Monday, April 15, 2019

013 Kalung Keramat Warisan Iblis


KALUNG KERAMAT WARISAN IBLIS
Oleh Firman Raharja

1
Sore hari itu pertempuran seru terjadi di halaman Kadipaten Pakisaji. Mayat bergelimpangan mengerikan di sekitar tempat itu. Jeritan para prajurit terdengar menyayat hati.
Lelaki tinggi besar berjubah hitam sedang mengamuk. Kuku-kukunya yang panjang dan tajam mencengkeram prajurit Kadipaten Pakisaji dengan ganas. Orang itu membunuh dengan mudah, karena memiliki ilmu yang sangat tinggi.
"Aaakh...!" "Ukh...!" Jeritan kematian senantiasa terdengar. Dan le- laki berwajah sangat seram itu tertawa tergelak-gelak. Alisnya tebal. Kumis dan jenggotnya juga lebat. Sedangkan matanya memerah bagai darah, tajam menatap setiap orang.
"Ha ha ha...!" Lelaki itu tampak puas melihat mayat-mayat bergelimpangan di halaman Kadipaten Pakisaji.

Sudah puluhan prajurit dibunuhnya. Mereka memang tidak dapat berbuat apa-apa menghadapi kesaktian lawan. Setangguh-tangguhnya seorang prajurit, tak akan mampu menandingi tokoh golongan hitam seperti lelaki berwajah setan itu.
Sedangkan orang yang dapat diandalkan untuk menghadapi lawan yang ganas itu tidak ada sama sekali. Para senapati yang memiliki kesaktian lebih tinggi dari para prajurit saat itu tidak berada di sana. Mereka sedang mengejar seseorang yang telah melakukan pembunuhan terhadap Adipati Prakasi. Pemimpin mereka itu dibunuh dengan cara keji. Lehernya tertembus oleh kerisnya sendiri setelah terlibat pertarungan seru dengan lawan yang membunuhnya.
Maka tak pelak lagi, lelaki berwajah setan itu dengan leluasa memporak-porandakan Kadipaten Pakisaji.
"Ha ha ha...! Aku puas! Aku puas! Satu persatu akan kuhancurkan kadipaten-kadipaten yang kuat di tanah Jawa Dwipa ini. Ha ha ha...!"
Lelaki berwajah setan itu terus tertawa-tawa sambil menghajari prajurit yang menyerangnya. Me- nendang dan membanting mereka dengan seenaknya, tanpa belas kasihan sedikit pun. Seperti membunuh sekawanan kelinci saja. Jiwa manusia seperti tak berarti baginya.
Sebagian prajurit yang tak memiliki nyali, ka- bur meninggalkan kadipaten. Sedangkan para pendu- duk kalang-kabut berlarian tunggang-langgang sambil berjeritan. Para wanita, anak-anak berteriak dan me- nangis. Karena suami atau ayahnya mati dibunuh le- laki berwajah setan itu.
Ada lima prajurit yang memiliki ilmu silat agak lumayan coba melawannya berbarengan.
"Heaaat...!" Golok-golok kelima prajurit itu membabat ke tubuh lelaki berjubah serba hitam itu. Namun begitu membabat tubuh lelaki berwajah setan itu golok-golok itu malah patah dua.
"Hah...?!" "Ha ha ha...!" lelaki berwajah setan itu tertawa tergelak-gelak.
Lima prajurit yang menyerang menjadi keheranan. Wajah mereka seketika pucat pasi. Seluruh tubuh kelima prajurit itu gemetaran. Mereka mau lari, tapi tak bisa. Kaki mereka mendadak terasa berat. Maka lelaki berwajah setan dengan amat mudah menghajar kelima prajurit itu sampai mati.
Jeritan panjang dari kelima prajurit malang itu terdengar menyayat hati. Mereka terjerembab ke tanah dengan tubuh berlumuran darah. Seorang wanita ber- lari sambil berteriak-teriak dan menangis, menghampi- ri mayat suaminya yang baru saja dibunuh lelaki ber- wajah setan itu.
"Kakang... Kakang...!" seru wanita itu sambil menangis, meratapi kematian suaminya.
Lelaki berwajah setan malah tertawa melihat wanita itu meratapi suaminya yang baru saja terbunuh.
"Ha ha ha.... Kau tak perlu lagi menangisi sua- mimu. Aku bersedia menjadi penggantinya. Ha ha ha...!" kata lelaki berwajah setan dengan suara yang besar menakutkan.
"Kau manusia biadab!" teriak wanita itu seraya berdiri
Tangan kanan wanita itu telah menggapai golok yang tergeletak di tanah. Lalu diserangnya lelaki ber- wajah setan. Namun dengan mudah lelaki itu meme- gang lengannya dan dengan sekali totok, dia telah pingsan. "Akh...!" pekik wanita itu perlahan.
"Kau akan jadi santapan ku hari ini, Perem- puan Ayu. Ha ha ha...!"
Dengan langkah tenang lelaki itu pergi dari ha- laman Kadipaten Pakisaji. Sementara para penduduk yang melihatnya makin ketakutan. Mereka hanya mengintip dari balik pohon dan semak-semak di seki- tar kadipaten yang telah porak-poranda itu.
Sampai di ujung jalan, lelaki berwajah setan itu tiba-tiba menghilang.
Barulah orang-orang yang tadi bersembunyi berhamburan keluar. Para wanita dan anak-anak menangis mencari suami atau orangtua mereka yang mungkin mati dibunuh lelaki tadi.
Sementara mereka dilanda kesedihan, lima senapati bersaudara muncul. Kelimanya berpakaian sama, dengan blangkon menutupi kepala mereka. Dan di pinggang masing-masing terselip semacam senjata kelewang. "Ya, Gusti...! Apa yang telah terjadi...?" gumam Sentanu, orang tertua dari lima bersaudara itu.
Mereka segera berlari menghampiri kerumunan dengan perasaan tak karuan.
"Apa yang telah terjadi, Kisanak..?" tanya Sen- tanu pada seorang prajurit yang sempat lolos dari tangan lelaki berwajah setan.
"Ma... manusia setan itu.... Di... dia datang la- gi.... Akh...," prajurit itu tak kuasa lagi meneruskan ucapannya. Kemudian dia terkulai tanpa nyawa lagi. Rupanya luka-luka di sekujur tubuhnya tak tertahan lagi.
"Edan! Biadab...! Tak salah lagi, ini pasti per- buatan si Rekso!" desis Sentanu perlahan. Wajahnya tampak penuh kesedihan bercampur kemarahan.
"Benar-benar binatang! Bukan manusia yang membunuh demikian keji...," gerutu Sancaka yang berdiri di sebelah kanan Sentanu.
"Siapa kiranya yang berbuat ini semua, Ka- kang...?" tanya Sandika pada Sentanu.
"Rekso Bagaspati!" jawab Sentanu tegas. Wa- jahnya tampak penuh geram dan dendam. "Kita harus cepat mencarinya. Sudah tiga bulan terakhir kejadian seperti ini terjadi di kadipaten lain."
"Rupanya Rekso ingin menghancurkan orang- orang perguruan aliran putih, agar maksudnya terlaksana...," sahut Sancaka penuh geram. Telapak tangan- nya mengepal kuat-kuat. Sedangkan dadanya naik turun dengan cepat, menandakan kemarahannya sudah
memuncak.
"Kita kecolongan, Kakang...," keluh Sandika de- ngan suara lirih.
"Ya.... Mari kita makamkan jasad mereka.... Kumpulkan semua prajurit yang masih hidup untuk menguburkan prajurit dan penduduk yang mati," pe- rintah Sentanu pada adik-adiknya.
"Baik, Kakang...," keempat adiknya menjawab bersamaan. Lalu mereka segera pergi untuk mengumpulkan prajurit yang masih hidup.
Sentanu kembali memandangi jasad para pra- jurit. Ia berjongkok perlahan dengan perasaan yang tak karuan. Ia merasa bersalah telah meninggalkan Adipati Prakasi.
"Aku merasa bersalah, semestinya aku tak pergi bersama keempat adikku...," keluh Sentanu.
***

Pagi itu udara tak begitu terik. Angin semilir menyapu lembah yang menghijau. Sepasang kaki melangkah mantap menapaki jalan berumput di lereng lembah itu. Kaki tersebut milik seorang pemuda bertubuh tegap dan berwajah ganteng. Rambutnya sedikit ikal, panjang sebatas bahu. Tubuhnya ditutup rompi kulit ular sanca dengan suling berkepala naga keema- san di pinggangnya. Siapa lagi kalau bukan Pendekar Gila atau Sena Manggala.
Sena tampak riang pagi itu. Pemuda itu tertawa-tawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala, dan sesekali menepuk-nepuk pantat. Tingkahnya memang mirip orang gila. Terkadang dia berjingkrak-jingkrak, seperti monyet.
"Daerah ini tampaknya cukup nyaman dan aman. Mudah-mudahan di depan, di bawah lembah ini
ada desa. Aku sudah lapar...," gumam Sena, berbicara pada diri sendiri.
Sena kemudian menuruni jalan yang berbelok- belok. Di kanan dan kirinya berjajar pepohonan. Sesampai di bawah, pada dataran yang rata dan luas, Sena berhenti sejenak. Ia memandang ke sekeliling.
"Hi hi hi.... Sepi. Tapi aku suka tempat ini. Kalau saja perutku tidak keroncongan, ingin rasanya aku beristirahat lama di sini," kata Sena.
Sambil tertawa-tawa sendiri tak beda dengan orang gila, Sena terus menyapukan pandangan ke se- keliling daerah itu.
"Hah...?!" serunya tertahan. Sena tampak gembira ketika matanya melihat sebuah telaga yang cukup besar di depan kanannya. Sena segera berlari kecil mendekati sambil tertawa dan berjingkrakan.
"Sebaiknya aku menyegarkan badan dulu di telaga ini...," gumam Sena. Tangannya mempermainkan air telaga yang bening dan dingin itu.
Tapi baru saja Sena hendak membuka pakaian, pendengarannya yang tajam menangkap suara langkah di belakangnya. Sena sengaja tak segera bertindak, seakan ia tak mendengar suara itu. Sena terus membersihkan wajahnya dengan air telaga itu.
Rupanya Sentanu bersaudara muncul dari ba- lik baru dan semak di sekitar tempat itu. Kelima lelaki itu melompat gagah di belakang tubuh Pendekar Gila.
"Hai! Kisanak...!" tegur Sentanu dengan nada tinggi.
Sena acuh, seakan tidak mendengar seruan tadi. Dia tetap saja membersihkan wajah dan lengannya dengan air telaga.
"Hei! Apa kau tuli...?!" bentak Sentanu kemu- dian, karena tegurannya tidak diacuhkan Sena.
Sancaka yang berwatak agak keras dan mudah marah, segera melangkah mendekati Sena. Dengan kasar ditariknya rompi Sena. Namun tubuh pemuda itu tidak bergeming sedikit pun.
"Hah... ?!" Sancaka jadi kaget dan heran. Matanya membelalak. "Edan! Orang ini rupanya bukan orang biasa...."
Sentanu dan ketiga saudaranya yang lain juga ikut heran dan bertanya-tanya dalam hati. Siapa pe- muda berompi kulit ular sanca itu?
"Hi hi hi...." Tubuh Sena tiba-tiba berbalik lalu dengan ge- rakan lemah ia bangkit sambil cengengesan dan meng- garuk-garuk kepala. Tentu saja Sancaka yang berada di dekatnya menjadi kaget. Kakinya menyurut satu tombak dari Sena.
Kelima bersaudara itu mengerutkan kening menyaksikan ulah Sena yang seperti orang tak waras. Sentanu saling pandang dengan saudara-saudaranya.
"Mungkin orang ini jelmaan Rekso, Kakang. Bukankah Rekso dapat berubah wujud...? ujar Sandika mengingatkan Sentanu.
"Benar, Kakang. Kita harus waspada...," timpal Sumbaga.
Sentanu hanya mengangguk perlahan. "Kisanak...! Siapa kau dan dari mana asalmu?!" tanya Sentanu dengan nada agak tinggi pada Sena.
"Hi hi hi...!" Sena kembali tertawa sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk pantat. Membuat Sentanu dan keempat adiknya kembali mengerutkan kening. Mereka benar-benar dibuat terheran-heran.
"Hei...! Apa kau tuli?! Aku tahu kau coba men- gelabui aku, Rekso!" bentak Sentanu sambil menuding ke arah Sena.
Sena yang mendengar ucapan Sentanu jadi me- ngerutkan kening.
"Rekso...?!" gumam Sena tak mengerti. Lalu bi- birnya cengengesan seraya berjingkrak-jingkrak "Hi hi hi...!"
"Keparat! Ditanya malah cengengesan...!" Sentanu mulai marah.
"Sebaiknya kita ringkus dia, Kakang...," kata Sancaka dengan geram.
Di bentak oleh Sancaka begitu rupa tidak men- jadikan Sena takut. Dia bertingkah semakin menggila. Tubuhnya melompat-lompat sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk pantat, disertai derai tawa geli.
"Kurang ajar! Ini tak bisa dibiarkan, Kakang...!" seru Sancaka lagi. Ia cepat mencabut kelewangnya, di- ikuti ketiga saudaranya. Hanya Sentanu yang agak te- nang.
"Tunggu. Kalian jangan gegabah...!" sergah Sen- tanu, melarang keempat adiknya yang sudah menghunus kelewang. Mereka pun telah mengurung Sena.
Sancaka yang dicegah oleh Sentanu merasa kesal. Giginya bergemerutuk menahan kekesalan. Demikian pula dengan yang lain.
"Kisanak, sebelum kesabaran kami hilang, katakan siapa kau dan apa tujuanmu memasuki daerah ini...?!" tanya Sentanu dengan suara keras.
"Apakah ada larangan untuk memasuki daerah ini?" Sena balik bertanya dengan tingkah masih seperti orang gila.
"Kurang ajar...! Tangkap...!" seru Sentanu me- merintahkan adik-adiknya untuk menangkap Sena. Tampaknya dia telah kehilangan kesabaran.
Keempat lelaki yang telah mengurung Sena segera melompat serempak sambil mengayunkan kelewangnya.
"Heaaa...!" "Mampus kau, Orang Gila...!" teriak Sancaka. Namun belum lagi senjata mereka sampai ke tubuhnya, dengan cepat Sena melompat ke udara sambil bersalto melewati empat lelaki bersaudara itu.
"Hah...?!" Keempatnya berseru heran. Biasanya jurus itu tak pernah gagal menundukkan lawan. Tapi kali ini se- rangan mereka gagal. Melihat serangan adik-adiknya gagal, Sentanu segera melompat membantu mereka. Kini kelima bersaudara itu dengan serempak menye- rang Sena yang tetap cengengesan dan menggaruk- garuk kepala.
"Heaaat...!" Wut! Wut! Wut...! Suara kelewang mendesing di atas kepala Pen- dekar Gila yang merunduk. Sedangkan Sentanu yang belum mencabut kelewangnya menghantamkan puku- lan tangan kosong ke arah wajah Pendekar Gila yang sedang merunduk. Namun pendekar muda itu sudah mengetahuinya. Dipapakinya pukulan Sentanu dengan serangan balik yang cepat, yang sukar dilakukan oleh orang lain. Karena saat itu Sena dalam posisi merun- duk. Jika bukan dia, tak mungkin dapat melakukan serangan balik itu.
Dengan gerakan yang terlihat pelan, tapi sebe- narnya cepat, Sena menghentakkan kedua telapak tangannya.
"Heaaa...!" Blarrr! "Akh...!" Sentanu memekik, tubuhnya ter- huyung tiga tombak ke belakang.
Sena lalu cepat berkelit sambil bersalto bebera- pa kali di tanah. Kemudian dengan gerakan cepat ia sudah berdiri tiga tombak di depan lawan-lawannya.
Empat dari kelima lelaki yang menamakan diri mereka Kelewang Maut itu segera menyerang Sena kembali. Namun Sena tetap tenang. Tubuhnya tak ber- gerak sedikit pun. Dia tak menghindar dari serangan keempat Kelewang Maut. "Heaaa...!" Wut! Wut...! "Heaaat...!" Hanya dengan memiringkan tubuh ke kanan dan kiri, Pendekar Gila mengelakkan sabetan keempat kelewang yang mengarah ke leher dan dadanya. Diak- hiri dengan lompatan, Sena menendang sambil berpu- tar di udara. Krak! Desss! "Aaakh...!" Tendangan sepasang kaki Pendekar Gila tepat menghajar kepala keempat Kelewang Maut. Mereka berjatuhan diiringi jerit kesakitan.
Melihat keempat adiknya gagal menangkap Se- na dan malah mendapat cidera, Sentanu bangkit dan mencabut kelewangnya. Tak dipedulikannya rasa sakit yang masih bersarang di dadanya.
"Pemuda gila! Kali ini kau tak akan lolos dari tanganku. Ayo kita adu ilmu satu lawan satu!" tantang Sentanu dengan geram.
Sentanu mulai mengumpulkan tenaga dalam- nya dengan merentangkan kedua tangannya lebar- lebar bagai elang akan terbang. Sedangkan kedua ka- kinya membuat kuda-kuda yang mantap. Kelewang di tangan kanannya dengan cepat dipermainkan di atas kepala. Kemudian dengan gerakan membabat, Sentanu memperagakan jurus-jurus mautnya. Jurus 'Kelewang Maut Mencabut Nyawa'.
"Hi hi hi.... Kisanak.... Maaf, aku sebenarnya ti-
dak mau berselisih dengan kalian. Masih banyak hal penting yang harus kukerjakan. Maaf, aku tak ada waktu lagi meladeni kalian...," kata Sena dengan gayanya yang khas. Lalu secepat kilat tubuhnya mele- sat meninggalkan tempat itu.
Sentanu menjadi jengkel bukan main. "Sancaka, Sandika... Sumbaga, Sumirta. Ayo kita kejar pemuda gila itu...!" serunya cepat.
Maka kelima Kelewang Maut itu pun melesat mengejar Sena, meninggalkan tempat itu

2
Lima bersaudara Kelewang Maut masih menge- jar Pendekar Gila. Sudah cukup jauh berlari. Namun tak ada tanda-tanda kalau orang yang diburu akan terkejar. Aneh?! Pemuda gila itu begitu cepat menghi- lang. Ilmu apa yang digunakannya? Padahal aku dan adik-adikku telah menggunakan tenaga dalam penuh! Gumam Sentanu dalam hari. Nafasnya naik turun, ke- ringat membasahi kening dan tubuhnya. Begitu pula dengan keempat adiknya.
"Dugaanku tak meleset, Kakang. Orang gila itu pasti jelmaan Rekso Bagaspati yang kita cari. Manusia laknat!" geram Sancaka. Walaupun wajahnya tampak kelelahan.
"Yah, Kakang. Kalau bukan Rekso, siapa lagi?! Manusia biasa tidak mungkin secepat itu menghi- lang...," tambah Sandika sambil menyeka keringat di keningnya.
"Ya. Tapi kalau kuperhatikan perlawanannya terhadap kita, tampaknya dia tak bermaksud menciderai atau membunuh kita. Sedangkan kita semua tahu kalau Rekso tidak pernah membiarkan lawannya hidup. Apalagi kabur seperti pemuda itu...," ucap Senta- nu pada adik-adiknya. Sentanu berpikir keras. Siapa sebenarnya pemuda berompi kulit ular sanca itu.
Belum lagi Sentanu mendapatkan jawaban, ti- ba-tiba Sancaka yang berwatak keras dan gampang marah berkata,
"Kakang tak usah ragu. Orang gila itu pasti Rekso Bagaspati. Kita harus segera meringkusnya hidup atau mati! Rasanya kita berdosa kalau tidak dapat meringkus atau membunuhnya. Penduduk Pakisaji telah banyak mati dibunuh manusia iblis itu. Jadi kita harus berani berkorban juga demi kebenaran dan ketenteraman rimba persilatan."
Sentanu menganggukkan kepala perlahan sambil memegang dagu.
"Benar. Tapi kita harus hati-hati, tak boleh ge- gabah. Kita harus memakai otak, jangan hanya dengan kekuatan. Namun menurut perasaanku, pemuda yang bertingkah aneh seperti orang gila itu...."
"Bukan Rekso...! Begitu maksud Kakang?" po- tong Sancaka cepat sebelum Sentanu meneruskan kalimatnya. Sentanu menatap Sancaka tajam-tajam, lalu kepalanya mengangguk perlahan.
"Kakang tak usah berkhayal. Sebaiknya kita cepat mencari manusia iblis itu. Kalau tidak, hidup kita seperti dalam neraka...!" sungut Sancaka.
"Benar, Kakang. Kita juga harus bisa mele- nyapkan kalung keramat itu. Kalau tidak, Rekso akan kebal terus. Dia akan lebih sering melakukan pembu- nuhan dan menculik gadis-gadis desa, demi kekebalannya," sambung Sandika dengan nada lebih lunak dari Sancaka.
"Aku mengerti. Dan kita harus memusnahkan manusia iblis itu. Tapi kita harus jujur, bahwa sebe- narnya kekuatan kita belum tentu mampu mengalah- kan Rekso yang berilmu sangat tinggi. Apalagi dengan benda keramat berupa kalung itu," tutur Sentanu mengingatkan adik-adiknya.
"Tapi kita sudah sepakat untuk berkorban me- lawan manusia keparat itu!" kembali Sancaka mene- gaskan dengan penuh emosi.
Rupanya tanpa sepengetahuan mereka, seseo- rang duduk dengan santai di atas cabang pohon yang besar. Dia dengan tenang mendengar seluruh percaka- pan Lima Kelewang Maut. Orang itu tak lain Sena Manggala. Bibirnya cengar-cengir mendengar perdeba- tan lima bersaudara di bawahnya. Sambil mengorek- ngorek telinganya dengan bulu ayam, Sena terus men- gawasi mereka.
"Hi hi hi...!" Tiba-tiba tawa Sena meledak, karena rasa geli di telinganya. Hingga orang yang berada di bawah ter- sentak kaget dan mencari-cari asal suara tawa itu.
Kelima Kelewang Maut berpencar seraya me- mandangi sekeliling tempat itu. Sentanu akhirnya me- nemukan Sena yang tampak tak peduli dirinya diketahui oleh kelima bersaudara itu. Dia terus asyik terta-wa-tawa geli sambil mengorek telinga dengan bulu ayam. Entah kapan Sena mendapatkan bulu ayam itu. Sancaka yang sudah tak sabar segera melenting ke atas. Lelaki itu bermaksud menghajar Sena. Namun belum sempat Sancaka membabatkan kelewangnya, Pendekar Gila yang terlihat acuh tiba-tiba saja menen- dang. Kakinya mendarat tepat di tangan kanan San- caka yang menggenggam kelewang. Senjata itu jatuh disusul tubuh Sancaka. Rupanya Sena melancarkan pukulan tangan kirinya dengan cepat setelah menendang.
Melihat Sancaka gagal, Sentanu menjadi murka dan....
"Heaaa...!" Sentanu melompat sambil membabatkan kelewangnya. Namun Sena sudah siap menghadapi se- rangan itu. Dengan cepat tubuhnya dijatuhkan, seperti pesenam. Ia berkelit lincah di cabang pohon itu. De- ngan kepala di bawah, kedua kakinya ditekuk dan ber- tahan di cabang pohon. Akibatnya kelewang Sentanu hanya menghajar pangkal cabang pohon tersebut.
Krak! Cabang pohon itu patah. Namun tubuh Pendekar Gila sudah bersalto turun. Lalu mendarat dengan mantap di tanah berumput.
Di bawah, Sena sudah ditunggu oleh Sumbaga, Sumirta dan Sandika. Ketiganya langsung menyerang Sena.
Wut! Wut! "Heaaa...!" Sena menangkis serangan mereka dengan ke- dua tangan dan terkadang merunduk atau berkelit bagai belut. Kelewang-kelewang itu nyaris mengenai leher Pendekar Gila. Sabetan dan tusukan ketiganya begitu cepat dan beragam, membuat Sena tak bisa main-ma- in. Maka dengan cerdik Sena melompat ke udara lalu bersalto melewati ketiganya. Pendekar Gila mendarat di dekat Sancaka yang sudah siap menantinya. Pendekar Gila bergerak mundur dan kelima Kelewang Maut cepat mengurungnya.
Pendekar Gila kembali menggaruk-garuk kepala sambil tertawa cengengesan. Kemudian kepalanya menggeleng berulang-ulang.
"Kalian ini lucu. Hi hi hi.... Sudah kukatakan aku tak mau ribut dengan kalian...."
"Kali ini kami sudah tidak dapat memberi am- pun kepada orang macam kau! Aku tak bisa kau kela- bui, Rekso...!" bentak Sentanu geram.
"Rekso...?" ulang Sena sambil mengerutkan ke- ning. "Hei...! Kau menyebut namaku Rekso? Hi hi hi..... Benar-benar lucu. Edan!"
"Kau yang edan! Sengaja kau rubah wujud mu seperti itu agar kami tak mengenalmu. Kami bukan orang-orang bodoh, Rekso...! Kau boleh pergi setelah menyerahkan kalung keramat penyebar maut itu pa- daku, sebelum kesabaran kami hilang...!" timpal Sen- tanu gusar.
"Ayo serahkan kalung keramat Safir Mata Iblis itu!" ancam Sandika yang berada tepat di depan Sena. Sambil menggaruk-garuk kepala, Sena mencoba berpi- kir. Tapi belum sempat menemukan jawaban, seorang dari lima Kelewang Maut kembali membentak dengan suara keras.
"Jangan kau coba mencari jalan untuk menipu kami, Rekso! Sebaiknya cepat kau serahkan kalung itu...!"
"Hi hi hi...! Kalian ini memang orang-orang bo- doh! Kalian tahu?! Namaku bukan Rekso! Enak saja namaku dirubah. Hi hi hi...!" kata Sena. Kali ini dia agak kesal. Nada suaranya terdengar tinggi dan berwi- bawa.
Sejenak Sentanu dan keempat adiknya saling pandang. Suara Sena yang penuh wibawa, membuat mereka mengerutkan kening. Suara Sena tadi seolah suara dewa yang mengingatkan mereka.
Namun Sancaka cepat berujar dengan penuh kemarahan.
"Kami sudah tak bisa memperpanjang kesaba- ran lagi. Sebaiknya cepat kau serahkan kalung kera- mat itu...!"
Sancaka menghunus kelewangnya ke wajah Sena.
"Sabar, Kisanak. Sabar...." "Aaah.... Jangan banyak mulut! Kau telah membunuh prajurit-prajurit Kadipaten Pakisaji dan Adipati Prakasi dengan keji! Kini kau harus menerima pembalasan...!"
Suara Sancaka terdengar lantang penuh kema- rahan. Seketika itu juga mereka mengurung Pendekar Gila.
Sena yang dikurung bukannya gentar, dia ma- lah cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk-nepuk pantatnya, persis orang gila.
"Kalian ini memang orang-orang yang suka membuat keonaran dan tidak bersahabat. Menuduh orang seenaknya! Aku belum pernah membunuh. Apa- lagi datang ke Kadipaten Pakisaji. Aku baru menden- gar nama kadipaten itu dari mulut kalian! Dan aku ti- dak memiliki kalung keramat yang kalian sebut-sebut itu...!" bantah Sena santai.
Kemudian dicabutnya Suling Naga Sakti dari ikat pinggangnya. Diangkatnya tinggi-tinggi benda itu. Mendadak selarik sinar membias dari kepala naga berwarna keemasan itu. "Yang kumiliki hanya ini...."
Lima Kelewang Maut mendadak terkesiap saat mata mereka melihat sinar yang menggetarkan mem- bersit dari mata naga di pangkal suling itu. Dengan warna sinar keperakan, sinar itu menyilaukan mata mereka. Sentanu yang tertua dari kelima bersaudara itu ingin menanyakan sesuatu. Tapi karena keempat adiknya sudah tak sabar untuk meringkus Sena, maka Sentanu terpaksa ikut menyerang dengan membabat- kan kelewangnya berbareng ke arah Sena.
Pendekar Gila dengan cepat melenting ke atas.
Maka tebasan kelima orang itu hanya membabat an- gin. Sedangkan Pendekar Gila sudah bertengger pada sebuah cabang pohon sambil menggaruk-garuk kepala dan mulut cengengesan.
Kelima penyerangnya jadi semakin kesal. Se- rentak mereka menyerang Sena dengan cepat. Tubuh kelima orang itu melompat ke arah Pendekar Gila sambil menghunjamkan kelewangnya dengan ganas. Secepat itu pula Sena melenting dan turun kembali dengan ringan.
Orang-orang ini rupanya tidak bisa dikasih ha- ti. Hampir saja perutku jadi sasaran senjata mereka! Gerutu Sena dalam hari. Begitu kaki para pengeroyok mendarat di tanah, mereka langsung menyerbu Sena lagi dengan lebih ganas.
Namun Pendekar Gila dengan cepat merebah- kan tubuhnya ke belakang dibarengi dengan tendan- gan kaki kanannya ke seorang lawan yang berada di depan. Tak pelak lagi, perut orang itu bagai dihantam benda yang berat. Dia terpental deras lima tombak ke belakang. Melihat saudaranya terluka, empat orang lain- nya makin kalap. Dengan memutar-mutar senjata, me- reka mengurung Sena untuk memulai jurus ampuh mereka. Namun Pendekar Gila yang tak mau lebih la- ma lagi berurusan dengan kelima bersaudara itu, sege- ra membuka jurus mautnya. Setelah mencium Suling Naga Saktinya, Sena mempermainkan suling itu den- gan gerakan bagai menari.
Pada saat Sena hendak menghentakkan Suling Naga Sakti ke para lawannya, tiba-tiba Sentanu berse- ru,
"Tunggu, Kisanak...! Tunggu!" Seruan Sentanu membuat keempat saudaranya bingung. Mereka saling pandang tak mengerti.
"Ada apa, Kakang...?!" tanya Sancaka kesal. "Diam kau...!" bentak Sentanu, Sena sebenarnya memang tak ingin mengguna- kan Suling Naga Saktinya untuk menghancurkan ke- lima orang itu.
Sejenak kelimanya saling pandang. Sena kem- bali menggaruk-garuk kepala. Suling Naga Saktinya yang berada dalam genggaman tangan kanannya ditu- runkan. "Kisanak, siapa kau sebenarnya?" tanya Senta- nu, dengan suara tak segarang tadi.
Sena tak langsung menjawab. Tangannya ma- lah menggaruk-garuk kepala sambil cengengesan. Di- pandanginya kelima orang yang masih dalam kehera- nan itu. "Hi hi hi.... Baiklah kalau kalian ingin tahu sia- pa aku sebenarnya. Yang jelas aku bukan Rekso seper- ti yang kalian tuduhkan padaku, Aku Sena, Sena Manggala...."
Kelimanya saling pandang dengan mata yang bersinar terkejut.
"Sena Manggala...?" ulang Sentanu perlahan. "Kisanak, kalau kami boleh tahu, apa nama senjata, yang Kisanak miliki itu?"
Sena hanya cengar-cengir bodoh. "Hi hi hi.... Kalian ini seperti anak kecil. Pakai tanya segala. Ini hanya sebuah suling. Guruku mem- beri nama Suling Naga Sakti," ucap Sena sambil cen- gengesan.
Lima orang di sekelilingnya tersentak kaget bu- kan main. Mereka lagi-lagi saling pandang.
"Sudah kuduga ketika kulihat kepala suling ta- di...," gumam Sentanu lirih.
"Oh.... Kalau begitu, Kisanak adalah Pendekar Gila?"
Sena tak menjawab meski ucapan orang di de- pannya memang benar. Sena malah menggaruk-garuk kepala. "Maaf..., kami telah salah sangka. Harap Tuan Pendekar mau memaafkan kami. Hanya saja, apakah Tuan Pendekar dapat menjelaskan maksud kehadiran Tuan Pendekar di kawasan kami...?"
Sena sebenarnya ingin lekas-lekas meninggal- kan tempat itu. Namun diam-diam dia pun ingin men- getahui lebih jauh siapa Rekso Bagaspati. Juga tentang kalung keramat yang sempat didengarnya dari kelima bersaudara itu.
"Sebelum ku jelaskan maksud dan tujuanku. Aku ingin tahu, Siapa kalian sebenarnya?" tanya Sena sambil menyelipkan Suling Naga Sakti ke pinggang.
"Kami lima bersaudara dari Kadipaten Pakisaji. Aku yang tertua. Namaku Sentanu. Kami dikenal dengan julukan Lima Kelewang Maut."
Sena mengernyitkan kening. Tangannya meng- garuk-garuk kepala.
"Melihat pakaian dan wajah kalian, aku percaya kalian adalah orang-orang persilatan dari aliran putih. Tapi gerak-gerik kalian siang ini tidak beda dengan ge- rombolan perampok. Tidak kusangka, kalian yang se- lama ini disegani ternyata bertindak memalukan."
"Kami memang salah," ucap Sentanu. "Semua terjadi karena kejengkelan kami sudah di puncaknya. Kami bermaksud menangkap hidup atau mati manusia Iblis bernama Rekso Bagaspati, serta melenyapkan kalung keramat pembawa petaka itu. Walaupun kami ha- rus mengorbankan nyawa sekalipun."
"Benar, Tuan Pendekar. Kadipaten Pakisaji di- porak-porandakan. Adipati Prakasi dibunuh dengan keji, demikian juga penduduk dan prajurit kadipaten. Sedangkan wanita-wanitanya diculik untuk pemuas
nafsu iblisnya," sambung Sancaka. Kali ini suaranya tak segarang sebelum dia tahu siapa pemuda berompi kulit ular sanca itu.
"Edan! Benar-benar edan...!" maki Sena. Rasa bencinya timbul setelah mendengar penuturan Sentanu dan Sencaka.
"Kalau Tuan Pendekar mau membantu kami untuk menangkap atau membunuh Rekso Bagaspati, serta merebut kalung pembawa petaka itu..., kami sangat berterima kasih."
Sena tak langsung menjawab. Dia tampak ber- pikir sambil menggaruk-garuk kepala. Dan sambil tersenyum, kepalanya digelengkan.
"Kami sangat mengharapkan Tuan Pendekar mau membantu kami. Kami berlima tak mungkin dapat mengalahkan manusia iblis itu."
Pendekar Gila menatap tajam Sentanu, lalu memandang yang lainnya satu persatu.
"Aku bukannya tidak mau membantu kalian. Tapi aku pun banyak pekerjaan yang lebih berat dari apa yang kalian hadapi...," tolak Sena berbohong.
Sebenarnya, Pendekar Gila tertarik juga akan keterangan Sentanu tadi. Tapi dia ingin menyelidiki sendiri kebenaran cerita Sentanu. Sena pun paling benci dan murka jika ada orang semacam Rekso Ba- gaspati itu.
Sentanu dan keempat saudaranya tampak ke- cewa. Itu terlihat dari wajah mereka yang lusuh dan tak bersemangat. Hanya Sentanu yang bisa sedikit me- redam kekecewaannya.
Sementara itu Sena telah melangkah jauh me- ninggalkan mereka. Menaiki lembah ke arah timur.
Sentanu dan keempat saudaranya memandang kepergian Pendekar Gila dengan perasaan masing- masing. Yang pasti mereka kecewa akan sikap Pende-
kar Gila. "Kita tak bisa mendesaknya. Tingkah laku seo- rang pendekar tersohor terkadang memang aneh, mis- terius. Tapi aku yakin Pendekar Gila punya cara tersendiri untuk menumpas kejahatan, demi ketentera- man rimba persilatan ini...," kata Sentanu seperti berdesah.

3
Sinar matahari yang semula bersinar terang, mulai berubah kemerahan. Tanda hari menjelang senja. Saat itu Sena tengah melangkahkan kakinya me- masuki sebuah kedai makan yang cukup luas.
Di sana ada beberapa meja berukuran besar dan sedang. Sena cepat-cepat mengambil tempat paling sudut. Selama seharian penuh dia memang mena- han lapar. Itu sebabnya Sena tampak agak bergegas. Perutnya sudah tidak bisa diajak berdamai lagi. Sena segera memesan makanan.
Selang beberapa saat, makanan datang. Sena segera menyantap makanan dengan lahap. Dia tak mempedulikan sekelilingnya. Yang penting perutnya bisa cepat terisi.
Tapi nafsu makannya jadi agak menurun ketika tanpa sengaja matanya memandang lelaki bercaping pandan. Pakaiannya serba hitam, dan juga kotor.
Apakah orang itu yang bernama Rekso Bagas- pati? Tanya Sena dalam hari. Dia menghentikan makannya. Kemudian tangannya dicuci dengan air yang telah disediakan dalam kobokan terbuat dari tanah liat Mata Sena terus memandangi lelaki bercaping itu.
Melihat gerak-geriknya yang aneh dan mencu- rigakan.... Ah, kenapa aku jadi pusing? Kata Sena lagi dalam hati. Lalu dia mencoba mengalihkan pandan- gannya ke arah lain sambil meneguk air minumnya.
Tapi ketika Sena menoleh kembali ke arah orang bercaping tadi, ternyata lelaki itu telah menghilang.
"Hah?! Edan...! Ke mana manusia itu?" gumam Sena kesal.
Matanya terus menyapu ke seluruh ruangan. Tapi, lelaki itu tak juga ditemukannya. Mungkin lelaki bercaping itu ke belakang untuk buang air kecil. Begi- tu pikir Sena. Namun setelah cukup lama menunggu, lelaki bercaping itu tak muncul-muncul.
"Ki...!" Sena segera memanggil pemilik kedai dan cepat membayar makanan dan minuman.
"Terima kasih, Den," kata pemilik kedai sambil menerima uang dari Sena.
Sena pun segera bangkit dan keluar dari kedai. Sejenak Sena berhenti di ambang pintu masuk kedai, matanya menyapu ke sekeliling dengan tajam. Setelah itu barulah dia melangkah meninggalkan tempat itu untuk mengejar lelaki bercaping tadi.
"Setan alas...! Ke mana kunyuk itu pergi?!" ma- ki Sena seraya terus memburu cepat.
Sementara itu sang Surya makin condong ke barat. Sinarnya semakin memerah. Menjadikan suasana tidak seterang tadi. Angin pun terasa dingin oleh angin semilir.
Ketika sampai di ujung jalan dekat sebuah bangunan kosong, Sena menghentikan langkahnya. Dia menggaruk-garuk kepala, kemudian menghela na- pas panjang.
"Edan, benar-benar iblis! Baru saja tadi kulihat dia berbelok ke sini...!" rutuk Sena kesal ketika menyadari buruannya telah menghilang.
Baru saja Sena akan melangkah pergi, tiba-tiba sesosok bayangan muncul menghadangnya. Sena agak terkejut. Tapi sesaat kemudian mulutnya cengengesan sambil tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Aku tidak suka ada orang yang menguntit ku...!" ucap orang bercaping itu dengan nada suara yang tegas dan berat.
"Hi hi hi.... Ternyata kau memiliki ilmu yang tinggi.... Maaf kan aku," jawab Sena dengan tenang sambil cengar-cengir.
"Karena kau telah lancang membuntuti ku, maka kau harus menerima ganjaran...."
Selesai berkata demikian, lelaki bercaping itu segera melancarkan pukulan ke arah Sena.
"Heaaa...!" Wut! Wut! Sena tersentak kaget. Serangan lelaki bercaping itu ternyata begitu cepat. Hampir saja dadanya terkena pukulan. Untunglah Pendekar Gila tidak lengah. De- ngan satu gerakan indah, dia bergerak ke samping.
Serangannya yang hanya mengenai angin, membuat lelaki bercaping itu makin penasaran.
"Heaaat..! Rasakan ini, Pemuda Edan!" Kembali lelaki bercaping itu menyusulkan pu- kulan kedua, ketiga, dan seterusnya. Namun Pendekar Gila hanya berkelit dan menangkis dengan tangan kiri atau kanan untuk meladeni serangan cepat itu.
Namun dalam hati, Sena sesungguhnya men- gakui kemampuan lawan. Apalagi kalau menilik dari tendangan dan pukulan lawan yang keras, mematikan serta menimbulkan suara angin yang kencang.
Wut! Wut! Karena serangannya tidak mengenai sasaran, lelaki bercaping itu berusaha kabur. Namun Sena cepat bertindak menghalangi lelaki itu. Dia melompat melewati tubuh lelaki bercaping itu, lalu mendarat te- pat di hadapannya. Namun lelaki yang dihadang itu dengan cepat pula menghindar. Tubuhnya melompat ke belakang Sena.
Kesabaran Pendekar Gila habis. Dengan jengkel dia kembali menghadang dan langsung meninju ke da- da orang berbaju serba hitam itu. Dia hanya ingin menjatuhkannya. Karena itu serangannya hanya dilakukan dengan tenaga luar yang keras, ditambah sedi- kit tenaga dalam. Namun saat tangan kirinya hampir menyentuh tubuh lawan, lelaki bercaping lebar itu su- dah berkelebat cepat sekali. Tubuhnya mengelak ke samping kiri. Lalu dia segera melepas serangan bala- san berupa tusukan dua jari ke leher Sena. Entah mau menotok atau menusuk tembus batang leher Pendekar Gila.
Perkelahian akhirnya berlanjut kembali. Kali ini malah lebih seru.
Setelah mengelakkan tusukan jari yang ganas itu Sena menghantamkan sikut kirinya ke rusuk lawan. Namun lagi-lagi lawannya berhasil mementahkan serangan itu dengan satu kemplangan deras ke batok kepala Sena. Pendekar Gila cepat mengelak dengan memiringkan tubuhnya ke samping.
Hebat juga orang ini. Batok kepalaku hampir remuk dibuatnya! Gumam Sena dalam hati.
Setelah berkelahi hampir dua belas jurus, Pen- dekar Gila segera menyadari bahwa dalam ilmu silat dan tenaga dalam, lawan jauh berada di bawahnya. Tapi satu hal yang membuat orang itu sulit dikalah- kan. Dia memiliki kecepatan gerak yang luar biasa. Tubuhnya dengan ringan berkelebat kian kemari. Kalau saja yang dihadapinya bukan Pendekar Gila, mungkin sudah berapa kali orang berbaju serba hitam
itu berhasil menggebuk lawan tandingnya.
Enam belas jurus telah dilampaui. Pendekar Gila mulai dapat mencium kelelahan lawannya. Ternyata lawan yang dihadapinya memang masih mentah dalam pengalaman. Maka Sena pun mulai melancarkan se- rangan-serangan tipuan.
Pendekar Gila mulai menari dengan jurus 'Si Gila Menari Menepuk Lalat'. Sedangkan lelaki bercaping kini mengeluarkan jurus andalannya yang berna- ma 'Tapak Sakti'.
Pada suatu saat pukulan 'Tapak Sakti' orang bercaping meluncur ganas ke dada Sena. Anehnya, Sena belum juga terlihat hendak berkelit. Bahkan ke- tika pukulan itu tinggal sejengkal lagi dari dadanya.
Rupanya dia sengaja melakukan itu untuk menjajal kekuatan tenaga dalam lawan. Tapi Sena ti- dak mau sembarangan, dia pun telah mengerahkan tenaga dalam untuk membentengi dadanya.
Bukkk! Jotosan keras tepat melanda dada Sena. Tu- buhnya berguncang keras. Sambil menahan sakit, Pendekar Gila melihat lawannya mundur. Apakah orang itu turut merasakan sakit pada tangan kanan- nya? Yang jelas tangannya yang semula mengepal membentuk tinju, kini merenggangkan jari-jarinya ke- luar, tanda dia dijalari rasa sakit. Di saat itulah Pen- dekar Gila menyergap ke depan. Gerakannya seperti hendak membuntal pinggang lawan. Tetapi tanpa di- duga tangan kirinya tiba-tiba melayang ke atas lalu menarik lepas caping lebar di kepala lawan. Mulut orang itu mengeluarkan suara tertahan ketika caping yang terbuat dari daun pandan lepas dari kepalanya.
Dan secepat kilat orang itu melesat pergi meninggalkan Sena yang belum sempat melihat jelas wajah lelaki itu.
Sena menggerutu kesal sambil memegangi cap- ing di tangan kirinya.
"Dasar belut! Hari ini aku mendapat sial. Tapi apakah dia benar si Rekso itu?!" tanya Sena pada diri sendiri. Kemudian dia menggaruk-garuk kepala sambil menepuk-nepuk pantat.
Sena memandangi caping pandan itu sejenak. Lalu tubuhnya berbalik dan berjalan menuju desa kembali untuk bermalam dan istirahat, setelah sekian hari kurang tidur. Sena mengayunkan langkah dengan mantap. Tangan kirinya masih memegang caping lebar tadi.
Malam pun mulai datang, suasana di Desa Pandawa tampak tenang sekali. Lampu-lampu yang terbuat dari bambu yang diberi sumbu tertancap di depan rumah penduduk desa. Angin berhembus ken- cang menambah sejuknya udara di malam yang tenang itu.
***

Esok paginya Sena tampak sudah meninggal- kan Desa Pandawa. Dia melangkah cepat menuruni lereng bukit menuju timur. Terkadang dia melompat dengan ringan untuk memotong jalan.
Wajah Pendekar Gila pagi itu tampak segar. Langkah dan lompatan kakinya menggambarkan ke- riangan. Sesekali tubuhnya melompat di antara beba- tuan. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh yang sempurna sekali, lompatan Sena bagai seekor ru- sa yang melesat. Tubuhnya melompat dan melayang dengan ringan, lalu hinggap di atas sebuah batu besar yang agak tinggi.
Sesaat Sena berhenti. Matanya memandang se- keliling tempat itu. Sekilas dia terbayang akan Mei Lie,gadis ayu dan lugu dari Cina. Ingin rasanya Sena cepat menemui Mei Lie. Namun tugas dan petualangannya belum selesai.
Saat Sena merenungi masa-masa pertemuan- nya dengan Mei Lie sambil memandang ke arah pe- mandangan di bawah sana, tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat dengan cepat.
Sena merasakan itu. Dia tersentak dari lamu- nannya. Bergegas tubuhnya berbalik, sedangkan ma- tanya menyapu sekeliling tempat itu. Sesaat kemudian ia menghela napas panjang.
Ah.... Mungkin hanya perasaanku. Atau me- mang ada orang yang sedang memperhatikan ku? Pikirnya kemudian. Pendekar Gila lalu menggaruk-garuk kepala dengan tangan kirinya seraya cengengesan. Tapi baru saja kakinya hendak melangkah untuk melan- jutkan perjalanan, tiba-tiba....
"Tuan Pendekar....!" seru seseorang dari arah belakang. Suara itu seperti dikenali Sena. Dia menghenti- kan langkahnya. Perlahan kepalanya menoleh. Ternya- ta Sentanu dan ketiga adiknya.
"Tuan Pendekar....!" Dengan terengah-engah Sentanu berkata. Wa- jahnya tampak kelelahan dan memendam beban.
"Kau...? Ada apa, Sobat?" tanya Sena kalem. "Rekso membunuh adik kami yang bernama Sancaka. Kami sempat bentrok dengan manusia iblis itu," cerita Sentanu penuh getar pada suaranya. Seje- nak Sentanu menghentikan ucapannya.
Sena menggaruk-garuk kepala, dia merasa iba sekaligus heran.
"Itu sebabnya kami mencarimu. Dengan jujur kami mengaku kalau kami tak mampu melawannya. Kami terpaksa lari menghindar...," kembali Sentanu
men-jelaskan pada Sena.
Apakah orang bercaping itu benar jelmaan Rek- so...? Atau...? Sena menerka-nerka sendiri dalam hari. Karena dia mendengar dari keterangan Sentanu ketika pertama kali bertemu, bahwa Rekso memiliki kepandaian menyamar.
"Kapan kalian bertemu dengannya?" tanya Sena pada Sentanu.
"Kemarin, menjelang magrib...! Dia muncul de- ngan tiba-tiba untuk menghadang kami, ketika kami berusaha mencari Tuan Pendekar...," jawab Sentanu tegas dan jelas.
Sena mengangguk-angguk. Kemudian tangan- nya menggaruk-garuk kepala. Keningnya berkerut. Matanya memandangi Sentanu dan ketiga saudaranya.
"Kami merasa gagal total dan malu! Kami tidak akan kembali ke kadipaten...," kata Sentanu dengan nada lemah dan suara serak.
Sena merasa ikut bersalah tidak membantu mereka. Tapi dia tak ingin diikuti Sentanu bersaudara. Dia hanya ingin menyelidiki di mana sarang Rekso Ba- gaspati. Lagi pula, saat itu Sena belum percaya penuh pada keterangan Sentanu. Tapi kini dia mulai percaya padanya. Apalagi mendengar Sancaka, adik Sentanu yang paling berani dan berilmu lebih tinggi dari ketiga adiknya yang lain telah tewas di tangan Rekso Bagas- pati.
Sena menghela napas dalam-dalam. Kembali dipandanginya Sentanu dan ketiga adiknya.
"Kisanak. Maafkan aku. Namun bukan aku bermaksud buruk. Aku sebenarnya mau membelamu, dengan caraku sendiri. Harap Kisanak mengerti dan memaklumi ku...," tutur Sena.
"Kami dapat mengerti, Tuan Pendekar Kami bersyukur kalau Tuan Pendekar memang mau mem-
bantu kami untuk melenyapkan manusia iblis itu," ucap Sentanu sambil menjura pada Sena.
"Kisanak jangan menjura begitu. Aku bukan ra- ja atau raden. Aku sama seperti kalian, hanya orang biasa...," cegah Sena tegas.
Sejenak mereka terdiam. Tak ada yang bicara. Tangan Sena kembali menggaruk-garuk kepala seraya cengar-cengir.
"Apakah orang-orang aliran putih tidak mau bersatu untuk melawan Rekso Bagaspati...?" tanya Se- na pada Sentanu
"Pada purnama yang lalu telah diadakan per- temuan rahasia para tokoh persilatan se-Jawa Tengah di Pantai Parangtritis. Pertemuan juga dihadiri oleh se- sepuh persilatan terkemuka dari selatan dan utara. Kami telah setuju untuk menumpas Rekso dan mere- but kalung itu. Namun tak ada di antara kami yang berhasil...," kata Sentanu, menjelaskan pada Sena.
Sena memegang bahu Sentanu dengan lembut "Percayalah, Kisanak... Dengan keyakinan dan percaya diri, kita akan dapat menemukan manusia ib- lis itu. Dan aku akan memusnahkannya. Namun kita harus mempergunakan akal untuk menaklukkan ma- nusia macam Rekso...," ucap Sena, memberi semangat pada Sentanu.
"Ya.... Terima kasih, Tuan Pendekar. Rasanya hari ini hati kami mulai lega. Karena Tuan Pendekar mau bekerja sama dengan kami. Kalau ingin menda- patkan kemenangan, kita memang harus berani ber- korban. Dan Sancaka mati demi saya dan adik-adik saya yang lain.... Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan, Tuan Pendekar?" tanya Sentanu, setelah ter- diam beberapa saat.
"Mari kita mencari tempat bicara yang nyaman. Hm.....Apakah di dekat sini ada kedai untuk istirahat dan melepas lelah? Tentunya Kisanak cukup lelah, bu- kan?" tanya Sena bersahabat.
"Ada di balik bukit itu," jawab Sentanu sambil menunjuk ke suatu tempat.
Kemudian, kelima lelaki itu segera menuju ke- dai yang dimaksud Sentanu. Tak berapa lama berjalan, mereka pun tiba.
Kedai itu tampak dipadati pengunjung. Dari luar sudah terdengar suara tawa gaduh di dalam ru- mah makan itu. Suara tawa itu terlontar dari mulut ti- ga orang berparas angker dan buruk di salah satu me- ja. Salah seorang yang bertingkah angkuh, berpakaian merah menyerupai jubah dengan pakaian dalam ber- warna hitam, celana hitam serta ikat kepala merah dengan bulatan-bulatan hitam. Rambutnya terurai panjang tak teratur sebatas bahu. Wajahnya panjang dengan hidung mancung ke bawah. Kumisnya tipis. Sedangkan tubuhnya sedikit kurus. Matanya cekung dan garang, bagai mata setan. Dia dikenal dengan ju- lukan Muka Setan atau si Pedang Akherat.
Penduduk di desa itu rata-rata tidak suka pada si Muka Setan. Selain kejam, penindas kaum lemah, orang itu juga selalu membuat onar. Kesombongannya berpangkal dari kepandaiannya memainkan pedang. Selain ayahnya, hanya dia jago pedang kelas satu di tanah Jawa, begitu koarnya. Karena itu semua orang harus hormat dan tunduk padanya. Harus melakukan apa saja yang dimintanya.
Sambil mempertunjukkan kebolehannya main pedang, si Muka Setan yang nama sebenarnya Ronggo Lawe, tertawa-tawa sambil memegang kendi arak di tangan kirinya.
Kedua temannya berpakaian sama seperti Ronggo Lawe. Hanya saja berlengan pendek dan tidak memakai ikat kepala. Rambut keduanya terlepas pan-
jang tak teratur dengan alis tebal dan sinar mata ga- rang. Bibirnya pun tebal seperti bibir kuda. Wajah ke- duanya, persegi empat, buruk sekali.
Dengan pedangnya, Ronggo Lawe membabat la- lat yang beterbangan di ruangan kedai. Sudah berpu- luh-puluh lalat dapat dibabatnya. Bayangkan, bagai- mana kalau manusia?
Tiba-tiba Ronggo Lawe menendang salah satu kursi yang ada di dekatnya.
"Kalian lihat semua! Jangan ada yang berkedip. Lalat-lalat ini perlu dibikin mampus!" serunya.
Dengan gerakan cepat sambil tertawa-tawa se- perti pemabuk, Ronggo Lawe kembali memamerkan kebolehannya. Para pengunjung yang memang benci, tak menghiraukannya. Hanya sebagian saja dari mere- ka yang menyaksikan. Ini membuat Ronggo Lawe ma- rah. Tanpa banyak mulut lagi, segera dihampirinya salah seorang yang tak sudi melihat kebolehannya. Tengkuk orang yang sedang menikmati makanannya itu ditendang, hingga makanan yang ada di mulutnya tersembur keluar bersama cairan merah dari mulut- nya. Seketika orang itu tak bergerak lagi.
Setelah itu Ronggo Lawe tertawa. tergelak- gelak. Pada saat itulah Sena, Sentanu dan ketiga sau- daranya memasuki kedai itu. Mereka segera duduk di meja paling luar dekat pintu masuk, karena hanya me- ja itu yang masih kosong. Saat itu pula beberapa orang bergegas keluar dengan wajah ketakutan. Sekilas Pen- dekar Gila melirik Ronggo Lawe yang sedang memper- mainkan pedangnya.
Sena dan Sentanu bersaudara segera duduk dengan tenang. Namun sesaat kemudian, Sentanu membisikkan sesuatu ke telinga Sena. Pendekar Gila mengerutkan kening sambil menggaruk-garuk kepala. Kemudian Sentanu berbisik pada saudara-saudaranya.
Wajah mereka tampak jadi waspada.
"Ternyata di rimba persilatan banyak orang edan!" gumam Sena sambil cengar-cengir.
Salah seorang dari anak buah Ronggo Lawe ru- panya mengenali Sena setelah melihat pakaiannya. Namun orang itu terlihat sedikit ragu. Matanya terus mengawasi gerak-gerik Sena dan Sentanu bersaudara.
Seorang pelayan segera menghampiri meja Se- na. Tapi baru saja pelayan itu melangkah, salah seo- rang anak buah Ronggo Lawe yang tadi mengawasi Se- na, segera melarangnya dan mendorong pelayan itu de- ngan kasar.
"Kau tak perlu melayani orang asing itu. Biar aku yang melayaninya," kata anak buah Ronggo Lawe yang bernama Kebo Ireng pada pelayan. Lalu dengan langkah tegap, dihampirinya meja Sena dan kawan- kawan. Sena menyambut Kebo Ireng dengan ramah, mengajaknya duduk sambil cengengesan. Sedangkan Sentanu bersaudara sedikit tegang.
"Silakan, Kisanak..," hatur Sena menyilakan Kebo Ireng yang bibirnya tebal mirip bibir kuda itu.
Tapi Kebo Ireng membalasnya dengan kasar. Ia menggebrak meja dengan tangan kanannya yang kekar dan berbulu lebat
Brak! "Ha ha ha...!" Kebo Ireng tertawa tertawa-tawa bangga. Sena ikut tertawa dan menggaruk-garuk kepala, tapi Senta- nu sebaliknya. Ia menjadi marah dan berdiri hendak menyerang Kebo Ireng. Tapi segera dicegah oleh Sena; dengan merentangkan tangan kirinya.
"Sabar, Sobat. Tenanglah! Memang di rimba persilatan saat ini banyak orang-orang edan!"
Mendengar ucapan Sena, kontan saja Kebo Ireng, naik pitam. Tanpa basa-basi lagi, Kebo Ireng mengantarkan pukulan ke dada Sena. Pukulan yang tiba-tiba dan dahsyat itu dielakkan Sena hanya dengan memiringkan tubuh ke samping kanan disertai tangki- san tangan kanannya yang langsung mengunci lengan Kebo Ireng. Disusul dengan hentakan tangan kirinya yang keras.
"Akh...!" Brak! Kebo Ireng terpental tiga tombak dan jatuh di atas meja dekat Ronggo Lawe yang kaget dibuatnya. Meja itu hancur tertimpa tubuh Kebo Ireng yang besar. Sena kembali cengengesan sambil menggaruk- garuk kepala. Sementara itu, Sentanu dan saudara- saudaranya makin tegang. Mereka kian waspada.
"Kalian tak perlu ikut campur. Biar kuselesai- kan sendiri. Orang-orang macam ini perlu diberi pela- jaran," ucap Sena pada Sentanu dan saudaranya.
"Hei! Setan mana yang berani menciderai ka- wanku!" seru Ronggo Lawe dengan mata melotot lebar sambil menghunus pedang.
Sementara, para pengunjung yang berada di si- tu diam seribu bahasa. Di dalam hati, mereka merasa senang dan gembira kalau ada orang yang bisa meng- hajar Ronggo Lawe dan kawan-kawannya.
"Pemuda gila itu ternyata hebat, ya?" bisik seo- rang pengunjung kedai pada temannya.
"Ya.... Biar tahu rasa si muka buruk itu. Mam- pus kau!" timpal yang lain, ikut berbisik
Ronggo Lawe sudah berada di dekat meja Sena. Dengan geram dan angkuh, kaki kanannya diangkat ke atas meja, tepat di depan wajah Sena. Sena hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala. Seakan tak menghiraukan tindakan Ronggo Lawe.
"Hei, Kunyuk! Rupanya kau tidak sayang pada
nyawamu!" hardik Ronggo Lawe seraya mengusap- usap dada dan tertawa-tawa. "Kau rupanya punya nya- li besar, Orang Asing. Ha ha ha...!"
Sena tak melihat tangan lelaki berwajah buruk itu bergerak, tahu-tahu dirasakannya sambaran angin di atas kepalanya. Seekor lalat naas yang melayang mengitari kepala Sena terbabat putus, lalu jatuh pada permukaan meja di hadapannya.
Gerakan ilmu pedang yang luar biasa cepat! "Kau memang hebat, Kisanak..," puji Sena de- ngan tingkah seperti orang gila. Namun nadanya ter- dengar mengejek
Ronggo Lawe tahu kalau dia diejek. Dengan ma- rah sekali ditendangnya Sena, dibarengi dengan baba- tan pedang.
Dengan cepat namun tampak gemulai, Pende- kar Gila mengelak dan tahu-tahu Sena sudah duduk di atas kursi lain. Pemuda itu tertawa-tawa dan meng- garuk-garuk kepalanya. Membuat Ronggo Lawe makin naik pitam.
"Orang asing keparat!" bentak Ronggo Lawe. "Kau rasakan pedangku ini. Heaaa...!"

4
Sena yang diserang mengelak dengan merebah- kan tubuhnya ke belakang. Gerakannya seperti sangat pelan, bagai sedang menari dengan menundukkan ke- pala. Lalu tubuhnya berkelebat ke kanan sambil me- nyapukan kaki ke pinggang Ronggo Lawe.
Buk! Ronggo Lawe memekik dan tersentak. Sama se- kali tidak diduganya kalau dalam keadaan demikian
Pendekar Gila bisa melakukan serangan balik dengan cepat. Sementara kedua teman Ronggo Lawe hanya menonton sambil meneguk arak. Keduanya merasa yakin kalau akan mampu mengalahkan Pendekar Gila. Sedangkan Sentanu dan ketiga saudaranya tetap men- gawasi dengan sikap waspada. Sentanu yakin kalau Sena akan mudah mengatasi Ronggo Lawe.
"Hi hi hi...!" Pendekar Gila tertawa-tawa mengejek sambil menggaruk-garuk kepala dan menepuk pantatnya se- perti monyet. Membuat Ronggo Lawe semakin marah. "Mampus kau, Pemuda Gila! Heaaa...!"
Swing! Swing! Dua sabetan dan tusukan mengarah ke dada Sena.
"Phuih! Hanya tusukan dan sabetan tipuan! Hi ha ha...!" ejek Sena sambil cengengesan, dan mengga-ruk-garuk kepala.
Ronggo Lawe terkesiap. Serangan yang dilancarkan tadi memang hanya merupakan satu tipuan. Bagaimana lawan bisa mengetahuinya?!
Edan, dia bisa membaca tipuan ku! Kunyuk! Siapa orang sinting ini?! Umpat Rongga Lawe dalam hati. Dia mulai berhati-hati untuk menyerang.
Para pengunjung yang menyaksikan pertarun- gan itu tampak merasa senang melihat Ronggo Lawe dipermainkan oleh pemuda bertingkah gila itu. Wajah mereka berbinar-binar, mendukung Pendekar Gila.
"Rasakan kau! Orang jahat harus dikasih gan- jaran...!" umpat salah seorang yang ada di kedai itu.
"Iya! Biar tahu rasa! Modar kau...!" timpal te- man di sebelahnya sambil mencibir. Sedangkan pemi- lik kedai hanya tersenyum-senyum, tak lagi setegang tadi.
Setelah mementahkan serangan Ronggo Lawe,
Pendekar Gila dengan cepat menyiapkan pukulan yang dahsyat dengan jurus 'Si Gila Membelah Awan'. Jari- jari tangannya mengembang lurus ke atas. Mulanya menyatu, kemudian direntangkan melebar. Diteruskan dengan menghantam ke atas dengan telapak tangan. Namun tidak sepenuhnya Sena menggunakan jurus itu. Dia tidak mau membunuh Ronggo Lawe.
Sepasang tangan Sena menyapu dalam gerakan gelombang. Kecepatannya sangat luar biasa. Tangannya terlihat menjadi berpuluh-puluh pasang serta ber- gelombang dahsyat menciptakan angin deras yang mengejutkan Ronggo Lawe. Keterpanaan lawan diman- faatkan Pendekar Gila dengan baik. Tangan kanannya mendadak terlontar dari gerak gelombang yang dicip- takannya, lalu menghajar telak dada lawan. Tak pelak lagi tubuh Ronggo Lawe terpental keluar dari kedai itu dan membentur pohon besar di halaman kedai.
"Ternyata kepandaianmu hanya sedikit, tapi mulutmu besar! Ayo bangun!" bentak Sena setelah tiba di hadapan Ronggo Lawe.
Mulut Ronggo Lawe tampak memuntahkan darah segar, demikian juga dari lubang hidung, dan telinganya. "Manusia pemeras seperti kau memang harus mendapat ganjaran setimpal!" lanjut Sena dengan nada mengejek. Tangan kanannya merenggut rambut Rong- go Lawe yang sudah tak berdaya itu.
Sementara itu, Kebo Ireng dan Kebo Ijo yang melihat pemimpin mereka dicundangi, segera mengambil langkah seribu. Sedangkan penduduk yang tadi berada di dalam kedai malah menyerbu ke luar. Mereka beramai-ramai meminta agar Sena membunuh Ronggo Lawe. Kalau tidak, manusia durjana itu akan kembali memeras dan menindas orang-orang lemah.
"Bunuh saja, Tuan Pendekar! Bunuh...!" seru mereka beramai-ramai.
Mendengar teriakan orang-orang itu, Sena dan Sentanu yang telah berada di sampingnya mengerutkan kening dan saling pandang.
"Apakah orang ini masih mempunyai pemim- pin?" tanya Sentanu ingin tahu.
"Ayahnya sendiri pemimpinnya. Tapi kami tak pernah melihat wujud ayah Ronggo Lawe," sahut seorang pemuda di dekat Sentanu.
"Kalian tahu siapa nama ayahnya Ronggo Lawe?" tanya Sentanu tak sabar.
"Orang-orang menyebutnya Penguasa Jagat... Hanya itu yang kami tahu," jawab yang lain.
Tangan kiri Sena menggaruk-garuk kepala, se- mentara bibirnya cengar-cengir. Sedang tangan kanannya yang merenggut kepala Ronggo Lawe direnggang- kan. Tubuh Ronggo Lawe pun jatuh lemas di tanah. Nafasnya tampak sesak
Dan di saat semuanya sedang berpikir, tiba-tiba sesosok bayangan hitam besar berkelebat cepat disertai angin kencang menerpa mereka. Bayangan itu melepas pukulan berupa selarik sinar ungu yang meng- gumpal bagai asap. Kemudian segera menyambar be- berapa orang di sana, termasuk Pendekar Gila, Sen- tanu dan saudara-saudaranya.
Serangan yang mendadak itu membuat Pende- kar Gila tak sempat menghindar, namun dia masih bisa menangkis dan menyerang dengan pukulan 'Inti Api'.
Ledakan besar pecah di tempat itu, menciptakan lidah api yang membersit terang, karena serangan bayangan tadi bentrok dengan pukulan 'Inti Api' milik Pendekar Gila. Setelah sinar akibat ledakan itu hilang, Ronggo Lawe pun lenyap entah ke mana. Hanya asap tebal mengepul di tempat Ronggo Lawe tadi tergeletak
Pendekar Gila memulihkan kembali tenaga da- lamnya yang banyak terkuras, akibat bentrokan puku- lan tadi. Setelah usai, didekatinya Sentanu yang terge- letak akibat pukulan maut milik sosok tak dikenal tadi.
"Bagaimana keadaanmu, Kisanak?" tanya Sena perlahan, sambil memegangi bahu Sentanu.
"Dadaku sesak sekali. Ohhh...! Mungkinkah ta- di Rekso?"
"Entahlah...." Sentanu memegangi dadanya. Darah segar me- leleh dari sudut bibirnya.
"Bisa kami menumpang di tempatmu, Ki?" tanya Sena pada pemilik kedai.
"Oh, dengan senang hati, Tuan Pendekar. Kami akan siapkan segala keperluan, Tuan. Karena Tuan Pendekar telah menyelamatkan kami semua...," jawab pemilik kedai dengan sangat gembira. Dia merasa aman kalau Sena dan Sentanu bersaudara bisa tinggal bersamanya.
Hari makin sore. Sinar matahari makin meme- rah dan condong ke arah barat. Sena mengobati luka dalam Sentanu dengan ramuan-ramuan dedaunan disertai tenaga dalamnya. Rupanya Sentanu masih dapat diselamatkan.
"Kau terkena Racun Pemusnah Jiwa...! Tapi untung kau segera mendapatkan perawatan. Kalau tidak..."
"Hah?! Racun Pemusnah Jiwa...?" ujar Sentanu memotong ucapan Sena. "Kalau memang benar... tak salah lagi! Sosok bayangan itu adalah Rekso...! Karena kematian salah seorang saudara seperguruanku juga akibat Racun Pemusnah Jiwa, tatkala kami mencoba menangkap si keparat itu beberapa bulan lalu."
Sementara itu, Sena tetap mengobati Sentanu
dengan ilmu 'Pelebur Racun’ yang didapat dari gu- runya. Sengaja Sena tak menanggapi ucapan Sentanu. Dia tidak ingin perhatiannya saat menyalurkan ilmu 'Pelebur Racun' jadi terpecah hingga bisa membahayakan diri Sentanu sendiri.
Malam pun tiba. Suasana di Desa Pandawa nampak sunyi mencekam. Tak ada seorang pun yang keluar rumah atau duduk-duduk di teras rumah mereka. Para penduduk masih diliputi rasa takut dan khawatir dengan munculnya orang tua Ronggo Lawe yang menyebut dirinya, Penguasa Jagat!
Namun kedai yang sekaligus menjadi tempat tinggal pemiliknya tampak masih menyalakan lente- ranya. Pertanda orang yang berada di dalam kedai itu masih belum tidur, walaupun hari makin larut malam.
Sentanu sudah kelihatan segar. Lelaki itu du- duk di atas balai-balai ditemani oleh ketiga adiknya. Sedangkan Sena berdiri di dekat jendela sambil bersi- dekap, memandang ke luar. Pemilik kedai dengan hati senang menyiapkan minuman dan makanan untuk mereka. Dibantu seorang bocah lelaki yang bertubuh kurus tanpa baju. Pemilik kedai yang nampak lugu dan sedikit penakut itu lalu membawa minuman dan ubi rebus ke tempat duduk Sentanu bersaudara.
"Silakan diminum, Tuan-tuan.... Maaf kalau kurang berkenan di hati Tuan-tuan. Maklum makanan desa.... He he he...," ujar pemilik kedai dengan sopan sambil membungkukkan tubuh.
Pemilik kedai segera pergi setelah memberi hormat, diikuti oleh bocah kecil di belakangnya. Sen- tanu bergerak mengambil cangkir yang terbuat dari kayu dan menuangkan air di dalam teko tanah liat ke cangkirnya, kemudian diikuti oleh ketiga adiknya.
Pada saat itu Sena seakan merasakan keganji- lan dalam kedai itu. Telinganya lamat-lamat menang-
kap bisikan halus suara gurunya.
"Sena, jangan kau minum air itu. Minuman itu mengandung racun...!"
Sena tersentak mendengar suara itu. Cepat tu- buhnya berbalik dan bermaksud untuk mencegah Sen- tanu bersaudara agar tidak meminum air yang dis- uguhkan pemilik kedai. Namun terlambat! Sentanu dan ketiga saudaranya ternyata baru saja selesai me- neguk air teh itu.
"Ya, Gusti...!" desis Sena penuh penyesalan. Tak sampai satu menit kemudian, wajah Sentanu dan ketiga saudaranya mulai pucat, dan membiru. Dan se- saat kemudian, darah segar keluar dari mulut, hidung, telinga dan mata mereka.
"Aaakh...! To... tolong.... Aaa...!" Tubuh keempat bersaudara itu kejang-kejang dengan mata melotot
"Kisanak, kuatkan dirimu. Aku akan meno- longmu...!"
Sena segera bersila di dekat Sentanu yang se- karat untuk mengumpulkan hawa murninya. Dia mu- lai melawan racun ganas yang telah memasuki tubuh Sentanu. Beberapa saat kemudian keringat keluar dari pori-porinya. Tubuhnya mulai berasap dan segera tan- gan kanannya ditempelkan ke dada Sentanu.
Tubuh Sentanu bergetar bagai orang terkena tegangan listrik yang besar. Begitu pun tubuh Sena yang tengah mengeluarkan ilmu 'Inti Sukma'. Tubuh- nya bergetar kencang.... Dan tiba-tiba terdengar teria- kan yang menyayat dari mulut Sentanu, bagai meme- cah kesunyian malam yang mencekam. Dibarengi den- gan hentakan telapak tangan Sena yang mengeluarkan sinar ungu bercampur sinar kuning. Sinar kuning itu adalah Racun Pemusnah Jiwa.
Sena mengangkat sinar itu, kemudian tangan-
nya dihentakkan dengan keras ke arah jendela. Bau- ran dua sinar itu melesat dan sungguh aneh, sinar tadi mengeluarkan lengkingan nyaring. Seperti suara kambing yang sedang disembelih! Sinar ungu bercam- pur kuning itu meledak. Kembali menjadi sosok mak- hluk halus yang menyeramkan, lalu menghilang di ke- gelapan malam.
Sena menarik napas panjang, dia merasa lega. Peluh membasahi seluruh wajah dan tubuhnya. Se- dangkan Sentanu kini tertidur. Di dadanya tampak tanda merah kebiruan. Sena membuka matanya perla- han, memandangi tubuh Sentanu yang masih tergele- tak di balai-balai bambu. Sentanu memang dapat dis- elamatkan oleh Sena, namun ketiga adiknya tak terto- long. Mereka tewas dengan seluruh tubuh membiru.
Sena bergerak bangun dan mencari pemilik rumah makan itu. Namun tak seorang pun ia temui di kamar. Ternyata di dalam kamar pemilik kedai tak ada tempat tidur atau lemari. Kecuali sebuah kuburan tua yang tanahnya berlubang.
"Ya, Gusti...! Iblis keparat itu rupanya telah mencoba menipuku...," gumam Sena dengan kesal. Ketika kakinya hendak melangkah ke luar, tiba-tiba ter- dengar ucapan ganjil.
"He he he...! Anak Muda, ternyata kau mudah terkecoh. Hidupmu tak akan lama, Anak Muda. He he he...!"
Suara itu terdengar sangat menyeramkan. Keti- ka Sena memusatkan pikirannya sambil memejamkan mata, dilihatnya bayangan wajah Ronggo Lawe yang menyeramkan itu menyeringai menatap dirinya. Sena segera menghentakkan tangan kanannya ke depan dengan mengerahkan pukulan 'Inti Api’. Bersamaan dengan itu terdengar teriakan keras yang sangat keras, ketika api dari telapak tangan Sena membakar kuburan tua itu. Jeritan panjang yang menyeramkan terus terdengar. Kemudian Sena segera keluar. Ia cepat membopong tubuh Sentanu yang masih tertidur pulas.
Dibawanya tubuh Sentanu keluar dari kedai misterius itu dengan ilmu lari 'Sapta Bayu'. Bagai kilat, tubuhnya meluncur seperti anak panah menjauhi ru- mah makan itu. Sementara itu kedai yang ditinggal- kannya sudah mulai terbakar oleh api yang dikelua- rkan tangan Sena. Dan suara jeritan perlahan-lahan menghilang, tertelan asap hitam.
Sena kini sudah berdiri di atas bukit dengan membopong tubuh Sentanu, jauh dari tempat tadi. Ma- tanya memandangi rumah makan yang masih ter- bakar. Api membubung tinggi bagai menerangi kege- lapan malam yang mencekam itu.
"Rupanya iblis-iblis itu ingin menguasai manu- sia dengan cara apa saja. Aku harus lebih hati-hati dan waspada...," desah Sena perlahan. Lalu tubuhnya melesat kembali dengan membawa Sentanu.
***

Mentari pagi kembali menerangi bumi. Angin laut bertiup sepoi-sepoi menerpa daun nyiur. Daun- daun itu bergerak bagai menari-nari. Kicau burung laut membangunkan Sena yang tidur di bawah pohon nyiur di pesisir pantai. Di sebelahnya masih terbujur tubuh Sentanu.
Sena berdiri tegak. Sejenak otot-ototnya yang kaku dilemaskan. Ia melakukan gerakan-gerakan in- dah beberapa kali untuk memulihkan kondisi tubuh- nya. Lalu duduk bersila, memusatkan pikiran dengan memejamkan mata. Tubuhnya menghadap Laut Banja- ran, tak bergerak bagai patung, walaupun angin ken- cang menerpanya.
Tak berapa lama kemudian, barulah Sena membuka mata dan menarik napas panjang. Lalu me- noleh ke arah Sentanu. Lelaki itu tampak mulai bisa menggerakkan badannya, walaupun perlahan. Bibir Sena tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.
"Uh...! Di mana aku...?" Terdengar suara Sentanu ketika matanya dibu- ka dan bergerak bangun sambil memegangi dadanya yang masih merasa sakit.
"Kau telah bebas dari maut, Sobat," kata Sena yang masih bersila di tempatnya semula.
"Ke mana ketiga adik-adikku, Tuan Pende- kar...?" tanya Sentanu ingin tahu.
Sena mengalihkan pandangan ke laut lepas. Dari dia mulai menceritakan tentang pemilik kedai yang menghidangkan minuman beracun, sampai ia menemukan kuburan tua dalam kamarnya. Sentanu langsung dapat menebak kalau ketiga adiknya tewas karena racun yang dicampur pada minuman itu.
"Maafkan aku, karena tak dapat menolong jiwa adik-adikmu...," sesal Sena setelah mengakhiri ceritanya. "Aku bisa mengerti. Kau telah menyelamatkan jiwaku, Tuan Pendekar. Terima kasih. Aku akan mem- balas segala kebaikanmu...," ujar Sentanu dengan sua- ra masih terdengar lemah.
"Ah! Janganlah kau berterima kasih padaku. Kau harus mengucapkannya pada Yang Maha Kuasa. Aku hanya perantara. Semua nasib dan umur manusia hanya Sang Hyang Widhi yang menetapkan."
Selesai berkata begitu, Sena segera bangkit mendekati Sentanu.
"Bagaimana dadamu? Apakah masih terasa nyeri?" tanya Sena kemudian.
"Agak lebih enak, namun tubuhku masih le-
mas...," jawab Sentanu perlahan.
"Sebaiknya kau istirahat beberapa hari. Biar kau kuantar pulang."
"Tidak usah. Terima kasih.... Aku dapat pulang sendiri. Aku sudah cukup merepotkan Tuan Pendekar...."
"Jangan lagi kau menyebutku Tuan Pendekar. Panggil saja aku Sena," ujar Sena.
"Baiklah." "Ayolah, biar kau kuantar sampai perbatasan desa ini...," kata Sena, sambil bergerak membantu Sentanu bangun. Sentanu masih terlihat lemas, mem- buat Pendekar Gila tak tega melepas lelaki itu pulang sendiri ke Kadipaten Pakisaji.
"Sobat, biarlah aku menemanimu ke kadipaten. Aku tak ingin terjadi lagi hal yang tak diharapkan menimpa dirimu."
Dengan tulus Sena berkata pada lelaki di sam- pingnya. Sentanu terharu mendengar ucapan Sena.
"Oh, Gusti...! Ternyata masih ada orang yang mau berbaik hari menolongku. Terima kasih, Sena...," Sentanu memeluk Sena dengan penuh kegembiraan bercampur haru.
Pendekar Gila hanya cengengesan dan memba- las pelukan Sena. Setelah melepas pelukan, Sena menggaruk-garuk kepala seperti kebiasaannya. Kedua lelaki itu kemudian melangkah menuruni jalan yang landai menuju arah barat.

5
Goa Neraka tampak menyeramkan meskipun diterangi obor di beberapa bagian dindingnya. Karena hampir di setiap sudut dinding terpajang tengkorak manusia dan tubuh binatang buas yang diawetkan. Seperti ular sebesar paha manusia yang melingkar te- pat di atas sebuah singgasana yang terdapat di dalam ruangan goa. Ular sanca yang telah dikeringkan itu bagai masih hidup dengan mulut menganga. Tak ku- rang dari sepuluh meter panjang ular langka itu. Goa Neraka adalah goa tempat tinggal Rekso Bagaspati. Saat itu dia sedang duduk di singgasananya. Wajahnya tampak memerah karena menahan amarah. Dan tiba-tiba Rekso Bagaspati berdiri sambil mendengus keras.
"Huh!" Kemudian Rekso Bagaspati mondar-mandir de- ngan langkah lebar. Tangan kirinya terus mengusap- usap kumisnya yang lebat, sedang tangan kanannya bertolak pinggang. Langkahnya yang berdebam keras seperti akan meruntuhkan dinding goa itu.
"Ghrrr.... Bodoh! Gegabah! Seharusnya kau bi- sa membunuhnya! Dan aku heran, kenapa pemuda gi- la itu dapat mengetahui racun yang kau campur dalam minuman itu? Mungkin kau memancing kecurigaan pemuda itu, Ronggo...!" hardik Rekso Bagaspati dengan suara menggema.
"Ampuni aku, Ayah. Tapi seingatku, pemuda itu berdiri di dekat jendela dan tidak mempedulikan ku...,! jawab Ronggo Lawe sambil menunduk, tak berani me- natap wajah ayah angkatnya.
"Aneh, benar-benar aneh! Rupanya pemuda sinting itu memiliki ilmu cukup tinggi. Mungkinkah pemuda itu yang kita cari...?"
Sejenak Rekso Bagaspati berpikir dan duduk kembali di singgasananya.
"Ha ha ha.... Aku ingat pada jurus dan lagak- nya. Ya, tak salah lagi. Dia pasti Pendekar Gila yang tersohor itu!"
"Pendekar Gila?!" ulang Ronggo Lawe kaget. La-
lu menatap Rekso Bagaspati yang masih tertawa terge- lak-gelak.
"Kali ini aku tak akan gagal mengupas kulitnya! Ha ha ha.... Ronggo! Kemari kau!" perintah Rekso Bagaspati. Ronggo Lawe segera mendekati. Kemudian Rek- so Bagaspati membisikkan sesuatu pada anak angkat- nya. Ronggo Lawe mengangguk-angguk sambil terse- nyum, tanda setuju.
"Suatu rencana yang sempurna, Ayah. Ha ha ha...!"
"Ingat pesanku tadi. Kali ini jangan sampai gagal. Kita akan lebih leluasa kalau Pendekar Gila mampus! Aku akan menguasai jagat ini, rimba persila- tan ini. Ha ha ha...!"
Suara tawa Rekso Bagaspati menggema sampai keluar goa yang terletak di dalam hutan angker itu. Binatang-binatang yang malam itu sedang tertidur, mendadak terbangun mendengar tawa manusia iblis itu. Binatang yang telah dikeringkan di dalam goa itu seperti ikut tertawa juga. Sementara ular sanca yang melingkar di atas singgasana Rekso Bagaspati pun ba- gai hidup. Matanya memancarkan sinar merah darah, dan lidahnya seakan menjulur panjang keluar, menji- lati kepala Rekso Bagaspati yang berada tepat di ba- wahnya. Tawa Rekso Bagaspati perlahan-lahan hilang. Suasana kembali sepi mencekam. Kemudian Rekso Bagaspati bangkit dan melangkah ke sebuah pintu goa yang tertutup. Dengan menghentakkan tangan kanan- nya ke dinding pintu itu, seketika pintu itu terbuka. Asap merah bercampur biru mengepul ke luar. Rekso Bagaspati melangkah masuk, lalu pintu tertutup kem- bali.
Di dalam ruangan yang cukup luas, terdapat sebuah ranjang bulat berukuran lebar yang cukup un- tuk empat orang. Ranjang itu terbuat dari batu-batu besar yang ditata sedemikian rupa. Di atasnya tertum- puk dedaunan yang telah dikeringkan sebagai kasur, dan dialasi oleh kulit rusa. Di kanan dan kiri ranjang aneh itu ada obor besar untuk menerangi ruangan.
Begitu Rekso Bagaspati merebahkan tubuhnya di ranjang itu, empat wanita muda yang cantik-cantik masuk dari pintu-pintu rahasia. Pakaian mereka mi- nim dengan bagian dada dan bawah hanya ditutupi kulit binatang. Keempatnya langsung naik ke atas ran- jang mereka siap melayani nafsu Rekso Bagaspati yang luar biasa. Tak heran karena Rekso Bagaspati seten- gah manusia, setengah setan! Ia titisan setan dengan kalung Safir Bermata Iblis!
Dengan buasnya Rekso Bagaspati menerkam, menciumi dan menggeluti salah seorang dari empat pe- rempuan muda itu. Sedang yang lain terus membang- kitkan birahi Rekso Bagaspati dengan segala cara. Me- reka harus bisa memuaskan Rekso Bagaspati dan me- nuruti semua kehendaknya. Kalau tidak, perempuan- perempuan itu akan lebih cepat dibunuh dan darah serta dagingnya dimakan untuk memperpanjang ilmu setan Rekso Bagaspati.
Setiap bulan purnama, pasti akan ada korban untuk persembahan bagi guru Rekso Bagaspati yang tak lain arwah bekas pemimpin orang-orang aliran se- tan yang dikenal dengan sebutan Dedemit Kolobendo- no. Ia baru menampakkan dirinya jika Rekso Bagaspati telah menyediakan darah perawan! Wujudnya sangat menyeramkan. Akibatnya Rekso Bagaspati harus men- dapatkan darah perawan bila waktunya tiba. Jika ti- dak, dia akan kehilangan ilmu sekaligus jiwanya.
Seringkali Rekso Bagaspati turun sendiri untuk mencari darah perawan. Itu sebabnya Rekso Bagaspati sangat ingin sekali memusnahkan Pendekar Gila yang selalu membela kaum lemah. Dan Pendekar Gila merupakan musuh utamanya! Dan harus dibinasakan de- ngan segala cara.
***

Sena Manggala berada di Kadipaten Pakisaji, tempat Sentanu tinggal. Tampak dia baru saja ingin meninggalkan kadipaten itu setelah mengantar Senta- nu. Karena dia harus kembali meneruskan pencarian jejak Rekso Bagaspati.
"Sebenarnya kami ingin menahanmu tinggal sa- tu-dua hari lagi di sini. Tapi kami tak bisa memaksa. Namun demikian, sudilah kau mampir lagi ke tempat yang sederhana ini," ujar Sentanu, melepas kepergian Sena.
Sena hanya tersenyum sambil menggaruk- garuk kepala.
"Terima kasih. Kalau Tuhan mengizinkan, aku akan kembali kemari," jawab Sena bersahabat.
Selesai berkata begitu, Pendekar Gila segera melangkah pergi. Sentanu memperhatikannya dengan penuh haru, mengiringi kepergian Sena. Seraya me- langkah, Sena melambaikan tangan. Dan dibalas oleh Sentanu dan beberapa muridnya. Perpisahan yang sangat mengharukan bagi mereka. Namun mereka sama-sama menyadari, bahwa sebagai manusia, mereka tidak bisa menghindar dari perpisahan. Terlebih perpi- sahan tersebut terjadi karena Sena harus melanjutkan tugasnya untuk menegakkan kebenaran.
Dengan ilmu lari 'Sapta Bayu', dalam sekejap tubuh Sena telah berada di pesisir Pantai Banjaran, di mana sehari sebelumnya dia bermalam di tempat itu bersama Sentanu.
Sejenak Sena menghentikan larinya. Matanya memandang ke sekeliling tempat itu. Kemudian perjalanannya diteruskan. Sena tiba di perbukitan yang tampak sepi.
Sementara itu matahari yang tadi berada di sebelah timur, kini telah berada di atas kepala Sena. Terik matahari membuat Pendekar Gila menyeka keringat yang membasahi keningnya. Kemudian tubuhnya melesat pergi ke arah timur.
Ketika Sena sampai di tempat lapang yang dike- lilingi batu cadas, terdengar keributan dari arah bawah tempatnya berdiri. Hal itu mengundang perhatian pe- muda tampan itu. Bergegas tubuhnya mencelat ke pinggir jurang. Dari tempat itu, mata Sena dapat meli- hat seorang wanita berbaju warna biru muda tengah dikeroyok dua lelaki berwajah bengis.
Ditilik dari penampilan dan sikap kedua lelaki itu, tampaknya mereka bermaksud merampok sekali- gus hendak menggagahi gadis yang dikeroyok.
Wanita yang rambutnya digelung dengan seba- gian sisa rambutnya dibiarkan terurai di bagian bela- kangnya, tampak gesit menangkis atau menyerang ke- dua perampok yang bertingkah konyol itu. Pedang wanita itu beradu dengan senjata perampok yang berbentuk tombak bermata tiga dengan panjang hanya setengah tombak biasa.
Karena kain yang dikenakan wanita itu memiliki belahan di depan tanpa celana panjang di baliknya maka ketika kakinya menendang tinggi, terlihat jelas paha dan betisnya yang putih dan mulus.
Saat itu kedua pengeroyoknya sesaat menghen- tikan serangan. Mata mereka langsung melotot me- nyaksikan keindahan yang luar biasa tersebut.
Melihat lawannya terkesima, wanita yang dike- royok tak menyia-nyiakan kesempatan baik yang dimilikinya. "Heaaa...!"
Dengan cepat wanita itu membabatkan pedang- nya ke arah kedua perampok itu. Kontan saja mereka yang menghentikan serangannya karena terpana akan kemulusan paha dan betis wanita ayu itu, menjadi pu- cat.
Seorang dari mereka yang terlambat menghin- dar hampir saja tergores ujung pedang wanita itu, kalau saja temannya tidak menubruknya ke samping dengan cepat
"Hah?! Hampir saja leherku amblas!" maki lela- ki yang hampir terbabat lehernya itu.
Mereka segera siap menyerang wanita itu kem- bali. Keduanya melabrak serentak dengan senjata masing-masing, seolah begitu bernafsu untuk menjadikan wanita itu sebagai bulan-bulanan mereka.
Pedang perempuan itu kembali beradu dengan tombak bermata tiga milik para penyerangnya. Namun kemampuannya untuk bertahan menghadapi senjata- senjata maut itu tidaklah lama. Kedudukannya makin tidak menguntungkan, dikepung dari dua penjuru. Sampai akhirnya sinar putih berkelebat di depan hi- dung wanita itu dari atas ke bawah dan....
Bret! Bret! Bret..! Ketika wanita itu memandang ke bawah, ter- nyata tiga kancing bajunya tersingkap lebar. Sepasang mata lelaki botak dan kawannya langsung membelalak menyaksikan satu pemandangan yang begitu menggi- urkan.
Wanita itu cepat-cepat menutupi pakaiannya seraya melompat mundur. Si botak tertawa tergelak- gelak dan tampak dia menelan ludah, lalu menjulur- kan lidahnya. Belum sempat wanita itu merapikan pa- kaian atasnya, tiba-tiba terdengar derap langkah kuda menuju tempat itu.
Ternyata pengendaranya adalah seorang lelaki berwajah jelek dan berikat kepala kulit macan tutul. Mata sebelah kirinya rusak seperti bekas bacokan. Wa- jahnya yang persegi dihiasi alis tebal, hidung lebar dan kumis lebat yang panjang. Tak terlihat keramahan di bibir penunggang kuda itu, terlebih untuk memperlihatkan senyum. Dialah pemimpin dua orang yang mengeroyok wanita itu. Pundaknya menyandang pe- dang, tanpa memakai baju. Dadanya yang berbulu le- bat bagai orang utan membuat perempuan itu makin dilanda ketakutan. Apalagi ketika lelaki yang baru da- tang itu dengan kasar menarik tubuhnya ke atas kuda. "Ha ha ha.... Kakang, kau datang tepat pada waktunya! Untuk menikmati santapan lezat ini, bu- kan...? Ha ha ha...!" sambut lelaki berkepala botak sambil memegangi perutnya yang buncit tanpa tertu- tup baju "Jangan...! Lepaskan... lepaskan!" teriak pe- rempuan itu sambil berusaha berontak ketika hendak dinaikkan ke punggung kuda.
"He he he.... Jangan nakal, Manis.... Nanti kau akan merasakan nikmatnya surga dunia.... Ha ha ha...!" ujar lelaki berkepala botak. Didorong dan dire- masnya pantat perempuan yang padat itu agar dapat segera naik ke punggung kuda milik pemimpinnya.
"Auw! Kurang ajar!" bentak perempuan itu se- raya terus meronta liar. Tanpa rasa kasihan, lelaki yang berada di atas punggung kuda terus menjambak rambut perempuan itu.
"Akh...!" Perempuan itu memekik kesakitan. Pada saat itu lelaki berkepala botak dengan kuat mendorong tu- buhnya ke atas kuda sampai terduduk di depan lelaki berwajah jelek
"Dimas berdua tunggu di sini. Aku akan me- nikmati betina ini sepuas-puasnya. Setelah itu, baru Dimas berdua boleh ambil," ujar lelaki berwajah jelek itu, setelah menotok wanita di depannya.
Selesai berkata demikian, lelaki itu melarikan kudanya. Tapi baru saja kudanya dilarikan lima tom- bak, tiba-tiba muncul seseorang menghadang lari ku- danya.
"Bangsat..! Siapa kau...?! Kurang ajar!" bentak orang itu keras dengan suara serak. Matanya mendelik marah sekali!
"Kau yang kurang ajar, Lelaki Pengecut! Kau hanya berani sama perempuan! Manusia macam kalian memang perlu diberi pelajaran!" umpat Pendekar Gila sambil menggaruk-garuk kepala serta cengenge- san. Tingkahnya yang aneh seperti orang gila itu membuat lelaki berwajah jelek marah karena merasa dihina begitu rupa.
"Kau benar-benar cari mampus, Pemuda Sin- ting! Kau bicara seenaknya. Apa kau tidak tahu tengah berhadapan dengan siapa?!" geramnya penuh amarah.
"Dengan orang utan yang tidak mengerti adat! He he he...!" jawab Sena disusul tawa mengejek
"Bangsat! Minggir kau, atau..." Lelaki itu tak melanjutkan ucapannya. Dia bermaksud langsung menerjang Sena dengan ku- danya. Namun entah kenapa kuda itu tak mau berge- rak, seakan takut pada Pendekar Gila yang berdiri te- nang tempatnya sambil menggaruk-garuk kepala. Tu- buhnya tak bergerak sejengkal pun.
Mau tak mau orang itu melompat cepat dari kuda. Diikuti dengan jatuhnya tubuh perempuan malang yang masih tertotok kaku.
Lelaki berkepala botak beserta kawannya segera mengurung pemuda tampan namun bertingkah aneh yang mencari perkara. Senjata mereka terhunus di tangan masing-masing. Tombak bermata tiga seperti mengancam tubuh Sena dengan pantulan sinar di ujung-ujungnya.
Tapi hal itu sama sekali tidak membuat Sena bergeming dari tempatnya.
"Orang-orang utan ini kenapa jadi marah- marah tak karuan? Hi hi hi...!" ejek Sena.
"Setan alas!" Amarah lelaki berwajah jelek itu meledak. "Kau mau mengantar nyawa pada Baga Sura!" Sret! Lelaki berwajah jelek yang mengaku bernama Baga Sura itu menghunus pedangnya
"Cincang saja tubuhnya, Kakang...!" seru lelaki berkepala botak sambil memainkan tombak bermata tiganya, diikuti temannya yang ternyata bisu. Lelaki itu hanya bisa tertawa dan mengangguk.
Baga Sura mengayunkan pedangnya di depan hidung Sena. Pendekar Gila hanya menundukkan ke- pala. Lalu dengan gerakan yang sukar ditangkap mata, tubuhnya berkelebat ke kanan dan menghantamkan pukulan ke rusuk Baga Sura.
Des! "Aaa...!" Baga Sura memekik panjang. Tubuhnya ter- huyung lima tombak ke belakang. Lelaki berkepala bo- tak dan temannya tersentak dan mulai ragu untuk menyerang Pendekar Gila yang tetap cengengesan mengejek mereka.
"Ternyata kalian hanya orang-orang besar mu- lut! Tak cocok dengan tampang seram kalian!" ejek Sena lagi, lalu tertawa riuh rendah.
Baga Sura yang masih sempoyongan berusaha
menyerang Sena kembali. Dia tidak peduli lagi pada darah segar yang menetes dari mulutnya. Matanya mendelik penuh amarah, siap melabrak
"Heaaa...!" Baga Sura membabatkan pedangnya beberapa kali dengan cepat sambil menerjang ke wajah. Pedangnya berkelebat bertubi-tubi. Ilmu pedangnya asing dan aneh di mata Sena. Tapi Pendekar Gila mampu menghadapinya dengan ilmu meringankan tubuh yang sem- purna. Gerakannya seperti lamban, namun sebenarnya tidak. Itu karena ilmu yang dimiliki Sena sangat tinggi. Akibatnya tebasan pedang Baga Sura hanya membabat angin dan batang pohon.
Cras! Pendekar Gila bersalto beberapa kali di udara. Kemudian kakinya mendarat ke tanah dengan ringan di belakang Baga Sura. Dicoleknya punggung Baga Su- ra dari belakang.
Baga Sura membalik cepat. Dia kaget. Saat itu Sena menyentakkan pukulan yang tak begitu keras di dada Baga Sura.
Desss! Baga Sura kembali terpental ke belakang dan membentur anak buahnya yang berkepala botak yang sejak tadi hanya menonton. Melihat ketangguhan ilmu silat Pendekar Gila, nyali lelaki berkepala botak itu jadi menciut. Dia segera memutuskan untuk cepat-cepat menggotong Baga Sura yang terkulai tanpa daya.
Sementara itu wanita yang belum diketahui namanya masih tergeletak di tempatnya dalam kea- daan tertotok. Sena segera menghampirinya dan dengan satu gerakan, Sena melenyapkan totokan itu. Wanita yang berparas cantik dan bertubuh bahenol itu tersadar. "Oh...! Ke mana manusia-manusia keparat
itu?!" seru perempuan itu, lalu dia berdiri dan membe- reskan pakaiannya yang koyak.
Sena diam tak menjawab. Pendekar muda itu nampak acuh saja melihat tingkah perempuan di de- katnya. "Tentunya Tuan yang telah menolongku. Terima kasih. Aku tak akan lupa membalas kebaikan Tuan...," ucap perempuan itu dengan suara lembut sambil mendekati Sena yang terus menggaruk-garuk kepala. "Na- maku Sekarsari.... Tuan siapa?"
Pendekar Gila segan menjawab pertanyaan wa- nita yang mengaku bernama Sekarsari itu. Kakinya malah melangkah menjauhi tempat itu.
"Sebaiknya kau pergi. Pulanglah ke desamu. Hari sudah menjelang malam. Tak baik seorang pe- rempuan berjalan bersama laki-laki. Lagi pula, aku bukan laki-laki yang suka ditemani perempuan."
Mendengar tutur kata Sena, Sekarsari hanya tersenyum. Perempuan itu makin mendekati Sena yang terus berjalan meninggalkannya. Merasa tidak dipedulikan, Sekarsari mulai mencari akal. Sejenak dia berpikir sambil terus menguntit Sena.
Beberapa hari ini aku menemukan orang yang aneh-aneh. Pertama orang bercaping dengan pakaian sama dengan Rekso Bagaspati yang begitu saja meng- hilang. Kini aku bertemu perempuan yang cukup can- tik. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada diri perempuan yang mengaku bernama Sekarsari ini. Ah...! Dunia makin tua. Makin banyak orang aneh! Ge- rutu Sena dalam hati sambil melangkah. Sena terus berpikir tentang manusia-manusia aneh yang begitu muncul terus menghilang. Seperti halnya orang ber- caping yang ditemuinya di kedai.
"Aaa...!" Tiba-tiba terdengar jeritan Sekarsari yang mem-
buat Sena menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya perempuan muda yang cantik dengan dandanan seronok itu terjatuh. Sepasang tan- gannya memegangi kaki kanannya yang mungkin ter- kilir atau digigit binatang. Sena tak langsung meng- hampiri. Pemuda itu hanya menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir.
"Tolong...! Tolong kakiku, Tuan. Aduh.... Huuu...!" rengek Sekarsari. Wajahnya tampak mena- han sakit. Sena yang memang tidak bisa melihat wani- ta dalam kesusahan, mau tak mau melangkah mende- kati Sekarsari yang sedang meringis kesakitan.
"Tolong kakiku, Tuan... Di bagian ini terasa ke- jang," ujar Sekarsari sambil menunjuk bagian pahanya yang tersingkap dengan tangan kanan. Paha mulus itu terlihat jelas di mata Sena. Sena membuang muka sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu dia kembali ber- diri dan melangkah meninggalkan Sekarsari. Ternyata Sekarsari hanya berpura-pura, karena dia tak ingin di- tinggal oleh Sena. Sekarsari tersenyum genit seraya menggigit bibirnya. Kemudian dia bangkit mengejar Sena yang sudah tiga tombak di depannya.
"Apakah Tuan marah padaku?" tanya Sekarsari setelah berada di samping Sena.
Sena tak menjawab. Pandangannya lurus ke depan. Wajahnya tampak kesal.
"Maafkan aku, Tuan. Tapi bukan maksudku mempermainkan Tuan. Aku hanya tak ingin ditinggal sendirian di daerah yang penuh dengan orang-orang jahat ini," ujar Sekarsari dengan suara masih lembut
Sena menghentikan langkahnya, lalu menatap Sekarsari dengan pandangan menyelidik. Tatapan ma- ta Sena tajam, bagai menembus sukma perempuan itu. Sekarsari yang dipandang demikian rupa jadi gugup. Kepalanya segera menunduk. Sena malah cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Kau belum menceritakan kenapa kau sampai dihadang oleh orang-orang tadi. Lalu, apa tujuanmu memasuki daerah rawan ini?" tanya Sena menyelidik. Nada suaranya tegas.
"Mungkin... aku akan menjawab pertanyaan- mu, jika kau lebih dulu mau menerangkan siapa diri- mu dan mengapa mau menolongku," ungkap Sekarsari dengan suara lebih tegas. Tak selembut tadi.
Sena menggaruk-garuk kepalanya lagi, lalu menggeleng-geleng.
Kau tak perlu tahu namaku, aku hanya manu- sia biasa yang tak tentu tujuan. Dan kau tanya kenapa aku mau menolongmu? Itu memang sudah kewajiban- ku. Aku selalu rela menolong orang yang lemah dan tertindas. Begitulah aku...," tutur Sena tanpa maksud menyombong.
"Untung aku bertemu dengan Tuan. Kalau ti- dak, mungkin aku sudah menjadi santapan manusia- manusia keparat tadi. Sekali lagi ku mohon Tuan mau memberi tahu nama Tuan. Biar hatiku lega...," ucap Sekarsari setengah mendesak.
Sena memandang wajah perempuan muda itu dalam-dalam. Kemudian kepalanya mengangguk-angguk. "Baiklah. Aku Sena.... Dan, sekarang kuminta kau menjelaskan tujuanmu. Kalau tidak, aku akan se- gera pergi. Banyak hal yang harus kuselesaikan," kata Sena agak mengancam.
"Baik..," ujar Sekarsari. "Aku datang dari jauh, dari sebuah perkampungan nelayan di Pantai Selatan. Letaknya tak jauh dari Kadipaten Pakisaji. Sedangkan tujuanku ke tempat ini untuk mencari seseorang."
"Mencari seseorang?" ulang Sena. "Siapa orang itu? Suamimu? Atau...?"
Sena mengerutkan kening dan menggaruk- garuk kepala.
"Rekso Bagaspati!" jawab Sekarsari mantap. Pendekar Gila terkejut mendengar jawaban pe- rempuan cantik itu.
"Ada urusan apa kau dengannya? Soal kalung keramat itu juga, atau apa?"
"Bagaimana kau tahu tentang kalung itu...?!" tanya Sekarsari. Dia juga tampak terkejut "Kalung itu tak habis-habisnya menimbulkan malapetaka!"
Sena jadi makin ingin tahu tentang siapa dan apa tujuan wanita itu.
"Jadi kau tahu banyak tentang kalung itu...? tanya Sena.
Yang ditanya tidak menjawab. "Ayo, jawablah. Mungkin kita bisa bekerja sa- ma...," bujuk Sena,
"Dunia ini, terutama rimba persilatan, penuh liku-liku dan bahaya. Malapetaka mengancam setiap saat. Apalagi bagi kami, kaum hawa..."
"Ucapanmu mungkin benar. Hanya saja, tentu kau mempunyai alasan untuk mencari Rekso Bagaspa- ti yang juga pernah mau membunuhku...," ujar Sena menjelaskan.
Sekarsari yang mendengar keterangan Sena ja- di mengerutkan kening. Ditatapnya Sena dengan pan- dangan tajam, seakan menyelidik kebenaran ucapan Sena. Lalu setelah merasa kalau Sena berkata jujur, Sekarsari menarik napas panjang. Pandangannya di- alihkan ke depan. Matanya menerawang jauh.
"Aku ingin membunuh Rekso Bagaspati!" Jawaban Sekarsari itu membuat Sena kaget Pendekar Gila menggaruk-garuk kepala dan cengenge- san. Dia merasa Sekarsari terlalu nekat.
"Membunuh orang seperti Rekso Bagaspati bu-
kan soal mudah. Apalagi kau seorang perempuan. Bu- kan aku merendahkan ilmumu. Kau tahu lebih banyak tentang kesaktian kalung keramat itu, bukan?"
Sekarsari kembali berpaling ke arah Sena. Pe- rempuan cantik itu menyeringai.
"Jika kita memakai otak, apa pun pasti bisa di- lakukan." Sena mengangguk-angguk. "Dia telah membu- nuh suamiku!" ujar Sekarsari kembali. Nada suaranya begitu geram.
"Ooo...! Urusan dendam kesumat rupanya?" ka- ta Sena pula. "Tapi mengapa sampai Rakso Bagaspati membunuh suamimu?"
"Dia merampas kalung itu! Kalung itu milik su- amiku!" "Apa...?!" Sena kembali terkejut
"Kalung itu mulanya milik Kakang Waskita, su- amiku...," tutur Sekarsari kemudian. Suaranya agak tersendat.
Sena kembali mengangguk-angguk. Kemudian dia menghela napas panjang. Sena tampak tertarik dengan ucapan Sekarsari tadi.
"Apakah kau tahu dari mana suamimu menda- patkan kalung keramat itu...?" tanya Sena tiba-tiba, membuat Sekarsari agak kaget.
Wanita itu mengerutkan kening. Ditatapnya wa- jah Sena penuh selidik. Sena yang dipandangi seperti itu hanya menggaruk-garuk kepala dan tersenyum.
Setelah berpikir beberapa saat dan menganggap pendekar yang telah menyelamatkannya adalah orang baik-baik, maka Sekarsari memulai ceritanya.
"Sepuluh tahun silam, suamiku bertengkar denganku. Malam harinya dia pergi ke Pantai Karang Loh. Seperti biasa, jika habis bertengkar denganku, suamiku melakukan hal demikian. Dia menyendiri,
untuk menghindari pertengkaran lebih jauh. Suamiku sebenarnya sangat mencintai ku. Hanya terkadang aku sering tak tahan dengan kemiskinan yang kami ala- mi.... Itulah yang terkadang membuatku suka marah- marah." Sejenak Sekarsari menghentikan ceritanya. Wa- jahnya menampakkan kesedihan yang dalam. Bola ma- tanya yang bening, kini sudah digenangi air mata. Setelah menyeka air mata, Sekarsari kembali melanjutkan ceritanya.
"Sejak itu Kakang Waskita menghilang entah ke mana. Saat itu hidupku terasa seperti neraka. Untung para tetangga senasib, semuanya baik terhadapku. Mereka semua memperhatikan keadaanku. Dan rupa- nya suamiku ingin membahagiakan aku. Dia mencari ilmu dengan bertapa di sebuah goa di tepian Pantai Se- latan. Tapi dia selalu gagal. Godaan selalu menghalan- ginya. Akhirnya suamiku pergi ke sebuah pulau kecil yang bernama Pulau Kandaran. Di pulau itulah sua- miku mendapatkan satu benda keramat berupa kalung iblis dengan rantai kayu hitam bermata safir. Menurut suamiku, seorang lelaki tua renta mula-mula muncul di hadapannya. Dan secara perlahan lelaki tua itu be- rubah wujud menjadi sosok makhluk menyeramkan. Makhluk itu tinggi besar bagai raksasa. Wajahnya di- penuhi dengan darah serta bertaring. Matanya berlu- bang seperti tengkorak. Telinganya panjang. Mengeri- kan! Suamiku mula-mula takut, tubuhnya gemetaran, dan wajahnya pucat. Namun secara mendadak ketaku- tannya hilang begitu saja ketika makhluk menakutkan itu menghembuskan napas yang bau amis! Makhluk itu berjalan di atas air laut menghampiri suamiku yang masih duduk bersila di dalam sebuah goa karang di tepian pantai pulau itu...."
Sejenak Sekarsari menghentikan ceritanya. Dia menarik napas panjang. Sementara Sena memperhati- kan wanita itu sambil menggaruk-garuk kepala. Cukup aneh dan mengerikan juga ceritanya....! Nilai Sena da- lam hati. Matanya dengan tajam menatap Sekarsari.
"Lalu, bagaimana selanjutnya?" tanya Sena per- lahan.
Sekarsari menoleh ke arah Sena. Sejenak dita- tapnya pemuda gagah itu. Kemudian Sekarsari memulai ceritanya lagi.
"Menurut suamiku, makhluk itu bisa berubah- ubah wujud. Sebelum, memberi kalung itu, makhluk itu mencoba tekad suamiku. Kalau suamiku gagal, dia akan mati. Tapi kalau berhasil, kalung keramat itu akan menjadi miliknya. Makhluk ini menjelma menjadi seorang wanita yang sangat cantik. Dengan segala cara dia mencoba merayu agar iman suamiku runtuh. Tapi ternyata suamiku tabah. Setiap cobaan lain yang lebih menyeramkan dan menggiurkan dapat dilawan oleh suamiku. Sampai akhirnya kalung berkekuatan gaib itu diberikan pada suamiku. Menurutnya, ketika ka- lung keramat itu ada di pangkuannya, seluruh badannya terasa panas dingin beberapa saat. Namun kemu- dian kembali seperti biasa dan dia merasa lebih segar dan kuat..."
Sena yang mendengarkan mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Sungguh aku salut akan ketabahan suamimu. Lalu, bagaimana ceritanya kalung itu bisa jatuh ke tangan orang lain...?" tanya Sena ingin tahu lebih jauh. Sekarsari menghela napas panjang. Kemudian memulai kembali cerita tentang suaminya.
"Rupanya kesaktian dan keampuhan kalung keramat itu sudah tersebar ke mana-mana. Terutama ke telinga Pangeran Pari Ongso yang tamak. Dia orang yang paling tergiur untuk memiliki kalung keramat itu.
Dengan berbagai cara dia berusaha agar suamiku mau menyerahkan kalungnya. Suamiku dibujuk dengan imbalan harta, uang, serta kedudukan yang terhormat di kadipaten. Namun suamiku menolaknya. Karena kami ingin ketenangan. Apalagi aku sedang hamil tua. Lagi pula, suamiku termasuk salah seorang yang pal- ing benci pada Pangeran Pari Ongso. Karena pangeran itu licik. Sifatnya buruk, tidak ada belas kasihan pada rakyat kecil."
Kembali Sekarsari menghentikan ceritanya. Dia menelan ludah sejenak. Kesempatan itu digunakan Sena untuk bertanya lagi.
"Lalu, bagaimana tindakan pangeran itu selan- jutnya? Dan juga suamimu?"
"Pangeran menyewa jawara-jawara untuk mem- bunuh suamiku serta menteror ku. Tapi suamiku sela- lu dapat mengalahkan orang-orang sewaan Pangeran Pari Ongso. Karena rencananya selalu gagal, maka dengan licik dia pura-pura bertobat akan perbuatan- nya. Setelah suamiku tahu kalau yang merencanakan pembunuhan terhadap dirinya adalah Pangeran Pari Ongso. Dasar suamiku orang yang lugu serta mudah memaafkan. Maka suamiku tak jadi membunuh pa- ngeran itu. Dengan siasat liciknya, pada suatu malam pangeran mengundang suamiku untuk merayakan persahabatan mereka. Tapi ternyata suamiku diracuni oleh pangeran. Minuman untuk suamiku diberi bubuk racun ganas. Seketika suamiku sekarat dan mati, maka dengan mudah kalung keramat itu pindah ke tangan Pangeran Pari Ongso.... Kematian suamiku mengejutkan semua orang, terlebih diriku. Sedangkan mayat suamiku tak dapat ditemukan," Sekarsari menghentikan ceritanya. Tanpa terasa dia telah menangis.
Sena yang melihatnya jadi merasa iba. Bebera- pa saat hening, hanya isak tangis Sekarsari yang terdengar. "Setelah Pangeran Pari Ongso mendapatkan ka- lung itu, dia menghilang entah ke mana. Tumenggung Adipura yang mengetahui kebusukannya, dibunuhnya juga. Aku telah kehilangan segalanya. Sementara itu kandungan ku semakin membesar. Aku jatuh sakit..."
Sena makin iba mendengar akhir cerita Sekar- sari. Dia coba menenangkan hati Sekarsari dengan memegang bahu wanita itu dengan lembut
"Maaf.... Seharusnya aku tak menanyakan lebih jauh padamu, Sekar...."
"Tidak apa-apa...," sahut Sekarsari sambil menggelengkan kepalanya. "Biar kau mengerti keadaanku sebenarnya.... Bayiku mati begitu lahir...."
Kembali Sekarsari terisak-isak. Sedih saat te- ringat masa silamnya. Sementara Sena hanya menghela napas panjang seraya menggeleng perlahan. Wajah- nya masih tampak terharu.
"Manusia iblis itu harus dilenyapkan secepat- nya," gumam Sena geram.
Sekarsari masih terisak-isak. Disekanya air mata yang membasahi pipinya dengan kain.
"Setelah seminggu melahirkan bayiku, aku me- ninggalkan Desa Karang Loh untuk menghilangkan kenangan buruk yang ku alami. Pikiranku kacau. Kui- kuti langkah kaki. Jika sudah merasa lelah, baru aku istirahat di mana saja...."
"Kenapa kau tidak mencari handai taulan atau sanak saudara?" tanya Sena lembut dan hati-hati, takut kalau Sekarsari tersinggung.
"Aku tak mempunyai siapa-siapa lagi. Aku anak tunggal...," jawab Sekarsari lemah. "Di benakku saat itu hanya ada satu tekad untuk membalas dendam pada Pangeran Pati Ongso yang telah tersohor dengan nama Rekso Bagaspati...! Tapi aku tak memiliki ke-
pandaian ilmu silat. Didorong oleh tekad dan rasa den- dam yang membara dalam diriku, aku mencari tahu di mana tempat perguruan silat yang paling tersohor.... Sampai ujung dunia pun aku akan datangi, asal aku bisa menjadi pendekar wanita yang tangguh. Namun harapanku selalu gagal. Rasanya tidak ada titik terang dalam kehidupanku...."
Sekarsari menarik napas panjang. Dipandan- ginya Sena sebentar dengan tatapan sayu. Sementara Sena hanya diam. Lalu tangannya menggaruk-garuk kepala. Bibirnya tersenyum tulus. Sungguh malang nasib wanita ini...! Kata Sena dalam hati.
"Rupanya Hyang Widhi masih memberikan ujian padaku. Semua orang sepertinya jijik bila berte- mu denganku, karena pakaianku seperti gembel. Ra- sanya saat itu aku ingin mati saja. Habis cobaan satu, muncul cobaan lain yang lebih menyakitkan...."
Sejenak Sekarsari menghentikan ucapannya. "Pernah suatu hari menjelang magrib, aku bermaksud berteduh di sebuah gubuk kecil di luar se- buah desa, jauh dari rumah penduduk. Baru saja rebahkan badan untuk melepas lelah, tiba-tiba muncul tiga lelaki berbadan kekar dan berwajah garang dengan memakai baju serba hitam. Ketiganya menerkam den- gan buas. Mereka hendak memperkosaku. Aku tak ku- asa melawan, walaupun seluruh tenagaku sudah ku kerahkan. Jangankan tiga orang yang memegang ku, satu orang pun aku tak sanggup. Apalagi saat itu me- reka memegang kedua kaki dan tanganku, lalu direntangkan lebar-lebar. Sangat mengerikan!"
Kembali Sekarsari menghentikan kata-katanya. Dia bergidik sendiri.
"Aku hanya bisa berteriak minta tolong, minta dikasihani oleh mereka. Namun manusia-manusia itu seakan sudah diselimuti nafsu birahi yang besar. Mereka tak menghiraukan lagi ucapanku. Mereka makin ganas.... Namun pada saat kritis, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat bagai angin kencang. Dan seketi- ka ketiga lelaki yang hendak memperkosaku tergeletak tanpa nyawa lagi. Selanjutnya aku sudah tak ingat apa-apa lagi, aku pingsan. Tahu-tahu aku sudah bera- da di sebuah pondok di lereng gunung. Di situlah aku mendapatkan pelajaran ilmu silat dari seorang lelaki tua.... Aku merasa senang sekali...," Sekarsari men- gakhiri ceritanya yang cukup panjang itu dengan me- narik napas lega.
Sena tersenyum. Dia merasa ikut senang men- dengar cerita Sekarsari, wanita malang itu. Kemudian tangannya menggaruk-garuk kepala.
"Lalu, sekarang kau hendak ke Tawang Sewu untuk membalas dendam atas kematian suamimu...?"
Walau tak menjawab, tapi Sena tahu perem- puan itu membenarkan ucapannya
"Lebih baik kau kembali ke desa dan melupakan Pangeran Pari Ongso yang kini menjadi Rekso Bagaspati itu. Susah untuk menandinginya. Apalagi kalung keramat itu masih di tangannya. Tentu kau tahu keampuhan kalung maut itu, bukan? Salah-salah kau sendiri yang celaka!"
"Aku memang sudah siap untuk menyusul suamiku," sahut Sekarsari.
Sena menggaruk-garuk kepala. "Apakah kau berniat mendapatkan kalung itu kembali?" tanya Sena kemudian.
"Kalaupun kudapat, kalung sakti itu akan ku- kembalikan ke asalnya. Dibuang ke dalam laut..."
"Tidak mudah mendapatkan kalung itu kemba- li. Tidak gampang mencari Rekso Bagaspati, manusia seribu muka yang kini menguasainya.... Dan mana aku tahu kalau kau bukan Rekso Bagaspati yang menyamar menjadi perempuan...?"
Ucapan Sena itu membuat Sekarsari tersentak. Ditatapnya Sena dengan pandangan menyelidik seraya menghela napas panjang. Sena yang dipandang begitu hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala.
"Tapi aku percaya kalau kau bukan Rekso Ba- gaspati. Wajah dan sinar matamu menunjukkan kau adalah seorang pendekar yang cukup disegani. Hanya tingkah Tuan agak aneh. Dan itu yang mengingatkan aku pada berita di rimba persilatan tentang munculnya Pendekar Gila...," ucap Sekarsari kemudian.
Kini Senalah yang tersentak mendengar tutur kata Sekarsari yang seperti tahu siapa dia sebenarnya. Sena jadi makin cepat menggaruk-garuk kepala sambil cengar-cengir. Lalu dia tertawa-tawa pada Sekarsari yang terus mengawasi gerak-gerik Sena.
"Kau bicara apa? Lucu-lucu sekali. Bicaramu ngelantur!" ujar Sena. Lalu dia melangkah pergi. Sekarsari segera memburunya, lalu berjalan di sebelah kiri Sena.
"Apakah Tuan mau membantuku untuk- menemukan dan memusnahkan manusia yang berna- ma Rekso Bagaspati itu...?"
"Sebaiknya kau jangan panggil aku tuan.... Aku hanya orang biasa. Panggil saja Sena...," kata Sena.
"Baik, Sena. Tapi kau belum menjawab maksud ku...," tukas Sekarsari kemudian.
"Oya..., ya...." "Jadi kita pergi sama-sama mencarinya?" "Kita katamu?" tanya Sena. Sekarsari tersenyum manis. "Bukankah kau mau membantuku untuk mencari dan menumpas Rekso Bagaspati...? Dan seperti yang kau katakan, tak mungkin aku sendiri bisa menemukan dan mengalahkan manusia iblis itu...."
Sena terus menggaruk-garuk kepala. Dia tam- pak bingung sekali. Bagaimana caranya agar Sekar ti- dak bersamanya dalam mencari Rekso Bagaspati? Belum sempat Sena mendapatkan cara, Sekarsari dengan nada memohon kembali berucap.
"Kalau kau tak mau membantuku dan mem- biarkan aku berjalan bersamamu, aku akan bunuh diri...," ujar Sekarsari seraya mengeluarkan pedang dari sarungnya.
"Eh! Tunggu...! Tunggu...!" cegah Sena yang tak tega menyaksikan Sekarsari mau bunuh diri. Sebenar- nya Sena hanya mencoba sampai di mana kemantapan hati Sekarsari. "Baiklah. Tapi, aku ingin kau menya- mar sebagai laki-laki. Sebab aku risih berjalan bersa- ma perempuan. Apalagi secantik kau, bisa terjadi ma- cam-macam."
"Hm.... Usul yang bagus! Tapi, di mana aku bi- sa mendapatkan kumis dan jenggot palsu...?" keluh Sekarsari pada Sena.
"Iya, ya. Hm..., gampang. Kita mampir di Desa Tegal Sari. Itu, di bawah bukit sana...."
Sekarsari mengangguk dan tersenyum. Sena tak banyak kata lagi. Kakinya diayunkan meninggalkan tempat itu diikuti Sekarsari.

6
Sena dan Sekarsari yang telah memasuki se- buah desa mengamati daerah sekitarnya. Tampaknya desa itu biasa-biasa saja. Kesibukan para penduduk- nya seperti desa-desa lain yang aman dan tenteram. Mereka berlalu-lalang dengan kesibukan masing- masing. Namun di sudut jalan dekat warung kopi, terlihat sekumpulan orang yang sedang berjudi. Pakaian dan wajah mereka menunjukkan kalau mereka bukan orang baik-baik. Sepertinya bukan penduduk desa itu. Dan hampir semuanya menyandang golok di pinggang.
Sambil minum, mereka terus berjudi. Tingkah laku mereka sungguh tak sedap dipandang mata. Bila ada gadis desa yang sedang lewat, tak segan-segan mereka menggoda atau menjamah tubuh gadis itu dengan kasar. Bahkan pada saat Sena dan Sekarsari melintasi tempat judi itu, mata keduanya sempat melihat seo- rang dari penjudi yang tidak ikut bermain sedang me- rangkul seorang wanita muda dengan paksa seraya menciumi dan meremas-remas buah dadanya. Wanita itu hanya bisa menangis sambil mengeluh. Sementara orang-orang yang lewat tak ada yang berani melarang atau membela wanita muda itu.
"Keparat! Ternyata orang edan ada di mana- mana. Aku yakin mereka itu komplotan lelaki yang mengeroyokku tadi...!" kata Sekarsari dengan geram. Tanpa banyak omong lagi, dia melesat ke arah para penjudi itu.
Sena yang tak menduga sama sekali tindakan Sekarsari, tak sempat mencegah. Dia hanya dapat memperhatikan dari tempatnya. Sena ingin tahu, sam- pai di mana keberanian dan kepandaian ilmu silat Se- karsari yang sesungguhnya.
"Hei, Monyet! Lepaskan wanita itu!" bentak Se- karsari sambil bertolak pinggang pada orang-orang yang sedang menggerayangi tubuh wanita muda tadi
Orang yang sedang mempermainkan wanita itu kaget, termasuk orang yang sedang berjudi. Mereka menoleh ke arah Sekarsari yang menatap dengan pan- dangan sinis.
"Phuih! Kalian manusia laknat yang perlu diberi pelajaran...! Lepaskan wanita itu kataku!" bentak Sekarsari lagi karena lelaki kurang ajar itu belum mele- paskan wanita yang baju bagian atasnya sudah terbu- ka. Lelaki itu berkumis dan bercambang lebat dengan satu mata kirinya ditutup kain hitam. Codetnya melin- tang di pipi sebelah kanannya.
"He he he...!" Lelaki itu malah tertawa tergelak-gelak sambil terus menciumi wanita di pelukannya.
"Kalau kau ingin merasakan ciuman dan rema- sanku juga, kemarilah! He he he...," ujar lelaki bermata satu, menggoda Sekarsari. Yang lain jadi tertawa ter- bahak-bahak. Sebagian dari para penjudi itu kini ber- paling dan menghadap ke arah Sekarsari.
"He he he...! Edan, ini baru santapan lezat! Ayo..., kemarilah, Manis. Jangan galak-galak. He he he...!" celetuk seorang penjudi sambil menoleh ke arah Sekarsari. Lalu dia bergerak bangkit, setelah melempa- ri kartunya ke atas meja, diikuti yang lain.
Kini mereka menghentikan permainan judi. Se- mua berdiri dengan tingkah laku yang memuakkan Sekarsari. Konyol dan kurang ajar.
"Biasanya wanita yang galak malah lebih panas mainnya...!" seloroh orang berperut gendut dan ber- wajah persegi dengan ikat kepala menutupi seluruh rambutnya.
Lantas saja semua tertawa tergelak-gelak, Se- karsari sudah tak sabar. Tiba-tiba tubuhnya menyer- gap orang yang memegangi wanita desa. Dengan cepat pula Sekarsari melancarkan pukulan beruntun disusul dengan tendangan keras ke arah perut dan wajah orang itu.
"Aaa.... Ukh...!" Dengan gesit Sekarsari melakukan pengama- nan terhadap wanita desa itu. Dibawanya dia menjauhi tempat itu. Lalu Sekarsari kembali menghadapi para
penjudi. Keenam penjudi itu menjadi marah melihat te- mannya dipermalukan di depan orang-orang desa yang sedang berlalu lalang.
"Bangsat! Wanita ini rupanya mau cari mam- pus. Mau dikasih kenikmatan malah cari perkara! Se- rang.,.!" perintah orang berpakaian lebih bagus dari kelima lelaki lain. Rambutnya panjang melebihi bahu, serta berikat kepala hitam yang menutupi bagian ram- but atasnya. Bajunya lengan panjang berwarna hijau tua, celana hitam dan ikat pinggang lebar dari kulit. Di pinggangnya terselip golok panjang.
Lima penjudi itu serentak menyerang Sekarsari dengan membacokkan golok masing-masing. Namun Sekarsari cepat meloncat seraya mencabut pedangnya. Wanita itu hinggap di atas meja judi.
Wut! Wut...! Lima batang golok segera membabat kaki Se- karsari. Sekarsari kembali melenting ke udara sambil menendang dengan sepasang kakinya ke arah dua orang yang berada di kiri dan kanannya.
Buk! Buk..! "Hukh!" "Akh...!" Kedua lelaki yang terkena tendangan Sekarsari terhuyung dua tombak ke belakang. Sekarsari berdiri tegak kembali di atas meja judi tadi dengan senyum mengejek "Ayo..., maju kalian semua! Kau juga!" tantang Sekarsari sambil menunjuk ke arah orang berbaju hi- tam yang sejak tadi hanya melihat kawannya berta- rung melawan Sekarsari.
Melihat semua itu, Sena yang masih berdiri tempatnya hanya cengengesan sambil menggaruk ga- ruk kepala.
"Boleh juga ilmu silat perempuan misterius ini" gumam Sena pada diri sendiri.
Sementara itu pemimpin para penjudi yang berbaju hijau, telah ikut menyerang Sekarsari dengan menebaskan golok panjangnya dengan cepat. Batok kepala Sekarsari pasti akan tertebas, jika dia terlambat mengelak "Edan!" maki Sekarsari sambil bersalto ke belakang. Lalu dia kembali berdiri. Dan tanpa menunggu lama, Sekarsari balik menyerang dengan sabetan pe- dangnya. Secepat kilat senjatanya membabat ke tubuh lawan. Wajah orang yang berikat kepala hitam bagai bajak laut itu langsung pucat.
Melihat pemimpinnya dalam keadaan genting, kelima kawannya kembali menyerang Sekarsari dengan golok. Sekarsari yang sudah benar-benar muak dengan orang-orang keparat itu segera memapaki serangan lawan. Dengan mempermainkan pedangnya se- demikian rupa, dia menangkis golok-golok yang diarahkan kepadanya.
Trang! Trang...! Pedang dan golok beradu, hingga menciptakan pijaran api. Sementara golok di tangan kelima lawan patah, lalu terlepas dari genggaman mereka. Mendapa- ti kenyataan itu, kelima penjudi yang bertampang se- ram dan buruk itu kaget bukan kepalang. Kelimanya saling pandang. Mereka tampak mulai gentar. Perla- han-lahan mereka melangkah mundur seraya meman- dang Sekarsari yang berdiri dengan tertawa mengejek
"Ayo, maju. Atau aku yang maju untuk meme- lukmu! Katanya tadi kalian ingin menikmati tubuhku, ayo...!" ujar Sekarsari sinis.
Kelima penjudi tadi tak menjawab. Mereka terpaku.
Tiba-tiba lelaki berbaju hijau tanpa diduga menyerang Sekarsari dari belakang. Namun Sekarsarirupanya sudah menduganya. Dengan cepat tubuhnya meloncat ke udara, lalu berbalik arah sambil menghunus pedangnya. Dan ditebasnya pedang tersebut ke dada lawan dengan cepat. Sret! Cras! "Aaakh...!" Orang berbaju hijau memekik. Dadanya ter- sayat. Belum sempat lawan balik menyerang, Sekarsari sudah menendang telak ke dada dan wajah orang ber- baju hijau itu. Kembali lawan memekik dengan tubuh terpental tiga tombak ke belakang. Tubuhnya langsung membentur meja judi.
Brak! Orang itu tak berkutik lagi. Sementara itu, kelima kawannya berusaha melarikan diri. Namun Pendekar Gila segera menghadang mereka.
"Hei, kalian belum meminta maaf pada wanita itu. Cepat kembali!" perintah Sena penuh wibawa.
Kelima orang yang belum mengenal Sena, me- nurut saja seperti anak sapi. Kini orang-orang yang semula ditakuti penduduk desa, tak ubahnya seperti tikus.
Sena hanya cengengesan dan menggaruk-garuk kepala memandangi kelima orang yang berjalan ke arah Sekarsari sambil menatap lelaki berbaju hijau yang masih pingsan dengan darah mengucur dari mulutnya. Sedangkan dadanya membiru akibat tendangan Sekarsari tadi.
Sekarsari menoleh ke arah Sena. Sena memberikan isyarat Sekarsari mengangguk. Lalu kembali melihat kelima lelaki yang terbungkuk-bungkuk mende- katinya. "Hei! Cepat kalian ke sini!" bentak Sekarsari "Kalian sudah membuat penduduk desa ini ketakutan
dan menderita. Kini kalian harus menerima ganjaran!"
"Ampun... ampuni kami. Kami tidak akan ber- buat buruk lagi...," ratap lelaki bermata satu. Diikuti teman-temannya.
"Kau tadi yang mengganggu wanita itu?! Mata- mu yang tinggal satu itu lebih baik ku butakan sekalian, biar kau tidak dapat melihat tubuh wanita yang montok dan cantik..!" ancam Sekarsari sambil menghunuskan pedangnya ke mata lelaki bermata satu. Kontan lelaki itu menyembah bersujud di kaki Sekarsari.
"Ampun... ampuni saya.... Ampuni saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi lagi," rengeknya den gan tubuh gemetaran, karena ujung pedang Sekarsari masih berada di dekat matanya. Peluh membasahi wajah lelaki itu.
"Ha ha ha.... Dasar lelaki kerdil! Hei, sekarang aku tanya, siapa yang menyuruhmu memeras orang desa dan berbuat seenak udel mu di sini?!" bentak Se- karsari kemudian.
Sementara itu lelaki berbaju hijau mulai sadar. Dengan meringis dia berusaha bangkit, namun tubuh- nya masih terasa sakit. Tapi ketika melihat Sekarsari mengancam kawannya, secara diam-diam dan licik dia ingin mengambil kesempatan itu untuk menyerang Se- karsari dari belakang. Dengan cepat dia bangkit dan membabatkan golok panjangnya ke leher Sekarsari. Namun belum sempat pedang itu mendarat di leher Sekarsari....
"Aaa...!" Sekarsari kaget dan berbalik sambil melompat mundur selangkah. Terlihatlah tubuh orang yang hendak membokongnya mengejang dengan mata melotot. Setelah itu dia tewas.
Sekarsari memandang Sena. Pemuda yang dipandang hanya cengar-cengir sambil menggaruk-garuk kepala. Lalu dia melangkah menuju kedai kopi.
Sekarsari menghela napas panjang. Ia tahu kalau Sena yang menyelamatkan jiwanya. Kemudian tubuhnya berbalik ke arah kelima orang tadi.
"Pergi kalian! Katakan pada pemimpin kalian, bahwa aku menunggu di desa ini. Cepat pergi atau kubunuh kalian!" perintah Sekarsari keras. Kontan kelima orang itu kabur bagai dikejar setan, keluar dari Desa Tegal Sari.
Pemilik kedai dan orang-orang yang melihat ke- jadian tadi tampak kagum pada kehebatan Sekarsari. Tapi mereka tidak berani menunjukkan kegembiraan. Terlihat dari wajah mereka yang tegang, seperti ada se- suatu yang membuat mereka takut
"Terima kasih. Kau telah menyelamatkan jiwa- ku," ucap Sekarsari ketika sudah berada di dekat Sena. Pendekar Gila tak menjawab. Dia tetap diam sambil cengar-cengir, membuat Sekarsari merasa agak kesal karena terima kasihnya seolah tidak ditanggapi Sena. Tapi akhirnya Sekarsari mengerti sifat Sena yang aneh dan terkadang seperti orang gila itu.
"Sekarang apa rencana kita selanjutnya? Apa- kah kita perlu tinggal di sini untuk satu-dua hari?" tanya Sekarsari pada Sena.
Sena tak langsung menjawab. Dia hanya memandang Sekarsari demikian rupa. Sekilas terbayang wajah Mei Lie yang sangat dikasihi dan dicintainya. Sena tersenyum sendiri.
Melihat senyum Sena yang begitu manis, Sekarsari jadi mengerutkan kening. Justru dia yang me- rasa risih. Wajahnya jadi bersemu merah. Kepalanya ditundukkan.
"Kenapa kau memandangku begitu, Sena?"
tanya Sekarsari perlahan.
Sena yang mendengar pertanyaan perempuan itu jadi tersentak dari lamunannya.
"Oh.... Apa kau bilang tadi... He he he...!" Sena balik bertanya seraya menggaruk-garuk kepala. Wajahnya tampak memerah juga. Dia merasa Sekarsari tahu apa yang sedang dipikirkannya.
Keduanya lalu diam. Sekarsari tidak menjawab pertanyaan Sena. Dia hanya mengulum bibirnya. Bi- birnya yang kini basah karena dikulum, nampak semakin menggairahkan.
"Sebaiknya kita mencari tahu tentang para penjudi tadi," usul Sena tiba-tiba. "Ki, siapa orang yang menjadi kepala desa di sini?" lanjut Sena, bertanya pada pemilik kedai.
"Oh, rumahnya di sebelah sana, Den. Ki Sapto namanya. Dia seorang muslim yang taat beribadah.
"Terima kasih, Ki. Permisi...," ucap Sena setelah membayar pemilik warung itu.
Setelah Sena dan Sekarsari berlalu, penduduk Desa Tegal Sari mulai ramai membicarakan keduanya. Mereka pada umumnya merasa senang dengan kehadi- ran Sena dan Sekarsari. Penduduk desa itu memang sangat membutuhkan orang-orang semacam mereka. Kalau tidak, ketenangan tak akan kunjung datang. Mereka akan selalu was-was dan ketakutan setiap saat. Sebab, orang-orang semacam penjudi-penjudi tadi akan datang lagi setiap waktu.
Sena dan Sekarsari akhirnya bertemu dengan Ki Sapto, Kepala Desa Tegal Sari. Mereka dipersilakan masuk oleh Ki Sapto yang sebagian rambutnya telah memutih. Dengan blangkon dan berbaju lengan pan- jang serta kain seperti layaknya orang Jawa, Ki Sapto menerima Sena dan Sekarsari dengan ramah. "Silakan, silakan... !" sambut Ki Sapto.
"Terima kasih, Ki," jawab Sekarsari perlahan. Setelah mereka duduk, barulah Ki Sapto menje- laskan keadaan Desa Tegal Sari.
"Mereka memang orang-orang biadab, tak ada orang lain yang dapat melawan mereka. Aku sendiri bukannya tidak berani.... Tapi, percuma saja menen- tang. Mereka didalangi oleh manusia yang berilmu tinggi. Aku tidak mau penduduk desa ini dibantai.... Itu sebabnya selama ini aku hanya bisa menahan sakit di dada. Rasanya aku sudah tidak bisa menangis lagi jika mendengar atau melihat gadis-gadis desa ini dicu- lik untuk dijadikan persembahan manusia iblis itu."
"Persembahan? Siapa manusia iblis yang Ki Sapto maksud?" Sena tampak sangat ingin tahu. Begi- tu pula Sekarsari. Wajah wanita itu mulai sedikit tegang.
"Siapa lagi kalau bukan Rekso Bagaspati. Gadis-gadis itu dipersembahkan sebagai tumbal ilmu setannya. Setiap bulan purnama manusia iblis itu mela- kukannya. Jika dia tidak mendapatkan gadis-gadis yang masih perawan, ilmunya akan hilang...," jawab Ki Sapto, setelah menghela napas sejenak
"Tak salah lagi. Pasti ini berkaitan dengan ka- lung keramat keparat itu!" potong Sekarsari penuh gejolak kemarahan. "Di mana sarang manusia iblis itu, Ki?"
"Aku tidak bisa menjelaskan. Manusia itu bagai setan. Tidak seorang pun yang tahu di mana sarang- nya.... Inilah yang merepotkan," jawab Ki Sapto sambil memegangi keningnya. Lelaki setengah baya itu tampaknya sedang berpikir.
Sekarsari menarik napas panjang. Kepalanya menoleh ke arah Sena yang tengah menggaruk-garuk kepala. Ki Sapto terdiam, seakan digelayuti kekhawati-
ran setelah memberi tahu semua hal tadi pada Sena dan Sekarsari. Sena tahu, apa yang sedang dipikirkan Ki Sapto. "Ki Sapto tidak usah takut. Tak ada orang yang akan mengganggu Aki," tutur Sena pada Ki Sapto.
"Kalau diizinkan, biarlah malam ini kami men- ginap di rumahmu, Ki," timpal Sekarsari, memutuskan dengan tiba-tiba.
Sena tentu saja menjadi tersentak. Dia sempat mendelik ke arah Sekarsari yang dianggapnya lancing. Sekarsari hanya mencibir pada Sena.
"Ooo.... aku malah lebih senang kalau kalian berdua mau bermalam di rumah yang jelek ini...," ja- wab Ki Sapto penuh kegembiraan. "Ayo, silakan dimi- num Den..."
"Terima kasih, Ki...," kata Sekarsari sambil menganggukkan kepala.
Sena menarik napas panjang. Dia menggeleng- geleng sambil menggaruk-garuk kepala.
Malam pun tiba perlahan. Sepi mencekam hari yang kian kelam. Suasana sangat angker. Tak seorang pun berani keluar rumah. Sebagian lampu rumah su- dah dipadamkan. Padahal hari baru lepas magrib.
Angin bertiup kencang dari arah hutan di sebe- lah barat Desa Tegal Sari. Disertai lolongan anjing hutan yang melengking panjang.
Sena terlihat berada di serambi rumah Ki Sapto. Pemuda itu duduk bersila di atas sebuah balai-balai beralaskan tikar yang agak usang. Matanya menatap tajam ke depan. Seperti patung, ia tak bergerak sedikit pun. Rupanya Sena sedang memusatkan pikirannya.
Dari pintu tampak Sekarsari muncul. Sesaat wanita itu berhenti memandangi Sena yang sedang bersemadi. Sekarsari tak ingin mengganggu. Dia sengaja menunggu sampai Sena selesai.
Setelah Sena selesai bersemadi, barulah Sekarsari mendekati dan duduk di sebelahnya. Sena menggeser tubuhnya agak jauh dari Sekarsari. Namun Sekarsari tidak tersinggung, karena dia tahu kalau Sena memang tidak seperti lelaki lain.
"Kenapa kau belum juga tidur?" tanya Sena datar.
"Belum ngantuk. Kau sendiri...?" Sekarsari balik bertanya. Suaranya terdengar manja.
Sena makin kesal. Ingin rasanya dia pergi me- ninggalkan perempuan itu, tapi dia tidak mau melukai perasaan wanita. Jadi dia hanya bisa menahan hati sambil menggaruk-garuk kepala.
"Penduduk desa ini rupanya begitu takut den- gan Rekso. Lihat, semua pintu rumah tertutup rapat. Sepi, sepi sekali. Mungkinkah Rekso malam ini akan muncul seperti ucapan Ki Sapto tadi sore?" Sekarsari langsung bicara soal Desa Tegal Sari yang dilanda bencana yang diciptakan Rekso Bagaspati dan anak buahnya.
"Kita tunggu saja. Tapi menurut firasat ku, Rekso tak mungkin muncul. Dia akan muncul pada bulan purnama nanti," jawab Sena.
"Kalau begitu, sekitar empat hari lagi. Tapi pe- rasaanku berkata lain. Dia akan muncul malam ini. Karena dia tahu kita sedang berada di sini untuk men- carinya," ujar Sekarsari mantap dan penuh keyakinan.
Baru saja Sekarsari selesai berkata, tiba-tiba terlihat selarik sinar kemerahan meluncur dari ujung desa sebelah barat. Sena segera bangkit. Demikian pula Sekarsari. Malah Wanita itu hendak bergegas pergi. Namun Sena cepat menahannya sambil memberi isyarat agar Sekarsari duduk kembali.


No comments:

Post a Comment