Sunday, April 21, 2019

022 Kutukan Berdarah


KUTUKAN BERDARAH
Oleh Firman Raharja

1
Padepokan Goa Naga yang terletak di lereng Gunung Bromo, meskipun cukup besar, bentuk ban- gunannya tampak sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu, yang mungkin berasal dari pepohonan di sekitar lereng gunung itu.
Padepokan itu hanya dihuni dua orang, guru dan murid. Sang Guru yang bernama Ki Pramanu be- rusia sekitar tujuh puluh tahun. Sedangkan murid sa- tu-satunya berusia sekitar dua puluh lima tahun, ber- nama Sugali.
Saat itu, di dalam padepokan, Ki Pramanu ten- gah duduk menjalani semadi. Lelaki tua berkumis dan berjenggot panjang itu, nampak duduk bersila di atas sebuah batu datar. Matanya terpejam rapat Tampak- nya kakek berjubah merah itu, benar-benar memu- satkan hati dan pikirannya. Hikmat dan begitu tenang. Ketika Ki Pramanu sedang khusyuk semadi, Sugali masuk. Kedatangan sang Murid membuat Ki Pramanu menghentikan semadinya.

"Ada apa, Gali? Kulihat wajahmu gelisah. Aku tahu hatimu tak tenang," gumam Ki Pramanu seraya menatap wajah Sugali.
"Hhh...! Aku akan mencari Pendekar Gila, Guru," jawab Sugali dengan dada naik turun, seperti tengah menahan kemarahan. Dendamnya pada Pende- kar Gila berkobar-kobar laksana api. Dendam seorang anak yang ingin menunjukkan bakti kepada kedua orang-tuanya. Tak mampu dilupakan kematian orang- tuanya di tangan seorang pendekar pembela kebena- ran dan keadilan yang tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila.
Ki Pramanu masih terdiam, belum memberi tanggapan. Matanya memperhatikan wajah Sugali yang gelisah. "Dia telah membunuh kedua orangtua ku."
"Hm... aku tahu, Sugali. Namun apa kau telah tahu masalah sebenarnya...?" tanya Ki Pramanu. Lela- ki tua itu seakan menyatakan ketidaksetujuannya ter- hadap rencana sang Murid. Dirinya tahu benar siapa Sena Manggala sebenarnya. Lebih dari itu, Ki Pramanu tahu benar apa sebenarnya yang telah terjadi pada ke- dua orangtua Sugali.
"Sudah, Guru," dengus Sugali penuh amarah, yang membuat Ki Pramanu hanya mampu mendesah panjang. Sebenarnya sang Guru tak menghendaki murid satu-satunya itu harus bermusuhan dengan Pendekar Gila. Namun nampaknya keadaan menghendaki lain. Sugali memang anak sepasang tokoh beraliran sesat. Ayahnya bernama Prikada. Sedangkan sang Ibu yang juga sealiran dengan suaminya bernama Dripadi.
"Tapi kedua orangtua mu yang salah dalam hal ini, Sugali."
"Memang kedua orangtua ku yang salah," Suga- li menghela napas berat
"Nah, mengapa engkau mesti memperuncing permasalahan...?" tanya Ki Pramanu.
"Sebagai seorang anak yang berbakti, tentunya aku harus membela kedua orangtua ku," ujar Sugali masih dengan perasaan marah.
"Walau itu tindakan yang salah?" tanya Ki Pra- manu.
"Ya!" tegas Sugali. "Oooh...!" sang Guru mendesah panjang. Dige- lengkan kepala, seakan hendak membuang beban be- rat dalam benaknya. "Sungguh kau tak memikirkan akibatnya, Gali!" ujar Ki Pramanu.
"Aku sudah memikirkannya, Guru," sahut Su- gali ketus. "Aku sudah mempersiapkan segala akibat- nya yang bakal terjadi...."
"Heh, kau memang pemberani! Tetapi kebera- nianmu tidak pada tempatnya," gumam Ki Pramanu. "Seharusnya kau bersyukur, ayah dan ibumu dapat mati dengan sempurna. Kalau tanpa bantuan Pende- kar Gila, kedua orangtua mu akan menjadi hamba se- tan untuk selamanya!"
"Guru membela dia?" tanya Sugali dengan nada tak suka. Ki Pramanu kembali menarik napas panjang. Ucapan sang Murid seakan menusuk tajam, menghu- jam di lubuk hatinya. Kini lelaki tua itu, merasa seperti dalam keadaan yang serba salah. Padahal dirinya memperingatkan sang Murid, karena tak ingin Sugali menjadi korban Pendekar Gila. Cukup kedua orangtu- anya saja yang menjadi korban.
Sebenarnya Ki Pramanu pun menyimpan den- dam terhadap Pendekar Gila. Namun bila dirasa, dendam tak akan pernah habis. Dendam kesumat seperti itu hanya akan menyebabkan pertumpahan darah. Bila ingat dan sadar akan hal itu, maka lelaki tua itu pun segera menguburkannya dalam-dalam.
Kini, Ki Pramanu kembali diingatkan pada ma- salah adik seperguruannya, yang mati di tangan Pendekar Gila. Namun, seperti kedua orangtua Sugali, adiknya pun merupakan tokoh aliran sesat. Ya, Datuk Raja Beracun adalah orang sesat. Maka sewajarnyalah kalau Pendekar Gila menumpasnya.
Bukan dirinya merasa takut terhadap pendekar muda itu, tapi percuma saja. Bukan kemenangan yang akan diperolehnya, melainkan kebinasaan yang sia-sia. Ilmu pendekar itu sangat tinggi. Jangankan tokoh seperti dirinya. Para datuk dan siluman pun akan bingung bila harus menghadapi Pendekar Gila, apalagi ka- lau pendekar yang bertingkah laku seperti orang gila itu telah mengeluarkan senjatanya, berupa suling.
"Aku bukan membelanya, Gali," ujar Ki Prama- nu dengan suara lemah. Dirinya sadar kalau Sugali bukan anak-anak lagi. Muridnya kini telah dewasa. Berhak menentukan sendiri jalan hidupnya. Namun, bila sang Murid salah melangkah, apakah harus ber- diam diri begitu saja? Guru macam apakah dia? "Aku hanya ingin mengingatkan padamu, siapa sebenarnya Pendekar Gila."
Sugali terdiam mendengar ucapan Ki Pramanu. Seakan ucapan sang Guru menyentakkan dirinya un- tuk kembali berpikir. Memang kalau dipikir benar- benar, kedua orangtuanya yang salah dalam hal ini. Kedua orangtuanya yang telah menyebabkan Pendekar Gila melakukan tindakan itu. Karena bila tidak, ben- cana akan mengancam kehidupan manusia.
Kedua orangtuanya telah bersekutu dengan Bu- to Ijo, iblis yang mampu memberi kehidupan. Buto Ijo itu dapat memberi kekayaan untuk mencukupi bagi kehidupan pemujanya.
Sebuah persekutuan dengan iblis yang saling keterkaitan. Kedudukan orangtua Sugali harus selalu menyediakan korban yang disebut tumbal untuk sang Buto. Sementara orangtuanya pun mendapatkan imba- lan berupa harta kekayaan yang datang sendiri bila te- lah mempersembahkan tumbal.
Bila hal itu berjalan terus-menerus, kekayaan orangtua Sugali makin menumpuk. Sementara manu- sia akan makin berkurang, dibunuh sebagai tumbal persembahan bagi Buto Ijo.
Kalau saja Sugali berpikir jauh, bukankah adiknya sendiri telah dijadikan tumbal pertama? Tum- bal untuk menentukan kuat tidaknya Prikada dan Dripadi menghadapi ujian. Tumbal inilah yang akhirnya menyebabkan kedua orangtua Sugali itu kuat dan ta- han terhadap jeritan kematian para tetangga atau anak-anaknya ketika dimangsa sang Buto Ijo.
Bila mengingat itu semua, seketika Sugali menangis. Menangis meratapi kesesatan yang dilakukan orangtuanya,
"Tapi mereka melakukan juga karena aku," gumam Sugali dalam hati. "Ya, karena akulah kedua orangtua ku harus menyimpang dari keadaan sebe- narnya. Aku memang yang menginginkan kedua orangtua ku kaya. Aku malu, bila mendengar segala cemooh dari tetangga yang tak menginginkan diriku main dengan anak-anaknya karena aku miskin. Oooh...!" "Sepertinya engkau mengenang sesuatu, Gali?" tanya sang Guru yang melihat perubahan di wajah muridnya. "Apa yang tengah engkau pikirkan?"
Sugali tersentak kaget. Dengan secara tak sen- gaja matanya menatap wajah tua di hadapannya. Wa- jah lelaki tua yang seakan mengandung ribuan goresan pengalaman hidup, baik yang senang maupun susah. Seraut wajah gurunya, yang terselubung dengan ke- misteriusan.
Sampai sekarang pun sebenarnya Sugali belum mengenal siapa dan dari mana Ki Pramanu. Nama sang Guru, seakan tiada melekat. Aneh memang. Se- lama lima tahun dirinya berguru pada lelaki tua renta berambut serba putih itu, tapi tak pernah sekalipun mengetahui siapa sebenarnya sang Guru. Sepertinya sang Guru sengaja selalu menyembunyikan jati di- rinya. Atau barangkali Ki Pramanu menyimpan rasa takut sehingga menyembunyikan jati dirinya. Namun, takut pada siapa gurunya? Bukankah lelaki tua itu be- rilmu tinggi?
"Guru, apakah aku bersalah jika membela orangtua ku?" tanya Sugali. "Apakah salah jika aku mendendam pada orang yang telah membinasakan ke- dua orangtua ku?"
Ki Pramanu kembali tercenung diam. Hatinya menjerit, mendengar pertanyaan Sugali. Dirinya men- dadak merasa bersalah, telah mengangkat manusia pendendam dan picik sebagai murid. Seorang anak yang telah tega menjerumuskan kedua orangtuanya, untuk melangkah di jalan yang salah. Jalan yang se- sat. Manusia angkuh yang hanya mementingkan diri sendiri, walaupun harus mengorbankan saudaranya sendiri. "Ooo...!" keluh Ki Pramanu dalam hati. Tak dis- adari, wajahnya kini nampak muram. Segala ingatan pada Datuk Raja Beracun kembali melintas, menguak kalbu untuk mengenang kembali kejadian yang me- nimpa adik seperguruannya itu.
Adik seperguruannya pun sesat, karena menu- ruti hasratnya. Datuk Raja Beracun, akhirnya mati di tangan Pendekar Gila setelah malang-melintang di rimba persilatan, sebagai datuk sesat yang banyak membuat keonaran.
"Ya, kau memang salah. Kesalahan pada tinda- kanmu yang hanya menuruti nafsu setan belaka," ujar Ki Pramanu dengan tegas. "Kalau saja dulu kau tak merengek-rengek agar kedua orangtua mu kaya, tentu keadaannya tak seperti ini. Hhh...! Nasi sudah menjadi bubur. Segalanya kini kuserahkan kepadamu. Kaulah yang berhak menentukan. Aku tak bisa membantu- mu."
Sugali terpaku diam, tak dapat berkata apa- apa. Harapan agar sang Guru bersedia membela dan membantunya menghadapi Pendekar Gila, seketika pupus. Meski begitu Sugali bertekad harus menghadapi Pendekar Gila. Dirinya harus membalas dendam terhadap Pendekar Gila yang telah membunuh kedua orangtuanya.
***
Lama guru dan murid itu terdiam dengan piki- ran masing-masing. Sugali masih berusaha merenung- kan kata-kata yang tadi diucapkan Ki Pramanu. Ha- tinya masih bertanya-tanya, "Mungkinkah sang Guru akan membiarkan diriku bertarung dengan Pendekar Gila? Nampaknya Ki Pramanu sendiri enggan, bahkan ada rasa takut untuk berhadapan dengan Pendekar Gi- la."
"Mengapa guru sepertinya takut pada Pendekar Gila?" tanya Sugali dalam hati, merasa heran karena gurunya seperti takut pada Pendekar Gila.
"Apakah Guru mengizinkan ku mencari dia?" tanya Sugali.
"Apakah Guru mengizinkan aku menuntut ba- las terhadap Pendekar Gila?" ulang Sugali mene- gaskan. "Tidak!" sahut Ki Pramanu tegas.
"Kenapa...?" Sugali menatap wajah lelaki tua itu penuh keheranan.
Untuk sekian kalinya, Ki Pramanu menarik na- pas panjang. Berat rasanya untuk menjawab perta- nyaan sang Murid. Dirinya serba terjepit. Ke mana ia melangkah, jelas akan mendapatkan kesalahan. Mem- bela muridnya, jelas dan pasti akan menghadapi kesa- lahan besar yang berbuntut harus berhadapan dengan Pendekar Gila. Bila diam saja, apa artinya seorang guru yang membiarkan sang Murid harus menghadapi segala masalah hidupnya sendiri.
"Bagaimana, Guru?" desak Sugali.
"Apakah tak ada jalan lain, Sugali?" "Tidak ada." "Hm...!" gumam Ki Pramanu. "Rupanya kau hanya berpikir pada satu jalan, Muridku. Aku kira, ada jalan lain agar kita tak harus bentrok dengannya."
"Yang Guru maksudkan, kita damai?" tukas Sugali.
"Ya!" jawab Ki Pramanu. "Ah...!" "Kenapa, Gali?" "Tidak! Aku tidak mau!" "Lalu apa yang kau mau, Gali?" "Kematian! Dia atau aku yang harus mati," Su- gali menyeringai, seolah-olah tengah memberikan tan- da pada sang Guru, bahwa dirinya telah siap menang- gung akibat.
"Ah...!" pekik Ki Pramanu kaget. "Rupanya Guru takut menghadapinya," sindir Sugali dengan nada sinis. "Hm, tak kusangka kalau guruku sepengecut itu!"
"Sugali! Lancang kau bicara!" bentak Ki Prama- nu marah.
Sugali hanya mencibirkan mulut, seakan me- mang benar-benar ingin mengejek gurunya yang pena- kut. Sugali sungguh tak menyangka kalau gurunya se- pengecut itu. Ki Pramanu yang telah dianggapnya orang paling sakti, ternyata takut menghadapi Pende- kar Gila. "Aku bicara benar, Guru! Kalau Guru memang tak mau dianggap pengecut, tentunya Guru mau membantuku."
"Bukankah selama lima tahun aku telah mem- bantumu?!" bentak Ki Pramanu geram.
"Mendidik maksudmu?" Sugali kembali menci- bir.
"Ya...!" "Itu sudah kewajiban. Seorang guru wajib men- didik muridnya!" Sugali nampak ngotot bicara, tak mempedulikan dengan siapa dirinya berbicara.
Ki Pramanu tersentak kaget mendengar ucapan muridnya yang sangat keterlaluan. Hatinya kini terba- kar amarah yang dinyalakan muridnya. Mata lelaki itu menatap tajam wajah Sugali, seakan-akan hendak menelan bulat-bulat tubuh sang Murid. Nafasnya mendesah berat, terasa sesak di dalam dada. Sebagai seorang guru, jelas dirinya tak mau menerima hinaan seperti itu dari sang Murid
"Bagaimana? Apa engkau masih memungkiri?" tanya Sugali, dengan senyum sinis.
Makin terasa menyesak dada Ki Pramanu men- dengar ucapan Sugali.
"Murid celaka! Kau tak ubahnya seperti iblis!" dengus Ki Pramanu marah.
"Kaulah yang celaka, Orang Tua!" bentak Sugali tak mau kalah.
"Sekali lagi kau berkata begitu, maka tak se- gan-segan aku menghajarmu, Gali!" ancam Ki Pramanu.
Ki Pramanu benar-benar marah mendengar ucapan muridnya yang dirasa sangat menjengkelkan.
"Kalau engkau mau menghajarku, lakukanlah bila berani!" tentang Sugali.
"Iblis!" rutuk Ki Pramanu semakin marah. "Hm, kau tak berani bukan?" ujar Sugali sinis, melihat gurunya yang sudah mengangkat tangan na- mun diurungkan.
"Bedebah! Kau berani menentangku, Gali?" "Huh, kaulah yang mendahului." Ki Pramanu tak mampu menahan amarah. Na- fasnya makin memburu. Marah dan kesal melanda hatinya. Mata tuanya kini nampak memerah, seakan hendak menghujam ke dalam kalbu Sugali
"Minggat kau dari sini!" seru Ki Pramanu, meli- hat Sugali masih tersenyum mencibirkan bibir.
"Kau yang harus minggat!" Tak kalah geram, Sugali membentak Ki Prama- nu. Kini, kedua murid dan guru itu telah sama-sama berdiri. Di wajah mereka tergambar ketegangan. Mata ke-duanya saling menatap tajam, seakan tak seorang pun yang mau mengalah untuk mengakhiri perselisi- han itu. Sugali merasa dirinya telah mampu dan men- jadi seorang pendekar. Kini berani merendahkan gu- runya yang telah lima tahun mendidik dan membim- bingnya sebagai anak dan murid.
"Apa hakmu, Anak Iblis!" bentak Ki Pramanu geram.
"Kalau tak minggat secepatnya, jangan salah- kan aku menghajarmu, Orang Tua!" ancam Sugali.
Gusar dan marah hati Ki Pramanu mendengar ucapan muridnya yang kurang ajar itu. Sebagai seo- rang guru, apalagi sebagai orang tua, jelas dirinya tak mau diperlakukan sekasar itu. Perlakuan yang dirasa- kan telah menginjak-injak kehormatan sekaligus harga dirinya. "Setan! Kalau aku tak mau, kau mau apa, Mu- rid Durhaka?"
Sugali tersenyum sinis. Matanya yang merah menatap tajam Ki Pramanu.
"Tua bangka cerewet! Kalau kau tetap tak mau, maka kematian untukmu!"
Tersentak Ki Pramanu ketika melihat Sugali mencabut pedang yang tergantung di dinding padepo- kan. Pedang Dewa Naga miliknya yang merupakan pe- dang pusaka itu, kini tengah ditimang-timbang di tangan Sugali.
"Kau...!" pekik Ki Pramanu dengan mata mem- belalak kaget, melihat muridnya telah memegang Pedang Dewa Naga.
"Ya! Kau boleh memilih, menurut denganku atau selembar nyawa tuamu harus melayang dari ra- gamu yang telah bau tanah?!" ancam Sugali dengan tersenyum sinis.
Ki Pramanu menyurut mundur, ketika Pedang Dewa Naga diacungkan ke tubuhnya. Matanya nampak membeliak. Mata tua itu sepertinya menyiratkan rasa takut yang teramat sangat. Bayang-bayang kematian akibat Pedang Dewa Naga kembali tergambar di pelu- puk matanya. Kalau sudah keluar dari warangkanya, Pedang Dewa Naga itu mau tak mau harus merenggut nyawa. Ki Pramanu terus menyurut mundur, ketika Pedang Dewa Naga di tangan Sugali semakin diarah- kan ke tubuhnya. Di telinganya terdengar seruan seo- rang lelaki tua yang jelas-jelas dikenalnya. Suara itu seperti mengejeknya. Pemilik suara itu tak lain Daeng Susukan, Pendekar Tanah Toraja. Seorang daeng ali- ran lurus, yang dibunuhnya ketika dirinya masih bera- liran sesat
"Pramanu, bukankah pembalasan itu akhirnya datang? Beruntung kini engkau telah lurus. Kalau tidak, niscaya engkau akan menjadi orang celaka di alam ke- matian. Alam tempatku kini berada. Terimalah sega- lanya Pramanu. Karena semua harus berjalan dengan semestinya. Hukum karma akan selalu berbicara. Dulu aku mati di Pedang Dewa Naga milikku. Kini kau pun mengalami hal yang serupa," suara itu terus terngiang- ngiang di telinga Ki Pramanu. Ucapan Daeng Susukan itu telah mengingatkan kembali tentang hukum karma di dunia ini.
Ki Pramanu makin ketakutan. Dia semakin mundur, setapak demi setapak menjauhi Pedang Dewa Naga di tangan Sugali. Kemudian, setelah sampai di pintu, dengan cepat lelaki tua itu melompat dan berlari keluar dari padepokannya.
"Mau lari ke mana, Tua Bangka?!" seru Sugali. Dengan Pedang Dewa Naga masih di tangan, Sugali terus mengejar gurunya. "Ke mana pun kau lari aku akan mengejarmu!"
Ki Pramanu terus berlari tanpa menghiraukan ucapan Sugali. Rasa takut terus membayang di wajah- nya. Apalagi suara Daeng Susukan terus terngiang- ngiang di telinganya. Pendekar dari Tanah Toraja itu seakan-akan terus mengejarnya. Karena rasa takut itu, Ki Pramanu tak memperhatikan di depannya. Sebuah batu sebesar kepala terbentur kakinya. Seketika tubuh lelaki tua berjubah merah itu tersuruk dan jatuh.
Blukkk! "Aduh...!" "Hua ha ha...! Kini kematianmu sudah di am- bang pintu, Tua Bangka!" seru Sugali sambil tertawa terbahak-bahak.
Sugali melangkah mendekati tubuh Ki Pramanu yang masih tergeletak di tanah. Di bibirnya masih ter- sungging senyum sinis. Pedang Dewa Naga diangkat tinggi-tinggi, siap menghujam ke tubuh Ki Pramanu. Namun, pedang itu terus menggantung, seakan ada sesuatu kebimbangan di hati Sugali.
"Jangan lakukan, Gali!" seru sebuah suara yang ada di dalam hatinya, "Kau akan menyesal jika melakukannya! Dia gurumu, yang telah berjasa pada- mu!"
"Bodoh, jika kau tak melakukannya!" seru sua- ra lain. "Kalau dia masih hidup, senantiasa akan menjadi penghalang niatmu! Lakukanlah agar kau bebas dari-nya! Dengan Pedang Dewa Naga, kau akan menjadi tokoh sakti!"
Sugali nampak masih bimbang. Terlebih ketika menyaksikan gurunya ketakutan, meratap agar dirinya tak melakukan pembunuhan terhadapnya. Namun bi- sikan iblis untuk membunuh, terus menggelitik batin Sugali.
Melihat muridnya masih dalam kebimbangan, Ki Pramanu tak menyia-nyiakan kesempatan. Lelaki tua berjenggot putih itu segera bangkit berdiri, kemu- dian dengan cepat bergerak menyerang Sugali.
"Mampuslah, Murid Durhaka! Hea...!" Sugali yang tak menyangka kalau gurunya akan menyerang, tersentak kaget. Dirinya berusaha berkelit dari serangan Ki Pramanu. Namun gerakannya terlambat. Tanpa ampun lagi, sebuah pukulan keras yang dilancarkan lelaki tua berjubah merah itu menda- rat telak di bawah pundak sebelah kirinya.
Degk! "Ukh...!" keluh Sugali dengan tubuh terhuyung- huyung mundur. Mulutnya meringis kesakitan. Ma- tanya terbelalak menatap Ki Pramanu. Dari sela bibir- nya, meleleh darah segar. "Keparat! Kubunuh kau, Tua Bangka Keparat! Hea...!"
Dengan amarah yang meluap-luap, Sugali sege- ra membabatkan Pedang Dewa Naga ke tubuh Ki Pramanu.
Wrt! "Aits! Heg...!" Dengan cepat Ki Pramanu melompat ke bela- kang, mengelakkan sabetan pedang di tangan murid- nya. Kaki kanannya ditekuk, sedangkan kaki kiri ber- gerak cepat menendang ke dada Sugali.
Wrt! "Yeaaa...!" Melihat gurunya menyerang, Sugali yang sudah marah segera merangsek. Pedang Dewa Naga di tan- gannya bergerak menusuk, kemudian membabat. Se- mentara tangan kiri dan kaki kanannya pun tak ting- gal diam, turut melakukan serangan dengan pukulan dan tendangan.
"Hea!" Pertarungan antara guru dan murid itu sema- kin seru. Keduanya tak ingin menyia-nyiakan waktu. Mereka saling mengeluarkan jurus-jurus andalan, yang bernama 'Belitan Naga'.
"Hea!" "Yea!" Jika sama-sama bertangan kosong, Ki Pramanu mampu mengimbangi serangan muridnya. Bahkan mungkin dapat mengalahkannya dalam waktu tak ter- lalu lama. Namun kini Sugali memegang Pedang Dewa Naga, yang memiliki kekuatan tersendiri bagi peme- gangnya. Pedang itu seakan mampu menambah keku- atan daya serang pemegangnya. Terbukti Ki Pramanu kelihatan mulai terdesak, karena tebasan dan tusukan yang dilancarkan Sugali.
"Hea!" "Celaka! Dia benar-benar ingin membunuhku," keluh Ki Pramanu sambil berusaha mengelitkan sabe- tan-sabetan Pedang Dewa Naga yang mampu mengelu- arkan hawa panas. Wrt! Wuttt! "Aits!" Ki Pramanu melompat mundur, menge- lakkan serangan yang dilancarkan Sugali. Kemudian dengan sebisanya, Ki Pramanu balas menyerang lewat tendangan kaki kanannya ke dada lawan, "Hea!"
"Mampuslah, Tua Bangka Keparat! Hea...!" sete- lah berhasil mengelitkan tendangan gurunya, dengan beringas dan diliputi hawa membunuh, Sugali kembali menyerang. Pedang Dewa Naga di tangan kanannya menyambar-nyambar laksana seekor ular naga yang berusaha mematuk mangsanya. Dari setiap samba- rannya, keluar angin panas yang menderu-deru.
"Hah?! Celaka...!" Ki Pramanu kembali dike- jutkan serangan beruntun dan cepat, yang dilancarkan muridnya. Dirinya berusaha menghindari sabetan dan tusukan pedang Sugali. Namun ke mana tubuhnya bergerak mengelak, Sugali terus memburunya. Seakan pemuda itu tak ingin melepaskan gurunya begitu saja.
"Mampuslah kau, Orang Tua Tolol! Hea...!" Su- gali dengan segenap tenaganya memburu tubuh Ki Pramanu. Pedang di tangannya bergerak cepat, mene- bas dan menusuk.
"Aits! Hyang Widi, haruskah aku mati di tangan murid durhaka ini?!" desis Ki Pramanu sambil terus berusaha mengelakkan babatan pedang Sugali yang memburu cepat ke tubuhnya.
"Hea!" Wuttt! Wrt! Sugali terus merangsek dengan jurus 'Naga Mengamuk Mengarungi Samudera'. Pedang di tangan- nya bergerak cepat, memburu dengan babatan dan tu- sukan maut. Kedahsyatan serangan itu membuat hati Ki Pramanu semakin bertambah kecut. Apalagi piki- ran-nya terus dibayangi suara Daeng Susukan, yang seperti tertawa kegirangan menyaksikan kutukannya bakal terjadi.
"Pramanu...! Kini tiba saatnya bagimu, menerima hukuman atas perbuatanmu dulu!" terdengar suara Daeng Susukan yang membuat Ki Pramanu bertambah tegang. "Hea!"
Sugali terus memburu dengan pedangnya, mendesak ke tubuh Ki Pramanu. Hal itu membuat lelaki tua berusia sekitar tujuh puluh tahun itu kian ter- jepit. Sehingga ketika Sugali kembali melancarkan se- rangan, Ki Pramanu telah terpojok. Tubuhnya mem- bentur tebing batu tinggi yang ada di tempat itu.
"Uuuh, matilah aku...!"'keluh Ki Pramanu den- gan menatap ngeri Pedang Dewa Naga yang melesat ke tubuhnya.
"Mampuslah kau, Orang Tua! Hea...!" Tidak...! Jangan...!" Bagaikan kesetanan, Sugali terus memburu dengan tusukan pedangnya ke tubuh Ki Pramanu yang terkulai ke bawah ketakutan. Dan....
Wrt! Crab! "Akh...!" Ki Pramanu menjerit setinggi langit, ketika Pedang Dewa Naga menghujam punggungnya, tembus sampai ke dada. Darah menyembur keluar, ke- tika Sugali mencabut pedang itu. "Kau..., kau benar- benar iblis, Sugali! Kelak kau akan menyesal! Mukamu akan hancur oleh Pendekar Gila...! Kau..., kau akan hidup dengan muka yang hancur. Sampai akhirnya, kau akan mati di tangan seorang wanita jago pe- dang...." Tubuh Ki Pramanu terkulai dengan nyawa me- layang. Darah yang keluar dari dadanya membasahi jubah merah lelaki tua itu.
Sugali sesaat terdiam, memandangi tubuh gu- runya yang telah binasa. Kemudian disekanya darah yang membasahi Pedang Dewa Naga dengan pakaian gurunya. Lalu setelah memasukkan pedang itu ke wa- rangka, pemuda bengis berpakaian merah lengan pan- jang itu melangkah meninggalkan mayat gurunya. Tujuannya hanya satu, mencari teman guna melawan Pendekar Gila.
***

2
Selang beberapa waktu kemudian, dari arah timur nampak dua sosok manusia melangkah menuju tempat tubuh Ki Pramanu tergeletak. Sepasang anak muda itu, tak lain Sena Manggala atau Pendekar Gila dengan kekasihnya, Mei Lie yang juga berjuluk Bidada- ri Pencabut Nyawa. Keduanya melewati tempat itu, da- lam perjalanan menuju Goa Setan tempat kediaman guru Pendekar Gila.
Pendekar Gila hendak menyerahkan Kitab Ajian Dewa yang telah didapatnya kembali, setelah puluhan tahun berada di tangan Kerto Pati. Kitab itu telah dija- dikan rebutan kaum rimba persilatan yang tergabung dalam Partai Kera Hitam. (Untuk lebih jelasnya, Ikuti serial Pendekar Gila dalam episode: "Kitab Ajian De- wa").
"Kakang, lihat...!" seru Mei Lie tiba-tiba sambil menunjuk ke tempat sesosok tubuh tua berjubah me- rah tergeletak.
Pendekar Gila mengarahkan pandangan ma- tanya ke tempat yang ditunjuk Mei Lie. Sikapnya yang semula cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala seketika berhenti. Keningnya mengerut, matanya me- mandang tajam ke arah yang ditunjuk Mei Lie.
"Orang tua itu sepertinya mati terbunuh, Ka- kang," tutur Mei Lie.
"Aha, benar, Mei Lie. Ayo kita dekati!" ajak Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie untuk mendekat ke tempat tubuh lelaki tua yang di sekitarnya terdapat genangan darah. "Hyang Jagat Dewa Batara, dia be- nar-benar terbunuh!"
"Ya! Kejam sekali orang yang membunuhnya,
Kakang," ujar Mei Lie agak geram, turut merasa sedih menyaksikan orang tua terbunuh dengan punggung tembus. Kening Pendekar Gila terkerut. Lalu segera membalikkan tubuh orang tua itu. Seketika matanya terbelalak kaget, setelah mengenali siapa sebenarnya orang tua itu.
"Ki Pramanu...!" desis Sena kaget sambil mem- perhatikan wajah mayat itu.
"Kau kenal dengannya, Kakang?" tanya Mei Lie ingin tahu.
"Ya!" jawab Sena sambil menggaruk-garuk ke- pala. "Dia adalah kakak seperguruan Datuk Raja Bera- cun."
"Siapa Datuk Raja Beracun, Kakang?" tanya Mei Lie semakin ingin tahu.
"Aha, seorang datuk sesat yang kejam," tutur Sena.
Kemudian pemuda berpakaian rompi dari kulit ular itu bercerita tentang petualangannya ketika me- ninggalkan Mei Lie, bahwa ia pernah bertemu dengan Datuk Raja Beracun. Datuk yang sangat kejam dan bengis. Datuk itu suka menculik anak perawan, yang katanya untuk menambah kesaktiannya. Datuk Raja Beracun dendam pada sang Guru, yang telah menga- lahkannya. Dengan darah tujuh perawan, Datuk Raja Beracun akan sakti. Dan setelah sakti nanti, dia akan mencari Pendekar dari Goa Setan.
Akhirnya Pendekar Gila bertemu dengan Datuk Raja Beracun. Keduanya bertarung, sampai akhirnya Datuk Raja Beracun kalah. Namun dasar Datuk Raja Beracun pengkhianat. Dirinya mengingkari janji. Da- tuk itu kembali membuat onar, menculik anak gadis. Hasratnya untuk mendapatkan tujuh gadis hampir ter- laksana. Namun, ketika gadis terakhir hendak dipersembahkan sebagai korban, Pendekar Gila datang. Ke- duanya kembali bertarung sampai akhirnya Datuk Ra- ja Beracun mati.
"Begitu ceritanya, Mei Lie," ujar Sena mengak- hiri ceritanya, tentang Datuk Raja Beracun yang juga adik Ki Pramanu serta pernah bertarung melawan Pendekar Gila. Datuk sesat itu bercita-cita ingin men- jadi penguasa rimba persilatan. Dan untuk memenuhi hasratnya, Datuk Raja Beracun menculik gadis untuk tumbal ilmunya yang sesat.
Mei Lie terdiam, mendengar penuturan Sena. Matanya masih memandangi mayat Ki Pramanu yang keadaannya sangat menyedihkan. Pikirannya mendu- ga, "Pasti orang tua itu dibunuh dengan pedang, kare- na lukanya sampai tembus ke dada. Lukanya pun se- lebar mata pedang."
"Hm.... Siapa yang telah begitu tega membu- nuhnya?" gumam Mei Lie bertanya.
Pendekar Gila masih terdiam. Mulutnya cen- gengesan dengan mata memandangi mayat lelaki tua itu. Tangannya menggaruk-garuk kepala, seakan ingin berusaha memahami apa yang sebenarnya telah me- nimpa pemilik Pedang Dewa Naga itu.
"Entahlah, Mei Lie," desah Sena lemah. Diten- gadahkan wajahnya memandang langit, seakan ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Hidup, mati, jodoh, dan rizki ada di tangan Hyang Widi. Hi hi hi...! Semua orang akan mendapatkan semuanya, ter- masuk kau dan aku, Mei," jawabnya kemudian dengan wajah tampak bersungguh-sungguh.
Mei Lie terpaku diam, mendengar penuturan kekasihnya. Ditundukkan kepalanya dalam-dalam, seakan tengah menghayati ucapan Sena. Memang apa yang dikatakan pendekar itu benar adanya.
"Ah ah ah, manusia memang aneh!" gumam
Sena. "Kadang kala, manusia itu seperti orang gila. Hi hi hi..! Mereka yang mengaku sehat, berlaku tak wa- ras. Membunuh, memperkosa, mencuri, dan seba- gainya." "Apa maksudmu, Kakang?" tanya Mei Lie ingin tahu ungkapan yang baru saja diucapkan Pendekar Gila. Mata gadis Cina yang sipit itu, memandang den- gan penuh arti ke wajah pemuda tampan namun ber- tingkah laku seperti orang gila di depannya. Pemuda yang senantiasa mengisi lubuk hatinya paling dalam. Pemuda yang sangat dicintainya, pemuda yang akan membuat tenang jika berada di sampingnya.
"Hi hi hi., ya, lucu! Lucu sekali perilaku manu- sia di dunia ini," gumam Sena sambil cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Pan- dangannya kini menyapu ke sekeliling Padepokan De- wa Naga yang tampak sepi. Kemudian matanya tertuju lekat ke bangunan yang terbuat dari kayu itu. Seper- tinya ada sesuatu yang menarik hati Pendekar Gila da- ri bangunan tersebut
Mei Lie turut mengarahkan pandangannya ke bangunan dari kayu itu. Keningnya mengerut, me- mandang bangunan padepokan yang seakan turut me- rasakan kesedihan atas kematian Ki Pramanu....
"Apa yang kau perhatikan, Kakang?" tanyanya. "Aha, mungkin di dalam padepokan itu, kita dapat menemukan petunjuk," jawab Sena seraya me- langkah menuju bangunan padepokan, diikuti Mei lie yang belum mengerti maksud kekasihnya.
Pendekar Gila membuka pintu padepokan yang tak terkunci. Matanya menyapu ke dalam padepokan yang sunyi dan sepi. Hanya sebuah batu persegi ada di dalam bangunan itu, dengan sebuah benda terbuat da- ri kayu berbentuk kotak. Tak ada sesuatu baginya un- tuk dapat menemukan jejak kematian Ki Pramanu.
"Bagaimana, Kakang? Apa kau menemukan se- suatu yang mencurigakan?" tanya Mei Lie dengan ken- ing mengerut, menyaksikan Sena yang masih cen- gengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandangi sekitar ruangan yang sepi itu.
"Aha, rupanya Ki Pramanu habis ribut, Mei Lie. Ada seseorang yang datang ke ruangan ini," tutur Sena setelah melihat keadaan ruangan yang agak teracak, sepertinya di ruangan itu awal dari keributan.
Pendekar Gila melangkah mendekati peti kayu yang panjang dan lebarnya sedepa, serta tinggi seten- gah lengan. Dengan kening mengerut, Sena mengawasi kotak itu. Lalu membukanya. Di dalam peti kayu itu, hanya terdapat benda-benda terbuat dari kain. Ten- tunya pakaian. Sena mengaduk-aduk pakaian itu. Se- ketika matanya membeliak, melihat selembar daun lontar.
Pendekar Gila mengambil daun lontar itu. Ter- nyata terdapat tulisan berisi pesan yang keras. Nam- paknya ketika menulis, orang itu dalam amarah yang meluap-luap.
Mei Lie segera mendekat, kemudian turut membaca tulisan pada lontar yang kini dipaparkan oleh Sena.
"Ayah dan Ibu! Aku tahu dan telah mendengar, bahwa kematian kalian oleh Pendekar Gila. Mesti Ayah dan Ibu yang salah, sebagai anak aku tak akan tinggal diam. Aku akan menuntut balas terhadap Pendekar Gi- la. Nampaknya guru tak merestui, bahkan guru seperti membela Pendekar Gila. Kalau sampai benar guru membelanya, aku tak akan segan-segan menyingkirkan dia! Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa! Hu- tang pati, harus dibayar dengan pati! Tunggulah pemba- lasanku, Pendekar Gila! Tunggulah...!"
Anakmu, Sugali
Pendekar Gila dan Mei Lie tercengang, memba- ca surat itu. Keduanya saling pandang. Kini keduanya tahu siapa pembunuh Ki Pramanu. Mereka tak habis pikir, "Mengapa murid Ki Pramanu sampai hati mem- bunuh gurunya. Pendekar Gila pun tak tahu, siapa se- benarnya Sugali dan mengapa mendendam padanya?"
"Kakang kenal dengan Sugali?" tanya Mei Lie. "Hi hi hi...! Lucu sekali...! Mendengar namanya saja baru kali ini," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala. "Ah ah ah, dendam.... Dendam adalah setan. Dendam akan menyeret manusia ke dalam kenistaan."
"Cobalah Kakang ingat siapa yang dimaksud oleh Sugali dengan orangtuanya...!" ujar Mei Lie, beru- saha mengingatkan Sena pada kejadian yang kini ber- buntut dengan dendam.
Pendekar Gila terdiam sambil mengerutkan kening. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Dirinya berusaha mengingat-ingat kejadian apa yang pernah dialaminya, hingga menyebabkan seorang anak ber- nama Sugali mendendam padanya. Namun pikirannya tetap tak ingat dengan kejadian itu. Hatinya juga me- rasa tak pernah bentrok dengan Sugali.
"Hi hi hi..! Lucu... lucu sekali! Dendam memba- bi-buta! Ah ah ah, sudahlah...! Kita kebumikan saja, Ki Pramanu. Setelah itu kita kembali meneruskan perja- lanan," ujar Sena pada Mei Lie.
Kemudian keduanya kembali melangkah keluar untuk mengubur mayat Ki Pramanu.
Setelah mengubur mayat Ki Pramanu, Pendekar Gila dan Mei Lie memberi penghormatan pada orang tua itu. Ki Pramanu sendiri pernah menjadi orang se- sat. Namun, sebelum ajalnya tiba dirinya telah menjadi orang lurus dan bahkan berusaha mengarahkan sang
Murid. Itu sebabnya Pendekar Gila dan Mei Lie merasa perlu memberi penghormatan pada orang tua malang itu.
Pendekar Gila dan Mei Lie baru saja hendak melangkah meninggalkan makam Ki Pramanu, ketika tiba-tiba terdengar suara tua memanggil namanya.
"Sena...! Pendekar Gila...!" Pendekar Gila menghentikan langkahnya, ke- mudian membalikkan tubuh, ke tempat asal suara itu.
Matanya seketika membelalak, menyaksikan dari kuburan Ki Pramanu muncul sebuah bayangan le- laki tua itu.
"Ki Pramanu...!" desis kedua pendekar muda itu hampir bersamaan.
Kedua pendekar itu segera menjura hormat, menyaksikan arwah Ki Pramanu.
"Terima kasih, kalian telah mengubur ragaku. Aku hanya ingin memberi pesan pada kalian," tutur arwah Ki Pramanu dengan suara datar dan pelan.
"Aha, pesan apakah itu, Ki?" tanya Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang konyol. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengenge- san. Sedangkan Mei Lie, terdiam dengan mata menatap bayangan arwah Ki Pramanu.
"Hati-hatilah! Ku restui kalian sebagai pasan- gan yang diberkati oleh Hyang Widi," ujar Ki Pramanu sambil mengangkat tangan kanannya dengan telapak terbuka. "Pendekar Gila, masih ingatkah kau pada dua orang suami-istri yang bersekutu dengan Buto Ijo?"
Pendekar Gila terdiam dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala. Keningnya mengerut, berusaha mengingat-ingat kejadian yang pernah dialami dengan sepasang suami-istri yang memuja Buto Ijo.
"Aha, yang kau maksud Ki Prikada dan Nyi Dri- padi?" tanya Pendekar Gila dengan mulut cengengesan, setelah ingat tentang kedua orang tua itu.
"Benar, Pendekar Gila," sahut Ki Pramanu. "Ki- ni anak mereka mencarimu."
Pendekar Gila terdiam. Ingatannya kembali menerawang pada kejadian yang menghubungkan dengan apa yang dikatakan arwah Ki Pramanu.
Tiga bulan yang lalu, dia memang pernah ben- trok dengan Ki Prikada dan istrinya, Nyi Dripadi. Ke- dua suami-istri itu, telah banyak memakan korban un- tuk tumbal persembahan. Banyak anak-anak kecil yang dijadikan korban. Mendengar berita itu, Pendekar Gila akhirnya datang ke Desa Tambak Sari. Dan di- rinya pun bentrok dengan raksasa-raksasa siluman milik Ki Prikada dan istrinya. Dengan Suling Naga Sak- ti, Pendekar Gila mampu memusnahkan siluman Buto Ijo. Namun, sebagai akibatnya yang mati justru kedua orangtua Sugali.
"Aha, jadi Sugali itu anak mereka, Ki?" tanya Sena ingin memastikan.
"Benar, Pendekar Gila. Hati-hatilah, Pendekar! Semoga kalian senantiasa dilindungi oleh Hyang Widi!" usai berkata begitu, arwah Ki Pramanu menghilang.
Pendekar Gila dan Mei Lie kembali menyembah, lalu keduanya meninggalkan Padepokan Dewa Naga. Angin sore berhembus, menerpa dedaunan yang geme- risik. Mentari merangkak turun untuk kembali ke- peraduannya.
***
Suasana malam melingkupi bumi, dengan an- gin dinginnya yang berhembus pelan. Seorang lelaki muda berwajah tampan tapi matanya mencerminkan kebengisan, melangkah melintasi Hutan Parang Pasi- sir. Pemuda berbadan tegap dengan dada bidang itu, bagaikan tak takut melangkah di kegelapan malam da- lam hutan yang kelihatan angker. Matanya yang tajam, menatap lurus ke depan.
Krek! "Hm, ada juga kecoa busuk yang berani meng- gangguku!" geram Sugali dalam hati. Langkahnya berhenti, kemudian mengawasi tempat ke sekeliling den- gan tajam. Telinganya pun di pasang dengan tajam, sehingga suara sekecil apa pun akan didengarnya.
Pemuda berpakaian lengan panjang warna me- rah itu, terus mengawasi sekelilingnya dengan mata tajam. Telinganya yang tadi mendengar suara ranting kering patah, terus dipasang, berusaha mendengar suara di sekelilingnya yang sepi.
"Hm, mungkinkah binatang hutan?" tanya Su- gali dalam hati dengan mata dan telinga masih dipa- sang tajam. "Kurasa bukan. Jelas itu suara kaki ma- nusia menginjak ranting kering. Tak mungkin binatang berbuat begitu. Kalau binatang tak akan berhenti begi- tu saja. Tapi ini tidak. Jelas ini manusia!"
Kresek! Kresek! Suara itu kembali terdengar dari kanan dan ki- rinya. Hal itu membuat Sugali semakin yakin, kalau yang sedang mengintainya pasti manusia. Tangannya segera meraba gagang Pedang Dewa Naga. Pedang ber- gagang kepala naga itu, seakan memberi keyakinan padanya dan rasa percaya diri.
Srt! "Kalau kalian manusia, keluarlah!" seru Sugali menantang. Pedang Dewa Naga yang mengeluarkan si- nar hijau, kini telah tergenggam di tangannya. Dari mata pedang itu, keluar sinar hijau yang menerangi sekelilingnya.
"Hea...!" "Yea...!"
Dari balik rimbun pepohonan dan semak- semak, tiba-tiba berlompatan lima sosok tubuh. Wajah sosok-sosok bertubuh tinggi dan tegap itu ditutup ke- dok warna-warni. Pakaian mereka masing-masing berbeda.
"Siapa kalian?!" bentak Sugali dengan mata memandangi satu persatu kelima orang yang berdiri tiga tombak di hadapannya.
Lelaki yang berkedok hitam melangkah dua tindak ke depan. Lalu terdengar suara tawa membahana keluar dari mulutnya yang tertutup kedok.
"Seharusnya kami yang bertanya, bukan kau, Tikus!" bentak lelaki berkedok hitam dengan mata tajam menatap Sugali yang tersenyum kecut. "Siapa kau?! Dan untuk apa kau masuk Hutan Parang Pasisir ini?!"
"Namaku Sugali. Aku ingin lewat untuk menuju pulau karang," sahut Sugali dengan tanpa rasa takut sedikit pun. Dengan Pedang Dewa Naga di tangannya, Sugali merasa percaya diri. Pedang di tangannya bukanlah pedang sembarangan, melainkan pedang pusa- ka. Hal itu dapat dirasakan dari getarannya. Getaran yang menuntutnya untuk membunuh.
"Untuk apa kau ke pulau karang?!" tanya Ke- dok Biru.
"Itu urusanku. Bukan urusan kalian!" sahut Sugali gusar. Matanya merah membara, terpengaruh kekuatan Pedang Dewa Naga yang tergenggam di tan- gan.
"Kurang ajar! Berani kau lancang di daerah ke- kuasaan kami, Anak Muda?!" bentak Kedok Coklat marah. "Rupanya kau belum kenal dengan Lima Hantu Berkedok!"
"Huh! Kalian kira aku anak kecil, yang bisa di- gertak?!" bentak Sugali sengit. "Jangankan hanya kalian, Pendekar Gila pun aku tak takut!"
"Sombong! Aku ingin tahu, sampai di mana ucapanmu, Anak Sombong!" dengus Kedok Ungu. "Serang dia...!"
"Hea...!" Kelima Hantu Berkedok serentak mencabut senjata mereka yang beraneka ragam. Kedok Hitam memegang senjata berupa ranting kayu kecil dengan ujung bercabang tiga. Kedok Biru bersenjatakan sebuah gading gajah yang aneh. Gading gajah itu juga bercabang dua. Kedok Coklat dengan senjatanya berupa bulatan gerigi yang diikat dengan sebuah tali panjang. Kedok Ungu dan Kedok Kuning, bersenjatakan pedang bergerigi dan golok bercabang dua.
"Hea...!" Dari lima arah, mereka menggebrak Sugali den- gan senjata masing-masing. Nampaknya Lima Hantu Berkedok merupakan orang-orang yang haus darah. Sehingga tak segan-segan menyerang dengan ganas.
Sugali merundukkan kepala dengan cepat. Ke- mudian secara cepat tangannya memutar Pedang Dewa Naga dengan jurus 'Dewa Naga Menebar Maut'
"Hea!" Pedang Dewa Naga di tangan Sugali berputar begitu cepat memapaki senjata kelima lawannya, yang menderu ke tubuhnya.
Wrt! Trang! Trang! Trang...! Prak! Prak! Prak...! Suara berdentang dan bergemeretak terdengar keras ketika Pedang Dewa Naga membentur senjata- senjata Lima Hantu Berkedok.
"Heh?!" "Heh?!" Kelima Hantu Berkedok tersentak kaget sambil melompat mundur, ketika dirasakan senjata mereka patah terbabat pedang di tangan Sugali. Mata kelima lelaki bertubuh tegap itu terbelalak kaget, tak percaya pada apa yang telah terjadi. Selama ini, senjata mereka belum pernah dapat dipatahkan seperti sekarang ini. Bahkan dengan senjata tajam apa pun. Baru kali ini, mereka merasa bertemu senjata yang memiliki kekua- tan luar biasa.
"Hua ha ha...! Sudah kukatakan, jangankan ka- lian. Pendekar Gila pun belum tentu dapat mengalah- kan aku!" seru Sugali sombong.
Kelima lawannya terdiam. Mereka sating pan- dang dengan perasaan takut menyaksikan kehebatan pedang di tangan Sugali.
"Kini, bersiaplah kalian untuk mati!" dengus Sugali, yang membuat Lima Hantu Berkedok tersentak kaget. Keringat dingin keluar dari kening mereka.
"Ampun..., ampunilah kami! Kami siap men- gabdi padamu," pinta mereka sambil berlutut mencium tanah. Mereka mengaku kalah, meratap ketakutan. Hal itu membuat Sugali yang memang tengah mencari kawan untuk melawan Pendekar Gila tersenyum se- nang.
"Bagus! Memang aku ingin teman seperti ka- lian! Sejak saat ini, kalian harus memanggilku Ketua! Mengerti?!" bentak Sugali sambil menyarungkan kem- bali Pedang Dewa Naganya.
"Kami mengerti...," sahut kelimanya bersama. "Hm, bagus! Kalian dengar baik-baik! Mulai se- karang hutan ini menjadi markas kita. Dan aku adalah pimpinan kalian!"
"Baik, Ketua," sahut kelimanya serentak. "Di mana tempat kalian?" tanya Sugali semakin bertambah pongah, setelah dapat mengalahkan dan menaklukkan Lima Hantu Berkedok.
"Mari, kami tunjukkan...!" kata Kedok Hitam sambil melangkah mengajak Sugali yang kini menjadi ketua mereka. Sugali pun menurut, mengikuti kelima anak buahnya yang baru. Di hatinya, semakin terta- nam dendam pada Pendekar Gila.
Tidak lama kemudian, Sugali dan anak buah- nya telah sampai di markas Lima Hantu Berkedok. Se- buah bangunan terbuat dari papan, dengan keadaan yang agak kotor. Nampaknya selama itu, Lima Hantu Berkedok tak mengurus tempat tersebut
"Ini tempat kami, Ketua," kata Kedok Hitam. "Hm!" gumam Sugali dengan mata memperhati- kan bangunan dari papan. Kepalanya mengangguk- angguk, seakan merasa senang. "Bagus! Tapi besok, kuperintahkan pada kalian untuk membersihkannya. Aku akan mencari Datuk Raja Karang. Dia akan kua- jak bekerja sama."
"Baik, Ketua...!" jawab kelimanya serentak. Sugali dengan diikuti kelima anak buahnya yang baru kini melangkah memasuki bangunan mar- kas itu. Seketika dari dalam, muncul lima orang gadis cantik jelita. Hal itu membuat Sugali mengerutkan kening. Wajahnya menoleh pada kelima anak buahnya.
"Siapa mereka?" tanyanya. "Ampun, Ketua! Mereka pelayan kami," jawab Kedok Hitam.
"Pelayan...?" tanya Sugali keheranan. "Pelayan secantik mereka? Hai, katakan siapa mereka?!"
"Ampun Ketua, mereka...." Belum habis ucapan Kedok Hitam, Sugali telah memotongnya.
"Aku tahu. Tentunya mereka pemuas nafsu ka- lian!"
"Benar, Ketua...," sahut kelimanya takut-takut "Bagus! Mulai sekarang, kalian jangan berani mengganggu mereka. Kini mereka menjadi pelayanku, mengerti?!" bentak Sugali tegas.
"Mengerti, Ketua," sahut kelimanya bareng. Sugali tertawa terbahak-bahak. Kemudian tangannya direntangkan. Diajaknya kelima gadis cantik yang hanya memakai kain sebatas dada itu ke dalam sebuah kamar. Kemudian dengan keras ditutupnya pintu kamar. Tinggallah Lima Hantu Berkedok yang hanya saling pandang dengan wajah menggambarkan kejengkelan. Namun untuk melawan, mereka tak be- rani. Kelima lelaki berkedok itu hanya bisa memejamkan mata, ketika terdengar rintih dan erangan dari da- lam kamar.
***

3
Angin pagi menghembuskan hawa sejuk, me- nerpa dedaunan. Ombak laut pun turut bergerak, menggulung dan menepiskan sampah yang ada di Laut Selatan. Pagi itu, Sugali nampak melangkah ke selatan menuju tempat kediaman Datuk Raja Karang. Di Pulau Karang Sundulan, Datuk Raja Karang bersembunyi dari keramaian setelah terjadinya peristiwa di Lembah Lamur. (Untuk lebih jelasnya, ikuti serial Pendekar Gi- la dalam episode: "Titisan Dewi Kawan Im").
Saat itu Sugali sampai di Desa Gedang Gajah yang terletak di tepi Laut Selatan. Sejenak matanya memandang ke laut yang membentang luas, berusaha mencari Pulau Karang Sundulan yang dihuni Datuk Raja Karang. Namun dia tak melihat adanya pulau ka- rang di laut itu.
"Hm, di manakah tempat Datuk Raja Karang?" gumam Sugali sambil terus memandang ke lautan. Namun tetap dirinya tak melihat pulau karang yang di- jadikan markas Datuk Raja Karang.
Sugali terus menyapukan pandangannya ke laut, berusaha mencari pulau karang yang dimaksud orang-orangnya sebagai tempat persembunyian Datuk Raja Karang. Kini pandangannya diarahkan ke arah barat daya. Tiba-tiba mulutnya tersenyum, ketika matanya melihat sebuah pulau karang di tengah-tengah lautan. "Hm, tentunya pulau itu tempatnya," gumam Sugali. Kemudian dia pun berlari ke barat. Sesaat Su- gali terdiam. Dirinya nampak bingung untuk menyebe- rangi lautan yang luas itu. "Hm, bagaimana aku harus menyeberangi lautan yang luas ini?"
Belum juga Sugali menemukan cara untuk menyeberangi laut, tiba-tiba dari Pulau Karang Sundulan terdengar suara gelak tawa membahana. Gelak tawa itu, mampu menimbulkan angin yang kencang dan terasa memekakkan telinga.
"Hua ha ha...! Hua ha ha...!" Sugali tersentak kaget ketika dirasakan telin- ganya sakit dan berdenyut keras. Sungguh tak disang- ka, kalau suara tawa itu akan mampu membuat gen- dang telinganya terasa sakit. Bahkan pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pesisir, bagaikan diterpa angin badai. Banyak buah kelapa yang berjatuhan. Daun- daunnya berserakan, berterbangan tertiup angin yang ditimbulkan suara tawa penghuni Pulau Karang Sun- dulan itu.
"Ukh!" Sugali memekik. Dirinya berusaha ber- tahan dari suara tawa yang terus mendesak gendang telinganya. Dikerahkan tenaga dalamnya, untuk melin- dungi suara menggelegar itu. Namun suara tawa itu ternyata lebih kuat dari tenaga dalamnya.
"Eh! Uh...!"
"Hua ha ha...! Bagaimana, Anak Muda?! Masih- kah kau belum percaya kehebatanku?!" terdengar suara Datuk Raja Karang berseru dari kejauhan. Rupanya Datuk Raja Karang telah mengetahui kedatangan Sugali. Bahkan maksud kedatangannya.
"Aku percaya!" sahut Sugali. "Itu sebabnya aku datang, untuk mengajakmu bersama-sama menghada- pi Pendekar Gila!"
"Hua ha ha...! Bagus! Memang itu yang kuha- rapkan. Kau memang pemberani, Anak Muda! Tidak seperti gurumu yang pengecut!" seru Datuk Raja Ka- rang dari tempat kediamannya. "Gurumu memang tia- da gunanya. Dia memang pantas kau singkirkan!"
"Seperti dirinya tak pengecut saja," rutuk Sugali dalam hati, setelah mendengar kata-kata Datuk Raja Karang. "Buktinya kau bersembunyi dari kejaran Pendekar Gila!"
"Anak muda, kenapa kau masih di situ? Kema- rilah...!" seru Datuk Raja Karang.
"Aku tak tahu bagaimana untuk menyeberang ke tempatmu!" seru Sugali.
"Hua ha ha...! Tolol! Kau memang pemberani, tetapi tolol! Gunakan otakmu! Cari ranting kayu! Bukankah kau memiliki tenaga dalam? Atau gunakan pedang di punggungmu!" seru Datuk Raja Karang memberitahukan bagaimana caranya untuk dapat mengarungi lautan yang luas itu.
Kening Sugali mengerut, mendengar seruan Da- tuk Raja Karang. Kemudian tangannya menarik Pedang Dewa Naga. Dipandangi pedang itu sesaat. Namun belum mengerti, bagaimana caranya menggunakan pedang pusaka itu untuk menyeberangi lautan.
"Anak muda, kau pemberani tapi tolol. Menga- pa kau hanya memandangi pedang pusaka itu? Lem- parkan pedang pusakamu ke laut, maka kau akan dapat menyeberangi lautan ini!" seru Datuk Raja Karang memberitahukan kegunaan pedang itu.
Sugali menurut Dilemparkan Pedang Dewa Naga ke lautan. Seketika itu pula, terjadi sebuah keanehan.
Air laut bagaikan membeku. Seakan-akan be- rubah menjadi daratan yang terbuat dari air.
"Heh?!" Sugali terperangah menyaksikan keja- dian aneh itu. Tak pernah dirinya menyangka kalau Pedang Dewa Naga ternyata sehebat itu. Lama sekali Sugali terkesima, menyaksikan keanehan itu. Hatinya baru tersentak sadar, ketika terdengar seruan Datuk Raja Karang.
"Bocah tolol! Jangan hanya mematung di situ, kemarilah cepat!" serunya. "Waktumu hanya sebentar. Seperminum teh, air itu akan kembali cair!"
Mendengar seruan itu, Sugali segera mengambil pedangnya. Kemudian dengan menggunakan ilmu la- rinya yang bernama 'Turangga Sekti', Sugali melesat menuju Pulau Karang Sundulan. Tidak lama kemu- dian, pemuda berpakaian merah itu telah sampai di tepi pulau karang. Tiba-tiba....
Srt! Srt! Srt! Puluhan senjata rahasia melesat dari dalam ta- nah, menyerang Sugali.
"Heh?!" dengan masih kaget, Sugali segera me- lenting dan bersalto di udara, mengelakkan serangan senjata-senjata maut itu. Pedang Dewa Naga diba- batkan memapak puluhan senjata rahasia yang hen- dak menyerangnya. "Hea...!"
Wrt wrt wrttt..! Trak! Trak! Trak! Puluhan senjata rahasia terpotong-potong, ter- kena sambaran Pedang Dewa Naga. Senjata-senjata rahasia itu berpentalan ke tanah.
"Hebat! Hebat..!" seru Datuk Raja Karang yang tahu-tahu telah berada di hadapan Sugali. Lelaki tua berjubah hitam dengan rambut terurai lepas berwarna hitam keputihan itu bertepuk tangan. Dari mulutnya terdengar suara tawanya yang lepas.
Sugali segera bersalto, kemudian mendarat dengan ringan tiga tombak di hadapan lelaki tua ber- muka garang dan bercambang bauk tebal itu. Lelaki berusia sekitar tujuh puluh tahun itu, tersenyum- senyum sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Terimalah hormatku, Datuk!" ujar Sugali sam- bil menjura.
"Tak usah pakai peradatan, Anak Muda! Kata- kan, apa maksudmu yang sebenarnya!" pinta Datuk Raja Karang.
"Bukankah Datuk sudah tahu?" tanya Sugali sambil menyarungkan pedang pusakanya ke warangka.
"He he he...! Jadi kau benar-benar ingin mem- balas kematian kedua orangtua mu pada Pendekar Gila?" tanya Datuk Raja Karang.
"Begitulah!" "Hm, bagus! Itu baru seorang anak yang baik. Lalu apa keperluanmu datang ke tempatku?" tanya sang Datuk lagi, seakan merasa belum jelas.
"Aku memerlukan bantuanmu, untuk mengha- dapi Pendekar Gila," sahut Sugali dengan wajah penuh dendam. Matanya berkilat tajam, seakan menyimpan bara api. Tangannya mengepal, seakan hendak mere- mukkan kepala Pendekar Gila.
"He he he...! Bagus..., bagus! Kau memang te- pat datang ke tempatku. Baiklah kalau itu keinginan- mu, Anak Muda. Aku memang mengharapkan bisa menghadapi Pendekar Gila. Selama ini, aku telah memperdalam ilmu-ilmuku, yang sengaja kupersiapkan untuk menghadapinya," dengus Datuk Raja Karang dengan senyum sinis. "Dengan ajian 'Betara Karang', Pendekar Gila tak akan mampu mengalahkan aku!"
Datuk Raja Karang menggeram. Tangannya mengepal keras. Kemudian terdengar suara tawanya yang membahana. Diikuti oleh Sugali. Sehingga Pulau Karang Sundulan yang biasanya sepi, seketika bagai- kan hendak pecah karena suara tawa kedua tokoh itu.
"Anak Muda, kau harus tahu. Selama kau men- jalin persahabatan denganku, kau harus mengikuti apa yang kukatakan...," ujar Datuk Raja Karang sete- lah diam dari tawanya.
"Apa itu, Datuk?" "Pertama, kau harus mencarikan aku wanita." "Akan ku carikan," jawab Sugali. "Kedua, kau harus membuat keonaran dengan merampok. Dengan cara itu, kita memancing Pendekar Gila, sekaligus dapat menumpuk kekayaan. Kelak akan kita gunakan kekayaan itu untuk mendirikan suatu perkumpulan besar. Perkumpulan yang tak akan terkalahkan siapa pun...," ujar Datuk Raja Ka- rang menyampaikan gagasan cita-citanya.
"Akan kulakukan," sahut Sugali. "Dan yang terakhir. Jika Pendekar Gila telah dapat kita binasakan, aku menjadi Raja Diraja. Kau harus mengakui, kalau aku rajamu. Raja rimba persi- latan!" lanjut Datuk Raja Karang dengan tegas.
"Baik, aku akan menuruti," tegas pula jawaban Sugali. "Kapan akan kita mulai?"
"Hari ini juga! Siapkan gadis itu...!" perintah Datuk Raja Karang. Mata Sugali membelalak. Bagai- mana mungkin dia harus mempersiapkan permintaan sang Datuk dalam waktu singkat, hanya sehari? Ra- sanya tak masuk di akal. Mencari seorang gadis, bukanlah pekerjaan yang enteng. Lebih enteng merampok atau membunuh manusia. "Bagaimana, Anak Muda? Apa kau sanggup?!"
"Aku sanggup!" jawab Sugali. "Bagus! Laksanakan segera! Kemudian bawalah gadis itu kemari!" perintah Datuk Raja Karang.
"Baiklah." Usai menjura, Sugali pun melangkah mening- galkan Datuk Raja Karang. Dilemparkan pedangnya ke air laut yang seketika membeku diam. Kemudian sete- lah mengambil Pedang Dewa Naga, tubuhnya melesat meninggalkan Pulau Karang Sundulan, diikuti tatapan mata Datuk Raja Karang. Lelaki tua berjubah hitam itu menyunggingkan senyum penuh kepuasan.
***

Siang panasnya terasa sangat menyengat. Ma- tahari yang terik seakan hendak membakar bumi. An- gin berhembus kencang, seakan-akan hendak menya- pu semua yang ada di bumi ini. Daun-daun kering berguguran, turut berterbangan terkena tiupan angin siang itu. Sepasang muda-mudi yang tengah melang- kah melintasi Desa Keligisan harus menutupkan tan- gannya di wajah, agar terhindar dari terpaan debu dan daun kering yang berterbangan ditiup angin.
"Aha, sebentar lagi akan musim penghujan," gumam Pendekar Gila dengan tingkah lakunya yang konyol. Tangan kanannya menutupi muka, sedangkan tangan kiri menggaruk-garuk kepala.
Gadis cantik yang sikapnya tenang namun agak galak di sampingnya hanya memandangi dedaunan kering berterbangan ditiup angin. Kemudian pandan- gannya beralih ke wajah pemuda bertingkah laku aneh yang tak lain Pendekar Gila.
"Dari mana Kakang tahu...?" tanya Mei Lie sambil menatap wajah kekasihnya.
"Aha, itu sudah kebiasaan orang-orang Jawa. Mereka menghitung musim dari angin. Hi hi hi...!" Sena tertawa cekikikan. Tangannya masih menggaruk- garuk kepala. Sedangkan matanya memandang wajah Mei Lie. Gadis itu tersenyum-senyum melihat tingkah laku kekasihnya yang kadang menggemaskan dan ko- nyol.
"Bagaimana caranya, Kakang?" tanya Mei Lie tertarik ingin tahu.
"Hi hi hi...! Kau ingin tahu...?" goda Sena sam- bil cengengesan dengan tangan masih menggaruk- garuk kepala. Hal itu menjadikan Mei Lie kembali ge- mas melihatnya. "Aha, semakin kau cemberut, sema- kin bertambah cantik saja...."
Mei Lie yang semula hendak cemberut, seketika mengurungkan niatnya setelah mendengar selorohan Sena. Kini di bibirnya tampak terurai senyum yang begitu manis. Senyum yang mampu membuat hati Pendekar Gila senantiasa ingin terus bersama gadis Cina itu.
Sambil melangkah menyelusuri Desa Keligisan, kedua pendekar sejoli itu bercengkerama. Kadang ber- canda ria, ngobrol, dan bermanja-manja. Sepertinya mereka tak ingin membuang kesempatan pertemuan itu begitu saja. Karena setelah keduanya sampai di Goa Setan, maka Mei Lie akan dititipkan pada Eyang Guru Singo Edan. Sekaligus agar Mei Lie dapat menda- lami ilmu-ilmu silat dengan tenang, tanpa harus ter- ganggu suasana dunia persilatan.
"Ayolah, katanya mau menceritakan tentang bagaimana orang Jawa menghitung musim dengan berpedoman pada angin," desak Mei Lie Sena masih cengengesan dengan tangan kiri menggaruk-garuk kepala. Ditatapnya wajah gadis Cina yang menjadi kekasihnya itu, Mei Lie pun memandang wajahnya dengan muka cemberut, merasa digoda oleh Pendekar Gila.
"Aha, baiklah akan kuceritakan," sahut Pende- kar Gila sambil cengengesan dengan tangan masih menggaruk-garuk kepala. Matanya masih memandang wajah Mei Lie yang masih menunjukkan cemberutnya.
"Ayo, mau ceritakan tidak...?" desak Mei Lie se- tengah merengek, menjadikan Sena semakin cen- gengesan dengan tangan kian keras menggaruk-garuk kepala. "Aha, baiklah akan kuceritakan, tetapi kita harus mencari kedai dahulu, karena perutku sudah min- ta diisi. Hi hi hi...!"
Tanpa membantah, Mei Lie pun menurut me- langkah seiring dengan kekasihnya untuk mencari sebuah kedai. Di samping perut mereka memang lapar, keduanya juga ingin meneduh agar terhindar dari rasa panas yang menyengat. Debu yang berterbangan pun terasa sangat mengganggu perjalanan mereka.
***

Setelah makan, Pendekar Gila dan Mei Lie be- ristirahat sambil melepas lelah. Suasana siang itu masih terasa panas. Terik matahari sepertinya tak men- genal ampun. Angin siang yang berhembus pun bagai- kan tak ada artinya sama sekali. Meskipun berhembus kencang tak mampu mengusir hawa panas yang terasa menyengat tubuh.
"Ouw...!" Sena menguap karena serangan rasa kantuk yang disebabkan terik matahari bercampur hembusan angin.
Mei Lie yang duduk di samping Pendekar Gila hanya mampu memperhatikan tingkah laku kekasih- nya yang konyol. Gadis itu tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Kakang, masih jauhkah Goa Setan dari sini...?" tanya Mei Lie. Matanya memandang ke luar kedai. Di sekitar kedai itu pepohonan menghijau nampak sangat subur. Gemerisik angin yang menerpa dedaunan ter- dengar sampai dalam kedai.
"Aha, rupanya kau sudah ingin bertemu dengan eyang. Hi hi hi...! Lucu sekali! Eyang galak sekali, Mei Lie," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Di bi- birnya masih tersenyum cengengesan.
"Ah, kurasa eyang tak sekonyol dirimu, Ka- kang...," desah Mei Lie dengan mata masih meman- dang keluar kedai.
"Tolong...! Tolong...!" Tiba-tiba terdengar suara jeritan seorang wani- ta.
"Heh...?!" "Heh!" Mei Lie dan Pendekar Gila yang sedang istira- hat, tersentak kaget. Keduanya langsung bangun dari tempat duduk. Mata mereka memandang keluar. Ke- mudian Pendekar Gila telah melangkah keluar diikuti Mei Lie. "Tolong...!" dari arah timur, nampak lima orang lelaki berkedok sedang menyeret dan memaksa seo- rang gadis agar ikut bersama mereka. Gadis itu meron- ta-ronta, berusaha melepaskan diri dari lelaki berke- dok hitam yang membopong tubuhnya. Namun tena- ganya yang tidak kuat, membuat dirinya tak mampu lepas dari tangan lelaki berkedok hitam.
"Aha, rupanya ada lima tikus pemalu yang mau menculik seorang gadis. Hi hi hi..., lucu sekali," gu- mam Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala.
Hal itu membuat kelima lelaki berkedok yang memba- wa tubuh gadis cantik jelita berambut panjang, seketi- ka menghentikan langkah mereka.
"Siapa kau...?!" bentak lelaki berkedok hitam. "Aha, siapa pun aku, yang pasti aku tak suka dengan perbuatan kalian!" sahut Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala. Sedangkan Mei Lie nampak masih tenang. Namun, sorot matanya sangat tajam, menatap penuh kebengisan.
"Kurang ajar! Apa kau tak tahu kalau tingkah lakumu yang seperti orang gila itu akan membuatmu menderita?!" bentak Kedok Merah dengan nada tajam dan keras.
"Gila...? Aha, memang dunia ini sudah gila. Di mana-mana orang bertingkah laku aneh-aneh!" ujar Sena dengan tingkah lakunya yang seperti orang gila. Mulutnya cengengesan, dengan tangan masih mengga- ruk-garuk kepala.
"Pemuda gila, minggirlah! Jangan sampai hilang kesabaran kami!" bentak Kedok Hitam dengan garang.
"Enak saja kalian ngomong!" bentak Mei Lie yang sudah tak dapat lagi menahan amarah, mendengar kelima lelaki berkedok itu meremehkan Pendekar Gila. "Kami mau minggir, asalkan kalian turunkan gadis itu." Kelima lelaki berkedok itu saling pandang, mendengar ucapan Mei Lie. Mereka tak menyangka, kalau gadis Cina yang di punggungnya tersandang pe- dang itu akan berani membentak begitu tajam dan ke- tus.
"Siapa kau, Nini? Berani benar kau pada kami," dengus Kedok Ungu geram. Belum pernah ada seorang wanita berani membentaknya seperti itu.
Mei Lie tersenyum sinis, mendengar ucapan le- laki berkedok ungu. Begitu juga dengan Pendekar Gila, mulutnya tampak cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala.
"Aha, kenapa kalian tak menculik temanku sa- ja? Bukankah temanku lebih cantik? Hi hi hi..!" ujar Sena dengan mulut cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala. Hal itu membuat kelima lelaki berkedok semakin bertambah marah. Sedangkan Mei Lie kini nampak melototkan mata, membuat Sena semakin ke- ras menggaruk-garuk kepala dengan mulut nyengir.
"Pemuda gila! Lancang sekali mulutmu!" dengus Kedok Hitam gusar, sambil menggerakkan tangan kiri memerintah keempat temannya. "Bereskan mereka...!"
Keempat lelaki berkedok lainnya segera maju mengepung Mei Lie dan Pendekar Gila yang telah siap menghadapi serangan lawan.
"Hi hi hi...! Mei Lie, rupanya kita akan main- main dengan para cecunguk itu," ujar Sena sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya memandang den- gan sudut mata, seperti orang bermata jereng. Sedangkan mulutnya masih cengengesan. "Aha, apa kau telah siap, Mei...?"
"Untuk cecunguk macam mereka, aku siap, Kakang," sahut Mei Lie dengan mata menatap tajam pada keempat lawannya yang telah siap untuk menye- rang.
"Heaaa...!" dua orang menggebrak Mei Lie den- gan tebasan pedang dan golok. Namun secara cepat Mei Lie berkelit dengan membuka kaki kiri ke samping. Tubuhnya dirundukkan sambil kepalanya bergerak ce- pat. Serangan mereka meleset, hanya beberapa jari da- ri kepala Mei Lie.
Rupanya semenjak senjata mereka yang ber- bentuk ranting bercabang, patah terbabat Pedang Dewa Naga, kini mengganti senjata mereka dengan pe- dang dan golok. Hal itu karena mereka menyesuaikan diri dengan senjata milik sang Pemimpin, Sugali yang menggunakan ilmu pedang. Tampaknya Sugali pun sebagai pemimpin telah mulai menurunkan ilmu pe- dangnya kepada kelima anak buah.
"Heaaa...!" dengan cepat Mei Lie menarik kaki kanan ditekuk ke atas, lalu dengan tendangan 'Bidadari Menyapu Awan', gadis itu menendang kedua lawannya dengan cepat. Hal itu membuat kedua la- wannya tersentak kaget
"Heh?! Awas...!" seru Kedok Ungu berusaha memperingatkan temannya, agar mengelak dari seran- gan lawan.
"Hah?!" Kedok Merah tersentak kaget. Dirinya berusaha menghindar dengan cara menyurutkan kaki kanan ke belakang. Sementara tubuhnya dimiringkan ke kiri.
"Heaaa...!" Mei Lie terus menggebrak, masih dengan men- gandalkan tangan kosong. Namun begitu, serangan Mei Lie yang menggunakan jurus-jurus 'Bidadari Sakti' mampu membuat kedua lawan yang menyerang nam- pak kewalahan. Mereka harus menguras tenaga, agar dapat mengelakkan serangan-serangan yang cepat dan sangat berbahaya itu.
"Uts! Celaka! Ternyata gadis ini bukan gadis sembarangan," gumam Kedok Merah setengah menge- luh, sambil terus berusaha mengelakkan serangan- serangan yang dilakukan Mei Lie. Mata Kedok Merah membelalak, hampir tak percaya melihat gebrakan yang dilancarkan Bidadari Pencabut Nyawa yang san- gat cepat dan berbahaya.
"Kedok Merah, rupanya kita menghadapi wanita bukan sembarangan," ujar Kedok" Ungu yang juga me- rasa kaget, menyaksikan serangan Mei Lie. Dengan pe- dang di tangan, dirinya tak mampu mendesak Mei Lie yang hanya menggunakan tangan kosong. Gadis itu sangat gesit dalam mengelak maupun melakukan se- rangan. "Heaaa...!"
Tangan Mei Lie dengan jurus 'Bidadari Melepas Himpitan Karang' bergerak menyerang. Tangan kanan bergerak memukul ke tubuh Kedok Ungu, sementara tangan kiri direntangkan ke atas, lalu memukul Kedok Merah.
Wrt! Kedok Ungu dan Kedok Merah benar-benar ke- walahan menghadapi serangan yang dilakukan Mei Lie. Keduanya terus berusaha mengelak dan balas menye- rang. Namun rupanya Mei Lie tak mudah untuk dide- sak. Bahkan keduanya yang terpaksa harus berjumpa- litan mengelakkan serangan gencar yang dilancarkan Mei Lie.
***

4
"Heaaa...!" Mei Lie terus menggebrak dengan pukulan dan tendangan yang mengandung tenaga da- lam.
"Aits! Celaka...! Dia benar-benar bukan gadis sembarangan," keluh Kedok Ungu sambil mengibaskan tangannya, berusaha menangkis serangan Mei Lie yang cepat dan sangat membahayakan. Kedok Ungu segera melakukan salto ke udara, kemudian dengan masih melayang Kedok Ungu berusaha menyerang Mei Lie dengan sabetan goloknya.
Wrt! "Haits...!"
Dengan merundukkan tubuh, Mei Lie mengelak dari babatan golok lawan. Kemudian dengan cepat, tangan kanannya meraba gagang pedang yang ber- tengger di pundak. Srt! Wrt! Secepat kilat Bidadari Pencabut Nyawa mengi- baskan pedang, memapak serangan lawan.
Trang! Prak! "Ikh...!" Kedok Ungu tersentak kaget, dengan tubuh melompat ke belakang. Matanya membelalak kaget, tak percaya kalau goloknya patah terbabat pe- dang yang mengeluarkan sinar kuning kemerahan di tangan gadis itu. "Celaka, dia bukan gadis sembaran- gan Gila...!"
Kedok Merah yang juga melihat kenyataan itu, agak ciut juga nyalinya. Dirinya sungguh tak menduga, kalau gadis Cina itu memiliki ilmu silat yang tinggi.
"Heaaa...!" Mei Lie kembali menyerang dengan jurus 'Bidadari Merentang Selendang'. Kedua tangannya bagaikan sepasang selendang, mengibas-ngibas memburu Kedok Merah. Bukan hanya tangannya yang melakukan serangan. Kakinya juga turut bergerak ce- pat menyerang dengan sapuan dan tendangan keras.
"Aits!" Kedok Merah segera melompat sambil berjumpalitan mengelak dari serangan yang dilancar- kan Mei Lie. Hampir saja sambaran kaki dan tangan Mei Lie mendarat di dada dan wajah Kedok Merah, ka- lau saja Kedok Ungu tak segera membantunya. Seran- gan bantuan Kedok Ungu membuat Mei Lie harus mengalihkan perhatian kepadanya.
Sementara itu, Pendekar Gila yang sedang menghadapi dua orang berkedok lainnya pun nampak masih bertarung. Dengan mulut cengengesan, Sena melayani dengan menggunakan jurus yang dirasa aneh bagi kedua lawannya. Dengan jurus 'Gila Menari Me- nepuk Lalat' Sena terus berkelebat mengelakkan se- rangan. Tubuhnya meliuk-liuk seperti menari disertai dengan tepukan-tepukan tangannya yang aneh. Meski pukulan telapak tangannya kelihatan pelan, tenaga yang keluar sangat menyentakkan kedua lawannya.
Plak! "Aits...!" "Heh?!" Kedua lawannya langsung berlompatan mun- dur, mengelakkan serangan yang dilancarkan Pende- kar Gila. Mata keduanya membelalak kaget, menda- patkan serangan yang sangat aneh itu. Mereka seakan- akan tak percaya dengan jurus yang dilancarkan la- wan. Jurus itu sepertinya hanya main-main. Namun ternyata sangat berbahaya. Pukulan telapak tangan yang kelihatan pelan, tahu-tahu mampu mengeluarkan tenaga dalam yang sangat kuat
"Hi hi hi..! Kalian lucu sekali! Tentunya kalian bermuka buruk, sehingga harus bersembunyi di balik kedok. Hi hi hi...!" Pendekar Gila tertawa cekikikan sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian dengan tingkah laku seperti seekor kera, Pendekar Gila kemba- li bergerak menyerang kedua lawannya yang masih ke- heranan. "Awas, Kedok Biru...!" seru Kedok Kuning men- gingatkan temannya, yang dengan segera melompat ke samping mengelak dari serangan Pendekar Gila. Lalu dengan cepat Kedok Biru dan Kedok Kuning balas me- nyerang. Pedang dan golok mereka berkelebat cepat memburu Pendekar Gila. "Heaaa...!" "Yeaaa...!" Pedang dan golok kedua lawannya menderu cepat Namun dengan tak kalah cepat Pendekar Gila sege- ra berkelit. Dirundukkan tubuh, lalu sambil meliuk di- tepukkan tangan kanannya ke samping. Sedangkan tangan kirinya, ditepukkan ke depan.
"Heaaa...!" Wrt! "Hah! Celaka...!" pekik Kedok Kuning kaget, sambil menggeser kaki ke kiri. Kemudian dengan me- mutar tubuh setengah lingkaran, Kedok Kuning mem- babatkan pedangnya ke tubuh Pendekar Gila.
"Yeaaa...!" Wrt! Merasa ada desiran angin babatan pedang la- wan, Pendekar Gila yang sedang menyerang Kedok Bi- ru, cepat menjatuhkan tubuh ke tanah. Sementara tangannya bergerak menyambar kaki Kedok Biru, ka- ki-nya menendang ke dada Kedok Kuning.
"Heaaa...!" Wrt! Blukkk! Plakkk! Tanpa ampun lagi, Kedok Biru yang kakinya disambar, langsung jatuh terlentang. Sedangkan Ke- dok Kuning yang terkena tendangan, tampak ter- huyung ke belakang dengan mata melotot. Dari sela- sela bibirnya, melelehkan darah.
"Ukh...!" keluh Kedok Kuning sambil memegan- gi dadanya yang sakit, akibat tendangan kaki Pendekar Gila. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya menatap ta- jam Pendekar Gila yang cengengesan. Sepertinya Kedok Kuning tengah berusaha meyakinkan hatinya, dengan siapa dia kini berhadapan.
"Hi hi hi...! Lucu..., lucu sekali kalian! Mengapa kalian seperti orang-orang yang habis sakit?" tanya Pendekar Gila sambil menggeleng-gelengkan kepala. Di bibirnya masih tersungging senyuman.
Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala yang mendongak menatap langit biru.
Kedua lawannya yang menyaksikan tingkah la- ku Pendekar Gila semakin mengernyitkan kening keheranan.
"Pemuda gila, aneh!" gumam Kedok Kuning sambil terus memegangi dadanya yang terasa sakit, akibat tendangan kaki kiri Pendekar Gila. Kedok Kun- ing masih belum mengerti, siapa sebenarnya pemuda tampan bertingkah laku gila tapi berilmu tinggi itu.
"Hati-hati, Kedok Kuning. Dia bukan pemuda gila sembarangan," ujar Kedok Biru mengingatkan te- mannya yang nampak terkesima melihat tingkah laku Pendekar Gila.
"Hm, kau benar, Kedok Biru. Dia memang bu- kan sembarangan pemuda seperti apa yang sering kita temui," sahut Kedok Kuning sambil terus mengawasi tingkah Pendekar Gila, yang persis orang gila. Tertawa- tawa dan cengengesan sendiri. Kemudian menggaruk- garuk kepala dengan tangan, atau mengambil sebuah bulu burung di pinggangnya, lalu mengorek kuping dengan mulut cengar-cengir.
"Pemuda gila, kami harap jangan turut campur dengan urusan kami...!" seru Kedok Hitam yang juga kaget, menyaksikan dalam sekali gebrak saja kedua rekannya dapat dijatuhkan. Kedok Hitam sempat meli- hat bagaimana Pendekar Gila melakukan serangan. Kalau Pendekar Gila mau, dalam sekali gebrak saja mereka akan dibuat tak bernyawa lagi. Alias mati!
"Aha, bagaimana aku tak ikut campur, Kedok Hitam. Hi hi hi..., lucu sekali kau! Enak sekali kau me- larangku ikut campur. Sedangkan kau telah mencam- puri ketenangan keluarga gadis yang kau culik itu," tu- tur Sena dengan tingkah laku yang semakin bertambah konyol. Tatapannya tampak tak acuh, memandang ke langit lepas. Sepertinya Pendekar Gila, tak peduli dengan lawan-lawannya.
"Bocah edan, tak tahu diuntung!" bentak Kedok Hitam gusar, mereka telah gagal mengajak Pendekar Gila damai.
"Hi hi hi.., Lucu sekali kau! Kurasa bukan aku yang tak tahu diuntung, melainkan kalian!" tukas Sena seenaknya sambil memonyongkan mulutnya, mem- buat Kedok Hitam menggeram.
"Kurang ajar!" dengan gusar Kedok Hitam sege- ra melepas tubuh gadis yang diculiknya. Kemudian dengan cepat, tanpa berkata-kata, tangan Kedok Hitam bergerak cepat melempar beberapa senjata rahasia ke tubuh Pendekar Gila. "Ini untukmu, Bocah Edan! Hih...!"
Swing! Swing...! Puluhan senjata rahasia menderu ke tubuh Pendekar Gila, dengan suaranya yang membisingkan telinga. "Aha, beginikah tindakan seorang pengecut?!" ejek Pendekar Gila sambil melentingkan tubuh ke atas. Kemudian dengan cepat, dikebutkan Suling Naga Sakti memapak puluhan senjata rahasia yang memburu tu- buhnya. Wrt!
Trang! Trang! Trang! Puluhan senjata rahasia yang dilemparkan Ke- dok Hitam, terbabat habis Suling Naga Sakti. Senjata- senjata rahasia itu langsung berpentalan jatuh ke bu- mi dan berpatahan. Hal itu tentu saja membuat Kedok. Hitam dan kedua rekannya membelalakkan mata, tak percaya dengan apa yang dilihat. Hanya sebuah suling, mampu menghancurkan senjata-senjata rahasia yang terbuat dari logam murni.
"Hi hi hi...! Masih adakah mainanmu?" ejek Se- na sambil memasukkan Suling Naga Sakti ke ikat pinggang. Kemudian sambil menggaruk-garuk kepala, Sena tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ada hal yang lucu, dan menggelikan. Sikap Pendekar Gila membuat Kedok Hitam dan kedua rekannya kembali membela- lak.
"Heaaa...!" Sebelum ketiga lawannya sempat berbuat sesu- atu, dengan cepat Pendekar Gila melompat mendekati gadis yang tadi diculik Kedok Hitam. Lalu dengan ge- rakan cepat, jari telunjuk Sena membuka totokan pada bagian tubuh gadis itu.
Tuk! Tuk! Tuk! Gadis itu pun lepas dari belenggu totokan. Dengan bergerak perlahan dia bersembunyi di bela- kang Pendekar Gila. Merasa kalau pemuda bertingkah laku seperti orang gila itu dapat menolongnya.
"Tuan, tolonglah saya!" pinta gadis itu dengan mata penuh harap menatap wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, tenanglah, Dik! Kurasa mereka hanya ke- coa-kecoa yang suka mengganggu. Hi hi hi...!" Sena kembali tertawa cekikikan dan dengan seenaknya ber- celoteh. Hal itu membuat ketiga lawannya semakin bertambah berang.
"Bocah gila, kurang ajar! Kuremukkan batok kepalamu!" dengus Kedok Hitam. Tanpa banyak kata, lelaki berpakaian hitam disertai kedua temannya lang- sung menggebrak Pendekar Gila. Ketiganya menyerang dari tiga arah.
"Heaaa...!" "Yeaaa...!" Kedok Hitam dengan senjatanya yang berupa ranting bercabang, menyerang dari depan. Sedangkan
Kedok Kuning bersiap menggebrak dari belakang. Dan Kedok Biru menyerang dari samping kiri.
Mendapatkan serangan serentak dari tiga orang lawan, tak membuat Pendekar Gila kebingungan. Bah- kan dengan masih bertingkah laku konyol sambil cen- gengesan, Pendekar Gila mengelakkan serangan ketiga lawan dengan lincah. Meski gerakan meliuknya nam- pak lamban, Pendekar Gila mampu mengelakkan se- rangan cepat yang dilancarkan ketiga lawannya. Bah- kan ketiganya tersentak kaget, ketika tiba-tiba tangan Pendekar Gila bergerak menepuk ke tubuh mereka.
"Hea...!" Wuttt! "Gila!" seru Kedok Hitam sambil menarik mun- dur serangannya, lalu melompat ke belakang dengan tubuh agak gontai. Matanya semakin membelalak, tak percaya kalau tepukan yang tampak pelan bagaikan tak bertenaga itu, mampu menyentakkannya. Hampir saja tubuhnya terkena tepukan Pendekar Gila, kalau tak segera melompat ke belakang. "Hm, siapa pemuda gila ini?" Kedok Biru dan Kedok Kuning kini nampak ke- walahan menghadapi serangan-serangan yang dilan- carkan Pendekar Gila. Hal itu menjadikan Kedok Hi- tam semakin yakin, kalau pemuda gila itu bukan la- wan sembarangan. Di sisi lain, matanya melihat Kedok Merah dan Kedok Ungu pun nampaknya terdesak he- bat menghadapi gadis Cina yang jelita itu. Pedangnya mengeluarkan sinar kuning kemerahan.
"Celaka kalau dibiarkan!" gumam Kedok Hitam, merasa khawatir terhadap keempat rekannya yang kini dalam desakan kedua anak muda, yang berilmu bera- da di atas mereka. "Tak ada pilihan lain, kecuali harus meninggalkan tempat ini. Mundur...!"
Mendengar seruan Kedok Hitam, serentak
keempat rekannya yang dalam keadaan terpepet, lang- sung ambil langkah seribu. Mereka tak memikirkan gadis yang mereka culik, lari tunggang-langgang. Hal itu menjadikan Pendekar Gila yang konyol berteriak menyoraki.
"Hea haaa...! Hi hi hi..!" Sena tertawa-tawa sambil menggeleng-gelengkan kepala, menyaksikan kelima manusia berkedok itu lari tunggang-langgang ke- takutan. Mei Lie melangkah mendekati Pendekar Gila, setelah kedua lawannya turut kabur. Dimasukkan Pe- dang Bidadari ke dalam sarungnya. Bibirnya mengurai senyum, melihat kelakuan sang Kekasih yang persis orang gila. Meski begitu, hatinya sangat mencintai Pendekar Gila.
"Terima kasih, Tuan Pendekar! Terima kasih!" ucap gadis cantik berusia sekitar dua puluh empat tahun yang tadi diculik kelima lelaki berkedok. Gadis itu berlutut di hadapan Pendekar Gila dan Bidadari Pen- cabut Nyawa.
"Aha, kurasa kami bukan Dewa, Dik," kata Se- na.
"Benar, Diajeng. Bangunlah, jangan berlaku se- perti itu pada kami. Kami bukanlah Dewa yang patut disembah. Kami manusia biasa," sambut Mei Lie sam- bil membangunkan gadis itu, agar tidak melakukan sembah. "Tapi..., tapi Tuan berdua telah menolong saya," ujar gadis itu masih berusaha menyembah.
"Eee..., sudahlah, tak perlu kau risaukan masa- lah itu! Saling menolong merupakan kewajiban setiap manusia. Oh ya, siapa namamu...?" tanya Sena.
"Nama saya, Sulandri. Saya berasal dari desa ini, saya anak Ki Lurah Riwanda," tutur gadis itu men- jelaskan dirinya.
"O, rupanya kau anak Ki Lurah. Hm, pulanglah! Kau telah bebas. Berhati-hatilah!" ujar Mei Lie sambil memegang pundak Sulandri sebelah kiri. Mei Lie beru- saha menenangkan hati gadis itu.
Sulandri menatap kedua penolongnya. Semen- tara Pendekar Gila dan Mei Lie tersenyum sambil men- ganggukkan kepala.
"Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih," ujar Sulandri sambil menjura hormat pada kedua pendekar muda itu.
Sulandri dengan berat hati berlari-lari kecil meninggalkan Pendekar Gila dan Mei Lie yang tetap tersenyum, memandang Sulandri yang sebentar- sebentar menoleh. Sulandri melambaikan tangan ting- gi-tinggi. Mei Lie menyambutnya dengan senyum
"Aha! Mari kita teruskan perjalanan kita!" ajak Sena kemudian.
"Kau belum menjelaskan bagaimana orang Ja- wa memperhitungkan musim dengan patokan angin, Kakang," desak Mei Lie.
"Aha, sudahlah! Bukankah hal itu tak menjadi persoalan bagimu?" sahut Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie, melangkah meninggalkan tempat itu.
***

Lima Hantu Berkedok yang dikalahkan Pende- kar Gila dan Mei Lie kini masih berlari memasuki Hu- tan Parang Pesisir tempat markas mereka. Mereka ber- lima tahu, Sugali sang Pemimpin tengah menunggu kedatangan kelima anak buahnya. Akhirnya Lima Han- tu Berkedok sampai di markas.
Dari dalam sebuah bangunan yang terbuat dari papan kayu keluar seorang pemuda berwajah tampan, tapi agak bengis. Mata pemuda berpakaian merah itu, memandang ke Lima Hantu Berkedok yang berlari-lari tanpa membawa seorang gadis.
"Mana gadis itu, Kedok Hitam?!" bentak Sugali keras dengan mata menyorot tajam ke wajah lima anak buahnya yang langsung terdiam dengan kepala tertun- duk. "Kedok Hitam, mana gadis itu, heh?! Apakah kau sudah bisu?!"
"Ampun, Ketua! Sesungguhnya kami telah mendapatkan gadis yang Ketua kehendaki," tutur Ke- dok Hitam dengan kepala masih menunduk.
"Lalu...?" tanya Sugali. Nadanya masih menun- jukkan kemarahan. Sedang matanya menatap tajam wajah Kedok Hitam. "Hei, jawab...?!"
"Ampun, Ketua! Sesungguhnya, kami memang telah mendapatkan gadis yang Ketua kehendaki. Namun di tengah jalan, kami dihadang Pendekar Gila," jawab Kedok Ungu dengan suara bergetar. Ada perasaan takut di hatinya.
"Apa?! Pendekar Gila...?!" membelalak mata Su- gali mendengar anak buahnya mengatakan telah bertemu dengan Pendekar Gila. Wajah Sugali seketika be- rubah membara. Tangan kanannya mengepal, memu- kuli telapak tangan yang kiri.
"Benar, Ketua," timpal Kedok Merah, "Karena Pendekar Gila dan kekasihnya, sehingga kami gagal membawa gadis itu ke hadapan Ketua."
Sugali mengangguk-anggukkan kepala dengan wajah masih menunjukkan kegarangan. Gigi-giginya saling beradu. Telah lama dirinya mencari-cari Pende- kar Gila. Kini tak ada pilihan lain, kecuali mencari pendekar itu, untuk menuntut balas atas kematian kedua orangtuanya.
"Pendekar Gila, tunggulah pembalasanku!" dengus Sugali marah, ketika tiba-tiba teringat kembali kedua orangtuanya yang mati di tangan pendekar itu.
"Aku akan mengadu nyawa denganmu!"
Kelima anak buahnya hanya diam, tak ada yang berani menanggapi ucapan Sugali. Kelima Hantu Berkedok hanya saling mencuri pandang, mendengar ancaman ketua mereka. Hati mereka bertanya-tanya. Mampukah pimpinan mereka menghadapi Pendekar Gila yang sakti, karena mereka telah merasakan sendiri kehebatannya. Belum lagi menghadapi gadis Cina yang memiliki pedang sakti itu. Pedangnya mampu mengeluarkan sinar kuning kemerahan yang mampu membuat jantung setiap lawan berdebar keras. Pedang itu seakan memiliki kekuatan gaib, yang mampu membuat lawan bergetar ketakutan serta merasa di- bayang-bayangi malaikat pencabut nyawa.
"Kalian nanti malam ikut aku! Kita harus men- cari gadis yang diminta Datuk Raja Karang. Kalau kita bertemu dengan Pendekar Gila, akulah yang akan menghadapinya," ujar Sugali dengan tegas. Matanya membelalak dan memerah karena marah.
"Baik, Ketua...!" sahut kelima anak buahnya sambil menjura. Tak seorang pun berani beradu pan- dang dengan sang Ketua mereka.
"Sekarang kalian boleh pergi! Ingat, malam nanti kita harus mencari seorang gadis!" tegas Sugali mengingatkan pada kelima anak buahnya.
"Baik, Ketua," sahut Lima Hantu Berkedok sambil menjura. Kemudian kelimanya segera mening- galkan markas, untuk mencari makanan. Tampak me- reka membuka kedok masing-masing. Seketika terli- hatlah wajah-wajah yang sebenarnya. Lima Hantu Berkedok ternyata lima lelaki berwajah buruk. Wajah mereka buruk seperti bekas luka bakar yang daging wajah mereka gosong dan terkelupas. Mengerikan!
***

5
Mentari di ufuk barat tampak merangkak turun dengan perlahan. Sebentar lagi, malam akan tiba membawa kegelapan. Dua orang muda-mudi nampak tengah menyelusuri jalanan yang membelah Desa Jati Sanga. Kedua remaja yang ternyata Pendekar Gila dan kekasihnya Mei Lie atau Bidadari Pencabut Nyawa, tengah berusaha mencari tempat untuk bermalam. Meski Mei Lie cukup lama hidup di hutan, Pendekar Gila tak ingin kekasihnya harus tidur menggelantung di pepohonan atau kedinginan diterpa angin malam. Itu sebabnya Sena berusaha mencari penginapan.
"Kakang, kita teruskan saja perjalanan!" usul Mei Lie. Sena mengerutkan kening dan menghentikan langkahnya. Ditatapnya Mei Lie dalam-dalam. Kemu- dian dengan bibir tersenyum, pemuda berambut gon- drong itu, menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak, Mei! Udara malam terlalu jahat untuk- mu. Kau harus istirahat, karena perjalanan menuju Goa Setan masih jauh. Kita memerlukan waktu sekitar tiga sampai empat hari," ujar Sena menjelaskan, beru- saha memberi pengertian pada kekasihnya.
"Tapi aku kuat, Kakang." "Aku tahu. Tapi kau perlu istirahat," tukas Sena. Mei Lie hanya diam, ditatapnya wajah Pendekar Gila yang tampan. Gadis itu te- rasa damai jika berada di sampingnya. Sebenarnya dia tak ingin berpisah dengan pemuda tampan yang seper- ti orang gila ini. Namun dirinya tetap harus sabar me- nunggu sampai habis pengembaraan Pendekar Gila untuk menjalin sebuah rumah tangga yang dicita- citakan.
"Ayo, Mei! Kita harus segera mencari pengina- pan," ajak Sena sambil menggandeng tangan Mei Lie. Gadis itu pun menurut. Keduanya kembali melangkah, menyelusuri Desa Jati Sanga untuk mencari pengina- pan.
Setelah beberapa lama berjalan menyusuri ja- lan desa, akhirnya Sena menemukan sebuah pengina- pan yang sederhana. Penginapan itu tak terlalu ramai dan besar. Hanya seukuran rumah biasa, kamarnya pun hanya lima buah. Di sampingnya ada sebuah ke- dai yang juga tak seberapa luas.
Seorang lelaki berusia setengah baya bertubuh gemuk datang menghampiri Pendekar Gila dan Mei Lie. Dengan tatapan menyelidik, dipandangi kedua orang tamunya. Seakan lelaki gemuk berkumis tebal itu, tak percaya dengan Pendekar Gila yang cengengesan den- gan tingkah laku seperti orang gila.
"Aha, sepertinya kau meragukan kami, Ki," tu- kas Sena sambil cengengesan dengan tangan mengga- ruk-garuk kepala. Hal itu membuat pemilik kedai dan penginapan semakin menajamkan matanya penuh se- lidik.
"Kalian mau menginap?" tanyanya dengan nada tak percaya.
"Benar," sahut Mei Lie mendahului. Mulutnya yang tipis tersenyum manis.
"Hm, apakah kalian bawa uang?" Mata Mei Lie membelalak kesal, mendengar pertanyaan yang dilontarkan pemilik penginapan. Di- rinya merasa seperti dihina. Mata Mei Lie melotot me- nentang mata pemilik penginapan yang menatap me- reka dengan sikap merendahkan.
"Kau minta berapa?!" tanya Mei Lie dengan sua- ra tajam, membuat pemilik penginapan tersentak. Di- rinya tak menyangka, kalau gadis Cina itu berani membentak.
"Kau?!" tergagap ucapan pemilik kedai. "Ya! Jangan sembarangan, Ki! Berapa pun kau minta, bila perlu penginapan ini kubeli, aku sanggup!" ujar Mei Lie ketus. Ucapan gadis cantik itu membuat pemilik penginapan bertambah kaget
"Sombong sekali kau, Nisanak! Lancang benar mulutmu!" bentak pemilik penginapan. Kemudian tan- gannya bertepuk dua kali. Dari dalam, muncul dua orang lelaki bertelanjang dada dengan tubuh kekar. Nampaknya kedua lelaki bertampang beringas itu tu- kang pukul si pemilik penginapan.
"Hi hi hi...! Lucu sekali! Mengapa kau suruh dua ekor kerbau dungu untuk melayani kami?" tanya Sena sambil cengengesan dengan kepala menggeleng- geleng. Sementara tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Bocah gila! Kuharap kau dan gadis Cina ini se- gera pergi, atau kedua tukang pukul ku akan menen- dang kalian sampai keluar!" ancam Ki Gendo sambil mengerlingkan mata pada dua orang tukang pukulnya. Kedua lelaki beringas itu menyeringai, seakan mere- mehkan Pendekar Gila dan Mei Lie.
"Aha, sambutanmu tak pantas, Ki. Inikah sam- butan pemilik penginapan pada tamunya?" ejek Sena dengan masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. Sedangkan Mei Lie kini nampak memasang wa- jah bengis, kemarahannya sudah memuncak. Nampaknya Mei Lie benar-benar tersinggung mendengar ucapan Ki Gendo.
"Orang tua tak tahu diri!" dengus Mei Lie, "Ru- panya kau benar-benar mencari penyakit!"
"Oh..., kau jauh lebih galak daripada pemuda gila temanmu ini, Nisanak! Hm, aku semakin tertarik, apakah di tempat tidur pun kau akan segalak ini?" sahut Ki Gendo dengan senyum sinis mengembang di bi- birnya. Matanya memandang nakal ke wajah Mei Lie, membuat gadis cantik itu bertambah geram.
"Orang tua, mulanya aku hendak menghorma- timu. Tetapi, rupanya kau lelaki tak tahu malu!" ben- tak Mei Lie keras dengan mata melotot
"Sorpa dan Jawir, kau hadapi dan bereskan pemuda gila itu! Biar aku bisa bermesraan dengan ga- dis ini," perintah Ki Gendo sambil menatap penuh naf- su pada Mei Lie. Gadis itu tampak tenang dengan mata tajam mengawasi gerak-gerik lelaki gendut yang mata keranjang itu.
"Baik, Juragan!" sahut keduanya. Kemudian dengan mulut menyeringai, Sorpa dan Jawir melang- kah mendekati Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...! Dua kerbau dungu ini, mengapa kau suruh melayani aku, Ki?" tanya Sena sambil ter- tawa cekikikan dan menggaruk-garuk kepala.
Betapa marah Sorpa dan Jawir dikatakan ker- bau dungu. Napas mereka mendengus. Lalu masing- masing merentangkan tangan ke atas dengan jari-jari siap mencengkeram.
"Grrr! Kubunuh kau, Bocah Edan!" dengus Sorpa dengan mata menatap garang pada Pendekar Gi- la. Kemudian dengan mengerahkan tenaga dalam, Sor- pa bergerak maju. Kedua tangannya yang sudah diren- tangkan, kini siap menghantam ke tubuh Pendekar Gi- la. "Remuk kepalamu! Heaaa...!"
Wrt! "Aits...!" Dengan cepat Pendekar Gila merundukkan tu- buh. Sehingga pukulan kedua tangan Sorpa melintas di atas kepalanya. Kemudian dengan cepat pula, Pen- dekar Gila langsung menyerudukkan kepalanya ke perut Sorpa.
Dukg! "Ukh!" tubuh Sorpa langsung terhuyung- huyung ke belakang terkena serudukan Pendekar Gila. Matanya membelalak, melotot semakin garang.
"Kurang ajar! Kubunuh kau, Pemuda Gila!" bentak Jawir sambil melangkah maju. Tangannya dilu- ruskan ke depan, kemudian ditarik dengan jari-jarinya. Lalu setelah diletakkan di pinggang, Jawir langsung menghentakkan pukulan kedua tangannya ke tubuh Pendekar Gila, "Heaaa...!"
Dengan cepat Pendekar Gila berkelit ke samp- ing, sambil mengangkat kaki kanan. Kemudian dengan cepat disertai setengah tenaga dalam, ditendangnya perut Jawir. Seketika tubuhnya doyong ke depan.
"Hea!" Begk! "Ukh...!" keluh Jawir sambil terhuyung mun- dur. Perutnya terasa mual akibat tendangan Pendekar Gila "Hoak! Hoak..!"
"Hi hi hi...! Lucu sekali, ada dua kerbau dungu sedang mabuk," ujar Sena sambil cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
Sementara Mei Lie nampak. masih berusaha berkelit dari Ki Gendo yang berusaha merenggut tubuhnya. Bahkan kini lelaki setengah baya berperut gendut itu tampak jatuh tersungkur, mencium tanah karena tak dapat memeluk Mei Lie.
Brak! "Hi hi hi..!" Mei Lie tertawa cekikikan, menyak- sikan Ki Gendo terjatuh karena dia mengelit ketika le- laki itu hendak memeluknya. Hal itu menjadikan Ki Gendo semakin penasaran. Lelaki gendut mengenakan pakaian kuning itu, langsung bangun. Kemudian den- gan masih beringas, Ki Gendo segera merangsek tubuh
Mei Lie, berusaha memeluk Mei Lie.
"Ayo, tangkaplah aku!" tantang Mei Lie dengan senyum meledek di bibirnya. Ki Gendo bertambah naf- su untuk dapat menangkap Mei Lie.
"He he he...! Rupanya kau bukan gadis semba- rangan, Nisanak Aku semakin penasaran," ujar Ki Gendo sambil melangkah mendekati tubuh Mei Lie. Kedua tangannya mengembang, siap untuk memeluk Mei Lie. "Ayo, Ki! Tangkaplah aku!" tantang Mei Lie den- gan senyum masih mengembang di bibirnya. Wajah gadis Cina itu bertambah cantik
"Heaaa...!" Ki Gendo langsung menubruk tubuh Mei Lie. Namun dengan cepat gadis itu berkelit ke samping kiri. Hal itu membuat tubuh Ki Gendo terhuyung karena meleset tubrukannya. Saat itu pula, Mei Lie men- dorong tubuh lelaki setengah baya itu dengan keras dan cepat Tubuh Ki Gendo semakin cepat menyeru- duk. Sehingga, karena tak mampu mengatasi dorongan tangan Mei Lie, tubuhnya yang gendut itu menabrak dinding kamar depan penginapannya.
"Aaa...!" Brak! Dinding kayu kamar itu ambruk. Seketika itu pula tampaklah pemandangan di dalam kamar itu. Ma- ta Pendekar Gila dan Mei Lie terbelalak kaget. Di dalam kamar itu, ada lima gadis cantik dalam keadaan telan- jang. Kelima gadis cantik yang ditampung di dalam kamar itu, nampaknya sangat tertekan dan ketakutan.
"Aha. Rupanya penginapan ini hanya kedok ba- gi kalian," ujar Pendekar Gila sambil berkelit menge- lakkan serangan kedua orang tukang pukul Ki Gendo. Kemudian dengan cepat, kedua tangannya bergerak menghantam tubuh kedua lawan.
Degk! "Akh...!" kedua orang tukang pukul Ki Gendo langsung menjerit, terkena pukulan dan tendangan Pendekar Gila. Tubuh keduanya yang mirip dua ekor kerbau, langsung terpelanting dan menabrak dinding papan rumah penginapan itu.
Brak! Suara berderak seketika terdengar disusul hi- ruk-pikuk orang-orang yang berlarian dari dalam kamar. Beberapa pasang lelaki-perempuan tampak kaget dan berhamburan keluar hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Nampaknya mereka tengah melang- sungkan perbuatan maksiat di kamar-kamar pengina- pan itu. "Aha, rupanya penginapan ini tempat terlak- nat...!" gumam Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala. Matanya agak terpicing karena keheranan me- nyaksikan apa yang terjadi di dalam rumah pengina- pan itu. Dia tidak menyangka, kalau Ki Gendo rupanya seorang germo. Seorang penyelenggara tempat perca- bulan.
Melihat kedua tukang pukulnya dapat dikalah- kan oleh Pendekar Gila. Ki Gendo seketika berlutut meminta ampun. Wajahnya pucat-pasi ketakutan, mengharap ampunan dari kedua pendekar muda itu.
"Ampuni nyawaku!" ratap Ki Gendo. "Aha, kau benar-benar manusia keji, Ki! Men- jual kehormatan dan harga diri wanita. Hi hi hi...! Se- mua terserah pada Mei Lie. Bagaimana, Mei?" tanya Sena.
"Lelaki seperti ini tak dapat diampuni, Kakang. Kalaupun kita mengampuni, setelah kita pergi tentu dia akan tetap seperti ini. Dia akan melakukan hal seperti ini juga," jawab Mei Lie dengan senyum sinis. Mendengar jawaban itu, Ki Gendo tampak semakin ketakutan. "Ampun, Nisanak! Sungguh aku akan sadar," ratap Ki Gendo sambil terisak. Hatinya benar-benar merasa takut, mendengar ucapan Mei Lie. Bagaimana pun Ki Gendo telah tahu kehebatan kedua anak muda di hadapannya.
"Aha, benarkah ucapanmu bisa kami pegang, Ki?" tanya Sena dengan tingkah laku masih seperti orang gila. Mulutnya cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Sungguh, Tuan. Saya akan sadar." "Hi hi hi...! Lucu sekali. Kau tadi seperti raksa- sa yang punya taring. Kini kau seperti seekor kerbau yang kehilangan tanduk," ujar Pendekar Gila dengan menggeleng-geleng kepala. Dipandangnya Mei lie, "Ba- gaimana, Mei?"
"Baik. Untuk kali ini kuampuni. Tetapi, jika ke- lak kudengar kau masih memperdagangkan kehorma- tan kaumku dengan cara seperti ini, aku tak akan memberi ampun bagimu!" tegas Mei Lie.
"Terima kasih, Nisanak. Terima kasih...!" Ki Gendo hendak bersujud, tetapi Pendekar Gila dengan cepat melarangnya.
"Ah ah ah, sudahlah, Ki! Kau manusia seperti kami Tak pantas manusia menyembah manusia," kata Pendekar Gila sambil menyuruh Ki Gendo untuk ban- gun, "Bangunlah, Ki!"
Dengan hati masih dilanda ketakutan, Ki Gen- do menurut bangun. Kini lelaki setengah baya yang semula sinis itu, hanya mampu menundukkan kepala. Ki Gendo tak berani beradu pandang dengan kedua pendekar muda itu.
"Baiklah, Ki. Kurasa kami harus pergi," kata Sena, yang membuat Ki Gendo membelalakkan mata.
"Kenapa tak menginap saja, Tuan? Sungguh, kami ingin menimba ilmu dan budi pekerti dari Tuan Pendekar," ucap Ki Gendo penuh harap.
"Aha, ilmu dan akal budi, sesungguhnya ada pada setiap manusia, Ki. Kau pun sebenarnya telah bi- sa, tinggal bagaimana kau melakukannya," jawab Pen- dekar Gila seraya tersenyum. "Camkanlah itu, Ki! Jika kau selalu ingat itu, kau akan tetap pada jalur hidup yang benar."
"Baiklah, Tuan. Segala apa yang Tuan katakan akan saya ingat," sahut Ki Gendo seraya menggaruk- garuk kepala, tanpa menatap wajah Pendekar Gila.
"Aha, kurasa aku dan temanku harus segera pergi, Ki. Ayo, Mei Lie!" ajak Sena.
"Ayo, Kakang!" Kedua pendekar muda itu pun segera beranjak meninggalkan penginapan Ki Gendo yang sekaligus tempat mesum itu. Ki Gendo mengiringi Pendekar Gila dan Mei Lie sampai depan pagar halaman penginapan- nya. Tatapan mata lelaki setengah baya itu nampak menyiratkan rasa kagum pada kedua pendekar muda itu. Hati Ki Gendo menyesali tindakannya, juga sifat- nya. Seharusnya dirinya yang sudah tua, menyadari kalau perbuatannya selama ini merupakan suatu ke- sesatan.
***

"Tolong! Tolong! Tolooong...!" Malam yang sunyi dan sepi, seketika dipecahkan oleh suara jeritan seseorang wanita meminta tolong.
Jeritan keras itu membuat para penduduk Desa Suluh Pring terbangun. Mereka berlarian dari rumah masing-masing membawa obor, ingin tahu apa yang sedang terjadi. Suara kentongan pun bersahut- sahutan, mengisyaratkan kalau malam ini terjadi penculikan di Desa Suluh Pring.
"Tolong...! Culik..!" seorang wanita setengah baya berteriak-teriak, ditingkahi hiruk-pikuk dan bunyi kentongan di kegelapan malam.
"Ada apa, Nyai?" tanya seorang lelaki berbadan sedang dengan wajah nampak penuh wibawa. Lelaki berusia lima puluh tahun yang ternyata Kepala Desa Suluh Pring itu diapit dua pengawalnya.
"Anak saya, Ki Lurah," jawab wanita setengah baya itu terbata di sela tangisnya.
"Kenapa dengan anakmu, Nyai?" "Santini diculik orang-orang berkedok, Ki," sa- hut wanita itu masih dengan tangisnya.
"Ke mana mereka pergi?" tanya Ki Lurah Sanu- si.
"Ke sana, Ki." "Rojak, Sali, kejar mereka! Warga semua, ikut aku!" ajak Ki Lurah Sanusi. Seketika itu pula, Ki Lurah Sanusi dan kedua tangan kanannya serta warga desa memburu ke barat yang ditunjuk wanita setengah baya tadi.
Dalam kegelapan malam, Ki Lurah Sanusi me- lihat enam lelaki berjalan ke barat Salah seorang lelaki memanggul wanita yang tentunya Santini, anak Nyi Darmi. Gadis itu nampak meronta, berusaha mele- paskan diri dari lelaki muda yang memanggulnya.
"Berhenti kalian!" bentak Ki Lurah Sanusi den- gan keras. Keenam lelaki berkedok itu seketika berhen- ti. Mereka serentak menoleh, memandang tajam pada Lurah Sanusi dan beberapa warga desa yang mengejar mereka. "Hm, rupanya ada juga orang yang berani menghentikan langkahku," geram salah seorang di an- tara keenam lelaki yang tak berkedok. Mata lelaki ber- pakaian merah itu menatap tajam pada Ki Lurah Sanusi dan kedua tangan kanannya.
"Penculik biadab! Lepaskan gadis itu!" bentak Ki Lurah Sanusi tegas, tak takut menghadapi keenam begundal yang telah menculik salah seorang gadis warganya.
"He he he..., berani juga kau membentakku, Ki," gumam Sugali sambil tertawa terkekeh. "Rupanya kau sudah bosan hidup, berani menentangku."
"Cuih!" Ki Lurah Sanusi meludah. "Menghadapi iblis macam kalian, mengapa aku harus takut!"
"Oooh, bagus! Dengan begitu, kami tak akan segan-segan mencabut nyawa kalian," ujar Sugali den- gan senyum sinis masih melekat di bibirnya. Kemudian dengan menggerakkan tangan, Sugali memerintahkan pada Lima Hantu Berkedok agar menyerang.
"Heaaa...!" Kelima Hantu Berkedok segera melompat ke depan. Mereka dengan beringas langsung melakukan serangan pada Ki Lurah Sanusi dan tangan kanannya yang dibantu para warga desa.
"Tangkap mereka...!" perintah Ki Lurah Sanusi pada kedua tangan kanannya. Rojak dan Sali diikuti para warga Desa Suluh Pring langsung menghadapi se- rangan Lima Hantu Berkedok
"Heaaa...!" "Heaaa...!" "Tangkap...! Serang...!" Dengan penuh kemarahan, warga desa dibantu kedua tangan kanan Ki Lurah Sanusi langsung meng- hadang kelima manusia berkedok. Dengan senjata yang berupa golok, parang, dan lain-lainnya, mereka langsung menggebrak Warga desa bagaikan tak men- genal takut, membabatkan golok dan parang mereka menyerang kelima lelaki berkedok
"Hea!"
"Yea!" Serangan warga Desa Suluh Pring tampak menggebu-gebu. Namun karena tidak dilandasi ilmu silat, serangan mereka bagaikan tiada arti. Dengan mudah, serangan warga desa dapat dipatahkan kelima manusia berkedok
"Hea...!" Dukkk! Plakkk! "Aaakh...!" Sekali kelima manusia berkedok menggebrak dengan pukulan dan tendangan, beberapa orang warga memekik terkena tendangan dan pukulan mereka.
"Heaaa...!" Wrettt! Trang! "Heaaa...!" Walau telah banyak korban berjatuhan di pihak warga Desa Suluh Pring, nampaknya mereka tak me- rasa gentar barang sedikit pun. Pertarungan itu sema- kin seru. Kemarahan warga Desa Suluh Pring bertemu dengan kejengkelan Lima Hantu Berkedok karena me- rasa terhalangi niat mereka. Namun tiba-tiba....
"Hua ha ha...! Rupanya para kecoa itu ada di sini, Mei!"
Suara tawa menggelegar terdengar dari arah se- latan. Para warga dan Lima Hantu Berkedok sempat tersentak kaget
"Pendekar Gila...!" pekik Lima Hantu Berkedok dengan mata membelalak, setelah tahu siapa pemilik suara tawa itu. Sementara Sugali yang masih me- manggul gadis culikannya, seketika menaruh tubuh gadis itu ke tanah. Matanya langsung memandang ke asal suara tawa itu.
***

6
Benar, dari arah selatan, muncul dua sosok manusia. Seorang wanita dengan pakaian hijau, sedangkan di sampingnya seorang lelaki bertingkah laku seperti orang gila. Pemuda berpakaian rompi kulit ular itu cengengesan dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya menatap tajam Lima Hantu Berkedok yang tampak menyurut mundur, melihat kedua pendekar muda itu.
"Siapa mereka, Kedok Hitam?" tanya Sugali. "Dia Pendekar Gila, Ketua," jawab Kedok Hitam dengan mata nanar menatap Pendekar Gila. Dirinya kecut karena pernah bentrok dengan pemuda gila itu.
"Hm, kebetulan! Memang dialah yang kucari se- lama ini," ujar Sugali sambil melangkah maju. Tatapan matanya memancarkan api dendam kepada Pendekar Gila. Nafasnya mendengus keras, bagaikan menyimpan amarah di dadanya. Hal itu karena tiba-tiba teringat orangtuanya mati di tangan pemuda gila itu. "Pendekar Gila, aku memang sengaja mencarimu!"
Pendekar Gila yang belum kenal siapa pemuda sebayanya yang mengatakan mencarinya, menge- rutkan kening. Dipandangi Sugali dengan penuh seli- dik. Kemudian mulutnya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, ada keperluan apa kau mencariku, Kisa- nak?" tanya Sena masih dengan mata memandang penuh selidik, mengawasi Sugali dari ujung kaki sampai ke ujung rambut.
"Cuih! Kau masih tak mau menyadari kesala- hanmu, Pendekar Gila!" dengus Sugali setelah meludah ke tanah. Matanya bagaikan terbakar, menatap tajam wajah Pendekar Gila yang masih cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
"Aha, kurasa aku tak pernah kenal denganmu," gumam Sena. Tingkah lakunya tampak makin konyol. Jari telunjuknya memegang kening seakan tengah memikirkan sesuatu. Namun mulutnya cengengesan
Sementara itu, Mei Lie tampak tengah memban- tu warga Desa Suluh Pring menghadapi Lima Hantu Berkedok. Dengan kehadiran Mei Lie, warga desa yang semula terdesak mulai bertambah semangat. Bahkan mereka tampak mulai dapat mendesak Lima Hantu Berkedok.
"Jangan banyak omong, Pendekar Gila! Masih ingatkah kau dengan suami-istri yang kau bantai tiga purnama yang silam di Desa Babakan?!" bentak Sugali sengit. Hatinya tampak jengkel mendengar dan melihat kekonyolan Pendekar Gila.
"Aha, aku ingat. Hi hi hi...! Jadi kau anak me- reka?" tanya Pendekar Gila sambil tertawa-tawa lucu.
"Benar! Dan aku hendak menuntut balas atas kematian kedua orangtua ku!" ujar Sugali semakin membara amarahnya. Seakan dendam di dadanya tak akan padam, sebelum dapat membunuh Pendekar Gila yang telah membunuh kedua orangtuanya.
"Aha, kebetulan sekali. Hi hi hi...! Kurasa aku pun sedang mencarimu, Kisanak," sahut Pendekar Gila sambil cengengesan. "Kau murid yang paling durhaka, Kisanak Baik pada gurumu yang kau bunuh, maupun pada kedua orangtua mu."
"Kurang ajar! Lancang sekali mulutmu, Pende- kar Gila! Bersiaplah untuk mati!" dengus Sugali.
Srang! Pedang Dewa Naga dicabut dari warangkanya. Nampaknya Sugali tak mau menyia-nyiakan perte- muan ini. Pemuda itu, sepertinya hendak menghabisi nyawa Pendekar Gila secepatnya. Pedang yang menge- luarkan sinar hijau bagaikan haus darah.
"Aha, di samping durhaka, kau pun ternyata pencuri, Kisanak," ujar Pendekar Gila yang membuat Sugali bertambah marah. Matanya menatap semakin tajam pada Pendekar Gila.
"Setan alas! Kubunuh kau, Pendekar Gila! Heaaa...!" dengan menggunakan jurus 'Naga Menga- rungi Samudera' Sugali langsung menggebrak Pende- kar Gila. Pedang di tangannya bergerak cepat, memba- bat dan menusuk tubuh lawan.
Wrt! Wuttt! Mendapat serangan begitu cepat, Pendekar Gila tak tampak keder atau kewalahan. Bahkan sambil ma- sih cengengesan, tubuhnya bergerak mengelak. Kali ini gerakannya seperti orang mabuk. Itulah jurus 'Dewa Mabuk Menjerat Sukma' yang membuat lawan penasa- ran dan ingin terus memburu. Hal itu karena gerakan Pendekar Gila tampak terhuyung-huyung, seperti tak memiliki keseimbangan. "Heaaa...!" Sugali kembali membabatkan pedangnya ke tu- buh Pendekar Gila yang masih seperti orang gila. Na- mun dengan gerakan aneh Pendekar Gila mengelitkan serangan lawan. Sehingga babatan pedang Sugali me- lesat beberapa rambut di samping tubuh Pendekar Gi- la.
Wrt! "Aha, pedangmu hasil curian, sehingga kau tak becus menggunakannya, Kisanak," ejek Pendekar Gila dengan tingkah laku seperti orang gila. Mulutnya cen- gengesan dengan tangan sesekali menggaruk-garuk kepala. Lalu tertawa cekikikan, yang membuat kema- rahan Sugali semakin menjadi-jadi.
"Bedebah! Kubunuh kau, Pendekar Gila!
Heaaa...!" Dengan menggunakan jurus 'Naga Menggeliat Mengulur Raga', Sugali melakukan serangan cepat Pe- dang Dewa Naga di tangannya bergerak cepat, menu- suk, dan membabat. Direntangkan kedua tangan, se- hingga jangkauan tusukan dan babatan pedang ber- tambah dekat dengan sasaran.
"Hi hi hi..!" sambil tertawa cekikikan, Pendekar Gila segera berkelit menggunakan jurus 'Gila Menari Menepuk Lalat. Tubuhnya meliuk-liuk dengan lincah bagaikan menari. Sepintas gerakan tariannya sangat pelan dan lemah, tetapi Sugali tak juga mampu me- nyarangkan serangannya ke tubuh Pendekar Gila. Bahkan dirinya semakin dibuat penasaran. Pemuda berpakaian merah itu telah mengerahkan setengah le- bih tenaganya untuk memburu Pendekar Gila, tapi ge- rakan Pendekar Gila yang aneh tak mampu dikejar.
"Hih...!" Dengan masih bergerak seperti orang menari, Pendekar Gila melepaskan tepukan tangannya ke tu- buh lawan. Tubuhnya agak dibungkukkan dan agak mendoyong ke depan. Gerakan menepuk yang dilaku- kan Pendekar Gila kelihatan lamban dan lemah, tetapi cukup menyentakkan Sugali.
Plak! "Heh?!" Dengan cepat Sugali menarik serangannya. Di- lentingkan tubuhnya ke atas, berusaha mengelakkan serangan yang dilancarkan Pendekar Gila. Namun ke- tika kakinya baru saja hendak mendarat di tanah, Pendekar Gila telah memburunya. "Gila! Dasar gila...!" Sugali mencaci-maki sendiri, karena tepukan- tepukan tangan Pendekar Gila yang nampaknya tak memiliki tenaga dapat memburu gerakan tubuhnya.
Bukan itu saja, tepukan tangan Pendekar Gila yang tampak pelan, ternyata mampu menimbulkan desiran angin yang sangat keras. Hampir saja Sugali terkena pukulan telapak tangan Pendekar Gila, kalau saja tak segera menarik serangannya dan melentingkan tubuh mengelakkan tepukan itu.
Sugali terus berusaha mengelakkan pukulan telapak tangan Pendekar Gila yang memburunya. Pe- muda itu telah berusaha mengeluarkan segenap tena- ga untuk mengelak. Namun serangan yang dilancarkan lawan ternyata begitu cepat, walau kelihatannya san- gat lambat.
"Hea!" Sugali berusaha membabatkan pedang ke tan- gan lawan yang melesat ke tubuhnya. Namun dengan gerakan aneh, Pendekar Gila menarik serangannya. Tubuhnya berputar ke arah kiri lalu dengan cepat ka- kinya menendang. Itulah jurus 'Gila Melepas Lilitan Benang'. "Hea!"
Wusss! "Heh?!" Sugali tersentak kaget. Dirinya tak menyangka kalau lawan akan mampu membalas serangan dengan begitu cepat Sugali berusaha mengelak ke samping. Namun tangan kiri Pendekar Gila dengan cepat mema- paki tubuhnya. Dan....
Degk! "Akh...!" Sugali menjerit. Tubuhnya terpental ke samping kanan. Dari sela-sela bibirnya, mengalir da- rah merah. Matanya memandang penuh kemarahan pada Pendekar Gila yang tampak hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Saat itu, tiba-tiba sesosok bayangan merah me- lesat menuju tempat pertempuran. Ternyata sesosok
lelaki tua dengan jenggot putih yang telah begitu dike- nali oleh Sugali. Bayangan lelaki berpakaian mirip resi dengan rambut digelung ke atas yang tak lain Ki Pra- manu tersenyum sinis menatap Sugali. Tentu saja pemuda itu terbelalak kaget melihat sosok bayangan gu- runya muncul di depan mata.
"Hukum pertama akan segera tiba, Gali. Kutuk- ku yang pertama, akan menyambutmu," suara itu ter- dengar dari mulut bayangan Ki Pramanu. "Kau tentu masih ingat, bukan...?"
"Tidak! Aku tak akan kalah di tangan Pendekar Gila! Hhh..., dialah yang akan mati di tanganku!" dengus Sugali sengit. Matanya yang merah membara menghujam tajam ke wajah bayangan Ki Pramanu yang masih tersenyum.
"He he he...! Kau tak dapat menentang suratan, Gali. Kau tak akan bisa lepas dari kutuk orang yang mengucapkan dalam keadaan sekarat," ujar bayangan Ki Pramanu yang semakin membuat Sugali kalap.
"Orang tua keparat! Minggir! Jangan banyak bacot! Tempatmu bukan di dunia, tetapi di neraka!" dengus Sugali sambil membabatkan pedang memburu Ki Pramanu yang seketika itu pula menghilang dari pandangan.
Lenyapnya bayangan Ki Pramanu, menambah kemarahan Sugali. Kini Pendekar Gila jadi sasaran se- rangannya. Dengan cepat Pendekar Gila bergerak mengelakkan serangan yang dilancarkan Sugali. Di- renggangkan kaki kirinya ke samping sambil men- doyongkan tubuh. Pedang Sugali pun meleset menderu di samping kanan.
"Hea!" Dengan cepat Pendekar Gila menarik kaki ka- nan, lalu diangkatnya ke atas. Sehingga tepat meng- hantam perut Sugali.
Degk! "Ukh...!" Sugali memekik tertahan. Tubuhnya terpental ke depan dan bergulingan dengan mulut me- ringis. Perutnya yang terkena lutut Pendekar Gila dira- sakan mulas. Namun cepat-cepat Sugali bangkit berdi- ri. Matanya yang merah menatap tajam pada Pendekar Gila penuh kebencian. Sementara Pendekar Gila justru cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala.
Di pihak lain, Mei Lie yang dibantu Ki Lurah Sanusi dan dua tangan kanannya serta warga desa te- lah mampu mendesak Lima Hantu Berkedok. Kelima Hantu Berkedok kini hanya dapat bertahan dari gem- puran-gempuran yang dilakukan Mei Lie dan Ki Lurah Sanusi serta warga desa.
Kalau saja tak ada Mei Lie, Ki Lurah Sanusi dan warganya mungkin tak akan sanggup mendesak kelima manusia berkedok. Ilmu yang dimiliki Lima Hantu Berkedok ternyata tak bisa dianggap remeh. Je- las jauh lebih tinggi jika dibanding Ki Lurah Sanusi serta kedua orang tangan kanannya.
"Hea...!" dengan jurus-jurus 'Bidadari'-nya Mei Lie terus bergerak menggempur Lima Hantu Berkedok yang kian terjepit. Kelimanya terus berusaha bertahan dari gempuran si Bidadari Pencabut Nyawa bersama warga desa. Namun rupanya serangan Mei Lie dan Ki Lurah Sanusi serta kedua tangan kanannya cukup dahsyat. Sampai akhirnya....
"Hea...!" Cras! "Akh...!" Kedok Biru menjerit keras, ketika pe- dang milik Ki Lurah Sanusi membabat tangan kanan- nya, yang seketika buntung. Darah deras keluar dari tangannya yang terpotong.
"Bunuh semuanya...!" seru Ki Lurah Sanusi memerintah pada warga desa serta kedua tangan kanannya. "Hea!"
"Cincang mereka...!" Seketika terdengar suara hiruk-pikuk, jeritan, dan teriakan kemarahan memecah suasana malam. Para warga Desa Suluh Pring yang telah marah tam- paknya tak mampu lagi menahan kemarahan. Mereka langsung menyerbu Lima Hantu Berkedok. Dengan senjata berupa golok, parang, dan arit para warga menggebrak lawan yang tampak mulai kendor dalam melakukan serangan dan pertahanan.
Wrt wrt wrt..! Jrabs! "Akh...!" Kedok Kuning menjerit, ketika golok di tangan salah seorang penduduk desa menghujam ke perutnya. Sesaat tubuhnya menggelepar, kemudian ambruk bersimbah darah.
Kini Lima Hantu Berkedok tinggal empat orang. Dengan tewasnya Kedok Kuning jelas mengurangi ke- kuatan mereka. Namun untuk kabur mereka tak bera- ni, karena warga Desa Suluh Pring telah mengepung.
"Mampus kalian!" dengus Ki Lurah Sanusi sambil menusukkan pedangnya ke dada Kedok Merah. Sementara dari belakang, penduduk desa pun menye- rang dengan membabatkan golok serta arit mereka.
"Hea!" Jrabs! "Akh...!" Kedok Merah menjerit ketika pedang Ki Lurah Sanusi menembus dadanya. Darah menyembur keluar, ketika pedang itu dicabut. Belum juga pedang Ki Lurah Sanusi tercabut, dari samping kanan dan kiri Kedok Merah, golok dan sabit warga desa berkelebat membabat
"Hih...!" Bret!
Wrt! Tubuh Kedok Merah menggelepar dengan perut hampir putus terbabat golok dan arit warga desa. Se- kejap kemudian tubuh terbalut pakaian merah itu te- lah tewas.
Semakin bertambah ketakutan tiga orang ber- kedok itu. Apalagi Kedok Hitam kini sudah mulai le- mah, karena banyak mengeluarkan darah. Sementara serangan dari Mei Lie yang dibantu warga desa; sema- kin bertambah cepat dan garang. Sehingga ketiga Han- tu Berkedok kian terjepit. Sampai akhirnya....
"Hea!" Wrt! Pedang di tangan Mei Lie yang digerakkan den- gan jurus 'Tebasan Bidadari Memenggal Gunung' membabat leher Kedok Ungu.
Cras! "Akh...!" Kedok Ungu memekik ketika Pedang Bidadari Mei Lie menyambar lehernya, hingga hampir putus.
Kini semakin bertambah ciut nyali Hantu Ber- kedok yang tinggal dua orang. Kedok Biru benar-benar terdesak hebat, sedangkan Kedok Hitam kini menjadi bulan-bulanan kemarahan warga. Mei Lie yang sudah menunjukkan siapa dirinya, terus menyerang Kedok Biru dengan jurus 'Tebasan Bidadari Batin'. Sebuah jurus pamungkas yang sangat dahsyat
"Hea!" Wrt! Cras! "Akh...!" Kedok Biru memekik, ketika pedang si Bidadari Pencabut Nyawa Iblis membabat lehernya. Namun keanehan terjadi Leher Kedok Biru tetap utuh. Dan beberapa saat kemudian, ternyata tubuh Kedok Biru hancur menjadi debu.
***

Sementara itu, Pendekar Gila masih terus me- ladeni serangan-serangan yang dilancarkan Sugali. Dengan masih cengengesan, Pendekar Gila berkelit. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, sambil sesekali tangannya menepuk ke tubuh lawan.
"Hea...!" "Yea...!" Pertarungan Pendekar Gila melawan Sugali ber- langsung seru. Sampai saat itu, dirinya masih men- gandalkan tangan kosong. Hal itu menjadikan Sugali tampak bertambah nafsu untuk menyerang dengan te- basan dan tusukan Pedang Dewa Naga-nya.
Dengan jurus 'Naga Merangkak Gunung', Sugali terus bergerak begitu cepat laksana terbang sambil membabatkan pedangnya memburu lawan. Pedang di tangannya, diarahkan untuk membabat dada dan leh- er Pendekar Gila.
Namun dengan menggunakan jurus 'Gila Mena- ri Menepuk Lalat', Sena terus bergerak mengelitkan se- tiap serangan lawan. Tubuhnya yang meliuk-liuk lak- sana menari, ternyata mampu mengelakkan serangan gencar pedang lawan yang sangat cepat dan memati- kan. Padahal sepintas gerakan meliuk yang dilakukan Pendekar Gila, kelihatan lamban dan lemah. Hal itu membuat Sugali semakin bertambah nafsu, ingin sege- ra mengakhiri pertarungan itu.
"Hea!" "Uts! He he he...!" dengan tertawa terkekeh, Pendekar Gila berkelit dari tusukan pedang lawan. Tubuhnya merunduk, kemudian dengan cepat tangannya bergerak menepuk lurus ke dada lawan.
Wrt!
"Heh?!" Sugali kaget mendapat serangan sece- pat itu. Dengan mata membelalak, pemuda itu melompat ke samping. Namun dengan cepat pula, Pendekar Gila memburu.
Mei Lie dan warga desa yang sudah mengakhiri pertarungan mereka melawan Lima Hantu Berkedok, kini membuat lingkaran menyaksikan pertarungan Pendekar Gila melawan Sugali.
"Hea!" Sugali yang sudah dapat lepas dari kejaran Pendekar Gila, langsung melancarkan serangan. Pedang Dewa Naga di tangan kanannya, menusuk dan membabat dengan jurus 'Naga Hitam Mengibas Ekor'. Sedangkan tangan kirinya, kini berada di pinggang se- belah kiri dengan jari-jari terbuka siap menyerang.
"Yea!" Sugali menusukkan pedangnya ke dada lawan. Namun dengan cepat Pendekar Gila mendoyongkan tubuh ke samping. Namun rupanya tusukan itu hanya sebagai pancingan semata. Ketika tubuh Pendekar Gila miring ke kiri, dengan cepat kaki kanan Sugali berge- rak menendang ke muka.
"Hea!" Degk! "Ukh...!" Sena memekik tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung tiga tindak ke belakang. Dari bibirnya keluar darah. "Cuih!"
Setelah meludah, membuang darah yang mele- leh. Pendekar Gila segera mencabut Suling Naga Sakti- nya. Kemudian dengan cepat, melesat melakukan se- rangan. "Hea!"
Dengan Suling Naga Sakti di tangannya, Pen- dekar Gila mengembangkan jurus 'Gila Terbang Men- cengkeram Mangsa'. Tubuhnya melayang ke atas. Kemudian dengan cepat menukik sambil memukulkan Suling Naga Sakti ke kepala Sugali.
Wrt! Melihat Pendekar Gila memukulkan Suling Na- ga Sakti-nya, dengan cepat Sugali mengangkat Pedang Dewa Naga untuk memapaki serangan lawan.
Wuttt! Trang! "Ukh!" Sugali memekik tertahan. Tangannya tergetar hebat, dirasakan seperti dialiri hawa panas. Pedang Dewa Naga yang tergenggam di tangannya, ter- pental jauh. Setelah berbenturan dengan Suling Naga Sakti. Hal itu membuat Sugali terkejut dan ketakutan. Wajahnya seketika berubah pucat-pasi. Sementara itu di telinga terdengar suara gurunya, Ki Pramanu yang telah dibunuhnya.
"Kini saatnya, Sugali! Terimalah kutukku yang pertama!" Bersamaan dengan lenyapnya suara Ki Prama- nu, Pendekar Gila tiba-tiba bergerak menyerang den- gan pukulan 'Gila Melebur Gunung Karang'.
"Hea!" Sugali yang tersentak kaget, dengan cepat me- rundukkan tubuhnya untuk mengelak. Namun ternya- ta pukulan yang dahsyat itu harus mengena bagian mukanya. Tanpa ampun lagi....
Jret! "Akh...!" Sugali menjerit setinggi langit. Wajahnya han- cur berantakan. Darah menetes keluar dari wajahnya yang hancur. Bagaikan kesetanan, Sugali melompat menubruk tubuh Pendekar Gila melakukan serangan. Namun dengan cepat, Pendekar Gila bergerak menge- lak. Kemudian, tangan kanannya bergerak cepat den- gan telapak tangan memukul ke punggung Sugali.

No comments:

Post a Comment