandanu tersenyum, lalu melangkahkan
kakinya perlahan menghampiri istrinya yang masih berbaring. Wajah Murti Dewi
tampak letih, setelah susah payah berjuang melahirkan sang Bayi. Menurut orang
tua, melahirkan sama saja dengan berjuang menentukan hidup atau mati. Nyawa
sebagai taruhan dalam melahirkan. Hal itu juga dialami Murti Dewi, yang saat
itu baru pertama kali melahirkan.
Senapati Kandanu mendekat, lalu
perlahan duduk di tepi ranjang tempat istrinya terbaring. Murti Dewi menatapnya
dengan pandangan sayu. "Hm, kau sudah melihat anak kita, Kakang?"
"Sudah." "Bagaimana, Kakang?" Senapati Kandanu tidak
menjawab, hanya tersenyum. Perlahan dengan lembut diciuminya kening Murti Dewi.
Matanya menatap penuh pancaran kasih sayang pada istrinya.
"Anak kita laki-laki, mirip
denganku," jawab Kandanu dengan bangga, membuat Murti Dewi mencibir.
"Hm, kau tak percaya, Diajeng?"
"Bukan tak percaya, Kakang.
Aku percaya, kok."
Senapati Kandanu tersenyum, begitu
juga Murti Dew. Keduanya nampak sangat bahagia.
Kemudian keduanya terdiam, seakan
hanya dengan tatapan mata sudah cukup bagi suami istri itu untuk menyatakan apa
yang ada dalam hati masing- masing.
"Oaaa...! Oaaa...!"
"Dengarlah tangisnya, Diajeng." "Ya. Tangisnya keras. Dia ingin
.menunjukkan bahwa dirinya mampu," jawab Murti Dewi.
"Kelak, mungkin dia akan
melebihiku, Diajeng," ujar Senapati Kandanu seraya menggeleng-gelengkan
kepala.
"Ya. Semoga saja,
Kakang...." Untuk kedua kalinya suami istri itu terdiam tanpa kata, dan
hanya napas mereka saja yang terdengar mendesah berat.
Sementara itu di luar tamu-tamu
tampak berda- tangan walau hujan masih belum reda.
Kedatangan para tamu membuat
pembantu- pembantu Ki Lurah Padri bertambah repot. Namun begitu, di wajah para
pelayan nampak keceriaan . Karena dengan begitu mereka akan turut menikmati
segala macam makanan yang belum tentu tiap hari mereka rasakan.
"Wah, kini kau telah dlpanggil
kakek, Adi Padri," ujar Ki Purba, seorang sesepuh desa, yan masih saudara
seperguruan dengan Ki Lurah Padri. "Usiamu kini makin bertambah, tapi
telah ada calon penerusmu."
"Ah, Kakang Purba bisa
saja," gumam Ki Lurah Padri mencoba berkelakar. "Bukankah memang
seharusnya begitu, Kakang?"
'Tepat. Sebagai orang tua, kita
memang harus menyadari bahwa sudah dekat dengan masa istirahat kita. Jangan
seperti Ki Angkara yang kini entah di mana rimbanya."
"Maksudmu, Kakang?" tanya
Ki Lurah Padri. "Kau toh mengerti, Adi Padri. Ki Angkara dulu pemah
tergila-gila pada putrimu. Bayangkan saja, kalau hal itu terjadi...."
Ki Lurah Padri menarik napas
dalam-dalam. "Memang, Ki Angkara sepertinya tak menyadari usia. Seharusnya
di usia yang setua itu, Ki Angkara sadar, bahwa dirinya tak akan lama lagi
hidup di dunia." ,
Percakapan dua orang seperguruan
itu terhenti, ketika nampak rombongan dari kelurahan lain datang. Di antara
mereka tampak Ki Lurah Rejo Sari, Muntilan, Ki Serono, serta lurah-lurah
lainnya yang semua merupakan kawan-kawan Ki Lurah Padri.
Namun kedatangan mereka bukan
semata- mata karena Ki Lurah Padri, melainkan karena
Macan Kaligis. Sebagai lurah yang
desanya termasuk dalam wilayah Kerajaan Mandra Kulawa, sudah sepantasnya mereka
datang menjenguk, dan turut menyatakan rasa bahagia atas kelahiran putra
Senapati Kandanu.
"Eh, ada tamu jauh...? Apa
kabar semuanya?" tanya Ki Lurah Padri menyambut para tamu. "Bagaimana
keadaan rakyat di desa kalian. Mudah- mudahan selalu dalam kemuliaan."
"Regitulah seperti apa yang
kau lihat, Ki Padri," jawab Lurah Muntilan. "Kami datang sebagai
pernyataan rasa suka cita atas kelahiran cucumu, Ki."
"Terima kasih. Sungguh kalian
merupakan kawan- kawan yang selalu memberikan bantuan dan memberikan
kebahagiaan."
Ki Lurah Padri segera mempersilakan
kelima lurah agar duduk di kursi yang telah disediakan. Sementara dirinya pun
harus segera menemui para tamu yang lainnya. Kelima lurah itu pun dijamu dengan
ditemani sesepuh Desa Pakis, Ki Purba.
Namun kedatangan para tamu itu
tampaknya cukup mengherankan tuan rumah. Entah siapa yang telah memberitahukan
pada mereka, bahwa Maean Kaligis telah mempunyai putra. Memang rasa- rasanya
tidak masuk akal kalau mereka tahu sendiri, karena kebanyakan para tamu datang
dari jauh. Dari tempat yang harus menempuh peijalanan mungkin sehari penuh.
Kabar itu layaknya disampaikan sehari atau dua hari yang lalu.
"Kalau boleh aku bertanya,
kapankah Ki
Lurah sekalian mendengar kabar suka
cita ini?" Ki Purba yang cerdik, mencoba mencari keterangan dari kelima
lurah yang kini ditemaninya. Lelaki tua itu berharap akan mampu menjawab dugaan
hatinya. Karena dia telah menduga adanya sesuatu yang kurang berkenan di
hatinya.
Kelima lurah itu saling pandang,
sepertinya kaget mendengar pertanyaan itu.
"Kami diberi tahu seorang
lelaki tua yang mengaku mempunyai hubungan dekat dengan Ki Padri," jawab
Ki Lurah Sura Gading.
Mendengar jawaban itu, Ki Purba
tercengang. Seketika keningnya berkerut karena heran.
"Lelaki tua...?" desis Ki
Purba kaget. "Benar," sahut Ki Lurah Muntilan. "Dia mengatakan
bahwa dirinya masih ada hubungan saudara dengan Ki Padri."
"Ah...!" pekik Ki Purba
lirih. "Kenapa, Ki? tanya Ki Reja Sanga, melihat keterkejutan Ki Purba.
"Apa ada yang tidak beres, Ki?"
Ki Purba menganggukkan kepala
membuat kelima lurah itu seketika membeliakkan mata.
"Jadi semua omongan orang itu
dusta?" tanya kelimanya serentak.
"Tidak semuanya," jawab
Ki Purba. Kelima lurah itu makin tak mengerti. Ki Purba yang tahu gelagat, saat
melihat kelimanya terkejut segera menerangkan maksudnya.
"Memang benar apa yang
dikatakan orang itu. Akan tetapi orang itu bukanlah sanak saudara kami."
"Heh?! Mengapa Ki Purba berkata begitu?" tanya Ki Lurah Reja Sanga
tak yakin. "Sedangkan orang itu mengatakan bahwa dirinya adalah sanak
saudara Ki Padri."
Ki Purba terdiam, sulit untuk
menerka siapa sebenarnya orang itu. Bersamaan dengan ketidakmampuan Ki Purba
menjawab segala pertanyaan kelima lurah itu, dari dalam tampak Macan Kaligis
keluar. Serta merta para tamu bangkit dari tempat duduk Tanpa diperintah,
mereka menjura hormat.
"Salam sejahtera dan suka cita
kami ucapkan, Kanjeng Senapati!"
"Oh, selamat datang Ki Lurah
sekalian! Terima kasih atas segalanya!" sambut Senapati Kandanu sadar
bahwa dirinya jauh lebih muda bila dibandingkan kelima lurah itu. Sepantasnya
dirinya menaruh hormat pada mereka. "Silakan duduk!"
Kelima lurah itu pun kembali duduk.
Kali ini kelimanya ditemani langsung orang yang mereka hormati, Senapati
Kandanu. Mereka kini diam. Tiada seorang pun di antara mereka yang berani
membuka kata terlebih dulu untuk mengawali pembicaraan. Di mata kelima lurah
itu, Senapati Kandanu merupakan orang yang amat disegani. Padahal bagi Senapati
Kandanu sendiri merekalah yang sepantasnya dihormati. Pertama mereka sebagai
tamu, kedua mereka orang-orang tua yang mempunyai pengalaman serta wawasan yang
jauh lebih banyak djbanding dengan dirinya. Hanya karena soal nasib yang
membedakan dirinya dengan kelima lurah tersebut.
"Ki Lurah sekalian, kalau ini
tidak menyinggung hati Ki Lurah, saya ingin bertanya," akhirnya Senapati
Kandanu membuka keheningan yang menyelimuti mereka.
"Tentang apakah, Kanjeng
Senapati?" Ki Lurah Purwa Jati yang menimpali balik bertanya. Ki Purwa
Jati memang orang yang paling tua di antara kelimanya. "Katakanlah kalau
memang itu sangat penting bagi Kanjeng Senapati."
Senapati Kandanu terdiam sejenak,
mengerutkan kening.
"Maaf! Kalau boleh aku tahu,
dari siapa Ki Lurah sekalian tahu, istriku hari ini melahirkan?" tanya
Senapati Kandanu setelah memandang kelimanya satu persatu.
Kelima lurah itu tak segera
menjawab. Mereka menghela napas dalam-dalam lalu saling pandang sejenak.
"Kami diberi tahu seorang
lelaki tua," jawab Ki Purwa Jati.
"Orang tua?" Senapati
Kandanu balik bertanya dengan kening berkerut.
"Ya!" jawab Ki Purwa
Jati. "Orang tua berjubah merah!"
Senapati Kandanu dan Ki Purba
tersentak mendengar penuturan Ki Purwa Jati. Mata keduanya terbelalak. Mereka
nampak seperti tak percaya pada ucapan Ki Purwa Jati.
"Bagaimana mungkin Ki Angkara
berani lancang menampilkan diri?" tanya Senapati Kandanu dalam hati.
"Mungkinkah ia menyamar? Ah, tak mungkin!"
"Kapan berita itu sampai Ki
Lurah?" tanya Ki Purba kemudian.
"Dua malam yang lalu,"
jawab Ki Purwa Jati. Senapati Kandanu terdiam. Pandangan matanya dllemparkan
pada Ki Purba. Ki Purba yang menangkap tatapan itu, sepertinya juga tidak tahu
harus berbuat apa. Lelaki tua itu tak mengerti apa yang harus dilakukan. Untuk
menangkap Ki Angkara, jelas dia tak tahu keberadaannya.
"Ki Lurah sekalian! Kalau
kalian tahu orang itu, harap tangkap. Bukankah Ki Lurah telah mendengar
pengumuman dari kerajaan?" tanya Senapati Kandanu.
Kelima lurah dan beberapa tamu yang
mendengar ucapan Maean Kaligis, tersentak kaget.
"Jadi...?" Ki Purwa Jati
hendak bertanya ketika dengan cepat Senapati Kandanu menyahut.
"Ya! Dialah Ki Angkara, orang
yang kini tengah diburu pihak kerajaan setelah berbuat onar di sini dan terbuka
kedoknya sebagai mata-mata. Dia juga sering disebut Iblis Berkedok Dewa,"
papar Senapati Kandanu.
Kelima lurah itu
mengangguk-anggukkan kepala. "Bila Ki Lurah sekalian mampu menangkapnya
hidup atau mati, akan mendapatkan imbalan dari Kanjeng Gusti Galih
Waskita."
Kelima lurah itu nampak gembira mendengar
imbalan yang dijanjikan raja bila mampu menangkap Ki Angkara. Mereka telah
membayangkan bagaimana mereka akan memperoleh kedudukan yang lebih tinggi bila
dapat melaksanakan tugas itu
"Baiklah, akan kami perhatikan
apa yang Kanjeng Senapati katakan," jawab Ki Purwa Jati yang diikuti
keempat lurah lain.
"Kami juga tak dapat lama-lama
di sini!" tambah Ki Sura Gendring.
"Oh, mengapa mesti
buru-buru?" Senapati Kandanu mencoba mencegah.
"Maafkan kami! Kami harus
mengurus apa yang kami lakukan menjelang kunjungan Kanjeng Gusti Galih Waskita
untuk memeriksa desa kami!" Ki Purwa Jati kembali menjawab.
"Baiklah! Hati-hatilah, dan
ingat Ki Lurah, bahwa sudah menjadi tugas kita menangkap penjahat
kerajaan!" tegas Senapati Kandanu.
"Akan kami perhatikan, Kanjeng
Senapati," jawab kelimanya serempak.
Kelima lurah itu segera mohon
pamit, pada Ki Padri dan Ki Purba. Setelah menimang sang Bayi yang nampak
tenang, mereka menjura hormat pada Senapati Kandanu, lalu meninggalkan rumah
Kepala Desa Pakis.
***
3
Kelima lurah yang pulang dari rumah
Ki Lurah Padri tampak beijalan diiringi para pengawal mereka masing masing.
Rombongan itu baru saja melewati ta- pal batas Desa Pakis.
"Bagaimana menurutmu, Kakang
Purwa Jati?" tanya Ki Reja Sanga.
"Apa maksudmu, Adi
Sanga?" "Itu, mengenai Ki Angkara yang menjadi buronan kerajaan.
Apakah kita tak ikut mencari? Siapa tahu kita yang beruntung mendapatkan
imbalan Itu, Kakang."
Ki Purwa Jati terdiam memikirkan
pendapat Ki Reja Sanga. Sebenarnya dalam hati Ki Purwa Jati tak punya keinginan
untuk mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, seperti yang diharapkan keempat
lurah lainnya. Memang bagi Ki Purwa Jati yang sudah tua, apalah arti jabatan
tinggi. Bahkan dirinya merasa sudah pantas melepaskan segala urusan duniawi.
"Sebenarnya aku juga tertarik,
tapi usiaku tidaklah memungkinkan untuk terus memegang Jabatan yang lebih
tinggi. Untuk jabatan lurah saja, kurasa sudah terlalu berat bagiku,"
jawab Ki Purwa Jati polos. "Tapi, aku akan berusaha membantu kalian."
"Kalau begitu, Kakang Purwa bersedia membantu kami," kata Ki Sura
Gandring.
"Aku akan berusaha,"
jawab Ki Purwa Jati. "Karena ini menyangkut urusan kerajaan. Sekalian membantu
jika kalian benar-benar berminat dengan tugas Int."
"Ah, terima kasih sebelumnya,
Kakang Purwa!" ujar Ki Kuncara, yang paling muda di antara kelima lurah
itu.
Kelimanya terus melangkah menyusuri
jalan becek, hingga alas kaki mereka kotor oleh lumpur. Kelima lurah itu
terdiam. Tak satu pun yang berbicara. Begitu juga kesepuluh orang pengawal
mereka. Semua membisu, seakan-akan tengah hanyut dalam pikiran masing-masing.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di tengah kegelapan malam yang
dingin.
Tiba-tiba sesosok bayangan
berkelebat di hadupan mereka. Kelima belas orang itu tampak tersentak kaget,
ketika mendadak sesosok tubuh telah menghadang langkah mereka.
"Hah! Siapa kau...?!"
bentak Ki Sura Gandring seraya menghentikan langkah.
"Ha ha ha...! Ternyata kalian
orang-orang yang sangat menghormati senapati kerajaan itu. Ha ha ha...l
Tentunya kalian telah membuktikan bahwa Senapati Kandanu benar telah mendapat
keturunan, bukan?" terdengar suara keras dari sosok yang berdiri di depan
kelima lurah itu.
Tampak di depan mata kelima lurah
itu, seorang lelaki tua berjubah merah darah. Pancatan sinar matanya
menunjukkan bahwa lelaki tua itu memiliki ilmu tinggi.
"Tentunya kalian mendapat
petuah-petuah dari Senapati Kandanu, bukan?"
"Hm! Kau...! Kau Iblis
Berkedok Dewa!" Ki Reja Sanga tersentak.
"Kebetulan! Kebetulan sekali
kau muncul, Iblis!" lambah Ki Kuncara.
"Haaa...! Apa maksudmu, Ki
Lurah?!" tanya lelaki berjubah merah yang temyata Iblis Berkedok Dewa.
Matanya melotot tajam pada Ki Kuncara.
"Kami hendak mencarimu untuk
ditangkap...!" jawab Ki Purwa Jati.
"Menangkapku?! Hua ha ha...!
Kalian ini lucu dan aneh," sahut Iblis Berkedok Dewa dengan menyipitkan
mata seraya tertawa seenaknya. "Apa aku tak salah dengar?"
"Tidak! Kau tak salah dengar!
Kami memang akan meringkusmu untuk diserahkan pada kerajaan!" jawab IS
Purwa Jati tenang. "Kau merupakan musuh keraaan!"
"Ha ha ha...! Gila..., gila!
Kalian temyata benar- benar orang lucu dan aneh. Kalian anjing penjilat raja...!"
dengus Ki Angkara dengan membelalakkan mata menatap tajam kelima lurah itu.
"Bangsat! Lancang kau,
Iblis!" maki Ki Kuncara geram. "Manusia busuk! Lintah darat!
Seraaang...!"
Ki Kuncara tampaknya tak sabar
untuk bertele-tele mengadu mulut. Tangannya dikibaskan, memberikan isyarat pada
kesepuluh pengawalnya agar menyerang, Melihat perintah itu, kesepuluh pengawal
melesat maju mengepung si Iblis Berkedok Dewa. "He he he...! Mengapa meski
cecunguk- cecunguk ini yang maju?! Bukankah lebih baik kalian?" Ki Angkara
terkekeh, seolah-olah tak memandang sebelah mata pun pada kesepuluh pengawal
lima lurah itu. Bahkan ucapan Ki Angkara itu seakan engejek pada kelima lurah
itu.
"Dasar manusia iblis! Belum
sepantasnya kami maju..!" gertak Ki Kuncara marah. Sementara keempat lurah
lain masih tampak tenang tanpa tanggapan. Mereka hanya mengawasi gerak-gerik
Iblis Berkedok Dewa.
"Pintar...! Pintar sekali
kalian. He he he...! Baik, kalau itu yang kalian inginkan! Hiaaa...!"
Tanpa banyak kata lagi, Ki Angkara
melesat menyerang kesepuluh pengawal itu. Kaki dan tangannya bergerak begitu
cepat, sepertinya ingin segera menjatuhkan kesepuluh pengawal lurah. Namun
kesepuluh pengawal lurah itu tampaknya bukan orang-orang sembarangan. Gerakan
mereka tampak lincah dan gesit
Tangan Iblis Berkedok Dewa menyodok
ke depan, bergerak ke kanan dan kiri. Itulah jurus 'Sapuan Iblis'. Dari pukulan
dan tendangan yang cepat menimbulkan deru angin keras. Bersamaan dengan
serangan-serangan yang keras dan cepat tubuh lelaki berjubah merah itu tampak
bergerak ke sana kemari menghindari para pengawal lurah itu.
"Mampus kau...!" seru Ki
Angkara. Wut...!" "Belum, Iblis Laknat!" sahut Sawar seraya
tangannya bergerak mencengkeram ke tubuh lawan.
Wret! Iblis Berkedok Dewa rupanya
tahu gerakan lawan. Sehingga dengan cepat tangannya ditarik sambi! menyikut
musuh di belakangnya yang hendak menyerang. Sementara kaki kanannya mengayun ke
depan, menggantikan tangan yang ditatik ke belakang. Gerakan Iblis Berkedok
Dewa ini begitu cepat, sehingga kedua orang yang diserangnya tak sempat
bergerak menghindar. Keduanya nampak mati langkah, sehingga gerakan mereka
nampak kaku dan lambat. Hal Itu membuat kedua pengawal itu tak mampu mengelak.
Dan....
Wuttt! Bukkk! Bukkk...!"
"Aaa...!" "Wuaaa...!" Sawar dan Parmin terpekik keras,
ketika tangan dan kaki lawan mendarat telak di wajah dan bawah perut mereka.
Kedua pengawal lurah itu terhuyung-huyung dengan mulut meringis kesakitan.
Melihat kedua kawan mereka mendapat serangan lawan, kedelapan pengawal lain
segera melompat me- nyerang secara serempak. Dengan kemampuan yang ada, mereka
melakukan serangan. Empat orang menyerang dari depan, sedangkan empat orang
lain siap menggempur Iblis Berkedok Dewa dari belakang.
"Heaaa...!"
"Yeaaa...!" Empat pasang tangan dari keempat pengawal lurah bergerak
menyerang. Meskipun serangan yang dilancarkan tampak cepat dan ganas, tapi
Iblis Berkedok Dewa dengan enak berkelebat ke sana kemari mengelakkan
pukulan-pukulan gencar itu.
"Yeaaa...!" Wut! Kembali
empat orang lainnya menyerang dengan cakaran tangan. Namun seperti empat
rekannya yang mendahului menyerang, mereka tak mampu mendaratkan serangan ke
tubuh lawan. Bahkan kini Iblis Berkedok Dewa mampu melancarkan serangan balasan
dengan tendangan dan pukulan secara cepat dan beruntun.
Jurus yang digunakan Iblis Berkedok
Dewa sungguh aneh, tampak kaku dan tak beraturan. Namun dalam setiap gerakan
mampu menimbulkan desir nngin keras. Hal itu menandakan kekuatan tenaga dalam
yang dikerahkan dalam setiap serangan.
"Heaaa...!" Wut! Tangan
Iblis Berkedok Dewa menjulur ke depan. ltulah jurus 'Cakar Iblis', sebuah jurus
yang sukar untuk diikuti karena kecepatan gerakannya. Tidak ketinggalan, kedua
kakinya nampak menekuk agak rendah, membuat tubuh lelaki beijubah merah itu
selalu lepas dari serangan lawan.
"Mampus kau...!" bentak
Ki Angkara seraya menjulurkan tangan kanannya agak panjang ke depan. Wret!
Flak! Plak!
"Akh...!" Pekikan
tertahan terdengar dari dua pengawal lurah yang terhantam serangan tangan Iblis
Berkedok Dewa. Dirasakan hawa panas menjalar ke tubuh mereka yang seketika
membeliak. Bahkan kemudian dirasakan tulangnya bagaikan remuk.
"Heaaa...!"
Ki Angkara kembali melancarkan
serangan keras dengan pukulan tangan. Dengan cepat kedua orang yang terluka itu
melompat ke belakang mengelakkan serangan. Kemudian dua pengawal lain telah
melesat menggantikan serangan kedua teman mereka yang terluka.
Kelima lurah yang menyaksikan
pertarungan para pengawal mereka melawan Iblis Berkedok Dewa tampaknya merasa
khawatir. Mereka mulai menyadari bahwa lelaki berjubah merah itu bukan lawan
sembarangan.
"Rasanya kita harus turun
tangan, Kakang!" ujar Ki Reja Sanga pada Ki Purwa Jati.
"Hm...! Kau benar. Kalau kita
tak segera turun tangan, aku yakin mereka tak mampu mengalahkan manusia iblis
itu...," sahut Ki Purwa Jati.
"Tapi, apa tak sebaiknya kita
serang sekarang?" tanya Ki Kuncara, menimpali. "Kurasa dalam keadaan
seperti sekarang ini kita sangat tepat untuk menyerangnya."
"Nanti kita akan dibilang
pengecut," sahut Ki
Sura Gandring.
"Alaaah...! Mengapa Kakang
Sura berpikir sampai sejauh itu? Dalam menghadapi musuh seperti itu, kita tak
perlu banyak memikirkan pengecut atau tidak," Ki Serana yang dari tadi
diam kini ikut menimpali. Hatinya sudah tak sabar untuk segera membekuk Ki Angkara.
"Ayo kita serang! Hiaaat...!"
Keempat lurah tersentak melihat Ki
Serana telah mendahului menyerang.
"Ha ha ha...! Hebat! Kalau
begini aku suka. Ayo yang lain, maju agar aku kirim kalian ke neraka...!"
Sambil berteriak begitu, tangan
Iblis Berkedok Dewa bergerak menyambar. Sementara kaki kanannya menendang ke
belakang.
Dukkk! Bukkk! "Aaah...!"
Pekikan keras kembali memecahkan keheningan malam ketika dua orang pengawal
terhantam serangan Iblis Berkedok Dewa. Keduanya mengerang kesakitan, lalu
jatuh ke tanah. Melihat hal itu, kelima lurah segera melancarkan serangan. Kini
Iblis Berkedok Dewa harus menghadapi orang-orang yang mungkin ilmunya lebih
tinggi dibanding kesepuluh pengawal mereka. Kelima lurah secara serentak
melakukan serangan gencar. Hal itu membuat Iblis Berkedok Dewa terkesiap kaget.
"Heaaa...!" Wut! Ki Purwa
Jati mengibaskan tangan ke depan, mencoba membabat wajah lawan. Namun gerakan
cepat itu tampak tak lepas dari perhatian Iblis Berkedok Dewa. Lelaki tua
berjubah merah itu segera melompat ke belakang mengelakkan pukulan Ki Purwa
Jati.
Melihat lawan bergerak mundur, para
pengawal lurah segera merangsek dari belakang. Namun Iblis Berkedok Dewa begitu
awas matanya. Dengan cepat kedua tangannya dikibaskan untuk memapak serangan
dari para pengawal.
Wut! Plak! Plak...!
"Akh...!" "Wuaaa...!" Enam orang pengawal lurah terpekik
keras. Tangan mereka melepuh seperti terbakar. Hawa panas seketika menjalar ke
seluruh tubuh. Entah ilmu macam apa yang dikeluarkan Ki Angkara. Keenam
pengawal lurah itu mengerang menahan sakit sambil melangkah mundur. Sementara
itu kelima lurah langsung menggebrak dengan serangan gencar.
"Heaaa...!"
Teriakan,keras mengiringi serangan gencar kelima lurah.
Wret! Bukkk! "Aaah...!"
Ki Reja Sanga teipekik keras.
Tubuhnya sempoyongan ke belakang ketika tangan Iblis Berkedok Dewa menghantam
telak dadanya. Seketika dadanya dirasakan panas dan perih. Dia semakin
tersentak kaget dengan mata terbelalak ketika di dadanya menggurat hitam bekas
tangan Iblis Berkedok Dewa.
'"Pukulan Iblis
Berbisa'...," desis Ki Reja Sanga pelan. "He he he...! Kau tahu juga,
Ki Lurah! Sebaiknya kalian segera minggat dari sini!"
Ki Angkara tertawa mengejek sambil
tangannya terus bergerak memapak dan menyerang. Sementara keempat lurah lain
tampak lebih berhati- hati meng-hadapi lelaki berjubah merah itu. Iblis
Berkedok Dewa ternyata bukan lawan sembarangan, melainkan seorang yang sangat
berbahaya dengan ilmu 'Pukulan Iblis Berbisa'nya.
Wut! "Awas...!" Ki Purwa
Jati memperingatkan pada ketiga rekannya untuk hati-hati.
Keempat lurah dengan cepat melompat
mundur. Namun ternyata serangan Iblis Berkedok Dewa hanya tipuan belaka.
Serangan itu sebenarnya ditujukan kepada keenam pengawal yang telah kembali
menyerang. Sungguh suatu gerakan yang sukar diduga. Begitu cepat lelaki
betjubah merah itu memutar tubuh sambil memapak serangan lawan. Keenam pengawal
lurah tersentak kaget mendapati serangan cepat dan tiba-tiba itu.
Mereka berusaha mengelak, tapi
gerakan tangan Iblis Berkedok Dewa ternyata datang lebih cepat. Sehingga....
"Heaaa...!" Buk! Buk!
"Aaa...!" "Wuaaa...!" Jeritan kematian terdengar
susul-menyusul, ketika dada keenam pengawal terhantam tangan Iblis Berkedok
Dewa. Tubuh mereka terlontar beberapa langkah ke belakang, dengan dada hangus
bagai terbakar. Lalu terbanBng beberapa tombak di depan Ki Angkara. Mulut
keenam lelaki muda itu mengerang-erang. Sejenak mereka berkelojotan, tapi
kemudian diam dan mati.
Kini tinggal kelima lurah yang
masih mampu bertahan. Mata mereka menatap nanar pada keenam pengawal yang
terkapar tak bemyawa lagi. Belum sempat rasa kaget mereka lenyap, tiba-tiba
Iblis Berkedok Dewa telah melesat melakukan serangan.
"Terimalah 'Pukulan Iblis
Berbisa'ku. Hiaaa...!" "Bedebah! Kubunuh kau, Keparat!" geram Ki
Purwa Jati. "Seraaang...!"
Keempat lurah segera menyerbu
melakukan serangan. Sementara itu Ki Reja Sanga yang terluka dadanya tidak ikut
melakukan serangan.
"Hiaaat..!" Wuttt"
Wret! Tangan dan kaki keempat lurah secara serentak melakukan serangan.
Sementara Iblis Berkedok Dewa tampak lebih berwaspada menghadapi keempat
lawannya. Tubuhnya berkelebat ke kanan dan kin berusaha mengelakkan serangan
gencar yang terus mencecar ke tubuhnya.
“Hiaa....” "Plak! “Buk! Ki
Purwa Jati dan Ki Kuncara berhasil mendaratkan dua pukulan telak ke tubuh Iblis
Berkedok Dewa. Seketika tubuh lelaki berjubah merah itu terhuyung-huyung
beberapa langkah ke samping, lalu terjatuh ke tanah. Dua pukulan lawan mendarat
telak di dada dan IhVlian rusuknya. Namun dengan cepat tubuhnya telah kembali
bangkit berdiri. Tampak tangannya meraba dada dan tulang rusuk yang dirasakan
amat nyeri
"Kurang ajar! Kalian berani
menentangku, Cecunguk!" geram Iblis Berkedok Dewa. Lalu tubuhnya melesat
berusaha membalas serangan keempat lurah.
Melihat kegeraman Iblis Berkedok
Dewa, keempat lurah tampak tenang. Dengan mengandalkan jurus- jurus ringan,
mereka bergerak untuk mengelakkan serangan membabi-buta lawan. Namun sesekali
mereka masih mampu melakukan serangan ke tubuh lelaki berjubah merah itu.
"Hiaaa...! Kubunuh
kalian...!" Wret! Dengan kedua tangan membentuk cakar, Iblis Berkedok Dewa
melesat melakukan serangan dahsyat Yang dituju Ki Purwa Jati. Lelaki berjubah
merah itu tampaknya mampu membaca bahwa kekuatan lawan berada pada Ki Purwa
Jati.
Sementara itu, Ki Purwa Jati pun
mengetahui gelagat lawan. Maka dengan cepat dia melakukan gerakan untuk
mengatasi serangan Iblis Berkedok Dewa. "'Laksa Genta'...! Hiaaa...!"
Dengan jurus 'Laksa Genta' Ki Purwa
Jati melen ting ke udara untuk melakukan serangan dahsyat Ketiga lurah yang
lain segera menyusul. Kini keempat sekawan itu melayang di udara.
"Hiaaa...!"
"Yeaaah...!" Iblis Berkedok Dewa yang segera mengetahui bahaya bakal
mengancam dirinya, dengan cepat mencelat untuk mengatasi serangan lawan.
Tampaklah lima sosok tubuh melesat
begitu cepat dan melayang di udara. Seketika lima kekuatan tenaga dalam bertemu
dan saling beradu.
Glarrr...! Seketika itu pula sebuah
ledakan keras mengge- legar terdengar memekakkan telinga, ketika keempat
kekuatan beradu dengan kekuatan Iblis Berkedok Dewa. Keempat tubuh lurah
melayang tak tentu arah, lalu terjatuh sekitar delapan tombak dari tempat pertarungan.
Keempatnya tak mampu lagi bangkit, karena seketika itu pula nyawa mereka telah
melayang dari raga. Di dada masing-masing tergambar tanda telapak tangan Iblis
Berkedok Dewa.
"Huk...l Huaaak...,
akhhh...!" Iblis Berkedok Dewa memuntahkan darah, seolah-olah hendak
membuang rasa sakit yang mendera sekujur tubuh. Setelah muntah, lelaki berjubah
merah itu segera bangkit berdiri lalu melesat meninggalkan kelima belas mayat
yang terkapar di tanah basah.
Angin malam menderu, hujan makin
deras, seakan-akan turut menyaksikan kejadian mengenaskan yang dialami lima
lurah dan kesepuluh pengawal mereka.
***
4
Pagi terasa sangat sejuk. Angin
yang bertiup lembut, membelai dedaunan. Di antara kicauan burung-burung di
pepohonan terdengar suara suling mengalun merdu menyeruak memecahkan suasana
pagi itu. Alunan itu seakan-akan ditiup seseorang yang hatinya tengah hanyut
dalam penghayatan terhadap keindahan atam.
Di sebelah barat, tampak seorang
pemuda berpakaian rompi kulit ular tengah duduk di bawah sebuah pohon rindang,
pada sebatang akar yang mencuat di atas tanah. Pemuda yang tak lain Sena
Manggala, atau lebih dikenal dengan julukan Pendekar Gila itu nampak begitu
asyik meniup Suling Naga Saktinya. Melantunkan lagu merdu, lagu pujaan terhadap
indahnya alam.
Akar pohon tempat duduk Pendekar
Gila berada di tepi sebuah telaga, di sekitar Hutan Randu Kembar. Karena begitu
jerruh air telaga yang tak seberapa luas itu tampak berkilauan ditimpa sinar
matahari pagj. Menciptakan sebuah panorama indah laksana pelangi, menghiasi
sekitar hutan itu.
Mei Lie Andai kau ada di sampingku
Ingin aku bercerita Tentang indahnya dunia ini Tentang sepinya hatiku ini
Itulah bait-bait syair yang tengah didendangkan Pendekar Gila, sebagai pelipur
sepi hatinya. Kemudian ditiupnya kembali Suling Naga Sakti, mengalunkan irama
lembut mendayu sukma. Seakan burung pun turut terharu, mendengar nyanyian yang
dialunkan suling itu. Alam hening, angin semilir lembut, seakan turut merasakan
pilu hati Pendekar Gila.
Namun tiba-tiba dari kejauhan
tampak lima orang penunggang kuda berlari menuju telaga tempat Pendekar Gila
berada. Dilihat dari pakaian yang dikenakan, kelima orang itu adalah para
prajurit Mereka terburu-buru, menggebah kuda tunggangan agar terus berlari.
Wajah para prajurit itu lampak diliputi kecemasan, seakan ada sesuatu yang
terjadi.
"Hai, sepertinya mereka
prajurit Kerajaan Mandra Kulawa. Ada apa mereka nampak terburu- buru...?"
gumam Sena seraya menghentikan tiupan sulingnya. Matanya memperhatikan lima
prajurit Kerajaan Mandra Kuwala yang semakin dekat dengan telaga tempat dirinya
berada.
"Hop! Kita istirahat di sini
dulu..!" seru salah seorang prajurit yang bertubuh tinggi tegap dengan
kumis tebal. Dilihat dari pakaian yang dikenakannya, lelaki ini tentu sebagai
pimpinan dari keempat prajurit lainnya.
Kelima prajurit itu pun
menghentikan kuda mereka. Kemudian segera turun dari punggung kuda, lalu
melangkah mendekat ke arah Pendekar Gila yang masih duduk sambil meniup Suling
Naga Sakti. "Kisanak, suara sulingmu merdu sekali. Terasa sejuk dan
menyentuh jiwa," ujar pimpinan prajurit dengan bibir tersenyum. Pimpinan
prajurit itu melangkah, lalu duduk di samping Pendekar Gila yang segera
menghentikan tiupan sulingnya.
"Aha, terima kasih! Hanya
begitulah yang dapat kulakukan," sahut Sena sambil menggaruk- garuk
kepala, sedangkan mulutnya nyengir. Hal itu membuat pimpinan prajurit
mengerutkan kening, sepertinya kaget melihat tingkah laku pemuda yang persis
orang gila itu.
"Hai, kaukah yang sering
disebut sebagai Pendekar Gila, Kisanak...?" tanya pimpinan prajurit
Matanya menatap tajam wajah Pendekar Gila, seakan hendak meyakinkan kalau
pemuda di hadapannya memang Pendekar Gila.
Pendekar Gila cengengesan sambil
menggaruk- garuk kepala. Dimasukkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggangnya. Lalu
dengan tersenyum-senyum lucu mi rip orang gila, Sena bangkit dari duduknya.
"Ah ah ah, terlalu tinggi,
Tuan Senapati! Namaku Sena. Hanya orang-orang sering menyebutkan Pendekar Gila.
Hi hi hi...! Mungkin karena aku gila," ujar Sena sambil menggaruk-garuk
kepala. "O, sungguh tak kusangka! Terimalah salam kami, Pendekar Gila!
Maaf jika kami mengganggumu!" ujar pimpinan prajurit itu sambil menjura
hormat Tindakan itu membuat keempat prajurit lain turut melakukan hai yang
sama. "Janganlah Tuan Pendekar sebut diriku sebagai Tuan Senapati! Karena
sesungguhnya aku ini sebagai senapati rendah. Masih ada seorang senapati di
atasku. Namaku Braja."
"Ah ah ah, sudahlaK Tak perlu
kalian berlaku begitu!" ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
"Seharusnya akulah yang memberi hormat pada kalian. Bukan malah
sebaliknya."
Melihat sikap ramah yang
ditunjukkan Pendekar Gila, kelima prajurit itu langsung berubah sikap. Lalu
mereka duduk di samping Pendekar Gila, sambil menikmati keindahan pagi yang
sejuk.
"Pagi ini sangat indah,"
gumam Senapati Braja sambil melepaskan pandang ke telaga yang aimya jemih.
"Sungguh, pagi akan semakin bertambah in¬dah, jika kau mau mendendangkan
irama sulingmu, Tuan Pendekar. Kudengar suara sulingmu sangat merdu. Cocok sekali
dengan suasana pagi ini."
Pendekar Gila hanya cengengesan
dengan tangan kembali menggaruk-garuk kepala. Matanya turut memandang ke telaga
yang tampak tenang. Lalu tangannya memungut sebuah kerikil dan langsung
dilemparkan ke telaga. Seketika, gelombang air melingkar- lingkar di tepinya.
"Aha, kurasa tiupan sulingku
sangat sumbang, Tuan Senapati. Apalah artinya aku yang bodoh ini," jawab
Sena berusaha merendahkan diri.
"Ah, kau terlalu merendahkan
diri, Sena," tukas Senapati Braja. "Apa salahnya, jika sekali lagi
kami mendengamya?"
Pendekar Gila tertawa sambil
menggaruk- garuk kepala mendengar ucapan Senapati Braja.
Lalu kaki nya melangkah menuju akar
pohon yang menonjol tempat duduknya tadi. Diambilnya Suling Naga Sakti, lalu
kembali ditiupnya, mengalunkan irama merdu mendayu-dayu.
Senapati Braja dan keempat
prajuritnya mengangguk-anggukkan kepala menikmati irama merdu yang ditiupkan
Pendekar Gila. Mereka bagaikan diajak untuk menghayati indahnya alam,
sampai-sampai ini mereka lupa akan tujuan yang sebenarnya. Sukma mereka bagai
hanyut, bersama alunan irama suling Pendekar Gila.
"Aha, kiranya Tuan Senapati
ada kepentingan. Mengapa harus bersantai-santai di sini?" tanya Sena
mencoba mengingatkan Senapati Braja.
"O, benar. Aha, mendengar
irama sulingmu, membuatku terhanyut dan lupa akan tugas yang tengah
kuemban," gumam Senapati Braja sambil tersenyum dengan kepala
menggeleng-geleng. Kalau saja Pendekar Gila tidak segera menyadarkan, sudah
pasti dirinya dan keempat prajurit lain akan tetap berada di tepi telaga itu.
"Hi hi hi...! Tuan Senapati,
kalau boleh aku tahu, hendak ke mana tujuan Tuan?" tanya Sena, tanpa
mengurangi rasa hormatnya.
"Aku hendak mengunjungi Desa
Pakis, terutama ke rumah Ki Lurah Padri. Ini merupakan tugas semenjak istri
Senapati Kandanu melahirkan," jawab Senapati Braja.
"Aha, jadi Kanjeng Senapati
Kandanu telah dikaruniai putra...?" tanya Sena, agak terkejut.
"Begitulah, Tuan
Pendekar."
"O..., aku turut bersuka cita
kalau begitu. Kuharap putranya kelak akan jadi anak yang baik. Anak yang
menuruni sifat ksatria ayahnya," ujar Sena setengah bergumam.
"Terima kasih, semoga
begitulah anak itu kelak!" sahut Senapati Braja. "Apakah Tuan
Pendekar berkenan berangkat ke sana bersama kami?" Sena masih cengengesan
sambil menggaruk- garuk kepala. Matanya memandang ke langit yang bening, biru
menghampar luas.
"Ah ah ah, terima kasih!
Gampang, nanti aku menyusul," jawab Sena, menolak secara halus.
"Baiklah kalau begitu, kami
berangkat sekarang! Semoga Hyang Widhi mempertemukan kita kembali," kata
Senapati Braja sambil menjura hormat, diikuti keempat prajurit lainnya. Lalu
setelah Pendekar Gila membalas menjura, kelima prajurit Kerajaan Mandra Kulawa
itu melangkah menuju ke kuda mereka yang sedang merumput di tepi telaga.
Pendekar Gila berdiri mematung,
memandangi kelima prajurit itu. Tangannya menggaruk-garuk kepala, dengan mulut
cengengesan. Suling Naga Saktinya dimasukkan ke ikat pinggangnya kembali.
"Hati-hati, Senapati!"
seru Sena mengingatkan. "Terima kasih!" sahut Senapati Braja sambil
naik ke kudanya. Kemudian dengan melambaikan tangan, kelima prajurit itu
menggebah kuda mereka meninggalkan tepi telaga, menuju ke barat.
Pendekar Gila tersenyum sambil
menganggukanggukkan kepala melepas kepergian kelima prajurit Kerajaan Mandra
Kulawa.
Pendekar Gila kembali duduk sambil
memandang ke telaga. Sesaat dirinya termenung. Ingatannya melayang pada Mei
Lie, gadis Cina yang sangat dicintainya, tapi kini jauh di mata.
"Ah, Mei Lie.... Mungkinkah
kau rindu padaku?" gumam Sena dengan masih termenung, membayangkan
saat-saat indah bersama gadis Cina itu. Entah mengapa kini tiba-tiba ingatannya
pada Mei Lie menggugah persaannya, membangkitkan kerinduan yang sangat dalam.
Belum lenyap ketermenungan Pendekar
Gila, tiba-tiba telinganya mendengar derap langkah kaki kuda dari arah barat.
Sena tersentak, ketika melihat seorang prajurit datang dengan wajah diliputi
rasa takut
"Aha, ada apa, Kisanak? Di
mana Senapati Braja ?" tanya Pendekar Gila dengan kening berkerut, merasa
rasa heran karena kedatangan prajurit yang tidak bersama temannya.
"Tuan Pendekar, tolong!
Tolong..., Senapati Braja ..."
"Aha, kau begitu gugup. Ada
apa...?" Prajurit berusia sekitar empat puluh tahun itu menghela napas
dalam-dalam, berusaha menenangkan perasaannya. Beberapa kali hal itu dilakukan,
tapi jantungnya tetap berdegup keras dengan napas tersengal-sengaL
"Kami dihadang seorang lelaki
tua yang mengaku bemama Iblis Berkedok Dewa. Dia..., dia menyerang kami. Kini,
dia masih bertarung dengan Senapati Braja dan teman-taman," tutur prajurit
itu dengan suara terbata-bata, dan napas tersengal- sengal. "Aha, yang
menurut cerita Senapati Kandanu, si lintah sawah itu? Hi hi hi...!" Sena
tertawa cekikikan sambil menutupi mulutnya.
"Lintah darat, Tuan
Pendekar!" sahut prajurit itu, akan-akan ingin membenarkan ucapan Pendekar
Cilia
"Aha, benar! Lintah darat. Ah
ah ah! Rupanya dia masih suka menghisap darah. Hi hi hi...!" kembali
IVndekar Gila tertawa cekikikan sambil menutupi mulut dengan telapak tangannya.
"Cepatlah, Tuan Pendekar! Aku
khawatir teman- teman dan Panglima tak mampu menghadapinya!" desak
prajurit itu tak sabar. Wajahnya tampak semakin tcgang mencemaskan keempat
kawannya. "Aha, ayolah!" "Naik kudaku, Tuan!" "Aha,
terima kasih." Pendekar Gila langsung melompat. Dan setelah bersalto
beberapa kali, dengan ringan hinggap di punggung kuda yang tinggi besar warna
coklat tua itu.
"Hap!" Trep!
"Heaaa...!" Kuda itu melesat, membawa Pendekar Gila dan prajurit
kerajaan, menuju ke tempat Senapati
Braja dan ketiga prajuritnya sedang
bertarung melawan Iblis Berkedok Dewa.
"Hea...! Cepat lari, Puyuh!
Hea...!" prajurit itu terus menggebah kudanya, dengan harapan segera
sampai di tempat tujuan.
"Hua ha ha...! Mana bisa kuda
ini lari kencang, Prajurit? Dia keberatan," ujar Sena. "Kasihan dia!
Dia pun punya perasaan."
'Tapi kita harus segera sampai,
Tuan Pendekar."
"Aha, terserah kau saja,
Prajurit." "Hayo, Puyuh. Cepat sedikit! Hea he...!" Kuda bernama
Puyuh itu bagaikan memahami perintah tuannya. Seketika larinya bertambah
kencang, terus melesat ke arah barat.
Sementara itu di tengah Hutan Randu
Kembar nampak sebuah pertarungan sengit tengah berlangsung seru. Seorang lelaki
tua berjubah merah tengah menghadapi empat orang prajurit Kerajaan Mandra
Kulawa. "Kalian harus mampus,
Cecunguk!" bentak Ki Angkara sambil bergerak mencakar Senapati Braja.
Wrt! "Hits!" Senapati
Braja segera menarik tubuh ke belakang, lalu dengan cepat kerisnya dibabatkan,
untuk memapak tangan lawan yang berkelebat di depan wajah. Lalu diteruskan
dengan tusukan ke dada lawan.
"Heaaa...!"
Wrt! "Eits! Kuhancurkan
kepalamu, Senapati Keparat! Hih...!"
Iblis Berkedok Dewa kembali
bergerak menghindar, sambil melancarkan tendangan keras ke depan. Kemudian
dengan cepat, disambung sebuah hantaman tangan kanan ke dada Senapati Braja.
"Celaka!" pekik Senapati Braja, karena tersentak kaget mendapatkan serangan
yang begitu cepat Dia berusaha mengelakkan serangan dengan membabatkan
kerisnya. Namun serangan lawan datang terlalu cepat untuk dielakkan.
Wrt! "Heaaa...!" Tangan
Ki Angkara hampir saja mencengkeram dada Senapati Braja. Namun dengan cepat
para prajuritnya yang telah terluka dalam akibat hantaman Iblis Berkedok Dewa
bangkit dan dengan tombak menyerang lelaki tua beijubah merah itu.
"Heaaa...!" Wrt!
"Haps! Kurang ajar! Rupanya kalian cari mampus!
Hih...!" Karena serangannya
pada Senapati Braja gagal, Iblis Berkedok Dewa langsung menghantamkan pukul-an
jarak jauh kepada tiga prajurit Kerajaan Mandra Kulawa.
Srtt
Bruk! "Aaa...!"
"Wuaaa...!" Ketiga prajurit itu terpekik keras, ketika tubuh mereka
hangus terhantam pukulan jarak jauh Iblis Berkedok Dewa. Kenyataan itu membuat
Senapati Braja bertambah marah. Matanya membelalak penuh amarah, dengan napas
mendengus.
"Bedebah! Kupertaruhkan
nyawaku untuk membunuhmu, Iblis! Heaaa...!"
Dengan amarah yang meluap-luap,
Senapati Braja kembali melesat menyerang. Keris di tangannya ditusukkan ke dada
lawan, kemudian disabetkan ke samping kiri dan kanan. Hal itu membuat Ki
Angkara harus melompat ke sana kemari, guna mengelitkan serangan cepat itu.
Senapati Braja terus mencecar lawan
dengan tusukan dan sabetan keris. Namun kemarahan yang tak terkendali, membuat
serangan-serangannya tak tera- rah. Sabetan dan tusukan keras senjatanya tak
menemukan sasaran. Bahkan Ki Angkara kini tampak semakin berada di atas angin
karena mampu membaca serangan lawan.
"Heaaa...!" Wut..!
Senapati Braja benar-benar tak mampu menguasai keadaan. Dia terus menyerang
dengan membabi-buta, bagaikan tak memperhitungkan tenaganya. Walau uslanya
masih lebih muda dibandingkan dengan Kl Angkara, ilmu silat dan tenaga dalam
yang dimiliki belumlah sebanding dengan Iblis Berkedok Dewa. Hal ini nampaknya
tak diperhatikan, sehingga Senapati Braja semakin ganas melakukan serangan
dengan mengerahkan tenaga dalam.
Melihat kemampuan lawan yang
semakin- goyah, Iblis Berkedok Dewa tampak begitu mudah bergerak kesana -
kemari mengelakkan serangan. Selain itu, dalam beberapa kesempatan lelaki tua
itu mampu melancarkan serangan balasan dengan jurus 'Pukulan Cakar Iblis'.
"Heaaa...!" Wret!
Alts!" Senapati Braja berusaha mengelitkan serangan lawan. Kakinya melompat
ke samping kanan, lalu dengan repat tangan kin memapaki cakaran tangan lawan
Wrt!
Trak! Akh...!" Senapati Braja
menjerit, ketika pergelangan tangan klrlnya terasa patah akibat berbenturan
dengan tangan lawan. Senapati Braja melompat ke belakang dengan mata mendelik
kaget. Seakan-akan dirinya tak percaya, tangannya yang kokoh dan besar dapat
patah akibat henturan dengan lelaki tua itu.
"Klnl saatnya kau mampus,
Senapati Busuk!" dengus Iblis Berkedok Dewa sambil melesat, siap melakukan
serangan pamungkas untuk mengakhiri pertarungan itu. "Heaaa ..!"
Tubuh Iblis Berkedok Dewa
berkelebat, lalu dengan cepat melakukan serangan dahsyat ke tubuh Senapati
Braja. Jurus 'Pukulan Arang Neraka' yang dikerahkan Ki Angkara mampu membuat
tangan lelaki tua itu tampak hitam bagaikan arang. Lalu tiba-tiba dari telapak
tangannya keluar asap seperti bekas pembakaran.
"Heaaa...!" Wrt!
"Celaka! mati aku...!" pekik Senapati Braja dengan mata terbelalak
nanar, menyaksikan lawan telah dekat dengan tubuhnya. Kerongkongannya bagaikan
kering, tak setetes ludah pun yang membasahi.
"Heaaa...! Mampuslah kau,
Senapati Keparat! Hih!"
Degk! "Aaakh...!"
Senapati Braja menjerit keras. Tubuhnya terpental deras ke belakang, melayang
bagaikan terbang. Saat itu pula, sesosok bayangan berkelebat menangkap tubuh
Senapati Braja.
Trep! "Pendekar Gila! Kubunuh
kau! Hih...!" Iblis Berkedok Dewa melihat Pendekar Gila yang menolong
Senapati Braja, segera mengirimkan pukulan jarak jauhnya yang bernama 'Kelabang
Iblis'.
Wrets! "Haits! Hi hi hi...!"
Sambil memondong tubuh Senapati Braja, Pendekar Gila beijumpalitan mengelakkan
serangan yang dilancarkan Iblis Berkedok Dewa. Sehingga pukulan jarak jauh itu
melesat lewat bawah kakinya. Dan.... Brak!
Suara berderak keras terdengar
ketika pukulan itu menghantam sebatang pohon.
Belum sempat mendaratkan kakinya di
tanah, Pendekar Gila sempat melancarkan sebuah serangan dengan jurus 'Si Gila
Melempar Batu'.
Wret! "Celaka! Aku harus
pergi! Hih..!" Ki Angkara melesat ke samping, mengelakkan hantaman angin
yang dilancarkan Pendekar Gila. Kemudian balas menyerang sambil melompat mening
galkan tempat itu.
"Hih!" "Aha, mau
lari ke mana kau, Lintah Sawah! Hi hi hi...!" Pendekar Gila beijumpalitan,
kemudian dengan cepat mengelakkan serangan lawan. Sinar biru melesat beberapa
jengkal di bawahnya. Dan ...
Glarrr...! Suara menggelegar keras
terdengar, ketika sinar biru dari tangan Iblis Berkedok Dewa menghantam
sebatang pohon randu besar hingga tumbang. Pendekar Gila terus melesat berusaha
mengejar, tapi lelaki tua beijubah merah itu telah menghilang dari Hutan Ran¬du
Kembar.
"Bukan main! Cepat sekali
lintah itu pergi!" maki Sena sambil melangkah ke tempat semula. "Aha,
kenapa kau diam saja, Prajurit? Turunlah dari kuda- mu!"
Prajurit itu pun menurut turun,
lalu membantu Sena mengurusi Senapati Braja yang terluka parah. Pendekar Gila
segera membuka pakaian Senapati Kerajaan Mandra Kulawa itu, setelah memeriksa
detak jantungnya, ternyata masih ada.
"Aha, pukulan iblis!"
gumam Sena setelah melihat bekas pukulan yang membekas di dada Senapati Braja.
Sebuah gambar telapak tangan berwarna hitam legam bagaikan terbakar.
Pendekar Gila cengengesan sambil
menggaruk- garuk kepala. Sedangkan prajurit itu tampak masih cemas. Matanya
menatap ke sekeliling Hutan Randu Kembar. Seakan-akan merasa takut kalau- kalau
Iblis Berkedok Dewa akan muncul lagi dan menyerang mereka.
"Aha, kenapa kau masih
bengong, Prajurit? Cepat carikan daun randu kuning. Hanya dengan daun itu nyawa
Senapati Braja dapat diselamatkan," kata Sena sambil menggaruk-garuk
kepala.
Prajurit itu masih bingung dan
takut, sehingga hanya bisa diam dan bengong. Di wajahnya tergurat kecemasan dan
rasa takut kalau-kalau Iblis Berkedok Dewa akan muncul dan menyerang.
"Aha, mengapa kau seperti
kerbau dungu, Prajurit! Cepatlah kau cari daun randu itu. Atau kau jagalah
Senapati, blar aku yang mencarinya," ujar Sena agak jengkel, melihat
prajurit itu hanya diam. "Ba..., baik! Aku akan mencarinya," sahut prajurit
itu menggeragap. Kemudian segera melangkah meninggalkan Pendekar Gila dan
Senapati Braja untuk mencari daun randu kuning.
***
5
Pendekar Gila menoleh ke sana
kemari sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala, karena prajurit yang
disuruh mencari daun randu kuning belum juga datang.
"Ah, ke mana prajurit
itu?" gumam Sena merasa heran dengan prajurit yang disuruh mencari daun
randu kuning. Padahal keadaan Senapati Braja sudah sangat mengkhawatirkan
Lelaki berusia hampir setengah baya itu hanya mampu merintih lirih, merasakan
sakit hebat. Tubuhnya pun sangat panas, bagaikan dipanggang di atas perapian.
Pendekar Gila benar-benar merasa
gelisah, me- nyaksikan keadaan Senapati Braja. Keringat terus membanjir,
membasahi keningnya. Hal itu menandakan betapa panas tubuh Senapati Braja.
Namun prajurit yang mencari daun randu kuning belum juga muncul. Padahal sudah
lama Pendekar Gila menunggunya.
"Aha, ke mana dia
pergi...?" gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Sesekali dilihatnya
Senapati Braja yang masih mengerang-erang kesakitan. Untung Pendekar Gila telah
menotok tubuh senapati itu. Sehingga rasa sakit pun agak berkurang. Kalau saja
tubuh Senapati Brzga masih dalam keadaan terbebas, tak akan mampu menahan rasa
sakit yang tiada taranya itu.
Sena kembali mengawasi ke
sekelilingnya, berusaha mencari prajurit itu. Namun belum ada tanda- tanda akan
muncul. Hal itu membuatnya semakin kebingungan, merasa heran dengan apa yang
terjadi. Kalau tetjadi sesuatu, prajurit itu tentu menjerit, meminta tolong.
Namun dari tadi tidak didengamya suara apa pun. Lagi pula menurut dugaannya
Iblis Berkedok Dewa pasti telah meninggalkan Hutan Randu Kembar itu.
"Serahkan senapati itu pada kami!" Pendekar Gila tersentak kaget,
ketika tiba- tiba terdengar suara seseorang membentak dari belakangnya. Dengan
cepat, sambil menggendong tubuh Senapati Braja, tubuhnya cepat dibalikkan ke
belakang. Matanya membelalak kaget ketika melihat dua orang berkepala botak
dengan tubuh gemuk dan bersenjatakan kapak besar telah menyandera sang Prajurit
"Hua ha ha.... Rupanya ada dua
ekor babi yang datang tanpa diundang," seru Sena sambil tertawa
terbahak-bahak. Hal itu tentu saja membuat mata kedua lelaki berkepala botak
itu mendadak marah.
Dua lelaki berusia empat puluh lima
tahunan itu mendengus geram. Mata mereka melotot penuh kemarahan. Sambil
menekan gigi karena geram, hingga terdengar suara bergemeretuk keras.
"Kurang ajar! Jangan main-main
dengan Sepasang Jalak Neraka, Bocah Edan!" bentak Jalak Kuning, yang di
lehernya terikat kain kuning keemasan. Matanya semakin melotot lebar, dengan
tangan kanan memegang senjata kapak besar. Hal itu membuat prajurit yang
ditahannya semakin ketakutan.
Mendengar bentakan itu, Pendekar
Gila justru tertawa kian keras. Masih memondong tubuh Senapati Braja, Sena
menggaruk-garu kepala denga tangan kiri dan mulutnya cengengesa
"Aha rupanya aku sedang
berhadapan dengan dua jalak botak! Hi hi hi...!"
"Kurang ajar!" dengus
Jalak Biru geram. "Rupanya kau ngin kami menggorok leher prajurit ini,
Bocah!"
"Wawww, jangan ..! Lebih baik,
kalian gorok leher kalian sendiri. Hi hi hi...!" Sea kembali tertawa
meledek. Tentu saja Sepasang Jalak Neraka bertambah marah.
"Kurang ajar! Kau berani
menghina Sepasang Jalak Neraka, Bocah Edan! Apa kau sudah memiliki nyawa
rangkap, heh?!" bentak Jalak Kuning dengan napas mendengus keras.
Gigi-giginya saling beradu, menimbulkan suara bergemerutuk keras. Tangan
kirinya yang menjepit leher prajurit, semakin ditekankan.
“Aduh sakit! Oh, Tuan Pendekar.
Tolonglah saya!" ratap prajurit itu, dengan wajah pucat ketakutan.
"Kau dengar, Bocah Edan!
Temanmu ini meminta tolong padamu! Cepat, serahkan senapati itu pada kami. Atau
nyawa prajurit ini akan melayang!" bentak Jalak Biru mengancam. Mata kapak
besar yang tajam itu ditempelkan ke leher sang Prajurit yang semakin ketakutan.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat ketakutan sang
Prajurit. Seakan tak peduli dengan perasaan yang dialami prajurit itu.
"Aha, silakan kalian berbuat
sesuka hati terhadap prajurit itu Hi hi hi...! Bukankah memang prajurit itu tak
ada artinya?" tanya Sena yang membuat prajurit llu bertambah membelalakkan
matanya. Wajahnya memucat bagaikan tak berdarah, mendengar ucapan Pendekar
Gila.
Sepasang Jalak Neraka tersentak
kaget, merasa telah dipecundangi pemuda gila di hadapan mereka. Memang benar,
prajurit itu tak berarti sama sekali bagi mrreka.
"Pintar juga bocah edan
ini!" gumam Jalak Kuning dalam hati. Bukankah Senapati Braja yang
dibutuhkan mereka? Untuk apa seorang prajurit yang tak ada artinya. Namun
Sepasang Jalak Neraka tak mau kalah gertak. Mereka menatap tajam wajah Pendekar
Gila yang masih tertawa cengengesan sambil menggaruk garuk kepala dengan tangan
kirinya.
"Hua ha ha...! Ambillah
nyawanya untuk kalian!" seru Sena sambil masih tertawa terbahak- bahak,
kemudian memonyongkan mulutnya ke depan. Brut!
Pendekar GBa kembali tertawa keras.
Melihat ledekan itu, Sepasang Jalak Neraka bertambah marah. Gigi-glgi mereka
beradu, mengeluarkan suara gemenitukan menahan geram.
"Kurang ajar! Kubunuh kau,
Bocah Edan!" dengus Jalak Biru seraya maju menyerang. Kapak besar yang
bergagang panjang dibabatkan ke tubuh Pendekar Gila.
Wrets...! "Aha, aku bukan
pohon, Jalak Botak! Hi hi hi...!" sambil menggoda, Pendekar Gila melompat
ke atas dengan tetap memondong tubuh Senapati Braja. "Eittss..."
Jalak biru yang sudah marah segera
memburu ke mana Pendekar Gila melesat. Kemudian kembali kapak besarnya
dibabatkan menyerang Pendekar Gila.
Wret! "Putus lehermu, Bocah
Edan!" "Eits! Aha, tak segampang itu, Jalak Botak! Hi hi hi...!"
Pendekar Gila kembali melompat ke atas, sehingga kapak besar itu menderu di
bawahnya. Tubuhnya lalu hinggap pada sebuah cabang pohon randu. Mulutnya tetap
tertawa-tawa sambil menggoda dengan menjulur-julurkan lidah.
"Setan!" Melihat Pendekar
Gila berada di atas, Jalak Kuning mendorong tubuh prajurit ke depan sampai
tersuru'k dan jatuh mencium tanah. Lalu dengan penuh amarah, lelaki berpakaian
kuning itu melompat ke atas.
"Heaaa! Kucincang tubuhmu,
Bocah Edan!" Tubuh Jalak Kuning melesat ke atas, tetapi dengan cepat Sena
melompat ke cabang pohon randu yang lain sambil menunggingkan pantatnya,
disertal suara kentut yang keluar dari mulutnya. Lalu kembali tertawa
terbahak-bahak, yang membuat Sepasang Jalak Neraka semakin marah. "Bocah
edan! Kubunuh kau! Heaaa...!" Jalak Kuning kembali melesat sambil
mengayungkan kapak besarnya, membabat tubuh Pendekar Gila. Namun lagi-lagi
dengan cepat Pendekar Gila telah melesat pergi dari cabang pohon itu. Sehingga
yang menjadi sasaran kapak Jalak Kuning cabang pohon itu.
Wrt! Crak! "Akh...!"
Jalak Kuning terpekik, karena keseimbangan tubuhnya seketika hilang Tubuhnya
meluncur dengan kepala di bawah. Hal itu membuat Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak, menyaksikan kejadian lucu itu. Beruntung Jalak Kuning segera
dapat menguasai diri. Tubuhnya bersalto tiga kali di udara, lalu dengan ringan
menapakkan kedua kakinya di atas tanah.
Jleg! "Hua ha ha...! Makanya,
punya badan jangan seperti kerbau...!" ujar Sena berolok-olok.
"Cuih! Kurang ajar! Turun kau,
Bocah Edan!" dengUus Jalak Biru sengit.
"Aha, naiklah! Bukankah kalian
tak bisa naik? Hi hi hi...! Tubuh kalian yang gembrot itu, tak akan dapat
naik," goda Sena sambil tertawa terbahak- bahak. Kemudian mulutnya
dimonyongkan, sedangkan ta¬ngan kirinya melambai-lambai "Wek...!"
"Kurang ajar! Kuhancurkan kepalamu, Bocah Edan! Heaaa...!"
Jalak Biru meiesat ke atas, memburu
Pendekar Gila. Kapak besar di tangannya, menderu membabat ke tubuh Pendekar
Gila.
Wrt! "Eits!" Pendekar
Gila melompat meninggalkan cabang pohon itu dan betjumpalitan sambil memanggul
tubuh Senapati Braja. Tangannya memberi isyarat pada prajurit agar segera
berlalu pergi.
"Mau lari ke mana, Prajurit
Tolol! Hih...!" bentak Jalak Kuning sambil mencengkeram leher prajurit
itu. Lalu...
Tuk! Tuk! Tuk! Tiga kali jari
telunjuk Jalak Kuning menoto'k punggung sang Prajurit. Seketika membuat tubuh
prajurit Itu tak mampu bergerak. Pendekar Gila kini merasa harus berjuang untuk
dapat membebaskan prajurit itu dari totokan.
"Hm, sulit juga. Prajurit itu
tertotok. Sedangkan Senapati Braja dalam keadaan luka," gumam Pendekar
Gila dalam hati sambil terus mengawasi kedua lawannya yang semakin bernafsu
ingin cepat membunuhnya. Tak ada jalan lain, aku harus menggunakan barang ini.
Srt! Pendekar Gila segera
meloloskan Suling Naga Sakti dari ikat pinggangnya. Kemudian dilemparkan ke
bawah, dekat Sepasang Jalak Neraka.
Glarrr...! Ledakan dahsyat
menggelegar terdengar, disertai asap kuning tebal. Sekelika Sepasang Jalak
Neraka melangkah mundur. Dari
gumpalan asap kuning Itu, samar-samar tampak sesosok ular besar berwarna kuning
keemasan.
"Szzz...!" "Wuaaa!
Tolooong...!" Sepasang Jalak Neraka serta-merta lari terbirit- birit,
ketika tiba-tiba di hadapan mereka telah muncul seekor ular naga besar berwarna
kuning keemasan yang mulutnya membuka lebar seakan hendak mene lan keduanya.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak, kemudian dengan tenaga dalam tangannya menarik Suling Naga
Sakti yang berubah kembali menjadi suling. Setelah itu sambil tertawa, Pendekar
Gila melayang turun.
Tuk! Tuk! Tuk! Tiga kali Pendekar
Gila membuka totokan di tubuh sang Prajurit, sehingga prajurit itu bisa
bergerak seperti sedia kala. Tetapi baru saja sadar, prajurit itu terkulai
kembali, pingsan dengan wajah pucat. Rupanya kehadiran Naga Sakti, menjadikan
jiwanya terguncang.
Pendekar Gila hanya
menggeleng-gelengkan kepala, kemudian direnggutnya tubuh sang Prajurit dan
dibawanya pergi meninggalkan Hutan Randu Kembar yang rusak akibat pertarungan
tadi.
***
Sena terus berlari membawa dua sosok tubuh di
pundaknya. Dengan menggunakan ilmu lari 'Sapta Bayu', dalam sekejap saja dia
telah berada jauh. Kini
dia telah sampai di depan pintu
gerbang Kerajaan Mandra Kulawa.
"Berhenti! Siapa kau? Dan ada
keperluan apa kau ke istana?" tanya prajurit jaga sambil menyilangkan
tombaknya, menghalangi langkah Sena. "Hi hi hi...! Aha, apakah kalian tak
melihat kedua teman kalian dalam keadaan luka dalam?" tanya Sena sambil
cengengesan.
Keempat prajurit jaga pintu gerbang
mengerutkan kening, lalu memeriksa dua tubuh yang berada di atas pundak Sena.
"Senapati Braja dan Tamtama
Galatra...!" pekik keempat prajurit jaga dengan mata membelalak kaget.
"Apa yang terjadi pada mereka?
Di mana yang lainnya?" tanya prajurit yang bertubuh gemuk dan berwajah
bulat.
"Aaakh...! Aduh,
panaaas...!" "Aaakh...!" Senapati Braja menjerit, ketika daun
randu kuning dioleskan di lukanya. Asap mengepul, keluar dari luka di dada
sebelah kiri itu Tubuh Senapati Braja menggeliat-geliat kesakitan. Namun
Pendekar Gila tak menghiraukannya. Kini telapak tangannya disatukan di dada
Senapati Braja yang terluka.
Getaran kuat terjadi, ketika
Pendekar Gila menarik racun yang melekat di luka itu Sedangkan Senapati Braja
menjerit melengking dan keras, bagaikan tengah meregang nyawa. Tubuhnya
menggeliat-geliat liar. Keringat sebesar biji biji jagung, deras keluar dari
seluruh pori-pori tubuhnya.
"Hm... ng.... Hops...!"
Pendekar Gila terus mengerahkan tenaga dalam nya, untuk menarik racun yang
melekat di tubuh Senapati Braja. Tangannya yang disaluri tenaga dalam, tergetar
dengan hebat. Dari kepalanya, keluar asap ungu bergulung-gulung. Lama sekali
Pendekar Gila melakukan hal itu, sampai akhirnya tubuh Senapati Braja turut
membara dan terkulai pingsan, ketika kedua tangannya dilepas dari dada senapati
itu.
"Bukan manusia
sembarangan," gumam Senapati Kandanu, menyaksikan apa yang diperbuat
Pendekar Gila. Dia tahu sangat berat untuk melakukan pekerjaan yang seperti
itu. Namun Pendekar Gila tak kelihatan letih sedikit pun. Lebih mengejutkan,
ketika asap ungu keluar dari ubun- ubunnya yang tidak lain Racun Kabut Ungu.
Sebuah racun dahsyat, tapi Pendekar Gila dapat menguasai dan menjinakkannya.
Padahal, selama seratus tahun, tak seorang pun yang tahan terhadap Racun Kabut
Ungu.
Pendekar Gila tampak masih duduk
bersila sambil mengatur pernapasan yang sudah tersengal- sengal, setelah
melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan itu. Kini dengan sikap duduk seperti
bersemadi Pendekar Gila mengheningkan cipta.
Senapati Kandanu kembali
membelalakkan mata, ketika melihat tubuh Pendekar Gila membara merah bagaikan
diselimuti api. Ruangan di sekitar tempat itu, seketika bertambah terang oleh
cahaya merah yang keluar dari tubuh Pendekar Gila.
"Hei, apa lagi yang
dilakukannya?" gumam Senapati Kandanu dalam hati dengan kedua mata
terbelalak kaget, hampir tak percaya dengan apa yang kini dilihatnya.
Setelah kejadian itu berlangsung
agak lama, Pendekar Gila akhimya membuka mata perlahan. Dihelanya napas
panjang, berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya guna menggantikan yang di
paru- parunya. Dan sesaat kembali mulutnya cengengesan, dengan tangan
menggaruk-garuk kepala. "Sena, Baginda telah menunggu," ujar Senapati
Kandanu.
"Aha, ayolah!" ajak Sena
seraya bangkit dari duduknya. Lalu bersama Senapati Kandanu melangkah
meninggalkan barak menuju bangunan utama istana.
Keduanya langsung menyembah, ketika
sampai di hadapan Prabu Galih Waskita
"Silakan duduk, Pendekar
Gila!" "Terima kasih, Baginda!" Sena pun.duduk bersila di hadapan
Prabu Galih Waskita. Kepalanya ditundukkan, berusaha bertingkah laku sopan.
"Ada apa gerangan Baginda mengundangku?"
***
Malam kembali bergayut menyelimuti
bumi. Desa Ngadireja pun sepi, bagaikan desa yang mati.
Warga Desa Ngadireja tengah dilanda
perasaan berkabung, duka yang dalam. Selama tiga pumama belakangan ini, desa
mereka dijarah gerombolan pengacau yang mengaku diperintah Pendekar Gila.
Sementara itu, Pendekar Gila nampak
sedang terbaring di atas dipan. Matanya belum t«rpejam. Sejak kemarin dirinya
berada di Desa Ngadireja, menginap di kedai Ki Lampit. Malam kemarin dilalui
dengan tenang, tak ada tanda-tanda kemunculan gerombolan yang mengaku anak
buahnya. Seakan mereka tahu, kalau Pendekar Gila berada di desa itu.
Di samping Pendekar Gila di sebuah
dipan lain tampak Ki Lampit tengah berbaring pula. Orang tua ltu pun belum
tidur. Malam itu Ki Lampit masih bertanya tanya dalam hati. Siapa sebenarnya
pemuda bertingkah laku gila yang kerjanya cepat dan tengah membantunya dalam
pekeijaan di kedainya. Semua pekerjaan diambil alih pemuda bertingkah laku gila
itu.
Kadang kala Ki Lampit ingin
tertawa, jika melihat tingkah laku Pendekar Gila yang konyol dan lucu. Namun
dirinya selalu menahannya, takut kalau-kalau pemuda bertingkah laku gila itu
akan tersinggung. Jika hal itu terjadi, dia akan kerepotan seperti kemarin
lusa. Padahal semenjak Pendekar Gila bersamanya, pekerjaan menjadi ringan.
"Dua hari kita bersama, tetapi
selama ini aku belum tahu siapa kau sebenarnya," gumam Ki Lampit dengan
tarikan napasnya yang berat. "Semenjak kau berada di sini, aku merasa
aneh."
"Aha, apa yang kau anggap
aneh, Ki?" tanya Sena seraya bangun dari pembaringan. Mulutnya
cengengesan. Lalu tangannya mengambil bulu burung di ikat pinggangnya. Kemudian
dikorek telinga kanannya dengan bulu burung itu. Mulut nyengir merasa kenik-
matan.
"Gerombolan itu, biasanya
datang tujuh hari sekali. Tetapi semenjak kau datang, mereka tidak datang.
Sepertinya, kehadiranmu membuat mereka takut." Pendekar Gila tertawa
mendengar penuturan Ki Lampit, yang dianggapnya terlalu mengada ada. Bagaimana
mungkin orang tahu dirinya di Desa Ngadireja. Lagi pula, mengapa gerombolan itu
harus takut terhadapnya. Pendekar Gila menggeleng- gelengkan kepala, dengan
tangan kiri menggaruk- garuk kepala.
"Hi hi hi...! Lucu sekali kau,
Ki. Bagaimana mungkin mereka takut pada orang gila sepertiku? mengatas namakan
Pendekar Gila," tutur Ki Lampit
Pendekar Gila tersentak mendengar
cerita Ki Lampit. Bahwa namanya dijadikan sebagai biang keladi pembunuhan itu.
Kemudian sambil cengengesan, ditariknya napas dalam dalam. Ada perasaan marah
dan jengkel dalam hatinya.
"Hi hi hi..., lucu sekali!
Mengapa orang-orang semakin suka melakukan hal-hal aneh? Lucu sekali...!"
gumam Pendekar Gila sambil menggeleng gelengkan kepala. Dirinya merasa tak
habis pikir mengapa penjahat lebih suka menggunakan gelarnya untuk melakukan
aksi kejahatannya.
"Kau tak takut,
Pendekar?" tanya Ki Lampit "Hi hi hi..., takut? Mengapa harus takut?
Hyang Widhi akan senantiasa melindungi orang yang benar, Ki. Kalau kita tak
salah, mengapa harus takut?" Sena balik bertanya dengan masih cengengesan.
"Ah, kau memang sangat
bijaksana, Pendekar. Sungguh jahat orang-orang yang telah mencemarkan nama
baikmu. Mereka tidak ubahnya iblis!" dengus Ki Lampit, sepertinya turut
jengkel mendengar berita Pendekar Gila dijadikan kedok kejahatan.
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak sambil menggaruk-garuk kepala, seakan-akan melihat kelucuan.
Namun dilihat dari sinar matanya, jelas hatinya benar-benar marah. Merasa telah
dipermainkan seenak nya oleh para durjana.
"Ini tidak bisa didiamkan.
Para warok pun tentu menuduh aku pelakunya," gumam Pendekar Gila dalam
hati sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Ah, sudahlah, Ki! Malam telah
larut. Tidurlah dahulu, nanti kau sakit!" ujar Sena kepada Ki Lampit nqar
segera tidur. Dirinya tak ingin orang tua sebatang kara itu akan mengalami
sakit.
"Kau...?" "Hi hi
hi..., nanti aku pun tidur," sahut Pendekar Gila
Ki Lampit pun segera merebahkan
tubuh. Perlahan lahan dipejamkan matanya. Dan tidak lama kemudian, lelaki tua
itu telah pulas dalam tempat tidur. Sedangkan Pendekar Gila nampak masih duduk
sambil menyandarkan tubuh pada dinding. Mulutnya masih cengengesan, dengan
tangan menggaruk-garuk kepala. Benaknya masih memikirkan tentang semua kejadian
yang mengaitkan julukannya.
Pendekar Gila menengadahkan wajah
ke atas, seakan hendak mencari sesuatu. Dihelanya napas dalam- dalam, berusaha
menenangkan perasaannya.
"Hyang Jagat Dewa Batara,
semoga Engkau inemberi kekuatan pada hambamu ini!" desahnya lirih, sambil
memejamkan mata perlahan.
Malam semakin larut suasana pun
bertambah sepi. Tiba-tiba dari arah barat terdengar suara jeritan memecah
keheningan malam. D'isusul suara gelak tawa.
"Tolong...! Rampok...!"
"Hua ha ha...! Jangan melawan! Kami anak buah Pendekar Gila. Percuma
kalian melawan...!"
Sena yang mendengar gelarnya
disebut, tersentak kaget. Dengan bibir tersenyum, tubuhnya melesat cepat
meninggalkan kamar bilik di kedai Ki Lampit.
"Hi hi hi...! Pucuk dicinta
ulam tiba. Rupanya apa yang dikatakan Ki Lampit benar. Aha, malam ini aku lkan
berburu kecoa-kecoa busuk!" dengus Pendekar Gila sambil terus melesat
menuju tempat asal jeritan.
Sementara warga desa masih
hiruk-pikuk ketakutan ditingkahi dengan suara jerit kematian, di tempat yang
sepi Caraka Wanda nampak semakin beringas. Matanya menyala-nyala menatap tubuh
gadis cantik yang kini setengah telanjang.
"Lepaskan aku!
Tolooong...!"
"He he he...! Jangan takut,
Manis! Kita akan menikmati indahnya malam ini," ujar Caraka Wanda sambil
berusaha menggeluti tubuh gadis cantik kembang Desa Ngadireja. Namun
tiba-tiba...,
"Hua ha ha...! Begitukah
tingkah anak buah Pendekar Gila? Ah ah ah, lucu sekali. Kecoa-kecoa busuk
mengaku anak buah Pendekar Gila...!" dari kegelapan, terdengar suara tawa
susul-menyusul, Pendekar Gila.
Caraka Wanda dan Jabil tersentak
kaget. Keduanya langsung menoleh ke tempat datangnya suara pemuda itu. Mata
mereka membelalak tegang Apalagi Caraka Wanda yang telah kenal siapa pemilik
suara itu
"Pendekar Gila...?!"
desis Caraka Wanda dengan mata membelalak tegang.
"Dia ada di sini?!" tanya
Jabil tak kalah kaget dan tegang, setelah tahu siapa yang tertawa itu.
"Aha, apa kabar, Ki
Sanak...?" tahu-tahu Pendekar Gila telah berdiri beijarak satu tombak di
samping mereka. Hal itu semakin membuat keduanya terlonjak kaget karena tak
tahu kapan dan dari mana datangnya. Gadis yang hendak diperkosa bangkit dan
langsung berlari ke belakang Pendekar Gila. Tetapi Ayu Wuni pun kelihatannya
masih takut, setelah tahu siapa pemuda bertingkah laku gila itu.
"Kau...? Kau Pendekar
Gila...?!" tanyanya dengan mata terbelalak ketakutan.
"Hua ha ha...! Jangan takut,
Ni Sanak! Aku memang Pendekar Gila, tetapi bukan pimpinan para kecoa busuk itu!
Hi hi hi...! Lucu sekali. Rupanya kecoa-kecoa busuk kini pada bertingkah,"
gumam Pendekar Gila sambil cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
Ditatapnya kedua lelaki bermata
jalang itu dengan tajam. Kemudian dengan cengengesan, tangannya menggaruk-garuk
kepala. Lalu dipandangi gadis cantik yang berpakaian telah compang<amping
akibat reng gutan tangan Caraka Wanda.
"Aha, tak kusangka, kalau anak
seorang warok berbuat sekeji ini. Hi hi hi... lucu sekali. Dunia ini memang
semakin lama semakin bertambah gila," gumam Pendekar Gila dengan mulut
masih cengengesan. Sedangkan tangannya tetap menggaruk-garuk kepala. Lalu
diambil Suling Naga Sakti. Ditiupkan dengan merdu, mendendangkan nyanyian
tentang seekor anak domba yang berusaha menjadi serigala. Anak domba itu terus
berusaha agar bisa jadi serigala. Sampai akhimya, anak si domba membabi buta.
"Cuih! Lancang sekali kau,
Pendekar Gila!" bentak Cakra Wanda dengan napas mendengus, "Jangan
kira aku tak mengerti nyanyian sulingmu!"
"Hi hi hi..! Ah, baguslah
kalau kau mengerti. Rupanya kau anak warok yang pintar. Sayang..., sayang
sekali perbuatanmu tak sesuai dengan pribadi orang tuamu," ujar Pendekar
Gila sambil tertawa cekikikan dengan kepala menggeleng- geleng, seakan sangat
menyesalkan atas perbuatan Caraka Wanda.
"Cuih!" Caraka Wanda
membuang ludah jengkel. Mata Ayu Wuni terus memperhatikan pertarungan itu
dengan harap-harap cemas. Takut kalau kalau pemuda tampan bertingkah gila
kalah.
"Heaaa...!" Wret! Wret!
Pedang di tangan Caraka Wanda dan Jabil menderu dengan cepat ke tubuh Pendekar
Gila. Tetapi dengan cepat pula, Pendekar Gila mundurkan kaki kanan. Kemudian
menggeser kaki kiri agak merentang sambil meliukkan tubuh.
"Celaka...!" pekik kedua
lawannya kaget, karena pedang mereka tetap belum berhasil bersarang di tubuh
lawan. Bahkan pedang itu kini melesat ke tubuh temannya. Mata keduanya
terbelalak tegang, menyadari gerakan masing-masing yang kacau.
Melihat kedua lawannya dalam
keadaan mati langkah, sambil menggaruk garuk kepala Pendekar Gila menendangkan
kaki kanan ke tubuh Jabil. Sementara tangan kiri, menghantam tubuh Caiaka
Wanda.
"Hi hi hi ..! Hea...!"
Caraka Wanda dan Jabil yang mati langkah, tersentak kaget. Keduanya
kebingungan. Kalau meneruskan membabatkan pedang dapat membahayakan kawannya.
Sedang kalau berhenti jelas gerakan Pendekar Gila akan lebih leluasa menyerang.
"Hea!" Dalam kebingungan
dan kagetnya, Caraka
Wanda melentingkan tubuh ke
belakang untuk mengelak. Sehingga Jabil yang teriambat, tak ampun lag! menjadi
sasaran tendangan kaki Pendekar Gila.
Begk! "Akh...!" Jabil
memekik keras. Tubuhnya terlontar deras ke belakang, bagaikan didorong sebuah
kekuatan yang dahsyat Tubuh itu baru berhenti, ketika menghantam pepohonan
bambu.
Gosrak! "Akh!" Tanpa
ampun lagi, Jabil terjepit batang batang bambu. Sesaat Jabil meregang, kemudian
terkulai mati.
Menyaksikan temannya tewas, Caraka
Wanda bertambah beringas. Dengan napas mendengus keras, lelaki muda itu kembali
bergerak menyerang. Jurus, 'Semilir Angin Meniup Daun Kering' segera
dikeluarkan. Nampaknya Caraka Wanda sudah tak sabar lagi untuk membinasakan
Pendekar Gila.
"Heaaa...!" Wrt! Wrt...!
Pedang di tangan Caraka Wanda bergerak laksana angin yang bertiup semilir.
Kelebatannya sangat halus dan pelan. Hal itu karena Caraka Wanda menggunakan
tenaga dalam yang cukup tinggi, juga pengerahan batin yang sempurna. Kakinya
melangkah secara beraturan, seperti memakai hitungan-hitungan tertentu.
Melihat jurus yang dilakukan Caraka
Wanda, seketika Pendekar Gila mengerutkan kening. Dengan memandang lewat sudut
mata sambil nyengir, pikirannya berusaha mengingat-ingat gerakan yang dilakukan
Caraka Wanda.
"Hm, bukankah itu gerakan
Macan Barong yang kulihat di Ponorogo?" tanya Pendekar Gila dalam hati
brrusaha mengingat-ingat gerakan- gerakan yang dilakukan Caraka Wanda.
"Aha, benar! Itu gerakan yang dilakukan Macan Barong Hm, kalau begitu yang
menjadi Maean Barong tentunya pemuda ini."
"Pendekar Gila, kau harus
mampus! Bersiaplah!" dengus Caraka Wanda.
"Bocah Edan! Kubunuh kau! Hea...!"
seorang anak buah Surotama membabatkan golok ke tubuh lawan yang sedang
menungging. Namun dengan jurus „Gila Mabuk Mencabut Rumput‟ Pendekar Gila
segera bergerak mengelit. Tubuhnya seperti orang gila yang sedang mabuk.
Jumpalitan ke sana kemari, dengan tangan bergerak mencengkeram dan memukul
Sedangkan kedua kakinya bergerak melakukan serangan dengan lutut dan tendangan
"Hi hi hi! Heaaa...!"
Dugk! "Ukh...!" orang yang berada di belakang terjengkang, karena
terkena tendangan kaki kiri Pendekar Gila. Mulutnya meringis kesakitan dan
tampak darah mengalir dari sela bibir. Tangannya memegangi dada yang terasa
nyeri hebat. Bahkan dirasakan pukulan keras tadi meremukkan tulang rusuknya.
No comments:
Post a Comment