MISTERI
GADIS BISU
Oleh Firman Raharja
1
Pagi telah hadir
bersama munculnya sang Men- tari dari peraduannya, menyinari jagat raya. Angin
pagi bertiup dengan lembut, menambah suasana pagi terasa sejuk. Burung-burung
berkicau riang, turut me- nikmati kehangatan mentari.
Desa Kembang Tebu yang
terletak di sebelah utara Gunung Kapuran telah ramai. Terlebih di Pasar
Gembreng, para pedagang telah memenuhi lingkungan pasar yang hanya dibatasi
pagar bambu. Riuh suasana pasar dari suara tawar-menawar antara para pembeli
dan penjual.
Di tengah keramaian
orang di Pasar Gembreng, nampak seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun
melangkah agak sempoyongan. Badannya sedikit membungkuk. Tubuhnya kotor
berdebu. Pakaian biru kehitaman yang melekat di tubuhnya kumal dan com- pangcamping.
Begitu pula dengan rambutnya yang kemerahan tampak kusut masai.
"Uhk uhk
uhk...!" gadis itu mengeluarkan suara seperti batuk.
Orang-orang di pasar
seketika menepi, saat ga- dis berbadan bungkuk dengan keadaan menyedihkan itu
lewat. Bau tubuhnya yang menyengat itu membuat orang-orang langsung menepi.
Mereka seolah tak ingin tersentuh tubuh gadis itu.
"Uhk uhk
uhk...!" Gadis yang tampak seperti gelandangan itu ter- nyata bisu.
Barulangkali mulutnya mengeluarkan sua- ra batuk yang terdengar kering. Tangannya
dijulurkan meminta belas kasihan. Ada juga orang yang memberi, tapi kebanyakan
mendengus penuh kebencian. Bah- kan terkadang ada yang mencaci-maki.
Gadis itu tak
menghiraukan semua cacimaki dan kebencian orang. Kakinya terus melangkah tersa-
ruk-saruk. Setiap bertemu dengan orang, tangannya dijulurkan meminta belas
kasihan.
"Uhk uhk
uhk...!" "Kasihan," gumam seorang pemuda berpakaian rompi kulit
ular berambut gondrong yang tingkah la- kunya seperti orang gila. Tangannya
menggaruk-garuk kepala. Wajahnya tampak muram, merasa iba me- nyaksikan gadis
seusia itu telah menjadi gelandangan. Pemuda tampan bertingkah laku seperti
orang tolol yang ternyata Pendekar Gila itu menghampiri gadis bi- su yang
tengah menjulurkan tangan pada seorang wa- nita yang dilihat dari dandanannya
tentu orang kaya.
"Uhk uhk
uhk...!" gadis itu mengeluarkan batuk sambil mengulurkan tangannya di
depan wanita beru- sia sekitar empat puluh tahun dengan dandanan yang penuh
gemerlapan permata.
"Apa...?!"
bentak wanita itu melotot. "Muak se- kali aku melihatmu!"
Wanita setengah baya
yang rambutnya disasak konde dan mengenakan baju hijau itu hendak melang- kah
pergi. Namun gadis bisu itu seketika menghadang di hadapannya.
"Uhk uhk
uhk...!" Gadis bisu itu kembali mengulurkan tangan, mengharap wanita
setengah baya yang berwajah ga- rang itu mau memberinya sedikit uang.
"Bocah tak tahu
diri! Cuh...!" wanita setengah baya yang wajahnya nampak judes itu
menyemburkan ludah ke wajah si gadis.
"Uhhh...!"
gadis bisu itu mengeluh panjang. Pendekar Gila yang melihatnya merasa iba.
Sementara gadis itu segera menyeka ludah bekas semburan wani- ta setengah baya
yang telah berlalu pergi meninggal-
kannya. "Dik,
sudahlah. Jangan kau terus memaksa orang yang tak mau memberi padamu. Ini
untukmu," Sena segera mengeluarkan tiga keping uang emas pada gadis bisu
itu.
"Uhk uhk
uhk...!" gadis bisu itu menatap Pen- dekar Gila sambil menggerak-gerakkan
tangannya ke kiri dan kanan. Sepertinya berusaha menolak uang pemberian Sena.
Kemudian kepalanya mengangguk- angguk, seakan mengucapkan terima kasih. Lalu
gadis itu dengan tak acuh berlalu meninggalkan Pendekar Gila dan pemberiannya.
"Hi hi hi...! Lucu
sekali gadis kecil itu," gumam Sena sambil menggaruk-garuk kepala.
Wajahnya nyengir dengan tangan kiri menimang-nimang uang yang ditolak gadis
bisu itu.
Pendekar Gila
benar-benar tak mengerti melihat tingkah laku gadis bisu itu. Dia meminta-minta
pada semua orang yang berpapasan dengannya. Bahkan sampai diludahi, tapi
setelah diberi malah menolak.
"Hm! Aneh...!"
kembali Sena menggumam. "Aneh sekali gadis itu. Hei, tunggu...!" Kini
Sena benar- benar seperti orang gila. Sambil tertawa cekikikan ka- kinya
melompat-lompat mengejar gadis bisu yang ber- lalu dari hadapannya. Namun,
dalam sekejap saja, ga- dis bisu itu telah menghilang di tengah-tengah keramaian
orang.
"Hi hi hi...! Lucu
sekali. Benar-benar bocah edan. Eh! Hi hi hi.... Bukankah aku juga gila? Hua ha
ha...!" Sena tertawa-tawa membuat semua orang di pa- sar itu
memperhatikannya. Sena segera meninggalkan pasar. Tubuhnya melesat
melompat-lompat dengan tangan menggaruk-garuk kepala.
"Bocah
edan...!" gumam salah seorang yang me- lihatnya sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
"Tumben, hari ini
di pasar ada dua bocah aneh. Yang satu bisu, yang lain gila..,!" sambut
lelaki berusia sekitar lima puluh lima tahun. Tubuhnya pendek ku- rus dengan
kumis panjang menghias atas bibirnya. Namun wajahnya menggambarkan ketenangan
dan ke- sabaran. "Pertanda apakah kemunculan bocah-bocah aneh itu?"
Usai bergumam lirih sambil
menggeleng- gelengkan kepala, lelaki bertubuh pendek yang berna- ma Ki Wulung
itu menghela napas panjang. Lelaki tua itu termasuk orang bijak dan adil di
Desa Kembang Tebu.
Namun Ki Wulung
tampaknya tidak dihiraukan orang-orang di desanya. Semua orang menjauhi dirinya,
menganggap bahwa Ki Wulung orang tak waras.
Dahulu Ki Wulung datang
bersama istrinya, ketika akan terjadi pembakaran terhadap keluarga Gagar
Blarak. Sebetulnya dia orang suruhan seseorang untuk mengawasi Desa Kembang
Tebu. Tingkah lakunya yang seperti orang aneh itu, membuat penduduk Desa
Kembang Tebu menjauhi dan mengasingkan mereka. Meski belum tahu siapa kedua
bocah aneh itu, Ki Wulung merasakan ada sesuatu di dalam diri kedua bocah aneh
itu.
"Pemuda gila itu,
kurasa bukan orang semba- rangan. Tubuhnya kekar berisi. Jelas dia pernah men-
jalani gemblengan berat dan latihan-latihan yang cukup lama. Kurasa dia bukan
pemuda gila biasa," gumam Ki Wulung sambil melangkah meninggalkan pasar.
Ki Wulung yang telah
banyak makan asam ga- ram kehidupan, nampaknya tak mau begitu saja membuang
pikiran mengenai kedua bocah yang baru saja dilihatnya. Bocah yang aneh, dengan
tingkah laku yang aneh pula. Satu bertingkah laku seperti orang gila sedangkan
satunya lagi bertingkah laku seperti gembel. Gadis itu..., mungkinkah dia
benar-benar bisu. Tapi. Tanyanya dalam hati. Mungkin dia memang bisu. Tapi,
tampaknya dia bukan gadis sembarangan pula. Buktinya dalam sekejap saja, telah
menghilang. Ah, pertanda apakah kemunculan kedua bocah aneh itu?
Tiada henti Ki Wulung
bertanya-tanya dalam hati. Kakinya melangkah semakin cepat menuju ru- mahnya
yang berada di sebelah timur Pasar Gembreng. Meski tubuhnya kurus dan pendek,
dibebani belanjaan yang banyak, Ki Wulung melangkah begitu ringan. Hal itu menunjukkan
kalau lelaki berusia lima puluh lima tahun itu bukan orang biasa. Setidaknya
dia memiliki ilmu silat yang tidak bisa dianggap remeh. Itu jelas terlihat dari
gerakan langkahnya, tampak ringan meski- pun beban berat belanjaan bergayut di
tubuhnya.
"Coba nanti aku
lihat di kitab primbon. Siapa tahu primbonku ada terdapat dua bocah aneh
itu!" Gumam Ki Wulung dalam hati sambil terus melangkah menuju rumahnya.
Pikirannya terus membayangkan kedua bocah aneh yang sempat dilihatnya di pasar.
Ki Wulung semakin
mempercepat langkahnya. Hatinya berharap ingin cepat sampai di rumah dan se-gera
melihat kitab primbon untuk mengetahui siapa kedua bocah itu dan pertanda apa
kedatangan ke- duanya di Desa Kembang Tebu.
***
Sebuah rumah kecil dari
bilik bambu yang ter- lihat di tengah kebun jagung dan singkong itulah rumah Ki
Wulung. Kebun jagung itu berada di sebelah timur Desa Kembang Tebu. Di situ
tidak ada rumah lain kecuali rumah Ki Wulung.
Di tengah-tengah kebun
singkong dan jagung, terbentang jalan menuju pintu rumah bilik milik Ki Wulung.
"Nyi! Nyi...!" seru Ki Wulung ketika sampai di depan pintu rumahnya.
Belanjaan yang sejak tadi membebani pundaknya diturunkannya.
Dari dalam rumah kecil
itu, muncul seorang wanita berusia sebaya dengan Ki Wulung. Pakaiannya abu-abu
dengan rambut digelung kecil ke atas. Wanita tua itu tak lain istri Ki Wulung.
Sosoknya lebih tinggi dibandingkan dengan suaminya.
"Ada apa sih, Ki?
Teriak-teriak kayak anak kecil saja?" sungut Nyi Wulung yang merasa
terganggu den- gan seruan suaminya. "Sampai-sampai aku kaget!"
"Lho, lho...!
Suami capek, bukannya mengambil minum malah ngedumel. Tak baik lho,
Nyi...," canda Ki Wulung. "Iya iya, aku tahu. Mau teh atau
kopi...?" tanya Nyi Wulung.
Ki Wulung tersenyum
menggoda. "Kalau boleh, kopi dengan jagung bakar," pinta Ki Wulung.
"Huh,
enaknya," wajah Nyi Wulung cemberut. Ki Wulung nyengir.
Nyi Wulung berlalu
meninggalkan suaminya yang kini duduk di dipan bambu di emperan rumah bilik itu
sambil mengipas-ngipas tubuhnya dengan kain ikat mirip blangkon yang tadi
menutupi kepalanya.
"Huh, capek
sekali," gumam Ki Wulung masih mengipasi tubuhnya. Matanya memandangi
pohon jagung dan singkong yang memenuhi sekeliling rumahnya. Pohon-pohon jagung
telah berbuah. Dan tampak- nya tak lama lagi sudah dapat dipetik. Begitu juga
pohon singkong. Sebentar lagi dapat dicabut untuk di- ambil hasilnya.
"Ah, lumayan juga
hasilnya," gumam Ki Wu- lung, berbicara pada diri sendiri.
Dari dalam muncul Nyi
Wulung membawa se- cangkir kopi dan piring yang berisi lima bonggol jagung
bakar.
"Hm,
sedap...!" gumam Ki Wulung menggoda sambil mengendus-endus, mencium aroma
jagung bakar dan kopi pahit yang disuguhkan istrinya.
"Huh, tua bangka
masih kayak anak kecil! Su- dah, aku sedang memasak. Apa saja yang kau beli,
Ki?" tanya Nyi Wulung sambil membuka bungkusan daun pisang yang tadi
dibawa suaminya.
"Lihat saja
sendiri!" jawab Ki Wulung sambil menyeruput kopi pahitnya. Kemudian
diambilnya sebonggol jagung bakar yang masih panas, lalu ditiup- nya.
"Aku masak dulu,
Ki." "Eh, tunggu, Nyi." "Ada apa lagi?" tanya Nyi
Wulung dengan ken- ing berkerut, sambil menghentikan langkahnya dan memandang
suaminya.
"Tolong ambilkan
primbon." "Untuk apa, Ki? Tidak bosan-bosannya kau dengan primbon
kuno itu. Apa kau tak jemu dianggap orang tak waras? Yang kerjanya hanya
membuka-buka primbon, kemudian bertutur yang bukan-bukan...!" omel Nyi
Wulung.
Kedua orang tua itu
memang dikucilkan dari pergaulan, karena keduanya dianggap sudah tak waras
lagi. Hal itu disebabkan Ki Wulung senantiasa berpe- doman dan percaya pada
kitab primbonnya.
"Alaaah...!
Bukankah ramalan primbonku ba- nyak yang benar? Kau ingat akan apa yang terjadi
lima tahun lalu, ketika Gagar Blarak dan anak-istrinya di- bakar?" tanya
Ki Wulung.
"Ya!" sahut
Nyi Wulung masih! kurang senang. "Nah, siapa yang pertama kali tahu?
Bukankah aku? Dulu kau tak percaya dan mengatakan kalau Ga- gar Blarak orang
baik-baik. Kau baru percaya setelah pembakaran hidup-hidup itu, bukan?"
"Iya,
iya...," sungut Nyi Wulung. "Ambilkan ya, Nyi!" "Untuk apa
lagi...?" tanya Nyi Wulung masih merungut tak senang. "Apakah kau tak
bosan- bosannya dikucilkan orang banyak?"
"Pokoknya ada.
Persetan dengan mereka yang mengucilkan aku. Yang pasti, aku tak pernah berbuat
jahat pada mereka. Aku hanya ingin membantu mere- ka. Mengenai bagaimana
tanggapan mereka terhadap diriku, itu urusan mereka," kilah Ki Wulung.
Nyi Wulung dengan
merengut berlalu mening- galkan suaminya yang tengah menikmati kopi pahit dan
jagung bakar sambil memandangi kebun jagung dan singkongnya yang nampak subur.
Dan kelihatannya akan menghasilkan buah yang banyak.
Tidak lama berselang,
Nyi Wulung telah kemba- li muncul membawa kitab primbon yang diminta suaminya.
"Nih...!" Nyi
Wulung hendak berlalu pergi, namun sua- minya dengan cepat menahannya.
"Tunggu, Nyi!"
"Apa
lagi...?" "Duduklah dulu!" ajak Ki Wulung sambil meng- geser
duduknya ke samping kiri.
Dengan wajah merengut
tak senang, karena suaminya selalu mengotak-atik dan membuka lembar demi lembar
kitab primbon, akhirnya Nyi Wulung pun menurut duduk. Sedangkan suaminya kini
membuka lembar demi lembar kitab tebal terbuat dari daun lon- tar. Kitab itu
berisi coretan-coretan mengenai berbagai macam ramalam.
"Tadi di pasar aku
melihat dua anak muda aneh, Nyi," tutur Ki Wulung.
Nyi Wulung tak menyahut
"Kau tahu, mengapa aku mengatakan kedua- nya aneh?" tanya Ki Wulung
melanjutkan ceritanya.
"Mana aku tahu?"
sahut Nyi Wulung sengit, merasa ucapannya tak pernah digubris suaminya. Duduknya
pun kini tak menghadap ke arah suaminya, melainkan memandang lepas ke depan
tanpa tujuan.
"Nah, dengar
ceritaku!" ujar Ki Wulung berusa- ha membuat istrinya tersenyum. Namun Nyi
Wulung tak juga tersenyum, malah mencibirkan bibir. Hal itu membuat Ki Wulung
cengengesan, lalu melanjutkan ceritanya.
"Kedua bocah itu
aneh. Satu seperti pemuda gi- la, tapi pakaiannya terbuat dari kulit ular tanpa
len- gan. Wajahnya tampan, dan bersih. Rambutnya gon- drong bergelombang diikat
kulit ular...."
Ki Wulung membuka lagi
lembaran buku prim- bonnya. Diminumnya kopi, kemudian dia meneruskan ucapannya.
"Di primbon ini,
dikatakan kalau pemuda se- perti itu adalah pemuda digdaya. Tentunya dia
seorang pendekar. Lalu, satu lagi seorang gadis berusia sekitar lima belas
tahun. Tubuhnya agak bungkuk, pakaiannya compang-camping berwarna biru
kehitaman- hitaman. Dia bisu, namun dari tindak-tanduknya, dia bukan gadis
biasa. Nah, bagaimana pendapatmu, Nyi...?" tanya Ki Wulung meminta
pendapat istrinya.
"Huh, untuk apa
aku berpendapat?" balik Nyi Wulung. "Lho, siapa tahu pendapatmu
benar, Nyi?"
"Kurasa mereka
akan membuat bencana saja. Huh!"
"Kurasa tidak,
Nyi," bantah Ki Wulung seraya menggerak-gerakkan tangan kanannya.
"Alaaah, sok tahu!
Jelas mereka pura-pura gila dan tak saling kenal. Pasti ada maksud-maksud ter-
tentu yang hendak membuat onar desa ini," dengus Nyi Wulung.
Ki Wulung sesaat
terdiam. Sepertinya dia ber- pikir dengan pendapat yang dikatakan istrinya.
"Ah, tidak! Dalam
kitab primbon ini dikatakan kalau keduanya hendak bertujuan baik," tukas
Ki Wu- lung berapi-api, menentang pendapat istrinya yang berlawanan dengan
pendapatnya.
"Dari mana kau
tahu mereka baik?" "Dari primbon." "Huh! Mana
buktinya...?" Nyi Wulung merebut kitab primbon yang ada di tangan suaminya
dan berusaha melihat tulisan atau gambaran pada primbon itu mengenai kedua anak
muda aneh yang dikatakan suaminya.
"Mana...!"
Nyi Wulung melemparkan kitab primbon itu ke arah suaminya.
"Lho, kamu tak
melihat, Nyi?" "Melihat apa? Hanya tulisan dan gambar- gambar
begini?" rungut Nyi Wulung.
"Nah, itu
buktinya." "Bukti apa?" "Bukti mereka bertujuan baik.
Mereka akan menolong kita, Nyi."
"Sontoloyo! Mana
ada orang asing menolong ki- ta, Aki Peot?! Aku pikir mereka malah bertujuan
me- nyengsarakan kita!" bantah Nyi Wulung tak mau ka- lah.
"Tidak juga, Nyi.
Jelas mereka orang baik-baik. Sayang, istri Soma menanggapinya kurang
enak...,"
gumam Ki Wulung dengan
wajah tiba-tiba berubah murung, menjadikan Nyi Wulung mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa dengan istri Soma, Ki?" tanya Nyi Wulung tak
mengerti.
"Hhh.... Dia
meludahi si gadis," gumam Ki Wu- lung setengah mendesah.
"Lho, bukankah Nyi
Writampi orang baik? Ba- gaimana mungkin dia berbuat kasar begitu...?"
bantah Nyi Wulung.
"Itu yang tak ku
mengerti," gumam Ki Wulung dengan wajah masih menggambarkan kemurungan.
Lelaki tua itu merasa sedih ketika melihat gadis bisu itu diludahi Nyi Writampi
yang dianggapnya baik dan memang sehari-hari selalu baik terhadap siapa pun.
"Atau mungkin
kebaikan Nyi Writampi kalau berada di depan kakaknya saja, Ki?" tanya Nyi
Wulung. Yang dimaksud olehnya tiada lain Ki Legok Menggo, Kepala Desa Kembang
Tebu.
"Entahlah, Nyi.
Sungguh tak kusangka, kalau Nyi Writampi tega melakukan hal itu. Mungkin dia
se- dang marah," gumam Ki Wulung disertai helaan napas panjang. "Ah,
sudahlah! Perutku lapar sekali. Lagi pu- la, masih banyak yang harus
kukerjakan. Sebentar la- gi, jagung dan singkong itu panen, Nyi."
"Ya! Tentunya kita
akan mendapat uang yang cukup lumayan, Ki."
"Ya ya ya....
Sayang, kita belum punya anak," keluh Ki Wulung membuat istrinya merengut
dan berlalu meninggalkan suaminya.
Ki Wulung hanya
menggeleng-gelengkan kepala perlahan, dengan mata masih menyapu ke kebunnya.
Dilihatnya singkong dan jagung yang tumbuh subur mengelilingi pekarangan rumah
gubuknya.
2
Waktu bergulir cepat,
seirama dengan perputaran bumi. Tak terasa, pagi terus merayap, lalu menghi-
lang dan berganti malam. Terik mentari yang siang tadi begitu menyengat,
berganti tiupan-angin malam yang sejuk dan menyentuh perasaan syahdu.
"Kuk, kuk,
kuuuk...!" Suara burung hantu terdengar pilu, seakan me- ratapi kegelapan
malam yang semakin sepi dan mencekam. Gesekan daun bambu yang tertiup angin
terasa mengiris hati.
Tepat tengah malam,
terlihat sesosok tubuh berkelebat cepat dari satu rumah ke rumah lain. Gerakannya
begitu cepat dan ringan, hingga tak menimbulkan suara sedikit pun. Sosok tubuh
itu berhenti. Kemudian cepat menyelinap ke balik sebatang pohon besar di
pinggir jalan, ketika terlihat dua orang lelaki bertubuh tinggi tegap berjalan
ke arahnya sambil berca- kap-cakap. Mereka adalah dua orang pengawal Ki Legok
Menggo, Kepala Desa Kembang Tebu.
"Panas sekali
malam ini, Kakang Badri," ujar salah seorang.
"Benar! Tidak
seperti biasanya," sahut orang yang bernama Badri. "Sebaiknya kita
beristirahat saja dulu di bawah pohon itu, Adi Sardi!"
Orang yang dipanggil
Sardi melirik pohon di pinggir jalan yang ditunjuk Badri. Kemudian, kepa- lanya
terangguk. Tampaknya, dia menyetujui ajakan itu. Mereka terus melangkah
mendekati pohon yang cukup besar, berdaun lebat dan rimbun sekali. Tapi sedikit
pun tak terlihat adanya gerakan pada daun- daun pohon itu. Memang, angin pun
rasanya tak ber- hembus malam itu.
"Uh...!"
Sardi mengeluh pendek begitu duduk di atas akar yang menyembul keluar dari
dalam tanah.
"Ada apa kau ini,
Sardi?" tegur Badri. "Aku merasa tak enak malam ini, Kang,"
sahut Sardi seraya mendesah pendek.
"Ada yang kau
pikirkan?" "Entahlah...," desah Sardi. Kening Badri berkerut
melihat Sardi tampak begitu gelisah. Duduknya pun tak tenang, seperti berada di
atas bara api yang setiap saat bisa membakar sampai jadi arang. Mereka terdiam,
tak bicara lagi sedikit pun. Perlahan Sardi bangkit berdiri sambil meng-
hembuskan napas panjang. Badri ikut berdiri, dan terus memandanginya dengan
kelopak mata agak me- nyipit.
"Ayo, kita pulang
saja, Kakang! Perasaanku semakin tak karuan malam ini," ajak Sardi.
"Baiklah,"
sahut Badri. Tapi baru saja mereka akan melangkah me- ninggalkan pohon di
pinggir jalan itu, mendadak....
Slap! "Heh?!"
"Hah...?!" Kedua orang pengawal kepala desa itu tersentak kaget ketika
tiba-tiba saja berkelebat sesosok bayangan dari balik pohon. Begitu cepatnya
kelebatan itu sehingga tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seseorang yang
membuat mata keduanya terbelalak kaget.
"Kau...?!"
tersekat suara Bardi. Bet! Belum juga mereka bisa berbuat sesuatu, tiba- tiba
saja orang itu sudah bergerak begitu cepat. Na- mun, kedua pengawal kepala desa
itu cepat menyadari. Mereka langsung berlompatan memisah diri meng- hindari
serangan cepat itu.
"Hiyaaa...!"
Baru saja Sardi menjejakkan kakinya di tanah, orang aneh itu sudah kembali
bergerak begitu cepat bagai kilat. Pada saat itu, terlihat kilatan cahaya keperakan
berkelebatan begitu cepat menuju leher lelaki bertubuh tegap dan berotot ini.
Karena begitu cepat, Sardi tidak sempat menghindar. Ditambah lagi rasa
keterkejutan dan keseimbangan tubuhnya belum sempat terkuasai. Sehingga....
Crasss!
"Aaakh...!" Sardi menjerit melengking. Seketika tubuhnya jatuh
menggelepar dengan leher hampir putus. Hanya sebentar Sardi mampu menggelepar seperti
ayam disembelih, sesaat kemudian sudah mengejang kaku. Lalu, diam tak
bergerak-gerak lagi. Mati.
"Sardi...!"
pekik Badri tertahan. Pada saat yang sama, orang aneh itu sudah bergerak cepat
memutar tubuhnya. Dan kembali kila- tan cahaya keperakan terlihat berkelebat
begitu cepat
"Heh...?!
Hups!" Cepat-cepat Badri melompat ke belakang, menghindari tebasan senjata
yang secepat kilat itu. Dua kali tubuhnya berputaran di udara, lalu mendarat
manis sekali di tanah. Karena begitu ringan hingga tak menimbulkan suara.
Namun, baru saja bisa menguasai keseimbangan tubuhnya, satu serangan secepat
ki- lat kembali meluruk ke tubuhnya.
"Hup!
Hiyaaa...!" Badri kembali melenting ke udara, dan berputaran beberapa
kali. Tapi tanpa diduga sama sekali, orang aneh itu melesat cepat mengejarnya.
Seketika itu pula tangan kanannya kembali dikibaskan, kemudian disusul cahaya
kilat keperakan berkelebat begitu cepat mengarah ke dada lelaki bertubuh tinggi
tegap itu.
Begitu cepat serangan
orang aneh ini, sehingga membuat Badri yang berada di udara tak sempat melakukan
gerakan untuk menghindar. Dan...
Bret!
"Akh...!" Begkh! Satu tendangan yang begitu keras mendarat membuat
tubuh Badri terbanting ke tanah. Darah muncrat dari dadanya yang terbelah,
seperti tersabet pedang. Namun, Badri masih bisa bangkit berdiri, meskipun
terhuyung. Darah semakin banyak mengu- cur dari dadanya yang terbelah cukup
lebar itu.
"Yeaaah...!"
Sebelum, Badri mampu menguasai keseimban- gan tubuhnya, orang aneh itu sudah
meluruk lagi dengan kecepatan luar biasa. Sementara, Badri hanya terbelalak
kaget dengan mulut ternganga.
Bet! Cras! Senjata
berupa pisau mirip badik di tangan orang aneh yang ternyata gadis bisu itu
menebas ke leher Badri.
"Aaakh...!"
Kembali terdengar jeritan panjang melengking tinggi. Sesaat kemudian tubuh
Badri limbung. Tubuh- nya yang berlumuran darah ambruk ke tanah dengan luka
menganga lebar di lehernya. Seketika itu juga, da- rah menyembur deras sekali
dari lehernya.
Sementara, si gadis
bisu berdiri tegak meman- dangi. Sebentar kemudian, tubuhnya melesat secepat
kilat, hingga dalam sekejap mata saja tubuhnya telah lenyap. Pada saat itu pula
rumah-rumah di sekitar pertarungan tampak terbuka pintunya. Lampu-lampu yang
tak begitu terang pun terlihat sinarnya menye- ruak lewat pintu-pintu yang
terbuka. Sesaat kemudian bermunculan para penduduk Desa Kembang Tebu. Suara
pertempuran yang hanya sebentar itu membuat para penduduk terbangun dari tidur.
Mereka bermun- culan hendak mengetahui keributan yang terjadi hanya beberapa saat
itu. Namun, begitu mengetahui ada dua orang yang tergeletak di tengah jalan,
tak seo- rang pun yang menghampiri. Terlebih lagi setelah tahu, siapa yang
tergeletak berlumuran darah di tengah jalan.
Sementara tak jauh dari
jalan itu, terlihat Nyi Wulung dan suaminya keluar dari rumah. Tempat pertarungan
itu memang tak jauh dari rumah mereka. Sehingga mereka melihat jelas dua orang
pengawal ke- pala desa yang terkapar tak bernyawa dengan keadaan mengerikan.
"Malapetaka apa
lagi ini...?" desah Ki Wulung, bertanya pada diri sendiri.
"Rupanya sang
Hyang Widhi sudah memperli- hatkan kebesarannya," gumam Nyi Wulung pelan,
seakan berkata pada diri sendiri.
Suami istri berusia
lima puluh lima tahun itu segera masuk kembali ke rumahnya. Tak seorang pun
berani mendekati mayat kedua pengawal kepala desa itu.
Mereka takut
kalau-kalau dituduh sebagai pembunuh, atau akan dianggap mengetahui kejadian
itu. Dengan begitu mereka akan mengalami kesulitan. Paling tidak akan
menghadapi pertanyaan yang justru dapat memojokkan mereka.
Malam semakin sepi.
Angin menghembuskan hawa dingin dan basah yang menyelimuti Desa Kem- bang Tebu.
***
Kematian dua orang
pengawal Ki Legok Menggo yang belum diketahui pelakunya, membuat suasana Desa
Kembang Tebu jadi gempar. Semua orang berbi- cara masalah kematian keduanya.
Namun sejauh itu mereka belum dapat mengetahui siapa pelakunya.
"Bagaimana
pendapatmu, Ki? Apakah kau masih tetap yakin kalau kehadiran dua anak muda itu
membawa berkah...?" Nyi Wulung bertanya sinis pada suaminya.
Ki Wulung terdiam
sambil menghela napas dalam-dalam. Matanya menatap lepas ke depan.
"Kok diam? Mana
bukti primbonmu...?" sinis Nyi Wulung, semakin membuat Ki Wulung bertambah
membisu. "Makanya, jangan percaya dengan primbon!" "Lalu apa
menurutmu kejadian ini, Nyi?" tanya Ki Wulung tiba-tiba. Matanya menatap
sang istri yang kini duduk di dipan panjang dalam rumahnya.
Nyi Wulung menarik
napas dalam-dalam. Se- pertinya wanita berusia lima puluh lima tahun itu ten-
gah memikirkan tentang kejadian-kejadian yang menu- rutnya berhubungan dengan
peristiwa yang menimpa keluarga Gagar Blarak.
"Kurasa kejadian
ini ada hubungannya dengan pembakaran keluarga Gagar Blarak, Ki."
"Maksudmu, Ki
Gagar Blarak hidup lagi?" tanya Ki Wulung dengan kening berkerut.
"Mungkin."
"Akh!" pekik Ki Wulung tertahan. Matanya me- mandang lekat wajah
istrinya.
"Kau tak percaya,
Ki?" tanya Nyi Wulung den- gan pandangan kurang senang.
"Bukan itu
maksudku, Nyi..., Tapi, jelas sekali kita melihat kejadian itu. Keluarga Gagar
Blarak mati terbakar," gumam Ki Wulung.
"Apa tidak mungkin
arwahnya, Ki?" "Ah! Kau jangan mengada-ada, Nyi." "Lho,
siapa tahu, Ki." Ki Wulung tersenyum dengan kepala mengge- leng-geleng
mendengar perkataan istrinya. Bagaima- napun juga, rasanya tak masuk akal kalau
manusia sudah terbakar kini hidup dengan utuh membunuh dua orang pengawal Ki
Legok Menggo. "Rasanya tidak mungkin, Nyi." Nyi Wulung menarik napas
dalam-dalam. Dia pun tak tahu siapa yang telah membunuh kedua pen- gawal kepala
desa itu. Dulu, ketika seluruh keluarga Gagar Blarak mendapat hukuman, hatinya
mengata- kan kalau sebenarnya keluarga itu tidak bersalah. Tapi dia tak dapat
berbuat apa-apa. Dia hanyalah seorang wanita tua yang terkucil dari semua
orang. Para pen- duduk menganggap dia dan suaminya orang-orang sinting, tak
patut untuk didekati.
"Tapi menurutku,
ada sangkut paut antara ke- jadian semalam dengan peristiwa beberapa tahun yang
lalu, Ki." Kini gantian Ki Wulung yang terdiam. Dihe- lanya napas
dalam-dalam, seperti ada sesuatu yang membebani pikirannya. Ki Wulung bangkit
dari du- duknya, melangkah ke kebun yang ada di sekeliling rumahnya.
"Tangkap
dia...!" Ki Wulung tersentak kaget, ketika tiba-tiba ter- dengar suara
perintah menangkap dirinya. Lelaki tua itu melihat ke asal suara itu. Seketika
matanya terbe- lalak, ketika melihat beberapa orang warga desa yang dipimpin
jawara Desa Kembang Tebu ini.
Lelaki berusia tiga
puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dengan wajah garang itulah yang tadi meneriakkan
perintah penangkapan. Kumisnya melintang menghias bibirnya. Dan rambutnya yang
terurai, berikat kepala kain coklat.
"Ki Wulung, kami
diperintahkan untuk me- nangkapmu!" seru jawara desa itu lantang.
"Menangkapku...?"
tanya Ki Wulung dengan mata menyipit dan kening berkerut.
"Ya!"
"Apa salahku, Ki Majal...?" tanya Ki Wulung. "Kami tak tahu.
Kami hanya menjalankan pe- rintah menangkapmu!" sahut jawara Desa Kembang
Tebu yang ternyata bernama Ki Majal itu.
"Hm, enak sekali
kau berkata! Kalau aku bersa- lah, aku menuruti kata-katamu. Tapi kalau tidak,
jelas aku menolak! Walaupun Ki Legok Menggo sendiri yang datang kemari!"
dengus Ki Wulung.
"Orang gila! Kami
datang dengan menghargai- mu. Kalau kau tetap bersikeras begitu, jangan salah-
kan jika kami menangkapmu dengan kekerasan!" ben- tak Ki Majal sengit.
"Hm, kalian
orang-orang yang tak tahu adat! Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba hendak
me- nangkap orang!" dengus Ki Wulung tak mau kalah.
"Kurang ajar...!
Tutup mulutmu, Orang Sinting! Tangkap dia!" perintah Ki Majal sambil
menggerakkan tangan kanannya, memberi isyarat pada warga desa yang patuh
padanya, untuk menangkap Ki Wulung.
Serentak lima orang
warga desa yang menjadi anak buah Ki Majal memburu Ki Wulung. Kelimanya dengan
tangan kosong berusaha menangkap lelaki tua yang mereka anggap orang sinting.
"Kalian
benar-benar iblis!" dengus Ki Wulung geram. Tubuhnya segera melompat ke
samping.
Gusrak! Kelima warga
desa yang memburu Ki Wulung,
seketika tersuruk
mencium dipan, ketika mereka me- lompat hendak menangkap Ki Wulung.
"He he he...!
Kuwalat kalian...!" seru Ki Wulung terkekeh-kekeh, menyaksikan kelima anak
buah Ki Majal harus tumpang tindih karena menubruk angin.
"Orang tua gila! Rupanya
kau benar-benar mencari penyakit! Tangkap dia...! Masa' kalian berlima harus
kalah dengan orang tua peot?!" dengus Ki Majal marah, menyaksikan kelima
anak buahnya diperma- inkan Ki Wulung.
Kelima warga desa itu
segera bangun, meski- pun merasakan sakit di wajahnya karena mencium dipan.
Kelimanya kembali merangsek Ki Wulung. Kali ini mereka bergerak menyebar,
mengepung dari lima arah. "Kuwalat! Kalian akan kuwalat, berani sama orang
tua!" bentak Nyi Wulung yang baru keluar dari dalam rumahnya. Wanita tua
itu nampak sengit, me- nyaksikan suaminya dikeroyok lima lelaki muda warga
desa.
"Diam kau! Jangan
turut campur!" bentak Ki Majal sambil bergerak cepat mendekati Nyi Wulung.
Kemudian dengan gerakan cepat lelaki berbadan kekar dan berwajah garang itu
menangkap kedua tangan Nyi Wulung. "Setan! Lepaskan aku...!" maki Nyi
Wulung sambil berusaha berontak dari pegangan tangan Ki Majal. Matanya melotot
sengit, memandang penuh ke- bencian. Ki Majal tak peduli dengan pelototan mata
wa- nita tua itu. Lelaki kekar itu tenis memegangi tangan Nyi Wulung, malah
memelintirnya ke belakang ketika wanita tua itu berontak. Nyi Wulung pun
meringis ke- sakitan. "Kurang ajar! Kuwalat kau, Majal!"
"Aku tak peduli!
Kau pun harus ditangkap!"
"Cuh! Enak sekali
kau berkata, Setan!" maki Nyi Wulung sambil terus berusaha berontak. Namun
gerakannya lemah karena cengkeraman tangan Ki Majal begitu kuat
"Ki Wulung!
Menyerahlah! Jangan sampai aku berbuat keji terhadap istrimu!" ancam Ki
Majal sambil mencabut golok dari pinggangnya.
Sret! Golok tajam itu
ditempelkan di leher Nyi Wulung, untuk mengancam Ki Wulung agar menghenti- kan
pertarungannya dengan kelima anak buahnya.
Namun Ki Wulung seperti
tak peduli melihat is- trinya dalam ancaman Ki Majal. Dia terus menggebrak lima
orang lawannya yang menyerang.
"Kalian memang
iblis! Sepantasnya kalian di neraka!" dengus Ki Wulung sambil menggerakkan
tangannya, memukul lawan.
Pletak!
"Aduh!" "Nih bagianmu! Hia...!" Pletak!
"Aaakh...!" Pekik kesakitan terdengar ketika sekali gebra- kan saja
Ki Wulung mampu memukul kelima lawan- nya. Kelima lelaki warga Desa Kembang
Tebu itu me- megangi kepala dan wajah yang terkena pukulan Ki Wulung.
"Kurang ajar! Kau benar-benar menginginkan istrimu mati, Orang Tua
Gila!" maki Ki Majal sambil mengayunkan goloknya hendak menghunjamkan ke
perut Nyi Wulung. "Mampuslah istrimu, Orang Tua Gi- la! Hih...!"
Golok Ki Majal melesat cepat ke dada wanita tua itu. Hampir saja ujung golok
menghunjam dada Nyi Wulung, ketika tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat cepat
mendahului gerakan golok jawara desa itu.
Bret!
"Aaakh...!" Ki Majal terpekik ketika sebuah benda tajam menyerupai
badik menghujam lehernya. Seketika lehernya yang terkoyak lebar memuncratkan
darah segar. Sesaat kemudian, tubuh jawara Desa Kembang Tebu itu mengejang lalu
roboh tak bernyawa. Semua mata terbelalak, menyaksikan kejadian yang begitu
cepat. Mereka tak tahu siapa yang telah melontarkan senjata itu. Hanya bayangan
biru kehita- man yang melesat meninggalkan tempat kejadian itu. Tak satu pun yang
melihat dengan jelas, karena orang itu cepat gerakannya.
Sementara kelima orang
anak buah Ki Majal kini lari tunggang langgang, menyaksikan pimpinan mereka
telah mati dibunuh seseorang yang belum di- ketahui.
***
3
Kematian Ki Majal yang
tanpa diketahui pela- kunya, semakin membuat penduduk Desa Kembang Tebu bingung
dan tak mengerti tentang apa sebenar- nya yang terjadi di desa itu. Orang-orang
yang diang- gap baik, telah ditemukan tewas. Pertama kedua pen- gawal kepala
desa. Lalu menyusul jawara desa. Kema- tian mereka sama, tergores sebuah benda
tajam. Tidak diketahui siapa pelakunya.
Warga Desa Kembang Tebu
kini dilanda kere- sahan dengan adanya peristiwa-peristiwa pembunuhan itu.
Sejauh ini, para pendekar Desa Kembang Tebu be- lum mendapatkan jawaban, siapa
pelaku pembunuhan terhadap kedua pengawal kepala desa itu.
Ki Legok Menggo
benar-benar dibuat bingung dengan kejadian-kejadian yang menimpa desanya. Lelaki
tua yang pribadi dan sikapnya selalu tenang itu tak dapat berbuat apa-apa. Dia
memang agak lemah dalam menghadapi permasalahan di desanya. Hampir semua tugas
lebih banyak dipegang adik sepupunya yang bernama Ki Soma. Bahkan masalah
hukuman pada Gagar Blarak pun Ki Soma yang memutuskan, bukan dirinya.
Sore itu, nampak
seorang gadis berusia sekitar lima belas tahun dengan keadaan memelas melangkah
menyelusuri jalanan di Desa Kembang Tebu. Gadis itu berhenti di depan rumah
seorang penduduk yang pin- tunya terbuka.
"Uhk uhk
uhk...!" suara gadis cantik berpa- kaian biru kehitaman itu, seakan bermaksud
menga- takan sesuatu. Matanya memandang ke sekelilingnya, seperti ada sesuatu
yang sedang dicari.
Dari dalam rumah keluar
seorang wanita muda. Kening wanita berpakaian merah jambu dengan rambut
digelung ke atas itu mengerut. Matanya meman- dang ke sekelilingnya, seakan ada
sesuatu yang dikhawatirkan.
"Masuk,"
ajaknya setelah melihat sekelilingnya sepi.
Gadis bisu itu kembali
mengedarkan pandan- gannya ke sekeliling tempat itu. Dan ketika tahu di sekelilingnya
tak ada orang yang melihat, gadis bisu itu pun melangkah masuk.
Wanita cantik
berpakaian merah jambu segera menutup pintu rumahnya setelah gadis bisu itu masuk.
Kemudian, diajaknya menuju ke sebuah kamar yang ada di rumah itu.
"Hati-hatilah,
jangan sampai orang-orang men-
curigaimu, Murni!
Dengan terbunuhnya dua orang pengawal Ki Legok Menggo dan Ki Majal, kini semua
orang waspada. Warga desa kini menuduh Ki Wulung dan istrinya," ujar
wanita cantik berusia sekitar tiga puluh tahun itu.
"Uhk uhk...!"
gadis bisu yang ternyata bernama Murni menganggukkan kepalanya, pertanda
mengerti.
"Kau harus
mendapatkan dalang dari semua kejadian ini. Aku yakin, pasti ada hubungannya
den- gan pembakaran kedua orang tuamu," kembali wanita cantik yang bernama
Suriwarni menegaskan.
"Uhk uhk uhk...!"
jawab Murni seraya men- gangguk-anggukkan kepala. Tangannya digerak- gerakkan,
seakan hendak memberitahukan sesuatu. Tangannya bergerak dan menempel di
keningnya me- nyilang. Kemudian digerakkan menggaruk-garuk kepa- lanya dengan
mulut nyengir.
"Hm, pemuda
gila...," gumam Suriwarni. "Sia- pakah pemuda gila itu?"
"Uhk uhk
uhk...!" Kembali Murni menggerakkan tangan kanan- nya, mengatakan kalau
dia tidak tahu. Namun dia berpikir, kalau pemuda gila itu tampaknya bukan pe-
muda sembarangan. Gadis itu menyimpulkan dari pa- kaian yang dikenakan serta
gerakannya yang cepat dan gesit.
"Hm, aku mengerti.
Tak perlu takut, karena kau bertujuan baik. Kau hendak membuka kedok sia- pa
sebenarnya orang yang telah melakukan semuanya di desa ini. Biar aku yang akan
memberitahukan pe- muda gila itu jika aku bertemu," kata Suriwarni.
Murni
mengangguk-anggukkan kepala dengan mulut tersenyum. Sepertinya gadis itu merasa
senang atas bantuan Suriwarni selama ini. Telah lima tahun lebih dirinya
dibantu dan diasuh Suriwarni. Bahkan nyawanya pun diselamatkan Suriwarni yang
dalam dunia persilatan dikenal dengan julukan Bayangan Bi- dadari. "Uhk
uhk uhk...!"
"Ya, ya.... Tak
usah kau pikirkan. Aku meno- longmu dengan tulus. Kau harus bisa menunjukkan
kebenaran yang ada. Aku yakin, ada sesuatu yang tak beres di desa ini."
Selesai menjura, gadis
bisu itu pun melangkah meninggalkan rumah Suriwarni untuk meneruskan
penyelidikannya guna membuka tabir yang menyeli- muti Desa Kembang Tebu.
***
Kematian kedua
pengawalnya dan seorang ja- waranya, menyebabkan Ki Legok Menggo sedih. Lelaki
berusia lima puluh tahunan itu termenung memikir- kan kejadian-kejadian yang
terjadi di desanya. Orang yang dianggap sebagai momok kejahatan di Desa Kem-
bang Tebu telah disingkirkannya. Namun kini muncul lagi orang lain yang sepak
terjangnya melebih Ki Gagar Blarak. "Hhh...!" desah Ki Legok Menggo
yang duduk di kursinya seorang diri. Pikirannya tak lepas dari peris- tiwa yang
baru saja terjadi, kematian Ki Majal. "Kalau begitu, kurasa bukan Ki
Wulung dan istrinya. Lalu siapa...?" Ki Legok Menggo masih termangu di
kursinya, mencoba menerka-nerka siapa pelaku dari pembunu- han-pembunuhan yang
dalam sehari telah memakan tiga korban.
Tengah Ki Legok Menggo
termangu di atas kur- sinya, dari luar nampak seorang lelaki masuk.
"Ada apa, Soma?"
tanya Ki Legok Menggo, menoleh ke adik sepupunya yang bernama Ki Soma.
Lelaki berwajah agak
pucat dengan kumis tipis, berpakaian kuning lengan panjang itu menghela napas,
lalu duduk di hadapan Ki Legok Menggo. Wajah- nya yang pucat dengan mata agak
sipit menggambarkan kemurungan. Sepertinya merasakan duka atas kematian tiga
orang tangan kanan Ki Legok Menggo.
"Kulihat wajahmu
murung, ada apa...?" kembali Ki Legok Menggo bertanya. Matanya menatap
lekat wa- jah adik sepupunya yang tampak gelisah, hingga beru- langkali
membetulkan duduknya.
"Aku khawatir
dengan keselamatanmu, Kakang," sahut Ki Soma.
Ki Legok Menggo
tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala.
"Apa yang kau
khawatirkan, Soma?" tanya Ki Legok Menggo penuh kesabaran. Senyumnya masih
mengembang di bibir, seakan pasrah dengan apa yang terjadi. "Kau
mengkhawatirkan aku dibunuh orang aneh itu?"
"Benar, Kakang.
Dan kurasa orang itu telah ki- ta kenali."
"Siapa...?"
"Ki Wulung." "Ah! Jangan asal menuduh, Soma! Apakah kau melihat
buktinya...?" tanya Ki Legok Menggo berusaha mengingatkan adik sepupunya.
Lelaki tua itu bangkit berdiri dari duduknya, lalu melangkah menuju jendela.
"Rasanya sulit kalau kita menuduh orang aneh itu. La- gi pula, bukankah kau
begitu akrab dengannya? Men- gapa kini malah menuduh dia?"
Ki Soma terdiam, tapi
wajahnya masih meng- gambarkan kegelisahan. Tampaknya ada sesuatu yang sedang
dipikirkannya.
"Tapi dilihat dari
gerak-geriknya yang aneh, kurasa dialah orangnya, Kakang. Atau setidaknya dia
mengenai orang yang telah menolong dirinya tadi pagi," tukas Ki Soma berusaha
meyakinkan kakak sepupunya.
Ki Legok Menggo
menghela napas dalam-dalam. Tubuhnya berbalik, kembali menatap wajah Ki Soma.
"Kau yakin itu,
Soma?" tanya Ki Legok Menggo menegaskan.
"Ya! Mana ada
orang yang menolong tanpa pamrih dan tidak saling kenal?" Ki Soma balik
bertanya. "Hanya pendekar saja yang berbuat begitu."
"Mungkin pembunuh
yang belum kita ketahui itu pendekar, Soma."
Ki Soma tersenyum
sinis, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Ki Legok Menggo terdiam.
Pikirannya kembali dilanda seribu macam pertanyaan mengenai ucapan adik
sepupunya itu.
"Benar juga
katamu, Soma. Hm, tapi apakah mungkin Ki Wulung mempunyai niat buruk seperti
itu...?" tanya Ki Legok Menggo.
"Mengapa tidak?
Dalamnya laut bisa diduga, Kang. Tapi dalamnya hati, kita tak tahu."
Ki Legok Menggo
termangu-mangu mendengar ucapan adik sepupunya. Seakan apa yang dikatakan adik
sepupunya disetujuinya.
"Lalu apa
rencanamu, Soma?" "Hm...," gumam Ki Soma tak jelas. Matanya
memandang lepas ke pintu, seakan tengah memikirkan jalan apa yang sepantasnya
dia lakukan untuk lang- kah selanjutnya. "Kalau Kakang memberi izin,
bagai- mana jika para pendekar di desa ini mencari Ki Wu- lung dan istrinya,
yang tiba-tiba menghilang semenjak terbunuh-nya Ki Majal?"
Sejenak Ki Legok Menggo
terdiam. Tangannya menopang dagu. Kakinya melangkah menuju meja
tempat adik sepupunya
masih duduk sambil terse- nyum. Sepertinya merasa yakin kalau apa yang diren-
canakan akan terlaksana.
"Hhh...!" Ki
Legok Menggo menarik kursinya, duduk di hadapan Ki Soma yang masih sabar me-
nunggu keputusan kakak sepupunya. "Kalau memang itu yang kau anggap baik
untuk mengatasi semuanya, aku setuju saja."
"Beres, Kakang. Di
tanganku, semua akan beres. Kakang tinggal menunggu hasilnya," kata Ki
Soma berusaha meyakinkan hati kakak sepupunya.
"Ya, ya.,.. Aku
percaya dengan gagasanmu, Soma...," sambut Ki Legok Menggo sambil
tersenyum. Lelaki tua itu merasa, setiap urusan yang ditangani Ki Soma selalu
cepat beres. Hal itu telah dibuktikan dengan tertangkapnya Gagar Blarak, karena
dianggap se- bagai biang keladi dari kejadian yang banyak membawa korban.
"Hua ha ha...!
Selama aku berada di samping- mu, tak akan ada orang yang berani usil menggang-
gumu, Kakang! Bukan begitu...?" tanya Ki Soma sambil tertawa
tergelak-gelak. Ki Legok Menggo pun turut ter- tawa senang mendengar ucapan
adik sepupunya itu.
"Ya ya...! Kau
memang benar, Soma. Selama kau ada di sampingku, kedudukanku tak akan mungkin
tergeser oleh orang-orang yang bermaksud jahat. Tak percuma sejak kecil kau ku
asuh," tukas Ki Legok Menggo turut senang.
"Baiklah, Kakang.
Aku permisi dulu untuk mengundang mereka."
Setelah menjura hormat
pada Ki Legok Menggo, Ki Soma pun melangkah meninggalkan tempat itu. Namun,
baru saja beberapa tindak Ki Soma melang- kah, tiba-tiba....
Swing! Swing!
"Awas,
Kakang!" pekik Ki Soma sambil melent- ing dan bersalto, mengelakkan
serangan-serangan gelap yang melesat ke tubuhnya.
Jlep, jlep!
"Aaakh...! "Wuaaa...!" Dua orang penjaga rumah Ki Legok Menggo
ter- pekik keras ketika senjata-senjata rahasia itu mener- jang tubuh mereka.
Ki Soma dan Ki Legok
Menggo dengan gesit mengelak. Sehingga senjata-senjata rahasia itu melesat di
atas kepala dan bawah kaki mereka lalu menghun- jam di dinding rumah Ki Legok
Menggo.
Jlep, jlep...!
"Kurang ajar!" maki Ki Soma gusar. Dengan ce- pat lelaki itu memburu
keluar mencari asal datangnya senjata-senjata rahasia itu. Namun sesampainya di
luar, dia tidak menemukan siapa-siapa. Yang dapat di- lihatnya hanya dua orang
penjaga rumah Ki Legok Menggo yang tergeletak mati dengan leher terhunjam
senjata-senjata berbentuk pisau kecil berwarna putih.
Dengan wajah merengut,
Ki Soma kembali ma- suk menemui kakak sepupunya.
"Kau temui?"
tanya Ki Legok Menggo. "Setan! Dia begitu cepat berlalu," dengus Ki
Soma. Matanya menatap tajam dua pisau kecil yang menancap di dinding. Di gagang
pisau kecil itu terda- pat lipatan surat.
Ki Soma menggeram
sengit. Dengan penuh ke- bencian, dihampirinya pisau-pisau kecil itu. Kemudian
dicobanya untuk mencabut pisau kecil yang terdapat surat di gagangnya.
"Hih!" Mata Ki Soma terbelalak, ketika mencabut pi- sau-pisau kecil
itu. Ternyata pisau itu cukup kuat dan
menancap dalam.
Sehingga Ki Soma harus mengerah- kan tenaganya untuk dapat mencabut pisau itu.
"Setan alas! Keras
sekali pisau ini!" dengus Ki Soma sambil kembali berusaha mencabut pisau
kecil yang menancap di dinding rumah.
"Hhh...!" Prut!
Hampir saja tubuh Ki Soma terjengkang, ketika pisau dapat dicabutnya dari
dinding. Diamatinya pisau kecil itu, kemudian dibukanya lipatan surat yang ada
di gagang pisau.
"Kau kenal siapa
pemilik pisau-pisau ini, Ka- kang?" tanya Ki Soma sambil menyerahkan pisau
kecil dan surat yang telah dibuka dari gagang pisau.
"Entahlah,"
sahut Ki Legok Menggo. Dibukanya lipatan surat, kemudian dengan ha- ti-hati
dibacanya isi surat itu. Seketika mata Ki Legok Menggo membelalak, ketika
membaca tulisan di daun lontar itu.
Ki Legok Menggo, kalau
kau memang tak becus memimpin, kuharap kau pergi saja dari Desa Kembang Tebu.
Biar aku yang menggantikan mu. Kau tak ada ar- tinya sama sekali di desa ini!
Ki Wulung.
"Kurang ajar!
Rupanya tua bangka itu benar- benar ingin membuat keonaran di desa ini,
Kakang!" geram Ki Soma.
Ki Legok Menggo
terdiam. Tatapan matanya ko- song. Meskipun surat itu ditujukan pada dirinya,
dan jelas merupakan hinaan yang menyakitkan, tapi dia tak dapat berbuat
apa-apa. Dia belum bisa menentu- kan jalan apa yang harus dilakukan untuk
menangga- pi isi surat itu.
"Kakang, kita tak
boleh diam saja! Jelas dia be- nar-benar menantangmu. Sebagai seorang adik, aku
tak bisa membiarkan hinaan yang pahit ini," Ki Soma masih terus menggeram
sengit. Tangannya mengepal dengan gigi-gigi bergemerutuk menahan amarah.
"Hhh...,"
desah Ki Legok Menggo lirih. Diku- lumnya bibir dalam-dalam. Kakinya melangkah
menu- ju pintu rumahnya. Dilihatnya dua sosok penjaga ru- mahnya tewas dengan
keadaan yang mengenaskan. Di leher mereka, terhunjam pisau-pisau kecil berwarna
keperakan.
"Jelas yang
dimaksud adalah Kakang. Mengapa Kakang masih diam?" desak Ki Soma,
mengharap Ki Legok Menggo segera memutuskan untuk menghadapi hinaan itu.
"Kalau Kakang tak ambil tindakan, berarti tak khawatir kedudukan Kakang
akan tergoyah oleh- nya. Kakang harus ingat, bagaimana susahnya dulu Kakang
mendapatkan kedudukan ini!"
Ki Soma terus mendesak
kakak sepupunya agar segera mengambil keputusan untuk melakukan tindakan.
"Kini semua sudah
jelas, pasti Ki Wulung orangnya. Mengapa mesti bingung? Kita harus sece- patnya
menangkap Ki Wulung!" tegas Ki Soma berapi- api. Matanya berkilat, karena
terbakar amarah yang me-luap-luap.
"Baiklah, Soma. Kini
kuserahkan semua pada- mu," akhirnya Ki Legok Menggo membuat keputusan.
"Perintahkan pada para pendekar Kembang Tebu un- tuk menangkap Ki Wulung.
Cari dia sampai dapat!"
"Baik,
Kakang." Ki Soma pun segera beranjak meninggalkan rumah Ki Legok Menggo.
Tidak lama kemudian,
terdengar suara kenton- gan memberi isyarat agar warga Desa Kembang Tebu berkumpul.
"Ada apa,
ya?" tanya seorang lelaki berusia se- kitar empat puluh tahun dengan tubuh
gemuk pada rekannya.
"Mana aku tahu.
Yang jelas kita harus segera berkumpul di rumah Ki Legok Menggo," sahut
lelaki bertubuh kurus dan berkumis lebat.
Berbondong-bondong
warga Desa Kembang Te- bu menuju rumah Ki Legok Menggo. Di wajah mereka
tergurat ketidak mengertian akan apa yang terjadi. Su- dah tiga kali ini mereka
diperintahkan kumpul di ru- mah Ki Legok Menggo.
"Mungkin ada yang
menjadi korban lagi," gu- mam seorang lelaki berkepala botak.
"Iya! Kemarin juga
begitu," sambung lelaki ber- tubuh pendek.
"Kematian kok
seperti pisang goreng saja," gu- mam lelaki bertubuh tinggi dan berwajah
garang. "Ka- lau memang tak becus memimpin, bukankah lebih baik
menyerahkan saja kekuasaannya."
Dari langkah para warga
Desa Kembang Tebu terdengar gerutuan beberapa orang. Tampaknya mere- ka merasa
terganggu. Ketenangan yang selama ini di- rasakan, tiba-tiba harus mendengar
ribut-ribut ten- tang pembunuhan. Meskipun begitu akhirnya mereka berkumpul di
halaman luas depan rumah Ki Legok Menggo. Tidak begitu lama, Ki Legok Menggo
keluar me- nyambut warga desa yang berdatangan ke rumahnya, setelah mendengar
suara kentongan dipukul. Wajah mereka menggambarkan ketidakmengertian serta
keti- daksenangan atas undangan yang beruntun selama beberapa hari ini.
"Ada apa lagi, Ki
Legok Menggo?" tanya lelaki bertubuh tinggi tegap dengan suara lantang.
"Hampir
setiap hari kami
diundang. Dan hampir setiap hari kami dengar kematian. Sampai kapan keributan
ini akan terjadi?!"
"Tenang, Saudara!
Aku tahu perasaan kalian. Aku pun sebenarnya tak menghendaki lagi ada pem-
bunuhan. Tapi, semua terjadi begitu mendadak, tanpa seorang pun yang tahu. Dan
sore ini pun kembali dua orangku mati. Namun, kini aku telah mengetahui siapa
sebenarnya pelaku dari bencana ini..."
"Siapa...?!"
"Katakan saja, Ki!" "Biar kami cari!" "Hukum
gantung...!" Teriakan warga desa yang memang sudah jemu dan marah dengan
kejadian-kejadian itu semakin ra- mai dan keras. Halaman rumah Ki Legok Menggo
be- rubah hiruk-pikuk. Para warga Desa Kembang Tebu semakin tidak sabar untuk
mengetahui pelaku tindak kekejian itu.
"Dengar semua!
Orang yang telah berusaha me- rongrong kedudukan Kakang Legok tak lain Ki Wu-
lung...!" seru Ki Soma, dari arah belakang penduduk. "Dia malah telah
berani mengirim surat hinaan pada Kakang Legok! Ini suratnya...!"
Serentak warga desa
membalikkan tubuh me- natap Ki Soma yang menunjukkan surat itu. Seketika itu,
para warga yang marah berteriak-teriak semakin garang. "Cari dia!"
"Pancung
kepalanya!"
***
4
Malam datang
menyelimuti bumi, membawa suasana berbeda dari biasanya. Suasana yang penuh
misteri di tengah kegelapan yang menyelubungi bumi. Suasana yang terasa lebih
mencekam dan menyeramkan.
Suara angin yang
menerpa dedaunan, serta suara binatang malam, seperti mengalunkan tembang-
tembang aneh yang membuat tubuh merinding. Mem bawakan syair-syair yang
mengiris jiwa. Bulan sabit pun mengintip di balik awan, sepertinya enggan me-
nampakkan wujudnya.
Malam itu Desa Kembang
Tebu bagaikan mati. Tak seorang manusia pun yang masih berada di luar rumah
dalam malam gelap dan sunyi itu. Sepertinya penduduk Desa Kembang Tebu telah
terlelap dalam tidur. Begitu pula yang dirasakan Ki Rumbayung, salah seorang
pendekar Desa Kembang Tebu yang malam itu tak mampu memejamkan matanya.
Ki Rumbayung merasakan
kegelisahan yang mencekam, setelah tadi sore dia mendapatkan sebuah tanda yang
aneh. Ketika dia sedang duduk-duduk di serambi depan rumahnya, tiba-tiba
sebilah pisau belati kecil melesat ke arahnya. Hampir saja pisau belati itu
mengenai lehernya, kalau saja Ki Rumbayung tak sege- ra berkelit ke samping
dengan cepat.
Ki Rumbayung pun
melompat bangun dan be- rusaha mengejar pelaku yang telah melemparkan pi- sau
kecil itu. Namun dalam sekejap saja, pelaku telah menghilang entah ke mana.
Tinggal Ki Rumbayung seorang diri yang menggerutu marah.
Dengan masih
bersungut-sungut, lelaki berusia empat puluh tahun dan bertubuh gemuk itu
melang-
kah ke serambi rumahnya
di mana pisau kecil itu be- rada. Lelaki gemuk berambut bergelombang sebatas
bahu itu segera mencabut pisau kecil yang menghun- jam di dinding papan
rumahnya.
Ketika Ki Rumbayung
membuka lipatan kertas di gagang pisau, matanya membelalak. Di lipatan itu,
tertera gambar silang merah.
Ki Rumbayung
benar-benar tak mengerti, siapa sebenarnya pelempar pisau kecil itu. Dia juga
tak mengerti apa maksud dari tanda silang merah itu.
Ki Rumbayung masih
nampak gelisah. Hatinya tak tenang setelah mendapatkan isyarat silang merah.
Lelaki berusia hampir setengah baya itu berjalan mon- dar-mandir di kamarnya.
Sesekali terdengar tarikan nafasnya panjang-panjang, dengan hembusannya yang
terasa berat. Ketika kegelisahan masih mendera ji- wanya, tiba-tiba....
Brak! "Hei?!"
Ki Rumbayung tersentak kaget, ketika terden- gar sesuatu jatuh. Mata Ki
Rumbayung menyapu ke sekelilingnya dengan pandangan tajam. Tangannya siap untuk
menyerang jika terjadi sesuatu yang tak terduga. Wrrr...!
Sebuah senjata melesat
cepat ke arah Ki Rum- bayung. Cepat-cepat lelaki gemuk berpakaian ungu itu melompat
ke samping, mengelakkan serangan gelap itu.
"Uts!" Wrrr!
Jlep! "Kurang ajar! Siapa kau...?!" bentak Ki Rum- bayung geram.
Cepat-cepat dia melompat ke jendela, berusaha melihat siapa yang tadi
menyerangnya. Namun belum juga sampai, tiba-tiba sebuah bayangan biru
kehitam-hitaman telah mendahului masuk ke kamar dengan cepat dan langsung
menyerang Ki Rum- bayung. Wuttt!
"Uts! Setan alas!
Siapa kau...?!" bentak Ki Rumbayung sambil mengelakkan serangan yang da-
tangnya secara mendadak dan cepat itu. Tubuhnya dimiringkan ke samping,
kemudian dengan tubuh agak rendah Ki Rumbayung berusaha membalas serangan
lawan.
Srt! Tangan Ki
Rumbayung menarik pedang yang tersampir di pundaknya, setelah serangan
balasannya dapat dielakkan lawan. Dengan jurus 'Sempalan Ka- rang', Ki
Rumbayung bergerak menyerang lawan. Pu- kulan tangannya menimbulkan suara
menderu dari angin yang menyertainya. "Heaaa...!" "Uhk uhk
uhk!" Wanita berpakaian biru kehitam-hitaman itu tampaknya masih muda,
tapi tak bisa berbicara. Hanya gerakan-gerakan anggota tubuhnya memberi isyarat
yang mengatakan kalau Ki Rumbayung harus bersiap untuk mati.
Ki Rumbayung tersentak
kaget, lalu menyurut mundur ke samping dengan mata tajam menatap gadis bertubuh
agak bungkuk. Kini gadis itu berada di de- pannya dan berkata dengan bahasa
isyarat kalau lelaki di depannya harus mati.
"Siapa kau?!
Rupanya kau bisu, Bocah. Apa maksudmu mengatakan aku harus mati?!" bentak
Ki Rumbayung bersikap waspada. Pedang telah siap di tangan kanannya.
"Uuuhk...!"
Gadis bisu berusia
sekitar lima belas tahun berpakaian kumal dan tubuh agak bungkuk itu melo- long
panjang. Kemudian dengan cepat tubuhnya berge- rak menyerang Ki Rumbayung.
Gadis itu menggeng- gam sebilah pisau yang menyerupai badik panjang dan tajam.
Pisau itu dibabatkan ke leher Ki Rumbayung dengan cepat.
Wut..!
"Hiaaa...!" Ki Rumbayung tersentak kaget menyaksikan kecepatan
serangan gadis bisu itu. Dengan cepat Ki Rumbayung melompat ke samping,
kemudian dengan cepat pula melancarkan serangan.
"Hop!
Yeaaa...!" Ki Rumbayung terus bergerak meliukkan tubuh dengan sesekali
balas menyerang. Pedangnya bergerak cepat, membabat ke tubuh lawan yang gencar
melaku- kan serangan. Namun lawan yang bertubuh bungkuk itu sangat gesit.
Sehingga sulit bagi Ki Rumbayung un- tuk dapat menempatkan serangannya pada
sasaran yang tepat.
Dengan jurus 'Buaya
Memburu Lawan' gadis bisu itu terus merangsek Ki Rumbayung. Serangan-
serangannya datang begitu cepat. Sehingga Ki Rum- bayung pun kewalahan.
"Heaaa...!"
"Ukh!" Gadis bisu dan bungkuk yang mengenakan pa- kaian biru
kehitam-hitaman itu semakin mengganas. Dia melompat cepat. menerjang ke arah Ki
Rum- bayung. Begitu cepat gerakannya, hingga membuat Ki Rumbayung tersentak
kaget.
Edan! Bocah semuda ini
memiliki ilmu yang tinggi. Hm, siapa sebenarnya bocah bisu ini? Dan mengapa dia
menyerangku? Tanya Ki Rumbayung da-
lam hati sambil
bergerak ke samping dengan disertai liukan tubuhnya, mengelakkan sabetan pisau
dan hantaman tangan kiri gadis bisu itu.
"Uts!
Hih...!" Begitu lepas dari serangan, Ki Rumbayung se- gera melepaskan satu
jotosan keras ke tubuh lawan. Disusul dengan tebasan pedangnya yang tak kalah
ce- pat, memburu gadis bisu yang dengan ringan bergerak ke samping dan melompat
ke belakang.
"Uhk uhk...!"
Gadis bisu itu bersalto dua kali di udara. Ke- mudian dengan enteng, tubuhnya
melayang di udara. Bersamaan dengan itu tangannya menghantam ke arah Ki
Rumbayung. Hal itu membuat Ki Rumbayung tersentak kaget. Cepat-cepat lelaki tua
itu memapaki pukulan lawan dengan tangan kirinya.
Plak! "Uhk!"
"Hup! Uts...!" Ki Rumbayung membelalakkan mata, meman- dang tajam
gadis bisu di hadapannya dengan kening berkerut. Tubuhnya terhuyung ke
belakang, setelah berbenturan dengan tangan gadis itu. Dia tak me- nyangka
kalau gadis semuda itu ternyata mampu mengimbangi tenaga dalam yang
dimilikinya.
"Uuu...!"
gadis itu melolong panjang. Matanya menatap tajam Ki Rumbayung. Seolah-olah ada
sesua- tu yang tersimpan pada sorot matanya.
"Siapa kau
sebenarnya, Bocah?! Mengapa da- tang-datang menyerangku...?" tanya Ki
Rumbayung.
"Uuu...!"
Gadis bisu bertubuh bungkuk itu menggerak- kan tangannya, seperti hendak
memberitahukan siapa dirinya. Ditunjuk dengan telunjuk tangannya, kalau dirinya
semata-mata untuk mencari pembunuh orang tuanya dan membalas dendam atas
kematian kedua orangtuanya.
"Siapa nama
orangtuamu, Bocah?!" bentak Ki Rumbayung.
"Uuu...!"
gadis bisu itu kembali menggerak- gerakkan tangannya, mengatakan bahwa kedua
orang- tuanya tak lain yang dulu dibakar Ki Rumbayung ber- sama para pendekar
Desa Kembang Tebu lainnya.
"Heh...?! Kau anak
Gagar Blarak...?" "Uuu...!" seru gadis bisu itu sambil mengang-
guk-anggukkan kepalanya. Kemudian dengan cepat gadis itu kembali menyerang Ki
Rumbayung. Gerakan yang dilakukan begitu cepat. Sabetan dan pukulannya
mengandung tenaga dalam tinggi, membuat Ki Rum- bayung terpaksa berjumpalitan
untuk dapat menge- lakkan serangan gencar itu.
"Hups!
Heaaa...!" "Uhk...!" Wut! Pertarungan di dalam kamar yang cukup
luas itu tak terelakkan lagi. Keduanya saling serang dengan jurus-jurus andalan
mereka.
Gerakan gadis bisu itu
sangat cepat, menyerang ke seluruh bagian tubuh Ki Rumbayung. Tangan ka- nannya
yang memegang pisau mirip badik, bergerak ke leher lelaki setengah baya itu.
Wut! Trang!
"Hih!" Begitu mendapat kesempatan, dengan jurus 'Gelombang Pasang' Ki
Rumbayung segera menyerang lawan. Tubuhnya melenting ke udara laksana gelom-
bang, kemudian menukik ke bawah dengan pedang siap menusuk kepala lawan.
"Yeaaa...!"
Wuttt!
"Uuu...!" Gadis bisu yang melihat serangan lawan segera menggeser
kakinya dua tindak ke belakang. Lalu den- gan cepat senjatanya yang mirip badik
dibabatkan, memapak serangan Ki Rumbayung.
"Uuu...!"
"Heaaa...!" Trang! Ki Rumbayung dengan cepat menarik pedang- nya.
Lalu dengan cepat pula dia bergerak ke belakang tubuh lawan. Kakinya digerakkan
menendang ke arah punggung lawan.
"Heaaa!"
Gadis bisu itu tersentak kaget, dia berusaha berbalik dan memapaki serangan
lawannya. Namun ternyata tendangan Ki Rumbayung lebih cepat, hing- ga...
Degk!
"Uuukh...!" Gadis bisu itu terpekik keras, tubuhnya ter- huyung ke
depan hampir mencium tanah. Untung sa- ja, keseimbangannya dapat dikuasai,
hingga tidak te- rus meluncur. Tubuhnya berbalik, menatap bengis pa- da Ki
Rumbayung.
"Uuu...!"
Setelah melolong panjang, gadis bertubuh bungkuk itu dengan cepat kembali
menyerang. Pisau yang menyerupai badik di tangannya bergerak cepat, membabat ke
leher lelaki setengah baya itu.
Ki Rumbayung tersentak
kaget. Pedangnya se- gera digerakkan untuk mengimbangi serangan yang di-
lancarkan gadis itu. Sesekali tangan dan kakinya ber- gerak memukul dan menendang
ke dada dan perut lawan.
"Yeaaa...!"
"Uuu...!" Trang! Tangan Ki Rumbayung bergetar hebat, ketika beradu
dengan senjata di tangan si gadis bisu. Mata Ki Rumbayung membelalak lebar,
memandang dengan tegang ke arah gadis bisu yang juga menatap wajahnya penuh
kebencian.
"Uuu...!"
Gadis bisu itu melolong panjang, kemudian kembali menyerang Ki Rumbayung. Tangan
kanannya yang memegang senjata mirip badik bergerak ke leher Ki Rumbayung.
Sedangkan tangan kirinya kini melan- carkan pukulan-pukulan yang mengandung
tenaga da- lam begitu kuat.
"Uuu...!"
Wut! "Heit! Edan...!" maki Ki Rumbayung, sambil bergerak mengelak ke
samping. Sehingga pukulan la- wan yang mengandung tenaga dalam tinggi lewat
bebe- rapa jari di samping tubuhnya.
Gadis bisu yang merasa
serangannya dapat di- elakkan lawan nampak semakin beringas. Serangan yang
dilakukannya semakin cepat dan menggunakan tenaga dalam tinggi. Sedangkan
tangan kanannya ber- gerak menyabetkan senjata ke leher lawan
Wut! "Ikh!"
Ki Rumbayung tersentak kaget, tak me- nyangka kalau serangan lawan begitu
cepat. Dengan cepat Ki Rumbayung melompat ke belakang, menge- lakkan sabetan
senjata lawan. Namun, rupanya gadis bisu itu bagaikan tak mau memberikan
harapan dan kesempatan pada lelaki setengah baya itu. Dia kembali memburu ke
arah Ki Rumbayung dengan cepat.
"Uuu...!"
Wut! Wut! Gadis bisu
bertubuh bungkuk yang mengaku anak Gagar Blarak itu semakin beringas menyerang.
Gerakannya liar, sulit untuk diterka ke arah mana dia menyerang. Hal itu cukup
membuat Ki Rumbayung kewalahan. Lelaki berusia setengah baya itu harus ber-
jumpalitan ke sana kemari untuk dapat menghindari sabetan dan pukulan lawan.
"Eits!
Heaaa...!" Baru saja Ki Rumbayung mengelakkan seran- gan, tiba-tiba tangan
gadis itu merogoh sesuatu dari balik pakaiannya. Kemudian dengan cepat tangan
ki- rinya dikibaskan. Saat itu juga....
Swing! Swing! Lima
bilah pisau kecil berwarna perak melesat dari tangannya. Ki Rumbayung kaget
melihat benda- benda meluncur ke tubuhnya.
"Hup!" Dengan
cepat Ki Rumbayung bergerak. Tubuh- nya melenting, mengelakkan pisau-pisau
kecil itu. Tangannya mengebutkan pedangnya.
Trang! Trang! Jlep!
"Akh...!" Ki Rumbayung terpekik ketika pa- hanya terhunjam sebilah
pisau kecil yang dilemparkan gadis bisu itu. Mulutnya meringis menahan rasa
sakit.
"Uuu...!"
Gadis bisu itu melolong panjang. Kemudian tanpa menghiraukan Ki Rumbayung yang
menahan rasa sakit, tangannya berkelebat menyerang dengan sabetan senjata
berupa pisau mirip badik ke leher Ki Rumbayung. Wret! Cras! "Aaa...!"
Ki Rumbayung menjerit dengan leher
hampir putus. Darah
langsung muncrat. Sesaat Ki Rumbayung meregang, kemudian ambruk tanpa nyawa.
"Uuu...!"
gadis bisu itu melolong panjang. Se- saat kemudian tubuhnya melesat
meninggalkan tem- pat itu, menembus kegelapan malam yang sunyi men- cekam.
***
5
Ki Soma dan para
pengikutnya yang tengah mengejar Ki Wulung bersama istrinya, kini telah sam-
pai di Hutan Waradas. Hutan ini terletak di sebelah barat Desa Kembang Tebu.
Sejauh itu, mereka belum menemukan jejak lelaki tua yang dianggap sebagai orang
tak waras. Juga dianggap teman dari orang yang telah membunuh dua orang
pengawal Ki Legok Menggo dan seorang jawara Desa Kembang Tebu.
"Hm.... Menurut
petunjuk warga, Ki Wulung dan istrinya lari ke hutan ini," gumam Ki Soma.
"Benar, Ki,"
sahut Ki Kalawuku, seorang lelaki berusia sekitar tiga puluh tahun bertubuh
kekar den- gan sorot mata tajam. Rambutnya terurai lepas, den- gan ikat kepala
kain merah. Lelaki ini juga jawara Desa Kembang Tebu
"Sebaiknya kita
bagi dua saja! Sebagian ikut aku, dan sebagian lagi ikut kau," usul Ki
Soma.
"Baiklah,"
sahut Ki Kalawuku. Setelah dibagi, kedua kelompok yang masing- masing dipimpin
Ki Soma dan Ki Kalawuku menyebar. Satu ke arah selatan sedangkan yang satunya
lagi ke arah utara.
Dengan diikuti sepuluh
orang. Ki Kalawuku menerobos hutan. Namun tiba-tiba langkah kakinya terhenti,
ketika telinganya mendengar suara gelak tawa dari dalam hutan. Kening Ki
Kalawuku berkerut dalam
"Hi hi hi...! Lucu
sekali kalian. Mengapa kalian harus lari-lari seperti dikejar setan? Hua ha ha...!"
"Hei, sepertinya
ada orang di dalam hutan ini, selain Ki Wulung dan istrinya," gumam Ki
Kalawuku.
"Didengar dari
suaranya, tentunya orang yang tertawa itu masih muda. Suaranya aneh, seperti
orang gila saja." Ki Kalawuku menggerakkan tangan kanannya memberi
perintah pada sepuluh anak buahnya untuk menerobos masuk dan melihat siapa
pemuda yang se- perti orang gila itu.
Mata Ki Kalawuku dan
kesepuluh pengikutnya terbelalak, ketika melihat seorang pemuda berpakaian
rompi kulit ular tengah tertawa tergelak gelak. Di ha- dapannya duduk dengan
kaki ditekuk Ki Wulung bersama istrinya.
"Hua ha ha...!
Orang-orang aneh," gumam pemuda berpakaian rompi kulit ular yang tak lain
Sena sambil menggaruk-garuk kepala. "Kalau kalian tak salah, mengapa mesti
lari?"
"Sungguh. Tuan.
Kami tak salah.... Kami tak tahu apa-apa dengan kejadian di desa kami,"
jawab Ki Wulung dengan kepala menengadah, menatap wajah Pendekar Gila yang
masih cengengesan.
"Bagus! Rupanya
kalian ada di sini! Kami cari- cari, akhirnya kami temukan juga...!"
Tiba-tiba Sena
dikejutkan oleh suara bentakan dari utara. Cepat Sena memandang ke asal suara
itu. Nampaklah seorang lelaki tinggi tegap berkumis melin- tang diikuti sepuluh
orang penduduk desa.
"Aha, siapa lagi
kalian?" tanya Sena masih den-
gan gerik-geriknya yang
seperti orang gila. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala. Mulutnya nyengir
kuda.
"Bocah edan!
Seharusnya kami yang bertanya, bukan kau?!" bentak Ki Kalawuku.
"Siapa kau dan dari mana kau serta hendak apa kau ke desa kami?"
"Hi hi hi...! Lucu
sekali kau, Ki? Hua ha ha...!" Sena tertawa tergelak-gelak sambil
berjingkrakan seperti kera.
Sementara Ki Wulung dan
istrinya bertambah tegang, menyaksikan kedatangan Ki Kalawuku dan kesepuluh
pengikutnya. Mereka menyadari, kalau Ki Ka- lawuku dan kesepuluh orang itu
tentu akan menang- kapnya. Menghadapi sepuluh orang warga Desa Kem- bang Tebu
dan Ki Kalawuku, mungkin Ki Wulung ma- sih sanggup. Tapi jika pemuda bertingkah
laku seperti orang gila itu ikut membantu, mungkin Ki Wulung akan kelabakan
juga.
"Tuan, sungguh
kami tak tahu masalahnya." ujar Ki Wulung mengharap pengertian Pendekar
Gila.
Sena tertawa
terbahak-bahak. "Aha, aku tak tahu apa yang tengah terjadi dengan kalian.
Tapi baiklah, kurasa ada baiknya kita ngobrol. Hi hi hi...," Sena tertawa
cekikikan. "Namaku Sena, aku hanya ingin lewat di desa kalian."
"Aku tak peduli
siapa dirimu. Aku hanya ingin menangkap kedua orang itu!" bentak Ki
Kalawuku. "Serahkan kedua orang tua itu, kemudian kuharap kau cepat pergi
dari tempat ini!"
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak mendengar ucapan Ki Kalawuku. Tangannya kembali menggaruk-garuk
kepala. Dengan mulut nyengir, matanya memandang ke langit.
"Aha, sungguh
berartikah kedua orang tua ini
bagi kalian?"
tanya Sena.
"Ya! Keduanya
harus kami tangkap!" "Hi hi hi...! Enak sekali kalian hendak menang-
kap orang! Ah ah ah.... Apakah kalian punya bukti yang memberatkan mereka
bersalah?" tanya Sena.
"Ya! Keduanya
bersekutu dengan orang yang te- lah membuat keonaran di desa kami," tukas
Ki Kala- wuku.
Pendekar Gila menatap
wajah Ki Wulung yang masih terdiam di belakangnya.
"Aha, benarkah
itu, Ki?" tanya Sena. "Tidak! Kami tak tahu apa-apa dengan masalah
itu," jawab Ki Wulung.
"Aha, lalu apa
yang sebenarnya terjadi?" "Desa kami akhir-akhir ini diteror
seseorang yang telah membunuh beberapa orang," tutur Ki Kala- wuku
menjelaskan.
"Hi hi.hi..!
Apakah kedua orang tua ini orang baru di desa kalian...?" tanya Sena.
"Kami lama di desa
itu, Tuan. Malah sebelum mereka datang, kami telah lebih dulu tinggal di Desa
Kembang Tebu," selak Nyi Wulung.
"Hm, aneh...!
Kurasa keduanya tak salah, Ki. Mengapa kalian memburu mereka?" tanya Sena.
"Huh, bagaimanapun
juga, kami tak mungkin dibohongi olehmu, Orang Tua Gila! Bukankah pembu- nuh
gelap itu selalu menolongmu?!" dengus Ki Kala- wuku gusar. "Dan
kuminta padamu, Bocah. Jangan ikut campur urusan kami!"
Pendekar Gila tertawa
terbahak-bahak men- dengar ancaman Ki Kalawuku. Tingkah lakunya yang seperti
orang gila, semakin menjadi-jadi. Ki Kalawuku yang tak sabar kian bertambah
jengkel.
"Tangkap kedua
orang tua itu...!" perintah Ki Kalawuku pada kesepuluh anak buahnya yang
seren-
tak maju hendak
menangkap Ki Wulung dan istrinya.
Melihat kesepuluh anak
buah Ki Kalawuku ma- ju hendak menangkap Ki Wulung, Pendekar Gila yang melihat
kalau kedua orang tua itu tampaknya tak ber- salah, segera menghadang mereka.
"Aha, mengapa
kalian berbuat seenaknya sen- diri? Kurasa kalian telah salah sangka...."
"Tutup mulutmu,
Bocah Edan!" bentak Ki Ka- lawuku. Kemudian pandangannya beralih pada anak
buahnya. "Dialah yang telah membuat desa kita terce- kam ketakutan.
Mungkin pemuda itulah pelaku pem- bunuhan itu! Serang dia...!"
"Yeaaa...!"
"Hiaaa...!" Dengan golok-golok terhunus, sepuluh pengi- kut Ki
Kalawuku segera merangsek maju, bermaksud menangkap Pendekar Gila dan kedua
suami istri itu.
"Aha, rupanya
kalian benar-benar berkepala batu! Baik.... Mari kita main-main.
Yeaaa...!"
Dengan jurus 'Si Gila
Menari Menepuk Lalat', Sena segera memapaki serangan sepuluh anak buah Ki
Kalawuku. Tubuhnya meliuk-liuk laksana menari, dengan sesekali disertai tepukan
tangan ke dada la- wan.
Merasa ada yang
membela, Ki Wulung pun tak mau tinggal diam. Lelaki tua itu segera bergerak
guna menghadapi sepuluh anak buah Ki Kalawuku.
"Yeaaa...!"
"Kurang ajar! Rupanya kalian mencari mam- pus!" dengus Ki Kalawuku
gusar. Dengan pedang siap di tangan, Ki Kalawuku melesat menyerang Ki Wulung.
"Terimalah kematianmu, Tua Bangka!"
Wut! "Uts!
Hup...!". Ki Wulung memiringkan tubuhnya ke kanan,
mengelakkan serangan
yang dilancarkan Ki Kalawuku. Kakinya diangkat dengan lutut menekuk. Kemudian
dengan keras dihantamkan ke pinggang lawan.
"Hih!" Ki
Kalawuku segera menarik serangannya dan melompat ke belakang dengan cepat.
Kemudian den- gan cepat pula dia kembali menyerang. Pedang di tan- gannya
bergerak cepat menggunakan jurus ‘Walang Jaga Turi’ membabat dan menusuk tubuh
lawan
Wut!
"Heaaa...!" Melihat serangan lawan disertai tenaga dalam yang cukup
tinggi, Ki Wulung pun lebih berwaspada. Kakinya segera menjejak ke samping,
berlompatan se- bentar kemudian kembali menyerang dengan jurus ‘Lurung
Merangsek Mencakar Lawan’. Gerakannya se- perti seekor lutung. Tangannya
membuat cengkeraman kuat dan memburu Ki Kalawuku.
"Hiaaa...!"
Tangan kanan Ki Wulung maju mencengkeram ke wajah lawannya dengan cepat,
disusul dengan sa- puan kaki kanannya yang menendang ke kaki lawan.
Wrrrt! Di pihak lain,
Pendekar Gila yang menghadapi keroyokan sepuluh anak buah Ki Kalawuku nampak
tenang. Gerakan Sena tampak baru sekadar untuk memapak dan bertahan, belum
mulai melancarkan se- rangan. Tepukan-tepukan tangannya tidak sekuat se- perti
biasanya.
"Hi hi hi...! Hua
ha ha...!" Pendekar Gila tertawa-tawa sambil tubuhnya meliuk-liuk.
Sesekali tangannya merenggut pakaian lawan, kemudian menggaruk-garuk kepalanya.
Setelah itu tubuhnya melenting dan berjumpalitan seraya menggaruk-garuk pantat
Suasana Hutan Waradas
seketika menjadi riuh oleh jeritan dan pekikan dari mulut mereka yang me-
lakukan serangan. Banyak pepohonan kecil tumbang terinjak dan terbabat senjata
tajam.
***
"Hi hi hi...!
Kalian memang lucu dan aneh. Mengapa kalian kebingungan? Nih untuk
kalian...!" seru Sena sambil menunggingkan pantatnya ke arah la- wan-lawannya.
Lalu dari mulutnya terdengar suara seperti kentut
Brut...! "Hi hi
hi! Enak bukan?!" "Setan alas! Jangan biarkan pemuda gila itu lo-
los! Serang dia...!" seru Ki Kalawuku sambil melesat menyerang Ki Wulung
dengan babatan pedangnya yang cepat.
Serentak sepuluh orang
anak buah Ki Kalawu- ku merangsek maju, membabat Pendekar Gila dengan golok
terhunus. Serangan datang dari segenap penjuru dan secara bersamaan.
"Ku rencah
tubuhmu, Bocah!" "Kubikin sate tubuhmu. Hih...!" Pendekar Gila
dengan tertawa-tawa segera me- lentingkan tubuh ke udara, lalu dengan cepat
tangan- nya menjitak kepala orang-orang yang menyerangnya.
Pletak!
"Aduh!" "Hi hi hi...! Enak bukan?" Sena terus bergerak,
menjitaki kepala mereka. Tubuhnya berkelebat melent- ing ke atas, bersalto, dan
kembali menjitaki kepala la- wan.
Pletak!
"Akh!"
Jeritan kesakitan
seketika terdengar susul- menyusul dari mulut kesepuluh orang yang menyerang
Pendekar Gila. Bagaikan ayam terkena penyakit, mere- ka berputar-putar dengan
tangan memegangi kepala yang terasa sakit dan benjol akibat jitakan tangan
Pendekar Gila.
"Hua ha ha...!
Lucu sekali kalian. Dunia seperti berputar, bukan?! Hua ha ha...!" Sena
tertawa tergelak gelak sambil menggaruk-garuk kepala, menyaksi- kan kesepuluh
pengeroyoknya memegangi kepala se-perti orang ayan.
"Waduh!
Tolong...!" Sementara itu, Ki Wulung melakukan serangan gencar.
Jurus-jurus lutungnya sangat cepat. Kini den- gan jurus 'Lutung Berayun
Menendang Lawan', Ki Wu- lung melenting ke atas, kedua kakinya bergerak me-
nendang.
"Heaaa...!"
Wrt! "Ups! Hup! Hih...!" Ki Kalawuku segera berkelit dengan membuang
tubuh ke samping kiri. Kemudian dengan cepat pula pedangnya dibabatkan ke atas,
terarah ke tubuh Ki Wulung yang berada di atasnya.
Wut! Pedang Ki Kalawuku
begitu cepat membabat ke arah Ki Wulung. Rasanya sulit bagi laki-laki tua itu
untuk dapat mengelakkan babatan pedang Ki Kalawu- ku.
"Mampuslah kau,
Ki!" Ki Wulung berusaha mempercepat lentingan tubuhnya agar dapat lepas
dari sabetan pedang lawan. Namun gerakannya terasa sulit, karena pedang di tan-
gan Ki Kalawuku lebih cepat membabat ke segala arah. Dalam keadaan seperti itu,
tiba-tiba....
Trang! "Ukh!"
Ki Kalawuku mengeluh. Tubuhnya terhuyung ke belakang dengan mulut meringis
menahan sakit. Matanya terbelalak, menatap penuh kemarahan pada Pendekar Gila
yang tertawa tergelak-gelak sambil menggaruk-garuk kepala. Di tangan Pendekar
Gila te- lah tergenggam Suling Naga Sakti. Suling itulah yang tadi digunakan
untuk menangkis pedang Ki Kalawuku yang hampir saja membunuh Ki Wulung.
"Aha, kau kira
dirimu tak lebih keji dari si pembunuh itu, Ki?! Kurasa tak seimbang jika kau
menggunakan pedang, sedangkan lawanmu tangan kosong," kata Sena.
"Cuih! Jangan
banyak omong! Kalau kau me- mang ingin membelanya, kau pun boleh menghadapi-
ku!" dengus Ki Kalawuku dengan gusar. Matanya melo- tot penuh amarah.
Nafasnya memburu, bagaikan ban- teng terluka.
"Hi hi hi...! Lucu
sekali ucapanmu, Ki. Aha, kau terlalu sombong karena kehebatanmu. Sayang, aku
tak ada waktu untuk menerima tantanganmu. Mari Ki, Nyi...!" ajak Sena pada
Ki Wulung dan istrinya.
"Kurang ajar!
Berani kau menghinaku, Bocah Edan! Anak-anak. serang dia dan jangan biarkan hi-
dup...!" perintah Ki Kalawuku yang sudah marah.
Kesepuluh anak buahnya
serentak menyerang kembali, walau hati mereka telah ciut setelah menda- pat
jitakan Pendekar Gila. "Heaaat...!" Merasa tak sempat memberi nasihat
pada orang-orang Desa Kembang Tebu, Pendekar Gila segera memerintah Ki Wulung
dan istrinya pergi dari tempat itu.
"Kalian pergilah
dulu, nanti aku menyusul!
Kerbau-kerbau dungu itu
memang harus dibereskan. Hua ha ha...!" sambil tertawa tergelak-gelak,
Pendekar Gila melesat cepat, memapaki sepuluh anak buah Ki Kalawuku yang
menyerangnya.
Namun, belum sampai
Pendekar Gila mengha- dang mereka, tiba-tiba....
Swing! Swing...! Jlep!
Jlep...! Puluhan pisau kecil tiba-tiba melesat cepat menghunjam di tubuh
sepuluh pengikut Ki Kalawuku. Hal itu membuat Pendekar Gila dan Ki Kalawuku
ter- sentak kaget. Keduanya dengan cepat melompat men- gelakkan serangan gelap
itu.
Kesepuluh anak buah Ki
Kalawuku menggele- par bagaikan ayam disembelih. Pisau-pisau kecil tajam itu
menghajar leher dan dada mereka. Sesaat tubuh mereka meregang, kemudian ambruk
tanpa nyawa.
"Hups! Setan
alas!" maki Ki Kalawuku sambil berjumpalitan menghindari serangan-serangan
gelap yang entah dari mana asalnya.
Pisau-pisau kecil itu
melesat di bawah kaki Ki Kalawuku, lalu menghunjam di pepohonan.
Jlep, jlep...!
"Huh! Aneh sekali. Sepertinya ada seseorang yang berusaha membungkam
mereka," gumam Sena dengan tangan menggaruk-garuk kepala. Matanya
memandang Ki Wulung dan istrinya yang tiba-tiba te- lah lenyap. "Hei,
mereka menghilang!"
"Kini kau telah
jelas, bukan?! Masihkah kau tak percaya dengan kata-kataku, Bocah Edan!"
bentak Ki Kalawuku jengkel, merasa Pendekar Gila penyebab da- ri kegagalannya
menangkap Ki Wulung dan istrinya.
"Aha, jangan cepat
marah, Ki. Kurasa ada se- suatu yang menjadi teka-teki. Lihat, ada surat yang
menempel di gagang belati," tunjuk Sena.
Ki Kalawuku menghampiri
pisau-pisau kecil yang tertancap pada batang pohon. Dia segera berusa- ha
mencabut salah satu pisau yang di gagangnya ter- dapat surat
"Wih!" Ki
Kalawuku harus mengerahkan tenaga untuk bisa mencabut pisau itu, karena pisau
itu me- nancap dalam di pohon. Namun yang dapat diambilnya hanya gulungan daun
lontar berisikan surat
Ki Kalawuku segera
membukanya, kemudian dengan mata membelalak dibacanya isi surat itu.
Hati-hatilah! Kalian
dalam ancaman bahaya.
Ki Kalawuku mengerutkan
kening ketika mem- baca baris pertama, begitu pula dengan Pendekar Gila.
Keduanya saling pandang, tak mengerti maksud se- sungguhnya pengirim surat itu.
"Hei, apa
maksudnya?" tanya Ki Kalawuku se- perti ditujukan pada diri sendiri.
"Hm...," Sena
menggumam tak jelas. "Aha, ku- rasa dia bermaksud baik. Bacalah lagi yang
lainnya."
Ki Kalawuku yang semula
benci pada Pendekar Gila segera menurut membaca tulisan di surat itu. Ma- ta Ki
Kalawuku semakin membelalak, ketika kembali membaca isi surat itu.
Jika kalian ingin tahu
siapa aku, teruslah berja- lan ke barat. Hati-hati, karena bahaya tengah
mengintai kalian. Khususnya para pendekar di Desa Kembang Tebu.
Ki Kalawuku benar-benar
heran membaca tuli- san itu. Ditatapnya Pendekar Gila yang masih cen- gengesan,
sepertinya mengerti semua yang terjadi. Dan ketika lebih dalam lagi Ki Kalawuku
mengamati pemu-
da gila itu, seketika
tuduhannya hilang.
Pemuda gila! Gumam Ki
Kalawuku dalam hati. Hm, siapakah pemuda ini? Mungkinkah dia yang ber- juluk
Pendekar Gila?
"Hi hi hi...! Aneh
sekali! Masih ada juga orang yang baik hati pada para pendekar, khususnya
pende- kar di Desa Kembang Tebu," gumam Sena sambil menggaruk-garuk
kepala.
"Anak muda, kaukah
yang berjuluk Pendekar Gila?" tanya Ki Kalawuku.
"Hi hi
hi...!" Sena tertawa dengan mulut nyen- gir. "Namaku Sena, Ki. Hi hi
hi...! Hanya orang-orang saja yang menyebutku gila. Ah, memang aku gila."
Terbelalak mata Ki Kalawuku
mendengar pe- muda bertingkah laku gila itu. Kini hatinya yakin, ka- lau Sena
memang orang yang dijuluki Pendekar Gila.
"Pendekar Gila,
kurasa kau mengerti apa mak- sud tulisan ini. Bagaimana pendapatmu...?"
tanya Ki Kalawuku.
"Hi hi hi...! Aha,
mudah saja. Mengapa tak kita ikuti sarannya? Bukankah dengan begitu kita akan
ta- hu siapa orang yang telah mengirim surat itu?"
Sesaat Ki Kalawuku
terdiam. Sepertinya dia tengah memahami kata-kata dalam tulisan itu. Kalau
memang benar bahwa para pendekar Desa Kembang Tebu dalam ancaman, berarti ada
orang-orang yang sengaja hendak menghancurkan Desa Kembang Tebu. Gumam Ki
Kalawuku dalam hati. Siapakah, dan apa tujuan orang itu membuat keonaran di
Desa Kembang Tebu?
"Baiklah, Pendekar
Gila. Mari kita ikuti apa kemauannya!" ajak Ki Kalawuku kemudian.
"Aha, kurasa ada
baiknya begitu," sahut Sena dengan mulut cengengesan dan tangan menggaruk-
garuk kepala.
"Ayolah! Kita
harus segera tahu siapa sebenar- nya orang yang mengirim berita ini!" ajak
Ki Kalawuku. "Aha, bagaimana dengan mayat-mayat itu?" tanya Sena,
seraya menunjuk sepuluh anak buah Ki Kalawuku.
"Biarkan
saja," sahut Ki Kalawuku. Keduanya segera melesat cepat meninggalkan Hutan
Waradas menuju arah barat, sesuai petunjuk yang diberikan pembunuh gelap itu.
*** 6
Setelah tidak
mendapatkan orang yang dica- rinya, Ki Soma dan orang-orangnya kembali ke desa.
Mereka nampaknya tak berminat untuk meneruskan pencariannya. Apalagi setelah
mereka menemukan ke- sepuluh mayat anak buah Ki Kalawuku di tengah hu- tan.
Ditambah lagi hilangnya Ki Kalawuku yang entah ke mana, semakin membuat warga
desa pengikut Ki Soma ciut nyalinya.
Ki Soma akhirnya
memutuskan kembali ke De- sa Kembang Tebu yang letaknya tak jauh dengan Hu- tan
Waradas. Bahkan tepi hutan itu berdekatan den- gan batas Desa Karang Tebu.
"Setan alas!
Rupanya ada yang bermaksud menggagalkan rencana kita, Diajeng...," dengus
Ki So- ma sambil melangkah mondar-mandir di depan is- trinya yang masih duduk
di atas pembaringan. Mata Nyi Writampi tak lepas menatap suaminya yang tam- pak
gelisah serta marah.
Malam itu Ki Soma
benar-benar marah, karena
akhir-akhir ini
terdengar kabar ada dua orang anak muda aneh. Yang satu seorang pemuda dengan
ting- kah laku gila, sedangkan lainnya seorang gadis bisu dengan tingkah laku
seperti gembel serta berbadan bungkuk "Siapakah, Kakang?" tanya
wanita cantik beru- sia sekitar empat puluh tahun dengan rambut sasak lebar.
"Entahlah. Ada
orang yang selalu mendahului setiap maksud kita. Dia seorang gadis muda
bertubuh bungkuk," jawab Ki Soma masih menunjukkan wajah penuh amarah.
"Sepertinya dia selalu tahu apa yang bakal kita rencanakan."
Nyi Writampi terdiam,
hanya matanya saja yang masih memandang lekat ke arah suaminya. Wajah wa- nita
itu pun melukiskan ketegangan, mendengar penu- turan suaminya. Bibirnya
digigit, seakan turut mera- sakan kejengkelan suaminya.
"Kalau begini
terus-menerus, bisa-bisa rencana kita terbongkar, Diajeng," tukas Ki Soma
cemas.
"Lalu apa yang
harus kita lakukan, Kakang?" Ki Soma terdiam, melangkah ke jendela kamar-
nya. Perlahan dibukanya jendela kamar, lalu ditatap- nya rembulan yang
tergantung di langit. Bulan itu membentuk sabit, dengan cahaya redup.
"Malam ini mungkin
akan leluasa kita bergerak, Diajeng. Kita harus segera menyelesaikan semuanya
dengan cepat, sebelum orang-orang mengetahui," gu- mam Ki Soma sambil
menoleh dan menatap istrinya yang masih duduk di atas tempat tidur. "Kita
harus se- cepatnya menyingkirkan Kakang Legok Menggo yang dungu dan tak bisa
apa-apa."
"Tapi,
Kakang...." "Ada apa, Diajeng? Kau sepertinya merasa ra- gu...?"
"Benar, Kakang.
Apakah jika kita terburu-buru tak akan membuat orang curiga? Bukankah lebih
baik kita menggunakan Srindi lebih dahulu? Dengan begitu, orang tentu tak akan
menyangka kalau kitalah pelaku semuanya," saran Nyi Writampi.
Ki Soma tersenyum
mendengar saran istrinya. Kemudian dengan mengangguk-anggukkan kepala, is-
trinya dihampiri.
"Kau benar,
Diajeng. Srindi memang telah ba- nyak membantu kita. Dan orang-orang menyangka
ka- lau pelaku semuanya adalah orang lain. Hm, benar! Sekarang ini, memang
dialah yang pantas untuk me- nyingkirkan satu persatu para pendekar di Desa
Kem- bang Tebu ini. Dengan begitu, orang akan menyangka ini pembalasan arwah
keluarga Gagar Blarak," ujar Ki Soma dengan bibir semakin tersenyum lebar.
"Apakah malam ini
pun dia akan kita utus, Ka- kang?"
"Ya! Malam ini
giliran Anggastra. Bukankah ta- di sore telah diberikan tanda silang
merah?" tanya Ki Soma.
"Benar,
Kakang." "Hm, semua orang akan semakin kebingungan. Dan jika semua
warga telah tak percaya lagi pada Ka- kang Lenggok Menggo, maka akulah yang
akan meng- gantikan kedudukannya," gumam Ki Soma senang.
"Kalau begitu,
kita harus menghubunginya," ujar Nyi Writampi.
"Ya.
Cepatlah!" Nyi Writampi mengendap-endap meninggalkan rumahnya lewat pintu
belakang untuk menghubungi Srindi.
***
Malam sudah jatuh
menyelimuti Desa Kembang Tebu. Kesunyian begitu terasa di desa ini. Tak seorang
pun yang terlihat di luar. Dan rumah-rumah tampak tertutup rapat pintu dan
jendelanya. Hanya cahaya re- dup dari pelita kecil yang terlihat dari kisi-kisi
pintu dan jendela setiap rumah. Namun, keadaan terang- benderang terlihat di
rumah Ki Anggastra. Bahkan be- berapa obor terpancang di setiap sudut halaman
ru- mahnya. Suasana rumah Ki Anggastra seperti tengah mengadakan suatu pesta,
tapi hanya para pendekar yang tampak di sana.
Sementara di dalam
salah satu kamar, Ki Ang- gastra belum juga bisa merebahkan tubuhnya. Hatinya
gelisah, setelah menerima tanda silang merah sore ta- di. Ketika dia tengah
duduk-duduk di serambi, tiba- tiba melesat ke arahnya sebilah pisau kecil
dengan ga- gang terdapat ikatan daun lontar. Hampir saja pisau itu membunuhnya,
kalau Ki Anggastra tak cepat ber- gerak mengelak. Ki Anggastra membuka lipatan
daun lontar yang ada di gagang pisau. Ternyata daun lontar itu bergambar tanda
silang merah!
Ki Anggastra tak tahu
isyarat apa tanda silang merah itu. Tapi malam ini dia benar-benar gelisah,
ber- jalan mondar-mandir di dalam kamar. Beberapa kali terdengar tarikan
nafasnya yang panjang, disertai hembusan napas yang terasa begitu berat.
"Hhh...!"
Bruk! "Heh...?!" Tiba-tiba saja Ki Anggastra tersentak kaget, ke-
tika mendengar suara seperti orang terjatuh. Cepat- cepat lelaki berusia empat
puluh tahun dan bercam- bang le-bat itu melompat ke jendela kamarnya. Tapi
belum juga sampai, mendadak sesosok bayangan biru berkelebat cepat memasuki
kamar melalui jendela yang
terbuka lebar.
"Heii...!"
Hampir saja Ki Anggastra terlanda bayangan bi- ru itu, kalau saja tak
cepat-cepat melompat ke bela- kang. Dua kali lelaki itu berputar di udara. Lalu
den- gan manis sekali mendarat di lantai yang keras dan li- cin. Saat itu,
seorang bertubuh ramping sudah berdiri membelakangi jendela. Seluruh tubuhnya
tertutup ba- ju biru yang ketat. Sementara seluruh kepalanya juga terselubung
kain biru pekat. Hanya dua lubang kecil pada matanya yang terlihat.
"Siapa
kau...?" bentak Ki Anggastra. Tangan kanan Ki Anggastra cepat menyambar pedang
yang tergeletak di atas meja, tak jauh di sebelah kanan. Be- gitu teraih,
pedang itu cepat dipindahkannya ke tan- gan kiri. Sedangkan orang bertubuh
ramping yang mengenakan pakaian biru tetap berdiri tegap, tak ber- geming
sedikit pun. Dari dua lubang di bagian mata, terlihat sorot matanya yang begitu
tajam, menusuk langsung ke bola mata pendekar Desa Kembang Tebu ini. Dari
bentuk tubuhnya sudah dapat dipastikan ka- lau dia seorang wanita.
"Uuu...!"
wanita itu berseru. Tiba-tiba saja wa- nita berbaju biru yang ternyata bisu itu
melompat se- cepat kilat, menerjang Ki Anggastra. Begitu cepat gera- kannya,
sehingga membuat Ki Anggastra terhenyak se- saat. Namun, dengan cepat pula
lelaki setengah baya itu melompat ke samping, sambil meliukkan tubuhnya, menghindari
pukulan yang melayang cepat itu.
"Hup!
Yeaaah...!" Begitu lepas dari serangan, Ki Anggastra cepat melepaskan satu
tendangan keras menggeledek, den- gan tubuh agak miring ke kiri. Tendangannya
yang be- gitu cepat, mengarah langsung ke dada wanita ini.
"Uuu...!"
Tanpa diduga sama
sekali, wanita bisu berbaju biru itu malah menghentakkan tangan kirinya, mema-
pak tendangan Ki Anggastra. Hingga tak pelak lagi, tangan dan kaki itu beradu
keras.
Plak!
"Uuu...!" "Hup!" Ki Anggastra terpekik kecil. Lalu dengan
cepat dia melompat beberapa langkah ke belakang. Sedang- kan wanita bisu itu
juga cepat melompat beberapa kali ke belakang. Mereka kini kembali berdiri
saling berha- dapan, berjarak beberapa langkah.
"Hiyaaa...!"
"Uuu...!" Wanita berpakaian biru kembali melompat me- nyerang dengan
kecepatan luar biasa. Beberapa puku- lan keras yang mengandung pengerahan
tenaga dalam tinggi, dilepaskan secara beruntun. Akibatnya, Ki Ang- gastra
terpaksa berjumpalitan menghindarinya. Maka pertarungan di dalam kamar yang
cukup luas ini pun tak terelakkan lagi.
"Hup!
Hiyaaa...!" "Uuu...!" Begitu memiliki kesempatan, Ki Anggastra
ce- pat melenting ke udara. Lalu, cepat sekali tangannya mengibas ke kepala
wanita yang terselubung kain biru dengan jurus 'Tepisan Dewa Mengebut Angin'.
Dengan gerakan kepala yang begitu manis, wanita bisu itu mampu mengelakkan
sambaran tangan lawan.
"Yeaaa...!"
"Uuu...!" Dengan gerakan yang tak terduga dan cepat, Ki Anggastra
memutar tubuhnya. Dan secepat itu pula di- lepaskannya satu tendangan keras
menggeledek den- gan tubuh berputar cepat. Begitu cepatnya serangan
yang dilakukan Pendekar
Kembang Tebu ini, sehing- ga....
Begk!
"Uuukh...!" Wanita bisu itu terpekik keras agak tertahan. Tendangan
yang mendarat tepat di dadanya begitu ke- ras, membuatnya terpental deras ke
belakang. Lonta- ran tubuhnya baru berhenti ketika menghantam dind- ing kamar,
hingga bergetar hendak roboh.
Brak! Wanita bisu itu
cepat menguasai diri dan kem- bali berdiri tegak, sambil memegangi dada yang
terke- na tendangan keras lawan. Matanya menyorot tajam ke arah Ki Anggastra.
***
"Hiyaaa...!"
Ki Anggastra langsung melompat menyerang, sambil mengayunkan pedangnya dengan
jurus 'Gelar Babat Yudha'.
"Hih!
Yeaaah...!" Wanita bisu itu segera menca- but senjata badiknya. Kemudian
secepat kilat dike- butkannya untuk menangkis sabetan pedang lawan.
Trang! Terdengar dua
senjata berbenturan.
"Hiyaaa...!"
"Uuu...!" Ki Anggastra langsung melompat menyerang, sambil
mengayunkan pedangnya yang tergenggam di tangan kanan. Dan secepat itu pula
pedangnya dike- butkan ke arah kepala wanita aneh berbaju biru itu dengan jurus
'Gelar Babat Yudha'.
"Hih!
Yeaaah...!" "Uuu...!" Wanita bisu itu segera mencabut senjatanya
yang berupa pisau menyerupai badik dari pinggang- nya. Kemudian secepat kilat
dikebutkannya untuk menangkis sabetan pedang lawan.
Trang! "Akh!"
Ki Anggastra tersentak kaget setengah mati. Cepat-cepat pedangnya ditarik, lalu
melompat ke bela- kang beberapa langkah. Hampir dia tak percaya den- gan apa
yang terjadi barusan. Senjata menyerupai ba- dik kecil di tangan gadis itu
ternyata mampu menahan pedangnya yang besar dan kuat. Bahkan tangannya tadi
sampai tergetar hebat.
"Hap!"
"Uuu...!" Ki Anggastra cepat menyilangkan pedangnya di depan dada.
Perlahan kakinya bergeser beberapa lang- kah ke samping. Kemudian cepat sekali
tangan kirinya
bergerak mengebut ke
depan. Saat itu juga, terlihat beberapa benda bulat berwarna putih melesat
cepat dari tangan kiri Ki Anggastra.
"Hup!"
"Uuu...!" Bersamaan dengan lompatan wanita berpa- kaian biru dalam
menghindari senjata-senjata rahasia itu, Ki Anggastra sudah lebih cepat lagi
melesat ke udara. Dan secepat kilat pula pedangnya dibabatkan ke lambung lawan.
Tapi, wanita bungkuk itu cepat menarik tubuhnya ke belakang. Sehingga tubuhnya
agak ter-bungkuk. Dan pada saat itu, Ki Anggastra mengibaskan tangan kirinya
menyambar kepala lawan.
Bret!
"Ukh...!" Wanita bungkuk itu terpekik, ketika kain biru penyelubung
kepalanya terampas tangan kiri Ki Ang- gastra. Cepat-cepat tubuhnya meluruk ke
bawah sam- bil berputaran beberapa kali. Tampak di balik selu- bung, seraut
wajah yang sangat menyeramkan. Tepat pada saat kaki wanita itu menjejak lantai,
Ki Anggastra juga mendarat manis sekali. Namun saat itu juga ma- tanya
terbelalak tegang. "Kau...?!" "Uuu!" Bet! Begitu cepat dan
tiba-tiba wanita itu memba- batkan senjatanya yang berupa pisau menyerupai ba-
dik ke leher Ki Anggastra. Sehingga....
Cras!
"Aaakh...!" Ki Anggastra terpekik keras. Darah langsung muncrat dari
lehernya. Hanya sebentar Ki Anggastra masih bisa berdiri, kemudian tubuhnya
limbung dan ambruk menggelepar di lantai kamarnya. Lalu tak ber-
kutik. Mati!
"Uuu...!"
Slap! Sambil meninggalkan suara lengkingan yang mengerikan, wanita berpakaian
biru itu melesat cepat meninggalkan kamar melalui jendela yang masih ter- buka.
Begitu cepat kelebatannya, hingga dalam seke- jap tubuhnya telah menghilang
ditelan kegelapan ma- lam.
*** 7
Pendekar Gila dan Ki
Kalawuku yang mengikuti petunjuk dari seseorang penyerang gelap, akhirnya
menemui tempat yang mereka tuju. Sebuah gubuk be- sar yang terletak di balik
Bukit Candra Buana. Jarak antara bukit itu dengan Desa Kembang Tebu sebenar-
nya tak terlalu jauh. Namun karena keadaannya sulit untuk dicapai, menjadikan
gubuk itu seperti tak per- nah dikunjungi orang.
"Hm.... Nampaknya
gubuk itulah tempatnya," gumam Ki Kalawuku.
"Aha, benar
katamu, Ki. Aneh sekali, ada gubuk di balik bukit. Hi hi hi...!" tawa Sena
memecah kesu- nyian pagi itu.
"Ayo kita ke
sana!" ajak Ki Kalawuku. Keduanya dengan berlari-lari kecil menuju gu- buk
besar itu. Mereka harus menaiki bukit itu, agar dapat leluasa melihat ke
sekeliling kaki bukit, tempat gubuk besar itu berada.
"Aha, indah sekali
suasana di sini!" gumam Se- na sambil menggaruk-garuk kepala.
"Ya! Bukit ini
indah, tapi tak seorang pun yang datang ke tempat ini," gumam Ki Kalawuku.
"Seper- tinya ada sesuatu yang tersembunyi di balik keindahan bukit
ini."
Pendekar Gila
cengengesan sambil masih menggaruk-garuk kepala. Matanya menyapu pandang ke
bawah bukit, ke sekitar tempat gubuk itu berada.
Dari dalam gubuk besar
itu tiba-tiba muncul Ki Wulung dan istrinya yang langsung memandang ke atas
bukit di mana Pendekar Gila dan Ki Kalawuku be- rada.
"Aha, mereka ada
di sini!" seru Sena. "Hm, rupanya benar dugaanku, kalau Ki Wu- lung
dan istrinya mengenal pembunuh gelap itu," gu- mam Ki Kalawuku. "Tapi
apa maksud orang itu me- manggil kita ke tempat ini?"
"Hi hi hi...!
Apakah tak sebaiknya kita turun?" ajak Sena.
"Ya ya,
mari!" Keduanya segera melompat ke bawah dan tahu- tahu telah berdiri di
hadapan Ki Wulung dan istrinya yang tersenyum. Suami istri itu sepertinya tak
takut lagi menghadapi Ki Kalawuku.
"Selamat datang di
tempat ini!" sapa Ki Wulung dengan bibir tersenyum dan menjura hormat.
"Aha, di manakah
orang yang mengundang ka- mi, Ki?" tanya Sena dengan tingkah lakunya yang
ko- nyol persis orang gila. Tangannya menggaruk-garuk kepala. Sedangkan
mulutnya masih cengengesan.
Dari dalam gubuk itu
seketika keluar seorang wanita cantik diikuti gadis berusia sekitar lima belas
tahun. Pendekar Gila mengerutkan kening melihat ga- dis berpakaian kumal dan
bertubuh bungkuk itu.
"Aha, kita bertemu
lagi!" seru Sena. "Tak ku- sangka, kalau akhirnya kita bertemu di
sini."
"Selamat datang di
gubuk kami, Pendekar Gila!" sapa wanita cantik berusia sekitar tiga puluh
tahun perpakaian kuning yang tak lain Suriwarni.
"Uuu uuu...!"
Gadis bisu yang bertubuh bungkuk dan berpa- kaian biru kehitaman itu
menggerak-gerakkan tan- gannya, seperti hendak menyapa Pendekar Gila dan Ki
Kalawuku.
"Terima kasih,
Nini. Ada apa sebenarnya kami dipanggil ke tempatmu?" tanya Ki Kalawuku.
"Masuklah dahulu!
Kita bicara di dalam saja," ajak Suriwarni sambil merentangkan tangan
kanannya mempersilakan kedua tamunya masuk.
"Hi hi
hi...!" Sena tertawa tergelak-gelak. Kemu- dian diikuti Ki Kalawuku dia
melangkah masuk ke ru- mah gubuk besar tempat tinggal gadis bungkuk dan
Suriwarni.
Mereka duduk di atas
tikar dari daun pandan yang cukup lebar.
"Aha, seperti ada
pertemuan penting," gumam Sena. Tangannya menggaruk-garuk kepala dengan
mulut masih cengengesan.
"Nini, ada perlu
apa sebenarnya?" tanya Ki Ka- lawuku tak sabar.
"Sabarlah, Ki!
Kita belum saling kenal satu sa- ma lainnya. Apakah tak sebaiknya kita saling
menge- nai? Baru setelah itu kita menuju ke pokok masalah- nya," sahut
Suriwarni dengan bibir mengurai senyum. Semakin menambah kecantikan wanita muda
itu.
"Aha, memang benar
apa yang kau katakan, Nini. Baiklah, kami terima usulmu," kata Sena dengan
cengengesan sambil tangannya masih menggaruk- garuk kepala.
"Terima kasih atas
kesabaran serta kedatangan kalian! Baiklah, aku sebagai tuan rumah akan mem-
perkenalkan diri.
Namaku Suriwarni, atau orang biasa memanggilku si Bayangan Bidadari," kata
Suriwarni memperkenalkan dirinya.
"Aha, sungguh
beruntung sekali aku dapat ber- temu dengan Bayangan Bidadari," gumam
Sena. "Tak kusangka, kalau Bayangan Bidadari masih muda dan cantik."
Suriwarni tersipu-sipu mendengar kata-kata Pendekar Gila. Sampai-sampai kedua
pipinya bersemu merah! Perlahan kepalanya menunduk, dengan bibir tersenyum
malu-malu.
"Uh uh
uh...!" Gadis bisu terdengar berkata, tangannya berge- rak memperagakan
gerakan. Sepertinya dia ingin men- jelaskan siapa dirinya.
"Oh, rupanya kau
hendak memperkenalkan di- ri, Dik," sahut Sena. "Katakanlah, aku
mungkin bisa membantumu."
"Uh uh uh,"
gadis bisu dengan keadaan meme- las itu kembali menggerak-gerakkan tangannya,
men- gatakan dengan bahasa isyarat siapa dirinya.
"Aha, kau
sebenarnya warga Desa Kembang Te- bu. Kau anak dari salah seorang yang menjadi
korban kebiadaban seseorang yang kini tengah kau cari," Sena
menterjemahkan setiap gerakan yang dilakukan gadis bisu itu. "Hm, jadi
ayahmu tak salah? Ah, siapakah yang dimaksudkannya?"
"Itulah yang
hendak kami bahas, Pendekar Gi- la," sahut Suriwarni.
"Maksud dia, Ki
Gagar Blarak?" tanya Ki Kala- wuku.
"Benar, Ki. Dia
memang putri Ki Gagar Blarak. Sejak melihat kematian ayah, ibu serta kakaknya,
Murni langsung menjadi bisu," tutur Suriwarni.
"Jadi anak Ki
Gagar Blarak masih ada yang hi-
dup?" tanya Ki
Kalawuku dengan mata membelalak, seakan tak percaya dengan apa yang
didengarnya. "Bukankah dulu seluruh keluarga Ki Gagar Blarak ma- ti
terbakar?"
"Tidak, Ki. Hanya
Ki Gagar Blarak dan istri ser- ta kakak Murni yang terbakar, sedangkan Murni
sen- gaja kuselamatkan untuk menjadi saksi hidup," tutur Suriwarni.
"Saksi
hidup...?" tanya Ki Kalawuku semakin berlipat keningnya.
"Ya, saksi
hidup," jawab Suriwarni. "Apa maksudmu...?" tanya Ki Kalawuku.
"Nanti akan kujelaskan, Ki. Kini, sepantasnya- lah kita saling berkenalan
lebih dahulu. Kalau Pende- kar Gila, aku sudah kenal. Siapakah kisanak sebenar-
nya...?" tanya Suriwarni pada Ki Kalawuku.
"Namaku Kalawuku,
dan selama ini menjadi jawara Ki Legok Menggo," jelas Ki Kalawuku memper-
kenalkan dirinya.
Bayangan Bidadari
mengangguk-anggukkan kepala mendengar penuturan Ki Kalawuku. Dihelanya napas
dalam-dalam. Matanya memandang lepas ke atas.
"Kita semua
menjadi korban dari kebiadaban seseorang. Kita juga hendak diadu domba
olehnya," desah Suriwarni lirih dengan wajah masih menenga- dah.
Kening Ki Kalawuku
mengerut, mendengar pe- nuturan Suriwarni. Matanya membelalak, menatap ta- jam
wajah Bayangan Bidadari. Sepertinya, dia hendak menegaskan betul tidaknya
kata-kata itu.
"Maksudmu,
Nini...?" "Ya, tanpa kita sadari, selama ini kita telah di- adu domba
orang yang memiliki hasrat besar menggu- lingkan Ki Legok Menggo," desah
Suriwarni.
"Aku semakin tak
mengerti," tukas Ki Kalawu- ku.
"Aha, aku juga,
Ki. Hi hi hi.... Kalau boleh ku tahu, bisakah Nini menjelaskan apa yang
sebenarnya telah menimpa Desa Kembang Tebu?" pinta Sena den- gan tangan
menggaruk-garuk kepala.
Bayangan Bidadari
menghela napas dalam- dalam. Pandangannya kini beralih ke wajah Murni yang
hanya diam tenang duduk di sampingnya.
"Bocah malang
inilah sebagai saksi utama. Tapi baiklah, agar kalian tak bingung, aku akan
mencerita- kan semua yang sebenarnya terjadi...."
Semua terdiam menarik
napas dalam-dalam. Lalu Suriwarni pun membuka ceritanya.
Lima tahun yang silam,
hiduplah keluarga yang tenang dan damai. Keluarga Gagar Blarak dan istrinya
yang bernama Dewi Gendri Meni itu memiliki dua orang anak. Yang satu lelaki
bernama Trajusati dan seorang lagi, gadis yang waktu itu berusia sekitar se-
puluh tahun, bernama Murni.
Kebahagiaan keluarga
Gagar Blarak, rupanya membuat orang yang dengki berusaha menghancur- kannya.
Gagar Blarak tiba-tiba difitnah sebagai anggo- ta Gerombolan Bajul Ireng.
Padahal dia sebenarnya pendekar yang gigih dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan. Hanya saja Gagar Blarak tidak sombong, sehingga dalam bergerak selalu
sembunyi-sembunyi, dengan harapan tak seorang pun tahu kalau dirinya seorang
pendekar.
Pada mulanya tak
seorang pun tahu kalau Ga- gar Blarak seorang pendekar. Hanya Bayangan Bida-
dari yang memang sebagai kerabat dekat mengeta- huinya. Namun lama kelamaan,
ternyata kependeka- rannya tercium seorang yang sebenarnya anggota Ge- rombolan
Bajul Ireng.
Seorang anggota
Gerombolan Bajul Ireng yang perkumpulannya dibubarkan dan diobrak-abrik Gagar
Blarak, berusaha membalas dendam. Dengan usa- hanya yang licik, Gagar Blarak
akhirnya dapat difit- nah. Semua orang menuduh Gagar Blarak anggota Ge-
rombolan Bajul Ireng. Keluarga Gagar Blarak dihukum bakar. Beruntung Murni yang
bersembunyi dapat dis- elamatkan Bayangan Bidadari.
"Begitulah
ceritanya," ujar Suriwarni mengenai Gagar Blarak dan gadis bisu bertubuh
bungkuk. "Apa- kah kalian sudah jelas?"
"Kurang ajar
sekali," gumam Ki Kalawuku. "Siapakah yang telah melakukan
semuanya?"
"Itu yang sedang
kami selidiki," sahut Suriwar- ni.
***
Keheningan melintas di
antara mereka ketika pembicaraan dihentikan sesaat. Hanya tingkah laku Pendekar
Gila yang menjadi perhatian kelima orang di ruangan gubuk itu. Tingkah laku
Pendekar Gila me- mang mengundang hati mereka tersenyum, karena lu- cu dan
konyol.
"Aha, aku ada
akal!" seru Sena tiba-tiba, me- nyentakkan semua yang ada di tempat itu.
Seketika mata mereka kembali menatap Pendekar Gila yang cengengesan sambil
menggaruk-garuk kepala. "Kita harus memancing orang laknat itu keluar dari
Desa Kembang Tebu."
"Hm, usul yang
bagus," sambung Ki Wulung. "Ya, hanya dengan cara itu kita bisa tahu
siapa sebenarnya biang dari semua kejahatan di Desa Kem- bang Tebu,"
sambung Ki Kalawuku. "Aku akan mem- bantu. "
"Ya. Kau memang
sangat diperlukan, Ki. Kare- na menurut pengamatanku, kini jahanam itu hendak
bertujuan menggulingkan Ki Legok Menggo," tutur Su- riwarni. Mata Ki
Kalawuku terbelalak, mendengar penu- turan Bayangan Bidadari. Sama sekali tidak
disang- kanya kalau Ki Legok Menggo menjadi sasaran utama pembunuhan di desanya.
"Benarkah apa yang
kau katakan, Nini?" tanya Ki Kalawuku memastikan.
"Tak ada gunanya
aku berdusta, Ki." "Hm, kurang ajar sekali. Jelas ini tak boleh di-
biarkan!" geram Ki Kalawuku sambil mengepalkan tan- gan kanannya.
"Kalau saja aku tahu siapa orangnya, ingin rasanya lehernya
kupuntir!"
Bayangan Bidadari
tersenyum sambil mengge- leng-gelengkan kepala, mendengar ucapan Ki Kalawu- ku.
"Tak mungkin, Ki.
Aku tahu bagaimana sak- tinya Ketua Gerombolan Bajul Ireng. Sulit bagi orang
seperti kita menghadapinya. Entah jika Pendekar Gila turut serta," desis
Suriwarni.
"Jadi, dia Ketua
Gerombolan Bajul Ireng...?" Ki Kalawuku terkejut. Matanya membelalak,
memandang wajah Suriwarni yang menganggukkan kepala.
"Itu sebabnya aku
selalu berusaha mencari Pendekar Gila. Bukannya aku merendahkan kepan- daianmu,
Ki. Tapi menurut kata-kata guruku; orang yang sebanding dengan Ketua Gerombolan
Bajul Ireng hanyalah Pendekar Gila," tutur Suriwarni.
"Hi hi hi.... Kau
terlalu menyanjung nama Pen- dekar Gila, Nini Ah ah ah.... Kurasa tak
sepantasnya aku menerima sanjungan yang terlalu berlebihan itu. Aku belum
seberapa dibandingkan dengan kalian yang namanya cukup kondang," kata Sena
merendah.
"Terima kasih atas
kebaikanmu, Pendekar Gi- la!" desah Suriwarni. "Namun aku berkata
sejujurnya, sesuai dengan pesan mendiang guruku yang mengata- kan, bahwa
satu-satunya orang yang mampu menan- dingi ilmu Bajul Ireng hanyalah Pendekar
Gila, yang tentunya Kakang."
Pendekar Gila tertawa
tergelak-gelak sambil menggaruk-garuk kepala. Mulutnya cengengesan, ke- mudian
kepalanya menggeleng-geleng
"Baiklah, kini
kita teruskan pembicaraan kita!" ajak Sena mengalihkan pembicaraan ke
pokok masa- lah semula.
Bayangan Bidadari
menghela napas panjang. Kemudian pandangan matanya diarahkan pada Ki Wu- lung
dan istrinya, membuat lelaki tua dan istrinya ter- tunduk. "Perlu juga
kuperkenalkan pada kalian, sebe- narnya Ki Wulung dan Nyi Wulung ini
teman-temanku. Keduanya memang sengaja tinggal di Desa Kembang Tebu untuk
menyelidiki masalah Gerombolan Bajul Ireng. Ki Wulung sebenarnya berjuluk
Pendekar Lu- tung Sakti. Sedangkan Nyi Wulung tiada lain Dewi Te- ratai
Ungu."
Pendekar Gila
tersentak, apalagi Ki Kalawuku, setelah mendengar siapa sebenarnya dua orang
tua yang tampaknya lemah dan tak berdaya itu. Mereka ternyata dua orang tokoh
persilatan yang cukup ter- kenal dan disegani.
"Aha, sungguh
mataku yang masih muda ru- panya telah lamur," gumam Sena. "Ada
gunung menju- lang tinggi di hadapanku, sampai aku tak tahu. Teri- malah
hormatku, Pendekar Lutung Sakti."
"Ah, tak apa. Aku
lebih suka dipanggil Ki Wu- lung," sahut Ki Wulung dengan bibir mengurai
se- nyum.
"Maafkan segala
kesalahanku, Pendekar Lutung Sakti," ujar Ki Kalawuku.
"Ah, semua telah
ku maafkan. Semua memang bukan salah kita. Seandainya tak ada si Bajul Ireng,
tak mungkin kita akan dalam keadaan seperti ini. Tapi selama ini, belum juga
aku dapat menemukannya," gumam Ki Wulung.
"Ya, mereka memang
sengaja berpura-pura se- perti orang tak waras dan lemah. Hal itu untuk mena-
rik perhatian Bajul Ireng, sehingga tak merasa dimata- matai. Namun rupanya
Bajul Ireng sangat cerdik dan licik, dia mampu melihat keadaan...," gumam
Suriwar- ni.
"Aha, aku ada
pendapat. Hi hi hi...!" Sena ter- tawa cekikikan.
"Apakah itu?"
serentak mereka bertanya. "Hi hi hi.... Lucu sekali! Mengapa kita
tiba-tiba menjadi orang bodoh...?" tanya Sena, membuat semua mata kembali
memperhatikannya. "Kita benar-benar bodoh, melebihi kerbau! Hua ha
ha...!"
Kening kelima orang
yang berada di tempat itu berkerut mendengar kata-kata Pendekar Gila. Mata
mereka menyipit, tak mengerti maksud ucapan Pende- kar Gila. "Pendekar
Gila, katakanlah apa maksudmu?" selak Suriwarni, mengharap Pendekar Gila
mau menje- laskan maksud ucapannya.
Pendekar Gila tertawa
cekikikan. Tangannya kembali menggaruk-garuk kepala.
"Hi hi hi...!
Selama ini kalian memang telah di- perdaya dan hendak diadu domba Bajul
Buntung. Eh, Bajul Ireng. Hi hi hi.... Lucu sekali."
Kelima orang yang hadir
di tempat itu semakin mengerutkan kening. Mereka belum juga memahami apa maksud
Pendekar Gila sebenarnya.
"Apakah kalian tak
ingat, kejadian yang telah melanda Desa Kembang Tebu akhir-akhir ini...?"
tanya Sena sungguh-sungguh.
"Hei,
benar...!" seru Ki Wulung. "Ya ya, aku ingat," sambut Ki
Kalawuku. "Aha, syukurlah! Nah, kematian demi kematian terus melanda Desa
Kembang Tebu. Dan selalu saja kalian tak dapat menangkap pelakunya,
bukan?"
"Benar,"
jawab Ki Kalawuku. "Bukankah pela- kunya yang selalu menolong Ki
Wulung?"
"Aha kurasa tidak.
Kupikir ada orang yang memperalat seseorang untuk melakukan semuanya...,"
tutur Sena.
"Ah, benar!"
seru Nyi Wulung atau Dewi Teratai Ungu. "Kudengar pelaku pembunuhan itu
gadis bung- kuk dan bisu yang mengenakan pakaian sama dengan yang dipakai
Murni. Aku pun sempat bingung juga dengan apa yang kudengar, karena kukira
Murni pela- kunya." "Hi hi hi..... Lucu...!" gumam Sena.
"Aha, kita kini telah menemukan jalannya. Kita tinggal memanc- ing gadis
bisu yang kurasa diperalat seseorang. Kalau kita bisa menangkapnya, kurasa
rahasia gadis bisu akan tersingkap."
Semua
mengangguk-anggukkan kepala, seperti membenarkan gagasan Pendekar Gila. Memang
mereka pun mendengar kalau pelaku dari semuanya tak lain seorang gadis bisu
bertubuh bungkuk.
"Bagaimana kalau
nanti malam kita mengada- kan penyelidikan?" tanya Ki Kalawuku.
"Tepat!"
sambut Suriwarni. "Ki Kalawuku sebi- sanya menjaga Ki Legok Menggo dari
ancaman maut Bajul Ireng. Aku dan Murni akan berusaha mengha- dang gadis bisu.
Sedangkan Pendekar Gila dan Ki Wu- lung serta Nyi Wulung, kami harap kalian
bersiap-
siap!"
"Aha! Tanpa
diminta, aku telah siap. Hi hi hi...! Nanti malam kita akan pesta memburu Bajul
Buntung. Hua ha ha...!" Sena tertawa tergelak-gelak dengan tan- gan
menggaruk-garuk kepala.
"Ya! Kita harus
cepat, agar jangan sampai Bajul Ireng mendahului kita. Korban kekejiannya sudah
cu- kup banyak," gumam Ki Wulung.
"Aku tak habis
pikir, mengapa masih saja ada orang yang bermaksud buruk pada Ki Legok Menggo.
Padahal Ki Legok Menggo baik dan bijaksana. Hanya sayang, dia dapat dipengaruhi
adik sepupunya."
Tersentak semuanya
mendengar penuturan Ki Kalawuku. Lebih-lebih Pendekar Gila. "Aha, kini
sudah jelas!" "Apa maksudmu, Pendekar Gila?" tanya Suri- warni.
"Tentunya Bajul
Buntung itu tak lain adik se- pupu Ki Legok Menggo."
"Maksudmu
Soma...?" hampir serentak mereka menegaskan.
"Hi hi hi....
Ternyata otak kalian masih encer, tidak seperti kerbau. Hua ha ha...!"
Semua mata terbelalak,
kemudian saling pan- dang mendengar penuturan Pendekar Gila. Lalu mere- ka
turut tertawa, setelah membenarkan apa yang dika- takan Pendekar Gila.
"Hm, kita harus
hati-hati menghadapi Soma," ujar Ki Kalawuku. "Pantas.... pantas
kalau dia selalu berusaha mengatur semuanya."
"Nanti malam, kita
harus bergerak. Ingat apa yang telah kukatakan," tegas Suriwarni.
"Ya!" sahut
semuanya, hampir bersamaan.
***
8
"Celaka, Diajeng.
Kita tak mungkin terus- menerus menahan sabar...," ujar Ki Soma dengan
langkah cepat masuk ke rumahnya. Wajahnya diliputi amarah. Nafasnya mendengus
bagaikan banteng terlu- ka.
"Ada apa lagi,
Kakang?" tanya Nyi Writampi yang baru keluar dari dalam rumah ketika
mendengar suara suaminya.
"Kudengar kabar,
kalau Ki Kalawuku hilang. Hm, ini sangat berbahaya, Diajeng. Rencana kita bisa
gagal," desis Ki Soma masih kelihatan gelisah. "Terpak- sa kita harus
melakukannya sekarang."
"Sabar, Kakang!
Memang tak ada orang yang bisa mengalahkan kita. Namun apakah tindakan kita tak
membuat orang tahu kalau kita yang telah meren- canakan semua ini?" tanya
Nyi Writampi berusaha menyabarkan suaminya.
Wanita berusia empat
puluh tahun yang masih tampak cantik itu mencoba tersenyum. Dia berusaha
menenangkan kegelisahan dan kemarahan suaminya. Hatinya memang membenarkan apa
yang dikatakan Ki Soma. Dengan lenyapnya Ki Kalawuku, bukan tak mungkin rahasia
mereka dapat terbongkar. Hal itu jika Ki Kalawuku memang masih hidup dalam
sandera pi- hak yang tak menyukai mereka.
"Apakah kau sudah
yakin kalau Ki Kalawuku masih hidup?" tanya Nyi Writampi dengan tangan
ber- gelayut di pundak suaminya. Matanya yang lentik, memandang penuh arti ke
wajah Ki Soma.
"Ya."
"Kau sudah menyelidikinya?" "Ya. Di hutan tak kutemukan
mayatnya. Yang
ada hanya sepuluh
pengikutnya," jawab Ki Soma.
Nyi Writampi terdiam,
dengan mata masih me- natap tajam wajah suaminya. Kemudian dihelanya na- pas
panjang. Kakinya melangkah meninggalkan sua- minya, lalu duduk di kursi ruang
tamu. Matanya kem- bali menatap pada Ki Soma.
"Kurasa dia tak
akan sepintar itu, Kakang," ka- tanya setengah bergumam.
"Maksudmu...?"
tanya Ki Soma seraya memba- likkan tubuh dan melangkah mendekati kursi tempat
istrinya duduk dan tersenyum manis. Senyum yang membuat Ki Soma mabuk kepayang.
Lelaki berusia se- tengah baya itu pun segera menarik kursi di depan is-
trinya, lalu duduk. Wajahnya tampak masih belum te- nang.
Nyi Writampi tersenyum
lebar. Kepalanya dige- leng-gelengkan, seakan mengatakan kalau dirinya tak
yakin Ki Kalawuku mengetahui rahasia mereka. Sebab Ki Kalawuku merupakan orang
baru di Desa Kembang Tebu.
"Kau harus ingat,
Kakang. Dia orang baru di Desa Kembang Tebu ini. Bagaimana mungkin Ki Kala-
wuku tahu semuanya?" ungkap Nyi Writampi dengan bibir tersenyum dan kepala
menggeleng-geleng, tak ya- kin dengan pendapat suaminya.
Ki Soma terdiam, dia
pun berpikiran begitu. Namun entah mengapa dari pagi hatinya gelisah. Se-
pertinya ada sesuatu yang ditakutkan.
"Yang perlu kita
pikirkan sekarang, Ki Anom Purbo. Dialah yang telah mengetahui siapa kita, Ka-
kang."
"Hm...,"
gumam Ki Soma tak jelas. Kepalanya manggut-manggut, seperti memahami ucapan
istrinya. "Memang benar, dialah yang tahu semuanya. Aku pun
mengkhawatirkan Ki Anom Purbo akan membuka ra-
hasia kita."
"Bukankah dia
telah kita ancam? Lagi pula, an- tara kita dengannya masih ada sangkut paut
yang tak mungkin dilepaskan begitu saja. Kau ingat, Ki Anom Purbo bersumpah
pada leluhur kita untuk tak saling menjatuhkan...?" ujar Nyi Writampi
berusaha mene- nangkan hati suaminya.
"Hhh...! Namanya
manusia, Diajeng. Manusia tak bisa dipercaya," dengus Ki Soma.
"Jadi, apa yang
harus kita lakukan, Kakang?" "Kita singkirkan Ki Anom Purbo, sebelum
raha- sia kita terbongkar!"
"Kau takut rahasia
kita terbongkar?" "Takut...? Hua ha ha...! Bajul Ireng tak pernah
takut pada siapa pun, Diajeng."
"Kalau memang tak
takut, mengapa kau geli- sah? Empat orang pendekar yang memihak pada Legok
Menggo telah kita singkirkan. Kini tinggal bagaimana kita menyusun rencana
selanjutnya," tutur Nyi Wri- tampi.
"Hm, benar apa
yang kau katakan, Diajeng. Ki- ta tinggal menyusun rencana selanjutnya. Dan
satu orang lagi yang harus kita singkirkan, tinggal Ki Anom Purbo," dengus
Ki Soma.
"Bagaimana kalau
secepatnya saja, Kakang?" saran Nyi Writampi.
"Maksudmu?"
"Kita bagi kerja kita. Kau bereskan Ki Legok Menggo, dan aku bersama
Srindi menyingkirkan Ki Anom Purbo! Bagaimana, Kakang?" tanya Nyi Writampi
masih dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Benar juga
pendapatmu, Diajeng. Itu memang cara yang paling baik. Kita memang harus segera
me- nyingkirkan mereka. Aku setuju dengan pendapatmu," sahut Ki Soma
tersenyum bangga, merasa istrinya
No comments:
Post a Comment